( [الْقَوْلُ فِي حُكْمِ الْقَضَاءِ] )

(Pembahasan tentang hukum qadhā’)

الْأَصْلُ فِي وُجُوبِ الْقَضَاءِ وَتَنْفِيذِ الْحُكْمِ بَيْنَ الْخُصُومِ كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وإجماع الأمم عليه.

Dasar kewajiban qadhā’ dan pelaksanaan hukum di antara para pihak yang berselisih adalah Kitab Allah, Sunnah Rasul-Nya ﷺ, serta ijmā‘ umat atas hal itu.

(الدليل من الكتاب)

(Dalil dari al-Kitab)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada pesan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} [ص: 26] الْآيَةَ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Shad: 26)

أَمَّا قَوْله تَعَالَى: {إِنَّا جَعَلْنَاكَ خليفة في الأرض} فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Adapun firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi,” maka di dalamnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: خَلِيفَةٌ لَنَا، وَتَكُونُ الْخِلَافَةُ هِيَ النُّبُوَّةُ.

Salah satunya: seorang khalifah bagi kami, dan khilafah itu adalah kenabian.

وَالثَّانِي: خَلِيفَةٌ لِمَنْ تَقَدَّمَكَ فِيهَا، وَتَكُونُ الْخِلَافَةُ هِيَ الْمُلْكُ.

Yang kedua: seorang khalifah bagi orang yang mendahuluimu dalam hal itu, dan kekhalifahan adalah kekuasaan.

وَقَوْلُهُ: {فَاحْكُمْ بَيْنَ الناس بالحق} وَفِيمَا أُخِذَ مِنْهُ الْحُكْمُ وَجْهَانِ:

Dan firman-Nya: {maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran}, dan dalam hal dari mana hukum itu diambil terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنَ الْحِكْمَةِ الَّتِي تُوجِبُ وَضْعَ الشَّيْءِ فِي مَوْضِعِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia diambil dari hikmah yang mengharuskan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنْ إِحْكَامِ الشَّيْءِ وَمِنْهُ حَكمَه اللِّجَامِ لِمَا فِيهِ مِنَ الإلزام.

Kedua: bahwa kata tersebut diambil dari makna mengokohkan sesuatu, dan di antaranya adalah penggunaan kata “ḥukm” untuk tali kekang karena di dalamnya terdapat unsur pemaksaan.

وفي قوله: ب ” الحق ” وَجْهَانِ:

Dalam ucapannya: “al-ḥaqq” terdapat dua sisi makna:

أَحَدُهُمَا: بِالْعَدْلِ.

Salah satunya: dengan keadilan.

وَالثَّانِي: الْحَقُّ الَّذِي لزَمَكَ الله.

Dan yang kedua: hak yang diwajibkan Allah atasmu.

وفي قوله: {ولا تتبع الهوى} وَجْهَانِ:

Dalam firman-Nya: “Dan janganlah mengikuti hawa nafsu,” terdapat dua makna.

أَحَدُهُمَا: الْمَيْلُ مَعَ مَنْ يَهْوَاهُ.

Salah satunya adalah kecenderungan mengikuti orang yang disukai.

وَالثَّانِي: أَنْ تَحْكُمَ بِمَا تَهْوَاهُ.

Dan yang kedua: memutuskan perkara berdasarkan apa yang diinginkannya sendiri.

وَفِي قَوْلِهِ: {فَيُضِلَّكَ عن سبيل الله} وَجْهَانِ:

Dalam firman-Nya: {maka ia menyesatkanmu dari jalan Allah} terdapat dua makna.

أَحَدُهُمَا: عَنْ دِينِ اللَّهِ.

Salah satunya: tentang agama Allah.

وَالثَّانِي: عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ.

Dan yang kedua: tentang ketaatan kepada Allah.

وَفِي قَوْلِهِ: {بِمَا نَسُوا يَوْمَ الحساب} وجهان: أَحَدُهُمَا: بِمَا تَرَكُوا مِنَ الْعَمَلِ لِيَوْمِ الْحِسَابِ. وَالثَّانِي: بِمَا أَعْرَضُوا عَنْ يَوْمِ الْحِسَابِ.

Dalam firman-Nya: {karena mereka melupakan hari perhitungan}, terdapat dua pendapat: Pertama, karena mereka meninggalkan amal untuk hari perhitungan. Kedua, karena mereka berpaling dari hari perhitungan.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ} [الأنبياء: 78] قَالَ قتادة: النفش: وعي الليل، والهمل وعي النهار.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, ketika kambing-kambing kaum itu masuk ke dalamnya pada malam hari.” (QS. Al-Anbiya’: 78). Qatadah berkata: An-nafsy adalah (kerusakan yang terjadi) pada malam hari, sedangkan al-haml adalah (kerusakan yang terjadi) pada siang hari.

{وكنا لحكمهم شاهدين} وَكَانَ الْحُكْمُ فِي غَنَمٍ رَعَتْ كَرْمَ آخَرَ، وَقِيلَ زَرْعَهُ، فَحَكَمَ دَاوُدُ بِالْغَنَمِ لِصَاحِبِ الْكَرْمِ أَوِ الزَّرْعِ، وَحَكَمَ سُلَيْمَانُ بِأَنْ تُدْفَعَ الْغَنَمُ إِلَى صَاحِبِ الْكَرْمِ لِيَنْتَفِعَ بِدَرِّهَا وَنَسْلِهَا وَيُدْفَعَ الْكَرْمُ إِلَى صَاحِبِ الْغَنَمِ لِيُعَمِّرَهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَى حَالَتِهِ ثُمَّ يردّ الْكَرْم وَتسْتَرْجع الْغَنَم.

Dan Kami adalah saksi atas keputusan mereka. Persoalan itu berkaitan dengan kambing-kambing yang merumput di kebun anggur milik orang lain, atau ada yang mengatakan di ladangnya. Maka Dawud memutuskan agar kambing-kambing itu diberikan kepada pemilik kebun anggur atau ladang tersebut. Namun Sulaiman memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun anggur supaya ia dapat memanfaatkan susunya dan anak-anaknya, sedangkan kebun anggur diserahkan kepada pemilik kambing agar ia memperbaikinya hingga kembali seperti semula, kemudian kebun anggur dikembalikan dan kambing-kambing pun diambil kembali oleh pemiliknya.

فقال تعالى: {ففهمناها سليمان} فَكَانَ حُكْمُ اللَّهِ تَعَالَى فِيمَا قَضَاهُ سُلَيْمَانُ فَرَجَعَ دَاوُدُ عَنْ حُكْمِهِ إِلَى حُكْمِ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ.

Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Lalu Kami memberikan pemahaman itu kepada Sulaiman.” Maka keputusan Allah Ta‘ala adalah pada apa yang telah diputuskan oleh Sulaiman, sehingga Daud pun kembali dari putusannya kepada putusan Sulaiman ‘alaihimas-salām.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ نَقَضَ دَاوُدُ حُكْمَهُ بِاجْتِهَادِ سُلَيْمَانَ؟ فَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin Daud membatalkan putusannya dengan ijtihad Sulaiman?” Maka ada dua jawaban atas pertanyaan tersebut:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ دَاوُدَ كَانَ قَدْ أَفْتَى بِهَذَا الْحُكْمِ وَلَمْ يُنَفِّذْهُ فَلِذَلِكَ رَجَعَ عَنْهُ.

Salah satunya: bahwa Dawud telah memberikan fatwa dengan hukum ini namun tidak melaksanakannya, maka karena itulah ia menarik kembali pendapatnya.

والثَّانِي: أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حُكْمُ سُلَيْمَانَ عَنْ وَحْيٍ فَيَكُونُ نَصًّا يَبْطُلُ بِهِ الِاجْتِهَادُ.

Kedua: Bahwa boleh jadi hukum Sulaiman berasal dari wahyu, sehingga menjadi nash yang dengannya ijtihad menjadi batal.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: {وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا} فِيهِ وَجْهَانِ:

Kemudian Allah Ta‘ala berfirman: “Dan masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu.” Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ آتَى كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْحُكْمِ وَالْعِلْمِ مِثْلَ مَا آتَاهُ لِلْآخَرِ.

Salah satunya adalah bahwa Dia telah memberikan kepada masing-masing dari keduanya hukum dan ilmu sebagaimana yang Dia berikan kepada yang lainnya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ آتَى كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْحُكْمِ وَالْعِلْمِ غَيْرَ مَا آتَاهُ لِلْآخَرِ.

Kedua: bahwa Allah telah memberikan kepada masing-masing dari keduanya hukum dan ilmu yang berbeda dari apa yang diberikan kepada yang lain.

وَفِي الْمُرَادِ بِالْحُكْمِ وَالْعِلْمِ وَجْهَانِ:

Terkait makna hukum dan ‘illat, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْحُكْمَ الِاجْتِهَادُ وَالْعِلْمَ النَّصُّ.

Salah satunya adalah bahwa hukum itu hasil ijtihad, sedangkan ilmu itu berdasarkan nash.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْحُكْمَ: الْقَضَاءُ وَالْعِلْمَ: الْفُتْيَا.

Kedua: bahwa hukum adalah keputusan, sedangkan ilmu adalah fatwa.

قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: لَوْلَا هَذِهِ الْآيَةُ لَرَأَيْتَ الْحُكَّامَ قَدْ هَلَكُوا لَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَذَرَ هَذَا بِاجْتِهَادِهِ وَأَثْنَى عَلَى هَذَا بِصَوَابِهِ.

Al-Hasan al-Bashri berkata: Kalau bukan karena ayat ini, niscaya engkau akan melihat para hakim telah binasa, tetapi Allah Ta‘ala memberi uzur kepada yang ini karena ijtihadnya dan memuji yang itu karena kebenarannya.

وَقَالَ تَعَالَى: {فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء: 65] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisā’: 65).

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَعُرْوَةُ ابْنَا الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي الزُّبَيْرِ وَرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَقِيلَ إِنَّهُ حَاطِبُ بْنُ أَبِي بَلْتَعَةَ، تَخَاصَمَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ كَانَا يَسْقِيَانِ بِهِ نَخْلًا لَهُمَا فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَى جَارِكَ ” فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ وَقَالَ إِنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ؟ ! فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – حتى عُرِفَ أَنَّهُ قَدْ سَاءَهُ ثُمَّ قَالَ: ” يَا زُبَيْرُ احْبِسِ الْمَاءَ إِلَى الْجَدْرِ أَوْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ خَلِّ سَبِيلَ الْمَاءِ ” فَنَزَلَ قَوْله تعالى {فلا وربك لا يؤمنون} أَيْ لَا يَعْلَمُونَ بِمَا يُوجِبُهُ الْإِيمَانُ {حَتَّى يحكموك} أَيْ يَرْجِعُوا إِلَى حُكْمِكَ {فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ} أَيْ فِيمَا تَنَازَعُوا فِيهِ.

Abdullah dan ‘Urwah, putra az-Zubair bin al-‘Awwam, berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan az-Zubair dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang telah ikut serta dalam Perang Badar, dan ada yang mengatakan bahwa dia adalah Hatib bin Abi Balta‘ah. Keduanya berselisih di hadapan Rasulullah ﷺ mengenai saluran air di al-Harrah yang mereka gunakan untuk mengairi pohon kurma milik mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Siramlah dulu, wahai Zubair, kemudian alirkan air itu kepada tetanggamu.” Lalu orang Anshar itu marah dan berkata, “Apakah karena dia adalah anak bibimu?” Maka wajah Rasulullah ﷺ berubah hingga diketahui bahwa beliau tidak suka dengan ucapan itu, kemudian beliau bersabda, “Wahai Zubair, tahanlah air itu sampai ke dinding atau sampai ke mata kaki, kemudian biarkan air itu mengalir.” Maka turunlah firman Allah Ta‘ala: {Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman} yakni mereka tidak mengetahui apa yang diwajibkan oleh iman {hingga mereka menjadikanmu hakim} yakni mereka kembali kepada keputusanmu {terhadap apa yang mereka perselisihkan di antara mereka} yakni dalam perkara yang mereka pertentangkan.

وَسُمِّيَتِ الْمُنَازَعَةُ مُشَاجَرَةً لِتَدَاخُلِ كَلَامِهِمَا كَتَدَاخُلِ الشَّجَرِ الْمُلْتَفِّ.

Dan perselisihan itu disebut musyājarah karena perkataan kedua belah pihak saling bertumpang tindih seperti ranting-ranting pohon yang saling berjalin.

{ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قضيت} فِيهِ وَجْهَانِ:

Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang telah engkau putuskan; dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: شَكًّا، قَالَهُ مُجَاهِدٌ.

Salah satunya adalah keraguan, sebagaimana dikatakan oleh Mujahid.

وَالثَّانِي: إثما قاله الضحاك: {ويسلموا تسليما} يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ:

Dan yang kedua: Dosa, sebagaimana dikatakan oleh adh-Dhahhak: “wa yusallimū taslīman” mengandung dua kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: يُسَلِّمُوا مَا تَنَازَعُوا فِيهِ لِحُكْمِكَ.

Salah satunya adalah mereka menyerahkan apa yang mereka perselisihkan kepada keputusanmu.

وَالثَّانِي: يَسْتَسْلِمُوا إِلَيْكَ تَسْلِيمًا لِأَمْرِكَ.

Dan yang kedua: mereka berserah diri kepadamu dengan sepenuhnya terhadap perintahmu.

وَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ} [النساء: 58] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (QS. an-Nisā’: 58).

وَقَالَ تَعَالَى: {وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ} [المائدة: 49] .

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Mā’idah: 49).

(وَأَمَّا السُّنَّةُ)

Adapun sunnah

:

Maaf, saya tidak melihat teks Arab apa pun pada pesan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

فَرَوَى بِشْرُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي قَيْسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ ” وَرَوَاهُ أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.

Bishr bin Sa‘id meriwayatkan dari Abu Qais, dari ‘Amr bin al-‘Ash, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara lalu berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Salamah dari Abu Hurairah.

فَجَعَلَ لَهُ فِي الْإِصَابَةِ أَجْرَيْنِ هُمَا عَلَى الِاجْتِهَادِ وَالْآخَرِ عَلَى الْإِصَابَةِ، وَجَعَلَ لَهُ فِي الْخَطَأِ أَجْرًا وَاحِدًا عَلَى الِاجْتِهَادِ دُونَ الْخَطَأِ.

Maka Allah memberikan kepadanya dua pahala jika ia benar: satu pahala atas ijtihadnya dan satu pahala lagi atas kebenarannya; dan jika ia keliru, Allah memberinya satu pahala atas ijtihadnya, bukan atas kekeliruannya.

وَرَوَى أَبُو هَاشِمٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أنه قال: ” القضاء ثَلَاثَةٌ: اثْنَانِ فِي النَّارِ وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ: قَاضٍ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ وَقَاضٍ قَضَى بِجَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ وَقَاضٍ عَرَفَ الْحَقَّ فَجَارَ فَهُوَ فِي النَّارِ “.

Abu Hashim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Peradilan itu ada tiga macam: dua di neraka dan satu di surga. Hakim yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan dengannya, maka ia di surga. Hakim yang memutuskan dengan kebodohan, maka ia di neraka. Dan hakim yang mengetahui kebenaran lalu berlaku zalim, maka ia di neraka.”

وَرَوَى عَمْرُو بْنُ الْأَسْوَدِ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الْقَاسِمِ حِينَ يَقْسِمُ وَمَعَ الْقَاضِي حِينَ يَقْضِي.

Amru bin al-Aswad meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah bersama orang yang membagi ketika ia membagi, dan bersama hakim ketika ia memutuskan.”

وَرَوَى ابْنُ عَوْنٍ الثَّقَفِيُّ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِمُعَاذٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: ” كَيْفَ تَقْضِي إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟ “.

Ibnu ‘Aun ats-Tsaqafi meriwayatkan dari al-Harits bin ‘Amr dari para sahabat Mu‘adz bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu‘adz ketika mengutusnya ke Yaman: “Bagaimana engkau akan memutuskan perkara jika ada suatu perkara yang dihadapkan kepadamu?”

قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ ” فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ ” قَالَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ” قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرَهُ وَقَالَ: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يرْضى رَسُولَ اللَّهِ “.

Ia berkata: Aku memutuskan perkara berdasarkan Kitab Allah. Ia ditanya, “Jika tidak ada dalam Kitab Allah?” Ia menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah.” Ia ditanya lagi, “Jika tidak ada dalam Sunnah Rasulullah?” Ia berkata, “Aku berijtihad dengan pendapatku dan aku tidak akan mengabaikan.” Maka ia menepuk dadanya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah untuk sesuatu yang diridhai oleh Rasulullah.”

وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِذَا جَلَسَ الْقَاضِي لِلْحُكْمِ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكَيْنِ يُسَدِّدَانِهِ فَإِنْ عَدَلَ أَقَامَا وَإِنْ جَارَ عَرَجَا وَتَرَكَاهُ “.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila seorang qadhi duduk untuk memutuskan perkara, Allah mengutus dua malaikat kepadanya yang membimbingnya. Jika ia berlaku adil, kedua malaikat itu tetap bersamanya, dan jika ia berlaku zalim, keduanya naik ke langit dan meninggalkannya.”

وَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ وَحَكَمَ بَيْنَ الْمُتَشَاجِرَيْنِ.

Rasulullah ﷺ memutuskan perkara di antara orang-orang yang berselisih dan memberikan keputusan di antara orang-orang yang bertikai.

وَقَلَّدَ الْقَضَاءَ فَوَلَّى عَلِيًّا قَضَاءَ نَاحِيَةِ الْيَمَنِ وَقَالَ لَهُ: ” إِذَا حَضَرَ الْخَصْمَانِ إِلَيْكَ فَلَا تَقْضِ لِأَحَدِهِمَا حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ ” قَالَ عَلِيٌّ فَمَا أَشْكَلَتْ عَلَيَّ قَضِيَّةٌ بَعْدَهَا وَقَدِمَ مِنْهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ.

Ia mengangkat Ali sebagai hakim dan menugaskannya untuk memimpin peradilan di wilayah Yaman. Ia berkata kepadanya: “Jika kedua pihak yang berselisih datang kepadamu, maka janganlah engkau memutuskan untuk salah satu dari mereka sebelum engkau mendengar dari pihak yang lain.” Ali berkata, “Sejak itu, tidak ada lagi perkara yang sulit bagiku.” Setelah itu, Ali kembali dari Yaman kepada Rasulullah ﷺ pada saat Haji Wada’.

وَاسْتَخْلَفَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَتَّابَ بْنَ أَسِيدٍ عَلَى مَكَّةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَالِيًا وَقَاضِيًا وَقَالَ ” يَا عَتَّابُ انْهَهُمْ عَنْ بَيْعِ مَا لَمْ يَقْبِضُوا وَعَنْ رِبْحِ مَا لَمْ يَضْمَنُوا “.

Rasulullah ﷺ mengangkat ‘Attab bin Asid sebagai wali dan qadhi di Makkah setelah penaklukan, dan beliau bersabda, “Wahai ‘Attab, laranglah mereka dari menjual sesuatu yang belum mereka terima, dan dari mengambil keuntungan atas sesuatu yang belum mereka tanggung risikonya.”

وَقَلَّدَ مُعَاذًا قَضَاءَ بَعْضِ الْيَمَنِ وَقَالَ لَهُ مَا قَدَّمْنَاه.

Beliau mengangkat Mu‘ādz sebagai qāḍī di sebagian wilayah Yaman dan berkata kepadanya apa yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَقَلَّدَ دِحْيَةَ الْكَلْبِيَّ قَضَاءَ نَاحِيَةِ الْيَمَنِ وَكَانَ يُشَبِّهُهُ بِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Nabi mengangkat Dihyah al-Kalbi sebagai qadhi di wilayah Yaman, dan beliau biasa menyerupakannya dengan Jibril ‘alaihissalam.

وَكَانَ إِذَا أَسْلَمَ قَوْمٌ أَقَامَ عَلَيْهِمْ مَنْ يُعَلِّمُهُمْ شَرَائِعَ الدِّينِ وَيَقْضِي بَيْنَ الْمُتَنَازِعِينَ.

Dan apabila suatu kaum memeluk Islam, beliau menugaskan seseorang untuk mengajarkan kepada mereka syariat agama dan memutuskan perkara di antara orang-orang yang berselisih.

وَقَدْ حَكَمَ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ بَيْنَ النَّاسِ وَقَلَّدُوا الْقُضَاةَ وَالْحُكَّامَ.

Para khalifah Rasyidun telah memutuskan perkara di antara manusia dan mengangkat para qadi serta para hakim.

فَحَكَمَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَيْنَ النَّاسِ وَاسْتَخْلَفَ الْقُضَاةَ وَبَعَثَ أَنَسًا إِلَى الْبَحْرَيْنِ قَاضِيًا.

Abu Bakar raḍiyallāhu ‘anhu memutuskan perkara di antara manusia, mengangkat para qāḍī, dan mengutus Anas ke Bahrain sebagai qāḍī.

وَحَكَمَ عُمَرُ بَيْنَ النَّاسِ، وَبَعَثَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ إِلَى الْبَصْرَةِ قَاضِيًا، وَبَعَثَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ إِلَى الْكُوفَةِ قَاضِيًا.

Umar memutuskan perkara di antara manusia, dan ia mengutus Abu Musa al-Asy‘ari ke Basrah sebagai qadi, serta mengutus Abdullah bin Mas‘ud ke Kufah sebagai qadi.

وَحَكَمَ عُثْمَانُ بَيْنَ النَّاسِ، وَقَلَّدَ شُرَيْحًا الْقَضَاءَ.

Utsman memutuskan perkara di antara manusia, dan ia mengangkat Syuraih sebagai qadhi.

وَحَكَمَ عَلِيٌّ بَيْنَ النَّاسِ وَبَعَثَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ إِلَى الْبَصْرَةِ قَاضِيًا وَنَاظِرًا.

Ali memutuskan perkara di antara manusia dan mengutus Abdullah bin Abbas ke Basrah sebagai qadhi dan pengawas.

فصار ذلك من فعلهم إجماعا.

Maka hal itu menjadi ijmā‘ dari perbuatan mereka.

(دليل العقل والعرف)

(Pedoman akal dan ‘urf)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَلِأَنَّ الْقَضَاءَ أَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ} [التوبة: 112] . الْآيَةَ.

Karena peradilan itu merupakan perintah untuk melakukan kebaikan (ma‘rūf) dan larangan dari kemungkaran (munkar), sedangkan Allah Ta‘ālā berfirman: “Orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” (QS. at-Taubah: 112).

وَلِأَنَّ النَّاسَ لِمَا فِي طِبَاعِهِمْ مِنَ التَّنَافُسِ وَالتَّغَالُبِ وَلِمَا فُطِرُوا عَلَيْهِ مِنَ التَّنَازُعِ وَالتَّجَاذُبِ يَقِلُّ فِيهِمُ التَّنَاصُرُ وَيَكْثُرُ فيها التَّشَاجُرُ وَالتَّخَاصُمُ، إِمَّا لِشُبْهَةٍ تَدْخُلُ عَلَى مَنْ تَدَيَّنَ أَوْ لِعِنَادٍ يُقْدِمُ عَلَيْهِ مَنْ يَجُورُ. فَدَعَتِ الضَّرُورَةُ إِلَى قَوْدِهِمْ إِلَى الْحَقِّ وَالتَّنَاصُفِ بِالْأَحْكَامِ الْقَاطِعَةِ لِتَنَازُعِهِمْ وَالْقَضَايَا الْبَاعِثَةِ عَلَى تَنَاصُفِهِمْ.

Karena pada diri manusia terdapat sifat saling bersaing dan saling mengalahkan, serta karena mereka diciptakan dengan kecenderungan untuk berselisih dan saling tarik-menarik, maka di antara mereka sedikit terjadi saling menolong dan banyak terjadi pertengkaran serta perselisihan, baik karena adanya syubhat yang masuk pada orang yang beragama, maupun karena sikap keras kepala yang dilakukan oleh orang yang berbuat zalim. Maka kebutuhan mendesak menuntut untuk membimbing mereka kepada kebenaran dan keadilan dengan hukum-hukum yang tegas yang dapat mengakhiri perselisihan mereka, serta keputusan-keputusan yang mendorong mereka untuk saling berbuat adil.

وَلِأَنَّ عَادَاتِ الْأُمَمِ بِهِ جَارِيَةٌ وَجَمِيعَ الشَّرَائِعِ بِهِ وَارِدَةٌ.

Karena kebiasaan bangsa-bangsa berjalan dengannya, dan seluruh syariat datang dengannya.

وَلِأَنَّ فِي أَحْكَامِ الِاجْتِهَادِ مَا يَكْثُرُ فِيهِ الِاخْتِلَافُ فَلَمْ يَتَعَيَّنْ أَحَدُهُمَا بَيْنَ الْمُخْتَلِفِينَ فِيهِ إِلَّا بِالْحُكْمِ الْفَاصِلِ وَالْقَضَاءِ الْقَاطِعِ. “

Karena dalam hukum-hukum ijtihad terdapat banyak perbedaan pendapat, maka tidak ada satu pun di antara pendapat-pendapat yang berbeda itu yang ditetapkan secara pasti kecuali dengan keputusan yang memutuskan perkara dan putusan hukum yang bersifat final.

(فصل: [شروط ولاية القضاء] )

(Bab: [Syarat-syarat Wilayah Kekuasaan Qadha’])

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا فَوِلَايَةُ الْقَضَاءِ تَشْتَمِلُ على خمسة شروط: مولى ومولي وعمل ونظر وعقد.

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, maka wilayah peradilan mencakup lima syarat: wali, yang diwalikan, pekerjaan, pengawasan, dan akad.

( [المولي] )

([al-mawlā])

فَأَمَّا الشَّرْطُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الْمُوَلِّي فَيُرْجَعُ فِيهِ إِلَى أَصْلٍ وَفَرْعٍ.

Adapun syarat pertama, yaitu al-muwallī, maka dalam hal ini dikembalikan kepada pokok dan cabang.

فَأَمَّا الْأَصْلُ فَهُوَ الْإِمَامُ الْمُسْتَخْلَفُ عَلَى الْأُمَّةِ فَتَقْلِيدُ الْقَضَاءِ مِنْ جِهَتِهِ فَرْضٌ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ لِأَمْرَيْنِ:

Adapun asalnya adalah imam yang diangkat sebagai pemimpin atas umat, maka pengangkatan qadhi dari pihaknya merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan olehnya karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: لِدُخُولِهِ فِي عُمُومِ وِلَايَتِهِ.

Salah satunya adalah karena termasuk dalam cakupan umum wilayahnya.

وَالثَّانِي: لِأَنَّ التَّقْلِيدَ لَا يَصِحُّ إِلَّا مِنْ جِهَتِهِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَوَقَّفَ حَتَّى يَسْأَلَ لِأَنَّهُ مِنَ الْحُقُوقِ الْمُسْتَرْعَاةِ.

Kedua: karena taqlid tidak sah kecuali dari pihaknya, dan tidak boleh ia menunda sampai bertanya, karena hal itu termasuk hak-hak yang harus dijaga.

وَأَمَّا الْفَرْعُ: فَهُوَ قَاضِي الْإِقْلِيمِ إِذَا عَجَزَ عَنِ النَّظَرِ فِي جَمِيعِ النَّوَاحِي لَزِمَهُ تَقْلِيدُ الْقَضَاءِ فِيمَا عَجَزَ عَنْ مُبَاشَرَةِ النَّظَرِ فِيهِ.

Adapun cabang permasalahan: yaitu seorang qāḍī wilayah apabila tidak mampu menangani seluruh daerah, maka wajib baginya untuk mendelegasikan tugas peradilan pada perkara yang tidak mampu ia tangani secara langsung.

فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْإِمَامِ تَعَيَّنَ فَرْضُ التَّقْلِيدِ عَلَى الْقَاضِي وَإِنْ قَرُبَ مِنْهُ كَانَ فَرْضُ التَّقْلِيدِ مُشْتَرِكًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْإِمَامِ.

Jika seorang qadhi berada jauh dari imam, maka kewajiban taqlid menjadi tanggung jawab qadhi. Namun jika ia dekat dengan imam, maka kewajiban taqlid menjadi tanggung jawab bersama antara qadhi dan imam.

وَيَتَعَيَّنُ عَلَيْهِمَا دُونَ غَيْرِهِمَا فَأَيُّهُمَا انْفَرَدَ بِالتَّقْلِيدِ سَقَطَ فَرْضُهُ عَنْهُمَا.

Keduanya wajib melakukannya, tidak selain mereka berdua. Maka siapa pun di antara keduanya yang telah melaksanakan taklid secara sendiri, gugurlah kewajiban itu dari keduanya.

فَإِنْ تَفَرَّدَ الْقَاضِي بِالتَّقْلِيدِ كَانَ فِيهِ عَلَى عُمُومِ وِلَايَتِهِ. وَإِنْ تَفَرَّدَ الْإِمَامُ بِالتَّقْلِيدِ كَانَ عَزْلًا لِلْقَاضِي عَنْهُ إِلَّا أَنْ يُصَرِّحَ فِي التَّقْلِيدِ بِاسْتِنَابَتِهِ عَنْهُ فَيَكُونُ بَاقِيًا عَلَى وِلَايَتِهِ.

Jika seorang qadhi sendiri yang menerima pendelegasian, maka hal itu berlaku atas seluruh wilayah kekuasaannya. Dan jika imam sendiri yang menerima pendelegasian, maka hal itu merupakan pencabutan kekuasaan qadhi atasnya, kecuali jika dalam pendelegasian tersebut imam secara tegas menyatakan bahwa qadhi bertindak sebagai wakil darinya, maka qadhi tetap berada dalam wilayah kekuasaannya.

(عزل القاضي)

(Pemberhentian Qadhi)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَيَجُوزُ لِلْإِمَامِ أَنْ يَعْزِلَ مَنْ قَلَّدَهُ وَلَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَعْزِلَ مَنْ قَلَّدَهُ الْإِمَامُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُسْتَنَابًا عَنْهُ. فَفِي جَوَازِ تَفَرُّدِ الْقَاضِي بِعَزْلِهِ وَجْهَانِ:

Dan diperbolehkan bagi imam untuk memberhentikan orang yang telah diangkatnya, namun tidak diperbolehkan bagi qadhi untuk memberhentikan orang yang telah diangkat oleh imam, kecuali jika ia bertindak sebagai wakil dari imam. Maka, dalam hal bolehnya qadhi memberhentikan sendiri terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ كَمَا لَوْ كَانَ هُوَ الْمُسْتَنِيبَ.

Salah satunya: Diperbolehkan sebagaimana jika ia sendiri yang menjadi orang yang mewakilkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ لِافْتِيَاتِهِ عَلَى الْإِمَامِ فِي اخْتِيَارِهِ لَهُ.

Pendapat kedua: Tidak diperbolehkan karena hal itu merupakan tindakan mendahului imam dalam memilihnya.

(تقليد أهل البلد للقاضي)

Taklid penduduk suatu daerah kepada seorang qadhi.

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَلَوْ خَلَا بَلَدٌ مِنْ قَاضٍ فَقَلَّدَ أَهْلُ الْبَلَدِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ قَاضِيًا مِنْهُمْ كَانَ تَقْلِيدُهُمْ لَهُ بَاطِلًا إِنْ كَانَ فِي الْعَصْرِ إِمَامٌ لِافْتِيَاتِهِمْ عَلَيْهِ فِيمَا هُوَ أَحَقُّ بِهِ. وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْظُرَ بَيْنَهُمْ مُلْزَمًا فَإِنْ نَظَرَ بَطَلَتْ أَحْكَامُهُ وَصَارَ بِهَا مَجْرُوحًا، وَيَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ بَيْنَهُمْ مُتَوَسِّطًا مَعَ التَّرَاضِي. وَالْأَوْلَى أَنْ يَعْتَزِلَ الْوَسَاطَةَ بَيْنَهُمْ لِئَلَّا يَتَشَبَّهَ بِذَوِي الْوِلَايَاتِ الصَّحِيحَةِ لِمَا تَقَدَّمَ مِنَ التَّقْلِيدِ.

Maka jika suatu negeri kosong dari seorang qadhi, lalu penduduk negeri tersebut mengangkat seorang qadhi dari kalangan mereka sendiri atas diri mereka, maka pengangkatan mereka itu batal jika pada masa itu ada imam, karena mereka telah mendahului imam dalam hal yang lebih berhak ia lakukan. Tidak boleh baginya untuk memutuskan perkara di antara mereka secara mengikat, dan jika ia melakukannya maka keputusan-keputusannya batal dan ia menjadi tercela karenanya. Namun, ia boleh memutuskan perkara di antara mereka sebagai penengah dengan adanya kerelaan dari kedua belah pihak. Dan yang lebih utama baginya adalah menjauhi peran sebagai penengah di antara mereka agar tidak menyerupai para pemilik kekuasaan yang sah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya tentang pengangkatan tersebut.

فَإِنْ خَلَا الْعَصْرُ مِنْ إِمَامٍ، فَإِنْ كَانَ يُرْجَى أَنْ يَتَجَدَّدَ لِإِمَامٍ نُظِرَ بَعْدَ زَمَانٍ قَرِيبٍ كَانَ تَقْلِيدُ الْقَاضِي بَاطِلًا كَمَا لَوْ كَانَ الْإِمَامُ مَوْجُودًا لِقُرْبِ زَمَانِهِ.

Jika pada suatu masa tidak ada imam, lalu jika diharapkan akan muncul seorang imam dalam waktu dekat, maka pengangkatan seorang qadhi (hakim) menjadi batal, sebagaimana jika imam itu ada karena dekatnya waktu kemunculannya.

وَإِنْ لَمْ يُرْجَ تَجْدِيدُ إِمَامٍ قَرِيبٍ نُظِرَتْ أَحْوَالُهُمْ فَإِنْ أَمْكَنَهُمْ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى قَاضِي أَقْرَبِ الْبِلَادِ إِلَيْهِمْ كَانَ تَقْلِيدُهُمْ لِلْقَاضِي بَاطِلًا.

Dan jika tidak diharapkan akan diangkat imam (pemimpin) baru dalam waktu dekat, maka keadaan mereka dilihat; jika memungkinkan bagi mereka untuk mengajukan perkara kepada qadhi (hakim) di negeri terdekat dengan mereka, maka pengangkatan qadhi oleh mereka adalah batal.

وَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُمُ التَّحَاكُمُ إِلَى غَيْرِهِ نُظِرَ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُمْ أَنْ يَنْصُرُوهُ عَلَى تَنْفِيذِ أَحْكَامِهِ كَانَ تَقْلِيدُهُمْ لَهُ بَاطِلًا لِقُصُورِهِ عَنْ قُوَّةِ الْوُلَاةِ وَإِنْ أَمْكَنَهُمْ نَصْرُهُ وَتَقْوِيَةُ يَدِهِ كَانَ تَقْلِيدُهُ جَائِزًا حَتَّى لَا يَتَغَالَبُوا عَلَى الْحُقُوقِ إِذَا اجْتَمَعَ عَلَى تَقْلِيدِهِ جَمِيعُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ مِنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ فِي تَقْلِيدِ الْإِمَامِ اجْتِمَاعُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ كُلِّهِمْ.

Dan jika mereka tidak memungkinkan untuk berhukum kepada selainnya, maka dilihat lagi: jika mereka tidak mampu menolongnya dalam menegakkan hukum-hukumnya, maka pengangkatan mereka terhadapnya batal karena ia tidak memiliki kekuatan seperti para penguasa. Namun jika mereka mampu menolongnya dan memperkuat posisinya, maka pengangkatan mereka sah agar mereka tidak saling berebut hak, apabila seluruh ahl al-ikhtiyār dari mereka sepakat dalam pengangkatannya, meskipun dalam pengangkatan imam tidak disyaratkan harus berkumpul seluruh ahl al-ikhtiyār.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ وِلَايَةَ الْإِمَامِ عَامَّةٌ فِي جَمِيعِ الْبِلَادِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ اجْتِمَاعُ أَهْلِهَا عَلَى الِاخْتِيَارِ فَسَقَطَ اعْتِبَارُ اجْتِمَاعِهِمْ لِتَعَذُّرِهِ وَوِلَايَةُ الْقَاضِي خَاصَّةً عَلَى بَلَدٍ وَاحِدٍ يُمْكِنُ اجْتِمَاعُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ عَلَيْهِ فَلَزِمَ اعْتِبَارُ اجْتِمَاعِهِمْ لِإِمْكَانِهِ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa wilayah (kekuasaan) imam bersifat umum mencakup seluruh negeri yang penduduknya tidak mungkin berkumpul untuk melakukan pemilihan, sehingga pertimbangan berkumpulnya mereka menjadi gugur karena hal itu mustahil dilakukan. Adapun wilayah (kekuasaan) qadhi bersifat khusus pada satu negeri saja yang penduduknya memungkinkan untuk berkumpul dalam pemilihan, maka pertimbangan berkumpulnya mereka menjadi wajib karena hal itu memungkinkan dilakukan.

فَعَلَى هَذَا إِنْ قَلَّدَهُ بَعْضُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ مِنْهُمْ نُظِرَ فِي بَاقِيهِمْ فَإِنْ ظَهَرَ مِنْهُمُ الرِّضَا بِالسُّكُوتِ وَعَدَمِ الِاخْتِلَافِ صَحَّ التَّقْلِيدُ وَصَارُوا بِالرِّضَا كَالْمُجْتَمِعِينَ عَلَيْهِ. لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُبَاشِرَهُ جَمِيعُهُمْ وَإِنْ ظَهَرَ مِنْهُمُ الْإِنْكَارُ بَطَلَ التَّقْلِيدُ لِعَدَمِ شَرْطِهِ فِي الِاجْتِمَاعِ.

Berdasarkan hal ini, jika sebagian Ahl al-Ikhtiyar dari mereka melakukan taklid kepadanya, maka dilihat keadaan yang lainnya. Jika tampak dari mereka adanya kerelaan dengan diam dan tidak adanya perbedaan pendapat, maka taklid tersebut sah dan mereka dengan kerelaan itu dianggap seperti orang-orang yang bersepakat atasnya. Karena tidak mungkin semuanya dapat melakukannya secara langsung. Namun jika tampak dari mereka adanya penolakan, maka taklid tersebut batal karena tidak terpenuhinya syarat dalam ijma‘.

فَإِنْ كَانَ لِلْبَلَدِ جَانِبَانِ فَرَضِيَ بِتَقْلِيدِهِ أَهْلُ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ دُونَ الْآخَرِ صَحَّ تَقْلِيدُهُ فِي الْجَانِبِ الْمُرْتَضَى فِيهِ وَبَطَلَ فِي الْجَانِبِ الْمَكْرُوهِ فِيهِ لأن تميز الحانبين كَتَمَيُّزِ الْبَلَدَيْنِ.

Jika suatu kota memiliki dua sisi, lalu penduduk salah satu sisi menerima pengangkatan (seorang hakim) sementara sisi lainnya tidak, maka pengangkatan tersebut sah pada sisi yang menerima dan batal pada sisi yang tidak menerima, karena perbedaan kedua sisi itu seperti perbedaan dua kota.

فَإِذَا صَحَّتْ وِلَايَةُ هَذَا الْقَاضِي نَفَذَتْ أَحْكَامُهُ وَلَزِمَتْ طَوْعًا وَجَبْرًا لِانْعِقَادِ وِلَايَتِهِ.

Apabila kekuasaan hakim ini telah sah, maka putusannya berlaku dan wajib ditaati, baik secara sukarela maupun dengan paksaan, karena kekuasaannya telah terwujud.

(تجدد الإمام)

(Pembaruan Imam)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِنْ تَجَدَّدَ بَعْدَهُ إِمَامٌ لَمْ يَنْقُضْ لَهُ حُكْمًا نَفَذَ عَلَى الصِّحَّةِ. وَلَهُ عَزْلُهُ وَإِقْرَارُهُ وَلَمْ يَجُزْ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْتَأْنِفَ النَّظَرَ إِلَّا بَعْدَ إِذْنِ الْإِمَامِ. وَلَوْ كَانَ تَقْلِيدُهُ عَنْ إِمَامٍ تَقَدَّمَ لَمْ يَلْزَمْهُ الِاسْتِئْذَانُ.

Jika setelahnya diangkat seorang imam yang baru, maka ia tidak membatalkan keputusan yang telah dijalankan secara sah. Imam tersebut berhak memberhentikan atau menetapkan kembali hakim tersebut. Hakim tidak boleh memulai kembali pemeriksaan perkara kecuali setelah mendapat izin dari imam. Namun, jika pengangkatannya berasal dari imam sebelumnya, maka ia tidak wajib meminta izin.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا وُجُودُ الضَّرُورَةِ فِي تَقْلِيدِ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ وَعَدَمِهَا فِي تَقْلِيدِ الْإِمَامِ.

Perbedaan antara keduanya adalah adanya kebutuhan mendesak dalam melakukan taqlid kepada ahl al-ikhtiyār dan tidak adanya kebutuhan tersebut dalam melakukan taqlid kepada imam.

وَيَكْتَفِي هَذَا الْقَاضِي بِإِذْنِ الْإِمَامِ عَنْ تَجْدِيدِ تَقْلِيدٍ وَيَقُومُ الْإِذْنُ لَهُ مَقَامَ التَّقْلِيدِ. وَإِنْ لَمْ يَجُزِ الِاقْتِصَارُ عَلَى الْإِذْنِ وَالْوِلَايَاتِ الْمُسْتَجَدَّةِ لِمَا تَقَدَّمَ لِهَذَا الْقَاضِي. مِنْ شُرُوطِ التَّقْلِيدِ وَكَانَ حُكْمُهُ أَخَفَّ.

Hakim ini cukup dengan izin dari imam tanpa perlu pembaruan pelantikan, dan izin tersebut baginya menempati posisi pelantikan (taqlid). Namun, tidak boleh hanya mengandalkan izin saja dalam urusan-urusan kekuasaan baru yang diberikan kepada hakim ini, karena syarat-syarat pelantikan (taqlid) yang telah disebutkan sebelumnya harus tetap dipenuhi, dan hukum terkait hal ini lebih ringan.

(فَصْلٌ: [المولى] )

Bab: [Al-Mawlā]

وَأَمَّا الشَّرْطُ الثَّانِي وَهُوَ الْمُوَلَّى:

Adapun syarat kedua, yaitu al-muwallā (orang yang diberi wewenang):

فَتَقْلِيدُ الْقَضَاءِ مِنْ جِهَتِهِ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، لِأَنَّهُ لَا يَتَعَيَّنُ فِي وَاحِدٍ مِنَ النَّاسِ، وَيَدْخُلُ فِي فَرْضِهِ كُلُّ مَنْ تَكَامَلَتْ فِيهِ شُرُوطُ الْقَضَاءِ حَتَّى يَقُومَ بِهِ أَحَدُهُمْ فَيَسْقُطُ فَرْضُهُ عَنْ جَمَاعَتِهِمْ.

Maka pengangkatan qadha dari pihaknya termasuk fardhu kifayah, karena tidak ditetapkan pada satu orang tertentu di antara manusia, dan termasuk dalam kewajiban ini setiap orang yang telah terpenuhi padanya syarat-syarat qadha, hingga salah satu dari mereka melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban itu dari kelompok mereka.

فَإِنْ لَمْ تَكْمُلْ شُرُوطُهُ فِي الْوَقْتِ إِلَّا فِي وَاحِدٍ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ فَرْضُ الْإِجَابَةِ إِذَا دُعِيَ إِلَى الْقَضَاءِ، وَلَمْ يَتَعَيَّنْ عَلَيْهِ طَلَبُ الْقَضَاءِ لِأَنَّ فَرْضَ التَّقْلِيدِ عَلَى الْمُوَلِّي دون المولى ولا يصير بتفرده فِي عَصْرِهِ وَالِيًا حَتَّى يُوَلَّى.

Jika syarat-syaratnya belum terpenuhi pada waktu itu kecuali pada satu orang saja, maka wajib baginya untuk menerima (jabatan) jika ia dipanggil untuk mengadili, namun tidak wajib baginya untuk meminta jabatan tersebut. Sebab kewajiban taqlid (pengangkatan) itu ada pada pihak yang mengangkat, bukan pada yang diangkat, dan seseorang tidak menjadi wali (penguasa) di masanya hanya karena ia sendiri yang memenuhi syarat, sampai ia benar-benar diangkat.

وَلَوْ تَكَامَلَتْ شُرُوطُ الْإِمَامَةِ فِي وَاحِدٍ انْفَرَدَ بِهَا عَنْ غَيْرِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ: هَلْ تَنْعَقِدُ إِمَامَتُهُ من غير أن يعقدها له أهل العقد وَالْحِلِّ؟

Dan jika seluruh syarat imamah terpenuhi pada satu orang sehingga ia unggul dibandingkan yang lain, para ulama berbeda pendapat: apakah imamahnya sah tanpa diangkat oleh ahl al-‘aqd wa al-hall?

فَذَهَبَ أَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهَا لَا تَنْعَقِدُ إِمَامَتُهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَعْقِدَهَا لَهُ أَهِلُ الْعَقْدِ وَالْحِلِّ إِلَّا بِعَقْدٍ كَوِلَايَةِ الْقَضَاءِ.

Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa kepemimpinan (imamah) tidak sah tanpa diangkat oleh ahl al-‘aqd wa al-hall, kecuali melalui suatu akad, sebagaimana dalam pengangkatan qadhi.

وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْ فُقَهَاءِ الْعِرَاقِ وَبَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ إِلَى انْعِقَادِ إِمَامَتِهِ مِنْ غَيْرِ عَقْدٍ. لِأَنَّ عَقْدَ أَهْلِ الْعَقْدِ إِنَّمَا يُرَادُ لِتَمْيِيزِ الْمُسْتَحِقِّ. فَإِذَا تَمَيَّزَ بِصِفَتِهِ اسْتُغْني عَنْ عَقْدِهِمْ.

Sebagian lain dari fuqaha Irak dan beberapa mutakallim berpendapat bahwa keimaman dapat terwujud tanpa adanya baiat. Sebab, baiat ahl al-‘aqd hanya dimaksudkan untuk membedakan siapa yang berhak. Maka jika seseorang telah jelas dengan sifat-sifatnya sebagai yang berhak, tidak diperlukan lagi baiat dari mereka.

وَفَرَّقُوا بَيْنَ الْقَضَاءِ وَالْإِمَامَةِ. بِأَنَّ الْقَضَاءَ نِيَابَةٌ خَاصَّةٌ يَجُوزُ صَرْفُهُ عَنْهَا مَعَ بَقَائِهِ عَلَى صِفَتِهِ فلم يفتقر إلى عقد ومول وَإِنْ شَذَّ بَعْضُ أَهْلِ الْمَذْهَبِ فَسَوَّى بَيْنَ الْإِمَامَةِ وَالْقَضَاءِ. وَجَعَلَ وِلَايَةَ الْقَضَاءِ فِيمَنْ تَفَرَّدَ بِشُرُوطِهِ مُنْعَقِدَةً مِنْ غَيْرِ عَاقِدٍ كَالْإِمَامَةِ. وَالْجَمْعُ بينهما في الصحة أفسد والجمع بينهما الْبُطْلَانِ أَصَحُّ، لِأَنَّ الْوِلَايَاتِ عُقُودٌ فَافْتَقَرَتْ إِلَى عَاقِدٍ.

Mereka membedakan antara qadha (peradilan) dan imamah (kepemimpinan), bahwa qadha adalah perwakilan khusus yang boleh dialihkan darinya sementara sifatnya tetap, sehingga tidak memerlukan akad dan pemberi mandat. Meskipun sebagian kecil ulama mazhab ada yang menyamakan antara imamah dan qadha, dan menjadikan wilayah qadha bagi orang yang memenuhi syarat-syaratnya sebagai sah tanpa adanya pihak yang mengakadkan, seperti halnya imamah. Menggabungkan keduanya dalam hal keabsahan adalah rusak, dan menggabungkan keduanya dalam kebatalan adalah lebih benar, karena seluruh bentuk kekuasaan adalah akad, sehingga membutuhkan pihak yang mengakadkan.

فَإِنِ امْتَنَعَ هَذَا الْمُنْفَرِدُ بِشُرُوطِ الْقَضَاءِ مِنَ الْإِجَابَةِ إِلَيْهِ أَجْبَرَهُ الْإِمَامُ عَلَيْهِ لِتَعَيُّنِ فَرْضِهِ عَلَيْهِ وَمَنْ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ فَرْضٌ أُخِذَ به جبرا.

Jika orang yang sendirian yang memenuhi syarat-syarat menjadi qadhi itu menolak untuk menerima tugas tersebut, maka imam (penguasa) memaksanya untuk menerimanya, karena kewajiban itu telah ditetapkan khusus baginya, dan siapa pun yang telah ditetapkan kewajiban atasnya, maka ia dapat dipaksa untuk melaksanakannya.

(ولاية المفضول مع وجود الأفضل)

(Kewenangan pihak yang kurang utama ketika masih ada pihak yang lebih utama)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَإِذَا تَكَامَلَتْ شُرُوطُ الْقَضَاءِ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ الْأَوْلَى بِالْإِمَامِ أَنْ يُقَلِّدَ أَفْضَلَهُمْ.

Apabila telah terpenuhi seluruh syarat-syarat peradilan pada sekelompok orang, maka yang lebih utama bagi imam adalah mengangkat yang paling utama di antara mereka.

فَإِنْ عَدَلَ عَنِ الْأَفْضَلِ إِلَى الْمُقَصِّرِ انْعَقَدَتْ وِلَايَتُهُ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى كَمَالِ الشُّرُوطِ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ.

Jika seseorang berpaling dari yang lebih utama kepada yang kurang utama, maka kepemimpinannya tetap sah, karena tambahan di atas kesempurnaan syarat-syarat tidaklah diperhitungkan.

وَلَوْ تَكَامَلَتْ شُرُوطُ الْإِمَامَةِ فِي جَمَاعَةٍ وَجَبَ عَلَى أَهْلِ الِاخْتِيَارِ مِنْ أَهْلِ الْعَقْدِ أَنْ يُقَلِّدُوا أَفْضَلَهُمْ.

Dan jika seluruh syarat imamah telah terpenuhi pada suatu kelompok, maka wajib bagi ahl al-ikhtiyār dari ahl al-‘aqd untuk mengangkat yang terbaik di antara mereka.

وَإِنْ عَدَلُوا عَنِ الْأَفْضَلِ إِلَى الْمَفْضُولِ لِعُذْرٍ صَحَّ الْعَقْدُ.

Dan jika mereka berpindah dari yang lebih utama kepada yang kurang utama karena suatu uzur, maka akadnya sah.

وَإِنْ عَدَلُوا عَنْهُ لِغَيْرِ عُذْرٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي صِحَّةِ إِمَامَتِهِ فَذَهَبَ جُمْهُورُهُمْ إِلَى صِحَّتِهَا كَالْقَضَاءِ، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى فَسَادِهَا لِفَسَادِ الِاخْتِيَارِ فِي الْعُدُولِ عَنِ الْأَفْضَلِ إِلَى الْمَفْضُولِ.

Dan jika mereka berpaling darinya tanpa alasan yang dibenarkan, para fuqaha berbeda pendapat mengenai sah atau tidaknya kepemimpinannya. Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa kepemimpinannya tetap sah, seperti halnya dalam perkara qadha, sementara sebagian dari mereka berpendapat bahwa kepemimpinannya tidak sah karena rusaknya proses pemilihan akibat berpaling dari yang lebih utama kepada yang kurang utama.

وَفَرَّقُوا بَيْنَ الْإِمَامَةِ وَالْقَضَاءِ بِأَنَّ الْقَضَاءَ نِيَابَةٌ خَاصَّةٌ فَجَازَ أَنْ يَعْمَلَ فِيهَا عَلَى اخْتِيَارِ الْمُسْتَنِيبِ كَالْوَكَالَةِ وَالْإِمَامَةُ وِلَايَةٌ عَامَّةٌ وَلَمْ يَصِحَّ فِيهَا تَفْرِيطُ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ لافتياتهم على غيرهم.

Mereka membedakan antara imamah dan qadha’ dengan penjelasan bahwa qadha’ adalah perwakilan khusus, sehingga boleh dijalankan sesuai pilihan pihak yang mewakilkan, seperti dalam wakalah. Sedangkan imamah adalah kekuasaan umum, sehingga tidak sah jika terjadi kelalaian dari ahl al-ikhtiyar karena hal itu berarti melampaui hak orang lain.

(تقليد طالب القضاء)

(Taklid bagi calon hakim)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَإِذَا تَكَافَأَتِ الْجَمَاعَةُ فِي شُرُوطِ الْقَضَاءِ وَكَانَ فِيهِمْ طَالِبٌ لِلْوِلَايَةِ وَفِيهِمْ مُمْسِكٌ عَنْهَا فَالْأَوْلَى بِالْإِمَامِ أَنْ يُقَلِّدَ الْمُمْسِكَ دُونَ الطَّالِبِ. لِأَنَّهُ أَرْغَبُ فِي السَّلَامَةِ.

Apabila sekelompok orang memiliki kesetaraan dalam syarat-syarat menjadi qadhi, dan di antara mereka ada yang menginginkan jabatan tersebut serta ada yang menahan diri darinya, maka yang lebih utama bagi imam adalah mengangkat orang yang menahan diri, bukan yang menginginkannya. Sebab, ia lebih mengutamakan keselamatan.

فَإِنِ امْتَنَعَ لِعُذْرٍ لَمْ يُجْبَرْ عَلَيْهِ.

Jika ia menolak karena suatu uzur, maka ia tidak dipaksa untuk melakukannya.

وَإِنِ امْتَنَعَ لِغَيْرِ عُذْرٍ فَفِي جَوَازِ إِجْبَارِهِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ:

Dan jika ia menolak tanpa uzur, maka dalam kebolehan memaksanya untuk melakukannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُجْبَرُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهَا نِيَابَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الْإِجْبَارُ كَالْوَكَالَةِ.

Salah satunya: tidak boleh dipaksakan atasnya; karena ini adalah perwakilan yang tidak masuk dalam kategori yang dapat dipaksakan, seperti halnya wakālah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُجْبَرُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ مَأْمُورٌ بِطَاعَةٍ إِنْ تُرِكَ فِيهَا عَلَى امْتِنَاعِهِ جَازَ أَنْ يَكُونَ حَالُ غَيْرِهِ مِثْلَ حَالِهِ فَيُفْضِي الْأَمْرُ إِلَى تَعْطِيلِ الْقَضَاءِ.

Pendapat kedua: Ia dipaksa untuk melakukannya; karena ia diperintahkan untuk taat, jika dibiarkan dalam penolakannya maka boleh jadi keadaan orang lain akan sama seperti keadaannya, sehingga hal itu akan berujung pada terhentinya pelaksanaan qadhā’.

وَخَالَفَ حَالَ الْوَكَالَةِ الَّتِي لَا تَتَعَلَّقُ بِطَاعَةٍ.

Hal ini berbeda dengan keadaan wakālah yang tidak berkaitan dengan ketaatan.

فَإِنْ عَدَلَ الْإِمَامُ عَنِ الْمُمْسِكِ إِلَى الطَّالِبِ جَازَ وَصَحَّ تَقْلِيدُهُ بَعْدَ أَنِ اعْتَبَرَ حَالَ الطَّالِبِ فِي طَلَبِهِ.

Jika imam beralih dari pihak yang menahan kepada pihak yang menuntut, maka hal itu diperbolehkan dan sah penunjukannya setelah mempertimbangkan keadaan pihak penuntut dalam tuntutannya.

وَلَهُ فِيهِ خَمْسَةُ أَحْوَالٍ، مُسْتَحَبٌّ وَمَحْظُورٌ وَمُبَاحٌ وَمَكْرُوهٌ وَمُخْتَلَفٌ فِيهِ.

Dan padanya terdapat lima keadaan: mustahab, mahzūr, mubah, makruh, dan mukhtalaf fīh.

فَأَمَّا الْحَالُ الْأُولَى: وَهُوَ الطَّلَبُ الْمُسْتَحَبُّ فَهُوَ أَنْ تَكُونَ الْحُقُوقُ مُضَاعَةً بِجَوْرٍ أَوْ عَجْزٍ وَالْأَحْكَامُ فَاسِدَةٌ بِجَهْلٍ أَوْ هَوًى فَيَقْصِدُ بِطَلَبِهِ حِفْظَ الْحُقُوقِ وَحِرَاسَةَ الْأَحْكَامِ فَهَذَا الطَّلَبُ مُسْتَحَبٌّ وَهُوَ بِهِ مَأْجُورٌ، لِأَنَّهُ يَقْصِدُ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ وَنَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ.

Adapun keadaan pertama, yaitu permintaan yang dianjurkan, adalah ketika hak-hak dilanggar karena kezaliman atau ketidakmampuan, dan hukum-hukum menjadi rusak karena kebodohan atau hawa nafsu. Maka, tujuan dari permintaan tersebut adalah untuk menjaga hak-hak dan melindungi hukum-hukum. Permintaan semacam ini dianjurkan dan pelakunya mendapatkan pahala, karena ia bertujuan untuk melakukan amar ma‘ruf dan nahi munkar.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: وَهُوَ الطَّلَبُ الْمَحْظُورُ: أَنْ يَقْصِدَ بِطَلَبِهِ انْتِقَامًا مِنْ أَعْدَاءٍ أَوْ تَكَسُّبًا بِارْتِشَاءٍ، فَهَذَا الطَّلَبُ مَحْظُورٌ يَأْثَمُ بِهِ لِأَنَّهُ قَصَدَ بِهِ مَا يَأْثَمُ بِفِعْلِهِ.

Keadaan kedua: yaitu permintaan yang terlarang, yaitu seseorang bermaksud dengan permintaannya untuk membalas dendam kepada musuh-musuh atau mencari keuntungan dengan menerima suap. Maka permintaan seperti ini adalah terlarang dan pelakunya berdosa karenanya, karena ia bermaksud melakukan sesuatu yang berdosa jika dilakukan.

وَأَمَّا الْحَالُ الثَّالِثَةُ: وَهُوَ الطَّلَبُ الْمُبَاحُ فَهُوَ أَنْ يَطْلُبَهُ لِاسْتِمْدَادِ رِزْقِهِ أَوِ اسْتِدْفَاعِ ضَرَرٍ فَهَذَا الطَّلَبُ مُبَاحٌ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ مُبَاحٌ.

Adapun keadaan yang ketiga: yaitu permintaan yang mubah, yaitu ketika seseorang memintanya untuk memperoleh rezekinya atau menolak bahaya, maka permintaan ini hukumnya mubah karena tujuan dari permintaan tersebut adalah sesuatu yang mubah.

وَأَمَّا الْحَالُ الرَّابِعَةُ: وَهُوَ الطَّلَبُ الْمَكْرُوهُ، فَهُوَ أَنْ يَطْلُبَهُ لِلْمُبَاهَاةِ وَالِاسْتِعْلَاءِ بِهِ فَهَذَا الطَّلَبُ مَكْرُوهٌ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ مَكْرُوهٌ.

Adapun keadaan keempat, yaitu mencari ilmu dengan tujuan yang makruh, adalah ketika seseorang mencarinya untuk berbangga-bangga dan meninggikan diri dengannya. Maka pencarian ilmu seperti ini hukumnya makruh, karena tujuan yang dimaksudkan darinya adalah sesuatu yang makruh.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [القصص: 83] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Itulah negeri akhirat, Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di bumi dan tidak pula membuat kerusakan, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

وَأَمَّا الْحَالُ الْخَامِسَةُ: وَهُوَ الطَّلَبُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَهُوَ أَنْ يَطْلُبَهُ رَغْبَةً فِي الْوِلَايَةِ وَالنَّظَرِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهِ مَعَ اخْتِلَافِ السَّلَفِ قَبْلَهُمْ وَاخْتِلَافُ أَصْحَابِنَا مَعَهُمْ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Adapun keadaan kelima: yaitu permintaan yang diperselisihkan hukumnya, yaitu seseorang memintanya karena keinginan terhadap jabatan dan pengelolaan. Para fuqaha berbeda pendapat tentang hal ini, sebagaimana para ulama salaf sebelum mereka juga berbeda pendapat, dan para ulama mazhab kami pun berbeda pendapat dengan mereka dalam tiga pendapat:

أَحَدُهَا: يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ طَالِبًا وَيُكْرَهُ أَنْ يُجِيبَ إِلَيْهِ مَطْلُوبًا، وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ ابْنِ عُمَرَ وَمَكْحُولٍ وَأَبِي قِلَابَةَ وَمَنْ تَخَشَّنَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وطلب السلامة لرواية سعيد ابن أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: مَنِ اسْتَقْضَى فَكَأَنَّمَا ذُبِحَ بِغَيْرِ سِكِّينٍ ” وَلِأَنَّهَا أَمَانَةٌ يَتَحَمَّلُهَا رُبَّمَا قَصَّرَ فِيهَا أَوْ عَجَزَ عَنْهَا وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ} الآية [الأحزاب: 73] .

Salah satunya: Makruh bagi seseorang untuk meminta jabatan sebagai qadhi, dan makruh pula baginya untuk menerima jabatan tersebut jika diminta, dan inilah pendapat yang tampak dari perkataan Ibnu Umar, Makḥūl, Abu Qilābah, serta para fuqaha yang bersikap keras dan menginginkan keselamatan, berdasarkan riwayat Sa‘id bin Abi Sa‘id dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang meminta untuk diangkat sebagai qadhi, maka seakan-akan ia telah disembelih tanpa pisau.” Hal ini karena jabatan tersebut adalah amanah yang harus dipikul, yang bisa jadi seseorang lalai atau tidak mampu menunaikannya, sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung…” (QS. al-Ahzab: 73).

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي: يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ لَهُ طَالِبًا، وَأَنْ يُجِيبَ إِلَيْهِ مَطْلُوبًا وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ قَوْلِ عُمَرَ وَالْحَسَنِ وَمَسْرُوقٍ وَمَنْ تَسَاهَلَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَمَالَ إِلَى التَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى لِرِوَايَةِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ طَلَبَ الْقَضَاءَ حَتَّى يَنَالَهُ فَإِنْ غَلَبَ عَدْلُهُ جَوْرَهُ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَإِنْ غَلَبَ جَوْرُهُ عَدْلَهُ فَلَهُ النَّارُ “. وَلِأَنَّهُ فَرْضٌ لَا يُؤَدَّى إِلَّا بِالتَّعَاوُنِ وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} [المائدة: 2] .

Mazhab kedua: Disunnahkan bagi seseorang untuk mencari jabatan qadha (hakim), dan agar ia memenuhi permintaan ketika diminta untuk itu. Inilah pendapat yang tampak dari perkataan Umar, Al-Hasan, Masruq, dan para fuqaha yang bersikap toleran serta cenderung kepada kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, berdasarkan riwayat Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang mencari jabatan qadha hingga ia mendapatkannya, maka jika keadilannya lebih dominan daripada kezalimannya, baginya surga; dan jika kezalimannya lebih dominan daripada keadilannya, baginya neraka.” Karena jabatan ini adalah fardhu yang tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan kerja sama, dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ: وَهُوَ أَعْدَلُهَا: يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ طَالِبًا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُجِيبَ إِلَيْهِ مَطْلُوبًا وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْمُتَوَسِّطِينَ فِي الْأَمْرِ مِنَ الْفُقَهَاءِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ ” لَا تَطْلُبِ الْإِمَارَةَ فَإِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مسألة وكلت إليها ولأن الطلب تكلف وَالْإِجَابَةَ مَعُونَةٌ.

Madzhab ketiga, dan ini adalah yang paling adil: makruh bagi seseorang untuk meminta jabatan, namun disunnahkan untuk menerimanya jika diminta. Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang moderat dalam masalah ini dari kalangan fuqaha, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah: “Janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan dibantu dalam menjalankannya. Namun jika engkau diberi karena memintanya, engkau akan diserahkan (tanpa bantuan) kepadanya.” Sebab meminta jabatan adalah suatu bentuk memaksakan diri, sedangkan menerima permintaan adalah mendapatkan pertolongan.

(بَذْلُ الْمَالِ عَلَى طَلَبِ الْقَضَاءِ)

Memberikan harta untuk mencari keputusan hukum.

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِنْ بَذَلَ عَلَى طَلَبِ الْقَضَاءِ مَالًا: انْقَسَمَ حَالُ طَلَبِهِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Jika seseorang memberikan harta untuk meminta keputusan (pengadilan), maka keadaan permintaannya terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ وَاجِبًا لِتَعَيُّنِ فَرْضِهِ عَلَيْهِ عِنْدَ انْفِرَادِهِ بِشُرُوطِ الْقَضَاءِ أَوْ مُسْتَحِبًّا لَهُ لِيُزِيلَ جَوْرَ غَيْرِهِ أَوْ تَقْصِيرِهِ فَبَذْلُهُ عَلَى هَذَا الطَّلَبِ مُسْتَحَبٌّ لَهُ وَقَبُولُهُ مِنْهُ مَحْظُورٌ عَلَى الْقَابِلِ لَهُ.

Salah satunya: yaitu ketika menjadi wajib karena telah ditetapkan sebagai kewajiban baginya apabila ia sendiri yang memenuhi syarat-syarat qadha, atau menjadi mustahab (dianjurkan) baginya untuk menghilangkan kezaliman atau kelalaian orang lain. Maka memberikan (jabatan) atas permintaan seperti ini adalah mustahab baginya, dan menerimanya dari orang tersebut adalah terlarang bagi yang menerima.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ طَلَبُهُ مَحْظُورًا أَوْ مَكْرُوهًا فَبَذْلُهُ عَلَى هَذَا الطَّلَبِ مَحْظُورٌ وَمَكْرُوهٌ، بِحَسْبِ حَالِ الطَّلَبِ لِامْتِزَاجِهِمَا وَقَبُولُهُ مِنْهُ أَشَدُّ حَظْرًا وَتَحْرِيمًا.

Bagian kedua: Jika permintaannya terlarang atau makruh, maka memberikan sesuatu atas permintaan tersebut juga terlarang dan makruh, sesuai dengan keadaan permintaannya karena keduanya saling berkaitan. Menerima pemberian tersebut darinya lebih berat larangannya dan keharamannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ طَلَبُهُ مُبَاحًا فَيُعْتَبَرُ الْحُكْمُ، فَإِنْ كَانَ بَعْدَ التَّقْلِيدِ لَمْ يَحْرُمْ عَلَى الْبَاذِلِ وَحَرُمَ عَلَى الْقَابِلِ لقول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” هَدَايَا الْأُمَرَاءِ غُلُولٌ ” وَإِنْ كَانَ الْبَذْلُ قَبْلَ التَّقْلِيدِ حَرُمَ عَلَى الْبَاذِلِ وَالْقَابِلِ جَمِيعًا لِأَنَّهَا مِنَ الرِّشَا الْمَحْظُورَةِ عَلَى بَاذِلِهَا وَقَابِلِهَا لِرِوَايَةِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لعن الراشي والمرتشي والرائش.

Bagian ketiga: Jika permintaannya mubah, maka hukum yang berlaku dipertimbangkan. Jika terjadi setelah pengangkatan (takwil: setelah seseorang diangkat menjadi pejabat atau hakim), maka tidak haram bagi pemberi, namun haram bagi penerima, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Hadiah-hadiah para pejabat adalah ghulul (harta khianat).” Namun jika pemberian itu terjadi sebelum pengangkatan, maka haram bagi pemberi dan penerima secara bersamaan, karena itu termasuk risywah (suap) yang dilarang bagi pemberi dan penerimanya, berdasarkan riwayat dari Tsabit dari ayahnya bahwa Nabi ﷺ melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara di antara keduanya.

فالراشي باذل الرشوة وَالْمُرْتَشِي قَابِلُهَا وَالرَّائِشُ الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُمَا.

Pemberi suap adalah orang yang memberikan suap, penerima suap adalah orang yang menerimanya, dan perantara adalah orang yang menjadi penengah di antara keduanya.

فَإِنْ كَانَ هَذَا الطَّالِبُ قَدْ عَدِمَ شُرُوطَ الْقَضَاءِ أَوْ بَعْضَهَا حَرُمَ عَلَيْهِ الطَّلَبُ وَحَرُمَ عَلَى الْإِمَامِ الْإِجَابَةُ لِفَسَادِ التَّقْلِيدِ وَتَحْرِيمِ النَّظَرِ وَصَارَ بِالطَّلَبِ مجروحا.

Jika penuntut tersebut tidak memenuhi syarat-syarat menjadi qādī atau sebagian syaratnya, maka haram baginya untuk meminta (jabatan itu) dan haram pula bagi imam untuk mengabulkannya, karena rusaknya taklid dan diharamkannya melakukan ijtihad. Dengan permintaan tersebut, ia menjadi tercela.

(فصل: [العمل] )

(Bab: [Amal])

وَأَمَّا الشَّرْطُ الثَّالِثُ وَهُوَ الْعَمَلُ: فَيَلْزَمُ الْإِمَامُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَى الْبَلَدِ الَّذِي يُقَلِّدُهُ قَاضِيًا فَيَقُولُ: قَلَّدْتُكَ قَضَاءَ الْبَصْرَةِ أَوْ يَقُولُ: قَلَّدْتُكَ قَضَاءَ الْكُوفَةِ لِيَكُونَ الْعَمَلُ مَعْلُومًا.

Adapun syarat ketiga, yaitu pelaksanaan: maka wajib bagi imam untuk mengutus seseorang ke negeri yang ia angkat sebagai qadi, lalu ia berkata: “Aku mengangkatmu sebagai qadi di Bashrah,” atau ia berkata: “Aku mengangkatmu sebagai qadi di Kufah,” agar pelaksanaan tugas tersebut menjadi jelas.

فَإِنْ قَالَ: قَلَّدْتُكَ قَضَاءَ الْبَصْرَةِ أَوِ الْكُوفَةِ لَمْ يَجُزْ لِلْجَهْلِ بِالْعَمَلِ. وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ: قَلَّدْتُكَ قَضَاءَ أَيِّ بَلَدٍ شِئْتَ أَوْ أَيِّ بَلَدٍ رَضِيَكَ أَهْلُهُ لَمْ يَجُزْ وَكَانَ التَّقْلِيدُ فَاسِدًا لِلْجَهْلِ بِالْعَمَلِ وَإِذَا قَلَّدَهُ قَضَاءَ الْبَصْرَةِ لَمْ يَخْلُ حَالُ نَوَاحِيهَا وَسَوَادِهَا مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Jika ia berkata: “Aku mengangkatmu sebagai qadi (hakim) di Bashrah atau Kufah,” maka tidak sah karena ketidaktahuan terhadap tugasnya. Demikian pula jika ia berkata: “Aku mengangkatmu sebagai qadi di negeri mana pun yang kamu kehendaki atau di negeri mana pun yang penduduknya meridhaimu,” maka tidak sah dan pengangkatan itu batal karena ketidaktahuan terhadap tugasnya. Dan apabila ia mengangkatnya sebagai qadi di Bashrah, maka keadaan daerah-daerah dan wilayah sekitarnya tidak lepas dari tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَنُصَّ عَلَى دُخُولِهِ فِي تَقْلِيدِهِ فَتَصِيرُ وِلَايَتُهُ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى الْبَصْرَةِ وَجَمِيعِ نَوَاحِيهَا وَأَعْمَالِهَا الْمَنْسُوبَةِ إِلَيْهَا.

Pertama: Jika secara tegas dinyatakan bahwa wilayah tersebut termasuk dalam otoritasnya, maka kekuasaannya mencakup Basrah beserta seluruh daerah dan wilayah yang terkait dengannya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَنُصَّ عَلَى خُرُوجِهِ مِنْ تَقْلِيدِهِ فَتَكُونُ وِلَايَتُهُ مَقْصُورَةً عَلَى دُخُولِهِ فِي تَقْلِيدِهِ فَتَصِيرُ وِلَايَتُهُ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى الْبَصْرَةِ دُونَ أَعْمَالِهَا وَنَوَاحِيهَا.

Bagian kedua: yaitu jika dinyatakan secara tegas bahwa ia keluar dari taklid kepadanya, maka kekuasaannya terbatas hanya pada wilayah yang masuk dalam taklid kepadanya, sehingga kekuasaannya mencakup Basrah saja tanpa daerah-daerah dan wilayah-wilayah di sekitarnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يُمْسِكَ عَنْ ذِكْرِ نَوَاحِيهَا وَأَعْمَالِهَا فَيَعْتَبِرُ حَالَ أَعْمَالِهَا، فَإِنْ كَانَ الْعُرْفُ فِيهَا جَارِيًا بِإِفْرَادِهَا عَنْ قَاضِي الْبَصْرَةِ لَمْ تَدْخُلْ فِي وِلَايَتِهِ وَإِنْ جَرَى الْعُرْفُ بِإِضَافَتِهَا إِلَى قَاضِي الْبَصْرَةِ دَخَلَتْ فِي وِلَايَتِهِ.

Bagian ketiga: yaitu tidak menyebutkan daerah-daerah dan wilayah-wilayahnya, maka yang dijadikan pertimbangan adalah keadaan wilayah-wilayah tersebut. Jika ‘urf (kebiasaan) yang berlaku di sana adalah memisahkannya dari kekuasaan Qadhi Bashrah, maka wilayah-wilayah itu tidak termasuk dalam kekuasaannya. Namun jika ‘urf yang berlaku adalah mengaitkannya dengan Qadhi Bashrah, maka wilayah-wilayah itu termasuk dalam kekuasaannya.

فَإِنِ اخْتَلَفَ الْعُرْفُ فِي إِفْرَادِهَا وَإِضَافَتِهَا رُوعِيَ أَكْثَرُهَا عُرْفًا فَإِنِ اسْتَوَيَا رُوعِيَ أَقْرَبُهَا عَهْدًا فَإِنْ كَانَ الْأَكْثَرُ أَوِ الْأَقْرَبُ إِفْرَادَهَا خَرَجَتْ مِنْ وِلَايَتِهِ وَإِنْ كَانَ الْأَكْثَرُ أَوِ الْأَقْرَبُ إِضَافَتَهَا دَخَلَتْ في ولايته.

Jika terjadi perbedaan ‘urf dalam hal pemisahan atau penyandaran (kepemilikan) terhadapnya, maka yang dijadikan acuan adalah yang paling banyak berlaku menurut ‘urf. Jika keduanya sama kuat, maka yang dijadikan acuan adalah yang paling dekat masanya. Jika yang lebih banyak atau yang lebih dekat adalah pemisahan, maka keluar dari wilayah kekuasaannya. Namun jika yang lebih banyak atau yang lebih dekat adalah penyandaran kepemilikan, maka masuk dalam wilayah kekuasaannya.

(التقليد العام والخاص)

(Taklid umum dan khusus)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ التَّقْلِيدُ عَامًّا وَمَخْصُوصًا.

Dan boleh saja taqlid itu bersifat umum maupun khusus.

فَالْعَامُّ: أَنْ يُقَلِّدَهُ قَضَاءَ جَمِيعِ الْبَلَدِ وَالْقَضَاءَ بَيْنَ جَمِيعِ أَهْلِهِ، وَالْقَضَاءَ فِي جَمِيعِ الْأَيَّامِ فَتَشْتَمِلُ الْوِلَايَةُ عَلَى الْأَحْوَالِ الثَّلَاثِ، فِي جَمِيعِ الْبَلَدِ وَعَلَى جَمِيعِ أَهْلِهِ وَفِي جَمِيعِ الْأَيَّامِ.

Adapun yang umum: yaitu ketika seseorang diberi wewenang untuk memutuskan perkara di seluruh negeri, memutuskan perkara di antara seluruh penduduknya, dan memutuskan perkara pada semua hari. Maka, kekuasaan tersebut mencakup tiga keadaan: di seluruh negeri, atas seluruh penduduknya, dan pada semua hari.

وَالْمَخْصُوصُ: يَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Yang dimaksud dengan makhṣūṣ terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ مَخْصُوصًا فِي بَعْضِ الْبَلَدِ.

Salah satunya: yaitu jika (hukum) itu dikhususkan pada sebagian daerah saja.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مَخْصُوصًا فِي بَعْضِ أَهْلِهِ.

Kedua: bahwa ia dikhususkan untuk sebagian dari orang-orangnya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مَخْصُوصًا في بعض الأيام.

Ketiga: yaitu jika dikhususkan pada beberapa hari tertentu.

(تحديد العمل بالمكان)

(Penetapan pelaksanaan di tempat)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ التَّقْلِيدُ مَقْصُورًا عَلَى قَضَاءِ بَعْضِ الْبَلَدِ فَيَجُوزُ إِذَا كَانَ مُعَيَّنًا سَوَاءٌ اقْتَصَرَ بِهِ عَلَى أَكْثَرِ الْبَلَدِ أَوْ عَلَى أَقَلِّهِ وَلَوْ مَحِلَّةً مِنْ مَحَالِّهِ لِأَنَّ الْقَضَاءَ يَعُمُّ وَيَخُصُّ.

Adapun bagian pertama, yaitu apabila pendelegasian (taqlid) terbatas pada pengadilan di sebagian wilayah, maka hal itu diperbolehkan jika telah ditentukan secara spesifik, baik terbatas pada sebagian besar wilayah tersebut maupun pada sebagian kecilnya, bahkan meskipun hanya pada satu kawasan dari kawasan-kawasannya, karena kekuasaan kehakiman bisa bersifat umum maupun khusus.

فَإِذَا قَلَّدَهُ مِنَ الْبَصْرَةِ الْقَضَاءَ فِي جَانِبِ رَبِيعَةَ أَوِ الْقَضَاءَ فِي جَانِبِ مُضَرَ كَانَ مَقْصُورَ الْوِلَايَةِ عَلَى الْجَانِبِ الَّذِي قَلَّدَهُ سَوَاءٌ كَانَ لِلْجَانِبِ الْآخَرِ قَاضٍ أَوْ لَمْ يَكُنْ.

Maka jika ia mengangkatnya dari Bashrah sebagai qadhi di wilayah Rabi‘ah atau sebagai qadhi di wilayah Mudhar, maka kekuasaan (wilayah)nya terbatas hanya pada wilayah yang ia diangkat padanya, baik di wilayah yang lain ada qadhi maupun tidak ada.

فَإِنْ قَلَّدَهُ جَانِبَ رَبِيعَةَ وَقُلِّدَ آخَرُ جَانِبَ مُضَرَ كَانَتْ وِلَايَةُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَقْصُورَةٌ عَلَى جَانِبِهِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ فِيهِ بَيْنَ أَهْلِهِ دُونَ الطَّارِئَيْنِ إِلَيْهِ فَلَا يَتَعَدَّاهُمْ وَيَقِفُ نَظَرُهُ عَلَى مَا قُلِّدَ.

Jika seseorang diangkat sebagai hakim untuk wilayah Rabi‘ah dan yang lain diangkat untuk wilayah Mudhar, maka kekuasaan masing-masing terbatas pada wilayahnya sendiri. Ia boleh memutuskan perkara di antara penduduk wilayahnya, namun tidak untuk orang-orang yang datang dari luar wilayah tersebut, sehingga kekuasaannya tidak melampaui mereka dan kewenangannya terbatas pada apa yang telah diamanahkan kepadanya.

فَإِنْ كَانَ بَيْنَ الْجَانِبَيْنِ مَوْضِعٌ مُشْتَرَكٌ بَيْنَهَا رُوعِيَ الْأَغْلَبُ عَلَيْهِ فِي إِضَافَتِهِ إِلَى أَحَدِهِمَا فَجُعِلَ دَاخِلًا فِيهِ فَإِنِ اسْتَوَى الْأَمْرَانِ فِيهِ رُوعِيَ الْقُرْبُ، فَمَا كَانَ مِنْهُ أَقْرَبُ إِلَى جَانِبِ رَبِيعَةَ دَخَلَ فِي وِلَايَةِ قَاضِيهِ وَمَا كَانَ مِنْهُ أَقْرَبُ إِلَى جَانِبِ مُضَرَ دَخَلَ فِي وِلَايَةِ قَاضِيهِ.

Jika terdapat suatu tempat yang menjadi wilayah bersama antara kedua pihak, maka yang diperhatikan adalah pihak yang lebih dominan dalam kepemilikan tempat tersebut, sehingga tempat itu dimasukkan ke dalam wilayahnya. Jika kedua pihak memiliki kedudukan yang sama, maka yang diperhatikan adalah kedekatannya; maka tempat yang lebih dekat ke pihak Rabi‘ah masuk dalam wilayah kekuasaan qadhi-nya, dan yang lebih dekat ke pihak Mudhar masuk dalam wilayah kekuasaan qadhi-nya.

فَلَوْ تَحَاكَمَ مِنَ الْجَانِبَيْنِ رَجُلَانِ فَدَعَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى قَاضِي جَانِبِهِ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ عِنْدَ التَّنَازُعِ قَدِ اجْتَمَعَا فِي أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ أُجِيبُ قَوْلُ مَنْ هُوَ فِي جَانِبِهِ فِي التَّحَاكُمِ إِلَى قَاضِيهِ لِأَنَّ خَصْمَهُ فِيهِ، طَالِبًا كَانَ أَوْ مَطْلُوبًا.

Jika dari kedua pihak terdapat dua orang yang bersengketa, lalu masing-masing dari mereka mengajak untuk mengajukan perkara kepada qadi di pihaknya, maka hal ini perlu diperhatikan: jika pada saat terjadi perselisihan keduanya telah berkumpul di salah satu pihak, maka pendapat orang yang berada di pihak tersebut dikabulkan untuk mengajukan perkara kepada qadi di pihaknya, karena lawannya ada di sana, baik ia sebagai penggugat maupun tergugat.

وَإِنْ كَانَ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي جَانِبِهِ عِنْدَ التَّنَازُعِ فَلَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يُجْبِرَ الْآخَرَ عَلَى التَّحَاكُمِ إِلَى قَاضِيهِ لِأَنَّ قَاضِيَهُ لَا يَقْدِرُ أَنْ يُعْدِيَهُ عَلَى خَصْمِهِ لِخُرُوجِهِ عَنْ نَظَرِهِ طَالِبًا كَانَ أَوْ مَطْلُوبًا.

Dan jika masing-masing dari keduanya berada di wilayahnya sendiri saat terjadi perselisihan, maka tidak ada hak bagi salah satu dari mereka untuk memaksa yang lain agar mengajukan perkara kepada qadhi di wilayahnya, karena qadhi tersebut tidak berwenang memutuskan perkara terhadap lawan yang berada di luar yurisdiksinya, baik ia sebagai penggugat maupun tergugat.

فَإِنْ أَرَادَ الطَّالِبُ أَنْ يَسْتَعْدِيَ قَاضِي الْمَطْلُوبِ عَلَى خَصْمِهِ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُعْدِيَهُ وَيَحْكُمَ بَيْنَهُمَا فِي جَانِبِهِ لِحُصُولِهِمَا فِي عَمَلِهِ.

Jika seorang penuntut ingin meminta hakim tempat tergugat berada untuk memanggil lawannya, maka wajib bagi hakim tersebut untuk memanggilnya dan memutuskan perkara di antara keduanya di wilayahnya, karena keduanya berada dalam wilayah kekuasaannya.

فَإِنْ حَصَلَ أَحَدُ الْقَاضِيَيْنِ فِي جَانِبِ الْآخَرِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ فِيهِ بَيْنَ مَنْ تَنَازَعَ إِلَيْهِ سَوَاءٌ كَانَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ أَوْ غَيْرِ عَمَلِهِ لِأَنَّ حُكْمَهُ لَا يَنْفُذُ إِلَّا فِي عَمَلِهِ.

Jika salah satu dari dua qadi berada di pihak yang lain, maka ia tidak boleh memutuskan perkara di antara orang-orang yang berselisih kepadanya, baik mereka termasuk penduduk wilayah kekuasaannya maupun bukan, karena keputusannya tidak berlaku kecuali di wilayah kekuasaannya.

وَإِذَا قَلَّدَ الْإِمَامُ قَاضِيَيْنِ فِي بَلَدٍ لِيَنْظُرَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بَيْنَ جَمِيعِ أَهْلِهِ فَفِي جَوَازِهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Apabila imam mengangkat dua orang qadi di suatu negeri untuk masing-masing dari mereka memutuskan perkara di antara seluruh penduduknya, maka menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat mengenai kebolehannya.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِمَا يُفْضِي إِلَيْهِ أَمْرُهَا مِنَ التَّجَاذُبِ فِي تَنَازُعِ الْخُصُومِ إليهما ونبطل وِلَايَتُهُمَا إِنْ جُمِعَ بَيْنهمَا فِي التَّقْلِيدِ وَتَصِحُّ وِلَايَةُ الْأَوَّلِ إِنْ قُلِّدَ أَحَدُهُمَا بَعْدَ الْآخَرِ.

Salah satunya: Tidak diperbolehkan karena akan mengakibatkan terjadinya saling tarik-menarik dalam perselisihan para pihak yang bersengketa kepada keduanya, dan batallah wewenang mereka jika keduanya digabungkan dalam pengangkatan. Namun, sah wewenang yang pertama jika salah satu dari mereka diangkat setelah yang lain.

وَالثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ أَنَّهُ يَجُوزُ لِأَنَّهَا اسْتِنَابَةٌ كَالْوَكَالَةِ الَّتِي يَجُوزُ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهَا وَكِيلَانِ عَلَى اجْتِمَاعٍ وَانْفِرَادٍ.

Dan pendapat kedua, yang merupakan pendapat mayoritas ulama, adalah bahwa hal itu diperbolehkan karena ini merupakan bentuk perwakilan (istinābah) seperti halnya wakālah, di mana diperbolehkan adanya dua wakil yang dapat berkumpul maupun bertindak sendiri-sendiri.

فَإِنِ اخْتَصَمَ خَصْمَانِ وَجَذَبَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا خَصْمَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا عُمِلَ عَلَى قَوْلِ الطَّالِبِ مِنْهُمَا دُونَ الْمَطْلُوبِ وَحَاكَمَهُ إِلَى مَنْ أَرَادَهُ مِنْهُمَا، لِأَنَّ حُكْمَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْقَاضِيَيْنِ نَافِذٌ عَلَيْهِمَا بِخِلَافِ مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الْقَاضِيَيْنِ إِذَا كَانَا فِي جَانِبَيْنِ لِقُصُورِ نَظَرِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى جَانِبِهِ وَعُمُومِ نَظَرِ هَذَيْنِ الْقَاضِيَيْنِ فِي جَمِيعِ البلد.

Jika dua pihak berselisih dan masing-masing menarik lawannya ke pihaknya sendiri, maka yang diikuti adalah pendapat pihak yang menuntut di antara mereka, bukan pihak yang dituntut, dan ia boleh membawa perkara ke hakim yang ia kehendaki di antara mereka. Sebab, keputusan masing-masing dari kedua qadi tersebut berlaku atas keduanya, berbeda dengan yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang dua qadi jika keduanya berada di dua sisi yang berbeda, karena pandangan masing-masing dari mereka terbatas pada sisinya saja, sedangkan pandangan kedua qadi ini mencakup seluruh wilayah.

فَإِنْ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ طَالِبًا وَمَطْلُوبًا لِتَحَاكُمِهِمَا فِي قِسْمَةِ مِلْكٍ أَوِ اخْتِلَافِهِمَا فِي ثَمِنِ مَبِيعٍ أَوْ قَدْرِ صَدَاقٍ يُوجِبُ تَحَالُفُهُمَا فِيهِ عُمِلَ عَلَى قَوْلِ مَنْ دَعَا إِلَى أَقْرَبِ الْقَاضِيَيْنِ إِلَيْهِمَا.

Jika masing-masing dari kedua pihak yang bersengketa adalah penuntut dan tertuntut dalam permohonan mereka untuk mengadili perkara pembagian kepemilikan, atau perselisihan mereka tentang harga barang yang dijual, atau besarnya mahar yang mengharuskan keduanya saling bersumpah, maka yang dijalankan adalah pendapat siapa yang mengajukan permohonan kepada qadhi yang paling dekat dengan mereka berdua.

فَإِنِ اسْتَوَيَا فِي الْقُرْبِ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jika keduanya sama dalam hal kedekatan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا وَيُعْمَلُ بِقَوْلِ مَنْ قُرِعَ مِنْهُمَا.

Salah satunya: diundi di antara keduanya, lalu pendapat siapa yang terpilih melalui undian itulah yang dijadikan pegangan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُقْطَعُ التَّنَازُعُ بَيْنَهُمَا حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى الرِّضَا بِأَحَدِهِمَا.

Pendapat kedua: perselisihan antara keduanya dihentikan sampai mereka sepakat untuk menerima salah satu dari keduanya.

وَإِذَا قُلِّدَ الْقَاضِي جَمِيعَ الْبَلَدِ لِيَنْظُرَ فِي أَحَدِ جَانِبَيْهِ أَوْ فِي مَحَلَّةٍ مِنْهُ أَوْ فِي جَامِعِهِ لَمْ يَصِحَّ لِعُمُومِ وِلَايَتِهِ، وَكَانَ التَّقْلِيدُ بَاطِلًا إِنْ جُعِلَ ذَلِكَ شَرْطًا فِيهِ كَقَوْلِهِ قَلَّدْتُكَ عَلَى أَنْ تَنْظُرَ فِيهِ لِتَنَافِي حُكْمِ الشَّرْطِ وَالْإِطْلَاقِ.

Apabila seorang qadhi diberi mandat atas seluruh wilayah kota untuk memeriksa perkara di salah satu bagiannya, atau di suatu kawasan tertentu, atau di masjid jami’nya saja, maka hal itu tidak sah karena mandatnya bersifat umum. Pemberian mandat tersebut menjadi batal jika hal itu dijadikan syarat di dalamnya, seperti ucapan, “Aku mengangkatmu dengan syarat engkau hanya memeriksa perkara di sana,” karena syarat tersebut bertentangan dengan ketentuan umum dan kebebasan mandat.

وَإِنْ خَرَجَ عَنِ الشَّرْطِ إِلَى الْأَمْرِ كَقَوْلِهِ: قَلَّدْتُكَ قَضَاءَ الْبَصْرَةِ فَانْظُرْ فِي جَامِعِهَا صَحَّ التَّقْلِيدُ وَبَطَلَ الشَّرْطُ وَجَازَ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْجَامِعِ وَغَيْرِ الْجَامِعِ؛ لِأَنَّهُ لَا يَمْلِكُ الْحَجْرَ عَلَيْهِ فِي مَوَاضِعَ جُلُوسِهِ.

Dan jika keluar dari bentuk syarat menuju perintah, seperti ucapannya: “Aku mengangkatmu sebagai qadhi di Bashrah, maka periksalah di masjid jami’-nya,” maka pengangkatan tersebut sah dan syaratnya batal, serta boleh baginya untuk memeriksa perkara di masjid jami’ maupun selain masjid jami’; karena ia tidak berhak membatasi tempat duduknya.

وَلَكِنْ لَوْ قَالَ، قَلَّدْتُكَ عَلَى أَنْ تَحْكُمَ فِي الْجَامِعِ بَيْنَ مَنْ جَاءَكَ فِيهِ صَحَّ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ فِي غَيْرِهِ، بِخِلَافِ الْوِلَايَةِ الْعَامَّةِ لِأَنَّ جَعْلَ الْوِلَايَةِ مَقْصُورَةٌ هَاهُنَا عَلَى مَنْ جَاءَ الْجَامِعَ وَهُمْ لَا يَتَعَيَّنُونَ إِلَّا فِيهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ في غيره لخروجهم من ولايته.

Namun, jika ia berkata, “Aku mengangkatmu untuk memutuskan perkara di masjid terhadap siapa saja yang datang kepadamu di sana,” maka hal itu sah, tetapi tidak boleh baginya memutuskan perkara di tempat lain. Berbeda dengan wilayah umum, karena pemberian wilayah di sini terbatas hanya kepada orang-orang yang datang ke masjid, dan mereka tidak ditentukan kecuali di sana, sehingga tidak boleh baginya memutuskan perkara di luar masjid karena mereka berada di luar wilayah kekuasaannya.

(فصل: تحديده بالأشخاص)

(Bab: Penetapannya berdasarkan individu-individu)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ التَّقْلِيدُ مَقْصُورًا عَلَى بَعْضِ أَهْلِ الْبَلَدِ دُونَ جَمِيعِهِمْ فَيَجُوزُ إِذَا تَمَيَّزُوا عَنْ غَيْرِهِمْ، فَيَقُولُ قَلَّدْتُكَ لِتَقْضِيَ بِالْبَصْرَةِ بَيْنَ الْعَرَبِ دُونَ الْعَجَمِ وَيُقَلِّدُ آخَرَ الْقَضَاءَ بَيْنَ الْعَجَمِ دُونَ الْعَرَبِ فَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْقَاضِيَيْنِ وَالِيًا عَلَى مَنِ اخْتَصَّ بِنَظَرِهِ.

Adapun bagian kedua: yaitu apabila taqlid terbatas hanya pada sebagian penduduk negeri tanpa mencakup seluruhnya, maka hal itu diperbolehkan jika mereka dapat dibedakan dari yang lain. Misalnya, seseorang berkata, “Aku mengangkatmu untuk memutuskan perkara di Bashrah di antara orang Arab tanpa mencakup orang ‘Ajam,” dan mengangkat orang lain untuk memutuskan perkara di antara orang ‘Ajam tanpa mencakup orang Arab. Maka masing-masing dari kedua qadi tersebut menjadi wali atas orang-orang yang menjadi khusus dalam wilayah kekuasaannya.

فَلَا يَجُوزُ لِقَاضِي الْعَرَبِ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَ الْعَجَمِ وَلَا لِقَاضِي الْعَجَمِ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَ الْعَرَبِ وَلَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنَ الْعَرَبِ وَلَا مِنَ الْعَجَمِ كَالنَّبَطِ لِخُرُوجِهِمْ عَنْ نَظَرِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

Maka tidak boleh bagi qāḍī (hakim) Arab untuk memutuskan perkara di antara orang ‘ajam (non-Arab), dan tidak boleh pula bagi qāḍī ‘ajam untuk memutuskan perkara di antara orang Arab, dan tidak boleh bagi salah satu dari keduanya untuk memutuskan perkara di antara orang yang bukan Arab maupun bukan ‘ajam seperti orang Nabath, karena mereka berada di luar kewenangan masing-masing dari keduanya.

فَإِنْ كَانَ فِي الْبَلَدِ عَرَبِيُّ النَّسَبِ عَجَمِيُّ اللِّسَانِ وَعَجَمِيُّ النَّسَبِ عَرَبِيُّ اللِّسَانِ، اعْتُبِرَتْ شَوَاهِدُ الْبَلَدِ، فَإِنْ كَانَ فِيهَا مَا يَدُلُّ عَلَى إِرَادَةِ النَّسَبِ دُونَ اللِّسَانِ أَوِ اللِّسَانِ دُونَ النَّسَبِ عُمِلَ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يَدُلَّ عَلَى إِرَادَةِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَانَ مَحْمُولًا عَلَى اعْتِبَارِ النَّسَبِ دُونَ اللِّسَانِ لِأَنَّ النَّسَبَ صِفَةٌ لَازِمَةٌ وَاللِّسَانُ صِفَةٌ زَائِلَةٌ.

Jika di suatu negeri terdapat orang yang secara nasab adalah Arab namun bahasanya bukan Arab, dan ada pula yang secara nasab bukan Arab namun berbahasa Arab, maka yang dijadikan pertimbangan adalah kebiasaan di negeri tersebut. Jika di dalamnya terdapat sesuatu yang menunjukkan maksud pada nasab tanpa memperhatikan bahasa, atau pada bahasa tanpa memperhatikan nasab, maka yang dijadikan dasar adalah hal tersebut. Namun jika tidak ada yang menunjukkan maksud pada salah satu dari keduanya, maka yang dijadikan pertimbangan adalah nasab tanpa memperhatikan bahasa, karena nasab adalah sifat yang tetap, sedangkan bahasa adalah sifat yang dapat berubah.

فَإِنْ كَانَ فِي الْعَجَمِ مُوَالٍ لِلْعَرَبِ فَفِي أَحَقِّ الْقَاضِيَيْنِ بِالنَّظَرِ فِي أَحْكَامِهِمْ وَجْهَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي مَوَالِي ذَوِي الْقُرْبَى هَلْ يَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مِنَ الصَّدَقَاتِ مَا يَحْرُمُ عَلَى ذَوِي الْقُرْبَى، عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika di antara orang ‘ajam terdapat mawālī (orang yang berloyalitas) kepada orang Arab, maka dalam hal siapakah dari dua qādī yang lebih berhak untuk menangani hukum-hukum mereka, terdapat dua pendapat yang didasarkan pada perbedaan pendapat para ulama kita mengenai mawālī dari dzawī al-qurbā: apakah haram bagi mereka menerima sedekah sebagaimana haram bagi dzawī al-qurbā, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مَا يَحْرُمُ عَلَى ذَوِي الْقُرْبَى تَغْلِيبًا لِلْوَلَاءِ عَلَى النَّسَبِ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ قَاضِي الْعَرَبِ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمْ مِنْ قَاضِي الْعَجَمِ.

Salah satunya: Haram bagi mereka apa yang diharamkan atas kerabat dekat karena mengutamakan hubungan wala’ atas nasab. Dengan demikian, qadhi dari kalangan Arab lebih berhak untuk menangani perkara di antara mereka daripada qadhi dari kalangan non-Arab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مَا يَحْرُمُ عَلَى ذَوِي الْقُرْبَى تَغْلِيبًا لِلنَّسَبِ عَلَى الْوَلَاءِ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ قَاضِي الْعَجَمِ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمْ مِنْ قَاضِي الْعَرَبِ.

Pendapat kedua: Bahwa tidak diharamkan atas mereka apa yang diharamkan atas kerabat dekat, dengan mengedepankan hubungan nasab atas hubungan wala’, maka berdasarkan hal ini, qadhi dari kalangan ‘ajam (non-Arab) lebih berhak untuk menangani perkara di antara mereka daripada qadhi dari kalangan Arab.

وَإِذَا وَقَعَ التَّنَازُعُ بَيْنَ عَرَبِيٍّ وَعَجَمِيٍّ فَلَهُمَا حَالَتَانِ:

Apabila terjadi perselisihan antara seorang Arab dan seorang non-Arab, maka keduanya memiliki dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى التَّحَاكُمِ إِلَى قَاضِي أَحَدِهِمَا: فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Salah satunya adalah kedua belah pihak sepakat untuk mengajukan perkara kepada qadi dari salah satu pihak; hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى قَاضِي الْمَطْلُوبِ فَيَنْفُذُ حُكْمُهُ بَيْنَهُمَا؛ لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ إِلَى اسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ مِنْ أَهْلِ نَظَرِهِ، وَالْحَقُّ مُسْتَوْفٍ مِنَ الْمَطْلُوبِ لِلطَّالِبِ.

Salah satunya adalah kedua belah pihak sepakat untuk memilih qādī yang diminta, maka putusannya berlaku di antara mereka; karena ia ditugaskan untuk menunaikan hak-hak dari orang-orang yang berada di bawah wewenangnya, dan hak tersebut diambil dari pihak yang diminta untuk diberikan kepada pihak yang menuntut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى التَّحَاكُمِ إِلَى قَاضِي الطَّالِبِ فَفِي نُفُوذِ حُكْمِهِ بَيْنَهُمَا وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنِ اخْتِلَافِ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي نُفُوذِ حُكْمِ مَنْ تَرَاضَيَا بِهِ مِنْ غَيْرِ الْحُكَّامِ:

Jenis kedua: yaitu kedua belah pihak sepakat untuk mengajukan perkara kepada hakim dari pihak penuntut. Dalam hal berlakunya putusan hakim tersebut di antara keduanya, terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i rahimahullah tentang berlakunya putusan orang yang mereka berdua ridai, meskipun bukan dari kalangan para hakim.

أَحَدُهُمَا: يَنْفُذُ حُكْمُهُ.

Salah satunya: keputusannya berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَنْفُذُ.

Pendapat kedua: tidak berlaku.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَجَاذَبَ الْمُتَنَازِعَانِ وَيَدْعُوَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى نَظَرِ قَاضِيهِ. فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Keadaan kedua: yaitu ketika dua pihak yang bersengketa saling menarik dan masing-masing dari mereka mengajak untuk menyelesaikan perkara di hadapan qadhi (hakim) yang menjadi rujukannya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُوقِفُ تَنَازُعَهُمَا وَيَقْطَعُ تَخَاصُمَهُمَا حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى قَاضِي أَحَدِهِمَا فَإِنِ اتَّفَقَا عَلَى قَاضِي الْمَطْلُوبِ جَازَ وَإِنِ اتَّفَقَا عَلَى قَاضِي الطَّالِبِ كَانَ عَلَى مَا مَضَى مِنَ الْوَجْهَيْنِ.

Salah satu dari keduanya: menghentikan perselisihan mereka dan memutuskan pertikaian mereka hingga mereka sepakat atas hakim salah satu dari mereka. Jika mereka sepakat atas hakim pihak tergugat, maka itu diperbolehkan. Dan jika mereka sepakat atas hakim pihak penuntut, maka hukumnya seperti yang telah dijelaskan pada dua pendapat sebelumnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَجْتَمِعَ الْقَاضِيَانِ عَلَى سَمَاعِ الدَّعْوَى، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَوْجُودًا بَيْنَ أَهْلِ نَظَرِهِ، وَلَيْسَ لَهُ الِانْفِرَادُ فِي هَذَا النَّظَرِ فَلَزِمَ اجْتِمَاعُهُمَا عَلَيْهِ.

Pendapat kedua: kedua qadi berkumpul untuk mendengarkan gugatan, karena masing-masing dari mereka hadir di tengah-tengah orang yang menjadi wilayah kekuasaannya, dan tidak boleh salah satu dari mereka bertindak sendiri dalam perkara ini, sehingga keduanya wajib berkumpul untuk menanganinya.

فَإِذَا اجْتَمَعَا عَلَى سَمَاعِ الدَّعْوَى تَفَرَّدَ بِالْحُكْمِ بَيْنَهُمَا قَاضِي الْمَطْلُوبِ دُونَ الطَّالِبِ.

Maka apabila keduanya telah berkumpul untuk mendengarkan gugatan, yang memutuskan perkara di antara mereka adalah qādī yang diminta, bukan qādī yang mengajukan.

وَإِنِ اقْتَضَى الْحُكْمُ سَمَاعَ الْبَيِّنَةِ تَفَرَّدَ بِسَمَاعِهَا قَاضِي الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ دُونَ الْمَشْهُودِ لَهُ.

Dan jika penetapan hukum menuntut didengarkannya bukti, maka yang mendengarkan bukti itu secara khusus adalah qadhi yang wilayahnya mencakup orang yang menjadi objek kesaksian, bukan qadhi yang wilayahnya mencakup orang yang mendapat hak dari kesaksian tersebut.

وَإِنْ وَقَفَ الْحُكْمُ عَلَى يَمِينٍ اسْتَوْفَاهَا قَاضِي الْحَالِفِ دُونَ الْمُسْتَحْلِفِ لِيَكُونَ الْحُكْمُ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا نَافِذًا مِنْ قَاضِي الْمَطْلُوبِ دُونَ الطالب.

Dan jika keputusan hukum bergantung pada sumpah, maka sumpah tersebut diambil oleh qadhi dari pihak yang bersumpah, bukan dari pihak yang meminta sumpah, agar keputusan hukum dalam segala keadaan tetap berlaku dari qadhi pihak yang diminta, bukan dari pihak yang menuntut.

فَإِنِ امْتَنَعَ الْقَاضِيَانِ مِنْ الِاجْتِمَاعِ أَثِمَا بِالِامْتِنَاعِ، وَكَانَ قَاضِي الْمَطْلُوبِ أَغْلَظَهُمَا مَأْثَمًا وَأَخَذَهُمَا الْأَمِيرُ بِالِاجْتِمَاعِ جَبَرًا.

Jika kedua qadi menolak untuk berkumpul, maka keduanya berdosa karena penolakan tersebut, dan qadi yang diminta untuk hadir adalah yang paling besar dosanya di antara keduanya, serta penguasa dapat memaksa keduanya untuk berkumpul.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي مَقْصُورَ الولاية على النظر بين خصمين معينين فَيَخْتَصُّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمَا وَلَا يَنْظُرُ بَيْنَ غَيْرِهِمَا، وله ثلاثة أَحْوَالٍ:

Dan boleh saja seorang qādī (hakim) dibatasi wilayah kekuasaannya hanya untuk memeriksa perkara antara dua pihak tertentu, sehingga ia khusus menangani perkara di antara keduanya dan tidak memeriksa perkara antara selain mereka. Dalam hal ini, terdapat tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَرُدَّ النَّظَرَ إِلَيْهِ بَيْنَهُمَا فِي كُلِّ تَنَازُعٍ يَحْدُثُ مِنْهُمَا فَيَكُونُ بَعْدَ فَصْلِ الْحُكْمِ بَيْنَهُمَا بَاقِي الْوِلَايَةِ عَلَى مَا يَتَجَدَّدُ مِنْ تَنَازُعِهِمَا.

Salah satunya adalah mengembalikan perkara kepada hakim di antara keduanya dalam setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka, sehingga setelah adanya keputusan hukum di antara mereka, hakim tetap memiliki wewenang atas perselisihan baru yang mungkin timbul di antara mereka.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقْتَصِرَ بِهِ عَلَى النظَرِ فِي الْحُكْمِ الَّذِي تَنَازَعَاهُ فِي الْوَقْتِ، فَإِذَا فَصَلَ الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا انْعَزَلَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهُمَا فِيمَا يَتَجَدَّدُ مِنْ تَنَازُعِهِمَا.

Keadaan kedua: yaitu membatasi diri hanya pada meneliti hukum yang mereka perselisihkan pada saat itu. Maka apabila ia telah memutuskan hukum di antara keduanya, ia tidak lagi berwenang untuk memutuskan perkara di antara mereka dalam perselisihan baru yang muncul di kemudian hari.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ تَقْلِيدَهُ مُطْلَقًا فَيُحْمَلُ عَلَى الْعُمُومِ دُونَ الْخُصُوصِ وَيَحْكُمُ بَيْنَهُمَا فِي كُلِّ مَا تَجَدَّدَ مِنْ نِزَاعِهِمَا.

Keadaan ketiga: apabila ia melakukan taklid secara mutlak, maka hal itu dianggap berlaku umum, bukan khusus, dan ia memutuskan perkara di antara keduanya dalam setiap persoalan baru yang muncul dari perselisihan mereka.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا أَنْ يُقَلِّدَهُ الْإِمَامُ قَضَاءَ بَلَدٍ عَلَى أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَيْهِ وَلَا يَنْظُرَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَهَذَا تَقْلِيدُ اخْتِيَارٍ، وَمُرَاعَاةٍ وَلَيْسَ بِتَقْلِيدِ حُكْمٍ وَلَا نَظَرٍ.

Berdasarkan hal ini, seorang imam dapat mengangkat seseorang sebagai qadi di suatu daerah dengan syarat ia harus menunjuk wakil untuknya dan tidak menangani perkara itu sendiri. Ini disebut sebagai pengangkatan pilihan dan pertimbangan, bukan pengangkatan untuk memutuskan perkara atau menangani perkara secara langsung.

فَإِذَا قَلَّدَ مَنِ اخْتَارَهُ ثَبَتَتْ وِلَايَةُ الْمُخْتَارِ، وَلَمْ يَكُنْ لِمَنِ اخْتَارَهُ عَزْلُهُ وَلَهُ الْإِشْرَافُ عَلَيْهِ وَالْمُرَاعَاةُ لَهُ.

Maka apabila seseorang yang memilihnya telah memberikan otoritas kepadanya, maka kekuasaan orang yang dipilih itu menjadi tetap, dan orang yang memilihnya tidak berhak untuk mencopotnya, namun ia berhak untuk mengawasi dan memperhatikan urusannya.

وَلَوْ كَانَ الْإِمَامُ قَدْ عَيَّنَ لَهُ عَلَى مَنْ يَسْتَخْلِفُهُ جَازَ وَكَانَ هَذَا تَقْلِيدُ إِنْفَاذٍ وَإِشْرَافٍ وَلَيْسَ بِتَقْلِيدِ حُكْمٍ وَلَا اخْتِيَارٍ.

Dan jika imam telah menentukan kepada seseorang tentang siapa yang akan menjadi penggantinya, maka hal itu diperbolehkan, dan ini merupakan bentuk pelimpahan wewenang untuk pelaksanaan dan pengawasan, bukan pelimpahan wewenang untuk menetapkan hukum atau memilih.

(فصل: [تحديد العمل بالزمان] )

(Bab: [Penentuan Amal Berdasarkan Waktu])

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ التَّقْلِيدُ مَقْصُورًا عَلَى بَعْضِ الْأَيَّامِ دُونَ جَمِيعِهَا فَيَجُوزُ إِذَا عُيِّنَ عَلَى الْيَوْمِ الَّذِي يَحْكُمُ فِيهِ، وَلَا يَجُوزُ إِنْ لَمْ يُعَيِّنْهُ، لِأَنَّ النَّظَرَ مَقْصُورٌ عَلَى الْمُتَحَاكِمَيْنِ فِيهِ فَوَجَبَ تَعْيِينُ الْيَوْمِ لِيَتَعَيَّنَ بِهِ الْخُصُومُ.

Adapun bagian ketiga, yaitu apabila taqlid hanya terbatas pada sebagian hari saja dan tidak mencakup seluruh hari, maka hal itu diperbolehkan jika telah ditentukan pada hari tertentu di mana ia akan memutuskan perkara. Namun, tidak diperbolehkan jika tidak ditentukan harinya, karena penetapan hukum hanya terbatas pada dua pihak yang bersengketa pada hari itu, sehingga wajib menentukan hari agar para pihak yang bersengketa dapat ditetapkan.

فَإِذَا قَلَّدَهُ النَّظَرَ فِي يوم السبت لَمْ يَخْلُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Maka jika ia menyerahkan kepadanya untuk melakukan pengamatan pada hari Sabtu, tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَجْعَلَهُ نَاظِرًا فِي كُلِّ سَبْتٍ فَيَكُونُ عَلَى وِلَايَتِهِ بَعْدَ انْقِضَاءِ السَّبْتِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ فِي غَيْرِهِ لِبَقَاءِ نَظَرِهِ عَلَى أَمْثَالِهِ.

Salah satunya: menjadikannya sebagai pengawas pada setiap hari Sabtu, sehingga ia tetap memegang wewenangnya setelah hari Sabtu berakhir, meskipun ia tidak berhak mengawasi pada hari selainnya, karena pengawasannya tetap berlaku atas orang-orang sejenisnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَجْعَلَهُ نَاظِرًا فِي سَبْتٍ وَاحِدٍ فَيَنْعَزِلُ بَعْدَ غُرُوبِ شَمْسِهِ وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ فِي أَمْثَالِهِ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَجْمَعَ فِي نَظَرِ السَّبْتِ بَيْنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لِاخْتِصَاصِ الْيَوْمِ بِالنَّهَارِ دُونَ اللَّيْلِ.

Keadaan kedua: yaitu apabila ia menjadikannya sebagai pengawas (nadhir) pada satu hari Sabtu saja, maka ia diberhentikan setelah matahari terbenam pada hari itu dan tidak boleh baginya untuk mengawasi pada hari-hari Sabtu yang serupa. Ia juga tidak boleh menggabungkan dalam pengawasan hari Sabtu antara malam dan siang, karena hari itu secara khusus adalah untuk siang saja, bukan malam.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُطْلِقَ تَقْلِيدَهُ فِي يَوْمِ السَّبْتِ فَيُحْمَلُ عَلَى الخصوص دون الْعُمُومِ، وَلَيْسَ لَهُ النَّظَرُ إِلَّا فِي سَبْتٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ أَوَّلُ سَبْتٍ يَكُونُ بَعْدَ التَّقْلِيدِ، فَإِذَا نَظَرَ فِيهِ انْعَزَلَ بِغُرُوبِ شَمْسِهِ، وَلَوْ لَمْ يَنْظُرْ فِيهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْظُرَ فِي غَيْرِهِ.

Keadaan ketiga: apabila ia melepaskan mandatnya pada hari Sabtu, maka hal itu dibawa pada makna khusus, bukan umum, dan ia tidak berhak melakukan pemeriksaan kecuali pada satu hari Sabtu saja, yaitu Sabtu pertama yang datang setelah penyerahan mandat. Jika ia telah melakukan pemeriksaan pada hari itu, maka mandatnya berakhir dengan terbenamnya matahari hari tersebut. Namun jika ia tidak melakukan pemeriksaan pada hari itu, maka tidak boleh baginya melakukan pemeriksaan pada hari selainnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَنْ يُقَلِّدَهُ النَّظَرَ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَيُحْمَلُ إِطْلَاقُهُ عَلَى الْعُمُومِ فِي كُلِّ تَنَازُعٍ، وَبَيْنَ أَنْ يُقَلِّدَهُ النَّظَرَ فِي يَوْمِ السَّبْتِ فَيُحْمَلُ إِطْلَاقُهُ عَلَى الْخُصُوصِ فِي سَبْتٍ وَاحِدٍ هُوَ بَقَاءُ الْخَصْمَيْنِ فَحُمِلَ النَّظَرُ بَيْنَهُمَا عَلَى الْعُمُومِ وَانْقِضَاءِ السَّبْتِ فَحُمِلَ النَّظَرُ فِيهِ عَلَى الْخُصُوصِ.

Perbedaan antara menyerahkan pemeriksaan perkara kepadanya dalam perselisihan antara dua orang, sehingga keumuman lafaznya dibawa pada setiap perselisihan, dan antara menyerahkan pemeriksaan perkara kepadanya pada hari Sabtu, sehingga keumuman lafaznya dibawa pada kekhususan pada satu hari Sabtu saja, adalah tetapnya kedua pihak yang berselisih, sehingga pemeriksaan perkara antara keduanya dibawa pada keumuman, sedangkan berakhirnya hari Sabtu, maka pemeriksaan perkara di dalamnya dibawa pada kekhususan.

فَلَوْ قَلَّدَ قَاضِيًا أَنْ يَنْظُرَ فِي يَوْمِ السَّبْتِ وَقَلَّدَ آخَرَ أَنْ يَنْظُرَ فِي يَوْمِ الْأَحَدِ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَقْصُورَ النَّظَرِ عَلَى يَوْمِهِ.

Maka jika seorang hakim diberi mandat untuk memeriksa perkara pada hari Sabtu, dan hakim lain diberi mandat untuk memeriksa perkara pada hari Ahad, maka masing-masing dari mereka terbatas kewenangannya hanya pada hari yang telah ditentukan baginya.

فَإِنْ تَرَافَعَ خَصْمَانِ فِي يَوْمِ السَّبْتِ إِلَى قَاضِيهِ وَلَمْ يَنْفَصِلِ الْحُكْمُ بَيْنَهُمَا فِيهِ حَتَّى رَجَعَا فِي يَوْمِ الْأَحَدِ كَانَ قَاضِي الْأَحَدِ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمَا مِنْ قَاضِي السَّبْتِ.

Jika dua pihak bersengketa mengajukan perkara pada hari Sabtu kepada qadhi-nya, namun keputusan belum diputuskan di antara mereka hingga mereka kembali pada hari Ahad, maka qadhi Ahad lebih berhak untuk memutuskan perkara di antara mereka daripada qadhi Sabtu.

وَلَوْ تَنَازَعَ خَصْمَانِ فَدَعَا أَحَدُهُمَا إِلَى قَاضِي السَّبْتِ وَدَعَا الْآخَرُ إِلَى قَاضِي الْأَحَدِ، فَإِنْ كَانَ تَنَازُعُهُمَا فِي يَوْمِ السَّبْتِ كَانَ قَاضِيهِ أَحَقُّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمَا.

Jika dua pihak yang bersengketa saling berselisih, lalu salah satu dari mereka mengajak ke hakim hari Sabtu dan yang lainnya mengajak ke hakim hari Ahad, maka jika perselisihan mereka terjadi pada hari Sabtu, maka hakim hari Sabtu lebih berhak untuk memutuskan perkara di antara mereka.

وَإِنْ كَانَ تَنَازُعُهُمَا فِي يَوْمِ الْأَحَدِ كَانَ قَاضِيهِ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمَا.

Dan jika perselisihan keduanya terjadi pada hari Ahad, maka qadhi di wilayah tersebut lebih berhak untuk memutuskan perkara di antara mereka.

وَإِنْ كَانَ التَّنَازُعُ فِي غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَيَّامِ لَمْ يَتَرَجَّحْ قَوْلُ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حَتَّى يَسْتَأْنِفَا التَّرَافُعَ فِي أَحَدِ الْيَوْمَيْنِ فَيَصِيرُ قَاضِي ذَلِكَ الْيَوْمِ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ بَيْنَهُمَا. وَهَكَذَا الْحُكْمُ إِذَا قَلَّدَهُ النَّظَرَ فِي شَهْرٍ مِنَ السَّنَةِ فَيَكُونُ مَقْصُورَ الْوِلَايَةِ عَلَى ذَلِكَ الشَّهْرِ لَيْلًا وَنَهَارًا لِأَنَّ الشَّهْرَ يَجْمَعُهُمَا.

Dan jika perselisihan terjadi pada hari selain dari keduanya, maka pendapat salah satu dari keduanya tidak lebih kuat sampai keduanya memulai kembali proses pengajuan perkara pada salah satu dari dua hari tersebut, sehingga hakim pada hari itu menjadi yang paling berhak untuk memutuskan perkara di antara mereka. Demikian pula hukumnya jika ia diberi wewenang untuk memutuskan perkara pada satu bulan dalam setahun, maka kewenangannya terbatas hanya pada bulan itu, baik siang maupun malam, karena bulan tersebut mencakup keduanya.

فَهَذَا حُكْمُ الشَّرْطِ الثَّالِثِ وَمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ من أقسامه الثلاثة.

Inilah hukum syarat ketiga beserta apa yang terkandung di dalamnya dari tiga bagiannya.

(فصل: [النظر] )

(Bab: [An-Nazhar/Penelaahan])

وَأَمَّا الشَّرْطُ الرَّابِعُ وَهُوَ النَّظَرُ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ عَامٌّ وَخَاصٌّ:

Adapun syarat keempat, yaitu nazar, maka nazar itu terbagi menjadi dua: umum dan khusus.

فَأَمَّا الْعَامُّ: فَهُوَ أَنْ يُقَلِّدَهُ النَّظَرَ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ فَتَكُونُ وِلَايَتُهُ مُشْتَمِلَةٌ عَلَى جَمِيعِ مَا يَخْتَصُّ بِنَظَرِ الْقُضَاةِ وَتَشْتَمِلُ عَلَى عَشَرَةِ أَقْسَامٍ:

Adapun yang umum: yaitu menyerahkan kepadanya wewenang untuk memutuskan dalam seluruh hukum, sehingga kekuasaannya mencakup semua hal yang menjadi kewenangan para qadi, dan mencakup sepuluh bagian:

أَحَدُهَا: تَثْبِيتُ الْحُقُوقِ عِنْدَ التَّنَاكُرِ مِنْ دُيُونٍ فِي الذِّمَمِ وَأَعْيَانٍ فِي الْيَدِ بَعْدَ سَمَاعِ الدَّعْوَى وَسُؤَالِ الْخَصْمِ، وَثُبُوتُهَا يَكُونُ مِنْ أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ: إِقْرَارٌ أَوْ بَيِّنَةٌ.

Salah satunya adalah penetapan hak-hak ketika terjadi pengingkaran, baik berupa utang yang menjadi tanggungan maupun barang yang berada dalam genggaman, setelah mendengar gugatan dan pertanyaan dari pihak lawan. Penetapan hak tersebut dapat dilakukan melalui salah satu dari dua cara: pengakuan atau bukti (bayyinah).

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: اسْتِيفَاءُ الْحُقُوقِ بَعْدَ ثُبُوتِهَا عِنْدَ التَّمَانُعِ وَالتَّدَافُعِ فَإِنْ كَانَتْ فِي الذِّمَّةِ أَلْزَمَ الْخُرُوجَ مِنْهَا وَحَبَسَ بِهَا وَإِنْ كَانَتْ أَعْيَانًا سَلَّمَهَا إِنِ امْتَنَعَ الْخَصْمُ مِنْ تَسْلِيمِهَا.

Bagian kedua: Pemenuhan hak-hak setelah hak tersebut ditetapkan ketika terjadi penolakan dan saling menolak. Jika hak tersebut berupa kewajiban dalam tanggungan, maka orang tersebut diwajibkan untuk melunasinya dan dapat ditahan karenanya. Jika hak tersebut berupa barang tertentu, maka barang itu harus diserahkan apabila pihak lawan menolak untuk menyerahkannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: النَّظَرُ فِي الْعُقُودِ مِنَ الْمَنَاكِحِ وَالْبُيُوعِ وَغَيْرِهَا عِنْدَ الِاخْتِلَافِ فِيهَا لِيَحْكُمَ بِاجْتِهَادِهِ فِي صِحَّتِهَا وَفَسَادِهَا وَالتَّحَالُفِ عَلَيْهَا.

Bagian ketiga: meneliti akad-akad dalam pernikahan, jual beli, dan selainnya ketika terjadi perselisihan di dalamnya, agar ia dapat memutuskan dengan ijtihadnya tentang keabsahan, kerusakan, dan sumpah atasnya.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: فَصْلُ التَّشَاجُرِ فِي حُقُوقِ الْأَمْلَاكِ مِنَ الشُّفْعَةِ وَالْمِيَاهِ وَالْحُدُودِ وَالِاسْتِطْرَاقِ وَالْعَمَلِ بِشَوَاهِدِ الْأَبْنِيَةِ. فَأَمَّا مَخَارِجُ الْأَبْنِيَةِ وَالْأَجْنِحَةِ إِلَى الطُّرُقَاتِ وَمَقَاعِدِ الْأَسْوَاقِ.

Bagian keempat: Pembahasan tentang perselisihan dalam hak-hak kepemilikan seperti syuf‘ah, air, batas-batas, hak lintas, dan penerapan bukti-bukti bangunan. Adapun mengenai pintu keluar bangunan, sayap-sayap yang menjorok ke jalan, dan tempat duduk di pasar.

فَإِنْ جَاءَهُ فِيهِ مُتَظَلِّمٌ نَظَرَ فِيهِ وَدَخَلَ فِي وِلَايَتِهِ.

Jika ada seseorang yang datang kepadanya mengadukan suatu perkara, maka ia akan menelitinya dan perkara itu masuk dalam wilayah kekuasaannya.

وَإِنْ لَمْ يَأْتِ فِيهِ مُتَظَلِّمٌ دَخَلَ فِي الْحِسْبَةِ وَكَانَ أَحَقَّ بِالنَّظَرِ فِيهِ فَإِنْ لَمْ يَفْتَقِرْ إِلَى اجْتِهَادٍ تَفَرَّدَ الْمُحْتَسِبُ بِهِ وَإِنِ افْتَقَرَ إِلَى اجْتِهَادٍ كَانَ الْقَاضِي أَحَقَّ بِالِاجْتِهَادِ فِيهِ وَأَوْلَى مِنَ الْمُحْتَسِبِ ويَكُونُ الْمُحْتَسِبُ فِيهِ مُنَفِّذًا لِحُكْمِ الْقَاضِي.

Jika tidak ada pihak yang mengadukan suatu perkara, maka perkara tersebut masuk dalam ranah hisbah dan lebih berhak untuk ditangani oleh muhtasib. Jika perkara itu tidak memerlukan ijtihad, maka muhtasib dapat menanganinya sendiri. Namun jika perkara itu memerlukan ijtihad, maka qadhi lebih berhak melakukan ijtihad dalam perkara tersebut dan lebih utama daripada muhtasib, sedangkan muhtasib dalam hal ini bertindak sebagai pelaksana keputusan qadhi.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ: الْوِلَايَةُ عَلَى الْأَيَامَى فِي عُقُودِ مَنَاكِحِهِنَّ لِأَكْفَائِهِنَّ عِنْدَ عَدَمِ أَوْلِيَائِهِنَّ أَوْ غَفْلِهِنَّ. وَأَسْقَطَ أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ هَذَا الْقِسْمَ مِنْ وِلَايَتِهِ مَعَ الْبُلُوغِ لِتَجْوِيزِهِ لَهُنَّ أَنْ يَنْفَرِدْنَ بِالْعَقْدِ عَلَى أَنْفُسِهِنَّ.

Bagian kelima: Wali atas para janda dalam akad pernikahan mereka dengan pasangan yang sepadan ketika tidak ada wali mereka atau ketika mereka lalai. Abu Hanifah rahimahullah menggugurkan bagian ini dari kewalian dengan alasan telah baligh, karena beliau membolehkan mereka untuk melakukan akad sendiri atas diri mereka.

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ: الْوِلَايَةُ عَلَى ذَوِي الْحَجْرِ بِصِغَرٍ أَوْ جُنُونٍ إِذَا عُدِمَ أَوْلِيَاءُ النَّسَبِ أَوْ لِسَفَهٍ يُوقَعُ بِهِ الْحَجْرُ لَا تُعْتَبَرُ فِيهِ وِلَايَةُ ذِي النَّسَبِ وَيَرْتَفِعُ بِإِينَاسِ الرُّشْدِ وَفَكِّ الْحَجْرِ.

Bagian keenam: Wali atas orang-orang yang berada di bawah perwalian karena masih kecil atau gila apabila tidak ada wali nasab, atau karena kebodohan yang menyebabkan diberlakukannya hajr (pembatasan hak bertindak), maka dalam hal ini tidak dianggap adanya perwalian dari pihak nasab, dan perwalian tersebut berakhir dengan tampaknya tanda-tanda kedewasaan dan dicabutnya hajr.

فَأَمَّا أَمْوَالُ الْغَائِبِينَ عَنْهَا: فَإِنْ عَلِمُوا بِهَا فَلَا نَظَرَ لِلْقَاضِي فِيهَا لِوُقُوفِهَا عَلَى اخْتِيَارِ أَرْبَابِهَا وَإِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهَا، لِأَنَّهُمْ وَرِثُوهَا وَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ فَهِيَ دَاخِلَةٌ فِي نَظَرِ الْقَاضِي وَعَلَيْهِ حِفْظُهَا حَتَّى يَقْدَمُوا أَوْ يُوكِلُوا فَتَخْرُجَ حِينَئِذٍ مِنْ نَظَرِهِ.

Adapun harta orang-orang yang tidak hadir: jika mereka mengetahui keberadaannya, maka hakim tidak berwenang mengurusnya karena pengelolaannya bergantung pada pilihan para pemiliknya. Namun jika mereka tidak mengetahuinya, karena mereka mewarisinya tanpa mengetahui, maka harta tersebut termasuk dalam wewenang hakim dan ia wajib menjaganya hingga mereka datang atau mewakilkan, sehingga setelah itu harta tersebut keluar dari wewenangnya.

الْقِسْمُ السَّابِعُ: الْحُكْمُ بِنَفَقَاتِ الْأَقَارِبِ وَالزَّوْجَاتِ وَالْعَبِيدِ وَتَقْدِيرُهَا بِرَأْيهِ وَاجْتِهَادِهِ.

Bagian ketujuh: Penetapan nafkah bagi kerabat, istri-istri, dan budak, serta penentuannya berdasarkan pendapat dan ijtihadnya.

وَالْقِسْمُ الثَّامِنُ: النَّظَرُ فِي الْوُقُوفِ وَالْوَصَايَا إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا نَاظِرٌ تَوَلَّاهَا وَإِنْ كَانَ فِيهَا نَاظِرٌ واعاها فَإِنْ كَانَتْ لِمُعَيَّنِينَ سَقَطَ الِاجْتِهَادُ فِيهِمْ وَإِنْ كَانَتْ لِمَوْصُوفِينَ تَعَيَّنُوا بِاجْتِهَادِ النَّاظِرِ قَبْلَ الْحُكْمِ وَبِاجْتِهَادِ الْقَاضِي عِنْدَ الْحُكْمِ.

Bagian kedelapan: Meneliti tentang wakaf dan wasiat, jika di dalamnya tidak ada nadzir, maka ia yang mengurusnya. Jika di dalamnya ada nadzir yang memahami urusannya, maka jika wakaf atau wasiat itu ditujukan kepada orang-orang tertentu, tidak diperlukan ijtihad terhadap mereka. Namun jika ditujukan kepada orang-orang yang memiliki sifat tertentu, maka mereka ditentukan berdasarkan ijtihad nadzir sebelum adanya putusan, dan berdasarkan ijtihad qadhi pada saat putusan.

وَالْقِسْمُ التَّاسِعُ: النَّظَرُ فِي التَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ وَالتَّقْلِيدِ وَالْعَزْلِ يَعْمَلُ فِيهِ عَلَى اجْتِهَادِهِ سَوَاءٌ وَافَقَ فِيهِ اجْتِهَادَ مَنْ قَلَّدَهُ أَوْ خَالَفَهُ إِلَّا فِي التَّقْلِيدِ وَالْعَزْلِ فَيَكُونُ اجْتِهَادُ مَنْ قَلَّدَهُ فِيهِ أَنْفَذَ.

Bagian kesembilan: Dalam hal penilaian terhadap keadilan, kecacatan, taqlid, dan pencopotan, seseorang harus berpegang pada ijtihadnya sendiri, baik ijtihad tersebut sesuai maupun berbeda dengan ijtihad orang yang diikutinya, kecuali dalam masalah taqlid dan pencopotan, maka ijtihad orang yang diikutinya lebih diutamakan.

وَالْقِسْمُ الْعَاشِرُ: إِقَامَةُ الْحُدُودِ عَلَى مُسْتَحِقِّيهَا فِيمَا تَعَلَّقَ بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ مِنْ إِقَامَةِ حَدِّ الْقَذْفِ بِالزِّنَا وَالْقِصَاصِ فِي الْجِنَايَاتِ عَلَى النُّفُوسِ وَالْأَطْرَافِ.

Bagian kesepuluh: Menegakkan hudud atas orang yang berhak menerimanya dalam hal yang berkaitan dengan hak-hak manusia, seperti penegakan had qadzaf (tuduhan zina) dan qishash dalam tindak pidana terhadap jiwa maupun anggota tubuh.

فَأَمَّا مَا تَعَلَّقَ مِنْهَا بِحُقُوقِ اللَّهِ الْمَحْضَةِ كَحَدِّ الزِّنَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَتَارِكِ الصَّلَاةِ فَإِنْ تَعَلَّقَتْ بِاجْتِهَادٍ كَانَ الْقَاضِي أَحَقَّ بِهَا لِاخْتِصَاصِهِ بِالِاجْتِهَادِ فِي الْأَحْكَامِ وَيَأْمُرُ وُلَاةَ الْمُعَاوِنِ بِاسْتِيفَائِهَا وَهُوَ أَوْلَى مِنْ مُبَاشَرَتِهَا بِنَفْسِهِ، وَعَلَيْهِمْ أَنْ يَعْمَلُوا بأمره فيها.

Adapun hak-hak yang murni milik Allah, seperti hudud zina, minum khamar, dan meninggalkan salat, maka jika perkara tersebut berkaitan dengan ijtihad, qadi lebih berhak menanganinya karena ia memiliki keahlian dalam ijtihad hukum. Qadi memerintahkan para pejabat pembantu untuk melaksanakan hukuman tersebut, dan hal itu lebih utama daripada qadi melaksanakannya sendiri. Para pejabat tersebut wajib melaksanakan perintah qadi dalam hal ini.

وَإِنْ لَمْ يَتَعَلَّقْ بِاجْتِهَادٍ كَانَ الْأَمِيرُ أَحَقَّ بِهَا لِتَعَلُّقِهَا بِتَقْوِيمِ السَّلْطَنَةِ فَإِنْ تَعَلَّقَ بِهَا سَمَاعُ الْبَيِّنَةِ سَمِعَهَا الْقَاضِي وَاسْتَوْفَاهَا الْأَمِيرُ.

Dan jika tidak berkaitan dengan ijtihad, maka amir lebih berhak atasnya karena berkaitan dengan penegakan kekuasaan. Namun, jika berkaitan dengan mendengarkan bukti, maka hakim yang mendengarkannya dan amir yang menunaikannya.

فَأَمَّا قَبْضُ الصَّدَقَاتِ وَتَفْرِيقُهَا فِي ذَوِي السُّهْمَانِ.

Adapun pengambilan zakat dan pendistribusiannya kepada para penerima yang berhak.

فَإِنْ قَلَّدَ الْإِمَامُ عَلَيْهَا نَاظِرًا كَانَ أَحَقَّ بِهَا مِنَ الْقَاضِي.

Jika imam mengangkat seorang pengawas atasnya, maka pengawas itu lebih berhak atasnya daripada qadhi.

وَإِنْ لَمْ يُقَلِّدْ عَلَيْهَا نَاظِرًا فَفِي اسْتِحْقَاقِ الْقَاضِي النَّظَرُ فِيهَا بِمُطْلَقِ وِلَايَتِهِ وَجْهَانِ أَحَدُهُمَا لَهُ النَّظَرُ فِيهَا لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ فِيمَنْ أَسْمَاهُ لَهَا.

Jika tidak diangkat seorang nadzir untuknya, maka dalam hal apakah qadhi berhak mengawasi (wakaf) tersebut dengan wewenang umumnya, terdapat dua pendapat. Salah satunya: qadhi berhak mengawasinya karena wakaf termasuk hak-hak Allah pada orang yang telah disebutkan namanya untuknya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَيْسَ لَهُ النَّظَرُ فِيهَا، لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِ الْأَمْوَالِ الَّتِي تُحْمَلُ عَلَى اجْتِهَادِ الْأَئِمَّةِ.

Pendapat kedua: Ia tidak berhak meninjaunya, karena hal itu termasuk hak-hak harta yang diserahkan kepada ijtihad para imam.

فَأَمَّا أَمْوَالُ الْفَيْءِ فَلَيْسَ لَهُ التَّعَرُّضُ لَهَا وَجْهًا وَاحِدًا، لِأَنَّ وُجُوهَ مَصْرِفِهَا مَوْقُوفٌ عَلَى اجْتِهَادِ الْأَئِمَّةِ.

Adapun harta fai’, maka ia tidak berhak mengutak-atiknya sama sekali, karena penyalurannya sepenuhnya bergantung pada ijtihad para imam.

فَأَمَّا الْإِمَامَةُ فِي صَلَاةِ الْجُمَعِ وَالْأَعْيَادِ، فَإِنْ نُدِبَ لَهَا إِمَامٌ كَانَ أَحَقَّ بِهَا مِنَ الْقَاضِي.

Adapun kepemimpinan dalam shalat Jumat dan shalat hari raya, maka jika telah ditunjuk seorang imam untuknya, ia lebih berhak memimpin daripada qadhi.

وَإِنْ لَمْ يُنْدَبْ لَهَا إِمَامٌ فَفِي اخْتِصَاصِ الْقَاضِي بِإِقَامَتِهَا وَجْهَانِ:

Dan jika tidak ada imam yang dianjurkan untuk menegakkannya, maka dalam hal kekhususan qadhi untuk menegakkannya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُقِيمُهَا لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ الْعَامَّةِ.

Salah satu pendapat: ia menegakkannya karena ia termasuk hak-hak Allah yang bersifat umum.

وَالثَّانِي: لَا حَقَّ لَهُ فِي إِقَامَتِهَا، لِأَنَّ الْأُمَرَاءَ بِهَا أخص فهذا حكم النظر العام.

Kedua: Ia tidak berhak menegakkannya, karena para amir lebih khusus dalam hal itu; inilah hukum menurut tinjauan umum.

(تحديد سلطات القاضي)

(Penentuan Wewenang Hakim)

فَأَمَّا النَّظَرُ الْخَاصُّ: فَهُوَ أَنْ يُقَلِّدَ النَّظَرَ فِي الْمُدَايَنَاتِ دُونَ الْمَنَاكِحِ أَوِ الْحُكْمِ بِالْإِقْرَارِ مِنْ غَيْرِ سَمَاعِ بَيِّنَةٍ أَوْ فِي نِصَابٍ مُقَدَّرٍ مِنَ الْمَالِ لَا يَتَجَاوَزُهُ فَهَذَا جَائِزٌ وَيَكُونُ مَقْصُورَ النَّظَرِ عَلَى مَا قَلَّدَهُ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ: لَمْ يَزَلِ الْأُمَرَاءُ عِنْدَنَا بِالْبَصْرَةِ بُرْهَةً مِنَ الدَّهْرِ يَسْتَقْضُونَ عَلَى الْمَسْجِدِ الْجَامِعِ قَاضِيًا يُسَمُّونَهُ قَاضِيَ الْمَسْجِدِ يَحْكُمُ فِي مِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَعِشْرِينَ دِينَارًا فَمَا دُونَهَا وَيَفْرِضُ النَّفَقَاتِ وَلَا يَتَعَدَّى بِهَا مَوْضِعَهُ وَلَا مَا قُدِّرَ لَهُ.

Adapun penunjukan khusus: yaitu membatasi wewenang dalam perkara-perkara muamalah saja tanpa mencakup masalah pernikahan, atau membatasi dalam memutuskan perkara berdasarkan pengakuan tanpa mendengarkan bukti, atau dalam jumlah harta tertentu yang tidak boleh dilampaui, maka hal ini diperbolehkan dan wewenangnya terbatas pada apa yang diamanahkan kepadanya. Abu ‘Abdillah az-Zubairi berkata: Para penguasa di Basrah pada masa tertentu selalu mengangkat seorang qadhi di masjid jami‘ yang disebut Qadhi Masjid, yang memutuskan perkara pada nilai dua ratus dirham dan dua puluh dinar atau kurang dari itu, serta menetapkan nafkah, dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan baginya maupun apa yang telah ditentukan untuknya.

وَإِذَا قُلِّدَ النَّظَرَ فِي الْمَنَاكِحِ جَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِجَمِيعِ مَا تَعَلَّقَ بِهَا مِنْ صَدَاقٍ وَفَرْضٍ وَنَفَقَةٍ وَسُكْنَى وَكِسْوَةٍ وَيُزَوِّجُ الْأَيَامَى وَلَا يَحْكُمُ فِيمَا بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مِنَ الْمُدَايَنَاتِ وَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِأُجْرَةِ الرَّضَاعِ وَلَا يَحْكُمَ بِنَفَقَةِ الْأَوْلَادِ وَيَحْكُمُ بِنَفَقَةِ خَادِمِ الزَّوْجَةِ وَلَا يَحْكُمُ بِنَفَقَةِ خَادِمِ الزَّوْجِ.

Apabila seseorang diberi wewenang untuk menangani perkara-perkara pernikahan, maka ia boleh memutuskan semua hal yang berkaitan dengannya, seperti mahar, kewajiban, nafkah, tempat tinggal, dan pakaian. Ia juga boleh menikahkan perempuan-perempuan yang tidak bersuami. Namun, ia tidak boleh memutuskan perkara-perkara utang piutang antara suami istri. Ia boleh memutuskan perkara upah menyusui, tetapi tidak boleh memutuskan nafkah anak-anak. Ia boleh memutuskan nafkah untuk pembantu istri, tetapi tidak boleh memutuskan nafkah untuk pembantu suami.

وَإِذَا قُلِّدَ النَّظَرَ فِي نِصَابٍ مُقَدَّرٍ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَنَظَرَ فِيهَا بَيْنَ خَصْمَيْنِ جَازَ أَنْ يَنْظُرَ بَيْنَهُمَا ثَانِيَةً فِي هَذَا الْقَدْرِ وَثَالِثَةً.

Dan apabila seseorang diberi wewenang untuk memeriksa perkara pada nishab yang ditetapkan sebesar dua ratus dirham, lalu ia memeriksa perkara tersebut antara dua pihak yang bersengketa, maka boleh baginya untuk memeriksa perkara antara keduanya lagi pada kadar yang sama untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya.

وَإِذَا كَانَ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ أَرْبَعُمِائَةِ دِرْهَمٍ فَأَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ فِيهَا جَازَ إِذَا كَانَتْ دَعْوَى الشَّرِيكَيْنِ مُتَفَرِّقَةً وَلَمْ يَجُزْ إِنْ كَانَتْ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةً.

Apabila terdapat empat ratus dirham di antara dua orang sekutu, lalu salah satu dari mereka ingin memeriksanya, maka hal itu diperbolehkan jika klaim kedua sekutu tersebut berbeda. Namun, tidak diperbolehkan jika klaim mereka berdua sama.

وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ فِي عُرُوضٍ قِيمَتُهَا مِائَتَا دِرْهَمٍ جَازَ إِلَّا عَنْ نَهْيٍ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ التَّقْدِيرِ دُونَ الْجِنْسِ فَهَذَا حُكْمُ الشرط الرابع.

Dan apabila seseorang ingin melihat pada barang dagangan yang nilainya dua ratus dirham, maka hal itu diperbolehkan kecuali jika ada larangan, dengan mengedepankan hukum takdir (penetapan nilai) daripada jenisnya. Inilah hukum syarat keempat.

(فصل: [العقد] )

(Bab: [Akad])

وَأَمَّا الشَّرْطُ الْخَامِسُ وَهُوَ الْعَقْدُ الَّذِي يَصِحُّ بِهِ التَّقْلِيدُ: فَيَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Adapun syarat kelima, yaitu akad yang dengannya taklid menjadi sah: maka akad tersebut mencakup tiga syarat.

أَحَدُهَا: مُقَدِّمَةُ الْعَقْدِ.

Salah satunya: mukadimah akad.

وَالثَّانِي: صِفَةُ الْعَقْدِ.

Kedua: sifat akad.

وَالثَّالِثُ: لُزُومُ الْعَقْدِ.

Ketiga: keterikatan akad.

فَأَمَّا الشَّرْطُ الْأَوَّلُ فِي مُقَدِّمَةِ الْعَقْدِ:

Adapun syarat pertama dalam pendahuluan akad:

فَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْمُوَلِّي عَارِفًا بِتَكَامُلِ شُرُوطِ الْقَضَاءِ فِي الْمُوَلَّى لِيَقَعَ الْعَقْدُ صَحِيحًا بَعْدَ مَعْرِفَتِهِ بِهِ.

Yaitu bahwa pihak yang mengangkat harus mengetahui terpenuhinya seluruh syarat peradilan pada orang yang diangkat, agar akad pengangkatan tersebut sah setelah ia mengetahuinya.

فَإِنْ عَرِفَ تَكَامُلَهَا فِيهِ جَازَ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى عِلْمِهِ بِهِ.

Jika ia telah mengetahui kesempurnaan (dalil) tersebut di dalamnya, maka boleh baginya cukup dengan pengetahuannya tentang hal itu.

وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ تَكَامُلَهَا فِيهِ سَأَلَ عَنْهُ.

Dan jika ia tidak mengetahui kesempurnaannya dalam hal itu, maka ia harus menanyakannya.

فَإِنِ اسْتَفَاضَ الْخَبَرَ بِمَعْرِفَتِهِ كَانَتْ الِاسْتِفَاضَةُ أَوْكَدَ مِنَ الشَّهَادَةِ فَلَمْ يَحْتَجْ مَعَهَا إِلَّا الِاخْتِبَارَ.

Jika telah tersebar luas kabar mengenai pengetahuannya, maka penyebaran luas tersebut lebih kuat daripada kesaksian, sehingga tidak diperlukan lagi selain pengujian.

وَإِنْ لَمْ يَسْتَفِضْ بِهِ الْخَبَرُ جَازَ أَنْ يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى شَهَادَةِ عَدْلَيْنِ بِتَكَامُلِ شُرُوطِ الْقَضَاءِ فِيهِ وَيَخْتَبِرُهُ الْمُوَلِّي لِيَتَحَقَّقَ بِاخْتِبَارِهِ صِحَّةَ مَعْرِفَتِهِ.

Dan jika kabar tentangnya belum tersebar luas, maka boleh mencukupkan dalam hal itu dengan kesaksian dua orang ‘adl yang telah memenuhi syarat-syarat peradilan, dan pihak yang mengangkatnya hendaknya menguji agar dengan ujian tersebut dapat dipastikan kebenaran pengetahuannya.

وَهَلْ يَكُونُ اخْتِبَارُهُ بَعْدَ الشَّهَادَةِ وَاجِبًا أَوِ اسْتِحْبَابًا؛ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apakah mengujinya setelah syahadat itu wajib atau sunnah; terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ اسْتِحْبَابٌ يَسْتَظْهِرُ بِهِ، لِأَنَّ صِحَّةَ الشَّهَادَةِ تُوجِبُ الْعَمَلَ بِهَا.

Pertama: bahwa hal itu adalah anjuran yang digunakan sebagai penguat, karena keshahihan kesaksian mewajibkan untuk mengamalkannya.

وَالْوَجْهُ الثاني: أن لاختباره وَاجِبٌ لِجَوَازِ أَنْ يَطْرَأَ عَلَيْهِ نِسْيَانٌ أَوِ اخْتِلَالٌ.

Pendapat kedua: bahwa mengujinya adalah wajib karena dimungkinkan terjadi padanya lupa atau kekeliruan.

فَإِنْ لَمْ يَشْهَدْ بِتَكَامُلِ صِفَاتِهِ شَاهِدَانِ لَزِمَ اخْتِبَارُهُ قَبْلَ تَقْلِيدِهِ فِي كُلِّ شَرْطٍ يُعْتَبَرُ فِي صِحَّةِ تَقْلِيدِهِ مِنْ أُصُولٍ وَفُرُوعٍ.

Jika tidak ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atas kesempurnaan sifat-sifatnya, maka wajib mengujinya sebelum melakukan taqlid kepadanya dalam setiap syarat yang dianggap sah dalam taqlid tersebut, baik yang berkaitan dengan ushul maupun furu‘.

فَإِنْ عَرَفَ صِحَّتَهَا مِنْ أَجْوِبَتِهِ قَلَّدَهُ حِينَئِذٍ، فإن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – اخْتَبَرَ مُعَاذًا حِينَ قَلَّدَهُ قَضَاءَ الْيَمَنِ، وَلَمْ يَخْتَبِرْ عَلِيًّا عِنْدَ تَقْلِيدِهِ لِأَنَّهُ أَخْبَرُ مِنْهُ بِمُعَاذٍ.

Jika ia mengetahui kebenaran (kompetensi) seseorang dari jawaban-jawabannya, maka ia boleh mengikuti orang tersebut saat itu juga. Sebab Nabi ﷺ menguji Mu‘ādz ketika beliau mengangkatnya sebagai hakim di Yaman, dan beliau tidak menguji ‘Alī ketika mengangkatnya, karena ‘Alī lebih berpengalaman daripada Mu‘ādz.

وَإِنْ قَلَّدَهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ تَكَامُلَ الشُّرُوطِ فِيهِ ثُمَّ عَلِمَهَا كَانَ التَّقْلِيدُ بَاطِلًا، حَتَّى يَسْتَأْنِفَهُ بَعْدَ الْعِلْمِ بِتَكَامُلِهَا لِوُقُوعِ التَّقْلِيدِ مع الشك فيه.

Dan jika seseorang melakukan taqlid kepada seorang mujtahid sementara ia tidak mengetahui terpenuhinya syarat-syarat pada mujtahid tersebut, kemudian setelah itu ia mengetahuinya, maka taqlid tersebut batal, hingga ia memulai kembali taqlid setelah mengetahui terpenuhinya syarat-syarat itu, karena taqlid yang dilakukan sebelumnya terjadi dalam keadaan ragu terhadap terpenuhinya syarat-syarat tersebut.

(فصل: صفة العقد)

(Bab: Sifat Akad)

وَأَمَّا الشَّرْطُ الثَّانِي وَهُوَ صِفَةُ الْعَقْدِ: فَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِاللَّفْظِ مَعَ الْحُضُورِ وَبِالْمُكَاتَبَةِ مَعَ الْغيبَةِ لِلضَّرُورَةِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْمُكَاتَبَةِ مع الحضور لارتفاع الضرورة.

Adapun syarat kedua, yaitu sifat akad: maka hal itu dianggap sah dengan lafaz (ucapan) ketika kedua belah pihak hadir, dan dengan mukātabah (surat-menyurat) ketika salah satu pihak tidak hadir karena adanya kebutuhan mendesak. Tidak boleh hanya menggunakan mukātabah ketika kedua belah pihak hadir, karena kebutuhan mendesak tersebut tidak ada.

( [لفظ العقد] )

(Lafaz akad)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

وَلَفْظُ الْعَقْدِ: يَشْتَمِلُ عَلَى صَرِيحٍ وَكِنَايَةٍ وَمُخْتَلَفٍ فِيهِ.

Lafaz akad mencakup yang sharih, kinayah, dan yang diperselisihkan di dalamnya.

فَأَمَّا الصَّرِيحُ: فَأَرْبَعَةُ أَلْفَاظٍ: قَلَّدْتُكَ الْقَضَاءَ وَوَلَّيْتُكَ الْقَضَاءَ أَوِ اسْتَخْلَفْتُكَ عَلَى الْقَضَاءِ أَوِ اسْتَنَبْتُكَ عَلَى الْقَضَاءِ فَلَا يَحْتَاجُ مَعَ أَحَدِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ الْأَرْبَعَةِ إِلَى زِيَادَةٍ إِلَّا أَنْ يَكُونَ تَأْكِيدًا.

Adapun yang jelas (ṣarīḥ) itu ada empat lafaz: “Aku mengangkatmu sebagai qāḍī”, “Aku menugaskanmu sebagai qāḍī”, atau “Aku menjadikanmu sebagai pengganti dalam urusan kehakiman”, atau “Aku mengangkatmu sebagai wakil dalam urusan kehakiman”. Maka tidak diperlukan tambahan apa pun bersama salah satu dari empat lafaz ini, kecuali jika itu hanya sebagai penegasan.

وَأَمَّا الْكِنَايَةُ: فَأَرْبَعَةُ أَلْفَاظٍ: قَدِ اعْتَمَدْتُ عَلَيْكَ فِي الْقَضَاءِ أَوْ عَوَّلْتُ عَلَيْكَ أَوْ عَهِدْتُ إِلَيْكَ بِالْقَضَاءِ أَوْ وَكَّلْتُ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ فَلَا يَنْعَقِدُ التَّقْلِيدُ بِأَحَدِ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ الْأَرْبَعَةِ لِاحْتِمَالِهَا حَتَّى يَقْتَرِنَ بِهَا مَا يَزُولُ بِهِ الِاحْتِمَالُ بِإِحْدَى نُقْطَتَيْنِ إِمَّا أَنْ يَقُولَ فَاحْكُمْ أَوْ فَانْظُرْ فَيَكُونُ بِالْقَرِينَةِ كَالصَّرِيحِ فِي صِحَّةِ التَّقْلِيدِ.

Adapun kināyah: terdapat empat lafaz, yaitu: “Aku telah mempercayakan kepadamu dalam urusan pengadilan”, atau “Aku telah bersandar kepadamu”, atau “Aku telah menyerahkan kepadamu urusan pengadilan”, atau “Aku telah mewakilkan kepadamu pengadilan.” Maka tidak sah pelimpahan tugas (taqlīd) dengan salah satu dari empat lafaz ini karena mengandung kemungkinan makna lain, kecuali jika disertai sesuatu yang menghilangkan kemungkinan tersebut dengan salah satu dari dua cara: yaitu dengan mengatakan, “Maka berilah keputusan,” atau “Maka periksalah,” sehingga dengan adanya petunjuk tersebut, lafaz itu menjadi seperti lafaz sharih dalam keabsahan taqlīd.

وَأَمَّا الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَأَرْبَعَةُ أَلْفَاظٍ: قَدْ فَوَّضْتُ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ وَرَدَدْتُ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ وَجَعَلْتُ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ وَأَسْنَدْتُ إِلَيْكَ الْقَضَاءَ فَفِيهَا وَجْهَانِ:

Adapun yang diperselisihkan terdapat pada empat lafaz: “Aku telah menyerahkan kepadamu urusan qadhā’,” “Aku telah mengembalikan kepadamu urusan qadhā’,” “Aku telah menjadikan urusan qadhā’ kepadamu,” dan “Aku telah menisbatkan urusan qadhā’ kepadamu.” Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا صَرِيحٌ فِي التَّقْلِيدِ.

Salah satunya adalah bahwa ia secara tegas menunjukkan taqlid.

وَالثَّانِي: وهو أصح أنها كناية.

Yang kedua, dan ini yang lebih sahih, adalah bahwa itu merupakan kinayah.

(ما يفتقر إليه عقد التقليد)

(Hal-hal yang diperlukan dalam akad taqlid)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالَّذِي يَفْتَقِرُ عَقْدُ التَّقْلِيدِ إِلَى ذِكْرِهِ فِيهِ شَيْئَانِ:

Ada dua hal yang harus disebutkan dalam akad taklid.

أَحَدُهُمَا: ذِكْرُ الْبَلَدِ الَّذِي يُقَلِّدُهُ فِيهِ.

Salah satunya adalah menyebutkan negara tempat ia memberikan otoritas (taqlid) kepadanya.

والثاني: صفة الحكم من عموم خصوص.

Kedua: sifat hukum dari segi umum dan khusus.

فَإِنْ أَطْلَقَ كَانَ عَلَى الْعُمُومِ دُونَ الْخُصُوصِ فِي الْمُنَازَعَاتِ وَعَلَى الْخُصُوصِ دُونَ الْعُمُومِ فِي الْوِلَايَاتِ.

Jika suatu lafaz digunakan secara mutlak, maka dalam perkara-perkara sengketa berlaku atas makna umum, bukan khusus; sedangkan dalam urusan-urusan kekuasaan berlaku atas makna khusus, bukan umum.

ثُمَّ تَمَامُ الْعَقْدِ مُعْتَبَرٌ بِقَوْلِ الْمُوَلَّى.

Kemudian, kesempurnaan akad dianggap berdasarkan pernyataan dari pihak yang diberi wewenang.

فَإِنْ كَانَ حَاضِرًا كَانَ قَبُولُهُ بِالْقَوْلِ عَلَى الْفَوْرِ فَيَقُولُ قَدْ قَبِلْتُ أَوْ قَدْ تَقَلَّدْتُ فَيَتِمُّ عَقْدُ التَّقْلِيدِ.

Jika ia hadir, maka penerimaannya dilakukan dengan ucapan secara langsung, yaitu dengan mengatakan, “Saya menerima” atau “Saya telah menerima,” sehingga akad taklid pun menjadi sempurna.

وَلِصِحَّةِ هَذَا الْقَبُولِ شَرْطَانِ:

Untuk sahnya penerimaan ini terdapat dua syarat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْمُوَلِّي عَالِمًا بِأَنَّ الْمُوَلَّى مُسْتَحِقٌّ لِلْوِلَايَةِ الَّتِي اسْتَنَابَهُ فِيهَا فَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ اسْتِحْقَاقَهُ لَهَا لَمْ يَصِحَّ قَبُولُهُ.

Salah satunya adalah bahwa orang yang memberikan wewenang harus mengetahui bahwa orang yang diberi wewenang memang berhak atas wewenang yang diwakilkan kepadanya. Jika ia tidak mengetahui bahwa orang tersebut berhak atasnya, maka tidak sah penerimaannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْلَمَ الْمُوَلَّى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ مُسْتَكْمِلٌ لِلشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْقَضَاءِ فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَصِحَّ قَبُولُهُ وَكَانَ بِالْقَبُولِ مَجْرُوحًا.

Kedua: Hendaknya orang yang diangkat (sebagai hakim) mengetahui dari dirinya sendiri bahwa ia telah memenuhi syarat-syarat yang dianggap sah dalam peradilan. Jika ia mengetahui bahwa ia belum memenuhinya, maka tidak sah baginya menerima (pengangkatan tersebut) dan dengan penerimaan itu ia menjadi tercela.

وَإِنْ كَانَ غَائِبًا جَازَ أَنْ يَكُونَ قَبُولُهُ عَلَى التَّرَاخِي.

Dan jika pihak yang menerima (akad) sedang tidak hadir, maka boleh penerimaannya dilakukan secara tertunda.

فَإِنْ شَرَعَ فِي النَّظَرِ قَبْلَ الْقَبُولِ فَهَلْ يَكُونُ شُرُوعُهُ فِيهِ قَبُولًا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika seseorang mulai melakukan penelitian sebelum menerima (perkara), apakah permulaannya dalam penelitian itu dianggap sebagai penerimaan? Ada dua pendapat dalam hal ini:

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ قَبُولًا كَالنُّطْقِ فَعَلَى هَذَا تَكُونُ أَحْكَامُهُ نَافِذَةً.

Salah satunya: berupa penerimaan seperti ucapan, maka dalam hal ini hukum-hukumnya menjadi berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَكُونُ قَبُولًا حَتَّى يُصَرِّحَ بِالْقَبُولِ نُطْقًا لِأَنَّ الشُّرُوعَ فِي النَّظَرِ فَرْعٌ لِعَقْدِ الْوِلَايَةِ فَلَمْ يَفْقِدْ بِهِ قَبُولَهَا، فَعَلَى هَذَا تَكُونُ أحكامه مردودة.

Pendapat kedua: Tidak dianggap sebagai penerimaan sampai ia secara tegas menyatakan penerimaan itu dengan lisan, karena memulai pemeriksaan merupakan cabang dari akad wilāyah, sehingga tidak hilang penerimaannya hanya dengan itu. Maka berdasarkan hal ini, hukum-hukumnya menjadi tertolak.

(فصل: لزوم العقد)

(Bab: Kewajiban Akad)

وَأَمَّا الشَّرْطُ الثَّالِثُ وَهُوَ لُزُومُ الْعَقْدِ: فَهُوَ مُعْتَبَرٌ فِي لُزُومِهِ لِأَهْلِ الْعَمَلِ وَلَيْسَ بِشَرْطٍ فِي لُزُومِهِ لِلْمُوَلِّي وَالْمُوَلَّى لِأَنَّهُ فِي حَقِّهِمَا مِنَ الْعُقُودِ الْجَائِزَةِ دُونَ اللَّازِمَةِ لِأَنَّهَا اسْتِنَابَةٌ كَالْوَكَالَةِ. وَلَا يَلْزَمُ فِي حَقِّ الْمُسْتَنِيبِ وَلَا فِي حَقِّ الْمُسْتَنَابِ.

Adapun syarat ketiga, yaitu keharusan akad: maka syarat ini dianggap dalam keharusan bagi para pelaku pekerjaan, namun bukan merupakan syarat keharusan bagi pihak yang memberi wewenang (al-muwallī) maupun pihak yang diberi wewenang (al-muwallā), karena bagi keduanya akad ini termasuk akad ja’izah (tidak mengikat), bukan akad lazimah (mengikat), sebab akad ini merupakan bentuk perwakilan seperti wakalah. Maka tidak wajib bagi pihak yang mewakilkan (al-mustanīb) maupun bagi pihak yang diberi perwakilan (al-mustanāb).

وَيَجُوزُ لِلْمُوَلِّي أَنْ يَعْزِلَهُ إِذَا شَاءَ.

Dan diperbolehkan bagi al-muwallī untuk memberhentikannya kapan saja ia menghendaki.

وَالْأَوْلَى بِالْمُوَلِّي أَنْ لَا يَعْزِلَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ.

Yang lebih utama bagi orang yang mengangkat pejabat adalah tidak memberhentikannya kecuali karena suatu uzur.

وَأَنْ لَا يَعْزِلَ الْمُوَلَّى نَفْسَهُ إِلَّا لِعُذْرٍ.

Dan hendaknya orang yang diangkat (menjadi pemimpin) tidak melepaskan jabatannya sendiri kecuali karena suatu uzur.

فَإِنْ كَانَ الْعَزْلُ مِنَ الْمُوَلِّي إِشَاعَةً حَتَّى لَا يَنْظُرَ الْمُوَلَّى بَعْدَ الْعَزْلِ فَإِنْ نَظَرَ بَعْدَهُ وَقَبْلَ عِلْمِهِ بِالْعَزْلِ كَانَ فِي نُفُوذِ أَحْكَامِهِ وَجْهَانِ كَعَقْدِ الْوَكِيلِ بَعْدَ عَزْلِهِ وَقَبْلَ عِلْمِهِ.

Jika pencopotan itu dari pihak yang mengangkat dilakukan secara tersebar (tersebar luas), sehingga orang yang diangkat tidak lagi menjalankan tugas setelah pencopotan itu, maka jika ia menjalankan tugas setelah pencopotan dan sebelum ia mengetahui pencopotan tersebut, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan keputusan-keputusannya, sebagaimana halnya akad yang dilakukan oleh wakil setelah ia dicopot dan sebelum ia mengetahui pencopotan itu.

وَإِنْ كَانَ الِاعْتِزَالُ مِنَ الْمُوَلَّى إِشَاعَةً لِيُقَلِّدَ الْمُوَلِّي غَيْرَهُ فَإِنْ حَكَمَ بَعْدَ اعْتِزَالِهِ رُدَّ حُكْمُهُ.

Dan jika pengunduran diri dari pejabat yang diangkat itu diumumkan agar pengangkatnya dapat mengangkat orang lain, maka jika ia memutuskan perkara setelah pengunduran dirinya, keputusannya ditolak.

فَأَمَّا أَهْلُ الْعَمَلِ فَالتَّقْلِيدُ لَازِمٌ فِي حُقُوقِهِمْ بِإِظْهَارِ الطَّاعَةِ وَالْتِزَامِ الْحُكْمِ.

Adapun bagi kalangan praktisi, taqlid adalah suatu keharusan dalam hak-hak mereka dengan menampakkan ketaatan dan berpegang pada hukum.

فَإِنِ امْتَنَعُوا مِنِ الْتِزَامِهِ لِعُذْرٍ أَوْضَحُوهُ وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِ عُذْرٍ أُرْهِبُوا.

Jika mereka menolak untuk mematuhinya karena suatu uzur, maka mereka harus menjelaskannya; namun jika penolakan itu tanpa uzur, maka mereka harus diberi peringatan keras.

فَإِنْ أَقَامُوا عَلَى الِامْتِنَاعِ حُورِبُوا لِأَنَّ الْتِزَامَ الْقَضَاءِ مِنَ الْفُرُوضِ فَإِذَا امْتَنَعُوا مِنِ الْتِزَامِهِ حُورِبُوا عَلَيْهِ كَمَا يُحَارَبُونَ عَلَى امْتِنَاعِهِمْ مِنَ الْفُرُوضِ وَلُزُومُ الطَّاعَةِ صِحَّةُ التَّقْلِيدِ.

Jika mereka tetap bersikeras menolak, maka mereka diperangi karena kewajiban menerima keputusan adalah bagian dari fardhu. Maka apabila mereka menolak untuk menerimanya, mereka diperangi karenanya sebagaimana mereka diperangi karena menolak kewajiban lainnya, dan keharusan taat merupakan syarat sahnya taqlid.

وَعِلْمُهُمْ بِهَا مُخْتَلِفٌ بِقُرْبِهِمْ وَبُعْدِهِمْ.

Pengetahuan mereka tentang hal itu berbeda-beda sesuai dengan kedekatan dan kejauhan mereka.

فَإِنْ بَعُدُوا مِنْ أَنْ يَشِيعَ خَبَرُ التَّقْلِيدِ فِيهِمْ أَشْهَدَ الْمولى عَلَى نَفْسِهِ شَاهِدَيْنِ بِالتَّقْلِيدِ وَالْعَهْدِ الَّذِي تَضَمَّنَتْهُ الْوِلَايَةُ بَعْدَ قِرَاءَتِهِ عَلَيْهِمَا وَعِلْمِهِمَا بِمَا فِيهِ حَتَّى يَشْهَدَا بِهِ عِنْدَ أَهْلِ الْعَمَلِ، فَإِنْ عَرَفُوا عَدَالَتَهُمَا لَزِمَتْهُمُ الطَّاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفُوهَا لَمْ تَلْزَمْهُمُ الطَّاعَةُ حَتَّى يَكْشِفُوا عَنِ الْعَدَالَةِ.

Jika mereka jauh dari kemungkinan tersebarnya berita tentang taqlid di antara mereka, maka sang maula harus menghadirkan dua orang saksi atas dirinya mengenai taqlid dan perjanjian yang terkandung dalam wilayah setelah membacakannya kepada keduanya dan keduanya memahami isinya, sehingga keduanya dapat memberikan kesaksian tentang hal itu di hadapan para pelaku (masyarakat). Jika mereka mengetahui keadilan kedua saksi tersebut, maka wajib bagi mereka untuk menaati; namun jika mereka tidak mengetahuinya, maka tidak wajib bagi mereka untuk menaati sampai mereka memastikan keadilan (kedua saksi) tersebut.

وَإِنْ لَمْ يَشْهَدْ بِهَا شَاهِدَانِ وَوَرَدَ الْقَاضِي الْمُوَلَّى فَأَخْبَرَهُمْ بِوِلَايَتِهِ لَا تَلْزَمُهُمُ الطَّاعَةُ إِنْ لَمْ يُصَدِّقُوهُ.

Dan jika tidak ada dua saksi yang memberikan kesaksian atasnya, lalu hakim yang diangkat datang dan memberitahukan kepada mereka tentang pengangkatannya, maka mereka tidak wajib menaati jika mereka tidak mempercayainya.

وَفِي لُزُومِهَا لَهُمْ إِنْ صَدَّقُوهُ وجهان:

Dan mengenai kewajiban mereka untuk mengikutinya jika mereka membenarkannya, terdapat dua pendapat:

أحدهما: تلزمهم لأنهم اعترفوا بحق عَلَيْهِمْ.

Pertama: Kewajiban itu tetap berlaku bagi mereka karena mereka telah mengakui adanya hak atas diri mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تَلْزَمُهُمْ لِمَا يَتَضَمَّنُهَا مِنْ إِقْرَارِهِمْ عَلَى الْمُوَلَّى.

Pendapat kedua: Mereka tidak wajib melaksanakannya karena di dalamnya terkandung pengakuan mereka terhadap orang yang diangkat.

وَإِنْ كَانَ الْعَمَلُ قَرِيبًا مِنَ الْمُوَلَّى أَشَاعَ الْوِلَايَةَ حَتَّى يَسْتَفِيضَ بِهَا الْخَبَرُ.

Dan jika tindakan itu dilakukan dekat dengan orang yang diberi wewenang, maka hal itu menyebarkan kewenangan hingga berita tentangnya menjadi tersebar luas.

وَفِي اكْتِفَائِهِ بِالْإِشَاعَةِ عَنِ الشَّهَادَةِ وَجْهَانِ:

Dalam mencukupkan diri dengan penyebaran kabar tentang kesaksian, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَكْتَفِي بِهَا لِأَنَّهَا أَوْكَدُ.

Salah satunya: mencukupkan diri dengannya karena ia lebih kuat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَكْتَفِي بِهَا حَتَّى يَشْهَدَ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ أَخَصُّ.

Pendapat kedua: Tidak cukup hanya dengan itu sampai ia bersaksi, karena kesaksian (syahadah) lebih khusus.

فَإِنْ جُعِلَتِ الْإِشَاعَةُ كَافِيَةً لَزِمَتِ الطَّاعَةُ وَإِنْ لَمْ تُجْعَلْ كَافِيَةً لَمْ تَلْزَمِ الطَّاعَةُ.

Jika isu yang tersebar dianggap sudah cukup, maka ketaatan menjadi wajib; namun jika tidak dianggap cukup, maka ketaatan tidaklah wajib.

وَلَيْسَ كَتْبُ الْعَهْدِ شَرْطًا فِي التَّقْلِيدِ، قَدْ كُتُبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ كِتَابًا وَلَمْ يَكْتُبْ لِمُعَاذٍ، وَاقْتَصَرَ عَلَى وَصِيَّتِهِ وَإِنَّمَا يُرَادُ الْعَهْدُ لِيَكُونَ شاهدا بما تضمنه من صفات التقليد وشروطه.

Penulisan surat pengangkatan bukanlah syarat dalam taklīd; Rasulullah ﷺ pernah menulis surat kepada ‘Amr bin Ḥazm, namun tidak menulis surat untuk Mu‘ādz, beliau hanya memberikan wasiat kepadanya. Surat pengangkatan itu dimaksudkan agar menjadi bukti atas sifat-sifat taklīd dan syarat-syaratnya yang tercantum di dalamnya.

(هَلْ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبُ الْقَاضِي مُوَافِقًا لمذهب الإمام؟)

Apakah disyaratkan mazhab qadhi harus sesuai dengan mazhab imam?

وَلَا يَلْزَمُ فِي تَقْلِيدِ الْقَضَاءِ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبُ الْمُوَلَّى مُوَافِقًا لِمَذْهَبِ الْمُوَلِّي، وَلَا يَمْنَعُ اخْتِلَافُ مَذْهَبَيْهِمَا مِنَ التَّقْلِيدِ بَيْنَهُمَا فَيَجُوزُ لِلشَّافِعِيِّ أَنْ يُقَلِّدَ حَنَفِيًّا وَلِلْحَنَفِيِّ أَنْ يُقَلِّدَ شَافِعِيًّا لِأَنَّ عَلَى الْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِمَذْهَبِهِ لَا بِمَذْهَبِ غَيْرِهِ وَيَعْمَلَ عَلَى اجْتِهَادِ نَفْسِهِ لَا عَلَى اجْتِهَادِ غَيْرِهِ.

Tidak disyaratkan dalam pengangkatan qadha (hakim) bahwa mazhab orang yang diangkat harus sesuai dengan mazhab yang mengangkatnya, dan perbedaan mazhab di antara keduanya tidak menghalangi adanya pengangkatan tersebut. Maka, boleh bagi seorang Syafi’i mengangkat seorang Hanafi, dan bagi seorang Hanafi mengangkat seorang Syafi’i, karena seorang qadhi wajib memutuskan perkara berdasarkan mazhabnya sendiri, bukan berdasarkan mazhab orang lain, dan ia harus beramal menurut ijtihadnya sendiri, bukan menurut ijtihad orang lain.

(حُكْمُ الْقَاضِي بِغَيْرِ مَذْهَبِهِ)

(Hukum Hakim yang Memutuskan Tidak Sesuai Mazhabnya)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِنْ كَانَ شَافِعِيًّا فَأَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ فِي قَضِيَّةٍ أَنْ يَحْكُمَ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ جَازَ، وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَمْنَعُ مَنِ اعْتَزَى إِلَى مَذْهَبٍ أَنْ يَحْكُمَ بِغَيْرِهِ لِتَوَجُّهِ التُّهْمَةِ إِلَيْهِ وَهَذَا وَإِنْ كَانَتِ السِّيَاسَةُ تَقْتَضِيهِ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ الْمَذَاهِبِ وَتَمَيُّزِ أَهْلِهَا. فَحُكْمُ الشَّرْعِ لَا يُوجِبُهُ لِمَا يَلْزَمُهُ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي كُلِّ حُكْمٍ طَرِيقَةُ الاجتهاد.

Jika seseorang adalah seorang Syafi‘i, lalu ijtihadnya dalam suatu kasus membawanya untuk memutuskan dengan mazhab Abu Hanifah, maka hal itu diperbolehkan. Namun, sebagian ulama kami melarang seseorang yang menisbatkan diri kepada suatu mazhab untuk memutuskan dengan selain mazhabnya, karena dikhawatirkan adanya tuduhan terhadapnya. Meskipun demikian, kebijakan seperti itu memang dituntut setelah mazhab-mazhab mapan dan para pengikutnya telah jelas. Namun, hukum syariat tidak mewajibkannya, karena hal itu menuntut adanya ijtihad dalam setiap keputusan, dan cara yang ditempuh adalah ijtihad.

فإذا قضى في حكم باجتهاد ثم أراد أن يقضي فيه من بعد لزمه إعادة الِاجْتِهَادِ.

Jika seorang hakim telah memutuskan suatu perkara berdasarkan ijtihad, kemudian ia ingin memutuskan perkara yang sama lagi setelahnya, maka ia wajib mengulangi ijtihad.

فَإِنْ أَدَّاهُ إِلَى خِلَافِ الْأَوَّلِ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْحُكْمَيْنِ مَاضِيًا وَقَدْ شَرِكَ عُمَرُ فِي عَامٍ، وَلَمْ يَشْرَكْ فِي عَامٍ وَقَالَ هَذِهِ عَلَى مَا قَضَيْنَا وَتِلْكَ عَلَى ما قضينا.

Jika hal itu mengantarkan pada perbedaan dengan yang pertama, maka masing-masing dari kedua keputusan tersebut tetap berlaku. Umar pernah melakukan musyarakah pada suatu tahun, dan tidak melakukan musyarakah pada tahun yang lain, lalu beliau berkata, “Yang ini berdasarkan apa yang telah kami putuskan, dan yang itu berdasarkan apa yang telah kami putuskan.”

(هل للإمام أن يشترط على القاضي القضاء بمذهب معين؟)

Apakah imam berhak mensyaratkan kepada qadi untuk memutuskan perkara dengan mazhab tertentu?

فَإِنْ شَرَطَ الْمُوَلِّي عَلَى الْمُوَلَّى فِي عَقْدِ التَّقْلِيدِ أَنْ لَا يَحْكُمَ إِلَّا بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَوْ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika pihak yang mengangkat (al-muwallī) mensyaratkan kepada yang diangkat (al-muwallā) dalam akad pengangkatan agar tidak memutuskan hukum kecuali dengan mazhab Syafi‘i atau dengan mazhab Abu Hanifah, maka hal ini terbagi menjadi dua bentuk:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الشَّرْطُ عَامًّا.

Salah satunya adalah syarat tersebut bersifat umum.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ خَاصًّا.

Yang kedua: harus bersifat khusus.

فَإِنْ كَانَ عَامًّا: فَقَالَ لَا يَحْكُمُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ إِلَّا بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَوْ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ كَانَ هَذَا الشَّرْطُ بَاطِلًا سَوَاءٌ كَانَ مُوَافِقًا لِمَذْهَبِ الْمُوَلِّي أَوْ مُخَالِفًا، لِأَنَّهُ قَدْ مَنَعَهُ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَجِبُ فِيهِ الِاجْتِهَادُ.

Jika syarat tersebut bersifat umum: misalnya ia berkata, “Tidak boleh memutuskan dalam seluruh hukum kecuali dengan mazhab Syafi‘i atau dengan mazhab Abu Hanifah,” maka syarat ini batal, baik sesuai dengan mazhab orang yang mengangkatnya maupun bertentangan, karena syarat tersebut telah melarangnya untuk melakukan ijtihad dalam perkara yang wajib dilakukan ijtihad di dalamnya.

فَأَمَّا صِحَّةُ التَّقْلِيدِ وَفَسَادُهُ فَمُعْتَبَرٌ بِشَرْطِهِ.

Adapun sah atau tidaknya taklid, maka hal itu tergantung pada syarat-syaratnya.

فَإِنْ عَدَلَ بِهِ عَنْ لَفْظِ الشَّرْطِ وَأَخْرَجَهُ مَخْرَجَ الْأَمْرِ فَقَالَ احْكُمْ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَوْ أَخْرِجْهُ مَخْرَجَ النَّهْيِ فَقَالَ لَا تَحْكُمْ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ صَحَّ التَّقْلِيدُ وَإِنْ بَطَلَ مَا أَمَرَ بِهِ وَنَهَاهُ عَنْهُ.

Jika ia mengubah lafaz syarat dan mengungkapkannya dalam bentuk perintah, misalnya dengan mengatakan, “Berhukumlah dengan mazhab Syafi‘i,” atau mengungkapkannya dalam bentuk larangan, misalnya dengan mengatakan, “Jangan berhukum dengan mazhab Abu Hanifah,” maka taklid tetap sah, meskipun apa yang ia perintahkan atau larang menjadi batal.

وَإِنْ جَعَلَهُ بِلَفْظِ الشَّرْطِ فِي الْعَقْدِ فَقَالَ عَلَى أَنْ تَحْكُمَ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ إِنْ جَعَلَهُ أَمْرًا أَوْ عَلَى أَنْ لَا تَحْكُمَ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، إِنْ جَعَلَهُ نَهْيًا بَطَلَ التَّقْلِيدُ لِفَسَادِ الشَّرْطِ لِأَنَّهُ مَعْقُودٌ عَلَى شَرْطٍ فَاسِدٍ. وَقَالَ أَهْلُ الْعِرَاقِ لَا يَبْطُلُ التَّقْلِيدُ وَإِنْ بَطَلَ الشَّرْطُ كَمَا لَوْ لَمْ يَخْرُجْ فِي الْعَقْدِ مَخْرَجَ الشَّرْطِ.

Dan jika ia menetapkannya dengan lafaz syarat dalam akad, lalu berkata: “Dengan syarat engkau memutuskan menurut mazhab Abu Hanifah” jika ia menjadikannya sebagai perintah, atau “Dengan syarat engkau tidak memutuskan menurut mazhab Syafi‘i” jika ia menjadikannya sebagai larangan, maka taklid menjadi batal karena syarat tersebut rusak, sebab akad itu tergantung pada syarat yang rusak. Namun, ulama Irak berpendapat bahwa taklid tidak batal meskipun syaratnya batal, sebagaimana jika dalam akad tidak disebutkan dalam bentuk syarat.

وَفَرْقُ مَا بَيْنَهُمَا يَمْنَعُ مِنْ تَسَاوِي حُكْمِهِمَا.

Perbedaan antara keduanya mencegah penyamaan hukum atas keduanya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الشَّرْطُ خَاصًّا فِي حُكْمٍ بِعَيْنِهِ فَلَا يَخْلُو مِنْ أَنْ يَكُونَ أَمْرًا أَوْ نَهْيًا.

Adapun jenis kedua, yaitu apabila syarat itu khusus dalam suatu hukum tertentu, maka tidak lepas dari kemungkinan berupa perintah atau larangan.

فإن كان أمرا فقال أقد الْمُسْلِمَ بِالْكَافِرِ وَمِنَ الْحُرِّ بِالْعَبْدِ كَانَ أَمْرُهُ بِهَذَا الشَّرْطِ فَاسِدًا.

Jika itu adalah suatu perintah, lalu ia berkata, “Tegakkanlah qishāsh atas seorang Muslim karena membunuh seorang kafir, dan atas seorang merdeka karena membunuh seorang budak,” maka perintahnya dengan syarat seperti ini adalah batal.

فَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ لَفْظِ الشَّرْطِ صَحَّ التَّقْلِيدُ مَعَ فَسَادِ الشَّرْطِ.

Maka jika syarat tersebut tidak diucapkan secara eksplisit, maka taklid tetap sah meskipun syaratnya rusak.

وَإِنْ قَرَنَهُ بِلَفْظِ الشَّرْطِ بَطَلَ التَّقْلِيدُ لِفَسَادِ الشَّرْطِ.

Dan jika ia menggabungkannya dengan lafaz syarat, maka taklid menjadi batal karena syarat tersebut rusak.

وَإِنْ كَانَ الشَّرْطُ نَهْيًا: فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika syarat tersebut berupa larangan, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَنْهَاهُ عَنِ الْحُكْمِ فِي قَتْلِ الْمُسْلِمِ بِالْكَافِرِ وَالْحُرِّ بِالْعَبْدِ وَلَا يَقْضِي فِيهِ بِوُجُوبِ قَوَدٍ وَلَا بِإِسْقَاطِهِ فَهَذَا شَرْطٌ فَاسِدٌ وَتَقْلِيدٌ صَحِيحٌ لِأَنَّهُ اقْتَصَرَ بِوِلَايَتِهِ عَلَى مَا عَدَاهُ فَصَارَ خَارِجًا مِنْ نَظَرِهِ.

Salah satunya adalah melarangnya untuk memutuskan hukum dalam kasus pembunuhan seorang Muslim oleh seorang kafir, atau seorang merdeka oleh seorang budak, dan tidak memutuskan di dalamnya tentang wajibnya qishāsh maupun menggugurkannya. Maka ini adalah syarat yang rusak, namun pelimpahan wewenangnya tetap sah, karena ia membatasi kekuasaannya hanya pada selain perkara tersebut, sehingga perkara itu keluar dari kewenangannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَنْهَاهُ عَنِ الْحُكْمِ فِيهِ وَيَنْهَاهُ عَنِ الْقَضَاءِ بِالْقِصَاصِ: فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا النَّهْيِ هَلْ يُوجَبُ صَرْفُهُ عَنِ النَّظَرِ فِيهِ؟ على وجهين:

Jenis yang kedua: yaitu tidak melarangnya dari menetapkan hukum dalam perkara tersebut, namun melarangnya dari memutuskan dengan qishāsh; maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai larangan ini, apakah wajib mengalihkan perkara tersebut dari penanganannya? Ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ صَرْفًا عَنِ النَّظَرِ فِيهِ فَلَا يَحْكُمُ فِيهِ بِإِيجَابِ قَوَدٍ وَلَا بِإِسْقَاطِهِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ التَّقْلِيدُ صَحِيحًا فِيمَا عَدَاهُ.

Salah satunya adalah berpaling dari menelitinya, sehingga tidak menetapkan hukum padanya dengan mewajibkan qawad maupun meniadakannya. Dengan demikian, taqlid menjadi sah dalam hal-hal selain itu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَقْتَضِي الصَّرْفَ وَيَصِيرُ النَّهْيُ عَنْهُ أَمْرًا بِضِدِّهِ أَنْ يَقْتَصَّ مِنَ الْمُسْلِمِ بِالْكَافِرِ وَمِنَ الْحُرِّ بِالْعَبْدِ.

Pendapat kedua: Larangan tersebut tidak menuntut pengalihan, sehingga larangan terhadapnya menjadi perintah untuk melakukan kebalikannya, yaitu melakukan qishāsh terhadap seorang Muslim dengan seorang kafir dan terhadap seorang merdeka dengan seorang budak.

فَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ لَفْظِ الشَّرْطِ صَحَّ التَّقْلِيدُ مَعَ فَسَادِ الشَّرْطِ وَحَكَمَ فِيهِ بِمَا يُؤَدِّيهِ اجْتِهَادُهُ إِلَيْهِ مِنْ وُجُوبِ الْقَوَدِ أَوْ إِسْقَاطِهِ.

Jika syarat tersebut tidak disebutkan secara eksplisit dalam lafaz, maka taklid tetap sah meskipun syaratnya rusak, dan dalam hal ini diputuskan berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh ijtihadnya, apakah wajibnya qisas atau menggugurkannya.

وَإِنِ اقْتَرَنَ بِلَفْظِ الشَّرْطِ بَطَلَ التَّقْلِيدُ لِفَسَادِ الشَّرْطِ، وَإِنْ حَكَمَ الْعِرَاقِيُّونَ بِصِحَّتِهِ مَعَ فَسَادِ الشَّرْطِ.

Dan jika disertai dengan lafaz syarat, maka taklid menjadi batal karena rusaknya syarat tersebut, meskipun para ulama Irak memutuskan keabsahannya meskipun syaratnya rusak.

(فَصْلٌ: سَبْرُ الإمام أحوال البلاد قبل التقليد)

Bab: Penelitian Imam terhadap Kondisi Negeri sebelum Melakukan Pengangkatan

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada pesan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا اسْتَقَرَّ مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَحْكَامِ هَذِهِ الْمُقَدِّمَةِ وَأَقْسَامِهَا فَعَلَى الْإِمَامِ أَنْ يَسْبُرَ أَحْوَالَ الْبِلَادِ فِي الْقَضَاءِ وَيَكْشِفَ عَنْ أَحْوَالِ الْقُضَاةِ فِيهَا.

Maka apabila telah mantap apa yang telah kami sebutkan mengenai hukum-hukum muqaddimah ini dan pembagiannya, maka wajib bagi imam untuk meneliti keadaan negeri-negeri dalam urusan peradilan dan mengungkap keadaan para qadhi di dalamnya.

فَإِذَا عَلِمَ أَنَّ فِي الْبَلَدِ قَاضِيًا مُسْتَحِقًّا لِلنَّظَرِ سَقَطَ عَنْهُ فَرْضُهُ.

Maka apabila diketahui bahwa di kota tersebut terdapat seorang qādī yang berhak untuk memutuskan perkara, maka gugurlah kewajiban itu darinya.

وَإِنْ عَلِمَ أَنْ لَا قَاضِيَ فِيهِ أَوْ فِيهِ مَنْ لَا يَسْتَحِقُّ النَّظَرَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُقَلِّدَ فِيهِ قَاضِيًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَيْهِ فَرْضًا مُتَعَيِّنًا.

Dan jika ia mengetahui bahwa tidak ada qadhi di sana, atau ada qadhi yang tidak berhak untuk memutuskan perkara, maka wajib baginya untuk mengangkat seorang qadhi dalam perkara tersebut, dan hal itu menjadi kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain atasnya.

فَإِنْ كَانَ فِي الْبَلَدِ مَنْ يَصْلُحُ لِلْقَضَاءِ كَانَ تَقْلِيدُهُ لِمَعْرِفَتِهِ بِهِ وَبِأَهْلِهِ أَوْلَى مِنْ تَقْلِيدِ الْغَرِيبِ.

Jika di suatu negeri terdapat seseorang yang layak menjadi qadhi, maka mengangkatnya sebagai qadhi karena pengetahuannya tentang negeri tersebut dan penduduknya lebih utama daripada mengangkat orang asing.

فَإِنْ عَدَلَ عَنْهُ إِلَى غَرِيبٍ صح تقليده.

Jika ia berpaling darinya kepada pendapat yang asing, maka taklidnya tetap sah.

(تقليد غير المعين)

(Taklid kepada yang tidak tertentu)

:

Maaf, saya tidak melihat teks Arab yang perlu diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin Anda terjemahkan.

فَإِنْ قَلَّدَ الْإِمَامُ غَيْرَ مُعَيَّنٍ فَقَالَ مَنْ نَظَرَ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ فِي قَضَائِهَا فَهُوَ مُقَلَّدٌ مِنْ جِهَتِي لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ فِيهِ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ.

Jika imam memberikan otoritas (taqlid) kepada seseorang yang tidak ditentukan secara spesifik, lalu ia berkata, “Siapa saja dari penduduk Bashrah yang menangani perkara hukumnya, maka ia telah diberi otoritas dariku,” maka hal itu tidak diperbolehkan, karena bisa jadi yang menangani perkara tersebut adalah orang yang bukan ahlinya.

فَإِنْ قَالَ: مَنْ نَظَرَ فِيهِ مِنْ عُلَمَائِهِ فَقَدْ قَلَّدْتُهُ لَمْ يَجُزْ لِلْجَهْلِ بِهِ.

Jika ada yang berkata: “Siapa pun dari ulama mazhabnya yang telah menelitinya, maka aku telah melakukan taqlid kepadanya,” hal itu tidak diperbolehkan karena ketidaktahuannya terhadapnya.

فإن ذكر عدد الصور فَقَالَ إِنْ نَظَرَ فِيهِ يَزِيدُ أَوْ عَمْرٌو أَوْ بَكْرٌ فَقَدْ قَلَّدْتُهُ لَمْ يَجُزْ أَيْضًا لِأَنَّ الْمُقَلَّدَ مِنْهُمْ مَجْهُولٌ.

Jika ia menyebutkan sejumlah kemungkinan, lalu berkata: “Jika yang melihatnya adalah Yazid, atau ‘Amr, atau Bakr, maka aku telah bertaklid kepadanya,” maka itu juga tidak boleh, karena orang yang di-taklid dari mereka masih tidak diketahui.

وَلَوْ قَالَ إِنْ نَظَرَ فِي قَضَاءِ الْبَصْرَةِ زَيْدٌ فَقَدْ قَلَّدْتُهُ لَمْ يَصِحَّ تَقْلِيدُهُ وَإِنْ نَظَرَ فِيهِ لِأَنَّهُ عَقْدٌ عُلِّقَ بِشَرْطٍ.

Dan jika seseorang berkata, “Jika Zaid memutuskan perkara di pengadilan Bashrah, maka aku telah mengangkatnya (sebagai hakim),” maka pengangkatan tersebut tidak sah, meskipun Zaid benar-benar memutuskan perkara di sana, karena itu merupakan akad yang digantungkan pada suatu syarat.

وَلَكِنْ لَوْ ذَكَرَ عَدَدًا أَسْمَاهُمْ وَقَلَّدَهُمْ ثُمَّ قَالَ فَأَيُّهُمْ نَظَرَ فِيهِ فَهُوَ الْقَاضِي دُونَ غَيْرِهِ صَحَّ التَّقْلِيدُ فِي النَّاظِرِ سَوَاءٌ قَلَّ الْعَدَدُ أَوْ كَثُرَ لِأَنَّهُ جَعَلَ نَظَرَهُ عَزْلًا لِغَيْرِهِ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ شَرْطًا في تقليده.

Namun, jika ia menyebut sejumlah nama dan mengangkat mereka, lalu berkata, “Siapa pun di antara mereka yang memeriksa perkara ini, maka dialah qadi, bukan yang lainnya,” maka pengangkatan itu sah bagi yang memeriksa perkara, baik jumlah mereka sedikit maupun banyak, karena ia menjadikan pemeriksaan perkara itu sebagai pemberhentian bagi yang lain, dan tidak menjadikannya sebagai syarat dalam pengangkatannya.

وَلَوْ جَعَلَهُمْ جَمِيعًا نَاظِرِينَ فِيهِ بَطَلَ تَقْلِيدُهُمْ إِنْ كَثُرُوا، وَفِي صِحَّتِهِ وَإِنْ قَلُّوا وَجْهَانِ عَلَى مَا مَضَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan jika ia menjadikan mereka semua sebagai pihak yang berwenang menelitinya, maka taklid kepada mereka menjadi batal jika jumlah mereka banyak. Adapun jika jumlah mereka sedikit, terdapat dua pendapat mengenai keabsahannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dan Allah lebih mengetahui.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: أُحِبُّ أَنْ يَقْضِيَ الْقَاضِي فِي مَوْضِعٍ بَارِزٍ لِلنَّاسِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Aku suka jika seorang qāḍī memutuskan perkara di tempat yang terbuka untuk orang-orang.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. وَهُوَ مِنْ آدَابِ الْقَضَاءِ دُونَ أَحْكَامِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Hal ini termasuk adab peradilan, bukan termasuk hukum-hukumnya.

فَأَوَّلُ آدَابِهِ إِذَا وَرَدَ بَلَدَ عَمَلِهِ أَنْ يُعْلِمَهُمْ قَبْلَ دُخُولِهِ بِوُرُودِهِ قَاضِيًا فِيهِ إِمَّا بِكِتَابٍ أَوْ رَسُولٍ لِيَعْلَمَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ مُوَافَقَةٍ أَوِ اخْتِلَافٍ.

Adab pertama ketika seorang hakim tiba di daerah tempat tugasnya adalah memberitahukan kedatangannya sebagai qāḍī di sana kepada penduduk sebelum memasuki daerah tersebut, baik melalui surat maupun utusan, agar ia mengetahui keadaan mereka, apakah mereka sepakat atau berselisih.

فَإِنِ اتَّفَقُوا جَمِيعًا عَلَى طَاعَتِهِ دَخَلَ.

Jika mereka semua sepakat untuk menaatinya, maka ia boleh masuk.

وَإِنِ اتَّفَقُوا جَمِيعًا عَلَى مُخَالَفَتِهِ تَوَقَّفَ، وَاسْتَطْلَعَ رأي الإمام.

Dan jika mereka semua sepakat untuk menentangnya, maka ia menahan diri dan meminta pendapat imam.

(استصحاب كتاب الْإِمَامِ)

(Istishhab menurut Kitab al-Imam)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَسْتَصْحِبَ الْقَاضِي كِتَابَ الْإِمَامِ إِلَى أَمِيرِ الْبَلَدِ بِتَقْلِيدِهِ الْقَضَاءَ حَتَّى يَجْمَعَهُمْ عَلَى طَاعَتِهِ جَبْرًا إِنْ خَالَفُوهُ.

Yang lebih utama adalah agar qadhi membawa surat dari imam kepada amir daerah tentang pengangkatannya sebagai qadhi, sehingga ia dapat mempersatukan mereka dalam ketaatan kepadanya secara paksa jika mereka menentangnya.

فَإِنْ وَافَقَهُ بَعْضُهُمُ اعْتُبِرَ حَالُ مُوَافَقِيهِ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ عددا من مخالفيه وأقوى يدا دخل.

Jika sebagian dari mereka menyetujuinya, maka keadaan orang-orang yang menyetujui itu diperhatikan; jika mereka lebih banyak jumlahnya daripada yang menentangnya dan lebih kuat kekuasaannya, maka keputusan mereka diterima.

(توطيد الإمام السبل للقاضي)

(Penguatan jalan-jalan oleh imam untuk qadhi)

:

Maaf, saya tidak menemukan teks Arab yang perlu diterjemahkan pada pesan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَإِنْ كَانُوا أَقَلَّ عَدَدًا وَأَضْعَفَ يَدًا تَوَقَّفَ وَعَلَى الْإِمَامِ رَدُّ مُخَالِفِيهِ إِلَى طَاعَتِهِ وَلَوْ بِقِتَالِهِمْ عَلَيْهِ حَتَّى يُذْعِنُوا بِالطَّاعَةِ وَلْيُعِنْهُ بِمَا يَنْفُذُ أَمْرُهُ فِيهِمْ وَيَبْسُطُ يَدَهُ عَلَيْهِمْ لِيَقْدِرَ عَلَى الِانْتِصَافِ مِنَ الْقَوِيِّ لِلضَّعِيفِ وَمِنَ الشَّرِيفِ لِلْمَشْرُوفِ فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ اللَّهَ لَا يُقَدِّسُ أُمَّةً لَا يُؤْخَذُ لِلضَّعِيفِ فِيهِمْ حَقُّهُ “.

Dan jika mereka lebih sedikit jumlahnya dan lebih lemah kekuatannya, maka hendaknya menunggu, dan menjadi kewajiban bagi imam untuk mengembalikan orang-orang yang menentangnya kepada ketaatan kepadanya, meskipun dengan memerangi mereka, hingga mereka tunduk pada ketaatan. Hendaknya imam dibantu dengan apa yang dapat membuat perintahnya berlaku di antara mereka dan dapat memperluas kekuasaannya atas mereka, agar ia mampu menegakkan keadilan dari yang kuat terhadap yang lemah dan dari yang mulia terhadap yang tidak mulia. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyucikan suatu umat yang di dalamnya hak orang lemah tidak diambilkan dari yang kuat.”

ثُمَّ يُنَادِي فِي الْبَلَدِ إن اتسع بوروده ليعلم به الداني والقاضي وَالْخَاصُّ وَالْعَامُّ وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ، فَيَكُونُ أَهْيَبَ فِي النُّفُوسِ وَأَعْظَمَ فِي الْقُلُوبِ.

Kemudian diumumkan di seluruh negeri jika memungkinkan dengan kedatangannya, agar diketahui oleh yang dekat maupun yang jauh, oleh kalangan khusus maupun umum, oleh yang muda maupun yang tua, sehingga hal itu lebih menimbulkan kewibawaan dalam jiwa dan lebih agung dalam hati.

وَيُخْتَارُ أَنْ يَكُونَ دُخُولُهُ إِلَى الْبَلَدِ فِي يَوْمِ الِإِثْنَيْن اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي دُخُولِهِ الْمَدِينَةَ عِنْدَ هِجْرَتِهِ إِلَيْهَا.

Disunnahkan agar masuk ke kota pada hari Senin, meneladani Rasulullah ﷺ ketika beliau memasuki Madinah saat hijrah ke sana.

وَيُخْتَارُ أَنْ يَسْكُنَ فِي وَسَطِ الْبَلَدِ لِيَقْرُبَ عَلَى جَمِيعِ أَهْلِهِ كَمَا يُقْبِلُ الْإِمَامُ بِوَجْهِهِ فِي الْخُطْبَةِ قَصْدَ وَجْهِهِ لِيَعُمَّ جَمِيعَ النَّاسِ.

Dan disunnahkan agar tinggal di tengah-tengah kota supaya dekat dengan seluruh penduduknya, sebagaimana imam menghadap ke arah jamaah saat khutbah dengan maksud agar wajahnya menghadap ke semua orang.

وَيُخْتَارُ أَنْ يَبْدَأَ بِقِرَاءَةِ عَهْدِهِ قَبْلَ نَظَرِهِ لِيَعْلَمَ النَّاسُ مَا تَضَمَّنُهُ مِنْ حُدُودِ عَمَلِهِ وَمِنْ صِفَةِ وِلَايَتِهِ فِي عُمُومٍ أَوْ خُصُوصٍ فَيَجْمَعُ النَّاسَ لِقِرَاءَتِهِ فِي أَفْسَحِ بِقَاعِهِ مِنْ جَوَامِعِهِ وَمَسَاجِدِهِ لِأَنَّهُ يَتَضَمَّنُ طَاعَةَ اللَّهِ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Disunnahkan untuk memulai dengan membacakan surat pengangkatannya sebelum ia mulai menjalankan tugasnya, agar masyarakat mengetahui batas-batas tugasnya dan sifat kekuasaannya, baik secara umum maupun khusus. Maka, orang-orang dikumpulkan untuk mendengarkan pembacaan surat tersebut di tempat yang paling luas dari balai pertemuan atau masjid-masjidnya, karena hal itu mengandung ketaatan kepada Allah dalam menjalankan amar ma‘ruf nahi munkar.

ثُمَّ يَنْظُرُ بعد قراءته ولو بين خصمين لتستقر [به] وِلَايَتُهُ بِالنَّظَرِ وَيَتَوَطَّأُ لَهُ الْخُصُومُ فِي الْحُكْمِ وَلِيَعْلَمَ النَّاسُ قَدْرَ عِلْمِهِ وَضَعْفِهِ.

Kemudian ia memeriksa perkara setelah membacanya, meskipun di antara dua pihak yang bersengketa, agar kewenangannya dalam memutuskan perkara menjadi tetap, para pihak yang bersengketa pun bersiap untuk menerima putusannya, dan agar orang-orang mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kelemahannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: ثُمَّ يُقَرِّرُ أَمْرَيْنِ يَعْتَمِدُهَا الْخُصُومُ فِي نَظَرِهِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَجْعَلَ مَجْلِسَ نَظَرِهِ مِنْ بَعْدِ مَعْرُوفِ الْمَكَانِ مَخْصُوصًا بِالنَّظَرِ فِي الْأَحْكَامِ حَتَّى لَا يَسْأَلُوا عَنْهُ إِنْ خَفِيَ عَلَيْهِمْ وَلَا يَعْدِلُوا عَنْهُ إِنْ نَظَرَ فِي غَيْرِ أَحْكَامِهِمْ.

Kemudian ia menetapkan dua hal yang dijadikan pegangan oleh para pihak dalam persidangan; salah satunya adalah menjadikan majelis persidangannya, setelah tempatnya diketahui, dikhususkan untuk memeriksa perkara-perkara hukum, sehingga mereka tidak menanyakannya jika ada yang tersembunyi bagi mereka, dan mereka tidak berpaling darinya jika ia memeriksa perkara di luar perkara-perkara mereka.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ زَمَانُ نَظَرِهِ مُعَيَّنًا عَلَيْهِ مِنَ الْأَيَّامِ لِيَتَأَهَّبُوا فِيهِ لِلتَّحَاكُمِ إِلَيْهِ.

Kedua: Hendaknya waktu pemeriksaannya telah ditentukan baginya pada hari-hari tertentu, agar mereka dapat bersiap-siap untuk mengajukan perkara kepadanya.

فَإِنْ كَثُرَتِ الْمُحَاكَمَاتُ وَلَمْ يَتَّسِعْ لَهَا بَعْضُ الْأَيَّامِ لَزِمَهُ النَّظَرُ فِي كُلِّ يَوْمٍ.

Jika perkara-perkara yang harus diadili semakin banyak dan sebagian hari tidak cukup untuk menanganinya, maka wajib baginya untuk memeriksa perkara-perkara tersebut setiap hari.

وَيَكُونُ وَقْتُ نَظَرِهِ مِنَ الْيَوْمِ مَعْرُوفًا لِيَكُونَ بَاقِيهِ مَخْصُوصًا بِالنَّظَرِ فِي أُمُورِ نَفْسِهِ وَرَاحَتِهِ وَدَعَتِهِ.

Waktu untuk memeriksa (urusan) pada hari itu haruslah jelas, agar sisa waktunya dikhususkan untuk memperhatikan urusan pribadinya, istirahatnya, dan kebutuhannya.

وَإِنْ قَلَّتِ الْمُحَاكَمَاتُ وَاتَّسَعَ لَهَا بَعْضُ الْأَيَّامِ جَعَلَ يَوْمَ نَظَرِهِ فِي الْأُسْبُوعِ مَخْصُوصًا بِحَسَبِ الْحَاجَةِ فِيهِ مِنْ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ، مُعْتَبِرًا بِقَدْرِ الْحَاجَةِ حَتَّى يَسْتَعِدَّ النَّاسُ لِلتَّحَاكُمِ فِيهِ.

Jika jumlah persidangan sedikit dan ada waktu luang pada beberapa hari, maka ia menetapkan hari khusus dalam satu minggu untuk memeriksa perkara, sesuai kebutuhan, apakah satu hari, dua hari, atau tiga hari, dengan mempertimbangkan sesuai kadar kebutuhan, agar masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk mengajukan perkara pada hari itu.

فَإِنْ تَجَدَّدَ فِي غَيْرِ يَوْمِ النَّظَرِ مَا لَا يُمْكِنُ تَأْخِيرُهُ فِيهِ نَظَرَ فِيهِ وَلَمْ يُؤَخِّرْهُ.

Jika muncul perkara baru di luar hari sidang yang tidak mungkin untuk ditunda, maka perkara itu harus segera diperiksa dan tidak boleh ditunda.

وَيَخْتَارُ أَنْ تَكُونَ أَيَّامَ نَظَرِهِ مِنَ الأسبوع: السبت والاثنين والخميس.

Dan disunnahkan agar hari-hari ia melakukan peninjauan adalah pada hari Sabtu, Senin, dan Kamis dalam satu pekan.

(فصل: القضاء في موضع بارز)

(Bab: Pengadilan di Tempat Terbuka)

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَأُحِبُّ أَنْ يَقْضِيَ فِي مَوْضِعٍ بَارِزٍ لِلنَّاسِ.

Syafi‘i berkata: Aku menyukai agar (seorang hakim) memutuskan perkara di tempat yang terbuka bagi masyarakat.

وَمُرَادُهُ بِهَذَا شَيْئَانِ:

Yang dimaksud olehnya dengan hal ini ada dua perkara:

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يَخْرُجَ مَعَ الْبُرُوزِ إِلَى الِاسْتِئْذَانِ عَلَيْهِ.

Salah satunya adalah tidak keluar bersamaan dengan munculnya untuk meminta izin kepadanya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْمَوْضِعُ فَسِيحًا تَرْتَاحُ فِيهِ النُّفُوسُ وَلَا يُسْرَعُ فِيهِ الْمَالُ فَقَدْ قِيلَ: خَيْرُ الْمَجَالِسِ مَا سَافَرَ فِيهِ الْبَصَرُ وَاتَّدَعَ فِيهِ الْجَسَدُ.

Kedua: Tempatnya hendaknya luas, sehingga jiwa merasa nyaman di dalamnya dan harta tidak cepat hilang di sana. Telah dikatakan: “Majelis terbaik adalah yang pandangan dapat menjelajah di dalamnya dan tubuh dapat beristirahat di sana.”

وَبِحَسَبِ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَةُ فِي نَقْلِ الْمُزَنِيِّ فِي مَوْضِعٍ بَارِزٍ لِلنَّاسِ فَرَوَاهُ بَعْضُهُمْ بِالْخَفْضِ وَجَعَلَهُ صِفَةً لِلْمَوْضِعِ فِي الْفَسَاحَةِ وَالسَّعَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ رَوَاهُ بِالنَّصْبِ بَارِزًا لِلنَّاسِ وَجَعَلَهُ صِفَةً لِلْقَاضِي فِي ظُهُورِهِ مِنْ غير إذن.

Berdasarkan dua hal tersebut, terjadi perbedaan riwayat dalam penukilan al-Muzani mengenai “di tempat yang terbuka bagi orang-orang”. Sebagian mereka meriwayatkannya dengan bentuk majrūr (khafḍ), menjadikannya sebagai sifat bagi tempat dalam hal kelapangan dan keluasan. Sebagian lain meriwayatkannya dengan bentuk manṣūb (naṣb), “terbuka bagi orang-orang”, dan menjadikannya sebagai sifat bagi qāḍī dalam hal tampaknya (qāḍī) tanpa izin.

وَلَئِنْ لَمْ يَحْتَجْ مَعَ بُرُوزِهِ إِلَى الْإِذْنِ عَلَيْهِ فَمِنْ أَدَبِ الْمُتَنَازِعِينَ أَنْ لَا يُبْدَأَ بِالدَّعْوَى إِلَّا بَعْدَ إِشْعَارِهِ وَإِذْنِهِ.

Dan jika memang tidak diperlukan izin darinya meskipun ia telah hadir, maka termasuk adab para pihak yang bersengketa adalah tidak memulai gugatan kecuali setelah memberitahunya dan mendapat izinnya.

فَإِنْ نَظَرَ بَيْنهمْ فِي دَارِهِ الَّتِي لَا يَدْخُلُهَا أَحَدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ جَازَ وَلَمْ يُكْرَهْ وَإِنْ قَلَّ.

Jika ia memutuskan perkara di antara mereka di rumahnya yang tidak ada seorang pun memasukinya kecuali dengan izinnya, maka hal itu diperbolehkan dan tidak makruh, meskipun hanya sedikit.

رَوَتْ أُمُّ سَلَمَةَ قَالَتِ اخْتَصَمَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فِي مَوَارِيثَ مُتَقَادِمَةٍ فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَهُمَا فِي بَيْتِي وَكَانَ بَيْنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مُنَازَعَةٌ فَأَتَيَا زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فِي بَيْتِهِ فَقَضَى بَيْنَهُمَا وَقَالَ لِعُمَرَ لَوْ أَمَرْتَنِي لَجِئْتُ فَقَالَ عُمَرُ فِي بَيْتِهِ يُؤْتَى الْحَكَمُ.

Ummu Salamah meriwayatkan: Dua orang laki-laki dari kalangan Anshar berselisih mengenai warisan yang sudah lama, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan perkara di antara mereka berdua di rumahku. Pernah terjadi perselisihan antara Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka‘b radhiyallahu ‘anhuma, lalu keduanya mendatangi Zaid bin Tsabit di rumahnya, maka Zaid memutuskan perkara di antara mereka berdua dan berkata kepada Umar, “Seandainya engkau memerintahkanku, niscaya aku akan datang.” Umar pun berkata, “Di rumahnya, hakim itu didatangi.”

فَإِنْ كَثُرَتِ الْمُحَاكَمَاتُ عَدَلَ عَنِ النَّظَرِ فِي دَارِهِ الَّتِي تُحْوِجُ إِلَى الِاسْتِئْذَانِ إِلَى الْمَجْلِسِ الَّذِي وَصَفْنَاهُ بِالشَّرْطَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ وَإِنْ كَانَ حُكْمُهُ نَافِذًا فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا.

Jika perkara yang harus diadili semakin banyak, maka ia berpindah dari memeriksa perkara di rumahnya—yang membutuhkan izin—ke majelis yang telah kami gambarkan dengan dua syarat yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun putusannya tetap berlaku dalam segala keadaan.

(كَرَاهَةُ اتِّخَاذِ الْحَاجِبِ)

(Makruh Mengangkat Penjaga Pintu)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

(مَسْأَلَةٌ)

(Mas’alah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” لَا يَكُونُ دُونَهُ حِجَابٌ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Tidak ada penghalang antara dia dan Allah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ يُكْرَهُ لِلْقَاضِي أَنْ يَكُونَ مُحْتَجِبًا لِمَا ذَكَرْنَاهُ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, makruh bagi seorang qadhi untuk bersembunyi sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وَيُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ حَاجِبٌ عَلَى إِذْنِهِ يَكُونُ وَصُولُ الْمُتَنَازِعِينَ إِلَيْهِ مَوْقُوفًا عَلَى إِذْنِهِ.

Dan makruh bagi seorang hakim memiliki penjaga pintu yang membuat para pihak yang bersengketa hanya dapat menemuinya setelah mendapat izinnya.

رَوَى الْقَاسِمُ بْنُ مُخَيْمِرَةَ عَنْ أَبِي مَرْيَمَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَنْ وَلِيَ مِنْ أُمُورِ النَّاسِ شَيْئًا فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَفَاقَتِهِمُ احْتَجَبَ اللَّهُ دُونَ فَاقَتِهِ وَفَقْرِهِ “.

Al-Qasim bin Mukhaimirah meriwayatkan dari Abu Maryam, sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memegang suatu urusan manusia lalu ia menutup diri dari kebutuhan dan keperluan mereka, maka Allah akan menutup diri dari kebutuhan dan kemiskinannya.”

وَقَلَّدَ عُمَرُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ الْكُوفَةَ فَقَضَى فِيهَا زَمَانًا بِغَيْرِ حَاجِبٍ ثُمَّ اتَّخَذَ حَاجِبًا فَعَزَلَ عُمَرُ حَاجِبَهُ، وَلِأَنَّهُ رُبَّمَا مَنَعَ الْحَاجِبُ ذَا ظُلَامَةٍ لِهَوًى، وَرُبَّمَا اسْتَعْجَلَ عَلَى الْإِذْنِ وَارْتَشَى.

Umar mengangkat Sa‘d bin Abi Waqqash sebagai gubernur Kufah, lalu ia memerintah di sana selama beberapa waktu tanpa penjaga pintu, kemudian ia mengangkat seorang penjaga pintu, maka Umar pun memecat penjaga pintunya. Hal ini karena terkadang penjaga pintu dapat menghalangi orang yang terzalimi karena dorongan hawa nafsu, dan terkadang pula ia tergesa-gesa dalam memberikan izin masuk atau menerima suap.

فَإِنِ اتَّخَذَ حَاجِبًا فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ لَمْ يُكْرَهْ لَهُ.

Jika ia mengambil seorang penjaga di luar majelis pengadilan, maka hal itu tidaklah makruh baginya.

بَلْ إِذَا احْتَجَبَ عَنِ النَّاسِ فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ وَزَمَانِهِ كَانَ أَحْفَظَ لِحِشْمَتِهِ وَأَعْظَمَ لِهَيْبَتِهِ.

Bahkan jika ia menutup diri dari masyarakat di luar majelis hukum dan di luar waktunya, hal itu lebih menjaga wibawanya dan lebih besar menambah kewibawaannya.

وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَقُولُ إِنَّمَا يُكْرَهُ لِلْقَاضِي اتِّخَاذُ الْحَاجِبِ فِي زَمَانِ الِاسْتِقَامَةِ وَسِدَادِ أَهْلِهِ فَأَمَّا فِي زَمَانِ الِاخْتِلَاطِ وَالتَّهَارُجِ وَاسْتِطَالَةِ السُّفَهَاءِ وَالْعَامَّةِ فَالْمُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يَتَّخِذَ حَاجِبًا يَحْفَظُ هَيْبَةَ نَظَرِهِ وَيَمْنَعُ مِنِ اسْتِطَالَةِ الْخُصُومِ.

Sebagian dari ulama kami mengatakan bahwa yang dimakruhkan bagi seorang qadhi adalah mengangkat penjaga pintu (hajib) pada masa di mana keadaan masyarakat masih lurus dan para penduduknya masih baik. Adapun pada masa terjadinya kekacauan, pertikaian, dan ketika orang-orang bodoh serta masyarakat umum mulai berani melampaui batas, maka yang disunnahkan baginya adalah mengangkat seorang penjaga pintu yang dapat menjaga wibawa pengadilannya dan mencegah para pihak yang bersengketa dari bertindak sewenang-wenang.

فَأَمَّا الْأَئِمَّةُ فَلَا يُكْرَهُ لَهُمُ اتِّخَاذُ الْحُجَّابِ بَلْ يُسْتَحَبُّ لَهُمْ بِخِلَافِ الْقُضَاةِ لِأَنَّهُمْ يَنْظُرُونَ فِي عُمُومِ الْأُمُورِ فَاحْتَاجُوا أَنْ يُفْرِدُوا لِكُلِّ نَظَرٍ وَقْتًا يَحْرُسُهُ الْحُجَّابُ عَلَيْهِمْ وَيَمْنَعُوا مِنْ دُخُولِ أَصْنَافِ النَّاسِ فِي غَيْرِ أَوْقَاتِهِمْ، وَقَدْ كَانَ يَرْفَأُ حَاجِبًا لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَاجْتَمَعَ عَلَى بَابِهِ أَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ وَسُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَسَلْمَانُ وَبِلَالٌ وَصُهَيْبٌ وَجَمَاعَةٌ مِنْ وُجُوهِ الْعَرَبِ فَأَذِنَ لِسَلْمَانَ وَبِلَالٍ وَصُهَيْبٍ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو: يَا أَبَا سُفْيَانَ: إِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ دُعُوا وَدُعِيتَ فَأَجَابُوا وَتَأَخَّرْتَ، وَلَئِنْ حَسَدْتَهُمُ الْيَوْمَ عَلَى بَابِ عُمَرَ لَأَنْتَ غَدًا أَشَدُّ حَسَدًا لَهُمْ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ وَلَوْلَا الْحُجَّابُ لَمَا تَمَيَّزَ هَؤُلَاءِ بِالسَّابِقَةِ وَلَا تَرَتَّبَ النَّاسُ بِحَسَبِ فَضَائِلِهِمْ وَأَقْدَارِهِمْ وَاسْتَصْعَبَ الْإِذْنُ عَلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةِ فِي خَلْوَةٍ أَرَادَهَا مَعَ عُمَرَ فَرَشَا يَرْفَأَ حَتَّى سَهَّلَ لَهُ الْإِذْنَ عَلَيْهِ، وَكَانَ يَسْأَلُ يَرْفَأَ أَنْ يُجْلِسَهُ فِي الدِّهْلِيزِ إِذَا تَعَذَّرَ عَلَيْهِ الْوُصُولُ حَتَّى يَظُنَّ النَّاسُ أَنَّهُ قَدْ وَصَلَ حَتَّى تَبْدُوَ لَهُ مَنْزِلَةُ الِاخْتِصَاصِ بِعُمَرَ فَكَانَ الْمُغِيرَةُ أَوَّلَ مَنْ رَشَا وَيَرْفَأُ أَوَّلَ مَنِ ارْتَشَى فِي الْإِسْلَامِ.

Adapun para imam, maka tidak makruh bagi mereka untuk memiliki penjaga pintu, bahkan dianjurkan bagi mereka, berbeda dengan para qadhi, karena para imam menangani urusan-urusan umum sehingga mereka membutuhkan waktu khusus untuk setiap urusan yang dijaga oleh para penjaga pintu dan mencegah berbagai golongan masyarakat masuk di luar waktu mereka. Dahulu, Yarfa’ adalah penjaga pintu bagi Umar radhiyallahu ‘anhu, lalu berkumpullah di depan pintunya Abu Sufyan bin Harb, Suhail bin Amr, Salman, Bilal, Shuhaib, dan sekelompok tokoh Arab. Maka Umar mengizinkan Salman, Bilal, dan Shuhaib untuk masuk, sehingga wajah Abu Sufyan pun berubah. Suhail bin Amr berkata: “Wahai Abu Sufyan, mereka ini adalah kaum yang dipanggil dan engkau pun dipanggil, mereka segera memenuhi panggilan sedangkan engkau terlambat. Jika hari ini engkau iri kepada mereka di depan pintu Umar, maka besok engkau akan lebih iri kepada mereka di depan pintu surga. Kalau bukan karena para penjaga pintu, niscaya mereka yang memiliki keutamaan tidak akan dibedakan dan manusia tidak akan tersusun sesuai keutamaan dan kedudukan mereka.” Sulit bagi al-Mughirah bin Syu’bah untuk mendapatkan izin bertemu Umar dalam suatu khalwat yang ia inginkan, maka ia menyuap Yarfa’ hingga Yarfa’ memudahkan izin baginya. Al-Mughirah juga meminta Yarfa’ untuk mendudukkannya di serambi jika ia kesulitan masuk, agar orang-orang mengira ia telah masuk sehingga tampaklah kedudukan khususnya di sisi Umar. Maka al-Mughirah adalah orang pertama yang memberi suap dan Yarfa’ adalah orang pertama yang menerima suap dalam Islam.

وَمِنْ مِثْلِ هَذَا كُرِهَ الْحُجَّابُ لِأَنَّ الْحَاجِبَ رُبَّمَا فَعَلَ مَا لَا يَرَاهُ الْمُحْتَجِبُ وَقَدْ كَانَ الْحَسَنُ حَاجِبَ عُثْمَانَ وَقَنْبَرٌ حَاجِبَ عَلِيٍّ رَضِيَ الله عنهم.

Dari hal semacam ini, para penjaga pintu (hujjāb) dianggap makruh, karena seorang penjaga pintu mungkin melakukan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang yang bersembunyi di baliknya. Dahulu, al-Hasan adalah penjaga pintu ‘Utsmān, dan Qanbar adalah penjaga pintu ‘Alī, semoga Allah meridai mereka.

(شروط الحاجب)

(Syarat-syarat al-hājib)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

والشروط المعتبرة فِي هَذَا الْحَاجِبِ نَوْعَانِ: وَاجِبٌ وَمُسْتَحَبٌّ.

Syarat-syarat yang diperhitungkan dalam hal penghalang ini ada dua macam: wajib dan mustahab.

فَأَمَّا الْوَاجِبُ: فَثَلَاثَةٌ: الْعَدَالَةُ وَالْعِفَّةُ وَالْأَمَانَةُ.

Adapun yang wajib itu ada tiga: keadilan, ‘iffah (menjaga kehormatan diri), dan amanah.

وَأَمَّا الْمُسْتَحَبُّ: فَخَمْسَةٌ: أَنْ يَكُونَ حَسَنَ الْمَنْظَرِ جَمِيلَ الْمَخْبَرِ عَارِفًا بِمَقَادِيرِ النَّاسِ بَعِيدًا عَنِ الْهَوَى وَالْعَصَبِيَّةِ مُعْتَدِلَ الْأَخْلَاقِ بَيْنَ الشَّرَاسَةِ وَاللِّينِ.

Adapun yang mustahab: ada lima, yaitu: berpenampilan baik, memiliki kepribadian yang indah, mengetahui kadar (kedudukan) manusia, jauh dari hawa nafsu dan fanatisme, serta berakhlak moderat antara keras dan lembut.

(الْقَضَاءُ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ وَكَرَاهَةُ الْقَضَاءِ فِيهِ)

Pengadilan di luar masjid dan makruh-nya mengadakan pengadilan di dalamnya.

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مَسْأَلَةٌ)

(Mas’alah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: وَأَنْ يَكُونَ فِي غَيْرِ الْمَسْجِدِ لِكَثْرَةِ الْغَاشِيَةِ وَالْمُشَاتَمَةِ بَيْنَ الْخُصُومِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan sebaiknya (persidangan) dilakukan di luar masjid karena banyaknya kerumunan orang dan saling mencaci di antara para pihak yang bersengketa.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْقَضَاءُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا يُكْرَهُ فِي حَالَتَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Adapun pelaksanaan peradilan di masjid, maka tidak makruh dalam dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: فِي تَغْلِيظِ الْأَيْمَانِ بِهِ إِذَا لَزِمَ تَغْلِيظُهَا بِالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – غَلَّظَ لِعَانَ الْعَجْلَانِيِّ فِي مَسْجِدِهِ، وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَحْضُرَ الْقَاضِي الصَّلَاةَ فَيَتَّفِقُ حُضُورُ خَصْمَيْنِ إِلَيْهِ فَلَا يُكْرَهُ لَهُ تَعْجِيلُ النَّظَرِ بَيْنَهُمَا فِيهِ قَدْ قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي مَسْجِدِهِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ وَكَذَلِكَ مَنْ قَضَى مِنَ الْأَئِمَّةِ بَعْدَهُ؛ لِأَنَّ حُضُورَهُمْ فِي المسجد لَمْ يَكُنْ مَقْصُورًا عَلَى الْقَضَاءِ فِيهِ.

Pertama: dalam penegasan sumpah dengan memperberatnya apabila memang diperlukan penegasan tersebut karena tempat dan waktu, maka Rasulullah ﷺ telah memperberat sumpah li‘ān al-‘Ajlānī di masjidnya. Kedua: apabila seorang qādī menghadiri salat lalu kebetulan dua pihak yang berselisih hadir kepadanya, maka tidak makruh baginya untuk segera memutuskan perkara di antara mereka di masjid. Rasulullah ﷺ pernah memutuskan perkara di masjidnya dalam keadaan seperti ini, demikian pula para imam setelah beliau; karena kehadiran mereka di masjid tidak terbatas hanya untuk memutuskan perkara di dalamnya.

وَأَمَّا مَا عَدَا هَاتَيْنِ الْحَالَتَيْنِ أَنْ يَجْعَلَ الْمَسْجِدَ مَجْلِسًا لِقَضَائِهِ بَيْنَ الْخُصُومِ فَمَكْرُوهٌ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ.

Adapun selain dua keadaan tersebut, menjadikan masjid sebagai tempat untuk memutuskan perkara di antara para pihak yang berselisih adalah makruh menurut Imam Syafi‘i.

وَقَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ: لَا يُكْرَهُ وَهُوَ قَوْلُ الشَّعْبِيِّ وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ فِي كَرَاهَتِهِ رِوَايَتَانِ اسْتِدْلَالًا بِرِوَايَةِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ عُمَرَ بن الخطاب مستندا إلى القبلة يقضي بين الناس.

Malik, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa hal itu tidak makruh, dan ini juga merupakan pendapat asy-Sya‘bi. Dari Abu Hanifah terdapat dua riwayat mengenai kemakruhannya, dengan berdalil pada riwayat asy-Sya‘bi yang berkata: Aku melihat Umar bin al-Khattab bersandar ke arah kiblat ketika memutuskan perkara di antara manusia.

وَقَالَ الْحَسَنُ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَرَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قَدْ أَلْقَى رِدَاءَهُ عَلَى كَوْمَةِ خَطَّارٍ وَنَامَ عَلَيْهِ وَأَتَاهُ سَقَّاءٌ بِقِرْبَتِهِ وَمَعَهُ خَصْمٌ فَجَلَسَ عُثْمَانُ وَقَضَى بَيْنَهُمَا. وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ كَانَ يَقْضِي بَيْنَ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ.

Al-Hasan berkata, “Aku masuk masjid lalu melihat Utsman bin Affan telah meletakkan selendangnya di atas tumpukan pasir dan tidur di atasnya. Kemudian datang seorang penjual air dengan membawa kantong airnya bersama seorang lawan sengketa. Maka Utsman pun duduk dan memutuskan perkara di antara mereka berdua.” Diriwayatkan pula dari Ali bahwa beliau biasa memutuskan perkara di antara manusia di dalam masjid.

وَإِذَا كَانَ هَذَا مِنْ فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَالْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِهِ لَمْ يُكْرَهْ.

Dan jika hal ini dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para imam yang mendapat petunjuk setelah beliau, maka hal itu tidaklah dianggap makruh.

وَدَلِيلُنَا عَلَى كَرَاهَتِهِ مَا رَوَاهُ ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَمِعَ رَجُلًا يُنْشِدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ: ” لَا وَجَدْتَهَا إِنَّمَا بُنِيَتِ الْمَسَاجِدُ لِذِكْرِ اللَّهِ وَالصَّلَاةِ ” فَدَلَّ عَلَى كَرَاهَةِ مَا عَدَاهُمَا فِيهِ.

Dan dalil kami tentang makruhnya hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki mencari barang hilangnya di masjid, maka beliau bersabda: “Semoga kamu tidak menemukannya. Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun hanya untuk zikir kepada Allah dan salat.” Maka hal ini menunjukkan makruhnya melakukan selain kedua hal tersebut di dalam masjid.

وَرَوَى مُعَاذٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِينَكُمْ وَرَفْعَ أَصْوَاتِكُمْ وَخُصُومَاتِكُمْ وَحُدُودَكُمْ وَسَلَّ سُيُوفِكُمْ وَشِرَاءَكُمْ وَبَيْعَكُمْ “.

Mu‘ādz meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak kecil kalian, orang-orang gila kalian, suara-suara keras kalian, pertengkaran kalian, pelaksanaan hudūd kalian, hunusan pedang kalian, serta jual beli kalian.”

وَرَوَى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ إِلَى الْقُضَاةِ أَنْ لَا تَقْضُوا فِي الْمَسَاجِدِ.

Said bin al-Musayyab meriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab ra. menulis surat kepada para qadhi agar tidak memutuskan perkara di dalam masjid.

وَسَمِعَ عُمَرُ رَجُلًا يَصِيحُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ لَهُ أَتَدْرِي أَيْنَ أَنْتَ؛ وَلِأَنَّ حُضُورَ الْخُصُومِ لَا يَخْلُو مِنْ لَغَطٍ وَمُنَابَذَةٍ وَرُبَّمَا تَعَدَّى إِلَى سَبٍّ وَمُشَاتَمَةٍ، وَالْمَسَاجِدُ تُصَانُ عَنْ هَذَا وَلِأَنَّهُ رُبَّمَا كَانَ فِي الْخُصُومِ جُنُبٌ وَحَائِضٌ يَحْرُمُ عَلَيْهِمَا دُخُولُ الْمَسْجِدِ، وَلِأَنَّ لَغَطَ الْخُصُومِ يَمْنَعُ خُشُوعَ الْمُصَلِّينَ، وَسَوَاءٌ صَغُرَ الْمَسْجِدُ أَوْ كَبُرَ.

Umar pernah mendengar seorang laki-laki berteriak di dalam masjid, maka ia berkata kepadanya, “Tahukah kamu di mana kamu berada?” Karena kehadiran para pihak yang bersengketa tidak lepas dari keributan dan saling mencela, bahkan terkadang sampai pada makian dan saling menghina, sedangkan masjid-masjid harus dijaga dari hal-hal seperti itu. Selain itu, bisa jadi di antara pihak yang bersengketa terdapat orang yang junub atau perempuan haid yang diharamkan bagi mereka memasuki masjid. Juga karena keributan para pihak yang bersengketa dapat menghalangi kekhusyukan orang-orang yang sedang shalat, baik masjid itu kecil maupun besar.

فَأَمَّا مَا رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ مِنَ النَّظَرِ فِيهِ فَإِنَّمَا كَانَ نَادِرًا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ.

Adapun riwayat dari para sahabat mengenai penggunaan nalar dalam hal ini, maka itu hanyalah sesuatu yang jarang terjadi, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: فِي أَرْفَقِ الْأَمَاكِنِ بِهِ وَأَحْرَاهَا أَنْ لَا تُسْرِعَ مَلَالَتُهُ فِيهِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Di tempat yang paling nyaman baginya dan yang paling memungkinkan agar ia tidak cepat merasa bosan di dalamnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يُرِيدُ بِأَرْفَقِ الْأَمَاكِنِ بِهِ أَنْ يَكُونَ الْمَوْضِعُ إِنِ احْتَاجَ فِيهِ إِلَى الْغَائِطِ أَوِ الْبَوْلِ قَدَرَ عَلَيْهِ وَإِنْ عَطَشَ شَرِبَ الْمَاءَ فِيهِ وَإِنْ جَاعَ أَكَلَ فِيهِ الطَّعَامَ، لِأَنَّهَا أَحْوَالٌ لَا يَسْتَغْنِي الْقَاضِي عَنْهَا.

Al-Mawardi berkata: Yang dimaksud dengan tempat yang paling memudahkan baginya adalah tempat di mana jika ia membutuhkan buang air besar atau kecil, ia dapat melakukannya; jika ia haus, ia dapat minum air di situ; dan jika ia lapar, ia dapat makan makanan di situ, karena keadaan-keadaan tersebut adalah hal-hal yang tidak bisa dihindari oleh seorang qadhi.

وَيُرِيدُ بِقَوْلِهِ وَأَحْرَاهَا أَنْ لَا تُسْرِعَ مَلَالَتُهُ فِيهِ أَنْ يَكُونَ الْمَوْضِعُ يَقِي مِنَ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ وَالشَّمْسِ وَالْمَطَرِ كَثِيرَ الضَّوْءِ حتى يَنَالَهُ أَذًى فَيَضَّجِرُ وَلَا سَآمَةٌ فَيَمَلَّ لِيَكُونَ عَلَى أَكْمَلِ أَحْوَالِهِ.

Dan yang dimaksud dengan perkataannya “dan yang paling layak” adalah agar seseorang tidak mudah merasa bosan di dalamnya, yaitu tempat itu dapat melindungi dari panas, dingin, matahari, dan hujan, serta cukup terang sehingga tidak terkena gangguan yang membuatnya jengkel, dan tidak pula menimbulkan kejenuhan yang membuatnya bosan, sehingga ia berada dalam kondisi yang paling sempurna.

(كَرَاهَةُ إِقَامَةِ الْحُدُودِ فِي المساجد)

(Makruh menegakkan hudud di dalam masjid)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَأَنَا لِإِقَامَةِ الْحَدِّ فِي الْمَسْجِدِ أَكْرَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku tidak menyukai pelaksanaan hudud di dalam masjid.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ أَنَّ إِقَامَةَ الْحُدُودِ فِي الْمَسَاجِدِ مَكْرُوهَةٌ.

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan inilah pendapat mayoritas ulama bahwa pelaksanaan hudud di masjid-masjid adalah makruh.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهَا غَيْرُ مَكْرُوهَةٍ لِأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّهَا أَشْهَرُ نَكَالًا وَأَبْلَغُ زَجْرًا كَمَا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي الْمُتَلَاعِنَيْنِ وَالثَّانِي أَنَّهُمَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ فَكَانَتِ الْمَسَاجِدُ بِهَا أَخَصَّ كَالْعِبَادَاتِ.

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa hal itu tidak makruh karena dua alasan: Pertama, karena hal itu lebih terkenal sebagai hukuman dan lebih efektif sebagai pencegahan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ terhadap pasangan yang saling melaknat (al-mula‘inain). Kedua, karena keduanya termasuk hak-hak Allah, sehingga masjid lebih layak untuk hal tersebut, sebagaimana dalam ibadah-ibadah.

وَدَلِيلُنَا مَا رَوَى عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ وَقَدْ رَوَى حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – نَهَى أَنْ تقَام الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ وَأَنْ يُسْتَقَادَ فِيهَا وَلِأَنَّ الْحُدُودَ رُبَّمَا أَرْسَلَتْ حَدَثًا وَأَنْهَرَتْ دَمًا وَصِيَانَةُ الْمَسْجِدِ مِنَ الْأَنْجَاسِ وَاجِبَةٌ، وَلِأَنَّ صِيَاحَ الْمَحْدُودِ قَاطِعٌ لِخُشُوعِ الْمُصَلِّينَ.

Dan dalil kami adalah riwayat dari Amru bin Dinar, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Hadd tidak ditegakkan di masjid.” Dan telah meriwayatkan Hakim bin Hizam bahwa Nabi ﷺ melarang ditegakkannya hadd di masjid dan melarang melakukan qishash di dalamnya. Karena pelaksanaan hadd terkadang menyebabkan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan dan mengalirkan darah, sementara menjaga masjid dari najis adalah kewajiban. Selain itu, teriakan orang yang dikenai hadd dapat mengganggu kekhusyukan para jamaah yang sedang shalat.

وَاسْتِدْلَالُهُ بِالْأَمْرَيْنِ مَدْخُولٌ لِأَنَّهُ لَا يُؤْمَنُ فِيهِ مَا يخاف من الحدود.

Dalil yang digunakannya dengan dua hal tersebut masih dapat dipertanyakan, karena tidak terjamin di dalamnya dari hal-hal yang dikhawatirkan berupa hudud.

(لا يحكم وهو غضبان)

(Janganlah memutuskan hukum dalam keadaan marah)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَمَعْقُولٌ فِي قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَا يَحْكُمُ الْحَاكِمُ وَلًا يَقْضِي الْقَاضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ ” أَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي حِينَ يَحْكُمُ فِي حَالٍ لَا يَتَغَيَّرُ فِيهَا خُلُقُهُ وَلَا عقله وَالْحَاكِمُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ فَأَيُّ حَالٍ أَتَتْ عَلَيْهِ تغير فيها عَقْلُهُ أَوْ خُلُقُهُ انْبَغَى لَهُ أَنْ لَا يقضي حتى يذهب وأي حال صار إليه فيها سكون الطبيعة واجتماع العقل حكم وإن غيره مرض أو حزن أو فرح أو جوع أو نعاس أو ملالة ترك “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dapat dipahami dari sabda Rasulullah ﷺ: ‘Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara dan seorang qāḍī tidak boleh mengadili antara dua orang dalam keadaan marah,’ bahwa yang dimaksud adalah seorang qāḍī ketika memutuskan perkara harus berada dalam keadaan di mana akhlak dan akalnya tidak berubah. Hakim lebih mengetahui keadaan dirinya sendiri, maka dalam keadaan apa pun yang membuat akal atau akhlaknya berubah, sebaiknya ia tidak memutuskan perkara sampai perubahan itu hilang. Dan dalam keadaan di mana dirinya tenang dan akalnya terkumpul, ia boleh memutuskan perkara, meskipun penyebabnya adalah sakit, sedih, gembira, lapar, mengantuk, atau bosan, hendaknya ia meninggalkan (memutuskan perkara) dalam keadaan tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ يَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَعْتَمِدَ بِنَظَرِهِ الْوَقْتَ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ سَاكِنَ النَّفْسِ مُعْتَدِلَ الْأَحْوَالِ لِيَقْدِرَ عَلَى الِاجْتِهَادِ فِي النَّوَازِلِ وَيَحْتَرِسَ مِنَ الزَّلَلِ فِي الْأَحْكَامِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, seharusnya seorang qadhi memperhatikan waktu di mana dirinya tenang jiwanya dan keadaan dirinya seimbang, agar ia mampu melakukan ijtihad dalam permasalahan-permasalahan baru dan berhati-hati dari kesalahan dalam menetapkan hukum.

فَإِنْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ بِغَضَبٍ أَوْ حَرْدٍ تَغَيَّرَ فِيهَا عَقْلُهُ وَخُلُقُهُ تَوَقَّفَ عَنِ الْحُكْمِ احْتِرَازًا مِنَ الزَّلَلِ فِيهِ لِرِوَايَةِ الشَّافِعِيِّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا يَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ “.

Jika keadaannya berubah karena marah atau kesal sehingga akal dan akhlaknya pun ikut berubah, maka ia harus menahan diri dari memberikan keputusan sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terjatuh dalam kesalahan, berdasarkan riwayat asy-Syafi‘i dari Sufyan, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari Abu Bakrah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tidak sepantasnya seorang qadhi memutuskan perkara di antara dua orang sementara ia sedang marah.”

وَرَوَى قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ وَأَبُو مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَيْهِ وَهُوَ بِسِجِسْتَانَ: أَمَّا بَعْدُ فَلَا تَقْضِ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” لَا يَحْكُمُ الْحَاكِمُ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غضبان “.

Qais bin Rabi‘ dan Abu Malik meriwayatkan dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari ayahnya, bahwa ia menulis surat kepadanya ketika ia berada di Sijistan: “Amma ba‘du, janganlah engkau memutuskan perkara antara dua orang ketika engkau sedang marah, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara antara dua orang dalam keadaan ia sedang marah.’”

(لا يحكم إلا وهو شبعان ريان)

(Tidak boleh memutuskan hukum kecuali dalam keadaan kenyang dan telah minum.)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا لَحِقَ الْقَاضِي حَالٌ تَغَيَّرَ فِيهَا عَقْلُهُ أَوْ خُلُقُهُ أَوْ فَهْمُهُ مِنْ غَضَبٍ أَوْ حُزْنٍ أَوْ فَرَحٍ أَوْ مَرِضٍ أَوْ جُوعٍ أَوْ عَطَشٍ تَوَقَّفَ عَنِ الْحُكْمِ حَتَّى يَعُودَ إِلَى سُكُونِ نَفْسِهِ وَكَمَالِ عَقْلِهِ وَهُدُوءِ طَبْعِهِ وَظُهُورِ فَهْمِهِ وَقَدْ رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا يَقْضِي الْقَاضِي إِلَّا وَهُوَ شَبْعَانُ رَيَّانُ “.

Apabila seorang qadhi mengalami keadaan di mana akalnya, akhlaknya, atau pemahamannya berubah karena marah, sedih, gembira, sakit, lapar, atau haus, maka ia harus menunda pengambilan keputusan sampai jiwanya kembali tenang, akalnya sempurna, tabiatnya stabil, dan pemahamannya jelas. Abdullah bin Abdurrahman al-Anshari meriwayatkan dari ayahnya, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang qadhi tidak boleh memutuskan perkara kecuali dalam keadaan kenyang dan tidak haus.”

وَرَوَى أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لَا يَقْضِي الْقَاضِي وَهُوَ غَضْبَانُ مَهْمُومٌ وَلَا مُصَابٌ مَحْزُونٌ، وَلَا يَقْضِي وَهُوَ جَائِعٌ “.

Abu ‘Awanah meriwayatkan dari ‘Abd al-Malik bin ‘Umair dari ‘Abd al-Rahman bin Abi Bakrah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Seorang qadhi tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah, gelisah, sedang terkena musibah, bersedih, dan tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan lapar.”

وَلَمَّا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ وَهُوَ يُدَافِعُ الْأَخْبَثَيْنِ وَالصَّلَاةُ لَا تَحْتَاجُ مِنْ الِاجْتِهَادِ إِلَى مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي الْأَحْكَامِ فَكَانَ مَنْعُ الْأَخْبَثَيْنِ مِنَ الْقَضَاءِ أَوْلَى، وَكَانَ الشَّعْبِيُّ يَأْكُلُ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ آخُذُ حُكْمِي ثُمَّ أَخْرُجُ فَأَقْضِي بَيْنَ النَّاسِ.

Ketika Rasulullah ﷺ melarang seseorang shalat dalam keadaan menahan dua hadats (buang air besar dan kecil), padahal shalat tidak memerlukan ijtihad seperti yang dibutuhkan dalam menetapkan hukum-hukum, maka larangan menahan dua hadats saat memutuskan perkara (qadha’) tentu lebih utama. Asy-Sya‘bi biasa makan sebelum fajar, lalu ada yang menanyakan hal itu kepadanya, maka ia berkata, “Aku mengambil hukumnya terlebih dahulu, kemudian aku keluar untuk memutuskan perkara di antara manusia.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: وَالْحَاكِمُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ فَأَيُّ حَالٍ أَتَتْ عَلَيْهِ تَغَيَّرَ بِهَا عَقْلُهُ أَوْ خُلُقُهُ انْبَغَى لَهُ أَنْ لَا يَقْضِيَ حَتَّى تَذْهَبَ.

Syafi‘i berkata: Hakim lebih mengetahui keadaan dirinya sendiri, maka dalam keadaan apa pun yang menimpa dirinya sehingga akal atau akhlaknya berubah, sebaiknya ia tidak memutuskan perkara sampai keadaan itu hilang.

فَعَلَى هَذَا إِنْ قَضَى فِي هَذِهِ الْأَحْوَالِ الَّتِي مُنِعَ مِنَ الْقَضَاءِ فِيهَا نَفَذَ حُكْمُهُ إِنْ وَافَقَ الْحَقَّ لِأَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ وَرَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ اخْتَصَمَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: اسْقِ زَرْعَكَ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلِ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ: إِنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَقَالَ: اسْقِ زَرْعَكَ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ احْبِسِ الْمَاءَ حَتَّى يَبْلُغَ أُصُولَ الْجَدْرِ فَكَانَ فِي الْحُكْمِ الْأَوَّلِ اسْتَنْزَلَ فِيهِ الزُّبَيْرَ عَنْ كَمَالِ حَقِّهِ ثُمَّ وَفَّاهُ فِي الْحُكْمِ الثَّانِي وَقَدْ أَمْضَاهُ فِي غَضَبِهِ فَدَلَّ عَلَى نُفُوذِ حُكْمِهِ.

Maka berdasarkan hal ini, jika seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan-keadaan yang dilarang untuk memutuskan di dalamnya, maka putusannya tetap berlaku jika sesuai dengan kebenaran. Sebab, az-Zubair bin al-‘Awwam dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar berselisih kepada Rasulullah ﷺ mengenai pengairan tanah al-Harrah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siramlah tanamanmu, wahai Zubair, kemudian alirkan air itu kepada tetanggamu.” Laki-laki Anshar itu berkata: “Karena dia adalah anak bibimu.” Maka wajah Rasulullah ﷺ pun berubah (menjadi marah), lalu beliau bersabda: “Siramlah tanamanmu, wahai Zubair, kemudian tahanlah air itu sampai mencapai akar-akar dinding.” Pada keputusan pertama, Rasulullah ﷺ telah meminta Zubair untuk mengalah dari hak penuhnya, kemudian pada keputusan kedua beliau memberikan hak itu secara sempurna. Dan beliau telah menetapkan keputusan itu dalam keadaan marah, sehingga hal ini menunjukkan bahwa putusannya tetap berlaku.

(فصل: استيفاء القاضي حاجاته الأساسية)

(Bab: Pemenuhan kebutuhan pokok hakim)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

فإذا ما ذكرنا فَيُخْتَارُ لِلْحَاكِمِ أَنْ لَا يَجْلِسَ لِلْحُكْمِ الْعَامِّ إِلَّا بَعْدَ سُكُونِ نَفْسِهِ بِالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ حَتَّى تَتُوقَ نَفْسُهُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَيَتَعَرَّضَ لِلْأَخْبَثَيْنِ وَيَسْتَوْفِيَ حَظَّهُ مِنَ النَّوْمِ وَالدَّعَةِ وَيَقْضِيَ وَطَرَهُ مِنَ الْجِمَاعِ حَتَّى يَغُضَّ طَرْفَهُ عَنِ الْحُرُمِ وَيَلْبِسَ مَا يَسْتَدْفِعُ بِهِ أَذَى وَقْتِهِ مِنْ حَرٍّ أَوْ بَرْدٍ وَيَفْرَغَ مِنْ مُهِمَّاتِ أَشْغَالِهِ لِئَلَّا يَهْتَمَّ بِمَا يَشْغَلُ خَاطِرَهُ عَنْ الِاجْتِهَادِ فِي الْأَحْكَامِ.

Oleh karena itu, disunnahkan bagi seorang hakim untuk tidak duduk memutuskan perkara umum kecuali setelah jiwanya tenang dengan makan dan minum, hingga dirinya tidak lagi menginginkan salah satu dari keduanya, serta telah menunaikan hajat buang air besar maupun kecil, mendapatkan cukup tidur dan istirahat, memenuhi kebutuhannya dalam hubungan suami istri agar ia dapat menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, mengenakan pakaian yang dapat melindunginya dari panas atau dingin pada waktunya, dan telah menyelesaikan urusan-urusan pentingnya agar pikirannya tidak terganggu oleh hal-hal yang dapat mengalihkan perhatiannya dari berijtihad dalam menetapkan hukum.

وَيُصَلِّي عِنْدَ التَّأَهُّبِ لِلْجُلُوسِ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنْ كَانَ جُلُوسُهُ فِي مَسْجِدٍ كَانَتِ الصَّلَاةُ تَحِيَّةً مَسْنُونَةً فَيُصَلِّيهَا فِي كُلِّ وَقْتٍ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَوْقَاتِ النَّهْيِ، وَإِنْ كَانَ جُلُوسُهُ فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ كَانَتِ الصَّلَاةُ تَطَوَّعًا فَيُصَلِّيهَا فِي غَيْرِ أَوْقَاتِ النَّهْيِ وَيَدْعُو اللَّهَ بَعْدَهَا بِمَا رَوَاهُ عَاصِمُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ قَالَ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ “.

Dan hendaknya ia shalat dua rakaat ketika bersiap untuk duduk. Jika duduknya di masjid, maka shalat tersebut adalah tahiyyat masjid yang disunnahkan, sehingga ia boleh melakukannya kapan saja, meskipun pada waktu-waktu yang terlarang. Namun jika duduknya bukan di masjid, maka shalat tersebut adalah shalat tathawwu‘ (sunnah mutlak), sehingga ia melakukannya di luar waktu-waktu yang terlarang. Setelah itu, ia berdoa kepada Allah dengan doa yang diriwayatkan oleh ‘Ashim bin Sulaiman dari asy-Sya‘bi dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah ﷺ apabila keluar dari rumahnya, beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tergelincir atau digelincirkan, dari sesat atau disesatkan, dari menzalimi atau dizalimi, dari berbuat bodoh atau dibodohi.”

وَكَانَ الشَّعْبِيُّ يَقُولُهُنَّ وَيَزِيدُ عَلَيْهِنَّ أَوْ أَعْتَدِي أَوْ يُعْتَدَى عَلَيَّ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي بِالْعِلْمِ وَزَيِّنِّي بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى حَتَّى لَا أَنْطِقَ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا أَقْضِيَ إِلَّا بِالْعَدْلِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ هَذَا إِذَا جَلَسَ لِلْحُكْمِ ثُمَّ يَشْرَعُ فِي نَظَرِهِ بَعْدَ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ لَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ فِي مَسْجِدٍ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خَيْرُ الْمَجَالِسِ مَا اسْتُقْبِلَ بِهِ الْقِبْلَةُ.

Asy-Sya‘bi biasa mengucapkan doa-doa tersebut dan menambahkannya dengan doa: “Atau aku melampaui batas, atau dilampaui batas terhadapku. Ya Allah, tolonglah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kesabaran, dan muliakanlah aku dengan takwa, sehingga aku tidak berbicara kecuali dengan kebenaran dan tidak memutuskan kecuali dengan keadilan.” Dianjurkan untuk mengucapkan doa ini ketika duduk untuk memutuskan perkara, kemudian mulai memeriksa perkara setelah menghadap kiblat, terutama jika berada di masjid, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”

(فَصْلٌ: [الْقَوْلُ فِيمَا يَبْدَأُ بِهِ الْقَاضِي بَعْدَ اسْتِقْرَارِ ولايته] )

Bagian: Penjelasan tentang apa yang harus dimulai oleh seorang qādī setelah penetapan kekuasaannya.

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا تَصَدَّى لِلْحُكْمِ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ وِلَايَتِهِ وَانْقِيَادِ النَّاسِ إِلَى طَاعَتِهِ كَانَ أَوَّلُ مَا يَبْدَأُ بِهِ فِي نَظَرِهِ مَا اخْتَصَّ بِأَمَانَاتِ الْحُكْمِ. وَأَمَانَاتُهُ: مَا يَلْزَمُهُ النَّظَرُ فِيهِ مِنْ غَيْرِ مستعد إليه وذلك خمس أمانات:

Maka apabila seseorang telah menerima tugas pemerintahan setelah kekuasaannya mantap dan masyarakat telah tunduk untuk menaati dirinya, maka hal pertama yang harus ia mulai dalam perhatiannya adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan amanat-amanat pemerintahan. Amanat-amanat tersebut adalah hal-hal yang wajib ia perhatikan tanpa harus menunggu kesiapan khusus, dan amanat itu ada lima macam:

( [القول في أمانات الحكم] )

(Pembahasan tentang amanat-amanat kekuasaan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

أولا ديوان الحكم:

Pertama, Dewan Pemerintahan:

أولها أَنْ يَتَسَلَّمَ دِيوَانَ الْحُكْمِ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَهُ أو من أمين إِنْ كَانَ فِي يَدِهِ، وَدِيوَانُ الْحُكْمِ هُوَ حُجَجُ الْخُصُومِ مِنَ الْمَحَاضِرِ وَالسِّجِلَّاتِ وَكُتُبِ الْوُقُوفِ لِأَنَّ الْحُكَّامَ يَسْتَظْهِرُونَ فِي حِفْظِ الْحُقُوقِ عَلَى أَرْبَابِهَا بِحِفْظِ حُجَجِهِمْ وَوَثَائِقِهِمْ فِي نُسْخَتَيْنِ يَتَسَلَّمُ الْمَحْكُومُ لَهُ إِحْدَاهُمَا وَتَكُونُ الْأُولَى فِي دِيوَانِهِ حُجَّةً يَرْجِعُ إِلَيْهَا إِذَا احْتَاجَ لِيَكُونَ عَلَى نَفْسِهِ مِمَّا فِي يَدِهِ.

Pertama, hendaknya ia menerima Diwan al-Hukm dari orang yang sebelumnya memegangnya atau dari seorang yang dipercaya jika memang berada di tangannya. Diwan al-Hukm adalah dokumen-dokumen para pihak yang bersengketa berupa berita acara, catatan, dan buku-buku wakaf. Hal ini karena para hakim sangat bergantung pada pemeliharaan hak-hak para pemiliknya dengan menjaga dokumen-dokumen dan bukti-bukti mereka dalam dua salinan; salah satunya diserahkan kepada pihak yang memenangkan perkara, dan salinan pertama tetap berada di diwan sebagai bukti yang dapat dirujuk kembali jika diperlukan, agar menjadi pegangan atas apa yang ada di tangannya.

فَإِذَا تَسَلَّمَهَا وَاتَّسَعَ لَهُ الزَّمَانُ تَصَفَّحَهَا وَعَمِلَ بِمُوجَبِ مَا تَضَمَّنَهَا إِذَا دَعَتْهُ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ.

Maka apabila ia telah menerimanya dan waktu yang tersedia baginya cukup luas, hendaklah ia menelaahnya dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya apabila ia membutuhkannya.

وَلَا يَحْكُمُ بِمَا فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ بِهِ شَاهِدَانِ وَلَا يَحْكُمُ بِخَطِّ الْقَاضِي قَبْلَهُ وَلَا بِخَطِّ نَفْسِهِ إِلَّا أَنْ يُذَكِّرَهُ لِاشْتِبَاهِ الْخُطُوطِ وَإِمْكَانِ التَّزْوِيرِ عَلَيْهَا.

Dan tidak boleh memutuskan hukum berdasarkan isi dokumen tersebut kecuali jika ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atasnya. Tidak boleh pula memutuskan hukum berdasarkan tulisan tangan qadi sebelumnya, atau tulisan tangannya sendiri, kecuali jika tulisan itu mengingatkannya, karena adanya kemungkinan kesamaan tulisan dan kemungkinan terjadinya pemalsuan terhadapnya.

(فَصْلٌ: [الْقَوْلُ فِي تَصَفُّحِ أَحْوَالِ الْمَحْبُوسِينَ] )

Bagian: [Pembahasan tentang meneliti keadaan para tahanan]

وَالْأَمَانَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ أَوَّلَ مَا يَنْظُرُ فِيهِ أَنْ يَتَصَفَّحَ أَحْوَالَ الْمَحْبُوسِينَ.

Amanah kedua: hendaknya hal pertama yang diperhatikan adalah meneliti keadaan para tahanan.

وَلَا يَحْتَاجُ فِي تَصَفُّحِ أَحْوَالِهِمْ إِلَى مُتَظَلِّمٍ إِلَيْهِ لِعَجْزِ الْمَحْبُوسِينَ عَنِ التَّظَلُّمِ.

Dan dalam meneliti keadaan mereka, tidak diperlukan adanya orang yang mengadu kepadanya, karena para tahanan tidak mampu untuk mengadukan nasib mereka.

فَيُنْفِذُ إِلَى الْحَبْسِ ثِقَةً أَمِينًا وَمَعَهُ شَاهِدٌ عَدْلٌ.

Maka dikirimlah ke penjara seorang yang tepercaya dan amanah, bersama dengannya seorang saksi yang adil.

فَيُثْبِتُ بِالْقُرْعَةِ اسْمَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَحْبُوسِينَ وَمَا حُبِسَ بِهِ وَاسْمَ خَصْمِهِ حَتَّى يَسْتَوْعِبَ جَمِيعَهُمْ. وَيَتَصَفَّحُهُ الْقَاضِي. ثُمَّ يُنَادِي فِي النَّاسِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِنِ اتسع البلد أو يوما إن صغر: إن القاضي قد بدأ في أمور المحبوسين فمن كان له على محبوس حَقٌّ فَلْيَحْضُرْ فِي يَوْمِ كَذَا وَيُعَيِّنُ لَهُمْ على اليوم.

Kemudian dicatat dengan undian nama setiap orang yang ditahan, alasan penahanannya, dan nama lawan perkaranya, hingga semuanya tercatat. Lalu hakim memeriksanya. Setelah itu, hakim mengumumkan kepada masyarakat selama tiga hari jika kotanya besar, atau satu hari jika kotanya kecil: “Sesungguhnya hakim telah mulai menangani urusan para tahanan. Maka siapa pun yang memiliki hak atas seorang tahanan, hendaklah hadir pada hari yang telah ditentukan,” dan hakim menetapkan hari tersebut bagi mereka.

ويكون عقيب فراغه من النداء ليتعجل أمرهم ولا يتأخر فيجعله الْيَوْمِ الرابع من ندائه.

Dan dilakukan setelah selesai adzan agar urusan mereka segera diselesaikan dan tidak ditunda sehingga menjadikannya pada hari keempat setelah adzannya.

فَإِذَا اجْتَمَعَ الْخُصُومُ أَقْرَعَ بَيْنَ الْمَحْبُوسِينَ فِيمَنْ يُقَدِّمُهُ فِي النَّظَرِ، وَلَمْ يُقْرِعْ بَيْنَ الْخُصُومِ، لِأَنَّ نَظَرَهُ لِلْمَحْبُوسِينَ عَلَى خُصُومِهِمْ وَلَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى الْقُرْعَةِ الْأُولَى فِي إِثْبَاتِ أَسْمَائِهِمْ.

Apabila para pihak yang bersengketa telah berkumpul, maka hakim mengundi di antara para tahanan untuk menentukan siapa yang didahulukan dalam pemeriksaan, dan tidak mengundi di antara para pihak yang bersengketa, karena pemeriksaannya ditujukan kepada para tahanan terhadap lawan-lawan mereka, dan tidak cukup hanya dengan undian pertama dalam menetapkan nama-nama mereka.

فَإِذَا فَرَغَ أَحَدُهُمْ أَمَرَ بِإِخْرَاجِهِ وَنَادَى بِإِحْضَارِ خَصْمِهِ. وَلَا يَفْتَقِرُ فِي إِخْرَاجِ الْمَحْبُوسِينَ إِلَى إِذْنِ خَصْمِهِ، لِأَنَّهُ يَخْرُجُ فِي حَقِّهِ لَا فِي حَقِّ حَابِسِهِ.

Maka apabila salah satu dari mereka telah selesai, diperintahkan untuk mengeluarkannya dan dipanggil agar lawannya dihadirkan. Tidak disyaratkan izin dari lawannya untuk mengeluarkan orang yang ditahan, karena ia dikeluarkan demi haknya, bukan demi hak orang yang menahannya.

وَإِنْ كَانَ الْحَبْسُ بَعِيدًا مِنْ مَجْلِسِ الْحُكْمِ أَخْرَجَ بِالْقُرْعَةِ جَمِيعَ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى النَّظَرِ بَيْنَهُمْ فِي يَوْمِهِ قَبْلَ شُرُوعِهِ فِي النَّظَرِ.

Jika penjara itu jauh dari majelis pengadilan, maka semua orang yang mampu untuk diperiksa di antara mereka pada hari itu dikeluarkan melalui undian sebelum hakim memulai pemeriksaan.

فَإِذَا تَكَامَلُوا بَدَأَ بِالنَّظَرِ فِي أَمْرِ الْأَسْبَقِ بِالْقُرْعَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ يَسْتَأْنِفْ قُرْعَةً ثَانِيَةً لِأَنَّ الْقُرْعَةَ لِإِخْرَاجِهِ إِنَّمَا كَانَتْ لِلنَّظَرِ فِي أَمْرِهِ.

Maka apabila mereka telah lengkap, dimulailah dengan membahas perkara orang yang lebih dahulu berdasarkan undian sebelumnya, dan tidak diadakan undian kedua, karena undian untuk mengeluarkannya itu hanyalah untuk membahas perkaranya.

وَإِنْ كَانَ الْحَبْسُ قَرِيبًا مِنْ مَجْلِسِ الْحُكْمِ لَمْ يَخْرُجْ مِنْهُ ثَانِيًا إِلَّا بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنَ النَّظَرِ فِي أَمْرِ الْأَوَّلِ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ اتِّصَالُ نَظَرِهِ وَقَدْ لَا يَتَّصِلُ مَعَ الْبُعْدِ إِلَّا بِإِخْرَاجِ جَمِيعِهِمْ، وَيَتَّصِلُ مَعَ الْقُرْبِ بِإِخْرَاجِ وَاحِدٍ بَعْدَ وَاحِدٍ.

Jika penjara itu dekat dengan majelis pengadilan, maka tidak dikeluarkan darinya orang kedua kecuali setelah selesai memeriksa perkara orang pertama; karena yang dimaksud adalah kesinambungan pemeriksaan, dan hal itu mungkin tidak tercapai jika tempatnya jauh kecuali dengan mengeluarkan mereka semua, sedangkan jika dekat dapat tercapai dengan mengeluarkan satu per satu.

فَإِذَا تَقَدَّمَ الْمَحْبُوسُ إِلَيْهِ سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ حَبْسِهِ وَلَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى السُّؤَالِ الْأَوَّلِ فِي الْحَبْسِ وَعَارَضَهُ بِهِ فَإِنِ اتَّفَقَا وَإِلَّا عَمِلَ عَلَى أَغْلَظِ الْأَمْرَيْنِ مِنَ الْأَوَّلِ وَالثَّانِي فَإِنْ ثَبَتَ فِي دِيوَانِ الْحُكْمِ سَبَبُ حَبْسِهِ قَابَلَهُ بِمَا قَالَهُ فِي الْأَوَّلِ وَالثَّانِي وَعَمِلَ عَلَى أَغْلَظِ الثَّلَاثَةِ.

Apabila orang yang ditahan menghadap kepadanya, ia menanyakan sebab penahanannya dan tidak hanya terbatas pada pertanyaan pertama mengenai penahanan, lalu membandingkannya dengan hal tersebut. Jika keduanya sesuai, maka tidak masalah, namun jika tidak, maka ia mengambil keputusan berdasarkan perkara yang paling berat di antara yang pertama dan kedua. Jika dalam catatan pengadilan telah tercatat sebab penahanannya, maka ia membandingkannya dengan apa yang telah dikatakan pada pertanyaan pertama dan kedua, lalu mengambil keputusan berdasarkan yang paling berat di antara ketiganya.

فَإِذَا اسْتَقَرَّ الْعَمَلُ بِأَحَدِهَا كَانَ لَهُ فِيمَا يذكره من سبب حبسه خمسة أَحْوَالٍ:

Maka apabila suatu amalan telah mantap dilakukan dengan salah satu dari keduanya, maka dalam hal sebab penahanannya yang disebutkan, terdapat lima keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَقُولَ حَبَسَنِي تَعْزِيرًا لِلَّذِي كَانَ مِنِّي وَلَمْ يَحْبِسْنِي لِخَصْمٍ، فَقَدِ اسْتَوْفَى حَبْسَ التَّعْزِيرِ بِعَزْلِ الْأَوَّلِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْ مُدَّةَ حَبْسِهِ مَعَ بَقَاءِ نَظَرِ الْأَوَّلِ؛ لِأَنَّ الثَّانِيَ لَا يُعَزَّرُ لِذَنْبٍ كَانَ مَعَ غَيْرِهِ.

Salah satunya: Jika ia berkata, “Aku dipenjara sebagai ta‘zīr atas apa yang telah aku lakukan, dan aku tidak dipenjara karena ada pihak lawan,” maka telah terpenuhi hukuman penjara ta‘zīr dengan diberhentikannya hakim pertama, meskipun masa penjaranya belum selesai selama urusan hakim pertama masih berlangsung; karena hakim kedua tidak boleh menjatuhkan ta‘zīr atas dosa yang dilakukan bersama hakim lain.

وَلَمْ يُطْلِقْهُ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَصْمٌ لَمْ يَذْكُرْهُ حَتَّى يُنَادِيَ فِي النَّاسِ أَيَّامًا بِأَنَّ الْقَاضِيَ قَدْ رَأَى إِطْلَاقَ فُلَانٍ مِنْ حَبْسِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ خَصْمٌ قَدْ حُبِسَ لَهُ فَلْيَحْضُرْ وَلَا يُنَادِي بِأَنْ يَحْضُرَ كُلَّ خَصْمٍ لَهُ مِمَّنْ لَمْ يُحْبَسْ فِي حَقِّهِ.

Dan hakim tidak langsung membebaskannya karena mungkin saja ada pihak lawan yang belum disebutkan olehnya, sehingga hakim mengumumkan kepada masyarakat selama beberapa hari bahwa hakim telah memutuskan untuk membebaskan si Fulan dari tahanannya. Jika ada pihak lawan yang menyebabkan ia ditahan, maka hendaklah ia hadir. Namun, tidak diumumkan agar setiap pihak lawan yang tidak menyebabkan ia ditahan untuk hadir.

فَإِذَا مَضَتْ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَلَمْ يَحْضُرْ لَهُ خَصْمٌ أَطْلَقَهُ بَعْدَ إِحْلَافِهِ أَنَّهُ مَا حُبِسَ بِحَقِّ لخَصْمٍ.

Jika telah berlalu tiga hari dan tidak ada pihak lawan yang datang menemuinya, maka ia dibebaskan setelah disumpah bahwa ia tidak ditahan karena hak pihak lawan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ حَبَسَنِي لِتَعْدِيلِ بَيِّنَةٍ شُهِدَتْ عَلَيَّ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ حَبْسِهِ بِذَلِكَ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Keadaan kedua: Jika ia berkata, “Aku ditahan untuk memperbaiki kesaksian yang diberikan terhadapku,” maka para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehan menahannya karena hal itu, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ يَجُوزُ حَبْسُهُ عَلَى تَعْدِيلِ الْبَيِّنَةِ، لِأَنَّ عَلَى الْمُدَّعِي إِقَامَةَ الْبَيِّنَةِ، وَعَلَى الْقَاضِي الْكَشْفَ عَنِ الْعَدَالَةِ فَلَمْ يَمْنَعْ مَا عَلَى الْقَاضِي مِنْ حَبْسِهِ فِي حق المدعي.

Salah satunya adalah pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu boleh menahan (seseorang) untuk meneliti keadilan saksi, karena pihak penggugat wajib menghadirkan bukti, dan hakim wajib meneliti keadilan (saksi), sehingga tidak ada larangan bagi hakim untuk menahan (seseorang) demi hak penggugat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ أَنْ يُحْبَسَ عَلَى تَعْدِيلِ الْبَيِّنَةِ لِأَنَّ الْحَقَّ لَا يَلْزَمُ إِلَّا بَعْدَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمَا.

Pendapat kedua: Tidak boleh seseorang ditahan demi menilai keadilan saksi, karena hak tidak wajib dipenuhi kecuali setelah terbukti keadilan keduanya.

فَإِنْ قِيلَ: بِجَوَازِ حَبْسِهِ لَمْ يَجُزْ إِطْلَاقُهُ وَلَا إِعَادَتُهُ إِلَى حَبْسِهِ مِنْ غَيْرِ اسْتِدْعَاءٍ لِخُصُومِهِ لِبَقَائِهِ عَلَى حَالِهِ.

Jika dikatakan: Dengan dibolehkannya penahanan terhadapnya, maka tidak boleh membebaskannya dan tidak boleh mengembalikannya ke penahanan tanpa permintaan dari pihak lawannya, karena ia tetap dalam keadaannya semula.

وَإِنْ قِيلَ: بِأَنَّ حَبْسَهُ لَا يَجُوزُ نَظَرَ فَإِنْ كَانَ الْقَاضِي قَالَ قَدْ حَكَمْتُ بِحَبْسِهِ لَزِمَ حَبْسُهُ بِاجْتِهَادِهِ وَلَمْ يَجُزْ إِطْلَاقُهُ وَإِنْ لَمْ يَقُلْ قَدْ حَكَمْتُ بِحَبْسِهِ وَجَبَ إِطْلَاقُهُ لَكِنْ لَا يُعَجِّلُ بِإِطْلَاقِهِ حَتَّى يُنَادِيَ فِي النَّاسِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَنَّ الْقَاضِيَ قَدْ حَكَمَ بِإِطْلَاقِ فُلَانٍ مِنْ حَبْسِهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ خَصْمٌ قَدْ حُبِسَ لَهُ فَلْيَحْضُرْ ثُمَّ يُطْلِقُهُ بَعْدَ الثَّلَاثَةِ.

Dan jika dikatakan: bahwa penahanannya tidak boleh, maka perlu dilihat; jika qadhi berkata, “Aku telah memutuskan untuk menahannya,” maka wajib menahannya berdasarkan ijtihadnya dan tidak boleh membebaskannya. Namun jika ia tidak berkata, “Aku telah memutuskan untuk menahannya,” maka wajib membebaskannya. Akan tetapi, pembebasannya tidak boleh disegerakan hingga diumumkan kepada masyarakat selama tiga hari bahwa qadhi telah memutuskan untuk membebaskan si Fulan dari tahanannya. Jika ada pihak yang menjadi lawannya dan ia ditahan karena orang tersebut, maka hendaklah ia hadir, kemudian setelah tiga hari barulah ia dibebaskan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ حَبَسَنِي تَعَدِّيًا بِغَيْرِ حَقٍّ وَلِغَيْرِ خَصْمٍ فَقَدِ ادَّعَى مَا يُخَالِفُ الظَّاهِرَ مِنْ أَحْوَالِ الْقُضَاةِ وَحَبْسُهُ حُكْمٌ فَلَا يُنْقَضُ إِلَّا بِيَقِينِ الْفَسَادِ وَعَمَلٍ عَلَى بَيِّنَةٍ إِنْ كَانَتْ.

Keadaan ketiga: Jika seseorang berkata, “Aku ditahan secara zalim tanpa hak dan bukan karena ada perkara dengan siapa pun,” maka ia telah mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan keadaan para qadhi yang tampak, sedangkan penahanan itu adalah sebuah keputusan hukum, sehingga tidak dapat dibatalkan kecuali dengan keyakinan adanya kerusakan (cacat hukum) dan berdasarkan bukti yang jelas jika memang ada.

فَإِنْ شَهِدَتْ أَنَّهُ حُبِسَ بِحَقٍّ عَزَّرَ فِي جَرْحِهِ لِحَابِسِهِ.

Jika ia bersaksi bahwa ia ditahan secara sah, maka dijatuhkan hukuman ta‘zīr atas orang yang melukainya karena penahanannya.

وَإِنْ شَهِدَتْ أَنَّهُ حُبِسَ لِظُلْمٍ نَادَى ثَلَاثًا فِي حُضُورِ خَصْمٍ إِنْ كَانَ لَهُ ثُمَّ أَطْلَقَ بَعْدَ ثَلَاثَةٍ إِنْ لَمْ يَحْضُرْ.

Dan jika ia bersaksi bahwa ia dipenjara karena kezaliman, maka diumumkan tiga kali di hadapan lawan (jika ia memilikinya), kemudian setelah tiga kali (pengumuman) ia dibebaskan jika lawannya tidak hadir.

وَإِنْ لَمْ تَقُمْ بَيِّنَةٌ بِأَحَدِ الْأَمْرَيْنِ أَعَادَهُ إِلَى حَبْسِهِ وَيَكْشِفُ عَنْ حَالِهِ وَكَانَ مُقِيمًا فِي حَبْسِهِ حَتَّى يَيْأَسَ الْقَاضِي بَعْدَ الْكَشْفِ مِنْ ظُهُورِ حَقٍّ عَلَيْهِ، وَطَالَبَهُ بِكَفِيلٍ بِنَفْسِهِ ثُمَّ أَطْلَقَهُ.

Jika tidak ada bukti yang jelas mengenai salah satu dari dua perkara tersebut, maka ia dikembalikan ke tahanannya dan dilakukan penyelidikan terhadap keadaannya. Ia tetap berada dalam tahanan sampai hakim, setelah melakukan penyelidikan, benar-benar putus asa dari munculnya hak atas dirinya, lalu hakim memintanya untuk menghadirkan penjamin atas dirinya, kemudian membebaskannya.

فَإِنْ قِيلَ: فَالْكَفَالَةُ بِالنَّفْسِ لَا تَصِحُّ إِلَّا مِمَّنْ ثَبَتَ عَلَيْهِ حَقٌّ قَبْلَ الْحَبْسِ مِنْ جُمْلَةِ الْحُقُوقِ.

Jika dikatakan: Maka kafālah jiwa tidak sah kecuali dari orang yang telah tetap atasnya suatu hak sebelum penahanan dari sekumpulan hak-hak.

فَإِنْ عَدَمَ كَفِيلًا اسْتَظْهَرَ فِي بَقَاءِ حَبْسِهِ عَلَى طَلَبِ كَفِيلٍ ثُمَّ أَطْلَقَهُ عِنْدَ إِعْوَازِهِ وَهُوَ غَايَةُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الْقَاضِي مِنِ اسْتِظْهَارِهِ.

Jika tidak ada penjamin, maka hakim memperkuat pendapatnya dalam menahan orang tersebut untuk meminta penjamin, kemudian membebaskannya ketika benar-benar tidak ada penjamin, dan itulah batas maksimal yang dapat dilakukan hakim dalam memperkuat pendapatnya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَقُولَ: حَبَسَنِي لِخَصْمٍ بِمَا لَا يَسْتَحِقُّ لِأَنَّنِي أَرَقْتُ عَلَيْهِ خَمْرًا أَوْ قَتَلْتُ لَهُ خِنْزِيرًا.

Keadaan keempat: yaitu apabila ia berkata, “Aku ditahan karena seorang lawan atas sesuatu yang tidak berhak, karena aku telah menumpahkan khamr miliknya atau membunuh babinya.”

فَإِنْ كَانَ الْخَصْمُ مُسْلِمًا لَمْ يَكُنْ لَهُ حَقٌّ بِاسْتِهْلَاكِ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَكَانَ حَبْسُهُ بِهِ ظُلْمًا يَجِبُ إِطْلَاقُهُ مِنْهُ لِلِاتِّفَاقِ عَلَى سُقُوطِ غُرْمِهِ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ.

Jika lawan perkara itu seorang Muslim, maka ia tidak berhak membebankan hal itu kepadanya, dan menahannya karena hal tersebut adalah suatu kezaliman yang wajib dilepaskan darinya, karena telah ada kesepakatan bahwa kewajiban membayar ganti rugi itu gugur dalam hak seorang Muslim.

وَإِنْ كَانَ الْخَصْمُ ذِمِّيًّا فَإِنْ كَانَ الْقَاضِي شَافِعِيًّا لَا يَرَى وُجُوبَ غُرْمِهِ كَانَ حُكْمُهُ بَاطِلًا لِأَنَّهُ حَكَمَ بِمَا لَا يَرَاهُ فِي اجْتِهَادِهِ، وَصَارَ الْقَاضِي الثَّانِي هُوَ الْحَاكِمَ.

Dan jika pihak lawan adalah seorang dzimmi, maka jika qadhi tersebut bermazhab Syafi‘i yang tidak memandang wajibnya ganti rugi baginya, maka putusannya batal karena ia memutuskan dengan sesuatu yang tidak diyakininya dalam ijtihadnya, dan qadhi kedua menjadi hakim yang sah.

فَإِنْ كَانَ شَافِعِيًّا أَيْضًا لَا يَرَى وُجُوبَ الْغُرْمِ كَالْأَوَّلِ حَكَمَ بِإِطْلَاقِ الْمَحْبُوسِ.

Jika ia juga seorang Syafi‘i yang tidak memandang wajibnya ganti rugi seperti yang pertama, maka ia memutuskan untuk membebaskan orang yang ditahan.

وَإِنْ كَانَ حَنَفِيًّا وَحَكَمَ بِمَذْهَبِهِ فِي وُجُوبِ الْغُرْمِ حَكَمَ بِحَبْسِهِ إِنِ امْتَنَعَ.

Dan jika ia seorang Hanafi dan memutuskan dengan mazhabnya tentang wajibnya membayar ganti rugi, maka ia memutuskan untuk memenjarakannya jika ia menolak.

وَإِنْ كَانَ الْقَاضِي الْأَوَّلُ حَنَفِيًّا يَرَى وُجُوبَ الْغُرْمِ وَالْحَبْسِ، فَإِنْ كَانَ رَأْيُ الْقَاضِي الثَّانِي مِثْلَ رَأْيِهِ كَانَ الْمَحْبُوسُ عَلَى حَبْسِهِ.

Dan jika hakim pertama adalah seorang Hanafiy yang berpendapat wajibnya ganti rugi dan penahanan, maka jika pendapat hakim kedua sama dengan pendapatnya, orang yang ditahan tetap berada dalam tahanannya.

وَإِنْ كَانَ مُخَالِفًا لَهُ فِي رَأْيِهِ يَرَى مَذْهَبَ الشَّافِعِيِّ فِي سُقُوطِ غُرْمِهِ لَمْ يُنْقَضْ حُكْمُ الْأَوَّلِ لِنُفُوذِهِ فِي اجْتِهَادٍ مُسَوِّغٍ.

Dan jika hakim yang kedua berbeda pendapat dengannya, misalnya ia berpendapat menurut mazhab Syafi‘i bahwa gugurnya kewajiban membayar ganti rugi, maka putusan hakim yang pertama tidak dibatalkan karena putusan tersebut telah sah berdasarkan ijtihad yang dibenarkan.

وَفِي وُجُوبِ إِمْضَائِهِ عَلَى الثَّانِي قَوْلَانِ:

Dalam kewajiban untuk melanjutkannya oleh pihak kedua, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُمْضِيَهُ وَلَا يَحْكُمَ بِهِ وَيُلْزِمَ الْمَحْبُوسَ حُكْمَ إِقْرَارِهِ.

Salah satunya: ia wajib melanjutkannya dan tidak memutuskan dengannya, serta mewajibkan kepada orang yang ditahan hukum akibat pengakuannya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يُمْضِيهِ لِبُطْلَانِهِ عِنْدَهُ وَيُعِيدُهُ إِلَى حَبْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُلْزِمَهُ الْقَضَاءَ، لِأَنَّهُ لَا يَرَاهُ، وَلَمْ يُطْلِقْهُ، لِأَنَّهُ لَا يُنْقَضُ الْحُكْمُ بِهِ، وَأَقَرَّهُ فِيهِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

Pendapat kedua: Tidak menetapkannya karena menurutnya batal, dan mengembalikannya ke tahanannya tanpa mewajibkan pelaksanaan keputusan, karena ia tidak mengakuinya, dan tidak membebaskannya, karena keputusan tersebut tidak dapat dibatalkan dengannya, serta membiarkannya dalam keadaan itu hingga keduanya berdamai.

وَالْحَالُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يَقُولَ حَبَسَنِي لِخَصْمٍ بِحَقٍّ فَيَسْأَلُ عَنْ خَصْمِهِ وَعَنِ الْحَقِّ الَّذِي حُبِسَ بِهِ فَإِذَا أُحْضِرَ وَطَالَبَ لَمْ يَخْلُ الْحَقُّ مِنْ أَنْ يَكُونَ فِي مَالٍ أَوْ عَلَى بَدَنٍ.

Keadaan kelima: Seseorang berkata, “Aku ditahan oleh seorang lawan dengan alasan yang benar.” Maka ditanyakan tentang lawannya dan tentang hak yang menyebabkan ia ditahan. Jika lawan tersebut dihadirkan dan menuntut, maka hak itu tidak lepas dari dua kemungkinan: berupa harta atau berkaitan dengan badan.

فَإِنْ كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْأَبْدَانِ كَالْقِصَاصِ وَحَدِّ الْقَذْفِ فَالْحَبْسُ بِهِ غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ لِأَنَّ تَعْجِيلَ اسْتِيفَائِهِ مِنْهُ مُمْكِنٌ فَيُسْتَوْفي وَيُخَلَّى بَعْدَ النِّدَاءِ عَلَيْهِ.

Jika hak tersebut termasuk hak-hak badan seperti qishāsh dan had qazaf, maka penahanan karena hal itu tidak berhak dilakukan, karena pelaksanaan hak tersebut dapat segera dilakukan darinya, sehingga hak itu dipenuhi dan ia dibebaskan setelah diumumkan kepadanya.

وَإِنْ كَانَ مِنْ حُقُوقِ الْأَمْوَالِ فَضَرْبَانِ:

Dan jika termasuk hak-hak yang berkaitan dengan harta, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ عَيْنًا.

Salah satunya adalah berupa sesuatu yang berwujud.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي الذِّمَّةِ.

Kedua: harus berada dalam tanggungan (dzimmah).

فَإِنْ كَانَ الْحَقُّ عَيْنًا: لَمْ تَخْلُ أَنْ تَكُونَ مُسْتَحَقَّةً بِعَقْدٍ أَوْ عَنْ غَصْبٍ فَإِنِ اسْتَحَقَّ بِعَقْدٍ كَالْمَبِيعِ إِذَا لَمْ يُقْبَضْ حَكَمَ فِيهِ بِمَا يُوجِبُهُ حُكْمُ الْعَقْدِ مِنْ بَقَاءِ الثَّمَنِ أَوْ قَبْضِهِ.

Jika hak itu berupa benda, maka tidak lepas dari kemungkinan bahwa benda tersebut menjadi hak karena adanya akad atau karena perampasan. Jika benda itu menjadi hak karena akad, seperti barang yang dijual namun belum diterima, maka diputuskan sesuai dengan ketentuan hukum akad, yaitu tetapnya harga atau penerimaan barang tersebut.

وَإِنِ اسْتُحِقَّ بِغَيْرِ عَقْدٍ كَالْمَغْصُوبِ، فَإِنْ ثَبَتَ غَصْبُهُ بِبَيِّنَةٍ حَكَمَ الْقَاضِي بِتَسْلِيمِهِ وَإِنْ ثَبَتَ بِإِقْرَارِهِ رَفَعَ يَدَهُ عَنْهُ، وَلَمْ يَمْنَعِ الْمُدَّعِيَ مِنْهُ وَلَمْ يَحْكُمْ لَهُ بِتَسْلِيمِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِهِ.

Dan jika harta itu menjadi milik orang lain tanpa melalui akad, seperti barang yang digasak, maka jika terbukti adanya perampasan dengan bukti yang sah, hakim memutuskan agar barang tersebut diserahkan. Namun jika terbukti dengan pengakuan pelaku, ia harus melepaskan tangannya dari barang itu, dan hakim tidak melarang penggugat untuk mengambilnya, serta tidak memutuskan agar barang itu diserahkan kepadanya, karena mungkin saja barang itu milik orang lain.

وَإِنْ كَانَ مَالًا فِي الذِّمَّةِ: أَمَرَهُ بِقَضَائِهِ إِنْ كَانَ مَلِيئًا.

Dan jika berupa harta yang menjadi tanggungan, maka ia memerintahkannya untuk melunasinya jika ia mampu.

وَإِنِ ادَّعَى عُسْرَه نَظَرَ فِي سَبَبِ الِاسْتِحْقَاقِ، فَإِنْ كَانَ عَنْ مُقَابَلَةِ مَالٍ صَارَ إِلَيْهِ كَثَمَنِ مَبِيعٍ قَبَضَهُ وَمَالٍ اقْتَرَضَهُ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ دَعْوَى الْإِعْسَارِ إِلَّا بَعْدَ الْكَشْفِ.

Jika seseorang mengaku tidak mampu (membayar), maka dilihat dahulu sebab timbulnya hak tersebut. Jika hak itu berasal dari pertukaran harta yang telah berpindah kepadanya, seperti harga barang yang telah ia terima atau harta yang ia pinjam, maka pengakuan tidak mampunya tidak diterima kecuali setelah dilakukan pemeriksaan.

وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ مَالٍ صَارَ إِلَيْهِ، لِأَنَّهُ قِيمَةٌ لِمُتْلَفٍ أَوْ مَهْرٍ وَصَدَاقٍ قَبِلَ قَوْلَهُ فِي الْعُسْرَةِ مَعَ يَمِينِهِ وَوَجَبَ إِطْلَاقُهُ بِهَا بَعْدَ النِّدَاءِ عَلَيْهِ لِجَوَازِ حُضُورِ خَصْمٍ آخَرَ إِنْ كَانَ لَهُ.

Dan jika berasal dari selain harta yang berpindah kepadanya, karena itu merupakan nilai dari sesuatu yang rusak atau mahar dan shadaq yang diterima ucapannya dalam keadaan kesulitan disertai sumpahnya, maka wajib membebaskannya dengan hal itu setelah diumumkan kepadanya, karena dimungkinkan hadirnya pihak lain sebagai lawan jika memang ada.

فَإِنْ أَقَامَ صَاحِبُ الدَّيْنِ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّ لِلْمَحْبُوسِ مَالًا نَظَرَ فَإِنْ لَمْ تُعَيِّنِ الْبَيِّنَةُ الْمَالَ لَمْ تُسْمَعِ الشَّهَادَةُ لِلْجَهْلِ بِهَا.

Jika pemilik utang mendatangkan bukti bahwa orang yang ditahan memiliki harta, maka hal itu diteliti; jika bukti tersebut tidak menjelaskan harta yang dimaksud, maka kesaksian itu tidak diterima karena tidak diketahui (jenis) hartanya.

وَإِنْ عَيَّنَتِ الْمَالَ وَشَهِدَتْ بِأَنَّ لَهُ هَذِهِ الدَّارَ سُئِلَ الْمَحْبُوسُ عَنْهَا، فَإِنِ اعْتَرَفَ بِهَا لِنَفْسِهِ حَكَمَ عَلَيْهِ بِقَضَاءِ الدَّيْنِ فَإِنِ امْتَنَعَ مِنْ قَضَائِهِ بَاعَهَا عَلَيْهِ الْقَاضِي وَقَضَى دَيْنَهُ.

Dan jika ia telah menentukan harta tersebut dan bersaksi bahwa rumah itu miliknya, maka orang yang ditahan atas rumah itu ditanya. Jika ia mengaku bahwa rumah itu miliknya, maka diputuskan atasnya untuk membayar utang. Jika ia menolak untuk membayarnya, hakim menjual rumah itu atas namanya dan membayarkan utangnya.

وَإِنْ أَنْكَرَهَا فَلَهُ حَالَتَانِ:

Dan jika ia mengingkarinya, maka ada dua keadaan baginya:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ لَا يُقِرَّ بها لغيره فلا يؤثر إنكاره وتابع عَلَيْهِ فِي قَضَاءِ دَيْنِهِ.

Yang pertama: ia tidak mengakui (hak) itu untuk orang lain, maka pengingkarannya tidak berpengaruh dan ia tetap wajib melunasi utangnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُقِرَّ بِهَا لِغَيْرِهِ فَيَقُولُ هِيَ لِزَيْدٍ، فَيُسْأَلُ زَيْدٌ عَنْهَا فَإِنْ أَنْكَرَهَا وَأَكْذَبَهُ فِي إِقْرَارِهِ بِهَا بِيعَتْ عَلَيْهِ فِي قَضَاءِ دَيْنِهِ وَوَكَّلَ الْقَاضِي عَنْهُ وَكَيْلًا يَبِيعُهَا عَلَيْهِ وَلَا يَتَوَلَّى الْقَاضِي بَيْعَهَا مَعَ إِنْكَارِهِ.

Keadaan kedua: yaitu ketika ia mengakui harta tersebut untuk orang lain, misalnya ia berkata, “Ini milik Zaid.” Maka Zaid ditanya tentang hal itu; jika Zaid mengingkarinya dan mendustakan pengakuannya atas harta tersebut, maka harta itu dijual atas nama Zaid untuk melunasi utangnya, dan hakim menunjuk seorang wakil untuk menjualnya atas nama Zaid, dan hakim tidak langsung menjualnya sendiri jika Zaid mengingkarinya.

وَإِنْ صَدَّقَهُ زيدٌ عَلَى إِقْرَارِهِ بِهَا لَهُ وَادَّعَى مِلْكًا لِنَفْسِهِ قِيلَ لَهُ: أَلَكَ بَيِّنَةٌ بِأَنَّ الدَّارَ لَكَ ملكا؟ فَإِنْ أَقَامَهَا حُكِمَ لَهُ بِالدَّارِ دُونَ الْمَحْبُوسِ؛ لِأَنَّ مَعَهُ بِإِقْرَارِ الْمَحْبُوسِ بَيِّنَةً وَيَدًا فَكَانَ أَوْلَى مِنْ بَيِّنَةِ الْمَحْبُوسِ مَعَ زَوَالِ يَدِهِ بِالْإِنْكَارِ. وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ فَفِي الْحُكْمِ بِهَا لِزَيْدٍ وَجْهَانِ:

Jika Zaid membenarkan pengakuan orang yang ditahan atas rumah itu untuknya, lalu ia mengaku memiliki rumah itu untuk dirinya sendiri, maka dikatakan kepadanya: “Apakah kamu memiliki bukti bahwa rumah itu milikmu?” Jika ia dapat menghadirkan bukti, maka diputuskan rumah itu menjadi miliknya, bukan milik orang yang ditahan; karena ia memiliki bukti dan pengakuan dari orang yang ditahan, serta menguasai rumah itu, sehingga ia lebih berhak dibandingkan bukti orang yang ditahan yang telah kehilangan penguasaannya karena pengingkaran. Namun, jika ia tidak memiliki bukti, maka dalam memutuskan rumah itu untuk Zaid terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْكُمُ بِهَا لِزَيْدٍ لِأَنَّ الْمَحْبُوسَ قَدْ أَبْطَلَ بَيِّنَتَهُ بِإِقْرَارِهِ فَبَطَلَتْ شَهَادَتُهَا لَهُ وَصَارَ مُقِرًّا بِهَا لِزَيْدٍ فَلَزِمَ إِقْرَارُهُ.

Salah satunya: diputuskan untuk Zaid karena orang yang dipenjara telah membatalkan buktinya dengan pengakuannya, sehingga kesaksian untuknya menjadi batal dan ia menjadi orang yang mengakui hak itu untuk Zaid, maka pengakuannya menjadi wajib diterima.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَحْكُمَ بِهَا لِزَيْدٍ وَتَكُونَ الدَّارُ فِي حُكْمِ مِلْكِ الْمَحْبُوسِ لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ شَهِدَتْ لَهُ بِالْمِلْكِ وَلِصَاحِبِ الدَّيْنِ بِالْقَضَاءِ، فَإِذَا كَذَّبَهَا رُدَّتْ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَلَمْ تُرَدَّ فِي حَقِّ صَاحِبِ الدَّيْنِ.

Pendapat kedua: Tidak menetapkan keputusan untuk Zaid, dan rumah tersebut tetap dianggap sebagai milik orang yang ditahan, karena bukti (bayyinah) telah bersaksi atas kepemilikan untuknya dan untuk pemilik utang atas pelunasan, maka jika ia (orang yang ditahan) mendustakannya, bukti itu ditolak dalam hak dirinya sendiri dan tidak ditolak dalam hak pemilik utang.

(فصل: [النظر في أمور الأوصياء] )

Bab: [Meninjau Urusan Para Wasi]

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْأَمَانَةُ الثَّالِثَةُ: النَّظَرُ فِي أُمُورِ الْأَوْصِيَاءِ لِمَا يَتَعَلَّقُ عَلَيْهِمْ مِنْ حُقُوقِ مَنْ تَوَلَّى عَلَيْهِ الْقَاضِي مِنَ الْأَطْفَالِ وَالْمَجَانِينَ وَفِي حُقُوقِ مَنْ لَا يَتَعَيَّنُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ فَيَنْظُرُ فِي حَقِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَيَبْدَأُ بِمَنْ يَرَى مِنْ غَيْرِ قُرْعَةٍ بِخِلَافِ الْمَحْبُوسِينَ، لِأَنَّ هَذَا مِنْهُ نَظَرُ اجْتِهَادٍ، وَلِأَنَّ النَّظَرَ فِيهِ عَلَيْهِمْ لا لهم.

Amanah yang ketiga: memperhatikan urusan para wali (orang yang diberi wasiat) terkait hak-hak orang yang berada di bawah pengawasan qadhi, seperti anak-anak dan orang gila, serta hak-hak orang yang tidak tertentu dari kalangan fakir miskin. Maka qadhi memperhatikan hak masing-masing dari mereka dan memulai dari siapa saja yang ia pandang perlu tanpa undian, berbeda dengan para tahanan, karena dalam hal ini merupakan ijtihad, dan karena perhatian qadhi dalam hal ini adalah atas mereka, bukan untuk mereka.

وللوصي ثلاثة أحوال:

Wasi memiliki tiga keadaan:

أحدهما: أَنْ يَكُونَ وَصِيًّا فِي الْوِلَايَةِ عَلَى الْأَطْفَالِ فَتَلْزَمُهُ فِي حَقِّهِمْ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:

Pertama: Jika seseorang menjadi washi (wali) dalam mengurus anak-anak, maka ada tiga hal yang wajib ia penuhi terhadap mereka:

الْأَوَّلُ: حِفْظُ أُصُولِ أَمْوَالِهِمْ.

Pertama: menjaga pokok-pokok harta mereka.

وَالثَّانِي: تَمْيِيزُ فُرُوعِهَا.

Kedua: membedakan cabang-cabangnya.

وَالثَّالِثُ: النَّفَقَةُ عليهم بالمعروف.

Ketiga: memberikan nafkah kepada mereka secara patut.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ وَصِيًّا فِي تَفْرِيقِ الثُّلُثِ وَقَضَاءِ الدَّيْنِ فَلَا يَتَعَدَّاهُ إِلَى وِلَايَةِ الْأَطْفَالِ، وَنَظَرَ فِي الْوَصِيَّةِ: فَإِنْ كَانَتْ لِمُعَيَّنِينَ سَقَطَ اجْتِهَادُهُ فِيهَا وَصَرَفَ الدَّيْنَ وَالثُّلُثَ فِي الْمُسَمِّينَ وَإِنْ كَانَتْ فِي مَوْصُوفِينَ غَيْرِ مُعَيَّنِينَ اجْتَهَدَ رَأْيَهُ فِي دَفْعِهَا إِلَى الْمَوْصُوفِينَ وَصَارُوا بَعْدَ الدَّفْعِ فِيهَا كَالْمُعَيَّنِينَ فَإِنْ عَدَلَ بِالثُّلُثِ عَنْ أَهْلِ تِلْكَ الصِّفَةِ إِلَى غَيْرِهِمْ لَمْ يجزه وإن كانوا أمس حاجة وضمن الثلاث لِأَهْلِ تِلْكَ الصِّفَةِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ اسْتِرْجَاعُ مَا دَفَعَهُ إِلَّا أَنْ يُصَدِّقُوهُ عَلَى الْوَصِيَّةِ وَالصِّفَةِ.

Keadaan kedua: yaitu apabila seseorang menjadi wasi dalam membagikan sepertiga harta dan melunasi utang, maka kewenangannya tidak melampaui itu kepada perwalian anak-anak. Ia memperhatikan wasiat: jika wasiat itu ditujukan kepada orang-orang tertentu, maka ijtihadnya tidak berlaku dalam hal itu dan ia menyalurkan utang serta sepertiga harta kepada mereka yang telah disebutkan. Namun jika wasiat itu ditujukan kepada orang-orang yang memiliki sifat tertentu namun tidak disebutkan secara spesifik, maka ia berijtihad dalam menyalurkannya kepada orang-orang yang memiliki sifat tersebut, dan setelah penyaluran itu mereka menjadi seperti orang-orang yang telah ditentukan. Jika ia menyalurkan sepertiga harta kepada selain orang-orang yang memiliki sifat tersebut, maka itu tidak diperbolehkan meskipun mereka lebih membutuhkan, dan ia bertanggung jawab atas sepertiga harta itu untuk orang-orang yang memiliki sifat tersebut, serta ia tidak berhak menarik kembali apa yang telah ia berikan kecuali jika mereka membenarkannya atas wasiat dan sifat tersebut.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ وَصِيًّا، فِي الْأَمْرَيْنِ مِنْ وِلَايَةِ الْأَطْفَالِ وَتَفْرِيقِ الثُّلُثِ فَهِيَ الْوَصِيَّةُ الْعَامَّةُ فَيَلْزَمُهُ أَنْ يَعْمَلَ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مَا كَانَ يَعْمَلُهُ لَوِ انْفَرَدَ بِهِ.

Keadaan ketiga: yaitu apabila seseorang menjadi washi (wali amanat) dalam dua hal, yaitu dalam hal perwalian anak-anak dan pembagian sepertiga harta, maka ini disebut wasiat umum. Maka wajib baginya untuk melaksanakan pada masing-masing urusan tersebut apa yang seharusnya ia lakukan seandainya ia hanya mengurus salah satunya saja.

فَإِذَا عَرَفَ الْقَاضِي مَا إِلَى الْوَصِيِّ اخْتَبَرَ حَالَهُ فِي أَمَانَتِهِ وَقُوَّتِهِ: فَسَيَجِدُهُ لَا يخلو فيها من أربعة أَحْوَالٍ:

Maka apabila qadhi telah mengetahui apa yang berkaitan dengan washi, ia akan menguji keadaannya dalam hal amanah dan kekuatannya: maka ia akan mendapati bahwa dalam hal ini tidak lepas dari empat keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ أَمِينًا قَوِيًّا وَهُوَ أَكْمَلُ الْأَوْصِيَاءِ حَالًا فَيُقِرُّهُ الْقَاضِي عَلَى وَصِيَّتِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَبْدِلَ بِهِ.

Pertama: Seorang yang amanah dan kuat, dan ia adalah wali wasiat yang paling sempurna keadaannya, maka hakim menetapkannya atas wasiatnya dan tidak boleh menggantinya dengan orang lain.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُ يَكُونُ أَمِينًا ضَعِيفًا لَا يَقْدِرُ عَلَى التَّفَرُّدِ بِتَنْفِيذِ الْوَصِيَّةِ فَعَلَى الْقَاضِي أَنْ يَضُمَّ إِلَيْهِ مِنْ أُمَنَائِهِ مَنْ يَقْوَى بِهِ فِي تَنْفِيذِ الْوَصِيَّةِ وَلَا يَرْفَعُ يَدَهُ لِضَعْفِهِ.

Keadaan kedua: yaitu ketika seseorang itu adalah orang yang amanah namun lemah, tidak mampu melaksanakan wasiat sendirian, maka hakim harus menambahkan kepadanya orang-orang kepercayaannya yang dapat membantunya dalam melaksanakan wasiat tersebut, dan tidak mencabut tugasnya hanya karena kelemahannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ خَائِنًا فِي الْأَمَانَةِ فَاسِقًا فِي الدِّيَانَةِ فَلَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يُقِرَّهُ عَلَيْهَا وَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهَا إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْأُمَنَاءِ.

Keadaan ketiga: apabila seseorang berkhianat dalam amanah dan fasik dalam agama, maka tidak boleh bagi qādī untuk menetapkannya atas amanah tersebut, dan wajib baginya untuk mengembalikan amanah itu kepada orang lain dari kalangan yang terpercaya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ ثِقَةً فِي الْأَمَانَةِ فَاسِقًا فِي الدِّيَانَةِ فَيَنْظُرُ فِي الْوَصِيَّةِ فَإِنْ كَانَتْ بِالْوِلَايَةِ عَلَى الْأَطْفَالِ أَوْ تَفْرِيقِ الثُّلُثِ فِي غَيْرِ مُعَيَّنِينَ انْتَزَعَهَا مِنْهُ الْقَاضِي وَرَدَّهَا إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْأُمَنَاءِ الْعُدُولِ وَإِنْ كَانَتِ الْوَصِيَّةُ فِي تَفْرِيقِ الثُّلُثِ لِمُعَيَّنِينَ أَوْ قَضَاءِ الدَّيْنِ لِمُسَمِّينَ جَازَ أَنْ يُقِرَّهَا فِي يَدِهِ لِلْفَرْقِ بَيْنَهُمَا: إِنَّ فِي تِلْكَ وِلَايَةً وَاجْتِهَادًا وَلَيْسَ الْفَاسِقُ مِنْ أَهْلِهَا وَهَذِهِ مَقْصُورَةٌ بِالتَّعْيِينِ عَلَى التَّنْفِيذِ دُونَ الِاجْتِهَادِ.

Keadaan keempat: Seseorang yang terpercaya dalam hal amanah namun fasik dalam agama. Maka, dalam hal wasiat, jika wasiat tersebut berkaitan dengan perwalian atas anak-anak atau pembagian sepertiga harta kepada pihak-pihak yang tidak ditentukan, hakim harus mencabut wasiat itu darinya dan menyerahkannya kepada orang lain dari kalangan para amanah yang adil. Namun, jika wasiat tersebut berkaitan dengan pembagian sepertiga harta kepada pihak-pihak yang telah ditentukan atau pelunasan utang kepada orang-orang yang telah disebutkan namanya, maka boleh wasiat itu tetap berada di tangannya. Perbedaan antara keduanya adalah: pada wasiat jenis pertama terdapat unsur perwalian dan ijtihad, sedangkan orang fasik tidak termasuk golongan yang berhak melakukannya. Adapun pada wasiat jenis kedua, tugasnya terbatas pada pelaksanaan sesuai penunjukan tanpa memerlukan ijtihad.

فَإِذَا أُبْطِلَتِ الْوَصِيَّةُ بِمَا ذَكَرْنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفِسْقِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُ فِي الْوَصِيَّةِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ تَصَرَّفَ فِيهَا أَوْ كَفَّ عَنْهَا.

Maka apabila wasiat dibatalkan karena adanya pengkhianatan dan kefasikan sebagaimana telah disebutkan, maka keadaannya dalam wasiat tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia telah melakukan tindakan terhadap wasiat tersebut, atau ia telah berhenti darinya.

فَإِنْ كَفَّ عَنْهَا وَلَمْ يَتَصَرَّفْ فِيهَا رَفعَ الْقَاضِي يَدَهُ عَنْهَا وَلَا ضَمَانَ عَلَيْهِ فِيهَا. وَإِنْ تَصَرَّفَ فِيهَا اعْتَبَرَ حَالَ فِسْقِهِ فَإِنْ كَانَ خَفِيًّا يَفْتَقِرُ إِلَى اجْتِهَادٍ نَفَّذَ تَصَرُّفَهُ وَلَمْ يُضْمَنْ إِلَّا بِالتَّعَدِّي مَا لَمْ يَحْكُمِ الْقَاضِي بِفِسْقِهِ، وَإِنْ كَانَ فِسْقُهُ ظَاهِرًا لَا يَفْتَقِرُ إِلَى اجْتِهَادٍ رُدَّ تَصَرُّفُهُ وَلَمْ يُنَفَّذْ.

Jika ia berhenti dari tindakan tersebut dan tidak melakukan apa pun terhadapnya, maka hakim mencabut tangannya darinya dan tidak ada tanggungan atasnya dalam hal itu. Namun jika ia melakukan tindakan terhadapnya, maka dilihat keadaan kefasikannya; jika kefasikannya tersembunyi dan memerlukan ijtihad, maka tindakannya tetap berlaku dan ia tidak dibebani tanggungan kecuali jika melampaui batas, selama hakim belum memutuskan kefasikannya. Tetapi jika kefasikannya nyata dan tidak memerlukan ijtihad, maka tindakannya ditolak dan tidak diberlakukan.

فَإِنْ بَاعَ فَسَخَ بَيْعَهُ وَإِنْ فَرَّقَ الثُّلُثَ فِي مُعَيَّنِينَ أَوْ قَضَى دَيْنًا لِمُسَمِّينَ لَمْ يَضْمَنْهُ وَأَمْضَى فِعْلَهُ لِوُصُولِهِ إِلَى مَنْ تَعَيَّنَ حَقُّهُ فِيهِ وَإِذَا كَانَ الثُّلُثُ لِمَنْ لَا يَتَعَيَّنُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ رَدَّهُ الْقَاضِي وَلَمْ يَضُمَّهُ وَأَغْرَمَهُ مَا فَرَّقَهُ وَرَدَّ تَفْرِيقَ مَا تَغَرَّمَهُ إِلَى أَمِينِهِ، وَلَمْ يَكُنْ لِلْوَصِيِّ أَنْ يَرْجِعَ عَلَى الْمَسَاكِينِ بِمَا فَرَّقَهُ وَإِنْ صَدَّقُوهُ عَلَى الْوَصِيَّةِ لِأَنَّهُ مُقِرٌّ بِوُصُولِهِ إِلَيْهِمْ بِحَقٍّ.

Jika ia menjual, maka jual belinya dibatalkan. Jika ia membagikan sepertiga (harta) kepada orang-orang tertentu atau melunasi utang kepada orang-orang yang telah disebutkan namanya, maka ia tidak menanggungnya dan perbuatannya dianggap sah karena hak tersebut telah sampai kepada orang yang memang berhak menerimanya. Namun, jika sepertiga (harta) itu diperuntukkan bagi pihak yang tidak ditentukan dari kalangan fakir miskin, maka hakim mengembalikannya dan tidak menggabungkannya, serta mewajibkan ia mengganti apa yang telah dibagikannya. Hakim juga mengembalikan pembagian yang telah diganti itu kepada orang kepercayaannya. Wasi tidak boleh meminta kembali kepada para miskin atas apa yang telah dibagikannya, meskipun mereka membenarkan wasiat tersebut, karena ia telah mengakui bahwa hak itu telah sampai kepada mereka secara sah.

(فَصْلٌ: [النَّظَرُ فِي أحوال أمناء القضاة] )

Bagian: [Telaah terhadap keadaan para amīn (orang-orang yang dipercaya) oleh para qāḍī (hakim)]

:

Teks tidak ditemukan dalam permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf berbahasa Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْأَمَانَةُ الرَّابِعَةُ: النَّظَرُ فِي أَحْوَالِ أُمَنَاءِ الْقُضَاةِ فَيُعْتَبَرُ فِيهِمْ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:

Amanah yang keempat: memperhatikan keadaan para amīn (petugas kepercayaan) para qāḍī, di mana pada mereka dipertimbangkan tiga hal:

أَحَدُهَا: مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ قُوَّةٍ وَأَمَانَةٍ.

Salah satunya adalah kekuatan dan amanah yang mereka miliki.

وَالثَّانِي: مَا يَتَصَرَّفُونَ فِيهِ مِنَ الْوِلَايَةِ عَلَى أَطْفَالٍ وَالنَّظَرِ فِي أَمْوَالٍ.

Kedua: apa yang mereka lakukan dalam hal perwalian atas anak-anak dan pengelolaan harta.

وَالثَّالِثُ: مَا فَعَلُوهُ فِيهَا مِنْ قَبْلُ وَمَا يَسْتَأْنِفُونَ مِنَ الْعَمَلِ فِيهَا مِنْ بَعْدُ.

Ketiga: apa yang telah mereka lakukan di dalamnya sebelumnya dan apa yang akan mereka mulai kerjakan di dalamnya setelahnya.

وَيَبْدَأُ بِمَنْ يَرَاهُ مِنْهُمْ مَنْ غَيْرِ قُرْعَةٍ كَالْأَوْصِيَاءِ.

Dan ia memulai dengan orang yang dipandangnya di antara mereka tanpa undian, seperti para washi.

وَلَا يَخْلُو حَالُ الْأَمِينِ فِيهَا مِنْ أربعة أَحْوَالٍ:

Tidak lepas keadaan seorang amin dalam hal ini dari empat keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ عَدْلًا، وَقَدْ فَعَلَ مَا جَازَ فَيَكُونُ عَلَى وِلَايَتِهِ وَنَفَاذِ قَوْلِهِ.

Salah satunya: bahwa ia adalah seorang yang adil, dan ia telah melakukan apa yang diperbolehkan, maka ia tetap pada jabatannya dan ucapannya tetap berlaku.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ عَدْلًا وَقَدْ فَعَلَ مَا لَمْ يَجُزْ لِأَنَّهُ أَتَاهُ عَلَى جَهَالَةٍ فَيَكُونُ عَلَى وِلَايَتِهِ وَيَرُدُّ مَا فَعَلَهُ فَإِنْ أَمْكَنَ اسْتِدْرَاكُهُ لَمْ يُغَرِّمْهُ، وَإِنْ فَاتَ اسْتِدْرَاكُهُ غَرَّمَهُ.

Keadaan kedua: yaitu apabila ia seorang yang adil dan telah melakukan sesuatu yang tidak boleh karena ia melakukannya dalam keadaan tidak tahu, maka ia tetap pada jabatannya dan mengembalikan apa yang telah dilakukannya. Jika masih memungkinkan untuk diperbaiki, maka ia tidak dibebani ganti rugi; namun jika tidak memungkinkan untuk diperbaiki, maka ia dibebani ganti rugi.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ فَاسِقًا وَقَدْ فَعَلَ مَا جَازَ فَوِلَايَتُهُ بَاطِلَةٌ بِفِسْقِهِ وَلَا يَضْمَنُ مَا تَعَيَّنَ وَيَضْمَنُ مَا لَمْ يَتَعَيَّنْ كَالْوَصِيِّ.

Keadaan yang ketiga: apabila ia adalah seorang fasik dan telah melakukan sesuatu yang diperbolehkan, maka kekuasaannya batal karena kefasikannya. Ia tidak menanggung apa yang telah ditentukan, namun ia menanggung apa yang belum ditentukan, seperti halnya seorang washi.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ فَاسِقًا وَقَدْ فَعَلَ مَا لَمْ يَجُزْ فَوِلَايَتُهُ بَاطِلَةٌ وَعَمَلُهُ مَرْدُودٌ وَعَلَيْهِ غُرْمُ مَا تَصَرَّفَ فِيهِ.

Keadaan keempat: Jika ia adalah seorang fasik dan telah melakukan sesuatu yang tidak boleh, maka kekuasaannya batal, perbuatannya tertolak, dan ia wajib menanggung kerugian atas apa yang telah ia lakukan.

فَإِنْ وَجَدَ مِنْ أَحَدِ الْأُمَنَاءِ ضَعِيفًا كَانَ فِيهِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَضُمَّ إِلَيْهِ قَوِيًّا مِنْ أُمَنَائِهِ وَإِمَّا أَنْ يَنْتَزِعَهَا مِنْهُ إِلَى قَوِيٍّ بِخِلَافِ الْوَصِيِّ.

Jika ia mendapati salah satu dari para amīn (orang yang diberi amanah) lemah, maka ia berada di antara dua pilihan: yaitu, boleh saja ia menambahkan kepadanya seorang yang kuat dari para amīn-nya, atau ia mencabut amanah itu darinya dan memberikannya kepada seorang yang kuat, berbeda dengan washi (wali wasiat).

وَإِذَا ادَّعَى الْأَمِينُ الْوَصِيَّ بِهِ أَنْفَقَ عَلَى الْيَتِيمِ مَالًا أَوْ عَمَّرَ لَهُ عَقَارًا وَكَانَ مَا ادَّعَاهُ مُحْتَمَلًا قَبْلَ قَوْلِهِ فِيهِ فَإِنِ اتَّهَمَهُ الْقَاضِي أَحْلَفَهُ عَلَيْهِ.

Apabila seorang amin (pengelola amanah) yang menjadi washi (pelaksana wasiat) mengaku telah membelanjakan harta untuk anak yatim atau telah membangun properti untuknya, dan apa yang dia akui itu masih mungkin (masuk akal), maka ucapannya diterima dalam hal itu. Namun, jika qadhi (hakim) mencurigainya, maka qadhi dapat meminta dia bersumpah atas pengakuannya tersebut.

فَإِنِ ادَّعَى فِي مَالِ الْيَتِيمِ أُجْرَةً جَعَلَهَا لَهُ الْحَاكِمُ قَبْلَهُ فَإِنْ أَقَامَ بَيِّنَةً أَعْطَاهُ إذا لم تزد عَلَى أُجْرَةِ مِثْلِهِ.

Jika seseorang mengklaim upah atas harta anak yatim yang sebelumnya telah ditetapkan oleh hakim untuknya, lalu ia menghadirkan bukti, maka ia diberi upah tersebut selama tidak melebihi upah yang lazim bagi orang sepertinya.

وَإِنْ عُدِمَ الْبَيِّنَةَ فَفِي اسْتِحْقَاقِهَا وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي صَاحِبِ الدَّابَّةِ إِذَا رَكِبَهَا ثُمَّ ادَّعَى إِعَارَتَهَا، وَادَّعَى الْمَالِكُ إِجَارَتَهَا. أَحَدُ الْوَجْهَيْنِ أَنَّ لِلْأَمِينِ أُجْرَةَ مِثْلِهِ. إِذَا قِيلَ إِنَّ لِصَاحِبِ الدَّابَّةِ أُجْرَتَهَا.

Jika tidak ada bukti, maka dalam hal berhak atau tidaknya ia (atas upah), terdapat dua pendapat, sebagaimana perbedaan dua pendapat dalam kasus pemilik hewan tunggangan ketika seseorang menungganginya lalu mengaku bahwa ia meminjamnya, sementara pemiliknya mengaku bahwa ia menyewakannya. Salah satu pendapat menyatakan bahwa bagi orang yang dipercaya (al-amīn) berhak mendapatkan upah sepadan, jika dikatakan bahwa pemilik hewan tunggangan berhak atas upahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا أُجْرَةَ لِلْأَمِينِ إِذَا قِيلَ لَيْسَ لِصَاحِبِ الدَّابَّةِ أُجْرَتُهَا.

Pendapat kedua: bahwa tidak ada upah bagi orang yang dipercaya (amīn) jika dikatakan bahwa pemilik hewan tunggangan tidak berhak atas upahnya.

وَعَلَى الْقَاضِي بَعْدَ تَصَفُّحِ أَحْوَالِ الْأُمَنَاءِ وَالْأَوْصِيَاءِ أَنْ يُثْبِتَ فِي دِيوَانِهِ حَالَ كُلِّ أَمِينٍ وَوَصِيٍّ فِيمَا بِيَدِهِ مِنَ الْأَمْوَالِ وَمَنْ يَلِي عَلَيْهِ مِنَ الْأَيْتَامِ لِيَكُونَ حُجَّةً لِلْجِهَتَيْنِ فَإِنْ وَجَدَ ذِكْرَ ذَلِكَ فِي دِيوَانِ الْقَاضِي الْأَوَّلِ عَارَضَ بِهِ وَعَمِلَ بِأَحْوَطِهِمَا.

Dan wajib bagi qadhi, setelah meneliti keadaan para amīn (pemegang amanah) dan para waṣī (wali/pengampu), untuk mencatat dalam diwan (pencatatan resmi) miliknya keadaan setiap amīn dan waṣī terkait harta yang ada di tangannya serta anak yatim yang berada di bawah pengawasannya, agar menjadi bukti bagi kedua belah pihak. Jika ia menemukan catatan tersebut dalam diwan qadhi sebelumnya, maka ia harus membandingkannya dan mengambil yang paling hati-hati di antara keduanya.

(فَصْلٌ: [النَّظَرُ فِي الوقوف العامة والخاصة] )

Bagian: [Kajian tentang wakaf umum dan khusus]

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْأَمَانَةُ الْخَامِسَةُ: النَّظَرُ فِي الْوُقُوفِ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ.

Amanah kelima: mengawasi wakaf umum dan khusus.

أَمَّا الْعَامَّةُ فَلِأَنَّ مُسْتَحِقِّيهَا لَا يَتَعَيَّنُونَ فَلَمْ يَقِفِ النَّظَرُ عَلَى مَطَالِبَ.

Adapun kaum umum, karena para penerimanya tidak ditentukan secara spesifik, maka tidak terbatas pada tuntutan-tuntutan tertentu.

وَأَمَّا الْخَاصَّةُ؛ فَلِأَنَّ مُفْضَاهَا إِلَى مَنْ لَا يَتَعَيَّنُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ لِيَنْظُرَ هَلْ أَفْضَتْ إِلَيْهِمْ وَهَلْ يَسْتَحِقُّ الْوِلَايَةَ عَلَى مَنْ تَعَيَّنَ مِنْهُمْ لِصِغَرٍ أَوْ جُنُونٍ أَوْ سَفَهٍ وَلِيَعْلَمَ سُبُلَهَا فَيَحْمِلَ عَلَى شُرُوطِ وَاقِفِهَا.

Adapun yang khusus; karena hasilnya akan sampai kepada orang-orang fakir dan miskin yang tidak tertentu, sehingga perlu dilihat apakah harta tersebut benar-benar sampai kepada mereka dan apakah seseorang berhak menjadi wali atas mereka yang telah ditentukan karena masih kecil, gila, atau bodoh, serta agar mengetahui jalan-jalannya sehingga dapat melaksanakan sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh wakif.

وَإِنْ تَغَيَّرَ حَالُ الْوَالِي عَلَيْهَا، فَعَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي الْأَوْلِيَاءِ وَالْأُمَنَاءِ وَالْأَسْجَالِ بِهِ عِنْدَ تَطَاوُلِ مُدَّتِهُ لِتَكُونَ الْحُجَّةُ بَاقِيَةً وَمُثْبَتَةً فِي دِيوَانِهِ عَلَى مَا مَضَى فِي الْأُمَنَاءِ وَالْأَوْصِيَاءِ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

Dan jika keadaan wali atasnya berubah, maka berlaku sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya tentang para wali, para amīn, dan catatan yang berkaitan dengannya ketika masa jabatannya berlangsung lama, agar hujjah tetap ada dan tercatat dalam diwan-nya, sebagaimana yang telah dijelaskan pada para amīn dan para washi. Dan hanya kepada Allah pertolongan itu.

( [كَرَاهَةُ مُبَاشَرَةِ الْقَاضِي البيع والشراء لنفسه] )

(Makruh bagi qadhi secara langsung melakukan jual beli untuk dirinya sendiri)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَأَكْرَهُ لَهُ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ خَوْفَ الْمُحَابَاةِ بِالزِّيَادَةِ وَيَتَوَلَّاهُ لَهُ غَيْرُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Aku tidak menyukai baginya melakukan jual beli karena khawatir adanya sikap memihak dengan menambah harga, dan hendaknya urusan itu dilakukan oleh orang lain untuknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَإِنَّمَا كَرِهَ لَهُ أَنْ يُبَاشِرَ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ فِي خَاصِّ نَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَرِهَهُ أَبُو حَنِيفَةَ لِرِوَايَةِ أَبِي الْأَسْوَدِ الْمَالِكِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ. أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَا عَدَلَ وَالٍ اتَّجَرَ فِي رَعِيَّتِهِ أَبَدًا “.

Al-Mawardi berkata: Sesungguhnya yang dimakruhkan baginya adalah melakukan jual beli secara langsung untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, meskipun Abu Hanifah tidak memakruhkannya, berdasarkan riwayat Abu al-Aswad al-Maliki dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang penguasa yang adil berdagang di tengah rakyatnya selamanya.”

وَرُوِيَ عَنْ شُرَيْحٍ قَالَ شَرَطَ عَلَيَّ عُمَرُ حِينَ وَلَّانِي الْقَضَاءَ أَنْ لَا أَبِيعَ وَلَا أَبْتَاعَ وَلَا أَرْتَشِيَ وَلَا أَقْضِيَ وَأَنَا غَضْبَانُ، وَلَمَّا بُويِعَ أَبُو بَكْرٍ بِالْخِلَافَةِ خَرَجَ بَعْدَ ثَلَاثٍ بِرِزْمَةِ ثِيَابٍ إِلَى السُّوقِ فَقِيلَ لَهُ مَا هَذَا فَقَالَ أَنَا كَاسِبٌ أَهْلِي فَأَجْرَوْا لَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ كُلَّ يَوْمٍ دِرْهَمَيْنِ، وَلِأَنَّهُ إِذَا بَاعَ وَاشْتَرَى لَمْ يُؤْمَنْ أَنْ يُسَامِحَ وَيُحَابِيَ فَتَمِيلَ نَفْسُهُ عِنْدَ الْمُحَاكَمَةِ إِلَيْهِ إِلَى مُمَايَلَةِ مَنْ سَامَحَهُ وَحَابَاهُ، وَلِأَنَّ فِي مُبَاشَرَتِهِ بِذِلَّةٍ تَقِلُّ بِهَا هَيْبَتُهُ فَكَانَ تَصَاوُنُهُ عَنْهَا أَوْلَى.

Diriwayatkan dari Syuraih, ia berkata: Umar mensyaratkan kepadaku ketika mengangkatku sebagai qadhi agar aku tidak menjual, tidak membeli, tidak menerima suap, dan tidak memutuskan perkara dalam keadaan marah. Ketika Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah, setelah tiga hari ia keluar ke pasar dengan membawa seikat pakaian, lalu dikatakan kepadanya, “Apa ini?” Ia menjawab, “Aku mencari nafkah untuk keluargaku.” Maka mereka memberinya dua dirham setiap hari dari Baitul Mal. Hal ini karena jika seorang qadhi menjual dan membeli, dikhawatirkan ia akan bersikap lunak dan memihak, sehingga ketika ada perkara yang diajukan kepadanya, jiwanya condong untuk memihak orang yang pernah bermurah hati dan memuliakannya. Selain itu, jika ia langsung terjun dalam pekerjaan yang hina, maka wibawanya akan berkurang, sehingga menjaga diri dari hal tersebut lebih utama baginya.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَبِيعُ وَيَشْتَرِي فَعَنْهُ أَجْوِبَةٌ:

Jika dikatakan: Bukankah Rasulullah ﷺ dahulu juga melakukan jual beli? Maka ada beberapa jawaban atas hal itu:

أَحَدُهَا: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ نَزَّهَ رَسُولَهُ مِمَّا يَتَوَجَّهُ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ التُّهْمَةِ فَقَالَ {وما هو على الغيب بضنين} .

Salah satunya: bahwa Allah Ta‘ala telah menyucikan Rasul-Nya dari segala tuduhan yang dapat diarahkan kepada selain beliau, sebagaimana firman-Nya: “Dan dia (Muhammad) tidak bakhil terhadap wahyu yang gaib.”

وَالثَّانِي: أَنَّهُ مَا فَعَلَ ذَلِكَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ إِلَّا نَادِرًا قَصَدَ بِهِ بَيَانَ الْأَحْكَامِ فَإِنَّهُ ابْتَاعَ مِنْ أَعْرَابِيٍّ فَرَسًا وَقَالَ لَهُ اخْتَرْ. وَاسْتَامَ مِنْ جَابِرٍ بَعِيرًا لَهُ فَقَالَ هُوَ لك يا رسول الله فقال بل بعينه فَتَمَاكَسَا فِي ثَمَنِهِ حَتَّى اسْتَقَرَّ فَلَمَّا قَدِمَا الْمَدِينَةَ دَفَعَ إِلَيْهِ الثَّمَنَ وَأَعَادَ إِلَيْهِ الْبَعِيرَ وَقَالَ: أَتَظُنُّ أَنَّنِي كَسَبْتُكَ أَيْ غَبِنْتُكَ.

Kedua: Bahwa beliau tidak melakukan hal itu setelah kenabian kecuali sangat jarang, dan itupun dengan maksud untuk menjelaskan hukum-hukum. Sesungguhnya beliau pernah membeli seekor kuda dari seorang Arab Badui dan berkata kepadanya, “Pilihlah.” Dan beliau pernah menawar seekor unta milik Jabir, lalu Jabir berkata, “Unta itu untukmu, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Tidak, aku ingin membelinya dengan harga yang sebenarnya.” Lalu mereka berdua tawar-menawar tentang harganya hingga mencapai kesepakatan. Ketika mereka sampai di Madinah, beliau membayarkan harga unta itu kepadanya dan mengembalikan unta tersebut, seraya bersabda, “Apakah kamu mengira aku mengambil keuntungan darimu, yakni menipumu?”

فَدَلَّ بِهَذَا عَلَى أَحْكَامٍ. مِنْهَا جَوَازُ الِاسْتِطْلَاعِ فِي الْأَثْمَانِ وَإِنَّ الْمُغَابَنَةَ فِيهَا مُمْضَاةٌ لِأَنَّهُ اشْتَرَاهُ بِأَقَلَّ مِنْ ثَمَنِهِ.

Dengan ini dapat disimpulkan beberapa hukum. Di antaranya adalah bolehnya mencari tahu harga-harga, dan bahwa adanya penipuan dalam harga tetap sah, karena ia membelinya dengan harga yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.

وَمِنْهَا: أَنَّ مُخَالَفَةَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِيمَا لَا يَتَعَلَّقُ بِالشَّرْعِ لَيْسَتْ بِمَعْصِيَةٍ لِأَنَّ جَابِرًا مَا أَجَابَهُ إِلَى مَا طَلَبَهُ مِنْهُ حَتَّى زَادَهُ.

Di antaranya: bahwa menyelisihi Nabi ﷺ dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan syariat bukanlah suatu kemaksiatan, karena Jabir tidak memenuhi permintaan beliau hingga ia menambahkannya.

فَإِنِ احْتَاجَ الْقَاضِي إِلَى بَيْعٍ أَوْ شِرَاءٍ وَكَّلَ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ، وَلَا يَكُونُ مَعْرُوفًا بِهِ، فَإِنْ عُرِفَ اسْتَبْدَلَ بِهِ مَنْ لَا يُعْرَفُ حَتَّى لَا يُحَابَى فَتَعُودَ المحاباة إليه.

Jika seorang qadhi membutuhkan untuk melakukan jual beli, maka ia mewakilkan kepada seseorang yang bertindak atas namanya, dan orang tersebut tidak dikenal sebagai wakilnya. Jika orang itu diketahui sebagai wakilnya, maka ia diganti dengan orang yang tidak dikenal, agar tidak terjadi pilih kasih sehingga pilih kasih itu kembali kepada qadhi tersebut.

فإن لم يحد فِي مُبَاشَرَتِهِ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ بُدًّا وَاحْتَكَمَ إِلَيْهِ مَنْ بَايَعَهُ وَشَارَاهُ اخْتَرْنَا لَهُ أَنْ لَا يَنْظُرَ فِي حُكُومَتِهِ بِنَفْسِهِ وَيَسْتَخْلِفَ مَنْ يَنْظُرُ فِيهَا فَيَكُونَ بَعِيدًا مِنَ التُّهْمَةِ فَإِنَّهُ وَإِنْ حَكَمَ بِالْحَقِّ لَا يُؤْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَلْبُهُ إِلَيْهِ أَمْيَلَ مِنْ خَصْمِهِ إِنْ بَاشَرَهُ أَوْ إِلَى خَصْمِهِ أَمْيَلَ إِنْ عَاشَرَهُ.

Jika ia tidak dapat menghindari secara langsung terlibat dalam jual beli, dan orang yang bertransaksi dengannya mengadukan perkara kepadanya, maka kami memilihkan baginya untuk tidak memutuskan perkara itu sendiri, melainkan mengangkat orang lain untuk memutuskan perkara tersebut. Dengan demikian, ia akan terhindar dari tuduhan. Sebab, meskipun ia memutuskan dengan benar, tidak dapat dijamin bahwa hatinya tidak lebih condong kepada dirinya sendiri dibandingkan lawannya jika ia sendiri yang terlibat, atau lebih condong kepada lawannya jika ia bergaul dengannya.

فَإِنْ خَالَفَ مَا اخْتَرْنَا وَتَفَرَّدَ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فَأَحْكَامُهُ نَافِذَةٌ كحكمه في الغصب.

Jika ia menyelisihi apa yang telah kami pilih dan bertindak sendiri dalam jual beli, maka hukum-hukumnya tetap berlaku seperti halnya hukumnya dalam kasus ghasb (perampasan).

( [حضور القاضي الولائم] )

(Kehadiran qadhi dalam undangan walimah)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَلَا أُحِبُّ أَنْ يَتَخَلَّفَ عَنِ الْوَلِيمَةِ إِمَّا أَنْ يُجِيبَ كُلًّا وَإِمَّا أَنْ يَتْرُكَ كُلًّا ويعتذر ويسألهم التعليل “.

Asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Aku tidak suka seseorang meninggalkan undangan walimah; hendaknya ia memenuhi semua undangan atau meninggalkan semuanya lalu meminta maaf dan menanyakan alasan mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا حُضُورُ الْوَلَائِمِ إِذَا دُعِيَ إِلَيْهَا فَيَجُوزُ أَنْ يُجِيبَ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَوْ دُعِيت إِلَى كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ لَقَبِلْتُ ” رَوَاهُ أَبُو هُرَيْرَةَ.

Al-Mawardi berkata: Adapun menghadiri walimah jika diundang kepadanya, maka boleh untuk memenuhi undangan tersebut berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Seandainya aku diundang ke hidangan kaki (hewan), niscaya aku akan memenuhinya, dan seandainya aku diberi hadiah berupa lengan (hewan), niscaya aku akan menerimanya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَنْ تَعَلَّقَتْ عَلَيْهِ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَالْقُضَاةِ هَلْ يَكُونُونَ فِي حُضُورِ الْوَلَائِمِ مَنْدُوبِينَ إِلَيْهَا كَغَيْرِهِمْ؟ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai para pemimpin dan para qadhi yang urusan kaum Muslimin bergantung pada mereka, apakah mereka dianjurkan untuk menghadiri undangan walimah seperti selain mereka? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: أَنَّهُمْ مَنْدُوبُونَ إِلَى حُضُورِهَا مَعَهُمْ لِعُمُومِ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” أَجِيبُوا الدَّاعِيَ فَإِنَّهُ مَلْهُوفٌ “.

Salah satunya: bahwa mereka dianjurkan untuk menghadiri bersama mereka karena keumuman apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Penuhilah undangan orang yang mengundang, karena sesungguhnya ia sedang dalam kesusahan.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia telah durhaka kepada Abul Qasim.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُمْ لِاخْتِصَاصِهِمْ بِمَصَالِحِ الْمُسْلِمِينَ يَسْقُطُ عَنْهُمْ فَرْضُ الْإِجَابَةِ بِخِلَافِ غَيْرِهِمْ وَلِذَلِكَ قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَلَا أُحِبُّ أَنْ يَتَخَلَّفَ عَنِ الْوَلِيمَةِ وَأَخْرَجَهُ مَخْرَجَ الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْوُجُوبِ لِأَنَّ أَمْرَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَحْتَمِلُ الْعُمُومَ وَيَحْتَمِلُ الْخُصُوصَ فِيمَا عَدَا الْوُلَاةَ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ.

Pendapat kedua: Karena mereka memiliki kekhususan dalam mengurus kemaslahatan kaum Muslimin, maka gugurlah kewajiban untuk memenuhi undangan bagi mereka, berbeda dengan selain mereka. Oleh karena itu, asy-Syafi‘i berkata: “Aku tidak suka seseorang meninggalkan walimah,” dan beliau menganggapnya sebagai anjuran (istihbāb), bukan kewajiban (wujūb), karena perintah Nabi saw. bisa bermakna umum dan bisa juga bermakna khusus selain untuk para penguasa. Inilah pendapat Ibnu Abi Hurairah.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ مُرْتَزِقًا لَمْ يَحْضُرْ لِأَنَّهُ أَجِيرٌ لِلْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُفَوِّتَ عَلَيْهِمْ حَقَّهُمْ مِنْ زَمَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُتَطَوِّعًا غَيْرَ مُرْتَزِقٍ حَضَرَ وَكَانَ كَغَيْرِهِ مِنَ النَّاسِ.

Pendapat ketiga: Jika ia adalah tentara bayaran, maka ia tidak menghadiri (shalat Jumat), karena ia adalah pekerja bagi kaum Muslimin sehingga tidak boleh baginya menyia-nyiakan hak mereka atas waktunya. Namun jika ia adalah sukarelawan, bukan tentara bayaran, maka ia menghadiri (shalat Jumat) dan kedudukannya seperti orang-orang lainnya.

فَتَكُونُ الْإِجَابَةُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ فَرْضًا يَأْثَمُ بِتَرْكِهِ وَعَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي مُسْتَحَبَّةً يُكْرَهُ لَهُ تَرَكُهَا، وَلَا يَأْثَمُ بِهَا عَلَى الْوَجْهِ الثَّالِثِ مُفَصَّلَةً بِاعْتِبَارِ حَالِهِ فِي الِارْتِزَاقِ وَالتَّطَوُّعِ.

Maka menjawab (panggilan) pada bentuk pertama hukumnya fardhu, berdosa jika meninggalkannya; pada bentuk kedua hukumnya mustahab, makruh baginya untuk meninggalkannya; dan pada bentuk ketiga, tidak berdosa jika meninggalkannya, dengan perincian berdasarkan keadaannya dalam mencari nafkah dan melakukan amal sukarela.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا وَدُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَإِنِ مُنِعَ مِنْهَا لَمْ يَحْضُرْ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا.

Maka apabila hal ini telah dipahami dan seseorang diundang ke walimah, lalu ia dihalangi untuk menghadirinya, maka ia tidak menghadirinya dalam segala keadaan.

وَنَظَرَ فِي الْمُرْتَزَقِ فَإِنْ قَلَّ زَمَانُ حُضُورِهِ فِيهَا كَالْيَوْمِ أَوْ مَا قَارَبَهُ لَمْ يُلْزِمْهُ رَدَّ شَيْءٍ مِنْ رِزْقِهِ.

Ia memperhatikan tentang orang yang menerima gaji; jika masa kehadirannya di tempat tugas itu sedikit, seperti hanya sehari atau yang mendekatinya, maka ia tidak diwajibkan mengembalikan sebagian dari gajinya.

وَإِنْ طَالَ زَمَانُ حُضُورِهِ لَهَا وَأَقَلُّ زَمَانٍ طُولُهُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا رَدَّ مِنْ رِزْقِهِ بِقِسْطِ مَا أَخَلَّ بِنَظَرِهِ. وَإِنْ أُمِرَ بِالْحُضُورِ وَهُوَ مُخْتَصٌّ بِوَلِيمَةِ الْعُرْسِ دُونَ غَيْرِهَا نَظَرَ فَإِنْ كَانَ يَنْقَطِعُ بِهَا عَنِ النَّظَرِ فِي أَحْكَامِ الْمُسْلِمِينَ. أَوْ كَانَتْ تَكْثُرُ فَتُفْضِي إِلَى الْبِذْلَةِ امْتَنَعَ مِنَ الْحُضُورِ وَلَمْ يُجِبْ تَوَفُّرًا عَلَى الْأَحْكَامِ وَحِفْظًا لِلْهَيْبَةِ.

Jika waktu kehadirannya berlangsung lama, dan waktu paling singkatnya adalah tiga hari atau lebih, maka ia harus mengembalikan bagian dari nafkahnya sesuai dengan kadar kelalaiannya dalam menjalankan tugasnya. Jika ia diperintahkan untuk hadir dan itu khusus untuk walimah pernikahan saja, bukan yang lainnya, maka perlu dilihat: jika kehadirannya menyebabkan ia terputus dari menelaah hukum-hukum kaum Muslimin, atau jika undangan seperti itu sering terjadi sehingga menyebabkan kehinaan, maka ia boleh menolak untuk hadir dan tidak wajib memenuhi undangan tersebut, demi menjaga kelangsungan tugasnya dalam menetapkan hukum dan menjaga wibawa.

وَإِنْ قَلَّتْ: وَلَمْ تَقْطَعْهُ عَنِ النَّظَرِ وَلَا أَفْضَتْ بِهِ إِلَى الْبِذْلَةِ حَضَرَهَا اتِّبَاعًا لِلسُّنَّةِ وَاقْتِدَاءً بِالرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Dan jika sedikit: namun tidak memutusnya dari perhatian dan tidak menjadikannya pada keadaan yang hina, maka ia hadir (menghadiri jenazah) sebagai bentuk mengikuti sunnah dan meneladani Rasulullah ﷺ.

فَإِنْ قَطَعَهُ عَنِ الْحُضُورِ عُذْرٌ فَذَكَرَهُ وَسَأَلَهُمُ التَّحْلِيلَ.

Jika ia terhalang untuk hadir karena suatu uzur, lalu ia menyebutkan uzur tersebut dan meminta mereka untuk membebaskannya.

وَإِذَا أَجَابَ عَمَّ بِالْإِجَابَةِ كُلَّ دَاعٍ، وَإِذَا امْتَنَعَ عَمَّ بِالِامْتِنَاعِ كُلَّ دَاعٍ وَلَمْ يَخُصَّ بِالْإِجَابَةِ قَوْمًا دُونَ قَوْمٍ لِظُهُورِ الْمُمَايَلَةِ فِيهِ وَتَوَجُّهِ الظِّنَّةِ إِلَيْهِ، وَالْأَوْلَى بِهِ عِنْدِي فِي مِثْلِ هَذَا الزَّمَانِ أَنْ يَعُمَّ بِامْتِنَاعِهِ جَمِيعَ النَّاسِ، لِأَنَّ السَّرَائِرَ قَدْ خَبُثَتْ وَالظُّنُونَ قَدْ تَغَيَّرَتْ.

Dan apabila seseorang menjawab, maka hendaknya ia memberikan jawaban kepada setiap penanya secara umum; dan apabila ia menolak, hendaknya ia menolak secara umum kepada setiap penanya, dan tidak mengkhususkan jawaban hanya kepada suatu kaum tanpa kaum yang lain, karena hal itu menunjukkan adanya keberpihakan dan menimbulkan prasangka buruk terhadapnya. Menurut pendapatku, yang lebih utama baginya di zaman seperti ini adalah menolak secara umum kepada semua orang, karena hati manusia telah banyak yang rusak dan prasangka telah berubah.

( [عِيَادَتُهُ الْمَرْضَى وَحُضُورُ الْجَنَائِزِ وَمَقْدَمِ الغائب] )

Menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, dan menyambut orang yang datang dari bepergian.

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan paragraf Arab yang dimaksud.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَيَعُودُ الْمَرْضَى وَيَشْهَدُ الْجَنَائِزَ وَيَأْتِي مَقْدَمَ الْغَائِبِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Ia menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, dan menyambut kedatangan orang yang baru pulang dari bepergian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ. وَهَذِهِ قُرَبٌ يُنْدَبُ إِلَيْهَا جَمِيعُ النَّاسِ فَكَانَ الْوُلَاةُ فِيهَا كَغَيْرِهِمْ. لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهَا طَاعَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وطاعة رسوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَطَلَبُ ثَوَابِهِ وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” عَائِدُ الْمَرِيضِ فِي مَخْرَفٍ مِنْ مَخَارِفِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ “

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar. Amalan-amalan ini adalah bentuk pendekatan diri (kepada Allah) yang dianjurkan kepada semua orang, sehingga para penguasa pun sama seperti selain mereka. Karena tujuan dari amalan ini adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla dan menaati Rasul-Nya – shallallahu ‘alaihi wa sallam – serta mengharapkan pahala-Nya. Diriwayatkan dari Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda: “Orang yang menjenguk orang sakit berada di salah satu taman surga hingga ia kembali.”

وَعَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَعْدًا وَجَابِرًا فِي مَرَضِهِمَا، وَعَادَ غُلَامًا يَهُودِيًّا فِي جِوَارِهِ وَعَرَض عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ فَأَجَابَ.

Rasulullah ﷺ menjenguk Sa‘d dan Jabir ketika mereka sakit, dan beliau juga menjenguk seorang anak laki-laki Yahudi yang tinggal di dekatnya, lalu beliau menawarkan Islam kepadanya, maka anak itu pun menerimanya.

وَيَجُوزُ لِلْقَاضِي فِي الْعِيَادَةِ وَشُهُودِ الْجِنَازَةِ أَنْ يَعُمَّ وَيَخُصَّ بِخِلَافِ الْوَلَائِمِ الَّتِي يَعُمُّ بِهَا وَلَا يَخُصُّ.

Dan diperbolehkan bagi qādī dalam kunjungan orang sakit dan menghadiri jenazah untuk mengumumkan secara umum atau mengkhususkan undangan, berbeda dengan walīmah yang di dalamnya hanya boleh diumumkan secara umum dan tidak boleh dikhususkan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara keduanya terdapat pada dua aspek:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْوَلَائِمَ مِنْ حُقُوقِ الدَّاعِي فَاسْتَوَى جَمِيعُهُمْ فِي اسْتِحْقَاقِ الْإِجَابَةِ وَالْعِيَادَةِ وَحُضُورِ الْجَنَائِزِ مِنْ حُقُوقِهِ لِأَنَّهُ يَقْصِدُ بِهِ الثَّوَابَ فَجَازَ أَنْ يَخُصَّ.

Salah satunya adalah bahwa walimah merupakan salah satu hak orang yang mengundang, sehingga semua orang sama dalam berhak untuk memenuhi undangan, menjenguk orang sakit, dan menghadiri jenazah sebagai bagian dari haknya, karena ia bermaksud mengharapkan pahala dengannya, maka dibolehkan baginya untuk mengkhususkan.

وَالثَّانِي أَنَّ فِي الْوَلَائِمِ ظِنَّةً لَيْسَتْ فِي الْعِيَادَةِ وَالْجَنَائِزِ فَكَانَ الْعُمُومُ فِيهَا مُزِيلًا لِلظِّنَّةِ.

Kedua, bahwa dalam walimah terdapat dugaan yang tidak terdapat dalam menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah, sehingga keumuman dalam hal ini dapat menghilangkan dugaan tersebut.

وَكَذَلِكَ إِتْيَانُهُ مَقْدَمَ الْغَائِبِ يَجُوزُ أَنْ يَعُمَّ بِهِ وَيَخُصَّ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لِلْغَائِبِ خَصْمٌ فَلَا يَأْتِي مَقْدَمَهُ لِئَلَّا تَضْعُفَ بِهِ نَفْسُ خَصْمِهِ بِظُهُورِ الْمُمَايَلَةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Demikian pula, mendatangi kedatangan orang yang tidak hadir boleh dilakukan secara umum maupun khusus, kecuali jika orang yang tidak hadir itu memiliki lawan perkara, maka tidak boleh mendatangi kedatangannya agar jiwa lawan perkaranya tidak menjadi lemah karena tampaknya keberpihakan. Allah Mahatahu.

(هَيْبَةُ مَجَالِسِ الحكام وصيانتها)

(Wibawa majelis para hakim dan penjagaannya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَإِذَا بَانَ لَهُ مِنْ أَحَدِ الْخَصْمَيْنِ لَدَدٌ نَهَاهُ فَإِنْ عَادَ زَجَرَهُ وَلَا يَحْبِسُهُ وَلَا يَضْرِبُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي ذَلِكَ مَا يَسْتَوْجِبُهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika tampak bagi hakim bahwa salah satu dari kedua pihak yang bersengketa bersikap keras kepala, maka hakim menegurnya. Jika ia mengulangi perbuatannya, hakim memperingatkannya dengan lebih keras, namun tidak boleh menahannya atau memukulnya, kecuali jika dalam hal itu terdapat sesuatu yang memang mewajibkannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: مَجْلِسُ الْحُكَّامِ فِي الْأَحْكَامِ يَتَمَيَّزُ عَنْ مَجَالِسِ غَيْرِهِمْ وَعَنْ مَجَالِسِ أَنْفُسِهِمْ فِي غَيْرِ الْأَحْكَامِ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ:

Al-Mawardi berkata: Majelis para hakim dalam menetapkan hukum berbeda dari majelis-majelis selain mereka dan juga berbeda dari majelis mereka sendiri ketika membahas selain hukum, dalam lima hal:

أَحَدُهَا: فَضْلُ وَقَارِ الْقَاضِي فِيهَا عَنْ أَنْ يَبْدَأَ أَحَدًا بِكَلَامٍ أَوْ سَلَامٍ أَوْ إِكْرَامٍ وَلْيَكُنْ فِي دُخُولِ جَمِيعِ الْمُتَنَازِعِينَ إِلَيْهِ مِنْ شَرِيفٍ وَمَشْرُوفٍ مُطْرِقًا فَقَدْ حُكِيَ أَنَّ الْمَهْدِيَّ وَهُوَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ تَقَدَّمَ مَعَ خُصُومٍ لَهُ بِالْبَصْرَةِ إِلَى قَاضِيهَا عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيِّ فَلَمَّا رَآهُ الْقَاضِي مُقْبِلًا أَطْرَقَ إِلَى الْأَرْضِ حَتَّى جَلَسَ مَعَ خُصُومِهِ مَجْلِسَ الْمُتَحَاكِمِينَ فَلَمَّا انْقَضَتِ الْحُكُومَةُ قَامَ الْقَاضِي فَوَقَفَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ الْمَهْدِيُّ: وَاللَّهِ لَوْ قُمْتَ حِينَ دَخَلْتُ إِلَيْكَ لَعَزَلْتُكَ وَلَوْ لَمْ تَقُمْ حِينَ انْقَضَى الْحُكْمُ لَعَزَلْتُكَ. وَإِنَّمَا كَانَ يَعْزِلُهُ بِالْقِيَامِ قَبْلَ الحكم لممايلته، ويعزله بالعقود بَعْدَ الْحُكْمِ لِتَرْكِ حَقِّهِ فَيَكُونُ الْعَزْلُ الْأَوَّلُ مُسْتَحَقًّا وَالثَّانِي أَدَبًا فَهَذَا وَجْهٌ.

Salah satunya adalah keutamaan menjaga wibawa qadhi dalam hal ini, yaitu tidak memulai pembicaraan, salam, atau penghormatan kepada siapa pun. Hendaknya qadhi menundukkan kepala ketika semua pihak yang bersengketa, baik yang terpandang maupun yang biasa saja, masuk ke hadapannya. Telah diceritakan bahwa al-Mahdi, Amirul Mukminin, pernah datang bersama lawan-lawannya di Bashrah kepada qadhi di sana, yaitu ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari. Ketika qadhi melihatnya datang, ia menundukkan kepala ke tanah hingga al-Mahdi duduk bersama para lawannya di tempat duduk para pihak yang bersengketa. Setelah persidangan selesai, qadhi berdiri dan berdiri di hadapan al-Mahdi. Maka al-Mahdi berkata, “Demi Allah, jika engkau berdiri ketika aku masuk kepadamu, niscaya aku akan memecatmu. Dan jika engkau tidak berdiri setelah persidangan selesai, niscaya aku juga akan memecatmu.” Ia akan memecat qadhi jika berdiri sebelum persidangan karena condong kepadanya, dan memecatnya jika tidak berdiri setelah persidangan karena mengabaikan haknya. Maka pemecatan yang pertama adalah karena layak, sedangkan yang kedua sebagai bentuk adab. Inilah penjelasannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يُبْعِدَ مَجَالِسَ الْخُصُومِ مِنْهُ لِأَمْرَيْنِ: أَحَدُهُمَا لِيَكُونَ أَبْلَغَ فِي الْهَيْبَةِ وَالثَّانِي لِئَلَّا تَسْبِقَ إِلَيْهِ تُهْمَةَ أَنْ يُشِيرَ إِلَى أَحَدِهِمَا أَوْ يُشِيرَ إِلَيْهِ أَحَدُهُمَا بِمَا يُخَالِفُ الْحَقَّ.

Pendapat kedua: hendaknya ia menjauhkan tempat duduk para pihak yang bersengketa darinya karena dua alasan: pertama, agar lebih menimbulkan wibawa; dan kedua, agar tidak timbul tuduhan bahwa ia memberi isyarat kepada salah satu dari mereka atau salah satu dari mereka memberi isyarat kepadanya dengan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran.

وَلْيَكُنِ الْبِسَاطُ الَّذِي يَجْلِسُ عَلَيْهِ مُتَمَيِّزًا عَنْ بِسَاطِ الْخُصُومِ لِيَكُونَ أَهْيَبَ لَهُ.

Dan hendaknya alas duduk yang diduduki olehnya (hakim) berbeda dari alas duduk para pihak yang bersengketa, agar ia lebih dihormati.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَحْضُرَ فِي مَجْلِسِهِ مَعَ الْخُصُومِ إِلَّا مَنْ لَهُ بِالْحُكْمِ تَعَلُّقٌ فَإِنَّنَا نَسْتَحِبُّ أَنْ لَا يَخْلُوَ مَجْلِسُ حُكْمِهِ مِنْ شُهُودٍ وَفُقَهَاءٍ: أَمَّا الشُّهُودُ فَلْيَشْهَدُوا مَا جَرَى فِيهِ مِنْ إِقْرَارٍ وَمَا نَفَذَ فِيهِ مِنْ حُكْمٍ. وَأَمَّا الْفُقَهَاءُ فَلْيَرْجِعَ إِلَيْهِمْ وَيُشَاوِرَهُمْ فِي أَحْكَامِ الْحَوَادِثِ وَلِيُنَبِّهُوهُ عَلَى زَلَلٍ إِنْ كَانَ مِنْهُ، وَلَا يَرُدُّوا عَلَيْهِ مَا يُخَالِفُونَهُ مِنْ مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ وَيَمْنَعُ أَنْ يَحْضُرَ مَعَ الْخَصْمِ مَنْ لَيْسَ بِوَكِيلٍ لَهُ فِي الْمُحَاكَمَةِ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ.

Pendapat ketiga: Tidak boleh hadir dalam majelisnya bersama para pihak yang bersengketa kecuali orang yang memiliki keterkaitan dengan putusan tersebut. Kami menganjurkan agar majelis pengadilan tidak kosong dari saksi-saksi dan para fuqaha; adapun saksi-saksi, hendaknya mereka menyaksikan apa yang terjadi di dalamnya berupa pengakuan dan apa yang telah diputuskan di dalamnya berupa hukum. Adapun para fuqaha, hendaknya hakim merujuk kepada mereka dan bermusyawarah dengan mereka dalam menetapkan hukum atas peristiwa-peristiwa baru, serta agar mereka mengingatkannya jika terdapat kesalahan darinya, namun mereka tidak menolak pendapat hakim dalam masalah-masalah ijtihad yang mereka berbeda pendapat dengannya. Dan hendaknya dicegah kehadiran siapa pun bersama pihak yang bersengketa yang bukan merupakan wakilnya dalam persidangan dari seluruh orang.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ: أَنْ يُسَاوِيَ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِي مَقْعَدِهِمَا وَالنَّظَرِ إِلَيْهِمَا وَكَلَامِهِ لَهُمَا وَلَا يَخُصُّ أَحَدَهُمَا بِتَرْتِيبٍ وَلَا نَظَرٍ وَلَا كَلَامٍ كَتَبَ عُمَرُ فِي عَهْدِهِ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَلَى قَضَاءِ الْبَصْرَةِ: آسِ بَيْنَ النَّاسِ فِي وَجْهِكَ وَعَدْلِكَ وَمَجْلِسِكَ حتى لا يطمع شريف في حيفك ولا ييأس ضعيف مِنْ عَدْلِكَ فَأَمَرَهُ بِالتَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمْ فِي وَجْهِهِ وَعَدْلِهِ وَمَجْلِسِهِ، وَلْيَكُنْ جُلُوسُ الْخُصُومِ بَيْنَ يَدَيْهِ جُثَاةً عَلَى الرُّكَبِ لِيَتَمَيَّزَ عَنْ جُلُوسِ غَيْرِ الْخُصُومِ فَيَكُونُ أَجْمَعَ لِلْهَيْبَةِ.

Dan poin keempat: hendaknya hakim menyamakan kedua pihak yang bersengketa dalam tempat duduk mereka, dalam memandang keduanya, dan dalam berbicara kepada mereka, serta tidak mengistimewakan salah satunya dalam urutan, pandangan, atau ucapan. Umar pernah menulis dalam suratnya kepada Abu Musa al-Asy‘ari yang menjadi hakim di Bashrah: “Samakanlah manusia dalam pandanganmu, keadilanmu, dan majelismu, agar orang mulia tidak berharap pada keberpihakanmu dan orang lemah tidak putus asa dari keadilanmu.” Maka Umar memerintahkannya untuk menyamakan mereka dalam pandangan, keadilan, dan majelisnya. Dan hendaknya para pihak yang bersengketa duduk di hadapan hakim dengan posisi duduk berlutut, agar berbeda dari duduknya orang-orang yang bukan pihak sengketa, sehingga lebih menambah kewibawaan.

وَالْوَجْهُ الْخَامِسُ: أَنْ يَكُونَ كَلَامُ الْخَصْمِ مَقْصُورًا عَلَى الدَّعْوَى وَالْجَوَابِ وَكَلَامُ الْقَاضِي مَقْصُورًا عَلَى الْمَسْأَلَةِ وَالْحُكْمِ.

Pendapat kelima: bahwa ucapan pihak lawan terbatas pada gugatan dan jawaban, sedangkan ucapan qadhi terbatas pada masalah dan putusan.

وَحُضُورُ الْخُصُومِ فِي الْمُحَاكَمَةِ يُسْقِطُ عَنْهُمْ سُنَّةَ السَّلَامِ. فَإِنْ سَلَّمَا جَمِيعًا رَدَّ الْقَاضِي عَلَيْهِمَا.

Kehadiran para pihak yang bersengketa dalam persidangan menggugurkan sunnah mengucapkan salam di antara mereka. Namun, jika keduanya mengucapkan salam, maka hakim membalas salam kepada mereka berdua.

وَإِنْ سَلَّمَ أَحَدُهُمَا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي فَرْضِ رَدِّهِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Dan jika salah satu dari keduanya telah mengucapkan salam, maka para sahabat kami berbeda pendapat mengenai kewajiban menjawab salam itu menjadi tiga pendapat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْحَالِ.

Salah satunya adalah membalas salam kepadanya secara langsung pada saat itu juga.

وَالثَّانِي: يَرُدُّ عَلَيْهِ بَعْدَ الْحُكْمِ.

Kedua: ia membantahnya setelah adanya putusan.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَرُدَّهُ فِي الْحَالِ عَلَيْهِمَا مَعًا.

Ketiga: mengembalikannya saat itu juga kepada keduanya sekaligus.

وَمَنَعَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ مِنَ الرَّدِّ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا، لِأَنَّ الْخَصْمَ أَوْقَعَ السَّلَامَ فِي غَيْرِ مَوْقِعِهِ فَلَمْ يَسْتَحِقَّ الرَّدَّ عَلَيْهِ والله أعلم.

Sebagian fuqaha melarang membalas salam dalam segala keadaan, karena lawan bicara telah mengucapkan salam tidak pada tempatnya sehingga ia tidak berhak mendapatkan balasan salam. Allah lebih mengetahui.

(فصل: [لدد الخصوم] )

(Bab: [Keras Kepala dalam Perselisihan])

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ آدَابِ مَجْلِسِهِ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ فَكَانَ مِنْ أَحَدِ الْخَصْمَيْنِ لَدَدٌ وَفِي اللَّدَدِ تَأْوِيلَانِ:

Apabila telah ditetapkan apa yang telah kami jelaskan mengenai adab majelisnya dari lima aspek ini, kemudian salah satu dari kedua pihak yang berselisih terdapat sifat ludd (keras kepala), maka dalam ludd terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ شِدَّةُ الْخُصُومَةِ وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى {وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ} [البقرة: 204] وَهَذَا قَوْلُ الْبَصْرِيِّينَ.

Salah satunya adalah bahwa maknanya adalah kerasnya perdebatan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan dia adalah orang yang paling keras permusuhannya” (QS. Al-Baqarah: 204). Inilah pendapat para ulama Basrah.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ الِالْتِوَاءُ عَنِ الْحَقِّ وَمِنْهُ أُخِذَ لَدُودُ الْفَمِ، لِأَنَّهُ فِي أَحَدِ جَانِبَيِ الْفَمِ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى {وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا} [مريم: 97] وَهَذَا قَوْلُ الْبَغْدَادِيِّينَ، فَيَنْهَى الْقَاضِي الْخَصْمَ عَنْ لَدَدِهِ وَلَا يَبْدَأُهُ قَبْلَ النَّهْيِ بِزَجْرٍ وَلَا زَبْرٍ فَإِنْ كَفَّ بِالنَّهْيِ كَفَّ عَنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُفَّ عَنْهُ قَابَلَهُ وَغَلَبَهُ بِالزَّجْرِ وَالزَّبْرُ قَوْلًا لَا يَتَعَدَّاهُ إِلَى ضَرْبٍ وَلَا حَبْسٍ.

Kedua: bahwa itu adalah penyimpangan dari kebenaran, dan dari makna inilah diambil istilah “ladud al-fam” (penyakit mulut), karena ia berada di salah satu sisi mulut. Allah Ta’ala berfirman: “Agar engkau memberi peringatan dengan Al-Qur’an itu kepada kaum yang keras kepala (ludd)” (Maryam: 97). Ini adalah pendapat para ulama Baghdad. Maka hakim melarang pihak yang bersengketa dari sikap keras kepala (ladd), dan tidak memulai menegur atau membentaknya sebelum melarangnya. Jika ia berhenti setelah dilarang, maka cukup sampai di situ. Namun jika ia tidak berhenti, hakim menanggapinya dan mengalahkannya dengan teguran dan bentakan secara lisan, tanpa melampaui batas kepada pemukulan atau penahanan.

وَيَكُونُ زَجْرُهُ وَزَبْرُهُ مُعْتَبَرًا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Larangan dan tegurannya dianggap sah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: بِحَسَبِ لَدَدِهِ.

Salah satunya: sesuai dengan tingkat keras kepala atau sikap membangkangnya.

وَالثَّانِي: عَلَى قَدْرِ مَنْزِلَتِهِ.

Yang kedua: sesuai dengan kadar kedudukannya.

فَإِنْ لَمْ يُكَفَّ بِالزَّجْرِ وَالزَّبْرِ بَعْدَ الثَّانِيَةِ حَتَّى عَادَ إِلَى ثَالِثَةٍ جَازَ أَنْ يَتَجَاوَزَ زَوَاجِرَ الْكَلَامِ إِلَى الضَّرْبِ وَالْحَبْسِ تَعْزِيرًا وَأَدَبًا يَجْتَهِدُ رَأْيَهُ فِيهِ بِحَسْبِ اللَّدُودِ وَعَلَى قَدْرِ الْمَنْزِلَةِ. فَإِنْ كَانَ فِي لَدَدِهِ شَتْمٌ وَفُحْشٌ وَكَانَ غَمْرًا سَفِيهًا ضَرَبَهُ إِمَّا بِالْعَصَا أَوْ بِالنَّعْلِ عَلَى مِقْدَارِهِ. وَإِنْ كَانَ لَدَدُهُ تَمَانُعًا مِنَ الْحَقِّ وَخُرُوجًا عَنِ الْوَاجِبِ وَكَانَ سَاكِتًا حَبَسَهُ.

Jika tidak cukup dengan teguran dan peringatan setelah yang kedua hingga ia mengulangi untuk ketiga kalinya, maka boleh melampaui batas teguran lisan kepada hukuman berupa pemukulan dan penahanan sebagai bentuk ta‘zīr dan pendidikan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan ijtihad menurut tingkat kesalahan dan kedudukan pelaku. Jika dalam kesalahannya terdapat makian dan kata-kata kotor, dan ia adalah orang yang bodoh dan lancang, maka ia boleh dipukul, baik dengan tongkat atau sandal, sesuai kadarnya. Namun jika kesalahannya berupa penolakan terhadap kebenaran dan meninggalkan kewajiban, dan ia diam saja, maka ia boleh dipenjara.

فَإِنْ جَمَعَ فِي لَدَدِهِ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ جَازَ أَنْ يَجْمَعَ فِي تَعْزِيرِهِ بَيْنَ الضَّرْبِ وَالْحَبْسِ. قَدْ تَحَاكَمَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الزُّبَيْرُ مَعَ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا قَالَ الْأَنْصَارِيُّ بَعْدَ حُكْمِهِ عَلَيْهِ لِلزُّبَيْرِ فِي شُرْبِ أَرْضِهِ إنَّهُ ابْنُ عَمَّتِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلزُّبَيْرِ أَمِرَّ الْمَاءَ عَلَى بَطْنِهِ وَاحْبِسْهُ حَتَّى يَبْلُغَ أُصُولَ الْجَدْرِ فَكَانَ قَوْلُهُ أَمِرَّ الْمَاءَ على بطنه تعزيزا وَفِيهِ نَزَلَ قَوْله تَعَالَى {فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء: 65] وَكَانَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يُقَسِّمُ الصَّدَقَاتِ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: اعْدِلْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَيْلَكَ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ فَمَنْ يَعْدِلُ؟ فَكَانَ هَذَا الْقَوْلُ تَعْزِيرًا لَهُ وَفِيهِ نَزَلَ قَوْله تَعَالَى {وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إذا هم يسخطون} [التوبة: 58] .

Jika seseorang dalam kedurhakaannya menggabungkan dua hal, maka boleh dalam ta‘zir digabungkan antara hukuman cambuk dan penjara. Pernah terjadi, az-Zubair bersengketa dengan seorang laki-laki dari kalangan Anshar dan mengadukan perkara mereka kepada Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ memutuskan perkara untuk az-Zubair dalam masalah pengairan tanahnya, laki-laki Anshar itu berkata setelah keputusan tersebut, “Dia adalah anak bibi Anda.” Maka Nabi ﷺ bersabda kepada az-Zubair, “Alirkan air itu di tanahmu, lalu tahanlah sampai air itu mencapai akar-akar pohon.” Ucapan beliau “alirkan air itu di tanahmu” merupakan bentuk ta‘zir. Dan tentang peristiwa ini turun firman Allah Ta‘ala: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisā’: 65). Rasulullah ﷺ juga pernah membagi-bagikan sedekah, lalu seorang laki-laki berkata kepada beliau, “Berlaku adillah!” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Celakalah kamu! Jika aku tidak berlaku adil, lalu siapa lagi yang akan berlaku adil?” Ucapan ini merupakan bentuk ta‘zir baginya. Dan tentang peristiwa ini turun firman Allah Ta‘ala: “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah; jika mereka diberi sebagian darinya, mereka rela, dan jika mereka tidak diberi, tiba-tiba mereka marah.” (at-Taubah: 58).

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي فِي التَّعْزِيرِ عَسُوفًا خَرِقًا وَلَا ضَعِيفًا مَهِينًا وَلْيَكُنْ مُعْتَدِلَ الْأَحْوَالِ وَقُورًا قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا يَصْلُحُ لِأُمُورِ الْأُمَّةِ إِلَّا رَجُلٌ قَوِيٌّ فِي غَيْرِ عُنْفٍ لَيِّنٌ مِنْ غَيْرِ ضَعْفٍ لَا تَأْخُذُهُ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لائم والله أعلم.

Tidak sepantasnya seorang qadhi dalam menjatuhkan ta‘zir bersikap sewenang-wenang dan ceroboh, juga tidak lemah dan hina. Hendaknya ia bersikap moderat dalam segala keadaan dan berwibawa. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak layak mengurus urusan umat kecuali seorang laki-laki yang kuat tanpa bersikap kasar, lembut tanpa lemah, dan tidak terpengaruh oleh celaan orang dalam menegakkan (hukum) Allah.” Dan Allah Maha Mengetahui.

( [القول في مشاورة القضاء] )

(Pembahasan tentang musyawarah dalam peradilan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَيُشَاوِرُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ} [الشورى: 38] وَقَالَ لِنَبِيِّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – {وشاورهم في الأَمْرِ} [آل عمران: 159] قَالَ الْحَسَنُ إِنْ كَانَ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنْ مُشَاوَرَتِهِمْ لَغَنِيًّا وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَسْتَنَّ بِذَلِكَ الْحُكَّامُ بَعْدَهُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan hendaknya bermusyawarah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka’ (asy-Syura: 38), dan Dia berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: ‘Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu’ (Ali ‘Imran: 159). Al-Hasan berkata: Sungguh, Nabi ﷺ sebenarnya tidak membutuhkan musyawarah dengan mereka, tetapi beliau ingin agar para hakim setelah beliau meneladani hal itu.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْمُشَاوَرَةُ فَمَنْدُوبٌ إِلَيْهَا فِي الْأُمُورِ الْمُشْتَبِهَةِ لِمَا أَوْرَدَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَفْسِيرِ الْحَسَنِ ولسنة نبيه وَهُوَ مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” الْمُسْتَشِيرُ مُعَانٌ وَالْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ ” وَقَدْ شَاوَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَصْحَابَهُ فِي أَسْرَى بَدْرٍ فَأَشَارَ أَبُو بَكْرٍ بِالْفِدَاءِ وَأَشَارَ عُمَرُ بِالْقَتْلِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِرَأْيٍ أَبِي بَكْرٍ وَفَادَى فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأَرْضِ} [الأنفال: 67] الْآيَةَ، وَالَّتِي بَعْدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَوْ نَزَلَ عَذَابٌ مِنَ السَّمَاءِ لَمَا نَجَا مِنْهُ إِلَّا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ” وَشَاوَرَ رَسُولُ الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَهْلَ الْمَدِينَةِ يَوْمَ الْخَنْدَقِ فِي أَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Adapun musyawarah, maka dianjurkan untuk melakukannya dalam perkara-perkara yang masih samar, sebagaimana yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i dari Kitab Allah Ta‘ala, tafsir al-Hasan, dan sunnah Nabi-Nya. Yaitu sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Orang yang meminta nasihat akan dibantu dan orang yang dimintai nasihat adalah orang yang dipercaya.” Rasulullah ﷺ telah bermusyawarah dengan para sahabatnya mengenai tawanan Perang Badar; Abu Bakar mengusulkan agar mereka ditebus, sementara Umar mengusulkan agar mereka dibunuh. Maka Rasulullah ﷺ mengambil pendapat Abu Bakar dan menebus mereka, lalu Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya: “Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat menumpas habis musuhnya di bumi” (al-Anfal: 67) dan ayat setelahnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya azab turun dari langit, niscaya tidak ada yang selamat darinya kecuali Umar bin al-Khattab.” Rasulullah ﷺ juga bermusyawarah dengan penduduk Madinah pada hari Perang Khandaq dalam dua perkara.

أَحَدُهُمَا: فِي حَفْرِ الْخَنْدَقِ حَتَّى اتَّفَقُوا عَلَيْهِ.

Salah satunya: dalam penggalian parit hingga mereka semua sepakat atasnya.

وَالثَّانِي: فِي صُلْحِ الْأَحْزَابِ عَلَى ثُلُثِ ثِمَارِ الْمَدِينَةِ فَقَالُوا إِنْ كَانَ اللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا فَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِأَمْرِ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا تُطْمِعْهُمْ فِينَا فَإِنَّهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ لَمْ يَكُونُوا يَصِلُونَ إِلَى ثَمَرِهِ إِلَّا بِشِرَاءٍ أَوْ قِرًى فَامْتَنَعَ وَشَاوَرَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الصَّحَابَةَ فِي الْجَدَّةِ أُمِّ الْأُمِّ وَشَاوَرَ عُمَرُ فِي الْجَدَّةِ أُمِّ الْأَبِّ حَتَّى فَرَضَا لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا السُّدُسَ. وَشَاوَرَ عُمَرُ فِي دِيَةِ الْجَنِينِ وَفِي الَّتِي أَجْهَضَتْ مَا فِي بَطْنِهَا، وَشَاوَرَ عُثْمَانُ فِي الْأَحْكَامِ، وَكَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ قَلِيلَ الِاسْتِشَارَةِ فِيهَا فَقِيلَ لِأَنَّهُ لَمْ يَبْقَ فِي عَصْرِهِ عَدِيلٌ يُشَاوِرُهُ وَقِيلَ لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ شَاهَدَ اسْتِشَارَةِ قَرِينِهِ فَاكْتَفَى بِهَا، وَأَمَّا اسْتِشَارَةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَدْ كَانَ يُشَاوِرُ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا وَمَصَالِحِهَا.

Yang kedua: dalam perjanjian dengan al-Ahzab mengenai sepertiga hasil buah-buahan Madinah, mereka berkata, “Jika Allah memerintahkanmu untuk melakukan ini, maka kami dengar dan taat kepada perintah Allah. Namun jika bukan demikian, maka janganlah engkau memberi mereka harapan terhadap kami, karena pada masa jahiliah mereka tidak pernah mendapatkan hasil buah itu kecuali dengan membeli atau sebagai jamuan.” Maka beliau menolak dan bermusyawarah. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan para sahabat mengenai nenek dari pihak ibu, dan Umar bermusyawarah mengenai nenek dari pihak ayah, hingga keduanya menetapkan bagian masing-masing nenek adalah seperenam. Umar juga bermusyawarah mengenai diyat janin dan tentang perempuan yang menggugurkan kandungannya, dan Utsman bermusyawarah dalam masalah hukum-hukum. Adapun Ali bin Abi Thalib, ia jarang bermusyawarah dalam hal ini. Ada yang mengatakan karena pada masanya tidak ada lagi orang sepadan yang bisa diajak bermusyawarah, dan ada pula yang mengatakan karena ia telah menyaksikan musyawarah sahabat-sahabatnya sehingga merasa cukup dengan itu. Adapun musyawarah Rasulullah ﷺ, beliau bermusyawarah dalam urusan dunia dan kemaslahatannya.

وَاخْتَلَفُوا فِي اسْتِشَارَتِهِ فِي الدِّينِ وَالْأَحْكَامِ عَلَى حسب اختلافهم هل كان لرسول الله الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِيهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: مَا اسْتَشَارَ فِي الدِّينِ وَلَا فِي الْأَحْكَامِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم: 423] وَهَذَا قَوْلُ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَجْتَهِدَ رَأْيَهُ فِيهَا وَقَالَ آخَرُونَ قَدِ اسْتَشَارَهُمْ فِي الدِّينِ وَالْأَحْكَامِ فَمِنْهُ مَا شَاوَرَهُمْ فِي عَلَامَةٍ تَكُونُ لِأَوْقَاتِ صَلَوَاتِهِمْ فَأَشَارَ بَعْضُهُمْ بِالنَّاقُوسِ فَقَالَ ذَلِكَ مِزْمَارُ النَّصَارَى، وَأَشَارَ بَعْضُهُمْ بِالْقَرْنِ فَقَالَ ذَاكَ مِزْمَارُ الْيَهُودِ وَأَشَارَ بَعْضُهُمْ بِالنَّارِ فَقَالَ مَا تَصْنَعُونَ بِالنَّهَارِ وَأَشَارَ بَعْضُهُمْ بِالرَّايَةِ فَقَالَ مَا تَصْنَعُونَ بِاللَّيْلِ حَتَّى أَخْبَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ بِمَا رَآهُ فِي الْمَنَامِ مِنَ الْأَذَانِ فَأَخَذَ بِهِ وَعَمِلَ عَلَيْهِ. وَشَاوَرَ أَصْحَابَهُ فِي حَدِّ الزَّانِي وَالسَّارِقِ فَقَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَقَالَ: ” هُنَّ فَوَاحِشُ وَفِيهِنَّ عُقُوبَاتٌ ” حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِمَا مَا أَنْزَلَ وَهَذَا قَوْلُ مَنْ جَعَلَ لَهُ اجْتِهَادَ رَأْيِهِ فِيهَا.

Mereka berbeda pendapat tentang apakah Nabi Muhammad saw. bermusyawarah dalam urusan agama dan hukum, sesuai dengan perbedaan pendapat mereka tentang apakah Rasulullah saw. boleh berijtihad dengan pendapatnya dalam hal itu. Sebagian dari mereka berkata: Beliau tidak bermusyawarah dalam urusan agama dan hukum, karena Allah Ta‘ala berfirman: “Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (an-Najm: 3-4). Ini adalah pendapat orang yang beranggapan bahwa beliau tidak boleh berijtihad dengan pendapatnya dalam urusan tersebut. Sementara yang lain berkata: Beliau pernah bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan agama dan hukum. Di antaranya, beliau pernah bermusyawarah dengan mereka tentang tanda yang akan digunakan untuk waktu-waktu salat mereka. Sebagian dari mereka mengusulkan lonceng, lalu beliau bersabda: “Itu adalah alat musik orang Nasrani.” Sebagian yang lain mengusulkan terompet, lalu beliau bersabda: “Itu adalah alat musik orang Yahudi.” Sebagian yang lain mengusulkan api, lalu beliau bersabda: “Apa yang akan kalian lakukan di siang hari?” Sebagian yang lain mengusulkan bendera, lalu beliau bersabda: “Apa yang akan kalian lakukan di malam hari?” Hingga akhirnya Abdullah bin Zaid memberitahukan kepada beliau tentang apa yang ia lihat dalam mimpi berupa adzan, maka beliau mengambil dan mengamalkannya. Beliau juga bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang hukuman bagi pezina dan pencuri, lalu mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka beliau bersabda: “Keduanya adalah perbuatan keji dan pada keduanya ada hukuman,” hingga Allah Ta‘ala menurunkan hukum tentang keduanya. Inilah pendapat orang yang membolehkan beliau berijtihad dengan pendapatnya dalam urusan tersebut.

فَأَمَّا غَيَّرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ صَحَابَتِهِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ سَائِرِ أُمَّتِهِ فَمُشَاوَرَتُهُمْ تَعُمُّ فِي مَصَالِحِ الدُّنْيَا وَأَحْكَامِ الدِّينِ فَمَا اخْتَصَّ عَنْهَا بِالدُّنْيَا نُدِبَ إِلَيْهِ عَقْلًا وَمَا اخْتَصَّ مِنْهَا بِالدِّينِ نُدِبَ إِلَيْهِ شَرْعًا.

Adapun selain Rasulullah ﷺ, baik dari kalangan sahabat beliau maupun generasi setelah mereka dari seluruh umatnya, maka musyawarah dengan mereka mencakup urusan kemaslahatan dunia dan hukum-hukum agama. Maka, apa yang khusus berkaitan dengan urusan dunia, dianjurkan bermusyawarah secara akal, dan apa yang khusus berkaitan dengan urusan agama, dianjurkan bermusyawarah secara syariat.

(فصل: [في أي المسائل يشاور] )

(Bab: [Dalam masalah apa saja seseorang bermusyawarah])

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَالْقَاضِي مَأْمُورٌ بِالْمُشَاوَرَةِ فِي أَحْكَامِهِ وَقَضَايَاهُ.

Setelah ketentuan ini dipahami, maka seorang qadhi diperintahkan untuk bermusyawarah dalam menetapkan hukum dan keputusannya.

وَهِيَ ضَرْبَانِ:

Dan ia terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: ظَاهِرٌ جَلِيٌّ قَدْ حَصَلَ الِاتِّفَاقُ فِيهِ، وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَيْهِ، فَلَا يَحْتَاجُ فِي مِثْلِ هَذَا إِلَى مُشَاوَرَةٍ.

Salah satunya adalah perkara yang jelas dan gamblang, yang telah terjadi kesepakatan di dalamnya dan ijmā‘ telah terwujud atasnya, maka dalam hal seperti ini tidak diperlukan musyawarah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: نَوَازِلُ حَادِثَةٌ لَمْ يَتَقَدَّمْ فِيهَا قَوْلٌ لِمَتْبُوعٍ أَوْ مَا اخْتَلَفَ فِيهِ الْعُلَمَاءُ مِنْ مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ فَهُوَ الَّذِي يُؤْمَرُ بِالْمُشَاوَرَةِ فِيهَا، لِيَتَنَبَّهَ بِمُذَاكَرَتِهِمْ وَمُنَاظَرَتِهِمْ عَلَى مَا يَجُوزُ أَنْ يَخْفَى عَلَيْهِ، حَتَّى يَسْتَوْضِحَ بِهِمْ طَرِيقَ الِاجْتِهَادِ فَيَحْكُمُ بِاجْتِهَادِهِ دُونَ اجْتِهَادِهِمْ.

Jenis kedua: persoalan-persoalan baru yang belum ada pendapat sebelumnya dari seorang imam mazhab, atau perkara-perkara yang para ulama berbeda pendapat di dalamnya dari masalah-masalah ijtihad; maka dalam hal ini diperintahkan untuk bermusyawarah, agar dengan saling berdiskusi dan berdebat mereka dapat menyadari sesuatu yang mungkin tersembunyi darinya, sehingga dengan bantuan mereka ia dapat memperjelas jalan ijtihad, lalu ia memutuskan dengan ijtihadnya sendiri, bukan dengan ijtihad mereka.

فَإِنْ لَمْ يُشَاوِرْ، وَحَكَمَ نُفِّذَ حُكْمُهُ، إِذَا لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ نَصًّا أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ قِيَاسًا جليا غير محتمل.

Jika ia tidak bermusyawarah dan memutuskan perkara, maka keputusannya tetap dilaksanakan selama tidak bertentangan dengan nash, ijmā‘, atau qiyās yang jelas dan tidak mengandung kemungkinan lain.

( [بين القاضي وأهل الشورى] )

(Tentang hubungan antara qadhi dan ahl al-syura)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

وَلَيْسَ عَلَى أَهْلِ الشُّورَى إِذَا خَالَفُوهُ فِي حُكْمِهِ أَنْ يُعَارِضُوهُ فِيهِ وَلَا يَمْنَعُوهُ مِنْهُ إِذَا كَانَ مُسَوِّغًا فِي الِاجْتِهَادِ.

Tidak wajib bagi para anggota syūrā untuk menentang atau mencegah keputusan penguasa jika mereka berbeda pendapat dengannya dalam suatu hukum, selama keputusan tersebut memiliki alasan yang dapat dibenarkan dalam ijtihād.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنْ كَانَ أَعْلَمَ مِنْ مُخَالِفِهِ عَمِلَ عَلَى اجْتِهَادِ نَفْسِهِ، وَإِنْ كَانَ مُخَالِفُهُ أَعْلَمَ مِنْهُ عَمِلَ عَلَى اجْتِهَادِ مُخَالِفِهِ: لِقَوْلِ اللَّهِ: {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43] .

Abu Hanifah berkata: Jika ia lebih berilmu daripada orang yang berbeda pendapat dengannya, maka ia beramal berdasarkan ijtihadnya sendiri. Namun jika orang yang berbeda pendapat dengannya lebih berilmu darinya, maka ia beramal berdasarkan ijtihad orang tersebut, berdasarkan firman Allah: “Maka bertanyalah kepada ahl al-dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43).

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} [النساء: 59] وَلِأَنَّ الصَّحَابَةَ اجْتَهَدُوا فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ، وَلَمْ يُقَلِّدْ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، مَعَ تَفَاضُلِهِمْ فِي الْعِلْمِ: وَلِأَنَّ مَعَهُ آلَةَ الِاجْتِهَادِ لِتُوَصِّلَهُ إِلَى دَرْكِ الْمَطْلُوبِ فَلَمْ يَكُنْ لَهُ التَّقْلِيدُ كَالتَّقْلِيدِ فِي التَّوْحِيدِ.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya” (an-Nisā’: 59). Juga karena para sahabat berijtihad dalam perkara yang mereka perselisihkan, dan sebagian mereka tidak bertaklid kepada sebagian yang lain, meskipun mereka berbeda-beda dalam tingkat keilmuan. Dan karena ia memiliki perangkat ijtihad yang dapat mengantarkannya untuk memahami apa yang dicari, maka tidak layak baginya untuk bertaklid, sebagaimana tidak diperbolehkan bertaklid dalam masalah tauhid.

وَالْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jawaban terhadap ayat tersebut ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى تَقْلِيدِ الْعَامِّيِّ لِأَنَّهُ قَالَ: {إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} .

Salah satunya adalah bahwa ayat tersebut dimaknai sebagai anjuran untuk melakukan taqlid bagi orang awam, karena Allah berfirman: “Jika kalian tidak mengetahui.”

وَالثَّانِي: أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى سُؤَالِ الْمُسْتَشَارِ فِي الْمُذَاكَرَةِ وَالْكَشْفِ.

Kedua: bahwa hal itu dimaknai sebagai pertanyaan orang yang meminta pendapat dalam diskusi dan klarifikasi.

فَلَوْ لَمْ يَصِلِ الْقَاضِي بِاجْتِهَادِهِ إِلَى حُكْمِ الْحَادِثَةِ فَفِي جَوَازِ تَقْلِيدِهِ فِيهَا وَجْهَانِ:

Maka jika seorang qadhi tidak sampai pada hukum suatu peristiwa dengan ijtihadnya, maka dalam kebolehan ia melakukan taqlid pada perkara tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ يَجُوزُ أَنْ يُقَلِّدَ فِيهَا، لِلضَّرُورَةِ، وَيَحْكُمَ لِأَنَّهُ مَا مِنْ عَالمٍ إِلَّا وَيَجُوزُ أَنْ يُشْكَلَ عَلَيْهِ أَحْكَامُ بَعْضِ الْحَوَادِثِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas bin Surayj, yang membolehkan untuk melakukan taqlid dalam hal ini karena adanya kebutuhan mendesak, dan boleh memutuskan hukum, karena tidak ada seorang ‘alim pun kecuali mungkin baginya mengalami kesulitan dalam menetapkan hukum sebagian peristiwa.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ: لَا يَجُوزُ أَنْ يُقَلِّدَ فِي قَضَائِهِ وَيَسْتَخْلِفَ عَلَيْهَا مَنْ يَحْكُمُ بِاجْتِهَادِهِ إِنْ ضَاقَ وَقْتُ الْحَادِثَةِ لِأَنَّ الْحَاكِمَ مُلْزَمٌ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَلْزَمَ مَا لَا يَعْتَقِدُ لُزُومَهُ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi: Tidak boleh seorang hakim bertaklid dalam putusannya dan mengangkat pengganti atasnya yang memutuskan dengan ijtihadnya sendiri jika waktu kejadian perkara sangat sempit, karena hakim itu terikat (dengan putusannya), maka tidak boleh ia terikat dengan sesuatu yang ia sendiri tidak meyakini keharusannya.

(شُرُوطُ من يشاوره القاضي)

Syarat-syarat orang yang diajak musyawarah oleh qādī (hakim).

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: وَلَا يُشَاوِرُ إِذَا نَزَلَ بِهِ الْمُشْكِلُ إِلَّا عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْآثَارِ وَأَقَاوِيلِ النَّاسِ وَالْقِيَاسِ وَلِسَانِ الْعَرَبِ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidaklah seseorang bermusyawarah ketika menghadapi persoalan yang sulit kecuali dengan orang yang berilmu tentang al-Kitab, as-Sunnah, atsar-atsar, pendapat-pendapat manusia, qiyās, dan bahasa Arab.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ وَهَذِهِ شُرُوطُ مَنْ يُشَاوِرُهُ الْقَاضِي فِي الْأَحْكَامِ وَمَجْمُوعِهَا:

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan inilah syarat-syarat orang yang diajak musyawarah oleh qadhi dalam menetapkan hukum dan keseluruhannya.

إِنَّ كُلَّ مَنْ صَحَّ أَنْ يُفْتِيَ فِي الشَّرْعِ صَحَّ أَنْ يُشَاوِرَهُ الْقَاضِي فِي الْأَحْكَامِ فَتُعْتَبَرُ فِيهِ شُرُوطُ الْمُفْتِي وَلَا تُعْتَبَرُ فِيهِ شُرُوطُ الْقَاضِي.

Sesungguhnya setiap orang yang sah untuk memberikan fatwa dalam syariat, maka sah pula bagi qadhi untuk bermusyawarah dengannya dalam menetapkan hukum-hukum. Maka, syarat-syarat yang berlaku padanya adalah syarat-syarat bagi mufti, dan tidak disyaratkan padanya syarat-syarat bagi qadhi.

فَيَجُوزُ أَنْ يُشَاوِرَ الْأَعْمَى وَالْعَبْدَ وَالْمَرْأَةَ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ قَاضِيًا؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَجُوزُ أَنْ يُسْتَفْتَى وَيُفْتِيَ.

Maka boleh bagi seseorang untuk bermusyawarah dengan orang buta, budak, dan perempuan, meskipun masing-masing dari mereka tidak boleh menjadi qadhi; karena masing-masing dari mereka boleh dimintai fatwa dan memberikan fatwa.

وَالْمُعْتَبَرُ فِي الْمُفْتِي شَرْطَانِ:

Yang menjadi pertimbangan pada seorang mufti ada dua syarat:

أَحَدُهُمَا: الْعَدَالَةُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي الْمُخْبِرِ دُونَ الشَّاهِدِ، لِأَنَّ الْحُرِّيَّةَ وَسَلَامَةَ الْبَصَرِ يُعْتَبَرَانِ فِي الشَّاهِدِ وَلَا يُعْتَبَرَانِ فِي الْمُفْتِي وَالْمُخْبِرِ.

Salah satunya adalah keadilan yang dipertimbangkan pada orang yang memberi informasi (al-mukhbir), bukan pada saksi, karena kemerdekaan dan kesehatan penglihatan disyaratkan pada saksi, namun tidak disyaratkan pada mufti dan al-mukhbir.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فِي النَّوَازِلِ وَالْأَحْكَامِ.

Syarat kedua: harus berasal dari kalangan yang memiliki kemampuan ijtihad dalam masalah-masalah baru (nawāzil) dan hukum-hukum.

وَيَكُونُ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ إِذَا أَحَاطَ عِلْمُهُ بِخَمْسَةِ أُصُولٍ:

Dan seseorang dianggap sebagai ahli ijtihad apabila ilmunya meliputi lima pokok:

أَحَدُهَا: عِلْمُهُ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي مَعْرِفَةِ نَاسِخِهِ وَمَنْسُوخِهِ وَمُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ وَمُفَسِّرِهِ وَمُجْمَلِهِ وَعُمُومِهِ وخصومه، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِتِلَاوَتِهِ.

Salah satunya adalah pengetahuannya tentang Kitab Allah Ta‘ala dalam hal mengetahui ayat-ayat yang nasikh dan mansukh, yang muhkam dan mutasyabih, yang mufassir dan mujmal, serta yang ‘am dan khash, meskipun ia tidak membacanya secara langsung.

وَالثَّانِي: عِلْمُهُ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي مَعْرِفَةِ أَخْبَارِ التَّوَاتُرِ وَالْآحَادِ وَصِحَّةِ الطُّرُقِ وَالْإِسْنَادِ، وَمَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَمَا تَأَخَّرَ، وَمَا كَانَ عَلَى سَبَبٍ وَغَيْرِ سَبَبٍ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهَا مُسْنَدَةً إِذَا عَرَفَهَا مِنْ وُجُوهِ الصِّحَّةِ.

Kedua: Pengetahuannya tentang sunnah Rasulullah ﷺ dalam mengenal hadis-hadis mutawātir dan āḥād, keabsahan jalur periwayatan dan sanad, mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan, mana yang memiliki sebab tertentu dan mana yang tidak, meskipun ia tidak mendengarnya secara musnad, selama ia mengetahuinya dari berbagai sisi yang sahih.

وَالثَّالِثُ: عِلْمُهُ بِالْإِجْمَاعِ وَالِاخْتِلَافِ وَأَقَاوِيلِ النَّاسِ لِيَتْبَعَ الْإِجْمَاعَ وَيَجْتَهِدَ فِي الْمُخْتَلِفِ.

Ketiga: pengetahuannya tentang ijmā‘, perbedaan pendapat, dan pendapat-pendapat manusia, agar ia dapat mengikuti ijmā‘ dan berijtihad dalam perkara yang diperselisihkan.

وَالرَّابِعُ: عِلْمُهُ بِالْقِيَاسِ مَا كَانَ مِنْهُ جَلِيًّا أَوْ خَفِيًّا وَقِيَاسِ الْمَعْنَى وَقِيَاسِ الشَّبَهِ وَصِحَّةِ الْعِلَلِ وَفَسَادِهَا.

Keempat: pengetahuannya tentang qiyās, baik yang jelas maupun yang samar, qiyās makna, qiyās syabah, serta keabsahan dan kerusakan ‘illat-‘illatnya.

وَالْخَامِسُ: عِلْمُهُ بِالْعَرَبِيَّةِ فِيمَا تَدْعُو الْحَاجَةُ إِلَيْهِ مِنَ اللُّغَةِ وَالْإِعْرَابِ، لِأَنَّ لِسَانَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ عَرَبِيٌّ، فَيَعْرِفُ لِسَانَ الْعَرَبِ، مِنْ صِيغَةِ أَلْفَاظِهِمْ وَمَوْضُوعِ خِطَابِهِمْ لِيُفَرِّقَ بَيْنَ الْفَاعِلِ وَالْمَفْعُولِ، وَحُكْمِ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي، وَالنَّدْبِ وَالْإِرْشَادِ، وَالْعُمُومِ وَالْخُصُوصِ.

Kelima: Pengetahuannya tentang bahasa Arab sejauh yang diperlukan dari segi bahasa dan i‘rab, karena bahasa kitab (Al-Qur’an) dan sunnah adalah bahasa Arab. Maka ia harus mengetahui bahasa Arab, dari bentuk-bentuk lafaz mereka dan maksud pembicaraan mereka, agar dapat membedakan antara pelaku dan objek, serta hukum perintah dan larangan, anjuran dan petunjuk, serta keumuman dan kekhususan.

فَإِذَا أَحَاطَ عِلْمًا بِهَذِهِ الْأُصُولِ الْخَمْسَةِ وَأَشْرَفَ عَلَيْهَا وَإِنْ لَمْ يَصِرْ أَعْلَمَ النَّاسِ بِهَا إِذَا تَبَيَّنَهَا عَلِمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ – جَازَ أَنْ يُفْتِيَ وَجَازَ أَنْ يُسْتَفْتَى.

Maka apabila seseorang telah memahami dengan baik kelima ushul ini dan menguasainya, meskipun ia belum menjadi orang yang paling mengetahui tentangnya, jika ia telah memahaminya dengan jelas, ia akan mengetahui apa yang sebelumnya tidak ia ketahui—maka boleh baginya untuk memberikan fatwa dan boleh pula dimintai fatwa.

وَجَازَ أَنْ يُشَاوِرَهُ الْقَاضِي فِي الْأَحْكَامِ النَّازِلَةِ، وَسَوَاءٌ وَافَقَ الْقَاضِي عَلَى مَذْهَبِهِ أَوْ خَالَفَهُ، لِأَنَّهُ لَا يَقْتَنِعُ مِنْهُ بِالْجَوَابِ حَتَّى يَسْأَلَهُ عَنِ الدَّلِيلِ وَالتَّعْلِيلِ.

Diperbolehkan bagi seorang qadhi untuk meminta pendapatnya dalam permasalahan hukum yang baru muncul, baik qadhi tersebut sependapat dengan mazhabnya maupun berbeda, karena ia tidak akan puas dengan jawabannya sampai ia menanyakan dalil dan alasannya.

فَإِنْ كَانَ فَاسِقًا لَمْ يَعْمَلْ عَلَى قَوْلِهِ فِيمَا تَعَلَّقَ بِالنَّقْلِ وَالرِّوَايَةِ وَالْفُتْيَا لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6] .

Jika ia seorang fasiq, maka tidak diambil pendapatnya dalam hal yang berkaitan dengan periwayatan, transmisi, dan fatwa, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6).

وَاخْتُلِفَ فِي جَوَازِ مُبَاحَثَتِهِ فِيمَا تَعَلَّقَ بِالْمَعَانِي وَالِاسْتِنْبَاطِ فَمَنَعَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ مِنْ مُبَاحَثَتِهِ لِأَنَّهُ غَيْرُ مَوْثُوقٍ بِهِ حَذِرًا مِمَّا يَسْتَحْدِثُهُ مِنْ شُبْهَةٍ فَاسِدَةٍ، وَأَجَازَهُ آخَرُونَ لِأَنَّهُ رُبَّمَا انْكَشَفَ بِمُنَاظَرَتِهِ وَجْهُ الصَّوَابِ إِذْ لَيْسَ يُؤْخَذُ بِقَوْلِهِ وَإِنَّمَا يُعْمَلُ عَلَى مَا تَنْتَهِي إِلَيْهِ الْمُنَاظَرَةُ مِنْ وُضُوحِ الصِّحَّةِ وَالْفَسَادِ.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kebolehan mendiskusikan pendapatnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan makna dan istinbāṭ. Abu ‘Ali bin Abi Hurairah melarang mendiskusikannya karena ia tidak dapat dipercaya, demi menghindari munculnya syubhat yang rusak. Sementara itu, sebagian ulama lain membolehkannya karena terkadang melalui perdebatan dengannya dapat terungkap sisi kebenaran, sebab pendapatnya tidak diambil begitu saja, melainkan yang dijadikan pegangan adalah hasil akhir dari perdebatan berupa kejelasan mana yang benar dan mana yang salah.

وَلَا يُعَوِّلُ الْقَاضِي عَلَى مُشَاوَرَةِ الْوَاحِدِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَ عَدَدٍ يَنْكَشِفُ بِمُنَاظَرَتِهِمْ مَا غَمُضَ وَيَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى مَا خَفِيَ وَلَا يُقَلِّدُهُمْ وَإِنْ كَانُوا عَدَدًا حَتَّى يَصِلَ إِلَى عِلْمِ الْحَادِثَةِ بِمَا يَقْتَضِيهِ الدَّلِيلُ وَيُوجِبُهُ التَّعْلِيلُ.

Seorang qadhi tidak boleh hanya mengandalkan musyawarah dengan satu orang saja, melainkan harus mengumpulkan beberapa orang sehingga melalui diskusi dengan mereka dapat terungkap hal-hal yang samar dan dapat ditemukan apa yang tersembunyi. Namun, ia juga tidak boleh mengikuti pendapat mereka secara membabi buta, meskipun mereka berjumlah banyak, sampai ia benar-benar memperoleh pengetahuan tentang peristiwa yang dihadapi berdasarkan apa yang dituntut oleh dalil dan yang diwajibkan oleh ta‘lil (argumentasi hukum).

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا يَقْبَلُ وَإِنْ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُ حَتَّى يَعْلَمَ كَعِلْمِهِ أَنَّ ذَلِكَ لَازِمٌ لَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ تَخْتَلِفِ الرِّوَايَةُ فِيهِ أَوْ بِدَلَالَةٍ عَلَيْهِ أَوْ أَنَّهُ لَا يَحْتَمِلُ وَجْهًا أَظْهَرَ منه “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak diterima (pendapatnya) meskipun ia lebih berilmu darinya, sampai ia mengetahui seperti pengetahuannya bahwa hal itu memang wajib baginya, baik karena tidak ada perbedaan riwayat di dalamnya, atau karena adanya dalil yang menunjukkan hal itu, atau karena tidak memungkinkan adanya pendapat lain yang lebih jelas darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَنَّهُ لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمُشَاوَرَةِ لِلتَّقْلِيدِ وَإِنَّمَا أُمِرَ بِهَا لِأَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ini benar, karena beliau tidak diperintahkan untuk bermusyawarah demi taqlid, melainkan beliau diperintahkan untuk bermusyawarah karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: لِيَتَوَصَّلَ بِهَا إِلَى مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ مِنَ الْأَدِلَّةِ، وَرُبَّمَا خَفِيَتْ عَلَيْهِ سُنَّةٌ عَلِمَ بِهَا الْمُسْتَشَارُ وَلَمْ يَعْلَمْ بِهَا الْمُسْتَشِيرُ.

Salah satunya adalah agar seseorang dapat mencapai pengetahuan tentang dalil yang belum ia ketahui, dan mungkin saja ada sunnah yang tersembunyi darinya namun diketahui oleh orang yang dimintai pendapat, sedangkan orang yang meminta pendapat tidak mengetahuinya.

وَالثَّانِي: لِيَسْتَوْضِحَ بِمُنَاظَرَتِهِمْ طُرُقَ الِاجْتِهَادِ وَالتَّوَصُّلِ إِلَى غَوَامِضِ الْمَعَانِي، فَإِنَّ بِاجْتِمَاعِ الْخَوَاطِرِ فِي الْمُنَاظَرَةِ يَكْمُلُ الِاسْتِيضَاحُ وَالْكَشْفُ فَلِذَلِكَ كَانَ مَأْمُورًا بِهَا.

Kedua: agar dengan berdiskusi bersama mereka, seseorang dapat memperjelas metode ijtihad dan cara mencapai makna-makna yang tersembunyi. Sebab, dengan berkumpulnya berbagai pemikiran dalam sebuah diskusi, penjelasan dan pengungkapan menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, diskusi tersebut diperintahkan.

( [القول في التقليد] )

(Pembahasan tentang taqlid)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” فَأَمَّا أَنْ يُقَلِّدَهُ فَلَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ ذَلِكَ لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Adapun mengikuti pendapatnya secara taqlid, maka Allah tidak menjadikan hal itu bagi siapa pun setelah Rasulullah ﷺ.”

أَمَّا التَّقْلِيدُ فَهُوَ قَبُولُ قَوْلٍ بِغَيْرِ دَلِيلٍ. مَأْخُوذٌ مِنْ قِلَادَةِ الْعُنُقِ، لِأَنَّهُ قَدْ جَعَلَ قَبُولَ قَوْلِهِ كَالْقِلَادَةِ فِي عُنُقِهِ.

Adapun taqlid adalah menerima suatu pendapat tanpa disertai dalil. Istilah ini diambil dari kata “qilādah” (kalung leher), karena seseorang menjadikan penerimaan pendapat itu seperti kalung di lehernya.

وَهُوَ ضَرْبَانِ: ضَرْبٌ: أُمِرْنَا بِهِ وَضَرْبٌ نُهِينَا عَنْهُ.

Dan ia terbagi menjadi dua jenis: jenis yang kita diperintahkan untuk melakukannya dan jenis yang kita dilarang darinya.

فَأَمَّا الْمَأْمُورُ بِهِ فَالتَّقْلِيدُ فِي الْأَخْبَارِ وَالشَّهَادَةِ وَتَقْلِيدِ الْعَامِّيِّ لِلْعَالمِ فِيمَا يَخْتَصُّ بِهِ مِنْ عِلْمٍ، وَقَدِ اسْتَوْفَيْنَاهُ مَشْرُوحًا فِي أَوَّلِ كِتَابِنَا هَذَا.

Adapun yang diperintahkan adalah taqlid dalam hal berita, kesaksian, dan taqlid orang awam kepada ulama dalam hal-hal yang menjadi kekhususan ilmunya, dan hal ini telah kami jelaskan secara rinci pada awal kitab kami ini.

فَأَمَّا الْمَنْهِيُّ عَنْهُ: فَهُوَ التَّقْلِيدُ فِيمَا يَعْتَقِدُهُ عِلْمًا، أَوْ يَقْضِي بِهِ حُكْمًا، وَيُفْتِي بِهِ إِخْبَارًا، فَهُوَ مَحْظُورٌ، لَا يَسْتَقِرُّ بِهِ عِلْمٌ، وَلَا يَصِحُّ بِهِ حُكْمٌ، وَلَا تَجُوزُ بِهِ فُتْيَا، وَيَسْتَوِي فِي حَظْرِهِ تَقْلِيدُ مَنْ عَاصَرَهُ وَمَنْ تَقَدَّمَهُ وَسَوَاءٌ سَاوَاهُ فِي الْعِلْمِ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ.

Adapun yang dilarang adalah taklid dalam hal yang diyakini sebagai ilmu, atau dijadikan dasar dalam menetapkan hukum, atau dijadikan fatwa dalam memberikan keterangan; maka hal itu terlarang, tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan ilmu, tidak sah dijadikan dasar hukum, dan tidak boleh dijadikan dasar fatwa. Larangan ini berlaku sama, baik terhadap taklid kepada orang yang sezaman maupun kepada orang yang telah terdahulu, dan baik kepada orang yang setara dalam ilmu maupun yang lebih tinggi darinya.

وَجَوَّزَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ تَقْلِيدَ عُلَمَاءِ السَّلَفِ وَمَنْ عَاصَرَهُ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ عَلَيْهِ فِي الْعِلْمِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43] .

Sebagian fuqaha membolehkan taklid kepada ulama salaf dan orang-orang terdahulu yang lebih unggul darinya dalam ilmu, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka bertanyalah kepada ahl al-dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43).

وَجَوَّزَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ تَقْلِيدَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ دُونَ غَيْرِهِمْ، لقول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ “.

Sebagian ulama ahli hadis membolehkan melakukan taqlid kepada para sahabat dan tabi‘in saja, tidak kepada selain mereka, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka.”

وَجَوَّزَ آخَرُونَ مِنْهُمْ تَقْلِيدَ الصَّحَابَةِ دُونَ التَّابِعِينَ لِقَوْلِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ “.

Dan sebagian ulama lain membolehkan taqlid kepada para sahabat, namun tidak kepada para tabi’in, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Para sahabatku bagaikan bintang-bintang, dengan siapa pun di antara mereka kalian mengikuti, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.”

وَجَوَّزَ آخَرُونَ مِنْهُمْ تَقْلِيدَ الْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ مِنَ الصَّحَابَةِ دُونَ غَيْرِهِمْ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي “.

Dan sebagian lain dari mereka membolehkan taklid kepada empat khalifah dari kalangan sahabat saja, tidak kepada selain mereka, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Wajib atas kalian berpegang pada sunahku dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku.”

وَجَوَّزَ آخَرُونَ تَقْلِيدَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا خَاصَّةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ “.

Dan sebagian ulama lain membolehkan taqlid kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma secara khusus, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ikutilah dua orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ التَّقْلِيدِ، وَوُجُوبِ الرُّجُوعِ إِلَى أَدِلَّةِ الْأُصُولِ، قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ} [الشورى: 10] وقَوْله تَعَالَى: {لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ} [النساء: 83] فَنَفَى أَنْ يَكُونَ لِغَيْرِ الْمُسْتَنْبِطِ عِلْمٌ.

Dalil tentang rusaknya taqlid dan wajibnya kembali kepada dalil-dalil ushul adalah firman Allah Ta‘ala: “Tentang apa pun yang kalian perselisihkan, maka putusannya (dikembalikan) kepada Allah.” (asy-Syura: 10) dan firman-Nya Ta‘ala: “Tentu orang-orang yang dapat mengambil kesimpulan hukum di antara mereka mengetahuinya.” (an-Nisa’: 83). Maka Allah menafikan adanya ilmu bagi selain orang yang mampu melakukan istinbath.

وَرُوِي أَنَّ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ آتِي رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَفِي عُنُقِهِ صَلِيبٌ أَوْ وَثَنٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “. فَقَالَ عَدِيٌّ: مَا اتَّخَذُوهُمْ أَرْبَابًا فَقَالَ: ” أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ عَلَيْهِمْ مَا حَلَّ وَيُحِلُّونَ لَهُمْ مَا حُرِّمَ؟ ” قَالَ: نَعَمْ قَالَ: ” فَتِلْكَ الْعِبَادَةُ “.

Diriwayatkan bahwa ‘Adiy bin Hatim datang kepada Rasulullah ﷺ, dan di lehernya terdapat salib atau berhala. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Mereka menjadikan para ahli kitab dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” ‘Adiy berkata: “Mereka tidak menjadikan mereka sebagai tuhan.” Beliau bersabda: “Bukankah mereka mengharamkan atas mereka sesuatu yang halal dan menghalalkan bagi mereka sesuatu yang haram?” Ia menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.”

وَلِأَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ الْمُقَلِّدِ مِنْ أَنْ يُقَلِّدَ جَمِيعَ النَّاسِ أَوْ بَعْضَهُمْ فَإِنْ قَلَّدَ جَمِيعَ النَّاسِ لَمْ يُمْكِنْهُ لِاخْتِلَافِهِمْ، وَإِنْ قَلَّدَ بَعْضَهُمْ لَمْ يَكُنْ قَوْلُ مَنْ قَلَّدَهُ بِأَوْلَى مِنْ تَرْكِهِ فَإِنْ رَجَّحَ صَارَ مُسْتَدِلًّا.

Karena keadaan seorang muqallid tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mengikuti semua orang atau sebagian dari mereka. Jika ia mengikuti semua orang, itu tidak mungkin dilakukan karena adanya perbedaan di antara mereka. Jika ia mengikuti sebagian dari mereka, maka pendapat yang diikutinya tidak lebih utama daripada pendapat yang ditinggalkannya. Jika ia melakukan tarjih (menguatkan salah satu pendapat), maka ia telah menjadi seorang mustadill (orang yang berargumen dengan dalil).

ثُمَّ يُقَالُ لِمَنْ قَلَّدَ: صِرْتَ إِلَى التَّقْلِيدِ بِدَلِيلٍ أَوْ بِغَيْرِ دَلِيلٍ؟ فَإِنْ قَالَ بِدَلِيلٍ نَاقَضَ قَوْلَهُ صَارَ مُسْتَدِلًّا وَغَيْرَ مُقَلِّدٍ.

Kemudian dikatakan kepada orang yang melakukan taklid: Apakah engkau melakukan taklid berdasarkan dalil atau tanpa dalil? Jika ia menjawab berdasarkan dalil, maka perkataannya bertentangan dengan tindakannya; ia telah menjadi orang yang beristidlal (menggunakan dalil) dan bukan lagi seorang muqallid (orang yang bertaklid).

وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِ دَلِيلٍ قِيلَ: فَهَلَّا قَلَّدْتَ مَنْ قَالَ بِإِبْطَالِ التَّقْلِيدِ فَلَا يَجِدُ مِنْهُ انْفِصَالًا إِلَّا بِدَلِيلٍ فَبَطَلَ التَّقْلِيدُ بِالدَّلِيلِ.

Dan jika seseorang berpendapat tanpa dalil, dikatakan kepadanya: Mengapa engkau tidak mengikuti pendapat orang yang membatalkan taqlid? Maka ia tidak akan menemukan jalan keluar dari hal itu kecuali dengan dalil, sehingga taqlid pun batal dengan dalil.

وَفِي أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالِاقْتِدَاءِ بِأَصْحَابِهِ مَا يُوجِبُ تَرْكَ التَّقْلِيدِ لِأَنَّهُمْ حِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْجِدِّ وَالْعَوْلِ وَغَيْرِهِ اسْتَدَلُّوا وَلَمْ يُقَلِّدْ بَعْضُهُمْ بَعْضًا.

Dan dalam perintah Rasulullah ﷺ untuk mengikuti para sahabatnya terdapat dalil yang mewajibkan meninggalkan taklid, karena ketika mereka berselisih pendapat dalam masalah jid, ‘aul, dan selainnya, mereka berdalil dan tidak saling bertaklid satu sama lain.

(فَصْلٌ: [الْقَوْلُ فِي وجوب النظر في أصول الشرع] )

Bagian: [Pembahasan tentang kewajiban melakukan nazar (penelaahan) terhadap ushul syar‘]

فَإِذَا تَقَرَّرَ فَسَادُ التَّقْلِيدِ وَجَبَ النَّظَرُ فِي أُصُولِ الشَّرْعِ لِيَصِلَ إِلَى الْعِلْمِ بِمُوجَبِهَا. وَأَبْطَلَ قَوْمٌ وُجُوبَ النَّظَرِ وَعَوَّلُوا عَلَى الْإِلْهَامِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا} [الحج: 46] فَحَمَلُوهُ عَلَى إِلْهَامِ الْقُلُوبِ دُونَ اعْتِبَارِهَا.

Maka apabila telah jelas kebatilan taklid, wajiblah melakukan penelitian terhadap ushul syar‘i agar dapat mencapai pengetahuan berdasarkan ketentuannya. Namun, sebagian orang menolak kewajiban penelitian dan bersandar pada ilham, dengan berdalil pada firman Allah Ta‘ala: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami?” (QS. Al-Hajj: 46). Mereka menafsirkannya sebagai ilham hati tanpa mempertimbangkan maknanya yang sebenarnya.

وَهَذَا تَأْوِيلٌ فَاسِدٌ وَقَوْلٌ مُطَّرِحٌ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ} [فصلت: 53] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ رُؤْيَةَ الْآيَاتِ تَدُلُّ عَلَى الْحَقِّ دُونَ الْإِلْهَامِ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ} [الشورى: 10] .

Ini adalah penafsiran yang rusak dan pendapat yang ditolak terhadap firman Allah Ta‘ala: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Fushshilat: 53). Maka ini menunjukkan bahwa melihat tanda-tanda itu menunjukkan kebenaran, bukan ilham. Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tentang apa pun yang kalian perselisihkan, maka putusannya (dikembalikan) kepada Allah.” (Asy-Syura: 10).

يَعْنِي إِمَّا بِالنَّصِّ عَلَى حُكْمِهِ، وَإِمَّا بِالنَّصِّ عَلَى أَصْلِهِ، وَلَمْ يَجْعَلْ لِإِلْهَامِ الْقُلُوبِ عِلْمًا بِغَيْرِ أَصْلٍ.

Artinya, baik dengan nash yang secara langsung menetapkan hukumnya, maupun dengan nash yang menetapkan asal hukumnya, dan tidak menjadikan ilham hati sebagai ilmu tanpa adanya dasar.

ثُمَّ يُقَالُ: لِمَنْ أَثْبَتَ الْمَعَارِفَ بِالْإِلْهَامِ لِمَ قُلْتَ: بِالْإِلْهَامِ فَإِنِ اسْتَدَلَّ نَاقَضَ وَإِنْ قَالَ قُلْتُهُ بِالْإِلْهَامِ فَعَنْهُ سُئِلَ فَيُقَالُ لَهُ انْفَصِلْ عَمَّنِ ادَّعَى الْإِلْهَامَ فِي إِبْطَالِ الْإِلْهَامِ وَانْفَصِلْ عَمَّنِ ادَّعَى الْإِلْهَامَ بِخِلَافِ إِلْهَامِكَ فِي جَمِيعِ أَقْوَالِكَ.

Kemudian dikatakan kepada orang yang menetapkan pengetahuan melalui ilham: Mengapa engkau berkata bahwa pengetahuan itu melalui ilham? Jika engkau menggunakan dalil, maka itu bertentangan; dan jika engkau berkata, “Aku mengatakannya berdasarkan ilham,” maka itulah yang dipertanyakan kepadamu. Maka dikatakan kepadanya: Berlepas dirilah dari orang yang mengaku mendapat ilham untuk membatalkan ilham, dan berlepas dirilah dari orang yang mengaku mendapat ilham yang berbeda dengan ilham yang engkau klaim dalam seluruh perkataanmu.

(فَصْلٌ: [السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى معرفة الأصول الشرعية] )

Bagian: [Sebab yang mengantarkan kepada pengetahuan terhadap ushul syar‘iyyah]

فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ النَّظَرِ فِي الْأُصُولِ الشَّرْعِيَّةِ فَالسَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى مَعْرِفَتِهَا وَالْعَمَلِ بِهَا شَيْئَانِ:

Maka apabila telah tetap kewajiban meneliti dalam ushul syar‘i, maka sebab yang mengantarkan kepada pengetahuannya dan pengamalannya ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: عِلْمُ الْحَقِّ وَهُوَ الْعَقْلُ: لِأَنَّ حُجَجَ الْعَقْلِ أَصْلٌ لِمَعْرِفَةِ الْأُصُولِ إِذْ لَيْسَ تُعْرَفُ صِحَّةُ الْأُصُولِ إِلَّا بِحُجَجِ الْعُقُولِ. وَلِذَلِكَ لَمْ يَرِدِ الشَّرْعُ إِلَّا بِمَا أَوْجَبَهُ الْعَقْلُ أَوْ جَوَّزَهُ وَلَمْ يَرِدْ بِمَا حَظَرَهُ الْعَقْلُ وَأَبْطَلَهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ} [العنكبوت: 43] مَعْنَاهُ وَمَا يَعْلمُهَا إِلَّا الْعَاقِلُونَ لِقَوْلِهِ: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأُولِي النُّهَى} [طه: 54] يَعْنِي أُولِي الْعُقُولِ.

Salah satunya adalah ilmu tentang kebenaran, yaitu akal, karena hujjah-hujjah akal merupakan dasar untuk mengetahui pokok-pokok (agama), sebab tidaklah diketahui kebenaran pokok-pokok tersebut kecuali dengan hujjah-hujjah akal. Oleh karena itu, syariat tidak datang kecuali dengan apa yang diwajibkan atau dibolehkan oleh akal, dan tidak datang dengan apa yang dilarang atau dibatalkan oleh akal. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut: 43), maksudnya: tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berakal, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Thaha: 54), yaitu orang-orang yang memiliki akal.

فَصَارَتْ حُجَجُ الْعُقُولِ قَاضِيَةً عَلَى حُجَجِ السَّمْعِ وَمُؤَدِّيَةً إِلَى عِلْمِ الِاسْتِدْلَالِ، وَلِذَلِكَ سَمَّى كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَقْلَ أُمَّ الْأُصُولِ.

Maka dalil-dalil akal menjadi penentu atas dalil-dalil naql dan mengantarkan kepada ilmu istidlāl, dan karena itulah banyak ulama menyebut akal sebagai induk dari ushul.

وَالسَّبَبُ الثَّانِي فِي مَعْرِفَةِ الْأُصُولِ الشَّرْعِيَّةِ مَعْرِفَةُ لِسَانِ الْعَرَبِ:

Sebab kedua dalam mengetahui ushul syar‘i adalah mengetahui bahasa Arab.

وَهُوَ مُعْتَبَرٌ فِي حُجَجِ السَّمْعِ خَاصَّةً قَالَ الله تعالى: {وما أرسلنا من رسول إلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ} [إبراهيم: 4] لِأَنَّهُ لَا يُخَاطِبُهُمْ إِلَّا بِمَا يُفْهَمُ عَنْهُ لِيَكُونَ حُجَّةً عَلَيْهِمْ وَلَهُمْ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: {لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ} [النحل: 103] فَاحْتَاجَ النَّاظِرُ إِلَى مَعْرِفَةِ لِسَانِهِمْ، وَمَوْضُوعِ خِطَابِهِمْ، لِيُفَرِّقَ بَيْنَ الْحَقِيقَةِ وَالْمَجَازِ، وَبَيْنَ الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ، وَبَيْنَ الْمُطْلَقِ وَالْمُقَيَّدِ، وَبَيْنَ الْعَامِّ وَالْخَاصِّ، وَبَيْنَ الْمُفَسَّرِ وَالْمُجْمَلِ، وَبَيْنَ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ، وَيُفَرِّقَ بَيْنَ الْفَاعِلِ وَالْمَفْعُولِ، وَيَعْرِفُ صِيغَةَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي.

Hal ini sangat diperhatikan dalam hujjah-hujjah syariat secara khusus. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat menjelaskan kepada mereka.” (Ibrahim: 4) Karena sesungguhnya Allah tidak berbicara kepada mereka kecuali dengan sesuatu yang dapat mereka pahami, agar menjadi hujjah bagi mereka dan atas mereka. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Bahasa yang mereka condong kepadanya adalah bahasa ‘ajam, padahal ini adalah bahasa Arab yang jelas.” (an-Nahl: 103) Maka orang yang meneliti membutuhkan pengetahuan tentang bahasa mereka dan maksud pembicaraan mereka, agar dapat membedakan antara makna hakiki dan majazi, antara penetapan dan penafian, antara yang mutlak dan yang muqayyad, antara yang umum dan yang khusus, antara yang mufassar dan yang mujmal, antara yang nasikh dan yang mansukh, membedakan antara pelaku dan objek, serta mengetahui bentuk-bentuk perintah dan larangan.

فَإِنْ قَصُرَ عَنْهَا لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ النَّظَرُ.

Jika ia kurang dari itu, maka tidak sah baginya melakukan nazar.

وَلَسْنَا نَعْنِي أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِجَمِيعِ لُغَتِهِمْ وَإِعْرَابِ كَلَامِهِمْ، لِأَنَّ التَّشَاغُلَ بِهِ يَقْطَعُهُ عَنْ عِلْمِ مَا سِوَاهُ، وَإِنَّمَا نُرِيدُ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِمَوْضُوعِ كَلَامِهِمْ وَمَشْهُورِ خِطَابِهِمْ وَهُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى أَرْبَعَةِ وُجُوهٍ: أَمْرٌ وَنَهْيٌ وَخَبَرٌ وَاسْتِخْبَارٌ.

Kami tidak bermaksud bahwa seseorang harus menguasai seluruh bahasa mereka dan tata bahasa ucapan mereka, karena kesibukan dengan hal itu akan menghalanginya dari ilmu selainnya. Yang kami maksud adalah ia harus memahami maksud ucapan mereka dan ungkapan yang masyhur di kalangan mereka, yang mencakup empat bentuk: perintah, larangan, berita, dan pertanyaan.

فَأَمَّا مَنْ لَا يَقْصِدُ النَّظَرَ الْمُؤَدِّيَ إِلَى الْعِلْمِ فَالَّذِي يَلْزَمُهُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْعَرَبِيَّةِ مَا يَجِبُ أَنْ يَتْلُوَهُ فِي صَلَاتِهِ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْأَذْكَارِ دُونَ غَيْرِهِ.

Adapun orang yang tidak bermaksud melakukan penelaahan yang mengantarkan kepada ilmu, maka yang wajib ia ketahui dari bahasa Arab adalah sebatas yang harus ia baca dalam salatnya berupa Al-Qur’an dan zikir, tidak lebih dari itu.

فَإِذَا جَمَعَ النَّاظِرُ بَيْنَ هَذَيْنِ الشَّيْئَيْنِ مِنْ عِلْمِ الْحَوَاسِّ وَلِسَانِ الْعَرَبِ صَحَّ مِنْهُ النَّظَرُ فِي الْأُصُولِ وَكَانَا أَصْلَيْنِ فِي الْعِلْمِ بِهَا.

Maka apabila seseorang yang meneliti menggabungkan dua hal ini, yaitu pengetahuan indera dan bahasa Arab, maka penelitiannya dalam ushul menjadi sah, dan kedua hal tersebut menjadi dua pokok dalam pengetahuan tentang ushul.

وَقَدِ اخْتَلَفَ فِي الْعِبَارَةِ عَنِ الْأَصْلِ وَالْفَرْعِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: الْأَصْلُ مَا دَلَّ عَلَى غَيْرِهِ، وَالْفَرْعُ مَا دَلَّ عليه غيره. فعلى هذا الْعِبَارَةِ يَجُوزُ أَنْ يَقُولَ فِي الْكِتَابِ إنَّهُ فَرْعٌ لِعِلْمِ الْحِسِّ، لِأَنَّهُ الدَّالُّ عَلَى صِحَّتِهِ.

Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai ungkapan tentang al-ashl dan al-far‘. Sebagian mereka berkata: al-ashl adalah sesuatu yang menunjukkan kepada selainnya, sedangkan al-far‘ adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh selainnya. Berdasarkan ungkapan ini, boleh saja dikatakan dalam kitab bahwa ia adalah far‘ dari ilmu hissi, karena ilmu hissi-lah yang menunjukkan kebenarannya.

وَقَالَ آخَرُونَ: الْأَصْلُ مَا تَفَرَّعَ عَنْهُ غَيْرُهُ، وَالْفَرْعُ مَا تَفَرَّعَ عَنْ غَيْرِهِ فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ فِي الْكِتَابِ إنَّهُ فرع لعلم الحسن، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى تَوَلَّاهُ وَجَعَلَهُ أَصْلًا دَلَّ العقل عليه.

Dan sebagian yang lain berkata: Asal adalah sesuatu yang darinya bercabang hal lain, sedangkan cabang adalah sesuatu yang bercabang dari selainnya. Berdasarkan hal ini, tidak boleh dikatakan bahwa al-Kitab adalah cabang dari ilmu tentang kebaikan, karena Allah Ta‘ala yang menanganinya dan menjadikannya sebagai asal yang ditunjukkan oleh akal.

(فصل: [الأصول الشرعية] )

(Bab: [Sumber-sumber Syariat])

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ فَالْأُصُولُ الشَّرْعِيَّةُ أَرْبَعَةٌ: الكتاب والسنة والإجماع والقياس.

Setelah ketetapan ini jelas, maka sumber-sumber syariat ada empat: al-Kitab, as-Sunnah, ijmā‘, dan qiyās.

أولا: الكتاب.

Pertama: Al-Kitab.

فَالْأَصْلُ الْأَوَّلُ هُوَ كِتَابُ اللَّهِ: الَّذِي لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ} [الجاثية: 29] وَقَالَ: {مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ} [الأنعام: 38] وَقَالَ: {وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ} [الشورى: 10] .

Prinsip pertama adalah Kitab Allah: yang tidak didatangi kebatilan dari depan maupun dari belakang. Allah Ta‘ala berfirman: “Inilah kitab Kami yang berbicara kepada kalian dengan kebenaran” (Al-Jatsiyah: 29), dan Dia berfirman: “Kami tidak mengabaikan sesuatu pun dalam kitab ini” (Al-An‘am: 38), dan Dia berfirman: “Tentang apa pun yang kalian perselisihkan di dalamnya, maka putusannya kembali kepada Allah” (Asy-Syura: 10).

(ما يشتمل عليه الكتاب)

(Isi yang tercakup dalam kitab ini)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَكِتَابُ اللَّهِ يَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ وُجُوهٍ: أَمْرٍ وَنَهْيٍ وَخَبَرٍ.

Kitab Allah mencakup tiga aspek: perintah, larangan, dan berita.

وَلَيْسَ فِيهِ اسْتِخْبَارٌ لِعِلْمِهِ بِمَا كَانَ وَيَكُونُ. وَمَا وَرَدَ فِيهِ عَلَى صِيغَةِ الِاسْتِخْبَارِ وَالِاسْتِفْهَامِ فَالْمُرَادُ بِهِ تَقْرِيرٌ أَوْ وَعِيدٌ.

Dan di dalamnya tidak terdapat permintaan informasi karena Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Adapun apa yang datang dengan bentuk pertanyaan atau permintaan penjelasan, maka yang dimaksud dengannya adalah penegasan atau ancaman.

وَقَدْ حُدَّ مَا فِيهِ بِأَخَصَّ مِنْ هَذِهِ الْعِبَارَةِ فَقِيلَ: إِنَّهُ يَشْتَمِلُ عَلَى إِعْلَامٍ وَإِلْزَامٍ.

Dan telah ditetapkan batasan yang lebih khusus dari ungkapan ini, yaitu dikatakan: sesungguhnya ia mencakup pemberitahuan dan mewajibkan.

فَالْإِعْلَامُ: وَعْدٌ أَوْ وَعِيدٌ، وَلَيْسَ يَخْلُو مَا فِيهِ مِنَ النُّصُوصِ مِنْ أَنْ يُرَادَ بِهِ وَعْدٌ أَوْ وَعِيدٌ.

Maka al-i‘lam adalah janji atau ancaman, dan tidaklah teks-teks yang ada di dalamnya lepas dari maksud janji atau ancaman.

وَالْإِلْزَامُ أَمْرٌ وَنَهْيٌ.

Kewajiban adalah perintah dan larangan.

فَالْأَمْرُ مَا تُعُبِّدَ بِفِعْلِهِ.

Maka perkara itu adalah apa yang diperintahkan untuk dilakukan sebagai bentuk penghambaan.

والنهي ما تعبد بتركه.

Larangan adalah sesuatu yang disyariatkan untuk ditinggalkan.

(أقسام الأمر)

(Macam-macam Perintah)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْأَمْرُ: يَنْقَسِمُ بِالْقَرَائِنِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ: وَاجِبٌ وَاسْتِحْبَابٌ وَمُبَاحٌ.

Perintah itu, dengan adanya qarinah-qarinah, terbagi menjadi tiga bagian: wajib, istihbab, dan mubah.

فَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ قَرِينَةٍ كَانَ مَحْمُولًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ عَلَى الْوُجُوبِ إِلَّا بِدَلِيلٍ يَصْرِفُهُ إِلَى الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِبَاحَةِ.

Jika tidak disertai dengan qarinah, maka menurut Imam Syafi‘i, perintah itu dipahami sebagai wajib, kecuali ada dalil yang mengalihkannya kepada mustahab atau mubah.

وَذَهَبَ غَيْرُهُ إِلَى أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْوُجُوبِ.

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa hal itu dimaknai sebagai anjuran (istihbāb) sampai ada dalil yang menunjukkan kewajiban.

وَقَالَ آخَرُونَ: هُوَ مَوْقُوفٌ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْمُرَادِ بِهِ لِاحْتِمَالِهِ.

Dan sebagian ulama lain berkata: Hukum tersebut ditangguhkan sampai ada dalil yang menunjukkan maksudnya, karena adanya kemungkinan makna yang berbeda.

وَمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ أَوْلَى، لِفِرَقِ مَا بَيْنَ وُرُودِ الأمر وعدمه.

Apa yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i lebih utama, karena adanya perbedaan antara datangnya perintah dan tidak adanya perintah.

(أقسام النهي)

(Macam-macam Larangan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالنَّهْيُ يَنْقَسِمُ بِالْقَرَائِنِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ: تَحْرِيمٌ وَكَرَاهَةٌ وَتَنْزِيهٌ:

Larangan terbagi, berdasarkan qarinah, menjadi tiga bagian: tahrim (pengharaman), karahah (kemakruhan), dan tanzih (anjuran untuk meninggalkan tanpa dosa).

فَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ قَرِينَةٍ كَانَ مَحْمُولًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ عَلَى التَّحْرِيمِ وَفَسَادِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ إِلَّا أَنْ يَصْرِفَهُ دَلِيلٌ إِلَى غَيْرِهِ.

Jika larangan itu tidak disertai dengan indikasi lain, maka menurut Imam Syafi‘i, larangan tersebut dipahami sebagai pengharaman dan batalnya perbuatan yang dilarang, kecuali ada dalil yang mengalihkannya kepada makna lain.

وَالْأَمْرُ يَقْتَضِي فِعْلَ الْمَأْمُورِ مَرَّةً وَاحِدَةً، وَلَا يُحْمَلُ عَلَى التَّكْرَارِ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Perintah itu menuntut dilaksanakannya sesuatu yang diperintahkan satu kali saja, dan tidak boleh dipahami sebagai perintah untuk mengulanginya kecuali ada dalil.

وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي تَرْكَ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ عَلَى الدَّوَامِ وَلَا يُجْعَلُ مُوَقَّتًا إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Larangan menuntut untuk meninggalkan sesuatu yang dilarang secara terus-menerus dan tidak dijadikan bersifat sementara kecuali dengan adanya dalil.

وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي الْفَوْرَ، وَلَا يُحْمَلُ عَلَى التَّرَاخِي إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Larangan menuntut pelaksanaan segera, dan tidak boleh dipahami sebagai boleh ditunda kecuali ada dalil.

وَفِيمَا يَقْتَضِيهِ مُطْلَقُ الْأَمْرِ مِنَ الْفَوْرِ أَوِ التَّرَاخِي وَجْهَانِ:

Dalam hal yang dituntut oleh perintah yang bersifat mutlak, apakah harus segera dilaksanakan atau boleh ditunda, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى الْفَوْرِ كَالنَّهْيِ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى التَّرَاخِي.

Salah satunya: bahwa perintah itu harus segera dilaksanakan seperti larangan, sampai ada dalil yang menunjukkan bolehnya penundaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى التَّرَاخِي حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْفَوْرِ.

Pendapat kedua: bahwa hal itu dianggap boleh ditunda sampai ada dalil yang menunjukkan kewajiban segera.

وَقَدْ يَرِدُ الْأَمْرُ بِلَفْظِ الْخَبَرِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ} [البقرة: 228] فَيُحْمَلُ عَلَى حُكْمِ الْأَمْرِ.

Terkadang perintah datang dengan lafaz berita, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan para wanita yang ditalak hendaklah menahan diri mereka (menunggu) selama tiga quru’” (QS. Al-Baqarah: 228), maka hal itu dipahami sebagai hukum perintah.

وَيَجُوزُ أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ النَّسْخُ.

Dan boleh jadi nasakh (penghapusan hukum) dapat diarahkan kepadanya.

وَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّ مَا وَرَدَ بِلَفْظِ الْخَبَرِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ نَسْخٌ كَالْخَبَرِ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa apa yang datang dengan lafaz khabar (berita) tidak boleh dikenai nasakh, sebagaimana halnya khabar.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الْأَمْرِ فَكَانَ عَلَى حُكْمِهِ.

Ini tidak sah, karena hal itu termasuk dalam makna perintah sehingga mengikuti hukumnya.

وَمُطْلَقُ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ مُتَوَجِّهٌ إِلَى جَمِيعِ الْأَحْرَارِ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ.

Perintah dan larangan yang bersifat mutlak ditujukan kepada seluruh orang merdeka, baik laki-laki maupun perempuan.

وَفِي دُخُولِ الْعَبِيدِ فِي مُطْلَقِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dalam hal masuknya para budak ke dalam cakupan perintah dan larangan secara mutlak, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: يَدْخُلُونَ فِيهِ لِتَوَجُّهِ التَّكْلِيفِ إِلَيْهِمْ وَلَا يَخْرُجُونَ مِنْهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Salah satunya: mereka termasuk di dalamnya karena adanya pengarahan taklīf kepada mereka, dan mereka tidak keluar darinya kecuali dengan dalil.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَتَوَجَّهُ إِلَيْهِمْ وَيَخْرُجُونَ مِنْهُ بِغَيْرِ دَلِيلٍ لِأَنَّهُمْ أَتْبَاعٌ.

Pendapat kedua: Tidak berlaku bagi mereka, dan mereka keluar darinya tanpa dalil karena mereka adalah pengikut.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ إِنْ تَضَمَّنَ الْخِطَابُ وَعِيدًا تَوَجَّهَ إِلَيْهِمْ كَالْأَحْرَارِ وَلَمْ يَخْرُجُوا مِنْهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ وَإِنْ تَضَمَّنَ مِلْكًا أَوْ عَقْدًا أَوْ وِلَايَةً خَرَجُوا مِنْهُ وَلَمْ يَدْخُلُوا فِيهِ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Pendapat ketiga: Jika suatu khithāb (teks syariat) mengandung ancaman, maka hal itu juga berlaku bagi mereka seperti halnya bagi orang-orang merdeka, dan mereka tidak dikecualikan darinya kecuali dengan dalil. Namun jika khithāb tersebut mengandung kepemilikan, akad, atau kekuasaan, maka mereka dikecualikan darinya dan tidak termasuk di dalamnya kecuali dengan dalil.

وَإِذَا وَرَدَ الْكِتَابُ بِاللَّفْظِ الْمُذَكَّرِ تَوَجَّهَ إِلَى الرِّجَالِ وَلَمْ تَدْخُلْ فِيهِ النِّسَاءُ إِلَّا بِدَلِيلٍ، كَمَا لَوْ وَرَدَ بِلَفْظِ الْمُؤَنَّثِ تَوَجَّهَ إِلَى النِّسَاءِ وَلَمْ يَدْخُلْ فِيهِ الرِّجَالُ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Apabila suatu nash datang dengan lafaz mudzakkar (maskulin), maka hukum tersebut ditujukan kepada laki-laki dan tidak mencakup perempuan kecuali ada dalil yang menunjukkan demikian. Sebagaimana jika nash datang dengan lafaz mu’annats (feminin), maka hukum tersebut ditujukan kepada perempuan dan tidak mencakup laki-laki kecuali ada dalil yang menunjukkan demikian.

وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَذَلِكَ مُخْتَلَفٌ فِيهِ.

Hal ini telah disepakati, sedangkan yang itu diperselisihkan.

وَالْمُتَّفَقُ عَلَيْهِ مِنِ افْتِرَاقِهِمَا فِي اللَّفْظِ الْمُؤَنَّثِ دَلِيلٌ يُوجِبُ افْتِرَاقَهُمَا فِيمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ اللَّفْظِ الْمُذَكَّرِ.

Kesepakatan mengenai perbedaan keduanya dalam lafaz mu’annats (bentuk feminin) merupakan dalil yang mewajibkan adanya perbedaan antara keduanya dalam lafaz mudzakkar (bentuk maskulin) yang diperselisihkan.

وَأَمَّا مَا تَضَمَّنَتْهُ شَرَائِعُ مَنْ قَبْلَنَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي فَمَا لَمْ يَقُصَّهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْنَا فِي كِتَابِهِ لَمْ يَلْزَمْنَا حُكْمُهُ لِانْتِفَاءِ الْعِلْمِ بِصِحَّتِهِ، وَمَا قَصَّهُ عَلَيْنَا فِي كِتَابِهِ لَزِمَنَا مِنْهُ مَا شَرَعَهُ إِبْرَاهِيمُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا} [النحل: 123] .

Adapun ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam syariat para nabi sebelum kita, berupa perintah dan larangan, maka apa yang tidak diceritakan Allah Ta‘ala kepada kita dalam Kitab-Nya, tidak wajib bagi kita untuk mengamalkan hukumnya karena tidak adanya pengetahuan tentang kebenarannya. Sedangkan apa yang diceritakan kepada kita dalam Kitab-Nya, maka kita wajib mengamalkan apa yang telah disyariatkan oleh Ibrahim, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu: Ikutilah millah Ibrahim yang hanif.” (an-Nahl: 123).

وَفِي لُزُومِ مَا شَرَعَهُ غَيْرُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَجْهَانِ:

Dalam kewajiban mengikuti syariat yang ditetapkan oleh nabi lain terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَلْزَمُ مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نَسْخِهِ لِكَوْنِهِ حَقًّا.

Salah satunya: tetap berlaku selama tidak ada dalil yang menunjukkan telah di-nasakh, karena ia merupakan suatu kebenaran.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَلْزَمُ إِلَّا أَنْ يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِهِ وليس في أصله منسوخا.

Pendapat kedua: Sesuatu itu tidak wajib kecuali ada dalil yang menunjukkan kewajibannya, dan pada asalnya tidak ada naskh (penghapusan hukum) atasnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالَّذِي يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ كِتَابُ اللَّهِ مِنَ النُّصُوصِ فِي الْأَحْكَامِ قِيلَ إِنَّهَا خَمْسُمِائَةِ آيَةٍ.

Adapun ayat-ayat yang terdapat dalam Kitabullah mengenai hukum-hukum, dikatakan bahwa jumlahnya adalah lima ratus ayat.

تَنْقَسِمُ سِتَّةَ أَقْسَامٍ:

Terbagi menjadi enam bagian:

أَحَدُهَا: الْعُمُومُ وَالْخُصُوصُ.

Salah satunya adalah ‘umum dan khusus.

وَالثَّانِي: الْمُجْمَلُ وَالْمُفَسَّرُ

Kedua: al-mujmal dan al-mufassar.

وَالثَّالِثُ: الْمُطْلَقُ وَالْمُقَيَّدُ.

Ketiga: yang mutlak dan yang muqayyad.

وَالرَّابِعُ: الْإِثْبَاتُ وَالنَّفْيُ.

Keempat: penetapan dan penafian.

وَالْخَامِسُ: الْمُحْكَمُ وَالْمُتَشَابِهُ.

Kelima: ayat-ayat muḥkam dan mutasyābih.

وَالسَّادِسُ: النَّاسِخُ وَالْمَنْسُوخُ.

Keenam: nasikh dan mansukh.

( [القسم الأول: العموم والخصوص] )

(Bagian Pertama: Keumuman dan Kekhususan)

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الْعُمُومُ وَالْخُصُوصُ: فَالْعُمُومُ هُوَ الْجَمْعُ وَالِاشْتِرَاكُ مَأْخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِمْ قَدْ عَمَّ الْأَمْنُ وَالْخِصْبُ.

Adapun bagian pertama, yaitu ‘umum’ dan ‘khusus’: maka ‘umum’ adalah mencakup dan meliputi bersama-sama, diambil dari ucapan mereka “telah meliputi keamanan dan kesuburan.”

وَأَقَلُّ الْعُمُومِ ثَلَاثَةٌ هِيَ أَقَلُّ الْجَمْعِ، وَمَنْ جَعَلَ أَقَلَّ الْجَمْعِ اثْنَيْنِ جَعَلَهُمَا أَقَلَّ الْعُمُومِ.

Dan jumlah minimal dari keumuman adalah tiga, yaitu jumlah terkecil dari jama‘. Barang siapa yang menganggap jumlah terkecil dari jama‘ adalah dua, maka ia menjadikan dua itu sebagai jumlah minimal dari keumuman.

وَالْخُصُوصُ: هُوَ الِانْفِرَادُ مَأْخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِمْ زَيْدٌ مَخْصُوصٌ بِالشَّجَاعَةِ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِمْ أَشْجَعُ مِنْهُ.

Khusus adalah kekhususan, diambil dari ungkapan mereka “Zaid makhshush dalam keberanian” jika di antara mereka tidak ada yang lebih berani darinya.

وَأَقَلُّ الْخُصُوصِ وَاحِدٌ.

Dan kadar kekhususan yang paling sedikit adalah satu.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْخُصُوصُ مَخْرَجًا لِأَقَلِّ الْعُمُومِ وَأَكْثَرِهِ إِذَا انْطَلَقَ عَلَى الْبَاقِي اسْمُ الْعُمُومِ كَالِاسْتِثْنَاءِ وَيَكُونُ الْمَخْصُوصُ غَيْرَ مُرَادٍ بِالْعُمُومِ بِخِلَافِ النَّسْخِ وَيَصِيرُ الْمُرَادُ بِالْعُمُومِ هُوَ لِلْبَاقِي مِنْهُ بَعْدَ الْمَخْصُوصِ.

Dan boleh saja kekhususan menjadi pengecualian bagi sebagian kecil atau sebagian besar dari keumuman, selama nama keumuman masih berlaku pada sisanya, seperti dalam istisnā’ (pengecualian). Maka yang dikhususkan tidak dimaksudkan dalam keumuman, berbeda dengan nasakh. Dengan demikian, yang dimaksud dengan keumuman adalah yang tersisa darinya setelah adanya kekhususan.

وَيَجُوزُ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ الْمُطْلَقِ.

Dan boleh melakukan takhshis terhadap keumuman yang mutlak.

وَمَنَعَ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ تَخْصِيصِ مَا أُكِّدَ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ لِوُجُودِ الِاحْتِمَالِ بَعْدَ التَّأْكِيدِ كَوُجُودِهِ مِنْ قَبْلُ.

Sebagian orang melarang melakukan takhshīṣ terhadap sesuatu yang telah ditegaskan, namun hal itu tidak benar, karena kemungkinan (takhshīṣ) tetap ada setelah penegasan sebagaimana kemungkinannya ada sebelum penegasan.

فَأَمَّا الْأَحْوَالُ: فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا لَمْ يَخْلُ الْعُمُومُ مِنْ ثلاثة أَحْوَالٍ:

Adapun keadaan-keadaan: apabila hal ini telah dijelaskan, maka keumuman tidak lepas dari tiga keadaan.

أَحَدُهَا: أَنْ يَقْتَرِنَ بِهِ مِنَ الدَّلَائِلِ أَوْ شَوَاهِدِ الْأَحْوَالِ مَا يُوجِبُ حَمْلَهُ عَلَى عُمُومِهِ فَيَجِبُ حَمْلُهُ عَلَى مُقْتَضَى الْعُمُومِ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ} [النساء: 23] وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى الْعُمُومِ فِي تَحْرِيمِ الْأُمَّهَاتِ وَالْبَنَاتِ مِنْ غَيْرِ تَخْصِيصٍ.

Salah satunya: apabila terdapat dalil atau indikasi keadaan yang menyertainya yang mewajibkan untuk memaknainya secara umum, maka wajib memaknainya sesuai dengan keumumannya. Seperti firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian dan anak-anak perempuan kalian” (an-Nisā’: 23), yang dimaknai secara umum dalam pengharaman ibu dan anak perempuan tanpa ada pengecualian.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقْتَرِنَ بِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى تَخْصِيصِهِ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى {إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ ورسوله} الْآيَةَ إِلَى قَوْلِهِ {مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ} [المائدة: 33، 34] فَخَصَّ مِنْ عُمُومِ الْقَتْلِ التَّائِبَ قَبْلَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ فَوَجَبَ أَنْ يُسْتَعْمَلَ هَذَا الْعُمُومُ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ التَّخْصِيصُ.

Keadaan kedua: apabila terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya takhshis (pengkhususan) bersamanya, seperti firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya pembalasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya…” (ayat) hingga firman-Nya, “sebelum kamu dapat menguasai mereka” (QS. al-Mā’idah: 33, 34). Maka Allah telah mengkhususkan dari keumuman hukuman mati, yaitu bagi orang yang bertobat sebelum mereka dikuasai. Oleh karena itu, keumuman ini wajib digunakan sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh takhshis tersebut.

الْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ الْعُمُومُ مُطْلَقًا لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ.

Keadaan ketiga: yaitu apabila lafaz umum itu bersifat mutlak, tidak disertai sesuatu pun yang menunjukkan salah satu dari dua hal tersebut.

فَقَدِ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِيمَا يُوجِبُهُ إِطْلَاقُهُ عَلَى أَرْبَعَةِ مَذَاهِبَ:

Para ulama telah berselisih pendapat mengenai apa yang ditetapkan oleh keumumannya menjadi empat mazhab.

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ الظَّاهِرِ أَنَّهُ لَا صِيغَةَ لِلْعُمُومِ تُوجِبُ الْعَمَلَ بِهَا، وَالْوَاجِبُ فِيهِ التَّوَقُّفُ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْمُرَادِ بِهِ كَالْمُجْمَلِ لِمَا تَضَمَّنَهُ مِنْ الِاحْتِمَالِ.

Salah satunya, yaitu pendapat mazhab Ahl azh-Zhahir, bahwa tidak ada lafaz umum yang mewajibkan untuk diamalkan, dan yang wajib dalam hal ini adalah berhenti (tidak beramal) sampai ada dalil yang menunjukkan maksudnya, sebagaimana lafaz mujmal, karena mengandung kemungkinan makna.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ بَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ أَنَّ الْوَاجِبَ اسْتِعْمَالُهُ عَلَى عُمُومِهِ مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى تَخْصِيصِهِ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ وَلَا اجْتِهَادٍ امْتِثَالًا لِمُوجَبِ الْأَمْرِ.

Yang kedua: yaitu pendapat sebagian mutakallim bahwa yang wajib adalah menggunakan lafaz umum sesuai keumumannya selama belum ada dalil yang menunjukkan adanya takhshish, tanpa perlu pertimbangan atau ijtihad, sebagai bentuk ketaatan terhadap tuntutan perintah.

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ أَنَّهُ قَبْلَ التَّخْصِيصِ مُسْتَعْمَلٌ عَلَى عُمُومِهِ مِنْ غَيْرِ اجْتِهَادٍ وَلَا نَظَرٍ وَبَعْدَ التَّخْصِيصِ مُجْمَلٌ لَا يُسْتَعْمَلُ إِلَّا بَعْدَ الْبَيَانِ؛ لِأَنَّهُ قَبْلَ التَّخْصِيصِ جَلِيٌّ وَبَعْدَ التَّخْصِيصِ خَفِيٌّ.

Ketiga: Ini adalah mazhab Ahlul ‘Iraq, bahwa sebelum adanya takhshis, lafaz tersebut digunakan menurut keumumannya tanpa ijtihad dan tanpa penelaahan. Namun setelah adanya takhshis, lafaz tersebut menjadi mujmal dan tidak dapat digunakan kecuali setelah ada penjelasan, karena sebelum takhshis maknanya jelas, sedangkan setelah takhshis maknanya menjadi samar.

وَالرَّابِعُ: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ لِمُطْلَقِ الْعُمُومِ صِيغَةً تُوجِبُ النَّظَرَ وَالِاجْتِهَادَ فِي أَدِلَّةِ تَخْصِيصِهِ، فَإِنْ وُجِدَ مَا يَخُصُّهُ اسْتُعْمِلَ بَاقِيهِ بَعْدَ تَخْصِيصِهِ، وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ مَا يَخُصُّهُ أُجْرِيَ عَلَى عُمُومِهِ، وَلَا يَجُوزُ اسْتِعْمَالُهُ قَبْلَ النَّظَرِ وَلَا يَصِيرُ مُجْمَلًا بَعْدَ التَّخْصِيصِ، لِأَنَّهُ قَبْلَ النَّظَرِ وَالِاجْتِهَادِ مُتَكَافِئُ الِاحْتِمَالِ وَبَعْدَ إِمْعَانِ النَّظَرِ وَالِاجْتِهَادِ مُتَرَجِّحُ الِاسْتِعْمَالِ وَلَيْسَ لِزَمَانِ النَّظَرِ وَالِاجْتِهَادِ وَقْتٌ مُقَدَّرٌ وَإِنَّمَا هُوَ مُعْتَبِرٌ بِمَا يُؤَدِّيهِ الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ مِنَ الرَّجَاءِ وَالْإِيَاسِ.

Keempat: yaitu mazhab Syafi‘i, bahwa lafaz umum secara mutlak memiliki bentuk yang mewajibkan untuk meneliti dan berijtihad dalam mencari dalil-dalil yang mengkhususkannya. Jika ditemukan dalil yang mengkhususkannya, maka digunakan sisanya setelah dikhususkan. Jika tidak ditemukan dalil yang mengkhususkannya, maka lafaz itu dijalankan sesuai keumumannya. Tidak boleh mengamalkannya sebelum dilakukan penelitian, dan lafaz itu tidak menjadi mujmal setelah adanya takhshish, karena sebelum penelitian dan ijtihad, kemungkinan-kemungkinannya masih seimbang, dan setelah penelitian dan ijtihad yang mendalam, penggunaan yang lebih kuat akan tampak. Tidak ada waktu tertentu yang ditetapkan untuk masa penelitian dan ijtihad, melainkan hal itu bergantung pada apa yang dicapai oleh ijtihad, baik berupa harapan maupun keputusasaan.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَأَدِلَّةُ التَّخْصِيصِ تُؤْخَذُ مِنْ أَرْبَعَةِ أُصُولٍ: الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالْقِيَاسِ.

Jika demikian, maka dalil-dalil takhshis diambil dari empat sumber: al-Kitab, as-Sunnah, ijmā‘, dan qiyās.

فَأَمَّا تَخْصِيصُ الْكِتَابِ: فَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ} [البقرة: 228] فَاقْتَضَى عُمُومُهُ إِيجَابَ الْعِدَّةِ عَلَى كُلِّ مُطَلَّقَةٍ فَخَصَّ مِنْهُ الْمُطَلَّقَةَ قَبْلَ الدُّخُولِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا} [الأحزاب: 46] .

Adapun takhshis (pengkhususan) Al-Kitab, contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan para wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) selama tiga quru’.” (Al-Baqarah: 228). Keumuman ayat ini menunjukkan wajibnya masa iddah bagi setiap wanita yang ditalak. Namun, dikecualikan darinya wanita yang ditalak sebelum terjadi hubungan suami istri, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Apabila kalian menikahi wanita-wanita mukmin, kemudian kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, maka tidak ada masa iddah yang perlu kalian perhitungkan terhadap mereka.” (Al-Ahzab: 49).

وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالسُّنَّةِ: فَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا} [المائدة: 38] خَصَّهُ قَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَا قَطْعَ فِي أَقَلَّ مِنْ رُبْعِ دِينَارٍ ” وَلَا قَطْعَ فِي ثَمَرٍ وَلَا أَكْثَرَ وَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى {فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ} [التوبة: 5] ونهى النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ.

Adapun pengkhususan al-Kitab dengan as-Sunnah: seperti firman Allah Ta‘ala, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (QS. al-Mā’idah: 38), dikhususkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada potong tangan pada pencurian kurang dari seperempat dinar,” dan tidak ada potong tangan pada buah-buahan, baik sedikit maupun banyak. Demikian pula firman Allah Ta‘ala, “Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu menemui mereka” (QS. at-Taubah: 5), dikhususkan oleh larangan Nabi ﷺ untuk membunuh perempuan dan anak-anak.

وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالْإِجْمَاعِ: فَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ} [النساء: 11] خَصَّهُ الْإِجْمَاعُ فِي أَنَّ الْعَبْدَ لَا يَرِثُ. وَخَصَّتْهُ السُّنَّةُ فِي أَنَّ الْقَاتِلَ وَالْكَافِرَ لَا يَرِثَانِ فَصَارَا بَعْضَهَا مَخْصُوصًا بِالسُّنَّةِ وَبَعْضَهَا مَخْصُوصًا بِالْإِجْمَاعِ.

Adapun pengkhususan al-Qur’an dengan ijmā‘: seperti firman Allah Ta‘ala, “Allah mewasiatkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, bagian seorang laki-laki sama dengan dua bagian perempuan” (QS. an-Nisā’: 11). Ayat ini dikhususkan oleh ijmā‘ bahwa budak tidak mewarisi. Dan dikhususkan oleh sunnah bahwa pembunuh dan orang kafir tidak mewarisi. Maka sebagian kandungan ayat ini dikhususkan oleh sunnah dan sebagian lagi dikhususkan oleh ijmā‘.

وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالْقِيَاسِ: فَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ} [النور: 2] ثَمَّ خُصَّتِ الْأَمَةُ بِنِصْفِ الْحَدِّ نَصًّا بِقَوْلِهِ: {فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ} [النساء: 25] ثُمَّ خُصَّ الْعَبْدُ بِنِصْفِ الْحَدِّ قِيَاسًا عَلَى الْأَمَةِ فَصَارَ بَعْضُ الْآيَةِ مَخْصُوصًا بِالْكِتَابِ وَبَعْضُهَا مَخْصُوصًا بِالْقِيَاسِ وَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ الله إِلَى قَوْلِهِ فَكُلُوا مِنْهَا} [الحج: 36] ثُمَّ خَصَّ الْإِجْمَاعُ تَحْرِيمَ الْأَكْلِ مِنْ جَزَاءِ الصَّيْدِ وَخَصَّ الْقِيَاسُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ تَحْرِيمَ الْأَكْلِ مِنْ هَدْيِ الْمُتْعَةِ وَالْقران قِيَاسًا عَلَى جَزَاءِ الصَّيْدِ فَصَارَ بَعْضُ الْآيَةِ مَخْصُوصًا بِالْإِجْمَاعِ وَبَعْضُهَا مَخْصُوصًا بِالْقِيَاسِ.

Adapun pengkhususan Al-Qur’an dengan qiyās, contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Perempuan pezina dan laki-laki pezina, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dera” (an-Nūr: 2). Kemudian, budak perempuan dikhususkan dengan setengah hukuman secara nash melalui firman-Nya: “Apabila mereka telah menikah, lalu mereka melakukan perbuatan keji, maka atas mereka setengah dari hukuman yang berlaku atas perempuan-perempuan merdeka” (an-Nisā’: 25). Selanjutnya, budak laki-laki dikhususkan dengan setengah hukuman melalui qiyās atas budak perempuan. Maka, sebagian ayat tersebut dikhususkan dengan Al-Kitab dan sebagian lainnya dikhususkan dengan qiyās. Contoh lainnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai syiar Allah … maka makanlah sebagian darinya” (al-Hajj: 36). Kemudian ijmā‘ mengkhususkan keharaman memakan bagian dari hewan buruan, dan qiyās menurut asy-Syāfi‘ī mengkhususkan keharaman memakan hadyu tamattu‘ dan qirān dengan qiyās atas hewan buruan. Maka, sebagian ayat tersebut dikhususkan dengan ijmā‘ dan sebagian lainnya dikhususkan dengan qiyās.

( [القول في تخصيص العموم بِالْقِيَاسِ] )

(Pembahasan tentang pengecualian keumuman dengan qiyās)

وَيَجُوزُ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ بِالْقِيَاسِ الْجَلِيِّ.

Dan boleh melakukan takhshis terhadap keumuman dengan qiyās jali.

وَفِي جَوَازِ تَخْصِيصِهِ بِالْقِيَاسِ الْخَفِيِّ وَجْهَانِ.

Dalam kebolehan mengkhususkan (dalil umum) dengan qiyās khafī terdapat dua pendapat.

فَإِذَا عَدِمَ الْمُجْتَهِدُ أَدِلَّةَ التَّخْصِيصِ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْأُصُولِ الْأَرْبَعَةِ وَجَبَ عَلَيْهِ اسْتِعْمَالُ الْعُمُومِ عَلَى الْعُمُومِ.

Maka apabila seorang mujtahid tidak menemukan dalil-dalil takhshish dari salah satu dari empat sumber pokok ini, wajib baginya untuk memberlakukan keumuman sesuai dengan keumumannya.

فَإِذَا خُصَّ الْعُمُومُ بِمَا ذَكَرْنَا مِنْ أَحَدِ الْأُصُولِ الْأَرْبَعَةِ جَازَ الْقِيَاسُ عَلَى الْمَخْصُوصِ مِنَ الْعُمُومِ وَلَمْ يَجُزِ الْقِيَاسُ عَلَى الْبَاقِي مِنَ الْعُمُومِ.

Maka apabila keumuman telah dikhususkan dengan salah satu dari empat sumber yang telah kami sebutkan, maka qiyās boleh dilakukan atas bagian yang telah dikhususkan dari keumuman tersebut, dan tidak boleh dilakukan qiyās atas sisa dari keumuman itu.

مِثَالُهُ: أَنَّ قَوْله تَعَالَى: {وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا} [المائدة: 37] لَمَّا خَصَّ مِنْهُ مَنْ سَرَقَ مِنْ ثَمَرٍ أَوْ كَثَرٍ فِي سُقُوطِ الْقَطْعِ عَنْهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ نَقِيسَ عَلَى قَطْعِ السَّارِقِ قَطْعَ مَنْ لَيْسَ بِسَارِقٍ، وَجَازَ أَنْ نَقِيسَ عَلَى سَارِقِ الثَّمَرِ وَالْكَثَرِ سَارِقَ غَيْرِ الثَّمَرِ وَالْكَثَرِ فِي سُقُوطِ الْقَطْعِ عَنْهُ.

Contohnya: Firman Allah Ta‘ala: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, maka potonglah tangan keduanya” (Al-Mā’idah: 37). Ketika telah dikecualikan dari ayat ini orang yang mencuri buah atau kurma yang masih di pohon sehingga hukuman potong tangan tidak berlaku baginya, maka tidak boleh kita melakukan qiyās dengan memotong tangan orang yang bukan pencuri atas dasar pemotongan tangan pencuri. Namun, boleh melakukan qiyās terhadap pencuri buah dan kurma dengan pencuri selain buah dan kurma dalam hal tidak diberlakukannya hukuman potong tangan atasnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا: أَنَّ الْعُمُومَ لَمَّا ضَعُفَ حُكْمُهُ عَنِ اسْتِيفَاءِ اسْمِهِ ضَعُفَ مَعْنَاهُ عَنِ اجْتِذَابِ غَيْرِهِ وَالْمَخْصُوصُ لَمَّا قَوِيَ حُكْمُهُ عَلَى اسْتِيفَاءِ اسْمِهِ قَوِيَ مَعْنَاهُ عَلَى اجْتِذَابِ غَيْرِهِ.

Perbedaan antara keduanya adalah: ketika hukum dari lafaz umum melemah dari mencakup seluruh maknanya, maka maknanya pun melemah dalam menarik selainnya; sedangkan lafaz khusus, ketika hukumnya kuat dalam mencakup seluruh maknanya, maka maknanya pun kuat dalam menarik selainnya.

وَلِذَلِكَ قَاسَ الشَّافِعِيُّ عَلَى جَزَاءِ الصَّيْدِ فِي تَحْرِيمِ أَكْلِهِ وَهُوَ مَخْصُوصُ تَحْرِيمِ هَدْيِ الْمُتْعَةِ وَلَمْ يَقِسْهُ عَلَى بَقِيَّةِ الْعُمُومِ فِي الْإِبَاحَةِ.

Oleh karena itu, Imam Syafi‘i melakukan qiyās terhadap denda perburuan dalam hal keharaman memakannya, yang merupakan kekhususan dari keharaman hewan hadyu tamattu‘, dan beliau tidak melakukan qiyās terhadap keumuman yang lain dalam hal kebolehan.

(فَصْلٌ: [القسم الثاني وهو المفسر والمجمل] )

Bagian: (Bagian kedua, yaitu yang mufassir dan mujmal)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ الْمُفَسَّرُ وَالْمُجْمَلُ فَالْمُفَسَّرُ هُوَ الَّذِي يُفْهَمُ مِنْهُ الْمُرَادُ بِهِ.

Adapun bagian kedua, yaitu yang mufassar dan mujmal, maka mufassar adalah yang dapat dipahami maksudnya darinya.

وَالْمُجْمَلُ هُوَ مَا لَمْ يُفْهَمْ مِنْهُ الْمُرَادُ بِهِ.

Mujmal adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami maksudnya darinya.

وَمِثْلُهُ فِي الْكِتَابِ قَوْله تَعَالَى: {وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ} [الأنعام: 141] {وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ} [البقرة: 43 / النساء: 4، 7 / النور: 56 / المزمل: 20] .

Demikian pula dalam al-Kitab firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah haknya pada hari panennya” (QS. al-An‘ām: 141), dan firman-Nya: “Dan dirikanlah salat serta tunaikanlah zakat” (QS. al-Baqarah: 43; an-Nisā’: 4, 7; an-Nūr: 56; al-Muzzammil: 20).

وَمِثْلُهُ فِي السُّنَّةِ: قَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا: عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ “.

Dan yang semisal dengan itu dalam sunnah adalah sabda Nabi ﷺ: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’, maka apabila mereka telah mengucapkannya, mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka ada pada Allah.”

فَإِنْ قِيلَ كَيْفَ جَازَ خِطَابُهُمْ بِمَا لَا يَفْهَمُونَهُ مِنَ الْمُجْمَلِ؟ قِيلَ: لِأَمْرَيْنِ:

Jika ditanyakan, “Bagaimana mungkin mereka diajak bicara dengan sesuatu yang mereka tidak pahami dari lafaz mujmal?” Maka dijawab: karena dua hal.

أَحَدُهُمَا: لِيَكُونَ إِجْمَالُهُ تَوْطِئَةً لِلنُّفُوسِ عَلَى قَبُولِ مَا يَتَعَقَّبُهُ مِنَ الْبَيَانِ فَإِنَّهُ لَوْ بَدَأَ فِي تَكْلِيفِ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ بِبَيَانِهِمَا جَازَ أَنْ تَنْفِرَ النُّفُوسُ مِنْهُمَا وَلَا تَنْفِرُ مِنْ إِجْمَالِهِمَا.

Salah satunya adalah agar penjelasan secara global menjadi pengantar bagi jiwa-jiwa untuk menerima penjelasan rinci yang akan datang setelahnya. Sebab, jika syariat langsung memulai pembebanan kewajiban salat dan zakat dengan penjelasan rinci, bisa jadi jiwa-jiwa akan merasa enggan terhadap keduanya, sedangkan mereka tidak akan merasa enggan terhadap penjelasan secara global.

وَالثَّانِي: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ مِنَ الْأَحْكَامِ جَلِيًّا، وَجَعَلَ مِنْهَا خَفِيًّا؛ لِيَتَفَاضَلَ النَّاسُ فِي الْعِلْمِ بِهَا، وَيُثَابُوا عَلَى الِاسْتِنْبَاطِ لَهَا. كَذَلِكَ جَعَلَ مِنْهَا مُفَسَّرًا جَلِيًّا، وَجَعَلَ مِنْهَا مُجْمَلًا خَفِيًّا.

Kedua: Allah Ta‘ala telah menjadikan sebagian hukum itu jelas, dan sebagian lainnya samar; agar manusia berbeda-beda dalam pengetahuan tentangnya, dan agar mereka mendapatkan pahala atas upaya istinbāṭ terhadapnya. Demikian pula, Allah menjadikan sebagian hukum itu terperinci dan jelas, dan sebagian lainnya bersifat mujmal dan samar.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْمُجْمَلُ ضَرْبَانِ:

Jika demikian, maka mujmal terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَقَعَ الْإِجْمَالُ فِي الِاسْمِ الْمُشْتَرَكِ وَالضَّرْبُ الثَّانِي أَنْ يَقَعَ الْإِجْمَالُ فِي الْحُكْمِ الْمُبْهَمِ.

Salah satunya adalah terjadinya ijmāl pada isim musytarak, dan jenis yang kedua adalah terjadinya ijmāl pada hukum yang mubham.

فَأَمَّا الْإِجْمَالُ فِي الِاسْمِ الْمُشْتَرَكِ فَمِثْلُ الْقَرْءِ يَنْطَلِقُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْحَيْضِ وَالطُّهْرِ، وَالشَّفَقُ يَنْطَلِقُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ، وَالَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ يَنْطَلِقُ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَبِ وَالزَّوْجِ.

Adapun ijmāl dalam nama musytarak adalah seperti kata “qar’” yang digunakan untuk masing-masing, baik haid maupun suci; dan “syafaq” yang digunakan untuk masing-masing, baik warna merah maupun putih; dan “alladzī biyadihi ‘uqdatun-nikāḥ” yang digunakan untuk masing-masing, baik ayah maupun suami.

فَإِنِ اقْتَرَنَ بِأَحَدِهِمَا بَيِّنَةٌ أُخِذَ بِهِ، وَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَاقْتَرَنَ بِهِ عُرْفٌ عَمِلَ عَلَيْهِ.

Jika salah satu dari keduanya disertai dengan bukti yang jelas, maka yang diambil adalah yang disertai bukti tersebut. Namun jika tidak disertai bukti dan disertai dengan ‘urf (kebiasaan yang berlaku), maka yang dijadikan dasar adalah ‘urf tersebut.

وَإِنْ تَجَرَّدَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَعُرْفٍ وَجَبَ الِاجْتِهَادُ فِي الْمُرَادِ مِنْهُمَا وَكَانَ مِنْ خَفِيِّ الْأَحْكَامِ الَّتِي وُكِّلَ الْعُلَمَاءُ فِيهَا إِلَى الِاسْتِنْبَاطِ فَصَارَ دَاخِلًا فِي الْمُجْمَلِ لِخَفَائِهِ وَخَارِجًا مِنْهُ لِإِمْكَانِ اسْتِنْبَاطِهِ.

Dan jika tidak terdapat bukti yang jelas maupun ‘urf, maka wajib melakukan ijtihad dalam memahami maksud dari keduanya. Hal ini termasuk ke dalam hukum-hukum yang samar, yang penetapannya diserahkan kepada para ulama melalui istinbāṭ. Maka, ia menjadi termasuk ke dalam kategori mujmal karena kesamarannya, namun juga keluar darinya karena masih dimungkinkan untuk diistinbāṭ.

وَأَمَّا الْإِجْمَالُ فِي الْحُكْمِ الْمُبْهَمِ: فَضَرْبَانِ:

Adapun ijmāl dalam hukum yang samar, maka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ إِجْمَالُهُ فِي لَفْظِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ} [البقرة: 43 – النساء: 77 – النور: 56 – المزمل: 20] {وآتوا حقه يوم حصاده} [الأنعام: 141] .

Salah satunya adalah apa yang maknanya masih global dalam lafaznya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat” (al-Baqarah: 43, an-Nisa’: 77, an-Nur: 56, al-Muzzammil: 20), dan firman-Nya: “Dan berikanlah haknya pada hari panennya” (al-An‘am: 141).

والثاني: كما كَانَ إِجْمَالُهُ بِغَيْرِهِ.

Dan yang kedua: sebagaimana ijmal-nya dengan selainnya.

مِثَالُهُ مِنَ الْقُرْآنِ قَوْله تَعَالَى: {وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة: 275] وَالرِّبَا صِنْفٌ مِنَ الْبُيُوعِ صَارَ بِهِ الْبَاقِي مِنَ الْبُيُوعِ مُجْمَلًا عَلَى قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَصْحَابِنَا، وَإِنْ قَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ عُمُومٌ خُصَّ مِنْهُ الرِّبَا.

Contohnya dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Riba adalah salah satu jenis transaksi jual beli, sehingga hukum jual beli yang lainnya menjadi mujmal menurut pendapat banyak ulama dari kalangan kami, meskipun sebagian dari mereka berpendapat bahwa ayat tersebut bersifat umum yang dikhususkan darinya riba.

وَمِثَالُهُ مِنَ السُّنَّةِ قَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الصُّلْحُ جَائِزٌ إِلَّا صُلْحًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا ” وَكِلَا الضَّرْبَيْنِ مُجْمَلٌ يَفْتَقِرُ إِلَى بَيَانٍ يُفْهَمُ بِهِ الْمُرَادُ.

Contohnya dari sunnah adalah sabda Nabi ﷺ: “Sulh itu boleh, kecuali sulh yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.” Kedua jenis tersebut bersifat mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan agar maksudnya dapat dipahami.

فَإِنْ قِيلَ: أَفَيَلْزَمُ التَّعَبُّدُ بِهِ قَبْلَ بَيَانِهِ؟ قِيلَ: نَعَمْ قَدْ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ وَقَالَ لَهُ: ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةٍ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهُ فَإِنْ أَجَابُوكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقًّا يُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَيُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَتَعَبَّدَهُمْ بِالْتِزَامِ الزَّكَاةِ قَبْلَ بَيَانِهَا.

Jika dikatakan: Apakah kewajiban untuk beribadah dengannya berlaku sebelum penjelasannya? Maka dijawab: Ya, sungguh Rasulullah ﷺ telah mengutus Mu‘adz ke Yaman dan bersabda kepadanya: “Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mematuhimu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa pada harta mereka ada hak yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.” Maka beliau telah mewajibkan mereka untuk berkomitmen terhadap zakat sebelum menjelaskan rinciannya.

وَفِي كَيْفِيَّةِ تَعَبُّدِهِمْ بِالْتِزَامِهِ وَجْهَانِ:

Adapun dalam hal bagaimana mereka beribadah dengan berpegang pada dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ يَتَعَبَّدُونَ قَبْلَ الْبَيَانِ بِالْتِزَامِهِ مُجْمَلًا وَبَعْدَ الْبَيَانِ بِالْتِزَامِهِ مُفَسَّرًا.

Salah satunya adalah bahwa mereka beribadah sebelum penjelasan dengan berkomitmen secara global, dan setelah penjelasan dengan berkomitmen secara terperinci.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْبَيَانُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْمُجْمَلِ وَهُوَ ضَرْبَانِ:

Jika demikian, penjelasan itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan mujmal, dan mujmal itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا وُكِّلَ الْعُلَمَاءُ إِلَى اجْتِهَادِهِمْ فِي بَيَانِهِ مِنْ غَيْرِ سَمْعٍ يَفْتَقِرُ إِلَيْهِ: مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ} [التوبة: 29] فَلَمْ يَرِدْ سَمْعٌ بِبَيَانِ أَقَلِّ الْجِزْيَةِ حَتَّى اجْتَهَدَ الْعُلَمَاءُ فِي أَقَلِّهَا. وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ} [الجمعة: 9] فَأُجْمِلَ ذِكْرُ الْعَدَدِ الَّذِي تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمُعَةُ حَتَّى اجْتَهَدَ الْعُلَمَاءُ فِيهِ. وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى فِي نَفَقَةِ الزَّوْجَاتِ {لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ} [الطلاق: 7] فَأُجْمِلَ قَدْرُ النَّفَقَةِ فِي أَقَلِّهَا وَأَوْسَطِهَا وَأَكْثَرِهَا حَتَّى اجْتَهَدَ الْعُلَمَاءُ فِي تَقْدِيرِهَا فَهَذَا وَنَظَائِرُهُ مِنَ الْمُجْمَلِ الَّذِي لَا يَفْتَقِرُ إِلَى بَيَانِ السَّمْعِ فَبَيَانُهُ سَاقِطٌ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِأَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنْ أُصُولِ الْأَدِلَّةِ الْمَشْهُورَةِ، سَأَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ الْكَلَالَةِ فَقَالَ: ” تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ ” فَوَكَلَهُ إِلَى الِاجْتِهَادِ وَلَمْ يُصَرِّحْ بِالْبَيَانِ.

Salah satunya adalah perkara yang diserahkan kepada para ulama untuk berijtihad dalam penjelasannya tanpa membutuhkan dalil sam‘ī (nash) khusus, seperti firman Allah Ta‘ala: “Hingga mereka membayar jizyah dengan tangan mereka” (at-Taubah: 29), di mana tidak ada dalil sam‘ī yang menjelaskan batas minimal jizyah, sehingga para ulama berijtihad dalam menentukan batas minimalnya. Demikian pula firman-Nya Ta‘ala: “Apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian mengingat Allah” (al-Jumu‘ah: 9), di mana jumlah orang yang menjadi syarat sahnya pelaksanaan shalat Jumat tidak disebutkan secara rinci, sehingga para ulama berijtihad dalam hal ini. Juga seperti firman-Nya Ta‘ala tentang nafkah istri: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya” (ath-Thalaq: 7), di mana kadar nafkah, baik yang paling sedikit, sedang, maupun paling banyak, tidak dijelaskan secara rinci, sehingga para ulama berijtihad dalam menentukannya. Maka perkara-perkara seperti ini dan yang semisalnya termasuk masalah mujmal (global) yang tidak membutuhkan penjelasan sam‘ī, sehingga penjelasannya tidak wajib atas Rasulullah ﷺ, karena hal itu dapat diambil dari ushul al-adillah al-masyhūrah (prinsip-prinsip dalil yang terkenal). Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kalālah, maka beliau bersabda: “Cukuplah bagimu ayat musim panas,” sehingga beliau menyerahkan urusannya kepada ijtihad dan tidak menjelaskannya secara rinci.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي هَذَا النَّوْعِ مِنَ الْبَيَانِ الصَّادِرِ عَنْ الِاجْتِهَادِ هَلْ يُؤْخَذُ قِيَاسًا أَوْ تَنْبِيهًا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai jenis penjelasan ini yang bersumber dari ijtihad, apakah diambil sebagai qiyās atau sebagai tanbīh? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يُؤْخَذُ تَنْبِيهًا مِنْ لَفْظِ الْمُجْمَلِ وَشَوَاهِدِ أَحْوَالِهِ، لِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِعُمَرَ فِي الْكَلَالَةِ: ” تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ ” فَرَدَّهُ إِلَيْهَا لِيَسْتَدِلَّ بِمَا تَضَمَّنَهَا مِنْ تَنْبِيهٍ وَشَوَاهِدِ حَالٍ.

Salah satunya: dapat diambil penjelasan dari lafaz yang mujmal dan indikasi keadaan-keadaannya, karena Nabi ﷺ berkata kepada Umar tentang kalālah: “Cukuplah bagimu ayat musim panas,” maka beliau mengembalikannya kepada ayat itu agar Umar dapat mengambil petunjuk dari apa yang terkandung di dalamnya berupa penjelasan dan indikasi keadaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يُؤْخَذَ قِيَاسًا عَلَى مَا اسْتَقَرَّ بَيَانُهُ مِنْ نَصٍّ أَوْ إِجْمَاعٍ لِأَنَّ عُمَرَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنْ قُبْلَةِ الصَّائِمِ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ فَجَعَلَ الْقُبْلَةَ بِغَيْرِ إِنْزَالٍ كَالْمَضْمَضَةِ بِلَا ازْدِرَادٍ.

Pendapat kedua: Boleh mengambil qiyās atas sesuatu yang penjelasannya telah tetap melalui nash atau ijmā‘, karena Umar pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang mencium istri bagi orang yang berpuasa. Beliau bersabda: “Bagaimana menurutmu jika engkau berkumur dengan air?” Maka beliau menyamakan mencium tanpa mengeluarkan mani dengan berkumur tanpa menelan air.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي مِنَ الْمُجْمَلِ: مَا يَفْتَقِرُ بَيَانُهُ إِلَى السَّمْعِ، كَقَوْلِهِ {وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ} [البقرة: 43] لَا يُوصَلُ إِلَى بَيَانِهِ إِلَّا مِنْ نَصٍّ مَسْمُوعٍ مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ.

Jenis mujmal yang kedua adalah apa yang penjelasannya membutuhkan dalil sam‘i, seperti firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat” (Al-Baqarah: 43), yang penjelasannya tidak dapat dicapai kecuali dari nash yang didengar, baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah.

فَعَلَى هَذَا هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَأَخَّرَ بَيَانُهُ وَبَيَانُ تَخْصِيصِ الْعُمُومِ عَنْ وَقْتِ نُزُولِهِ إِلَى وَقْتِ تَنْفِيذِهِ وَاسْتِعْمَالِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Berdasarkan hal ini, apakah boleh penjelasan tentangnya dan penjelasan tentang takhshis (pengkhususan) terhadap lafaz umum ditunda dari waktu turunnya hingga waktu pelaksanaan dan penerapannya, atau tidak? Ada tiga pendapat dalam hal ini:

أَحَدُهَا: يَجُوزُ أَنْ يُؤَخَّرَ بَيَانُ الْعُمُومِ وَالْمُجْمَلِ عَنْ وَقْتِ النُّزُولِ إِلَى وَقْتِ التَّنْفِيذِ وَالِاسْتِعْمَالِ، لِأَنَّ مُعَاذًا أَخَّرَ بَيَانَ الزَّكَاةِ لِأَهْلِ الْيَمَنِ إِلَى الْوَقْتِ الَّذِي أَخَذَهَا مِنْهُمْ.

Salah satunya: Boleh menunda penjelasan tentang lafaz umum dan lafaz mujmal dari waktu turunnya (ayat) hingga waktu pelaksanaan dan penerapannya, karena Mu‘ādz menunda penjelasan tentang zakat kepada penduduk Yaman sampai waktu ketika ia mengambil zakat dari mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ بَيَانِ الْمُجْمَلِ وَالْعُمُومِ عَنْ وَقْتِ النُّزُولِ إِلَى وَقْتِ التَّنْفِيذِ لِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ النَّاسِ فِي الْحَاجَةِ إِلَى الْبَيَانِ وَلِيَحْتَرِزَ بِتَعْجِيلِهِ مِنِ اخْتِرَامِ الْمَنِيَّةِ لِلرَّسُولِ الْمُبينِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh menunda penjelasan terhadap ayat yang mujmal dan umum dari waktu turunnya hingga waktu pelaksanaan, karena kebutuhan manusia terhadap penjelasan itu berbeda-beda, dan agar dengan segera dijelaskannya dapat menghindari wafatnya Rasul yang menjadi pemberi penjelasan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: يَجُوزُ تَأْخِيرُ بَيَانِ الْعُمُومِ؛ لِأَنَّهُ قَبْلَ الْبَيَانِ مَفْهُومٌ، وَلَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ بَيَانِ الْمُجْمَلِ؛ لِأَنَّهُ قَبْلَ الْبَيَانِ غَيْرُ مَفْهُومٍ.

Pendapat ketiga: Boleh menunda penjelasan terhadap lafaz umum, karena sebelum penjelasan lafaz tersebut sudah dapat dipahami. Namun, tidak boleh menunda penjelasan terhadap lafaz mujmal, karena sebelum penjelasan lafaz tersebut belum dapat dipahami.

(فصل: القسم الثالث بيان المطلق والمقيد)

(Bab: Bagian ketiga penjelasan tentang mutlak dan muqayyad)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثِ وَهُوَ الْمُطْلَقُ وَالْمُقَيَّدُ: فَهُوَ أَنْ يَرِدَ الْخِطَابُ مُقَيَّدًا بِحَالٍ أَوْ وَصْفٍ أَوْ شَرْطٍ ثُمَّ يَرِدُ مِنْ جِنْسِهِ مُطْلَقٌ غَيْرُ مُقَيَّدٍ بِوَصْفٍ وَلَا شَرْطٍ.

Adapun bagian ketiga, yaitu mutlak dan muqayyad: yaitu ketika suatu khitab datang dalam keadaan terikat dengan suatu keadaan, sifat, atau syarat, kemudian datang pula dari jenis yang sama suatu khitab yang bersifat mutlak, tidak terikat dengan sifat maupun syarat.

وَالْكَلَامُ فِيهِ مُشْتَمِلٌ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Pembahasan mengenai hal ini mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي الْمُقَيَّدِ هَلْ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ حُكْمُهُ مَقْصُورًا عَلَى الشَّرْطِ الْمُقَيَّدِ بِهِ أَمْ لَا؟

Salah satunya: pada perkara yang muqayyad, apakah wajib hukumnya dibatasi hanya pada syarat yang menjadi pembatasnya atau tidak?

وَالثَّانِي: فِي الْمُطْلَقِ هَلْ يَجِبُ حَمْلُهُ عَلَى حُكْمِ الْمُقَيَّدِ مَنْ جِنْسِهِ أَمْ لَا؟

Kedua: Dalam hal lafaz mutlak, apakah wajib membawanya kepada hukum muqayyad yang sejenis dengannya atau tidak?

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الْمُقَيَّدِ بِالشَّرْطِ: فَهُوَ عِنْدَنَا وَعِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ يَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ:

Adapun bagian pertama tentang sesuatu yang dibatasi dengan syarat: menurut kami dan menurut jumhur fuqaha, hal itu terbagi menjadi dua bagian.

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ تَقْيِيدُهُ بِالْوَصْفِ شَرْطًا فِي ثُبُوتِ حُكْمِهِ، فَيَثْبُتُ الْحُكْمُ بِوُجُودِهِ وَيَنْتَفِي بِعَدَمِهِ مِثْلَ قَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سفر} إِلَى قَوْلِهِ {فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا} [المائدة: 6] فَكَانَ تَقْيِيدُ التَّيَمُّمِ بِالْمَرَضِ وَالسِّفَرِ شَرْطًا فِي إِبَاحَتِهِ وَكَقَوْلِهِ فِي كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ: {فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ} [المائدة: 89] فَكَانَ الْعَدَمُ شَرَطًا فِي جَوَازِ الصِّيَامِ إِلَى نَظَائِرِهِ وَهَذَا الْقِسْمُ فِيمَا كَانَ مَعْنَاهُ خَاصًّا.

Salah satunya adalah: apa yang penetapan hukumnya disyaratkan dengan adanya sifat tertentu, sehingga hukum tersebut berlaku jika sifat itu ada dan tidak berlaku jika sifat itu tidak ada. Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan…” hingga firman-Nya: “lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik.” (Al-Ma’idah: 6). Maka, pembatasan tayammum dengan sakit dan safar menjadi syarat kebolehannya. Demikian pula firman-Nya tentang kafarat sumpah: “Barang siapa tidak mendapatkannya, maka (wajib) puasa tiga hari.” (Al-Ma’idah: 89). Maka, ketiadaan (kemampuan) menjadi syarat bolehnya puasa, dan demikian pula pada contoh-contoh lainnya. Bagian ini berlaku pada hal-hal yang maknanya khusus.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا لَا يَكُونُ الْوَصْفُ الْمُقَيَّدُ شَرْطًا فِي حُكْمِ الْأَصْلِ وَيَعُمُّ حُكْمُهُ مَعَ وُجُودِ الشَّرْطِ وَعَدَمِهِ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ} [النساء: 101] وَلَيْسَ الْخَوْفُ شَرْطًا فِي جَوَازِ الْقَصْرِ لِجَوَازِهِ مَعَ الْأَمْنِ وَكَقَوْلِهِ فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ: {وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ} [المائدة: 95] وَلَيْسَ الْعَمْدُ شَرْطًا فِي وُجُوبِهِ لِوُجُوبِهِ عَلَى الْخَاطِئِ وَالْعَامِدِ وَكَقَوْلِهِ فِي تَحْرِيمِ المناكح: {وربائبكم اللائي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ} [النساء: 23] وَلَيْسَ كَوْنُهَا فِي الْحِجْرِ شَرْطًا فِي الْحَظْرِ لِتَحْرِيمِهَا فِي الْحَالَيْنِ.

Bagian kedua: yaitu apabila sifat yang dibatasi itu bukan merupakan syarat dalam hukum asal, dan hukumnya berlaku baik ketika syarat itu ada maupun tidak ada. Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat jika kamu takut…” (an-Nisā’: 101), padahal rasa takut bukanlah syarat bolehnya mengqashar, karena mengqashar juga boleh dilakukan dalam keadaan aman. Contoh lainnya adalah firman-Nya tentang denda berburu: “Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya adalah mengganti dengan hewan ternak yang sebanding dengan yang dibunuh…” (al-Mā’idah: 95), padahal kesengajaan bukanlah syarat wajibnya denda, karena denda tetap wajib baik bagi yang tidak sengaja maupun yang sengaja. Contoh lain lagi adalah firman-Nya tentang larangan pernikahan: “Dan anak-anak perempuan istri kalian yang dalam asuhan kalian dari istri-istri yang telah kalian campuri…” (an-Nisā’: 23), padahal keberadaan anak tiri dalam asuhan bukanlah syarat larangan, karena larangan tetap berlaku dalam kedua keadaan tersebut.

وَهَذَا الْقِسْمُ فِيمَا كَانَ مَعْنَاهُ عَامًّا.

Dan bagian ini adalah pada perkara yang maknanya bersifat umum.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا يَكُونُ بِاعْتِبَارِ مَعْنَى الْمُقَيَّدِ.

Perbedaan antara keduanya terletak pada pertimbangan makna muqayyad.

فَإِنْ كَانَ خَاصًّا كَالْقِسْمِ الْأَوَّلِ ثَبَتَ حُكْمُ التَّقْيِيدِ.

Jika bersifat khusus seperti pada bagian pertama, maka ketetapan hukum pembatasan itu berlaku.

وَإِنْ كَانَ مَعْنَاهُ عَامًّا كَالْقِسْمِ الثَّانِي سَقَطَ حُكْمُ التَّقْيِيدِ.

Dan jika maknanya bersifat umum seperti pada bagian kedua, maka hukum pembatasan menjadi gugur.

وَأَنْكَرَ أَهْلُ الظَّاهِرِ وَمِنْهُمْ دَاوُدُ بْنُ عَلِيٍّ هَذَا الْقِسْمَ وَأَجْرَوْا جَمِيعَ الْمُقَيَّدِ عَلَى تَقْيِيدِهِ وَجَعَلُوهُ شَرْطًا فِي ثُبُوتِ حُكْمِهِ يَثْبُتُ بِوُجُودِهِ وَيَسْقُطُ بِعَدَمِهِ.

Para penganut mazhab Zhahiri, di antaranya Dawud bin Ali, mengingkari bagian ini dan mereka memberlakukan seluruh hukum yang bersifat muqayyad sesuai dengan pembatasannya, serta menjadikannya sebagai syarat dalam penetapan hukumnya; hukum itu berlaku jika syaratnya ada dan gugur jika syaratnya tidak ada.

وَلَمْ يَعْتَبِرُوا مَعْنَى الْأَصْلِ فِي عُمُومٍ وَلَا خُصُوصٍ، لِاعْتِمَادِهِمْ عَلَى الْمَنْصُوصِ دُونَ الْمَعَانِي.

Mereka tidak mempertimbangkan makna asal, baik dalam keumuman maupun kekhususan, karena mereka hanya berpegang pada nash dan tidak pada makna-makna.

وَلِأَنَّ النَّصَّ لَا يُرْفَعُ بِالتَّعْلِيلِ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ نَسْخًا بِهَا:

Dan karena nash tidak dapat dihapus dengan ta‘līl, sebab hal itu akan menjadi nasakh dengan ta‘līl.

وَلِأَنَّهُ لَوْ سَقَطَ حُكْمُ هَذَا التَّقْيِيدِ الْمَشْرُوطِ لَجَازَ أَنْ يَسْقُطَ حُكْمُ أَصْلِهِ.

Dan karena jika hukum pembatasan yang disyaratkan ini gugur, maka boleh jadi hukum asalnya pun ikut gugur.

وَلَوِ اسْتَقَرَّ أَصْلُ هَذَا لَسَقَطَتْ أَحْكَامُ النُّصُوصِ كُلُّهَا. وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ مَدْفُوعٌ بِنَصِّ الْكِتَابِ:

Seandainya prinsip ini diterima, niscaya seluruh hukum yang bersumber dari nash akan gugur. Apa yang dikatakannya ini tertolak oleh nash Al-Qur’an.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ} [الإسراء: 31] وَلَيْسَ يُسْتَبَاحُ قَتْلُهُمْ مَعَ أَمْنِ الْإِمْلَاقِ كَمَا لَا يُسْتَبَاحُ مَعَ وُجُودِهِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin.” (QS. Al-Isra’: 31) Tidak diperbolehkan membunuh mereka meskipun aman dari kemiskinan, sebagaimana tidak diperbolehkan pula ketika kemiskinan itu ada.

وَقَالَ {وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا} [النور: 33] وَلَا يَجُوزُ إِكْرَاهُهُنَّ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يُرِدْنَ تُحَصُّنًا.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memaksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan pelacuran, jika mereka menginginkan kesucian diri” (an-Nur: 33). Tidak boleh memaksa mereka untuk melakukannya, sekalipun mereka tidak menginginkan kesucian diri.

وَقَالَ تَعَالَى {إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} [التوبة: 36] وَهُوَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَظْلِمَ فِيهِنَّ وَلَا فِي غَيْرِهِنَّ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (QS. at-Taubah: 36). Dan tidak boleh berbuat zalim di dalam bulan-bulan itu maupun di luar bulan-bulan tersebut.

فَلَمَّا سَقَطَ حُكْمُ التَّقْيِيدِ فِي هَذَا وَلَمْ يَصِرْ نَسْخًا جَازَ أَنْ يَسْقُطَ فِي غَيْرِهِ وَلَا يَكُونُ نَسْخًا، فَإِنْ خُصَّ هَذَا بِدَلِيلٍ فَقَدْ جَعَلُوا لِلدَّلِيلِ تَأْثِيرًا فِي إِسْقَاطِ التَّقْيِيدِ وَهُوَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.

Maka ketika hukum pembatasan (taqyīd) gugur dalam hal ini dan tidak menjadi nasakh, maka boleh saja gugur pada selainnya dan tidak dianggap sebagai nasakh. Jika hal ini dikhususkan dengan suatu dalil, berarti mereka telah memberikan pengaruh kepada dalil dalam menggugurkan pembatasan, dan inilah yang telah kami sebutkan.

فَإِنْ قِيلَ فَإِذَا سَقَطَ حُكْمُ التَّقْيِيدِ صَارَ لَغْوًا غَيْرَ مُقَيَّدٍ.

Jika dikatakan: Maka apabila hukum pembatasan itu gugur, ia menjadi sia-sia dan tidak lagi terbatas.

قِيلَ: يَحْتَمِلُ ذِكْرُ التَّقْيِيدِ مَعَ سُقُوطِ حُكْمِهِ أُمُورًا مِنْهَا:

Dikatakan: Penyebutan pembatasan bersamaan dengan gugurnya hukumnya mungkin mengandung beberapa hal, di antaranya:

أَنْ يَكُونَ حُكْمُ الْمَسْكُوتِ عَنْهُ مَأْخُوذًا مِنْ حُكْمِ الْمَنْطُوقِ بِهِ لِيَسْتَعْمِلَهُ الْمُجْتَهِدُ فِيمَا لَمْ يَجِدْ فِيهِ نصا فإن أكثر الحوادث غير نصوص.

Hukum terhadap perkara yang tidak disebutkan secara eksplisit diambil dari hukum perkara yang telah disebutkan secara jelas, agar mujtahid dapat menggunakannya pada persoalan yang tidak ditemukan nashnya, karena kebanyakan peristiwa tidak memiliki nash secara langsung.

وَمِنْهَا: أَنْ يَكُونَ التَّقْيِيدُ تَنْبِيهًا عَلَى غَيْرِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ} [آل عمران: 75] فَنَبَّهَ بِالْقِنْطَارِ عَلَى الْكَثِيرِ وَنَبَّهَ بِالدِّينَارِ عَلَى الْقَلِيلِ، وَإِنْ كَانَ حُكْمُ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ فِيهِمَا سَوَاءً.

Di antaranya: pembatasan itu dimaksudkan sebagai penunjuk terhadap selainnya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya dengan satu qinthar, ia akan mengembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada pula orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya dengan satu dinar, ia tidak akan mengembalikannya kepadamu,” (Ali Imran: 75). Maka Allah menunjuk dengan qinthar pada jumlah yang banyak, dan menunjuk dengan dinar pada jumlah yang sedikit, meskipun hukum untuk yang sedikit dan yang banyak pada keduanya adalah sama.

وَمِنْهَا أَنْ يَكُونَ الْوَصْفُ هُوَ الْأَغْلَبَ مِنْ أَحْوَالِ مَا قُيِّدَ بِهِ، فَيَذْكُرُهُ لِغَلَبَتِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ} [البقرة: 229] وَإِنْ كَانَتْ مُفَادَاةُ الزَّوْجَيْنِ تَجُوزُ مَعَ وُجُودِ الْخَوْفِ وَعَدَمِهِ لِأَنَّ الْأَغْلَبَ مِنَ الْمُفَادَاةِ أَنْ تَكُونَ مَعَ الْخَوْفِ.

Di antaranya adalah bahwa sifat tersebut merupakan keadaan yang paling dominan dari apa yang dikaitkan dengannya, sehingga sifat itu disebutkan karena dominasinya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menegakkan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya dalam hal yang diberikan oleh istri sebagai tebusan.” (QS. Al-Baqarah: 229). Padahal, muqāḍah (penebusan) antara suami istri dibolehkan baik ada rasa takut maupun tidak, karena pada umumnya muqāḍah itu terjadi ketika ada rasa takut.

وَإِذَا احْتُمِلَ هَذِهِ الْأُمُورُ وَغَيْرُهَا صَارَ وُجُودُ التَّقْيِيدِ مُقَيَّدًا مَعَ سُقُوطِ حُكْمِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَغْوًا.

Dan apabila hal-hal ini dan selainnya dimungkinkan, maka keberadaan pembatasan menjadi terbatas dengan gugurnya hukumnya, meskipun tidak dianggap sia-sia.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَجَبَ النَّظَرُ فِي كُلِّ مُقَيَّدٍ.

Jika demikian, maka wajib meneliti setiap hal yang bersifat muqayyad (terikat/terbatas).

فَإِنْ ظَهَرَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ تَأْثِيرِهِ سَقَطَ حُكْمُ التَّقْيِيدِ وَجَازَ فِي عُمُومِ حُكْمِهِ كَالْمُطْلَقِ.

Jika terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sifat tersebut tidak berpengaruh, maka hukum pembatasan itu gugur dan boleh berlaku dalam keumuman hukumnya seperti hukum yang mutlak.

وَإِنْ عُدِمَ الدَّلِيلُ وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى تَقْيِيدِهِ وَجُعِلَ شَرْطًا فِي ثُبُوتِ حكمه فهذا حكم المقيد.

Dan jika tidak ditemukan dalil, maka wajib membawanya kepada makna yang terikat dan menjadikannya sebagai syarat dalam penetapan hukumnya; maka inilah hukum bagi yang muqayyad (terikat).

( [والفصل الثاني] )

(Dan [bab kedua])

:

Maaf, saya tidak melihat teks Arab yang ingin diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang dimaksud agar saya dapat menerjemahkannya.

وَأَمَّا حُكْمُ الْمُطْلَقِ الْوَارِدُ مِنْ جِنْسِ الْمُقَيَّدِ إِذَا جُعِلَ التَّقْيِيدُ شَرْطًا فِي الْمُقَيَّدِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي وُجُوبِ حَمْلِهِ عَلَى إِطْلَاقِهِ أَوْ عَلَى مَا قُيِّدَ مِنْ جِنْسِهِ.

Adapun hukum lafaz mutlak yang berasal dari jenis lafaz muqayyad, apabila pembatasan dijadikan syarat dalam lafaz muqayyad, para fuqaha berbeda pendapat tentang kewajiban membawa lafaz mutlak itu pada kemutlakannya atau pada apa yang telah dibatasi dari jenisnya.

فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَجِبُ حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ مِنْ جِنْسِهِ مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى حَمْلِهِ عَلَى إِطْلَاقِهِ كَمَا حُمِلَ إِطْلَاقُ الشَّهَادَةِ فِي الدُّيُونِ وَالْعُقُودِ بِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] عَلَى الشَّهَادَةِ الْمُقَيَّدَةِ بِالْعَدَالَةِ فِي الرَّجْعَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] فَصَارَتِ الْعَدَالَةُ شَرْطًا فِي كُلِّ شَهَادَةٍ. وَلِاعْتِقَادِ الشَّافِعِيِّ لِهَذَا الْمَذْهَبِ مَا حَمَلَ إِطْلَاقَ الْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الْأَيْمَانِ وَالظِّهَارِ عَلَى الْعِتْقِ الْمُقَيَّدِ بِالْإِيمَانِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ، وَجَعَلَ الْإِيمَانَ شَرْطًا فِي عِتْقِ جَمِيعِ الْكَفَّارَاتِ.

Pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i adalah bahwa wajib membawa lafaz mutlak kepada yang muqayyad dari jenisnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa lafaz tersebut tetap pada kemutlakannya. Sebagaimana lafaz mutlak tentang persaksian dalam utang dan akad pada firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki di antara kamu” (QS. Al-Baqarah: 282), dibawa kepada persaksian yang muqayyad dengan keadilan dalam masalah rujuk pada firman-Nya Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kamu” (QS. Ath-Thalaq: 2), sehingga keadilan menjadi syarat dalam setiap persaksian. Karena keyakinan Syafi‘i terhadap mazhab ini, beliau membawa lafaz mutlak tentang pembebasan budak dalam kafarat sumpah dan zhihar kepada pembebasan budak yang muqayyad dengan keimanan dalam kafarat pembunuhan, dan menjadikan keimanan sebagai syarat dalam pembebasan budak pada seluruh kafarat.

وَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الْمُطْلَقَ مَحْمُولٌ عَلَى إِطْلَاقِهِ مَا لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى حَمْلِهِ عَلَى الْمُقَيَّدِ مِنْ جِنْسِهِ وَلِذَلِكَ لَمْ يَجْعَلِ الْعِتْقَ فِيمَا عَدَا كَفَّارَةَ الْقَتْلِ مَشْرُوطًا بِالْإِيمَانِ حَمْلًا عَلَى إِطْلَاقِهِ.

Pendapat yang tampak dari mazhab Abu Hanifah adalah bahwa lafaz mutlak tetap pada kemutlakannya selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ia harus dibawa kepada makna muqayyad dari jenis yang sama. Oleh karena itu, beliau tidak mensyaratkan keimanan dalam pembebasan budak selain pada kafarat pembunuhan, dengan alasan tetap pada kemutlakannya.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّ أَقَلَّ حُكْمِ الْمُطْلَقِ بَعْدَ الْمُقَيَّدِ مِنْ جِنْسِهِ مَوْقُوفٌ عَلَى الدَّلِيلِ.

Sebagian pengikut Syafi‘i berpendapat bahwa hukum paling minimal dari lafaz mutlak setelah adanya lafaz muqayyad dari jenis yang sama, tergantung pada adanya dalil.

فَإِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى إِطْلَاقِهِ أُطْلِقَ.

Jika ada dalil yang menunjukkan keumumannya, maka ia diberlakukan secara umum.

وَإِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى تَقْيِيدِهِ قُيِّدَ.

Dan jika terdapat dalil yang menunjukkan pembatasannya, maka ia dibatasi.

وَإِنْ لَمْ يَقُمْ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا دَلِيلٌ صَارَ كَالَّذِي لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ فَيَعْدِلُ فِيهِ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ وَالِاجْتِهَادِ فِي اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي.

Dan jika tidak ada dalil yang mendukung salah satu dari keduanya, maka hukumnya seperti perkara yang tidak terdapat nash tentangnya, sehingga beralih kepada dalil-dalil syariat lainnya dan ijtihad dalam menggali makna-makna.

وَيَصِيرُ احْتِمَالُهُ لِلْأَمْرَيْنِ مُبْطِلًا لِحُكْمِ النَّصِّ فِيهِ.

Kemungkinan teks tersebut mengandung dua makna menjadikannya membatalkan ketetapan hukum nash di dalamnya.

وَهَذَا قَوْلُ مَنْ ذَهَبَ إِلَى وَقْفِ الْعُمُومِ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى تَخْصِيصٍ أَوْ عُمُومٍ.

Ini adalah pendapat orang yang berpegang pada penghentian keumuman hingga ada dalil yang menunjukkan adanya takhshis (pengkhususan) atau keumuman.

وَهَذَا أَفْسَدُ الْمَذَاهِبِ، لِأَنَّ النُّصُوصَ الْمُحْتَمَلَةَ يَكُونُ الِاجْتِهَادُ عَائِدًا إِلَيْهَا وَلَا يَعْدِلُ بِالِاحْتِمَالِ إِلَى غَيْرِهَا لِيَكُونَ حُكْمُ النَّصِّ ثَابِتًا بِمَا يُؤَدِّي الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ مِنْ نَفْيِ الِاحْتِمَالِ عَنْهُ وَتَعْيِينِ الْمُرَادِ بِهِ.

Ini adalah mazhab yang paling rusak, karena nash-nash yang masih mengandung kemungkinan (makna) haruslah ijtihad diarahkan kepadanya dan tidak boleh berpaling kepada kemungkinan makna lain, agar hukum dari nash tersebut tetap berdasarkan apa yang dicapai oleh ijtihad berupa meniadakan kemungkinan makna lain darinya dan menetapkan maksud yang dikehendaki darinya.

وَالَّذِي عِنْدِي وَأَرَاهُ أَوْلَى الْمَذَاهِبِ فِي الْمُطْلَقِ أَنْ يَعْتَبِرَ غِلَظَ حُكْمِ الْمُطْلَقِ وَالْمُقَيَّدِ.

Menurut pendapat saya, dan saya memandangnya sebagai pendapat yang paling utama di antara mazhab-mazhab dalam masalah mutlak, adalah hendaknya mempertimbangkan berat-ringannya hukum antara yang mutlak dan yang muqayyad.

فَإِنْ كَانَ حُكْمُ الْمُطْلَقِ أَغْلَظَ حُمِلَ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَلَمْ يُقَيَّدْ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Jika hukum yang bersifat mutlak lebih berat, maka ia diberlakukan sesuai kemutlakannya dan tidak dibatasi kecuali dengan dalil.

وَإِنْ كَانَ حُكْمُ الْمُقَيَّدِ أَغْلَظَ حُمِلَ الْمُطْلَقُ عَلَى الْمُقَيَّدِ وَلَمْ يُحْمَلْ عَلَى إِطْلَاقِهِ إِلَّا بِدَلِيلٍ، لِأَنَّ التَّغْلِيظَ إِلْزَامٌ وَمَا تَضَمَّنهُ الْإِلْزَامُ لَمْ يَسْقُطِ الْتِزَامُهُ بِالِاحْتِمَالِ.

Dan jika hukum yang muqayyad (terikat) lebih berat, maka yang mutlaq (umum) dibawa kepada yang muqayyad dan tidak dibawa kepada keumumannya kecuali dengan dalil, karena pengetatan (at-taghliẓ) adalah suatu kewajiban, dan apa yang mengandung kewajiban tidak gugur kewajibannya hanya karena kemungkinan (makna lain).

وَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا وَوَجَبَ حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ كَانَ ذَلِكَ مُسْتَعْمَلًا فِي إِطْلَاقِ الصِّفَةِ وَلَا يَكُونُ مُسْتَعْمَلًا فِي إِطْلَاقِ الْأَصْلِ.

Dan apabila telah ditetapkan apa yang telah kami sebutkan, serta wajib membawa makna mutlak kepada makna muqayyad, maka hal itu digunakan dalam pemutlakan sifat dan tidak digunakan dalam pemutlakan asal.

مِثَالُهُ: أَنَّ مَسْحَ الْيَدَيْنِ فِي التَّيَمُّمِ مُطْلَقٌ وَفِي الْوُضُوءِ تَقَيَّدَ بِالْمِرْفَقَيْنِ فَحُمِلَ إِطْلَاقُهُمَا فِي التَّيَمُّمِ عَلَى تَقْيِيدِهِمَا فِي الْوُضُوءِ بِالْمِرْفَقَيْنِ وَأُطْلِقَ ذِكْرُ الرَّأْسِ وَالرِّجْلَيْنِ وَذُكِرَا فِي الْوُضُوءِ فَلَمْ يُحْمَلْ تَرْكُ ذِكْرِهِمَا فِي التَّيَمُّمِ عَلَى إِثْبَاتِ ذِكْرِهِمَا فِي الْوُضُوءِ، لِأَنَّ ذِكْرَ الْمَرَافِقِ صِفَةٌ وَذِكْرَ الرَّأْسِ وَالرِّجْلَيْنِ أَصْلٌ.

Contohnya: Mengusap kedua tangan dalam tayammum disebutkan secara mutlak, sedangkan dalam wudu dibatasi sampai kedua siku. Maka, kemutlakan dalam tayammum dibawa kepada pembatasan dalam wudu, yaitu sampai kedua siku. Adapun penyebutan kepala dan kedua kaki disebutkan dalam wudu, namun tidak disebutkan dalam tayammum. Maka, tidak dibawa tidak disebutkannya dalam tayammum kepada penetapan penyebutan keduanya dalam wudu, karena penyebutan siku adalah sifat, sedangkan penyebutan kepala dan kedua kaki adalah pokok.

وَذَهَبَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ خَيْرَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّ الْمُطْلَقَ مَحْمُولٌ عَلَى الْمُقَيَّدِ فِي الصِّفَةِ وَالْأَصْلِ مَعًا، وَجَعَلَ إِطْلَاقَ ذِكْرِ الْإِطْعَامِ فِي كَفَّارَةِ الْقَتْلِ مَحْمُولًا عَلَى ذِكْرِ الْإِطْعَامِ فِي كَفَّارَةِ الظِّهَارِ، وَأَوْجَبَ فِيهِمَا إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا، كَمَا حَمَلَ إِطْلَاقَ الْعِتْقِ فِي كَفَّارَةِ الظِّهَارِ عَلَى تَقْيِيدِهِ بالأيمان في كفارة القتل.

Abu ‘Ali bin Khairan, salah satu ulama Syafi‘i, berpendapat bahwa lafaz mutlak harus dibawa kepada yang muqayyad baik dalam sifat maupun asalnya secara bersamaan. Ia menjadikan penyebutan mutlak tentang memberi makan dalam kafarat pembunuhan dibawa kepada penyebutan memberi makan dalam kafarat zihar, dan mewajibkan pada keduanya memberi makan enam puluh orang miskin. Demikian pula, ia membawa lafaz mutlak tentang memerdekakan budak dalam kafarat zihar kepada pembatasannya pada sumpah dalam kafarat pembunuhan.

وفي إِثْبَاتُ أَصْلٍ بِغَيْرِ أَصْلٍ.

Dan dalam penetapan suatu asal dengan selain asal.

فَإِذَا ثَبَتَ حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَيْهِ مِنْ طَرِيقِ اللُّغَةِ، أَوْ مِنْ طَرِيقِ الشَّرْعِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apabila telah tetap bahwa yang mutlak dibawa kepada yang muqayyad, maka para ulama kami berbeda pendapat: Apakah wajib membawanya berdasarkan kaidah bahasa, ataukah berdasarkan kaidah syariat? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَيْهِ مِنْ طَرِيقِ اللُّغَةِ لِأَنَّهُ فِي لِسَانِ الْعَرَبِ مَوْضُوعٌ لِهَذَا.

Salah satunya: Wajib memaknainya demikian menurut kaidah bahasa, karena dalam bahasa Arab kata itu memang digunakan untuk makna tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى الْمُقَيَّدِ بِالشَّرْعِ الْمُسْتَقِرِّ عَلَى اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي، لِأَنَّ الْأَحْكَامَ لَا تُؤْخَذُ إِلَّا شَرْعًا مَنْ نَصٍّ أَوْ قِيَاسٍ.

Pendapat kedua: Bahwa wajib memahaminya sesuai dengan ketentuan syariat yang telah mapan dalam menggali makna-makna, karena hukum-hukum tidak diambil kecuali melalui syariat, baik dari nash maupun qiyās.

وَإِذَا وَرَدَ مُقَيِّدَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ بِشَرْطَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ وَأُطْلِقَ ثَالِثٌ مِنْ جِنْسِهِمَا وَجَبَ حَمْلُ الْمُطْلَقِ عَلَى إِطْلَاقِهِ وَلَمْ يَجِبْ حَمْلُهُ عَلَى أَحَدِ الْمُقَيَّدَيْنَ لِأَنَّهُ لَيْسَ حَمْلُهُ عَلَى أَحَدِهِمَا بِأَوْلَى مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الْآخَرِ، وَحَمْلُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمُقَيَّدِينَ عَلَى تَقْيِيدِهِ.

Apabila terdapat dua teks muqayyad dari satu jenis dengan dua syarat yang berbeda, lalu ada teks ketiga yang mutlak dari jenis yang sama, maka wajib membawa yang mutlak sesuai kemutlakannya dan tidak wajib membawanya kepada salah satu dari dua muqayyad, karena tidak ada alasan untuk lebih mengutamakan salah satunya daripada yang lain. Adapun masing-masing dari dua muqayyad tetap dibawa pada pembatasannya masing-masing.

وَأَمَّا حَمْلُهُ عَلَى تَقْيِيدِ نَظِيرِهِ فَيُنْظَرُ فِي صِفَتَيِ التَّقْيِيدِ فِيهِمَا.

Adapun mengaitkannya dengan pembatasan yang serupa, maka perlu diperhatikan sifat-sifat pembatasan pada keduanya.

فَإِنْ تَنَافَى الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا لَمْ يُحْمَلْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ وَاخْتَصَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِصِفَتِهِ الَّتِي قُيِّدَ بِهَا، وَذَلِكَ مِثْلُ تَقْيِيدِ صَوْمِ الظِّهَارِ بِالتَّتَابُعِ، وَتَقْيِيدِ صَوْمِ التَّمَتُّعِ بِالتَّفْرِقَةِ، وَلَا يُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَ التَّتَابُعِ وَالتَّفْرِقَةِ فَيُخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٌ مِنْهُمَا بِصِفَتِهِ.

Jika penggabungan antara keduanya saling bertentangan, maka tidak boleh salah satunya dibawa kepada yang lain, dan masing-masing tetap khusus dengan sifat yang telah ditetapkan padanya. Contohnya adalah pensyaratan puasa zhihār dengan harus berurutan, dan pensyaratan puasa tamattu‘ dengan boleh terpisah-pisah. Tidak mungkin menggabungkan antara berurutan dan terpisah-pisah, maka masing-masing tetap khusus dengan sifatnya.

وَإِنْ أُمْكِنَ اجْتِمَاعُ الصِّفَتَيْنِ وَلَمْ يَتَنَافَيَا فَفِي حَمْلِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى تَقْيِيدِ نَظِيرِهِ وَجْهَانِ:

Jika memungkinkan terkumpulnya dua sifat dan keduanya tidak saling bertentangan, maka dalam menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai pembatas bagi yang serupa dengannya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يُحْمَلُ إِلَّا عَلَى مَا قُيِّدَ بِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْمُطْلَقَ لَا يُحْمَلُ عَلَى الْمُقَيِّدِ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Salah satunya: tidak boleh dibawa kecuali pada apa yang telah dibatasi dengannya, jika dikatakan bahwa lafaz mutlak tidak dapat dibawa kepada yang muqayyad kecuali dengan dalil.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُحْمَلُ عَلَى تَقْيِيدِهِ وَتَقْيِيدِ نَظِيرِهِ فَيَصِيرُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُقَيَّدًا بِالصِّفَتَيْنِ إِذَا قِيلَ بِجَوَازِ حَمْلِ الْمُطْلَقِ عَلَى الْمُقَيَّدِ.

Pendapat kedua: Teks tersebut diarahkan pada pembatasan maknanya dan pembatasan makna yang serupa dengannya, sehingga masing-masing dari keduanya menjadi terbatas dengan dua sifat, jika dikatakan bahwa boleh membawa makna mutlak kepada makna muqayyad.

فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ أَنْ يُحْمَلَ مَا أُطْلِقَ مِنْ جِنْسِهِمَا عَلَى تَقْيِيدِهِمَا مَعًا وَيَصِيرُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ النُّصُوصِ الثَّلَاثَةِ الْمُتَجَانِسَةِ مُقَيَّدًا بِشَرْطَيْنِ.

Dengan demikian, boleh untuk membawa makna yang bersifat umum dari jenis keduanya kepada pembatasan keduanya sekaligus, sehingga masing-masing dari tiga nash yang sejenis itu menjadi terikat dengan dua syarat.

(فَصْلٌ: [الْقِسْمُ الرَّابِعُ الْإِثْبَاتُ وَالنَّفْيُ] )

Bagian: (Bagian keempat: Penetapan dan Penafian)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ وَهُوَ الْإِثْبَاتُ وَالنَّفْيُ: فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun bagian keempat, yaitu penetapan dan penafian, maka terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: إِثْبَات تَجَرَّدَ عَنْ نَفْيٍ.

Salah satunya: penetapan yang terlepas dari penafian.

وَالثَّانِي: نَفْي تَجَرَّدَ عَنْ إِثْبَاتٍ.

Dan yang kedua: penafian yang tidak disertai dengan penetapan.

وَالثَّالِثُ: مَا اجتمع فيه نفي وإثبات.

Ketiga: yaitu sesuatu yang di dalamnya terdapat penafian dan penetapan sekaligus.

( [القول في الإثبات المتجرد عن النفي] )

(Pembahasan tentang pernyataan yang bersifat penetapan murni tanpa disertai penafian)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: فِي الْإِثْبَاتِ إِذَا تَجَرَّدَ عَنْ نَفْيٍ فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian pertama: dalam hal penetapan apabila terlepas dari penafian, maka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَقْتَرِنَ بِحَرْفِ التَّحْقِيقِ فَيَكُونُ إِثْبَاتُهُ نَفْيًا لِمَا عَدَاهُ كَقَوْلِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “، وَكَقَوْلِهِ: ” إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ ” فَيَكُونُ إِثْبَاتُ الْعَمَلِ بِالنِّيَّةِ مُوجِبًا لِنَفْيهِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ، وَإِثْبَاتُ الْوَلَاءِ لِلْمُعْتِقِ مُوجِبًا لِنَفْيِهِ لِغَيْرِ الْمُعْتِقِ.

Salah satunya adalah apabila disertai dengan huruf tahqiq, maka penetapannya berarti meniadakan selainnya, seperti sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat,” dan seperti sabdanya: “Sesungguhnya wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan.” Maka penetapan amal dengan niat mengharuskan penafian amal tanpa niat, dan penetapan wala’ bagi orang yang memerdekakan mengharuskan penafian wala’ bagi selain orang yang memerdekakan.

وَسَوَاءٌ كَانَ هَذَا الْإِثْبَاتُ جَوَابًا أَوِ ابْتِدَاءً.

Dan sama saja apakah penetapan ini berupa jawaban atau permulaan.

لَكِنِ اخْتُلِفَ فِي النَّفْيِ بِهِ هَلْ هُوَ بِلَفْظِ النُّطْقِ أَوْ بِدَلِيلِهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Namun, terjadi perbedaan pendapat mengenai penafian dengannya, apakah dengan lafaz ucapan secara langsung atau dengan dalilnya? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الَّذِي أَوْجَبَ النَّفْيَ بَعْدَ الْإِثْبَاتِ هُوَ دَلِيلُ اللَّفْظِ دُونَ اللَّفْظِ فَيَكُونُ دَلِيلُ الْخِطَابِ هُوَ الْمُوجِبُ لِلنَّفْيِ؛ لِأَنَّهَا لَفْظَةُ تَحْقِيقٍ فَجَرَتْ مَجْرَى التَّأْكِيدِ.

Salah satunya adalah bahwa yang mewajibkan penafian setelah penetapan adalah dalil lafaz, bukan lafaz itu sendiri, sehingga dalil khithab-lah yang mewajibkan penafian; karena itu adalah ungkapan penegasan yang berfungsi sebagai bentuk penegasan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهَا أَوْجَبَتِ النَّفْيَ وَالْإِثْبَاتَ بِنَفْسِ اللَّفْظِ، لِأَنَّ لَفْظَةَ ” إِنَّمَا ” مَوْضُوعَةٌ فِي اللُّغَةِ لِإِثْبَاتٍ مَا اتَّصَلَ بِهَا وَنَفْيِ مَا انْفَصَلَ عَنْهَا.

Pendapat kedua: Sesungguhnya kata tersebut mewajibkan penafian dan penetapan dengan lafaz yang sama, karena kata “innamā” dalam bahasa digunakan untuk menetapkan apa yang terhubung dengannya dan menafikan apa yang terpisah darinya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَجَرَّدَ الْإِثْبَاتُ عَنْ حَرْفِ التَّحْقِيقِ كقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” فِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ زَكَاةٌ ” وَكَقَوْلِهِ ” الْقَطْعُ فِي رُبْعِ دِينَارٍ ” فَلِمَخْرَجِهِ حَالَتَانِ:

Jenis kedua: Penetapan yang tidak disertai huruf tahqiq, seperti sabda Nabi ﷺ: “Pada hewan ternak yang digembalakan ada zakat,” dan sabdanya: “Potong tangan pada seperempat dinar.” Maka untuk lafaz seperti ini terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ جَوَابًا لِسَائِلٍ عَنِ الزَّكَاةِ فِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ فَقَالَ: ” فِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ زَكَاةٌ ” وَلِسَائِلٍ عَنِ الْقَطْعِ فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَقَالَ: ” الْقُطْعُ فِي رُبْعِ دِينَارٍ ” فَلَا يَكُونُ هَذَا الْإِثْبَاتُ نَفْيًا لِمَا عَدَاهُ لِأَنَّ مَقْصُودَهُ بَيَانُ السُّؤَالِ.

Salah satunya adalah: ketika jawaban diberikan kepada seseorang yang bertanya tentang zakat pada kambing yang digembalakan, lalu dijawab: “Pada kambing yang digembalakan ada zakat,” dan kepada seseorang yang bertanya tentang hukum potong tangan pada seperempat dinar, lalu dijawab: “Potong tangan pada seperempat dinar.” Maka penetapan ini tidak berarti penafian terhadap selainnya, karena maksudnya adalah menjelaskan sesuai dengan pertanyaan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَبْدَأَ بِهِ الرَّسُولُ فَيَقُولُ مُبْتَدِئًا: ” فِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ زَكَاةٌ ” و ” الْقَطْعُ فِي رُبْعِ دِينَارٍ ” فَيَكُونُ هَذَا الْإِثْبَاتُ نَفْيًا لِمَا عَدَاهُ فَلَا تَجِبُ الزَّكَاةُ فِي غَيْرِ السَّائِمَةِ وَلَا يَجِبُ الْقَطْعُ فِي أَقَلَّ مِنْ رُبُعِ دِينَارٍ لِأَنَّهُ لَا بُدَّ لِتَخْصِيصٍ هَذَا بِالذِّكْرِ مِنْ مُوجِبٍ فَلِمَا خَرَجَ عَنِ الْجَوَابِ ثَبَتَ وُرُودُهُ لِلْبَيَانِ.

Keadaan kedua: Rasul memulai dengannya, lalu beliau bersabda secara langsung: “Pada kambing yang digembalakan ada zakat,” dan “potong tangan pada pencurian seperempat dinar.” Maka penetapan ini berarti meniadakan selainnya, sehingga zakat tidak wajib pada selain hewan ternak yang digembalakan, dan potong tangan tidak wajib pada pencurian kurang dari seperempat dinar. Karena penetapan secara khusus dengan penyebutan ini pasti memiliki alasan, maka terhadap apa yang keluar dari jawaban, tetaplah bahwa hal itu datang untuk penjelasan.

هَذَا هُوَ الظَّاهِرِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَقَوْلِ جُمْهُورِ أَصْحَابِهِ.

Inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, dan merupakan pendapat mayoritas para pengikutnya.

وَذَهَبَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَأَبُو حَامِدٍ الْمَرْوَزِيُّ إِلَى أَنَّ حُكْمَ مَا عَدَا الْإِثْبَاتَ مَوْقُوفٌ عَلَى الدَّلِيلِ لِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الِاحْتِمَالِ.

Abu al-Abbas bin Surayj dan Abu Hamid al-Marwazi berpendapat bahwa hukum selain penetapan (itsbat) bergantung pada dalil, karena di dalamnya terkandung kemungkinan (ihtimal).

وَهَذَا فَاسِدٌ بِمَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّعْلِيلِ.

Ini tidak benar, berdasarkan penjelasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَإِذَا انْتَفَى حُكْمُ الْإِثْبَاتِ عَمَّا عَدَاهُ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي مُوجِبِ نَفْيِهِ عَنْهُ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan apabila hukum penetapan telah dinafikan dari selainnya sebagaimana telah kami jelaskan, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai implikasi dari penafian hukum tersebut atasnya, menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَوْجَبَهُ لِسَانُ الْعَرَبِ لُغَةً.

Salah satunya: mewajibkannya adalah karena bahasa Arab secara bahasa.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: بَلْ أَوْجَبَهُ دَلِيلُ الخطاب شرعا.

Pendapat kedua: Bahkan, dalil khithab secara syar‘i mewajibkannya.

( [القول في النفي المتجرد عن الإثبات] )

(Pembahasan tentang penafian yang murni tanpa adanya penetapan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: فِي النَّفْيِ إِذَا تَجَرَّدَ عَنْ إِثْبَاتٍ فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian kedua: dalam penafian apabila terlepas dari penetapan, maka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ جَوَابًا لِسُؤَالٍ فَلَا يَكُونُ النَّفْيُ مُوجِبًا لِإِثْبَاتِ مَا عداه كقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا تُحَرِّمُ الرَّضْعَةُ وَلَا الرَّضْعَتَانِ ” لَا يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيمِ بِالثَّالِثَةِ.

Salah satunya adalah: jika merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan, maka penafian tersebut tidak otomatis menunjukkan penetapan hukum bagi selainnya, seperti sabda Nabi ﷺ: “Satu atau dua kali susuan tidak menyebabkan keharaman,” maka hadis ini tidak menunjukkan bahwa keharaman terjadi pada susuan yang ketiga.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَبْتَدِئَ به الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَيَقُولُ: ” لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ ” فَدَلَّ عَلَى قَبُولِهَا بِالطَّهُورِ وَيَكُونُ نَفْيُ الْحُكْمِ عَنْ تِلْكَ الصِّفَةِ مُوجِبًا لِإِثْبَاتِهِ عِنْدَ عَدَمِهَا.

Jenis yang kedua: Rasulullah ﷺ memulai dengannya, lalu beliau bersabda: “Allah tidak menerima salat tanpa bersuci.” Maka hal ini menunjukkan diterimanya salat dengan bersuci, dan penafian hukum dari sifat tersebut mewajibkan penetapannya ketika sifat itu tidak ada.

وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ.

Dan inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i.

وَيَحْتَمِلُ قَوْلُ مَنْ جَعَلَ مَا عَدَا الْإِثْبَاتَ مَوْقُوفًا أَنْ يَجْعَلَ مَا عَدَا النَّفْيَ مَوْقُوفًا.

Pendapat orang yang menjadikan selain penetapan sebagai mauqūf (tidak dipastikan) mungkin juga dimaksudkan untuk menjadikan selain penafian sebagai mauqūf.

وَإِذَا كَانَ حُكْمُ النَّفْيِ مُطْلَقًا يَحْتَمِلُ نَفْيَ الْجَوَازِ وَنَفْيَ الْكَمَالِ حُمِلَ عَلَى نَفْيِ الْجَوَازِ لِعُمُومِهِ كَقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ ” فَكَانَ هَذَا النَّفْيُ مَانِعًا مِنْ أَجْزَائِهَا.

Dan apabila hukum penafian itu bersifat mutlak yang dapat mencakup penafian kebolehan maupun penafian kesempurnaan, maka penafian tersebut dibawa kepada penafian kebolehan karena sifatnya yang umum, seperti sabda Nabi ﷺ: “Allah tidak menerima salat tanpa bersuci.” Maka penafian ini menjadi penghalang bagi keabsahan salat tersebut.

فَإِنْ قَامَ دَلِيلٌ عَلَى نَفْيِ الْكَمَالِ حُمِلَ عَلَيْهِ كَقَوْلِهِ ” لَا صَلَاةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي مَسْجِدِهِ ” لَمَّا قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى أَجْزَائِهَا حُمِلَ عَلَى نفي كمالها.

Jika terdapat dalil yang menunjukkan penafian kesempurnaan, maka dalil tersebut diarahkan kepadanya, seperti sabda Nabi: “Tidak ada salat bagi tetangga masjid kecuali di masjidnya.” Ketika terdapat dalil yang menunjukkan sahnya salat tersebut, maka hadis itu diarahkan pada penafian kesempurnaannya.

ويجيء على مذهب من قال بوقف المحتمل بجعل هذا موقوفا لأنه محتمل.

Dan hal ini sesuai dengan mazhab orang yang berpendapat untuk menangguhkan perkara yang masih mengandung kemungkinan, dengan menjadikan hal ini sebagai sesuatu yang ditangguhkan karena ia bersifat kemungkinan.

( [القول فيما اجتمع فيه نفي وإثبات] )

(Pembahasan tentang perkara yang di dalamnya terkumpul penafian dan penetapan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ الْجَامِعُ لِلنَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ:

Adapun bagian ketiga yang mencakup penafian dan penetapan, maka bagian ini terdiri atas tiga jenis:

أَحَدُهُمَا: الِاسْتِثْنَاءُ.

Salah satunya adalah: istitsnā’.

وَالثَّانِي: الشَّرْطُ.

Kedua: syarat.

والثالث: الغاية.

Ketiga: tujuan.

( [النوع الأول: الاستثناء] )

(Jenis pertama: istisna’)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الِاسْتِثْنَاءُ: فَالْمُعْتَبَرُ فِي ثُبُوتِ حُكْمِهِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:

Adapun jenis pertama, yaitu istitsnā’, maka yang menjadi pertimbangan dalam penetapan hukumnya ada tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَصْلٍ يَبْقَى مِنْهُ بَعْدَ الِاسْتِثْنَاءِ بَعْضُهُ وَإِنْ قَلَّ، وَإِنْ رُفِعَ جَمِيعُهُ لَمْ يَصِحَّ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ نَسْخًا، وَيَثْبُتُ حُكْمُ الْأَصْلِ وَيَبْطُلُ حُكْمُ الِاسْتِثْنَاءِ.

Salah satunya: bahwa harus kembali kepada asal yang setelah pengecualian masih tersisa sebagian darinya, meskipun sedikit. Jika seluruh asal dihapus, maka tidak sah, karena hal itu menjadi nasakh. Maka, hukum asal tetap berlaku dan hukum pengecualian menjadi batal.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الِاسْتِثْنَاءُ مِنْ جِنْسِ الْأَصْلِ لِيَصِحَّ بِهِ خُرُوجُ بَعْضِهِ.

Kedua: syaratnya adalah istisna’ harus berasal dari jenis yang sama dengan asalnya, agar sah dengannya pengecualian sebagian darinya.

فَإِنْ عَادَ إِلَى غَيْرِ جِنْسِهِ صَحَّ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ فِي الْمَعْنَى دُونَ اللَّفْظِ.

Jika ia kembali kepada selain jenisnya, maka itu sah menurut mazhab Syafi‘i dalam makna, bukan dalam lafaz.

وَأَجَازَ قَوْمٌ فِي اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى. وَأَبْطَلَهُ آخَرُونَ فِي اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى.

Sebagian ulama membolehkannya baik dalam lafaz maupun makna, sementara yang lain membatalkannya baik dalam lafaz maupun makna.

وَبَيَانُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي جَوَازِهِ فِي الْمَعْنَى دُونَ اللَّفْظِ هُوَ كَقَوْلِهِ: لَهُ عَلَيَّ أَلْفُ دِرْهَمٍ إِلَّا دِينَارًا فَلَا يُجْعَلُ لَفْظُ الدِّينَارِ اسْتِثْنَاءً مِنْ لَفْظِ الدَّرَاهِمِ لِأَنَّهُ لَا يُجَانِسُهَا وَإِنَّمَا تُجْعَلُ قِيمَتُهُ مُسْتَثْنَاةً مِنَ الدَّرَاهِمِ، لِأَنَّهُ لَا يُنَافِيهَا فَصَارَ الِاسْتِثْنَاءُ فِي الْمَعْنَى دُونَ اللَّفْظِ.

Penjelasan mengenai pendapat Imam Syafi‘i tentang kebolehan istisna’ (pengecualian) dalam makna tanpa lafaz adalah seperti ucapannya: “Ia memiliki hak atas saya seribu dirham kecuali satu dinar.” Maka lafaz dinar tidak dijadikan sebagai pengecualian dari lafaz dirham karena keduanya tidak sejenis. Namun, yang dijadikan pengecualian dari dirham adalah nilai dinar tersebut, karena nilainya tidak bertentangan dengan dirham. Dengan demikian, pengecualian itu terjadi dalam makna, bukan dalam lafaz.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَتَعَلَّقَ عَلَى الِاسْتِثْنَاءِ ضِدَّ حُكْمِ الْأَصْلِ فَإِنْ كَانَ الْأَصْلُ إِثْبَاتًا صَارَ الِاسْتِثْنَاءُ نَفْيًا، وَإِنْ كَانَ الْأَصْلُ نَفْيًا صَارَ الِاسْتِثْنَاءُ إِثْبَاتًا.

Ketiga: bahwa istisna’ (pengecualian) berkaitan dengan lawan dari hukum asal; jika hukum asalnya adalah penetapan, maka istisna’ menjadi penafian, dan jika hukum asalnya adalah penafian, maka istisna’ menjadi penetapan.

وَإِنْ عَادَ الِاسْتِثْنَاءُ إِلَى جُمَلٍ مَذْكُورَةٍ تَقَدَّمَتْهُ يُمْكِنُ أَنْ يَعُودَ إِلَى جَمِيعِهَا وَيُمْكِنُ أَنْ يَعُودَ إِلَى بَعْضِهَا فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يَعُودُ إِلَى جَمِيعِهَا مَا لَمْ يَخُصَّهُ دَلِيلٌ كَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ} الْآيَةَ إِلَى قَوْلِهِ: {إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ} [المائدة: 36] فَكَانَ ذَلِكَ رَاجِعًا إِلَى جَمِيعِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْقَتْلِ وَالصَّلْبِ وَالْقَطْعِ وَالنَّفْيِ.

Jika istisna’ (pengecualian) kembali kepada beberapa kalimat yang telah disebutkan sebelumnya, maka istisna’ itu bisa kembali kepada semuanya, dan bisa juga kembali kepada sebagian darinya. Menurut mazhab Syafi’i, istisna’ itu kembali kepada semuanya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya pembalasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya…” hingga firman-Nya: “kecuali orang-orang yang bertobat sebelum kamu dapat menangkap mereka” (QS. Al-Ma’idah: 36). Maka pengecualian tersebut kembali kepada seluruh hukuman yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu pembunuhan, penyaliban, pemotongan (anggota badan), dan pengasingan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَرْجِعُ إِلَى أَقْرَبِ مَذْكُورٍ إِلَّا أَنْ يَعُمَّهُ دَلِيلٌ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا} [النساء: 92] فَرَجَعَ ذَلِكَ إِلَى أَقْرَبِ مَذْكُورٍ وَهُوَ الدِّيَةُ دُونَ الْكَفَّارَةِ.

Abu Hanifah berkata: Kembali kepada yang paling dekat disebutkan, kecuali ada dalil yang mencakup semuanya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Maka memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya, kecuali jika mereka bersedekah.” (an-Nisa: 92). Maka hal itu kembali kepada yang paling dekat disebutkan, yaitu diyat, bukan kafarat.

وَكَذَلِكَ مَا اخْتَلَفَا فِي قَوْله تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شهادة أبدا وأولئك هم الفاسقون إلا الذين تابوا} [النور: 4 – 5] .

Demikian pula, mereka tidak berselisih pendapat mengenai firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya; dan mereka itulah orang-orang yang fasik, kecuali orang-orang yang bertobat.” (an-Nur: 4-5).

أن التوبة عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ تَرْجِعُ إِلَى الْفِسْقِ وَحْدَهُ، لِأَنَّهُ أَقْرَبُ مَذْكُورٍ.

Bahwa tobat menurut Abu Hanifah kembali hanya kepada kefasikan, karena itulah yang paling dekat disebutkan.

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ تَرْجِعُ إِلَى الْفِسْقِ وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ اعْتِبَارًا بِالْعُمُومِ.

Menurut Imam Syafi‘i, hal itu kembali kepada kefasikan dan diterimanya kesaksian, dengan mempertimbangkan keumuman.

وَلَا تَرْجِعُ عِنْدَهُمَا جَمِيعًا إِلَى الْجَلْدِ مَعَ اخْتِلَافِهِمَا فِي التَّعْلِيلِ.

Dan menurut keduanya, hukuman tersebut tidak semuanya kembali kepada cambuk, meskipun keduanya berbeda dalam hal alasan (ta‘līl).

فَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ لِبُعْدِهِ عَنْ أَقْرَبِ مَذْكُورٍ.

Menurut Abu Hanifah, hal itu disebabkan jauhnya dari yang paling dekat yang telah disebutkan.

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ لِخُرُوجِهِ بِدَلِيلٍ: وَهُوَ أَنَّ حَدَّ الْقَذْفِ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الَّتِي لَا تَسْقُطُ بِالتَّوْبَةِ.

Menurut Imam Syafi‘i, karena adanya dalil yang menunjukkan hal itu: yaitu bahwa had qazaf termasuk hak-hak manusia yang tidak gugur dengan taubat.

وَلِذَلِكَ لَمْ يَجْعَلْ قَوْلَهُ {إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا} [النساء: 92] عَائِدًا إِلَى الْكَفَّارَةِ؛ لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ الَّتِي لَا تَسْقُطُ بِالْعَفْوِ وَجَعَلَهُ عَائِدًا إِلَى الدِّيَةِ لِسُقُوطِهَا بِالْعَفْوِ.

Oleh karena itu, Ia tidak menjadikan firman-Nya {kecuali jika mereka bersedekah} [an-Nisā’: 92] kembali kepada kafārah, karena kafārah termasuk hak-hak Allah yang tidak gugur dengan pemaafan, tetapi menjadikannya kembali kepada diyat karena diyat dapat gugur dengan pemaafan.

(فَصْلٌ: [النوع الثاني: الشرط] )

Bagian: [Jenis Kedua: Syarat]

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي وَهُوَ الشَّرْطُ:

Adapun jenis yang kedua, yaitu syarat:

وَالشَّرْطُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الْعَلَامَةُ وَمِنْهُ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا} [محمد: 18] أَيْ عَلَامَاتُهَا وَلِذَلِكَ سُمِّيَ صَاحِبَ الشَّرْطِ لِتَمَيُّزِهِ بِعَلَامَتِهِ.

Syarat dalam bahasa adalah tanda, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: {Maka sungguh telah datang tanda-tandanya} [Muhammad: 18], yaitu maksudnya adalah tanda-tandanya. Oleh karena itu, disebut “shāhib al-shurṭ” (pemilik tanda) karena ia dikenal dengan tandanya.

وَالشَّرْطُ فِي الشَّرْعِ: هُوَ الشَّيْءُ الَّذِي عُلِّقَ بِهِ الْحُكْمُ لِأَنَّهُ عَلَامَةٌ لِوُجُوبِهِ.

Syarat dalam syariat adalah sesuatu yang dengannya hukum digantungkan, karena ia merupakan tanda atas wajibnya hukum tersebut.

فَإِذَا عُلِّقَ الْحُكْمُ بِشَرْطٍ ثَبَتَ الْحُكْمُ بِوُجُودِهِ وَانْتَفَى بِعَدَمِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ} [البقرة: 196] فَيَتَعَلَّقُ بِهِ إِثْبَاتٌ وَنَفْيٌ فَيَجْرِي مَجْرَى الِاسْتِثْنَاءِ مِنْ وَجْهٍ وَإِنْ خَالَفَهُ مِنْ وَجْهٍ.

Jika suatu hukum digantungkan pada suatu syarat, maka hukum itu berlaku dengan adanya syarat tersebut dan tidak berlaku jika syarat itu tidak ada, seperti firman Allah Ta‘ala: “Jika kamu terhalang (dari haji), maka sembelihlah hadyu yang mudah didapat” (QS. Al-Baqarah: 196). Maka, pada syarat tersebut terkait penetapan dan penafian hukum, sehingga dalam satu sisi ia serupa dengan pengecualian, meskipun berbeda dalam sisi yang lain.

فَوَجْهُ اجْتِمَاعِهِمَا أَنَّهُ قَدْ يُثْبِتُ حُكْمًا وَيَنْفِي حُكْمًا.

Adapun alasan terkumpulnya keduanya adalah karena terkadang dapat menetapkan suatu hukum dan meniadakan hukum yang lain.

وَوَجْهُ افْتِرَاقِهِمَا: أَنَّ الشَّرْطَ يُثْبِتُ الْحُكْمَ فِي حَالِ وُجُودِهِ وَيَنْفِيهِ فِي حَالِ عَدَمِهِ، وَالِاسْتِثْنَاءُ يَجْمَعُ بَيْنَ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ.

Adapun perbedaan antara keduanya: syarat menetapkan hukum ketika syarat itu ada dan meniadakannya ketika syarat itu tidak ada, sedangkan istisna’ menggabungkan antara penafian dan penetapan dalam satu keadaan.

وَرُبَّمَا قُيِّدَ الْحُكْمُ بِشَرْطٍ قَامَ الدَّلِيلُ عَلَى ثُبُوتِ الْحُكْمِ مَعَ وُجُودِهِ وَعَدَمِهِ وَلَا يَتَعَلَّقُ بِالشَّرْطِ إِثْبَاتٌ وَلَا نَفْيٌ.

Dan terkadang suatu hukum dibatasi dengan suatu syarat, padahal dalil telah menunjukkan tetapnya hukum tersebut baik syarat itu ada maupun tidak ada, dan penetapan atau penafian hukum tidak bergantung pada syarat tersebut.

وَيَصْرِفُهُ الدَّلِيلُ عَمَّا وُضِعَ لَهُ مِنَ الْحَقِيقَةِ إِلَى مَا قَصَدَ بِهِ مِنَ الْمَجَازِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ} [الطلاق: 4] وَحَقُّهَا فِي الْعِدَّةِ مَعَ وُجُودِ الرِّيبَةِ وَعَدَمِهَا سَوَاءٌ.

Dan dalil mengalihkan makna suatu lafaz dari makna hakiki yang diletakkan untuknya kepada makna majazi yang dimaksudkan, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan perempuan-perempuan di antara kalian yang telah putus haidnya, jika kalian ragu, maka masa iddah mereka adalah tiga bulan.” (QS. Ath-Thalaq: 4). Hak perempuan tersebut dalam masa iddah, baik ada keraguan maupun tidak, adalah sama.

فَإِنْ تَجَرَّدَ الشَّرْطُ عَنْ دَلِيلٍ حُمِلَ عَلَى مُوجَبِهِ فِي النفي والإثبات.

Jika suatu syarat tidak disertai dalil, maka ia diberlakukan sesuai dengan konsekuensinya dalam penafian maupun penetapan.

فَإِنْ عُلِّقَ الشَّرْطُ بِجُمَلٍ مَذْكُورَةٍ عَادَ إِلَى جَمِيعِهَا مَا لَمْ يَخُصَّهُ دَلِيلٌ كَالِاسْتِثْنَاءِ.

Jika syarat dikaitkan dengan beberapa kalimat yang disebutkan, maka syarat itu kembali kepada semuanya, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya seperti pengecualian.

وَجَعَلَهُ أَبُو حَنِيفَةَ عَائِدًا إِلَى أَقْرَبِ مَذْكُورٍ.

Abu Hanifah menjadikannya kembali kepada hal yang paling dekat yang telah disebutkan.

وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى: {فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أوسط ما تطعمون أهلكم أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ} [المائدة: 89] يَعُودُ إِلَى جَمِيعِ مَا تَقَدَّمَ وَلَا يَعُودُ إِلَى أَقْرَبِ مذكور من تحرير الرقبة.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak mampu, maka berpuasa tiga hari.” (QS. al-Mā’idah: 89). Ayat ini kembali kepada seluruh hal yang telah disebutkan sebelumnya, dan tidak hanya kembali kepada yang paling dekat disebutkan, yaitu memerdekakan budak.

(فصل: [النوع الثالث: الغاية] )

(Bab: [Jenis Ketiga: Tujuan])

وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّالِثُ وَهُوَ الْغَايَةُ:

Adapun jenis yang ketiga, yaitu tujuan:

فَهِيَ حَدٌّ لِثُبُوتِ الْحُكْمِ قَبْلَهَا وَانْتِفَائِهِ بَعْدَهَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ} [البقرة: 187] .

Maka ia merupakan batasan bagi keberlakuan hukum sebelum batas itu, dan hilangnya hukum setelahnya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187).

فَكَانَ الْفَجْرُ حَدًّا لِإِبَاحَةِ الْأَكْلِ قَبْلَهُ وَتَحْرِيمِهِ بَعْدَهُ، فَتَعَلَّقَ بِالْغَايَةِ إِثْبَاتٌ وَنَفْيٌ كَالِاسْتِثْنَاءِ وَالشَّرْطِ، غَيْرَ أَنَّ الشَّرْطَ مُوجِبٌ لِثُبُوتِ الْحُكْمِ بَعْدَهُ، وَلِانْتِفَائِهِ قَبْلَهُ، وَالْغَايَةُ مُوجِبَةٌ لِثُبُوتِ الْحُكْمِ قَبْلَهَا وَلِانْتِفَائِهِ بَعْدَهَا.

Maka fajar menjadi batas untuk membolehkan makan sebelum fajar dan mengharamkannya setelah fajar. Maka, pada batas tersebut terdapat penetapan dan penafian hukum, seperti pada istisna’ (pengecualian) dan syarat, hanya saja syarat menyebabkan tetapnya hukum setelahnya dan tidak berlakunya sebelum itu, sedangkan batas (ghayah) menyebabkan tetapnya hukum sebelum batas itu dan tidak berlakunya setelahnya.

فَإِنِ اقْتَرَنَ بِالْغَايَةِ شَرْطٌ تَعَلَّقَ الْإِثْبَاتُ بهما والنفي بأحدهما كقوله تعالى: {فلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ} [البقرة: 222] وَهَذَا غَايَةٌ ثُمَّ قال {فإذا تطهرن فأتوهن} وَهَذَا شَرْطٌ فَتَعَلَّقَ حُكْمُ الْإِثْبَاتِ بِوُجُودِ الشَّرْطِ بَعْدَ الْغَايَةِ، فَلَا يُسْتَبَاحُ وَطْؤُهُنَّ إِلَّا بِالْغُسْلِ بَعْدَ انْقِطَاعِ الدَّمِ، وَتَنْتَفِي الِاسْتِبَاحَةُ بِعَدَمِهَا أَوْ عَدَمِ أَحَدِهِمَا مِنْ غَايَةٍ أَوْ شَرْطٍ.

Jika pada batas akhir disertai syarat, maka penetapan hukum bergantung pada keduanya, sedangkan penafian bergantung pada salah satunya. Seperti firman Allah Ta‘ala: “Maka janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci” (QS. Al-Baqarah: 222), ini adalah batas akhir. Kemudian Allah berfirman: “Apabila mereka telah bersuci maka campurilah mereka,” ini adalah syarat. Maka penetapan hukum bergantung pada adanya syarat setelah batas akhir, sehingga tidak halal menggauli mereka kecuali setelah mandi setelah darah haid berhenti. Dan kehalalan itu hilang jika salah satunya tidak terpenuhi, baik batas akhir maupun syarat.

(فَصْلٌ: [القسم الخامس: المحكم والمتشابه] )

Bagian: [Bagian kelima: Muhkam dan Mutasyabih]

وَأَمَّا الْقِسْمُ الْخَامِسُ وَهُوَ الْمُحْكَمُ وَالْمُتَشَابِهُ:

Adapun bagian kelima, yaitu tentang muḥkam dan mutasyābih:

فَأَصْلُهُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ} [آل عمران: 7] الْآيَةَ.

Dasarnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an); di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok Kitab, dan yang lain mutasyābihāt.” (QS. Ali ‘Imran: 7).

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْمُحْكَمِ وَالْمُتَشَابِهِ عَلَى ثَمَانِيَةِ أَقْوَالٍ:

Para ulama berbeda pendapat mengenai al-muhkam dan al-mutasyabih menjadi delapan pendapat.

أَحَدُهَا: أَنَّ الْمُحْكَمَ النَّاسِخُ وَالْمُتَشَابِهَ الْمَنْسُوخُ وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ.

Salah satunya: bahwa al-muhkam adalah yang menasakh, sedangkan al-mutasyabih adalah yang dinasakh, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas‘ud.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْمُحْكَمَ الْفَرَائِضُ وَالْوَعْدُ وَالْوَعِيدُ، وَالْمُتَشَابِهَ الْقَصَصُ وَالْأَمْثَالُ وَهُوَ قَوْلٌ مَأْثُورٌ.

Yang kedua: bahwa yang muhkam adalah hukum-hukum kewajiban, janji, dan ancaman, sedangkan yang mutasyabih adalah kisah-kisah dan perumpamaan, dan ini adalah pendapat yang diriwayatkan.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ الَّذِي لَمْ تَتَكَرَّرْ أَلْفَاظُهُ وَالْمُتَشَابِهَ الَّذِي تَكَرَّرَتْ أَلْفَاظُهُ وَهَذَا قَوْلُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ.

Ketiga: bahwa al-muhkam adalah ayat yang lafaznya tidak berulang, sedangkan al-mutasyābih adalah ayat yang lafaznya berulang, dan ini adalah pendapat ‘Abdurrahman bin Zaid.

وَالرَّابِعُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ مَا عَلِمَ الْعُلَمَاءُ تَأْوِيلَهُ وَفَهِمُوا مَعْنَاهُ، وَالْمُتَشَابِهَ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ إِلَى عِلْمِهِ سَبِيلٌ، مِمَّا اسْتَأْثَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِعِلْمِهِ: كَقِيَامِ السَّاعَةِ، وَطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولِ عِيسَى، وَغَيْرِهِ، وَهَذَا قَوْلُ جَابِرٍ.

Keempat: bahwa muḥkam adalah apa yang diketahui tafsirnya oleh para ulama dan mereka memahami maknanya, sedangkan mutasyābih adalah apa yang tidak ada jalan bagi mereka untuk mengetahuinya, yaitu perkara-perkara yang hanya Allah Ta‘ala yang mengetahui ilmunya, seperti terjadinya kiamat, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa, dan selainnya. Ini adalah pendapat Jabir.

وَالْخَامِسُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ: مَا أَحْكَمَ اللَّهُ بَيَانَ حَلَالِهِ وَحَرَامِهِ، فَلَمْ تُشْتَبَهْ مَعَانِيهِ وَالْمُتَشَابِهَ: مَا اشْتُبِهَتْ مَعَانِيهِ، وَهَذَا قَوْلُ مُجَاهِدٍ.

Kelima: bahwa al-muhkam adalah apa yang Allah tegaskan penjelasan halal dan haramnya, sehingga maknanya tidak samar; sedangkan al-mutasyabih adalah apa yang maknanya samar. Ini adalah pendapat Mujahid.

وَالسَّادِسُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ مَا لَمْ يَحْتَمِلْ مِنَ التَّأْوِيلِ إِلَّا وَجْهًا وَاحِدًا، وَالْمُتَشَابِهَ مَا احْتَمَلَ مِنَ التَّأْوِيلِ أَوْجُهًا، وَهَذَا قَوْلُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ.

Keenam: bahwa al-muhkam adalah apa yang tidak memungkinkan adanya takwil kecuali satu makna saja, sedangkan al-mutasyabih adalah apa yang memungkinkan adanya beberapa makna takwil, dan ini adalah pendapat Muhammad bin Ja‘far bin az-Zubair.

وَالسَّابِعُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ مَا قَامَ بِنَفْسِهِ، وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى اسْتِدْلَالٍ، وَالْمُتَشَابِهَ مَا لَمْ يَقُمْ بِنَفْسِهِ وَاحْتَاجَ إِلَى اسْتِدْلَالٍ، وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ.

Ketujuh: Bahwa muḥkam adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan dalil, sedangkan mutasyābih adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri dan membutuhkan dalil; ini adalah pendapat sebagian ahli kalam.

وَالثَّامِنُ: أَنَّ الْمُحْكَمَ مَا كَانَتْ مَعَانِي أَحْكَامِهِ مَعْقُولَةً وَالْمُتَشَابِهَ مَا كَانَتْ مَعَانِي أَحْكَامِهِ غَيْرَ مَعْقُولَةٍ كَأَعْدَادِ الصَّلَوَاتِ، وَاخْتِصَاصِ الصِّيَامِ بِشَهْرِ رَمَضَانَ دُونَ شَعْبَانَ.

Kedelapan: Bahwa muḥkam adalah apa yang makna hukum-hukumnya dapat dipahami, sedangkan mutasyābih adalah apa yang makna hukum-hukumnya tidak dapat dipahami, seperti jumlah rakaat salat, dan pengkhususan puasa pada bulan Ramadan, bukan pada bulan Sya‘ban.

وَهَذَا مُحْتَمَلٌ.

Dan hal ini memungkinkan.

وَفِي قَوْلِهِ {هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ} [آل عمران: 7] ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dalam firman-Nya {mereka itulah Ummul Kitab} [Ali Imran: 7] terdapat tiga makna:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ أَرَادَ الْآيَ الَّتِي فِيهَا الْفَرَائِضُ وَالْحُدُودُ لِأَنَّهَا أَكْثَرُ الْمَقْصُودِ وَهَذَا قَوْلُ يَحْيَى بْنِ يَعْمُرَ.

Salah satunya: bahwa yang dimaksud adalah ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kewajiban-kewajiban (faraidh) dan hudud, karena itulah yang paling banyak menjadi tujuan, dan ini adalah pendapat Yahya bin Ya‘mur.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ أَرَادَ فَوَاتِحَ السُّوَرِ الَّتِي يُسْتَخْرَجُ مِنْهَا الْقُرْآنُ وَهَذَا قَوْلُ أَبِي فَاخِتَةَ.

Kedua: bahwa yang dimaksud adalah awal-awal surah yang darinya Al-Qur’an diambil, dan ini adalah pendapat Abu Fakhitah.

وَالثَّالِثُ: أَرَادَ أَنَّهُ مَعْقُولُ الْمَعَانِي؛ لِأَنَّهُ يَتَفَرَّعُ عَنْهُ مَا يُشَارِكُهُ فِي مَعْنَاهُ فَيَصِيرُ الْأَصْلُ لِفُرُوعِهِ كَالْأُمِّ لِحُدُوثِهَا عَنْهُ فَلِذَلِكَ سماه أم الكتاب.

Ketiga: yang dimaksud adalah bahwa ia memiliki makna yang dapat dipahami; karena darinya bercabang hal-hal lain yang memiliki kesamaan makna dengannya, sehingga pokok tersebut menjadi asal bagi cabang-cabangnya, seperti seorang ibu bagi anak-anaknya yang berasal darinya. Oleh karena itu, ia dinamakan Umm al-Kitāb.

وهذا محتمل.

Hal ini memungkinkan.

{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ} [آل عمران: 7] فِيهِ وَجْهَانِ:

Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyimpangan, terdapat dua pendapat mengenai hal ini:

أَحَدُهُمَا: شَكٌّ قَالَهُ مُجَاهِدٌ.

Salah satunya adalah keraguan, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid.

وَالثَّانِي: ميل.

Dan yang kedua: kecenderungan.

{فيتبعون ما تشابه منه} فِيهِ وَجْهَانِ:

Mereka mengikuti bagian-bagian yang samar maknanya darinya; dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ الْأَجَلُ الَّذِي أَرَادَتِ الْيَهُودُ أَنْ تَعْرِفَهُ مِنَ الْحُرُوفِ الْمُقَطَّعَةِ فِي الْقُرْآنِ مِنِ انْقِضَاءِ مُدَّةِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِحِسَابِ الْجُمَلِ.

Salah satunya adalah bahwa itu adalah waktu yang ingin diketahui oleh orang-orang Yahudi dari huruf-huruf muqaththa‘ah dalam Al-Qur’an tentang berakhirnya masa Nabi ﷺ dengan perhitungan jumal.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ مَعْرِفَةُ عَوَاقِبِ الْقُرْآنِ في العلم بورود النسخ قبل وقته.

Kedua: bahwa ia adalah pengetahuan tentang akibat-akibat al-Qur’an dalam hal mengetahui terjadinya nasakh sebelum waktunya.

{ابتغاء الفتنة} فِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

“Mencari fitnah” di dalamnya terdapat tiga pendapat:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ الشِّرْكُ قَالَهُ السدي. وَالثَّانِي: أَنَّهُ اللَّبْسُ قَالَهُ مُجَاهِدٌ. وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ إفساد ذات البين.

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksud adalah syirik, sebagaimana dikatakan oleh As-Suddi. Yang kedua, bahwa yang dimaksud adalah kebingungan, sebagaimana dikatakan oleh Mujahid. Dan yang ketiga, bahwa yang dimaksud adalah merusak hubungan di antara sesama.

{وابتغاء تأويله} فِيهِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ التَّأْوِيلَ التَّفْسِيرُ. وَالثَّانِي: أنه العاقبة المنتظرة.

“Mencari takwilnya” memiliki dua makna: Pertama, bahwa takwil adalah tafsir. Kedua, bahwa takwil adalah akibat atau hasil akhir yang dinantikan.

{وما يعلم تأويله إلا الله} فِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dan tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dalam hal ini terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: تَأْوِيلُ جَمِيعِ الْمُتَشَابِهِ، لِأَنَّ فِيهِ مَا يَعْلَمُهُ النَّاسُ وَفِيهِ مَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، وَهَذَا قَوْلُ الْحَسَنِ.

Salah satunya adalah menakwilkan seluruh ayat-ayat mutasyābih, karena di dalamnya terdapat hal-hal yang diketahui oleh manusia dan ada pula yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Ini adalah pendapat al-Hasan.

وَالثَّانِي: أَنَّ تَأْوِيلَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لِمَا فِيهِ مِنَ الْوَعْدِ وَالْوَعِيدِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ} [الأعراف: 53] ، يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ.

Kedua: bahwa ta’wil-nya adalah pada hari kiamat, karena di dalamnya terdapat janji dan ancaman, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidaklah mereka menantikan kecuali ta’wil-nya? Pada hari datangnya ta’wil-nya…” (al-A‘raf: 53), yaitu pada hari kiamat, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ تَأْوِيلَهُ وَقْتُ حُلُولِهِ، وَهَذَا قول بعض المتأخرين:

Ketiga: bahwa ta’wil-nya adalah pada saat terjadinya, dan ini adalah pendapat sebagian ulama muta’akhkhirīn.

{والراسخون في العلم} فِيهِ وَجْهَانِ:

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya, dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَعْنِي الثَّابِتِينَ فِيهِ، وَالْعَامِلِينَ بِهِ.

Salah satunya adalah mereka yang berpegang teguh padanya dan mengamalkannya.

وَالثَّانِي: يَعْنِي الْمُسْتَنْبِطِينَ لَهُ، وَالْعَالِمِينَ بِهِ.

Dan yang kedua: yaitu orang-orang yang melakukan istinbāṭ terhadapnya, dan orang-orang yang berilmu tentangnya.

وَفِيهِمْ وَجْهَانِ:

Di antara mereka terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ دَاخِلُونَ فِي الِاسْتِثْنَاءِ وَتَقْدِيرُهُ: أَنَّ الَّذِي يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ جَمِيعًا رَوَى مُجَاهِدٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَنَا مِمَّنْ يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ.

Salah satunya adalah bahwa mereka termasuk dalam pengecualian, dan maksudnya adalah bahwa yang mengetahui takwilnya adalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya, semuanya. Mujahid meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Aku termasuk orang yang mengetahui takwilnya.”

وَالثَّانِي: أَنَّهُمْ خَارِجُونَ مِنَ الِاسْتِثْنَاءِ وَيَكُونُ مَعْنَى الْكَلَامِ: وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، ثُمَّ اسْتَأْنَفَ فَقَالَ: {وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا به} .

Yang kedua: bahwa mereka (orang-orang yang mendalam ilmunya) tidak termasuk dalam pengecualian, dan makna kalimatnya adalah: “Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah semata.” Kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya: “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepadanya.’”

{كل من عند ربنا} يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ:

Semuanya berasal dari Tuhan kita, dapat mengandung dua makna:

أَحَدُهُمَا: عِلْمُ ذَلِكَ عِنْدَ رَبِّنَا.

Salah satunya: ilmu tentang hal itu ada di sisi Tuhan kami.

والثاني: أنا مَا فَصَّلَهُ اللَّهُ مِنَ الْمُحْكَمِ وَالْمُتَشَابِهِ مُنَزَّلٌ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا.

Kedua: Sesungguhnya apa yang telah Allah jelaskan dari ayat-ayat muḥkam dan mutasyābih itu diturunkan dari sisi Tuhan kita.

وَإِنَّمَا جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى كِتَابَهُ مُحْكَمًا وَمُتَشَابِهًا اسْتِدْعَاءً لِلنَّظَرِ مِنْ غَيْرِ اتِّكَالٍ عَلَى الْخَبَرِ لِيَتَبَيَّنَ التَّفَاضُلُ وَيَسْتَجْزِلَ الثَّوَابُ.

Allah Ta‘ala menjadikan Kitab-Nya terdiri dari ayat-ayat yang muhkam dan mutasyābih sebagai ajakan untuk berpikir dan merenung tanpa hanya bersandar pada riwayat, agar tampak perbedaan tingkat pemahaman dan agar pahala yang besar dapat diraih.

وَقَدْ رَوَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: الْقُرْآنُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَجْزَاءٍ: ” حَلَالٌ فَاتَّبِعْهُ، وَحَرَامٌ فَاجْتَنِبْهُ، وَمُتَشَابِهٌ يُشْكَلُ عَلَيْكَ فَكِلْهُ إِلَى عَالِمِهِ “.

Mu‘ādz bin Jabal meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: Al-Qur’an terdiri atas tiga bagian: yang halal, maka ikutilah; yang haram, maka jauhilah; dan yang mutasyābih yang samar bagimu, maka serahkanlah kepada ahlinya.

وَإِذَا وَضَحَ مَا ذَكَرْنَاهُ فَمَا تَضَمَّنَهُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْأَحْكَامِ وَالْأَعْلَامِ يَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:

Dan apabila telah jelas apa yang telah kami sebutkan, maka apa yang terkandung dalam Kitab Allah Ta‘ala berupa hukum-hukum dan petunjuk-petunjuk terbagi menjadi empat bagian:

أَحَدُهَا: مُحْكَمٌ فِي أَحْوَالِهِ.

Salah satunya: seseorang yang terjaga dalam segala keadaannya.

وَالثَّانِي: مُتَشَابِهٌ فِي أَحْوَالِهِ.

Yang kedua: serupa dalam keadaannya.

وَالثَّالِثُ: مُتَشَابِهٌ فِي حَالٍ وَمُحْكَمٌ فِي حَالٍ.

Ketiga: ada yang mutasyābih dalam suatu keadaan dan muhkam dalam keadaan lain.

وَالرَّابِعُ: مُحْكَمٌ مِنْ وَجْهٍ وَمُتَشَابِهٌ مِنْ وَجْهٍ.

Keempat: ada yang muhkam dari satu sisi dan mutasyabih dari sisi lain.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الْمُحْكَمُ فِي الْأَحْوَالِ فَضَرْبَانِ: مَفْهُومٌ، وَمَعْقُولٌ، وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْمَفْهُومَ مَا لَمْ يَحْتَجْ إِلَى فِكْرٍ، وَالْمَعْقُولُ مَا احْتَاجَ إِلَى فِكْرٍ.

Adapun bagian pertama, yaitu yang muhkam dalam hal-hal (hukum), terbagi menjadi dua: mafhūm dan ma‘qūl. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa mafhūm tidak memerlukan pemikiran, sedangkan ma‘qūl memerlukan pemikiran.

وَالْمَفْهُومُ: ضَرْبَانِ:

Dan mafhūm terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا فُهِمَ صَرِيحُ لَفْظِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى فِي تَحْرِيمِ الْمَنَاكِحِ {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ} [النساء: 23] الْآيَةَ.

Pertama: Apa yang dipahami secara jelas dari lafaznya, seperti firman Allah Ta‘ala tentang keharaman pernikahan: “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian dan anak-anak perempuan kalian” (QS. an-Nisā’: 23) dan seterusnya.

وَالثَّانِي: مَا فُهِمَ بِمَخْرَجِ خِطَابِهِ مِثْلِ قَوْلِهِ فِي تَحْرِيمِ الْخَمْرِ وَالْقِمَارِ: {إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ} [المائدة: 90] فَدَلَّ وَضْعُ الْخِطَابِ عَلَى تَحْرِيمِهِ.

Yang kedua: yaitu apa yang dipahami dari redaksi lafaz ayatnya, seperti firman Allah tentang pengharaman khamar dan judi: “Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan undian panah adalah najis termasuk perbuatan setan, maka jauhilah itu.” (QS. Al-Ma’idah: 90). Maka, susunan lafaz ayat ini menunjukkan pengharamannya.

وَالْمَعْقُولُ: ضَرْبَانِ:

Yang rasional itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا عُلِمَ بِالتَّنْبِيهِ كَقَوْلِهِ: {وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأُمِّهِ الثُّلُثُ} [النساء: 11] نَبَّهَ بِثُلُثِ الْأُمِّ عَلَى أَنَّ الْبَاقِيَ لِلْأَبِ.

Pertama: sesuatu yang diketahui melalui penunjukan, seperti firman-Nya: “Dan kedua orang tuanya mewarisinya, maka untuk ibunya sepertiga,” (QS. an-Nisā’: 11). Allah menunjukkan dengan sepertiga bagian untuk ibu bahwa sisanya adalah untuk ayah.

وَالثَّانِي: مَا عُلِمَ بِالِاسْتِدْلَالِ: مِثْلُ تَقْدِيرِ أَقَلِّ الْحَمْلِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ بِقَوْلِهِ {وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا} [الأحقاف: 14] دَلَّ بِقَوْلِهِ {حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ} [البقرة: 233] عَلَى أَنَّ الْبَاقِيَ مِنْ ثَلَاثِينَ شَهْرًا هُوَ أَقَلُّ مُدَّةِ الْحَمْلِ.

Yang kedua: adalah apa yang diketahui melalui istidlāl (penalaran), seperti penetapan paling singkat masa kehamilan selama enam bulan berdasarkan firman Allah, “Dan masa mengandungnya dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (Al-Ahqaf: 14). Hal ini ditunjukkan pula oleh firman-Nya, “Masa menyapihnya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (Al-Baqarah: 233), sehingga sisa dari tiga puluh bulan itu adalah masa paling singkat kehamilan.

فَهَذِهِ الضُّرُوبُ الْأَرْبَعَةُ وَنَظَائِرُهَا مُحْكَمَةٌ غَيْرُ مُتَشَابِهَةٍ.

Keempat jenis ini dan yang semisal dengannya adalah muḥkam, tidak termasuk ayat-ayat mutasyābih.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ الْمُتَشَابِهُ فِي الْأَحْوَالِ: فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian kedua, yaitu yang musytabih (samar) dalam hal-hal (kondisi), maka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا تَلَوَّحَتْ فِيهِ إِشَارَةٌ يُحْتَمَلُ الِاسْتِدْلَالُ بِهَا كَقَوْلِهِ فِي الْكَلَالَةِ: {وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ} [النساء: 12] فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ الْكَلَالَةِ. فَقَالَ: ” تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ ” يَعْنِي قَوْلَهُ: {يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلالَةِ} [النساء: 176] … الآية

Salah satunya: yaitu apa yang di dalamnya terdapat isyarat yang memungkinkan untuk dijadikan dalil, seperti firman-Nya tentang kalālah: “Dan jika seseorang yang diwarisi itu tidak mempunyai anak atau bapak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya seperenam bagian.” (QS. an-Nisā’: 12). Maka Umar bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kalālah. Beliau bersabda: “Cukuplah bagimu ayat musim panas,” maksudnya adalah firman-Nya: “Mereka meminta fatwa kepadamu. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalālah.” (QS. an-Nisā’: 176) … dan seterusnya.

فَسَمَّاهَا آيَةَ الصَّيْفِ، لِأَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الصَّيْفِ فَلَمْ يَزِدْهُ فِي الْبَيَانِ عَنِ الرَّدِّ إِلَى الْإِشَارَةِ.

Maka Allah menyebutnya sebagai ayat musim panas, karena ayat itu turun pada musim panas, sehingga tidak menambah penjelasan tentang pengembalian kecuali dengan isyarat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا تَجَرَّدَ عَنْ إِشَارَةٍ كَالْحُرُوفِ الْمُفْرَدَةِ فِي الْقُرْآنِ مِثْلُ {الم} وَ {كهيعص} [مريم: 1] {حمعسق} [الشورى: 1] فَكَانَتْ عَلَى احْتِمَالِ مُشْتَبِهَةٍ غَيْرَ أَنَّ الْمُرَادَ فِي الضَّرْبِ الْأَوَّلِ خَفِيٌّ وَفِي هَذَا الضَّرْبِ مُبْهَمٌ وَكِلَاهُمَا مِنَ الْمُتَشَابِهِ.

Jenis kedua: yaitu apa yang tidak disertai dengan penunjukan makna, seperti huruf-huruf terpisah dalam Al-Qur’an, misalnya {alif lām mīm} dan {kāf hā yā ‘ain ṣād} (Maryam: 1), {ḥā mīm ‘ain sīn qāf} (Asy-Syūrā: 1). Maka huruf-huruf tersebut berada dalam kemungkinan makna yang samar, hanya saja maksud pada jenis pertama tersembunyi, sedangkan pada jenis ini tidak diketahui (mubham), dan keduanya termasuk dalam kategori mutasyābih.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: وَهُوَ الْمُتَشَابِهُ فِي حَالٍ وَالْمُحْكَمُ فِي حَالٍ: فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian ketiga, yaitu yang dalam satu keadaan termasuk mutasyābih dan dalam keadaan lain termasuk muhkam, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: الْعُمُومُ إِذَا خُصَّ.

Salah satunya adalah keumuman apabila telah dikhususkan.

وَالثَّانِي: الْمُجْمَلُ إِذَا فُسِّرَ، هُمَا قَبْلَ الْبَيَانِ مِنَ الْمُتَشَابِهِ، وَبَعْدَ الْبَيَانِ مِنَ الْمُحْكَمِ.

Kedua: lafaz mujmal apabila telah dijelaskan, maka sebelum penjelasan termasuk dalam kategori mutasyabih, dan setelah penjelasan termasuk dalam kategori muhkam.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ: وَهُوَ الْمُحْكَمُ مِنْ وَجْهٍ وَالْمُتَشَابِهُ مِنْ وَجْهٍ: فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian keempat, yaitu yang muhkam dari satu sisi dan mutasyabih dari sisi lain, maka terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْمُتَشَابِهُ فِي الْمُوجَبِ، وَالْمُحْكَمُ فِي الْوَاجِبِ، مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بالحق} [الأنعام: 151، الإسراء: 33] فَالْحَقُّ هُوَ السَّبَبُ الْمُوجَبُ وَهُوَ مِنَ الْمُتَشَابِهِ وَإِبَاحَةُ الْقَتْلِ هُوَ الْوَاجِبُ وَهُوَ مِنَ الْمُحْكَمِ.

Salah satunya adalah: yang mutasyābih terdapat pada sebab yang mewajibkan, dan yang muhkam terdapat pada kewajiban, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar” (al-An‘ām: 151, al-Isrā’: 33). Maka yang benar (al-ḥaqq) adalah sebab yang mewajibkan dan ini termasuk mutasyābih, sedangkan kebolehan membunuh adalah kewajiban dan ini termasuk muhkam.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْمُحْكَمُ فِي الْمُوجَبِ وَالْمُتَشَابِهُ فِي الْوَاجِبِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ} [الأنعام: 141] . وَالسَّبَبُ الْمُوجِبُ هُوَ اسْتِحْصَادُ الزَّرْعِ وَهُوَ مِنَ الْمُحْكَمِ وَالْحَقُّ الْمُؤَدَّى هُوَ الْوَاجِبُ وَهُوَ مِنَ الْمُتَشَابِهِ.

Jenis kedua: yaitu apabila yang muhkam terdapat pada sebab yang mewajibkan, dan yang mutasyabih terdapat pada kewajiban, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah haknya pada hari panennya” (QS. al-An‘ām: 141). Sebab yang mewajibkan adalah memanen tanaman, dan ini termasuk muhkam, sedangkan hak yang harus diberikan adalah kewajiban, dan ini termasuk mutasyabih.

فَهَذَانِ الضَّرْبَانِ وَنَظَائِرُهُمَا هُوَ الْمُحْكَمُ مِنْ وَجْهٍ وَالْمُتَشَابِهُ مَنْ وَجْهٍ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْأَصْلِ تُعْتَبَرُ جَمِيعُ النُّصُوصِ.

Dua jenis ini dan yang serupa dengan keduanya adalah muḥkam dari satu sisi dan mutasyābih dari sisi lain. Kemudian, berdasarkan prinsip ini, seluruh nash dipertimbangkan.

(فصل: [القسم السادس الناسخ والمنسوخ] )

(Bab: [Bagian keenam tentang nasikh dan mansukh])

وَأَمَّا الْقِسْمُ السَّادِسُ وَهُوَ النَّاسِخُ وَالْمَنْسُوخُ.

Adapun bagian keenam adalah tentang naskh dan mansukh.

فَالنَّسْخُ هُوَ رَفْعُ مَا ثَبَتَ حُكْمُهُ فِي الشَّرْعِ دُونَ الْعَقْلِ، لِأَنَّ وَاجِبَاتِ الْعُقُولِ لَا يَجُوزُ نسخها بشرع ولا عقل.

Maka nasakh adalah penghapusan suatu hukum yang telah ditetapkan dalam syariat, bukan oleh akal, karena kewajiban-kewajiban akal tidak boleh di-nasakh baik oleh syariat maupun oleh akal.

فالنسخ مُخْتَصٌّ بِالْأَحْكَامِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي دُونَ الْأَخْبَارِ، لِأَنَّ نَسْخَ الْخَبَرِ مُفْضٍ إِلَى دُخُولِ الْكَذِبِ فِي نَاسِخِهِ أَوْ مَنْسُوخِهِ، وَنَسْخُ الْحُكْمِ إِنَّمَا هُوَ الْعِلْمُ بِانْقِضَاءِ مُدَّتِهِ.

Naskh (penghapusan hukum) khusus berlaku pada hukum-hukum yang mengandung perintah dan larangan, tidak pada berita, karena menasakh berita akan mengakibatkan masuknya kebohongan pada yang menasakh atau yang dinasakh, sedangkan naskh terhadap hukum hanyalah berupa pengetahuan tentang berakhirnya masa berlakunya hukum tersebut.

وَهُوَ مَأْخُوذٌ فِي اللُّغَةِ مِنْ قَوْلِهِمْ نَسَخَ الْمَطَرُ الْأَثَرَ إِذَا أَزَالَهُ وَنَسَخَتِ الشَّمْسُ الظِّلَّ إِذَا زَالَ بِهَا فَسُمِّيَ فِي الشَّرْعِ نَسْخًا لِزَوَالِ الْحُكْمِ بِهِ كَمَا سُمِّيَ بِهِ نَسْخُ الْكِتَابِ لِإِزَالَةِ الْأَصْلِ بِإِثْبَاتِ فَرْعِهِ.

Istilah ini diambil dalam bahasa (Arab) dari ungkapan mereka “hujan telah menghapus jejak” jika hujan itu menghilangkannya, dan “matahari telah menghapus bayangan” jika bayangan itu hilang karena matahari. Maka dalam syariat, istilah ini disebut nasakh karena hilangnya hukum dengannya, sebagaimana istilah ini juga digunakan untuk nasakh kitab, yaitu menghilangkan naskah asli dengan menetapkan salinannya.

وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ فِي الْعَقْلِ وَلَا فِي الشَّرْعِ نَسْخُ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ لِأَنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ بِالْمَصَالِحِ.

Tidaklah mustahil menurut akal maupun syariat adanya nasakh terhadap hukum-hukum syariat, karena hukum-hukum tersebut dipertimbangkan berdasarkan kemaslahatan.

وَقَدْ تَخْتَلِفُ الْمَصَالِحُ بِاخْتِلَافِ الزَّمَانِ فَيَكُونُ الْمَنْسُوخُ مَصْلَحَةً فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ دُونَ الثَّانِي، وَيَكُونُ النَّاسِخُ مَصْلَحَةً فِي الزَّمَانِ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ، فَيَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَصْلَحَةً فِي زَمَانِهِ وَحَسَنًا فِي وَقْتِهِ وَإِنْ تَضَادَّا.

Terkadang kemaslahatan dapat berbeda-beda sesuai dengan perbedaan zaman, sehingga hukum yang mansūkh (dihapus) merupakan kemaslahatan pada zaman pertama namun tidak pada zaman kedua, dan hukum yang nāsikh (menghapus) merupakan kemaslahatan pada zaman kedua namun tidak pada zaman pertama. Maka, masing-masing dari keduanya adalah kemaslahatan pada zamannya dan baik pada waktunya, meskipun keduanya saling bertentangan.

وَلَا يَكُونُ بَدَاءً ورجوعا فيستقبح كما زعم قوم لأن النداء هُوَ الرُّجُوعُ فِيمَا تَقَدَّمَ مِنْ أَمْرٍ وَنَهْيٍ، وَالنَّسْخُ هُوَ أَمْرٌ بِالشَّيْءِ فِي وَقْتٍ وَالنَّهْيُ فِي غَيْرِهِ فَافْتَرَقَا.

Dan hal itu bukanlah permulaan baru atau kembali sehingga dianggap buruk sebagaimana yang dikira oleh sebagian orang, karena naskh adalah kembali kepada perintah dan larangan yang telah lalu, sedangkan naskh adalah perintah terhadap sesuatu pada suatu waktu dan larangan pada waktu yang lain, maka keduanya berbeda.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنِ اخْتِصَاصِ النَّسْخِ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ دُونَ الْعَقْلِيَّةِ فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي دُونَ الْأَخْبَارِ، فَالنَّسْخُ جَائِزٌ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْلٌ لِأَحْكَامِ الشَّرْعِ فَإِذَا جَاءَتْ فِي الْكِتَابِ الَّذِي هُوَ أَصْلُ السُّنَّةِ كَانَ فِي السُّنَّةِ أَجْوَزَ.

Setelah dipastikan apa yang telah kami sebutkan mengenai kekhususan nasakh pada hukum-hukum syariat dan bukan pada hukum-hukum akal, serta pada perintah dan larangan dan bukan pada berita, maka nasakh itu dibolehkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah; karena masing-masing dari keduanya merupakan sumber hukum syariat. Jika nasakh terjadi dalam al-Kitab yang merupakan sumber as-Sunnah, maka dalam as-Sunnah tentu lebih dibolehkan lagi.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسُوخُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يَشْتَمِلُ عَلَى تَفْصِيلِ بَيَانِهِ عَلَى سَبْعَةِ أَقْسَامٍ:

Jika demikian, maka naskh dan mansukh dalam al-Kitab dan as-Sunnah mencakup penjelasan rinci yang terbagi ke dalam tujuh bagian.

أَحَدُهَا: مَا يَقَعُ فِيهِ النَّسْخُ.

Salah satunya: perkara yang terjadi di dalamnya nasakh.

وَالثَّانِي: مَا يَقَعُ بِهِ النَّسْخُ.

Kedua: hal-hal yang dengannya nasakh dapat terjadi.

وَالثَّالِثُ: فِي أَحْكَامِ النَّسْخِ.

Ketiga: tentang hukum-hukum nasakh.

وَالرَّابِعُ: فِي أَحْوَالِ النَّسْخِ.

Keempat: tentang keadaan-keadaan nasakh.

وَالْخَامِسُ: فِي زَمَانِ النَّسْخِ.

Kelima: pada masa nasakh.

وَالسَّادِسُ: فِي دَلَائِلِ النَّسْخِ.

Keenam: tentang dalil-dalil nasakh.

والسابع: في الفرق بين التخصيص والنسخ.

Ketujuh: tentang perbedaan antara takhshīṣ dan naskh.

( [القول فيما يقع فيه النسخ] )

(Pembahasan tentang hal-hal yang dapat terjadi padanya nasakh)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِيمَا يَقَعُ فِيهِ النَّسْخُ: فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهَا الْأَوَامِرُ وَالنَّوَاهِي الشَّرْعِيَّةُ وَهِي عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian pertama mengenai hal-hal yang dapat terjadi nasakh padanya: telah kami sebutkan bahwa itu adalah perintah dan larangan syar‘i, dan perintah serta larangan ini terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ مُطْلَقَةً فَيَجُوزُ نَسْخُهَا، وَإِنْ وَرَدَتْ بِلَفْظِ الْخَبَرِ.

Salah satunya: jika bersifat mutlak, maka boleh dinasakh, meskipun datang dengan lafaz khabar.

وَتَوَهَّمَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فَمَنَعَ مِنْ نَسْخِهَا إِذَا وَرَدَتْ بِلَفْظِ الْخَبَرِ اعْتِبَارًا بِالْأَخْبَارِ فِي الِامْتِنَاعِ مِنْ دُخُولِ النَّسْخِ فِيهَا.

Sebagian dari ulama kami beranggapan keliru, sehingga melarang adanya nasakh apabila ayat tersebut datang dengan lafaz khabar, dengan mempertimbangkan bahwa khabar tidak dapat dimasuki oleh nasakh.

فَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: اخْتِصَاصُ الْأَخْبَارِ بِالْأَعْلَامِ وَاخْتِصَاصُ الْأَوَامِرِ بِالْإِلْزَامِ.

Salah satunya adalah kekhususan al-akhbār (berita) pada pemberitahuan, dan kekhususan al-awāmir (perintah) pada mewajibkan.

وَالثَّانِي: اخْتِصَاصُ الْأَخْبَارِ بِالْمَاضِي وَالْأَوَامِرِ بِالْمُسْتَقْبَلِ وَلِمَا تَعَلَّقَ بِمَا وَرَدَ مِنَ الْأَوَامِرِ بِلَفْظِ الْأَخْبَارِ أَحْكَامُ الْأَوَامِرِ دُونَ الْأَخْبَارِ، وَمِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ، كَذَلِكَ فِي حُكْمِ النَّسْخِ.

Kedua: bahwa khabar (berita) khusus untuk masa lalu, sedangkan perintah khusus untuk masa depan. Adapun apa yang berkaitan dengan perintah yang datang dengan lafaz khabar, maka berlaku hukum-hukum perintah, bukan hukum-hukum khabar. Dari dua sisi inilah, demikian pula dalam hukum nasakh.

والضرب الثاني: أن يرد الأمر مؤكدا بالتأييد فَفِي جَوَازِ نَسْخِهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Jenis kedua: apabila suatu perintah datang dengan penegasan untuk penguatan, maka dalam kebolehan nasakh atasnya menurut mazhab kami terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يجوز نسخه؛ لأن صريح التأييد مَانِعٌ مِنِ احْتِمَالِ النَّسْخِ.

Salah satunya: Tidak boleh dinasakh, karena penegasan yang bersifat permanen menjadi penghalang kemungkinan terjadinya nasakh.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَكَأَنَّهُ أشبه أن نسخه جائر، لأن المطلق يقتضي التأييد كالمؤكد، لأنه لما جاز القطاع الْمُؤَبَّدِ بِالِاسْتِثْنَاءِ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى {وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الفاسقون إِلا الَّذِينَ تَابُوا} [النور: 4] جَازَ انْقِطَاعُهُ بِالنَّسْخِ كَالْمُطْلَقِ.

Pendapat kedua: Seolah-olah lebih mirip bahwa penghapusan (nasakh) terhadapnya adalah sah, karena lafaz mutlak menuntut keberlangsungan seperti halnya lafaz muakkad (yang ditekankan). Sebab, ketika boleh terputusnya hukum yang mu’abbad (bersifat abadi) dengan pengecualian, seperti firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu menerima kesaksian mereka selama-lamanya, dan mereka itulah orang-orang fasik, kecuali orang-orang yang bertobat” (an-Nur: 4), maka boleh juga terputusnya dengan nasakh sebagaimana pada lafaz mutlak.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْأَمْرُ مُقَدَّرًا بِمُدَّةٍ فَيَكُونُ انْقِضَاءُ الْمُدَّةِ مُوجِبًا لِارْتِفَاعِ الْأَمْرِ فَيَصِيرُ نَسْخًا بِغَيْرِ نَسْخٍ.

Jenis yang ketiga adalah apabila suatu perintah ditentukan dengan batas waktu tertentu, maka berakhirnya waktu tersebut menyebabkan berakhirnya perintah itu, sehingga hal itu menjadi nasakh tanpa adanya nasakh.

فَإِنْ أُرِيدَ نَسْخُهُ قَبْلَ انْقِضَاءِ مُدَّتِهِ كَانَ فِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ: كالمؤبد.

Jika dimaksudkan untuk menasakh hukum tersebut sebelum habis waktunya, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat: seperti hukum yang berlaku secara permanen.

( [القول فيما يقع به النسخ] )

(Pembahasan tentang hal-hal yang menyebabkan terjadinya nasakh)

:

Tidak ada teks Arab yang Anda berikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: فِيمَا يَقَعُ بِهِ النَّسْخُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بِمِثْلِ الْمَنْسُوخِ فَيُنْسَخُ الْكِتَابُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةُ بِالسُّنَّةِ.

Adapun bagian kedua mengenai alat yang digunakan untuk melakukan nasakh, yaitu bahwa nasakh terjadi dengan sesuatu yang sejenis dengan yang dinasakh; maka Al-Qur’an dinasakh dengan Al-Qur’an, dan sunnah dinasakh dengan sunnah.

قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: {مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا} [البقرة: 106] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Ayat mana saja yang Kami nasakh atau Kami jadikan terlupakan, pasti Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” (QS. Al-Baqarah: 106)

وَفِي الْمُرَادِ بِنَسْخِهَا وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: تَبْدِيلُهَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ. وَالثَّانِي: قبضها قاله السدي.

Ada dua pendapat mengenai maksud dari nasakh ayat ini: Pertama, penggantiannya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Kedua, pencabutannya, sebagaimana dikatakan oleh As-Suddi.

وفي قوله ” أو ننسأها ” وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: نَتْرُكُهَا فَلَا تُنْسَخُ قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ. وَالثَّانِي: نُؤَخِّرُهَا وَمِنْهُ بَيْعُ النَّسَاءِ.

Dalam firman-Nya “atau Kami menangguhkan (nansakh) ayat itu” terdapat dua pendapat: Pertama, maksudnya adalah Kami membiarkannya sehingga tidak di-naskh, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Kedua, maksudnya adalah Kami menundanya, dan dari makna ini pula terdapat istilah bai‘ an-nasā’.

وَفِي هَذَا التَّأْخِيرِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: نُؤَخِّرُ نَسْخَهَا. وَالثَّانِي: نُؤَخِّرُ نُزُولَهَا.

Dalam penundaan ini terdapat dua pendapat: Pertama, kita menunda penghapusan hukumnya. Kedua, kita menunda turunnya ayat tersebut.

وَفِي قَوْلِهِ {نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أو مثلها} وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: بِخَيْرٍ مِنْهَا فِي الْمَنْفَعَةِ إِمَّا بِالتَّخْفِيفِ وَإِمَّا بِكَثْرَةِ الثَّوَابِ قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ. وَالثَّانِي: أَنَّهُ عَلَى التَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ، وَمَعْنَاهُ: نَأْتِ مِنْهَا بِخَيْرٍ قَالَهُ أَبُو عُبَيْدٍ.

Dalam firman-Nya {Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya} terdapat dua pendapat: Pertama, yang lebih baik darinya dalam hal manfaat, baik dengan keringanan maupun dengan banyaknya pahala, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Kedua, bahwa ayat ini mengandung makna taqdim dan ta’khir, maksudnya: Kami datangkan darinya yang lebih baik, sebagaimana dikatakan oleh Abu ‘Ubaid.

فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَجُزْ نَسْخُ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الشَّافِعِيُّ وَوَافَقَهُ عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ.

Maka jika demikian, tidak boleh Al-Qur’an dinasakh dengan sunnah, sebagaimana telah ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dan disetujui oleh para pengikutnya.

وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا هَلْ مَنَعَ مِنْهُ الْعَقْلُ أَوِ الشَّرْعُ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Mereka hanya berbeda pendapat, apakah yang melarang hal itu adalah akal ataukah syariat? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: مَنَعَ مِنْهُ الْعَقْلُ، لِأَنَّهُ يَمْنَعُ مِنِ اعْتِرَاضِ الْمَأْمُورِ عَلَى الْآمرِ.

Salah satunya: akal melarang hal itu, karena hal tersebut mencegah adanya keberatan dari pihak yang diperintah terhadap pihak yang memerintah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: بَلْ مَنَعَ مِنْهُ الشَّرْعُ دُونَ الْعَقْلِ، لِأَنَّ التَّفْوِيضَ إِلَى الْمَأْمُورِ لَا يَمْنَعُ مِنْ مُشَارَكَةِ الْآمرِ.

Pendapat kedua: Justru syariatlah yang melarangnya, bukan akal, karena penyerahan urusan kepada yang diperintah tidak menghalangi adanya keterlibatan dari yang memerintah.

وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ نَسْخَ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ الْمُسْتَفِيضَةِ كَمَا نُسِخَتْ آيَةُ الوصايا بقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ “.

Abu Hanifah membolehkan nasakh Al-Qur’an dengan sunnah yang masyhur, sebagaimana ayat wasiat dinasakh dengan sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ} [النحل: 101] وَقَوْلُهُ: {قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ اتبع إلا ما يوحى إلي) – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -[يونس: 15] .

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain—dan Allah lebih mengetahui apa yang Dia turunkan—” (an-Nahl: 101), dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Tidaklah pantas bagiku untuk menggantinya dari diri sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.’” (Yunus: 15).

وَرَوَى سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزبير عن جابر قال: قال رسو ل الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” كَلَامِي لَا يَنْسَخُ كَلَامَ اللَّهِ وَكَلَامُ اللَّهِ يَنْسَخُ كَلَامِي، وَكَلَامُ اللَّهِ يَنْسَخُ بَعْضُهُ بَعْضًا ” وَهَذَا نَصٌّ رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ.

Sufyan bin ‘Uyainah meriwayatkan dari Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Perkataanku tidak dapat menasakh (menghapus) perkataan Allah, dan perkataan Allah dapat menasakh perkataanku, serta sebagian perkataan Allah dapat menasakh sebagian yang lain.” Ini adalah nash yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni.

وَالَّذِي نَسَخَ آيَةَ الْوَصَايَا هُوَ آيَةُ الْمَوَارِيثِ فَكَانَتِ السُّنَّةُ بَيَانًا.

Ayat yang menasakh ayat wasiat adalah ayat tentang warisan, sehingga sunnah menjadi penjelasnya.

وَأَمَّا نَسْخُ السُّنَّةِ بِالْقُرْآنِ فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَمَا نَصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الرِّسَالَةِ الْقَدِيمِ وَالْجَدِيدِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ نَسْخُ السُّنَّةِ بِالْقُرْآنِ كَمَا لَا يَجُوزُ نَسْخُ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ.

Adapun penghapusan (naskh) sunnah dengan Al-Qur’an, maka pendapat yang tampak dari mazhab Asy-Syafi‘i, sebagaimana yang beliau tegaskan dalam kitab Ar-Risalah baik yang lama maupun yang baru, adalah bahwa tidak boleh menghapus sunnah dengan Al-Qur’an, sebagaimana tidak boleh menghapus Al-Qur’an dengan sunnah.

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ: يَجُوزُ نَسْخُ السُّنَّةِ بِالْقُرْآنِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ نَسْخُ الْقُرْآنِ بِالسُّنَّةِ لِأَنَّ الْقُرْآنَ أَوْكَدُ مِنَ السُّنَّةِ وَخَرَّجَهُ قَوْلًا ثَانِيًا لِلشَّافِعِيِّ مِنْ كَلَامٍ تَأَوَّلَهُ فِي الرِّسَالَةِ وَاسْتِشْهَادُهُ بِأَنَّ الْأَمْرَ أَنْفَذُ حُكْمًا مِنَ الْمَأْمُورِ وَاسْتِدْلَالًا بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَسَخَ عَلَى رسوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَا عَقَدَهُ مَعَ قُرَيْشٍ فِي الْحُدَيْبِيَةِ عَلَى رَدِّ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ لَمَّا جَاءَتْ أُمُّ كُلْثُومٍ بِنْتُ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ مُسْلِمَةً وَطَلَبَهَا أَخَوَاهَا مَنَعَهُ اللَّهُ مِنْ رَدِّهَا وَنَسَخَ عَلَيْهِ حُكْمَهُ بِقَوْلِهِ {إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ} [الممتحنة: 10] الْآيَةَ إِلَى قَوْلِهِ {فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إلى الكفار} . .

Abu al-‘Abbas bin Surayj berkata: Diperbolehkan nasakh sunnah dengan al-Qur’an, meskipun tidak diperbolehkan nasakh al-Qur’an dengan sunnah, karena al-Qur’an lebih kuat daripada sunnah. Ia juga mengeluarkan pendapat ini sebagai pendapat kedua al-Syafi‘i dari perkataan yang ia tafsirkan dalam al-Risalah, dan dalilnya adalah bahwa perintah lebih kuat hukumnya daripada yang diperintahkan. Ia juga berdalil bahwa Allah Ta‘ala telah menasakh apa yang telah disepakati Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan Quraisy di Hudaibiyah tentang pengembalian siapa saja dari mereka yang masuk Islam, ketika Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu‘ayth datang dalam keadaan Muslimah dan kedua saudaranya memintanya kembali, Allah melarang untuk mengembalikannya dan menasakh hukumnya dengan firman-Nya: “Apabila datang kepada kalian perempuan-perempuan mukmin yang berhijrah, maka ujilah mereka,” (QS. al-Mumtahanah: 10) hingga firman-Nya: “Maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada orang-orang kafir.”

فَدَلَّ هَذَا عَلَى جَوَازِ نَسْخِ السُّنَّةِ بِالْقُرْآنِ.

Maka hal ini menunjukkan bolehnya nasakh sunnah dengan Al-Qur’an.

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي طَرِيقِ الْجَوَازِ وَالْمَنْعِ فِي الشَّرْعِ مَعَ جَوَازِهِ فِي الْعَقْلِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai cara penetapan boleh dan tidak bolehnya dalam syariat, sementara kebolehannya secara akal dimungkinkan, menjadi tiga pendapat:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ لَا تُوجَدُ سُنَّةٌ إِلَّا وَلَهَا فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى أَصْلٌ كَانَتِ السُّنَّةُ فِيهِ بَيَانًا لِمُجْمَلِهِ، فَإِذَا وَرَدَ الْكِتَابُ بِنَسْخِهَا كَانَ نَسْخًا لِمَا فِي الْكِتَابِ مِنْ أَصْلِهَا فَصَارَ ذَلِكَ نَسْخَ الْكِتَابِ بِالْكِتَابِ.

Salah satunya: Tidak ada satu pun sunnah kecuali memiliki dasar dalam Kitab Allah Ta‘ala, di mana sunnah tersebut berfungsi sebagai penjelas bagi hal-hal yang masih global di dalamnya. Maka, apabila Al-Qur’an datang menasakh sunnah itu, berarti yang dinasakh adalah dasar yang ada dalam Al-Qur’an, sehingga hal itu menjadi nasakh Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُوحِي إِلَى رَسُولِهِ بِمَا يُخْفِيهِ عَنْ أُمَّتِهِ، فَإِذَا أَرَادَ نَسْخَ مَا سَنَّهُ الرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَعْلَمَهُ بِهِ حَتَّى يُظْهِرَ نَسْخَهُ ثُمَّ يَرِدُ الْكِتَابُ بِنَسْخِهِ تَأْكِيدًا لِنَسْخِ رَسُولِهِ فَصَارَ ذَلِكَ نَسْخَ السُّنَّةِ بِالسُّنَّةِ.

Pendapat kedua: Bahwa Allah Ta‘ala mewahyukan kepada Rasul-Nya sesuatu yang disembunyikan dari umatnya. Maka apabila Allah menghendaki untuk menasakh apa yang telah disunnahkan oleh Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam–, Allah memberitahukannya kepada beliau agar beliau menampakkan nasakh tersebut, kemudian datanglah al-Kitab (al-Qur’an) dengan nasakh itu sebagai penegasan atas nasakh yang dilakukan oleh Rasul-Nya, sehingga hal itu menjadi nasakh sunnah dengan sunnah.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّ نَسْخَ السُّنَّةِ بِالْكِتَابِ يَكُونُ أَمْرًا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِرَسُولِهِ بِالنَّسْخِ فَيَكُونُ اللَّهُ تَعَالَى هُوَ الْآمِرَ بِهِ وَالرَّسُولُ هُوَ النَّاسِخَ لَهُ فَصَارَ ذَلِكَ نسخ السنة بالكتاب والسنة والله أعلم.

Pendapat ketiga: bahwa penghapusan (nasakh) sunnah dengan Al-Qur’an merupakan perintah dari Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya untuk melakukan penghapusan tersebut, sehingga Allah Ta’ala adalah Dzat yang memerintahkannya dan Rasul adalah yang melaksanakannya. Maka hal itu menjadi penghapusan sunnah dengan Al-Qur’an dan sunnah, dan Allah Maha Mengetahui.

( [القول في أحكام النسخ] )

(Pembahasan tentang hukum-hukum nasakh)

فَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ فِي أَحْكَامِ النَّسْخِ: فَهُوَ عَلَى خَمْسَةِ أَضْرُبٍ.

Adapun bagian ketiga tentang hukum-hukum nasakh, maka ia terbagi menjadi lima macam.

أَحَدُهَا: مَا نُسِخَ حُكْمُهُ وَبَقِيَتْ تِلَاوَتُهُ وَالنَّاسِخُ بَاقِي الْحُكْمِ وَالتِّلَاوَةِ، كَنَسْخِ الْعِدَّةِ حَوْلًا بِأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ وَكَنَسْخِ آيَةِ الْوَصَايَا بِآيَةِ الْمَوَارِيثِ.

Salah satunya adalah ayat yang hukumnya telah di-nasakh namun tilawahnya masih tetap, sedangkan nasikh-nya adalah ayat yang hukum dan tilawahnya masih tetap, seperti di-nasakh-nya masa iddah selama satu tahun menjadi empat bulan sepuluh hari, dan seperti di-nasakh-nya ayat wasiat dengan ayat warisan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا نُسِخَ حُكْمُهُ وَتِلَاوَتُهُ وَالنَّاسِخُ بَاقِي الْحُكْمِ كَنَسْخِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الْبِيضِ بِصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَنَسْخِ اسْتِقْبَالِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِاسْتِقْبَالِ الْكَعْبَةِ كَمَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” أَوَّلُ مَا نُسِخَ بَابُ الصِّيَامِ الْأَوَّلِ وَاسْتِقْبَالُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ “.

Jenis kedua: yaitu apa yang mansukh hukum dan bacaannya, sedangkan nasikh-nya adalah tetapnya hukum yang baru, seperti di-nasikh-nya puasa ayyamul bidh dengan puasa bulan Ramadan, dan di-nasikh-nya menghadap Baitul Maqdis dengan menghadap Ka’bah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas: “Yang pertama kali di-nasikh adalah bab puasa yang pertama dan menghadap Baitul Maqdis.”

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا نُسِخَ حُكْمُهُ وَبَقِيَتْ تِلَاوَتُهُ وَنُسِخَتْ تِلَاوَةُ النَّاسِخِ وَبَقِيَ حكمه: كقوله فِي حَدِّ الزِّنَا {وَاللاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلا} [النساء: 15] نَسَخَهُ قَوْلُهُ الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ قَالَ عُمَرُ: كُنَّا نَقْرَؤُهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَلَوْلَا أَنْ يُقَالَ: زَادَ عُمَرُ فِي الْمُصْحَفِ لَأَثْبَتُّهَا فِيهِ فَكَانَ الْمَنْسُوخُ مَرْفُوعَ الْحُكْمِ بَاقِيَ التِّلَاوَةِ وَالنَّاسِخُ مَرْفُوعَ التِّلَاوَةِ بَاقِيَ الْحُكْمِ.

Jenis yang ketiga: yaitu apa yang hukumnya telah di-naskh namun tilawahnya masih tetap, dan tilawah dari naskh-nya telah di-naskh namun hukumnya masih tetap; seperti firman Allah tentang hukuman zina: “Perempuan-perempuan di antara kalian yang melakukan perbuatan keji, maka mintalah kesaksian terhadap mereka dari empat orang di antara kalian. Jika mereka telah bersaksi, maka kurunglah mereka di dalam rumah sampai maut menjemput mereka atau Allah menjadikan bagi mereka jalan keluar.” (an-Nisā’: 15). Ayat ini di-naskh dengan firman: “Laki-laki tua dan perempuan tua apabila berzina maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah.” Umar berkata: “Kami membacanya pada masa Rasulullah ﷺ, dan kalau bukan karena dikhawatirkan orang-orang berkata: Umar menambah-nambah dalam mushaf, niscaya aku akan menetapkannya di dalamnya.” Maka yang di-naskh adalah ayat yang dihapus hukumnya namun tilawahnya masih ada, sedangkan naskh-nya adalah ayat yang dihapus tilawahnya namun hukumnya masih tetap.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَنْسُوخُ نَاسِخًا؟ فَفِيهِ جَوَابَانِ:

Jika dikatakan, “Bagaimana mungkin sesuatu yang mansūkh dapat menjadi nāsikh?” Maka terdapat dua jawaban atas hal ini:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ النَّسْخَ إِنَّمَا كَانَ لِلْحُكْمِ دُونَ التِّلَاوَةِ وَالْحُكْمُ بَاقٍ وَإِنْ نُسِخَتِ التِّلَاوَةُ.

Salah satunya: bahwa nasakh itu hanya terjadi pada hukum tanpa pada tilawah, dan hukumnya tetap berlaku meskipun tilawahnya telah dinasakh.

وَالثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ النَّسْخُ بِهِ قَبْلَ نَسْخِ تِلَاوَتِهِ.

Kedua: Boleh saja terjadi bahwa nasakh dengan ayat tersebut berlangsung sebelum nasakh tilawahnya.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: مَا نُسِخَ حُكْمُهُ وَتِلَاوَتُهُ وَلَا يُعْلَمُ الَّذِي نَسَخَهُ كَالْمَرْوِيِّ أَنَّهُ كَانَ فِي الْقُرْآنِ ” لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَانٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “. وَكَالَّذِي رَوَاهُ أنس بن مالك أنهم كانوا يقرأون ” بَلِّغُوا إِخْوَانَنَا أَنَّنَا قَدْ لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا ” وَمِثْلُ هَذَا يَكُونُ رَافِعًا لَهُ فِي الْمَعْنَى وَلَا يَكُونُ نَسْخًا فِي الْحُكْمِ كَالَّذِي رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا قَامَ فِي اللَّيْلِ لِيَقْرَأَ سُورَةً فَلَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهَا وَقَامَ آخَرُ لِيَقْرَأَهَا فَلَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهَا فَسَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عنها فقال ” رفعت البارحة “.

Golongan keempat: yaitu apa yang telah di-naskh hukum dan tilawahnya, dan tidak diketahui siapa yang menaskhnya, seperti yang diriwayatkan bahwa dahulu ada dalam Al-Qur’an: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah kedua; dan jika ia memiliki yang kedua, niscaya ia akan mencari yang ketiga; dan tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” Dan seperti yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa mereka dahulu membaca: “Sampaikanlah kepada saudara-saudara kami bahwa kami telah bertemu dengan Rabb kami, maka Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya.” Hal seperti ini secara makna merupakan pengangkatannya, namun tidak disebut sebagai naskh dalam hukum, seperti yang diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bangun malam untuk membaca suatu surah namun tidak mampu membacanya, lalu orang lain juga bangun untuk membacanya namun tidak mampu, kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Surah itu telah diangkat tadi malam.”

( [القول في أحوال النسخ] )

(Pembahasan tentang kondisi-kondisi nasakh)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ فِي أَحْوَالِ النَّسْخِ: فَهُوَ عَلَى خَمْسَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian keempat tentang keadaan nasakh, maka ia terbagi menjadi lima jenis:

أَحَدُهَا: مَا نُسِخَ إِلَى مِثْلِهِ فِي الْخِفَّةِ وَالتَّغْلِيظِ كَنَسْخِ اسْتِقْبَالِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ بِاسْتِقْبَالِ الْكَعْبَةِ.

Salah satunya adalah apa yang dinasakh kepada yang semisal dalam hal keringanan dan pengetatan, seperti penghapusan kewajiban menghadap Baitul Maqdis dengan kewajiban menghadap Ka’bah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا نُسِخَ إِلَى مَا هُوَ أَغْلَظُ مِنْهُ كَنَسْخِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الْبِيضِ بِصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَنَسْخِ الْحَبْسِ فِي الزِّنَا بِالرَّجْمِ.

Jenis yang kedua adalah apa yang dinasakh kepada sesuatu yang lebih berat darinya, seperti penghapusan kewajiban puasa ayyamul bidh (hari-hari putih) dengan kewajiban puasa bulan Ramadan, dan seperti penghapusan hukuman penahanan dalam kasus zina dengan hukuman rajam.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا نُسِخَ إِلَى مَا هُوَ أَخَفُّ مِنْهُ كَنَسْخِ الْعِدَّةِ حَوْلًا بِأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ وَكَنَسْخِ مُصَابَرَةِ الْوَاحِدِ لِعشَرَةٍ فِي الْجِهَادِ بِمُصَابَرَتِهِ لِاثْنَيْنِ.

Jenis yang ketiga adalah apa yang dinasakh menjadi hukum yang lebih ringan darinya, seperti nasakh masa ‘iddah selama satu tahun menjadi empat bulan sepuluh hari, dan seperti nasakh kewajiban seorang menghadapi sepuluh orang dalam jihad menjadi menghadapi dua orang.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: مَا نُسِخَ إِلَى غَيْرِ بَدَلٍ كَنَسْخِ قِيَامِ اللَّيْلِ فِي قَوْلِهِ {قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا} [المزمل: 2] بِقَوْلِهِ {وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ} [الإسراء: 79] فَنُسِخَ فَرْضُهُ بِغَيْرِ بَدَلٍ.

Golongan keempat adalah apa yang di-naskh tanpa pengganti, seperti di-naskh-nya kewajiban qiyām al-lail dalam firman-Nya: “Bangunlah (untuk shalat) di malam hari kecuali sedikit (darinya)” (QS. al-Muzzammil: 2) dengan firman-Nya: “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah dengannya sebagai ibadah tambahan bagimu” (QS. al-Isra’: 79), maka kewajibannya di-naskh tanpa ada pengganti.

وَالضَّرْبُ الْخَامِسُ: مَا نُسِخَ التَّخْيِيرُ فِيهِ بَيْنَ شَيْئَيْنِ بِإِسْقَاطِ أَحَدِهِمَا وَانْحِتَامِ الْآخَرِ كَقَوْلِهِ {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة: 184] فَكَانَ مُخَيِّرًا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بَيْنَ صِيَامِهِ وَبَيْنَ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ بِمُدٍّ فَنُسِخَ التَّخْيِيرُ بِانْحِتَامِ الصِّيَامِ بِقَوْلِهِ: {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فليصمه} [البقرة: 185] .

Jenis kelima: yaitu apa yang nasakh berupa penghapusan pilihan antara dua hal dengan menggugurkan salah satunya dan mewajibkan yang lainnya, seperti firman Allah: “Dan bagi orang-orang yang mampu menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin” (QS. Al-Baqarah: 184). Dahulu seseorang diberi pilihan pada bulan Ramadan antara berpuasa atau bersedekah setiap hari dengan satu mud, lalu pilihan tersebut dinasakh dengan diwajibkannya puasa melalui firman-Nya: “Maka barang siapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa” (QS. Al-Baqarah: 185).

( [القول في زمان النسخ] )

(Pembahasan tentang waktu terjadinya nasakh)

وَأَمَّا الْقِسْمُ الْخَامِسُ فِي زَمَانِ النَّسْخِ: فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: يَجُوزُ النَّسْخُ فِي أَحَدِهَا وَلَا يَجُوزُ فِي الْآخَرِ وَعَلَى خِلَافٍ فِي الثَّالِثِ.

Adapun bagian kelima tentang waktu naskh, maka terbagi menjadi tiga jenis: pada salah satunya naskh diperbolehkan, pada yang lain tidak diperbolehkan, dan pada yang ketiga terdapat perbedaan pendapat.

فْالضَّرْبُ الْأَوَّلُ: الَّذِي يَجُوزُ النَّسْخُ فِيهِ وَهُوَ بَعْدَ اعْتِقَادِ الْمَنْسُوخِ وَالْعَمَلِ بِهِ فَيَرِدُ النَّسْخُ بَعْدَ الْعَمَلِ بِالْمَنْسُوخِ فَهَذَا جَائِزٌ سَوَاءٌ عَمِلَ بِهِ جَمِيعُ النَّاسِ كَاسْتِقْبَالِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَوْ عَمِلَ بِهِ بَعْضُهُمْ كَفَرْضِ الصَّدَقَةِ فِي مُنَاجَاةِ الرَّسُولِ نُسِخَتْ بَعْدَ أَنْ عَمِلَ بِهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَحْدَهُ.

Jenis pertama: yaitu yang boleh terjadi nasakh padanya, yaitu setelah diyakini dan diamalkan hukum yang dinasakh, kemudian datanglah nasakh setelah hukum yang dinasakh itu diamalkan. Ini diperbolehkan, baik seluruh manusia telah mengamalkannya seperti menghadap ke Baitul Maqdis, maupun hanya sebagian yang mengamalkannya seperti kewajiban sedekah ketika hendak berbicara secara pribadi dengan Rasul, yang telah dinasakh setelah Ali bin Abi Thalib saja yang melaksanakannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: الَّذِي لَا يَجُوزُ النَّسْخُ فِيهِ فَهُوَ قَبْلَ اعْتِقَادِ الْمَنْسُوخِ وَالْعِلْمِ بِهِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَرِدَ النَّسْخُ قَبْلَ الْعِلْمِ بِالْمَنْسُوخِ لِأَنَّ مِنْ شَرْطِ النَّسْخِ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ اسْتِقْرَارِ الْفَرْضِ لِيَخْرُجَ عَنِ الْبَدَاءِ إِلَى الْإِعْلَامِ بِالْمُدَّةِ.

Jenis kedua: yaitu yang tidak boleh terjadi nasakh padanya, yaitu sebelum adanya keyakinan terhadap hukum yang dinasakh dan sebelum mengetahuinya. Maka tidak boleh terjadi nasakh sebelum mengetahui hukum yang dinasakh, karena salah satu syarat nasakh adalah harus terjadi setelah ketetapan kewajiban, agar keluar dari sifat berubah-ubah menuju pemberitahuan tentang batas waktunya.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي لَيْلَةِ الْمِعْرَاجِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فَرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ خَمْسِينَ صَلَاةً فَلَمْ يَزَلْ يُرَاجِعُ رَبَّهُ فِيهَا وَيَسْتَنْزِلُهُ حَتَّى اسْتَقَرَّ الْفَرْضُ عَلَى خَمْسٍ فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ النَّسْخِ قَبْلَ الْعِلْمِ بِالْمَنْسُوخِ.

Jika dikatakan: Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ pada malam Isra’ Mi’raj bahwa Allah Ta‘ala mewajibkan kepada umatnya lima puluh salat, lalu beliau terus-menerus memohon kepada Tuhannya agar diringankan hingga ketetapan kewajiban itu menjadi lima salat. Maka hal ini menunjukkan bolehnya nasakh sebelum diketahui hukum yang dinasakh.

قِيلَ: هَذَا إِنْ ثَبَتَ فَهُوَ عَلَى وَجْهِ التَّقْرِيرِ دُونَ النَّسْخِ؛ لِأَنَّ الْفَرْضَ يَسْتَقِرُّ بِنُفُوذِ الْأَمْرِ وَلَمْ يَكُنْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فِيهِ أَمْرٌ إِلَّا عِنْدَ اسْتِقْرَارِ الْخَمْسِ.

Dikatakan: Jika hal ini benar, maka maksudnya adalah sebagai bentuk penetapan, bukan penghapusan (naskh); karena kewajiban menjadi tetap dengan berlakunya perintah, dan tidak ada perintah dari Allah Ta‘ala mengenai hal itu kecuali setelah tetapnya (kewajiban) yang lima.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: الْمُخْتَلَفُ فِيهِ فَهُوَ وُرُودُ النَّسْخِ بَعْدَ اعْتِقَادِ الْمَنْسُوخِ وَقَبْلَ الْعَمَلِ بِهِ.

Jenis yang ketiga: perkara yang diperselisihkan, yaitu terjadinya nasakh setelah diyakini hukum yang dinasakh, namun sebelum diamalkan.

وَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dalam hal ini, menurut para ulama mazhab kami terdapat tiga pendapat:

أَحَدُهَا: لَا يَجُوزُ نَسْخُهُ بَعْدَ اعْتِقَادِهِ وَقَبْلَ الْعَمَلِ بِهِ كَمَا لَا يَجُوزُ نَسْخُهُ قَبْلَ الِاعْتِقَادِ لِمَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّعْلِيلِ لِيَخْرُجَ مِنَ الْبَدَاءِ إِلَى النَّسْخِ.

Salah satunya: Tidak boleh suatu hukum dinasakh setelah diyakini kebenarannya dan sebelum diamalkan, sebagaimana tidak boleh pula dinasakh sebelum diyakini, karena alasan yang telah kami sebutkan, yaitu agar perbedaan antara bada’ dan nasakh menjadi jelas.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ نَسْخُهُ بَعْدَ الِاعْتِقَادِ وَقَبْلَ الْعَمَلِ، كَمَا يَجُوزُ نَسْخُهُ بَعْدَ الْعَمَلِ، لِأَنَّ الِاعْتِقَادَ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ، فَكَانَ كَالنَّسْخِ بَعْدَ الْعَمَلِ، وَيَكُونُ مُرَادَ اللَّهِ تَعَالَى بِهِ الِاعْتِقَادُ دُونَ الْعَمَلِ اخْتِبَارًا لِطَاعَتِهِمْ، كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى إِبْرَاهِيمَ بِذَبْحِ ابْنِهِ ثُمَّ نَهَاهُ عَنْهُ قَبْلَ ذَبْحِهِ فقال: {فلما أسلما وتله للجبين وناديناه أن يا إبراهيم قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ} [الصافات: 102] فَاخْتَبَرَ بِذَلِكَ طَاعَتَهُ وَنَهَاهُ بَعْدَ الِاعْتِقَادِ وَقَبْلَ الْفِعْلِ.

Pendapat kedua: Diperbolehkan adanya nasakh setelah adanya keyakinan dan sebelum pelaksanaan, sebagaimana diperbolehkan nasakh setelah pelaksanaan, karena keyakinan termasuk amal hati, sehingga hukumnya seperti nasakh setelah pelaksanaan. Dalam hal ini, yang dimaksud Allah Ta‘ala adalah keyakinan tanpa pelaksanaan sebagai ujian terhadap ketaatan mereka, sebagaimana Allah Ta‘ala memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya, kemudian melarangnya sebelum penyembelihan itu dilakukan. Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Kami memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.’” (QS. ash-Shaffat: 102). Maka dengan itu Allah menguji ketaatannya dan melarangnya setelah adanya keyakinan dan sebelum pelaksanaan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ النَّسْخُ إِلَّا أَنْ يَمْضِيَ بَعْدَ الِاعْتِقَادِ زَمَانٌ يُمْكِنُ الْعَمَلُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يُعْمَلْ بِهِ لِاخْتِصَاصِ النَّسْخِ بِتَقْدِيرِ مُدَّةِ التَّكْلِيفِ وَذَلِكَ مَوْجُودٌ بِمُضِيِّ زَمَانِهِ. فَإِذَا اسْتَقَرَّ النَّسْخُ بِمَا بَيَّنَاهُ لَزِمَ فَرَضُهُ فِي الْحَالِ لِكُلِّ مَنْ عَلِمَ بِهِ مِنَ الْحَاضِرِينَ. وَأَمَّا فَرْضُهُ عَلَى الْغَائِبِينَ عَنْهُ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Pendapat ketiga: Tidak diperbolehkan adanya nasakh (penghapusan hukum) kecuali setelah berlalu suatu masa setelah diyakini (kewajiban hukum tersebut), di mana memungkinkan untuk mengamalkannya, meskipun pada kenyataannya tidak diamalkan, karena kekhususan nasakh terletak pada penetapan masa taklif (pembebanan hukum), dan hal itu telah terpenuhi dengan berlalunya masa tersebut. Maka apabila nasakh telah tetap sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka wajib hukumnya saat itu juga bagi setiap orang yang mengetahui nasakh tersebut dari kalangan yang hadir. Adapun kewajiban bagi orang-orang yang tidak hadir (tidak mengetahui nasakh), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجِبُ فَرْضُهُ عَلَيْهِمْ فِي الْحَالِ كَالْحَاضِرِينَ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ إِلَّا بَعْدَ حِينٍ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ عَمَّهُمْ بِفَرْضِهِ وَلَمْ يَخُصَّ بِهِ حَاضِرًا مِنْ غَائِبٍ.

Salah satunya: Kewajiban itu harus diberlakukan atas mereka pada saat itu juga seperti halnya orang-orang yang hadir, meskipun mereka baru mengetahuinya setelah beberapa waktu; karena Allah Ta‘ala telah mewajibkannya secara umum kepada mereka dan tidak mengkhususkan kewajiban itu hanya kepada yang hadir, tidak kepada yang tidak hadir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَشْبَهُ – أَنَّ فَرْضَهُ يَجِبُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ عِلْمِهِمْ بِهِ وَإِنْ تَقَدَّمَ فَرْضُهُ عَلَى غَيْرِهِمْ عَنْ عِلْمٍ كَمَا يَلْزَمُ الْحَاضِرِينَ فَرْضُهُ بَعْدَ إِبْلَاغِ الرَّسُولِ وَإِنْ تَقَدَّمَ فَرْضُهُ عَلَى الرَّسُولِ وَلِذَلِكَ اسْتَدَارَ أَهْلُ قُبَاءَ فِي صَلَاتِهِمْ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَتَحَوَّلُوا إِلَى الْكَعْبَةِ فَبَنَوْا عَلَى مَا تَقَدَّمَ قَبْلَ عِلْمِهِمْ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: كُنَّا نُخَابِرُ أَرْبَعِينَ سَنَةً. لَا نَرَى بِذَلِكَ بِأَسًا حَتَى أَخْبَرَنَا رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – نَهَى عَنْهَا فَانْتَهَيْنَا وَلَمْ يَتَرَاجَعُوا فِيمَا تَقَدَّمَ.

Pendapat kedua, dan ini yang lebih mendekati, adalah bahwa kewajiban itu menjadi wajib atas mereka setelah mereka mengetahuinya, meskipun kewajiban itu telah lebih dahulu diwajibkan atas selain mereka yang sudah mengetahui sebelumnya. Sebagaimana kewajiban itu menjadi wajib atas orang-orang yang hadir setelah disampaikan oleh Rasul, meskipun kewajiban itu telah lebih dahulu diwajibkan atas Rasul. Karena itu, penduduk Quba’ berputar dalam salat mereka menghadap Baitul Maqdis lalu berpindah menghadap Ka’bah, sehingga mereka membangun atas apa yang telah lalu sebelum mereka mengetahui. Ibnu Umar berkata: “Kami melakukan muamalah selama empat puluh tahun, dan kami tidak melihat hal itu bermasalah sampai Rafi‘ bin Khadij memberitahu kami bahwa Rasulullah ﷺ melarangnya, maka kami pun berhenti, dan mereka tidak mengulang apa yang telah lalu.”

( [القول في دلائل النسخ] )

(Pembahasan tentang dalil-dalil nasakh)

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ السَّادِسُ فِي دَلَائِلِ النَّسْخِ: وَهُوَ أَنْ يَرِدَ فِي الشَّيْءِ الْوَاحِدِ حُكْمَانِ مُخْتَلِفَانِ: فَهُمَا ضَرْبَانِ:

Adapun bagian keenam tentang dalil-dalil nasakh: yaitu apabila terdapat dua hukum yang berbeda mengenai satu hal, maka keduanya terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُمْكِنَ اسْتِعْمَالُهُمَا وَلَا يَتَنَافَى اجْتِمَاعُهُمَا، فَهُوَ ضَرْبَانِ:

Salah satunya: bahwa keduanya mungkin digunakan dan tidak saling bertentangan jika digabungkan, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا أَعَمَّ مِنَ الْآخَرِ لِعُمُومِ أَحَدِهِمَا وَخُصُوصِ الْآخَرِ، فَيَقْضِي بِالْأَخَصِّ عَلَى الْأَعَمِّ فَيُسْتَثْنَى مِنْهُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ} [البقرة: 221] وَقَالَ فِيمَنْ أَبَاحَ نِكَاحَهُنَّ: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ} [المائدة: 5] فَقَضَى بِهَذِهِ عَلَى تِلْكَ فَصَارَ كَقَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ إِلَّا الْكِتَابِيَّاتِ فَكَانَ عُمُومًا مَخْصُوصًا وَلَمْ يَكُنْ نَاسِخًا وَلَا مَنْسُوخًا.

Salah satu di antaranya adalah: salah satu dari keduanya lebih umum daripada yang lain, karena salah satunya bersifat umum dan yang lainnya bersifat khusus. Maka, yang khusus diberlakukan atas yang umum sehingga dikecualikan darinya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman” (QS. Al-Baqarah: 221), dan Allah berfirman tentang wanita yang dihalalkan untuk dinikahi: “Dan (dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan dari kalangan orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu” (QS. Al-Ma’idah: 5). Maka, ayat ini diberlakukan atas ayat yang sebelumnya, sehingga seakan-akan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik kecuali wanita-wanita ahli kitab.” Maka, ini menjadi keumuman yang dikhususkan, dan tidak termasuk nasikh maupun mansukh.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَسَاوَى الِاثْنَانِ فِي جَوَازِ تَخْصِيصِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِالْأُخْرَى كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ} [النساء: 23] وقوله {والذين هم لفروجهم حافظون إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ} [المؤمنون: 5 – 6] فَجَازَ أَنْ يَكُونَ تَحْرِيمَ الْجَمْعِ بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا بِمِلْكِ الْيَمِينِ وَجَازَ أَنْ يَكُونَ أَبَاحَهُ بِمِلْكِ الْيَمِينِ إِلَّا الْجَمْعَ بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ فَتَكَافَأَ فِي الْجَوَازِ بِخِلَافِ الضَّرْبِ الْمُتَقَدِّمِ فَوَجَبَ الرُّجُوعُ إِلَى دَلِيلٍ يُوجِبُ تَخْصِيصَ إِحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى وَلِذَلِكَ قَالَ عُثْمَانُ فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ: أَحَلَّتْهُمَا آيَةٌ وَحَرَّمَتْهُمَا أُخْرَى وَالتَّحْرِيمُ أَوْلَى، فَهَذَا فِيمَا أَمْكَنَ اسْتِعْمَالُ الْحُكْمَيْنِ الْمُخْتَلِفَيْنِ فِيهِ. وَأَنَّهُ يُحْمَلُ عَلَى التَّخْصِيصِ دُونَ النَّسْخِ إِلَّا أَنْ يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى النَّسْخِ، فَيَعْدِلُ بِالدَّلِيلِ عَنِ اسْتِعْمَالِ التَّخْصِيصِ إِلَى النَّسْخِ كَآيَةِ الْوَصَايَا وَآيَةِ الْمَوَارِيثِ، قَدْ كَانَ يُمْكِنُ اسْتِعْمَالُهُمَا مِنْ غَيْرِ نَسْخٍ لَكِنْ رُوِيَ عَنِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ قَالُوا نَسَخَتْ آيَةُ الْمَوَارِيثِ آيَةَ الْوَصَايَا فَعُدِلَ عَنِ اسْتِعْمَالِ التَّخْصِيصِ إِلَى النَّسْخِ.

Jenis kedua: yaitu ketika dua dalil sama-sama memungkinkan untuk saling mengkhususkan satu sama lain, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan (diharamkan juga) mengumpulkan dua saudara perempuan, kecuali yang telah terjadi pada masa lalu” (an-Nisā’: 23), dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki” (al-Mu’minūn: 5-6). Maka dimungkinkan bahwa larangan mengumpulkan dua saudara perempuan itu dikecualikan jika melalui kepemilikan hamba sahaya, dan dimungkinkan pula bahwa Allah membolehkan hubungan dengan hamba sahaya kecuali dalam hal mengumpulkan dua saudara perempuan. Maka keduanya sama-sama mungkin dalam hal kebolehan, berbeda dengan jenis sebelumnya. Oleh karena itu, wajib kembali kepada dalil yang mewajibkan pengkhususan salah satunya dengan yang lain. Karena itu, ‘Utsmān berkata tentang mengumpulkan dua saudara perempuan: “Satu ayat menghalalkan keduanya dan ayat lain mengharamkan keduanya, dan pengharaman lebih utama.” Ini berlaku pada kasus yang memungkinkan penerapan dua hukum yang berbeda di dalamnya. Dan bahwa hal itu dibawa kepada pengkhususan, bukan naskh, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan adanya naskh, maka dengan dalil tersebut berpindah dari penerapan pengkhususan kepada naskh, seperti ayat wasiat dan ayat warisan. Sebenarnya, keduanya bisa saja diterapkan tanpa naskh, namun diriwayatkan dari para sahabat bahwa mereka berkata: “Ayat warisan telah menasakh ayat wasiat,” maka berpindahlah dari penerapan pengkhususan kepada naskh.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَنَافَى الْحُكْمَانِ وَلَا يُمْكِنُ اسْتِعْمَالُهُمَا فَيُعْلَمُ مَعَ التَّنَافِي أَنَّ أَحَدَهُمَا نَاسِخٌ لِلْآخَرِ فَيَرْجِعُ إِلَى دَلَائِلِ النَّسْخِ فَيُسْتَدَلُّ بِهَا عَلَى النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila dua hukum saling bertentangan dan tidak mungkin keduanya diterapkan, maka dengan adanya pertentangan tersebut diketahui bahwa salah satunya merupakan nasikh (penghapus) bagi yang lain. Maka, dikembalikanlah kepada dalil-dalil nasakh, sehingga dengan dalil-dalil tersebut dapat diketahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh.

وَهِيَ خَمْسُ دَلَائِلَ مُتَرَتِّبَةٍ يَتَقَدَّمُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ.

Kelima dalil tersebut tersusun secara berurutan, sebagian di antaranya mendahului yang lain.

فَأَوَّلُهَا: أَنْ يَتَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا وَيَتَأَخَّرَ الْآخَرُ فَيُعْلَمُ أَنَّ الْمُتَأَخِّرَ نَاسِخٌ لِلْمُتَقَدِّمِ، فَإِنْ قِيلَ فَقَوْلُهُ تَعَالَى فِي الْعِدَّةِ: {وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا} [البقرة: 234] نَاسِخٌ لِقَوْلِهِ {مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ} [البقرة: 240] وَهُوَ غَيْرُ مُتَقَدِّمٍ عَلَيْهِ.

Pertama: Salah satunya lebih dahulu dan yang lainnya belakangan, sehingga diketahui bahwa yang belakangan menjadi nasikh (penghapus) bagi yang lebih dahulu. Jika dikatakan, firman Allah Ta‘ala tentang masa ‘iddah: “Dan orang-orang yang wafat di antara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah mereka (para istri) menunggu dengan dirinya selama empat bulan sepuluh hari” (QS. Al-Baqarah: 234) adalah nasikh bagi firman-Nya: “(Para istri diberi) mut‘ah sampai setahun penuh tanpa dikeluarkan (dari rumah)” (QS. Al-Baqarah: 240), padahal ayat tersebut tidak lebih dahulu darinya.

قِيلَ هُوَ مُتَقَدِّمٌ عَلَيْهِ فِي التِّلَاوَةِ وَمُتَأَخِّرٌ عَنْهُ فِي التَّنْزِيلِ وَقَدْ عُدِلَ بِتَرْتِيبِ التِّلَاوَةِ عَنْ تَرْتِيبِ التَّنْزِيلِ بِحَسَبِ مَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى به للمصلحة التي استأثر الله تعالى بعلمها فَقَدْ قِيلَ: إِنَّ آخِرَ آيَةٍ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ قَوْله تَعَالَى {وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ} [البقرة: 281] وَهِيَ مُتَقَدِّمَةٌ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ. وَأَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ سُورَةُ {اقرأ باسم ربك الذي خلق} وَهِيَ مُتَأَخِّرَةٌ فِي الْمُفَصَّلِ. وَالنَّسْخُ إِنَّمَا يَتَأَخَّرُ وَيَخْتَصُّ بِالْمُتَأَخِّرِ فِي التَّنْزِيلِ دُونَ التِّلَاوَةِ.

Dikatakan bahwa urutannya lebih dahulu dalam tilawah, namun lebih akhir dalam penurunan. Susunan tilawah telah diubah dari susunan penurunan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Ta‘ala demi kemaslahatan yang hanya Allah Ta‘ala sendiri yang mengetahui ilmunya. Telah dikatakan bahwa ayat terakhir yang turun dalam Al-Qur’an adalah firman-Nya Ta‘ala: “Dan takutlah kalian pada hari ketika kalian akan dikembalikan kepada Allah” (Al-Baqarah: 281), padahal ayat ini berada di bagian awal Surah Al-Baqarah. Sedangkan wahyu pertama yang turun dari Al-Qur’an adalah Surah “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq”, namun ia berada di bagian akhir dari kelompok surah Al-Mufassal. Adapun nasakh hanya terjadi dan khusus pada yang terakhir dalam penurunan, bukan pada urutan tilawah.

وَإِنْ أَشْكَلَ الْمُتَقَدِّمُ وَالْمُتَأَخِّرُ وَجَازَ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مُتَقَدِّمًا أَوْ مُتَأَخِّرًا عَدَلَ إِلَى الدَّلِيلِ الثَّانِي: وَهُوَ بَيَانُ الرَّسُولِ: فَإِنْ ثَبَتَ عَنْهُ بَيَانُ النَّاسِخِ مِنَ الْمَنْسُوخِ عَمِلَ عَلَيْهِ وَكَانَتِ السُّنَّةُ مُبَيِّنَةً لَهُ وَلَمْ تَكُنْ نَاسِخَةً.

Jika sulit diketahui mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan, serta dimungkinkan masing-masing bisa menjadi yang lebih dahulu atau yang belakangan, maka beralihlah kepada dalil kedua, yaitu penjelasan Rasul. Jika telah tetap dari beliau penjelasan tentang mana yang menasakh dan mana yang dinasakh, maka beramal berdasarkan hal itu, dan sunnah menjadi penjelas baginya, bukan sebagai nasikh.

وَإِنْ عُدِمَ بَيَانُ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَدَلَ إِلَى الدَّلِيلِ الثَّالِثِ وَهُوَ الْإِجْمَاعُ فَإِنِ انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى تَعْيِينِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ عَمِلَ عَلَيْهِ وَكَانَ الْإِجْمَاعُ مُبَيِّنًا وَلَمْ يَكُنْ نَاسِخًا.

Dan jika penjelasan Rasulullah ﷺ tidak ditemukan, maka beralihlah kepada dalil ketiga, yaitu ijmā‘. Jika ijmā‘ telah terjadi atas penetapan naskh dan mansūkh, maka beramal-lah dengannya, dan ijmā‘ tersebut menjadi penjelas, bukan sebagai nasikh.

وَإِنْ عَدَمَ الْإِجْمَاعَ عَدَلَ إِلَى الدَّلِيلِ الرَّابِعِ وَهُوَ الِاسْتِعْمَالُ فَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مُسْتَعْمَلًا وَالْآخَرُ مَتْرُوكًا كَانَ الْمُسْتَعْمَلُ نَاسِخًا وَالْمَتْرُوكُ مَنْسُوخًا.

Jika ijmā‘ tidak ditemukan, maka beralihlah kepada dalil keempat, yaitu al-isti‘māl. Jika salah satu dari keduanya digunakan (masih diamalkan) dan yang lainnya ditinggalkan, maka yang digunakan menjadi nasikh (penghapus), sedangkan yang ditinggalkan menjadi mansūkh (yang dihapus).

فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ فِي الِاسْتِعْمَالِ بَيَانٌ إِمَّا لِاشْتِبَاهِهِ أَوْ لِاشْتِرَاكِهِ عَدَلَ إِلَى الدَّلِيلِ الْخَامِسِ: وَهُوَ الترجيح بشواهد الأصول وتطلب الْأَدِلَّةَ وَكَانَتْ غَايَةُ الْعَمَلِ بِهِ.

Jika dalam penggunaan tidak ditemukan penjelasan, baik karena adanya kesamaran maupun karena adanya keserupaan makna, maka beralihlah kepada dalil kelima, yaitu melakukan tarjīḥ dengan petunjuk-petunjuk ushul dan mencari dalil-dalil, dan itulah batas akhir dari penerapan metode ini.

وَسَمِعْتُ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ إِنَّ كُلَّ آيَةٍ مَنْسُوخَةٍ فَفِي ضِمْنِ تِلَاوَتِهَا مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ حُكْمَهَا لَيْسَ بِثَابِتٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ، مِثْلُ قَوْلِهِ فِي سُورَةِ النِّسَاءِ فِي حَدِّ الزِّنَا: {فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلا} [النساء: 15] دَلَّ قَوْلُهُ: {أو يجعل الله لهن سبيلا} ، أن حكمها لا يدوم فنسخها آيَةُ النُّورِ فِي قَوْلِهِ: {الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مائة جلدة} [النُّورِ: 2] وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” خُذُوا عَنِّي، خُذُوا عَنِّي، قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيلًا: الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ ” وَهَذَا الَّذِي ادَّعَاهُ هَذَا الْقَائِلُ يَبْعُدُ أَنْ يُوجَدَ فِي كُلِّ آيَةٍ مَنْسُوخَةٍ، لَكِنَّهُ مُعْتَقِدٌ لِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ فِي أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى النَّصِّ تَكُونُ نَسْخًا فَيَجْعَلُ ذَلِكَ فِي شَوَاهِدِ الْمَنْسُوخِ، وليست الزيادة عندنا على النص نسخا.

Aku mendengar bahwa sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa setiap ayat yang mansūkh, di dalam bacaannya terdapat petunjuk bahwa hukumnya tidak tetap secara mutlak. Seperti firman Allah dalam Surah an-Nisā’ tentang hukuman zina: “Tahanlah mereka di dalam rumah sampai maut menjemput mereka atau Allah menjadikan bagi mereka jalan keluar” (an-Nisā’: 15). Firman-Nya: “atau Allah menjadikan bagi mereka jalan keluar” menunjukkan bahwa hukumnya tidak akan berlaku selamanya, sehingga ayat ini dinasakh oleh ayat an-Nūr dalam firman-Nya: “Perempuan pezina dan laki-laki pezina, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali” (an-Nūr: 2). Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Ambillah dariku, ambillah dariku, sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar: gadis dengan gadis, seratus cambukan dan pengasingan selama satu tahun; janda dengan janda, seratus cambukan dan rajam.” Apa yang diklaim oleh orang yang berkata demikian sulit ditemukan dalam setiap ayat yang mansūkh, namun ia meyakini mazhab Abū Ḥanīfah bahwa penambahan atas nash dianggap sebagai nasakh, sehingga ia menjadikan hal itu sebagai contoh mansūkh. Sedangkan menurut kami, penambahan atas nash bukanlah nasakh.

( [القول في الفرق بين التخصيص والنسخ] )

(Pembahasan tentang perbedaan antara takhshīṣ dan naskh)

وَأَمَّا الْقِسْمُ السَّابِعُ فِي الْفَرْقِ بَيْنَ التَّخْصِيصِ وَالنَّسْخِ: فَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun bagian ketujuh tentang perbedaan antara takhshis dan naskh: maka perbedaan antara keduanya ada pada lima aspek.

أَحَدُهَا: أَنَّ تَخْصِيصَ الْعُمُومِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مُقْتَرِنًا بِهِ وَمُتَقَدِّمًا عَلَيْهِ وَمُتَأَخِّرًا عَنْهُ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ النَّاسِخُ مُتَقَدِّمًا عَلَى الْمَنْسُوخِ وَلَا مُقْتَرِنًا بِهِ، وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُتَأَخِّرًا عَنْهُ.

Salah satunya: bahwa takhshis terhadap lafaz umum boleh terjadi bersamaan dengannya, mendahuluinya, atau datang setelahnya. Sedangkan nasikh tidak boleh mendahului mansukh atau bersamaan dengannya, dan harus datang setelahnya.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي: أَنَّ التَّخْصِيصَ بَيَانُ مَا أُرِيدَ بالعموم، النسخ بَيَانُ مَا لَمْ يُرَدْ بِالْمَنْسُوخِ.

Perbedaan kedua: bahwa takhshīṣ adalah penjelasan tentang apa yang dimaksudkan dengan lafaz umum, sedangkan naskh adalah penjelasan tentang apa yang tidak dimaksudkan dengan ayat atau hukum yang dinaskh.

وَالْفَرْقُ الثَّالِثُ: أَنَّ تَخْصِيصَ الْعُمُومِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ بِغَيْرِ جِنْسِهِ فَيَخُصُّ عُمُومَ الْكِتَابِ بِالسُّنَّةِ وَالْقِيَاسِ، وَلَا يَجُوزُ فِي النَّسْخِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ النَّاسِخُ مِنْ جِنْسِ الْمَنْسُوخِ فَيُنْسَخُ الْكِتَابُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةُ بِالسُّنَّةِ.

Perbedaan ketiga: bahwa takhshis terhadap lafaz umum boleh dilakukan dengan selain jenisnya, sehingga keumuman Al-Qur’an dapat dikhususkan dengan sunnah atau qiyās. Adapun dalam nasakh, tidak boleh kecuali nasikh berasal dari jenis yang sama dengan mansukh, sehingga Al-Qur’an hanya dapat dinasakh dengan Al-Qur’an, dan sunnah hanya dapat dinasakh dengan sunnah.

وَالْفَرْقُ الرَّابِعُ: أَنَّ تَخْصِيصَ الْعُمُومِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ فِي الْأَحْكَامِ وَالْأَخْبَارِ وَالنَّسْخُ مُخْتَصٌّ بِالْأَحْكَامِ دُونَ الْأَخْبَارِ.

Perbedaan keempat: bahwa takhshis al-‘umum (pengkhususan keumuman) boleh terjadi pada hukum-hukum maupun berita-berita, sedangkan naskh (pembatalan hukum) khusus berlaku pada hukum-hukum saja dan tidak berlaku pada berita-berita.

وَالْفَرْقُ الْخَامِسُ: أَنَّ تَخْصِيصَ الْعُمُومِ يَكُونُ عَلَى الْفَوْرِ وَالنَّسْخَ يَكُونُ عَلَى التَّرَاخِي فَهَذَا بَيَانُ الْأَقْسَامِ السَّبْعَةِ مِنْ أَحْكَامِ الْأَصْلِ الْأَوَّلِ وَهُوَ الْكِتَابُ.

Perbedaan kelima: bahwa takhshis terhadap keumuman berlaku secara langsung, sedangkan nasakh berlaku secara bertahap. Inilah penjelasan tentang tujuh bagian dari hukum-hukum asal pertama, yaitu al-Kitab.

(فَصْلٌ: [المصدر الثاني – السنة] )

Bagian: [Sumber kedua – Sunnah]

وَأَمَّا الْأَصْلُ الثَّانِي مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ فَهُوَ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Adapun sumber kedua dari sumber-sumber syariat adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَتَمَ بِرَسُولِهِ النُّبُوَّةَ، وَكَمَّلَ بِهِ الشَّرِيعَةَ، وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى بَيَانَ مَا أَخْفَاهُ مِنْ مُجْمَلٍ أَوْ مُتَشَابِهٍ، وَإِظْهَارَ مَا يُشَرِّعُهُ مِنْ أَحْكَامٍ وَمَصَالِحٍ فَقَالَ تَعَالَى: {وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ} [النحل: 44] .

Karena Allah Ta‘ala telah menutup kenabian dengan Rasul-Nya, menyempurnakan syariat dengan beliau, dan Allah Ta‘ala menjadikan penjelasan terhadap apa yang masih samar dari hal-hal yang bersifat mujmal atau mutasyabih, serta penampakan terhadap apa yang disyariatkan berupa hukum-hukum dan kemaslahatan, maka Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu adz-dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl: 44).

( [القول في حجية السنة] )

(Pembahasan tentang Kehujahan Sunnah)

وَلَمَّا جَعَلَهُ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ أَوْجَبَ عَلَى النَّاسِ طَاعَتَهُ فِي قَبُولِ مَا شَرَعَهُ لَهُمْ وَامْتِثَالِ مَا يَأْمُرُهُمْ بِهِ وَيَنْهَاهُمْ عَنْهُ فَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} [الحشر: 7] .

Dan ketika Allah menempatkannya pada kedudukan ini, Dia mewajibkan kepada manusia untuk menaati Rasul dalam menerima apa yang telah disyariatkannya bagi mereka, melaksanakan apa yang diperintahkannya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Maka Allah Ta‘ala berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

وَأَوْجَبَ عَلَيْهِ لِأُمَّتِهِ أَمْرَيْنِ:

Dan Dia mewajibkan atasnya untuk umatnya dua perkara:

أَحَدُهُمَا: الْبَيَانُ.

Salah satunya adalah al-bayān (penjelasan).

وَالثَّانِي: الْبَلَاغُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ} [المائدة: 67] .

Kedua: penyampaian. Allah Ta‘ala berfirman, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al-Mā’idah: 67).

وَأَوْجَبَ لِلرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَلَى أُمَّتِهِ أَمْرَيْنِ:

Dan Allah mewajibkan atas Rasul-Nya – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dua perkara atas umatnya:

أَحَدُهُمَا: طَاعَتَهُ فِي قَبُولِ قَوْلِهِ.

Yang pertama: menaati dia dalam menerima ucapannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يُبَلِّغُوا عَنْهُ مَا أَخْبَرَهُمْ بِهِ كَمَا قَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ ” وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” بَلِّغُوا عَنِّي وَلَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ “.

Kedua: Hendaknya mereka menyampaikan darinya apa yang telah beliau beritahukan kepada mereka, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Hendaklah yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Dan sabda Rasulullah ﷺ: “Sampaikanlah dariku, dan jangan berdusta atas namaku. Barangkali orang yang disampaikan kepadanya lebih memahami daripada yang mendengar langsung, dan barangkali pembawa fiqh menyampaikannya kepada orang yang lebih faqih darinya.”

وَلَمَّا كَانَ الرَّسُولُ لَا يَقْدِرُ أَنْ يُبَلِّغَ جَمِيعَ النَّاسِ لِلْعَجْزِ عَنْهُ اقْتَصَرَ عَلَى إِبْلَاغِ مَنْ حَضَرَ لِيَنْقُلَهُ الْحَاضِرُ إِلَى الْغَائِبِ.

Karena Rasul tidak mampu menyampaikan (risalah) kepada seluruh manusia karena keterbatasannya, maka beliau hanya menyampaikan kepada orang-orang yang hadir agar mereka yang hadir dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir.

وَلَمَّا لَمْ يَبْقَ فِيهِمْ إِلَى الْأَبَدِ فَكُلُّ مَنْ يَأْتِي فِي عَصْرٍ بَعْدَ عَصْرٍ يَأْخُذُونَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُمْ مِنْ عَصْرٍ وَيَنْقُلُونَ إِلَى مَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ عَصْرٍ لِيَنْقُلَ عَنْهُ كُلُّ سَلَفٍ إِلَى خَلَفِهِ فَيَسْتَدِيمُ عَلَى الْأَبَدِ نَقْلُ سُنَّتِهِ وَيُعْلَمُ جَمِيعُ مَا يَأْتِي لِشَرَائِعِهِ.

Dan karena mereka tidak akan tetap ada selamanya, maka setiap orang yang datang pada suatu masa setelah masa sebelumnya akan mengambil dari orang-orang yang mendahuluinya pada masa itu, dan mereka akan menyampaikan kepada generasi setelahnya pada masa berikutnya, sehingga setiap generasi terdahulu akan menyampaikan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, penyampaian sunnahnya akan terus berlangsung selamanya, dan seluruh ajaran syariatnya akan diketahui oleh semua yang datang kemudian.

فَصَارَ نَقْلُ الْأَخْبَارِ عَنْهُ وَاجِبًا عَلَى أَهْلِ كُلِّ عَصْرٍ وَقَبُولُهَا وَاجِبًا فِي كُلِّ عَصْرٍ.

Maka menjadi wajib bagi umat setiap zaman untuk meriwayatkan berita darinya, dan menjadi wajib pula untuk menerima berita tersebut di setiap zaman.

فَلِذَلِكَ صَارَتِ الْأَخْبَارُ عَنْهُ، أَصْلًا مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ.

Oleh karena itu, berita-berita darinya menjadi salah satu sumber pokok dalam syariat.

( [الْقَوْلُ فِي بَيَانِ الْأَخْبَارِ] )

(Pembahasan tentang penjelasan al-akhbār)

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْأَخْبَارُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: أَخْبَارُ اسْتِفَاضَةٍ، وَأَخْبَارُ تَوَاتُرٍ، وَأَخْبَارُ آحاد.

Jika demikian, maka berita (khabar) terbagi menjadi tiga jenis: khabar istifādhah, khabar mutawātir, dan khabar āḥād.

( [الخبر المستفيض] )

(Khabar Mustafidh)

فَأَمَّا أَخْبَارُ الِاسْتِفَاضَةِ: فَهُوَ أَنْ تَبْدُوَ مُنْتَشِرَةً مِنَ الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ وَيَتَحَقَّقُهَا الْعَالِمُ وَالْجَاهِلُ فَلَا يَخْتَلِفُ فِيهَا مُخْبِرٌ وَلَا يَتَشَكَّكُ فِيهَا سَامِعٌ ويكون انتشارها في ابتدائها كانتشارها فِي ابْتِدَائِهَا كَانْتِشَارِهَا فِي آخِرِهَا وَهَذَا أَقْوَى الأخبار حالا وأثبتها حكما.

Adapun khabar istifādhah: yaitu berita yang tersebar luas baik dari orang saleh maupun fasik, yang diyakini kebenarannya oleh orang alim maupun orang awam, sehingga tidak ada perbedaan di antara para penyampainya dan tidak ada keraguan bagi para pendengarnya. Penyebarannya sejak awal sama luasnya dengan penyebarannya di akhir, dan inilah jenis berita yang paling kuat keadaannya dan paling kokoh ketetapannya.

(أخبار التواتر)

(Khabar mutawātir)

وَأَمَّا أَخْبَارُ التَّوَاتُرِ: فَهُوَ مَا ابْتَدَأَ بِهِ الْوَاحِدُ بَعْدَ الْوَاحِدِ حَتَّى يَكْثُرَ عَدَدُهُمْ وَيَبْلُغُوا قَدْرًا يَنْتَفِي عَنْ مِثْلِهِ التَّوَاطُؤُ وَالْغَلَطُ وَلَا يَعْتَرِضُ فِي خَبَرِهِمْ تَشَكُّكٌ وَلَا ارْتِيَابٌ فَيَكُونُ فِي أَوَّلِهِ مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ وَفِي آخِرِهِ مِنْ أَخْبَارِ التَّوَاتُرِ فَيَصِيرُ مُخَالِفًا لِخَبَرِ الِاسْتِفَاضَةِ في أوله موافقا له في آخره.

Adapun khabar mutawātir: yaitu berita yang dimulai oleh satu orang setelah satu orang lainnya hingga jumlah mereka menjadi banyak dan mencapai kadar yang mustahil terjadi kesepakatan untuk berdusta atau kesalahan pada jumlah seperti itu, serta tidak ada keraguan atau kebimbangan dalam berita mereka. Maka pada awalnya termasuk khabar āḥād, dan pada akhirnya termasuk khabar mutawātir, sehingga berbeda dengan khabar istifāḍah pada awalnya, namun sama dengannya pada akhirnya.

( [الفرق بين الاستفاضة والتواتر] )

(Perbedaan antara istifādhah dan tawātur)

وَيَكُونُ الْفَرْقُ بَيْنَ خَبَرِ الِاسْتِفَاضَةِ وَخَبَرِ التَّوَاتُرِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Perbedaan antara khabar istifāḍah dan khabar tawātur terdapat pada tiga aspek:

أَحَدُهَا: مَا ذَكَرْنَاهُ مِنِ اخْتِلَافِهِمَا فِي الِابْتِدَاءِ وَاتِّفَاقِهِمَا فِي الِانْتِهَاءِ.

Salah satunya adalah apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan keduanya pada permulaan dan kesepakatan keduanya pada akhir.

وَالثَّانِي: أَنَّ أَخْبَارَ الِاسْتِفَاضَةَ لَا يُرَاعَى فِيهَا عَدَالَةُ الْمُخْبِرِ.

Kedua: Bahwa dalam akhbar istifādhah tidak disyaratkan keadilan para penyampai berita.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ أَخْبَارَ الِاسْتِفَاضَةِ تَنْتَشِرُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ لِرِوَايَتِهَا، وَأَخْبَارَ التَّوَاتُرِ مَا انْتَشَرَتْ عَنْ قَصْدٍ لِرِوَايَتِهَا.

Ketiga: bahwa khabar istifāḍah tersebar tanpa adanya maksud untuk meriwayatkannya, sedangkan khabar tawātur adalah yang tersebar karena adanya maksud untuk meriwayatkannya.

ثُمَّ يَسْتَوِي الْخَبَرَانِ فِي انْتِفَاءِ التَّشَكُّكِ عَنْهُمَا وَوُقُوعِ الْعِلْمِ بِهِمَا وَلَيْسَ الْعَدَدُ فِيهِمَا مَحْصُورًا لِتَكُونَ أَنْفَى لِلِارْتِيَابِ وَأَمْنَعَ مِنَ التَّصَنُّعِ، وَإِنَّمَا الشَّرْطُ فِيهِمَا أَنْ يَنْتَفِيَ عَنِ الْمُخْبِرِينَ بِهِمَا لِجَوَازِ التَّوَاطُؤِ عَلَى الْكَذِبِ وَيَمْتَنِعُ اتِّفَاقُهُمْ فِي السَّهْوِ وَالْغَلَطِ حَتَّى يَزُولَ الشَّكُّ وَيَحْصُلَ الْيَقِينُ، ثُمَّ تَنْتَهِي إِلَى عَصْرٍ بَعْدَ عَصْرٍ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْحَالِ وَالْمُسْتَفِيضُ مِنْ أَخْبَارِ السُّنَّةِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ وَالْمُتَوَاتِرُ مِنْهَا مِثْلُ نُصُبِ الزَّكَوَاتِ.

Kemudian kedua jenis khabar itu sama dalam hal tidak adanya keraguan terhadap keduanya dan tercapainya pengetahuan melalui keduanya. Jumlah perawi dalam keduanya tidak dibatasi, agar semakin meniadakan keraguan dan semakin mencegah rekayasa. Syarat dalam keduanya hanyalah bahwa para penyampai berita tersebut terbebas dari kemungkinan bersepakat untuk berdusta, dan mustahil mereka sepakat dalam kesalahan atau kekeliruan, sehingga hilanglah keraguan dan tercapailah keyakinan. Kemudian hal ini berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam keadaan seperti ini. Khabar mustafidh dari sunnah contohnya adalah jumlah rakaat, sedangkan khabar mutawatir darinya seperti ketentuan-ketentuan zakat.

فَإِنْ قِيلَ فَقَدِ اسْتَفَاضَ فِي النَّصَارَى قَتْلُ الْمَسِيحِ وَقَدْ أَخْبَرَ اللَّهُ بِكَذِبِهِمْ، قِيلَ إِنَّمَا اسْتَفَاضَ خَبَرُ قَتْلِهِ عَنْ أَرْبَعَةٍ ذَكَرُوا أَنَّهُمْ شَاهَدُوا قَتْلَهُ، قِيلَ: إنهم متى ولوقا وماريقس ويوحنا وهم عدد يجوز على مثله التَّوَاطُؤُ وَالْغَلَطُ ثُمَّ اسْتَفَاضَ عَنْهُمُ الْخَبَرُ فَصَارَ أَصْلُهُ مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ وَانْتِشَارُهُ مِنْ أَخْبَارِ الِاسْتِفَاضَةِ.

Jika dikatakan, “Telah tersebar luas di kalangan Nasrani tentang pembunuhan al-Masih, padahal Allah telah memberitakan bahwa mereka berdusta,” maka dijawab: Sesungguhnya yang tersebar luas adalah kabar tentang pembunuhannya yang berasal dari empat orang yang mengaku bahwa mereka menyaksikan pembunuhannya. Mereka adalah Matius, Lukas, Markus, dan Yohanes, dan jumlah mereka memungkinkan terjadinya kesepakatan atau kekeliruan di antara mereka. Kemudian, dari mereka tersebarlah kabar tersebut sehingga asalnya adalah termasuk khabar al-āḥād, sedangkan penyebarannya termasuk khabar al-istifāḍah.

( [الْقَوْلُ فِي أَخْبَارِ الْآحَادِ] )

(Pembahasan tentang akhbār al-āḥād)

وَأَمَّا أَخْبَارُ الْآحَادِ فَهُوَ مَا أَخْبَرَ الْوَاحِدُ وَالْعَدَدُ الْقَلِيلُ الَّذِي يَجُوزُ عَلَى مِثْلِهِمُ التَّوَاطُؤُ عَلَى الْكَذِبِ، أَوْ الِاتِّفَاقِ فِي السَّهْوِ، وَالْغَلَطِ، وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun akhbār al-āḥād adalah berita yang disampaikan oleh satu orang atau sejumlah kecil orang yang memungkinkan bagi mereka untuk bersepakat dalam kebohongan, atau bersepakat dalam kelalaian dan kesalahan, dan akhbār al-āḥād ini terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَخْبَارُ الْمُعَامَلَاتِ.

Salah satunya: berita-berita tentang mu‘āmalāt.

وَالثَّانِي: أَخْبَارُ الشَّهَادَاتِ.

Yang kedua: berita-berita kesaksian.

وَالثَّالِثُ: أَخْبَارُ السُّنَنِ وَالدِّيَانَاتِ.

Ketiga: kabar-kabar tentang sunah dan ajaran-ajaran agama.

فَأَمَّا أَخْبَارُ الْمُعَامَلَاتِ: فَلَا تُرَاعَى فِيهَا عَدَالَةُ الْمُخْبِرِ وَإِنَّمَا يُرَاعَى فِيهَا سُكُونُ النَّفْسِ إِلَى خَبَرِهِ فَتُقْبَلُ مِنْ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ وَمُسْلِمٍ وَكَافِرٍ وَصَغِيرٍ وَبَالِغٍ، فَإِذَا قَالَ الْوَاحِدُ مِنْهُمْ هَذِهِ هَدِيَّةُ فُلَانٍ إِلَيْكَ جَازَ أَنْ تَعْمَلَ عَلَى قَوْلِهِ، وَفِي الدُّخُولِ لِأَنَّهُ فِي الْعُرْفِ مَقْبُولٌ وَإِنَّمَا لَمْ تُعْتَبَرْ فِي هَذَا الْخَبَرِ عَدَالَةُ الْمُخْبِرِ لِأَنَّ الْعُرْفَ جَازَ بِاسْتِنَابَةِ أَهْلِ الْبِذْلَةِ فِيهِ، وَمَنْ خَرَجَ عَنْ حَدِّ الصِّيَانَةِ وَذَلِكَ مُنَافٍ لِشُرُوطِ الْعَدَالَةِ فَلِذَلِكَ سَقَطَ اعْتِبَارُهَا فِيهِمْ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Adapun berita-berita tentang mu‘āmalāt, maka tidak disyaratkan keadilan pembawa berita di dalamnya, melainkan yang diperhatikan adalah ketenangan jiwa terhadap beritanya. Maka, berita tersebut dapat diterima dari siapa saja, baik orang saleh maupun fasik, Muslim maupun kafir, anak-anak maupun dewasa. Jika salah satu dari mereka berkata, “Ini adalah hadiah dari si Fulan untukmu,” maka boleh bertindak berdasarkan ucapannya, demikian pula dalam hal izin masuk, karena dalam kebiasaan hal itu diterima. Tidak disyaratkan keadilan pembawa berita dalam hal ini karena kebiasaan telah membolehkan mewakilkan urusan tersebut kepada orang-orang yang tidak menjaga kehormatan diri, dan mereka yang telah keluar dari batas penjagaan diri, yang hal itu bertentangan dengan syarat-syarat keadilan. Oleh karena itu, pertimbangan keadilan gugur pada mereka, dan hal ini telah menjadi kesepakatan.

وَأَمَّا أَخْبَارُ الشَّهَادَاتِ فَيُعْتَبَرُ فِيهَا شَرْطَانِ وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِمَا وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَيْهِمَا:

Adapun berita-berita kesaksian, maka padanya diperhatikan dua syarat yang telah ditetapkan oleh syariat dan telah terjadi ijmā‘ atas keduanya:

أَحَدُهُمَا: الْعَدَالَةُ؛ لِأَنَّ الْمُنْتَدَبَ لَهَا أَهْلُ الصِّيَانَةِ فَوَجَبَ أَنْ تُعْتَبَرَ فِيهِمُ الْعَدَالَةُ لِيَكُونُوا مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالصِّيَانَةِ.

Salah satunya adalah keadilan; karena yang ditugaskan untuknya adalah orang-orang yang menjaga diri, maka wajib dipertimbangkan keadilan pada mereka agar mereka termasuk golongan orang-orang yang jujur dan menjaga diri.

وَالثَّانِي: الْعَدَدُ بِحَسْبِ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ: وَأَكْثَرُهُ أَرْبَعَةٌ فِي الزِّنَا وَأَقَلُّهُ اثْنَانِ فِي الْأَمْوَالِ فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَغْلَظَ مِنْ أَخْبَارِ الْمُعَامَلَاتِ، وَإِنْ كَانَا جَمِيعًا مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ.

Kedua: Jumlah saksi sesuai dengan yang ditetapkan oleh syariat; jumlah terbanyak adalah empat orang dalam kasus zina, dan jumlah paling sedikit adalah dua orang dalam perkara harta. Maka, dari dua sisi ini, kesaksian menjadi lebih kuat daripada berita-berita dalam mu‘āmalāt, meskipun keduanya sama-sama termasuk khabar āḥād.

وَأَمَّا أَخْبَارُ السُّنَنِ وَالْعِبَادَاتِ فَمُخْتَلَفٌ فِي قَبُولِ الْآحَادِ فِيهَا.

Adapun kabar-kabar tentang sunah dan ibadah, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai diterimanya hadis ahad di dalamnya.

فَمَنَعَ مِنْهَا قَوْمٌ كَالْأَصَمِّ وَابْنِ عُلَيَّةَ وَعَدَلُوا عَنْهَا إِلَى غَيْرِهِ مِنْ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ، لِأَنَّهَا لا توجب العلم فلم توجب العمل، ووفقها آخَرُونَ عَلَى مَا يُعَضِّدُهَا مِنَ الِاتِّفَاقِ عَلَى الْعَمَلِ بِهَا.

Sebagian kelompok seperti al-Asham dan Ibn ‘Ulayyah menolaknya dan beralih kepada dalil-dalil syariat lainnya, karena qiyās tidak memberikan pengetahuan yang pasti sehingga tidak mewajibkan untuk diamalkan. Sementara kelompok lain menyesuaikannya dengan apa yang didukung oleh adanya kesepakatan untuk mengamalkannya.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى قَبُولِهَا وَوُجُوبِ الْعَمَلِ بِهَا عَلَى مَا نَذْكُرُهُ فِي الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيهَا، لِقَوْلِ اللَّهُ تَعَالَى: {فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ} [التوبة: 123] الْآيَةَ؛ فَلَوْ لَمْ تَلْزَمِ الْحُجَّةُ بِالْآحَادِ النَّافِرَةِ لَأَمَرَ فِيهِ بِالتَّوَاتُرِ وَالِاسْتِفَاضَةِ وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَنَقْلَ إِلَيْهِمُ السُّنَنَ وَعَلَّمَهُمُ الْعِبَادَاتِ وَنُصُبَ الزَّكَوَاتِ وَأَوْضَحَ لَهُمُ الْأَحْكَامَ فَالْتَزَمُوهَا بِخَبَرِهِ وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي عَصْرِهِ مَا عَدَلُوا إِلَيْهِ فِيهَا وَلَا طَلَبُوا مَعَ مُعَاذٍ زِيَادَةً عَلَيْهِ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا سَقَطَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَرْضُ الْإِبْلَاغِ بِذِكْرِ الْآحَادِ لَزِمَ فِيهَا قَبُولُ أَخْبَارِ الْآحَادِ، وَلَوْ لَزِمَ فِيهَا الْعَدَدُ الْمُتَوَاتِرُ لَأَدَّاهَا إِلَى الْعَدَدِ الْمُتَوَاتِرِ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ لِلْمُسْتَفْتِي أَنْ يَعْمَلَ عَلَى فُتْيَا الْمُفْتِي جَازَ لِلْمُسْتَخْبِرِ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى رِوَايَةِ الْمُخْبِرِ؛ لِأَنَّهُمَا في أحكام الدين على سواء.

Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa hadis ahad dapat diterima dan wajib diamalkan, sesuai dengan syarat-syarat yang akan disebutkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Maka hendaklah ada dari setiap golongan di antara mereka sejumlah orang yang berangkat (untuk memperdalam ilmu agama)” (QS. at-Taubah: 123). Seandainya hujjah tidak wajib dengan hadis ahad yang berangkat (menyampaikan ilmu), tentu Allah akan memerintahkan untuk menyampaikan secara mutawatir dan masyhur. Selain itu, Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz ke Yaman, lalu Mu‘adz menyampaikan kepada mereka sunah-sunah, mengajarkan ibadah, menetapkan zakat, dan menjelaskan hukum-hukum kepada mereka, lalu mereka pun berpegang pada berita yang dibawanya. Pada masa Rasulullah ﷺ, mereka tidak berpaling dari Mu‘adz dalam hal itu dan tidak meminta tambahan selain apa yang disampaikan Mu‘adz. Karena ketika kewajiban menyampaikan dari Rasulullah ﷺ telah gugur dengan adanya penyampaian hadis ahad, maka wajib pula menerima berita ahad. Jika dalam hal itu disyaratkan jumlah yang mutawatir, tentu penyampaiannya pun harus dengan jumlah mutawatir. Selain itu, sebagaimana seorang mustafti boleh beramal berdasarkan fatwa seorang mufti, maka seorang pencari berita pun boleh beramal berdasarkan riwayat seorang pemberi berita, karena keduanya dalam hukum agama adalah sama.

( [وجوب العمل بخبر الواحد] )

(Kewajiban mengamalkan khabar āḥād)

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ أَخْبَارَ الْآحَادِ حُجَّةٌ تُوجِبُ الْعَمَلَ بِهَا فَقَدِ اخْتَلَفَ الْقَائِلُونَ بِهَا.

Maka apabila telah tetap bahwa akhbar al-ahad merupakan hujjah yang mewajibkan untuk diamalkan, maka para pendukungnya pun berselisih pendapat.

فَذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِرَاقِ إِلَى أَنَّهَا لَا تُقْبَلُ إِلَّا مِنِ اثْنَيْنِ عَلَى اثْنَيْنِ حَتَّى تَتَّصِلَ بِالرَّسُولِ كَأَقَلِّ الشَّهَادَاتِ.

Sebagian ulama Irak berpendapat bahwa riwayat tidak diterima kecuali dari dua orang kepada dua orang hingga bersambung kepada Rasul, sebagaimana jumlah minimal dalam persaksian.

وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّهَا لَا تُقْبَلُ إِلَّا مِنْ أَرْبَعَةٍ عَنْ أَرْبَعَةٍ كَأَكْثَرِ الشَّهَادَاتِ.

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa kesaksian itu tidak diterima kecuali dari empat orang atas empat orang, sebagaimana kebanyakan bentuk kesaksian lainnya.

وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ، وَجُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْعَدَدَ فِيهَا غَيْرُ مُعْتَبَرٍ، وَأَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ وَالْجَمَاعَةِ فِي وُجُوبِ الْعَمَلِ بِهَا وَاحِدٌ، وَقَدْ عَمِلَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى خَبَرِ الْوَاحِدِ فِي مِيرَاثِ الْجَدَّةِ وَأَخَذَ الْجِزْيَةَ مِنَ الْمَجُوسِ، وَعَمِلَ عَلَى خَبَرِ الْوَاحِدِ فِي دِيَةِ الْجَنِينِ فَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمَا أَحَدٌ مَعَ انْتِشَارِهِ وَاشْتِهَارِهِ وَلِأَنَّ مَا يَجُوزُ فِي الْوَاحِدِ مِنْ الِاحْتِمَالِ يَجُوزُ فِي الِاثْنَيْنِ وَالْأَرْبَعَةِ، وَلَيْسَ اعْتِبَارُ أَخْبَارِ السُّنَنِ بِالشَّهَادَةِ بِأَوْلَى مِنِ اعْتِبَارِهَا بِأَخْبَارِ الْمُعَامَلَةِ، لِأَنَّهَا وَاسِطَةٌ بَيْنَهُمَا فَاعْتُبِرَ فِيهَا الْعَدَالَةُ كَالشَّهَادَةِ، وقبل فيها خبر الواحد كالمعاملة.

Imam Syafi‘i dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa jumlah dalam hal ini tidak dianggap, dan bahwa kedudukan khabar al-wāḥid dan kelompok dalam kewajiban beramal dengannya adalah sama. Abu Bakar telah beramal berdasarkan khabar al-wāḥid dalam masalah warisan nenek dan mengambil jizyah dari kaum Majusi, serta beramal berdasarkan khabar al-wāḥid dalam diyat janin, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari keduanya meskipun hal itu tersebar luas dan terkenal. Karena apa yang mungkin terjadi pada satu orang dari sisi kemungkinan juga mungkin terjadi pada dua atau empat orang. Tidaklah pertimbangan terhadap khabar sunan dengan syahadah (kesaksian) lebih utama daripada pertimbangan terhadap khabar mu‘āmalah, karena keduanya adalah perantara di antara keduanya, maka dalam hal ini dipertimbangkan keadilan sebagaimana dalam syahadah, dan diterima di dalamnya khabar al-wāḥid sebagaimana dalam mu‘āmalah.

( [القول في خبر الواحد إذا عارضه أصل] )

(Pembahasan tentang khabar al-wāḥid apabila bertentangan dengan suatu aṣl)

وَإِذَا ثَبَتَ قَبُولُهَا مِنَ الْوَاحِدِ وَالْجَمَاعَةِ وَجَبَ الْعَمَلُ بِمَا تَضَمَّنَهَا مَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْهُ الْعَقْلُ.

Dan apabila telah tetap diterima dari satu orang maupun kelompok, maka wajib mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya selama tidak ada halangan dari akal.

وَامْتَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنَ الْعَمَلِ بِهَا إِذَا خَالَفَتِ الْأُصُولَ وَلِذَلِكَ لَمْ يَعْمَلْ بِخَبَرِ المصراة.

Abu Hanifah menolak untuk mengamalkan hadis tersebut jika bertentangan dengan al-uṣūl, dan karena itu beliau tidak mengamalkan hadis tentang al-muṣarrāh.

ومنع مالك من العمل بها، وإذا خَالَفَتْ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، وَلِذَلِكَ لَمْ يَعْمَلْ عَلَى خِيَارِ الْمَجْلِسِ فِي الْبَيْعِ وَهُوَ الرَّاوِي لَهُ.

Malik melarang untuk mengamalkannya jika bertentangan dengan praktik penduduk Madinah, dan karena itu ia tidak mengamalkan pilihan majelis dalam jual beli, padahal ia sendiri yang meriwayatkannya.

وَكِلَا الْقَوْلَيْنِ فَاسِدٌ؛ لِأَنَّ الْخَبَرَ أَصْلٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُدْفَعَ بِأَصْلٍ، وَهُوَ حُجَّةٌ عَلَى أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُدْفَعَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ.

Kedua pendapat tersebut batil; karena khabar adalah dalil pokok, maka tidak boleh ditolak dengan dalil pokok lainnya, dan khabar merupakan hujjah atas penduduk Madinah, sehingga tidak boleh ditolak dengan amal penduduk Madinah.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ وَإِنْ أَوْجَبَ الْعَمَلَ فَغَيْرُ مُوجِبٍ لِلْعِلْمِ الْبَاطِنِ بِخِلَافِ الْمُسْتَفِيضِ وَالْمُتَوَاتِرِ.

Jika demikian, maka meskipun ia mewajibkan untuk diamalkan, namun tidak mewajibkan adanya pengetahuan batin, berbeda dengan yang masyhur dan mutawatir.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يُوجِبُ الْعِلْمَ الظَّاهِرَ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: لَا يُوجِبُهُ لِأَنَّ ظَاهِرَ الْعِلْمِ مِنْ نَتَائِجِ بَاطِنِهِ فَلَمْ يَفْتَرِقَا. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُوجِبُهُ لِأَنَّ سُكُونَ النَّفْسِ إِلَيْهِ مُوجِبٌ لَهُ ولولاه لكان ظنا.

Para ulama kami berbeda pendapat apakah ilmu zhahir itu mewajibkannya atau tidak. Ada dua pendapat: Pertama, tidak mewajibkannya karena ilmu zhahir merupakan hasil dari ilmu batin, sehingga keduanya tidak terpisahkan. Pendapat kedua, mewajibkannya karena ketenangan jiwa terhadapnya menjadi sebab kewajiban itu, dan tanpa hal tersebut maka ia hanya berupa dugaan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَاهُ فَالْكَلَامُ فِي السُّنَنِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Setelah apa yang telah kami jelaskan itu menjadi jelas, maka pembahasan tentang sunah mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي أَحْوَالِ الرُّوَاةِ النَّاقِلِينَ لَهَا.

Yang pertama: mengenai keadaan para perawi yang meriwayatkannya.

وَالثَّانِي: الْمُتُونُ الْمَعْمُولُ عَلَيْهَا.

Kedua: matan-matan yang dijadikan acuan.

( [القول في أحوال الرواة] )

(Pembahasan tentang keadaan para perawi)

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الرُّوَاةِ فَيَشْتَمِلُ الْكَلَامُ فِيهِ عَلَى خَمْسَةِ فُصُولٍ:

Adapun bagian pertama tentang para perawi, maka pembahasan di dalamnya mencakup lima bagian:

أَحَدُهَا: فِي صِفَاتِ الرَّاوِي.

Salah satunya: dalam sifat-sifat perawi.

وَالثَّانِي: فِي شُرُوطِ التَّحَمُّلِ.

Kedua: tentang syarat-syarat tahammul.

وَالثَّالِثُ: فِي صِفَةِ الْأَدَاءِ.

Ketiga: tentang tata cara pelaksanaan.

وَالرَّابِعُ: فِي أَحْوَالِ الْإِسْنَادِ.

Keempat: tentang keadaan sanad.

وَالْخَامِسُ: في نقل السماع.

Kelima: tentang periwayatan pendengaran.

( [القول في صفات الراوي] )

(Pembahasan tentang sifat-sifat perawi)

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِي صِفَاتِ الرَّاوِي: فَيُعْتَبَرُ فِيهِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ:

Adapun bagian pertama: tentang sifat-sifat perawi: maka terdapat empat syarat yang harus dipenuhi padanya.

أَحَدُهَا: الْبُلُوغُ: فَإِنَّ الصَّغِيرَ لَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ فِي الدِّينِ فِي خَبَرٍ وَلَا فُتْيَا، لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجْرِ عَلَى قَوْلِهِ حُكْمٌ فِي حَقِّ نَفْسِهِ فَأَوْلَى أَنْ لَا يَجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمٌ فِي حَقِّ غَيْرِهِ.

Salah satunya adalah baligh; karena perkataan anak kecil tidak diterima dalam urusan agama, baik dalam berita maupun fatwa, sebab ketika perkataannya tidak diberlakukan hukum atas dirinya sendiri, maka lebih utama lagi untuk tidak diberlakukan hukum atas orang lain.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: الْعَقْلُ الْمُوقَظُ: وَلَا يَقْتَصِرُ عَلَى الْعَقْلِ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّكْلِيفُ حَتَّى يَنْضَمَّ إِلَيْهِ التَّيَقُّظُ وَالتَّحَفُّظُ فَيُفَرِّقُ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَالْفَاسِدِ لِيَصِحَّ تَمْيِيزُهُ.

Syarat kedua: akal yang waspada; tidak cukup hanya dengan akal yang menjadi dasar taklif, tetapi harus disertai dengan kewaspadaan dan kehati-hatian, sehingga dapat membedakan antara yang sah dan yang rusak agar penilaiannya menjadi benar.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: الْعَدَالَةُ فِي الدِّينِ لِأَنَّ الْفَاسِقَ مَرْدُودُ الْقَوْلِ فِيهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6] وَلِأَنَّ النَّفْسَ لَا تَثِقُ بِخَبَرِهِ كَمَا لَا تَثِقُ بِشَهَادَتِهِ.

Syarat ketiga: keadilan dalam agama, karena orang fasik perkataannya ditolak dalam hal ini, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (QS. Al-Hujurat: 6), dan karena jiwa tidak mempercayai beritanya sebagaimana tidak mempercayai kesaksiannya.

وَلَا يُرَدُّ خَبَرُ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ مَا لَمْ يُكَفِّرُوا غَيْرَهُمْ وَيُظْهِرُوا عِنَادَهُمْ. قَدِ اتُّهِمَ بِذَلِكَ كَثِيرٌ مِنَ التَّابِعِينَ فَمَا رُدَّتْ أَخْبَارُهُمْ، وَشَدَّدَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ فَمَنَعَ مِنْ قَبُولِ خَبَرِ مَنْ لَا يُوَافِقُهُ عَلَى مَذْهَبِهِ وَهَذَا مُفْضٍ إِلَى إِطْرَاحِ أَكْثَرِ السُّنَنِ.

Tidak ditolak kabar dari para penganut hawa nafsu dan bid‘ah selama mereka tidak mengkafirkan orang lain dan tidak menampakkan sikap keras kepala mereka. Banyak dari kalangan tabi‘in yang dituduh demikian, namun kabar-kabar mereka tidak ditolak. Sebagian ahli hadis bersikap keras, sehingga melarang menerima kabar dari orang yang tidak sejalan dengan mazhabnya, dan hal ini akan berujung pada ditinggalkannya sebagian besar sunah.

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ مَأْمُونَ الزَّلَلِ شَدِيدَ الْيَقَظَةِ بَعِيدًا مِنَ السَّهْوِ وَالْغَفْلَةِ حَتَّى لَا يَشْتَبِهَ عَلَيْهِ الْكَذِبُ بِالصِّدْقِ.

Syarat keempat: haruslah orang yang terjaga dari kesalahan, sangat waspada, jauh dari lupa dan lalai, agar tidak rancu baginya antara kebohongan dan kebenaran.

وَيَكُونُ عَلَى ثِقَةٍ بِهِ فَقَدْ حُكِيَ عَنْ مَالِكٍ: أَنَّهُ قَالَ: لَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ سَبْعِينَ شَيْخًا أَتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ بِأَدْعِيَتِهِمْ لَا أَرْوِي عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ حَدِيثًا، وَإِنَّمَا قَالَ هَذَا لِأَنَّهُمْ كَانُوا أَهْلَ سَلَامَةٍ لَا تُؤْمَنُ غَفْلَتُهُمْ وَإِنْ قَوِيَتْ دِيَانَتُهُمْ.

Dan hendaknya ia merasa yakin terhadapnya. Telah diriwayatkan dari Malik bahwa ia berkata: “Sungguh aku telah mendengar dari tujuh puluh syekh yang aku mendekatkan diri kepada Allah dengan doa-doa mereka, namun aku tidak meriwayatkan satu hadis pun dari mereka.” Ia mengatakan demikian karena mereka adalah orang-orang yang selamat (terjaga), namun kelalaian mereka tidak dapat dihindari, meskipun agama mereka kuat.

وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ إِذَا كَانَ ضَابِطًا قَدْ قِيلَ الْمَصْدَرُ الْأَوَّلُ رِوَايَاتُ الْأَعْرَابِ وَأَهْلِ الْبَوَادِي، وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ “.

Tidak ada perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang awam jika ia adalah seorang yang teliti. Telah dikatakan bahwa sumber pertama adalah riwayat-riwayat orang Arab dan penduduk pedalaman. Nabi ﷺ bersabda, “Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih faqih darinya.”

وَهَذِهِ الشُّرُوطُ الْأَرْبَعَةُ تُعْتَبَرُ فِي الشَّهَادَةِ كاعتبارها في الخبر.

Keempat syarat ini dianggap dalam kesaksian sebagaimana dianggap pula dalam khabar.

( [القول في خبر الأعمى والعبد]

(Pembahasan tentang hadis orang buta dan budak)

وَيُقْبَلُ خَبَرُ الْأَعْمَى وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ، وَيُقْبَلُ خَبَرُ الْعَبْدِ وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ.

Diterima kabar dari orang buta meskipun kesaksiannya tidak diterima, dan diterima kabar dari budak meskipun kesaksiannya tidak diterima.

لِأَنَّ الْخَبَرَ لِاخْتِصَاصِهِ بِالدِّينِ تُعْتَبَرُ فِيهِ شُرُوطُ الْمُفْتِي وَلَا تُعْتَبَرُ فِيهِ شُرُوطُ الشَّاهِدِ وَفُتْيَا الأعمى والعبد مقبولة كذلك خبرهما.

Karena khabar, disebabkan kekhususannya dalam urusan agama, dipersyaratkan padanya syarat-syarat mufti dan tidak dipersyaratkan padanya syarat-syarat saksi. Fatwa orang buta dan budak diterima, demikian pula khabar dari keduanya.

( [القول في أخبار النساء] )

(Pembahasan tentang berita-berita dari kalangan perempuan)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَتُقْبَلُ أَخْبَارُ النِّسَاءِ.

Dan diterima pula kesaksian (berita) dari para perempuan.

وَامْتَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ قَبُولِ أَخْبَارِ النِّسَاءِ فِي الدِّينِ إِلَّا أَخْبَارَ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ.

Abu Hanifah menolak menerima riwayat-riwayat dari perempuan dalam urusan agama, kecuali riwayat dari Aisyah dan Ummu Salamah.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: لَوْ كَانَ نَقْصُ الْأُنُوثَةِ مَانِعًا لَعَمَّ.

Salah satunya: Jika kekurangan sifat keperempuanan itu menjadi penghalang, niscaya hal itu akan berlaku umum.

وَالثَّانِي: أَنَّ قَبُولَ قَوْلِهِنَّ فِي الْفُتْيَا يُوجِبُ قَبُولَهُ فِي الْأَخْبَارِ لِأَنَّ الْفُتْيَا أَغْلَظُ شُرُوطًا.

Kedua: Sesungguhnya menerima pendapat mereka dalam fatwa mengharuskan diterimanya pendapat tersebut dalam berita, karena fatwa memiliki syarat-syarat yang lebih berat.

(فصل: [القول في شروط التحمل] )

(Bab: [Pembahasan tentang syarat-syarat tahammul])

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي شُرُوطِ التَّحَمُّلِ: فَلِلْمُسْتَمِعِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Adapun bagian kedua membahas tentang syarat-syarat menerima (hadis): bagi pendengar terdapat empat keadaan.

أَحَدُهَا: أَنْ يَسْمَعَ مِنْ لَفْظِ الْمُحَدِّثِ.

Salah satunya: mendengar langsung dari ucapan sang muhaddits.

وَالثَّانِي: أَنْ يَقْرَأَهُ عَلَى الْمُحَدِّثِ.

Kedua: membacakannya kepada muhaddits.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يُجِيزَهُ الْمُحَدِّثُ.

Ketiga: bahwa muḥaddits memberinya izin.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يُكَاتِبَهُ بِهِ الْمُحَدِّثُ.

Keempat: bahwa sang muhaddits menuliskannya untuknya.

فَأَمَّا الْحَالَةُ الْأُولَى فِي سَمَاعِهِ مِنْ لَفْظِ الْمُحَدِّثِ فَيَصِحُّ تَحَمُّلُهُ عَنْهُ سَوَاءٌ كَانَ عَنْ قَصْدٍ وَاسْتِرْعَاءٍ أَوْ كَانَ بِاتِّفَاقٍ وَمُذَاكَرَةٍ بخلاف الشهادة.

Adapun keadaan pertama, yaitu ketika ia mendengar langsung dari ucapan muḥaddits, maka boleh baginya menerima (hadis) darinya, baik dengan sengaja dan permintaan untuk memperhatikan, maupun secara kebetulan dan dalam diskusi, berbeda halnya dengan kesaksian.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُحَدِّثُ أَعْمَى أَوْ أَصَمَّ وَلَا يَصِحُّ السَّمَاعُ إِنْ كَانَ الْمُتَحَمِّلُ أَصَمَّ وَيَصِحُّ إِنْ كَانَ أَعْمَى.

Dan boleh saja seorang muhaddits itu buta atau tuli, namun tidak sah penerimaan hadis jika yang menerima (hadis) itu tuli, dan sah jika ia buta.

وَأَمَّا الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ فِي قِرَاءَةِ الْمُسْتَمِعِ عَلَى الْمُحَدِّثِ فَيَصِحُّ تَحَمُّلُهُ كَمَا لَوْ قَرَأَهُ الْمُحَدِّثُ وَهَكَذَا لَوْ قَرَأَهُ غَيْرُ الْمُسْتَمِعِ عَلَى الْمُحَدِّثِ كَانَ كَمَا لَوْ قَرَأَهُ الْمُسْتَمِعُ.

Adapun keadaan kedua dalam membaca oleh pendengar di hadapan muhaddits, maka boleh baginya menerima (hadis) sebagaimana jika muhaddits yang membacakannya. Demikian pula, jika selain pendengar yang membacakannya di hadapan muhaddits, hukumnya sama seperti jika pendengar yang membacakannya.

وَمِنْ شَرْطِ صِحَّةِ السَّمَاعِ فِي هَذَا شَيْئَانِ:

Dan di antara syarat sahnya mendengarkan dalam hal ini ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْمُحَدِّثُ سَمِيعًا وَإِنْ كَانَ أَصَمَّ لَمْ يَصِحَّ.

Salah satunya adalah bahwa seorang muhaddits haruslah pendengar (dapat mendengar); jika ia tuli, maka tidak sah.

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْتَرِفَ الْمُحَدِّثُ بِصِحَّةِ مَا قَرَأَهُ عَلَيْهِ.

Kedua: hendaknya guru hadis mengakui kebenaran apa yang telah dibacakan kepadanya.

وَأَمَّا الْحَالَةُ الثَّالِثَةُ: الْإِجَازَةُ فَلَا يَصِحُّ التَّحَمُّلُ بِالْإِجَازَةِ.

Adapun keadaan ketiga: ijāzah, maka tidak sah menerima hadis dengan ijāzah.

وَأَجَازَهُ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ، وَاعْتَبَرَ بَعْضُهُمْ فِي صِحَّةِ الْإِجَازَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الْمُحَدِّثُ الْكِتَابَ مِنْ يَدِهِ عِنْدَ إِجَازَتِهِ فَيَصِحُّ التَّحَمُّلُ إِذَا قَالَ قَدْ أَجَزْتُكَ مَا فِي هَذَا الْكِتَابِ، وَلَا يَصِحُّ إِنْ لَمْ يُسَلِّمِ الْكِتَابَ.

Sebagian ahli hadis membolehkannya dalam semua keadaan, dan sebagian dari mereka mensyaratkan dalam keabsahan ijāzah agar muhaddits menyerahkan kitab dari tangannya saat memberikan ijāzah tersebut. Maka, periwayatan menjadi sah apabila ia berkata, “Aku mengijazahkan kepadamu apa yang ada dalam kitab ini,” dan tidak sah jika kitab tersebut tidak diserahkan.

وَكُلُّ هَذَا لَا يَصِحُّ فِيهِ التَّحَمُّلُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ، وَلَوْ صَحَّتِ الْإِجَازَةُ بَطَلَتِ الرِّحْلَةُ وَقَدْ يَتَدَلَّسُ فِي الْإِجَازَةِ الْفَاسِدُ بِالصَّحِيحِ. وَالْمَجْهُولُ بِالْمَعْرُوفِ.

Dan semua ini tidak sah dilakukan tahammul menurut Imam Syafi‘i. Jika ijāzah itu dianggap sah, maka perjalanan (untuk mencari ilmu) menjadi batal, dan bisa saja terjadi penipuan dalam ijāzah yang rusak dengan yang sah, serta yang tidak dikenal dengan yang dikenal.

وَأَمَّا الْحَالُ الرَّابِعَةُ: فِي مُكَاتَبَةِ الْمُحَدِّثِ بِالْحَدِيثِ فَلَا يَصِحُّ فِيهَا التَّحَمُّلُ.

Adapun keadaan yang keempat: dalam penulisan hadits oleh seorang muhaddits, maka tidak sah di dalamnya proses tahammul.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ كُتُبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِلَى عُمَّالِهِ بِالسُّنَنِ وَالْأَحْكَامِ كُتُبًا عَمِلُوا عَلَيْهَا وَأَخَذَ النَّاسُ بِهَا. مِنْهَا كِتَابُهُ إِلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فِي الدِّيَاتِ، وَالصَّحِيفَةُ الَّتِي أَخَذَهَا أَبُو بَكْرٍ مِنْ قِرَابِ سَيْفِهِ فِي نُصُبِ الزَّكَاةِ، قِيلَ: قَدْ كَانَتْ تَرِدُ مَعَ رُسُلٍ يُعَوَّلُ عَلَى خَبَرِهِمْ بِهَا.

Jika dikatakan: Bukankah telah ada surat-surat Rasulullah ﷺ kepada para pejabatnya tentang sunah dan hukum-hukum, berupa surat-surat yang mereka amalkan dan diikuti oleh masyarakat? Di antaranya adalah surat beliau kepada ‘Amr bin Hazm tentang diyat, dan lembaran yang diambil Abu Bakar dari sarung pedangnya mengenai kadar zakat. Maka dijawab: Surat-surat tersebut memang datang bersama para utusan yang dapat diandalkan berita mereka tentang isi surat itu.

وَيَصِحُّ سَمَاعُ غَيْرِ الْبَالِغِ إِذَا كَانَ مُمَيِّزًا قَدْ سَمِعَ ابْنُ أَبِي بَكْرٍ وَكَانَ ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ حِينَ مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَقَدْ سَمِعَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَبْلَ بُلُوغِهِ فَقَبِلَ النَّاسُ رِوَايَتَهُمَا بَعْدَ الْبُلُوغِ.

Diperbolehkan mendengar (hadis) dari anak yang belum baligh jika ia sudah mumayyiz (dapat membedakan), sebagaimana Ibnu Abu Bakar telah mendengar (hadis) dan ia berumur tujuh tahun ketika Rasulullah ﷺ wafat, dan Ibnu Abbas juga telah mendengar (hadis) sebelum baligh, lalu orang-orang menerima riwayat keduanya setelah mereka baligh.

وَهَكَذَا لَوْ كَانَ الْمُسْتَمِعُ كَافِرًا ثُمَّ أَسْلَمَ أَوْ فَاسِقًا ثُمَّ اعْتَدَلَ لِأَنَّ شَرْطَ صِحَّةِ التَّحَمُّلِ هُوَ صِحَّةُ التمييز وحده.

Demikian pula, jika orang yang mendengar itu seorang kafir lalu masuk Islam, atau seorang fasik lalu menjadi baik, karena syarat sahnya tahammul (menerima hadis) hanyalah kecakapan membedakan (tamyīz) semata.

(فصل: [القول في صفة الأداء] )

(Bab: [Pembahasan tentang tata cara pelaksanaan])

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي صِفَةِ الْأَدَاءِ: فَيُعْتَبَرُ فِي الْمُحَدِّثِ إِذَا رَوَى بَعْدَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ شُرُوطِ التَّحَمُّلِ شَرْطَانِ: أَحَدُهُمَا: بِذِكْرِ إِسْنَادِهِ. وَالثَّانِي: التَّحَرِّي فِي لَفْظِ مَتْنِهِ. وَلَهُ حَالَتَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يُحَدِّثَ مِنْ حِفْظِهِ فَيَصِحُّ السَّمَاعُ مِنْهُ إِذَا وَثِقَ بِحِفْظِهِ. وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُحَدِّثَ مِنْ كِتَابِهِ.

Adapun bagian ketiga membahas tentang tata cara penyampaian: Maka pada seorang muhaddits ketika meriwayatkan, setelah memenuhi syarat-syarat tahammul yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat dua syarat: Pertama, menyebutkan sanadnya. Kedua, berhati-hati dalam lafaz matannya. Dalam hal ini terdapat dua keadaan: Pertama, ia meriwayatkan dari hafalannya, maka boleh didengarkan darinya jika dipercaya hafalannya. Kedua, ia meriwayatkan dari kitabnya.

فَإِنْ كَانَ أَعْمَى لَمْ تَصِحَّ رِوَايَتُهُ مِنْ كِتَابِهِ، لِأَنَّ الْكُتُبَ قَدْ تَشْتَبِهُ عَلَيْهِ.

Jika perawinya buta, maka tidak sah riwayatnya dari bukunya, karena kitab-kitab bisa saja tertukar baginya.

وَإِنْ كَانَ بَصِيرًا صَحَّ أَنْ يَرْوِيَ مِنْ كِتَابِهِ بِشَرْطَيْنِ:

Dan jika ia seorang yang cerdas, maka sah baginya meriwayatkan dari bukunya sendiri dengan dua syarat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ وَاثِقًا بِكِتَابِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia merasa yakin terhadap catatannya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ ذَاكِرًا لِوَقْتِ سَمَاعِهِ.

Kedua: hendaknya ia dalam keadaan ingat pada saat mendengarnya.

فَإِنْ أَخَلَّ بِأَحَدِهِمَا لَمْ تَصِحَّ رِوَايَتُهُ وَإِنْ جَمْعَهُمَا صَحَّتْ.

Jika ia mengabaikan salah satu dari keduanya, maka riwayatnya tidak sah; namun jika ia menggabungkan keduanya, maka riwayatnya sah.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ أَنْ يَرْوِيَ إِلَّا مِنْ حِفْظِهِ كَمَا لَا يَجُوزُ لِلشَّاهِدِ أَنْ يَشْهَدَ إِلَّا مِنْ حِفْظِهِ.

Abu Hanifah melarang seseorang meriwayatkan kecuali dari hafalannya, sebagaimana tidak boleh bagi seorang saksi memberikan kesaksian kecuali dari hafalannya.

وَدَلِيلُنَا مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ ” وَلَوْ لَمْ يَصِحَّ الرُّجُوعُ إِلَيْهِ لَكَانَ الْأَمْرُ بِتَقْيِيدِهِ عَيْنًا. وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – النِّسْيَانَ فَقَالَ لَهُ: ” حَرِّكْ يَدَكَ – أَيِ اكْتُبْ – حَتَّى تَرْجِعَ إِذَا نَسِيتَ إِلَى مَا كَتَبْتَ ” وَقَدْ كَتَبَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى جَمَعَ الْقُرْآنَ عِدَّةَ مَصَاحِفَ وَأَنْفَذَهَا إِلَى الْأَمْصَارِ فحفظ المسلمون منها القرآن.

Dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Jika tidak sah untuk kembali kepadanya, tentu perintah untuk menuliskannya menjadi sia-sia. Diriwayatkan pula bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang lupa, maka beliau bersabda kepadanya, “Gerakkan tanganmu—maksudnya tulislah—agar ketika engkau lupa, engkau dapat kembali kepada apa yang telah engkau tulis.” Utsman ra. telah menulis hingga mengumpulkan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf dan mengirimkannya ke berbagai daerah, sehingga kaum muslimin menjaga Al-Qur’an dari mushaf-mushaf tersebut.

( [القول في الفرق بين الشهادة والحديث] )

(Pembahasan tentang perbedaan antara syahadah dan hadis)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الشَّهَادَةِ وَالْحَدِيثِ: أَنَّ الشَّهَادَةَ يَفْتَرِقُ فِيهَا حَالُ الشَّاهِدِ وَالْمَشْهُودِ عَلَيْهِ فَتَغَلَّظَتْ بِالْحِفْظِ، كَمَا تَغَلَّظَتْ بِالْعَدَدِ، وَالْحَدِيثُ يَشْتَرِكُ فِيهِ الْمُحَدِّثُ وَالْمُسْتَمِعُ فَتَخَفَّفَتْ بِالْكِتَابِ كَمَا تَخَفَّفَتْ فِي الْعَدَدِ.

Perbedaan antara syahadat dan hadis adalah bahwa dalam syahadat terdapat perbedaan keadaan antara saksi dan orang yang disaksikan, sehingga dipertegas dengan hafalan, sebagaimana dipertegas pula dengan jumlah (saksi). Adapun hadis, perawi dan pendengar berada dalam posisi yang sama, sehingga diringankan dengan pencatatan, sebagaimana diringankan pula dalam jumlah (perawi).

وَقَدْ صَارَتِ الرِّوَايَةُ فِي عَصْرِنَا مِنَ الْكِتَابِ أَثْبَتَ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ مِنَ الْحِفْظِ لِمَا يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ مِنْ شَوَاهِدِ الْأُصُولِ فِي صِحَّةِ السَّمَاعِ.

Dan pada zaman kita, pencatatan (riwayah) dalam kitab telah menjadi lebih kuat menurut para ahli hadis dibandingkan hafalan, karena mereka dapat merujuk kembali kepada berbagai bukti pokok dalam memastikan kebenaran pendengaran (sima‘).

وَيَجُوزُ أَنْ يَقُولَ الْمُحَدِّثُ فِي رِوَايَتِهِ: ” حَدَّثَنَا ” وَ ” أَخْبَرَنَا ” وَهُمَا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ سَوَاءٌ فِي الْحُكْمِ غَيْرَ أَنَّ الْأَوْلَى فِي عُرْفِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ إِنْ سَمِعَ مِنْ لَفْظِ الْمُحَدِّثِ أَنْ يَقُولَ: ” حَدَّثَنَا ” وَإِنْ قَرَأَهُ عَلَى الْمُحَدِّثِ أَنْ يَقُولَ: ” أَخْبَرَنَا ” وَإِنْ سَمِعَ وَحْدَهُ قَالَ: ” حَدَّثَنِي ” وَ ” أَخْبَرَنِي ” وَإِنْ سَمِعَ مَعَ جَمَاعَةٍ قَالَ: ” حَدَّثَنَا ” وَ ” أَخْبَرَنَا ” لِتَكُونَ هَذِهِ الْفُرُوقُ تَذْكِيرًا بِأَحْوَالِ السَّمَاعِ وَإِنْ كَانَتْ فِي الْحُكْمِ سواء.

Diperbolehkan bagi seorang muhaddits dalam meriwayatkan hadits untuk mengatakan: “haddatsanā” dan “akhbaranā”, dan keduanya menurut Imam Syafi‘i sama hukumnya. Hanya saja, yang lebih utama menurut kebiasaan para ahli hadits, jika ia mendengar langsung dari ucapan muhaddits hendaknya ia mengatakan: “haddatsanā”, dan jika ia membacakannya kepada muhaddits hendaknya ia mengatakan: “akhbaranā”. Jika ia mendengar sendirian, ia mengatakan: “haddatsanī” dan “akhbaranī”, dan jika ia mendengar bersama sekelompok orang, ia mengatakan: “haddatsanā” dan “akhbaranā”, agar perbedaan-perbedaan ini menjadi pengingat terhadap keadaan-keadaan dalam mendengar hadits, meskipun dalam hukum kedudukannya sama.

وَيَجُوزُ أَنْ تُقْبَلَ رِوَايَةُ الْمُحَدِّثِ فِيمَا يَعُودُ إِلَيْهِ نَفْعُهُ وَلَا يَجُوزُ فِي الشَّهَادَةِ أَنْ يَجُرَّ بِهَا نَفْعًا، لِاشْتِرَاكِ النَّاسِ فِي السُّنَنِ والديانات وافتراقهم في الشهادات.

Diperbolehkan menerima riwayat seorang muhaddits dalam hal yang kembali manfaatnya kepadanya, namun tidak diperbolehkan dalam kesaksian yang dengannya ia dapat menarik manfaat, karena manusia berserikat dalam sunah dan agama, sedangkan mereka berbeda dalam kesaksian.

( [القول في إنكار الراوي ونسيانه للحديث] )

(Pembahasan tentang penolakan dan lupa perawi terhadap hadis)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan paragraf Arab yang dimaksud.

وَإِذَا أَسْنَدَ الرَّاوِي حَدِيثَهُ عَنْ رَجُلٍ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ الرَّجُلُ الْحَدِيثَ أَوْ نَسِيَهُ لَمْ يَقْدَحْ فِي صِحَّةِ الرِّوَايَةِ، وَلَا يَجُوزُ لِلْمُحَدِّثِ أَنْ يَرْوِيَهُ عَنِ الْمُسْتَمِعِ إِنْ أَنْكَرَهُ، وَيَجُوزَ أَنْ يَرْوِيَهُ عَنْهُ إِنْ نَسِيَهُ، قَدْ رَوَى رَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ ” ثُمَّ نَسِيَ سُهَيْلٌ الْحَدِيثَ فَأَخْبَرَهُ بِهِ رَبِيعَةُ فَصَارَ سُهَيْلٌ يَقُولُ أَخْبَرَنِي رَبِيعَةُ عَنِّي أَنَّنِي حَدَّثْتُهُ عَنْ أَبِي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ” أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قضى باليمين مع الشاهد “.

Apabila seorang perawi menisbatkan haditsnya kepada seseorang, lalu orang tersebut mengingkari hadits itu atau melupakannya, hal itu tidak mencacati keabsahan riwayat. Tidak boleh bagi seorang muhaddits meriwayatkannya dari orang yang mendengarnya jika orang tersebut mengingkarinya, namun boleh meriwayatkannya darinya jika ia melupakannya. Rabi‘ah bin Abi ‘Abdirrahman pernah meriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama saksi. Kemudian Suhail lupa terhadap hadits itu, lalu Rabi‘ah memberitahukannya kepadanya, sehingga Suhail pun berkata, “Rabi‘ah telah mengabarkan kepadaku dariku sendiri bahwa aku telah meriwayatkan kepadanya dari ayahku, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama saksi.”

( [عمل الراوي بخلاف روايته] )

( [Perbuatan perawi yang bertentangan dengan riwayatnya] )

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَإِذَا عَمِلَ الرَّاوِي بِغَيْرِ رِوَايَتِهِ لَمْ يَقْدَحْ فِي صِحَّةِ الرِّوَايَةِ قَدْ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ: غَسْلُ الْإِنَاءِ مِنْ وُلُوغِ الْكَلْبِ سَبْعًا وَأَفْتَى بِغَسْلِهِ ثَلَاثًا فَعَمِلُوا عَلَى رِوَايَتِهِ دُونَ فُتْيَاهُ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ قَدْ نَسِيَ الرِّوَايَةَ فَأَفْتَى بغيرها وروايته حجة وفتياه ليست بحجة.

Apabila seorang perawi mengamalkan sesuatu yang berbeda dengan riwayatnya, hal itu tidak mencacati keabsahan riwayat tersebut. Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa mencuci bejana karena jilatan anjing dilakukan sebanyak tujuh kali, namun beliau berfatwa agar dicuci tiga kali. Maka para ulama tetap berpegang pada riwayatnya dan tidak mengikuti fatwanya, karena mungkin saja beliau lupa terhadap riwayat tersebut lalu berfatwa dengan selainnya. Riwayatnya adalah hujjah, sedangkan fatwanya bukanlah hujjah.

( [القول في تفسير الراوي للحديث] )

(Pembahasan tentang penafsiran perawi terhadap hadis)

فَأَمَّا تَفْسِيرُ الرَّاوِي لِلْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ فَإِنْ كَانَ مِنَ الصَّحَابَةِ الَّذِينَ سَمِعُوا لَفْظَ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَشَاهَدُوا مَخْرَجَ كَلَامِهِ كَانَ الْحَدِيثُ مَحْمُولًا عَلَى تَفْسِيرِهِ كَمَا فَسَّرَ ابْنُ عُمَرَ مَا رَوَاهُ مِنِ افْتِرَاقِ الْمُتَبَايِعَيْنِ فِي خِيَارِ الْمَجْلِسِ أَنَّهُ التَّفَرُّقُ بِالْأَبْدَانِ دُونَ الْكَلَامِ؛ فَحُمِلَ عَلَى تَفْسِيرِهِ. وَإِنْ كَانَ هَذَا الْمُحَدِّثُ مِنْ دُونِ الصَّحَابَةِ لَمْ يَكُنْ تَفْسِيرُهُ حُجَّةً؛ لِأَنَّهُ وَغَيْرَهُ فِيهِ سواء.

Adapun penafsiran seorang perawi terhadap hadis yang ia riwayatkan, jika ia termasuk sahabat yang mendengar langsung ucapan Rasulullah ﷺ dan menyaksikan bagaimana beliau mengucapkannya, maka hadis tersebut dibawa kepada penafsirannya. Sebagaimana Ibnu Umar menafsirkan hadis yang ia riwayatkan tentang perpisahan dua orang yang berjual beli dalam khiyār majlis, bahwa yang dimaksud adalah perpisahan secara fisik, bukan dengan ucapan; maka hadis itu dipegang sesuai penafsirannya. Namun, jika perawi tersebut bukan dari kalangan sahabat, maka penafsirannya tidak menjadi hujjah, karena ia dan selainnya dalam hal ini sama saja.

(فصل: [القول في أحوال الإسناد] )

(Bab: [Pembahasan tentang keadaan sanad])

وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي أَحْوَالِ الْإِسْنَادِ فَصِحَّتُهُ مُعْتَبَرَةٌ بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ.

Adapun bagian keempat membahas tentang keadaan sanad, maka keabsahannya dipertimbangkan dengan tiga syarat.

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْإِسْنَادُ مُتَّصِلًا بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَإِنْ كَانَ مُرْسَلًا أَوْ مُنْقَطِعًا لَمْ يَصِحَّ. وَالْمُرْسَلُ: أَنْ يَرْوِيَهُ التَّابِعِيُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَهُوَ لَمْ يُشَاهِدْهُ وَلَا يَرْوِيهِ عَنْ صَحَابِيٍّ شَاهَدَهُ. وَالْمُنْقَطِعُ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الرَّاوِيَيْنِ رَجُلٌ لَمْ يُذْكَرْ.

Salah satunya: sanad harus bersambung sampai Rasulullah ﷺ. Jika sanadnya mursal atau munqathi‘, maka tidak sah. Mursal adalah apabila seorang tabi‘i meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, padahal ia tidak pernah bertemu beliau dan tidak meriwayatkannya dari seorang sahabat yang pernah bertemu beliau. Sedangkan munqathi‘ adalah apabila di antara dua perawi terdapat seseorang yang tidak disebutkan.

فَأَمَّا الْمُنْقَطِعُ فَلَيْسَ بِحُجَّةٍ بِوِفَاقِ أَبِي حَنِيفَةَ.

Adapun hadis munqathi‘, maka itu bukanlah hujjah menurut kesepakatan Abu Hanifah.

وَأَمَّا الْمُرْسَلُ فَهُوَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ حُجَّةٌ وَرُبَّمَا جَعَلَهُ أَقْوَى مِنَ الْمُسْنَدِ لِثِقَةِ التَّابِعِيِّ بِصِحَّتِهِ فِي إِرْسَالِهِ.

Adapun hadis mursal, menurut Abu Hanifah, merupakan hujjah, dan terkadang beliau menganggapnya lebih kuat daripada hadis musnad karena kepercayaan tabi’in terhadap kebenaran hadis tersebut ketika meriwayatkannya secara mursal.

وَلَيْسَ الْمُرْسَلُ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةً وَلَا يَجُوزُ الْعَمَلُ بِهِ إِذَا انْفَرَدَ، حَتَّى يُسَمِّي رَاوِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهُ عَنْ مِثْلِهِ مِنَ التَّابِعِينَ وَيَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهُ عَنْ مَنْ لَا يُوثَقُ بِصِحَّتِهِ.

Menurut Imam Syafi‘i, hadis mursal bukanlah hujjah dan tidak boleh diamalkan jika hanya diriwayatkan sendiri, sampai perawinya menyebutkan dari siapa ia meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ; karena bisa jadi ia mendengarnya dari orang yang setara dengannya dari kalangan tabi‘in, dan bisa jadi ia mendengarnya dari seseorang yang tidak dapat dipercaya keshahihannya.

وَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” مُرْسَلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عِنْدَنَا حَسَنٌ ” وَإِنَّمَا اسْتَحْسَنَهُ لِمَا يَقْتَرِنُ بِهِ مِنْ شَوَاهِدِ صِحَّتِهِ، لِأَنَّهُ مَا أَرْسَلَ حَدِيثًا إِلَّا وَقَدْ وُجِدَ مُسْنَدًا عَنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ.

Syafi‘i berkata: “Mursal Sa‘id bin al-Musayyab menurut kami adalah hasan.” Ia menganggapnya baik karena adanya pendukung yang menguatkan keshahihannya, sebab tidaklah ia meriwayatkan hadis secara mursal kecuali telah ditemukan sanadnya secara musnad dari para sahabat senior.

وَأَمَّا رِوَايَاتُ الصَّحَابَةِ فَلَا مُرْسَلَ فِيهَا؛ لِأَنَّهُ إِنْ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله

Adapun riwayat para sahabat, maka tidak ada mursal di dalamnya; karena jika seorang sahabat berkata, “Aku mendengar Rasulullah…”,

فَلَا شُبْهَةَ فِي صِحَّتِهِ.

Maka tidak ada keraguan dalam keabsahannya.

وَإِنْ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ عَنْ سَمَاعِهِ مِنْهُ.

Dan jika ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda,” maka yang tampak adalah bahwa itu berdasarkan pendengarannya langsung dari beliau.

وَإِنْ سَمِعَهُ مِنْ غَيْرِهِ فَلَيْسَ يَرْوِيهِ إِلَّا عَنْ مِثْلِهِ؛ لِأَنَّ صَحَابَةَ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَحْكُومٌ بِعَدَالَتِهِمْ وَجَمِيعَهُمْ مَقْبُولُ الرِّوَايَةِ عَنْهُ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ ” وَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: ” لَيْسَ كُلُّ مَا حَدَّثْتُكُمْ بِهِ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَلَكِنْ سَمِعْتُ وَحَدَّثَنِي بِهِ أَصْحَابُهُ ” وَأَجْرَى أَهْلُ الْعِلْمِ وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ عَلَيْهِ أَحْكَامَ الْمُسْنَدِ دُونَ الْمُرْسَلِ.

Dan jika ia mendengarnya dari selain dirinya, maka ia tidak meriwayatkannya kecuali dari orang yang selevel dengannya; karena para sahabat Rasulullah ﷺ telah diputuskan keadilannya dan seluruhnya diterima riwayatnya dari beliau, berdasarkan sabda beliau ﷺ: “Para sahabatku seperti bintang-bintang, dengan siapa pun kalian mengikuti, kalian akan mendapat petunjuk.” Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata: “Tidak semua yang aku ceritakan kepada kalian aku dengar langsung dari Rasulullah ﷺ, tetapi aku mendengarnya dan diceritakan kepadaku oleh para sahabat beliau.” Para ulama dan ahli hadis pun menetapkan atasnya hukum musnad, bukan mursal.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الرِّوَايَةُ عَنْ مُسَمًّى مَشْهُورٍ بِمَا سُمِّيَ بِهِ: حَتَّى لَا يَقَعَ التَّدْلِيسُ فِي اسْمِهِ فَإِنْ لَمْ يُسَمِّهِ وَقَالَ: أَخْبَرَنِي الثِّقَةُ أَوْ مَنْ لَا أَتَّهِمُ لَمْ يَكُنْ حُجَّةً فِي صِحَّةِ النَّقْلِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَثِقُ بِهِ وَيَكُونُ مَجْرُوحًا عِنْدَ غَيْرِهِ.

Syarat kedua: Riwayat harus berasal dari seseorang yang disebutkan namanya secara jelas dan dikenal dengan nama tersebut, agar tidak terjadi tadlīs dalam penyebutan namanya. Jika perawi tidak menyebutkan nama dan hanya berkata, “Telah mengabarkan kepadaku seorang yang tepercaya” atau “seseorang yang tidak aku curigai,” maka itu tidak dapat dijadikan hujjah dalam keabsahan periwayatan, karena bisa jadi ia mempercayainya sementara menurut orang lain orang tersebut cacat.

فَإِنْ قِيلَ: قَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي أَحَادِيثَ رَوَاهَا أَخْبَرَنِي مَنْ أَثِقُ بِهِ، وَأَخْبَرَنِي مَنْ لَا أَتَّهِمُ قِيلَ قَدِ اشْتَهَرَ مَنْ عَنَاهُ بِهَذَا وَأَنَّهُ أَرَادَ بِمَنْ يَثِقُ بِهِ إِبْرَاهِيمَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ فَصَارَ كَالتَّسْمِيَةِ لَهُ، وَإِنْ كَانَ الْأَوْلَى أَنْ يُصَرِّحَ بِاسْمِهِ لَكِنَّهُ رُبَّمَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ وَقْتَ الْحَدِيثِ اسْمُ الرَّاوِي وَهُوَ وَاحِدٌ من عدد ثقاة فَيَتَخَرَّجُ أَنْ يُسَمَّى مَنْ لَا يَقْطَعُ بِصِحَّتِهِ فَعَدَلَ عَنْهُ إِلَى مَا لَا جَرْحَ فِيهِ فَقَالَ أَخْبَرَنِي الثِّقَةُ فَلَا وَجْهَ لِمَنْ أَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ مَعَ ظُهُورِ الْعُذْرِ فِيهِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya asy-Syafi‘i telah berkata dalam beberapa hadis yang diriwayatkannya, “Telah mengabarkan kepadaku orang yang aku percaya,” dan “Telah mengabarkan kepadaku orang yang tidak aku tuduh,” maka dijawab: Telah masyhur siapa yang beliau maksudkan dengan ungkapan ini, dan bahwa yang beliau maksud dengan “orang yang aku percaya” adalah Ibrahim bin Isma‘il, sehingga hal itu menjadi seperti penyebutan namanya. Meskipun yang lebih utama adalah beliau menyebutkan namanya secara jelas, namun terkadang pada saat meriwayatkan hadis, nama perawi tersebut samar baginya, padahal ia adalah salah satu dari beberapa orang yang terpercaya. Maka, boleh jadi ia menyebutkan nama seseorang yang ia belum yakin sepenuhnya tentang kebenarannya, sehingga ia berpaling dari penyebutan nama itu kepada ungkapan yang tidak mengandung celaan, lalu ia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku orang yang terpercaya.” Maka, tidak ada alasan bagi siapa pun dari kalangan ahli hadis untuk mengingkari hal itu darinya, mengingat jelasnya alasan dalam hal ini.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَعْرِفَ عَدَالَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الرُّوَاةِ حَتَّى يَتَّصِلَ ذَلِكَ بِالصَّحَابَةِ.

Syarat ketiga: mengetahui keadilan setiap perawi hingga bersambung kepada para sahabat.

وَلَيْسَتْ رِوَايَةُ الْعَدْلِ عَنْ غَيْرِهِ دَلِيلًا عَلَى عَدَالَتِهِ، قَدْ يَرْوِي الْعَدْلُ عَنْ عَدْلٍ أَوْ غَيْرِ عَدْلٍ، هَذَا الشَّعْبِيُّ يَقُولُ فِي رِوَايَتِهِ: ” حَدَّثَنِي الْحَارِثُ الْأَعْوَرُ وَكَانَ وَاللَّهِ كَذَّابًا “.

Riwayat seorang yang ‘adl (adil) dari orang lain bukanlah bukti atas keadilan orang yang diriwayatkan darinya; bisa saja seorang yang ‘adl meriwayatkan dari orang yang ‘adl maupun dari yang tidak ‘adl. Inilah asy-Sya‘bi yang berkata dalam salah satu riwayatnya: “Al-Harits al-A‘war telah menceritakan kepadaku, dan demi Allah, dia adalah seorang pendusta.”

فَإِنْ قِيلَ أَفَيَجُوزُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْ غَيْرِ عَدْلٍ، قِيلَ يَجُوزُ فِي الْمَشَاهِيرِ وَلَا يَجُوزُ فِي الْمَنَاكِيرِ.

Jika ditanyakan, “Apakah boleh meriwayatkan dari selain orang yang ‘adl (adil)?” Maka dijawab, “Boleh dalam hal yang masyhur, dan tidak boleh dalam hal yang munkar.”

وَيَجُوزُ أَنْ يَرْوِيَ الْمُتَقَدِّمُ عَنِ الْمُتَأَخِّرِ، قَدْ رَوَى ابْنُ سِيرِينَ عَنْ خَالِدٍ الْحِذَاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ حَدِيثَ الْقُرْعَةِ، وَسَمِعَ إِبْرَاهِيمُ عَنِ الْأَعْمَشِ حَدِيثَ قِيَامِ الْمَأْمُومِ عَنْ يمين الْإِمَامِ.

Boleh saja seorang yang lebih dahulu meriwayatkan dari yang lebih belakangan; Ibnu Sirin telah meriwayatkan dari Khalid al-Hidza’ dari Abu Qilabah tentang hadits undian, dan Ibrahim telah mendengar dari al-A‘mash tentang hadits berdirinya makmum di sebelah kanan imam.

وَإِنْ كَانَتْ عَدَالَةُ الرُّوَاةِ شَرْطًا فِي صِحَّةِ الْحَدِيثِ لَمْ يَخْلُ حَالُهُمْ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ.

Dan jika keadilan para perawi merupakan syarat dalam kesahihan hadis, maka keadaan mereka tidak lepas dari tiga golongan.

أَحَدُهَا: أَنْ تُعْلَمَ عَدَالَتُهُمْ فَيُحْكَمُ بِصِحَّةِ الْحَدِيثِ.

Pertama: Diketahui keadilan mereka, maka diputuskan bahwa hadis tersebut sahih.

وَالثَّانِي: أَنْ يُعْلَمَ جَرْحُهُمْ أَوْ جَرْحُ أَحَدِهِمْ فَلَا يُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ.

Kedua: Jika diketahui adanya cacat pada mereka atau pada salah satu dari mereka, maka tidak dapat dihukumi sebagai sah.

وَالثَّالِثُ: أَنْ تُجْهَلَ أَحْوَالُهُمْ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ فَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ رِوَايَتَهُمْ مَقْبُولَةٌ مَا لَمْ يُعْلَمِ الْجَرْحُ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَا تُقْبَلُ مَا لَمْ يُعْلَمِ التَّعْدِيلُ، فَيُكْشَفُ عَنْ عَدَالَتِهِمْ.

Ketiga: Jika keadaan mereka dalam hal jarh (kritik) dan ta‘dil (pujian) tidak diketahui, maka menurut Abu Hanifah, riwayat mereka diterima selama tidak diketahui adanya jarh, sedangkan menurut asy-Syafi‘i, tidak diterima kecuali telah diketahui adanya ta‘dil, sehingga harus diteliti keadilan mereka.

فَإِنْ شَهِدَ قَوْمٌ بِعَدَالَتِهِمْ وَشَهِدَ قَوْمٌ بِجَرْحِهِمْ حُكِمَ بِالْجَرْحِ دُونَ التَّعْدِيلِ.

Jika suatu kaum bersaksi tentang keadilan mereka dan kaum lain bersaksi tentang celaan mereka, maka yang diputuskan adalah berdasarkan celaan, bukan keadilan.

وَلَا يُقْبَلُ الْجَرْحُ حَتَّى يُذْكَرَ مَا صَارَ بِهِ مَجْرُوحًا.

Dan jarh (kritik) tidak diterima sampai disebutkan sebab yang menjadikan seseorang itu terkena jarh.

فَإِنْ وَجَدُوهُ قَدْ كَذَبَ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ وَجَبَ إِسْقَاطُ جَمِيعِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ أَحَادِيثِهِ وَوَجَبَ نَقْضُ مَا عُمِلَ بِهِ مِنْهَا، وَإِنْ لَمْ يُنْقَضِ الْحُكْمُ بِشَهَادَةِ مَنْ حَدَثَ فِسْقُهُ لِأَنَّ الْحَدِيثَ حُجَّةٌ لَازِمَةٌ لِجَمِيعِ النَّاسِ، وَفِي جَمِيعِ الْأَعْصَارِ فَكَانَ حُكْمُهُ أَغْلَظَ مِنَ الشَّهَادَةِ الْخَاصَّةِ. وَفِي تَعْدِيلِ الرَّاوِي وَجْهَانِ:

Jika mereka mendapati bahwa ia telah berdusta dalam satu hadis saja, maka wajib menggugurkan seluruh hadis-hadisnya yang telah lalu dan wajib membatalkan apa yang telah diamalkan darinya. Meskipun hukum tidak dibatalkan dengan kesaksian seseorang yang kemudian menjadi fasik, karena hadis adalah hujjah yang mengikat bagi seluruh manusia dan di setiap masa, maka hukumnya lebih kuat daripada kesaksian khusus. Dalam penilaian keadilan perawi terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَجْرِيَ مَجْرَى الْخَبَرِ، لِأَنَّهُ دَاخِلٌ فِي عُمُومِ الْأَخْبَارِ فَعَلَى هَذَا يُقْبَلُ فِي عَدَالَتِهِ خَبَرُ الْوَاحِدِ، وَيَجُوزُ أَنْ يُقْبَلَ فِيهِ خَبَرُ الْمُحَدِّثِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu diperlakukan seperti khabar, karena termasuk dalam keumuman khabar. Dengan demikian, dalam hal keadilan, khabar al-wāḥid dapat diterima, dan boleh juga diterima khabar dari seorang muḥaddits.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يَجْرِي مَجْرَى الشَّهَادَةِ، لِأَنَّهُ حُكْمٌ عَلَى غَائِبٍ فَعَلَى هَذَا لَا يُقْبَلُ فِي تَعْدِيلِهِ أَقَلُّ مِنْ شَاهِدَيْنِ.

Pendapat kedua: bahwa hal itu diperlakukan seperti kesaksian, karena merupakan penetapan hukum terhadap sesuatu yang tidak hadir. Oleh karena itu, dalam menetapkan keadilannya tidak diterima kurang dari dua orang saksi.

وَفِي جَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْمُحَدِّثُ أَحَدَهُمَا وَجْهَانِ، كَمَا لَوْ عَدَلَ شُهُودُ الْفَرْعِ لِشُهُودِ الْأَصْلِ.

Dalam kebolehan bahwa seorang muhaddits boleh menjadi salah satu dari keduanya terdapat dua pendapat, sebagaimana jika para saksi cabang menggantikan para saksi asal.

فَأَمَّا الْجَرْحُ فَلَا يُقْبَلُ فِيهِ أَقَلُّ مِنْ شَاهِدَيْنِ، لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ عَلَى بَاطِنٍ مَغِيبٍ.

Adapun jarḥ, maka tidak diterima di dalamnya kurang dari dua orang saksi, karena hal itu merupakan kesaksian atas sesuatu yang tersembunyi dan tidak tampak.

فَأَمَّا الصَّحَابَةُ فَلَيْسَ يُعْتَبَرُ فِيهِمْ إِلَّا صِحَّةُ صُحْبَتِهِمْ وَإِذَا صَحَّتِ الصُّحْبَةُ قُبِلَتْ أَحَادِيثُهُمْ إِذَا خَرَجُوا عَمَّنِ اشْتُهِرَ بِالنِّفَاقِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اختار لرسوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَنْ رَضِيَ عَنْهُمْ وَوَصَفَهُمْ بِالرَّأْفَةِ وَالرَّحْمَةِ بَيْنَهُمْ فَقَالَ تَعَالَى {رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يبتغون فضلا من الله ورضوانا} [الفتح: 29] .

Adapun para sahabat, maka yang dipertimbangkan dari mereka hanyalah keshahihan persahabatan mereka. Jika persahabatan itu telah sah, maka hadis-hadis mereka diterima selama mereka tidak meriwayatkan dari orang yang terkenal dengan kemunafikan. Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah memilih untuk Rasul-Nya —shallallahu ‘alaihi wa sallam— orang-orang yang Dia ridai atas mereka dan Dia sifatkan mereka dengan kasih sayang dan rahmat di antara mereka, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Mereka saling berkasih sayang di antara mereka; kamu melihat mereka ruku‘ dan sujud, mencari karunia dan keridaan Allah.” (QS. Al-Fath: 29).

( [القول فيمن عرف من الرواة بالتدليس] )

(Pembahasan tentang perawi yang dikenal melakukan tadlīs)

وَأَمَّا مَنْ عُرِفَ مِنَ الرُّوَاةِ بِالتَّدْلِيسِ فَصِنْفَانِ:

Adapun perawi yang dikenal melakukan tadlīs, maka terbagi menjadi dua golongan:

أَحَدُهُمَا: مَنْ عُرِفَ بِتَدْلِيسِ مُتُونِ الْأَحَادِيثِ فَهَذَا مُطْرَحُ الْأَحَادِيثِ مَجْرُوحُ الْعَدَالَةِ وَهُوَ مِمَّنْ يُحَرِّفُ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ فَكَانَ بِالتَّكْذِيبِ أَحَقَّ.

Salah satunya: Orang yang dikenal melakukan tadlīs pada matan hadis, maka hadis-hadisnya ditolak, keadilannya tercela, dan ia termasuk orang yang memutarbalikkan kata-kata dari tempatnya, sehingga ia lebih layak untuk dianggap sebagai pendusta.

وَالصِّنْفُ الثَّانِي: مَنْ عُرِفَ مِنْهُ تَدْلِيسُ الرُّوَاةِ مَعَ صِدْقِهِ فِي الْمُتُونِ فَقَدْ حُكِيَ أَنَّ شُرَيْحًا وَهُشَيْمًا وَالْأَعْمَشَ كَانُوا مُدَلِّسِينَ، وَقِيلَ إِنَّ التَّدْلِيسَ فِي أَهْلِ الْكُوفَةِ أَشْهَرُ مِنْهُ فِي أَهْلِ الْبَصْرَةِ وَاتُّهِمَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ بِالتَّدْلِيسِ فِي حَدِيثٍ رَوَاهُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ وَكَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ فِي ذَلِكَ الْحَدِيثِ ثَلَاثَةُ رِجَالٍ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ الرِّوَايَةِ عَنْهُ مَنْ حَدَّثَكَ بِهَذَا فَقَالَ حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ عَنْ أَبِي عَاصِمٍ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَمْرٍو فَأَعَلَّهُ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ لِأَجْلِ هَذَا وَنَسَبَهُ إِلَى التَّدْلِيسِ وَإِنْ كَانَ ثِقَةً عَدْلًا.

Golongan kedua: yaitu orang yang diketahui melakukan tadlīs perawi meskipun ia jujur dalam matan. Telah disebutkan bahwa Syuraih, Hasyim, dan Al-A‘mash adalah para mudallis. Dikatakan pula bahwa tadlīs di kalangan penduduk Kufah lebih terkenal daripada di kalangan penduduk Bashrah. Sufyan bin ‘Uyainah juga pernah dituduh melakukan tadlīs dalam sebuah hadis yang ia riwayatkan dari ‘Amr bin Dinar, padahal antara dia dan ‘Amr bin Dinar dalam hadis tersebut terdapat tiga orang perawi. Setelah ia meriwayatkan hadis itu, ia ditanya, “Siapa yang memberitahumu hadis ini?” Ia menjawab, “Ali bin Al-Madini telah menceritakan kepadaku, dari Abu ‘Ashim, dari Ibnu Juraij, dari ‘Amr.” Maka sebagian ahli hadis melemahkan hadis tersebut karena sebab ini dan menisbatkannya kepada tadlīs, meskipun ia adalah seorang yang tsiqah dan adil.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يَخْلُ حَالُ التَّدْلِيسِ فِي أَسْمَاءِ الرُّوَاةِ مِنْ إِحْدَى حَالَتَيْنِ:

Jika demikian, maka keadaan tadlīs dalam nama-nama para perawi tidak lepas dari dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي إِبْدَالِ الْأَسْمَاءِ بِغَيْرِهَا فَيَعْدِلُ عَنِ اسْمِ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ يُسَمِّيهِ بِعُمَرَ بْنِ بَكْرٍ لِنُزُولِ مَنْ عَدَلَ عَنِ اسْمِهِ وَارْتِفَاعِ مَنْ عَدَلَ إِلَى اسمه فهذا كذب يرد به حديثه.

Salah satunya adalah mengganti nama dengan nama lain, misalnya mengubah nama Zaid bin Khalid dan menamainya dengan Umar bin Bakr, karena turunnya derajat orang yang namanya diubah dan naiknya derajat orang yang namanya dipakai. Maka ini adalah kebohongan yang menyebabkan hadisnya ditolak.

والحال الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ التَّدْلِيسُ فِي إطرَاحِ اسْمِ الرَّاوِي الْأَقْرَبِ وَإِضَافَةِ الْحَدِيثِ إِلَى مَنْ هُوَ أَبْعَدُ كَالَّذِي حُكِيَ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ فِي حَدِيثِهِ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ وَبَيْنَهُمَا فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ رِجَالٌ وَإِنْ سُمِعَ مِنْهُ فِي أَكْثَرِهَا فَلَا يَكُونُ بِهَذَا التَّدْلِيسِ مَجْرُوحًا وَلَكِنْ لَا يُقْبَلُ حَدِيثُهُ إِذَا رَوَى عَنْ فُلَانٍ حَتَّى يَقُولَ ” حَدَّثَنِي ” أَوْ ” أَخْبَرَنِي ” لِأَنَّ إِطْلَاقَهُ يَحْتَمِلُ التَّدْلِيسَ فَإِذَا قَالَ حَدَّثَنِي أَوْ أَخْبَرَنِي ارْتَفَعَ احْتِمَالُ التَّدْلِيسِ فَقُبِلَ حَدِيثُهُ.

Keadaan yang kedua: yaitu apabila tadlīs terjadi dengan menghilangkan nama perawi yang lebih dekat dan menisbatkan hadis kepada orang yang lebih jauh, seperti yang diriwayatkan dari Sufyān bin ‘Uyainah dalam hadisnya dari ‘Amr bin Dīnār, padahal di antara keduanya dalam sebagian hadis terdapat beberapa perawi. Meskipun ia memang mendengar dari ‘Amr bin Dīnār dalam kebanyakan hadis, maka dengan tadlīs seperti ini ia tidak dianggap cacat, namun hadisnya tidak diterima jika ia meriwayatkan dari seseorang kecuali jika ia mengatakan “haddatsanī” atau “akhbaranī”, karena jika ia hanya menyebutkan secara umum, maka masih ada kemungkinan terjadi tadlīs. Jika ia mengatakan “haddatsanī” atau “akhbaranī”, maka kemungkinan tadlīs itu hilang, sehingga hadisnya dapat diterima.

وَشَدَّدَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ حَالَ الْمُدَلِّسِ فَلَمْ يَقْبَلْ حَدِيثَهُ حَتَّى يَقُولَ سَمِعْتُ وَلَا يَقْبَلُهُ إِذَا قَالَ ” حَدَّثَنِي ” أوَ ” أَخْبَرَنِي “. كَمَا لَا يَقْبَلُهُ إِذَا رَوَى عَنْ فُلَانٍ.

Sebagian ulama ahli hadis memperketat keadaan perawi mudallis, sehingga mereka tidak menerima hadisnya kecuali jika ia mengatakan “saya mendengar”, dan tidak menerimanya jika ia mengatakan “telah menceritakan kepadaku” atau “telah mengabarkan kepadaku”. Demikian pula, mereka tidak menerimanya jika ia meriwayatkan dari seseorang dengan lafaz “dari fulan”.

وَلَوْ كَانَ مَوْثُوقًا بِأَنَّهُ لَا يُدَلِّسُ سُمِعَتْ رِوَايَتُهُ عَنْ فُلَانٍ وَإِنْ لَمْ يَقُلْ ” حَدَّثَنِي ” أَوْ ” أَخْبَرَنِي ” كَمَا تُقْبَلُ مِنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عمر.

Dan jika seseorang itu terpercaya bahwa ia tidak melakukan tadlīs, maka riwayatnya dari seseorang dapat diterima meskipun ia tidak mengatakan “haddatsanī” atau “akhbaranī”, sebagaimana diterima riwayat dari Mālik dari Nāfi‘ dari Ibnu ‘Umar.

(فصل: [القول في أحوال نقل السماع] )

Bab: (Pembahasan tentang keadaan-keadaan dalam meriwayatkan pendengaran)

وَأَمَّا الْفَصْلُ الْخَامِسُ فِي نَقْلِ السَّمَاعِ: فَلِلرَّاوِي فِي نَقْلِ سَمَاعِهِ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ: أَحَدُهَا: أَنْ يَرْوِيَ مَا سَمِعَهُ بِأَلْفَاظِهِ وَعَلَى صِيغَتِهِ. وَالثَّانِي: أَنْ يَرْوِيَ مَعْنَاهُ بِغَيْرِ لَفْظِهِ. وَالثَّالِثُ: أَنْ يُنْقِصَ مِنْهُ. وَالرَّابِعُ: أَنْ يَزِيدَ عَلَيْهِ.

Adapun bagian kelima tentang pemindahan pendengaran: bagi perawi dalam memindahkan pendengarannya terdapat empat keadaan: Pertama, ia meriwayatkan apa yang didengarnya dengan lafaz dan redaksi aslinya. Kedua, ia meriwayatkan maknanya dengan lafaz yang berbeda. Ketiga, ia mengurangi sebagian darinya. Keempat, ia menambah atasnya.

فَأَمَّا الْحَالُ الْأُولَى فِي رِوَايَتِهِ لِلَفْظِ الْحَدِيثِ عَلَى صِيغَتِهِ فَلَا يَخْلُو مَصْدَرُهُ مِنَ الرَّسُولِ أَنْ يَكُونَ ابْتِدَاءً أَوْ جَوَابًا.

Adapun keadaan pertama dalam meriwayatkan lafaz hadis sesuai redaksinya, maka sumbernya dari Rasul tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa berupa pernyataan awal atau sebagai jawaban.

فَإنْ كَانَ ابْتِدَاءً وَحَكَاهُ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَمَانَةِ فِيهِ كَقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الْوُضُوءُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ “.

Jika hal itu berupa permulaan dan ia menyampaikannya setelah menunaikan amanah dalam hal tersebut, seperti sabda Nabi ﷺ: “Kunci shalat adalah wudhu, yang mengharamkannya adalah takbir, dan yang menghalalkannya adalah salam.”

وَإِنْ كَانَ جَوَابًا عَنْ سُؤَالٍ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Dan jika merupakan jawaban atas suatu pertanyaan, maka terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْجَوَابُ مُغْنِيًا عَنْ ذِكْرِ السُّؤَالِ كَمَا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ التَّوَضُّؤِ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ: ” هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ” فَالرَّاوِي فِيهِ مُخَيَّرٌ بَيْنَ ذِكْرِ السُّؤَالِ وَبَيْنَ تَرْكِهِ، وَإِنْ كَانَ ذِكْرُهُ أَوْلَى مِنْ تَرْكِهِ.

Salah satunya: Jawaban dapat mencukupi tanpa menyebutkan pertanyaan, seperti ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang berwudu dengan air laut, beliau bersabda: “Airnya suci, bangkainya halal.” Dalam hal ini, perawi diberi pilihan antara menyebutkan pertanyaannya atau tidak, meskipun menyebutkannya lebih utama daripada tidak menyebutkannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَفْتَقِرَ الْجَوَابُ إِلَى ذِكْرِ السُّؤَالِ كَمَا سُئِلَ عَنْ بَيْعِ الرُّطَبِ بِالتَّمْرِ فَقَالَ: ” أَيَنْقُصُ إِذَا يَبِسَ؟ ” قِيلَ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَلَا إِذَنْ “.

Jenis kedua: yaitu ketika jawaban membutuhkan penyebutan pertanyaan, seperti ketika seseorang ditanya tentang jual beli ruthab (kurma basah) dengan tamr (kurma kering), lalu ia berkata: “Apakah akan berkurang jika sudah kering?” Dijawab: “Ya.” Ia pun berkata: “Kalau begitu, tidak boleh.”

فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى رِوَايَةِ الْجَوَابِ حَتَّى يَذْكُرَ السُّؤَالَ؛ لِأَنَّ قَوْلَهُ ” فَلَا إِذَنْ ” لَا يُفْهَمُ إِلَّا بِذِكْرِ السُّؤَالِ.

Maka tidak boleh hanya meriwayatkan jawaban saja tanpa menyebutkan pertanyaannya; karena ucapan “maka tidak boleh” tidak dapat dipahami kecuali dengan menyebutkan pertanyaannya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ إِطْلَاقُ الْجَوَابِ يَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ فَإِذَا نُقِلَ السُّؤَالُ نُفِيَ أَحَدُ الِاحْتِمَالَيْنِ كَمَا سُئِلَ عَنِ الشَّاةِ تُذْبَحُ فَيُوجَدُ فِي جَوْفِهَا جَنِينٌ مَيِّتٌ أَفَيُؤْكَلُ؟ فَقَالَ: ” ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهُ ” لَوْ قَالَهُ ابْتِدَاءً لَاحْتَمَلَ أَنْ تَكُونَ ذَكَاتُهُ مِثْلَ ذَكَاةِ أُمِّهِ. وَاحْتَمَلَ أَنْ يُسْتَبَاحَ بِذَكَاةِ أُمِّهِ، وَإِذَا ذُكِرَ السُّؤَالُ صَارَ الْجَوَابُ مَحْمُولًا عَلَى أَنَّهُ يُسْتَبَاحُ بِذَكَاةِ أُمِّهِ فَيَكُونُ الْإِخْلَالُ بِذِكْرِ السُّؤَالِ تَقْصِيرًا فِي الْبَيَانِ يُكْرَهُ وَإِنْ لَمْ يَلْزَمْ.

Jenis yang ketiga: Yaitu ketika jawaban yang diberikan secara umum mengandung dua kemungkinan. Namun, jika pertanyaan disebutkan, maka salah satu kemungkinan tersebut menjadi gugur. Misalnya, seseorang ditanya tentang seekor kambing yang disembelih lalu ditemukan di dalam perutnya janin yang sudah mati, apakah boleh dimakan? Maka dijawab: “Penyembelihan janin adalah penyembelihan induknya.” Jika kalimat ini diucapkan tanpa konteks pertanyaan, bisa jadi maksudnya adalah penyembelihan janin sama seperti penyembelihan induknya, atau bisa juga maksudnya janin itu menjadi halal dengan penyembelihan induknya. Namun, jika pertanyaannya disebutkan, maka jawaban tersebut dipahami bahwa janin itu menjadi halal dengan penyembelihan induknya. Maka, menghilangkan penyebutan pertanyaan merupakan kekurangan dalam penjelasan yang makruh dilakukan, meskipun tidak sampai wajib dihindari.

وَيَسْتَوِي فِي هَذَا مَنْ هُوَ أَصْلُ الْخَبَرِ كَالصَّحَابِيِّ وَمَنْ قَدْ تَفَرَّعَ عَلَيْهِ مِنَ التَّابِعِينَ ومن دونهم.

Dalam hal ini, sama saja antara orang yang menjadi sumber utama hadis seperti sahabat, maupun mereka yang mengikuti setelahnya dari kalangan tabi‘in dan generasi setelah mereka.

( [رواية الحديث بالمعنى] )

(Riwayat hadis dengan makna)

وَأَمَّا الْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَرْوِيَ مَعْنَى الْحَدِيثِ بِغَيْرِ لَفْظِهِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun keadaan kedua: yaitu seseorang meriwayatkan makna hadits dengan selain lafazhnya, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي كَقَوْلِهِ: ” لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا سَوَاءً بِسَوَاءٍ ” فَيُرْوَى أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ إِلَّا سَوَاءً بِسَوَاءٍ وَكَقَوْلِهِ: ” اقْتُلُوا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ ” فَرُوِيَ أَنَّهُ أَمَرَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ فَهَذَا جَائِزٌ، لِأَنَّ (افْعَلْ) أَمْرٌ وَ (لَا تَفْعَلْ) نَهْيٌ فَاسْتَوَيَا فِي الْخَبَرِ وَكَانَ الرَّاوِي فِيهِمَا مُخَيَّرًا.

Salah satunya: yaitu dalam perintah dan larangan, seperti sabda beliau: “Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama dengan sama.” Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang menjual emas dengan emas kecuali sama dengan sama. Dan seperti sabda beliau: “Bunuhlah dua yang hitam dalam salat.” Diriwayatkan bahwa beliau memerintahkan membunuh dua yang hitam dalam salat. Maka hal ini diperbolehkan, karena (if‘al) adalah perintah dan (lā taf‘al) adalah larangan, keduanya setara dalam bentuk khabar, dan perawi dalam keduanya diberi kebebasan memilih.

وَيَسْتَوِي فِي هَذَا التَّخَيُّرِ مَنْ كَانَ أَصْلُ الْخَبَرِ كَالصَّحَابَةِ وَمَنْ صَارَ فَرْعًا فِيهِ كَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ.

Dalam hal kebolehan memilih ini, sama saja antara orang yang merupakan sumber asal kabar seperti para sahabat, maupun yang menjadi cabang di dalamnya seperti para tabi‘in dan generasi setelah mereka.

الضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي نَقْلِ كَلَامٍ قَالَهُ بِأَلْفَاظٍ وَيَكُونُ الْكَلَامُ مُحْتَمِلَ الْأَلْفَاظِ أَوْ خَفِيَّ الْمَعْنَى كَقَوْلِهِ ” لَا طَلَاقَ فِي إِغْلَاقٍ “.

Jenis kedua: yaitu dalam menukil suatu perkataan yang diucapkan dengan lafaz tertentu, dan perkataan tersebut mengandung kemungkinan makna lafaz yang berbeda atau maknanya samar, seperti ucapannya: “Tidak ada talak dalam keadaan iglāq.”

فَوَاجِبٌ عَلَى الرَّاوِي أَنْ يَنْقُلَهُ بِلَفْظِهِ، وَلَا يُعَبِّرَ عَنْهُ بِغَيْرِهِ لِيَكُونَ عَلَى مَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الِاحْتِمَالِ وَالْخَفَاءِ فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ مُحْتَمَلًا ولا خفيا إلا لمصلحة وليكل اسْتِنْبَاطَهُ إِلَى الْعُلَمَاءِ.

Maka wajib bagi perawi untuk meriwayatkannya dengan lafaz aslinya, dan tidak mengungkapkannya dengan lafaz lain, agar tetap sebagaimana adanya, baik dalam hal kemungkinan makna maupun kesamarannya. Sebab, tidaklah ia menyebutkannya dalam bentuk yang mengandung kemungkinan makna atau samar kecuali karena suatu maslahat, dan hendaknya penarikan kesimpulannya diserahkan kepada para ulama.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْمَعْنَى جَلِيًّا غَيْرَ مُحْتَمَلٍ كَقَوْلِهِ: ” الْخَيْرُ كَثِيرٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ ” فَلَا يَجُوزُ لِمَنْ يَسْمَعُ كَلَامَهُ مِنَ التَّابِعِيِنَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ أَنْ يُورِدَ الْمَعْنَى بِغَيْرِ لَفْظِهِ حَتَّى يَنْقُلَ اللَّفْظَ عَلَى صِيغَتِهِ فَيُورِدَ الْمَعْنَى بِأَلْفَاظِهِ.

Jenis ketiga: yaitu makna yang jelas dan tidak mengandung kemungkinan lain, seperti ucapannya: “Kebaikan itu banyak dan sedikit yang melakukannya.” Maka tidak boleh bagi siapa pun yang mendengar perkataannya dari kalangan tabi‘in dan setelah mereka untuk menyampaikan makna tersebut dengan lafaz selain lafaz aslinya, sampai ia memindahkan lafaz itu sesuai bentuknya, sehingga ia menyampaikan makna tersebut dengan lafaz-lafaz aslinya.

وَهَلْ يَجُوزُ لِمَنْ شَاهَدَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَعَرِفَ مَخْرَجَ كَلَامِهِ أَنْ يُورِدَ الْمَعْنَى بِغَيْرِ لَفْظِهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ: اخْتَلَفَ فِيهِمَا أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ:

Apakah boleh bagi sahabat yang menyaksikan (Nabi) dan mengetahui maksud ucapannya untuk menyampaikan maknanya dengan lafaz yang berbeda? Ada dua pendapat dalam hal ini; para pengikut Imam Syafi‘i berbeda pendapat mengenai keduanya.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ كَمَا لَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ مِنَ التَّابِعِينَ.

Salah satunya: tidak diperbolehkan, sebagaimana tidak diperbolehkan pula bagi selainnya dari kalangan tabi‘in.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ لِغَيْرِهِ لِأَنَّهُ أَعْرَفُ بِفَحْوَاهُ مِنْ غَيْرِهِ.

Pendapat kedua: Boleh, meskipun tidak boleh bagi selainnya, karena ia lebih mengetahui maksudnya daripada orang lain.

وَالَّذِي أَرَاهُ أَنَّهُ إِنْ كَانَ يَحْفَظُ اللَّفْظَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَرْوِيَهُ بِغَيْرِ أَلْفَاظِهِ لِأَنَّ فِي كَلَامِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنَ الْفَصَاحَةِ مَا لَا يُوجَدُ فِي كَلَامِ غَيْرِهِ، وَإِنْ لَمْ يُحَفَظِ اللَّفْظُ جَازَ أَنْ يُورِدَ مَعْنَاهُ بِغَيْرِ لَفْظِهِ، لِأَنَّ الرَّاوِيَ قَدْ تَحَمَّلَ أَمْرَيْنِ اللَّفْظَ وَالْمَعْنَى؛ فَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِمَا لَزِمَهُ أَدَاؤُهُمَا وَإِنْ عَجَزَ عَنِ اللَّفْظِ وَقَدَرَ عَلَى الْمَعْنَى لَزِمَهُ أَدَاؤُهُ لِئَلَّا يَكُونَ مُقَصِّرًا فِي نَقْلِ مَا تَحَمَّلَ فَرُبَّمَا تَعَلَّقَ بِالْمَعْنَى مِنَ الْأَحْكَامِ مَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْتُمَهُ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى {وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةِ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ} [البقرة: 283] .

Pendapat yang aku anggap benar adalah bahwa jika seseorang menghafal lafaz (hadis), maka tidak boleh meriwayatkannya dengan lafaz selain aslinya, karena dalam ucapan Rasulullah ﷺ terdapat kefasihan yang tidak ditemukan dalam ucapan selain beliau. Namun, jika lafaznya tidak dihafal, maka boleh meriwayatkan maknanya dengan lafaz yang berbeda, karena perawi telah memikul dua hal: lafaz dan makna. Jika ia mampu menyampaikan keduanya, maka wajib baginya menyampaikannya; dan jika ia tidak mampu menyampaikan lafaznya namun mampu menyampaikan maknanya, maka wajib baginya menyampaikan maknanya, agar ia tidak dianggap lalai dalam menyampaikan apa yang telah ia pikul. Sebab, bisa jadi terdapat hukum-hukum yang terkait dengan makna tersebut yang tidak boleh disembunyikan. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah: 283).

وَأَمَّا الْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُنْقِصَ مِنْ أَلْفَاظِ الْخَبَرِ: فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ.

Adapun keadaan yang ketiga: yaitu mengurangi lafaz dari khabar, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam.

أَحَدُهَا: أَنْ يَصِيرَ الْبَاقِي مِنْهُ مَبْتُورًا لَا يُفْهَمُ مَعْنَاهُ فَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ مِنْهُ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَسْتَوْفِيَهُ لِيُتِمَّ فَائِدَةَ الْخَبَرِ.

Salah satunya: jika bagian yang tersisa darinya menjadi terputus sehingga maknanya tidak dapat dipahami, maka hal itu tidak sah darinya, dan ia wajib menyempurnakannya agar manfaat dari berita tersebut menjadi sempurna.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْبَاقِي مَفْهُومًا لَكِنْ يَكُونُ ذِكْرُ الْمَتْرُوكِ يُوجِبُ اخْتِلَافَ الْحُكْمِ فِي الْمَذْكُورِ مِثْلُ قَوْلِهِ لِأَبِي بُرْدَةَ بْنِ ينار. وَقَدْ ضَحَّى قَبْلَ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ عِنْدَهُ مَا يَقْضِيهِ إِلَّا جَذَعَةً مِنَ الْمَعْزِ فَقَالَ ” تَجْزِيكَ وَلَا تَجْزِي أَحَدًا بَعْدَكَ ” فَلَوْ رَوَى النَّاقِلُ أَنَّهُ قَالَ: تَجْزِيكَ لَكَانَ مَفْهُومًا يَقْتَضِي أَنْ تَجْزِيَ جَمِيعَ النَّاسِ فَلَمَّا قَالَ: ” وَلَا تَجْزِي أَحَدًا بَعْدَكَ ” دَلَّ عَلَى اخْتِصَاصِ أَبِي بُرْدَةَ بِهَذَا الْحُكْمِ. فَلَزِمَ الرَّاوِي فِي مِثْلِ هَذَا الْخَبَرِ أَنْ يَرْوِيَ بَاقِيَ قَوْلِهِ، وَلَا يَقْتَصِرُ عَلَى الْأَوَّلِ وَإِنْ كَانَ مَفْهُومًا.

Jenis kedua: yaitu ketika bagian yang tersisa dapat dipahami, namun penyebutan bagian yang ditinggalkan menyebabkan perbedaan hukum pada bagian yang disebutkan. Contohnya adalah sabda Nabi kepada Abu Burdah bin Niyar, yang telah berkurban sebelum salat dan tidak memiliki hewan lain untuk menggantinya kecuali kambing muda, lalu Nabi bersabda: “Itu mencukupimu, tetapi tidak mencukupi siapa pun setelahmu.” Seandainya perawi hanya meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Itu mencukupimu,” maka hal itu dapat dipahami bahwa hukum tersebut berlaku untuk semua orang. Namun ketika Nabi bersabda: “dan tidak mencukupi siapa pun setelahmu,” hal itu menunjukkan kekhususan hukum tersebut bagi Abu Burdah. Maka wajib bagi perawi dalam hadis semacam ini untuk meriwayatkan seluruh perkataannya, dan tidak hanya terbatas pada bagian pertama meskipun bagian itu sudah dapat dipahami.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْبَاقِي مِنْهُ مَفْهُومَ الْمَعْنَى وَمُسْتَقِلَّ الْحُكْمِ كَقَوْلِهِ فِي الْبَحْرِ: ” هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ” فَيَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ فِي الرِّوَايَةِ عَلَى أَحَدِهِمَا فَيَرْوِي ” هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ ” أَوْ يَرْوِي ” هُوَ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ” لِأَنَّهُمَا حُكْمَانِ فَلَمْ يَلْزَمْهُ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي الرِّوَايَةِ إِلَّا أَنْ يَتَعَيَّنَ عَلَيْهِ فَرْضُ الْإِبْلَاغِ عِنْدَ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ فَيَلْزَمُهُ أَدَاءُ مَا تَحَمَّلَ كَالشَّاهِدِ.

Golongan ketiga: yaitu apabila bagian yang tersisa darinya memiliki makna yang jelas dan hukum yang berdiri sendiri, seperti sabda Nabi tentang air laut: “Airnya suci, bangkainya halal.” Maka boleh dalam periwayatan hanya menyebut salah satu dari keduanya, misalnya meriwayatkan “Airnya suci” saja, atau meriwayatkan “Bangkainya halal” saja, karena keduanya merupakan dua hukum yang terpisah, sehingga tidak wajib menggabungkan keduanya dalam periwayatan, kecuali jika ia diwajibkan untuk menyampaikan seluruhnya ketika ada kebutuhan, maka ia wajib menyampaikan apa yang ia terima, seperti seorang saksi.

وَأَمَّا الْحَالُ الرَّابِعَةُ: وَهُوَ أَنْ يَزِيدَ فِي الْخَبَرِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun keadaan keempat, yaitu menambah dalam khabar, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ شَرْحًا لِلْحَالِ كَمَا نَهَى عَنْ تَلَقِّي الرُّكْبَانِ وَأَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ يَزِيدُ فِيهِ ذِكْرَ السَّبَبِ الَّذِي دَعَاهُ إِلَى هَذَا الْقَوْلِ؛ فَيَصِحُّ هَذَا مِنَ الصَّحَابِيِّ لِأَنَّهُ قَدْ شَاهَدَ الْحَالَ وَلَا يَصِحُّ مِنَ التَّابِعِيِّ، لِأَنَّهُ لَمْ يُشَاهِدْهَا.

Salah satunya: penambahan tersebut berupa penjelasan tentang keadaan, seperti larangan menerima rombongan (pedagang) dan larangan seorang penduduk kota menjualkan barang untuk penduduk desa, yang di dalamnya ditambahkan penyebutan sebab yang mendorong sahabat untuk mengucapkan hal tersebut; maka hal ini sah dilakukan oleh sahabat karena ia telah menyaksikan keadaannya, namun tidak sah dilakukan oleh tabi‘in karena mereka tidak menyaksikannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الزِّيَادَةُ تَفْسِيرًا لِمَعْنَى الْكَلَامِ كَنَهْيِهِ عَنِ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ فَيَجُوزُ لِلرَّاوِي مِنْ صَحَابِيٍّ وَتَابِعِيٍّ أَنْ يُفَسِّرَ مَعْنَاهُمَا فِي رِوَايَتِهِ، فَتَصِيرُ الزِّيَادَةُ تَفْسِيرًا فَيَجُوزُ، لَكِنْ إِنْ فَسَّرَهَا الصَّحَابِيُّ. لَزِمَ قَبُولُ تَفْسِيرِهِ بِغَيْرِ دَلِيلٍ وَإِنْ فَسَّرَهَا التَّابِعِيُّ لَمْ يَلْزَمْ قَبُولُ تَفْسِيرِهِ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Jenis kedua: yaitu tambahan yang berupa penjelasan makna dari suatu ucapan, seperti larangan Nabi terhadap muhaqalah dan muzābanah. Maka, diperbolehkan bagi perawi dari kalangan sahabat maupun tabi’in untuk menjelaskan makna keduanya dalam riwayatnya, sehingga tambahan tersebut menjadi penjelasan dan hal itu dibolehkan. Namun, jika yang menjelaskannya adalah sahabat, maka wajib menerima penjelasannya tanpa memerlukan dalil. Sedangkan jika yang menjelaskannya adalah tabi’in, maka tidak wajib menerima penjelasannya kecuali disertai dalil.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنَّ تَخْرُجَ الزِّيَادَةُ عَنْ شَرْحِ السَّبَبِ وَتَفْسِيرِ الْمَعْنَى فَمَا هِيَ إِلَّا كَذِبٌ يَسِيرٌ قَدْ نَزَّهَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ صَحَابَةَ رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَقَدْ قَالَ ” مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “.

Jenis ketiga: yaitu apabila tambahan itu keluar dari penjelasan sebab dan penafsiran makna, maka itu tidak lain hanyalah kebohongan kecil yang Allah Ta‘ala telah mensucikan para sahabat Rasul-Nya – shallallahu ‘alaihi wa sallam – darinya. Dan beliau telah bersabda, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

فَهَذَا الْكَلَامُ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْفَصْلِ الْأَوَّلِ مِنْ أَحْكَامِ الرُّوَاةِ النَّاقِلِينَ لِلسُّنَّةِ.

Inilah pembahasan yang berkaitan dengan bab pertama dari hukum-hukum para perawi yang meriwayatkan sunnah.

(فَصْلٌ: [الْقَوْلُ فِي أَحْكَامِ الْمُتُونِ الْمَنْقُولَةِ أَوِ السنن المروية] )

Bagian: (Pembahasan tentang hukum-hukum matan yang dinukil atau sunah-sunah yang diriwayatkan)

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي مِنَ الْأَصْلِ فِي أَحْكَامِ الْمُتُونِ الْمَنْقُولَةِ أَوِ السُّنَنِ الْمَرْوِيَّةِ:

Adapun bagian kedua dari pokok dalam hukum-hukum matan yang dinukil atau sunah yang diriwayatkan:

فَجَمِيعُ مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّ كِتَابَ اللَّهِ يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ مِنَ الْأَقْسَامِ السِّتَّةِ وَهِيَ الْعُمُومُ وَالْخُصُوصُ، وَالْمُفَسَّرُ وَالْمُجْمَلُ، وَالْمُطْلَقُ وَالْمُقَيَّدُ، وَالْإِثْبَاتُ وَالنَّفْيُ، وَالْمُحْكَمُ، وَالْمُتَشَابِهُ، وَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسُوخُ، فَمِثْلُهَا مَوْجُودٌ فِي السُّنَّةِ، وَأَحْكَامُهَا فِي السُّنَّةِ عَلَى مَا شَرَحْنَاهُ مِنْ أَحْكَامِهَا في الكتاب.

Maka semua yang telah kami sebutkan bahwa Kitab Allah mencakup enam bagian, yaitu: umum dan khusus, mufassar dan mujmal, mutlak dan muqayyad, itsbat dan nafi, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, maka hal yang serupa juga terdapat dalam sunnah, dan hukum-hukumnya dalam sunnah sebagaimana telah kami jelaskan hukumnya dalam kitab.

تختص السُّنَّةُ بِأُصُولٍ تَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا: مَا تُؤْخَذُ مِنْهُ السُّنَّةُ. وَالثَّانِي: مَا يَجِبُ بَيَانُهُ بِالسُّنَّةِ وَالثَّالِثُ مَا يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهِ من السنة.

Sunnah memiliki prinsip-prinsip yang mencakup tiga bagian: Pertama, hal-hal yang darinya diambil sunnah. Kedua, hal-hal yang wajib dijelaskan melalui sunnah. Ketiga, hal-hal yang wajib diamalkan dari sunnah.

( [القول في مصادر السُّنَّةِ] )

(Pembahasan tentang sumber-sumber sunnah)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوْلُ فَمَا تُؤْخَذُ مِنْهُ السُّنَّةُ فَهُوَ مَأْخُوذٌ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: مِنْ قَوْلِهِ وَفِعْلِهِ وَإِقْرَارِهِ.

Adapun bagian pertama, yaitu sumber diambilnya sunnah, maka ia diambil dari Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melalui tiga cara: dari perkataannya, perbuatannya, dan persetujuannya.

( [أقوال الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -] )

( [Perkataan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -] )

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا أَقْوَالُهُ: فَمُطَاعٌ فِيهَا، قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: {أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ} [النساء: 59] .

Adapun perkataannya, maka wajib ditaati di dalamnya. Allah Ta‘ala berfirman: “Taatilah Allah, dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian.” (QS. an-Nisā’: 59).

وَهِيَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Dan ia terbagi menjadi empat jenis:

أَمْرٌ، وَنَهْيٌ، وَخَبَرٌ، وَاسْتِخْبَارٌ، فَيُطَاعُ فِي أَوَامِرِهِ، وَيُتَّبَعُ فِي نَوَاهِيهِ، وَيُصَدَّقُ فِي خَبَرِهِ، وَيُجَابُ عَلَى اسْتِخْبَارِهِ.

Perintah, larangan, berita, dan permintaan informasi; maka ditaati dalam perintah-perintahnya, diikuti dalam larangan-larangannya, dibenarkan dalam beritanya, dan dijawab atas permintaan informasinya.

ثُمَّ تَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ:

Kemudian terbagi menjadi dua bagian:

أَحَدُهُمَا: مَا ابْتَدَأَهُ.

Salah satunya adalah apa yang ia mulai sendiri.

وَالثَّانِي: مَا كَانَ جَوَابًا عَنْ سُؤَالٍ.

Yang kedua: yaitu apa yang merupakan jawaban atas suatu pertanyaan.

فَأَمَّا الْمُبْتَدَأُ مِنْ أَقْوَالِهِ فَيَشْتَمِلُ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ: عِبَادَاتٍ، وَمُعَامَلَاتٍ، وَتَرْغِيبٍ، وَتَرْهِيبٍ، وَتَأْدِيبٍ.

Adapun permulaan dari perkataannya mencakup lima bagian: ibadah, mu‘āmalah, targhīb, tarhīb, dan ta’dīb.

فَأَمَّا الْعِبَادَاتُ فَتَتَرَدَّدُ بَيْنَ وُجُوبٍ وَنَدْبٍ.

Adapun ibadah-ibadah itu terbagi antara yang wajib dan yang sunnah.

وَأَمَّا الْمُعَامَلَاتُ فَتَتَرَدَّدُ بَيْنَ إِبَاحَةٍ وَحَظْرٍ.

Adapun mu‘āmalāt, maka ia berada di antara kebolehan dan larangan.

وَأَمَّا التَّرْغِيبُ بِالثَّوَابِ فَدَاعٍ إِلَى الطَّاعَةِ.

Adapun anjuran dengan janji pahala, maka itu adalah pendorong untuk taat.

وَأَمَّا التَّرْهِيبُ بِالْعِقَابِ فَزَاجِرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ.

Adapun ancaman dengan hukuman adalah sebagai pencegah dari kemaksiatan.

وَأَمَّا التَّأْدِيبُ فَبَاعِثٌ عَلَى الْجُمْلَةِ وَالْأُلْفَةِ. وَبِهَذَا تَتِمُّ مَصَالِحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا.

Adapun ta’dib (pendidikan/penanaman adab) merupakan pendorong bagi persatuan dan kebersamaan. Dengan hal itu, kemaslahatan agama dan dunia dapat terwujud.

وَأَمَّا مَا كَانَ جوابا عن سؤال: فتنقسم ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun jawaban atas suatu pertanyaan, maka terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: مَا قَابَلَ السُّؤَالَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَيْهِ وَلَمْ يُنْقِصْ مِنْهُ كَمَا سُئِلَ عَنْ الِاسْتِطَاعَةِ فِي الْحَجِّ فَقَالَ: ” زَادٌ وَرَاحِلَةٌ ” وَهَذَا حَدُّ الْجَوَابِ أَنْ يَكُونَ مُطَابِقًا لِلسُّؤَالِ.

Salah satunya adalah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan, tidak melebihi dan tidak menguranginya, seperti ketika beliau ditanya tentang kemampuan (istithā‘ah) dalam haji, lalu beliau menjawab: “bekal dan kendaraan.” Inilah batasan jawaban, yaitu harus sesuai dengan pertanyaan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْجَوَابُ أَزْيَدَ مِنَ السُّؤَالِ كَمَا سُئِلَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ ” هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “. فَتَكُونُ الزِّيَادَةُ عَلَى السُّؤَالِ بَيَانَ شَرْعٍ مُبْتَدَأٍ.

Kedua: Jawaban itu lebih banyak daripada pertanyaan, seperti ketika seseorang ditanya tentang air laut, lalu beliau menjawab, “Airnya suci, bangkainya halal.” Maka tambahan atas pertanyaan itu merupakan penjelasan syariat yang baru.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْجَوَابُ أَنْقَصَ مِنَ السُّؤَالِ فَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Ketiga: Jika jawaban lebih sedikit daripada pertanyaan, maka ada empat keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ نُقْصَانُ الْجَوَابِ لِخَطَأِ السَّائِلِ فِي السُّؤَالِ كَمَا سُئِلَ عَمَّا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ: ” لَا يَلْبَسُ قَمِيصًا وَلَا عِمَامَةً “.

Pertama: Kekurangan dalam jawaban itu disebabkan oleh kesalahan penanya dalam mengajukan pertanyaan, seperti ketika seseorang ditanya tentang apa yang boleh dipakai oleh orang yang sedang ihram, lalu dijawab: “Ia tidak boleh memakai gamis dan tidak boleh memakai imamah (sorban).”

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ بَيَانٌ لِبَقِيَّةِ السُّؤَالِ كَمَا يَسْأَلُهُ عُمَرُ عَنِ الْكَلَالَةِ فَقَالَ: ” تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ “.

Keadaan kedua: yaitu terdapat penjelasan dalam Kitabullah untuk sisa pertanyaan, seperti ketika Umar bertanya tentang kalālah, lalu dikatakan kepadanya: “Cukuplah bagimu ayat musim panas.”

وَالثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ فِي بَعْضِ الْجَوَابِ تَنْبِيهٌ عَلَى بَقِيَّةِ الْجَوَابِ كَمَا سَأَلَهُ عُمَرُ عَنْ قُبْلَةِ الصَّائِمِ فَقَالَ ” أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ؟ “.

Ketiga: Dalam sebagian jawaban terdapat isyarat terhadap sisa jawaban, seperti ketika Umar bertanya kepada Nabi tentang mencium istri bagi orang yang berpuasa, lalu beliau bersabda, “Bagaimana menurutmu jika engkau berkumur-kumur?”

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ لِتَوَقُّفٍ عَنْهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَعَلُّقٌ بِالدِّيَانَاتِ لَمْ يَلْزَمْهُ إِتْمَامُ الْجَوَابِ، وَإِنْ تَعَلَّقَ بِالدِّيَانَاتِ لَزِمَهُ إِتْمَامُ الْجَوَابِ لِمَا فِيهِ مِنْ إِظْهَارِ دِينِ اللَّهِ فِيهِ، وَلَيْسَ يَتَوَقَّفُ إِلَّا لِيَتَوَقَّعَ أَمْرَ اللَّهِ وَبَيَانَهُ كَمَا سَأَلَهُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ عَنِ الْحَيْضِ فَتَوَقَّفَ حَتَّى نَزَلَ قَوْله تَعَالَى {وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى} [البقرة: 222] .

Keadaan keempat: yaitu jika seseorang berhenti menjawab karena menunggu, maka jika hal itu tidak berkaitan dengan urusan agama, ia tidak wajib menyempurnakan jawabannya. Namun jika berkaitan dengan urusan agama, ia wajib menyempurnakan jawabannya karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang agama Allah. Seseorang tidak akan menunggu kecuali untuk menantikan perintah Allah dan penjelasan-Nya, sebagaimana ketika Usaid bin Hudhair bertanya tentang haid, lalu Nabi menunggu hingga turun firman Allah Ta‘ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: itu adalah sesuatu yang kotor.” (Al-Baqarah: 222).

( [أفعال الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -] )

(Tindakan-tindakan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا أَفْعَالُ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَضَرْبَانِ:

Adapun perbuatan-perbuatan Rasulullah ﷺ, maka terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِالدِّيَانَاتِ كَمَأْكَلِهِ وَمَشْرَبِهِ وَمَلْبَسِهِ وَمَنَامِهِ فَيَدُلُّ فِعْلُهُ عَلَى الْإِبَاحَةِ دُونَ الْوُجُوبِ، لِأَنَّ أَفْعَالَهُ تَتَرَدَّدُ بَيْنَ الْحَسَنِ وَالْجَائِزِ وَلَا يَفْعَلُ مَا يَقْبُحُ فِي الْعَقْلِ أَوْ يُكْرَهُ فِي الشَّرْعِ، فَيَكُونُ التَّأَسِّي بِهِ أَبْرَكَ مِنَ الْمُخَالَفَةِ لَهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ} [الأحزاب: 21] إِلَّا أَنْ يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى اخْتِصَاصِهِ بِالْإِبَاحَةِ كَمَا خَصَّ فِي الْمُنَاكِحِ بِمَا حَظَّرَهُ عَلَى غَيْرِهِ فَلَا يَجُوزُ اتِّبَاعُهُ فِيهِ.

Pertama: Hal-hal yang tidak berkaitan dengan urusan agama, seperti makanan, minuman, pakaian, dan tidurnya. Maka perbuatan Nabi dalam hal ini menunjukkan kebolehan (ibāhah) dan bukan kewajiban, karena perbuatan beliau berkisar antara yang baik dan yang boleh, dan beliau tidak melakukan sesuatu yang tercela menurut akal atau yang dibenci menurut syariat. Maka meneladani beliau lebih utama daripada menyelisihinya. Allah Ta‘ala berfirman: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21), kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kekhususan beliau dalam kebolehan itu, seperti dalam urusan pernikahan yang beliau khususkan untuk dirinya dan diharamkan bagi selainnya, maka tidak boleh mengikutinya dalam hal tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا اخْتَصَّ بِالدِّيَانَاتِ فَلَهُ فِيهَا ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ:

Jenis kedua: yaitu yang khusus berkaitan dengan urusan agama, maka dalam hal ini terdapat tiga keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَأْمُرَ بِاتِّبَاعِهِ فِيهَا كَمَا قَالَ ” صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ” وَقَالَ فِي الْحَجِّ: ” خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ ” فَيَكُونُ اتِّبَاعُهُ فِيهَا فَرْضًا لِاقْتِرَانِ أَمْرِهِ بِفِعْلِهِ.

Salah satunya adalah bahwa beliau memerintahkan untuk mengikutinya dalam hal tersebut, sebagaimana sabdanya: “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat,” dan sabdanya dalam haji: “Ambillah manasik kalian dariku.” Maka mengikuti beliau dalam hal-hal tersebut menjadi wajib karena perintah beliau disertai dengan perbuatannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَنْهَى عَنِ اتِّبَاعِهِ فِيهَا كَمَا نَهَى عَنِ الْوِصَالِ فِي الصِّيَامِ فَانْتَهَى النَّاسُ ثُمَّ وَاصَلَ فَوَاصَلُوا فَقَالَ: ” أَمَا إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُ عَنِ الْوِصَالِ ” فَقَالُوا: رَأَيْنَاكَ وَاصَلْتَ فَوَاصَلْنَا فَقَالَ: ” إِنِّي لَسْتُ مِثْلَكُمْ إِنِّي أُطْعَمُ وَأُسْقَى ” فَلَا يَجِبُ عَلَيْنَا اتِّبَاعُهُ فِيهِ لِنَهْيِهِ عَنْهُ.

Keadaan kedua adalah ketika beliau melarang untuk mengikutinya dalam hal tersebut, seperti larangan beliau terhadap al-wishāl dalam puasa. Maka orang-orang pun berhenti melakukannya, kemudian beliau melakukan wishāl, lalu mereka pun ikut melakukan wishāl. Maka beliau bersabda, “Bukankah aku telah melarang kalian dari wishāl?” Mereka berkata, “Kami melihat engkau melakukannya, maka kami pun melakukannya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku diberi makan dan minum.” Maka tidak wajib bagi kita untuk mengikutinya dalam hal itu karena beliau telah melarangnya.

وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا كَانَ لَهُ مُبَاحًا وَعَلَيْنَا مَحْظُورًا كَالْمَنَاكِحِ.

Salah satunya: sesuatu yang halal bagi mereka namun haram bagi kita, seperti pernikahan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا كَانَ لَهُ مُسْتَحَبًّا وَلَنَا مَكْرُوهًا كَالْوِصَالِ.

Jenis kedua: sesuatu yang disunnahkan bagi mereka namun makruh bagi kami, seperti puasa wishāl.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا كَانَ عَلَيْهِ فَرْضًا وَعَلَيْنَا نَدْبًا كَمَا قَالَ: ” فُرِضَ عَلَيَّ السِّوَاكُ وَلَمْ يُفْرَضْ عَلَيْكُمْ “.

Golongan ketiga: sesuatu yang diwajibkan atas beliau, namun bagi kita hukumnya sunnah, sebagaimana sabda beliau: “Siwak diwajibkan atas diriku, namun tidak diwajibkan atas kalian.”

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ تَتَجَرَّدَ أَفْعَالُهُ عَنْ أَنْ يَأْمُرَ بِهَا أَوْ يَنْهَى عَنْهَا، فَاتِّبَاعُهُ فِيهَا نَدْبٌ، وَاخْتُلِفَ فِيهَا هَلْ تَكُونُ فَرْضًا أَوْ مُسْتَحَبَّةً؟ فِيهِ وَجْهَانِ:

Keadaan yang ketiga: yaitu ketika perbuatan-perbuatannya tidak disertai perintah atau larangan darinya, maka mengikutinya dalam hal ini hukumnya sunnah. Namun, terdapat perbedaan pendapat apakah hal itu menjadi wajib atau mustahab? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ إِنَّهَا مُسْتَحَبَّةٌ وَلَيْسَتْ بِفَرْضٍ إِلَّا أَنْ يَقْتَرِنَ بِهَا أَمْرٌ لِأَنَّهُ كان – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَسْتَسِرُّ بِكَثِيرٍ مِنْ أَفْعَالِهِ وَلَوْ كَانَ اتِّبَاعُهُ فِيهَا فَرْضًا لَأَظْهَرَهَا كَمَا أَظْهَرَ أَقْوَالَهُ لِيَكُونَ الْبَلَاغُ بِهِمَا عَامًّا.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat mayoritas ulama, menyatakan bahwa hal itu adalah mustahab (dianjurkan) dan bukanlah suatu kewajiban, kecuali jika disertai dengan perintah. Sebab, Nabi ﷺ seringkali merahasiakan banyak perbuatannya, dan seandainya mengikuti beliau dalam hal itu merupakan kewajiban, tentu beliau akan menampakkannya sebagaimana beliau menampakkan sabda-sabdanya, agar penyampaiannya menjadi bersifat umum.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ اتِّبَاعَهُ فِيهَا فَرْضٌ مَا لَمْ يَنْهَ عَنْهُ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي حَقِّ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: {فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ} [النور: 63] وَالْأَمْرُ يَنْطَلِقُ عَلَى الْفِعْلِ كَانْطِلَاقِهِ عَلَى الْقَوْلِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ} [هود: 97] أَيْ فِعْلَ فِرْعَوْنَ وَكَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:

Pendapat kedua: Sesungguhnya mengikuti beliau dalam hal ini adalah wajib selama tidak ada larangan darinya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala tentang Nabi ﷺ: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut…” (an-Nur: 63). Kata “perintah” mencakup perbuatan sebagaimana mencakup ucapan, sebagaimana firman-Nya Ta‘ala: “Dan tidaklah perintah Fir‘aun itu membawa kebaikan.” (Hud: 97), yakni perbuatan Fir‘aun, dan sebagaimana dikatakan oleh penyair:

(لَهَا أَمْرُهَا حَتَّى إِذَا مَا تَبَوَّأَتْ … بِإِخْفَافِهَا بِتْنَا نُبَوِّئُ مَضْجَعًا)

Baginya urusannya sendiri, hingga ketika ia telah menempati tempatnya… dengan langkah-langkah ringannya, kami menyiapkan tempat tidur.

يَعْنِي بِالْأَمْرِ أَفْعَالَ الْإِبِلِ فِي سَيْرِهَا.

Yang dimaksud dengan “al-amr” adalah perilaku unta dalam perjalanannya.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا أَرْسَلَ امْرَأَةً إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لِيَسْأَلَهَا عَنْ قُبْلَةِ الصَّائِمِ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ قَبَّلَ وَهُوَ صَائِمٌ. فَقَالَ الرَّجُلُ: لَسْنَا كَرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِنَّ اللَّهَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. وَأَعَادَ زَوْجَتَهُ لِتَسْأَلَ فَذَكَرَتْ أُمُّ سَلَمَةَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ: ” هَلَّا أَنْبَأْتِهَا ” فَقَالَتْ قَدْ فَعَلْتُ. فَقَالَ: لَسْنَا كَرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمَكُمْ بِحُدُودِهِ “.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mengutus seorang wanita kepada Ummu Salamah ra. untuk menanyakan tentang hukum mencium istri bagi orang yang sedang berpuasa. Ummu Salamah menjawab, “Rasulullah saw. pernah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau sedang berpuasa.” Laki-laki itu berkata, “Kita tidak seperti Rasulullah saw.; sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang.” Kemudian laki-laki itu mengutus istrinya kembali untuk bertanya lagi, lalu Ummu Salamah menceritakan hal itu kepada Rasulullah saw. Maka beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak memberitahukannya?” Ummu Salamah menjawab, “Aku sudah melakukannya.” Laki-laki itu berkata, “Kita tidak seperti Rasulullah saw.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling bertakwa di antara kalian kepada Allah dan yang paling mengetahui batas-batas (hudūd) Allah di antara kalian.”

فَدَلَّ عَلَى وُجُوبِ اتِّبَاعِهِ فِي أَفْعَالِهِ.

Maka hal itu menunjukkan wajibnya mengikuti beliau dalam perbuatannya.

( [إقرار الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -] )

(Pengakuan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada pesan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا إِقْرَارِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – النَّاسَ عَلَى مَا أَمَرَهُمْ عَلَيْهِ مِنْ بِيَاعَاتٍ وَمُعَامَلَاتٍ وَمَأْكُولٍ وَمَشْرُوبٍ وَمَلْبُوسٍ وَآنِيَةٍ وَمَقَاعِدَ فِي الْأَسْوَاقِ فَجَمِيعُهَا فِي الشَّرْعِ مُبَاحٌ.

Adapun persetujuan Rasulullah ﷺ terhadap manusia atas apa yang beliau perintahkan kepada mereka berupa jual beli, transaksi, makanan, minuman, pakaian, peralatan, dan tempat duduk di pasar-pasar, maka semuanya itu dalam syariat adalah mubah (diperbolehkan).

لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَا يَسْتَجِيزُ أَنْ يُقِرَّ النَّاسَ عَلَى مُنْكَرٍ مَحْظُورٍ كَمَا وَصَفَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي قَوْلِهِ {النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ} [الأعراف: 157] .

Karena Rasulullah ﷺ tidak membenarkan membiarkan manusia dalam kemungkaran yang terlarang, sebagaimana Allah Ta‘ala telah menggambarkannya dalam firman-Nya: “Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil, yang memerintahkan mereka kepada yang ma‘ruf dan melarang mereka dari yang munkar.” (al-A‘raf: 157).

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا أَقَرَّ عَلَيْهِ خَارِجٌ عَنِ الْمُنْكَرِ وَدَاخِلٌ فِي الْمَعْرُوفِ.

Maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang diakui olehnya termasuk perkara yang keluar dari kemungkaran dan masuk dalam kategori ma‘ruf.

وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِ الِاسْتِبَاحَةِ لِذَلِكَ بَعْدَ الْإِقْرَارِ عَلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum kebolehan terhadap hal tersebut setelah adanya pengakuan atasnya, yang terbagi menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا مُسْتَبَاحَةٌ بِالْعُرْفِ الْمُتَقَدِّمِ دُونَ الشَّرْعِ.

Salah satunya adalah bahwa ia dibolehkan berdasarkan ‘urf yang telah ada sebelumnya, bukan berdasarkan syariat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهَا مُسْتَبَاحَةٌ بِالشَّرْعِ حَتَّى أَقَرُّوا عَلَيْهَا.

Pendapat kedua: Bahwa hal itu dibolehkan oleh syariat hingga mereka mengakuinya.

وَهَذَانِ الْوَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِهِمْ فِي أُصُولِ الْأَشْيَاءِ قَبْلَ مَجِيءِ الشَّرْعِ هَلْ كَانَتْ عَلَى الْإِبَاحَةِ حَتَّى حَظَرَهَا الشَّرْعُ أَوْ كَانَتْ عَلَى الْحَظْرِ حتى أباحها الشرع.

Kedua pendapat ini berasal dari perbedaan mereka dalam hal status asal segala sesuatu sebelum datangnya syariat: apakah segala sesuatu itu pada asalnya mubah sampai kemudian dilarang oleh syariat, ataukah pada asalnya terlarang sampai kemudian dibolehkan oleh syariat.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي فِيمَا يَجِبُ بَيَانُهُ بِالسُّنَّةِ: فَعَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian kedua mengenai hal-hal yang wajib dijelaskan melalui sunnah, maka terbagi menjadi empat macam:

أَحَدُهَا: مَا لَزِمَهُ بَيَانُهُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ عِبَادِهِ وَهُوَ بَيَانُ مَا أَجْمَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ، وَالرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَأْخُوذٌ بَيَانُهُ فِي حَقِّ اللَّهِ لِيُقَامَ بِحَقِّهِ فِيهَا وَمَأْخُوذٌ بِبَيَانِهِ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ لِيَعْلَمُوا مَا كُلِّفُوا مِنْهَا.

Salah satunya adalah penjelasan yang wajib disampaikan terkait hak-hak Allah Ta‘ala dan hak-hak hamba-Nya, yaitu penjelasan terhadap hal-hal yang Allah Ta‘ala sebutkan secara global dalam Kitab-Nya, seperti shalat dan zakat. Rasulullah ﷺ berkewajiban menjelaskan hal tersebut dalam hak Allah agar hak-Nya dapat ditegakkan dalam perkara itu, dan juga berkewajiban menjelaskannya dalam hak-hak para hamba agar mereka mengetahui apa yang dibebankan kepada mereka darinya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا لَزِمَ الرَّسُولَ بَيَانُهُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى دُونَ عِبَادِهِ وَهُوَ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ يَلْزَمُ بَيَانُهُ فِي حَقِّ اللَّهِ لِاسْتِثْنَائِهِ لَهُ وَلَا يَلْزَمُهُ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ لِأَنَّهُمْ عَلَى الْعُمُومِ مَا لَمْ يَنْقُلُوا عَنْهُ.

Jenis kedua: yaitu apa yang wajib dijelaskan oleh Rasulullah dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala saja, bukan hak hamba-hamba-Nya. Contohnya adalah pengkhususan terhadap keumuman (nash), yang wajib dijelaskan dalam hak Allah karena adanya pengecualian tersebut, namun tidak wajib dijelaskan dalam hak hamba-hamba, sebab mereka tetap berada pada keumuman selama tidak ada riwayat dari Rasulullah tentang pengecualian itu.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا لَزِمَهُ بَيَانُهُ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ، وَلَمْ يَلْزَمْهُ بَيَانُهُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ وَهُوَ مَا يَسْتَحِقُّ الثَّوَابَ بِفِعْلِهِ وَلَا يَجِبُ الْعِقَابَ بِتَرْكِهِ كَنَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ وَأَفْعَالِ الْقُرْبِ يَلْزَمُ بَيَانُهَا فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ خَاصَّةً لِاخْتِصَاصِهِمْ بِهَا.

Golongan ketiga: yaitu perkara yang wajib dijelaskan dalam hak-hak manusia, namun tidak wajib dijelaskan dalam hak-hak Allah, yaitu perkara yang pelakunya berhak mendapatkan pahala, namun tidak wajib mendapat hukuman jika meninggalkannya, seperti ibadah-ibadah sunnah dan amal-amal kebaikan. Penjelasan tentang hal-hal tersebut wajib dilakukan dalam hak-hak manusia secara khusus karena kekhususan mereka terhadapnya.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: مَا اخْتُلِفَ فِيهِ وَهُوَ مَا اسْتَأْنَفَ الرَّسُولُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيَانَهُ مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ كَالْحُكْمِ بِالشُّفْعَةِ لِلْجَارِ وَالْقَضَاءِ بِالدِّيَةِ عَلَى الْعَاقِلَةِ وَإِعْطَاءِ السَّلَبِ لِلْقَاتِلِ وَأَنْ لَا مِيرَاثَ لِلْقَاتِلِ وَأَنْ لَا وَصِيَّةَ لِلْوَارِثِ وَأَنْ لَا يُجْمَعَ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَبَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا وَمَا شَاكَلَ ذَلِكَ فَيَلْزَمُ الرَّسُولَ بَيَانُهُ فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ: لِأَنَّهُ لَا طَرِيقَ لَهُمْ إِلَى الْعِلْمِ بِهَا إِلَّا مِنْهُ.

Golongan keempat adalah perkara yang diperselisihkan, yaitu hukum-hukum yang dijelaskan secara baru oleh Rasulullah ﷺ dan tidak terdapat dalam Kitab Allah, seperti hukum syuf‘ah bagi tetangga, keputusan diyat atas ‘āqilah, pemberian harta rampasan (salab) kepada pembunuh, tidak adanya warisan bagi pembunuh, tidak adanya wasiat bagi ahli waris, larangan mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya dari pihak ayah maupun ibu, dan hal-hal serupa. Maka wajib bagi Rasulullah untuk menjelaskannya dalam hak-hak sesama manusia, karena tidak ada jalan bagi mereka untuk mengetahuinya kecuali dari beliau.

وَفِي لُزُومِ بَيَانِهَا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَجْهَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ هَلْ لِلرَّسُولِ أَنْ يَحْكُمَ فِيهَا بِاجْتِهَادِهِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dalam kewajiban menjelaskannya pada hak-hak Allah Ta‘ala terdapat dua pendapat yang didasarkan pada perbedaan pendapat para pengikut Imam Syafi‘i, apakah Rasul boleh memutuskan perkara tersebut dengan ijtihadnya atau tidak; ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِلرَّسُولِ أَنْ يَحْكُمَ بِاجْتِهَادِهِ لِأَنَّ الِاجْتِهَادَ فَضِيلَةٌ فَكَانَ الْأَنْبِيَاءُ بِهَا أَحَقَّ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شاهدين فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ، وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا} [الأنبياء: 78 – 79] .

Salah satu pendapat: Diperbolehkan bagi Rasul untuk memutuskan hukum dengan ijtihadnya, karena ijtihad adalah suatu keutamaan, maka para nabi lebih berhak terhadapnya. Allah Ta‘ala telah berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, ketika kambing-kambing kaum itu masuk ke dalamnya pada malam hari, dan Kami menyaksikan keputusan mereka. Maka Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman (tentang hukum itu); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu.” (QS. al-Anbiya’: 78-79).

وَلَوْ حَكَمَ دَاوُدُ بِأَمْرِ اللَّهِ لَمْ يَنْقُضْ حُكْمَهُ عَلَيْهِ، وَقَدْ صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قُرَيْشًا عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ وَحَكَمَ بِرَدِّ مَنْ أَسْلَمَ مِنْ رِجَالِهِمْ وَنِسَائِهِمْ فَرَدَّ اللَّهُ تَعَالَى حُكْمَهُ فِيمَنْ أَسْلَمَ مِنَ النِّسَاءِ حِينَ جَاءَتْ أُمُّ كُلْثُومٍ بِنْتُ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ مُسْلِمَةً فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ حَكَمَ فِي ذَلِكَ بِاجْتِهَادِهِ فَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ يَكُونُ هَذَا الْبَيَانُ لَازِمًا للرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي حُقُوقِ الْعِبَادِ دُونَ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى.

Seandainya Dawud memutuskan dengan perintah Allah, niscaya Allah tidak akan membatalkan putusannya. Rasulullah ﷺ telah berdamai dengan Quraisy pada tahun Hudaibiyah dan memutuskan untuk mengembalikan siapa saja dari laki-laki dan perempuan mereka yang masuk Islam. Namun Allah Ta‘ala membatalkan putusan beliau terkait perempuan yang masuk Islam, ketika Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith datang dalam keadaan telah memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memutuskan perkara tersebut berdasarkan ijtihadnya. Dengan demikian, penjelasan ini menjadi wajib bagi Rasulullah ﷺ dalam hak-hak sesama manusia, bukan dalam hak-hak Allah Ta‘ala.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَيْسَ لِلرَّسُولِ أَنْ يَجْتَهِدَ وَتَكُونُ أَحْكَامُهُ مَوْقُوفَةً عَلَى أَوَامِرِ اللَّهِ تَعَالَى إِمَّا مِنْ قُرْآنٍ أَوْ وَحْيٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وما ينطق عن الهوى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم: 4] ؛ وَلِأَنَّ الِاجْتِهَادَ لَا يُسَوَّغُ مَعَ وُجُودِ النَّصِّ. وَأَوَامِرُ اللَّهِ تَعَالَى نَصٌّ، فَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ يَكُونُ هَذَا الْبَيَانُ لَازِمًا فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ عِبَادِهِ.

Pendapat kedua: Rasul tidak boleh berijtihad, dan hukum-hukumnya bergantung pada perintah Allah Ta‘ala, baik dari Al-Qur’an maupun wahyu, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (an-Najm: 4); dan karena ijtihad tidak dibenarkan jika terdapat nash. Sementara perintah Allah Ta‘ala adalah nash, maka menurut pendapat ini, penjelasan tersebut menjadi wajib baik dalam hak-hak Allah Ta‘ala maupun hak-hak hamba-Nya.

وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ فِي اجْتِهَادِ الرَّسُولِ أَنْ يَكُونَ اجْتِهَادُهُ مُعْتَبَرًا بِالْحُكْمِ، فَإِنْ كَانَ مِمَّا يُشَارِكُ فِيهِ أُمَّتَهُ كَنَهْيِهِ عَنِ الْكَلَامِ فِي الصَّلَاةِ وَكَنَهْيِهِ عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَجْتَهِدَ فِيهِ حَتَّى يَأْخُذَ عَنْ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَوَحْيِهِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِابْنِ مَسْعُودٍ: ” إِنَّ اللَّهَ يُحْدِثُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ وَإِنَّ مِمَّا يُحْدِثُ أَنْ لَا يَتَكَلَّمُوا فِي الصَّلَاةِ “. وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا تُشَارِكُهُ فِيهِ أُمَّتُهُ: كَقَوْلِهِ: ” لَا مِيرَاثَ لِقَاتِلٍ ” وَكَحَدِّهِ لِشَارِبِ الْخَمْرِ، جَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِيهِ بِرَأْيِهِ وَاجْتِهَادِهِ، وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ، لِأَنَّ الْأَحْكَامَ هِيَ إِلْزَامٌ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ لِمَأْمُورٍ فَمَا دَخَلَ فِيهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَأْمُورًا بِهِ وَمَا لَمْ يَدْخُلْ فِيهِ جَازَ أَنْ يَكُونَ آمِرًا بِهِ، لِأَنَّ الْمَأْمُورَ غَيْرُ الْآمِرِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِصَوَابِ مَا ذَكَرْتُهُ.

Pendapat yang lebih kuat menurut saya dari dua pendapat mengenai ijtihad Rasul adalah bahwa ijtihad beliau harus dipertimbangkan berdasarkan hukum. Jika ijtihad tersebut berkaitan dengan perkara yang juga melibatkan umatnya, seperti larangan berbicara dalam shalat atau larangan mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya dalam satu pernikahan, maka beliau tidak boleh berijtihad dalam hal itu sampai menerima perintah dan wahyu dari Allah Ta‘ala, sebagaimana sabda beliau kepada Ibnu Mas‘ud: “Sesungguhnya Allah menetapkan dari urusan-Nya apa yang Dia kehendaki, dan di antara yang Dia tetapkan adalah agar mereka tidak berbicara dalam shalat.” Namun, jika perkara itu tidak melibatkan umatnya, seperti sabda beliau: “Tidak ada warisan bagi pembunuh,” atau penetapan hukuman bagi peminum khamar, maka beliau boleh memutuskan perkara tersebut dengan pendapat dan ijtihadnya sendiri. Hal ini karena hukum-hukum adalah kewajiban dari perintah Allah kepada yang diperintah, sehingga apa yang termasuk di dalamnya wajib untuk diperintahkan, dan apa yang tidak termasuk di dalamnya boleh untuk diperintahkan, karena yang diperintah berbeda dengan yang memerintah. Allah lebih mengetahui kebenaran apa yang telah saya sebutkan.

(فَصْلٌ: مَا يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهِ مِنَ السنة)

Bab: Hal-hal dari sunnah yang wajib diamalkan

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ فِيمَا يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهِ مِنَ السُّنَّةِ: فَأَقُولُ إِنَّ السُّنَّةَ إِذَا جَاءَتْ بِحُكْمٍ فَلَا يَخْلُو مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ تَتَفَرَّدَ السُّنَّةُ بِذَلِكَ الْحُكْمِ، أَوْ يَقْتَرِنَ بها فيه أصل آخر.

Adapun bagian ketiga mengenai apa yang wajib diamalkan dari sunnah: maka aku katakan bahwa apabila sunnah datang dengan suatu hukum, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi sunnah itu sendiri yang menetapkan hukum tersebut, atau sunnah itu disertai dengan adanya dasar lain dalam hal itu.

( [القول في السنة إذا انفردت] )

(Pembahasan tentang sunnah apabila berdiri sendiri)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِنِ انْفَرَدَتْ بِذَلِكَ الْحُكْمِ وَجَبَ الْعَمَلُ بِهَا فِي الْتِزَامِ ذَلِكَ الْحُكْمِ؛ لِأَنَّهَا أَصْلٌ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ سَوَاءٌ وَافَقَهَا الْقِيَاسُ أَوْ خَالَفَهَا.

Jika suatu dalil tunggal menetapkan hukum tersebut, maka wajib mengamalkannya dalam berpegang pada hukum itu; karena dalil tersebut merupakan sumber dalam hukum-hukum syariat, baik qiyās sesuai dengannya maupun bertentangan dengannya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إِنْ خَالَفَتِ الْقِيَاسَ الَّذِي لَا يَحْتَمِلُ كَانَ الْعَمَلُ عَلَى الْقِيَاسِ أَوْلَى مِنَ الْأَخْذِ بِالسُّنَّةِ.

Abu Hanifah berkata, “Jika suatu sunnah bertentangan dengan qiyās yang tidak memungkinkan adanya kemungkinan lain, maka beramal dengan qiyās lebih utama daripada mengambil sunnah tersebut.”

وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ الْقِيَاسَ فَرْعُ السُّنَّةِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ رَافِعًا لِلسُّنَّةِ.

Ini tidak benar, karena qiyās merupakan cabang dari sunnah, sehingga tidak boleh qiyās menjadi penghapus sunnah.

وَإِنِ اقْتَرَنَ بِالسُّنَّةِ فِي ذَلِكَ الْحُكْمِ أَصْلٌ آخَرُ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Jika dalam hukum tersebut sunnah disertai dengan dasar lain, maka hal itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: كِتَابُ اللَّهِ.

Salah satunya adalah Kitabullah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: سُنَّةٌ أُخْرَى.

Jenis kedua: sunnah yang lain.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: إِجْمَاعٌ.

Jenis yang ketiga adalah ijmā‘.

الضَّرْبُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ أَنْ يَقْتَرِنَ بِالسُّنَّةِ فِي ذَلِكَ الْحُكْمِ كِتَابُ اللَّهِ فَلَا يَخْلُو الْكُتَّابُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مُوَافِقًا لِحُكْمِ السُّنَّةِ، أَوْ مُنَافِيًا لَهُ.

Jenis pertama: yaitu apabila dalam hukum tersebut sunnah disertai dengan Kitab Allah, maka Kitab tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi sesuai dengan hukum sunnah, atau bertentangan dengannya.

فَإِنْ كَانَ مُوَافِقًا صَارَ ذَلِكَ الْحُكْمُ ثَابِتًا بِأَصْلَيْنِ هُمَا الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ.

Jika ternyata sesuai, maka hukum tersebut menjadi tetap berdasarkan dua sumber pokok, yaitu al-Qur’an dan sunnah.

وَنُظِرَ فِيهِمَا فَإِنْ تَقَدَّمَتِ السُّنَّةُ بِهِ عَلَى الْكِتَابِ كَانَ وُجُوبُهُ بِالسُّنَّةِ، وَالْكِتَابُ مُؤَكِّدٌ وَإِنْ تَقَدَّمَ الْكِتَابُ بِهِ عَلَى السُّنَّةِ كَانَ وُجُوبُهُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةُ مُؤَكِّدَةٌ.

Keduanya diperhatikan; jika sunnah lebih dahulu menetapkan kewajiban atas suatu perkara sebelum Al-Qur’an, maka kewajibannya berdasarkan sunnah, dan Al-Qur’an menjadi penguatnya. Namun jika Al-Qur’an lebih dahulu menetapkan kewajiban atas suatu perkara sebelum sunnah, maka kewajibannya berdasarkan Al-Qur’an, dan sunnah menjadi penguatnya.

وَإِنْ كَانَ الْكِتَابُ مُنَافِيًا لِلسُّنَّةِ فِي ذَلِكَ الْحُكْمِ فَأَثْبَتَهُ أَحَدُهُمَا وَنَفَاهُ الْآخَرُ، فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Jika al-Kitab bertentangan dengan as-sunnah dalam hukum tersebut, sehingga salah satunya menetapkan dan yang lain menafikan, maka hal itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَقَدَّمَ الْكِتَابُ فَيَكُونُ الْعَمَلُ عَلَى الْكِتَابِ دُونَ السُّنَّةِ لِأَنَّ الْكِتَابَ لَا يُنْسَخُ بِالسُّنَّةِ.

Salah satunya: jika al-Kitab lebih dahulu, maka yang diamalkan adalah al-Kitab, bukan sunnah, karena al-Kitab tidak dapat di-nasakh dengan sunnah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَتَقَدَّمَ السُّنَّةُ عَلَى الْكِتَابِ فَيَكُونُ الْعَمَلُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ بِالسُّنَّةِ دُونَ الْكِتَابِ، لِأَنَّ عِنْدَهُ أَنَّ السُّنَّةَ لَا تُنْسَخُ بِالْكِتَابِ. وَعَلَى مَذْهَبِ مَنْ أَجَازَ نَسْخَ السُّنَّةِ بِالْكِتَابِ مِنْ أَصْحَابِهِ كَابْنِ سُرَيْجٍ وَغَيْرِهِ يَكُونُ الْعَمَلُ عَلَى الْكِتَابِ دُونَ السُّنَّةِ وَتَكُونُ السُّنَّةُ مَنْسُوخَةً بِالْكِتَابِ.

Jenis yang kedua: yaitu ketika sunnah mendahului Al-Qur’an, maka menurut mazhab Asy-Syafi‘i, yang diamalkan adalah sunnah, bukan Al-Qur’an, karena menurut beliau sunnah tidak dapat di-nasakh (dihapus) oleh Al-Qur’an. Adapun menurut mazhab orang yang membolehkan nasakh sunnah dengan Al-Qur’an dari kalangan pengikutnya seperti Ibnu Surayj dan yang lainnya, maka yang diamalkan adalah Al-Qur’an, bukan sunnah, dan sunnah dianggap telah di-nasakh oleh Al-Qur’an.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَرِدَا مَوْرِدًا وَاحِدًا وَلَا يَتَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ، فِي الْمَأْخُوذِ بِهِ مِنْهُمَا، عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Jenis yang ketiga: yaitu ketika keduanya datang dalam satu tempat (kasus) yang sama dan tidak ada salah satu yang lebih didahulukan dari yang lain, maka para pengikut Imam Syafi‘i berbeda pendapat mengenai mana yang diambil dari keduanya, menjadi tiga mazhab.

أَحَدُهَا: يُؤْخَذُ فِيهِ بِكِتَابِ اللَّهِ، لِأَنَّهُ أَصْلُ السُّنَّةِ، وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَا أَتَاكُمْ عَنِّي فَاعْرِضُوهُ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ وَافَقَهُ فَاعْمَلُوا بِهِ وَإِنْ خَالَفَهُ فَاتْرُكُوهُ “.

Pertama: Dalam hal ini diambil berdasarkan Kitab Allah, karena ia merupakan asal dari sunnah. Telah datang dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apa yang datang kepadamu dariku, maka ukurlah dengan Kitab Allah. Jika sesuai dengannya, maka amalkanlah, dan jika bertentangan dengannya, maka tinggalkanlah.”

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي: أَنْ يُؤْخَذَ فِيهِ بِحُكْمِ السُّنَّةِ لِاخْتِصَاصِهَا بِالْبَيَانِ وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} [الحشر: 7] .

Mazhab kedua: bahwa dalam hal ini diambil hukum berdasarkan sunnah karena sunnah memiliki kekhususan dalam penjelasan, dan Allah Ta‘ala berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ: يَجِبُ التَّوَقُّفُ عَنْهُمَا، حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى ثُبُوتِ أَحَدِهِمَا.

Mazhab ketiga: Wajib menahan diri dari keduanya, hingga ada dalil yang menetapkan salah satunya.

وَالصَّحِيحُ عِنْدِي: أَنْ يُنْظَرَ فِي حُكْمِ السُّنَّةِ فَإِنْ كَانَ تَخْصِيصًا عُمِلَ عَلَى السُّنَّةِ دُونَ الْكِتَابِ، لِأَنَّ عُمُومَ الْكِتَابِ مَخْصُوصٌ بِالسُّنَّةِ، وَإِنْ كَانَ نَسْخًا عُمِلَ عَلَى الْكِتَابِ دُونَ السُّنَّةِ لِأَنَّ الْكِتَابَ لَا يُنْسَخُ بِالسُّنَّةِ.

Pendapat yang benar menurutku adalah: hendaknya dilihat hukum sunnah tersebut; jika merupakan takhshis (pengkhususan), maka yang diamalkan adalah sunnah tanpa kitab, karena keumuman kitab telah dikhususkan oleh sunnah. Namun jika merupakan naskh (penghapusan hukum), maka yang diamalkan adalah kitab tanpa sunnah, karena kitab tidak dapat di-naskh oleh sunnah.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي فِي مُقَابَلَةِ السُّنَّةِ بِالسُّنَّةِ: فَإِنِ اتَّفَقَا وَكَانَ الْفِعْلُ فِيهِمَا مُوَافِقًا لِلْقَوْلٍ تَأَكَّدَ الْحُكْمُ بِاجْتِمَاعِهِمَا فِيهِ، وَوَجَبَ الْعَمَلُ بِهِ، وَإِنْ تَنَافَيَا فِيهِ وَكَانَ الْفِعْلُ فِي السُّنَّةِ مُخَالِفًا لِلْقَوْلِ: مِثْلُ أَنْ يَرِدَ عَنِ الرَّسُولِ قَوْلٌ فَيُعْمَلُ بِخِلَافِهِ، وَالْأَحْكَامُ قَدْ تُؤْخَذُ مِنْ فِعْلِهِ كَمَا تُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ، فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun jenis kedua dalam membandingkan sunnah dengan sunnah: jika keduanya sesuai dan perbuatan di dalamnya sejalan dengan perkataan, maka hukum menjadi semakin kuat dengan berkumpulnya keduanya, dan wajib diamalkan. Namun jika keduanya bertentangan dan perbuatan dalam sunnah berbeda dengan perkataan—seperti terdapat perkataan dari Rasul lalu diamalkan kebalikannya, dan hukum-hukum bisa diambil dari perbuatannya sebagaimana diambil dari perkataannya—maka hal ini terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يُمْكِنَ اسْتِعْمَالُهُمَا عَلَى مَا لَا يَتَنَافَيَانِ، مِثْلُ نَهْيِهِ عَنِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْعَصْرِ، ثُمَّ صَلَّى بَعْدَ الْعَصْرِ فَحُمِلَ نَهْيُهُ عَنِ الصَّلَاةِ الَّتِي لَا سَبَبَ لَهَا، وَحُمِلَ فِعْلُهُ عَلَى الصلاة التي لها سبب، فيجب العمل بهما وَيُحْمَلُ كُلٌّ مِنْهُمَا عَلَى مَا يُوجِبُهُ اسْتِعْمَالُهُمَا.

Salah satunya: bahwa memungkinkan untuk menggunakan keduanya pada hal yang tidak saling bertentangan, seperti larangan beliau terhadap shalat setelah Ashar, kemudian beliau shalat setelah Ashar. Maka larangannya dibawa pada shalat yang tidak memiliki sebab, dan perbuatannya dibawa pada shalat yang memiliki sebab. Maka wajib mengamalkan keduanya dan masing-masing dibawa pada makna yang sesuai dengan penggunaannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الرَّسُولُ مَخْصُوصًا بِذَلِكَ الْفِعْلِ، كَمَا بَيَّنَ اخْتِصَاصَهُ بِالْوِصَالِ فِي الصِّيَامِ بَعْدَ نَهْيِهِ عَنْهُ، فَيُؤْخَذُ بِعُمُومِ قَوْلِهِ، وَيُعْدَلُ عَنْ خُصُوصِ فِعْلِهِ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila Rasulullah secara khusus melakukan suatu perbuatan, sebagaimana telah dijelaskan kekhususan beliau dalam melakukan wisāl (menyambung puasa) setelah beliau melarangnya. Maka yang dipegang adalah keumuman sabda beliau, dan dikesampingkan kekhususan perbuatan beliau.

وَالضَّرْبُ الثالث: أن لا يمكن استعمالهما لا تَبَيُّنُ اخْتِصَاصِهِ بِأَحَدِهِمَا فَهَذَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ التأخر مِنْهُمَا نَاسِخًا لِلْمُتَقَدِّمِ.

Golongan ketiga: yaitu ketika tidak mungkin menggunakan keduanya dan tidak dapat diketahui kekhususan salah satunya, maka hal ini mengharuskan bahwa yang datang belakangan di antara keduanya menjadi nasikh (penghapus) bagi yang terdahulu.

وَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْقَوْلَ لَا يُنْسَخُ إِلَّا بِالْقَوْلِ، وَالْفِعْلَ لَا يُنْسَخُ إِلَّا بِالْفِعْلِ.

Pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i adalah bahwa suatu perkataan tidak dapat di-nasakh kecuali dengan perkataan, dan suatu perbuatan tidak dapat di-nasakh kecuali dengan perbuatan.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ إِلَى جَوَازِ نَسْخِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْآخَرِ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا سُنَّةٌ يُؤْخَذُ بِهَا.

Sebagian sahabatnya berpendapat bahwa boleh terjadi nasakh antara keduanya, karena masing-masing dari keduanya adalah sunnah yang dapat diikuti.

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ فِي السَّارِقِ ” فَإِنْ عَادَ فِي الْخَامِسَةِ فَاقْتُلُوهُ ” ثُمَّ رَفَعَ إِلَيْهِ فِي الْخَامِسَةِ فَلَمْ يَقْتُلْهُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْقَتْلَ مَنْسُوخٌ وَقَالَ: ” الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ ” ثُمَّ رَجَمَ مَاعِزًا وَلَمْ يَجْلِدْهُ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْجَلْدَ مَنْسُوخٌ، وَقَالَ فِي الْإِمَامِ: ” وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعِينَ ” ثُمَّ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ قاعدا وصلوا خلفه قياسا فدل على أن القعود منسوخ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda tentang pencuri: “Jika ia mengulangi pada kali kelima, maka bunuhlah ia.” Kemudian pada kasus kelima diadukan kepada beliau, namun beliau tidak membunuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa hukuman bunuh telah di-naskh. Beliau juga bersabda: “Orang yang sudah menikah dengan orang yang sudah menikah, hukumannya adalah seratus cambukan dan rajam.” Namun kemudian beliau merajam Ma’iz dan tidak mencambuknya, sehingga hal ini menunjukkan bahwa hukuman cambuk telah di-naskh. Beliau juga bersabda tentang imam: “Jika ia shalat dalam keadaan duduk, maka shalatlah kalian semua dalam keadaan duduk.” Namun kemudian beliau shalat bersama para sahabatnya dalam keadaan duduk, dan mereka shalat di belakang beliau dengan qiyās, sehingga hal ini menunjukkan bahwa duduk telah di-naskh.

فعل مَذْهَبِ مَنْ جَوَّزَ نَسْخَ الْقَوْلِ بِالْفِعْلِ جَعَلَ فِعْلَهُ الْمُتَأَخِّرَ نَاسِخًا لِقَوْلِهِ الْمُتَقَدِّمِ.

Menurut mazhab orang yang membolehkan nasakh ucapan dengan perbuatan, maka perbuatannya yang datang belakangan dianggap sebagai nasikh (penghapus) bagi ucapannya yang terdahulu.

وَعَلَى الظَّاهِرِ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْقَوْلَ لَا يُنْسَخُ بِالْفِعْلِ، لَكِنْ يَسْتَدِلُّ بِفِعْلِهِ الْمُخَالِفِ لِقَوْلِهِ عَلَى أَنَّهُ قَدْ تَقَدَّمَ عَلَى فِعْلِهِ قَوْلٌ نَسَخَ الْقَوْلَ الْأَوَّلَ ثُمَّ وَرَدَ فِعْلُهُ الْمُخَالِفُ بَعْدَ قَوْلِهِ النَّاسِخِ فَاقْتَصَرَ النَّاسُ عَلَى نَقْلِ الْفِعْلِ دُونَ الْقَوْلِ لِظُهُورِ النَّسْخِ فِيهِ.

Menurut pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, suatu perkataan tidak dapat di-naskh dengan perbuatan. Namun, perbuatan Nabi yang bertentangan dengan perkataannya dijadikan dalil bahwa sebelumnya telah ada perkataan lain yang menasakh perkataan pertama, kemudian datang perbuatan beliau yang bertentangan itu setelah adanya perkataan yang menasakh tersebut. Maka orang-orang hanya meriwayatkan perbuatannya tanpa menyebut perkataannya, karena jelasnya proses nasakh dalam hal itu.

فَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ الْمُتَقَدِّمَ مِنَ الْمُتَأَخِّرِ عَدَلَ عَنْهُمَا إِلَى عَمَلِ الصَّحَابَةِ بِأَحَدِهِمَا فَكَانَ عَمَلُهُمْ بِأَحَدِهِمَا دَلِيلًا عَلَى نَسْخِ الْآخَرِ.

Jika tidak diketahui mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan, maka berpindahlah dari keduanya kepada amalan para sahabat dengan salah satunya; maka amalan mereka dengan salah satunya menjadi dalil bahwa yang lainnya telah di-naskh (dihapus hukumnya).

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْعَمَلِ بَيَانٌ وَجَبَ التَّوَقُّفُ عَنْهُمَا حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى ثُبُوتِ أَحَدِهِمَا.

Dan jika dalam amal tidak terdapat penjelasan, maka wajib menahan diri dari keduanya sampai ada dalil yang menetapkan salah satunya.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ: فِي مُقَابَلَةِ السُّنَّةِ بِالْإِجْمَاعِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun jenis yang ketiga: yaitu membandingkan sunnah dengan ijmā‘, maka hal ini terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْإِجْمَاعُ مُوَافِقًا لِلسُّنَّةِ فِي الْعَمَلِ بِهَا كَمَا قَالَ: ” لَا مِيرَاثَ لقاتل ” و ” لا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ ” وَنَهَى عَنِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَبَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا وَأَجْمَعُوا عَلَى الْعَمَلِ بِهَذِهِ السُّنَنِ فَيَكُونُ الْحُكْمُ ثَابِتًا بِالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ دَلِيلًا عَلَى صِحَّةِ النَّقْلِ فَيَصِيرُ هَذَا الْخَبَرُ فِي حُكْمِ الْمُتَوَاتِرِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُتَوَاتِرًا.

Salah satunya: ijmā‘ itu sesuai dengan sunnah dalam mengamalkannya, seperti sabda: “Tidak ada warisan bagi pembunuh” dan “Tidak ada wasiat bagi ahli waris”, serta larangan mengumpulkan seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ayah maupun ibu dalam satu pernikahan, dan mereka (ulama) berijmā‘ untuk mengamalkan sunnah-sunnah ini. Maka hukum tersebut ditetapkan berdasarkan sunnah, dan ijmā‘ menjadi dalil atas validitas riwayatnya, sehingga berita tersebut memiliki kedudukan seperti mutawātir, meskipun sebenarnya tidak mutawātir.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْإِجْمَاعُ مُنْعَقِدًا عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ فَتَدُلُّ مُخَالَفَةُ الْإِجْمَاعِ لِلسُّنَّةِ عَلَى أَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ أَوْ نَقْلُهَا غَيْرُ صَحِيحٍ، فَيَكُونُ ذَلِكَ مُوجِبًا لِتَرْكِ السُّنَّةِ وَالْعَمَلِ عَلَى الْإِجْمَاعِ.

Jenis kedua: Ijmā‘ telah terwujud bertentangan dengan sunnah, maka pertentangan ijmā‘ dengan sunnah menunjukkan bahwa sunnah tersebut telah mansūkh (dihapus hukumnya) atau riwayatnya tidak sahih, sehingga hal itu menjadi alasan untuk meninggalkan sunnah dan beramal berdasarkan ijmā‘.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَعْمَلَ بِهَا بَعْضُ الصَّحَابَةِ وَيَتْرُكُهَا بَعْضُهُمْ، فَالْعَمَلُ بِالسُّنَّةِ وَاجِبٌ وَإِنْ تَرَكَهَا بَعْضُهُمْ لِأَنَّ التَّارِكَ لَهَا مَحْجُوجٌ بِهَا.

Golongan ketiga: yaitu apabila sebagian sahabat mengamalkannya dan sebagian lainnya meninggalkannya, maka mengamalkan sunnah itu tetap wajib meskipun sebagian sahabat meninggalkannya, karena yang meninggalkannya tetap terkena hujjah dengan sunnah tersebut.

وَإِذَا رُوِيَتْ سُنَّةٌ لِمَنْ غَابَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَعَمِلَ بِهَا ثُمَّ لَقِيَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَلْزَمُهُ سُؤَالُهُ عَنْهَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apabila suatu sunnah diriwayatkan kepada seseorang yang tidak hadir di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu ia mengamalkannya, kemudian ia bertemu dengan Rasulullah ﷺ, maka para sahabat kami berbeda pendapat: apakah ia wajib menanyakan hal tersebut kepada beliau atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَلْزَمُهُ سُؤَالُهُ عَنْهَا لِيَكُونَ عَلَى يَقِينٍ مِنْ وُجُوبِ الْعَمَلِ بِهَا.

Salah satunya: ia wajib menanyakannya agar berada pada keyakinan tentang kewajiban mengamalkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَلْزَمُهُ السُّؤَالُ وَيَجُوزُ أَنْ يَعْمَلَ فِيهَا عَلَى الْخَبَرِ، لِأَنَّهُ لَوْ لَزِمَهُ السُّؤَالُ إِذَا حَضَرَ لَلَزِمَتْهُ الْهِجْرَةُ إِذَا غَابَ.

Pendapat kedua: Ia tidak wajib bertanya dan boleh baginya beramal berdasarkan kabar (berita), karena jika ia diwajibkan bertanya ketika hadir, niscaya ia juga diwajibkan hijrah ketika tidak hadir.

وَالصَّحِيحُ عِنْدِي: أَنَّ وُجُوبَ السُّؤَالِ مُخْتَلِفٌ بِاخْتِلَافِ السُّنَّةِ فَإِنْ كَانَتْ تَغْلِيظًا لَمْ يَلْزَمِ السُّؤَالُ عَنْهَا وَإِنْ كَانَتْ تَرْخِيصًا لَزِمَهُ السُّؤَالُ عَنْهَا لِأَنَّ التَّغْلِيظَ الْتِزَامٌ وَالتَّرْخِيصُ إِسْقَاطٌ.

Pendapat yang benar menurutku adalah bahwa kewajiban bertanya itu berbeda-beda tergantung pada jenis sunnahnya. Jika sunnah tersebut bersifat pengetatan (tasydid), maka tidak wajib menanyakannya. Namun jika sunnah tersebut bersifat keringanan (takhfif), maka wajib menanyakannya, karena pengetatan berarti suatu kewajiban, sedangkan keringanan berarti pengguguran kewajiban.

وَإِذَا ظَفِرَ الْإِنْسَانُ بِرَاوِي حَدِيثٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَتَعَلَّقُ بِالسُّنَنِ وَالْأَحْكَامِ فَإِنْ كَانَ مِنَ الْعَامَّةِ الْمُقَلِّدِينَ لَمْ يَلْزَمْهُ سَمَاعُ الْحَدِيثِ، لِأَنَّ فَرْضَهُ السُّؤَالَ عِنْدَ نُزُولِ الْحَوَادِثِ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنَ الْخَاصَّةِ الْمُجْتَهِدِينَ لَزِمَهُ سَمَاعُ الْحَدِيثِ لِيَكُونَ أَصْلًا فِي اجْتِهَادِهِ، وَنَقْلُ السُّنَنِ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.

Apabila seseorang mendapatkan perawi hadits dari Rasulullah ﷺ yang berkaitan dengan sunah dan hukum-hukum, maka jika ia termasuk kalangan awam yang muqallid, tidak wajib baginya mendengarkan hadits tersebut, karena kewajibannya adalah bertanya ketika terjadi peristiwa yang menimpanya. Namun jika ia termasuk kalangan khusus yang mujtahid, maka wajib baginya mendengarkan hadits tersebut agar menjadi dasar dalam ijtihadnya. Adapun meriwayatkan sunah termasuk fardu kifayah.

فَإِذَا نَقَلَهَا مَنْ فِيهِ كِفَايَةٌ سَقَطَ فَرْضُهَا عَنِ الْبَاقِينَ وَإِذَا قَصَّرَ نَاقِلُوهَا عَنِ الْكِفَايَةِ خَرَجُوا أَجْمَعِينَ لِطَلَبِ الْعِلْمِ.

Jika telah ada orang yang memiliki kecakapan yang memadai untuk menyampaikannya, maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Namun jika para penyampainya kurang dari jumlah yang memadai, maka seluruhnya wajib keluar untuk menuntut ilmu.

وَالَّذِي يَدْخُلُ فِي فَرْضِ الْكِفَايَةِ مَنْ قُبِلَتْ مِنْهُ الرِّوَايَةُ، وَلَا يَدْخُلُ فِيهِمْ مَنْ لَمْ تُقْبَلْ رِوَايَتُهُ.

Yang termasuk dalam fardhu kifayah adalah orang yang diterima riwayatnya, dan tidak termasuk di dalamnya orang yang tidak diterima riwayatnya.

وَعَلَى مُتَحَمِّلِ السُّنَّةِ أَنْ يَرْوِيَهَا إِذَا سُئِلَ عَنْهَا وَلَا يَلْزَمُهُ رِوَايَتُهَا إِذَا لَمْ يُسْأَلْ عَنْهَا إِلَّا أَنْ يَجِدَ النَّاسَ عَلَى خِلَافِهَا فَيَلْزَمُهُ رِوَايَتُهَا لِيَعْمَلُوا بِهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan bagi orang yang memikul (menghafal) sunnah, wajib meriwayatkannya ketika ditanya tentangnya, dan tidak wajib meriwayatkannya jika tidak ditanya, kecuali jika ia mendapati orang-orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya, maka wajib baginya meriwayatkannya agar mereka dapat mengamalkannya. Allah lebih mengetahui.

(فَصْلٌ: [ثالثا – الإجماع] )

Bagian: [Ketiga – Ijmā‘]

وَأَمَّا الْأَصْلُ الثَّالِثُ مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ – وَهُوَ الْإِجْمَاعُ – فَالْإِجْمَاعُ هُوَ أَنْ يَسْتَفِيضَ اتِّفَاقُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ جِهَةِ دَلَائِلِ الْأَحْكَامِ وَطُرُقِ الِاسْتِنْبَاطِ عَلَى قَوْلٍ فِي حُكْمٍ لَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِ أَهْلُ عَصْرِهِمْ وَتَكُونُ اسْتِفَاضَتُهُ عِنْدَ أَمْثَالِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بَعْدَ عَصْرِهِمْ فَتُعْتَبَرُ الِاسْتِفَاضَةُ عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَفِي أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَكُونُ لِقَوْلِ مَنْ جُرِحَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ تَأْثِيرٌ فِي وِفَاقٍ أَوْ خِلَافٍ فَهَذَا حَدُّ الْإِجْمَاعِ.

Adapun dasar ketiga dari ushul syar‘i—yaitu ijmā‘—maka ijmā‘ adalah tersebarnya kesepakatan para ahli ilmu dalam hal dalil-dalil hukum dan metode istinbāṭ terhadap suatu pendapat dalam suatu hukum yang tidak diperselisihkan oleh para ulama pada masanya, dan kesepakatan itu tersebar pula di kalangan para ulama setelah masa mereka. Maka yang dianggap adalah tersebarnya kesepakatan dari para ahli ilmu dan di kalangan para ahli ilmu; pendapat orang yang tercela dari kalangan ahli ilmu tidak berpengaruh dalam kesepakatan atau perselisihan. Inilah batasan ijmā‘.

وَهُوَ حُجَّةٌ فِي الْأَحْكَامِ.

Dan ia merupakan hujjah dalam hukum-hukum.

وَقَدْ أَنْكَرَ قَوْمٌ إِمْكَانَ الْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانَ دَلِيلًا، وَأَنْكَرَ قَوْمٌ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا وَإِنْ أَمْكَنَ.

Sebagian kelompok mengingkari kemungkinan terjadinya ijmā‘ meskipun ijmā‘ itu merupakan dalil, dan sebagian kelompok lain mengingkari bahwa ijmā‘ merupakan dalil meskipun ijmā‘ itu mungkin terjadi.

وَكِلَا الْقَوْلَيْنِ فَاسِدٌ؛ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ} [لقمان: 15] ؛ فَدَلَّ أَمْرُهُ بِاتِّبَاعِهِمْ عَلَى إِمْكَانِ اتِّفَاقِهِمْ وَوُجُوبِ إِجْمَاعِهِمْ، ثُمَّ نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْ مُخَالَفَتِهِمْ فَقَالَ {وَمَنْ يشاقق الرسول من بعدما تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى} [النساء: 115] الْآيَةَ.

Kedua pendapat tersebut batil; berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (Luqman: 15); maka perintah-Nya untuk mengikuti mereka menunjukkan kemungkinan terjadinya kesepakatan mereka dan wajibnya ijmā‘ mereka. Kemudian Allah Ta‘ala melarang untuk menyelisihi mereka, sebagaimana firman-Nya: “Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dipilihnya” (an-Nisā’: 115).

فَصَارَ خِلَافُهُمْ مَحْظُورًا، أَكَّدَهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا} [آل عمران: 103] وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” الْأُمَّةُ الْمُجْتَمِعَةُ حُجَّةٌ عَلَى مَنْ شَذَّ عَنْهَا ” ثُمَّ أَخْبَرَ أَنَّهُمْ لَا يَجْتَمِعُونَ إِلَّا عَلَى حَقٍّ فَقَالَ: {كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ} [آل عمران: 110] الْآيَةَ، وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ “.

Maka perselisihan mereka menjadi sesuatu yang terlarang, yang dikuatkan oleh firman Allah Ta‘ala: “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai” (Ali ‘Imran: 103), dan sabda Nabi ﷺ: “Umat yang bersatu adalah hujjah atas siapa saja yang menyelisihinya.” Kemudian beliau memberitakan bahwa mereka tidak akan berkumpul kecuali di atas kebenaran, sebagaimana firman-Nya: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Ali ‘Imran: 110), dan sabda Nabi ﷺ: “Umatku tidak akan berkumpul di atas kesesatan.”

ثُمَّ جَعَلَ أَهْلَ كُلِّ عَصْرٍ حُجَّةً عَلَى مَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْأَعْصَارِ لِيَسْتَدِيمَ الْإِبْلَاغُ فَقَالَ تَعَالَى: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا} [البقرة: 143] ، فَجَعَلَ الرَّسُولَ حُجَّةً عَلَيْهِمْ، وَجَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى غَيْرِهِمْ.

Kemudian Allah menjadikan penduduk setiap zaman sebagai hujjah atas orang-orang setelah mereka dari masa-masa berikutnya, agar penyampaian risalah tetap berlangsung. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143). Maka Allah menjadikan Rasul sebagai hujjah atas mereka, dan menjadikan mereka sebagai hujjah atas selain mereka.

وَرَوَى مُعَاذُ بْنُ رِفَاعَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعُذْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ “، وَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ إِجْمَاعَ هَذِهِ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي أُمَّةِ كُلِّ نَبِيٍّ هَلْ يَكُونُ إِجْمَاعُهُمْ حُجَّةً أَمْ لَا؟

Mu‘ādz bin Rifā‘ah meriwayatkan dari Ibrāhīm bin ‘Abd ar-Raḥmān al-‘Udzrī, ia berkata: Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi, mereka membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebih-lebihan, klaim palsu orang-orang yang batil, dan penafsiran orang-orang yang jahil.” Dan apabila telah tetap bahwa ijmā‘ umat ini adalah hujjah, maka telah terjadi perbedaan pendapat mengenai umat setiap nabi, apakah ijmā‘ mereka juga menjadi hujjah atau tidak?

فَذَهَبَ بَعْضُ الْمُتَكَلِّمِينَ إِلَى أَنَّ إِجْمَاعَ غَيْرِ هَذِهِ الْأُمَّةِ لَا يَكُونُ حُجَّةً. وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَدْ أَجْمَعُوا عَلَى قَتْلِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَقَدْ أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِكَذِبِ الْفَرِيقَيْنِ.

Sebagian mutakallim berpendapat bahwa ijmā‘ selain umat ini tidak dapat dijadikan hujjah. Ini adalah pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, karena kaum Yahudi dan Nasrani telah berijmā‘ atas pembunuhan ‘Isa bin Maryam, padahal Allah Ta‘ala telah memberitakan kebohongan kedua kelompok tersebut.

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْهُمْ: يَكُونُ حُجَّةً عَلَى مَنْ بَعْدَهُمْ مَنْ أُمَّتِهِمْ، لِوُجُوبِ الْعَمَلِ بِشَرَائِعِ الْأَنْبِيَاءِ فِي عَصْرٍ بَعْدَ عَصْرٍ مَا لَمْ يَرِدْ نَسْخُهَا.

Dan sebagian lain dari mereka berkata: Ijma‘ menjadi hujjah atas generasi setelah mereka dari umat mereka, karena wajibnya mengamalkan syariat para nabi dari satu masa ke masa berikutnya selama belum ada nasakh terhadapnya.

فَأَمَّا إِجْمَاعُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى عَلَى كَذِبِهِمْ فِي قَتْلِ عِيسَى فَإِنَّمَا انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى نَقْلِ الْقَتْلِ الْمَأْخُوذِ عَنْ آحَادٍ تَعْتَرِضُهُمُ الشُّبْهَةُ وَيَجُوزُ أَنْ يَتَطَرَّقَ عَلَيْهِمُ الْكَذِبُ، وَالْإِجْمَاعُ عَلَى النَّقْلِ حَقٌّ وَإِنْ كَانَ الْقَتْلُ بَاطِلًا.

Adapun ijmā‘ Yahudi dan Nasrani atas kebohongan mereka dalam pembunuhan Isa, maka sesungguhnya ijmā‘ itu hanya terjadi atas periwayatan pembunuhan yang diambil dari individu-individu yang masih mengandung keraguan dan memungkinkan adanya kebohongan pada mereka. Ijmā‘ atas periwayatan itu benar adanya, meskipun pembunuhan itu sendiri adalah batil.

فَصَارَ الْمُتَعَلِّقُ بِالْإِجْمَاعِ عَلَى مَا أَوْضَحْنَاهُ أَرْبَعَةَ أَحْكَامٍ: أَحَدُهَا: إِمْكَانُ وَجُودِهِ. وَالثَّانِي: لُزُومُ حُجَّتِهِ. وَالثَّالِثُ: اشْتِمَالُهُ عَلَى الْحَقِّ. وَالرَّابِعُ: وَجُوبُهُ فِي كُلِّ عَصْرٍ.

Dengan demikian, hal-hal yang berkaitan dengan ijmā‘ sebagaimana telah kami jelaskan, ada empat ketentuan: Pertama, kemungkinan terjadinya ijmā‘. Kedua, keharusan mengikuti hujjahnya. Ketiga, mencakup kebenaran di dalamnya. Keempat, kewajiban adanya ijmā‘ di setiap masa.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا اسْتَقَرَّ مَا ذَكَرْنَا مِنْ صِحَّةِ الْإِجْمَاعِ وَأَحْكَامِهِ فَالْكَلَامُ فِيهِ يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ: أَحَدُهَا: مَا يَنْعَقِدُ عَنْهُ الْإِجْمَاعُ. وَالثَّانِي: مَا يَنْعَقِدُ بِهِ الْإِجْمَاعُ. وَالثَّالِثُ: مَا يَسْتَقِرُّ بِهِ الْإِجْمَاعُ.

Setelah apa yang telah kami sebutkan mengenai keabsahan ijmā‘ dan hukum-hukumnya telah tetap, maka pembahasan tentangnya mencakup empat bagian: Pertama, hal-hal yang menjadi objek ijmā‘; kedua, pihak-pihak yang menjadi pelaku ijmā‘; ketiga, hal-hal yang membuat ijmā‘ menjadi tetap.

وَالرَّابِعُ: فِي مُعَارَضَةِ الِاخْتِلَافِ وَالْإِجْمَاعِ.

Keempat: tentang pertentangan antara perbedaan pendapat (ikhtilāf) dan ijmā‘.

( [الْقَوْلُ فِيمَا يَنْعَقِدُ عَنْهُ الْإِجْمَاعُ] )

(Pembahasan tentang hal-hal yang menjadi dasar terjadinya ijmā‘)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِيمَا يَنْعَقِدُ عَنْهُ الْإِجْمَاعُ: فَهُوَ يَنْعَقِدُ عَنْ دَلِيلٍ أَوْجَبَ اتِّفَاقَهُمْ عَلَيْهِ لِأَنَّ مَا لَا مُوجِبَ لَهُ يَتَعَذَّرُ الِاتِّفَاقُ عَلَيْهِ.

Adapun bagian pertama mengenai hal yang menjadi dasar ijmā‘: maka ijmā‘ itu terwujud berdasarkan dalil yang mewajibkan kesepakatan mereka atasnya, karena sesuatu yang tidak memiliki alasan yang mewajibkan, mustahil terjadi kesepakatan atasnya.

وَالدَّلِيلُ الدَّاعِي إِلَيْهِ قَدْ يَكُونُ مِنْ سَبْعَةِ أَوْجُهٍ:

Dan dalil yang mendorong kepadanya bisa berasal dari tujuh sisi:

أَحَدُهَا: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنْ تَنْبِيهٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّ ابْنَ الِابْنِ فِي الْمِيرَاثِ كَالِابْنِ.

Salah satunya: bahwa ijmā‘ itu terwujud berdasarkan petunjuk dari Kitabullah, seperti ijmā‘ mereka bahwa cucu laki-laki (anak laki-laki dari anak laki-laki) dalam warisan kedudukannya seperti anak laki-laki.

وَالثَّانِي: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنِ اسْتِنْبَاطٍ مِنْ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى تَوْرِيثِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الْجَدَّتَيْنِ السُّدُسَ.

Kedua: bahwa ijmā‘ itu terbentuk berdasarkan istinbāṭ dari Sunnah Rasulullah ﷺ, seperti ijmā‘ mereka tentang pemberian warisan sepertiga kepada masing-masing dari dua nenek.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنْ الِاسْتِفَاضَةِ وَالِانْتِشَارِ، كَالْإِجْمَاعِ عَلَى أَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ وَتَرْتِيبِهَا فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.

Ketiga: bahwa ijmā‘ dapat terbentuk melalui penyebaran luas dan ketersebaran yang masyhur, seperti ijmā‘ tentang jumlah rakaat dan urutannya dalam ruku‘ dan sujud.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَى الْعَمَلِ بِهِ كَالْإِجْمَاعِ عَلَى نُصُبِ الزَّكَوَاتِ.

Keempat: bahwa ijmā‘ tersebut terjadi atas pelaksanaan suatu amalan, seperti ijmā‘ atas penetapan kadar zakat.

وَالْخَامِسُ: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنِ الْمُنَاظَرَةِ وَالْجِدَالِ، كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى قَتْلِ مَانِعِي الزَّكَاةِ.

Kelima: bahwa ijmā‘ itu terwujud melalui musyawarah dan perdebatan, seperti ijmā‘ mereka atas kewajiban membunuh orang yang menolak membayar zakat.

وَالسَّادِسُ: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنْ تَوْقِيفٍ، كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّ الْجُمُعَةَ تُسْقِطُ فَرْضَ الظُّهْرِ.

Keenam: Ijma‘ itu harus terbentuk berdasarkan petunjuk (tawqīf), seperti ijma‘ mereka bahwa salat Jumat menggugurkan kewajiban salat Zuhur.

وَالسَّابِعُ: أَنْ يَنْعَقِدَ عَنِ اسْتِدْلَالٍ وَقِيَاسٍ، كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّ الْجَوَامِيسَ فِي الزَّكَاةِ كَالْبَقَرِ.

Ketujuh: hendaknya ijmā‘ itu terbentuk berdasarkan istidlāl dan qiyās, seperti ijmā‘ mereka bahwa kerbau dalam zakat hukumnya seperti sapi.

فَإِنْ تَجَرَّدَ الْإِجْمَاعُ عَنْ دَلِيلٍ يَدْعُو إِلَيْهِ إِذَا وُجِدَ الِاتِّفَاقُ عَلَيْهِ، فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي صِحَّتِهِ وَجَوَازِ انْعِقَادِهِ.

Jika ijmā‘ tidak disertai dengan dalil yang mendorong terjadinya kesepakatan atasnya, maka para ulama berbeda pendapat mengenai keabsahan dan kebolehan terjadinya ijmā‘ tersebut.

فَذَهَبَ شَاذٌّ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى جَوَازِهِ، اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ما رآه الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ ” وَهَذَا قَوْلُ مَنْ جَعَلَ الْإِلْهَامَ دَلِيلًا.

Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa hal itu boleh, dengan berdalil pada sabda Nabi ﷺ: “Apa yang dipandang baik oleh kaum mukminin, maka itu baik di sisi Allah.” Ini adalah pendapat orang yang menjadikan ilham sebagai dalil.

وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ انْعِقَادُ الْإِجْمَاعِ إِلَّا بِدَلِيلٍ لِأَمْرَيْنِ.

Pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama adalah bahwa ijmā‘ tidak sah terbentuk kecuali dengan adanya dalil, karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ إِثْبَاتَ الشَّرْعِ دَلِيلٌ لَا يَجُوزُ.

Salah satunya: bahwa penetapan syariat sebagai dalil tidak diperbolehkan.

وَالثَّانِي: أَنَّ اتِّفَاقَ الْكَافَّةِ بِغَيْرِ سَبَبٍ لَا يُوجَدُ.

Kedua: bahwa kesepakatan seluruh pihak tanpa adanya sebab tidaklah mungkin terjadi.

وَإِذَا انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَنْ أَحَدِ أَدِلَّتِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْقَطْعِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى بِصِحَّتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan apabila ijmā‘ telah terbentuk berdasarkan salah satu dalilnya, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang kepastian menetapkan kebenarannya atas Allah Ta‘ala, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْإِجْمَاعَ مَعْصُومٌ يُقْطَعُ بِصِحَّتِهِ لِيَصِحَّ قِيَامُ الْحُجَّةِ بِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ijmā‘ itu terjaga dari kesalahan dan diyakini kebenarannya secara pasti agar dapat dijadikan sebagai hujjah yang sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الْإِجْمَاعَ غَيْرُ مَعْصُومٍ مِنَ السَّهْوِ وَالْغَلَطِ اعْتِبَارًا بِأَهْلِهِ فِي نَفْيِ الْعِصْمَةِ عَنْ آحَادِهِمْ فَكَذَلِكَ عَنْ جَمَاعَتِهِمْ، وَلَا يَكُونُ قِيَامُ الْحُجَّةِ بِهِ مُوَجِبًا لِعِصْمَتِهِ كَمَا تَقُومُ الْحُجَّةُ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَعْصُومٍ.

Pendapat kedua: bahwa ijmā‘ tidak terjaga dari kekeliruan dan kesalahan, jika dilihat dari para pelakunya yang masing-masing tidak memiliki sifat ma‘shūm, maka demikian pula halnya dengan kelompok mereka secara keseluruhan. Dan keberadaan hujjah pada ijmā‘ tidaklah mewajibkan adanya sifat ma‘shūm padanya, sebagaimana hujjah dapat ditegakkan dengan khabar al-wāḥid meskipun ia tidak ma‘shūm.

(فَصْلٌ: [الْقَوْلُ فِيمَا يَنْعَقِدُ به الإجماع] )

Bagian: [Penjelasan tentang hal-hal yang menjadi dasar terjadinya ijmā‘]

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِيمَا يَنْعَقِدُ بِهِ الْإِجْمَاعُ: فَانْعِقَادُهُ مُعْتَبَرٌ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ:

Adapun bagian kedua mengenai hal-hal yang menjadi dasar ijmā‘: maka terwujudnya ijmā‘ ditentukan oleh empat syarat.

أَحَدُهَا: أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ قَوْلُ الْخَاصَّةِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ دُونَ الْعَامَّةِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ} [آل عمران: 18] فَخَصَّ أَهْلَ الْعِلْمِ دُونَ الْعَامَّةِ بِهَذِهِ الْمَنْزِلَةِ ” وَكَذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ ” وَقَدْ خَالَفَ أَبُو طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيُّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي أَنَّ الْبَرَدَ لَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ، لِأَنَّهُ لَيْسَ بِطَعَامٍ وَلَا شَرَابٍ فَرَدُّوا قَوْلَهُ وَلَمْ يَعْتَدُّوا خِلَافَهُ لِأَنَّهُ كَانَ مِنْ عَامَّةِ الصَّحَابَةِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ عُلَمَائِهِمْ.

Salah satunya: bahwa yang dijadikan pertimbangan di dalamnya adalah pendapat kalangan khusus dari ahli ilmu, bukan orang awam, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian dengan tegak menegakkan keadilan” (Ali Imran: 18). Maka Allah mengkhususkan ahli ilmu, bukan orang awam, dengan kedudukan ini. Demikian pula Rasulullah ﷺ bersabda: “Para ulama adalah pewaris para nabi.” Abu Thalhah al-Anshari pernah berbeda pendapat dengan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal bahwa hujan es tidak membatalkan puasa, karena menurutnya hujan es bukan makanan dan bukan minuman. Namun para sahabat menolak pendapatnya dan tidak menganggap perbedaan pendapatnya, karena ia termasuk kalangan awam dari para sahabat dan bukan dari kalangan ulama mereka.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ قَوْلَ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ كُلِّهِمْ.

Syarat kedua: bahwa itu merupakan pendapat seluruh ulama di berbagai negeri.

وَقَالَ مَالِكٌ: الْإِجْمَاعُ مُعْتَبَرٌ بِأَهْلِ الْمَدِينَةِ. وَلَا يَنْتَقِضُ إِجْمَاعُهُمْ، بِخِلَافِ غَيْرِهِمْ، لِنُزُولِ الْوَحْيِ فِيهِمْ، وَقَبْضِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بَيْنَهُمْ، وَانْتِشَارِ الْعِلْمِ عَنْهُمْ، وَلِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ الْعِلْمَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا “.

Malik berkata: Ijmā‘ dianggap berdasarkan penduduk Madinah. Ijmā‘ mereka tidak dapat dibatalkan, berbeda dengan selain mereka, karena turunnya wahyu di tengah-tengah mereka, wafatnya Rasulullah ﷺ di antara mereka, tersebarnya ilmu dari mereka, dan karena sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya ilmu benar-benar akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya.”

وَلِذَلِكَ لَمْ يُجْعَلْ خِلَافُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بَعْدَ خُرُوجِهِ إِلَى الْكُوفَةِ فِي بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ حَتَّى قَالَ عَلَى مِنْبَرِهَا ” اجْتَمَعَ رَأْيِي وَرَأْيُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ عَلَى أَنَّ بَيْعَ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ لَا يَجُوزُ وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَّ بَيْعَهُنَّ جَائِزٌ ” خِلَافًا وَجُعِلَ تَحْرِيمُ بَيْعِهِنَّ إِجْمَاعًا.

Oleh karena itu, perbedaan pendapat Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum setelah beliau pergi ke Kufah dalam masalah jual beli ummahat al-awlad tidak dianggap sebagai khilaf, sampai-sampai beliau berkata di atas mimbar Kufah: “Pendapatku bersama pendapat Abu Bakar dan Umar telah sepakat bahwa jual beli ummahat al-awlad tidak boleh, namun aku sekarang berpendapat bahwa jual beli mereka itu boleh.” Maka perbedaan ini tidak dianggap sebagai khilaf, dan pengharaman jual beli mereka dijadikan sebagai ijma‘.

وَهَذَا قَوْلٌ فَاسِدٌ؛ لِأَنَّ الْأَحْكَامَ مُسْتَنْبَطَةٌ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَا مِنَ الْأَمْكِنَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} [النساء: 58] . وَلَمْ يَأْمُرْ بِرَدِّهِ إِلَى أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَكَانَ الْعِلْمُ بِأَهْلِهِ لَا بِمَكَانِهِ، وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ “.

Ini adalah pendapat yang rusak; karena hukum-hukum diambil dari al-Qur’an dan Sunnah, bukan dari tempat-tempat tertentu. Allah Ta’ala berfirman: “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya” (an-Nisā’: 58). Dan Dia tidak memerintahkan untuk mengembalikannya kepada penduduk Madinah. Maka, ilmu itu tergantung pada ahlinya, bukan pada tempatnya. Nabi ﷺ bersabda: “Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih faqih darinya.”

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ وَجَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا خَرَجَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى الشَّامِ فِي طَلَبِ حَدِيثٍ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَكَتَبَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ إِلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ يَسْأَلُونَهُ عَمَّا عِنْدَهُ مِنْ دِيَةِ الْأَسْنَانِ؛ وَلِأَنَّ مَكَّةَ مَهْبِطُ الْقُرْآنِ وَمَقَامُ الرَّسُولِ بِهَا أَكْثَرُ، وَلَا يَتَمَيَّزُ أَهْلُهَا فِي الْعِلْمِ، فَكَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ أَحَقَّ.

Diriwayatkan bahwa Abu Sa‘id al-Khudri dan Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma masing-masing keluar dari Madinah menuju Syam untuk mencari sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penduduk Madinah juga menulis surat kepada ‘Amr bin Hazm untuk menanyakan kepadanya tentang diyat gigi yang ia miliki. Karena Makkah adalah tempat turunnya al-Qur’an dan Rasulullah lebih lama tinggal di sana, namun penduduknya tidak menonjol dalam ilmu, maka penduduk Madinah lebih berhak.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَظْهَرَ مِنْ أَحَدِهِمْ خِلَافٌ فِيهِ.

Syarat ketiga: tidak tampak dari salah satu mereka adanya perbedaan pendapat dalam masalah tersebut.

وَإِنْ تَظَاهَرَ أَحَدُهُمْ بِالْخِلَافِ فَلَهُ حَالَتَانِ:

Dan jika salah satu dari mereka menampakkan sikap berbeda, maka ada dua keadaan baginya:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَدْفَعَ خِلَافَهُ نَصٌّ فَيَكُونُ خِلَافُهُ مُرْتَفِعًا وَالْإِجْمَاعُ بِغَيْرِهِ مُنْعَقِدًا كَمَا خَالَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ الصَّحَابَةَ فِي الْفَاتِحَةِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَلَمْ يَجْعَلْهُنَّ مِنَ الْقُرْآنِ فَلَمْ يَعْتَدُّوا بِخِلَافِهِ لِوُجُودِ النَّصِّ وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى أَنَّهُنَّ مِنَ الْقُرْآنِ وَخَالَفَهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فِي الْقُنُوتِ الْمُسَمَّى بِسُورَتَيِ أُبَيٍّ حِينَ جَعَلَهُمَا مِنَ الْقُرْآنِ فَلَمْ يَعْتَدُّوا بِخِلَافِهِ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُمَا لَيْسَتَا مِنَ الْقُرْآنِ، وَكَمَا ذَهَبَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ إِلَى أَنَّ أَوَّلَ الصَّوْمِ إِسْفَارُ الصُّبْحِ فَلَمْ يَعْتَدُّوا بِخِلَافِهِ وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ.

Salah satunya adalah apabila pendapat yang berbeda itu dibatalkan oleh nash, sehingga perbedaan pendapat tersebut menjadi tidak dianggap dan ijmā‘ dapat terwujud tanpa memperhitungkannya. Seperti ketika Abdullah bin Mas‘ud berbeda pendapat dengan para sahabat mengenai al-Fatihah dan al-Mu‘awwidzatain, di mana ia tidak memasukkan keduanya ke dalam al-Qur’an, namun para sahabat tidak memperhitungkan pendapatnya karena adanya nash, dan ijmā‘ pun terwujud bahwa keduanya termasuk al-Qur’an. Demikian pula Ubay bin Ka‘b berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah qunut yang dikenal dengan “surat Ubay”, ketika ia memasukkannya ke dalam al-Qur’an, namun mereka tidak memperhitungkan pendapatnya dan berijmā‘ bahwa keduanya bukan bagian dari al-Qur’an. Begitu juga Hudzaifah bin al-Yaman berpendapat bahwa awal waktu puasa adalah ketika subuh mulai terang, namun mereka tidak memperhitungkan pendapatnya dan berijmā‘ bahwa awal waktu puasa adalah sejak terbit fajar.

الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ لَا يَدْفَعَ قَوْلَ الْمُخَالِفِ نَصٌّ فَيَكُونُ خِلَافُهُ مَانِعًا مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ أَكَابِرِ أَهْلِ الْعَصْرِ أَوْ مِنْ أَصْغَرِهِمْ سِنًّا، كَمَا خَالَفَ ابْنُ عَبَّاسٍ جَمِيعَ الصَّحَابَةِ فِي الْعَوْلِ فَقَالَ: ” مَنْ شَاءَ بَاهَلْتُهُ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ ” فَصَارَ خِلَافُهُ خِلَافًا، وَالْإِجْمَاعُ بِخِلَافِهِ مُرْتَفِعًا.

Keadaan kedua: Jika pendapat pihak yang berbeda tidak ditolak oleh suatu nash, maka perbedaan pendapatnya menjadi penghalang terjadinya ijmā‘, baik ia termasuk ulama besar pada masanya maupun yang paling muda usianya. Sebagaimana Ibnu ‘Abbās menyelisihi seluruh sahabat dalam masalah ‘aul, lalu ia berkata: “Siapa yang mau, aku akan melakukan mubahalah dengannya di dekat Hajar Aswad.” Maka perbedaan pendapatnya menjadi perbedaan yang diakui, dan ijmā‘ dengan adanya perbedaan tersebut menjadi gugur.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: خِلَافُ الْوَاحِدِ لَا يَنْقُضُ الْإِجْمَاعَ وَيَكُونُ مَحْجُوجًا بِمَنْ عَدَاهُ، وَهَذَا فَاسِدٌ، قَدْ خَالَفَ أَبُو بَكْرٍ جَمِيعَ الصَّحَابَةِ فِي قِتَالِ أَهْلِ الرِّدَّةِ ثُمَّ بَانَ أَنَّ الْحَقَّ مَعَهُ، وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: {يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ} [البقرة: 269] .

Ahmad bin Hanbal berkata: Perbedaan pendapat satu orang tidak membatalkan ijmā‘ dan ia dapat dikalahkan dengan pendapat selainnya. Namun, pendapat ini keliru, karena Abu Bakar pernah menyelisihi seluruh sahabat dalam memerangi orang-orang murtad, kemudian ternyata kebenaran ada bersamanya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 269).

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَنْتَشِرَ فِي جَمِيعِ أَهْلِ الْعَصْرِ فَيَكُونُوا فِيهِ بَيْنَ مُعْتَرِفٍ بِهِ أَوْ رَاضٍ بِهِ.

Syarat keempat: harus tersebar di seluruh kalangan masyarakat pada masa itu, sehingga mereka berada di antara yang mengakui atau yang ridha terhadapnya.

فَإِنِ انْتَشَرَ فِيهِمْ وَأَمْسَكُوا عَنْهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَظْهَرَ مِنْهُمُ اعْتِرَافٌ أَوْ رِضًى فَهُوَ ضَرْبَانِ:

Jika hal itu tersebar di tengah mereka dan mereka diam terhadapnya tanpa ada pengakuan atau kerelaan yang tampak dari mereka, maka hal itu terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ.

Salah satunya adalah bahwa itu terjadi pada masa para sahabat.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْأَعْصَارِ.

Kedua: yaitu terjadi pada selain zamannya.

فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ فِي غَيْرِ عَصْرِ الصَّحَابَةِ فَلَا يَكُونُ انْتِشَارُ قَوْلِ الْوَاحِدِ مِنْهُمْ مَعَ إِمْسَاكِ غَيْرِهِ إِجْمَاعًا وَلَا حُجَّةً، لِأَنَّهُمْ قَدْ يُعْرِضُونَ عَمًّا لَا يَتَعَيَّنُ فَرْضُهُ عَلَيْهِمْ.

Jika hal itu terjadi bukan pada masa sahabat, maka tersebarnya pendapat salah satu dari mereka sementara yang lainnya diam, tidaklah dianggap sebagai ijmā‘ dan bukan pula sebagai hujjah, karena bisa jadi mereka berpaling dari sesuatu yang tidak wajib secara pasti atas mereka.

وَإِنْ كَانَ فِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ الَّذِي قَدْ خَصَّهُ اللَّهُ بِفَضْلِ أَهْلِهِ وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ ” وَقَالَ: ” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ مِنْ يَلِيهِمْ “.

Dan jika (peristiwa itu) terjadi pada masa para sahabat, yang Allah telah khususkan dengan keutamaan bagi para penghuninya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Para sahabatku bagaikan bintang-bintang, dengan siapa pun di antara mereka kalian mengikuti, niscaya kalian akan mendapat petunjuk,” dan beliau juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka.”

فَإِذَا قَالَ الْوَاحِدُ مِنْهُمْ قَوْلًا أَوْ حَكَمَ بِهِ فَأَمْسَكَ الْبَاقُونَ عَنْهُ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika salah satu dari mereka mengemukakan suatu pendapat atau menetapkan suatu hukum, lalu yang lain diam terhadapnya, maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ فِيمَا يَفُوتُ اسْتِدْرَاكُهُ، كَإِرَاقَةِ دَمٍ، أَوِ اسْتِبَاحَةِ فَرْجٍ، فَيَكُونُ إِجْمَاعًا؛ لِأَنَّهُمْ لَوِ اعْتَقَدُوا خِلَافَهُ لَأَنْكَرُوهُ، إِذْ لَا يَصِحُّ مِنْهُمْ أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى إِقْرَارِ مُنْكَرٍ.

Salah satunya adalah apabila berkaitan dengan sesuatu yang tidak dapat diperbaiki lagi, seperti penumpahan darah atau pembolehan hubungan suami istri, maka hal itu disebut ijmā‘; karena jika mereka meyakini sebaliknya, tentu mereka akan mengingkarinya, sebab tidak sah bagi mereka untuk sepakat membiarkan suatu kemungkaran.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَفُوتُ اسْتِدْرَاكُهُ كَانَ حُجَّةً لِأَنَّ الْحَقَّ لَا يَخْرُجُ عَنْ غَيْرِهِمْ.

Dan jika perkara itu termasuk sesuatu yang masih dapat diperbaiki, maka itu tetap menjadi hujjah, karena kebenaran tidak keluar dari selain mereka.

وَفِي كَوْنِهِ إِجْمَاعًا يَمْنَعُ مِنْ الِاجْتِهَادِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا:

Terkait apakah hal itu merupakan ijmā‘ yang mencegah ijtihad, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami:

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ إِجْمَاعًا لَا يُسَوَّغُ مَعَهُ الِاجْتِهَادُ لِأَنَّ عَدَمَ الْخِلَافِ مَعَ الِانْتِشَارِ يَمْنَعُ مِنْ إِثْبَاتِ الْخِلَافِ.

Salah satunya: berupa ijmā‘ yang tidak dibenarkan melakukan ijtihad bersamanya, karena tidak adanya perbedaan pendapat yang tersebar luas mencegah untuk menetapkan adanya perbedaan pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَكُونُ إِجْمَاعًا وَالِاجْتِهَادَ مَعَهُ جَائِزٌ؛ لِأَنَّ مَنْ نَسَبَ إِلَى سَاكِتٍ قَوْلًا أَوِ اعْتِقَادًا فَقَدِ افْتَرَى عَلَيْهِ، وَسَوَاءٌ كَانَ هَذَا الْقَوْلُ حُكْمًا أَوْ فُتْيَا.

Pendapat kedua: Itu tidak disebut ijmā‘ dan berijtihad bersamanya tetap diperbolehkan; karena siapa pun yang menisbatkan suatu pendapat atau keyakinan kepada orang yang diam, maka sungguh ia telah membuat-buat terhadapnya, baik pendapat itu berupa hukum maupun fatwa.

وَفَرَّقَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ بَيْنَهُمَا فَجَعَلَهُ إِجْمَاعًا إِنْ كَانَ فُتْيَا، وَلَمْ يَجْعَلْهُ إِجْمَاعًا إِنْ كَانَ حُكْمًا لِجَوَازِ الِاعْتِرَاضِ عَلَى الْمُفْتِي. وَتَرَكَ الِاعْتِرَاضَ عَلَى الْحَاكِمِ لِمَا فِيهِ مِنْ شَقِّ الْعَصَا.

Abu ‘Ali Ibn Abi Hurairah membedakan antara keduanya; ia menganggapnya sebagai ijmā‘ jika berupa fatwa, dan tidak menganggapnya sebagai ijmā‘ jika berupa putusan hukum, karena diperbolehkannya mengajukan keberatan terhadap mufti. Sedangkan keberatan terhadap hakim ditinggalkan karena di dalamnya terdapat potensi perpecahan.

وَعَكَسَهُ غَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِنَا فَجَعَلَهُ إِجْمَاعًا إِنْ كَانَ حُكْمًا وَلَمْ يَجْعَلْهُ إِجْمَاعًا إِنْ كَانَ فُتْيَا؛ لِأَنَّ الْحُكْمَ فِي الْأَغْلَبِ يَكُونُ عَنِ الْمُشَاوَرَةِ وَفِي الْفُتْيَا عَنِ اسْتِبْدَادٍ.

Sebagian ulama kami yang lain berpendapat sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai ijmā‘ jika berupa keputusan hukum, dan tidak menganggapnya sebagai ijmā‘ jika berupa fatwa; karena keputusan hukum pada umumnya diambil melalui musyawarah, sedangkan fatwa biasanya bersifat individual.

وَكِلَا الْفَرْقَيْنِ فَاسِدٌ لِاشْتِرَاكِ الْحُكْمِ وَالْفُتْيَا فِي وُجُوبِ الِاجْتِهَادِ.

Kedua perbedaan tersebut tidak sah, karena hukum dan fatwa sama-sama mewajibkan ijtihad.

وَأَمَّا إِنْ لَمْ يَنْتَشِرْ قَوْلُ الْوَاحِدِ مِنَ الصَّحَابَةِ فِي جَمِيعِهِمْ وَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيهِ خِلَافٌ مِنْ أَحَدِهِمْ فَلَا يَكُونُ ذَلِكَ الْقَوْلُ إِجْمَاعًا، لِأَنَّهُمْ مَا عَرَفُوهُ، فَيَرْضُوا بِهِ أَوْ ينكروه.

Adapun jika pendapat salah satu sahabat tidak tersebar di antara seluruh sahabat dan tidak ada perbedaan pendapat dari salah satu di antara mereka terhadapnya, maka pendapat tersebut tidak disebut ijmā‘, karena mereka tidak mengetahuinya sehingga mereka bisa menyetujuinya atau menolaknya.

فَأَمَّا كَوْنُهُ حُجَّةً تُلْزِمُ الْعَمَلَ بِهَا فَمُعْتَبَرٌ بِمَا يُوَافِقُهُ مِنْ قِيَاسٍ أَوْ يُخَالِفُهُ.

Adapun statusnya sebagai hujjah yang mewajibkan untuk diamalkan, maka hal itu tergantung pada apakah ia sesuai dengan qiyās atau bertentangan dengannya.

وَلَهُ أَرْبَعَةُ أَحْوَالٍ:

Dan ia memiliki empat keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْقِيَاسُ مُوَافِقًا لِقَوْلِ الصَّحَابِيِّ فَيَكُونُ قَوْلُ الصَّحَابِيِّ حُجَّةً بِالْقِيَاسِ.

Salah satunya: apabila qiyās sesuai dengan pendapat sahabat, maka pendapat sahabat menjadi hujjah melalui qiyās.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْقِيَاسُ مُخَالِفًا لِقَوْلِ الصَّحَابِيِّ فَالْعَمَلُ بِالْقِيَاسِ الْجَلِيِّ أَوْلَى مِنْ قَوْلِ الصَّحَابِيِّ إِذَا تَجَرَّدَ عَنْ قِيَاسٍ جَلِيٍّ أَوْ خَفِيٍّ.

Keadaan kedua: Jika qiyās bertentangan dengan pendapat sahabat, maka mengamalkan qiyās yang jelas lebih utama daripada pendapat sahabat, apabila pendapat tersebut tidak didasarkan pada qiyās yang jelas maupun yang samar.

وَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ مَعَ قَوْلِ الصَّحَابِيِّ قِيَاسٌ جَلِيٌّ وَيُخَالِفُهُ قِيَاسٌ خَفِيٌّ فَقَوْلُ الصَّحَابِيِّ مَعَ الْقِيَاسِ الْجَلِيِّ أَوْلَى.

Keadaan ketiga: apabila bersama pendapat sahabat terdapat qiyās yang jelas, dan ada qiyās yang samar yang menyelisihinya, maka pendapat sahabat yang didukung oleh qiyās yang jelas lebih utama.

وَالْحَالَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَكُونَ مَعَ قَوْلِ الصَّحَابِيِّ قِيَاسٌ خَفِيٌّ وَيُخَالِفُهُ قِيَاسٌ جَلِيٌّ:

Keadaan keempat: apabila bersama dengan pendapat sahabat terdapat qiyās khafī dan bertentangan dengannya qiyās jalī.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فِي الْقَدِيمِ: أَنَّ قَوْلَ الصَّحَابِيِّ مَعَ الْقِيَاسِ الْخَفِيِّ أَوْلَى وَأَلْزَمُ مِنَ الْقِيَاسِ الْجَلِيِّ لِأَنَّ الصَّحَابَةَ أَهْدَى إِلَى الْحَقِّ.

Maka mazhab Syafi‘i dalam pendapat lama adalah bahwa pendapat sahabat yang disertai dengan qiyās khafī lebih utama dan lebih wajib diikuti daripada qiyās jali, karena para sahabat lebih mendapat petunjuk kepada kebenaran.

ثُمَّ رَجَعَ عَنْهُ فِي الْجَدِيدِ وَجَعَلَ الْقِيَاسَ الْجَلِيَّ أَوْلَى بِالْعَمَلِ مِنْ قَوْلِ الصَّحَابِيِّ مَعَ الْقِيَاسِ الْخَفِيِّ لِأَنَّهُمْ قَدْ كَانُوا يَتَحَاجُّونَ بِالْقِيَاسِ حَتَّى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” أَلَا لَا يَتَّقِي اللَّهَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ يَجْعَلُ ابْنَ الِابْنِ ابْنًا وَلَا يَجْعَلُ أَبَ الْأَبِ أَبًا “، وَإِذَا لَزِمَهُمُ الْعَمَلُ بِالْقِيَاسِ كَانَ لِغَيْرِهِمْ ألزم.

Kemudian ia menarik pendapatnya dalam pendapat yang baru, dan menjadikan qiyās yang jelas lebih utama untuk diamalkan daripada pendapat sahabat yang disertai dengan qiyās yang samar, karena mereka dahulu saling berdebat dengan menggunakan qiyās, hingga Ibnu ‘Abbās berkata: “Tidakkah Zaid bin Tsabit bertakwa kepada Allah, ia menjadikan anak laki-laki dari anak laki-laki sebagai anak, tetapi tidak menjadikan ayah dari ayah sebagai ayah.” Dan apabila mereka diwajibkan untuk mengamalkan qiyās, maka bagi selain mereka lebih wajib lagi.

(فصل: ما يستقر به الإجماع)

(Bab: Hal-hal yang menjadi dasar tetapnya ijmā‘)

:

Teks tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf berbahasa Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِيمَا يَسْتَقِرُّ بِهِ الْإِجْمَاعُ: فَمُعْتَبَرٌ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ:

Adapun bagian ketiga tentang hal-hal yang menjadi dasar ijmā‘: maka hal itu ditetapkan dengan empat syarat.

أَحَدُهَا: الْعِلْمُ بِاتِّفَاقِهِمْ عَلَيْهِ سَوَاءٌ اقْتَرَنَ بِقَوْلِهِمْ عَمَلٌ أَوْ لَمْ يَقْتَرِنْ.

Salah satunya adalah pengetahuan tentang kesepakatan mereka atas suatu hal, baik kesepakatan itu disertai dengan perbuatan mereka maupun tidak.

وَمَنَعَ بَعْضُ النَّاسِ مِنِ اسْتِقْرَارِ الْإِجْمَاعِ بِمُجَرَّدِ الْقَوْلِ حَتَّى يَقْتَرِنَ بِهِ عَمَلٌ لِأَنَّ الْعَمَلَ تَحْقِيقُ الْقَوْلِ.

Sebagian orang melarang terjadinya ijmā‘ hanya dengan sekadar ucapan, sampai disertai dengan perbuatan, karena perbuatan merupakan realisasi dari ucapan.

وَهَذَا لَا وَجْهَ لَهُ؛ لِأَنَّ حُجَجَ الْأَقْوَالِ أَوْكَدُ مِنْ حُجَجِ الْأَفْعَالِ، وَإِنْ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِذَا انْفَرَدَ حُجَّةً فَلَمْ يَلْزَمِ اجْتِمَاعُهُمَا إِذَا لَمْ يَخْتَلِفَا.

Dan pendapat ini tidak memiliki dasar; karena hujjah-hujjah berupa ucapan lebih kuat daripada hujjah-hujjah berupa perbuatan, meskipun masing-masing dari keduanya, jika berdiri sendiri, merupakan hujjah. Maka tidaklah wajib menggabungkan keduanya jika tidak terdapat perbedaan di antara keduanya.

فَإِنْ تَجَرَّدَ الْإِجْمَاعُ فِي الْقَوْلِ عَنْ عَمَلٍ يُخَالِفُهُ أَوْ يُوَافِقُهُ كَانَ الْقَوْلُ إِجْمَاعًا.

Jika ijmā‘ dalam bentuk perkataan tidak disertai dengan adanya amal perbuatan yang menyelisihinya atau yang membenarkannya, maka perkataan tersebut tetap dianggap sebagai ijmā‘.

وَإِنْ تَجَرَّدَ الْإِجْمَاعُ فِي الْعَمَلِ عَنْ قَوْلٍ يُوَافِقُهُ أَوْ يُخَالِفُهُ كَانَ الْعَمَلُ إِجْمَاعًا.

Dan jika ijmā‘ dalam perbuatan tidak disertai adanya pendapat yang mendukung atau menentangnya, maka perbuatan tersebut dianggap sebagai ijmā‘.

فَإِنْ أَجْمَعُوا عَلَى الْقَوْلِ وَاخْتَلَفُوا فِي الْعَمَلِ بَطَلَ الْإِجْمَاعُ إِنْ لَمْ يَكُنْ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي الْعَمَلِ تَأْوِيلٌ.

Jika mereka bersepakat dalam ucapan namun berselisih dalam perbuatan, maka ijmā‘ menjadi batal jika perbedaan mereka dalam perbuatan itu tidak memiliki alasan penafsiran (ta’wil).

وَإِنْ أَجْمَعُوا عَلَى الْعَمَلِ وَاخْتَلَفُوا فِي الْقَوْلِ بَطَلَ الْإِجْمَاعُ إِنْ لَمْ يَكُنْ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي الْقَوْلِ تَأْوِيلٌ لِمَا يَلْزَمُ مِنِ اتِّفَاقِهِمْ فِي الْقَوْلِ والعمل.

Jika mereka berijmā‘ dalam perbuatan namun berbeda pendapat dalam ucapan, maka ijmā‘ tersebut batal, kecuali jika perbedaan pendapat mereka dalam ucapan itu merupakan penafsiran terhadap apa yang menjadi konsekuensi dari kesepakatan mereka dalam ucapan dan perbuatan.

فَإِنْ جُهِلَ الِاتِّفَاقُ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ وَلَمْ يَتَحَقَّقْ لَمْ يَثْبُتْ بِذَلِكَ إِجْمَاعٌ وَلَا خِلَافٌ لترددهما بين اتفاق يكون جماعا وَافْتِرَاقٍ يَكُونُ خِلَافًا فَلِذَلِكَ لَمْ يَثْبُتْ بِهِ إِجْمَاعٌ وَلَا خِلَافٌ.

Jika kesepakatan dalam ucapan dan perbuatan tidak diketahui dan tidak dapat dipastikan, maka tidak dapat ditetapkan adanya ijmā‘ maupun khilāf berdasarkan hal itu, karena keduanya masih samar antara kesepakatan yang menjadi ijmā‘ dan perbedaan yang menjadi khilāf. Oleh karena itu, tidak dapat ditetapkan adanya ijmā‘ maupun khilāf berdasarkan hal tersebut.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَسْتَدِيمُوا مَا كَانُوا عَلَيْهِ مِنَ الْإِجْمَاعِ وَلَا يَحْدُثُ مِنْ أَحَدِهِمْ خِلَافٌ.

Syarat kedua: Mereka harus tetap mempertahankan ijmā‘ yang telah mereka sepakati dan tidak boleh terjadi perbedaan pendapat dari salah satu di antara mereka.

فَإِنْ خَالَفَهُمُ الْوَاحِدُ بَعْدَ إجماعه معهم بطل الإجماع وساع الْخِلَافُ لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَحْدُثَ إِجْمَاعُهُمْ بَعْدَ الْخِلَافِ جَازَ أَنْ يَحْدُثَ خِلَافُهُمْ بَعْدَ الْإِجْمَاعِ، هَذَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ خَالَفَ فِي بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ بَعْدَ إِجْمَاعِهِ مَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى أَنَّ بَيْعَهُنَّ لَا يَجُوزُ فَبَطَلَ بِخِلَافِهِ الْإِجْمَاعُ فِي تَحْرِيمِ بَيْعِهِنَّ، وَقَدْ قِيلَ إِنَّ عَلِيًّا رَجَعَ بَعْدَ خِلَافِهِ حِينَ قَالَ لَهُ عَبِيدَةُ السَّلْمَانِيُّ: ” يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ: إِنَّ رَأْيَكَ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ رَأْيِكَ وَحْدَكَ “.

Jika setelah tercapainya ijmā‘, satu orang menyelisihi mereka, maka ijmā‘ tersebut batal dan terjadilah perbedaan pendapat. Sebab, sebagaimana dimungkinkan terjadinya ijmā‘ setelah adanya perbedaan, maka dimungkinkan pula terjadinya perbedaan setelah ijmā‘. Inilah yang terjadi pada Ali bin Abi Thalib yang menyelisihi dalam masalah jual beli ummahāt al-awlād setelah sebelumnya berijmā‘ bersama Abu Bakar dan Umar radhiyallāhu ‘anhum bahwa jual beli mereka tidak boleh, maka dengan perbedaan pendapat Ali, ijmā‘ tentang haramnya jual beli mereka menjadi batal. Ada pula yang mengatakan bahwa Ali kembali kepada pendapat semula setelah menyelisihi, ketika ‘Ubaidah as-Salmani berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, pendapatmu bersama jamaah lebih aku sukai daripada pendapatmu sendiri.”

فَإِنْ كَانَ هَذَا الرُّجُوعُ صَحِيحًا كَانَ تَحْرِيمُ بَيْعِهِنَّ إِجْمَاعًا.

Jika rujuk tersebut sah, maka keharaman menjual mereka adalah berdasarkan ijmā‘.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَنْقَرِضَ عَصْرُهُمْ حَتَّى يُؤْمَنَ حُدُوثُ الْخِلَافِ بَيْنَهُمْ فَإِنَّ بَقَاءَ الْعَصْرِ رُبَّمَا أَحْدَثَ مِنْ بَعْضِهِمْ خِلَافًا كَمَا خَالَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ فِي الْعَوْلِ بَعْدَ مَوْتِ عُمَرَ فَقِيلَ لَهُ: أَلَا قُلْتَهُ فِي أيامه فقال هبته وكان امرءا مَهِيبًا.

Syarat ketiga: Hendaknya masa mereka telah berakhir, sehingga dapat dipastikan tidak akan terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Sebab, jika masa mereka masih berlangsung, mungkin saja sebagian dari mereka akan mengemukakan pendapat yang berbeda, sebagaimana Abdullah bin Abbas berbeda pendapat tentang al-‘awl setelah wafatnya Umar. Lalu dikatakan kepadanya: “Mengapa engkau tidak mengatakannya pada masa Umar?” Ia menjawab: “Aku segan kepadanya, karena ia adalah seorang yang disegani.”

وَلَيْسَ يُعْتَبَرُ فِي انْقِرَاضِ الْعَصْرِ مَوْتُ جَمِيعِ أَهْلِهِ لِأَنَّ هَذَا أَمْرٌ يَضِيقُ وَلَا يَنْحَصِرُ وَقَدْ تَتَدَاخَلُ الْأَعْصَارُ وَيَتَدَرَّجُ النَّاسُ مِنْ حَالٍ بَعْدَ حَالٍ وَيَخْتَلِفُونَ فِي الْأَعْمَارِ وَالْآجَالِ.

Tidak disyaratkan dalam berakhirnya suatu masa harus wafat seluruh penduduknya, karena hal itu adalah sesuatu yang sulit dan tidak terbatas, sementara masa-masa bisa saling tumpang tindih, manusia pun berangsur-angsur berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, serta berbeda-beda dalam usia dan ajalnya.

وَإِنَّمَا الْمُعْتَبَرُ فِي انْقِرَاضِهِ أَمْرَانِ:

Yang menjadi tolok ukur dalam hilangnya (ijmā‘) itu ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَسْتَوْلِيَ عَلَى الْعَصْرِ الثَّانِي غَيْرُ أَهْلِ الْعَصْرِ الْأَوَّلِ.

Salah satunya adalah apabila pada masa kedua dikuasai oleh orang-orang yang bukan penduduk masa pertama.

وَالثَّانِي: أَنْ يَنْقَرِضَ فِيهِمْ مَنْ بَقِيَ مِنْ أَهْلِ الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، قَدْ عَاشَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى إِلَى عَصْرِ التَّابِعِينَ فَطَاوَلُوهُمْ فَجَمَعُوا بَيْنَ عَصْرَيْنِ فَلَمْ يَدُلَّ ذَلِكَ عَلَى بَقَاءِ عَصْرِ الصَّحَابَةِ بِهِمْ.

Kedua: yaitu ketika orang-orang yang tersisa dari generasi pertama telah habis, seperti Anas bin Malik dan Abdullah bin Abi Awfa yang hidup sampai masa tabi’in, sehingga mereka berjumpa dengan para tabi’in dan mengalami dua masa sekaligus. Namun, hal itu tidak menunjukkan bahwa masa sahabat masih tetap ada karena keberadaan mereka.

وَإِذَا كَانَ انْقِرَاضُ الْعَصْرِ شَرْطًا فِي اسْتِقْرَارِ الْإِجْمَاعِ فَهُوَ مُعْتَبَرٌ فِي الْأَحْكَامِ الَّتِي لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا إِتْلَافٌ وَاسْتِهْلَاكٌ، وَلَا يَسْتَقِرُّ إِجْمَاعُهُمْ فِيهَا إِلَّا بِانْقِرَاضِهِمْ عَلَيْهَا.

Apabila berlalunya suatu masa (angkatan) merupakan syarat bagi tetapnya ijmā‘, maka hal itu diperhitungkan dalam hukum-hukum yang tidak berkaitan dengan kerusakan atau penghabisan (harta), dan ijmā‘ mereka dalam hal-hal tersebut tidak menjadi tetap kecuali setelah berlalunya masa mereka atasnya.

فَأَمَّا الْأَحْكَامُ الَّتِي يَتَعَلَّقُ بِهَا إِتْلَافٌ وَاسْتِهْلَاكٌ لَا يُمْكِنُ اسْتِدْرَاكُهُ كَإِرَاقَةِ الدِّمَاءِ وَاسْتِبَاحَةِ الْفُرُوجِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي انْقِرَاضِ الْعَصْرِ هَلْ يَكُونُ شَرْطًا فِي انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ عَلَيْهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan yang menyebabkan kerusakan atau konsumsi yang tidak mungkin dapat diperbaiki lagi, seperti penumpahan darah dan pembolehan hubungan suami istri, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah berlalunya suatu masa merupakan syarat sahnya ijmā‘ atasnya atau tidak; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ شَرْطًا فِيهِ كَغَيْرِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ.

Salah satunya: menjadi syarat di dalamnya sebagaimana pada hukum-hukum lainnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَكُونُ شَرْطًا، وَالْإِجْمَاعُ مُسْتَقِرٌّ بِالِاتِّفَاقِ عَلَيْهِ وَلَيْسَ لِأَحَدِهِمْ أَنْ يُحْدِثَ خِلَافًا فِيهِ، لِأَنَّهُمْ فِي عَظَائِمِ الْأُمُورِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى الْإِجْمَاعِ عَلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ وُضُوحِ الْحَقِّ فِيهَا كَمَا أَجْمَعُوا مَعَ أَبِي بَكْرٍ عَلَى قِتَالِ مَانِعِي الزَّكَاةِ، وَفِيهِ إِرَاقَةُ الدِّمَاءِ فَلَمْ يَكُنْ لِأَحَدِهِمْ بَعْدَ الْإِجْمَاعِ وَمَا سُفِكَ فِيهِ مِنَ الدِّمَاءِ أَنْ يُخَالِفَ فِيهِ، لِأَنَّهُ يَجْعَلُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ إِجْمَاعِهِمْ مُنْكَرًا وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَجْتَمِعَ الْأُمَّةُ عَلَى مُنْكَرٍ.

Pendapat kedua: Ijmā‘ bukanlah syarat, dan ijmā‘ telah tetap dengan adanya kesepakatan atasnya, sehingga tidak seorang pun dari mereka boleh membuat perbedaan pendapat di dalamnya. Sebab, dalam perkara-perkara besar, tidak mungkin mereka sepakat atas ijmā‘ kecuali setelah kebenaran menjadi jelas di dalamnya, sebagaimana mereka berijmā‘ bersama Abu Bakar untuk memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, padahal di dalamnya terdapat penumpahan darah. Maka, tidak seorang pun dari mereka setelah ijmā‘ dan setelah darah tertumpah dalam perkara itu boleh menyelisihinya, karena hal itu berarti mengingkari ijmā‘ yang telah mereka sepakati sebelumnya, dan tidak boleh umat ini sepakat atas suatu kemungkaran.

الشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَلْحَقَ بِالْعَصْرِ الْأَوَّلِ مَنْ يُنَازِعُهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعَصْرِ الثَّانِي.

Syarat keempat: Tidak boleh ada dari kalangan generasi kedua yang menentang generasi pertama yang telah mencapai ijmā‘.

فَإِنْ لَحِقَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ بَعْضَ التَّابِعِينَ فَخَالَفَهُمْ فِيمَا أَجْمَعُوا عَلَيْهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ: هَلْ يَمْنَعُ خِلَافُهُ مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika sebagian sahabat menyusul sebagian tabi’in lalu menyelisihi mereka dalam perkara yang telah mereka sepakati (ijmā‘), maka para pengikut Imam Syafi’i berbeda pendapat: Apakah perselisihan sahabat tersebut dapat mencegah terjadinya ijmā‘? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْإِجْمَاعَ مُنْعَقِدٌ لَا يَرْتَفِعُ بِخِلَافِهِ، لِأَنَّهُمْ بِمُشَاهَدَةِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَحْفَظُ لِشَرِيعَتِهِ وَقَدْ أَنْكَرَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَلَى أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُنَازَعَتَهُ الصَّحَابَةَ وَقَالَتْ: أَرَاكَ كَالْفَرُّوجِ إِذَا اجْتَمَعَ مَعَ الدِّيكَةِ صَايَحَهَا.

Salah satunya adalah bahwa ijmā‘ yang telah terwujud tidak dapat dibatalkan dengan adanya perbedaan pendapat setelahnya, karena mereka (para sahabat) dengan menyaksikan Rasulullah ﷺ lebih menjaga syariatnya. Aisyah ra. pernah mengingkari Abu Salamah bin Abdurrahman yang berselisih dengan para sahabat dan berkata: “Aku melihatmu seperti anak ayam ketika berkumpul dengan ayam jantan, ikut berkokok bersama mereka.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ خِلَافَهُ يَمْنَعُ مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ؛ لِأَنَّ صِغَرَ السِّنِّ لَا يَمْنَعُ مِنْ نُفُوذِ الْقَوْلِ كَمَا خَالَفَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي صِغَرِ سِنِّهِ أَكَابِرَ الصَّحَابَةِ، وَقَدْ قَالَ عَلِيٌّ: اعْرَفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ.

Pendapat kedua: bahwa perbedaan pendapatnya mencegah terjadinya ijmā‘; karena usia muda tidak menghalangi pendapatnya untuk dianggap sah, sebagaimana Ibnu ‘Abbās ketika masih muda berbeda pendapat dengan para sahabat senior, dan ‘Alī pernah berkata: “Kenalilah kebenaran, niscaya kamu akan mengenal orang-orang yang membelanya.”

فَإِذَا اسْتَقَرَّ الْإِجْمَاعُ بِهَذِهِ الشُّرُوطِ الْأَرْبَعَةِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ إِجْمَاعُ أَهْلِ الْعَصْرِ حُجَّةً عَلَى مَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ أَهْلِ الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ وَلَا يَكُونُ حُجَّةً عَلَى أَهْلِ عَصْرِهِ لِعَدَمِ اسْتِقْرَارِهِ فِيهِ، فَيَكُونُ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ حُجَّةً عَلَى التَّابِعِينَ، وَلَا يَكُونُ حُجَّةً عَلَى الصَّحَابَةِ، وَإِجْمَاعُ التَّابِعِينَ حُجَّةٌ عَلَى تَابِعِي التَّابِعِينَ، وَلَا يَكُونُ حُجَّةً عَلَى التَّابِعِينَ وَهَذَا حُكْمُ الْإِجْمَاعِ فِي كُلِّ عَصْرٍ يَأْتِي مَا بَقِيَتِ الْأَرْضُ وَمَنْ عَلَيْهَا.

Apabila ijmā‘ telah tetap dengan empat syarat ini, maka wajib bahwa ijmā‘ ahli suatu masa menjadi hujjah atas generasi setelah mereka dari kalangan orang-orang pada masa-masa berikutnya, dan tidak menjadi hujjah atas orang-orang pada masa mereka sendiri karena belum tetapnya ijmā‘ pada masa itu. Maka, ijmā‘ para sahabat menjadi hujjah atas para tabi‘in, dan tidak menjadi hujjah atas para sahabat sendiri. Ijmā‘ para tabi‘in menjadi hujjah atas tabi‘ut tabi‘in, dan tidak menjadi hujjah atas para tabi‘in. Inilah hukum ijmā‘ pada setiap masa yang datang selama bumi dan seluruh isinya masih ada.

وَقَالَ دَاوُدُ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ: الْإِجْمَاعُ اللَّازِمُ يَخْتَصُّ بِعَصْرِ الصَّحَابَةِ لِاخْتِصَاصِهِمْ بِنُزُولِ الْوَحْيِ فِيهِمْ، وَلَا يَلْزَمُ إِجْمَاعُ مَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَغَيْرِهِمْ.

Dawud dan sekelompok ulama dari kalangan Ahluzh-Zhahir berpendapat bahwa ijmā‘ yang bersifat mengikat itu khusus pada masa para sahabat karena mereka secara khusus mengalami turunnya wahyu di tengah-tengah mereka, dan ijmā‘ generasi setelah mereka, seperti para tabi‘in dan selain mereka, tidak bersifat mengikat.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ وُضُوحَ الْحَقِّ مُسْتَدِيمٌ فِي كُلِّ عَصْرٍ لِأَنَّهُ لَا يَخْلُو عَصْرٌ مِنْ قَائِمٍ لِلَّهِ بِحُجَّةٍ، وَلَوْ لَمْ يَلْزَمْ إِجْمَاعُهُمْ لَخَرَجَ الْحَقُّ عَنْهُمْ.

Salah satunya adalah bahwa kejelasan kebenaran senantiasa ada di setiap zaman, karena tidak ada satu zaman pun yang kosong dari seseorang yang menegakkan hujjah untuk Allah. Jika ijmā‘ mereka tidak diwajibkan, niscaya kebenaran akan keluar dari mereka.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ أَهْلُ كُلِّ عَصْرٍ مَحْجُوجِينَ بِنَقْلِ مَنْ تَقَدَّمَهُمْ وَجَبَ أَنْ يَكُونُوا مَحْجُوجِينَ بِإِجْمَاعِ مَنْ تَقَدَّمَهُمْ لِيَكُونَ الشَّرْعُ مَحْرُوسًا بِهِمْ مِنَ الزَّلَلِ وَالْخَطَأِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهَا مَنْ نَاوَأَهَا “.

Kedua: Karena setiap generasi selalu menjadi hujjah dengan riwayat dari generasi sebelumnya, maka wajib pula bagi mereka untuk menjadi hujjah dengan ijmā‘ generasi sebelumnya, agar syariat tetap terjaga melalui mereka dari kesalahan dan kekeliruan. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tampil di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menentang mereka.”

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي مُعَارَضَةِ الِاخْتِلَافِ وَالْإِجْمَاعِ: فَيَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun bagian keempat tentang pertentangan antara perbedaan pendapat dan ijmā‘: maka terbagi menjadi empat bagian.

أَحَدُهَا: أَنْ يَحْدُثَ الْخِلَافُ بَعْدَ تَقَدُّمِ الْإِجْمَاعِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، مِثْلُ أَنْ يَتَقَدَّمَ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ ثُمَّ يَحْدُثُ مِنْ أَحَدِهِمْ خِلَافٌ، فَهَذَا الْخِلَافُ الْحَادِثُ مَانِعٌ مِنِ انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ، كَمَا أَظْهَرَ ابْنُ عَبَّاسٍ خِلَافَهُ فِي الْعَوْلِ بَعْدَ مَوْتِ عُمَرَ وَارْتَفَعَ بِخِلَافِهِ انْعِقَادُ الْإِجْمَاعِ فِي الْعَوْلِ وَكَالَّذِي رَجَعَ عَنْهُ عَلِيٌّ فِي بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ فَارْتَفَعَ بِرُجُوعِهِ الْإِجْمَاعُ.

Salah satunya: terjadinya perbedaan pendapat setelah sebelumnya telah ada ijmā‘ pada satu masa, seperti misalnya telah terjadi ijmā‘ di kalangan para sahabat, kemudian salah satu dari mereka mengemukakan pendapat yang berbeda. Maka perbedaan pendapat yang muncul ini menjadi penghalang bagi terwujudnya ijmā‘, sebagaimana Ibnu ‘Abbās menampakkan pendapat berbedanya dalam masalah ‘aul setelah wafatnya ‘Umar, sehingga dengan perbedaan pendapatnya itu, ijmā‘ dalam masalah ‘aul menjadi gugur. Demikian pula seperti yang dirujuk kembali oleh ‘Alī dalam masalah jual beli ummahāt al-awlād, sehingga dengan kembalinya beliau, ijmā‘ pun menjadi gugur.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَحْدُثَ الْإِجْمَاعُ بَعْدَ تَقَدُّمِ الْخِلَافِ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، فَهَذَا الْإِجْمَاعُ الْحَادِثُ يَرْفَعُ الْخِلَافَ الْمُتَقَدِّمَ كَاخْتِلَافِ الصَّحَابَةِ فِي قَتْلِ مَانِعِي الزَّكَاةِ ثُمَّ وَافَقُوا أَبَا بَكْرٍ عَلَيْهِ بَعْدَ تَقَدُّمِ خِلَافِهِمْ لَهُ، فَيَرْتَفِعُ الْخِلَافُ بِالْإِجْمَاعِ.

Bagian kedua: Ijma‘ terjadi setelah sebelumnya terdapat perbedaan pendapat dalam satu masa. Maka ijma‘ yang terjadi ini menghapus perbedaan pendapat yang telah ada sebelumnya, seperti perbedaan para sahabat dalam hukum membunuh orang yang menolak membayar zakat, kemudian mereka sepakat dengan Abu Bakar setelah sebelumnya berbeda pendapat dengannya. Maka perbedaan pendapat itu dihapuskan dengan adanya ijma‘.

وَفِي هَذَا الْإِجْمَاعِ وَجْهَانِ:

Dalam ijmā‘ ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ أَوْكَدُ مِنْ إِجْمَاعٍ لَمْ يَتَقَدَّمْهُ خِلَافٌ، لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى ظُهُورِ الْحَقِّ بَعْدَ الْتِبَاسٍ.

Salah satunya: bahwa ijmā‘ yang didahului oleh adanya perbedaan pendapat lebih kuat daripada ijmā‘ yang tidak didahului perbedaan, karena hal itu menunjukkan kebenaran yang tampak setelah sebelumnya samar.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُمَا سَوَاءٌ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ مُقْتَرِنٌ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

Pendapat kedua: Keduanya sama; karena kebenaran terkait dengan masing-masing dari keduanya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَحْدُثَ الْخِلَافُ بَعْدَ تَقَدُّمِ الْإِجْمَاعِ فِي عَصْرَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ كَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَخِلَافِ التَّابِعِينَ لَهُمْ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Bagian ketiga: Terjadinya perbedaan pendapat setelah sebelumnya telah terjadi ijmā‘ pada dua masa yang berbeda, seperti ijmā‘ para sahabat kemudian muncul perbedaan pendapat di kalangan tabi‘in setelah mereka. Maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُخَالِفُوهُمْ مَعَ اتِّفَاقِ الْأُصُولِ فِي الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا، فَهَذَا الْخِلَافُ الْحَادِثُ مُطَّرِحٌ وَالْإِجْمَاعُ الْمُتَقَدِّمُ مُنْعَقِدٌ، لِأَنَّ حُجَّةَ الْإِجْمَاعِ قَاهِرَةٌ.

Salah satunya adalah bahwa mereka menyelisihi (pendapat) dengan tetap adanya kesepakatan dalam ushul yang telah disepakati bersama; maka perbedaan pendapat yang muncul belakangan ini harus ditinggalkan dan ijmā‘ yang telah terdahulu tetap berlaku, karena hujjah ijmā‘ itu bersifat mengikat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَحْدُثَ فِي الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ صِفَةٌ زَائِدَةٌ أَوْ نَاقِصَةٌ فَيَحْدُثُ الْخِلَافُ فِيهَا بِحُدُوثِ مَا اخْتَلَفَ مِنْ صِفَاتِهَا فَيَكُونُ الْإِجْمَاعُ فِي الصِّفَاتِ مُنْعَقِدًا وَحُدُوثُ الِاخْتِلَافِ فِي الصِّفَاتِ الْمُخْتَلِفَةِ سَائِغًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ.

Jenis kedua: yaitu apabila pada perkara yang telah disepakati (ijmā‘) terjadi penambahan atau pengurangan sifat, sehingga timbul perbedaan pendapat mengenai sifat tersebut karena adanya perbedaan sifat yang muncul. Maka ijmā‘ tetap berlaku pada sifat-sifat yang telah disepakati, dan terjadinya perbedaan pendapat pada sifat-sifat yang berbeda itu dibolehkan menurut Imam Syafi‘i dan mayoritas fuqahā’.

وَذَهَبَ دَاوُدُ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ إِلَى اسْتِصْحَابِ حُكْمِ الْإِجْمَاعِ فَإِنَّ اخْتِلَافَ الصِّفَاتِ الْحَادِثَةِ لَا يُبِيحُ اخْتِلَافَ الْحُكْمِ فِيهَا إِلَّا بِدَلِيلٍ قَاطِعٍ، وَجَعَلُوا اسْتِصْحَابَ الْحَالِ حُجَّةً فِي الْأَحْكَامِ، وَمِثَالُ هَذَا أَنْ يَنْعَقِدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى إِبْطَالِ التَّيَمُّمِ بِرُؤْيَةِ الْمَاءِ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِذَا رَأَوْهُ فِي الصَّلَاةِ أَبْطَلُوا تَيَمُّمَهُ اسْتِصْحَابًا لِبُطْلَانِهِ قَبْلَ الصَّلَاةِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْمَعُوا بَيْنَهُمَا بِقِيَاسٍ كَمَا لَوِ اسْتَيْقَنَ الطُّهْرَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ وَجَبَّ أَنْ يَسْتَصْحِبَ حُكْمَ الْيَقِينِ وَيَلْغِيَ حُكْمَ الشَّكِّ.

Daud dan sekelompok ahli Zhahiriyah berpendapat untuk menetapkan hukum ijmā‘, karena perbedaan sifat-sifat yang baru tidak membolehkan perbedaan hukum padanya kecuali dengan dalil yang pasti. Mereka menjadikan istishhāb al-hāl sebagai hujjah dalam hukum-hukum. Contohnya adalah ijmā‘ yang telah terjadi atas batalnya tayammum dengan melihat air sebelum salat. Maka jika seseorang melihat air di tengah salat, mereka membatalkan tayammumnya dengan berpegang pada batalnya tayammum sebelum salat, tanpa menggabungkan keduanya dengan qiyās. Sebagaimana jika seseorang yakin dalam keadaan suci dan ragu dalam hadats, maka wajib baginya untuk menetapkan hukum keyakinan dan mengabaikan hukum keraguan.

وَهَذَا فَاسِدٌ، وَلِكُلِّ حَالٍ تَجَدَّدَتْ حُكْمٌ تَوَقَّفَ عَلَى الدَّلِيلِ، يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مُسَاوِيًا، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مُخَالِفًا، وَيَكُونُ الْإِجْمَاعُ حُجَّةً فِي الْحَالِ الَّتِي وَرَدَ فِيهَا، وَلَا يَكُونُ حُجَّةً فِي غَيْرِهَا، إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْقِيَاسُ مُوجِبًا لِاسْتِصْحَابِ حُكْمِهِ، فَإِنَّ الْإِجْمَاعَ أَصْلٌ يَجُوزُ الْقِيَاسُ عَلَيْهِ، فَيَكُونُ الْقِيَاسُ هُوَ الَّذِي أَوْجَبَ اسْتِصْحَابَ حُكْمِ الْإِجْمَاعِ، لَا الْإِجْمَاعَ.

Ini adalah pendapat yang keliru. Setiap keadaan yang baru memiliki hukum yang bergantung pada dalil; boleh jadi hukumnya sama, boleh jadi berbeda. Ijmā‘ menjadi hujjah pada keadaan yang memang terjadi padanya, dan tidak menjadi hujjah pada selainnya, kecuali jika qiyās mengharuskan untuk menetapkan hukumnya. Sebab, ijmā‘ adalah asal yang boleh dijadikan objek qiyās, sehingga qiyās-lah yang menyebabkan penetapan hukum ijmā‘, bukan ijmā‘ itu sendiri.

وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا سَاغَ الِاجْتِهَادُ فِيمَا عَدَا حَالَةَ الْإِجْمَاعِ وَلَمْ يَسُغِ الِاجْتِهَادُ فِي حَالَةِ الْإِجْمَاعِ دَلَّ عَلَى افْتِرَاقِهِمَا فِيهِ، وَلَمْ يَلْزَمْ أَنْ يُسَاوِيَهُ فِي حُكْمٍ. فَأَمَّا حَمْلُ الطَّهَارَةِ عَلَى الْيَقِينِ فَلِأَنَّ الشَّرْعَ لَمْ يَنْصِبْ عَلَيْهَا دَلِيلًا.

Hal itu terjadi karena ijtihad diperbolehkan selain pada keadaan ijmā‘, dan ijtihad tidak diperbolehkan dalam keadaan ijmā‘, maka hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara keduanya dalam hal tersebut, dan tidak mesti keduanya sama dalam hukum. Adapun menetapkan thaharah (kesucian) atas dasar keyakinan, maka karena syariat tidak menetapkan dalil atasnya.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّ اسْتِصْحَابَ الْحَالِ إِنْ لَمْ يُعَارِضْهُ دَلِيلٌ يَجُوزُ أَنْ يُجْعَلَ دَلِيلًا.

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa istishhāb al-hāl, jika tidak ada dalil yang menentangnya, boleh dijadikan sebagai dalil.

وَقَوْلُهُ مَدْفُوعٌ بِمَا ذَكَرْنَا.

Pendapatnya tertolak dengan apa yang telah kami sebutkan.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا: إِذَا اخْتَلَفَ أَهْلُ الِاجْتِهَادِ فِي حُكْمٍ فَأَثْبَتَهُ بَعْضُهُمْ وَنَفَاهُ بَعْضُهُمْ:

Berdasarkan hal ini: apabila para mujtahid berbeda pendapat dalam suatu hukum, lalu sebagian dari mereka menetapkannya dan sebagian yang lain menafikannya:

قَالَ دَاوُدُ وَأَهْلُ الظَّاهِرِ: لَا دَلِيلَ عَلَى النَّافِي وَيَجِبُ الدَّلِيلُ عَلَى الْمُثْبِتِ اسْتِصْحَابًا لِحُكْمِ الْأَصْلِ فِي النَّفْيِ كَمَا تَجِبُ الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي دُونَ الْمُنْكِرِ.

Dawud dan para pengikut mazhab Zhahiri berkata: Tidak ada dalil atas pihak yang menafikan, dan wajib ada dalil bagi pihak yang menetapkan, dengan tetap berpegang pada hukum asal dalam penafian, sebagaimana bukti wajib diberikan oleh pihak yang mengklaim, bukan oleh pihak yang mengingkari.

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ أَنَّ الدَّلِيلَ يَجِبُ عَلَى النَّافِي كَوُجُوبِهِ عَلَى الْمُثْبِتِ وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ نَفِيُ الْحُكْمِ إِلَّا بِدَلِيلٍ كَمَا لَا يَجُوزُ لَهُ إِثْبَاتُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ: لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ نَصَّبَ عَلَى الْأَحْكَامِ أَدِلَّةَ الْإِثْبَاتِ وَالنَّفْيِ. وَالنَّافِي لِلْحُكْمِ مُثْبِتٌ لِضِدِّهِ فَلَمْ يَجُزْ نَفْيُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ كَمَا لَمْ يَجُزْ لَهُ إِثْبَاتُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Menurut Imam Syafi‘i dan mayoritas fuqaha, dalil wajib bagi pihak yang menafikan sebagaimana wajib bagi pihak yang menetapkan, dan tidak boleh baginya menafikan hukum kecuali dengan dalil, sebagaimana tidak boleh pula menetapkannya kecuali dengan dalil. Sebab, Allah Ta‘ala telah menetapkan atas hukum-hukum itu dalil-dalil penetapan dan penafian. Orang yang menafikan hukum berarti menetapkan lawannya, maka tidak boleh menafikannya kecuali dengan dalil, sebagaimana tidak boleh pula menetapkannya kecuali dengan dalil.

فَأَمَّا وُجُوبُ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْمُدَّعِي دُونَ الْمُنْكِرِ فَلِأَنَّ يَمِينَ الْمُنْكِرِ كَبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي فَصَارَا مُجْتَمِعَيْنِ عَلَى الْبَيِّنَةِ. وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي صِفَتِهِمَا.

Adapun kewajiban menghadirkan bayyinah atas pihak yang mengklaim (mudda‘i) dan bukan atas pihak yang mengingkari (munkir), karena sumpah pihak yang mengingkari itu seperti bayyinah pihak yang mengklaim, sehingga keduanya sama-sama memiliki bayyinah, meskipun berbeda dalam sifatnya.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ يَحْدُثَ الْإِجْمَاعُ بَعْدَ الْخِلَافِ فِي عَصْرَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ، كَاخْتِلَافِ الصَّحَابَةِ فِي حُكْمٍ عَلَى قَوْلَيْنِ فَيُجْمِعُ التَّابِعُونَ عَلَى أَحَدِهِمَا: فَالظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَمَا عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَصْحَابِهِ أَنَّ حُكْمَ الِاخْتِلَافِ ثَابِتٌ، وَأَنَّ مَا تَعَقَّبَهُ مِنَ الْإِجْمَاعِ غَيْرُ مُنْعَقِدٍ، لِأَنَّ انْقِرَاضَ الصَّحَابَةِ عَلَى قَوْلَيْنِ فِي حُكْمِ إِجْمَاعٍ مِنْهُمْ عَلَى تَسْوِيغِ الِاجْتِهَادِ فِي ذَلِكَ الْحُكْمِ. وَفِي انْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ بَعْدَ إِبْطَالِ مَا أَجْمَعُوا عَلَيْهِ مِنْ تَسْوِيغِ الِاجْتِهَادِ فِيهِ فَصَارَ فِي إِثْبَاتِ إِجْمَاعِ التَّابِعِينَ إِبْطَالُ إِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ فَلَمْ يَجُزْ.

Bagian keempat: yaitu terjadinya ijmā‘ setelah adanya perbedaan pendapat pada dua generasi yang berbeda, seperti perbedaan para sahabat dalam suatu hukum dengan dua pendapat, kemudian para tābi‘īn bersepakat pada salah satunya. Maka yang tampak dari mazhab asy-Syāfi‘ī dan mayoritas pengikutnya adalah bahwa hukum perbedaan pendapat tersebut tetap berlaku, dan ijmā‘ yang terjadi setelahnya tidak sah, karena wafatnya para sahabat dalam keadaan memiliki dua pendapat dalam suatu hukum merupakan ijmā‘ dari mereka atas bolehnya ijtihad dalam hukum tersebut. Adapun terjadinya ijmā‘ setelah pembatalan apa yang telah mereka sepakati berupa bolehnya ijtihad dalam masalah itu, maka menetapkan ijmā‘ para tābi‘īn berarti membatalkan ijmā‘ para sahabat, sehingga hal itu tidak diperbolehkan.

وَقَالَ الْحَارِثُ بْنُ أَسَدٍ الْمُحَاسَبِيُّ وَتَابَعَهُ فِيهِ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ قَدْ زَالَ حُكْمُ الِاخْتِلَافِ بِمَا تَعَقَّبَهُ مِنَ الْإِجْمَاعِ كَمَا يَزُولُ اخْتِلَافُ الصَّحَابَةِ إِذَا تَعَقَّبَهُ إِجْمَاعُهُمْ.

Al-Harits bin Asad al-Muhasibi berkata, dan sebagian pengikut Syafi’i mengikuti pendapatnya dalam hal ini: Hukum perbedaan pendapat telah hilang dengan adanya ijmā‘ yang datang setelahnya, sebagaimana perbedaan pendapat para sahabat juga hilang apabila diikuti oleh ijmā‘ mereka.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ لَا يَنْعَقِدُ إِلَّا بِانْقِرَاضِهِمْ فَلِذَلِكَ وَقَعَ الْفَرْقُ بَيْنَ انْقِرَاضِهِمْ عَلَى اخْتِلَافٍ أَوْ إِجْمَاعٍ.

Ini tidak benar, karena ijmā‘ para sahabat tidak dapat terwujud kecuali setelah mereka semua tiada. Oleh karena itu, terdapat perbedaan antara wafatnya mereka dalam keadaan berbeda pendapat atau dalam keadaan ijmā‘.

فَعَلَى هَذَا لَوِ اخْتَلَفَ الصَّحَابَةُ عَلَى قَوْلَيْنِ فِي حُكْمٍ لَمْ يَتَعَدَّوْهُ إِلَى ثَالِثٍ صَارَ ذَلِكَ إِجْمَاعًا مِنْهُمْ عَلَى إِبْطَالِ مَا عَدَا الْقَوْلَيْنِ فَلَمْ يَجُزْ لِمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ إِحْدَاثُ قَوْلٍ ثَالِثٍ.

Dengan demikian, jika para sahabat berbeda pendapat menjadi dua pendapat dalam suatu hukum dan tidak melampaui keduanya kepada pendapat ketiga, maka hal itu menjadi ijmā‘ di antara mereka atas pembatalan selain dua pendapat tersebut, sehingga tidak boleh bagi generasi setelah mereka dari kalangan tabi‘in untuk membuat pendapat ketiga.

مِثَالُهُ أَنَّ الصَّحَابَةَ انْقَرَضُوا عَلَى قَوْلَيْنِ فِي ابْنَيْ عَمٍّ أَحَدُهُمَا أَخٌ لِأُمٍّ، فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَهُمَا فِي الْمِيرَاثِ، وَذَهَبَ آخَرُونَ مِنْهُمْ إِلَى أَنَّ الْأَخَ مِنَ الْأُمِّ مِنْهُمَا أَحَقُّ بِالْمِيرَاثِ فَخَالَفَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ فَجَعَلَ ابْنَ الْعَمِّ الَّذِي لَيْسَ بِأَخٍ لِأُمٍّ أَحَقَّ بِالْمِيرَاثِ فَخَالَفَهُمْ فِي الْقَوْلَيْنِ بِإِحْدَاثِ قَوْلٍ ثَالِثٍ فَذَهَبَ بَعْضُ مَنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْعِلْمِ إِلَى تَسْوِيغِ هَذَا؛ لِأَنَّ الِاخْتِلَافَ مُوجِبٌ لِتَسْوِيغِ الِاجْتِهَادِ.

Contohnya adalah para sahabat telah wafat dengan memegang dua pendapat mengenai dua orang sepupu, salah satunya adalah saudara seibu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa keduanya disamakan dalam warisan, sementara sebagian lain berpendapat bahwa saudara seibu di antara keduanya lebih berhak atas warisan. Kemudian dari kalangan tabi’in, Sa‘id bin Jubair menyelisihi mereka dengan menetapkan bahwa sepupu yang bukan saudara seibu lebih berhak atas warisan, sehingga ia menyelisihi kedua pendapat tersebut dengan membuat pendapat ketiga. Maka sebagian orang yang mengaku berilmu membolehkan hal ini, karena perbedaan pendapat dianggap sebagai alasan yang membolehkan ijtihad.

وَهَذَا فَاسِدٌ؛ لِأَنَّ فِي انْقِرَاضِ الصَّحَابَةِ عَلَى قَوْلَيْنِ إِجْمَاعًا مِنْهُمْ عَلَى إِبْطَالِ مَا خَرَجَ عَنِ الْقَوْلَيْنِ، وأن الحق في أحدهما، فلم يجر لِلتَّابِعِيِّ أَنْ يُبْطِلَ مَا انْعَقَدَ إِجْمَاعُهُمْ عَلَيْهِ فَهَذَا حُكْمُ الْإِجْمَاعِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ وَيَتَفَرَّعُ عَلَيْهِ.

Ini adalah pendapat yang rusak; karena jika para sahabat telah wafat dalam keadaan terdapat dua pendapat, maka itu merupakan ijmā‘ dari mereka untuk membatalkan apa yang keluar dari dua pendapat tersebut, dan bahwa kebenaran ada pada salah satunya. Maka tidak boleh bagi seorang tabi‘in untuk membatalkan apa yang telah menjadi ijmā‘ mereka atasnya. Inilah hukum ijmā‘, hal-hal yang berkaitan dengannya, dan cabang-cabang yang muncul darinya.

وَهُوَ مِنْ دَلَائِلِ السَّمْعِ.

Dan ia termasuk dalil-dalil sam‘i.

وَيَجُوزُ نَقْلُهُ بِأَخْبَارِ الْآحَادِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ بِأَوْكَدَ مِنْ سُنَنِ الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Dan boleh dipindahkan (hukum) dengan khabar āḥād, karena hal itu tidak lebih kuat daripada sunah Rasulullah ﷺ.

فَإِنْ نَقَلَ الرَّاوِي أَنَّهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى كَذَا فَقَطَعَ بِإِجْمَاعِهِمْ عَلَيْهِ قُبِلَ مِنْهُ وَأُثْبِتَ الْإِجْمَاعُ بِقَوْلِهِ سَوَاءٌ كَانَ الرَّاوِي مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ أَوْ لَمْ يَكُنْ.

Jika seorang perawi menyampaikan bahwa mereka telah berijmā‘ atas suatu perkara dan ia menegaskan ijmā‘ mereka atasnya, maka keterangannya diterima dan ijmā‘ tersebut ditetapkan berdasarkan ucapannya, baik perawi itu termasuk ahli ijtihad maupun bukan.

فَإِنْ قَالَ الرَّاوِي لَمْ أَعْرِفْ بَيْنَهُمُ اخْتِلَافًا فِيهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ وَلَا مِمَّنْ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِالْإِجْمَاعِ وَالِاخْتِلَافِ لَمْ يَثْبُتِ الْإِجْمَاعُ بِرِوَايَتِهِ.

Jika seorang perawi berkata, “Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hal ini,” maka jika ia bukan termasuk ahli ijtihad dan bukan pula orang yang ilmunya meliputi ijmā‘ dan ikhtilāf, maka ijmā‘ tidak dapat ditetapkan berdasarkan riwayatnya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي ثُبُوتِهِ بِهَا إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ وَالتَّقَدُّمِ فِي الْعِلْمِ بِالْإِجْمَاعِ وَالِاخْتِلَافِ فَأَثْبَتَ بَعْضُهُمُ الْإِجْمَاعَ بِهَا وَجَعَلَ نَفْيَ الِاخْتِلَافِ إِثْبَاتًا لِلْإِجْمَاعِ وَامْتَنَعَ آخَرُونَ مِنْ إِثْبَاتِ الْإِجْمَاعِ بِهَذَا النَّفْيِ وَلِكِلَا الْقَوْلَيْنِ تَوْجِيهٌ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بالصواب.

Para ulama kami berbeda pendapat tentang penetapan ijmā‘ dengan cara ini, jika orang yang menukilkannya termasuk ahli ijtihad dan memiliki kedudukan dalam ilmu tentang ijmā‘ dan ikhtilāf. Sebagian dari mereka menetapkan ijmā‘ dengannya dan menjadikan ketiadaan perbedaan pendapat sebagai penetapan ijmā‘, sementara yang lain menolak penetapan ijmā‘ dengan penafian perbedaan pendapat tersebut. Kedua pendapat itu memiliki alasan masing-masing, dan Allah lebih mengetahui mana yang benar.

(فصل: [رابعا – القياس] )

(Bab: [Keempat – Qiyās])

فَأَمَّا الْأَصْلُ الرَّابِعُ مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ وَهُوَ الْقِيَاسُ فَلَهُ مُقَدِّمَتَانِ:

Adapun dasar keempat dari ushul syar‘i, yaitu qiyās, maka ia memiliki dua pendahuluan:

إِحْدَاهُمَا: الِاجْتِهَادُ.

Salah satunya adalah ijtihad.

وَالثَّانِيَةُ: الِاسْتِنْبَاطُ.

Dan yang kedua: istinbāṭ.

(الاجتهاد)

(Ijtihad)

فَأَمَّا الِاجْتِهَادُ: فَهُوَ مَأْخُوذٌ مِنْ إِجْهَادِ النَّفْسِ وَكَدِّهَا فِي طَلَبِ الْمُرَادِ بِهِ. كَمَا أَنَّ جِهَادَ الْعَدُوِّ مِنْ إِجْهَادِ النَّفْسِ فِي قَهْرِ الْعَدُوِّ، وَالِاجْتِهَادُ هُوَ طَلَبُ الصَّوَابِ بِالْأَمَارَاتِ الدَّالَّةِ عليه.

Adapun ijtihad: ia diambil dari kata ijhād al-nafs (mengerahkan segenap kemampuan diri) dan mencurahkan tenaga dalam mencari maksud yang diinginkan darinya. Sebagaimana jihad melawan musuh berasal dari pengerahan segenap kemampuan diri dalam menaklukkan musuh, maka ijtihad adalah upaya mencari kebenaran melalui tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya.

وَزَعَمَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الِاجْتِهَادَ هُوَ الْقِيَاسُ وَنَسَبَهُ إِلَى الشَّافِعِيِّ مِنْ كَلَامٍ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الرِّسَالَةِ.

Ibnu Abi Hurairah berpendapat bahwa ijtihad adalah qiyās, dan ia menisbatkannya kepada Imam Syafi‘i berdasarkan suatu pernyataan yang rancu baginya dalam Kitab ar-Risālah.

وَالَّذِي قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فِي هَذَا الْكِتَابِ: إنَّ مَعْنَى الِاجْتِهَادِ مَعْنَى الْقِيَاسِ.

Apa yang dikatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab ini adalah bahwa makna ijtihad sama dengan makna qiyās.

يُرِيدُ بِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى حُكْمٍ غَيْرِ مَنْصُوصٍ عَلَيْهِ.

Yang dimaksud adalah bahwa masing-masing dari keduanya digunakan untuk mencapai hukum terhadap sesuatu yang tidak terdapat nash (teks) tentangnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الِاجْتِهَادِ وَالْقِيَاسِ: أَنَّ الِاجْتِهَادَ هُوَ مَا وَصَفْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ طَلَبُ الصَّوَابِ بِالْأَمَارَاتِ الدَّالَّةِ عَلَيْهِ، وَالْقِيَاسُ هُوَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْفَرْعِ وَالْأَصْلِ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي عِلَّةِ الْأَصْلِ، فَافْتَرَقَا، غَيْرَ أَنَّ الْقِيَاسَ يَفْتَقِرُ إِلَى اجْتِهَادٍ، وَقَدْ لَا يَفْتَقِرُ الِاجْتِهَادُ إِلَى الْقِيَاسِ عَلَى مَا سَنُوَضِّحُهُ فَلِذَلِكَ جَعَلْنَا الِاجْتِهَادَ مُقَدِّمَةً لِلْقِيَاسِ.

Perbedaan antara ijtihad dan qiyās adalah bahwa ijtihad, sebagaimana telah kami jelaskan, merupakan upaya mencari kebenaran melalui tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya. Adapun qiyās adalah menyamakan antara cabang (masalah baru) dan pokok (masalah asal) karena keduanya memiliki ‘illat (alasan hukum) yang sama pada pokoknya. Maka keduanya pun berbeda. Namun, qiyās membutuhkan ijtihad, sedangkan ijtihad terkadang tidak membutuhkan qiyās, sebagaimana akan kami jelaskan. Oleh karena itu, kami menjadikan ijtihad sebagai pendahuluan bagi qiyās.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الِاجْتِهَادَ لَهُ أَصْلٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِمُعَاذٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: ” بِمَ تَحْكُمُ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي. فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الِاجْتِهَادَ عِنْدَ عَدَمِ النَّصِّ أَصْلٌ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ.

Dalil bahwa ijtihad memiliki dasar yang dapat dijadikan sandaran dalam hukum-hukum syariat adalah bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Mu‘adz ketika mengutusnya ke Yaman: “Dengan apa engkau memutuskan hukum?” Ia menjawab, “Dengan Kitab Allah.” Nabi bertanya, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah.” Nabi bertanya lagi, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Aku berijtihad dengan pendapatku.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah untuk sesuatu yang membuat Rasulullah ridha.” Ini menunjukkan bahwa ijtihad ketika tidak ada nash merupakan dasar dalam hukum-hukum syariat.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْكَلَامُ فِي الِاجْتِهَادِ يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ:

Jika demikian, pembahasan tentang ijtihad mencakup empat bagian:

أَحَدُهَا: فِيمَنْ يَجُوزُ له الاجتهاد.

Salah satunya: tentang siapa yang diperbolehkan melakukan ijtihad.

والثاني: فِي وُجُوهِ الِاجْتِهَادِ.

Kedua: dalam bentuk-bentuk ijtihad.

وَالثَّالِثُ: فِيمَا يَجِبُ بِالِاجْتِهَادِ.

Ketiga: mengenai hal-hal yang wajib berdasarkan ijtihad.

وَالرَّابِعُ: فِي حُكْمِ الِاجْتِهَادِ.

Keempat: tentang hukum ijtihad.

( [مَنْ يَجُوزُ لَهُ الِاجْتِهَادُ] )

( [Siapa yang Diperbolehkan Melakukan Ijtihad] )

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِيمَنْ يَجُوزُ لَهُ الِاجْتِهَادُ فَضَرْبَانِ:

Adapun bagian pertama: tentang siapa yang boleh melakukan ijtihad, maka terbagi menjadi dua golongan:

أَحَدُهُمَا: مُجْتَهِدٌ فِي عُمُومِ الْأَحْكَامِ.

Salah satunya adalah mujtahid dalam seluruh hukum.

والثاني: مجتهد في مخصوص منها.

Yang kedua: mujtahid dalam hal tertentu dari padanya.

المجتهد في جميع الأحكام:

Mujtahid dalam seluruh hukum:

فَأَمَّا الْمُجْتَهِدُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ، فَالْمُعْتَبَرُ فِي جَوَازِ اجْتِهَادِهِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ:

Adapun mujtahid dalam seluruh hukum, maka syarat yang dianggap sah untuk kebolehan ijtihadnya ada empat:

أَحَدُهَا: إِشْرَافُهُ عَلَى نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنْ قَصَّرَ فِي أَحَدِهَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْتَهِدَ.

Salah satunya adalah penguasaannya terhadap nash-nash al-Qur’an dan Sunnah. Jika ia kurang dalam salah satunya, maka tidak boleh baginya untuk berijtihad.

وَالثَّانِي: عِلْمُهُ بِوُجُوهِ النُّصُوصِ فِي الْعُمُومِ وَالْخُصُوصِ وَالْمُفَسَّرِ وَالْمُجْمَلِ وَالْمُقَيَّدِ وَالْمُطْلَقِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ قَبْلُ فَإِنْ قَصَّرَ فِيهَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَجْتَهِدَ.

Kedua: Pengetahuannya tentang berbagai bentuk nash dalam hal umum dan khusus, yang mufassar dan mujmal, yang muqayyad dan mutlak, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Jika ia kurang dalam hal-hal tersebut, maka tidak boleh baginya untuk berijtihad.

وَالثَّالِثُ: الْفِطْنَةُ وَالذَّكَاءُ لِيَصِلَ بِهِ إِلَى مَعْرِفَةِ الْمَسْكُوتِ عَنْهُ مِنْ أَمَارَاتِ الْمَنْطُوقِ بِهِ.

Ketiga: kecerdasan dan kecerdikan, agar dengannya ia dapat mengetahui hal-hal yang tidak disebutkan secara eksplisit dari petunjuk-petunjuk yang diucapkan.

فَإِنْ قُلْتَ: فِيهِ الْفِطْنَةُ وَالذَّكَاءُ لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ الِاجْتِهَادُ.

Jika kamu berkata: “Ia memiliki kecerdasan dan kepandaian,” maka ijtihad tidak sah darinya.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِلِسَانِ الْعَرَبِ وَمَوْضُوعِ خِطَابِهِمْ وَمَعَانِي كَلَامِهِمْ. لِأَنَّ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَهُمَا أَصْلُ الشَّرِيعَةِ وَرَدَا بِلِسَانِ الْعَرَبِ.

Keempat: hendaknya ia memahami bahasa Arab, cara berbicara mereka, dan makna perkataan mereka. Sebab, al-Kitab dan as-Sunnah, yang merupakan sumber pokok syariat, diturunkan dengan bahasa Arab.

أَمَّا الْكِتَابُ مَعَ ظُهُورِ لِسَانِهِمْ فِيهِ فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ به الروح الأمين … إِلَى قَوْلِهِ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ} [الشعراء: 192: 195] .

Adapun mengenai al-Kitab, dengan jelasnya bahasa mereka di dalamnya, maka Allah Ta‘ala berfirman: “Dan sesungguhnya (al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, yang dibawa turun oleh ar-Rūḥ al-Amīn … hingga firman-Nya: dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu‘arā’: 192–195).

وَلَمْ يَقُلْ هَذَا عَلَى وَجْهِ الْإِخْبَارِ بِهِ، لِأَنَّهُ مُشَاهَدٌ.

Dan ia tidak mengatakan hal ini dalam bentuk pemberitahuan, karena hal itu sudah nyata terlihat.

وَالْمُرَادُ بِهِ يَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ.

Yang dimaksud dengannya dapat mengandung dua kemungkinan.

أَحَدُهُمَا: أَنْ لَا يَنْقُلَ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ أَلْسِنَةِ الْأُمَمِ الْمُخْتَلِفَةِ إِبْطَالًا لِمَنْ جَوَّزَ ذَاكَ فِيهِ.

Salah satunya adalah tidak memindahkan (al-Qur’an) ke dalam bahasa lain dari berbagai bahasa bangsa-bangsa, sebagai bantahan terhadap siapa saja yang membolehkannya dalam hal ini.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ مِنْ أَلْفَاظِ الْعَجَمِ شَيْءٌ وَإِنِ اتَّفَقَ لِسَانُ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ فِي بَعْضِ الْأَلْفَاظِ، إِبْطَالًا لِقَوْلِ مَنْ زَعَمَ أَنَّ فِي الْقُرْآنِ أَلْفَاظًا أَعْجَمِيَّةً كَالسُّنْدُسِ، وَالْإِسْتَبْرَقِ، وَالْقِسْطَاسِ.

Kedua: Bahwa di dalamnya tidak terdapat satu pun kata dari bahasa asing, meskipun terkadang terdapat kesamaan antara bahasa Arab dan bahasa asing dalam beberapa kata, sebagai bantahan terhadap pendapat orang yang mengira bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat kata-kata asing seperti sundus, istabraq, dan qisthas.

وَأَمَّا السُّنَّةُ فِي وُرُودِهَا بِلِسَانِ الْعَرَبِ فَلِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ} [إبراهيم: 4] وَلِأَنَّ الْعَرَبَ أَوَّلُ مَنْ أُنْذِرَ بِالْقُرْآنِ وَدَعُوا إِلَى الْإِسْلَامِ وَكُلِّفُوا الْفُرُوضَ وَالْأَحْكَامَ.

Adapun sunnah yang disampaikan dengan bahasa Arab adalah karena firman Allah Ta‘ala: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya” (Ibrahim: 4), dan karena bangsa Arab adalah kaum pertama yang diberi peringatan dengan Al-Qur’an, diajak kepada Islam, serta dibebani kewajiban dan hukum-hukum.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ كَانَ مَنْ تَقَدَّمَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مَبْعُوثًا إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً فَجَازَ أَنْ يَكُونَ مَبْعُوثًا بِلِسَانِهِمْ  َمُحَمَّدٌ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَبْعُوثٌ إِلَى جَمِيعِ الْأُمَمِ فَلِمَ صَارَ مَبْعُوثًا بِلِسَانِ بَعْضِهِمْ؟ قِيلَ لَا تَخْلُو رِسَالَتُهُ إِلَيْهِمْ مِنْ أَنْ تَكُونَ بِجَمِيعِ أَلْسِنَتِهِمْ وَهَذَا خَارِجٌ عَنِ الْعُرْفِ الْمُسْتَطَاعِ أَنْ يَرِدَ كُلُّ فَرْضٍ فِي الْقُرْآنِ مُكَرَّرًا بِكُلِّ لِسَانٍ.

Jika dikatakan: Para nabi terdahulu diutus hanya kepada kaumnya secara khusus, sehingga wajar jika mereka diutus dengan bahasa kaumnya; sedangkan Muhammad ﷺ diutus kepada seluruh umat, maka mengapa beliau diutus dengan bahasa sebagian dari mereka? Maka dijawab: Tidak mungkin risalah beliau kepada mereka semua disampaikan dengan seluruh bahasa mereka, karena hal itu di luar kebiasaan dan kemampuan, serta tidak mungkin setiap kewajiban dalam Al-Qur’an diulang-ulang dengan setiap bahasa.

وَإِذَا خَرَجَ عَنْ هَذَا وَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ بِأَحَدِ الْأَلْسُنِ كَانَ لِسَانُ الْعَرَبِ بِهِ أَحَقَّ لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ:

Dan apabila keluar dari hal ini dan harus menggunakan salah satu bahasa, maka bahasa Arab lebih berhak digunakan karena tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنَّهُمْ أَوَّلُ الْمُخَاطَبِينَ بِهِ.

Salah satunya: bahwa merekalah yang pertama kali dituju dengan perintah itu.

وَالثَّانِي: أَنَّ لِسَانَهُمْ أَوْسَعُ وَكَلَامَهُمْ أَفْصَحُ.

Kedua: bahwa bahasa mereka lebih luas dan ucapan mereka lebih fasih.

وَالثَّالِثُ: لِفَضْلِ الْمَتْبُوعِ عَلَى التَّابِعِ وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَرَبِيُّ النَّسَبِ وَالدَّارِ وَاللِّسَانِ وَهُوَ أَفْضَلُ مَتْبُوعٍ فَكَانَ لِسَانُهُ مَتْبُوعًا أَوْلَى مِنْ أَنْ يَكُونَ تابعا.

Ketiga: karena keutamaan yang diikuti atas yang mengikuti, dan Rasulullah ﷺ adalah seorang Arab dari segi nasab, tempat tinggal, dan bahasa, serta beliau adalah yang paling utama untuk diikuti. Maka, bahasanya lebih layak untuk diikuti daripada menjadi pengikut.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ كَانَ مَعْرِفَةُ لِسَانِ الْعَرَبِ فَرْضًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مِنْ مُجْتَهِدٍ وَغَيْرِ مُجْتَهِدٍ.

Jika demikian, maka pengetahuan tentang bahasa Arab menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, baik yang mujtahid maupun yang bukan mujtahid.

إِلَّا أَنَّ غَيْرَ الْمُجْتَهِدِ يَلْزَمُهُ مِنْ فَرْضِهِ مَا اخْتَصَّ بِتَكْلِيفِهِ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ وَمَا تَتَضَمَّنُ الصَّلَاةُ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَالْأَذْكَارِ وَلَا يَلْزَمُهُ مَعْرِفَةُ مَا عَدَاهُ إِلَّا بِحَسَبِ مَا يَتَدَرَّجُ إِلَيْهِ فِي نَوَازِلِهِ وَأَحْكَامِهِ.

Namun, orang yang bukan mujtahid hanya diwajibkan menjalankan kewajiban yang khusus dibebankan kepadanya, seperti dua syahadat dan apa yang terkandung dalam salat berupa bacaan dan zikir. Ia tidak diwajibkan mengetahui hal-hal selain itu kecuali sesuai dengan apa yang secara bertahap ia hadapi dalam persoalan-persoalan baru (nawāzil) dan hukumnya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ ” عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ مَا بَلَغَهُ جُهْدُهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ كَمَا عَلَيْهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الصَّلَاةَ وَالْأَذْكَارَ “.

Imam Syafi‘i berkata, “Setiap Muslim wajib mempelajari bahasa Arab sesuai kemampuan maksimalnya untuk melaksanakan kewajiban agamanya, sebagaimana ia wajib mempelajari tata cara shalat dan zikir.”

وَأَسْقَطَ أَبُو حَنِيفَةَ مَعْرِفَةَ لِسَانِ الْعَرَبِ فِي حُقُوقِ الْمُكَلَّفِينَ، لِأَنَّهُ يُبِيحُ الْقِرَاءَةَ وَالْأَذْكَارَ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ.

Abu Hanifah tidak mewajibkan pengetahuan bahasa Arab dalam hak-hak mukallaf, karena beliau membolehkan membaca dan berzikir dengan selain bahasa Arab.

فَأَمَّا الْمُجْتَهِدُ فَيَلْزَمُهُ فِي حُقُوقِ الِاجْتِهَادِ أَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِلِسَانِ الْعَرَبِ.

Adapun seorang mujtahid, maka dalam hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad, ia wajib memahami bahasa Arab.

فَإِنْ قِيلَ: فَلِسَانُ الْعَرَبِ لَا يُحِيطُ بِعِلْمِ جَمِيعِهِ وَاحِدٌ مِنَ الْعَرَبِ فَكَيْفَ يَلْزَمُ الْمُجْتَهِدَ أَنْ يَكُونَ مُحِيطًا بِلِسَانِ الْعَرَبِ.

Jika dikatakan: Bahasa Arab tidak dapat dikuasai seluruh ilmunya oleh satu orang Arab pun, maka bagaimana mungkin seorang mujtahid diwajibkan untuk menguasai bahasa Arab?

قِيلَ: لِسَانُ الْعَرَبِ وَإِنْ لَمْ يُحِطْ بِهِ وَاحِدٌ مِنَ الْعَرَبِ فَإِنَّهُ يُحِيطُ بِهِ جَمِيعُ الْعَرَبِ، وَالَّذِي يَلْزَمُ فِي حَقِّ الْمُجْتَهِدِ أَنْ يَكُونَ مُحِيطًا بِأَكْثَرِهِ لِيَرْجِعَ فِيمَا عَزَبَ عنه إلى غيره أن جَمِيعَ السُّنَّةِ لَا يُحِيطُ بِهَا وَاحِدٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّمَا يُحِيطُ بِهَا جَمِيعُ الْعُلَمَاءِ.

Dikatakan: Bahasa Arab, meskipun tidak dikuasai sepenuhnya oleh satu orang Arab pun, namun seluruh orang Arab secara bersama-sama menguasainya. Yang menjadi kewajiban bagi seorang mujtahid adalah menguasai sebagian besarnya, agar ia dapat merujuk kepada orang lain dalam hal-hal yang luput darinya. Demikian pula, seluruh sunnah tidak dapat dikuasai oleh satu orang ulama pun, melainkan seluruh ulama secara bersama-sama yang menguasainya.

وَإِذَا كَانَ الْمُجْتَهِدُ مُحِيطًا بِأَكْثَرِهَا صَحَّ اجْتِهَادُهُ لِيَرْجِعَ فِيمَا عَزَبَ عَنْهُ إِلَى مَنْ عَلِمَ بِهِ.

Dan apabila seorang mujtahid telah menguasai sebagian besar darinya, maka ijtihadnya sah, agar ia dapat merujuk pada orang yang mengetahui hal-hal yang luput darinya.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ هَذِهِ الشُّرُوطُ الْأَرْبَعَةُ فِي الْمُجْتَهِدِ صَحَّ اجْتِهَادُهُ.

Apabila keempat syarat ini telah terpenuhi pada seorang mujtahid, maka ijtihadnya sah.

فَإِنْ قَصَدَ بِالِاجْتِهَادِ الْعِلْمَ صَحَّ اجْتِهَادُهُ، وَلَمْ تَكُنِ الْعَدَالَةُ شَرْطًا فِيهِ.

Jika seseorang melakukan ijtihad dengan tujuan untuk memperoleh ilmu, maka ijtihadnya sah, dan keadilan tidak menjadi syarat di dalamnya.

وَإِنْ قَصَدَ بِهِ الْحُكْمَ أَوِ الْفُتْيَا كَانَتِ الْعَدَالَةُ شَرْطًا فِي نُفُوذِ حُكْمِهِ وَقَبُولِ فُتْيَاهُ وَإِنْ لم تكن شرطا في صحة اجتهاده.

Dan jika ia bermaksud dengan ijtihadnya untuk menetapkan hukum atau memberikan fatwa, maka keadilan menjadi syarat bagi berlakunya hukum yang ditetapkannya dan diterimanya fatwa yang dikeluarkannya, meskipun keadilan itu bukan syarat sahnya ijtihadnya.

( [المجتهد في حكم خاص] )

(Mujtahid dalam hukum tertentu)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْمُجْتَهِدُ فِي حُكْمٍ خَاصٍّ فَصِحَّةُ اجْتِهَادِهِ مُعْتَبَرَةٌ بِمَا يَجْتَهِدُ فِيهِ.

Adapun mujtahid dalam suatu hukum tertentu, maka keabsahan ijtihadnya bergantung pada perkara yang ia ijtihadi.

فَإِنْ كَانَ اجْتِهَادُهُ فِي الْقِبْلَةِ إِذَا خَفِيَتْ عَلَيْهِ كَانَ الشَّرْطُ فِي صِحَّةِ اجْتِهَادِهِ صِحَّةَ الْبَصَرِ وَمَعْرِفَةَ دَلَائِلِ الْقِبْلَةِ.

Jika ijtihadnya dalam menentukan kiblat dilakukan ketika arah kiblat tersembunyi baginya, maka syarat sahnya ijtihad tersebut adalah sehatnya penglihatan dan pengetahuan tentang tanda-tanda arah kiblat.

وَإِنْ كَانَ اجْتِهَادُهُ فِي الْعَدَالَةِ وَالْجَرْحِ كَانَتْ صِحَّةُ اجْتِهَادِهِ مُعْتَبَرَةً بِأَسْبَابِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ وَمَا يُرَاعِي مِنْ غَلَبَةِ أَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ فِي الصَّغَائِرِ وَتَغْلِيبِ الْحُكْمِ فِي الْكَبَائِرِ.

Dan jika ijtihadnya dalam hal keadilan dan jarh, maka kebenaran ijtihadnya dipertimbangkan berdasarkan sebab-sebab jarh dan ta‘dil, serta apa yang diperhatikan dari dominasi salah satunya atas yang lain dalam dosa-dosa kecil, dan mengedepankan hukum pada dosa-dosa besar.

وَإِنْ كَانَ اجْتِهَادُهُ فِي الْمِثْلِ مِنْ جَزَاءِ الصَّيْدِ كَانَتْ صِحَّةُ اجْتِهَادِهِ فِيهِ مُعْتَبَرَةً بِمَعْرِفَةِ الْأَشْبَاهِ فِي ذِي الْمِثْلِ وَمَعْرِفَةِ الْقِيَمِ فِي غَيْرِ ذِي الْمِثْلِ ثُمَّ عَلَى هَذِهِ الْعِبْرَةِ فِيمَا عَدَاهُ.

Dan jika ijtihadnya dalam menentukan yang sepadan dari denda perburuan, maka keabsahan ijtihadnya itu dipertimbangkan dengan pengetahuan tentang kesamaan pada yang memiliki padanan, dan pengetahuan tentang nilai pada yang tidak memiliki padanan, kemudian berdasarkan pertimbangan ini pula berlaku pada selainnya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: فَإِذَا اسْتَقَرَّ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ شُرُوطِ الِاجْتِهَادِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي الْمُجْتَهِدِ تَعَلَّقَ بِهِ فَصْلَانِ:

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan mengenai syarat-syarat ijtihad yang dianggap sah pada seorang mujtahid, maka berkaitan dengannya ada dua pembahasan:

أَحَدُهُمَا: جَوَازُ اجْتِهَادِ الْأَنْبِيَاءِ.

Salah satunya adalah bolehnya ijtihad para nabi.

وَالثَّانِي: جواز الاجتهاد في زمان الأنبياء.

Kedua: Bolehnya ijtihad pada masa para nabi.

( [جواز اجتهاد الْأَنْبِيَاءِ] )

(Kebolehan ijtihad para nabi)

:

Maaf, saya tidak melihat adanya teks Arab pada permintaan Anda. Silakan kirimkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا اجْتِهَادُ الْأَنْبِيَاءِ فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهِ أَهْلُ الْعِلْمِ.

Adapun ijtihad para nabi, para ulama telah berselisih pendapat tentangnya.

فَذَهَبَ بَعْضُ الْأَئِمَّةِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْأَنْبِيَاءِ أَنْ يَجْتَهِدُوا وَلَا لِنَبِيِّنَا – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يَجْتَهِدَ لِقُدْرَتِهِمْ عَلَى النَّصِّ بِنُزُولِ الْوَحْيِ عَلَيْهِمْ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم: 3] وَلِأَنَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَوَقَّفَ فِي إِحْرَامِهِ وَلَمْ يَجْتَهِدْ حَتَّى نَزَلَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَتَوَقَّفَ فِي اللِّعَانِ حَتَّى نَزَلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ. وَتَوَقَّفَ فِي مِيرَاثِ الْخَالَةِ وَالْعَمَّةِ حَتَّى نَزَلَ عَلَيْهِ جِبْرِيلُ بِأَنْ لَا مِيرَاثَ لَهُمَا. وَلَوْ سَاغَ لَهُ الِاجْتِهَادُ لَسَارَعَ إِلَيْهِ وَلَمْ يَتَوَقَّفْ.

Sebagian imam berpendapat bahwa tidak boleh bagi para nabi untuk melakukan ijtihad, begitu pula bagi Nabi kita – shallallahu ‘alaihi wa sallam – untuk berijtihad, karena mereka mampu mendapatkan nash dengan turunnya wahyu kepada mereka. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsu, tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan.” (an-Najm: 3). Juga karena Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – pernah berhenti dalam masalah ihramnya dan tidak berijtihad hingga turun keputusan kepadanya, dan beliau juga berhenti dalam perkara li‘ān hingga turun al-Qur’an kepadanya. Beliau juga berhenti dalam masalah warisan bibi dari pihak ibu dan bibi dari pihak ayah hingga Jibril turun kepadanya dengan membawa ketetapan bahwa keduanya tidak mendapat warisan. Seandainya ijtihad itu boleh baginya, tentu beliau akan segera melakukannya dan tidak akan berhenti.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الظاهر من مذهب الشَّافِعِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَلِغَيْرِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ أَنْ يَجْتَهِدُوا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ} [الأنبياء: 78 – 79] وَلَوْ لَمْ يَكُنِ اجْتِهَادُ الْأَنْبِيَاءِ سَائِغًا وَكَانَ جَمِيعُ أَحْكَامِهِمْ نَصًّا لَمَا أَخْطَأَ دَاوُدُ وَلَا أَصَابَ سُلَيْمَانُ. وَلِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدِ اجْتَهَدَ فِي أَسْرَى بَدْرٍ وَفِيمَنِ اشْتَرَطَ رَدَّهُ فِي صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ.

Mayoritas ulama, dan ini pula yang tampak dari mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para nabi lainnya boleh melakukan ijtihad, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, ketika kambing-kambing kaum itu masuk ke dalamnya pada malam hari, dan Kami menyaksikan keputusan yang mereka berikan. Maka Kami memberikan pemahaman tentang hukum itu kepada Sulaiman.” (QS. al-Anbiya: 78-79). Seandainya ijtihad para nabi tidak diperbolehkan dan semua hukum mereka berupa nash (teks yang pasti), niscaya Dawud tidak akan keliru dan Sulaiman tidak akan benar. Juga karena Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah berijtihad dalam perkara tawanan Perang Badar dan dalam hal siapa yang disyaratkan untuk dikembalikan dalam Perjanjian Hudaibiyah.

فَأَمَّا تَوَقُّفُهُ فِي اللِّعَانِ وَفِي مِيرَاثِ الْخَالَةِ وَالْعَمَّةِ فَلِيَعْلَمَ هَلْ يَنْزِلُ عَلَيْهِ نَصٌّ فَلَا يَجْتَهِدُ أَوْ يَتَأَخَّرُ عَنْهُ فَيَجْتَهِدُ، وَلِأَنَّ جَوَازَ الِاجْتِهَادِ فَضِيلَةٌ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُدْفَعَ عَنْهَا الْأَنْبِيَاءُ وَإِنَّمَا الْوَحْيُ بحسب الأصلح.

Adapun keraguannya dalam kasus li‘ān dan warisan bibi dari pihak ibu maupun pihak ayah adalah agar ia mengetahui apakah akan turun kepadanya suatu nash sehingga ia tidak berijtihad, atau nash itu terlambat turun sehingga ia berijtihad. Dan karena kebolehan ijtihad adalah suatu keutamaan, maka tidak boleh para nabi dihalangi darinya, sedangkan wahyu itu turun sesuai dengan yang lebih maslahat.

فإذا صح اجتهاده فقد اختلف أَصْحَابُنَا فِي وُجُوبِهِ وَجَوَازِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ijtihadnya telah sah, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai kewajiban dan kebolehannya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ جَائِزٌ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ، لِأَنَّ لِلْأَحْكَامِ أَصْلًا هُوَ الْكِتَابُ.

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu diperbolehkan, namun tidak wajib, karena sumber utama hukum adalah al-Kitab.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ وَاجِبٌ عَلَيْهِ، لِأَنَّ الْأَحْكَامَ مَأْخُوذَةٌ مِنْ سُنَّتِهِ إِذَا خَلَا الْكِتَابُ مِنْهَا.

Pendapat kedua: Bahwa hal itu wajib baginya, karena hukum-hukum diambil dari sunnahnya apabila tidak terdapat dalam al-Kitab.

وَعِنْدِي أَنَّ الْأَصَحَّ مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ أَنْ يَكُونَ اجْتِهَادُهُ وَاجِبًا عَلَيْهِ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، وَجَائِزًا لَهُ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّهُمْ لَا يَصِلُونَ إِلَى حُقُوقِهِمْ إِلَّا بِاجْتِهَادِهِ، فَلَزِمَهُ وَإِنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ الِاجْتِهَادَ فِي حُقُوقِهِ أَمَرَهُ.

Menurut pendapat saya, yang paling benar dari dua pendapat tersebut adalah bahwa ijtihad wajib baginya dalam hak-hak manusia, dan boleh baginya dalam hak-hak Allah Ta‘ala. Karena mereka (manusia) tidak dapat memperoleh hak-hak mereka kecuali dengan ijtihadnya, maka ijtihad itu menjadi kewajibannya. Adapun jika Allah Ta‘ala menghendaki darinya ijtihad dalam hak-hak-Nya, maka Allah akan memerintahkannya.

ثُمَّ إِذَا اجْتَهَدَ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَسْتَبِيحُ الِاجْتِهَادَ بِرَأْيِهِ أَوْ يَرْجِعُ فِيهِ إِلَى دَلَائِلِ الْكِتَابِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Kemudian, apabila seorang mujtahid telah berijtihad, para ulama kami berbeda pendapat: apakah ia boleh berpegang pada ijtihad dengan pendapatnya sendiri, ataukah ia harus kembali kepada dalil-dalil dari al-Kitab? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَرْجِعُ فِي اجْتِهَادِهِ إِلَى الْكِتَابِ، لِأَنَّهُ أَعْلَمُ بِمَعَانِي مَا خَفِيَ مِنْهُ مِنْ جَمِيعِ أُمَّتِهِ، فَكَانَ اجْتِهَادُهُ بَيَانًا وَإِيضَاحًا.

Salah satunya adalah bahwa ia merujuk dalam ijtihadnya kepada al-Kitab, karena ia lebih mengetahui makna-makna yang samar darinya dibandingkan seluruh umatnya, sehingga ijtihadnya merupakan penjelasan dan pemaparan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَظْهَرُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَجْتَهِدَ بِرَأْيِهِ وَلَا يَرْجِعَ إِلَى أَصْلٍ مِنَ الْكِتَابِ، لِأَنَّ سُنَّتَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ مِثْلُ الْكِتَابِ قَدْ نَدَبَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهَا، فَقَالَ: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} [الحشر: 7] وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ ” إِنَّمَا أَجْتَهِدُ رَأْيِي فِيمَا لَمْ يَنْزِلْ عَلَيَّ فِيهِ شَيْءٌ “.

Pendapat kedua, yang lebih jelas, adalah bahwa boleh bagi seseorang untuk berijtihad dengan pendapatnya sendiri tanpa kembali kepada asal dari al-Kitab, karena sunnahnya merupakan sumber hukum dalam syariat seperti halnya al-Kitab, yang Allah Ta‘ala telah menganjurkan untuk mengikutinya. Allah berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7). Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanya berijtihad dengan pendapatku dalam perkara yang tidak diturunkan wahyu kepadaku tentangnya.”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ فِي عِصْمَةِ اجْتِهَادِ الْأَنْبِيَاءِ مِنَ الْخَطَأِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para pengikut Imam Syafi‘i berbeda pendapat mengenai terjaganya ijtihad para nabi dari kesalahan menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ مَعْصُومُونَ فِي اجْتِهَادِهِمْ مِنَ الْخَطَأِ لِتَسْكُنَ النَّفْسُ إِلَى الْتِزَامِ أَوَامِرِهِمْ بِانْتِفَاءِ الْخَطَأِ عَنِ اجْتِهَادِهِمْ.

Salah satunya adalah bahwa mereka (para mujtahid) terjaga dari kesalahan dalam ijtihad mereka, agar jiwa merasa tenang dalam mengikuti perintah-perintah mereka karena tidak adanya kesalahan dalam ijtihad mereka.

وَهَذَا مُقْتَضَى الْوَجْهِ الَّذِي يُقَالُ فِيهِ إِنَّهُمْ لَا يَجْتَهِدُونَ إِلَّا عَنْ دَلِيلٍ مِنْ نَصٍّ.

Dan inilah konsekuensi dari pendapat yang mengatakan bahwa mereka tidak berijtihad kecuali berdasarkan dalil dari nash.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُمْ غَيْرُ مَعْصُومِينَ مِنَ الْخَطَأِ فِيهِ لِوُجُودِهِ مِنْهُمْ لَكِنْ لَا يُقِرُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ لِيَزُولَ الِارْتِيَابُ بِهِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ غَيْرُهُمْ مِنَ الْعُلَمَاءِ مُقِرًّا عَلَيْهِ، لِأَنَّ دَاوُدَ قَدْ أَخْطَأَ فِي اجْتِهَادِهِ فَاسْتَدْرَكَهُ اللَّهُ بِإِصَابَةِ سُلَيْمَانَ، وَاجْتَهَدَ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي أَسْرَى بَدْرٍ بَعْدَ مُشَاوَرَةِ أَبَى بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الْفِدَاءَ فَأَنْكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ: {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأَرْضِ} [الأنفال: 67] .

Pendapat kedua: Bahwa mereka tidaklah ma‘shūm dari kesalahan dalam hal ini, karena kesalahan memang terjadi dari mereka. Namun, Allah Ta‘ala tidak membiarkan mereka tetap dalam kesalahan itu agar keraguan terhadapnya hilang, meskipun mungkin saja selain mereka dari kalangan ulama tetap dibiarkan dalam kesalahan tersebut. Karena Daud pernah keliru dalam ijtihadnya, lalu Allah membenarkannya melalui kebenaran yang dicapai Sulaiman. Rasulullah ﷺ juga pernah berijtihad dalam perkara tawanan Perang Badar setelah bermusyawarah dengan Abu Bakar dan Umar, lalu beliau mengambil tebusan dari mereka, namun Allah Ta‘ala mengingkarinya dengan firman-Nya: “Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia benar-benar berkuasa di muka bumi.” (Al-Anfal: 67).

وَهَذَا مُقْتَضَى الْوَجْهِ الَّذِي يُقَالُ فِيهِ إِنَّهُمْ يَجُوزُ أَنْ يَجْتَهِدُوا بِالرَّأْيِ مِنْ غَيْرِ اسْتِدْلَالٍ بِنَصٍّ.

Dan inilah konsekuensi dari pendapat yang mengatakan bahwa mereka boleh berijtihad dengan ra’yu tanpa harus berpegang pada dalil nash.

وَذَهَبَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَى أَنَّ نبينا – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مَعْصُومُ الِاجْتِهَادِ مِنَ الْخَطَأِ دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، لِأَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ يَسْتَدْرِكُ خَطَأَهُ لِانْخِتَامِ النُّبُوَّةِ بِهِ وَغَيْرُهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَدْ بُعِثَ بَعْدَهُ مَنْ يَسْتَدْرِكُ خَطَأَهُ.

Ibnu Abi Hurairah berpendapat bahwa Nabi kita – shallallahu ‘alaihi wa sallam – terjaga dari kesalahan dalam ijtihad, tidak seperti nabi-nabi yang lain. Sebab, tidak ada nabi setelah beliau yang dapat mengoreksi kesalahannya karena kenabian telah berakhir pada beliau, sedangkan nabi-nabi selain beliau masih diutus setelahnya seseorang yang dapat mengoreksi kesalahannya.

وَهَذَا الْقَوْلُ لَا وَجْهَ لَهُ، لِأَنَّ جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ غَيْرُ مُقَرِّينَ عَلَى الْخَطَأِ فِي وَقْتِ التَّنْفِيذِ وَلَا يُمْهَلُونَ فِيهِ عَلَى التَّرَاخِي حَتَّى يَسْتَدْرِكَهُ نَبِيٌّ بَعْدَ نَبِيٍّ فَاسْتَوَى فِيهِ جَمِيعُ الْأَنْبِيَاءِ.

Pendapat ini tidak memiliki dasar, karena semua nabi tidak dibiarkan tetap dalam kesalahan pada saat pelaksanaan, dan tidak diberi waktu penundaan hingga ada nabi setelahnya yang membetulkannya. Dalam hal ini, semua nabi memiliki kedudukan yang sama.

فَهَذَا حُكْمُ اجْتِهَادِهِمْ فِي أَحْكَامِ الدِّينِ.

Inilah hukum ijtihad mereka dalam hukum-hukum agama.

فَأَمَّا أُمُورُ الدُّنْيَا فَيَجُوزُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ فِيهَا الْخَطَأُ وَالسَّهْوُ رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَمِعَ ضَجَّةً بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قِيلَ: إِنَّهُمْ يُلَقِّحُونَ النَّخْلَ. فَقَالَ: ” وَمَا يَنْفَعُ ذَلِكَ إِنَّهُمْ لَوْ تَرَكُوهُ لَمْ يَضُرَّهُمْ ” فَبَلَغَهُمْ ذَلِكَ فَتَرَكُوهُ فَقَلَّ حَمْلُ النَّخْلِ فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ” مَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَرَدُّوهُ إِلَيَّ وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ به “.

Adapun urusan dunia, para nabi boleh melakukan kesalahan dan lupa di dalamnya. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mendengar suara gaduh di Madinah, lalu beliau bertanya: “Apa itu?” Dijawab: “Mereka sedang mengawinkan pohon kurma.” Maka beliau bersabda: “Apa manfaatnya itu? Kalau mereka meninggalkannya, tidak akan membahayakan mereka.” Maka hal itu sampai kepada mereka, lalu mereka pun meninggalkannya, sehingga hasil kurma menjadi sedikit. Maka beliau ﷺ bersabda: “Apa yang berkaitan dengan urusan agama kalian, kembalikanlah kepadaku. Dan apa yang berkaitan dengan urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengetahui tentangnya.”

(فصل: جواز الاجتهاد في زمن الأنبياء)

(Bab: Bolehnya ijtihad pada masa para nabi)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan paragraf Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا جَوَازُ اجْتِهَادِ غَيْرِ الْأَنْبِيَاءِ فِي زَمَانِ الْأَنْبِيَاءِ كَاجْتِهَادِ الصَّحَابَةِ فِي زَمَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun kebolehan ijtihad selain para nabi pada masa para nabi, seperti ijtihad para sahabat pada masa Rasulullah ﷺ, maka hal itu terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْمُجْتَهِدُ غَائِبًا عَنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – غَيْرَ قَادِرٍ عَلَى سُؤَالِهِ فِي وَقْتِهِ فَلَهُ حَالَتَانِ:

Salah satunya: apabila seorang mujtahid berada jauh dari Madinah Rasulullah ﷺ dan tidak mampu menanyakan langsung kepadanya pada waktunya, maka ia memiliki dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ لَهُ وِلَايَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كَعَلِيٍّ وَمُعَاذٍ حِينَ بَعَثَهُمَا إِلَى الْيَمَنِ دَاعِيَيْنِ إِلَى الْإِسْلَامِ وَحَاكِمَيْنِ بَيْنَ الْخُصُومِ وَوَالِيَيْنِ عَلَى الصَّدَقَاتِ، فَيَجُوزُ اجْتِهَادُ ذِي الْوِلَايَةِ فِي عَصْرِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِأَنَّ مُعَاذًا أَخْبَرَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِاجْتِهَادِ رَأْيِهِ فَاسْتَصْوَبَهُ وَحَمِدَهُ. وَسَوَاءٌ اجْتَهَدَ فِي حَقِّ نَفْسِهِ أَوْ فِي حَقِّ غَيْرِهِ، وَلَا يَلْزَمُهُ إِذْ قَدِمَ عَلَى الرَّسُولِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَمَّا اجْتَهَدَ فِيهِ وَإِنْ كَانَ سُؤَالُهُ مُسْتَحَبًّا، وَيَكُونُ مَا اجْتَهَدَ فِيهِ أَثَرًا مَتْبُوعًا مَا لَمْ يَرِدْ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خِلَافُهُ كَمَا اتَّبَعَ مُعَاذٌ فِي قَوْلِهِ: ” أَيُّمَا رَجُلٍ انْتَقَلَ مِنْ مِخْلَافِ عَشِيرَتِهِ إِلَى غَيْرِ مِخْلَافِ عَشِيرَتِهِ فَعُشْرُهُ وَصَدَقَتُهُ فِي مِخْلَافِ عَشِيرَتِهِ وَالْمِخْلَافُ الْقَرْيَةُ. وَإِنَّمَا اخْتَصَّ الْمَوْلَى بِذَلِكَ، لِأَنَّ فِي الْوِلَايَةِ إِذْنًا بِالِاجْتِهَادِ فِيمَا تَضَمَّنَهَا.

Salah satunya: yaitu seseorang memiliki wewenang dari Rasulullah ﷺ, seperti Ali dan Mu‘adz ketika beliau mengutus keduanya ke Yaman sebagai para penyeru kepada Islam, hakim di antara para pihak yang berselisih, dan pengelola zakat. Maka, boleh bagi orang yang memiliki wewenang untuk melakukan ijtihad pada masa Rasulullah ﷺ, karena Mu‘adz telah memberitahukan kepada Rasulullah ﷺ tentang ijtihad pendapatnya, lalu beliau membenarkannya dan memujinya. Sama saja apakah ia berijtihad untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kepentingan orang lain, dan tidak wajib baginya ketika kembali kepada Rasul untuk menanyakan tentang apa yang telah ia ijtihadkan, meskipun menanyakannya itu dianjurkan. Apa yang ia ijtihadkan menjadi pegangan yang diikuti selama belum ada keterangan dari Rasulullah ﷺ yang bertentangan dengannya, sebagaimana yang diikuti oleh Mu‘adz dalam ucapannya: “Siapa saja yang berpindah dari daerah kabilahnya ke daerah kabilah lain, maka zakat dan sedekahnya tetap di daerah kabilahnya; dan yang dimaksud dengan daerah adalah desa.” Hal ini khusus bagi orang yang memiliki wewenang, karena dalam wewenang itu terdapat izin untuk berijtihad dalam perkara yang termasuk di dalamnya.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ لَا يَكُونَ لِلْمُجْتَهِدِ وِلَايَةٌ فَلَهُ حَالَتَانِ:

Keadaan kedua: apabila seorang mujtahid tidak memiliki wewenang, maka baginya ada dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَظْفَرَ بِأَصْلٍ مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ فَيَجُوزُ اجْتِهَادُهُ فِي الرُّجُوعِ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ بِالظَّاهِرِ مِنْهُمَا وَلَا يَلْزَمُهُ إِذَا قَدِمَ عَلَى الرَّسُولِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَمَّا اجْتَهَدَ فِيهِ، لِأَنَّهُ قَدْ أَخَذَ بِأَصْلٍ لَازِمٍ.

Salah satunya adalah jika ia menemukan suatu dalil dari Al-Qur’an atau Sunnah, maka boleh baginya berijtihad dengan kembali kepada penalaran berdasarkan makna lahiriah dari keduanya, dan tidak wajib baginya ketika datang kepada Rasul untuk menanyakan tentang apa yang telah ia ijtihadkan, karena ia telah berpegang pada suatu dalil yang bersifat pasti.

وَالْحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْدَمَ أَصْلًا مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَجْتَهِدَ فِي حَقِّ غَيْرِهِ لِعَدَمِ وِلَايَتِهِ.

Keadaan kedua: yaitu ketika tidak ditemukan dalil asal dari Al-Qur’an maupun Sunnah, maka tidak boleh melakukan ijtihad untuk kepentingan orang lain karena tidak adanya wewenang baginya.

فَأَمَّا اجْتِهَادُهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ: فَإِنْ كَانَ فِيمَا يُخَافُ فَوَاتُهُ جَازَ اجْتِهَادُهُ فِيهِ وَعَلَيْهِ إِذَا قَدِمَ عَلَى الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يُهَاجِرَ إِلَيْهِ لِأَجْلِ السُّؤَالِ.

Adapun ijtihad seseorang untuk dirinya sendiri: jika berkaitan dengan sesuatu yang dikhawatirkan akan terlewat, maka boleh baginya melakukan ijtihad dalam hal itu, dan ketika ia datang kepada Rasulullah ﷺ, ia wajib menanyakannya kepada beliau. Namun, ia tidak wajib berhijrah kepada beliau hanya untuk tujuan bertanya.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يُخَافُ فَوَاتُهُ فَفِي جَوَازِ اجْتِهَادِهِ وَجْهَانِ:

Jika perkara tersebut termasuk sesuatu yang tidak dikhawatirkan akan terlewat, maka dalam kebolehan melakukan ijtihad terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ أَنْ يَجْتَهِدَ، لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ مِنْهُ أَنْ يُشَرِّعَ وَعَلَيْهِ أَنْ يَسْأَلَ لِيَعْمَلَ بِمَا كُلِّفَ.

Salah satunya: Tidak boleh baginya untuk berijtihad, karena tidak sah baginya untuk menetapkan hukum, dan ia wajib bertanya agar dapat mengamalkan apa yang dibebankan kepadanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَجْتَهِدَ إِذَا كَانَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ وَيَعْمَلَ بِاجْتِهَادِهِ لقول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّهْلَةِ السَّمْحَةِ الْبَيْضَاءِ “.

Pendapat kedua: Boleh bagi seseorang untuk berijtihad jika ia termasuk ahli ijtihad, dan boleh baginya untuk mengamalkan hasil ijtihadnya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Aku diutus dengan agama hanif yang lurus, mudah, toleran, dan terang benderang.”

فَعَلَى هَذَا فِي جَوَازِ تَقْلِيدِهِ فِي اجْتِهَادِهِ وَجْهَانِ:

Dengan demikian, dalam kebolehan mengikuti pendapatnya dalam ijtihadnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ مِمَّنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ أَنْ يُقَلِّدَ فِيهِ لِوُجُودِ مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ فَعَلَى هَذَا لَا يَلْزَمُ الْمُجْتَهِدَ إِذَا قَدِمَ عَلَى الرَّسُولِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَمَّا اجْتَهَدَ فِيهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ حَتَّى يَسْأَلَ إِنْ حَضَرَ.

Salah satunya: Tidak boleh bagi selainnya, yaitu orang yang bukan dari kalangan ahli ijtihad, untuk melakukan taqlid dalam hal ini karena adanya sesuatu yang lebih kuat darinya. Berdasarkan hal ini, tidak wajib bagi seorang mujtahid ketika datang kepada Rasul untuk menanyakan kepadanya tentang perkara yang telah ia ijtihadkan, dan tidak boleh ia mengamalkannya di masa mendatang sampai ia bertanya jika ia hadir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ لِغَيْرِهِ أَنْ يُقَلِّدَهُ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يُقَلِّدَ الْعَالِمَ وَإِنْ وُجِدَ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ فَعَلَى هَذَا يَلْزَمُ الْمُجْتَهِدَ إِذَا قَدِمَ عَلَى الرَّسُولِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَمَّا اجْتَهَدَ فِيهِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُشَرِّعًا بِغَيْرِ أَصْلٍ.

Pendapat kedua: Boleh bagi orang lain untuk melakukan taqlid kepadanya, sebagaimana boleh melakukan taqlid kepada seorang ‘alim meskipun ada yang lebih ‘alim darinya. Berdasarkan hal ini, seorang mujtahid wajib ketika datang kepada Rasul untuk menanyakan kepadanya tentang perkara yang telah ia ijtihadkan, agar ia tidak menjadi seorang yang menetapkan syariat tanpa dasar.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْمُجْتَهِدُ حَاضِرًا فِي مدينة الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَغَائِبًا عَنْ مَجْلِسِهِ.

Bagian kedua: yaitu apabila seorang mujtahid berada di kota Rasulullah ﷺ namun tidak hadir di majelis beliau.

فَإِنْ رَجَعَ فِي اجْتِهَادِهِ إِلَى أَصْلٍ مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ صَحَّ وَجَازَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ وَيُفْتِيَ قَدْ سَأَلَ الْعَجْلَانِيُّ بَعْضَ الصَّحَابَةِ [بِالْمَدِينَةِ] عَنْ قَذْفِ امْرَأَتِهِ بَيْنَ أَسْمَاءَ فَقَالَ لَهُ: حَدٌّ فِي جَنْبِكَ إِنْ لَمْ تَأْتِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ، ثُمَّ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَأَخْبَرَهُ بِمَا قِيلَ لَهُ فَتَوَقَّفَ حَتَّى نَزَلَتْ عَلَيْهِ آيَةُ اللِّعَانِ، وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَى الْعَجْلَانِي سُؤَالَ غَيْرِهِ، وَلَا أُنْكِرُ عَلَى مَنْ أَجَابَهُ مَعَ حُضُورِهِ.

Jika dalam ijtihadnya ia kembali kepada suatu dasar dari al-Qur’an atau Sunnah, maka itu sah dan boleh baginya untuk mengamalkannya dan memberikan fatwa dengannya. Al-‘Ajlānī pernah bertanya kepada sebagian sahabat [di Madinah] tentang tuduhan zina terhadap istrinya di antara para sahabat, lalu mereka berkata kepadanya: “Ada had (hukuman) bagimu jika kamu tidak mendatangkan empat orang saksi.” Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ dan memberitahukan apa yang telah dikatakan kepadanya, maka beliau menahan diri hingga turun ayat li‘ān. Dan beliau tidak mengingkari tindakan al-‘Ajlānī yang bertanya kepada selain beliau, dan tidak pula mengingkari orang yang menjawabnya padahal beliau hadir.

وَإِنْ لَمْ يَرْجِعِ الْمُجْتَهِدُ إِلَى أَصْلٍ مِنْ كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ فَقَدَ جَوَّزَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا اجْتِهَادَهُ وَأَنْكَرَهُ بَعْضُهُمْ.

Dan jika seorang mujtahid tidak kembali kepada sumber dari al-Qur’an maupun sunnah, maka sebagian ulama kami membolehkan ijtihadnya, sementara sebagian yang lain mengingkarinya.

وَلَا يُعْجِبُنِي وَاحِدٌ مِنَ الْقَوْلَيْنِ عَلَى الْإِطْلَاقِ.

Dan aku tidak menyukai salah satu dari kedua pendapat tersebut secara mutlak.

وَالَّذِي أَرَاهُ أَنَّهُ يَصِحُّ اجْتِهَادُهُ فِي الْمُعَامَلَاتِ وَلَا يَصِحُّ اجْتِهَادُهُ فِي الْعِبَادَاتِ لِأَنَّ الْعِبَادَاتِ تَكْلِيفٌ يَتَوَقَّفُ عَلَى الْأَوَامِرِ بِهَا وَالْمُعَامَلَاتِ تَخْفِيفٌ تُعْتَبَرُ النَّوَاهِي عَنْهَا.

Menurut pendapat yang saya anggap benar, ijtihad seseorang sah dalam masalah-masalah mu‘āmalāt, namun tidak sah ijtihadnya dalam masalah-masalah ‘ibādāt. Sebab, ‘ibādāt adalah bentuk taklīf yang bergantung pada adanya perintah untuk melakukannya, sedangkan mu‘āmalāt merupakan bentuk keringanan yang keberadaannya dipertimbangkan berdasarkan larangan terhadapnya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْمُجْتَهِدُ حَاضِرًا فِي مَجْلِسِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَاجْتِهَادُهُ مُعْتَبَرٌ بِأَمْرِ الرَّسُولِ.

Bagian ketiga: yaitu apabila seorang mujtahid hadir di majelis Rasulullah ﷺ, maka ijtihadnya dianggap sah jika sesuai dengan perintah Rasulullah.

فَإِنْ أَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالِاجْتِهَادِ صَحَّ اجْتِهَادُهُ كَمَا حَكَّمَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَعْدَ بْنَ مُعَاذٍ فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَحَكَمَ بِقَتْلِ مَنْ جَرَتْ عَلَيْهِ الْمَوَاسِي وَاسْتِرْقَاقِ مَنْ لَمْ تَجْرِ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – هَذَا حُكْمٌ مِنْ فَوْقِ سَبْعَةِ أَرْقِعَةٍ.

Jika Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk berijtihad, maka ijtihadnya sah, sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Sa‘d bin Mu‘ādz sebagai hakim dalam perkara Bani Quraizhah, lalu ia memutuskan untuk membunuh siapa saja yang telah tumbuh rambut kemaluannya dan memperbudak siapa saja yang belum tumbuh, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Ini adalah hukum yang berasal dari atas tujuh lapis langit.”

وَإِنْ لَمْ يَأْمُرْهُ بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَصِحَّ اجْتِهَادُهُ إِلَّا أَنْ يَعْلَمَ بِهِ فَيُقِرُّهُ عَلَيْهِ فَيَصِيرُ بِإِقْرَارِهِ عَلَيْهِ صَحِيحًا كَمَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ بِحَضْرَةِ الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي سَلَبِ الْقَتِيلِ وَقَدْ حَصَلَ مَعَ غَيْرِ قاتله: ” لا هاء الله إذا تَعْمِدُ إِلَى أَسَدٍ مِنْ أُسْدِ اللَّهِ يُقَاتِلُ عَنِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَنُعْطِيكَ سَلَبَهُ “. فَأَقَرَّهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فَصَحَّ اجْتِهَادُهُ حِينَ أَقَرَّهُ عَلَيْهِ.

Dan jika ia tidak memerintahkannya untuk berijtihad, maka ijtihadnya tidak sah kecuali jika ia mengetahuinya lalu membenarkannya, sehingga dengan pembenaran itu ijtihadnya menjadi sah. Sebagaimana yang dikatakan Abu Bakar di hadapan Rasulullah ﷺ tentang rampasan milik orang yang terbunuh, yang didapatkan bukan oleh pembunuhnya: “Tidak, demi Allah! Apakah engkau sengaja mengambil dari salah satu singa Allah yang berperang demi Allah dan Rasul-Nya, lalu kami memberimu rampasannya?” Maka Rasulullah ﷺ membenarkan perkataan tersebut, sehingga ijtihadnya menjadi sah ketika Rasulullah ﷺ membenarkannya.

وَقَدِ اضْطَرَبَتْ أَجْوِبَةُ أَصْحَابِنَا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مَا ذَكَرْنَاهُ.

Jawaban para ulama kami dalam masalah ini telah beragam, dan menurut saya yang paling benar adalah apa yang telah kami sebutkan.

(فصل: [وجوه الاجتهاد] )

(Bab: [Macam-macam ijtihad])

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي وُجُوهِ الِاجْتِهَادِ فَهُوَ لَمْ يَرِدْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ بَيَانُ حُكْمِهِ، فَقَدْ قِيلَ إِنَّ الَّذِي تَضَمَّنَهُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْأَحْكَامِ مُشْتَمِلٌ عَلَى نَحْوِ خَمْسِمِائَةِ آيَةٍ، وَالَّذِي تَضَمَّنَتْهُ السُّنَّةُ نَحْوَ خَمْسِمِائَةِ حَدِيثٍ، وَنَوَازِلُ الْأَحْكَامِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَى وَلَا تَقِفُ عَلَى هَذَا الْعَدَدِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْأُمَّةُ مُضَاعَةً لَا تَرْجِعُ إِلَى أَصْلٍ مِنْ كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ تُوصِلُهُمْ إِلَى الْعِلْمِ بِأَحْكَامِ النَّوَازِلِ، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 4] ، وَرَوَى الْمُطَّلِبُ بْنُ حَنْطَبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قال: ” ما تركت شيئا مما أمركم بِهِ إِلَّا وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَلَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِلَّا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ “.

Adapun bagian kedua mengenai bentuk-bentuk ijtihad, maka tidak terdapat penjelasan hukumnya dalam al-Qur’an dan sunnah. Telah dikatakan bahwa hukum-hukum yang terkandung dalam Kitab Allah Ta‘ala mencakup sekitar lima ratus ayat, dan yang terkandung dalam sunnah sekitar lima ratus hadis, sedangkan peristiwa-peristiwa hukum (nawāzil al-ahkām) lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan tidak terbatas pada jumlah tersebut. Tidak boleh umat ini dibiarkan tanpa rujukan kepada sumber dari Kitab maupun sunnah yang dapat mengantarkan mereka kepada pengetahuan tentang hukum-hukum nawāzil. Allah Ta‘ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian” (al-Mā’idah: 4). Al-Muththalib bin Hanthab meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu pun yang aku perintahkan kepada kalian kecuali telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu pun yang aku larang kepada kalian kecuali telah aku larang kalian darinya.”

فَدَلَّتِ الْآيَةُ فِي إِكْمَالِ الدِّينِ وَدَلَّ الْخَبَرُ فِي اسْتِيفَاءِ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي، عَلَى أَنَّ لِلْأَحْكَامِ الْمَسْكُوتِ عَنْهَا أُصُولًا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى مَعْرِفَةِ مَا أُغْفِلَ بَيَانُهُ فِيهِمَا وَهُوَ الِاجْتِهَادُ فِيمَا تَضَمَّنَهَا مِنَ الْأَمَارَاتِ الدَّالَّةِ، وَاسْتِخْرَاجِ مَا تَضَمَّنَهَا مِنَ الْمَعَانِي الْمُسْتَنْبَطَةِ لِيَكُونَ الدِّينُ قَدْ كَمُلَ وَالْأَحْكَامُ قَدْ وَضُحَتْ، فَإِنَّ النُّصُوصَ عَلَى الْحَوَادِثِ مَعْدُولٌ عَنِ اسْتِيعَابِهِ لِأَمْرَيْنِ:

Maka ayat tersebut menunjukkan tentang kesempurnaan agama, dan hadis menunjukkan tentang terpenuhinya perintah dan larangan, bahwa hukum-hukum yang tidak disebutkan secara eksplisit memiliki dasar-dasar dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang dapat dijadikan jalan untuk mengetahui apa yang belum dijelaskan di dalam keduanya. Hal itu adalah ijtihad terhadap tanda-tanda yang terkandung di dalamnya, serta penggalian makna-makna yang dapat diistinbat dari keduanya, agar agama menjadi sempurna dan hukum-hukum menjadi jelas. Sebab, nash-nash terhadap peristiwa-peristiwa tertentu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup semuanya karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ شَاقٌّ فِي الْإِحَاطَةِ بِجَمِيعِهِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu sulit untuk dapat mencakup seluruhnya.

وَالثَّانِي: لِيَتَفَاضَلَ الْعُلَمَاءُ فِي اسْتِنْبَاطِهِ.

Yang kedua: agar para ulama dapat berbeda-beda dalam istinbāṭ (penggalian hukum).

فَصَحَّ بِهَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ أَنْ يَكُونَ الِاجْتِهَادُ فِي الشَّرْعِ أَصْلًا يَسْتَخْرِجُ بِهِ حُكْمَ مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ وَلَا انْعَقَدَ عَلَيْهِ إِجْمَاعٌ.

Dengan dua makna ini, maka jelaslah bahwa ijtihad dalam syariat merupakan dasar untuk menggali hukum terhadap sesuatu yang tidak terdapat nash maupun tidak ada ijmā‘ atasnya.

وَإِذْ قَدْ مَضَى الِاجْتِهَادُ فِي أَعْصَارِ الْأَنْبِيَاءِ وَجَبَ أَنْ يُوَضَّحَ اجْتِهَادُ الْعُلَمَاءِ فِيمَا بَعْدَهُمْ، وَهُوَ يَنْقَسِمُ عَلَى ثَمَانِيَةِ أَقْسَامٍ:

Dan setelah ijtihad pada masa para nabi telah berlalu, maka wajib dijelaskan ijtihad para ulama setelah mereka, dan ijtihad itu terbagi menjadi delapan bagian:

أَحَدُهَا: مَا كَانَ حُكْمُ الِاجْتِهَادِ مُسْتَخْرَجًا مِنْ مَعْنَى النَّصِّ كَاسْتِخْرَاجِ عِلَّةِ الرِّبَا مِنَ الْبُرِّ فَهَذَا صَحِيحٌ غَيْرُ مَدْفُوعٍ عَنْهُ عِنْدَ جَمِيعِ الْقَائِلِينَ بِالْقِيَاسِ.

Salah satunya: apabila hukum ijtihad diambil dari makna nash, seperti pengambilan ‘illat riba dari gandum, maka hal ini benar dan tidak ditolak menurut seluruh ulama yang berpendapat dengan qiyās.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ شَبَهِ النَّصِّ كَالْعَبْدِ فِي ثُبُوتِ تَمَلُّكِهِ لِتَرَدُّدِ شَبَهِهِ بِالْحُرِّ فِي أَنَّهُ يُمَلَّكُ لِأَنَّهُ مُكَلَّفٌ وَشُبْهَةُ الْبَهِيمَةِ فِي أَنَّهُ لَا يَمْلِكُ، لِأَنَّهُ مَمْلُوكٌ، وَهَذَا صَحِيحٌ وَلَيْسَ بِمَدْفُوعٍ عَنْهُ عِنْدَ مَنْ قَالَ بِالْقِيَاسِ، وَمَنْ لَمْ يَقُلْ غَيْرَ أَنَّ مَنْ لَمْ يَقُلْ بِالْقِيَاسِ جَعَلَهُ دَاخِلًا فِي عُمُومِ أَحَدِ الشَّبَهَيْنِ، وَمَنْ قَالَ بِالْقِيَاسِ جَعَلَهُ مُلْحَقًا بِأَحَدِ الشَّبَهَيْنِ.

Bagian kedua: yaitu sesuatu yang diambil dari kemiripan dengan nash, seperti status budak dalam penetapan kepemilikannya, karena terdapat keraguan antara kemiripannya dengan orang merdeka—yaitu bahwa ia dapat memiliki karena ia mukallaf—dan kemiripan dengan hewan—yaitu bahwa ia tidak dapat memiliki karena ia adalah milik orang lain. Hal ini benar dan tidak dapat dibantah menurut mereka yang membolehkan qiyās. Adapun mereka yang tidak membolehkan qiyās, maka mereka memasukkannya ke dalam cakupan umum salah satu dari dua kemiripan tersebut. Sedangkan mereka yang membolehkan qiyās, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang diikutkan kepada salah satu dari dua kemiripan itu.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ عُمُومِ النَّصِّ كَالَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ فِي قَوْلِهِ {إِلا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ} [البقرة: 237] يَعُمُّ الْأَبَ وَالزَّوْجَ، وَالْمُرَادُ بِهِ أَحَدُهُمَا، وَهَذَا صَحِيحٌ يُوصَلُ إِلَيْهِ بالترجيح.

Bagian ketiga: yaitu hukum yang diambil dari keumuman nash, seperti frasa “orang yang memegang ikatan pernikahan” dalam firman Allah {kecuali jika mereka (para wanita) memaafkan, atau orang yang memegang ikatan pernikahan itu memaafkan} [al-Baqarah: 237], yang mencakup ayah dan suami, padahal yang dimaksud adalah salah satu dari keduanya. Hal ini benar dan dapat dicapai melalui tarjih (penetapan pendapat yang lebih kuat).

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ إِجْمَالِ النَّصِّ كَقَوْلِهِ فِي مُتْعَةِ الطَّلَاقِ: {وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ} [البقرة: 236] فَصَحَّ الِاجْتِهَادُ فِي إِجْمَالِ قَدْرِ الْمُتْعَةِ بِاعْتِبَارِ حَالِ الزَّوْجَيْنِ.

Bagian keempat: yaitu apa yang diambil dari makna global nash, seperti firman Allah tentang mut‘ah talak: “Berikanlah kepada mereka mut‘ah menurut kemampuan orang yang lapang dan menurut kemampuan orang yang terbatas” (QS. Al-Baqarah: 236). Maka ijtihad dalam menentukan kadar mut‘ah secara global dengan mempertimbangkan keadaan kedua pasangan adalah sah.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ أَحْوَالِ النَّصِّ كَقَوْلِهِ فِي مُتْعَةِ الْحَجِّ: {فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ} [البقرة: 196] فَأَطْلَقَ صِيَامَ الثَّلَاثَةِ فِي الْحَجِّ، فَاحْتُمِلَ قَبْلَ عَرَفَةِ وَبَعْدَهَا وَأَطْلَقَ صِيَامَ السَّبْعَةِ إِذَا رَجَعَ فَاحْتُمِلَ إِذَا رَجَعَ فِي طَرِيقِهِ وَإِذَا رَجَعَ إِلَى بَلَدِهِ فَصَحَّ الِاجْتِهَادُ فِي تَغْلِيبِ إِحْدَى الْحَالَتَيْنِ.

Bagian kelima: yaitu apa yang diambil dari keadaan teks, seperti firman Allah tentang dam haji tamattu‘: “Maka barang siapa yang melakukan tamattu‘ dengan umrah ke haji, maka (wajiblah ia menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang hadyu atau tidak mampu), maka berpuasalah tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kamu telah kembali.” (QS. Al-Baqarah: 196). Allah membebaskan (tidak merinci) puasa tiga hari dalam masa haji, sehingga bisa dilakukan sebelum Arafah atau sesudahnya. Dan Allah juga membebaskan puasa tujuh hari ketika telah kembali, sehingga bisa dilakukan dalam perjalanan pulang atau setelah sampai di negerinya. Maka ijtihad menjadi sah dalam menguatkan salah satu dari dua keadaan tersebut.

الْقِسْمُ السَّادِسُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ دَلَائِلِ النَّصِّ: كَقَوْلِهِ فِي نَفَقَةِ الزَّوْجَاتِ: {لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ} [الطلاق: 7] الْآيَةَ فَاسْتَدْلَلْنَا عَلَى تَقْدِيرِ نَفَقَةِ الْمُوسِرِ بِمُدَّيْنِ بِأَنَّهُ أَكْثَرُ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِي فِدْيَةِ الْأَذَى لِكُلِّ مسكين مدين. وَاسْتَدْلَلْنَا عَلَى تَقْدِيرِ نَفَقَةِ الْمُعْسَرِ بِمُدٍّ بِأَقَلِّ جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِي كَفَّارَةِ الْوَطْءِ فِي شهر رمضان لكل مسكين مدا.

Bagian keenam: Yaitu apa yang diambil dari dalil-dalil nash, seperti firman Allah tentang nafkah istri: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya” (ath-Thalaq: 7) dan seterusnya. Maka kami berdalil untuk menetapkan nafkah bagi orang yang mampu dengan dua mud, karena itu adalah jumlah terbanyak yang disebutkan dalam sunnah dalam fidyah atas gangguan, yaitu setiap orang miskin mendapat dua mud. Dan kami berdalil untuk menetapkan nafkah bagi orang yang tidak mampu dengan satu mud, karena itu adalah jumlah paling sedikit yang disebutkan dalam sunnah dalam kaffarah karena berhubungan badan di bulan Ramadan, yaitu setiap orang miskin mendapat satu mud.

وَالْقِسْمُ السَّابِعُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ أَمَارَاتِ النَّصِّ كَاسْتِخْرَاجِ دَلَائِلِ الْقِبْلَةِ فِيمَنْ خَفِيَتْ عَلَيْهِ مِنْ قَوْلِهِ: {وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ} [النحل: 16] فَصَحَّ الِاجْتِهَادُ فِي الْقِبْلَةِ بِالْأَمَارَاتِ الدَّالَّةِ عَلَيْهَا مِنْ هُبُوبِ الرِّيَاحِ وَمَطَالِعِ النُّجُومِ.

Bagian ketujuh: yaitu sesuatu yang diambil dari petunjuk-petunjuk dalam nash, seperti mengambil dalil tentang arah kiblat bagi orang yang tidak mengetahuinya dari firman Allah: “Dan tanda-tanda (penunjuk jalan), dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk” (an-Nahl: 16). Maka, ijtihad dalam menentukan kiblat dengan menggunakan tanda-tanda yang menunjukkan arahnya, seperti arah tiupan angin dan terbitnya bintang-bintang, adalah sah.

وَالْقِسْمُ الثَّامِنُ: مَا كَانَ مُسْتَخْرَجًا مِنْ غَيْرِ نَصٍّ وَلَا أَصْلٍ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِي صِحَّةِ الِاجْتِهَادِ فِيهِ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Bagian kedelapan: yaitu perkara yang dihasilkan bukan dari nash maupun asal, maka para ulama berbeda pendapat tentang sahnya ijtihad padanya dengan dasar dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan) menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَصِحُّ الِاجْتِهَادُ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ حَتَّى يَقْتَرِنَ بِأَصْلٍ: لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَرْجِعَ فِي الشَّرْعِ إِلَى غَيْرِ أَصْلٍ، وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ.

Salah satunya: ijtihad dengan dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan) tidak sah kecuali disertai dengan suatu asal (ashl), karena tidak boleh merujuk dalam syariat kepada selain suatu asal, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i.

وَلِذَلِكَ أَنْكَرَ الْقَوْلَ بِالِاسْتِحْسَانِ؛ لِأَنَّهُ تَغْلِيبُ ظَنٍّ بِغَيْرِ أَصْلٍ.

Oleh karena itu, ia menolak pendapat tentang istihsān, karena istihsān merupakan mengedepankan dugaan tanpa dasar.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَصِحُّ الِاجْتِهَادُ بِهِ؛ لِأَنَّ الِاجْتِهَادَ فِي الشَّرْعِ أَصْلٌ فَجَازَ أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْ أَصْلٍ، وَقَدِ اجْتَهَدَ الْعُلَمَاءُ فِي التَّعْزِيرِ عَلَى مَا دُونَ الْحُدُودِ بِآرَائِهِمْ فِي أَصْلِهِ مِنْ ضَرْبٍ وَحَبْسٍ، وَفِي تَقْدِيرِهِ بِعَشْرِ جَلْدَاتٍ فِي حَالٍ، وَبِعِشْرِينَ فِي أُخْرَى، وَبِثَلَاثِينَ فِي أُخْرَى، وَلَيْسَ لَهُمْ فِي هَذِهِ الْمَقَادِيرِ أَصْلٌ مَشْرُوعٌ.

Pendapat kedua: ijtihad sah dilakukan dengannya; karena ijtihad dalam syariat merupakan suatu asal, maka boleh saja ia tidak membutuhkan asal lain. Para ulama telah berijtihad dalam masalah ta‘zir terhadap pelanggaran di bawah batas hudud dengan pendapat-pendapat mereka sendiri, baik dalam bentuk hukuman cambuk maupun penjara, serta dalam penentuan jumlahnya, seperti sepuluh kali cambukan dalam satu keadaan, dua puluh kali dalam keadaan lain, dan tiga puluh kali dalam keadaan yang lain lagi. Dalam penentuan jumlah tersebut, mereka tidak memiliki asal syar‘i yang ditetapkan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الِاجْتِهَادِ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ وَبَيْنَ الِاسْتِحْسَانِ: أَنَّ الِاسْتِحْسَانَ يُتْرَكُ بِهِ الْقِيَاسُ وَالِاجْتِهَادُ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ يُسْتَعْمَلُ مَعَ عَدَمِ القياس.

Perbedaan antara ijtihad dengan dugaan kuat (ghalabat az-zann) dan istihsan adalah: istihsan digunakan untuk meninggalkan qiyās, sedangkan ijtihad dengan dugaan kuat digunakan ketika tidak ada qiyās.

(فصل: [ما يجب في الاجتهاد] )

(Bab: [Hal-hal yang wajib dalam ijtihad])

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِيمَا يَجِبُ فِي الِاجْتِهَادِ: فَالَّذِي يَجِبُ عَلَى الْمُجْتَهِدِ أَنْ يَقْصِدَ بِاجْتِهَادِهِ طَلَبَ الْحَقِّ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى وَإِصَابَةَ الْعَيْنِ الَّتِي يَجْتَهِدُ فِيهَا هَذَا هُوَ الظَّاهِرَ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَالْمُعَوَّلِ عَلَيْهِ مِنْ مَذْهَبِهِ.

Adapun bagian ketiga tentang apa yang wajib dalam ijtihad: maka yang wajib atas seorang mujtahid adalah berniat dalam ijtihadnya untuk mencari kebenaran di sisi Allah Ta‘ala dan mencapai hakikat perkara yang sedang diijtihadkan; inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i dan yang dijadikan sandaran dalam mazhabnya.

وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ مِنْ مَذْهَبِ الْمُزَنِيِّ أَنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَقْصِدَ بِاجْتِهَادِهِ طَلَبَ الْحَقِّ عِنْدَ نَفْسِهِ، لِأَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ لَا يُعْلَمُ إِلَّا بِالنُّصُوصِ.

Dan tampaknya termasuk dalam mazhab al-Muzani bahwa seseorang wajib berusaha dengan ijtihadnya untuk mencari kebenaran menurut dirinya sendiri, karena apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diketahui kecuali melalui nash-nash.

وَالَّذِي هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ عَلَيْهِ أَنْ يَقْصِدَ طَلَبَ الْحَقِّ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّ الْحَقَّ مَا كَانَ عِنْدَهُ حَقًّا لَا عِنْدَ غَيْرِهِ.

Dan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i adalah bahwa seseorang wajib berniat mencari kebenaran di sisi Allah Ta‘ala, karena kebenaran itu adalah apa yang dianggap benar di sisi-Nya, bukan di sisi selain-Nya.

وَعَلَى كِلَا الْمَذْهَبَيْنِ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَصَّلَ بِاجْتِهَادِهِ إِلَى طَلَبِ الْحَقِّ وَإِصَابَةِ الْعَيْنِ فَيَجْمَعُ فِيهِ بَيْنَ هَذَيْنِ الشَّرْطَيْنِ.

Dan menurut kedua mazhab tersebut, ia wajib berusaha dengan ijtihadnya untuk mencari kebenaran dan mencapai hakikat yang sebenarnya, sehingga ia menggabungkan kedua syarat tersebut.

وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِرَاقِ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِينَ: إِنَّ الَّذِي عَلَى الْمُجْتَهِدِ هُوَ الِاجْتِهَادُ لِيَعْمَلَ بِمَا يُؤَدِّيهِ إِلَيْهِ اجْتِهَادُهُ فَيَجْعَلُونَ عَلَيْهِ الِاجْتِهَادَ وَلَا يَجْعَلُونَ عَلَيْهِ طَلَبَ الْحَقِّ بِالِاجْتِهَادِ.

Sebagian ahli Irak dari kalangan fuqaha dan mutakallim berpendapat bahwa kewajiban seorang mujtahid adalah berijtihad agar ia dapat beramal sesuai dengan hasil ijtihadnya. Mereka mewajibkan ijtihad atasnya, namun tidak mewajibkan untuk mencari kebenaran melalui ijtihad.

وَيُقَالُ إِنَّهُ مَذْهَبُ أَبِي يُوسُفَ.

Dan dikatakan bahwa itu adalah mazhab Abu Yusuf.

فَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ فَيُقَالُ: إِنَّ مَذْهَبَهُ فِيهِ مُخْتَلِفٌ يَجْعَلُ عَلَيْهِ فِي بَعْضِ الْأَحْكَامِ طَلَبَ الْحَقِّ بِالِاجْتِهَادِ كَقَوْلِنَا، وَيَجْعَلُ عَلَيْهِ فِي بَعْضِ الْأَحْكَامِ الِاجْتِهَادَ لِيَعْمَلَ بِمَا يُؤَدِّيهِ إِلَيْهِ اجْتِهَادُهُ كَقَوْلِ أَبِي يُوسُفَ.

Adapun Abu Hanifah, maka dikatakan: sesungguhnya mazhab beliau dalam hal ini berbeda-beda; dalam sebagian hukum, beliau mewajibkan pencarian kebenaran dengan ijtihad sebagaimana pendapat kami, dan dalam sebagian hukum lainnya, beliau mewajibkan ijtihad agar seseorang mengamalkan apa yang dihasilkan oleh ijtihadnya, sebagaimana pendapat Abu Yusuf.

وَقَدِ اخْتَلَطَتْ مَذَاهِبُ النَّاسِ فِي هَذَا حَتَّى الْتَبَسَتْ وَاشْتَبَهَتْ.

Pendapat-pendapat manusia dalam hal ini telah bercampur-baur sehingga menjadi samar dan membingungkan.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ أَوْجَبَ عَلَيْهِ الِاجْتِهَادَ وَلَمْ يُوجِبْ عَلَيْهِ طَلَبَ الْحَقِّ بِالِاجْتِهَادِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَنْ جَعَلَ عَلَيْهِ الِاجْتِهَادَ بِغَيْرِ أَصْلٍ بِأَنَّ مَا أَخْفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى فَلَا طَرِيقَ لَنَا إِلَى إِظْهَارِهِ وَفِي الْتِزَامِهِ تَكْلِيفُ مَا خَرَجَ عَنْ الِاسْتِطَاعَةِ كَإِحْيَاءِ الْأَجْسَامِ وَقَلْبِ الْأَعْيَانِ.

Orang yang mewajibkan ijtihad atasnya namun tidak mewajibkan mencari kebenaran melalui ijtihad—dan ini adalah pendapat orang yang mewajibkan ijtihad tanpa dasar—berdalil bahwa apa yang disembunyikan Allah Ta‘ala, maka tidak ada jalan bagi kita untuk menampakkannya. Dan dalam mewajibkannya terdapat pembebanan sesuatu yang di luar kemampuan, seperti menghidupkan jasad dan mengubah hakikat benda.

وَهَذَا فَاسِدٌ، لِأَنَّ الِاجْتِهَادَ اسْتِدْلَالٌ وَالْحُكْمُ هُوَ الْحَقُّ الْمَطْلُوبُ بِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَخْتَصَّ الْوُجُوبُ بِالِاسْتِدْلَالِ دُونَ الْحُكْمِ الْمَطْلُوبِ، لِأَنَّ الِاسْتِدْلَالَ مَقْصُودٌ بِمَدْلُولٍ عَلَيْهِ وَقَدْ نَصَّبَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى مَا أَخْفَاهُ أَمَارَاتٍ تُوصِلُ إِلَيْهِ فَلَمْ يَخْرُجْ عَنْ الِاسْتِطَاعَةِ.

Ini adalah pendapat yang keliru, karena ijtihad adalah proses penalaran (istidlāl) dan hukum adalah kebenaran yang dicari melalui proses tersebut. Maka tidak boleh kewajiban itu hanya khusus pada proses penalaran tanpa pada hukum yang dicari, karena penalaran itu bertujuan untuk mencapai sesuatu yang ditunjukkan olehnya. Allah Ta‘ala telah menetapkan tanda-tanda (amārah) atas hal-hal yang tersembunyi, yang dapat mengantarkan kepadanya, sehingga hal itu tidak keluar dari kemampuan manusia.

(فَصْلٌ: [فِي حُكْمِ الاجتهاد] )

Bagian: [Tentang Hukum Ijtihad]

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي حِكَمِ الِاجْتِهَادِ فَلَيْسَ يَخْلُو حَالُ الحُكْمِ الْمُجْتَهِدِ فِيهِ مِنْ أَنْ تَتَّفِقَ عَلَيْهِ أَقَاوِيلُ الْمُجْتَهِدِينَ أَوْ تَخْتَلِفُ.

Adapun bab keempat membahas tentang hikmah ijtihad. Tidaklah keadaan hukum yang menjadi objek ijtihad itu lepas dari dua kemungkinan: apakah pendapat para mujtahid bersepakat atasnya, ataukah mereka berselisih pendapat.

فَإِنِ اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ أَقَاوِيلُهُمْ صَارَ إِجْمَاعًا تَعَيَّنَ فِيهِ الْحَقُّ وَسَقَطَ فِيهِ الِاجْتِهَادُ مِنْ بَعْدِهِ كَسُقُوطِ الِاجْتِهَادِ مَعَ نُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لِأَنَّ الْإِجْمَاعَ حُجَّةٌ قَاطِعَةٌ بَعْدَ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ.

Jika pendapat-pendapat mereka sepakat atas suatu hal, maka itu menjadi ijmā‘ yang kebenarannya telah pasti, dan setelah itu tidak ada lagi ijtihad, sebagaimana ijtihad tidak berlaku jika sudah ada nash dari al-Qur’an dan sunnah, karena ijmā‘ adalah hujjah yang bersifat pasti setelah al-Qur’an atau sunnah.

وَإِنِ اخْتَلَفَتْ فِيهِ أَقَاوِيلُ الْمُجْتَهِدِينَ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dan jika dalam masalah itu terdapat perbedaan pendapat di antara para mujtahid, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الِاخْتِلَافُ فِي أُصُولِ التَّوْحِيدِ وَصِفَاتِ الذَّاتِ، فَالْحَقُّ فِيهَا وَاحِدٌ وَهُوَ الَّذِي كُلِّفَ الْعِبَادُ طَلَبَهُ، وَمَا عَدَاهُ بَاطِلٌ فَمَنْ أَصَابَهُ فَقَدْ أَصَابَ عِنْدَ اللَّهِ وَأَصَابَ فِي الْحَقِّ وَمَنْ أَخْطَأَهُ فَقَدْ أَخْطَأَ عِنْدَ اللَّهِ وَأَخْطَأَ فِي الْحَقِّ. وَهَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِينَ.

Salah satunya adalah apabila perbedaan itu terjadi dalam pokok-pokok tauhid dan sifat-sifat dzat, maka kebenaran di dalamnya hanya satu, dan itulah yang diwajibkan kepada hamba-hamba untuk mencarinya. Selain itu adalah batil. Maka siapa yang mendapatkannya, sungguh ia telah benar di sisi Allah dan benar dalam kebenaran itu. Dan siapa yang keliru darinya, sungguh ia telah keliru di sisi Allah dan keliru dalam kebenaran itu. Inilah pendapat mayoritas fuqaha dan mutakallim.

وَشَذَّ عَنْهُمْ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيُّ فَجَعَلَ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبًا فِي الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ.

Dan berbeda pendapat dari mereka, ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari, yang berpendapat bahwa setiap mujtahid adalah benar baik dalam masalah ushul maupun furu‘.

وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا خَطَأٌ فَاحِشٌ، لِأَنَّ أُصُولَ التَّوْحِيدِ وَصِفَاتِ الذَّاتِ لَا تَخْتَلِفُ فَلَمْ يَصِحَّ تَجْوِيزُ الِاخْتِلَافِ فِيهَا، وَأَحْكَامُ الشَّرْعِ قَدْ تَخْتَلِفُ بِحَسَبِ الْمَصَالِحِ فِي الْأَعْيَانِ وَالْأَزْمَانِ فَجَازَ أَنْ يَكُونَ الْخِلَافُ مُسَوَّغًا فِيهَا.

Menggabungkan keduanya adalah kesalahan besar, karena pokok-pokok tauhid dan sifat-sifat dzat tidak berbeda sehingga tidak sah membolehkan adanya perbedaan di dalamnya, sedangkan hukum-hukum syariat bisa saja berbeda sesuai dengan kemaslahatan pada individu dan waktu, sehingga perbedaan dapat dibenarkan di dalamnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مِنِ اخْتِلَافِ الْمُجْتَهِدِينَ: أَنْ يَكُونَ فِي الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ كَاخْتِلَافِ الصَّحَابَةِ فِي أَحْكَامِ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ وَفِي مُقَاسَمَةِ الْإِخْوَةِ لِلْجَدِّ وَفِي تَوْرِيثِ الْجَدَّةِ وَابْنُهَا حَيٌّ وَفِيمَنْ قَالَ لِامْرَأَتِهِ: أَنْتِ عَلَيَّ حَرَامٌ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

Jenis kedua dari perbedaan para mujtahid adalah perbedaan dalam hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah, seperti perbedaan para sahabat dalam hukum-hukum salat, zakat, puasa, dalam pembagian warisan antara saudara dengan kakek, dalam mewariskan nenek ketika anaknya masih hidup, dan dalam kasus seseorang yang berkata kepada istrinya: “Engkau haram atasku,” serta hal-hal yang serupa dengan itu.

فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ وَالْمُتَكَلِّمُونَ فِي هَذَا الِاخْتِلَافِ:

Para fuqaha dan para mutakallimun telah berselisih pendapat dalam masalah perbedaan ini.

فَذَهَبَ أَكْثَرُ الْمُتَكَلِّمِينَ إِلَى أَنَّ الْحَقَّ فِي جَمِيعِهَا، وَأَنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ فِيهَا مُصِيبٌ عِنْدَ اللَّهِ وَمُصِيبٌ فِي الْحُكْمِ؛ لِأَنَّ جَوَازَ اخْتِلَافِ الْجَمِيعِ دَلِيلٌ عَلَى صِحَّةِ الْجَمِيعِ.

Mayoritas para mutakallim berpendapat bahwa kebenaran ada pada semuanya, dan bahwa setiap mujtahid di dalamnya benar di sisi Allah dan benar dalam hukum; karena bolehnya perbedaan pendapat di antara semuanya merupakan dalil atas kebenaran semuanya.

وَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْحَقَّ فِي أَحَدِهَا وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ لَنَا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ مُتَعَيِّنٌ؛ لِاسْتِحَالَةِ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ الْوَاحِدُ فِي الزَّمَانِ الْوَاحِدِ فِي الشَّخْصِ الْوَاحِدِ حَلَالًا وَحَرَامًا؛ لِأَنَّ مَا حَلَّ لِشَخْصٍ فِي حَالٍ لَمْ يَكُنْ حَرَامًا عَلَيْهِ فِي تِلْكَ الْحَالِ لِتَنَافِيهِ وَتَنَاقُضِهِ، وَلِأَنَّ الْمُخْتَلِفِينَ فِي اجْتِهَادِهِمْ فِي الْقِبْلَةِ إِلَى أَرْبَعِ جِهَاتٍ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقِبْلَةَ فِي الْجِهَاتِ الْأَرْبَعِ.

Syafi‘i, Abu Hanifah, Malik, dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa kebenaran itu terdapat pada salah satu pendapat tersebut, meskipun tidak dapat kita tentukan secara pasti, namun di sisi Allah kebenaran itu telah ditentukan; karena mustahil satu perkara pada waktu yang sama dan pada orang yang sama bisa sekaligus halal dan haram; sebab sesuatu yang halal bagi seseorang dalam suatu keadaan, tidaklah haram baginya dalam keadaan tersebut, karena hal itu saling bertentangan dan kontradiktif. Selain itu, perbedaan ijtihad dalam menentukan arah kiblat hingga ke empat arah tidaklah menunjukkan bahwa kiblat itu berada di keempat arah tersebut.

وَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْحَقَّ فِي أَحَدِهَا وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ: هَلْ كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِيهَا مُصِيبٌ أَمْ لَا.

Dan apabila telah tetap bahwa kebenaran ada pada salah satunya meskipun belum dapat ditentukan secara pasti, para fuqaha pun berbeda pendapat: apakah setiap mujtahid dalam hal ini benar (mendapatkan kebenaran) atau tidak.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَا ظَهَرَ مِنْهُ فِي أَكْثَرِ كُتُبِهِ أَنَّ الْمُصِيبَ مِنْهَا وَاحِدٌ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ وَإِنَّ جَمِيعَهُمْ مُخْطِئٌ إِلَّا ذَلِكَ الْوَاحِدَ، فَمَنْ أَصَابَ الْحَقَّ فَقَدْ أَصَابَ عِنْدَ اللَّهِ وَأَصَابَ فِي الْحُكْمِ، وَمَنْ أَخْطَأَ الْحَقَّ فَقَدْ أَخْطَأَ عِنْدَ اللَّهِ، وَأَخْطَأَ فِي الْحُكْمِ.

Maka mazhab Syafi‘i, sebagaimana yang tampak dalam kebanyakan kitab-kitabnya, adalah bahwa kebenaran dari pendapat-pendapat itu hanya satu, meskipun tidak dapat ditentukan secara pasti, dan bahwa semua selain yang satu itu adalah keliru. Barang siapa yang sesuai dengan kebenaran, maka ia benar di sisi Allah dan benar dalam hukum; dan barang siapa yang keliru dari kebenaran, maka ia keliru di sisi Allah dan keliru dalam hukum.

وَهَذَا مَذْهَبُ مَالِكٍ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ لَمَّا كَانَ فِي وَاحِدٍ لَمْ يَكُنِ الْمُصِيبُ إِلَّا وَاحِدًا.

Ini adalah mazhab Malik; karena kebenaran itu hanya ada pada satu pihak, maka yang benar pun hanya satu.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي وَاحِدٍ فَمَنْ أَصَابَهُ فَقَدْ أَصَابَ عِنْدَ اللَّهِ وَأَصَابَ فِي الْحُكْمِ. وَمَنْ أَخْطَأَهُ فَقَدْ أَخْطَأَ عِنْدَ اللَّهِ وَأَصَابَ فِي الْحُكْمِ.

Abu Yusuf dan sekelompok ulama Irak berpendapat: Setiap mujtahid adalah benar, meskipun kebenaran itu hanya ada pada satu pihak. Maka siapa yang tepat mengenainya, ia benar di sisi Allah dan benar dalam hukum. Dan siapa yang keliru darinya, ia keliru di sisi Allah namun tetap benar dalam hukum.

وَقَدْ حَكَى هَذَا الْقَوْلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ بَعْضُ أَصْحَابِهِ، لِأَنَّ لَهُ فِي وُجُوبِ الْقَضَاءِ عَلَى مَنْ تَيَقَّنَ الْخَطَأَ فِي الْقِبْلَةِ قَوْلَيْنِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَثْبَتَهُ وَخَرَّجَهُ قَوْلًا ثَانِيًا، وَمِنْهُمْ مَنْ أَنْكَرَهُ.

Pendapat ini dinukil dari asy-Syafi‘i oleh sebagian murid-muridnya, karena beliau memiliki dua pendapat mengenai kewajiban mengqadha bagi orang yang yakin telah salah menghadap kiblat; di antara mereka ada yang menetapkannya dan menjadikannya sebagai pendapat kedua, dan di antara mereka ada pula yang mengingkarinya.

وَقِيلَ: إِنَّ مَذْهَبَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي هَذَا مُخْتَلِفٌ فَيَجْعَلُ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبًا، وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي وَاحِدٍ كَقَوْلِ أَبِي يُوسُفَ، وَيَجْعَلُ فِي بَعْضِ الْمَسَائِلِ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُخْطِئًا إِلَّا وَاحِدًا، لِأَنَّ الْحَقَّ وَاحِدٌ كَقَوْلِنَا.

Dikatakan: Sesungguhnya mazhab Abu Hanifah dalam hal ini berbeda-beda; dalam sebagian masalah, beliau berpendapat bahwa setiap mujtahid adalah benar, meskipun kebenaran itu hanya pada satu pihak, seperti pendapat Abu Yusuf; dan dalam sebagian masalah lain, beliau berpendapat bahwa setiap mujtahid adalah salah kecuali satu orang saja, karena kebenaran itu hanya satu, sebagaimana pendapat kami.

وَلَوْ كَانَ كُلُّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبًا مَا أَخْطَأَ مُجْتَهِدٌ، وَقَدْ نَسَبَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ دَاوُدَ إِلَى الْخَطَأِ وَسُلَيْمَانَ إِلَى الْإِصَابَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {ففهمناها سليمان} وقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ ” فَنَسَبَهُ إِلَى الْخَطَأِ وَإِنْ جَعَلَ لَهُ أَجْرًا.

Jika setiap mujtahid pasti benar, tentu tidak akan ada mujtahid yang keliru. Padahal Allah Ta‘ala telah menisbatkan kesalahan kepada Nabi Dawud dan kebenaran kepada Sulaiman melalui firman-Nya: {Maka Kami fahamkan (perkara itu) kepada Sulaiman}. Nabi ﷺ juga bersabda: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu keliru, maka baginya satu pahala.” Maka beliau menisbatkan kekeliruan kepadanya, meskipun tetap memberinya pahala.

فَإِنْ قِيلَ: فَلَوِ اخْتَلَفَا فِي الْإِصَابَةِ لَمَا شُورِكَ بَيْنَهُمَا فِي الْأَجْرِ.

Jika dikatakan: Maka jika keduanya berbeda pendapat dalam hal kebenaran (mengenai suatu masalah), niscaya pahala tidak akan dibagi di antara mereka berdua.

قِيلَ: وَلَوِ اتَّفَقَا فِي الْإِصَابَةِ لَمَا فُوضِلَ بَيْنَهُمَا فِي الْأَجْرِ.

Dikatakan: Seandainya keduanya sama-sama benar dalam hasilnya, niscaya tidak akan dibedakan antara keduanya dalam pahala.

وَقَدْ خَطَّأَ الصَّحَابَةُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ: فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” أَلَا لَا يَتَّقِي اللَّهَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ يَجْعَلُ ابْنَ الِابْنِ ابْنًا وَلَا يَجْعَلُ أَبَا الْأَبِ أَبًا ” وَقَالَ فِي الْعَوْلِ ” مَنْ شَاءَ بَاهَلْتُهُ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَالَّذِي أَحْصَى رَمْلَ عَالَجَ عَدَدًا مَا جَعَلَ اللَّهُ فِي الْمَالِ نِصْفَيْنِ وَثُلُثًا، هَذَانِ النِّصْفَانِ قَدْ ذَهَبَا بِالْمَالِ فَأَيْنَ الثُّلُثُ ” وَقَالَ عَلِيٌّ لِعُمَرَ فِي الْمُجْهِضَةِ حِينَ قَالَ لَهُ عُثْمَانُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ: لَا شَيْءَ عَلَيْكَ إِنَّمَا أَنْتَ مُعَلَّمٌ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: إِنْ كَانَا مَا اجْتَهَدَا فَقَدْ غَشَّا وَإِنْ كَانَا قَدِ اجْتَهَدَا فَقَدْ أَخْطَآ فَعَلَيْكَ الدِّيَةُ فَلَمْ يُنْكِرُوا خَطَأَ الْمُجْتَهِدِ.

Para sahabat telah saling menyalahkan satu sama lain dalam hal-hal yang mereka perselisihkan: Ibnu ‘Abbas berkata, “Tidakkah Zaid bin Tsabit bertakwa kepada Allah? Ia menjadikan anak laki-laki dari anak laki-laki sebagai anak, tetapi tidak menjadikan ayah dari ayah sebagai ayah.” Dan ia berkata tentang masalah ‘aul, “Siapa saja yang mau, aku akan bermubahalah dengannya di dekat Hajar Aswad. Demi Dzat yang menghitung jumlah butiran pasir ‘Alāj, Allah tidak pernah menjadikan dalam harta itu dua setengah dan sepertiga; kedua setengah itu telah mengambil seluruh harta, lalu di mana sepertiganya?” Ali berkata kepada Umar tentang kasus janin yang gugur, ketika Utsman dan Abdurrahman berkata kepadanya, “Tidak ada apa-apa atasmu, engkau hanyalah seorang pengajar.” Maka Ali berkata kepadanya, “Jika keduanya tidak berijtihad, berarti mereka telah menipu. Dan jika keduanya telah berijtihad, berarti mereka telah salah, maka atasmu ada diyat.” Mereka pun tidak mengingkari kesalahan mujtahid.

فَإِنْ قِيلَ: لَمَّا اسْتَجَازُوا أَنْ يُوَلُّوا مَنْ خَالَفَهُمْ فِي الِاجْتِهَادِ دَلَّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ، وَلَوْ كَانَ مُخْطِئًا لَمَا اسْتَجَازُوا تَوْلِيَةَ مُخَالِفٍ، قِيلَ قَدْ أَنْكَرَ عَلِيٌّ عَلَى شُرَيْحٍ حِينَ خَالَفَهُ فِي ابْنَيْ عَمِّ أَحَدُهُمَا أَخٌ لِأُمٍّ، وَقَالَ: عَلَيَّ بِالْعَبْدِ الْأَبْطَرِ وَعَزَلَهُ عَنِ الْقَضَاءِ.

Jika dikatakan: Ketika mereka membolehkan untuk mengangkat seseorang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam ijtihad, itu menunjukkan bahwa setiap mujtahid adalah benar. Seandainya ia salah, tentu mereka tidak akan membolehkan mengangkat orang yang berbeda pendapat. Maka dijawab: Ali pernah mengingkari keputusan Syuraih ketika Syuraih berbeda pendapat dengannya dalam kasus dua anak paman, salah satunya adalah saudara seibu, dan Ali berkata, “Bawakan kepadaku budak yang buntung itu!” lalu ia memberhentikan Syuraih dari jabatan qadha (hakim).

عَلَى أَنَّ نُفُوذَ الِاجْتِهَادِ عَيْنُ الْحُكْمِ، وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَتَّفِقَا عَلَيْهِ وَقْتَ الْحُكْمِ.

Bahwa berlakunya ijtihad itu sendiri adalah hukum, dan mungkin saja keduanya (ijtihad dan hukum) bersepakat atasnya pada saat penetapan hukum.

وَلِأَنَّ تَصْوِيبَ كُلِّ الْمُجْتَهِدِينَ يُؤَدِّي إِلَى تَصْوِيبِ مَنْ نَفَى تَصْوِيبَ الْمُجْتَهِدِينَ فَصَارَ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مِنَ التَّصْوِيبِ رَاجِعًا عَلَيْهِ فِي إِبْطَالِ التَّصْوِيبِ. فَإِذَا صَحَّ أَنَّ جَمِيعَهُمْ مُخْطِئٌ فِي الِاجْتِهَادِ إِلَّا وَاحِدًا هُوَ الْمُصِيبُ مِنْهُمْ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُتَعَيَّنٍ فَالْمُصِيبُ مِنْهُمْ مَأْجُورٌ عَلَى الِاجْتِهَادِ وَعَلَى الصَّوَابِ، وَأَمَّا الْمُخْطِئُ فَغَيْرُ مَأْجُورٍ عَلَى الْخَطَأِ.

Karena membenarkan semua mujtahid akan menyebabkan pembenaran terhadap orang yang menafikan pembenaran para mujtahid, sehingga pendapatnya tentang pembenaran itu kembali berbalik kepadanya dalam membatalkan pembenaran tersebut. Maka jika telah sah bahwa semuanya keliru dalam ijtihad kecuali satu orang saja yang benar di antara mereka, meskipun tidak ditentukan siapa, maka yang benar di antara mereka mendapat pahala atas ijtihad dan atas kebenarannya, sedangkan yang keliru tidak mendapat pahala atas kesalahannya.

وَاخْتُلِفَ فِي أَجْرِهِ عَلَى الِاجْتِهَادِ:

Terjadi perbedaan pendapat mengenai pahala yang diperoleh atas ijtihad.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ مَأْجُورٌ عَلَيْهِ وإن أخطأ فيه لقصد الصواب وإبن لَمْ يَظْفَرْ بِهِ.

Maka mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa ia tetap mendapatkan pahala atas ijtihadnya itu, meskipun ia keliru di dalamnya, selama ia bertujuan untuk mencapai kebenaran, meskipun ia tidak berhasil mendapatkannya.

وَقَالَ الْأَصَمُّ وَابْنُ عُلَيَّةَ هُوَ مَأْثُومٌ عَلَى الِاجْتِهَادِ لِخَطَئِهِ فِيهِ.

Al-Asham dan Ibnu ‘Ulayyah berpendapat bahwa ia berdosa karena melakukan ijtihad yang keliru di dalamnya.

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ: لَيْسَ بِمَأْجُورٍ عَلَيْهِ وَلَا مَأْثُومٍ فِيهِ.

Sekelompok ulama dari Irak berpendapat: Tidak ada pahala atasnya dan tidak pula dosa di dalamnya.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ” إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ “.

Dalil kami adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala, dan jika ia berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala.”

وَكَانَ شَيْخُنَا أَبُو الْقَاسِمِ الصَّيْمَرِيُّ لِأَجْلِ هَذَا يَقُولُ: إِنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ فَيَ أَنَّهُ أَدَّى مَا كُلِّفَ مِنْ الِاجْتِهَادِ، مُخْطِئٌ لِلْحُكْمِ الَّذِي أَرَادَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَّا وَاحِدًا. وَلَيْسَ هَذَا بِصَحِيحٍ لِأَنَّهُ كُلِّفَ الِاجْتِهَادَ الْمُؤَدِّي إِلَى الصَّوَابِ وَلَمْ يُكَلَّفْ الِاجْتِهَادَ الْمُؤَدِّي إِلَى الْخَطَأِ، وَإِنَّمَا اسْتَحَقَّ الْأَجْرَ بِنِيَّتِهِ فِي طَلَبِ الْحَقِّ وَبِمَا تَكَلَّفَهُ مِنْ الِاجْتِهَادِ الَّذِي اعْتَقَدَ أَنَّهُ حَقٌّ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِحَقٍّ.

Dan guru kami, Abu al-Qasim al-Shaymari, karena alasan ini berkata: “Setiap mujtahid itu benar dalam hal ia telah melaksanakan apa yang dibebankan kepadanya berupa ijtihad, namun keliru terhadap hukum yang dikehendaki Allah Ta‘ala kecuali satu orang saja.” Namun, pendapat ini tidaklah benar, karena yang dibebankan kepadanya adalah ijtihad yang mengantarkan pada kebenaran, bukan ijtihad yang mengantarkan pada kesalahan. Ia hanya berhak mendapatkan pahala karena niatnya dalam mencari kebenaran dan karena usaha ijtihad yang ia lakukan yang ia yakini sebagai kebenaran, meskipun ternyata itu bukan kebenaran.

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” نِيَّةُ الْمَرْءِ مِنْ خَيْرٍ مِنْ عَمَلِهِ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Niat seseorang lebih baik daripada amal perbuatannya.”

وَفِيهِ ثَلَاثَةُ تَأْوِيلَاتٍ:

Di dalamnya terdapat tiga penafsiran.

أَحَدُهَا: أَنَّ نِيَّتَهُ فِي الِاجْتِهَادِ خَيْرٌ مِنْ خَطَئِهِ فِي الِاجْتِهَادِ.

Salah satunya: bahwa niatnya dalam berijtihad lebih baik daripada kesalahannya dalam ijtihad.

وَالثَّانِي: يَعْنِي أَنَّ نِيَّتَهُ خَيْرٌ مِنْ خَيِّرَاتِ عَمَلِهِ.

Dan yang kedua: maksudnya adalah bahwa niatnya lebih baik daripada amal baik yang dilakukannya.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ النِّيَّةَ أَوْسَعُ مِنَ الْعَمَلِ؛ لِأَنَّهَا تَسْبِقُ الْأَقْوَالَ وَالْأَفْعَالَ فَيُعَجِّلُ الثَّوَابَ عَلَيْهَا.

Ketiga: Sesungguhnya niat itu lebih luas daripada amal, karena niat mendahului ucapan dan perbuatan, sehingga pahala disegerakan atasnya.

(فصل: [الاستنباط] )

(Bagian: [Istinbāṭ])

وَأَمَّا الِاسْتِنْبَاطُ: وَهُوَ الْمُقَدِّمَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ مُقَدِّمَتَيِ الْقِيَاسِ فَهُوَ مِنْ نَتَائِجِ الِاجْتِهَادِ فَكَانَ فَرْعًا لَهُ وَأَصْلًا لِلْقِيَاسِ؛ لِأَنَّ الْوُصُولَ إِلَى اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي تِلْوَ الِاجْتِهَادِ فِي الدَّلَائِلِ، وَصِحَّةُ الْقِيَاسِ تَكُونُ بَعْدَ اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي، فَلِذَلِكَ صَارَ الِاسْتِنْبَاطُ فَرْعًا لِلِاجْتِهَادِ وَأَصْلًا لِلْقِيَاسِ.

Adapun istinbāṭ, yaitu premis kedua dari dua premis dalam qiyās, maka ia merupakan salah satu hasil dari ijtihad, sehingga menjadi cabang darinya dan menjadi dasar bagi qiyās. Sebab, pencapaian istinbāṭ makna-makna itu datang setelah ijtihad dalam dalil-dalil, dan keabsahan qiyās terjadi setelah istinbāṭ makna-makna tersebut. Oleh karena itu, istinbāṭ menjadi cabang dari ijtihad dan menjadi dasar bagi qiyās.

وَالِاسْتِنْبَاطُ مُخْتَصٌّ بِاسْتِخْرَاجِ الْمَعَانِي مِنْ أَلْفَاظِ النُّصُوصِ، مَأْخُوذٌ مِنِ اسْتِنْبَاطِ الْمَاءِ الَّذِي اسْتُخْرِجَ مِنْ مَعْدِنِهِ، وَمِنْهُ سُمِّي النَّبَطُ لِاسْتِنْبَاطِهِمُ الْمَاءَ بِالِاسْتِخْرَاجِ لَهُ مِنْ مَعَادِنِهِ.

Istinbāṭ khusus dalam menggali makna-makna dari lafaz-lafaz nash, diambil dari kata istinbāṭ al-mā’ yang berarti air yang dikeluarkan dari sumbernya, dan dari kata itu pula disebut nabath karena mereka menggali air dengan mengeluarkannya dari sumber-sumbernya.

وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لِلْأَحْكَامِ أَعْلَامًا هِيَ أَسْمَاءٌ وَمَعَانٍ.

Dan Allah Ta‘ala telah menetapkan bagi hukum-hukum itu tanda-tanda, yaitu berupa nama-nama dan makna-makna.

فَالْأَسْمَاءُ أَلْفَاظٌ ظَاهِرَةٌ تُعْرَفُ بِالْبَدِيهَةِ.

Maka, nama-nama adalah lafaz-lafaz yang jelas yang diketahui secara intuitif.

وَالْمَعَانِي عِلَلٌ بَاطِنَةٌ تُعْرَفُ بِالِاسْتِنْبَاطِ.

Makna-makna itu adalah ‘illat yang tersembunyi yang diketahui melalui istinbāṭ.

فَيَكُونُ الْحُكْمُ بِالِاسْمِ مَقْصُورًا عَلَيْهِ وَبِالْمَعْنَى مُتَعَدِّيًا عَنْهُ، فَصَارَ مَعْنَى الِاسْمِ أَحَقَّ بِالْحُكْمِ مِنْ الِاسْمِ، لِعُمُومِ الْمَعْنَى بِالتَّعَدِّي، وَخُصُوصِ الِاسْمِ بِالْوُقُوفِ.

Maka, penetapan hukum berdasarkan nama terbatas padanya saja, sedangkan berdasarkan makna dapat melampaui darinya. Dengan demikian, makna dari nama lebih berhak atas hukum daripada nama itu sendiri, karena makna bersifat umum dengan kemampuannya untuk meluas, sedangkan nama bersifat khusus karena terbatas.

وَلَئِنْ كَانَتِ العاني تَابِعَةً لِلْأَسْمَاءِ، لِأَنَّهَا مُسْتَوْدَعَةٌ فِيهَا فَالْأَسْمَاءُ تَابِعَةٌ لمعانيها.

Dan jika makna itu mengikuti nama-nama, karena makna itu tersimpan di dalamnya, maka nama-nama pun mengikuti maknanya.

لِتَعَدِّيهَا إِلَى غَيْرِهَا، فَإِنْ تَوَزَّعْنَا فِي تَعْلِيقِ الْأَحْكَامِ بِالْمَعَانِي كَانَ يَدُلُّ عَلَيْهِ فِي إِثْبَاتِ الْقِيَاسِ كَافِيًا.

Karena sifatnya yang dapat beralih kepada selainnya, maka jika kita membagi dalam mengaitkan hukum-hukum dengan makna-makna, hal itu sudah cukup menjadi petunjuk dalam menetapkan qiyās.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يُسْتَنْبَطَ مَعَانِي الْأَحْكَامِ بِالِاجْتِهَادِ لِيُعْلَمَ بِالْقِيَاسِ حُكْمُ مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَصٌّ مِنْ مَعَانِي مَا وَرَدَ فِيهِ النَّصُّ، فَمَا وُجِدَ فِيهِ مَعْنَى النَّصِّ شَارَكَهُ فِي حُكْمِهِ قِيَاسًا، وَمَا عُدِمَ فِيهِ مَعْنَى النَّصِّ خَالَفَهُ فِي حُكْمِهِ عَكْسًا فَيَكُونُ الْقِيَاسُ مُوجِبًا لِحُكْمِ الْإِثْبَاتِ فِي الطَّرْدِ وَحُكْمِ النَّفْيِ فِي الْعَكْسِ.

Jika demikian, wajib untuk menggali makna-makna hukum melalui ijtihad agar dapat diketahui dengan qiyās hukum terhadap sesuatu yang tidak terdapat nash berdasarkan makna dari apa yang terdapat nash padanya. Maka, apa yang ditemukan padanya makna nash, ia disamakan dengannya dalam hukumnya secara qiyās; dan apa yang tidak ditemukan padanya makna nash, maka ia berbeda dengannya dalam hukumnya secara kebalikan. Dengan demikian, qiyās mewajibkan adanya hukum penetapan dalam penerapan, dan hukum penafian dalam kebalikannya.

وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ جَعَلَهُ مُوجِبًا لِحُكْمِ الطَّرْدِ فِي الْإِثْبَاتِ وَلَمْ يَجْعَلْهُ مُوجِبًا لِحُكْمِ الْعَكْسِ فِي النَّفْيِ، وَهُوَ قَوْلُ مَنِ اعْتَبَرَ صِحَّةَ الْعِلَّةِ بِالطَّرْدِ دُونَ الْعَكْسِ وَذَاكَ قَوْلُ مَنِ اعْتَبَرَ صِحَّتَهَا بِالطَّرْدِ وَالْعَكْسِ.

Di antara ulama kami ada yang menjadikannya sebagai alasan yang mewajibkan hukum tharḍ dalam penetapan, namun tidak menjadikannya sebagai alasan yang mewajibkan hukum ‘aks dalam penafian. Ini adalah pendapat orang yang menganggap sahnya ‘illat dengan tharḍ saja tanpa ‘aks, dan ada pula yang menganggap sahnya ‘illat dengan tharḍ dan ‘aks sekaligus.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ: أَنَّ الْمَعْنَى مَا وَجَبَ بِهِ الْحُكْمُ فِي الْأَصْلِ حَتَّى تَعَدَّى إِلَى الْفَرْعِ. وَالْعِلَّةُ اجْتِذَابُ حُكْمِ الْأَصْلِ إِلَى الْفَرْعِ. فَصَارَ الْمَعْنَى مَا ثَبَتَ بِهِ حُكْمُ الْأَصْلِ، وَالْعِلَّةُ مَا ثَبَتَ بِهَا حُكْمُ الْفَرْعِ. ثُمَّ هُمَا بَعْدَ هَذَا الْفَرْقِ يَجْتَمِعَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ وَيَفْتَرِقَانِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara makna dan ‘illat adalah: makna adalah sesuatu yang menjadi sebab ditetapkannya hukum pada asal hingga hukum itu berpindah kepada cabang. Sedangkan ‘illat adalah penarikan hukum asal kepada cabang. Maka, makna adalah sesuatu yang dengannya hukum asal ditetapkan, dan ‘illat adalah sesuatu yang dengannya hukum cabang ditetapkan. Kemudian, setelah perbedaan ini, keduanya (makna dan ‘illat) dapat bersatu dari dua sisi dan berbeda dari dua sisi.

فَأَمَّا الْوَجْهَانِ فِي الِاجْتِمَاعِ.

Adapun dua pendapat dalam masalah berkumpul.

فَأَحَدُهُمَا: أَنَّ حُكْمَ الْأَصْلِ مَوْجُودٌ فِي الْمَعْنَى وَالْعِلَّةِ.

Salah satunya adalah bahwa hukum asal terdapat pada makna dan ‘illat.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْمَعْنَى وَالْعِلَّةَ مَوْجُودَانِ فِي الْأَصْلِ وَالْفَرْعِ.

Kedua: bahwa makna dan ‘illat terdapat pada asal dan cabang.

وَأَمَّا الْوَجْهَانِ فِي الِافْتِرَاقِ.

Adapun dua sisi dalam perpisahan.

فَأَحَدُهُمَا: أَنَّ الْعِلَّةَ مُسْتَنْبَطَةٌ مِنَ الْمَعْنَى وَلَيْسَ الْمَعْنَى مُسْتَنْبَطًا مِنَ الْعِلَّةِ لِتَقَدُّمِ الْمَعْنَى وَحُدُوثِ الْعِلَّةِ.

Salah satunya adalah bahwa ‘illat diistinbat dari makna, dan bukan makna yang diistinbat dari ‘illat, karena makna lebih dahulu ada dan ‘illat muncul kemudian.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْعِلَّةَ قَدْ تَشْتَمِلُ عَلَى مَعَانٍ وَالْمَعَانِي لَا تَشْتَمِلُ عَلَى عِلَلٍ، لِأَنَّ الطَّعْمَ وَالْجِنْسَ مَعْنَيَانِ وَهُمَا عِلَّةُ الرِّبَا.

Kedua: bahwa ‘illat bisa mencakup beberapa makna, sedangkan makna-makna tidak mencakup ‘illat-‘illat, karena manfaat (‘thām’) dan jenis (‘jins’) adalah dua makna, dan keduanya merupakan ‘illat riba.

وَقَدْ أَلِفَ الْفُقَهَاءُ أَنْ يُعَبِّرُوا عَنِ الْمَعْنَى بِالْعِلَّةِ وَعَنِ الْعِلَّةِ بِالْمَعْنَى وَلَا يُوقِعُوا بَيْنَهُمَا فَرْقًا إِمَّا اتِّسَاعًا وَإِمَّا اسْتِرْسَالًا.

Para fuqaha telah terbiasa mengekspresikan makna dengan istilah ‘illat, dan mengekspresikan ‘illat dengan makna, serta tidak membedakan antara keduanya, baik karena kelapangan penggunaan bahasa maupun karena kelonggaran dalam penjelasan.

وَالتَّحْقِيقُ فِيهِمَا مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا.

Penjelasan yang tepat mengenai keduanya adalah apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan di antara keduanya.

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ وَجَبَ عَلَى الْمُجْتَهِدِ فِي اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ تُعْتَبَرُ بِهَا صِحَّتُهُمَا ثُمَّ تَخْتَصُّ الْعِلَلُ دُونَ الْمَعَانِي بِشَرْطَيْنِ مختلف فيهما.

Setelah ketentuan ini dipahami, maka wajib bagi seorang mujtahid dalam menggali makna-makna dan ‘illat-‘illat untuk memenuhi empat syarat yang menjadi tolok ukur kebenarannya. Kemudian, ‘illat memiliki dua syarat tambahan yang khusus baginya, yang keduanya masih diperselisihkan.

( [شروط صحة المعاني والعلل] )

(Syarat-syarat sahnya makna dan ‘illat)

:

Teks Arab tidak ditemukan pada permintaan Anda. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الشُّرُوطُ الْأَرْبَعَةُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي صِحَّتِهِمَا:

Adapun empat syarat yang dianggap sah dalam keduanya:

فَأَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْمَعْنَى مُؤَثِّرًا فِي الْحُكْمِ، فَإِنْ لَمْ يُؤَثِّرْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ مَعْنًى لِلْحُكْمِ وَلَا عِلَّةَ لَهُ، فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَمْ يَرْجُمْ مَاعِزًا لِاسْمِهِ وَلَا لِهَيْئَةِ جِسْمِهِ، وَلَكِنْ رَجَمَهُ لِلزِّنَا فَصَارَ الزِّنَا عِلَّةَ الرَّجْمِ، كَمَا أَثْبَتَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الرِّبَا فِي الْبُرِّ لَيْسَ، لِأَنَّهُ مَزْرُوعٌ وَلَكِنْ لِأَنَّهُ مَطْعُومٌ فَكَانَ الطَّعْمُ عِلَّةَ الرِّبَا دُونَ الزَّرْعِ.

Salah satunya adalah bahwa makna (sebab) itu harus berpengaruh terhadap hukum; jika tidak berpengaruh, maka tidak boleh dijadikan sebagai makna (sebab) bagi hukum dan bukan pula sebagai ‘illat (alasan hukum) baginya. Sebab, Nabi ﷺ tidak merajam Ma‘iz karena namanya atau bentuk tubuhnya, tetapi beliau merajamnya karena perbuatan zina, sehingga zina menjadi ‘illat bagi hukuman rajam. Demikian pula, Nabi ﷺ menetapkan adanya riba pada gandum, bukan karena gandum itu hasil pertanian, tetapi karena ia merupakan bahan makanan, sehingga sifat dapat dimakan menjadi ‘illat riba, bukan karena ia hasil pertanian.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يُسَلِّمَ الْمَعْنَى وَالْعِلَّةَ عَلَى الْأُصُولِ وَلَا يَرُدُّهُمَا نَصٌّ وَلَا إِجْمَاعٌ؛ لِأَنَّ الْقِيَاسَ فَرْعٌ لَهُمَا يُسْتَعْمَلُ عِنْدَ عَدَمِهِمَا فلم يجزان يَكُونَ رَافِعًا لَهُمَا، فَإِذَا رَدَّهُ أَحَدُهُمَا بَطَلَ.

Syarat kedua: Makna dan ‘illah (alasan hukum) harus sesuai dengan pokok-pokok (al-uṣūl) dan tidak boleh bertentangan dengan nash maupun ijmā‘; karena qiyās merupakan cabang dari keduanya yang digunakan ketika keduanya tidak ada, maka tidak boleh qiyās digunakan untuk meniadakan keduanya. Jika salah satu dari keduanya menolaknya, maka qiyās tersebut batal.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يُعَارِضَهُمَا مِنَ الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُمَا فَإِنَّ الْأَقْوَى أَحَقُّ بِالْحُكْمِ مِنَ الْأَضْعَفِ كَمَا أَنَّ النَّصَّ أَحَقُّ بِالْحُكْمِ مِنَ الْقِيَاسِ، وَمَا أَدَّى إِلَى إِبْطَالِ الْأَقْوَى فَهُوَ الْبَاطِلُ بِالْأَقْوَى.

Syarat ketiga: Tidak ada makna atau ‘illat lain yang lebih kuat dari keduanya yang bertentangan dengan keduanya, karena yang lebih kuat lebih berhak atas hukum daripada yang lebih lemah, sebagaimana nash lebih berhak atas hukum daripada qiyās. Apa pun yang menyebabkan pembatalan terhadap yang lebih kuat, maka ia batal karena adanya yang lebih kuat itu.

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَطَّرِدَ الْمَعْنَى وَالْعِلَّةُ فَيُوجَدُ الْحُكْمُ بِوُجُودِهِمَا فَيَسْلَمَا مِنْ نَقْضٍ أَوْ كَسْرٍ.

Syarat keempat: makna dan ‘illah harus berlaku secara konsisten, sehingga hukum akan ada dengan adanya keduanya, dan keduanya terhindar dari pembatalan atau pengecualian.

فَإِنْ عَارَضَهُمَا نَقْضٌ أَوْ كَسْرٌ فَعُدِمَ الْحُكْمُ مَعَ وُجُودِهِمَا فَسَدَ الْمَعْنَى وَبَطَلَتِ الْعِلَّةُ، لِأَنَّ فَسَادَ الْعِلَّةِ يَرْفَعُهَا وَفَسَادَ الْمَعْنَى لَا يَرْفَعُهُ، لِأَنَّ الْمَعْنَى لَازِمٌ وَالْعِلَّةَ طَارِئَةٌ؛ لِأَنَّ الْكَيْلَ إِذَا بَطَلَ أَنْ يَكُونَ عِلَّةَ الرِّبَا فِي الْبُرِّ لَمْ يَبْطُلْ أَنْ يَكُونَ الْكَيْلُ بَاقِيًا فِي الْبُرِّ فَيَصِيرُ التَّعْلِيلُ بَاطِلًا وَالْمَعْنَى بَاقِيًا.

Jika keduanya (‘illat dan ma‘nā) bertentangan dengan adanya pembatalan atau penolakan, sehingga hukum tidak ada padahal keduanya ada, maka ma‘nā menjadi rusak dan ‘illat menjadi batal. Sebab, kerusakan pada ‘illat menghilangkannya, sedangkan kerusakan pada ma‘nā tidak menghilangkannya, karena ma‘nā itu bersifat tetap sedangkan ‘illat bersifat insidental. Sebab, jika takaran batal sebagai ‘illat riba pada gandum, tidak berarti takaran itu hilang dari gandum, sehingga penalaran (‘illat) menjadi batal namun ma‘nā tetap ada.

وَلَا يَجُوزُ تَخْصِيصُ الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ الْمُسْتَنْبَطَةِ لِيَسْلَمَ مِنَ النَّقْضِ الْمُعْتَرَضِ وَيَكُونُ دُخُولُ النَّقْضِ عَلَيْهِمَا بِارْتِفَاعِ الْحُكْمِ مَعَ وُجُودِهِمَا دَلِيلًا عَلَى فَسَادِهَا.

Tidak boleh melakukan takhshis (pembatasan) terhadap makna-makna dan ‘illat-‘illat yang diistinbath agar terhindar dari bantahan yang diajukan; dan masuknya bantahan terhadap keduanya dengan hilangnya hukum padahal keduanya masih ada merupakan dalil atas rusaknya (makna atau ‘illat) tersebut.

فَأَمَّا الْعِلَلُ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهَا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ تَخْصِيصِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun ‘illat yang disebutkan secara eksplisit, para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehan melakukan takhshish terhadapnya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ تَخْصِيصُهَا اعْتِبَارًا بِالْعِلَلِ الْمُسْتَنْبَطَةِ.

Salah satunya: Tidak boleh melakukan takhshish berdasarkan ‘illat-‘illat yang diistinbath.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ تَخْصِيصُهَا؛ لِأَنَّهَا لَفْظٌ مَنْطُوقٌ بِهِ فَجَرَى مَجْرَى تَخْصِيصِ الْعُمُومِ، كَمَا عَلَّلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْمَنْعَ مِنْ بَيْعِ التَّمْرِ بِالرُّطَبِ؛ لِأَنَّهُ يَنْقُصُ إِذَا يَبِسَ، وَجَوَّزَ بَيْعَ التَّمْرِ بِالرُّطَبِ فِي الْعَرَايَا وَإِنْ نَقَصَ إِذَا يَبِسَ.

Pendapat kedua: Boleh dilakukan takhshis terhadapnya, karena ia adalah lafaz yang diucapkan secara eksplisit sehingga berlaku seperti takhshis terhadap lafaz umum, sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan alasan larangan menjual kurma kering dengan kurma basah karena kurma basah akan berkurang jika sudah mengering, namun beliau membolehkan jual beli kurma kering dengan kurma basah pada kasus ‘araya meskipun kurma basah itu akan berkurang jika sudah mengering.

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ: أَنَّهُ جَوَّزَ تَخْصِيصَ الْعِلَلِ الْمُسْتَنْبَطَةِ وَالْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا وَلَا يُفْسِدُهَا بِمُعَارَضَةِ النَّقْضِ، لِخُرُوجِهِ مِنْهَا بِالتَّخْصِيصِ، اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ كَانَ تَخْصِيصُ الْعِلَلِ أَوْلَى؛ لِأَنَّهَا قَدْ تُسْتَنْبَطُ مِنْ عُمُومٍ مَخْصُوصٍ هِيَ لَهُ فَرْعٌ وَهُوَ لَهَا أَصْلٌ. وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau membolehkan takhshis terhadap ‘illat yang diistinbatkan maupun yang dinashkan, dan hal itu tidak merusaknya dengan adanya pertentangan naqdh, karena ia telah keluar darinya melalui takhshis. Ia berdalil bahwa ketika takhshis terhadap keumuman diperbolehkan, maka takhshis terhadap ‘illat lebih utama, karena ‘illat itu bisa diistinbatkan dari keumuman yang telah dikhususkan, di mana ‘illat merupakan cabang darinya dan keumuman itu adalah asal bagi ‘illat. Namun pendapat ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ سَلَامَةُ الطَّرْدِ مُعْتَبَرًا فِي الْعِلَلِ الْعَقْلِيَّةِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مُعْتَبَرًا فِي الْعِلَلِ الشَّرْعِيَّةِ، لِأَنَّ أَحْكَامَ الشَّرْعِ لَا تَخْرُجُ عَنْ قَضِيَّةِ الْعَقْلِ.

Salah satunya adalah: Karena keselamatan dari pengecualian (salamah al-tard) dianggap penting dalam ‘illat-‘illat akal, maka harus pula dianggap penting dalam ‘illat-‘illat syar‘i, karena hukum-hukum syariat tidak keluar dari ketentuan akal.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْعِلَّةَ إِذَا عَارَضَهَا نَقْضٌ لَمْ يَكُنِ التَّعْلِيلُ بِالْمُنْتَقِضِ أَوْلَى مِنَ التَّعْلِيلِ بِالنَّاقِضِ؛ فَتَعَارَضَا بِهَذِهِ الْمُقَابَلَةِ، فَوَجَبَ الْعُدُولُ عَنْهَا إِلَى مَا لَا تَعَارُضَ فِيهِ.

Kedua: Bahwa jika suatu ‘illat bertentangan dengan pembatalnya, maka penetapan hukum dengan ‘illat yang dibatalkan itu tidak lebih utama daripada penetapan hukum dengan pembatalnya; sehingga keduanya saling bertentangan dengan perbandingan ini, maka wajib berpaling darinya kepada sesuatu yang tidak terdapat pertentangan di dalamnya.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ هَذِهِ الشُّرُوطُ الْأَرْبَعَةُ فِي الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ الْمُسْتَنْبَطَةِ صَحَّتِ الْمَعَانِي بِهَا.

Apabila keempat syarat ini telah terpenuhi pada makna-makna dan ‘illat-‘illat yang diistinbath, maka makna-makna tersebut menjadi sah karenanya.

وَكَانَ صِحَّةُ التَّعْلِيلِ بَعْدَهَا مُخْتَلَفًا فِيهِ لِاخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي شَرْطَيْنِ هَلْ يُعْتَبَرَانِ فِي تَصْحِيحِ الْعِلَلِ أَمْ لَا:

Keabsahan ta‘līl setelahnya diperselisihkan karena perbedaan pendapat di antara para ulama kami mengenai dua syarat: apakah kedua syarat tersebut dianggap dalam pensahihan ‘illat atau tidak.

أَحَدُ الشَّرْطَيْنِ: عَكْسُ الْعِلَّةِ هَلْ يَكُونُ مُعْتَبَرًا فِي صِحَّتِهِمَا كَمَا اعْتُبِرَ فِي صِحَّتِهَا الطَّرْدُ؟ وَفِيهِ وَجْهَانِ:

Salah satu dari dua syarat: Apakah kebalikan ‘illah dianggap sah dalam keduanya sebagaimana keumuman (‘illah) dianggap sah dalam keabsahannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَطَائِفَةٌ مَعَهُ: إِنَّهُ لَا يُعْتَبَرُ فِيهَا صِحَّةُ الْعَكْسِ، وَإِنَّهُ إِذَا ثَبَتَ الْحُكْمُ بِوُجُودِهَا صَحَّتْ وَإِنْ لَمْ يَرْتَفِعْ بِعَدَمِهَا، لِأَنَّ الْمَقْصِدَ بِهَا إِثْبَاتُ الْحُكْمِ دُونَ نَفْيِهِ وَكَمَا يَصِحُّ الْمَعْنَى إِذَا طُرِدَ وَلَمْ يَنْعَكِسْ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dan sekelompok ulama bersamanya, menyatakan bahwa dalam hal ini tidak disyaratkan kebenaran kebalikan (al-‘aks), dan apabila hukum telah tetap dengan adanya illat tersebut, maka hal itu sudah sah meskipun hukum itu tidak hilang dengan ketiadaannya. Sebab, tujuan dari illat tersebut adalah untuk menetapkan hukum, bukan menafikannya. Sebagaimana suatu makna dianggap sah apabila berlaku secara thard (berlaku searah) meskipun tidak berlaku secara ‘aks (kebalikan).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ صِحَّةَ الْعَكْسِ مُعْتَبَرٌ فِيهَا، فَإِذَا ثَبَتَ الْحُكْمُ بِوُجُودِهَا وَلَمْ يَرْتَفِعْ بِعَدَمِهَا فَسَدَتِ الْعِلَّةُ، وَإِنْ لَمْ يَفْسَدِ الْمَعْنَى؛ لِأَنَّ عِلَلَ الشَّرْعِ مُعْتَبَرَةٌ بِعِلَلِ الْعَقْلِ فِي الطَّرْدِ وَالْعَكْسِ وَلِأَنَّ عَدَمَ التَّأْثِيرِ فِي ارْتِفَاعِهَا يَدُلُّ عَلَى عَدَمِ التَّأْثِيرِ فِي وُجُودِهَا، وَيَكُونُ الْفَرْقُ بَيْنَ الْمَعْنَى وَالْعِلَّةِ فِي اعْتِبَارِ الْعَكْسِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْفَرْقِ.

Pendapat kedua: Bahwa kebenaran dari kebalikan (al-‘aks) juga diperhitungkan di dalamnya. Maka, jika hukum tetap berlaku karena keberadaannya dan tidak hilang dengan ketiadaannya, maka ‘illat tersebut rusak, meskipun maknanya tidak rusak; karena ‘illat-‘illat syariat diperhitungkan sebagaimana ‘illat-‘illat akal dalam hal thard dan ‘aks. Dan karena tidak adanya pengaruh ketika ‘illat itu hilang menunjukkan tidak adanya pengaruh pula ketika ia ada. Maka perbedaan antara makna dan ‘illat dalam memperhitungkan kebalikan adalah sebagaimana perbedaan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: الْمُخْتَلَفُ فِيهِ وُقُوفُ الْعِلَّةِ عَلَى حُكْمِ النَّصِّ وَعَدَمُ تَأْثِيرِهَا فِيمَا عَدَاهُ، كَوُقُوفِ عِلَّةِ الرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ عَلَيْهِمَا تَعْلِيلًا بِأَنَّهُمَا أَثْمَانٌ وَقِيمَةٌ وَهُوَ مَعْنًى لِثُبُوتِ الرِّبَا فِيهِمَا.

Syarat kedua: yang diperselisihkan adalah keterkaitan ‘illat dengan hukum nash dan tidak berpengaruhnya ‘illat tersebut pada selainnya, seperti keterkaitan ‘illat riba pada emas dan perak, yaitu bahwa keduanya dijadikan sebagai alasan karena keduanya adalah alat tukar dan bernilai, dan inilah makna yang menyebabkan adanya riba pada keduanya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ تَكُونُ عِلَّةً لِثُبُوتِ الرِّبَا فِيهِمَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat apakah hal itu menjadi ‘illat bagi penetapan riba pada keduanya; terdapat dua pendapat dalam hal ini:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ الْقَفَّالِ وَأَشَارَ إِلَيْهِ فِي أُصُولِهِ: لَا تَكُونُ عِلَّةً؛ لِأَنَّ الْعِلَّةَ مَا جَذَبَتْ حُكْمَ الْأَصْلِ إِلَى فُرُوعِهِ، وَيَجْعَلُ ثُبُوتَ الرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالِاسْمِ دُونَ الْمَعْنَى.

Salah satunya adalah pendapat Abu Bakar al-Qaffal, yang beliau isyaratkan dalam kitab ushulnya: bahwa hal tersebut bukanlah ‘illah; karena ‘illah adalah sesuatu yang menarik hukum asal kepada cabang-cabangnya, dan beliau menetapkan keberlakuan riba pada emas dan perak karena nama (jenisnya), bukan karena maknanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ إِنَّهَا عِلَّةٌ وَإِنْ لَمْ تَتَعَدَّ عَنْ حُكْمِ الْأَصْلِ، لِأَنَّ وُقُوفَهَا يُوجِبُ نَفْيَ حُكْمِ الْأَصْلِ عَنْ غَيْرِهِ وَكَمَا أَوْجَبَ تَعَدِّيَهَا ثُبُوتَ حُكْمِ الْأَصْلِ فِي غَيْرِهِ فَصَارَ وُقُوفُهَا مُؤَثِّرًا فِي النَّفْيِ كَمَا كَانَ تَعَدِّيهَا مُؤَثِّرًا فِي الْإِثْبَاتِ فَاسْتُفِيدَ بِوُقُوفِهَا وَتَعَدِّيهَا حُكْمٌ غَيْرُ الْأَصْلِ. فَعَلَى هَذَا يَكُونُ ثُبُوتُ الرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالْمَعْنَى دُونَ الِاسْمِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat jumhur, menyatakan bahwa ia adalah ‘illat meskipun tidak melampaui hukum asal, karena berhentinya ‘illat tersebut menyebabkan tiadanya hukum asal pada selainnya. Sebagaimana meluasnya ‘illat itu menetapkan hukum asal pada selainnya, maka berhentinya ‘illat menjadi faktor dalam meniadakan (hukum), sebagaimana meluasnya menjadi faktor dalam penetapan (hukum). Dengan demikian, dari berhenti dan meluasnya ‘illat, diperoleh hukum pada selain asal. Berdasarkan hal ini, keberlakuan riba pada emas dan perak adalah karena maknanya, bukan karena namanya.

فَصَارَتْ صِحَّةُ الْمَعَانِي مُعْتَبَرَةً بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ، وَفِي صِحَّةِ الْعِلَلِ وجهان:

Maka, kebenaran makna menjadi tergantung pada empat syarat, dan dalam validitas ‘illat terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تُعْتَبَرُ صِحَّتُهَا بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ كَالْمَعَانِي.

Salah satunya: keabsahannya ditentukan oleh empat syarat sebagaimana makna-makna.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تُعْتَبَرُ صِحَّتُهَا بِسِتَّةِ شُرُوطٍ لِمَا قَدَّمْنَاهُ من فرق بين المعاني والعلل.

Pendapat kedua: Keabsahannya dipertimbangkan dengan enam syarat, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya tentang perbedaan antara makna dan ‘illat.

(فصل: [إثبات العلة بالاستنباط وطرق الاستدلال] )

(Bab: [Penetapan ‘illah melalui istinbāṭ dan metode istidlāl])

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا مِنَ الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي صِحَّةِ الْمَعَانِي وَالْعِلَلِ وَجَبَ عَلَى الْمُسْتَنْبِطِ أَنْ يَعْتَبِرَ بِهَا حُكْمَ الْأَصْلِ فِي الْكَشْفِ عَنْ مَعَانِيهِ.

Maka apabila telah ditetapkan syarat-syarat yang telah kami sebutkan mengenai keabsahan makna dan ‘illat, wajib bagi seorang mustanbith untuk mempertimbangkannya dalam menetapkan hukum asal dalam mengungkap makna-maknanya.

فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فِيهَا مَا يُؤَثِّرُ فِي الْحُكْمِ كَأَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ وَنُصُبِ الزَّكَوَاتِ عَلِمَ أَنَّ مَعَانِيَهُ غَيْرُ مَعْقُولَةٍ وَأَنَّ الْحُكْمَ فِيهَا مَقْصُورٌ عَلَى النَّصِّ وَمُعْتَبَرٌ بِالِاسْمِ.

Jika ia tidak menemukan di dalamnya sesuatu yang berpengaruh terhadap hukum, seperti jumlah rakaat dan kadar zakat, maka ia mengetahui bahwa maknanya tidak dapat dijangkau oleh akal, dan bahwa hukumnya terbatas pada nash serta hanya dipertimbangkan berdasarkan nama.

وَإِنْ وَجَدَ فِي مَعْنَى الْأَصْلِ مَا يَكُونُ مُؤَثِّرًا في الحكم سير جَمِيعَ مَعَانِيهِ وَلَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى الْمَعْنَى الْأَوَّلِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ بَعْدَهُ مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ لِيَكُونَ حُكْمُ الْأَصْلِ مُعْتَبَرًا بِأَقْوَى مَعَانِيهِ.

Dan jika ia menemukan dalam makna asal sesuatu yang berpengaruh terhadap hukum, maka ia harus meneliti seluruh maknanya dan tidak hanya terbatas pada makna pertama, karena mungkin setelahnya terdapat makna yang lebih kuat darinya, sehingga hukum asal itu dianggap berdasarkan makna yang paling kuat.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ لَمْ تَخْلُ مَعَانِي الْحُكْمِ فِي الْأَصْلِ مِنْ أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ مُتَعَلِّقًا بِجَمِيعِهَا أَوْ بِبَعْضِهَا: –

Jika demikian, maka makna-makna hukum dalam asal tidak lepas dari kemungkinan bahwa hukum itu berkaitan dengan seluruh makna tersebut atau dengan sebagian darinya.

فَإِنْ تَعَلَّقَ الْحُكْمُ بِجَمِيعِ مَعَانِي الْأَصْلِ كَالرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَهِيَ الْعِلَّةُ الْوَاقِفَةُ وَهَلْ يَكُونُ ثُبُوتُ الْحُكْمِ فِي الْأَصْلِ بِالْمَعْنَى أَوْ بِالِاسْمِ؟ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْوَجْهَيْنِ:

Jika hukum itu berkaitan dengan seluruh makna asal, seperti riba pada emas dan perak, maka itulah yang disebut sebagai ‘illat wāqifah. Apakah penetapan hukum pada asal itu berdasarkan makna atau berdasarkan nama? Hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan.

وَإِنْ تَعَلَّقَ الْحُكْمُ بِبَعْضِ مَعَانِيهِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Dan jika hukum itu berkaitan dengan sebagian maknanya, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَصِحَّ تَعْلِيقُ الْحُكْمِ بِأَحَدِ مَعَانِيهِ.

Salah satunya adalah bahwa sah mengaitkan hukum dengan salah satu maknanya.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَصِحَّ.

Dan yang kedua: tidak sah.

فَإِنْ صَحَّ تَعْلِيقُ الْحُكْمِ بِأَحَدِهَا فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika penetapan hukum dikaitkan dengan salah satu dari keduanya secara sah, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَسْلَمَ مِنْ مُعَارَضَتِهِ بِمَعْنًى آخَرَ، فَيَكُونُ الْحُكْمُ ثَابِتًا بِذَلِكَ الْمَعْنَى، وَيَصِيرُ الْمَعْنَى فِي الْأَصْلِ عِلَّةً فِي حُكْمِ الْفَرْعِ.

Salah satunya adalah bahwa makna tersebut harus terbebas dari pertentangan dengan makna lain, sehingga hukum itu tetap berlaku karena makna tersebut, dan makna yang ada pada asal menjadi ‘illat (alasan hukum) bagi hukum pada cabang.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَتَعَارَضَ مَعَانِي الْأَصْلِ فِي جَوَازِ إِثْبَاتِ الْحُكْمِ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: apabila makna-makna asal saling bertentangan dalam hal bolehnya penetapan hukum dengan masing-masing dari keduanya, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَتَّفِقَ أَحْكَامُهَا فِي الْفُرُوعِ فَيُوجِبُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِثْلَ مَا يُوجِبُهُ غَيْرُهُ فَيَكُونُ الْمُسْتَنْبِطُ مُخَيَّرًا بَيْنَ تَعْلِيقِ الْحُكْمِ بِأَيِّهَا شَاءَ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يُثْبِتَ حُكْمَ الْأَصْلِ بِأَيِّ دَلَالَةٍ شَاءَ.

Salah satunya adalah: apabila hukum-hukum cabangnya sama, sehingga masing-masing dari keduanya mewajibkan hal yang sama seperti yang diwajibkan oleh yang lainnya, maka orang yang melakukan istinbāṭ boleh memilih untuk mengaitkan hukum dengan salah satu di antaranya sesuai kehendaknya, sebagaimana diperbolehkan untuk menetapkan hukum asal dengan dalil mana pun yang diinginkannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَخْتَلِفَ أَحْكَامُ الْمَعَانِي فِي الْفُرُوعِ، فَيُوجِبُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا غَيْرَ مَا يُوجِبُهُ الْآخَرُ، كَتَعْلِيلِ الرِّبَا فِي الْبُرِّ بِأَنَّهُ مُقْتَاتٌ، وَبِأَنَّهُ مَأْكُولٌ، وَبِأَنَّهُ مَكِيلٌ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَعَانِي فُرُوعٌ يَجْتَذِبُهَا لَيْسَتْ فِي غَيْرِهِ.

Jenis kedua: yaitu apabila hukum-hukum dari makna-makna tersebut berbeda dalam cabang-cabangnya, sehingga masing-masing dari keduanya mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh yang lain. Seperti alasan pengharaman riba pada gandum karena ia adalah makanan pokok, atau karena ia adalah sesuatu yang dapat dimakan, atau karena ia adalah sesuatu yang ditakar; dan masing-masing dari makna-makna ini memiliki cabang-cabang yang ditarik olehnya yang tidak terdapat pada makna yang lain.

فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ أَحَدُهَا دَاخِلًا فِي الْآخَرِ، فَيَكُونُ الْحُكْمُ مُعْتَبَرًا بِالْمَعْنَى الْأَعَمِّ دُونَ الْأَخَصِّ، كَتَعْلِيلِ الرِّبَا فِي الْبُرِّ بِأَنَّهُ مُقْتَاتٌ، وَتَعْلِيلِهِ بِأَنَّهُ مَأْكُولٌ، وَالْقُوتُ يَدْخُلُ فِي الْمَأْكُولِ، فَكَانَ تَعْلِيلُهُ بِالْأَكْلِ أَوْلَى مِنْ تَعْلِيلِهِ بِالْقُوتِ، لِعُمُومِ الْأَكْلِ وَخُصُوصِ الْقُوتِ.

Salah satunya adalah: jika salah satu dari dua ‘illat itu termasuk dalam yang lain, maka hukum yang dipertimbangkan adalah berdasarkan makna yang lebih umum, bukan yang lebih khusus. Seperti penjelasan tentang sebab riba pada gandum karena ia merupakan bahan makanan pokok, dan penjelasan sebabnya karena ia adalah sesuatu yang dapat dimakan. Bahan makanan pokok termasuk dalam kategori sesuatu yang dapat dimakan, sehingga penjelasan sebabnya dengan “dapat dimakan” lebih utama daripada penjelasan sebabnya dengan “bahan makanan pokok”, karena “dapat dimakan” bersifat umum sedangkan “bahan makanan pokok” bersifat khusus.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَدْخُلَ أَحَدُهُمَا فِي الثَّانِي: كَالتَّعْلِيلِ بِالْأَكْلِ وَالتَّعْلِيلِ بِالْكَيْلِ فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu salah satu dari keduanya tidak termasuk dalam yang lain, seperti penalaran dengan sebab makan dan penalaran dengan sebab takaran, maka ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ أَحَدُ الْمَعْنَيَيْنِ أَكْثَرَ فُرُوعًا مِنَ الْآخَرِ فَيَكُونُ أَكْثَرُهُمَا فُرُوعًا أَوْلَى وَتَعْلِيلُ الْحُكْمِ بِهِ أَحَقُّ لِكَثْرَةِ بَيَانِهِ بِكَثْرَةِ فُرُوعِهِ.

Salah satunya adalah: apabila salah satu dari dua makna memiliki lebih banyak cabang (furū‘) dibandingkan yang lain, maka makna yang memiliki lebih banyak cabang itu lebih utama, dan penetapan hukum dengannya lebih layak, karena banyaknya penjelasan makna tersebut melalui banyaknya cabang-cabangnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَتَقَارَبَ فُرُوعُهُمَا، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: apabila cabang-cabang keduanya saling mendekati, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ شَوَاهِدُ أَكْثَرِ الْأُصُولِ مَعَ أَحَدِهِمَا وَشَوَاهِدُ أَقَلِّهَا مَعَ الْآخَرِ فَيَكُونُ أَكْثَرُهُمَا شَوَاهِدَ أَوْلَى، وَتَعْلِيلُ الْحُكْمِ بِهِ أَحَقُّ، لِقُوَّتِهِ بِكَثْرَةِ شَوَاهِدِهِ.

Salah satunya adalah: jika dalil-dalil pendukung kebanyakan ushul berada pada salah satu dari keduanya, dan dalil-dalil pendukung yang lebih sedikit berada pada yang lainnya, maka yang memiliki dalil pendukung lebih banyak lebih utama, dan penetapan hukum dengannya lebih layak, karena kekuatannya dengan banyaknya dalil pendukung tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَتَسَاوَى شَوَاهِدُ الْأُصُولِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَلَا يَتَرَجَّحُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ بِشَيْءٍ، فَيَتَعَلَّقُ حُكْمُ الْأَصْلِ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْمَعْنَيَيْنِ، وَيَكُونُ اجْتِمَاعُهُمَا مَعًا عِلَّةً فِي فُرُوعِ الْأَصْلِ، لِقُوَّةِ الْعِلَّةِ بِاجْتِمَاعِهِمَا وَاسْتِيعَابِهِمَا لِفُرُوعِهِمَا.

Jenis kedua: yaitu apabila dalil-dalil asal bagi masing-masing dari keduanya adalah setara dan tidak ada salah satunya yang lebih kuat dari yang lain dalam hal apa pun, maka hukum asal akan terkait dengan masing-masing dari dua makna tersebut, dan berkumpulnya keduanya bersama-sama menjadi sebab (‘illat) dalam cabang-cabang asal, karena kuatnya ‘illat dengan berkumpulnya keduanya dan cakupannya terhadap cabang-cabangnya.

فَأَمَّا إِذَا لَمْ يَصِحَّ تَعْلِيقُ حُكْمِ الْأَصْلِ بِأَحَدِ مَعَانِيهِ لِدُخُولِ الْكَسْرِ عَلَيْهِ وَجَبَ أَنْ يَضُمَّ إِلَيْهِ مَعْنًى آخَرَ مِنْ مَعَانِي الْأَصْلِ فَيَجْمَعُ فِيهِ بَيْنَ مَعْنَيَيْنِ.

Adapun jika tidak sah mengaitkan hukum asal dengan salah satu maknanya karena adanya penghalang yang masuk padanya, maka wajib menambahkan kepadanya makna lain dari makna-makna asal tersebut, sehingga dalam hal ini terkumpul dua makna.

فَإِنْ سَلِمَا بِالِاجْتِمَاعِ مِنْ كَسْرٍ يَدْخُلُ عَلَيْهِمَا صَارَا جَمِيعًا مَعْنَى الْحُكْمِ فِي الأصل وعلة الحكم في الفرع.

Jika keduanya—pokok dan cabang—selamat secara bersama-sama dari adanya kekurangan yang dapat masuk pada keduanya, maka keduanya menjadi bersama-sama sebagai makna hukum pada pokok dan ‘illat hukum pada cabang.

وإن لم يَسْلَمِ الْمَعْنِيَانِ مِنْ كَسْرٍ ضَمَمْتَ إِلَيْهِمَا مَعْنًى ثَالِثًا.

Dan jika kedua makna tersebut tidak selamat dari kekurangan, maka engkau gabungkan kepada keduanya makna ketiga.

فَإِنْ سَلِمَتِ الْمَعَانِي الثَّلَاثَةُ صَارَ جَمِيعُهَا معنى الحكم في الأصل وعلة الحكم في الفرع.

Jika ketiga makna tersebut terpenuhi, maka semuanya menjadi makna hukum pada asal dan ‘illat hukum pada cabang.

وإن لم نسلم الثَّلَاثَةُ مِنْ كَسْرٍ ضَمَمْتَ إِلَيْهَا رَابِعًا.

Dan jika tiga (bagian) itu tidak bisa dibagi tanpa sisa, maka tambahkanlah bagian keempat kepadanya.

فَإِنْ لَمْ تَسْلَمْ ضَمَمْتَ إِلَيْهَا خَامِسًا كَذَلِكَ أَبَدًا حَتَّى تَجْمَعَ بَيْنَ مَعَانِي الْأَصْلِ فَيَتَبَيَّنَ بِاجْتِمَاعِ مَعَانِيهِ وُقُوفُ حُكْمِهِ وَعَدَمُ تَعَدِّيهِ.

Jika belum jelas, tambahkan kepadanya yang kelima demikian seterusnya, hingga terkumpul makna-makna asalnya, sehingga dengan terkumpulnya makna-makna tersebut akan tampak apakah hukumnya tetap atau tidak berlaku pada selainnya.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ تَعْلِيقِ الْحُكْمِ بِمَا لَمْ تَتَعَدَّ مَعَانِيهِ وَأَبْطَلَ بِهِ الْعِلَّةَ الْوَاقِفَةَ.

Abu Hanifah melarang penetapan hukum yang dikaitkan dengan sesuatu yang maknanya tidak melampaui, dan beliau membatalkan dengan hal itu ‘illat waqifah.

وَحَصَرَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ مَعَانِي الْعِلَّةِ وَمَنَعَ مِنْ تَعْلِيقِ الْحُكْمِ بِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْصَافٍ، وَفِيمَا قَدَّمْنَاهُ بَيَانٌ وَبُرْهَانٌ.

Sebagian sahabatnya membatasi makna ‘illat dan melarang mengaitkan hukum dengan lebih dari empat sifat, dan pada penjelasan yang telah kami sampaikan sebelumnya terdapat keterangan dan bukti.

فَأَمَّا إِنْ تَعَارَضَ التَّعْلِيقُ بِمَعْنَيَيْنِ أَحَدُهُمَا مَنْصُوصٌ عَلَيْهِ وَالْآخَرُ مُسْتَنْبَطٌ كَانَ مَعْنَى النَّصِّ أَوْلَى مِنْ مَعْنَى الِاسْتِنْبَاطِ كَمَا يَكُونُ الْحُكْمُ بِالنَّصِّ أَوْلَى مِنَ الْحُكْمِ بِالِاجْتِهَادِ.

Adapun jika terjadi pertentangan antara penetapan hukum yang didasarkan pada dua makna, salah satunya adalah makna yang dinyatakan secara eksplisit dalam nash dan yang lainnya adalah makna yang diistinbat, maka makna nash lebih diutamakan daripada makna istinbat, sebagaimana hukum yang berdasarkan nash lebih diutamakan daripada hukum yang berdasarkan ijtihad.

وذلك مثل تعليل مال الفيء تعالى: {كيلا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ} [الحشر: 7] وَتَعْلِيلُ تَحْرِيمِ الْخَمْرِ بِقَوْلِهِ: {إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ} [المائدة: 91] الْآيَةَ وَكَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي تَحْرِيمِ ادِّخَارِ لُحُومِ الْأَضَاحِي بَعْدَ ثَلَاثٍ: ” إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ لِأَجْلِ الدَّافَّةِ ” وَكَمَا عَلَّلَ بَيْعَ التَّمْرِ بِالرُّطَبِ بِأَنْ قَالَ حِينَ سُئِلَ عَنْهُ: ” أَيَنْقُصُ إِذَا يَبِسَ ” قِيلَ: نَعَمْ قَالَ: فَلَا إِذَنْ.

Contohnya adalah seperti penjelasan tentang sebab adanya harta fai’ oleh Allah Ta‘ala: “Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. Al-Hasyr: 7), dan penjelasan tentang pengharaman khamar dengan firman-Nya: “Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian” (QS. Al-Ma’idah: 91), serta sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ tentang larangan menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari: “Aku melarang kalian karena adanya tamu-tamu yang datang,” dan sebagaimana beliau menjelaskan larangan jual beli kurma basah dengan kurma kering ketika ditanya tentang hal itu: “Apakah beratnya berkurang jika sudah kering?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, tidak boleh.”

فَهَذَا التَّعْلِيلُ كُلُّهُ عَنْ نُصُوصٍ لَا يَجُوزُ أَنْ تُدْفَعَ بِعِلَلٍ مُسْتَنْبَطَةٍ.

Maka seluruh ta‘līl ini bersumber dari nash-nash yang tidak boleh ditolak dengan ‘illat-‘illat yang diistinbath.

(فَصْلٌ: تَعْرِيفُ القياس)

(Bab: Definisi Qiyās)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ مُقَدِّمَتَيِ الْقِيَاسِ مِنَ الِاجْتِهَادِ وَالِاسْتِنْبَاطِ فَالْقِيَاسُ مَوْضُوعٌ لِطَلَبِ أَحْكَامِ الْفُرُوعِ الْمَسْكُوتِ عَنْهَا مِنَ الْأُصُولِ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهَا بِالْعِلَلِ الْمُسْتَنْبَطَةِ مِنْ مَعَانِيهَا؛ لِيَلْحَقَ كُلُّ فَرْعٍ بِأَصْلِهِ؛ حَتَّى يُشْرِكَهُ فِي حُكْمِهِ، لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي الْمَعْنَى وَالْجَمْعِ بَيْنَهُمَا بِالْعِلَّةِ فَصَارَ الْقِيَاسُ إِلْحَاقَ الْفَرْعِ بِالْأَصْلِ بِالْعِلَّةِ الْجَامِعَةِ بَيْنَهُمَا فِي الْحُكْمِ.

Maka apabila telah tetap apa yang kami sebutkan mengenai dua pendahuluan qiyās, yaitu ijtihad dan istinbāṭ, maka qiyās itu ditetapkan untuk mencari hukum-hukum cabang yang tidak disebutkan secara eksplisit dari pokok-pokok yang telah ada nash-nya, dengan menggunakan ‘illat yang diistinbāṭ dari makna-maknanya; agar setiap cabang dapat disandarkan kepada pokoknya, sehingga keduanya dapat disamakan dalam hukum, karena keduanya memiliki persamaan dalam makna dan dikaitkan dengan ‘illat yang sama. Maka qiyās itu adalah menyamakan cabang dengan pokok berdasarkan ‘illat yang sama di antara keduanya dalam hukum.

وَفِيمَا أُخِذَ مِنْهُ اسْمُ الْقِيَاسِ وَجْهَانِ:

Dalam hal penamaan qiyās yang diambil darinya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ فِي اللُّغَةِ مِنَ الْمُمَاثَلَةِ مِنْ قَوْلِهِمْ: هَذَا قِيَاسُ هَذَا أَيْ مِثْلُهُ؛ لِأَنَّ الْقِيَاسَ هُوَ الْجَمْعُ بَيْنَ الْمُتَمَاثِلَيْنِ فِي الْحُكْمِ.

Salah satunya adalah bahwa qiyās dalam bahasa diambil dari makna kemiripan, sebagaimana ucapan mereka: “Ini qiyās dari itu,” artinya sama dengannya; karena qiyās adalah menggabungkan dua hal yang serupa dalam hukum.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ فِي اللُّغَةِ مِنَ الْإِصَابَةِ مِنْ قَوْلِهِمْ: قِسْتُ الشَّيْءَ إِذَا أَصَبْتُهُ، لِأَنَّ الْقِيَاسَ يُصِيبُ بِهِ الْحُكْمَ.

Pendapat kedua: bahwa kata tersebut diambil dalam bahasa (Arab) dari makna “mengenai” atau “mencapai sasaran”, sebagaimana ungkapan mereka: “qistu asy-syai’a” jika aku mengenainya, karena dengan qiyās seseorang dapat mengenai (menemukan) hukum.

(حُجِّيَّةُ الْقِيَاسِ)

(Kehujahan Qiyās)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْقِيَاسُ: أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ وَحُجَّةٌ تُسْتَخْرَجُ بِهَا أَحْكَامُ الْفُرُوعِ الْمَسْكُوتِ عَنْهَا، يَجِبُ الْعَمَلُ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ النُّصُوصِ وَالْإِجْمَاعِ، وَالنُّصُوصُ فِي الْأَحْكَامِ مُتَعَلِّقَةٌ بِمَعَانِيهَا إِذَا عَقِلَتْ وَبِالْأَسْمَاءِ إِذَا جَهِلَتْ، وَيَكُونُ اخْتِلَافُهَا عَلَى حَسَبِ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ بِهَا.

Qiyās adalah salah satu sumber hukum syariat dan merupakan hujjah yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum cabang yang tidak disebutkan secara eksplisit. Qiyās wajib digunakan ketika tidak ditemukan nash maupun ijmā‘. Nash-nash dalam hukum berkaitan dengan maknanya jika maknanya dapat dipahami, dan berkaitan dengan namanya jika maknanya tidak diketahui. Perbedaan dalam nash tersebut mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh syariat terhadapnya.

وَهَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِينَ وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي طَرِيقِ إِثْبَاتِهِ فَأَثْبَتَهُ أَكْثَرُهُمْ دَلِيلًا، وَأَثْبَتَهُ شَاذٌّ مِنْهُمْ دَلِيلًا بِالْعَقْلِ.

Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha dan mutakallimīn, meskipun mereka berbeda pendapat dalam metode penetapannya. Sebagian besar dari mereka menetapkannya dengan dalil, dan sebagian kecil dari mereka menetapkannya dengan dalil akal.

وَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى إِبْطَالِ الْقِيَاسِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْمَلَ بِهِ فِي الشَّرْعِ، وَلَا يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى حُكْمٍ فِي فَرْعٍ، وَأَنَّ الْأَحْكَامَ مُتَعَلِّقَةٌ بِالْأَسْمَاءِ دُونَ الْمَعَانِي.

Sekelompok ulama berpendapat bahwa qiyās itu batal, dan tidak boleh digunakan dalam syariat, serta tidak dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum pada suatu cabang masalah, dan bahwa hukum-hukum itu terkait dengan nama-nama (istilah) saja, bukan dengan makna-maknanya.

وَهَذَا قَوْلُ النَّظَّامِ وَدَاوُدَ وَالْقَاسَانِيِّ وَالْمَغْرِبِيِّ وَالنَّهْرُبِينِيِّ وَالشِّيعَةِ.

Ini adalah pendapat an-Nazzām, Dāwūd, al-Qāsānī, al-Maghribī, an-Nahrubīnī, dan kelompok Syiah.

وَاخْتَلَفُوا فِي طَرِيقِ نَفْيِهِ.

Mereka berbeda pendapat tentang cara menafikannya.

فَنَفَاهُ بَعْضُهُمْ بِالْعَقْلِ.

Maka sebagian dari mereka menolaknya dengan akal.

وَنَفَاهُ بَعْضُهُمْ بِالشَّرْعِ.

Dan sebagian ulama menolaknya berdasarkan syariat.

وَنَفَاهُ دَاوُدُ بِأَنَّ الشَّرْعَ لَمْ يَرِدْ بِهِ وَلَوْ وَرَدَ بِهِ لَجَازَ أَنْ يَكُونَ دَلِيلًا فِيهِ.

Dan Dawud menolaknya dengan alasan bahwa syariat tidak menetapkannya, dan seandainya syariat menetapkannya, niscaya boleh saja hal itu menjadi dalil di dalamnya.

وَهَذَا خِلَافٌ حَدَثَ مِنْهُمْ فِي نَفْيِهِ بَعْدَ أَنْ تَقَدَّمَ بِإِثْبَاتِهِ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ اسْتِدْلَالًا مِنْ وَجْهَيْنِ ظَاهِرٍ مَنْقُولٍ وَمَعْنًى مَعْقُولٍ.

Ini adalah perbedaan pendapat yang muncul dari mereka dalam menafikan hal itu, setelah sebelumnya telah ada ijmā‘ para sahabat dan tabi‘in yang menetapkannya, dengan dua bentuk argumentasi: dalil lahiriah yang diriwayatkan dan makna rasional yang dapat dipahami.

فَأَمَّا الظَّاهِرُ: فَمِنْ وَجْهَيْنِ: الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

Adapun yang zhahir: maka berasal dari dua sisi, yaitu al-kitab dan as-sunnah.

فَأَمَّا الْكِتَابُ: فَقَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأَبْصَارِ} [الحشر: 2] .

Adapun dalil dari al-Kitab adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. al-Hasyr: 2).

وَفِي الِاعْتِبَارِ وَجْهَانِ:

Dalam pertimbangan terdapat dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنَ الْعُبُورِ، وَهُوَ تَجَاوُزُ الْمَذْكُورِ إِلَى غَيْرِ الْمَذْكُورِ، وَهَذَا هُوَ الْقِيَاسُ.

Salah satunya adalah bahwa ia diambil dari kata “al-‘ubūr” yang berarti melewati dari sesuatu yang disebutkan kepada sesuatu yang tidak disebutkan, dan inilah yang disebut qiyās.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنَ الْعِبْرَةِ: وَهِيَ اعْتِبَارُ الشَّيْءِ بِمِثْلِهِ وَمِنْهُ عِبْرَةُ الْخَرَاجِ أَنْ يُقَاسَ خَرَاجُ عَامٍ بِخَرَاجِ غَيْرِهِ فِي الْمُمَاثَلَةِ.

Kedua: bahwa ia diambil dari kata al-‘ibrah, yaitu mempertimbangkan sesuatu dengan membandingkannya dengan yang serupa, dan di antaranya adalah ‘ibrah al-kharāj, yaitu mengukur kharāj suatu tahun dengan kharāj tahun lainnya dalam hal keserupaan.

وَفِي كِلَا الْوَجْهَيْنِ دَلِيلٌ عَلَى الْقِيَاسِ، لِأَنَّهُ أَمَرَ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِالشَّيْءِ عَلَى نَظِيرِهِ وَبِالشَّاهِدِ عَلَى الْغَائِبِ.

Pada kedua pendapat tersebut terdapat dalil tentang qiyās, karena Allah memerintahkan untuk mengambil petunjuk dari sesuatu terhadap yang serupa dengannya, dan dari yang hadir terhadap yang gaib.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَضَرَبَ لَنَا مَثَلا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قال من يحيي العظام وهي رميم، قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ} [يس: 78 – 79] .

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan penciptaannya sendiri; ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?’ Katakanlah: ‘Yang akan menghidupkannya adalah Dzat yang menciptakannya pertama kali.’” (Yasin: 78-79).

فَجَعَلَ خَلْقَ الْأَشْيَاءِ دَلِيلًا عَلَى إِحْيَاءِ الْمَوْتَى، وَهَذَا قِيَاسٌ يَسْتَمِرُّ فِي قَضَايَا الْعُقُولِ، وَلَوْلَا الْقِيَاسُ مَا صَارَ دَلِيلًا.

Maka Allah menjadikan penciptaan segala sesuatu sebagai dalil atas menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan ini adalah qiyās yang terus berlaku dalam perkara-perkara akal. Jika bukan karena qiyās, maka hal itu tidak akan menjadi dalil.

وَقَالَ تَعَالِيَ: {ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلا مِنْ أَنْفُسِكُمْ هَلْ لكم مما ملكت أيمانكم من شركاء فيما رَزَقْنَاكُمْ فَأَنْتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ} [الروم: 28] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dia membuat perumpamaan untuk kalian dari diri kalian sendiri. Adakah di antara apa yang dimiliki oleh tangan kanan kalian (budak-budak kalian) itu terdapat sekutu-sekutu dalam rezeki yang Kami berikan kepada kalian, sehingga kalian menjadi setara di dalamnya?” (QS. Ar-Rum: 28).

فَجَعَلَ عَبِيدَنَا لَمَّا لَمْ يُشَارِكُونَا فِي أَمْلَاكِنَا دَلِيلًا عَلَى أَنَّ مَا خَلَقَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُشَارِكَهُ فِي عِبَادَتِهِ، وَبِقِيَاسِ الْعَقْلِ صَارَ هَذَا دَلِيلًا.

Maka, Allah menjadikan para hamba kita, ketika mereka tidak ikut serta bersama kita dalam kepemilikan kita, sebagai dalil bahwa apa yang diciptakan tidak boleh disekutukan dalam ibadah kepada-Nya, dan dengan qiyās akal, hal ini menjadi suatu dalil.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ} [النساء: 83] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang dapat mengambil kesimpulan hukum di antara mereka akan mengetahuinya.” (QS. an-Nisā’: 83)

فَأُولُو الْأَمْرِ هُمُ الْعُلَمَاءُ وَالِاسْتِنْبَاطُ هُوَ الْقِيَاسُ، فَصَارَتْ هَذِهِ الْآيَةُ كَالنَّصِّ فِي إِثْبَاتِهِ.

Maka ulū al-amr itu adalah para ulama, dan istinbāṭ itu adalah qiyās, sehingga ayat ini menjadi seperti nash dalam penetapannya.

وَقَالَ تَعَالَى: {مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ} [الأنعام: 38] .

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Kami tidak mengabaikan sesuatu pun dalam Kitab.” (QS. al-An‘am: 38).

وَقَالَ: {تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ} [النحل: 89] .

Dan Dia berfirman: “Penjelasan atas segala sesuatu.” (QS. an-Nahl: 89).

فَدَلَّ عَلَى أَنْ لَيْسَ مِنْ حَادِثَةٍ إِلَّا وَلِلَّهِ فِيهَا حُكْمٌ قَدْ بَيَّنَهُ مِنْ تَحْلِيلٍ أَوْ تَحْرِيمٍ وَأَمْرٍ وَنَهْيٍ.

Maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa kecuali Allah memiliki hukum di dalamnya yang telah Dia jelaskan, baik berupa halal atau haram, perintah maupun larangan.

وَقَدْ تَجِدُ أَكْثَرَ الْحَوَادِثِ غَيْرَ مَنْصُوصٍ عَلَى أَحْكَامِهَا وَالْمَسْكُوتُ عَنْهُ أَكْثَرُ مِنَ الْمَذْكُورِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَا أَخْفَاهُ مُسْتَنْبَطٌ مِمَّا أَبْدَاهُ وَأَنَّ الْجَلِيَّ دَلِيلٌ عَلَى الْخَفِيِّ لِنَصِّ الْكِتَابِ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَمَا فُرِّطَ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَتَكْمُلُ بِقِيَاسِ السَّمْعِ أَحْكَامُ الدِّينِ كَمَا كَمُلَ بِقِيَاسِ الْعَقْلِ أَحْكَامُ الدُّنْيَا.

Seringkali Anda akan mendapati bahwa kebanyakan peristiwa tidak disebutkan secara eksplisit hukumnya, dan perkara yang tidak disebutkan jauh lebih banyak daripada yang disebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang tersembunyi dapat diistinbat dari apa yang telah dijelaskan, dan bahwa yang jelas menjadi dalil bagi yang samar, berdasarkan nash Al-Qur’an yang merupakan penjelasan atas segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang terlewatkan darinya. Maka, dengan qiyās syar‘i, hukum-hukum agama menjadi sempurna sebagaimana dengan qiyās akal hukum-hukum dunia menjadi sempurna.

وَأَمَّا السُّنَّةُ: فَقَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِمُعَاذٍ حِينَ قَلَّدَهُ قَضَاءَ الْيَمَنِ: ” بِمَ تَحْكُمُ؟ ” قَالَ: بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لما يرضى رسول اللَّهِ “.

Adapun sunnah: adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepada Mu‘adz ketika beliau mengangkatnya menjadi qadhi di Yaman: “Dengan apa engkau memutuskan perkara?” Mu‘adz menjawab: “Dengan Kitab Allah.” Beliau bertanya: “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah.” Beliau bertanya lagi: “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pendapatku.” Beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah untuk melakukan sesuatu yang diridhai Rasulullah.”

فَدَلَّ عَلَى جَوَازِ الِاجْتِهَادِ فِي الْأَحْكَامِ عِنْدَ عَدَمِ النَّصِّ وَأَنَّ كُلَّ الْأَحْكَامِ لَيْسَتْ مَأْخُوذَةً عَنْ نَصٍّ فَصَارَ الْقِيَاسُ أَصْلًا بِالنَّصِّ.

Maka hal ini menunjukkan bolehnya ijtihad dalam hukum-hukum ketika tidak ada nash, dan bahwa tidak semua hukum diambil dari nash, sehingga qiyās menjadi dasar yang ditetapkan oleh nash.

فَإِنْ قِيلَ: فَالْقِيَاسُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ، وَهَذَا خَبَرٌ وَاحِدٌ لَا تَثْبُتُ بِهِ الْأُصُولُ الشَّرْعِيَّةُ؟ قِيلَ: قَدْ تَلَقَّتْهُ الْأُمَّةُ بِالْقَبُولِ فَجَرَى مَجْرَى التَّوَاتُرِ.

Jika dikatakan: Qiyās adalah dasar dalam syariat, sedangkan ini adalah khabar wāḥid yang tidak dapat dijadikan landasan bagi prinsip-prinsip syariat? Maka dijawab: Umat telah menerima hal itu dengan penerimaan, sehingga kedudukannya setara dengan mutawātir.

وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لعمر عليه السلام حِينَ سَأَلَهُ عَنْ قُبْلَةِ الصَّائِمِ: ” أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ؟ ” فَجَعَلَ الْقُبْلَةَ بِغَيْرِ إِنْزَالٍ قِيَاسًا عَلَى الْمَضْمَضَةِ بِغَيْرِ ازْدِرَادٍ.

Nabi ﷺ berkata kepada Umar ra. ketika beliau bertanya tentang mencium (istri) bagi orang yang berpuasa: “Bagaimana pendapatmu jika engkau berkumur-kumur?” Maka beliau menyamakan hukum mencium tanpa mengeluarkan mani dengan berkumur-kumur tanpa menelan (air).

وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي أَوْلَادًا بِيضًا وَفِيهِمْ أَسْوَدُ فَمَا بَالُهُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَقَالَ لَهُ النبي عليه السلام: ” أَلَكَ إِبِلٌ عُبْسٌ؟ ” يَعْنِي بِيضًا فَقَالَ: نَعَمْ فَقَالَ: ” فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ؟ ” قَالَ: نَعَمْ قَالَ: ” فَمَنْ بَالُهُ مِنْ بَيْنِهِمْ؟ ” قَالَ: لَعَلَّ عِرْقًا نَزَعَهُ قَالَ: ” فلَعَلَّ عِرْقًا نَزَعَ هَذَا ” فَاعْتَبَرَ اخْتِلَافَ أَلْوَانِ أَوْلَادِهِ بِاخْتِلَافِ أَلْوَانِ نِتَاجِهِ فَقَاسَ أَحَدَهُمَا عَلَى الْآخَرِ.

Seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku memiliki anak-anak yang berkulit putih, namun di antara mereka ada yang berkulit hitam. Apa sebabnya dia berbeda di antara mereka?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Apakah engkau memiliki unta yang berwarna putih?” Maksudnya, unta yang berwarna putih. Ia menjawab: “Ya.” Nabi bertanya lagi: “Apakah di antara unta-unta itu ada yang berwarna keabu-abuan?” Ia menjawab: “Ya.” Nabi bertanya: “Apa sebabnya dia berbeda di antara mereka?” Ia menjawab: “Mungkin karena ada garis keturunan yang menurun kepadanya.” Nabi bersabda: “Maka mungkin juga ada garis keturunan yang menurun kepadanya (anakmu itu).” Maka Nabi mengaitkan perbedaan warna anak-anaknya dengan perbedaan warna hasil ternaknya, lalu beliau melakukan qiyās antara keduanya.

وَلِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَجَمَ مَاعِزًا حِينَ زَنَا لَعَلَّهُ دَلِيلًا عَلَى رَجْمِ غَيْرِهِ مِنَ الزِّنَا قِيَاسًا عَلَيْهِ.

Dan karena Nabi ﷺ telah merajam Ma‘iz ketika ia berzina, hal itu mungkin menjadi dalil atas bolehnya merajam selainnya yang berzina dengan melakukan qiyās terhadapnya.

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي بَيْعِ التَّمْرِ بِالرُّطَبِ: أَيَنْقُصُ إِذَا يَبِسَ قِيلَ نَعَمْ قَالَ: فَلَا إِذَنْ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang jual beli kurma kering dengan kurma basah: “Apakah akan berkurang jika telah kering?” Dijawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, tidak boleh.”

وَقِيلَ لَهُ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقْطَعَ الْأَبْيَضَ بن حمال ملح مأرب: أنه كالماء العيد قَالَ: ” فَلَا إِذَنْ “. فَعَلَّلَ الْأَحْكَامَ بِالْمَعَانِي.

Dan dikatakan kepadanya ketika Abyaḍ bin Ḥammāl meminta izin untuk mengambil garam Ma’rib: “Itu seperti air yang mengalir.” Maka beliau bersabda: “Kalau begitu, tidak boleh.” Maka beliau menetapkan hukum berdasarkan makna-makna (illat)nya.

وَلِأَنَّ الصَّحَابَةَ قَدْ أَجْمَعَتْ عَلَى الْقِيَاسِ عِنْدَ اخْتِلَافِهِمْ فِي تَوْرِيثِ الْإِخْوَةِ مَعَ الْجَدِّ فَجَعَلَهُ مَنْ أَسْقَطَ بِهِ مِيرَاثَ الْإِخْوَةِ كَالْأَبِ فِي إِسْقَاطِهِمُ اعْتِبَارًا بِأَنَّ ابْنَ الِابْنِ كَالِابْنِ فِي إِسْقَاطِهِمْ وَجَعَلَهُ مَنْ وَرَّثَ الْإِخْوَةَ مَعَهُ كَالْأَبِ لَا يَسْقُطُ بِنِسْوَةٍ وَشَبَّهَهُ بِشَجَرَةٍ ذَاتِ أَغْصَانٍ وَبَوَادٍ سَالَ مِنْهُ شِعْبَانُ وَجَعَلَهُ قِيَاسًا مُعْتَبَرًا فِيهِ.

Karena para sahabat telah berijmā‘ tentang penggunaan qiyās ketika mereka berbeda pendapat dalam hal mewariskan saudara dengan kakek, maka di antara mereka yang menggugurkan hak waris saudara karena adanya kakek, menyamakannya dengan ayah dalam menggugurkan hak mereka, dengan pertimbangan bahwa anak laki-laki dari anak laki-laki (cucu laki-laki) diperlakukan seperti anak laki-laki dalam menggugurkan hak mereka. Sementara di antara mereka yang mewariskan kepada saudara bersama kakek, menyamakannya dengan ayah yang tidak gugur karena adanya perempuan, dan menyerupakannya dengan pohon yang memiliki banyak cabang dan sungai yang darinya mengalir dua anak sungai, serta menjadikannya sebagai qiyās yang dapat dipertimbangkan dalam masalah ini.

وَأَوْجَبُوا نَفَقَةَ الْأَبِ فِي حَالِ عجزه قياسا على نفقة الابن.

Mereka mewajibkan nafkah bagi ayah ketika ia tidak mampu, dengan qiyās terhadap kewajiban nafkah anak.

وَكَتَبَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَهْدَهُ عَلَى قَضَاءِ الْبَصْرَةِ: ” الْفَهْمَ الْفَهْمَ فِيمَا تَلَجْلَجَ فِي صَدْرِكَ لَيْسَ فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ، فَاعْرِفِ الْأَمْثَالَ وَالْأَشْبَاهَ، وَقِسِ الْأُمُورَ بِنَظَائِرِهَا “.

Umar radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy‘ari berisi instruksi ketika menjabat sebagai qadhi di Bashrah: “Pahamilah, pahamilah dengan sungguh-sungguh terhadap perkara yang meragukan di hatimu yang tidak terdapat dalam Kitab maupun Sunnah. Maka, kenalilah contoh-contoh dan hal-hal yang serupa, dan lakukanlah qiyās terhadap perkara-perkara dengan membandingkannya pada kasus-kasus yang sejenis.”

وَانْتَشَرَ هَذَا الْعَهْدُ فِي الصَّحَابَةِ فَمَا أَنْكَرَهُ مِنْهُمْ أَحَدٌ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمْ مُجْمِعُونَ عَلَى إِثْبَاتِ الْقِيَاسِ قَوْلًا وَعَمَلًا، وَهُمُ الْقُدْوَةُ الْمُتَّبَعُونَ، وَالنَّقَلَةُ الْمُطَاعُونَ، نَأْخُذُ عَنْهُمْ مَا تَحَمَّلُوهُ، وَنَقْتَدِي بِهِمْ فِيمَا فَعَلُوهُ، وَقَدِ اجْتَهَدُوا وَقَاسَوْا.

Perjanjian ini tersebar di kalangan para sahabat, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya, sehingga hal itu menunjukkan bahwa mereka berijmā‘ atas penetapan qiyās baik dalam ucapan maupun perbuatan. Mereka adalah teladan yang diikuti, para perawi yang ditaati; kita mengambil dari mereka apa yang mereka riwayatkan, dan kita meneladani mereka dalam apa yang mereka lakukan. Mereka telah berijtihad dan melakukan qiyās.

وَلَوْ كَانَتِ الْأَحْكَامُ نُصُوصًا كُلُّهَا لَنَقَلُوهَا وَعَدَلُوا عَنْ الِاجْتِهَادِ فِيهَا، كَمَا عَدَلُوا عَنِ اجْتِهَادِهِمْ فِي دِيَةِ الْجَنِينِ، حِينَ رَوَى حَمَلُ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” قَضَى فِيهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ وَأَمَةٍ ” وَعَدَلُوا عَنِ الْمُخَابَرَةِ حِينَ رَوَى رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ النَّهْيَ عَنْهَا، لَيْسَ يَدْفَعُ مِثْلَ هَذَا الْحِجَاجِ إِلَّا ببهت أو عناد.

Seandainya seluruh hukum itu berupa nash (teks) semuanya, tentu mereka akan meriwayatkannya dan meninggalkan ijtihad di dalamnya, sebagaimana mereka meninggalkan ijtihad mereka dalam masalah diyat janin ketika Hamil bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memutuskan diyat janin dengan membayar seorang budak laki-laki atau perempuan, dan sebagaimana mereka meninggalkan praktik mukhābarah ketika Rafi‘ bin Khadij meriwayatkan larangan terhadapnya. Tidak ada yang dapat menolak hujah seperti ini kecuali dengan kebohongan atau sikap keras kepala.

( [أدلة القائلين بحجية القياس] )

(Dalil-dalil para ulama yang berpendapat tentang kehujahan qiyās)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا الِاسْتِدْلَالُ بِالْمَعَانِي الْمَعْقُولَةِ فَمِنْهَا:

Adapun istidlāl dengan makna-makna yang dapat dipahami, di antaranya:

أَنَّ النَّصَّ لَمْ يُحِطْ بِجَمِيعِ الْأَحْكَامِ وَلَا يَخْلُو مَا عَدَا أَحْكَامَ النُّصُوصِ مِنَ الْفُرُوعِ وَالْحَوَادِثِ مِنْ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ تَعَالَى فِيهَا حُكْمٌ أَوْ لَا يَكُونَ.

Bahwa nash tidak mencakup seluruh hukum, dan perkara-perkara selain hukum-hukum nash, baik berupa cabang-cabang maupun peristiwa-peristiwa baru, tidak lepas dari kemungkinan bahwa Allah Ta‘ala memiliki hukum di dalamnya atau tidak memilikinya.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: لَا حكم له فيها وقد قال: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 4] .

Dan tidak boleh dikatakan: “Tidak ada hukum baginya di dalamnya,” padahal Allah telah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS. Al-Mā’idah: 4).

وَإِذَا كَانَ لَهُ فِيهَا حُكْمٌ لَمْ يَخْلُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مَعْلُومًا أَوْ مَجْهُولًا.

Dan apabila ia memiliki hukum di dalamnya, maka tidak lepas dari kemungkinan hukum itu diketahui atau tidak diketahui.

فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ مَجْهُولًا؛ لِأَنَّ الْتِزَامَ الْمَجْهُولِ مُمْتَنِعٌ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ ضِدَّيْنِ.

Maka tidak boleh sesuatu itu bersifat majhul (tidak diketahui); karena berkomitmen pada sesuatu yang majhul adalah mustahil, sebab ia berada dalam keraguan antara dua hal yang saling bertentangan.

وَإِذَا كَانَ مَعْلُومًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْمَلَ جَمِيعُهَا عَلَى الْإِبَاحَةِ، لِأَنَّ فِيهَا مَحْظُورًا، وَلَا عَلَى الْحَظْرِ، لِأَنَّ فِيهَا مُبَاحًا.

Dan apabila telah diketahui, maka tidak boleh seluruhnya dianggap sebagai ibahah, karena di dalamnya terdapat yang terlarang, dan tidak pula seluruhnya dianggap sebagai larangan, karena di dalamnya terdapat yang dibolehkan.

وَلَا يَتَمَيَّزُ الْمُبَاحُ وَالْمَحْظُورُ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Tidak dapat dibedakan antara yang mubah dan yang mahzūr kecuali dengan dalil.

وَهَذَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ فِي غَيْرِ النَّصِّ دَلِيلٌ.

Hal ini mengharuskan adanya dalil pada selain nash.

وَلَيْسَ بَعْدَ النَّصِّ إِلَّا الْقِيَاسُ عَلَى النَّصِّ.

Dan tidak ada setelah nash kecuali qiyās atas nash.

فَإِنْ مَنَعُوا أَنْ تَخْتَلِفَ أَحْكَامُ مَا عَدَا النَّصَّ، وَحَمَلُوا جَمِيعَهَا عَلَى الْحَظْرِ عِنْدَ عَدَمِ السَّمْعِ أَوْ عَلَى الْإِبَاحَةِ بَطَلَ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jika mereka melarang adanya perbedaan hukum pada perkara selain nash, dan mereka menganggap seluruhnya sebagai terlarang ketika tidak ada dalil syar‘i, atau seluruhnya dianggap mubah, maka hal itu batal dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ قَدْ حَكَمُوا فِيهَا بِغَيْرِ نَصٍّ وَهُمْ يَمْنَعُونَ مِنْهُ.

Salah satunya adalah bahwa mereka telah memutuskan perkara itu tanpa adanya nash, padahal mereka sendiri melarang hal tersebut.

وَالثَّانِي: أَنْ يُقَالَ لَهُمْ أَرَأَيْتُمْ مَنْ غَابَ عَنِ الْقِبْلَةِ وَخَفِيَتْ عَلَيْهِ جِهَتُهَا هَلْ يُحْمَلُ فِي تَرْكِ الصَّلَاةِ وَفِي اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ عَلَى الْإِبَاحَةِ أَوِ الْحَظْرِ. فَإِنِ ارْتَكَبُوهُ أَبْطَلُوا بِهِ فَرْضَ الصَّلَاةِ.

Kedua: Dikatakan kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang seseorang yang tidak mengetahui arah kiblat karena sedang jauh darinya dan arah kiblat tersembunyi baginya, apakah dalam meninggalkan salat dan dalam menghadap kiblat itu didasarkan pada kebolehan atau larangan?” Jika mereka melakukannya, maka mereka telah membatalkan kewajiban salat dengan perbuatan tersebut.

وَإِنِ امْتَنَعُوا مِنْهُ بَطَلَ أَصْلُهُمْ وَقِيلَ لَهُمْ: أَيُصَلِّي إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ بِنَصٍّ أَوِ اسْتِدْلَالٍ. فَإِنْ قَالُوا بِنَصٍّ بَهَتُوا وَلَمْ يَجِدُّوا.

Dan jika mereka menolak hal itu, maka dasar pendapat mereka batal, dan dikatakan kepada mereka: Apakah (kewajiban) salat menghadap kiblat itu berdasarkan nash atau istidlal (penalaran)? Jika mereka mengatakan berdasarkan nash, mereka akan terdiam kebingungan dan tidak menemukan (dalilnya).

وَإِنْ قَالُوا بِاسْتِدْلَالٍ ثَبَتَ جَوَازُ الْحُكْمِ بِالِاسْتِدْلَالِ عِنْدَ عَدَمِ النَّصِّ.

Dan jika mereka berkata dengan istidlāl, maka telah tetap bolehnya menetapkan hukum dengan istidlāl ketika tidak terdapat nash.

وَهَذَا لَوْ جُعِلَ دَلِيلًا لَكَانَ مُقْنِعًا.

Dan ini, jika dijadikan sebagai dalil, tentu sudah cukup meyakinkan.

وَدَلِيلٌ آخَرُ: هُوَ أَنَّهُ لَمَّا اسْتَقَرَّ فِي فِطَرِ العقول أن يستدل بالشاهد عَلَى الْغَائِبِ، وَيُجْمَعَ بَيْنَ الْمُتَمَاثِلَيْنِ فِي الشَّبَهِ، وَيُسَوَّى بَيْنَ الْمُتَّفِقَيْنِ فِي الْمَعْنَى وَجَبَ أَنْ يَكُونَ فِي قَضَايَا السَّمْعِ اسْتِدْلَالٌ بِالشَّاهِدِ عَلَى الغائب والجمع بين المتماثلين في الشبه والمتفقن فِي الْمَعْنَى اسْتِدْلَالًا بِالْعَقْلِ وَالسَّمْعِ.

Dalil lain adalah bahwa ketika telah tertanam dalam fitrah akal untuk mengambil pelajaran dari yang nyata terhadap yang gaib, menggabungkan antara dua hal yang serupa dalam kemiripan, dan menyamakan antara dua hal yang sepakat dalam makna, maka wajib adanya dalam perkara-perkara syariat penggunaan dalil dari yang nyata terhadap yang gaib, penggabungan antara dua hal yang serupa dalam kemiripan, dan penyamaan antara dua hal yang sepakat dalam makna, sebagai bentuk pengambilan dalil dengan akal dan syariat.

فَأَمَّا الْعَقْلُ فَشَوَاهِدُهُ وَاضِحَةٌ.

Adapun akal, maka buktinya jelas.

وَأَمَّا السَّمْعُ فَقَدِ اسْتَقَرَّ فِي الِاسْتِدْلَالِ بِالشَّاهِدِ عَلَى الْغَائِبِ فِي الْقِبْلَةِ بِقَوْلِهِ: {وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ} [البقرة: 144 و 150] .

Adapun dalil dari al-sam‘ (dalil naqli), maka telah tetap dalam istidlal (pengambilan dalil) dengan menggunakan yang hadir (syāhid) untuk mengetahui yang gaib (ghāib) dalam penentuan kiblat melalui firman-Nya: “Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu (kiblat).” (QS. al-Baqarah: 144 dan 150).

وَفِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْمُشْتَبِهَيْنِ فِي الْمُمَاثَلَةِ فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ بِقَوْلِهِ: {فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ} [المائدة: 95] .

Dan dalam menggabungkan antara dua hal yang serupa dalam hal kemiripan pada hukuman berburu, berdasarkan firman-Nya: “Maka hukumannya adalah mengganti dengan hewan ternak yang sebanding dengan yang dibunuh,” (QS. Al-Mā’idah: 95).

وَفِي التَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْمُتَّفِقَيْنِ فِي الْمَعْنَى لِاعْتِبَارِ الرِّقِّ فِي حَدِّ الْعَبْدِ بِالزِّنَا بِحَدِّ الْأَمَةِ بِقَوْلِهِ: {فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ} [النساء: 25] .

Dan dalam penyamaan antara dua hal yang serupa dalam makna, yaitu dengan mempertimbangkan status budak dalam penetapan hukuman zina bagi budak laki-laki sebagaimana hukuman bagi budak perempuan, berdasarkan firman-Nya: “Maka atas mereka setengah dari hukuman yang berlaku atas perempuan-perempuan merdeka yang terjaga kehormatannya dari azab.” (QS. An-Nisa: 25).

فَإِنْ مَنَعُوا مِنْ ذَلِكَ بِأَنَّ أَحْكَامَ الْعَقْلِ مُتَّفِقَةٌ وَأَحْكَامَ السَّمْعِ مُخْتَلِفَةٌ فَلَمْ يَجُزِ اعْتِبَارُ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ.

Jika mereka menolak hal itu dengan alasan bahwa hukum-hukum akal bersifat tetap sedangkan hukum-hukum syariat bersifat berbeda-beda, maka tidak boleh menjadikan salah satunya sebagai tolok ukur bagi yang lain.

قِيلَ: نَحْنُ نَقِيسُ عَلَى أَحْكَامِ السَّمْعِ مَا وافقها كما نقيس عَلَى أَحْكَامِ الْعَقْلِ مَا وَافَقَهَا فَصَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْلًا لِفُرُوعِهِ فِي الْمُمَاثَلَةِ.

Dikatakan: Kami melakukan qiyās terhadap hukum-hukum syariat atas sesuatu yang sesuai dengannya, sebagaimana kami melakukan qiyās terhadap hukum-hukum akal atas sesuatu yang sesuai dengannya, sehingga masing-masing dari keduanya menjadi asal bagi cabang-cabangnya dalam hal kemiripan.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ فَرَّقَ السَّمْعُ بَيْنَ مُتَمَاثِلَيْنِ وَجَمَعَ بَيْنَ مُفْتَرِقَيْنِ وَهَذَا فِي أَحْكَامِ الْعُقُولِ مُمْتَنِعٌ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya dalil syar‘i telah membedakan antara dua hal yang serupa dan menyatukan antara dua hal yang berbeda, padahal dalam hukum akal, hal ini mustahil.

قِيلَ: الْقِيَاسُ مُسْتَعْمَلٌ عِنْدَ عَدَمِ السَّمْعِ وَإِذَا وَرَدَ السَّمْعُ بِالْجَمْعِ بَيْنَ مُفْتَرِقَيْنِ، وَبِالْفَرْقِ بَيْنَ مُجْتَمِعَيْنِ، عَلِمْنَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَنَعَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْقِيَاسِ فِيهِ، وَإِذَا عُدِمَ السَّمْعُ فِي الْأَمْثَالِ وَالْأَشْبَاهِ عَلِمْنَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يُخَالِفْ بَيْنَ أَحْكَامِهَا، وَاسْتَعْمَلْنَا الْقِيَاسَ فِيهَا وَيَكُونُ خُرُوجُهَا عَنِ السَّمْعِ دَلِيلًا عَلَى وُجُوبِ الْجَمْعِ فَتَصِيرُ بِالسَّمْعِ مُخْتَلِفَةً وَبِعَدَمِهِ مُتَّفِقَةً.

Dikatakan: Qiyās digunakan ketika tidak ada dalil sam‘ī, dan apabila terdapat dalil sam‘ī yang menggabungkan dua hal yang berbeda, atau membedakan dua hal yang serupa, maka kita mengetahui bahwa Allah Ta‘ālā melarang penggunaan qiyās dalam hal tersebut. Namun, jika tidak ada dalil sam‘ī dalam hal-hal yang serupa dan sejenis, maka kita mengetahui bahwa Allah Ta‘ālā tidak membedakan hukum-hukumnya, sehingga kita menggunakan qiyās padanya. Ketiadaan dalil sam‘ī atasnya menjadi petunjuk wajibnya penyamaan hukum, sehingga dengan adanya dalil sam‘ī, hukumnya menjadi berbeda, dan dengan ketiadaannya, hukumnya menjadi sama.

فَهَذِهِ أَدِلَّةٌ فِي إِثْبَاتِ الْقِيَاسِ وَإِنْ حذفت أكثرها.

Inilah dalil-dalil dalam penetapan qiyās, meskipun sebagian besarnya telah saya hilangkan.

( [أدلة من نفي القياس] )

(Dalil-dalil yang menolak qiyās)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَاسْتَدَلَّ نُفَاةُ الْقِيَاسِ بِظَوَاهِرَ وَمَعَانٍ:

Para penolak qiyās berdalil dengan berbagai zahir dan makna.

فَأَمَّا الظَّاهِرُ: فَمِنْ كِتَابٍ وَسُنَّةٍ.

Adapun yang zhahir: berasal dari kitab dan sunnah.

فَأَمَّا الْكِتَابُ: فَاسْتَدَلُّوا مِنْهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} [النساء: 59] وَهَذَا نَفْيٌ لِلْقِيَاسِ.

Adapun dalil dari al-Kitab: mereka berdalil darinya dengan firman Allah Ta‘ala, “Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya” (an-Nisā’: 59). Ini merupakan penafian terhadap qiyās.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ} [الإسراء: 36] ، وَهَذِهِ صِفَةُ الْقَائِسِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36), dan inilah sifat orang yang melakukan qiyās.

وَقَالَ تعالى: {وما ينطق عن الهوى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم: 3 – 4] وَلَيْسَ الْقِيَاسُ مِنَ الْوَحْيِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan tidaklah ia berbicara menurut hawa nafsunya. Tidak lain (ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (an-Najm: 3-4) Dan qiyās bukanlah bagian dari wahyu.

وَقَالَ تَعَالَى: {وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حرم} وَالْقَائِسُ مُفْتَرٍ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: ‘Ini halal dan ini haram’,” dan orang yang melakukan qiyās adalah seorang pendusta.

وَقَالَ تَعَالَى: {قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ} [يونس: 59] ؟ وَالْقَائِسُ يُحِلُّ وَيُحَرِّمُ فَصَارَ مُفْتَرِيًا.

Allah Ta‘ala berfirman: “Katakanlah, ‘Bagaimana pendapat kalian tentang rezeki yang telah Allah turunkan kepada kalian, lalu kalian menjadikannya haram dan halal?’ Katakanlah, ‘Apakah Allah yang mengizinkan kalian ataukah kalian mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?’” (Yunus: 59). Orang yang melakukan qiyās telah menghalalkan dan mengharamkan, sehingga ia menjadi seorang yang mengada-adakan kebohongan.

وَهَذِهِ الْآي الْخَمْسُ أَقْوَى دَلِيلٍ اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنْ ظَاهِرِ الْكِتَابِ وَإِنْ أَكْثَرُوا.

Dan lima ayat ini adalah dalil terkuat yang mereka jadikan sandaran dari zhahir Al-Kitab, meskipun mereka memperbanyak dalil.

وَالْجَوَابُ عَنْهَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jawaban terhadapnya ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُعَادَ عَلَيْهِمْ فِيمَا حَكَمُوا بِهِ مِنْ نَفْيِ الْقِيَاسِ فَيُقَالُ لَهُمْ: قَدْ نَفَيْتُمُوهُ بِمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ، وَمَا لَمْ يَنْزِلْ بِهِ وَحْيٌ، وَبِمَا لَمْ تَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ فَتَسَاوَى الِاسْتِدْلَالُ بِهَا.

Salah satunya: bahwa mereka dikembalikan pada apa yang mereka putuskan terkait penolakan qiyās, lalu dikatakan kepada mereka: Kalian telah menolaknya dengan sesuatu yang kalian sendiri tidak memiliki ilmu tentangnya, dan yang tidak ada wahyu yang diturunkan mengenai hal itu, serta kalian tidak mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga dalil yang digunakan menjadi setara.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْقَائِسَ لَا يُحِلُّ وَلَا يُحَرِّمُ وَإِنَّمَا يَسْتَدِلُّ بِهِ عَلَى مَا أَحَلَّهُ اللَّهُ وَحَرَّمَهُ، فَلَيْسَ يَحْكُمُ إِلَّا عَنْ وَاجِبَاتِ النُّصُوصِ.

Kedua: bahwa orang yang melakukan qiyās tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan, melainkan hanya menjadikannya sebagai petunjuk terhadap apa yang telah dihalalkan dan diharamkan oleh Allah. Maka ia tidak menetapkan hukum kecuali berdasarkan kewajiban-kewajiban dari nash.

وَأَمَّا اسْتِدْلَالُهُمْ بِالسُّنَّةِ: فَمَا رَوَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِمَوْتِ الْعُلَمَاءِ فَإِذَا مَاتُوا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فضلوا وأضلوا “.

Adapun dalil mereka dari sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada-dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Maka apabila para ulama telah wafat, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil, lalu mereka ditanya dan memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ لِحُكْمِهِمْ بِآرَائِهِمْ فَإِنَّهُ مَا زَالَ أَمْرُهُمْ صَالِحًا حَتَّى حَدَّثَ فِيهِمْ أَوْلَادُ السَّبَايَا فَقَاسُوا الْأُمُورَ بِآرَائِهِمْ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ” قَالُوا: وَهَذَا نَصٌّ.

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil adalah karena mereka memutuskan hukum dengan pendapat-pendapat mereka. Urusan mereka senantiasa baik hingga muncul di antara mereka anak-anak tawanan, lalu mereka melakukan qiyās terhadap perkara-perkara dengan pendapat mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” Mereka berkata: Dan ini adalah nash.

وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي نَيِّفًا وَسَبْعِينَ فِرْقَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً الَّذِينَ يَقِيسُونَ الْأُمُورَ بِآرَائِهِمْ “.

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Umatku akan terpecah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan, yang paling besar fitnahnya adalah mereka yang mengukur perkara-perkara dengan akal pikiran mereka sendiri.”

وَكَذَلِكَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا حَكَمْتُ فِي كِتَابِ اللَّهِ بِرَأْيِي “.

Demikian pula Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan memikulku jika aku memutuskan dalam Kitab Allah dengan pendapatku sendiri.”

فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ الثَّلَاثَةُ أَقْوَى مَا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنَ السُّنَّةِ وَإِنْ أَكْثَرُوا.

Maka tiga hadis ini adalah dalil terkuat yang mereka gunakan dari sunnah, meskipun mereka memperbanyak dalil.

وَالْجَوَابُ عَنْهَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jawaban terhadapnya ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى مَنْ قَاسَ مَعَ وُجُودِ النَّصِّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى فِي ثَقِيفٍ: {ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة: 275] . وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ فِي إِبْلِيسَ: {أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ} [الأعراف: 12] وَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ: ” أَوَّلُ مَنْ قَاسَ إِبْلِيسُ ” يَعْنِي مَنْ دَفَعَ النَّصَّ بِالْقِيَاسِ وَيُوَضِّحُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ الشَّعْبِيُّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: ” إِيَّاكُمْ وَأَصْحَابَ الرَّأْيِ فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَنِ أَعْيَتْهُمُ الْأَحَادِيثُ أَنْ يَحْفَظُوهَا فَقَالُوا بِالرَّأْيِ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ” رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، فَدَلَّ هَذَا مِنْ قَوْلٍ عَلَى أَحَدِ أَمْرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَسْتَعْمِلُوا الْقِيَاسَ مَعَ وُجُودِ النَّصِّ وَإِمَّا أَنْ يَعْمَلُوا بِالرَّأْيِ مِنْ غَيْرِ أَصْلٍ وَكِلَا الْأَمْرَيْنِ ضَلَالٌ.

Salah satunya: bahwa hal itu ditujukan kepada orang yang melakukan qiyās padahal sudah ada nash, sebagaimana firman Allah Ta‘ala tentang (kaum) Tsaqif: “Yang demikian itu karena mereka berkata, ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,’ padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Dan di antaranya adalah firman-Nya tentang Iblis: “Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah.” (QS. Al-A‘raf: 12). Ibnu Sirin berkata, “Orang pertama yang melakukan qiyās adalah Iblis,” maksudnya adalah orang yang menolak nash dengan qiyās. Hal ini dijelaskan pula oleh riwayat dari Asy-Sya‘bi, dari ‘Amr bin Huraith, dari ‘Umar bin Al-Khaththab, ia berkata: “Waspadalah kalian terhadap para pengikut ra’yu (pendapat akal), karena mereka adalah musuh sunah. Hadis-hadis telah membuat mereka kesulitan untuk menghafalnya, maka mereka pun berpegang pada ra’yu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni. Maka, ucapan ini menunjukkan salah satu dari dua hal: bisa jadi mereka menggunakan qiyās padahal sudah ada nash, atau mereka beramal dengan ra’yu tanpa dasar (asal), dan kedua hal tersebut adalah kesesatan.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ مُسْتَعْمَلٌ فِيمَنْ حَكَمَ بِرَأْيِهِ مِنْ غَيْرِ أَصْلٍ مِنْ نَصٍّ كَالِاسْتِحْسَانِ وَاتِّبَاعِ الرَّأْيِ وَهَذَا مَذْمُومٌ، وَلِذَلِكَ قَالَ الشَّعْبِيُّ: لَعَنَ اللَّهُ الرَّأْيِيَّةَ يَعْنِي الَّذِينَ يَقُولُونَ بِآرَائِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَصْلٍ مَشْرُوعٍ.

Kedua: bahwa istilah tersebut digunakan untuk menyebut orang yang memutuskan hukum berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa adanya dasar dari nash, seperti istihsān dan mengikuti pendapat pribadi, dan hal ini tercela. Oleh karena itu, asy-Sya‘bi berkata: “Semoga Allah melaknat para penganut ra’yu,” maksudnya adalah orang-orang yang berfatwa dengan pendapat mereka sendiri tanpa dasar yang disyariatkan.

وَأَمَّا مَا اسْتَدَلُّوا بِهِ مِنَ الْمَعَانِي فَأَظْهَرُهَا مَعْنَيَانِ:

Adapun dalil yang mereka gunakan dari segi makna, maka yang paling jelas ada dua makna:

أَحَدُهُمَا: إِنْ قَالُوا: قَدِ اسْتَقَرَّ فِي فِطَرِ الْعُقُولِ أَنَّ الْعُلُومَ الْمُدْرَكَةَ بِالْحَوَاسِّ يُعْلَمُ خَفِيُّهَا بِمَا يُعْلَمُ بِهِ جَلِيُّهَا، فَمَا أُدْرِكَ جَلِيُّهُ بِحَاسَّةِ الْبَصَرِ لَمْ يُدْرَكْ خَفِيُّهُ إِلَّا بِهَا وَمَا أُدْرِكَ جَلِيُّهُ بِحَاسَّةِ السَّمْعِ لَمْ يُدْرَكْ خَفِيُّهُ إِلَّا بِهَا.

Salah satunya: Jika mereka berkata, “Telah tetap dalam fitrah akal bahwa ilmu-ilmu yang dapat dipahami melalui indera, maka yang tersembunyi darinya diketahui dengan cara yang sama seperti yang jelas darinya diketahui. Maka apa yang jelas dapat dipahami dengan indera penglihatan, yang tersembunyinya pun tidak dapat dipahami kecuali dengan penglihatan; dan apa yang jelas dapat dipahami dengan indera pendengaran, yang tersembunyinya pun tidak dapat dipahami kecuali dengan pendengaran.”

فَوَجَبَ فِي أَحْكَامِ الدِّينِ إِذَا أُدْرِكَ جَلِيُّهَا بِالسَّمْعِ أَنْ يَكُونَ خَفِيُّهَا مُدْرَكًا بِالسَّمْعِ.

Maka wajib dalam hukum-hukum agama, apabila yang jelas darinya dapat diketahui melalui dalil sam‘ī, maka yang samar pun harus diketahui melalui dalil sam‘ī.

وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jawaban terhadapnya ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ هَذَا هُوَ الْقِيَاسُ، لِأَنَّهُمُ اعْتَبَرُوا أَحْكَامَ السَّمْعِ بِأَحْكَامِ الْحِسِّ، فَأَثْبَتُوا بِالْقِيَاسِ نَفْيَ الْقِيَاسِ، وَهَذَا مُتَنَاقِضٌ.

Salah satunya adalah bahwa ini merupakan qiyās, karena mereka membandingkan hukum-hukum syariat dengan hukum-hukum inderawi, sehingga dengan qiyās mereka menetapkan penolakan terhadap qiyās, dan ini adalah sesuatu yang kontradiktif.

وَالثَّانِي: أَنَّنَا نَجْمَعُ بَيْنَ أَحْكَامِ السَّمْعِ، وَأَحْكَامِ الْحِسِّ فَنَجْعَلُ خَفِيَّهَا مَأْخُوذًا مِنْ خَفِيِّ السَّمْعِ كَمَا كَانَ جَلِيُّهَا مَأْخُوذًا مِنْ جَلِيِّ السَّمْعِ، فَصَارَا مِثْلَيْنِ.

Kedua: Kami menggabungkan antara hukum-hukum syariat (sam‘) dan hukum-hukum inderawi (hiss), lalu kami menjadikan hal-hal yang samar darinya diambil dari hal-hal samar dalam syariat, sebagaimana hal-hal yang jelas darinya diambil dari hal-hal yang jelas dalam syariat, sehingga keduanya menjadi serupa.

وَالْمَعْنَى الثَّانِي: أَنْ قَالُوا: لَوْ كَانَتِ الْأَحْكَامُ مَعْلُومَةً لَمْ يَجُزْ أَنْ تُوجَدَ الْعِلَلُ إِلَّا مَعَ وُجُودِ أَحْكَامِهَا، كَمَا لَا تُوجَدُ الْعِلَلُ الْمَعْقُولَةُ إِلَّا مَعَ وُجُودِ أَحْكَامِهَا، كَالْحَيِّ إِذَا ذُبِحَ فَمَاتَ لَمَّا كَانَ الذَّبْحُ عِلَّةَ الْمَوْتِ لَمْ يُوجَدِ الذَّبْحُ إِلَّا مَعَ الْمَوْتِ، فَلَوْ كَانَتْ شِدَّةُ الْخَمْرِ عِلَّةً فِي تَحْرِيمِهِ لَوَجَبَ أَنْ لَا تُوجَدَ الشِّدَّةُ فِي وَقْتٍ إِلَّا وَالتَّحْرِيمُ مُتَعَلِّقٌ بِهَا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَقَدْ كَانَتِ الشِّدَّةُ مَوْجُودَةً فِيهَا وَهِيَ غَيْرُ مُحَرَّمَةٍ، فَإِذَا حُرِّمَتِ امْتَنَعَ أَنْ يَكُونَ تَحْرِيمُهَا مَعْلُولًا بِالشِّدَّةِ، وَتَعَلَّقَ التَّحْرِيمُ بِالِاسْمِ دُونَ الْعِلَّةِ.

Makna yang kedua: Mereka berkata, “Seandainya hukum-hukum itu diketahui (secara pasti), niscaya tidak boleh ada ‘illat kecuali bersamaan dengan adanya hukum-hukumnya, sebagaimana ‘illat-‘illat yang rasional tidak ada kecuali bersamaan dengan adanya hukum-hukumnya. Seperti makhluk hidup yang ketika disembelih lalu mati—karena penyembelihan adalah ‘illat kematian, maka penyembelihan tidak terjadi kecuali bersamaan dengan kematian. Maka, jika kekuatan (kadar memabukkan) khamr adalah ‘illat dalam pengharamannya, seharusnya tidak ada kekuatan itu pada suatu waktu kecuali pengharaman juga terkait dengannya pada waktu itu. Padahal kekuatan itu sudah ada pada khamr ketika ia belum diharamkan. Maka, ketika khamr diharamkan, mustahil pengharamannya disebabkan oleh kekuatan itu, dan pengharaman tersebut terkait dengan nama (khamr) bukan dengan ‘illat.”

وَالْجَوَابُ عَنْهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Jawaban terhadapnya ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ هَذَا يَرْجِعُ عَلَيْهِمْ فِي تَعْلِيقِ الْأَحْكَامِ بِالْأَسْمَاءِ، فَقَدْ تَعَلَّقَ بِهَا التَّحْلِيلُ فِي حَالٍ وَالتَّحْرِيمُ فِي أُخْرَى، وَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لِلْأَحْكَامِ أَعْلَامًا هِيَ أَسْمَاءٌ وَمَعَانٍ، فَلَمَّا لَمْ يَتَوَجَّهْ هَذَا الِاعْتِرَاضُ عَلَى الْأَسْمَاءِ لَمْ يَتَوَجَّهْ عَلَى الْمَعَانِي، وَجَازَ أَنْ تُجْعَلَ الْمَعَانِي عَلَمًا لِلتَّحْلِيلِ فِي حَالٍ وَلِلتَّحْرِيمِ فِي أُخْرَى، كَمَا جَازَ أَنْ تُجْعَلَ الْأَسْمَاءُ عَلَمًا لِلتَّحْلِيلِ فِي حَالٍ وَلِلتَّحْرِيمِ فِي أُخْرَى، فَلِمَ أَبْطَلُوا بِهَذَا أَنْ يَكُونَ الْمَعْنَى عَلَمًا لِلتَّحْرِيمِ وَلَمْ يُبْطِلُوا أَنْ يَكُونَ الِاسْمُ عَلَمًا لِلتَّحْرِيمِ؟

Salah satunya: Bahwa hal ini kembali kepada mereka dalam hal menggantungkan hukum pada nama-nama, padahal pada nama-nama itu terkadang terkait kehalalan dalam satu keadaan dan keharaman dalam keadaan lain. Allah Ta‘ala telah menjadikan bagi hukum-hukum itu tanda-tanda yang berupa nama-nama dan makna-makna. Maka ketika keberatan ini tidak diarahkan kepada nama-nama, maka tidak pula diarahkan kepada makna-makna. Dan boleh saja makna dijadikan sebagai tanda untuk kehalalan dalam satu keadaan dan untuk keharaman dalam keadaan lain, sebagaimana boleh saja nama dijadikan sebagai tanda untuk kehalalan dalam satu keadaan dan untuk keharaman dalam keadaan lain. Maka mengapa mereka membatalkan bahwa makna dapat menjadi tanda bagi keharaman, namun tidak membatalkan bahwa nama dapat menjadi tanda bagi keharaman?

وَالثَّانِي: أَنَّ عِلَلَ الْعَقْلِ مُوجِبَةٌ لِأَعْيَانِهَا فَكَانَتْ أَحْكَامُهَا لَازِمَةً لِعِلَلِهَا، وَأَحْكَامُ السَّمْعِ طَارِئَةً حَدَثَتْ عِلَلُهَا بِحُدُوثِهَا، فَاخْتَلَفَتْ عِلَلُ الْعَقْلِ، وَعِلَلُ السَّمْعِ لِاخْتِلَافِ مَعْلُولِهِمَا فِي أَوَائِلِهِمَا، وَقَدِ اسْتَقَرَّتِ الْآنَ أَحْكَامُ السَّمْعِ بِارْتِفَاعِ النَّسْخِ فَسَاوَتْ أَحْكَامَ الْعَقْلِ فِي الْأَوَاخِرِ وَإِنْ خَالَفَتْهَا فِي الْأَوَائِلِ، فَصَارَتْ أَحْكَامُ السَّمْعِ غَيْرَ مُفَارِقَةٍ لِعِلَلِهَا كَمَا كَانَتْ أحكام العقل غير مفارقة لها.

Kedua: Bahwa ‘illat-‘illat akal meniscayakan objek-objeknya, sehingga hukum-hukumnya melekat pada ‘illat-‘illatnya; sedangkan hukum-hukum syariat bersifat insidental, di mana ‘illat-‘illatnya muncul seiring kemunculannya. Maka, ‘illat-‘illat akal dan ‘illat-‘illat syariat berbeda karena perbedaan ma‘lul (akibat)-nya pada permulaan keduanya. Kini, hukum-hukum syariat telah tetap dengan berakhirnya nasakh, sehingga hukum-hukum syariat setara dengan hukum-hukum akal pada akhirnya, meskipun berbeda pada permulaannya. Maka, hukum-hukum syariat pun menjadi tidak terpisah dari ‘illat-‘illatnya, sebagaimana hukum-hukum akal juga tidak terpisah dari ‘illat-‘illatnya.

(فصل: [القياس والنص] )

(Bab: [Qiyās dan nash])

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْقِيَاسَ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ تُسْتَخْرَجُ بِهِ أَحْكَامُ الْفُرُوعِ مِنَ النُّصُوصِ فَالنَّصُّ: مَا وَرَدَ بِهِ السَّمْعُ فِي تَعْلِيقِ حُكْمٍ بِالِاسْمِ، وَالْقِيَاسُ: مَا ثَبَتَ حُكْمُهُ مِنْ مَعْنَى الِاسْمِ.

Jika telah tetap bahwa qiyās adalah salah satu dasar dalam syariat yang dengannya hukum-hukum cabang diambil dari nash, maka nash adalah apa yang datang dari dalil syar‘i dalam mengaitkan suatu hukum dengan suatu nama, sedangkan qiyās adalah apa yang ditetapkan hukumnya berdasarkan makna dari nama tersebut.

وَفِيمَا أُخِذَ مِنْهُ اسْمُ النَّصِّ وَجْهَانِ:

Dalam hal yang darinya diambil istilah nash, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ مِنْ الِارْتِفَاعِ لِارْتِفَاعِ الْمِنَصَّةِ بِمَنْ عَلَيْهَا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَفَعَ الْمُسَمَّى بِذِكْرِهِ.

Salah satunya: bahwa kata tersebut diambil dari makna “meninggi” karena mimbar itu tinggi bersama orang yang berada di atasnya; sebab ia telah mengangkat nama yang dimaksud dengan menyebutkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ مَأْخُوذٌ عَنِ الظُّهُورِ لِظُهُورِ مَنْ عَلَى الْمِنَصَّةِ بِهَا، لِأَنَّهُ قَدْ أَظْهَرَ الْمُسَمَّى بِذِكْرِهِ.

Pendapat kedua: bahwa hal itu diambil dari makna “zhuhur” (tampak/terlihat), karena orang yang berada di atas mimbar menjadi tampak dengannya, sebab ia telah menampakkan nama tersebut dengan menyebutkannya.

( [أَقْسَامُ الْقِيَاسِ] )

(Bagian-bagian Qiyās)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْقِيَاسُ: قِيَاسَانِ قِيَاسُ مَعْنًى وَقِيَاسُ شَبَهٍ:

Qiyās itu ada dua macam: qiyās makna dan qiyās syabah.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْفَرْقِ بَيْنَ قِيَاسِ الْمَعْنَى وَقِيَاسِ الشَّبَهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai perbedaan antara qiyās al-ma‘nā dan qiyās asy-syabah menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ قِيَاسَ الْمَعْنَى مَا أُخِذَ حُكْمُ فَرْعِهِ مِنْ مَعْنَى أَصْلِهِ، وَقِيَاسُ الشَّبَهِ مَا أُخِذَ حُكْمُ فَرْعِهِ مِنْ شَبَهِهِ بِأَصْلِهِ.

Salah satunya adalah bahwa qiyās al-ma‘nā adalah ketika hukum cabang diambil dari makna asalnya, sedangkan qiyās asy-syabah adalah ketika hukum cabang diambil dari kemiripannya dengan asalnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ قِيَاسَ الْمَعْنَى مَا لَمْ يَكُنْ لِفَرْعِهِ إِلَّا أَصْلٌ وَاحِدٌ أُخِذَ حُكْمُهُ مِنْ مَعْنَاهُ، وَقِيَاسُ الشَّبَهِ مَا تَجَاذَبَتْهُ أُصُولٌ أُلْحِقَ بِأَقْوَاهَا شَبَهًا فَصَارَ قِيَاسُ الْمَعْنَى أَقْوَى من قياس الشبه على الوجهين.

Penjelasan kedua: Qiyās al-ma‘nā adalah apabila cabangnya hanya memiliki satu asal yang diambil hukumnya dari maknanya, sedangkan qiyās asy-syabah adalah apabila cabangnya ditarik oleh beberapa asal, lalu disamakan dengan asal yang paling kuat kemiripannya. Maka, qiyās al-ma‘nā lebih kuat daripada qiyās asy-syabah menurut kedua pendapat.

( [قياس المعنى] )

(Qiyās al-ma‘nā)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

فَأَمَّا قِيَاسُ الْمَعْنَى: فَيَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ جَلِيٌّ وَخَفِيٌّ.

Adapun qiyās al-ma‘nā, maka terbagi menjadi dua bagian: yang jelas (jalī) dan yang samar (khafī).

فأما الْقِيَاسُ الْجَلِيُّ: فَيَكُونُ مَعْنَاهُ فِي الْفَرْعِ زَائِدًا عَلَى مَعْنَى الْأَصْلِ.

Adapun qiyās jali, maka maknanya pada cabang (far‘) lebih kuat daripada makna pada asal (aṣl).

وَأَمَّا الْقِيَاسُ الْخَفِيُّ: فَيَكُونُ معناه في الفرع مساويا لمعنى الأصل.

Adapun qiyās khafī, maka maknanya pada cabang adalah sama dengan makna pada asal.

( [أقسام القياس الجلي] )

(Bagian-bagian qiyās jali)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan berikan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَالْقِيَاسُ الْجَلِيُّ: عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Qiyās jali terdiri atas tiga macam:

أَحَدُهَا: مَا عُرِفَ مَعْنَاهُ مِنْ ظَاهِرِ النَّصِّ بِغَيْرِ اسْتِدْلَالٍ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَرِدَ التَّعَبُّدُ فِيهِ بِخِلَافِ أَصْلِهِ، وَذَلِكَ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا} [الإسراء: 22] فَدَلَّ تَحْرِيمُ التَّأْفِيفِ بِبَدِيهَةِ النَّصِّ عَلَى تَحْرِيمِ الضَّرْبِ وَالشَّتْمِ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحَرَّمَ التَّأْفِيفُ وَيَحِلَّ الضَّرْبُ وَالشَّتْمُ، فَصَارَ تَحْرِيمُ الضَّرْبِ وَالشَّتْمِ مَأْخُوذًا مِنْ تَحْرِيمِ التَّأْفِيفِ قِيَاسًا وَمِثْلُهُ قَوْله تَعَالَى: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ} [الزلزلة: 7 – 8] فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُجَازِيَ عَلَى قَلِيلِ الطَّاعَةِ وَلَا يُجَازِيَ عَلَى كَثِيرِهَا وَيُعَاقِبَ عَلَى قَلِيلِ الْمَعْصِيَةِ وَلَا يُعَاقِبَ عَلَى كَثِيرِهَا.

Salah satunya: yaitu apa yang maknanya sudah diketahui dari zhahir nash tanpa memerlukan penalaran, dan tidak boleh ada ketentuan ibadah yang bertentangan dengan asalnya. Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan janganlah engkau membentak mereka berdua” (QS. Al-Isra’: 22). Maka pengharaman berkata “ah” secara jelas dari nash menunjukkan haramnya memukul dan mencaci, sehingga tidak boleh diharamkan berkata “ah” namun memukul dan mencaci dibolehkan. Maka pengharaman memukul dan mencaci diambil dari pengharaman berkata “ah” melalui qiyās. Contoh lainnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya)” (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Maka tidak boleh diberikan balasan atas sedikit ketaatan namun tidak atas banyaknya, atau diberikan hukuman atas sedikit maksiat namun tidak atas banyaknya.

وَمِثْلُهُ قَوْله تَعَالَى: {وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ} [آل عمران: 75] فَالْأَمِينُ عَلَى الْقِنْطَارِ هُوَ عَلَى الدِّينَارِ آمَنُ، وَالْخَائِنُ فِي الدِّينَارِ هُوَ فِي الْقِنْطَارِ أَخْوَنُ.

Demikian pula firman-Nya: “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika engkau mempercayakan kepadanya satu qinthar, ia akan mengembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada pula orang yang jika engkau mempercayakan kepadanya satu dinar, ia tidak akan mengembalikannya kepadamu.” Maka, orang yang dapat dipercaya dalam menjaga qinthar, tentu lebih dapat dipercaya dalam menjaga dinar; dan orang yang berkhianat dalam menjaga dinar, tentu lebih berkhianat lagi dalam menjaga qinthar.

وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ الْقِيَاسِ هُوَ أَقْرَبُ وُجُوهِ الْقِيَاسِ إِلَى النُّصُوصِ لِدُخُولِ فُرُوعِهَا فِي النُّصُوصِ.

Jenis qiyās ini adalah bentuk qiyās yang paling dekat dengan nash karena cabang-cabang hukumnya termasuk dalam nash.

وَأَنْكَرَ نُفَاةُ الْقِيَاسِ أَنْ يَكُونَ هَذَا الضَّرْبُ قِيَاسًا.

Para penolak qiyās mengingkari bahwa jenis ini merupakan qiyās.

وَجَعَلَهُ بَعْضُهُمْ نَصًّا وَجَعَلَهُ آخَرُونَ تَنْبِيهًا.

Sebagian ulama menjadikannya sebagai nash, sementara yang lain menjadikannya sebagai tanbih.

وَأَنْكَرَ كَثِيرٌ مِنْ مُثْبِتِي الْقِيَاسِ أَنْ يَكُونَ هَذَا قِيَاسًا. وَسَمَّاهُ بَعْضُهُمْ مَفْهُومَ الْخِطَابِ وَسَمَّاهُ آخَرُونَ مِنْهُمْ فَحْوَى الْكَلَامِ.

Banyak dari para pendukung qiyās mengingkari bahwa hal ini merupakan qiyās. Sebagian dari mereka menyebutnya mafhūm al-khitāb, dan sebagian lain dari mereka menyebutnya fahwā al-kalām.

وَأَنْكَرُوا عَلَى الشَّافِعِيِّ تَسْمِيَتَهُ قِيَاسًا.

Dan mereka mengingkari Imam Syafi‘i karena menamainya sebagai qiyās.

قَالُوا: لِأَنَّ الْقِيَاسَ مَا خَفِيَ حُكْمُ الْمَسْكُوتِ عَنْهُ حَتَّى عُرِفَ بِالِاسْتِدْلَالِ مِنَ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهِ، فَمَا خَرَجَ عَنِ الْخَفَاءِ وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ فَلَيْسَ بِقِيَاسٍ وَهَذَا الْإِنْكَارُ خَطَأٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Mereka berkata: Karena qiyās adalah ketika hukum dari sesuatu yang tidak disebutkan secara eksplisit masih samar, hingga diketahui melalui penalaran dari sesuatu yang telah disebutkan secara eksplisit. Maka, apa yang sudah jelas dan tidak membutuhkan penalaran, itu bukanlah qiyās. Penolakan seperti ini adalah kesalahan dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ النَّصَّ مَا عُرِفَ حُكْمُهُ مِنِ اسْمِهِ وَالْقِيَاسُ مَا عُرِفَ حُكْمُهُ مِنِ اسْمِ غَيْرِهِ، وَهَذَا مَوْجُودٌ هَاهُنَا: لِأَنَّ اسْمَ التَّأْفِيفِ لَا يَنْطَلِقُ عَلَى الضَّرْبِ وَالشَّتْمِ كَمَا لَا يَنْطَلِقُ اسْمُ الضَّرْبِ عَلَى التَّأْفِيفِ، لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ الِاسْمَيْنِ يَنْطَلِقُ عَلَى غَيْرِ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الْآخَرُ فَصَارَ تَحْرِيمُ الضَّرْبِ مَأْخُوذًا مِنْ مَعْنَى التَّأْفِيفِ لَا مِنِ اسْمِهِ. فَإِنِ امْتَنَعُوا أَنْ يُسَمُّوهُ قياسا فقد سلموا معنا وَخَالَفُوا فِي اسْمِهِ، وَالْمُخَالَفَةُ فِي الِاسْمِ مَعَ تَسْلِيمِ الْمَعْنَى مُطْرَحَةٌ.

Pertama: bahwa nash adalah sesuatu yang diketahui hukumnya dari namanya, sedangkan qiyās adalah sesuatu yang diketahui hukumnya dari nama selainnya. Dan hal ini terdapat di sini: karena nama “ta’fīf” tidak berlaku untuk pemukulan dan cacian, sebagaimana nama “memukul” tidak berlaku untuk “ta’fīf”, karena masing-masing dari kedua nama tersebut berlaku pada sesuatu yang tidak berlaku pada yang lain. Maka, keharaman memukul diambil dari makna “ta’fīf”, bukan dari namanya. Jika mereka menolak untuk menyebutnya qiyās, maka mereka telah menerima maknanya dan hanya berbeda dalam penamaannya, dan perbedaan dalam nama sementara maknanya diakui adalah sesuatu yang tidak dianggap.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْمَعَانِيَ تَتَنَوَّعُ: فَيَكُونُ بَعْضُهَا جَلِيًّا تَسْبِقُ بَدِيهَتُهُ إِلَى الْفَهْمِ مِنْ غَيْرِ اسْتِدْلَالٍ وَبَعْضُهَا خَفِيًّا لَا يُفْهَمُ إِلَّا بِالْفِكْرِ وَالِاسْتِدْلَالِ، كَمَا أَنَّ الْأَسْمَاءَ تَتَنَوَّعُ فَيَكُونُ بَعْضُهَا وَاضِحًا تَعْرِفُهُ الْخَاصَّةُ وَالْعَامَّةُ، وَبَعْضُهَا غَامِضًا تَعْرِفُهُ الْخَاصَّةُ دُونَ الْعَامَّةِ، كَنَهْيهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ وَهُوَ زَنَاءُ وَقَوْلُهُ فِي الزَّكَاةِ: ” لَا جَلَبَ وَلَا جَنَبَ وَلَا خِلَاطَ وَلَا وِرَاطَ وَنَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَلَاقِيحِ وَالْمَضَامِينِ “، فَلَمَّا لَمْ يَكُنِ اخْتِلَافُ الْأَسْمَاءِ فِي الْوُضُوحِ وَالْغُمُوضِ مَانِعًا مِنْ أَنْ تَكُونَ جَمِيعُهَا نُصُوصًا لَزِمَ أَنْ يَكُونَ اخْتِلَافُ الْمَعَانِي فِي الْجَلَاءِ وَالْخَفَاءِ لَيْسَ بِمُمْتَنِعٍ مِنْ أَنْ تَكُونَ جَمِيعُهَا قِيَاسًا.

Kedua: Bahwa makna-makna itu beragam; sebagian di antaranya jelas, yang secara spontan langsung dipahami tanpa memerlukan penalaran, dan sebagian lainnya samar, yang tidak dapat dipahami kecuali dengan pemikiran dan penalaran. Sebagaimana nama-nama juga beragam; ada yang jelas sehingga dikenali oleh kalangan khusus maupun umum, dan ada yang samar sehingga hanya dikenali oleh kalangan khusus saja, seperti larangan Nabi ﷺ agar seseorang shalat dalam keadaan ia berzina, dan sabdanya tentang zakat: “Tidak ada jalab, tidak ada janab, tidak ada khilath, dan tidak ada wirath,” serta larangannya dari jual beli malaqih dan madhamin. Maka, ketika perbedaan nama-nama dalam hal kejelasan dan kesamaran tidak menghalangi semuanya untuk disebut sebagai nash, maka wajib pula bahwa perbedaan makna dalam hal kejelasan dan kesamaran tidaklah menghalangi semuanya untuk disebut sebagai qiyās.

فَإِذَا صَحَّ أَنَّ هَذَا قِيَاسٌ فَلَا يَخْتَلِفُ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِهِ.

Maka jika telah sah bahwa ini adalah qiyās, maka para ulama kami tidak berbeda pendapat tentang bolehnya mengkhususkan keumuman dengan qiyās tersebut.

وَاخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ النَّسْخِ بِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ.

Mereka berbeda pendapat tentang kebolehan nasakh dengannya menjadi dua pendapat.

أحدها: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِهِمْ: لَا يَجُوزُ النَّسْخُ بِهِ لِأَنَّ الْقِيَاسَ فَرْعُ النَّصِّ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ نَاسِخًا لِلنَّصِّ.

Pertama: dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa tidak boleh terjadi nasakh dengan qiyās, karena qiyās merupakan cabang dari nash, sehingga tidak sah jika qiyās menjadi penghapus (nasikh) bagi nash.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَحَكَاهُ عَنْ بَعْضِ مَنْ تَقَدَّمَهُ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُنْسَخَ بِهِ النَّصُّ، لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَرِدَ التَّعَبُّدُ فِي فَرْعِهِ بِخِلَافِ أَصْلِهِ صَارَ الْفَرْعُ كَالنَّصِّ فَجَازَ بِهِ النَّسْخُ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Abi Hurairah, yang juga dinukil dari sebagian ulama terdahulu, bahwa boleh suatu nash dinasakh (dihapus hukumnya) dengan qiyās. Sebab, ketika tidak diperbolehkan adanya ketentuan ibadah pada cabang hukum yang bertentangan dengan asalnya, maka cabang hukum tersebut menjadi seperti nash, sehingga boleh dilakukan nasakh dengannya.

فَإِنْ كَانَ أَصْلُهُ نَصًّا فِي الْقُرْآنِ جَازَ أَنْ يُنْسَخَ بِهِ الْقُرْآنُ دُونَ السُّنَّةِ، وَإِنْ كَانَ أَصْلُهُ نَصًّا فِي السُّنَّةِ جَازَ أَنْ تُنْسَخَ بِهِ السُّنَّةُ دُونَ الْقُرْآنِ.

Jika asalnya adalah nash dalam Al-Qur’an, maka boleh Al-Qur’an dinasakh dengannya namun tidak boleh sunnah; dan jika asalnya adalah nash dalam sunnah, maka boleh sunnah dinasakh dengannya namun tidak boleh Al-Qur’an.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا عُرِفَ مَعْنَاهُ مِنْ ظَاهِرِ النَّصِّ بِغَيْرِ اسْتِدْلَالٍ لَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يَرِدَ التَّعَبُّدُ فِيهِ بِخِلَافِ أَصْلِهِ.

Jenis kedua: yaitu apa yang maknanya telah diketahui dari lahiriah nash tanpa memerlukan penalaran, namun boleh jadi terdapat ketentuan ibadah di dalamnya yang berbeda dari asal hukumnya.

وَذَلِكَ مِثَالُ نَهْيِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنِ الْأُضْحِيَةِ بِالْعَوْرَاءِ الْبَيِّنِ عَوَرُهَا وَالْعَرْجَاءِ الْبَيِّنِ عَرَجُهَا فَكَانَتِ الْعَمْيَاءُ قِيَاسًا عَلَى الْعَوْرَاءِ، وَالْقَطْعَاءُ قِيَاسًا عَلَى الْعَرْجَاءِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَرِدَ التَّعَبُّدُ بِتَحْرِيمِ الْعَوْرَاءِ وَالْعَرْجَاءِ وَإِبَاحَةِ الْعَمْيَاءِ وَالْقَطْعَاءِ.

Itu seperti larangan Nabi ﷺ berkurban dengan hewan yang jelas-jelas buta sebelah matanya dan yang jelas-jelas pincang kakinya. Maka hewan yang buta total diqiyaskan dengan yang buta sebelah, dan hewan yang terpotong anggota tubuhnya diqiyaskan dengan yang pincang. Meskipun secara ibadah bisa saja ditetapkan keharaman hewan yang buta sebelah dan yang pincang, serta kebolehan hewan yang buta total dan yang terpotong anggota tubuhnya.

وَمِثْلُهُ ” نَهَي النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْمُحْرِمَ أَنْ يَلْبَسَ ثَوْبًا مَسَّهُ وَرَسٌ أَوْ زَعْفَرَانٌ ” فَكَانَ الْعَنْبَرُ وَالْمِسْكُ قِيَاسًا عَلَى الْوَرَسِ وَالزَّعْفَرَانِ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَرِدَ التَّعَبُّدُ بِتَحْرِيمِ الْوَرَسِ وَالزَّعْفَرَانِ وَإِبَاحَةِ الْمِسْكِ وَالْعَنْبَرِ.

Demikian pula larangan Nabi ﷺ bagi orang yang sedang ihram untuk mengenakan pakaian yang terkena waras atau za‘farān, maka ambar dan misk diqiyaskan kepada waras dan za‘farān, meskipun dimungkinkan adanya ketentuan ibadah yang mengharamkan waras dan za‘farān serta membolehkan misk dan ambar.

وَهَذَا مِمَّا اخْتَلَفَ نُفَاةُ الْقِيَاسِ فِيهِ فَاقْتَصَرَ بَعْضُهُمْ عَلَى تَحْرِيمِ النَّصِّ وَإِبَاحَةِ مَا عَدَاهُ فَحَرَّمَ التَّضْحِيَةَ بِالْعَوْرَاءِ وَالْعَرْجَاءِ، وَأَبَاحَهَا بِالْعَمْيَاءِ وَالْقَطْعَاءِ، وَحَرَّمَ مَا مَسَّهُ وَرَسٌ أَوْ زَعْفَرَانٌ، وَأَبَاحَ مَا مَسَّهُ عَنْبَرٌ أَوْ مِسْكٌ.

Ini adalah salah satu hal yang diperselisihkan oleh para penolak qiyās, sehingga sebagian dari mereka hanya membatasi pada keharaman yang disebutkan dalam nash dan membolehkan selainnya. Maka mereka mengharamkan berkurban dengan hewan yang buta sebelah dan pincang, namun membolehkannya dengan hewan yang buta total dan yang terpotong anggota tubuhnya. Mereka juga mengharamkan hewan yang terkena pewarna atau za’faran, namun membolehkan hewan yang terkena ambar atau misik.

وَأَثْبَتَ بَعْضُهُمْ تَحْرِيمَ جَمِيعِهِ بِالتَّنْبِيهِ دُونَ النَّصِّ.

Sebagian ulama menetapkan keharaman seluruhnya melalui penunjukan (dalil isyarat), bukan dengan nash (teks eksplisit).

فَهَذَا الضَّرْبُ يَجُوزُ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ بِمِثْلِهِ، وَلَا يَجُوزُ بِهِ النَّسْخُ بِوِفَاقِ أَصْحَابِنَا لِجَوَازِ وُرُودِ التَّعَبُّدِ فِي الْفَرْعِ بِخِلَافِ أَصْلِهِ.

Maka jenis ini boleh melakukan takhshis terhadap keumuman dengan yang semisalnya, dan tidak boleh dengannya dilakukan nasakh menurut kesepakatan para ulama kami, karena dimungkinkan adanya pensyariatan dalam cabang yang berbeda dengan asalnya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مَا عُرِفَ مَعْنَاهُ مِنْ ظَاهِرِ النَّصِّ بِاسْتِدْلَالٍ ظَاهِرٍ وَيُعْرَفُ بِمَبَادِئِ النَّظَرِ.

Golongan ketiga adalah apa yang maknanya diketahui dari zahir nash melalui penalaran yang jelas dan dapat diketahui dengan prinsip-prinsip penalaran.

وَذَلِكَ مِثْلُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي زِنَا الْإِمَاءِ: {فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ} [النساء: 25] فَجُعِلَ حَدُّهُنَّ نِصْفَ حَدِّ الْحَرَائِرِ، وَلَمْ يَكُنِ الْمَعْنَى فِيهِ إِلَّا نَقْصَهُنَّ بِالرِّقِّ، فَكَانَ الْعَبِيدُ قِيَاسًا عَلَيْهِنَّ فِي تَنْصِيفِ الْحَدِّ إِذَا زَنَوْا لِنَقْصِهِمْ بِالرِّقِّ.

Hal itu seperti firman Allah Ta‘ala tentang zina budak perempuan: “Jika mereka melakukan perbuatan keji, maka atas mereka setengah dari hukuman yang diberikan kepada perempuan merdeka.” (an-Nisā’: 25). Maka ditetapkan bahwa hukuman mereka adalah setengah dari hukuman perempuan merdeka, dan maknanya tidak lain adalah karena kekurangan mereka akibat status budak. Maka para budak laki-laki dianalogikan kepada mereka dalam hal penetapan setengah hukuman jika mereka berzina, karena kekurangan mereka akibat status budak.

ومثله قوله النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” من أعتق شركا له في عبد وكان مُوسِرًا قَوَّمَ عَلَيْهِ ” فَكَانَتِ الْأَمَةُ قِيَاسًا عَلَى العبد.

Demikian pula sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Barang siapa memerdekakan bagian kepemilikannya pada seorang budak, lalu ia mampu, maka ia wajib menebus seluruhnya.” Maka budak perempuan diperlakukan dengan qiyās terhadap budak laki-laki.

وَمِثْلُهُ قَوْله تَعَالَى: {إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ} [الجمعة: 9] فَكَانَ مَعْنَى نَهْيِهِ عَنِ الْبَيْعِ أَنَّهُ شَاغِلٌ عَنْ حُضُورِ الْجُمُعَةِ، فَكَانَتْ عُقُودُ الْمَنَاكِحِ وَالْإِجَارَاتِ وَسَائِرِ الْأَعْمَالِ وَالصَّنَائِعِ قِيَاسًا عَلَى الْبَيْعِ، لِأَنَّهُ شَاغِلٌ عَنْ حُضُورِ الْجُمُعَةِ. فَهَذَا الضَّرْبُ لَا يَجُوزُ بِهِ النَّسْخُ.

Demikian pula firman-Nya Ta‘ala: “Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian menuju zikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. al-Jumu‘ah: 9). Maka makna larangan-Nya terhadap jual beli adalah karena jual beli itu menyibukkan dari menghadiri shalat Jumat. Maka akad-akad nikah, sewa-menyewa, dan seluruh pekerjaan serta kerajinan dianalogikan (qiyās) dengan jual beli, karena semuanya juga menyibukkan dari menghadiri shalat Jumat. Maka jenis (dalil) seperti ini tidak boleh digunakan untuk nasakh.

وَيَجُوزُ تَخْصِيصُ الْعُمُومِ بِهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَصْحَابِنَا، وَإِنْ مَنَعَ مِنْهُ بَعْضُهُمْ لِخُرُوجِهِ عَنِ الْجَلَاءِ بِالِاسْتِدْلَالِ وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ؛ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِجَلَاءِ الِاسْتِدْلَالِ كَالْجَلِيِّ بِغَيْرِ اسْتِدْلَالٍ.

Dan boleh melakukan takhshis terhadap keumuman dengan qiyās menurut mayoritas ulama kami, meskipun sebagian dari mereka melarangnya karena qiyās dianggap tidak jelas dalam hal istidlāl. Namun pendapat ini tidak benar, karena qiyās dengan kejelasan istidlāl telah menjadi seperti dalil yang jelas tanpa istidlāl.

فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ هِيَ ضُرُوبُ الْقِيَاسِ الْجَلِيِّ، يَجُوزُ أَنْ يَنْعَقِدَ بِهَا الْإِجْمَاعُ وينقض بها حكم من خالفا من الحكام.

Inilah tiga macam yang merupakan jenis-jenis qiyās jali, yang dengannya boleh diadakan ijmā‘ dan dapat membatalkan putusan hakim yang menyelisihinya.

(فصل: القياس الخفي)

(Bab: Qiyās Khafī)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan masukkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وَأَمَّا الْقِيَاسُ الْخَفِيُّ: فَهُوَ مَا خَفِيَ مَعْنَاهُ فَلَمْ يُعْرَفْ إِلَّا بِالِاسْتِدْلَالِ وَيَكُونُ مَعْنَاهُ فِي الْفَرْعِ مُسَاوِيًا لِمَعْنَى الْأَصْلِ.

Adapun qiyās khafī, yaitu qiyās yang maknanya tersembunyi sehingga tidak diketahui kecuali dengan penalaran, dan maknanya pada cabang (far‘) sama dengan makna pada pokok (aṣl).

وَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Dan hal itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا كَانَ مَعْنَاهُ لَائِحًا.

Salah satunya: yaitu apa yang maknanya sudah jelas.

وَالثَّانِي: مَا كَانَ مَعْنَاهُ غَامِضًا.

Dan yang kedua: yaitu apa yang maknanya samar.

وَالثَّالِثُ: مَا كَانَ مَعْنَاهُ مُشْتَبِهًا.

Ketiga: yaitu apa yang maknanya samar.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ مَا كَانَ مَعْنَاهُ لَائِحًا يُعْرَفُ بِاسْتِدْلَالٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ فَمِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ} [النساء: 23] فَكَانَتْ عَمَّاتُ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ فِي التَّحْرِيمِ قِيَاسًا عَلَى الْعَمَّاتِ. وَخَالَاتُ الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ فِي التَّحْرِيمِ قِيَاسًا عَلَى الْخَالَاتِ. لِاشْتِرَاكِهِنَّ فِي الرَّحِمِ، وَمِثْلُهُ قَوْله تَعَالَى فِي نَفَقَةِ الْوَلَدِ فِي صِغَرِهِ: {فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ} [الطلاق: 6] فَكَانَتْ نَفَقَةُ الْوَالِدِ عِنْدَ عَجْزِهِ فِي كِبَرِهِ قِيَاسًا عَلَى نَفَقَةِ الْوَلَدِ لِعَجْزِهِ بِصِغَرِهِ.

Adapun jenis pertama, yaitu yang maknanya jelas dan diketahui melalui istidlāl yang disepakati, seperti firman Allah Ta‘ala: “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, bibi-bibi dari pihak ayah kalian, dan bibi-bibi dari pihak ibu kalian” (an-Nisā’: 23). Maka, bibi-bibi dari pihak ayah dan ibu (dari generasi sebelumnya) juga termasuk dalam keharaman dengan qiyās atas bibi-bibi yang disebutkan. Demikian pula, paman-paman dari pihak ayah dan ibu (dari generasi sebelumnya) juga termasuk dalam keharaman dengan qiyās atas paman-paman yang disebutkan, karena mereka sama-sama memiliki hubungan rahim. Contoh lainnya adalah firman Allah Ta‘ala tentang nafkah anak ketika masih kecil: “Jika mereka menyusui (anak-anak kalian) untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya” (ath-Thalāq: 6). Maka, nafkah untuk orang tua ketika mereka tidak mampu di masa tua diqiyaskan dengan nafkah untuk anak ketika ia tidak mampu di masa kecilnya.

وَالْمَعْنَى فِي هَذَا الضَّرْبِ لَائِحٌ لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ الْجَلِيِّ وَالْخَفِيِّ وَهُوَ مِنْ ضُرُوبِ الْخَفِيِّ بِمَنْزِلَةِ الْأَوَّلِ مِنْ ضُرُوبِ الْجَلِيِّ.

Makna dalam jenis ini tampak jelas karena berada di antara yang terang (jaliy) dan yang samar (khafiy), dan ia termasuk dalam kategori khafiy sebagaimana yang pertama termasuk dalam kategori jaliy.

وَيَجُوزُ أَنْ يَنْعَقِدَ الْإِجْمَاعُ بِمِثْلِهِ وَيُنْقَضَ بِهِ حُكْمُ الْحَاكِمِ إِذَا خَالَفَهُ.

Dan boleh ijmā‘ terbentuk dengan hal yang serupa, dan keputusan hakim dapat dibatalkan dengannya jika bertentangan dengannya.

وَفِي جَوَازِ تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِهِ وَجْهَانِ:

Dalam hal kebolehan mentakhsis keumuman dengannya, terdapat dua pendapat.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: وَهُوَ مَا كَانَ مَعْنَاهُ غَامِضًا لِلِاسْتِدْلَالِ الْمُخْتَلَفِ فِيهِ فَتَقَابَلَتْ مَعَانِيهِ حَتَّى غَمُضَتْ مِثَالُهُ تَعْلِيلُ الرِّبَا فِي الْبُرِّ الْمَنْصُوصِ عَلَيْهِ، فَتَقَابَلَ فِيهِ التَّعْلِيلُ بِالْأَكْلِ، لِيُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مَأْكُولٍ، وَالتَّعْلِيلُ بِالْقُوتِ، لِيُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مُقْتَاتٍ، وَالتَّعْلِيلُ بِالْكَيْلِ لِيُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مَكِيلٍ، وَمِثْلُهُ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِ الطَّعَامِ حَتَّى يَقْبِضَ، تَقَابَلَ فِيهِ التَّعْلِيلُ بِالطَّعْمِ، حَتَّى يُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مَطْعُومٍ، وَالتَّعْلِيلُ بِالنَّقْلِ، لِيُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مَنْقُولٍ، وَالتَّعْلِيلُ بِالْبَيْعِ لِيُقَاسَ عَلَيْهِ كُلُّ مَبِيعٍ.

Jenis kedua adalah apa yang maknanya samar untuk dijadikan dasar istidlāl yang diperselisihkan, sehingga makna-maknanya saling berhadapan hingga menjadi rumit. Contohnya adalah penetapan ‘illat riba pada gandum yang telah disebutkan secara nash, di mana terdapat perbedaan antara penetapan ‘illat dengan “dimakan”, sehingga semua yang dapat dimakan dapat diqiyās-kan kepadanya; penetapan ‘illat dengan “bahan pokok”, sehingga semua bahan pokok dapat diqiyās-kan kepadanya; dan penetapan ‘illat dengan “ditakar”, sehingga semua yang ditakar dapat diqiyās-kan kepadanya. Demikian pula larangan menjual makanan sebelum diterima, terdapat perbedaan antara penetapan ‘illat dengan “dimakan”, sehingga semua makanan dapat diqiyās-kan kepadanya; penetapan ‘illat dengan “dipindahkan”, sehingga semua yang dapat dipindahkan dapat diqiyās-kan kepadanya; dan penetapan ‘illat dengan “dijual”, sehingga semua yang dijual dapat diqiyās-kan kepadanya.

فَصَارَ الْمَعْنَى بِاخْتِلَافِهِمْ فِيهِ غَامِضًا وَالِاسْتِدْلَالُ بِهِ مُتَرَجِّحًا.

Maka makna (teks tersebut) menjadi samar karena perbedaan pendapat mereka di dalamnya, dan pendalilan dengannya menjadi tidak kuat.

وَمِثْلُ هَذَا الضَّرْبِ لَا يَنْعَقِدُ بِهِ إِجْمَاعٌ وَلَا يُنْقَضُ بِهِ حُكْمٌ وَلَا يُخَصُّ بِهِ عُمُومٌ.

Dan jenis seperti ini tidak dapat dijadikan dasar ijmā‘, tidak dapat membatalkan suatu hukum, dan tidak dapat dijadikan pengecualian dari suatu keumuman.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّالِثُ: وَهُوَ مَا كَانَ مُشْتَبِهًا، فَهُوَ مَا احْتَاجَ نَصُّهُ وَمَعْنَاهُ إِلَى اسْتِدْلَالٍ: كَالَّذِي قَضَى بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: أَنَّ الْخَرَاجَ بِالضَّمَانِ فَعُرِفَ الِاسْتِدْلَالُ: أَنَّ الْخَرَاجَ هُوَ الْمَنْفَعَةُ وَأَنَّ الضَّمَانَ هُوَ ضَمَانُ الْبَيْعِ، ثُمِ عُرِفَ مَعْنَى الْمَنْفَعَةِ بِالِاسْتِدْلَالِ فَتَقَابَلَتِ الْمَعَانِي بِالِاخْتِلَافِ فِيهَا فَمِنْ مُعَلِّلٍ لَهَا بِأَنَّهَا آثَارٌ. فَلَمْ يَجْعَلِ الْمُشْتَرِيَ إِذَا رَدَّ بِالْعَيْبِ مَالِكًا لِلْأَعْيَانِ مِنَ الثِّمَارِ وَالنِّتَاجِ، وَمِنْ مُعَلِّلٍ لَهَا بِأَنَّهَا مَا خَالَفَتْ أَجْنَاسَ أُصُولِهَا، فَجَعَلَهُ مَالِكًا لِلثِّمَارِ وَلَمْ يَجْعَلْهُ مَالِكًا لِلنِّتَاجِ، وَعَلَّلَهَا الشَّافِعِيُّ بِأَنَّهَا نَمَاءٌ، فَجَعَلَهُ مَالِكًا لِكُلِّ نَمَاءٍ مِنْ ثِمَارٍ وَنِتَاجٍ.

Adapun jenis yang ketiga, yaitu yang bersifat samar, adalah perkara yang nash dan maknanya memerlukan istidlāl (penalaran atau pengambilan dalil); seperti yang diputuskan oleh Rasulullah ﷺ bahwa “al-kharāj dengan ad-dhamān.” Maka diketahui melalui istidlāl bahwa al-kharāj adalah manfaat, dan ad-dhamān adalah jaminan dalam jual beli. Kemudian makna manfaat juga diketahui melalui istidlāl, sehingga makna-makna tersebut saling berhadapan dengan adanya perbedaan pendapat di dalamnya. Ada yang beralasan bahwa manfaat itu adalah atsar (bekas atau hasil), sehingga tidak menjadikan pembeli, apabila mengembalikan barang karena cacat, sebagai pemilik benda-benda seperti buah-buahan dan hasil ternak. Ada pula yang beralasan bahwa manfaat itu adalah sesuatu yang berbeda dengan jenis asalnya, sehingga ia menjadikan pembeli sebagai pemilik buah-buahan, namun tidak menjadikannya pemilik hasil ternak. Sedangkan asy-Syāfi‘ī beralasan bahwa manfaat itu adalah pertumbuhan (namā’), sehingga ia menjadikan pembeli sebagai pemilik setiap pertumbuhan, baik berupa buah-buahan maupun hasil ternak.

فَمِثْلُ هَذَا الضَّرْبِ يَنْعَقِدُ الْإِجْمَاعُ فِي حُكْمِ أَصْلِهِ وَلَا يَنْعَقِدُ فِي مَعْنَاهُ، وَلَا يُنْقَضُ بِقِيَاسِهِ حُكْمٌ، وَلَا يُخَصُّ بِهِ عُمُومٌ، وَهُوَ أَضْعَفُ مِمَّا تَقَدَّمَهُ، وَإِنْ قَارَبَهُ في حكمه والله أعلم.

Maka perkara seperti ini ijmā‘ hanya terwujud pada hukum asalnya, dan tidak terwujud pada maknanya. Tidak boleh membatalkan suatu hukum dengan qiyās terhadapnya, dan tidak boleh mengkhususkan suatu keumuman dengannya. Ia lebih lemah dibandingkan dengan yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun mendekatinya dalam hukumnya. Allah Maha Mengetahui.

(فصل قياس الشبه)

(Bab Qiyās Syabah)

وَأَمَّا قِيَاسُ الشَّبَهِ فَهُوَ مَا تَجَاذَبَتْهُ الْأُصُولُ، فَأَخَذَ مِنْ كُلِّ أَصْلٍ شَبَهًا، وَأَخَذَ كُلُّ أَصْلٍ مِنْهُ شَبَهًا.

Adapun qiyās syabah adalah sesuatu yang ditarik oleh beberapa asal (pokok hukum), sehingga ia mengambil kemiripan dari setiap asal, dan setiap asal pun mengambil kemiripan darinya.

وَهُوَ نَوْعَانِ: قِيَاسُ تَحْقِيقٍ، يَكُونُ الشَّبَهُ فِي أَحْكَامِهِ، وَقِيَاسُ تَقْرِيبٍ يَكُونُ الشَّبَهُ فِي أَوْصَافِهِ.

Qiyās itu ada dua jenis: qiyās taḥqīq, yaitu apabila kemiripan terdapat pada hukumnya, dan qiyās taqrīb, yaitu apabila kemiripan terdapat pada sifat-sifatnya.

وَقِيَاسُ التَّحْقِيقِ مُقَابِلٌ لِقِيَاسِ المعنى الجلي وإن ضعف عنه.

Qiyās taḥqīq berlawanan dengan qiyās al-ma‘nā al-jalī, meskipun kedudukannya lebih lemah darinya.

(قياس التحقيق)

(Qiyās at-tahqīq)

فَأَمَّا قِيَاسُ التَّحْقِيقِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun qiyās tahqīq terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَرَدَّدَ حُكْمُ الْفَرْعِ بَيْنَ أَصْلَيْنِ يَنْتَقِضُ بِرَدِّهِ إِلَى أَحَدِهِمَا، وَلَا يَنْتَقِضُ بِرَدِّهِ إِلَى الْآخَرِ، فَيُرَدُّ إِلَى الْأَصْلِ الَّذِي لَا يَنْتَقِضُ برده إليه، وإن كان أقلهما شَبَهًا وَلَا يُرَدُّ إِلَى الْأَصْلِ الَّذِي يَنْتَقِضُ بِرَدِّهِ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ شَبَهًا: مِثَالُهُ: الْعَبْدُ هَلْ يَمْلِكُ؟ إِذَا مَلَكَ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ أصلين:

Salah satunya: apabila hukum cabang berada dalam keraguan antara dua asal, yang mana akan batal jika dikembalikan kepada salah satunya, dan tidak batal jika dikembalikan kepada yang lain, maka dikembalikan kepada asal yang tidak batal jika dikembalikan kepadanya, meskipun kemiripannya lebih sedikit, dan tidak dikembalikan kepada asal yang batal jika dikembalikan kepadanya, meskipun kemiripannya lebih banyak. Contohnya: budak, apakah ia memiliki kepemilikan? Jika ia memiliki sesuatu, maka hal itu berada dalam keraguan antara dua asal.

أَحَدُهُمَا: الْحُرُّ فِي جَوَازِ مِلْكِهِ.

Salah satunya: seorang merdeka dalam kebolehan kepemilikannya.

وَالثَّانِي: الْبَهِيمَةُ فِي عَدَمِ مِلْكِهِ فَلَمَّا انْتَقَضَ بِرَدِّهِ إِلَى الْحُرِّ بِالْمِيرَاثِ حِينَ لَمْ يَمْلِكْ بِهِ وَجَبَ رَدُّهُ إِلَى الْبَهِيمَةِ لِسَلَامَتِهِ مِنَ النَّقْضِ، وَإِنْ كَانَ شَبَهُهُ بِالْأَحْرَارِ أَكْثَرَ مِنْ شَبَهِهِ بِالْبَهَائِمِ.

Kedua: hewan ternak dalam hal tidak dimilikinya. Ketika analogi ini dibatalkan dengan mengembalikannya kepada orang merdeka melalui warisan, di mana ia tidak menjadi milik karenanya, maka wajib dikembalikan kepada hewan ternak karena terjaga dari pembatalan, meskipun kemiripannya dengan orang merdeka lebih banyak daripada kemiripannya dengan hewan ternak.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَرَدَّدَ الْفَرْعُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ يَسْلَمُ مِنَ النَّقْضِ فِي رَدِّهِ إِلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَهُوَ بِأَحَدِ الْأَصْلَيْنِ أَكْثَرُ شَبَهًا مِنْهُ بِالْأَصْلِ الْآخَرِ، مِثْلُ أَنْ يُشْبِهَ أَحَدَهُمَا مِنْ وَجْهٍ وَيُشْبِهَ الْآخَرَ مِنْ وَجْهَيْنِ، أَوْ يَشْبِهَ أَحَدَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ وَيَشْبِهَ الْآخَرَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ، فَيَجِبُ رَدُّهُ إِلَى الْأَصْلِ الَّذِي هُوَ أَكْثَرُ شَبَهًا بِهِ.

Jenis kedua adalah apabila cabang (furū‘) berada di antara dua asal (aṣl) dan tidak terdapat cacat (naqḍ) jika dikembalikan kepada masing-masing dari keduanya, namun cabang tersebut lebih mirip dengan salah satu asal dibandingkan dengan asal yang lain. Misalnya, cabang itu menyerupai salah satu asal dari satu sisi dan menyerupai asal yang lain dari dua sisi, atau menyerupai salah satu asal dari dua sisi dan menyerupai asal yang lain dari tiga sisi. Maka wajib mengembalikannya kepada asal yang paling mirip dengannya.

مِثَالُهُ: فِي الْجِنَايَةِ عَلَى أَطْرَافِ الْعَبْدِ يَتَرَدَّدُ بَيْنَ رَدِّهِ إِلَى الْحُرِّ فِي تَقْدِيرِ الْجِنَايَةِ عَلَى أَطْرَافِهِ وَبَيْنَ رَدِّهِ إِلَى الْبَهِيمَةِ فِي وُجُوبِ مَا نَقَصَ مِنْ قِيمَتِهِ وَهُوَ يُشْبِهُ الْبَهِيمَةَ فِي أَنَّهُ مملوك وموروث ويشبه الحرة أَنَّهُ آدَمِيٌّ، مُخَاطَبٌ، مُكَلَّفٌ، يَجِبُ فِي قَتْلِهِ الْقَوَدُ وَالْكَفَّارَةُ، فَوَجَبَ رَدُّهُ إِلَى الْحُرِّ فِي تَقْدِيرِ الْجِنَايَةِ عَلَى أَطْرَافِهِ دُونَ الْبَهِيمَةِ، لِكَثْرَةِ شَبَهِهِ بِالْحُرِّ، وَقِلَّةِ شَبَهِهِ بِالْبَهِيمَةِ.

Contohnya: Dalam kasus tindak pidana terhadap anggota tubuh seorang budak, terdapat keraguan antara mengembalikannya kepada hukum orang merdeka dalam penetapan tindak pidana terhadap anggota tubuhnya, atau mengembalikannya kepada hukum hewan dalam kewajiban mengganti nilai yang berkurang dari harganya. Budak itu menyerupai hewan karena ia adalah milik dan dapat diwariskan, namun ia juga menyerupai orang merdeka karena ia adalah manusia, mendapat beban hukum, mukallaf, dan dalam kasus pembunuhannya diwajibkan qishash dan kafarat. Maka, wajib mengembalikannya kepada hukum orang merdeka dalam penetapan tindak pidana terhadap anggota tubuhnya, bukan kepada hukum hewan, karena lebih banyak kemiripannya dengan orang merdeka dan sedikit kemiripannya dengan hewan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَتَرَدَّدَ حُكْمُ الْفَرْعِ بَيْنَ أَصْلَيْنِ مُخْتَلِفَيِ الصِّفَتَيْنِ، وَيُوجَدُ فِي الْفَرْعِ بَعْضُ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنَ الصِّفَتَيْنِ، وَلَا تَكْمُلُ فِيهِ إِحْدَى الصِّفَتَيْنِ، وَلَكِنْ يُوجَدُ فِيهِ الْأَكْثَرُ مِنْ إِحْدَى الصِّفَتَيْنِ وَالْأَقَلُّ مِنَ الْأُخْرَى، فَيَجِبُ رَدُّهُ إِلَى الْأَصْلِ فِيهِ أَكْثَرُ صِفَاتِهِ: مِثَالُهُ: ثُبُوتُ الرِّبَا فِي الْإِهْلِيلِجِ وَالسَّقْمُونِيَا لِمَا تَرَدَّدَ بَيْنَ الْخَشَبِ فِي الْإِبَاحَةِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِغِذَاءٍ وَبَيْنَ الطَّعَامِ فِي التَّحْرِيمِ لِأَنَّهُ مَأْكُولٌ فَكَانَ رَدُّهُ إِلَى الْغِذَاءِ في التحريم وإن لم يكون غِذَاءً أَوْلَى مِنْ رَدِّهِ إِلَى الْخَشَبِ فِي الْإِبَاحَةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ غِذَاءً، لِأَنَّ الْأَكْلَ أَغْلَبُ صِفَاتِهِ.

Golongan ketiga: yaitu apabila hukum cabang berada di antara dua asal yang berbeda sifat, dan pada cabang tersebut terdapat sebagian dari masing-masing sifat, namun tidak ada satu pun sifat yang sempurna padanya. Akan tetapi, pada cabang itu terdapat sifat yang lebih banyak dari salah satu asal dan lebih sedikit dari asal yang lain. Maka, wajib mengembalikannya kepada asal yang lebih banyak sifatnya terdapat pada cabang tersebut. Contohnya: penetapan riba pada buah ihlilij dan saqmuniya, karena kedudukannya berada di antara kayu yang hukumnya mubah karena bukan makanan, dan di antara makanan yang hukumnya haram karena dapat dimakan. Maka, mengembalikannya kepada makanan dalam hal keharaman, meskipun bukan makanan, lebih utama daripada mengembalikannya kepada kayu dalam hal kebolehan, meskipun bukan makanan, karena sifat dapat dimakan lebih dominan padanya.

فَهَذِهِ ضُرُوبُ قِيَاسِ التَّحْقِيقِ.

Inilah macam-macam qiyās tahqīq.

(فَصْلٌ: قياس التقريب) .

Bab: Qiyās at-Taqrīb (Analogi Pendekatan).

وَأَمَّا قِيَاسُ التَّقْرِيبِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun qiyās at-taqrīb terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَرَدَّدَ الْفَرْعُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ مُخْتَلِفَيِ الصِّفَتَيْنِ وَقَدْ جَمَعَ الْفَرْعُ صِفَتَيِ الْأَصْلَيْنِ، فَيُرَجَّحُ فِي الْفَرْعِ أَغْلَبُ الصِّفَتَيْنِ.

Salah satunya: apabila cabang (furū‘) berada dalam keraguan antara dua asal (aṣl) yang berbeda sifat, dan cabang tersebut mengumpulkan kedua sifat dari kedua asal, maka pada cabang itu diutamakan sifat yang lebih dominan di antara keduanya.

مِثَالُهُ: فِي الْمَعْقُولِ: أَنْ يَكُونَ أَحَدُ الْأَصْلَيْنِ مَعْلُولًا بِالْبَيَاضِ وَالْآخَرُ مَعْلُولًا بِالسَّوَادِ وَيَكُونُ الْفَرْعُ جَامِعًا لِلسَّوَادِ وَالْبَيَاضِ فَيُعْتَبَرُ حَالُهُ: فَإِنْ كَانَ بَيَاضُهُ أَكْثَرَ مِنْ سَوَادِهِ رُدَّ إِلَى الْأَصْلِ الْمَعْلُولِ بِالْبَيَاضِ وَلَمْ يَكُنْ لِلسَّوَادِ فِيهِ تَأْثِيرٌ، وَإِنْ كَانَ سَوَادُهُ أَكْثَرَ مِنْ بَيَاضِهِ رُدَّ إِلَى الْأَصْلِ الْمَعْلُولِ بِالسَّوَادِ وَلَمْ يَكُنْ لِلْبَيَاضِ فِيهِ تَأْثِيرٌ.

Contohnya: Dalam perkara yang bersifat rasional, misalnya salah satu dari dua asal memiliki ‘illah berupa warna putih dan yang lain memiliki ‘illah berupa warna hitam, lalu cabang (far‘) mengandung kedua sifat, yaitu hitam dan putih. Maka keadaannya dipertimbangkan: jika warna putihnya lebih dominan daripada warna hitamnya, maka ia dikembalikan kepada asal yang memiliki ‘illah warna putih dan warna hitam tidak berpengaruh padanya; dan jika warna hitamnya lebih dominan daripada warna putihnya, maka ia dikembalikan kepada asal yang memiliki ‘illah warna hitam dan warna putih tidak berpengaruh padanya.

وَمِثَالُهُ فِي الشَّرْعِ: الشَّهَادَاتُ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا بِقَبُولِ الْعَدْلِ وَرَدِّ الْفَاسِقِ، وَقَدْ عُلِمَ أَنَّ أَحَدًا غَيْرَ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَمْحَضُ الطَّاعَةَ حَتَّى لَا يَشُوبَهَا بِمَعْصِيَةٍ مِنَ الصَّغَائِرِ، وَلَا أَحَدَ يَمْحَضُ الْمَعْصِيَةَ حَتَّى لَا يَشُوبَهَا بِشَيْءٍ مِنَ الطَّاعَاتِ، فَوَجَبَ اعْتِبَارُ الْأَغْلَبِ مِنْ حَالَيْهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فهو في عيشة راضية وأما من خفت موازينه فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ} [القارعة: 6: 9] . وَإِنْ كَانَتِ الطَّاعَاتُ أَغْلَبَ عَلَيْهِ حُكِمَ بِعَدَالَتِهِ، وَلَا تَأْثِيرَ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعْصِيَةٍ، وَإِنْ كَانَتِ الْمَعَاصِي أَغْلَبَ عَلَيْهِ حُكِمَ بِفِسْقِهِ، وَلَا تَأْثِيرَ لِمَا فِيهِ مِنْ طَاعَةٍ.

Dan contohnya dalam syariat: dalam perkara kesaksian, Allah Ta‘ala memerintahkan untuk menerima kesaksian orang yang adil dan menolak kesaksian orang yang fasik. Telah diketahui bahwa tidak ada seorang pun selain para nabi yang benar-benar murni dalam ketaatan tanpa tercampur sedikit pun dengan maksiat dari dosa-dosa kecil, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar murni dalam maksiat tanpa tercampur sedikit pun dengan ketaatan. Maka wajib mempertimbangkan keadaan yang lebih dominan dari keduanya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari‘ah: 6-9). Jika ketaatan lebih dominan pada dirinya, maka ia dihukumi sebagai orang yang adil, dan maksiat yang ada padanya tidak berpengaruh. Namun jika maksiat lebih dominan pada dirinya, maka ia dihukumi sebagai orang yang fasik, dan ketaatan yang ada padanya tidak berpengaruh.

وَامْتَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ هَذَا الضَّرْبِ أَنْ يَكُونَ قِيَاسًا؛ لِأَنَّ الْقِيَاسَ مَا اسْتُخْرِجَ عِلَّةُ فَرْعِهِ مِنْ أَصْلِهِ، وَهَذَا قَدِ اسْتَخْرَجَ عِلَّةَ أَصْلِهِ مِنْ فَرْعِهِ.

Abu Hanifah menolak jenis ini untuk disebut sebagai qiyās, karena qiyās adalah ketika illat cabangnya diambil dari asalnya, sedangkan dalam hal ini illat asalnya justru diambil dari cabangnya.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّ صِفَةَ الْعِلَّةِ مُسْتَخْرَجَةٌ مِنَ الْفَرْعِ وَحُكْمَ الْعِلَّةِ مُسْتَخْرَجٌ مِنَ الْأَصْلِ، وَالْجَمْعَ بَيْنَهُمَا مَوْضُوعٌ لِحُكْمِ الْعِلَّةِ دُونَ صِفَتِهَا.

Ini tidaklah benar, karena sifat ‘illat diambil dari far‘, sedangkan hukum ‘illat diambil dari ashlu, dan penggabungan antara keduanya berkaitan dengan hukum ‘illat, bukan sifatnya.

وَمِثْلُ هَذَا نَقُولُهُ فِي الْمَاءِ الْمُطْلَقِ إِذَا خَالَطَهُ مَائِعٌ طَاهِرٌ كَمَاءِ الْوَرْدِ فَلَمْ يُغَيِّرْهُ نَظَرٌ: فَإِنْ كَانَ الْمَاءُ أَكْثَرَ حُكِمَ لَهُ بِالتَّطْهِيرِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ مَا لَيْسَ بِمُطَهِّرٍ وَإِنْ كَانَ مَاءُ الْوَرْدِ أَكْثَرَ حُكِمَ بِأَنَّهُ غَيْرُ مُطَهِّرٍ وَإِنْ كَانَ فِيهِ مَا هُوَ مُطَهِّرٌ.

Demikian pula yang kami katakan tentang air muthlak apabila bercampur dengan cairan suci seperti air mawar, namun tidak mengubahnya secara kasat mata: jika air muthlak lebih banyak, maka dihukumi sebagai air yang menyucikan, meskipun di dalamnya terdapat sesuatu yang bukan penyuci. Namun jika air mawar lebih banyak, maka dihukumi sebagai bukan penyuci, meskipun di dalamnya terdapat sesuatu yang menyucikan.

فَإِنْ سَلَّمَ أَبُو حَنِيفَةَ هَذَا الْحُكْمَ وَلَا أَحْسَبُهُ يَمْتَنِعُ مِنْهُ وَخَالَفَ فِي الِاسْمِ لَمْ تَضُرَّ مُخَالَفَتُهُ فِي الِاسْمِ مَعَ مُوَافَقَتِهِ فِي مَعْنَاهُ.

Jika Abū Ḥanīfah menerima hukum ini—dan saya kira beliau tidak akan menolaknya—lalu beliau berbeda pendapat dalam penamaannya, maka perbedaan beliau dalam penamaan itu tidaklah berbahaya selama beliau sepakat dalam maknanya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَتَرَدَّدَ الْفَرْعُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ مُخْتَلِفَيِ الصِّفَتَيْنِ وَالصِّفَتَانِ مَعْدُومَتَانِ فِي الْفَرْعِ وَصِفَةُ الْفَرْعِ تُقَارِبُ إِحْدَى الصِّفَتَيْنِ وَإِنْ خَالَفَتْهَا.

Jenis kedua: yaitu ketika cabang (far‘) berada di antara dua asal (ashl) yang berbeda sifatnya, dan kedua sifat tersebut tidak terdapat pada cabang, sementara sifat cabang mendekati salah satu dari kedua sifat itu meskipun berbeda dengannya.

مِثَالُهُ فِي الْمَعْقُولِ: أَنْ يَكُونَ أَحَدُ الْأَصْلَيْنِ مَعْلُولًا بِالْبَيَاضِ وَالْأَصْلُ الْآخَرُ مَعْلُولًا بِالسَّوَادِ وَالْفَرْعُ أَخْضَرُ لَيْسَ بِأَبْيَضَ وَلَا أَسْوَدَ فَيُرَدُّ إِلَى أَقْرَبِ الْأَصْلَيْنِ شَبَهًا بِصِفَتِهِ وَالْخُضْرَةُ أَقْرَبُ إِلَى السَّوَادِ مِنَ الْبَيَاضِ فَيُرَدُّ إِلَى السَّوَادِ دُونَ الْبَيَاضِ.

Contohnya dalam hal yang bersifat rasional: jika salah satu dari dua asal memiliki ‘illah berupa warna putih, dan asal yang lain memiliki ‘illah berupa warna hitam, sementara cabangnya berwarna hijau, yang bukan putih dan bukan hitam, maka cabang itu dikembalikan kepada asal yang paling mirip sifatnya. Dan warna hijau lebih dekat kepada hitam daripada putih, maka cabang itu dikembalikan kepada hitam, bukan kepada putih.

وَمِثَالُهُ فِي الشَّرْعِ قَوْله تَعَالَى فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ: {فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ} [المائدة: 95] .

Contohnya dalam syariat adalah firman Allah Ta‘ala tentang hukuman bagi perburuan: “Maka hukumannya adalah mengganti dengan hewan ternak yang sebanding dengan yang dibunuh.” (QS. Al-Ma’idah: 95).

وَلَيْسَ الْمِثْلُ مِنَ النَّعَمِ مُشْبِهًا لِلصَّيْدِ فِي جَمِيعِ أَوْصَافِهِ وَلَا مُنَافِيًا لَهُ فِي جَمِيعِ أَوْصَافِهِ فَاعْتُبِرَ فِي الْجَزَاءِ أَقْرَبُ الشَّبَهِ بِالصَّيْدِ.

Hewan pengganti dari hewan ternak itu tidaklah sepenuhnya serupa dengan hewan buruan dalam seluruh sifatnya, dan juga tidak sepenuhnya berbeda dalam seluruh sifatnya. Oleh karena itu, dalam penetapan denda, yang dijadikan acuan adalah yang paling mendekati kemiripan dengan hewan buruan tersebut.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ أَنْ يَكُونَ هَذَا قِيَاسًا لِأَنَّ الْقِيَاسَ مَا وُجِدَتْ أَوْصَافُ أَصْلِهِ فِي فَرْعِهِ وَأَوْصَافُ الْأَصْلِ فِي هَذَا غَيْرُ مَوْجُودَةٍ فِي الْفَرْعِ فَصَارَ قِيَاسًا بِغَيْرِ عِلَّةٍ.

Abu Hanifah melarang hal ini disebut sebagai qiyās, karena qiyās adalah ketika sifat-sifat asal ditemukan pada cabangnya, sedangkan sifat-sifat asal dalam hal ini tidak terdapat pada cabang, sehingga menjadi qiyās tanpa ‘illat.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، لِأَنَّ الْحَادِثَةَ لَا بُدَّ لَهَا مِنْ حُكْمٍ وَالْحُكْمَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ دَلِيلٍ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ فِي الْكِتَابِ وَلَا فِي السُّنَّةِ وَلَا فِي الْإِجْمَاعِ دَلِيلٌ عَلَيْهَا لَمْ يَبْقَ لَهَا أَصْلٌ غَيْرُ الْقِيَاسِ فَكَانَ أَقْرَبُهَا شَبَهًا بِأَصْلِ الْقِيَاسِ هُوَ عِلَّةَ الْقِيَاسِ.

Hal ini tidaklah benar, karena setiap peristiwa pasti membutuhkan hukum, dan setiap hukum pasti membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil mengenai peristiwa tersebut dalam al-Kitab, as-Sunnah, maupun ijmā‘, maka tidak tersisa dasar lain baginya selain qiyās. Maka, yang paling mirip dengan asal qiyās itulah yang menjadi ‘illat qiyās.

وَقَدْ جَعَلَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا اجْتِهَادًا مَحْضًا وَلَمْ يَجْعَلْهُ قِيَاسًا، وَهَذَا الِاجْتِهَادُ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَصْلٍ يُعْتَبَرُ فِيهِ شِبْهُ الْأَصْلِ فَصَارَ قِيَاسًا.

Sebagian ulama kami menganggapnya sebagai ijtihad murni dan tidak menjadikannya sebagai qiyās, namun ijtihad ini pasti membutuhkan suatu asal yang dipertimbangkan adanya kemiripan dengan asal tersebut, sehingga ia menjadi qiyās.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَتَرَدَّدَ الْفَرْعُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ مُخْتَلِفَيِ الصِّفَتَيْنِ، وَالْفَرْعُ جَامِعٌ لِصِفَتَيِ الْأَصْلَيْنِ، وَأَحَدُ الْأَصْلَيْنِ مِنْ جِنْسِ الْفَرْعِ، وَالْآخَرُ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ.

Jenis ketiga: yaitu apabila cabang (masalah) berada di antara dua asal yang berbeda sifatnya, sedangkan cabang tersebut mengandung kedua sifat dari kedua asal itu, dan salah satu dari kedua asal tersebut sejenis dengan cabang, sedangkan yang lainnya tidak sejenis dengannya.

مِثَالُهُ: أَنْ يَكُونَ الْفَرْعُ مِنَ الطَّهَارَةِ وَأَحَدُ الْأَصْلَيْنِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالْآخَرُ مِنَ الطَّهَارَةِ، فَيَكُونُ رَدُّهُ إِلَى أَصْلِ الطَّهَارَةِ لِمُجَانَسَتِهِ أَوْلَى مِنْ رَدِّهِ إِلَى أَصْلِ الصَّلَاةِ مَعَ مخالفته.

Contohnya: Jika cabang itu berkaitan dengan thaharah, sedangkan salah satu dari dua asalnya berasal dari shalat dan yang lainnya dari thaharah, maka mengembalikannya kepada asal thaharah karena keserupaannya lebih utama daripada mengembalikannya kepada asal shalat yang berbeda dengannya.

وها هنا ضَرْبٌ رَابِعٌ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ وُجُودِهِ وَهُوَ أَنْ يَتَرَدَّدَ الْفَرْعُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ فِيهِ شَبَهُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَصْلَيْنِ، وَشَبَهُهُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَصْلَيْنِ وَلَا يَتَرَجَّحُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ بِشَيْءٍ.

Di sini terdapat jenis keempat yang para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehannya, yaitu ketika suatu furū‘ (cabang hukum) berada di antara dua aṣl (pokok hukum) yang masing-masing memiliki kemiripan dengannya, dan cabang tersebut memiliki kemiripan pada masing-masing pokok tersebut, namun tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih kuat dari yang lain dalam hal apa pun.

فَمَنَعَ كَثِيرٌ مِنْ أَصْحَابِنَا من جوازه وأحال تكافي الْأَدِلَّةِ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَتَعَبَّدَ اللَّهُ عِبَادَهُ بِمَا لَمْ يَجْعَلْ لَهُمْ طَرِيقًا تُوَصِّلُهُمْ إِلَى عِلْمِهِ، وَلَكِنْ رُبَّمَا خَفِيَ عَلَى الْمُسْتَدِلِّ لِقُصُورِهِ فِي الِاجْتِهَادِ فَإِنْ أَعْوَزَهُ التَّرْجِيحُ بَيْنَ الْأَصْلَيْنِ عَدَلَ إِلَى الْتِمَاسِ حُكْمِهِ مِنْ غَيْرِ الْقِيَاسِ.

Maka banyak dari ulama kami melarang kebolehannya dan menganggap mustahil adanya kesetaraan dalil, karena tidak boleh Allah membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak Dia tetapkan bagi mereka jalan untuk mengetahuinya. Namun, terkadang hal itu tersembunyi bagi orang yang beristidlal karena keterbatasannya dalam ijtihad. Jika ia tidak mampu melakukan tarjih antara dua pokok hukum, maka ia beralih mencari hukumnya dari selain qiyās.

وَذَهَبَ كَثِيرٌ مِنْهُمْ إِلَى جَوَازِ وَجُودِهِ لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْأَدِلَّةِ غَامِضًا لِمَا عَلِمَهُ فِيهَا مِنَ الْمَصْلَحَةِ جَازَ أَنْ يَكُونَ فِيهَا مُتَكَافِئًا لِمَا رَآهُ مِنَ الْمَصْلَحَةِ وَلَيْسَ يَخْلُو أَنْ يَكُونَ لَهَا حُكْمٌ مَعَ التَّكَافُؤِ.

Banyak dari mereka berpendapat bahwa keberadaannya boleh, karena ketika boleh saja suatu dalil itu samar disebabkan adanya maslahat yang diketahui di dalamnya, maka boleh juga di dalamnya terdapat dalil yang setara karena maslahat yang dilihat padanya. Dan tidaklah lepas bahwa ia memiliki hukum meskipun dalam keadaan setara.

فَعَلَى هَذَا اخْتَلَفُوا فِي حُكْمِ مَا تَكَافَأَتْ فِيهِ الْأَدِلَّةُ وَتَرَدَّدَ بَيْنَ أَصْلَيْنِ: حَاظِرٍ وَمُبِيحٍ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Oleh karena itu, mereka berbeda pendapat mengenai hukum perkara yang dalil-dalilnya seimbang dan berada di antara dua prinsip: yang melarang dan yang membolehkan, dengan dua kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْمُجْتَهِدَ بِالْخِيَارِ فِي رَدِّهِ إِلَى أَيِّ الْأَصْلَيْنِ شَاءَ مِنْ حَظْرٍ أَوْ إِبَاحَةٍ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَوْ لَمْ يَرُدَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لَنَصَّبَ عَلَى مُرَادِهِ مِنْهُمَا دَلِيلًا.

Salah satunya adalah bahwa mujtahid bebas memilih untuk mengembalikan (suatu masalah) kepada salah satu dari dua asal yang ia kehendaki, baik kepada larangan maupun kebolehan, karena jika Allah Ta‘ala tidak mengembalikan keduanya, niscaya Dia akan menetapkan dalil atas maksud-Nya dari keduanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يَرُدُّهُ إِلَى أَغْلَظِ الْأَصْلَيْنِ حُكْمًا وَهُوَ الْحَظْرُ دُونَ الْإِبَاحَةِ احْتِيَاطًا لِأَنَّ أَصْلَ التَّكْلِيفِ مَوْضُوعٌ عَلَى التَّغْلِيظِ.

Pendapat kedua: bahwa ia mengembalikannya kepada yang paling berat di antara dua asal hukum, yaitu larangan, bukan kebolehan, sebagai bentuk kehati-hatian, karena pada dasarnya taklif diletakkan atas dasar pengetatan.

فَصَارَتْ أَقْسَامُ الْقِيَاسِ مَا شَرَحْنَاهُ: اثْنَيْ عَشَرَ قِسْمًا: سِتَّةُ أَقْسَامٍ مِنْهَا مُخْتَصَّةٌ بِقِيَاسِ الْمَعْنَى مِنْهَا ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ فِي الْقِيَاسِ الْجَلِيِّ وَثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ مِنْهَا فِي الْقِيَاسِ الْخَفِيِّ وَسِتَّةُ أَقْسَامٍ مِنْهَا مُخْتَصَّةٌ بِقِيَاسِ الشَّبَهِ مِنْهَا ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ فِي قِيَاسِ التَّحْقِيقِ وَثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ في قياس التقريب.

Maka, bagian-bagian qiyās sebagaimana yang telah kami jelaskan ada dua belas bagian: enam bagian di antaranya khusus untuk qiyās al-ma‘nā, yang terdiri dari tiga bagian dalam qiyās yang jelas (qiyās jali) dan tiga bagian dalam qiyās yang samar (qiyās khafi); dan enam bagian lainnya khusus untuk qiyās asy-syabah, yang terdiri dari tiga bagian dalam qiyās at-tahqiq dan tiga bagian dalam qiyās at-taqrib.

(فصل)

(Bab)

: هل تثبت الأسماء والحدود والمقادير بالقياس؟

Apakah penetapan nama-nama, batasan-batasan, dan kadar-kadar dapat dilakukan dengan qiyās?

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا بَيَّنَّاهُ مِنْ أَقْسَامِ الْقِيَاسِ أَنَّهُ أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ فَالَّذِي يَثْبُتُ بِالْقِيَاسِ فِي الشَّرْعِ هُوَ الْأَحْكَامُ الْمُسْتَنْبَطَةُ مِنَ النُّصُوصِ.

Maka apabila telah jelas apa yang telah kami uraikan mengenai macam-macam qiyās, bahwa ia merupakan salah satu sumber pokok dalam syariat, maka yang dapat ditetapkan melalui qiyās dalam syariat adalah hukum-hukum yang diistinbat dari nash-nash.

فَأَمَّا الْأَسْمَاءُ وَالْحُدُودُ وَالْمَقَادِيرُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ اسْتِخْرَاجِهَا بِالْقِيَاسِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun nama-nama, batasan-batasan, dan ukuran-ukuran, para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehan menetapkannya melalui qiyās menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ أَنْ تَثْبُتَ الْأَسْمَاءُ بِالْقِيَاسِ إِذَا تَعَلَّقَ بِهَا أَحْكَامٌ كَتَسْمِيَةِ النَّبِيذِ خَمْرًا لِوُجُودِ مَعْنَى الْخَمْرِ فِيهِ وَيَجُوزُ أَنْ تَثْبُتَ الْحُدُودُ قِيَاسًا فَيَثْبُتَ حَدُّ الْخَمْرِ ثَمَانِينَ، قِيَاسًا عَلَى الْقَذْفِ كَمَا قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لِأَنَّهُ إِذَا شَرِبَ سَكِرَ وَإِذَا سَكِرَ هَذَى وَإِذَا هَذِيَ افْتَرَى وَحَدُّ الْمُفْتَرِي ثَمَانُونَ.

Pertama: Boleh menetapkan nama-nama (hukum) dengan qiyās apabila terkait dengannya ada hukum-hukum, seperti menamai nabidz sebagai khamr karena terdapat makna khamr di dalamnya. Dan boleh pula menetapkan hudūd (sanksi pidana) dengan qiyās, sehingga ditetapkan had untuk khamr sebanyak delapan puluh (cambukan), dengan qiyās kepada (had) qadzaf, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib: “Karena jika seseorang meminumnya, ia akan mabuk; jika ia mabuk, ia akan mengigau; jika ia mengigau, ia akan berbuat fitnah; dan had bagi orang yang berbuat fitnah adalah delapan puluh (cambukan).”

وَيَجُوزُ أَنْ تَثْبُتَ الْمَقَادِيرُ قِيَاسًا: كَمَا قَدَّرْنَا أَقَلَّ الْحَيْضِ وَأَكْثَرَهُ وَأَقَلَّ الطُّهْرِ وَأَكْثَرَهُ وَأَقَلَّ السَّفَرِ وَأَكْثَرَهُ.

Dan boleh menetapkan batasan-batasan tertentu melalui qiyās, sebagaimana kita telah menetapkan batasan minimal dan maksimal haid, batasan minimal dan maksimal suci, serta batasan minimal dan maksimal safar.

وَقَدْ أَشَارَ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلَى اخْتِيَارِ هَذَا الْوَجْهِ لِأَنَّ جَمِيعَهَا أَحْكَامٌ.

Ibnu Abi Hurairah telah mengisyaratkan pemilihan pendapat ini karena semuanya merupakan ahkam (hukum-hukum).

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ إِثْبَاتُ الْأَسْمَاءِ وَلَا إِثْبَاتُ الْحُدُودِ وَلَا إِثْبَاتُ الْمَقَادِيرِ بِالْقِيَاسِ.

Pendapat kedua: Diperbolehkan menetapkan nama-nama, namun tidak diperbolehkan menetapkan batasan-batasan maupun ukuran-ukuran dengan qiyās.

أَمَّا الْأَسْمَاءُ فَلِأَنَّهَا مَأْخُوذَةٌ مِنَ اللُّغَةِ دُونَ الشَّرْعِ.

Adapun nama-nama itu, karena diambil dari bahasa (Arab) dan bukan dari syariat.

وَأَمَّا الْحُدُودُ فَلِأَنَّ مَعَانِيَهَا غَيْرُ مَعْقُولَةٍ.

Adapun hudud, maka karena maknanya tidak dapat dijangkau oleh akal.

وَأَمَّا الْمَقَادِيرُ فَلِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ وَإِنَّمَا صِيرَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ الْمُقَدَّرَةِ إلى عرف أو وجود.

Adapun mengenai kadar-kadar (batasan-batasan), hal itu karena ia telah disyariatkan, dan dalam perkara-perkara yang telah ditentukan kadarnya ini, hanya kembali kepada ‘urf (kebiasaan) atau keberadaan (fakta yang ada).

والله أعلم بصواب ما استأثر بعلمه فهذا شرح ما قدمناه من أصول الشرع الأربعة وبالله التوفيق.

Dan Allah lebih mengetahui kebenaran atas apa yang Dia khususkan dengan ilmu-Nya. Inilah penjelasan dari apa yang telah kami sampaikan mengenai empat ushul syar‘i, dan hanya kepada Allah-lah pertolongan dimohon.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَجْمَعُ الْمُخْتَلِفِينَ لِأَنَّهُ أَشَدُّ لِتَقَصِّيهِ وَلِيَكْشِفَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ “.

Syafi‘i berkata: “Dan hendaknya orang-orang yang berbeda pendapat dikumpulkan, karena hal itu lebih kuat dalam meneliti secara mendalam dan agar sebagian mereka dapat saling mengoreksi yang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا إِنَّمَا يَخْتَصُّ بِالْحَوَادِثِ الْمُشْكِلَةِ وَالنَّوَازِلِ الْمُلْتَبِسَةِ دُونَ مَا اسْتَقَرَّتْ أَحْكَامُهُ بِالنُّصُوصِ أَوْ بِالْإِجْمَاعِ أَوْ بِالْقِيَاسِ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ غَيْرُهُ، فَيَجْمَعُ لَهُ الْمُخْتَلِفِينَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ لِيَسْأَلَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَنْ حُكْمِ الْحَادِثَةِ وَدَلِيلِهَا وَيُعَارِضَ الْأَدِلَّةَ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ وَيَكْشِفَ عَنْ عِلَلِهَا وَأُصُولِهَا.

Al-Mawardi berkata: Hal ini khusus berlaku pada peristiwa-peristiwa yang sulit dan kasus-kasus baru yang masih samar hukumnya, bukan pada perkara-perkara yang hukumnya telah tetap berdasarkan nash, ijmā‘, atau qiyās yang tidak memungkinkan adanya pendapat lain. Maka, hendaknya ia mengumpulkan para ulama yang berbeda pendapat dari kalangan ahli ijtihad untuk menanyakan kepada masing-masing dari mereka tentang hukum peristiwa tersebut beserta dalilnya, lalu membandingkan dalil-dalil itu satu sama lain, serta menyingkap illat dan dasar-dasarnya.

وَلَا يُفَوِّضُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ، حَتَّى يَجْتَهِدَ فِيهَا كَاجْتِهَادِهِمْ، ثُمَّ يَجْتَهِدُ فِي قَوْلِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَيَنْظُرُ فِيمَا اسْتَدَلَّ بِهِ وَيُنَاظِرُهُمْ وَيُنَاظِرُونَهُ طَلَبًا لِلصَّوَابِ لَا نُصْرَةً لِقَوْلِهِ.

Dan ia tidak menyerahkan hal itu kepada mereka, sampai ia berijtihad dalam masalah tersebut sebagaimana ijtihad mereka, kemudian ia berijtihad dalam pendapat masing-masing dari mereka dan memperhatikan dalil yang mereka gunakan, serta berdiskusi dengan mereka dan mereka pun berdiskusi dengannya, dengan tujuan mencari kebenaran, bukan untuk membela pendapatnya sendiri.

فَإِذَا وَضُحَ لَهُ الصَّوَابُ بَعْدَ الْكَشْفِ وَالنَّظَرِ عَمِلَ عَلَيْهِ وَحَكَمَ بِهِ.

Maka apabila kebenaran telah jelas baginya setelah melakukan penelitian dan pengkajian, ia pun beramal berdasarkan kebenaran itu dan memutuskan dengannya.

وَإِنَّمَا لَزِمَهُ أَنْ يَفْعَلَ هَذَا لِثَلَاثَةِ أُمُورٍ:

Dan sesungguhnya ia wajib melakukan hal ini karena tiga perkara:

أَحَدُهَا: اقْتِدَاءٌ بِالصَّحَابَةِ فَإِنَّ الْأَئِمَّةَ مِنْهُمْ كَانُوا لَا يُنَفِّذُونَ الْأَحْكَامَ الْمُشْتَبِهَةَ إِلَّا بَعْدَ الْمُشَاوَرَةِ وَمَسْأَلَةِ النَّاسِ فِيمَا عَرَفُوهُ مِنْ أَحْكَامِ الرَّسُولِ كَمَا سَأَلَ أَبُو بَكْرٍ عَنْ مِيرَاثِ الْجَدَّةِ، حَتَّى أَخْبَرَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَعْطَاهَا السُّدُسَ وَسَأَلَ عَنِ الْمَجُوسِ فَأَخْبَرَ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ ” سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ ” وَكَمَا قَالَ عُمَرُ: رَحِمَ اللَّهَ امْرَأً سَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فِي دِيَةِ الْجَنِينِ شَيْئًا إِلَّا قَالَهُ فَأَخْبَرَهُ حَمَلُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّهُ قَضَى فِيهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ.

Salah satunya adalah mengikuti teladan para sahabat, karena para imam di antara mereka tidak menetapkan hukum-hukum yang masih samar kecuali setelah bermusyawarah dan menanyakan kepada orang-orang tentang apa yang mereka ketahui dari hukum-hukum Rasul. Sebagaimana Abu Bakar pernah bertanya tentang warisan nenek, hingga diberitahukan kepadanya bahwa Nabi ﷺ memberinya seperenam, dan beliau juga bertanya tentang orang Majusi, lalu diberitahukan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Perlakukan mereka seperti perlakuan terhadap Ahlul Kitab.” Dan sebagaimana Umar berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ tentang diyat janin lalu ia menyampaikannya.” Maka Haml bin Malik memberitahukan kepadanya bahwa beliau memutuskan diyat janin dengan membayar satu budak laki-laki atau perempuan.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَخْفَى عَلَى الْحَاكِمِ مِنْ أَحْكَامِ الْحَوَادِثِ وَالنَّوَازِلِ مَا يَكُونُ عِلْمُهُ عِنْدَ غَيْرِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُمْضِيَ حُكْمَهُ عَلَى الْتِبَاسٍ وَاحْتِمَالٍ.

Kedua: Bisa jadi ada hukum-hukum peristiwa dan masalah baru yang tersembunyi dari pengetahuan seorang hakim, sementara ilmunya ada pada orang lain. Maka tidak boleh baginya menetapkan hukum dalam keadaan samar dan penuh kemungkinan.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ مُجْتَهِدٌ وَعَلَى الْمُجْتَهِدِ التَّقَصِّي فِي اجْتِهَادِهِ، وَمِنَ التَّقَصِّي أَنْ يَكْشِفَ بِالسُّؤَالِ وَيُنَاظِرَ في طلب الصواب.

Ketiga: Bahwa ia adalah seorang mujtahid, dan seorang mujtahid wajib melakukan penelusuran secara mendalam dalam ijtihadnya. Di antara bentuk penelusuran itu adalah dengan mencari tahu melalui pertanyaan dan berdiskusi dalam upaya mencari kebenaran.

(الفرق بين النظر والجدل)

Perbedaan antara nazar dan jadal.

وَفِي الْفَرْقِ بَيْنَ النَّظَرِ وَالْجَدَلِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ النَّظَرَ طَلَبُ الصَّوَابِ، وَالْجَدَلَ نُصْرَةُ الْقَوْلِ. وَالثَّانِي: أَنَّ النَّظَرَ هُوَ الْفِكْرُ بِالْقَلْبِ وَالْعَقْلِ، والجدل هو الاحتجاج باللسان.

Ada dua pendapat mengenai perbedaan antara naẓar dan jadal: Pertama, naẓar adalah upaya mencari kebenaran, sedangkan jadal adalah membela suatu pendapat. Kedua, naẓar adalah berpikir dengan hati dan akal, sedangkan jadal adalah berargumentasi dengan lisan.

(الفرق بين الدليل والحجة)

Perbedaan antara dalil dan hujjah.

وَفِي الْفَرْقِ بَيْنَ الدَّلِيلِ وَالْحُجَّةِ وَجْهَانِ:

Ada dua pendapat mengenai perbedaan antara dalil dan hujjah:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الدَّلِيلَ مَا دَلَّكَ عَلَى مَطْلُوبِكَ، وَالْحُجَّةَ مَا مَنَعَتْ مِنْ ذَلِكَ. وَالثَّانِي: أَنَّ الدَّلِيلَ مَا دَلَّكَ عَلَى صَوَابِكَ، وَالْحُجَّةَ مَا دَفَعَتْ عنك قول مخالفك.

Pertama: bahwa dalil adalah sesuatu yang menunjukkanmu kepada apa yang kamu cari, sedangkan hujjah adalah sesuatu yang mencegahmu dari hal tersebut. Kedua: bahwa dalil adalah sesuatu yang menunjukkanmu kepada kebenaranmu, sedangkan hujjah adalah sesuatu yang menolak ucapan lawanmu darimu.

(الفرق بين النص والظاهر)

Perbedaan antara nash dan zhahir.

وَفِي الْفَرْقِ بَيْنَ النَّصِّ وَالظَّاهِرِ وَجْهَانِ:

Ada dua pendapat mengenai perbedaan antara nash dan zhahir:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ النَّصَّ مَا كَانَ لَفْظُهُ دَلِيلَهُ، وَالظَّاهِرُ مَا سَبَقَ مُرَادُهُ إِلَى فَهْمِ سَامِعِهِ.

Salah satunya adalah bahwa nash adalah sesuatu yang lafaznya menjadi dalilnya, sedangkan zhahir adalah sesuatu yang maksudnya langsung terlintas dalam pemahaman orang yang mendengarnya.

وَالثَّانِي: أَنَّ النَّصَّ مَا لَمْ يَتَوَجَّهْ إِلَيْهِ احْتِمَالٌ، والظاهر ما توجه إليه احتمال.

Kedua: bahwa nash adalah sesuatu yang tidak mengandung kemungkinan makna lain, sedangkan zhahir adalah sesuatu yang mengandung kemungkinan makna lain.

(الفرق بين الفحوى ولحن القول)

Perbedaan antara fahwa dan lahn al-qawl.

وَفِي الْفَرْقِ بَيْنَ الْفَحْوَى وَلَحْنِ الْقَوْلِ وَجْهَانِ:

Terdapat dua pendapat mengenai perbedaan antara al-fahwa dan lahn al-qawl:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْفَحْوَى مَا نَبَّهَ عَلَيْهِ اللَّفْظُ، وَلَحْنُ الْقَوْلِ مَا لَاحَ فِي أَثْنَاءِ اللَّفْظِ.

Salah satunya adalah bahwa al-fahwā adalah apa yang ditunjukkan oleh lafaz, sedangkan lahn al-qawl adalah apa yang tampak di sela-sela lafaz.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْفَحْوَى مَا دَلَّ عَلَى مَا هُوَ أَقْوَى مِنْهُ، وَلَحْنُ الْقَوْلِ مَا دَلَّ على مثله.

Yang kedua: bahwa al-fahwā adalah sesuatu yang menunjukkan kepada makna yang lebih kuat darinya, sedangkan lahn al-qawl adalah sesuatu yang menunjukkan kepada makna yang sepadan dengannya.

(تفرد الحاكم باجتهاده)

(Kemandirian hakim dalam ijtihadnya)

فَإِنْ تَفَرَّدَ الْحَاكِمُ بِاجْتِهَادِهِ فَقَدْ أَسَاءَ وَقَصَّرَ، وَكَانَ حُكْمُهُ نَافِذًا إِذَا عَمِلَ بِمَا أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَيْهِ، مَا لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ مَا لَا يَجُوزُ الِاجْتِهَادُ مَعَهُ: مِنْ نَصٍّ أَوْ إجماع أو قياس لا يحتمل.

Jika seorang hakim berijtihad sendiri tanpa melibatkan yang lain, maka ia telah berbuat buruk dan kurang tepat, namun putusannya tetap berlaku apabila ia memutuskan berdasarkan hasil ijtihadnya, selama tidak bertentangan dengan hal-hal yang tidak boleh diijtihadi, seperti nash, ijmā‘, atau qiyās yang tidak mengandung kemungkinan lain.

(شروط جواز ولاية القاضي)

(Syarat-syarat Kebolehan Wilayah (Kekuasaan) Qadhi)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي عَقْلِهِ مَا إِذَا عقل القياس عقله ما وَإِذَا سَمِعَ الِاخْتِلَافَ مَيَّزَهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَقْضِيَ وَلَا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَقْضِيَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Jika dalam akalnya tidak terdapat kemampuan untuk memahami qiyās ketika ia memahaminya, dan jika ia mendengar perbedaan pendapat tidak mampu membedakannya, maka tidak sepantasnya ia menjadi hakim, dan tidak pula bagi siapa pun untuk memintanya menjadi hakim.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ يَجِبُ أَنْ تُسْتَوْفَى فِيهَا الشُّرُوطُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي وِلَايَةِ الْقَاضِي وَنَفَاذِ حُكْمِهِ.

Al-Mawardi berkata: Dalam masalah ini, harus dipenuhi syarat-syarat yang dianggap sah dalam pengangkatan qadi dan berlakunya putusannya.

وَالَّذِي يُعْتَبَرُ فِي جَوَازِ وِلَايَتِهِ وَنَفَاذِ حُكْمِهِ سَبْعَةُ شُرُوطٍ:

Yang menjadi syarat sahnya kewenangan dan berlakunya keputusan hakim ada tujuh syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ كَامِلًا فِي نَفْسِهِ.

Salah satunya: haruslah sempurna pada dirinya sendiri.

وَكَمَالُ نَفْسِهِ ضَرْبَانِ: أَحَدُهُمَا: كَمَالُ حُكْمِهِ. وَالثَّانِي: كَمَالُ خُلُقِهِ.

Kesempurnaan diri seseorang terbagi menjadi dua macam: yang pertama adalah kesempurnaan dalam hukum-hukumnya, dan yang kedua adalah kesempurnaan dalam akhlaknya.

فَأَمَّا كَمَالُ الْحُكْمِ: فَهُوَ بِالْبُلُوغِ وَالْعَقْلِ لِأَنَّ بِاجْتِمَاعِهِمَا يَتَعَلَّقُ التَّكْلِيفُ وَيَثْبُتُ لِلْقَوْلِ حُكْمٌ.

Adapun kesempurnaan hukum: yaitu dengan baligh dan berakal, karena dengan berkumpulnya keduanya, taklif menjadi berlaku dan ucapan seseorang memiliki kekuatan hukum.

فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي غَيْرَ بَالِغٍ وَلَا مُخْتَلَّ الْعَقْلِ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا تَمْيِيزٌ صَحِيحٌ وَلَا لِقَوْلِهِ حُكْمٌ نَافِذٌ.

Maka tidak boleh seorang qāḍī (hakim) itu belum baligh atau mengalami gangguan akal, karena keduanya tidak memiliki kemampuan membedakan yang benar dan perkataannya tidak memiliki kekuatan hukum yang sah.

فَإِنْ قُلِّدَ الْقَضَاءَ صَبِيٌّ أَوْ مُخْتَلُّ الْعَقْلِ كَانَتْ وِلَايَتُهُ بَاطِلَةً، وَأَحْكَامُهُ مَرْدُودَةً، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ ” وَلِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُوَلَّى عَلَيْهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَالِيًّا، وَلَا يَلْزَمُهُ حُكْمُ قَوْلِهِ، فَلَمْ يَكُنْ لِغَيْرِهِ لَازِمًا.

Jika seorang anak kecil atau orang yang terganggu akalnya diangkat menjadi hakim, maka kekuasaannya batal dan keputusannya tertolak, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Pena diangkat dari tiga golongan,” dan karena masing-masing dari keduanya adalah orang yang berada di bawah perwalian, sehingga tidak sah menjadi wali, dan tidak wajib baginya melaksanakan keputusan ucapannya, maka tidak wajib pula bagi orang lain.

وَلَيْسَ يَكْتَفِي فِيهِ بِالْعَقْلِ الَّذِي يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّكْلِيفُ مِنْ عِلْمِهِ بِالْمُدْرَكَاتِ الضَّرُورِيَّةِ حَتَّى يَكُونَ صَحِيحَ التَّمْيِيزِ جِيِّدَ الْفَطِنَةِ بَعِيدًا مِنَ السَّهْوِ وَالْغَفْلَةِ يَتَوَصَّلُ بِذَكَائِهِ إِلَى حَلِّ مَا أُشْكِلَ وَفَصْلِ مَا أُعْضِلَ.

Dan tidak cukup dalam hal ini hanya dengan akal yang dengannya seseorang dikenai taklif, yaitu pengetahuannya terhadap hal-hal yang diketahui secara pasti, sampai ia benar-benar memiliki kemampuan membedakan yang baik, kecerdasan yang tajam, jauh dari kelengahan dan lalai, serta mampu dengan kecerdasannya menemukan solusi atas persoalan yang rumit dan memecahkan masalah yang sulit.

فَإِنْ كَانَ مَعَ هَذِهِ الْحَالِ يَطْرَأُ عَلَيْهِ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ جُنُونٌ، نُظِرَ فِيهِ.

Jika dalam keadaan seperti ini kadang-kadang ia mengalami gangguan jiwa, maka hal itu perlu diteliti lebih lanjut.

فَإِنِ امْتَدَّ بِهِ حَتَّى تَأَخَّرَ عَنْ أَوْقَاتِ النَّظَرِ لَمْ يَصِحَّ تَقْلِيدُهُ.

Jika penundaan itu berlangsung hingga melewati waktu-waktu yang seharusnya digunakan untuk meneliti, maka tidak sah baginya melakukan taqlid.

وَإِنْ قَصُرَ زَمَانُهُ وَكَانَ كَالسَّاعَةِ، نُظِرَ.

Dan jika waktunya singkat, meskipun hanya sejenak, maka hal itu perlu diteliti.

فَإِنْ أَثَّرَتْ فِي زَمَانِ إِفَاقَتِهِ لِفُتُورِ حِسِّهِ وَدَهَشِ عَقْلِهِ لَمْ يَصِحَّ تَقْلِيدُهُ.

Jika pengaruhnya masih ada pada saat ia sadar, sehingga menyebabkan lemahnya indera dan kebingungan akalnya, maka tidak sah melakukan taklid kepadanya.

وَإِنْ أَفَاقَ مِنْ سَاعَتِهِ، وَعَادَ إِلَى اسْتِقَامَتِهِ فَفِي جَوَازِ تَقْلِيدِهِ وَجْهَانِ:

Jika ia sadar kembali saat itu juga dan kembali pada keadaan normalnya, maka dalam kebolehan mengikuti pendapatnya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ يَخْرُجُ فِي زَمَانِ ذَلِكَ عَنْ حُكْمِ التَّكْلِيفِ وَتَبْطُلُ بِهِ فُرُوضُ الْعِبَادَاتِ.

Salah satu pendapat: Tidak boleh, karena pada masa itu seseorang keluar dari hukum taklīf dan kewajiban ibadah menjadi batal karenanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ وَيَجْرِي مَجْرَى فَتَرَاتِ النَّوْمِ وَأَوْقَاتِ الِاسْتِرَاحَةِ.

Pendapat kedua: Boleh, dan hukumnya sama seperti masa-masa tidur dan waktu-waktu istirahat.

فَإِنْ قُلِّدَ وَهُوَ سَلِيمُ الْعَقْلِ ثُمَّ طَرَأَ عَلَيْهِ الْجُنُونُ بَطَلَتْ وِلَايَتُهُ، وَلَمْ يَعُدْ إِلَيْهَا بِالْإِفَاقَةِ.

Jika seseorang diangkat (menjadi wali) dalam keadaan akalnya sehat, kemudian ia mengalami gangguan jiwa, maka kekuasaannya batal, dan tidak kembali kepadanya meskipun ia telah sembuh.

وَلَكِنْ لَوْ أُغْمِيَ عَلَيْهِ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي وِلَايَتِهِ؛ لِأَنَّ الْإِغْمَاءَ مَرَضٌ لَا يَمْنَعُ مِنَ النُّبُوَّةِ.

Namun, jika ia pingsan, hal itu tidak berpengaruh terhadap kewenangannya; karena pingsan adalah suatu penyakit yang tidak menghalangi kenabian.

وَأَمَّا كَمَالُ الْخِلْقَةِ فَتُعْتَبَرُ سَلَامَتُهُ فِيهَا فِي ثَلَاثَةِ أَوْصَافٍ:

Adapun kesempurnaan bentuk fisik, maka yang diperhitungkan di dalamnya adalah keselamatannya pada tiga sifat:

أَحَدُهَا: صِحَّةُ بَصَرِهِ، فَلَا يَكُونُ أَعْمَى.

Pertama: penglihatannya harus sehat, sehingga tidak boleh buta.

وَالثَّانِي: صِحَّةُ سَمْعِهِ، فَلَا يَكُونُ أَصَمَّ.

Yang kedua: pendengarannya harus sehat, sehingga tidak boleh tuli.

وَالثَّالِثُ: سَلَامَةُ لِسَانِهِ، فَلَا يَكُونُ أَخْرَسَ.

Ketiga: lisannya harus sehat, sehingga tidak bisu.

فَأَمَّا الْأَعْمَى: فَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُهُ، وَلَوْ عَمِيَ بَعْدَ التَّقْلِيدِ بَطَلَتْ وِلَايَتُهُ، لِأَنَّهُ لَا يُفَرِّقُ بَيْنَ الطَّالِبِ وَالْمَطْلُوبِ.

Adapun orang buta: maka tidak boleh baginya melakukan taqlid, dan jika ia menjadi buta setelah melakukan taqlid, maka batallah wewenangnya, karena ia tidak dapat membedakan antara pihak yang menuntut dan pihak yang dituntut.

وَجَوَّزَ مَالِكٌ تَقْلِيدَ الْأَعْمَى، كَمَا جَوَّزَ شَهَادَتَهُ.

Malik membolehkan taklid kepada orang buta, sebagaimana ia membolehkan kesaksiannya.

فَإِنْ كَانَ فِي عَيْنِهِ عَشًا يُبْصِرُ نَهَارًا وَلَا يُبْصِرُ لَيْلًا جَازَ تَقْلِيدُهُ.

Jika pada matanya terdapat gangguan penglihatan sehingga ia dapat melihat pada siang hari namun tidak dapat melihat pada malam hari, maka boleh mengikuti pendapatnya (taqlid).

وَإِنْ كَانَ فِي بَصَرِهِ ضَعْفٌ فَإِنْ كَانَ يَرَى الْأَشْبَاحَ وَلَا يَعْرِفُ الصُّوَرَ لَمْ يَجُزْ تَقْلِيدُهُ.

Dan jika penglihatannya lemah, maka jika ia hanya dapat melihat bayangan tetapi tidak dapat mengenali rupa, tidak boleh mengikuti pendapatnya (taqlid) dalam masalah tersebut.

وَإِنْ كَانَ يَعْرِفُ الصُّوَرَ إِذَا قَرُبَتْ وَلَا يَعْرِفُهَا إِذَا بَعُدَتْ جَازَ تَقْلِيدُهُ.

Jika ia dapat mengenali bentuk-bentuk (gambar) ketika dekat, namun tidak dapat mengenalinya ketika jauh, maka boleh mengikuti pendapatnya (taqlid)

وَأَمَّا الْأَصَمُّ: فَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُهُ، وَإِنْ طَرَأَ عَلَيْهِ صَمَمٌ بَطَلَتْ وِلَايَتُهُ، لِأَنَّهُ لَا يُفَرِّقُ بِالصَّمَمِ بَيْنَ إِقْرَارٍ وَإِنْكَارٍ.

Adapun orang tuli: maka tidak boleh diangkat sebagai hakim, dan jika seseorang yang sedang menjabat kemudian menjadi tuli, maka batal kekuasaannya, karena dengan ketuliannya ia tidak dapat membedakan antara pengakuan dan penolakan.

وَالصَّمَمُ الْمَانِعُ مِنْ ذَلِكَ هُوَ أَنْ لَا يَفْهَمَ الْأَصْوَاتَ وَإِنْ عَلَتْ.

Tuli yang menjadi penghalang dalam hal itu adalah tidak memahami suara-suara, meskipun suara tersebut keras.

فَأَمَّا ثِقَلُ السَّمْعِ الَّذِي يَفْهَمُ عَالِيَ الْأَصْوَاتِ وَلَا يَفْهَمُ خَافِتَهَا فَتَقْلِيدُهُ جَائِزٌ وَإِنْ كَانَ تَقْلِيدُ السَّمِيعِ أَوْلَى مِنْهُ.

Adapun orang yang pendengarannya berat, yang dapat memahami suara keras namun tidak dapat memahami suara pelan, maka taklidnya diperbolehkan, meskipun taklid orang yang pendengarannya normal lebih utama darinya.

وَأَمَّا الْأَخْرَسُ فَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُهُ، وَإِنْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْخَرَسُ بَطَلَتْ وِلَايَتُهُ، لِأَنَّهُ يَعْجِزُ بِخَرَسِهِ عَنْ إِنْفَاذِ الْأَحْكَامِ وَإِلْزَامِ الْحُقُوقِ.

Adapun orang bisu, maka tidak boleh diangkat sebagai hakim, dan jika seseorang yang telah menjadi hakim kemudian mengalami kebisuan, maka gugurlah kekuasaannya, karena dengan kebisuannya ia tidak mampu menjalankan putusan hukum dan menegakkan hak-hak.

وَجَوَّزَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وِلَايَتَهُ إِذَا كَانَ مَفْهُومَ الْإِشَارَةِ، كَمَا جَوَّزَ شَهَادَتَهُ.

Abu al-Abbas bin Surayj membolehkan pengangkatan (seseorang) jika ia memahami isyarat, sebagaimana ia membolehkan kesaksiannya.

وَهُوَ عِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا مَمْنُوعٌ مِنَ الْأَمْرَيْنِ.

Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan mazhab kami, hal itu dilarang dari kedua sisi.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ بِلِسَانِهِ تَمْتَمَةٌ أَوْ فَأْفَأَةٌ أَوْ عَقْلَةٌ أَوْ رَدَّةٌ أَوْ عُقْدَةٌ لَا تَمْنَعُ مَنْ فَهْمِ الْكَلَامِ صَحَّ تَقْلِيدُهُ لِأَنَّهُ نَقْصٌ لَا يَمْنَعُ مَنْ فَهْمِ الْكَلَامِ وَإِنْ غَمُضَ فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ مُوسَى لَمْ تَمْنَعْ عُقْدَةُ لِسَانِهِ مِنْ صِحَّةِ رِسَالَتِهِ.

Adapun jika pada lisannya terdapat gagap, cadel, terbata-bata, atau kekakuan, atau hambatan yang tidak menghalangi dari pemahaman pembicaraan, maka sah untuk diangkat (sebagai mujtahid) karena itu merupakan kekurangan yang tidak menghalangi dari pemahaman pembicaraan, meskipun sulit dipahami. Sebab, Nabi Allah Musa pun tidak terhalang oleh kekakuan lisannya dari kebenaran risalahnya.

فَأَمَّا صِحَّةُ أَعْضَائِهِ فَغَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ فِي وِلَايَتِهِ، فَيَجُوزُ تَقْلِيدُهُ وَإِنْ كَانَ مُقْعَدًا أَوْ ذَا زَمَانَةٍ، وَإِنْ كَانَتِ السَّلَامَةُ مِنَ الْآفَاتِ أَهْيَبَ لِذَوِي الْوِلَايَاتِ.

Adapun kesehatan anggota tubuhnya tidak menjadi syarat dalam kewenangannya, maka boleh mengangkatnya (sebagai pejabat) meskipun ia lumpuh atau memiliki cacat fisik, meskipun memang kondisi bebas dari cacat lebih dihormati bagi para pemegang kekuasaan.

فَصَارَتِ الْأَوْصَافُ الْمُعْتَبَرَةُ فِي كَمَالِ نَفْسِهِ خَمْسَةً: الْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْبَصَرُ وَالسَّمْعُ وَالنُّطْقُ فَهَذَا حُكْمُ الشرط الأول.

Maka sifat-sifat yang dianggap sebagai syarat kesempurnaan pada diri seseorang ada lima: baligh, berakal, dapat melihat, dapat mendengar, dan dapat berbicara. Inilah hukum dari syarat pertama.

(فصل)

(Bab)

: والشرط الثاني الذكورة فَيَكُونُ رَجُلًا.

Syarat kedua adalah laki-laki, sehingga harus seorang pria.

فَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُهَا.

Adapun perempuan, maka tidak boleh diangkat menjadi muqallid (yang diikuti pendapatnya dalam masalah hukum).

وَجَوَّزَهُ ابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ كَالرَّجُلِ.

Dan Ibnu Jarir ath-Thabari membolehkannya seperti halnya laki-laki.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ يَصِحُّ قَضَاؤُهَا فِيمَا تَصِحُّ فِيهِ شَهَادَتُهَا وَشَهَادَتُهَا عِنْدَهُ تَصِحُّ فِيمَا سِوَى الْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ.

Abu Hanifah berpendapat bahwa keputusan hakim perempuan sah dalam perkara-perkara yang kesaksiannya sah, dan menurut beliau, kesaksian perempuan sah dalam segala hal selain hudud dan qishash.

فَأَمَّا ابْنُ جَرِيرٍ فَإِنَّهُ عَلَّلَ جَوَازَ وِلَايَتِهَا بِجَوَازِ فُتْيَاهَا.

Adapun Ibnu Jarir, ia beralasan bolehnya perempuan memegang kekuasaan dengan alasan bolehnya perempuan memberikan fatwa.

وَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ فَإِنَّهُ عَلَّلَ جَوَازَ وِلَايَتِهَا بِجَوَازِ شَهَادَتِهَا.

Adapun Abu Hanifah, beliau membolehkan kepemimpinannya karena membolehkan kesaksiannya.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ مَا ذَهَبَا إِلَيْهِ: قَوْلُهُ تَعَالَى: {الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ} [النساء: 23] يَعْنِي فِي الْعَقْلِ وَالرَّأْيِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقِمْنَ عَلَى الرِّجَالِ.

Dan dalil atas rusaknya pendapat keduanya adalah firman Allah Ta‘ala: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain” (an-Nisā’: 23), yaitu dalam akal dan pendapat. Maka tidak boleh perempuan menjadi pemimpin atas laki-laki.

وَقَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَا أَفْلَحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ “.

Dan sabda Nabi ﷺ: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.”

وقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللَّهُ “.

Dan sabda beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-: “Tempatkanlah mereka di belakang, sebagaimana Allah telah menempatkan mereka di belakang.”

وَلِأَنَّهُ لَمَّا مَنَعَهَا نَقْصُ الْأُنُوثَةِ مِنْ إِمَامَةِ الصَّلَوَاتِ مَعَ جَوَازِ إِمَامَةِ الْفَاسِقِ، كَانَ الْمَنْعُ مِنَ الْقَضَاءِ الَّذِي لَا يَصِحُّ مِنَ الْفَاسِقِ أَوْلَى.

Dan karena kekurangan sifat kewanitaan telah menghalangi perempuan dari menjadi imam shalat, padahal menjadi imam yang fasik masih diperbolehkan, maka larangan bagi perempuan untuk menjadi qadhi—yang tidak sah jika dilakukan oleh orang fasik—lebih utama (untuk diberlakukan).

وَلِأَنَّ نَقْصَ الْأُنُوثَةِ يَمْنَعُ مِنِ انْعِقَادِ الْوِلَايَاتِ كَإِمَامَةِ الْأَمَةِ.

Karena kekurangan sifat keperempuanan menghalangi terwujudnya kepemimpinan, seperti kepemimpinan umat.

وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ فِي الْحُدُودِ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ فِي غَيْرِ الْحُدُودِ كَالْأَعْمَى.

Dan karena siapa yang keputusannya tidak berlaku dalam perkara hudud, maka keputusannya juga tidak berlaku dalam perkara selain hudud, seperti orang buta.

وَأَمَّا جَوَازُ فُتْيَاهَا وَشَهَادَتِهَا فَلِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ فِيهِمَا فَلَمْ تَمْنَعْ مِنْهُمَا الْأُنُوثَةُ وَإِنْ مَنَعَتْ مِنَ الْوِلَايَاتِ وَكَذَلِكَ تَقْلِيدُ الْخُنْثَى لَا يَصِحُّ، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ امْرَأَةً فَإِنْ زَالَ إِشْكَالُهُ وَبَانَ رَجُلًا صَحَّ تَقْلِيدُهُ.

Adapun kebolehan fatwa dan kesaksiannya, karena tidak ada wilayah (kekuasaan) di dalam keduanya, sehingga sifat kewanitaan tidak menghalangi dari keduanya, meskipun menghalangi dari wilayah-wilayah (jabatan kekuasaan). Demikian pula, pengangkatan khuntsa (orang yang memiliki dua alat kelamin) tidak sah, karena mungkin saja ia adalah seorang perempuan. Namun, jika keraguannya telah hilang dan jelas bahwa ia adalah laki-laki, maka sah pengangkatannya.

فَإِنْ رُدَّ إِلَى الْمَرْأَةِ تَقْلِيدُ قَاضٍ لَمْ يَصِحَّ، لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَصِحَّ أَنْ تَكُونَ وَالِيَةً لَمْ يَجُزْ أَنْ تَكُونَ مُوَلِّيَةً.

Jika penunjukan seorang qadī (hakim) diserahkan kepada perempuan, maka tidak sah, karena ketika tidak sah bagi perempuan menjadi wali (penguasa), maka tidak boleh pula baginya untuk mengangkat (menunjuk) orang lain.

وَإِنْ رُدَّ إِلَيْهَا اخْتِيَارُ قَاضٍ جَازَ، لِأَنَّ الِاخْتِيَارَ اجْتِهَادٌ لَا تمنع منه الأنوثة كالفتيا.

Dan jika diserahkan kepadanya (perempuan) hak memilih seorang qāḍī, maka itu diperbolehkan, karena memilih adalah bentuk ijtihad yang tidak terhalang oleh sifat kewanitaan, sebagaimana fatwa.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: الْحُرِّيَّةُ: فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي عَبْدًا، وَلَا مُدَبَّرًا، وَلَا مُكَاتَبًا، وَلَا مَنْ فِيهِ جُزْءٌ مِنَ الرِّقِّ، وَإِنْ قَلَّ، فَإِنْ قُلِّدَ كَانَتْ وِلَايَتُهُ بَاطِلَةً، وَحُكْمُهُ مَرْدُودًا؛ لِأَنَّ الْعَبْدَ مُوَلَّى عَلَيْهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَالِيًّا، وَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا فَأَوْلَى أَنْ لَا يَكُونَ قَاضِيًا.

Syarat ketiga: kebebasan. Maka tidak boleh seorang qadhi (hakim) adalah seorang budak, atau mudabbir, atau mukatab, atau seseorang yang di dalam dirinya terdapat sebagian status perbudakan, meskipun sedikit. Jika ia diangkat, maka kekuasaannya batal dan keputusannya tertolak; karena budak adalah orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain, maka tidak sah baginya menjadi wali (pemimpin). Dan ketika ia tidak sah menjadi saksi, maka lebih utama lagi ia tidak sah menjadi qadhi.

وَجَوَّزَ بَعْضُهُمْ قَضَاءَ الْعَبْدِ، لِجَوَازِ فُتْيَاهُ، وَرِوَايَتِهِ، وَلِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَوْ كَانَ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ حَيًّا لَمَا يُخَالِجُنِي فِي تَقْلِيدِهِ شَكٌّ.

Sebagian ulama membolehkan seorang hamba menjadi qadhi, karena ia boleh memberikan fatwa, meriwayatkan hadis, dan berdasarkan perkataan Umar bin Khattab: “Seandainya Salim, maula Abu Hudzaifah, masih hidup, niscaya aku tidak akan ragu untuk mengangkatnya sebagai qadhi.”

وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَمْرَيْنِ.

Hal ini rusak karena dua alasan.

أَحَدُهُمَا: مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ مَوْلًى عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ وَالِيًا

Salah satunya adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu bahwa ketika seseorang berstatus sebagai maulā ‘alaih, maka tidak sah baginya untuk menjadi wali.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ مَمْلُوكًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ مَالِكًا وَإِنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ مُجْتَهِدًا وَرَاوِيًا.

Kedua: Karena ia adalah seorang budak, maka tidak sah baginya untuk menjadi pemilik, meskipun dibolehkan baginya untuk menjadi seorang mujtahid dan perawi.

فَأَمَّا أَمْرُ سَالِمٍ فَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Adapun perkara Salim, maka mengenai hal itu terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ كَانَ مَوْلَى عِتَاقَةٍ وَلَمْ يَكُنْ بَاقِيًا فِي الرِّقِّ وَتَقْلِيدُ الْمُعْتَقِ جَائِزٌ.

Salah satunya: bahwa ia adalah seorang mawla ‘itāqah dan tidak lagi berada dalam status perbudakan, dan mengikuti pendapat orang yang memerdekakannya adalah diperbolehkan.

وَالثَّانِي: أَنَّ عُمَرَ قَالَ ذَلِكَ عَلَى وَجْهِ الْمُبَالَغَةِ فِي مَدْحِ سَالِمٍ.

Yang kedua: bahwa Umar mengatakan hal itu dalam rangka memberikan pujian yang sangat kepada Salim.

وَقَدْ عَيَّنَ الْإِمَامَةَ فِي أَهْلِ الشُّورَى. وَبِالْإِجْمَاعِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ إِمَامًا عَلَى الْأُمَّةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُشِيرَ بِهَا إليه.

Ia telah menetapkan kepemimpinan (imamah) di tangan Ahl al-Syura. Dan berdasarkan ijmā‘, tidak boleh seorang budak menjadi imam atas umat, maka tidak sah untuk mengusulkan kepemimpinan itu kepadanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ الْإِسْلَامُ: فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْكَافِرُ قَاضِيًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ، وَلَا عَلَى أَهْلِ دِينِهِ.

Syarat keempat adalah Islam: Maka tidak boleh seorang kafir menjadi qadhi atas kaum Muslimin, maupun atas orang-orang seagamanya.

وَجَوَّزَ أَبُو حَنِيفَةَ تَقْلِيدَهُ عَلَى أَهْلِ دِينِهِ، وَأَنْفَذَ أَحْكَامَهُ وَقَبِلَ قَوْلَهُ فِي الْحُكْمِ بَيْنَهُمْ، كَمَا جَوَّزَ شَهَادَةَ أَهْلِ الذِّمَّةِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ.

Abu Hanifah membolehkan taqlid kepada hakim non-Muslim di kalangan pemeluk agamanya sendiri, serta menetapkan keabsahan putusan-putusan hukumnya dan menerima pernyataannya dalam memutus perkara di antara mereka, sebagaimana beliau juga membolehkan kesaksian sesama ahludz-dzimmah atas sebagian yang lain.

اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ الْجَارِي فِي تَقْلِيدِهِمْ.

Dengan mempertimbangkan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku dalam mengikuti mereka.

وَاحْتِجَاجًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [المائدة: 51] .

Dan sebagai dalil dengan firman-Nya Ta‘ala: “Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (Al-Mā’idah: 51).

وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَتْ وِلَايَتُهُمْ فِي الْمَنَاكِحِ جَازَتْ فِي الْأَحْكَامِ.

Dan karena ketika kewenangan mereka dibolehkan dalam urusan pernikahan, maka dibolehkan pula dalam perkara hukum.

وَدَلِيلُنَا قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ} [التوبة: 29] وَنُفُوذُ الْأَحْكَامِ يَنْفِي الصَّغَارَ.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Hingga mereka membayar jizyah dengan tangan mereka dalam keadaan tunduk.” (at-Taubah: 29) Dan berlakunya hukum-hukum menafikan adanya ketundukan (kehinaan).

وَقَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الْإِسْلَامُ يَعْلُو وَلَا يُعْلَى عَلَيْهِ ” فَمَنَعَ هَذَا الْخَبَرُ مِنْ أَنْ يَكُونَ فِي الْإِسْلَامِ وِلَايَةٌ لغير مسلم.

Dan sabda Nabi ﷺ: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya,” maka hadis ini mencegah adanya kekuasaan (wilayah) bagi non-Muslim di dalam Islam.

وَلِأَنَّ الْفَاسِقَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَحْسَنُ حَالًا مِنَ الْكَافِرِ لِجَرَيَانِ أَحْكَامِ الْإِسْلَامِ عَلَيْهِ فَلَمَّا مَنَعَ الْفِسْقُ مِنْ وِلَايَةِ الْقَضَاءِ كَانَ أَوْلَى أَنْ يَمْنَعَ مِنْهُ الْكُفْرُ.

Karena seorang fasik dari kalangan Muslim keadaannya lebih baik daripada orang kafir, sebab hukum-hukum Islam tetap berlaku atasnya. Maka, jika kefasikan saja dapat mencegah seseorang dari jabatan kehakiman, maka kekufuran tentu lebih utama untuk mencegahnya dari jabatan tersebut.

وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ لَمْ تَصِحَّ وِلَايَتُهُ فِي الْعُمُومِ لَمْ تَصِحَّ وِلَايَتُهُ فِي الْخُصُوصِ كَالصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ طَرْدًا وَكَالْمُسْلِمِ الْعَدْلِ عَكْسًا.

Dan karena setiap orang yang tidak sah wilayahnya dalam perkara umum, maka tidak sah pula wilayahnya dalam perkara khusus, seperti anak kecil dan orang gila secara thard (sejalan), dan seperti Muslim yang adil secara ‘aks (kebalikan).

فَأَمَّا الْآيَةُ فَمَحْمُولَةٌ عَلَى الْمُوَالَاةِ دُونَ الولاية.

Adapun ayat tersebut dimaknai sebagai perintah untuk saling loyal (al-muwālah), bukan untuk memberikan kekuasaan (al-wilāyah).

وأما ولاياتهم في مناكحهم فلأنهم ما لكون لَهَا فَلَمْ يُعْتَرَضْ عَلَيْهِمْ فِيهَا.

Adapun kekuasaan mereka dalam pernikahan mereka, maka itu karena mereka adalah pemiliknya, sehingga tidak ada yang berhak mengintervensi mereka dalam hal tersebut.

وَأَمَّا الْعُرْفُ الْجَارِي مِنَ الْوُلَاةِ فِي تَقْلِيدِهِمْ فَهُوَ تَقْلِيدُ زَعَامَةٍ وَرِيَاسَةٍ وَلَيْسَ بِتَقْلِيدِ حُكْمٍ وَقَضَاءٍ وَإِنَّمَا يَلْزَمُ حُكْمُهُ أَهْلَ دِينِهِ لِالْتِزَامِهِمْ لَهُ لَا لِلُزُومِهِ لَهُمْ.

Adapun tradisi yang berlaku di kalangan para penguasa dalam pengangkatan mereka, maka itu adalah pengangkatan dalam hal kepemimpinan dan jabatan, bukan pengangkatan dalam hal hukum dan peradilan. Hukum yang ditetapkan hanya mengikat para pemeluk agamanya karena mereka sendiri yang berkomitmen terhadapnya, bukan karena hukum itu wajib atas mereka.

وَلَا يَقْبَلُ الْإِمَامُ قَوْلَهُ فِيمَا حَكَمَ بِهِ بَيْنَهُمْ.

Dan imam tidak menerima perkataannya dalam perkara yang telah ia putuskan di antara mereka.

وَإِذَا امْتَنَعُوا مَنْ تَحَاكُمِهِمْ إِلَيْهِ لَمْ يُجْبَرُوا عَلَيْهِ وَكَانَ حُكْمُ الْإِسْلَامِ عليهم أنفذ.

Dan jika mereka enggan untuk membawa perkara mereka kepadanya, maka mereka tidak dipaksa untuk itu, dan hukum Islam tetap lebih berlaku atas mereka.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالشَّرْطُ الْخَامِسُ الْعَدَالَةُ: فَمُعْتَبَرَةٌ فِي الْقَضَاءِ وَجَمِيعِ الْوِلَايَاتِ.

Syarat kelima adalah keadilan: maka keadilan merupakan syarat yang diperhitungkan dalam peradilan dan seluruh bentuk kekuasaan.

وَالْعَدَالَةُ: أَنْ يِكونَ صَادِقَ اللَّهْجَةِ ظَاهِرَ الْأَمَانَةِ عَفِيفًا عَنِ الْمَحَارِمِ مُتَوَقِّيًا لِلْمَآثِمِ بَعِيدًا مِنَ الرِّيَبِ مَأْمُونًا فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ مُسْتَعْمَلًا لِمُرُوءَةِ مِثْلِهِ فِي دِينِهِ وَسَنَسْتَوْفِي شُرُوطَهَا فِي كِتَابِ الشَّهَادَاتِ. فَإِذَا تَكَامَلَتْ فِيهِ فَهِيَ الْعَدَالَةُ الَّتِي تَصِحُّ بِهَا وِلَايَتُهُ وَتُقْبَلُ بِهَا شَهَادَتُهُ.

Keadilan adalah: seseorang yang jujur dalam ucapannya, tampak amanah, menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan, menjauhi perbuatan dosa, jauh dari hal-hal yang menimbulkan kecurigaan, dapat dipercaya baik dalam keadaan senang maupun marah, serta menjalankan kehormatan yang sepatutnya bagi orang sepertinya dalam agama. Kami akan menjelaskan syarat-syaratnya secara rinci dalam Kitab Kesaksian. Apabila semua sifat ini telah sempurna pada dirinya, maka itulah keadilan yang dengannya sah kepemimpinannya dan diterima kesaksiannya.

فَأَمَّا الْفِسْقُ فَعَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun kefasikan itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: مَا تَعَلَّقَ بِأَفْعَالٍ يَتَّبِعُ فِيهَا الشَّهْوَةَ فَلَا يَصِحُّ تَقْلِيدُهُ وَلَا يَنْفُذُ حُكْمُهُ وَإِنْ وَافَقَ فِيهِ الْحَقَّ لِفَسَادِ وِلَايَتِهِ.

Salah satunya adalah perkara yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, maka tidak sah melakukan taqlid kepadanya dan keputusannya tidak berlaku, meskipun sesuai dengan kebenaran, karena rusaknya kewenangannya.

وَحُكِيَ عَنِ الْأَصَمِّ صِحَّةُ وِلَايَتِهِ، وَنُفُوذُ حُكْمِهِ، إِذَا وَافَقَ الْحَقَّ لِصِحَّةِ إِمَامَتِهِ فِي الصَّلَاةِ، وَجَوَازِ اتِّبَاعِهِ فِيهَا.

Diriwayatkan dari al-Asham bahwa sah kekuasaannya dan berlaku keputusannya jika sesuai dengan kebenaran, karena sahnya ia menjadi imam dalam shalat dan bolehnya diikuti dalam shalat tersebut.

وَهَذَا خَطَأٌ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ} [الحجرات: 6] فَمَنَعَ مِنْ قَبُولِ قَوْلِهِ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَمْنَعَ مِنْ نُفُوذِ قَوْلِهِ.

Ini adalah sebuah kesalahan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan.” (QS. Al-Hujurat: 6). Maka Allah melarang menerima perkataannya, sehingga lebih utama lagi untuk melarang berlakunya perkataannya.

وَلِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمَّا جَعَلَ الْعَدَالَةَ شَرْطًا فِي الشَّهَادَةِ كَانَ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ شَرْطًا فِي الْقَضَاءِ، وَجَازَتْ إِمَامَتُهُ لِتَعَلُّقِهَا بِالِاخْتِيَارِ وَخُرُوجِهَا عَنِ الْإِلْزَامِ.

Dan karena Allah Ta‘ala telah menjadikan keadilan sebagai syarat dalam persaksian, maka lebih utama lagi keadilan itu menjadi syarat dalam peradilan. Adapun kepemimpinannya (sebagai imam salat) dibolehkan karena berkaitan dengan pilihan dan tidak bersifat wajib.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مِنَ الْفِسْقِ مَا اخْتَصَّ بِاعْتِقَادٍ يَتَعَلَّقُ فِيهِ بِشُبْهَةٍ يَتَأَوَّلُ بِهَا خِلَافَ الْحَقِّ.

Jenis kedua dari kefasikan adalah kefasikan yang khusus berkaitan dengan keyakinan yang di dalamnya terdapat syubhat yang dijadikan alasan untuk menakwilkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran.

فَفِي جَوَازِ تَقْلِيدِهِ وَجْهَانِ:

Dalam kebolehan melakukan taqlid kepadanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ لَمَّا اسْتَوَى حُكْمُ الْكُفْرِ بِتَأْوِيلٍ وَغَيْرِ تَأْوِيلٍ، وَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَ حُكْمُ الْفِسْقِ بِتَأْوِيلٍ وَغَيْرِ تَأْوِيلٍ.

Salah satu pendapat: Tidak boleh, karena ketika hukum kekufuran sama antara yang disebabkan oleh ta’wil maupun yang bukan ta’wil, maka wajib pula hukum kefasikan disamakan antara yang disebabkan oleh ta’wil maupun yang bukan ta’wil.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ تَقْلِيدُهُ لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ تَأَوُّلُهُ الشُّبَهَ فِي الْفُرُوعِ لَا يَمْنَعُ مِنَ التَّقْلِيدِ كَانَ كَذَلِكَ فِي الْأُصُولِ.

Pendapat kedua: Boleh melakukan taklid kepadanya, karena ketika adanya penafsiran terhadap syubhat dalam masalah furu‘ (cabang hukum) tidak menghalangi dari melakukan taklid, maka demikian pula halnya dalam masalah ushul (pokok agama).

فَإِنْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْفِسْقُ بَعْدَ صِحَّةِ تَقْلِيدِهِ بَطَلَتْ وِلَايَتُهُ بِالضَّرْبِ الْأَوَّلِ.

Jika setelah sahnya taklid kepadanya kemudian ia melakukan kefasikan, maka batalah kewenangannya menurut kategori pertama.

وفي بطلانها بالضرب الثاني وجهان:

Dalam batalnya (akad tersebut) pada jenis kedua, terdapat dua pendapat.

أصحهما ها هنا لَا تَبْطُلُ.

Pendapat yang paling sahih di sini adalah tidak batal.

وَأَصَحُّهُمَا هُنَاكَ لَا تَنْعَقِدُ لِأَنَّهُ لَا يُقَلَّدُ إِلَّا بِتَعْدِيلٍ كَامِلٍ وَلَا يَنْعَزِلُ إلا بجرح كامل.

Dan pendapat yang paling sahih di antara keduanya di sana adalah bahwa baiat tidak sah, karena seseorang tidak dapat diikuti (dalam kepemimpinan) kecuali dengan adanya penilaian adil yang sempurna, dan tidak dapat diberhentikan kecuali dengan celaan yang sempurna pula.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالشَّرْطُ السَّادِسُ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ: وَعِلْمُهُ بِهَا يَشْتَمِلُ عَلَى أَمْرَيْنِ

Syarat keenam adalah bahwa ia harus mengetahui hukum-hukum syariat; pengetahuannya tentang hal itu mencakup dua hal.

أَحَدُهُمَا: عِلْمُهُ بِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أُصُولِهَا الَّتِي يَسْتَنْبِطُ بِهَا أَحْكَامَهَا.

Salah satunya adalah pengetahuannya tentang ushul yang telah kami sebutkan sebelumnya, yang dengannya ia dapat menggali hukum-hukumnya.

وَالثَّانِي: مَعْرِفَتُهُ بِفُرُوعِهَا فِيمَا انْعَقَدْ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ، أَوْ حَصَلَ فِيهِ اخْتِلَافٌ لِيَتِّبِعَ الْإِجْمَاعَ، وَيَجْتَهِدَ فِي الِاخْتِلَافِ؛ لِيَصِيرَ بِذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فِي الدِّينِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُفْتِيَ وَيَقْضِيَ، وَيَجُوزُ أَنْ يَسْتَفْتِيَ وَيَسْتَقْضِيَ.

Kedua: Mengetahui cabang-cabangnya dalam hal yang telah disepakati oleh ijmā‘, atau terjadi perbedaan pendapat di dalamnya, agar ia mengikuti ijmā‘ dan berijtihad dalam perkara yang diperselisihkan; dengan demikian, ia menjadi termasuk ahli ijtihad dalam agama, sehingga boleh baginya untuk memberi fatwa dan memutuskan perkara, serta boleh pula baginya untuk meminta fatwa dan mengajukan perkara.

فَإِنْ كَانَ عَامِّيًّا مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُفْتِيَ وَلَا يَقْضِيَ، وَكَانَتْ وِلَايَتُهُ بَاطِلَةً وَحُكْمُهُ وَإِنْ وَافَقَ الْحَقَّ مَرْدُودًا.

Jika ia adalah seorang awam yang bukan termasuk ahli ijtihad, maka tidak boleh baginya untuk memberikan fatwa maupun memutuskan perkara, dan kekuasaannya dianggap batal serta keputusannya, meskipun sesuai dengan kebenaran, tetap ditolak.

وَجَوَّزَ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ تَقْلِيدَ الْعَامِّيِّ الْقَاضِي لِيَسْتَفْتِيَ فِي أَحْكَامِهِ الْعُلَمَاءَ.

Para pengikut Abu Hanifah membolehkan seorang awam untuk mengikuti (taqlid) seorang qadhi agar ia dapat meminta fatwa kepada para ulama dalam menetapkan hukum-hukumnya.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهُ إِذَا جَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِي الِاسْتِفْتَاءِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ جَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِهِ فِي حَقِّ غَيْرِهِ لِأَنَّهُمَا مَعًا حُكْمٌ بِعِلْمٍ.

Dengan berdalil bahwa jika diperbolehkan baginya untuk menetapkan hukum dalam berfatwa bagi dirinya sendiri, maka diperbolehkan pula baginya untuk menetapkan hukum tersebut bagi orang lain, karena keduanya sama-sama merupakan penetapan hukum berdasarkan ilmu.

قَالُوا وَلِأَنَّ مَنْ جَازَ أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا جَازَ أَنْ يَكُونَ قَاضِيًا كَالْعَالِمِ.

Mereka berkata: Karena siapa saja yang boleh menjadi saksi, maka boleh pula menjadi qāḍī, seperti halnya seorang ‘ālim.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَةِ الشَّاهِدَيْنِ مَعَ الْجَهْلِ بِمَا تَوَصَّلَا بِهِ إِلَى صِحَّةِ الشَّهَادَةِ، وَيَحْكُمُ بِقِيمَةِ الْمُقَوِّمَيْنِ مَعَ الْجَهْلِ بِمَا تَوَصَّلَا بِهِ إِلَى صِحَّةِ الْقِيمَةِ، جَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِفُتْيَا الْمُفْتِي مَعَ الْجَهْلِ بِمَا تَوَصَّلَ بِهِ إِلَى صِحَّةِ الْحُكْمِ.

Mereka berkata: Karena ketika diperbolehkan untuk memutuskan hukum berdasarkan kesaksian dua saksi meskipun tidak mengetahui cara mereka mencapai kebenaran kesaksian tersebut, dan diperbolehkan memutuskan hukum berdasarkan penilaian dua penaksir meskipun tidak mengetahui cara mereka mencapai kebenaran nilai tersebut, maka diperbolehkan pula memutuskan hukum berdasarkan fatwa seorang mufti meskipun tidak mengetahui cara ia mencapai kebenaran hukum tersebut.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ} [الزمر: 9] وَالدَّلِيلُ فِيهَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar: 9). Dalil dalam ayat ini terdapat dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَنَعَ مِنَ الْمُسَاوَاةِ فَكَانَ عَلَى عُمُومِهِ فِي الْحُكْمِ وَغَيْرِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia menolak adanya persamaan, sehingga tetap berlaku keumumannya baik dalam hukum maupun selainnya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ قَالَهُ زَجْرًا فَصَارَ أَمْرًا.

Yang kedua: bahwa ia mengatakannya sebagai larangan, lalu menjadi perintah.

وَرَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ وَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ وَاثْنَانِ فِي النَّارِ، فَالَّذِي فِي الْجَنَّةِ رَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحُكْمَ فَجَارَ عَنْهُ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ قَضَى بَيْنَ النَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ ” فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى دُخُولِ الْعَامِّيِّ فِي الْوَعِيدِ لِأَنَّهُ قَضَى عَلَى جَهْلٍ.

Sulaiman bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Para qadhi itu ada tiga golongan: satu di surga dan dua di neraka. Adapun yang di surga adalah seorang laki-laki yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan perkara dengannya. Sedangkan seorang laki-laki yang mengetahui hukum namun menyimpang darinya, maka ia di neraka. Dan seorang laki-laki yang memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan kebodohan, maka ia di neraka.” Ini menunjukkan bahwa orang awam termasuk dalam ancaman tersebut karena ia memutuskan perkara dalam keadaan bodoh.

فَإِنْ قِيلَ: فَإِذَا اسْتَفْتَى لَمْ يَقْضِ عَلَى جَهْلٍ وَإِنَّمَا يَقْضِي بِعِلْمٍ. فَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Jika dikatakan: Jika seseorang dimintai fatwa, maka ia tidak memutuskan berdasarkan kebodohan, melainkan ia memutuskan dengan ilmu. Maka ada dua jawaban atas hal ini:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْمُقَلِّدَ لَيْسَ يَعْلَمُ أَنَّهُ قَضَى بِعِلْمٍ.

Salah satunya adalah bahwa seorang muqallid tidak mengetahui bahwa ia memutuskan dengan ilmu.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ جَاهِلٌ بِطَرِيقِ الْعِلْمِ، وَإِنْ عَلِمَ فَلَمْ يَخْرُجْ فِي الْجَوَابَيْنِ أَنْ يَكُونَ قَاضِيًا بِجَهْلٍ.

Kedua: bahwa ia tidak mengetahui jalan ilmu, dan jika ia mengetahui pun, maka dalam kedua jawaban tersebut tidak keluar dari kemungkinan bahwa ia memutuskan perkara dengan kebodohan.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ مُفْتِيًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ قَاضِيًا كَالْفَاسِقِ.

Dan berdasarkan qiyās, seseorang yang tidak boleh menjadi mufti, maka tidak boleh pula menjadi qadi, seperti orang fasik.

ثُمَّ الْحُكْمُ أَغْلَظُ لِأَنَّ الْحَاكِمَ مُلْزِمٌ وَالْمُفْتِيَ غَيْرُ مُلْزِمٍ.

Kemudian, hukum itu lebih tegas karena hakim bersifat mengikat, sedangkan mufti tidak mengikat.

وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ، كَغَيْرِ الْمُسْتَفْتِي.

Dan karena siapa pun yang bukan termasuk ahli ijtihad, maka keputusannya tidak berlaku, seperti halnya orang yang bukan mustafti.

وَلِأَنَّهُ حُكْمٌ يَلْتَزِمُهُ غَيْرُ مُلْزِمِهِ فَلَمْ يَصِحَّ مِنْ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِينَ كَالْفَتَاوَى.

Karena ia adalah suatu hukum yang dipegang oleh orang yang tidak mewajibkannya, maka tidak sah berasal dari selain para mujtahid, seperti fatwa-fatwa.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالْعَامِّيِّ الْمُسْتَفْتِي فِي حَقِّ نَفْسِهِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan orang awam yang meminta fatwa untuk dirinya sendiri adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْعَامِّيَّ مُضْطَرٌّ وَالْحَاكِمَ غَيْرُ مُضْطَرٍّ.

Salah satunya adalah bahwa orang awam berada dalam keadaan terpaksa, sedangkan hakim tidak berada dalam keadaan terpaksa.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْعَامِّيَّ يَلْتَزِمُهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَالْحَاكِمَ يُوجِبُهُ عَلَى غَيْرِهِ.

Kedua: bahwa orang awam berpegang pada pendapat itu untuk dirinya sendiri, sedangkan hakim mewajibkannya atas orang lain.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالشَّهَادَةِ كَالْعَالِمِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan syahadat seperti seorang ‘alim adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَمَّا رُوعِيَ فِي الشَّهَادَةِ آلَتُهَا: وَهُوَ فِي التَّحَمُّلِ الْعَقْلُ وَالْبَصَرُ وَالسَّمْعُ وَفِي الْأَدَاءِ الْعَقْلُ وَاللِّسَانُ، وَجَبَ أَنْ يُرَاعَى فِي الْحُكْمِ آلَتُهُ: وَهُوَ الِاجْتِهَادُ فَصَارَتِ الشَّهَادَةُ لَنَا دَلِيلًا.

Pertama: Ketika dalam persaksian diperhatikan alatnya, yaitu pada saat menerima (persaksian) adalah akal, penglihatan, dan pendengaran, dan pada saat menyampaikan (persaksian) adalah akal dan lisan, maka wajib pula dalam hukum diperhatikan alatnya, yaitu ijtihad, sehingga persaksian menjadi dalil bagi kita.

وَالثَّانِي: فِي مَعْنَى الْأَصْلِ أَنَّ الْعَالِمَ لَمَّا جَازَ أَنْ يُفْتِيَ جَازَ أَنْ يَحْكُمَ، وَالْعَامِّيُّ لَمْ يجز أن يفتي لم يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ.

Yang kedua: Dalam makna asal, bahwa seorang ‘ālim ketika diperbolehkan untuk memberi fatwa, maka diperbolehkan pula baginya untuk memutuskan perkara; sedangkan seorang awam, ketika tidak diperbolehkan untuk memberi fatwa, maka tidak diperbolehkan pula baginya untuk memutuskan perkara.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِطَرِيقِ الشَّهَادَةِ وَالتَّقْوِيمِ، فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka melalui jalur kesaksian dan penilaian, maka ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَمْ يُنَصَّبْ لَهُ عَلَى صِدْقِ الشَّاهِدِينَ وَالْمُقَوِّمِينَ دَلِيلٌ فَجَازَ لَهُ تَقْلِيدُهُمْ وَقَدْ نُصِّبَ لَهُ عَلَى الْأَحْكَامِ دَلِيلٌ فَلَمْ يَجُزْ تَقْلِيدُهُ فِيهَا.

Salah satunya adalah: bahwa tidak ada dalil yang ditetapkan baginya mengenai kebenaran para saksi dan para penilai, sehingga ia boleh melakukan taqlid kepada mereka. Adapun dalam masalah hukum, telah ditetapkan dalil baginya, sehingga tidak boleh baginya melakukan taqlid dalam hal itu.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَلْزَمِ الْمُفْتِيَ مَعْرِفَةُ طَرِيقِ الشَّهَادَةِ وَالتَّقْوِيمِ لَمْ يَلْزَمِ الْحَاكِمَ وَلَمَّا لَزِمَ الْمُفْتِيَ مَعْرِفَةُ طَرِيقِ الْأَحْكَامِ لَزِمَ الْحَاكِمَ.

Kedua: Karena mufti tidak diwajibkan mengetahui cara kesaksian dan penilaian, maka hakim pun tidak diwajibkan demikian. Namun, ketika mufti diwajibkan mengetahui cara penetapan hukum, maka hakim pun diwajibkan demikian.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالشَّرْطُ السَّابِعُ أَنْ يَكُونَ عَامِلًا بِمَا قَدَّمْنَا مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ الْأَرْبَعَةِ.

Syarat ketujuh adalah bahwa ia harus mengamalkan apa yang telah kami sebutkan dari empat ushul syar‘i.

فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَعْدِلُ عَنْ بَعْضِهَا وَيَعْتَقِدُ إِبْطَالَ شَيْءٍ منها نظر.

Jika seseorang termasuk orang yang menyimpang dari sebagian darinya dan meyakini kebatalan salah satu bagiannya, maka hal itu perlu diteliti.

فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَقُولُ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ، لَمْ يَجُزْ تَقْلِيدُهُ، لِأَنَّ أَكْثَرَ أَحْكَامِ الشَّرْعِ مَأْخُوذَةٌ مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ.

Jika seseorang termasuk golongan yang tidak berpegang pada khabar al-wāḥid, maka tidak boleh bertaklid kepadanya, karena sebagian besar hukum syariat diambil dari khabar al-āḥād.

وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا يَقُولُ بِحُجَّةِ الْإِجْمَاعِ، وَيُجَوِّزُ مُخَالَفَةَ الْإِجْمَاعِ لَمْ يَجُزْ تَقْلِيدُهُ؛ لِأَنَّ الْإِجْمَاعَ أَصْلٌ مُتَّبَعٌ.

Demikian pula, jika seseorang termasuk golongan yang tidak mengakui hujjah ijmā‘, dan membolehkan menyelisihi ijmā‘, maka tidak boleh bertaklid kepadanya; karena ijmā‘ adalah pokok yang harus diikuti.

وَإِنْ كَانَ مِنْ نُفَاةِ الْقِيَاسِ فَهُمْ ضَرْبَانِ:

Dan jika termasuk golongan yang menolak qiyās, maka mereka terbagi menjadi dua kelompok:

أَحَدُهُمَا: مَنْ نَفَى الْقِيَاسَ وَعَمِلَ بِظَوَاهِرِ النُّصُوصِ وَعَدَلَ عَمَّا لَا نَصَّ فِيهِ إِلَى أَقَاوِيلِ سَلَفِهِمْ وَجَعَلُوهَا كَالنَّصِّ فِي الْعَمَلِ بِهَا. مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ فَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ هَؤُلَاءِ لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya adalah: mereka yang menolak qiyās dan hanya berpegang pada zhāhir nash, serta berpaling dari perkara yang tidak ada nashnya kepada pendapat-pendapat para pendahulu mereka, lalu menjadikannya seperti nash dalam pengamalannya, tanpa ada dalil. Maka tidak boleh bertaklid kepada mereka karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: لِتَقْلِيدِهِمْ فِي الْأَحْكَامِ.

Salah satunya adalah karena mengikuti mereka dalam hukum-hukum.

وَالثَّانِي: لِتَرْكِهِمْ أَصْلًا مِنْ أُصُولِ الشَّرْعِ وَهُوَ الْقِيَاسُ.

Dan yang kedua: karena mereka meninggalkan salah satu prinsip pokok syariat, yaitu qiyās.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مِنْ نُفَاةِ الْقِيَاسِ: مَنْ يَعْدِلُ عِنْدَ عَدَمِ النُّصُوصِ إِلَى فَحْوَى الْكَلَامِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ وَسَلْكِ طَرِيقِ الِاجْتِهَادِ وَيَعْدِلُ عَنْ تَعْلِيلِ النُّصُوصِ بِمَعَانِيهَا كَأَهْلِ الظَّاهِرِ، فَفِي جَوَازِ تَقْلِيدِهِمُ الْقَضَاءَ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا:

Golongan kedua dari para penolak qiyās adalah mereka yang, ketika tidak terdapat nash, beralih kepada makna tersirat dari ucapan, dalil khithāb, dan menempuh jalan ijtihad, serta berpaling dari penetapan illat nash dengan makna-maknanya seperti halnya Ahluzh Zhahir. Dalam hal kebolehan mengikuti mereka dalam urusan kehakiman, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِلْمَعْنَى الْمَذْكُورِ مِنْ تَرْكِ أَصْلٍ مَشْرُوعٍ.

Salah satunya: Tidak boleh karena alasan yang telah disebutkan, yaitu meninggalkan suatu asal yang disyariatkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ؛ لأنه يَعْتَبِرُونَ وَاضِحَ الْمَعَانِي وَإِنْ عَدَلُوا عَنْ خَفِيِّ الْقِيَاسِ.

Pendapat kedua: Boleh; karena mereka mempertimbangkan makna yang jelas meskipun meninggalkan qiyās yang samar.

(فَصْلٌ: تَقْلِيدُ الْمَفْضُولِ الْقَضَاءَ مَعَ وُجُودِ الأفضل)

Bab: Mengangkat orang yang kurang utama sebagai qādī (hakim) padahal ada yang lebih utama

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ هَذِهِ الشُّرُوطِ السَّبْعَةِ صَحَّ تَقْلِيدُ مَنْ وُجِدَتْ فِيهِ وَإِنْ كَانَ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ مَوْجُودًا؛ لِأَنَّ تَقْلِيدَ الْمَفْضُولِ مَعَ وُجُودِ الْفَاضِلِ جَائِزٌ فِي الْقَضَاءِ.

Maka apabila telah tetap apa yang kami sebutkan dari tujuh syarat ini, sah bertaklid kepada siapa saja yang terdapat padanya (syarat-syarat tersebut), meskipun ada orang lain yang lebih alim darinya; karena bertaklid kepada yang kurang utama padahal yang lebih utama ada, dibolehkan dalam perkara hukum.

وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي جَوَازِهِ فِي الْإِمَامَةِ، فَجَوَّزَهُ بَعْضُهُمْ، كَالْقَضَاءِ وَمَنَعَ مِنْهُ آخَرُونَ لِأَنَّ الْإِمَامَةَ فِي وَاحِدٍ وَالْقَضَاءَ فِي عَدَدٍ.

Mereka hanya berbeda pendapat tentang kebolehannya dalam hal imamah; sebagian dari mereka membolehkannya, seperti halnya dalam qadha’, dan sebagian lain melarangnya karena imamah berada pada satu orang, sedangkan qadha’ bisa pada beberapa orang.

وَلِأَنَّ الْإِمَامَ يَسْتَدْرِكُ خَطَأَ الْقُضَاةِ وَلَيْسَ عَلَى الْإِمَامِ من يستدرك خطأه.

Karena imam dapat mengoreksi kesalahan para qadi, sedangkan tidak ada yang dapat mengoreksi kesalahan imam.

(حكم القاضي بغير مذهبه)

(Putusan qadhi yang tidak sesuai dengan mazhabnya)

فإذا تقلد القضاة بِوُجُودِ الشُّرُوطِ السَّبْعَةِ فِيهِ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَحْكُمَ بِاجْتِهَادِ نَفْسِهِ.

Maka apabila seorang qadi telah diangkat dengan terpenuhinya tujuh syarat pada dirinya, wajib baginya untuk memutuskan perkara dengan ijtihad pribadinya.

وَإِنِ اعْتَزَى إِلَى مَذْهَبٍ مِنْ مَذَاهِبِ أَئِمَّةِ الْوَقْتِ كَمَنْ أَخَذَ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، أَوْ بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُقَلِّدَ صَاحِبَ مَذْهَبِهِ، وَعَمِلَ عَلَى اجْتِهَادِ نَفْسِهِ، وَإِنْ خَالَفَ مَذْهَبَ مَنِ اعْتَزَى عَلَيْهِ.

Dan jika seseorang menisbatkan diri kepada salah satu mazhab dari mazhab-mazhab imam pada zamannya, seperti orang yang mengikuti mazhab Syafi‘i atau mazhab Abu Hanifah, maka tidak boleh baginya untuk bertaklid kepada pemilik mazhabnya, melainkan ia harus beramal berdasarkan ijtihad dirinya sendiri, meskipun hal itu bertentangan dengan mazhab yang ia nisbatkan diri kepadanya.

فَإِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَأَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ فِي حَالَةٍ إِلَى الْعَمَلِ فِيهَا بِقَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ، أَوْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ فِيهَا إِلَى الْعَمَلِ بِقَوْلِ الشَّافِعِيِّ جَازَ.

Jika seseorang adalah pengikut Syafi‘i, lalu ijtihadnya dalam suatu keadaan membawanya untuk beramal dengan pendapat Abu Hanifah, atau ia adalah pengikut Abu Hanifah dan ijtihadnya dalam keadaan tersebut membawanya untuk beramal dengan pendapat Syafi‘i, maka hal itu diperbolehkan.

وَقَالَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَسَاعَدَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: قَدِ اسْتَقَرَّتِ الْيَوْمَ مَذَاهِبُ الْفُقَهَاءِ وَتَعَيَّنَ الْأَئِمَّةُ الْمُتَّبَعُونَ فِيهَا فَلَا يَجُوزُ لِمَنِ اعْتَزَى إِلَى مَذْهَبٍ أَنْ يَحْكُمَ بِغَيْرِهِ فَمَنَعَ أَصْحَابَ أَبِي حَنِيفَةَ أَنْ يَحْكُمُوا بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَمَنَعَ أَصْحَابَ الشَّافِعِيِّ أَنْ يَحْكُمُوا بِمَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ، لِأَجْلِ التُّهْمَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَ الْقُضَاةُ ذَلِكَ ذَرِيعَةً إِلَى الْمُمَايَلَةِ، وَأَوْجَبُوا عَلَى كُلِّ مُنْتَحِلٍ لِمَذْهَبٍ أَنْ يَحْكُمَ بِمَذْهَبِ صَاحِبِهِ.

Sebagian fuqaha berpendapat, dan pendapat ini didukung oleh sebagian ulama kami: Saat ini mazhab-mazhab fuqaha telah mapan dan para imam yang diikuti dalam mazhab-mazhab tersebut telah ditetapkan, maka tidak boleh bagi seseorang yang telah menisbatkan diri kepada suatu mazhab untuk memutuskan hukum dengan selain mazhabnya. Maka para pengikut Abu Hanifah dilarang memutuskan hukum dengan mazhab Syafi‘i, dan para pengikut Syafi‘i dilarang memutuskan hukum dengan mazhab Abu Hanifah, karena alasan tuduhan (berpihak), dan agar para qadhi tidak menjadikan hal itu sebagai sarana untuk memihak, serta mereka mewajibkan setiap orang yang menganut suatu mazhab untuk memutuskan hukum dengan mazhab imamnya.

وَهَذَا وَإِنْ كَانَ الرَّأْيُ يَقْتَضِيهِ فَأُصُولُ الشَّرْعِ تُنَافِيهِ؛ لِأَنَّ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ بِاجْتِهَادِ نَفْسِهِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يَحْكُمَ بِاجْتِهَادِ غَيْرِهِ.

Meskipun pendapat rasional menuntut hal itu, namun prinsip-prinsip syariat bertentangan dengannya; karena seorang hakim wajib memutuskan perkara dengan ijtihadnya sendiri dan tidak wajib baginya untuk memutuskan dengan ijtihad orang lain.

وَقَالَ أَصْحَابُ أَبِي حَنِيفَةَ: الْحَاكِمُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَحْكُمَ بِاجْتِهَادِ نَفْسِهِ أَوْ بِاجْتِهَادِ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ مِنْ أَهْلِ عَصْرِهِ أَوْ مِمَّنِ اعْتُزِيَ إِلَى مَذْهَبِهِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ لَمَّا تَوَسَّطَ أَمْرَ الشُّورَى وَانْتَصَبَ لِاخْتِيَارِ الْإِمَامِ مِنْهُمْ قَالَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أُبَايِعُكَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَسِيرَةِ الشَّيْخَيْنِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَقَالَ عَلِيٌّ: بَلْ عَلَى كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَأَجْتَهِدُ رَأْيِي، فَعَدَلَ إِلَى عُثْمَانَ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ نَعَمْ فَبَايَعَهُ.

Para sahabat Abu Hanifah berkata: Hakim boleh memilih antara memutuskan perkara dengan ijtihadnya sendiri atau dengan ijtihad orang yang lebih alim darinya dari kalangan ahli pada masanya, atau dari mereka yang dinisbatkan kepada mazhabnya. Hal ini didasarkan pada peristiwa ketika Abdurrahman bin Auf menjadi penengah dalam urusan syura dan bertugas memilih imam dari mereka. Ia berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Aku akan membaiatmu atas dasar Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dan jalan hidup dua syaikh, yaitu Abu Bakar dan Umar.” Maka Ali menjawab: “Tetapi (aku akan membaiat) atas dasar Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya—shalawat dan salam atasnya—dan aku berijtihad dengan pendapatku.” Lalu Abdurrahman beralih kepada Utsman dan berkata kepadanya hal yang sama, maka Utsman menjawab: “Ya,” lalu ia membaiatnya.

فَاسْتَدَلُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Mereka berdalil dengan hadis ini dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ عَلِيًّا امْتَنَعَ مِنْ تَقْلِيدِهِمَا؛ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّهُ أَعْلَمُ مِنْهُمَا وَأَجَابَ عُثْمَانُ إِلَى تَقْلِيدِهِمَا؛ لِأَنَّهُ رَأَى أَنَّهُمَا أنه أَعْلَمُ مِنْهُ.

Salah satunya adalah bahwa Ali menolak untuk mengikuti pendapat keduanya karena ia melihat dirinya lebih berilmu daripada mereka berdua, sedangkan Utsman menerima untuk mengikuti pendapat keduanya karena ia melihat bahwa mereka berdua lebih berilmu darinya.

وَالثَّانِي: أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ لَمَّا رَأَى أَنَّهُمَا أَعْلَمُ مِنْ غَيْرِهِمَا دَعَا إِلَى تَقْلِيدِهِمَا.

Kedua: Sesungguhnya Abdurrahman, ketika melihat bahwa keduanya lebih berilmu dibandingkan yang lain, ia mengajak untuk melakukan taqlid kepada mereka berdua.

وَالدَّلِيلُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يُقَلِّدَ غَيْرَهُ وَإِنْ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُ هُوَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِمُعَاذٍ: ” بِمَ تَحْكُمُ؟ ” قَالَ: بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ: ” فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ ” قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ قَالَ: ” فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ ” قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” الحمد لله الذي وفق رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ “.

Dalil bahwa tidak boleh bagi seorang hakim untuk bertaklid kepada orang lain, meskipun orang itu lebih alim darinya, adalah bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Mu‘adz: “Dengan apa kamu memutuskan hukum?” Ia menjawab: “Dengan Kitab Allah.” Beliau bertanya: “Jika kamu tidak menemukannya?” Ia menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah.” Beliau bertanya: “Jika kamu tidak menemukannya?” Ia menjawab: “Aku berijtihad dengan pendapatku dan tidak akan mengabaikan.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah untuk melakukan sesuatu yang diridhai Rasulullah.”

فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ بَعْدَ اجْتِهَادِ رَأْيِهِ أَنْ يُقَلِّدَ أَحَدًا.

Maka hal ini menunjukkan bahwa setelah melakukan ijtihad dan berusaha dengan pikirannya sendiri, ia tidak boleh bertaklid kepada siapa pun.

وَلِأَنَّ كُلَّ مَنْ جَازَ لَهُ الْحُكْمُ بِاجْتِهَادِهِ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْحُكْمُ بِاجْتِهَادِ غَيْرِهِ، قِيَاسًا عَلَى مَا إِذَا كَانَ الْحَاكِمُ أَعْلَمَ وَلِأَنَّ كُلَّ مُشْتَرِكَيْنِ فِي آلَةِ الِاجْتِهَادِ فَلَيْسَ لِأَحَدِهِمَا تَقْلِيدُ صَاحِبِهِ وَإِنْ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُ قِيَاسًا عَلَى الِاجْتِهَادِ فِي الْقِبْلَةِ وَلِأَنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ لَمْ يَجُزْ لَهُ تَقْلِيدُ مِثْلِهِ لَمْ يَجُزْ لْهُ تَقْلِيدُ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ كَالْمُفْتِي.

Dan karena setiap orang yang boleh menetapkan hukum dengan ijtihadnya sendiri, tidak boleh baginya menetapkan hukum berdasarkan ijtihad orang lain, dengan qiyās pada keadaan ketika hakim lebih berilmu. Dan karena setiap dua orang yang sama-sama memiliki kemampuan ijtihad, maka tidak boleh salah satu dari keduanya bertaklid kepada yang lain, meskipun yang lain lebih berilmu darinya, dengan qiyās pada ijtihad dalam menentukan arah kiblat. Dan karena setiap mujtahid yang tidak boleh bertaklid kepada sesamanya, maka tidak boleh pula ia bertaklid kepada orang yang lebih berilmu darinya, seperti mufti.

وَلِأَنَّ مَا حَرُمَ مِنَ التَّقْلِيدِ عَلَى الْمُفْتِي حَرُمَ عَلَى الْحَاكِمِ، كَالتَّقْلِيدِ مع النص.

Dan karena apa yang diharamkan dari taqlid atas mufti juga diharamkan atas hakim, seperti taqlid padahal ada nash.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: فَهُوَ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى السِّيرَةِ وَالسِّيَاسَةِ دُونَ الْأَحْكَامِ والله أعلم.

Adapun jawaban terhadap hadis Abdurrahman: hadis itu dimaknai berkaitan dengan sirah dan siyasah, bukan pada hukum-hukum. Allah lebih mengetahui.

(إبطال الاستحسان)

(Pembatalan istihsān)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْتَحْسِنَ بِغَيْرِ قِيَاسٍ وَلَوْ جَازَ ذَلِكَ لَجَازَ أَنْ يُشَرِّعَ فِي الدِّينِ “.

Syafi‘i berkata: “Dan tidak boleh baginya melakukan istihsan tanpa qiyās, dan seandainya hal itu dibolehkan, niscaya boleh pula membuat syariat dalam agama.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الِاسْتِحْسَانُ فِيمَا أَوْجَبَتْهُ أَدِلَّةُ الْأُصُولِ وَاقْتَرَنَ بِهِ اسْتِحْسَانُ الْعُقُولِ فَهُوَ حُجَّةٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا يَلْزَمُ الْعَمَلُ بِهَا.

Al-Mawardi berkata: Adapun istihsān yang didasarkan pada dalil-dalil ushul dan disertai dengan penilaian baik oleh akal, maka itu adalah hujjah yang disepakati dan wajib diamalkan.

فَأَمَّا اسْتِحْسَانُ الْعُقُولِ إِذَا لَمْ يُوَافِقْ أَدِلَّةَ الْأُصُولِ فَلَيْسَ بِحُجَّةٍ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ.

Adapun pertimbangan akal jika tidak sesuai dengan dalil-dalil pokok, maka itu bukanlah hujjah dalam hukum-hukum syariat.

وَالْعَمَلُ بِدَلَائِلِ الْأُصُولِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْجَبُ وَهِيَ أَحْسَنُ فِي الْعُقُولِ مِنْ الِانْفِرَادِ عَنْهَا.

Berpegang pada dalil-dalil pokok syariat itu lebih wajib dan lebih baik menurut akal daripada menyendiri darinya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: الِاسْتِحْسَانُ فِي الشَّرْعِ حُجَّةٌ تُوجِبُ الْأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ.

Abu Hanifah berkata: Istihsan dalam syariat adalah hujjah yang mewajibkan hukum-hukum syar‘i.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِي بَيَانِ مَذْهَبِهِ فِيهِ:

Para pengikutnya berbeda pendapat dalam menjelaskan mazhabnya dalam hal ini:

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ الْعَمَلُ بِأَقْوَى الْقِيَاسَيْنِ.

Sebagian dari mereka berkata: Itu adalah beramal dengan qiyās yang paling kuat di antara dua qiyās.

وَهَذَا مِمَّا نُوَافِقُهُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ الْأَحْسَنُ.

Dan ini adalah sesuatu yang kami sepakati dengannya, karena itulah yang terbaik.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ الْقَوْلُ بِتَخْصِيصِ الْعِلَّةِ كَمَا خَصَّ خُرُوجَ الْجِصِّ وَالنَّوَرَةِ من علة الربا وَإِنْ كَانَ مَكِيلًا.

Dan sebagian ulama berkata: Qiyās adalah pendapat yang menetapkan pengecualian (‘illat) sebagaimana pengecualian gips dan kapur dari ‘illat riba, meskipun keduanya termasuk barang yang ditakar.

وَهَذَا أَصْلٌ نُخَالِفُهُ فِيهِ؛ وَلِلْكَلَامِ عَلَيْهِ مَوْضِعٌ غَيْرُ هَذَا.

Ini adalah prinsip yang kami berbeda pendapat dengannya; dan pembahasan tentangnya akan dibahas pada tempat yang lain.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَنْ يَتْرُكَ أَقْوَى الْقِيَاسَيْنِ بِأَضْعَفِهِمَا إِذَا كَانَ حسنا، كالشهادة على الزنا في الزوايا.

Sebagian ulama berkata: Hendaknya meninggalkan qiyās yang lebih kuat demi qiyās yang lebih lemah jika qiyās yang lemah itu memiliki kebaikan, seperti kesaksian atas perzinaan yang dilakukan di sudut-sudut (tempat tersembunyi).

وَهَذَا نُخَالِفُهُ فِيهِ؛ لِأَنَّ أَقْوَى الْقِيَاسَيْنِ عِنْدَنَا أَحْسَنُ مِنْ أَضْعَفِهِمَا.

Dan dalam hal ini kami berbeda pendapat dengannya; karena menurut kami, qiyās yang paling kuat lebih baik daripada yang paling lemah di antara keduanya.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ مَا غَلَبَ فِي الظَّنِّ وَحَسُنَ فِي الْعَقْلِ مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ وَلَا أَصْلٍ وَإِنْ دَفَعَهُ مِنْ دَلَائِلِ الشَّرْعِ أَصْلٌ.

Sebagian dari mereka berkata: Ia adalah sesuatu yang lebih dominan dalam dugaan dan baik menurut akal tanpa adanya dalil maupun asal, meskipun ada asal dari dalil-dalil syariat yang menolaknya.

هَذَا هُوَ أَفْسَدُ الْأَقَاوِيلِ كلها.

Ini adalah pendapat yang paling rusak dari semuanya.

(أدلة القائلين بالاستحسان)

(Dalil-dalil para ulama yang berpendapat tentang istihsān)

وَاسْتَدَلُّوا عَلَى الْعَمَلِ بِالِاسْتِحْسَانِ فِي الْجُمْلَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ} [الزمر: 18] .

Mereka berdalil atas bolehnya beramal dengan istihsān secara umum dengan firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya.” (Az-Zumar: 18).

وَبِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ “.

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka itu di sisi Allah adalah baik.”

قَالُوا وَلِأَنَّ الْمُسْلِمِينَ قَدْ أَجْمَعُوا عَلَى أَحْكَامٍ عَدَلُوا عَنِ الْأُصُولِ فِيهَا إِلَى الِاسْتِحْسَانِ، مِنْهَا دُخُولُ الْوَاحِدِ إِلَى الْحَمَّامِ، يَسْتَعْمِلُ مَاءً غَيْرَ مُقَدَّرٍ، وَيَقْعُدُ فِيهِ زَمَانًا غَيْرَ مُقَدَّرٍ، وَيُعْطِي عَنْهُ عِوَضًا غَيْرَ مُقَدَّرٍ، وَيَشْرَبُ مِنَ السَّاقِي مَاءً غَيْرَ مُقَدَّرٍ وَيُعْطِي عَنْهُ عِوَضًا غَيْرَ مُقَدَّرٍ، وَيَشْتَرِي الْمَأْكُولَ بِالْمُسَاوَمَةِ مِنْ غَيْرِ عَقْدٍ يَتَلَفَّظُ فِيهِ بِبَدَلٍ وَقَبُولٍ، وَهَذَا مُخَالِفٌ لِلْأُصُولِ، وَقَدْ عَمِلَ الْمُسْلِمُونَ بِهِ اسْتِحْسَانًا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الِاسْتِحْسَانَ حُجَّةٌ وَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِحُجَّةٍ.

Mereka berkata: “Karena kaum Muslimin telah berijmā‘ atas sejumlah hukum yang mereka berpaling dari prinsip dasarnya menuju istihsān. Di antaranya adalah seseorang masuk ke pemandian umum, menggunakan air yang tidak ditentukan ukurannya, duduk di dalamnya dalam waktu yang tidak ditentukan, dan memberikan imbalan yang tidak ditentukan pula. Juga, seseorang meminum air dari pelayan dengan jumlah yang tidak ditentukan dan memberikan imbalan yang tidak ditentukan, serta membeli makanan dengan tawar-menawar tanpa akad yang diucapkan dengan ijab dan kabul. Semua ini bertentangan dengan prinsip dasar, namun kaum Muslimin telah mengamalkannya berdasarkan istihsān. Maka hal ini menunjukkan bahwa istihsān adalah hujjah meskipun tidak disertai dengan dalil lain.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ الِاحْتِجَاجِ بِمُجَرَّدِ الِاسْتِحْسَانِ قَوْلُ الله تعالى: {فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا} [النساء: 59] فَجَعَلَ الْأَحْسَنَ فِي التَّنَازُعِ مَا كَانَ مَأْخُوذًا عَنْ أَوَامِرِ الله ورسوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَكَفَى بِالتَّنَازُعِ قُبْحًا أَنْ يَكُونَ مَأْخُوذًا مِنْ غَيْرِهِمَا.

Dan dalil atas rusaknya berhujah hanya dengan istihsān adalah firman Allah Ta‘ala: “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (an-Nisā’: 59). Maka Allah menjadikan yang terbaik dalam perselisihan adalah apa yang diambil dari perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan cukuplah sebagai keburukan dalam perselisihan jika diambil dari selain keduanya.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ} [النساء: 83] فَنَفَى الْعِلْمَ عَنْ غَيْرِ الْمُسْتَنْبِطِ. وَالِاسْتِنْبَاطُ هُوَ الْبِنَاءُ عَلَى مَعَانِي الْأُصُولِ دُونَ الظَّنِّ والاستحسان.

Allah Ta‘ala berfirman: “Tentulah orang-orang yang dapat mengambil kesimpulan darinya yang akan mengetahuinya.” (an-Nisā’: 83). Maka Allah menafikan ilmu dari selain orang yang melakukan istinbāṭ. Istinbāṭ adalah membangun (hukum) berdasarkan makna-makna ushul, bukan berdasarkan dugaan atau istihsān.

ولأن في الظن والاستحسان اتباع لِهَوًى، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ} [ص: 26] .

Karena dalam prasangka dan istihsan terdapat mengikuti hawa nafsu, padahal Allah Ta‘ala telah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Shad: 26).

وَلِأَنَّهُ لَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ مُجْمَعًا عَلَيْهِ أَوْ مُخْتَلَفًا فِيهِ.

Dan karena suatu hukum itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah hukum tersebut telah disepakati (ijmā‘) atau diperselisihkan.

فَإِنْ كَانَ مُجْمَعًا عَلَيْهِ، وَجَبَ اتِّبَاعُ الْإِجْمَاعِ فِيهِ.

Jika perkara tersebut telah disepakati (ijmā‘), maka wajib mengikuti ijmā‘ dalam hal itu.

وَإِنْ كَانَ مُخْتَلَفًا فِيهِ فَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ} [الشورى: 10] وَلَمْ يَقُلْ إِلَى الِاسْتِحْسَانِ وَلِأَنَّ الِاسْتِحْسَانَ بِالدَّلِيلِ يُوجِبُ الِاتِّفَاقَ عَلَيْهِ.

Dan jika sesuatu itu diperselisihkan, maka Allah Ta‘ala berfirman: “Apa pun yang kalian perselisihkan di dalamnya, maka putusannya kembali kepada Allah” (asy-Syura: 10), dan tidak dikatakan kembali kepada istihsān. Selain itu, karena istihsān yang berdasarkan dalil mewajibkan adanya kesepakatan atasnya.

وَالِاسْتِحْسَانُ بِغَيْرِ دَلِيلٍ يُوقِعُ الِاخْتِلَافَ فِيهِ لِاخْتِلَافِ الْآرَاءِ وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اختلافا كبيرا} [النساء: 82] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الِاسْتِحْسَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لِوُقُوعِ الِاخْتِلَافِ فِيهِ.

Istihsan tanpa dalil akan menimbulkan perbedaan pendapat di dalamnya karena perbedaan pandangan, sedangkan Allah Ta‘ala berfirman: “Sekiranya (Al-Qur’an) itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (an-Nisa’: 82). Maka ini menunjukkan bahwa istihsan berasal dari selain Allah karena terjadinya perbedaan di dalamnya.

وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ الِاسْتِحْسَانُ بِالْعَقْلِ مُغْنِيًا فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ عَنْ أُصُولِ الشَّرْعِ لَاسْتَغْنَى بِعَقْلِهِ عَنِ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَلَجَازَ لَهُ أَنْ يُشَرِّعَ فِي الدِّينِ بِعَقْلِهِ مِنْ غَيْرِ شَرْعٍ، وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {أَيَحْسَبُ الإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى} [القيامة: 76] يَعْنِي: غَيْرَ مَأْمُورٍ وَلَا مَنْهِيٍّ.

Dan karena jika istihsān dengan akal saja sudah cukup dalam menetapkan hukum-hukum syariat tanpa memerlukan dasar-dasar syariat, niscaya seseorang akan merasa cukup dengan akalnya dari perintah dan larangan, dan boleh baginya membuat syariat dalam agama hanya dengan akalnya tanpa wahyu. Padahal Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja?” (QS. Al-Qiyāmah: 76), maksudnya: tanpa perintah dan tanpa larangan.

وَلِأَنَّ الْقِيَاسَ أَقْوَى مِنَ الِاسْتِحْسَانِ لِجَوَازِ تَخْصِيصِ الْعُمُومِ بِالْقِيَاسِ دُونَ الِاسْتِحْسَانِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُقَدَّمَ عَلَيْهِ الِاسْتِحْسَانُ.

Karena qiyās lebih kuat daripada istihsān, sebab boleh mentakhsiskan keumuman dengan qiyās namun tidak dengan istihsān, maka tidak boleh mendahulukan istihsān atas qiyās.

وَلِأَنَّهُ لَوْ كَانَ الِاسْتِحْسَانُ دَلِيلًا لَجَازَ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي تَرْكِ الِاسْتِحْسَانِ دَلِيلًا فَيَؤُولُ إِثْبَاتُهُ إلى إبطاله.

Dan karena jika istihsān dianggap sebagai dalil, maka boleh saja seseorang menjadikannya sebagai dalil untuk meninggalkan istihsān itu sendiri, sehingga penetapannya akan berujung pada pembatalannya.

(الجواب على أدلة القائلين به)

(Jawaban terhadap dalil-dalil para pendukungnya)

فأما الجواب عن استدلالهم بقوله تعالى: {الذي يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ} [الزمر: 18] فَمِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Adapun jawaban atas dalil mereka dengan firman Allah Ta‘ala: “yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya” (az-Zumar: 18), maka ada tiga sisi jawabannya:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ أَمَرَهُ بِاتِّبَاعِ الْأَحْسَنِ دُونَ الْمُسْتَحْسَنِ وَالْأَحْسَنُ مَا كَانَ فِي نَفْسِهِ حَسَنًا وَالْمُسْتَحْسَنُ مَا اسْتَحْسَنَهُ الْغَيْرُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَنًا فَافْتَرَقَا، وَلَزِمَ اتِّبَاعُ الْأَحْسَنِ دُونَ الْمُسْتَحْسَنِ.

Salah satunya adalah bahwa ia memerintahkannya untuk mengikuti yang terbaik (al-ahsan) dan bukan yang dianggap baik (al-mustahsan). Yang terbaik (al-ahsan) adalah sesuatu yang pada dirinya sendiri memang baik, sedangkan yang dianggap baik (al-mustahsan) adalah sesuatu yang dinilai baik oleh orang lain meskipun sebenarnya tidak baik. Maka keduanya pun berbeda, dan wajib mengikuti yang terbaik (al-ahsan) dan bukan yang dianggap baik (al-mustahsan).

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: أَنَّهُ وَارِدٌ فِيمَا جَاءَ بِهِ الْكِتَابُ مِنْ ثَوَابِ الطَّاعَاتِ وَعِقَابِ الْمَعَاصِي فَيَتَّبِعُونَ الْأَحْسَنَ مِنْ فِعْلِ الطَّاعَةِ وَاجْتِنَابِ الْمَعْصِيَةِ.

Jawaban kedua: bahwa hal itu berkaitan dengan apa yang disebutkan dalam al-Kitab mengenai pahala atas ketaatan dan hukuman atas kemaksiatan, sehingga mereka mengikuti yang terbaik dari perbuatan taat dan menjauhi maksiat.

وَالْجَوَابُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى مَا جُعِلَ لَهُ مِنِ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ، وَنُدِبَ إِلَيْهِ مِنَ الْعَفْوِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنْثَى بِالأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ} [البقرة: 178] فَجُعِلَ لَهُ الْقِصَاصُ وَنُدِبَ فِيهِ إِلَى الْعَفْوِ فَكَانَ الْعَفْوُ أَحْسَنَ مِنَ الْقِصَاصِ.

Jawaban ketiga: Bahwa hal itu dimaknai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, yaitu untuk menunaikan hak, dan dianjurkan untuk memaafkan, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Diwajibkan atas kalian qishāsh berkenaan dengan orang-orang yang terbunuh: orang merdeka dengan orang merdeka, budak dengan budak, perempuan dengan perempuan. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 178). Maka, qishāsh ditetapkan baginya, dan dianjurkan di dalamnya untuk memaafkan, sehingga memaafkan itu lebih baik daripada qishāsh.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: ” مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ حَسَنٌ عِنْدَ اللَّهِ ” فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban atas ucapannya: “Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka itu baik di sisi Allah,” adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ فَلَمْ يَكُنْ فِيهِ حُجَّةٌ.

Salah satunya: bahwa riwayat tersebut mauquf pada Ibnu Mas‘ud sehingga tidak dapat dijadikan hujah.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَخْلُو مُرَادُهُ مِنْ أَحَدِ أَمْرَيْنِ:

Kedua: Sesungguhnya maksudnya tidak lepas dari salah satu dari dua hal:

إِمَّا أَنْ يُرِيدَ مَا رَآهُ جَمِيعُ الْمُسْلِمِينَ حَسَنًا فَهُوَ الْإِجْمَاعُ وَنَحْنُ نَقُولُ بِهِ.

Bisa jadi yang dimaksud adalah apa yang dipandang baik oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu ijmā‘, dan kami pun berpegang pada hal itu.

أَوْ يُرِيدُ مَا رَآهُ بَعْضُهُمْ حَسَنًا فَلَيْسَ بَعْضُهُمُ الَّذِي اسْتَحْسَنَهُ بِأَوْلَى مِنَ الْبَعْضِ الَّذِي اسْتَقْبَحَهُ وَهَذَا يَتَعَارَضُ فَصَارَ مَحْمُولًا عَلَى الْإِجْمَاعِ دُونَ الِاخْتِلَافِ.

Atau yang dimaksud adalah apa yang sebagian mereka pandang baik, maka sebagian mereka yang menganggapnya baik tidak lebih utama daripada sebagian lain yang menganggapnya buruk. Hal ini saling bertentangan, sehingga harus dibawa kepada ijmā‘, bukan pada perbedaan pendapat.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الْإِجْمَاعَ مُنْعَقِدٌ عَلَى اسْتِحْسَانِ مَا خَالَفَ الْأُصُولَ فِيمَا ذَكَرُوهُ مِنَ الْأَمْثِلَةِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa ijmā‘ telah terjadi atas istihsān terhadap sesuatu yang menyelisihi ushul dalam contoh-contoh yang mereka sebutkan, maka jawabannya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْإِجْمَاعَ عَلَى هَذَا انْعَقَدَ فَصِرْنَا إِلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ لَا بِالِاسْتِحْسَانِ.

Salah satunya adalah bahwa ijmā‘ telah terjadi atas hal ini, sehingga kita berpegang padanya karena ijmā‘, bukan karena istihsān.

وَالثَّانِي: أَنَّ مَا تَرَاضَى بِهِ النَّاسُ فِي مُعَامَلَاتِهِمْ وَتَسَامَحُوا بِهِ فِي عُرْفِهِمْ لَمْ يُعَارِضُوا فِيهِ مَا لَمْ يُفْضِ إِلَى الرِّبَا وَاسْتِبَاحَةِ الْفُرُوجِ، وَلَوْ تَحَاكَمُوا إِلَيْنَا فِيهِ لَحَمَلْنَاهُ عَلَى مُوجَبِ الْأُصُولِ.

Kedua: Bahwa apa yang disepakati oleh manusia dalam muamalah mereka dan yang mereka toleransi dalam ‘urf mereka, selama tidak bertentangan dan tidak mengarah kepada riba atau membolehkan perzinaan, maka jika mereka meminta keputusan hukum kepada kita dalam hal itu, kita akan menetapkannya sesuai dengan ketentuan ushul.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ أَنْكَرَ الشَّافِعِيُّ الِاسْتِحْسَانَ، وَقَالَ بِهِ فِي مَسَائِلَ:

Jika dikatakan: Sesungguhnya asy-Syafi‘i telah mengingkari istihsān, namun beliau juga berpendapat dengannya dalam beberapa permasalahan.

مِنْهَا: أَنَّهُ قَالَ فِي الْمُتْعَةِ ” وَاسْتَحْسَنَ بِقَدْرِ ثَلَاثِينَ دِرْهَمًا ” وَقَالَ فِي الشُّفْعَةِ: ” إِنَّهُ يُؤَجَّلُ ثَلَاثًا وَذَلِكَ اسْتِحْسَانٌ مِنِّي وَلَيْسَ بِأَصْلٍ “، وَقَالَ فِي أَيْمَانِ الْحُكَّامِ: ” وَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ الْحُكَّامِ يَحْلِفُ بِالْمُصْحَفِ، وَذَلِكَ عِنْدِي حَسَنٌ ” وَقَالَ فِي الْأَذَانِ: ” حَسَنٌ أَنْ يَضَعَ إِصْبَعَيْهِ فِي صِمَاخَيْ أُذُنَيْهِ “.

Di antaranya: Ia berkata dalam masalah mut‘ah, “Dan aku menganggap baik (istihsān) sebesar tiga puluh dirham.” Ia juga berkata dalam masalah syuf‘ah, “Sesungguhnya diberi tenggang waktu tiga hari, dan itu adalah istihsān dariku, bukan berdasarkan asal (dalil pokok).” Ia berkata dalam sumpah para hakim, “Aku melihat sebagian hakim bersumpah dengan mushaf, dan menurutku itu baik.” Ia juga berkata dalam adzan, “Baik jika meletakkan kedua jari di lubang telinga.”

قِيلَ: لَمْ يَقُلِ الشَّافِعِيُّ ذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الِاسْتِحْسَانِ، وَإِنَّمَا قَالَهُ لِدَلِيلٍ اقْتَرَنَ بِهِ:

Dikatakan: Imam Syafi‘i tidak mengatakan hal itu semata-mata berdasarkan istihsān, melainkan ia mengatakannya karena adanya dalil yang menyertainya.

أَمَّا اسْتِحْسَانُهُ الْمُتْعَةَ بِقَدْرِ ثَلَاثِينَ دِرْهَمًا فَلِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَهُ، وَمَذْهَبُهُ فِي الْقَدِيمِ: أَنَّ الصَّحَابِيَّ إِذَا انْفَرَدَ بِقَوْلٍ لَمْ يَظْهَرْ خِلَافُهُ فَهُوَ حُجَّةٌ.

Adapun istihsan terhadap pemberian mut‘ah sebesar tiga puluh dirham adalah karena Ibnu Umar yang mengatakannya, dan mazhab beliau (Imam Syafi‘i) dalam pendapat lama: bahwa apabila seorang sahabat mengemukakan suatu pendapat secara sendiri dan tidak tampak ada yang menyelisihinya, maka pendapat itu menjadi hujjah.

وَأَمَّا اسْتِحْسَانُهُ الشُّفْعَةَ أَنْ يُؤَجَّلَ ثَلَاثًا فَلِأَنَّ النَّاسَ قَدْ أَجْمَعُوا عَلَى تَأْجِيلِهِ فِي قَرِيبِ الزَّمَانِ فِي مَبِيتِهِ بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِ وَإِمْهَالِهِ لِزَمَانِ أَكْلِهِ وَشُرْبِهِ وَلِبَاسِهِ فَجَعَلَ الْقَرِيبَ مُقَدَّرًا بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ} [هود: 65] فَجَعَلَهَا حَدًّا لِلْقُرْبِ.

Adapun istihsan terhadap syuf‘ah agar ditangguhkan selama tiga hari, hal itu karena manusia telah berijma‘ untuk menangguhkannya dalam waktu dekat, seperti bermalam di sisa malamnya, memberi waktu untuk makan, minum, dan berpakaian. Maka waktu dekat itu ditetapkan selama tiga hari, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari” (Hud: 65), sehingga tiga hari itu dijadikan batas bagi waktu dekat.

وَأَمَّا اسْتِحْسَانُهُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْلِفَ بِالْمُصْحَفِ فَلِأَنَّ الْأَيْمَانَ قَدْ تُغَلَّظُ فِي كَثِيرِ الْأَمْوَالِ فَجَازَ أَنْ تُغَلَّظَ بِالْمُصْحَفِ الْمُوجِبِ لِلْكَفَّارَةِ لِمَا فِيهِ مِنْ فَضْلِ الْخَوْفِ وَالتَّحَرُّجِ.

Adapun istihsan seorang hakim untuk menyuruh bersumpah dengan mushaf, hal itu karena sumpah dapat diperberat dalam perkara harta yang banyak, maka diperbolehkan memperberatnya dengan mushaf yang mewajibkan kafarat, karena di dalamnya terdapat keutamaan rasa takut dan kehati-hatian.

وَأَمَّا اسْتِحْسَانُهُ أَنْ يَضَعَ أُصْبَعَيْهِ فِي صِمَاخَيْ أُذُنَيْهِ فَلِأَنَّ بِلَالًا كَانَ يَفْعَلُهُ بِمَشْهَدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، وَلِأَنَّهُ أَمَدُّ لِصَوْتِهِ.

Adapun disunnahkan meletakkan kedua jari telunjuk di lubang telinga karena Bilal melakukannya di hadapan Rasulullah ﷺ, dan karena hal itu dapat memperpanjang suaranya.

فَلَمْ يَخْلُ مَا اسْتَحْسَنَهُ مِنْ دَلِيلٍ اقْتَرَنَ بِهِ.

Maka, tidaklah sesuatu yang dianggap istihsan itu lepas dari adanya dalil yang menyertainya.

وَالِاسْتِحْسَانُ بِالدَّلِيلِ مَعْمُولٌ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا نُنْكِرُ الْعَمَلَ بِالِاسْتِحْسَانِ إِذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ دَلِيلٌ.

Istihsān yang disertai dalil dapat diamalkan, dan kami hanya mengingkari pengamalan istihsān apabila tidak disertai dalil.

(تَقْسِيمُ الشَّافِعِيِّ لِلْقِيَاسِ)

(Pembagian Qiyās menurut Imam Syafi‘i)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَالْقِيَاسُ قِيَاسَانِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَكُونَ فِي مَعْنَى الْأَصْلِ فَذَلِكَ الَّذِي لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ خِلَافُهُ وَالْآخَرُ أَنْ يُشْبِهَ الشَّيْءُ الشَّيْءَ مِنْ أَصْلٍ وَيُشْبِهَ الشَّيْءَ مِنْ أَصْلٍ غْيرِهِ فَيُشْبِهُهُ هَذَا بِهَذَا الْأَصْلِ وَيُشْبِهُهُ الْآخَرُ بِأَصْلِ غَيْرِهِ وَمَوْضِعُ الصَّوَابِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا أَنْ يَنْظُرَ فَإِنْ أَشْبَهَهُ أَحَدُهُمَا فِي خَصْلَتَيْنِ وَالْآخَرُ فِي خَصْلَةٍ أَلْحَقَهُ بِالَذِي أَشْبَهَهُ فِي الْخَصْلَتَيْنِ “.

Syafi‘i berkata: “Qiyās itu ada dua macam. Salah satunya adalah yang berada dalam makna asal, maka itulah yang tidak halal bagi siapa pun untuk menyelisihinya. Yang lainnya adalah ketika suatu hal menyerupai hal lain dari satu asal, dan juga menyerupai hal lain dari asal yang berbeda; maka yang satu diserupakan dengan asal ini, dan yang lain diserupakan dengan asal yang lain. Tempat yang benar dalam hal ini menurut kami adalah hendaknya diperhatikan: jika salah satunya lebih menyerupai dalam dua sifat, sedangkan yang lain hanya dalam satu sifat, maka disamakan dengan yang lebih menyerupai dalam dua sifat tersebut.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ قَدَّمْنَا مِنْ أَقْسَامِ الْقِيَاسِ مَا أَقْنَعَ وَأَوْضَحْنَا مِنْ أَمْثِلَتِهِ مَا كَفَى.

Al-Mawardi berkata: Kami telah mengemukakan pembagian-pembagian qiyās yang memadai, dan telah kami jelaskan contoh-contohnya yang sudah cukup.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ هَاهُنَا ” وَالْقِيَاسُ قِيَاسَانِ ” فَفِي تَأْوِيلِهِ وَجْهَانِ:

Adapun perkataan asy-Syafi‘i di sini, “qiyās itu ada dua macam”, maka dalam penafsirannya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ كَلَامِهِ، أَنَّهُ أَرَادَ بِالْأَوَّلِ قِيَاسَ الْمَعْنَى وَبِالثَّانِي قِيَاسَ الشَّبَهِ.

Salah satunya, yang merupakan pendapat yang tampak dari ucapannya, adalah bahwa yang dimaksud dengan qiyās al-ma‘nā adalah yang pertama, dan qiyās asy-syabah adalah yang kedua.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ جَعَلَ الْأَوَّلَ لَا يَجُوزُ خِلَافُهُ، وَقِيَاسُ الْمَعْنَى يَجُوزُ خِلَافُهُ إِذَا كَانَ خَفِيًّا، وَلَا يَجُوزُ خِلَافُهُ إِذَا كَانَ جَلِيًّا، فَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Jika dikatakan: Sesungguhnya yang pertama tidak boleh diselisihi, sedangkan qiyās al-ma‘nā boleh diselisihi jika maknanya samar, dan tidak boleh diselisihi jika maknanya jelas, maka ada dua jawaban atas hal ini:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ أَرَادَ الْجَلِيَّ دُونَ الْخَفِيِّ.

Salah satunya adalah bahwa yang dimaksudkannya adalah yang jelas, bukan yang samar.

وَالْجَوَابُ الثَّانِي: أَنَّهُ أَرَادَهُمَا مَعًا فَالْجَلِيُّ لَا يَجُوزُ خِلَافُ حُكْمِهِ وَالْخَفِيُّ لَا يَجُوزُ تَرْكُ قِيَاسِهِ.

Jawaban kedua: bahwa yang dimaksud adalah keduanya sekaligus; maka yang jelas tidak boleh diselisihi hukumnya, dan yang samar tidak boleh ditinggalkan qiyās-nya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: فِي تَأْوِيلِ كَلَامِهِ أَنَّهُ أَرَادَ بِالْقِيَاسِ الْأَوَّلِ مَا لَا يَجُوزُ خِلَافُهُ وَهُوَ الْقِيَاسُ الْجَلِيُّ مِنْ قِيَاسَيِ الْمَعْنَى وَقِيَاسِ التَّحْقِيقِ مِنْ قِيَاسي الشَّبَهِ، لِأَنَّ خِلَافَهُمَا لَا يَجُوزُ، وَأَرَادَ بِالْقِيَاسِ الثَّانِي: مَا يَجُوزُ فِيهِ الِاخْتِلَافُ، وَهُوَ الْقِيَاسُ الْخَفِيُّ مِنْ قِيَاسي الْمَعْنَى وَقِيَاسُ التَّقْرِيبِ مِنْ قِيَاسي الشَّيْءِ، فَيَكُونُ تَأْوِيلُهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ مَحْمُولًا عَلَى مَعْنَى لَفْظِهِ وَتَأْوِيلُهُ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي مَحْمُولًا عَلَى معنى حكمه.

Penjelasan kedua: Dalam menafsirkan ucapannya, bahwa yang dimaksud dengan qiyās pertama adalah qiyās yang tidak boleh diperselisihkan, yaitu qiyās yang jelas dari dua jenis qiyās makna dan qiyās tahqīq dari dua jenis qiyās syabah, karena keduanya tidak boleh diperselisihkan. Sedangkan yang dimaksud dengan qiyās kedua adalah qiyās yang boleh diperselisihkan, yaitu qiyās yang samar dari dua jenis qiyās makna dan qiyās taqrīb dari dua jenis qiyās sesuatu. Maka penafsirannya pada makna pertama didasarkan pada makna lafazhnya, dan penafsirannya pada makna kedua didasarkan pada makna hukumnya.

( [حُكْمُ الِاجْتِهَادِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَتَخْطِئَتُهُ لِلْمُجْتَهِدِينَ] )

(Hukum ijtihad menurut Imam Syafi‘i dan penilaiannya terhadap kekeliruan para mujtahid)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ {فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا} [الأنبياء: 79] قَالَ الْحَسَنُ لَوْلَا هَذِهِ الْآيَةُ لَرَأَيْتُ أَنَّ الْحُكَّامَ قَدْ هَلَكُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ حَمِدَ هَذَا لِصَوَابِهِ وَأَثْنَى عَلَى هَذَا بِاجْتِهَادِهِ “.

Asy-Syafi‘i berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang Dawud dan Sulaiman: ‘Maka Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing Kami berikan hukum dan ilmu.’ (QS. Al-Anbiya: 79). Al-Hasan berkata: ‘Seandainya bukan karena ayat ini, niscaya aku akan mengira bahwa para hakim telah binasa. Namun Allah memuji yang satu karena kebenarannya dan menyanjung yang lain karena ijtihadnya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ ذَكَرْنَا مِنْ أَحْكَامِ الِاجْتِهَادِ مَا أَغْنَى، وَمُرَادُ الشَّافِعِيِّ بِمَا أَشَارَ إِلَيْهِ مِنْ هَذَا مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ بَيَانِ مَذْهَبِهِ فِي الِاجْتِهَادِ فِي ثَلَاثَةِ أَحْكَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan hukum-hukum ijtihad yang sudah mencukupi, dan maksud asy-Syafi‘i dengan apa yang beliau isyaratkan dari hal ini adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya tentang penjelasan mazhab beliau dalam ijtihad pada tiga hukum.

أَحَدُهَا: أَنَّ عَلَيْهِ بِالِاجْتِهَادِ أَنْ يَتَوَصَّلَ إِلَى طَلَبِ الْعَيْنِ، وَإِصَابَةِ الْحُكْمِ فِي الْحَادِثَةِ. وَخَالَفَهُ غَيْرُهُ فَأَوْجَبَ عَلَيْهِ الِاجْتِهَادَ لِيَعْمَلَ بِمَا أَدَّاهُ إِلَيْهِ.

Salah satunya adalah bahwa seorang mujtahid wajib berijtihad untuk mencapai pengetahuan tentang hukum yang sebenarnya dan menemukan hukum yang tepat dalam suatu kasus. Namun, pendapat lain berbeda, yaitu mewajibkan mujtahid berijtihad agar ia dapat mengamalkan hasil yang diperolehnya melalui ijtihad tersebut.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْحَقَّ فِي أَحَدِ أَقَاوِيلِ الْمُجْتَهِدِينَ، لَا فِي جَمِيعِهَا وَخَالَفَهُ غَيْرُهُ فَجَعَلَ الْحَقَّ فِي جَمِيعِهَا.

Kedua: bahwa kebenaran terdapat pada salah satu pendapat para mujtahid, bukan pada semuanya. Adapun selainnya berpendapat sebaliknya, yaitu menjadikan kebenaran ada pada semuanya.

وَالثَّالِثُ: أَنَّ الْمُصِيبَ مِنَ الْمُجْتَهِدِينَ وَاحِدٌ، وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ، وَأَنَّ كُلَّهُمْ مُخْطِئٌ عِنْدَ اللَّهِ، وَفِي الْحُكْمِ، إِلَّا ذَلِكَ الْوَاحِدَ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُصِيبًا عِنْدَ اللَّهِ، وَفِي الْحُكْمِ وَخَالَفَهُ غَيْرُهُ فَجَعَلَ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبًا عِنْدَ اللَّهِ وفي الحكم.

Ketiga: bahwa yang benar dari para mujtahid itu hanya satu, meskipun tidak dapat ditentukan siapa, dan bahwa semuanya dianggap salah di sisi Allah dan dalam hukum, kecuali yang satu itu; maka dialah yang benar di sisi Allah dan dalam hukum, sedangkan yang lainnya berbeda dengannya. Maka tidaklah setiap mujtahid itu benar di sisi Allah dan dalam hukum.

( [الاعتراض على الشافعي بأن له في المسألة الواحدة قولين] )

(Sanggahan terhadap asy-Syafi‘i bahwa beliau memiliki dua pendapat dalam satu permasalahan)

فَإِذَا اسْتَقَرَّتْ هَذِهِ الْأَحْكَامُ الثَّلَاثَةُ مِنْ مَذْهَبِهِ فِي الِاجْتِهَادِ اعْتَرَضَ بِهَا عَلَيْهِ مَنْ خَالَفَهُ فِي إِنْكَارِ الْقَوْلَيْنِ، فَقَالُوا: كَيْفَ اسْتَجَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِي حَادِثَةٍ بِقَوْلَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ وَثَلَاثَةِ أَقَاوِيلَ وَأَكْثَرَ وَهُوَ يَرَى أَنَّ عَلَيْهِ طَلَبَ الْعَيْنِ وَأَنَّ الْحَقَّ فِي وَاحِدٍ وَأَنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُخْطِئٌ إِلَّا وَاحِدًا.

Maka apabila tiga ketentuan ini telah mantap dalam mazhabnya mengenai ijtihad, orang yang menentangnya dalam penolakan terhadap dua pendapat mengkritiknya dengan hal itu. Mereka berkata: Bagaimana dia membolehkan untuk memutuskan dalam suatu kasus dengan dua pendapat yang berbeda, tiga pendapat, atau lebih, padahal dia berpendapat bahwa ia wajib mencari kebenaran yang pasti, bahwa kebenaran itu hanya ada pada satu pendapat, dan bahwa setiap mujtahid itu salah kecuali satu saja.

فَكَانَ حُكْمُهُ بِالْقَوْلَيْنِ خَطَأً مِنْ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ:

Maka keputusannya dengan dua pendapat itu adalah kesalahan dari empat segi:

أَحَدُهَا: أَنَّهُ خَالَفَ بِذَلِكَ أُصُولَ مَذْهَبِهِ فِي الِاجْتِهَادِ، لِأَنَّ الْعَمَلَ بِالْقَوْلَيْنِ يَمْنَعُ مِنْ وُجُوبِ طَلَبِ الْعَيْنِ، وَيَجْعَلُ الْحَقَّ فِي جَمِيعِ الْأَقَاوِيلِ، وَيَجْعَلُ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبًا، فَنَقَضَ بِفُرُوعِ الِاجْتِهَادِ أُصُولَ مَذْهَبِهِ فِي الِاجْتِهَادِ، وَكَفَى بِهَذَا التَّنَاقُضِ فَسَادًا لِقَوْلِهِ وَوَهَنًا لِمَذْهَبِهِ.

Salah satunya: bahwa dengan hal itu ia telah menyelisihi prinsip-prinsip mazhabnya dalam ijtihad, karena mengamalkan dua pendapat sekaligus menghalangi kewajiban mencari kebenaran yang pasti, menjadikan kebenaran ada pada semua pendapat, dan menganggap setiap mujtahid itu benar. Maka, ia telah meruntuhkan prinsip-prinsip mazhabnya dalam ijtihad dengan cabang-cabang ijtihad itu sendiri. Cukuplah kontradiksi ini menjadi kerusakan bagi pendapatnya dan kelemahan bagi mazhabnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ ابْتَدَعَ بِذَلِكَ طَرِيقَةً خَرَقَ بِهَا إِجْمَاعَ مَنْ تَقَدَّمَهُ وَأَنَّهُ لَمْ يَتَقَدَّمْ مِنْ عَصْرِ الصَّحَابَةِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ إِلَى زَمَانِهِ مَنْ أَجَابَ فِي حُكْمٍ بِقَوْلَيْنِ مُخْتَلِفَيْنِ فِي حَالٍ وَاحِدٍ، وَكَانُوا مِنْ بَيْنِ مَنِ اسْتَقَرَّ لَهُ جَوَابٌ ذَكَرَهُ أَوْ خَفِيَ عَلَيْهِ فَأَمْسَكَ عَنْهُ، وَلَمْ يُجِبْ أَحَدٌ مِنْهُمْ فِي حُكْمٍ بِقَوْلَيْنِ، لِأَنَّ الْجَوَابَ مَا أَبَانَ وَلَيْسَ فِي الْقَوْلَيْنِ بَيَانٌ، وَخَرَقَ الْإِجْمَاعَ بِالْقَوْلَيْنِ كَخَرْقِهِ بِغَيْرِ الْقَوْلَيْنِ.

Adapun alasan kedua: Sesungguhnya dengan hal itu ia telah membuat suatu metode baru yang dengannya ia menyalahi ijmā‘ para pendahulunya, dan tidak pernah terjadi sejak masa para sahabat hingga setelah mereka sampai pada masanya, ada seseorang yang memberikan jawaban dalam suatu hukum dengan dua pendapat yang berbeda dalam satu keadaan. Mereka, jika telah menetapkan suatu jawaban, maka mereka menyebutkannya, atau jika tidak mengetahuinya maka mereka diam, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memberikan jawaban dalam suatu hukum dengan dua pendapat. Sebab, jawaban itu adalah sesuatu yang menjelaskan, sedangkan dalam dua pendapat tidak terdapat penjelasan. Ia telah menyalahi ijmā‘ dengan dua pendapat sebagaimana ia menyalahi ijmā‘ dengan selain dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّ التَّنَاقُضَ فِي أَحْكَامِ الشَّرْعِ مُمْتَنِعٌ، وَالْحَلَالَ لَيْسَ بِحَرَامٍ، وَالْحَرَامَ لَيْسَ بِحَلَالٍ، وَالْإِثْبَاتَ لَيْسَ بِنَفْيٍ، وَالنَّفْيَ لَيْسَ بِإِثْبَاتٍ، وَهُوَ بِالْقَوْلَيْنِ قَدْ حَلَّلَ الشَّيْءَ فِي أَحَدِهِمَا وَحَرَّمَهُ فِي الْآخَرِ، وَأَثْبَتَهُ بِأَحَدِهِمَا وَنَفَاهُ الْآخَرُ، وَمَا أَضَافَ إِلَى الشَّرْعِ مُمْتَنِعًا فِيهِ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَدْفُوعًا بِهِ.

Pendapat ketiga: Bahwa adanya kontradiksi dalam hukum-hukum syariat adalah mustahil; yang halal tidaklah haram, dan yang haram tidaklah halal; penetapan bukanlah penafian, dan penafian bukanlah penetapan. Dengan dua pendapat tersebut, sesuatu telah dihalalkan dalam salah satunya dan diharamkan dalam yang lain, serta ditetapkan dalam salah satunya dan dinafikan dalam yang lain. Apa pun yang dinisbatkan kepada syariat berupa hal yang mustahil di dalamnya, maka wajib untuk ditolak dengannya.

وَالْوَجْهُ الرَّابِعُ: أَنَّهُ لَا يَخْلُو إِرْسَالُ الْقَوْلَيْنِ فِي أَحَدِ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ لضعف اجتهاده، أو لرأيه في تكافئ الْأَدِلَّةِ، وَضَعْفُ الِاجْتِهَادِ نَقْصٌ يَقْتَضِي أَنْ يَكُونَ فيه تابعا غير متبوع، وتكافئ الْأَدِلَّةِ وَإِنْ قَالَ بِهِ قَوْمٌ فَقَدْ خَالَفَهُمْ فِيهِ الْأَكْثَرُونَ، وَلَا يَجُوزُ مَعَ تَكَافُئِهَا أَنْ يَكُونَ لَهُ حُكْمٌ فِيهَا وَلَا مَذْهَبَ يَعْتَقِدُهُ فِيهَا.

Dan alasan keempat: Sesungguhnya pernyataan dua pendapat itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi karena lemahnya ijtihadnya, atau karena menurut pandangannya dalil-dalil itu seimbang. Lemahnya ijtihad adalah kekurangan yang menuntut agar ia menjadi pengikut, bukan yang diikuti. Adapun anggapan bahwa dalil-dalil itu seimbang, meskipun ada sebagian orang yang berpendapat demikian, namun mayoritas ulama menyelisihi mereka dalam hal ini. Dan tidak boleh, ketika dalil-dalil itu seimbang, seseorang memiliki hukum tertentu atau mazhab yang diyakininya dalam masalah tersebut.

فَأَبْطَلُوا عَلَيْهِ الْقَوْلَ بِالْقَوْلَيْنِ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْأَرْبَعَةِ، وَإِنْ كَانَ مَا اعْتَرَضُوا بِهِ كَثِيرًا.

Mereka membatalkan pendapatnya dengan dua pendapat ini melalui empat alasan tersebut, meskipun keberatan yang mereka ajukan sangat banyak.

فَنَحْنُ نَذْكُرُ قَبْلَ الِانْفِصَالِ عَنْهَا أَقْسَامَ الْقَوْلَيْنِ فَإِذَا تَوَجَّهَ الِاعْتِرَاضُ بِهَا عَلَى أَحَدِ الْأَقْسَامِ لَزِمَ الِانْفِصَالُ عَنْهُ وَإِنْ لَمْ يَتَوَجَّهْ سقط.

Maka kami akan menyebutkan terlebih dahulu pembagian-pembagian dari dua pendapat tersebut. Jika terdapat keberatan yang ditujukan kepada salah satu bagian, maka wajib memberikan jawaban atasnya. Namun jika tidak ada keberatan yang ditujukan, maka gugurlah kewajiban menjawab.

(فصل: [أنواع قولي الشافعي] )

Bab: [Macam-macam Perkataan Imam Syafi‘i]

وذكره الشَّافِعِيُّ مِنَ الْقَوْلَيْنِ يَنْقَسِمُ إِلَى عَشَرَةِ أَقْسَامٍ:

Dan pendapat yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dari dua pendapat itu terbagi menjadi sepuluh bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يُقَيِّدَ جَوَابَهُ فِي مَوْضِعٍ وَيُطْلِقَهُ فِي آخَرَ مِثْلُ قَوْلِهِ فِي أَقَلِّ الْحَيْضِ ” إِنَّهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ ” وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ: ” أَقَلُّهُ يَوْمٌ ” يُرِيدُ بِهِ مَعَ لَيْلَتِهِ، وَهَذَا مَعْهُودٌ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ، وَجَاءَ الْقُرْآنُ بِحَمْلِ الْمُطْلَقِ عَلَى مَا قَيَّدَ مِنْ جِنْسِهِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ} [البقرة: 282] . حُمِلَ إِطْلَاقُهُ فِي الْعَدَالَةِ عَلَى مَا قُيِّدَ بِهَا فِي قَوْلِهِ: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] . وَمِثْلُ هَذَا لَا اعْتِرَاضَ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِيهِ. وَإِنْ وَهِمَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ فَخَرَّجَهُ قَوْلًا ثَانِيًا، فَلَمْ يَعُدْ وَهْمُهُ عَلَى الشَّافِعِيِّ.

Salah satunya adalah bahwa ia membatasi jawabannya pada suatu tempat dan membebaskannya di tempat lain, seperti ucapannya tentang minimal masa haid: “Sesungguhnya minimalnya adalah satu hari satu malam,” dan ia berkata di tempat lain: “Minimalnya adalah satu hari,” yang ia maksudkan adalah beserta malamnya. Hal ini sudah dikenal dalam ucapan orang Arab. Al-Qur’an pun datang dengan membawa makna bahwa yang mutlak dibawa kepada yang dibatasi dari jenisnya, seperti firman Allah Ta‘ala: {Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang laki-laki di antara kalian} (al-Baqarah: 282). Maka kemutlakan dalam keadilan dibawa kepada pembatasan dalam firman-Nya: {Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian} (ath-Thalaq: 2). Hal seperti ini tidak ada sanggahan terhadap asy-Syafi‘i di dalamnya. Jika sebagian pengikutnya keliru lalu mengeluarkannya sebagai pendapat kedua, maka kekeliruannya itu tidak kembali kepada asy-Syafi‘i.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا اخْتَلَفَتْ فِيهِ أَلْفَاظُهُ، وَمَعَانِيهَا مُتَّفِقَةٌ، مِثْلُ قَوْلِهِ في

Bagian kedua: yaitu apa yang lafaz-lafaznya berbeda, namun maknanya sama, seperti ucapannya dalam…

الْمُظَاهِرِ: ” وَإِذَا مُنِعَ الْجِمَاعَ، أَحْبَبْتُ أَنْ يُمْنَعَ الْقُبَلَ وَالتَّلَذُّذَ ” وَقَالَ فِي الْقَدِيمِ: ” رَأَيْتُ أَنْ يُمْنَعَ ” يُرِيدُ بِهِ الِاسْتِحْبَابَ، فَإِنْ حَمَلَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ عَلَى قَوْلَيْنِ كَانَ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي تَأْوِيلِ لَفْظِهِ لِأَنَّ قَوْلَهُ: ” رَأَيْتُ ” يَحْتَمِلُ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ وَالْإِيجَابِ، وَلَا يَمْتَنِعَ وُجُودُ مِثْلِهِ فِي كِتَابِ اللَّهِ، فَلَمْ يَتَوَجَّهْ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِيهِ اعْتِرَاضٌ.

Al-Muzhāhir berkata: “Dan jika jimā‘ dilarang, aku lebih suka jika ciuman dan mencari kenikmatan juga dilarang.” Dan ia berkata dalam pendapat lama: “Aku melihat bahwa itu dilarang,” yang ia maksudkan adalah istihbāb (anjuran). Jika sebagian sahabatnya memaknainya menjadi dua pendapat, maka itu karena perbedaan mereka dalam menafsirkan ucapannya, karena ucapannya: “Aku melihat,” bisa dimaknai sebagai istihbāb maupun ijāb (kewajiban), dan tidak mustahil hal seperti itu terdapat dalam Kitabullah. Maka, tidak ada keberatan yang dapat diarahkan kepada Imam Syāfi‘ī dalam hal ini.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِيهِ لِاخْتِلَافِ حَالِهِ، كَالصَّدَاقِ إِذَا ذُكِرَ فِي السِّرِّ مِقْدَارًا وَذُكِرَ فِي الْعَلَانِيَةِ أَكْثَرَ مِنْهُ، قَالَ فِي مَوْضِعٍ: الصَّدَاقُ صَدَاقُ السِّرِّ، وَقَالَ فِي مَوْضِعٍ: ” الصَّدَاقُ صَدَاقُ الْعَلَانِيَةِ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنْهُ لِاخْتِلَافِ قَوْلِهِ فِيهِ، وَلَكِنْ لِاخْتِلَافِ حَالِ الصَّدَاقَيْنِ، فَإِنِ اقْتَرَنَ بِصَدَاقِ السِّرِّ عَقْدٌ فَهُوَ الْمُسْتَحَقُّ، وَيَكُونُ صَدَاقُ الْعَلَانِيَةِ مُجْمَلًا وَإِنِ اقْتَرَنَ الْعَقْدُ بِصَدَاقِ الْعَلَانِيَةِ فَهُوَ الْمُسْتَحَقُّ وَكَانَ صَدَاقُ السِّرِّ مَوْعِدًا.

Bagian ketiga: yaitu perkara yang pernyataannya berbeda karena perbedaan kondisinya, seperti mahar (ṣadaq) yang disebutkan dalam keadaan tersembunyi dengan jumlah tertentu, lalu disebutkan dalam keadaan terang-terangan dengan jumlah yang lebih banyak darinya. Dalam satu tempat beliau berkata: “Mahar adalah mahar yang disebutkan secara tersembunyi,” dan di tempat lain beliau berkata: “Mahar adalah mahar yang disebutkan secara terang-terangan.” Perbedaan ini bukan karena perbedaan pendapat beliau tentangnya, melainkan karena perbedaan kondisi kedua mahar tersebut. Jika akad dikaitkan dengan mahar yang disebutkan secara tersembunyi, maka itulah yang menjadi hak, dan mahar yang disebutkan secara terang-terangan menjadi sekadar janji. Namun jika akad dikaitkan dengan mahar yang disebutkan secara terang-terangan, maka itulah yang menjadi hak, dan mahar yang disebutkan secara tersembunyi menjadi sekadar janji.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلَّا أَبَانَ ذَلِكَ.

Jika dikatakan: Mengapa hal itu tidak dijelaskan?

قِيلَ: قَدْ أَبَانَهُ بِمَا قَرَّرَهُ مِنْ أُصُولِ مَذْهَبِهِ، وَأَمْثَالُ هَذَا كَثِيرٌ.

Dikatakan: Ia telah menjelaskannya dengan apa yang telah ia tetapkan dari ushul mazhabnya, dan hal-hal semacam ini banyak.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِيهِ لِاخْتِلَافِ الْقِرَاءَةِ أَوْ لِاخْتِلَافِ الرِّوَايَةِ: فَاخْتِلَافُ الْقِرَاءَةِ مِثْلُ قَوْله تَعَالَى: {أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ} [النساء: 43] . أَوْ ” لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ ” فَلَامَسْتُمْ يوجب الوضوء على اللامس والملموس وَلَمَسْتُمْ يُوجِبُهُ عَلَى اللَّامِسِ دُونَ الْمَلْمُوسِ، وَاخْتِلَافُ الرِّوَايَةِ كَالْمَرْوِيِّ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في باين الْمَوَاقِيتِ ” أَنَّهُ صَلَّى عِشَاءَ الْآخِرَةِ فِي الْوَقْتِ الثَّانِي حِينَ ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ نِصْفُهُ “.

Bagian keempat: yaitu perkara yang pernyataannya berbeda karena perbedaan qirā’ah atau perbedaan riwayat. Perbedaan qirā’ah contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: {aw lāmastumu an-nisā’} (atau kalian menyentuh perempuan) atau “lamastumu an-nisā’” (kalian menyentuh perempuan). Maka “lāmastum” mewajibkan wudhu bagi yang menyentuh dan yang disentuh, sedangkan “lamastum” mewajibkannya hanya bagi yang menyentuh saja, tidak bagi yang disentuh. Adapun perbedaan riwayat seperti yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ tentang batas-batas waktu salat, bahwa beliau ﷺ pernah salat Isya pada waktu kedua, yaitu ketika malam telah berlalu setengahnya.

وَفِي خَبَرٍ آخَرَ: ” حِينَ ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ ثُلُثُهُ “. فَلِأَجْلِ اخْتِلَافِ الْقِرَاءَةِ وَالرِّوَايَةِ مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ وَمِثْلُ هَذَا لَا يَتَوَجَّهُ عَلَيْهِ إِنْكَارٌ فِيهِ، لِأَنَّ اخْتِلَافَ الدَّلِيلِ أَوْجَبَ اخْتِلَافَ الْمَدْلُولِ.

Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Ketika sepertiga malam telah berlalu.” Maka karena perbedaan qirā’ah dan riwayat, terjadilah perbedaan pendapat. Hal seperti ini tidak dapat diingkari, karena perbedaan dalil menyebabkan perbedaan makna yang dihasilkan.

وَالْقِسْمُ الْخَامِسُ: مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِيهِ، لِأَنَّهُ عَمِلَ فِي أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ عَلَى ظَاهِرٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ ثُمَّ بَلَغَتْهُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ نَقَلَتْهُ عَنِ الظَّاهِرِ إِلَى قَوْلٍ آخَرَ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى فِي صِيَامِ التَّمَتُّعِ: {فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ} [البقرة: 196] . فَأَخَذَ بِظَاهِرِهِ وَأَوْجَبَ صِيَامَهَا فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، لِأَنَّهَا الظَّاهِرُ مِنْ أَيَّامِ الْحَجِّ ثُمَّ رُوِيَ لَهُ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” أَنَّهُ نَهَى عَنْ صِيَامِهَا “. فَعَدَلَ بِهَذِهِ الرِّوَايَةِ عَمَّا عَمِلَ بِهِ مِنْ ظَاهِرِ الْكِتَابِ، وَأَوْجَبَ صِيَامَهَا، بَعْدَ إِحْرَامِهِ وَقَبْلَ عَرَفَةَ، اتِّبَاعًا لِلسُّنَّةِ. وَمِثْلُ قَوْلِهِ فِي الصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَلَا إِنْكَارَ عَلَيْهِ فِي هَذَا الْعُدُولِ، لِأَنَّهُ عَمِلَ فِي الْحَالَيْنِ بِدَلِيلٍ.

Bagian kelima: yaitu perkara yang pendapatnya berbeda-beda di dalamnya, karena pada salah satu dari dua pendapat ia beramal berdasarkan makna lahir dari Kitab Allah, kemudian sampai kepadanya suatu sunnah yang sahih yang memalingkannya dari makna lahir tersebut kepada pendapat lain. Seperti firman Allah Ta‘ala tentang puasa tamattu‘: “Maka berpuasalah tiga hari dalam haji” (QS. Al-Baqarah: 196). Ia mengambil makna lahir ayat tersebut dan mewajibkan puasa itu pada hari-hari tasyriq, karena hari-hari itu adalah makna lahir dari hari-hari haji. Kemudian diriwayatkan kepadanya dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang puasa pada hari-hari itu. Maka dengan riwayat ini ia berpaling dari apa yang diamalkannya berdasarkan makna lahir dari kitab, dan mewajibkan puasa itu setelah ihram dan sebelum Arafah, mengikuti sunnah. Demikian pula seperti pendapatnya tentang shalat wustha. Maka tidak ada pengingkaran terhadap perubahan pendapat ini, karena pada kedua keadaan tersebut ia beramal berdasarkan dalil.

وَالْقِسْمُ السَّادِسُ: مَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِيهِ لِأَنَّهُ أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى أَحَدِهِمَا فِي حَالٍ ثُمَّ أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى الْقَوْلِ الْآخَرِ فِي الْحَالِ الْأُخْرَى وَمِثْلُ هَذَا لَا يُنْكَرُ. قَدْ فَعَلَهُ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ جَمِيعِ الْفُقَهَاءِ، هَذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِي مِيرَاثِ الْإِخْوَةِ مَعَ الْجَدِّ فَأَسْقَطَهُمْ بِهِ فِي أَوَّلِ قَوْلِهِ وَأَشْرَكَهُمْ مَعَهُ فِي آخِرِ قَوْلِهِ، وَحَكَمَ فِي الْمُشْرِكَةِ فِي الْعَامِ الْأَوَّلِ بِالتَّشْرِيكِ، وَفِي الْعَامِ الثَّانِي بِإِسْقَاطِ التَّشْرِيكِ وَقَالَ: ” تِلْكَ عَلَى مَا قَضَيْنَا وَهَذِهِ عَلَى مَا قَضَيْنَاهُ “، وَاخْتَلَفَ قَوْلُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فِي مِيرَاثِ الْجَدِّ عَلَى أَقَاوِيلَ وَقَالَ فِي بَيْعِ أُمَّهَاتِ الْأَوْلَادِ: ” اجْتَمَعَ رَأْيِي وَرَأْيُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ عَلَى تَحْرِيمِ بَيْعِهِنَّ وَقَدْ رَأَيْتُ أَنَّ بَيْعَهُنَّ جَائِزٌ “. وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ إِلَّا وَقَدِ اخْتَلَفَتْ عَنْهُ الرِّوَايَةُ فِي الْأَحْكَامِ فَسَمَّاهَا أَصْحَابُهُمْ ” رِوَايَاتٍ ” وَسَمَّاهَا أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ أَقَاوِيلَ وَهَذِهِ طَرِيقَةٌ لَمْ يَبْتَدِعْهَا الشَّافِعِيُّ، وَهِيَ أَدَلُّ عَلَى الْوَرَعِ وَأَبْعَثُ عَلَى الِاجْتِهَادِ.

Bagian keenam: yaitu perkara yang pendapatnya berbeda-beda karena ijtihadnya membawanya kepada salah satu pendapat dalam suatu keadaan, kemudian ijtihadnya membawanya kepada pendapat lain dalam keadaan yang lain, dan hal seperti ini tidak diingkari. Hal ini telah dilakukan oleh generasi pertama dan para fuqaha setelah mereka. Inilah Umar bin Khattab, yang pendapatnya berbeda dalam masalah warisan saudara dengan kakek; pada awal pendapatnya ia menggugurkan hak mereka karena kakek, lalu pada pendapat akhirnya ia menyertakan mereka bersama kakek. Ia juga memutuskan dalam kasus musyrikah pada tahun pertama dengan penyertaan, dan pada tahun kedua dengan menggugurkan penyertaan, lalu ia berkata: “Itu berdasarkan keputusan yang telah kami tetapkan, dan ini berdasarkan keputusan yang kami tetapkan.” Pendapat Ali bin Abi Thalib juga berbeda dalam warisan kakek dengan beberapa pendapat, dan ia berkata dalam jual beli ummahat al-awlad: “Pendapatku bersama pendapat Abu Bakar dan Umar sepakat atas pengharaman menjual mereka, namun aku berpendapat bahwa menjual mereka itu boleh.” Tidak ada seorang pun dari para fuqaha kecuali telah berbeda riwayat darinya dalam hukum-hukum, sehingga para pengikut mereka menamainya “riwayat-riwayat”, dan para pengikut Syafi’i menamainya “aqwal”. Cara seperti ini bukanlah sesuatu yang diada-adakan oleh Syafi’i, bahkan hal itu lebih menunjukkan sikap wara‘ dan lebih mendorong untuk berijtihad.

وَالْقِسْمُ السَّابِعُ: أَنْ تَبْلُغَهُ سُنَّةٌ لَمْ تَثْبُتْ عِنْدَهُ وَقَدْ عَمِلَ بِالْقِيَاسِ فَيَجْعَلُ قَوْلَهُ مِنْ بَعْدُ مَوْقُوفًا عَلَى ثُبُوتِ السُّنَّةِ، كَالَّذِي جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الصِّيَامِ عَنِ الْمَيِّتِ وَالْغُسْلِ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ، رُوِيَا لَهُ مِنْ طَرِيقَيْنِ ضَعِيفَيْنِ فَقَالَ بِمُوجَبِ الْقِيَاسِ بِأَنْ لَا صِيَامَ عَنِ الْمَيِّتِ، وَلَا غُسْلَ مِنْ غُسْلِهِ، ثُمَّ قَالَ مَا رُوِيَ وَقَالَ: ” إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ قُلْتُ بِهِ “. فَأَظْهَرَ مُوجَبَ الْقِيَاسِ وَأَوْجَبَ الْعُدُولَ عَنْهُ إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ. وَقَالَ: كُلُّ قَوْلٍ قُلْتُهُ فَثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خِلَافُهُ فَأَنَا أَوَّلُ رَاجِعٍ عَنْهُ. وَهَذَا مِمَّا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُظْهِرَ الِاخْتِلَافَ فِيهِ وَأَنْ يَقِفَهُ عَلَى السُّنَّةِ إِنْ ثَبَتَتْ، وَعَلَى الْقِيَاسِ إِنْ لَمْ تَثْبُتْ.

Bagian ketujuh: yaitu ketika sampai kepadanya sebuah sunnah yang belum tetap (belum sah) menurutnya, sementara ia telah beramal dengan qiyās, maka ia menjadikan pendapatnya setelah itu tergantung pada ketetapan sunnah tersebut. Seperti halnya sunnah yang datang tentang puasa untuk orang yang telah meninggal dan mandi setelah memandikan jenazah; kedua hal ini diriwayatkan kepadanya melalui dua jalur yang lemah, maka ia berpendapat berdasarkan qiyās bahwa tidak ada puasa untuk orang yang telah meninggal dan tidak ada mandi setelah memandikan jenazah. Kemudian ia menyebutkan riwayat tersebut dan berkata: “Jika hadis itu sahih, aku akan berpendapat dengannya.” Maka ia menampakkan konsekuensi qiyās dan mewajibkan untuk meninggalkannya jika hadis itu sahih. Ia juga berkata: “Setiap pendapat yang aku ucapkan, lalu ternyata dari Nabi ﷺ ada yang menyelisihinya, maka akulah orang pertama yang akan kembali darinya.” Ini termasuk hal yang wajib baginya untuk menampakkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah tersebut dan menggantungkan hukumnya pada sunnah jika memang sahih, dan pada qiyās jika tidak sahih.

وَالْقِسْمُ الثَّامِنُ: أَنْ يَقْصِدَ بِذِكْرِ الْقَوْلَيْنِ إِبْطَالَ مَا تَوَسَّطَهُمَا، وَيَكُونُ مَذْهَبُهُ مِنْهَا مَا فَرَّعَ عَلَيْهِ وَحَكَمَ بِهِ مِثْلَ قَوْلِهِ فِي وَضْعِ الْجَوَائِحِ، وَقَدْ قَدَّرَهَا مَالِكٌ بِوَضْعِ الثُّلُثِ: ” لَيْسَ إِلَّا وَاحِدٌ مِنْ قَوْلَيْنِ إِمَّا أَنْ تُوضَعَ جَمِيعُهَا أَوْ لَا يُوضَعُ شَيْءٌ مِنْهَا ” وَمِنْ قَوْلِهِ فِي الْجَارِيَةِ الْمُوصَى بِهَا إِذَا وَلَدَتْ أَوْ وُهِبَ لَهَا بَعْدَ مَوْتِ الْمُوصِي وَقَبْلَ قَبُولِ الْمُوصَى لَهُ لَمَّا جَعَلَ أَهْلُ الْعِرَاقِ بَعْضَ وَلَدِهَا وَبَعْضَ مَا وُهِبَ لَهَا لِوَرَثَةِ الْمُوصِي وَبَعْضَهُ لِلْمُوصَى لَهُ: ” لَيْسَ إِلَّا وَاحِدٌ مِنْ قَوْلَيْنِ إِمَّا أَنْ يَمْلِكَهَا الْمُوصَى لَهُ بِالْمَوْتِ فَيَكُونُ كُلَّ ذَلِكَ، وَإِمَّا أَنْ يَمْلِكَهَا بِالْقَبُولِ، فَكُلُّ ذَلِكَ لِلْوَرَثَةِ وَلَيْسَ لِتَبْعِيضِهِ مَعَ عَدَمِ قَوْلٍ ثَالِثٍ وَجْهٌ، وَهَذَا تَحْقِيقٌ يَبْطُلُ بِهِ مَا خَالَفَ الْقَوْلَيْنِ.

Bagian kedelapan: yaitu ketika seseorang bermaksud dengan menyebutkan dua pendapat untuk menolak pendapat yang berada di tengah-tengah keduanya, dan madzhabnya dari dua pendapat itu adalah apa yang ia bangun cabang hukumnya dan ia tetapkan hukumnya, seperti ucapannya dalam masalah penetapan al-jawā’ih, dan Malik telah menetapkannya dengan penetapan sepertiga: “Tidak ada kecuali salah satu dari dua pendapat, yaitu apakah seluruhnya ditetapkan atau tidak ada sedikit pun yang ditetapkan.” Dan seperti ucapannya dalam masalah budak perempuan yang diwasiatkan, apabila ia melahirkan atau diberikan sesuatu kepadanya setelah wafatnya orang yang berwasiat dan sebelum penerima wasiat menerima wasiat tersebut, ketika penduduk Irak menjadikan sebagian anaknya dan sebagian yang diberikan kepadanya untuk ahli waris orang yang berwasiat dan sebagian lagi untuk penerima wasiat: “Tidak ada kecuali salah satu dari dua pendapat, yaitu apakah penerima wasiat memilikinya dengan sebab kematian sehingga semuanya menjadi miliknya, atau ia memilikinya dengan sebab penerimaan, maka semuanya menjadi milik ahli waris, dan tidak ada alasan untuk membaginya tanpa adanya pendapat ketiga, dan ini adalah penjelasan yang membatalkan apa yang menyelisihi dua pendapat tersebut.”

وَالْقِسْمُ التَّاسِعُ: أَنْ يَذْكُرَ الْقَوْلَيْنِ إِبْطَالًا لِمَا عَدَاهُمَا وَيَكُونُ مَذْهَبُهُ مَوْقُوفًا عَلَى مَا يُؤَدِّيهِ اجْتِهَادُهُ إِلَيْهِ مِنْ صِحَّةِ أَحَدِهِمَا، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَائِلًا بِهِمَا، وَمِثْلُ هَذَا قَدْ جَاءَ بِهِ الشَّرْعُ وَالْعَمَلُ.

Bagian kesembilan: yaitu menyebutkan dua pendapat untuk menolak selain keduanya, dan madzhabnya bergantung pada apa yang ditunjukkan oleh ijtihadnya terhadap kebenaran salah satu dari keduanya, meskipun ia sendiri tidak berpendapat dengan keduanya. Cara seperti ini telah datang dalam syariat dan praktik.

أَمَّا الشَّرْعُ: فَقَوْلُهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: ” الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ “. فَنَفَى أَنْ تَكُونَ فِي غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَفِي غَيْرِ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْهُ، وَجَعَلَهَا مَوْقُوفَةً عَلَى الِاجْتِهَادِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ. وَأَمَّا الْعَمَلُ فَمَا فَعَلَهُ عُمَرُ فِي أَهْلِ الشُّورَى جَعَلَهَا فِي سِتَّةٍ نَفَى بِهِمْ طَلَبَ الْإِمَامِ فِي غَيْرِهِمْ وَوَقَّفَ الْإِمَامَةَ فِيهِمْ عَلَى مَنْ يُؤَدِّي الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ مِنْهُمْ. وَهَذَا عَمَلٌ انْعَقَدَ بِهِ إِجْمَاعُهُمْ.

Adapun menurut syariat: sabda Nabi ﷺ tentang malam Lailatul Qadar, “Carilah ia pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” Maka beliau menafikan bahwa malam itu berada di luar bulan Ramadan, dan di luar sepuluh malam terakhir darinya, serta menjadikannya tergantung pada ijtihad dalam sepuluh malam terakhir. Adapun dari segi praktik, sebagaimana yang dilakukan Umar terhadap anggota syura, beliau membatasinya pada enam orang, sehingga menafikan pencarian imam di luar mereka dan menjadikan kepemimpinan (imamah) di antara mereka tergantung pada siapa di antara mereka yang dicapai oleh hasil ijtihad. Dan inilah praktik yang telah disepakati oleh ijmā‘ mereka.

وَالْقِسْمُ الْعَاشِرُ: أَنْ يَذْكُرَ الْقَوْلَيْنِ لِيَدُلَّ عَلَى أَنَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي الِاجْتِهَادِ وَجْهًا، وَلَا يَقْطَعُ بِأَحَدِهِمَا لِاحْتِمَالِ الْأَدِلَّةِ، وَلَا يَعْمَلُ بِهَا لِاخْتِلَافِ الْحُكْمِ، ويفرع عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِنْ صَحَّ. وَلَيْسَ يُنْكِرُ مِنَ الْعُلَمَاءِ التَّوَقُّفُ عِنْدَ الِاشْتِبَاهِ. هَذَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ تَوَقَّفَ فِي أَشْيَاءَ حَتَّى نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ. رُوِيَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: ” الْمُؤْمِنُ وَقَّافٌ وَالْمُنَافِقُ وَثَّابٌ “. وَيَكُونُ مَقْصُودُ الشَّافِعِيِّ بِذِكْرِ الْقَوْلَيْنِ أَمْرَيْنِ:

Bagian kesepuluh: yaitu menyebutkan dua pendapat untuk menunjukkan bahwa masing-masing dari keduanya memiliki dasar dalam ijtihad, dan tidak memutuskan salah satunya karena kemungkinan dalil-dalil yang ada, serta tidak mengamalkannya karena perbedaan hukum, dan menetapkan cabang hukum pada masing-masing dari keduanya jika memang sah. Tidak ada ulama yang mengingkari sikap tawaqquf (berhenti sejenak) ketika terjadi kerancuan. Inilah Rasulullah ﷺ, beliau pernah tawaqquf dalam beberapa perkara hingga turun wahyu kepadanya. Diriwayatkan dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda: “Seorang mukmin itu berhati-hati, sedangkan seorang munafik itu tergesa-gesa.” Dan maksud Imam Syafi‘i menyebutkan dua pendapat itu adalah untuk dua hal:

أَحَدُهُمَا: إِبْطَالُ مَا عَدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الِاجْتِهَادِ وَجْهٌ وَالثَّانِي إِثْبَاتُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَنَّ لَهُ فِي الِاجْتِهَادِ وَجْهًا وَلَيْسَ يُجِيبُ بِهِمَا إِذَا اسْتُفْتِي فَيُخَيِّرُ السَّائِلَ بَيْنَهُمَا وَإِنَّمَا يَجْتَهِدُ رَأْيَهُ فِي الْجَوَابِ بِأَحَدِهِمَا فَلَمْ يَصِرْ قَائِلًا بِهِمَا وَلَا مُعْتَقِدًا لِصِحَّتِهِمَا، وَإِنَّمَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا هُوَ الْأَصَحَّ، وَإِنْ لَمْ يَقْطَعْ فِي الْحَالِ بِالْأَصَحِّ وَهَذَا إِنَّمَا قَالَهُ فِي عَدَدٍ مِنَ الْمَسَائِلِ قِيلَ إِنَّهَا سَبْعَ عَشْرَةَ مَسْأَلَةً. فَلَمْ يَتَوَجَّهْ عَلَيْهِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الِاعْتِرَاضِ، وَلَا أُبْطِلَ مَا قَرَّرَهُ مِنْ مَذْهَبِهِ فِي الِاجْتِهَادِ. وَفِي هَذَا التَّقْسِيمِ انْفِصَالٌ عَنْ الِاعْتِرَاضِ فَسَقَطَ بِهِ الِاعْتِرَاضُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Salah satunya adalah menafikan selain keduanya bahwa ia memiliki sisi dalam ijtihad, dan yang kedua adalah menetapkan bahwa masing-masing dari keduanya memiliki sisi dalam ijtihad. Namun, ia tidak menjawab dengan keduanya ketika dimintai fatwa, melainkan memberikan pilihan kepada penanya di antara keduanya. Ia hanya berijtihad dengan pendapatnya dalam menjawab dengan salah satu dari keduanya, sehingga ia tidak menjadi penganut keduanya dan tidak meyakini kebenaran keduanya. Hanya saja, boleh jadi masing-masing dari keduanya adalah yang lebih sahih, meskipun pada saat itu ia tidak memastikan mana yang lebih sahih. Hal ini hanya dikatakan dalam sejumlah masalah yang disebutkan berjumlah tujuh belas masalah. Maka, tidak berlaku atasnya keberatan yang telah disebutkan sebelumnya, dan tidak dibatalkan apa yang telah ia tetapkan dari mazhabnya dalam ijtihad. Dalam pembagian ini terdapat pemisahan dari keberatan, sehingga keberatan pun gugur karenanya. Allah Maha Mengetahui.

( [الِاعْتِرَاضُ عليه بأجور المجتهدين] )

(Tentang keberatan terhadapnya dengan upah para mujtahid)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجتهد فأخطأ فله أجر ” (قال الشافعي) فأخبره أنه يثاب على أحدهما أكثر مما يثاب على الآخر فلا يكون الثواب فيما لا يسع ولا في الخطأ الموضوع (قال المزني) رحمه الله: أنا أعرف أن الشافعي قال لا يؤجر على الخطأ وإنما يؤجر على قصد الصواب وهذا عندي هو الحق “.

Syafi‘i berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala, dan jika ia berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala.” (Syafi‘i berkata) Maka beliau memberitahukan bahwa pahala pada salah satunya lebih besar daripada yang lain, sehingga pahala itu tidak diberikan pada sesuatu yang tidak mungkin atau pada kesalahan yang disengaja. (Al-Muzani berkata) rahimahullah: Aku mengetahui bahwa Syafi‘i berkata, tidak diberi pahala atas kesalahan, melainkan diberi pahala atas niat untuk mencapai kebenaran, dan menurutku inilah yang benar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَالْمَقْصُودُ بِهَذَا الْحَدِيثِ بَعْدَ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ أَحْكَامِ الْمُجْتَهِدِينَ فِي الْخَطَأِ وَالصَّوَابِ أَمْرَانِ:

Al-Mawardi berkata: Maksud dari hadis ini, setelah apa yang telah kami sampaikan mengenai hukum-hukum para mujtahid dalam kesalahan dan kebenaran, ada dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ جَعَلَ لِلْخَاطِئِ أَجْرًا.

Yang pertama: bahwa ia memberikan upah kepada pelaku kesalahan.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْحَدِيثَ قَدْ رُوِيَ مُخْتَلِفًا.

Kedua: bahwa hadis tersebut telah diriwayatkan dengan berbagai perbedaan.

فَأَمَّا جَعْلُهُ لِلْخَاطِئِ أَجْرًا، فَلَمْ يَجْعَلْهُ مُسْتَحِقًّا لِلْأَجْرِ عَلَى خَطَئِهِ وَإِنَّمَا جَعَلَهُ مُسْتَحِقًّا لَهُ عَلَى اجْتِهَادِهِ، فَإِنْ أَصَابَ ظَفِرَ مَعَ أَجْرِ الِاجْتِهَادِ بِأَجْرِ الصَّوَابِ فَصَارَ لَهُ أَجْرَانِ أَحَدُهُمَا بِاجْتِهَادِهِ وَالْآخَرُ بِصَوَابِهِ. وَإِنْ أَخْطَأَ ظَفِرَ بِأَجْرِ اجْتِهَادِهِ، وَحُرِمَ أَجْرَ صَوَابِهِ، كَمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْ بِهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَإِنْ عَمِلَ بِهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا “.

Adapun pemberian pahala kepada orang yang keliru, maka ia tidak menjadikannya berhak mendapatkan pahala atas kekeliruannya, melainkan ia menjadikannya berhak atas pahala itu karena ijtihadnya. Jika ia benar, maka ia memperoleh, selain pahala ijtihad, juga pahala kebenaran, sehingga ia mendapatkan dua pahala: salah satunya karena ijtihadnya dan yang lainnya karena kebenarannya. Namun jika ia keliru, maka ia memperoleh pahala ijtihadnya dan tidak mendapatkan pahala atas kebenarannya, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa berniat melakukan kebaikan namun tidak melakukannya, maka dicatat baginya satu kebaikan, dan jika ia melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.”

وَأَمَّا اخْتِلَافُ الْحَدِيثِ فَأَشْهَرُ الْحَدِيثَيْنِ هَذَا وَهُوَ الْمُتَدَاوَلُ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ ” وَالْحَدِيثُ الثَّانِي مَا رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ فَرَجِ بْنِ فَضَالَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: ” اخْتَصَمَ إِلَى النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رَجُلَانِ وَأَنَا جَالِسٌ فَقَالَ يَا عَمْرُو اقْضِ بَيْنَهُمَا. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنْتَ شَاهِدٌ؟ قَالَ: نَعَمْ قُلْتُ عَلَى مَاذَا؟ قَالَ عَلَى أَنَّكَ إِذَا أَصَبْتَ فَلَكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَإِنِ اجْتَهَدْتَ فَأَخْطَأْتَ فَلَكَ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ.

Adapun perbedaan hadis, maka hadis yang paling masyhur di antara keduanya dan yang umum digunakan di kalangan para fuqaha adalah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala, dan jika ia berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala.” Hadis kedua adalah yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Faraj bin Fadhalah dari Muhammad bin ‘Abdil A‘lā dari ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Āsh dari ayahnya, ia berkata: “Dua orang laki-laki berselisih kepada Nabi ﷺ sementara aku duduk, lalu beliau bersabda: ‘Wahai ‘Amr, berilah keputusan di antara keduanya.’ Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sedangkan engkau menyaksikan?’ Beliau bersabda: ‘Ya.’ Aku berkata: ‘Atas dasar apa?’ Beliau bersabda: ‘Atas dasar bahwa jika engkau benar maka bagimu sepuluh kebaikan, dan jika engkau berijtihad lalu salah maka bagimu satu kebaikan.’”

فَاخْتَلَفَ أَجْرُ الْمُصِيبِ فِي الْخَبَرَيْنِ فَجَعَلَ لَهُ فِي الْأَوَّلِ أَجْرَيْنِ وَجَعَلَ لَهُ فِي الثَّانِي عَشْرًا.

Maka berbeda pahala orang yang benar dalam dua hadis tersebut; dalam hadis pertama ia diberi dua pahala, dan dalam hadis kedua ia diberi satu pahala.

وَفِي هَذَا الِاخْتِلَافِ تَأْوِيلَانِ:

Dalam perbedaan ini terdapat dua penafsiran:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ جَعَلَ لَهُ أَجْرَيْنِ إِذَا وَصَلَ إِلَى الصَّوَابِ بِأَوَّلِ اجْتِهَادٍ وَجَعَلَ لَهُ عَشْرًا إِذَا وَصَلَ إِلَيْهِ بِتَكْرَارِ الِاجْتِهَادِ لِيَكُونَ أَجْرُهُ بِحَسَبِ قِلَّةِ اجْتِهَادِهِ وَكَثْرَتِهِ.

Salah satunya: bahwa Allah memberikan baginya dua pahala jika ia mencapai kebenaran dengan ijtihad pertama, dan memberikan baginya sepuluh pahala jika ia mencapainya dengan mengulangi ijtihad, agar pahalanya sesuai dengan sedikit atau banyaknya ijtihad yang dilakukan.

وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي: أَنَّهُ أُجِرَ بِالْعَشْرِ لِمُضَاعَفَةِ الْحَسَنَةِ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَأُجِرَ فِي الْآخَرِ بِأَجْرَيْنِ مِنْ غَيْرِ مُضَاعَفَةٍ، لِأَنَّهُ فِي الْأَصْلِ أُجِرَ وَفِي المضاعفة عشر.

Penafsiran kedua: bahwa ia diberi pahala sepuluh kali lipat karena pelipatgandaan kebaikan menjadi sepuluh kali lipat, dan ia diberi pahala dua kali lipat dalam yang lain tanpa pelipatgandaan, karena pada dasarnya ia diberi pahala, dan dalam pelipatgandaan menjadi sepuluh.

( [نقض الحكم] )

(Pembatalan putusan)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنِ اجْتَهَدَ مِنَ الحكام فقضى باجتهاده ثُمَّ رَأَى أَنَّ اجْتِهَادَهُ خَطَأٌ أَوْ وَرَدَ عَلَى قَاضٍ غَيْرِهِ فَسَوَاءٌ فَمَا خَالَفَ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ مَا فِي مَعْنَى هَذَا ردَّهُ وَإِنْ كَانَ يَحْتَمِلُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ وَيَحْتَمِلُ غَيْرَهُ لَمْ يَرُدَّهَ وَحَكَمَ فِيمَا اسْتَأْنَفَ بِالَذِي هُوَ الصَّوَابُ عِنْدَهُ “.

Syafi‘i rahimahullah berkata: Siapa pun dari para hakim yang berijtihad lalu memutuskan berdasarkan ijtihadnya, kemudian ia melihat bahwa ijtihadnya itu keliru, atau perkara tersebut diajukan kepada hakim lain, maka hukumnya sama saja. Apa pun yang bertentangan dengan Kitab, Sunnah, ijmā‘, atau yang semakna dengan itu, maka ia harus menolaknya. Namun jika masih memungkinkan untuk mengikuti pendapat yang diambilnya dan juga memungkinkan untuk mengikuti pendapat lain, maka ia tidak menolaknya, dan dalam perkara yang baru ia memutuskan dengan apa yang menurutnya benar.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا بَانَ لِلْقَاضِي أَنَّهُ قَدْ أَخْطَأَ فِي حُكْمِهِ أَوْ بَانَ لَهُ أَنَّ غَيْرَهُ مِنَ الْقُضَاةِ قَدْ أَخْطَأَ فِي حُكْمِهِ فَذَلِكَ ضَرْبَانِ:

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila jelas bagi qadi bahwa ia telah melakukan kesalahan dalam putusannya, atau jelas baginya bahwa qadi lain telah melakukan kesalahan dalam putusannya, maka hal itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُخْطِئَ فِيمَا يُسَوَّغُ فِيهِ الِاجْتِهَادُ.

Salah satunya adalah melakukan kesalahan dalam perkara yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya.

وَالثَّانِي: أَنْ يُخْطِئَ فِيمَا لَا يُسَوَّغُ فِيهِ الِاجْتِهَادُ.

Kedua: yaitu jika ia keliru dalam perkara yang tidak dibenarkan untuk berijtihad di dalamnya.

فَإِنْ أَخْطَأَ فِيمَا يُسَوَّغُ فِيهِ الِاجْتِهَادُ وَهُوَ أَنْ يُخَالِفَ أَوْلَى الْقِيَاسَيْنِ مِنْ قِيَاسِ الْمَعْنَى الْخَفِيِّ أَوْ أَولَاهُمَا مِنْ قِيَاسِ التَّقْرِيبِ فِي الشَّبَهِ كَانَ حُكْمُهُ نَافِذًا وَحُكْمُ غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ بِهِ نَافِذًا لَا يُتَعَقَّبُ بِفَسْخٍ وَلَا نَقْضٍ.

Jika seorang hakim keliru dalam perkara yang dibenarkan untuk berijtihad di dalamnya—yaitu ketika ia menyelisihi qiyās yang lebih utama, baik qiyās makna yang tersembunyi maupun qiyās at-taqrīb yang lebih utama dalam kemiripan—maka putusannya tetap sah dan putusan hakim lain yang memutuskan dengan hal yang sama juga sah, tidak dapat dibatalkan atau dianulir.

فَإِنَّ عُمَرَ لَمْ يُشَرِّكْ فِي عَامٍ وَشَرَّكَ فِي عَامٍ فَلَمَّا قِيلَ لَهُ: إِنَّكَ لَمْ تُشَرِّكْ فِي العام الْمَاضِي بَيْنَ وَلَدِ الْأُمِّ وَبَيْنَ وَلَدِ الْأَبِ وَالْأُمِّ فَكَيْفَ تُشَرِّكُ الْآنَ؟ قَالَ تِلْكَ عَلَى مَا قَضَيْنَا وَهَذِهِ عَلَى مَا قضينا.

Sesungguhnya Umar pernah tidak menggabungkan (dalam warisan) pada suatu tahun, dan pada tahun lain beliau menggabungkan. Ketika dikatakan kepadanya: “Engkau tidak menggabungkan pada tahun lalu antara anak dari satu ibu dan anak dari ayah dan ibu, lalu bagaimana sekarang engkau menggabungkan?” Beliau menjawab: “Yang itu berdasarkan keputusan yang telah kami tetapkan, dan yang ini berdasarkan keputusan yang kami tetapkan sekarang.”

وَحَكَمَ أَبُو بَكْرٍ بِالتَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ فِي الْعَطَاءِ وَلَمْ يُفَضِّلْ بِالسَّابِقَةِ وَقَالَ: ” إِنَّمَا عَمِلُوا لِلَّهِ وَإِنَّمَا أُجُورُهُمْ عَلَى اللَّهِ وَإِنَّمَا الدُّنْيَا بَلَاغٌ ” وَلَمْ يَفْرِضْ لِلْعَبِيدِ مَعَ سَادَاتِهِمْ.

Abu Bakar menetapkan persamaan antara kaum Muhajirin dan Anshar dalam pemberian (tunjangan), dan tidak mengutamakan berdasarkan keutamaan terdahulu. Ia berkata: “Sesungguhnya mereka beramal karena Allah, dan pahala mereka hanyalah di sisi Allah, sedangkan dunia hanyalah sarana.” Ia juga tidak menetapkan bagian untuk para budak bersama tuan-tuan mereka.

وَفَضَّلَ عُمَرُ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ بِالسَّابِقَةِ وَفَرَضَ لِلْعَبِيدِ.

Umar membedakan antara kaum Muhajirin dan Anshar berdasarkan keutamaan terdahulu, dan ia juga menetapkan tunjangan untuk para budak.

وَسَوَّى عَلِيٌّ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ كَفِعْلِ أَبِي بَكْرٍ وَفَرَضَ لِلْعَبِيدِ كَفِعْلِ عُمَرَ.

Ali menyamakan antara kaum Muhajirin dan Anshar sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar, dan menetapkan bagian untuk para budak sebagaimana yang dilakukan oleh Umar.

وَلَمْ يَنْقُضْ بَعْضُهُمْ حُكْمَ بَعْضٍ لِنُفُوذِهِ بِاجْتِهَادٍ سَائِغٍ.

Dan sebagian mereka tidak membatalkan putusan sebagian yang lain karena putusan tersebut telah berlaku berdasarkan ijtihad yang sah.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ نَقَضَ عَلِيٌّ حُكْمَ شُرَيْحٍ فِي ابْنَيْ عَمِّ أَحَدِهِمَا أَخٌ لِأُمٍّ حِينَ حَكَمَ بِالْمِيرَاثِ لِابْنِ الْعَمِّ الَّذِي هُوَ أَخٌ لِأُمٍّ وَأَجْرَاهُمَا مَجْرَى أَخَوَيْنِ أَحَدُهُمَا لِأَبٍ وَالْآخَرُ لِأَبٍ وَأُمٍّ.

Jika dikatakan: Ali telah membatalkan putusan Syuraih dalam perkara dua orang sepupu, salah satunya adalah saudara seibu, ketika Syuraih memutuskan warisan bagi sepupu yang juga saudara seibu, dan memperlakukan keduanya seperti dua saudara, yang satu seayah dan yang lain seayah dan seibu.

فَعَنْهُ جَوَابَانِ:

Maka darinya terdapat dua jawaban:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ رَدَّهُ عَنْهُ قَبْلَ نُفُوذِ حُكْمِهِ بِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia telah menarik kembali (putusan) itu darinya sebelum putusannya menjadi berlaku.

وَالثَّانِي: نَقَضَهُ عَلَيْهِ بَعْدَ نُفُوذِهِ، لِأَنَّهُ خَالَفَ فِيهِ ظَاهِرَ النَّصِّ فِي قَوْله تَعَالَى: {وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ} [النساء: 12] .

Kedua: Membatalkannya setelah keputusan itu berlaku, karena dalam hal ini ia telah menyelisihi zahir nash dalam firman Allah Ta‘ala: “Dan jika seseorang yang diwarisi itu kalalah, atau seorang perempuan, sedangkan ia mempunyai seorang saudara laki-laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya seperenam.” (QS. an-Nisā’: 12).

وَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا وَلَمْ يَجُزْ لَهُ نَقْضُ مَا ثَبَتَ بِاجْتِهَادٍ مُسَوَّغٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ فِي الْمُسْتَقْبَلِ إِلَّا بِاجْتِهَادٍ ثَانٍ دُونِ الْأَوَّلِ.

Dan apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, dan tidak boleh baginya membatalkan apa yang telah ditetapkan dengan ijtihad yang dibenarkan, maka tidak boleh baginya memutuskan perkara di masa mendatang kecuali dengan ijtihad yang kedua, bukan dengan ijtihad yang pertama.

وَلَوْ بَانَ لَهُ فَسَادُ الِاجْتِهَادِ الْأَوَّلِ قَبْلَ تَنْفِيذِ الْحُكْمِ بِهِ حَكَمَ بِالِاجْتِهَادِ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ.

Jika ternyata baginya kekeliruan ijtihad yang pertama sebelum pelaksanaan hukum berdasarkan ijtihad tersebut, maka ia memutuskan dengan ijtihad yang kedua dan tidak dengan ijtihad yang pertama.

وَمِثَالُ ذَلِكَ مَا يَقُولُهُ فِي الْمُجْتَهِدِ فِي الْقِبْلَةِ إِنْ بَانَ لَهُ بِالِاجْتِهَادِ خَطَأُ مَا تَقَدَّمَ مِنِ اجْتِهَادِهِ قَبْلَ صَلَاتِهِ عَمِلَ عَلَى اجْتِهَادِهِ الثَّانِي دُونَ الْأَوَّلِ، وَإِنْ بَانَ لَهُ بَعْدَ صَلَاتِهِ لَمْ يُعِدْ مَا صَلَّى وَاسْتَقْبَلَ الصَّلَاةَ الثَّانِيَةَ بِالِاجْتِهَادِ الثَّانِي.

Contohnya adalah apa yang dikatakan mengenai seorang mujtahid dalam menentukan arah kiblat: jika tampak baginya melalui ijtihad bahwa ijtihad sebelumnya sebelum salatnya itu keliru, maka ia mengikuti ijtihad yang kedua dan meninggalkan yang pertama. Namun, jika ia mengetahuinya setelah salat, maka ia tidak mengulangi salat yang telah dikerjakannya, dan ia menghadapkan salat yang kedua dengan ijtihad yang kedua.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا خَالَفَ مَا لَا يُسَوَّغُ فِيهِ الِاجْتِهَادُ وَهُوَ أَنْ يُخَالِفَ نَصًّا مِنْ كِتَابٍ أَوْ سُنَّةٍ أَوْ إِجْمَاعٍ أَوْ خَالَفَ مِنْ قِيَاسِ الْمَعْنَى الْقِيَاسَ الْجَلِيَّ أَوْ خَالَفَ مِنْ قِيَاسِ الشَّبَهِ قِيَاسَ التَّحْقِيقِ نَقَضَ بِهِ حُكْمَهُ وَحُكْمَ غَيْرِهِ.

Dan apabila ia menyelisihi perkara yang tidak dibenarkan berijtihad di dalamnya, yaitu menyelisihi nash dari Al-Qur’an atau Sunnah atau ijmā‘, atau menyelisihi qiyās makna terhadap qiyās jali, atau menyelisihi qiyās syabah terhadap qiyās tahqiq, maka dengan itu batalah hukumnya dan hukum orang lain.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ: إِنْ خَالَفَ مَعْنَى نَصِّ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوْ قِيَاسٍ جَلِيٍّ أَوْ خَفِيٍّ لَمْ يُنْقَضْ حُكْمُهُ وَإِنْ خَالَفَ إِجْمَاعًا نُقِضَ حُكْمُهُ. وَهَذَا قَوْلٌ مُسْتَبْعَدٌ، لَكِنَّهُ مَحْكِيٌّ عَنْهُمَا، ثُمَّ نَاقَضَا فِي هَذَا القول.

Abu Hanifah dan Malik berkata: Jika bertentangan dengan makna nash Al-Qur’an atau sunnah, atau qiyās yang jelas maupun samar, maka putusannya tidak dibatalkan. Namun jika bertentangan dengan ijmā‘, maka putusannya dibatalkan. Ini adalah pendapat yang dianggap jauh (lemah), tetapi dinukil dari keduanya, kemudian keduanya pun saling bertentangan dalam pendapat ini.

فَقَالَ مَالِكٌ: إِنْ حَكَمَ بِالشُّفْعَةِ لِلْجَارِ نُقِضَ حُكْمُهُ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: إِنْ حَكَمَ بِالْقُرْعَةِ بَيْنَ الْعَبِيدِ نُقِضَ حُكْمُهُ وَإِنْ حَكَمَ بِجَوَازِ بَيْعِ مَا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ عِنْدَ ذَبْحِهِ نُقِضَ حُكْمُهُ.

Malik berkata: Jika seorang hakim memutuskan hak syuf‘ah bagi tetangga, maka putusannya harus dibatalkan. Abu Hanifah berkata: Jika seorang hakim memutuskan dengan undian di antara para budak, maka putusannya harus dibatalkan; dan jika ia memutuskan bolehnya menjual hewan yang tidak disebut nama Allah saat disembelih, maka putusannya harus dibatalkan.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ: إِنْ حَكَمَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ نُقِضَ حُكْمُهُ.

Muhammad bin al-Hasan berkata: Jika seorang hakim memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah, maka putusannya dibatalkan.

وَهَذَا الْمَذْهَبُ مَعَ اسْتِبْعَادِهِ مُتَنَاقِضٌ.

Dan mazhab ini, meskipun tampak mustahil, adalah kontradiktif.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِهِ قَوْله تَعَالَى: {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} [النساء: 59] . يَعْنِي إِلَى حُكْمِ اللَّهِ وَحُكْمِ الرَّسُولِ.

Dan dalil atas rusaknya (pendapat tersebut) adalah firman Allah Ta‘ala: “Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. an-Nisā’: 59). Maksudnya adalah kepada hukum Allah dan hukum Rasul-Nya.

وَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ردوا الجهالات إلى السنن “.

Nabi ﷺ bersabda: “Kembalikanlah perkara-perkara yang tidak diketahui kepada sunnah.”

وقال – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَدْخَلَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa memasukkan sesuatu yang bukan bagian dari agama kami ke dalamnya, maka itu tertolak.”

وَلِأَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ عَدَلَ عَنِ اجْتِهَادِهِ فِي دِيَةِ الْجَنِينِ حِينَ أَخْبَرَهُ حَمَلُ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى فِيهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ.

Dan karena Umar bin Khattab meninggalkan ijtihadnya mengenai diyat janin ketika Hamil bin Malik memberitahunya bahwa Nabi ﷺ telah memutuskan dalam kasus tersebut dengan membayar diyat berupa seorang budak laki-laki atau budak perempuan.

وَكَانَ لَا يُوَرِّثُ امْرَأَةً مِنْ دِيَةِ زَوْجِهَا حَتَّى رَوَى لَهُ الضَّحَّاكُ بْنُ سُفْيَانَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَرَّثَ امْرَأَةَ أَشْيَمَ الضَّبَابِيِّ مِنْ دِيَةِ زَوْجِهَا، فَوَرَّثَهَا عُمَرُ.

Ia tidak mewariskan kepada seorang istri dari diyat suaminya, hingga adh-Dhahhak bin Sufyan meriwayatkan kepadanya bahwa Nabi ﷺ mewariskan kepada istri Asy-yam adh-Dhababi dari diyat suaminya, maka Umar pun mewariskannya kepadanya.

وَكَانَ يُفَاضِلُ بَيْنَ دِيَاتِ الْأَصَابِعِ حَتَّى رُوِيَ لَهُ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” وَفِي كُلِّ إِصْبَعٍ مِمَّا هُنَالِكَ عَشْرٌ مِنَ الْإِبِلِ “.

Dan ia dahulu membedakan antara diyat (tebusan) jari-jari, hingga kemudian diriwayatkan kepadanya bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Pada setiap jari dari yang ada itu, diyatnya adalah sepuluh ekor unta.”

وَكَتَبَ عُمَرُ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ فِي عَهْدِهِ إِلَيْهِ: لَا يَمْنَعُكَ قَضَاءٌ قَضَيْتَهُ أَمْسِ فَرَاجَعْتَ الْيَوْمَ فِيهِ عَقْلَكَ، وَهُدِيتَ فِيهِ لِرُشْدِكَ، أَنْ تَرْجِعَ إِلَى الْحَقِّ، فَإِنَّ الْحَقَّ قَدِيمٌ، وَمُرَاجَعَةُ الْحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ.

Umar menulis surat kepada Abu Musa al-Asy‘ari dalam piagamnya kepadanya: Janganlah keputusan yang telah engkau putuskan kemarin menghalangimu, jika hari ini engkau meninjau kembali keputusan itu dengan akalmu, dan engkau mendapat petunjuk menuju kebenaran, untuk kembali kepada kebenaran. Sesungguhnya kebenaran itu sudah ada sejak dahulu, dan kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada terus-menerus dalam kebatilan.

وَهَذِهِ كُلُّهَا آثَارٌ لَمْ يَظْهَرْ لَهَا فِي الصَّحَابَةِ مُخَالِفٌ فَكَانَتْ إِجْمَاعًا.

Semua ini adalah atsar yang tidak tampak ada sahabat yang menyelisihinya, sehingga hal itu menjadi ijmā‘.

وَلِأَنَّ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَصْلٌ لِلْإِجْمَاعِ، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْعَقِدَ عَلَى مَا خَالَفَ نَصَّ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ فَلَمَّا نُقِضَ حُكْمُهُ بِمُخَالَفَةِ الْإِجْمَاعِ كَانَ نَقْضُهُ بِمُخَالَفَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْلَى.

Karena al-Qur’an dan sunnah merupakan dasar bagi ijmā‘, sebab tidak boleh ijmā‘ ditetapkan atas sesuatu yang bertentangan dengan nash al-Qur’an atau sunnah. Maka, ketika suatu hukum dibatalkan karena bertentangan dengan ijmā‘, maka pembatalan hukum tersebut karena bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah tentu lebih utama.

وَوُضُوحُ فَسَادِ هَذَا الْقَوْلِ يُغْنِي عَنِ اسْتِيفَاءِ أَدِلَّتِهِ.

Jelasnya kerusakan pendapat ini sudah cukup sehingga tidak perlu menguraikan dalil-dalilnya.

( [هَلْ يَتَعَقَّبُ الْقَاضِي حُكْمَ مَنْ قَبْلَهُ] )

(Apakah seorang qāḍī dapat meninjau kembali putusan qāḍī sebelumnya?)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَيْسَ عَلَى الْقَاضِي أَنْ يَتَعَقَّبَ حُكْمَ مَنْ قَبْلَهُ وَإِنْ تَظَلَّمَ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ مِمَّنْ قَبْلَهُ نُظِرَ فِيهِ فَرَدَّهُ أَوْ أَنْفَذَهُ عَلَى مَا وَصَفْتُ “.

Syafi‘i berkata: “Seorang qadhi tidak wajib meneliti kembali putusan qadhi sebelumnya. Namun, jika pihak yang dijatuhi putusan oleh qadhi sebelumnya mengadukan ketidakadilannya, maka perkara itu diteliti; lalu qadhi dapat membatalkan atau mengesahkannya sesuai dengan apa yang telah aku jelaskan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ الْقَاضِيَ إِذَا تَقَلَّدَ عَمَلًا لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ أَنْ يَتَعَقَّبَ أَحْكَامَ مَنْ قَبْلَهُ وَلَا يَتَتَبَّعَهَا لِأَمْرَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ الظَّاهِرَ مِنْهَا نُفُوذُهَا عَلَى الصِّحَّةِ. وَالثَّانِي: أَنَّهُ نَاظِرٌ فِي مُسْتَأْنَفِ الْأَحْكَامِ دُونَ مَاضِيهَا.

Al-Mawardi berkata: Secara ringkas, apabila seorang qadhi menerima suatu jabatan, maka tidak wajib baginya untuk meneliti kembali putusan-putusan qadhi sebelumnya atau menelusurinya karena dua alasan: Pertama, bahwa yang tampak dari putusan-putusan tersebut adalah telah berlakunya secara sah. Kedua, bahwa qadhi bertugas untuk memeriksa perkara-perkara baru, bukan perkara-perkara yang telah lalu.

فَلِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ أَنْ يَتَعَقَّبَهَا.

Karena dua hal inilah, ia tidak wajib menelusurinya.

فَإِنْ أَرَادَ أَنْ يَتَعَقَّبَهَا مِنْ غَيْرِ مُتَظَلِّمٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ ذَلِكَ لَهُ – وَإِنْ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ – عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ia ingin menuntutnya tanpa ada unsur penganiayaan terhadap dirinya, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai kebolehan hal itu baginya—meskipun tidak wajib atasnya—menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَامِدٍ الْإِسْفِرَايِينِيِّ، يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَعَقَّبَهَا، لِمَا فِيهِ مِنْ فَضْلِ الِاحْتِيَاطِ.

Salah satunya, yaitu pendapat Abu Hamid al-Isfara’ini, membolehkan baginya untuk mengikuti pendapat tersebut, karena di dalamnya terdapat keutamaan sikap kehati-hatian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْبَصْرِيِّينَ: لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَتَعَقَّبَهَا مِنْ غَيْرِ مُتَظَلِّمٍ إِلَيْهِ لِأَمْرَيْنِ:

Pendapat kedua, yaitu pendapat mayoritas ulama Basrah: Tidak boleh baginya untuk menindaklanjuti keputusan tersebut tanpa adanya pihak yang mengadukan perkara kepadanya, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَتَشَاغَلُ بِمَاضٍ لَمْ يَلْزَمْهُ عَنْ مُسْتَقْبَلٍ يَجِبُ عَلَيْهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia menyibukkan diri dengan perkara masa lalu yang tidak wajib atasnya, sehingga melalaikan perkara masa depan yang menjadi kewajibannya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يَتَتَبَّعُ قَدَحًا فِي الْوُلَاةِ يَتَوَجَّهُ عَلَيْهِ مِثْلُهُ.

Kedua: bahwa ia mencari-cari celaan terhadap para penguasa, padahal celaan yang serupa juga dapat diarahkan kepadanya.

فَإِنْ تَظَلَّمَ إِلَيْهِ مِنَ الْأَوَّلِ مُتَظَلِّمٌ لَمْ تَخْلُ ظُلَامَتُهُ مِنْ أَنْ تَكُونَ فِي حُكْمٍ أَوْ غَيْرِ حُكْمٍ.

Jika ada seseorang yang mengadukan kezaliman kepada hakim dari hakim sebelumnya, maka pengaduannya itu tidak lepas dari dua kemungkinan: berkaitan dengan suatu putusan atau bukan putusan.

فَإِنْ كَانَتْ فِي غَيْرِ حُكْمٍ كَدَعْوَى دَيْنٍ عَلَيْهِ أَوْ عَقْدٍ عَقَدَهُ مَعَهُ كَانَ الْأَوَّلُ فِي هَذِهِ الدَّعْوَى عَلَيْهِ كَغَيْرِهِ مِنَ الْخُصُومِ يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ إِحْضَارُهُ وَسَمَاعُ الدَّعْوَى عَلَيْهِ وَالْحُكْمُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَصْمِهِ.

Jika perkara tersebut bukan terkait hukum, seperti gugatan utang terhadapnya atau akad yang ia lakukan dengannya, maka orang pertama dalam gugatan ini terhadapnya diperlakukan seperti pihak lain dari para pihak yang bersengketa; hakim boleh memanggilnya, mendengarkan gugatan terhadapnya, dan memutuskan perkara antara dia dan lawannya.

وَإِنْ كَانَ التَّظَلُّمُ مِنْهُ فِي حُكْمٍ حُكِمَ بِهِ عَلَيْهِ لَمْ يَسْمَعِ الْحَاكِمُ الدَّعْوَى مِنْهُ مُجْمَلَةً حَتَّى يَصِفَهَا بِمَا تَصِحُّ الدَّعْوَى بِمِثْلِهِ.

Dan jika pengaduan itu berkaitan dengan suatu putusan yang telah dijatuhkan atas dirinya, maka hakim tidak akan menerima gugatan darinya secara umum sampai ia menjelaskannya dengan uraian yang membuat gugatan tersebut sah menurut ketentuan yang berlaku.

فَإِذَا وَصَفَهَا نَظَرَ الْحَاكِمُ فِيهَا، فَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ بِمِثْلِهَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُنْقَضَ، لِأَنَّهُ خَالَفَ فِيهَا مِنْ قِيَاسِ الْمَعْنَى الْقِيَاسَ الْخَفِيَّ، أَوْ خَالَفَ فِيهَا مِنْ قِيَاسِ الشَّبَهِ قِيَاسَ التَّقْرِيبِ، رَدَّ الْمُتَظَلِّمَ عَنْهُ وَلَمْ يُعِدْهُ وَأَعْلَمَهُ أَنَّ حُكْمَهُ نَافِذٌ عَلَيْهِ.

Maka apabila ia telah menjelaskannya, hakim meneliti perkara tersebut. Jika hukum terhadap perkara serupa tidak boleh dibatalkan, karena dalam hal itu ia menyelisihi qiyās makna yang samar, atau menyelisihi qiyās syabah dengan qiyās taqrīb, maka hakim menolak pengaduan orang yang mengadukan dan tidak mengulangi pemeriksaan, serta memberitahukan kepadanya bahwa putusannya tetap berlaku atasnya.

فَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ مِمَّا يُنْقَضُ مِثْلُهُ، لِمُخَالَفَتِهِ نَصَّ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ أَوِ الْإِجْمَاعِ أَوِ الْقِيَاسِ الْجَلِيِّ مِنْ قِيَاسي الْمَعْنَى أَوْ قِيَاسِ التَّحْقِيقِ مِنْ قِيَاسِي الشَّبَهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بَعْدَ سَمَاعِ هَذِهِ الدَّعْوَى مِنْهُ فِيمَا يَسْتَجِيزُ بِهِ الْحَاكِمُ إِحْضَارَ الأول على ثلاثة أوجه:

Jika putusan tersebut termasuk putusan yang dapat dibatalkan, seperti karena bertentangan dengan nash al-Qur’an, sunnah, ijmā‘, atau qiyās jali dari qiyās ma‘nā atau qiyās tahqīq dari qiyās syabah, maka para ulama kami berbeda pendapat setelah mendengar klaim ini darinya mengenai alasan yang membolehkan hakim menghadirkan pihak pertama, menjadi tiga pendapat:

أحدهما: أَنَّهُ لَا يَسْتَجِيزُ إِحْضَارَهُ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَى حَتَّى يُقِيمَ بِهَا الْمُتَظَلِّمُ بَيِّنَةً تَشْهَدُ لَهُ بِصِحَّةِ دَعْوَاهُ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ أَحْكَامِ الْأَوَّلِ نُفُوذُهَا عَلَى الصِّحَّةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْدِلَ فِيهَا عَنِ الظَّاهِرِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ. وَلِأَنْ تُصَانَ وُلَاةُ الْمُسْلِمِينَ عَنِ الْبِذْلَةِ إِلَّا بِمَا يُوجِبُهَا.

Pertama: Bahwa tidak diperbolehkan menghadirkannya hanya berdasarkan pengaduan semata, sampai pihak yang terzalimi mendatangkan bukti yang menguatkan kebenaran pengaduannya. Karena yang tampak dari putusan hakim pertama adalah berlakunya putusan tersebut secara sah, maka tidak boleh menyimpang dari yang tampak itu kecuali dengan adanya bukti. Juga agar para penguasa kaum Muslimin terjaga dari kehinaan, kecuali jika memang ada sesuatu yang mewajibkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: إِنِ اقْتَرَنَ بِدَعْوَاهُ أَمَارَةٌ تَدُلُّ عَلَى صِحَّتِهَا مِنْ كِتَابِ قَضِيَّةٍ أَوْ مَحْضَرٍ ظَاهِرِ الصِّحَّةِ أَحْضَرَ بِهِ الْأَوَّلَ، وَإِنْ تَجَرَّدَتِ الدَّعْوَى عَنْ أَمَارَةٍ لَمْ تُحْضِرْهُ.

Pendapat kedua: Jika dalam pengakuannya disertai tanda yang menunjukkan kebenarannya, seperti adanya dokumen perkara atau berita acara yang tampak sah, maka pihak pertama dihadirkan bersamanya. Namun, jika pengakuan itu tidak disertai tanda apa pun, maka pihak pertama tidak dihadirkan.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ يُحْضِرُهُ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا، لِاحْتِمَالِ الدَّعْوَى وَحَسْمِ التَّظَلُّمِ وَرَفْعِ الشَّنَاعَةِ.

Alasan yang ketiga: bahwa ia dihadirkan dalam seluruh keadaan, karena kemungkinan adanya gugatan, untuk mencegah pengaduan, dan menghilangkan keburukan nama.

فَإِذَا حَضَرَ الْأَوَّلُ اسْتَأْنَفَ الْمُتَظَلِّمُ دَعْوَاهُ.

Maka apabila yang pertama hadir, pihak yang mengajukan pengaduan memulai kembali gugatannya.

فَإِذَا كَمَّلَهَا سَأَلَهُ الْحَاكِمُ عَنْهَا إِنْ أَوْجَبَتْ غُرْمًا، وَلَمْ يَسْأَلْهُ إِنْ لَمْ تُوجِبْ غُرْمًا.

Jika ia telah menyempurnakannya, hakim akan menanyainya tentang hal itu jika hal tersebut mewajibkan pembayaran ganti rugi, dan tidak akan menanyainya jika tidak mewajibkan pembayaran ganti rugi.

لِأَنَّ قَوْلَهُ بَعْدَ الْعَزْلِ غَيْرُ مَقْبُولٍ فِي مَاضِي أَحْكَامِهِ.

Karena pernyataannya setelah pencopotan tidak diterima dalam hal-hak yang telah lalu dari putusannya.

وَمَقْبُولٌ فِيمَا لَزِمَهُ غُرْمُهُ.

Dan diterima (pengakuannya) dalam hal yang wajib ia tanggung kerugiannya.

وَعَمَلُ الْحَاكِمِ فِيهِ عَلَى الْبَيِّنَةِ بِمَا تَقُومُ بِهِ.

Dan keputusan hakim dalam hal ini didasarkan pada bukti yang dapat menegakkannya.

فَإِنِ اعْتَرَفَ بِمَا يُوجِبُ الْغُرْمَ أَلْزَمَهُ إِيَّاهُ.

Jika ia mengakui sesuatu yang mewajibkan pembayaran ganti rugi, maka ia diwajibkan untuk membayarnya.

وَإِنْ أَنْكَرَهُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وُجُوبِ إِحْلَافِهِ عَلَيْهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan jika ia mengingkarinya, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai kewajiban menyuruhnya bersumpah atas hal itu menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ لَا يُحَلِّفُهُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ اسْتِهْلَاكُ حُكْمٍ وَلَيْسَ بِاسْتِهْلَاكِ فِعْلٍ وَظَاهِرُ الْأَحْكَامِ نُفُوذُهَا عَلَى الصِّحَّةِ، وَيَجِبُ صِيَانَةُ الْحُكَّامِ فِيهَا عَنِ الْبِذْلَةِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri, yaitu tidak mewajibkan sumpah atasnya, karena hal itu merupakan penghilangan hukum, bukan penghilangan perbuatan. Dan yang tampak dari hukum-hukum adalah berlakunya hukum tersebut secara sah, serta wajib menjaga kehormatan para hakim dalam hal ini dari kehinaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهَا، لِأَنَّ حُقُوقَ الْآدَمِيِّينَ تَسْتَوِي فِيهَا الْكَافَّةُ وَلَا تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِهِمْ وَلَكِنْ لَوِ ادَّعَى الْمُتَظَلِّمُ أَنَّهُ ارْتَشَى مِنْهُ مَالًا عَلَى الْحُكْمِ فَالرِّشْوَةُ ظُلْمٌ كَالْغُصُوبِ فَيَجُوزُ إِحْضَارُ الْأَوَّلِ بِهَذِهِ الدَّعْوَى وَإِحْلَافُهُ عَلَيْهَا إِنْ أنكر.

Pendapat kedua: bahwa ia harus bersumpah atasnya, karena hak-hak sesama manusia berlaku sama bagi semua orang dan tidak berbeda-beda tergantung siapa mereka. Namun, jika pihak yang mengadu mengklaim bahwa ia telah disuap dengan sejumlah uang untuk suatu keputusan, maka suap adalah kezaliman seperti perampasan, sehingga diperbolehkan menghadirkan pihak pertama atas dasar klaim ini dan meminta sumpah darinya jika ia mengingkarinya.

(اتخاذ المترجم)

(Pengangkatan penerjemah)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Silakan kirimkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِذَا تَحَاكَمَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌ لَا يَعْرِفُ لِسَانَهُ لَمْ تُقْبَلِ التَّرْجَمَةُ عَنْهُ إِلَا بِعَدْلَيْنِ يَعْرِفَانِ لِسَانَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Jika seorang ‘ajam (non-Arab) yang tidak memahami bahasanya mengadukan perkara kepadanya, maka terjemahan darinya tidak diterima kecuali oleh dua orang yang adil yang memahami bahasanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا إِنْ كَانَ الْحَاكِمُ يَعْرِفُ لِسَانَ الْأَعْجَمِيِّ فَلَيْسَ يَحْتَاجُ إِلَى تَرْجُمَانٍ، وَإِنْ كَانَ لَا يَعْرِفُ لِسَانَ الْأَعْجَمِيِّ احْتَاجَ إِلَى مُتَرْجِمٍ يُتَرْجِمُ لِلْحَاكِمِ مَا قَالَهُ الْأَعْجَمِيُّ.

Al-Mawardi berkata: Adapun jika hakim memahami bahasa orang ajam, maka ia tidak membutuhkan penerjemah. Namun jika ia tidak memahami bahasa orang ajam, maka ia membutuhkan seorang penerjemah yang menerjemahkan kepada hakim apa yang dikatakan oleh orang ajam tersebut.

(حكم الترجمة)

(Hukum Terjemahan)

وَاخْتُلِفَ فِي حُكْمِ التَّرْجَمَةِ هَلْ هِيَ شَهَادَةٌ أَوْ خَبَرٌ؟ .

Terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum penerjemahan, apakah ia termasuk syahadah (kesaksian) ataukah hanya khabar (pemberitahuan).

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا شَهَادَةٌ تَفْتَقِرُ إِلَى الْعَدَدِ.

Maka mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa itu adalah sebuah kesaksian yang memerlukan jumlah (saksi).

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: التَّرْجَمَةُ خَبَرٌ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى عَدَدٍ، بَلْ تُقْبَلُ فِيهَا تَرْجَمَةُ الْوَاحِدِ إِذَا كَانَ عَدْلًا.

Abu Hanifah berkata: Terjemahan adalah sebuah kabar yang tidak memerlukan jumlah (orang) tertentu, bahkan terjemahan dari satu orang pun dapat diterima jika ia adalah seorang yang adil.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ شَرَائِعَ الدِّينِ لَمَّا قُبِلَتْ عَنِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِخَبَرِ الْوَاحِدِ كَانَتِ التَّرْجَمَةُ بِهِ أَوْلَى، وَلِأَنَّهُ لَمَّا جَازَتْ تَرْجَمَةُ الْأَعْمَى وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُ جَرَتْ مَجْرَى الْخَبَرِ الذي تقبل فيه روايته.

Sebagai dalil bahwa syariat-syariat agama ketika diterima dari Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melalui khabar al-wahid, maka penerjemahan dengannya lebih utama, dan karena ketika diperbolehkan penerjemahan oleh orang buta meskipun kesaksiannya tidak diterima, maka hal itu diperlakukan seperti khabar yang diterima riwayatnya.

ودليلنا أنه تثبت إِقْرَارٍ يَفْتَقِرُ إِلَى الْحُرِّيَّةِ وَالْعَدَالَةِ فَوَجَبَ أَنْ يَفْتَقِرَ إِلَى الْعَدَدِ كَالشَّهَادَةِ، وَلِأَنَّهُ نَقَلَ إِقْرَارًا لَوْ كَانَ فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ أَنْ تَكُونَ شَهَادَةً تَفْتَقِرُ إِلَى عَدَدٍ، فَوَجَبَ إِذَا كَانَ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ أَنْ تَكُونَ الشَّهَادَةُ تَفْتَقِرُ إِلَى عَدَدٍ قِيَاسًا عَلَى مَا لَوْ أَنْكَرَ بَعْدَ أَنْ أَقَرَّ.

Dalil kami adalah bahwa penetapan pengakuan membutuhkan syarat kebebasan dan keadilan, maka wajib juga membutuhkan jumlah (saksi) sebagaimana dalam persaksian. Karena ia merupakan pemindahan pengakuan yang jika terjadi di luar majelis pengadilan, maka ia menjadi persaksian yang membutuhkan jumlah (saksi), maka wajib pula jika terjadi di majelis pengadilan, persaksian itu membutuhkan jumlah (saksi) dengan qiyās terhadap keadaan jika seseorang mengingkari setelah sebelumnya mengakui.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ إخبار الرسول – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَهُوَ أَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ تُقْبَلَ فِيهَا إِخْبَارُ الْعَبْدِ وَإِنْ لَمْ تُقْبَلْ فِي التَّرْجَمَةِ جَازَ أَنْ يُقْبَلَ فِيهَا خَبَرُ الْوَاحِدِ وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ فِي التَّرْجَمَةِ.

Adapun jawaban mengenai pemberitaan Rasulullah ﷺ, maka sesungguhnya ketika dibolehkan menerima pemberitaan seorang hamba di dalamnya, meskipun tidak diterima dalam terjemah, maka dibolehkan pula menerima khabar al-wāḥid di dalamnya, meskipun tidak diterima dalam terjemah.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ تَرْجَمَةِ الْأَعْمَى فَهُوَ أَنَّ التَّرْجَمَةَ تَفْتَقِرُ إِلَى السَّمَاعِ دُونَ الْبَصَرِ وَشَهَادَةُ الْأَعْمَى مَقْبُولَةٌ فِيمَا تَعَلَّقَ بِالسَّمَاعِ وَإِنْ رُدَّتْ فِيمَا تَعَلَّقَ بِالْبَصَرِ.

Adapun jawaban mengenai penerjemahan oleh orang buta adalah bahwa penerjemahan membutuhkan pendengaran, bukan penglihatan, dan kesaksian orang buta diterima dalam hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran, meskipun ditolak dalam hal-hal yang berkaitan dengan penglihatan.

(فصل: ترجمة الوالد والولد والمرأة) .

(Bab: Penerjemahan ayah, anak, dan perempuan).

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَنَّ التَّرْجَمَةَ شَهَادَةٌ وَلَيْسَتْ بِخَبَرٍ فَلَا تُقْبَلُ فِيهَا تَرْجَمَةُ الْوَالِدِ وَالْوَلَدِ كَمَا لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمَا.

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan bahwa terjemahan adalah syahadah (kesaksian) dan bukan khabar (berita), maka tidak diterima dalam hal ini terjemahan dari orang tua dan anak, sebagaimana tidak diterima kesaksian keduanya.

فَأَمَّا تَرْجَمَةُ الْمَرْأَةِ فَإِنْ كَانَتْ فِيمَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ كَالْإِقْرَارِ بِالْأَمْوَالِ سُمِعَتْ تَرْجَمَةُ الْمَرْأَةِ وَحُكِمَ فِيهَا بِتَرْجَمَةِ رَجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ كَالشَّهَادَةِ.

Adapun penerjemahan (terjemahan lisan) oleh perempuan, jika berkaitan dengan perkara yang diterima kesaksian perempuan di dalamnya, seperti pengakuan tentang harta, maka diterima penerjemahan perempuan tersebut dan diputuskan di dalamnya dengan penerjemahan satu laki-laki dan dua perempuan, sebagaimana dalam kesaksian.

وَإِنْ كَانَتْ فِيمَا لَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ كَالْإِقْرَارِ بِالْحُدُودِ وَالْمَنَاكِحِ، لَمْ تُسْمَعْ فِيهِ تَرْجَمَةُ الْمَرْأَةِ، وَنُظِرَ: فَإِنْ كَانَتْ فِيمَا يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ كَغَيْرِ الزِّنَا حَكَمْنَا فِيهِ بِتَرْجَمَةِ شَاهِدَيْنِ عَدْلَيْنِ.

Dan jika (persaksian) itu dalam perkara yang tidak diterima persaksian perempuan di dalamnya, seperti pengakuan terhadap hudūd dan masalah pernikahan, maka terjemahan (kesaksian) perempuan tidak didengarkan di dalamnya. Kemudian diperhatikan: jika itu dalam perkara yang dapat dibuktikan dengan dua orang saksi, seperti selain zina, maka kami memutuskan di dalamnya dengan terjemahan dua orang saksi yang adil.

وَإِنْ كَانَتْ بِالزِّنَا فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي الْإِقْرَارِ بِالزِّنَا عَلَى قَوْلَيْنِ.

Dan jika (anak itu lahir) dari perzinaan, maka pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai pengakuan terhadap perzinaan, yaitu terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَثْبُتُ بِشَاهِدَيْنِ بِخِلَافِ فِعْلِ الزِّنَا فَعَلَى هَذَا يَحْكُمُ فِيهِ بِتَرْجَمَةِ شَاهِدَيْنِ.

Salah satunya: bahwa hal itu dapat dibuktikan dengan dua orang saksi, berbeda dengan perbuatan zina. Oleh karena itu, dalam hal ini diputuskan berdasarkan kesaksian dua orang saksi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِشَهَادَةِ أَرْبَعَةٍ كَالزِّنَا فَعَلَى هَذَا لَا يَحْكُمُ فِيهِ إِلَّا بِتَرْجَمَةِ أَرْبَعَةٍ.

Pendapat kedua: bahwa hal itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kesaksian empat orang, seperti dalam kasus zina. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak dapat diputuskan kecuali dengan penerjemahan dari empat orang.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا لَمْ يَخْلُ حَالُ الْخَصْمَيْنِ مِنْ أَنْ يَكُونَا أَعْجَمِيَّيْنِ أَوْ أَحَدُهُمَا.

Maka apabila hal ini telah ditetapkan, tidak lepas keadaan kedua pihak yang bersengketa itu dari kemungkinan keduanya adalah orang non-Arab, atau salah satu dari mereka.

فَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا أَعْجَمِيًّا شَهِدَ الْمُتَرْجِمَانِ عِنْدَ الْحَاكِمِ بِمَا قَالَهُ الْأَعْجَمِيُّ مِنْ دَعْوَى أَوْ جَوَابٍ وَأَدَّيَاهُ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ.

Jika salah satu dari keduanya adalah orang ajam (bukan Arab), maka dua penerjemah memberikan kesaksian di hadapan hakim tentang apa yang diucapkan oleh orang ajam tersebut, baik berupa gugatan maupun jawaban, dan mereka menyampaikannya dengan lafaz kesaksian, bukan sekadar pemberitahuan.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّهُمَا يَذْكُرَانِهِ بِلَفْظِ الْخَبَرِ دُونَ الشَّهَادَةِ.

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa keduanya menyebutkan hal itu dengan lafaz khabar, bukan dengan lafaz syahadah.

وَلَيْسَ بِصَحِيحٍ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا افْتَقَرَ إِلَى عَدَدِ الشَّهَادَةِ وَجَبَ أَنْ يَفْتَقِرَ إِلَى لفظهما ثم يَذْكُرُ الْحَاكِمُ ذَلِكَ لِلْخَصْمِ الْعَرَبِيِّ وَيَسْمَعُ جَوَابَهُ عَنْهُ.

Dan hal itu tidaklah benar; karena ketika diperlukan jumlah saksi, maka harus juga diperlukan lafaz mereka, kemudian hakim menyebutkan hal itu kepada pihak lawan yang berbahasa Arab dan mendengarkan jawabannya atas hal tersebut.

وَإِنْ كَانَا أَعْجَمِيَّيْنِ فَهَلْ لِلْمُتَرْجِمَيْنِ عَنْ أَحَدِهِمَا أَنْ يُتَرْجِمَا عَنِ الْآخَرِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي الشَّاهِدَيْنِ إِذَا تَحَمَّلَا عَنْ أَحَدِ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ هَلْ يَتَحَمَّلَانِ عَنِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ أَمْ لَا؟ .

Jika keduanya adalah orang ‘ajam (bukan Arab), apakah dua penerjemah dari salah satu di antara mereka boleh menerjemahkan dari yang lainnya atau tidak? Ada dua pendapat, mengikuti perbedaan pendapat dalam masalah dua saksi apabila keduanya menerima kesaksian dari salah satu saksi asal, apakah mereka boleh menerima dari saksi yang lain atau tidak.

فَإِنْ قيل: بجوازه في التحمل، قبل بِجَوَازِهِ فِي التَّرْجَمَةِ، وَإِنْ مَنَعَ مِنْهُ فِي التَّحَمُّلِ مَنَعَ مِنْهُ فِي التَّرْجَمَةِ.

Jika dikatakan: dibolehkannya dalam tahammul, maka dibolehkan pula dalam tarjamah; dan jika dilarang dalam tahammul, maka dilarang pula dalam tarjamah.

فَأَمَّا تَرْجَمَةُ مَا قَالَهُ الْحَاكِمُ لِلْخَصْمِ الْأَعْجَمِيِّ فَهِيَ خَبَرٌ مَحْضٌ وَلَيْسَ بِشَهَادَةٍ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ لَا تَكُونُ إِلَّا عِنْدَ الْحُكَّامِ الْمُلْزِمِينَ. فَيَجُوزُ فِيهَا تَرْجَمَةُ الْوَاحِدِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا.

Adapun terjemahan apa yang dikatakan hakim kepada pihak yang tidak fasih berbahasa Arab, maka itu adalah sekadar pemberitahuan dan bukan merupakan kesaksian; karena kesaksian hanya berlaku di hadapan para hakim yang berwenang memutuskan perkara. Oleh karena itu, dalam hal ini diperbolehkan terjemahan oleh satu orang saja, meskipun ia seorang budak.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُتَرْجِمُ لِأَحَدِ الْخَصْمَيْنِ هُوَ الْمُتَرْجِمَ لِلْخَصْمِ الْآخَرِ وَجْهًا وَاحِدًا لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَ التَّرْجَمَةِ عِنْدَ الحاكم وغير الحاكم بالوجوب والإلزام.

Dan boleh saja penerjemah untuk salah satu pihak yang bersengketa juga menjadi penerjemah untuk pihak yang lain, menurut satu pendapat, karena terdapat perbedaan antara penerjemahan di hadapan hakim dan selain hakim dalam hal kewajiban dan keharusan.

(الشهود)

(Saksi-saksi)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِذَا شَهِدَ الشُّهُودُ عِنْدَ الْقَاضِي كَتَبَ حِلْيَةَ كُلِّ رَجُلٍ وَرَفَعَ فِي نَسَبِهِ إِنْ كَانَ لَهُ أَوْ وِلَايَةٍ إِنْ كَانَتْ لَهُ وَسَأَلَهُ عَنْ صِنَاعَتِهِ وَكُنْيَتِهِ إِنْ كَانَتْ لَهُ وَعَنْ مَسْكَنِهِ وَعَنِ مَوْضِعِ بِيَاعَتِهِ وَمُصَلَّاهُ “.

Syafi‘i berkata: “Apabila para saksi memberikan kesaksian di hadapan qadhi, maka qadhi menuliskan ciri-ciri setiap orang, menuliskan nasabnya jika ia memilikinya, atau wilayahnya jika ia memilikinya, dan menanyakan tentang pekerjaannya, kunyah-nya jika ia memilikinya, tempat tinggalnya, tempat ia biasa berjual beli, dan tempat ia biasa shalat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ الشُّهُودِ إِذَا شهدوا عند القاضي من ثلاثة أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan para saksi ketika mereka memberikan kesaksian di hadapan qadhi tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْلَمَ عَدَالَتَهُمْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ وَيَعْمَلَ عَلَى عِلْمِهِ فِي عَدَالَتِهِمْ.

Salah satunya: yaitu mengetahui keadilan mereka secara lahir dan batin, maka boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka dan beramal berdasarkan pengetahuannya tentang keadilan mereka.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْلَمَ فِسْقَهُمْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ أَوْ فِي الْبَاطِنِ دُونَ الظَّاهِرِ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ، وَيَعْمَلَ عَلَى عِلْمِهِ فِي فِسْقِهِمْ، فَيَحْكُمُ بِعِلْمِهِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ. وَهَذَا مِمَّا لَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَإِنْ كَانَ لَهُ فِي الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ فِيمَا عَدَاهُ قَوْلَانِ.

Keadaan kedua: yaitu ketika ia mengetahui kefasikan mereka, baik secara lahir maupun batin, atau secara batin saja tanpa lahir, maka tidak boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka, dan ia harus bertindak berdasarkan pengetahuannya tentang kefasikan mereka, sehingga ia memutuskan dengan ilmunya dalam hal jarḥ dan ta‘dīl. Hal ini merupakan perkara yang tidak diperselisihkan dalam mazhab Syafi‘i, meskipun dalam memutuskan hukum dengan ilmunya pada selain itu terdapat dua pendapat.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ لَا يُعْرَفُوا بِعَدَالَةٍ وَلَا فِسْقٍ: فَلَا يَخْلُو أَنْ يَعْلَمَ إِسْلَامَهُمْ، أَوْ لَا يَعْلَمَهُ.

Keadaan ketiga: yaitu mereka tidak dikenal dengan keadilan maupun kefasikan; maka tidak lepas dari dua kemungkinan, apakah diketahui keislaman mereka atau tidak diketahui.

فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ إِسْلَامَهُمْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ، حَتَّى يَسْأَلَ عَنْهُمْ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُجْرِيَ عَلَيْهِمْ حُكْمَ الْإِسْلَامِ بِظَاهِرِ الدَّارِ فِي سَمَاعِ شَهَادَتِهِمْ وَإِنْ أَجْرَيْنَا عَلَى اللَّقِيطِ حُكْمَ الْإِسْلَامِ بِظَاهِرِ الدَّارِ لِمَا يَتَعَلَّقُ بِالشَّهَادَةِ مِنْ إِلْزَامِ الْحُقُوقِ الَّتِي لَا تَتَعَلَّقُ بِاللَّقِيطِ.

Jika tidak diketahui keislaman mereka, maka tidak boleh memutuskan berdasarkan kesaksian mereka, sampai terlebih dahulu menanyakan tentang mereka, dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Tidak boleh juga memberlakukan hukum Islam atas mereka hanya karena tampaknya mereka tinggal di negeri Islam dalam hal menerima kesaksian mereka, meskipun kita memberlakukan hukum Islam atas anak temuan (laqīṭ) berdasarkan tampaknya ia berada di negeri Islam. Hal ini karena dalam perkara kesaksian terdapat kewajiban menunaikan hak-hak yang tidak berkaitan dengan anak temuan.

وَإِنْ عَلِمَ إِسْلَامَهُمْ وَجَهِلَ عَدَالَتِهِمْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ حَتَّى يَبْحَثَ عَنْ عَدَالَةِ ظَاهِرِهِمْ وَبَاطِنِهِمْ فَيَحْكُمَ بِهَا بَعْدَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمْ.

Dan jika ia mengetahui keislaman mereka namun tidak mengetahui keadilan mereka, maka tidak boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka sampai ia meneliti keadilan lahir dan batin mereka, lalu ia memutuskan hukum berdasarkan kesaksian tersebut setelah terbukti keadilan mereka.

وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ، وَسَوَاءٌ كَانَ لَهُمْ سِيمَا حَسَنٌ وَسَمْتٌ جَمِيلٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ.

Dan dengan pendapat ini mayoritas fuqaha berpendapat, dan ini adalah pendapat Abu Yusuf dan Muhammad, baik mereka memiliki tanda-tanda yang baik dan penampilan yang indah maupun tidak.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ وَيَعْمَلَ عَلَى الظَّاهِرِ مِنْ عَدَالَتِهِمْ، وَلَا يَلْزَمُهُ الْبَحْثُ عَنْهَا إِلَّا فِي الْحُدُودِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ اسْتِدْرَاكُهَا، أَوْ يَجْرَحُهُمُ الْخَصْمُ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ، فَيَلْزَمُهُ فِي هَاتَيْنِ الْحَالَتَيْنِ الْبَحْثُ عَنْ عَدَالَتِهِمْ، وَلَا يَلْزَمُهُ الْبَحْثُ عَنْهَا فِيمَا عَدَاهُمَا.

Abu Hanifah berkata: Boleh bagi seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan kesaksian mereka dan berpegang pada penampakan lahir dari keadilan mereka, dan tidak wajib baginya untuk meneliti keadilan tersebut kecuali dalam perkara hudud yang tidak mungkin dapat diperbaiki kembali, atau jika pihak lawan yang menjadi objek kesaksian mencela para saksi tersebut, maka dalam dua keadaan ini wajib baginya meneliti keadilan mereka, dan tidak wajib baginya meneliti keadilan mereka selain dalam dua keadaan tersebut.

وَقَالَ مَالِكٌ: إِنْ كَانَ لَهُمْ سِيَمَا جَمِيلٌ وَسَمْتٌ حَسَنٌ حَكَمَ بِشَهَادَتِهِمْ مِنْ غَيْرِ بَحْثٍ عَنْ عَدَالَتِهِمْ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سِيمَا وَسَمْتٌ لَمْ يَحْكُمْ بِشَهَادَتِهِمْ، إِلَّا بَعْدَ الْبَحْثِ عَنْ عَدَالَتِهِمُ اسْتِدْلَالًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ} [البقرة: 143] .

Malik berkata: Jika mereka memiliki tanda-tanda yang baik dan penampilan yang terpuji, maka kesaksian mereka dapat diterima tanpa meneliti keadilan mereka. Namun jika mereka tidak memiliki tanda-tanda dan penampilan tersebut, maka kesaksian mereka tidak dapat diterima kecuali setelah meneliti keadilan mereka, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (QS. Al-Baqarah: 143).

وَدَلِيلُهُ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dalilnya ada dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: قَوْلُهُ ” وَسَطًا ” وَالْوَسَطُ الْعَدْلُ وَمِنْهُ قَوْلُ الشَّاعِرِ.

Salah satunya adalah firman-Nya “wasathan” (pertengahan), dan yang dimaksud dengan wasath adalah adil, sebagaimana disebutkan dalam perkataan seorang penyair.

(هُمْ وَسَطٌ تَرْضَى الْأَنَامُ بِحُكْمِهِمْ … إِذَا نَزَلَتْ إِحْدَى اللَّيَالِي بِمُعْظَمِ)

Mereka adalah golongan pertengahan yang manusia rela dengan keputusan mereka, ketika salah satu malam yang berat menimpa kebanyakan orang.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ جَعَلَهُمْ بِمَا رُوِيَ أَنَّ أَعْرَابِيًّا شَهِدَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ. فَقَالَ لَهُ: ” أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ ” قَالَ: نَعَمْ فَأَمَرَ بِلَالًا أَنْ يُنَادِيَ فِي النَّاسِ بِالصِّيَامِ مِنَ الْغَدِ، وَلَمْ يَسْأَلْ عَنْ عَدَالَتِهِ، وَعَمَلَ عَلَى الظَّاهِرِ مِنْ حَالِهِ.

Kedua: Bahwa beliau menetapkan hal itu berdasarkan riwayat bahwa seorang Arab Badui memberikan kesaksian di hadapan Rasulullah ﷺ tentang melihat hilal. Maka beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada orang-orang agar berpuasa esok harinya, dan beliau tidak menanyakan tentang keadilannya, serta mengambil keputusan berdasarkan keadaan lahiriahnya.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ ” الْمُسْلِمُونَ عُدُولٌ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا مَجْلُودًا فِي فِرْيَةٍ ” فَحَكَمَ بِظَاهِرِ الْعَدَالَةِ، إِلَّا مَنْ ثَبَتَ جَرْحُهُ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Kaum Muslimin adalah orang-orang yang adil satu sama lain, kecuali orang yang telah dijatuhi hukuman cambuk karena tuduhan dusta.” Maka, hukum didasarkan pada keadilan lahiriah, kecuali bagi orang yang telah terbukti cacat integritasnya.

وَبِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ: ” الْمُسْلِمُونَ عُدُولٌ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا مَجْلُودًا فِي حَدٍّ أَوْ مُجَرَّبًا عَلَيْهِ شَهَادَةُ زُورٍ أَوْ ظَنِينًا فِي وَلَاءٍ أَوْ نَسَبٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَوَلَّى السَّرَائِرَ، وَدَرَأَ الْحُدُودَ بِالْأَيْمَانِ وَالْبَيِّنَاتِ ” وَهَذَا عَهْدٌ عَمِلَ بِهِ الْمُسْلِمُونَ، وَتَلَقَّوْهُ بِالْقَبُولِ فَصَارَ كَالْإِجْمَاعِ.

Dan berdasarkan riwayat dari Umar bin Khattab bahwa ia menulis kepada Abu Musa al-Asy‘ari: “Kaum Muslimin adalah orang-orang yang adil satu sama lain, kecuali orang yang pernah dijatuhi hukuman had, atau yang pernah terbukti memberikan kesaksian palsu, atau yang dicurigai dalam masalah wala’ atau nasab. Sesungguhnya Allah-lah yang mengetahui rahasia hati, dan Allah menggugurkan hudud dengan sumpah dan bukti-bukti.” Inilah ketetapan yang dijalankan oleh kaum Muslimin dan mereka menerimanya, sehingga kedudukannya seperti ijmā‘.

وَقَالُوا: وَلِأَنَّ الْفِسْقَ طَارِئٌ بِمَا يَسْتَحْدِثُهُ مِنْ فِعْلِ الْمَعَاصِي بَعْدَ الْبُلُوغِ، فَوَجَبَ أَنْ يُسْتَدَامَ حُكْمُ عَدَالَتِهِ مَا لَمْ يَثْبُتْ خِلَافُهَا مِنْ فِسْقِهِ.

Dan mereka berkata: Karena kefasikan itu muncul akibat perbuatan maksiat yang dilakukan setelah baligh, maka wajib untuk tetap menetapkan hukum keadilannya selama belum terbukti sebaliknya, yaitu kefasikannya.

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ لَمَّا اعْتُبِرَ إِسْلَامُهُ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ وَجَبَ اعْتِبَارُ عَدَالَتِهِ فِي الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ.

Mereka berkata: Karena ketika keislamannya dianggap sah secara lahiriah dan bukan batiniah, maka keadilannya pun harus dianggap sah secara lahiriah dan bukan batiniah.

وَلِأَنَّ الرُّوَاةَ لِأَخْبَارِ الدِّيَانَاتِ لَمَّا اعْتُبِرَتْ عَدَالَةُ ظَاهِرِهِمْ دُونَ بَاطِنِهِمْ كَانَ فِي الشَّهَادَاتِ أَوْلَى.

Dan karena para perawi berita-berita agama, ketika keadilan lahiriah mereka yang dipertimbangkan tanpa memperhatikan batin mereka, maka dalam perkara kesaksian hal itu lebih utama.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا اعْتُبِرَ فِي شُهُودِ الْمَنَاكِحِ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ، كَذَلِكَ شُهُودُ غَيْرِ الْمَنَاكِحِ.

Dan karena ketika dalam persaksian pernikahan dipertimbangkan keadilan lahiriah, demikian pula dalam persaksian selain pernikahan.

وَدَلِيلُنَا قَوْله تَعَالَى: {وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ} [الطلاق: 2] وَقَالَ تَعَالَى: {إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فتبينوا} فَأَمَرَ بِالْعَدْلِ، وَنَهَى عَنِ الْفَاسِقِ، فَوَجَبَ الْبَحْثُ عَنْ حَالِهِ لِيَعْلَمَ أَنَّهُ مِنَ الْمَأْمُورِ بِهِمْ أَوِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُمْ، وَلَا يَحْكُمُ بِالْعَدَالَةِ عَنْ جَهَالَةٍ كَمَا لَا يَحْكُمُ بِالْفِسْقِ عَنْ جَهَالَةٍ لِاحْتِمَالِ الْأَمْرَيْنِ.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan persaksikanlah dengan dua orang yang adil di antara kalian” (ath-Thalaq: 2), dan firman-Nya Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah” (al-Hujurat: 6). Maka Allah memerintahkan untuk memilih yang adil dan melarang menerima dari yang fasik, sehingga wajib meneliti keadaannya agar diketahui apakah ia termasuk yang diperintahkan atau yang dilarang. Tidak boleh menetapkan keadilan karena ketidaktahuan, sebagaimana tidak boleh menetapkan kefasikan karena ketidaktahuan, karena keduanya mungkin saja terjadi.

وَرَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَ شَهِدَ رَجُلٌ عِنْدَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: إِنِّي لَسْتُ أَعْرِفُكَ وَلَا يَضُرُّكَ أَنْ لَا أَعْرِفَكَ فَائْتِنِي بِمَنْ يَعْرِفُكَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَنَا أَعْرِفُهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ: بِأَيِّ شَيْءٍ تَعْرِفُهُ؟ قَالَ: بِالْعَدَالَةِ وَالْفَضْلِ،. قَالَ: هُوَ جَارُكَ الْأَدْنَى تَعْرِفُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ وَمَدْخَلَهُ وَمَخْرَجَهُ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَمُعَامِلُكَ بِالدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ اللَّذَيْنِ يُسْتَدَلُّ بِهِمَا عَلَى الْوَرَعِ؟ قَالَ: لَا قَالَ: فَصَاحِبُكَ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ؟ قَالَ: لَا قَالَ: فَلَسْتَ تَعْرِفُهُ ثُمَّ قَالَ لِلرَّجُلِ: ائْتِنِي بِمَنْ يَعْرِفُكَ فَدَلَّ هَذَا مِنْ قَوْلِهِ وَفِعْلِهِ عَلَى وُجُوبِ الْبَحْثِ عَنِ الْعَدَالَةِ.

Sulaiman bin Huraits meriwayatkan bahwa seorang laki-laki memberikan kesaksian di hadapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Maka Umar berkata kepadanya, “Aku tidak mengenalmu, dan tidak mengapa bagimu jika aku tidak mengenalmu. Datangkanlah seseorang yang mengenalmu.” Lalu seorang laki-laki berkata, “Aku mengenalnya, wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Dengan apa kamu mengenalnya?” Ia menjawab, “Dengan keadilan dan keutamaannya.” Umar bertanya lagi, “Apakah dia tetanggamu yang paling dekat, sehingga kamu mengetahui keadaan malam dan siangnya, keluar masuknya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar bertanya, “Apakah dia pernah bertransaksi denganmu dengan dinar dan dirham yang dengannya dapat diketahui sifat wara’?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah dia teman safarmu yang dengannya dapat diketahui kemuliaan akhlaknya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Kalau begitu, kamu tidak mengenalnya.” Lalu Umar berkata kepada laki-laki itu, “Datangkanlah seseorang yang mengenalmu.” Maka dari ucapan dan perbuatan Umar ini menunjukkan wajibnya meneliti keadilan (al-‘adālah).

وَمِنَ الْقِيَاسِ إِنَّ كُلَّ عَدَالَةٍ شُرِطَتْ فِي الشَّهَادَةِ لَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا مَعَ الْجَهَالَةِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الْحُدُودِ.

Dan berdasarkan qiyās, setiap keadilan yang disyaratkan dalam kesaksian tidak boleh dijadikan dasar putusan apabila terdapat ketidaktahuan (terhadap keadilan tersebut), seperti halnya kesaksian dalam perkara hudud.

وَلِأَنَّ كُلَّ شَهَادَةٍ وَجَبَ الْبَحْثُ عَنْ عَدَالَتِهَا فِي الْحُدُودِ وَجَبَ الْبَحْثُ عَنْ عَدَالَتِهَا فِي غَيْرِ الْحُدُودِ كَمَا لَوْ طَعَنَ فِيهَا الْخَصْمُ.

Dan karena setiap kesaksian yang wajib diteliti keadilannya dalam perkara hudūd, maka wajib pula diteliti keadilannya dalam perkara selain hudūd, sebagaimana jika pihak lawan menggugat kesaksian tersebut.

وَلِأَنَّ كُلَّ عَدَالَةٍ وَجَبَ الْبَحْثُ عَنْهَا إِذَا طَعَنَ فِيهَا الْخَصْمُ وَجَبَ الْبَحْثُ عَنْهَا وَإِنْ لَمْ يَطْعَنِ الْخَصْمُ كَالْحُدُودِ.

Dan karena setiap keadilan yang wajib diteliti apabila pihak lawan mengajukan keberatan terhadapnya, maka wajib pula diteliti meskipun pihak lawan tidak mengajukan keberatan, seperti dalam perkara hudud.

وَلِأَنَّ اعْتِبَارَ الْعَدَالَةِ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا الِاخْتِلَافُ فِي صِفَةِ الِاعْتِبَارِ، فَهُمُ اعْتَبَرُوهَا بِالظَّاهِرِ وَنَحْنُ نَعْتَبِرُهَا بِالْبَحْثِ وَالْبَحْثُ أَقْوَى مِنَ الظَّاهِرِ، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ أَحَقَّ بِالِاعْتِبَارِ لِمَا فِيهِ مِنْ الِاحْتِيَاطِ وَالِاسْتِظْهَارِ.

Karena pertimbangan keadilan adalah sesuatu yang telah disepakati (ijmā‘), sedangkan perbedaan hanya terletak pada sifat pertimbangannya. Mereka mempertimbangkannya secara lahiriah, sedangkan kami mempertimbangkannya dengan penelitian (bahth), dan penelitian itu lebih kuat daripada penilaian lahiriah. Maka sudah seharusnya penelitian lebih layak untuk dijadikan pertimbangan, karena di dalamnya terdapat kehati-hatian dan upaya memperkuat keyakinan.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِإِسْلَامِهِ بِالظَّاهِرِ مِنْ دَارِ الْإِسْلَامِ لِأَنَّ فِيهَا كُفَّارًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِعَدَالَتِهِ بِظَاهِرِ الْإِسْلَامِ؛ لِأَنَّ فِي الْمُسْلِمِينَ فُسَّاقًا.

Dan karena tidak diperbolehkan menetapkan keislamannya hanya berdasarkan penampakan lahiriah di negeri Islam, sebab di dalamnya terdapat orang-orang kafir, maka tidak diperbolehkan pula menetapkan keadilannya hanya berdasarkan penampakan lahiriah keislaman; karena di antara kaum muslimin terdapat orang-orang fasik.

فَأَمَّا الجواب عن قوله: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا} [البقرة: 143] فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban atas ucapannya: “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath (pertengahan)” (QS. Al-Baqarah: 143), maka dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ شَهِدُوا فِيمَا أَجْمَعُوا عَلَيْهِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ ” لَا تَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ “.

Salah satunya adalah bahwa mereka memberikan kesaksian dalam hal yang mereka sepakati berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.”

وَالثَّانِي: أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا شَهَادَتُهُمْ فِي الْآخِرَةِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنَّ الرُّسُلَ قَدْ بَلَّغُوا رِسَالَةَ رَبِّهِمْ [أَلَا تَرَى كَيْفَ] قَالَ: {وَيَكُونَ الرسول عليكم شهيدا} [البقرة: 143] أن ما شهدتهم بِهِ حَقٌّ.

Kedua: Yang dimaksud dengan kesaksian mereka adalah kesaksian mereka di akhirat di hadapan Allah Ta‘ala bahwa para rasul telah menyampaikan risalah Tuhan mereka. Tidakkah engkau melihat bagaimana firman-Nya: “Dan rasul menjadi saksi atas kalian” (Al-Baqarah: 143), bahwa apa yang mereka saksikan itu adalah benar.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: ” الْمُسْلِمُونَ عُدُولٌ ” فَهُوَ أَنَّ مَا أَوْجَبَهُ الْإِسْلَامُ مِنْ عَمَلِ الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابِ الْمَعَاصِي مُوجِبٌ لِعَدَالَتِهِمْ، وَكَذَلِكَ نَقُولُ فِيهِمْ إِذَا عَلِمْنَا ذَلِكَ مِنْهُمْ، وَالْبَحْثُ إِنَّمَا يَتَوَجَّهُ إِلَى الْعِلْمِ بِهَذَا.

Adapun jawaban atas ucapannya: “Kaum Muslimin itu adil,” maka sesungguhnya apa yang diwajibkan Islam berupa melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat adalah sebab bagi keadilan mereka. Demikian pula kita katakan tentang mereka jika kita mengetahui hal itu dari mereka, dan pembahasan ini sebenarnya tertuju pada pengetahuan tentang hal tersebut.

وَكَذَا الْجَوَابُ عَنْ حَدِيثِ الْأَعْرَابِيِّ.

Demikian pula jawaban terhadap hadis tentang orang Arab Badui.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِأَنَّ الْفِسْقَ طَارِئٌ فَهُوَ أَنَّ الْعَدَالَةَ بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ، وَالْفِسْقَ بِفِعْلِ الْمَعَاصِي، وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْفِعْلَيْنِ طَارِئٌ، فَلَمْ يَكُنِ الْأَخْذُ بِأَحَدِهِمَا أَوْلَى مِنَ الْآخَرِ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka bahwa kefasikan itu sesuatu yang datang kemudian, maka sesungguhnya keadilan diperoleh dengan melakukan ketaatan, dan kefasikan dengan melakukan maksiat. Masing-masing dari kedua perbuatan itu adalah sesuatu yang datang kemudian, sehingga tidak ada alasan untuk lebih mengutamakan salah satunya daripada yang lain.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ: لَمَّا اعْتُبِرَ ظَاهِرُ إِسْلَامِهِ اعْتُبِرَ ظَاهِرُ عَدَالَتِهِ فَهُوَ أَنَّ الْإِسْلَامَ اعْتِقَادٌ يَخْفَى فَعَمِلَ فِيهِ عَلَى الظَّاهِرِ، وَالْعَدَالَةُ وَالْفِسْقُ بِأَفْعَالٍ تَظْهَرُ فَأَوْجَبَتِ الْبَحْثَ.

Adapun jawaban atas pernyataan mereka: “Ketika yang diperhatikan adalah lahiriah keislamannya, maka yang diperhatikan juga adalah lahiriah keadilannya,” maka jawabannya adalah bahwa Islam merupakan keyakinan yang tersembunyi sehingga dalam hal ini diperlakukan berdasarkan yang tampak, sedangkan keadilan dan kefasikan adalah perbuatan-perbuatan yang tampak sehingga hal itu mewajibkan adanya penelitian.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ عَدَالَةِ الرُّوَاةِ: فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban mengenai keadilan para perawi: para ulama kami berbeda pendapat di dalamnya menjadi dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ تُعْتَبَرُ فِيهِمْ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ كَالشَّهَادَةِ وَلَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُمْ إِلَّا بَعْدَ الْبَحْثِ عَنْ عَدَالَتِهِمْ فَعَلَى هَذَا الْوَجْهِ يَسْقُطُ الِاسْتِدْلَالُ وَهُوَ أَصَحُّ الْوَجْهَيْنِ.

Pertama: Bahwa dalam hal ini dipersyaratkan adanya keadilan lahir dan batin pada mereka, seperti dalam persaksian, dan riwayat mereka tidak diterima kecuali setelah diteliti tentang keadilan mereka. Dengan demikian, istidlāl menjadi gugur, dan inilah pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُعْتَبَرُ فِيهِمْ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ وَيُعْتَبَرُ فِي الشُّهُودِ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ.

Pendapat kedua: bahwa pada mereka dipertimbangkan keadilan lahiriah, sedangkan pada para saksi dipertimbangkan keadilan lahiriah dan batiniah.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara keduanya terdapat pada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَخْبَارَ الدِّيَانَاتِ يَسْتَوِي فيه الْمُخْبِرُ وَغَيْرُ الْمُخْبِرِ، فَكَانَتِ التُّهْمَةُ مُنْتَفِيَةً وَالِاعْتِبَارُ أَخَفَّ، وَالشَّهَادَةُ يَخْتَلِفُ فِيهَا الشَّاهِدُ وَالْمَشْهُودُ عَلَيْهِ، فَكَانَتِ التُّهْمَةُ مُتَوَجِّهَةً وَالِاعْتِبَارُ أَغْلَظَ.

Salah satunya adalah bahwa berita-berita tentang agama (diyānāt) sama saja antara orang yang menyampaikan dan yang tidak menyampaikan, sehingga tuduhan (adanya kepentingan) tidak ada dan pertimbangannya lebih ringan. Sedangkan dalam kesaksian, terdapat perbedaan antara saksi dan orang yang disaksikan, sehingga tuduhan (adanya kepentingan) dapat diarahkan dan pertimbangannya lebih berat.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ [قَدْ يُقْبَلُ فِي الرِّوَايَةِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْعَبِيدِ مَنْ لَمْ يُقْبَلْ فِي الشَّهَادَةِ وَيُقْبَلُ خَبَرُ الرَّاوِي مَعَ وُجُودِ الْمَرْوِيِّ عَنْهُ، وَتُقْبَلُ مِنْهَا رِوَايَةُ الْوَاحِدِ عَنِ الْوَاحِدِ وَهِيَ الَّتِي تُسَمَّى الْعَنْعَنَةُ، لِقَوْلِهِ حَدَّثَنِي فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ. وَمِثْلُ هَذَا كُلِّهِ لَا يَجُوزُ فِي الشَّهَادَةِ] كَذَلِكَ حال العدالة.

Kedua: Bahwa dalam periwayatan, boleh diterima dari perempuan dan budak orang-orang yang tidak diterima kesaksiannya, dan diterima pula berita dari perawi meskipun orang yang diriwayatkan darinya masih ada, serta diterima riwayat satu orang dari satu orang yang lain, yang disebut dengan ‘an‘anah, yaitu dengan ucapannya: “Telah menceritakan kepadaku fulan dari fulan.” Semua hal seperti ini tidak diperbolehkan dalam kesaksian, demikian pula dalam hal keadilan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ عَدَالَةِ شُهُودِ الْمَنَاكِحِ فَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَذْهَبُ إِلَى اعْتِبَارِ عَدَالَتِهِمْ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، كَالشَّهَادَةِ فِي الْحُقُوقِ، وَالَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُهُمْ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْمُعْتَبَرَ فِيهِمْ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ دُونَ الْبَاطِنِ.

Adapun jawaban mengenai keadilan para saksi dalam pernikahan, sebagian ulama kami berpendapat bahwa yang dipertimbangkan adalah keadilan mereka secara lahir dan batin, sebagaimana dalam persaksian pada hak-hak. Namun, pendapat mayoritas mereka, dan inilah yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa yang dipertimbangkan pada mereka hanyalah keadilan secara lahir, bukan batin.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّهَادَةِ فِي الْحُقُوقِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Perbedaan antara hal ini dan kesaksian dalam hak-hak terdapat pada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ عَدَالَةَ الْبَاطِنِ لَا يَصِلُ إِلَيْهَا غَيْرُ الْحُكَّامِ، فَاخْتَصَّ اعْتِبَارُهَا بِالْأَحْكَامِ.

Salah satunya adalah bahwa keadilan batin tidak dapat diketahui kecuali oleh para hakim, sehingga pertimbangannya dikhususkan dalam hukum-hukum.

وَالثَّانِي: أَنَّ عُقُودَ الْمَنَاكِحِ تَكْثُرُ، وَفِي تَأْخِيرِهَا إِلَى الْبَحْثِ عَنْ عَدَالَةِ الْبَاطِنِ ضَرَرٌ شَاقٌّ فَخَالَفَتْ شهادة الأحكام.

Kedua: bahwa akad-akad pernikahan sangat banyak, dan menunda pelaksanaannya sampai dilakukan penelitian tentang keadilan batin akan menimbulkan kesulitan yang berat, sehingga hal ini berbeda dengan kesaksian dalam perkara hukum.

(فصل: اعتراف المشهود عليه بعدالة الشهود)

(Bab: Pengakuan pihak yang menjadi objek kesaksian terhadap keadilan para saksi)

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمْ لَا يَصِحُّ إِلَّا بَعْدَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمْ، فَاعْتَرَفَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ بِعَدَالَتِهِمْ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي وُجُوبِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِشَهَادَتِهِمْ، عَلَى وَجْهَيْنِ:

Maka apabila telah tetap bahwa penetapan hukum berdasarkan kesaksian mereka tidak sah kecuali setelah terbukti keadilan mereka, lalu pihak yang menjadi objek kesaksian mengakui keadilan mereka, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai kewajiban menetapkan hukum atasnya berdasarkan kesaksian mereka, dengan dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَحْكُمُ عَلَيْهِ، لِأَنَّ الْبَحْثَ عَنْ عَدَالَتِهِمْ مُعْتَبَرٌ فِي حَقِّهِ فَأَسْقَطَ اعْتِبَارَهُ فِيهِمْ بِاعْتِرَافِهِ.

Salah satunya: bahwa ia menetapkan hukum atasnya, karena penelitian tentang keadilan mereka dianggap penting baginya, maka ia menggugurkan pertimbangan tersebut pada mereka dengan pengakuannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِتَزْكِيَتِهِ لَهُمْ، لِأَنَّ فِي الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ حُكْمًا بِعَدَالَتِهِمْ، فَلَمْ يَجُزْ أن يحكم بها بتزكية الخصم.

Pendapat kedua: Bahwa tidak boleh menetapkan keadilan mereka berdasarkan rekomendasi mereka sendiri, karena menetapkan kesaksian mereka berarti menetapkan keadilan mereka, sehingga tidak diperbolehkan menetapkan keadilan dengan rekomendasi dari pihak yang bersengketa.

(تدوين أسماء الشهود وحليتهم)

(Pencatatan nama-nama saksi dan ciri-ciri fisik mereka)

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ وَجَبَ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يُثْبِتَ أَسْمَاءَ الشُّهُودِ، وَكُنَاهُمْ، وَيَرْفَعَ فِي أَنْسَابِهِمْ، أَوْ وَلَائِهِمْ، وَيَذْكُرَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ صَنَائِعَ وَمَكَاسِبَ، وَبِقَاعِ مَسَاكِنِهِمْ، وَيُثْبِتَ حُلَاهُمْ وَأَوْصَافَهُمْ فِي أَلْوَانِهِمْ وَأَبْدَانِهِمْ، لِئَلَّا تُشْتَبَهُ الْأَسْمَاءُ وَالْأَنْسَابُ. وَقَدْ حُكِيَ عَنِ ابْنِ شُبْرُمَةَ أَنَّهُ قَالَ: شَيْئَانِ مَا عَمِلَ بِهِمَا قَبْلِي أَحَدٌ، وَلَا يَتْرُكُهُمَا بَعْدِي أَحَدٌ. تَحْلِيَةُ الشُّهُودِ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُمْ سرا.

Jika demikian, wajib bagi hakim untuk mencatat nama-nama para saksi, kunyah mereka, menelusuri nasab atau hubungan wala’ mereka, menyebutkan pekerjaan dan mata pencaharian mereka, tempat tinggal mereka, serta mencatat ciri-ciri dan sifat fisik mereka, baik warna kulit maupun bentuk tubuh mereka, agar nama dan nasab tidak tertukar. Telah diriwayatkan dari Ibnu Syubrumah bahwa ia berkata: “Ada dua hal yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumku, dan tidak akan ditinggalkan oleh siapa pun setelahku: mendeskripsikan para saksi dan menanyakan tentang mereka secara diam-diam.”

(تزكية الشهود) .

(Pembersihan para saksi).

فَإِذَا فَرَغَ الْحَاكِمُ مِنْ إِثْبَاتِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَسْمَاءِ الشُّهُودِ وَحُلَاهُمْ، أَذِنَ لَهُمْ فِي الِانْصِرَافِ لِيَبْحَثَ عَنْ عَدَالَتِهِمْ سِرًّا ثُمَّ جَهْرًا، بِأَصْحَابِ مَسَائِلِهِ، عَلَى مَا سَنَصِفُهُ مِنْ بَعْدُ لِيَثْبُتَ عِنْدَهُ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ عَدَالَةٍ أَوْ فِسْقٍ.

Maka apabila hakim telah selesai mencatat nama-nama para saksi dan ciri-ciri mereka sebagaimana telah kami sebutkan, ia mengizinkan mereka untuk pergi agar ia dapat meneliti keadilan mereka secara diam-diam, kemudian secara terbuka, melalui orang-orang yang biasa ia tanyai, sesuai dengan apa yang akan kami jelaskan nanti, sehingga dapat dipastikan baginya apakah mereka termasuk orang yang adil atau fasik.

وَيَكُونُ الْكَشْفُ عَنْ عَدَالَتِهِمْ وَاجِبًا عَلَى الْحَاكِمِ وَلَا يَجِبُ عَلَى الْمَشْهُودِ لَهُ إِقَامَةُ الْبَيِّنَةِ بِعَدَالَتِهِمْ.

Meneliti keadilan para saksi adalah kewajiban bagi hakim, dan tidak wajib bagi pihak yang mendapat kesaksian untuk menghadirkan bukti atas keadilan mereka.

وَقَالَ الْمَغْرِبِيُّ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ: يَجِبُ ذَلِكَ عَلَى الْمَشْهُودِ لَهُ دُونَ الْحَاكِمِ. إِلَّا أَنْ يَتَطَوَّعَ بِهِ الْحَاكِمُ؛ لِأَنَّ إِقَامَةَ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْمُدَّعِي دُونَ الْحَاكِمِ.

Al-Maghribi dan sekelompok ulama dari kalangan Ahl azh-Zhahir berpendapat: hal itu wajib atas orang yang menjadi objek kesaksian, bukan atas hakim. Kecuali jika hakim melakukannya secara sukarela; karena penegakan bukti merupakan kewajiban pihak penggugat, bukan hakim.

وَهَذَا فَاسِدٌ؛ لِأَنَّ التَّعْدِيلَ وَالْجَرْحَ مُسْتَحَقٌّ عَلَى الْحَاكِمِ فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ الْكَشْفُ عَنْهُمَا مُسْتَحَقًّا عليه.

Ini tidak benar; karena ta‘dil dan jarh merupakan kewajiban bagi hakim, maka wajib pula baginya untuk menyingkap (menjelaskan) keduanya.

(تفريق الشهود) .

(Pemisahan para saksi).

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَأُحِبُّ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سُدَّةُ عُقُولٍ أَنْ يُفَرِّقَهُمْ ثَمَّ يَسْأَلُ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى حِدَتِهِ عَنْ شَهَادَتِهِ وَالْيَوْمِ الَّذِي شَهِدَ فِيهِ وَالْمَوْضِعِ وَمَنْ فِيهِ لِيُسْتَدَلَّ عَلَى عَوْرَةٍ إِنْ كَانَتْ فِي شَهَادَتِهِ وَإِنْ جَمَعُوا الْحَالَ الْحَسَنَةَ وَالْعَقْلَ لَمْ يَفْعَلْ بِهِمْ ذَلِكَ “.

Syafi‘i rahimahullah berkata: “Aku menyukai, apabila mereka tidak memiliki kecerdasan yang tajam, agar mereka dipisahkan, kemudian ditanyakan kepada masing-masing dari mereka secara terpisah tentang kesaksiannya, hari ketika ia memberikan kesaksian, tempatnya, dan siapa saja yang ada di sana, agar dapat diketahui adanya kekeliruan jika terdapat dalam kesaksiannya. Namun, jika mereka memiliki keadaan yang baik dan akal yang sehat, maka hal itu tidak perlu dilakukan terhadap mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَخْلُو حَالُ مَنْ خَفِيَتْ عَلَيْهِ عَدَالَتُهُ مِنَ الشُّهُودِ أَنْ يَرَاهُمْ عَلَى كَمَالٍ أَوِ اخْتِلَالٍ.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa keadaan seseorang yang tidak diketahui keadilannya dari para saksi tidak lepas dari dua kemungkinan: ia melihat mereka dalam keadaan sempurna atau dalam keadaan cacat.

فَإِنْ رَآهُمْ عَلَى وُفُورِ الْعَقْلِ وَشِدَّةِ التَّيَقُّظِ وَظُهُورِ الْحَزْمِ لَمْ يَحْتَجْ إِلَى اخْتِبَارِهِمْ وَلَا أَنْ يُفَرِّقَهُمْ لِسُؤَالِهِمْ وَاقْتَصَرَ عَلَى إِثْبَاتِ أَسْمَائِهِمْ لِيَتَوَلَّى أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ الْبَحْثَ عَنْ عَدَالَتِهِمْ.

Jika ia melihat mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, kewaspadaan yang kuat, dan tampak ketegasan, maka ia tidak perlu menguji mereka atau memisahkan mereka untuk menanyai mereka, cukup dengan mencatat nama-nama mereka agar para pemilik perkara dapat meneliti keadilan mereka.

وَإِنْ رَآهُمْ عَلَى اخْتِلَالٍ مِنْ قِلَّةِ الْحَزْمِ وَضَعْفِ الرَّأْيِ وَاضْطِرَابِ الْعَقْلِ اخْتَبَرَهُمْ قَبْلَ إِثْبَاتِ أَسْمَائِهِمْ.

Dan jika ia melihat mereka dalam keadaan kacau karena kurang ketegasan, lemahnya pendapat, dan kegoncangan akal, maka ia akan menguji mereka sebelum menetapkan nama-nama mereka.

وَاخْتِبَارُهُمْ يَكُونُ بِتَفْرِيقِهِمْ وَسُؤَالِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى انْفِرَادِهِ عَنْ صِفَةِ شَهَادَتِهِ، فِي سَبَبِهَا، وَزَمَانِهَا، وَمَكَانِهَا، لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِهِ عِنْدَ الِارْتِيَابِ كَالَّذِي رُوِيَ أَنَّ أَرْبَعَةً مِنْ حَوَاشِي نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ هَمُّوا بِإِصَابَةِ امْرَأَةٍ فَامْتَنَعَتْ عَلَيْهِمْ فَشَهِدُوا عَلَيْهَا عِنْدَ دَاوُدَ بِالزِّنَا فَهَمَّ بِرَجْمِهَا فَبَلَغَ ذَلِكَ سُلَيْمَانَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ فَاسْتَدْعَى أَرْبَعَةً مِنَ الصِّبْيَانِ فَشَهِدُوا بِمِثْلِ ذَلِكَ ثُمَّ فَرَّقَهُمْ، وَسَأَلَهُمْ فَاخْتَلَفُوا فَرَدَّ شَهَادَتَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ دَاوُدَ فَفَرَّقَهُمْ، وَسَأَلَهُمْ، فَاخْتَلَفُوا، فَرَدَّ شَهَادَتَهُمْ وَقِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ فَرَّقَ الشُّهُودَ دَانْيَالَ شَهِدَ عِنْدَهُ أَرْبَعَةٌ عَلَى امْرَأَةٍ بِالزِّنَا، فَفَرَّقَهُمْ وَسَأَلَهُمْ فَاخْتَلَفُوا فَدَعَا عَلَيْهِمْ فَنَزَلَتْ نَارٌ فَأَحْرَقَتْهُمْ.

Pengujian terhadap mereka dilakukan dengan memisahkan mereka dan menanyai masing-masing dari mereka secara terpisah tentang rincian kesaksiannya, mengenai sebabnya, waktunya, dan tempatnya, karena syariat telah menetapkan hal itu ketika ada keraguan, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa empat orang dari pengikut Nabi Allah Daud berusaha menjerat seorang wanita, namun wanita itu menolak mereka, lalu mereka bersaksi di hadapan Daud bahwa wanita itu berzina. Daud pun hampir merajamnya, tetapi hal itu sampai kepada Sulaiman yang saat itu sedang bermain dengan anak-anak. Sulaiman lalu memanggil empat anak dan mereka bersaksi dengan kesaksian yang serupa, kemudian Sulaiman memisahkan mereka dan menanyai mereka, lalu mereka berbeda dalam kesaksiannya, sehingga Sulaiman menolak kesaksian mereka. Hal itu pun sampai kepada Daud, lalu Daud memisahkan mereka dan menanyai mereka, dan mereka pun berbeda dalam kesaksiannya, sehingga Daud menolak kesaksian mereka. Dikatakan pula bahwa orang pertama yang memisahkan para saksi adalah Daniel; ketika empat orang bersaksi di hadapannya bahwa seorang wanita berzina, maka ia memisahkan mereka dan menanyai mereka, lalu mereka berbeda dalam kesaksiannya, maka ia mendoakan keburukan atas mereka, lalu turunlah api yang membakar mereka.

وَحُكِيَ أَنَّ سَبْعَةً خَرَجُوا فِي سَفَرٍ فَفُقِدَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ فَجَاءَتِ امْرَأَتُهُ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ تَدَّعِي عَلَيْهِمْ قَتْلَهُ فَفَرَّقَهُمْ وَأَقَامَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ إِلَى سَارِيَةٍ وَوَكَّلَ بِهِ رَجُلًا وَاسْتَدْعَى أَحَدَهُمْ وَسَأَلَهُ فَأَنْكَرُ فَقَالَ عَلِيٌّ اللَّهُ أَكْبَرُ فَظَنُّوا حِينَ سَمِعُوا تَكْبِيرَهُ أنه كبر إِقْرَارِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ اسْتَدْعَاهُمْ وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ، فَأَقَرُّوا، فَقَالَ الْأَوَّلُ: أَنَا مَا أَقْرَرْتُ. فَقَالَ ” قَدْ شَهِدَ عَلَيْكَ أَصْحَابُكَ “. فَثَبَتَ أَنَّ تَفْرِيقَ الشُّهُودِ مَعَ الِارْتِيَابِ نُدِبَ مِنْ سُنَنِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَئِمَّةِ لِمَا فِيهِ مِنْ الِاحْتِيَاطِ وَنَفْيِ الِارْتِيَابِ.

Diriwayatkan bahwa tujuh orang keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah satu dari mereka hilang. Istrinya kemudian datang kepada Ali bin Abi Thalib dan menuduh mereka telah membunuh suaminya. Maka Ali memisahkan mereka dan menempatkan masing-masing dari mereka pada sebuah tiang, serta menugaskan seorang laki-laki untuk menjaga mereka. Ia memanggil salah satu dari mereka dan menanyainya, namun ia mengingkari. Lalu Ali berkata, “Allahu Akbar.” Ketika mereka mendengar takbirnya, mereka mengira bahwa itu adalah takbir atas pengakuan orang pertama. Kemudian ia memanggil mereka satu per satu, lalu mereka pun mengakui. Orang pertama berkata, “Aku tidak mengaku.” Maka Ali berkata, “Teman-temanmu telah bersaksi atas dirimu.” Maka tetaplah bahwa memisahkan para saksi ketika ada keraguan adalah anjuran dari sunah para nabi dan imam, karena di dalamnya terdapat kehati-hatian dan meniadakan keraguan.

فَإِنِ اخْتَلَفُوا عَلَيْهِ فِي الشَّهَادَةِ عِنْدَ تَفَرُّقِهِمْ رَدَّهُمْ وَلَمْ يَحْكُمْ بِشَهَادَتِهِمْ وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى إثبات أسمائهم والبحث عن عدالتهم.

Jika mereka berselisih tentangnya dalam persaksian ketika mereka telah berpisah, maka hakim menolak mereka dan tidak memutuskan berdasarkan persaksian mereka, serta tidak perlu menetapkan nama-nama mereka atau meneliti keadilan mereka.

(وعظ الشهود) .

(Menasihati para saksi).

وَإِنِ اتَّفَقُوا وَلَمْ يَخْتَلِفُوا وَعَظَهُمْ بِمَا يَخَافُونَ بِهِ فَضِيحَةَ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الْآخِرَةِ.

Dan jika mereka sepakat dan tidak berselisih, maka ia menasihati mereka dengan sesuatu yang dapat membuat mereka takut akan aib di dunia dan azab di akhirat.

رَوَى أَبُو حَنِيفَةَ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ وَهُوَ قَاضِي الْكُوفَةِ فَجَاءَهُ رَجُلٌ ادَّعَى عَلَى رَجُلٍ حَقًّا فَأَنْكَرَ، فَأَحْضَرَ الْمُدَّعِيَ شَاهِدَيْنِ فَشَهِدَا لَهُ بِمَا ادَّعَاهُ فَقَالَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ: وَالَّذِي بِهِ تَقُومُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ مَا كَذَبْتُ فِي الْإِنْكَارِ وَلَقَدْ كَذِبَا عَلَيَّ فِي الشَّهَادَةِ وَلَوْ سَأَلْتَ عَنْهُمَا لَمْ يَخْتَلِفْ فِيهِمَا اثْنَانِ، وَكَانَ مُحَارِبُ بْنُ دِثَارٍ مُتَّكِئًا فَاسْتَوَى جَالِسًا وَقَالَ قَدْ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ إِنَّ الطَّيْرَ لَتَخْفِقُ بِأَجْنِحَتِهَا وَتَرْمِي بِمَا فِي حَوَاصِلِهَا مِنْ هَوْلِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنَّ شَاهِدَ الزُّورِ لَا تَزُولُ قَدَمَاهُ حَتَّى يَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ فَإِنْ صَدَقْتُمَا فَاثْبُتَا وَإِنْ كذبتما فغطيا رؤوسكما وانصرفا فغطيا رؤوسهما وَانْصَرَفَا.

Abu Hanifah meriwayatkan: Aku pernah berada di hadapan Muharib bin Ditsar, yang saat itu adalah qadhi Kufah. Lalu datanglah seorang laki-laki yang menuntut hak kepada orang lain, namun orang yang dituntut itu mengingkarinya. Maka si penuntut menghadirkan dua orang saksi, dan keduanya bersaksi atas apa yang dituntutnya. Orang yang disaksikan itu berkata, “Demi Dzat yang dengan-Nya langit dan bumi tegak, aku tidak berdusta dalam pengingkaranku, dan sungguh keduanya telah berdusta atas diriku dalam persaksian mereka. Jika engkau bertanya tentang keduanya, niscaya tidak ada dua orang pun yang berbeda pendapat tentang mereka.” Muharib bin Ditsar yang semula bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Aku telah mendengar Ibnu Umar berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya burung-burung mengepakkan sayapnya dan memuntahkan apa yang ada di temboloknya karena dahsyatnya hari kiamat. Dan sesungguhnya saksi palsu, kedua kakinya tidak akan bergeser hingga ia menempati tempat duduknya di neraka. Jika kalian berdua benar, maka tetaplah. Namun jika kalian berdua berdusta, tutupilah kepala kalian dan pergilah.’ Maka keduanya menutupi kepala mereka dan pergi.”

وَرُوِيَ أَنَّ رَجُلَيْنِ شَهِدَا عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ بِالسَّرِقَةِ عَلَى رَجُلٍ فَقَالَ الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ وَاللَّهِ مَا سَرَقْتُ، وَوَاللَّهِ مَا سَرَقْتُ، وَوَاللَّهِ لَقَدْ كَذَبَا عَلَيَّ، فَوَعَظَهُمَا عَلِيٌّ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَذَهَبَا فِي الزِّحَامِ فَقَالَ عَلِيٌّ: لَوْ صَدَقَا لَثَبَتَا وَلَمْ يَقْطَعِ الرَّجُلَ.

Diriwayatkan bahwa dua orang laki-laki memberikan kesaksian di hadapan Ali bin Abi Thalib tentang pencurian yang dituduhkan kepada seorang laki-laki. Maka orang yang dituduh itu berkata, “Demi Allah, aku tidak mencuri. Demi Allah, aku tidak mencuri. Demi Allah, sungguh mereka berdua telah berdusta atas diriku.” Lalu Ali menasihati keduanya dan orang-orang pun berkumpul. Kemudian kedua saksi itu pergi di tengah keramaian. Maka Ali berkata, “Seandainya mereka berdua benar, niscaya mereka tetap bertahan dan laki-laki itu tidak akan dipotong tangannya.”

وَلِأَنَّ الْحَسَدَ وَالتَّنَافُسَ قَدْ يَبْعَثُ مَنْ قَلَّتْ أَمَانَتُهُ عَلَى الشَّهَادَةِ بِالْكَذِبِ: إِمَّا اعْتِمَادًا لِإِضْرَارٍ، أَوِ ارْتِشَاءً عَلَى شَهَادَةِ الزُّورِ، فَلَزِمَ الْحَاكِمَ التَّحَفُّظُ فِيهَا فِيمَنْ جَهِلَ حَالَهُ اخْتَبَرَهُ بِمَا أَمْكَنَ مِنْ الِاخْتِبَارِ وَالْوَعْظِ.

Karena hasad dan persaingan dapat mendorong seseorang yang kurang amanah untuk memberikan kesaksian palsu: baik dengan tujuan untuk mencelakakan, atau karena menerima suap atas kesaksian palsu tersebut, maka wajib bagi hakim untuk berhati-hati dalam hal ini terhadap orang yang tidak diketahui keadaannya, dengan mengujinya sebisa mungkin melalui berbagai bentuk pengujian dan nasihat.

فَإِنْ رَجَعَ بَعْدَ وَعْظِهِ سَتَرَ عَلَيْهِ وَلَمْ يَفْضَحْهُ إِلَّا أَنْ يَتَحَقَّقَ مِنْهُ أَنَّهُ شَهِدَ بِزُورٍ فَيَكْشِفُ حَالَهُ لِيَتَحَرَّزَ مِنْهُ الْحُكَّامُ.

Jika ia bertobat setelah dinasihati, maka aibnya ditutupi dan tidak dibongkar, kecuali jika telah dipastikan bahwa ia memberikan kesaksian palsu, maka keadaannya harus diungkap agar para hakim dapat berhati-hati terhadapnya.

فَإِنْ أَقَامَ بَعْدَ الْوَعْظِ عَلَى شَهَادَتِهِ أَثْبَتَ اسْمَهُ حِينَئِذٍ لِلْبَحْثِ عَنْ عَدَالَتِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Jika setelah diberi nasihat ia tetap bertahan pada kesaksiannya, maka pada saat itu namanya dicatat untuk diteliti tentang keadilannya, dan Allah Maha Mengetahui.

(صِفَاتُ أَصْحَابِ الْمَسَائِلِ أَوِ الْمُزَكِّينَ)

Sifat-sifat para pemilik masalah atau para pemberi rekomendasi (muzakki).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَأُحِبُّ أَنْ يَكُونَ أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ جَامِعِينَ لِلْعَفَافِ فِي الطُّعْمَةِ وَالْأَنْفُسِ وَافِرِي الْعُقُولِ بَرَآءَ مِنَ الشَّحْنَاءِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ النَّاسِ أَوِ الْحَيْفِ عَلَيْهِمْ أَوِ الْحَيْفِ عَلَى أَحَدٍ بِأَنْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْعَصَبِيَّةِ أَوِ الْمُمَاطَلَةِ لِلنَّاسِ وَأَنْ يَكُونُوا جَامِعِينَ لِلْأَمَانَةِ فِي أَدْيَانِهِمْ لَا يَتَغَفَّلُونَ بِأَنْ يَسْأَلُوا الرَّجُلَ عَنْ عَدُوِّهِ فَيُخْفِيَ حَسَنًا وَيَقُولَ قَبِيحًا فَيَكُونُ جَرْحًا وَيَسْأَلُوهُ عَنْ صَدِيقِهِ فَيُخْفِيَ قَبِيحًا وَيَقُولَ حَسَنًا فَيَكُونَ تَعْدِيلًا “.

Syafi’i berkata: “Aku suka jika para penanya dalam masalah-masalah agama adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dalam hal makanan dan jiwa, memiliki akal yang sempurna, bersih dari permusuhan di antara mereka dan dengan manusia, tidak berbuat zalim kepada mereka atau kepada siapa pun, tidak termasuk golongan ahli hawa nafsu dan fanatisme, tidak suka menunda-nunda urusan orang lain, serta mengumpulkan sifat amanah dalam agama mereka. Mereka tidak lalai dengan bertanya kepada seseorang tentang musuhnya lalu ia menyembunyikan kebaikan dan menyebutkan keburukan sehingga menjadi celaan, atau bertanya kepadanya tentang temannya lalu ia menyembunyikan keburukan dan menyebutkan kebaikan sehingga menjadi pujian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا احْتَاجَ الْقَاضِي إِلَى الْبَحْثِ عَنْ أَحْوَالِ الشُّهُودِ عَوَّلَ فِيهِمْ عَلَى أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ، لِيَعْرِفَ مِنْهُمُ الْجَرْحَ وَالتَّعْدِيلَ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila qadhi membutuhkan penelitian tentang keadaan para saksi, maka ia bersandar pada para ahli dalam permasalahan tersebut, agar ia dapat mengetahui dari mereka tentang jarh (celaan) dan ta‘dil (pujian) terhadap para saksi itu.

ثُمَّ وَصَفَ الشَّافِعِيُّ مَا يَجِبُ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ، بِسَبْعَةِ أَوْصَافٍ:

Kemudian asy-Syafi‘i menjelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para pengikut dalam masalah-masalahnya, yaitu tujuh sifat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونُوا جَامِعِينَ لِلْعَفَافِ فِي الطُّعْمَةِ وَالْأَنْفُسِ. وَالْعَفَافُ فِي الطُّعْمَةِ أَنْ لَا يَأْكُلُوا الْحَرَامَ وَالشُّبَهَ فَيَدْعُوهُمْ إِلَى قَبُولِ الرَّشْوَةِ. وَالْعَفَافُ فِي الْأَنْفُسِ أَنْ لَا يُقْدِمُوا عَلَى ارْتِكَابِ مَحْظُورٍ أَوْ مُشْتَبَهٍ فَيَبْعَثُهُمْ عَلَى التَّحْرِيفِ وَالْكَذِبِ.

Salah satunya: hendaknya mereka memiliki sifat ‘iffah (menjaga diri) dalam hal makanan dan jiwa. ‘Iffah dalam makanan adalah tidak memakan yang haram dan syubhat sehingga tidak mendorong mereka untuk menerima suap. Sedangkan ‘iffah dalam jiwa adalah tidak berani melakukan hal yang terlarang atau yang samar-samar sehingga tidak mendorong mereka untuk melakukan penyelewengan dan berbohong.

وَالْوَصْفُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونُوا وَافِرِي الْعُقُولِ لِيَصِلُوا بِوُفُورِ عُقُولِهِمْ إِلَى غَوَامِضِ الْأُمُورِ بِلُطْفٍ، وَيَتَحَرَّزُوا بِوُفُورِ عُقُولِهِمْ أَنْ يَتِمَّ عَلَيْهِمْ خِدَاعٌ أَوْ حِيلَةٌ، فَيَجْمَعُوا بِوُفُورِ عُقُولِهِمْ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ.

Sifat kedua: Mereka harus memiliki akal yang sempurna agar dengan kecerdasan mereka dapat memahami hal-hal yang rumit dengan kelembutan, dan dengan kecerdasan mereka pula dapat menjaga diri dari tipu daya atau muslihat yang mungkin menimpa mereka, sehingga dengan kecerdasan mereka itu mereka dapat menggabungkan kedua hal tersebut.

وَالْوَصْفُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونُوا بَرَآءَ مِنَ الشَّحْنَاءِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ النَّاسِ فَلَا يَكُونُوا مِمَّنْ يُعَادِي النَّاسَ وَيَحْسُدُهُمْ، فَإِنَّ مَنْ كَانَ فِي طِبَاعِهِ الْعَدَاوَةُ وَالْحَسَدُ، كَانَ مِنَ الْخَيْرِ بَعِيدًا، وَمِنَ الشَّرِّ قَرِيبًا، فَلَمْ يُوثَقْ بِخَبَرِهِ.

Sifat ketiga: hendaknya mereka bersih dari permusuhan antara mereka dan orang lain, sehingga mereka tidak termasuk orang yang memusuhi dan dengki kepada manusia. Sebab, siapa saja yang dalam tabiatnya terdapat permusuhan dan kedengkian, maka ia akan jauh dari kebaikan dan dekat dengan keburukan, sehingga tidak dapat dipercaya beritanya.

وَالْوَصْفُ الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْعَصَبِيَّةِ فِي نَسَبٍ أَوْ مَذْهَبٍ فَيَمِيلُ مَعَ مُوَافِقِهِ فِي تَحْسِينِ قَبِيحِهِ، وَيَمِيلُ عَلَى مُخَالِفِهِ فِي تَقْبِيحِ حَسَنِهِ.

Sifat keempat: Tidak termasuk golongan ahli hawa nafsu dan fanatisme dalam nasab atau mazhab, sehingga ia condong kepada orang yang sejalan dengannya dalam membaguskan sesuatu yang buruk, dan condong memusuhi orang yang berbeda dengannya dalam mencela sesuatu yang baik.

وَالْوَصْفُ الخامس: أن يكون بعيدا عن مماظة الناس والمماظة اللَّجَاجُ؛ لِأَنَّ اللَّجُوجَ يَنْصُرُ هَوَاهُ، وَيَرْتَكِبُ مَا يَهْوَاهُ، وَلَا يَرْجِعُ عَنِ الْخَطَأِ وَإِنْ ظَهَرَ لَهُ الصَّوَابُ فَلَمْ يُؤْمَنْ بِلُجَاجِهِ أَنْ يَعْدِلَ مَجْرُوحًا، أَوْ يَجْرَحَ مُعَدَّلًا.

Sifat kelima: hendaknya ia jauh dari sikap memaksa dalam perdebatan, dan memaksa di sini maksudnya adalah keras kepala; karena orang yang keras kepala akan membela keinginannya sendiri, melakukan apa yang diinginkannya, dan tidak mau kembali dari kesalahan meskipun kebenaran telah jelas baginya. Maka, tidak aman dari sikap keras kepalanya itu jika ia menilai adil seseorang yang sebenarnya cacat, atau mencacatkan seseorang yang sebenarnya adil.

وَالْوَصْفُ السَّادِسُ: أَنْ يَكُونُوا جَامِعِينَ لِلْأَمَانَةِ لِيُورِدَ بِأَمَانَتِهِ مَا سَمِعَهُ وَعَرِفَهُ وَلَا يَتَأَوَّلُ فِيهِ مَا يَصْرِفُهُ عَنْ أَقْوَى الْأَمْرَيْنِ إِلَى أَضْعَفِهِمَا وَعَنْ أَظْهَرِ الْحَالَيْنِ إِلَى أَخْفَاهُمَا.

Sifat keenam: hendaknya mereka memiliki sifat amanah, agar dengan amanahnya itu ia menyampaikan apa yang didengar dan diketahuinya, serta tidak menakwilkan sesuatu yang mengalihkannya dari dua hal yang lebih kuat kepada yang lebih lemah, dan dari dua keadaan yang lebih jelas kepada yang lebih samar.

وَالْوَصْفُ السَّابِعُ: أَنْ لَا يَسْتَرْسِلَ فَيَسْأَلَ عَدُوًّا مُبَايِنًا مُنَابِذًا وَلَا صَدِيقًا مُوَاصِلًا، لِأَنَّ الْعَدُوَّ يُظْهِرُ الْقَبِيحَ وَيُخْفِي الْحَسَنَ، وَالصَّدِيقُ يُظْهِرُ الْحَسَنَ وَيُخْفِي الْقَبِيحَ، وَلِيَعْدِلْ إِلَى سُؤَالِ مَنْ خَرَجَ عَنِ الْفَرِيقَيْنِ، فَلَمْ يَتَظَاهَرْ بِعَدَاوَةٍ، وَلَمْ يَتَخَصَّصْ بِصَدَاقَةٍ، لِأَنَّ رَأْيَهُ أَسْلَمُ، وَقَوْلَهُ أَصْدَقُ، وَهَذَا الْوَصْفُ رَاجِعٌ إِلَى قَوْلِ صَاحِبِ الْمَسَائِلِ وَلَا يَرْجِعُ إِلَى صِفَتِهِ.

Sifat ketujuh: Janganlah terlalu larut sehingga meminta pendapat kepada musuh yang jelas-jelas berseberangan dan memusuhi, maupun kepada teman yang sangat dekat dan setia, karena musuh akan menampakkan keburukan dan menyembunyikan kebaikan, sedangkan teman akan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Hendaknya ia memilih untuk bertanya kepada orang yang berada di luar kedua kelompok tersebut, yang tidak menampakkan permusuhan dan tidak pula memiliki kedekatan persahabatan, karena pendapat orang seperti itu lebih selamat dan ucapannya lebih jujur. Sifat ini berkaitan dengan ucapan orang yang ditanya, bukan pada sifat pribadinya.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ هَذِهِ الْأَوْصَافُ فِي أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ وَإِنْ كَانَ كَمَالُهَا مُتَعَذَّرًا صَارُوا أَهْلًا أَنْ يُعَوِّلَ عَلَيْهِمْ فِي الْبَحْثِ وَيَرْجِعُ إِلَى قَوْلِهِمْ فِي التَّعْدِيلِ والجرح.

Apabila sifat-sifat ini telah sempurna pada para ahli dalam permasalahan-permasalahan mereka, meskipun kesempurnaan mutlaknya sulit dicapai, maka mereka menjadi orang-orang yang layak untuk dijadikan sandaran dalam penelitian dan pendapat mereka dapat dijadikan rujukan dalam penilaian (ta‘dīl) dan kritik (jarḥ).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَحْرِصُ عَلَى أَنْ لَا يُعْرَفَ لَهُ صَاحِبُ مَسْأَلَةٍ فَيُحْتَالَ لَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Dan ia berusaha agar tidak diketahui siapa pemilik suatu masalah, sehingga tidak dibuatkan tipu daya untuknya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا مِنْ جُمْلَةِ احْتِيَاطِ الْحُكَّامِ فِي أَنْ لَا يُعْرَفَ أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ مَسَائِلَ وَلَمْ يُرِدْ أَنْ لَا يُعْرَفُوا بَيْنَ النَّاسِ بِأَنْسَابِهِمْ وَأَسْمَائِهِمْ وَإِنَّمَا احْتَاطُوا بِذَلِكَ حَتَّى لَا يُحْتَالَ عَلَيْهِمْ فِيمَنْ سَأَلُوا عَنْ حَالِهِ.

Al-Mawardi berkata: Ini termasuk bagian dari kehati-hatian para hakim, yaitu agar para pemilik masalah tidak diketahui bahwa mereka adalah pemilik masalah. Bukan maksudnya agar mereka tidak dikenal di tengah masyarakat melalui nasab dan nama mereka, melainkan mereka berhati-hati dengan hal itu supaya tidak ada tipu daya terhadap mereka dalam perkara orang yang mereka tanyakan keadaannya.

وَالَّذِي يُؤْمَرُ بِأَنْ لَا يُعْرَفُوا عِنْدَهُ أَرْبَعَةُ أَصْنَافٍ:

Dan orang yang diperintahkan agar tidak diketahui di sisinya ada empat golongan:

أَحَدُهَا: عِنْدَ الْمَشْهُودِ لَهُ حَتَّى لَا يَحْتَالَ فِي تَعْدِيلِ شُهُودِهِ.

Salah satunya: di hadapan orang yang menjadi objek kesaksian, agar ia tidak melakukan tipu daya dalam memperbaiki para saksinya.

وَالثَّانِي: عِنْدَ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ حَتَّى لَا يَحْتَالَ فِي جَرْحِ شُهُودِهِ.

Yang kedua: di hadapan orang yang menjadi objek kesaksian, agar ia tidak melakukan tipu daya dalam mencela para saksinya.

وَالثَّالِثُ: عِنْدَ الشُّهُودِ حَتَّى لَا يَحْتَالُوا فِي تعديل أنفسهم.

Ketiga: di hadapan para saksi, agar mereka tidak melakukan rekayasa dalam menilai diri mereka sendiri.

والرابع: عند المسؤولين عَنِ الشُّهُودِ حَتَّى لَا يَحْتَالَ لَهُمُ الْأَعْدَاءُ فِي الْجَرْحِ وَالْأَصْدِقَاءُ فِي التَّعْدِيلِ.

Keempat: pada pihak yang bertanggung jawab terhadap para saksi, agar musuh tidak melakukan tipu daya dalam mencela, dan teman tidak melakukan tipu daya dalam memberikan rekomendasi.

(مَا يَجِبُ أن يعلمه أصحاب المسائل) .

Hal-hal yang wajib diketahui oleh para penanya masalah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وأن يكتب لِأَصْحَابِ الْمَسَائِلِ صِفَاتِ الشُّهُودِ عَلَى مَا وَصَفْنَا وَأَسْمَاءَ مَنْ شَهِدَ لَهُ وَشَهِدَ عَلَيْهِ وَمَبْلَغَ ما شهدوا فيه ثم لا يسألون أحدا حتى يخبروه بمن شهدوا له وعليه وبقدر ما شهدوا فيه فإن المسؤول قد يعرف ما لا يعرف الحاكم من أن يكون الشاهد عدوا للمشهود عليه أو شريكا فيما شهد فيه وتطيب نفسه على تعديله في اليسير ويقف في الكثير “.

Imam Syafi‘i berkata: “Dan hendaknya dituliskan untuk para pihak yang bersengketa sifat-sifat para saksi sebagaimana yang telah kami jelaskan, serta nama-nama orang yang disaksikan untuknya dan yang disaksikan atasnya, dan sejauh mana perkara yang mereka saksikan. Kemudian, janganlah mereka menanyai siapa pun sampai mereka memberitahukan kepada orang tersebut siapa yang mereka saksikan untuknya dan atasnya, serta sejauh mana kesaksian mereka. Sebab, orang yang ditanya mungkin mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hakim, seperti bahwa saksi tersebut adalah musuh dari orang yang disaksikan atasnya, atau merupakan sekutu dalam perkara yang disaksikan, dan ia mungkin rela menilainya adil dalam perkara yang kecil, namun berhati-hati dalam perkara yang besar.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا الْفَصْلُ مَقْصُورٌ عَلَى مَا يُؤْمَرُ بِهِ الْحَاكِمُ، فِيمَا يُلْقِيهِ إِلَى أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ وَهُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ:

Al-Mawardi berkata: Bagian ini terbatas pada hal-hal yang diperintahkan kepada hakim, dalam hal yang ia sampaikan kepada para pemilik permasalahan, dan bagian ini mencakup empat hal:

أَحَدُهَا: صِفَاتُ الشُّهُودِ، بِأَسْمَائِهِمْ، وَأَنْسَابِهِمْ، وَصِنَاعَتِهِمْ وَمَسَاكِنِهِمْ وَأَسْوَاقِهِمْ، وَحِلْيَةِ أَبْدَانِهِمْ، وَأَلْوَانِهِمْ، حَتَّى لَا يَشْتَبَهَ عَلَيْهِمُ المسؤول عَنْهُ مِنْ غَيْرِهِ.

Salah satunya: sifat-sifat para saksi, seperti nama-nama mereka, nasab mereka, pekerjaan mereka, tempat tinggal mereka, pasar-pasar mereka, ciri-ciri fisik tubuh mereka, dan warna kulit mereka, agar tidak terjadi kekeliruan antara orang yang ditanyakan dengan selainnya.

وَالثَّانِي: مَنْ شَهِدُوا لَهُ لِئَلَّا يَكُونَ وَالِدًا، أَوْ وَلَدًا أَوْ شَرِيكًا، مِمَّنْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ لَهُ.

Dan yang kedua: mereka yang memberikan kesaksian untuknya agar tidak menjadi ayah, anak, atau rekan, yaitu orang-orang yang kesaksiannya untuknya tidak diterima.

وَالثَّالِثُ: مَنْ شَهِدُوا عَلَيْهِ، لِئَلَّا يَكُونَ عَدُوًّا فَيَرُدَّ شَهَادَتَهُمْ عَلَيْهِ.

Ketiga: orang yang mereka bersaksi atasnya, agar jangan sampai ia adalah musuh sehingga menolak kesaksian mereka terhadapnya.

وَالرَّابِعُ: مَا شَهِدُوا بِهِ مِنَ الْحَقِّ، فَإِنَّهُمْ قَدْ يَرَوْنَ قَبُولَ قَوْلِهِمْ فِي الْيَسِيرِ، وَلَا يَرَوْنَهُ فِي الْكَثِيرِ.

Keempat: apa yang mereka persaksikan dari kebenaran, maka mereka kadang memandang diterimanya kesaksian mereka dalam perkara yang sedikit, dan tidak memandangnya dalam perkara yang banyak.

وَهَذَا أَحْوَطُ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الْحَاكِمُ. فَيُثْبِتُ هَذِهِ الْأَرْبَعَةَ لِأَصْحَابِ مَسَائِلِهِ فِي رِقَاعٍ.

Dan inilah tindakan paling hati-hati yang dapat dilakukan oleh hakim. Maka ia menetapkan keempat hal ini bagi para pemilik perkaranya dalam lembaran-lembaran.

وَقَدْ يُسَمَّى أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ الْمُزَكِّينَ ثُمَّ الْحَاكِمُ بِالْخِيَارِ مَعَهُمْ بَيْنَ أَمْرَيْنِ:

Terkadang para pemilik masalah disebut sebagai para pemberi rekomendasi, kemudian hakim memiliki pilihan bersama mereka antara dua hal:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْأَحْوَطُ، أَنْ يَكْتُبَ بِذَلِكَ أَرْبَعَ رِقَاعٍ يَدْفَعُ مِنْهَا رُقْعَتَيْنِ إِلَى مُزَكِّيَيْنِ آخَرَيْنِ لِيَسْأَلَا عَنْ أَحَدِ الشَّاهِدَيْنِ وَيَدْفَعَ رُقْعَتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ إِلَى مُزَكِّيَيْنِ آخَرَيْنِ لِيَسْأَلَا عَنِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ فَيَسْمَعُ تَزْكِيَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الشَّاهِدَيْنِ مِنْ مُزَكِّيَيْنِ، وَيَصِيرُ الْمُزَكُّونَ أَرْبَعَةً.

Salah satu cara, dan ini yang lebih hati-hati, adalah dengan menuliskan hal tersebut pada empat lembar kertas, lalu menyerahkan dua lembar di antaranya kepada dua orang penilai (muzakki) lain untuk menanyakan tentang salah satu dari dua saksi, dan menyerahkan dua lembar lainnya kepada dua orang penilai (muzakki) lain untuk menanyakan tentang saksi yang lain. Maka, ia akan mendengar penilaian (tazkiyah) atas masing-masing saksi dari dua orang penilai, sehingga jumlah penilai (muzakki) menjadi empat orang.

وَالثَّانِي: أَنْ يَقْتَصِرَ على رقعتين فيهما ذكر الشاهدين، فيدع إِحْدَاهُمَا إِلَى أَحَدِ الْمُزَكِّيَيْنِ، لِيَسْأَلَ عَنِ الشَّاهِدَيْنِ، وَيَدْفَعَ الْأُخْرَى إِلَى الْمُزَكِّي الْآخَرِ لِيَسْأَلَ عَنِ الشَّاهِدَيْنِ، فَتَصِيرُ التَّزْكِيَةُ فيهما مسموعة من مزكيين.

Kedua: Membatasi pada dua lembar yang di dalamnya terdapat keterangan tentang kedua saksi, lalu salah satu lembar itu diberikan kepada salah satu dari dua orang yang akan melakukan tazkiyah, agar ia menanyakan tentang kedua saksi tersebut, dan lembar yang lain diberikan kepada orang yang melakukan tazkiyah yang lain agar ia juga menanyakan tentang kedua saksi tersebut, sehingga tazkiyah atas keduanya didengar dari dua orang yang melakukan tazkiyah.

(عمل أصحاب المسائل) .

(Amal para ahli masalah).

فَإِذَا تَوَجَّهَ بِهَا أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ الْمُزَكُّونَ، كَانَ أَوَّلُ مَا يَسْأَلُونَ عَنْهُ أَحْوَالَ الشُّهُودِ.

Maka apabila para ahli masalah yang terpercaya mengajukan perkara tersebut, hal pertama yang mereka tanyakan adalah keadaan para saksi.

فَإِنْ وَجَدُوهُمْ مَجْرُوحِينَ لَمْ يَسْأَلُوا عَنْ غَيْرِهِمْ.

Jika mereka mendapati mereka terluka, mereka tidak menanyakan tentang selain mereka.

وَإِنْ وَجَدُوهُمْ مُعَدَّلِينَ سَأَلُوا عَمَّنْ شَهِدُوا لَهُ.

Dan jika mereka mendapati para saksi itu telah dinilai adil, mereka menanyakan tentang orang yang mereka beri kesaksian untuknya.

فَإِنْ ذَكَرُوا أَنَّ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ مَا يَمْنَعُ مِنْ شَهَادَتِهِمْ لَهُ، لَمْ يَسْأَلُوا عَمَّا عَدَاهُ.

Jika mereka menyebutkan bahwa antara mereka dan orang tersebut terdapat sesuatu yang menghalangi kesaksian mereka untuknya, maka mereka tidak menanyakan hal lain selain itu.

وَإِنْ ذكروا جواز شهادتهم له، سألوا عَمَّنْ شَهِدُوا عَلَيْهِ.

Dan jika mereka menyebutkan bolehnya kesaksian mereka untuknya, mereka akan menanyakan tentang siapa yang mereka berikan kesaksian terhadapnya.

فَإِنْ ذَكَرُوا مَا يَمْنَعُ مِنْ شَهَادَتِهِمْ عَلَيْهِ، لَمْ يَسْأَلُوا عَمَّا عَدَاهُ.

Jika mereka menyebutkan sesuatu yang menghalangi diterimanya kesaksian mereka atasnya, maka mereka tidak menanyakan hal lain selain itu.

وَإِنْ ذَكَرُوا جَوَازَ شَهَادَتِهِمْ عَلَيْهِ، ذَكَرُوا حِينَئِذٍ الْقَدْرَ الَّذِي شَهِدُوا فِيهِ.

Dan jika mereka menyebutkan bolehnya kesaksian mereka atasnya, maka pada saat itu mereka juga menyebutkan kadar (bagian) yang mereka saksikan di dalamnya.

ثُمَّ عَلَى أَصْحَابِ الْمَسَائِلِ أَنْ يَشْهَدُوا عِنْدَ الْحَاكِمِ بِمَا عَرَفُوهُ مِنْ هَذِهِ الْأَحْوَالِ الْأَرْبَعِ إِنِ اجْتَمَعَتْ أَوِ افْتَرَقَتْ، فَإِنَّ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ حُكْمًا فِي غَيْرِ هَذِهِ الْقَضِيَّةِ، وَإِنْ لَزِمَ اعْتِبَارُ جَمِيعِهَا فِي هَذِهِ الْقَضِيَّةِ.

Kemudian para ahli masalah hendaknya memberikan kesaksian di hadapan hakim tentang apa yang mereka ketahui dari keempat keadaan ini, baik keadaan-keadaan tersebut berkumpul maupun terpisah, karena masing-masing dari keadaan itu memiliki hukum tersendiri dalam perkara selain perkara ini, meskipun dalam perkara ini wajib mempertimbangkan semuanya.

(لَا يُقْبَلُ التَّعْدِيلُ إِلَّا من اثنين بلفظ الشهادة)

Penilaian adil tidak diterima kecuali dari dua orang dengan lafaz kesaksian.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَقْبَلُ الْمَسْأَلَةَ عَنْهُ وَلَا تَعْدِيلَهُ وَلَا تَجْرِيحَهُ إِلَّا مِنِ اثْنَيْنِ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak diterima penetapan hukum darinya, tidak pula persaksiannya atas keadilan atau kecacatannya, kecuali dari dua orang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ لَا يَحْكُمُ الْقَاضِي بِتَعْدِيلِ مَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ وَلَا بِجَرْحِهِ إِلَّا بِشَهَادَةِ مُزَكِّيَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ.

Al-Mawardi berkata: Ini benar, seorang qadhi tidak boleh memutuskan berdasarkan penilaian adil atau cacatnya seseorang yang bersaksi di hadapannya kecuali dengan kesaksian dari dua orang yang melakukan tazkiyah dari kalangan ahli dalam bidang tersebut.

فَإِنْ شَهِدَ بِالتَّعْدِيلِ أَوِ الْجَرْحِ وَاحِدٌ لَمْ يَحْكُمْ بِهِ فِي تَعْدِيلٍ وَلَا جَرْحٍ.

Jika hanya satu orang yang memberikan kesaksian tentang ta‘dil atau jarh, maka tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan ta‘dil maupun jarh.

وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ.

Dan demikian pula pendapat Malik dan Muhammad bin al-Hasan.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو يُوسُفَ: يَحْكُمُ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ بِقَوْلِ الْوَاحِدِ وَأَجْرَاهُ مَجْرَى الْخَبَرِ، وَخَالَفَ فِيهِ كَخِلَافِهِ فِي التَّرْجَمَةِ.

Abu Hanifah dan Abu Yusuf berpendapat bahwa dalam jarh dan ta‘dil dapat diputuskan dengan pendapat satu orang saja, dan mereka memperlakukannya seperti khabar (berita). Mereka berbeda pendapat dalam hal ini sebagaimana perbedaan pendapat mereka dalam masalah tarjamah.

اسْتِدْلَالًا بِقَبُولِ خَبَرِهِ فِي الدِّيَانَاتِ، فَكَانَ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ أَوْلَى، وَأَجَازَ سَمَاعَ قَوْلِهِ بِلَفْظِ الْخَبَرِ دُونَ الشَّهَادَةِ. وَأَجَازَ تَعْدِيلَ الْوَلَدِ وَالْوَالِدِ كَمَا أَجَازَ خَبَرَهُمَا.

Dengan berdalil bahwa kabar darinya diterima dalam urusan agama, maka dalam jarh dan ta‘dil (penilaian perawi) lebih utama lagi, dan membolehkan mendengar perkataannya dengan lafaz khabar, bukan dengan lafaz kesaksian. Ia juga membolehkan ta‘dil (penilaian adil) anak dan orang tua sebagaimana membolehkan kabar dari keduanya.

وَكُلُّ هَذَا فَاسِدٌ عِنْدَنَا، فَلَا يَسْمَعُ الْجَرْحَ وَالتَّعْدِيلَ إِلَّا بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَ تَعْدِيلَ وَالِدٍ وَلَا وَلَدٍ وَلَا يَقْبَلُ فِيهِ إِلَّا مَا يَقْبَلُ فِي سَائِرِ الشَّهَادَاتِ اسْتِدْلَالًا بِأَنَّهُ إِثْبَاتُ حُكْمٍ عَلَى خَصْمٍ بِقَوْلِ غَيْرِهِ فَصَارَ هُوَ الْحَقَّ الْمَطْلُوبَ، وَقَدْ مَضَى الْكَلَامُ عَلَى ما استدل به في الترجمة.

Semua ini menurut kami adalah tidak sah, sehingga jarḥ dan ta‘dīl tidak didengar kecuali dengan lafaz kesaksian, dan tidak boleh menerima ta‘dīl dari orang tua maupun anak, serta tidak diterima di dalamnya kecuali apa yang diterima dalam seluruh kesaksian lainnya, dengan alasan bahwa hal itu merupakan penetapan hukum terhadap pihak yang bersengketa berdasarkan ucapan orang lain, sehingga hal itu menjadi kebenaran yang dicari, dan telah dijelaskan sebelumnya pembahasan tentang dalil yang digunakan dalam bab ini.

(شهادة النساء في التعديل والجرح)

Kesaksian perempuan dalam hal ta‘dil dan jarh.

وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ النِّسَاءِ فِي التَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ وَإِنْ شَهِدَ شُهُودُ الْأَصْلِ بِمَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ النِّسَاءِ مِنَ الْأَمْوَالِ أَوِ الْوِلَادَةِ أَوْ عُيُوبِ النِّسَاءِ.

Dan tidak diterima kesaksian perempuan dalam hal ta‘dil dan jarh, meskipun para saksi asal memberikan kesaksian dalam perkara yang diterima kesaksian perempuan di dalamnya, seperti harta, kelahiran, atau cacat pada perempuan.

وَقَبِلَهَا أَبُو حَنِيفَةَ بِنَاءً عَلَى أَصْلِهِ فِي أَنَّ الْجَرْحَ وَالتَّعْدِيلَ خَبَرٌ وَلَيْسَ بِشَهَادَةٍ.

Abu Hanifah menerimanya berdasarkan prinsipnya bahwa al-jarh dan al-ta‘dil adalah khabar dan bukan syahadah.

وَنَحْنُ نَحْمِلُهُ عَلَى أَصْلِنَا فِي أَنَّهَا شَهَادَةٌ وَلَيْسَتْ بِخَبَرٍ ثُمَّ هِيَ شَهَادَةٌ بِغَيْرِ المال فلم تقبل شهادتهن فيه وإن قبلته في الأموال.

Dan kami memahami hal itu berdasarkan prinsip kami bahwa hal tersebut adalah syahadat (kesaksian) dan bukanlah khabar (berita). Kemudian, itu adalah syahadat yang tidak berkaitan dengan harta, sehingga kesaksian mereka tidak diterima dalam hal tersebut, meskipun diterima dalam perkara harta.

(فصل: هل يحكم القاضي في التزكية بأصحاب المسائل أو بأهل الخبرة؟ .)

(Bagian: Apakah hakim memutuskan dalam hal tazkiyah berdasarkan para ahli masalah atau berdasarkan orang-orang yang berpengalaman?)

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهَا شَهَادَةٌ مَحْضَةٌ يَحْكُمُ فِيهَا بِشَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ يَحْكُمُ الْقَاضِي فِي تَعْدِيلِهِمْ وَجَرْحِهِمْ بِأَصْحَابِ مَسَائِلِهِ؟ أَوْ بِمَنْ عَدَّلَهُمْ وَجَرَحَهُمْ مِنْ جِيرَانِهِ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ بِهِمْ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika telah tetap bahwa hal itu adalah kesaksian murni yang diputuskan berdasarkan kesaksian dua orang saksi, maka para ulama kami berbeda pendapat: Apakah hakim memutuskan dalam hal penilaian adil atau cacatnya para saksi tersebut dengan orang-orang yang terlibat dalam perkara mereka? Ataukah dengan orang-orang yang menilai adil atau cacat dari kalangan tetangga mereka dan orang-orang yang ahli serta mengetahui keadaan mereka? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَصْحَابَ مَسَائِلِهِ هم الشهود عند بِالتَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ، وَهُمُ الْمُتَحَمِّلُونَ عَنِ الْجِيرَانِ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ مَا ذَكَرُوهُ مِنَ التَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ.

Salah satunya adalah bahwa para pemilik masalah-masalah tersebut adalah para saksi dalam hal ta‘dīl dan jarḥ, dan merekalah yang menerima keterangan dari para tetangga dan ahli yang berpengalaman mengenai apa yang mereka sebutkan tentang ta‘dīl dan jarḥ.

وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَقَوْلُ الْأَكْثَرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ.

Dan inilah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, serta merupakan pendapat mayoritas dari para pengikutnya.

فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَا يَسْمَعُهُ أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ مِنَ الْجِيرَانِ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ بِلَفْظِ الْخَبَرِ دُونَ الشَّهَادَةِ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ مُخْتَصَّةٌ بِالْحُكَّامِ.

Dengan demikian, diperbolehkan bagi para penanya untuk mendengar keterangan dari para tetangga dan orang-orang yang ahli dalam bentuk berita, bukan dalam bentuk kesaksian; karena kesaksian itu khusus ditujukan kepada para hakim.

وَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِمُ الْعَدَدُ.

Dan jumlah mereka tidak menjadi syarat yang diperhitungkan.

وَيَعْتَبِرُ أَنْ يَقَعَ فِي نُفُوسِ أَصْحَابِ الْمَسَائِلِ صِدْقُ الْمُخْبِرِ فِيمَا ذَكَرَهُ مِنْ تَعْدِيلٍ وَجَرْحٍ فَرُبَّمَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ صِدْقُ الْوَاحِدِ فَجَازَ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَيْهِ وَرُبَّمَا ارْتَابَ بِالِاثْنَيْنِ فَلَزِمَهُ أَنْ يَسْتَزِيدَ.

Dan disyaratkan agar dalam hati para pemilik masalah (hakim atau mufti) tertanam keyakinan akan kebenaran orang yang memberi informasi dalam hal yang ia sebutkan, baik berupa ta‘dil (penilaian adil) maupun jarh (penilaian cacat). Sebab, terkadang dalam hati seseorang timbul keyakinan akan kebenaran satu orang saja, sehingga boleh baginya mencukupkan dengan satu orang tersebut. Namun, terkadang ia masih ragu meskipun sudah ada dua orang, sehingga wajib baginya untuk meminta tambahan keterangan.

وَيَجُوزُ لِأَصْحَابِ الْمَسَائِلِ أَنْ يَسْأَلُوا الْجَارَ: مِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ تَعْدِيلَهُ وَجَرْحَهُ؟ وَلَا يَجُوزُ للحاكم أن يسأل أصحاب المسائل من أن عَلِمْتُمُ الْجَرْحَ وَالتَّعْدِيلَ؟ .

Diperbolehkan bagi para penanya untuk bertanya kepada tetangga: Dari mana kamu mengetahui keadilan dan kecacatannya? Namun tidak diperbolehkan bagi hakim untuk bertanya kepada para penanya: Dari mana kalian mengetahui kecacatan dan keadilan?

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ.

Pendapat kedua: yaitu yang dinukil dari Abu Ishaq al-Marwazi.

أَنَّ الَّذِي يَشْهَدُ بِالتَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ هُمْ مَنْ عَرِفَهُمَا مِنَ الْجِيرَانِ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ، وَيَكُونُ أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ رُسُلَهُمْ فِيهَا؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِذَلِكَ مَسْمُوعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الْبَاطِنَةِ، وَهُمُ الْجِيرَانُ وَأَهْلُ الْخِبْرَةِ دُونَ أَصْحَابِ الْمَسَائِلِ، وَلِأَنَّ شَهَادَةَ أَصْحَابِ الْمَسَائِلِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، وَهِيَ لَا تُسْمَعُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى شهود الأصل.

Orang-orang yang memberikan kesaksian tentang ta‘dīl dan jarḥ adalah mereka yang mengenal keduanya dari kalangan tetangga dan orang-orang yang ahli (berpengalaman), sedangkan para pemilik perkara hanya menjadi utusan mereka dalam hal itu; karena kesaksian tersebut didengar dari orang-orang yang benar-benar mengetahui secara mendalam, yaitu para tetangga dan ahli, bukan dari para pemilik perkara. Selain itu, kesaksian para pemilik perkara seperti kesaksian atas kesaksian, dan hal itu tidak diterima selama masih memungkinkan untuk menghadirkan saksi asal.

فَعَلَى هَذَا إِذَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ الْمَسَائِلِ رُسُلَ مَنْ عَدَّلَ وَجَرَحَ، كَانَ مَا يَذْكُرُهُ أَصْحَابُ مَسَائِلِهِ خَبَرًا يَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى قَوْلِ الْوَاحِدِ بِلَفْظِ الْخَبَرِ دُونَ الشَّهَادَةِ، وَيُسَمُّوا لِلْحَاكِمِ مَنْ عَدَّلَ وَجَرَّحَ، ثُمَّ تُسْمَعُ الشَّهَادَةُ بِالتَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ مِنَ الْجِيرَانِ وَأَهْلِ الْخِبْرَةِ عَلَى شرط الشهادة.

Maka berdasarkan hal ini, jika kita menganggap para pemilik masalah sebagai utusan dari orang yang melakukan ta‘dil dan jarh, maka apa yang disebutkan oleh para pemilik masalah tersebut adalah sebuah kabar yang boleh cukup dengan perkataan satu orang saja dengan lafaz kabar, tanpa bentuk kesaksian. Mereka juga menyebutkan kepada hakim siapa yang melakukan ta‘dil dan jarh, kemudian kesaksian tentang ta‘dil dan jarh didengar dari para tetangga dan orang-orang yang ahli, sesuai dengan syarat-syarat kesaksian.

(فصل: هل يشهد على تعديل الثاني من شهدا على الأول) .

Bab: Apakah boleh memberikan kesaksian atas keadilan orang kedua dari dua orang yang telah bersaksi atas orang pertama.

وَإِذَا شَهِدَ شَاهِدَانِ مِنْ أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ أَوْ مِنَ الْجِيرَانِ بِحَسَبِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ بِتَعْدِيلِ أَحَدِ شَاهِدَيِ الْأَصْلِ، جَازَ أَنْ يَشْهَدَا بِتَعْدِيلِ الشَّاهِدِ الْآخَرِ قَوْلًا وَاحِدًا، وَإِنْ كَانَ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ قَوْلَيْنِ.

Dan apabila dua orang saksi dari kalangan orang-orang yang terkait dengan permasalahan atau dari para tetangga, sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan dari dua sisi tersebut, memberikan kesaksian tentang keadilan salah satu dari dua saksi asal, maka boleh bagi keduanya untuk memberikan kesaksian tentang keadilan saksi yang lain menurut satu pendapat, meskipun dalam masalah kesaksian atas kesaksian terdapat dua pendapat.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ هُمَا فَرْعٌ لِأَصْلٍ وَفِي التَّزْكِيَةِ هُمَا شَاهِدَانِ عَلَى الْأَصْلِ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa dalam syahadat atas syahadat, keduanya merupakan cabang dari pokok, sedangkan dalam tazkiyah, keduanya adalah dua saksi atas pokok.

(مِنِ احْتِيَاطَاتِ الْحُكَّامِ فِي التَّعْدِيلِ وَالْجَرْحِ) .

(Di antara kehati-hatian para hakim dalam menetapkan keadilan dan mencela.)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيُخْفِي عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَسْمَاءَ مَنْ دَفَعَ إِلَى الْآخَرِ لِتَتَّفِقَ مَسْأَلَتُهُمَا أَوْ تَختَلِفَ “.

Syafi‘i berkata: “Dan ia menyembunyikan dari masing-masing keduanya nama orang yang menyerahkan kepada yang lain, agar permasalahan keduanya bisa sesuai atau berbeda.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ: وَهُوَ مِنِ اسْتِظْهَارِ الْحَاكِمِ، أَنْ يُخْفِيَ عَنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ مَا دَفَعَهُ إِلَى غَيْرِهِ، حَتَّى لَا يَجْمَعَهُمُ الْهَوَى عَلَى اتِّفَاقٍ فِي جَرْحٍ أَوْ تَعْدِيلٍ.

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan hal ini termasuk bentuk kehati-hatian seorang hakim, yaitu menyembunyikan dari masing-masing pihak yang terkait dengan perkaranya apa yang telah ia sampaikan kepada pihak lain, agar hawa nafsu tidak menyatukan mereka dalam kesepakatan untuk mencela atau merekomendasikan.

وَإِذَا شَهِدُوا عِنْدَ الْقَاضِي بِجَرْحٍ أَسَرُّوهُ، وَلَمْ يَجْهَرُوا بِهِ.

Dan apabila mereka memberikan kesaksian di hadapan hakim tentang suatu cacat, mereka merahasiakannya dan tidak mengucapkannya dengan lantang.

وَإِنْ شَهِدُوا بِتَعْدِيلٍ جَازَ أَنْ يَجْهَرُوا بِهِ، لِوُرُودِ الشَّرْعِ بِإِخْفَاءِ المساوي، وَإِظْهَارِ الْمَحَاسِنِ.

Dan jika mereka bersaksi tentang keadilan (seseorang), maka boleh bagi mereka untuk mengatakannya secara terang-terangan, karena syariat memerintahkan untuk menyembunyikan keburukan dan menampakkan kebaikan.

وَيَجُوزُ أَنْ تُسْمَعَ شَهَادَتُهُمْ بِالْجَرْحِ مَعَ غَيْبَةِ الْمَجْرُوحِ، وَلَا يَلْزَمُ إِعَادَتُهَا مَعَ حُضُورِهِ وَتُسْمَعُ شَهَادَتُهُمْ بِالتَّعْدِيلِ مَعَ الْحُضُورِ، وَلِأَنَّ الْمُعَدِّلَ مَحْكُومٌ بِقَوْلِهِ، فَاحْتَاجَ الْحَاكِمُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ.

Diperbolehkan untuk mendengarkan kesaksian mereka tentang jarḥ (kritik) meskipun orang yang dikritik tidak hadir, dan tidak wajib mengulanginya ketika ia hadir. Kesaksian mereka tentang ta‘dīl (rekomendasi) didengarkan ketika orang yang direkomendasikan hadir, karena orang yang memberikan ta‘dīl ucapannya dijadikan pegangan, sehingga hakim membutuhkan untuk mengetahuinya.

وَتُسْمَعُ شَهَادَتُهُمْ بِالتَّعْدِيلِ مَعَ غَيْبَةِ الْمُعَدَّلِ وَتُعَادُ بِالْإِشَارَةِ إِلَيْهِ مَعَ حُضُورِهِ، لِئَلَّا يَقَعَ الْغَلَطُ فِي اتِّفَاقِ الْأَسْمَاءِ وَالْأَنْسَابِ، فَيَزُولُ الِاشْتِبَاهُ بِالْإِشَارَةِ مَعَ الْحُضُورِ.

Kesaksian mereka tentang ta‘dil dapat diterima meskipun orang yang dinilai tidak hadir, dan harus diulangi dengan menunjuk kepadanya ketika ia hadir, agar tidak terjadi kekeliruan karena kesamaan nama dan nasab, sehingga kerancuan dapat dihilangkan dengan penunjukan secara langsung saat orang tersebut hadir.

(حُكْمُ شَهَادَاتِ التَّعْدِيلِ إِذَا اخْتَلَفَتْ) .

Hukum kesaksian at-ta‘dil apabila terjadi perbedaan.

(مسألة)

(Masalah)

قال الشافعي: ” فَإِنِ اتَّفَقَتْ بِالتَّعْدِيلِ أَوِ التَجرِيحِ قَبِلَهُمَا وَإِنِ اخْتَلَفَتْ أَعَادَهَا مَعَ غَيْرِهِمَا “.

Imam Syafi‘i berkata: “Jika dua orang sepakat dalam memberikan ta‘dil (penilaian adil) atau jarh (penilaian cacat), maka pendapat keduanya diterima. Namun jika keduanya berbeda pendapat, maka perkara tersebut dikembalikan bersama selain mereka.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ: لَيْسَ يَخْلُو حَالُ الشَّاهِدَيْنِ عِنْدَ الْحَاكِمِ مِنْ أَصْحَابِ مَسَائِلِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar: Tidaklah keadaan dua saksi di hadapan hakim dari kalangan para ahli masalahnya itu lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى الشَّهَادَةِ بِالتَّعْدِيلِ فَيَحْكُمُ بِالْعَدَالَةِ وَيُنَفِّذُ الْحُكْمَ بِشُهُودِ الْأَصْلِ.

Salah satunya: jika keduanya sepakat dalam memberikan kesaksian tentang keadilan, maka diputuskan adanya keadilan dan keputusan dijalankan berdasarkan kesaksian para saksi asal.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَّفِقَا عَلَى الشَّهَادَةِ بِالْجَرْحِ، فَيَحْكُمُ بِهِ وَيُسْقِطُ شُهُودَ الْأَصْلِ.

Keadaan kedua: apabila keduanya sepakat dalam memberikan kesaksian tentang jarh (celaan), maka diputuskan berdasarkan hal itu dan para saksi asal dijatuhkan kesaksiannya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَخْتَلِفَا فَيَشْهَدَ أَحَدُهُمَا بِالْعَدَالَةِ، وَيَشْهَدَ الْآخَرُ بِالْجَرْحِ، فَلَا يَحْكُمُ بِقَوْلِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي عَدَالَةٍ وَلَا جَرْحٍ، وَيُنَفِّذُ غَيْرَهُمَا.

Keadaan ketiga: Jika keduanya berbeda pendapat, salah satunya memberikan kesaksian tentang keadilan, sementara yang lain memberikan kesaksian tentang celaan, maka tidak diputuskan berdasarkan pendapat salah satu dari keduanya, baik dalam menetapkan keadilan maupun celaan, dan keputusan dijalankan berdasarkan selain keduanya.

وَيَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ فِيمَنْ يُنَفِّذُهُ بَعْدَهُمَا عَلَى وَاحِدٍ، لِأَنَّ بِالْوَاحِدِ تكبل بَيِّنَةُ الْجَرْحِ أَوِ التَّعْدِيلِ، وَلَوِ اسْتَظْهَرَ بِإِنْفَاذِ اثْنَيْنِ كَانَ أَحْوَطَ.

Dan boleh membatasi orang yang melaksanakan (wasiat) setelah keduanya hanya pada satu orang, karena dengan satu orang sudah cukup sebagai bukti jarḥ atau ta‘dīl. Namun, jika lebih berhati-hati dengan melaksanakan (wasiat) melalui dua orang, itu lebih utama.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: أَعَادَهُمَا مَعَ غَيْرِهِمَا فَيَحْتَمِلُ أَمْرَيْنِ:

Adapun pendapat asy-Syafi‘i: “Ia mengulangi keduanya bersama selain keduanya,” maka hal itu mungkin mengandung dua kemungkinan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُعِيدَهُمَا ثَانِيَةً لِلْبَحْثِ فَرُبَّمَا ظَهَرَ لِمَنْ عَدَّلَ جَرْحٌ يُوَافِقُ فِيهِ صَاحِبَهُ أَوْ ظَهَرَ لِمَنْ جَرَحَ تَعْدِيلٌ يُوَافِقُ فِيهِ صَاحِبَهُ وَيَسْمَعُ الْحَاكِمُ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا رُجُوعَهُ إِلَى مَا بَانَ لَهُ مِنْ خِلَافِ شَهَادَتِهِ الْأُولَى.

Salah satunya adalah mengulangi pemeriksaan terhadap keduanya untuk meneliti kembali, karena mungkin saja bagi orang yang melakukan ta‘dīl ditemukan alasan jarḥ yang membuatnya setuju dengan rekannya, atau bagi orang yang melakukan jarḥ ditemukan alasan ta‘dīl yang membuatnya setuju dengan rekannya. Hakim pun mendengarkan dari masing-masing mereka penarikan kembali atas apa yang telah tampak baginya yang berbeda dari kesaksian pertamanya.

وَالِاحْتِمَالُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ: أَعَادَهُمَا يَعْنِي عَنِ الشَّهَادَةِ إِلَى حَيْثُ شَاءَ، لِيَنْظُرَ مَا يَشْهَدُ بِهِ الثَّالِثُ، فَإِنْ أَتَاهُ الثَّالِثُ فَشَهِدَ عِنْدَهُ بِالتَّعْدِيلِ كَمُلَتْ بَيِّنَةُ التَّعْدِيلِ، فَحَكَمَ بِهَا وَلَمْ يُؤْثِرْ شَهَادَةَ الْخَارِجِ، وَإِنْ شَهِدَ عِنْدَهُ بِالْجَرْحِ كَمُلَتْ بَيِّنَةُ الْجَرْحِ، فَحَكَمَ بِهَا وَلَمْ يُؤْثِرْ شَهَادَةَ الْخَارِجِ، وَإِنْ شَهِدَ عِنْدَهُ بِالْجَرْحِ كَمُلَتْ بَيِّنَةُ الْجَرْحِ فَحَكَمَ بِهَا وَلَمْ يُؤْثِرْ شَهَادَةَ الْمُعَدِّلِ.

Kemungkinan kedua: bahwa maksud dari perkataannya “mengembalikan keduanya” adalah mengembalikan dari persaksian ke tempat yang diinginkan, agar dapat melihat apa yang akan disaksikan oleh orang ketiga. Jika orang ketiga datang kepadanya lalu memberikan kesaksian di hadapannya tentang ta‘dil (penilaian positif), maka lengkaplah bukti ta‘dil, sehingga ia memutuskan berdasarkan bukti itu dan tidak menghiraukan kesaksian pihak luar. Namun jika orang ketiga memberikan kesaksian di hadapannya tentang jarh (penilaian negatif), maka lengkaplah bukti jarh, sehingga ia memutuskan berdasarkan bukti itu dan tidak menghiraukan kesaksian pihak luar. Jika orang ketiga memberikan kesaksian di hadapannya tentang jarh, maka lengkaplah bukti jarh sehingga ia memutuskan berdasarkan bukti itu dan tidak menghiraukan kesaksian dari pihak yang melakukan ta‘dil.

(بَيِّنَةُ الْجَرْحِ أَوْلَى مِنْ بَيِّنَةِ التَّعْدِيلِ)

Bukti jarḥ lebih didahulukan daripada bukti ta‘dīl.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِنْ عُدِّلَ رَجُلٌ بِشَاهِدَيْنِ وَجُرِحَ بِآخَرَيْنِ كَانَ الْجَرْحُ أَوْلَى لِأَنَّ التَّعْدِيلَ عَلَى الظَّاهِرِ وَالْجَرْحَ عَلَى الْبَاطِنِ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Jika seseorang dinyatakan ‘adil oleh dua orang saksi dan dicacatkan oleh dua orang lainnya, maka cacatan (jarh) lebih didahulukan, karena ta‘dil (penyataan adil) didasarkan pada hal yang tampak, sedangkan jarh didasarkan pada hal yang tersembunyi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ: إِذَا شَهِدَ بِعَدَالَةِ رَجُلٍ شَاهِدَانِ وَشَهِدَ بِجَرْحِهِ شَاهِدَانِ كَانَتْ شَهَادَةُ الْجَرْحِ أَوْلَى مِنْ شَهَادَةِ التَّعْدِيلِ، لِأَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar: jika ada dua orang saksi memberikan kesaksian atas keadilan seseorang, dan dua orang saksi lain memberikan kesaksian atas cacatnya, maka kesaksian tentang cacat lebih didahulukan daripada kesaksian tentang ta‘dil, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: هُوَ مَا عَلَّلَ بِهِ الشَّافِعِيُّ أَنَّ الشَّهَادَةَ بِالتَّعْدِيلِ عَلَى الظَّاهِرِ وَبِالْجَرْحِ عَلَى الْبَاطِنِ، وَالْحُكْمَ بِالْبَاطِنِ أَقْوَى مِنَ الْحُكْمِ بِالظَّاهِرِ، وَصَارَ كَمَنْ شَهِدَ لَهُ شَاهِدَانِ بِالْإِسْلَامِ، وَشَهِدَ عَلَيْهِ شَاهِدَانِ بِالرِّدَّةِ، كَانَتِ الشَّهَادَةُ بِالرِّدَّةِ أَوْلَى مِنَ الشَّهَادَةِ بِالْإِسْلَامِ، لِأَنَّ الْإِسْلَامَ ظَاهِرٌ، وَالرِّدَّةَ بَاطِنَةٌ، وَكَمَنَ شَهِدَ عَلَيْهِ شَاهِدَانِ بِأَلْفٍ وَشَهِدَ لَهُ شَاهِدَانِ بِالْقَضَاءِ، كَانَتْ شَهَادَةُ الْقَضَاءِ أَوْلَى، لِأَنَّهَا تَشْهَدُ بِبَاطِنٍ.

Salah satunya adalah alasan yang dikemukakan oleh Imam Syafi‘i bahwa kesaksian dalam ta‘dil (penilaian positif) didasarkan pada hal yang lahiriah, sedangkan dalam jarh (penilaian negatif) didasarkan pada hal yang batiniah. Dan hukum berdasarkan hal yang batiniah lebih kuat daripada hukum berdasarkan hal yang lahiriah. Hal ini seperti seseorang yang dua orang saksi bersaksi atas keislamannya, lalu dua orang saksi lain bersaksi atas kemurtadannya; maka kesaksian atas kemurtadannya lebih didahulukan daripada kesaksian atas keislamannya, karena Islam itu tampak secara lahiriah, sedangkan riddah (kemurtadan) tersembunyi secara batiniah. Atau seperti dua orang saksi bersaksi bahwa ia berutang seribu, lalu dua orang saksi lain bersaksi bahwa utangnya telah dilunasi; maka kesaksian pelunasan lebih didahulukan, karena ia bersaksi atas sesuatu yang batiniah.

وَالْعِلَّةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّ فِي الْجَرْحِ إِثْبَاتًا، وَفِي التَّعْدِيلِ نَفْيًا، وَالْإِثْبَاتُ أَوْلَى من النفي، كَمَنْ شَهِدَ لَهُ شَاهِدَانِ بِنِكَاحِ امْرَأَةٍ، وَشَهِدَ عَلَيْهِ اثْنَانِ بِطَلَاقِهَا، كَانَتْ شَهَادَةُ الطَّلَاقِ أَوْلَى، لِمَا تَضَمَّنَهَا مِنْ إِثْبَاتِ مَا نُفِيَ بِغَيْرِهَا.

Alasan kedua: bahwa dalam jarḥ terdapat penetapan, sedangkan dalam ta‘dīl terdapat penafian, dan penetapan lebih utama daripada penafian. Seperti halnya jika ada dua orang saksi yang bersaksi tentang pernikahan seorang wanita, lalu ada dua orang lain yang bersaksi tentang perceraian wanita tersebut, maka kesaksian tentang perceraian lebih diutamakan, karena di dalamnya terdapat penetapan terhadap sesuatu yang dinafikan oleh kesaksian lainnya.

فَلَوْ شَهِدَ بِالْجَرْحِ اثْنَانِ وَشَهِدَ بِالتَّعْدِيلِ ثَلَاثَةٌ أَوْ أَكْثَرُ كَانَتْ بَيِّنَةُ الْجَرْحِ أَوْلَى، وَإِنْ كَانَتْ بَيِّنَةُ التَّعْدِيلِ أَكْثَرَ، لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْعِلَّتَيْنِ.

Jika dua orang bersaksi tentang jarḥ dan tiga orang atau lebih bersaksi tentang ta‘dīl, maka kesaksian jarḥ lebih didahulukan, meskipun jumlah saksi ta‘dīl lebih banyak, karena dua alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وَلَكِنْ لَوْ شَهِدَ اثْنَانِ بِجَرْحِهِ. فِي سَنَةٍ أَوْ بَلَدٍ، ثُمَّ شَهِدَ اثْنَانِ بِتَعْدِيلِهِ فِي سَنَةٍ بَعْدَهَا، أَوْ فِي بَلَدٍ آخَرَ، انْتَقَلَ إِلَيْهِ، حَكَمَ بِتَعْدِيلِهِ دُونَ جَرْحِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَتُوبُ وَيَنْتَقِلُ مِنَ الْفِسْقِ إِلَى الْعَدَالَةِ، وَيَهْفُو كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ثُمَّ يَسْتَقِيمُونَ.

Namun, jika dua orang memberikan kesaksian tentang jarh (celaan) terhadap seseorang pada suatu tahun atau di suatu negeri, kemudian dua orang lain memberikan kesaksian tentang ta‘dil (pujian/penilaian positif) terhadapnya pada tahun berikutnya atau di negeri lain yang ia pindah ke sana, maka yang diambil adalah ta‘dil-nya, bukan jarh-nya. Sebab, bisa jadi ia telah bertobat dan berpindah dari kefasikan menuju keadilan, dan banyak orang yang pernah tergelincir kemudian menjadi baik kembali.

(لَا يقبل الجرح إلا بيقين)

Tidak diterima jarh kecuali dengan keyakinan.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يُقْبَلُ الْجَرْحُ إِلَا بِالْمُعَايَنَةِ أَوْ بِالسَّمَاعِ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Dan tidak diterima jarh kecuali dengan penglihatan langsung atau dengan pendengaran.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْفِسْقَ قَدْ يَكُونُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa kefasikan dapat terjadi dari tiga segi:

أَحَدُهَا: بِالْأَفْعَالِ، كَالزِّنَا وَاللِّوَاطِ وَالْغَصْبِ وَالسَّرِقَةِ.

Salah satunya: dengan perbuatan, seperti zina, liwāṭ, perampasan, dan pencurian.

وَالثَّانِي: بِالْأَقْوَالِ، كَالْقَذْفِ وَالْكَذِبِ وَالسِّعَايَةِ وَالنَّمِيمَةِ.

Yang kedua: dengan ucapan, seperti menuduh zina, berbohong, mengadu domba, dan menghasut.

وَالثَّالِثُ: بِالِاعْتِقَادِ، كَاسْتِحْلَالِ الْمَحْظُورَاتِ وَالتَّدَيُّنِ بِالْبِدَعِ الْمُسْتَنْكَرَاتِ.

Ketiga: dengan keyakinan, seperti menghalalkan hal-hal yang terlarang dan beragama dengan bid‘ah-bid‘ah yang tercela.

فَالْأَفْعَالُ: تُعْلَمُ بِالْمُعَايَنَةِ، وَالْأَقْوَالُ: تُعْلَمُ بِالسَّمَاعِ، وَكَذَلِكَ الِاعْتِقَادُ.

Maka perbuatan diketahui melalui pengamatan langsung, sedangkan ucapan diketahui melalui pendengaran, demikian pula keyakinan.

فَلَا تُقْبَلُ مِنَ الْجَارِحِ إِذَا شَهِدَ بِأَفْعَالِ الْجَرْحِ إِلَّا إِذَا شَاهَدَهَا.

Maka tidak diterima dari orang yang menjarh (mengkritik) apabila ia bersaksi atas perbuatan-perbuatan jarh kecuali jika ia menyaksikannya sendiri.

وَلَا تُقْبَلُ مِنْهُ إِذَا شَهِدَ بِأَقْوَالِ الْجَرْحِ إِلَّا إِذَا سَمِعَهَا.

Dan tidak diterima darinya apabila ia bersaksi dengan ucapan-ucapan jarḥ kecuali jika ia mendengarnya.

وَلَا تُقْبَلُ مِنْهُ إِذَا قَالَ بَلَغَنِي وَقِيلَ لِي.

Dan tidak diterima darinya jika ia berkata, “Aku mendengar” atau “Dikatakan kepadaku.”

وَلَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْأَعْمَى بِالْجَرْحِ بِالْأَفْعَالِ وَلَا فِي الْأَقْوَالِ، أَمَّا الْأَفْعَالُ فَإِنَّهُ لَمْ يَرَهَا، وَأَمَّا الْأَقْوَالُ فَلِأَنَّهُ، وَإِنْ سَمِعَهَا فَلَيْسَ يَتَحَقَّقُهَا مِنَ الْمَجْرُوحِ لِاشْتِبَاهِ صَوْتِهِ بِصَوْتِ غَيْرِهِ.

Dan tidak diterima kesaksian orang buta dalam jarh (kritik) terhadap perbuatan maupun ucapan. Adapun dalam perbuatan, karena ia tidak melihatnya. Sedangkan dalam ucapan, meskipun ia mendengarnya, ia tidak dapat memastikan bahwa ucapan itu berasal dari orang yang dikritik, karena bisa saja suaranya mirip dengan suara orang lain.

فَأَمَّا الشَّهَادَةُ بِهَا عَنِ الْإِخْبَارِ فَإِنْ كَانَتْ أَخْبَارَ آحَادٍ لَمْ يَكُنْ لِلْمُخْبِرِ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا، وَإِنْ كَانَتْ مِنْ أَخْبَارِ الِاسْتِفَاضَةِ أَوِ التَّوَاتُرِ الَّتِي لَا يَعْتَرِضُهَا ارْتِيَابٌ جَازَ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا، كَمَا يَشْهَدُ بِالْأَنْسَابِ، وَبِالْأَمْلَاكِ، وَالْمَوْتِ، وَتُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَةُ الْأَعْمَى؛ لِأَنَّهُ مُسَاوٍ لِلْبَصِيرِ فِي الْعِلْمِ بِهَا.

Adapun kesaksian berdasarkan informasi, jika informasinya adalah khabar āḥād, maka orang yang menerima informasi tersebut tidak boleh memberikan kesaksian atasnya. Namun jika informasinya berasal dari khabar istifāḍah atau tawātur yang tidak mengandung keraguan, maka boleh baginya memberikan kesaksian atasnya, sebagaimana seseorang bersaksi tentang nasab, kepemilikan, dan kematian. Dalam hal ini, kesaksian orang buta diterima, karena ia setara dengan orang yang melihat dalam pengetahuan tentang hal tersebut.

فَإِذَا عَلِمَ الشَّاهِدُ الْجَرْحَ إِمَّا بِالْمُعَايَنَةِ لِلْأَفْعَالِ أَوْ بِالسَّمَاعِ لِلْأَقْوَالِ أَوْ بِالْخَبَرِ الْمُسْتَفِيضِ بِالْأَفْعَالِ وَالْأَقْوَالِ جَازَ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا. وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ بِهَا مِنْ غَيْرِ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ عَلَى يَقِينٍ مِنَ الْعِلْمِ بِهَا وَاللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: {إِلا مَنْ شَهِدَ بالحق وهم يعلمون} .

Jika seorang saksi mengetahui adanya celaan, baik melalui pengamatan langsung terhadap perbuatan, atau dengan mendengar ucapan, atau melalui berita yang tersebar luas mengenai perbuatan dan ucapan, maka boleh baginya memberikan kesaksian atas hal itu. Tidak boleh memberikan kesaksian selain melalui tiga cara tersebut, karena ia tidak memiliki keyakinan yang pasti tentang pengetahuan itu. Allah Ta‘ala berfirman: “Kecuali orang yang memberikan kesaksian dengan benar, sedang mereka mengetahui.”

فَإِنْ كَانَ الشَّاهِدُ بِهَذَا الْجَرْحِ عِنْدَ الْحَاكِمِ هُمُ الْجِيرَانَ وَأَهْلَ الْخِبْرَةِ كَانَتْ هَذِهِ الشُّرُوطُ مُعْتَبَرَةً فِي شَهَادَتِهِمْ.

Jika saksi yang memberikan kesaksian tentang cacat ini di hadapan hakim adalah para tetangga dan orang-orang yang ahli di bidangnya, maka syarat-syarat ini dianggap berlaku dalam kesaksian mereka.

وَإِنْ كَانَ الشَّاهِدُ بِهَا أَصْحَابَ مَسَائِلِهِ تَحَمَّلُوهَا عَنْ عِلْمِهَا مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ، وَجَازَ لَهُمْ أَنْ يَشْهَدُوا بِهَا عَنْهُمْ، لِأَنَّ أَصْحَابَ مَسَائِلِهِ قَدْ نُدِبُوا لِلْبَحْثِ عَنْهَا، وَلَوْ تَحَمَّلُوهَا مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ لَقَدَّمُوا الشَّهَادَةَ بِهَا وَلَمَا احْتَاجُوا إِلَى الْمَسْأَلَةِ عَنْهَا.

Dan jika yang menjadi saksi atasnya adalah para pemilik masalah-masalahnya, yang mereka menerima (ilmu) itu berdasarkan pengetahuan mereka dari tiga metode ini, maka boleh bagi mereka untuk memberikan kesaksian atasnya dari mereka, karena para pemilik masalah tersebut memang dianjurkan untuk meneliti masalah itu. Seandainya mereka menerima (ilmu) itu dari tiga metode ini, tentu mereka akan mendahulukan kesaksian atasnya dan tidak akan membutuhkan lagi untuk menanyakan tentangnya.

وَلَا يَصِيرُ أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ إِذَا شَهِدُوا بِهَا قَذَفَةً، وَإِنْ لَمْ تَكْمُلْ شَهَادَتُهُمْ.

Para pihak yang mengajukan perkara tidak menjadi pelaku qadzaf (penuduh zina) apabila mereka memberikan kesaksian tentangnya, meskipun kesaksian mereka belum lengkap.

وَيَصِيرُ الْجِيرَانُ بِهَا قَذَفَةً. إِنْ لَمْ تُكْمُلْ شَهَادَتُهُمْ، لِأَنَّ أَصْحَابَ الْمَسَائِلِ نُدِبُوا لِلْإِخْبَارِ بِمَا سَمِعُوهُ، وَلَمْ يُنْدَبِ الْجِيرَانُ إِلَيْهِ وَسَوَاءٌ ذَكَرَ أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ هَذَا الْجَرْحَ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ أَوْ بِلَفْظِ الْخَبَرِ، لَكِنَّ الْحَاكِمَ يَحْكُمُ بِهِ إِنْ كَانَ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ، وَلَا يَحْكُمُ بِهِ إِنْ كَانَ بِلَفْظِ الخبر.

Dan para tetangga dengan itu menjadi pelaku qadzaf (menuduh zina), jika kesaksian mereka tidak lengkap, karena para pemilik masalah dianjurkan untuk memberitakan apa yang mereka dengar, sedangkan para tetangga tidak dianjurkan untuk itu. Sama saja apakah para pemilik masalah menyebutkan celaan ini dengan lafaz kesaksian atau dengan lafaz berita, namun hakim memutuskan dengannya jika dengan lafaz kesaksian, dan tidak memutuskan dengannya jika dengan lafaz berita.

(ذكر سبب الجرح)

(Menyebutkan sebab jarh)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَقْبَلُهُ مِنْ فَقِيهٍ دَيِّنٍ عَاقِلٍ إِلَّا بِأَنْ يَقِفَهُ عَلَى مَا يَجْرَحُهُ بِهِ فَإِنَّ النَّاسَ يَتَبَايَنُونَ فِي الْأَهْوَاءِ فَيَشْهَدُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْكُفْرِ وَالْفِسْقِ بِالتَأْوِيلِ وَهُوَ بِالْجَرْحِ عِنْدَهُمْ أَوْلَى وَأَكْثَرُ مَنْ يُنْسَبُ إِلَى أَنْ تَجُوزَ شَهَادَتُهُ بَغْيًا حَتَّى يُعَدَّ الْيَسْيرُ الَذِي لَا يَكُونُ جَرْحًا جَرْحًا “.

Syafi‘i berkata: “Dan tidak diterima (kesaksian) dari seorang faqih yang beragama dan berakal kecuali dengan ia menjelaskan kepadanya apa yang menjadi sebab cacatnya. Sebab, manusia berbeda-beda dalam hawa nafsu, sehingga sebagian mereka bersaksi atas sebagian yang lain dengan tuduhan kufur dan fasik karena takwil, dan menurut mereka, mencacatkan (orang lain) lebih utama. Dan kebanyakan orang yang dianggap boleh diterima kesaksiannya justru melakukan kezhaliman, sehingga perkara yang sedikit yang sebenarnya bukan cacat pun dianggap sebagai cacat.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا كَمَا قَالَ، لَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَقْبَلَ شَهَادَةَ الشُّهُودِ بِالْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ حَتَّى يَذْكُرُوا لَهُ أَسْبَابَ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ.

Al-Mawardi berkata: Dan hal ini sebagaimana yang telah dikatakan, tidak boleh bagi hakim untuk menerima kesaksian para saksi tentang jarh dan ta‘dil sampai mereka menyebutkan kepada hakim sebab-sebab jarh dan ta‘dil tersebut.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِشَهَادَتِهِمْ، إِذَا شَهِدُوا عِنْدَهُ أَنَّهُ عَدْلٌ، أَوْ فَاسِقٌ، وَلَا يَسْأَلُهُمْ عَنْ سَبَبِ مَا صَارَ بِهِ عِنْدَهُمْ عَدْلًا، أَوْ فَاسِقًا.

Abu Hanifah berkata: Boleh bagi hakim memutuskan berdasarkan kesaksian mereka, apabila mereka bersaksi di hadapannya bahwa seseorang itu ‘adil atau fasiq, dan hakim tidak perlu menanyakan kepada mereka tentang sebab yang menjadikan orang tersebut menurut mereka ‘adil atau fasiq.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مِنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “.

Sebagai dalil bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”

وَلِأَنَّهُمْ إِذَا شَهِدُوا عَلَيْهِ بِالزِّنَا صَارُوا قَذَفَةً يُحَدُّونَ، فَكَانَتِ الشَّهَادَةُ بِفِسْقِهِ أَسْلَمَ وَأَسْتَرَ، وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَسْأَلَهُمْ عَنْ سَبَبِ عِلْمِهِمْ بِهِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْأَلَهُمْ عَنْ سَبَبِ فِسْقِهِ.

Karena jika mereka bersaksi atasnya dengan tuduhan zina, maka mereka menjadi para penuduh yang harus dikenai had, sehingga kesaksian atas kefasikannya lebih selamat dan lebih menutupi aib, dan karena ketika tidak boleh bagi hakim untuk menanyakan kepada mereka tentang sebab pengetahuan mereka terhadapnya, maka tidak boleh pula menanyakan kepada mereka tentang sebab kefasikannya.

وَدَلِيلُنَا قَوْلُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” اذكروا الفاسق بما فيه يحذره الناس “.

Dalil kami adalah sabda Nabi ﷺ: “Sebutlah orang fasik sesuai dengan apa yang ada padanya agar manusia waspada terhadapnya.”

ولأن الْجَرْحَ وَالتَّعْدِيلَ إِلَى الْحُكَّامِ دُونَ الشُّهُودِ، فَاعْتُبِرَ فِيهِ اجْتِهَادُ الْحَاكِمِ، وَلَمْ يُعْمَلْ فِيهِ عَلَى رَأْيِ الشُّهُودِ؛ وَلِأَنَّ النَّاسَ مُخْتَلِفُونَ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، فَشَارِبُ النَّبِيذِ مُخْتَلِفٌ فِي حَدِّهِ وَفِسْقِهِ فَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يُفَسِّقُهُ وَلَا يَحُدُّهُ، وَمَالِكٌ يُفَسِّقُهُ وَيَحُدُّهُ، وَالشَّافِعِيُّ يَحُدُّهُ وَلَا يُفَسِّقُهُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْتَبَرَ فِيهِ إِلَّا قَوْلُ مَنْ يُنَفِّذُ حُكْمَهُ وَهُمُ الْحُكَّامُ دُونَ الشُّهُودِ.

Karena jarḥ dan ta‘dīl adalah wewenang para hakim, bukan para saksi, maka dalam hal ini yang dipertimbangkan adalah ijtihad hakim, dan tidak berlaku pendapat para saksi; dan karena manusia berbeda pendapat dalam jarḥ dan ta‘dīl, misalnya peminum nabīdh terdapat perbedaan dalam penetapan had dan kefasikannya: Abū Ḥanīfah tidak menganggapnya fāsiq dan tidak menetapkan had atasnya, Mālik menganggapnya fāsiq dan menetapkan had, sedangkan al-Shāfi‘ī menetapkan had tetapi tidak menganggapnya fāsiq. Maka tidak boleh dipertimbangkan dalam hal ini kecuali pendapat orang yang dapat mengeksekusi hukum, yaitu para hakim, bukan para saksi.

وَقَدْ حَكَى الرَّبِيعُ عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ أَنَّ رَجُلًا جَرَحَ شَاهِدًا عِنْدَ حَاكِمٍ، فَقِيلَ لَهُ لِمَ جَرَحَتْهُ؟ قَالَ: لِأَنِّي رَأَيْتُهُ يَبُولُ قَائِمًا! قِيلَ: وَلِمَ يصير فاسقا إذا بال قائما؟ قال: ولأنه يَرْشُشُ عَلَى سَاقَيْهِ قِيلَ: أَفَرَأَيْتَهُ يَرْشُشُ عَلَى سَاقَيْهِ حِينَ بَالَ؟ قَالَ: لَا.

Rabī‘ meriwayatkan dari asy-Syāfi‘ī dalam kitab al-Umm bahwa ada seorang laki-laki yang mencela seorang saksi di hadapan seorang hakim. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau mencelanya?” Ia menjawab, “Karena aku melihatnya buang air kecil sambil berdiri!” Ditanyakan lagi, “Mengapa seseorang menjadi fāsiq jika buang air kecil sambil berdiri?” Ia menjawab, “Karena ia memercikkan (air kencing) ke kedua kakinya.” Ditanyakan lagi, “Apakah engkau melihatnya memercikkan (air kencing) ke kedua kakinya ketika ia buang air kecil?” Ia menjawab, “Tidak.”

فَإِذَا جَازَ أَنْ يُجْرَحَ الشَّاهِدُ بِمِثْلِ هَذَا وَلَيْسَ بِجَرْحٍ لَمْ يَجُزْ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَسْمَعَ مِنْهُ الشَّهَادَةَ بِالْجَرْحِ، حَتَّى يَصِفَ لَهُ مَا يَصِيرُ بِهِ مَجْرُوحًا.

Maka jika diperbolehkan seseorang mencela saksi dengan hal seperti ini, padahal itu bukanlah celaan yang sebenarnya, maka tidak boleh bagi hakim untuk menerima kesaksian darinya tentang celaan, sampai ia menjelaskan kepada hakim hal apa yang membuat seseorang itu menjadi tercela.

وَلِأَنَّ كَثِيرًا مِنَ الْمُتَعَصِّبِينَ فِي الْمَذَاهِبِ يُفَسِّقُونَ مَنْ خَالَفَهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَصِرْ بِالْمُخَالَفَةِ فَاسِقًا، فَلِذَلِكَ وَجَبَ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَسْتَفْسِرَهُمْ عَمَّا صَارَ بِهِ فَاسِقًا.

Karena banyak dari para fanatik mazhab menganggap fasik orang yang berbeda pendapat dengan mereka, padahal perbedaan itu sendiri tidak menjadikannya fasik, maka karena itu wajib bagi hakim untuk meminta penjelasan dari mereka tentang sebab apa yang menjadikan seseorang dianggap fasik.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِالْخَبَرِ، فَقَدْ عَارَضَهُ مَا ذَكَرْنَا فَيَسْقُطَانِ فَيَحْمِلُ السَّتْرَ فِيمَا لَمْ تَدْعُ إِلَيْهِ الْحَاجَةُ، وَالذِّكْرَ فِيمَا دَعَتْ إِلَيْهِ الْحَاجَةُ.

Adapun jawaban terhadap argumentasinya dengan hadis, maka telah kami sebutkan dalil yang menentangnya sehingga keduanya gugur. Maka, penutup (aurat) diberlakukan pada hal-hal yang tidak ada kebutuhan untuk menampakkannya, dan penyebutan (aurat) dibolehkan pada hal-hal yang memang ada kebutuhan untuk menampakkannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: إِنَّهُمْ يَصِيرُونَ قَذَفَةً فَقَدْ قَدَّمْنَاهُ فَإِنَّ أَصْحَابَ الْمَسَائِلِ لَا يَصِيرُونَ بِهِ قَذَفَةً وَإِنْ صَارَ الْجِيرَانُ بِهِ قَذَفَةً لَكِنْ لَيْسَ لِأَصْحَابِ الْمَسَائِلِ أَنْ يَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ بِالْقَذْفِ، لِأَنَّهُمْ قَالُوهُ بَعْدَ اسْتِخْبَارِهِمْ عَنْهُ.

Adapun jawaban atas ucapannya: “Sesungguhnya mereka menjadi para penuduh zina,” telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa para penanya masalah tidak menjadi penuduh zina karenanya. Meskipun para tetangga menjadi penuduh zina karenanya, namun para penanya masalah tidak berhak memberikan kesaksian atas mereka dalam perkara tuduhan zina, karena mereka mengucapkannya setelah menanyakan tentang hal itu.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ الِاسْتِدْلَالِ بِأَنَّهُمْ لَمَّا لَمْ يَسْأَلُوا عَنْ سَبَبِ الْعِلْمِ لَمْ يَسْأَلُوا عَنْ سَبَبِ الْفِسْقِ فَهُوَ أَنَّ سَبَبَ الْعِلْمِ بِهِ غَيْرُ مُخْتَلَفٍ فِيهِ، فَلَمْ يَسْأَلُوا عَنْهُ وَسَبَبُ فِسْقِهِمْ مُخْتَلَفٌ فِيهِ فوجب أن يسألوا عنه

Adapun jawaban terhadap argumentasi bahwa mereka, ketika tidak menanyakan sebab pengetahuan, juga tidak menanyakan sebab kefasikan, maka jawabannya adalah bahwa sebab pengetahuan tentang hal itu tidak diperselisihkan, sehingga mereka tidak menanyakannya. Sedangkan sebab kefasikan mereka diperselisihkan, maka wajib bagi mereka untuk menanyakannya.

(فصل: بَيَانُ سَبَبِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ مِمَّنْ تَقَدَّمَتْ مَعْرِفَتُهُ) .

Bab: Penjelasan tentang sebab jarḥ dan ta‘dīl terhadap seseorang yang sebelumnya telah diketahui (keadaannya).

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ الْحَاكِمَ لَا يَسْمَعُ الشَّهَادَةَ بِالْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ حَتَّى يَسْأَلَ الشُّهُودَ عَنْ سَبَبِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، فَيَسْتَوِي سُؤَالُهُ عَنِ الشَّهَادَةِ بِالتَّعْدِيلِ وَعَنِ الشَّهَادَةِ بِالْجَرْحِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُعَدَّلَ مَنْ لَيْسَ بِعَدْلٍ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يُجْرَحَ مَنْ لَيْسَ بِمَجْرُوحٍ، فَوَجَبَ عَلَى الْحَاكِمِ أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُمَا جَمِيعًا.

Maka apabila telah tetap bahwa hakim tidak menerima kesaksian tentang jarḥ dan ta‘dīl sebelum ia menanyakan kepada para saksi tentang sebab jarḥ dan ta‘dīl tersebut, maka sama saja pertanyaannya tentang kesaksian ta‘dīl maupun tentang kesaksian jarḥ; karena bisa jadi seseorang dinyatakan ‘adil padahal ia bukan orang yang ‘adil, sebagaimana bisa jadi seseorang dicela padahal ia bukan orang yang tercela. Oleh karena itu, wajib bagi hakim untuk menanyakan keduanya kepada para saksi.

وَلَا تُسْمَعُ الشَّهَادَةُ بِالتَّعْدِيلِ إِلَّا مِمَّنْ تَقَدَّمَتْ مَعْرِفَتُهُ وَطَالَتْ خِبْرَتُهُ وَلَا يَسْمَعُهَا مِمَّنْ قَرُبَتْ مُدَّةُ مَعْرِفَتِهِ لِجَوَازِ التَّصَنُّعِ فِي قَرِيبِ الْمُدَّةِ.

Kesaksian tentang ta‘dīl (penilaian adil) tidak diterima kecuali dari orang yang telah lama dikenal dan memiliki pengalaman yang cukup lama, dan tidak diterima dari orang yang baru dikenal dalam waktu singkat, karena dimungkinkan adanya rekayasa dalam waktu yang dekat.

وَيَسْمَعُ الشَّهَادَةَ بِالْجَرْحِ مِمَّنْ تَقَدَّمَتْ مَعْرِفَتُهُ وَمِمَّنْ حَدَثَتْ مَعْرِفَتُهُ؛ لِأَنَّ الْجَرْحَ بِحُدُوثِ فِعْلٍ قَدْ يَكُونُ فِي قَرِيبِ الْمُدَّةِ كَمَا يَكُونُ فِي بَعِيدِهَا.

Dan kesaksian tentang jarh (celaan) dapat didengar baik dari orang yang telah dikenal sebelumnya maupun dari orang yang baru dikenal; karena jarh berupa terjadinya suatu perbuatan bisa saja terjadi dalam waktu yang dekat sebagaimana bisa juga terjadi dalam waktu yang lama.

فَإِذَا شَهِدَ الشُّهُودُ بِأَسْبَابِ الْجُرْحِ، اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ رَأْيَهُ فِيهَا فَإِذَا صَارَ بِهَا مَجْرُوحًا عِنْدَهُ، حَكَمَ بِفِسْقِهِ وَرَدَّ شَهَادَتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِهَا مَجْرُوحًا عِنْدَهُ، لَمْ يَحْكُمْ بِفِسْقِهِ، وَلَا بِعَدَالَتِهِ، وَتَوَقَّفَ عَنِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ.

Apabila para saksi memberikan kesaksian tentang sebab-sebab jarh, maka hakim berijtihad dengan pendapatnya mengenai hal itu. Jika menurutnya, dengan sebab-sebab tersebut, orang itu menjadi majruh (tercela), maka ia memutuskan bahwa orang itu fasiq dan menolak kesaksiannya. Namun jika menurutnya, dengan sebab-sebab tersebut, orang itu tidak menjadi majruh, maka ia tidak memutuskan bahwa orang itu fasiq, juga tidak memutuskan bahwa ia adil, dan ia menangguhkan keputusan atas kesaksiannya.

وَإِنْ شَهِدُوا بِأَسْبَابِ الْعَدَالَةِ اجْتَهَدَ رَأْيَهُ فِيهَا فَإِنْ صَارَ بِهَا عَدْلًا عِنْدَهُ حَكَمَ بِعَدَالَتِهِ وَأَمْضَى الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِ وَإِنْ لَمْ يَصِرْ بِهَا عَدْلًا عِنْدَهُ لَمْ يَحْكُمْ بِعَدَالَتِهِ وَلَا بِفِسْقِهِ وَتَوَقَّفَ عَنِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ.

Jika mereka bersaksi dengan sebab-sebab keadilan, maka hakim berijtihad dalam menilainya. Jika dengan sebab-sebab itu seseorang menjadi dianggap adil menurutnya, maka ia memutuskan dengan keadilannya dan menetapkan hukum berdasarkan kesaksiannya. Namun jika dengan sebab-sebab itu seseorang tidak menjadi dianggap adil menurutnya, maka ia tidak memutuskan dengan keadilannya dan tidak pula dengan kefasikannya, serta menahan diri dari memutuskan hukum berdasarkan kesaksiannya.

(هَلِ السُّؤَالُ عَنْ سَبَبِ التعديل شرط) .

Apakah pertanyaan tentang sebab ta‘dil merupakan syarat?

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَقْبَلُ التَعْدِيلَ إِلَّا بِأَنْ يَقُولَ عَدْلٌ عَلَيَّ وَلِي “.

Imam Syafi‘i berkata: “Tidak diterima penilaian adil kecuali dengan seseorang yang adil berkata, ‘Aku menjadi penjamin baginya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ هَذَا الْقَوْلِ.

Al-Mawardi berkata: Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dari pendapat ini.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْحَاكِمَ لَا يَسْأَلُ عَنْ أَسْبَابِ التَّعْدِيلِ، وَيَسْأَلُهُمْ عَنْ أَسْبَابِ الْجَرْحِ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِالتَّعْدِيلِ أَنْ يَجِدُوهُ سَلِيمًا مِنَ الْهَفَوَاتِ، وَهَذَا لَا يَحْتَاجُ فِيهِ إِلَى شَرْحِ السَّبَبِ، وَالْجَرْحُ بِحُدُوثِ أَفْعَالِهِ الْمُوجِبَةِ لِفِسْقِهِ، فَوَجَبَ شَرْحُهَا.

Sebagian dari mereka berkata: Ini menunjukkan bahwa hakim tidak perlu menanyakan alasan-alasan ta‘dil, namun ia menanyakan kepada mereka alasan-alasan jarh; karena kesaksian ta‘dil adalah bahwa mereka mendapati seseorang itu bersih dari kesalahan, dan hal ini tidak memerlukan penjelasan sebabnya, sedangkan jarh terjadi karena adanya perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kefasikan, maka wajib dijelaskan sebab-sebabnya.

فَعَلَى قَوْلِ هَذِهِ الطَّائِفَةِ يَكُونُ السُّؤَالُ عن سبب العدالة استظهارا وَلَيْسَ بِشَرْطٍ وَاجِبٍ. وَهُوَ الَّذِي عَلَيْهِ الْقَضَاءُ في زماننا.

Menurut pendapat kelompok ini, pertanyaan tentang sebab keadilan merupakan tindakan kehati-hatian dan bukan syarat yang wajib. Inilah yang menjadi pegangan dalam praktik peradilan pada zaman kita.

وعلى هذا قول الشافعي: وَلَا يَقْبَلُ التَعْدِيلَ إِلَّا بِأَنْ يَقُولَ: ” عَدْلٌ عَلَيَّ وَلِي “.

Atas dasar ini, pendapat asy-Syafi‘i: tidak diterima penilaian adil kecuali dengan mengatakan: “Ia adil menurutku dan menjadi tanggunganku.”

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي قَوْلِهِ؛ عَدْلٌ عَلَيَّ وَلِي هَلْ يَكُونُ مُسْتَعْمَلًا عَلَى الْوُجُوبِ شَرْطًا فِيهَا؟ أَوْ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ تَأْكِيدًا لَهَا؟ على وجهين:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai ucapannya, “Seorang ‘adl bagiku sebagai wali,” apakah digunakan dalam pengertian wajib sebagai syarat di dalamnya, ataukah dalam pengertian sunnah sebagai penegasan baginya? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أحدهما: وهو قول أبي سعد الْإِصْطَخْرِيِّ إِنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ تَأْكِيدًا، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِالتَّعْدِيلِ تَقْتَضِي الْحُكْمَ بِهَا لَهُ وَعَلَيْهِ.

Pendapat pertama, yaitu pendapat Abu Sa‘d al-Ishthakhri, bahwa hal itu dimaknai sebagai anjuran yang ditekankan, karena kesaksian dalam bentuk ta‘dil menuntut adanya penetapan hukum baginya, baik untuk maupun atas dirinya.

وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَأَهْلِ الْعِرَاقِ.

Dan inilah mazhab Abu Hanifah dan para ulama Irak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ وطائفة، أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ شَرْطًا مُعْتَبَرًا فِي صِحَّةِ التَّعْدِيلِ، فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ الشَّاهِدُ لَمْ يَثْبُتِ التَّعْدِيلُ عَلَى ظَاهِرِ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi dan sekelompok ulama, bahwa hal itu dimaknai sebagai kewajiban yang menjadi syarat yang diperhitungkan dalam sahnya ta‘dil. Jika saksi tidak menyebutkannya, maka ta‘dil tidak dianggap sah menurut lahiriah pendapat yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i.

وَاخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا فِي الْعِلَّةِ.

Orang-orang yang berpendapat demikian berselisih pendapat mengenai ‘illat-nya.

فَقَالَ أَبُو إِسْحَاقَ: الْعِلَّةُ فِيهِ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ عَدْلًا فِي شَيْءٍ دُونَ شَيْءٍ، وَفِي الْقَلِيلِ دُونَ الْكَثِيرِ، فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ عَمَّ وَلَمْ يَخُصَّ.

Abu Ishaq berkata: Illat (alasan hukum) dalam hal ini adalah bahwa seseorang bisa saja berlaku adil dalam satu hal namun tidak dalam hal lain, dan dalam perkara yang sedikit namun tidak dalam perkara yang banyak. Maka jika ia mengatakannya secara umum, hal itu mencakup semuanya dan tidak dikhususkan.

وَقَالَ غَيْرُهُ: بَلِ الْعِلَّةُ فِيهِ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ الشَّاهِدُ بِالتَّعْدِيلِ مِمَّنْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لَهُ، لِأَنَّهُ مِنْ وَالِدَيْهِ أَوْ مَوْلُودَيْهِ أَوْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ مِنْ أَعْدَائِهِ وَمُبَايِنِيهِ فَإِذَا قَالَ: عَدْلٌ عَلَيَّ وَلِي زَالَ هَذَا الِاحْتِمَالُ.

Dan yang lain berkata: Bahkan illat (alasan) dalam hal ini adalah bahwa bisa jadi saksi yang memberikan penilaian ta‘dil (menyatakan adil) adalah seseorang yang kesaksiannya tidak diterima untuknya, karena ia adalah dari orang tuanya atau anak-anaknya, atau kesaksiannya tidak diterima terhadapnya, karena ia adalah dari musuh-musuhnya atau orang-orang yang berseberangan dengannya. Maka apabila ia berkata: “Ia adil menurutku dan menurut selainku,” hilanglah kemungkinan ini.

فَعَلَى هَذَا التَّعْلِيلِ لَا يَلْزَمُ ذَلِكَ إِذَا علم أنه لا نسب بينهما ولا عداوة.

Berdasarkan alasan ini, hal tersebut tidaklah wajib jika diketahui bahwa tidak ada hubungan kekerabatan maupun permusuhan di antara keduanya.

وَعَلَى تَعْلِيلِ أَبِي إِسْحَاقَ يَلْزَمُ ذَلِكَ، وَإِنْ علم أنه لا نسب بينهما ولا عداوة.

Menurut alasan yang dikemukakan oleh Abu Ishaq, hal itu tetap berlaku, meskipun diketahui bahwa tidak ada hubungan kekerabatan maupun permusuhan di antara keduanya.

فَأَمَّا الشَّهَادَةُ بِأَنَّهُ عَدْلٌ رِضًا فَهُوَ وَإِنْ جَرَتِ الْعَادَةُ بِالْجَمْعِ بَيْنَهُمَا فِي التَّعْدِيلِ، فَعِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا أَنَّ قَوْلَهُ رِضًا مَحْمُولٌ على التَّأْكِيدِ دُونَ الْوُجُوبِ، لِأَنَّ الْعَدْلَ رِضًا.

Adapun kesaksian bahwa seseorang itu ‘adl (adil) dan ridhā (dipercaya), meskipun kebiasaan menggabungkan keduanya dalam penilaian, menurut mayoritas ulama mazhab kami, ungkapan “ridhā” dianggap sebagai penegasan saja, bukan suatu kewajiban, karena seseorang yang ‘adl itu pasti ridhā.

وَذَهَبَ بَعْضُ الْبَصْرِيِّينَ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّ شَهَادَتَهُ بِأَنَّهُ رِضًا شَرْطٌ فِي صِحَّةِ التَّعْدِيلِ، لِأَنَّ التَّعْدِيلَ سَلَامَةٌ، وَالرِّضَا كَمَالٌ.

Sebagian ulama Basrah dari kalangan mazhab kami berpendapat bahwa persaksian seseorang bahwa ia ridha merupakan syarat sahnya ta‘dil, karena ta‘dil adalah menunjukkan keselamatan (dari cela), sedangkan ridha adalah kesempurnaan.

وَاسْتَزَادَ بَعْضُ الْقُضَاةِ مِنْهُمْ فِي التَّعْدِيلِ أَنْ يَذْكُرَ الشُّهُودُ: ” أَنَّهُ مَأْمُونٌ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ “.

Sebagian hakim dari mereka meminta tambahan dalam proses ta‘dīl, yaitu para saksi menyebutkan: “Sesungguhnya ia dapat dipercaya baik dalam keadaan ridha maupun marah.”

وَهَذَا تَأْكِيدٌ، وَلَيْسَ بِشَرْطٍ فِي التَّعْدِيلِ؛ لِأَنَّهُ مِنْ أَحْكَامِ الْعَدَالَةِ أَنْ يَكُونَ مَأْمُونًا فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، فَلَمْ يَلْزَمْ فِي الشَّهَادَةِ أَنْ نَذْكُرَ أَحْكَامَهَا، كَمَا لَا يَلْزَمُ أَنْ يَذْكُرَ فِيهَا صِدْقَهُ، وَأَمَانَتَهُ، وَتَقْوَاهُ، وَتَحَرُّجَهُ.

Ini adalah penegasan, dan bukan merupakan syarat dalam ta‘dīl; karena termasuk hukum-hukum keadilan adalah seseorang itu dapat dipercaya baik dalam keadaan rela maupun marah. Maka, dalam kesaksian tidaklah wajib untuk menyebutkan hukum-hukumnya, sebagaimana juga tidak wajib untuk menyebutkan kejujurannya, amanahnya, ketakwaannya, dan kehati-hatiannya.

فَهَذَا شَرْحُ الْمَذْهَبِ عَلَى قَوْلِ مَنْ ذَهَبَ إِلَى أَنَّ سُؤَالَ الشَّاهِدِ عَنْ أَسْبَابِ الْعَدَالَةِ اسْتِظْهَارٌ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ.

Inilah penjelasan mazhab menurut pendapat yang berpendapat bahwa menanyakan kepada saksi tentang sebab-sebab keadilan adalah tindakan kehati-hatian (istizhār) dan bukan suatu kewajiban.

وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى أَنَّ سُؤَالَهُ عَنْ أَسْبَابِهَا وَاجِبٌ، لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ التَّعْلِيلِ، مِنْ جَوَازِ الِاحْتِمَالِ فِي التَّعْدِيلِ، كَجَوَازِ الِاحْتِمَالِ فِي التَّفْسِيقِ.

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa menanyakan sebab-sebabnya adalah wajib, berdasarkan alasan yang telah kami kemukakan, yaitu kemungkinan adanya dugaan dalam penilaian keadilan, sebagaimana kemungkinan adanya dugaan dalam penilaian kefasikan.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ الشَّاهِدُ مُؤَدِّيًا لِأَسْبَابِ التَّعْدِيلِ، وَالْقَاضِي هُوَ الْحَاكِمُ بِالْعَدَالَةِ وَتَكُونُ اسْتَزَادَتُهُ مِنَ الشُّهُودِ، أَنْ يَشْهَدُوا أَنَّهُ عَدْلٌ عَلَيَّ وَلِي اسْتِخْبَارًا عَنْ حُكْمِ الْعَدَالَةِ، وَلَيْسَ بِشَرْطٍ فِي قَبُولِ الشَّهَادَةِ عَلَى سَبَبِهَا.

Dengan demikian, saksi bertugas menyampaikan sebab-sebab ta‘dil, sedangkan qadhi adalah pihak yang memutuskan tentang keadilan. Permintaan tambahan keterangan dari qadhi kepada para saksi, agar mereka bersaksi bahwa seseorang itu adil menurut mereka, hanyalah sebagai permintaan informasi mengenai hukum keadilan, dan bukan merupakan syarat dalam diterimanya kesaksian atas sebab-sebabnya.

وَهَلْ يَكُونُ هَذَا الِاسْتِخْبَارُ لَازِمًا فِي حَقِّ الْحَاكِمِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَازِمًا فِي حَقِّ الشَّاهِدِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Apakah permintaan klarifikasi ini wajib bagi hakim meskipun tidak wajib bagi saksi? Terdapat dua pendapat mengenai hal ini.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ لَازِمًا فِي حَقِّهِ [لِيَكُونَ حُكْمُهُ] ، بِالتَّعْدِيلِ عَلَى أَحْوَطِ الْأُمُورِ.

Salah satunya: berlaku wajib baginya agar hukumnya berdasarkan penyesuaian pada perkara yang paling hati-hati.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَيْسَ بِلَازِمٍ فِي حَقِّهِ، كَمَا لَيْسَ بِلَازِمٍ فِي حَقِّ الشَّاهِدِ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِأَسْبَابِ التَّعْدِيلِ تُغْنِي عَمَّا سِوَاهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Adapun sisi kedua: hal itu tidaklah wajib baginya, sebagaimana tidak wajib pula bagi seorang saksi; karena kesaksian dengan sebab-sebab ta‘dil sudah mencukupi dari selainnya, dan Allah lebih mengetahui.

(لَا يُقْبَلُ التَّعْدِيلُ إِلَّا من ذي المعرفة الباطنة)

Penilaian adil tidak diterima kecuali dari orang yang benar-benar mengenal secara mendalam.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” ثَمَّ لَا يُقْبَلُ حَتَّى يَسْأَلَهُ عَنْ مَعْرِفَتِهِ بِهِ فَإِنْ كَانَتْ بَاطِنَةً مُتَقَادِمَةً وَإِلَّا لَمْ يُقْبَلْ ذَلِكَ مِنْهُ “.

Syafi‘i berkata: “Kemudian tidak diterima (kesaksiannya) sampai ia ditanya tentang pengetahuannya terhadapnya. Jika pengetahuannya itu bersifat batin dan sudah lama, maka diterima; jika tidak, maka hal itu tidak diterima darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الشَّهَادَةَ بِالتَّعْدِيلِ تُخَالِفُ الشَّهَادَةَ بِالْجَرْحِ، مِنْ وَجْهَيْنِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا، وَثَالِثٍ مُخْتَلَفٌ فِيهِ.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa kesaksian tentang ta‘dil (penilaian adil) berbeda dengan kesaksian tentang jarh (penilaian cacat), dalam dua aspek yang disepakati, dan satu aspek yang diperselisihkan.

فَأَمَّا الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنَ الْوَجْهَيْنِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِمَا فَأَحَدُهُمَا: أَنَّ الشَّهَادَةَ بِالتَّعْدِيلِ لَا تُقْبَلُ إِلَّا مِمَّنْ كَانَ قَدِيمَ الْمَعْرِفَةِ، وَتُقْبَلُ فِي الْجَرْحِ مِمَّنْ كَانَ حَدِيثَ الْمَعْرِفَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَتَصَنَّعُ الْعَدَالَةَ فِي قَرِيبِ الزَّمَانِ، فَلَمْ تُقْبَلْ إِلَّا مِنْ قَدِيمِ الْمَعْرِفَةِ، وَيَحْدُثُ الْجَرْحُ فِي قَرِيبِ الزَّمَانِ، فَقُبِلَ مِنْ حَدِيثِ الْمَعْرِفَةِ.

Adapun perbedaan antara keduanya dari dua sisi yang disepakati, salah satunya adalah: bahwa kesaksian tentang ta‘dil (penilaian adil) tidak diterima kecuali dari orang yang telah lama mengenal, sedangkan dalam jarh (penilaian cacat) diterima dari orang yang baru mengenal, karena bisa jadi seseorang berpura-pura adil dalam waktu yang dekat, sehingga tidak diterima kecuali dari orang yang telah lama mengenal, sedangkan jarh bisa saja terjadi dalam waktu yang dekat, maka diterima dari orang yang baru mengenal.

وَالْفَرْقُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ التَّعْدِيلُ إِلَّا مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الْبَاطِنَةِ، وَلَا يُقْبَلُ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الظَّاهِرَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ عَدْلًا فِي الظَّاهِرِ، مَجْرُوحًا فِي الْبَاطِنِ، وَالْمُعْتَبَرُ عَدَالَةُ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ، وَيُقْبَلُ الْجَرْحُ مِنْ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ الظَّاهِرَةِ، وَالْبَاطِنَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يُعْلَمُ بِهِ مَنْ عُرِفَ ظَاهِرُهُ، كَمَا يُعْلَمُ بِهِ مَنْ عُرِفَ بَاطِنُهُ.

Perbedaan kedua: Bahwa pensaksian keadilan (ta‘dil) tidak diterima kecuali dari orang yang benar-benar mengenal secara mendalam, dan tidak diterima dari orang yang hanya mengenal secara lahiriah, karena bisa jadi seseorang tampak adil secara lahiriah, namun sebenarnya tercela secara batin. Yang menjadi tolok ukur adalah keadilan lahir dan batin. Adapun penilaian celaan (jarh) diterima baik dari orang yang mengenal secara lahiriah maupun batiniah, karena dengan itu dapat diketahui keadaan orang yang hanya dikenal lahiriahnya, sebagaimana dapat diketahui keadaan orang yang dikenal batinnya.

وَأَمَّا الْفَرْقُ الثَّالِثُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ، أَنَّهُ لَا يَحْكُمُ بِالْجَرْحِ إِلَّا بَعْدَ ذِكْرِ سَبَبِهِ، فَهَلْ يَكُونُ ذِكْرُ السَّبَبِ فِي التَّعْدِيلِ شَرْطًا فِي الشَّهَادَةِ بِهِ؟ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ الْوَجْهَيْنِ.

Adapun perbedaan ketiga yang diperselisihkan, yaitu bahwa tidak boleh menetapkan jarh kecuali setelah menyebutkan sebabnya. Maka, apakah penyebutan sebab dalam ta‘dil juga menjadi syarat dalam persaksian atasnya? Hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dari dua pendapat.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهُ شَرْطٌ جَازَ أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ بِالتَّعْدِيلِ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya itu adalah syarat, maka boleh saja orang yang menjadi saksi dalam memberikan ta‘dil bukan berasal dari kalangan ahli ijtihad.

وَإِنْ قِيلَ: لَيْسَ بِشَرْطٍ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ بِالتَّعْدِيلِ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ.

Dan jika dikatakan: itu bukanlah syarat, maka wajib bahwa saksi yang memberikan penilaian adil harus berasal dari kalangan ahli ijtihad.

(تَعْدِيلُ الْعَلَانِيَةِ)

Penetapan keadilan secara terang-terangan

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَسْأَلُ عَمَّنْ جَهِلَ عَدْلَهُ سِرًّا فَإِذَا عُدِّلَ سَأَلَ عَنْ تَعْدِيلِهِ عَلَانِيَةً لِيُعْلَمَ أَنَّ الْمُعَدَّلَ سِرًّا هُوَ هَذَا لَا يُوَافِقُ اسْمٌ اسْمًا ولا نسب “.

Syafi‘i berkata: “Dan ia menanyakan tentang siapa yang tidak diketahui keadilannya secara diam-diam. Jika telah dinyatakan adil, maka ia menanyakan tentang penilaian adil tersebut secara terang-terangan agar diketahui bahwa orang yang dinyatakan adil secara diam-diam itu benar-benar orang ini, bukan hanya karena kesamaan nama atau nasab.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِمَّا إِذَا ابْتَدَأَ أَصْحَابُ الْمَسَائِلِ بِالشَّهَادَةِ فِيمَنْ بَحَثُوا عَنْهُ، وَلَيْسَ عِنْدَ الْحَاكِمِ عِلْمٌ بِمَا يَشْهَدُونَ بِهِ، مِنْ جَرْحٍ وَلَا تَعْدِيلٍ، فَيَنْبَغِي لِلْحَاكِمِ أَنْ لَا يَبْعَثَهُمْ عَلَى الْجَهْرِ بِالشَّهَادَةِ، حَذَرًا أَنْ يَشْهَدُوا بِالْجَرْحِ الْمَأْمُورِ بِسَتْرِهِ.

Al-Mawardi berkata: Apabila para ahli masalah memulai dengan memberikan kesaksian terhadap seseorang yang telah mereka teliti, sementara hakim tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang mereka persaksikan, baik berupa jarh (celaan) maupun ta‘dil (pujian), maka sebaiknya hakim tidak memerintahkan mereka untuk menyampaikan kesaksian itu secara terang-terangan, agar mereka tidak memberikan kesaksian tentang jarh yang diperintahkan untuk ditutupi.

وَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُمْ يَشْهَدُونَ بِالْعَدَالَةِ، جَازَ أَنْ يَدْعُوَهُمْ إِلَى الشَّهَادَةِ سِرًّا وَجَهْرًا.

Dan jika ia mengetahui bahwa mereka akan memberikan kesaksian tentang keadilan, maka boleh baginya untuk memanggil mereka untuk memberikan kesaksian, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

فَإِنْ شَهِدُوا بِالْجَرْحِ، حَكَمَ بِهِ، وَلَمْ يُعْلِنْهُ.

Jika mereka memberikan kesaksian tentang jarh, maka hakim memutuskan berdasarkan hal itu, namun tidak mengumumkannya.

وَإِنْ شَهِدُوا بِالتَّعْدِيلِ، أَعْلَنَهُ لِأَمْرَيْنِ:

Dan jika mereka memberikan kesaksian tentang keadilan, ia mengumumkannya karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: لِيُرَغِّبَ النَّاسَ فِي حُسْنِ الذِّكْرِ، وَجَمِيلِ الثَّنَاءِ.

Salah satunya adalah agar mendorong manusia untuk memperindah dzikir dan memperelok pujian.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ رُبَّمَا كَانَ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ مِنْ جَرْحِهِ مَا يَخْفَى عَلَى غَيْرِهِ.

Yang kedua: bisa jadi ada pada sebagian orang pengetahuan tentang cacat (jarh) seseorang yang tersembunyi dari orang lain.

ثُمَّ يَنْظُرُ فِي الْمُعَدَّلِ؛ فَإِنْ كَانَ مَشْهُورًا فِي النَّاسِ، بِمَا يَتَمَيَّزُ بِهِ عَنْ غَيْرِهِ، فِي الِاسْمِ، وَالنَّسَبِ، اقْتَصَرَ الْحَاكِمُ عَلَى الشَّهَادَةِ بِتَعْدِيلِهِ، وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى إِشَارَةِ الشُّهُودِ إِلَيْهِ.

Kemudian ia memperhatikan orang yang dinyatakan adil; jika ia sudah terkenal di tengah masyarakat dengan ciri-ciri yang membedakannya dari selainnya, baik dalam nama maupun nasab, maka hakim cukup dengan kesaksian atas keadilannya dan tidak memerlukan penunjukan langsung dari para saksi kepadanya.

وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَشْهُورٍ فِي النَّاسِ، وَجَازَ أَنْ يُشْتَبَهَ الِاسْمُ وَالنَّسَبُ أَخَذَ الْحَاكِمُ الشُّهُودَ بِتَعْيِينِهِ، عِنْدَ حُضُورِهِ، بِالْإِشَارَةِ إِلَيْهِ، إِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي شَهِدْنَا عِنْدَكَ بِتَعْدِيلِهِ، لِيَزُولَ الِاشْتِبَاهُ، فِي اسْمِهِ، وَنَسَبِهِ، فَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يُوَافِقَ اسْمٌ اسْمًا، وَنَسَبٌ نَسَبًا.

Dan jika orang tersebut tidak terkenal di kalangan masyarakat, serta memungkinkan terjadi kesamaran pada nama dan nasabnya, maka hakim mengambil kesaksian para saksi dengan penetapan identitasnya, saat ia hadir, dengan menunjuk kepadanya, seraya mengatakan: “Inilah orang yang kami saksikan di hadapanmu tentang keadilannya,” agar hilang kerancuan pada nama dan nasabnya, karena bisa jadi ada nama yang sama dengan nama lain, dan nasab yang sama dengan nasab lain.

وَهَذَا التَّعْيِينُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ، لِمَا ذَكَرْنَا.

Penetapan ini dimaknai sebagai kewajiban, sebagaimana telah kami sebutkan.

وَحَمَلَهُ ابْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ، تَأْكِيدًا، اعْتِبَارًا بِالظَّاهِرِ.

Ibnu Abi Hurairah memaknainya sebagai anjuran (istihbāb), sebagai penegasan, dengan mempertimbangkan makna lahiriah (zhāhir).

وَحَمْلُهُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ فِي الْمَشْهُورِ، وَعَلَى الْوُجُوبِ فِي المجهول أصح.

Dan makna hadis tersebut diarahkan kepada anjuran (istihbāb) menurut pendapat yang masyhur, dan diarahkan kepada kewajiban (wujūb) dalam kasus yang tidak diketahui (majhūl) adalah pendapat yang lebih sahih.

(فصل: هل الحكم بالعدالة يستقر على التأييد)

(Bab: Apakah penetapan keadilan berlaku secara permanen)

فَإِذَا ثَبَتَ مَا وَصَفْنَا وَحَكَمَ بِالشَّهَادَةِ فِي التَّعْدِيلِ عَلَى مَا شَرَحْنَا وَجَبَ عَلَى الْحَاكِمِ تَنْفِيذُ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ، ثُمَّ فِيهِ وَجْهَانِ:

Apabila telah tetap apa yang telah kami jelaskan dan telah diputuskan dengan kesaksian dalam penilaian sebagaimana yang telah kami uraikan, maka wajib bagi hakim untuk melaksanakan putusan berdasarkan kesaksiannya. Kemudian, dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أن الحكم بعدالته قد استقر على التأييد مَا لَمْ يَطْرَأْ جَرْحٌ يَظْهَرُ مِنْ بَعْدُ، فَيَحْكُمُ بِشَهَادَتِهِ مَتَى شَهِدَ عِنْدَهُ، اسْتِصْحَابًا بِالظَّاهِرِ مِنْ حَالِهِ.

Pertama: bahwa penetapan hukum atas keadilannya telah tetap secara permanen selama tidak muncul celaan yang tampak setelahnya, maka kesaksiannya dapat diterima kapan pun ia bersaksi di hadapan hakim, berdasarkan anggapan berlanjutnya keadaan lahiriyah dirinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ إِنَّهُ يُعِيدُ الْبَحْثَ عَنْ عَدَالَتِهِ فِي كُلِّ مُدَّةٍ يَجُوزُ أَنْ يَتَغَيَّرَ حَالُهُ فِيهَا، وَلَا يَلْزَمُهُ الْبَحْثُ فِي كُلِّ شَهَادَةٍ، لِأَنَّهُ شَاقٌّ، وَخَارِجٌ عَنِ الْعُرْفِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Ishaq al-Marwazi, menyatakan bahwa harus dilakukan penelusuran ulang terhadap keadilan seseorang pada setiap kurun waktu yang memungkinkan keadaannya berubah. Namun, tidak wajib melakukan penelusuran pada setiap kesaksian, karena hal itu memberatkan dan di luar kebiasaan.

وَالْمُدَّةُ الَّتِي يَعْتَدُّ بِمُضِيِّهَا الْبَحْثُ عَنْ عَدَالَتِهِ مَوْقُوفَةٌ عَلَى اجْتِهَادِهِ.

Jangka waktu yang diperhitungkan dalam meneliti keadilannya bergantung pada ijtihadnya.

وَقَدَّرَهَا بَعْضُ الْفُقَهَاءِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ.

Sebagian fuqaha memperkirakannya selama enam bulan.

فَإِذَا أَعَادَ الْبَحْثَ عَنْهُ مِرَارًا، اسْتَقَرَّتْ فِي النُّفُوسِ عَدَالَتُهُ، وَتَحَقَّقَتْ أَمَانَتُهُ، فَإِنْ تَجَدَّدَتْ مِنْهُ اسْتِرَابَةٌ أَعَادَ الْبَحْثَ وَالْكَشْفَ وَإِنْ لَمْ تَحْدُثِ اسْتِرَابَةٌ لم يعدها.

Jika ia telah meneliti kembali tentangnya berulang kali, maka tertanamlah dalam jiwa-jiwa keadilannya dan terbuktikan amanahnya. Jika muncul kembali keraguan darinya, maka dilakukan lagi penelitian dan pemeriksaan. Namun jika tidak muncul keraguan, maka tidak perlu mengulanginya.

(فصل: تمييز الشهود وتعيينهم)

(Bab: Identifikasi dan Penetapan Para Saksi)

فَأَمَّا تَمْيِيزُ الشُّهُودِ وَتَعْيِينُهُمْ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ حَتَّى يَعْتَمِدَ الْحَاكِمُ عَلَيْهِمْ وَلَا يَسْمَعَ شَهَادَةَ غَيْرِهِمْ كَالَّذِي عَلَيْهِ النَّاسُ فِي زَمَانِنَا فَهُوَ مُسْتَحْدَثٌ، أَوَّلُ مَنْ فَعَلَهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، وَكَانَ مَالِكِيًّا مَيَّزَ شُهُودَهُ وَاقْتَصَرَ عَلَى الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ وَلَمْ يَقْبَلْ شَهَادَةَ غَيْرِهِمْ، وَتَلَاهُ مَنْ تَعَقَّبَهُ مِنَ الْقُضَاةِ إِلَى وَقْتِنَا لِيَكُونَ الشُّهُودُ أَعْيَانًا مَعْدُودِينَ حَتَّى لَا يَسْتَشْهِدَ الْخُصُومَ بِمَجْهُولِ الْعَدَالَةِ فَيُغَرِّرُوا وَلَا يَطْمَعُ فِي الشَّهَادَةِ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لَهَا فَيَسْتَرْسِلُوا.

Adapun membedakan para saksi dan menetapkan mereka dari seluruh manusia sehingga hakim dapat bersandar kepada mereka dan tidak mendengarkan kesaksian selain mereka, sebagaimana yang berlaku di masyarakat pada zaman kita, maka hal itu adalah sesuatu yang diada-adakan. Orang pertama yang melakukannya adalah Isma‘il bin Ishaq al-Qadhi, seorang bermazhab Maliki, yang membedakan para saksinya dan membatasi putusan hanya berdasarkan kesaksian mereka serta tidak menerima kesaksian selain mereka. Setelahnya, para qadhi yang datang berikutnya mengikuti langkah tersebut hingga masa kita sekarang, agar para saksi adalah orang-orang tertentu yang telah dikenal, sehingga para pihak yang bersengketa tidak menghadirkan saksi yang tidak diketahui keadilannya lalu menimbulkan bahaya, dan agar tidak ada orang yang tidak berhak memberikan kesaksian kemudian ikut-ikutan.

وَهَذَا مَكْرُوهٌ مِنْ أَفْعَالِ الْقُضَاةِ؛ لِأَنَّهُ مُسْتَحْدَثٌ، خُولِفَ فِيهِ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ.

Hal ini termasuk perbuatan yang makruh dari para qadi; karena merupakan sesuatu yang diada-adakan, yang menyelisihi generasi pertama.

وَلَيْسَ يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ شُهُودٌ يَقْبَلُهُمْ، وَإِنَّمَا الْمَكْرُوهُ أَنْ لَا يَقْبَلَ غَيْرَهُمُ، اقْتِصَارًا عَلَيْهِمْ؛ لِأَنَّ فِي النَّاسِ مِنَ الْعُدُولِ أَمْثَالَهُمْ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى بَعْضِ الْعُدُولِ دُونَ بَعْضٍ، فَيَخُصُّ، وَقَدْ عَمَّ اللَّهُ تَعَالَى، وَلَمْ يَخُصَّ.

Tidaklah makruh jika seseorang memiliki saksi-saksi yang ia terima, namun yang makruh adalah jika ia tidak menerima selain mereka, hanya membatasi pada mereka saja; karena di tengah masyarakat terdapat orang-orang adil yang setara dengan mereka, maka tidak boleh membatasi hanya pada sebagian orang adil dan meninggalkan sebagian yang lain, sehingga menjadi khusus, padahal Allah Ta‘ala telah menjadikannya umum dan tidak mengkhususkan.

وَلِأَنَّهُ قَدْ يَتَجَدَّدُ لِلنَّاسِ حُقُوقٌ يَشْهَدُهَا مَنِ اتَّفَقَ، فَإِذَا لَمْ يَسْمَعْ إِلَّا شَهَادَةَ مُعَيَّنٍ بَطَلَتْ.

Dan karena bisa saja muncul hak-hak baru bagi manusia yang disaksikan oleh siapa saja yang kebetulan hadir, maka jika hanya didengar kesaksian dari orang tertentu saja, kesaksian itu menjadi batal.

وَلِأَنَّ فِي التَّعْيِينِ مَشَقَّةً تَدْخُلُ عَلَى الشَّاهِدِ وَالْمُسْتَشْهِدِ، لِمَسْأَلَةِ الطَّالِبِ وَإِجَابَةِ الْمَطْلُوبِ. وَلِأَنَّ مَنْ قَلَّتْ أَمَانَتُهُ مِنَ النَّاسِ إِذَا عَلِمُوا أَنْ لَا تُقْبَلَ فِيهِمْ شَهَادَةُ مَنْ حَضَرَهُمْ تَجَاحَدُوا، وَإِذَا لَمْ يَعْلَمُوا تَنَاصَفُوا.

Karena dalam penunjukan (saksi tertentu) terdapat kesulitan yang menimpa saksi dan orang yang meminta kesaksian, baik dalam hal permintaan dari pihak yang membutuhkan maupun jawaban dari pihak yang diminta. Dan karena orang-orang yang sedikit amanahnya, jika mereka mengetahui bahwa kesaksian orang yang hadir bersama mereka tidak diterima, maka mereka akan saling mengingkari; namun jika mereka tidak mengetahui hal itu, mereka akan bersikap adil satu sama lain.

[وَقَدْ يَتَهَافَتُ النَّاسُ فِي الْمَعَاصِي عِنْدَ الْإِيَاسِ مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِمْ وَيَمْتَنِعُونَ مِنْهَا عِنْدَ ظَنِّهِمْ قَبُولَ شَهَادَتِهِمْ] .

Dan bisa jadi manusia terjerumus dalam maksiat ketika mereka putus asa dari diterimanya kesaksian mereka, dan mereka akan menjauhi maksiat ketika mereka berprasangka bahwa kesaksian mereka akan diterima.

(الْقَوْلُ فِي كَاتِبِ الْقَاضِي)

(Pembahasan tentang penulis hakim)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَّخِذَ كَاتِبًا حَتَّى يَجْمَعَ أَنْ يَكُونَ عَدْلًا عَاقِلًا وَيَحْرِصُ أَنْ يَكُونَ فَقِيهًا لَا يُؤْتَى مِنْ جَهَالَةٍ نَزِهًا بَعِيدًا مِنَ الطَّبْعِ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak sepantasnya seseorang mengambil seorang penulis kecuali setelah memastikan bahwa ia adalah orang yang adil, berakal, dan berusaha agar ia adalah seorang faqih, agar tidak terjerumus karena kebodohan, serta orang yang bersih dan jauh dari tabiat buruk.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ: لَا يَسْتَغْنِي قُضَاةُ الْأَمْصَارِ وَالْوُلَاةُ عَلَى الْأَعْمَالِ عَنْ كَاتِبٍ يَنُوبُ عَنْهُمْ فِي ضَبْطِ الْأُمُورِ لِيَتَشَاغَلَ الْوُلَاةُ بِالنَّظَرِ، وَيَتَشَاغَلَ الْكَاتِبُ بِالْإِثْبَاتِ، وَإِنْشَاءِ الْكُتُبِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar: Para qadhi di berbagai kota dan para gubernur atas berbagai urusan tidak dapat lepas dari seorang penulis yang mewakili mereka dalam mencatat urusan-urusan, agar para gubernur dapat fokus pada pengawasan, dan penulis dapat fokus pada pencatatan serta penyusunan surat-surat.

قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كُتَّابٌ، مِنْهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَهُوَ الَّذِي كَتَبَ الْقَضِيَّةَ بَيَّنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَبَيْنَ قُرَيْشٍ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَمِنْهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ.

Rasulullah ﷺ memiliki para penulis, di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib, yang menuliskan perjanjian antara Rasulullah ﷺ dan kaum Quraisy pada tahun Hudaibiyah, dan di antaranya juga adalah Zaid bin Tsabit.

وَرَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ: أَنَّهُ كَانَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – كَاتِبٌ، يُقَالُ لَهُ السِّجِلُّ.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memiliki seorang penulis yang disebut as-Sijil.

وَرُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ لِزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ: تَعْرِفُ السُّرْيَانِيَّةَ؟ قَالَ: لَا قَالَ: ” فَإِنَّهُمْ يَكْتُبُونَ إِلَيَّ وَلَا أُحِبُّ أَنْ يَقْرَأَ كُتُبِي كُلُّ أَحَدٍ فَتَعَلَّمِ السُّرْيَانِيَّةَ ” قَالَ زَيْدٌ فَتَعَلَّمْتُهَا فِي نِصْفِ شَهْرٍ.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Zaid bin Tsabit: “Apakah kamu mengetahui bahasa Suryani?” Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka menulis surat kepadaku dan aku tidak suka jika setiap orang membaca surat-suratku. Maka pelajarilah bahasa Suryani.” Zaid berkata: “Maka aku mempelajarinya dalam setengah bulan.”

وَلِفَضْلِ الْكِتَابَةِ فِي الصَّحَابَةِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لَمَّا فَادَى أَسْرَى بَدْرٍ شَرَطَ عَلَى مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ فِدَاءٌ أَنْ يُعَلِّمَ عَشَرَةً مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ الْكِتَابَةَ، فَكَانَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ مِنْ جُمْلَةِ مَنْ تَعَلَّمَ مِنْهُمْ.

Keutamaan menulis di kalangan para sahabat tampak dari peristiwa ketika Nabi ﷺ, saat menebus para tawanan Perang Badar, mensyaratkan bagi siapa saja yang tidak memiliki tebusan agar mengajarkan menulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Zaid bin Tsabit termasuk di antara mereka yang belajar menulis dari para tawanan tersebut.

وَقَدْ كَانَ لِلْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ كُتَّابٌ مَشْهُورُونَ وَكَذَلِكَ لِمَنْ بَعْدَهُمْ.

Para khalifah yang empat radhiyallāhu ‘anhum memiliki para penulis yang terkenal, demikian pula halnya dengan orang-orang setelah mereka.

وَلِأَنَّ تَشَاغُلَ الْوُلَاةِ بِالْكِتَابَةِ يَقْطَعُهُمْ عَنِ النَّظَرِ الْمُخْتَصِّ بِهِمْ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْقُضَاةُ وُلَاةٌ لا يستغنون عن كتاب.

Karena kesibukan para penguasa dengan urusan penulisan akan memalingkan mereka dari tugas pengawasan yang menjadi kekhususan mereka, dan jika demikian halnya, maka para qadi (hakim) adalah juga penguasa yang tidak dapat lepas dari kebutuhan akan penulis.

(صفات كاتب القاضي) .

(Sifat-sifat penulis hakim).

وَصِفَةُ كَاتِبِ الْقَاضِي مَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيُّ مِنْ أَوْصَافِهِ وَهِيَ أَرْبَعَةٌ:

Adapun kriteria penulis hakim adalah sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i mengenai sifat-sifatnya, yaitu ada empat:

أَحَدُهَا: الْعَدَالَةُ: لِأَنَّهُ مُؤْتَمَنٌ عَلَى إِثْبَاتِ الْإِقْرَارِ وَالْبَيِّنَاتِ وَتَنْفِيذِ الْأَحْكَامِ فَافْتَقَرَ إِلَى صِفَةِ مَنْ تَثْبُتُ بِهِ الْحُقُوقُ كَالشُّهُودِ.

Salah satunya adalah keadilan, karena ia dipercaya untuk menetapkan pengakuan, bukti-bukti, dan melaksanakan hukum, maka ia membutuhkan sifat yang dengannya hak-hak dapat ditegakkan, seperti para saksi.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عَاقِلًا، وَلَيْسَ يُرِيدُ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّكْلِيفُ، وَإِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَكُونَ جَزْلَ الرَّأْيِ، سَدِيدَ التَّحْصِيلِ، حَسَنَ الْفَطِنَةِ حَتَّى لَا يُخْدَعَ. أَوْ يُدَلَّسَ عَلَيْهِ.

Kedua: hendaknya ia berakal, dan bukan bermaksud apa yang berkaitan dengan taklīf, melainkan yang dimaksud adalah agar ia memiliki pendapat yang matang, pemahaman yang tepat, kecerdasan yang baik, sehingga ia tidak mudah tertipu atau diperdaya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ فَقِيهًا، لِيَعْلَمَ صِحَّةَ مَا يَكْتُبُ مِنْ فَسَادِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقِيهًا بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ لَزِمَ أَنْ يَكُونَ فَقِيهًا بِأَحْكَامِ كِتَابَتِهِ، وَمَا يَخْتَصُّ بِالشُّرُوطِ، مِنَ الْمَحَاضِرِ وَالسِّجِلَّاتِ، وَاسْتِعْمَالِ الْأَلْفَاظِ الْمَوْضُوعَةِ لَهَا، وَالتَّحَرُّزِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُحْتَمَلَةِ، وَيَخْتَارُ أَنْ يَكُونَ وَاضِحَ الْخَطِّ، فَصِيحَ اللِّسَانِ.

Ketiga: Hendaknya ia seorang faqih, agar mengetahui kebenaran atau kesalahan apa yang ia tulis. Jika ia bukan faqih dalam hukum-hukum syariat, maka wajib baginya untuk menjadi faqih dalam hukum-hukum penulisan, serta hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat, seperti dalam berita acara dan catatan, penggunaan lafaz yang memang diperuntukkan untuk itu, menghindari lafaz yang mengandung kemungkinan makna ganda, dan memilih untuk memiliki tulisan yang jelas serta fasih dalam berbahasa.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ نَزِيهًا بَعِيدًا مِنَ الطَّمَعِ لِيُؤْمَنَ أَنْ يَرْتَشِيَ فَيُحَابِيَ.

Keempat: hendaknya ia bersikap jujur dan jauh dari sifat tamak, agar terjamin ia tidak menerima suap sehingga memihak.

فَإِذَا ظَفِرَ الْقَاضِي بِمَنْ تَكَامَلَتْ فِيهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ الْأَرْبَعَةُ وَأَرْجُو أَنْ يَظْفَرَ بِهِ جَازَ أَنْ يَسْتَكْتِبَهُ.

Maka apabila seorang qādī mendapatkan seseorang yang telah terpenuhi padanya keempat sifat ini, dan aku berharap ia mendapatkannya, maka boleh baginya untuk menjadikannya sebagai penulis.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَكْتِبَ عَبْدًا، وَإِنْ أَكْمَلَهَا؛ لِأَنَّ الْحُرِّيَّةَ شَرْطٌ فِي كَمَالِ الْعَدَالَةِ.

Dan tidak boleh meminta seorang budak untuk menuliskannya, meskipun ia telah menyempurnakannya; karena kemerdekaan merupakan syarat dalam kesempurnaan keadilan.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَكْتِبَ ذِمِّيًا وَإِنْ كَانَ كَافِيًا؛ لِأَنَّهُمْ خَرَجُوا بِفِسْقِهِمْ فِي الدِّينِ عَنْ قَبُولِ قَوْلِهِمْ فِيهِ.

Dan tidak boleh meminta seorang dzimmi untuk menuliskan (dokumen hukum), meskipun ia cakap, karena mereka dengan kefasikan mereka dalam agama telah keluar dari diterimanya ucapan mereka dalam hal ini.

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ} [الممتحنة: 1] .

Allah Ta‘ala telah berfirman: “Janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali, dengan kalian menyampaikan rasa kasih sayang kepada mereka.” (Al-Mumtahanah: 1).

وَقَالَ: {لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [المائدة: 51] .

Dan Dia berfirman: “Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (Al-Mā’idah: 51).

وَرَوَى الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ، وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَدْعُوهُ إِلَى الْخَيْرِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَدْعُوهُ إِلَى الشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ “.

Az-Zuhri meriwayatkan dari Abu Salamah, dari Abu Sa‘id al-Khudri, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan ia pasti memiliki dua kelompok pendamping: satu kelompok yang mengajaknya kepada kebaikan dan mendorongnya untuk melakukannya, dan satu kelompok yang mengajaknya kepada keburukan dan mendorongnya untuk melakukannya. Dan yang terjaga (dari kesalahan) hanyalah orang yang dijaga oleh Allah.”

وَهَذَا صَحِيحٌ، وَقَدْ جَاءَ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى بِمِثْلِ مَعْنَاهُ وَهُوَ قَوْله تَعَالَى: {لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا} [آل عمران: 118] .

Dan ini benar, dan telah datang Kitab Allah Ta‘ala dengan makna yang serupa, yaitu firman-Nya Ta‘ala: “Janganlah kalian mengambil teman kepercayaan dari selain kalian; mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagi kalian.” (Ali Imran: 118).

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا تَسْتَضِيئُوا بِنَارِ الْمُشْرِكِينَ “. أَيْ لَا تَرْجِعُوا إِلَى آرَائِهِمْ، وَلَا تُعَوِّلُوا عَلَى مُشَاوَرَتِهِمْ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian mengambil penerangan dari api kaum musyrik.” Maksudnya, janganlah kalian kembali kepada pendapat-pendapat mereka, dan janganlah kalian bergantung pada musyawarah mereka.

وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَمَعَهُ كَاتِبٌ نَصْرَانِيٌّ، فَأُعْجِبَ عُمَرُ بِخَطِّهِ وَحِسَابِهِ، فَقَالَ لِأَبِي مُوسَى أَحْضِرْ كَاتِبَكَ، لِيَقْرَأَهُ فَقَالَ أَبُو مُوسَى: إِنَّهُ نصراني لا يدخل المسجد فزبره عُمَرُ وَقَالَ ” لَا تَأْمَنُوهُمْ وَقَدْ خَوَّنَهُمُ اللَّهُ، وَلَا تُدْنُوهُمْ وَقَدْ أَبْعَدَهُمُ اللَّهُ، وَلَا تُعِزُّوهُمْ وَقَدْ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ “.

Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy‘ari datang kepada Umar bin al-Khattab bersama seorang penulis Nasrani. Umar kagum dengan tulisan dan perhitungannya, lalu berkata kepada Abu Musa, “Bawalah penulismu, agar ia membacakannya.” Abu Musa berkata, “Dia seorang Nasrani, tidak masuk masjid.” Maka Umar menegurnya dan berkata, “Janganlah kalian mempercayai mereka, padahal Allah telah mengkhianati mereka. Janganlah kalian mendekatkan mereka, padahal Allah telah menjauhkan mereka. Janganlah kalian memuliakan mereka, padahal Allah telah menghinakan mereka.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ: مَا يَنْبَغِي لِقَاضٍ وَلَا وَالٍ أَنْ يَتَّخِذَ كَاتِبًا ذِمِّيًّا، وَلَا يَضَعَ الذِّمِّيَّ فِي مَوْضِعٍ يَفْضُلُ بِهِ مُسْلِمًا، وَيُعِزُّ الْمُسْلِمِينَ أَنْ تَكُونَ لَهُمْ حَاجَةٌ إِلَى غَيْرِ أَهْلِ دِينِهِمْ، وَالْقَاضِي أهل الناس في هذا عذرا.

Syafi‘i berkata dalam kitab al-Umm: Tidak sepantasnya bagi seorang qadhi maupun wali mengangkat seorang penulis dari kalangan dzimmi, dan tidak sepantasnya menempatkan dzimmi pada posisi yang membuatnya lebih unggul dari seorang Muslim. Hendaknya kaum Muslimin merasa mulia sehingga mereka tidak membutuhkan selain orang-orang yang seagama dengan mereka. Dan qadhi adalah orang yang paling layak diberi uzur dalam hal ini.

(فصل: مجلس الكاتب وعمله) .

(Bab: Majelis penulis dan tugasnya).

فَإِذَا اسْتَكْتَبَ الْقَاضِي مَنْ وَصَفْنَا، وَأَحْضَرَهُ مَجْلِسَ حُكْمِهِ، وَأَجْلَسَهُ فِي الِاخْتِيَارِ عَنْ يَسَارِهِ، لِيُثْبِتَ مَا يَحْكُمُ بِهِ مِنْ إِقْرَارٍ، أَوْ سَمَاعِ بَيِّنَةٍ، أَوْ تَنْفِيذِ حُكْمٍ يَذْكُرُ فِيهِ الْمَحْكُومَ لَهُ، وَالْمَحْكُومَ عَلَيْهِ، بِأَسْمَائِهِمَا، وَأَنْسَابِهِمَا، وَبِقَدْرِ مَا حَكَمَ بِهِ، وَسَبَبَ حُكْمِهِ، مِنْ إِقْرَارٍ، أَوْ بَيِّنَةٍ، وَإِنْ حَلَّاهُمَا عِنْدَ الْجَهَالَةِ بِهِمَا كَانَ أَوْلَى.

Apabila qadhi meminta seseorang yang telah kami sebutkan untuk menuliskan, lalu membawanya ke majelis peradilannya, dan mendudukannya di sisi kirinya dalam keadaan memilih, agar ia menetapkan apa yang diputuskan berupa pengakuan, atau mendengarkan bukti, atau melaksanakan putusan yang di dalamnya disebutkan pihak yang dimenangkan dan pihak yang dikalahkan dengan nama dan nasab mereka masing-masing, serta sebesar apa yang diputuskan, dan sebab putusannya, baik karena pengakuan maupun bukti; dan jika ia menyebutkan ciri-ciri mereka ketika tidak diketahui identitasnya, maka itu lebih utama.

وَالْقَاضِي فِيمَا يَكْتُبُهُ الْكَاتِبُ مِنْ ذَلِكَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يُلْقِيَهُ عَلَيْهِ، حَتَّى يَكْتُبَهُ مِنْ لَفْظِهِ، أَوْ يَكْتُبَهُ الْكَاتِبُ بِأَلْفَاظِهِ وَالْقَاضِي يَنْظُرُ إِلَيْهِ، أَوْ يَقْرَأُهُ بَعْدَ كِتَابَتِهِ، وَيُعْلِمَ فِيهِ الْقَاضِيَ بِخَطِّهِ، وَيُشْهِدَ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ، لِيَكُونَ حُجَّةً لِلْمُتَحَاكِمِينَ.

Hakim dalam hal apa yang ditulis oleh juru tulis dari perkara tersebut berada di antara dua keadaan: pertama, hakim mendiktekan kepadanya sehingga juru tulis menuliskannya sesuai dengan ucapannya; atau kedua, juru tulis menuliskannya dengan redaksinya sendiri dan hakim melihatnya, atau membacanya setelah selesai ditulis, lalu hakim membubuhkan tanda tangannya, dan menjadikannya sebagai bukti atas dirinya sendiri, agar dapat menjadi hujah bagi para pihak yang bersengketa.

وَيَكْتُبُ الْكَاتِبُ ذَلِكَ عَلَى نُسْخَتَيْنِ، تَكُونُ إِحْدَاهُمَا فِي دِيوَانِ الْقَاضِي، وَالْأُخْرَى بِيَدِ الْمَحْكُومِ لَهُ.

Penulis menuliskan hal itu pada dua salinan, salah satunya disimpan di diwan qadhi, dan yang lainnya dipegang oleh pihak yang dimenangkan.

فَإِنْ قَصَّرَ الْقَاضِي فِيمَا وَصَفْنَاهُ كَانَ مُفَرِّطًا فِي حُقُوقِ وِلَايَتِهِ، وَمُفَرِّطًا فِي حُقُوقِ الْخُصُومِ، وَإِنِ اسْتَوْفَاهَا سَلِمَ مِنَ التَّفْرِيطِ فِيهِمَا.

Jika seorang qādī (hakim) lalai dalam hal yang telah kami jelaskan, maka ia telah menelantarkan hak-hak dalam wilayah kekuasaannya, dan menelantarkan hak-hak para pihak yang bersengketa. Namun jika ia memenuhi semuanya, maka ia selamat dari kelalaian terhadap keduanya.

( [صِفَاتُ الْقَاسِمِ] ) .

(Sifat-sifat al-qāsim)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: والقاسم في صفة الكاتب عالم بالجناب لَا يُخْدَعُ.

Syafi‘i berkata: Dan qāsim dalam sifat penulis adalah seorang yang memahami perkara dengan baik, tidak mudah tertipu.

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ؛ لِأَنَّ الْقَاسِمَ أَمِينُ الْحَاكِمِ، فَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ عَلَى صِفَاتِ الْكَاتِبِ، مِنَ الْعَدَالَةِ، وَالْأَمَانَةِ، وَاسْتَكْمَال الْأَوْصَافَ الْأَرْبَعَةَ، وَيَزِيدُ عَلَيْهَا: أَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِالْحِسَابِ، وَالْمِسَاحَةِ، وَالْقِسْمَةِ، وَأَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِالْقِيَمِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar; karena al-qāsim adalah orang kepercayaan hakim, maka wajib baginya memiliki sifat-sifat seperti penulis, yaitu keadilan, amanah, dan menyempurnakan empat sifat tersebut, serta ditambah lagi: harus memahami ilmu hisab, pengukuran, pembagian, dan mengetahui nilai-nilai (harta).

فَإِنْ خَفِيَتْ عَلَيْهِ الْقِيَمُ لِاخْتِلَافِ الْأَجْنَاسِ الْمُقَوَّمَةِ، لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ تَقْصِيرًا فِي صِفَتِهِ وَرَجَعَ الْحَاكِمُ فِي التَّقْوِيمِ إِلَى غَيْرِهِ، لِأَنَّ لِكُلِّ جِنْسٍ وَنَوْعٍ أَهْلَ خِبْرَةٍ وَهُمْ أَعْلَمُ بِقِيمَتِهِ مِنْ غَيْرِهِمْ، وَلَيْسَ يُكْمِلُ مَعْرِفَةَ قِيَمِ الْأَجْنَاسِ كُلِّهَا أَحَدٌ.

Jika nilai (harga) barang-barang itu tidak diketahui olehnya karena perbedaan jenis-jenis barang yang dinilai, maka hal itu bukanlah kekurangan pada sifatnya, dan hakim dapat merujuk kepada orang lain dalam penilaian tersebut. Sebab, setiap jenis dan macam barang memiliki ahli yang berpengalaman, dan mereka lebih mengetahui nilainya dibandingkan yang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui nilai semua jenis barang secara sempurna.

وَلِلْقَاسِمِ اجْتِهَادٌ، كَالْحَاكِمِ، وَلَيْسَ لِلْكَاتِبِ اجْتِهَادٌ؛ لِأَنَّهُ مُثْبِتٌ لِحُكْمِ الْحَاكِمِ، فَكَانَ مَا يُعْتَبَرُ مِنْ أَوْصَافِ الْقَاسِمِ أَغْلَظَ مِنِ اعْتِبَارِهَا فِي الْكَاتِبِ.

Qasim memiliki kewenangan ijtihad, seperti halnya hakim, sedangkan penulis tidak memiliki kewenangan ijtihad; karena ia hanya menetapkan putusan hakim, sehingga syarat-syarat yang dipertimbangkan pada qasim lebih ketat dibandingkan syarat-syarat yang dipertimbangkan pada penulis.

(ضَمُّ الشَّهَادَاتِ وَحِفْظُهَا)

Mengumpulkan kesaksian-kesaksian dan menjaga/memeliharanya.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَتَوَلَّى الْقَاضِي ضَمَّ الشَّهَادَاتِ وَرَفْعَهَا لَا يَغِيبُ ذَلِكَ عَنْهُ وَيَرْفَعُهَا فِي قِمَطْرٍ وَيَضُمُّ الشَّهَادَاتِ وَحُجَجَ الرَّجُلَيْنِ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ مُتَرْجَمَةً بِأَسْمَائِهِمَا وَالشَّهْرِ الَّذِي كَانَتْ فِيهِ لِيَكُونَ أَعْرَفَ لَهُ إِذَا طَلَبَهَا فَإِذَا مَضَتْ سَنَةٌ عَزَلَهَا وَكَتَبَ خصوم سنة كذا حتى تكون كل سنة مفروزة وكل شهر مفروزا ولا يفتح المواضع التي فيها تلك الشهادات إلا بعد نظره إلى خاتمه أو علامته وأن يترك في يدي المشهود له نسخة بتلك الشهادات ولا يختمها “.

Imam Syafi‘i berkata: “Hakim bertugas mengumpulkan dan menyimpan kesaksian, tidak boleh hal itu luput dari pengawasannya. Ia menyimpannya dalam kotak khusus, mengumpulkan kesaksian dan bukti dua orang dalam satu tempat yang diberi keterangan nama mereka dan bulan terjadinya agar lebih mudah dikenali ketika diperlukan. Jika telah berlalu satu tahun, ia memisahkannya dan menulis ‘perkara tahun sekian’ agar setiap tahun dan setiap bulan dapat dipisahkan. Ia tidak membuka tempat penyimpanan kesaksian tersebut kecuali setelah memeriksa segel atau tandanya, dan hendaknya ia meninggalkan salinan kesaksian itu di tangan pihak yang bersangkutan tanpa membubuhkan segel padanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْقَضَاءُ فَهُوَ الْفَصْلُ لِانْقِضَاءِ التَّنَازُعِ بِهِ قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ} [الإسراء: 22] .

Al-Mawardi berkata: Adapun al-qadhā’ adalah pemutusan perkara untuk mengakhiri perselisihan dengannya. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Tuhanmu telah memutuskan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 22).

وَالَّذِي يَجِبُ عَلَى الْقَاضِي فِي نَظَرِهِ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ:

Hal yang wajib atas seorang qādī dalam memeriksa perkara ada tiga hal:

أَحَدُهَا: فَصْلُ التَّنَازُعِ بَيْنَ الْخُصُومِ.

Salah satunya: pemisahan perkara sengketa antara para pihak yang bersengketa.

وَالثَّانِي: التَّوْثِقَةُ فِيمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ الْحُقُوقِ.

Yang kedua: melakukan pencatatan terhadap hak-hak yang telah tetap menurutnya.

وَالثَّالِثُ: حِفْظُ مَا حصل عنده من الحجج والوثائق.

Ketiga: menjaga apa yang telah diperolehnya berupa hujjah dan dokumen.

(القول في فصل التنازع)

(Pembahasan tentang bab pertentangan)

فَأَمَّا الْأَوَّلُ: وَهُوَ فَصْلُ التَّنَازُعِ بَيْنَ الْخُصُومِ فَلَهُ حَالَتَانِ:

Adapun yang pertama, yaitu bab perselisihan antara para pihak yang bersengketa, maka terdapat dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ فِيهِ وَاضِحًا فَيُعَجِّلُ فَصْلَهُ فِي الْوَقْتِ الْمَأْلُوفِ، مِنْ زَمَانِ نَظَرِهِ، وَلَا يَلْزَمُهُ فِي اللَّيْلِ، وَأَوْقَاتِ الِاسْتِرَاحَةِ أَنْ يَفْصِلَهُ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ مَعَ الْمُكْنَةِ الْمَأْلُوفَةِ أَنْ يُؤَخِّرَهُ، فَإِنْ أَخَّرَهُ أَثِمَ، إِلَّا أَنْ يُحَلِّلَهُ الْخُصُومُ.

Salah satunya adalah apabila hukum dalam perkara tersebut jelas, maka hendaknya ia segera memutuskan perkara itu pada waktu yang lazim, sejak saat ia mulai memeriksanya, dan tidak wajib baginya untuk memutuskan perkara itu pada malam hari atau waktu-waktu istirahat. Ia juga tidak boleh, padahal ia memiliki kemampuan yang biasa, menunda keputusan tersebut. Jika ia menundanya, maka ia berdosa, kecuali jika para pihak yang bersengketa membebaskannya dari kewajiban itu.

فَإِنِ اتَّفَقَ الْخَصْمَانِ عَلَى تَأْخِيرِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْمِلَهُمَا عَلَى تَعْجِيلِهِ.

Jika kedua pihak yang bersengketa sepakat untuk menunda, maka hakim tidak berhak memaksa mereka untuk mempercepatnya.

وَإِنْ دَعَا أَحَدُهُمَا إِلَى تَعْجِيلِ فَصْلِهِ، وَدَعَا الْآخَرُ إِلَى تَأْخِيرِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْمِلَهَا عَلَى تَعْجِيلِهِ وَعَمِلَ عَلَى قَوْلِ الطَّالِبِ دُونَ الْمَطْلُوبِ؛ لِأَنَّ فَصْلَ التَّنَازُعِ حَقٌّ لِلْمَطْلُوبِ دُونَ الطَّالِبِ.

Jika salah satu dari keduanya meminta agar penyelesaian perkara dipercepat, sementara yang lain meminta agar ditunda, maka tidak boleh memaksakan percepatan tersebut, dan yang diikuti adalah pendapat pihak yang diminta, bukan pihak yang meminta; karena penyelesaian sengketa merupakan hak bagi pihak yang diminta, bukan bagi pihak yang meminta.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْحُكْمُ فِيهِ مُشْتَبِهًا فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan kedua: yaitu apabila hukum di dalamnya masih samar, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الِاشْتِبَاهُ لِاخْتِلَاطِ الدَّعْوَى وَاشْتِبَاهِ التَّنَازُعِ، فَيَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَأْخُذَهُمَا بِكَشْفِ الْمُشْتَبَهِ وَتَمْيِيزِ الْمُخْتَلَطِ وَلَا يَعْجَلَ فِي فَصْلِ التَّنَازُعِ بَيْنَهُمَا مَعَ اشْتِبَاهِ حَالِهِمَا وَالْأَمْرُ فِي كَشْفِ ذَلِكَ مَوْقُوفٌ عَلَيْهِمَا، فَإِذَا كَشَفَاهُ فَصَلَ الْحُكْمَ بَيْنَهُمَا.

Salah satunya adalah apabila terjadi kerancuan karena tercampurnya gugatan dan samar dalam perselisihan, maka sebaiknya hakim meminta keduanya untuk menjelaskan hal yang samar dan membedakan perkara yang tercampur, serta tidak tergesa-gesa memutuskan perselisihan di antara mereka selama keadaan mereka masih samar. Urusan penjelasan hal tersebut diserahkan kepada keduanya; apabila keduanya telah menjelaskannya, maka hakim dapat memutuskan perkara di antara mereka.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الِاشْتِبَاهُ لِإِشْكَالِ الْحُكْمِ عَلَى الْقَاضِي؛ لِاحْتِمَالِهِ عِنْدَهُ. فَيَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَقِفَ الْحُكْمَ عَلَى اجْتِهَادِهِ فِيهِ، وَمُشَاوَرَةِ الْفُقَهَاءِ فِي وَجْهِ صَوَابِهِ، وَلَا يَعْجَلَ بِفَصْلِهِ مَعَ الِاشْتِبَاهِ، فَإِذَا بَانَ لَهُ بِاجْتِهَادِهِ وَجْهُ الْحَقِّ فِيهِ عَجَّلَ حِينَئِذٍ فَصْلَهُ وَلَمْ يُؤَخِّرْهُ.

Jenis kedua: Ketidakjelasan terjadi karena sulitnya menetapkan hukum bagi hakim, karena adanya kemungkinan-kemungkinan menurut pandangannya. Maka seharusnya bagi hakim untuk menunda penetapan hukum sampai ia melakukan ijtihad dalam perkara tersebut, dan bermusyawarah dengan para fuqaha mengenai sisi kebenarannya, serta tidak tergesa-gesa memutuskan perkara dalam keadaan masih samar. Apabila telah jelas baginya sisi kebenaran melalui ijtihadnya, maka saat itu ia segera memutuskan perkara tersebut dan tidak menundanya.

فَإِنْ رَدَّهُمَا الْقَاضِي مَعَ الِاشْتِبَاهِ إِلَى وَسَاطَةِ مُتَوَسِّطٍ بَيْنَهُمَا لَمْ يَلْزَمْهُمَا الرُّجُوعُ إِلَيْهِ.

Jika hakim mengembalikan kedua belah pihak yang bersengketa, karena adanya keraguan, kepada perantara yang menjadi penengah di antara mereka, maka keduanya tidak wajib kembali kepadanya.

وَإِنْ سَأَلَاهُ رَدَّهُمَا إِلَى الْوَسِيطِ لَزِمَهُ الْكَفُّ عَنِ النَّظَرِ بَيْنَهُمَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ رَدُّهُمَا إِلَى وَسِيطٍ مُعَيَّنٍ؛ لِأَنَّ رَدَّهُمَا إِلَيْهِ تَقْلِيدٌ لَهُ عَلَى النَّظَرِ بَيْنَهُمَا، وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُقَلِّدَ لَهُمَا نَاظِرًا.

Jika keduanya memintanya (hakim) untuk mengembalikan perkara mereka kepada seorang wasit, maka wajib baginya untuk menahan diri dari memutuskan perkara di antara mereka, dan tidak wajib baginya untuk mengembalikan mereka kepada wasit tertentu; karena mengembalikan mereka kepadanya berarti melakukan taqlid kepadanya dalam memutuskan perkara di antara mereka, dan tidak wajib baginya untuk melakukan taqlid kepada seorang pemutus perkara bagi mereka.

فَإِنْ أَجَابَهُمَا إِلَيْهِ كَانَ تَبَرُّعًا مِنْهُ وَحَمَلَهُمَا الْوَسِيطُ عَلَى التَّرَاضِي دُونَ الْإِلْزَامِ إِلَّا أَنْ يَرُدَّ إِلَيْهِ الْإِلْزَامَ فَيَصِيرُ حَاكِمًا وَمُلْزَمًا.

Jika ia memenuhi permintaan keduanya, maka itu merupakan tindakan sukarela darinya, dan wasith (mediator) mendorong keduanya untuk saling merelakan tanpa adanya paksaan, kecuali jika ia mengembalikan paksaan itu kepadanya, maka ia menjadi hakim dan bersifat mengikat.

وَيَجُوزُ لِلْوَسِيطِ أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَهُ بِمَا حَفِظَهُ مِنْ إِقْرَارِهِمَا فَإِنْ شَرَطَا عَلَيْهِ أَنْ لَا يَحْفَظَ عَلَيْهِمَا إِقْرَارًا فَفِي شَهَادَتِهِ عَلَيْهِمَا وَجْهَانِ مِنِ اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي الِاسْتِرْعَاءِ هَلْ يَكُونُ شرطا في صحة الشهادة.

Dan diperbolehkan bagi perantara untuk memberikan kesaksian di hadapan hakim tentang apa yang ia ingat dari pengakuan kedua belah pihak. Namun, jika keduanya mensyaratkan kepadanya agar tidak mengingat pengakuan mereka, maka dalam hal kesaksiannya terhadap mereka terdapat dua pendapat, sebagaimana perbedaan dua pendapat dalam masalah istir‘ā’ (meminta untuk diingatkan), yaitu apakah syarat tersebut mempengaruhi keabsahan kesaksian atau tidak.

(فصل: حكم القاضي على والديه ومولوديه أو لهما)

(Bab: Hukum seorang qadhi memutuskan perkara terhadap kedua orang tuanya dan anak-anaknya, atau untuk keduanya)

وَيَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ عَلَى وَالِدَيْهِ وَمَوْلُودَيْهِ.

Dan boleh bagi seorang qāḍī untuk memutuskan perkara atas kedua orang tuanya dan anak-anaknya.

وَفِي جَوَازِ حُكْمِهِ لِوَالِدَيْهِ وَمَوْلُودَيْهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dalam kebolehan seorang hakim memutuskan perkara untuk kedua orang tuanya dan anak-anaknya, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: لَا يَجُوزُ حُكْمُهُ لَهُمْ كَمَا لَا تَجُوزُ شَهَادَتُهُ لَهُمْ.

Salah satunya: Tidak boleh hakim memutuskan hukum untuk mereka, sebagaimana tidak boleh pula kesaksiannya untuk mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُمْ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمْ؛ لِأَنَّ طَرِيقَ الْحُكْمِ ظَاهِرٌ وَطَرِيقَ الشَّهَادَةِ بَاطِنٌ فَتَوَجَّهَتْ إِلَيْهِ التُّهْمَةُ فِي الشَّهَادَةِ وَلَمْ تَتَوَجَّهْ إِلَيْهِ فِي الْحُكْمِ.

Pendapat kedua: Boleh baginya memutuskan hukum untuk mereka meskipun tidak boleh bersaksi untuk mereka; karena jalur penetapan hukum bersifat lahiriah, sedangkan jalur kesaksian bersifat batiniah, sehingga tuduhan (subjektivitas) tertuju padanya dalam kesaksian, namun tidak tertuju padanya dalam penetapan hukum.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُمْ بِالْإِقْرَارِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُمْ بِالْبَيِّنَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يُتَّهَمُ بِأَنْ يَعْدِلَ فِيهَا مَنْ لَيْسَ بِعَدْلٍ وَلَا يُتَّهَمُ فِي الْإِقْرَارِ.

Pendapat ketiga: Boleh memutuskan perkara untuk mereka berdasarkan pengakuan, namun tidak boleh memutuskan untuk mereka berdasarkan bayyinah, karena dalam bayyinah bisa saja dicurigai bahwa yang menjadi saksi bukanlah orang yang adil, sedangkan dalam pengakuan tidak ada kecurigaan demikian.

وَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لِعَدُوِّهِ وَعَلَى عَدُوِّهِ وَجْهًا وَاحِدًا.

Dan boleh bagi seorang hakim untuk memutuskan perkara demi kepentingan musuhnya maupun terhadap musuhnya, menurut satu pendapat.

وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْهِ بِخِلَافِ الْوَالِدَيْنِ وَالْمَوْلُودَيْنِ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan jika tidak boleh memberikan kesaksian atasnya, berbeda dengan orang tua dan anak, karena terdapat perbedaan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَسْبَابَ الْعَدَاوَةِ طَارِئَةٌ تَزُولُ بَعْدَ وُجُودِهَا وَتَحْدُثُ بَعْدَ عَدَمِهَا وَأَسْبَابُ الْأَنْسَابِ لَازِمَةٌ لَا تَحُولُ وَلَا تَزُولُ فَغَلُظَتْ هَذِهِ وَخَفَّفَتْ ذَلِكَ.

Salah satunya adalah bahwa sebab-sebab permusuhan itu bersifat sementara, akan hilang setelah muncul dan dapat terjadi setelah sebelumnya tidak ada, sedangkan sebab-sebab nasab itu bersifat tetap, tidak berubah dan tidak hilang, sehingga yang ini (nasab) dipandang berat (dalam hukum), sedangkan yang itu (permusuhan) dipandang ringan.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْأَنْسَابَ مَحْصُورَةٌ مُتَعَيِّنَةٌ وَالْعَدَاوَةُ مُنْتَشِرَةٌ مُشْتَبِهَةٌ يُفْضِي تَرْكُ الْحُكْمِ مَعَهَا إِلَى امْتِنَاعِ كُلِّ مَطْلُوبٍ بِمَا يَدَّعِيهِ مِنَ الْعَدَاوَةِ.

Kedua: bahwa nasab itu terbatas dan jelas, sedangkan permusuhan itu tersebar dan samar, sehingga jika hukum tidak ditegakkan bersamanya, maka setiap tuntutan akan terhalang hanya karena seseorang mengaku adanya permusuhan.

(فصل: القول في التوثقة للمتنازعين) .

(Bab: Penjelasan tentang penjaminan bagi para pihak yang bersengketa).

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي وَهُوَ التَّوْثِقَةُ لِلْمُتَنَازِعَيْنِ فِيمَا يَثْبُتُ عِنْدَهُ مِنَ الْحُقُوقِ: فَلَا يَخْلُو ثُبُوتُ الْحَقِّ عِنْدَهُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian kedua, yaitu peneguhan bagi kedua pihak yang bersengketa atas hak-hak yang telah tetap di sisinya: maka penetapan hak di sisinya tidak lepas dari salah satu dari tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ يُثْبِتَ الْحَقُّ عِنْدَهُ [بِإِقْرَارِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Salah satunya: bahwa hak itu dapat ditetapkan di sisinya dengan pengakuan dari pihak tergugat.

فَإِذَا سَأَلَهُ الْمُدَّعِي أَنْ يَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ بِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ] مِنْ إِقْرَارِ خَصْمِهِ لَزِمَتْهُ إِجَابَتُهُ إِلَيْهِ، وَأَشْهَدَ الْقَاضِي عَلَى نَفْسِهِ بِثُبُوتِ حَقِّهِ عِنْدَهُ بِإِقْرَارِ خَصْمِهِ، لِأَنَّهُ لَا حُجَّةَ لِصَاحِبِ الْحَقِّ إِلَّا الْإِقْرَارَ الَّذِي قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَرْجِعَ عَنْهُ الْمُقِرُّ فَلَزِمَ الْقَاضِي إِثْبَاتُ حَقِّهِ بِالْإِشْهَادِ عَلَى نَفْسِهِ لِيَكُونَ لَهُ حُجَّةً عِنْدَ إِنْكَارِ خَصْمِهِ.

Maka apabila penggugat meminta kepada hakim untuk bersaksi atas dirinya sendiri mengenai apa yang telah tetap di sisinya dari pengakuan lawannya, maka wajib bagi hakim untuk memenuhi permintaan itu, dan hakim pun bersaksi atas dirinya sendiri tentang tetapnya hak tersebut di sisinya berdasarkan pengakuan lawannya. Sebab, tidak ada hujah bagi pemilik hak kecuali pengakuan, yang mana bisa saja orang yang mengaku itu menarik kembali pengakuannya. Maka wajib bagi hakim untuk menetapkan hak tersebut dengan bersaksi atas dirinya sendiri, agar ia memiliki hujah ketika lawannya mengingkari.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَثْبُتَ الْحَقُّ عِنْدَهُ بِيَمِينِ الْمُدَّعِي بَعْدَ نُكُولِ خَصْمِهِ [فَيَلْزَمُ الْقَاضِي أَنْ يَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ بِثُبُوتِ حَقِّ الْمُدَّعِي بِيَمِينِهِ بَعْدَ نُكُولِ خَصْمِهِ] لِأَنَّهُ لَا حُجَّةَ لِلْمُدَّعِي غَيْرَ إِشْهَادِ الْقَاضِي عَلَى نَفْسِهِ.

Jenis yang kedua: Hak itu ditetapkan baginya dengan sumpah penggugat setelah lawannya menolak bersumpah. Maka wajib bagi hakim untuk menyatakan sendiri bahwa hak penggugat telah tetap dengan sumpahnya setelah lawannya menolak bersumpah, karena penggugat tidak memiliki bukti lain selain pernyataan hakim atas dirinya sendiri.

فَإِنْ سَأَلَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ بِالْإِشْهَادِ عَلَى نَفْسِهِ مَحْضَرًا نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ فِي دَيْنٍ يسْتَوْفى عَاجِلًا لَمْ يَلْزَمْهُ كَتْبُ الْمَحْضَرِ بِهِ لِأَنَّهُ يُمْكِنُهُ أَنْ يَسْتَوْفِيَهُ فِي الْحَالِ وَإِنْ كَانَ فِي دَيْنٍ مُؤَجَّلٍ أَوْ فِي مِلْكٍ مُتَأَبَّدٍ فَفِي وُجُوبِ كَتْبِ الْمَحْضَرِ وَجْهَانِ:

Jika pemilik hak meminta agar ia menuliskan untuknya sebuah dokumen dengan persaksian atas dirinya, maka hal itu perlu dilihat lebih lanjut. Jika berkaitan dengan utang yang dapat segera ditunaikan, maka tidak wajib baginya menuliskan dokumen tersebut, karena ia dapat menagihnya saat itu juga. Namun jika berkaitan dengan utang yang ditangguhkan atau kepemilikan yang bersifat permanen, maka dalam kewajiban menuliskan dokumen tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجِبُ لِأَنَّ الْإِشْهَادَ بَيِّنَةٌ تُغْنِي عَنْهُ.

Salah satunya: tidak wajib karena penyaksian merupakan bukti yang sudah mencukupi tanpa hal itu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجِبُ عَلَى الْقَاضِي كَتْبُ الْمَحْضَرِ وَالْإِشْهَادُ لِيَكُونَ حُجَّةً مَعَ صَاحِبِ الْحَقِّ وَذَلِكَ غَيْرُ مَوْجُودٍ فِي مُطْلَقِ الشَّهَادَةِ فَيَكُونُ كَتْبُ الْمَحْضَرِ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ.

Adapun alasan yang kedua: Hakim wajib menuliskan berita acara dan menghadirkan saksi agar menjadi bukti bagi pemilik hak, dan hal itu tidak terdapat dalam kesaksian secara mutlak, sehingga penulisan berita acara harus dilakukan sebagaimana yang akan kami sebutkan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يُثْبِتَ الْحَقَّ عِنْدَهُ بَيِّنَةٌ يُقِيمُهَا الْمُدَّعِي عَلَى خَصْمِهِ فَهَلْ يَلْزَمُ الْقَاضِي الْإِشْهَادُ عَلَى نَفْسِهِ إِذَا سَأَلَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Golongan ketiga: yaitu apabila seseorang memiliki bukti atas haknya, berupa bayyinah yang diajukan oleh penggugat terhadap lawannya. Maka, apakah wajib bagi qadhi untuk menghadirkan saksi atas dirinya sendiri jika pemilik hak memintanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجِبُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّ لَهُ بِالْحَقِّ بَيِّنَةً فَلَمْ يَلْزَمِ الْقَاضِي أَنْ يُجَدِّدَ لَهُ بَيِّنَةً وَيَكُونُ فِي ذَلِكَ مُخَيَّرًا.

Salah satu pendapat: Tidak wajib baginya, karena ia telah memiliki bukti yang jelas atas haknya, sehingga hakim tidak wajib untuk memperbarui bukti baginya, dan dalam hal ini ia diberi pilihan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَلْزَمُهُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى نَفْسِهِ مَعَ الْبَيِّنَةِ كَمَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَشْهَدَ فِي الْإِقْرَارِ؛ لِأَنَّ فِي إِشْهَادِهِ عَلَى نَفْسِهِ مَعَ الْبَيِّنَةِ الْمَوْجُودَةِ تَعْدِيلَ بَيِّنَتِهِ، وَثُبُوتَ حَقِّهِ، وَإِلْزَامَ خَصْمِهِ. فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أَحْكَامٍ لَا تَثْبُتُ إِلَّا بِإِشْهَادِهِ عَلَى نَفْسِهِ.

Pendapat kedua: Ia wajib memberikan kesaksian atas dirinya sendiri bersama dengan bayyinah, sebagaimana ia wajib bersaksi dalam pengakuan; karena dalam kesaksiannya atas dirinya sendiri bersama bayyinah yang ada terdapat penilaian adil terhadap bayyinahnya, penetapan haknya, dan mewajibkan lawannya. Maka, tiga hukum ini tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kesaksiannya atas dirinya sendiri.

فَإِنْ سَأَلَهُ صَاحِبُ الْحَقِّ الْإِسْجَالَ لَهُ بِحَقِّهِ، وَالْإِشْهَادَ فِيهِ عَلَى نَفْسِهِ، كَانَ فِي وُجُوبِ الْإِسْجَالِ بِهِ وَجْهَانِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي وُجُوبِ كَتْبِ الْمَحْضَرِ بِالْإِقْرَارِ.

Jika pemilik hak meminta agar haknya dicatatkan untuknya dan meminta agar ia menghadirkan saksi atas dirinya dalam hal itu, maka dalam kewajiban mencatatkannya terdapat dua pendapat, sebagaimana telah kami sebutkan dalam kewajiban menulis berita acara atas pengakuan.

وَلَوْ حَكَمَ عَلَى الْمُنْكِرِ بِالْيَمِينِ، وَأَحْلَفُهُ عَلَى إِنْكَارِهِ وَسَأَلَهُ الْإِشْهَادَ عَلَى نَفْسِهِ بِإِحْلَافِهِ، لَزِمَهُ الْإِشْهَادُ لِأَنَّ الْيَمِينَ قَدْ أَبْرَأَتْهُ مِنَ الدَّعْوَى مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ فَاحْتَاجَ إِلَى حُجَّةٍ يَسْقُطُ بِهَا الرُّجُوعُ فِي مُطَالَبَتِهِ وَلَيْسَ لَهُ حُجَّةٌ إِلَّا إِشْهَادَ الْقَاضِي عَلَى نَفْسِهِ.

Dan jika hakim memutuskan atas orang yang mengingkari dengan sumpah, lalu ia menyuruhnya bersumpah atas pengingkarannya dan memintanya untuk menghadirkan saksi atas dirinya sendiri bahwa ia telah disumpah, maka wajib baginya menghadirkan saksi. Sebab, sumpah itu telah membebaskannya dari tuntutan perkara ketika tidak ada bukti, sehingga ia membutuhkan hujjah yang dapat menggugurkan kemungkinan penuntutan kembali terhadapnya. Dan ia tidak memiliki hujjah kecuali kesaksian hakim atas dirinya sendiri.

فَإِنْ سَأَلَهُ كَتْبَ مَحْضَرٍ بِإِحْلَافِهِ وَالْإِشْهَادِ فِيهِ عَلَى نَفْسِهِ كَانَ فِي وُجُوبِهِ عَلَيْهِ وَجْهَانِ.

Jika ia memintanya untuk menuliskan berita acara tentang sumpahnya dan menghadirkan saksi atas dirinya dalam berita acara tersebut, maka dalam kewajiban melakukannya terdapat dua pendapat.

وَلَيْسَ لِلْمُدَّعِي الْمُطَالَبَةُ بِالْإِشْهَادِ عَلَى إِنْكَارِ خَصْمِهِ، وَإِحْلَافِهِ؛ لِأَنَّ الْحُجَّةَ عليه، وليست له.

Penggugat tidak berhak menuntut agar lawannya disaksikan atas pengingkarannya atau disumpah, karena beban pembuktian ada pada dirinya, bukan pada lawannya.

(فصل: القول في المحاضر والسجلات) .

(Bab: Pembahasan tentang mahāḍir dan sijillāt).

فَأَمَّا صِفَةُ الْمَحْضَرِ وَالسِّجِلِّ فَلِلْقُضَاةِ فِيهِمَا عُرْفٌ وَشُرُوطٌ مُعْتَبَرَةٌ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ مُتَّبَعَةً لِمَا فِي الْخُرُوجِ عَنْ عُرْفِهِمْ وَعَادَتِهِمْ فِيهَا مِنْ تَوَجُّهِ الظُّنُونِ وَوُقُوعِ الِاشْتِبَاهِ.

Adapun mengenai format mahḍar dan sijil, para qadi memiliki kebiasaan dan syarat-syarat tertentu yang harus diperhatikan dan diikuti, karena menyimpang dari kebiasaan dan adat mereka dalam hal ini dapat menimbulkan prasangka dan menyebabkan terjadinya keraguan.

فَأَمَّا الْمَحْضَرُ: فَهُوَ حِكَايَةُ الْحَالِ وَمَا جَرَى بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ مِنْ دَعْوَى وَإِقْرَارٍ وَإِنْكَارٍ وَبَيِّنَةٍ وَيَمِينٍ.

Adapun mahḍar, yaitu pencatatan keadaan dan apa yang terjadi antara para pihak yang bersengketa, berupa gugatan, pengakuan, penolakan, bukti, dan sumpah.

فَأَمَّا السِّجِلُّ: فَهُوَ تَنْفِيذُ مَا ثَبَتَ عِنْدَهُ وَإِمْضَاءُ مَا حَكَمَ بِهِ فَهَذَا فَرْقُ مَا بَيْنَ الْمَحْضَرِ وَالسِّجِلِّ.

Adapun as-sijil: yaitu pelaksanaan atas apa yang telah ditetapkan olehnya dan pengesahan terhadap apa yang telah ia putuskan; inilah perbedaan antara al-mahdhar dan as-sijil.

فَإِنْ ذَكَرَ فِي الْمَحْضَرِ تَنْفِيذَ الْحُكْمِ جَرَى مَجْرَى السِّجِلِّ فِي الْمَعْنَى وَإِنْ خَالَفَهُ لَفْظُهُ فِي الِابْتِدَاءِ وَاسْتَغْنَى بِهِ عَنِ السِّجِلِّ، وَإِنْ ذَكَرَ السِّجِلَّ حِكَايَةَ الْحَالِ جَرَى مَجْرَى الْمَحْضَرِ فِي الْمَعْنَى وَإِنْ خَالَفَ لَفْظُهُ فِي الِابْتِدَاءِ وَاسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الْمَحْضَرِ وَإِنْ كَانَ الْأَوْلَى أَنْ لَا يَعْدِلَ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ مَوْضُوعِهِ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِالْمَحْضَرِ أَنْ يَتَذَكَّرَ بِهِ الْحَاكِمُ مَا جَرَى بَيْنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ لِيَحْكُمَ فِيهِ بِمُوجِبِ الشَّرْعِ، وَالْمَقْصُودُ بِالسِّجِلِّ أَنْ يَكُونَ حُجَّةً بِمَا نَفَّذَ بِهِ الْحُكْمَ. فَلِذَلِكَ وَجَبَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا بِتَمْيِيزِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنِ الْآخَرِ.

Jika dalam mahḍar disebutkan pelaksanaan putusan, maka ia berlaku seperti sijil dalam makna, meskipun redaksinya berbeda pada awalnya, dan dengan itu sudah cukup tanpa perlu sijil. Jika dalam sijil disebutkan kisah keadaan, maka ia berlaku seperti mahḍar dalam makna, meskipun redaksinya berbeda pada awalnya, dan dengan itu sudah cukup tanpa perlu mahḍar. Namun, yang lebih utama adalah tidak mengalihkan salah satu dari keduanya dari fungsinya; karena tujuan dari mahḍar adalah agar hakim dapat mengingat apa yang terjadi antara para pihak yang bersengketa untuk memutuskan perkara sesuai dengan ketentuan syariat, sedangkan tujuan dari sijil adalah agar menjadi bukti atas pelaksanaan putusan. Oleh karena itu, wajib membedakan antara keduanya dengan membedakan masing-masing dari yang lain.

وَصِفَةُ الْمَحْضَرِ أَنْ يُكْتَبَ: حَضَرَ الْقَاضِي فَلَانُ بْنُ فُلَانٍ، وَهُوَ يَوْمَئِذٍ قَاضِي عَبْدِ اللَّهِ الْإِمَامُ فَلَانٌ عَلَى بَلَدِ كَذَا فِي مَجْلِسِ حُكْمِهِ وَقَضَائِهِ فِي مَوْضُوعِ كَذَا. وَسَوَاءٌ كَانَ الْمَحْضَرُ عَلَى إِقْرَارٍ أَوْ بَيِّنَةٍ.

Adapun format mahḍar adalah dengan menuliskan: Telah hadir qāḍī Fulan bin Fulan, yang pada hari itu adalah qāḍī ‘Abdullah, imam Fulan atas negeri tertentu, di majelis hukum dan pengadilannya dalam perkara tertentu. Baik mahḍar tersebut dibuat berdasarkan ikrār maupun bayyinah.

وقال أبو حامد الإسفرايني: إِنْ كَانَ عَلَى إِقْرَارٍ لَمْ يَذْكُرْ مَجْلِسَ حُكْمِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي بَيِّنَةٍ ذَكَرَ؛ لِأَنَّ سَمَاعَ الْبَيِّنَةِ حُكْمٌ، وَلَيْسَ فِي الْإِقْرَارِ حُكْمٌ.

Abu Hamid al-Isfara’ini berkata: Jika berkaitan dengan pengakuan, maka tidak disebutkan majelis hukumnya; namun jika berkaitan dengan bukti (bayyinah), maka disebutkan, karena mendengarkan bayyinah adalah suatu hukum, sedangkan dalam pengakuan tidak terdapat hukum.

وَلَيْسَ لِهَذَا الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَجْهٌ؛ لِأَنَّ الدَّعْوَى لَا يَسْمَعُهَا الْقَاضِي إِلَّا فِي مَجْلِسِ حُكْمِهِ، لِأَنَّهُ يَتَعَلَّقُ بِالْإِقْرَارِ إِلْزَامٌ، وَالْإِلْزَامُ حُكْمٌ.

Perbedaan antara keduanya tidak memiliki dasar, karena gugatan tidak akan didengar oleh hakim kecuali di majelis peradilannya, sebab pada pengakuan terdapat konsekuensi kewajiban, dan kewajiban itu adalah hukum.

ثُمَّ يَذْكُرُ اسْمَ الْمُدَّعِي. وَاسْمَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَمَا جَرَى بَيْنَهُمَا، مِنْ قَدْرِ الدَّعْوَى، وَمَا تَعَقَّبَهَا مِنْ إِقْرَارٍ، أَوْ إِنْكَارٍ، وَيَمِينٍ، أَوْ نُكُولٍ، أَوْ سَمَاعِ بَيِّنَةٍ.

Kemudian ia menyebutkan nama penggugat, nama tergugat, serta apa yang terjadi di antara keduanya, berupa besaran gugatan, dan apa yang mengikutinya, baik berupa pengakuan, penolakan, sumpah, penolakan sumpah, atau mendengarkan bukti.

وَيُعْلَمُ الْقَاضِي فِيهِ بِعَلَامَتِهِ الَّتِي عُرِفَ بِهَا.

Dan seorang qādī diketahui dalam hal ini melalui tanda yang telah dikenal darinya.

وَإِنْ أَشْهَدَ فِيهِ كَانَ أَوْكَدَ وَأَحْوَطَ، وَيُسَلِّمُهَا إِلَى الْمُحْتَجِّ بِهَا، وَيَجْعَلُ مِثْلَهَا فِي دِيوَانِهِ.

Dan jika ia menghadirkan saksi atasnya, maka itu lebih menegaskan dan lebih hati-hati, lalu ia menyerahkannya kepada pihak yang membutuhkannya, dan membuat salinannya untuk disimpan dalam arsipnya.

وَأَمَّا السِّجِلُّ فَيَبْدَأُهُ بِالشَّهَادَةِ، كَمَا ابْتَدَأَ الْمَحْضَرَ بِالْحُضُورِ، فَيَكُونُ أَوَّلُ السِّجِلِّ: هَذَا مَا أَشْهَدَ عَلَيْهِ الْقَاضِي فُلَان عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَيَذْكُرُ فِي مَجْلِسِ حُكْمِهِ وَقَضَائِهِ، فَإِنْ كَانَ إِسْجَالًا بِمَحْضَرٍ كَتَبَ نُسْخَتَهُ، وَإِنْ كَانَ إِسْجَالًا بِمَا تَضَمَّنَهُ كِتَابٌ، مِنْ ثُبُوتِ مِلْكٍ فِيهِ، كَتَبَ نُسْخَتَهُ، وَذَكَرَ بَعْدَهُ إِنْفَاذَ حُكْمِهِ بِهِ، وَاسْتَوْفَاهُ عَلَى شُرُوطِهِ، وَأَشْهَدَ بِمَا فِيهِ عَلَى نَفْسِهِ.

Adapun sijil, maka dimulai dengan kesaksian, sebagaimana mahḍar dimulai dengan kehadiran. Maka permulaan sijil adalah: “Ini adalah apa yang disaksikan oleh qāḍī Fulan atas apa yang telah kami sebutkan sebelumnya,” dan disebutkan dalam majelis hukum dan keputusannya. Jika sijil itu berdasarkan mahḍar, maka dituliskan salinannya. Jika sijil itu berdasarkan apa yang tercantum dalam sebuah kitab, seperti penetapan kepemilikan di dalamnya, maka dituliskan salinannya, dan setelah itu disebutkan pelaksanaan hukumnya atas hal tersebut, serta dipenuhi sesuai syarat-syaratnya, dan ia memberikan kesaksian atas isinya untuk dirinya sendiri.

وَلِلْمَحَاضِرِ وَالسِّجِلَّاتِ كُتُبٌ هُوَ أَحَقُّ بِهَا مِنْ كِتَابِنَا هَذَا الْمَوْضُوعِ لِفِقْهِ الْأَحْكَامِ دُونَ مُوَاضَعَاتِ الشُّرُوطِ، وَرُبَّمَا أَفْرَدْنَا لِذَلِكَ كِتَابًا بِمَشِيئَةِ اللَّهِ.

Adapun tentang dokumen dan catatan, terdapat kitab-kitab yang lebih berhak membahasnya daripada kitab kami ini yang khusus membahas fiqh ahkam tanpa membahas penetapan syarat-syarat. Mungkin saja kami akan mengkhususkan sebuah kitab tersendiri untuk hal itu dengan kehendak Allah.

وَلَا بُدَّ لِلْإِسْجَالِ مِنْ شَهَادَةٍ لِمَا تَضَمَّنَهُ مِنْ إِنْفَاذِ الْحُكْمِ بِمَا فِيهِ. وَقَدْ يَكُونُ الْمَحْضَرُ فِي الْأَغْلَبِ بِغَيْرِ شهادة.

Dan isjāl harus disertai dengan kesaksian karena di dalamnya terkandung pelaksanaan hukum terhadap apa yang tercantum di dalamnya. Namun, dalam kebanyakan kasus, mahḍar (berita acara) biasanya tidak disertai dengan kesaksian.

(فصل: القول في حفظ الحجج والوثائق) .

(Bab: Pembahasan tentang menjaga hujjah dan dokumen-dokumen).

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ وَهُوَ حِفْظُ مَا حَصَلَ عِنْدَهُ مِنَ الْحُجَجِ وَالْوَثَائِقِ مِنَ الْمَحَاضِرِ وَالسِّجِلَّاتِ، فَيُكْتَبُ عَلَى ظَهْرِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا اسْمُ صَاحِبِهِ، وَتَارِيخُ تَنْفِيذِهِ، وَيَخْتِمُهُ بِخَاتَمِهِ، وَإِنْ لَمْ يَخْتِمِ النُّسْخَةَ الَّتِي فِي يَدِ صَاحِبِهَا لِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ عَرْضِهَا وَإِظْهَارِهَا.

Adapun bagian ketiga, yaitu menjaga apa yang telah diperolehnya berupa hujjah dan dokumen dari berita acara dan catatan, maka pada bagian belakang masing-masing dokumen tersebut dituliskan nama pemiliknya, tanggal pelaksanaannya, dan dibubuhi stempel olehnya. Namun, ia tidak membubuhkan stempel pada salinan yang ada di tangan pemiliknya karena salinan tersebut masih diperlukan untuk ditunjukkan dan diperlihatkan.

وَيَجْمَعُ وَثَائِقَ كُلِّ يَوْمٍ، إِمَّا بِنَفْسِهِ، أَوْ بِمَشْهَدِهِ، وَلَا يَكِلُهُ إِلَى مَنْ يَتَوَلَّاهُ بِغَيْرِ مُعَايَنَتِهِ، لِأَنَّهَا أَمَانَاتُ أَرْبَابِهَا فِي يَدِهِ، لِيَسْلَمَ مِنِ اغْتِيَالٍ، أَوِ احْتِيَالٍ، وَيَضَعُهَا فِي قِمَطْرٍ، أَوْ سَفَطٍ، يَخْتِمُهُ بِخَاتَمِهِ.

Ia mengumpulkan dokumen-dokumen setiap hari, baik dengan tangannya sendiri maupun di hadapannya, dan tidak menyerahkannya kepada orang lain untuk mengurusnya tanpa pengawasannya, karena dokumen-dokumen itu adalah amanat para pemiliknya yang berada di tangannya, agar terhindar dari penipuan atau kecurangan. Ia meletakkannya dalam peti atau kotak, lalu menguncinya dengan segelnya sendiri.

فَإِذَا اجْتَمَعَتْ حُجَجُ كُلِّ شَهْرٍ ضَمَّهَا، وَكَتَبَ عَلَى مَجْمُوعِهَا: اسْمَ الشَّهْرِ مِنَ السَّنَةِ. وَيَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ فِي كُلِّ شَهْرٍ.

Apabila seluruh hujjah dari setiap bulan telah terkumpul, maka ia menggabungkannya dan menuliskan pada kumpulan tersebut: nama bulan dari tahun itu. Ia melakukan hal yang sama pada setiap bulan.

فَإِذَا تَكَامَلَتْ حُجَجُ السَّنَةِ كُلِّهَا أَفْرَدَهَا وَكَتَبَ عَلَى مَا اشْتَمَلَ عَلَيْهَا حُجَجُ سَنَةِ كَذَا.

Apabila seluruh hujjah tahun itu telah lengkap, ia memisahkannya dan menuliskan pada apa yang terkandung di dalamnya: “Hujjah tahun sekian.”

ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ كُلَّ سَنَةٍ، وَتَكُونُ جَمِيعُهَا تَحْتَ خَتْمِهِ فِي أَوْعِيَتِهِ.

Kemudian ia melakukan hal yang sama setiap tahun, dan semuanya berada di bawah segelnya dalam wadah-wadahnya.

وَيَخْتِمُ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى خِزَانَتِهِ، وَيَكُونُ الْخَاتَمُ فِي يَدِهِ وَلَا يُسَلِّمُهُ إِلَى غَيْرِهِ، إِلَّا مَعَ مُشَاهَدَتِهِ، لِئَلَّا يَتِمَّ فِيهِ احْتِيَالٌ إِذَا فَارَقَهُ وَبَعُدَ عَنْهُ.

Setelah itu, ia menyegel gudangnya, dan segel itu tetap di tangannya serta tidak diserahkan kepada orang lain, kecuali dengan pengawasannya, agar tidak terjadi kecurangan ketika ia meninggalkannya atau berada jauh darinya.

(هَلْ يَحْكُمُ الْقَاضِي بِمَا يَجِدُهُ فِي دِيوَانِهِ مِنَ الْحُجَجِ وَالْكُتُبِ دُونَ أَنْ يَتَذَكَّرَهَا؟) .

Apakah hakim memutuskan perkara berdasarkan apa yang ia temukan dalam catatan atau dokumennya berupa bukti-bukti dan surat-surat tanpa harus mengingatnya?

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يُقْبَلُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا مِمَّا وَجَدَ فِي دِيوَانِهِ إِلَّا مَا حَفِظَ لِأَنَّهُ قَدْ يَطْرَحُ فِي الدِّيوَانِ وَيُشْبِهُ الْخَطُّ الْخَطَّ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak dapat diterima dari hal itu, dan juga dari apa yang ditemukan di dalam diwan-nya, kecuali apa yang benar-benar dihafal, karena bisa saja sesuatu dimasukkan ke dalam diwan dan tulisan tangannya mirip dengan tulisan tangan (aslinya).”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ إِذَا حَضَرَ الْقَاضِيَ خَصْمَانِ وَذَكَرَ الطَّالِبُ مِنْهُمَا أَنَّ فِي دِيوَانِ الْقَضَاءِ حُجَّةً لَهُ عَلَى خَصْمِهِ وَسَأَلَهُ إِخْرَاجَهَا وَالْحُكْمَ بِهَا وَعَرَضَ عَلَيْهِ مِثْلَ نُسْخَتِهَا الَّتِي بِيَدِهِ لَمْ يَعْمَلْ عَلَيْهَا وَأَخْرَجَ نُسْخَةَ دِيوَانِهِ وَوَقَفَ عَلَيْهَا.

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar apabila di hadapan qadhi hadir dua pihak yang bersengketa, lalu salah satu pihak yang menuntut menyebutkan bahwa di dalam diwan pengadilan terdapat bukti yang mendukungnya terhadap lawannya, kemudian ia meminta agar bukti itu dikeluarkan dan dijadikan dasar putusan, serta ia menunjukkan kepada qadhi salinan bukti yang serupa dengan yang ada di tangannya, maka qadhi tidak boleh memutuskan berdasarkan salinan tersebut, melainkan harus mengeluarkan salinan dari diwan pengadilannya dan memeriksanya langsung.

فَإِذَا عَرَفَ صِحَّتَهَا وَذَكَرَ حُكْمَهُ فِيهَا عَمِلَ عَلَى مَا ذَكَرَهُ وَأَلْزَمَ الْخَصْمَ مَا حَكَمَ بِهِ.

Maka apabila ia telah mengetahui keabsahannya dan menyebutkan hukumnya dalam perkara tersebut, ia pun beramal sesuai dengan apa yang telah disebutkannya dan mewajibkan kepada pihak lawan apa yang telah ia putuskan.

وَإِنْ عَرَفَ صِحَّةَ خَطِّهِ وَلَمْ يَذْكُرْ وَقْتَ حُكْمِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِخَطِّهِ وَإِنْ صَحَّ فِي نَفْسِهِ.

Dan jika ia mengetahui kebenaran tulisan tangannya, namun tidak menyebutkan waktu penetapan hukumnya, maka tidak boleh memutuskan dengan berdasarkan tulisan tangannya, meskipun ia sendiri meyakini kebenarannya.

وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٌ.

Dan pendapat ini dikatakan oleh Abu Hanifah dan Muhammad.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى وَأَبُو يُوسُفَ: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِخَطِّهِ إِذَا عَرَفَ صِحَّتَهُ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ.

Ibnu Abi Laila dan Abu Yusuf berpendapat: Boleh seseorang memutuskan perkara berdasarkan tulisannya sendiri jika ia mengetahui kebenarannya, meskipun ia tidak mengingatnya.

وَهُوَ عُرْفُ الْقُضَاةِ فِي عَصْرِنَا.

Dan itulah kebiasaan para qadhi pada zaman kita.

اسْتِدْلَالًا بِأُمُورٍ مِنْهَا: أَنَّهُ قَدْ فَعَلَ مِنَ الِاحْتِيَاطِ بِالْخَطِّ وَالْخَتْمِ وَالْحِفْظِ غَايَةَ مَا فِي وُسْعِهِ، فَلَوْ لَمْ يَعْمَلْ عَلَيْهِ لَتَاهَتْ بِهِ الْحُقُوقُ، وَلَبَطَلَتْ بِهِ الْأَحْكَامُ، وَلَمَا احْتَاجَ إِلَى مَا فَعَلَهُ مِنَ الِاحْتِيَاطِ. وَمِنْهَا: أَنَّ الْعَمَلَ بِهِ مُسْتَفِيضٌ وَالْإِنْكَارَ فِيهِ مُرْتَفِعٌ.

Dengan berdalil pada beberapa hal, di antaranya: bahwa ia telah melakukan tindakan kehati-hatian dengan menulis, memberi cap, dan menjaga sekuat kemampuannya. Maka, jika tidak beramal dengannya, niscaya hak-hak akan tersia-siakan, hukum-hukum akan batal karenanya, dan tidak akan diperlukan tindakan kehati-hatian yang telah dilakukannya. Di antaranya juga: bahwa pengamalan terhadapnya telah tersebar luas dan tidak ada penolakan di dalamnya.

وَمِنْهَا: أَنَّهُ لَمَّا جَازَ لِلرَّاوِي أَنْ يَرْوِيَ أَخْبَارَ الدِّيَانَاتِ مِنْ كِتَابِهِ إِذَا وَثِقَ بِصِحَّتِهِ كَانَتِ الْأَحْكَامُ بِذَلِكَ أَوْلَى.

Di antaranya: bahwa ketika diperbolehkan bagi perawi untuk meriwayatkan berita-berita agama dari bukunya jika ia yakin akan kebenarannya, maka menetapkan hukum dengan cara tersebut tentu lebih utama.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ} [الإسراء: 36] ، وَمَا أَمْضَاهُ بِخَطِّهِ وَلَمْ يَذْكُرْهُ فَقَدْ قَفَا مَا لَمْ يَعْلَمْهُ، وَلِأَنَّ الْحُكْمَ أَغْلَظُ مِنَ الشَّهَادَةِ، لِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْإِلْزَامِ، فَلَمَّا لَمْ تَجُزِ الشَّهَادَةُ بِمَعْرِفَةِ الْخَطِّ إِلَّا مَعَ الذِّكْرِ كَانَ الْحُكْمُ بذلك أحق.

Dan hal ini tidaklah benar, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra’: 36). Barang siapa menetapkan sesuatu dengan tulisannya namun tidak menyebutkannya, maka ia telah mengikuti sesuatu yang tidak ia ketahui. Selain itu, hukum itu lebih berat daripada kesaksian, karena mengandung unsur pemaksaan. Maka, ketika kesaksian dengan mengenali tulisan tidak diperbolehkan kecuali disertai penyebutan, maka menetapkan hukum dengan cara itu lebih utama untuk tidak diperbolehkan.

وَلِأَنَّ الْخُطُوطَ قَدْ تَشْتَبِهُ، وَيَزُورُ عَلَيْهَا مَا لَا يَكَادُ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا، وَيَحْتَالُ عَلَى الْخُتُومِ فَصَارَ إِمْضَاءُ الْحُكْمِ بِهِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرٍ مُشْتَبِهًا، وَلَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي إِلْزَامُ حَقٍّ وَإِمْضَاءُ حُكْمٍ مَعَ الِاشْتِبَاهِ وَالِاحْتِمَالِ.

Karena tulisan tangan bisa saja mirip, dan dapat terjadi pemalsuan atasnya sehingga hampir tidak dapat dibedakan antara keduanya, serta orang dapat melakukan tipu daya terhadap stempel, maka menetapkan hukum berdasarkannya tanpa penjelasan menjadi sesuatu yang samar. Tidak boleh bagi seorang qadhi untuk mewajibkan suatu hak dan menetapkan hukum dalam keadaan samar dan masih ada kemungkinan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِمْ: إِنَّهُ قَدْ فَعَلَ غَايَةَ وُسْعِهِ لِيَحْكُمَ بِهِ فَهُوَ، أَنَّهُ فَعَلَ ذَلِكَ لِيَتَذَكَّرَ بِهِ لَا لِيَحْكُمَ.

Adapun jawaban atas pernyataan mereka: “Sesungguhnya ia telah melakukan segala upaya maksimalnya untuk menetapkan hukum dengannya,” maka jawabannya adalah bahwa ia melakukan hal itu untuk mengingat kembali, bukan untuk menetapkan hukum.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِمْ بِالِاسْتِفَاضَةِ: فهو أنها استفاضة استرسال. وليس بِاسْتِفَاضَةِ اعْتِقَادٍ.

Adapun jawaban terhadap dalil mereka dengan istifādah adalah bahwa itu merupakan istifādah yang bersifat narasi yang mengalir, bukan istifādah dalam bentuk keyakinan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الرِّوَايَةِ: فَهُوَ أَنَّ حُكْمَ الرِّوَايَةِ أَوْسَعُ وَفِي حِفْظِهَا مَعَ الْكَثْرَةِ مَشَقَّةٌ، وَلَمَّا كَانَتِ الشَّهَادَةُ مُفَارِقَةً لِلرِّوَايَةِ بِهَذَا الْمَعْنَى، كَانَتْ مُفَارَقَتُهُ لِلْأَحْكَامِ وَالْإِلْزَامِ لِهَذَا المعنى أولى.

Adapun jawaban terhadap riwayat: sesungguhnya hukum riwayat itu lebih luas, dan menjaga riwayat dalam jumlah yang banyak itu sulit. Karena kesaksian berbeda dengan riwayat dalam hal ini, maka perbedaannya dengan hukum dan kewajiban dalam hal ini lebih utama.

(فصل: هل يجوز تولية القاضي الأمي) .

(Bab: Apakah boleh mengangkat qadhi yang buta huruf).

فَإِنْ كَانَ الْقَاضِي مِمَّنْ لَا يَكْتُبُ الْخَطَّ وَلَا يَقْرَأَهُ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ وِلَايَتِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika seorang qāḍī adalah orang yang tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca tulisan, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan kewenangannya dalam dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَصِحُّ وِلَايَتُهُ؛ لِأَنَّ شُرُوطَ النُّبُوَّةِ أَغْلَظُ. وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أُمِّيًّا، وَلِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَلْزَمْهُ الْعَمَلُ بِخَطِّهِ لَمْ يُؤَثِّرْ فَقْدُهُ فِي وِلَايَتِهِ.

Salah satu pendapat: Kepemimpinannya sah, karena syarat-syarat kenabian lebih berat. Rasulullah ﷺ sendiri adalah seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), dan karena jika ia tidak diwajibkan untuk beramal dengan tulisannya sendiri, maka ketiadaan kemampuan menulis tidak berpengaruh terhadap kepemimpinannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تَصِحُّ وِلَايَتُهُ إِذَا كَانَ أُمِّيًّا حَتَّى يكتب ويقرأ؛ لأن لَا يَقوى فِي الِاجْتِهَادِ إِلَّا بِمَا يَقْرَأَهُ مِنَ الْعُلُومِ وَلَا يَحْفَظُ مَا عَلِمَهُ مِنْ شَرْعٍ وَأَمْضَاهُ مِنْ حُكْمٍ إِلَّا بِمَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ مِنْ كِتَابِهِ وَيَتَذَكَّرُهُ مِنْ خَطِّهِ، وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ “.

Pendapat kedua: Tidak sah kepemimpinannya jika ia buta huruf sampai ia bisa menulis dan membaca; karena seseorang tidak akan mampu melakukan ijtihad kecuali dengan apa yang ia baca dari ilmu-ilmu, dan ia tidak dapat mengingat apa yang telah ia ketahui dari syariat dan apa yang telah ia tetapkan dari hukum kecuali dengan merujuk pada tulisannya dan mengingatnya dari catatannya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda: “Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

فَأَمَّا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، فَقَدْ جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى ذَلِكَ مِنْ مُعْجِزَاتِهِ، فَخَالَفَ فِيهِ مَنْ سِوَاهُ.

Adapun Rasulullah ﷺ, maka Allah Ta‘ala telah menjadikan hal itu sebagai salah satu dari mukjizat beliau, sehingga beliau berbeda dari selainnya dalam hal tersebut.

(إِذَا نَسِيَ الْحَاكِمُ حكمه وشهد به شاهدان) .

Apabila seorang hakim lupa akan putusannya, lalu ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian tentang putusan tersebut.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَوَ شَهِدَ عِنْدَهُ شُهُودٌ أَنَّهُ حَكَمَ بِحُكْمٍ فَلَا يُبْطِلُهُ وَلَا يُحِقُّهُ إِذَا لَمْ يَذْكُرْهُ “.

Syafi‘i berkata: “Jika ada saksi-saksi yang bersaksi di hadapannya bahwa ia telah memutuskan dengan suatu hukum, maka hal itu tidak membatalkan dan tidak pula mengesahkannya jika ia sendiri tidak mengingatnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهَا فِي خَصْمَيْنِ حَضَرَا مَجْلِسَ الْقَاضِي فَادَّعَى أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ حَقًّا، وَأَنْكَرَهُ الْآخَرُ. فَذَكَرَ الْمُدَّعِي لِلْقَاضِي أَنَّهُ قَدْ ثَبَتَ حَقِّي عَلَيْهِ عِنْدَكَ وَحَكَمْتَ لِي بِهِ.

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah dua orang yang bersengketa hadir di majelis qadhi, lalu salah satu dari mereka mengklaim suatu hak atas lawannya, dan yang lain mengingkarinya. Kemudian pihak penggugat menyampaikan kepada qadhi bahwa haknya atas lawannya telah ditetapkan di hadapan qadhi dan qadhi telah memutuskan hak itu untuknya.

فَإِنْ ذَكَرَ الْقَاضِي ذَلِكَ وَعَلِمَهُ، حَكَمَ عَلَى الْخَصْمِ بِهِ، سَوَاءٌ قِيلَ إِنَّ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ أَوْ لَا؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ هَذَا مِنْهُ اسْتِئْنَافًا لِحُكْمٍ وَإِنَّمَا هُوَ إِمْضَاءٌ وَإِلْزَامٌ لِمَا تَقَدَّمَ مِنْ حُكْمِهِ.

Jika hakim mengingat dan mengetahui hal itu, maka ia memutuskan perkara atas dasar tersebut terhadap pihak yang bersengketa, baik dikatakan bahwa hakim boleh memutuskan berdasarkan pengetahuannya sendiri maupun tidak; karena hal ini bukanlah merupakan permulaan putusan darinya, melainkan hanya merupakan pengesahan dan penegasan atas putusan yang telah ia tetapkan sebelumnya.

وَإِنْ لَمْ يَذْكُرِ الْقَاضِي ذَلِكَ وَأَحْضَرَهُ الْمُدَّعِي خَطَّهُ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يحكم بخطه إذا لم يذكره.

Dan jika qadhi tidak menyebutkan hal itu, lalu penggugat menghadirkan tulisan tangannya, maka telah kami sebutkan bahwa tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan tulisan tangannya jika ia tidak mengingatnya.

فإن أحضره الْمُدَّعِي شُهُودًا يَشْهَدُونَ عِنْدَهُ بِمَا ثَبَتَ مِنْ حَقِّهِ عَلَى خَصْمِهِ فَلِذَلِكَ ضَرْبَانِ:

Jika penggugat menghadirkan saksi-saksi di hadapan hakim yang memberikan kesaksian tentang hak yang telah tetap atas lawannya, maka hal itu terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَشْهَدَ الشُّهُودُ عِنْدَهُ أَنَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَقَرَّ عِنْدَهُ لِهَذَا الْمُدَّعِي بِكَذَا، سَمِعَ الْقَاضِي هَذِهِ الشَّهَادَةَ، لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ عَلَى إِقْرَارِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَلَيْسَتْ بِشَهَادَةٍ عَلَى حُكْمِ الْقَاضِي وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Salah satunya adalah para saksi memberikan kesaksian di hadapan hakim bahwa tergugat telah mengakui di hadapan mereka kepada penggugat tentang hal tertentu. Hakim mendengarkan kesaksian ini, karena ini adalah kesaksian atas pengakuan tergugat, dan bukan kesaksian atas putusan hakim. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَشْهَدَ الشُّهُودُ عِنْدَهُ أَنَّهُ حَكَمَ لِهَذَا الْمُدَّعِي عَلَى خَصْمِهِ بِكَذَا لِثُبُوتِ ذَلِكَ عِنْدَهُ بِمَا ذَكَرَهُ مِنْ إِقْرَارٍ أَوْ بَيِّنَةٍ فَيَشْهَدُونَ عِنْدَهُ بِحُكْمِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهِ.

Jenis kedua: para saksi memberikan kesaksian di hadapan hakim bahwa hakim tersebut telah memutuskan perkara untuk si penggugat terhadap lawannya dengan keputusan tertentu, karena telah tetap baginya berdasarkan apa yang telah disebutkan, baik berupa pengakuan atau bukti. Maka para saksi bersaksi di hadapan hakim atas putusannya tersebut. Dalam hal ini, para fuqaha berbeda pendapat.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ عَلَى حُكْمِ نَفْسِهِ وَبِهِ قَالَ أَبُو يُوسُفَ.

Maka mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa tidak boleh bagi seorang qadhi untuk mendengarkan bukti atas putusan dirinya sendiri, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu Yusuf.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٌ وَهُوَ مَذْهَبُ ابْنِ أَبِي لَيْلَى:

Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat, dan ini adalah mazhab Ibnu Abi Laila:

وَيَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ عَلَى حُكْمِ نَفْسِهِ كَمَا يَسْمَعُهَا عَلَى حُكْمِ غَيْرِهِ.

Dan diperbolehkan bagi seorang qadhi untuk mendengarkan bukti atas putusan dirinya sendiri sebagaimana ia mendengarkannya atas putusan orang lain.

اسْتِدْلَالًا بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – سَمِعَ قَوْلَ ذِي الْيَدَيْنِ أَنَّهُ سَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ، وَاسْتَشْهَدَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ عَلَى مَا قَالَهُ ذُو الْيَدَيْنِ فَصَدَّقَاهُ، فَلَمْ يَمْتَنِعْ مِنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِمَا عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ، فَكَانَ مَنْ عَدَاهُ مِنَ الْحُكَّامِ بِقَبُولِ الشَّهَادَةِ أَحَقَّ.

Sebagai dalil bahwa Rasulullah ﷺ mendengar ucapan Dzul Yadain bahwa beliau telah salam setelah dua rakaat, lalu beliau meminta kesaksian Abu Bakar dan Umar atas apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain, maka keduanya membenarkannya. Maka beliau tidak menolak untuk menerima kesaksian mereka berdua atas perbuatan dirinya sendiri. Maka selain beliau dari para hakim lebih berhak untuk menerima kesaksian.

وَلِأَنَّهُ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ، لِمَا رَوَاهُ حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: بَعَثَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ بِالْهُرْمُزَانِ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، حِينَ نَزَلَ عَلَى حُكْمِهِ، فَلَمَّا قَدِمَ الْهُرْمُزَانُ عَلَيْهِ سَكَتَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: تَكَلَّمْ، فَقَالَ: أَكَلَامُ حَيٍّ أَمْ كَلَامُ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: تَكَلَّمْ فَلَا بَأْسَ عَلَيْكَ فَقَالَ: ” نَحْنُ وَأَنْتُمْ مَعَاشِرَ الْعَرَبِ حَيْثُ خَلَا اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كُنَّا نَسْتَعْبِدُكُمْ فَلَمَّا كَانَ اللَّهُ مَعَكُمْ فَلَيْسَ لَنَا بِكُمْ يَدَانِ فَأَمَرَ عُمَرَ بِقَتْلِهِ، فَقَالَ لَهُ أَنْسٌ: كَيْفَ تَقْتُلُهُ وَقَدْ قُلْتَ لَهُ لَا بَأْسَ عَلَيْكَ؟ فَقَالَ عُمَرُ لِأَنَسٍ: ” مَنْ يَشْهَدُ مَعَكَ؟ ” فَشَهِدَ مَعَهُ الزُّبَيْرُ، فَقَبِلَ شَهَادَتَهُمَا، وَأَطْلَقَهُ آمِنًا، وَفَرَضَ لَهُ فِي الْعَطَاءِ، وَكَانَ هَذَا بِمَشْهَدٍ مِنْ أَعْيَانِ الصَّحَابَةِ، فَلَمْ يُنْكِرْ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى عُمَرَ سَمَاعَهُ لِلشَّهَادَةِ عَلَى قَوْلِهِ، فَدَلَّ عَلَى إِجْمَاعِهِمْ عَلَى جَوَازِهِ.

Karena hal itu merupakan ijmā‘ para sahabat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Humaid dari Anas, ia berkata: Abu Musa al-Asy‘ari mengirim al-Hurmuzan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, ketika ia tunduk pada keputusan Umar. Ketika al-Hurmuzan datang kepadanya, ia diam. Maka Umar berkata kepadanya: “Bicaralah!” Ia berkata: “Apakah ini perkataan orang hidup atau perkataan orang mati?” Umar berkata kepadanya: “Bicaralah, tidak ada masalah bagimu.” Maka ia berkata: “Kami dan kalian, wahai kaum Arab, ketika Allah membiarkan antara kami dan kalian, kami memperbudak kalian. Namun ketika Allah bersama kalian, kami tidak lagi berdaya terhadap kalian.” Maka Umar memerintahkan untuk membunuhnya. Anas berkata kepadanya: “Bagaimana engkau membunuhnya padahal engkau telah berkata kepadanya ‘tidak ada masalah bagimu’?” Umar berkata kepada Anas: “Siapa yang bersaksi bersamamu?” Maka az-Zubair bersaksi bersamanya, lalu Umar menerima kesaksian mereka berdua, membebaskan al-Hurmuzan dengan aman, dan menetapkan baginya bagian dari pemberian (‘athā’). Kejadian ini disaksikan oleh para tokoh sahabat, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari Umar atas penerimaannya terhadap kesaksian atas ucapannya, sehingga hal itu menunjukkan adanya ijmā‘ mereka atas kebolehannya.

وَقَدْ أَجَازَ الْمُسْلِمُونَ مِثْلَ ذَلِكَ فِي رِوَايَاتِ السُّنَنِ الْمَشْرُوعَةِ: رَوَى ربيعة، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ ” وَنَسِيَ سُهَيْلٌ الْحَدِيثَ، فقال له ربيعة: أنت حدثتني به فَكَانَ سُهَيْلٌ يَقُولُ:

Dan kaum Muslimin telah membolehkan hal semacam itu dalam periwayatan sunah-sunah yang disyariatkan: Rabi‘ah meriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan dengan sumpah bersama seorang saksi. Namun Suhail lupa terhadap hadis tersebut, lalu Rabi‘ah berkata kepadanya: Engkau telah menceritakannya kepadaku. Maka Suhail pun berkata:

حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ عَنِّي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ “، فَإِذَا جَازَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى غَيْرِهِ فِيمَا رَوَاهُ جَازَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَيْهِ فِيمَا حَكَمَ بِهِ. وَلِأَنَّهُ كَمَا جَازَ أَنْ يَسْمَعَ الشَّهَادَةَ عَلَى حُكْمِ غَيْرِهِ جَازَ أَنْ يَسْمَعَهَا عَلَى حُكْمِ نَفْسِهِ.

Rabi‘ah meriwayatkan dariku, dari Abu Hurairah: “Bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara dengan sumpah bersama seorang saksi.” Maka jika diperbolehkan untuk merujuk kepada orang lain dalam apa yang diriwayatkannya, maka diperbolehkan pula untuk merujuk kepadanya dalam apa yang telah diputuskan olehnya. Dan karena sebagaimana diperbolehkan mendengarkan kesaksian atas putusan orang lain, maka diperbolehkan pula mendengarkannya atas putusan dirinya sendiri.

وَدَلِيلُنَا: قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {بَلِ الإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ} [القيامة: 14] .

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. al-Qiyāmah: 14).

فَوَكَلَهُ فِي فِعْلِهِ إِلَى نَفْسِهِ، وَلَمْ يَكِلْهُ إِلَى غَيْرِهِ.

Maka Dia menyerahkan perbuatannya itu kepada dirinya sendiri, dan tidak menyerahkannya kepada selain dirinya.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى شَهَادَةِ غَيْرِهِ؛ أَنَّهُ قَدْ صَلَّى حَتَّى يَعْلَمَ ذَلِكَ مِنْ نَفْسِهِ وَحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْسَعُ حُكْمًا مِنْ حُقُوقِ الْعِبَادِ، كَانَ بِأَنْ لَا يَسْمَعَ الشَّهَادَةَ عَلَى حُكْمِهِ لِغَيْرِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ أَوْلَى، وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ أَخَفُّ مِنَ الْحُكْمِ، لِمَا فِي الْحُكْمِ مِنَ الْإِلْزَامِ الَّذِي لَا تَتَضَمَّنُهُ الشَّهَادَةُ.

Dan karena tidak diperbolehkan baginya untuk bertindak berdasarkan kesaksian orang lain bahwa ia telah salat, sampai ia sendiri mengetahui hal itu, dan karena hak-hak Allah Ta‘ala lebih luas ketentuannya daripada hak-hak hamba, maka lebih utama untuk tidak menerima kesaksian atas putusan yang berkaitan dengan orang lain atau atas orang lain. Selain itu, kesaksian lebih ringan daripada putusan, karena dalam putusan terdapat unsur pemaksaan yang tidak terkandung dalam kesaksian.

ثُمَّ ثَبَتَ أَنَّ الشَّاهِدَ إِذَا نَسِيَ شَهَادَتَهُ فَشَهِدَ بِهَا عِنْدَهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى الشَّهَادَةِ فِيمَا يَشْهَدُ بِهِ؛ فَكَانَ الْحُكْمُ بِذَلِكَ أَوْلَى.

Kemudian telah tetap bahwa apabila seorang saksi lupa terhadap kesaksiannya, lalu ia memberikan kesaksian di hadapannya, maka tidak boleh beramal berdasarkan kesaksian tersebut dalam perkara yang ia saksikan; maka menetapkan hukum dengan hal itu lebih utama (untuk tidak dilakukan).

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِصَّةِ ذِي الْيَدَيْنِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban mengenai kisah Dzul Yadain adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ تَذَّكَّرَ بِقَوْلِهِمْ فَعَمِلَ عَلَى ذِكْرِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia teringat karena ucapan mereka, lalu ia pun bertindak berdasarkan ingatannya itu.

وَالثَّانِي: أَنَّ قَوْلَهُمْ أَحْدَثُ لَهُ شَكًّا، وَالشَّكُّ فِي الصَّلَاةِ يُوجِبُ الْعَمَلُ فِيهَا عَلَى الْيَقِينِ، وَبِهِمَا يُجَابُ عَنْ قِصَّةِ الْهُرْمُزَانِ.

Kedua: bahwa perkataan mereka “ia menimbulkan keraguan baginya”, dan keraguan dalam salat mewajibkan untuk beramal di dalamnya berdasarkan keyakinan, dan dengan keduanya dapat dijawab kisah al-Hurmuzan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ رِوَايَةِ الْأَخْبَارِ، فَلِسَعَةِ حُكْمِهَا جَازَ فِيهَا مَا لَمْ يَجُزْ فِي غَيْرِهَا.

Adapun jawaban mengenai periwayatan hadis, maka karena luasnya hukum periwayatan tersebut, dibolehkan di dalamnya apa yang tidak dibolehkan pada selainnya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ سَمَاعِ غَيْرِهِ لِلشَّهَادَةِ، فَهُوَ أَنَّ غَيْرَهُ يَعْمَلُ عَلَى غَلَبَةِ الظَّنِّ، فَجَازَ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى الشَّهَادَةِ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ، وَهُوَ يَعْمَلُ فِي فِعْلِ نَفْسِهِ عَلَى الْيَقِينِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْمَلَ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ فِي الشَّهَادَةِ حَتَّى يقطع بيقين نفسه.

Adapun jawaban mengenai orang lain yang mendengar untuk kesaksian, maka sesungguhnya orang lain itu beramal berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan), sehingga diperbolehkan baginya untuk beramal atas dasar kesaksian dengan dugaan kuat. Sedangkan ia sendiri dalam perbuatannya harus beramal berdasarkan keyakinan (yaqin), maka tidak diperbolehkan baginya untuk beramal dengan dugaan kuat dalam kesaksian sampai ia benar-benar yakin dalam dirinya sendiri.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِنْ شَهِدُوا عِنْدَ غَيْرِهِ أَجَازَهُ لِأَنَّهُ لَا يَعْرِفُ مِنْهُ مَا يَعْرِفُ مِنْ نَفْسِهِ فَإِنْ عَلِمَ غَيْرُهُ أَنَّهُ أَنْكَرَهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَقْبَلَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Jika mereka bersaksi di hadapan selain dirinya, maka boleh diterima, karena orang lain tidak mengetahui darinya apa yang ia ketahui dari dirinya sendiri. Namun, jika orang lain mengetahui bahwa ia telah mengingkarinya, maka tidak sepantasnya untuk menerimanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا شَهِدَ الشُّهُودُ عِنْدَ غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ بِمَا حَكَمَ بِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ رَدِّهِ لِشَهَادَتِهِمْ مِنْ ثلاثة أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila para saksi memberikan kesaksian di hadapan hakim lain mengenai perkara yang telah diputuskan olehnya, maka keadaan penolakan terhadap kesaksian mereka tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَرُدَّهَا؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ حُكْمَهُ بِهَا وَهُوَ لَا يَرَى سَمَاعَ الشَّهَادَةِ عَلَى حُكْمِ نَفْسِهِ، فَيَجُوزُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ إِذَا شَهِدَ الشُّهُودُ عِنْدَهُ بِمَا حَكَمَ بِهِ أَنْ يَقْبَلَ شَهَادَتَهُمْ وَيَعْمَلَ عَلَيْهَا وَيَحْكُمَ بِهَا، لِمَا قَدَّمْنَاهُ فِي الْجَوَابِ مِنَ الْفَرْقِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ فِي أَنَّ فِعْلَ نَفْسِهِ مَحْمُولٌ عَلَى يَقِينِهِ وَفِعْلُ غَيْرِهِ مَحْمُولٌ عَلَى غَلَبَةِ الظَّنِّ، وَسَوَاءٌ كَانَ الْقَاضِي الَّذِي حَكَمَ حَيًّا أَوْ مَيِّتًا وَالِيًا أَوْ مَعْزُولًا، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Salah satunya: hendaknya ia mengembalikannya; karena ia tidak menyebutkan putusannya atas perkara itu, dan ia tidak membolehkan mendengar kesaksian atas putusan dirinya sendiri. Maka boleh bagi hakim lain, jika para saksi memberikan kesaksian di hadapannya tentang apa yang telah diputuskan, untuk menerima kesaksian mereka, mengamalkannya, dan memutuskan berdasarkan kesaksian itu. Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam jawaban tentang perbedaan antara dirinya dan selainnya, yaitu bahwa perbuatan dirinya sendiri didasarkan pada keyakinannya, sedangkan perbuatan orang lain didasarkan pada dugaan yang kuat. Baik hakim yang memutuskan perkara itu masih hidup atau sudah meninggal, masih menjabat atau sudah diberhentikan, semuanya sama saja. Dan hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘).

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي الَّذِي قَدْ حَكَمَ قَدْ أَكْذَبَ الشُّهُودَ عِنْدَهُ وَرَدَّهُمْ مَجْرُوحِينَ، فَلَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ أَنْ يَقْبَلَ شَهَادَتَهُمْ عَلَى حُكْمِهِ، لِأَنَّ الْأَوَّلَ قَدْ حَكَمَ بِإِبْطَالِ الْحُكْمِ وَتَفْسِيقِ الشُّهُودِ.

Keadaan kedua: Jika qadi yang telah memutuskan perkara telah mendustakan para saksi di hadapannya dan menolak mereka karena dianggap cacat, maka tidak boleh bagi qadi lain untuk menerima kesaksian mereka atas putusannya, karena qadi pertama telah memutuskan untuk membatalkan putusan tersebut dan menyatakan para saksi itu fasik.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ قَدْ أَنْكَرَ الْحُكْمَ وَلَمْ يُكَذِّبِ الشُّهُودَ، فَلَا يَجُوزُ لِغَيْرِهِ مَعَ إِنْكَارِهِ لِلْحُكْمِ أَنْ يَسْمَعَ الشَّهَادَةَ بِحُكْمِهِ.

Keadaan yang ketiga: yaitu apabila seseorang mengingkari hukum tersebut namun tidak mendustakan para saksi, maka tidak boleh bagi selainnya, selama ia mengingkari hukum itu, untuk mendengarkan kesaksian tentang hukumnya.

وَقَالَ مَالِكٌ: يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَهَا وَيَحْكُمَ بِهَا؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ عَلَى الْمُنْكِرِ مَسْمُوعَةٌ اعْتِبَارًا بِسَائِرِ الْحُقُوقِ.

Malik berkata: Boleh baginya mendengarkan (kesaksian tersebut) dan memutuskan perkara dengannya; karena kesaksian atas orang yang mengingkari dapat diterima, sebagaimana pada hak-hak lainnya.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْحَاكِمَ أَصْلٌ وَالشُّهُودَ فَرْعٌ، وَفَسَادُ حُكْمِ الْأَصْلِ مُوجِبٌ لِفَسَادِ حُكْمِ الْفَرْعِ، كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، إِذَا فَسَدَ فِيهَا حُكْمُ الْأَصْلِ فَسَدَ حُكْمُ الْفَرْعِ.

Salah satunya adalah bahwa hakim merupakan pokok dan para saksi adalah cabang, dan rusaknya keputusan pokok menyebabkan rusaknya keputusan cabang, seperti dalam kasus kesaksian atas kesaksian; apabila keputusan pokok di dalamnya rusak, maka keputusan cabangnya pun menjadi rusak.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ لَوْ أَكْذَبَهُمْ لَمْ يَكُنْ لِغَيْرِهِ أَنْ يَسْمَعَ بِهِ شَهَادَتَهُمْ، وَجَبَ أَنْ يَكُونَ كَذَلِكَ إِذَا أنكرهم والله أعلم بالصواب.

Kedua: Ketika jika ia mendustakan mereka, maka tidak ada orang lain yang dapat mendengar kesaksian mereka, maka wajib hukumnya berlaku demikian juga apabila ia mengingkari mereka. Dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(كتاب قاض إلى قاض)

(Surat dari seorang qāḍī kepada qāḍī lain)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَيَقْبَلُ كُلَّ كِتَابٍ لِقَاضٍ عَدْلٍ وَلَا يَقْبَلُهُ إِلَا بِعَدْلَيْنِ وَحَتَّى يَفْتَحَهُ وَيَقْرَأَهُ عَلَيْهِمَا فَيَشْهَدَا أَنَّ الْقَاضِيَ أَشْهَدَهُمَا عَلَى مَا فِيهِ وَأَنَّهُ قَرَأَهُ بِحَضْرَتِهِمَا أَوْ قُرِئَ عَلَيْهِمَا وَقَالَ اشْهَدَا أن هَذَا كِتَابِي إِلَى فُلَانٍ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Setiap surat dari seorang qadhi yang adil diterima, dan tidak diterima kecuali dengan dua orang yang adil, serta hingga surat itu dibuka dan dibacakan kepada keduanya, lalu keduanya bersaksi bahwa qadhi tersebut telah meminta mereka berdua menjadi saksi atas isi surat itu dan bahwa surat itu telah dibaca di hadapan mereka atau dibacakan kepada mereka, serta qadhi itu berkata: ‘Saksikanlah bahwa ini adalah suratku kepada si Fulan.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا كُتُبُ الْقُضَاةِ إِلَى الْقُضَاةِ وَالْأُمَرَاءِ، فِي تَنْفِيذِ الْأَحْكَامِ، وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ فَمَحْكُومٌ بِهَا وَمَعْمُولٌ عَلَيْهَا.

Al-Mawardi berkata: Adapun surat-surat para qadi kepada qadi lain dan kepada para amir, dalam rangka pelaksanaan putusan dan penunaian hak-hak, maka surat-surat tersebut memiliki kekuatan hukum dan wajib dijalankan.

وَالْأَصْلُ فِيهَا مَا حَكَاهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ كِتَابِ سُلَيْمَانَ إلى بلقيس قالت {أيها الملاء إني ألقي إلي كتاب كريم إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرحيم أن لا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ} [النمل: 30] فَأَنْذَرَهَا بِكِتَابِهِ، وَدَعَاهَا إِلَى دِينِهِ، وَجَعَلَهُ بِمَنْزِلَةِ كَلَامِهِ وَاقْتَصَرَ فِيهِ عَلَى أَنْ قَالَ: {أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وأتوني مسلمين} فَأَوْجَزَ وَاخْتَصَرَ، وَهَكَذَا تَكُونُ كُتُبُ الْأَنْبِيَاءِ مُوجَزَةً مختصرة.

Dasar hukumnya adalah apa yang Allah Ta‘ala kisahkan dari surat Sulaiman kepada Balqis, sebagaimana ia berkata: “Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya): Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (an-Naml: 30). Maka Sulaiman telah memperingatkannya melalui suratnya, mengajaknya kepada agamanya, dan menjadikan surat itu setara dengan ucapannya. Dalam surat itu, ia hanya berkata: “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Maka ia menyampaikan dengan singkat dan ringkas, dan demikianlah surat-surat para nabi itu selalu singkat dan padat.

فاحتمل قوله: {لا تعلوا علي} تَأْوِيلَيْنِ:

Maka ucapan-Nya: “Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku” mengandung dua kemungkinan tafsiran.

أَحَدُهُمَا: لَا تَعْصُونِي.

Salah satunya adalah: Janganlah kalian mendurhakaiku.

وَالثَّانِي: لَا تُخَالِفُونِي.

Dan yang kedua: Janganlah kalian menyelisihi aku.

واحتمل قوله {وأتوني مسلمين} تَأْوِيلَيْنِ:

Perkataan mereka {dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri} mengandung dua kemungkinan penafsiran:

أَحَدُهُمَا: مُسْلِمِينَ بِدِينِي.

Salah satunya: dua orang Muslim yang seagama denganku.

وَالثَّانِي: مُسْتَسْلِمِينَ لِطَاعَتِي.

Dan yang kedua: berserah diri untuk menaati-Ku.

وَهُوَ أَوَّلُ مَنِ افْتَتَحَ ببِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.

Dialah orang pertama yang memulai dengan basmalah, “Bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm.”

وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – افْتَتَحَ كُتُبَهُ بِ ” بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ “.

Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah ﷺ, beliau mulai membuka surat-suratnya dengan “Bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm”.

وَكَتَبَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِلَى مُلُوكِ الْأُمَمِ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ.

Rasulullah ﷺ menulis surat kepada para raja dari berbagai bangsa, mengajak mereka kepada Islam.

فَكَتَبَ إِلَى اثْنَيْ عَشَرَ مَلِكًا مِنْهُمْ كِسْرَى مَلِكُ الْفُرْسِ وَقَيْصَرُ مَلِكُ الرُّومِ.

Maka beliau menulis surat kepada dua belas raja, di antaranya Kisra, raja Persia, dan Qaisar, raja Romawi.

فَأَمَّا كِسْرَى فَكَتَبَ إِلَيْهِ: ” بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ إِلَى كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَانَ أَسْلِمُوا تَسْلَمُوا وَالسَّلَامُ “.

Adapun Kisra, maka beliau menulis kepadanya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad bin Abdullah kepada Kisra bin Hurmuza: Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Wassalam.”

فَلَمَّا وَصَلَ كِتَابُهُ مَزَّقَهُ فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – تَمَزَّقَ مُلْكُهُ.

Ketika suratnya sampai, ia merobeknya. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Kerajaannya akan hancur.”

وَكَتَبَ إِلَى قَيْصَرَ: ” بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، إِلَى قَيْصَرَ عَظِيمِ الرُّومِ: {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بيننا وبينكم، أن لا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ، وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا} [الآية: آل عمران: 64] . فَلَمَّا وَصَلَ كِتَابُهُ قَبَّلَهُ وَوَضَعَهُ عَلَى رَأْسِهِ وَتَرَكَهُ فِي الْمِسْكِ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” ثَبُتَ مُلْكُهُ “.

Dan beliau menulis surat kepada Kaisar: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad bin Abdullah kepada Kaisar, penguasa agung Romawi: {Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun} (QS. Ali Imran: 64).” Ketika surat beliau sampai, Kaisar menerimanya, meletakkannya di atas kepalanya, dan menyimpannya di dalam minyak kesturi. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Kekuasaan kerajaannya akan tetap kokoh.”

وَكَتَبَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِلَى عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ كِتَابًا ذَكَرَ فِيهِ الْأَحْكَامَ وَالزَّكَوَاتِ وَالدِّيَاتِ، فَصَارَ فِي الدِّينِ شَرْعًا ثَابِتًا، وَعَمَلًا مُسْتَفِيضًا.

Rasulullah ﷺ menulis surat kepada ‘Amr bin Hazm yang di dalamnya beliau menyebutkan hukum-hukum, zakat, dan diyat, sehingga surat itu menjadi syariat yang tetap dalam agama dan diamalkan secara luas.

وَجَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَحْشٍ وَدَفَعَ إِلَيْهِ كِتَابًا مَخْتُومًا، وَقَالَ: لَا تَفُضَّهُ حَتَّى تَبْلُغَ مَوْضِعَ كَذَا، فَإِذَا بَلَغْتَهُ فَفُضَّهُ، وَاعْمَلْ بِمَا فِيهِ فَفَضَّهُ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي أَمَرَهُ، وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، وَأَطَاعَهُ الْجَيْشُ عَلَيْهِ.

Rasulullah ﷺ mempersiapkan sebuah pasukan dan mengangkat Abdullah bin Jahsy sebagai pemimpin mereka. Beliau memberikan kepadanya sebuah surat yang tersegel, lalu bersabda: “Janganlah engkau buka surat ini sampai engkau tiba di tempat tertentu. Jika engkau telah sampai di sana, bukalah surat itu dan laksanakanlah apa yang tertulis di dalamnya.” Maka Abdullah pun membukanya di tempat yang telah diperintahkan, melaksanakan apa yang tertulis di dalamnya, dan pasukan pun menaati kepemimpinannya.

وَكَتَبَ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ إِلَى أُمَرَائِهِمْ وَقُضَاتِهِمْ بِمَا عَمِلُوا عَلَيْهِ فِي الدِّيَانَاتِ وَالسِّيَاسَاتِ.

Para khalifah Rasyidun menulis surat kepada para gubernur dan hakim mereka tentang apa yang telah mereka lakukan dalam urusan agama dan pemerintahan.

وَكَتَبَ عُمَرُ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَهْدَهُ عَلَى قَضَاءِ الْبَصْرَةِ وَهُوَ مَشْهُورٌ جَعَلَهُ الْمُسْلِمُونَ أَصْلًا لِلْعُهُودِ.

Umar menulis surat kepada Abu Musa al-Asy‘ari berupa piagam pengangkatannya sebagai qadhi di Bashrah, yang terkenal dan dijadikan kaum Muslimin sebagai dasar bagi piagam-piagam pengangkatan.

وَكَتَبَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ: أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّهُ قد حصر بنا فالوحا الوحا.

Dan ia menulis kepada Abu Hurairah: Amma ba‘du: Sesungguhnya kami telah terkepung, maka tolonglah, tolonglah.

وَكَتَبَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ: أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَسُرُّهُ دَرَكُ مَا لَمْ يَكُنْ لِيَفُوتَهُ، وَيَسُوءهُ فَوْتُ مَا لَمْ يَكُنْ لِيُدْرِكَهُ، فَلَا تَكُنْ بِمَا نِلْتَ مِنْ دُنْيَاكَ فَرِحًا، وَلَا بِمَا فَاتَكَ مِنْهَا تَرِحًا، وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَرْجُو الْآخِرَةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ وَيُؤَخِّرُ التَّوْبَةُ بِطُولِ أَمَلٍ، فَكَأَنَّ قَدِ، وَالسَّلَامُ.

Ali bin Abi Thalib menulis kepada Abdullah bin Abbas: Amma ba‘du, sesungguhnya manusia merasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang sebenarnya tidak akan luput darinya, dan merasa sedih ketika kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak akan dapat diraihnya. Maka janganlah engkau bergembira atas apa yang engkau peroleh dari duniamu, dan jangan pula bersedih atas apa yang terlewat darimu darinya. Janganlah engkau termasuk orang yang mengharapkan akhirat tanpa amal, dan menunda tobat karena panjang angan-angan. Seolah-olah (kematian) itu sudah dekat. Wassalam.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَمَا انْتَفَعْتُ وَلَا اتَّعَظْتُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِمِثْلِ هَذَا الْكِتَابِ.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku tidak pernah mengambil manfaat dan pelajaran setelah Rasulullah ﷺ seperti yang aku dapatkan dari kitab ini.”

فَدَلَّتْ هَذِهِ السُّنَنُ وَالْآثَارُ على قبول الكتب في الأحاكم ولأن ضرورات الحكام إليها داعية فِي حِفْظِ الْحُقُوقِ؛ لِأَنَّهَا قَدْ تَبْعُدُ عَنْ مُسْتَحِقِّيهَا وَيَبْعُدُ عَنْهَا مُسْتَحِقُّوهَا فَلَمْ يَجِدِ الْحُكَّامُ بُدًّا مِنْ مُكَاتَبَةِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ بِهَا.

Maka sunnah dan atsar-atsar ini menunjukkan diterimanya surat-surat dalam penetapan hukum, karena kebutuhan para hakim terhadapnya sangat mendesak dalam menjaga hak-hak; sebab terkadang hak itu jauh dari pemiliknya, atau pemilik hak itu jauh dari haknya, sehingga para hakim tidak menemukan jalan lain selain saling berkirim surat di antara mereka mengenai hal tersebut.

فَإِذَا تَقَرَّرَ هَذَا فَلِلْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ بِمَا وَجَبَ عِنْدَهُ مِنْ حُكْمٍ، أَوْ ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنْ حَقٍّ، وَيَكْتُبُ بِهِ إِلَى مَنْ هُوَ أَعْلَى مِنْهُ، وَأَدْنَى، وَإِلَى خَلِيفَتِهِ، وَمُسْتَخْلِفِهِ.

Maka apabila hal ini telah dipastikan, seorang qāḍī boleh menulis surat kepada qāḍī lain mengenai putusan yang telah menjadi kewajibannya, atau hak yang telah ditetapkan di sisinya, dan ia boleh menulis surat tersebut kepada orang yang lebih tinggi darinya, yang lebih rendah, kepada penggantinya, maupun kepada orang yang ia tunjuk sebagai pengganti.

وَيَكُونُ الْمَقْصُودُ بِهِ أَمْرَيْنِ:

Dan yang dimaksud dengannya adalah dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَثْبُتَ بِهَا عِنْدَ الثَّانِي مَا ثَبَتَ عِنْدَ الْأَوَّلِ.

Salah satunya adalah bahwa dengan perantaraannya dapat ditetapkan pada pihak kedua apa yang telah ditetapkan pada pihak pertama.

وَالثَّانِي: أَنْ يَقُومَ فِي تَنْفِيذِهَا واستيفائها مقام الأول.

Kedua: bahwa ia menempati posisi pihak pertama dalam melaksanakan dan menunaikannya.

(متى يجب قبولها) .

(Kapan harus diterima).

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَلِوُجُوبِ قَبُولِهَا ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ:

Jika demikian, maka untuk wajib diterimanya (sesuatu itu) terdapat tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الثَّانِي عَالِمًا بِصِحَّةِ وِلَايَةِ الْأَوَّلِ، فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِصِحَّةِ وِلَايَتِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُ كِتَابِهِ.

Salah satunya: bahwa yang kedua mengetahui sahnya wilayah yang pertama. Jika ia tidak mengetahui sahnya wilayahnya, maka ia tidak wajib menerima suratnya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِصِحَّةِ أَحْكَامِهِ، وَكَمَالِ عَدَالَتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ لَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُ كِتَابِهِ.

Syarat kedua: harus mengetahui kebenaran hukum-hukumnya dan kesempurnaan keadilannya. Jika tidak mengetahuinya, maka tidak wajib baginya menerima suratnya.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَعْلَمَ صِحَّةَ كِتَابِهِ فِيمَا تَضَمَّنَهُ مِنْ أَحْكَامٍ:

Syarat ketiga: hendaknya ia mengetahui keshahihan kitabnya dalam hal yang terkandung di dalamnya berupa hukum-hukum.

(بِأَيِّ شَيْءٍ يَعْلَمُ صِحَّةَ الْكِتَابِ) .

Dengan cara apa seseorang mengetahui keabsahan sebuah kitab?

وَاخْتَلَفَ فِيمَا يَعْلَمُ بِهِ صِحَّةَ كِتَابِهِ.

Dan para ulama berbeda pendapat mengenai hal yang dengannya seseorang mengetahui keabsahan suratnya.

فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وأبو حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهُ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ بِهِ شَاهِدَانِ عَلَى مَا سَنصفهُ.

Maka mazhab Syafi‘i, Abu Hanifah, dan mayoritas fuqaha berpendapat bahwa tidak boleh bagi qadhi yang menerima surat untuk menerimanya kecuali jika ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atasnya, sebagaimana akan kami jelaskan.

وَذَهَبَ قُضَاةُ الْبَصْرَةِ: الْحَسَنُ، وَسَوَّارُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَسَنِ الْعَنْبَرِيُّ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ، وَأَبِي ثَوْرٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ وَأَبِي عُبَيْدٍ الْقَاسِمِ بْنِ سَلَامٍ وَهُوَ إِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ مَالِكٍ وَمَالَ إِلَيْهِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ، أَنَّهُ إِذَا عَرَفَ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ خَطَّ الْقَاضِي الْكَاتِبِ وَخَتْمَهُ وَاتَّصَلَتْ بِمِثْلِهِ كُتُبُهُ جَازَ أَنْ يَقْبَلَهُ، وَيَعْمَلَ بِمَا تَضَمَّنَهُ، احْتِجَاجًا بِأَمْرَيْنِ:

Para qadi Basrah, yaitu al-Hasan, Sawwar bin ‘Abdillah, ‘Ubaidullah bin al-Hasan al-‘Anbari, serta pendapat Abu Yusuf, Abu Tsaur, Ishaq bin Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, juga merupakan salah satu dari dua riwayat dari Malik, dan yang condong kepadanya dari kalangan sahabat al-Syafi‘i adalah Abu Sa‘id al-Istakhri, berpendapat bahwa apabila qadi yang menerima surat tersebut mengetahui tulisan tangan qadi penulis surat dan capnya, serta surat-surat serupa darinya telah sampai secara berkesinambungan, maka boleh baginya untuk menerimanya dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya, dengan berdalil pada dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ كُتُبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ كَانَتْ مَقْبُولَةً، يُعْمَلُ بِمَا فِيهَا مِنْ غَيْرِ شَهَادَةٍ.

Salah satunya adalah bahwa surat-surat Rasulullah ﷺ telah diterima dan diamalkan isinya tanpa memerlukan adanya kesaksian.

وَالثَّانِي: أَنَّ عُرْفَ الْحُكَّامِ بِقَبُولِهَا مُسْتَفِيضٌ، لِتَعَذُّرِ الشَّهَادَةِ بِهَا، وَسُكُونِ النَّفْسِ إِلَى صحتها.

Kedua: bahwa kebiasaan para hakim dalam menerima hal itu telah tersebar luas, karena sulitnya memberikan kesaksian atasnya, dan hati merasa tenang terhadap kebenarannya.

وَالدَّلِيلُ عَلَى فَسَادِ مَا ذَهَبُوا إِلَيْهِ مَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا ادَّعَى عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – حَقًّا غَائِبًا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” شَاهِدَاكَ، أَوْ يَمِينُهُ ” فَجَعَلَ الْحُكْمَ مَقْصُورًا عَلَى الشَّهَادَةِ دُونَ الْكِتَابِ.

Dan dalil atas rusaknya pendapat mereka adalah riwayat bahwa seorang laki-laki mengklaim suatu hak yang tidak hadir atas seorang laki-laki lain di hadapan Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Dua orang saksi atau sumpahnya.” Maka beliau membatasi hukum hanya pada kesaksian, tidak pada tulisan.

وَلِأَنَّ نَقْلَ مَا غَابَ عَنِ الْقَاضِي لَا يَثْبُتُ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ دُونَ الْخَطِّ قِيَاسًا عَلَى خُطُوطِ الشُّهُودِ إِذَا كَتَبُوا إِلَى الْقَاضِي بِشَهَادَتِهِمْ لَمْ يَحْكُمْ بِهَا كَذَلِكَ كُتُبُ الْقُضَاةِ.

Dan karena pemindahan sesuatu yang tidak diketahui oleh hakim tidak dapat dibuktikan kecuali dengan kesaksian, bukan dengan tulisan, berdasarkan qiyās terhadap tulisan para saksi; jika mereka menulis kepada hakim tentang kesaksian mereka, hakim tidak memutuskan dengannya, demikian pula surat-surat para hakim.

وَلِأَنَّ الْخُطُوطَ تَشْتَبِهُ، وَالتَّزْوِيرَ عَلَى أَمْثَالِهَا مُمْكِنٌ، فَلَمْ يَجُزْ مَعَ هَذَا الِاحْتِمَالِ أَنْ يَعْمَلَ بِهَا مَعَ إِمْكَانِ مَا هُوَ أَحْوَطُ مِنْهَا، كَمَا لَمْ يَجُزْ أَنْ تُقْبَلَ شَهَادَةُ الْأَعْمَى؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ تَشْتَبِهَ عَلَيْهِ الْأَصْوَاتُ، وَعَدَلَ عَنْهُ إِلَى شَهَادَةِ الْبَصِيرِ لِانْتِفَاءِ الِاشْتِبَاهِ عَنْهُ.

Karena tulisan-tulisan bisa mirip satu sama lain, dan pemalsuan terhadap tulisan-tulisan semacam itu memungkinkan, maka tidak boleh menggunakan tulisan tersebut dengan adanya kemungkinan seperti ini, padahal masih memungkinkan menggunakan cara yang lebih hati-hati daripadanya. Sebagaimana tidak boleh diterima kesaksian orang buta, karena mungkin saja suara-suara itu bisa tertukar baginya, maka dialihkan dari kesaksian orang buta kepada kesaksian orang yang dapat melihat, karena tidak adanya kemungkinan tertukar pada dirinya.

وَلِأَنَّ مَا أَمْكَنَ الْعَمَلُ فِيهِ بِالْأَقْوَى لَمْ يَجُزِ الْعَمَلُ فِيهِ بِالْأَضْعَفِ، كَالشَّهَادَةِ عَلَى الْعُقُودِ، لَمَّا أَمْكَنَ أَنْ تَسْمَعَ مِنَ الشَّاهِدِ لَمْ يَجُزْ أَنْ تَسْمَعَ مِنَ المخبر.

Dan karena sesuatu yang memungkinkan untuk diamalkan dengan cara yang lebih kuat, tidak boleh diamalkan dengan cara yang lebih lemah; seperti dalam kesaksian atas akad, ketika memungkinkan untuk mendengar langsung dari saksi, maka tidak boleh hanya mendengar dari orang yang memberitakan.

فأما الجواب عن كُتُبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban mengenai surat-surat Rasulullah ﷺ, maka ada dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا كَانَتْ تَرِدُ مَعَ رُسُلٍ يَشْهَدُونَ بِهَا.

Salah satunya adalah bahwa ia datang bersama para utusan yang menjadi saksi atasnya.

وَالثَّانِي: أَنَّهَا تَجْرِي مَجْرَى الْأَخْبَارِ الَّتِي يَخِفَّ حُكْمُهَا لِعُمُومِهَا فِي الْتِزَامِهَا وَالشَّهَادَةُ مَحْمُولَةٌ عَلَى الِاحْتِيَاطِ تَغْلِيظًا لِالْتِزَامِهَا.

Kedua: Bahwa hal itu berlaku seperti berita-berita yang hukumannya ringan karena sifatnya yang umum dalam kewajiban untuk mengikutinya, sedangkan persaksian dimaknai sebagai bentuk kehati-hatian untuk memperberat kewajiban dalam mengikutinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ دَعْوَى الِاسْتِفَاضَةِ فَهُوَ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْلِمٍ ثُمَّ هِيَ اسْتِفَاضَةُ فِعْلٍ مَخْصُوصٍ وَلَيْسَ باستفاضة اعتقاد عام.

Adapun jawaban terhadap klaim istifādah adalah bahwa hal itu tidak dapat diterima, kemudian yang dimaksud adalah istifādah atas suatu perbuatan tertentu, bukan istifādah atas keyakinan umum.

(فصل: صحة الكتب ولزوم الحكم بها) .

Bab: Keabsahan dokumen tertulis dan kewajiban menetapkan hukum berdasarkan dokumen tersebut.

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ كُتُبَ الْقُضَاةِ إِلَى الْقُضَاةِ لَا تُقْبَلُ بِالْخُطُوطِ حَتَّى يَشْهَدَ بِهَا عُدُولُ الشُّهُودِ فَالْكَلَامُ فِي صِحَّتِهَا وَلُزُومِ الْحُكْمِ بِهَا يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ: أَحَدُهَا: فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ الْقَاضِي مِنْ أَحْكَامِهِ. وَالثَّانِي: فِيمَنْ يُكَاتِبُهُ الْقَاضِي بِحُكْمِهِ. وَالثَّالِثُ: فِيمَا يَجِبُ بِهِ قَبُولُ كُتُبِهِ. وَالرَّابِعُ: فِيمَا يُمْضِيهِ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ حُكْمِهِ.

Jika telah tetap bahwa surat-menyurat antar qadi tidak dapat diterima hanya dengan tulisan tangan hingga disaksikan oleh para saksi yang adil, maka pembahasan tentang keabsahan dan kewajiban menetapkan hukum berdasarkannya mencakup empat bagian: Pertama, mengenai apa yang ditulis oleh qadi dari putusannya; kedua, kepada siapa qadi mengirimkan putusannya; ketiga, tentang syarat-syarat diterimanya surat tersebut; dan keempat, mengenai apa yang harus dijalankan oleh qadi yang menerima surat tersebut dari putusan qadi lain.

(مَا يَكْتُبُ بِهِ الْقَاضِي مِنْ أَحْكَامِهِ) .

Apa yang ditulis oleh qadhi dari putusan-putusan hukumnya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ: فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ الْقَاضِي مِنْ أَحْكَامِهِ فَأَحْكَامُهُ تَنْقَسِمُ أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا: أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى حَاضِرٍ بِحَقٍّ حَاضِرٍ. وَالثَّانِي: أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى حَاضِرٍ بحق غائب. وَالثَّالِثُ: أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى غَائِبٍ بِحَقٍّ غَائِبٍ. وَالرَّابِعُ: أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى غَائِبٍ بِحَقٍّ حَاضِرٍ.

Adapun bagian pertama: tentang apa yang ditulis oleh qadhi dari putusannya, maka putusannya terbagi menjadi empat bagian: Pertama, qadhi memutuskan untuk orang yang hadir atas orang yang hadir dengan hak yang hadir. Kedua, qadhi memutuskan untuk orang yang hadir atas orang yang hadir dengan hak yang tidak hadir. Ketiga, qadhi memutuskan untuk orang yang hadir atas orang yang tidak hadir dengan hak yang tidak hadir. Keempat, qadhi memutuskan untuk orang yang hadir atas orang yang tidak hadir dengan hak yang hadir.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى حَاضِرٍ بِحَقٍّ حَاضِرٍ فَالْحَقُّ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian pertama, yaitu seorang hakim memutuskan perkara antara dua pihak yang hadir mengenai hak yang juga hadir, maka hak tersebut terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ عَيْنًا حَاضِرَةً فَيَحْكُمُ الْقَاضِي بِهَا لِمَنِ اسْتَحَقَّهَا إِمَّا بِإِقْرَارٍ، أَوْ بِبَيِّنَةٍ، وَيَنْتَزِعُهَا مِنْ يَدِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ وَيُسَلِّمُهَا إِلَى الْمَحْكُومِ لَهُ وَلَا يَجُوزُ فِي مِثْلِ هَذَا أَنْ يَكْتُبَ بِهِ الْقَاضِي إِلَى غَيْرِهِ سَوَاءٌ أَقَامَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ أَوْ هَرَبَ.

Salah satunya: apabila berupa barang tertentu yang ada, maka hakim memutuskan perkara tersebut untuk siapa yang berhak atasnya, baik melalui pengakuan maupun bukti, lalu mengambil barang itu dari tangan pihak yang diputuskan kalah dan menyerahkannya kepada pihak yang diputuskan menang. Dalam kasus seperti ini, tidak boleh bagi hakim untuk menulis surat keputusan kepada hakim lain, baik pihak yang diputuskan kalah hadir maupun melarikan diri.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ فِي بَدَنِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ مُقِيمًا بَعْدَ الْحُكْمِ اسْتَوْفَاهُ مِنْهُ وَلَمْ يَكْتُبْ بِهِ الْقَاضِي إِلَى غَيْرِهِ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila hak tersebut berada pada badan orang yang dijatuhi putusan, maka jika ia masih berada di tempat setelah putusan dijatuhkan, hak itu diambil darinya dan hakim tidak menuliskan perkara tersebut kepada hakim lain.

فَإِنْ هَرَبَ بَعْدَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ وَقَبْلَ اسْتِيفَائِهِ مِنْهُ جَازَ لِلْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْهَارِبُ بِمَا حَكَمَ عَلَيْهِ، مِنْ قِصَاصٍ أَوْ حَدٍّ لِيَسْتَوْفِيَهُ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ، وَهَذَا حُكْمٌ عَلَى حَاضِرٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ بِهِ مَنْ لَا يَرَى الْحُكْمَ عَلَى غَائِبٍ.

Jika seseorang melarikan diri setelah dijatuhi hukuman dan sebelum hukuman itu dilaksanakan atas dirinya, maka diperbolehkan bagi qadhi untuk menulis surat kepada qadhi di negeri tempat orang yang melarikan diri itu berada, berisi keputusan hukuman yang telah dijatuhkan kepadanya, baik berupa qishash maupun hudud, agar qadhi yang menerima surat tersebut dapat melaksanakan hukuman itu. Ini adalah keputusan atas orang yang hadir, sehingga diperbolehkan bagi orang yang tidak membolehkan menjatuhkan keputusan atas orang yang ghaib untuk menulis surat tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ فِي ذِمَّةِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ مِنَ الْأَمْوَالِ الثَّابِتَةِ فِي الذِّمَمِ.

Jenis yang ketiga: yaitu apabila hak tersebut berupa kewajiban pada tanggungan pihak yang diputuskan atasnya, berupa harta yang tetap menjadi tanggungan.

فَإِنْ كَانَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ مُقِيمًا اسْتَوْفَاهُ الْقَاضِي مِنْهُ لِمُسْتَحِقِّهِ وَلَمْ يَكْتُبْ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ.

Jika pihak yang dijatuhi putusan itu adalah seorang yang tinggal menetap, maka qāḍī mengambil hak tersebut darinya untuk diberikan kepada yang berhak, dan tidak menuliskannya kepada pihak lain.

وَإِنْ هَرَبَ قَبْلَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ اسْتَوْفَاهُ مِنْ مَالِهِ، وَلَمْ يَكْتُبْ بِهِ إِلَى قَاضٍ غَيْرِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ جَازَ أَنْ يَكْتُبَ بِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ الْحَقِّ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي هَرَبَ إِلَيْهِ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ، لِيَسْتَوْفِيَهُ وَهُوَ قَضَاءٌ عَلَى حَاضِرٍ وَلَيْسَ بِقَضَاءٍ عَلَى غَائِبٍ.

Jika seseorang melarikan diri sebelum hak tersebut dipenuhi darinya, maka jika ia memiliki harta yang ada, hak itu diambil dari hartanya, dan tidak perlu menulis surat kepada qadi lain. Namun jika ia tidak memiliki harta yang ada, maka boleh menulis surat tentang hak yang telah ditetapkan kepada qadi di negeri tempat orang yang dijatuhi putusan itu melarikan diri, agar qadi tersebut dapat memenuhinya. Ini merupakan keputusan terhadap orang yang hadir, bukan keputusan terhadap orang yang ghaib.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى حَاضِرٍ بِحَقٍّ غَائِبٍ فَهَذَا يَكُونُ فِي الْأَعْيَانِ دُونَ الذِّمَمِ وَهَذَا مِمَّا يَكْتُبُ بِمِثْلِهِ الْقُضَاةُ.

Adapun bagian kedua, yaitu seorang hakim memutuskan perkara antara dua pihak yang hadir mengenai hak milik seseorang yang tidak hadir, maka hal ini berlaku pada benda-benda nyata, bukan pada tanggungan (utang atau kewajiban), dan inilah yang biasa dicatat oleh para qādī (hakim) dengan ketentuan serupa.

وَثُبُوتُ اسْتِحْقَاقِهِ قَدْ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Dan penetapan hak kepemilikannya bisa terjadi melalui salah satu dari tiga cara:

أَحَدُهَا: أَنْ يُقِرَّ بِهِ الْمَطْلُوبُ.

Salah satunya: yaitu pihak yang diminta mengakui hal tersebut.

وَالثَّانِي: أَنْ يَثْبُتَ بِيَمِينِ الطَّالِبِ بَعْدَ نُكُولِ الْمَطْلُوبِ.

Yang kedua: dapat ditetapkan dengan sumpah dari pihak penuntut setelah pihak yang dituntut menolak bersumpah.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ بِبَيِّنَةٍ شَهِدَتْ بِهِ لِلطَّالِبِ عَلَى الْمَطْلُوبِ.

Ketiga: yaitu dengan adanya bukti yang memberikan kesaksian atas hal tersebut untuk pihak penuntut terhadap pihak yang dituntut.

فَإِنْ ثَبَتَ الِاسْتِحْقَاقُ بِإِقْرَارِ الْمَطْلُوبِ كَانَ الْقَاضِي فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ مِنْ حُكْمِهِ مُخَيَّرًا بَيْنَ أَنْ يَذْكُرَ ثُبُوتَ اسْتِحْقَاقِهِ بِإِقْرَارِهِ أَوْ لَا يَذْكُرَ؛ لِأَنَّ الْمُقِرَّ لَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً بِاسْتِحْقَاقِهِ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ.

Jika hak kepemilikan telah terbukti melalui pengakuan pihak yang diminta, maka hakim dalam putusan yang ditulisnya boleh memilih antara menyebutkan bahwa hak kepemilikan itu terbukti melalui pengakuan, atau tidak menyebutkannya; karena jika orang yang mengakui itu mendatangkan bukti atas hak kepemilikannya, maka bukti tersebut tidak diterima darinya.

وَإِنْ ثَبَتَ الِاسْتِحْقَاقُ بِيَمِينِ الطَّالِبِ بَعْدَ نُكُولِ الْمَطْلُوبِ لَزِمَ الْقَاضِي فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ مِنْ حُكْمِهِ أَنْ يَذْكُرَ ثُبُوتَ ذَلِكَ عِنْدَهُ بِيَمِينِ الطَّالِبِ بَعْدَ نُكُولِ الْمَطْلُوبِ؛ لِأَنَّ الْمَطْلُوبَ لَوْ أَقَامَ بَيِّنَةً قُبِلَتَ مِنْهُ.

Jika hak telah terbukti dengan sumpah pihak penuntut setelah pihak yang diminta bersumpah menolak, maka wajib bagi hakim dalam putusan yang ditulisnya untuk menyebutkan bahwa hal itu telah terbukti di hadapannya dengan sumpah pihak penuntut setelah penolakan sumpah oleh pihak yang diminta; karena jika pihak yang diminta mendatangkan bukti, maka bukti tersebut diterima darinya.

وَإِنْ ثَبَتَ الِاسْتِحْقَاقُ بِبَيِّنَةٍ شَهِدَتْ بِهِ عَلَى الْمَطْلُوبِ فَفِي وُجُوبِ ذِكْرِهَا فِي كِتَابِ الْقَاضِي وَجْهَانِ:

Jika hak kepemilikan telah terbukti dengan adanya bayyinah yang memberikan kesaksian atas hal tersebut terhadap pihak yang diminta, maka dalam hal kewajiban menyebutkan bayyinah tersebut dalam surat keputusan qadhi terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَلْزَمُهُ ذِكْرُ الْبَيِّنَةِ، وَيَكُونُ فِيهِ مُخَيَّرًا، كَالْإِقْرَارِ.

Salah satunya: tidak wajib baginya untuk menyebutkan bukti, dan dalam hal ini ia diberi pilihan, seperti dalam pengakuan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَلْزَمُهُ ذِكْرُ الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يُعَارِضَهَا الْمَطْلُوبُ بِبَيِّنَةٍ أُخْرَى فَيَكُونُ بِيَدِهِ وَبِبَيِّنَتِهِ أَحَقَّ مِنْ بَيِّنَةٍ بِغَيْرِ يَدٍ.

Adapun sisi yang kedua: ia wajib menyebutkan hukum berdasarkan bayyinah, karena bisa jadi pihak yang dituntut mengajukan bayyinah lain yang dapat menandinginya, sehingga yang memegang barang dan memiliki bayyinah lebih berhak daripada bayyinah tanpa disertai kepemilikan.

وَالْقَاضِي بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُسَمِّيَ شُهُودَ الْبَيِّنَةِ أَوْ لَا يُسَمِّيَهُمْ إِذَا وَصَفَهُمْ بِالْعَدَالَةِ.

Hakim memiliki pilihan antara menyebutkan nama para saksi bukti atau tidak menyebutkan mereka, jika ia telah menyifati mereka dengan keadilan.

فَإِنْ لَمْ يَصِفْهُمْ بِهَا فَهَلْ يَكُونُ الْحُكْمُ بِهِمْ تَعْدِيلًا أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ia tidak menyifati mereka dengannya, maka apakah penetapan hukum terhadap mereka dianggap sebagai ta‘dīl atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ ذِكْرَهُ لِلْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ تَعْدِيلٌ يُغْنِي عَنْ ذِكْرِ عَدَالَتِهِمْ.

Salah satunya: Sesungguhnya penyebutan hukum berdasarkan kesaksian mereka merupakan bentuk pensucian (ta‘dīl) yang sudah mencukupi tanpa perlu menyebutkan keadilan mereka.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَصِفَهُمْ بِالْعَدَالَةِ وَبِمَا يَجُوزُ بِهِ قَبُولُ الشَّهَادَةِ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ حُكْمٌ بِظَاهِرِ التَّوَسُّمِ وَالسَّمْتِ.

Pendapat kedua: Bahwa haruslah ia menyifati mereka dengan keadilan dan dengan sifat-sifat yang dengannya kesaksian dapat diterima, karena mungkin saja terdapat suatu hukum berdasarkan penilaian lahiriah dan penampilan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ أَنْ يَحْكُمَ لِحَاضِرٍ عَلَى غَائِبٍ بِحَقٍّ غَائِبٍ.

Adapun bagian ketiga adalah ketika seorang hakim memutuskan untuk orang yang hadir terhadap orang yang tidak hadir dalam perkara hak milik orang yang tidak hadir.

فَإِنْ كَانَ الْغَائِبُ وَقْتَ الْحُكْمِ حَاضِرًا ثُمَّ غَابَ فَهُوَ حُكْمٌ عَلَى حَاضِرٍ لِحَاضِرٍ.

Jika orang yang tidak hadir pada saat putusan itu sebelumnya hadir, kemudian ia pergi, maka itu adalah putusan terhadap orang yang hadir untuk orang yang hadir.

وَإِنْ كَانَ غَائِبًا عِنْدَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ نَفَذَ حُكْمَهُ إِنْ كَانَ يَرَى جَوَازَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ وَلَمْ يَنْفُذْ إِنْ لَمْ يَرَهُ.

Dan jika orang yang dijatuhi putusan itu sedang tidak hadir saat putusan dijatuhkan, maka putusannya tetap berlaku jika ia (hakim) berpendapat bolehnya memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir, dan tidak berlaku jika ia tidak berpendapat demikian.

فَإِنْ كَتَبَ وَهُوَ لَا يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْغَائِبِ وَلَمْ يَذْكُرِ الْحُكْمَ بِهَا نُظِرَ فَإِنْ ذَكَرَ الشَّهَادَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ ثُبُوتَ الْحَقِّ بِالشَّهَادَةِ جَازَ أَنْ يَكْتُبَ بِذَلِكَ وَيَكُونُ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ هُوَ الْحَاكِمُ بِهَا وَيَكُونُ كِتَابُ الْقَاضِي كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Jika seorang hakim menulis (surat keputusan) sementara ia tidak berpendapat bahwa boleh memutuskan perkara terhadap pihak yang tidak hadir hanya dengan mendengarkan kesaksian atas pihak yang tidak hadir, dan ia tidak menyebutkan keputusan hukumnya, maka hal ini perlu diteliti. Jika ia hanya menyebutkan kesaksian dan tidak menyebutkan penetapan hak berdasarkan kesaksian tersebut, maka boleh baginya menulis demikian, dan hakim yang menerima surat itulah yang memutuskan perkara berdasarkan hal itu. Surat hakim tersebut diperlakukan seperti kesaksian atas kesaksian.

وَإِنْ ذَكَرَ ثُبُوتَ ذَلِكَ عِنْدَهُ بِالشَّهَادَةِ فَفِي كَوْنِ الثُّبُوتِ حُكْمًا وَجْهَانِ:

Dan jika ia menyebutkan bahwa hal itu telah tetap menurutnya berdasarkan kesaksian, maka dalam hal penetapan tersebut sebagai hukum terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَالَهُ أَبُو حَامِدٍ الإسفرايني: يَكُونُ حُكْمًا، فَعَلَى هَذَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ بِهِ.

Salah satunya: Abu Hamid al-Isfara’ini berkata, “Itu dianggap sebagai hukum, maka berdasarkan hal ini tidak boleh menuliskannya.”

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ عِنْدِي، أَنَّهُ لَا يَكُونُ حُكْمًا؛ لِأَنَّ الْحُكْمَ هُوَ الْإِلْزَامُ وَلَيْسَ فِي الثُّبُوتِ إِلْزَامٌ، وَهُوَ فِي ثبوت الحق كالإقرار.

Pendapat kedua, dan inilah yang menurutku lebih benar, adalah bahwa hal itu bukanlah hukum; karena hukum adalah suatu bentuk keharusan, sedangkan dalam penetapan (tsubut) tidak terdapat keharusan, dan dalam penetapan hak, hal itu seperti pengakuan.

(أقسام الحق المحكوم به) .

(Bagian-bagian hak yang diputuskan oleh hakim).

فَإِذَا نُفِّذَ كِتَابُ الْقَاضِي بِذَلِكَ عَلَى مَا فَصَّلْنَاهُ فَالْحَقُّ الْمَحْكُومُ بِهِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Maka apabila surat keputusan hakim telah dilaksanakan sebagaimana yang telah kami jelaskan, maka hak yang telah diputuskan itu terbagi menjadi empat jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ فِي ذِمَّةِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ.

Salah satunya: bahwa hak tersebut berada dalam tanggungan pihak yang dijatuhi putusan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ فِي بَدَنِهِ.

Kedua: yaitu apabila najis itu berada pada badannya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ عَيْنًا مَنْقُولَةً فِي يَدِهِ.

Ketiga: yaitu berupa barang bergerak yang ada di tangannya.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ عَيْنًا مَنْقُولَةً فِي بَلَدِهِ.

Keempat: hendaknya berupa barang tertentu yang dapat dipindahkan di negerinya.

فَأَمَّا الضَّرْبُ الْأَوَّلُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ فِي ذِمَّتِهِ: فَيَسْتَوْفِي مِنْهُ إِنْ أَيْسَرَ، وَيَنْظُرُ بِهِ إِنْ أَعْسَرَ.

Adapun jenis yang pertama, yaitu apabila hak itu berada dalam tanggungannya, maka hak tersebut dapat diambil darinya jika ia mampu, dan diberi tenggang waktu jika ia dalam kesulitan.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ عَلَى بَدَنِهِ، فَإِنْ كَانَ لِآدَمِيٍّ كَالْقِصَاصِ وَحَدِّ الْقَذْفِ اسْتَوْفَاهُ الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ.

Adapun jenis yang kedua, yaitu apabila hak itu berkaitan dengan badannya, maka jika hak tersebut milik sesama manusia seperti qishāsh dan had qazaf, maka yang melaksanakannya adalah orang yang dituju dalam surat tersebut.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ لَا يَجُوزُ أَنْ تُسْتَوْفَى حُدُودُ الْأَبْدَانِ بِكُتُبِ الْقُضَاةِ وَإِنْ كَانَتْ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ لِتَغْلِيظِهَا.

Abu Hanifah berkata, tidak boleh pelaksanaan hudud yang berkaitan dengan badan dilakukan hanya berdasarkan surat keputusan para qadhi, meskipun termasuk hak-hak manusia, karena beratnya hukuman tersebut.

وَهَذَا فَاسِدٌ. مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ini tidak benar, dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا لَمَّا لَمْ تَسْقُطْ بِالشُّبْهَةِ صَارَتْ كَالْأَمْوَالِ.

Pertama: Karena hukuman tersebut tidak gugur karena adanya syubhat, maka hukuman itu menjadi seperti harta benda.

وَالثَّانِي: أَنَّهَا لَمَّا جَازَتْ فِيهَا الشَّهَادَةُ عَلَى الشَّهَادَةِ حُكِمَ فِيهَا بِكُتُبِ الْقُضَاةِ.

Kedua: Karena dalam perkara ini dibolehkan kesaksian atas kesaksian, maka diputuskan di dalamnya dengan surat-surat para qāḍī.

فَأَمَّا مَا كَانَ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى كَحَدِّ الزِّنَا فَفِي جَوَازِ اسْتِيفَائِهِ بِكِتَابٍ إِلَى الْقَاضِي قَوْلَانِ، لِجَوَازِ اسْتِيفَائِهِ بِالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ:

Adapun hak-hak Allah Ta‘ala, seperti hudud zina, terdapat dua pendapat mengenai kebolehan pelaksanaannya berdasarkan surat kepada qadhi, karena dibolehkannya pelaksanaan dengan kesaksian atas kesaksian.

أَحَدُهُمَا: يُسْتَوْفَى كَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Salah satunya: dipenuhi seperti hak-hak manusia.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: لَا يُسْتَوْفَى؛ لِأَنَّ حُقُوقَ اللَّهِ تَعَالَى تُدْرَأُ بِالشُّبُهَاتِ.

Pendapat kedua: tidak dilaksanakan, karena hak-hak Allah Ta‘ala digugurkan dengan adanya syubhat.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ عَيْنًا فِي يَدِهِ غَيْرَ مَنْقُولَةٍ كَالضِّيَاعِ وَالْعَقَارِ فَالْحُكْمُ عَلَى الْغَائِبِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ.

Jenis yang ketiga adalah apabila hak itu berupa barang tertentu yang ada di tangannya dan tidak dapat dipindahkan, seperti tanah dan bangunan, maka keputusan terhadap orang yang tidak hadir hanya dapat dilakukan dengan bukti yang jelas (bayyinah).

فَإِنْ ثَبَتَ عِنْدَهُ عَدَالَةُ شُهُودِهَا حَكَمَ بِثُبُوتِهَا، وَجَازَ أَنْ يَكْتُبَ بِهَا إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ الْمُسْتَحَقُّ، دُونَ قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ.

Jika telah tetap di sisinya keadilan para saksinya, maka ia memutuskan dengan menetapkan hak tersebut, dan boleh baginya untuk menulis (putusan) itu kepada qadhi di negeri tempat harta yang menjadi hak itu berada, bukan kepada qadhi di negeri tempat orang yang diputuskan atasnya berada jika ia berada di negeri lain.

وَإِنْ لَمْ تَثْبُتْ عِنْدَهُ عَدَالَةُ الشُّهُودِ وَهُمْ غُرَبَاءُ وَذَكَرَ الطَّالِبُ أَنَّ لَهُ بَيِّنَةً بِتَزْكِيَتِهِمْ بِقِيَمِهَا عِنْدَ قاضي بلدهم فللشهود ثلاثة أَحْوَالٍ:

Jika keadilan para saksi belum terbukti di hadapannya, sedangkan mereka adalah orang-orang asing, dan pihak yang menuntut menyebutkan bahwa ia memiliki bukti berupa tazkiyah (rekomendasi) atas mereka yang telah dinilai oleh qadhi di negeri mereka, maka para saksi tersebut memiliki tiga keadaan:

إِحداهَا: أَنْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ وَهُمْ عَلَى الْعَوْدِ إِلَيْهِ، فَلَا تُسْمَعُ شَهَادَتُهُمْ وَإِنْ سَمِعَهَا لَمْ يَكْتُبْ بِهَا، وَقَالَ لِلطَّالِبِ اذْهَبْ مَعَ شُهُودِكَ إِلَى قَاضِي بَلَدِهِمْ وَبَلَدِ مَالِكٍ لِيَشْهَدُوا عِنْدَهُ بِمَا شَهِدُوا بِهِ عِنْدِي، فَإِنَّ كُتُبَ الْقَضَاءِ مُخْتَصَّةٌ بما لا يُمْكِنُ ثُبُوتُهُ بِغَيْرِهَا، وَثُبُوتُ هَذَا بِالشَّهَادَةِ مُمْكِنٌ، فَلَمْ يَحْكُمْ فِيهِ بِالْمُكَاتَبَةِ، كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، لَا يَحْكُمُ بِهَا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى شُهُودِ الْأَصْلِ.

Salah satunya: jika mereka berasal dari penduduk negeri tempat harta itu berada dan mereka mampu kembali ke sana, maka kesaksian mereka tidak diterima. Jika kesaksian itu didengar, maka hakim tidak menuliskannya, dan ia berkata kepada pihak yang meminta: “Pergilah bersama para saksi ke hakim di negeri mereka dan negeri pemilik harta agar mereka memberikan kesaksian di hadapannya sebagaimana mereka telah bersaksi di hadapanku.” Sebab, surat keputusan pengadilan hanya dikhususkan untuk perkara yang tidak mungkin dapat dibuktikan kecuali dengannya, sedangkan perkara ini dapat dibuktikan dengan kesaksian, maka tidak diputuskan dengan surat menyurat, seperti halnya kesaksian atas kesaksian; tidak diputuskan dengannya jika masih memungkinkan menghadirkan saksi asal.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الشُّهُودُ مِنَ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ، وَلَا يُرِيدُونَ الْعَوْدَ إِلَيْهِ، وَالْبَيِّنَةُ بِتَعْدِيلِهِمْ فِيهِ، فَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ الْقَاضِي بِشَهَادَتِهِمْ عِنْدَهُ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ بِمَا شَهِدُوا بِهِ، لِيَكْشِفَ عَنْ عَدَالَتِهِمْ، فَإِذَا صَحَّتْ عِنْدَهُ حَكَمَ بِشَهَادَتِهِمْ، فَيَصِيرُ التَّعْدِيلُ وَالْحُكْمُ مُخْتَصًّا بِالْقَاضِي الْمَكْتُوبِ إِلَيْهِ، وَيَكُونُ كِتَابُ الْقَاضِي الْأَوَّلِ مَقْصُورًا عَلَى نَقْلِ الشَّهَادَةِ، وَلَا وَجْهَ لِمُكَاتَبَةِ الثَّانِي الْأَوَّلَ بِالتَّعْدِيلِ لِيَتَوَلَّى الْأَوَّلُ الْحُكْمَ؛ لِأَنَّ الثَّانِيَ قَادِرٌ عَلَى تَنْفِيذِ الْحُكْمِ فَلَمْ يَحْتَجْ فِيهِ إِلَى الْأَوَّلِ.

Keadaan kedua: Jika para saksi berasal dari negeri tempat harta itu berada, dan mereka tidak berniat kembali ke sana, serta bukti keadilan mereka ada di negeri tersebut, maka boleh bagi qadhi untuk menuliskan kesaksian mereka di hadapannya kepada qadhi di negeri tempat harta itu berada, sesuai dengan apa yang mereka saksikan, agar qadhi tersebut dapat meneliti keadilan mereka. Jika keadilan mereka telah terbukti di hadapannya, maka ia memutuskan perkara berdasarkan kesaksian mereka. Dengan demikian, penetapan keadilan dan keputusan hukum menjadi wewenang qadhi yang menerima surat tersebut, sedangkan surat dari qadhi pertama hanya terbatas pada pemindahan kesaksian saja. Tidak ada alasan bagi qadhi kedua untuk menulis kepada qadhi pertama tentang penetapan keadilan agar qadhi pertama yang memutuskan perkara, karena qadhi kedua mampu melaksanakan keputusan hukum, sehingga tidak membutuhkan qadhi pertama dalam hal ini.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ الشُّهُودُ مِنْ غَيْرِ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ، فَيَجُوزُ لِلْقَاضِي بَعْدَ سَمَاعِ شَهَادَتِهِمْ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى قَاضِي بَلَدِهِمْ، وَيَسْأَلَهُ عَنْ عَدَالَتِهِمْ، فَإِنْ عَرَفَهَا كَتَبَ بِهَا إِلَى الْقَاضِي الْأَوَّلِ، لِيَتَوَلَّى الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمْ، وَيَكُونُ الثَّانِي حَاكِمًا بِعَدَالَتِهِمْ.

Keadaan ketiga: apabila para saksi berasal dari luar negeri tempat kepemilikan itu berada, maka diperbolehkan bagi hakim, setelah mendengar kesaksian mereka, untuk menulis surat kepada hakim di negeri mereka dan menanyakan tentang keadilan mereka. Jika hakim tersebut telah mengetahui keadilan mereka, ia menuliskannya kepada hakim pertama agar ia dapat memutuskan perkara berdasarkan kesaksian mereka, dan hakim kedua berperan sebagai penetap keadilan mereka.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَ كِتَابَ الثَّانِي إِلَّا بِشَهَادَةٍ، لِأَنَّ كِتَابَ الْأَوَّلِ اسْتِخْبَارٌ، وَكِتَابُ الثَّانِي حُكْمٌ.

Dan tidak boleh menerima surat yang kedua kecuali dengan adanya kesaksian, karena surat yang pertama merupakan permintaan informasi, sedangkan surat yang kedua adalah keputusan hukum.

وَأَمَّا الضَّرْبُ الرَّابِعُ: وَهُوَ أَنْ يَكُونَ عَيْنًا مَنْقُولَةً فِي يَدِ الْمَطْلُوبِ، كَالْعَبْدِ وَالدَّابَّةِ وَالثَّوْبِ.

Adapun jenis keempat: yaitu berupa barang tertentu yang berpindah tangan dan berada di tangan pihak yang diminta, seperti budak, hewan tunggangan, dan pakaian.

فَإِذَا أَحْضَرَ الطَّالِبُ الْبَيِّنَةَ بَعْدَ ادِّعَائِهِ فِي يَدِ الْمَطْلُوبِ بِغَصْبٍ أَوْ عَارِيَةٍ وَحَلَّاهُ الشُّهُودُ بِحِلْيَتِهِ وَنَعَتُوهُ بِاسْمِهِ وَجِنْسِهِ وَصِفَتِهِ فَفِي الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ عَلَى مَا يَنْقُلُ مِنَ الْأَعْيَانِ الْغَائِبَةِ قَوْلَانِ:

Apabila penggugat menghadirkan bukti setelah ia mengajukan klaim bahwa barang tersebut berada di tangan tergugat karena digasb (dirampas) atau dipinjamkan, lalu para saksi menyebutkan ciri-ciri barang tersebut, menamainya, menyebut jenis dan sifatnya, maka dalam hal memutuskan perkara berdasarkan kesaksian mereka terhadap barang-barang yang tidak hadir secara fisik, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَلَيْهِ وَحَكَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ، وَمُحَمَّدٍ، وَاخْتَارَهُ الْمُزَنِيُّ، أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الْحُكْمُ بِهَا فِيمَا يُنْقَلُ مِنَ الْأَعْيَانِ الْغَائِبَةِ حَتَّى يُشِيرَ الشُّهُودُ إِلَيْهَا بِالتَّعْيِينِ.

Salah satunya, yaitu pendapat yang dinyatakan secara tegas dan dinukil oleh asy-Syafi‘i dari Abu Hanifah dan Muhammad, serta dipilih oleh al-Muzani, bahwa tidak boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian atas benda-benda yang tidak hadir kecuali para saksi menunjukkan secara spesifik kepada benda tersebut.

وَهَذَا أَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ، وَهُوَ الْمَعْمُولُ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّ الصِّفَاتِ تَتَشَابَهُ، وَالْحِلَى تَتَمَاثَلُ، فَلَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا مَعَ الِاحْتِمَالِ حَتَّى يَزُولَ بِالتَّعْيِينِ وَيَكُونُ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى الْأَعْيَانِ الْغَائِبَةِ مَقْصُورًا عَلَى مَا لَا يُنْقَلُ لِتَعْيِينِهِ بِحُدُودِهِ وَمَوْضِعِهِ دُونَ مَا يُنْقَلُ لِلْإِشْكَالِ فِيهِ.

Ini adalah pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat, dan inilah yang dijadikan pegangan; karena sifat-sifat bisa serupa, dan perhiasan bisa sama, maka tidak boleh menetapkan hukum dengannya selama masih ada kemungkinan, hingga hilang dengan penentuan secara pasti. Penetapan hukum dengan kesaksian atas benda-benda yang tidak hadir dibatasi hanya pada apa yang tidak dapat dipindahkan karena telah ditentukan dengan batas-batas dan tempatnya, tidak pada apa yang dapat dipindahkan karena adanya kerancuan di dalamnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَحَكَاهُ الشَّافِعِيُّ، عَنْ غَيْرِهِ، وَأَضَافَهُ كَثِيرٌ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَيْهِ، أَنَّهُ يَجُوزُ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى الْأَعْيَانِ الْغَائِبَةِ، وَإِنْ كَانَتْ مَنْقُولَةً كمل يَجُوزُ الْحُكْمُ بِهَا فِي غَيْرِ الْمَنْقُولَةِ، لِمَا يَجِبُ مِنْ حِفْظِ الْحُقُوقِ عَلَى أَهْلِهَا.

Pendapat kedua, yang dinukil oleh asy-Syafi‘i dari selainnya, dan banyak dari kalangan ulama kami yang menisbatkannya kepadanya, adalah bahwa boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian atas benda-benda yang tidak hadir, meskipun benda tersebut merupakan benda bergerak, sebagaimana boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian tersebut pada benda tidak bergerak, karena kewajiban menjaga hak-hak agar tetap pada pemiliknya.

وَخَرَّجَ ابْنُ سُرَيْجٍ مِنْ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ وَجْهًا ثَالِثًا، فَقَالَ: إِنْ كَانَ هَذَا الْعَبْدُ الْمُدَّعِي فِي عَيْنِهِ يَخْتَصُّ بِوَصْفٍ يَنْدُرُ وَجُودُهُ فِي غَيْرِهِ كَشَامَةٍ فِي مَوْضِعٍ مِنْ جَسَدِهِ أَوْ إِصْبَعٍ زَائِدَةٍ فِي مَوْضِعٍ مِنْ يَدِهِ أَوْ كَانَ مَشْهُورًا مِنْ عَبِيدِ السُّلْطَانِ لَا يَشْرَكُهُ غَيْرُهُ فِي اسْمِهِ وَمَنْزِلَتِهِ وَصِفَتِهِ، جَازَ الْحُكْمُ بِشَهَادَتِهِمْ مَعَ غَيْبَتِهِ، وَإِنْ شَابَهَ عُمُومَ النَّاسِ فِي صِفَتِهِ وَنَعْتِهِ لَمْ يُحْكَمْ فِيهِ بِالشَّهَادَةِ إِلَّا مَعَ التَّعْيِينِ وَالْإِشَارَةِ، وَأَجْرَى ذَلِكَ مَجْرَى الْأَنْسَابِ فِيمَنْ غَابَ، إِذَا رُفِعَتْ، حَتَّى تَرَاخَتْ وَزَالَ الِاشْتِرَاكُ فِيهَا حُكِمَ فِيهَا بِالشَّهَادَةِ وَإِنْ قَرُبَتْ حَتَّى اشْتَبَهَ الِاشْتِرَاكُ فِيهَا، لَمْ يُحْكَمْ بِالشَّهَادَةِ إِلَّا مَعَ التَّعْيِينِ.

Ibnu Surayj mengeluarkan pendapat ketiga dari dua pendapat tersebut, ia berkata: Jika budak yang diklaim pada zatnya itu memiliki ciri khusus yang jarang ditemukan pada selainnya, seperti tanda lahir di suatu bagian tubuhnya atau jari tambahan di salah satu tangannya, atau ia terkenal sebagai salah satu budak penguasa yang tidak ada orang lain yang menyamai namanya, kedudukannya, dan sifatnya, maka boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian mereka meskipun ia tidak hadir. Namun jika ia serupa dengan kebanyakan orang dalam sifat dan cirinya, maka tidak boleh diputuskan hukum berdasarkan kesaksian kecuali dengan penunjukan dan isyarat yang jelas. Hal ini diperlakukan seperti nasab bagi orang yang tidak hadir; jika nasab itu telah jauh dan tidak ada lagi kesamaan di dalamnya, maka boleh diputuskan hukum berdasarkan kesaksian, tetapi jika nasab itu masih dekat sehingga masih ada kemungkinan kesamaan, maka tidak boleh diputuskan hukum berdasarkan kesaksian kecuali dengan penunjukan yang jelas.

وَلِهَذَا التَّخْرِيجِ وَجْهٌ، لَكِنَّهُ نَادِرٌ، وَإِطْلَاقُ الْقَوْلِ يَكُونُ عَلَى الْأَعَمِّ الْأَغْلَبِ.

Dan untuk takhrij ini ada sisi (pendapat), namun itu jarang terjadi, dan pernyataan secara mutlak berlaku pada yang paling umum dan dominan.

فَإِذَا قِيلَ بِالْقَوْلِ الْأَوَّلِ إِنَّ الْحُكْمَ بِهَا لَا يَجُوزُ إِلَّا مَعَ التَّعْيِينِ، فَفِي جَوَازِ سَمَاعِهَا وَالْمُكَاتَبَةِ بِهَا قَوْلَانِ:

Jika dikatakan menurut pendapat pertama bahwa menetapkan hukum dengannya tidak boleh kecuali dengan penunjukan secara spesifik, maka dalam hal kebolehan mendengarkan dan menuliskannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَسْمَعُ الْقَاضِي الشَّهَادَةَ بِهَا؛ لِأَنَّهَا تُرَادُ لِلْحُكْمِ، فَإِذَا لَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا حُكْمٌ لَمْ تُسْمَعْ ذَكَرَهُ فِي أَدَبِ الْقَاضِي.

Salah satunya: Hakim tidak mendengarkan kesaksian tentangnya, karena kesaksian itu dimaksudkan untuk menetapkan hukum. Maka jika tidak ada hukum yang terkait dengannya, kesaksian itu tidak didengarkan. Hal ini disebutkan dalam Adab al-Qadhi.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: نُصَّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الدَّعْوَى: يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَ الْقَاضِي الشَّهَادَةَ بِهَا وَيَكْتُبَ بِهِ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْعَبْدُ الْمَطْلُوبُ، فَإِذَا وَصَلَ الْكِتَابُ إِلَيْهِ، لَمْ يَحْكُمْ بِالْعَبْدِ إِلَّا أَنْ يُعَيِّنَهُ الشُّهُودُ.

Pendapat kedua: Ditegaskan dalam Kitab ad-Da‘wā bahwa diperbolehkan bagi qadhi untuk mendengarkan kesaksian tentangnya dan menuliskannya kepada qadhi di negeri tempat budak yang dimaksud berada. Maka apabila surat tersebut sampai kepadanya, ia tidak boleh memutuskan perkara tentang budak itu kecuali para saksi telah menunjukkannya secara spesifik.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَيُسْتَفَادُ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ، وَإِنْ لَمْ يَقَعِ الْحُكْمُ بِهَا إِلَّا مَعَ التَّعْيِينِ مِنَ الْجِهَتَيْنِ، أَنْ لَا يَتَكَلَّفَ الثَّانِي الْكَشْفَ عَنْ عَدَالَتِهِمْ، وَلَا يَتَكَلَّفَ الشُّهُودُ إِعَادَةَ شَهَادَتِهِمْ وَإِنَّمَا يَقْتَصِرُونَ عَلَى الْإِشَارَةِ بِالتَّعْيِينِ، فَيَقُولُونَ: هَذَا هُوَ الْعَبْدُ الَّذِي شَهِدْنَا بِهِ لِفُلَانٍ عِنْدَ الْقَاضِي فُلَانٍ.

Syafi‘i berkata: Dengan kesaksian ini dapat diambil manfaat, meskipun keputusan hukum tidak dijatuhkan dengannya kecuali dengan penunjukan secara spesifik dari kedua belah pihak, yaitu bahwa pihak kedua tidak perlu bersusah payah meneliti keadilan mereka, dan para saksi pun tidak perlu mengulangi kesaksian mereka. Mereka cukup menunjukkan dengan penunjukan secara spesifik, lalu mereka berkata: Inilah budak yang kami saksikan untuk si Fulan di hadapan qadhi Fulan.

وَيُسْتَفَادُ بِهَا عِنْدِي فَائِدَةٌ ثَالِثَةٌ: أَنْ يَمُوتَ الْعبدُ فَيُسْتَحَقُّ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ عَلَى الْمَطْلُوبِ ذِي الْيَدِ قِيمَتُهُ عَلَى نَعْتِهِ وَصِفَتَهُ.

Menurut saya, terdapat manfaat ketiga yang dapat diambil darinya: yaitu apabila seseorang meninggal dunia, maka dengan kesaksian ini dapat ditetapkan atas pihak yang menguasai barang yang diminta untuk membayar nilai barang tersebut sesuai dengan sifat dan ciri-cirinya.

وَإِذَا قِيلَ بِالْقَوْلِ الثَّانِي، إِنَّ الْحُكْمَ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ مَعَ عَدَمِ التَّعْيِينِ جَائِزٌ، أَحْضَرَ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ الْعَبْدَ وَصَاحِبَ الْيَدِ وَقَالَ لَهُ: هَذَا الْعَبْدُ هُوَ الْمَنْعُوتُ بِهَذِهِ الصِّفَةِ. فَإِنِ اعْتَرَفَ بِهَا، حَكَمَ عَلَيْهِ بِتَسْلِيمِ الْعَبْدِ إِلَى طَالِبِهِ.

Dan apabila pendapat kedua dipegang, yaitu bahwa penetapan hukum berdasarkan kesaksian ini tanpa penunjukan secara spesifik adalah boleh, maka hakim yang menerima surat tersebut menghadirkan budak dan orang yang menguasainya, lalu berkata kepadanya: “Budak ini adalah yang disebutkan dengan sifat ini.” Jika ia mengakuinya, maka hakim memutuskan agar budak tersebut diserahkan kepada orang yang menuntutnya.

وَإِنْ أَنْكَرْ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمَوْصُوفُ الْمَحْكُومُ بِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْقَائِلُونَ بِهَذَا الْقَوْلِ فِيمَا يُحْكَمُ بِهِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Dan jika ia mengingkari bahwa dialah yang dimaksud dan yang dihukumi dengannya, maka para penganut pendapat ini telah berbeda pendapat mengenai apa yang dijadikan dasar hukum menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: حَكَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ: إِنَّ الْقَاضِيَ يَخْتِمُ فِي عُنُقِ الْعَبْدِ، وَيُسَلِّمُهُ إِلَى الطَّالِبِ الْمَشْهُودِ لَهُ، مَضْمُونًا عَلَيْهِ، وَيَأْخُذُ مِنْهُ كَفِيلًا، وَيُنْفِذُهُ إِلَى الْقَاضِي الْأَوَّلِ، لِيَحْضُرَ الشُّهُودُ لِتَعْيِينِهِ.

Salah satunya: Diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari Ibnu Abi Laila, dan ini adalah pendapat Abu Yusuf: bahwa qadhi membubuhkan cap pada leher budak, lalu menyerahkannya kepada pihak penuntut yang telah dipersaksikan haknya, dengan jaminan atasnya, kemudian mengambil penjamin darinya, dan mengirimkannya kepada qadhi pertama, agar para saksi dapat hadir untuk menetapkannya.

فَإِنْ عَيَّنُوهُ، وَأَنَّهُ الْعَبْدُ الَّذِي شَهِدُوا بِهِ لِلطَّالِبِ حَكَمَ بِهِ لَهُ وَكَتَبَ إِلَى الْقَاضِي الثَّانِي بِاسْتِحْقَاقِ الطَّالِبِ، وَبَرَاءَةِ الْكَفِيلِ مِنْ ضَمَانِهِ.

Jika mereka telah menentukannya, dan bahwa dia adalah hamba yang mereka saksikan untuk si penuntut, maka hakim memutuskan untuknya dan menulis surat kepada hakim kedua tentang hak si penuntut serta bebasnya penjamin dari tanggung jawab jaminannya.

وَإِنْ لَمْ يَشْهَدُوا بِهِ لِلْمَطْلُوبِ بِعَيْنِهِ أَلْزَمَهُ رَدَّهُ عَلَى مَنْ كَانَ فِي يَدِهِ، وَأَخَذَهُ بِنَفَقَةِ عَوْدِهِ وَضَمَانِ نَفْسِهِ إِنْ تَلِفَ.

Dan jika mereka tidak memberikan kesaksian bahwa barang itu milik pihak yang menuntut secara spesifik, maka ia wajib mengembalikannya kepada orang yang sebelumnya memegangnya, serta membebankan kepadanya biaya pengembalian dan jaminan atas barang tersebut jika barang itu rusak.

وَلَوْ كَانَ بَدَلَ هَذَا الْعَبْدِ أَمَةٌ فَقَدِ اخْتَلَفَ مَنْ قَالَ بِهَذَا، فِي إِجْرَائِهَا مَجْرَى الْعَبْدِ:

Dan jika yang dimaksud bukanlah budak laki-laki, melainkan budak perempuan, maka para ulama yang berpendapat demikian telah berbeda pendapat mengenai apakah hukumnya disamakan dengan budak laki-laki atau tidak.

فَمَنَعَ أَبُو يُوسُفَ مِنْ تَسْلِيمِهَا؛ لِأَنَّهَا ذَات فَرْجٍ، وَرُبَّمَا كَانَتْ أُمَّ وَلَدٍ لِصَاحِبِ الْيَدِ، وَجَعَلَ هَذَا الْحُكْمَ مَقْصُورًا عَلَى الْعَبْدِ.

Maka Abu Yusuf melarang penyerahannya, karena ia (budak perempuan) memiliki farj, dan mungkin saja ia adalah umm walad bagi pemilik tangan (yang menguasainya), serta beliau membatasi hukum ini hanya berlaku pada budak laki-laki.

وَسَوَّى ابْنُ أَبِي لَيْلَى بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْأَمَةِ أَنْ تُضَمَّ إِلَى أَمِينٍ ثِقَةٍ يُحْتَاطُ بِهِ حَذَرًا مِنَ التَّعَرُّضِ لِإِصَابَتِهَا.

Ibnu Abi Laila menyamakan antara budak laki-laki dan budak perempuan, yaitu agar budak perempuan disertakan bersama seorang yang terpercaya dan amanah, sebagai langkah kehati-hatian untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan terhadapnya.

قَالَ الشَّافِعِيُّ عِنْدَ حِكَايَةِ هَذَا الْقَوْلِ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى: وَهُوَ اسْتِحْسَانٌ، وَلَيْسَ بِقِيَاسٍ.

Imam Syafi‘i berkata ketika meriwayatkan pendapat ini dari Ibnu Abi Laila: “Ini adalah istihsān, dan bukan qiyās.”

وَأَخَذَ بِهَذَا الْقَوْلِ مِنْ أَصْحَابِنَا أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ مَذْهَبًا لِنَفْسِهِ.

Pendapat ini dipegang oleh salah satu ulama dari kalangan kami, yaitu Abu Sa‘id al-Istakhri, sebagai mazhab untuk dirinya sendiri.

وَلَا يَصِحُّ تَخْرِيجُهُ عَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ؛ لِأَنَّهُ يَتْرُكُ الِاسْتِحْسَانَ بِالْقِيَاسِ وَقَدْ جَعَلَهُ اسْتِحْسَانًا.

Dan tidak sah mentakhrijkannya menurut mazhab Syafi‘i; karena ia meninggalkan istihsān dengan qiyās, padahal ia telah menjadikannya sebagai istihsān.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: مِنْ مَذَاهِبِ الْقَائِلِينَ بِجَوَازِ الْحُكْمِ بِهِ، حَكَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ بَعْضِ الْحُكَّامِ: أَنْ يُنَادِيَ الْقَاضِي عَلَى الْعَبْدِ فِيمَنْ يَزِيدُ، فَإِذَا انْتَهَى ثَمَنُهُ، قَالَ لِمُدَّعِيهِ: ادْفَعْ ثَمَنَهُ يَكُونُ مَوْضُوعًا عَلَى يَدِ عَدْلٍ، وَخُذِ الْعَبْدَ مَعَكَ، فَإِنْ عَيَّنَهُ شُهُودُكَ حَكَمَ بِهِ الْقَاضِي لَكَ، وَكَتَبَ بِرَدِّ الثَّمَنِ عَلَيْكَ، وَإِنْ لَمْ يُعِينُوهُ لَكَ، لَزِمَكَ رَدُّهُ، وَاسْتِرْجَاعُ ثَمَنِهِ.

Pendapat kedua dari mazhab-mazhab yang membolehkan memutuskan perkara dengannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dari sebagian hakim, adalah bahwa hakim mengumumkan budak tersebut kepada siapa saja yang menawar lebih tinggi. Jika harga akhirnya telah ditetapkan, hakim berkata kepada penggugat: “Bayarlah harganya, dan harta itu akan diletakkan di tangan orang yang adil, lalu ambillah budak itu bersamamu.” Jika saksi-saksimu menetapkan bahwa budak itu memang milikmu, maka hakim akan memutuskan budak itu untukmu dan menuliskan bahwa harga tersebut dikembalikan kepadamu. Namun, jika saksi-saksimu tidak menetapkan kepemilikanmu, maka kamu wajib mengembalikan budak itu dan mengambil kembali harga yang telah kamu bayarkan.

وَهَذَا الْقَوْلُ إِنْ أَجَابَ إِلَيْهِ الطَّالِبُ جَازَ الْعَمَلُ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يُجِبْ إِلَيْهِ لَمْ يُجْبِرْ عَلَيْهِ.

Dan pendapat ini, jika pihak yang meminta fatwa menerimanya, maka boleh diamalkan menurutnya; namun jika ia tidak menerimanya, maka tidak dipaksakan atasnya.

وَالْأَصَحُّ عِنْدِي مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنْ يَقْبَلَ الْقَاضِي الثَّانِي الكتاب، ويحكم بِوُجُوبِ مَا تَضَمَّنَهُ، مِنَ الْعَبْدِ الْمَوْصُوفِ فِيهِ، ويخير صاحب اليد في العبد بين ثلاثة أَحْوَالٍ: بَيْنَ أَنْ يُسَلِّمَهُ بِالصِّفَةِ الْمَشْهُودِ بِهَا إِلَى طَالِبِهِ فَيَنْبَرِمُ الْحُكْمُ بِهَا، وَبَيْنَ أَنْ يَمْضِيَ بِالْعَبْدِ مَعَ طَالِبِهِ، عَلَى احْتِيَاطٍ مِنْ هَرَبِهِ إِلَى الْقَاضِي الْأَوَّلِ، فَإِنْ عَيَّنَهُ الشُّهُودُ، سَلَّمَهُ إِلَى الطَّالِبِ بِحُكْمِهِ، وَإِنْ لَمْ يُعَيِّنْهُ الشُّهُودُ، خَلَّى سَبِيلَ الْعَبْدِ مَعَ صَاحِبِ الْيَدِ، وَبَيْنَ أَنْ يَعْدِلَ بِالطَّالِبِ إِلَى دَفْعِ الْقِيمَةِ لِلْعَبْدِ الْمَوْصُوفِ دُونَ الْعَبْدِ الَّذِي فِي يَدِهِ. فَأَيُّ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ فَعَلَ صَاحِبُ الْيَدِ فَقَدْ خَرَجَ مِنْ حَقِّ الطَّالِبِ وَإِنِ امْتَنَعَ مِنْ جَمِيعِهَا، وَقَدْ ثَبَتَ اسْتِحْقَاقُ الْعَبْدِ الْمَوْصُوفِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُسْقِطَ شَهَادَةَ عُدُولٍ ثَبَتَتْ بِمِثْلِهِمُ الْحُقُوقُ، وَأَخَذَهُ الْقَاضِي الثَّانِي جَبْرًا بِدَفْعِ قِيمَةِ الْعَبْدِ الْمَوْصُوفِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالِاشْتِبَاهِ غَيْرَ مقدور عليه؛ فجرى مَجْرَى الْعَبْدِ الْمَغْصُوبِ أَوِ الْآبِقِ لَزِمَ دَفْعُ قِيمَتِهِ كَذَلِكَ، هَذَا وَلَا يُجْبِرُهُ عَلَى تَسْلِيمِ الْعَبْدِ، لِمَا ذَكَرْنَا مِنَ الِاشْتِبَاهِ، وَلَا يُجْبِرُهُ عَلَى السَّفَرِ بِالْعَبْدِ إِلَى الْقَاضِي الْأَوَّلِ؛ لِأَنَّهُ لَا إِجْبَارَ عَلَيْهِ فِي السَّفَرِ بِمَالِهِ وَلَا عَلَى الْمُحَاكَمَةِ إِلَى غَيْرِ قَاضِي بَلَدِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِصَوَابِهِ.

Pendapat yang paling benar menurut saya dari semua ini adalah bahwa qadhi kedua menerima surat tersebut, dan memutuskan wajibnya apa yang terkandung di dalamnya, terkait budak yang disebutkan sifat-sifatnya di dalam surat itu. Pemilik budak yang memegangnya diberi pilihan di antara tiga keadaan: pertama, menyerahkan budak tersebut dengan sifat yang telah disaksikan kepada pihak yang menuntutnya, sehingga keputusan berlaku atasnya; kedua, berjalan bersama budak itu bersama pihak penuntut, dengan kehati-hatian agar budak itu tidak melarikan diri, menuju qadhi pertama. Jika para saksi dapat menunjuk budak tersebut, maka budak itu diserahkan kepada penuntut berdasarkan putusan qadhi pertama. Jika para saksi tidak dapat menunjuknya, maka budak itu dibiarkan bersama pemilik yang memegangnya; ketiga, penuntut dapat memilih untuk menerima pembayaran nilai budak yang disebutkan sifatnya, bukan budak yang ada di tangan pemilik. Maka, jika pemilik budak melakukan salah satu dari tiga hal ini, ia telah terbebas dari hak penuntut. Namun, jika ia menolak semuanya, sementara hak atas budak yang disebutkan sifatnya telah terbukti, maka tidak boleh menggugurkan kesaksian para saksi adil yang dengan kesaksian mereka hak-hak dapat ditegakkan. Qadhi kedua dapat memaksanya untuk membayar nilai budak yang disebutkan sifatnya, karena dengan adanya kerancuan, budak itu menjadi tidak dapat dikuasai, sehingga hukumnya seperti budak yang digelapkan atau melarikan diri, yang wajib dibayar nilainya. Namun, ia tidak boleh dipaksa untuk menyerahkan budak tersebut, karena adanya kerancuan yang telah disebutkan, dan juga tidak boleh dipaksa untuk bepergian membawa budak itu ke qadhi pertama, karena tidak ada kewajiban baginya untuk bepergian dengan hartanya, dan tidak pula untuk berperkara kepada selain qadhi di negerinya sendiri. Allah lebih mengetahui kebenarannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ: وَهُوَ أَنْ يَحْكُمَ الْحَاكِمُ لِحَاضِرٍ عَلَى غَائِبٍ بِحَقٍّ حَاضِرٍ، فَهَذَا يَكُونُ فِي الْأَعْيَانِ الْمُسْتَحَقَّةِ بِالشَّهَادَةِ، فَلَا يَقِفُ الْحُكْمُ فِيهِ عَلَى مُكَاتَبَةِ قَاضٍ آخَرَ، وَيَنْفَرِدُ بِالْحُكْمِ بَعْدَ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ، وَسَوَاءٌ كَانَتِ الْعَيْنُ مَنْقُولَةً أَوْ غَيْرَ مَنْقُولَةٍ.

Adapun bagian keempat: yaitu apabila seorang hakim memutuskan perkara untuk orang yang hadir terhadap orang yang tidak hadir atas hak yang ada pada orang yang hadir, maka hal ini terjadi pada benda-benda yang memang berhak dimiliki berdasarkan kesaksian. Dalam hal ini, keputusan tidak bergantung pada surat-menyurat dengan hakim lain, dan hakim dapat memutuskan sendiri setelah mendengar bukti, jika ia termasuk yang membolehkan memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir, baik benda tersebut bergerak maupun tidak bergerak.

فَإِنْ سَأَلَهُ الْمَحْكُومُ لَهُ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ كِتَابًا بِاسْتِحْقَاقِ الْمِلْكِ الْحَاضِرِ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ، فَإِنْ كَانَتِ الْعَيْنُ الْمَحْكُومُ بِهَا مَنْقُولَةً، لَمْ يُكْتَبْ بِهَا لِانْبِرَامِ الْحُكْمِ بِهَا، وَانْقِطَاعِ الْعَلَقِ فِيهَا، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ مَنْقُولَةٍ كَالْعَقَارِ أَجَابَهُ إِلَيْهِ وَكَتَبَ لَهُ بِهِ، وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ قَدِ انْبَرَمَ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَسْتَحِقَّ عَنْ ذَلِكَ أُجْرَةً يُطَالِبُ بِهَا الْمَحْكُومَ عَلَيْهِ.

Jika pihak yang memenangkan perkara meminta kepada hakim agar menuliskan surat tentang hak kepemilikan barang yang ada saat ini kepada qadhi di negeri tempat pihak yang kalah berada, maka jika barang yang diputuskan itu adalah barang bergerak, tidak perlu dibuatkan surat karena putusan sudah final dan tidak ada lagi hubungan terhadap barang tersebut. Namun, jika barang tersebut tidak bergerak seperti tanah, maka permintaan itu dikabulkan dan dibuatkan surat untuknya, meskipun putusan telah final; karena bisa jadi ia berhak mendapatkan imbalan tertentu yang dapat dituntut dari pihak yang kalah.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا: أَنَّ رَجُلًا لَوْ حَضَرَ قَاضِي بَلَدٍ وَذَكَرَ لَهُ أنني ابتعت في خلطة فُلَانٍ الْغَائِبِ سَهْمًا مِنْ دَارٍ فِي بَلَدِكَ وَعَفَا عَنْ شُفْعَتِهِ وَلِي بَيِّنَةٌ قَدْ أَحْضَرْتُهَا تَشْهُدُ عَلَيْهِ بِالْعَفْوِ فَاسْمَعْهَا، وَاكْتُبْ بِهَا إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الشَّفِيعُ، فَلَسْتُ آمَنُ إِنْ خَرَجْتُ إِلَيْهِ أَنْ يُطَالِبَنِي بِالشُّفْعَةِ وَيَجْحَدَ الْعَفْوَ، لَمْ يَسْمَعِ الْقَاضِي بَيِّنَتَهُ، وَلَمْ يَكْتُبْ لَهُ بِشَيْءٍ، وَإِنَّمَا لَمْ يَسْمَعْهَا؛ لِأَنَّ سَمَاعَهَا بِعَفْوِ الْغَائِبِ يَكُونُ بَعْدَ دَعْوَى الْغَائِبِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْمَعَ عَلَيْهِ بَيِّنَةً فِيمَا لَمْ يَدَّعِهِ.

Berdasarkan hal ini, jika ada seorang laki-laki yang mendatangi qadhi (hakim) di suatu negeri dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah membeli, dalam suatu kemitraan dengan si Fulan yang sedang tidak hadir, sebuah saham dari sebuah rumah di negerimu, dan bahwa si Fulan telah melepaskan hak syuf‘ah-nya, serta aku memiliki bukti yang telah aku hadirkan yang bersaksi atas pelepasan hak tersebut, maka dengarkanlah bukti itu dan tulislah surat kepada qadhi di negeri tempat si syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) berada, karena aku khawatir jika aku pergi menemuinya, ia akan menuntut hak syuf‘ah kepadaku dan mengingkari pelepasan hak tersebut. Maka qadhi tidak mendengarkan bukti itu dan tidak menuliskan apa pun untuknya. Adapun alasan qadhi tidak mendengarkan bukti tersebut adalah karena mendengarkan bukti atas pelepasan hak oleh orang yang tidak hadir hanya dapat dilakukan setelah adanya gugatan dari pihak yang tidak hadir, sehingga tidak diperbolehkan mendengarkan bukti atas sesuatu yang belum digugat olehnya.

وَهَكَذَا لَوْ قَالَ الْحَاضِرُ: لِفُلَانٍ الْغَائِبِ عَلَيَّ أَلْفٌ، قَدْ دَفَعْتُهَا إِلَيْهِ أَوْ قَدْ أَبْرَأَنِي مِنْهَا وَهَذِهِ بَيِّنَتِي وَلَسْتُ آمَنُ إِنْ خَرَجْتُ إِلَيْهِ أَنْ يَجْحَدَ الْقَبْضَ أَوِ الْإِبْرَاءَ وَيُطَالِبَنِي، فَاسْمَعْ بَيِّنَتِي وَاكْتُبْ بِهَا إِلَى قَاضِي بَلَدِهِ، لَمْ يَسْمَعْهَا، وَلَمْ يَكْتُبْ بِهَا؛ لِأَنَّ الْغَائِبَ لَمْ يُطَالِبْ فَلَمْ يَسْمَعِ الْبَيِّنَةَ عَلَى غَيْرِ مُطَالَبٍ.

Demikian pula, jika seseorang yang hadir berkata: “Untuk si Fulan yang sedang tidak hadir, aku memiliki utang seribu, aku telah memberikannya kepadanya atau dia telah membebaskanku darinya, dan ini adalah buktiku, dan aku khawatir jika aku menemuinya dia akan mengingkari penerimaan atau pembebasan itu dan menuntutku, maka dengarkanlah buktiku dan tuliskanlah kepada qadhi di negerinya,” maka buktinya tidak didengarkan dan tidak dituliskan; karena orang yang tidak hadir itu belum menuntut, sehingga tidak didengarkan bukti atas sesuatu yang belum ada tuntutannya.

وَهَكَذَا لَوْ قَالَ الْحَاضِرُ: إِنَّ فُلَانًا الْغَائِبَ بَاعَنِي هَذِهِ الدَّارَ، أَوْ وَهَبَهَا لِي، وَهَذِهِ بَيِّنَتِي، وَلَسْتُ آمَنُ أَنْ يَجْحَدَهَا، فَاسْمَعْهَا لِي، لَمْ يَسْمَعْهَا؛ لِأَنَّ سَمَاعَهَا يَكُونُ بَعْدَ جَوَابِ الْغَائِبِ إِنْ أَنْكَرَ.

Demikian pula, jika seseorang yang hadir berkata: “Sesungguhnya si Fulan yang sedang tidak hadir telah menjual rumah ini kepadaku, atau memberikannya kepadaku sebagai hibah, dan ini adalah bukti-buktiku, dan aku khawatir ia akan mengingkarinya, maka dengarkanlah (kesaksian) ini untukku,” maka (hakim) tidak mendengarkannya; karena mendengarkan (kesaksian) itu dilakukan setelah jawaban dari pihak yang tidak hadir jika ia mengingkarinya.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا: أَنَّ امْرَأَةً لَوِ ادَّعَتْ أَنَّ زَوْجَهَا طَلَّقَهَا وَهُوَ غَائِبٌ أَوْ حَاضِرٌ، وَهَؤُلَاءِ شُهُودِي عَلَيْهِ بِالطَّلَاقِ وَلَسْتُ آمَنُ أَنْ يَتَعَرَّضَ لِي فَاسْمَعْ بَيِّنَتِي وَاحْكُمْ عَلَيْهِ بِطَلَاقِي لَمْ يَسْمَعْ بَيِّنَتَهَا سَوَاءٌ كَانَ حَاضِرًا أَوْ غَائِبًا؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَعَرَّضْ لَهَا فَلَمْ تَصِحَّ هَذِهِ الدَّعْوَى فَإِنْ تَعَرَّضَ لَهَا الزَّوْجُ أَحْضَرَهُ وَلَمْ يَسْمَعِ الْبَيِّنَةَ قَبْلَ حُضُورِهِ وَإِنْكَارِهِ.

Berdasarkan hal ini, jika seorang perempuan mengaku bahwa suaminya telah menceraikannya, baik suaminya sedang tidak hadir maupun hadir, lalu ia berkata, “Ini para saksiku atas terjadinya talak, dan aku khawatir ia akan menggangguku, maka dengarkanlah bukti-buktiku dan putuskanlah talakku darinya,” maka bukti-buktinya tidak didengarkan, baik suaminya hadir maupun tidak hadir; karena suaminya belum mengganggunya, sehingga gugatan tersebut tidak sah. Namun, jika suaminya mengganggunya, maka suaminya dihadirkan dan bukti-bukti tidak didengarkan sebelum kehadiran dan penolakannya.

فَإِنْ كَانَ الزَّوْجُ غَائِبًا وَأَرَادَتِ الزَّوْجَةُ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى بَلَدِهِ، فَفِي سَمَاعِ بَيِّنَتِهَا إِذَا ادَّعَتْ أَنَّهُ قَدْ يَتَعَرَّضُ لَهَا وَجْهَانِ:

Jika suami sedang tidak berada di tempat dan istri ingin pergi ke negeri suaminya, maka dalam menerima kesaksiannya apabila ia mengaku bahwa suaminya mungkin akan mengganggunya, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَسْمَعُهَا كَمَا لَا يَسْمَعُهَا عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الدَّعْوَى فِي الْأَمْلَاكِ.

Salah satunya: tidak diterima (gugatan) tersebut, sebagaimana tidak diterimanya pada perkara serupa dalam masalah kepemilikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَسْمَعُهَا فِي الزَّوْجِيَّةِ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فِي الْأَمْلَاكِ، لِمَا يَلْزَمُ مِنْ فَضْلِ الِاحْتِيَاطِ فِي حِفْظِ الْفُرُوجِ، وَلَوْ لَمْ تَذْكُرْ خُرُوجَهَا إِلَى بَلَدِهِ لَمْ يَسْمَعْ بَيِّنَتَهَا وَجْهًا وَاحِدًا.

Pendapat kedua: gugatan tersebut diterima dalam perkara pernikahan meskipun tidak diterima dalam perkara kepemilikan, karena adanya keharusan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga kehormatan. Namun, jika istri tidak menyebutkan bahwa ia telah pergi ke negeri suaminya, maka kesaksiannya tidak diterima menurut satu pendapat.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا: أَنَّ أَمَةً لَوْ كَانَتْ فِي يَدِ رَجُلٍ، فَأَحْضَرَهَا إِلَى الْقَاضِي، وَذَكَرَ أَنَّهُ اشْتَرَاهَا مِنْ فُلَانٍ الْغَائِبِ، وَدَفَعَ إِلَيْهِ ثَمَنَهَا، وَسَأَلَ الْقَاضِيَ أَنْ يَسْمَعَ بَيِّنَتَهُ عَلَى ابْتِيَاعِهَا وَدَفْعِ ثَمَنِهَا، لَمْ يَسْمَعْهَا مِنْهُ، فَإِنِ اسْتُحِقَّتِ الْأَمَةُ مِنْ يَدِهِ بِبَيِّنَةٍ شَهِدَتْ بِهَا لِمُسْتَحِقِّهَا جَازَ لِلْقَاضِي حِينَئِذٍ أَنْ يَسْمَعَ بَيِّنَتَهُ بِابْتِيَاعِهَا مِنَ الْغَائِبِ، وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْهَا قَبْلَ الِاسْتِحْقَاقِ؛ لِأَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ لِلرُّجُوعِ بِدَرَكِهَا بَعْدَ الِاسْتِحْقَاقِ، وَغَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لِلدَّرَكِ قَبْلَ الِاسْتِحْقَاقِ.

Berdasarkan hal ini, jika seorang budak perempuan berada di tangan seorang laki-laki, lalu ia membawanya ke hadapan qadhi dan menyatakan bahwa ia membelinya dari si Fulan yang sedang tidak hadir, serta telah membayar harganya, kemudian ia meminta kepada qadhi agar mendengarkan kesaksiannya atas pembelian dan pembayaran harganya, maka qadhi tidak akan mendengarkan kesaksiannya. Namun, jika budak perempuan itu kemudian ditetapkan hak milik orang lain atasnya melalui bukti yang sahih yang menyatakan hak orang tersebut, maka pada saat itu qadhi boleh mendengarkan kesaksiannya tentang pembelian dari orang yang tidak hadir, meskipun sebelumnya tidak didengarkan sebelum adanya penetapan hak milik tersebut; karena setelah penetapan hak milik, ia berhak untuk menuntut pengembalian harga (darak), sedangkan sebelum penetapan hak milik, ia belum berhak menuntut darak.

وَهَكَذَا لَوِ ادَّعَتِ الْأَمَةُ أَنَّهَا حُرَّةُ الْأَصْلِ، وَأَقَامَتْ بَيِّنَةً بِحُرِّيَّتِهَا فَسَأَلَ صَاحِبَ الْيَدِ أَنْ يَسْمَعَ بَيِّنَتَهُ بِابْتِيَاعِهَا مِنَ الْغَائِبِ سَمِعَهَا لِاسْتِحْقَاقِهِ الرُّجُوعَ بِدَرَكِهَا.

Demikian pula, jika seorang budak perempuan mengaku bahwa dirinya pada asalnya adalah orang merdeka, lalu ia mendatangkan bukti atas kemerdekaannya, kemudian pemegang hak (atas budak tersebut) meminta agar bukti pembeliannya dari orang yang tidak hadir didengarkan, maka permintaannya didengarkan karena ia berhak untuk menuntut pengembalian (harga) jika ternyata kepemilikannya batal.

وَلَوْ أَنَّ الْأَمَةَ حِينَ قَالَتْ إِنَّهَا حُرَّةُ الْأَصْلِ عدمت البينة ولم يتقدم إقراراها بِالرِّقِّ قُبِلَ قَوْلُهَا فِي حُرِّيَّتِهَا وَأُحْلِفَتْ لِصَاحِبِ الْيَدِ؛ لِأَنَّ الْحُرِّيَّةَ أَصْلٌ لَا يَطْرَأُ عَلَيْهِ الرِّقُّ.

Dan jika seorang budak perempuan ketika mengatakan bahwa dirinya berasal dari keturunan merdeka tidak memiliki bukti dan sebelumnya tidak pernah mengakui dirinya sebagai budak, maka ucapannya tentang kemerdekaannya diterima dan ia diminta bersumpah kepada orang yang menguasainya; karena kemerdekaan adalah asal yang tidak dapat diubah oleh perbudakan.

فَإِنْ سَأَلَ صَاحِبُ الْيَدِ أَنْ تُسْمَعَ بينته بابتياعها من الغائب ليرجع يدركها عَلَيْهِ، لَمْ يَسْمَعْهَا الْقَاضِي وَلَمْ يُكَاتِبْ بِهَا.

Jika pemilik barang yang menguasai meminta agar buktinya tentang pembelian barang itu dari orang yang tidak hadir didengarkan, agar ia dapat menuntutnya, maka hakim tidak mendengarkan bukti tersebut dan tidak pula mengirimkan surat mengenai hal itu.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا: أَنَّ بَيِّنَتَهَا بِالْحُرِّيَّةِ مَسْمُوعَةٌ عَلَى كُلِّ ذِي يَدٍ ثَابِتَةٍ وَزَائِلَةٍ، وَقَوْلَهَا فِي الْحُرِّيَّةِ مَقْبُولٌ، عَلَى ذِي الْيَدِ الثَّابِتَةِ.

Perbedaan antara keduanya adalah: bahwa bukti kebebasannya dapat diterima terhadap setiap orang yang memegang (hak) baik yang tetap maupun yang sementara, dan pengakuannya tentang kebebasan diterima terhadap orang yang memegang (hak) secara tetap.

وَيَسْتَحِقُّ صَاحِبُ الْيَدِ إِحْلَافَ الْبَائِعِ أَنَّهَا لَيْسَتْ بِحُرَّةٍ فَإِنْ سَأَلَ الْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ لَهُ بِمَا حَكَمَ بِهِ مِنْ حُرِّيَّتِهَا كَتَبَ لَهُ بِإِحْلَافِ الْبَائِعِ، وَلَمْ يَكْتُبْ لَهُ بِرُجُوعِ الدَّرَكِ عَلَى الْبَائِعِ.

Pemilik barang berhak meminta penjual untuk bersumpah bahwa barang tersebut bukanlah barang merdeka. Jika pemilik barang meminta kepada hakim agar menuliskan untuknya keputusan yang telah diputuskan terkait kemerdekaan barang tersebut, maka hakim menuliskan untuknya bahwa penjual telah disumpah, dan tidak menuliskan hak untuk menuntut ganti rugi (darak) kepada penjual.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا: أَنْ يَشْهَدَ عِنْدَ القاضي شاهد واحد يملك لِرَجُلٍ فَيَذْكُرُ الْمَشْهُودُ لَهُ أَنَّ لَهُ شَاهِدًا آخَرَ فِي بَلَدٍ آخَرَ وَيَسْأَلُ الْقَاضِيَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى قَاضِي ذَلِكَ الْبَلَدِ بِمَا شَهِدَ بِهِ الشَّاهِدُ عِنْدَهُ فَهَذَا مُعْتَبَرٌ بِالْمِلْكِ.

Berdasarkan hal ini, jika di hadapan qadhi ada satu orang saksi yang memberikan kesaksian tentang kepemilikan seseorang, lalu orang yang menjadi objek kesaksian tersebut menyebutkan bahwa ia memiliki saksi lain di negeri lain, dan ia meminta qadhi untuk menulis surat kepada qadhi di negeri tersebut mengenai apa yang telah disaksikan oleh saksi di hadapannya, maka hal ini dianggap sah dalam masalah kepemilikan.

فَإِنْ كَانَ فِي بَلَدِ الْقَاضِي الْآخَرِ كَتَبَ لَهُ بِشَهَادَةِ مَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ لِيَتَوَلَّى ذَلِكَ الْحَاكِمُ تَكْمِيلَ الْبَيِّنَةِ وَتَنْفِيذَ الْحُكْمِ.

Jika perkara itu berada di negeri qadhi yang lain, maka qadhi tersebut menuliskan surat kepadanya dengan menyebutkan kesaksian orang-orang yang telah bersaksi di hadapannya, agar hakim tersebut melanjutkan penyempurnaan al-bayyinah dan pelaksanaan hukum.

وَإِنْ كَانَ الْمَلِكُ فِي بَلَدِ هَذَا الْقَاضِي لَمْ يَكْتُبْ لَهُ بِالشَّهَادَةِ، وَأَخَذَ كِتَابَ ذَلِكَ الْقَاضِي بِمَا شَهِدَ بِهِ الشَّاهِدُ الْآخَرُ لِيَتَوَلَّى هَذَا الْقَاضِي تَنْفِيذَ الْحُكْمِ بِالشَّاهِدَيْنِ.

Jika raja berada di negeri qadhi tersebut, maka tidak dituliskan untuknya surat kesaksian, dan ia mengambil surat dari qadhi tersebut berdasarkan apa yang disaksikan oleh saksi lainnya, agar qadhi ini dapat melaksanakan putusan dengan dua orang saksi.

وَيَتَفَرَّعُ عَلَى هَذَا أَنَّ رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً لَوِ ادَّعَى وَاحِدٌ مِنْهُمَا أَنَّ لَهُ وَلَدًا حُرًّا فِي بَلَدٍ

Berdasarkan hal ini, jika seorang laki-laki atau perempuan mengaku bahwa salah satu dari mereka memiliki seorang anak yang merdeka di suatu negeri,

آخَرَ وَسَأَلَ الْقَاضِي سَمَاعَ الْبَيِّنَةِ بِنَسَبِهِ وَحُرِّيَّتِهِ أَوْ بِأَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ لِيَكْتُبَ بِهِ إِلَى قَاضِي ذَلِكَ الْبَلَدِ، فَلِهَذَا الطَّالِبِ فِي طلبه ثلاثة أَحْوَالٍ:

Kemudian hakim meminta untuk mendengarkan bukti mengenai nasab dan status kemerdekaannya, atau bahwa ia dilahirkan di atas ranjangnya, agar dapat menuliskannya kepada hakim di negeri tersebut. Maka bagi pihak yang meminta, dalam permintaannya itu terdapat tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَطْلُبَ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْوَلَدَ قَدْ مَاتَ فَيَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ بِذَلِكَ وَيَكْتُبَ بِهِ إِلَى قَاضِي ذَلِكَ الْبَلَدِ لِيَحْكُمَ لَهُ بِمِيرَاثِ وَلَدِهِ.

Salah satunya: yaitu dia memintanya; karena anak tersebut telah wafat, maka boleh bagi qadhi untuk mendengarkan bukti tentang hal itu dan menuliskannya kepada qadhi di negeri tersebut agar ia memutuskan hak waris anaknya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّ الْوَلَدَ حَيٌّ، وَأَنَّهُ فِي يَدِ مَنْ قَدِ اسْتَرَقَّهُ سَمِعَ الْبَيِّنَةَ بِنَسَبِهِ وَحُرِّيَّتِهِ، وَكَتَبَ بِهَا إِلَى قَاضِي ذَلِكَ الْبَلَدِ، سَوَاءٌ ذَكَرَ اسْمَ الْمُسْتَرِقِّ أَوْ لَمْ يَذْكُرْهُ.

Keadaan kedua: yaitu ketika disebutkan bahwa anak itu masih hidup, dan bahwa ia berada dalam kekuasaan orang yang telah memperbudaknya, lalu ia mendengar adanya bukti yang menunjukkan nasab dan status kemerdekaannya, kemudian ia menuliskannya kepada qadhi di negeri tersebut, baik ia menyebutkan nama orang yang memperbudak itu maupun tidak.

وَلَوْ كَانَ هَذَا فِي مِلْكٍ لَمْ تُسْمَعِ الْبَيِّنَةَ إِلَّا بَعْدَ تَسْمِيَةِ صَاحِبِ الْيَدِ؛ لِأَنَّ الْمِلْكَ ينتقل والحرية ولا تَنْتَقِلُ.

Dan seandainya hal ini terjadi dalam perkara kepemilikan, maka kesaksian tidak akan diterima kecuali setelah menyebutkan siapa pemiliknya; karena kepemilikan dapat berpindah sedangkan kemerdekaan tidak dapat berpindah.

فَإِنْ كَانَتِ الْبَيِّنَةُ تَشْهَدُ بِحُرِّيَّةِ الْوَلَدِ وَلَمْ تَشْهَدْ بِنَسَبِهِ، لَمْ يَسْمَعْهَا، وَلَمْ يَكْتُبْ بِهَا؛ لِأَنَّ الطَّالِبَ إِذَا لَمْ يَثْبُتْ لَهُ نَسَبٌ لَمْ يَثْبُتْ لَهُ حَقٌّ فِي الطَّلَبِ، وَلَوْ كَانَتِ الْبَيِّنَةُ تَشْهَدُ بِالنَّسَبِ دُونَ الْحُرِّيَّةِ نُظِرَ فَإِنْ كَانَ ثُبُوتُهُ مُوجِبًا لِلْحُرِّيَّةِ سَمِعَهَا وَكَتَبَ بِهَا وَإِنْ لَمْ يُوجِبِ الْحُرِّيَّةُ لَمْ يَسْمَعْهَا وَلَمْ يَكْتُبْ بِهَا.

Jika bukti (bayyinah) memberikan kesaksian tentang kemerdekaan anak namun tidak memberikan kesaksian tentang nasabnya, maka bukti tersebut tidak diterima dan tidak dicatat; karena jika pemohon tidak dapat membuktikan nasabnya, maka ia tidak memiliki hak dalam permohonan tersebut. Namun jika bukti memberikan kesaksian tentang nasab tanpa menyebutkan kemerdekaan, maka hal itu perlu diteliti: jika penetapan nasab tersebut mengharuskan adanya kemerdekaan, maka bukti tersebut diterima dan dicatat; tetapi jika tidak mengharuskan adanya kemerdekaan, maka bukti tersebut tidak diterima dan tidak dicatat.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ لَا يَذْكُرَ الطَّالِبُ اسْتِرْقَاقَ الْوَلَدِ، وَلَا مَوْتَهُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ وَلَا يَكْتُبَ بِهَا؛ لِأَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا فِي الْحَالِ حَقٌّ لِطَالِبٍ وَلَا مَطْلُوبٍ، فَهَذَا حُكْمُ الْفَصْلِ الْأَوَّلِ فِيمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ مِنَ الْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ.

Keadaan ketiga: Jika penuntut tidak menyebutkan perbudakan anak maupun kematiannya, maka tidak boleh hakim mendengarkan kesaksian maupun menuliskannya; karena pada saat itu tidak ada hak yang berkaitan, baik bagi penuntut maupun yang dituntut. Inilah hukum pada bagian pertama terkait dengan empat bagian yang tercakup di dalamnya.

(فصل: من يكاتبه القاضي بحكمه) .

(Bab: Kepada siapa qadhi menulis surat tentang putusannya).

وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي: مِنَ الْفُصُولِ الْأَرْبَعَةِ وَهُوَ فِيمَنْ يُكَاتِبُهُ الْقَاضِي بِحُكْمِهِ فَهُمْ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:

Adapun bagian kedua dari empat bagian, yaitu tentang siapa saja yang hakim mengiriminya surat keputusan, maka mereka terbagi menjadi empat golongan:

أَحَدُهَا: مُكَاتَبَةُ الْقُضَاةِ. وَالثَّانِي: مُكَاتَبَةُ الْأُمَرَاءِ. وَالثَّالِثُ: مُكَاتَبَةُ الشُّهُودِ. وَالرَّابِعُ: مُكَاتَبَةُ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ.

Pertama: surat-menyurat dengan para qadhi. Kedua: surat-menyurat dengan para amir. Ketiga: surat-menyurat dengan para saksi. Keempat: surat-menyurat dengan pihak yang dijatuhi putusan.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِي مُكَاتَبَةِ الْقُضَاةِ: فَيُكَاتِبُ بِحُكْمِهِ أَحَدَ قَاضِيَيْنِ: إِمَّا قَاضِيَ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْخَصْمُ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ، وَإِمَّا قَاضِيَ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمِلْكُ الْمَحْكُومُ بِهِ، وَلَيْسَ لِمُكَاتَبَةِ غَيْرِهِمَا مِنَ الْقُضَاةِ وَجْهٌ، لِأَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ عَلَى غَيْرِهِمَا شَيْءٌ مِنْ حُكْمِهِ.

Adapun bagian pertama dalam surat-menyurat para qadhi: maka seorang qadhi mengirim surat dengan putusannya kepada salah satu dari dua qadhi, yaitu: qadhi di negeri tempat tinggal pihak yang dikalahkan, atau qadhi di negeri tempat harta yang menjadi objek putusan itu berada. Tidak ada alasan untuk mengirim surat kepada selain kedua qadhi tersebut, karena tidak ada sesuatu pun dari putusannya yang berkaitan dengan selain mereka berdua.

فَإِذَا كَتَبَ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْخَصْمُ الْمَطْلُوبُ فَانْتَقَلَ الْمَطْلُوبُ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ أَوْصَلَ الطَّالِبُ كِتَابَهُ إِلَى ذَلِكَ الْقَاضِي وَيَتَنَجَّزُ بِهِ كِتَابَهُ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي انْتَقَلَ الْمَطْلُوبُ إِلَيْهِ، وَجَازَ لِلْقَاضِي الثَّانِي أَنْ يَكْتُبَ بِهِ إِلَى الْقَاضِي الثَّالِثِ.

Apabila seorang hakim menulis surat kepada hakim di negeri tempat pihak tergugat berada, lalu tergugat tersebut berpindah ke negeri lain, maka pihak penggugat dapat menyampaikan surat tersebut kepada hakim di negeri itu, dan surat tersebut dapat digunakan untuk menulis surat kepada hakim di negeri tempat tergugat berpindah. Diperbolehkan bagi hakim kedua untuk menulis surat tersebut kepada hakim ketiga.

فَإِنْ عَادَ الطَّالِبُ إِلَى الْقَاضِي الْأَوَّلِ وَسَأَلَهُ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ إِلَى الْقَاضِي الثالث فَالْأَوْلَى بِالْقَاضِي الْأَوَّلِ أَنْ يَسْتَعِيدَ مِنْهُ الْكِتَابَ الْأَوَّلَ وَيَكْتُبَ لَهُ كِتَابًا ثَانِيًا إِلَى الْقَاضِي الثَّالِثِ.

Jika pemohon kembali kepada qadhi pertama dan memintanya untuk menuliskan surat kepada qadhi ketiga, maka yang lebih utama bagi qadhi pertama adalah mengambil kembali surat pertama darinya dan menuliskan surat kedua untuknya kepada qadhi ketiga.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَعِدْهُ، ذَكَرَ فِي الْكِتَابِ الثَّانِي أَنَّهُ قَدْ كَانَ كَتَبَ لَهُ كِتَابًا بِهَذَا الْحُكْمِ إِلَى فُلَانٍ الْقَاضِي حَتَّى لَا يَتَوَصَّلَ بِالْكِتَابَيْنِ إِلَى أَنْ يَأْخُذَ بِحَقِّ حَقَّيْنِ.

Jika ia tidak mengambil kembali suratnya, maka dalam surat kedua disebutkan bahwa sebelumnya ia telah menulis surat dengan hukum ini kepada si Fulan, sang qādī, agar dengan kedua surat tersebut tidak dapat digunakan untuk mengambil dua kali hak atas satu hak.

فَإِنْ قَالَ الطَّالِبُ خَصْمِي فِي بَلَدِ كَذَا وَلَسْتُ آمَنُ أَنْ يَنْتَقِلَ مِنْهُ إِلَى غَيْرِهِ، وَسَأَلَ كِتَابَيْنِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكْتُبَهُمَا، وَكَانَ الْقَاضِي بَيْنَ خِيَارَيْنِ: إِمَّا أَنْ يَكْتُبَ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي كَانَ فِيهِ الْمَطْلُوبُ، لِيَتَنَجَّزَ بِهِ الطَّالِبُ كِتَابَ ذَلِكَ الْقَاضِي، إِنْ خَرَجَ الْمَطْلُوبُ إِلَى غَيْرِهِ وَإِمَّا أَنْ يَكْتُبَ لَهُ كِتَابًا مُرْسَلًا إِلَى مَنْ وَصَلَ إِلَيْهِ كِتَابُهُ مِنْ سَائِرِ الْقُضَاةِ.

Jika pihak penuntut berkata, “Lawan saya berada di negeri tertentu dan saya khawatir ia akan berpindah dari negeri itu ke tempat lain,” lalu ia meminta dua surat, maka tidak boleh bagi hakim untuk menuliskan keduanya. Dalam hal ini, hakim memiliki dua pilihan: pertama, menulis surat kepada hakim di negeri tempat orang yang dicari itu berada, agar penuntut dapat menggunakan surat dari hakim tersebut jika orang yang dicari itu keluar ke negeri lain; atau kedua, menuliskan surat terbuka yang ditujukan kepada siapa saja dari para hakim yang menerima suratnya.

وَهَكَذَا لَوْ لَمْ يَعْرِفِ الطَّالِبُ الْبَلَدَ الَّذِي فِيهِ الْمَطْلُوبُ، كَتَبَ لَهُ الْقَاضِي كِتَابًا مُطْلَقًا يُعْلِمُ بِهِ جَمِيعَ الْقُضَاةِ، فَأَيُّ قَاضٍ كَانَ الْمَطْلُوبُ فِي بَلَدِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْبَلَ كِتَابَهُ وَيَحْكُمَ بِهِ.

Demikian pula, jika pencari tidak mengetahui negeri tempat orang yang dicari berada, maka qadhi menuliskan surat secara umum yang memberitahukan kepada seluruh qadhi. Maka qadhi mana pun yang orang yang dicari itu berada di negerinya, boleh baginya menerima surat tersebut dan memutuskan perkara dengannya.

وَلَوْ كَتَبَ الْقَاضِي لِلطَّالِبِ كِتَابًا وَتَسَلَّمَهُ مِنْهُ ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّهُ قَدْ ضَاعَ، كَتَبَ لَهُ غَيْرَهُ عَلَى مِثْلِ نُسَخِهِ لَا يَتَغَيَّرُ فِي لَفْظٍ وَلَا مَعْنًى، وَذَكَرَ فِيهِ أَنَّ الطَّالِبَ قَدْ كَانَ تَنَجَّزَ غَيْرَهُ بِمِثْلِهِ، وَذَكَرَ أَنَّهُ ضَاعَ مِنْهُ لِئَلَّا يَتِمَّ بِالْكِتَابَيْنِ احْتِيَالٌ.

Jika seorang qādī menulis surat untuk pemohon, lalu pemohon menerimanya darinya, kemudian ia mengaku bahwa surat itu telah hilang, maka qādī menuliskan surat lain untuknya dengan redaksi yang sama persis, tanpa ada perubahan dalam lafaz maupun makna. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa pemohon sebelumnya telah menerima surat lain yang serupa, dan disebutkan pula bahwa surat itu telah hilang darinya, agar tidak terjadi rekayasa dengan adanya dua surat.

وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ كِتَابُ الْقَاضِي إِلَى الْقَاضِي عَلَى أَحَدِ وَجْهَيْنِ:

Dan boleh saja surat dari seorang qāḍī kepada qāḍī lain itu dilakukan dengan salah satu dari dua cara:

إِمَّا بِالْحُكْمِ بِالْحَقِّ لِيَكُونَ الثَّانِي مُسْتَوْفِيًا، وَإِمَّا بِثُبُوتِ الْحَقِّ، لِيَكُونَ الثَّانِي حَاكِمًا.

Entah dengan menetapkan hukum secara benar agar yang kedua menjadi pihak yang menerima secara penuh, atau dengan menetapkan hak, agar yang kedua menjadi pihak yang memutuskan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي فِي مُكَاتَبَةِ الْقَاضِي لِلْأَمِيرِ فَهِيَ مَقْصُورَةٌ عَلَى مُكَاتَبَةِ أَمِيرِ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْخَصْمُ الْمَطْلُوبُ، أَوِ الْمِلْكُ الْمَحْكُومُ بِهِ، دُونَ غَيْرِهِ مِنَ الْأُمَرَاءِ.

Adapun bagian kedua dalam surat-menyurat antara qadhi dan amir, maka itu terbatas pada surat-menyurat kepada amir daerah di mana terdapat pihak yang bersengketa yang dicari, atau harta yang diputuskan atasnya, dan tidak kepada amir-amir lainnya.

وَلَا يَكْتُبُ إِلَيْهِ إِلَّا بِمَا حَكَمَ بِهِ، وَأَمْضَاهُ، لِيَكُونَ الْأَمِيرُ مُسْتَوْفِيًا لَهُ وَلَا يَكُونُ حَاكِمًا بِهِ لِأَنَّ الْحُمَاةَ وَالْأُمَرَاءَ أَعْوَانٌ عَلَى اسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ، وَلَيْسُوا بِحُكَّامٍ فِيهَا، بِخِلَافِ الْقُضَاةِ الْمَنْدُوبِينَ لِلِاسْتِيفَاءِ وَالْأَحْكَامِ.

Dan tidak boleh menulis surat kepadanya kecuali mengenai perkara yang telah diputuskan dan disahkan olehnya, agar amir hanya bertugas menunaikan keputusan tersebut dan tidak menjadi pihak yang memutuskan perkara. Sebab para penjaga dan para amir adalah pembantu dalam pelaksanaan hak-hak, bukan sebagai hakim dalam perkara tersebut, berbeda dengan para qadi yang memang ditugaskan untuk menunaikan dan memutuskan perkara.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَمُكَاتَبَةُ الْقَاضِي لِلْأَمِيرِ مَقْصُورَةٌ عَلَى أَحَدِ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ:

Jika demikian, maka surat-menyurat qadhi kepada amir terbatas pada salah satu dari tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ بِمَا حَكَمَ بِهِ مِنْ مِلْكِ الطَّالِبِ فِي بَلَدِهِ، لِيُمَكِّنَهُ مِنَ التَّصَرُّفِ فِيهِ، فَيَرْفَعُ عَنْهُ يَدَ مَنْ سُوَاهُ، فَهَذَا يَجُوزُ إِذَا أَمِنَ عُدْوَانَ الْأَمِيرِ.

Salah satunya: yaitu hakim menulis surat kepadanya tentang keputusan yang telah ditetapkan mengenai kepemilikan si penuntut di negerinya, agar ia dapat memudahkannya untuk bertindak atas harta tersebut, sehingga ia dapat mengeluarkan tangan orang lain darinya. Hal ini diperbolehkan jika aman dari tindakan sewenang-wenang penguasa.

فَلَوْ كَانَ لِبَلَدِ الْمِلْكِ أَمِيرٌ وَقَاضٍ، كَانَتْ مُكَاتَبَةُ الْأَمِيرِ بِذَلِكَ أَوْلَى مِنْ مُكَاتَبَةِ الْقَاضِي؛ لِأَنَّهُ بِالْيَدِ أَخَصُّ، مَا لَمْ يُعَارِضْهُ الْقَاضِي فِيهِ.

Jika suatu negeri milik memiliki seorang amir dan seorang qadhi, maka mengirim surat kepada amir tentang hal itu lebih utama daripada mengirim surat kepada qadhi, karena amir lebih berwenang dalam hal tersebut, selama qadhi tidak menentangnya dalam perkara itu.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ بِمَا حَكَمَ بِهِ عَلَى الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ، لِيَسْتَوْفِيَهُ لِلطَّالِبِ، فَهَذَا يَجُوزُ أَنْ يُكَاتِبَ بِهِ الأمير.

Yang kedua: yaitu menulis surat kepadanya tentang putusan yang telah dijatuhkan atas pihak lawan yang diminta, agar ia menunaikannya kepada pihak yang menuntut. Maka dalam hal ini, boleh bagi seorang amir untuk bersurat mengenainya.

فَلَوْ كَانَ لِبَلَدِ هَذَا الْمَطْلُوبِ أَمِيرٌ وَقَاضٍ، كَانَتْ مُكَاتَبَةُ الْقَاضِي بِذَلِكَ أَوْلَى، لِأَنَّ الْقَاضِيَ بِإِلْزَامِ الْحُقُوقِ أَخَصُّ.

Maka jika di negeri orang yang dicari itu ada seorang amir dan seorang qadhi, maka mengirim surat kepada qadhi dalam hal ini lebih utama, karena qadhi lebih khusus dalam menetapkan hak-hak.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ بِإِحْضَارِ الْمَطْلُوبِ إِلَيْهِ فَهَذَا مُعْتَبَرٌ بِوِلَايَةِ الْقَاضِي.

Ketiga: Jika ia menulis surat kepadanya untuk menghadirkan orang yang dicari kepadanya, maka hal ini dianggap sah sesuai dengan wilayah (kewenangan) qadhi.

فَإِنْ كَانَ بَلَدُ الْأَمِيرِ دَاخِلًا فِي وِلَايَتِهِ، جَازَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ بِإِحْضَارِ الْمَطْلُوبِ.

Jika negeri sang amir berada dalam wilayah kekuasaannya, maka boleh baginya untuk mengirim surat kepadanya agar menghadirkan orang yang dicari.

وَلَزِمَ الْأَمِيرَ إِنْفَاذُهُ إِلَيْهِ.

Dan wajib bagi amir untuk mengirimkannya kepadanya.

وَإِنْ كَانَ خَارِجًا مِنْ وِلَايَتِهِ، لَمْ يَجُزْ لِلْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْأَمِيرِ بِإِحْضَارِهِ.

Dan jika orang tersebut berada di luar wilayah kekuasaannya, maka tidak boleh bagi qadhi untuk menulis surat kepada amir agar menghadirkannya.

وَلَمْ يَجُزْ لِلْأَمِيرِ أَنْ يُنفِذَهُ إِلَيْهِ.

Dan tidak boleh bagi seorang amir untuk melaksanakannya kepadanya.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ فِي مُكَاتَبَةِ الْقَاضِي لِلشُّهُودِ، فَلَيْسَ لِلشُّهُودِ تَنْفِيذُ حُكْمٍ وَلَا اسْتِيفَاءُ حَقٍّ، وَإِنَّمَا هُوَ وَثَائِقٌ، فِيمَا يَتَحَمَّلُونَهُ مِنَ الْحُقُوقِ، لِيَشْهَدُوا بِهَا لِمُسْتَحِقِّيهَا عِنْدَ مُسْتَوْفِيهَا.

Adapun bagian ketiga adalah mengenai surat-menyurat qādī kepada para saksi; maka para saksi tidak berwenang untuk melaksanakan putusan maupun menunaikan hak, melainkan surat tersebut hanyalah sebagai dokumen atas hak-hak yang mereka tanggung, agar mereka dapat memberikan kesaksian atas hak tersebut kepada yang berhak saat hak itu ditunaikan.

وإذا كان كذلك فللقاضي في مكاتبتهم ثلاثة أَحْوَالٍ:

Jika demikian, maka hakim memiliki tiga keadaan dalam menulis surat kepada mereka:

أَحَدُهَا: أَنْ يُكَاتِبَهُمْ بِتَنْفِيذِ الْحُكْمِ، فَهَذَا مِنْهُ اسْتِخْلَافٌ لَهُمْ عَلَى الْحُكْمِ، وَهُوَ اسْتِئْنَافُ وِلَايَةٍ، لَا يَصِحُّ إِلَّا بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ:

Salah satunya: ia menulis surat kepada mereka untuk melaksanakan hukum, maka ini berarti ia mengangkat mereka sebagai pengganti dalam menjalankan hukum, dan ini merupakan permulaan wilayah (kekuasaan) baru, yang tidak sah kecuali dengan tiga syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ فَإِنْ كَانُوا مِنْ غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ.

Salah satunya: mereka harus berasal dari kalangan pelaku pekerjaan itu; jika mereka bukan dari kalangan tersebut, maka tidak diperbolehkan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ فَإِنْ لَمْ يَكُونُوا مِنْهُمْ لَمْ يَجُزْ.

Kedua: Mereka harus termasuk golongan ahli ijtihad. Jika mereka bukan termasuk golongan tersebut, maka tidak diperbolehkan.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَذْكُرَ لَفْظَ التَّقْلِيدِ فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهُ لَمْ يَجُزْ وَيَصِيرُ هَذَا تَقْلِيدًا خَاصًّا فِي هَذَا الْحُكْمِ دُونَ غَيْرِهِ عَلَى اجْتِمَاعٍ فِيهِ، وَلَا يَنْفَرِدُ بِهِ أَحَدُهُمْ.

Ketiga: menyebutkan lafaz taqlid. Jika tidak menyebutkannya, maka tidak diperbolehkan, dan hal ini menjadi taqlid khusus dalam hukum ini saja, tidak pada selainnya, berdasarkan kesepakatan di dalamnya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyendiri dalam hal ini.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُكَاتِبَهُمْ بِاسْتِيفَاءِ الْحَقِّ: فَجَوَازُ ذَلِكَ مُعْتَبَرٌ بِشَرْطَيْنِ:

Keadaan yang kedua: yaitu menulis surat kepada mereka untuk menagih hak; maka kebolehan hal tersebut dipertimbangkan dengan dua syarat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونُوا مِنْ عَمَلِهِ فَإِنْ كَانُوا مِنْ غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ.

Salah satunya adalah bahwa mereka berasal dari pekerjaannya; jika mereka berasal dari selain itu, maka tidak diperbolehkan.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْمَطْلُوبُ فِي عَمَلِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ لَمْ يَجُزْ.

Kedua: yang dimaksud harus terdapat dalam perbuatannya; jika terdapat dalam selainnya, maka tidak diperbolehkan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُكَاتِبَهُمْ إِشْهَادًا لَهُمْ عَلَى حُكْمِهِ، لِيَكُونُوا وَثِيقَةً لِلطَّالِبِ يَتَحَمَّلُونَ عَنْهُ إِنْفَاذَ حُكْمِهِ لَهُ، فَجَرَى هَذَا مَجْرَى الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، فَيَصِحُّ أَنْ يُكَاتِبَهُمْ بِهِ، وَإِنْ كَانُوا مِنْ غَيْرِ أَهْلِ عَمَلِهِ وَيَصِحُّ أَنْ يَتَحَمَّلُوهُ عَنْهُ إِذَا أَشْهَدَهُمْ شُهُودُ الْمُتَحَمِّلِينَ لِلْكِتَابِ، وَيَصِحُّ أَنْ يُؤَدُّوا ذَلِكَ إِذَا تَعَذَّرَ ثُبُوتُهُ بِمَنْ تَحَمَّلُوا ذَلِكَ عَنْهُ وَهُوَ الْقَاضِي أَوْ شُهُودُ الْكِتَابِ كَمَا نَقُولُهُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Keadaan ketiga: yaitu hakim menulis surat kepada mereka sebagai bentuk penyaksian atas putusannya, agar mereka menjadi bukti yang kuat bagi pihak yang menuntut, dan mereka memikul tanggung jawab untuk melaksanakan putusan tersebut baginya. Maka hal ini serupa dengan syahadah ‘ala syahadah (kesaksian atas kesaksian), sehingga boleh bagi hakim untuk menulis surat kepada mereka tentang hal itu, meskipun mereka bukan dari kalangan orang yang bertugas di wilayah kerjanya, dan sah pula bagi mereka untuk memikul tanggung jawab tersebut darinya apabila para saksi yang memikul surat itu telah menyaksikan mereka. Dan sah pula bagi mereka untuk menyampaikan kesaksian itu apabila tidak memungkinkan untuk menetapkannya melalui orang yang memikul tanggung jawab tersebut darinya, baik itu hakim atau para saksi surat, sebagaimana yang kami katakan dalam syahadah ‘ala syahadah.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْقِسْمُ الرَّابِعُ فِي مُكَاتَبَةِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ، فَالْكِتَابُ إِلَيْهِ إِلْزَامٌ لَهُ، وَحُكْمٌ عَلَيْهِ.

Adapun bagian keempat tentang surat-menyurat kepada orang yang telah dijatuhi putusan, maka surat yang dikirimkan kepadanya merupakan suatu keharusan baginya dan merupakan keputusan atas dirinya.

فَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ عَمَلِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ وَلَا يَجِبُ إِذَا كَتَبَ إِلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ كِتَابَهُ، وَلَا يَقْبَلُهُ؛ لِأَنَّهُ فِي طَاعَةِ غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ.

Jika ia bukan berasal dari kalangan ahli dalam bidang pekerjaannya, maka tidak boleh baginya menulis surat kepadanya, dan tidak wajib pula jika ia menulis surat kepadanya untuk mematuhi isi surat tersebut, serta tidak perlu menerimanya; karena ia berada dalam ketaatan kepada hakim lain.

وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ جَازَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَيْهِ.

Dan jika ia termasuk orang yang memiliki keahlian dalam bidangnya, maka boleh baginya untuk menulis surat kepadanya.

وَلَزِمَهُ إِذَا وَصَلَ الْكِتَابُ إِلَيْهِ أَنْ يَقْبَلَهُ لِأَنَّهُ مُلْتَزِمٌ لِطَاعَتِهِ، فَإِنْ خَرَجَ إِلَى الطَّالِبِ مِنْ حَقِّهِ، وَإِلَّا لَزِمَهُ الْمَصِيرُ مَعَ الطَّالِبِ إِلَى الْقَاضِي إِذَا دَعَاهُ إِلَيْهِ إِنْ كَانَ عَلَى مَسَافَةٍ أَقَلَّ مِنْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَإِنْ كَانَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْهَا لَمْ يَلْزَمْهُ الْحُضُورُ إِلَّا بِالِاسْتِحْضَارِ، فَهَذِهِ أَقْسَامُ الْفَصْلِ الثَّانِي مِنَ الْفُصُولِ الْأَرْبَعَةِ.

Dan wajib baginya, apabila surat itu sampai kepadanya, untuk menerimanya karena ia terikat untuk taat kepadanya. Jika ia keluar menuju pihak yang menuntut haknya, maka itu cukup. Jika tidak, maka wajib baginya pergi bersama penuntut kepada qāḍī (hakim) apabila ia dipanggil kepadanya, jika jaraknya kurang dari satu hari satu malam. Namun jika jaraknya lebih dari itu, maka ia tidak wajib hadir kecuali dengan pemanggilan resmi. Inilah bagian-bagian dari bab kedua dari empat bab tersebut.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ مِنْهَا، وَهُوَ فِيمَا يَجِبُ فِيهِ قَبُولُ كُتُبِهِ: فَقَدْ ذَكَرْنَا فِي عَقْدِ الْبَابِ أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ كِتَابُ الْقَاضِي فِي الْحُكْمِ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ، يَتَحَمَّلَانِ الْكِتَابَ عَنْهُ، وَيَشْهَدَانِ بِهِ عِنْدَ الْقَاضِي الْمَكْتُوبِ إِلَيْهِ.

Adapun bagian ketiga darinya, yaitu tentang perkara yang wajib diterima suratnya: Kami telah sebutkan dalam pembahasan bab bahwa surat seorang qāḍī dalam perkara hukum tidak dapat diterima kecuali dengan dua orang saksi yang menerima surat itu darinya dan memberikan kesaksian atasnya di hadapan qāḍī yang dituju oleh surat tersebut.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، فَلِتَحَمُّلِهِمَا الْكِتَابَ شُرُوطٌ، وَلِأَدَائِهِمَا لِلْكِتَابِ شُرُوطٌ:

Jika demikian, maka untuk menerima kitab terdapat syarat-syarat, dan untuk menyampaikan kitab juga terdapat syarat-syarat.

فَأَمَّا شُرُوطُ تَحَمُّلِهِ فَثَلَاثَةٌ:

Adapun syarat-syarat menerima hadis itu ada tiga.

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْلَمَا مَا فِيهِ وَعِلْمُهُمَا بِهِ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ.

Salah satunya adalah bahwa keduanya mengetahui apa yang ada di dalamnya, dan pengetahuan mereka tentang hal itu terjadi melalui salah satu dari tiga cara.

إِمَّا أَنْ يَقْرَأَهُ الْقَاضِي عَلَيْهِمَا، وَإِمَّا أَنْ يأمر من يقرأ بِحَضْرَتِهِ عَلَيْهِمَا، وَإِمَّا أَنْ يَقْرَأَهُ الشَّاهِدَانِ عَلَيْهِ.

Bisa saja hakim membacakannya kepada keduanya, atau memerintahkan seseorang untuk membacakannya di hadapannya kepada keduanya, atau kedua saksi yang membacakannya kepadanya.

فَإِنْ لَمْ يَعْلَمَا مَا فِيهِ وَدَفَعَهُ الْقَاضِي إِلَيْهِمَا مَخْتُومًا لِيَشْهَدَا بِهِ، لَمْ يَجُزْ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ. وَجَوَّزَهُ أَبُو يُوسُفَ وَهَذَا فَاسِدٌ؛ لِإِمْكَانِ التَّزْوِيرِ عَلَى الْخَتْمِ، كَإِمْكَانِهِ عَلَى الْخَطِّ، وَلِأَنَّهُ تَحَمُّلُ شَهَادَةٍ، فَلَمْ يَجُزْ إِلَّا بِمَعْلُومٍ.

Jika keduanya tidak mengetahui isi dokumen tersebut dan hakim menyerahkannya kepada mereka dalam keadaan tersegel untuk mereka saksikan, maka hal itu tidak diperbolehkan menurut pendapat asy-Syafi‘i dan Abu Hanifah. Namun Abu Yusuf membolehkannya, dan pendapat ini tidak sah; karena kemungkinan terjadinya pemalsuan pada segel sebagaimana kemungkinan pemalsuan pada tulisan tangan, dan karena ini merupakan bentuk pemikul kesaksian, maka tidak diperbolehkan kecuali terhadap sesuatu yang diketahui.

فَإِنْ أَرَادَ الشَّاهِدَانِ فِي الْكِتَابِ الْمَخْتُومِ أَنْ يَشْهَدَا بِالْكِتَابِ، وَلَا يَشْهَدَا بِمَا فِيهِ، فَفِي جَوَازِهِ لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Jika dua saksi pada surat yang tersegel ingin memberikan kesaksian atas surat tersebut, namun tidak memberikan kesaksian atas isi di dalamnya, maka menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat mengenai kebolehannya.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ بِكِتَابٍ مُعَيَّنٍ.

Salah satunya: Diperbolehkan karena hal itu merupakan kesaksian terhadap sebuah kitab tertentu.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ، لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِهِ لَا تُفِيدُ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهَا مَا فِيهِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh, karena persaksian atasnya tidak memberikan manfaat, sebab yang dimaksud dengan persaksian adalah apa yang terkandung di dalamnya.

وَلَا يَجُوزُ لِلْمُكَاتِبِ قَبُولُهُ لِلْحُكْمِ بِمَا فِيهِ إِلَّا بِشَهَادَةِ غَيْرِهِمَا.

Dan tidak boleh bagi seorang mukatab menerima keputusan hukum berdasarkan apa yang ada di dalamnya kecuali dengan kesaksian selain keduanya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَقُولَ الْقَاضِي لَهُمَا: هَذَا كِتَابِي إِلَى الْقَاضِي فُلَانٍ فَاشْهَدَا عَلَيَّ بِمَا فِيهِ فَإِنْ لَمْ يَقُلْ لَهُمَا هَذَا كِتَابِي إِلَى فُلَانٍ وَاقْتَصَرَ بِهِمَا عَلَى عُنْوَانِهِ لَمْ يَجُزْ.

Syarat kedua: Hakim harus mengatakan kepada keduanya, “Ini adalah suratku kepada hakim Fulan, maka saksikanlah atas diriku tentang apa yang ada di dalamnya.” Jika ia tidak mengatakan kepada keduanya, “Ini adalah suratku kepada Fulan,” dan hanya mencantumkan nama penerima pada alamatnya saja, maka hal itu tidak diperbolehkan.

وَإِنْ قَالَ لَهُمَا: هَذَا كِتَابِي إِلَى فُلَانٍ وَلَمْ يَسْتَرْعِهِمَا الشَّهَادَةَ وَلَا قَالَ اشْهَدَا عَلَيَّ بِمَا فِيهِ، فَفِي صِحَّةِ التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ بِهَذَا الْقَوْلِ وَحْدَهُ وَجْهَانِ، بِنَاءً عَلَى اخْتِلَافِ أَصْحَابِنَا فِي جَوَازِ الشَّهَادَةِ عَلَى الْمُقِرِّ بِالسَّمَاعِ مِنْ غَيْرِ اسْتِدْعَاءِ الْمُقِرِّ لِلشُّهُودِ، فَإِنْ قِيلَ لَا تَجُوزُ الشَّهَادَةُ بِالسَّمْعِ إِلَّا بَعْدَ اسْتِدْعَائِهِمَا، لَمْ يَصِحَّ هَذَا التَّحَمُّلُ، وَلَمْ يَجُزْ مَعَهُ الْأَدَاءُ وَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِهِ، جَوَّزَ هَذَا فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ.

Jika ia berkata kepada keduanya: “Ini adalah suratku kepada si Fulan,” namun ia tidak meminta keduanya untuk menjadi saksi dan tidak berkata, “Saksikanlah atas apa yang ada di dalamnya,” maka dalam hal keabsahan tahammul (penerimaan kesaksian) dan ada’ (penyampaian kesaksian) hanya dengan ucapan ini saja terdapat dua pendapat, berdasarkan perbedaan pendapat di kalangan ulama kami tentang bolehnya memberikan kesaksian atas pengakuan yang didengar tanpa adanya permintaan dari pihak yang mengakui kepada para saksi. Jika dikatakan bahwa tidak boleh memberikan kesaksian atas apa yang didengar kecuali setelah adanya permintaan dari keduanya, maka tahammul ini tidak sah dan tidak boleh dilakukan ada’ bersamanya. Namun jika dikatakan bahwa hal itu boleh, maka hal ini pun dibolehkan dalam tahammul dan ada’.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ لَا يَغِيبَ الْكِتَابُ عَنْهُمَا بَعْدَ تَحَمُّلِ مَا فِيهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَا قَدْ كَتَبَا فِيهِ شَهَادَتُهُمَا، لِيَتَذَكَّرَا بِهِ صِحَّةَ الْكِتَابِ وَمَعْرِفَتَهُ، فَإِنْ غَابَ الْكِتَابُ عَنْهُمَا قَبْلَ إِثْبَاتِ خَطَّهِمَا فِيهِ، أَوِ ارْتَابَا بِهِ بَعْدَ الْخَطِّ لَمْ يَصِحَّ التَّحَمُّلُ، إِلَّا أَنْ يُعِيدَ الْقَاضِي قِرَاءَتَهُ عَلَيْهِمَا وَيَقُولَ لَهُمَا: هَذَا هُوَ كِتَابِي الَّذِي أَشْهَدْتُكُمَا عَلَيَّ بِمَا فِيهِ إِلَى الْقَاضِي فُلَانٍ؛ لأنه قد يحتمل أن يبدل فِي الْغَيْبَةِ بِغَيْرِهِ.

Syarat ketiga: Kitab (dokumen) tersebut tidak boleh hilang dari keduanya setelah mereka menerima isinya, kecuali jika keduanya telah menuliskan kesaksian mereka di dalamnya, agar mereka dapat mengingat kebenaran kitab itu dan mengetahuinya. Jika kitab itu hilang dari keduanya sebelum mereka menuliskan tanda tangan mereka di dalamnya, atau mereka meragukannya setelah menuliskan tanda tangan, maka penerimaan (kesaksian) tidak sah, kecuali jika qadhi membacakan kembali kitab itu kepada mereka dan berkata kepada keduanya: “Inilah kitabku yang aku persaksikan kalian atas isinya kepada qadhi fulan,” karena mungkin saja kitab itu telah diubah ketika tidak ada.

وَأَمَّا شُرُوطُ أَدَائِهِ إِلَى الْقَاضِي الْمَكْتُوبِ إِلَيْهِ فَثَلَاثَةٌ:

Adapun syarat pelaksanaan (putusan) kepada qāḍī yang dituju dalam surat tersebut ada tiga:

أَحَدُهَا: أَنْ يَسْتَدِيمَ الثِّقَةَ بِصِحَّةِ الْكِتَابِ، وَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ مِنْ أَحَدِ وَجْهَيْنِ.

Salah satunya adalah tetap menjaga kepercayaan terhadap keshahihan kitab, dan hal itu bisa terjadi melalui salah satu dari dua cara.

إِمَّا أَنْ لَا يَخْرُجَ الْكِتَابُ عَنْ أَيْدِيهِمَا وَإِمَّا أَنْ يَكُونَا قَدْ أَثْبَتَا فِيهِ خُطُوطَهُمَا، حَتَّى يُحَقِّقَا عَلَامَتَهُمَا فِيهِ، فَإِنْ تَشَكَّكَا فِيهِ لَمْ يَصِحَّ أَدَاؤُهُمَا.

Bisa jadi kitab itu tidak keluar dari tangan mereka berdua, atau bisa juga mereka berdua telah membubuhkan tanda tangan mereka di dalamnya, sehingga mereka dapat memastikan tanda pengenal mereka di dalamnya. Jika mereka berdua ragu terhadapnya, maka penyampaian mereka tidak sah.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَصِلَ إِلَى الْقَاضِي بِمَشْهَدِهِمَا، إِمَّا مِنْ أَيْدِيهِمَا، أَوْ مِنْ يَدِ الطَّالِبِ بِحَضْرَتِهِمَا فَإِنْ لَمْ يُشَاهِدَا وُصُولَهُ لَمْ يَصِحَّ الْأَدَاءُ.

Syarat kedua: Hendaknya (barang bukti) sampai kepada qadhi di hadapan kedua saksi, baik dari tangan keduanya, atau dari tangan pihak yang meminta (bukti) dengan kehadiran keduanya. Jika keduanya tidak menyaksikan sampainya (barang bukti tersebut), maka penyampaian (bukti) itu tidak sah.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَشْهَدَا عِنْدَ الْقَاضِي بِمَا فِيهِ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ فَإِنْ قَالَاهُ بِلَفْظِ الْخَبَرِ دُونَ الشَّهَادَةِ أَوْ شَهِدَا بِالْكِتَابِ وَلَمْ يَشْهَدَا بِمَا فِيهِ لَمْ يَصِحَّ الْأَدَاءُ لِلْحُكْمِ.

Syarat ketiga: Kedua saksi harus memberikan kesaksian di hadapan hakim dengan lafaz syahadah, bukan dengan lafaz khabar. Jika mereka mengatakannya dengan lafaz khabar, bukan dengan lafaz syahadah, atau mereka bersaksi atas dokumen tetapi tidak bersaksi atas isi dokumen tersebut, maka penyampaian kesaksian itu tidak sah untuk dijadikan dasar putusan.

(فصل: ما يمضيه القاضي المكتوب إليه من حكمه) .

Bagian: Ketetapan yang dijalankan oleh qadhi yang menerima surat keputusan dari qadhi lain.

وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ: وَهُوَ فِيمَا يُمْضِيهِ الْقَاضِي الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ حُكْمِهِ، فَكِتَابُهُ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian keempat, yaitu tentang apa yang disahkan oleh qādī yang ditulisi surat mengenai putusannya, maka suratnya terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مَقْصُورًا عَلَى نَقْلِ مَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنْ إِقْرَارٍ وَشَهَادَةٍ، فَيَثْبُتُ بِالْكِتَابِ عِنْدَ الثَّانِي مَا ثَبَتَ عِنْدَ الْأَوَّلِ مِنْ إِقْرَارٍ أَوْ شَهَادَةٍ، وَيَتَوَلَّى الثَّانِي إِنْفَاذَ الْحُكْمِ فِيهِ بِرَأْيِهِ وَاجْتِهَادِهِ، فَإِنِ اخْتَلَفَ اجْتِهَادُهُمَا فِيهِ، كَانَ مَحْمُولًا عَلَى اجْتِهَادِ الثَّانِي، دُونَ الْأَوَّلِ، لِاخْتِصَاصِ الثَّانِي بِتَنْفِيذِ الْحُكْمِ فِيهِ.

Salah satunya adalah bahwa hal itu terbatas pada penyampaian apa yang telah tetap menurutnya berupa pengakuan dan kesaksian, sehingga dengan surat tersebut, pada hakim kedua dapat tetap apa yang telah tetap pada hakim pertama berupa pengakuan atau kesaksian. Kemudian hakim kedua yang melaksanakan putusan itu dengan pendapat dan ijtihadnya. Jika terjadi perbedaan ijtihad di antara keduanya dalam hal ini, maka yang diikuti adalah ijtihad hakim kedua, bukan yang pertama, karena hakim kedua yang berwenang melaksanakan putusan tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْكِتَابُ مُشْتَمِلًا عَلَى ذِكْرِ الشَّهَادَةِ وَإِمْضَاءِ الْحُكْمِ بِهَا، فَلَا يَخْلُو حَالُ حُكْمِهِ عِنْدَهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Jenis kedua: yaitu apabila surat tersebut memuat penyebutan kesaksian dan penetapan hukum berdasarkan kesaksian itu, maka keadaan hakim dalam memutuskan perkara berdasarkan surat tersebut tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ جَائِزًا، لَا يُخَالِفُهُ فِيهِ، فَعَلَيْهِ أَنْ يُمْضِيَهُ لِطَالِبِهِ وَيَأْخُذَ الْمَطْلُوبَ بِأَدَائِهِ.

Salah satunya: apabila menurutnya hal itu boleh dan ia tidak menentangnya, maka ia wajib melaksanakannya bagi yang memintanya dan mengambil apa yang diminta dengan menunaikannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ بَاطِلًا لَا مَسَاغَ لَهُ فِي الِاجْتِهَادِ، فَعَلَيْهِ أَنْ يَنْقُضَهُ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila menurutnya keputusan itu batil dan tidak ada ruang baginya dalam ijtihad, maka wajib baginya untuk membatalkannya.

فَإِنِ اقْتَرَنَ بِهِ حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى، كَالنِّكَاحِ، وَالطَّلَاقِ، نَقَضَهُ وَإِنْ لَمْ يُطَالِبْ بِنَقْضِهِ، وَإِنْ تَفَرَّدَ بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، لَمْ يَكُنْ لَهُ نَقْضُهُ إِلَّا أَنْ يُطَالِبَهُ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ بِنَقْضِهِ.

Jika dalam perkara tersebut terdapat hak Allah Ta‘ala, seperti dalam pernikahan atau talak, maka keputusan itu dapat dibatalkan meskipun tidak ada permintaan pembatalan. Namun, jika perkara itu hanya berkaitan dengan hak-hak manusia, maka keputusan tersebut tidak dapat dibatalkan kecuali jika pihak yang dijatuhi keputusan menuntut pembatalan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ حُكْمُهُ مُحْتَمِلًا لِلِاجْتِهَادِ، لِتَرَدُّدِهِ بَيْنَ أَصْلَيْنِ أَدَّاهُ اجْتِهَادُهُ فِيهِ إِلَى غَيْرِ مَا حَكَمَ بِهِ الْكَاتِبُ، فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُمْضِيَهُ، لِاعْتِقَادِهِ أَنَّهُ بَاطِلٌ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْقُضَهُ، لِاحْتِمَالِهِ فِي الِاجْتِهَادِ، وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الْمَطْلُوبَ بِأَدَائِهِ؛ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُسْتَحَقٍّ عِنْدَهُ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَمْنَعَ الطَّالِبَ مِنْهُ، لِنُفُوذِ الْحُكْمِ بِهِ، وَقَالَ لِلْمَطْلُوبِ: لَسْتُ أُوجِبُهُ عَلَيْكَ، وَلَا أُسْقِطُهُ عَنْكَ، وَقَالَ لِلطَّالِبِ: لَسْتُ أُوجِبُهُ لَكَ، وَلَا أَمْنَعُكَ مِنْهُ، فَإِنْ تَرَاضَيْتُمَا أَمْضَيْتُهُ عَلَى مَرْاضَاتِكُمَا، وَإِنْ تَمَانَعْتُمَا تَرَكْتُكُمَا عَلَى تَنَازُعِكُمَا، وَقَطَعْتُ التَّنَافُرَ بَيْنَكُمَا. وَيَخْرُجُ فِي هَذِهِ الْقَضِيَّةِ أَنْ يَكُونَ فِيهَا حَاكِمًا أَوْ مُسْتَوْفِيًّا.

Jenis yang ketiga: yaitu apabila hukumnya memungkinkan untuk dilakukan ijtihad, karena adanya keraguan antara dua dasar hukum yang berbeda, dan hasil ijtihadnya dalam hal ini berbeda dengan apa yang telah diputuskan oleh penulis (hakim sebelumnya), maka ia tidak boleh menjalankannya, karena ia meyakini bahwa keputusan itu batal. Ia juga tidak boleh membatalkannya, karena masih ada kemungkinan dalam ijtihad. Ia tidak boleh mengambil sesuatu yang diminta dengan menjalankan keputusan itu, karena menurutnya hal itu tidak berhak untuk diambil. Ia juga tidak boleh melarang pihak yang menuntut untuk mengambilnya, karena keputusan itu telah berlaku. Maka ia berkata kepada pihak yang diminta: “Aku tidak mewajibkannya atasmu, dan aku juga tidak menggugurkannya darimu.” Dan ia berkata kepada pihak penuntut: “Aku tidak mewajibkannya untukmu, dan aku juga tidak melarangmu darinya. Jika kalian berdua saling merelakan, aku akan menjalankannya sesuai kerelaan kalian berdua. Namun jika kalian saling menolak, aku akan membiarkan kalian dalam perselisihan kalian, dan aku akan menghentikan permusuhan di antara kalian.” Dalam kasus ini, ia bisa berperan sebagai hakim atau sebagai pelaksana keputusan.

فَهَذِهِ جُمْلَةُ مَا ضَمَنَّاهُ عِقْدَ الْبَابِ مِنَ الْأَقْسَامِ وَالْأَحْكَامِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Inilah keseluruhan yang kami cantumkan dalam bab ini berupa pembagian-pembagian dan hukum-hukum, dan Allah lebih mengetahui kebenaran.

(نَسْخُ الشاهدين الكتاب) .

Penghapusan dua saksi terhadap dokumen.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَنْبَغِي أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِنَسْخِهِ كِتَابَةً فِي أَيْدِيهِمْ وَيُوَقِّعُوا شَهَادَاتِهِمْ فِيهِ “.

Syafi‘i berkata: “Dan sebaiknya ia memerintahkan mereka untuk menyalin (dokumen itu) secara tertulis di tangan mereka, dan mereka membubuhkan tanda tangan kesaksian mereka di dalamnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، وَهُوَ الْأَحْوَطُ فِي كُتُبِ الْقُضَاةِ، أَنْ يَكُونَ الْكِتَابُ عَلَى نُسْخَتَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan inilah yang lebih hati-hati dalam kitab-kitab para qadhi, yaitu hendaknya surat itu dibuat dalam dua salinan.

إِحْدَاهُمَا: مَعَ الطَّالِبِ مَخْتُومَةٌ وَالْأُخْرَى مَعَ الشَّاهِدَيْنِ مَفْضُوضَةٌ يَتَدَارَسَانِهَا، لِيَحْفَظَا مَا فِيهَا، وَتَكُونُ الَّتِي مَعَ الطَّالِبِ مَحْفُوظَةً بِالْخَتْمِ حَتَّى إِنْ ضَاعَتْ إِحْدَى النُّسْخَتَيْنِ، أَوْ كِلَاهُمَا، أَمْكَنَ الشَّاهِدَانِ إِذَا حَفِظَا مَا فِي الْكِتَابِ أَنْ يَشْهَدَا بِمَا فِيهِ.

Salah satunya: bersama pemohon dalam keadaan tersegel, dan yang lainnya bersama dua saksi dalam keadaan terbuka agar keduanya dapat mempelajarinya, sehingga mereka dapat menghafal isinya. Sementara yang bersama pemohon tetap terjaga dengan segel, sehingga jika salah satu dari kedua salinan itu hilang, atau keduanya hilang, maka kedua saksi, jika telah menghafal isi dokumen tersebut, dapat memberikan kesaksian tentang isinya.

فَإِنِ اقْتَصَرَ الْقَاضِي فِي الْكِتَابِ عَلَى نُسْخَةٍ وَاحِدَةٍ جَازَ وَلَهُ فِيهِ حَالَتَانِ:

Jika qādī hanya mencantumkan dalam surat satu salinan saja, maka hal itu diperbolehkan, dan dalam hal ini terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَدْفَعَ الْكِتَابَ إِلَى الشَّاهِدَيْنِ دُونَ الطَّالِبِ، فَيَجُوزُ وَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ خَتْمِهِ وَتَرْكِهِ وَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَخْتِمَهُ إِذَا كَانَ مَعَهُمَا لِيَتَدَارَسَاهُ وَيَحْفَظَا مَا فِيهِ حَتَّى يَشْهَدَا بِهِ لَفَظًا إِنْ ضَاعَ مِنْهُمَا.

Salah satunya adalah menyerahkan dokumen kepada dua saksi tanpa memberikannya kepada pihak yang meminta, maka hal itu diperbolehkan. Ia boleh memilih antara menyegel dokumen tersebut atau tidak, dan yang lebih utama adalah tidak menyegelnya jika dokumen itu bersama kedua saksi, agar mereka dapat mempelajarinya dan menghafal isinya sehingga mereka dapat memberikan kesaksian secara lisan jika dokumen itu hilang dari mereka.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَدْفَعَ الْقَاضِي الْكِتَابَ إِلَى الطَّالِبِ دُونَ الشَّاهِدَيْنِ، فَعَلَى الْقَاضِي مِنَ الِاحْتِيَاطِ فِيهِ أَنْ يَخْتِمَهُ بِخَاتَمِهِ وَعَلَى الشَّاهِدَيْنِ مِنَ الِاحْتِيَاطِ فِي الشَّهَادَةِ بِهِ أَنْ يُوَقِّعَا فِيهِ خَطَّهُمَا وَيَخْتِمَاهُ بِخَتْمِهِمَا، لِيَكُونَ ذَلِكَ عَلَامَةً لَهُمَا فِي نَفْسِ الِارْتِيَابِ عَنْهُمَا وَيَكُونُ خَتْمُهُمَا فِي دَاخِلِ الْكِتَابِ وَخَتْمُ الْقَاضِي عَلَى ظَهْرِهِ مَعْطُوفًا.

Keadaan kedua: Jika hakim menyerahkan dokumen kepada pemohon tanpa kedua saksi, maka kehati-hatian yang harus dilakukan oleh hakim adalah membubuhkan stempelnya pada dokumen tersebut. Adapun kehati-hatian yang harus dilakukan oleh kedua saksi dalam memberikan kesaksian atas dokumen itu adalah menuliskan tanda tangan mereka dan membubuhkan stempel mereka pada dokumen tersebut, agar hal itu menjadi tanda bagi mereka berdua jika timbul keraguan terhadap mereka. Stempel kedua saksi diletakkan di dalam dokumen, sedangkan stempel hakim diletakkan di bagian belakang dokumen secara melintang.

فَإِنِ اقْتَصَرَ الشَّاهِدَانِ عَلَى الْخَطِّ دُونَ الْخَتْمِ جَازَ، وَإِنْ تَرَكَا زِيَادَةَ الِاحْتِيَاطِ.

Jika kedua saksi hanya membatasi pada tulisan tangan tanpa stempel, maka hal itu diperbolehkan, meskipun mereka meninggalkan tambahan kehati-hatian.

فَإِذَا وَصَلَ الطَّالِبُ وَالشَّاهِدَانِ إِلَى الْقَاضِي الْمُكَاتِبِ، تَفَرَّدَ الطَّالِبُ بِخِطَابِهِ دُونَ الشَّاهِدَيْنِ، وَكَانَ أَوَّلُ كَلَامِهِ مُسْتَعْدِيًا إِلَيْهِ، وَلَمْ يَكُنْ مُدَّعِيًا عِنْدَهُ، فَيَقُولُ: أَنَا أَسْتَعْدِيكَ عَلَى فُلَانٍ فِي حَقٍّ لِي عَلَيْهِ، أَوْ فِي يَدِهِ وَقَدْ مَنَعَنِي مِنْهُ.

Maka apabila pihak penuntut dan dua orang saksi telah sampai kepada qadhi yang menulis (dokumen), penuntut berbicara sendiri kepadanya tanpa disertai kedua saksi. Ucapan pertamanya adalah memohon perlindungan kepadanya, dan ia belum dianggap sebagai penggugat di hadapannya. Maka ia berkata: “Saya memohon perlindungan kepadamu terhadap si Fulan dalam suatu hak milik saya atasnya, atau yang ada di tangannya dan ia telah menghalangi saya darinya.”

وَيَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ، وَلَا يَذْكُرَ الْكِتَابَ وَلَا حُضُورَ الشُّهُودِ وَلَا يَصِفَ الْحَقَّ وَلَا يَذْكُرَ قَدْرَهُ لِأَنَّهُ مَجْلِسُ اسْتِعْدَاءٍ وَلَيْسَ مَجْلِسُ دَعْوَى وَيَسْأَلُهُ إِحْضَارَ خَصْمِهِ.

Dan boleh baginya hanya mengucapkan perkataan ini saja, tanpa menyebutkan kitab, tanpa kehadiran saksi, tanpa menjelaskan hak, dan tanpa menyebutkan jumlahnya, karena ini adalah majelis permohonan bantuan (istiadā’), bukan majelis gugatan (da‘wā), dan ia meminta agar lawannya dihadirkan.

فَإِذَا حَضَرَ جَدَّدَ الطَّالِبُ الدَّعْوَى، وَوَصَفَهَا، وَسَأَلَ الْقَاضِي الْخَصْمَ الْمَطْلُوبَ عَنْهَا.

Maka apabila pihak yang dipanggil telah hadir, penggugat memperbarui gugatan, menjelaskannya, dan hakim menanyakan kepada tergugat tentang gugatan tersebut.

فَإِنِ اعْتَرَفَ بِهَا، وَأَقَرَّ لَمْ يَحْتَجِ الطَّالِبُ إِلَى إِيصَالِ الْكِتَابِ، وَحُكِمَ لَهُ بِإِقْرَارِ الْمَطْلُوبِ.

Jika ia mengakuinya dan membenarkan, maka pihak penuntut tidak perlu menyampaikan surat tersebut, dan keputusan diberikan kepadanya berdasarkan pengakuan pihak yang diminta.

وَإِنْ أَنْكَرَ عَرَّفَهُ الطَّالِبُ أَنَّ حَقَّهُ عَلَيْهِ قَدْ ثَبَتَ عِنْدَ الْقَاضِي فُلَانٍ وَهَذَا كِتَابُهُ إِلَيْكَ بِثُبُوتِهِ عِنْدَهُ، وَكَانَ الطَّالِبُ هُوَ الْمُبَاشِرُ لِتَسْلِيمِ الْكِتَابِ مِنْ يَدِهِ إِلَى الْقَاضِي وَيَذْكُرُ لَهُ حُضُورَ شُهُودِهِ.

Dan jika ia mengingkari, maka pihak penuntut memberitahukan kepadanya bahwa haknya atas dirinya telah ditetapkan di hadapan qādī (hakim) fulan, dan inilah surat dari qādī tersebut kepadamu yang menyatakan penetapan hak itu di sisinya. Penuntutlah yang secara langsung menyerahkan surat tersebut dari tangannya kepada qādī, serta menyebutkan kepadanya kehadiran para saksinya.

فَإِذَا وَقَفَ الْقَاضِي عَلَى عُنْوَانِهِ وَخَتْمِهِ، سَأَلَ الشَّاهِدَيْنِ عَنْهُ قَبْلَ فَضِّهِ سُؤَالَ اسْتِخْبَارٍ لَا سُؤَالَ شَهَادَةٍ.

Maka apabila qādī telah melihat alamat dan capnya, ia menanyai kedua saksi tentangnya sebelum membukanya dengan pertanyaan klarifikasi, bukan pertanyaan kesaksian.

فَإِذَا أَخْبَرَاهُ أَنَّهُ كِتَابُ الْقَاضِي إِلَيْهِ فَضَّهُ وَقَرَأَهُ.

Maka apabila keduanya memberitahukan kepadanya bahwa itu adalah surat dari qādī yang ditujukan kepadanya, ia membukanya dan membacanya.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَفُضَّهُ وَيَقْرَأَهُ بِمَحْضَرٍ مِنَ الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ فَإِنْ قَرَأَهُ بِغَيْرِ مَحْضَرٍ مِنْهُ جَازَ.

Yang lebih utama adalah membukanya dan membacanya di hadapan pihak lawan yang dipanggil. Namun, jika membacanya tanpa kehadiran pihak tersebut, maka hal itu diperbolehkan.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ جَوَازِ فَضِّهِ وَقِرَاءَتِهِ قَبْلَ حُضُورِ الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ.

Abu Hanifah melarang kebolehan membuka dan membacanya sebelum hadirnya pihak lawan yang dipanggil.

وَهَذَا عِنْدَنَا عُدُولٌ عَنِ الْأَوْلَى، وَلَيْسَ بِعُدُولٍ عَنِ الْوَاجِبِ، لِأَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ بِالْقِرَاءَةِ حُكْمٌ وَلَا إِلْزَامٌ.

Dan hal ini menurut kami merupakan meninggalkan yang lebih utama, bukan meninggalkan yang wajib, karena tidak ada hukum atau keharusan yang berkaitan dengan bacaan tersebut.

وَيَبْنِيهِ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى أَصْلِهِ فِي الْمَنْعِ مِنَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ.

Abu Hanifah mendasarkan pendapatnya pada prinsipnya dalam melarang memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir.

فَإِذَا قَرَأَهُ الْقَاضِي سَأَلَ الشَّاهِدَيْنِ عَمَّا فِيهِ سُؤَالَ اسْتِشْهَادٍ لَا سُؤَالَ اسْتِخْبَارٍ، لِأَنَّ بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ يَجِبُ الْحُكْمُ بِمَا فِي الْكِتَابِ.

Maka apabila hakim telah membacanya, ia menanyakan kepada dua saksi tentang isi surat itu dengan pertanyaan untuk meminta kesaksian, bukan pertanyaan untuk mencari informasi, karena dengan kesaksian ini wajib menetapkan hukum sesuai dengan apa yang terdapat dalam surat tersebut.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ هَذَا إِلَّا عِنْدَ حُضُورِ الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ عَلَيْهِ بِحَقٍّ وَجَبَ عَلَيْهِ.

Dan tidak boleh hal ini terjadi kecuali di hadapan pihak lawan yang dipanggil, karena hal itu merupakan kesaksian atasnya mengenai hak yang wajib baginya.

وَهَذَا بِخِلَافِ الْأَوَّلِ لِأَنَّ الْأَوَّلَ اسْتِخْبَارٌ كَانَا فِيهِ مُخَيَّرَيْنِ، وَالثَّانِي اسْتِشْهَادٌ كَانَا فِيهِ شَاهِدَيْنِ. وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْخَصْمُ غَائِبًا عِنْدَ الِاسْتِخْبَارِ وَيَجِبُ أَنْ يَكُونَ حَاضِرًا عِنْدَ الِاسْتِشْهَادِ.

Hal ini berbeda dengan yang pertama, karena yang pertama adalah istikhbār di mana kami berdua diberi pilihan, sedangkan yang kedua adalah istisyhād di mana kami berdua menjadi saksi. Boleh saja pihak lawan tidak hadir saat istikhbār, namun wajib hadir saat istisyhād.

فَلَوِ اقْتَصَرَ الْقَاضِي عَلَى الِاسْتِشْهَادِ دُونَ الِاسْتِخْبَارِ جَازَ، وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى الِاسْتِخْبَارِ دُونَ الِاسْتِشْهَادِ لَمْ يَجُزْ لِاخْتِصَاصِ الْحُكْمِ بِالشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ.

Maka jika hakim hanya membatasi diri pada meminta kesaksian tanpa melakukan penyelidikan, itu dibolehkan. Namun jika ia hanya membatasi diri pada penyelidikan tanpa meminta kesaksian, itu tidak dibolehkan, karena keputusan hukum khusus ditetapkan berdasarkan kesaksian, bukan berdasarkan berita semata.

وَالْأَوْلَى بِالْقَاضِي أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا، عَلَى مَا وَصَفْنَا لِيَكُونَ الِاسْتِخْبَارُ لِاسْتِبَاحَةِ قِرَاءَتِهِ وَالِاسْتِشْهَادُ لِوُجُوبِ الْحُكْمِ به.

Sebaiknya seorang qadhi menggabungkan keduanya, sebagaimana yang telah kami jelaskan, agar istikhbār digunakan untuk membolehkan pembacaannya dan istisyhād digunakan untuk mewajibkan penetapan hukum dengannya.

(شهادة النساء في تحمل كتب القضاة) .

Kesaksian perempuan dalam menerima catatan-catatan para qadhi.

وَلَا يُقْبَلُ فِي تَحَمُّلِ كُتُبِ الْقُضَاةِ وَأَدَائِهَا شَهَادَةُ النِّسَاءِ، وَإِنْ تَضَمَّنَتْ مِنَ الْحُقُوقِ مَا تُقْبَلُ فِيهَا شَهَادَةُ النِّسَاءِ.

Tidak diterima dalam proses menerima dan menyampaikan dokumen para qadhi (hakim) kesaksian perempuan, meskipun di dalamnya terdapat hak-hak yang dalam perkara tersebut kesaksian perempuan diterima.

وَجَوَّزَ بَعْضُ الْعِرَاقِيِّينَ قَبُولَ شَهَادَتِهِنَّ فِيهَا إِذَا تَضَمَّنَتْ مَا تُقْبَلُ فِيهِ شَهَادَتُهُنَّ مِنَ الْأَمْوَالِ.

Sebagian ulama Irak membolehkan diterimanya kesaksian mereka (para perempuan) dalam hal ini jika kesaksian tersebut mencakup perkara yang memang dapat diterima kesaksian mereka di dalamnya, yaitu perkara-perkara harta.

وَهَذَا زَلَلٌ، مِنْ وَجْهَيْنِ:

Ini adalah sebuah kekeliruan, dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا شَهَادَةٌ بِحُكْمٍ وَلَيْسَتْ بِمَالٍ.

Salah satunya: bahwa ia adalah sebuah kesaksian atas suatu hukum dan bukanlah harta.

وَالثَّانِي: أَنَّهَا مُجْرَاةٌ مَجْرَى الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ الَّتِي لَا يُقْبَلْنَ فِيهَا، فَلَمْ يُقْبَلْنَ فِيمَا أجرى مجراها.

Kedua: Bahwa hal itu diperlakukan seperti syahadah ‘ala asy-syahadah (kesaksian atas kesaksian) yang tidak diterima di dalamnya, maka tidak diterima pula dalam hal-hal yang diperlakukan serupa dengannya.

(تنفيذ حكم الكتاب) .

(Pelaksanaan hukum kitab).

فَإِذَا تَمَّتِ الشَّهَادَةُ عِنْدَ الْقَاضِي بِصِحَّةِ الْكِتَابِ وَقَبِلَهُ بِالشَّاهِدَيْنِ، وَقَّعَ بِخَطِّهِ فِيهِ بِالْقَبُولِ وَحَكَمَ بِهِ عَلَى الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ.

Apabila kesaksian di hadapan hakim tentang keabsahan dokumen telah sempurna dan hakim menerimanya dengan dua orang saksi, maka hakim membubuhkan tanda tangannya pada dokumen tersebut sebagai tanda penerimaan, dan memutuskan perkara berdasarkan dokumen itu terhadap pihak tergugat.

فَإِنْ كَانَ الْكِتَابُ بِمِلْكِ عَيْنٍ قَائِمَةٍ، مِنْ أَرْضٍ أَوْ دَارٍ، جَازَ أَنْ يُعِيدَ الْكِتَابَ إِلَى الطَّالِبِ الْمُسْتَحِقِّ لَهَا لِيَكُونَ حُجَّةً بَاقِيَةً فِي يَدِهِ.

Jika akad hibah itu atas kepemilikan suatu benda yang tetap, seperti tanah atau rumah, maka boleh bagi pemberi hibah untuk mengembalikan akad hibah tersebut kepada pihak penerima yang berhak, agar menjadi bukti yang tetap di tangannya.

فَإِنْ سَأَلَهُ الطَّالِبُ الْإِشْهَادَ عَلَى نَفْسِهِ فِيهِ بِقَبُولِهِ، وَالْحُكْمَ بِمَضْمُونِهِ، لَزِمَهُ الْإِشْهَادُ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ.

Jika seorang murid memintanya untuk memberikan kesaksian atas dirinya dalam hal itu dengan penerimaannya, dan meminta agar diputuskan sesuai dengan isinya, maka wajib baginya untuk memberikan kesaksian atas dirinya dalam hal itu.

وَإِنْ كَانَ الْكِتَابُ بِدَيْنٍ فِي الذِّمَّةِ فَاسْتَوْفَاهُ الْقَاضِي لِطَالِبِهِ وَمُسْتَحِقِّهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعِيدَ الْكِتَابَ إِلَى الطَّالِبِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ سَقَطَ حَقُّهُ فيه باستيفاء له.

Jika surat itu berisi utang yang menjadi tanggungan, lalu qadhi telah menagihnya untuk pihak yang menuntut dan yang berhak, maka tidak boleh mengembalikan surat itu kepada penuntut; karena haknya atas surat tersebut telah gugur dengan telah dipenuhinya utang itu.

(خَتْمُ كِتَابِ الْقَاضِي وَالْحُكْمُ إِذَا انْكَسَرَ الْخَتْمُ) .

Penyegelan surat keputusan hakim dan hukum apabila segel tersebut rusak.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” فَإِنِ انْكَسَرَ خَاتَمُهُ أَوِ انْمَحَى كِتَابُهُ شَهِدُوا بِعِلْمِهِمْ عَلَيْهِ “.

Syafi‘i berkata: “Jika cincin seseorang pecah atau tulisan pada cincin itu terhapus, mereka memberikan kesaksian berdasarkan pengetahuan mereka tentangnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، وَالْمَقْصُودُ بِالْكِتَابِ: حِفْظُ مَا فِيهِ مِنْ نِسْيَانٍ أَوْ خَطَأٍ وَالْمَقْصُودُ بِالْخَتْمِ: الِاحْتِيَاطُ وَالتَّكْرُمَةُ.

Al-Mawardi berkata: Ini benar, dan yang dimaksud dengan penulisan adalah menjaga apa yang ada di dalamnya dari lupa atau kesalahan, sedangkan yang dimaksud dengan penyegelan adalah kehati-hatian dan pemuliaan.

وَقَدْ قِيلَ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ: {إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ} [النمل: 29] أَيْ مَخْتُومٌ.

Telah dikatakan dalam penafsiran firman-Nya: “Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia” (an-Naml: 29), yaitu maksudnya adalah surat yang bersegel.

وَالْمَعْمُولُ عَلَيْهِ فِي الْكِتَابِ مَا يَشْهَدُ بِهِ شَاهِدَاهُ.

Yang dijadikan pegangan dalam kitab adalah apa yang disaksikan oleh dua saksinya.

فَإِنِ انْكَسَرَ الْخَتْمُ أَوِ امَّحَى الْكِتَابُ جَازَ لِلشَّاهِدَيْنِ أَنْ يَشْهَدَا بِمَا فِيهِ إِذَا حَفِظَاهُ.

Jika segel itu pecah atau tulisan pada dokumen itu terhapus, maka kedua saksi boleh memberikan kesaksian tentang isinya jika mereka menghafalnya.

وَكَذَلِكَ لَوْ ضَاعَ الْكِتَابُ لَمْ يَمْنَعْ مِنْ صحة شهادتهما بمضونه.

Demikian pula, jika kitab tersebut hilang, hal itu tidak menghalangi sahnya kesaksian mereka berdua terhadap isi kitab tersebut.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ صِحَّةِ شَهَادَتِهِمَا إِنْ ضَاعَ أَوِ امَّحَى لِتَحَمُّلِهِمَا لِلشَّهَادَةِ عَلَى الْكِتَابِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَا بِغَيْرِ كِتَابٍ.

Abu Hanifah tidak membolehkan kesaksian mereka berdua dianggap sah jika tulisan itu hilang atau terhapus, karena mereka berdua memikul tanggung jawab untuk memberikan kesaksian atas tulisan tersebut, sehingga tidak boleh bagi mereka bersaksi tanpa adanya tulisan.

وَدَلِيلُنَا: هُوَ أَنَّهُمَا تَحَمَّلَا الشَّهَادَةَ بِالْحُكْمِ الْمَذْكُورِ فِي الْكِتَابِ فَلَمْ يَمْنَعْ تَلِفُهُ مِنْ صِحَّةِ تَحَمُّلِهِمَا وَجَوَازِ أَدَائِهِمَا.

Dalil kami adalah bahwa keduanya telah memikul kesaksian atas hukum yang disebutkan dalam kitab, maka hilangnya (hukum tersebut) tidak menghalangi keabsahan pemikulan kesaksian mereka berdua dan kebolehan penyampaian kesaksian mereka.

وَلِأَنَّهُمَا لَوْ شَهِدَا مِنْ حِفْظِهِمَا بِحَقٍّ فِي كِتَاب وَثِيقه قَدْ ضَاعَ جَازَ وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ صِحَّةِ الشَّهَادَةِ كَذَلِكَ إِنْ ضَاعَ كِتَابُ الْقَاضِي.

Karena jika keduanya memberikan kesaksian dari hafalan mereka mengenai suatu hak dalam sebuah dokumen perjanjian yang telah hilang, maka hal itu diperbolehkan dan tidak menghalangi keabsahan kesaksian; demikian pula jika dokumen hakim itu hilang.

فَأَمَّا إِذَا كَانَ الْكِتَابُ بَاقِيًا فَأَرَادَ الشَّاهِدَانِ أَنْ يَشْهَدَا بِمَا فِيهِ وَلَا يُوَصِّلَاهُ حَرُمَ إِمْسَاكُهُ عَلَيْهِمَا وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْ صِحَّةِ شَهَادَتِهِمَا، لِأَنَّ الْكِتَابَ أَمَانَةٌ مُؤَدَّاةٌ فِي أَيْدِيهِمَا.

Adapun jika dokumen itu masih ada, lalu kedua saksi ingin memberikan kesaksian atas isinya namun tidak menyerahkannya, maka haram bagi mereka menahan dokumen tersebut, namun hal itu tidak menghalangi keabsahan kesaksian mereka, karena dokumen tersebut adalah amanah yang harus disampaikan yang ada di tangan mereka.

فَإِنِ امَّحَى مَا فِي الْكِتَابِ لم يلزمها إِيصَالُهُ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ بَعْدَ امْتِحَائِهِ كِتَابًا.

Jika tulisan yang ada dalam surat itu terhapus, maka ia tidak wajib menyampaikannya, karena setelah terhapusnya tulisan tersebut, ia tidak lagi dianggap sebagai surat.

وَلَوِ امَّحَى بَعْضَهُ لَزِمَهُ إِيصَالُهُ إِنْ بَقِيَ أَكْثَرُهُ وَلَمْ يَلْزَمْهُمَا إِيصَالُهُ إِنْ ذَهَبَ أَكْثَرُهُ.

Dan jika sebagian darinya terhapus, maka wajib baginya untuk menyempurnakannya jika yang tersisa masih lebih banyak. Namun, tidak wajib bagi keduanya untuk menyempurnakannya jika yang hilang lebih banyak.

(تَغَيَّرَ حَالُ الْقَاضِي الْكَاتِبِ بِالْمَوْتِ أَوِ الْعَزْلِ وغيرهما) .

Keadaan qadhi penulis berubah karena kematian, pemecatan, atau sebab-sebab lainnya.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” فَإِنْ مَاتَ الْكَاتِبُ أَوْ عُزِلَ لَمْ يَمْنَعْ ذَلِكَ قَبُولَهُ وَنَقْبَلُهُ كَمَا نَقْبَلُ حُكْمَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Jika penulis itu meninggal atau diberhentikan, hal itu tidak menghalangi diterimanya (tulisannya), dan kita menerimanya sebagaimana kita menerima keputusannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا كَتَبَ قَاضٍ إِلَى قَاضٍ كِتَابًا وَأَشْهَدَ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ شُهُودًا ثم تغيرت حَالُ الْقَاضِي الْكَاتِبِ بِمَا يَمْنَعُهُ مِنَ الْحُكْمِ فَقَدْ يَكُونُ ذَلِكَ بِأَحَدِ أَرْبَعَةِ أُمُورٍ: بِمَوْتٍ أو عزل أو جنون أو فسق.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila seorang qadi menulis surat kepada qadi lain dan menghadirkan saksi atas dirinya terhadap surat itu, kemudian keadaan qadi penulis berubah dengan sesuatu yang menghalanginya dari menjalankan hukum, maka hal itu bisa terjadi karena salah satu dari empat hal: kematian, pemecatan, kegilaan, atau kefasikan.

(تغير حاله بالموت أو العزل) .

Keadaannya berubah karena wafat atau diberhentikan.

فَإِنْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ بِمَوْتٍ أَوْ عَزْلٍ فَالْحُكْمُ فِيهَا سَوَاءٌ.

Jika keadaannya berubah karena kematian atau pencopotan, maka hukumnya tetap sama.

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ كِتَابِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum menulisnya menjadi tiga mazhab:

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ: أَنَّ حُكْمَ كِتَابِهِ ثَابِتٌ وَقَبُولَهُ وَاجِبٌ سَوَاءٌ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ قَبْلَ خُرُوجِ الْكِتَابِ عَنْ يَدِهِ أَوْ بَعْدَهُ.

Salah satunya, yaitu mazhab Syafi‘i: bahwa hukum yang terdapat dalam kitabnya tetap berlaku dan penerimaannya wajib, baik keadaannya berubah sebelum kitab itu keluar dari tangannya maupun setelahnya.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبٌ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ حُكْمَ كِتَابِهِ قَدْ سَقَطَ بِتَغْيِيرِ حَالِهِ وَلَمْ يَجُزْ قَبُولُهُ سَوَاءٌ تَغَيَّرَتْ قَبْلَ خُرُوجِ الكتاب عن يده أبو بَعْدَهُ.

Yang kedua: yaitu pendapat Abu Hanifah bahwa hukum kitabnya telah gugur karena berubahnya keadaannya, dan tidak boleh diterima, baik perubahan itu terjadi sebelum kitab itu keluar dari tangannya maupun setelahnya.

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي يُوسُفَ إِنْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ قَبْلَ خُرُوجِ الْكِتَابِ عَنْ يَدِهِ سَقَطَ حُكْمُهُ، وَإِنْ تَغَيَّرَتْ بَعْدَ خُرُوجِهِ عَنْ يَدِهِ ثَبَتَ حُكْمُهُ.

Ketiga: yaitu pendapat Abu Yusuf, bahwa jika keadaannya berubah sebelum surat (dokumen) itu keluar dari tangannya, maka hukumnya gugur; namun jika keadaannya berubah setelah surat itu keluar dari tangannya, maka hukumnya tetap berlaku.

وَدَلِيلُهُمَا عَلَى سُقُوطِ حُكْمِهِ أَنَّهُمَا جَعَلَا كِتَابَ الْقَاضِي فَرْعًا لِمَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ، وإِذَا تَغَيَّرَتْ حَالُ الْفَرْعِ مَنَعَ مِنْ ثُبُوتِ حُكْمِ الْأَصْلِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ إِذَا تغيرت فيها حَالُ شُهُودِ الْفَرْعِ امْتَنَعَ أَنْ يَثْبُتَ بِهِمْ حُكْمُ شُهُودِ الْأَصْلِ.

Dalil mereka berdua tentang gugurnya hukum tersebut adalah bahwa mereka menjadikan surat keputusan qadhi sebagai cabang dari orang yang bersaksi di hadapannya. Jika keadaan cabang berubah, maka hal itu menghalangi penetapan hukum asal, seperti halnya kesaksian atas kesaksian; apabila keadaan para saksi cabang berubah, maka tidak mungkin ditetapkan dengan mereka hukum para saksi asal.

وَدَلِيلُنَا أَنَّ الْقَاضِيَ وَإِنْ كَانَ فَرْعًا لِمَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ فَهُوَ أَصْلٌ لِمَنْ أَشْهَدَه عَلَى نَفْسِهِ وَتَغَيُّرُ حَالِ الْأَصْلِ لَا يَمْنَعُ مِنْ ثُبُوتِ الْحُكْمِ بِالْفَرْعِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، لَا يَمْنَعُ تَغَيُّرُ حَالِ شُهُودِ الْأَصْلِ مِنْ ثُبُوتِ حُكْمِهِمْ شُهُودَ الْفَرْعِ.

Dalil kami adalah bahwa meskipun qadhi merupakan cabang dari orang yang bersaksi di hadapannya, ia adalah asal bagi orang yang memintanya menjadi saksi atas dirinya sendiri. Perubahan keadaan asal tidak menghalangi tetapnya hukum pada cabang, seperti dalam kasus kesaksian atas kesaksian; perubahan keadaan para saksi asal tidak menghalangi tetapnya hukum mereka pada saksi cabang.

فَصَارَ عِلَّةُ الِاخْتِلَافِ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ أَجْرَى عَلَيْهِ حُكْمَ الْفَرْعِ اعْتِبَارًا بِمَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ وَالشَّافِعِيُّ أَجْرَى عَلَيْهِ حُكْمَ الْأَصْلِ اعْتِبَارًا بِمَنْ أَشْهَدَهُ عَلَى نَفْسِهِ.

Maka sebab terjadinya perbedaan pendapat adalah bahwa Abu Hanifah memberlakukan hukum cabang padanya dengan mempertimbangkan orang yang bersaksi di hadapannya, sedangkan asy-Syafi‘i memberlakukan hukum asal padanya dengan mempertimbangkan orang yang menjadikan dirinya sebagai saksi.

وَاعْتِبَارُهُ بِالْأَصْلِ أَوْلَى مِنِ اعْتِبَارِهِ بِالْفَرْعِ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ فَرْعًا لِأَصْلٍ، وَأَصْلًا لِفَرْعٍ، كَانَ اعْتِبَارُ حُكْمِ الْحَالِ أَوْلَى مِنِ اعتبار حكم قد زال.

Mempertimbangkan hukum berdasarkan asal lebih utama daripada mempertimbangkannya berdasarkan cabang; karena sesuatu yang merupakan cabang dari suatu asal, dan juga menjadi asal bagi cabang lain, maka mempertimbangkan hukum yang sedang berlaku lebih utama daripada mempertimbangkan hukum yang telah hilang.

(فصل: تغير حاله بالفسق أو الجنون) .

Bab: Perubahan Keadaannya karena Fasik atau Gila.

وَإِنْ تَغَيَّرَتْ حَالُ الْكَاتِبِ بِفِسْقٍ أَوْ جُنُونٍ فَالْحُكْمُ فِيهِمَا وَاحِدٌ.

Jika keadaan penulis berubah karena kefasikan atau kegilaan, maka hukum pada keduanya adalah sama.

فَلَيْسَ يَخْلُو حَالُ الْكِتَابِ مِنْ أَنْ يَكُونَ بِحُكْمٍ أَوْ شَهَادَةٍ.

Maka tidaklah keadaan surat itu lepas dari salah satu: berupa penetapan hukum atau berupa kesaksian.

فَإِنْ كَانَ الْكِتَابُ بِحُكْمٍ قَدْ أَمْضَاهُ فِي حَالِ سَلَامَتِهِ، وَجَبَ قَبُولُ كِتَابِهِ بَعْدَ تَغَيُّرِ حَالِهِ؛ لِأَنَّ مَا نَفَذَ مِنَ الْأَحْكَامِ فِي حَالِ الْجَوَازِ لَمْ يَتَعَقَّبْهُ فَسَادٌ.

Jika surat itu berisi suatu putusan yang telah disahkan pada saat ia masih dalam keadaan sehat, maka wajib menerima suratnya setelah keadaannya berubah; karena putusan yang telah berlaku pada saat masih diperbolehkan, tidak diikuti oleh kerusakan setelahnya.

وَإِنْ كَانَ الْكِتَابُ بِشَهَادَةٍ قَدْ ثَبَتَتْ عِنْدَهُ نُظِرَ: فَإِنْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ بَعْدَ قَبُولِ كِتَابِهِ ثَبَتَ حُكْمُهُ، وَإِنْ تَغَيَّرَتْ قَبْلَ قَبُولِهِ، سَقَطَ حُكْمُهُ، كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ إِذَا فَسَقَ فِيهَا شُهُودُ الْأَصْلِ بَعْدَ قَبُولِ شُهُودِ الْفَرْعِ صَحَّتِ الشَّهَادَةُ وَلَوْ فَسَقُوا قَبْلَ قَبُولِ شُهُودِ الْفَرْعِ سَقَطَتِ الشَّهَادَةُ.

Jika surat itu berisi kesaksian yang telah ditetapkan di hadapannya, maka diperhatikan: jika keadaannya berubah setelah suratnya diterima, maka hukumnya tetap berlaku; namun jika keadaannya berubah sebelum diterima, maka hukumnya gugur. Hal ini seperti kesaksian atas kesaksian, yaitu apabila para saksi asal menjadi fasik setelah kesaksian para saksi cabang diterima, maka kesaksian itu sah; tetapi jika mereka menjadi fasik sebelum kesaksian para saksi cabang diterima, maka kesaksian itu gugur.

(فَصْلٌ: تغير حال القاضي المكاتب) .

Bab: Perubahan status hakim yang berstatus mukatab.

فَأَمَّا إِذَا تَغَيَّرَتْ حَالُ الْقَاضِي الْمُكَاتِبِ بِمَوْتٍ أَوْ عَزْلٍ أَوْ جُنُونٍ أَوْ فِسْقٍ سَقَطَ أَنْ يَكُونَ قَابِلًا وَحَاكِمًا بِهِ.

Adapun jika keadaan qadhi yang menulis akad berubah karena kematian, pemecatan, gila, atau kefasikan, maka gugurlah kemampuannya untuk menjadi pihak yang menerima dan memutuskan perkara tersebut.

فَإِنْ تَقَلَّدَ مَكَانَهُ غَيْرُهُ مِنَ الْقُضَاةِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَقُومَ فِي قَبُولِ الْكِتَابِ مَقَامَ الْأَوَّلِ الْمَعْزُولِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ada hakim lain yang menggantikan posisinya, maka para ulama kami berbeda pendapat: apakah boleh hakim yang baru tersebut menempati posisi hakim pertama yang telah diberhentikan dalam menerima surat (putusan)? Terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَصْرِيِّينَ، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ قَبُولُ كِتَابٍ إِلَى غَيْرِهِ كَالشَّهَادَةِ عِنْدَ الْمَعْزُولِ، وَلَا يَحْكُمُ بِهَا الْمَوْلَى بَعْدَهُ.

Salah satunya adalah pendapat mazhab Basrah, dan inilah yang dikatakan oleh Abu Hanifah: bahwa tidak boleh baginya menerima surat yang ditujukan kepada selainnya, seperti kesaksian di hadapan hakim yang telah diberhentikan, dan penguasa setelahnya tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan surat tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ الْبَغْدَادِيِّينَ يَجُوزُ لَهُ قَبُولُ كِتَابِهِ إِلَى الْمَعْزُولِ لِأَنَّ الْمَعْمُولَ مِنَ الْكِتَابِ بِمَا يُؤَدِّيهِ شُهُودُهُ مِنْ حُكْمِ الْأَوَّلِ بِمَضْمُونِهِ، فَكَانَ ثُبُوتُ الشَّهَادَةِ بِهِ عِنْدَ الثَّانِي كَثُبُوتِهَا بِهِ عِنْدَ الْأَوَّلِ فَوَجَبَ أَنْ يَسْتَوِيَا فِيهِ.

Pendapat kedua, yaitu mazhab para ulama Baghdad, membolehkan menerima suratnya kepada hakim yang telah diberhentikan, karena yang dijadikan dasar dari surat tersebut adalah apa yang disampaikan oleh para saksinya mengenai putusan hakim pertama sesuai dengan isi surat itu. Maka, penetapan kesaksian dengan surat itu di hadapan hakim kedua sama dengan penetapannya di hadapan hakim pertama, sehingga keduanya harus disamakan dalam hal ini.

وَقَدْ حُكِيَ أَنَّ قَاضِيًا بِالْكُوفَةِ كَتَبَ إِلَى إِيَاسِ بْنِ مُعَاوِيَةَ وَهُوَ قَاضِي الْبَصْرَةِ كتَابًا بِحُكْمٍ فَوَصَلَ بَعْدَ عَزْلِ إِيَاسٍ وَوُلَايَةِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ فَقَبِلَهُ الْحَسَنُ وَحَكَمَ بِهِ.

Diriwayatkan bahwa seorang qadi di Kufah menulis surat kepada Iyas bin Muawiyah, yang saat itu adalah qadi di Bashrah, berisi suatu keputusan hukum. Surat itu sampai setelah Iyas diberhentikan dan Hasan al-Bashri diangkat sebagai qadi. Maka Hasan menerima surat tersebut dan memutuskan perkara berdasarkan isinya.

(فصل: في حكم من استخلفه القاضي بعد حكم المستخلف) .

(Bab: Tentang hukum orang yang diangkat sebagai pengganti oleh qāḍī setelah adanya putusan dari orang yang mengangkatnya.)

وَلَوْ كَانَ أَحَدُ الْقَاضِيَيْنِ مِنْ قِبَلِ الْآخَرِ، فَتَغَيَّرَتْ حَالُ الْمُوَلِّي بِمَوْتٍ، أَوْ عَزْلٍ، انْعَزَلَ الْمُوَلَّى، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ قَبُولُ كِتَابِ الْمُوَلِّي.

Dan jika salah satu dari dua qadi diangkat oleh yang lain, lalu keadaan yang mengangkat berubah karena wafat atau diberhentikan, maka yang diangkat pun otomatis diberhentikan, dan ia tidak lagi berhak menerima surat dari yang mengangkatnya.

وَلَوْ كَانَ الْقَاضِي وَالِيًا مِنْ قِبَلِ الْخَلِيفَةِ، فَمَاتَ الْخَلِيفَةُ أَوْ خُلِعَ، لَمْ يَنْعَزِلْ بِهِ الْقَاضِي وَجَازَ لَهُ قَبُولُ كِتَابِهِ.

Jika seorang qadhi adalah pejabat yang diangkat oleh khalifah, lalu khalifah tersebut wafat atau dilengserkan, maka qadhi itu tidak otomatis diberhentikan karena peristiwa tersebut, dan ia tetap boleh menerima surat keputusan dari khalifah sebelumnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا: أَنَّ الْخَلِيفَةَ يَسْتَنِيبُ الْقُضَاةَ فِي حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يَنْعَزِلُوا بِمَوْتِهِ، وَتَغَيُّرِ حَالِهِ، وَالْقَاضِي يَسْتَنِيبُ خَلِيفَتَهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، فَانْعَزَلَ بِمَوْتِهِ وَتَغَيَّرَ حَالُهُ.

Perbedaan antara keduanya adalah: khalifah mewakilkan para qadi dalam hak-hak kaum Muslimin, sehingga mereka tidak diberhentikan karena wafatnya khalifah atau perubahan keadaannya. Sedangkan qadi mewakilkan penggantinya dalam hak dirinya sendiri, sehingga ia diberhentikan karena wafatnya atau perubahan keadaannya.

فَعَلَى هَذَا الْفَرْقِ يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَعْزِلَ خَلِيفَتَهُ بِغَيْرِ مُوجِبٍ، وَلَا يَجُوزَ لِلْخَلِيفَةِ أَنْ يَعْزِلَ الْقَاضِيَ بِغَيْرِ مُوجِبٍ.

Berdasarkan perbedaan ini, maka boleh bagi qadhi untuk memberhentikan wakilnya tanpa alasan, sedangkan tidak boleh bagi wakil untuk memberhentikan qadhi tanpa alasan.

وَسَوَّى بَعْضُ أَصْحَابِنَا بَيْنَ مَوْتِ الْخَلِيفَةِ وَالْقَاضِي فِي انْعِزَالِ مَنْ وَلَّيَاهُ.

Sebagian ulama kami menyamakan antara wafatnya khalifah dan wafatnya qadhi dalam hal pemberhentian orang yang diangkat oleh keduanya.

وَسَوَّى آخَرُونَ مِنْهُمْ فِي بَقَاءِ وُلَايَةِ مَنْ وَلَّيَاهُ.

Dan sebagian yang lain dari mereka menyamakan dalam hal tetapnya wewenang orang yang telah mereka angkat.

وَالَّذِي عَلَيْهِ قَوْلُ جُمْهُورِهِمْ ما ذكرناه من الفرق بينهما.

Pendapat mayoritas ulama mereka adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan mengenai perbedaan antara keduanya.

(فصل: كتاب القاضي وهو في غير محل ولايته) .

(Bab: Putusan hakim yang berada di luar wilayah kekuasaannya).

وَإِذَا سَافَرَ الْقَاضِي عَنْ بَلَدِ وِلَايَتِهِ، وَكَتَبَ كِتَابًا بِحُكْمٍ إِلَى قَاضٍ آخَرَ لَمْ يَكُنْ لِلْمُكَاتِبِ أَنْ يَقْبَلَ كِتَابَ الْكَاتِبِ لِأَنَّ كِتَابَهُ حُكْمٌ، وَحُكْمُهُ لَا يُنَفَّذُ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ.

Apabila seorang qadhi bepergian meninggalkan negeri tempat ia berkuasa, lalu ia menulis surat berisi putusan kepada qadhi lain, maka qadhi yang menerima surat tersebut tidak boleh menerima surat itu, karena surat tersebut merupakan sebuah putusan, dan putusannya tidak dapat dilaksanakan di luar wilayah kekuasaannya.

وَلَوْ كَتَبَهُ الْكَاتِبُ وَهُوَ فِي عَمَلِهِ فَوَصَلَ إِلَى الْمُكَاتِبِ وَهُوَ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ. لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَقْبَلَهُ، لِأَنَّ قَبُولَهُ حُكْمٌ، وَحُكْمُهُ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ لَا يُنَفَّذُ.

Dan jika penulis menuliskannya saat ia sedang menjalankan tugasnya, lalu sampai kepada orang yang dituju (mukatab) ketika ia sedang tidak menjalankan tugasnya, maka ia tidak berhak menerimanya. Sebab, penerimaan itu adalah suatu keputusan, dan keputusannya ketika ia sedang tidak menjalankan tugasnya tidak dapat diberlakukan.

وَلَوْ أَنَّ قَاضِيَيْنِ اجْتَمَعَا فِي غَيْرِ عَمَلِهِمَا، مِثْلَ قَاضِي الْبَصْرَةِ وَقَاضِي الْكُوفَةِ إِذَا اجْتَمَعَا بِبَغْدَادَ لَمْ يَكُنْ لِأَحَدِهِمَا أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى الْآخَرِ مَا حَكَمَ بِهِ، وَلَا أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُ مَا حَكَمَ بِهِ، لِأَنَّ الْأَدَاءَ وَالْقَبُولَ حُكْمٌ لَا يَصِحُّ مِنْهُمَا فِي غَيْرِ عَمَلِهِمَا.

Dan jika dua qadi berkumpul di luar wilayah tugas mereka, seperti qadi Basrah dan qadi Kufah yang bertemu di Baghdad, maka tidak boleh salah satu dari mereka menyampaikan kepada yang lain apa yang telah ia putuskan, dan tidak boleh pula menerima dari yang lain apa yang telah ia putuskan, karena penyampaian dan penerimaan itu merupakan keputusan hukum yang tidak sah dilakukan oleh mereka berdua di luar wilayah tugas mereka.

وَلَوْ أَنَّهُمَا اجْتَمَعَا فِي بَلَدِ أَحَدِهِمَا مِثْلَ قَاضِي الْبَصْرَةِ وَقَاضِي الْكُوفَةِ إِذَا اجْتَمَعَا فِي الْبَصْرَةِ، فَأَدَّى كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى الْآخَرِ مَا حَكَمَ بِهِ، لَمْ يَجُزْ لِقَاضِي الْبَصْرَةِ أَنْ يَحْكُمَ بِمَا أَدَّاهُ إِلَيْهِ قَاضِي الْكُوفَةِ.

Dan jika keduanya berkumpul di negeri salah satu dari mereka, seperti Qadhi Basrah dan Qadhi Kufah jika keduanya berkumpul di Basrah, lalu masing-masing dari mereka menyampaikan kepada yang lain apa yang telah ia putuskan, maka tidak boleh bagi Qadhi Basrah untuk memutuskan berdasarkan apa yang disampaikan kepadanya oleh Qadhi Kufah.

لِأَنَّهُ أداه في غيره عَمَلِهِ، وَأَدَاؤُهُ حُكْمٌ وَلَيْسَ بِشَهَادَةٍ لِأَمْرَيْنِ:

Karena ia menyampaikan perbuatan orang lain, dan penyampaiannya itu merupakan hukum, bukan kesaksian, karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ قَوْلَهُ وَحْدَهُ مَقْبُولٌ، وَالشَّهَادَةُ لَا تُقْبَلُ إِلَّا مِنِ اثْنَيْنِ.

Salah satunya adalah bahwa perkataannya sendiri dapat diterima, sedangkan kesaksian tidak diterima kecuali dari dua orang.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يُخْبِرُ بِفِعْلِ نَفْسِهِ وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الشَّاهِدِ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ.

Kedua: bahwa ia memberitakan tentang perbuatannya sendiri, dan kesaksian seseorang atas perbuatannya sendiri tidak diterima.

فَأَمَّا مَا أَدَّاهُ قَاضِي الْبَصْرَةِ إِلَى قَاضِي الْكُوفَةِ فَأَدَاؤُهُ مَقْبُولٌ، لِأَنَّهُ يُؤَدِّيهِ فِي غير عمله.

Adapun apa yang disampaikan oleh qāḍī Basrah kepada qāḍī Kufah, maka penyampaiannya itu diterima, karena ia menyampaikannya di luar wilayah tugasnya.

وَيَصِيرُ قَاضِي الْكُوفَةِ بِسَمَاعِهِ مِنْهُ عَالِمًا بِهِ، وَلَيْسَ بِحَاكِمٍ فِيهِ، لِأَنَّهُ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ.

Dan Qadi Kufah dengan mendengarnya dari orang tersebut menjadi mengetahui tentangnya, namun ia bukanlah hakim dalam perkara itu, karena perkara tersebut berada di luar wilayah tugasnya.

فَإِذَا صَارَ إِلَى عَمَلِهِ فَفِي جَوَازِ حُكْمِهِ بِهِ قَوْلَانِ كَالْقَاضِي فِي جَوَازِ حُكْمِهِ بِعَمَلِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Maka apabila ia beralih kepada amal perbuatannya, terdapat dua pendapat mengenai bolehnya ia menetapkan hukum berdasarkan amalnya, sebagaimana terdapat dua pendapat tentang bolehnya seorang qadhi menetapkan hukum berdasarkan amalnya sendiri. Allah Mahatahu.

(إِغْفَالُ عُنْوَانِ الْكِتَابِ) .

Mengabaikan judul kitab.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

قال الشافعي: ” وَلَوْ تَرَكَ أَنْ يَكْتُبَ اسْمَهُ فِي الْعُنْوَانِ وَقَطَعَ الشُّهُودُ بِأَنَّهُ كِتَابُهُ قَبِلَهُ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Jika ia tidak menuliskan namanya pada bagian judul, namun para saksi memastikan bahwa itu adalah suratnya, maka surat itu diterima.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا قَالَهُ رَدًّا عَلَى أَبِي حَنِيفَةَ، لِأَنَّهُ يَقُولُ: لَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُعَنْوَنًا فِي دَاخِلِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ عُنْوَانٌ، أَوْ كَانَ عُنْوَانُهُ عَلَى ظَاهِرِهِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَقْبَلَهُ مَعَ وِفَاقِهِ أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini ia katakan sebagai bantahan terhadap Abu Hanifah, karena ia berpendapat: Tidak boleh menerimanya kecuali jika terdapat identitas di dalamnya. Jika di dalamnya tidak terdapat identitas, atau identitasnya hanya tampak di luarnya, maka tidak boleh menerimanya, meskipun ia sepakat bahwa tidak boleh diterima kecuali dengan kesaksian.

وَعَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ: لَيْسَ الْعُنْوَانُ شَرْطًا فِي قَبُولِهِ، وَلَا فَرْقَ عِنْدَهُ بَيْنَ عُنْوَانِهِ مِنْ دَاخِلِهِ وَخَارِجِهِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُعَنْوَنًا لِأَنَّ الْحُكْمَ بِهِ مُتَعَلِّقٌ بِمَا يُؤَدِّيهِ الشُّهُودُ مِنْ مضمونه، فلم يكن لعنوانه وَلَا لِفَقْدِهِ تَأْثِيرٌ فِي الْحُكْمِ بِمَا شَهِدَ شُهُودُهُ.

Menurut mazhab Syafi‘i: judul bukanlah syarat dalam penerimaannya, dan tidak ada perbedaan menurut beliau antara judul yang berasal dari dalam maupun luar. Diperbolehkan untuk menerimanya meskipun tidak berjudul, karena hukum yang ditetapkan berkaitan dengan apa yang disampaikan para saksi dari isinya, sehingga keberadaan atau ketiadaan judul tidak berpengaruh terhadap penetapan hukum berdasarkan kesaksian para saksinya.

وَعُنْوَانُ الْكِتَابِ فِي دَاخِلِهِ عُرْفٌ قَدِيمٌ، وَعَلَى ظَاهِرِهِ عُرْفٌ مُسْتَحْدَثٌ.

Judul kitab di bagian dalamnya merupakan ‘urf lama, sedangkan pada sampul luarnya adalah ‘urf yang baru muncul.

وَالْعُرْفُ الْمَعْمُولُ بِهِ أَوْلَى مِنَ الْعُرْفِ الْمَتْرُوكِ.

‘Urf yang berlaku lebih diutamakan daripada ‘urf yang telah ditinggalkan.

وَلَيْسَ يُجْمَعُ بَيْنَهُمَا فِي عَصْرِنَا إِلَّا فِي كُتُبِ الْخُلَفَاءِ خَاصَّةً.

Dan keduanya tidak digabungkan pada masa kita kecuali dalam kitab-kitab para khalaf saja.

ثم قال أبو حنيفة: لا تقبل مُعَنْوَنًا بِالِاسْمِ وَحْدَهُ، أَوِ الْكُنْيَةِ، حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَ اسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيهِ وَجَدِّهِ، لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْكَاتِبِ وَالْمُكَاتِبِ، فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى اسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيهِ دُونَ جَدِّهِ لَمْ يَجُزْ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ اسْمُ الْأَبِ مَشْهُورًا لَا يَشْرَكُهُ غَيْرُهُ فِيهِ، أَوْ تَكُونَ الْكُنْيَةُ مَشْهُورَةً لَا يَشْرَكُهُ غَيْرُهُ فِيهَا.

Kemudian Abu Hanifah berkata: Tidak diterima jika hanya disebutkan dengan nama saja, atau hanya dengan kunyah, sampai digabungkan antara namanya, nama ayahnya, dan nama kakeknya, untuk masing-masing pihak penulis dan pihak yang ditulis. Jika hanya menyebutkan namanya dan nama ayahnya tanpa nama kakeknya, maka itu tidak sah, kecuali jika nama ayahnya sangat terkenal sehingga tidak ada orang lain yang menyandangnya, atau kunyah tersebut sangat terkenal sehingga tidak ada orang lain yang menggunakannya.

وَهَذَا الْقَوْلُ مَدْفُوعٌ بِمَا قَدَّمْنَاهُ.

Pendapat ini tertolak dengan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya.

وَالْعُرْفُ فِي عَصْرِنَا مُسْتَعْمَلٌ بِاسْتِيفَاءِ النَّسَبِ فِي الْعُنْوَانِ مِنَ الْأَدْنَى إِلَى الْأَعْلَى وَبِالِاقْتِصَارِ فِيهِ مِنَ الْأَعْلَى إِلَى الْأَدْنَى.

Adat kebiasaan pada masa kita digunakan dengan menyempurnakan nasab dalam penyebutan gelar dari yang terendah hingga yang tertinggi, dan dengan meringkasnya dari yang tertinggi hingga yang terendah.

(هَلْ يُبْدَأُ فِي الْعُنْوَانِ بِاسْمِ الْكَاتِبِ أَوْ بِاسْمِ الْمُكَاتِبِ) .

Apakah dalam penulisan alamat surat dimulai dengan nama penulis atau dengan nama orang yang dituju?

فَأَمَّا مَا يُبْدَأُ بِهِ فِي الْعُنْوَانِ مِنِ اسْمِ الْكَاتِبِ وَالْمُكَاتِبِ فَقَدْ جَاءَتِ الْأَخْبَارُ بِاسْتِعْمَالِ الْأَمْرَيْنِ فِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ.

Adapun mengenai apa yang diawali dalam judul berupa nama penulis dan yang ditulis kepadanya, maka telah datang riwayat-riwayat yang menunjukkan penggunaan kedua hal tersebut pada masa para sahabat.

فَرُوِيَ أَنَّ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ كَانَ يَبْدَأُ بِاسْمِهِ فِي مُكَاتَبَةِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، فَيَكْتُبُ: مِنَ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَضْرَمِيِّ إِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -.

Diriwayatkan bahwa Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami biasa memulai suratnya kepada Nabi ﷺ dengan menyebut namanya sendiri, lalu menulis: Dari Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami kepada Muhammad Rasulullah ﷺ.

وَكَانَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ يَكْتُبُ إِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ، وَيَكْتُبُ إِلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ.

Khalid bin al-Walid biasa menulis surat kepada Muhammad Rasulullah ﷺ dengan menyebutkan: “Dari Khalid bin al-Walid,” dan Rasulullah ﷺ juga menulis surat kepadanya dengan menyebutkan: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Khalid bin al-Walid.”

فَمَنْ بَدَأَ بِاسْمِهِ فَهُوَ عَلَى الْأَصْلِ، لِأَنَّهُ مِنَ الْكَاتِبِ إِلَى الْمُكَاتِبِ، وَمَنْ قَدَّمَ اسْمَ الْكَاتِبِ فَلِتَعْظِيمِهِ.

Barang siapa yang memulai dengan menyebut namanya sendiri, maka itu sesuai dengan asalnya, karena surat itu dari penulis kepada yang dituju. Dan barang siapa yang mendahulukan nama penulis, maka itu untuk memuliakannya.

وَعُرْفُ النَّاسِ فِي عَصْرِنَا فِي كُتُبِ الْمُلُوكِ فَمَنْ دُونَهُمْ: أَنْ يُقَدَّمَ فِي كُتُبِهِمُ اسْمُ الْمُكَاتِبِ عَلَى اسْمِ الْكَاتِبِ، إِلَّا الْخُلَفَاءَ خَاصَّةً فَإِنَّهُمْ يُقَدِّمُونَ فِي كُتُبِهِمْ أَسْمَاءَهُمْ عَلَى اسْمِ الْمُكَاتِبِ.

Adat kebiasaan manusia di zaman kita dalam surat-menyurat para raja dan yang di bawah mereka adalah mendahulukan nama penerima surat atas nama penulis surat, kecuali para khalifah secara khusus, karena mereka mendahulukan nama mereka dalam surat-surat mereka atas nama penerima surat.

فَأَيُّ الْأَمْرَيْنِ عَمِلَ عَلَيْهِ فِي كُتُبِ الْقُضَاةِ فَفِيهِ سَلَفٌ مَتْبُوعٌ.

Maka, pada salah satu dari dua perkara yang diamalkan dalam kitab-kitab para qāḍī, terdapat pendahulu yang diikuti.

وَقَدْ صَارَ تَقْدِيمُ اسْمِ الْكَاتِبِ فِي عَصْرِنَا مُسْتَنْكَرًا فَكَانَ الْعَمَلُ بِمَا لَا يَتَنَاكَرُهُ النَّاسُ أَوْلَى، وَإِنْ جَازَ خِلَافُهُ.

Dan kini, mendahulukan nama penulis pada masa kita telah dianggap sesuatu yang tidak lazim, maka yang lebih utama adalah mengikuti kebiasaan yang tidak diingkari oleh masyarakat, meskipun pendapat yang berbeda tetap dibolehkan.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كِتَابُ الْقَاضِي مَقْصُورًا فِي الدُّعَاءِ عَلَى مَا يَأْلَفُهُ أَهْلُ الْعَصْرِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُسْتَعْمَلَةِ فِي عُرْفِهِمْ، وَيَعْدِلُ عَمَّا تَقَدَّمَهَا مِنَ اللَّفْظِ الْمَتْرُوكِ وَيَقْتَصِرُ فِي كِتَابِهِ عَلَى الْحُكْمِ وَحْدَهُ، وَلَا يُقْرِنُهُ بِخَبَرٍ وَلَا اسْتِخْبَارٍ.

Dan sebaiknya surat keputusan qādī terbatas dalam permohonan pada ungkapan-ungkapan yang biasa digunakan oleh masyarakat pada zamannya menurut kebiasaan mereka, serta meninggalkan ungkapan-ungkapan lama yang sudah tidak dipakai lagi. Dalam suratnya, qādī cukup menyebutkan putusan saja, tanpa disertai berita atau permintaan informasi.

وَلِكُتُبِهِمْ شُرُوطٌ لَيْسَ هَذَا مَوْضِعَهَا.

Dan untuk kitab-kitab mereka terdapat syarat-syarat tertentu yang pembahasannya bukan pada tempat ini.

(الدَّعْوَى عَلَى الْمَجْهُولِ وَالْقَضَاءُ عَلَى الغائب) .

(Gugatan terhadap pihak yang tidak dikenal dan putusan terhadap pihak yang tidak hadir).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وإن أَنْكَرَ الْمَكْتُوبُ عَلَيْهِ لَمْ يَأْخُذْهُ بِهِ حَتَى تَقُومَ بَيِّنَةٌ بِأَنَّهُ هُوَ فَإِذَا رَفَعَ فِي نَسَبِهِ فَقَامَتْ عَلَيْهِ بَيِّنَةٌ بِهَذَا الِاسْمِ وَالنَّسَبِ وَالْقَبِيلَةِ وَالصِّنَاعَةِ أُخِذَ بِذَلِكَ الْحَقِّ وَإِنْ وَافَقَ الِاسْمَ وَالْقَبِيلَةَ وَالنَّسَبَ وَالصِّنَاعَةَ فَأَنْكَرَ الْمَكْتُوبُ عَلَيْهِ لَمْ يَقْضِ عَلَيْهِ حَتَّى يُبَانَ بِشَيْءٍ لَا يُوَافِقُهُ فِيهِ غَيْرُهُ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Jika orang yang dituju dalam surat itu mengingkarinya, maka tidak boleh diambil darinya (hak tersebut) sampai ada bukti yang menunjukkan bahwa dialah orangnya. Jika ia mengajukan perkara tentang nasabnya, lalu ada bukti yang menunjukkan nama, nasab, kabilah, dan pekerjaannya, maka ia dapat diambil dengan hak tersebut. Namun jika nama, kabilah, nasab, dan pekerjaannya sesuai, lalu orang yang dituju dalam surat itu mengingkarinya, maka tidak boleh diputuskan atasnya sampai ada sesuatu yang membedakannya dari orang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَصْلُ هَذَا إِنَّ الْحُكْمَ إِنَّمَا يَتَوَجَّهُ عَلَى مَعْرُوفٍ، يَتَمَيَّزُ عَنْ غَيْرِهِ، إِمَّا بِعَيْنِهِ، وَإِمَّا بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ لِأَنَّ الْجَهَالَةَ بِمَنْ عَلَيْهِ الْحَقُّ تَمْنَعُ مِنْ تَحْقِيقِ الْإِلْزَامِ.

Al-Mawardi berkata: Dasar dari hal ini adalah bahwa hukum itu hanya dapat diberlakukan atas sesuatu yang diketahui, yang dapat dibedakan dari selainnya, baik dengan identitasnya secara langsung, maupun dengan nama dan nasabnya, karena ketidaktahuan terhadap siapa yang menjadi pihak yang berkewajiban akan menghalangi terwujudnya kewajiban tersebut.

فَأَمَّا الْمَعْرُوفُ بِعَيْنِهِ دُونَ اسْمِهِ وَنَسَبِهِ، فَلَا يُمْكِنُ الْحُكْمُ عَلَيْهِ إِلَّا مَعَ حُضُورِهِ وَلَا تَكُونُ الْجَهَالَةُ بِاسْمِهِ وَنَسَبِهِ مَانِعَةً مِنْ نُفُوذِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ.

Adapun orang yang dikenal secara fisik namun tidak diketahui nama dan nasabnya, maka tidak mungkin dijatuhkan hukum atasnya kecuali dengan kehadirannya, dan ketidaktahuan terhadap nama dan nasabnya tidak menjadi penghalang bagi berlakunya hukum atasnya.

وَأَمَّا الْمَعْرُوفُ بِاسْمِهِ ونسبه، فهو الذي توجه الْحُكْمُ عَلَيْهِ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ.

Adapun orang yang dikenal dengan nama dan nasabnya, maka dialah yang hukum diarahkan kepadanya baik ketika hadir maupun tidak hadir.

فَإِذَا ثَبَتَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْقَاضِي حَقٌّ وَهُوَ حَاضِرٌ اسْتَوْفَاهُ مِنْهُ لِمُسْتَحِقِّهِ وَلَمْ يَكْتُبْ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ.

Apabila telah tetap atasnya suatu hak di hadapan qadhi sementara ia hadir, maka qadhi mengambilnya darinya untuk diberikan kepada yang berhak, dan tidak menuliskannya kepada pihak lain.

فَإِنْ غَابَ قَبْلَ دَفْعِ الْحَقِّ الَّذِي حَكَمَ بِهِ عَلَيْهِ، اسْتَحَقَّ الطَّالِبُ أَنْ يَتَنَجَّزَ كِتَابَهُ بِالْحُكْمِ إِلَى قَاضِي الْبَلَدِ الَّذِي صَارَ إِلَيْهِ الْمَطْلُوبُ لِيَسْتَوْفِيَ الْمُكَاتِبُ مِنْهُ حَقَّ الطَّالِبِ.

Jika orang yang dikenai putusan hakim itu pergi sebelum membayar hak yang telah diputuskan atasnya, maka pihak yang menuntut berhak untuk segera meminta surat keputusan hakim tersebut kepada hakim negeri tempat orang yang dicari itu berada, agar hakim di sana dapat mengambilkan hak pihak penuntut dari orang tersebut.

وَإِنْ ثَبَتَ الْحَقُّ عَلَى الْمَطْلُوبِ وَهُوَ غَائِبٌ جَازَ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ عَلَيْهِ مَعَ غَيْبَتِهِ بِاتِّفَاقٍ مَنْ جَوَّزَ الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ وَمَنْ لَمْ يُجَوِّزْهُ لِأَنَّ سَمَاعَ الْبَيِّنَةِ إِثْبَاتُ حَقٍّ يُفْضِي إِلَى الْحُكْمِ، وَلَيْسَ بِحُكْمٍ فَصَارَ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ فِي جَوَازِهَا مَعَ غَيْبَةِ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ.

Jika hak telah terbukti atas pihak yang diminta namun ia sedang tidak hadir, maka diperbolehkan bagi qadhi untuk mendengarkan bukti terhadapnya meskipun ia tidak hadir, menurut kesepakatan para ulama yang membolehkan pengadilan terhadap orang yang tidak hadir maupun yang tidak membolehkannya. Sebab, mendengarkan bukti adalah penetapan hak yang dapat mengantarkan pada putusan, namun bukan merupakan putusan itu sendiri. Maka hal ini seperti kesaksian atas kesaksian dalam hal kebolehannya meskipun orang yang disaksikan tidak hadir.

فَإِنْ حَضَرَ لَمْ يَلْزَمْ إِعَادَةُ الشَّهَادَةِ عَلَيْهِ بِمَشْهَدِهِ.

Jika ia hadir, maka tidak wajib mengulangi kesaksian atasnya di hadapannya.

وَأَوْجَبَ أَبُو حَنِيفَةَ إِعَادَتَهَا إِذَا حَضَرَ.

Abu Hanifah mewajibkan untuk mengulanginya apabila ia hadir.

فَإِذَا كَتَبَ الْقَاضِي بِثُبُوتِ ذَلِكَ عِنْدَهُ كَانَ الْمُكَاتِبُ هُوَ الْحَاكِمُ بِهِ وَالْكِتَابُ بَيِّنَةٌ بِثُبُوتِهِ.

Maka apabila qadhi menuliskan bahwa hal itu telah terbukti di sisinya, maka orang yang menulis adalah hakim yang memutuskan perkara tersebut, dan tulisan itu menjadi bukti atas kebenarannya.

وَإِنْ أَرَادَ الْقَاضِي بَعْدَ ثُبُوتِ الْحَقِّ عِنْدَهُ أَنْ يَحْكُمَ بِهِ عَلَى الْغَائِبِ جَازَ، عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَعِنْدَ مَنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ، وَلَمْ يَجُزْ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَعِنْدَ مَنْ لَا يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ.

Jika setelah hak itu terbukti di hadapan hakim, kemudian hakim ingin memutuskan perkara tersebut atas orang yang tidak hadir (ghaib), maka hal itu diperbolehkan menurut Imam Syafi‘i dan mereka yang membolehkan putusan atas orang yang tidak hadir. Namun, hal itu tidak diperbolehkan menurut Abu Hanifah dan mereka yang tidak membolehkan putusan atas orang yang tidak hadir.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ، وَأَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ الْقَاضِي بِثُبُوتِهِ، وَنُفُوذِ حُكْمِهِ، فَلِجَوَازِ مُكَاتَبَةِ الْقَاضِي بِهِ إِذَا كَانَ الْحَقُّ فِي الذِّمَّةِ وَثُبُوتِهِ بِالْبَيِّنَةِ شَرْطَانِ:

Jika demikian keadaannya, dan seorang qadhi ingin menuliskan penetapan serta berlakunya putusan tersebut, maka bolehnya qadhi menulis tentang hal itu apabila hak tersebut berada dalam tanggungan dan penetapannya dengan bukti merupakan dua syarat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَثْبُتَ عِنْدَهُ عَدَالَةُ الشُّهُودِ، فَإِنْ لَمْ تَثْبُتْ عَدَالَتُهُمْ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ.

Salah satunya adalah bahwa harus tetap di sisinya keadilan para saksi; jika keadilan mereka tidak terbukti, maka keputusannya tidak berlaku.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي أَنْ يَحْلِفَ الطَّالِبُ قَبْلَ حُكْمِهِ لَهُ أَنَّهُ مَا قَبَضَ الْحَقَّ وَلَا شَيْئًا مِنْهُ.

Syarat kedua adalah pemohon harus bersumpah sebelum hakim memutuskan untuknya bahwa ia belum menerima hak tersebut dan tidak sedikit pun darinya.

وَكَذَلِكَ كُلُّ حُكْمٍ أَرَادَ أَنْ يَحْكُمَ بِهِ عَلَى مَنْ لَا يُجِيبُ عَنْ نَفْسِهِ مِنْ صَغِيرٍ أَوْ مَجْنُونٍ أَوْ مَيِّتٍ أَوْ غَائِبٍ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَمْضِيَ الْحُكْمُ عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ إِحْلَافِ الطَّالِبِ بِاللَّهِ مَا قَبَضَ الْحَقَّ، وَلَا شَيْئًا مِنْهُ وَلَا أَبْرَأَهُ مِنْهُ، وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهُ، وَلَا يَرَى إِلَيْهِ مِنْهُ، وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهُ، وَإِنَّ حَقَّهُ لَثَابِتٌ عَلَيْهِ.

Demikian pula, setiap hukum yang ingin dijatuhkan atas orang yang tidak dapat membela dirinya sendiri, seperti anak kecil, orang gila, orang yang telah meninggal, atau orang yang tidak hadir, maka tidak boleh keputusan itu dijalankan atasnya kecuali setelah pemohon bersumpah dengan nama Allah bahwa ia belum menerima haknya, atau sebagian darinya, dan belum membebaskan pihak tersebut dari hak itu, atau dari sebagian darinya, serta ia tidak melihat bahwa hak itu telah gugur darinya, dan sungguh haknya itu tetap ada atas orang tersebut.

وَأَقَلُّ مَا يَجْزِيهِ أَنْ يُحْلِفَهُ أَنَّ حَقَّهُ هَذَا لَثَابِتٌ عَلَيْهِ.

Dan paling sedikit yang mencukupi adalah ia menyuruhnya bersumpah bahwa haknya ini benar-benar tetap atas dirinya.

فَيَجُوزُ مَعَ هَذَيْنِ الشَّرْطَيْنِ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْقَاضِي بِحُكْمِهِ عَلَى الْغَائِبِ.

Maka diperbolehkan dengan dua syarat ini untuk menulis kepada qādī tentang putusannya terhadap orang yang tidak hadir.

وَيَلْزَمُ الْقَاضِي فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ مِنَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ شَرْطَانِ:

Hakim wajib memenuhi dua syarat dalam putusan yang ia tulis terkait perkara terhadap pihak yang tidak hadir.

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَرْفَعَ فِي اسْمِهِ، وَنَسَبِهِ، وَذِكْرِ قَبِيلَتِهِ، وَصِنَاعَتِهِ، بِمَا يَتَمَيَّزُ بِهِ عَنْ غَيْرِهِ.

Salah satunya adalah dengan menyebutkan nama, nasab, menyebutkan kabilah, dan profesinya, dengan hal-hal yang membedakannya dari selainnya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ فِيهِ إِنْ كَانَ بِثُبُوتِ الْحَقِّ عِنْدَهُ بِالْبَيِّنَةِ أَنَّ الشُّهُودَ عَلَيْهِ قَدْ عَرَفُوهُ بِعَيْنِهِ، وَاسْمِهِ،. وَنَسَبِهِ.

Kedua: hendaknya disebutkan di dalamnya, jika penetapan hak tersebut berdasarkan bukti yang ada padanya, bahwa para saksi benar-benar mengenalnya secara pasti, baik dari segi identitasnya, namanya, maupun nasabnya.

وَهُوَ فِي تَسْمِيَةِ الشُّهُودِ فِي كِتَابِهِ بَيْنَ أَمْرَيْنِ: إِنْ شَاءَ سَمَّاهُمْ وَهُوَ أَوْلَى عندنا وَأَحْوَطُ لِلْمَحْكُومِ عَلَيْهِ، وَإِنْ شَاءَ لَمْ يُسَمِّهِمْ، وَهُوَ أَوْلَى عِنْدَ أَهْلِ الْكُوفَةِ، وَأَحْوَطُ لِلْمَحْكُومِ لَهُ.

Dalam penulisan nama para saksi dalam surat keputusannya, terdapat dua pilihan: jika ia menghendaki, ia dapat menyebutkan nama-nama mereka, dan ini lebih utama menurut kami serta lebih hati-hati bagi pihak yang diputuskan atasnya; namun jika ia menghendaki, ia tidak menyebutkan nama-nama mereka, dan ini lebih utama menurut ahli Kufah serta lebih hati-hati bagi pihak yang diputuskan untuknya.

فَإِنْ لَمْ يُسَمِّهِمْ، قَالَ: شَهِدَ بِهِ عِنْدِي رَجُلَانِ حُرَّانِ عَرَفْتُهُمَا بِمَا يَجُوزُ بِهِ قَبُولُ شَهَادَتِهِمَا.

Jika ia tidak menyebutkan nama mereka, ia berkata: “Telah bersaksi di hadapanku dua orang laki-laki merdeka yang aku kenal dengan sesuatu yang dengannya kesaksian mereka dapat diterima.”

وَإِنْ سَمَّاهُمْ قَالَ: شَهِدَ بِهِ عِنْدِي فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَقَدْ ثَبَتَ عِنْدِي عَدَالَتُهُمَا.

Dan jika ia menyebutkan nama mereka, ia berkata: “Telah bersaksi di hadapanku si Fulan dan si Fulan, dan sungguh telah tetap di hadapanku keadilan keduanya.”

فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ ثُبُوتَ عَدَالَتِهِمَا عِنْدَهُ وَذَكَرَ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمَا فَهَلْ يَكُونُ تَنْفِيذُهُ لِلْحُكْمِ بِشَهَادَتَهِمَا تَعْدِيلًا مِنْهُ لَهُمَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ ذَكَرْنَاهُمَا.

Jika ia tidak menyebutkan penetapan keadilan keduanya menurutnya, namun menyebutkan keputusan berdasarkan kesaksian mereka berdua, maka apakah pelaksanaan keputusan berdasarkan kesaksian mereka itu dianggap sebagai bentuk penilaian adil darinya terhadap mereka berdua? Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan.

وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ عَلَى الْغَائِبِ بِإِقْرَارِهِ ذَكَرَ فِي كِتَابِهِ: أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي طَوْعًا فِي صِحَّةٍ مِنْهُ وَجَوَازِ أَمْرٍ لِأَنَّ إِقْرَارَ الْمُكْرَهِ وَمَنْ لَا يَجُوزُ أَمْرُهُ مِنَ الصَّغِيرِ وَالسَّفِيهِ غَيْرُ لَازِمٍ.

Jika putusan dijatuhkan atas orang yang tidak hadir berdasarkan pengakuannya, maka dalam surat keputusannya disebutkan: bahwa ia telah mengakui di hadapanku secara sukarela, dalam keadaan sehat akal dan sah tindakannya, karena pengakuan orang yang dipaksa atau yang tidak sah tindakannya seperti anak kecil dan orang dungu, tidaklah mengikat.

فَإِنِ اقْتَصَرَ فِي كِتَابِهِ عَلَى الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ، وَلَمْ يَقُلْ طَوْعًا فِي صِحَّةٍ مِنْهُ وَإِجْوَازِ أَمْرٍ، فَهَلْ يَقُومُ حُكْمُهُ عَلَيْهِ مَقَامَ ذِكْرِهِ لِذَلِكَ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ كَالْحُكْمِ بِالشَّهَادَةِ هَلْ يَقُومُ مَقَامَ ذِكْرِهِ لِلْعَدَالَةِ.

Jika dalam putusannya ia hanya menyebutkan hukum atasnya berdasarkan pengakuannya, dan tidak mengatakan bahwa pengakuan itu dilakukan secara sukarela dalam keadaan sehat dan tanpa paksaan, maka apakah putusannya itu dapat menggantikan penyebutan syarat-syarat tersebut atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, sebagaimana dalam kasus putusan berdasarkan kesaksian, apakah putusan itu dapat menggantikan penyebutan keadilan atau tidak.

وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ عَلَى الْغَائِبِ بِنُكُولِهِ وَيَمِينِ الطَّالِبِ ذَكَرَهُ الْقَاضِي مَشْرُوحًا فِي كِتَابِهِ.

Jika putusan dijatuhkan atas orang yang tidak hadir karena penolakannya bersumpah dan sumpah penggugat, maka hakim harus menyebutkannya secara rinci dalam surat keputusannya.

فَيَصِيرُ الْحَقُّ ثَابِتًا عَلَى الْغَائِبِ مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Maka hak itu menjadi tetap atas orang yang tidak hadir dengan salah satu dari tiga cara:

أَحَدُهُمَا: بِإِقْرَارِهِ وَهُوَ أَقْوَى.

Salah satunya adalah dengan pengakuannya sendiri, dan ini lebih kuat.

وَالثَّانِي: بِنُكُولِهِ ويمين الطالب هو أَضْعَفُ.

Yang kedua: dengan penolakan terdakwa dan sumpah dari pihak penuntut, ini adalah yang lebih lemah.

وَالثَّالِثُ: بِالشَّهَادَةِ عَلَى إِقْرَارِهِ وَهُوَ أَوْسَطُ.

Ketiga: dengan kesaksian atas pengakuannya, dan ini adalah yang pertengahan.

فَإِنْ ذَكَرَ الْقَاضِي فِي كِتَابِهِ مَا حَكَمَ بِهِ عَلَيْهِ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ فَهُوَ الصَّحِيحُ النَّافِي لِلتُّهْمَةِ.

Jika hakim menyebutkan dalam surat keputusannya apa yang telah ia putuskan terhadapnya berdasarkan tiga cara ini, maka itulah yang benar dan meniadakan tuduhan.

وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ فِي كِتَابِهِ مَا حَكَمَ بِهِ مِنْهَا وَقَالَ: ثَبَتَ عَلَيْهِ عِنْدِي بِمَا تَثْبُتُ بِمِثْلِهِ الْحُقُوقُ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika ia tidak menyebutkan dalam catatannya apa yang telah ia putuskan darinya, lalu ia berkata: “Telah tetap atasnya menurutku dengan sesuatu yang dengannya hak-hak dapat ditetapkan,” maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلَاثَةِ تَثْبُتُ بِهِ الْحُقُوقُ.

Salah satunya: boleh, karena masing-masing dari ketiga hal tersebut dapat menetapkan hak-hak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ لِاخْتِلَافِ أَحْكَامِهِمَا؛ لِأَنَّهُ فِي الْإِقْرَارِ لَا تُسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ فِي الْأَعْيَانِ وَتُسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ فِي النُّكُولِ وَتَتَعَارَضُ بِهِ الْبَيِّنَةُ فِي الشَّهَادَةِ فَتَرَجَّحَ بِوُجُودِ الْيَدِ عِنْدَنَا وَتَرَجَّحَ بِعَدَمِهَا عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ.

Pendapat kedua: Tidak boleh, karena perbedaan hukum di antara keduanya; sebab dalam pengakuan, tidak diterima bukti (bayyinah) darinya dalam perkara benda, sedangkan dalam penolakan (nukūl) diterima bukti darinya, dan bukti (bayyinah) dapat saling bertentangan dalam kesaksian, sehingga menjadi lebih kuat dengan adanya kepemilikan (yad) menurut kami, dan menjadi lebih kuat dengan ketiadaannya menurut Abu Hanifah.

فَإِذَا اخْتَلَفَ الْحُكْمُ بِالْحَقِّ فِي جَنَبَةِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْوُجُوهِ الثَّلَاثَةِ لَمْ يَجُزْ لِلْقَاضِي إِغْفَالُ ذِكْرِهَا لِمَا فِيهِ مِنْ إِسْقَاطِ حُجَّةِ المحكوم عليه.

Maka apabila hukum atas hak berbeda pada pihak yang dijatuhi putusan dalam masing-masing dari tiga aspek tersebut, tidak boleh bagi hakim untuk mengabaikan penyebutannya, karena hal itu berarti menggugurkan hujjah pihak yang dijatuhi putusan.

وَيَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ بَعْدَ إِنْفَاذِ حُكْمِهِ أَنَّهُ قَدْ جَعَلَ كُلَّ ذِي حَقٍّ وَحُجَّةٍ عَلَى مَا كَانَ لَهُ مِنْ حَقٍّ وَحُجَّةٍ فَهَذَا مَا تَقْتَضِيهِ شُرُوطُ كِتَابِ الْقَاضِي إِلَى القاضي في الحكم على الغائب.

Dan sepatutnya bagi seorang qadhi untuk menuliskan setelah melaksanakan putusannya bahwa ia telah memberikan kepada setiap orang yang berhak dan memiliki hujjah sesuai dengan hak dan hujjah yang dimilikinya. Inilah yang dituntut oleh syarat-syarat surat qadhi kepada qadhi lain dalam memutuskan perkara terhadap orang yang tidak hadir.

(فصل: فيما يجب على القاضي بعد وصول الكتاب إليه) .

(Bab: Tentang apa yang wajib dilakukan oleh qadi setelah surat sampai kepadanya).

فَإِذَا وَصَلَ كِتَابُ الْقَاضِي عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ وَوَصَفْنَاهُ مِنْ شُرُوطِهِ وَأَحْكَامِهِ وَجَبَ عَلَى الْقَاضِي الْمُكَاتِبِ إِحْضَارُ الْخَصْمِ الْمَطْلُوبِ وَمَسْأَلَتُهُ عَمَّا تَضَمَّنَهُ كِتَابُ الْقَاضِي مِنَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ.

Apabila surat dari qāḍī telah sampai sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan dan kami uraikan mengenai syarat-syarat dan ketentuannya, maka wajib bagi qāḍī penerima surat tersebut untuk menghadirkan pihak yang dimaksud (tergugat) dan menanyakan kepadanya tentang isi surat qāḍī yang memuat putusan terhadapnya.

وَلَهُ فِي الجواب عنه ستة أَحْوَالٍ:

Dan dalam menjawabnya, terdapat enam keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يُقِرَّ بِوُجُوبِ الْحَقِّ عَلَيْهِ لِطَالِبِهِ فَيَحْكُمُ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ، دُونَ الْكِتَابِ، لِأَنَّ الْإِقْرَارَ أَقْوَى مِنَ الْكِتَابِ.

Salah satunya adalah bahwa seseorang mengakui adanya kewajiban hak atas dirinya kepada pihak yang menuntutnya, maka hakim memutuskan atas dasar pengakuannya, tanpa memerlukan dokumen tertulis, karena pengakuan lebih kuat daripada dokumen.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُقِرَّ بِوُجُوبِ الْحَقِّ عَلَيْهِ لِطَالِبِهِ، وَيَدَّعِي أَنَّهُ قَدْ قَضَاهُ، فَإِنْ أَقَامَ بَيِّنَةً بِالْقَضَاءِ سُمِعَتْ مِنْهُ وَبَرِئَ بِهَا، وَإِنْ عَدِمَهَا وَسَأَلَ إِحْلَافَ الطَّالِبِ لَمْ يَكُنْ لَهُ، لِأَنَّ الْقَاضِيَ الْكَاتِبَ قَدْ أَحْلَفَهُ.

Keadaan kedua: yaitu ketika seseorang mengakui adanya kewajiban hak atas dirinya kepada penuntutnya, lalu ia mengklaim bahwa ia telah melunasinya. Jika ia menghadirkan bukti (bayyinah) atas pelunasan tersebut, maka bukti itu diterima darinya dan ia terbebas karenanya. Namun jika ia tidak memiliki bukti dan meminta agar penuntut disumpah, maka permintaannya tidak dikabulkan, karena hakim yang mencatat telah mengambil sumpah dari penuntut.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُقِرَّ بِوُجُوبِ الْحَقِّ لِغَيْرِ هَذَا الطَّالِبِ، فَإِنْ كَانَ الْحَقُّ عَيْنًا قَائِمَةً، بَطَلَ إِقْرَارُهُ بِهَا لِغَيْرِ هَذَا الطَّالِبِ، وَكَانَ الطَّالِبُ الْمَحْكُومُ لَهُ بِهَا أَحَقَّ، وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي الذِّمَّةِ صَارَ مَأْخُوذًا بِإِقْرَارِهِ لِغَيْرِ الطَّالِبِ، وَمَأْخُوذًا بِالْكِتَابِ لِحَقِّ هَذَا الطَّالِبِ.

Keadaan ketiga: Jika seseorang mengakui adanya kewajiban hak untuk selain penuntut ini, maka jika hak tersebut berupa barang tertentu yang ada, pengakuannya atas barang itu untuk selain penuntut ini menjadi batal, dan penuntut yang telah diputuskan haknya atas barang itu lebih berhak. Namun jika hak tersebut berupa kewajiban dalam tanggungan, maka hak itu diambil berdasarkan pengakuannya untuk selain penuntut, dan juga diambil berdasarkan dokumen (bukti tertulis) untuk hak penuntut ini.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يُنْكِرَ وُجُوبَ الْحَقِّ عَلَيْهِ، وَيُقِرَّ بِأَنَّهُ الْمُسَمَّى فِي الْكِتَابِ فَيُؤْخَذُ بِالْحَقِّ وَإِنْ أَنْكَرَهُ، لِثُبُوتِهِ عَلَيْهِ بِكِتَابِ الْقَاضِي وَكِتَابُ الْقَاضِي أَوْكَدُ مِنَ الشَّهَادَةِ؛ لِأَنَّهُ عَنْ شَهَادَةٍ اقْتَرَنَ بِهَا حُكْمٌ، وَكُتُبُ الْقُضَاةِ حُجَّةٌ عَلَى الْمُنْكِرِينَ دُونَ الْمُقِرِّينَ.

Keadaan keempat: yaitu seseorang mengingkari kewajiban hak atas dirinya, namun ia mengakui bahwa ia adalah orang yang disebutkan dalam surat keputusan. Maka ia tetap diambil haknya meskipun ia mengingkarinya, karena hak tersebut telah tetap atas dirinya melalui surat keputusan qadhi, dan surat keputusan qadhi lebih kuat daripada kesaksian; karena surat tersebut berdasarkan kesaksian yang disertai dengan putusan hukum. Surat-surat keputusan para qadhi menjadi hujjah atas orang-orang yang mengingkari, bukan atas orang-orang yang mengakui.

وَالْحَالُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يُنْكِرَ الْحَقَّ، وَيُنْكِرَ أَنْ يَكُونَ الْمُسَمَّى فِي الْكِتَابِ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan kelima: yaitu mengingkari kebenaran, dan mengingkari bahwa yang dimaksud terdapat dalam kitab, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُنْكِرَ الِاسْمَ الْمَذْكُورَ، وَيَدَّعِيَ غَيْرَهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ فَلَهُ فيه ثلاثة أحوال:

Salah satunya adalah: ia mengingkari nama yang disebutkan, dan mengklaim nama lain sebagai gantinya. Dalam hal ini, ada tiga keadaan baginya:

أحدها: أَنْ يَعْرِفَ بِمَا ادَّعَاهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ فَلَا يَلْزَمُهُ الْحُكْمُ حَتَّى تَقُومَ الشَّهَادَةُ عَلَيْهِ فِي عَيْنِهِ.

Pertama: Seseorang dikenal dengan nama yang ia klaim, maka hukum tidak wajib diterapkan kepadanya sampai ada kesaksian yang menegaskan identitas dirinya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَعْرِفَ بِالْأَسْمَاءِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْكِتَابِ فَيَحْكُمُ عَلَيْهِ وَلَا يَقْبَلُ مَا ادَّعَاهُ من الاسم.

Kedua: hendaknya ia mengetahui nama-nama yang disebutkan dalam kitab, lalu menetapkan hukum atasnya dan tidak menerima apa yang ia klaim dari nama tersebut.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مَجْهُولَ الْحَالِ فَلَا يَحْكُمُ عَلَيْهِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ عَلَيْهِ بِالِاسْمِ الْمَذْكُورِ.

Dan yang ketiga: jika seseorang tidak diketahui keadaannya, maka tidak boleh dihukumi kecuali dengan adanya bukti yang memberikan kesaksian atas dirinya dengan nama yang disebutkan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَعْتَرِفَ بِالِاسْمِ، وَيَذْكُرَ أَنَّهُ اسْمٌ لِغَيْرِهِ قَدْ شَارَكَهُ فِيهِ، وَغَيْرُهُ هُوَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: Seseorang mengakui suatu nama, dan menyebutkan bahwa nama itu adalah nama bagi selain dirinya yang juga memilikinya, dan yang dimaksud dengan nama itu adalah selain dirinya; maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يعمل اشْتِرَاكُ جَمَاعَةٍ فِي الِاسْمِ الْمَذْكُورِ، وَأَقَلُّهُمْ أَنْ يُشَارِكَهُ فِيهِ وَاحِدٌ، فَلَا يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالْكِتَابِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ عَلَيْهِ أَنَّهُ هُوَ الْمُسَمَّى فِيهِ.

Salah satunya adalah adanya keterlibatan sekelompok orang dalam nama yang disebutkan, dan yang paling sedikit adalah jika ada satu orang yang turut serta dalam nama tersebut. Maka tidak boleh menetapkan hukum atasnya berdasarkan kitab kecuali dengan bukti yang menunjukkan bahwa dialah yang dimaksud dalam nama itu.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يَعْرِفَ مَنْ يُشَارِكُهُ فِي ذَلِكَ الِاسْمِ وَالنَّسَبِ فَيُؤْخَذُ بِالْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ الْمُسَمَّى فِي الظَّاهِرِ، وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ مَا ادَّعَاهُ مِنَ الْمُشَارَكَةِ فِي الِاسْمِ الَّذِي لَا يُعْرَفُ لِغَيْرِهِ.

Jenis yang kedua: yaitu apabila ia tidak mengetahui siapa yang berbagi nama dan nasab dengannya, maka ia tetap dimintai pertanggungjawaban atas hak tersebut; karena dialah yang disebutkan secara lahiriah, dan tidak diterima darinya klaim adanya orang lain yang berbagi nama tersebut yang tidak diketahui oleh orang lain.

فَإِنْ أَقَامَ بَيِّنَةً بِأَنَّ غَيْرَهُ يُسَمَّى بِمِثْلِ اسْمِهِ وَنَسَبِهِ، فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika ia menghadirkan bukti bahwa ada orang lain yang memiliki nama dan nasab yang sama dengannya, maka hal itu terbagi menjadi dua keadaan:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُقِيمَهَا بِاسْمٍ حَيٍّ مَوْجُودٍ قَدْ شَارَكَهُ فِي اسْمِهِ وَنَسَبِهِ، فَتُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ ولا يحكم عليه بالحق يَشْهَدَ الشُّهُودُ عَلَيْهِ فِي عَيْنِهِ.

Salah satunya adalah menegakkannya atas nama seseorang yang masih hidup dan ada, yang memiliki kesamaan nama dan nasab dengannya, sehingga kesaksiannya dapat didengar, namun tidak diputuskan hukum atasnya secara langsung meskipun para saksi memberikan kesaksian terhadap dirinya secara langsung.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ بَاسِمٍ مَيِّتٍ قَدْ شَارَكَهُ فِي اسْمِهِ وَنَسَبِهِ فَلَا يَخْلُو حَالُ الْمَيِّتِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ عَاصَرَ الْحَيَّ أَوْ لَمْ يُعَاصِرْهُ.

Jenis kedua: yaitu seseorang mendatangkan bukti atas nama seorang yang telah meninggal dunia, yang memiliki kesamaan nama dan nasab dengannya. Maka keadaan orang yang telah meninggal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia sezaman dengan orang yang masih hidup ataukah tidak sezaman dengannya.

فَإِنْ لَمْ يُعَاصِرْهُ، لَمْ يَكُنْ لِهَذِهِ الْمُشَارَكَةِ فِي الِاسْمِ تَأْثِيرٌ وَكَانَ الْحَيُّ مَأْخُوذًا بِالْحَقِّ، وَمُعَيَّنًا فِيهِ بِالِاسْمِ.

Jika ia tidak sezaman dengannya, maka kesamaan dalam nama ini tidak berpengaruh, dan orang yang masih hidup tetap bertanggung jawab atas hak tersebut, serta ditentukan di dalamnya dengan namanya.

وَإِنْ كَانَ قَدْ عَاصَرَهُ الْمَيِّتُ لَمْ يَخْلُ مَوْتُهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الْحُكْمِ أَوْ بَعْدَهُ.

Dan jika mayit itu sezaman dengannya, maka kematiannya tidak lepas dari dua kemungkinan: terjadi sebelum adanya hukum atau setelahnya.

فَإِنْ كَانَ مَوْتُهُ بَعْدَ الْحُكْمِ مَنَعَتْ هَذِهِ الْمُشَارَكَةُ مِنْ تَعَيُّنِ الْحُكْمِ عَلَى الْحَيِّ لِمُشَارَكَةِ الْمَيِّتِ فِي الِاسْمِ فَصَارَ كَمَا لَوْ شَارَكَ فِيهِ حَيًّا حَتَّى يَشْهَدَ الشُّهُودُ عَلَيْهِ بِعَيْنِهِ.

Jika kematiannya terjadi setelah penetapan hukum, maka adanya partisipasi ini menghalangi penetapan hukum secara khusus atas orang yang masih hidup, karena orang yang telah meninggal juga turut serta dalam nama tersebut. Maka keadaannya menjadi seperti seolah-olah ada orang hidup lain yang turut serta di dalamnya, sehingga para saksi harus memberikan kesaksian secara spesifik terhadap dirinya.

وَإِنْ كَانَ مَوْتُهُ قَبْلَ الْحُكْمِ فَفِيهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا أبو حامد الإسفرايني:

Jika kematiannya terjadi sebelum adanya putusan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dikemukakan oleh Abu Hamid al-Isfara’ini.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَثْبُتُ بِهِ حُكْمُ الِاشْتِرَاكِ وَيَمْنَعُ مِنَ الْحُكْمِ بِالْحَقِّ عَلَى الْحَيِّ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ الْحَقُّ قَدْ ثَبَتَ عَلَى الْمَيِّتِ كَثُبُوتِهِ عَلَى الْحَيِّ.

Salah satunya: bahwa dengannya ditetapkan hukum kepemilikan bersama dan mencegah penetapan hak atas orang yang masih hidup, karena ada kemungkinan bahwa hak tersebut telah tetap atas orang yang telah meninggal sebagaimana tetapnya atas orang yang masih hidup.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ به حكم الاشتراك ويؤخذ الحي بالحق؛ لأنه مُطْلَقَ الْأَحْكَامِ مُتَوَجِّهَةٌ فِي الظَّاهِرِ إِلَى الْأَحْيَاءِ دون الأموات.

Pendapat kedua: Bahwa tidak dapat ditetapkan hukum musytarak (kepemilikan bersama) dengannya, dan orang yang masih hidup dapat diambil haknya; karena secara mutlak, hukum-hukum tampaknya hanya berlaku bagi orang-orang yang hidup, bukan bagi orang-orang yang telah meninggal.

والحال السادسة: أن يُنْكِرَ الْحَقَّ، وَيَعْتَرِفَ بِالِاسْمِ، وَيَدَّعِيَ جَرْحَ الشُّهُودِ الَّذِينَ شَهِدُوا عَلَيْهِ بِالْحَقِّ، فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي سَمَاعِ بَيِّنَتِهِ عَلَى جَرْحِهِمْ.

Keadaan keenam: Seseorang mengingkari kebenaran, mengakui nama, dan mengklaim adanya cacat pada para saksi yang telah memberikan kesaksian atas dirinya mengenai kebenaran tersebut. Para fuqaha berbeda pendapat mengenai diterimanya bukti yang diajukan olehnya untuk mencacati para saksi tersebut.

فَحَكَى الشَّافِعِيُّ فِي اخْتِلَافِ الْعِرَاقِيِّينَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ إِنَّهُ لَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ بِجَرْحِهِمْ وَيُؤْخَذُ بِالْحَقِّ؛ لِأَنَّهُ لَا يُعْلَمُ مَا حَدَثَ بَعْدَهُ مِنْ تَوْبَةِ مَنْ تَقَدَّمَ جَرْحُهُ.

Syafi‘i meriwayatkan dalam kitab Ikhtilaf al-‘Iraqiyyin dari Abu Hanifah bahwa kesaksian seseorang tentang celaan terhadap mereka tidak diterima dan hak tetap diambil; karena tidak diketahui apa yang terjadi setelahnya, seperti taubat dari orang yang sebelumnya telah dicela.

وَحُكِيَ فِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى أَنَّ بَيِّنَتَهُ تُسْمَعُ بِجَرْحِهِمْ وَفِسْقِهِمْ فَإِنْ أَقَامَهَا سَقَطَتْ شَهَادَتُهُمْ وَبَطَلَ الْحُكْمُ لِثُبُوتِ جَرْحِهِمْ فَلَمْ يُؤْخَذْ بِالْحَقِّ.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila bahwa bukti yang diajukan tentang celaan dan kefasikan mereka dapat diterima; jika bukti tersebut ditegakkan, maka kesaksian mereka gugur dan keputusan menjadi batal karena telah terbukti adanya celaan terhadap mereka, sehingga kebenaran tidak dapat diambil dari mereka.

ثُمَّ ذَكَرَ الشَّافِعِيُّ مَذْهَبَهُ وَهُوَ أَنْ يَنْظُرَ فِيمَا ذَكَرَهُ مِنْ جَرْحِهِمْ:

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan pendapatnya, yaitu hendaknya memperhatikan apa yang telah ia sebutkan mengenai kritiknya terhadap mereka.

فَإِنْ كَانَ مِمَّا تُرَدُّ بِهِ الشَّهَادَةُ مَعَ الْعَدَالَةِ بِأَنْ يَدَّعِيَ أَنَّهُمْ أَعْدَاؤُهُ، أَوْ لَهُمْ فِيمَا شَهِدُوا بِهِ شِرْكٌ، أَوْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْمَشْهُودِ لَهُ وِلَادَةٌ تَمْنَعُ مِنَ الشَّهَادَةِ. فَهَذَا مَانِعٌ مِنْ قَبْلِ شَهَادَتِهِمْ، وَلَيْسَ بِجَرْحٍ فِي عَدَالَتِهِمْ، فَتُسْمَعُ مِنْهُ الْبَيِّنَةُ بِذَلِكَ وَيَبْطُلُ بِهَذَا الْحُكْمُ عَلَيْهِ.

Jika terdapat hal-hal yang menyebabkan kesaksian ditolak meskipun para saksi itu ‘adālah, seperti jika seseorang mengklaim bahwa mereka adalah musuhnya, atau mereka memiliki kepentingan bersama dalam perkara yang mereka saksikan, atau antara mereka dan orang yang disaksikan ada hubungan nasab yang menghalangi kesaksian, maka hal ini menjadi penghalang diterimanya kesaksian mereka, bukan merupakan celaan terhadap ‘adālah mereka. Maka, bukti atas hal tersebut dapat diterima darinya, dan dengan demikian keputusan terhadap mereka menjadi batal.

وَإِنْ جَرَّحَهُمْ بِالْفِسْقِ، وَمَا تَسْقُطُ بِهِ الْعَدَالَةُ، فلا تخلو بينة الجرح من ثلاثة أَحْوَالٍ:

Dan jika ia mencacati mereka dengan tuduhan fasiq, atau hal-hal yang menyebabkan hilangnya keadilan, maka kesaksian jarh tidak lepas dari tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ تَشْهَدَ بِفِسْقِ الشُّهُودِ فِي وَقْتِ شَهَادَتِهِمْ فَتُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ بِهَذَا الْجَرْحِ لِأَنَّ بَيِّنَةَ الْجَرْحِ أَوْلَى مِنْ بَيِّنَةِ التَّعْدِيلِ وَتَسْقُطُ شَهَادَتُهُمْ بِهَذَا الْجَرْحِ وَيَبْطُلُ بِهِ الْحُكْمُ.

Salah satunya: memberikan kesaksian tentang kefasikan para saksi pada saat mereka memberikan kesaksian, maka bukti atas celaan ini dapat diterima, karena bukti atas celaan lebih utama daripada bukti atas ta‘dil (pembenaran). Dengan adanya celaan ini, kesaksian mereka menjadi gugur dan keputusan hukum yang didasarkan padanya menjadi batal.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَشْهَدُوا بِفِسْقِ الشُّهُودِ بَعْدَ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ، فَلَا تُسْمَعُ بَيِّنَتُهُ بِهَذَا الْجَرْحِ لِأَنَّ حُدُوثَ الْفِسْقِ بَعْدَ تَقَدُّمِ الْعَدَالَةِ لَا يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْحُكْمِ بِالشَّهَادَةِ، وَيُؤْخَذُ بِالْحَقِّ.

Keadaan kedua: apabila mereka memberikan kesaksian tentang kefasikan para saksi setelah diputuskan berdasarkan kesaksian mereka, maka kesaksian mereka tentang celaan ini tidak diterima, karena terjadinya kefasikan setelah sebelumnya ada keadilan tidak menghalangi sahnya keputusan yang telah ditetapkan berdasarkan kesaksian tersebut, dan hak tetap diambil.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَشْهَدُوا بِفِسْقِ الشُّهُودِ قَبْلَ سَمَاعِ شَهَادَتِهِمْ، فَيُعْتَبَرُ مَا بَيْنَ زَمَانِ الْجَرْحِ وَالشَّهَادَةِ.

Keadaan ketiga: apabila mereka memberikan kesaksian tentang kefasikan para saksi sebelum mendengar kesaksian mereka, maka yang diperhitungkan adalah waktu antara penilaian negatif (jarḥ) dan kesaksian tersebut.

فَإِنْ كَانَ قَرِيبًا لَا يَتَكَامَلُ صَلَاحُ الْحَالِ فِي مِثْلِهِ، سُمِعَتْ بَيِّنَةُ الجرح، وحكم بسقوط شهادتهم.

Jika ia adalah kerabat dekat yang pada umumnya tidak sempurna keadaan baiknya pada orang seperti itu, maka bukti jarh (diskredit) didengarkan, dan kesaksian mereka dinyatakan gugur.

وإن تَطَاوَلَ مَا بَيْنَ زَمَانِ الْجَرْحِ وَالشَّهَادَةِ لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَةُ الْجَرْحِ، وَحُكِمَ بِشَهَادَتِهِمْ، لِأَنَّ الْحَالَ يَصْلُحُ مَعَ تَطَاوُلِ الزَّمَانِ، وَيَرْتَفِعُ الْفِسْقُ بِمَا حَدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الْعَدَالَةِ.

Jika rentang waktu antara terjadinya jarḥ dan kesaksian terlalu lama, maka bukti jarḥ tidak diterima, dan kesaksian mereka tetap dihukumi sah. Sebab, keadaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu, dan kefasikan dapat hilang dengan adanya keadilan yang muncul setelahnya.

فَإِنْ سَأَلَ مُدَّعِي الْجَرْحِ إِنْظَارَهُ بِإِحْضَارِ الْبَيِّنَةِ حَتَّى يَلْتَمِسَهَا أُنْظِرَ بِهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنْ أَحْضَرَهَا، وَإِلَّا أُخِذَ بِالْحَقِّ وَأمْضِي عَلَيْهِ الْحُكْمَ.

Jika pihak yang mengajukan tuduhan meminta penundaan untuk menghadirkan bukti agar ia dapat mencarinya, maka ia diberi waktu penundaan selama tiga hari. Jika ia berhasil menghadirkannya, maka bukti tersebut diterima; jika tidak, maka hak akan diambil darinya dan putusan dijalankan atasnya.

فَإِنْ سَأَلَ إِحْلَافَ الْمَحْكُومِ لَهُ عَلَى عَدَالَةِ شُهُودِهِ، لَمْ تَلْزَمْهُ الْيَمِينُ؛ لِأَنَّ تَعْدِيلَ الشُّهُودِ إِلَى الْحَاكِمِ دُونَ الْمَحْكُومِ لَهُ، وَلَا مَدْخَلَ لِلْيَمِينِ فِيهِ.

Jika seseorang meminta agar pihak yang dimenangkan bersumpah atas keadilan para saksinya, maka sumpah itu tidak wajib baginya; karena penilaian keadilan para saksi adalah wewenang hakim, bukan pihak yang dimenangkan, dan sumpah tidak ada kaitannya dalam hal ini.

وَلَوْ سأل إحلافه على أن لا ولادة بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَلَا شَرِكَةَ، وَجَبَ إِحْلَافُهُ عَلَى ذَلِكَ، لِاخْتِصَاصِهِ بِالْمَحْكُومِ لَهُ دُونَ الْحَاكِمِ.

Dan jika ia meminta agar lawannya disumpah bahwa tidak ada hubungan kelahiran antara dirinya dan mereka, dan tidak ada kemitraan, maka wajib menyumpahkannya atas hal tersebut, karena hal itu merupakan hak khusus bagi orang yang diputuskan untuknya, bukan bagi hakim.

وَلَوْ سأل إحلافه على أن لا عداوة بينه وَبَيْنَهُمْ، فَهَذَا مِمَّا يَخْفَى عَلَيْهِ فَلَمْ يَلْزَمْ إِحْلَافُهُ عَلَيْهِ.

Dan jika ia meminta agar lawan bersumpah bahwa tidak ada permusuhan antara dirinya dan mereka, maka hal ini termasuk perkara yang tersembunyi baginya, sehingga tidak wajib baginya untuk bersumpah atas hal tersebut.

فَإِنْ سَأَلَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ مِنْهُ الْإِشْهَادَ لَهُ بِقَبْضِ الْحَقِّ منه، وجب عَلَى الْقَابِضِ الْمُطَالِبِ الْإِشْهَادُ عَلَى نَفْسِهِ وَهَلْ يَجِبُ إِشْهَادُ الْقَاضِي عَلَى نَفْسِهِ بِبَرَاءَتِهِ مِنْهُ بِقَبْضِ مُسْتَحِقِّهِ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika pihak yang dijatuhi putusan meminta setelah pelunasan haknya agar dibuatkan kesaksian bahwa hak tersebut telah diterima darinya, maka wajib bagi pihak penerima yang menuntut untuk memberikan kesaksian atas dirinya sendiri. Apakah wajib bagi hakim untuk memberikan kesaksian atas dirinya sendiri bahwa ia telah bebas dari tanggungan tersebut dengan telah diterimanya oleh yang berhak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ: يَجِبُ عَلَى الْقَاضِي الْإِشْهَادُ كَمَا يَجِبُ عَلَى الْقَابِضِ، لِمَا ظَهَرَ مِنْ ثُبُوتِ الْحَقِّ عِنْدَهُ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri: Wajib bagi qadhi untuk menghadirkan saksi sebagaimana wajib bagi penerima, karena telah tampak adanya penetapan hak di sisinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْإِشْهَادُ وَيَجِبُ الْإِشْهَادُ عَلَى الْقَابِضِ وَحْدَهُ لِاخْتِصَاصِ إِسْجَالِ الْأَحْكَامِ بِإِثْبَاتِ الْحُقُوقِ دُونَ إِسْقَاطِهَا.

Pendapat kedua: Tidak wajib baginya untuk menghadirkan saksi, dan yang wajib menghadirkan saksi hanyalah pihak penerima saja, karena penetapan hukum-hukum syariat itu khusus untuk menetapkan hak, bukan untuk menggugurkannya.

(فصل: [القول في ما يجب على القاضي المطالب بتسمية الشهود] )

Bab: [Penjelasan tentang kewajiban hakim yang diminta untuk menyebutkan nama para saksi]

وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ الْقَاضِي الْكَاتِبُ أَسْمَاءَ الشُّهُودِ فِي كِتَابِهِ فَسَأَلَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ الْقَاضِيَ الْمَكْتُوبَ إِلَيْهِ أَنْ يُكَاتِبَ الْقَاضِيَ الْكَاتِبَ يَسْأَلُهُ عَنْ أَسْمَاءِ شُهُودِهِ لَمْ يَلْزَمْ إِجَابَتُهُ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكْتُبَ بِهِ لِأَنَّ فِيهِ اعْتِرَاضًا عَلَى الْقَاضِي الْكَاتِبِ فِي أَحْكَامِهِ وَشُهُودِهِ، وَلَوْ أَنَّ الْمَحْكُومَ عَلَيْهِ سَأَلَ الْمَحْكُومَ لَهُ أَنْ يَذْكُرَ أَسْمَاءَ شُهُودِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ تَسْمِيَتُهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْأَلَهُ عَنْهُمْ. وَلَوْ خَرَجَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ إِلَى الْقَاضِي الْحَاكِمِ وَسَأَلَهُ عَنْ تَسْمِيةِ شُهُودِهِ نُظِرَ: فَإِنْ كَانُوا مِمَّنِ اسْتَقَرَّتْ عِنْدَهُ عَدَالَتُهُمْ وَهُمْ مِمَّنْ لَا تُعَادُ الْمَسْأَلَةُ لِقَدِيمِ شَهَادَتِهِمْ لَمْ يَلْزَمْ تَسْمِيَتُهُمْ لَهُ.

Apabila qadhi penulis tidak mencantumkan nama-nama para saksi dalam surat keputusannya, lalu pihak yang diputuskan atasnya meminta kepada qadhi yang dituju dalam surat tersebut agar mengirim surat kepada qadhi penulis untuk menanyakan nama-nama para saksinya, maka tidak wajib baginya untuk memenuhi permintaan itu dan tidak boleh menuliskannya, karena hal itu mengandung keberatan terhadap qadhi penulis dalam putusan dan para saksinya. Jika pihak yang diputuskan atasnya meminta kepada pihak yang diputuskan untuknya agar menyebutkan nama-nama para saksinya, maka tidak wajib baginya untuk menyebutkan nama-nama mereka dan qadhi pun tidak berhak menanyakannya. Jika pihak yang diputuskan atasnya mendatangi qadhi yang memutuskan perkara dan menanyakan nama-nama para saksinya, maka perlu dilihat: jika para saksi tersebut adalah orang-orang yang keadilannya telah ditetapkan di sisinya dan mereka termasuk orang yang tidak perlu diulang pemeriksaan kesaksiannya karena kesaksian mereka yang sudah lama, maka tidak wajib menyebutkan nama-nama mereka kepadanya.

وَإِنْ كَانُوا مِمَّنْ لَمْ يَشْهَدُوا عِنْدَهُ بِغَيْرِهَا وَهُمْ مِمَّنْ تُعَادُ الْمَسْأَلَةُ عَنْهُمْ وَجَبَ عَلَيْهِ تَسْمِيَتُهُمْ لَهُ بَعْدَ سُؤَالِهِ.

Dan jika mereka termasuk orang-orang yang tidak memberikan kesaksian di hadapannya kecuali dengan hal itu, dan mereka adalah orang-orang yang pertanyaannya diulang kepada mereka, maka wajib baginya untuk menyebutkan nama-nama mereka kepadanya setelah ia bertanya.

فَإِنْ أَقَامَ بَيِّنَةً بِجَرْحِهِمْ كَانَ سَمَاعُهَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ.

Jika ia mendatangkan bukti atas celaan terhadap mereka, maka penerimaan bukti tersebut sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya.

فَإِنْ أَقَامَهَا عِنْدَ الْحَاكِمِ بِشَهَادَتِهِمْ، نُقِضَ حُكْمُهُ بِهِمْ، وَكُتِبَ بِنَقْضِهِ إِلَى قَاضِيهِ، لِيُسْقِطَ عَنْهُ الْحَقَّ الَّذِي كَاتَبَهُ بِهِ،

Jika ia menegakkan keputusan itu di hadapan hakim dengan kesaksian mereka, maka putusannya dengan mereka dibatalkan, dan ditulis surat pembatalan kepada qadhi-nya, agar ia menggugurkan hak yang telah diputuskan kepadanya.

وَإِنْ أَقَامَ الْبَيِّنَةَ بِجَرْحِهِمْ عِنْدَ قَاضِيهِ الَّذِي كُوتِبَ بِوُجُوبِ الْحَقِّ عَلَيْهِ لَمْ يَسْمَعْهَا، لِأَنَّهُ لَا يَعْلَمُ أَنَّهُمْ شُهُودُ الْحُكْمِ إِلَّا مِنْ قَوْلِ الْخَصْمِ.

Dan jika ia menghadirkan bukti (bayyinah) yang mencacatkan mereka di hadapan qadhi yang telah dikirimi surat tentang wajibnya hak atas dirinya, maka qadhi tersebut tidak menerima bukti itu, karena ia tidak mengetahui bahwa mereka adalah para saksi dalam perkara tersebut kecuali dari ucapan pihak lawan.

فَإِنْ كَتَبَ إِلَيْهِ الْقَاضِي بِأَسْمَائِهِمْ جَازَ أَنْ يَسْمَعَ الْبَيِّنَةَ بِجَرْحِهِمْ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَيَحْكُمُ بِإِسْقَاطِ الْحَقِّ عَنْهُ.

Jika qadhi menulis surat kepadanya dengan menyebutkan nama-nama mereka, maka boleh baginya untuk mendengarkan bukti tentang celaan terhadap mereka sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dan ia memutuskan dengan menggugurkan hak dari mereka.

فَإِنْ سَأَلَهُ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ أَنْ يَكْتُبَ بِجَرْحِهِمْ إِلَى الْقَاضِي الَّذِي حَكَمَ بِشَهَادَتِهِمْ. لَزِمَهُ مُكَاتَبَتُهُ بِهِ، لِيُسْقِطَ بِهِ الْحَقَّ عَنِ الْمَحْكُومِ عَلَيْهِ عِنْدَ الْحَاكِمِ بِهِ، حَتَّى لَا يَأْخُذَهُ بِهِ عِنْدَ التَّنَازُعِ إِلَيْهِ.

Jika orang yang dijatuhi putusan memintanya untuk menulis surat tentang cacat para saksi kepada qāḍī yang memutuskan berdasarkan kesaksian mereka, maka wajib baginya untuk menuliskannya, agar dengan surat itu hak yang dibebankan kepada orang yang dijatuhi putusan dapat digugurkan di hadapan hakim yang memutuskan perkara tersebut, sehingga hakim tidak mengambil keputusan itu darinya ketika terjadi sengketa yang diajukan kepadanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَلَوْ لَمْ يَذْكُرِ الْقَاضِي فِي كِتَابه سَبَبَ حُكْمِهِ، وَقَالَ: ثَبَتَ عِنْدِي بِمَا تَثْبُتُ بِمِثْلِهِ الْحُقُوقُ وَسَأَلَهُ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ عَنِ السَّبَبِ الَّذِي حَكَمَ بِهِ، نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ قَدْ حَكَمَ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ أَنْ يَذْكُرَهُ لَهُ؛ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِهِ بِالْبَيِّنَةِ.

Dan jika hakim tidak menyebutkan dalam surat keputusannya alasan hukumnya, lalu ia berkata: “Telah tetap bagiku dengan sesuatu yang dengannya hak-hak dapat ditetapkan,” kemudian pihak yang dijatuhi putusan menanyakan kepadanya tentang alasan yang menjadi dasar putusannya, maka hal ini perlu dilihat: jika hakim memutuskan atas dasar pengakuan pihak tersebut, maka hakim tidak wajib menyebutkan alasannya kepadanya, karena ia tidak dapat menolaknya dengan bukti.

وَإِنْ كَانَ قَدْ حَكَمَ عَلَيْهِ بِنُكُولِهِ وَيَمِينِ الطَّالِبِ، لَزِمَهُ أَنْ يَذْكُرَهُ لَهُ، لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِهِ بِالْبَيِّنَةِ.

Dan jika hakim telah memutuskan perkara atas dasar penolakan terdakwa untuk bersumpah dan sumpah penggugat, maka wajib baginya untuk memberitahukan hal itu kepada terdakwa, karena terdakwa masih memiliki kemampuan untuk membantahnya dengan bukti (bayyinah).

وَإِنْ كَانَ قَدْ حَكَمَ عَلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ فَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ بِحَقٍّ فِي الذِّمَّةِ لَمْ يَلْزَمْهُ ذِكْرُهَا؛ لِأَنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى دَفْعِهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ بِعَيْنٍ قَائِمَةٍ لَزِمَهُ أَنْ يَذْكُرَهَا؛ لِأَنَّهُ يَقْدِرُ عَلَى مُقَابَلَتِهَا بِمِثْلِهَا فَتَرْجَحُ بَيِّنَتُهُ بِالْيَدِ، فَيَكُونُ وُجُوبُ الْبَيَانِ معتبرا بهذه الأقسام.

Jika hakim telah memutuskan atas dasar bayyinah, maka jika putusan itu berkaitan dengan hak dalam tanggungan, tidak wajib baginya untuk menyebutkannya; karena ia tidak mampu menolaknya dengan yang semisalnya. Namun jika putusan itu berkaitan dengan suatu benda tertentu yang masih ada, maka wajib baginya untuk menyebutkannya; karena ia mampu menandinginya dengan yang semisalnya sehingga bayyinah-nya lebih kuat karena adanya penguasaan (tangan), maka kewajiban penjelasan dipertimbangkan berdasarkan kategori-kategori ini.

(فصل: سؤال الطالب الحكم بالشاهد واليمين) .

(Bab: Permintaan murid terhadap penetapan hukum dengan saksi dan sumpah).

وَإِذَا سَأَلَ الطَّالِبُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ الْقَاضِي بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ فَإِنْ كَانَ حَنَفِيًّا لَا يَرَى القضاء بمشاهد وَيَمِينٍ لَمْ يَحْكُمْ لَهُ، وَلَمْ يَسْمَعْ شَاهِدَهُ.

Dan apabila seorang penuntut meminta agar hakim memutuskan untuknya dengan satu saksi dan sumpah, maka jika hakim tersebut seorang Hanafi yang tidak membolehkan memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah, ia tidak akan memutuskan untuknya dan tidak akan mendengarkan saksinya.

وَإِنْ كَانَ شَافِعِيًّا، يَرَى الْقَضَاءَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ عَلَى حَاضِرٍ جَازَ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ عَلَيْهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ.

Dan jika ia seorang Syafi‘i, yang berpendapat bahwa keputusan dapat dijatuhkan dengan satu saksi dan sumpah, maka jika hukum itu ditetapkan atas seseorang yang hadir, boleh baginya memutuskan perkara untuk orang tersebut atasnya dengan satu saksi dan sumpah.

وَإِنْ كَانَ الْحُكْمُ عَلَى غَائِبٍ وَيُرِيدُ الطَّالِبُ أَنْ يَتَنَجَّزَ بِهِ كِتَابَهُ إِلَى قَاضِي بَلَدِ الْمَطْلُوبِ، فَفِي جَوَازِ الْحُكْمِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ، فِيمَا يَكْتُبُ بِهِ إِلَى غَيْرِهِ وَجْهَانِ:

Jika putusan dijatuhkan terhadap orang yang tidak hadir dan pihak yang mengajukan perkara ingin segera mendapatkan surat keputusan untuk dikirimkan kepada qadhi di negeri pihak yang diminta, maka dalam hal kebolehan memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah, terkait apa yang akan dituliskan kepada qadhi lain, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِأَنَّهُ قَوْلٌ مَشْرُوعٌ وَمَذْهَبٌ مَشْهُورٌ.

Salah satunya: Boleh, karena itu adalah pendapat yang disyariatkan dan mazhab yang masyhur.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ بِهِ؛ لِأَنَّ الْمُخَالِفَ فِيهِ مِنَ الْعِرَاقِيِّينَ، يَرَى نَقْضَ الْحُكْمِ بِهِ وَهُوَ مِنْ سَرَفِهِمْ. فَلَمْ يَكُنْ لَهُ تَعْرِيضُ حُكْمِهِ لِلنَّقْضِ وَالْأَوْلَى مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh menetapkan hukum dengannya, karena pihak yang berbeda pendapat dalam hal ini dari kalangan ulama Irak berpendapat bahwa hukum yang ditetapkan dengannya harus dibatalkan, dan itu merupakan kebiasaan mereka. Maka, tidak sepatutnya ia mempertaruhkan keputusannya untuk dibatalkan, dan yang lebih utama adalah tidak membebaskan dua pendapat ini begitu saja.

أَنْ يَعْتَبِرَ رَأْيَ الْقَاضِي الْكَاتِبِ بِهِ.

Bahwa pendapat qadhi yang menuliskannya dianggap sebagai pertimbangan.

فَإِنْ كَانَ يَرَى الْقَضَاءَ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ كَتَبَ بِهِ إِلَيْهِ وَإِنْ كَانَ لَا يَرَاهُ لَمْ يَكْتُبْ بِهِ.

Jika ia berpendapat bahwa keputusan dapat dijatuhkan dengan satu saksi dan sumpah, maka ia menuliskannya kepadanya; namun jika ia tidak berpendapat demikian, maka ia tidak menuliskannya.

فَإِنْ أَرَادَ الْقَاضِي فِي حُكْمِهِ بِالشَّاهِدِ وَالْيَمِينِ أَنْ لَا يَذْكُرَهُ فِي كِتَابِهِ، وَيُطْلِقَ الْحُكْمَ بِالْبَيِّنَةِ أَوْ بِثُبُوتِ الْحَقِّ عِنْدَهُ جَازَ؛ لِأَنَّهُ يَحْكُمُ باجتهاد نفسه ولا يحكم باجتهاد غيره.

Jika hakim dalam putusannya berdasarkan satu saksi dan sumpah ingin tidak menyebutkannya dalam surat keputusannya, dan hanya menyebutkan putusan berdasarkan bayyinah atau karena hak telah terbukti di sisinya, maka hal itu diperbolehkan; karena ia memutuskan berdasarkan ijtihadnya sendiri dan tidak memutuskan berdasarkan ijtihad orang lain.

(فصل: في مكاتبة القاضي للأمير) .

(Bab: Tentang surat-menyurat hakim kepada amir).

(مسألة) : قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَكِتَابُ الْقَاضِي إِلَى الْخَلِيفَةِ وَالْخَلِيفَةِ إِلَى الْقَاضِي وَالْقَاضِي إِلَى الْأَمِيرِ وَالْأَمِيرِ إِلَى الْقَاضِي سَوَاءٌ لَا يُقْبَلُ إِلَّا كَمَا وَصَفْتُ مِنْ كِتَابِ الْقَاضِي إِلَى الْقَاضِي “.

(Masalah): Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Surat dari qāḍī kepada khalīfah, dari khalīfah kepada qāḍī, dari qāḍī kepada amīr, dan dari amīr kepada qāḍī, semuanya sama; tidak diterima kecuali sebagaimana yang telah aku jelaskan tentang surat qāḍī kepada qāḍī.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ وَجَمِيعُ هَذِهِ الْكُتُبِ إِذَا تَعَلَّقَتْ بِأَحْكَامٍ وَحُقُوقٍ لَمْ تَثْبُتْ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ.

Al-Mawardi berkata: Hal ini benar, dan semua dokumen ini, apabila berkaitan dengan hukum-hukum dan hak-hak yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kesaksian, maka berlaku pada saat penerimaan dan penyampaian kesaksian.

وَخَالَفَنَا بَعْضُ مَنْ وَافَقَنَا فِي كُتُبِ الْقُضَاةِ: أَنَّ كُتُبَ الْخُلَفَاءِ وَالْأُمَرَاءِ إِلَى الْقُضَاةِ وَمِنَ الْقُضَاةِ إِلَى الْأُمَرَاءِ تُقْبَلُ بِغَيْرِ الشَّهَادَةِ فِي التَّحَمُّلِ وَالْأَدَاءِ لِأَمْرَيْنِ:

Sebagian dari mereka yang sepaham dengan kami berbeda pendapat dalam hal surat-surat para qāḍī, yaitu bahwa surat-surat para khalifah dan amir kepada para qāḍī, serta dari para qāḍī kepada para amir, dapat diterima tanpa adanya persaksian baik dalam proses penerimaan maupun penyampaian, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: هُوَ فَرْقُ مَا بَيْنَهُمَا فِي الْعُرْفِ الْمُسْتَمِرِّ.

Salah satunya adalah perbedaan antara keduanya dalam ‘urf yang berlaku secara terus-menerus.

وَالثَّانِي: صِيَانَةُ السُّلْطَانِ فَمَا يُبَاشِرُ غَيْرُهُ وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Kedua: menjaga otoritas penguasa terhadap apa yang tidak dapat dilakukan oleh selainnya, dan pendapat ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَمَّا لَمْ تَنْفُذْ كُتُبُ الْقُضَاةِ فِي الْأَحْكَامِ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ مَعَ ظُهُورِهِمْ كَانَ ذَلِكَ فِي كُتُبِ الْخُلَفَاءِ وَالْأُمَرَاءِ مَعَ احْتِجَابِهِمْ أَوْلَى.

Salah satunya: Karena surat keputusan para qāḍī dalam menetapkan hukum tidak dapat dijalankan kecuali dengan adanya kesaksian disertai kehadiran mereka, maka hal itu pada surat keputusan para khalifah dan amir yang tidak tampak (bersembunyi) lebih utama (untuk tidak dijalankan tanpa kesaksian).

وَالثَّانِي: أَنَّ الْقُضَاةَ فَرُوعُ الْخُلَفَاءِ، وَحُكْمُ الْأُصُولِ إِذَا لَمْ يَكُنْ أَقْوَى مِنْ حُكْمِ الْفُرُوعِ لَمْ يَكُنْ أَضْعَفَ.

Kedua: Para qadhi adalah cabang dari para khalifah, dan ketetapan pokok jika tidak lebih kuat dari ketetapan cabang, maka tidak pula lebih lemah.

فَأَمَّا كُتُبُهُمْ فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْكُتُبُ إِلَيْهِمْ فِي الْأَعْمَالِ وَالْأَمْوَالِ فَمَقْبُولَةٌ، عَلَى مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي أَمْثَالِهَا، مَخْتُومَةٌ مَعَ الرُّسُلِ الثِّقَاةِ لِأَنَّهَا تَكْثُرُ وَالتَّزْوِيرُ فِيهَا يَظْهَرُ وَالْهَيْئَةُ فِيهَا تَمْنَعُ وَالِاسْتِدْرَاكُ فِيهَا مُمْكِنٌ فَمِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ خَالَفَتْ كُتُبُ القضاة في أحكام الرعايا.

Adapun surat-surat mereka yang berisi perintah dan larangan, serta surat-surat kepada mereka mengenai urusan pekerjaan dan harta, maka surat-surat tersebut diterima sesuai dengan kebiasaan yang berlaku pada hal-hal semacam itu, yaitu disegel dan dibawa oleh utusan-utusan yang terpercaya. Hal ini karena surat-surat tersebut jumlahnya banyak, pemalsuan di dalamnya mudah terungkap, bentuknya mencegah terjadinya kecurangan, dan koreksi terhadapnya memungkinkan dilakukan. Dari segi-segi inilah surat-surat tersebut berbeda dengan surat-surat para qāḍī dalam menetapkan hukum bagi rakyat.

(فصل: كتب قاضي أهل البغي) .

(Bab: Surat-surat keputusan hakim dari kelompok pemberontak.)

وَإِذَا كَتَبَ قَاضِي أَهْلِ الْبَغْيِ إِلَى قَاضِي أَهْلِ الْعَدْلِ كِتَابًا فِي حُكْمٍ بِحَقٍّ، نُظِرَ: كَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ لِأَنَّهُ يَشْهَدُ لِمُوَافَقه بِقَوْلِهِ كَالْخَطَّابِيَّةِ لَمْ يُقْبَلْ كِتَابُهُ لِأَنَّهُ قَدْ يَحْكُمُ لِمُوَافَقه بِقَوْلِهِ.

Apabila qadhi dari kelompok bughat menulis surat kepada qadhi dari kelompok yang adil mengenai suatu putusan yang berisi hak, maka hal itu perlu diteliti: jika qadhi tersebut termasuk orang yang kesaksiannya tidak diterima karena ia bersaksi untuk orang yang sepaham dengannya, seperti kelompok Khaththabiyyah, maka suratnya tidak diterima, karena dikhawatirkan ia memutuskan perkara demi kepentingan orang yang sepaham dengannya.

وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ تُقْبَلُ شَهَادَتَهُ، فَفِي قَبُولِ كِتَابِهِ بِالْحُكْمِ قَوْلَانِ:

Dan jika ia termasuk orang yang diterima kesaksiannya, maka dalam hal diterimanya suratnya sebagai dasar hukum terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي كِتَابِ (قِتَالِ أَهْلِ الْبَغْيِ) ، أَنَّهُ يَجُوزُ لِقَاضِي أَهْلِ الْعَدْلِ أَنْ يَقْبَلَ كِتَابَ قَاضِي أَهْلِ الْبَغْيِ، لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَتْ أَحْكَامُهُمْ مُمْضَاةٌ لَا يُرَدُّ مِنْهَا إِلَّا مَا يُرَدُّ مِنْ حُكْمِ قَاضِي أَهْلِ الْعَدْلِ، وَجَبَ أَنْ تَكُونَ أَحْكَامُ كُتُبِهِمْ كَذَلِكَ.

Salah satunya: Telah dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab (Qitāl Ahl al-Baghy), bahwa boleh bagi qadhi dari pihak yang adil untuk menerima surat dari qadhi pihak pemberontak, karena ketika putusan-putusan mereka tetap berlaku dan tidak ditolak kecuali apa yang juga ditolak dari putusan qadhi pihak yang adil, maka wajib pula agar putusan-putusan yang disampaikan melalui surat mereka diperlakukan demikian juga.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: قَالَهُ فِي الْقَدِيمِ لَيْسَ لِقَاضِي أَهْلِ الْعَدْلِ أَنْ يَقْبَلَ كِتَابَ قَاضِي أَهْلِ الْبَغْيِ.

Pendapat kedua: Ia menyatakannya dalam pendapat lama, bahwa tidak boleh bagi qadhi dari pihak yang adil untuk menerima surat dari qadhi pihak bughat.

وَقَدْ قَالَ فِي هَذَا الْكِتَابِ:

Dan telah dikatakan dalam kitab ini:

وَيُقْبَلُ كُلُّ كِتَابٍ لِقَاضٍ عَدْلٍ، فَكَانَ دَلِيلُ هَذَا الْقَوْلِ أَنْ لَا يُقْبَلَ كِتَابُ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الْعَدْلِ.

Setiap surat dari seorang qadhi yang adil dapat diterima, sehingga dalil dari pendapat ini adalah bahwa surat dari orang yang bukan termasuk ahli keadilan tidak dapat diterima.

وَإِنَّمَا لَمْ يَقْبَلْ كِتَابَهُ وَإِنْ لَمْ نَنْقُضْ حُكْمَهُ.

Dan sesungguhnya kami tidak menerima suratnya, meskipun kami tidak membatalkan keputusannya.

لِأَنَّ الْحُكْمَ لَا يُنْقَضُ إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ بِفَسَادِهِ وَالْكِتَابُ لَا يُقْبَلُ إِلَّا بَعْدَ الْعِلْمِ بِصِحَّتِهِ. فَافْتَرَقَا.

Karena suatu hukum tidak dapat dibatalkan kecuali setelah diketahui kerusakannya, sedangkan suatu tulisan tidak dapat diterima kecuali setelah diketahui kebenarannya. Maka keduanya berbeda.

(فصل: في من تقبل كتبه من القضاة) .

(Bab: Tentang siapa saja hakim yang surat-suratnya dapat diterima.)

وَيُقْبَلُ كِتَابُ قَاضِي الرُّسْتَاقِ وَالْقَرْيَةِ كَمَا يُقْبَلُ كِتَابُ قَاضِي الْمِصْرِ.

Dan surat keputusan qadhi di daerah pedesaan dan desa diterima sebagaimana diterimanya surat keputusan qadhi di kota besar.

وَمَنَعَ أَبُو حَنِيفَةَ مِنْ قَبُولِ كِتَابِ قَاضِي الرُّسْتَاقِ وَالْقَرْيَةِ وَجَعَلَ قَبُولَ الْكُتُبِ مَوْقُوفًا عَلَى قُضَاةِ الْأَمْصَارِ دُونَ الْقُرَى، لِأَنَّ قُضَاةَ الْأَمْصَارِ أَحْفَظُ لِنِظَامِ الْأَحْكَامِ مِنْ قُضَاةِ الرَّسَاتِيقِ وَالْقُرَى.

Abu Hanifah melarang penerimaan surat dari qadhi di daerah pedesaan dan desa, dan menetapkan bahwa penerimaan surat hanya berlaku untuk para qadhi di kota-kota besar, bukan di desa-desa, karena para qadhi di kota-kota besar lebih menjaga tatanan hukum dibandingkan para qadhi di daerah pedesaan dan desa.

وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ لِأَنَّ لِقَبُولِ كُتُبِ الْقُضَاةِ شُرُوطٌ إِنْ وُجِدَتْ فِي كُتُبِ قُضَاةِ الْقُرَى قُبِلَتْ، وَإِنْ لَمْ تُوجَدْ فِي كُتُبِ قُضَاةِ الْأَمْصَارِ رُدَّتْ.

Hal ini tidak sepenuhnya benar secara mutlak, karena diterimanya surat keputusan para qāḍī memiliki syarat-syarat tertentu; jika syarat-syarat tersebut terpenuhi dalam surat keputusan qāḍī di desa-desa, maka surat itu diterima, dan jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi dalam surat keputusan qāḍī di kota-kota besar, maka surat itu ditolak.

وَإِذَا كَانَتِ الْقَرْيَةُ قَرِيبَةً مِنَ الْمِصْرِ وَلَمْ يَشُقَّ عَلَى أَهْلِهَا التَّحَاكُمُ إِلَى قَاضِي الْمِصْرِ كَانَ هُوَ الْقَاضِي بَيْنَهُمْ.

Dan jika sebuah desa dekat dengan kota besar dan tidak memberatkan penduduknya untuk mengajukan perkara kepada qadhi kota besar, maka qadhi kota besar itulah yang menjadi hakim di antara mereka.

وَجَرَوْا مِنْهُ مَجْرَى أَهْلِ الْمِصْرِ فَلَمْ يَجُزْ لِقَاضِي الْمِصْرِ أَنْ يَقْبَلَ مِنْهُمْ كِتَابَ قَاضٍ إِنْ كَانَ لَهُمْ فِي حُكْمٍ لَازِمٍ مَنْ شَهِدُوا بِحُكْمٍ عِنْدَ قَاضِيهِمْ وَيَقْدِرُ عَلَى الشَّهَادَةِ بِهِ عِنْدَ قَاضِي الْمِصْرِ.

Mereka memperlakukan hal itu seperti penduduk negeri (misr), sehingga tidak boleh bagi qadhi negeri tersebut untuk menerima surat dari qadhi lain jika mereka memiliki keputusan hukum yang mengikat, yang para saksi telah memberikan kesaksian atas keputusan itu di hadapan qadhi mereka, dan mereka mampu memberikan kesaksian tersebut di hadapan qadhi negeri itu.

وَإِذَا اتَّسَعَ الْمِصْرُ وَكَانَ ذَا جَانِبَيْنِ كَبَغْدَادَ وَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ جَانِبَيْهِ قَاضٍ منفرد برياسته لم يقبل كتاب قاض أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ إِلَى قَاضِي الْجَانِبِ الْآخَرِ فِي ثُبُوتِ الشَّهَادَةِ.

Apabila sebuah kota besar meluas dan memiliki dua sisi, seperti Baghdad, dan masing-masing sisi memiliki seorang qadi yang berdiri sendiri dengan kepemimpinannya, maka surat dari qadi salah satu sisi kepada qadi sisi lainnya mengenai penetapan kesaksian tidak dapat diterima.

وَقُبِلَ فِي ثُبُوتِ الْإِقْرَارِ إِنْ رَجَعَ الْمُقِرُّ وَلَمْ يُقْبَلْ إِنْ لَمْ يَرْجِعْ. لِأَنَّ مَا أَمْكَنَ الْحُكْمُ فِيهِ بِالْأَصْلِ لَمْ يجز أن يحكم فيه بالقرع كالشهادة على الشهادة يحكم فيها بشهود القرع مَعَ تَعَذُّرِ شُهُودِ الْأَصْلِ وَلَا يُحْكَمُ بِهَا مَعَ إِمْكَانِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Diterima dalam penetapan pengakuan jika orang yang mengaku itu menarik kembali pengakuannya, dan tidak diterima jika ia tidak menarik kembali. Karena perkara yang memungkinkan untuk diputuskan berdasarkan asal (dalil utama), tidak boleh diputuskan dengan undian (qur‘ah), seperti kesaksian atas kesaksian yang diputuskan dengan saksi undian ketika saksi asal tidak memungkinkan hadir, dan tidak diputuskan dengannya jika saksi asal masih memungkinkan hadir. Allah lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

(باب القسام)

(Bab al-Qasām)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْطَى أَجْرُ الْقَسَّامِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِأَنَّهُمْ حُكَّامٌ “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Sebaiknya upah para qassām diberikan dari Baitul Mal karena mereka adalah para hakim.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَالْأَصْلُ فِي الْحُكْمِ بِالْقِسْمَةِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ} [النساء: 8] .

Al-Mawardi berkata: Dasar hukum dalam pembagian adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila pada pembagian itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang miskin, maka berilah mereka sebagian darinya.” (QS. an-Nisā’: 8).

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَرْضَ فِي قِسْمَةِ الْأَمْوَالِ بِمَلِكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا بِنَبِيٍّ مُرْسَلٍ حَتَّى تَوَلَّى قِسْمَتَهَا بِنَفْسِهِ “.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala tidak meridhai dalam pembagian harta dengan seorang raja yang dekat (kepada-Nya) maupun dengan seorang nabi yang diutus, hingga Dia sendiri yang membagi harta itu dengan tangan-Nya.”

وَقَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – غَنِيمَةَ بَدْرٍ بِشِعْبٍ مِنْ شِعَابِ الصَّفْرَاءِ وَقَسَّمَ غَنَائِمَ خَيْبَرَ عَلَى ثَمَانِيَةَ عَشَرَ سَهْمًا وَقَسَّمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ بِأَوْطَاسٍ وَقِيلَ بِالْجِعْرَانَةِ.

Rasulullah ﷺ membagi rampasan perang Badar di sebuah lembah dari lembah-lembah Shafra’, dan beliau membagi rampasan perang Khaibar menjadi delapan belas bagian, serta membagi rampasan perang Hunain di Autas, dan ada yang mengatakan di Ji‘ranah.

وَاخْتَصَمَ إِلَيْهِ رَجُلَانِ فِي مَوَارِيثَ تَقَادَمَتْ وَتَدَارَسَتْ فَقَالَ: اذْهَبَا فَاقْتَسِمَاهَا وَاسْتَهِمَا وَتَحَالَّا، وَقَدْ كَانَ لِلْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَسَّامٌ وَكَانَ قَاسِمُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى يُعْطِيهِ رِزْقَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ.

Dua orang laki-laki berselisih di hadapannya mengenai warisan yang sudah lama berlalu dan telah dipelajari, maka ia berkata: “Pergilah kalian berdua, bagilah warisan itu, lakukanlah undian, dan salinglah berhalal-halalan.” Dahulu para khalifah Rasyidun radhiyallahu ‘anhum memiliki seorang pembagi warisan, dan pembagi warisan Ali radhiyallahu ‘anhu adalah Abdullah bin Yahya, yang diberi nafkah dari Baitul Mal.

وَلِأَنَّ بِالنَّاسِ إِلَى قِسْمَةِ الْمُشْتَرَكِ حَاجَةً فَلَمْ يَجِدُوا بُدًّا مِنْ قَاسِمٍ يُنْصِفُهُمْ فِي الْحُقُوقِ وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: الْقُسَّامُ حُكَّامٌ، وَإِنَّمَا كَانُوا حُكَّامًا لِأَمْرَيْنِ:

Karena manusia membutuhkan pembagian harta bersama, maka mereka tidak dapat menghindar dari adanya seorang pembagi yang dapat berlaku adil dalam hak-hak mereka. Jika demikian keadaannya, maka asy-Syafi‘i berkata: Para pembagi (al-qussām) adalah hakim, dan mereka disebut hakim karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُمْ قَدْ يُوقِعُونَ الْقِسْمَةَ جَبْرًا كَمَا يُجْبَرُ الْحُكَّامُ فِي الْأَحْكَامِ.

Salah satunya adalah bahwa mereka dapat melakukan pembagian secara paksa sebagaimana para hakim memaksakan dalam putusan-putusan hukum.

وَالثَّانِي: أَنَّهُمْ يَسْتَوْفُونَ الْحُقُوقَ لِأَهْلِهَا كَاسْتِيفَاءِ الْحُكَّامِ.

Yang kedua: bahwa mereka menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya sebagaimana para hakim menunaikannya.

وَلَئِنْ كَانُوا حُكَّامًا لِهَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ فَإِنَّهُمْ يُخَالِفُونَ حُكَّامَ الْأَحْكَامِ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan jika mereka adalah para penentu hukum untuk dua perkara ini, maka sesungguhnya mereka berbeda dengan para penentu hukum atas hukum-hukum dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ حُكْمَ الْقَسَّامِ مُخْتَصٌّ بِالتَّحَرِّي فِي تَمْيِيزِ الْحُقُوقِ وَإِقْرَارِهَا وَحُكْمَ الْحُكَّامِ مُخْتَصٌّ بِالِاجْتِهَادِ فِي أَحْكَامِ الدِّينِ وَإِلْزَامِهَا.

Salah satunya adalah bahwa tugas qassām khusus dalam melakukan taharri untuk membedakan hak-hak dan menetapkannya, sedangkan tugas para hakim khusus dalam melakukan ijtihad terhadap hukum-hukum agama dan mewajibkannya.

وَالثَّانِي: اسْتِعْدَاءُ الْخُصُومِ يَكُونُ إِلَى الْحُكَّامِ دُونَ الْقَسَّامِ لِأَنَّ لِلْحُكَّامِ وِلَايَةً يَسْتَحِقُّونَ بِهَا إِجَابَةَ الْمُسْتَعْدِي وَلَيْسَ لِلْقَسَّامِ وِلَايَةٌ وَلَا عَدْوَى.

Kedua: Meminta perlindungan dari para pihak yang bersengketa dilakukan kepada para hakim, bukan kepada para qassām, karena para hakim memiliki otoritas yang dengannya mereka berhak memenuhi permintaan perlindungan, sedangkan para qassām tidak memiliki otoritas maupun kewenangan tersebut.

وَإِنَّمَا يَقْسِمُونَ بِأَمْرِ الْحُكَّامِ لَهُمْ أَوْ لِتَرَاضِي الشركاء بهم فصارلوا فِي الْقِسْمَةِ أَعْوَانَ الْحُكَّامِ فَلَزِمَ الْحَاكِمَ أَنْ يَخْتَارَ لِنَظَرِهِ مِنَ الْقُسَّامِ مَنْ تَكَامَلَتْ فِيهِ شُرُوطُ الْقِسْمَةِ وَهِيَ ثَلَاثَةٌ:

Mereka membagi harta atas perintah para hakim untuk mereka atau karena kesepakatan para sekutu dengan mereka, sehingga mereka dalam pembagian itu menjadi pembantu para hakim. Maka wajib bagi hakim untuk memilih dari para pembagi harta (al-qussām) orang yang telah terpenuhi padanya syarat-syarat pembagian, yaitu tiga syarat.

أَحَدُهَا: الْعَدَالَةُ؛ لِأَنَّهُ حَاكِمٌ مُؤْتَمَنٌ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا وَلَا فَاسِقَا.

Salah satunya adalah keadilan; karena ia adalah seorang hakim yang dipercaya, maka tidak boleh seorang budak maupun seorang fasik.

وَالثَّانِي: قِلَّةُ الطَّمَعِ وَنَزَاهَةُ النَّفْسِ حتى لا يرتشي فيما يلي ويجوز.

Kedua: sedikitnya sifat tamak dan kebersihan jiwa, sehingga tidak menerima suap dalam perkara yang ditanganinya dan yang diperbolehkan.

وَالثَّالِثُ: عِلْمُهُ بِالْحِسَابِ وَالْمِسَاحَةِ؛ لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ لَهُمَا، وَعَامِلٌ بِهِمَا وَاعْتِبَارُ هَذَيْنِ فِي الْقَاسِمِ كَاعْتِبَارِ الْعِلْمِ فِي الْحَاكِمِ فَإِذَا عُرِفَ تَكَامُلُ هَذِهِ الشُّرُوطِ الثَّلَاثَةِ فِيهِ عُيِّنَ عَلَى اخْتِيَارِهِ وَنَدْبِهِ للقسمة في عمله.

Ketiga: pengetahuannya tentang hisab dan ilmu ukur, karena keduanya dianjurkan baginya, dan ia beramal dengan keduanya. Pertimbangan kedua hal ini pada seorang qāsim (petugas pembagi warisan) seperti pertimbangan ilmu pada seorang hakim. Maka apabila diketahui terpenuhinya tiga syarat ini padanya, ia ditetapkan untuk dipilih dan dianjurkan untuk melakukan pembagian dalam tugasnya.

(تعدد القسام) .

(Pembagian warisan yang berulang).

فَإِنِ اكْتَفَى عَمَلُهُ بِقَاسِمٍ وَاحِدٍ. وَإِلَّا اخْتَارَ مِمَّنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْعَمَلُ، مِنْ ثَانٍ، وَثَالِثٍ ليغني المقتسمين عن اختيار القاسم فَقَدْ يَضْعُفُ كَثِيرٌ مِنْهُمْ عَنِ الِاجْتِهَادِ فِي اختيارهم.

Jika pekerjaan itu sudah cukup dengan satu qāsim, maka cukup dengan satu orang saja. Jika tidak, maka dipilihlah orang kedua, ketiga, dan seterusnya sesuai kebutuhan pekerjaan, agar para pihak yang membagi tidak perlu memilih qāsim sendiri, karena bisa jadi banyak di antara mereka yang kurang mampu melakukan ijtihad dalam memilih qāsim.

(أجرة القاسم) .

(Ujrah al-qāsim).

وَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ أُجُورُ هَؤُلَاءِ الْقُسَّامِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ؛ لِأَنَّ عَلِيًّا رَزَقَهُمْ مِنْهُ، وَلِأَنَّهُمْ مَنْدُوبُونَ لِلْمَصَالِحِ الْعَامَّةِ فَاقْتَضَى أَنْ تَكُونَ أُجُورُهُمْ مِنْ أَمْوَالِ الْمَصَالِحِ.

Dan seharusnya upah para qassām ini diambil dari Baitul Mal; karena Ali pernah memberi mereka nafkah dari sana, dan karena mereka ditugaskan untuk kemaslahatan umum, maka sudah sepatutnya upah mereka diambil dari dana kemaslahatan.

فَإِنْ كَثُرَتِ الْقِسْمَةُ وَاتَّصَلَتْ فُرِضَتْ أَرْزَاقُهُمْ مُشَاهَرَةً فِي بَيْتِ الْمَالِ مِنْ سَهْمِ الْمَصَالِحِ وَإِنْ قَلَّتْ أُعْطُوا مِنْهُ أُجْرَةَ كُلِّ قِسْمَةٍ.

Jika pembagian itu banyak dan berlangsung terus-menerus, maka gaji mereka ditetapkan secara bulanan dari Baitul Mal melalui pos maslahat. Namun, jika pembagian itu sedikit, mereka diberikan upah dari Baitul Mal untuk setiap kali pembagian.

فَإِنْ عَدَلَ الْمُقَسَّمُونَ عَنْهُمْ إِلَى قِسْمَةِ مَنْ تَرَاضَوْا بِهِ مِنْ غَيْرِهِمْ جَازَ، وَلَمْ يُعْتَرَضْ عَلَيْهِمْ، وَجَازَ أَنْ يَكُونَ مَنِ ارْتَضَوْهُ عَبْدًا، أَوْ فَاسِقًا، وَكَانَتْ أُجْرَتُهُ فِي أموالهم ولم تكن في بيت المال.

Jika para pembagi berpaling dari mereka kepada pembagian yang dilakukan oleh orang lain yang mereka sepakati selain mereka, maka hal itu diperbolehkan dan tidak ada keberatan terhadap mereka. Orang yang mereka setujui itu boleh jadi seorang budak atau seorang fasik, dan upahnya diambil dari harta mereka, bukan dari baitul mal.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِنْ لَمْ يُعْطُوَا خُلِّيَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَنْ طَلَبَ الْقَسْمَ وَاسْتَأْجَرَهُمْ طَالِبُ الْقَسْمِ بِمَا شَاءَ قَلَّ أَوْ كَثُرَ “.

Syafi‘i berkata: “Jika mereka tidak memberikan (bagian), maka dibiarkan antara mereka dan orang yang meminta pembagian, dan orang yang meminta pembagian boleh menyewa mereka dengan upah berapa pun yang dia kehendaki, sedikit atau banyak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا أَعْوَزَتْ أُجُورُ الْقَسَّامِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، إِمَّا لِعَدَمِهِ فِيهِ، وَإِمَّا لِحَاجَةِ الْمُقَاتِلَةِ إِلَيْهِ كَانَتْ أُجُورُهُمْ عَلَى الْمُتَقَاسِمِينَ إِنْ لَمْ يَجِدُوا مُتَبَرِّعًا.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila upah para qassām tidak tersedia dari Baitul Mal, baik karena tidak ada di dalamnya, maupun karena kebutuhan para muqatilah terhadapnya, maka upah mereka menjadi tanggungan para pihak yang membagi, jika mereka tidak menemukan orang yang bersedia secara sukarela.

وَلَا تَمْنَعُ نِيَابَتُهُمْ عَنِ الْقُضَاةِ أَنْ يَعْتَاضُوا عَلَى الْقِسْمَةِ بِخِلَافِ الْقُضَاةِ الْمَمْنُوعِينَ مِنَ الاعتياض على الأحكام من الخصوم الوقوع الفرق بينهما وَجْهَيْنِ:

Dan pengganti mereka dari para hakim tidak terhalang untuk menerima imbalan atas pembagian, berbeda dengan para hakim yang dilarang menerima imbalan atas putusan dari para pihak yang bersengketa. Perbedaan antara keduanya memiliki dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ فِي الْقَضَاءِ حَقًّا لِلَّهِ تَعَالَى يَمْنَعُ بِهِ الْقَاضِي مِنَ الِاعْتِيَاضِ، وَالْقِسْمَةُ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ الْمَحْضَةِ فَجَازَ لِلْقَاسِمِ الِاعْتِيَاضُ عَنْهَا.

Salah satunya: Sesungguhnya dalam perkara peradilan terdapat hak Allah Ta‘ala yang dengannya hakim dilarang menerima imbalan, sedangkan pembagian adalah termasuk hak murni manusia, sehingga diperbolehkan bagi pembagi untuk menerima imbalan atasnya.

وَالثَّانِي: إِنَّ لِلْقَاسِمِ عَمَلًا يُبَاشِرُ بِنَفْسِهِ فَصَارَ كَصُنَّاعِ الْأَعْمَالِ فِي جَوَازِ الِاعْتِيَاضِ عَنْهَا وَخَالَفَ الْقُضَاةَ الْمُقْتَصِرِينَ عَلَى الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي الَّتِي لَا يَصِحُّ الِاعْتِيَاضُ عَنْهَا.

Kedua: Sesungguhnya al-qāsim memiliki pekerjaan yang ia lakukan sendiri secara langsung, sehingga ia seperti para pekerja yang melakukan suatu pekerjaan dalam hal bolehnya menerima imbalan atas pekerjaannya itu. Hal ini berbeda dengan para qāḍī yang hanya terbatas pada perintah dan larangan, yang tidak sah menerima imbalan atasnya.

وَإِنَّمَا يَأْخُذُ الْقَاضِي رِزْقَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِانْقِطَاعِهِ إِلَى الْحُكْمِ وَلَيْسَ بِأَخْذِهِ أُجْرَةً عَلَى الْحُكْمِ كَمَا نَقُولُهُ فِي أَرْزَاقِ الْأَئِمَّةِ وَالْمُؤَذِّنِينَ.

Sesungguhnya qadhi mengambil penghasilannya dari Baitul Mal karena ia sepenuhnya mencurahkan diri untuk menjalankan tugas peradilan, dan pengambilan itu bukanlah sebagai upah atas tugas peradilan, sebagaimana yang kami katakan mengenai penghasilan para imam dan muadzin.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: فَإِذَا تَقَرَّرَ أَنَّ أَخْذَ الْأُجْرَةِ عَلَى الْقِسْمَةِ جَائِزٌ، وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَخْذُهَا عَنِ الْحُكْمِ فَالْكَلَامُ عَنْهَا يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ: أَحَدُهُمَا: عَدَدُ الْقُسَّامِ. وَالثَّانِي: حُكْمُ الْأُجْرَةِ.

Maka apabila telah dipastikan bahwa mengambil upah atas pembagian (harta) itu diperbolehkan, meskipun tidak diperbolehkan mengambil upah atas peradilan, maka pembahasan tentangnya mencakup dua bagian: pertama, jumlah para pembagi; dan kedua, hukum upah tersebut.

فَأَمَّا عَدَدُ الْقُسَّامِ فَلِلْقِسْمَةِ حَالَتَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَتَرَاضَى بِهَا الْمُقْتَسِمُونَ. وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَأْمُرَ بِهَا الْحُكَّامُ.

Adapun jumlah para pembagi, maka dalam pembagian terdapat dua keadaan: Pertama, para pihak yang membagi saling merelakan pembagian tersebut. Kedua, pembagian itu diperintahkan oleh para hakim.

فَإِنْ تَرَاضَوْا بِهَا حَمَلُوا فِي الْعَدَدِ عَلَى مَا اتَّفَقُوا عَلَيْهِ مِنْ وَاحِدٍ أَوِ اثْنَيْنِ كَمَا حَمَلُوا فِيهِ عَلَى اخْتِيَارِهِمْ لِلْقَاسِمِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُخْتَارًا وَلَا يَقْبَلُ الْحَاكِمُ قَوْلَ هَذَا الْقَاسِمِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِتَائِبٍ عَنْهُ وَلَا يَسْمَعُ شَهَادَتَهُ؛ لِأَنَّهُ شَاهِدٌ عَلَى فِعْلِهِ.

Jika mereka sepakat atas hal itu, maka dalam hal jumlah mereka mengikuti apa yang telah mereka sepakati, baik satu orang maupun dua orang, sebagaimana mereka juga mengikuti pilihan mereka dalam menentukan pembagi (al-qāsim). Dan jika ia bukan orang yang dipilih, maka hakim tidak menerima perkataan pembagi ini, karena ia bukan wakil dari mereka dan kesaksiannya tidak didengar, sebab ia bersaksi atas perbuatannya sendiri.

وَإِنْ أَمَرَ الْحَاكِمُ بِالْقِسْمَةِ وَخَرَجَتْ عَنْ حُكْمِ الِاخْتِيَارِ فَفِي الْقِسْمَةِ تَعْدِيلٌ وَحُكْمٌ وَالتَّعْدِيلُ مُعْتَبَرٌ بِاثْنَيْنِ كالتقويم ولا يعول في التقويم إلى عَلَى قَوْلِ مُقَوِّمَيْنِ وَالْحُكْمُ فِيهِ قَوْلٌ وَاحِدٌ كَالْحَاكِمِ.

Dan jika hakim memerintahkan pembagian dan perkara tersebut keluar dari hukum pilihan, maka dalam pembagian itu terdapat penilaian (ta‘dīl) dan keputusan (ḥukm). Penilaian itu dianggap sah dengan dua orang, seperti dalam penaksiran (taqwīm), dan dalam penaksiran tidak diandalkan kecuali pada pendapat dua orang penaksir. Adapun keputusannya hanya satu pendapat, seperti keputusan hakim.

فَيُنْظَرُ فِي الْقِسْمَةِ: فَإِنْ كَانَ فِيهَا تَعْدِيلٌ وَتَقْوِيمٌ لَمْ يُجْزِئْ فِيهَا أَقَلُّ مِنْ قَاسِمَيْنِ.

Maka diperhatikan dalam pembagian: jika di dalamnya terdapat penyesuaian dan penilaian, maka tidak cukup kurang dari dua orang pembagi.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا تَعْدِيلٌ وَلَا تَقْوِيمٌ فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي مَوْضِعِ أَمر الْحَاكِم الشُّرَكَاء إِنْ يَجْتَمِعُوا عَلَى قَاسِمَيْنِ، فَظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُ لَا يُجْزِئُ قَاسِمٌ وَاحِدٌ.

Dan jika di dalamnya tidak terdapat penilaian keadilan maupun penilaian harga, maka asy-Syafi‘i berkata dalam pembahasan tentang perintah hakim kepada para sekutu agar mereka berkumpul atas dua orang pembagi, maka yang tampak dari hal ini adalah bahwa tidak cukup hanya satu orang pembagi.

وَقَالَ فِي غَيْرِهِ إِنَّ الْقَاسِمَ حَاكِمٌ فَظَاهِرُهُ أَنَّهُ يُجْزِئُ قَاسِمٌ وَاحِدٌ.

Dan ia berkata di tempat lain bahwa al-Qāsim adalah seorang hakim, maka zahirnya adalah bahwa satu orang qāsim saja sudah mencukupi.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا كَمَا اخْتَلَفُوا فِي الْخَرْصِ فَخَرَّجَهُ أَكْثَرُهُمْ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat sebagaimana mereka juga berbeda pendapat dalam masalah taksiran, maka kebanyakan dari mereka mengembalikan permasalahan ini kepada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يُجْزِئُ قَاسِمٌ وَاحِدٌ، كَمَا يُجْزِئُ كَيَّالٌ واحد، ووزان واحد.

Salah satunya: bahwa satu orang pembagi sudah mencukupi, sebagaimana satu orang penakar dan satu orang penimbang juga sudah mencukupi.

والقول الثاني: لا أنه يُجْزِئُ أَقَلُّ مِنْ قَاسِمَيْنِ، كَمَا لَا يُجْزِئُ أَقَلُّ مِنْ مُقَوِّمَيْنِ، وَكَمَا لَا يُجْزِئُ فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ أَقَلُّ مِنْ مُجْتَهِدَيْنِ وَلَا يَمْتَنِعُ إِذَا كَانَ الْقَاسِمُ كَالْحَاكِمِ أَنْ يَجْمَعَ فِيهِ بَيْنَ اثْنَيْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا} .

Pendapat kedua: Tidak sah jika kurang dari dua orang pembagi, sebagaimana tidak sah jika kurang dari dua orang penaksir harga, dan sebagaimana tidak sah dalam penetapan denda perburuan jika kurang dari dua orang mujtahid. Namun, tidak terlarang apabila pembagi itu seperti hakim, untuk menggabungkan dua peran sekaligus, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: {Maka kirimlah seorang hakim dari pihak laki-laki dan seorang hakim dari pihak perempuan}.

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا: لَيْسَ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ، وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى اخْتِلَافِ حَالَيْنِ: وَهُوَ إِنْ كَانَ فِي الشُّرَكَاءِ طِفْلٌ، أَوْ غَائِبٌ، لَا يُجِيبُ عَنْ نَفْسِهِ لَمْ يَجُزْ أَقَلُّ مِنْ قَاسِمَيْنِ، وَإِنْ كَانُوا حُضُورًا يُجِيبُونَ عَنْ أَنْفُسِهِمْ أَجْزَأَ قَاسِمٌ وَاحِدٌ، وَيَقْبَلُ الْحَاكِمُ قَوْلَ القاسم ها هنا، لِاسْتِنَابَتِهِ لَهُ كَمَا يَقْبَلُ قَوْلَ خُلَفَائِهِ فَإِنْ جَازَتْ بِقَاسِمٍ وَاحِدٍ قِيلَ فِيهَا قَوْلُ الْوَاحِدِ، وَإِنْ لَمْ تَجُزْ إِلَّا بِقَاسِمَيْنِ لَمْ يَقْبَلْ قول الواحد وقبل قول الاثنين.

Dan sebagian lain dari kalangan sahabat kami berkata: Hal itu bukanlah berdasarkan dua pendapat, melainkan tergantung pada perbedaan dua keadaan: yaitu, jika di antara para sekutu terdapat anak kecil atau orang yang tidak hadir yang tidak dapat memberikan jawaban atas dirinya sendiri, maka tidak boleh kurang dari dua orang pembagi; namun jika mereka semua hadir dan dapat menjawab atas diri mereka sendiri, maka cukup dengan satu orang pembagi. Hakim menerima pernyataan dari pembagi dalam hal ini, karena ia diangkat sebagai wakil, sebagaimana hakim menerima pernyataan para penggantinya. Jika pembagian boleh dilakukan dengan satu orang pembagi, maka diterima pernyataan satu orang; namun jika tidak boleh kecuali dengan dua orang pembagi, maka pernyataan satu orang tidak diterima dan yang diterima adalah pernyataan dua orang.

(فصل: أجرة القسام) .

(Bab: Upah para qassām)

وأما أجرة القسام فللمقتسمين فيها أربعة أَحْوَالٍ:

Adapun upah para qassām, maka bagi para pihak yang membagi harta terdapat empat keadaan.

إِحْدَاهَا: أَنْ يَتَّفِقُوا فِيهَا عَلَى أُجْرَةٍ مَعْلُومَةٍ، فَلَيْسَ لَهُ غَيْرُهَا وَلَا عَلَيْهِمْ أَكْثَرُ مِنْهَا.

Salah satunya: mereka sepakat di dalamnya atas upah yang telah diketahui, maka tidak ada hak baginya selain itu dan mereka pun tidak berkewajiban lebih dari itu.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى التَّطَوُّعِ بِالْقِسْمَةِ فَلَا أُجْرَةَ لِلْقَاسِمِ.

Keadaan yang kedua: mereka sepakat untuk membagi secara sukarela, maka tidak ada upah bagi pembagi.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَتَّفِقُوا عَلَى أُجْرَةٍ مَجْهُولَةٍ، أَوْ أُجْرَةٍ فَاسِدَةٍ، فَتَكُونُ لِلْقَاسِمِ أُجْرَةُ مِثْلِهِ.

Keadaan ketiga: apabila mereka sepakat atas upah yang tidak diketahui atau upah yang rusak (tidak sah), maka bagi pembagi (qāsim) berhak mendapatkan upah sesuai standar upah sejenisnya.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ لَا يَجْرِيَ لِلْأُجْرَةِ ذِكْرٌ، فَلَا يَكُونُ مِنَ الْمُقْتَسِمَيْنِ بَذْلٌ، وَلَا مِنَ الْقَاسِمِ طَلَبٌ، فَيَنْظُرُ فِي الْقِسْمَةِ، فَإِنْ كَانَ الْحَاكِمُ قَدْ أَمَرَ بِهَا، وَجَبَ لِلْقَاسِمِ أُجْرَةُ مِثْلِهِ.

Keadaan keempat: Tidak disebutkan adanya upah, sehingga tidak ada pemberian dari pihak yang membagi maupun permintaan dari pembagi. Maka dilihat pada pembagian tersebut; jika hakim telah memerintahkan pembagian itu, maka wajib bagi pembagi untuk mendapatkan upah sebagaimana biasanya.

وَإِنْ كَانَ الْمُقْتَسِمُونَ قَدْ دُعُوا إِلَيْهَا، فَفِي وُجُوبِ الْأُجْرَةِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Dan jika para pihak yang membagi telah diundang untuk melakukannya, maka dalam kewajiban membayar upah terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لَا أُجْرَةَ لَهُ؛ لِأَنَّهُ بذَل عَملَهُ مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ.

Salah satunya, dan ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah tidak ada upah baginya; karena ia telah memberikan pekerjaannya tanpa adanya syarat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الْمُزَنِيِّ، لَهُ الْأُجْرَةُ؛ لِأَنَّهُمُ اسْتَهْلَكُوا عَمَلَهُ مِنْ غَيْرِ اسْتِحْقَاقٍ.

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab al-Muzani, adalah bahwa ia berhak mendapatkan upah; karena mereka telah memanfaatkan pekerjaannya tanpa hak.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَبِرَ حَالَ الْقَاسِمِ، فَإِنْ جَرَتْ عَادَتُهُ بِأَخْذِ الْأُجْرَةِ اسْتَحَقَّهَا وَإِنْ لَمْ تَجْرِ عَادَتُهُ بِأَخْذِهَا لَمْ يَسْتَحِقَّهَا، لِأَنَّ الْعُرْفَ فِي حَقِّهِمَا كَالشَّرْطِ.

Pendapat ketiga: memperhatikan keadaan pihak yang membagi (al-qāsim), jika kebiasaannya memang mengambil upah maka ia berhak mendapatkannya, dan jika kebiasaannya tidak mengambil upah maka ia tidak berhak mendapatkannya, karena ‘urf (kebiasaan) bagi keduanya seperti syarat.

فَإِذَا وَجَبَتِ الْأُجْرَةُ، وَكَانَ الْقَاسِمُ واحدا أخذها، إن كانا اثنين، فلهما في الأجرة ثلاثة أَحْوَالٍ:

Maka apabila upah telah wajib, dan jika yang membagi hanya satu orang, maka dialah yang mengambilnya. Jika yang membagi ada dua orang, maka keduanya memiliki tiga keadaan terkait upah tersebut:

أَحَدُهَا: أَنْ يَسْتَحِقَّا أُجْرَةَ الْمِثْلِ، فَيَجِبُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أُجْرَةُ مِثْلِهِ.

Salah satunya: bahwa keduanya berhak mendapatkan upah sesuai standar, maka wajib bagi masing-masing dari mereka memperoleh upah sesuai standarnya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أُجْرَةٌ مُسَمَّاةٌ، فَيَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِأُجْرَتِهِ، قَلَّتْ أَوْ كَثُرَتْ، سَوَاءٌ تَسَاوَيَا فِيهَا أَوْ تَفَاضَلَا.

Keadaan kedua: Jika masing-masing dari keduanya memiliki upah yang telah ditentukan, maka masing-masing berhak atas upahnya sendiri, baik sedikit maupun banyak, baik upah mereka sama ataupun berbeda.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُسَمِّيَ لَهُمَا أُجْرَةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ عَلَى الْمُقْتَسِمَيْنِ غَيْرُهَا.

Keadaan ketiga: jika ia menyebutkan kepada mereka berdua satu upah, maka tidak ada kewajiban atas kedua pihak yang membagi selain upah tersebut.

وَفِي اقْتِسَامِهِمَا بِهَا وَجْهَانِ:

Dalam pembagian keduanya dengannya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَقْتَسِمَانِهَا نِصْفَيْنِ اعْتِبَارًا بِالْعَدَدِ.

Salah satunya: keduanya membaginya menjadi dua bagian sama besar berdasarkan jumlah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَقْتَسِمَانِهَا عَلَى قَدْرِ أُجُورِ أَمْثَالِهِمَا اعْتِبَارًا بِالْعَمَلِ.

Pendapat kedua: Keduanya membaginya sesuai dengan kadar upah orang-orang semisal mereka, dengan mempertimbangkan pekerjaan yang dilakukan.

(هل أجرة القسام على عدد الرؤوس أو على عدد الأسهم) .

Apakah upah para qassām (petugas pembagi warisan) didasarkan pada jumlah kepala (ahli waris) atau pada jumlah bagian (ash-shuhm)?

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” فَإِنْ سَمَّوْا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ فِي نَصِيبِهِ شَيْئًا مَعْلُومًا فَجَائِزٌ وَإِنْ سَمَّوْهُ عَلَى الْكُلِّ فَعَلَى قَدْرِ الْأَنْصِبَاءِ “.

Syafi‘i berkata: “Jika mereka menyebutkan pada masing-masing bagian sesuatu yang jelas, maka itu diperbolehkan. Dan jika mereka menyebutkannya atas keseluruhan, maka harus sesuai dengan kadar bagian-bagiannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ كَمَا قَالَ: إِذَا اسْتَأْجَرَ الْمُقْتَسِمُونَ الْقَاسِمَ بِأُجْرَةٍ مُسَمَّاةٍ فَلَهُمْ فِيهَا حَالَتَانِ:

Al-Mawardi berkata: Dan memang sebagaimana yang ia katakan: Jika para pihak yang membagi menyewa seorang pembagi dengan upah yang telah ditentukan, maka mereka memiliki dua keadaan dalam hal ini:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَسْتَأْجِرَهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِي حَقِّهِ خَاصَّةً دُونَ شُرَكَائِهِ، فَهَذَا جَائِزٌ وَيَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِي حَقِّهِ بِالْتِزَامِ مَا سَمَّى، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَتَسَاوَوْا فِيهِ أَوْ يَتَفَاضَلُوا.

Salah satunya adalah bahwa masing-masing dari mereka menyewakan bagi haknya sendiri secara khusus tanpa melibatkan para sekutunya; hal ini diperbolehkan dan masing-masing dari mereka berhak atas bagiannya dengan kewajiban sesuai yang telah disebutkan, dan tidak ada perbedaan apakah mereka sama rata di dalamnya atau berbeda-beda.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَجْتَمِعُوا عَلَى اسْتِئْجَارِهِ بِأُجْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَهَذَا جَائِزٌ وَهُوَ أَوْلَى، لِتَنْتَفِيَ التُّهْمَةُ عَنْهُمْ فِي التَّفْضِيلِ وَالْمُمَايَلَةِ وَتَكُونُ الْأُجْرَةُ مُقَسَّطَةً بَيْنَهُمْ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ عَلَى قَدْرِ الْأَنْصِبَاءِ وَالسِّهَامِ وَلَا يُقَسِّطُ عَلَى أَعْدَادِ الرُّؤُوسِ.

Keadaan kedua: mereka sepakat untuk menyewanya dengan satu upah, maka hal ini diperbolehkan dan lebih utama, agar terhindar dari tuduhan adanya keberpihakan dan pilih kasih. Upah tersebut dibagi di antara mereka menurut pendapat Imam Syafi‘i sesuai dengan besarnya bagian dan saham masing-masing, dan tidak dibagi berdasarkan jumlah orang.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يُقَسِّطُ عَلَى أَعْدَادِ رُؤُوسِهِمْ يَسْتَوِي فِيهَا مَنْ قَلَّ نصيبه وكثر.

Abu Hanifah berkata: “Dibagi rata menurut jumlah kepala mereka, baik yang mendapat bagian sedikit maupun banyak tetap sama.”

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ: الْقِيَاسُ تَقْسِيطُهَا عَلَى الرُّؤُوسِ وَالِاسْتِحْسَانِ تَقْسِيطُهَا عَلَى السِّهَامِ.

Abu Yusuf dan Muhammad berkata: Qiyās adalah pembagian (harta warisan) berdasarkan jumlah kepala, sedangkan istihsān adalah pembagian berdasarkan bagian (yang telah ditetapkan).

وَاسْتَدَلَّ مَنْ قَسَّطَهَا عَلَى الْعَدَدِ، بِأَنَّ عَمَلَ الْقَاسِمِ فِي قَلِيلِ السَّهْمِ أَكْثَرُ مِنْ عَمَلِهِ فِي كَثِيرِهِ؛ لِأَنَّ الْأَرْضَ إِذَا كَانَتْ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ قَسَّمَهَا نِصْفَيْنِ وَإِذَا كَانَ لِأَحَدِهِمَا سُدُسُهَا، وَلِلْآخَرِ بَاقِيهَا قَسَّمَهَا أَسْدَاسًا فَكَانَ فِي حَقِّ الْقَلِيلِ أَكْثَرُ عَمَلًا فَاقْتَضَى إِذَا لَمْ يَزِدْ أَنْ لَا يَنْقُصَ.

Orang yang membagi harta warisan berdasarkan jumlah, berdalil bahwa pekerjaan pembagi dalam bagian yang sedikit lebih banyak daripada pekerjaannya dalam bagian yang banyak; karena jika tanah itu dibagi dua sama rata di antara mereka, maka ia membaginya menjadi dua bagian, dan jika salah satu dari mereka mendapat seperenamnya dan yang lain sisanya, maka ia membaginya menjadi enam bagian. Maka dalam bagian yang sedikit, pekerjaannya lebih banyak, sehingga jika tidak bertambah, seharusnya tidak berkurang.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Dan ini batil dari tiga segi:

أَحَدُهَا: أَنَّ مُؤَنَ الْمَالِ الْمُشْتَرَكِ يَجِبُ تَقْسِيطُهَا عَلَى قَدْرِ الْمِلْكِ دُونَ الْمُلَّاكِ كَنَفَقَاتِ الْبَهَائِمِ.

Salah satunya: bahwa biaya-biaya harta bersama wajib dibagi sesuai kadar kepemilikan, bukan berdasarkan jumlah pemilik, seperti nafkah untuk hewan ternak.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ قَدْ يَقِلُّ سَهْمُ أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ حَتَّى يَكُونَ سَهْمًا مِنْ مِائَةِ سَهْمٍ؛ فَلَوِ الْتَزَمَ نِصْفَ الْأُجْرَةِ لَجَازَ أَنْ تَسْتَوْعِبَ قِيمَةَ مِلْكِهِ فَتُؤَدِّي إِجَازَةُ مِلْكِهِ بِالْقِسْمَةِ إِلَى إِزَالَةِ مِلْكِهِ بِهَا وَهَذَا مَدْفُوعٌ فِي الْمَعْقُولِ.

Kedua: Bisa jadi bagian salah satu dari dua sekutu sangat sedikit, hingga hanya satu bagian dari seratus bagian; maka jika ia menanggung setengah dari upah, mungkin saja nilai kepemilikannya habis seluruhnya, sehingga persetujuannya atas pembagian itu menyebabkan hilangnya kepemilikannya karena pembagian tersebut, dan hal ini tertolak secara logika.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَمَّا كَانَ ثَمَنُ الْمِلْكِ لَوْ بِيعَ مُقَسَّطًا بَيْنَهُمْ عَلَى السِّهَامِ، اقْتَضَى أَنْ تَتَقَسَّطَ أُجْرَةُ قَسْمِهِ عَلَى السِّهَامِ.

Ketiga: Karena harga kepemilikan jika dijual akan dibagi secara proporsional di antara mereka sesuai bagian masing-masing, maka hal itu menuntut agar biaya pembagian juga dibagi secara proporsional sesuai bagian.

وَاسْتِدْلَالُهُمْ بِأَنَّ عَمَلَ الْقَاسِمِ فِي قَلِيلِ السَّهْمِ أَكْثَرُ، فَفَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dalil mereka bahwa pekerjaan al-qāsim dalam bagian yang sedikit lebih banyak, adalah batil dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَوْ كَانَ أَكْثَرُ لَوَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَا يَلْزَمُهُ أَكْثَرَ.

Salah satunya: bahwa jika jumlahnya lebih banyak, maka semestinya apa yang menjadi kewajibannya juga lebih banyak.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ خَطَأٌ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ لِصَاحِبِ السُّدُسِ سَهْمٌ وَلِصَاحِبِ الْبَاقِي خَمْسَةُ أَسْهُمٍ وَعَمَلُهُ فِي الْخَمْسَةِ أَسْهُمٍ أَكْثَرُ مِنْ عَمَلِهِ فِي السَّهْمِ الْوَاحِدِ؛ لِأَنَّهُ يَحْتَاجُ أَنْ يَذْرَعَ الْجَمِيعَ فَيَعْرِفَ مِسَاحَتَهُ.

Kedua: Itu adalah kesalahan; karena bisa jadi pemilik sepertiga memiliki satu bagian dan pemilik sisanya memiliki lima bagian, dan pekerjaannya pada lima bagian itu lebih banyak daripada pekerjaannya pada satu bagian; karena ia harus mengukur seluruhnya agar mengetahui luasnya.

وَقَوْلُهُمْ إِنَّ كَثْرَةَ الْعَمَلِ لِقِلَّةِ سَهْمِ الْآخَرِ خَطَأٌ بَلْ هُوَ لِكَثْرَةِ سَهْمِ شَرِيكِهِ فَبَطَلَ الِاسْتِدْلَالُ.

Pernyataan mereka bahwa banyaknya amal disebabkan sedikitnya bagian pihak lain adalah keliru, bahkan sebenarnya hal itu karena besarnya bagian dari rekannya, sehingga dalil tersebut menjadi batal.

(فصل: [حكم القسمة إذا كان بين المقتسمين صغير أو مجنون] ) .

(Bab: [Hukum pembagian jika di antara para pihak yang membagi terdapat anak kecil atau orang gila]).

فَإِنْ كَانَ فِي الشُّرَكَاءِ الْمُقْتَسِمِينَ مُوَلًّى عَلَيْهِ بِجُنُونٍ أَوْ صِغَرٍ فَإِنْ كَانَ يَنْتَفِعُ بِقِسْمَةِ سَهْمِهِ أُلْزِمَ مِنْ أُجْرَةِ الْقِسْمَةِ بِقِسْطِهِ.

Jika di antara para sekutu yang membagi harta terdapat seseorang yang berada di bawah perwalian karena gila atau masih kecil, maka jika ia mendapatkan manfaat dari pembagian bagian miliknya, ia diwajibkan membayar bagian dari biaya pembagian sesuai dengan bagiannya.

وَإِنْ كَانَ يَسْتَضِرُّ بِهَا وَلَا يَنْتَفِعُ بِقِسْمَتِهَا وَلَمْ يكن الْمَنْعُ مِنْهَا لِانْتِفَاعِ بَاقِي الشُّرَكَاءِ بِهَا فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ: فِي نَفْسِي مِنْ أَنْ أَحْمِلَ عليه شيئا وهو ممن لا رضى لَهُ شَيْءٌ. فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى الْقِسْمَةِ أَوِ الْأُجْرَةِ؟

Dan jika ia justru dirugikan olehnya dan tidak mendapatkan manfaat dari pembagiannya, serta larangan darinya bukan karena adanya manfaat bagi para sekutu lainnya, maka asy-Syafi‘i berkata: “Dalam hatiku ada keraguan untuk membebankan sesuatu kepadanya, sedangkan ia adalah orang yang tidak memiliki kerelaan terhadap apa pun.” Maka para sahabat kami berbeda pendapat: apakah yang dimaksud oleh beliau adalah pembagian (qismah) ataukah upah (ujrah)?

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا أَشَارَ بِهِ إِلَى أَصْلِ الْقِسْمَةِ فَخَرَّجُوا الْقِسْمَةَ لِاحْتِمَالِ هَذَا الْكَلَامِ عَلَى وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا: يَمْنَعُ مِنْهَا. وَالثَّانِي: يُجِيبُ إِلَيْهَا.

Maka sebagian dari mereka berkata: Sesungguhnya yang dimaksudkan olehnya adalah asal pembagian, lalu mereka mengeluarkan hukum pembagian itu karena kemungkinan ucapan ini mengandung dua makna: yang pertama, melarangnya; dan yang kedua, membolehkannya.

وَقَالَ آخَرُونَ: إِنَّمَا أَشَارَ بِهِ إِلَى أُجْرَةِ الْقِسْمَةِ، فَأَمَّا الْقِسْمَةُ فَلَيْسَ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَمْنَعَهُمْ مِنْهَا فِي حَقِّ الصَّغِيرِ، وَهُوَ يُجْبِرُ عَلَيْهَا فِي حَقِّ الْكَبِيرِ؛ لِأَنَّ الصَّغِيرَ لَا يَمْنَعُ مِنَ الْحُقُوقِ وَجَعَلُوا احْتِمَالَ هَذَا الْكَلَامِ مَحْمُولًا عَلَى الْأُجْرَةِ وَخَرَجُوا فِي إِلْزَامِهِ أُجْرَةَ الْقِسْمَةِ وَجْهَيْنِ:

Dan sebagian ulama lain berkata: Sesungguhnya yang dimaksud dengan hal itu adalah upah pembagian (al-qismah). Adapun pembagian itu sendiri, maka hakim tidak berhak melarang mereka darinya dalam perkara anak kecil, bahkan ia mewajibkannya dalam perkara orang dewasa; karena anak kecil tidak boleh dihalangi dari hak-haknya. Mereka menganggap kemungkinan makna perkataan ini adalah berkaitan dengan upah, dan mereka mengemukakan dua pendapat mengenai kewajiban membayar upah pembagian (ujrah al-qismah) tersebut.

أَحَدُهُمَا: يَلْزَمُهُ الْحَاكِمُ قِسْطَهُ مِنْهَا مَعَ عَدَمِ حَظِّهِ فِيهَا كَمَا يَلْزَمُهُ مَا لَا حَظَّ له فيه من مؤونة وَكُلْفَةٍ.

Salah satunya: Hakim mewajibkan bagi seseorang bagiannya dari harta itu meskipun ia tidak memiliki hak di dalamnya, sebagaimana ia juga diwajibkan menanggung sesuatu yang bukan menjadi haknya berupa beban dan biaya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الْحَاكِمَ يَقُولُ لِشُرَكَاءِ الصغير إن أردتم القسمة التزمتهم قِسْطَهُ مِنَ الْأُجْرَةِ، وَلَمْ يُوجِبْ فِي مَالِهِ مَا لَا حَظَّ لَهُ فِيهِ.

Pendapat kedua: Hakim berkata kepada para sekutu anak kecil, “Jika kalian menghendaki pembagian, maka kalian harus menanggung bagian anak kecil dari upahnya,” dan tidak mewajibkan pada hartanya sesuatu yang tidak ada manfaat baginya.

( [أَنْوَاعُ الْأَمْوَالِ المشتركة] ) .

(Jenis-jenis harta bersama).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وإذا تداعوا إلى القسم وأبى شركائهم فَإِنْ كَانَ يَنْتَفِعُ وَاحِدٌ مِنْهُمْ بِمَا يَصِيرُ لَهُ مَقْسُومًا أَجْبَرْتُهُمْ عَلَى الْقَسْمِ فَإِنْ لَمْ يَنْتَفِعِ الْبَاقُونَ بِمَا يَصِيرُ إِلَيْهِمْ فَأَقُولُ لِمَنْ كَرِهَ إِنْ شِئْتُمْ جَمَعْتُمْ حَقَّكُمْ فَكَانَتْ مُشَاعَةً بَيْنَكُمْ لِتَنْتَفِعُوا بِهَا “.

Syafi’i berkata: “Apabila mereka saling menuntut untuk membagi (harta bersama) dan sebagian dari mereka menolak, maka jika salah satu dari mereka dapat mengambil manfaat dari bagian yang menjadi miliknya setelah dibagi, aku memaksa mereka untuk melakukan pembagian. Namun, jika yang lain tidak dapat mengambil manfaat dari bagian yang menjadi milik mereka, maka aku katakan kepada yang tidak setuju: Jika kalian menghendaki, kalian dapat menggabungkan hak kalian sehingga tetap menjadi milik bersama di antara kalian agar kalian dapat mengambil manfaat darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْأَمْوَالَ الْمُشْتَرَكَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa harta bersama terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَهُوَ مِنَ الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ مَا تَتَسَاوَى قِيمُ كُلِّ مَوْضِعٍ مِنْهُ، وَفِي مَعْنَاهُ مَا تَتَسَاوَى أَجْزَاؤُهُ مِنَ الْحُبُوبِ وَالْأَدْهَانِ، فَهَذَا يُقَسَّمُ بَيْنَ الشُّرَكَاءِ إِجْبَارًا إِذَا امْتَنَعَ بَعْضُهُمْ وَاخْتِيَارًا إِذَا رَضِيَ جَمِيعَهُمْ.

Salah satunya adalah harta yang dapat dibagi secara qismah al-ijbār, yaitu dari rumah dan tanah yang nilai setiap bagiannya sama, dan dalam makna yang sama adalah barang-barang yang setiap bagiannya setara seperti biji-bijian dan minyak. Maka harta seperti ini dibagi di antara para sekutu secara paksa jika sebagian dari mereka menolak, dan secara sukarela jika semua mereka setuju.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الِاخْتِيَارِ وَلَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَهُوَ مَا تَخْتَلِفُ قِيَمُ كُلِّ مَوْضِعٍ مِنْهُ مِنَ الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ وَكَالْحَمَّامِ وَالسَّفِينَةِ وَالسَّيْفِ وَالثَّوْبِ لِنُقْصَانِهِمَا بِالْقِسْمَةِ فَهَذَا يُقَسَّمُ بَيْنَ الشُّرَكَاءِ اخْتِيَارًا، إِذَا رَضِيَ جَمِيعُهُمْ، وَلَا يُقَسَّمُ بَيْنَهُمْ إِجْبَارًا إِذَا امْتَنَعَ بَعْضُهُمْ.

Bagian kedua adalah apa yang dapat dibagi dengan pembagian pilihan dan tidak dapat dibagi dengan pembagian paksaan, yaitu sesuatu yang nilai setiap bagiannya berbeda-beda, seperti rumah, tanah, pemandian, kapal, pedang, dan pakaian, karena nilainya berkurang jika dibagi. Maka hal ini boleh dibagi di antara para sekutu secara pilihan jika semua setuju, dan tidak boleh dibagi secara paksa jika sebagian dari mereka menolak.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا لَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَلَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الِاخْتِيَارِ، وَهُوَ كُلُّ مَا يُتْلَفُ بِالْقِسْمَةِ، كَالْجَوْهَرَةِ وَاللُّؤْلُؤَةِ وَالْعَبْدِ وَالدَّابَّةِ، فَهَذَا يُمْنَعُ الشُّرَكَاءُ فِيهِ مِنْ قَسْمِهِ، وَإِنْ رَضُوا بِهَا؛ لِأَنَّهُ إِتْلَافُ مِلْكٍ فِي غَيْرِ نَفْعٍ فَكَانَ سَفَهًا يَسْتَحِقُّ به الحجر.

Bagian ketiga: yaitu sesuatu yang tidak dapat dibagi dengan pembagian paksa maupun pembagian sukarela, yaitu segala sesuatu yang akan rusak jika dibagi, seperti permata, mutiara, budak, dan hewan tunggangan. Dalam hal ini, para sekutu dilarang membaginya, meskipun mereka rela, karena hal itu merupakan perusakan harta tanpa ada manfaat, sehingga dianggap sebagai tindakan ceroboh yang layak untuk dicegah.

(فصل: [امتناع بعض الشركاء من القسمة في ما تدخله قسمة الإجبار] ) .

Bab: [Penolakan sebagian sekutu terhadap pembagian dalam hal-hal yang dapat dilakukan pembagian secara paksa].

فَأَمَّا مَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ إِذَا دَعَا بَعْضُ الشُّرَكَاءِ إِلَى الْقِسْمَةِ وَامْتَنَعَ بَعْضُهُمْ مِنْهَا فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Adapun perkara yang masuk dalam pembagian secara paksa pada rumah dan tanah, yaitu apabila sebagian dari para sekutu meminta dilakukan pembagian, sementara sebagian lainnya menolak, maka hal itu terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ لَا يَسْتَضِرَّ بِالْقِسْمَةِ وَاحِدٌ مِنْهُمْ، وَيَنْتَفِعُ بِمَا حَازَهُ مَقْسُومًا، كَانْتِفَاعِهِ بِهِ مُشْتَرِكًا، فَيُجَابُ طَالِبُ الْقِسْمَةِ إِلَيْهَا، وَيُجْبَرُ الْمُمْتَنِعُ عَلَيْهَا لِأَمْرَيْنِ:

Salah satunya: tidak ada seorang pun di antara mereka yang dirugikan dengan pembagian tersebut, dan masing-masing dapat mengambil manfaat dari bagian yang diperolehnya setelah dibagi, sebagaimana ia dapat mengambil manfaat darinya ketika masih dalam keadaan milik bersama. Maka permintaan pembagian dari pihak yang menginginkan dikabulkan, dan pihak yang menolak dipaksa untuk menerima pembagian tersebut karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: لِيَتَصَرَّفَ عَلَى اخْتِبَارِهِ.

Salah satunya adalah agar ia dapat bertindak berdasarkan hasil uji cobanya.

وَالثَّانِي: لِيَأْمَنَ اخْتِلَاطَ الْأَيْدِي وَسوءَ الْمُشَارَكَةِ.

Yang kedua: agar terhindar dari tercampurnya hak milik dan buruknya kerja sama.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَسْتَضِرَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِالْقِسْمَةِ، لضيق الأرض، وَكَثْرَةِ السِّهَامِ، وَذَهَابِ مَنَافِعِهَا، بِافْتِرَاقِ الْأجزَاءِ وَحُصُولِ مَنَافِعِهَا بِاجْتِمَاعِهَا، فَتَصِيرُ كَقِسْمَةِ مَا لَا يَدْخُلُهُ الْإِجْبَارُ مِنَ الْبِئْرِ وَالْحَمَّامِ وَالرَّحَى وَالسَّيْفِ فَلَا تُقَسَّمُ بَيْنَهُم جَبْرًا لِدُخُولِ الضَّرَرِ عَلَى جَمِيعِهِمْ.

Bagian kedua: yaitu apabila masing-masing dari mereka akan mengalami kerugian dengan pembagian tersebut, karena sempitnya tanah, banyaknya bagian, dan hilangnya manfaatnya akibat terpecahnya bagian-bagian serta manfaatnya hanya bisa diperoleh jika tetap bersatu. Maka hal itu menjadi seperti pembagian benda-benda yang tidak dapat dipaksakan untuk dibagi, seperti sumur, pemandian, penggilingan, dan pedang. Maka benda-benda tersebut tidak boleh dibagi secara paksa di antara mereka karena akan menimbulkan kerugian bagi semuanya.

وَيَكُونُ الْقَوْلُ فِي الْقِسْمَةِ قَوْلُ الْمُمْتَنِعِ مِنْهَا وَهُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Dan dalam pembagian, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang menolak pembagian tersebut, dan inilah mazhab jumhur fuqaha.

وَقَالَ مَالِكٌ: الْقَوْلُ فِيهَا قَوْلُ طَالِبِ الْقِسْمَةِ وَيُجْبَرُ الْمُمْتَنِعُ عَلَيْهَا مَعَ دُخُولِ الضّررِ عَلَى الطَّالِبِ وَالْمَطْلُوبِ لِيَنْفَرِدَ بِمِلْكِهِ وَيَدِهِ.

Malik berkata: Pendapat yang dipegang dalam masalah ini adalah pendapat orang yang meminta pembagian, dan orang yang menolak pembagian dapat dipaksa untuk melakukannya, meskipun terdapat mudarat bagi pihak yang meminta maupun yang diminta, agar masing-masing dapat memiliki dan menguasai bagiannya sendiri.

وَدَلِيلُنَا: مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ وَمَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ “.

Dalil kami adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan. Barang siapa membahayakan orang lain, Allah akan membahayakannya, dan barang siapa mempersulit orang lain, Allah akan mempersulitnya.”

وَرُوِيَ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ ” نَهَى عَنْ قِيلٍ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ “.

Diriwayatkan darinya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau melarang dari berkata-kata yang sia-sia, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.

وَلِأَنَّ مَا عَمَّ الضَّرَرُ بِقَسْمِهِ سَقَطَ عَنْهُ الْإِجْبَارُ عَلَى الْقِسْمَةِ كَالْجَوْهَرَةِ.

Dan karena apabila mudarat telah meliputi kedua bagian, maka kewajiban untuk dipaksa melakukan pembagian itu gugur darinya, seperti pada kasus permata.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَسْتَضِرَّ بِالْقِسْمَةِ بَعْضُ الشُّرَكَاءِ دُونَ بَعْضٍ.

Bagian ketiga: yaitu apabila sebagian dari para sekutu mengalami kerugian akibat pembagian, sedangkan sebagian yang lain tidak.

فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ الْإِجْبَارِ عَلَيْهَا عَلَى مَذَاهِبَ.

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum pemaksaan atasnya menurut beberapa mazhab.

فَقَالَ مَالِكٌ: يُجْبَرُ عَلَيْهَا مَنِ امْتَنَعَ مِنْهَا.

Maka Malik berkata: Orang yang enggan melakukannya dipaksa untuk melakukannya.

وَقَالَ أَبُو ثَوْرٍ: لَا يُجْبَرُ.

Abu Tsaur berkata: Tidak dipaksa.

وَقَالَ ابن أبي ليلى: يباع ويقسم الثمن بينهم.

Ibnu Abi Laila berkata: Barang itu dijual dan hasil penjualannya dibagi di antara mereka.

وَعَلَى مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ إِنْ كَانَ طَالِبُ الْقِسْمَةِ مُنْتَفِعًا أُجْبِرَ عَلَيْهَا الْمُمْتَنِعَ وَإِنِ اسْتَضَرَّ لِمَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْعِلَّتَيْنِ:

Menurut mazhab Syafi‘i dan Abu Hanifah, jika pihak yang meminta pembagian mendapatkan manfaat, maka pihak yang menolak dipaksa untuk menerima pembagian tersebut, meskipun ia mengalami kerugian, karena dua alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

إِحْدَاهَا: كَمَالُ تَصَرُّفِهِ عَلَى اخْتِيَارِهِ.

Salah satunya adalah sempurnanya kemampuan bertindak atas pilihannya sendiri.

وَالثَّانِي: انْفِرَادُ يَدِهِ مِنْ سُوءِ الْمُشَارَكَةِ.

Kedua: Tangan sendiri terhindar dari keburukan akibat adanya musyarakah (kerja sama atau kepemilikan bersama).

فَأَمَّا إِنْ كَانَ طَالِبُ الْقِسْمَةِ هُوَ الْمُسْتَضِرُّ بِهَا، وَالْمَطْلُوبُ هُوَ الْمُنْتَفِعُ بِهَا فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي إِجَابَةِ الطَّالِبِ إِلَيْهَا، وَإِجْبَارِ الْمَطْلُوبِ عَلَيْهَا، عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun jika pihak yang meminta pembagian adalah pihak yang dirugikan karenanya, sedangkan pihak yang diminta adalah pihak yang mendapatkan manfaat darinya, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah permintaan pihak yang meminta harus dikabulkan dan apakah pihak yang diminta harus dipaksa untuk melakukannya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يُجْبَرُ عَلَى الْقِسْمَةِ لِانْتِفَاءِ الضَّرَرِ عَنِ الْمَطْلُوبِ

Salah satunya: dipaksa untuk melakukan pembagian karena tidak ada mudarat bagi pihak yang diminta.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُجْبَرُ عَلَيْهَا لِدُخُولِ الضَّرَرِ عَلَى طَالِبِهَا.

Pendapat kedua: Tidak diwajibkan atasnya karena hal itu akan menimbulkan mudarat bagi orang yang memintanya.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيمَا يُعْتَبَرُ بِهِ دُخُول الضرر عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hal yang dijadikan tolok ukur masuknya mudarat, dengan dua pendapat.

أحدهما: وهو قول أبي حنيفة الظاهر مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ: أَنَّهُ نُقْصَانُ الْمَنْفَعَةِ وَلَا اعْتِبَارَ بِنُقْصَانِ الْقِيمَةِ.

Pendapat pertama, yaitu pendapat Abu Hanifah dan yang tampak dari mazhab asy-Syafi‘i: bahwa yang dianggap adalah berkurangnya manfaat, dan tidak diperhatikan berkurangnya nilai.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ يُعْتَبَرُ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ نُقْصَانِ الْمَنْفَعَةِ، أَوْ نُقْصَانِ الْقِيمَةِ.

Pendapat kedua: bahwa yang dijadikan pertimbangan adalah masing-masing, baik berkurangnya manfaat maupun berkurangnya nilai.

وَهُوَ أَشْبَهُ لِأَنَّ فِي كُلِّ وَاحِدٍ منهما ضررا.

Dan pendapat ini lebih mendekati kebenaran karena pada masing-masing dari keduanya terdapat mudarat.

(فصل: [في كيفية التقسيم] ) .

(Bab: [Tentang Cara Pembagian])

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِمَّا يَجُوزُ أَنْ يُقَسَّمَ بَيْنَ الشُّرَكَاءِ جَبْرًا فَكَانَتِ الْأَرْضُ بَيْنَ سِتَّةٍ قَدْ تَسَاوَتْ سِهَامُهُمْ فِيهَا، وَطَلَبَ الْقِسْمَةَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ، وَامْتَنَعَ الْبَاقُونَ مِنْهَا، قُسِّمَتْ أَسْدَاسًا وَأُفْرِدَ لِطَالِبِ الْقِسْمَةِ سُدُسُهَا وَكَانَ خَمْسَةُ أَسْدَاسِهَا مُشْتَرَكًا بَيْنَ الْبَاقِينَ.

Apabila telah dipastikan apa yang telah kami jelaskan mengenai hal-hal yang boleh dibagi paksa di antara para sekutu, lalu ada sebidang tanah milik enam orang yang masing-masing memiliki bagian yang sama, kemudian salah satu dari mereka meminta pembagian sementara yang lain menolak, maka tanah itu dibagi menjadi enam bagian, dan bagian keenam diberikan kepada orang yang meminta pembagian, sedangkan lima per enam sisanya tetap menjadi milik bersama bagi yang lainnya.

فَإِنْ طَلَبَهَا اثْنَانِ لِيَحُوزَا سَهْمَيْهِمَا مُجْتَمِعَيْنِ قُسِّمَتْ أَثْلَاثًا وَأُفْرِدَ لِطَالِبِي الْقِسْمَةِ ثلثها مشتركا بينهما، كان الثُّلُثَانِ مُشْتَرَكًا بَيْنَ الْبَاقِينَ.

Jika dua orang memintanya untuk mengambil dua bagian mereka secara bersama-sama, maka dibagi menjadi tiga bagian, dan sepertiganya dipisahkan untuk kedua peminta pembagian tersebut secara bersama, sedangkan dua pertiganya tetap menjadi milik bersama bagi yang lainnya.

وَإِنْ طَلَبَهَا ثَلَاثَةٌ لِيَحُوزُوا سِهَامَهُمْ مُجْتَمِعِينَ قُسِّمَتْ نِصْفَيْنِ وَأُفْرِدَ أَحَدُ النِّصْفَيْنِ لِلثَّلَاثَةِ الطَّالِبِينَ لِلْقِسْمَةِ وَالنِّصْفُ الْآخَرُ لِلثَّلَاثَةِ الْمُمْتَنِعِينَ مِنْهَا.

Jika tiga orang memintanya untuk mengambil bagian mereka secara bersama-sama, maka dibagi menjadi dua bagian; salah satu dari kedua bagian itu dikhususkan untuk tiga orang yang meminta pembagian, dan setengah lainnya untuk tiga orang yang menolak pembagian.

ثُمَّ عَلَى هَذَا الِاعْتِبَارِ فِيمَا زَادَ وَنَقَصَ وَاجْتَمَعَ وَافْتَرَقَ.

Kemudian, berdasarkan pertimbangan ini, baik dalam hal yang bertambah maupun berkurang, yang berkumpul maupun yang berpisah.

( [كَيْفِيَّةُ الْقِسْمَةِ] ) .

(Tata Cara Pembagian)

(مَسْأَلَةٌ)

(Mas’alah)

: قال الشافعي: ” وينبغي للقاسم أن يحصي أهل القسم وَمَبْلَغَ حُقُوقِهِمْ فَإِنْ كَانَ فِيهِمْ مَنْ لَهُ سُدُسٌ وَثُلُثٌ وَنِصْفٌ قَسَّمَهُ عَلَى أَقَلِّ السُّهْمَانِ وَهُوَ السُّدُسُ فِيهَا فَيَجْعَلُ لِصَاحِبِ السُّدُسِ سَهْمًا وَلِصَاحِبِ الثُّلُثِ سَهْمَيْنِ وَلِصَاحِبِ النِّصْفِ ثَلَاثَةً ثُمَّ يُقَسِّمُ الدَّارَ عَلَى سِتَّةِ أَجْزَاءٍ ثَمَّ يَكْتُبُ أَسْمَاءَ أَهْلِ السُّهْمَانِ فِي رِقَاعٍ قَرَاطِيسَ صِغَارٍ ثُمَّ يُدْرِجُهَا فِي بُنْدُقِ طِينٍ يَدُورُ وَإِذَا اسْتَوَتْ أَلْقَاهَا فِي حِجْرِ مَنْ لَمْ يَحْضُرِ الْبَنْدَقَةَ وَلَا الْكِتَابَ ثُمَّ سَمَّى السُّهْمَانَ أَوَّلًا وَثَانِيًا وَثَالِثًا ثُمَّ قَالَ أَخْرِجْ عَلَى الْأَوَّلِ بُنْدُقَةً وَاحِدَةً فَإِذَا أَخْرَجَهَا فَضَّهَا فَإِذَا خَرَجَ اسْمُ صَاحِبِهَا جَعَلَ لَهُ السَّهْمَ الْأَوَّلَ فَإِنْ كَانَ صَاحِبَ السُّدُسِ فَهُوَ لَهُ وَلَا شَيْءَ لَهُ غَيْرَهُ وَإِنْ كَانَ صَاحِبَ الثُّلُثِ فَهُوَ لَهُ وَالسَّهْمُ الَّذِي يَلِيهِ وَإِنْ كَانَ صَاحِبَ النِّصْفِ فَهُوَ لَهُ وَالسَّهْمَانِ اللَّذَانِ يَلِيَانِهِ ثُمَ قِيلَ لَهُ أَخْرِجُ بُنْدُقَةً عَلَى السَّهْمِ الَّذِي يَلِي مَا خَرَجَ فَإِذَا خَرَجَ فِيهَا اسْمُ رجل فهو له كما وصفت حتى تنفذ السُّهْمَانُ “.

Syafi‘i berkata: “Seyogianya bagi pembagi warisan untuk menghitung jumlah ahli waris dan besaran hak mereka. Jika di antara mereka ada yang mendapat seperenam, sepertiga, dan setengah, maka ia membaginya berdasarkan bagian terkecil, yaitu seperenam. Ia memberikan kepada pemilik seperenam satu bagian, kepada pemilik sepertiga dua bagian, dan kepada pemilik setengah tiga bagian. Kemudian ia membagi rumah itu menjadi enam bagian. Setelah itu, ia menuliskan nama-nama para pemilik bagian pada kertas-kertas kecil, lalu memasukkannya ke dalam bola tanah liat yang dapat diputar. Ketika bola itu sudah rata, ia meletakkannya di pangkuan seseorang yang tidak hadir saat pembuatan bola dan penulisan nama. Kemudian ia menamai bagian-bagian itu sebagai bagian pertama, kedua, dan ketiga. Lalu ia berkata, ‘Keluarkan satu bola untuk bagian pertama.’ Ketika bola itu dikeluarkan, ia membukanya. Jika nama pemiliknya keluar, maka bagian pertama diberikan kepadanya. Jika ia adalah pemilik seperenam, maka itu menjadi miliknya dan ia tidak mendapat bagian lain. Jika ia adalah pemilik sepertiga, maka itu menjadi miliknya dan juga bagian yang setelahnya. Jika ia adalah pemilik setengah, maka itu menjadi miliknya dan juga dua bagian setelahnya. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Keluarkan bola untuk bagian setelah yang telah keluar.’ Jika di dalamnya terdapat nama seseorang, maka bagian itu menjadi miliknya sebagaimana telah dijelaskan, hingga seluruh bagian habis terbagi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا الَّذِي وَصَفَهُ الشَّافِعِيُّ فِي الْقِسْمَةِ يَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Dan apa yang dijelaskan oleh asy-Syafi‘i dalam pembagian ini mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: عَمَلُ القسمة.

Salah satunya adalah pelaksanaan pembagian.

والثاني: صفة القرعة.

Kedua: sifat undian (qur‘ah).

(عمل القسمة) .

(Pelaksanaan pembagian).

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلِ: فِي عَمَلِهَا فَهُوَ أَنْ يَعْرِفَ الْقَاسِمُ قَدْرَ سِهَامِ الشُّرَكَاءِ.

Adapun bagian pertama: tentang pekerjaannya, yaitu bahwa al-qāsim harus mengetahui besarnya bagian para syarik.

فَإِنْ تَسَاوَتْ قَسَّمَ الْأَرْضَ عَلَى عَدَدِهِمْ.

Jika jumlah mereka sama, maka tanah dibagi sesuai jumlah mereka.

وَإِنْ تَفَاضَلَتْ قَسَّمَهَا عَلَى أَقَلِّ السِّهَامِ لِاشْتِمَالِ الْأَكْثَرِ عَلَى الْأَقَلِّ.

Jika jumlah bagian berbeda, maka pembagiannya dilakukan berdasarkan jumlah bagian yang paling sedikit, karena bagian yang lebih banyak mencakup bagian yang lebih sedikit.

فَإِذَا قَسَّمَهَا عَلَى عَدَدِهِمْ لِتَسَاوِي سِهَامِهِمْ كَثَلَاثَةِ شُرَكَاءَ فِي أَرْضٍ مُتَسَاوِيَةِ الْأَجْزَاءِ هِيَ بَيْنَهُمْ بِالسَّوِيَّةِ أَثْلَاثًا فَيُقَسِّمُهَا ثَلَاثَةَ سِهَامٍ مُعْتَدِلَةٍ بِالْمِسَاحَةِ. فَإِنْ كَانَتْ ثَلَاثِينَ جَرِيبًا جَعَلَ كُلَّ سَهْمٍ مِنْهَا عَشَرَةَ أَجْرِبَةٍ ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فِيهَا.

Maka jika ia membaginya sesuai jumlah mereka agar bagian mereka sama, seperti tiga orang yang berserikat dalam sebidang tanah yang bagian-bagiannya sama, maka tanah itu dibagi di antara mereka secara merata menjadi tiga bagian. Lalu ia membaginya menjadi tiga bagian yang seimbang menurut luasnya. Jika tanah itu berjumlah tiga puluh jarīb, maka setiap bagian dijadikan sepuluh jarīb, kemudian diadakan undian di antara mereka atas bagian-bagian tersebut.

وَهُوَ فِي الْقُرْعَةِ بِالْخِيَارِ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ الْأَسْمَاءَ وَيُخْرِجَ عَلَى السِّهَامِ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ السِّهَامَ وَيُخْرِجَ عَلَى الْأَسْمَاءِ.

Dalam undian, ia memiliki pilihan, antara menuliskan nama-nama lalu mengundi dengan anak panah, atau menuliskan anak panah lalu mengundi dengan nama-nama.

فَإِنْ كَتَبَ الْأَسْمَاءَ وَأَخْرَجَ عَلَى السِّهَامِ كَتَبَ أَسْمَاءَ الشُّرَكَاءِ الثَّلَاثَةِ فِي رِقَاعٍ ثَلَاثٍ، فِي أَحَدِهَا زَيْدٌ، وَفِي الْأُخْرَى عَمْرٌو، وَفِي الثَّالِثَةِ بَكْرٌ، ثُمَّ قَالَ: اخْرُجْ عَلَى السَّهْمِ الْأَوَّلِ، فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ زَيْدٍ أَخَذَ السَّهْمَ الْأَوَّلَ، ثُمَّ قَالَ اخْرُجْ عَلَى السَّهْمِ الثَّانِي، فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ عَمْرٍو أَخَذَ السَّهْمَ الثَّانِيَ وَصَارَ السَّهْمُ الثَّالِثُ لِبَكْرٍ.

Jika ia menuliskan nama-nama dan melakukan undian atas saham-saham, maka ia menuliskan nama ketiga orang sekutu itu pada tiga lembar kertas: pada salah satunya tertulis Zaid, pada yang lain Amr, dan pada yang ketiga Bakr. Kemudian ia berkata: “Keluarkan untuk saham pertama.” Jika yang keluar adalah nama Zaid, maka ia mengambil saham pertama. Lalu ia berkata: “Keluarkan untuk saham kedua.” Jika yang keluar adalah nama Amr, maka ia mengambil saham kedua, dan saham ketiga menjadi milik Bakr.

وَإِنْ كَتَبَ السِّهَامَ وَأَخْرَجَ عَلَى الْأَسْمَاءِ، كَتَبَ فِي أَحَدِ الرِّقَاعِ السَّهْمَ الْأَوَّلَ، وَفِي أُخْرَى السَّهْمَ الثَّانِيَ، وَفِي أُخْرَى السَّهْمَ الثَّالِثَ، ثُمَّ قَالَ أخْرجْ لِزَيْدٍ، فَإِنْ خَرَجَ لَهُ السَّهْمُ الْأَوَّلُ أخذه، ثُمَّ قَالَ أخْرجْ لِعَمْرٍو فَإِنْ خَرَجَ لَهُ السَّهْمُ الثَّالِثُ أَخَذَهُ، وَصَارَ السَّهْمُ الثَّانِي لِبَكْرٍ.

Dan jika ia menuliskan bagian-bagian undian dan mengundi atas nama-nama, maka ia menuliskan pada salah satu kertas bagian pertama, pada kertas lain bagian kedua, dan pada kertas lain bagian ketiga. Kemudian ia berkata, “Keluarkan untuk Zaid.” Jika yang keluar untuknya adalah bagian pertama, maka ia mengambilnya. Lalu ia berkata, “Keluarkan untuk Amr.” Jika yang keluar untuknya adalah bagian ketiga, maka ia mengambilnya, dan bagian kedua menjadi milik Bakr.

ثُمَّ عَلَى هَذَا الْمِثَالِ فِيمَا قَلَّ مِنَ الْعَدَدِ أَوْ كَثُرَ.

Kemudian, demikian pula halnya untuk jumlah yang sedikit maupun yang banyak.

فَأَمَّا إِنِ اخْتَلَفَتْ سِهَامُ الشُّرَكَاءِ، كَثَلَاثَةِ شُرَكَاءَ فِي أَرْضٍ مُتَسَاوِيَةِ الْأَجْزَاءِ لِأَحَدِهِمْ سُدُسُهَا وَلِآخَرَ ثُلُثُهَا، وَلِآخَرَ نِصْفُهَا، فَهَذِهِ يُقَسِّمُهَا عَلَى أَقَلِّ السِّهَامِ، وَهُوَ السُّدُسُ، فَيَجْعَلُ كُلَّ سَهْمٍ مِنَ الْأَرْضِ الَّتِي مِسَاحَتُهَا ثَلَاثُونَ جَرِيبًا خَمْسَةَ أَجْرِبَةٍ هِيَ سُدُسُهَا.

Adapun jika bagian saham para sekutu berbeda-beda, seperti tiga orang sekutu dalam sebidang tanah yang bagian-bagiannya sama besar, salah satu dari mereka memiliki seperenamnya, yang lain sepertiganya, dan yang lain lagi setengahnya, maka pembagiannya dilakukan berdasarkan bagian yang paling kecil, yaitu seperenam. Maka setiap saham dari tanah yang luasnya tiga puluh jarib dijadikan lima jarib, yaitu seperenamnya.

ثُمَّ يَقْرَعُ بَيْنَهُمْ عَلَى وَجْهٍ وَاحِدٍ. وَهُوَ أَنْ يَكْتُبَ الْأَسْمَاءَ وَيُخْرِجَ عَلَى السِّهَامِ فَيَقُولُ اخْرُجْ عَلَى السَّهْمِ الْأَوَّلِ.

Kemudian ia melakukan undian di antara mereka dengan satu cara, yaitu dengan menuliskan nama-nama mereka dan mengundi dengan anak panah, lalu ia berkata, “Keluarlah pada anak panah yang pertama.”

فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ صَاحِبِ السُّدُسِ أَخَذَهُ وَحْدَهُ، وَقَالَ اخْرُجْ عَلَى السَّهْمِ الثَّانِي فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ صَاحِبِ الثُّلُثِ أَخَذَهُ وَالسَّهْمُ الَّذِي يَلِيهِ، وَهُوَ الثَّالِثُ، لِأَنَّ لَهُ سَهْمَيْنِ وَمِلْكُهُ يُجْمَعُ فِي الْقِسْمَةِ وَلَا يُفَرَّقُ، وَبَقِيَتِ السِّهَامُ الثَّلَاثَةُ لِصَاحِبِ النِّصْفِ، وَهُوَ الرَّابِعُ وَالْخَامِسُ وَالسَّادِسُ. وَلَوْ خَرَجَ عَلَى السَّهْمِ الْأَوَّلِ صَاحِبُ النِّصْفِ أَخَذَهُ، وَاللَّذَيْنِ يَلِيَانِهِ وَهُمَا الثَّانِي وَالثَّالِثُ، لِمَا يَلْزَمُ مِنْ جَمْعِ مِلْكِهِ فِي الْقِسْمَةِ، ثُمَّ قَالَ اخْرُجْ عَلَى السهم الرابع، فَإِنْ خَرَجَ اسْمُ صَاحِبِ الثُّلُثِ أَخَذَهُ وَالسَّهْمُ الَّذِي يَلِيهِ، وَهُوَ الْخَامِسُ، وَبَقِيَ السَّهْمُ السَّادِسُ لِصَاحِبِ السُّدُسِ.

Jika nama pemilik bagian sepertiga keluar, maka ia mengambilnya sendiri. Kemudian dikatakan, “Keluarlah pada bagian kedua.” Jika nama pemilik bagian sepertiga keluar, maka ia mengambil bagian itu dan bagian setelahnya, yaitu bagian ketiga, karena ia memiliki dua bagian dan kepemilikannya harus digabungkan dalam pembagian dan tidak dipisahkan. Sisa tiga bagian lagi menjadi milik pemilik bagian setengah, yaitu bagian keempat, kelima, dan keenam. Jika pada bagian pertama keluar nama pemilik bagian setengah, maka ia mengambil bagian itu dan dua bagian setelahnya, yaitu bagian kedua dan ketiga, karena kepemilikannya harus digabungkan dalam pembagian. Kemudian dikatakan, “Keluarlah pada bagian keempat.” Jika nama pemilik bagian sepertiga keluar, maka ia mengambil bagian itu dan bagian setelahnya, yaitu bagian kelima, dan bagian keenam menjadi milik pemilik bagian seperenam.

ثُمَّ عَلَى هَذَا الْمِثَالِ فِيمَا قل من السهام وكثر.

Kemudian, demikian pula pada contoh ini dalam hal jumlah bagian (saham) yang sedikit maupun yang banyak.

(فصل: [صفة القرعة] ) .

(Bab: [Tata Cara Qir‘ah]) .

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَأَمَّا صِفَةُ الْقُرْعَةِ: فَهُوَ أَنْ تُؤْخَذَ رِقَاعٌ مُتَسَاوِيَةُ الْأَجْزَاءِ، وَيُكْتَبَ فِيهَا مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ، إِنْ أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ عَلَى السِّهَامِ أَوْ مِنَ السِّهَامِ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ عَلَى الْأَسْمَاءِ، ثُمَّ يَجْعَلُهَا فِي بَنَادِقَ من طين متساوية الوزن وتلس عَلَى مِثَالٍ وَاحِدٍ، حَتَّى لَا تَتَمَيَّزَ وَاحِدَةٌ مِنْهَا عَلَى غَيْرِهَا بِأَثَرٍ وَتُجَفَّفُ وَيُسْتَدْعَى لَهَا مَنْ لَمْ يَحْضُرْ عَمَلَهَا، وَلَمْ يَعْلَمْ بِحَالِهَا، وَلَوْ كَانَ صَغِيرًا أَوْ عَبْدًا لَا يَفْطَنُ لِحِيلَةٍ كَانَ أَوْلَى، وَتُوضَعُ فِي حِجْرِهِ، وَتُغَطَّى ثُمَّ يُؤْمَرُ بِإِخْرَاجِ مَا أَمَرَ بِإِخْرَاجِهِ مِنِ اسْمٍ أَوْ سَهْمٍ.

Adapun tata cara pelaksanaan undian adalah dengan mengambil kertas-kertas yang sama besar, lalu dituliskan di atasnya nama-nama yang telah disebutkan sebelumnya, jika ingin undian dilakukan atas nama, atau dituliskan tanda panah jika ingin undian dilakukan atas tanda panah. Kemudian kertas-kertas tersebut dimasukkan ke dalam bola-bola dari tanah liat yang sama beratnya dan dibuat dengan bentuk yang seragam, sehingga tidak ada satu pun yang dapat dibedakan dari yang lain karena suatu tanda. Setelah itu, bola-bola tersebut dikeringkan, lalu dipanggil seseorang yang tidak hadir saat pembuatan undian dan tidak mengetahui keadaannya. Jika orang tersebut adalah anak kecil atau budak yang tidak memahami tipu daya, maka itu lebih utama. Bola-bola tersebut diletakkan di pangkuannya, lalu ditutup, kemudian ia diperintahkan untuk mengambil nama atau tanda panah sesuai yang diperintahkan untuk dikeluarkan.

فَهَذَا أَحْوَطُ مَا يَكُونُ مِنَ الْقُرْعَةِ، وَأَبْعَدُهَا عَنِ التُّهْمَةِ.

Ini adalah cara paling hati-hati dalam melakukan undian (al-qur‘ah), dan paling jauh dari tuduhan atau kecurigaan.

وَالْأَصْلُ فِي الْقُرْعَةِ: قَوْله تَعَالَى: {وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ} [آل عمران: 44] .

Dasar hukum qir‘ah adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan kamu tidak berada di sisi mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam, dan kamu tidak berada di sisi mereka ketika mereka berselisih.” (Ali ‘Imran: 44).

وقَوْله تَعَالَى فِي يُونُسَ {إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ} [الصافات: 140] .

Dan firman-Nya Ta‘ala tentang Yunus: “Ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, lalu ia ikut berundi, maka ia termasuk orang-orang yang kalah.” (Ash-Shaffat: 140).

فَإِنْ لَمْ يَحْتَطْ فِي الْقُرْعَةِ بِمَا وَصَفْنَاهُ وَاقْتَصَرَ عَلَى أَنْ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ بِحَصًى أَوْ أَقْلَامٍ جَازَ.

Jika ia tidak berhati-hati dalam melakukan undian sebagaimana yang telah kami jelaskan, dan hanya mencukupkan diri dengan mengundi di antara mereka menggunakan kerikil atau pena, maka itu diperbolehkan.

قَدْ حَكَى الْوَاقِدِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” قَسَّمَ غَنَائِمَ بَنِي قُرَيْظَةَ عَلَى خَمْسَةِ أَجْزَاءٍ وَكَتَبَ عَلَى إِحْدَاهَا ” للَّه ” وَكَانَتِ السُّهْمَانُ يَوْمَئِذٍ نَوًى “.

Al-Waqidi meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ membagi harta rampasan perang Bani Quraizhah menjadi lima bagian, dan beliau menuliskan pada salah satu bagian tersebut “milik Allah”, dan pada saat itu bagian-bagian tersebut berupa biji kurma.

وَلَمَّا صَالَحَ بَنِي ابْنِ أَبِي الْحَقِيقِ بِخَيْبَرَ عَلَى الْكَتِيبَةِ وَالنَّطَاةِ جَزَّأَهُمَا خَمْسَةَ أَجْزَاءٍ فَكَانَتِ الْكَتِيبَةُ جُزْءًا فَجَعَلَ خَمْسَ بَعَرَاتٍ لِلسِّهَامِ الْخَمْسَةِ وَأَعْلَمَ أَحَدَهَا بِمَا جَعَلَهُ لِلَّهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ سَهْمَكَ فِي الْكَتِيبَةِ فَخَرَجَ سَهْمُ اللَّهِ عَلَى الْكَتِيبَةِ.

Ketika beliau berdamai dengan Bani Ibn Abi al-Haqiq di Khaibar atas wilayah al-Katibah dan al-Nathat, beliau membaginya menjadi lima bagian. Al-Katibah menjadi satu bagian. Lalu beliau membuat lima undian untuk lima bagian tersebut, dan menandai salah satunya sebagai bagian untuk Allah. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah bagian-Mu pada al-Katibah.” Maka keluarlah undian bagian Allah pada al-Katibah.

لَكِنْ مَا حَضْرَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – مِنَ الْقُرْعَةِ يَكُونُ أَخَفَّ حَالًا؛ لِأَنَّهُ مِنَ الْحَيْفِ أَبْعَدَ وَلِلتُّهْمَةِ أَنْفَى.

Namun, apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terkait undian (al-qur‘ah) adalah keadaan yang lebih ringan; karena hal itu lebih jauh dari ketidakadilan (al-ḥaif) dan lebih menolak adanya tuduhan.

وَإِنَّمَا يَلْزَمُ الِاحْتِيَاطُ فِيمَا تَتَوَجَّهُ إِلَيْهِ التُّهْمَةُ، كَذَلِكَ حُكْمُهَا بَعْدَهُ إِنْ كَانَتْ عِنْدَ حَاكِمٍ تَنْتَفِي عَنْهُ التُّهْمَةُ كَانَ حُكْمُهَا أَخَفَّ.

Sesungguhnya kewajiban untuk berhati-hati hanya berlaku pada perkara yang terdapat dugaan kuat (tuduhan) padanya; demikian pula hukumnya setelah itu, jika berada di hadapan seorang hakim yang tidak terdapat dugaan kuat (tuduhan) padanya, maka hukumnya menjadi lebih ringan.

وَإِنْ كَانَتْ بِحَيْثُ تَتَوَجَّهُ إليه التهمة كان حكمها أغلظ.

Dan jika keadaannya sedemikian rupa sehingga tuduhan itu mengarah kepadanya, maka hukumnya lebih berat.

(فصل: [لزوم القسمة] )

(Bab: [Kewajiban Melakukan Pembagian])

فَإِذَا تَقَرَّرَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْقَاسِمِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ نَدَبَهُ الْحَاكِمُ لِلْقِسْمَةِ أَوْ قَدْ تَرَاضَى بِهِ الشُّرَكَاءُ فِيهَا.

Maka apabila ketentuan ini telah ditetapkan, keadaan orang yang membagi harta tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia telah ditunjuk oleh hakim untuk melakukan pembagian, atau para sekutu telah sepakat meridhainya dalam pembagian tersebut.

فَإِنْ نَدْبَهُ الْحَاكِمُ لَهَا تَمَّتِ الْقِسْمَةُ بَيْنَهُمْ بِالْقُرْعَةِ، وَاسْتَقَرَّ مِلْكُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى مَا خَرَجَ لَهُ بِهَا، وَلَا خِيَارَ لَهُ؛ لِأَنَّ قِسْمَتَهُ بِأَمْرِ الْحَاكِمِ حُكْمٌ مِنْهُ بِهَا، فَنَفَّذَ وَلَمْ يَقِفْ عَلَى خِيَارِهِمْ.

Jika hakim telah menunjuknya untuk melakukan pembagian, maka pembagian dilakukan di antara mereka dengan undian, dan kepemilikan masing-masing dari mereka menjadi tetap atas bagian yang diperolehnya melalui undian tersebut, serta tidak ada hak khiyar (pilihan) bagi mereka; karena pembagian yang dilakukan atas perintah hakim merupakan keputusan darinya, sehingga berlaku dan tidak tergantung pada pilihan mereka.

وَإِنْ تَرَاضَى بِهِ الشُّرَكَاءُ فِيهَا فَفِيمَا تَلْزَمُهُ الْقِسْمَةُ بِهِ وَجْهَانِ مُخَرَّجَانِ مِنَ اخْتِلَافِ قَوْلِ الشَّافِعِيِّ فِي الخصمين وإذا تَرَاضَيَا بِحُكْمِ مَنْ لَا وِلَايَةَ لَهُ، فَفِي نُفُوذِ حُكْمِهِ عَلَيْهَا قَوْلَانِ:

Jika para sekutu saling merelakan dalam pembagian tersebut, maka dalam hal apa pembagian itu menjadi wajib dengan cara tersebut terdapat dua pendapat yang diambil dari perbedaan pendapat Imam Syafi‘i dalam kasus dua orang yang bersengketa. Dan apabila keduanya rela dengan keputusan orang yang tidak memiliki wewenang, maka mengenai berlakunya keputusan orang tersebut atas mereka terdapat dua pendapat.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ حُكْمَهُ لَازِمٌ لَهُمَا، وَنَافِذٌ عَلَيْهِمَا كَالْحَاكِمِ ثَبَتَتِ الْقِسْمَةُ بِالْقُرْعَةِ كَمَا لَوْ أَمَرَ بِهَا الْحَاكِمُ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya keputusannya bersifat mengikat bagi keduanya dan berlaku atas mereka sebagaimana keputusan hakim, maka pembagian itu tetap sah dengan undian sebagaimana jika hakim memerintahkannya.

وَإِنْ قِيلَ: لَا يَلْزَمُهُمَا حُكْمُهُ إِلَّا بِالْتِزَامِهِمَا لَهُ بَعْدَ الْحُكْمِ لَمْ تَتِمَّ الْقِسْمَةُ بِالْقُرْعَةِ إلا أن يتراضوا بها بعد القرعة.

Dan jika dikatakan: Keduanya tidak wajib menerima putusannya kecuali setelah mereka berdua menyetujuinya setelah keputusan itu ditetapkan, maka pembagian dengan undian belum dianggap sah kecuali jika mereka berdua rela dengannya setelah undian dilakukan.

( [قِسْمَةُ مَا اخْتَلَفَتْ أَجْزَاؤُهُ مِنَ الْأَرْضِ وَقِسْمَةُ التعديل والرد] ) .

(Pembagian tanah yang bagian-bagiannya berbeda serta pembagian dengan cara penyesuaian dan pengembalian.)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” فَإِذَا كَانَ فِي الْقَسْمِ رَدٌّ لَمْ يَجُزْ حَتَّى يَعْلَمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَوْضِعَ سَهْمِهِ وَمَا يَلْزَمُهُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ وَإِذَا عَلِمَهُ كَمَا يَعْلَمُ الْبُيُوعَ الَّتِي تَجُوزُ أَجزتهُ لَا بِالْقُرْعَةِ “.

Syafi‘i berkata: “Jika dalam pembagian terdapat pengembalian, maka tidak boleh dilakukan hingga masing-masing dari mereka mengetahui letak bagiannya, apa yang menjadi tanggungannya, dan apa yang gugur darinya. Jika ia telah mengetahuinya sebagaimana ia mengetahui jual beli yang sah, maka aku membolehkannya, bukan dengan undian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْأَرْضَ الْمُشْتَرَكَةَ ضَرْبَانِ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa tanah bersama itu ada dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ مُتَسَاوِيَةَ الْأَجْزَاءِ، وَهِيَ الَّتِي تَدْخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَقَدْ مَضَى حُكْمُهَا، وَذَكَرْنَا كَيْفَ تُقَسَّمُ.

Salah satunya adalah bahwa bagian-bagiannya harus sama, yaitu yang termasuk dalam pembagian secara paksa, dan hukumnya telah dijelaskan sebelumnya, serta telah kami sebutkan bagaimana cara pembagiannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ مُخْتَلِفَةَ الْأَجْزَاءِ، فَيَكُونَ بَعْضُهَا عَامِرًا، وَبَعْضُهَا خَرَابًا، أَوْ بَعْضُهَا قَوِيًّا، وَبَعْضُهَا ضَعِيفًا، أَوْ يَكُونَ فِي بَعْضِهَا شَجَرٌ وَبِنَاءٌ، وَلَيْسَ فِي الْبَاقِي شَجَرٌ وَلَا بِنَاءٌ أَوْ يَكُونَ فِي بَعْضِهَا شَجَرٌ بِلَا بِنَاءٍ وَفِي الْبَاقِي بِنَاءٌ بِلَا شَجَرٍ أَوْ يَكُونَ عَلَى بَعْضِهَا مَسِيلُ مَاءٍ، أَوْ طَرِيق ” سَابِل “، وَلَيْسَ عَلَى الْبَاقِي طَرِيقٌ وَلَا مَسِيلٌ، إِلَى مَا جَرَى هَذَا الْمَجْرَى مِنِ اخْتِلَافِ أَجْزَائِهَا بِهِ.

Jenis kedua: yaitu jika bagian-bagiannya berbeda-beda; sebagian di antaranya berupa lahan yang makmur, sebagian lagi rusak; atau sebagian kuat, sebagian lemah; atau pada sebagian terdapat pepohonan dan bangunan, sedangkan pada bagian lainnya tidak ada pepohonan maupun bangunan; atau pada sebagian terdapat pepohonan tanpa bangunan, dan pada bagian lainnya terdapat bangunan tanpa pepohonan; atau pada sebagian terdapat aliran air atau jalan umum, sedangkan pada bagian lainnya tidak ada jalan maupun aliran air; dan seterusnya sesuai dengan perbedaan bagian-bagiannya dalam hal-hal tersebut.

فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُمْكِنَ تَسَاوِي الشَّرِيكَيْنِ بِالْقِسْمَةِ فِي جَيِّدِهِ وَرَدِيئِهِ، مِثْلَ أَنْ يَكُونَ الْجَيِّدُ فِي مُقَدَّمِهَا وَالرَّدِيءُ فِي مُؤَخَّرِهَا، وَإِذَا قُسِّمَتْ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ صَارَ إِلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنَ الْجَيِّدِ وَالرَّدِيءِ مِثْلَ مَا صَارَ لِصَاحِبِهِ مِنَ الْجَيِّدِ وَالرَّدِيءِ، فَهَذِهِ تَدْخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَتَصِيرُ فِي الْقِسْمَةِ كَالْمُتَسَاوِيَةِ الْأَجْزَاءِ.

Salah satunya adalah: memungkinkan kedua pihak yang berserikat untuk memperoleh bagian yang sama dalam pembagian, baik pada bagian yang baik maupun yang buruk, seperti halnya jika bagian yang baik berada di bagian depan dan bagian yang buruk di bagian belakang. Jika dibagi menjadi dua bagian yang sama, maka masing-masing dari mereka akan mendapatkan bagian yang baik dan yang buruk sebagaimana yang didapatkan oleh rekannya, baik pada bagian yang baik maupun yang buruk. Maka, dalam kasus seperti ini berlaku pembagian secara paksa (qismah al-ijbār), dan dalam pembagian tersebut dianggap seperti bagian-bagian yang setara.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ لَا يُمْكِنَ تَسَاوِيهِمَا فِي الْجَيِّدِ وَالرَّدِيءِ لِأَنَّ الْعِمَارَةَ فِي أَحَدِ النِّصْفَيْنِ دُونَ الْآخَرِ، أَوْ لِأَنَّ الشَّجَرَ وَالْبِنَاءَ فِي أَحَدِ النِّصْفَيْنِ دُونَ الْآخَرِ، فَقِسْمَةُ مِثْلِ هَذَا قَدْ تَكُونُ عَلَى أَحَدِ أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Jenis kedua: yaitu tidak mungkin keduanya setara dalam hal yang baik dan yang buruk, karena bangunan berada pada salah satu dari dua bagian dan tidak pada bagian yang lain, atau karena pohon dan bangunan berada pada salah satu dari dua bagian dan tidak pada bagian yang lain. Maka pembagian seperti ini bisa terjadi dalam salah satu dari empat bentuk:

أَحَدُهَا: أَنْ تُقَسَّمَ قِسْمَةَ تَعْدِيلٍ بِالْقِيمَةِ عَلَى زِيَادَةِ الذَّرْعِ: مِثَالُهُ: أَنْ تَكُونَ الْأَرْضُ ثَلَاثِينَ جَرِيبًا بَيْنَ شَرِيكَيْنِ نِصْفَيْنِ وَتَكُونُ عَشَرَةُ أَجْرِبَةٍ مِنْ جَيِّدِهَا بِقَيِّمَةِ عِشْرِينَ جَرِيبًا مِنْ رَدِيئِهَا، فَيُقَسَّمُ بَيْنَهُمَا عَلَى فَضْلِ الذَّرْعِ فَيُجْعَلُ أَحَدُ السَّهْمَيْنِ عشرة أجرته، لِفَضْلِ جَوْدَتِهِ، وَالسَّهْمُ الْآخَرُ عِشْرِينَ جَرِيبًا، لِنَقْصِ رَدَاءَتِهِ.

Salah satunya: pembagian dilakukan dengan cara penyesuaian berdasarkan nilai terhadap kelebihan ukuran. Contohnya: ada sebidang tanah seluas tiga puluh jarib milik dua orang yang masing-masing memiliki setengah bagian, dan sepuluh jarib dari tanah tersebut merupakan bagian yang bagus dengan nilai setara dua puluh jarib dari bagian yang kurang bagus. Maka, pembagian dilakukan di antara keduanya berdasarkan kelebihan ukuran, sehingga salah satu bagian menjadi sepuluh jarib karena keunggulan kualitasnya, dan bagian lainnya menjadi dua puluh jarib karena kekurangan mutunya.

فَفِي دُخُولِ الْإِجْبَارِ فِي هَذِهِ الْقِسْمَةِ قَوْلَانِ:

Dalam masuknya unsur paksaan dalam pembagian ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا إِجْبَارَ فِيهَا لِتَعَذُّرِ التَّسَاوِي فِي الذَّرْعِ وَتَكُونُ مَوْقُوفَةً عَلَى التَّرَاضِي.

Salah satunya: bahwa tidak ada paksaan di dalamnya karena sulitnya menyamakan ukuran, dan hal itu bergantung pada kerelaan kedua belah pihak.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَاخْتَارَهُ أَبُو حَامِدٍ الْإِسْفَرَايِينِيُّ: إِنَّهُ تَدَخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ لِوُجُودِ التَّسَاوِي فِي التَّعْدِيلِ.

Pendapat kedua, yang dipilih oleh Abu Hamid al-Isfara’ini, adalah bahwa bagian tersebut termasuk dalam pembagian al-ijbār karena adanya kesetaraan dalam penyesuaian.

فَعَلَى هَذَا فِيمَا يَسْتَحِقُّهُ الْقَاسِمُ مِنْ أُجْرَتِهِ وَجْهَانِ:

Dengan demikian, mengenai bagian upah yang berhak diterima oleh al-qāsim, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا عَلَى الشَّرِيكَيْنِ نِصْفَيْنِ، لِتَسَاوِيهِمَا فِي أَصْلِ الْمِلْكِ.

Salah satunya: bahwa bagian itu dibagi dua sama rata kepada kedua orang yang berserikat, karena keduanya setara dalam pokok kepemilikan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنْ عَلَى صَاحِبِ الْعَشَرَةِ الْأَجْرِبَةِ ثُلُثَهَا، وَعَلَى صَاحِبِ الْعِشْرِينَ ثلثاها لِتَفَاضُلِهِمَا فِي الْمَأْخُوذِ بِالْقِسْمَةِ.

Pendapat kedua: bahwa pemilik sepuluh ekor unta mendapat sepertiganya, dan pemilik dua puluh ekor unta mendapat dua pertiganya, karena adanya perbedaan antara keduanya dalam bagian yang diambil melalui pembagian.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تُقَسَّمَ قِسْمَةَ رَدٍّ مَعَ التَّسَاوِي فِي الذَّرْعِ، مِثَالُهُ: أَنْ يَكُونَ الشَّجَرُ وَالْبِنَاءُ فِي جَانِبٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَيَقْسِمُ الْأَرْضَ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ بِالسَّوِيَّةِ، وَيَجْعَلُ الشَّجَرَ وَالْبِنَاءَ قِيمَةً، فَإِنْ كَانَتْ قِيمَتُهُ أَلْفَ دِرْهَمٍ، وَجَبَ عَلَى مَنْ صَارَ لَهُ جَانِبُ الشَّجَرِ وَالْبِنَاءِ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ يَدْفَعُهَا إِلَى صَاحِبِهِ.

Jenis kedua: yaitu pembagian dengan cara pengembalian (qismah radd) disertai kesetaraan dalam ukuran. Contohnya: apabila pohon dan bangunan berada di salah satu sisi tanah, maka tanah tersebut dibagi dua bagian secara merata, kemudian pohon dan bangunan dinilai harganya. Jika nilai pohon dan bangunan itu seribu dirham, maka orang yang mendapatkan sisi tanah yang terdapat pohon dan bangunannya wajib membayar lima ratus dirham kepada rekannya.

فَهَذِهِ الْقِسْمَةُ، قِسْمَةُ مُرَاضَاةٍ، لَا يَدْخُلُهَا الْإِجْبَارُ؛ لِأَنَّ دَخْلَ الرَّدِّ بِالْعِوَضِ يَجْعَلُهَا بَيْعًا مَحْضًا، وَلَيْسَ فِي الْبَيْعِ إِجْبَارٌ.

Maka pembagian ini adalah pembagian berdasarkan kerelaan, tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya; karena adanya pengembalian dengan kompensasi menjadikannya sebagai jual beli murni, dan dalam jual beli tidak terdapat pemaksaan.

وَلَهُمَا فِي هذه القسمة أربعة أَحْوَالٍ:

Dan bagi keduanya dalam pembagian ini terdapat empat keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَرَاضَيَا بِهَذِهِ الْقِسْمَةِ وَيَتَّفِقَا عَلَى مَنْ يَأْخُذُ الْأَعْلَى وَيَرُدُّ، وَمَنْ يَأْخُذُ الْأَدْنَى وَيَسْتَرِدُّ، فَقَدْ تَمَّتِ الْقِسْمَةُ بَيْنَهُمَا بِالْمُرَاضَاةِ بَعْدَ تَلَفُّظِهِمَا بِالتَّرَاضِي؛ لِأَنَّ الْبَيْعَ لَا يَصِحُّ إلا باللفظ ويكون تلفظهما بالرضى جَارِيًّا مَجْرَى الْبَدَلِ وَالْقَبُولِ، وَلَهُمَا خِيَارُ الْمَجْلِسِ مَا لَمْ يَفْتَرِقَا وَإِنْ شَرَطَا فِي حَالِ الرِّضَا خِيَارَ ثَلَاثٍ كَانَ لَهُمَا.

Salah satunya: kedua belah pihak saling merelakan pembagian ini dan sepakat mengenai siapa yang mengambil bagian yang lebih tinggi dan memberikan kompensasi, serta siapa yang mengambil bagian yang lebih rendah dan menerima kompensasi. Maka, pembagian di antara keduanya telah sah dengan kerelaan setelah keduanya mengucapkan persetujuan; karena jual beli tidak sah kecuali dengan ucapan, dan ucapan persetujuan mereka berdua dianggap sebagai pengganti ijab dan kabul. Keduanya memiliki hak khiyār majlis selama belum berpisah, dan jika keduanya mensyaratkan adanya khiyār selama tiga hari pada saat persetujuan, maka itu menjadi hak mereka berdua.

وَقَالَ مَالِكٌ: إِنْ كَانَ الرَّدُّ فِيهَا قَلِيلًا صَحَّتْ، وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا بَطَلَتْ.

Malik berkata: Jika cacat (kerusakan) di dalamnya sedikit, maka sah; dan jika banyak, maka batal.

وَهِيَ عِنْدَنَا مَعَ قَلِيلِ الرَّدِّ وَكَثِيرِهِ جَائِزَةٌ؛ لِأَنَّهَا مُعْتَبَرَةٌ بِالتَّرَاضِي وَجَارِيَةٌ مَجْرَى الْبَيْعِ.

Menurut kami, akad ini, baik dengan sedikit maupun banyak pengembalian, adalah sah; karena ia didasarkan pada kerelaan kedua belah pihak dan berjalan sebagaimana akad jual beli.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَنَازَعَا فِي طَلَبِ الْأَعْلَى وَيَتَزَايَدَانِ أَوْ يَتَنَازَعَا فِي طَلَبِ الْأَدْنَى وَيَتَنَاقَصَانِ، ثُمَّ يَسْتَقِرُّ الْأَمْرُ بَيْنَهُمَا بَعْدَ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ عَلَى مَنْ يَأْخُذُ الْأَعْلَى وَيَرُدُّ وَمَنْ يَأْخُذُ الْأَدْنَى وَيَسْتَرِدُّ، فَتَتِمُّ هَذِهِ الْقِسْمَةُ بَيْنَهُمَا بِالْمُرَاضَاةِ، وَيَبْطُلُ بِهَا مَا تَقَدَّمَ مِنْ تَقْوِيمِ الْقَاسِمِ، بِمَا اسْتَقَرَّ بَيْنَهُمَا مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهَا أَوِ النُّقْصَانِ فِيهَا ثُمَّ الْخِيَارُ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ.

Keadaan kedua: yaitu ketika keduanya berselisih dalam meminta bagian yang lebih tinggi dan saling menambah, atau berselisih dalam meminta bagian yang lebih rendah dan saling mengurangi, kemudian urusan di antara mereka berakhir setelah adanya penambahan dan pengurangan, dengan kesepakatan siapa yang mengambil bagian lebih tinggi dan memberikan kelebihan, serta siapa yang mengambil bagian lebih rendah dan menerima kekurangan. Maka pembagian ini terjadi di antara mereka dengan kerelaan, dan batal apa yang telah ditetapkan sebelumnya oleh penaksir, karena telah terjadi kesepakatan di antara mereka atas adanya penambahan atau pengurangan tersebut. Kemudian hak khiyar berlaku sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَتَنَازَعَا فِي طَلَبِ الْأَعْلَى، فَيَطْلُبُهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ، أَوْ يَتَنَازَعَا فِي أَخْذِ الْأَدْنَى، فَيَطْلُبُهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ غَيْرِ نُقْصَانٍ، وَلَا يَتَرَاضَيَا فِيهِ بِالْقُرْعَةِ، فَلَا إِجْبَارَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَيُقْطَعُ النِّزَاعُ بَيْنَهُمَا وَتَصِيرُ الْأَرْضُ بَاقِيَةً بَيْنَهُمَا عَلَى الشَّرِكَةِ كَالشَّيْءِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ الْقَسْمُ.

Keadaan ketiga: apabila keduanya berselisih dalam meminta bagian yang lebih tinggi, sehingga masing-masing meminta bagian tersebut tanpa ada tambahan, atau keduanya berselisih dalam mengambil bagian yang lebih rendah, sehingga masing-masing meminta bagian tersebut tanpa ada pengurangan, dan keduanya tidak sepakat untuk menyelesaikannya dengan undian, maka tidak ada paksaan terhadap salah satu dari mereka, dan perselisihan di antara mereka diputuskan, serta tanah tersebut tetap menjadi milik bersama di antara mereka berdua seperti sesuatu yang tidak dapat dibagi.

وَالْحَالُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَتَنَازَعَا وَيَتَرَاضَيَا بِالْقُرْعَةِ.

Keadaan keempat: yaitu apabila keduanya berselisih dan sepakat untuk menyelesaikannya dengan undian.

فَفِي جَوَازِ الْإِقْرَاعِ بَيْنَهُمَا وَجْهَانِ:

Dalam kebolehan melakukan undian di antara keduanya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّهُ بَيْعٌ وَلَيْسَ فِي الْبَيْعِ إِقْرَاعٌ.

Salah satunya: tidak boleh; karena itu adalah jual beli dan dalam jual beli tidak ada undian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْقِسْمَةِ وَاعْتِبَارًا بِالْمُرَاضَاةِ.

Pendapat kedua: Diperbolehkan melakukan undian di antara keduanya dengan mengedepankan hukum pembagian dan mempertimbangkan adanya kerelaan bersama.

فَعَلَى هَذَا إِنْ كَانَ الْقَاسِمُ مِنْ قِبَلِ الْحَاكِمِ، فَلَا خِيَارَ لَهُمَا بَعْدَ الْقُرْعَةِ وَإِنْ كَانَ الْقَاسِمُ مِنْ قِبَلِهِمَا ثَبَتَ لَهُمَا بَعْدَ الْقُرْعَةِ خِيَارٌ. وَفِيهِ وَجْهَانِ:

Berdasarkan hal ini, jika pembagi berasal dari pihak hakim, maka keduanya tidak memiliki hak memilih setelah pengundian. Namun jika pembagi berasal dari keduanya, maka setelah pengundian keduanya tetap memiliki hak memilih. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ كَخِيَارِ الْعَيْبِ مُعْتَبَرٌ بِالْفَوْرِ.

Salah satunya: bahwa hal itu seperti khiyār ‘aib, dianggap harus segera dilakukan.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ خِيَارُ مَجْلِسٍ يُعْتَبَرُ بِالِافْتِرَاقِ.

Kedua: bahwa itu adalah khiyār majlis yang ditentukan dengan perpisahan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: مِنْ ضُرُوبِ الْقِسْمَةِ أَنْ تُقَسَّمَ الْأَرْضُ بَيْنَهُمَا نِصْفَيْنِ بِالسَّوِيَّةِ، وَيَكُونُ مَا فِيهَا مِنَ الشَّجَرِ وَالْبِنَاءِ عَلَى الشَّرِكَةِ.

Jenis ketiga dari macam-macam pembagian adalah membagi tanah di antara keduanya menjadi dua bagian yang sama rata, dan apa yang ada di atasnya berupa pohon dan bangunan tetap menjadi milik bersama (syirkah).

فَإِنْ تَنَازَعَا فِي هَذَا، وَلَمْ يَتَّفِقَا عَلَيْهِ، لَمْ يَقَعْ فِيهِ إِجْبَارٌ وَإِنْ تَرَاضَيَا بِهِ وَاتَّفَقَا عَلَيْهِ دَخَلَ فِي الْأَرْضِ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ مَا كَانَا مُقِيمَيْنِ عَلَى هَذَا الِاتِّفَاقِ وَقُسِّمَتْ بَيْنَهُمَا جَبْرًا بِالْقُرْعَةِ.

Jika keduanya berselisih dalam hal ini dan tidak mencapai kesepakatan, maka tidak ada pemaksaan di dalamnya. Namun, jika keduanya saling rela dan sepakat, maka dalam hal tanah, pembagian secara ijbār (pemaksaan) berlaku selama keduanya tetap pada kesepakatan tersebut, dan tanah itu dibagi di antara mereka secara paksa melalui undian.

وَإِنْ رَجَعَ أَحَدُهُمَا عَنِ الِاتِّفَاقِ زَالَتْ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَكَانَتْ مَوْقُوفَةً عَلَى التَّرَاضِي.

Dan jika salah satu dari mereka menarik kembali kesepakatan, maka pembagian secara paksaan menjadi batal dan pembagian tersebut bergantung pada kerelaan bersama.

والضَّرْبُ الرَّابِعُ: أَنْ يُقَسَّمَ بَيَاضُ الْأَرْضِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ وَيَكُونُ مَا فِيهِ الشَّجَرُ وَالْبِنَاءُ بَيْنَهُمَا عَلَى الشَّرِكَةِ.

Jenis keempat: yaitu membagi lahan kosong di antara keduanya secara merata, sedangkan bagian yang terdapat pohon dan bangunannya menjadi milik bersama di antara keduanya berdasarkan syirkah.

فَفِي حُكْمِ هَذِهِ الْأَرْضِ إِذَا تَمَيَّزَ بِنَاؤُهَا وَشَجَرُهَا عَنْ بَيَاضِهَا وَجْهَانِ:

Maka dalam hukum tanah ini, apabila bangunan dan pepohonannya dapat dibedakan dari tanah kosongnya, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ حُكْمَهَا حُكْمُ أَرْضٍ وَاحِدَةٍ لِاتِّصَالِهَا فَعَلَى هَذَا لَا تَدْخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي بَيَاضِهَا لِأَنَّهُ لَا يَدْخُلُهَا فِي شَجَرِهَا وَنَبَاتِهَا.

Salah satunya: bahwa hukumnya adalah hukum satu tanah karena saling terhubung, sehingga menurut pendapat ini, tidak berlaku pembagian secara paksa (qismah al-ijbār) pada lahan kosongnya, karena pembagian tersebut juga tidak berlaku pada pepohonan dan tanaman yang ada di atasnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ حُكْمَ شَجَرِهَا وَبِنَائِهَا مُتَمَيِّزٌ عَنْ حُكْمِ بَيَاضِهَا فَصَارَتَا بِاخْتِلَافِ الصِّفَتَيْنِ كَالْأَرْضَيْنِ الْمُفْتَرِقَتَيْنِ فَتَدْخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي الْبَيَاضِ كَمَا لَوِ انْفَرَدَ وَلَا تَدْخُلُهَا قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي الشَّجَرَةِ وَالْبِنَاءِ كَمَا لَوِ انْفَرَدَ.

Pendapat kedua: Bahwa hukum pohon dan bangunannya berbeda dengan hukum tanah kosongnya, sehingga keduanya, karena perbedaan sifat tersebut, menjadi seperti dua bidang tanah yang terpisah. Maka, pembagian secara ijbār (pembagian paksa) berlaku pada tanah kosong sebagaimana jika ia berdiri sendiri, dan tidak berlaku pembagian secara ijbār pada pohon dan bangunan sebagaimana jika keduanya berdiri sendiri.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا كَانَتِ الْأَرْضُ مِمَّا تَصِحُّ فِيهَا قِسْمَةُ التَّعْدِيلُ وَقِسْمَةُ الرَّدِّ، فَدَعَا أَحَدُ الشَّرِيكَيْنِ إِلَى قِسْمَةِ التَّعْدِيلِ وَدَعَا الْآخَرُ إِلَى قِسْمَةِ الرَّدِّ فَإِنْ قُلْنَا إِنَّ قِسْمَةَ التَّعْدِيلِ يَدْخُلُهَا الْإِجْبَارُ كَانَ الْقَوْلُ قَوْلُ مَنْ دَعَا إِلَيْهَا وَإِنْ قُلْنَا: إِنَّهُ لَا يَدْخُلُهَا الْإِجْبَارُ لَمْ يَتَرَجَّحْ قَوْلٌ وَاحِدٌ مِنْهُمَا وَوَقَفَتْ عَلَى مُرَاضَاتِهِمَا بِإِحْدَاهُمَا مِنْ قِسْمَةِ التَّعْدِيلِ أَوْ قِسْمَةِ الرَّدِّ.

Apabila tanah tersebut memungkinkan untuk dilakukan qismah ta‘dīl (pembagian secara merata) maupun qismah radd (pembagian dengan pengembalian kelebihan), lalu salah satu dari dua orang yang berserikat mengajukan qismah ta‘dīl dan yang lain mengajukan qismah radd, maka jika kita berpendapat bahwa dalam qismah ta‘dīl terdapat unsur pemaksaan, maka pendapat yang diambil adalah pendapat orang yang mengajukan qismah ta‘dīl. Namun jika kita berpendapat bahwa dalam qismah ta‘dīl tidak terdapat unsur pemaksaan, maka tidak ada satu pendapat pun yang lebih kuat di antara keduanya, dan hal itu dikembalikan pada kerelaan keduanya untuk memilih salah satu dari qismah ta‘dīl atau qismah radd.

وَهَكَذَا قِسْمَةُ الدَّارِ الْمُشْتَرَكَةِ تَكُونُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الضُّرُوبِ الْأَرْبَعَةِ.

Demikian pula, pembagian rumah yang dimiliki bersama dilakukan sesuai dengan empat jenis yang telah kami sebutkan.

فَإِذَا قُسِّمَتْ عَلَى إِجْبَارٍ أَوْ تَرَاضٍ وَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ السَّهْمَيْنِ طَرِيقٌ مُفْرَدٌ يَخْتَصُّ بِهِ انْقَسَمَتِ الْقَيِّمَةُ عَلَيْهِ.

Apabila pembagian dilakukan secara paksa atau atas dasar kerelaan, dan masing-masing dari dua bagian memiliki jalan tersendiri yang khusus baginya, maka nilai (harta) tersebut dibagi berdasarkan bagian tersebut.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا طَرِيقٌ إِلَّا أَنْ يُحَازَ مِنَ الْمِلْكِ مَا يَكُونُ طَرِيقًا لَهُمَا وَجَبَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمِلْكِ قَبْلَ الْقِسْمَةِ مَا يَكُونُ طَرِيقًا لَهُمَا وَجَبَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمِلْكِ قَبْلَ الْقِسْمَةِ مَا يَكُونُ طَرِيقًا لَهُمَا مُشْتَرَكًا بَيْنَهُمَا ثُمَّ يُقَسَّمُ بَعْدَهُ مَا عَدَاهُ.

Dan jika tidak ada jalan bagi salah satu dari keduanya kecuali dengan mengambil sebagian dari kepemilikan yang dapat dijadikan jalan bagi mereka berdua, maka wajib dikeluarkan terlebih dahulu dari kepemilikan, sebelum pembagian, bagian yang dapat dijadikan jalan bersama bagi mereka berdua, kemudian setelah itu baru dibagikan sisanya.

وَقَدْ رَوَى قَتَادَةُ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ ” قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – إِذَا تَنَازَعَ النَّاسُ فِي طُرُقِهِمْ جُعِلَتْ سَبْعَةَ أَذْرُعٍ “.

Telah meriwayatkan Qatadah dari Basyir bin Ka‘b dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah ﷺ memutuskan bahwa apabila manusia berselisih tentang jalan-jalan mereka, maka dijadikan lebarnya tujuh hasta.”

وَهَذَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَحْمُولًا عَلَى عُرْفِ الْمَدِينَةِ فَإِنَّ الْبِلَادَ تَخْتَلِفُ طُرُقُهَا بِحَسَبِ اخْتِلَافِهَا فِيمَا يَدْخُلُ إِلَيْهَا وَيَخْرُجُ مِنْهَا فَقَدْ يَكْفِي فِي بَعْضِ الْبِلَادِ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ هَذَا، وَقَدْ لَا يَكْفِي فِي بَعْضِهَا إِلَّا مَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْ هَذَا.

Hal ini boleh jadi dimaknai sesuai dengan ‘urf (kebiasaan) di Madinah, karena setiap negeri memiliki perbedaan jalan-jalannya sesuai dengan perbedaan apa yang masuk dan keluar darinya. Maka, di sebagian negeri, mungkin cukup dengan sesuatu yang lebih sedikit dari ini, dan di sebagian negeri lainnya, mungkin tidak cukup kecuali dengan sesuatu yang lebih banyak dari ini.

وَهَذَا فِي الطُّرُقِ الْعَامَّةِ.

Dan ini berlaku pada jalan-jalan umum.

فَأَمَّا فِي هَذَا الِاسْتِطْرَاقِ الْخَاصِّ بَيْنَ هَذَيْنِ الشَّرِيكَيْنِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِيهِ إِذَا تَنَازَعَا فِي قَدْرِهِ.

Adapun dalam hal istitraq khusus antara dua mitra ini, para fuqaha berbeda pendapat apabila keduanya berselisih mengenai kadarnya.

فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: تَكُونُ سَعَتُهُ بِقَدْرِ مَا تَدْخُلُهُ الْحُمُولَةُ، وَلَا يَضِيقُ بِهَا.

Abu Hanifah berkata: Luasnya harus sebesar yang dapat dimasuki muatan, dan tidak sempit baginya.

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ يَكُونُ مُعْتَبَرًا بِمَا تَدْعُو الْحَاجَةُ إِلَيْهِ فِي الدُّخُولِ وَالْخُرُوجِ، وَمَا جَرَتِ الْعَادَةُ بِحَمْلِ مِثْلِهِ إِلَيْهَا، وَلَا يُعْتَبَرُ بِسَعَةِ الْبَابِ.

Menurut Imam Syafi‘i, yang dianggap adalah apa yang diperlukan untuk masuk dan keluar, serta apa yang biasa dibawa masuk ke dalamnya menurut kebiasaan, dan tidak dianggap berdasarkan lebar pintu.

لِأَنَّهُمَا قَدْ يَخْتَلِفَانِ فِي سَعَةِ الْبَابِ، كَمَا اخْتَلَفَا فِي سَعَةِ الطَّرِيقِ.

Karena keduanya bisa saja berbeda dalam keluasan pintu, sebagaimana keduanya berbeda dalam keluasan jalan.

وَلِأَنَّ طَرِيقَ الْبَابِ فِي الْعُرْفِ أَوْسَعُ مِنَ الباب.

Dan karena jalan menuju pintu dalam ‘urf lebih luas daripada pintu itu sendiri.

(قسمة العلو والسفل)

(Pembagian atas dan bawah)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَجْعَلَ لِأَحَدِهِمَا سُفْلًا وَلِلْآخَرِ علوه إِلَّا أَنْ يَكُونَ سُفْلُهُ وَعُلُوُّهُ لِوَاحِدٍ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak boleh menjadikan salah satu dari keduanya sebagai bagian bawah dan yang lain sebagai bagian atas, kecuali jika bagian bawah dan bagian atas itu milik satu orang.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا كَانَتْ دَارٌ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ وَطَلَبَ أَحَدُهُمَا أَنْ يُقَسَّمَ بَيْنَهُمَا، عَلَى أَنْ يَجْعَلَ السُّفْلَ لِأَحَدِهِمَا وَالْعُلُوَّ لِلْآخَرِ لَمْ يَقَعْ فِي هَذِهِ الْقِسْمَةِ إِجْبَارٌ؛ لِأَنَّهُمَا شَرِيكَانِ فِي السُّفْلِ وَالْعُلُوِّ، وَمَنْ مَلَكَ السُّفْلَ مَلَكَ مَا تَحْتَهُ مِنَ الْأَرْضِ وَمَا فَوْقَهُ مِنَ الْهَوَاءِ، بِدَلِيلِ أَنَّ لَهُ أَنْ يَحْفِرَ فِي الْأَرْضِ مَا شَاءَ وَيَبْنِيَ فِي الْهَوَاءِ مَا شَاءَ، وَهَذِهِ الْقِسْمَةُ تَمْنَعُ صَاحِبَ السُّفْلِ مِنْ حَقِّهِ فِي الْهَوَاءِ، وَتَمْنَعُ صَاحِبَ الْعُلُوِّ مِنْ حَقِّهِ فِي الْأَرْضِ، فَبَطَلَ أَنْ يَكُونَ فِي هَذَا قِسْمَةُ إِجْبَارٍ.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila ada sebuah rumah yang dimiliki oleh dua orang sebagai syarik (sekutu), lalu salah satu dari keduanya meminta agar rumah itu dibagi di antara mereka, dengan ketentuan bahwa bagian bawah menjadi milik salah satu dari mereka dan bagian atas menjadi milik yang lain, maka dalam pembagian seperti ini tidak terjadi pemaksaan; karena keduanya adalah syarik dalam bagian bawah dan atas. Siapa yang memiliki bagian bawah, maka ia juga memiliki tanah di bawahnya dan udara di atasnya, dengan dalil bahwa ia berhak menggali tanah sesukanya dan membangun di udara sesukanya. Pembagian seperti ini akan menghalangi pemilik bagian bawah dari haknya atas udara, dan menghalangi pemilik bagian atas dari haknya atas tanah, sehingga tidak sah jika pembagian ini disebut sebagai pembagian secara paksa.

فَإِنْ تَرَاضَى الشَّرِيكَانِ بِهَذِهِ الْقِسْمَةِ، جَازَتْ بِالتَّرَاضِي.

Jika kedua pihak yang berserikat saling merelakan dengan pembagian ini, maka pembagian tersebut sah berdasarkan kerelaan bersama.

وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَيْهِ فِي كِتَابِ الصُّلْحِ وَكَانَتْ هَذِهِ الْقِسْمَةُ بَيْعًا.

Imam Syafi‘i telah menegaskan hal ini dalam Kitab ash-Shulh, dan pembagian ini merupakan jual beli.

فَلَوْ دَعَا أَحَدُهُمَا إِلَى قِسْمَةِ السُّفْلِ عَلَى انْفِرَادِهِ وَقِسْمَةِ الْعُلُوِّ عَلَى انْفِرَادِهِ لَمْ يَقَعْ فِيهِ إِجْبَارٌ وَقُسِّمَ الْعُلُوُّ مَعَ السُّفْلِ؛ لِأَنَّهُ تَبَعٌ لَهُ، وَقَدْ يَجُوزُ إِذَا أَفْرَدَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْقِسْمَةِ أَنْ يَحْصُلَ عُلُوُّ السُّفْلِ الَّذِي لِأَحَدِهِمَا لِغَيْرِهِ وَسُفْلُ الْعُلُوِّ الَّذِي لِأَحَدِهِمَا لِغَيْرِهِ، فَلِذَلِكَ لَمْ يَجُزْ إِفْرَادُ قِسْمَةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا جَبْرًا إِلَّا أَنْ يَتَرَاضَيَا عَلَيْهِ فيجوز بتراضيهما.

Maka jika salah satu dari keduanya mengajukan permintaan untuk membagi bagian bawah secara terpisah dan membagi bagian atas secara terpisah, tidak ada pemaksaan dalam hal itu, dan bagian atas dibagi bersama dengan bagian bawah, karena bagian atas merupakan pengikut dari bagian bawah. Bisa jadi jika masing-masing dari keduanya dibagi secara terpisah, maka bagian atas dari bagian bawah yang dimiliki oleh salah satu dari mereka menjadi milik yang lain, dan bagian bawah dari bagian atas yang dimiliki oleh salah satu dari mereka menjadi milik yang lain. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan membagi masing-masing dari keduanya secara terpisah dengan paksaan, kecuali jika keduanya saling merelakan, maka hal itu diperbolehkan dengan kerelaan keduanya.

(قسمة الدور)

(Pembagian rumah)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ دَارَانِ مَحُوزَتَانِ فَطَلَبَ أَحَدُ الشَّرِيكَيْنِ الْقِسْمَةَ عَلَى أَنْ تَكُونَ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنَ الدَّارَيْنِ لِأَحَدِهِمَا بِالْقُرْعَةِ لَمْ يَقَعْ فِيهِ إِجْبَارٌ لِأَنَّ كُلَّ دَارٍ مِنْهُمَا مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَهُمَا فَوَجَبَ أَنْ يُقَسَّمَ كُلُّ وَاحِدَةٍ بَيْنَهُمَا.

Apabila di antara dua orang sekutu terdapat dua rumah yang telah dikuasai, lalu salah satu dari keduanya meminta pembagian dengan cara setiap rumah menjadi milik salah satu dari mereka melalui undian, maka tidak ada paksaan dalam hal ini. Sebab, setiap rumah di antara keduanya adalah milik bersama, sehingga wajib untuk membagi setiap rumah di antara mereka berdua.

فَإِنْ تَرَاضَيَا بِهَذَا لَمْ تَكُنْ قِسْمَةً وَكَانَتْ بَيْعًا مَحْضًا يَبِيعُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حَقَّهُ مِنْ إِحْدَى الدَّارَيْنِ بِحَقِّ شَرِيكِهِ مِنَ الدر الْأُخْرَى.

Jika keduanya saling merelakan dengan cara ini, maka itu bukanlah pembagian, melainkan merupakan jual beli murni, di mana masing-masing dari keduanya menjual haknya atas salah satu rumah kepada hak milik rekannya atas rumah yang lain.

فَيُكْتَبُ فِيهِ كِتَابُ ابْتِيَاعٍ وَلَا يُكْتَبُ فيه كتاب قسمة ويكون بيع مناقلة.

Maka dibuatkan di dalamnya surat jual beli dan tidak dibuatkan di dalamnya surat pembagian, dan hal itu dianggap sebagai jual beli mu‘āwadah (tukar-menukar).

(قسمة الأرض المزروعة) .

(Pembagian tanah yang telah ditanami).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا كَانَ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ أَرْضٌ مَزْرُوعَةٌ فطلب أحدهما القسمة، فله ثلاثة أَحْوَالٍ:

Jika di antara dua orang yang berserikat terdapat sebidang tanah yang telah ditanami, lalu salah satu dari keduanya meminta pembagian, maka ada tiga keadaan baginya:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَطْلُبَ قِسْمَةَ الْأَرْضِ لِيَكُونَ فِيهَا الزَّرْعُ بَاقِيًا عَلَى الشَّرِكَةِ، فَيَصِحُّ الْإِجْبَارُ فِي هَذِهِ الْقِسْمَةِ عَلَى الْأَرْضِ وَحْدَهَا وَلَا يَمْنَعُ مِنْهَا مَا فِي الْأَرْضِ مِنَ الزَّرْعِ، بِخِلَافِ الْبِنَاءِ وَالشَّجَرِ؛ لِأَنَّ الزَّرْعَ مُسْتَوْدَعٌ فِيهَا إِلَى مُدَّةِ تَكَامُلِهِ، وَالْبِنَاءَ وَالشَّجَرَ مُسْتَدَامٌ.

Salah satunya: yaitu seseorang meminta pembagian tanah agar tanaman yang ada di atasnya tetap menjadi milik bersama, maka boleh dilakukan pemaksaan dalam pembagian ini hanya pada tanahnya saja, dan keberadaan tanaman di atas tanah tidak menghalangi pembagian tersebut, berbeda halnya dengan bangunan dan pohon; karena tanaman hanya dititipkan di tanah itu sampai masa panennya selesai, sedangkan bangunan dan pohon bersifat permanen.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَطْلُبَ قِسْمَةَ الزَّرْعِ وَحْدَهُ فَلَا إِجْبَارَ فِيهِ، لِأَنَّ الزَّرْعَ لَا يُمْكِنُ تَعْدِيلُهُ بَيْنَهُمَا سَوَاءٌ كَانَ ظَاهِرًا أَوْ بَاطِنًا.

Keadaan kedua: apabila seseorang meminta pembagian hasil tanaman saja, maka tidak ada paksaan dalam hal ini, karena hasil tanaman tidak mungkin dapat dibagi secara adil di antara keduanya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

فَإِنْ تَرَاضَيَا وَكَانَ الزَّرْعُ مِمَّا لَا يَدْخُلُهُ الرِّبَا لِأَنَّهُ بَقْلٌ، أَوْ قُطْنٌ، أَوْ كَتَّانٌ، جَازَ اقْتِسَامُهُمَا بِهِ عَنْ مُرَاضَاتِهِمَا.

Jika kedua belah pihak saling rela dan tanaman tersebut bukan termasuk yang terkena riba karena berupa sayuran, kapas, atau rami, maka boleh bagi keduanya untuk membaginya berdasarkan kerelaan mereka.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا فِيهِ الرِّبَا كَالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ جَازَ إِنْ كَانَ فيصلا وَلَمْ يَجُزْ إِنْ كَانَ بَذْرَا أَوْ سُنْبُلًا مُشْتَدًّا لِدُخُولِ الرِّبَا فِيهِ لِجَوَازِ التَّفَاضُلِ.

Dan jika termasuk barang yang terkena riba seperti gandum dan jelai, maka boleh jika sudah terpisah (biji-bijian yang telah dipisahkan), dan tidak boleh jika masih berupa benih atau bulir yang masih keras, karena unsur riba masuk di dalamnya akibat bolehnya adanya perbedaan (takaran atau nilai).

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَطْلُبَ قِسْمَةَ الْأَرْضِ بِمَا فِيهَا مِنَ الزَّرْعِ فَيُنْظَرُ:

Keadaan yang ketiga: yaitu ketika seseorang meminta pembagian tanah beserta tanaman yang ada di atasnya, maka hal ini perlu diperhatikan:

فَإِنْ كَانَ الزَّرْعُ فَصِيلًا صَحَّ فِيهَا قِسْمَةُ الِاخْتِيَارِ عَلَى انْفِرَادِهِ وَتَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَكَانَ الزَّرْعُ تَبَعًا لِلْأَرْضِ، كَالْبِنَاءِ وَالشَّجَرِ لَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ عَلَى انْفِرَادِهِ، وَتَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ إِنْ كَانَ مَعَ الْأَرْضِ تَبَعًا.

Jika tanaman itu berdiri sendiri, maka sah dilakukan pembagian pilihan (qismah al-ikhtiyār) secara terpisah, dan ia juga dapat dimasukkan dalam pembagian paksaan (qismah al-ijbār). Namun, jika tanaman itu mengikuti tanah, seperti bangunan dan pohon, maka tidak dapat dilakukan pembagian paksaan secara terpisah atasnya, tetapi dapat dimasukkan dalam pembagian paksaan jika bersama tanah sebagai pengikut.

وَإِنْ كَانَ الزَّرْعُ بَذْرًا أَوْ حَبًّا مُشْتَدًّا يَدْخُلُهُ الرِّبَا، فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ، لَمْ يَدْخُلْهُ الْإِجْبَارُ وَلَا قِسْمَةُ التَّرَاضِي خَوْفَ الرِّبَا، وَإِنْ قِيلَ الْقِسْمَةُ إِفْرَازُ حَقٍّ وَتَمْيِيزُ نَصِيبٍ صَحَّ فِيهِ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَقِسْمَةُ التَّرَاضِي؛ لِأَنَّ الزَّرْعَ تَبَعٌ لِلْأَرْضِ.

Jika tanaman itu berupa benih atau biji yang sudah keras dan termasuk dalam kategori yang terkena riba, maka jika dikatakan bahwa pembagian itu adalah jual beli, maka tidak boleh dilakukan pembagian secara paksa maupun pembagian dengan kerelaan karena dikhawatirkan terjadi riba. Namun jika dikatakan bahwa pembagian itu adalah pemisahan hak dan penentuan bagian, maka sah dilakukan pembagian secara paksa maupun pembagian dengan kerelaan, karena tanaman itu mengikuti (status) tanah.

( [إِذَا ادَّعَى أَحَدُ الْمُقَسِّمِينَ غَلَطًا فِي الْقِسْمَةِ] )

(Jika salah satu dari para pembagi mengklaim adanya kesalahan dalam pembagian)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِذَا ادَعَى بَعْضُهُمْ غَلَطًا كُلِّفَ الْبَيِّنَةَ فَإِنْ جَاءَ بِهَا رَدَّ الْقَسْمَ عَنْهُ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Jika salah satu dari mereka mengaku telah melakukan kesalahan, maka ia dibebani untuk menghadirkan bukti. Jika ia dapat membawakan bukti tersebut, maka kewajiban sumpah gugur darinya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا اقْتَسَمَ الشُّرَكَاءُ دَارًا أَوْ أَرْضًا وَحَازَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ سَهْمَهُ بِالْقِسْمَةِ ثُمَّ ادَّعَى أَحَدُهُمْ غَلَطًا جَرَى عَلَيْهِ فِي الْقِسْمَةِ، فَإِنْ لَمْ يَذْكُرْ قَدْرَ الْغَلَطِ بِالذَّرْعِ إِنْ كَانَتْ قِسْمَةُ إِجْبَارٍ أَوْ تَعْدِيلٍ أَوْ بِالْوَزْنِ إِنْ كَانَتْ قِسْمَةَ رَدٍّ لَمْ تُسْمَعْ دَعْوَاهُ لِأَنَّ الدَّعْوَى الْمَجْهُولَةَ مَرْدُودَةٌ.

Al-Mawardi berkata: Jika para sekutu membagi sebuah rumah atau tanah, lalu masing-masing dari mereka telah mengambil bagiannya melalui pembagian tersebut, kemudian salah satu dari mereka mengklaim adanya kesalahan yang terjadi padanya dalam pembagian itu, maka jika ia tidak menyebutkan kadar kesalahan tersebut berdasarkan ukuran (jika pembagian itu berupa pembagian paksa atau penyesuaian) atau berdasarkan timbangan (jika pembagian itu berupa pembagian dengan pengembalian), maka klaimnya tidak dapat diterima, karena klaim yang tidak jelas (majhūl) itu tertolak.

فَإِنْ ذَكَرَ قَدْرَ الْغَلَطِ، سُمِعَتْ دَعْوَاهُ، وَأُحْضِرَ شُرَكَاؤُهُ.

Jika ia menyebutkan besarnya kesalahan, maka klaimnya didengar, dan para mitranya dihadirkan.

فَإِنْ صَدَّقُوهُ عَلَى الْغَلَطِ، نَقَضَ الْقِسْمَةَ وَاسْتَأْنَفَهَا عَلَى الصِّحَّةِ وَإِنْ أَكْذَبُوهُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهُمْ؛ لِأَنَّها عَلَى ظَاهِرِ الصِّحَّةِ.

Jika mereka membenarkannya atas kesalahan tersebut, maka pembagian dibatalkan dan diulang kembali dengan cara yang benar. Namun jika mereka mendustakannya, maka perkataan mereka yang diterima, karena pembagian itu tampak sah secara lahiriah.

وَلَهُ أَحْلَافُهُمْ، لِجَوَازِ مَا ادَّعَاهُ مِنَ الْغَلَطِ.

Dan baginya sumpah-sumpah mereka, karena diperbolehkan apa yang ia klaim berupa kekeliruan.

فَإِنْ حَلَفُوا جَمِيعًا أُمْضِيَتِ الْقِسْمَةُ، وَإِنْ نَكَلُوا جَمِيعًا رُدَّتِ الْيَمِينُ عَلَيْهِ، وَنُقِضَتِ الْقِسْمَةُ إِنْ حلف.

Jika mereka semua bersumpah, maka pembagian itu dilaksanakan. Jika mereka semua menolak bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepadanya, dan pembagian itu dibatalkan jika ia bersumpah.

وَإِنْ حَلَفَ بَعْضُهُمْ وَنَكَلَ بَعْضُهُمْ، رُدَّتْ عَلَيْهِ يَمِينُ النَّاكِلِ، وَبَطَلَتِ الْقِسْمَةُ فِي حَقِّهِ إِذَا حَلَفَ. وَأُمْضِيَتْ فِي حَقِّ مَنْ حَلَفَ.

Jika sebagian dari mereka bersumpah dan sebagian yang lain enggan bersumpah, maka sumpah orang yang enggan itu dikembalikan kepadanya, dan pembagian menjadi batal atas dirinya jika ia bersumpah. Namun, pembagian tetap berlaku bagi orang yang telah bersumpah.

فَإِنْ أَرَادَ مُدَّعِي الْغَلَطِ عِنْدَ تَكْذِيبِهِ أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ بِالْغَلَطِ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَتْ قِسْمَةُ مُرَاضَاةٍ اتَّفَقَ عَلَيْهَا الشُّرَكَاءُ، لَمْ تُسْمَعْ بَيِّنَتُهُ بِالْغَلَطِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَدْ رَضِيَ بِأَقَلِّ مِنْ حَقِّهِ.

Jika pihak yang mengklaim adanya kesalahan, ketika klaimnya didustakan, ingin mengajukan bukti atas adanya kesalahan, maka hal itu perlu dilihat: jika pembagian tersebut adalah pembagian berdasarkan kerelaan yang disepakati oleh para sekutu, maka bukti atas kesalahan tidak dapat diterima; karena bisa jadi ia telah rela menerima bagian yang lebih sedikit dari haknya.

وَإِنْ كَانَتْ قِسْمَةً تَفَرَّدَ القاسم بها عن إِجْبَارٍ أَوْ مُرَاضَاةٍ بِاقْتِرَاعٍ سُمِعَتْ بَيِّنَتُهُ بِالْغَلَطِ، وَحُكِمَ بِإِبْطَالِ الْقِسْمَةِ وَاسْتُؤْنِفَتْ عَلَى الصِّحَّةِ.

Jika pembagian itu dilakukan oleh pembagi sendiri, baik secara paksa maupun atas dasar kerelaan dengan cara pengundian, lalu ada bukti yang didengar tentang adanya kesalahan, maka diputuskan untuk membatalkan pembagian tersebut dan pembagian diulang kembali dengan cara yang benar.

( [تَنَازُعُ الشَّرِيكَيْنِ بَعْدَ الْقِسْمَةِ بِلَا بَيِّنَةٍ] )

(Perselisihan antara dua orang yang berserikat setelah pembagian tanpa adanya bukti)

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَإِذَا تَنَازَعَ الشَّرِيكَانِ بَعْدَ الْقِسْمَةِ فِي بَيْتٍ مِنْ دَارٍ اقْتَسَمَاهَا، فَادَّعَاهُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي سَهْمِهِ، وَعَدِمَا الْبَيِّنَةَ تَحَالَفَا عَلَيْهِ وَنُقِضَتِ الْقِسْمَةُ بَعْدَ أَيْمَانِهِمَا.

Apabila dua orang sekutu berselisih setelah pembagian terhadap sebuah rumah dari suatu bangunan yang telah mereka bagi, lalu masing-masing dari mereka mengklaim bahwa rumah tersebut termasuk dalam bagiannya, dan keduanya tidak memiliki bukti, maka keduanya saling bersumpah atas klaim tersebut, dan pembagian yang telah dilakukan dibatalkan setelah keduanya bersumpah.

وَقَالَ مَالِكٌ يَكُونُ الْقَوْلُ فِيهِ قَوْلَ صَاحِبِ الْيَدِ مَعَ يَمِينِهِ.

Malik berkata, pendapat yang berlaku dalam hal ini adalah pendapat pemilik barang dengan sumpahnya.

وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي اخْتِلَافِ الْمُتَبَايِعَيْنِ أَنَّ الْقَوْلَ فِيهِ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ مَعَهُ.

Dan ia mendasarkannya pada asal permasalahan dalam perbedaan pendapat antara dua pihak yang berjual beli, yaitu bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pemilik barang (ṣāḥib al-yad), dan penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.

وَلَوْ وَجَدَ أَحَدُهُمَا بَعْدَ الْقِسْمَةِ عَيْبًا فِي سَهْمِهِ، كَانَ لَهُ الْخِيَارُ فِي فَسْخِ الْقِسْمَةِ بِهِ، كَمَا يَكُونُ لَهُ الْخِيَارُ فِي فَسْخِ الْبَيْعِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan jika salah satu dari mereka menemukan cacat pada bagiannya setelah pembagian, maka ia memiliki hak khiyar untuk membatalkan pembagian tersebut karena cacat itu, sebagaimana ia memiliki hak khiyar untuk membatalkan jual beli, dan Allah Maha Mengetahui.

( [اسْتِحْقَاقُ الْمَقْسُومِ] ) .

(Hak atas bagian yang telah dibagi).

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قَالَ الشافعي: ” وإذا اسْتَحَقَّ بَعْضَ الْمَقْسُومِ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Dan apabila sebagian dari harta yang dibagi itu terbukti menjadi hak orang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُورَتُهُمَا: فِي أَرْضٍ أَوْ دَارٍ اقْتَسَمَهَا شَرِيكَانِ فِيهَا، ثُمَّ اسْتَحَقَّ بَعْضَهَا بِبَيِّنَةٍ، أَوْ إِقْرَارٍ، فَلِلْقَدْرِ الْمُسْتَحَقِّ حَالَتَانِ:

Al-Mawardi berkata: Bentuk kasusnya adalah: pada sebidang tanah atau rumah yang telah dibagi oleh dua orang yang berserikat di dalamnya, kemudian sebagian dari tanah atau rumah tersebut terbukti menjadi hak orang lain melalui bukti atau pengakuan, maka untuk bagian yang terbukti menjadi hak orang lain itu terdapat dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ مُعَيَّنًا فِي الْمَقْسُومِ، فَإِنْ كَانَ وَاقِعًا فِي أَحَدِ السَّهْمَيْنِ، بَطَلَتْ بِهِ الْقِسْمَةُ لِأَنَّ لِمَنِ اسْتَحَقَّ ذَلِكَ فِي سَهْمِهِ أَنْ يَرْجِعَ فِي سَهْمِ شَرِيكِهِ بِحِصَّتِهِ مِنْ مِثْلِهِ، فَلَمْ تُفِدِ الْقِسْمَةُ مَا قُصِدَ بِهَا مِنَ الْإِحَازَةِ، فَلِذَلِكَ بَطَلَتْ.

Salah satunya adalah: apabila sesuatu itu telah ditentukan dalam bagian yang dibagi, maka jika hal itu terdapat pada salah satu dari dua bagian, pembagian tersebut menjadi batal karenanya, karena orang yang berhak atas bagian itu dalam bagiannya berhak untuk mengambil kembali bagian serupa dari bagian milik rekannya, sehingga pembagian tersebut tidak memberikan manfaat yang dimaksudkan, yaitu pemilikan secara penuh, maka karena itu pembagian tersebut batal.

وَإِنْ كَانَ الْمُسْتَحَقُّ وَاقِعًا فِي السَّهْمَيْنِ مَعًا نُظِرَ فَإِنْ تَفَاضَلَ الْمُسْتَحَقُّ فِي السَّهْمَيْنِ بَطَلَتِ الْقِسْمَةُ لِمَا ذَكَرْنَا مِنِ اسْتِحْقَاقِ الرَّاجِعِ.

Dan jika pihak yang berhak berada pada kedua bagian sekaligus, maka dilihat kembali: jika hak pihak yang berhak berbeda pada kedua bagian tersebut, maka pembagian menjadi batal karena alasan yang telah kami sebutkan mengenai hak pihak yang kembali.

وَإِنْ تَسَاوَى الْمُسْتَحَقُّ فِي السَّهْمَيْنِ مَعًا لَمْ تَبْطُلْ بِهِ الْقِسْمَةُ، وَأُمْضِيَتْ عَلَى حَالِهَا؛ لِأَنَّهُ لَا تَرَاجُعَ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ فِيهِ.

Jika pihak yang berhak memperoleh bagian sama pada kedua bagian, maka pembagian tidak batal karenanya, dan tetap dilaksanakan sebagaimana adanya; karena tidak ada saling menuntut antara kedua mitra dalam hal ini.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُسْتَحَقُّ مُشَاعًا فِي الْجَمِيعِ كَاسْتِحْقَاقِ ثُلُثِهَا مُشَاعًا، فَالْقِسْمَةُ بَاطِلَةٌ فِي الثُّلُثِ الْمُسْتَحَقِّ.

Keadaan yang kedua: apabila hak yang dimiliki adalah secara musha‘ (tidak terbagi) pada seluruh bagian, seperti hak atas sepertiga bagian secara musha‘, maka pembagian tersebut batal pada sepertiga bagian yang menjadi hak.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي بُطْلَانِ الْقِسْمَةِ فِيمَا عَدَاهُ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai batalnya pembagian pada selain hal tersebut.

فَخَرَّجَهُ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلَى قَوْلَيْنِ، مِنْ تَفْرِيقِ الصَّفْقَةِ فِي الْبَيْعِ.

Abu ‘Ali bin Abi Hurairah mengeluarkan pendapat ini berdasarkan dua pendapat, yang berasal dari perbedaan akad dalam jual beli.

وَذَهَبَ أَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ، وَجُمْهُورُ أَصْحَابِنَا، إِلَى بُطْلَانِ الْقِسْمَةِ فِي الْجَمِيعِ قُولًا وَاحِدًا، سَوَاءٌ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ أَوْ إِفْرَازُ حَقٍّ.

Abu Ishaq al-Marwazi dan mayoritas ulama mazhab kami berpendapat bahwa pembagian (harta) dalam semua bentuknya adalah batal menurut satu pendapat, baik dikatakan bahwa pembagian itu adalah jual beli maupun pemisahan hak.

لِأَنَّ الْقَدْرَ الْمُسْتَحَقَّ لِشَرِيكٍ ثَالِثٍ لَمْ يُقَاسِمْهُمَا، فَصَارَ كَأَرْضٍ بَيْنَ ثَلَاثَةٍ غَابَ أَحَدُهُمْ، فَاقْتَسَمَهَا الْحَاضِرَانِ عَلَى أَنْ تَكُونَ حِصَّةُ الْغَائِبِ مُشَاعَةً فِي سَهْمِ كُلٍّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَانَتِ الْقِسْمَةُ بَاطِلَةً فِي الْجَمِيعِ كَذَلِكَ فِي السَّهْمِ الْمُسْتَحَقِّ.

Karena bagian yang menjadi hak bagi sekutu ketiga belum dibagikan kepada mereka berdua, maka keadaannya seperti tanah milik tiga orang, lalu salah satu dari mereka tidak hadir, kemudian dua orang yang hadir membaginya dengan syarat bagian orang yang tidak hadir tetap tercampur dalam bagian masing-masing dari keduanya, maka pembagian tersebut batal seluruhnya; demikian pula halnya pada bagian yang menjadi hak.

وَإِنَّمَا بَطَلَتْ فِي الْجَمِيعِ؛ لِأَنَّ السَّهْمَ الْمُسْتَحَقَّ وَسَهْمَ الْغَائِبِ كَانَ مُشَاعًا فِي مِلْكٍ وَاحِدٍ يَقْدِرُ عَلَى إِحَازَتِهِ مُجْتَمِعًا بِالْقِسْمَةِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُجْعَلَ فِي مِلْكَيْنِ لَا يَقْدِرُ عَلَى جَمْعِهِ بِالْقِسْمَةِ.

Dan sesungguhnya batal pada semuanya; karena bagian yang berhak dan bagian orang yang tidak hadir adalah bersifat musya‘ (tidak terbagi) dalam satu kepemilikan yang memungkinkan untuk dikuasai bersama melalui pembagian, maka tidak boleh dijadikan dalam dua kepemilikan yang tidak memungkinkan untuk digabungkan melalui pembagian.

( [ظُهُورُ دَيْنٍ عَلَى الْمَيِّتِ] ) .

(Munculnya utang atas mayit.)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” أَوْ لَحِقَ الْمَيِّتَ دَيْنٌ فَبِيعَ بَعْضُهَا انْتَقَضَ الْقَسْمُ وَيُقَالُ لَهُمْ فِي الدَّيْنِ وَالْوَصِيَّةِ إِنْ تَطَوَّعْتُمْ أَنْ تُعْطُوا أَهْلَ الدَّيْنِ وَالْوَصِيَّةِ أَنَفَذْنَا القسم بينكم وإلا القضاء عَلَيْكُمْ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Atau jika si mayit memiliki utang lalu sebagian harta warisan dijual, maka pembagian warisan menjadi batal. Kepada para ahli waris dikatakan terkait utang dan wasiat: jika kalian bersedia secara sukarela memberikan bagian kepada para pemilik utang dan wasiat, maka kami akan melaksanakan pembagian warisan di antara kalian. Jika tidak, maka keputusan hukum akan diberlakukan atas kalian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَصُوُرَتُهَا: فِي أَرْضٍ أَوْ دَارٍ اقْتَسَمَهَا وَارِثَانِ، ثُمَّ ظَهَرَ عَلَى الْمَيِّتِ دَيْنٌ ثَبَتَ بِإِقْرَارٍ أَوْ بَيِّنَةٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ فِي بَيْعِ الْوَرَثَةِ لِمِلْكٍ مِنَ التَّرِكَةِ فِي حُقُوقِ أَنْفُسِهِمْ قَبْلَ قَضَاءِ الدَّيْنِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Bentuk permasalahannya adalah: pada sebidang tanah atau rumah yang telah dibagi oleh dua orang ahli waris, kemudian ternyata ada utang atas mayit yang terbukti dengan pengakuan atau bukti yang sah, maka terdapat perbedaan pendapat Imam Syafi‘i mengenai penjualan ahli waris atas bagian milik mereka dari harta warisan untuk kepentingan diri mereka sendiri sebelum pelunasan utang, yaitu ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْبَيْعَ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ التَّرِكَةَ مُرْتَهَنَةٌ بِالدَّيْنِ فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهَا كَالرَّهْنِ.

Salah satunya: bahwa jual beli itu batal; karena harta warisan tergadai oleh utang, sehingga tidak boleh dijual seperti halnya barang yang digadaikan.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: أَنَّ الْبَيْعَ جَائِزٌ لِأَنَّ الدَّيْنَ لَا يَتَعَيَّنُ اسْتِحْقَاقُهُ مِنَ التَّرِكَةِ لِجَوَازِ قَضَائِهِ مِنْ غَيْرِهَا.

Pendapat kedua: bahwa jual beli itu diperbolehkan karena utang tidak harus dilunasi dari harta warisan, sebab boleh saja utang tersebut dibayar dari selain harta warisan.

وَخَالَفَ الرَّهْنَ لِتَعَلُّقِ الدَّيْنِ بِالرَّهْنِ عَنِ اخْتِيَارٍ، وَتَعَلُّقِهِ بِالتَّرِكَةِ مِنْ غَيْرِ اخْتِيَارٍ.

Dan hal ini berbeda dengan rahn, karena keterikatan utang pada rahn terjadi atas dasar pilihan, sedangkan keterikatan utang pada tirkah (harta warisan) terjadi tanpa adanya pilihan.

وَفِي بَيْعِ مَا تَعَلَّقَ بِهِ حَقٌّ عَنْ غَيْرِ اخْتِيَارٍ، قَوْلَانِ كَبَيْعِ الْعَبْدِ الْجَانِي وَالْمَالِ إذا وجبت في الزَّكَاةُ، كُلُّ ذَلِكَ عَلَى قَوْلَيْنِ، لِوُجُوبِهِ عَنْ غَيْرِ اخْتِيَارٍ، وَبَطَلَ فِي الرَّهْنِ لِوُجُوبِهِ عَنِ اخْتِيَارٍ.

Dalam jual beli sesuatu yang terkait dengan hak (orang lain) tanpa adanya pilihan (dari pemilik), terdapat dua pendapat, seperti dalam jual beli budak yang melakukan kejahatan dan harta yang telah wajib dikeluarkan zakatnya; semua itu terdapat dua pendapat, karena kewajiban tersebut terjadi tanpa pilihan. Adapun dalam kasus rahn (gadai), maka batal, karena kewajiban itu terjadi dengan pilihan.

وَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ هَذَا الْأَصْلِ فِي بَيْعِ التَّرِكَةِ كَانَتِ الْقِسْمَةُ بِنَاءً عَلَيْهِ.

Dan apabila telah ditetapkan apa yang telah kami sebutkan mengenai prinsip ini dalam jual beli harta warisan, maka pembagian (warisan) didasarkan atasnya.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّهَا إِفْرَازُ حَقٍّ وَتَمْيِيزُ نَصِيبٍ صَحَّتِ الْقِسْمَةُ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya pembagian itu adalah pemisahan hak dan penentuan bagian, maka pembagian tersebut sah.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّهَا بَيْعٌ فَفِي بُطْلَانِهَا قَوْلَانِ كَالْبَيْعِ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya itu adalah jual beli, maka dalam kebatalannya terdapat dua pendapat seperti pada jual beli.

فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ بَاطِلَةٌ قُضِيَ الدَّيْنُ ثُمَّ اسْتُؤْنِفَتِ الْقِسْمَةُ بَعْدَ قَضَائِهِ.

Jika dikatakan bahwa pembagian warisan itu batal, maka hutang diselesaikan terlebih dahulu, kemudian pembagian warisan dimulai kembali setelah hutang tersebut dilunasi.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الْقِسْمَةَ جَائِزَةٌ قِيلَ لِلْوَرَثَةِ: إِنْ قَضَيْتُمُ الدَّيْنَ أُمْضِيَتِ الْقِسْمَةُ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya pembagian warisan itu diperbolehkan, maka dikatakan kepada para ahli waris: Jika kalian telah melunasi utang, maka pembagian warisan dapat dilaksanakan.

وَإِنْ لَمْ يَقْضُوا وَلَمْ يُوجَدْ مِنَ التَّرِكَةِ غَيْرُ الْمَقْسُومِ، نُقِضَتِ الْقِسْمَةُ وَبِيعَ مِنْهُ بِقَدْرِ الدَّيْنِ ثُمَّ اسْتُؤْنِفَتِ الْقِسْمَةُ فِيمَا بَقِيَ.

Jika mereka belum melunasi utang dan tidak ditemukan dari harta warisan selain yang telah dibagi, maka pembagian tersebut dibatalkan dan dijual dari bagian itu sejumlah utang, kemudian pembagian diulangi terhadap sisa harta yang ada.

وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُبَاعَ مِنْ حِصَّةِ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِقَدْرِ حَقِّهِ لِاسْتِيفَاءِ الْقِسْمَةِ؛ لِأَنَّ فِيهِ تَفْرِيقًا لِصَفْقَةِ الْمَبِيعِ وَتَفْرِيقَ عينه.

Dan tidak boleh dijual dari bagian masing-masing mereka sesuai kadar haknya untuk memenuhi pembagian; karena di dalamnya terdapat pemisahan akad penjualan dan pemisahan barangnya.

(ظهور وصية أوصى بها الميت)

(Munculnya wasiat yang diwasiatkan oleh orang yang telah meninggal)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَلَوْ ظَهَرَ بَعْدَ هَذِهِ الْقِسْمَةِ وَصِيَّةٌ أَوْصَى بِهَا الْمَيِّتُ لَمْ يَخْلُ حَالُهَا مِنْ أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:

Dan jika setelah pembagian ini muncul wasiat yang telah diwasiatkan oleh mayit, maka keadaannya tidak lepas dari empat bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ بِسَهْمٍ مُعَيَّنٍ فِي الْأَرْضِ الْمَقْسُومَةِ فَيَكُونُ حُكْمُهَا فِي الْقِسْمَةِ كَحُكْمِ مَا اسْتَحَقَّ مِنَ السَّهْمِ الْمُعَيَّنِ.

Salah satunya: yaitu dengan memiliki bagian tertentu pada tanah yang telah dibagi, maka hukumnya dalam pembagian sama dengan hukum atas bagian tertentu yang telah menjadi haknya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْوَصِيَّةُ بِسَهْمٍ شَائِعٍ فِي الْأَرْضِ الْمَقْسُومَةِ فَيَكُونُ حُكْمُهَا فِي الْقِسْمَةِ كَحُكْمِ الْمُسْتَحِقِّ لِسَهْمٍ شَائِعٍ فِي الْأَرْضِ الْمَقْسُومَةِ.

Bagian kedua: Jika wasiat itu berupa bagian yang tidak tertentu pada tanah yang telah dibagi, maka hukumnya dalam pembagian adalah seperti hukum orang yang berhak atas bagian yang tidak tertentu pada tanah yang telah dibagi.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الْوَصِيَّةُ بِمَالٍ مُطْلَقٍ فِي التَّرِكَةِ فَيَكُونُ حُكْمُهَا فِي الْقِسْمَةِ كَحُكْمِ الدَّيْنِ الْمُسْتَحَقِّ فِي التَّرِكَةِ.

Bagian ketiga: Jika wasiat itu berupa harta secara mutlak dalam warisan, maka hukumnya dalam pembagian adalah seperti hukum utang yang wajib dibayarkan dari warisan.

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ: أَنْ تَكُونَ الْوَصِيَّةُ بِمُعَيَّنٍ فِي التَّرِكَةِ غَيْرَ الدَّارِ الْمَقْسُومَةِ فَالْقِسْمَةُ مَاضِيَةٌ لِتَوَجُّهِ الْوَصِيَّةِ إِلَى غَيْرِهَا.

Bagian keempat: Jika wasiat itu berupa penetapan terhadap sesuatu yang tertentu dalam harta warisan selain rumah yang telah dibagi, maka pembagian tetap berlaku karena wasiat tersebut ditujukan kepada selain rumah itu.

( [قِسْمَةُ الأجناس المختلفة] ) .

(Pembagian berbagai jenis yang berbeda).

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يُقْسَمُ صِنْفٌ مِنَ الْمَالِ مَعَ غَيْرِهِ وَلَا عِنَبٌ مَعَ نَخْلٍ وَلَا يَصِحُّ بَعْلٌ مَضْمُومٌ إِلَى عَيْنٍ وَلَا عَيْنٌ مَضْمُومَةٌ إِلَى بَعْلٍ وَلَا بَعْلٌ إِلَى نَخْلٍ يُشْرَبُ بِنَهْرٍ مَأْمُونِ الِانْقِطَاعِ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak boleh membagi satu jenis harta bersama jenis lainnya, tidak boleh membagi anggur bersama kurma, tidak sah menggabungkan lahan tadah hujan dengan lahan irigasi, tidak sah menggabungkan lahan irigasi dengan lahan tadah hujan, dan tidak boleh menggabungkan lahan tadah hujan dengan kebun kurma yang dialiri sungai yang terjamin tidak terputus.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهُوَ عَلَى مَا قَالَ، إِذَا كَانَ الْمَالُ الْمُشْتَرَكُ مِنْ مِيرَاثٍ أَوْ خُلْطَةٍ أَجْنَاسًا مُخْتَلِفَةً، فَهُوَ ضَرْبَانِ: مَنْقُولٌ، وَغَيْرُ مَنْقُولٍ.

Al-Mawardi berkata: Dan hal itu sebagaimana yang telah dikatakan, apabila harta bersama berasal dari warisan atau campuran berbagai jenis yang berbeda-beda, maka harta tersebut terbagi menjadi dua macam: harta bergerak dan harta tidak bergerak.

فَأَمَّا الْمَنْقُولُ: فَكَالْحَيَوَانِ وَالْأَمْتِعَةِ وَالْعُرُوضِ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ أَجْنَاسُهَا فَكَانَ بَعْضُ الْمَالِ حَيَوَانًا مُخْتَلِفَ الْأَجْنَاسِ كَالْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَبَعْضُهُ مَتَاعًا مُخْتَلِفَ الْأَجْنَاسِ كَالْعِطْرِ بَعْضُهُ مِسْكٌ وَبَعْضُهُ عَنْبَرٌ وَبَعْضُهُ كَافُورٌ. كَالْحُبُوبِ بَعْضُهُ حِنْطَةٌ وَبَعْضُهُ شَعِيرٌ وَبَعْضُهُ أُرْزٌ وَجَبَ أَنْ يُقْسَمَ كُلُّ جِنْسٍ بَيْنَهُمْ عَلَى انْفِرَادِهِ.

Adapun harta bergerak: seperti hewan, barang-barang, dan komoditas, apabila jenis-jenisnya berbeda, misalnya sebagian harta berupa hewan yang berbeda jenis seperti unta, sapi, dan kambing, dan sebagian lagi berupa barang yang berbeda jenis seperti parfum, sebagian berupa misik, sebagian berupa ambar, dan sebagian berupa kapur barus. Atau seperti biji-bijian, sebagian berupa gandum, sebagian berupa jelai, dan sebagian berupa beras, maka wajib dibagikan setiap jenis di antara mereka secara terpisah.

فَإِنْ دَعَا أَحَدُهُمْ إِلَى ضَمِّ الْأَجْنَاسِ وَأَنْ يَجْعَلَ كُلَّ جِنْسٍ مِنْهَا سَهْمًا مُعَدَّلًا، لِيَأْخُذَ أَحَدُهُمُ الْحِنْطَةَ، وَالْآخَرُ الشَّعِيرَ، وَالْآخَرُ الْإِبِلَ، وَالْآخَرُ الْغَنَمَ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يَقَعَ فِي هَذِهِ الْقِسْمَةِ إِجْبَارٌ، إِلَّا عَنْ مُرَاضَاةٍ، لِأَنَّهُمْ شُرَكَاءُ فِي كُلِّ جِنْسٍ. فَكَانَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَنْ يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْجِنْسِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُجْبَرَ عَلَى إِزَالَةِ مِلْكِهِ عَنْهُ بِغَيْرِهِ كَالْبَيْعِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ إِجْبَارٌ.

Jika salah satu dari mereka mengusulkan untuk menggabungkan berbagai jenis (harta) dan menjadikan setiap jenis darinya sebagai bagian yang seimbang, sehingga salah satu dari mereka mengambil gandum, yang lain mengambil jelai, yang lain lagi mengambil unta, dan yang lainnya mengambil kambing, maka tidak boleh ada pemaksaan dalam pembagian seperti ini kecuali atas dasar kerelaan bersama, karena mereka adalah para sekutu dalam setiap jenis tersebut. Maka masing-masing dari mereka berhak untuk mengambil bagiannya dari jenis itu, dan tidak boleh dipaksa untuk melepaskan kepemilikannya atas jenis tersebut kepada yang lain, sebagaimana dalam jual beli yang tidak boleh ada unsur pemaksaan di dalamnya.

فَإِنْ تَرَاضَوْا عَلَى ذَلِكَ جَازَ كَالْمُرَاضَاةِ عَلَى الْبَيْعِ.

Jika kedua belah pihak saling merelakan atas hal itu, maka hal tersebut diperbolehkan sebagaimana saling merelakan dalam jual beli.

فَلَوْ كَانَتِ الشَّرِكَةُ فِي جِنْسٍ وَاحِدٍ وَهُوَ أَنْوَاعٌ فَهُوَ ضَرْبَانِ:

Jika syirkah terjadi pada satu jenis barang yang memiliki beberapa macam, maka hal itu terbagi menjadi dua bentuk:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَخْتَلِفَ مَنَافِعُهَا بِاخْتِلَافِ أَنْوَاعِهَا كَالْغَنَمِ الَّتِي بَعْضُهَا ضَأْنٌ وَبَعْضُهَا مِعْزَى فَيَكُونُ اخْتِلَافُ أَنْوَاعِهَا كَاخْتِلَافِ أَجْنَاسِهَا فَيُقْسَمُ كُلُّ نَوْعٍ عَلَى انْفِرَادِهِ كَالْأَجْنَاسِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Salah satunya adalah jika manfaatnya berbeda-beda sesuai dengan jenis-jenisnya, seperti kambing yang sebagian adalah domba dan sebagian lagi adalah kambing biasa, maka perbedaan jenis-jenisnya diperlakukan seperti perbedaan genusnya, sehingga setiap jenis dibagi secara terpisah seperti genus-genus yang berbeda.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا لَا تَخْتَلِفُ مَنَافِعُ أَنْوَاعِهِ كَالْحِنْطَةِ الَّتِي بَعْضُهَا عِرَاقِيَّةٌ وَبَعْضُهَا شَامِيَّةٌ فَهُوَ ضَرْبَانِ:

Jenis kedua: yaitu sesuatu yang manfaat berbagai jenisnya tidak berbeda, seperti gandum yang sebagian berasal dari Irak dan sebagian lagi dari Syam, maka ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَخْتَلِفَ قِيمَةُ أَنْوَاعِهِ، فَيَصِيرُ كُلُّ نوع كالجنس بقسم عَلَى انْفِرَادِهِ، كَالْأَجْنَاسِ.

Salah satunya adalah apabila nilai dari jenis-jenisnya berbeda, sehingga setiap jenis menjadi seperti satu jenis tersendiri yang berdiri sendiri, seperti halnya berbagai jenis.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَتَمَاثَلَ قيمة أنواعه، ولا تتفاضل فيه وَجْهَانِ:

Jenis kedua: yaitu apabila nilai jenis-jenisnya sama, dan tidak terdapat perbedaan nilai di dalamnya, maka ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَغْلِبُ حُكْمُ الْجِنْسِ لِتَمَاثُلِهِ فَيَجُوزُ أَنْ يَقَعَ الْإِجْبَارُ فِي إِفْرَادِ كُلِّ واحد بنوع.

Salah satunya: bahwa hukum jenis lebih dominan karena keserupaannya, sehingga boleh terjadi pemaksaan pada masing-masing individu dengan jenis yang berbeda.

والوجه الثاني: أن يَغْلِبُ حُكْمُ النَّوْعِ لِامْتِيَازِهِ، فَيُقْسَمُ كُلُّ نَوْعٍ عَلَى انْفِرَادِهِ وَهَذَا أَشْبَهُ.

Pendapat kedua: hukum setiap jenis lebih diutamakan karena keistimewaannya, sehingga setiap jenis dibagi secara terpisah, dan pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا غَيْرُ الْمَنْقُولِ فَضَرْبَانِ: عَقَارٌ وَضِيَاعٌ.

Adapun selain benda bergerak, maka terbagi menjadi dua jenis: tanah (‘aqār) dan lahan (diyā‘).

فَأَمَّا الْعَقَارُ الْمَسْكُونُ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun properti yang dihuni terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: مَا لَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ إِذَا تَمَيَّزَ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ شَرِيكَيْنِ دَارَانِ فَيَدْعُو أَحَدُهُمَا إِلَى أَنْ يَجْعَلَ كُلَّ دَارٍ لِأَحَدِهِمَا فَلَا إِجْبَارَ فِي هَذِهِ الْقِسْمَةِ سَوَاءٌ تَمَاثَلَتْ أَثْمَانُهَا أَوْ تَفَاضَلَتِ اتصلت أو تباعدت وَالْإِجْبَارُ أَنْ تُقْسَمَ كُلُّ دَارٍ بَيْنَهُمَا.

Salah satunya: sesuatu yang tidak dapat dimasuki oleh pembagian secara paksa apabila telah dapat dibedakan, yaitu apabila di antara dua orang sekutu terdapat dua rumah, lalu salah satu dari mereka mengusulkan agar setiap rumah menjadi milik salah satu dari mereka, maka tidak ada pemaksaan dalam pembagian seperti ini, baik harga keduanya sama ataupun berbeda, baik letaknya berdekatan maupun berjauhan. Adapun pemaksaan adalah apabila setiap rumah dibagi di antara mereka berdua.

فَإِنْ تَرَاضَى الشَّرِيكَانِ عَلَى أَنْ تَكُونَ إِحْدَى الدَّارَيْنِ لِأَحَدِهِمَا وَالْأُخْرَى لِلْآخَرِ جَازَ وَكَانَتْ هَذِهِ الْقِسْمَةُ مُنَاقَلَةً تَقِفُ عَلَى الِاخْتِيَارِ دُونَ الْإِجْبَارِ وَهِيَ كَالْبَيْعِ الْمَحْضِ.

Jika kedua orang yang berserikat saling sepakat bahwa salah satu dari dua rumah menjadi milik salah satu dari mereka dan rumah yang lain menjadi milik yang lainnya, maka hal itu diperbolehkan. Pembagian seperti ini disebut munaqalah, yang bergantung pada pilihan (kerelaan) dan bukan paksaan, dan hukumnya seperti jual beli murni.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ مَعَ تَمْيِيزِهِ، وَهُوَ أَنْ تَكُونَ قَرْيَةٌ ذَاتُ مَسَاكِنَ، بَيْنَ شَرِيكَيْنِ، فَيَدْعُو أَحَدُهُمَا إِلَى أَنْ يَقْسِمَ جَمِيعَ الْقَرْيَةِ، وَيَدْعُو الْآخَرُ إِلَى أَنْ يُقَسِّمَ كُلَّ مَسْكَنٍ مِنْهَا، فَقِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَاقِعَةٌ عَلَى جَمِيعِ الْقَرْيَةِ، فَيُقَسَّمُ لِكُلِّ وَاحِدٍ منها نِصْفُهَا، بِمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ مِنْ مَسَاكِنِهِ؛ لِأَنَّ الْقَرْيَةَ حَاوِيَةٌ لِمَسَاكِنِهَا كَالدَّارِ الْجَامِعَةِ لِبُيُوتِهَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقَعَ الْإِجْبَارُ فِي قِسْمَةِ الدَّارِ عَلَى بَيْتٍ مِنْهَا، كَذَلِكَ الْقَرْيَةُ.

Bagian kedua: yaitu perkara yang dapat dilakukan pembagian secara paksa dengan tetap membedakannya, yaitu apabila terdapat sebuah desa yang memiliki rumah-rumah, dimiliki oleh dua orang sekutu. Salah satu dari mereka mengusulkan untuk membagi seluruh desa, sedangkan yang lain mengusulkan untuk membagi setiap rumah yang ada di dalamnya. Maka, pembagian secara paksa berlaku atas seluruh desa, sehingga masing-masing mendapatkan setengah dari desa tersebut beserta rumah-rumah yang ada di dalamnya; karena desa itu mencakup rumah-rumahnya sebagaimana sebuah rumah besar mencakup kamar-kamarnya. Tidak boleh dilakukan pembagian secara paksa pada rumah hanya terhadap salah satu kamarnya, demikian pula halnya dengan desa.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتُلِفَ فِيهِ وَهُوَ أَنْ تَكُونَ بَيْنَهُمَا عَضَائِدُ مُتَّصِلَةٌ، أَوْ دَكَاكِينُ مُتَضَايِقَةٌ وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا طَرِيقٌ فَفِي قِسْمَةِ كُلِّ عِضَادَةٍ وَكُلِّ دُكَّانٍ تَضْيِيقٌ فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Bagian ketiga: yaitu perkara yang diperselisihkan, yaitu apabila di antara keduanya terdapat penyangga-penyangga yang saling terhubung, atau toko-toko yang berdekatan dan masing-masing memiliki jalan sendiri. Dalam pembagian setiap penyangga dan setiap toko terdapat kesempitan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ كَالدُّورِ الْمُخْتَلِفَةِ فَلَا تَقَعُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِيهَا إِلَّا فِي كُلِّ عِضَادَةٍ وَكُلِّ دُكَّانٍ، لِانْفِرَادِ كُلِّ وَاحِدٍ بِطَرِيقِهِ وَسُكْنَاهُ.

Salah satunya: yaitu seperti rumah-rumah yang berbeda, maka pembagian secara paksa (qismah al-ijbār) tidak dapat dilakukan kecuali pada setiap pintu dan setiap toko, karena masing-masing memiliki jalan dan tempat tinggal yang terpisah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهَا تَكُونُ كَالْقَرْيَةِ، تَقَعُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي جَمِيعِهَا نِصْفَيْنِ، وَلَا يُفْرَدُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْقِسْمَةِ إِلَّا عَنْ مُرَاضَاةٍ وَاخْتِيَارٍ وَتَصِيرُ كَالدَّارِ ذَاتِ الْبُيُوتِ.

Pendapat kedua: Bahwa ia diperlakukan seperti desa, di mana pembagian paksa dilakukan atas seluruhnya menjadi dua bagian, dan masing-masing dari keduanya tidak dipisahkan dengan pembagian kecuali atas dasar kerelaan dan pilihan, sehingga ia menjadi seperti rumah yang memiliki beberapa kamar.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الضِّيَاعُ الْمَزْرُوعَةُ وَالْمَغْرُوسَةُ فَتَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun lahan yang ditanami dengan tanaman atau pepohonan, maka terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَتَّصِلَ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، وَتَتَمَاثَلَ فِي الثَّمَنِ وَالْمَنْفَعَةِ وَالْمُؤْنَةِ، فَيَضُمُّ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَتَقَعُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ عَلَى جَمِيعِهَا كَالضَّيْعَةِ الْوَاحِدَةِ، كَضِيَاعِ الْقَرْيَةِ الَّتِي يَتَّصِلُ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ وَلَا يَتَمَيَّزُ شَيْءٌ مِنْهَا، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ أَسْمَاؤُهَا.

Salah satunya: jika sebagian dari harta itu saling terhubung, serta serupa dalam harga, manfaat, dan biaya, maka sebagian dari harta itu digabungkan dengan sebagian yang lain, dan pembagian secara paksa (qismah al-ijbār) berlaku atas semuanya seperti satu bidang tanah, seperti tanah-tanah di desa yang saling terhubung dan tidak ada bagian yang dapat dibedakan, meskipun nama-namanya berbeda.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَفْتَرِقَ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضٍ وَلَا يَتَّصِلَ، فَقِسْمَةُ الْإِجْبَارِ وَاقِعَةٌ عَلَى كُلِّ ضَيْعَةٍ مِنْهَا، وَلَا يُضَمُّ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ؛ لِأَنَّ لِكُلِّ ضَيْعَةٍ إِذَا انْفَرَدَتْ حُكْمُهَا.

Bagian kedua: yaitu jika sebagian dari harta itu terpisah dari sebagian yang lain dan tidak saling berhubungan, maka pembagian secara paksa berlaku pada setiap bagian tanah tersebut, dan tidak boleh menggabungkan sebagian dengan sebagian yang lain; karena setiap bagian tanah, jika berdiri sendiri, memiliki ketentuan hukumnya masing-masing.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: تَتَّصِلُ الضِّيَاعُ وَتَخْتَلِفُ إِمَّا فِي مَنْفَعَةٍ، فَيَكُونُ بَعْضُهَا شَجَرًا وَبَعْضُهَا مُزْدَرَعًا أَوْ يَكُونُ بَعْضُهَا كَرْمًا وَبَعْضُهَا نَخْلًا أَوْ تَخْتَلِفُ فِي مُؤْنَةٍ فَيَكُونُ بَعْضُهَا يَشْرَبُ سَيْحًا مِنْ نهر أو عين وبعضها يشرب بنضج أَوْ غَرْبٍ أَوْ تَخْتَلِفُ فِي الثَّمَنِ لِنَفَاسَةِ بَعْضِهَا عَلَى بَعْضٍ.

Bagian ketiga: lahan-lahan itu saling terhubung namun berbeda, baik dalam hal manfaat—sebagian berupa pepohonan dan sebagian lagi berupa lahan pertanian, atau sebagian berupa kebun anggur dan sebagian lagi berupa kebun kurma—atau berbeda dalam hal biaya perawatan—sebagian mendapat pengairan dari sungai atau mata air secara mengalir, dan sebagian lagi dengan cara disiram atau dialirkan airnya—atau berbeda dalam harga karena sebagian lebih bernilai daripada yang lain.

فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي قِسْمَةِ الْإِجْبَارِ فِيهَا عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Para fuqaha berbeda pendapat dalam pembagian ijbār ini menjadi tiga mazhab:

مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ مِنْهَا إِنَّ قِسْمَةَ الْإِجْبَارِ وَاقِعَةٌ عَلَى كُلِّ ضَيْعَةٍ مِنْهَا وَلَا يُضَمُّ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ فِي الْقِسْمَةِ.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa pembagian paksa berlaku pada setiap bidang tanah tersebut, dan tidak boleh menggabungkan sebagian dengan sebagian yang lain dalam pembagian.

وَقَالَ مَالِكٌ: إِذَا اتَّصَلَتْ جُمِعَتْ فِي قِسْمَةِ الْإِجْبَارِ مَعَ اخْتِلَافِهَا.

Malik berkata: Jika telah bersambung, maka dikumpulkan dalam pembagian al-ijbār meskipun terdapat perbedaan di dalamnya.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ: إِنْ تَجَانَسَتْ جُمِعَتْ، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ لَمْ تُجْمَعْ.

Abu Yusuf dan Muhammad berkata: Jika jenisnya sama, maka boleh digabungkan; dan jika berbeda, maka tidak boleh digabungkan.

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَثْمَانَهَا مُتَبَايِنَةٌ.

Salah satunya adalah bahwa harga-harganya berbeda-beda.

وَالثَّانِي: أَنَّ مَنَافِعَهَا مختلفة.

Kedua: bahwa manfaat-manfaatnya beragam.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَتُقْسَمُ الْأَرَضُونَ وَالثِّيَابُ وَالطَّعَامُ وَكُلُّ مَا احْتَمَلَ القسم “.

Imam Syafi‘i berkata: “Tanah, pakaian, makanan, dan segala sesuatu yang memungkinkan untuk dibagi, maka dibagi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْمَقْصُودَ بِالْقِسْمَةِ شَيْئَانِ:

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa tujuan dari pembagian ada dua hal:

أحدهما: أن يمتنع بها من سواء المشركة.

Pertama: ia menahan diri dengannya dari wanita musyrik.

وَالثَّانِي: كَمَالُ التَّصَرُّفِ الَّذِي يَمْتَنِعُ بِاخْتِلَافِ الْأَيْدِي، فَصَارَ الْمَقْصُودُ بِهَا دَفْعُ الضَّرَرِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَدْخُلَهَا إِجْبَارٌ بِدُخُولِ الضَّرَرِ، وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – نَهَى عَنْ قِسْمَةِ الضِّرَارِ وَلَيْسَ بِثَابِتٍ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ.

Kedua: Kesempurnaan dalam pengelolaan yang terhalangi oleh perbedaan tangan (kepemilikan), sehingga maksud dari pembagian ini adalah untuk menghilangkan mudarat. Maka tidak boleh ada unsur pemaksaan di dalamnya karena akan menimbulkan mudarat. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang pembagian yang menimbulkan mudarat, namun riwayat tersebut tidak sahih menurut para ahli hadis.

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْأَمْوَالَ الْمُشْتَرَكَةَ تَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ قِسْمٌ تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَقِسْمٌ تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الِاخْتِيَارِ، وَقِسْمٌ يَنْتَفِي عَنْهُ الْقَسْمُ جَبْرًا أَوِ اخْتِيَارًا.

Telah kami sebutkan bahwa harta bersama terbagi menjadi tiga bagian: bagian yang masuk dalam pembagian secara paksa, bagian yang masuk dalam pembagian secara pilihan, dan bagian yang tidak dapat dibagi baik secara paksa maupun secara pilihan.

فَمِمَّا يَدْخُلُهُ الْقَسْمُ الضِّيَاعُ وَالْعَقَارُ، فَمَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَعْدِيلٌ وَلَا رَدٌّ دَخَلَهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَلَا يَمْنَعُ مَا فِيهِ مِنَ الْبِنَاءِ وَالشَّجَرِ مِنْ قِسْمَةٍ جَبْرًا إِذَا تَمَاثَلَ وَتَقَارَبَ فَإِنَّ تَحْقِيقَ الْمُمَاثَلَةِ فِيهِ مُتَعَذِّرٌ فَلَمْ يَمْتَنِعْ أَنْ يَكُونَ تَبَعًا لِمَا يَتَحَقَّقُ تَمَاثُلُهُ مِنَ الْأَرْضِ.

Termasuk yang dapat dibagi adalah tanah kosong dan properti tetap. Maka, apa yang tidak memerlukan penyesuaian atau penolakan masuk dalam pembagian secara paksa (qismah al-ijbār). Adanya bangunan dan pohon di dalamnya tidak menghalangi pembagian secara paksa jika keadaannya serupa dan hampir sama, karena mencapai keserupaan yang sempurna di dalamnya sulit dilakukan. Oleh karena itu, tidak terlarang jika hal tersebut mengikuti bagian tanah yang keserupaannya dapat diwujudkan.

وَأَمَّا مَا فِيهِ رَدٌّ، فَلَا تَدْخُلُهُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ، وَيَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى قِسْمَةِ الِاخْتِيَارِ.

Adapun harta yang masih mengandung penolakan, maka tidak termasuk dalam pembagian secara ijbār, dan tetap menunggu hingga dilakukan pembagian secara ikhtiyār.

وَأَمَّا مَا فِيهِ تَعْدِيلٌ، فَفِي دُخُولِ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِيهِ قَوْلَانِ مَضَيَا.

Adapun perkara yang di dalamnya terdapat penyesuaian, maka mengenai masuknya pembagian al-ijbār ke dalamnya terdapat dua pendapat yang telah disebutkan.

فَأَمَّا قِسْمَةُ مَا كَانَ مِنْهُ وَقْفًا مُحَرَّمًا، فَإِنْ لَمْ يَخْتَلِطْ بِمِلْكٍ لَمْ تَجُزْ قِسْمَتُهُ؛ لِأَنَّ حُقُوقَ أَهْلِهِ مَقْصُورَةٌ عَلَى مَنَافِعِهِ وَإِنِ اخْتَلَطَ بِمِلْكٍ، فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ، جَازَ قَسْمُهُ جَبْرًا.

Adapun pembagian terhadap sesuatu yang merupakan wakaf yang diharamkan, maka jika tidak bercampur dengan kepemilikan (pribadi), tidak boleh dibagi; karena hak para penerimanya terbatas hanya pada manfaatnya saja. Namun jika bercampur dengan kepemilikan (pribadi), maka jika dikatakan bahwa pembagian itu adalah pemisahan hak, maka boleh membaginya secara paksa.

وَإِنْ قِيلَ: إِنِ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ فَفِي جَوَازِ قَسْمِهِ قَوْلَانِ:

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya pembagian itu adalah jual beli, maka dalam kebolehan membaginya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تَجُوزُ جَبْرًا، وَلَا اخْتِيَارًا، تَغْلِيبًا لِلْوَقْفِ.

Salah satunya: tidak boleh dilakukan secara paksa maupun pilihan, dengan menguatkan pendapat waqf.

وَالثَّانِي: تَجُوزُ جَبْرًا وَاخْتِيَارًا، تَغْلِيبًا لِلْمِلْكِ.

Yang kedua: Boleh dilakukan secara paksa maupun sukarela, dengan mengutamakan kepemilikan.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الْبَنَّاءُ وَالشَّجَرُ دُونَ أَرْضِهِ فَلَا يجوز إجبارا ويجوز اختيارا.

Adapun bagian bangunan dan pohon tanpa tanahnya, maka tidak boleh secara paksaan, namun boleh secara pilihan.

(قسم الحيوان) .

(Bagian Hewan).

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا قِسْمُ الْحَيَوَانِ كَالْعَبِيدِ، وَالْمَوَاشِي، فَإِنْ كَانَ رَأْسًا وَاحِدًا، لَمْ تَدْخُلْهُ الْقِسْمَةُ إِجْبَارًا وَلَا اخْتِيَارًا.

Adapun bagian dari makhluk hidup seperti budak dan hewan ternak, jika hanya satu ekor, maka tidak dapat dibagi baik secara paksa maupun sukarela.

وَإِنْ كَانَ عَدَدًا، فَإِنْ تَفَاضَلُوا لَمْ يُقَسِّمُوا إِجْبَارًا، وَقَسَّمُوا اخْتِيَارًا.

Dan jika berupa jumlah (benda yang dapat dihitung), maka jika mereka berbeda dalam keinginan, tidak dilakukan pembagian secara paksa, namun pembagian dilakukan jika mereka sepakat.

وَإِنْ تَمَاثَلُوا فَفِي قَسْمِهَا إِجْبَارًا وَجْهَانِ:

Jika mereka setara, maka dalam pembagiannya secara paksa terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَبِهِ قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَأَبُو إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيُّ، يُقَسَّمُ إِجْبَارًا لتماثلها.

Salah satunya: yaitu pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa dibagi secara paksa karena kesetaraannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانِ إِنَّهَا لَا تُقَسَّمُ إِجْبَارًا وَتُقَسَّمُ اخْتِيَارًا لِأَنَّهَا مَضْمُونَةٌ بِالْقِيمَةِ دُونَ الْمِثْلِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan, menyatakan bahwa harta tersebut tidak dibagi secara paksa, tetapi dibagi secara sukarela, karena harta itu dijamin dengan nilai (harga) dan bukan dengan barang sejenis.

وَأَصْلُ ذَلِكَ، حَدِيثُ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ: أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ مَمْلُوكِينَ، لَا مَالَ لَهُ غَيْرَهُمْ، فَجَزَّأَهُمْ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً فَجَعَلَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ دَلِيلًا عَلَى قِسْمَةِ الْإِجْبَارِ، وَحَمَلَهُ ابْنُ خَيْرَانَ عَلَى جَوَازِهِ فِي الْعِتْقِ لِاخْتِصَاصِهِ بِالْحُرِّيَّةِ.

Dasar dari hal itu adalah hadis ‘Imran bin Hushain: bahwa ada seorang laki-laki yang memerdekakan enam orang budaknya, dan ia tidak memiliki harta selain mereka. Maka Rasulullah ﷺ membagi mereka menjadi tiga bagian, lalu beliau memerdekakan dua orang dan menjadikan empat orang tetap sebagai budak. Abu al-‘Abbas bin Surayj menjadikan hadis ini sebagai dalil atas pembagian secara ijbār, sedangkan Ibn Khayran memaknainya sebagai kebolehan dalam hal memerdekakan budak karena kekhususannya dalam masalah kebebasan.

وَقَدْ أَجَازَ الشَّافِعِيُّ قِسْمَةَ الْكِلَابِ مَعَ الْغَنَمِ كَمَا أَجَازَ الْوَصِيَّةَ بِهَا.

Syafi‘i membolehkan pembagian anjing bersama kambing, sebagaimana beliau juga membolehkan wasiat dengan anjing.

فَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ أَجَازَ قَسْمَهَا إِجْبَارًا وَجْهًا وَاحِدًا لِلنَّصِّ عَلَيْهِ وَأَنَّهَا لِخُرُوجِهَا عَنِ الْقِيمَةِ تَجْرِي مَجْرَى ذَوَاتِ الْأَمْثَالِ.

Di antara ulama mazhab kami ada yang membolehkan pembagian (barang tersebut) secara paksa dalam satu pendapat saja, berdasarkan nash yang ada tentangnya, dan karena barang tersebut, disebabkan keluarnya dari penilaian harga, diperlakukan seperti barang-barang yang memiliki padanan (dzawāt al-amtsāl).

وَمِنْهُمْ مَنْ خَرَّجَ إِجَازَةَ قَسْمِهَا عَلَى الْوَجْهَيْنِ وَجَعَلَ هَذَا النَّصَّ دَلِيلًا عَلَى أَنَّهُ أَصَحُّهُمَا.

Sebagian dari mereka ada yang mengaitkan kebolehan pembagiannya dengan dua pendapat, dan menjadikan nash ini sebagai dalil bahwa pendapat tersebut adalah yang paling sahih di antara keduanya.

وَعَلَى قِيَاسِ الْحَيَوَانِ يَكُونُ قَسْمُ الْآلَاتِ مِنَ الْخَشَبِ، كَالْأَوَانِي، وَالْأَبْوَابِ، وَالْأَسَاطِينِ، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ وَتَفَاضَلَتْ قُسِّمَتِ اخْتِيَارًا وَلَمْ تقسم إجبارا، وإن تماثلت ففي قسمها إجبارا وَجْهَانِ كَمَا ذَكَرْنَا فِي الْحَيَوَانِ.

Berdasarkan qiyās pada hewan, maka pembagian alat-alat yang terbuat dari kayu, seperti bejana, pintu, dan tiang-tiang, meskipun berbeda-beda dan memiliki keutamaan yang beragam, dibagi secara pilihan dan tidak dibagi secara paksa. Namun, jika alat-alat tersebut serupa, maka dalam pembagiannya secara paksa terdapat dua pendapat, sebagaimana telah kami sebutkan pada pembagian hewan.

وَعَلَى هَذَا يَكُونُ قَسْمُ الثِّيَابِ إِنِ اخْتَلَفَتْ وَتَفَاضَلَتْ قُسِّمَتِ اخْتِيَارًا وَلَمْ تُقَسَّمْ إِجْبَارًا، وَإِنْ تَمَاثَلَتْ فَفِي قَسْمِهَا إِجْبَارًا وَجْهَانِ.

Dengan demikian, pembagian pakaian, jika berbeda-beda dan memiliki keutamaan yang berbeda, maka dibagi secara pilihan dan tidak dibagi secara paksa. Namun jika pakaian-pakaian itu serupa, maka dalam pembagiannya secara paksa terdapat dua pendapat.

فَأَمَّا قَسْمُ الثَّوْبِ الْوَاحِدِ فَإِنِ اخْتَلَفَ لِاخْتِلَافِ نُقُوشِهِ وَأَلْوَانِهِ قُسِّمَ اخْتِيَارًا وَلَمْ يُقَسَّمْ إِجْبَارًا.

Adapun pembagian satu kain, jika berbeda karena perbedaan motif dan warnanya, maka pembagiannya dilakukan secara pilihan dan tidak dibagi secara paksa.

وَإِنْ تَمَاثَلَ وَلَمْ يَخْتَلِفْ نُظِرَ، فَإِنْ نَقَصَتْ قِيمَتُهُ بِقَسْمِهِ لَمْ يُقَسَّمْ إِجْبَارًا، وَقُسِّمَ اخْتِيَارًا، وَإِنْ لَمْ تَنْقُصْ قِيمَتُهُ، فَفِي قَسْمِهِ إِجْبَارًا وَجْهَانِ.

Jika kedua bagian itu sama dan tidak ada perbedaan, maka diperhatikan: jika nilainya berkurang karena pembagian, maka tidak dibagi secara paksa, tetapi dibagi secara sukarela. Namun jika nilainya tidak berkurang, maka dalam hal pembagian secara paksa terdapat dua pendapat.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَلْ تَكُونُ قِسْمَةُ الْإِجْبَارِ فِي الْحَمَّامَيْنِ الْمُتَمَاثِلَيْنِ بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ عَلَى قِيَاسِ مَا ذَكَرْتُمُوهُ فِي قِسْمَةِ الْحَيَوَانِ وَالثِّيَابِ.

Jika dikatakan: Apakah pembagian paksa (qismah al-ijbār) pada dua pemandian yang serupa antara dua orang sekutu itu mengikuti qiyās sebagaimana yang kalian sebutkan dalam pembagian hewan dan pakaian?

قِيلَ: قَدْ كَانَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يُخَرِّجُ إِجْبَارَ قَسْمِهَا بَيْنَ الشَّرِيكَيْنِ عَلَى وَجْهَيْنِ، كَالْحَيَوَانِ، وَالثِّيَابِ، وَيُفَرِّقُ بَيْنَ قَسْمِ الدَّارَيْنِ، حَيْثُ لَمْ يَقَعْ فِي إِفْرَادِهَا إِجْبَارٌ، وَوَقَعَ فِي قسم الحمامين إجبار إن كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنَ الدَّارَيْنِ يُمْكِنُ أَنْ تُقَسَّمَ إِجْبَارًا، فَلَمْ يَقَعْ فِي إِفْرَادِهِمَا إِجْبَارٌ، وَالْحَمَّامُ الْوَاحِدُ لَا يَقَعُ فِي قَسْمِهِ إِجْبَارٌ، فَجَازَ أَنْ يَقَعَ فِي إِفْرَادِهِمَا بِالْقِسْمَةِ إِذَا اجْتَمَعَا إِجْبَارٌ.

Dikatakan: Sebagian ulama kami ada yang mengeluarkan hukum bolehnya pemaksaan dalam pembagian antara dua orang yang berserikat dalam dua pendapat, seperti pada hewan dan pakaian, dan membedakan antara pembagian dua rumah, di mana dalam pemisahan masing-masing tidak terjadi pemaksaan, sedangkan dalam pembagian dua pemandian umum terjadi pemaksaan jika masing-masing dari dua rumah itu memungkinkan untuk dibagi secara paksa. Maka, dalam pemisahan keduanya tidak terjadi pemaksaan, sedangkan satu pemandian umum tidak dapat dipaksa dalam pembagiannya. Maka, boleh saja terjadi pemaksaan dalam pemisahan keduanya dengan pembagian jika keduanya digabungkan.

وَقَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ: لَا يَقَعُ فِي قَسْمِ الْحَمَّامَيْنِ إِجْبَارٌ، كَمَا لَمْ يقع في قَسْمِ الْوَاحِدِ إِجْبَارٌ وَفَرَّقَ بَيْنَ الْحَمَّامَيْنِ وَالْحَيَوَانِ، إِنَّ بِنَاءَ الْحَمَّامِ مَنَعَ مِنْ قَسْمِ أَرْضِهِ، والحيوان أهل في نفسه.

Abu al-‘Abbas bin Surayj berkata: Tidak terjadi pemaksaan dalam pembagian dua pemandian, sebagaimana tidak terjadi pemaksaan dalam pembagian satu pemandian. Ia membedakan antara dua pemandian dan hewan, karena bangunan pemandian menghalangi pembagian tanahnya, sedangkan hewan adalah makhluk hidup pada dirinya sendiri.

(قسم الطعام وغيره)

(Bab tentang makanan dan selainnya)

(فصل)

(Bab)

: وأما قسم الطَّعَامِ: فَكُلُّ مَطْعُومٍ طَعَامٌ، وَفِي الْمَطْعُومِ رِبًا، وَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian makanan: setiap yang dapat dimakan adalah makanan, dan pada makanan terdapat riba, dan makanan itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّا يَجُوزُ بَيْعُ بَعْضِهِ بِبَعْضٍ، كَالْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ فَيَجُوزُ قَسْمُهُ إِجْبَارًا وَاخْتِيَارًا.

Salah satunya adalah: jika termasuk sesuatu yang boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain, seperti gandum dan jelai, maka boleh dibagi baik secara paksa maupun sukarela.

فَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ جَازَ قَسْمُهُ كَيْلًا وَوَزْنًا، وَجَازَ أَنْ يَفْتَرِقَا فِيهِ قَبْلَ التَّقَابُضِ.

Jika dikatakan: Sesungguhnya pembagian adalah pemisahan hak, maka boleh membagi sesuatu dengan takaran dan timbangan, dan boleh bagi kedua pihak yang membagi untuk berpisah sebelum terjadi serah terima.

وَإِنْ قِيلَ: إِنَّ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ، وَجَبَ قَسْمُهُ كَيْلًا، وَلَمْ يَجُزْ قَسْمُهُ وَزْنًا؛ لِأَنَّ أَصْلَهُ الْكَيْلُ، وَوَجَبَ إِنْ تَقَابَضَا قَبْلَ الِافْتِرَاقِ.

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya pembagian itu adalah jual beli, maka wajib membaginya dengan takaran, dan tidak boleh membaginya dengan timbangan; karena asalnya adalah takaran, dan wajib bagi keduanya untuk saling menerima sebelum berpisah.

وَتَدْخُلُ الْقُرْعَةُ فِي قَسْمِهِ إِجْبَارًا، وَلَا تَدْخُلُ فِي قَسْمِهِ اخْتِيَارًا.

Undian masuk dalam pembagian secara wajib, dan tidak masuk dalam pembagian secara pilihan.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَجُوزُ بَيْعُ بَعْضِهِ ببعض، كرطب، وَالْعِنَبِ، وَالْفَوَاكِهِ الرَّطْبَةِ، فَإِنْ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ جَازَ قَسْمُهُ إِجْبَارًا وَاخْتِيَارًا بِكَيْلٍ أَوْ وَزْنٍ.

Dan jika barang tersebut termasuk yang tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain, seperti kurma basah, anggur, dan buah-buahan segar, maka jika dikatakan bahwa pembagian adalah pemisahan hak, maka boleh membaginya baik secara paksa maupun sukarela dengan takaran atau timbangan.

وَفِي جَوَازِ قَسْمِهِ بِالْخَرْصِ فِي نَخْلِهِ وَشَجَرِهِ، قَوْلَانِ:

Dalam kebolehan membagi hasil dengan taksiran (kharsh) pada pohon kurma dan pohon-pohon lainnya, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: جَوَازُهُ.

Salah satunya: kebolehannya.

وَالثَّانِي: بُطْلَانُهُ.

Kedua: batalnya.

وَأَصَحُّ مِنْ إِطْلَاقِ هَذَيْنِ الْقَوْلَيْنِ أَنْ يَمْنَعَ مِنْهُ بِالْخَرْصِ فِي قِسْمَةِ الْإِجْبَارِ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِهَا التَّحْقِيقُ الْمَعْدُومُ فِي الْخَرْصِ، وَيُجَازُ بِالْخَرْصِ فِي قِسْمَةِ الِاخْتِيَارِ لِأَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى التَّرَاضِي، هَذَا إِذَا قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ.

Pendapat yang lebih sahih daripada dua pendapat tersebut adalah melarang penggunaan taksiran (kharsh) dalam pembagian secara paksaan (qismah al-ijbār), karena tujuan dari pembagian tersebut adalah memastikan kepastian yang tidak terdapat dalam taksiran. Namun, diperbolehkan menggunakan taksiran dalam pembagian secara sukarela (qismah al-ikhtiyār), karena pembagian tersebut didasarkan pada kerelaan bersama. Hal ini berlaku jika dikatakan bahwa pembagian adalah pemisahan hak.

فَأَمَّا إِنْ قِيلَ إِنِ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ، لَمْ تَجُزْ قِسْمَةُ الثِّمَارِ الرَّطْبَةِ كَمَا لَمْ يَجُزْ بَيْعُهَا، فَلَا يَدْخُلُهَا قَسْمُ الْإِجْبَارِ وَلَا قَسْمُ الِاخْتِيَارِ.

Adapun jika dikatakan bahwa pembagian (harta) adalah jual beli, maka tidak boleh membagi buah-buahan yang masih basah, sebagaimana tidak boleh menjualnya. Maka, pembagian secara paksa maupun pembagian secara sukarela tidak dapat diterapkan padanya.

وَأَمَّا قَسْمُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ، فَيَجُوزُ إِجْبَارًا وَاخْتِيَارًا.

Adapun pembagian dirham dan dinar, maka boleh dilakukan baik secara paksaan maupun pilihan.

وَهَلْ يُعْتَبَرُ فِي قَسْمِهَا تَقَابُضُهُمَا قَبْلَ الِافْتِرَاقِ عَلَى قَوْلَيْنِ:

Apakah dalam pembagian tersebut disyaratkan adanya saling serah terima antara keduanya sebelum berpisah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُعْتَبَرُ إِنْ قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ.

Salah satunya: tidak dianggap jika dikatakan bahwa pembagian adalah pemisahan hak.

وَالثَّانِي: يُعْتَبَرُ إِذَا قِيلَ إِنَّهَا بَيْعٌ.

Yang kedua: Hal itu dianggap apabila dikatakan bahwa ia adalah jual beli.

فَأَمَّا قِسْمَةُ الْحَدِيدِ وَالنُّحَاسِ فَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَصْنُوعٍ جَازَ قَسْمُهُ إِجْبَارًا وَاخْتِيَارًا وَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ التَّقَابُضُ قَبْلَ الِافْتِرَاقِ.

Adapun pembagian besi dan tembaga, jika belum diolah, maka boleh dibagi secara paksa maupun sukarela, dan tidak disyaratkan adanya serah terima sebelum berpisah.

وَإِنْ كَانَ مَصْنُوعًا أَوَانِيَ أَوْ سُيُوفًا فَإِنِ اخْتَلَفَتْ وَتَفَاضَلَتْ قُسِّمَتِ اخْتِيَارًا وَلَمْ تُقَسَّمْ إِجْبَارًا.

Dan jika harta warisan itu berupa barang buatan seperti bejana atau pedang, maka jika barang-barang tersebut berbeda jenis dan nilainya tidak sama, pembagiannya dilakukan secara pilihan (musyawarah), dan tidak dibagi secara paksa.

وَإِنْ تَشَابَهَتْ وَتَمَاثَلَتْ فَفِي قَسْمِهَا إِجْبَارًا وَجْهَانِ كَالْحَيَوَانِ وَالثِّيَابِ.

Jika harta bersama itu serupa dan sejenis, maka dalam pembagiannya secara paksa terdapat dua pendapat, seperti pada hewan dan pakaian.

وَأَمَّا قِسْمَةُ الدَّيْنِ فَلَا يَخْلُو أَنْ يَكُونَ عَلَى غَرِيمٍ وَاحِدٍ أَوْ عَلَى غُرَمَاءَ.

Adapun pembagian utang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah utang itu atas satu orang yang berutang atau atas beberapa orang yang berutang.

فَإِنْ كَانَ عَلَى غَرِيمٍ وَاحِدٍ فَقِسْمَتُهُ فَسْخُ الشَّرِكَةِ فِيهِ.

Jika piutang itu atas satu orang yang berutang, maka pembagiannya adalah pembatalan syirkah (kemitraan) di dalamnya.

فَإِذَا فُسِخَتِ انْقَسَمَ الدَّيْنُ فِي ذِمَّةِ الْغَرِيمِ وَصَارَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الشُّرَكَاءِ قَدْرُ حَقِّهِ مِنْهُ، وَيَجُوزُ أَنْ يَنْفَرِدَ بِاقْتِضَائِهِ وَقَبْضِهِ.

Maka apabila akad dibatalkan, utang yang ada pada tanggungan pihak yang berutang terbagi, dan setiap orang dari para sekutu memiliki bagian haknya masing-masing dari utang tersebut, serta diperbolehkan bagi masing-masing untuk secara mandiri menagih dan menerima bagiannya.

وَلَوْ كَانَتِ الشَّرِكَةُ بَاقِيَةً عَلَى حَالِهَا لَمْ تُفْسَخْ لَمْ يَجُزْ لِأَحَدِ الشُّرَكَاءِ فِيهِ أَنْ يَنْفَرِدَ بِاقْتِضَائِهِ وَقَبْضِهِ مِنْهُ، وَكَانَ مَا قَبَضَهُ مُشْتَرَكًا بَيْنَهُمْ أَنْ قَبَضَهُ عَنْ غَيْرِ إِذْنِهِمْ.

Dan jika syirkah masih tetap berlangsung dan belum dibubarkan, maka tidak boleh bagi salah satu dari para sekutu untuk secara sendiri-sendiri menagih dan menerima pembayaran darinya. Apa yang diterimanya itu tetap menjadi milik bersama di antara mereka, jika ia menerimanya tanpa izin dari mereka.

وَإِنْ أَذِنُوا لَهُ فِي قَبْضِ حَقِّهِ مِنْهُ جَازَ، وَكَانَ إِذْنُهُم لَهُ فِي قَبْضِ حَقِّهِ فَسْخًا لِشَرِكَتِهِ.

Dan jika mereka mengizinkannya untuk mengambil haknya dari mereka, maka itu diperbolehkan, dan izin mereka kepadanya untuk mengambil haknya merupakan pembatalan atas kemitraannya.

وَلَا وَجْهَ لِمَنْ خَرَّجَهُ عَلَى قَوْلَيْنِ، كَالْمُكَاتِبِ إِذَا أَدَّى إِلَى أَحَدِ الشَّرِيكَيْنِ مَالَ كِتَابَتِهِ بِإِذْنِ شَرِيكِهِ، أَنَّهُ عَلَى قَوْلَيْنِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، بِثُبُوتِ الْحَجْرِ عَلَى الْمُكَاتِبِ، وَعَدَمِهِ فِي الْغَرِيمِ.

Tidak ada alasan bagi siapa pun yang mengeluarkan hukum ini berdasarkan dua pendapat, seperti halnya seorang mukatab apabila ia membayar uang kitabahnya kepada salah satu dari dua orang yang berserikat dengan izin rekannya, bahwa hal itu berdasarkan dua pendapat, karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu adanya penetapan hajr (pembatasan hak bertindak) atas mukatab, dan tidak adanya hajr pada orang yang berutang.

وَإِنْ كَانَ الدَّيْنُ عَلَى جَمَاعَةِ غُرَمَاءَ، فَيَخْتَصُّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الشَّرِيكَيْنِ بِمَا عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْغُرَمَاءِ، لَمْ يَجُزْ قَسْمُ ذَلِكَ إِجْبَارًا، لِأَنَّ الْغُرَمَاءَ قَدْ يَتَفَاضَلُونَ فِي الذِّمَمِ وَالْيَسَارِ.

Jika utang itu berada pada sekelompok para kreditur, maka masing-masing dari kedua sekutu hanya berhak atas bagian yang menjadi tanggungan masing-masing kreditur. Tidak boleh dilakukan pembagian tersebut secara paksa, karena para kreditur bisa saja berbeda dalam hal tanggungan dan kemampuan finansial.

وَفِي جَوَازِ قَسْمِهِ اخْتِيَارًا قَوْلَانِ:

Dalam kebolehan membagi (harta) secara pilihan, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ، إِذَا قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ إِفْرَازُ حَقٍّ.

Salah satunya: Diperbolehkan, jika dikatakan bahwa pembagian adalah pemisahan hak.

وَالثَّانِي: لَا يَجُوزُ إِذَا قِيلَ إِنَّ الْقِسْمَةَ بَيْعٌ.

Yang kedua: tidak diperbolehkan jika dikatakan bahwa pembagian itu adalah jual beli.

وَوَجْهُ صِحَّتِهَا عَلَى هَذَا الْقَوْلِ، أَنْ يُحِيلَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لِأَصْحَابِهِ بِحَقِّهِ عَلَى الْغَرِيمِ الَّذِي لَمْ يَخْتَرْهُ، وَيُحِيلُوهُ بِحُقُوقِهِمْ عَلَى الْغَرِيمِ الَّذِي اخْتَارَهُ، فَيَتَعَيَّنُ ذَلِكَ بالحوالة دون القسمة.

Adapun alasan sahnya menurut pendapat ini adalah bahwa masing-masing dari mereka mengalihkan haknya kepada rekannya atas tanggungan (gharim) yang tidak ia pilih, dan mereka mengalihkan hak-hak mereka kepadanya atas tanggungan yang ia pilih, sehingga hal itu menjadi pasti melalui hawālah (pengalihan utang) dan bukan melalui pembagian.

( [إِبْرَازُ أَصْلِ الْحَقِّ قَبْلَ الْقِسْمَةِ] )

(Menampakkan pokok hak sebelum pembagian)

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وإذا طلبوا أن يقسم دارا فِي أَيْدِيِهِمْ قُلْتُ ثَبَتُوا عَلَى أُصُولِ حُقُوقِكُمْ لِأَنِّي لَوْ قَسَّمْتُهَا بِقَوْلِكُمْ ثُمَّ رُفِعَتْ إِلَى حَاكِمٍ كَانَ شَبِيهًا أَنْ يَجْعَلَهَا لَكُمْ وَلَعَلَّهَا لِغَيْرِكُمْ وَقَدْ قِيلَ يُقَسِّمُ وَيَشْهَدُ أَنَّهُ قَسَّمَهَا عَلَى إِقْرَارِهِمْ وَلَا يُعْجِبُنِي لِمَا وَصَفْتُ “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Jika mereka meminta agar sebuah rumah yang ada di tangan mereka dibagi, aku katakan: Tetaplah kalian pada dasar-dasar hak kalian, karena jika aku membaginya berdasarkan ucapan kalian, lalu perkara itu diajukan kepada hakim, sangat mungkin hakim akan menetapkannya untuk kalian, padahal bisa jadi rumah itu milik orang lain. Ada yang berpendapat bahwa pembagian boleh dilakukan dan disaksikan bahwa pembagian itu dilakukan berdasarkan pengakuan mereka, namun aku tidak menyukainya karena alasan yang telah aku sebutkan.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا كَانَتْ دَارٌ وهي يَدَيْ رَجُلَيْنِ، تَرَافَعَا فِيهَا إِلَى الْحَاكِمِ لِيُقَسِّمَهَا بينهما فلهما فيها ثلاثة أَحْوَالٍ:

Al-Mawardi berkata: Jika ada sebuah rumah yang dimiliki oleh dua orang, lalu keduanya mengadukan perkara tersebut kepada hakim agar membagi rumah itu di antara mereka, maka terdapat tiga keadaan bagi keduanya dalam hal ini:

أَحَدُهَا: أَنْ يُنَازِعَهُمَا فِيهَا غَيْرُهُمَا، فَلَا يَجُوزُ لِلْحَاكِمِ إِذَا حَكَمَ بِهَا لَهُمَا بِأَيْدِيهِمَا أَنْ يُقَسِّمَهَا بَيْنَهُمَا، مَعَ ظُهُورِ الْمُنَازِعِ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ بِهَا لَهُمَا وَهَذَا مِمَّا لَا يَخْتَلِفُ فِيهِ قَوْلُهُ، لِأَنَّ قِسْمَةَ الْحَاكِمِ إِثْبَاتٌ لِمِلْكِهَا، وَالْيَدُ تُوجِبُ إِثْبَاتَ التَّصَرُّفِ، وَلَا تُوجِبُ إِثْبَاتَ الْمِلْكِ.

Salah satunya: apabila ada pihak lain yang berselisih dengan mereka berdua mengenai harta tersebut, maka tidak boleh bagi hakim, jika ia memutuskan harta itu untuk mereka berdua karena berada di tangan mereka, untuk membaginya di antara mereka, selama ada pihak yang berselisih secara nyata, kecuali dengan adanya bukti yang menyatakan harta itu milik mereka berdua. Hal ini merupakan perkara yang tidak diperselisihkan pendapatnya, karena pembagian oleh hakim berarti penetapan kepemilikan, sedangkan kepemilikan secara fisik (al-yad) hanya menetapkan hak untuk mengelola, bukan menetapkan kepemilikan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَتَنَازَعَاهَا وَهِيَ فِي أَيْدِيهِمَا، وَيَدَّعِيَهَا كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِلْكًا، فَيَجْعَلُهَا الْحَاكِمُ بَيْنَهُمَا بِأَيْدِيهِمَا وَأَيْمَانِهِمَا فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَسِّمَهَا بَيْنَهُمَا إِنْ سَأَلَاهُ قَسْمَهَا؛ لِأَنَّ فِي تَنَازُعِهِمَا إِقْرَارًا بِسُقُوطِ الْقِسْمَةِ، فَإِنْ تَقَاسَمَاهَا بِأَنْفُسِهِمَا لَمْ يَمْنَعْهُمَا.

Keadaan kedua: Jika keduanya memperebutkan barang itu sementara barang tersebut berada di tangan mereka berdua, dan masing-masing dari mereka mengaku memilikinya, maka hakim menetapkan barang itu di tangan mereka berdua dan meminta sumpah dari masing-masing. Tidak boleh bagi hakim untuk membagi barang itu di antara mereka jika mereka memintanya untuk membaginya, karena perselisihan mereka menunjukkan pengakuan atas gugurnya pembagian. Namun, jika mereka membaginya sendiri, maka hakim tidak melarang mereka.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ لَا يَكُونَ لَهُمَا فِيهَا مُنَازِعٌ، وَهُمَا مُعْتَرِفَانِ بِالشَّرِكَةِ، وَيَتَنَازَعَانِ فِي الْقِسْمَةِ، فَإِذَا سَأَلَا الْحَاكِمَ قَسْمَهَا بَيْنَهُمَا، كَلَّفَهُمَا الْبَيِّنَةَ عَلَى مِلْكِهِمَا لَهَا، فَإِنْ أَقَامَاهَا قَسَّمَهَا بَيْنَهُمَا إِجْبَارًا أَوِ اخْتِيَارًا، وَهُوَ غَايَةُ مَا يَسْتَظْهِرُ بِهِ الْحَاكِمُ فِي إِثْبَاتِ الْأَمْلَاكِ.

Keadaan ketiga: Tidak ada pihak lain yang bersengketa dengan keduanya, dan keduanya sama-sama mengakui adanya syirkah, namun mereka berselisih dalam pembagian. Jika keduanya meminta hakim untuk membagi harta tersebut di antara mereka, maka hakim mewajibkan keduanya untuk menghadirkan bukti atas kepemilikan mereka terhadap harta itu. Jika mereka mampu menghadirkannya, hakim membagi harta tersebut di antara mereka, baik secara paksa maupun sukarela. Inilah batas maksimal yang dapat dijadikan pegangan oleh hakim dalam menetapkan kepemilikan.

وَهَكَذَا لَوْ ظَهَرَ لَهُمَا مُنَازِعٌ فَأَقَامَا الْبَيِّنَةَ عَلَى مِلْكِهِمَا لَهَا، حَكَمَ لَهُمَا، بِالْمِلْكِ، وأوقع بينهما القسمة وبطل قول المنازع بالبين، لِأَنَّ الْمِلْكَ لَا يَبْطُلُ بِالنِّزَاعِ.

Demikian pula, jika muncul seorang penentang terhadap keduanya lalu mereka berdua mendatangkan bukti atas kepemilikan mereka, maka diputuskan kepemilikan itu untuk keduanya, dilakukan pembagian di antara mereka, dan gugurlah klaim penentang karena adanya bukti, karena kepemilikan tidak batal hanya karena adanya perselisihan.

وَإِنْ عَدِمَا الْبَيِّنَةَ، وَتَفَرَّدَا بِالْيَدِ، وَعَدِمَ الْمُنَازِعُ وَسَأَلَاهُ الْقِسْمَةَ، فَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ فِيهَا عَلَى مَذْهَبِهِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُقَسِّمَهُمَا بَيْنَهُمَا مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ وَيَقُولُ لَهُمَا: إِنْ شِئْتُمَا فَاقْتَسِمَاهَا بَيْنَكُمَا، بِاخْتِيَارِكُمَا، وَلَا أَحْكُمُ بِقَسْمِهَا بَيْنَكُمَا لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ لِغَيْرِكُمَا، فَتَجْعَلَا حُكْمِي بِالْقِسْمَةِ حُجَّةً لَكُمَا فِي الْمِلْكِ، وَدَفْعِ مَنْ لَعَلَّهُ أَحَقُّ مِنْكُمَا بِهِ.

Jika tidak ada bukti (bayyinah), dan keduanya sama-sama memegang (barang tersebut), serta tidak ada pihak yang bersengketa dan keduanya meminta pembagian, maka Imam Syafi‘i telah menegaskan dalam mazhabnya bahwa tidak boleh membagi barang tersebut di antara mereka berdua tanpa adanya bukti. Ia berkata kepada keduanya: “Jika kalian berdua menghendaki, maka bagilah barang itu di antara kalian berdua atas pilihan kalian sendiri. Aku tidak akan memutuskan pembagian barang itu di antara kalian berdua, karena bisa jadi barang itu milik orang lain, sehingga keputusan pembagian dariku menjadi dalil bagi kalian dalam kepemilikan dan untuk menolak orang yang mungkin lebih berhak daripada kalian berdua.”

فَإِنْ أَقَامَا الْبَيِّنَةَ بِابْتِيَاعِهِمَا الدَّارَ، لَمْ تَكُنْ بَيِّنَةً بِالْمِلْكِ، لِأَنَّ يَدَ الْبَائِعِ فِيهَا كَأَيْدِيهِمَا.

Jika mereka berdua mendatangkan bukti bahwa mereka telah membeli rumah itu, maka bukti tersebut bukanlah bukti kepemilikan, karena tangan (kekuasaan) penjual atas rumah itu sama seperti tangan mereka berdua.

وَهَكَذَا لَوْ أَقَامَا الْبَيِّنَةَ أَنَّهَا صَارَتْ إِلَيْهِمَا عَنْ أَبِيهِمَا مِيرَاثًا لَمْ تَكُنْ بَيِّنَةً بِالْمِلْكِ لَأَنَّ يَدَ الْأَبِ فِيهَا كَأَيْدِيهِمَا.

Demikian pula, jika keduanya mendatangkan bukti bahwa barang itu berpindah kepada mereka berdua dari ayah mereka sebagai warisan, maka itu bukanlah bukti kepemilikan, karena kekuasaan (kepemilikan) ayah atas barang tersebut sama seperti kekuasaan mereka berdua.

وَسَوَاءٌ كَانَ هَذَا الْمِلْكُ مِمَّا يُنْقَلُ وَيُحَوَّلُ، كَالْعَرُوضِ وَالسِّلَعِ، أَوْ مِمَّا لَا يُنْقَلُ وَلَا يُحَوَّلُ كَالضِّيَاعِ وَالْعَقَارِ.

Baik kepemilikan itu berupa sesuatu yang dapat dipindahkan dan dialihkan, seperti barang dagangan dan komoditas, maupun sesuatu yang tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat dialihkan seperti tanah pertanian dan properti.

ثُمَّ حَكَى الشَّافِعِيُّ بَعْدَ ذِكْرِهِ لِمَذْهَبِهِ قَوْلًا لِغَيْرِهِ: إِنَّ الْحَاكِمَ يُقَسِّمُهَا بَيْنَهُمَا ويذكر فِي الْقِسْمَةِ أَنَّهُ قَسَّمَهَا بَيْنَهُمَا بِإِقْرَارِهِمَا، لِيَسْتَظْهِرَ بِذَلِكَ مِمَّا يَخَافُهُ مِنْ ظُهُورِ مُنَازِعٍ فِيهَا، وَسَوَاءٌ كَانَ هَذَا مِمَّا يُنْقَلُ أَوْ لَا يُنْقَلُ وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ.

Kemudian setelah menyebutkan pendapatnya, asy-Syafi‘i meriwayatkan pendapat orang lain: bahwa hakim membagi harta tersebut di antara keduanya dan menyebutkan dalam pembagian itu bahwa ia membaginya di antara mereka berdua berdasarkan pengakuan mereka, agar ia dapat melindungi diri dari kemungkinan munculnya pihak yang bersengketa atas harta tersebut. Baik hal ini merupakan sesuatu yang dapat dipindahkan maupun tidak dapat dipindahkan, dan inilah mazhab Abu Yusuf dan Muhammad.

فَاخْتَلَفَ أصحابنا في تخريج هذا المذهب قولا ثانيا للشافعي.

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam menisbatkan pendapat ini sebagai pendapat kedua dari Imam Syafi‘i.

فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى إِبْطَالِ تَخْرِيجِهِ قَوْلًا ثَانِيًا، لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَدْ صَرَّحَ بِإِبْطَالِهِ فَقَالَ: وَلَا يُعْجِبُنِي ذَلِكَ لِمَا وَصَفْنَا فَلَمْ يَجُزْ مَعَ هَذَا الرَّدِّ أَنْ يَجْعَلَ قَوْلًا لَهُ.

Sebagian dari mereka berpendapat untuk membatalkan penetapan pendapat kedua, karena asy-Syafi‘i telah secara tegas membatalkannya dengan ucapannya: “Aku tidak menyukai hal itu karena alasan yang telah kami sebutkan.” Maka, dengan adanya penolakan ini, tidak boleh menjadikannya sebagai pendapat beliau.

وَذَهَبَ الْأَكْثَرُونَ مِنْهُمْ إِلَى تَخْرِيجِهِ قَوْلًا ثَانِيًا، لِأَنَّ هَذَا التَّعْلِيلَ تَرْجِيحٌ لِلْأَوَّلِ وَلَيْسَ بِإِبْطَالٍ لِلثَّانِي، فَيَكُونُ لَهُ فِي قَسْمِهَا بَيْنَهُمَا مِنْ غَيْرِ بَيِّنَةٍ قَوْلَانِ:

Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa hal ini dapat dijadikan sebagai pendapat kedua, karena alasan ini merupakan penguatan terhadap pendapat pertama dan bukan pembatalan terhadap pendapat kedua. Maka dalam pembagian perkara tersebut di antara keduanya tanpa adanya bukti, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يُقَسِّمُهَا وَهُوَ الْأَظْهَرُ تَعْلِيلًا بِمَا قَدَّمْنَاهُ.

Salah satunya: tidak membaginya, dan inilah pendapat yang paling kuat secara argumentasi, sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: يُقَسِّمُهَا وَيَسْتَظْهِرُ بِمَا وَصَفْنَاهُ.

Pendapat kedua: ia membaginya dan memperkuat pendapatnya dengan apa yang telah kami jelaskan.

فَإِذَا قَسَّمَهَا عَلَى هَذَا الْقَوْلِ اسْتَظْهَرَ بِأَمْرَيْنِ:

Maka apabila ia membaginya menurut pendapat ini, ia memperkuatnya dengan dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُنَادِيَ هَلْ مِنْ مُنَازِعٍ؟ لِيَسْتَدِلَّ بِعَدَمِهِ عَلَى ظَاهِرِ الْمِلْكِ.

Salah satunya adalah dengan menyeru, “Adakah yang bersengketa?” agar dapat dijadikan petunjuk dengan tidak adanya yang menyanggah terhadap kepemilikan yang tampak.

وَالثَّانِي: أَنْ يُحْلِفَهُمَا أَنْ لَا حَقَّ فِيهَا لِغَيْرِهِمَا.

Kedua: hendaknya ia meminta keduanya bersumpah bahwa tidak ada hak atasnya bagi selain mereka berdua.

وَفِي هَذِهِ الْيَمِينِ وَجْهَانِ:

Dalam sumpah ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا اسْتِظْهَارٌ فَإِنْ قَسَّمَهَا مِنْ غَيْرِ إِحْلَافِهِمَا جَازَ.

Salah satunya: bahwa itu adalah istizhār, maka jika ia membaginya tanpa menyuruh mereka berdua bersumpah, itu diperbolehkan.

وَالثَّانِي: أَنَّهَا وَاجِبَةٌ.

Dan yang kedua: bahwa ia adalah wajib.

فَإِنْ قَسَّمَهَا مِنْ غَيْرِ إِحْلَافِهِمَا لَمْ يَجُزْ.

Jika ia membaginya tanpa meminta keduanya bersumpah, maka pembagian itu tidak sah.

فَأَمَّا أَبُو حَنِيفَةَ، فَإِنَّهُ خَالَفَ بِتَفْصِيلِهِ مُطْلَقَ الْقَوْلَيْنِ، فَقَالَ: فِيمَا يُنْقَلُ مِنَ الْعَرُوضِ وَالسِّلَعِ أَنَّهُ يُقَسِّمُهُ بَيْنَهُمَا بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ، وَفِيمَا لَا يُنْقَلُ مِنَ الضِّيَاعِ وَالْعَقَارِ إِنِ ادَّعَيَاهُ مِيرَاثًا لَمْ يُقَسَّمْ إِلَّا بِبَيِّنَةٍ تَشْهَدُ بِالْمِيرَاثِ، وَإِنِ ادَّعَيَاهُ بِابْتِيَاعٍ أَوْ غَيْرِهِ قَسَّمَهُ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ تَشْهَدُ بِالِابْتِيَاعِ.

Adapun Abu Hanifah, beliau berbeda dengan merinci kedua pendapat secara mutlak. Beliau berkata: terhadap barang dagangan dan komoditas yang dapat dipindahkan, maka dibagi di antara keduanya tanpa perlu bukti. Sedangkan terhadap tanah dan properti yang tidak dapat dipindahkan, jika keduanya mengakuinya sebagai warisan, maka tidak boleh dibagi kecuali dengan bukti yang menyatakan sebagai warisan. Namun jika keduanya mengakuinya sebagai hasil pembelian atau sebab lain, maka dibagi tanpa perlu bukti yang menyatakan sebagai hasil pembelian.

وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ لَيْسَ الْبَيِّنَةُ بِالْمِيرَاثِ وَالِابْتِيَاعِ بَيِّنَةٌ بِالْمِلْكِ وَإِنَّمَا هِيَ بَيِّنَةٌ بِسَبَبِ دُخُولِ الْيَدِ، فَلَمْ يَكُنْ لهذا الفرق وجه الله أعلم بالصواب.

Kami telah menyebutkan bahwa bukti mengenai warisan dan pembelian bukanlah bukti kepemilikan, melainkan hanya bukti sebab masuknya kepemilikan (ke tangan seseorang), maka perbedaan ini tidak memiliki alasan yang jelas. Allah lebih mengetahui kebenaran.

(باب ما على القاضي في الخصوم والشهود)

(Bab tentang kewajiban hakim terhadap para pihak yang bersengketa dan para saksi)

(مسألة)

(Masalah)

: قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: ” يَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يُنْصِفَ الْخَصْمَيْنِ فِي الْمَدْخَلِ عَلَيْهِ لِلْحُكْمِ وَالِاسْتِمَاعِ وَالْإِنْصَاتِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا حَتَّى تَنْفُذَ حُجَّتُهُ وَلَا يَنْهَرُهُمَا “.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Seorang qadhi seharusnya bersikap adil terhadap kedua pihak yang bersengketa dalam hal cara mereka masuk untuk menghadapinya guna mendapatkan keputusan, dalam mendengarkan, dan memperhatikan setiap dari mereka hingga argumentasinya tersampaikan, serta tidak membentak keduanya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ الْقُضَاةَ زعماء العدل والإنصات نُدِبُوا لِأَنْ يَتَنَاصَفَ بِهِمُ النَّاسُ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَكُونُوا أَنْصَفَ النَّاسِ.

Al-Mawardi berkata: Ketahuilah bahwa para qadi adalah pemimpin keadilan dan pendengar yang baik, mereka ditunjuk agar manusia dapat saling berbuat adil melalui mereka, maka sudah sepantasnya mereka menjadi orang yang paling adil di antara manusia.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فاحكم بين الناس بالحق} [الآية: 26] .

Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran.”

وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بغير هدى من الله} [قصص: 50] .

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?” (QS. Al-Qashash: 50).

وَرَوَى عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَنِ ابْتُلِيَ بِالْقَضَاءِ بَيْنَ النَّاسِ بِالْمُسْلِمِينَ فَلْيَعْدِلْ بَيْنَهُمْ فِي لَحْظِهِ، وَإِشَارَتِهِ، وَمَقْعَدِهِ، وَلَا يَرْفَعُ صَوْتَهُ عَلَى أَحَدِ الْخَصْمَيْنِ، مَا لَا يَرْفَعُ عَلَى الْآخَرِ “.

Atha’ bin Yasar meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang diuji dengan tugas mengadili di antara manusia dari kalangan kaum Muslimin, maka hendaklah ia berlaku adil di antara mereka dalam pandangannya, isyaratnya, tempat duduknya, dan janganlah ia meninggikan suaranya kepada salah satu dari kedua pihak yang berselisih, melebihi yang ia lakukan terhadap pihak yang lain.”

وَرُوِيَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي موسى الاشعري، في عهده على قضاء البصر: ” آسِ بَيْنَ النَّاسِ، فِي وَجْهِكَ، وَمَجْلِسِكَ، وَعَدْلِكَ، حَتَّى لَا يَطْمَعَ شَرِيفٌ فِي حَيْفِكَ، وَلَا ييأس ضعيف من عدلك “.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy‘ari, ketika ia diangkat sebagai qadhi di Bashrah: “Samakanlah antara manusia dalam sikap wajahmu, tempat dudukmu, dan keadilanmu, agar orang terpandang tidak berharap mendapatkan perlakuan zalim darimu, dan orang lemah tidak putus asa dari keadilanmu.”

(آداب القضاة)

(Adab para qadhi)

وللقضاءة آدَابٌ تَزِيدُ بِهَا هَيْبَتُهُمْ، وَتَقْوَى بِهَا رَهْبَتُهُمْ، وَالْهَيْبَةُ وَالرَّهْبَةُ فِي الْقُضَاةِ مِنْ قَوَاعِدِ نَظَرِهِمْ لِتَقُودَ الْخُصُومَ إِلَى التَّنَاصُفِ وَتَكُفَّهُمْ عَنِ التَّجَاحُدِ.

Para qadhi memiliki adab-adab yang dengan itu wibawa mereka bertambah, dan rasa segan terhadap mereka menjadi kuat. Wibawa dan rasa segan pada para qadhi merupakan salah satu landasan dalam pemeriksaan perkara mereka, agar dapat menuntun para pihak yang berselisih menuju sikap saling adil dan mencegah mereka dari saling mengingkari.

وَآدَابُهُمْ، بَعْدَ مَا قَدَّمْنَا مِنَ الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي صِحَّةِ وِلَايَاتِهِمْ، تَشْتَمِلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Adab-adab mereka, setelah apa yang telah kami sebutkan mengenai syarat-syarat yang dianggap sah dalam keabsahan wilayah mereka, mencakup tiga bagian:

أَحَدُهَا: آدَابُهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ: وَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِحَالِ الْقَاضِي، فَإِنْ كَانَ مَوْسُومًا بِالزُّهْدِ وَالتَّوَاضُعِ وَالْخُشُوعِ، كَانَ أَبْلَغَ فِي هَيْبَتِهِ، وَأَزْيَدَ فِي رَهْبَتِهِ.

Salah satunya: adab mereka terhadap diri mereka sendiri, yang dinilai berdasarkan keadaan seorang qāḍī. Jika ia dikenal sebagai orang yang zuhud, tawaduk, dan khusyuk, maka hal itu akan lebih menambah wibawanya dan semakin menambah rasa hormat kepadanya.

وَإِنْ كَانَ مُمَازِجًا لِأَبْنَاءِ الدُّنْيَا، تَمَيَّزَ عَنْهُمْ بِمَا يَزِيدُ فِي هَيْبَتِهِ، مِنْ لِبَاسٍ لَا يُشَارِكُهُ غَيْرُهُ فِيهِ، وَمَجْلِسٍ لَا يُسَاوِيهِ غَيْرُهُ فيه وسمت يزيد على غيره فيه.

Dan jika ia bergaul dengan para pencinta dunia, ia tetap berbeda dari mereka dengan sesuatu yang menambah wibawanya, seperti pakaian yang tidak dipakai oleh selain dirinya, tempat duduk yang tidak disamakan dengan orang lain, dan penampilan yang melebihi orang lain.

(ملبس القضاة) .

(Pakaian para qadhi).

فَأَمَّا اللِّبَاسُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْتَصَّ بِأَنْظَفِهَا مَلْبَسًا، وَيَخُصَّ يَوْمَ نَظَرِهِ بِأَفْخَرِ لِبَاسِهِ جِنْسًا، وَيَسْتَكْمِلَ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ بِلُبْسِهِ، مِنَ الْعِمَامَةِ وَالطَّيْلَسَانِ وَأَنْ يَتَمَيَّزَ بِمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ الْقُضَاةِ، مِنَ الْقَلَانِسِ وَالْعَمَائِمِ السُّودِ، وَالطَّيَالِسَةِ السُّودِ، فَقَدِ اعْتَمَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -، يَوْمَ دُخُولِ مَكَّةَ، عَامَ الْفَتْحِ، بِعِمَامَةٍ سَوْدَاءَ تَمَيَّزَ بِهَا عَنْ غَيْرِهِ وَيَكُونُ نَظِيفَ الْجَسَدِ، يَأْخُذُ شَعْرَهُ وَتَقْلِيمَ ظُفُرِهِ، وَإِزَالَةَ الرَّائِحَةِ الْمَكْرُوهَةِ مِنْ بَدَنِهِ، وَيَسْتَعْمِلُ مِنَ الطِّيبِ مَا يخْفى لَوْنُهُ، وَتَظْهَرُ رَائِحَتُهُ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي يَوْمٍ يَنْظُرُ فِيهِ بَيْنَ النِّسَاءِ، فَلَا يَسْتَعْمِلُ من الطيب ما نم.

Adapun pakaian, sebaiknya ia memilih pakaian yang paling bersih, dan mengkhususkan hari ketika ia duduk (mengadili) dengan jenis pakaian terbaiknya. Ia juga hendaknya melengkapi apa yang biasa dipakai menurut kebiasaan, seperti imamah (sorban) dan thailasan (mantel), serta membedakan diri dengan apa yang menjadi kebiasaan para qadhi, seperti qalansuwah (topi), imamah hitam, dan thailasan hitam. Rasulullah ﷺ pada hari masuk Makkah tahun Fathu Makkah mengenakan imamah hitam yang membedakannya dari yang lain. Ia juga harus menjaga kebersihan badan, merapikan rambut dan memotong kuku, menghilangkan bau tidak sedap dari tubuhnya, serta menggunakan wewangian yang warnanya tidak tampak namun baunya tercium, kecuali pada hari ketika ia mengadili perkara di antara para wanita, maka ia tidak menggunakan wewangian yang baunya menyebar.

(مجلس القاضي)

(Majelis qāḍī)

:

Tidak ada teks Arab yang diberikan untuk diterjemahkan. Mohon lampirkan teks Arab yang ingin diterjemahkan.

وأما مجلسه في الحكم فيبغي أَنْ يَكُونَ فَسِيحًا لَا يَضِيقُ بِالْخُصُومِ وَلَا يَسْرَعُ فِيهِ الْمَلَلُ وَيَفْتَرِشُ بِسَاطًا، لَا يُزْرِي، وَلَا يطْغى، وَيَخْتَصُّ فِيهِ بِمَقْعَدٍ وَوِسَادَةٍ، لَا يُشَارِكُهُ غَيْرُهُ فِيهِمَا. وَلْيَكُنْ جُلُوسُهُ فِي صَدْرِ مَجْلِسِهِ، لِيَعْرِفَهُ الدَّاخِلُ عَلَيْهِ بِبَدِيهَةِ النَّظَرِ، وَلَوْ كَانَ مُسْتَقْبِلًا فِيهِ الْقِبْلَةَ كَانَ أَفْضَلَ.

Adapun majelisnya dalam memutuskan perkara, sebaiknya luas sehingga tidak sempit bagi para pihak yang bersengketa dan tidak cepat menimbulkan rasa bosan. Ia menghamparkan permadani yang tidak terlalu sederhana dan tidak pula berlebihan, serta menyediakan tempat duduk dan bantal khusus yang tidak boleh digunakan oleh orang lain. Hendaknya ia duduk di bagian depan majelisnya agar orang yang masuk dapat langsung mengenalinya, dan jika ia menghadap kiblat di majelis itu, maka itu lebih utama.

وَيَفْتَتِحُ مَجْلِسَهُ بِرَكْعَتَيْنِ، يَدْعُو بَعْدَهُمَا بِالتَّوْفِيقِ، وَالتَّسْدِيدِ، ثُمَّ يَطْمَئِنُ فِي جُلُوسِهِ مُتَرَبِّعًا مُسْتَنِدًا أَوْ غَيْرَ مستند.

Ia memulai majelisnya dengan dua rakaat, kemudian berdoa setelahnya memohon taufik dan bimbingan, lalu duduk dengan tenang dalam posisi duduk bersila, baik bersandar maupun tidak bersandar.

(سمت القاضي) .

(Kepribadian seorang qāḍī).

وَأَمَّا سَمْتُهُ: فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ غَاضَّ الطَّرْفِ، كَثِيرَ الصَّمْتِ، قَلِيلَ الْكَلَامِ، يَقْتَصِرُ مِنْ كَلَامِهِ عَلَى سُؤَالٍ أَوْ جَوَابٍ، وَلَا يَرْفَعُ بِكَلَامِهِ صَوْتًا، إِلَّا لِزَجْرٍ وَتَأْدِيبٍ، وَلِيُقَلِّلَ الْحَرَكَةَ وَالْإِشَارَةَ، وَلَيَقِفْ مِنْ أَعْوَانِهِ بَيْنَ يَدَيْهِ مَنْ يَسْتَدْعِي الْخُصُومَ إِلَيْهِ، وَيُرَتِّبُ مَقَاعِدَ النَّاسِ فِي مَجْلِسِهِ، وَيَكُونُ مَهِيبًا مَأْمُونًا لَيَنْصَانَ به مجلسه، وتكمل به هيبته.

Adapun penampilannya: hendaknya di majelis pengadilan ia menundukkan pandangan, banyak diam, sedikit berbicara, membatasi ucapannya hanya pada pertanyaan atau jawaban, dan tidak meninggikan suara kecuali untuk menegur atau mendidik. Hendaknya ia juga mengurangi gerakan dan isyarat, dan hendaklah ada di antara para pembantunya yang berdiri di hadapannya untuk memanggil para pihak yang bersengketa kepadanya, serta mengatur tempat duduk orang-orang di majelisnya. Ia harus bersikap wibawa dan dapat dipercaya, sehingga majelisnya terjaga dan kewibawaannya sempurna.

(يوم جلوسه للحكم) .

(Hari pelantikannya untuk memegang kekuasaan).

وَيَجْعَلُ يَوْمَ جُلُوسِهِ لِلْحُكْمِ الْعَامِّ مَعْرُوفَ الزَّمَانِ، وَالْمَكَانِ، وَأَوَّلُ النَّهَارِ أَوْلَى بِهِ مِنْ آخِرِهِ.

Ia menetapkan hari duduknya untuk pemeriksaan perkara umum pada waktu dan tempat yang telah dikenal, dan permulaan hari lebih utama untuk itu daripada akhirnya.

وَالِاعْتِدَالُ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ يَوْمَانِ إِنْ أَقْنَعَا، وَلَا يَخْلُ يَوْمٌ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ.

Dan sikap pertengahan adalah ia memiliki dua hari dalam setiap pekan jika itu sudah mencukupi, dan tidak ada satu pekan pun yang kosong dari satu hari.

فَإِنْ وَرَدَتْ فِيمَا عَدَاهُ أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ لَمْ يُؤَخِّرْهَا، إِنْ ضَرَّتْ وَكَانَ فِيهَا بَيْنَ أَنْ يَسْتَخْلِفَ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ فِي النَّظَرِ، وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرَ فِيهَا بِنَفْسِهِ، بَعْدَ أَنْ يَسْتَكْمِلَ الرَّاحَةَ وَالدَّعَةَ لِئَلَّا يُسْرِعَ إِلَيْهِ مَلَلٌ وَلَا ضَجَرٌ.

Jika terdapat hukum-hukum khusus selain itu, ia tidak menundanya jika hal itu berbahaya, dan dalam hal tersebut ia boleh memilih antara menunjuk seseorang yang mewakilinya untuk menangani perkara itu, atau menanganinya sendiri setelah ia mendapatkan istirahat dan ketenangan yang cukup, agar tidak cepat merasa bosan atau jenuh.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّانِي آدَابُ الْقُضَاةِ مَعَ الشُّهُودِ: فَمِنْ آدَابِهِمْ مَعَهُمْ إِذَا تَمَيَّزُوا وَارْتَسَمُوا بِالشَّهَادَةِ، أَنْ يَكُونَ مَقْعَدُهُمْ فِي مَجْلِسِهِ مُتَمَيِّزًا عَنْ غَيْرِهِمْ بِالصِّيَانَةِ، وَلَا يُسَاوِيهِ وَاحِدٌ مِنْهُمْ فِي مَقْعَدِهِ، وَلَا فِيمَا تَخَصَّصَ بِهِ مِنْ سَوَادِهِ، وَقَلَنْسُوَتِهِ، لِيَتَمَيَّزَ لِلْخُصُومِ الْقَاضِي من شهوده.

Bagian kedua adalah adab para qadhi terhadap para saksi: Di antara adab mereka terhadap para saksi, apabila para saksi telah dibedakan dan ditetapkan untuk memberikan kesaksian, adalah tempat duduk mereka di majelis qadhi harus dibedakan dari yang lain dengan menjaga kehormatan, dan tidak seorang pun dari mereka boleh menyamai qadhi dalam tempat duduknya, maupun dalam hal-hal khusus seperti jubah hitamnya dan penutup kepalanya, agar qadhi dapat dibedakan oleh para pihak yang bersengketa dari para saksinya.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَخْتَصَّ الشُّهُودُ فِي مَلَابِسِهِمْ بِمَا يَتَمَيَّزُونَ بِهِ عَنْ غَيْرِهِمْ لِيَتَمَيَّزُوا لِمَنْ يُشْهِدُهُمْ وَيَسْتَشْهِدُهُمْ، كَمَا تَمَيَّزَ الْقَاضِي عَنْهُمْ.

Dan sebaiknya para saksi membedakan diri mereka dalam pakaian mereka dengan sesuatu yang membuat mereka berbeda dari selain mereka, agar mereka mudah dikenali oleh orang yang meminta mereka menjadi saksi dan yang menghadirkan mereka sebagai saksi, sebagaimana hakim juga membedakan diri dari mereka.

وَيُسَلِّمُوا عَلَى الْقَاضِي بِلَفْظِ الرِّيَاسَةِ عَلَيْهِمْ، وَيَرُدُّ عَلَيْهِمُ الْقَاضِي مُجِيبًا، أَوْ مُبْتَدِئًا، عَلَى تَمَاثُلٍ وَتَفَاضُلٍ.

Mereka memberi salam kepada qadhi dengan ungkapan yang menunjukkan kedudukannya sebagai pemimpin atas mereka, dan qadhi membalas salam mereka dengan menjawab atau memulai salam, baik dengan cara yang setara maupun lebih utama.

وَيُقَدِّمُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْمَجْلِسِ، وَالْخِطَابِ، بِحَسْبَ مَا يَتَمَيَّزُونَ بِهِ مِنْ عِلْمٍ أَوْ فَضْلٍ، بِخِلَافِ الْخُصُومِ، الَّذِي تَلْزَمُهُ التَّسْوِيَةُ بَيْنَ جَمِيعِهِمْ، وَإِنْ تَفَاضَلُوا.

Sebagian mereka didahulukan atas yang lain dalam majelis dan dalam berbicara, sesuai dengan keistimewaan mereka dalam ilmu atau keutamaan, berbeda dengan para pihak yang bersengketa, yang wajib diperlakukan sama di antara semuanya, meskipun mereka memiliki kelebihan satu sama lain.

فَإِنْ حَضَرُوهُ فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ، جَلَسُوا فِي مَقَاعِدِهِمُ الْمَعْرُوفَةِ فِي مَجْلِسِهِ، وَرَتَّبَهُمْ فِيهِ عَلَى اخْتِيَارِهِ، وَقَطَعَ تَنَافُسَهُمْ فِيهِ، فَإِنَّ التَّنَافُسَ مُوهِنٌ لِلْعَدَالَةِ.

Jika mereka menghadiri majelisnya bukan di majelis pengadilan, mereka duduk di tempat duduk mereka yang sudah dikenal di majelisnya, dan ia mengatur mereka di sana sesuai pilihannya, serta menghentikan persaingan di antara mereka, karena persaingan itu dapat melemahkan keadilan.

فَإِنْ تَنَافَسُوا فِي التَّقَدُّمِ فِي أَدَاءِ الشَّهَادَةِ كَانَ قَدْحًا فِي عَدَالَتِهِمْ كَالتَّمَانُعِ فِي أَدَائِهَا.

Jika mereka saling berlomba untuk mendahului dalam memberikan kesaksian, maka hal itu merupakan celaan terhadap keadilan mereka, sebagaimana halnya saling menahan diri dalam memberikan kesaksian.

وَإِنْ تَنَافَسُوا فِي التَّقَدُّمِ فِي الْجُلُوسِ لَمْ يَقْدَحْ فِي عَدَالَتِهِمْ، مَا لَمْ يَتَنَابَذُوا.

Dan jika mereka saling berlomba untuk duduk di tempat yang lebih depan, hal itu tidak merusak keadilan mereka, selama mereka tidak saling bermusuhan.

وَيَجُوزُ فِي غَيْرِ مَجْلِسِ الْحُكْمِ أَنْ يُحَادِثَهُمُ الْقَاضِي وَيُحَادِثُوهُ، وَيُؤَانِسَهُمْ وَيُؤَانِسُوهُ بِمَا لَا تَنْخَرِقُ بِهِ الْحِشْمَةُ، وَلَا تَزُولُ مَعَهُ الصِّيَانَةُ.

Dan diperbolehkan di luar majelis pengadilan bagi qadhi untuk berbincang-bincang dengan mereka dan mereka berbincang-bincang dengannya, serta saling mengakrabkan diri dengan sesuatu yang tidak merusak wibawa dan tidak menghilangkan kehormatan.

فَأَمَّا حُضُورُهُمْ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ فَعَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ مِنَ التَّحَفُّظِ وَالِانْقِبَاضِ فِيهِ أَكْثَرُ مِمَّا عَلَيْهِمْ فِي غَيْرِهِ.

Adapun kehadiran mereka di majelis hukum, maka atas mereka dan atas dirinya untuk lebih menjaga diri dan bersikap hati-hati di dalamnya dibandingkan dengan selainnya.

فَإِنْ أَحَبَّ الْقَاضِي أَنْ يُفْرِدَهُمْ عَنْ مَجْلِسِهِ، فِي مَوْضِعٍ مُعْتَزِلٍ لِيَسْتَدْعُوا مِنْهُ لِإِقَامَةِ الشَّهَادَةِ كَانَ أَوْلَى، وَكَانُوا مِنْهُ بِمَنْظَرٍ وَمَسْمَعٍ وَخُصَّ مِنْهُمْ شَاهِدَيْنِ بِمَجْلِسِهِ لِيَشْهَدَا مَا يَجْرِي مِنَ الدَّعَاوَى وَالْأَحْكَامِ.

Jika hakim ingin memisahkan mereka dari majelisnya, di suatu tempat yang terpisah agar mereka dapat dipanggil darinya untuk memberikan kesaksian, maka itu lebih utama. Mereka tetap berada dalam jangkauan pandangan dan pendengarannya, dan dari mereka ditunjuk dua orang saksi untuk hadir di majelisnya agar dapat menyaksikan apa yang terjadi dari tuntutan dan putusan.

وَإِنْ أَحْضَرَهُمْ جَمِيعًا فِي مَجْلِسِهِ جَازَ، وَكَانَتْ مَيْمَنَةُ مَجْلِسِهِ أَوْلَى بِهِمْ مِنْ مَيْسَرَتِهِ، فَإِنِ افْتَرَقُوا فِي الْمَيْمَنَةِ وَالْمَيْسَرَةِ جَازَ وَإِنْ كَانَ اجْتِمَاعُهُمْ أَوْلَى

Jika ia menghadirkan mereka semua dalam majelisnya, maka itu diperbolehkan, dan sisi kanan majelisnya lebih utama bagi mereka daripada sisi kirinya. Jika mereka berpencar di sisi kanan dan kiri, maka itu juga diperbolehkan, meskipun berkumpulnya mereka lebih utama.

وَيَكُونُ جُلُوسُ الْكَاتِبِ فِي مَجْلِسِهِ بِحَيْثُ يُوَاجِهُ الْقَاضِي، وَيُشَاهِدُ الْخُصُومَ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ سَمَاعِ كَلَامِهِ وَكَلَامِهِمْ وَجُلُوسُهُ فِي الْمَيْسَرَةِ أَوْلَى بِهِ مِنَ الْمَيْمَنَةِ، لِأَنَّ حَاجَةَ الْقَاضِي فِي الْإِقْبَالِ عَلَيْهِ أَكْثَرُ مِنْهَا مَعَ الشُّهُودِ، وَإِقْبَالُهُ عَلَى مَيْسَرَتِهِ أَسْهَلُ عَلَيْهِ مِنْ إِقْبَالِهِ عَلَى مَيْمَنَتِهِ.

Penulis duduk di majelisnya dengan posisi menghadap qadhi, dapat melihat para pihak yang bersengketa, dan dapat mendengarkan ucapan qadhi maupun ucapan mereka. Tempat duduknya di sebelah kiri qadhi lebih utama daripada di sebelah kanan, karena kebutuhan qadhi untuk menghadap kepadanya lebih besar daripada kepada para saksi, dan qadhi lebih mudah menghadap ke sebelah kirinya daripada ke sebelah kanannya.

وَيَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَكُفَّ عَنْ مُحَادَثَةِ الشُّهُودِ، وَيَكُفُّوا عَنْ مُحَادَثَتِهِ، وَيَكُونُ كَلَامُ الْقَاضِي لَهُمْ مَقْصُورًا عَلَى الْإِذْنِ فِي الشَّهَادَةِ، وَكَلَامُهُمْ لَهُ مَقْصُورًا عَلَى أَدَاءِ الشَّهَادَةِ وَيَغُضُّوا عَنْهُ أَبْصَارَهُمْ.

Seyogianya seorang qadhi menahan diri dari berbicara dengan para saksi, dan para saksi pun menahan diri dari berbicara dengannya. Ucapan qadhi kepada mereka hendaknya terbatas pada memberi izin untuk memberikan kesaksian, dan ucapan mereka kepadanya terbatas pada menyampaikan kesaksian. Mereka juga hendaknya menundukkan pandangan dari qadhi.

وَلَا يُلَقِّنُهُمْ شَهَادَةً، وَلَا يَتَعَنَّتُهُمْ فِيهَا، وَلَا يَسْأَلُهُمْ عَنْ سَبَبِ تَحَمُّلِهَا.

Dan ia tidak boleh membimbing mereka dalam mengucapkan kesaksian, tidak mempersulit mereka dalam hal itu, dan tidak menanyakan kepada mereka tentang sebab mereka memikul kesaksian tersebut.

فَإِنْ أَخْبَرُوهُ بِسَبَبِ التَّحَمُّلِ كَانَ أَوْلَى إِنْ تَعَلَّقَ بِهِ فَضْلُ بَيَانٍ وَزِيَادَةُ اسْتِظْهَار، وَكَانَ تَرْكُهُ أَوْلَى إِنْ لَمْ يفِدْ، وَلَا يَنْبَغِي لِلْقَاضِي أَنْ يَسْتَدْعِيَهُمْ لِلشَّهَادَةِ، وَلَا يَنْبَغِيَ لَهُمْ أَنْ يَبْدَأُوا بِهَا إِلَّا بَعْدَ اسْتِدْعَائِهِمْ لَهَا.

Jika mereka memberitahukan kepadanya sebab penanggungjawaban (tahammul), maka itu lebih utama jika hal tersebut berkaitan dengan keutamaan penjelasan dan menambah kekuatan hafalan; namun meninggalkannya lebih utama jika tidak memberikan manfaat. Tidak sepantasnya bagi qadhi untuk memanggil mereka guna memberikan kesaksian, dan tidak sepantasnya pula bagi mereka untuk memulai memberikan kesaksian kecuali setelah mereka dipanggil untuk itu.

وَالَّذِي يَجِبُ فِيهِ أَنْ يَسْتَأْذِنَ الْمَشْهُودُ له القاضي في إحضاء شُهُودِهِ.

Hal yang wajib dalam hal ini adalah orang yang menjadi pihak yang disaksikan untuknya harus meminta izin kepada qadhi dalam menghadirkan para saksinya.

فَإِذَا أَذِنَ لَهُ أَحْضَرَهُمْ، وَقَالَ لَهُمُ الْقَاضِي بِمَ تَشْهَدُونَ؟ عَلَى وَجْهِ الِاسْتِفْهَامِ، وَلَمْ يَقُلْ لَهُمُ اشْهَدُوا، فَيَكُونُ أَمْرًا.

Maka apabila ia telah mengizinkan mereka, ia menghadirkan mereka, lalu hakim berkata kepada mereka, “Tentang apa kalian bersaksi?” dengan bentuk pertanyaan, dan tidak berkata kepada mereka, “Bersaksilah kalian,” yang merupakan bentuk perintah.

وَيَكُونُ الْقَاضِي فِيهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ لِلشَّاهِدَيْنِ فَيَتَقَدَّمُ مَنْ شَاءَ مِنْهُمَا بِالشَّهَادَةِ، وَلَا يَحْتَاجُ الثَّانِي إِلَى إِذْنٍ بَعْدَ الْأَوَّلِ، وَبَيْنَ أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ لِأَحَدِهِمَا فَيَبْدَأُ بِالشَّهَادَةِ، وَلَا يَكُونُ لِلْآخَرِ أَنْ يَشْهَدَ إِلَّا بَعْدَ إِذْنٍ آخَرَ.

Dalam hal ini, hakim memiliki pilihan antara mengatakan hal itu kepada kedua saksi sehingga siapa saja di antara mereka yang ingin dapat lebih dahulu memberikan kesaksian, dan yang kedua tidak memerlukan izin lagi setelah yang pertama; atau mengatakan hal itu kepada salah satu dari mereka sehingga ia yang memulai memberikan kesaksian, dan yang lain tidak boleh memberikan kesaksian kecuali setelah mendapat izin lagi.

وَلَوْ بَدَأَ الْأَوَّلُ فَاسْتَوْفَى الشَّهَادَةَ، وَقَالَ الثَّانِي: أَشْهَدُ بِمِثْلِ مَا شَهِدَ بِهِ، لَمْ تَصِحَّ شَهَادَتُهُ، حَتَّى يَسْتَوْفِيَهَا لَفْظًا كَالْأَوَّلِ، لِأَنَّهُ مَوْضِعُ أداء وليس موضع حكاية.

Dan jika yang pertama memulai lalu menyampaikan kesaksian secara lengkap, kemudian yang kedua berkata: “Aku bersaksi seperti apa yang telah disaksikan olehnya,” maka kesaksiannya tidak sah, sampai ia menyampaikannya secara lengkap dengan lafaz seperti yang pertama, karena ini adalah tempat penyampaian (kesaksian), bukan tempat menceritakan.

(فصل)

(Bab)

: والقسم الثَّالِثُ آدَابُ الْقُضَاةِ مَعَ الْخُصُومِ أَنْ يَبْدَأَ بِالنَّظَرِ بَيْنَ مَنْ سَبَقَ مِنَ الْخُصُومِ، وَلَا يُقَدِّمُ مَسْبُوقًا إِلَّا بِاخْتِيَارِ السَّابِقِ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِي دُخُولِهِمَا عَلَيْهِ، وَلَا يَسْتَدْعِي أَحَدَهُمَا قَبْلَ صَاحِبِهِ، فَتَظْهَرُ بِهِ مُمَايَلَةُ الْمُتَقَدِّمِ، وَتَضْعُفُ فِيهِ نَفْسُ الْمُتَأَخِّرِ، بَلْ يُسَوِّي فِي الْمَدْخَلِ بَيْنَ الشَّرِيفِ وَالْمَشْرُوفِ، وَالْحُرِّ وَالْعَبْدِ، وَالْكَافِرِ وَالْمُسْلِمِ.

Bagian ketiga adalah adab para qadhi terhadap para pihak yang bersengketa, yaitu hendaknya ia memulai pemeriksaan perkara dari pihak yang lebih dahulu datang di antara para pihak, dan tidak mendahulukan pihak yang datang belakangan kecuali atas pilihan pihak yang lebih dahulu. Ia hendaknya mempertemukan kedua pihak secara bersamaan ketika mereka masuk menghadapnya, dan tidak memanggil salah satu dari mereka sebelum yang lainnya, agar tidak tampak adanya keberpihakan kepada pihak yang lebih dahulu dan tidak membuat pihak yang datang belakangan merasa lemah. Bahkan, ia harus menyamakan perlakuan dalam hal masuk ruangan antara yang terpandang dan yang tidak terpandang, antara orang merdeka dan budak, serta antara non-Muslim dan Muslim.

فَإِذَا دَخَلَا عَلَيْهِ سَوَّى بَيْنَهُمَا، فِي لَحْظِهِ وَلَفْظِهِ إِنْ أَقْبَلَ كَانَ إِقْبَالُهُ عَلَيْهِمَا، وَإِنْ أَعْرَضَ كَانَ إِعْرَاضُهُ عَنْهُمَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يقبل على أحدهما، ويعرض على الْآخَرِ، وَإِنْ تَكَلَّمَ كَانَ كَلَامُهُ لَهُمَا، وَإِنْ أَمْسَكَ كَانَ إِمْسَاكُهُ عَنْهُمَا، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُكَلِّمَ أَحَدَهُمَا وَيُمْسِكَ عَنِ الْآخَرِ، وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الدِّينِ وَالْحُرِّيَّةِ لِئَلَّا يَصِيرَ مُمَايَلًا لِأَحَدِهِمَا.

Maka apabila keduanya masuk menemuinya, ia harus memperlakukan keduanya secara adil, baik dalam pandangan maupun ucapannya; jika ia menghadapkan diri, maka ia menghadapkan diri kepada keduanya, dan jika ia berpaling, maka ia berpaling dari keduanya, dan tidak boleh ia menghadapkan diri kepada salah satu dari keduanya dan berpaling dari yang lain. Jika ia berbicara, maka pembicaraannya untuk keduanya, dan jika ia diam, maka diamnya juga untuk keduanya, dan tidak boleh ia berbicara kepada salah satu dari keduanya dan diam dari yang lain, meskipun keduanya berbeda dalam agama dan status kebebasan, agar ia tidak condong kepada salah satu dari keduanya.

وَلَا يَسْمَعُ الدَّعْوَى مِنْهُمَا وَهُمَا قَائِمَانِ، حَتَّى يَجْلِسَا بَيْنَ يَدَيْهِ، تِجَاهَ وَجْهِهِ، رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ: ” قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنْ يَجْلِسَ الْخَصْمَانِ بَيْنَ يَدَيِ الْقَاضِي “.

Dan tidak boleh mendengarkan gugatan dari keduanya sementara mereka berdua dalam keadaan berdiri, hingga keduanya duduk di hadapannya, menghadap wajahnya. Abdullah bin Zubair meriwayatkan bahwa ia berkata: “Rasulullah ﷺ memutuskan bahwa kedua pihak yang bersengketa harus duduk di hadapan hakim.”

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَجْلِسُ الْخُصُومِ عِنْدَ الْقَاضِي أَبْعَدَ مِنْ مَجَالِسِ غَيْرِهِمْ، لِيَتَمَيَّزَ بِهِ الْخُصُومُ مِنْ غَيْرِهِمْ.

Dan sebaiknya majelis para pihak yang bersengketa di hadapan qadhi ditempatkan lebih jauh dari majelis-majelis selain mereka, agar para pihak yang bersengketa dapat dibedakan dari selain mereka.

وَيُسَوِّي فِي الْمَجْلِسِ بَيْنَ الشَّرِيفِ وَالْمَشْرُوفِ، وَبَيْنَ الْحُرِّ وَالْعَبْدِ، كَمَا سَوَّى بَيْنَهُمَا فِي الدخول.

Dan ia menyamakan dalam majelis antara orang yang mulia dan orang biasa, serta antara orang merdeka dan hamba, sebagaimana ia telah menyamakan mereka dalam hal masuk.

وَفِي التَّسْوِيَةِ بَيْنَ الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ فِي الْمَجْلِسِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: يُسَوِّي بَيْنَهُمَا فِيهِ، كَمَا سَوَّى بَيْنَهُمَا فِي الْمَدْخَلِ وَالْكَلَامِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يُقَدِّمُ الْمُسْلِمَ فِي الْجُلُوسِ عَلَى الْكَافِرِ لِمَا رُوِيَ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اخْتَصَمَ مَعَ يَهُودِيٍّ وَجَدَ مَعَهُ دِرْعًا ضَاعَتْ مِنْهُ يَوْمَ الْجَمَلِ، إِلَى شُرَيْحٍ، فَلَمَّا دَخَلَا عَلَيْهِ، قَامَ شُرَيْحٌ عَنْ مَجْلِسِهِ، حَتَّى جَلَسَ فِيهِ عَلِيٌّ وَجَلَسَ شُرَيْحٌ وَالْيَهُودِيُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ عَلِيٌّ: لَوْلَا أَنَّ خَصْمِي ذِمِّيٌّ لَجَلَسْتُ مَعَهُ بَيْنَ يَدَيْكَ لَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” لَا تُسَاوُوهُمْ فِي الْمَجَالِسِ “.

Dalam hal penyamaan antara Muslim dan kafir dalam majelis, terdapat dua pendapat: Pertama, menyamakan keduanya di dalamnya, sebagaimana disamakan dalam hal masuk dan berbicara. Pendapat kedua, mendahulukan Muslim dalam duduk atas kafir, berdasarkan riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berselisih dengan seorang Yahudi yang bersamanya terdapat baju besi yang hilang dari Ali pada hari Jamal, lalu mereka berdua mengadukan perkara itu kepada Syuraih. Ketika keduanya masuk menemui Syuraih, Syuraih bangkit dari tempat duduknya hingga Ali duduk di sana, lalu Syuraih dan si Yahudi duduk di hadapannya. Maka Ali berkata, “Seandainya lawanku bukan seorang dzimmi, niscaya aku akan duduk bersamanya di hadapanmu. Namun aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Janganlah kalian menyamakan mereka dalam majelis-majelis.’”

وَلَوْلَا ضَعْفٌ فِي إِسْنَادِ هَذَا الْحَدِيثِ لَقُدِّمَ الْمُسْلِمُ عَلَى الذِّمِّيِّ وَجْهًا وَاحِدًا وَلِكِلَا الْوَجْهَيْنِ مَعَ ضَعْفِهِ وَجْهٌ.

Seandainya tidak ada kelemahan dalam sanad hadis ini, niscaya seorang Muslim akan didahulukan atas seorang dzimmi secara mutlak. Namun, untuk kedua pendapat tersebut, meskipun sanadnya lemah, masing-masing memiliki sisi pertimbangan.

فَإِنِ اخْتَلَفَ جُلُوسُ الْخَصْمَيْنِ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَتَقَدَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ، كَانَ الْقَاضِي بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُؤَخِّرَ الْمُتَقَدِّمَ، أَوْ يُقَدِّمَ الْمُتَأَخِّرَ.

Jika posisi duduk kedua pihak yang berselisih di hadapannya berbeda, lalu salah satu dari mereka duduk lebih maju dari yang lain, maka qāḍī memiliki pilihan antara memundurkan yang duduk lebih maju, atau memajukan yang duduk lebih mundur.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَنْظُرَ: فَإِنْ كَانَ الْمُتَقَدِّمُ قَدْ جَلَسَ فِي مَجْلِسِ الْخُصُومِ، وَتَأَخَّرَ عَنْهُ الْآخَرُ، قَدَّمَهُ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ الْمُتَأَخِّرُ قَدْ جَلَسَ فِي مَجْلِسِ الْخُصُومِ، وَتَقَدَّمَ عَلَيْهِ الْآخَرُ أَخَّرَهُ إِلَيْهِ، حَتَّى يُسَاوَيَا فِيهِ.

Yang lebih utama adalah memperhatikan: jika pihak yang datang lebih dahulu telah duduk di majelis persidangan, lalu yang lain datang belakangan, maka didahulukan kepadanya. Namun jika yang datang belakangan telah duduk di majelis persidangan, lalu yang lain datang lebih dahulu, maka diakhirkan kepadanya, hingga keduanya menjadi setara dalam hal itu.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ تَقَاضَيَا إِلَى زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ فِي مُحَاكَمَةٍ بَيْنَهُمَا، فَقَصَدَاهُ فِي دَارِهِ فَقَالَ زَيْدٌ لِعُمَرَ: لَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيَّ لَجِئْتُكَ، فَقَالَ عُمَرُ فِي بَيْتِهِ يُؤْتَى الْحَكَمُ فَأَخَذَ زَيْدٌ وِسَادَتَهُ لِيَجْلِسَ عَلَيْهَا عُمَرُ فَقَالَ عُمَرُ: هَذَا أَوَّلُ جَوْرِكَ سَوِّ بَيْنَنَا فِي الْمَجْلِسِ فَجَلَسَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَنَظَرَ بَيْنَهُمَا فَتَوَجَّهَتِ الْيَمِينُ عَلَى عُمَرَ فَقَالَ زَيْدٌ لِأُبَيٍّ: لَوْ عَفَوْتَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ عَنِ الْيَمِينِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: مَا يَدْرِي زَيْدٌ مَا الْقَضَاءُ، وَمَا عَلَى عُمَرَ أَنْ يَحْلِفَ أَنَّ هَذِهِ أَرْضٌ وَهَذِهِ سَمَاءٌ.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka‘b pernah bersengketa dan mengadukan perkara mereka kepada Zaid bin Tsabit. Mereka mendatangi rumah Zaid, lalu Zaid berkata kepada Umar, “Seandainya engkau mengutus seseorang kepadaku, niscaya aku akan datang kepadamu.” Umar menjawab, “Di rumahnya, hakimlah yang didatangi.” Kemudian Zaid mengambil bantalnya agar Umar duduk di atasnya, namun Umar berkata, “Inilah ketidakadilan pertamamu, samakanlah kedudukan kami dalam majelis.” Maka keduanya duduk di hadapan Zaid, dan Zaid memutuskan perkara di antara mereka. Ternyata sumpah diarahkan kepada Umar, lalu Zaid berkata kepada Ubay, “Bagaimana jika engkau memaafkan Amirul Mukminin dari sumpah?” Umar pun berkata, “Zaid tidak tahu apa itu qadhā’, dan tidak ada masalah bagi Umar untuk bersumpah bahwa ini adalah bumi dan ini adalah langit.”

وَمِنْ عَادَةِ جُلُوسِ الْخُصُومِ، أَنْ يَجْلِسُوا فِي التَّحَاكُمِ بُرُوكًا عَلَى الرُّكَبِ، لِأَنَّهُ عَادَةُ الْعَرَبِ فِي التَّنَازُعِ، وَعُرْفُ الْحُكَّامِ فِي الْأَحْكَامِ.

Dan di antara kebiasaan duduk para pihak yang bersengketa adalah mereka duduk dalam persidangan dengan posisi berlutut di atas lutut, karena itu merupakan kebiasaan orang Arab dalam perselisihan, dan juga merupakan tradisi para hakim dalam menetapkan hukum.

فَإِنْ كَانَ التَّخَاصُمُ بَيْنَ النِّسَاءِ، جلس مُتَرَبِّعَاتٍ، بِخِلَافِ الرِّجَالِ، لِأَنَّهُ أَسْتَرُ لَهُنَّ.

Jika perselisihan terjadi di antara para wanita, mereka duduk dengan posisi bersila, berbeda dengan laki-laki, karena hal itu lebih menjaga kehormatan mereka.

وَإِنْ كَانَ بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ، بَرَكَ الرَّجُلُ وَتَرَبَّعَتِ الْمَرْأَةُ، لِأَنَّهُ عُرْفٌ لِجِنْسِهَا فَلَمْ يَصِرْ تَفْضِيلًا لها.

Dan jika (duduk bersama) antara laki-laki dan perempuan, maka laki-laki duduk bersila dan perempuan duduk dengan posisi bertumpu pada kedua lututnya, karena itu merupakan kebiasaan bagi jenisnya sehingga tidak dianggap sebagai bentuk keutamaan baginya.

وَالْأَوْلَى بِالْقَاضِي أَنْ لَا يُشْرِكَ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فِي مَجْلِسِ النَّظَرِ، وَيَجْعَلَ لِلنِّسَاءِ وَقْتًا، وَلِلرِّجَالِ وَقْتًا.

Yang lebih utama bagi qāḍī adalah tidak mencampurkan laki-laki dan perempuan dalam majelis pemeriksaan perkara, serta menetapkan waktu khusus untuk perempuan dan waktu khusus untuk laki-laki.

وَلَا يَحْضُرُ تَخَاصُمَ النِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ مَنْ يسْتَغْنى عَنْ حُضُورِهِ.

Dan tidak boleh menghadiri perselisihan di antara para perempuan dari kalangan laki-laki siapa pun yang tidak diperlukan kehadirannya.

وَقَدِ اخْتِيرَ لِلْحَاكِمِ عِنْدَ تَحَاكُمِ النِّسَاءِ أَنْ يَكُونَ الْوَاقِفُ بَيْنَ يَدَيْهِ لِتَرْتِيبِ الْخُصُومِ خَصِيًّا.

Telah dipilih bagi hakim, ketika para perempuan bersengketa di hadapannya, agar orang yang berdiri di depannya untuk mengatur para pihak yang berselisih adalah seorang kasim.

وَإِنْ كَانَ التَّحَاكُمُ بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ، فَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَنْظُرَ بَيْنَهُمَا عِنْدَ تَحَاكُمِ الرِّجَالِ، لِأَجْلِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يَنْظُرُ بَيْنَهُمَا، عِنْدَ تَحَاكُمِ النِّسَاءِ لِأَجْلِ الرَّجُلِ، وَيَجْعَلُ لَهُمَا وَقْتًا غَيْرَ هَذَيْنِ.

Jika perselisihan terjadi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka yang lebih utama adalah tidak memutuskan perkara di antara keduanya pada waktu persidangan laki-laki, demi menjaga kehormatan perempuan; dan tidak pula memutuskan perkara di antara keduanya pada waktu persidangan perempuan, demi menjaga kehormatan laki-laki. Hendaknya ditetapkan waktu khusus bagi keduanya selain kedua waktu tersebut.

وَإِذَا جَلَسَ الْخَصْمَانِ تَقَارَبَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَحَدُهُمَا رجلا والآخر امرأة ليست بذات محرم فيتباعدا ولا يتلاقصا وَأَبْعَدُ مَا يَكُونُ مِنْ بَيْنِ الْخَصْمَيْنِ، أَنْ يَسْمَعَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا كَلَامَ صَاحِبِهِ.

Apabila kedua pihak yang bersengketa duduk, maka keduanya saling mendekat, kecuali jika salah satunya laki-laki dan yang lainnya perempuan yang bukan mahram, maka keduanya saling menjauh dan tidak saling mendekat. Jarak terjauh antara kedua pihak yang bersengketa adalah sejauh masing-masing masih dapat mendengar ucapan lawannya.

وَعَلَى الْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَ كَلَامَ الْخَصْمَيْنِ مِنْ غَيْرِ ضَجَرٍ، وَلَا انْتِهَارٍ، لِأَنَّ ضَجَرَهُ عَلَيْهِمَا مُسْقِطٌ لِمَا عَلَيْهِ مِنْ حَقِّهِمَا، وَانْتِهَارَهُ لَهُمَا مُضْعِفٌ لِنُفُوسِهِمَا، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مِنْهُمَا لَغَطٌ فَيَنْتَهِرُهُمَا، أَوْ يَنْتَهِرُ اللَّاغِطَ مِنْهُمَا.

Hakim harus mendengarkan perkataan kedua pihak yang berselisih tanpa rasa jengkel dan tanpa membentak, karena kejengkelannya terhadap mereka berdua dapat menggugurkan hak mereka yang menjadi tanggungannya, dan membentak mereka dapat melemahkan jiwa mereka. Kecuali jika dari keduanya muncul kegaduhan, maka ia boleh membentak mereka, atau membentak pihak yang membuat gaduh di antara mereka.

فَإِنْ أَمْسَكَا عَنِ الْكَلَامِ بَعْدَ جُلُوسِهِمَا، قَالَ الْقَاضِي: يَتَكَلَّمُ مَنْ شَاءَ مِنْكُمَا، وَالْأَوْلَى أَنْ يَقُولَهُ الْقَائِمُ بَيْنَ يَدَيْهِ؛ لِأَنَّهُ أَحْفَظُ لِحِشْمَتِهِ.

Jika keduanya diam setelah duduk, maka qadhi berkata: “Silakan siapa saja di antara kalian yang ingin berbicara.” Namun yang lebih utama adalah yang berdiri di hadapannya yang memulai berbicara, karena hal itu lebih menjaga kehormatannya.

فَإِنْ تَنَازَعَا فِي الْكَلَامِ كَفَّهُمَا عَنِ التَّنَازُعِ، حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى الْمُبْتَدِئِ مِنْهُمَا.

Jika keduanya berselisih dalam pembicaraan, maka ia menahan mereka dari perselisihan hingga mereka sepakat mengenai siapa yang memulai di antara mereka.

فَإِنْ أَقَامَا عَلَى التَّنَازُعِ وَيَبْتَدِئُ بِالْكَلَامِ مِنْ قَرْعٍ.

Jika keduanya tetap bersikeras dalam perselisihan, maka dimulai dengan berbicara berdasarkan undian.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَصْرِفُهُمَا حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى الْمُبْتَدِئِ.

Pendapat kedua: mengarahkan keduanya hingga keduanya sepakat mengenai orang yang memulai.

(لَا يَتَعَنَّتُ الْقَاضِي شَاهِدًا) .

Hakim tidak boleh mempersulit seorang saksi.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا يَتَعَنَّتُ شَاهِدًا “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak boleh mempersulit seorang saksi.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، وَعَنَتُ الشَّاهِدِ قَدْ يَكُونُ مِنَ الْقَاضِي مِنْ أَحَدِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, dan kesulitan yang dialami saksi bisa saja berasal dari hakim dalam salah satu dari tiga bentuk berikut:

أَحَدُهَا: إِظْهَارُ التَّنَكُّرِ عَلَيْهِ، والاسترابة به، وهو طاهر الستر، مَوْفُورُ الْعَقْلِ.

Salah satunya adalah menampakkan sikap tidak suka kepadanya dan mencurigainya, padahal ia dikenal baik dan sehat akalnya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَسْأَلَهُ مِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ مَا شَهِدْتَ وَكَيْفَ تَحَمَّلْتَ وَلَعَلَّكَ سَهَوْتَ.

Kedua: hendaknya ia menanyakan kepadanya, “Dari mana engkau mengetahui apa yang engkau persaksikan, dan bagaimana engkau menerima (kesaksian itu), dan barangkali engkau telah lupa.”

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَتَتَبَّعَهُ فِي أَلْفَاظِهِ، وَيُعَارِضَهُ إِلَى مَا جَرَى مَجْرَى مَا ذَكَرْنَا، لِأَنَّ عَنَتَ الشَّاهِدِ قَدْحٌ فِيهِ، وَمَيْلٌ عَلَى الْمَشْهُودِ لَهُ، وَمُفْضٍ إِلَى تَرْكِ الشَّهَادَةِ عِنْدَهُ.

Ketiga: yaitu dengan meneliti ucapannya secara rinci, dan membandingkannya dengan hal-hal yang serupa dengan yang telah kami sebutkan, karena tekanan yang dialami saksi merupakan cacat baginya, menunjukkan keberpihakan kepada pihak yang disaksikan, dan dapat menyebabkan ia meninggalkan kesaksiannya.

وَهَكَذَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَضْجَرَ عَلَى الشَّاهِدِ وَلَا يَنْتَهِرَهُ؛ لِأَنَّ الضَّجَرَ وَالِانْتِهَارَ عَنَتٌ.

Demikian pula, tidak boleh bersikap kesal terhadap saksi dan tidak boleh membentaknya; karena rasa kesal dan membentak merupakan bentuk kesulitan.

( [لَا يُلَقِّنُ الْقَاضِي أَحَدَ الْخَصْمَيْنِ حُجَّةً] ) .

Hakim tidak boleh membisikkan atau mengajarkan salah satu pihak yang bersengketa suatu argumen.

(مَسْأَلَةٌ)

(Mas’alah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” ولا ينبغي أي يُلَقِّنَ وَاحِدًا مِنْهُمَا حُجَّةً “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak sepantasnya seseorang membisikkan salah satu dari keduanya suatu hujjah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يَعْنِي مِنَ الْخَصْمَيْنِ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ بِالتَّلْقِينِ مُمَايِلًا لَهُ وَبَاعِثًا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِمَا لَعَلَّهُ لَيْسَ لَهُ.

Al-Mawardi berkata: Maksudnya adalah dari kedua pihak yang bersengketa, karena dengan membisikkan (jawaban) ia menjadi condong kepadanya dan mendorong untuk berargumentasi dengan sesuatu yang mungkin sebenarnya bukan miliknya.

فَأَمَّا إِنْ قَصَّرَ الْمُدَّعِي فِي الدَّعْوَى وَلَمْ يستوفها، سأله عما قصر فيه، ليتحقق به الدعوى.

Adapun jika penggugat kurang lengkap dalam gugatan dan belum menyempurnakannya, maka hakim menanyakannya tentang kekurangan tersebut agar gugatan menjadi jelas.

فإنه لَقَّنَهُ تَحْقِيقَ الدَّعْوَى، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ، فَجَوَّزَهُ بَعْضُهُمْ لِأَنَّهُ تَوْفِيقٌ لِتَحْقِيقِ الدَّعْوَى، وَلَيْسَ بِتَلْقِينٍ لِلْحُجَّةِ. وَمَنَعَ مِنْهُ آخَرُونَ، لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُعِينًا لَهُ عَلَى خَصْمِهِ. وَقَالَ لَهُ: إِنْ حَقَّقْتَ دَعْوَاكَ سَمِعْتُهَا، وَإِلَّا صَرَفْتُكَ حَتَّى يَتَحَقَّقَ لَكَ.

Jika ia membimbingnya untuk menguatkan gugatan, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka membolehkannya karena itu merupakan bantuan untuk menguatkan gugatan, dan bukan membimbing dalam hal argumentasi. Namun, sebagian lain melarangnya karena dianggap menjadi penolong baginya terhadap lawannya. Dan ia berkata kepadanya: “Jika engkau menguatkan gugatannya, aku akan mendengarnya, jika tidak, aku akan memalingkanmu hingga engkau dapat menguatkannya.”

فَإِنْ قَالَ لَهُ اسْتَعِنْ بِمَنْ يَنُوبُ عَنْكَ فَإِنْ أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ فِي الِاحْتِجَاجِ عَنْهُ لَمْ يَجُزْ، وَإِنْ أَشَارَ بِهِ إِلَى الِاسْتِعَانَةِ فِي تَحْقِيقِ الدَّعْوَى جَازَ وَلَا يُعَيِّنُ لَهُ عَلَى مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ.

Jika ia berkata kepadanya, “Mintalah bantuan kepada seseorang yang dapat mewakilimu,” maka jika yang dimaksudkan adalah meminta bantuan dalam membela argumen atas namanya, hal itu tidak diperbolehkan. Namun jika yang dimaksudkan adalah meminta bantuan dalam membuktikan gugatan, maka hal itu diperbolehkan, dan ia tidak menentukan kepada siapa ia boleh meminta bantuan.

( [لَا يُلَقِّنُ الْقَاضِي أَحَدَ الشَّاهِدَيْنِ شَهَادَةً] ) .

Hakim tidak boleh membimbing salah satu dari dua saksi dalam memberikan kesaksian.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي رضي الله عنه: ” وَلَا شَاهِدًا شَهَادَةً “.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan tidak (boleh) dua saksi memberikan satu kesaksian.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يَعْنِي أَنَّهُ لَا يُلَقِّنُ الشَّاهِدَ مَا يَشْهَدُ بِهِ، لِأَمْرَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Maksudnya adalah bahwa ia tidak membisikkan kepada saksi apa yang harus disaksikannya, karena dua hal:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَصِيرُ بِتَلْقِينِهِ مَائِلًا مَعَ الْمَشْهُودِ لَهُ.

Salah satunya adalah bahwa dengan talqin yang diberikan kepadanya, ia menjadi condong kepada orang yang sedang disaksikan baginya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ رُبَّمَا لَقَّنَهُ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ.

Yang kedua: bisa jadi ia mengajarkan kepadanya sesuatu yang sebenarnya tidak ia miliki.

فَإِنْ لَقَّنَهُ صِفَةَ لَفْظِ الْأَدَاءِ، وَلَمْ يُلَقِّنْهُ مَا يَشْهَدُ بِهِ فِي الْأَدَاءِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهِ، كَمَا اخْتَلَفُوا فِي تَلْقِينِ الْخَصْمِ تَحْقِيقِ الدَّعْوَى، فَجَوَّزَهُ بَعْضُهُمْ، لِأَنَّهُ تَوْقِيفٌ، وَلَيْسَ بِتَلْقِينٍ، وَقَدْ أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ. وَمَنَعَ مِنْهُ آخَرُونَ لِمَا فِيهِ مِنَ الْمُمَايَلَةِ، وَيَقُولُ لَهُ إِنْ بَيَّنْتَ مَا تَصِحُّ بِهِ شَهَادَتُكَ سَمِعْتُهَا.

Jika seseorang membimbingnya tentang tata cara pengucapan dalam penyampaian (kesaksian), namun tidak membimbingnya tentang apa yang harus ia saksikan dalam penyampaian tersebut, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini, sebagaimana mereka juga berbeda pendapat dalam membimbing pihak lawan untuk memperjelas gugatan. Sebagian mereka membolehkannya, karena hal itu merupakan penjelasan (tawqīf) dan bukan pembimbingan (talqīn), dan hal ini telah disinggung oleh Imam Syafi‘i. Namun, sebagian lain melarangnya karena di dalamnya terdapat kecenderungan (memihak), dan ia cukup mengatakan kepadanya: “Jika engkau menjelaskan apa yang dapat membuat kesaksianmu sah, aku akan mendengarkannya.”

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَبْعَثَ الشَّاهِدَ عَلَى الشَّهَادَةِ إِذَا تَوَقَّفَ عَنْهَا وَلَا يَبْعَثُهُ عَلَى التَّوَقُّفِ عَنْهَا إِذَا بَادَرَ إِلَيْهَا إِلَّا فِي الْحُدُودِ الَّتِي تُدْرَأُ بِالشُّبَهَاتِ فَيَجُوزُ أَنْ يَعْرِضَ لَهُ بِالتَّوَقُّفِ عَنْهَا، كَمَا فَعَلَهُ عُمَرُ فِي الشُّهُودِ عَلَى الْمُغِيرَةِ بِالزِّنَا حَتَّى تَوَقَّفَ زِيَادٌ فَدَرَأَ بِهِ الْحَدَّ عَنِ الْمُغِيرَةِ.

Tidak boleh menganjurkan saksi untuk memberikan kesaksian jika ia ragu-ragu, dan tidak boleh pula menganjurkannya untuk menahan diri dari kesaksian jika ia segera bersaksi, kecuali dalam perkara hudud yang dapat digugurkan dengan adanya syubhat. Dalam hal ini, diperbolehkan untuk menyarankan agar ia menahan diri dari kesaksian, sebagaimana yang dilakukan Umar terhadap para saksi atas perbuatan zina yang dituduhkan kepada al-Mughirah, hingga Ziyad menahan diri dari bersaksi, sehingga dengan itu hudud tidak dijatuhkan kepada al-Mughirah.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا بَأْسَ إِذَا جَلَسَ أَنْ يَقُولَ تَكَلَّمَا أَوْ يَسْكُتَ حَتَّى يَبْتَدِئَ أَحَدُهُمَا “.

Syafi‘i berkata: “Tidak mengapa jika setelah duduk ia mengatakan, ‘Bicaralah kalian berdua,’ atau ia diam hingga salah satu dari keduanya memulai.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَالْأَوْلَى فِي أَدَبِ الْخَصْمَيْنِ إِذَا جَلَسَا لِلتَّحَاكُمِ أَنْ يَسْتَأْذِنَا الْقَاضِيَ فِي الْكَلَامِ لِيَتَكَلَّمَا بَعْدَ إِذْنِهِ.

Al-Mawardi berkata: Yang lebih utama dalam adab kedua pihak yang bersengketa ketika duduk untuk berhukum adalah hendaknya mereka meminta izin kepada qadhi untuk berbicara, agar mereka berbicara setelah mendapat izinnya.

فَإِنْ بُدِئَ بِالْكَلَامِ مِنْ غَيْرِ إِذْنِهِ، جَازَ، وَإِنْ خَالَفَ فِيهِ أَدَّبَهُ.

Jika pembicaraan dimulai tanpa izinnya, maka hal itu diperbolehkan, namun jika ia menentangnya dalam hal tersebut, maka ia boleh memberinya sanksi (ta’dib).

فَإِنْ سَكَتَ الْخَصْمَانِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ وَاحِدٌ مِنْهما بَعْدَ جُلُوسِهِمَا فَإِنْ كَانَ السُّكُوتُ لِلتَّأَهُّبِ لِلْكَلَامِ أَمْسَكَ عَنْهُمَا، حَتَّى يَتَحَرَّرَ لِلْمُتَكَلِّمِ مَا يَذْكُرُهُ.

Jika kedua pihak diam dan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara setelah mereka duduk, maka jika diam itu untuk bersiap-siap berbicara, hakim menahan diri dari mereka berdua, hingga pihak yang akan berbicara benar-benar siap dengan apa yang akan disampaikannya.

وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ سُكُوتُهُمَا لِهَيْبَةٍ حَضَرَتْهُمَا عَنِ الْكَلَامِ تَوَقَّفَ حَتَّى تَسْكُنَ نُفُوسُهُمَا فَيَتَكَلَّمَانِ.

Demikian pula, jika diamnya kedua orang itu disebabkan oleh rasa segan yang membuat mereka tidak berbicara, maka hendaknya ditunggu sampai jiwa mereka tenang, lalu keduanya berbicara.

وَإِنْ أَمْسَكَا لِغَيْرِ سَبَبٍ، لَمْ يَتْرُكْهُمَا عَلَى تَطَاوُلِ الْإِمْسَاكِ، فَيَنْقَطِعُ بهما عن غيرهما من الخصوم وقال لهم: مَا خَطْبُكُمَا؟ وَهُوَ أَحَدُ الْأَلْفَاظِ فِي اسْتِدْعَاءِ كَلَامِهِمَا؛ لِأَنَّهُ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى مَحْكِيٌّ من نبيه مولى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِنْ عَدَلَ عَنْهُ، وَقَالَ: تَكَلَّمَا، أَوْ يَتَكَلَّمُ الْمُدَّعِي مِنْكُمْ، أَوْ يَتَكَلَّمُ أَحَدُكُمَا، جَازَ.

Jika keduanya diam tanpa alasan, maka hakim tidak membiarkan mereka berdua terus-menerus diam, sehingga ia terputus dari pihak-pihak lain yang bersengketa. Lalu hakim berkata kepada mereka: “Ada apa dengan kalian berdua?” Ini adalah salah satu ungkapan untuk meminta mereka berbicara, karena ungkapan ini disebutkan dalam Kitab Allah Ta‘ala dari Nabi-Nya, semoga salam tercurah kepadanya. Jika hakim berpaling dari ungkapan itu dan berkata: “Bicaralah kalian berdua,” atau “Silakan yang menjadi penggugat di antara kalian berbicara,” atau “Silakan salah satu dari kalian berbicara,” maka hal itu diperbolehkan.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَقُولَ ذَلِكَ الْعَوْنُ الْقَائِمُ عَلَى رَأْسِهِ، أَوْ بَيْنَ يَدَيْهِ.

Yang lebih utama adalah agar ucapan itu diucapkan oleh pembantu yang berdiri di atas kepalanya, atau di hadapannya.

فَإِنْ تَنَازَعَا فِي الِابْتِدَاءِ بِالْكَلَامِ، وَلَمْ يَسْبِقْ بِهِ أَحَدُهُمَا، فَقَدْ ذَكَرْنَا فِيهِ وَجْهَيْنِ:

Jika keduanya berselisih tentang siapa yang memulai berbicara, dan belum ada salah satu dari mereka yang mendahului, maka telah kami sebutkan dalam hal ini dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُقْرَعُ بَيْنَهُمَا، وَيُقَدَّمُ مَنْ قُرِعَ مِنْهُمَا.

Salah satunya: diundi di antara keduanya, dan didahulukan siapa yang keluar undiannya di antara mereka.

وَالثَّانِي: يَصْرِفُهُمَا، حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى ابْتِدَاءِ أَحَدِهِمَا.

Yang kedua: ia memalingkan keduanya, hingga keduanya sepakat untuk memulai salah satunya.

( [مَنْ يَبْدَأُ بِالْكَلَامِ من الخصمين] ) .

(Siapa yang memulai pembicaraan dari kedua pihak yang berselisih.)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَنْبَغِي أَنْ يَبْتَدِئَ الطَّالِبُ فَإِذَا أَنْفَذَ حُجَّتَهُ تَكَلَّمَ الْمَطْلُوبُ “.

Syafi‘i berkata: “Seyogianya pihak yang menuntut memulai terlebih dahulu, kemudian apabila ia telah menyampaikan hujjahnya, barulah pihak yang dituntut berbicara.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا إِنِ اتَّفَقَا عَلَى الطَّالِبِ مِنْهُمَا وَالْمَطْلُوبِ، فَالْمُبْتَدِئُ بِالْكَلَامِ مِنْهُمَا هُوَ الطَّالِبُ قَبْلَ الْمَطْلُوبِ؛ لِأَنَّ كَلَامَ الطَّالِبِ سُؤَالٌ، وَكَلَامَ الْمَطْلُوبِ جَوَابٌ.

Al-Mawardi berkata: Adapun jika keduanya telah sepakat mengenai siapa yang menjadi penuntut di antara mereka dan siapa yang dituntut, maka yang memulai pembicaraan di antara mereka adalah penuntut sebelum yang dituntut; karena ucapan penuntut adalah pertanyaan, sedangkan ucapan yang dituntut adalah jawaban.

فَإِنْ تَنَازَعَا فِي الطَّالِبِ وَالْمَطْلُوبِ مِنْهُمَا فَقَالَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا: أَنَا طَالِبٌ وَأَنْتَ مَطْلُوبٌ، نُظِرَ: فَإِنْ سَبَقَ أَحَدُهُمَا فَهُوَ الطَّالِبُ، وَصَاحِبُهُ هُوَ الْمَطْلُوبُ وَإِنْ قَالَا مَعًا، وَلَمْ يَسْبِقْ بِهِ أَحَدُهُمَا، فَفِيهِ مَا قَدَّمْنَاهُ مِنَ الْوَجْهَيْنِ:

Jika keduanya berselisih tentang siapa yang menuntut dan siapa yang dituntut di antara mereka, lalu masing-masing dari mereka berkata: “Aku yang menuntut dan engkau yang dituntut,” maka diperhatikan: jika salah satu dari mereka lebih dahulu (mengajukan tuntutan), maka dialah yang dianggap sebagai penuntut dan temannya sebagai yang dituntut. Namun jika keduanya mengatakannya secara bersamaan dan tidak ada salah satu yang lebih dahulu, maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

أَحَدُهُمَا: الْإِقْرَاعُ بَيْنَهُمَا.

Salah satunya adalah melakukan undian di antara keduanya.

وَالثَّانِي: صَرْفُهُمَا حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى الطَّالِبِ مِنْهُمَا.

Yang kedua: mengembalikan keduanya hingga keduanya sepakat atas pihak yang menuntut dari mereka berdua.

فَإِذَا صَارَ أَحَدُهُمَا طَالِبًا وَالْآخَرُ مَطْلُوبًا، بَدَأَ الطَّالِبُ بِدَعْوَاهُ فَإِنْ عَارَضَهُ الْمَطْلُوبُ فِي الْكَلَامِ، قَبْلَ اسْتِيفَاءِ الدَّعْوَى، مَنَعَهُ الْقَاضِي مِنْ مُعَارَضَتِهِ، حَتَّى يَسْتَوْفِيَهَا.

Apabila salah satu dari keduanya menjadi pihak yang menuntut dan yang lainnya menjadi pihak yang dituntut, maka pihak penuntut memulai dengan menyampaikan gugatan. Jika pihak yang dituntut menyela pembicaraan sebelum gugatan selesai disampaikan, hakim melarangnya untuk menyela hingga gugatan tersebut selesai disampaikan.

فَلَوْ أَنَّ الطَّالِبَ كَتَبَ دَعْوَاهُ فِي رُقْعَةٍ ثُمَّ دَفَعَهَا إِلَى الْقَاضِي وَقَالَ قَدْ أَثْبَتُّ دَعْوَايَ فِي هَذِهِ الرُّقْعَةِ، وَأَنَا مُطَالَبٌ لَهُ بِمَا فِيهَا، فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيهِ، عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika seorang penggugat menuliskan gugatan pada selembar kertas, lalu menyerahkannya kepada qādī dan berkata, “Aku telah menetapkan gugatanku dalam lembaran ini, dan aku menuntutnya atas apa yang tercantum di dalamnya,” maka para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا يَقْبَلُ الْقَاضِي هَذَا مِنْهُ حَتَّى يَذْكُرَهُ نُطْقًا بِلِسَانِهِ، أَوْ يُوَكِّلَ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ، وَهُوَ قَوْلُ شُرَيْحٍ، لِأَنَّ الطَّلَبَ يَكُونُ بِاللِّسَانِ، دُونَ الْخَطِّ.

Salah satu pendapat adalah bahwa hakim tidak menerima hal ini darinya sampai ia mengucapkannya secara lisan, atau ia mewakilkan kepada seseorang yang bertindak atas namanya. Ini adalah pendapat Syuraih, karena permintaan itu dilakukan dengan lisan, bukan dengan tulisan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّ الْقَاضِيَ وَإِنْ لَمْ يُجِبْ عَلَيْهِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهَا عَلَى الطَّالِبِ وَيَقُولَ لَهُ: أَهَكَذَا تَقُولُ أَوْ تَدَّعِي؟

Pendapat kedua: Bahwa meskipun hakim tidak wajib menjawabnya, ia tetap harus membacakannya kepada pihak yang mengajukan permohonan dan berkata kepadanya: “Apakah seperti ini yang kamu katakan atau yang kamu klaim?”

فَإِذَا قَالَ: نَعَمْ، سَأَلَ الْمَطْلُوبَ عَنِ الْجَوَابِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْأَلَهُ قَبْلَ قِرَاءَتِهَا عَلَى الطَّالِبِ وَاعْتِرَافِهِ بِمَا تَضَمَّنَهَا.

Maka jika ia menjawab: “Ya”, maka hakim menanyakan jawaban kepada pihak yang diminta. Tidak boleh hakim menanyakannya sebelum membacakan gugatan tersebut kepada pihak penggugat dan penggugat mengakui apa yang terkandung di dalamnya.

فَإِنْ فَعَلَ الْمَطْلُوبُ فِي جَوَابِ الدَّعْوَى مِثْلَ ذَلِكَ وَكَتَبَ جَوَابَهُ فِي رُقْعَةٍ وَدَفْعَهَا إِلَى الْحَاكِمِ، فَقَالَ: هَذَا جَوَابِي عَنِ الدَّعْوَى، كَانَا فِي الْقَبُولِ وَالِامْتِنَاعِ عَلَى سَوَاءٍ إِنْ جَوَّزْنَاهُ فِي الطَّالِبِ.

Jika pihak yang diminta (tergugat) dalam menjawab gugatan melakukan hal yang serupa, yaitu menuliskan jawabannya pada secarik kertas dan menyerahkannya kepada hakim, lalu berkata: “Ini adalah jawabanku atas gugatan tersebut,” maka keduanya (penggugat dan tergugat) dalam hal diterima atau ditolaknya (jawaban tertulis itu) adalah sama, jika kita membolehkannya pada pihak penggugat.

فَإِنْ قَدَّمَ الْمَطْلُوبُ الْإِقْرَارَ قَبْلَ اسْتِيفَاءِ الدَّعْوَى، لَزِمَهُ الْإِقْرَارُ، وَسَقَطَ جَوَابُهُ عَنِ الدَّعْوَى إِذَا وَافَقَتْ إِقْرَارَهُ.

Jika pihak yang dituntut mengajukan pengakuan sebelum selesainya proses gugatan, maka pengakuan tersebut menjadi wajib baginya, dan jawabannya terhadap gugatan menjadi gugur apabila pengakuannya sesuai dengan gugatan tersebut.

وَإِنْ قَدَّمَ الْإِنْكَارَ لَمْ يُقْنِعْ فِي الْجَوَابِ وَطُولِبَ بِهِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الدَّعْوَى؛ لِأَنَّ الْإِقْرَارَ الْتِزَامٌ، فجَازَ تَقْدِيمُهُ، وَالْإِنْكَارُ إِسْقَاطٌ فَلَمْ يَجُزْ تَقْدِيمُهُ، فَإِنْ أَنْكَرَ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الدَّعْوَى، فَقَدِ اخْتَلَفَ فِيمَا يَخْتَارُ أَنْ يَقُولَهُ الْقَاضِي لِلطَّالِبِ.

Jika terdakwa mendahulukan pengingkaran, maka itu tidak cukup sebagai jawaban dan ia akan diminta untuk menjawab setelah gugatan disampaikan secara lengkap; karena pengakuan adalah suatu bentuk komitmen, sehingga boleh didahulukan, sedangkan pengingkaran adalah penolakan sehingga tidak boleh didahulukan. Jika terdakwa mengingkari setelah gugatan disampaikan secara lengkap, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang sebaiknya dikatakan oleh hakim kepada penggugat.

فَاخْتَارَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا أَنْ يَقُولَ لَهُ الْقَاضِي: قَدْ أَنْكَرَكَ مَا ادَّعَيْتَهُ عَلَيْهِ فَمَاذَا تُرِيدُ؟ .

Maka sebagian ulama kami memilih agar qādī (hakim) berkata kepadanya: “Ia telah mengingkari apa yang engkau dakwakan terhadapnya, lalu apa yang engkau inginkan?”

وَقَالَ آخَرُونَ مِنْهُمُ: الِاخْتِيَارُ أَنْ يَقُولَ قَدْ أَنْكَرَكَ مَا ادَّعَيْتَ، فَهَلْ مِنْ بَيِّنَةٍ؟ وَهُوَ الْأَشْبَهُ. لِرِوَايَةِ وَائِلِ بْنِ حَجَرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ حَضْرَمَوْتَ حَاكَمَ رَجُلًا مِنْ كِنْدَةَ، إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – في أرض فقال الحضرمي: أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟ قَالَ: لَا. فَقَالَ: فَيَمِينُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ فَاجِرٌ، لَيْسَ يُبَالِي مَا حَلَفَ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَيْسَ لَكَ إِلَّا ذَاكَ.

Dan sebagian lain dari mereka berkata: Pilihan yang tepat adalah dengan mengatakan, “Ia telah mengingkari apa yang kamu klaim, maka adakah bukti?” Dan inilah yang lebih mendekati. Berdasarkan riwayat Wā’il bin Hujr bahwa seorang laki-laki dari Hadhramaut bersengketa dengan seorang laki-laki dari Kindah di hadapan Rasulullah ﷺ mengenai sebidang tanah. Maka orang Hadhramaut berkata, “Apakah kamu memiliki bukti?” Ia menjawab, “Tidak.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, sumpahnya.” Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia adalah orang fajir, dia tidak peduli apa yang ia bersumpah atasnya, dan dia tidak menjaga diri dari apa pun.” Maka beliau bersabda, “Kamu tidak memiliki hak kecuali itu.”

( [لَا يُضِيفُ القاضي الخصم دون صاحبه] )

(Hakim tidak boleh memperlakukan salah satu pihak secara khusus tanpa memperlakukan pihak lainnya.)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُضِيفَ الْخَصْمَ دُونَ خَصْمِهِ “.

Imam Syafi‘i berkata: “Dan tidak sepantasnya seorang pihak dalam perkara menambahkan sesuatu tanpa pihak lawannya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذَا صَحِيحٌ، إِذَا أَمْسَى الْخَصْمَانِ عِنْدَ الْقَاضِي، أَوْ كَانَا غَرِيبَيْنِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُضِيفَ أَحَدُهُمَا دُونَ الْآخَرِ، لِمَا فِيهِ مِنْ ظُهُورِ الْمُمَايَلَةِ، رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ بِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: أَلَكَ خَصْمٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: تَحَوَّلَ عَنَّا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” لَا تُضِيفُوا أَحَدَ الْخَصْمَيْنِ إِلَّا وَمَعَهُ خَصْمُهُ ” فَلِذَلِكَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُضِيفَ أَحَدَهُمَا، وَقِيلَ لَهُ: إِمَّا تُضِيفُهُمَا مَعًا أَوْ تَصْرِفُهُمَا مَعًا.

Al-Mawardi berkata: Dan ini benar, apabila kedua pihak yang bersengketa bermalam di tempat hakim, atau keduanya adalah orang asing, maka tidak boleh salah satu dari keduanya dijamu tanpa yang lain, karena hal itu menunjukkan adanya keberpihakan. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki singgah di rumah Ali bin Abi Thalib, lalu Ali berkata kepadanya: “Apakah engkau memiliki lawan sengketa?” Ia menjawab: “Ya.” Ali berkata: “Menjauhlah dari kami, karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Janganlah kalian menjamu salah satu dari dua pihak yang bersengketa kecuali bersama lawannya.’” Oleh karena itu, tidak boleh salah satu dari keduanya dijamu. Dikatakan pula kepadanya: “Jamu keduanya bersama-sama atau tolak keduanya bersama-sama.”

وَتَأَوَّلَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا قَوْلَ الشَّافِعِيِّ: وَلَا يُضِيفُ أَحَدَ الْخَصْمَيْنِ دُونَ صَاحِبِهِ أَيْ لَا يُقَدِّمُهُ عَلَيْهِ فِي مَجْلِسِهِ، فَيُضِيفُهُ إِلَى نَفْسِهِ بِتَقْدِيمِهِ، وَهَذَا تَأْوِيلٌ بَعِيدٌ لِخُرُوجِهِ عَنْ حَقِيقَةِ اللفظ إلى مجازه.

Sebagian ulama kami menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i: “Dan tidak boleh mengistimewakan salah satu dari kedua pihak yang bersengketa tanpa yang lainnya,” yaitu tidak boleh mendahulukannya atas lawannya di majelisnya, sehingga ia mengistimewakannya dengan mendahulukannya. Namun, ini adalah penafsiran yang jauh karena keluar dari makna hakiki lafaz kepada makna majazinya.

(مَنْعُ الْوُلَاةِ وَالْقُضَاةِ مِنْ قَبُولِ الْهَدَايَا) .

Larangan bagi para penguasa dan hakim untuk menerima hadiah.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَقْبَلَ مِنْهُ هَدِيَّةً وَإِنْ كَانَ يُهْدِي إِلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ حَتَّى تَنْفُذَ خُصُومَتُهُ “.

Syafi‘i berkata: “Dan tidak boleh menerima hadiah darinya, meskipun sebelumnya ia biasa memberinya hadiah, sampai perkaranya selesai.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: يَنْبَغِي لِكُلِّ ذِي وِلَايَةٍ أَنْ يَتَنَزَّهَ عَنْ قَبُولِ هَدَايَا أَهْلِ عَمَلِهِ.

Al-Mawardi berkata: Setiap orang yang memiliki kekuasaan sebaiknya menjaga diri dari menerima hadiah dari orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

رَوَى الْمُغِيرَةُ بْنُ شُبَيْلٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَلَمَّا سِرْتُ، أَرْسَلَ فِي أَثَرِي، فَقَالَ: ” أَتَدْرِي لِمَ بَعَثْتُ إِلَيْكَ؟ لَا تُصِيبَنَّ شَيْئًا بِغَيْرِ عِلْمِي فَإِنَّهُ غُلُولٌ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. لِهَذَا دَعَوْتُكَ فَامْضِ لِعَمَلِكَ “.

Diriwayatkan oleh Al-Mughirah bin Syubail dari Qais bin Abi Hazim, dari Mu‘adz bin Jabal, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengutusku, lalu ketika aku telah berangkat, beliau mengirim seseorang untuk menyusulku, lalu beliau bersabda: “Tahukah engkau mengapa aku mengutus seseorang kepadamu? Jangan sekali-kali engkau mengambil sesuatu tanpa sepengetahuanku, karena itu adalah ghulul (penggelapan harta rampasan perang), dan barang siapa melakukan ghulul, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan membawa apa yang ia gelapkan. Karena itulah aku memanggilmu, maka lanjutkanlah tugasmu.”

وَرَوَى إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ عُمَيْرٍ الْكِنْدِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَلَى الْمِنْبَرِ، وَهُوَ يَقُولُ: ” وَمَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ فَهُوَ غُلُولٌ يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “.

Isma‘il bin Abi Khalid meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim dari ‘Adi bin ‘Umair al-Kindi, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ di atas mimbar bersabda: “Barang siapa yang kami angkat untuk suatu tugas, lalu ia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih, maka itu adalah ghulul (penggelapan harta), yang akan dibawanya pada hari kiamat.”

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” هَدَايَا الْأُمَرَاءِ غُلُولٌ “.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Hadiah-hadiah para pejabat adalah ghulul (harta khianat).”

وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – رجلا من بني أسد يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فقام النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَلَى الْمِنْبَرِ وَقَالَ: ” مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ عَلَى بَعْضِ أَعْمَالِنَا فَيَقُولُ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِي؟ أَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ فَيَنْظُرُ يُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَهُ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ “.

Syafi‘i meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyainah, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari Abu Humaid as-Sa‘idi, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengangkat seorang laki-laki dari Bani Asad yang bernama Ibnu Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Ketika ia kembali, ia berkata, “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepadaku.” Maka Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar dan bersabda: “Mengapa ada seorang petugas yang kami utus untuk mengurus sebagian urusan kami, lalu ia berkata: ‘Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepadaku’? Tidakkah ia duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu ia lihat apakah akan ada hadiah yang diberikan kepadanya atau tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang mengambil sesuatu darinya (harta zakat) kecuali ia akan membawanya pada hari kiamat di atas pundaknya; jika berupa unta, maka unta itu bersuara, jika berupa sapi, maka sapi itu melenguh, jika berupa kambing, maka kambing itu mengembik.” Kemudian beliau mengangkat tangannya hingga kami melihat putih ketiaknya, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, sudahkah aku sampaikan? Ya Allah, sudahkah aku sampaikan?”

فَدَلَّتْ هَذِهِ الْأخْبَارُ عَلَى مَنْعِ الْوُلَاةِ مِنْ قَبُولِ الْهَدَايَا.

Maka hadis-hadis ini menunjukkan larangan bagi para penguasa untuk menerima hadiah.

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ قَبِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْهَدَايَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ مُلُوكِ الْأَقْطَارِ، وَقَالَ: ” لَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ لَقَبِلْتُ وَلَوْ دُعِيتُ إلى كراع لأجبت “.

Jika dikatakan: Rasulullah ﷺ telah menerima hadiah dari kaum Muslimin maupun selain mereka dari para raja negeri-negeri, dan beliau bersabda: “Seandainya dihadiahkan kepadaku sepotong lengan (daging), niscaya aku akan menerimanya, dan seandainya aku diundang untuk makan kikil, niscaya aku akan memenuhinya.”

قيل عنه ثلاثة أَجْوِبَة:

Dikatakan tentangnya tiga jawaban:

أَحَدُهَا: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ مَيَّزَهُ عَنِ الْخَلْقِ فَقَالَ: {النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أنفسهم} وَفِي بَعْضِ الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ ” فَصَارَ فِي اخْتِصَاصِهِ كَالْأَبِ فَبَايَنَ مَنْ عَدَاهُ.

Salah satunya: Bahwa Allah Ta‘ala telah memberikannya keistimewaan dibandingkan makhluk lain, sebagaimana firman-Nya: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri,” dan dalam sebagian qirā’ah disebutkan, “dan beliau adalah ayah bagi mereka.” Maka dalam kekhususannya, beliau seperti seorang ayah, sehingga berbeda dari selainnya.

وَالثَّانِي: أنه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ كَانَ يُكَافِئُ عَلَى الْهَدَايَا وَكَانَ أَكْثَرَ مَنْ يُهَادِيهِ طَالِبًا لِفَضْلِ الْجَزَاءِ، وَلِذَلِكَ لَمَّا أَهْدَى إِلَيْهِ الْأَعْرَابِيُّ نَاقَةً، لَمْ يَزَلْ يُكَافِئُهُ حَتَّى رَضِيَ.

Kedua: bahwa Nabi ﷺ biasa membalas hadiah, dan kebanyakan orang yang memberinya hadiah melakukannya dengan harapan mendapatkan balasan yang lebih baik. Oleh karena itu, ketika seorang Arab Badui menghadiahkan seekor unta kepadanya, beliau terus membalasnya hingga orang tersebut merasa puas.

وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ بَعِيدٌ مِنَ الْمَيْلِ مُنَزَّهٌ عَنِ الظِّنَّةِ طَاهِرُ الْعِصْمَةِ فَامْتَنَعَ أَنْ يقاس بغيره.

Ketiga: Bahwa ia jauh dari kecenderungan, bersih dari prasangka, suci dari pelanggaran, sehingga tidak mungkin diqiyaskan dengan selainnya.

(فصل: حكم الهدية بصورة عامة) .

(Bab: Hukum hadiah secara umum).

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالْمُهَادَاةُ فِيمَنْ عَدَا الْوُلَاةِ مُسْتَحَبَّةٌ فِي الْبَذْلِ وَمُبَاحَةٌ فِي الْقَبُولِ، لِقَوْلِ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – ” تهادوا تحابوا “.

Jika demikian, maka saling memberi hadiah di antara selain para penguasa disunnahkan dalam hal memberi dan dibolehkan dalam hal menerima, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”

(حكم مهاداة الولاة) .

(Hukum Memberi Hadiah kepada Para Penguasa).

وَأَمَّا مُهَادَاةُ الْوُلَاةِ فَهُمْ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ: وُلَاةُ سَلْطَنَةٍ، وَوُلَاةُ عِمَالَةٍ، وَوُلَاةُ أَحْكَامٍ.

Adapun mengenai memberi hadiah kepada para penguasa, mereka terbagi menjadi tiga golongan: penguasa kerajaan, penguasa daerah, dan penguasa hukum.

فَأَمَّا الصِّنْفُ الْأَوَّلُ: وَهُمْ وُلَاةُ السَّلْطَنَةِ، فَكَالْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَمَنْ قَامَ مَقَامَهُ، فَكُلُّ النَّاسِ تَحْتَ وِلَايَتِهِ وَمِنْ جُمْلَةِ رَعِيَّتِهِ. وَلَا تَخْلُو مُهَادَاتُهُ مِنْ أَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِ دَارِ الْإِسْلَامِ أَوْ مِنْ أهل دار الحرب.

Adapun golongan pertama: mereka adalah para pemegang kekuasaan, seperti imam agung dan orang yang menggantikan posisinya, maka seluruh manusia berada di bawah kekuasaannya dan termasuk bagian dari rakyatnya. Dan tidak lepas pemberian hadiah kepadanya, apakah berasal dari penduduk Dar al-Islam atau dari penduduk Dar al-harb.

(هدايا أهل دار الحرب إلى ولاة السلطنة) .

Hadiah-hadiah dari penduduk negeri harb kepada para penguasa pemerintahan.

فَإِنْ هَادَاهُ أَهْلُ الْحَرْبِ، جَازَ لَهُ قَبُولُ هَدَايَاهُمْ، كَمَا يَجُوزُ لَهُ اسْتِبَاحَةُ أَمْوَالِهِمْ.

Jika orang-orang kafir harbi memberinya hadiah, maka boleh baginya menerima hadiah mereka, sebagaimana ia juga boleh mengambil harta mereka.

وَيَنْظُرُ فِي سَبَبِ الْهَدِيَّةِ فَإِنْ كَانَتْ لِأَجْلِ سُلْطَانِهِ فَسُلْطَانُهُ بِالْمُسْلِمِينَ فَصَارَتِ الْهَدِيَّةُ لَهُمْ دُونَهُ فَكَانَ بيت ما لهم بِهَا أَحَقَّ.

Ia harus memperhatikan sebab pemberian hadiah tersebut; jika hadiah itu diberikan karena kekuasaannya, maka kekuasaannya itu bersumber dari kaum Muslimin, sehingga hadiah itu menjadi milik mereka, bukan miliknya secara pribadi. Maka, baitul mal lebih berhak atas hadiah tersebut.

وَإِنْ هَادَاهُ أَهْلُ الْحَرْبِ لِمَا لَا يَخْتَصُّ بِسُلْطَانِهِ مِنْ مَوَدَّةٍ سَلَفَتْ جَازَ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا.

Dan jika orang-orang kafir harbi menghadiahkan kepadanya sesuatu yang bukan merupakan kekhususan kekuasaan mereka karena adanya hubungan baik yang telah lalu, maka boleh baginya untuk memilikinya.

وَإِنْ هَادُوهُ لِحَاجَةٍ عَرَضَتْ فَإِنْ كَانَ لَا يَقْدِرُ عَلَى قَضَائِهَا إِلَّا بِالسَّلْطَنَةِ كَانَ بَيْتُ الْمَالِ أَحَقَّ بِهَا مِنْهُ.

Dan jika mereka memberinya hadiah karena suatu kebutuhan yang mendesak, maka jika kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi kecuali dengan kekuasaan, maka Baitul Mal lebih berhak atas hadiah itu daripada dirinya.

وَإِنْ كَانَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا بِغَيْرِ السَّلْطَنَةِ كَانَ أَحَقَّ بِهَا مِنْ بَيْتِ الْمَالِ.

Dan jika ia mampu melakukannya tanpa kekuasaan, maka ia lebih berhak atasnya daripada Baitul Mal.

فَيَكُونُ حُكْمُ هَدَايَاهُمْ منقسما على هذه الأقسام الثلاثة.

Maka hukum hadiah-hadiah mereka terbagi ke dalam tiga bagian ini.

(هدايا أهل دار الإسلام إلى ولاة السلطنة) .

Hadiah-hadiah dari penduduk negeri Islam kepada para penguasa kesultanan.

وَأَمَّا هَدَايَا دَارُ الْإِسْلَامِ فَتُقَسَّمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Adapun hadiah-hadiah dari Darul Islam dibagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ يَسْتَعِينُ بِهِ إِمَّا عَلَى حَقٍّ يَسْتَوْفِيهِ، وَإِمَّا عَلَى ظُلْمٍ يَدْفَعُهُ عَنْهُ، وَإِمَّا عَلَى بَاطِلٍ يُعِينُهُ عَلَيْهِ، فَهَذِهِ هِيَ الرِّشْوَةُ الْمُحَرَّمَةُ.

Salah satunya: memberikan hadiah kepada seseorang yang dimintai bantuan, baik untuk memperoleh hak yang menjadi miliknya, atau untuk menolak kezaliman darinya, atau untuk membantunya dalam kebatilan; inilah yang disebut risywah yang diharamkan.

رَوَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” لُعِنَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي وَالرَّائِشُ ” فَالرَّاشِي: بَاذِلُ الرَّشْوَةِ، وَالْمُرْتَشِي: قَابِلُ الرَّشْوَةِ، وَالرَّائِشُ: الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُمَا.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Dilaknat orang yang memberi suap, yang menerima suap, dan perantara di antara keduanya.” Ar-rāsyi adalah orang yang memberikan suap, al-murtasyi adalah orang yang menerima suap, dan ar-rā’isy adalah perantara di antara keduanya.

وَلِأَنَّ الْهَدِيَّةَ إِنْ كَانَتْ عَلَى حَقٍّ يَقُومُ بِهِ فَهُوَ مِنْ لَوَازِمِ نَظَرِهِ وَلَا يَجُوزُ لِمَنْ لَزِمَهُ الْقِيَامُ بِحَقٍّ أَنْ يَسْتَعْجِلَ عَلَيْهِ كما لا يجوز أن يستجعل عَلَى صَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ.

Karena sesungguhnya hadiah itu, jika diberikan atas suatu hak yang sedang ia jalankan, maka itu termasuk hal-hal yang melekat pada tugasnya, dan tidak boleh bagi seseorang yang wajib menunaikan suatu hak untuk meminta imbalan atasnya, sebagaimana tidak boleh meminta upah atas salat dan puasanya.

وَإِنْ كَانَ عَلَى بَاطِلٍ يُعِينُ عَلَيْهِ، كَانَ الِاسْتِعْجَالُ أَعْظَمُ تَحْرِيمًا، وَأَغْلَظُ مَأْثَمًا.

Dan jika (perkara) itu berada di atas kebatilan yang ia bantu di atasnya, maka tergesa-gesa (dalam hal itu) lebih besar keharamannya dan lebih berat dosanya.

فَأَمَّا بَاذِلُ الرِّشْوَةِ فَإِنْ كَانَتْ لِاسْتِخْلَاصِ حَقٍّ أَوْ لِدَفْعِ ظُلْمٍ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ بَذْلُهَا، كَمَا لَا يَحْرُمُ افْتِدَاءُ الْأَسِيرِ بِهَا.

Adapun orang yang memberikan suap, jika suap itu diberikan untuk mengambil haknya atau untuk menolak kezaliman, maka tidak haram baginya memberikan suap tersebut, sebagaimana tidak haram menebus tawanan dengan suap itu.

وَإِنْ كَانَتْ لِبَاطِلٍ يُعَانُ عَلَيْهِ يَحْرُمُ عَلَيْهِ بَذْلُهَا كَمَا حَرُمَ عَلَى الْمَبْذُولِ لَهُ أَخْذُهَا، وَوَجَبَ رَدُّ الرِّشْوَةِ عَلَى بَاذِلِهَا وَلَمْ يَجُزْ أَنْ تُوضَعَ فِي بَيْتِ الْمَالِ.

Dan jika (harta tersebut) diberikan untuk tujuan batil yang didukung, maka haram baginya untuk memberikannya, sebagaimana haram pula bagi yang menerima untuk mengambilnya. Wajib mengembalikan suap tersebut kepada pemberinya dan tidak boleh diletakkan di Baitul Mal.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ كَانَ يُهَادِيهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ مِنْ ذِي نَسَبٍ أَوْ مَوَدَّةٍ فَهَذِهِ هَدِيَّةٌ، وَلَيْسَتْ بِرِشْوَةٍ. وَهِيَ ثَلَاثَةُ ضُرُوبٍ:

Bagian kedua: yaitu seseorang memberikan hadiah kepada orang yang biasa saling memberi hadiah dengannya sebelum ia menjabat kekuasaan, baik karena hubungan kekerabatan atau persahabatan. Maka ini adalah hadiah, bukan suap. Dan hadiah ini terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ بِقَدْرِ مَا كَانَتْ قَبْلَ الْوِلَايَةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ عَرَضَتْ، فَيَجُوزُ لَهُ قَبُولُهَا لِانْتِفَاءِ الظِّنَّةِ عَنْهَا، وَلِلْعُرْفِ الْجَارِي فِي التَّوَاصُلِ بِهَا.

Salah satunya: jika hadiah itu sebesar yang biasa diberikan sebelum seseorang menjabat, tanpa ada kebutuhan khusus yang muncul, maka ia boleh menerimanya karena tidak ada kecurigaan terhadapnya, dan karena kebiasaan yang berlaku dalam saling memberi hadiah tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَقْتَرِنَ بِحَاجَةٍ عَرَضَتْ لَهُ فَيَمْتَنِعُ مِنْ قَبُولِهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَيَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهَا بَعْدَ الْحَاجَةِ فَقَدْ رُوِيَ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ كَانَ يُهْدِي إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَبَنًا فَيَقْبَلُهُ، حَتَّى اقْتَرَضَ زَيْدٌ مَالًا مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، وَأَهْدَى اللَّبَنَ، فَرَدَّهُ عُمَرُ، فَقَالَ زَيْدٌ: لِمَ رَدَدْتَهُ؟ فَقَالَ: لِأَنَّكَ اقْتَرَضْتَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ مَالًا، فَقَالَ زَيْدٌ: لَا حَاجَةَ لِي فِي مَالٍ يَقْطَعُ الْوَصْلَةَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ، فَرَدَّ الْمَالَ وَأَهْدَى اللَّبَنَ فَقَبِلَهُ مِنْهُ.

Jenis kedua: yaitu apabila pemberian itu disertai dengan suatu kebutuhan yang sedang dialami oleh pemberi, maka tidak boleh menerimanya saat ada kebutuhan tersebut, namun boleh menerimanya setelah kebutuhan itu berlalu. Telah diriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit biasa menghadiahkan susu kepada Umar bin Khattab, dan Umar menerimanya. Hingga suatu ketika Zaid meminjam uang dari Baitul Mal, lalu ia menghadiahkan susu, maka Umar menolaknya. Zaid pun bertanya, “Mengapa engkau menolaknya?” Umar menjawab, “Karena engkau telah meminjam uang dari Baitul Mal.” Zaid berkata, “Aku tidak butuh harta yang memutus hubungan antara aku dan engkau.” Maka Zaid mengembalikan uang pinjaman itu dan menghadiahkan susu, lalu Umar pun menerimanya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَزِيدَ فِي هَدِيَّتِهِ عَلَى قَدْرِ الْعَادَةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ فَيُنْظَرُ: فَإِنْ كَانَتِ الزِّيَادَةُ مِنْ جِنْسِ الْهَدِيَّةِ جَازَ قَبُولُهَا لِدُخُولِهَا فِي الْمَأْلُوفِ وَإِنْ كَانَتِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ الْهَدِيَّةِ مَنَعَ مِنْ قَبُولِهَا لِخُرُوجِهَا عَنِ الْمَأْلُوفِ.

Jenis ketiga: Seseorang menambah dalam hadiah yang diberikannya melebihi kadar yang biasa tanpa ada kebutuhan. Maka hal ini dilihat: jika tambahan tersebut masih sejenis dengan hadiah aslinya, maka boleh menerimanya karena masih termasuk dalam kebiasaan. Namun jika tambahan tersebut bukan dari jenis hadiah aslinya, maka tidak boleh menerimanya karena keluar dari kebiasaan.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ لَمْ يَكُنْ يُهَادِيهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ فَهَذَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Bagian ketiga: yaitu seseorang memberikan hadiah kepada pejabat yang sebelumnya tidak pernah ia beri hadiah sebelum ia menjabat, maka hal ini terbagi menjadi tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ يَخْطُبُ مِنْهُ الْوِلَايَةَ عَلَى عَمَلٍ يُقَلِّدُهُ، فَهَذِهِ رِشْوَةٌ تَخْرُجُ مِنْ حُكْمِ الْهَدَايَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَخْذُهَا، سَوَاءٌ كَانَ خَاطِبُ الْوِلَايَةِ مُسْتَحِقًّا لَهَا، أَوْ غَيْرَ مُسْتَحِقٍّ وَعَلَيْهِ رَدُّهَا، وَيَحْرُمُ عَلَى بَاذِلِهَا إِنْ كَانَ غَيْرَ مُسْتَحِقٍّ لِلْوِلَايَةِ وَإِنْ كَانَ مستحقا لَهَا فَإِنْ كَانَ مُسْتَغْنِيًا عَنِ الْوِلَايَةِ حَرُمَ عَلَيْهِ بَذْلُهَا وَإِنْ كَانَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ بَذْلُهَا.

Salah satunya: apabila seseorang memberikan hadiah kepada pihak yang sedang ia lamar untuk mendapatkan jabatan yang akan diamanahkan kepadanya, maka ini adalah risywah (suap) yang keluar dari hukum hadiah; haram baginya untuk menerimanya, baik pelamar jabatan itu memang berhak atas jabatan tersebut maupun tidak berhak, dan ia wajib mengembalikannya. Haram pula bagi pemberi hadiah jika ia tidak berhak atas jabatan itu. Namun, jika ia memang berhak atas jabatan tersebut, maka jika ia tidak membutuhkan jabatan itu, haram baginya memberikan hadiah itu; tetapi jika ia membutuhkannya, maka tidak haram baginya memberikannya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ يَشْكُرُهُ عَلَى جَمِيلٍ كَانَ مِنْهُ، فَهَذَا خَارِجٌ مِنَ الرِّشَا، وَمُلْحَقٌ بِالْهَدَايَا؛ لِأَنَّ الرِّشْوَةَ مَا تَقَدَّمَتْ وَالْهَدِيَّةَ مَا تَأَخَّرَتْ، وَعَلَيْهِ رَدُّهَا وَلَا يَجُوزُ لَهُ قَبُولُهَا؛ لِأَنَّهُ يَصِيرُ مُكْتَسِبًا بِمُجَامَلَتِهِ وَمُعْتَاضًا عَلَى جَاهِهِ وَسَوَاءٌ كَانَ مَا فَعَلَهُ مِنَ الْجَمِيلِ وَاجِبًا أَوْ تَبَرُّعًا، وَلَا يَحْرُمُ بَذْلُهَا عَلَى الْمُهْدِي.

Jenis kedua: yaitu seseorang menghadiahkan sesuatu kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan yang telah diterimanya. Ini tidak termasuk risywah, melainkan termasuk dalam kategori hadiah; karena risywah adalah sesuatu yang diberikan sebelumnya, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang diberikan setelahnya. Oleh karena itu, wajib baginya untuk menolak hadiah tersebut dan tidak boleh menerimanya, karena dengan menerimanya ia menjadi orang yang memperoleh imbalan atas kebaikan yang dilakukannya dan mendapatkan kompensasi atas kedudukannya. Hal ini berlaku baik kebaikan yang dilakukannya itu bersifat wajib maupun sukarela. Namun, tidak diharamkan bagi pemberi untuk memberikan hadiah tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ مَنْ يَبْتَدِئُهُ بِالْهَدِيَّةِ لِغَيْرِ مُجَازَاةٍ عَلَى فِعْلٍ سَالِفٍ وَلَا طَلَبًا لِفِعْلٍ مُسْتَأْنَفٍ، فَهَذِهِ هَدِيَّةٌ بَعَثَ عَلَيْهَا جَاهُ السَّلْطَنَةِ، فَإِنْ كَافَأَ عَلَيْهَا جَازَ لَهُ قَبُولُهَا وَإِنْ لَمْ يُكَافِئْ عَلَيْهَا فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jenis yang ketiga: yaitu seseorang menghadiahkan kepadanya (penguasa) tanpa adanya balasan atas perbuatan sebelumnya dan tanpa pula mengharapkan suatu perbuatan di masa mendatang. Maka ini adalah hadiah yang didorong oleh kedudukan kekuasaan. Jika ia membalas hadiah tersebut, maka boleh baginya menerimanya. Namun jika ia tidak membalasnya, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: يَقْبَلُهَا لِبَيْتِ الْمَالِ لِأَنَّ جَاهَ السَّلْطَنَةِ لِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ.

Salah satunya: menerimanya untuk Baitul Mal karena kedudukan kekuasaan adalah untuk seluruh kaum Muslimin.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَرُدُّهَا وَلَا يَقْبَلُهَا لِأَنَّهُ الْمَخْصُوصُ بِهَا، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَأْثِرَ دُونَ الْمُسْلِمِينَ بشيء وصل إليه بجاه المسلمين.

Pendapat kedua: ia menolaknya dan tidak menerimanya karena ia adalah orang yang dikhususkan dengannya, maka tidak boleh baginya untuk mengambil sesuatu yang sampai kepadanya berkat kedudukan kaum Muslimin.

(فصل: مهاداة ولاة العمالة) .

(Bab: Memberi hadiah kepada para pejabat penguasa)

وَأَمَّا الصِّنْفُ الثَّانِي وَهُمْ وُلَاةُ الْعِمَالَةِ كَعُمَّالِ الْخَرَاجِ وَالصَّدَقَاتِ، فَلَا يَخْلُو حَالُ الْمُهْدِي مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ، أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ.

Adapun golongan kedua, yaitu para pejabat pelaksana seperti petugas kharaj dan zakat, maka keadaan orang yang memberi hadiah kepada mereka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia termasuk orang yang berada di bawah kekuasaan mereka, atau bukan termasuk dari mereka.

فَإِنْ كَانَتْ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ عَمَلِهِ كَانَتِ الْمُهَادَاةُ بَيْنَهُمَا كَالْمُهَادَاةِ بَيْنَ غَيْرِ الْوُلَاةِ وَالرَّعَايَا.

Jika hadiah itu berasal dari selain orang yang terkait dengan pekerjaannya, maka pemberian hadiah di antara keduanya seperti pemberian hadiah antara selain para penguasa dan rakyat.

وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ فَعَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Dan jika ia termasuk dari kalangan orang yang bekerja di bidangnya, maka terdapat tiga macam:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ الْهَدِيَّةُ قَبْلَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُهْدِي، فَهَذِهِ رِشْوَةٌ لِتَقَدُّمِهَا، فَيَحْرُمُ عَلَيْهِ قَبُولُهَا لِأَنَّهَا تُهْمَةٌ تَعْطِفُهُ عَنِ الْوَاجِبِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ مَوْقُوفًا وَرَوَاهُ بَعْضُهُمْ مُسْنَدًا ” اللِّطْفَةُ عَطْفَةٌ ” وَسَوَاءٌ كَانَ الْعَامِلُ مُرْتَزِقًا أَوْ غَيْرَ مُرْتَزِقٍ.

Salah satunya: Jika hadiah diberikan sebelum hak dari pemberi hadiah dipenuhi, maka ini adalah risywah (suap) karena didahulukan, sehingga haram baginya untuk menerimanya karena hal itu merupakan tuduhan yang dapat memalingkannya dari kewajiban. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah secara mauqūf dan sebagian meriwayatkannya secara musnad: “Kebaikan kecil itu bisa memalingkan hati.” Baik pejabat tersebut menerima gaji atau tidak, hukumnya sama saja.

فَإِنْ أَضَافَ الْعَامِلُ، وَلَمْ يُهَادِهِ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ الْعَامِلُ مُسْتَوْطِنًا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَدْخُلَ فِي ضِيَافَتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُجْتَازًا جَازَ أَنْ يَدْخُلَ فِي ضِيَافَتِهِ، بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ مِنْهُ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَدْخُلَ فِيهَا قَبْلَ اسْتِيفَائِهِ.

Jika seorang petugas menambahkan (mengundang), namun tidak memberikan hadiah kepadanya, maka perlu dilihat: jika petugas tersebut adalah penduduk setempat, maka tidak boleh ia menerima jamuannya; namun jika ia hanya sedang lewat, maka boleh ia menerima jamuannya setelah mengambil hak (pungutan) darinya, dan tidak boleh ia menerimanya sebelum hak tersebut diambil.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يهدى إليه بعد استيفاء الحق منه، على جَمِيلٍ قَدَّمَهُ إِلَيْهِ، فَيُنْظَرُ، فَإِنْ كَانَ الْجَمِيلُ مِمَّا يَجِبُ عَلَى الْعَامِلِ أَنْ يَفْعَلَهُ بِحَقِّ عَمَلِهِ، وَجَبَ رَدُّ الْهَدِيَّةِ وَحَرُمَ قَبُولُهَا.

Jenis kedua: yaitu seseorang diberi hadiah setelah ia menunaikan hak dari orang yang memberinya, karena suatu kebaikan yang telah ia lakukan kepadanya. Maka perlu diperhatikan, jika kebaikan itu memang merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang pekerja sesuai tugasnya, maka wajib mengembalikan hadiah tersebut dan haram menerimanya.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا لَا يَجِبُ عَلَيْهِ، لَمْ يَكُنْ لِلْعَامِلِ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا مَا لَمْ يُعَجِّلِ الْمُكَافَأَةَ عليها.

Dan jika itu termasuk sesuatu yang tidak wajib atasnya, maka pekerja tidak berhak memilikinya selama belum diberikan imbalan atasnya terlebih dahulu.

وَفِيهَا وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: تُعَادُ إِلَى مَالِكِهَا لِخُرُوجِهَا عَنِ الْمَقْصُودِ بِهَا. وَالثَّانِي: تَكُونُ لِبَيْتِ الْمَالِ؛ لِأَنَّهَا مَبْذُولَةٌ عَلَى فِعْلِ نَائِبٍ عَنْهُمْ، وَفِي مِثْلِهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” هَدَايَا الْأُمَرَاءِ غُلُولٌ ” وَالْغُلُولُ مَا عَدَلَ بِهِ عَنْ مُسْتَحِقِّهِ.

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat: Pertama, dikembalikan kepada pemiliknya karena telah keluar dari maksud pemberiannya. Kedua, menjadi milik Baitul Mal; karena pemberian tersebut ditujukan kepada seseorang yang mewakili mereka, dan dalam kasus seperti ini Rasulullah ﷺ bersabda: “Hadiah-hadiah untuk para pejabat adalah ghulul (penggelapan harta),” dan ghulul adalah sesuatu yang dialihkan dari orang yang berhak menerimanya.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يُهْدِيَ إِلَيْهِ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ الْحَقِّ مِنْهُ، عَلَى غَيْرِ سَبَبٍ أَسْلَفَهُ.

Jenis yang ketiga adalah memberikan hadiah kepadanya setelah hak telah dipenuhi darinya, tanpa ada sebab sebelumnya yang mendahuluinya.

فَإِنْ عَجَّلَ الْمُكَافَأَةَ عَلَيْهَا بِمِثْلِ قِيمَتِهَا جاز أن يتملكها لأنها بِالْمُكَافَأَةِ مُعَاوِضٌ فَجَرَى فِي إِبَاحَةِ التَّمَلُّكِ مَجْرَى الِابْتِيَاعِ الَّذِي لَا يَمْنَعُ الْوُلَاةَ مِنْهُ.

Jika ia menyegerakan kompensasi atasnya dengan sesuatu yang sepadan nilainya, maka boleh baginya untuk memilikinya, karena dengan adanya kompensasi tersebut, hal itu menjadi pertukaran. Maka dalam kebolehan memiliki, hukumnya seperti jual beli yang tidak dilarang oleh para penguasa.

وَإِنْ لَمْ يُكَافِئْ عَلَيْهَا فَقَدْ خَرَجَتْ عَنِ الرِّشْوَةِ وَالْجَزَاءِ فَلَمْ يَجِبْ رَدُّهَا وَيُعَرَّضُ بِهَا لِلتُّهْمَةِ وَسُوءِ الْقَالَةِ.

Dan jika tidak ada imbalan atasnya, maka hal itu keluar dari kategori risywah (suap) dan jazā’ (balasan), sehingga tidak wajib mengembalikannya, namun tetap dapat menimbulkan tuduhan dan prasangka buruk.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيهَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat.

أَحَدُهَا: أَنَّهَا تُقَرُّ عَلَى الْعَامِلِ وَلَا تُسْتَرْجَعُ مِنْهُ؛ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَقَرَّ ابْنَ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الْهَدِيَّةِ وَلَمْ يَسْتَرْجِعْهَا مِنْهُ.

Salah satunya: bahwa hadiah itu dibenarkan untuk tetap berada pada pegawai dan tidak diambil kembali darinya; karena Rasulullah ﷺ membiarkan Ibnu Lutbiyyah atas hadiah yang diterimanya dan tidak mengambilnya kembali darinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهَا تُسْتَرْجَعُ مِنْهُ لِبَيْتِ الْمَالِ؛ لِأَنَّهُ أَخَذَهَا بِجَاهِ الْعَمَلِ، وَنَضُمُّ إِلَى الْمَالِ الَّذِي اسْتُعْمِلَ فِيهِ، لِوُصُولِهَا بِسَبَبِهِ، فَإِنْ رَأَى الْإِمَامُ فِي اجْتِهَادِهِ أَنْ يُعْطِيَهُ إِيَّاهَا جَازَ إِذَا كَانَ مِثْلُهُ يَجُوزُ أَنْ يَبْدَأَ بِمِثْلِهَا وَإِنْ رَأَى الْإِمَامُ أَنْ يُشَاطِرَهُ عَلَيْهَا جَازَ كَمَا فَعَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فِي ابْنِيهِ حِينَ أَخَذَا مَالَ الْفَيْءِ قَرْضًا وَاتَّجَرَا فَرَبِحَا فَأَخَذَ مِنْهُمَا نِصْفَ رِبْحِهِ كَالْقِرَاضِ.

Adapun pendapat kedua: Harta tersebut diambil kembali darinya untuk dimasukkan ke Baitul Mal, karena ia memperolehnya berkat kedudukannya dalam pekerjaan. Harta itu digabungkan dengan harta yang digunakan dalam pekerjaannya, karena harta tersebut sampai kepadanya melalui sebab itu. Jika imam dalam ijtihadnya memandang boleh memberikannya kepadanya, maka hal itu dibolehkan apabila orang seperti dia memang boleh memulai dengan harta seperti itu. Dan jika imam memandang untuk membaginya setengah-setengah, maka hal itu juga dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab terhadap kedua putranya ketika mereka mengambil harta fai’ sebagai pinjaman, lalu mereka berdagang dengannya dan memperoleh keuntungan, maka Umar mengambil setengah dari keuntungan mereka seperti dalam akad qiradh.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ إِنْ كَانَ الْعَامِلُ مُرْتَزِقًا قَدْرَ كِفَايَتِهِ أُخِذَتْ مِنْهُ الْهَدِيَّةُ لِبَيْتِ الْمَالِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُرْتَزِقٍ أُقِرَّتْ عَلَيْهِ، لِرِوَايَةِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ “.

Pendapat ketiga: Jika seorang pejabat mendapatkan gaji yang mencukupi kebutuhannya, maka hadiah yang diterimanya diambil dan dimasukkan ke Baitul Mal. Namun jika ia tidak menerima gaji, maka hadiah itu dibiarkan tetap padanya. Hal ini berdasarkan riwayat Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barang siapa yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan lalu kami beri ia gaji, maka apa yang ia ambil setelah itu adalah ghulul (penggelapan).”

وَلَوْ كَانَ مُرْتَزِقًا، وَلَمْ يَكْتَفِ بِرِزْقِهِ عَمَّا تَدْعُوهُ الْحَاجَةُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَوَى الْأَوْزَاعِيُّ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – يَقُولُ: ” مَنْ كَانَ لَنَا عَامِلًا فَلْيَكْتَسِبْ زَوْجَةً، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ خَادِمٌ فَلْيَكْتَسِبْ خَادِمًا فَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَسْكَنٌ فَلْيَكْتَسِبْ مَسْكَنًا فَدَلَّ هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى أَنَّ الْغُلُولَ الْمُسْتَرْجَعَ منه ما تجاوز قدر حاجته.

Dan jika ia adalah seorang yang menerima gaji, namun tidak mencukupkan diri dengan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, maka Al-Auza‘i meriwayatkan dari Al-Harits bin Yazid, dari Abdurrahman bin Jubair, dari Al-Mustawrid bin Syaddad, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjadi pegawai kami, hendaklah ia memperoleh seorang istri; jika ia tidak memiliki pembantu, hendaklah ia memperoleh pembantu; dan barang siapa yang tidak memiliki tempat tinggal, hendaklah ia memperoleh tempat tinggal.” Maka hadis ini menunjukkan bahwa ghulul (penggelapan harta rampasan perang) yang wajib dikembalikan adalah yang melebihi kadar kebutuhannya.

(فصل: مهاداة قضاة الأحكام) .

(Bab: Memberi hadiah kepada para qādī yang menetapkan hukum).

وَأَمَّا الصِّنْفُ الثَّالِثُ وَهُمْ قُضَاةُ الْأَحْكَامِ، فَالْهَدَايَا فِي حَقِّهِمْ أَغْلَظُ مَأْثَمًا، وَأَشَدُّ تَحْرِيمًا، لِأَنَّهُمْ مَنْدُوبُونَ لِحِفْظِ الْحُقُوقِ عَلَى أَهْلِهَا دُونَ أَخْذِهَا، يَأْمُرُونَ فِيهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ فِيهَا عَنِ الْمُنْكَرِ وَقَدْ رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي فِي الْحُكْمِ ” فَخَصَّ الْحُكْمَ بِالذِّكْرِ لِاخْتِصَاصِهِ بِالتَّغْلِيظِ.

Adapun golongan ketiga, yaitu para qadhi (hakim pengadilan), maka hadiah bagi mereka lebih besar dosanya dan lebih keras keharamannya. Sebab, mereka ditugaskan untuk menjaga hak-hak pada pemiliknya tanpa mengambilnya, memerintahkan yang ma‘ruf dan mencegah yang munkar dalam hal itu. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap dalam hukum.” Beliau secara khusus menyebut hukum karena kekhususannya dalam penegasan larangan.

وَيَنْقَسِمُ حَالُ الْقَاضِي فِي الْهَدِيَّةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Keadaan seorang qādī (hakim) dalam menerima hadiah terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ الْهَدِيَّةُ فِي عَمَلِهِ، مِنْ أهل عمله، فللمهدي ثلاثة أَحْوَالٍ:

Salah satunya: apabila hadiah itu diberikan dalam pekerjaannya, dari orang-orang yang termasuk dalam pekerjaannya, maka bagi pemberi hadiah terdapat tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَمْ يُهَادِهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَ هَدِيَّتَهُ سَوَاءٌ كَانَ لَهُ فِي حَالِ الْهَدِيَّةِ مُحَاكَمَةٌ، أَوْ لَمْ يَكُنْ؛ لِأَنَّهُ مُعَرَّضٌ لِأَنْ يُحَاكَمَ أَوْ يُحَاكِمَ، وَهِيَ مِنَ الْمُتَحَاكِمِينَ رِشْوَةٌ مُحَرَّمَةٌ وَمِنْ غَيْرِهِمْ هَدِيَّةٌ مَحْظُورَةٌ.

Pertama: Jika seseorang sebelumnya tidak pernah memberinya hadiah sebelum ia menjabat, maka tidak boleh baginya menerima hadiah dari orang tersebut, baik pada saat pemberian hadiah itu ada urusan yang harus diadili atau tidak ada; karena ia berpotensi untuk diadili atau mengadili orang tersebut, dan hadiah dari pihak yang sedang berperkara merupakan risywah (suap) yang diharamkan, sedangkan dari selain mereka adalah hadiah yang terlarang.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ يُهَادِيهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ لَرَحِمٍ أَوْ مَوَدَّةٍ وَلَهُ فِي الْحَالِ مُحَاكَمَةٌ، فَلَا يَحِلُّ لَهُ قَبُولُ هَدِيَّتِهِ؛ لِأَنَّ قَبُولَهَا مُمَايَلَةٌ.

Keadaan kedua: yaitu apabila seseorang telah menerima hadiah dari orang yang sebelumnya telah memberinya hadiah sebelum ia menjabat (sebagai hakim), karena hubungan kekerabatan atau persahabatan, dan kini orang tersebut sedang memiliki perkara yang sedang diadili olehnya, maka tidak halal baginya menerima hadiah itu; karena penerimaan hadiah tersebut merupakan bentuk keberpihakan.

وَالْحَالُ الثالثة: أن يكون ممن بهاديه قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَلَيْسَ لَهُ مُحَاكَمَةً فَيَنْظُرُ: فَإِنْ كَانَتْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ هَدَايَاهُ الْمُتَقَدِّمَةِ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يُهَادِيهِ بِالطَّعَامِ فَصَارَ يُهَادِيهِ بِالثِّيَابِ، لَمْ يجز أن يقبلها؛ لأنه الزِّيَادَة هَدِيَّةٌ بِالْوِلَايَةِ، وَإِنْ كَانَتْ مِنْ جِنْسِ مَا يُهَادِيهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ فَفِي جَوَازِ قَبُولِهَا وَجْهَانِ:

Keadaan ketiga: yaitu seseorang yang telah menerima hadiah dari pemberi hadiah sebelum ia menjabat sebagai pejabat, dan ia tidak pernah mengadili pemberi hadiah tersebut. Maka perlu diperhatikan: jika hadiah itu berbeda jenis dari hadiah-hadiah yang pernah diterimanya sebelumnya—misalnya dahulu ia diberi hadiah berupa makanan, lalu sekarang ia diberi hadiah berupa pakaian—maka tidak boleh menerimanya, karena tambahan tersebut merupakan hadiah karena jabatan. Namun, jika hadiah itu sejenis dengan hadiah yang pernah diterimanya sebelum menjabat, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan menerimanya.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهَا لِخُرُوجِهَا عَنْ سَبَبِ الْوِلَايَةِ.

Salah satunya: Boleh baginya untuk menerimanya karena ia keluar dari sebab wilayah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهَا لِجَوَازِ أَنْ تَحْدُثَ لَهُ مُحَاكَمَةٌ يُنْسَبُ بِهَا إِلَى الْمُمَايَلَةِ.

Pendapat kedua: Tidak boleh menerimanya karena dimungkinkan akan terjadi suatu perkara yang menyebabkan ia dituduh memihak.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْهَدِيَّةُ فِي عَمَلِهِ، مِنْ غَيْرِ أَهْلِ عَمَلِهِ فلمهديها ثلاثة أَحْوَالٍ:

Bagian kedua: yaitu apabila hadiah diberikan dalam pekerjaannya, bukan dari orang-orang yang termasuk dalam pekerjaannya, maka bagi pemberi hadiah tersebut terdapat tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَكُونَ قَدْ دَخَلَ بِهَا إِلَى عَمَلِهِ، فَقَدْ صَارَ بِالدُّخُولِ بِهَا مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَقْبَلَهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ لَهُ مُحَاكَمَةٌ أَوْ لَمْ تَكُنْ لِجَوَازِ أَنْ تَحْدُثَ لَهُ مُحَاكَمَةٌ.

Salah satunya: jika ia telah memasukkan perkara tersebut ke dalam wilayah tugasnya, maka dengan memasukkannya ia telah menjadi bagian dari orang-orang yang menangani tugas itu, sehingga tidak boleh baginya menerima perkara tersebut, baik ia memiliki perkara yang harus diadili atau tidak, karena dimungkinkan di kemudian hari akan muncul perkara yang harus diadili baginya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ لَا يَدْخُلَ بِهَا الْمُهْدِي وَيُرْسِلُهَا وَلَهُ مُحَاكَمَةٌ وَهُوَ فِيهَا طَالِبٌ أَوْ مَطْلُوبٌ فَهِيَ رِشْوَةٌ مُحَرَّمَةٌ.

Keadaan yang kedua: apabila orang yang memberikan hadiah itu tidak masuk bersamanya, melainkan mengirimkannya, dan ia memiliki suatu perkara yang sedang diproses, di mana ia adalah pihak yang menuntut atau yang dituntut, maka hadiah tersebut adalah risywah (suap) yang diharamkan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُرْسِلَهَا وَلَا يَدْخُلَ بِهَا، وَلَيْسَ لَهُ مُحَاكَمَةٌ فَفِي جَوَازِ قَبُولِهَا وَجْهَانِ:

Keadaan yang ketiga: yaitu jika ia mengirimkan (hewan kurban) tersebut namun tidak menyembelihnya sendiri, dan ia tidak memiliki hak untuk mengadili (atas hewan itu), maka dalam kebolehan menerima hewan tersebut terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ لِمَا يَلْزَمُهُ مِنَ النَّزَاهَةِ.

Salah satunya: tidak diperbolehkan karena mengharuskan adanya kenetralan.

وَالثَّانِي: يَجُوزُ لِوَضْعِ الْهَدِيَّةِ عَلَى الْإِبَاحَةِ.

Kedua: Diperbolehkan karena hukum asal hadiah adalah mubah.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَكُونَ الْهَدِيَّةُ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ وَمِنْ غَيْرِ أَهْلِ عَمَلِهِ لِسَفَرِهِ عَنْ عَمَلِهِ، فَنَزَاهَتُهُ عَنْهَا أَوْلَى بِهِ مِنْ قَبُولِهَا لِيَحْفَظَ صِيَانَتَهُ فَإِنْ قَبِلَهَا جَازَ وَلَمْ يَمْنَعْ مِنْهَا.

Bagian ketiga: yaitu apabila hadiah itu diberikan bukan dalam kaitan dengan pekerjaannya dan bukan pula dari orang-orang yang terkait dengan pekerjaannya, melainkan karena ia sedang bepergian meninggalkan pekerjaannya. Maka menjaga diri dari menerima hadiah tersebut lebih utama baginya daripada menerimanya, agar ia tetap menjaga kehormatan dirinya. Namun jika ia menerimanya, hal itu diperbolehkan dan tidak dilarang.

فَأَمَّا نُزُولُهُ ضَيْفًا عَلَى غَيْرِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي عَمَلِهِ لَمْ يَجُزْ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ جَازَ. وَلَا يُكْرَهُ إِنْ كَانَ عَابِرَ سَبِيلٍ، وَيُكْرَهُ إِنْ كَانَ مُقِيمًا.

Adapun jika ia singgah sebagai tamu di rumah orang lain, maka jika itu berada di tempat kerjanya, tidak diperbolehkan. Namun jika di luar tempat kerjanya, maka diperbolehkan. Tidak makruh jika ia adalah seorang musafir yang sedang dalam perjalanan, dan makruh jika ia adalah orang yang menetap.

(حكم مهاداة القضاة) .

(Hukum Memberi Hadiah kepada Para Qadi)

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ مُهَادَاةِ الْقَاضِي، فَإِنْ أُبِيحَتْ لَهُ جَازَ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا، وَلَمْ يَجِبْ رَدُّهَا وَإِنْ حُظِرَتْ وَمُنِعَ مِنْهَا، عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنَ التَّفْصِيلِ، انْقَسَمَتْ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Apabila telah ditetapkan sebagaimana yang telah kami jelaskan mengenai hadiah kepada qadhi, maka jika hadiah itu diperbolehkan baginya, ia boleh memilikinya dan tidak wajib mengembalikannya. Namun jika hadiah itu dilarang dan ia dicegah darinya, sebagaimana telah kami rinci sebelumnya, maka hadiah tersebut terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ رِشْوَةً لِتَقَدُّمِهَا عَلَى الْمُحَاكَمَةِ، فَيَجِبُ رَدُّهَا عَلَى بَاذِلِهَا.

Salah satunya: jika pemberian itu merupakan risywah agar didahulukan dalam proses peradilan, maka wajib dikembalikan kepada pemberinya.

فَإِنْ رَدَّهَا قَبْلَ الْحُكْمِ نَفَذَ حُكْمُهُ.

Jika ia mengembalikannya sebelum adanya putusan, maka putusannya tetap berlaku.

وَإِنْ رَدَّهَا بَعْدَ الْحُكْمِ، نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ حُكْمُهُ عَلَى الْبَاذِلِ نَفَذَ وَإِنْ كَانَ لِلْبَاذِلِ فَفِي نُفُوذِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika ia mengembalikannya setelah adanya putusan, maka dilihat dahulu: jika putusannya terhadap pihak yang memberi, maka putusan tersebut tetap berlaku; namun jika putusannya untuk pihak yang memberi, maka dalam keberlakuannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يُنَفِّذُ، إِذَا وَافَقَ الْحَقَّ كَمَا يُنَفِّذُ لِلصَّدِيقِ.

Salah satunya: diperlakukan sebagai sah jika sesuai dengan kebenaran, sebagaimana diperlakukan sah untuk ash-shiddiq.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يُنَفِّذُ، كَمَا لَا يُنَفِّذُ لِوَالِدٍ وَلَا لِوَلَدٍ لِلتُّهْمَةِ بِالْمُمَايَلَةِ.

Pendapat kedua: tidak boleh dilaksanakan, sebagaimana tidak boleh dilaksanakan untuk orang tua maupun anak karena adanya tuduhan keberpihakan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْهَدِيَّةُ جَزَاءً لِتَأَخُّرِهَا عَنِ الْحُكْمِ، فَيَجِبُ رَدُّهَا عَلَى مُهْدِيهَا، وَالْحُكْمُ مَعَهَا نَافِذٌ، سَوَاءٌ كَانَ الْحُكْمُ لِلْمُهْدِي أَوْ عَلَيْهِ.

Bagian kedua: yaitu apabila hadiah diberikan sebagai imbalan karena menunda putusan, maka hadiah tersebut wajib dikembalikan kepada pemberinya, dan putusan yang telah dijatuhkan tetap berlaku, baik putusan itu menguntungkan pemberi hadiah maupun merugikannya.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ تَخْرُجَ الْهَدِيَّةُ عَنِ الرِّشْوَةِ وَالْجَزَاءِ، لِابْتِدَاءِ الْمُهْدِي بِهَا تَبَرُّعًا، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا الْقَاضِي لِحَظْرِهَا عَلَيْهِ، وَفِيهَا وَجْهَانِ:

Bagian ketiga: Yaitu apabila hadiah itu keluar dari kategori risywah (suap) dan imbalan, karena pemberi hadiah memulainya secara sukarela. Maka tidak boleh bagi qadhi (hakim) untuk memilikinya, karena hal itu dilarang baginya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهَا: تُرَدُّ عَلَى مُهْدِيهَا لِفَسَادِ الْهَدِيَّةِ.

Salah satunya: dikembalikan kepada orang yang memberikannya karena hadiah tersebut rusak.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تُوضَعُ فِي بَيْتِ الْمَالِ، لِبَذْلِهَا طَوْعًا لِنَائِبِ المسلمين.

Pendapat kedua: Diletakkan di Baitul Mal, untuk disalurkan secara sukarela oleh wakil kaum Muslimin.

(فصل: الهدية على الشفاعة) .

(Bab: Hadiah atas syafaat)

روى عَبْد اللَّهِ بْن أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ شَفَعَ لِأَحَدٍ شَفَاعَةً فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا “.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Ja‘far, dari Khalid bin Abi ‘Imran, dari Al-Qasim bin Abi Umamah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barang siapa memberi syafaat kepada seseorang lalu orang itu memberinya hadiah atas syafaat tersebut, kemudian ia menerimanya, maka sungguh ia telah mendatangi salah satu pintu besar dari pintu-pintu riba.”

وَهَذَا الْحَدِيثُ وَإِنْ كَانَ مُرْسَلًا فَسَيَظْهَرُ فِي الِاسْتِدْلَالِ بِهِ عَلَى مَا يُوجِبُهُ حُكْمُ الْأُصُولِ.

Hadis ini, meskipun berstatus mursal, akan tampak dalam penggunaannya sebagai dalil terhadap apa yang ditetapkan oleh hukum al-uṣūl.

وَمُهَادَاةُ الشَّافِعِ مُعْتَبَرَةٌ بِشَفَاعَتِهِ، وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Memberi hadiah kepada syafaat dianggap mengikuti syafaat itu sendiri, dan hal ini terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَشْفَعَ فِي مَحْظُورٍ، مِنْ إِسْقَاطِ حَقٍّ، أَوْ مَعُونَةٍ عَلَى ظُلْمٍ، فَهُوَ فِي الشَّفَاعَةِ ظَالِمٌ وَبِقَبُولِ الْهَدِيَّةِ عَلَيْهَا آثِمٌ، تَحِلُّ لَهُ الشَّفَاعَةُ، وَلَا تَحِلُّ لَهُ الْهَدِيَّةُ،

Salah satunya: yaitu memberikan syafaat dalam perkara yang terlarang, seperti menggugurkan suatu hak atau membantu dalam kezaliman, maka dalam syafaat tersebut ia termasuk orang yang zalim dan dengan menerima hadiah atas syafaat itu ia berdosa. Syafaat itu halal baginya, namun hadiah atas syafaat tersebut tidak halal baginya.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَشْفَعَ فِي حَقٍّ يَجِبُ عَلَيْهِ الْقِيَامُ بِهِ، فَالشَّفَاعَةُ مُسْتَحَقَّةٌ عَلَيْهِ وَالْهَدِيَّةُ عَلَيْهِ مَحْظُورَةٌ؛ لِأَنَّ لَوَازِمَ الْحُقُوقِ لَا يُسْتَعْجَلُ عَلَيْهَا.

Bagian kedua: yaitu seseorang memberi syafaat dalam suatu hak yang wajib ia tunaikan, maka syafaat itu memang menjadi kewajibannya dan menerima hadiah atasnya adalah terlarang; karena segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dari hak-hak tidak boleh dipercepat (dengan imbalan).

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَشْفَعَ فِي مُبَاحٍ لَا يَلْزَمُهُ، فَهُوَ بِالشَّفَاعَةِ مُحْسِنٌ لِمَا فِيهَا مِنَ التَّعَاوُنِ، وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” اشْفَعُوا إِلَيَّ، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا يَشَاءُ “.

Bagian ketiga: yaitu memberikan syafaat dalam perkara yang mubah dan tidak wajib baginya, maka dengan syafaat tersebut ia berbuat kebaikan karena di dalamnya terdapat unsur tolong-menolong. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Berikanlah syafaat kepadaku, maka Allah akan memutuskan melalui lisan Rasul-Nya apa yang Dia kehendaki.”

وَلِلْهَدِيَّةِ عَلَى هَذِهِ الشفاعة ثلاثة أَحْوَالٍ:

Dan hadiah atas syafaat ini memiliki tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَشْتَرِطَهَا الشَّافِعُ فَقَبُولُهَا مَحْظُورٌ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ يَسْتَعْجِلُ عَلَى حَسَنٍ قَدْ كَانَ مِنْهُ.

Salah satunya: jika asy-Syafi‘i mensyaratkannya, maka menerima syarat tersebut terlarang baginya; karena ia telah tergesa-gesa terhadap sesuatu baik yang pernah ia lakukan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ الْمُهْدِي هَذِهِ الْهَدِيَّةُ جَزَاءٌ عَلَى شَفَاعَتِكَ فَقَبُولُهَا مَحْظُورٌ عَلَيْهِ، كَمَا لَوْ شَرَطَهَا؛ لِأَنَّهَا لَمَّا جُعَلِتْ جَزَاءً صَارَتْ كَالشَّرْطِ.

Keadaan kedua: Jika orang yang memberi hadiah berkata, “Hadiah ini sebagai imbalan atas syafaatmu,” maka menerimanya adalah terlarang baginya, sebagaimana jika hadiah itu disyaratkan; karena ketika hadiah itu dijadikan sebagai imbalan, maka kedudukannya menjadi seperti syarat.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يُمْسِكَ الشَّافِعُ عَنِ اشْتِرَاطِهَا وَيُمْسِكُ الْمُهْدِي عَنِ الْجَزَاءِ بِهَا فَإِنْ كَانَ مُهَادِيًا قَبْلَ الشَّفَاعَةِ، لَمْ يُمْنَعِ الشَّافِعُ مِنْ قَبُولِهَا وَلَمْ يُكْرَهْ لَهُ الْقَبُولُ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُهَادٍ قَبْلَ الشَّفَاعَةِ كُرِهَ لَهُ الْقَبُولُ، وَإِنْ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ فَإِنْ كافأ عليها لم يكره له القبول.

Keadaan ketiga: apabila orang yang memberi syafaat tidak mensyaratkan hadiah tersebut dan orang yang memberi hadiah juga tidak mengaitkannya dengan syafaat, maka jika ia memang biasa memberi hadiah sebelum adanya syafaat, tidak dilarang bagi pemberi syafaat untuk menerimanya dan tidak makruh baginya untuk menerima hadiah itu. Namun, jika ia bukan orang yang biasa memberi hadiah sebelum adanya syafaat, maka makruh baginya untuk menerima hadiah tersebut, meskipun tidak diharamkan baginya. Jika ia membalas hadiah itu dengan hadiah serupa, maka tidak makruh baginya untuk menerimanya.

(تقديم النظر بين المسافرين) .

Mendahulukan jamak salat di antara para musafir.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِذَا حَضَرَ مُسَافِرُونَ وَمُقِيمُونَ فَإِنْ كَانَ الْمُسَافِرُونَ قَلِيلًا فَلَا بَأْسَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِمْ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُمْ يَوْمًا بِقَدْرِ مَا لَا يَضُرُّ بِأَهْلِ الْبَلَدِ فَإِنْ كَثُرُوا حَتَّى سَاوَوْا أَهْلَ الْبَلَدِ آسَاهُمْ بِهِمْ وَلِكُلٍّ حَقٌّ “.

Syafi‘i berkata: “Jika ada musafir dan penduduk setempat yang hadir, maka jika jumlah musafir sedikit, tidak mengapa memulai dengan mereka dan menetapkan untuk mereka satu hari selama tidak merugikan penduduk setempat. Namun jika jumlah mereka banyak hingga setara dengan penduduk setempat, maka hendaknya diperlakukan sama di antara mereka, dan masing-masing memiliki hak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ عَلَى الْقَاضِي فِي النَّظَرِ بَيْنَ الْخُصُومِ أَنْ يُقَدِّمَ السَّابِقَ عَلَى الْمَسْبُوقِ، فَإِنْ حَضَرَهُ مُسَافِرُونَ وَمُقِيمُونَ، فَفِي تَأْخِيرِ الْمُسَافِرِينَ إِذَا كَانُوا مَسْبُوقِينَ إِضْرَارٌ بِهِمْ لِتَأَخُّرِهِمْ عَنِ العود إلى أوطانهم، فَإِنْ قَلُّوا وَلَمْ يَكْثُرُوا قَدَّمَهُمُ الْقَاضِي عَلَى الْمُقِيمِينَ.

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa hakim dalam memutuskan perkara di antara para pihak harus mendahulukan yang lebih dahulu datang daripada yang datang belakangan. Jika di hadapannya hadir para musafir dan orang-orang yang menetap, maka menunda perkara para musafir jika mereka datang belakangan akan menimbulkan mudarat bagi mereka karena keterlambatan mereka untuk kembali ke kampung halaman. Jika jumlah mereka sedikit dan tidak banyak, maka hakim mendahulukan mereka atas orang-orang yang menetap.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يُعْتَبَرُ فِي تَقْدِيمِهِمُ اسْتِطَابَةُ نُفُوسِ الْمُقِيمِينَ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat apakah dalam mendahulukan mereka (musafir) harus mempertimbangkan kerelaan hati para mukim; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: لَا تُعْتَبَرُ، وَيَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يُقَدِّمَهُمْ وَإِنْ كَرِهَ الْمُقِيمُونَ لِدُخُولِ الضَّرَرِ عَلَى الْمُسَافِرِينَ دُونَ الْمُقِيمِينَ.

Salah satu pendapat: tidak dianggap (pendapat para musafir), dan hakim boleh mendahulukan mereka (musafir) meskipun penduduk setempat tidak menyukainya, karena mudarat hanya menimpa para musafir, bukan penduduk setempat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: تُعْتَبَرُ اسْتِطَابَةُ نُفُوسِ الْمُقِيمِينَ فَإِنْ طَابَتْ نُفُوسُهُمْ بِتَقْدِيمِ الْمُسَافِرِينَ قَدَّمَهُمْ، وَإِنِ امْتَنَعُوا لَمْ يُجْبِرْهُمْ، لِاسْتِحْقَاقِ التَّقْدِيمِ بِالسَّبْقِ.

Pendapat kedua: yang dijadikan pertimbangan adalah kerelaan hati para mukim. Jika mereka rela mendahulukan para musafir, maka para musafir didahulukan. Namun jika mereka menolak, maka tidak boleh memaksa mereka, karena hak untuk didahulukan didasarkan pada siapa yang lebih dahulu hadir.

وَإِنْ كَثُرَ الْمُسَافِرُونَ حَتَّى سَاوَوْا أَهْلَ الْمِصْرَ كَأَيَّامِ الْمَوَاسِمِ بِمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ وَكَانَ فِي تَقْدِيمِهِمْ إِضْرَارٌ بِالْمُقِيمِينَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَرْفَعَ الضَّرَرَ عَنِ الْمُسَافِرِينَ بِإِدْخَالِهِ عَلَى الْمُقِيمِينَ، وَنُظِرَ: فَإِنْ كَانَ الْيَوْمُ الواحد للنظر بي المقيمين وَالْمُسَافِرِينَ جَعَلَ لِلْمُقِيمِينَ فِيهِ وَقْتًا وَلِلْمُسَافِرِينَ فِيهِ وَقَتًا، فَإِنِ اسْتَوَى الْفَرِيقَانِ سَوَّى بَيْنِ الْوَقْتَيْنِ، وَإِنْ تَفَاضَلَ الْفَرِيقَانِ فَاضَلَ فِيهِمَا بَيْنَ الْوَقْتَيْنِ.

Jika jumlah musafir sangat banyak hingga menyamai penduduk kota, seperti pada musim-musim tertentu di Makkah dan Madinah, dan jika mendahulukan mereka akan menimbulkan mudarat bagi penduduk setempat, maka tidak boleh menghilangkan mudarat dari para musafir dengan cara menimpakannya kepada penduduk. Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan: jika satu hari digunakan untuk melayani kebutuhan penduduk dan musafir, maka hendaknya diberikan waktu tertentu bagi penduduk dan waktu tertentu bagi musafir. Jika kedua kelompok jumlahnya sama, maka waktu dibagi rata di antara keduanya. Namun jika salah satu kelompok lebih banyak, maka waktu dibagi sesuai proporsi jumlah masing-masing.

وَإِنْ كَانَ الْيَوْمُ الْوَاحِدُ لَا يَتَّسِعُ لِلنَّظَرِ بَيْنَ الْفَرِيقَيْنِ، جَعَلَ لِلْمُسَافِرِينَ يَوْمًا وَلِلْمُقِيمِينَ يَوْمًا إِنِ اسْتَوَى الْفَرِيقَانِ، وَإِنْ تَفَاضَلُوا فَاضَلَ بَيْنَهُمْ فِي الْأَيَّامِ، وَخَصَّ الْمُسَافِرِينَ بِالْمَجْلِسِ الْأَوَّلِ إِنْ لَمْ يَضُرَّ الْمُقِيمِينَ، إِمَّا إِجْبَارًا عَلَى أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ وَإِمَّا بِاسْتِطَابَةِ نُفُوسِ الْمُقِيمِينَ عَلَى الْوَجْهِ الثَّانِي، وَإِنِ اسْتَضَرَّ بِهِ الْمُقِيمُونَ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فِي الْمَجْلِسِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ سَبْقٌ يُعْتَبَرُ، فَعَدَلَ فِيهِ إِلَى الْقُرْعَةِ، وَاسْتَقَرَّ بِهَا تَرْتِيبُ الْمَجَالِسِ فِيمَا بَعْدُ لِيَكُونَ مَجْلِسُ الْمُسَافِرِينَ مَعْرُوفًا وَمَجْلِسُ الْمُقِيمِينَ مَعْرُوفًا حَتَّى يَقْصِدَ كُلُّ فَرِيقٍ فِي يَوْمِهِ الْمَعْرُوفِ.

Jika satu hari tidak cukup untuk melakukan kajian antara dua kelompok, maka ia menetapkan satu hari untuk para musafir dan satu hari untuk para mukim jika kedua kelompok itu jumlahnya sama. Namun jika jumlah mereka berbeda, maka ia memberikan keutamaan dalam jumlah hari sesuai perbedaan tersebut. Ia mengkhususkan majelis pertama untuk para musafir jika hal itu tidak merugikan para mukim, baik secara paksaan menurut salah satu pendapat, atau dengan kerelaan hati para mukim menurut pendapat yang lain. Jika para mukim merasa dirugikan karenanya, maka dilakukan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang mendapat majelis pertama, karena dalam hal ini tidak ada keutamaan yang bisa dijadikan pertimbangan, sehingga dipilihlah undian sebagai jalan tengah. Dengan cara ini, urutan majelis-majelis berikutnya pun ditetapkan, sehingga majelis untuk para musafir dan majelis untuk para mukim menjadi jelas, agar setiap kelompok dapat menghadiri majelis pada hari yang telah diketahui untuk mereka.

فَإِذَا اتَّسَعَ مَجْلِسُ أَحَدِ الْفَرِيقَيْنِ فِي أَنْ يَنْظُرَ فِي يَقِينِهِ لِلْفَرِيقِ الْآخَرِ جَازَ، لِأَنَّهُ قَدِ اسْتَوْفَى أَهْلُهُ حَقَّهُمْ فِيهِ فَلَمْ يَبْقَ لَهُمْ حَقٌّ فِي بَاقِيهِ.

Maka apabila salah satu pihak telah diberi kesempatan yang luas untuk meneliti keyakinannya terhadap pihak lain, maka hal itu diperbolehkan, karena para anggotanya telah mengambil hak mereka di dalamnya sehingga mereka tidak lagi memiliki hak atas sisanya.

(تَقْدِيمُ النَّظَرِ بَيْنَ السَّابِقِينَ) .

Mendahulukan penelaahan di antara para pendahulu.

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يُقَدِّمُ رَجُلًا جَاءَ قَبْلَهُ رَجُلٌ “.

Syafi‘i berkata: “Dan seseorang tidak boleh mendahulukan seseorang yang telah didahului oleh orang lain.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ السَّبْقَ مُعْتَبَرٌ فِي تَقْدِيمِ النَّظَرِ بَيْنَ الْخُصُومِ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” منا مُنَاخُ مَنْ سَبَقَ ” وَكَمَا يُرَاعِي السَّبْقُ فِي مَقَاعِدِ الْأَسْوَاقِ وَفِي وُرُودِ الْمِيَاهِ وَفِي أَخْذِ الْمَعَادِنِ.

Al-Mawardi berkata: Kami telah menyebutkan bahwa mendahului (datang lebih awal) diperhitungkan dalam mendahulukan pemeriksaan perkara di antara para pihak yang berselisih, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Di sini adalah tempat singgah bagi siapa yang lebih dahulu datang.” Sebagaimana juga diperhatikan siapa yang lebih dahulu dalam menempati tempat di pasar, dalam mendatangi sumber air, dan dalam mengambil tambang.

فَإِذَا اجْتَمَعَ الْخُصُومُ نَدَبَ الْقَاضِي لَهُمْ مَنْ يَكْتُبُ الْأَسْبَقَ فَالْأَسْبَقَ لِيَنْظُرَ بَيْنَهُمْ عَلَى الْوَلَاءِ اعْتِبَارًا بِالسَّبْقِ.

Apabila para pihak yang bersengketa telah berkumpul, maka hakim menganjurkan kepada mereka agar seseorang menuliskan siapa yang lebih dahulu, kemudian yang berikutnya, agar ia dapat memeriksa perkara di antara mereka berdasarkan urutan kedatangan, dengan mempertimbangkan siapa yang lebih dahulu.

فَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي السَّبْقِ، أو جاؤوا مَعًا، أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ، إِنْ أَمْكَنَتِ الْقُرْعَةُ، لِقِلَّةِ عَدَدِهِمْ، وَرُتَبِهِمْ عَلَى مَا خَرَجَتْ بِهِ الْقُرْعَةُ.

Jika mereka berselisih tentang siapa yang lebih dahulu, atau mereka datang bersamaan, maka dilakukan undian di antara mereka jika memungkinkan untuk diundi karena jumlah mereka sedikit, dan mereka diurutkan sesuai hasil undian tersebut.

وَإِنْ تَعَذَّرَتِ الْقُرْعَةُ لِكَثْرَةِ عَدَدِهِمْ أَثْبَتَ اسْمَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فِي رُقْعَةٍ مُفْرَدَةٍ، وَطَوَاهَا الْقَاضِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَوْ غَطَّاهَا كَانَ أَوْلَى، وَرَتَّبَهُمْ عَلَى مَا تَخْرُجُ بِهِ رِقَاعُهُمْ.

Jika pengundian tidak memungkinkan karena banyaknya jumlah mereka, maka nama setiap laki-laki dari mereka dituliskan pada secarik kertas tersendiri, lalu hakim melipat kertas-kertas itu di hadapannya; jika kertas-kertas itu ditutup, itu lebih utama; kemudian hakim mengurutkan mereka sesuai dengan urutan keluarnya kertas-kertas tersebut.

فَإِذَا وَجَبَ تَقْدِيمُ أَحَدِهِمْ، إِمَّا بِالسَّبْقِ، وَإِمَّا بِالْقُرْعَةِ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُقَدِّمَ عَلَيْهِ غَيْرَهُ، فَيَصِيرُ بِتَقْدِيمِهِ جَائِرًا، يَفْعَلُ كَذَلِكَ فِي خَصْمٍ بَعْدَ خَصْمٍ، حَتَّى يَسْتَنْفِدَ جَمِيعَ الْخُصُومِ.

Maka apabila wajib mendahulukan salah satu dari mereka, baik karena lebih dahulu datang maupun melalui undian, tidak boleh mendahulukan selainnya atasnya. Jika ia tetap mendahulukan yang lain, maka ia menjadi orang yang berlaku zalim, dan ia akan melakukan hal yang sama pada satu pihak setelah pihak lainnya, hingga seluruh pihak yang bersengketa selesai.

فَإِنْ قَدَّمَ مَسْبُوقًا عَلَى سَابِقٍ بِطِيبِ نَفْسِ السَّابِقِ جَازَ، وَإِنْ قَدَّمَهُ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسِهِ ظَلَمَهُ، وَكَانَ حُكْمُهُ لِلْمَسْبُوقِ نَافِذًا، لِأَنَّهُ ظَلَمَ فِي السَّبْقِ وَلَمْ يَظْلِمْ فِي الْحُكْمِ.

Jika seseorang mendahulukan orang yang terlambat (masbūq) atas orang yang lebih dahulu (sābiq) dengan kerelaan hati dari yang lebih dahulu, maka hal itu diperbolehkan. Namun jika ia mendahulukannya tanpa kerelaan hati dari yang lebih dahulu, berarti ia telah berbuat zalim kepadanya. Meski demikian, keputusan yang diberikan kepada orang yang terlambat tetap sah, karena ia berbuat zalim dalam urusan mendahulukan, bukan dalam urusan keputusan.

فَإِنْ كَانَ الْمَسْبُوقُ مَرِيضًا يَسْتَضِرُّ بِالصَّبْرِ فَقَدْ عَذَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي حُقُوقِهِ بِالرُّخَصِ فَإِنْ عَذَرَهُ الْآدَمِيُّونَ بِهِ فِي تَقْدِيمِهِ عَلَيْهِمْ كَانَ أَوْلَى بِهِمْ، فَإِنْ شَاحُّوهُ قَدَّمَهُ الْقَاضِي إِنْ كَانَ مَطْلُوبًا، وَلَمْ يُقَدِّمْهُ إِنْ كَانَ طَالِبًا، لِأَنَّ الْمَطْلُوبَ مُجْبَرٌ وَالطَّالِبَ مُخَيَّرٌ

Jika makmum masbuk itu sedang sakit dan akan bertambah parah jika harus menunggu, maka Allah Ta‘ala telah memberinya keringanan dalam hak-hak-Nya melalui rukhsah. Jika manusia pun memaafkannya untuk mendahulukan dirinya atas mereka, maka itu lebih utama bagi mereka. Namun, jika mereka bersikap keras terhadapnya, maka hakim akan mendahulukannya jika ia adalah pihak yang dituntut, dan tidak mendahulukannya jika ia adalah pihak yang menuntut, karena pihak yang dituntut itu terpaksa, sedangkan pihak yang menuntut itu memiliki pilihan.

فَإِنْ كَثُرَ الْخُصُومُ وَلَمْ يَتَّسِعْ مَجْلِسُ يَوْمِهِ لِلنَّظَرِ بَيْنَ جَمِيعِهِمْ، وَاحْتَاجُوا لِكَثْرَةِ الْعَدَدِ إِلَى ثَلَاثَةِ مَجَالِسٍ كَانَ فِيهِمْ بَيْنَ خِيَارَيْنِ:

Jika para pihak yang berselisih sangat banyak dan majelis pada hari itu tidak cukup luas untuk memeriksa perkara di antara mereka semua, serta karena banyaknya jumlah mereka membutuhkan tiga majelis, maka dalam hal ini terdapat dua pilihan:

أَولَاهُمَا: أَنْ يُجَزِّئَ رِقَاعُهُمْ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ وَيَجْعَلَ كُلَّ جُزْءٍ فِي إِضْبَارَةٍ يَعْرِفُ أَسْمَاءَ مَنْ فِيهَا وَيَقْرَعُ بَيْنَ الْأَضَابِيرِ الثَّلَاثِ، فَإِذَا خَرَجَتِ الْقُرْعَةُ الْأُولَى لِأَحَدِهَا أَثْبَتَ عَلَيْهَا الْمَجْلِسَ الْأَوَّلَ، وَإِذَا خَرَجَتِ الثَّانِيَةُ لِأُخْرَى أَثْبَتَ عَلَيْهَا الْمَجْلِسَ الثَّانِي، وَيَثْبُتُ عَلَى الْأَخِيرَةِ الْمَجْلِسُ الثَّالِثُ. وَقَدَّمَ لِمَجْلِسِ يَوْمِهِ أَهْلَ الْإِضْبَارَةِ الْأُولَى، وَأَعْلَمَ أَهْلَ الْإِضْبَارَةِ الثَّانِيَةِ أَنَّ لَهُمُ الْمَجْلِسَ الثَّانِيَ، وَأَعْلَمَ أَهْلَ الْإِضْبَارَةِ الثَّالِثَةِ أَنَّ لَهُمُ الْمَجْلِسَ الثَّالِثَ، حَتَّى يَنْصَرِفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لِأَشْغَالِهِ لِيَأْتِيَهُ فِي يَوْمِهِ مِنْ غَيْرِ تَرْدَادٍ فَهَذَا أَوْلَى الْأَمْرَيْنِ.

Yang pertama: membagi daftar nama mereka menjadi tiga bagian, lalu menempatkan setiap bagian dalam satu map yang ia ketahui nama-nama orang di dalamnya, kemudian mengundi di antara tiga map tersebut. Jika undian pertama jatuh pada salah satu map, maka ia menetapkan untuknya majelis pertama; jika undian kedua jatuh pada map yang lain, maka ia menetapkan untuknya majelis kedua; dan untuk map terakhir ditetapkan majelis ketiga. Kemudian, untuk majelis pada hari itu, ia mendahulukan orang-orang dalam map pertama, lalu memberitahu orang-orang dalam map kedua bahwa mereka mendapat giliran pada majelis kedua, dan memberitahu orang-orang dalam map ketiga bahwa mereka mendapat giliran pada majelis ketiga, agar masing-masing dari mereka dapat kembali mengurus pekerjaannya dan datang pada hari yang telah ditentukan tanpa harus bolak-balik. Inilah cara pertama dari dua cara tersebut.

وَالْخِيَارُ الثَّانِي: أَنْ يَسْتَوْقِفَهُمْ فِي يَوْمِهِ، وَيَنْظُرَ فِيهِ بَيْنَ مَنِ اتَّسَعَ لَهُ مَجْلِسُهُ، فَيُنَادِي بِحُضُورِ مَنْ خَرَجَتْ لَهُ قُرْعَتُهُ وَيَنْظُرُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَصْمِهِ، ثُمَّ يُنَادِي بِحُضُورِ مَنْ خَرَجَتْ لَهُ الْقُرْعَةُ الثَّانِيَةُ وَمَنْ بَعْدَهَا، حَتَّى يَسْتَوْعِبَ جَمِيعَ مَجْلِسِهِ بِالنَّظَرِ بَيْنَ مَنْ خَرَجَتْ رِقَاعُهُمْ فِيهِ فَإِذَا انْقَضَى الْمَجْلِسُ قَالَ لِمَنْ بَقِيَ مِنْهُمْ عُودُوا فِي الْمَجْلِسِ الثَّانِي، فَإِذَا عَادُوا فِيهِ قَدَّمَهُمْ عَلَى مَنِ اسْتَأْنَفَ الْحُضُورَ فِي الْمَجْلِسِ الثَّانِي، وَنَظَرَ بَيْنَهُمْ وَقَدَّمَ مِنْهُمْ بِالرِّقَاعِ مَنْ تَقَدَّمَتْ رُقْعَتُهُ، فَإِذَا اسْتَوْعَبَ مَجْلِسُهُ الثَّانِي وَقَدْ بَقِيَتْ مِنْهُمْ بَقِيَّةٌ، وَعَدَهُمُ الْمَجْلِسَ الثَّالِثَ، وَوَعَدَ مَنِ اسْتَأْنَفَ حُضُورَ الْمَجْلِسِ الثَّانِي إِلَى الْمَجْلِسِ الثَّالِثِ، فَإِذَا جَلَسَ فِي الْمَجْلِسِ الثَّالِثِ قَدَّمَ أَهْلَ الْمَجْلِسِ الْأَوَّلِ عَلَى أَهْلِ الْمَجْلِسِ الثَّانِي ثُمَّ يَفْعَلُ عَلَى هَذَا الْمِثَالِ أَبَدًا.

Pilihan kedua adalah ia menahan mereka pada harinya, lalu memeriksa perkara mereka di hari itu sesuai dengan kelapangan majelisnya. Maka ia memanggil orang yang keluar undiannya untuk hadir, lalu memeriksa perkara antara dia dan lawannya. Kemudian ia memanggil orang yang keluar undian kedua dan seterusnya, hingga ia memenuhi seluruh majelisnya dengan memeriksa perkara orang-orang yang keluar undiannya pada hari itu. Jika majelis telah selesai, ia berkata kepada siapa saja yang masih tersisa di antara mereka: “Kembalilah pada majelis kedua.” Ketika mereka kembali, ia mendahulukan mereka atas orang yang baru hadir di majelis kedua, dan memeriksa perkara mereka, serta mendahulukan di antara mereka berdasarkan undian siapa yang undiannya lebih dulu keluar. Jika majelis kedua telah penuh dan masih ada yang tersisa di antara mereka, ia menjanjikan mereka untuk hadir di majelis ketiga, dan menjanjikan pula kepada orang yang baru hadir di majelis kedua untuk hadir di majelis ketiga. Ketika ia duduk di majelis ketiga, ia mendahulukan orang-orang dari majelis pertama atas orang-orang dari majelis kedua, kemudian ia terus melakukan seperti ini seterusnya.

وَيَنْبَغِي لَهُ إِذَا كَثُرَ الْخُصُومُ أَنْ يَزِيدَ فِي عَدَدِ مَجَالِسِهِ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ حَتَّى لَا يَتَمَادَى فِي أَمْرِ الْخُصُومِ لِتَكُونَ مَجَالِسُهُ كَافِيَةً لِجَمِيعِ الْخُصُومِ.

Dan sebaiknya jika jumlah para pihak yang bersengketa banyak, ia menambah jumlah majelisnya setiap minggu agar perkara para pihak tidak berlarut-larut, sehingga majelis-majelisnya cukup untuk menampung semua pihak yang bersengketa.

(فصل: صفة الرقاع) .

(Bab: Sifat-sifat rikā‘).

فَأَمَّا صِفَةُ الرِّقَاعِ الَّتِي تُثْبَتُ فِيهَا أَسْمَاءُ الْخُصُومِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الَّذِي يَتَوَلَّى إِثْبَاتَ أَسْمَائِهِمْ فِيهَا أَمِينًا فَطِنًا، وَيُثْبِتُ فِي كُلِّ رِقْعَةٍ اسْمَ الطَّالِبِ، وَاسْمَ أَبِيهِ، وَجَدِّهِ وَقَبِيلَتِهِ، وَصِنَاعَتِهِ.

Adapun mengenai bentuk lembaran-lembaran yang di dalamnya dicatat nama-nama para pihak yang bersengketa, maka sebaiknya orang yang bertugas mencatat nama-nama mereka di dalamnya adalah seseorang yang amanah dan cerdas. Ia harus mencatat dalam setiap lembaran nama pihak penuntut, nama ayahnya, kakeknya, kabilahnya, dan profesinya.

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: يُثْبِتُ مَعَهُ فِي الرُّقْعَةِ اسْمَ الْمَطْلُوبِ.

Sebagian dari ulama kami berkata: Hendaknya ia mencantumkan bersama surat tersebut nama pihak yang diminta.

وَلَا مَعْنَى عِنْدِي لِإِثْبَاتِ اسْمِهِ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ فِي الْإِثْبَاتِ لِلطَّالِبِ دُونَ الْمَطْلُوبِ. وَلَوْ ثَبَتَ مَعَهُ اسْمُ الْمَطْلُوبِ فَقَالَ الطَّالِبُ أُرِيدُ أَنْ أُحَاكِمَ غَيْرَهُ فِي هَذَا الْمَجْلِسِ لَمْ يَمْنَعْ، فَلَمْ يَكُنْ لِإِثْبَاتِهِ مَعَهُ وَجْهٌ.

Menurut saya, tidak ada makna dalam menetapkan namanya; karena hak dalam penetapan itu adalah milik pihak penuntut, bukan pihak yang dituntut. Andaikan bersama penuntut juga ditetapkan nama pihak yang dituntut, lalu penuntut berkata, “Saya ingin mengajukan perkara terhadap orang lain di majelis ini,” maka hal itu tidak dilarang. Maka, tidak ada alasan untuk menetapkan namanya bersama penuntut.

فَإِذَا أُرِيدَ إِحْضَارُهُ عِنْدَ خُرُوجِ رُقْعَتِهِ نُودِيَ بِاسْمِهِ وَحْدَهُ دُونَ اسْمِ أَبِيهِ وَجَدِّهِ فَإِذَا حَضَرَ سَأَلَهُ الْقَاضِي عَنِ اسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيهِ وَجَدِّهِ فَإِذَا وَافَقَ مَا فِي الرُّقْعَةِ نَظَرَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَصْمِهِ وَإِنْ خَالَفَ مَا فِي الرُّقْعَةِ قَالَ لَهُ الْقَاضِي لَيْسَتْ هَذِهِ رُقْعَتُكَ فَانْصَرِفْ حَتَّى يَحْضُرَ صَاحِبُهَا. وَنُودِيَ ثَانِيَةً حَتَّى يَحْضُرَ مَنْ هُوَ صَاحِبُهَا ثُمَّ عَلَى هَذَا، فَلَوْ نُودِيَ صَاحِبُ رُقْعَةٍ فَلَمْ يَحْضُرْ، كَرَّرَ النِّدَاءَ ثَلَاثًا، فَإِنْ لَمْ يَحْضُرْ أُخْرِجَتْ رُقْعَةُ غَيْرِهِ وَنُودِيَ صَاحِبُهَا.

Jika seseorang ingin dihadirkan ketika surat panggilannya keluar, maka dipanggil namanya saja tanpa menyebut nama ayah dan kakeknya. Ketika ia hadir, hakim menanyakan namanya, nama ayahnya, dan nama kakeknya. Jika sesuai dengan yang tertulis dalam surat panggilan, maka hakim memeriksa perkara antara dia dan lawannya. Namun jika tidak sesuai dengan yang tertulis dalam surat panggilan, hakim berkata kepadanya, “Ini bukan surat panggilanmu, pergilah sampai pemiliknya hadir.” Kemudian dipanggil lagi sampai pemilik surat panggilan itu hadir, dan demikian seterusnya. Jika pemilik surat panggilan telah dipanggil tetapi tidak hadir, maka panggilan diulangi tiga kali. Jika tetap tidak hadir, maka surat panggilan orang lain dikeluarkan dan pemiliknya dipanggil.

فَإِذَا حَضَرَ صَاحِبُ الرُّقْعَةِ الْأُولَى، وَقَدْ حَضَرَ صَاحِبُ الرُّقْعَةِ الثَّانِيَةِ فَإِنْ كَانَ حُضُورُهُ قَبْلَ الشُّرُوعِ فِي النَّظَرِ بَيْنَ الثَّانِي وَخَصْمِهِ قَدَّمَ الْأُولَى عَلَيْهِ، وَإِنْ شَرَعَ فِي النَّظَرِ لَمْ يَقْطَعِ النَّظَرَ، وَاسْتَوْفَاهُ ثُمَّ نَظَرَ لِلْأَول بَعْدَهُ ثُمَّ عَلَى هَذَا الْمِثَالِ.

Jika pemilik surat panggilan pertama datang, sementara pemilik surat panggilan kedua juga telah hadir, maka jika kedatangannya sebelum mulai memeriksa perkara antara yang kedua dan lawannya, didahulukan yang pertama atasnya. Namun jika pemeriksaan perkara telah dimulai, maka pemeriksaan tidak dihentikan, melainkan diselesaikan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru memeriksa perkara yang pertama, dan demikian seterusnya menurut pola ini.

وَلَوْ أَنَّ الْقَاضِيَ اسْتَنَابَ فِي إِخْرَاجِ هَذِهِ الرِّقَاعِ وَفِي الْإِقْرَاعِ مَنْ يَثِقُ بِعَقْلِهِ وَفِطْنَتِهِ مِنْ أُمَنَائِهِ وَثِقَاتِهِ لِيَتَوَفَّرَ بِهِ عَلَى نَظَرِهِ جَازَ وَكَانَ أَبْلَغَ فِي صِيَانَتِهِ.

Dan jika seorang qadhi mewakilkan kepada seseorang yang ia percayai akal dan kecerdasannya dari kalangan orang-orang yang amanah dan terpercaya untuk membagikan surat-surat ini dan melakukan pengundian, agar ia dapat lebih fokus pada tugas pengawasannya, maka hal itu diperbolehkan dan bahkan lebih baik dalam menjaga keadilan.

(لَا يَسْمَعُ مِنَ الْخَصْمِ إِلَّا دَعْوَى وَاحِدَةً في المجلس) .

Hakim tidak mendengarkan dari pihak yang bersengketa kecuali satu gugatan saja dalam satu majelis.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَلَا يَسْمَعُ بَيِّنَةً فِي مَجْلِسٍ إِلَا فِي حُكْمٍ وَاحِدٍ فَإِذَا فَرَغَ أَقَامَهُ وَدَعَا الَّذِي بَعْدَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Tidak boleh mendengarkan bukti (kesaksian) dalam satu majelis kecuali untuk satu perkara hukum saja. Jika telah selesai, hakim mempersilakan saksi tersebut pergi dan memanggil saksi berikutnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: إِذَا نَظَرَ بَيْنَ السَّابِقِ وَبَيْنَ خَصْمِهِ فِي دَعْوَى، بَتَّ الْحُكْمَ فِيهَا، ثُمَّ اسْتَأْنَفَ دَعْوَى ثَانِيَةً فَإِنْ كَانَتْ عَلَى غَيْرِ الْخَصْمِ الْأَوَّلِ لَمْ يَسْمَعْهَا إِلَّا فِي مَجْلِسٍ ثَانٍ، لِأَنَّ سَبْقَهُ فِي هَذَا الْمَجْلِسِ مُسْتَحَقٌّ لِحُكْمٍ وَاحِدٍ. وَلَوْ جَازَ أَنْ يَسْتَحِقَّ بِهِ مُحَاكَمَةً جَمَاعَةً لَاسْتَوْعَبَ جَمِيعَ الْمَجْلِسِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، وَأَضَرَّ بِغَيْرِهِ.

Al-Mawardi berkata: Jika seseorang yang lebih dahulu (datang) bersengketa dengan lawannya dalam suatu gugatan, lalu hakim telah memutuskan perkara tersebut, kemudian ia mengajukan gugatan kedua, maka jika gugatan itu ditujukan kepada selain lawan yang pertama, gugatan itu tidak akan didengar kecuali dalam majelis yang lain. Sebab, keutamaannya dalam majelis ini hanya berhak untuk satu putusan saja. Jika dibolehkan baginya untuk mengajukan gugatan terhadap sekelompok orang sekaligus, niscaya ia akan menguasai seluruh majelis untuk kepentingan dirinya sendiri dan hal itu akan merugikan orang lain.

وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى الثَّانِيَةُ عَلَى الْخَصْمِ الْأَوَّلِ، فَفِي جَوَازِ سَمَاعِهَا مِنْهُ بِسَبْقِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika gugatan kedua ditujukan kepada pihak lawan yang pertama, maka dalam kebolehan mendengarkannya darinya karena ia lebih dahulu, terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَسْمَعُهَا لِأَنَّهَا مَعَ خَصْمٍ وَاحِدٍ.

Salah satunya: ia mendengarkannya karena perkara itu hanya dengan satu pihak lawan.

وَالثَّانِي: لَا يَسْمَعُهَا لِأَنَّهَا فِي مُحَاكَمَةٍ أُخْرَى.

Dan yang kedua: ia tidak mendengarkannya karena ia sedang berada dalam persidangan lain.

وَلَوْ أَنَّ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بَعْدَ انِبْرِامِ الْحُكْمِ مَعَهُ اسْتَأْنَفَ دَعْوَى عَلَى الْمُدَّعِي، فَإِنْ لَمْ يَكُنِ اسْمُهُ ثَابِتًا فِي رُقْعَةِ الْمُدَّعِي لَمْ يَسْمَعْهَا.

Dan jika pihak tergugat, setelah putusan ditetapkan atasnya, mengajukan gugatan baru terhadap penggugat, maka jika namanya tidak tercantum dalam surat gugatan penggugat, gugatan tersebut tidak diterima.

وَإِنْ كَانَ اسْمُهُ ثَابِتًا فِي رُقْعَةِ الْمُدَّعِي فَفِيهِ وَجْهَانِ:

Jika namanya tercantum dalam surat gugatan penggugat, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُما: يَسْمَعُ دَعْوَاهُ بِهَذَا السَّبْقِ. وَهُوَ قَوْلُ مَنْ يَرَى إِثْبَاتَ اسْمِهِ فِي رُقْعَةِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: mendengarkan pengakuannya dengan klaim ini. Dan ini adalah pendapat orang yang berpendapat bahwa namanya dicantumkan dalam surat permohonan pihak penggugat.

وَالثَّانِي: لَا يَسْمَعُهَا إِلَّا فِي مَجْلِسٍ آخَرَ.

Yang kedua: ia tidak mendengarnya kecuali di majelis yang lain.

وَهُوَ الَّذِي أَرَاهُ صَوَابًا، لِأَنَّ اسمه لأن لَمْ يَثْبُتْ فِيهَا لِحَقِّهِ وَإِنَّمَا ثَبَتَ لِحَقِّ غَيْرِهِ.

Dan inilah yang aku pandang sebagai pendapat yang benar, karena namanya tidak tetap padanya karena haknya, melainkan tetap karena hak orang lain.

فَإِنْ كَانَ هَذَا الْمُدَّعِي مُحَاكَمًا فِي آخِرِ الْمَجْلِسِ الَّذِي لَمْ يَبْقَ فِيهِ سَبْقٌ لِغَيْرِهِ جَازَ أَنْ تُسْمَعَ مِنْهُ دَعْوَاهُ عَلَى وَاحِدٍ وَعَلَى جَمَاعَةٍ، وَجَازَ أَنْ تُسْمَعَ دَعْوَى الْخَصْمِ عَلَيْهِ، وَعَلَى غَيْرِهِ، مَا كَانَ فِي الْمَجْلِسِ بَقِيَّةٌ.

Jika penggugat ini diadili pada akhir majelis yang tidak ada lagi giliran untuk selainnya, maka boleh didengarkan gugatan darinya terhadap satu orang maupun terhadap sekelompok orang, dan boleh pula didengarkan gugatan lawan terhadapnya maupun terhadap orang lain, selama masih ada sisa waktu dalam majelis tersebut.

فَإِنْ كَانَ هَذَا الْمُدَّعِي سَابِقًا فَادَّعَى عَلَى اثْنَيْنِ مَعًا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ، فَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى مُخْتَلِفَةً لَمْ تُسْمَعْ مِنْهُ إِلَّا عَلَى وَاحِدٍ، وَإِنْ كَانَتِ الدَّعْوَى وَاحِدَةً كَادِّعَائِهِ ابْتِيَاعَ دَارٍ مِنْهُمَا، أَوْ بَيْعَ دَارٍ عَلَيْهِمَا، جَازَ أَنْ تُسْمَعَ دَعْوَاهُ عَلَيْهِمَا؛ لِأَنَّهَا مُحَاكَمَةٌ وَاحِدَةٌ بَيْنَ طَالِبٍ وَمَطْلُوبَيْنِ.

Jika penggugat ini sebelumnya telah mengajukan gugatan, lalu ia menggugat dua orang sekaligus dalam satu keadaan, maka jika gugatan tersebut berbeda, hanya akan diterima darinya terhadap salah satu saja. Namun jika gugatannya satu, seperti ia mengklaim telah membeli rumah dari keduanya, atau menjual rumah kepada mereka berdua, maka boleh gugatan itu didengar terhadap keduanya; karena ini merupakan satu perkara antara satu penuntut dan dua pihak yang dituntut.

وَلَوِ اجْتَمَعَ اثْنَانِ فِي الدَّعْوَى عَلَى وَاحِدٍ، فَإِنِ اخْتَلَفَتْ دَعْوَاهُمَا لَمْ تُسْمَعْ إِلَّا مِنْ أَحَدِهِمَا وَإِنْ لم تختلف دعواهما لادعائهما مِيرَاثًا بَيْنَهُمَا أَوِ ادِّعَائِهِمَا عَلَيْهِ ابْتِيَاعَ دَارٍ لَهُمَا جَازَ أَنْ تُسْمَعَ دَعْوَاهُمَا عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهَا مُحَاكَمَةٌ وَاحِدَةٌ بَيْنَ طَالِبَيْنِ وَمَطْلُوبٍ.

Jika dua orang bersama-sama mengajukan gugatan terhadap satu orang, lalu gugatan mereka berbeda, maka hanya gugatan salah satu dari mereka yang dapat didengar. Namun, jika gugatan mereka tidak berbeda, seperti keduanya mengklaim warisan di antara mereka atau keduanya menggugatnya atas pembelian sebuah rumah untuk mereka berdua, maka boleh gugatan mereka berdua didengar terhadapnya; karena hal itu merupakan satu perkara antara dua penggugat dan satu tergugat.

(رِزْقُ الْقُضَاةِ)

(Rezeki para qadhi)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ مَعَ رِزْقِ الْقَاضِي شَيْئًا لِقَرَاطِيسِهِ وَلَا يُكَلِّفُهُ الطَّالِبَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلَ قَالَ لِلطَّالِبِ إِنْ شِئْتَ بِصَحِيفَةٍ فِيهَا شَهَادَةُ شَاهِدَيْكَ وَكِتَابُ خُصُومَتِكَ وَلَا أُكْرِهُكَ وَلَا أَقْبَلُ أَنْ يَشْهَدَ لَكَ شَاهِدٌ بِلَا كِتَابٍ وَأَنْسَى شَهَادَتَهُ “.

Syafi‘i berkata: “Seyogianya imam memberikan kepada qadhi, selain gajinya, sesuatu untuk keperluan kertas-kertasnya, dan tidak membebani pencari keadilan. Jika tidak dilakukan, maka qadhi berkata kepada pencari keadilan: ‘Jika engkau mau, bawalah lembaran yang berisi kesaksian dua saksimu dan tulisan perkara gugatanmu, dan aku tidak memaksamu, serta aku tidak menerima jika ada saksi yang bersaksi untukmu tanpa adanya tulisan, karena aku bisa lupa terhadap kesaksiannya.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ تَشْتَمِلُ عَلَى فَصْلَيْنِ:

Al-Mawardi berkata: Masalah ini mencakup dua bagian:

أَحَدُهُمَا: فِي رِزْقِ الْقَاضِي.

Salah satunya: tentang nafkah (rizki) bagi qadhi.

وَالْقَضَاءُ مِمَّا يَجُوزُ أَخْذُ الرِّزْقِ عَلَيْهِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ لِلْعَامِلِينَ عَلَى الصَّدَقَاتِ سَهْمًا فِيهَا وَقَدِ اسْتَقْضَى عُمَرُ شُرَيْحًا وَجَعَلَ لَهُ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِائَةَ دِرْهَمٍ رِزْقًا فَلَمَّا أَفْضَتِ الْخِلَافَةُ إِلَى عَلِيٍّ جَعَلَ رِزْقَهُ فِي كُلِّ شَهْرٍ خَمْسَمِائَةِ دِرْهَمٍ. وَأَخَذَ زيد بْنُ ثَابِتٍ عَلَى الْقَضَاءِ رِزْقًا، وَلِأَنَّهُ لَمَّا ارْتَزَقَ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ عَلَى الْخِلَافَةِ لِانْقِطَاعِهِمْ بِهَا عَنِ الْمَكَاسِبِ، كَانَ الْقُضَاةُ بِمَثَابَتِهِمْ.

Qadha (peradilan) termasuk perkara yang boleh diambil imbalan darinya dari Baitul Mal; karena Allah Ta‘ala telah menetapkan bagian bagi para amil zakat di dalamnya. Umar pernah mengangkat Syuraih sebagai qadhi dan memberinya penghasilan seratus dirham setiap bulan. Ketika kekhilafahan berpindah kepada Ali, ia menetapkan penghasilan Syuraih menjadi lima ratus dirham setiap bulan. Zaid bin Tsabit juga menerima penghasilan atas tugas qadha. Karena para khalifah Rasyidun—semoga Allah meridhai mereka—mengambil penghasilan atas tugas kekhilafahan karena mereka terputus dari usaha duniawi, maka para qadhi pun diperlakukan seperti mereka.

وَيَكُونُ هَذَا الرِّزْقُ جُعَالَةً وَلَا يَكُونُ أُجْرَةً، لِأَنَّ الْأُجْرَةَ مُسْتَحَقَّةٌ بِعَقْدٍ لَازِمٍ وَالْجُعَالَةُ مُسْتَحَقَّةٌ بِعَقْدٍ جَائِزٍ. وَالْقَضَاءُ فِي الْعُقُودِ الْجَائِزَةِ دُونَ اللَّازِمَةِ فَلِذَلِكَ كَانَ الرِّزْقُ فِيهِ جُعَالَةً وَلَمْ يَكُنْ أُجْرَةً.

Dan rezeki ini berupa ju‘ālah (imbalan yang dijanjikan), bukan berupa upah (‘ujrah), karena upah menjadi hak dengan adanya akad yang mengikat, sedangkan ju‘ālah menjadi hak dengan akad yang boleh (tidak mengikat). Putusan (hukum) dalam akad-akad yang boleh (jā’izah) berbeda dengan akad-akad yang mengikat (lāzimah), oleh karena itu rezeki dalam hal ini berupa ju‘ālah dan bukan berupa upah.

وَإِذَا جَازَ ارْتِزَاقُ الْقُضَاةِ بِمَا وَصَفْنَا، فَمَتَى وَجَدَ الْإِمَامُ مُتَطَوِّعًا بِالْقَضَاءِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُعْطِيَ عَلَى الْقَضَاءِ رِزْقًا وَإِنْ لَمْ يَجِدْ مُتَطَوِّعًا بِهِ جَازَ أَنْ يُعْطِيَ الرِّزْقَ عَلَيْهِ.

Jika diperbolehkan para qadi menerima penghasilan sebagaimana telah kami jelaskan, maka apabila imam menemukan seseorang yang bersedia menjadi qadi secara sukarela, tidak boleh memberinya penghasilan atas tugas kehakiman itu. Namun, jika tidak ditemukan orang yang bersedia secara sukarela, maka boleh memberikan penghasilan atas tugas kehakiman tersebut.

وَالْأَوْلَى بِالْقَاضِي إِذَا اسْتَغْنَى عَنِ الرِّزْقِ أَنْ يَتَطَوَّعَ بِعَمَلِهِ لِلَّهِ تَعَالَى الْتِمَاس ثَوَابِهِ وَإِنِ اسْتَبَاحَ أَخْذَهُ مَعَ الْحَاجَةِ وَالْغِنَى.

Yang lebih utama bagi seorang qadhi, jika ia tidak membutuhkan penghasilan, adalah mengabdikan pekerjaannya secara sukarela karena Allah Ta‘ala demi mengharap pahala-Nya, meskipun ia dibolehkan mengambil penghasilan itu baik dalam keadaan membutuhkan maupun berkecukupan.

وَرِزْقُهُ مُقَدَّرٌ بِالْكِفَايَةِ مِنْ غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا تَقْتِيرٍ.

Rezekinya ditetapkan sesuai kebutuhan, tanpa berlebihan dan tanpa kekurangan.

وَكَذَلِكَ أَرْزَاقُ أَعْوَانِهِ مِنْ كَاتِبٍ، وَحَاجِبٍ، وَنَائِبٍ، وَقَاسِمٍ، وَسَجَّانٍ حَتَّى لَا يَسْتَجْعِلَ وَاحِدٌ مِنْهُمْ خَصْمًا.

Demikian pula, rezeki para pembantunya seperti penulis, penjaga pintu, wakil, pembagi, dan sipir, agar tidak ada seorang pun dari mereka yang mengambil upah dari salah satu pihak yang bersengketa.

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَيَجْعَلُ مَعَ رِزْقِ الْقَاضِي شَيْئًا لِقَرَاطِيسِهِ، لِأَنَّهُ لَا يَسْتَغْنِي عَنْ إِثْبَاتِ الْحُجَجِ وَالْمُحَاكَمَاتِ، وَكَتْبِ الْمُحَاضِرِ وَالسِّجِلَّاتِ، وَهِيَ مِنْ عُمُومِ الْمَصَالِحِ فَكَانَ سَهْمُ الْمَصَالِحِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ أَحَقَّ بِتَحَمُّلِهَا.

Syafi‘i berkata: Hendaknya diberikan bersama nafkah untuk qadhi sesuatu untuk kertas-kertasnya, karena ia tidak dapat lepas dari kebutuhan untuk mencatat hujjah-hujjah dan perkara-perkara, serta menulis berita acara dan catatan-catatan, dan semua itu termasuk kemaslahatan umum, maka bagian kemaslahatan dari Baitul Mal lebih berhak menanggungnya.

فَإِنْ تَعَذَّرَتْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ، قَالَ الْقَاضِي لِلْمَحْكُومِ لَهُ: إِنْ شِئْتَ فَأْتِ بِقِرْطَاسٍ تَكْتُبُ فِيهِ شَهَادَةَ شَاهِدَيْكَ وَخُصُومَتَكَ، وَهُوَ عَلَى التَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ؛ لِأَنَّهُ يَبْدَأُ بِكَتْبِ الْخُصُومَةِ ثُمَّ بِالشَّهَادَةِ ثُمَّ بِالْحُكْمِ.

Jika tidak memungkinkan dari baitul mal, maka hakim berkata kepada pihak yang dimenangkan: “Jika engkau mau, bawalah kertas lalu tulislah di dalamnya kesaksian dua saksimu dan perkara gugatanmu.” Urutannya bisa didahulukan atau diakhirkan, karena biasanya dimulai dengan menulis perkara gugatan, kemudian kesaksian, lalu putusan.

وَلَا يُكْرَهُ عَلَى الْقَرَاطِيسِ لِأَنَّهُ لِوَثِيقَةٍ هُوَ مُخَيَّرٌ فِي التَّوَثُّقِ بِهَا وَقِيلَ: لَكَ الْخِيَارُ فِي إِحْضَارِ قِرْطَاسٍ تَكْتُبُ فِيهِ حُجَّتَكَ.

Dan tidak dimakruhkan (menulis) di atas kertas, karena itu merupakan bentuk penguatan (bukti), dan seseorang diberi pilihan dalam menguatkan (bukti) dengannya. Ada pula yang berpendapat: Engkau memiliki pilihan untuk menghadirkan kertas yang di dalamnya engkau menuliskan hujjahmu.

فَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ: اكْتُبْ فِيهِ شَهَادَةَ شَاهِدَيْكَ وَكِتَابَ خُصُومَتكَ، ثُمَّ قَالَ وَلَا أَقْبَلُ أَنْ يَشْهَدَ لَكَ شَاهِدٌ بِلَا كِتَابٍ، فَأَنْسَى شَهَادَتَهُ. فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَأْوِيلِهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Adapun perkataan asy-Syafi‘i: “Tulislah di dalamnya kesaksian dua saksimu dan catatan gugatanmu,” kemudian beliau berkata, “Aku tidak menerima seorang saksi bersaksi untukmu tanpa adanya catatan, maka aku melupakan kesaksiannya.” Maka para sahabat kami berbeda pendapat dalam menafsirkan perkataan ini menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ يَكْتُبُ فِيهِ مَا حَكَمَ لَهُ بِالشَّهَادَةِ.

Yang pertama: bahwa ia menuliskan di dalamnya apa yang telah diputuskan untuknya berdasarkan kesaksian.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكْتُبَ فِيهِ الشَّهَادَةَ قَبْلَ إِنْكَارِ الْخَصْمِ لِيَحْكُمَ بِهَا فَمَنْ ذَهَبَ إِلَى التَّأْوِيلِ الْأَوَّلِ مَنَعَ مِنْ سَمَاعِ الشَّهَادَةِ قَبْلَ إِنْكَارِ الْخَصْمِ وَمَنْ ذَهَبَ إِلَى التَّأْوِيلِ الثَّانِي جَوَّزَ سَمَاعَ الشَّهَادَةِ قَبْلَ إنكار الخصم.

Kedua: Menuliskan kesaksian di dalamnya sebelum penyangkalan dari pihak lawan, agar dapat diputuskan dengannya. Maka, siapa yang mengikuti penafsiran pertama, melarang mendengarkan kesaksian sebelum penyangkalan dari pihak lawan. Dan siapa yang mengikuti penafsiran kedua, membolehkan mendengarkan kesaksian sebelum penyangkalan dari pihak lawan.

( [القول في عجز بيت المال عن راتب القاضي] )

(Pembahasan tentang ketidakmampuan Baitul Mal dalam memberikan gaji kepada qadhi)

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَإِذَا تَعَذَّرَ رِزْقُ الْقَاضِي مِنْ بَيْتِ الْمَالِ وَأَرَادَ أَنْ يَرْتَزِقَ مِنَ الْخُصُومِ فَإِنْ لَمْ يَقْطَعْهُ النَّظَرُ عَنِ اكْتِسَابِ الْمَادَّةِ إِمَّا لِغِنَائِهِ بِمَا يَسْتَجِدُّهُ وَإِمَّا لِقِلَّةِ الْمُحَاكَمَاتِ الَّتِي لَا تَمْنَعُهُ مِنَ الِاكْتِسَابِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَرْتَزِقَ مِنَ الْخُصُومِ.

Dan apabila penghasilan qadhi dari baitul mal tidak tersedia, lalu ia ingin mengambil penghasilan dari para pihak yang bersengketa, maka jika pekerjaannya sebagai qadhi tidak menghalanginya untuk mencari penghasilan lain—baik karena ia cukup dengan apa yang didapatkannya, atau karena sedikitnya perkara yang ditangani sehingga tidak menghalanginya untuk mencari penghasilan—maka tidak boleh baginya mengambil penghasilan dari para pihak yang bersengketa.

وَإِنْ كَانَ يَقْطَعُهُ النَّظَرُ عَنِ اكْتِسَابِ الْمَادَّةِ مَعَ صِدْقِ الْحَاجَةِ جَازَ لَهُ الِارْتِزَاقُ مِنْهُمْ عَلَى ثَمَانِيَةِ شُرُوطٍ:

Dan jika mencari ilmu itu menghalanginya dari memperoleh penghasilan, padahal kebutuhannya benar-benar ada, maka boleh baginya menerima nafkah dari mereka dengan delapan syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْلَمَ بِهِ الْخَصْمَانِ قَبْلَ التَّحَاكُمِ إِلَيْهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ إِلَّا بَعْدَ الْحُكْمِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَرْتَزِقْهُمَا.

Salah satunya: kedua pihak yang berselisih harus mengetahui hal itu sebelum mengajukan perkara kepadanya. Jika mereka baru mengetahuinya setelah keputusan dijatuhkan, maka tidak boleh baginya mengambil upah dari keduanya.

وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ رِزْقُهُ عَلَى الطَّالِبِ وَالْمَطْلُوبِ وَلَا يَأْخُذُ مِنْ أَحَدِهِمَا فَيَصِيرُ بِهِ مَتْهُومًا.

Kedua: hendaknya nafkahnya ditanggung oleh penuntut dan yang dituntut, dan ia tidak mengambil dari salah satu dari keduanya sehingga ia tidak dicurigai.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ عَنْ إِذَنِ الْإِمَامِ لِتَوَجُّهِ الْحَقِّ عَلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الْإِمَامُ لَمْ يَجُزْ.

Ketiga: harus dengan izin imam karena adanya hak yang mengarah kepadanya. Jika imam tidak mengizinkannya, maka tidak diperbolehkan.

وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يَجِدَ الْإِمَامُ مُتَطَوِّعًا فَإِنْ وَجَدَ مُتَطَوِّعًا لَمْ يَجُزْ.

Keempat: Imam tidak menemukan orang yang bersedia secara sukarela. Jika ia menemukan orang yang bersedia secara sukarela, maka tidak boleh.

وَالْخَامِسُ: أَنْ يَعْجَزَ الْإِمَامُ عَنْ دَفْعِ رِزْقِهِ فَإِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَجُزْ.

Kelima: jika imam tidak mampu memberikan nafkahnya, maka boleh; namun jika imam mampu memberikannya, maka tidak boleh.

وَالسَّادِسُ: أَنْ يَكُونَ مَا يَرْتَزِقُهُ مِنَ الْخُصُومِ غَيْرَ مُؤَثِّرٍ عَلَيْهِمْ، وَلَا مُضِرٍّ بِهِمْ فَإِنْ أَضَرَّ بِهِمْ أَوْ أَثَّرَ عَلَيْهِمْ لَمْ يَجُزْ.

Keenam: Hendaknya apa yang diperoleh dari para pihak yang bersengketa tidak memberikan pengaruh terhadap mereka dan tidak membahayakan mereka. Jika hal itu membahayakan atau memengaruhi mereka, maka tidak diperbolehkan.

وَالسَّابِعُ: أَنْ يَسْتَزِيدَ عَلَى قَدْرِ حَاجَتِهِ فَإِنْ زَادَ عَلَيْهَا لَمْ يَجُزْ.

Ketujuh: Hendaknya ia meminta melebihi kadar kebutuhannya; maka jika ia melebihi dari kebutuhannya, hal itu tidak diperbolehkan.

وَالثَّامِنُ: أَنْ يَكُونَ قَدْرَ الْمَأْخُوذِ مَشْهُورًا يَتَسَاوَى فِيهِ جَمِيعُ الْخُصُومِ، وَإِنْ تَفَاضَلُوا فِي الْمُطَالَبَاتِ؛ لِأَنَّهُ يَأْخُذُه عَلَى زَمَانِ النَّظَرِ فَلَمْ تُعْتَبَرْ مَقَادِيرُ الْحُقُوقِ.

Kedelapan: Besaran yang diambil haruslah sesuatu yang sudah dikenal dan berlaku sama bagi seluruh pihak yang bersengketa, meskipun mereka berbeda dalam tuntutan; karena yang diambil itu berdasarkan waktu pemeriksaan perkara, sehingga besaran hak-hak masing-masing tidak dijadikan pertimbangan.

فَإِنْ فَاضَلَ بَيْنَهُمْ فِيهِ لَمْ يَجُزْ، إِلَّا أَنْ يَتَفَاضَلُوا فِي الزَّمَانِ فَيَجُوز.

Jika ia membedakan di antara mereka dalam hal itu, maka tidak diperbolehkan, kecuali jika mereka berbeda dalam waktu, maka diperbolehkan.

وَفِي مِثْلِ هَذَا مَعَرَّةٌ تَدْخُلُ عَلَى جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.

Dalam hal seperti ini terdapat aib yang menimpa seluruh kaum Muslimin.

وَلَئِنْ جَازَتْ فِيهِ الضَّرُورَاتُ فَوَاجِبٌ عَلَى الْإِمَامِ وَكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ تُزَالَ مَعَ الْإِمْكَانِ إِمَّا بأن يَتَطَوَّعَ مِنْهُمْ بِالْقَضَاءِ مَنْ يَكُونُ مِنْ أَهْلِهِ؟ وَإِمَّا أَنْ يُقَامَ لِهَذَا بِكِفَايَتِهِ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا كانت ولاية القضاء من فروض الكافيات، كَانَ رِزْقُ الْقَاضِي بِمَثَابَةِ وِلَايَتِهِ.

Dan sekalipun dalam hal ini dibolehkan karena keadaan darurat, maka wajib bagi imam dan seluruh kaum Muslimin untuk menghilangkannya jika memungkinkan, baik dengan cara ada di antara mereka yang secara sukarela menunaikan tugas qadha’ dari kalangan yang layak, atau dengan menyediakan kebutuhan tersebut secara kolektif; karena ketika jabatan qadha’ termasuk fardhu kifayah, maka nafkah bagi qadhi sebanding dengan kedudukannya itu.

فَإِنِ اجْتَمَعَ أَهْلُ الْبَلَدِ، مَعَ إِعْوَازِ بَيْتِ الْمَالِ عَلَى أَنْ يَجْعَلُوا لِلْقَاضِي مِنْ أَمْوَالِهِمْ رِزْقًا دَارًا جَازَ، وَكَانَ أَوْلَى مِنْ أَنْ يَأْخُذَهُ مِنْ أعيان الخصوم.

Jika penduduk suatu negeri berkumpul, sementara Baitul Mal mengalami kekurangan, untuk memberikan kepada qadhi (hakim) penghidupan berupa tempat tinggal dari harta mereka, maka hal itu diperbolehkan, dan itu lebih utama daripada qadhi mengambilnya dari harta para pihak yang bersengketa.

(فصل: ما يكتبه القاضي من محاكمة الخصمين) .

(Bab: Apa yang ditulis oleh qadhi dari proses persidangan antara dua pihak yang bersengketa).

وَالْفَصْلُ الثَّانِي: فِيمَا يَكْتُبُهُ الْقَاضِي مِنْ مُحَاكَمَةِ الْخَصْمَيْنِ، وَلَهُمَا حَالَتَانِ:

Bab kedua: tentang apa yang ditulis oleh qādī dari proses persidangan antara kedua pihak yang bersengketa, dan keduanya memiliki dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَسْأَلَاهُ الْكِتَابَةَ.

Salah satunya adalah bahwa keduanya meminta kepada tuannya untuk melakukan mukātabah.

وَالثَّانِي: أَنْ لَا يَسْأَلَاهُ.

Kedua: mereka berdua tidak memintanya.

فَإِنْ لَمْ يَسْأَلَاهُ إِيَّاهَا كَانَ الْقَاضِي مَنْدُوبًا إِلَى إِثْبَاتِ مُحَاكَمَتِهَا فِي دِيوَانِهِ، مَشْرُوحَةً بِمَا انْفَصَلَتْ عَلَيْهِ مِنْ إِلْزَامٍ أَوْ إِسْقَاطِ احْتِيَاط لِلْمُتَحَاكِمَيْنِ.

Jika kedua pihak tidak memintanya, maka hakim dianjurkan untuk mencatat proses persidangan di kantornya, dengan penjelasan mengenai apa yang telah diputuskan, baik berupa kewajiban maupun pembebasan, sebagai bentuk kehati-hatian bagi kedua pihak yang bersengketa.

وَوُجُوبُ ذَلِكَ عَلَيْهِ مُعْتَبَرٌ بِالْحُكْمِ، فَإِنْ كَانَ مِمَّا قَدِ اسْتَوْفَى وَقَبَضَ لَمْ يَجِبْ عَلَيْهِ إِثْبَاتُهُ وَكَانَ بِإِثْبَاتِهِ مُسْتَظْهِرًا.

Kewajiban hal itu atas dirinya bergantung pada hukum; maka jika termasuk sesuatu yang telah dipenuhi dan telah diterima, tidak wajib baginya untuk membuktikannya, dan dengan membuktikannya ia hanya memperkuat posisinya.

وَإِنْ كَانَ فِيمَا لَمْ يَقْبِضْ وَلَمْ يَسْتَوْفِ، فَإِنْ كَانَتِ الْحَالُ لِاشْتِهَارِهَا لَا ينسى مثلها لَمْ يَجِبْ إِثْبَاتُهَا إِلَّا عَلَى وَجْهِ الِاسْتِظْهَارِ وَإِنْ جَازَ أَنْ يَنْسَى مِثْلَهَا وَوَجَبَ عَلَيْهِ إثباتها ليتذكر بخطه ما حكم وألزم لأنه كَفِيلٌ لِيَحْفَظَ الْحُقُوقَ عَلَى أَهْلِهَا فَالْتَزَمَ بِذَلِكَ مَا يَؤُولُ إِلَى حِفْظِهَا.

Dan jika berkaitan dengan sesuatu yang belum diterima dan belum dipenuhi, maka jika keadaannya karena sangat terkenal sehingga tidak mungkin dilupakan hal semacam itu, tidak wajib untuk membuktikannya kecuali sekadar untuk kehati-hatian. Namun jika memungkinkan untuk dilupakan hal semacam itu, maka wajib baginya untuk membuktikannya agar ia dapat mengingat dengan tulisannya apa yang telah diputuskan dan diwajibkan, karena ia adalah penjamin untuk menjaga hak-hak bagi pemiliknya, maka ia pun berkewajiban melakukan hal yang dapat menjaga hak-hak tersebut.

وَإِنْ سَأَلَهُ الْخَصْمُ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ مَا حَكَمَ بِهِ لِيَكُونَ حُجَّةً بِيَده فَالَّذِي يَكْتُبُهُ الْقَاضِي كِتَابَانِ:

Dan jika pihak lawan meminta kepada hakim agar menuliskan untuknya apa yang telah diputuskan sebagai bukti di tangannya, maka yang ditulis oleh hakim itu ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَحْضَرٌ.

Salah satunya adalah mahḍar.

وَالثَّانِي: سِجِلٌّ.

Yang kedua: catatan.

وَالْمَحْضَرُ: حِكَايَةُ الْحَالِ، وَالسِّجِلِّ حِكَايَةُ الْمَحْضَرِ، مَعَ زِيَادَةِ إِنْفَاذِ الْحُكْمِ بِهِ.

Mahdhar adalah penuturan keadaan, sedangkan sijil adalah penuturan mahdhar dengan tambahan pelaksanaan putusan berdasarkan padanya.

وَالَّذِي يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ الْمَحْضَرُ مِنْ حِكَايَةِ الْحَالِ يَتَضَمَّنُ أَرْبَعَةَ فُصُولٍ:

Apa yang tercakup dalam berita acara berupa penuturan keadaan mengandung empat bagian:

أَحَدُهَا: صِفَةُ الدَّعْوَى، بَعْدَ تَسْمِيَةِ الْمُدَّعِي وَالْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Salah satunya adalah sifat gugatan, setelah penyebutan nama penggugat dan tergugat.

وَالثَّانِي: مَا يَعْقُبُهَا مِنْ جَوَابِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ مِنَ الْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ.

Kedua: yaitu apa yang mengikuti setelahnya berupa jawaban dari tergugat, baik berupa pengakuan maupun penolakan.

وَالثَّالِثُ: حِكَايَةُ شَهَادَةِ الشُّهُودِ عَلَى وَجْهِهَا فَإِنْ حَكَى شَهَادَةَ أَحَدِهِمَا وَإِنَّ الْآخَرَ شَهِدَ بِمِثْلِ شَهَادَتِهِ جَازَ بِخِلَافِ مَا لَوْ قَالَهُ الشَّاهِدُ في أدائه ونكره فِي الْمَحْضَرِ لَمَنَعْنَا مِنْهُ فِي الْأَدَاءِ.

Ketiga: Menceritakan kesaksian para saksi sebagaimana adanya; maka jika ia menceritakan kesaksian salah satu dari keduanya dan mengatakan bahwa yang lainnya bersaksi dengan kesaksian yang serupa, maka hal itu diperbolehkan. Berbeda halnya jika saksi mengatakannya dalam penyampaian kesaksiannya dan mengungkapkannya secara umum dalam berita acara, maka kami melarang hal itu dalam penyampaian kesaksian.

وَالرَّابِعُ: ذِكْرُ التَّارِيخِ فِي يَوْمِ الْحُكْمِ مِنْ شَهْرِهِ وَسَنَتِهِ، وَلَوْ ضَمَّ إِلَيْهِ ذِكْرَ مَا أَدَّاهُ الشُّهُودُ مِنْ تَارِيخِ التَّحَمُّلِ كَانَ حَسَنًا وَإِنْ تَرَكَهُ قُضَاةُ زَمَانِنَا.

Keempat: menyebutkan tanggal pada hari penetapan hukum, baik bulan maupun tahunnya. Jika ditambahkan pula keterangan mengenai tanggal saat para saksi menerima kesaksian, maka itu lebih baik, meskipun para hakim di zaman kita sering meninggalkannya.

وَأَمَّا السِّجِلُّ فَيَتَضَمَّنُ سِتَّةَ فُصُولٍ:

Adapun sijil, maka ia memuat enam bab:

أَحَدُهَا: تَصْدِيرُهُ بِحِكَايَةِ إِشْهَادِ الْقَاضِي بِجَمِيعِ مَا فِيهِ.

Salah satunya adalah memulai dokumen tersebut dengan menyebutkan bahwa hakim telah menyaksikan seluruh isi yang terdapat di dalamnya.

وَالثَّانِي: حِكَايَةُ مَا تَضَمَّنَهُ الْمَحْضَرُ مِنَ الْفُصُولِ الْأَرْبَعَةِ.

Kedua: Penjelasan mengenai apa yang tercantum dalam dokumen resmi tersebut dari empat bagian utama.

وَالثَّالِثُ: حِكَايَةُ إِمْهَالِ الْقَاضِي الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ لِيَأْتِيَ بِحُجَّةٍ يَدْفَعُ بِهَا مَا شَهِدَ عَلَيْهِ فَعَجَزَ عَنْهَا وَلَمْ يَأْتِ بِهَا.

Ketiga: Penjelasan tentang penundaan yang diberikan oleh qadhi kepada pihak yang menjadi objek kesaksian agar ia dapat menghadirkan dalil yang dapat membantah apa yang disaksikan atas dirinya, namun ia tidak mampu melakukannya dan tidak dapat menghadirkannya.

وَالرَّابِعُ: إِمْضَاءُ الْحُكْمِ لِلْمَشْهُودِ لَهُ وَإِلْزَامُهُ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ بَعْدَ مَسْأَلَةِ الْحَاكِمِ.

Keempat: Penetapan hukum bagi pihak yang disaksikan untuknya dan mewajibkan pihak yang disaksikan atasnya setelah hakim mengajukan pertanyaan.

وَالْخَامِسُ: إِشْهَادُ الْقَاضِي عَلَى نَفْسِهِ بِمَا حَكَمَ بِهِ وَأَمْضَاهُ مِنْ ذَلِكَ.

Kelima: Hakim memberikan kesaksian atas dirinya sendiri mengenai apa yang telah ia putuskan dan tetapkan dari hal tersebut.

وَالسَّادِسُ: تَارِيخُ يَوْمِ الْحُكْمِ وَالتَّنْفِيذِ.

Keenam: tanggal hari penetapan hukum dan pelaksanaan.

فَإِذَا اسْتَكْمَلَ السِّجِلَّ بِهَذِهِ الْفُصُولِ السِّتَّةِ، بِالْأَلْفَاظِ الْمَعْهُودَةِ فِيهِ، جَعَلَهُ عَلَى نُسْخَتَيْنِ عَلَّمَ الْقَاضِي فِيهِمَا بِعَلَامَتِهِ الْمَأْلُوفَةِ بِخَطِّهِ لِيَتَذَكَّرَ بِهَا حُكْمَهُ إِذَا عَرَضَ عَلَيْهِ وَأَشْهَدَ فِيهِمَا عَلَى نَفْسِهِ، وَسَلَّمَ إِحْدَاهُمَا لِلْمَحْكُومِ لَهُ وَوَضَعَ الْأُخْرَى فِي دِيوَانِهِ حُجَّةً يُقَابِلُ بِهَا سِجِلَّ الْخَصْمِ إِنْ أَحْضَرَهُ مِنْ بَعْدُ، وَلَا يَحْتَاجُ مَعَ نُسْخَةِ السِّجِلِّ الْمَوْضُوعَةِ فِي دِيوَانِهِ إِلَى إِثْبَاتِ مَا حَكَمَ بِهِ فِي دِيوَانِهِ وَأَغْنَاهُ السِّجِلُّ عَنْ إِثْبَاتِهِ وَلَوِ اسْتَظْهَرَ بِإِثْبَاتِ اسْمِ السِّجِلِّ فِيهِ كَانَ أحوط.

Apabila catatan keputusan telah dilengkapi dengan enam bagian ini, dengan redaksi yang lazim digunakan di dalamnya, maka catatan tersebut dibuat dalam dua salinan. Qadhi memberi tanda pada keduanya dengan tanda yang biasa ia gunakan dengan tulisan tangannya, agar ia dapat mengingat putusannya ketika catatan itu diperlihatkan kepadanya, dan ia pun menetapkan kesaksiannya atas dirinya sendiri pada kedua salinan itu. Salah satu salinan diserahkan kepada pihak yang dimenangkan, sedangkan salinan lainnya disimpan di diwan (arsip) sebagai bukti yang dapat dibandingkan dengan catatan lawan jika ia membawanya di kemudian hari. Dengan adanya salinan catatan yang disimpan di diwan, tidak diperlukan lagi pencatatan putusan di diwan, dan catatan tersebut sudah cukup sebagai pengganti pencatatan. Namun, jika ia memperkuatnya dengan mencantumkan nama catatan di dalamnya, itu lebih hati-hati.

فَأَمَّا تَسْمِيَةُ الشُّهُودِ الَّذِينَ حَكَمَ بِشَهَادَتِهِمْ فِي الْمَحْضَرِ وَالسِّجِلِّ فَقَدْ ذَكَرْنَا اخْتِلَافَ النَّاسِ فِي الْأَوْلَى مِنْهُ مَعَ اتِّفَاقِهِمْ عَلَى جَوَازِ الْأَمْرَيْنِ.

Adapun penyebutan nama para saksi yang diputuskan berdasarkan kesaksian mereka dalam berita acara dan catatan resmi, maka kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai mana yang lebih utama dari keduanya, meskipun mereka sepakat atas bolehnya kedua hal tersebut.

فَرَأَى أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِرَاقِ أَنَّ تَرْكَ تَسْمِيَتِهِمْ أَوْلَى وَهُوَ أَحْوَطُ لِلْمَشْهُودِ لَهُ.

Maka mayoritas ulama Irak berpendapat bahwa meninggalkan penyebutan nama mereka lebih utama dan lebih berhati-hati bagi orang yang dipersaksikan.

وَاخْتَارَهُ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا.

Dan pendapat ini dipilih oleh Abu Sa‘id al-Ishthakhri dari kalangan ulama mazhab kami.

وَرَأَى أَكْثَرُ أَهْلِ الْحِجَازِ أَنَّ تَسْمِيَتَهُمْ فِيهِ أَوْلَى وَهُوَ أَحْوَطُ لِلْمَشْهُودِ عَلَيْهِ مِمَّا لَعَلَّهُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ مِنْ جَرْحِهِمْ، وَاخْتَارَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ مِنْ أَصْحَابِنَا.

Mayoritas ulama Hijaz berpendapat bahwa penyebutan nama mereka (para saksi) dalam hal ini lebih utama dan lebih menjaga hak orang yang menjadi objek kesaksian, karena mungkin saja ia mampu untuk mencela para saksi tersebut. Pendapat ini juga dipilih oleh Abu al-‘Abbas bin Surayj dari kalangan ulama mazhab kami.

وَلَوْ أَنَّ الْقَاضِيَ عَدَلَ عَنْ كُتُبِ السِّجِلِّ إِلَى أَنْ زَادَ فِي الْمَحْضَرِ إِنْفَاذَ حُكْمِهِ وَإِمْضَائِهِ بَعْدَ إِمْهَالِ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ بِمَا يَدْفَعُ بِهِ الشَّهَادَةَ فَلَمْ يَأْتِ بِهَا وَعَلِمَ فِيهِ وَأَشْهَدَ بِهِ عَلَى نَفْسِهِ جَازَ.

Dan jika seorang qadhi berpaling dari kitab-kitab catatan hingga menambahkan dalam berita acara pelaksanaan putusannya dan pengesahannya setelah memberi tenggang waktu kepada pihak yang disaksikan atasnya untuk menghadirkan apa yang dapat menolak kesaksian tersebut, namun ia tidak membawanya, dan qadhi mengetahui hal itu serta ia sendiri memberikan kesaksian atas dirinya, maka hal itu diperbolehkan.

(الْقَضَاءُ على الغائب)

(Putusan terhadap pihak yang tidak hadir)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” فَإِنْ قَبِلَ الشَّهَادَةَ مِنْ غَيْرِ مَحْضَرِ خَصْمٍ فَلَا بَأْسَ “.

Syafi‘i berkata: “Jika menerima kesaksian tanpa kehadiran pihak lawan, maka tidak mengapa.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَأَمَّا سَمَاعُ الدَّعْوَى عَلَى الْغَائِبِ فَإِنْ لَمْ تَقْتَرِنْ بِهَا بَيِّنَةٌ لَمْ تُسْمَعْ، لِأَنَّ سَمَاعَهَا غَيْرُ مُفِيدٍ وَإِنِ اقْتَرَنَ بِهَا بَيِّنَةٌ سُمِعَتْ وَسُمِعَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَيْهَا وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي جَوَازِ الدَّعْوَى وَالْبَيِّنَةِ عَلَى الْغَائِبِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun mendengarkan gugatan terhadap orang yang tidak hadir, maka jika tidak disertai bukti, gugatan tersebut tidak didengarkan, karena mendengarkannya tidak memberikan manfaat. Namun jika disertai bukti, maka gugatan itu didengarkan dan bukti tersebut juga didengarkan atasnya. Hal ini telah menjadi kesepakatan dalam kebolehan gugatan dan bukti terhadap orang yang tidak hadir.

وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَى سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْغَائِبِ.

Terjadi perbedaan pendapat mengenai makna mendengarkan bukti atas orang yang tidak hadir.

فَهُوَ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ سَمَاعُ حُكْمٍ.

Maka menurut Imam Syafi‘i dan siapa saja yang membolehkan pengadilan terhadap orang yang tidak hadir, hal itu disebut sebagai mendengar putusan.

وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ لَا يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ سَمَاعُ تَحَمُّلٍ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Menurut Abu Hanifah dan para ulama yang tidak membolehkan putusan terhadap orang yang tidak hadir, mendengar penyampaian (kesaksian) dianggap seperti kesaksian atas kesaksian.

فَأَمَّا الْقَضَاءُ عَلَى الْغَائِبِ بَعْدَ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ فَلَا تخلو غيبته من ثلاثة أَحْوَالٍ:

Adapun memutuskan perkara terhadap orang yang tidak hadir setelah mendengarkan bukti atasnya, maka ketidakhadirannya tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ غَائِبًا عَنِ الْحُكْمِ حَاضِرًا فِي مَجْلِسِهِ فَلَا يَجُوزُ الْحُكْمُ عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ حُضُورِهِ وَإِمْضَاءِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ بَعْدَ إِعْلَامِهِ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَإِنِ اخْتُلِفَ فِي مَعْنَاهُ.

Salah satunya: apabila seseorang tidak hadir dalam putusan tetapi hadir di majelisnya, maka tidak boleh dijatuhkan putusan terhadapnya kecuali setelah kehadirannya dan pelaksanaan putusan terhadapnya setelah ia diberitahu. Hal ini telah menjadi kesepakatan, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai maknanya.

فَهُوَ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ ارْتِفَاعُ الضَّرُورَةِ.

Menurut Imam Syafi‘i dan mereka yang membolehkan putusan terhadap orang yang tidak hadir, hal itu merupakan hilangnya keadaan darurat.

وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ لَا يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ مَا عَسَاهُ يَدْفَعُ بِهِ الْحُجَّةَ.

Menurut Abu Hanifah dan para ulama yang tidak membolehkan keputusan hukum atas orang yang tidak hadir, apa pun yang mungkin diajukan olehnya sebagai sanggahan terhadap dalil tetap diperhitungkan.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ غَائِبًا عَنْ بَلَدِ الْحُكْمِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي جَوَازِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ مَعَ غَيْبَتِهِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

Keadaan kedua: Jika ia tidak berada di negeri tempat pengadilan, para fuqaha berbeda pendapat mengenai kebolehan menjatuhkan putusan atasnya dalam keadaan ia tidak hadir, menjadi tiga mazhab:

أَحَدُهَا: وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ يَجُوزُ الْقَضَاءُ عَلَيْهِ مَعَ غَيْبَتِهِ فِي عُمُومِ الْأَحْكَامِ، فِيمَا يُنْقَلُ وَلَا يُنْقَلُ سَوَاءٌ تَعَلَّقَتْ بِحَاضِرٍ أَوْ لَمْ تَتَعَلَّقْ بِحَاضِرٍ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَى الْمَيِّتِ وَعَلَى مَنْ لَا يُجِيبُ عَنْ نَفْسِهِ مِنَ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ وَمِنْ شَرْطِ التَّنْفِيذِ عَلَيْهِ بَعْدَ الْحُكْمِ أَنْ يَسْتَحْلِفَ الْمَحْكُومَ لَهُ عَلَى بَقَاءِ حَقِّهِ بَعْدَ ثُبُوتِهِ.

Salah satunya, yaitu pendapat mazhab Syafi‘i, membolehkan menjatuhkan putusan atas orang yang tidak hadir dalam seluruh perkara hukum, baik perkara yang dapat dipindahkan maupun yang tidak dapat dipindahkan, baik perkara itu berkaitan dengan orang yang hadir maupun tidak. Sebagaimana juga boleh menjatuhkan putusan atas orang yang telah meninggal dunia, atas orang yang tidak dapat membela dirinya sendiri seperti anak kecil dan orang gila. Di antara syarat pelaksanaan putusan setelah dijatuhkan adalah hakim harus meminta sumpah dari pihak yang dimenangkan atas tetapnya haknya setelah hak itu ditetapkan.

وَالثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ لَا يَجُوزُ فِيمَا يُنْقَلُ وَمَا لَا يُنْقَلُ، إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ بِحَاضِرٍ فَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ تَبَعًا لِلْحَاضِرِ لِقَوْلِهِ: غَصَبَنِي هَذَا وَفُلَانٌ الْغَائِبُ عَبْدًا أَوِ ابْتَاعَا مِنِّي دَارًا.

Pendapat kedua, yaitu mazhab Abu Hanifah, menyatakan bahwa memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir tidak diperbolehkan, baik dalam perkara yang dapat dipindahkan maupun yang tidak dapat dipindahkan, kecuali jika perkara tersebut berkaitan dengan orang yang hadir. Maka diperbolehkan untuk memutuskan perkara atasnya sebagai ikutan dari yang hadir, seperti dalam kasus seseorang berkata: “Orang ini dan si Fulan yang sedang tidak hadir telah merampas budakku, atau mereka berdua telah membeli rumah dariku.”

وَالثَّالِثُ: وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ: يَجُوزُ الْقَضَاءُ عَلَى الْغَائِبِ فِيمَا يَنْقُلُ، وَلَا يَجُوزُ الْقَضَاءُ عَلَيْهِ فِيمَا لَا يَنْقُلُ مِنَ الْعَقَارِ، فَهَذِهِ مَذَاهِبُ الْفُقَهَاءِ فِي الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ عَنِ الْبَلَدِ.

Ketiga: yaitu mazhab Malik, membolehkan penetapan hukum terhadap orang yang tidak hadir (ghaib) dalam perkara yang dapat dipindahkan, dan tidak membolehkan penetapan hukum terhadapnya dalam perkara yang tidak dapat dipindahkan dari harta tidak bergerak. Inilah pendapat-pendapat para fuqaha mengenai penetapan hukum terhadap orang yang tidak hadir dari suatu negeri.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ غَائِبًا عَنْ مَجْلِسِ الْحُكْمِ وَحَاضِرًا فِي بَلَدِهِ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَجْرِي مَجْرَى الْغَائِبِ عَنِ الْبَلَدِ فِي جَوَازِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ.

Keadaan ketiga: Jika seseorang tidak hadir di majelis pengadilan namun berada di negerinya, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat apakah ia diperlakukan seperti orang yang tidak berada di negeri tersebut dalam hal kebolehan menjatuhkan putusan atasnya.

أَوْ يَكُونُ كَالْحَاضِرِ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ فِي الْمَنْعِ مِنَ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ.

Atau ia dianggap seperti orang yang hadir di majelis pengadilan dalam hal larangan menjatuhkan putusan atas dirinya.

عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dengan dua cara:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ لَا يَجُوزُ الْقَضَاءُ عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ حُضُورِهِ لِلْقُدْرَةِ عَلَيْهِ فِي الْحَالِ كَالْحَاضِرِ فِي الْمَجْلِسِ.

Salah satunya, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, adalah tidak boleh menjatuhkan putusan atasnya kecuali setelah kehadirannya, agar memungkinkan untuk melaksanakan putusan tersebut saat itu juga, seperti orang yang hadir di majelis.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ مَذْهَبُ ابْنِ شُبْرُمَةَ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ يَجُوزُ الْقَضَاءُ عَلَيْهِ كَالْغَائِبِ عَنِ الْبَلَدِ، قَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ: أَحْكُمُ عَلَيْهِ وَلَوْ كَانَ وَرَاءَ جِدَارٍ، فَهَذِهِ أَحْوَالُ الْغَائِبِ وَاخْتِلَافِ الْفُقَهَاءِ فِي القضاء عليه.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Ibn Syubrumah, Ahmad, dan Ishaq, membolehkan dijatuhkannya keputusan atasnya seperti orang yang tidak hadir di negeri tersebut. Ibn Syubrumah berkata: “Aku memutuskan perkara atasnya meskipun ia berada di balik tembok.” Inilah keadaan orang yang tidak hadir dan perbedaan para fuqaha dalam menetapkan hukum atasnya.

(في المنع من القضاء على الغائب) .

(Tentang larangan memutuskan perkara terhadap orang yang tidak hadir).

(فَصْلٌ) : وَاسْتَدَلَّ مَنْ مَنَعَ الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ} [النور: 48] فَدَلَّ هَذَا الذَّمُّ عَلَى وُجُوبِ الْحُضُورِ لِلْحُكْمِ وَلَوْ نَفَّذَ الْحُكْمَ مَعَ الْغَيْبَةِ لَمْ يَجِبِ الْحُضُورُ وَلَمْ يُسْتَحَقَّ الذَّمُّ.

(Paragraf) : Dan orang yang melarang penetapan hukum atas orang yang tidak hadir berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka berpaling.” (an-Nur: 48). Celaan ini menunjukkan wajibnya hadir untuk mendapatkan keputusan hukum, dan seandainya hukum dapat dijalankan dalam keadaan tidak hadir, maka kehadiran tidak lagi wajib dan celaan itu tidak beralasan.

وَبِمَا رَوَاهُ سِمَاكٌ عَنْ حَنَشِ بْنِ الْمُعْتَمِرِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: وَلَّانِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – الْيَمَنَ وَقَالَ لِي: ” يَا عَلِيُّ: إِنَّ النَّاسَ سَيَتَقَاضُونَ إِلَيْكَ، فَإِنْ أَتَاكَ الْخَصْمَانِ فَلَا تَقْضِيَنَّ لِأَحَدِ الْخَصْمَيْنِ حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الْأَوَّلِ، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ الْقَضَاءُ وَتَعْلَمَ لِمَنِ الْحَقُّ ” قَالَ عَلِيٌّ: فَمَا شَكَكْتُ فِي قَضَاءٍ بَعْدُ. قَالُوا فَهَذَا نَصٌّ فِي الْمَنْعِ مِنَ الْحُكْمِ إِلَّا بَعْدَ سَمَاعِ قَوْلِ الْخَصْمِ فَمَنَعَ هَذَا مِنَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ شَرْعًا.

Dan berdasarkan riwayat yang disampaikan oleh Simak dari Hanasy bin al-Mu’tamir ash-Shan’ani dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah saw. mengutusku ke Yaman dan bersabda kepadaku: “Wahai Ali, sesungguhnya orang-orang akan mengadukan perkara kepada engkau. Jika dua orang yang berselisih datang kepadamu, maka janganlah engkau memutuskan perkara untuk salah satu dari keduanya sebelum engkau mendengar dari pihak yang lain sebagaimana engkau telah mendengar dari pihak yang pertama. Karena hal itu lebih memungkinkan bagimu untuk mengetahui keputusan yang benar dan mengetahui siapa yang berhak.” Ali berkata: Maka aku tidak pernah ragu lagi dalam memutuskan perkara setelah itu. Mereka berkata: Ini adalah nash yang secara tegas melarang memutuskan perkara kecuali setelah mendengar keterangan dari pihak lawan, sehingga syariat melarang memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir.

ثُمَّ مَنَعَ مِنْهُ عُرْفًا قول الشاعر.

Kemudian, ia melarangnya secara ‘urf (kebiasaan) menurut perkataan penyair.

(حَضَرُوا وَغِبْنَا عَنْهُمُ فَتَحَكَّمُوا … فِينَا وَلَيْسَ كَغَائِبٍ مَنْ يَشْهَدُ)

(Mereka hadir sementara kami tidak ada di tengah mereka, lalu mereka memutuskan perkara atas kami… Tidaklah sama orang yang hadir dengan orang yang tidak menyaksikan.)

قَالُوا: وَلِأَنَّهُ حُكْمٌ عَلَى غَيْرِ مَأْيُوسٍ مِنْ إِقْرَارِهِ فَوَجَبَ أَنْ لَا يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ قَبْلَ إِنْكَارِهِ كَالْحَاضِرِ.

Mereka berkata: Karena ini adalah hukum terhadap seseorang yang belum putus harapan untuk mengakui, maka wajib untuk tidak memutuskan atasnya dengan bukti sebelum ia mengingkari, sebagaimana halnya orang yang hadir.

قَالُوا: وَلِأَنَّ فصل الحكم قد يكون بينة الْمُدَّعِي تَارَةً، وَبِيَمِينِ الْمُنْكِرِ أُخْرَى، فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ فَصْلُ الْحُكْمِ بِيَمِينِ الْمُنْكِرِ مَعَ غَيْبَةِ الْمُدَّعِي، لَمْ يَجُزْ فَصْلُهُ بِبَيِّنَةِ الْمُدَّعِي مَعَ غَيْبَةِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا: أَنَّهَا حُجَّةُ أَحَدِ الْمُتَدَاعِيَيْنِ فَلَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا مَعَ غَيْبَةِ الْآخَرِ كَالْيَمِينِ.

Mereka berkata: Karena pemutusan hukum terkadang dilakukan dengan bukti dari pihak penggugat, dan terkadang dengan sumpah dari pihak tergugat. Maka, ketika tidak diperbolehkan memutuskan hukum dengan sumpah tergugat saat penggugat tidak hadir, maka tidak diperbolehkan pula memutuskannya dengan bukti penggugat saat tergugat tidak hadir. Penjelasannya secara qiyās: bahwa bukti tersebut adalah hujjah dari salah satu pihak yang bersengketa, sehingga tidak boleh memutuskan hukum dengannya ketika pihak yang lain tidak hadir, sebagaimana halnya dengan sumpah.

قَالُوا: وَلِأَنَّ الْحُكْمَ يَكُونُ لِلْغَائِبِ تَارَةً وَعَلَيْهِ أُخْرَى فَلَمَّا لَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ لِلْغَائِبِ كَانَ أَوْلَى أَنْ لَا يَجُوزَ الْحُكْمُ عَلَى الْغَائِبِ.

Mereka berkata: Karena putusan bisa saja diberikan untuk orang yang tidak hadir pada suatu waktu dan terhadapnya pada waktu lain, maka ketika tidak diperbolehkan memutuskan untuk orang yang tidak hadir, maka lebih utama lagi tidak diperbolehkan memutuskan terhadap orang yang tidak hadir.

وَتَحْرِيرُهُ قِيَاسًا أَنَّ مَنْ لَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ لَهُ لَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ عَلَيْهِ كَالْحَاضِرِ.

Penjelasannya secara qiyās adalah bahwa siapa pun yang tidak sah dijatuhkan hukum untuknya, maka tidak sah pula dijatuhkan hukum atasnya, sebagaimana orang yang hadir.

وَدَلِيلُنَا: قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ} [ص: 26] وَمَا شَهِدْتَهُ بِهِ الْبَيِّنَةُ عَلَى الْغَائِبِ حَقٌّ فَوَجَبَ الْحُكْمُ بِهِ.

Dalil kami adalah firman Allah Ta‘ala: “Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran” (Shad: 26). Dan apa yang dibuktikan oleh bayyinah terhadap orang yang tidak hadir adalah kebenaran, maka wajib memutuskan perkara dengannya.

وَرَوَى أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ قَالَ: ” كَانَ إِذَا حَضَرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – خصمان فتواعدا مَوْعِدًا فَوَفَّى أَحَدَهُمَا وَلَمْ يَفِ الْآخَرِ قَضَى لِلَّذِي وَفَّى عَلَى الَّذِي لَمْ يَفِ ” وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَا يَقْضِي لَهُ بِدَعْوَاهُ فَثَبَتَ أَنَّهُ قَضَى لَهُ بِالْبَيِّنَةِ.

Abu Musa al-Asy‘ari meriwayatkan: “Apabila dua orang yang berselisih hadir di hadapan Rasulullah ﷺ lalu mereka berdua membuat janji untuk bertemu kembali, kemudian salah satu dari mereka menepati janji dan yang lainnya tidak, maka beliau memutuskan perkara untuk yang menepati janji atas yang tidak menepati.” Dan sudah diketahui bahwa beliau tidak memutuskan perkara hanya berdasarkan pengakuan semata, sehingga dapat dipastikan bahwa beliau memutuskan perkara tersebut berdasarkan bukti (bayyinah).

وَرُوِيَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ زَوْجَةَ أَبِي سُفْيَانَ بْنِ حَرْبٍ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – وَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ سِرًّا فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ حَرَجٍ فَقَالَ لَهَا: ” خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ ” وَهَذَا قَضَاءٌ منه على غائب لأن أبي سُفْيَانَ لَمْ يَحْضُرْ.

Diriwayatkan bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang kikir, ia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anakku kecuali apa yang aku ambil dari hartanya secara diam-diam. Apakah aku berdosa karena itu?” Maka beliau bersabda kepadanya: “Ambillah secukupnya untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” Ini merupakan keputusan beliau terhadap orang yang tidak hadir, karena Abu Sufyan tidak hadir saat itu.

فَإِنْ قِيلَ: فَهَذَا مِنْهُ فُتْيَا وَلَيْسَ بِحُكْمٍ، قِيلَ بَلْ هُوَ حُكْمٌ لِأَنَّهُ قَالَ لَهَا: ” خُذِي ” وَلَوْ كَانَ فُتْيَا، لَقَالَ: يَجُوزُ أَنْ تَأْخُذِي فَإِنْ قِيلَ فَقَدْ حَكَمَ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ.

Jika dikatakan: Ini adalah fatwa darinya dan bukan hukum, maka dijawab: Bahkan ini adalah hukum, karena beliau berkata kepadanya: “Ambillah.” Seandainya itu hanya fatwa, tentu beliau akan berkata: “Boleh bagimu untuk mengambilnya.” Jika dikatakan: Maka berarti beliau telah memutuskan tanpa bukti.

قِيلَ: قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا زَوْجَةُ أَبِي سُفْيَانَ فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى بَيِّنَةٍ.

Dikatakan: Telah diketahui bahwa ia adalah istri Abu Sufyan, sehingga tidak membutuhkan bukti.

فَإِنْ قِيلَ: فَهُوَ حُكْمٌ بِمَجْهُولٍ، لِأَنَّهُ قَالَ خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف وقيل: لأن الواجب لها ولولدها معتبر بالكافية، وَالْحُكْمُ بِالْوَاجِبِ غَيْرُ مَجْهُولٍ.

Jika dikatakan: Itu adalah penetapan hukum terhadap sesuatu yang tidak diketahui, karena ia berkata, “Ambillah secukupnya untukmu dan anakmu secara patut.” Dan dikatakan pula: Karena kewajiban untuknya dan anaknya diukur dengan kadar yang mencukupi, maka penetapan hukum atas sesuatu yang wajib bukanlah terhadap sesuatu yang tidak diketahui.

وَلِأَنَّ الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ إِجْمَاعٌ:

Dan karena keputusan terhadap orang yang tidak hadir (ghā’ib) adalah ijmā‘.

رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ قَالَ: أَلَا إِنَّ أُسَيْفِعَ أُسَيْفِعَ جُهَيْنَةَ قَدْ رَضِيَ مِنْ دِينِهِ وَأَمَانَتِهِ أَنْ يُقَالَ قَدْ سَبَقَ الْحَاجَّ فَأَدَانَ مَعْرِضًا فَأَصْبَحَ قَدْ دِينَ بِهِ فَمَنْ كَانَ لَهُ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلْيَحْضُرْ غَدًا لِنَقْسِمَ مَالَهُ بَيْنَهُمْ بِالْحِصَصِ وَلَيْسَ لَهُ مَعَ انْتِشَارِ قَوْلِهِ فِي النَّاسِ مُخَالِفٌ فكان إجماعا.

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa ia berkata: Ketahuilah, sesungguhnya Usaifi‘ Usaifi‘ Juhainah telah merasa cukup dengan agamanya dan amanahnya hanya dengan dikatakan bahwa ia telah mendahului jamaah haji, lalu ia berutang dengan cara menunda pembayaran, sehingga ia pun menjadi orang yang berutang karenanya. Maka siapa saja yang memiliki piutang atasnya, hendaklah hadir besok agar kita membagi hartanya di antara mereka sesuai bagian masing-masing. Dan tidak ada seorang pun yang menentang perkataannya setelah tersebar di tengah masyarakat, sehingga hal itu menjadi ijmā‘.

وَمِنَ الْقِيَاسِ أَنَّ مَنْ جَازَ سَمَاعُ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ جَازَ الْحُكْمُ بِهَا عَلَيْهِ كَالْحَاضِرِ، وَلِأَنَّ مَا تَأَخَّرَ عَنْ سُؤَالِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِذَا كَانَ حَاضِرًا يُقَدَّمُ عَلَى سُؤَالِهِ إِذَا كَانَ غَائِبًا كَسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ.

Dan termasuk dalam qiyās adalah bahwa siapa saja yang diperbolehkan mendengarkan bukti atas dirinya, maka diperbolehkan pula menetapkan hukum dengan bukti tersebut atas dirinya, seperti halnya orang yang hadir. Karena apa yang terjadi setelah permintaan kepada tergugat ketika ia hadir, didahulukan daripada permintaan kepadanya ketika ia tidak hadir, seperti halnya dalam mendengarkan bukti.

فَإِنْ قِيلَ: سَمَاعُ الْبَيِّنَةِ تَحَمُّلٌ، فَجَازَ مَعَ الْغَيْبَةِ كَالشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Jika dikatakan: Mendengarkan bayyinah adalah tahammul, maka hal itu boleh dilakukan meskipun dalam keadaan tidak hadir, sebagaimana syahadah ‘ala asy-syahadah.

قِيلَ: التَّحَمُّلُ لَا تُعْتَبَرُ فِيهِ الدَّعْوَى، كَمَا لَا تُعْتَبَرُ فِي الشَّهَادَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ، وَسَمَاعُ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْغَائِبِ يُعْتَبَرُ فِيهَا تَقَدُّمُ الدَّعْوَى فَثَبَتَ أَنَّهُ لِلْحُكْمِ دُونَ التَّحَمُّلِ.

Dikatakan: Dalam tahammul tidak disyaratkan adanya dakwaan, sebagaimana juga tidak disyaratkan dalam kesaksian atas kesaksian, sedangkan dalam mendengarkan bukti atas orang yang tidak hadir disyaratkan adanya pendahuluan dakwaan, maka telah tetap bahwa hal itu berkaitan dengan hukum, bukan dengan tahammul.

وَلِأَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ قَدْ وَافَقَ فِي الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ فِي مَسَائِلَ هِيَ حُجَّةٌ عَلَيْهِ فِيمَا عَدَاهَا:

Dan karena Abu Hanifah telah sependapat dalam menetapkan hukum atas orang yang tidak hadir dalam beberapa permasalahan yang menjadi hujjah atasnya dalam selainnya.

فَمِنْهَا أَنَّ رَجُلًا لَوْ حَضَرَ فَادَّعَى أَنَّهُ وَكِيلٌ لِفُلَانٍ الْغَائِبِ فِي قَبْضِ دُيُونِهِ وَأَنْكَرَ مَنْ عَلَيْهِ الدَّيْنُ وَكَالَتَهُ فَأَقَامَ الْوَكِيلُ الْبَيِّنَةَ بِالْوِكَالَةِ حَكَمَ بِهَا عَلَى الْغَائِبِ وَجَعَلَ لِلْوَكِيلِ قَبْضَ الدَّيْنِ مِنَ الْحَاضِرِ.

Di antaranya adalah jika seseorang hadir lalu mengaku bahwa ia adalah wakil dari si Fulan yang sedang tidak hadir dalam hal menerima piutangnya, kemudian orang yang berutang menyangkal bahwa ia telah mewakilkannya, lalu sang wakil mendatangkan bukti atas kewakilannya, maka keputusan dijatuhkan atas orang yang tidak hadir tersebut dan sang wakil diberi hak untuk menerima utang dari orang yang hadir.

وَمِنْهَا أَنَّ شَفِيعًا لَوِ ادَّعَى عَلَى حَاضِرٍ ابْتِيَاعَ دَارٍ مِنْ غَائِبٍ يَسْتَحِقُّ شُفْعَتَهَا فَأَنْكَرَ الْحَاضِرُ الشِّرَاءَ فَأَقَامَ الشَّفِيعُ الْبَيِّنَةَ بِالِابْتِيَاعِ حُكِمَ عَلَى الْغَائِبِ بِالْبَيْعِ وَعَلَى الْحَاضِرِ بِالشِّرَاءِ وَأَوْجَبَ الشُّفْعَةَ لِلشَّفِيعِ.

Di antaranya adalah jika seorang syafī‘ (pemilik hak syuf‘ah) mengklaim terhadap seseorang yang hadir bahwa ia telah membeli sebuah rumah dari orang yang tidak hadir, di mana ia berhak atas syuf‘ah atas rumah tersebut, lalu orang yang hadir itu mengingkari adanya jual beli, kemudian syafī‘ tersebut mendatangkan bukti atas terjadinya pembelian, maka diputuskan bahwa orang yang tidak hadir telah menjual, orang yang hadir telah membeli, dan syuf‘ah diwajibkan bagi syafī‘ tersebut.

وَمِنْهَا أَنَّ امْرَأَةً لَوِ ادَّعَتْ أَنَّهَا زَوْجَةُ فُلَانٍ الْغَائِبِ وَأَنَّ هَذَا وَلَدُهُ مِنْهَا وَأَقَامَتِ الْبَيِّنَةَ وَسَأَلَتْ أَنْ يُحْكَمَ لَهَا عَلَيْهِ بِنَفَقَتِهَا وَنَفَقَةِ وَلَدِهَا فِي مَالِهِ الْحَاضِرِ جَازَ لِلْحَاكِمِ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِذَلِكَ وَهُوَ غَائِبٌ.

Di antaranya adalah apabila seorang wanita mengaku bahwa ia adalah istri si Fulan yang sedang tidak hadir, dan bahwa anak ini adalah anaknya dari Fulan tersebut, lalu ia mendatangkan bukti, serta meminta agar diputuskan hak nafkah untuk dirinya dan anaknya dari harta Fulan yang ada, maka boleh bagi hakim untuk memutuskan kewajiban tersebut atas Fulan meskipun ia sedang tidak hadir.

وَمِنْهَا أَنَّ حَاضِرًا لَوِ ادَّعَى أَنَّهُ بَاعَ عَبْدَهُ هَذَا عَلَى فُلَانٍ الْغَائِبِ وَقَدْ مَنَعَهُ ثَمَنَهُ وَأَقَامَ بِذَلِكَ بَيِّنَةً حَكَمَ عَلَى الْغَائِبِ بِالشِّرَاءِ وَبَاعَ عَلَيْهِ الْعَبْدَ وَقَضَاهُ حَقَّهُ مَنْ ثَمَنِهِ.

Di antaranya adalah apabila seseorang yang hadir mengaku bahwa ia telah menjual budaknya ini kepada si Fulan yang sedang tidak hadir, dan si Fulan tersebut menahan pembayaran harganya, lalu orang yang hadir itu mendatangkan bukti atas pengakuannya, maka diputuskan atas si tidak hadir dengan kewajiban membeli, budak itu dijual kepadanya, dan hak penjual dipenuhi dari harga budak tersebut.

وَمِنْهَا أَنَّ عَبْدًا لَوْ قُطِعَتْ يَدُهُ فَأَقَامَ الْبَيِّنَةَ عَلَى أَنَّ مَوْلَاهُ الْغَائِبَ أَعْتَقَهُ لِيَقْتَصَّ مِنْ يَده قَضَى عَلَى الْغَائِبِ بِعِتْقِهِ وَحَكَمَ لَهُ بِالْقِصَاصِ مِنْ يَدِهِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَشْبَاهِ هَذِهِ الْمَسَائِلِ فَكَذَلِكَ فِيمَا عَدَاهَا.

Di antaranya adalah bahwa jika seorang budak tangannya terpotong, lalu ia mendatangkan bukti bahwa tuannya yang sedang tidak hadir telah memerdekakannya agar ia dapat menuntut qishāsh atas tangannya, maka diputuskan atas tuan yang tidak hadir tersebut dengan kemerdekaannya dan diputuskan pula hak qishāsh baginya atas tangannya, demikian pula dalam permasalahan-permasalahan lain yang serupa dengan ini, maka hukumnya juga sama pada selainnya.

فَإِنْ قِيلَ إِنْ هَذَا يَتَعَلَّقُ بِحَاضِرٍ قِيلَ فَالْحُكْمُ عَلَى الْغَائِبِ وَإِنْ تَعَلَّقَ بِحَاضِرٍ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْغَيْبَةَ لَا تَمْنَعُ مِنْ نُفُوذِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ لِثُبُوتِهِ بِالْبَيِّنَةِ.

Jika dikatakan bahwa hal ini berkaitan dengan orang yang hadir, maka dijawab: hukum juga berlaku atas orang yang tidak hadir. Dan jika hal itu berkaitan dengan orang yang hadir, maka ini menunjukkan bahwa ketidakhadiran tidak menghalangi berlakunya hukum atasnya, karena telah tetap dengan adanya bukti.

وَلِأَنَّ فِي الِامْتِنَاعِ مِنَ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ إِضَاعَةً لِلْحُقُوقِ الَّتِي نُدِبَ الْحُكَّامُ لِحِفْظِهَا لِأَنَّهُ يَقْدِرُ كُلُّ مَانِعٍ مِنْهَا أَنْ يَغِيبَ، فَيُبْطِلُهَا مُتَوَارِيًا أَوْ مُتَبَاعِدًا، وَالشَّرْعُ يَمْنَعُ مِنْ هَذَا لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ لَا يَمْنَعُ ذَا حَقٍّ حَقَّهُ “.

Karena jika menolak memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir akan menyebabkan hilangnya hak-hak yang para hakim ditugaskan untuk menjaganya, sebab setiap orang yang ingin menghalangi hak tersebut dapat saja menghilang, sehingga ia dapat membatalkan hak itu dengan bersembunyi atau menjauh. Syariat melarang hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghalangi seseorang dari haknya.”

وَلِأَنَّ الْغَائِبَ لَوْ حَضَرَ لَكَانَ بَيْنَ إِقْرَارٍ وَإِنْكَارٍ فَإِنْ أَقَرَّ فَالْبَيِّنَةُ مُوَافَقَةٌ وَإِنْ أَنْكَرَ فَالْبَيِّنَةُ حُجَّةٌ فَلَمْ يَكُنْ فِي الْغَيْبَةِ مَانِعٌ مِنَ الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ فِي حَالَتَيْ إقراره وإنكاره.

Karena jika orang yang tidak hadir itu datang, maka ia berada antara mengakui atau mengingkari; jika ia mengakui, maka bukti tersebut sejalan (dengan pengakuannya), dan jika ia mengingkari, maka bukti tersebut menjadi hujjah (alasan yang kuat) terhadapnya. Maka, tidak ada dalam keadaan tidak hadir suatu hal yang menghalangi untuk memutuskan dengan bukti, baik dalam keadaan ia mengakui maupun mengingkari.

فَإِنْ قِيلَ إِذَا اجْتَمَعَ الْإِقْرَارُ وَالْبَيِّنَةُ تَعَلَّقَ الْحُكْمُ بِالْإِقْرَارِ دُونَ الْبَيِّنَةِ.

Jika dikatakan: Apabila pengakuan dan bayyinah (alat bukti) berkumpul, maka hukum hanya terkait dengan pengakuan, bukan dengan bayyinah.

قِيلَ هُوَ كَذَلِكَ إِذَا كَانَ الْإِقْرَارُ مُمْكِنًا وَبِخِلَافِهِ إِذَا كَانَ معتذرا.

Dikatakan demikian apabila pengakuan masih memungkinkan, dan berbeda halnya jika pengakuan itu mustahil dilakukan.

فَإِنْ قِيلَ لَوْ كَانَ حَاضِرًا لَقَدَرَ عَلَى دَفْعِ الْبَيِّنَةِ بِالْجَرْحِ وَلَا يَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ مَعَ الْغَيْبَةِ.

Jika dikatakan, “Seandainya ia hadir, tentu ia mampu menolak bukti dengan melakukan jarh, sedangkan ia tidak mampu melakukan hal itu ketika sedang tidak hadir.”

قِيلَ يُمْكِنُهُ بَعْدَ الْحُكْمِ عَلَيْهِ أَنْ يُقِيمَ الْبَيِّنَةَ بِالْجَرْحِ فَيُسْقِطُهَا وَيَنْتَقِضُ بِهَا مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْحُكْمِ فَلَمْ يَمْنَعْهُ نُفُوذُ الْحُكْمِ مِنِ اسْتِدْرَاكِهِ.

Dikatakan bahwa setelah keputusan dijatuhkan atasnya, ia masih dapat mengajukan bukti yang melemahkan (al-jarh), sehingga keputusan tersebut dibatalkan dan keputusan sebelumnya menjadi gugur karenanya. Maka berlakunya keputusan tidak menghalanginya untuk melakukan koreksi.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْآيَةِ: فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap ayat tersebut adalah dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا فِي الْحَاضِرِ، لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَكُونُ لِلْحَاضِرِ دُونَ الْغَائِبِ.

Salah satunya: bahwa ia ditujukan untuk yang hadir, karena doa itu diperuntukkan bagi yang hadir, bukan untuk yang tidak hadir.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ ذَمَّهُ بِالْإِعْرَاضِ، وَذَمُّهُ أَحَقُّ بِوُجُوبِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ مِنْ إِسْقَاطِهِ عَنْهُ

Kedua: Sesungguhnya ia mencelanya karena berpaling, dan celaannya itu lebih layak untuk mewajibkan hukum atasnya daripada menggugurkan hukum darinya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فَمِنْ وَجْهَيْنِ:

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut ada dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ قَالَ: إِذَا أَتَاكَ الْخَصْمَانِ فَكَانَ وَارِدًا فِي الْحَاضِرِينَ.

Salah satunya adalah bahwa ia berkata: Jika dua pihak yang berselisih datang kepadamu, maka hal itu termasuk perkara yang terjadi di hadapan orang-orang yang hadir.

وَالثَّانِي: أَنَّ اشْتِرَاطَ ذَلِكَ فِي الْحَاضِرِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِهِ فِي الْغَائِبِ لِعَدَمِ الشَّرْطِ.

Kedua: Sesungguhnya pensyaratan hal itu pada yang hadir merupakan dalil atas bolehnya pada yang tidak hadir karena tidak adanya syarat.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْحَاضِرِ: فَهُوَ أَنَّ سُؤَالَهُ مُمْكِنٌ، وَسُؤَالُ الْغَائِبِ مُتَعَذِّرٌ.

Adapun jawaban terhadap qiyās yang disamakan dengan orang yang hadir: sesungguhnya permintaannya memungkinkan, sedangkan permintaan orang yang tidak hadir itu sulit dilakukan.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى يَمِينِ الْمُنْكِرِ، فَهُوَ وُجُودُ الدَّعْوَى فِي الْبَيِّنَةِ، فَجَازَ الْحُكْمُ بِهَا وَعَدَمُ الدَّعْوَى فِي يَمِينِ الْمُنْكِرِ فَلَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا.

Adapun jawaban terhadap qiyās yang menyamakan dengan sumpah orang yang mengingkari, maka perbedaannya adalah adanya gugatan dalam kasus bukti (bayyinah), sehingga boleh menetapkan hukum dengannya; sedangkan tidak adanya gugatan dalam sumpah orang yang mengingkari, maka tidak boleh menetapkan hukum dengannya.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قِيَاسِهِ عَلَى الْحُكْمِ لِلْغَائِبِ، فَهُوَ أَنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ تَأْخِيرَهُ وَلَيْسَ لِمَنْ عَلَيْهِ الحق تأخيره.

Adapun jawaban atas qiyās yang menyamakan dengan penetapan hukum bagi orang yang tidak hadir, maka sesungguhnya pemilik hak boleh menunda (penetapan hukum tersebut), sedangkan orang yang berkewajiban tidak berhak menundanya.

(فصل: القضاء على الغائب مخصوص ببعض الحقوق) .

(Bab: Putusan terhadap orang yang tidak hadir terbatas pada sebagian hak tertentu).

فَإِذَا ثَبَتَ بِمَا ذَكَرْنَا جَوَازُ الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ فَهُوَ مَخْصُوصٌ بِحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Maka apabila telah tetap dengan apa yang telah kami sebutkan tentang bolehnya memutuskan perkara atas orang yang tidak hadir, maka hal itu dikhususkan pada hak-hak manusia.

فَأَمَّا حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى الَّتِي تُدْرَأُ بِالشُّبَهَاتِ فَلَا يَجُوزُ الْقَضَاءُ بِهَا عَلَى غَائِبٍ كَحَدِّ الزِّنَا وَحَدِّ الْخَمْرِ لِاتِّسَاعِ حُكْمِهَا بِالْمُهْلَةِ.

Adapun hak-hak Allah Ta‘ala yang gugur karena adanya syubhat, maka tidak boleh diputuskan hukumnya terhadap orang yang tidak hadir, seperti hudud zina dan hudud khamar, karena hukumannya dapat ditunda pelaksanaannya.

فَإِنْ كَانَ مِمَّا يَجْمَعُ فِيهِ بَيْنَ حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى وَحَقِّ الْآدَمِيِّ كَالسَّرِقَةِ قُضِيَ عَلَى الْغَائِبِ بِالْغُرْمِ وَلَمْ يقض عليه بالقطع إلا بعد حضوره.

Jika perkara tersebut termasuk yang mengandung hak Allah Ta‘ala dan hak manusia, seperti pencurian, maka diputuskan atas orang yang tidak hadir untuk membayar ganti rugi, dan tidak diputuskan atasnya hukuman potong tangan kecuali setelah kehadirannya.

(ما على القاضي في الاستعداء إليه) .

(Tidak ada kewajiban atas qadhi dalam permintaan perlindungan kepadanya).

فَإِذَا صَحَّتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ وَجَبَ أَنْ نَصِفَ مَا عَلَى الْقَاضِي فِي الِاسْتِعْدَاءِ إِلَيْهِ وَالتَّحَاكُمِ عِنْدَهُ.

Maka apabila pernyataan ini telah sah, wajib bagi kita untuk menjelaskan apa yang menjadi kewajiban qadhi dalam menerima pengaduan kepadanya dan dalam proses saling menggugat di hadapannya.

فَإِذَا تَشَاجَرَ خَصْمَانِ فِي حَقٍّ وَدَعَا أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ إِلَى الْحُضُورِ مَعَهُ عِنْدَ الْحَاكِمِ.

Maka apabila dua pihak berselisih mengenai suatu hak, lalu salah satu dari mereka mengajak lawannya untuk hadir bersamanya di hadapan hakim.

وَجَبَ عَلَيْهِ إِجَابَتُهُ وَالْحُضُورُ لِمُحَاكَمَتِهِ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سمعنا وأطعنا} .

Wajib baginya untuk memenuhi panggilan tersebut dan hadir untuk diadili, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’”

فَإِنِ امْتَنَعَ وَحَضَرَ الطَّالِبُ مُسْتَعْدِيًا إِلَى الْقَاضِي عَلَى خَصْمِهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ الْخَصْمِ مِنْ أَنْ يَكُونَ حَاضِرًا فِي بَلَدِ الْقَاضِي أَوْ غائبا عنه.

Jika pihak yang diminta menolak dan pihak penuntut hadir mengadukan lawannya kepada qadhi, maka keadaan pihak lawan tidak lepas dari dua kemungkinan: ia hadir di negeri qadhi atau ia tidak hadir (ghaib) darinya.

(الخصم الحاضر في بلد القاضي) .

Pihak yang hadir di negeri tempat hakim berada.

فَإِنْ كَانَ حَاضِرًا فِي بَلَدِهِ: وَجَبَ عَلَى الْقَاضِي إِعْدَاءُ الْمُسْتَعْدِي وَإِحْضَارُ خَصْمِهِ لِمُحَاكَمَتِهِ قَبْلَ سَمَاعِ الدَّعْوَى وَتَحْرِيرِهَا سَوَاءٌ عَرَفَ أَنَّ بَيْنَهُمَا مُعَامَلَةً أَوْ لَمْ يَعْرِفْ.

Jika ia (tergugat) hadir di negerinya, maka wajib bagi qadhi untuk memberitahukan pihak penggugat dan menghadirkan lawannya (tergugat) untuk mengadilinya sebelum mendengar dan menuliskan gugatan, baik qadhi mengetahui adanya hubungan muamalah di antara keduanya maupun tidak mengetahuinya.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يَجُوزُ أَنْ يُحْضِرَهُ إِذَا كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَانَةِ إِلَّا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ بَيْنَهُمَا مُعَامَلَةً أَوْ خُلْطَةً فَيُحْضِرُهُ. وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْهَا لَمْ يَحْضُرِ احْتِجَاجًا بِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ” لَا يُعْدِي الْحَاكِمُ عَلَى خَصْمٍ إِلَّا أَنْ يَعْلَمَ بَيْنَهُمْ مُعَامَلَةً ” وَلَا مُخَالِفَ لَهُ.

Malik berkata: Tidak boleh menghadirkan seseorang (sebagai saksi) jika ia termasuk orang yang menjaga kehormatan diri, kecuali jika diketahui bahwa antara keduanya terdapat hubungan muamalah atau pergaulan, maka boleh dihadirkan. Namun jika tidak diketahui adanya hubungan tersebut, maka tidak boleh dihadirkan, dengan alasan berdasarkan riwayat dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Hakim tidak boleh memutuskan perkara atas seseorang kecuali jika diketahui adanya hubungan muamalah di antara mereka.” Dan tidak ada yang menyelisihinya.

وَلِأَنَّ فِيهِ اسْتِبْذَالُ أَهْلِ الصِّيَانَةِ بِمَا لَا يُعْلَمُ اسْتِحْقَاقُهُ فَوَجَبَ حِفْظُ صِيَانَتِهِمْ إِلَّا بِمُوجِبٍ.

Dan karena di dalamnya terdapat penggantian hak orang-orang yang menjaga kehormatan diri dengan sesuatu yang tidak diketahui kelayakannya, maka wajib menjaga kehormatan mereka kecuali ada alasan yang membenarkannya.

وَدَلِيلُنَا وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ مَا رَوَاهُ النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ عَنِ الْهِرْمَاسِ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ اسْتَعْدَى رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – على رجل في حق له فقال له الْزَمْهُ.

Dalil kami, yang juga merupakan pendapat jumhur, adalah apa yang diriwayatkan oleh an-Nadhr bin Syumail dari al-Hirmas bin Habib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ia mengadukan seseorang kepada Rasulullah ﷺ terkait suatu hak miliknya, lalu beliau bersabda kepadanya, “Ikutilah dia.”

وَلَمْ يَسْتَعْلِمْ مَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْمُعَامَلَةِ فَدَلَّ عَلَى عُمُومِ الْإِعْدَاءِ فِي الْجَمِيعِ.

Dan ia tidak menanyakan tentang bentuk muamalah di antara keduanya, maka hal itu menunjukkan keumuman larangan dalam seluruh bentuknya.

وَلِأَنَّ الْحُقُوقَ قَدْ تَثْبُتُ تَارَةً عَنْ مُعَامَلَةٍ وَتَارَةً عَنْ غَيْرِ مُعَامَلَةٍ كَالْغُصُوبِ وَالْجِنَايَاتِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ تَجْعَلَ الْمُعَامَلَةَ شَرْطًا فِي الْإِعْدَاءِ.

Karena hak-hak terkadang dapat ditetapkan melalui mu‘āmalah dan terkadang tanpa mu‘āmalah, seperti dalam kasus ghashab dan jināyah, maka tidak boleh menjadikan mu‘āmalah sebagai syarat dalam penetapan tanggung jawab atas kerugian.

وَلِأَنَّ الْحُقُوقَ لَا يَجُوزُ أَنْ تُضَاعَ لِحِفْظِ الصِّيَانَةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْحُضُورِ لِلْمُحَاكَمَةِ اسْتِبْذَالٌ لِلصِّيَانَةِ. وَقَدْ قَاضَى عُمَرُ أُبَيًّا إِلَى زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَقَاضَى عَلِيٌّ يَهُودِيًّا إِلَى شُرَيْحٍ.

Karena hak-hak tidak boleh disia-siakan demi menjaga kehormatan, meskipun kehadiran dalam persidangan tidak berarti menukar kehormatan itu. Umar pernah mengadukan Ubay kepada Zaid bin Tsabit, dan Ali pernah mengadukan seorang Yahudi kepada Syuraih.

وَالْخَبَرُ الْمَرْوِيُّ عَنْ عَلِيٍّ غَيْرُ ثَابِتٍ وَلَوْ ثَبَتَ لَكَانَ الْقِيَاسُ أَقْوَى وَالْعَمَلُ بِهِ أَوْلَى.

Kabar yang diriwayatkan dari Ali tidaklah sahih, dan seandainya sahih pun, maka qiyās lebih kuat dan mengamalkannya lebih utama.

وَعَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْقَاضِي فِي أَهْلِ الصِّيَانَةِ أَنْ يُفْرِدَهُمْ عَنْ مَجْلِسِ الْعَامَّةِ وَيَنْظُرَ بَيْنَهُمْ فِي مَنْزِلِهِ بِحَيْثُ يَحْفَظُ بِهِ صِيَانَتَهُمْ.

Dan sesungguhnya diperbolehkan bagi qadhi untuk memisahkan orang-orang yang memiliki kehormatan dari majelis umum, lalu mengadili perkara di antara mereka di rumahnya, dengan cara yang dapat menjaga kehormatan mereka.

(فَصْلٌ: [استدعاء الخصم] )

Bab: [Pemanggilan pihak lawan]

وَإِذَا وَجَبَ عَلَى الْقَاضِي أَنْ يُعْدِيَ كُلَّ مُسْتَعْدٍ إِلَيْهِ إِذَا لَمْ يَعْلَمْ كَذِبَهُ كَانَ الْقَاضِي فِي إِعْدَائِهِ بِالْخِيَارِ بَيْنَ أَنْ يُنْفِذَ مَعَهُ عَوْنًا مِنْ أُمَنَائِهِ يُحْضِرُهُ إِلَيْهِ وَبَيْنَ أَنْ يَخْتِمَ لَهُ فِي طِينٍ بِخَاتَمِهِ الْمَعْرُوفِ يَكُونُ عَلَامَةَ اسْتِدْعَائِهِ وَبَيْنَ أَنْ يَجْمَعَ لَهُ بَيْنَ الْعَوْنِ وَالْخَتْمِ بِحَسْبِ مَا يُؤَدِّيهِ الِاجْتِهَادُ إِلَيْهِ مِنْ قُوَّةِ الْخَصْمِ وَضَعْفِهِ.

Apabila seorang qadhi wajib memenuhi permintaan setiap orang yang memohon kepadanya, selama ia tidak mengetahui bahwa permohonan itu dusta, maka qadhi memiliki pilihan dalam memenuhi permintaan tersebut: antara mengutus seorang pembantunya yang terpercaya untuk menghadirkan orang itu kepadanya, atau memberikan cap di atas tanah liat dengan stempel resminya sebagai tanda bahwa orang tersebut telah dipanggil, atau menggabungkan antara mengutus pembantu dan memberikan cap, sesuai dengan hasil ijtihadnya berdasarkan kekuatan atau kelemahan pihak lawan.

فَإِنْ أَخْبَرَ الْقَاضِي بِامْتِنَاعِ الْخَصْمِ مِنَ الْحُضُورِ بَعْدَ اسْتِدْعَائِهِ فَإِنْ أَخْبَرَهُ الْعَوْنَ الَّذِي قَدِ ائْتَمَنَهُ، قَبْلَ قَوْلِهِ مِنْ غَيْرِ بَيِّنَةٍ وَإِنْ أَخْبَرَهُ بِهِ الْمُسْتَعْدِي لَمْ يَقْبَلْ قَوْلَهُ إِلَّا بِشَاهِدَيْ عَدْلٍ.

Jika hakim diberi tahu bahwa salah satu pihak menolak hadir setelah dipanggil, maka jika yang memberitahukan adalah petugas yang telah ia percayai, ia menerima keterangannya tanpa perlu bukti lain. Namun jika yang memberitahukan adalah pihak yang mengadukan, maka keterangannya tidak diterima kecuali disertai dua orang saksi yang adil.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَقْبَلُ قَوْلَهُ بِقَوْلِ شَاهِدَيْنِ وَإِنْ لَمْ تُعْرَفْ عَدَالَتُهُمَا.

Abu Hanifah berkata: Diterima perkataannya dengan kesaksian dua orang saksi, meskipun keadilan keduanya tidak diketahui.

وَالْعَدَالَةُ عِنْدَنَا شَرْطٌ فِي كُلِّ شَهَادَةٍ.

Keadilan menurut kami adalah syarat dalam setiap kesaksian.

فَإِذَا ثَبَتَ عِنْدَ الْقَاضِي امْتِنَاعُهُ مِنَ الْحُضُورِ كَانَ مُخَيَّرًا فِيهِ بِحَسْبِ اجْتِهَادِهِ بَيْنَ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ.

Apabila telah terbukti di hadapan qadhi bahwa seseorang menolak untuk hadir, maka qadhi memiliki pilihan, sesuai ijtihadnya, di antara tiga hal.

إِمَّا أَنْ يُحْضِرَهُ جَبْرًا بِأَهْلِ الْقُوَّةِ مِنْ أَعْوَانِهِ.

Atau memaksanya untuk hadir dengan bantuan orang-orang kuat dari para pembantunya.

وَإِمَّا أَنْ يُنْهِيَ أَمْرَهُ إِلَى ذِي سُلْطَانٍ يَحْضُرُهُ جَبْرًا، بَعْدَ أَنْ لَا يَهْتِكَ عَلَيْهِ وَلَا عَلَى حُرَمِهِ سِتْرًا.

Atau ia dapat menyerahkan urusannya kepada pihak yang berwenang agar menghadirkannya secara paksa, setelah sebelumnya tidak membuka aibnya dan tidak menyingkap kehormatan dirinya maupun keluarganya.

وَإِمَّا بِمَا اخْتَارَهُ أَبُو يُوسُفَ، أَنْ يُنَادِيَ عَلَى بَابِهِ، بِمَا يَتَوَجَّهُ عَلَيْهِ فِي الِامْتِنَاعِ وَبِمَا يُمْضِيهِ عَلَيْهِ مِنَ الْحُكْمِ.

Atau dengan cara yang dipilih oleh Abu Yusuf, yaitu mengumumkan di depan pintu rumahnya tentang apa yang menjadi tuntutan atasnya karena penolakannya, dan tentang keputusan hukum yang akan dijatuhkan kepadanya.

فَإِذَا تَعَذَّرَ حُضُورُهُ مَعَ هَذِهِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا سَأَلَ الْقَاضِي هَذَا الْمُدَّعِيَ: أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟

Maka apabila kehadirannya tidak memungkinkan dalam seluruh keadaan ini, hakim akan bertanya kepada penggugat tersebut: “Apakah engkau memiliki bayyinah (alat bukti)?”

فَإِذَا كَانَ لَهُ بَيِّنَةٌ أَذِنَ لَهُ فِي إِحْضَارِهَا وَأَمَرَهُ بِتَحْرِيرِ الدَّعْوَةِ وَسَمِعَ بِبَيِّنَتِهِ بَعْدَ تَحْرِيرِهَا، وَحَكَمَ عَلَيْهِ بَعْدَ النِّدَاءِ عَلَى بَابِهِ، بِإِنْفَاذِ الْحُكْمِ عَلَيْهِ وَيَجْرِي مَجْرَى الْغَائِبِ فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِ.

Jika ia memiliki bukti, maka diizinkan baginya untuk menghadirkannya dan diperintahkan untuk merumuskan gugatan secara jelas, lalu bukti tersebut didengarkan setelah gugatan dirumuskan. Kemudian diputuskan atas dirinya setelah diumumkan di depan pintu rumahnya, dengan memberlakukan putusan atasnya, dan ia diperlakukan seperti orang yang ghaib dalam hal penetapan hukum atasnya.

وَلَا يَلْزَمُ الْقَاضِي فِي حَقِّ هَذَا الْمُتَوَارِي أَنْ يَحْلِفَ الْمُدَّعِي أَنَّهُ مَا قَبَضَ هَذَا الْحَقَّ وَلَا شَيْئًا مِنْهُ، كَمَا يُحْلِفُهُ لِلْغَائِبِ لِأَنَّ هَذَا قَادِرٌ بِحُضُورِهِ عَلَى الْمُطَالَبَةِ بِذَلِكَ لَوْ أَرَادَ بِخِلَافِ الْغَائِبِ فَافْتَرَقَا فِيهِ.

Hakim tidak wajib meminta penggugat untuk bersumpah bahwa ia belum menerima hak tersebut, atau sebagian darinya, terhadap orang yang bersembunyi ini, sebagaimana hakim meminta sumpah kepada penggugat dalam perkara orang yang ghaib. Sebab, orang yang bersembunyi ini sebenarnya mampu hadir dan menuntut haknya jika ia menghendaki, berbeda dengan orang yang ghaib. Maka, keduanya berbeda dalam hal ini.

فَإِنْ قَالَ الْمُدَّعِي لَيْسَتْ لِي بَيِّنَةٌ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا: هَلْ يَكُونُ هَذَا الِامْتِنَاعُ مِنَ الْحُضُورِ كَالنُّكُولِ فِي رَدِّ الْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعِي أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika penggugat berkata, “Saya tidak memiliki bayyinah (alat bukti),” maka para ulama kami berbeda pendapat: Apakah penolakan untuk hadir ini dianggap seperti nukūl (enggan bersumpah) dalam mengembalikan sumpah kepada penggugat atau tidak? Ada dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا يُجْعَلُ نُكُولًا، لِأَنَّ النُّكُولَ بَعْدَ سَمَاعِ الدَّعْوَى، وَسُؤَالِهِ عَنِ الْجَوَابِ، فَيَصِيرَانِ شَرْطَيْنِ فِي النُّكُولِ، وَهُمَا مَفْقُودَانِ مَعَ عَدَمِ الْحُضُورِ.

Salah satunya: bahwa hal itu tidak dianggap sebagai penolakan (nukūl), karena nukūl terjadi setelah mendengar gugatan dan setelah ditanya tentang jawabannya. Maka keduanya menjadi dua syarat dalam nukūl, dan kedua syarat tersebut tidak terpenuhi jika tidak hadir.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَشْبَهُ أَنْ يُجْعَلَ كَالنُّكُولِ بَعْدَ النِّدَاءِ عَلَى بَابِهِ بِمَبْلَغِ الدَّعْوَى وَإِعْلَامِهِ بِأَنَّهُ يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ لِوُجُودِ شَرْطَيِ النُّكُولِ فِي هَذَا النِّدَاءِ، فَعَلَى هَذَا يَسْمَعُ الْقَاضِي الدَّعْوَى مُحَرَّرَةً، ثُمَّ يُعِيدُ النِّدَاءَ عَلَى بَابِهِ ثَانِيَةً بِأَنَّهُ يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ.

Pendapat kedua: dan ini lebih mirip untuk diperlakukan seperti penolakan (nukūl) setelah dipanggil di depan pintu rumahnya dengan jumlah tuntutan dan diberitahukan kepadanya bahwa ia akan diputuskan atasnya dengan penolakan (nukūl), karena telah terpenuhi dua syarat penolakan (nukūl) dalam pemanggilan ini. Maka berdasarkan hal ini, hakim mendengarkan gugatan yang telah dirinci, kemudian mengulangi pemanggilan di depan pintu rumahnya sekali lagi dengan memberitahukan bahwa ia akan diputuskan atasnya dengan penolakan (nukūl).

فَإِذَا امْتَنَعَ مِنَ الْحُضُورِ بَعْدَ النِّدَاءِ الثَّانِي، حَكَمَ بِنُكُولِهِ، وَرَدَّ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعِي، وَحَكَمَ له بالدعوى إذا حلف.

Jika tergugat menolak hadir setelah panggilan kedua, maka diputuskan bahwa ia telah ingkar, lalu sumpah dialihkan kepada penggugat, dan penggugat dimenangkan atas gugatannya jika ia bersumpah.

(استدعاء الخصم إن كان امرأة) .

Memanggil pihak lawan jika ia seorang perempuan.

فَإِنْ كَانَ الْخَصْمُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ امْرَأَةً لَمْ يَخْلُ حَالُهَا، مِنْ أَنْ تَكُونَ بَرْزَةً أَوْ خَفِرَةً.

Jika pihak tergugat adalah seorang wanita, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: ia adalah wanita yang biasa tampil di hadapan umum (barzah) atau wanita yang terjaga dan tidak biasa keluar rumah (khafirah).

فَإِنْ كَانَتْ بَرْزَةً – وَالْبَرْزَةُ الَّتِي تَتَظَاهَرُ بِالْخُرُوجِ فِي مَآرِبِهَا غَيْرَ مُسْتَخْفِيَةٍ فَتَصِيرُ بِهَذَا الْبُرُوزِ كَالرَّجُلِ فِي وُجُوبِ الْحُضُورِ لِلْحُكْمِ.

Jika ia adalah seorang barzah—dan barzah adalah perempuan yang menampakkan diri keluar rumah untuk keperluannya tanpa bersembunyi—maka dengan kemunculannya ini, ia menjadi seperti laki-laki dalam kewajiban hadir untuk pengadilan.

وَإِنْ كَانَتْ خَفِرَةً وَالْخَفِرَةُ هِيَ الَّتِي لَا تَتَظَاهَرُ بِالْخُرُوجِ فِي أَرَبٍ وَإِنْ خَرَجَتِ اسْتَخْفَتْ وَلَمْ تُعْرَفْ فَلَا يَلْزَمُهَا الْحُضُورُ مَعَ هَذَا الْخَفَرِ، وَعَلَى الْقَاضِي إِذَا اسْتَعْدَاهُ الْخَصْمُ عَلَيْهَا أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ خَصْمِهَا فِي مَنْزِلِهَا، إِمَّا بِنَفْسِهِ، أَوْ بِنَائِبٍ عَنْهُ.

Dan jika ia adalah seorang wanita yang pemalu—yaitu wanita yang tidak biasa menampakkan diri di hadapan orang Arab, dan jika pun ia keluar, ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi sehingga tidak dikenal—maka ia tidak wajib hadir (ke pengadilan) dengan sifat pemalunya itu. Hakim, apabila lawan perkaranya mengadukannya kepada hakim, wajib memutuskan perkara antara dia dan lawan perkaranya di rumahnya, baik hakim itu sendiri yang datang, maupun melalui wakilnya.

فَإِنِ اخْتَلَفَتْ وَخَصْمُهَا فِي الْبُرُوزِ وَالْخَفَرِ، نُظِرَ فَإِنْ كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ الْأَغْلَبُ مِنْ حَالِ نِسَائِهِمُ الْخَفَرُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهَا مَعَ يَمِينِهَا، وَإِنْ كَانَ قَوْمُهَا الْأَغْلَبُ مِنْ حَالِ نِسَائِهِمُ الْبُرُوزُ، فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْخَصْمِ مع يمينه.

Jika terjadi perselisihan antara dia dan lawannya mengenai kebiasaan tampil di muka umum (al-burūz) atau menjaga diri di dalam rumah (al-khafar), maka dilihat: jika dia berasal dari kaum yang mayoritas perempuan mereka terbiasa menjaga diri (al-khafar), maka pendapatnya yang diterima dengan sumpahnya; namun jika kaumnya mayoritas perempuan mereka terbiasa tampil di muka umum (al-burūz), maka pendapat lawannya yang diterima dengan sumpahnya.

(فصل: [الخصم الغائب عن بلد القاضي] ) .

Bab: [Pihak lawan yang tidak hadir di negeri tempat hakim berada].

وإن كان الخصم المطلوب غائب عَنْ بَلَدِ الْقَاضِي: لَمْ يَخلُ أَنْ يَكُونَ فِي عَمَلِهِ، أَوْ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ.

Jika pihak tergugat yang diminta hadir sedang tidak berada di negeri tempat hakim berada, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: berada di wilayah kekuasaan hakim tersebut, atau berada di luar wilayah kekuasaannya.

فَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ عَمَلِهِ، لَمْ يَكُنْ لَهُ إِحْضَارُهُ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ لَهُ عَلَيْهِ.

Jika itu bukan dalam pekerjaannya, maka ia tidak berhak menghadirkannya karena ia tidak memiliki wewenang atasnya.

وَجَازَ لَهُ أَنْ يَسْمَعَ الدَّعْوَى وَالْبَيِّنَةَ عَلَيْهِ، لِيُكَاتِبَ بِهِ قَاضِيَ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمَطْلُوبُ.

Dan boleh baginya untuk mendengarkan gugatan dan bukti terhadapnya, agar ia dapat mengirimkan surat kepada qāḍī di negeri tempat orang yang dicari itu berada.

وَلَهُ فِي مُكَاتَبَتِهِ حَالَتَانِ:

Dan ia dalam hal memerdekakan budaknya secara mukātabah memiliki dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يُكَاتِبَهُ بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ، لِيَتَوَلَّى الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ الْحُكْمَ بِهَا عَلَى الْمَطْلُوبِ فَهَذَا جَائِزٌ عِنْدَ مَنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ وَعِنْدَ مَنْ لَا يَرَاهُ.

Salah satunya adalah bahwa ia menulis surat kepadanya dengan mendengarkan bukti, agar orang yang menerima surat tersebut dapat memutuskan perkara berdasarkan bukti itu terhadap pihak yang dituntut. Hal ini diperbolehkan menurut pendapat yang membolehkan qadhā’ atas orang yang tidak hadir maupun menurut pendapat yang tidak membolehkannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَحْكُمَ بِالْبَيِّنَةِ بَعْدَ سَمَاعِهَا وَيُكَاتِبَ الْقَاضِيَ بِحُكْمِهِ، فَهَذَا جَائِزٌ عِنْدَنَا وَعِنْدَ مَنْ يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ، وَلَا يَجُوزُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَنْ لَا يَرَى الْقَضَاءَ عَلَى الْغَائِبِ.

Keadaan kedua: yaitu seorang hakim memutuskan berdasarkan bukti setelah mendengarkannya, lalu ia mengirim surat kepada hakim lain mengenai putusannya. Hal ini diperbolehkan menurut kami dan menurut siapa saja yang membolehkan keputusan terhadap pihak yang tidak hadir (al-ghā’ib), namun tidak diperbolehkan menurut Abu Hanifah dan siapa saja yang tidak membolehkan keputusan terhadap pihak yang tidak hadir.

وَعَلَيْهِ فِي هَذَا الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ أَنْ لَا يَحْكُمَ لَهُ بَعْدَ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ إِلَّا بَعْدَ إِحْلَافِهِ بِاللَّهِ إِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي ذِمَّةٍ: أَنَّهُ مَا قَبَضَهُ، وَلَا شَيْئًا مِنْهُ وَلَا بَرِئَ إِلَيْهِ مِنْهُ وَلَا مِنْ شَيْءٍ مِنْهُ، وَإِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي عَيْنٍ قَائِمَةٍ أَحْلَفَهُ، أَنَّ مِلْكَهُ عَلَيْهَا بَاقٍ مَا زَالَ عَنْهَا وَلَا عَنْ شَيْءٍ مِنْهَا.

Oleh karena itu, dalam putusan terhadap pihak yang tidak hadir, hakim tidak boleh memutuskan untuknya setelah mendengar bukti kecuali setelah ia bersumpah atas nama Allah, jika hak tersebut berupa utang: bahwa ia belum menerimanya, tidak sebagian pun darinya, dan tidak ada yang dibebaskan kepadanya dari utang tersebut atau dari sebagian darinya. Dan jika hak tersebut berupa barang tertentu yang masih ada, maka ia harus bersumpah bahwa kepemilikannya atas barang itu masih tetap, tidak hilang darinya dan tidak dari sebagian darinya.

وَإِنَّمَا أَحْلَفَهُ قَبْلَ الْحُكْمِ؛ لِأَنَّ الْمَحْكُومَ عَلَيْهِ لَوْ كَانَ حَاضِرًا لَجَازَ أَنْ يَدَّعِيَ ذَلِكَ، فَيَسْتَحِقُّ الْيَمِينَ فَلَمْ يَكُنْ لَهُ إِمْضَاءُ الْحُكْمِ مَعَ هَذَا الِاحْتِمَالِ، إِلَّا بَعْدَ الِاحْتِيَاطِ فِيهِ.

Ia hanya disuruh bersumpah sebelum putusan dijatuhkan; karena jika pihak yang diputuskan atasnya itu hadir, boleh jadi ia akan mengakuinya, sehingga ia berhak atas sumpah. Maka tidak boleh baginya untuk menetapkan putusan dengan adanya kemungkinan ini, kecuali setelah melakukan kehati-hatian dalam hal ini.

وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْكَرَابِيسِيُّ إِلَى أَنَّ الْقَاضِيَ يُطَالِبُ الْمَحْكُومَ لَهُ بِكَفِيلٍ، لِجَوَازِ أَنْ يَتَجَدَّدَ مَا يُوجِبُ بُطْلَانَ الْحُكْمِ فَيُؤْخَذُ بِهِ الْكَفِيلُ.

Sebagian ulama kami, yaitu al-Husain bin Ali al-Karabisi, berpendapat bahwa qadhi boleh meminta pihak yang dimenangkan dalam perkara untuk menghadirkan penjamin, karena dimungkinkan muncul hal baru yang menyebabkan batalnya putusan, sehingga penjamin tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban.

وَذَهَبَ جُمْهُورُ أَصْحَابِنَا وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ مُطَالَبَتَهُ بِالْكَفِيلِ لَا تَجِبُ لِأَمْرَيْنِ:

Mayoritas ulama dari kalangan kami, dan ini juga pendapat sebagian besar fuqaha, berpendapat bahwa menuntut adanya penjamin (kafīl) tidaklah wajib karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا كَفَالَةٌ بِغَيْرٍ مُسْتَحِقٍّ.

Salah satunya adalah bahwa itu merupakan penjaminan terhadap sesuatu yang tidak berhak.

وَالثَّانِي: أَنَّ قَضَاءَهُ عَلَى الْغَائِبِ كَقَضَائِهِ عَلَى الْمَيِّتِ وَالصَّبِيِّ، وَلَيْسَ يَلْزَمُ أَخْذُ الْكَفَالَةِ فِي الْقَضَاءِ عَلَيْهِمَا، كَذَلِكَ لَا تَلْزَمُ فِي الْقَضَاءِ عَلَى الْغَائِبِ.

Kedua: Sesungguhnya putusan hakim terhadap orang yang ghaib itu seperti putusannya terhadap orang yang telah meninggal dan anak kecil, dan tidak wajib mengambil jaminan (kafālah) dalam memutuskan perkara atas keduanya, demikian pula tidak wajib dalam memutuskan perkara atas orang yang ghaib.

وَيَشْتَرِطُ الْقَاضِي فِي حُكْمِهِ عَلَى الْغَائِبِ أَنَّهُ قَدْ جَعَلَهُ عَلَى حَقٍّ وَحُجَّةٍ إِنْ كَانَتْ لَهُ لِئَلَّا يَقْتَضِيَ إِطْلَاقُ حُكْمِهِ عَلَيْهِ إِبْطَالَ حُجَجِهِ وَتَصَرُّفِهِ.

Hakim mensyaratkan dalam putusannya terhadap orang yang tidak hadir bahwa ia menetapkan keputusan tersebut atas dasar hak dan dalil yang dimiliki olehnya jika memang ada, agar tidak menyebabkan putusan yang bersifat mutlak atasnya membatalkan dalil-dalil dan tindakan-tindakannya.

وَإِنْ كَانَ الْخَصْمُ الْمَطْلُوبُ غَائِبًا فِي إِعْمَالِ هَذَا الْقَاضِي: لَمْ يَخْلُ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِيهِ نَائِبٌ مُرَتِّبٌ لِلْأَحْكَامِ عُمُومًا أَوْ خُصُوصًا.

Dan jika pihak lawan yang menjadi tergugat sedang tidak hadir dalam pelaksanaan tugas hakim ini, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memiliki seorang wakil yang ditunjuk untuk menetapkan hukum secara umum atau khusus dalam perkara tersebut.

فَإِنْ كَانَ لَهُ نَائِبٌ فِي بَلَدِ الْغَائِبِ لَمْ يَلْزَمْهُ إِحْضَارُهُ وَكَانَ بِالْخِيَارِ فِي الْأَصْلَحِ لِلْخَصْمِ مِنْ إِنْفَاذِهِ إِلَى خَلِيفَتِهِ لِمُحَاكَمَةِ خَصْمِهِ، أَوْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ وَمُكَاتَبَةِ خَلِيفَتِهِ به.

Jika orang yang tidak hadir itu memiliki wakil di negeri tempat ia tidak hadir, maka tidak wajib menghadirkannya, dan ia memiliki pilihan untuk memilih yang lebih maslahat bagi pihak lawan, antara mengirimkan perkara itu kepada wakilnya untuk mengadili lawannya, atau mendengarkan bukti terhadapnya dan mengirimkan surat kepada wakilnya mengenai hal itu.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي بَلَدِ الْغَائِبِ خَلِيفَةٌ فَقَدْ قَالَ أَبُو يُوسُفَ: إِنْ كَانَ عَلَى مَسَافَةٍ يَرْجِعُ مِنْهَا إِلَى وَطَنِهِ قَبْلَ مَنَامِ النَّاسِ أَحْضَرَهُ وَإِنْ بَعُدَ عَنْهَا لَمْ يُحْضِرْهُ.

Dan jika di negeri orang yang tidak hadir itu tidak ada khalifah, maka Abu Yusuf berkata: Jika jaraknya sedemikian rupa sehingga ia dapat kembali ke negerinya sebelum orang-orang tidur, maka ia dihadirkan; namun jika jaraknya jauh sehingga tidak memungkinkan, maka ia tidak dihadirkan.

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ يُحْضَرُ إِنْ كَانَ عَلَى مَسَافَةٍ لَا تُقْصَرُ فِيهَا الصَّلَاةُ. وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا إِنْ كَانَ عَلَى مَسَافَةٍ تُقْصَرُ فِيهَا الصَّلَاةُ:

Menurut Imam Syafi‘i, ia dihadirkan jika berada pada jarak yang tidak boleh melakukan qashar shalat di dalamnya. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat jika ia berada pada jarak yang boleh melakukan qashar shalat di dalamnya.

فَذَهَبَ أَكْثَرُهُمْ وَهُوَ الظَّاهِرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّهُ يُحْضِرُهُ لِلْمُحَاكَمَةِ لِئَلَّا يَتَمَانَعَ النَّاسُ فِي الْحُقُوقِ بِالتَّبَاعُدِ.

Mayoritas ulama, dan ini adalah pendapat yang tampak dari mazhab Syafi‘i, berpendapat bahwa seseorang harus dihadirkan untuk proses peradilan agar orang-orang tidak saling menghalangi dalam menuntut hak dengan cara menjauhkan diri.

وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ إِحْضَارُهُ، لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَتْ مَسَافَةُ الْقَصْرِ شَرْطًا فِي انْتِقَالِ وِلَايَةِ الْغَائِبِ فِي النِّكَاحِ إِلَى الْحَاكِمِ، دَلَّ ذَلِكَ عَلَى اعْتِبَارٍ فِي إِحْضَارِ الْخَصْمِ، وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ، لِلتَّعْلِيلِ الْمُتَقَدَّمِ.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak wajib menghadirkannya, karena ketika jarak safar menjadi syarat dalam berpindahnya wewenang wali yang tidak hadir dalam pernikahan kepada hakim, hal itu menunjukkan adanya pertimbangan dalam menghadirkan pihak yang bersengketa. Namun, pendapat ini tidak benar, karena alasan yang telah disebutkan sebelumnya.

وَإِذَا لَزِمَ إِحْضَارُ الْغَائِبِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ لَمْ يَجُزْ لِلْقَاضِي أَنْ يُحْضِرَهُ إِلَّا بَعْدَ تَحْرِيرِ الدَّعْوَى وَصِحَّةِ سَمَاعِهَا؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَ مَا لَا تَصِحُّ فِيهِ الدَّعْوَى.

Dan apabila kehadiran pihak yang tidak hadir menjadi wajib sebagaimana telah kami jelaskan, maka tidak boleh bagi qadhi untuk memanggilnya kecuali setelah gugatan dirumuskan dengan jelas dan gugatan tersebut sah untuk didengar; karena bisa jadi seseorang mengajukan gugatan dalam perkara yang tidak sah untuk diajukan gugatan di dalamnya.

حُكِيَ أَنَّ رَجُلَيْنِ تَقَدَّمَا إِلَى قَاضٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: إِنَّ أَخَا هَذَا قَتَلَ أَخِي، فَقَالَ الْقَاضِي لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَا تَقُولُ؟ فَقَالَ: إِنَّ غَيْرَ هَذَا قَتَلَهُ غَيْرِي فَمَاذَا عَلَيَّ.

Diceritakan bahwa dua orang menghadap seorang qadi, lalu salah satu dari mereka berkata: “Saudara orang ini telah membunuh saudaraku.” Maka qadi berkata kepada terdakwa, “Apa yang kamu katakan?” Ia menjawab, “Bukan orang ini yang membunuhnya, bukan pula aku, lalu apa urusanku?”

وَهَذَا جَوَابٌ صَحِيحٌ عَنْ فَسَادِ هَذِهِ الدَّعْوَى، وَكَانَ مِنْ صِحَّتِهَا أَنْ يَقُولَ: إِنَّ أَخَاهُ قَتَلَ أَخِي، وَأَنَا وَارِثُهُ، وَهَذَا مِنْ عَاقِلَتِهِ، لِتَتَوَجَّهَ لَهُ الْمُطَالَبَةُ بِهَذِهِ الدَّعْوَى.

Ini adalah jawaban yang benar atas kerusakan klaim ini. Seandainya klaim itu benar, maka seharusnya ia berkata: “Sesungguhnya saudara laki-lakinya telah membunuh saudaraku, dan aku adalah ahli warisnya, dan orang ini termasuk ‘āqilah-nya,” agar tuntutan dengan klaim ini dapat diarahkan kepadanya.

وَلِذَلِكَ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْضِرَ الْغَائِبَ إِلَّا بَعْدَ تَحْرِيرِ الدَّعْوَى بِمَا يَصِحُّ سَمَاعُهَا وَالْحُكْمُ فِيهَا بِبَيِّنَةٍ أو يمين.

Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menghadirkan pihak yang tidak hadir kecuali setelah gugatan dirumuskan dengan jelas sesuai ketentuan yang sah untuk didengar dan dapat diputuskan dengan bukti atau sumpah.

ولو كان الدَّعْوَى عَلَى حَاضِرٍ فِي الْبَلَدِ، جَازَ لِلْقَاضِي إِحْضَارُهُ قَبْلَ تَحْرِيرِ الدَّعْوَى.

Jika gugatan ditujukan kepada seseorang yang hadir di kota, maka hakim boleh menghadirkannya sebelum gugatan tersebut dirumuskan secara resmi.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ فِي إِحْضَارِ الْغَائِبِ مَشَقَّةً، فَلَمْ يَلْزَمْ إِلَّا بَعْدَ تَحْرِيرِ الدَّعْوَى، وَلَيْسَ فِي إِحْضَارِ مَنْ فِي الْبَلَدِ مَشَقَّةٌ، فَجَازَ إِحْضَارُهُ قَبْلَ تَحْرِيرِ الدعوى.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa dalam menghadirkan orang yang tidak hadir terdapat kesulitan, sehingga tidak diwajibkan kecuali setelah penetapan gugatan, sedangkan dalam menghadirkan orang yang berada di dalam kota tidak terdapat kesulitan, maka boleh menghadirkannya sebelum penetapan gugatan.

(فصل: سير الدعوى حين حضور الخصمين)

(Bab: Proses jalannya perkara ketika kedua pihak hadir)

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا، مِنْ وَاجِبِ إِعْدَاءِ الْمُسْتَعْدِي، وَحَضَرَ الْخَصْمَانِ مَجْلِسَ الْحُكْمِ، فَفَصْلُ الْحُكْمِ بَيْنَهُمَا يَشْتَمِلُ عَلَى سِتَّةِ فُصُولٍ:

Jika telah ditetapkan apa yang telah kami jelaskan, mengenai kewajiban mempersiapkan pihak yang bersengketa, dan kedua pihak yang berselisih telah hadir di majelis pengadilan, maka keputusan hukum di antara keduanya mencakup enam bagian:

أَحَدُهَا: ابْتِدَاءُ الْمُدَّعِي بِتَحْرِيرِ الدَّعْوَى، لِتَنْتَفِيَ عَنْهَا الْجَهَالَةُ، إِلَّا فِيمَا يَصِحُّ تَمْلِيكُهُ مَعَ الْجَهَالَةِ كَالْوَصَايَا فَيَجُوزُ أَنْ يَدَّعِيَهَا مَجْهُولَةً لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَلَّكَهَا مَجْهُولَةً وَلَا تَصِحُّ الدَّعْوَى فِيمَا عَدَاهَا إِلَّا مَعْلُومَةً.

Salah satunya adalah dimulainya oleh penggugat dengan merinci gugatan, agar gugatan tersebut terbebas dari ketidakjelasan, kecuali dalam hal-hal yang sah untuk dimiliki meskipun tidak jelas, seperti wasiat, maka boleh saja seseorang menggugatnya dalam keadaan tidak jelas, karena memang boleh memilikinya dalam keadaan tidak jelas. Adapun selain itu, gugatan tidak sah kecuali dalam hal-hal yang sudah jelas.

فَإِنْ قِيلَ: لَوْ أَقَرَّ بِمَجْهُولٍ جَازَ فَهَلَّا جَازَ أَنْ يَدَّعِيَ مَجْهُولًا.

Jika dikatakan: Jika seseorang mengakui sesuatu yang tidak diketahui (majhūl), itu dibolehkan. Maka mengapa tidak boleh seseorang mengklaim sesuatu yang tidak diketahui (majhūl)?

قِيلَ: لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّهُ قَدْ تَعَلَّقَ بِالْإِقْرَارِ حَقٌّ لِغَيْرِهِ فَلَزِمَ بِالْمَجْهُولِ خِيفَةَ إِنْكَارِهِ وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بالدعوى حق لغيره.

Dikatakan: Karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu pada pengakuan terdapat hak orang lain yang terkait dengannya, sehingga pengakuan terhadap sesuatu yang tidak diketahui menjadi wajib karena dikhawatirkan akan ada pengingkaran, sedangkan pada gugatan tidak terdapat hak orang lain yang terkait dengannya.

(منع الجهالة) .

Melarang adanya ketidakjelasan.

وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَالدَّعْوَى عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika demikian, gugatan itu terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ مِمَّا لَا يُنْقَلُ مِنْ دَارٍ وَعَقَارٍ فَالْعِلْمُ بِهَا يَكُونُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: ذِكْرُ بَلَدِهَا، وَذِكْرُ مَكَانِهَا، وَذِكْرُ حُدُودِهَا الْأَرْبَعَةِ.

Salah satunya adalah bahwa benda tersebut termasuk yang tidak dapat dipindahkan, seperti tanah dan bangunan. Pengetahuan tentangnya diperoleh melalui tiga hal: menyebutkan nama kotanya, menyebutkan lokasinya, dan menyebutkan keempat batasnya.

فَإِنْ ذَكَرَ ثَلَاثَةَ حُدُودٍ مِنْهَا، لَمْ يُقْنِعْ وَأَجَازَهُ أَبُو حَنِيفَةَ.

Jika ia menyebutkan tiga batasan darinya, itu tidak dianggap memadai, namun Abū Ḥanīfah membolehkannya.

وَإِنِ اشْتَهَرَتِ الدَّارُ بِاسْمٍ فِي الْبَلَدِ لَا يُشَارِكُهَا غَيْرُهَا فِيهِ، مَيَّزَهَا بِذِكْرِ الِاسْمِ، لِأَنَّهُ زِيَادَةُ عِلْمٍ.

Dan jika sebuah rumah telah dikenal dengan suatu nama di negeri itu yang tidak ada rumah lain yang menyandang nama tersebut, maka rumah itu dibedakan dengan menyebutkan namanya, karena hal itu menambah kejelasan.

وَلَفْظُ الدَّعْوَى فِي مِثْلِهَا، أَنْ يَقُولَ: لِي فِي يَدِهِ، وَلَا يَقُولُ: لِي عَلَيْهِ، وَلَا عِنْدَهُ.

Lafal gugatan dalam kasus seperti ini adalah dengan mengatakan: “Milikku ada di tangannya,” dan tidak boleh mengatakan: “Milikku atasnya,” atau “Milikku ada padanya.”

ثُمَّ يَصِلُ هَذِهِ الدَّعْوَى، بِأَنْ يَقُولَ: وَقَدْ غَلَبَنِي عَلَيْهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، أَوْ قَدْ بَاعَهَا عَلَيَّ وَلَمْ يُسَلِّمْهَا، وَلَا يَلْزَمْ مَعَهُ الْبَيْعُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَخْتَلِفَا فِيهِ، فَتَنْتَقِلُ الدَّعْوَى إِلَى الْبَيْعِ فتوصف.

Kemudian ia melanjutkan gugatan ini dengan mengatakan: “Dan ia telah menguasai barang itu dariku tanpa hak,” atau “Ia telah menjualnya kepadaku namun tidak menyerahkannya.” Jual beli tidak menjadi wajib bersamanya kecuali setelah keduanya berselisih tentangnya, sehingga gugatan berpindah menjadi perkara jual beli dan dijelaskan sifatnya.

فَإِنْ كَانَتِ الدَّارُ فِي يَدِ الْمُدَّعِي، لَمْ تَصِحَّ الدَّعْوَى إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّقَ لَهُ بِهَا حَقٌّ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، مِنْ أُجْرَةِ سُكْنَاهَا، أَوْ قِيمَةِ مُسْتَهْلَكٍ مِنْهَا.

Jika rumah itu berada di tangan penggugat, maka gugatan tidak sah kecuali jika ia memiliki hak atas rumah tersebut terhadap tergugat, seperti hak atas uang sewa rumah itu, atau nilai barang yang telah digunakan darinya.

فَإِنْ قَالَ وَقَدْ نَازَعَنِي فِيهَا لَمْ تَصِحَّ، لِأَنَّ الْمُنَازَعَةَ دَعْوَى تَكُونُ مِنْ غَيْرِهِ لَا مِنْهُ.

Jika ia berkata, “Ia telah berselisih denganku dalam hal itu,” maka tidak sah, karena perselisihan adalah klaim yang berasal dari orang lain, bukan darinya.

وَإِنْ قَالَ قَدْ عَارَضَنِي فِيهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي صِحَّةِ هَذِهِ الدَّعْوَى.

Dan jika ia berkata, “Ia telah menuntutku dalam perkara ini tanpa hak,” maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan klaim ini.

فَقَالَ أَبُو حَامِدٍ تَصِحُّ هَذِهِ الدَّعْوَى، وَيَسْأَلُ الْخَصْمُ عَنْهَا، لِأَنَّ فِي الْمُعَارَضَةِ رَفْعُ يَدِ مُسْتَحِقِّهِ.

Abu Hamid berkata, “Gugatan ini sah, dan lawan perkara ditanya tentangnya, karena dalam bentuk perlawanan tersebut terdapat penghilangan hak orang yang berhak atasnya.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا تَصِحُّ هَذِهِ الدَّعْوَى، حَتَّى يَصِفَ الْمُعَارَضَةَ بِمَا تَصِحُّ بِهِ الدَّعْوَى.

Sebagian ulama berkata: Klaim ini tidak sah sampai ia menjelaskan bentuk pertentangan dengan penjelasan yang membuat klaim tersebut menjadi sah.

الضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى فِيمَا يُنْقَلُ، فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila gugatan berkaitan dengan sesuatu yang dapat dipindahkan, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ فِي الذِّمَّةِ.

Salah satunya adalah bahwa (akad) itu berada dalam tanggungan (dzimmah).

فَقَدْ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ مِنْ خَمْسَةِ أَوْجُهٍ: ثَمَنٌ، وَأُجْرَةٌ، وقرض وقيمة متلف وعقل سلم.

Hal itu mungkin berhak didapatkan dari lima sisi: sebagai harga, upah, pinjaman, nilai barang yang rusak, dan diyat (ganti rugi) dalam akad salam.

وَلَفْظُ الدَّعْوَى فِيهِ أَنْ يَقُولَ: لِي عَلَيْهِ، وَلَا يَقُولُ لِي بِيَدِهِ.

Lafal gugatan dalam hal ini adalah dengan mengatakan: “Aku memiliki hak atasnya,” dan tidak mengatakan: “Aku memiliki hak di tangannya.”

فَإِنْ قَالَ: ” لِي عِنْدَهُ “، جَازَ عِنْدَنَا، وَلَمْ يَجُزْ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ.

Jika seseorang berkata, “Aku punya hak padanya,” maka menurut kami hal itu diperbolehkan, namun menurut Abu Hanifah tidak diperbolehkan.

وَإِنَّمَا جَوَّزْنَاهُ لِأَنَّ عِنْدَ قَدْ تُسْتَعْمَلُ فِي مَوْضِعِ عَلَى اتِّسَاعًا.

Kami membolehkannya karena kata ‘inda kadang-kadang digunakan pada tempat ‘alā secara lebih luas.

وَهُوَ فِي هَذِهِ الدَّعْوَى مُخَيَّرٌ بَيْنَ أَنْ يَذْكُرَ سَبَبَ الِاسْتِحْقَاقِ مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوهِ الْخَمْسَةِ أَوْ لَا يَذْكُرَهُ، بَعْدَ أَنْ يَصِفَ مَا يَدَّعِيهِ فِي الذمة، بما ينفيه عَنْهُ الْجَهَالَةَ.

Dalam gugatan ini, ia diberi pilihan antara menyebutkan sebab istihqāq dari salah satu dari lima alasan ini atau tidak menyebutkannya, setelah ia menjelaskan apa yang ia klaim dalam dzimmah dengan penjelasan yang menghilangkan unsur ketidakjelasan darinya.

فَإِنْ كَانَ مِنْ سَلَمٍ اسْتَوْفَى أَوْصَافَ السَّلَمِ كُلَّهَا.

Jika itu adalah akad salam yang telah memenuhi seluruh syarat dan ketentuan salam.

وَإِنْ كَانَ مِنْ ثَمَنِ، أَوْ أُجْرَةٍ، أَوْ قِيمَةِ مُتْلَفٍ، صَارَ مَعْلُومًا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: ذِكْرُ قَدْرِهِ، وَذِكْرُ جِنْسِهِ، وَذِكْرُ نوعه، وذكر صفته.

Dan jika itu berupa harga, atau upah, atau nilai barang yang rusak, maka menjadi jelas dengan empat hal: menyebutkan ukurannya, menyebutkan jenisnya, menyebutkan macamnya, dan menyebutkan sifatnya.

فالقدر: أن يقول: أَلْفٌ أَوْ مِائَةٌ.

Takaran: yaitu dengan mengatakan, “seribu atau seratus.”

وَالْجِنْسُ: أَنْ يَقُولَ: دَرَاهِمُ أَوْ دَنَانِيرُ.

Jenisnya: yaitu dengan mengatakan “dirham” atau “dinar”.

وَالنَّوْعُ: أَنْ يَقُولَ فِي الدَّرَاهِمِ: بِيضٌ أَوْ سُودٌ، وَفِي الدَّنَانِيرِ مَشْرِقِيَّةٌ أَوْ مَغْرِبِيَّةٌ، وَإِنْ نُسِبَتْ إِلَى طَابَعٍ ذَكَرَ الطَّابِعَ، لَا سِيَّمَا إِذَا اخْتَلَفَتْ بِهِ الْقِيمَةُ.

Adapun jenisnya: yaitu dengan menyebutkan pada dirham apakah berwarna putih atau hitam, dan pada dinar apakah dinar timur atau dinar barat. Jika dinisbatkan kepada pencetak, maka disebutkan pencetaknya, terutama jika perbedaan tersebut memengaruhi nilai.

وَالصِّفَةُ: أَنْ يَقُولَ: عُتُقٌ أَوْ جُدُدٌ، صِحَاحٌ أَوْ كُسُورٌ، فَإِنْ لَمْ يَخْتَلِفْ عُتُقُهَا وَجُدُدُهَا، وَلَا صِحَاحُهَا وَكُسُورُهَا، لَمْ يَلْزَمْهُ ذِكْرُ هَذِهِ الصِّفَةِ.

Dan sifatnya adalah dengan mengatakan: ‘utuh’ atau ‘baru’, ‘sempurna’ atau ‘cacat’. Jika tidak ada perbedaan antara yang utuh dan yang baru, begitu pula antara yang sempurna dan yang cacat, maka tidak wajib baginya menyebutkan sifat ini.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُطْلِقَ ذِكْرَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ فِي الدَّعْوَى، وَإِنْ جَازَ إِطْلَاقًا فِي الْأَثْمَانِ، لِأَمْرَيْنِ:

Dan tidak boleh menyebutkan dirham dan dinar secara umum dalam gugatan, meskipun boleh menyebutkannya secara umum dalam harga-harga, karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: إِنَّ زَمَانَ الْعَقْدِ يُقَيِّدُ صِفَةَ الْأَثْمَانِ بِالْغَالِبِ مِنَ النُّقُودِ، وَلَا يَتَقَيَّدُ ذَلِكَ بِزَمَانِ الدَّعْوَى لِتَقَدُّمِهَا عَلَيْهِ.

Salah satunya: Sesungguhnya waktu akad membatasi sifat harga dengan yang umum berlaku dari mata uang, dan hal itu tidak dibatasi oleh waktu gugatan karena waktu akad lebih dahulu darinya.

وَالثَّانِي: لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الثَّمَنُ فِي الدَّعْوَى مَشْرُوطًا مِنْ غَيْرِ الْغَالِبِ.

Kedua: karena boleh jadi harga dalam gugatan itu disyaratkan bukan berdasarkan kebiasaan yang berlaku.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى قَائِمَةً فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu ketika gugatan telah diajukan, maka gugatan ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تَكُونَ حَاضِرَةً فَتَصِحُّ الدَّعْوَى لَهَا بِالْإِشَارَةِ إِلَيْهَا، مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ الصِّفَةِ.

Salah satunya adalah: ia hadir, maka gugatan dapat diajukan terhadapnya dengan isyarat kepadanya, tanpa perlu menyebutkan sifatnya.

وَلَفْظُ الدَّعْوَى: أَنْ يَقُولَ: لِي فِي يَدِهِ هَذَا الْعَبْدُ، أَوْ هَذِهِ الدَّابَّةُ. فَإِنْ قَالَ: لِي عِنْدَهُ، جَازَ. وَإِنْ قَالَ: لِي عَلَيْهِ، جَازَ عِنْدَ بَعْضِ أَصْحَابِنَا وَلَمْ يَجُزْ عِنْدَ بَعْضِهِمْ.

Lafal gugatan adalah seseorang berkata: “Budak ini yang ada di tangannya adalah milikku,” atau “hewan tunggangan ini adalah milikku.” Jika ia berkata: “Aku memiliki sesuatu di sisinya,” maka itu dibolehkan. Dan jika ia berkata: “Aku memiliki sesuatu atas dirinya,” maka itu dibolehkan menurut sebagian ulama kami, namun tidak dibolehkan menurut sebagian yang lain.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ الْعَيْنُ غَائِبَةً فَهِيَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jenis kedua: yaitu apabila barangnya tidak ada (tidak hadir), maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ تُضْبَطَ بِالصِّفَةِ، كَالْحُبُوبِ، وَالْأَدْهَانِ، مِمَّا لَهُ مِثْلٌ فَيَصِفُهَا، وَلَا تَحْتَاجُ إِلَى ذِكْرِ قِيمَتِهَا، لِأَنَّ الْقِيمَةَ لَا تُسْتَحَقُّ فِي ذِي الْمِثْلِ.

Salah satunya adalah dengan ditetapkan melalui sifat, seperti biji-bijian dan minyak, yaitu barang-barang yang memiliki padanan, maka cukup dengan menyebutkan sifatnya dan tidak perlu menyebutkan nilainya, karena nilai tidak menjadi hak pada barang yang memiliki padanan.

وَإِنْ كَانَ مِمَّا يُضْبَطُ بِالصِّفَةِ وَلَيْسَ بِذِي مِثْلٍ، كَالثِّيَابِ وَالْحَيَوَانِ، لَزِمَ أَنْ يَسْتَوْفِيَ جَمِيعَ أَوْصَافِهِ، وَيَسْتَظْهِرَ بِذِكْرِ قِيمَتِهِ، لِجَوَازِ أَنْ يَسْتَحِقَّهَا مَعَ التَّلَفِ، فَإِنْ أَغْفَلَ الْقِيمَةَ جَازَ مَعَ بَقَاءِ الْعَيْنِ لِأَنَّهَا غَيْرُ مُسْتَحَقَّةٍ.

Jika barang tersebut dapat ditentukan dengan sifat-sifatnya dan bukan termasuk barang yang memiliki padanan, seperti pakaian dan hewan, maka wajib untuk menyebutkan seluruh sifat-sifatnya secara lengkap, dan sebaiknya juga disebutkan nilainya, karena ada kemungkinan ia berhak mendapatkannya jika barang itu rusak. Namun, jika nilai barang itu tidak disebutkan, maka hal itu tetap diperbolehkan selama barangnya masih ada, karena barang tersebut belum menjadi hak miliknya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ تَكُونَ مِمَّا لَا تُضْبَطُ بِالصِّفَةِ كَاللُّؤْلُؤِ، وَالْجَوْهَرِ، فَعَلَيْهِ فِي الدَّعْوَى ذِكْرُ الْجِنْسِ وَالنَّوْعِ، وَإِنْ كَانَ مُخْتَلِفَ الْأَلْوَانِ ذَكَرَ اللَّوْنَ، ثُمَّ حَرَّرَ الدَّعْوَى وَنَفَى الْجَهَالَةَ بِذِكْرِ الْقِيمَةِ، لِأَنَّهُ لَا يَصِيرُ مَعْلُومًا إِلَّا بِهَا.

Golongan kedua: yaitu barang-barang yang tidak dapat ditentukan dengan sifat, seperti mutiara dan permata. Maka dalam gugatan, harus disebutkan jenis dan macamnya. Jika warnanya berbeda-beda, maka harus disebutkan warnanya. Kemudian gugatan tersebut diperjelas dan dihilangkan ketidakjelasannya dengan menyebutkan nilainya, karena barang tersebut tidak dapat diketahui secara pasti kecuali dengan menyebutkan nilainya.

فَهَذَا شَرْحُ مَا تَصِيرُ الدَّعْوَى بِهِ مَعْلُومَةً يَصِحُّ سَمَاعُهَا وَالسُّؤَالُ عَنْهَا فَإِنْ قَصَّرَ فِيهَا الْمُدَّعِي لِلْقَاضِي أَنْ يَسْأَلَهُ عَمَّا قَصَّرَ فِيهِ وَلَا يَبْتَدِئُهُ بِالتَّعْلِيمِ.

Inilah penjelasan tentang bagaimana suatu gugatan menjadi jelas sehingga dapat didengar dan ditanyakan. Jika penggugat kurang jelas dalam menyampaikan gugatan, maka hakim berhak menanyakannya tentang hal yang kurang jelas tersebut, namun hakim tidak boleh langsung mengajarinya.

فَإِنْ عَلَّمَهُ تَحْرِيرَ الدَّعْوَى فَقَدْ ذَكَرْنَا اخْتِلَافَ أَصْحَابِنَا فِيهِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ia mengajarinya cara merumuskan gugatan, maka telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami dalam hal ini menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ.

Salah satunya: boleh, dan ini adalah pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri.

وَالثَّانِي: لَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُعْلِمَهُ احْتِجَاجًا وَلَا يُلَقِّنَهُ إِقْرَارًا، وَإِنْكَارًا، فَهَذَا حُكْمُ الدَّعْوَى.

Kedua: Tidak diperbolehkan, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, sebagaimana tidak diperbolehkan memberitahukan kepadanya untuk dijadikan alasan, atau membimbingnya untuk mengakui atau mengingkari, maka inilah hukum gugatan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْفَصْلُ الثَّانِي فِي سُؤَالِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Bab kedua tentang pertanyaan kepada tergugat.

وَالْأَوْلَى فِيهِ أَنْ يَسْأَلَ الْمُدَّعِي الْقَاضِيَ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ دَعْوَاهُ مُطَالَبَةَ خَصْمِهِ بِمَا ادعاه عليه.

Yang lebih utama dalam hal ini adalah agar penggugat meminta kepada qadhi, setelah menyampaikan gugatan secara lengkap, untuk menuntut lawannya atas apa yang ia dakwakan terhadapnya.

فَلِلْقَاضِي حِينَئِذٍ أَنْ يَسْأَلَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، فَيَقُولُ: قَدْ سَمِعْتَ مَا ادَّعَاهُ عَلَيْكَ فَمَا تَقُولُ فِيهِ؟

Maka pada saat itu, hakim berhak untuk bertanya kepada tergugat, lalu berkata: “Engkau telah mendengar apa yang didakwakan terhadapmu, maka apa tanggapanmu terhadap hal itu?”

فَإِنْ أَجَابَ بِإِقْرَارٍ أَوْ إِنْكَارٍ كَانَ جَوَابًا مُقْنِعًا.

Jika ia menjawab dengan pengakuan atau penolakan, maka jawabannya dianggap memadai.

وَلَوْ قَدَّمَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ جَوَابَ الدَّعْوَى قَبْلَ سُؤَالِهِ عَنْهَا، فَإِنْ كَانَ جَوَابُهُ إقرار أَخَذَ بِهِ، وَصَارَ الْقَاضِي فِيهِ حَاكِمًا بِعِلْمِهِ.

Jika tergugat telah memberikan jawaban atas gugatan sebelum ditanya tentangnya, maka jika jawabannya berupa pengakuan, pengakuan itu diambil sebagai pegangan, dan hakim memutuskan perkara tersebut berdasarkan pengetahuannya.

فَإِنْ أَجْزَأَهُ ذَلِكَ أَمْسَكَ عَنْ سُؤَالِهِ لِاعْتِرَافِهِ بِالْمُرَادِ مِنْهُ.

Jika hal itu sudah mencukupinya, maka ia berhenti dari bertanya kepadanya karena ia telah mengakui maksud yang dimaksudkan darinya.

وَإِنْ مَنَعَ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ صَارَ شَاهِدًا فِيهِ، وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِهِ عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ يُقِرَّ بَعْدَ سُؤَالِهِ، وَيَكُونُ وُجُوبُ سُؤَالِهِ بَاقِيًا.

Jika ia dilarang memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, maka ia menjadi saksi dalam perkara tersebut, dan tidak boleh memutuskan perkara atas dirinya kecuali jika ia mengakui setelah ditanya, dan kewajiban untuk menanyakannya tetap berlaku.

وَإِنْ كَانَ جَوَابُهُ إِنْكَارًا لَمْ يُقْنِعْ وَسُئِلَ عَنِ الْجَوَابِ، حَتَّى يَكُونَ إِنْكَارُهُ بَعْدَ السُّؤَالِ، فَيَصِحُّ مِنْهُ الْجَوَابُ، لِأَنَّ مَا تَقَدَّمَ عَلَى السُّؤَالِ لَا يَكُونُ جَوَابًا.

Dan jika jawabannya berupa penolakan, maka itu tidak dianggap memadai dan ia akan ditanya kembali tentang jawabannya, sehingga penolakannya terjadi setelah adanya pertanyaan. Maka jawabannya sah darinya, karena apa yang terjadi sebelum adanya pertanyaan tidak dianggap sebagai jawaban.

فَإِنْ بَدَأَ الْقَاضِي بِسُؤَالِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يُطَالِبَهُ الْمُدعي بِسُؤَالِهِ، فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ لِأَصْحَابِنَا:

Jika hakim memulai dengan menanyai tergugat tanpa adanya permintaan dari penggugat untuk menanyainya, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat menurut ulama kami:

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ سُؤَالُهُ لِأَنَّهُ مِنْ حُقُوقِ الْمُدَّعِي، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَنْفَرِدَ بِهِ الْقَاضِي وَيَكُونُ السُّؤَالُ لَغْوًا يُعْتَدُّ فِيهِ بِإِقْرَارِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ وَلَا يُعْتَدُّ فِيهِ بِإِنْكَارِهِ كَمَا لَوِ ابْتَدَأَ بِالْجَوَابِ قَبْلَ السُّؤَالِ.

Salah satu pendapat: Tidak boleh mengajukan pertanyaan tersebut karena itu termasuk hak-hak pihak penggugat, sehingga tidak boleh hakim melakukannya sendiri. Pertanyaan tersebut menjadi sia-sia; yang dianggap adalah pengakuan dari pihak tergugat, dan penolakannya tidak dianggap, sebagaimana jika ia memulai menjawab sebelum ada pertanyaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ هَذَا السُّؤَالُ وَيَصِحُّ مَا يَعْقُبُهُ مِنَ الْجَوَابِ؛ لِأَنَّ شَاهِدَ الْحَال يَدُلُّ عَلَى إِرَادَةِ الْمُدَّعِي لِسُؤَالِهِ فَأَغْنَى ذَلِكَ عَنْ سُؤَالِهِ.

Pendapat kedua: Pertanyaan ini boleh diajukan dan jawaban yang mengikutinya pun sah; karena situasi yang terjadi menunjukkan maksud penggugat dalam pertanyaannya, sehingga hal itu sudah cukup tanpa perlu dia mengajukan pertanyaan lagi.

وَلَوْ أَنَّ الْمُدَّعِيَ تَفَرَّدَ بِسُؤَالِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ لَمْ يَلْزَمِ الْجَوَابُ عَنْهُ، حَتَّى يَكُونَ الْقَاضِي هُوَ السَّائِلُ لَهُ فَيَلْزَمُهُ الْجَوَابُ لِأَنَّ حَقَّ الْمُدَّعِي مُخْتَصٌّ بِالْمُطَالَبَةِ دُونَ السُّؤَالِ.

Dan jika penggugat sendiri yang mengajukan pertanyaan kepada tergugat, maka tergugat tidak wajib menjawabnya, sampai hakimlah yang mengajukan pertanyaan tersebut kepadanya, barulah tergugat wajib menjawabnya. Sebab, hak penggugat terbatas pada menuntut, bukan pada mengajukan pertanyaan.

فَإِنْ أَجَابَهُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ عَنْ سُؤَالِهِ بِإِقْرَارٍ أَوْ إِنْكَارٍ، فَهَلْ يَقُومُ سُؤَالُهُ مَقَامَ سُؤَالِ الْقَاضِي أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika tergugat menjawab pertanyaannya dengan pengakuan atau penolakan, maka apakah pertanyaannya itu dapat menggantikan posisi pertanyaan hakim atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَقُومُ مَقَامَ سُؤَالِهِ، إِذَا قِيلَ إِنَّ الْقَاضِيَ لَا يَسْأَلُ إِلَّا بَعْدَ مُطَالَبَةِ الْمُدَّعِي بِالسُّؤَالِ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ حُكْمُ جَوَابِهِ لِلْمُدَّعِي كَحُكْمِ جَوَابِهِ لِلْقَاضِي فِي الْحُكْمِ بِإِقْرَارِهِ وَإِنْكَارِهِ.

Salah satunya: jawaban tersebut menempati posisi seperti pertanyaan darinya, jika dikatakan bahwa qadhi tidak bertanya kecuali setelah adanya permintaan dari penggugat untuk bertanya. Maka berdasarkan hal ini, hukum jawaban terdakwa kepada penggugat sama dengan hukum jawaban terdakwa kepada qadhi dalam hal penetapan hukum atas pengakuan maupun penolakannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَقُومُ سُؤَالُ الْمُدَّعِي مَقَامَ سُؤَالِ الْقَاضِي، إِذَا قِيلَ إِنَّ لِلْقَاضِي أَنْ يَبْدَأَ بِسُؤَالِهِ قَبْلَ مُطَالَبَةِ الْمُدَّعِي بِهِ فَعَلَى هَذَا يَكُونُ جَوَابُهُ كَمَا لَوِ ابْتَدَأَ بِهِ مِنْ غَيْرِ سُؤَالٍ مِنْ إِلْغَاءِ إِنْكَارِهِ وَيَصِيرُ فِي إِقْرَارِهِ كَالْحَاكِمِ فِيهِ بِعِلْمِهِ.

Pendapat kedua: Bahwa pertanyaan dari pihak penggugat tidak dapat menggantikan posisi pertanyaan dari qādī. Jika dikatakan bahwa qādī boleh memulai dengan pertanyaannya sebelum adanya tuntutan dari penggugat, maka dalam hal ini jawabannya dianggap seperti seolah-olah ia memulai pengakuan tanpa adanya pertanyaan, sehingga penolakannya menjadi gugur, dan dalam pengakuannya ia diperlakukan seperti hakim yang memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri.

فَصَارَ جَوَابُهُ مَعَ هَذَا التَّفْصِيلِ فِي السُّؤَالِ، مُنْقَسِمًا أَرْبَعَةَ أَقْسَامٍ:

Maka jawabannya, dengan perincian dalam pertanyaan ini, terbagi menjadi empat bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَسْأَلَ الْقَاضِي بَعْدَ سُؤَالِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: bahwa hakim bertanya setelah pertanyaan dari penggugat.

والثَّانِي: أَنْ يَسْأَلَ الْقَاضِي قَبْلَ سُؤَالِ الْمُدَّعِي.

Kedua: hendaknya hakim bertanya sebelum pihak penggugat mengajukan pertanyaan.

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَبْتَدِئَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِالْجَوَابِ قَبْلَ السُّؤَالِ.

Ketiga: yaitu ketika pihak tergugat memulai memberikan jawaban sebelum ada pertanyaan.

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَسْأَلَهُ الْمُدَّعِي فَيُجِيبُ وَقَدْ بَيَّنَّا حُكْمَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَقْسَامِ.

Keempat: apabila penggugat menanyakannya lalu ia menjawab, dan kami telah menjelaskan hukum masing-masing dari bagian-bagian ini.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي جَوَابِ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Bab ketiga tentang jawaban tergugat.

وَلَيْسَ تَخْلُو حَالُهُ بَعْدَ سُؤَالِهِ عَنِ الدَّعْوَى مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Keadaan seseorang setelah ditanya tentang gugatan tidak lepas dari tiga kemungkinan:

أَحَدُهَا: أَنْ يُقِرَّ.

Salah satunya: yaitu dengan mengakui.

وَالثَّانِي: أَنْ يُنْكِرَ.

Kedua: ia mengingkari.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا يُقِرَّ وَلَا يُنْكِرَ.

Ketiga: tidak membenarkan dan tidak mengingkari.

فَأَمَّا الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: إِذَا أَقَرَّ؛ فَقَدْ ثَبَتَ الْحَقُّ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ.

Adapun bagian pertama: jika ia mengakui, maka hak telah tetap atas dirinya dengan pengakuannya.

وَلَيْسَ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِهِ وَيُلْزِمَهُ أَدَاؤُهُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَسْأَلَهُ الْمُدَّعِي أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ، لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لِغَيْرِ طَالِبٍ فَيَقُولُ الْقَاضِي لِلْمُدَّعِي قَدْ أَقَرَّ لَكَ بِمَا ادَّعَيْتَ فَمَاذَا تُرِيدُ؟

Seorang qadhi tidak boleh memutuskan perkara terhadap terdakwa dan mewajibkannya untuk membayar kecuali setelah penggugat memintanya agar memutuskan perkara berdasarkan pengakuannya, karena tidak boleh memutuskan perkara untuk orang yang tidak meminta. Maka qadhi berkata kepada penggugat, “Ia telah mengakui apa yang engkau dakwakan, lalu apa yang engkau inginkan?”

وَلَا يَقُولُ لَهُ: قَدْ سَمِعْتُ إِقْرَارَهُ، لِأَنَّ قَوْلَهُ قَدْ أَقَرَّ حُكْمٌ بِصِحَّةِ الْإِقْرَارِ، وَلَيْسَ قَوْلُهُ قَدْ سَمِعْتَ الْإِقْرَارَ حُكْمًا بِصِحَّةِ الْإِقْرَارِ.

Dan tidak boleh dikatakan kepadanya: “Aku telah mendengar pengakuannya,” karena ucapannya “ia telah mengakui” adalah penetapan atas sahnya pengakuan, sedangkan ucapannya “engkau telah mendengar pengakuan” bukanlah penetapan atas sahnya pengakuan.

فَإِنْ لَمْ يُطَالِبْهُ الْمُدَّعِي بِالْحُكْمِ أَمْسَكَ عَنْهُ، وَصَرَفَهُمَا.

Jika penggugat tidak menuntut hakim untuk memutuskan perkara, maka hakim menahan diri darinya dan mempersilakan keduanya pergi.

وَكَانَ لِلْمُدَّعِي أَنْ يَتَنَجَّزَ مِنَ الْقَاضِي مَحْضَرًا بِثُبُوتِ الْحُقُوقِ دُونَ الْحُكْمِ بِهِ.

Dan penggugat berhak untuk meminta kepada hakim sebuah berita acara yang menetapkan adanya hak-hak tanpa disertai putusan atasnya.

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مُلَازَمَةُ الْمُقِرِّ قَبْلَ الْحُكْمِ.

Dan tidak ada kewajiban bagi pengaku untuk tetap berada di tempat sebelum adanya putusan.

وَإِنْ سَأَلَهُ الْحُكْمَ عَلَيْهِ بِإِقْرَارِهِ، حَكَمَ بِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أَلْفَاظٍ: إِمَّا أَنْ يَقُولَ: قَدْ حَكَمْتُ عَلَيْكَ بِإِقْرَارِكَ، وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ: قَدْ أَلْزَمْتُكَ مَا أَقْرَرْتُ بِهِ، وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ: اخْرُجْ إِلَيْهِ مِنْ حَقِّهِ فِي إِقْرَارِكَ.

Jika ia meminta hakim untuk memutuskan perkara atas dirinya berdasarkan pengakuannya, maka hakim dapat memutuskan dengan salah satu dari tiga ungkapan: bisa dengan mengatakan, “Aku telah memutuskan atasmu berdasarkan pengakuanmu,” atau dengan mengatakan, “Aku telah mewajibkan atasmu apa yang telah engkau akui,” atau dengan mengatakan, “Keluarkanlah haknya kepadanya berdasarkan pengakuanmu.”

وَلِلْمُدَّعِي أَنْ يَتَنَجَّزَ مِنَ الْقَاضِي مَحْضَرًا، بِثُبُوتِ الْحَقِّ، وَبِإِنْفَاذِ حُكْمِهِ بِهِ.

Penggugat berhak meminta kepada hakim sebuah berita acara yang menyatakan penetapan hak dan pelaksanaan putusan hakim atas hak tersebut.

وَلَهُ مُلَازَمَةُ الْمُقِرِّ حَتَّى يَخْرُجَ إِلَيْهِ مِنْ حَقِّهِ.

Dan ia berhak untuk terus mendampingi orang yang mengakui (utang) hingga orang tersebut menyerahkan haknya kepadanya.

وَلَيْسَ لَهُ مُطَالَبَتُهُ بِكَفِيلٍ، إِلَّا أَنْ يَتَّفِقَا عَلَيْهِ عَنْ تَرَاضٍ.

Dan ia tidak berhak menuntut jaminan darinya, kecuali jika keduanya sepakat atas hal itu dengan kerelaan bersama.

وَلَا يُسْقِطُ حَقُّهُ مِنْ مُلَازَمَتِهِ بِإِقَامَةِ الْكَفِيلِ، سَوَاءٌ كَفَلَ بِنَفْسِهِ أَوْ بِمَا عَلَيْهِ لِأَنَّ الْكَفَالَةَ وَثِيقَةٌ، فَلَمْ تَمْنَعْ مِنَ الْمُلَازَمَةِ كَمَا لَمْ تَمْنَعْ مِنَ الْمُطَالَبَةِ.

Dan hak untuk tetap mendampingi (menemani) tidak gugur dengan adanya penunjukan penjamin, baik penjamin itu menjamin dengan dirinya sendiri maupun dengan apa yang menjadi tanggungannya, karena kafālah (penjaminan) adalah bentuk jaminan, sehingga tidak menghalangi dari pendampingan sebagaimana tidak menghalangi dari penuntutan.

فَإِنِ اتَّفَقَا عَنِ الْكَفَالَةِ عَلَى تَخْلِيَةِ سَبِيلِهِ، لَمْ يَلْزَمْ هَذَا الِاتِّفَاقُ، وَكَانَ لَهُ أَنْ يَعُودَ إِلَى مُلَازَمَتِهِ بَعْدَ تَخْلِيَتِهِ، لِأَنَّهُ حَقٌّ لَهُ، إِلَى أَنْ يَسْتَوْفِيَ حَقَّهُ.

Jika keduanya sepakat dalam akad kafālah untuk membebaskan jalannya (orang yang dijamin), maka kesepakatan ini tidak mengikat, dan ia (penjamin) berhak kembali menahan orang tersebut setelah membebaskannya, karena itu adalah haknya, sampai ia memperoleh haknya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي: وَهُوَ أَنْ يُنْكِرَ الدَّعْوَى، فَيَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَقُولَ لِلْمُدَّعِي: قَدْ أَنْكَرَكَ، وَيَجُوزُ أَنْ يَقُولَ لَهُ قَدْ سَمِعْتَ إِنْكَارَهُ، بِخِلَافِهِ فِي الْإِقْرَارِ الَّذِي قَدَّمْنَاهُ لِتَرَدُّدِ الْإِقْرَارِ بَيْنَ صِحَّةٍ وَفَسَادٍ، وَعَدَمِهِ فِي الْإِنْكَارِ.

Adapun bagian kedua: yaitu apabila tergugat mengingkari gugatan, maka hakim boleh mengatakan kepada penggugat: “Ia telah mengingkarimu,” dan boleh juga mengatakan kepadanya: “Engkau telah mendengar pengingkarannya,” berbeda halnya dengan pengakuan yang telah kami sebutkan sebelumnya, karena pengakuan itu masih diperselisihkan antara sah dan batal, sedangkan dalam pengingkaran tidak demikian.

وَيَكُونُ الْقَاضِي فِي إِخْبَارِهِ بِالْإِنْكَارِ بَيْنَ خِيَارَيْنِ.

Hakim, dalam menyampaikan pemberitahuan tentang pengingkaran, berada di antara dua pilihan.

إِمَّا أَنْ يَقُولَ لَهُ: قَدْ أَنْكَرَكَ فَهَلْ لَكَ بَيِّنَةٌ؟ وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ لَهُ: قَدْ أَنْكَرَكَ فَمَا عِنْدَكَ فِيهِ؟ .

Bisa saja ia berkata kepadanya: “Ia telah mengingkarimu, maka apakah engkau memiliki bukti?” Atau ia berkata kepadanya: “Ia telah mengingkarimu, maka apa yang engkau miliki terkait hal itu?”

والْأَوَّلُ أَوْلَى، مَعَ مَنْ جَهِلَ، وَالثَّانِي أَوْلَى مَعَ مَنْ عَلِمَ.

Pendapat pertama lebih utama bagi orang yang tidak mengetahui, dan pendapat kedua lebih utama bagi orang yang mengetahui.

وَيَكُونُ الْحُكْمُ فِي إِنْكَارِ الدَّعْوَى مَوْقُوفًا عَلَى بَيِّنَةِ الْمُدَّعِي فِي إِثْبَاتِ الْحَقِّ بِهَا، وَعَلَى يَمِينِ الْمُنْكِرِ عِنْدَ عَدَمِهَا لِإِسْقَاطِ الْمُطَالَبَةِ بِهَا.

Dan hukum dalam penolakan terhadap suatu dakwaan bergantung pada bukti dari pihak penggugat dalam menetapkan hak dengan bukti tersebut, dan bergantung pada sumpah pihak yang mengingkari ketika tidak ada bukti, untuk menggugurkan tuntutan atas dakwaan itu.

وَلِلْمُدَّعِي للخيار فِي إِقَامَةِ الْبَيِّنَةِ؛ لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِهِ، فَلَمْ يُجْبَرْ عَلَى إِقَامَتِهَا.

Dan bagi pihak yang mengklaim hak khiyar, ia memiliki hak untuk mengajukan bukti; karena hal itu termasuk hak-haknya, maka ia tidak dipaksa untuk mengajukannya.

وَلِلْمُنْكَرِ الْخِيَارُ فِي الْيَمِينِ؛ لِأَنَّهَا مِنْ حُقُوقِهِ، فَلَمْ يُجْبَرْ عَلَى الْحَلِفِ بِهَا وَالْحُكْمِ فِيهَا، عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ.

Orang yang mengingkari memiliki hak memilih dalam bersumpah, karena sumpah itu termasuk hak-haknya, sehingga ia tidak dipaksa untuk bersumpah dengannya maupun dipaksa menerima putusan hukum terkaitnya, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

فَلَوْ أَنْكَرَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: مَا لَكَ عَلَيَّ شَيْءٌ، فَقَالَ لَهُ الْمُدَّعِي: نَعَمْ كَانَ تَصْدِيقًا لَهُ عَلَى الْإِنْكَارِ وَبَطَلَتْ بِهِ دَعْوَاهُ.

Jika tergugat mengingkari dan berkata, “Kamu tidak memiliki hak apa pun atasku,” lalu penggugat berkata kepadanya, “Benar,” maka itu dianggap sebagai pembenaran terhadap pengingkaran tersebut dan gugatan penggugat menjadi batal karenanya.

وَلَوْ قَالَ: بَلَى، كَانَ تَكْذِيبًا لَهُ عَلَى الْإِنْكَارِ، وَلَمْ تَبْطُلْ بِهِ دَعْوَاهُ.

Dan jika ia berkata: “Bala,” maka itu merupakan pendustaan terhadapnya atas pengingkaran, namun dengan itu gugatan/da’wanya tidak menjadi batal.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ نَعَمْ جَوَابُ الْإِيجَابِ، وَبَلَى جَوَابُ النَّفْيِ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa “na‘am” merupakan jawaban untuk kalimat positif, sedangkan “balā” merupakan jawaban untuk kalimat negatif.

وَهَذَا حُكْمُهُ فِيمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْعَرَبِيَّةِ.

Dan inilah hukumnya bagi orang yang termasuk ahli dalam ilmu bahasa Arab.

وَفِي اعْتِبَارِهِ فِيمَنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْعِلْمِ بِهَا وَجْهَانِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا فِي كِتَابِ الْإِقْرَارِ.

Dalam mempertimbangkannya pada orang yang bukan termasuk ahli ilmu tentangnya, terdapat dua pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam Kitab al-Iqrār.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ: وَهُوَ أَنْ لَا يُقِرَّ بِالدَّعْوَى وَلَا يُنْكِرَهَا، فَلَهُ حَالَتَانِ:

Adapun bagian ketiga: yaitu ketika seseorang tidak mengakui gugatan dan juga tidak mengingkarinya, maka ada dua keadaan baginya:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَكُونَ غَيْرَ نَاطِقٍ لِخَرَسٍ أَوْ صَمَمٍ.

Yang pertama: yaitu tidak dapat berbicara karena bisu atau tuli.

فَإِنْ كَانَ مَفْهُومَ الْإِشَارَةِ صَارَ بِهَا كَالنَّاطِقِ فَيَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ النَّاطِقِ.

Jika makna isyarat telah dipahami, maka isyarat tersebut menjadi seperti lafaz yang diucapkan, sehingga berlaku padanya hukum yang sama dengan lafaz yang diucapkan.

وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَفْهُومِ الْإِشَارَةِ صَارَ كَالْغَائِبِ فَيَجْرِي عَلَيْهِ حُكْمُ الْغَائِبِ.

Dan jika bukan mafhūm al-ishārah, maka ia menjadi seperti yang gaib, sehingga berlaku padanya hukum bagi yang gaib.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ نَاطِقًا فَامْتِنَاعُهُ مِنَ الْإِقْرَارِ وَالْإِنْكَارِ قَدْ يَكُونُ مِنْ أَحَدِ وَجْهَيْنِ:

Keadaan kedua: yaitu apabila ia dapat berbicara, maka penolakannya untuk mengakui maupun mengingkari bisa terjadi karena salah satu dari dua sebab:

إِمَّا بِأَنْ يَقُولَ: لَا أُقِرُّ وَلَا أُنْكِرُ، وَإِمَّا بِأَنْ يَسْكُتَ فَلَا يُجِيبَ بِشَيْءٍ فَيَجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ النَّاكِلِ.

Yaitu dengan mengatakan: “Saya tidak mengakui dan tidak pula mengingkari,” atau dengan diam saja tanpa memberikan jawaban apa pun, maka berlaku atasnya hukum nākil.

وَلَا يُحْبَسُ عَلَى الْجَوَابِ.

Dan tidak ditahan untuk memberikan jawaban.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: احْبِسْهُ حَتَّى يُجِيبَ بِإِقْرَارٍ أَوْ إِنْكَارٍ وَبَنَاهُ عَلَى أَصْلِهِ فِي الْحُكْمِ بِالنُّكُولِ، وَنَحْنُ لَا نَحْكُمُ بِهِ، فَلَا نَحْبِسُهُ عَلَيْهِ وَسَنَذْكُرُ حُكْمَ النُّكُولِ.

Abu Hanifah berkata: “Tahanlah dia sampai ia menjawab dengan pengakuan atau penolakan.” Ia mendasarkan pendapatnya pada prinsipnya dalam menetapkan hukum dengan nukūl, sedangkan kami tidak menetapkan hukum dengannya, maka kami tidak menahannya karenanya. Kami akan menyebutkan hukum nukūl.

(فَصْلٌ)

(Pasal)

: وَالْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ:

Bab keempat tentang mendengarkan bukti.

وَالْبَيِّنَةُ تُسْمَعُ عَلَى الْمُنْكِرِ دُونَ الْمُقِرِّ.

Bukti didengarkan terhadap orang yang mengingkari, bukan terhadap orang yang mengakui.

لِأَنَّ الْإِقْرَارَ أَصْلٌ هُوَ أَقْوَى وَالْبَيِّنَةَ فَرْعٌ هُوَ أضعف، ولم يجز ترك الأقوى بالأضعف.

Karena iqrar adalah asal yang lebih kuat, sedangkan bayyinah adalah cabang yang lebih lemah, maka tidak boleh meninggalkan yang lebih kuat demi yang lebih lemah.

(شروط سماع البينة) .

(Syarat-syarat diterimanya bukti).

وَلِسَمَاعِهَا أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ:

Dan untuk diterimanya (kesaksian) terdapat empat syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ تَكُونَ مُوَافِقَةً لِلدَّعْوَى.

Salah satunya: harus sesuai dengan gugatan.

فَإِنْ خَالَفَتْهَا فِي الْجِنْسِ لَمْ تُسْمَعْ.

Jika berbeda dengannya dalam jenis, maka tidak diterima.

وإن خالفتها في القدر إلى نقصان حكم في القدر بالبينة دون الدعوى.

Dan jika berbeda dalam jumlah hingga berkurang, maka yang dijadikan dasar hukum dalam jumlah adalah bukti, bukan sekadar pengakuan.

وَإِنْ خَالَفَتْهَا إِلَى زِيَادَةِ حُكِمَ فِي الْقَدْرِ بِالدَّعْوَى دُونَ الْبَيِّنَةِ مَا لَمْ يَكُنْ مِنَ الْمُدَّعِي تَكْذِيبٌ لِلْبَيِّنَةِ فِي الزِّيَادَةِ فَإِنْ أَكْذَبَهَا فِيهِ رُدَّتْ وَلَمْ يَحْكُمْ بِهَا.

Dan jika ia menyelisihinya dengan menambah, maka dalam hal jumlah diputuskan berdasarkan pengakuan tanpa bukti, selama dari pihak penggugat tidak ada pendustaan terhadap bukti dalam penambahan tersebut. Namun jika ia mendustakannya dalam hal itu, maka bukti tersebut ditolak dan tidak diputuskan dengannya.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَتَّفِقَ شَاهِدَا الْبَيِّنَةِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Syarat kedua: kedua saksi dalam bayyinah harus sepakat dalam kesaksian.

فَإِنِ اخْتَلَفَ الشَّاهِدَانِ فِي الْجِنْسِ رُدَّتْ.

Jika dua orang saksi berbeda pendapat mengenai jenisnya, maka kesaksian mereka ditolak.

وَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الْقَدْرِ تَمَّتْ فِي الْأَقَلِّ دُونَ الْأَكْثَرِ.

Jika keduanya berselisih tentang jumlah, maka akad dianggap sah pada jumlah yang lebih sedikit, tidak pada yang lebih banyak.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ تُسْمَعَ بَعْدَ الدَّعْوَى وَالْإِنْكَارِ.

Syarat ketiga: harus didengar setelah adanya gugatan dan penolakan.

فَإِنْ سُمِعَتْ قَبْلَ الدَّعْوَى لَمْ تَجُزْ.

Jika sumpah itu didengar sebelum adanya gugatan, maka tidak sah.

وَإِنْ سُمِعَتْ بَعْدَ الدَّعْوَى وَقَبْلَ الْإِنْكَارِ، فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ:

Jika sumpah didengar setelah adanya gugatan dan sebelum pengingkaran, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ سَمَاعُهَا لِوُجُودِهَا بَعْدَ الطَّلَبِ.

Salah satunya: Boleh mendengarkannya karena keberadaannya setelah ada permintaan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ سَمَاعُهَا حَتَّى تُؤَدَّى بَعْدَ الْإِنْكَارِ لِتَقَدُّمِهَا عَلَى زَمَانِهَا.

Pendapat kedua: Tidak boleh mendengarkannya sampai ia disampaikan setelah adanya pengingkaran, karena ia telah didahulukan sebelum waktunya.

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ الْأَدَاءُ بِلَفْظِ الشَّهَادَةِ دُونَ الْخَبَرِ، فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ، أَنَّ عَلَيْهِ لِفُلَانٍ كَذَا، وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى إِقْرَارٍ.

Syarat keempat: penyampaian (kesaksian) harus dengan lafaz syahadat, bukan dengan bentuk pemberitaan. Maka ia harus mengatakan, “Aku bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapanku dan menjadikanku saksi atas dirinya, bahwa ia memiliki kewajiban kepada si Fulan sebesar sekian,” meskipun kesaksian itu atas pengakuan.

فَإِنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّهُ أَقَرَّ عِنْدِي وَلَمْ يَقُلْ وَأَشْهَدَنِي عَلَى نَفْسِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجْعَلِ الِاسْتِرْعَاءَ شَرْطًا فِي تَحَمُّلِ الإقرار صح هذه الْأَدَاءُ.

Jika seseorang berkata, “Aku bersaksi bahwa ia telah mengakui di hadapanku,” namun tidak mengatakan, “dan ia menjadikanku sebagai saksi atas dirinya,” maka jika tidak menjadikan permintaan untuk dijadikan saksi (istir‘ā’) sebagai syarat dalam memikul pengakuan, maka penyampaian kesaksian ini sah.

وَإِنْ جَعَلَ الِاسْتِرْعَاءَ شَرْطًا فِي تَحَمُّلِهِ لم يصح.

Dan jika menjadikan penggembalaan sebagai syarat dalam tanggungannya, maka hal itu tidak sah.

وَإِنْ كَانَتِ الشَّهَادَةُ عَلَى غَيْرِ إِقْرَارٍ كَالثَّمَنِ فِي بَيْعٍ حَضَرَهُ أَوْ صَدَاقٍ فِي نِكَاحٍ شَهِدَهُ أَوْ قَرْضٍ شَاهَدَهُ، فَفِي لُزُومِ ذِكْرِهِ لِلسَّبَبِ فِي أَدَائِهِ وَجْهَانِ، كَقَوْلِهِ فِي أَدَاءِ الْإِقْرَارِ وَأَشْهَدَنِي بِنَاءً عَلَى اعْتِبَارِ الِاسْتِرْعَاءِ فِي التَّحَمُّلِ.

Jika kesaksian itu bukan atas pengakuan, seperti harga dalam jual beli yang ia hadiri, atau mahar dalam pernikahan yang ia saksikan, atau pinjaman yang ia lihat, maka dalam hal kewajiban menyebutkan sebab dalam penyampaiannya terdapat dua pendapat, sebagaimana dalam penyampaian pengakuan dan ucapannya, “Ia menjadikanku saksi,” berdasarkan pada pertimbangan adanya permintaan untuk menjadi saksi (istir‘ā’) dalam proses penanggungannya.

فَأَمَّا إِنْ شَهِدَ بِلَفْظِ الْخَبَرِ فَقَالَ لَهُ عَلَيْهِ كَذَا، أَوْ أَعْلَمُ أَنَّ لَهُ عَلَيْهِ كَذَا، أَوْ أَقَرَّ عِنْدِي أَنَّ عَلَيْهِ كَذَا لَمْ تَصِحَّ هَذِهِ الشَّهَادَةُ، وَلَمْ يَجُزِ الْحُكْمُ بِهَا لِأَنَّ الْخَبَرَ حِكَايَةُ حَالٍ مُضَافَةٍ إِلَى الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا الْإِلْزَامُ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ الْمُضَافَةِ إِلَى الشَّاهِدِ.

Adapun jika ia bersaksi dengan lafaz khabar, seperti mengatakan: “Baginya atasnya sekian,” atau “Aku mengetahui bahwa baginya atasnya sekian,” atau “Ia mengakui di hadapanku bahwa atasnya sekian,” maka kesaksian ini tidak sah, dan tidak boleh diputuskan hukum dengannya. Sebab, khabar adalah menceritakan suatu keadaan yang dikaitkan kepada orang yang disaksikan, sehingga tidak dapat dijadikan dasar kewajiban kecuali dengan kesaksian yang dikaitkan kepada saksi.

فَإِذَا تَقَرَّرَ اعْتِبَارُ هَذِهِ الشُّرُوطِ الْأَرْبَعَةِ فِي صِحَّةِ الشَّهَادَةِ لَمْ يَكُنْ لِلْقَاضِي أَنْ يَسْمَعَهَا إِلَّا بِمَسْأَلَةِ الْمُدَّعِي لِأَنَّ سَمَاعَهَا حَقٌّ لَهُ.

Maka apabila telah ditetapkan bahwa keempat syarat ini harus dipenuhi dalam keabsahan kesaksian, maka hakim tidak boleh mendengarkannya kecuali atas permintaan pihak penggugat, karena mendengarkan kesaksian itu adalah hak baginya.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَسْمَعَهَا عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ فِي عَيْنِهِ وَبِمَشْهَدِهِ.

Yang lebih utama adalah membacakannya kepada tergugat secara langsung di hadapannya dan di hadapan saksinya.

فَإِذَا سَمِعَهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَهُ الْمَشْهُودُ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ بِبَيِّنَتِهِ.

Maka apabila ia mendengarnya, ia tidak berhak memutuskan perkara dengannya, kecuali jika orang yang menjadi saksi memintanya untuk memutuskan perkara baginya dengan bukti yang dimilikinya.

فَإِذَا سَأَلَهُ الْحُكْمَ فَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَحْكُمَ إِلَّا بَعْدَ إِعْلَامِ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ أَنَّهُ يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ، لِيَذْكُرَ مَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَهُ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُرَدُّ بِهَا الشَّهَادَةُ، أَوْ يُقِرُّ فَيَكُونُ الْإِقْرَارُ أَقْوَى مِنَ الشَّهَادَةِ.

Maka apabila ia meminta keputusan hukum, yang lebih utama adalah tidak memutuskan kecuali setelah memberitahukan kepada pihak yang menjadi objek kesaksian bahwa ia akan memutuskan atas dasar bayyinah, agar ia dapat menyampaikan hal-hal yang mungkin dimilikinya berupa alasan-alasan yang dapat menolak kesaksian tersebut, atau ia mengakui, sehingga pengakuan itu lebih kuat daripada kesaksian.

فَإِنْ حَكَمَ بِهَا قَبْلَ إِعْلَامِ الْمَشْهُودِ عَلَيْهِ جَازَ.

Jika hakim memutuskan perkara tersebut sebelum memberitahukan kepada pihak yang disaksikan atasnya, maka hukumnya boleh.

وَإِنْ حَكَمَ بِهَا قَبْلَ مَسْأَلَةِ الْمَشْهُودِ لَهُ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى اخْتِلَافِ الْوَجْهَيْنِ فِي جَوَازِ سُؤَالِ الْقَاضِي الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُطَالِبَهُ الْمُدَّعِي بِسُؤَالِهِ:

Jika hakim memutuskan perkara tersebut sebelum pihak yang bersaksi untuknya mengajukan pertanyaan, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat yang didasarkan pada perbedaan dua pendapat mengenai kebolehan hakim menanyai tergugat sebelum penggugat memintanya untuk menanyainya.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ حُكْمُهُ، لِأَنَّهُ حُكْمٌ لِغَيْرِ طَالِبٍ.

Salah satunya: tidak boleh hukumnya, karena itu merupakan hukum untuk orang yang tidak memintanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ حُكْمُهُ لِأَنَّ شَوَاهِدَ الْحَالِ تَدُلُّ عَلَى الطَّلَبِ.

Pendapat kedua: Hukumnya boleh karena indikasi situasi menunjukkan adanya permintaan.

فَإِنْ قَالَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَبْلَ الشَّهَادَةِ: مَا يَشْهَدُ بِهِ هَذَانِ الشَّاهِدَانِ عَلَيَّ فَهُوَ حَقٌّ لَمْ يَكُنْ إِقْرَارًا مِنْهُ بِمَا يَشْهَدَانِ بِهِ لِتَقَدُّمِهِ عَلَى الشَّهَادَةِ.

Jika tergugat berkata sebelum adanya kesaksian: “Apa yang akan disaksikan oleh dua saksi ini atas diriku adalah benar,” maka itu tidak dianggap sebagai pengakuan darinya terhadap apa yang akan disaksikan oleh keduanya, karena ucapannya tersebut mendahului kesaksian.

وَلَوْ قَالَ بَعْدَ الشَّهَادَةِ: مَا شَهِدَا بِهِ عَلَيَّ حَقٌّ كَانَ إِقْرَارًا.

Dan jika setelah kesaksian ia berkata: “Apa yang mereka berdua saksikan atas diriku adalah benar,” maka itu dianggap sebagai pengakuan.

وَلَوْ قَالَ مَا شَهِدَا بِهِ عَلَيَّ صِدْقٌ لَمْ يَكُنْ إِقْرَارًا.

Dan jika ia berkata, “Apa yang keduanya saksikan terhadapku adalah benar,” maka itu tidak dianggap sebagai pengakuan.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْحَقَّ مَا لَزِمَ فَلَمْ يَتَوَجَّهْ إِلَيْهِ احْتِمَالٌ، وَالصِّدْقَ قَدْ يَكُونُ فِيمَا قَضَاهُ، فَتَوَجَّهَ إِلَيْهِ الِاحْتِمَالُ.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa al-haqq (kebenaran) adalah sesuatu yang tetap dan tidak mengandung kemungkinan lain, sedangkan as-sidq (kejujuran) bisa saja terdapat pada sesuatu yang diputuskan, sehingga masih mengandung kemungkinan lain.

وَإِذَا حَكَمَ عَلَيْهِ بِالْبَيِّنَةِ لَمْ يَلْزَمْ إِحْلَافُ الْمُدَّعِي مَعَ بَيِّنَتِهِ، وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ.

Dan apabila hakim memutuskan berdasarkan bukti, maka tidak wajib bagi penggugat untuk bersumpah bersama bukti yang diajukannya, dan inilah pendapat jumhur fuqaha.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى: لَا أَحْكُمُ لَهُ بِالْبَيِّنَةِ حَتَّى يُحْلِفَهُ مَعَهَا، كَمَا لَا أَحْكُمُ لَهُ عَلَى غَائِبٍ إِلَّا بَعْدَ يَمِينِهِ.

Ibnu Abi Laila berkata: “Aku tidak memutuskan perkara untuknya hanya dengan bayyinah (alat bukti), sampai aku menyuruhnya bersumpah bersamanya, sebagaimana aku tidak memutuskan perkara untuknya terhadap orang yang ghaib kecuali setelah ia bersumpah.”

وَهَذَا فَاسِدٌ مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan ini rusak dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: إنَّ فِي إِحْلَافِهِ مَعَ بَيِّنَتِهِ قَدْحًا فِيهَا.

Salah satunya: bahwa dalam mewajibkan sumpah bersamaan dengan adanya bayyinah terdapat celaan terhadap bayyinah itu sendiri.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يُحْلِفُ فِي الْغَائِبِ، لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ قَدْ قَضَاهُ، وَالْحَاضِرُ لَوْ قَضَاهُ لَذَكَرَهُ.

Yang kedua: Ia disumpah dalam keadaan tidak hadir, karena mungkin saja ia telah melunasinya, sedangkan jika yang hadir telah melunasinya, tentu ia akan menyebutkannya.

فَلَوْ أَخَّرَ الْمُدَّعِي إِحْضَارَ بَيِّنَتِهِ، وَأَرَادَ مُلَازَمَةَ خَصْمِهِ عَلَى إِحْضَارِهِ، سَأَلَهُ الْقَاضِي عَنْهَا، فَإِنْ كَانَتْ غَائِبَةً لَمْ يَكُنْ لَهُ مُلَازَمَةُ الْخَصْمِ وَقِيلَ لَهُ لَكَ الْخِيَارُ فِي تَأْخِيرِهِ إِلَى حُضُورِ بَيِّنَتِكَ، أَوْ تُحْلِفُهُ فَتَسْقُطُ الدَّعْوَى، فَإِنْ حَضَرَتْ بَيِّنَتُكَ لَمْ تَمْنَعِ الْيَمِينُ مِنْ سَمَاعِهَا.

Jika penggugat menunda menghadirkan bukti dan ingin menuntut kehadiran lawannya sampai ia menghadirkannya, maka hakim akan menanyakannya tentang bukti tersebut. Jika bukti itu tidak ada (tidak hadir), maka ia tidak berhak menuntut kehadiran lawannya. Kepadanya dikatakan: “Kamu memiliki pilihan untuk menunda perkara sampai bukti kamu hadir, atau kamu meminta lawanmu bersumpah, sehingga gugatanmu gugur.” Jika bukti kamu telah hadir, maka sumpah tidak menghalangi untuk mendengarkannya.

وَإِنْ كَانَتِ الْبَيِّنَةُ حَاضِرَةً فِي الْبَلَدِ، فَأَرَادَ مُلَازَمَتَهُ عَلَى حُضُورِهَا كَانَ لَهُ أَنْ يُلَازِمَهُ مَا كَانَ مَجْلِسُ الْحُكْمِ فِي يَوْمِهِ بَاقِيًا.

Dan jika bukti (al-bayyinah) sudah ada di kota, lalu seseorang ingin tetap mendampingi pihak lain hingga bukti tersebut dihadirkan, maka ia berhak untuk mendampinginya selama majelis pengadilan pada hari itu masih berlangsung.

فَإِذَا انْقَضَى الْمَجْلِسُ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُلَازَمَتُهُ مَا لَمْ تَشْهَدْ أَحْوَالُهُ بِوُجُودِ الْبَيِّنَةِ.

Maka apabila majelis telah selesai, tidak ada lagi kewajiban untuk tetap bersamanya selama keadaannya tidak menunjukkan adanya bukti yang jelas.

فَإِنْ شَهِدَتْ أَحْوَالُهُ بِوُجُودِ الْبَيِّنَةِ جَازَ أَنْ يُلَازِمَهُ إِلَى غَايَةٍ أَكْثَرُهَا ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ لَا يَتَجَاوَزُهَا.

Jika keadaannya menunjukkan adanya bukti yang jelas, maka boleh menemaninya hingga batas waktu yang paling lama adalah tiga hari, dan tidak boleh melebihi batas itu.

وَلَا يَلْزَمُهُ إِقَامَةُ كَفِيلٍ بِنَفْسِهِ.

Dan ia tidak diwajibkan untuk menghadirkan penjamin atas dirinya.

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَهُ أَنْ يُلَازِمَهُ أَبَدًا مَا كَانَ حُضُورُهَا مُمْكِنًا أَوْ يُعْطِيهِ كَفِيلًا بِنَفْسِهِ لِرِوَايَةِ الْهِرْمَاسِ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ اسْتَعْدَى رَسُولَ الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – على رجل في حق له، فقال له: الْزَمْهُ.

Abu Hanifah berkata: Seseorang berhak untuk selalu mendampingi orang yang berutang kepadanya selama kehadirannya memungkinkan, atau ia dapat memberinya penjamin atas dirinya, berdasarkan riwayat dari Hirmas bin Habib dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia mengadukan seseorang kepada Rasulullah ﷺ terkait haknya, maka beliau bersabda kepadanya: “Dampingilah dia.”

وَدَلِيلُهُ مَا رَوَاهُ سِمَاكٌ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَرَجُلًا مِنْ كِنْدَةَ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ: هَذَا غَلَبَنِي عَلَى أَرْضٍ وَرِثْتُهَا مِنْ أَبِي، وَقَالَ الْكِنْدِيُّ: أَرْضِي وَفِي يَدِي أزرعها لا حق له فيها فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ: ” شَاهِدَاكَ أَوْ يَمِينُهُ ” فَقَالَ: إِنَّهُ فَاجِرٌ لَا يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ: ” لَيْسَ لَكَ إِلَّا ذَلِكَ ” فَنَفَى اسْتِحْقَاقَ الْمُلَازَمَةِ.

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Simak dari Alqamah bin Wa’il dari ayahnya, Wa’il bin Hujr, bahwa seorang laki-laki dari Hadhramaut dan seorang laki-laki dari Kindah datang kepada Rasulullah ﷺ. Laki-laki Hadhramaut berkata, “Orang ini telah menguasai tanah yang aku warisi dari ayahku.” Laki-laki Kindah berkata, “Itu tanahku dan ada di tanganku, aku menggarapnya, dia tidak punya hak atasnya.” Maka Nabi ﷺ berkata kepada laki-laki Hadhramaut, “(Datangkan) dua orang saksi atau sumpahnya.” Ia berkata, “Sesungguhnya dia orang fasik, tidak segan melakukan apa pun.” Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada (hak) bagimu kecuali itu.” Maka beliau menafikan kewajiban untuk terus-menerus menuntut (melazimkan) lawan.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ الْخَبَرِ فهو أَنَّهُ إِذْنٌ فِي الْمُلَازَمَةِ عَلَى حَقٍّ، وَالْحَقُّ مَا ثَبَتَ وَجُوبُهُ.

Adapun jawaban terhadap hadis tersebut adalah bahwa itu merupakan izin untuk tetap berpegang pada suatu hak, dan hak itu adalah sesuatu yang telah tetap kewajibannya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْفَصْلُ الْخَامِسُ: فِي إِحْلَافِ الْمُنْكِرِ.

Bab kelima: tentang pengambilan sumpah terhadap orang yang mengingkari.

وَإِحْلَافُهُ حَقٌّ لِلْمُدَّعِي، فَلَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يُحْلِفَهُ إِلَّا بَعْدَ مُطَالَبَةِ الْمُدَّعِي بِإِحْلَافِهِ.

Dan sumpah itu merupakan hak bagi pihak penggugat, sehingga tidak boleh bagi hakim untuk menyuruh bersumpah kecuali setelah adanya permintaan dari penggugat agar pihak tergugat disumpah.

فَإِنْ كَانَ الْمُدَّعِي عَالِمًا بِاسْتِحْقَاقِ الْيَمِينِ عِنْدَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ، وَإِلَّا أَعْلَمَهُ الْقَاضِي أَنَّهُ قَدْ وَجَبَ لَهُ الْيَمِينُ عَلَيْهِ، لِيَرَى رَأْيَهُ فِي إِحْلَافِهِ أَوْ تَرْكِهِ.

Jika penggugat mengetahui bahwa ia berhak meminta sumpah ketika tidak ada bukti, maka tidak masalah. Jika tidak, hakim memberitahunya bahwa ia berhak meminta sumpah dari tergugat, agar ia dapat mempertimbangkan apakah akan meminta sumpah atau tidak.

وَإِذَا كَانَ ذَلِكَ إِلَى خِيَارِهِ فَلَهُ حَالَتَانِ:

Dan apabila hal itu menjadi hak pilihnya, maka ia memiliki dua keadaan:

إِحْدَاهُمَا: أَنْ يَتْرُكَ إِحْلَافَهُ فَلَا يُسْقِطُ حَقَّهُ مِنَ الْيَمِينِ مَتَى أَرَادَ إِحْلَافَهُ بِالدَّعْوَى الْمُتَقَدِّمَةِ. وَلَوْ قَالَ قَدْ عَفَوْتُ عَنِ الْيَمِينِ وَقَدْ أَبْرَأْتُهُ مِنْهَا سَقَطَ حَقُّهُ مِنْهَا فِي هَذِهِ الدَّعْوَى وَلَمْ تَسْقُطِ الدَّعْوَى فَإِنْ أَرَادَ إِحْلَافَهُ مِنْ بَعْدُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْلِفَهُ بِالدَّعْوَى الْمُتَقَدِّمَةِ وَيَجُوزُ أَنْ يَسْتَأْنِفَ الدَّعْوَى فَيُحْلِفَهُ بِالدَّعْوَى الْمُسْتَأْنَفَةِ.

Salah satunya: jika ia meninggalkan permintaan sumpah darinya, maka hal itu tidak menggugurkan haknya atas sumpah tersebut kapan pun ia ingin meminta sumpah berdasarkan gugatan yang telah diajukan sebelumnya. Namun, jika ia berkata, “Aku telah memaafkan dari sumpah itu dan aku telah membebaskannya darinya,” maka gugurlah haknya atas sumpah itu dalam gugatan ini, tetapi gugatan itu sendiri tidak gugur. Jika kemudian ia ingin meminta sumpah setelah itu, tidak boleh baginya untuk meminta sumpah berdasarkan gugatan yang telah diajukan sebelumnya, namun boleh baginya untuk mengajukan gugatan baru lalu meminta sumpah berdasarkan gugatan yang baru diajukan tersebut.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُسْأَلَ إِحْلَافَهُ فَهَذَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَضْرُبٍ:

Keadaan kedua: yaitu ketika diminta untuk bersumpah, maka hal ini terbagi menjadi empat jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يُمْسِكَ عَنْ ذِكْرٍ بَيِّنَتِهِ عِنْدَ سُؤَالِهِ إِحْلَافَ خَصْمِهِ، فَلَا يَذْكُرُ أَنَّ لَهُ بَيِّنَةً وَلَا أَنْ لَيْسَتْ لَهُ بَيِّنَةٌ، فَلَيْسَ لِلْقَاضِي أَنْ يُلْزِمَهُ ذِكْرَ الْبَيِّنَةِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْلِفَ لَهُ خَصْمُهُ.

Pertama: Jika seseorang menahan diri untuk tidak menyebutkan bukti (bayyinah) yang dimilikinya ketika ia meminta agar lawannya disumpah, maka ia tidak menyebutkan apakah ia memiliki bayyinah atau tidak memilikinya. Dalam hal ini, hakim tidak berhak mewajibkannya untuk menyebutkan bayyinah, dan hakim harus memerintahkan lawannya untuk bersumpah.

فَإِنْ أَحْضَرَ الْمُدَّعِي بَعْدَ إِحْلَافِ خَصْمِهِ بَيِّنَةً سَمِعَهَا، وَحَكَمَ عَلَيْهِ بِهَا، وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَكْثَرُ الْفُقَهَاءِ.

Jika setelah lawannya disumpah, penggugat menghadirkan bukti, maka bukti tersebut diterima dan diputuskan berdasarkan bukti itu. Inilah pendapat Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَمَالِكٌ، وَأَبُو عُبَيْدٍ، وَإِسْحَاقُ، وَدَاوُدُ: لَا يَسْمَعُهَا لِانْفِصَالِ الْحُكْمِ بِالْيَمِينِ، وَلِأَنَّ سُقُوطَ الدَّعْوَى بِهَا مُوجِبٌ لِسُقُوطِ الْحَقِّ.

Ibnu Abi Laila, Malik, Abu Ubaid, Ishaq, dan Dawud berpendapat: Sumpah tersebut tidak didengar karena hukum telah terpisah dengan sumpah, dan karena gugurnya gugatan dengan sumpah itu menyebabkan gugurnya hak.

وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ؛ لِأَنَّ الْبَيِّنَةَ الْعَادِلَةَ أَوْلَى مِنَ الْيَمِينِ الْفَاجِرَةِ.

Hal ini tidak benar, karena bayyinah yang adil lebih utama daripada sumpah yang dusta.

وَلِأَنَّ فِي الْبَيِّنَةِ إِثْبَاتًا، وَفِي الْيَمِينِ نَفْيًا، وَالْإِثْبَاتُ أَوْلَى مِنَ النَّفْيِ.

Karena dalam bayyinah terdapat penetapan, sedangkan dalam sumpah terdapat penafian, dan penetapan lebih utama daripada penafian.

وَلِأَنَّ الْيَمِينَ تَكُونُ مَعَ عَدَمِ الْبَيِّنَةِ، فَإِذَا وَجَدَ الْبَيِّنَةَ سَقَطَ حُكْمُ الْيَمِينِ.

Karena sumpah itu berlaku ketika tidak ada bukti, maka apabila bukti telah ada, ketentuan sumpah menjadi gugur.

وَلَيْسَ سُقُوطُ الدَّعْوَى مُوجِبًا لِسُقُوطِ الْحَقِّ؛ لِأَنَّ الْحُقُوقَ لَا تَسْقُطُ إِلَّا بِقَبْضٍ أَوْ إِبْرَاءٍ وَلَيْسَتِ الْيَمِينُ بِقَبْضِ وَلَا إِبْرَاءٍ.

Gugurnya gugatan tidak menyebabkan gugurnya hak; karena hak-hak tidak gugur kecuali dengan penerimaan atau pembebasan, sedangkan sumpah bukanlah penerimaan maupun pembebasan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَذْكُرَ الْمُدَّعِي أَنَّ لَهُ بَيِّنَةً غَائِبَةً، وَيَسْأَلَ إِحْلَافَ خَصْمِهِ فَعَلَى الْقَاضِي أَنْ يُحْلِفَهُ لِأَنَّ الْغَائِبَةَ كَالْمَعْدُومَةِ، لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ تُقَدَّمَ وَلَا تُقَدَّمَ؛ وَلِأَنَّ الْحُكْمَ إِذَا وَجَبَ تَعْجِيلُهُ لَمْ يَجُزْ تَأْخِيرُهُ.

Jenis kedua adalah ketika penggugat menyatakan bahwa ia memiliki bayyinah yang sedang tidak hadir, lalu ia meminta agar lawannya disumpah. Maka hakim wajib menyuruh lawannya bersumpah, karena bayyinah yang tidak hadir itu dianggap seperti tidak ada, sebab bisa jadi bayyinah itu akan dihadirkan atau tidak dihadirkan. Selain itu, jika suatu putusan memang harus segera diputuskan, maka tidak boleh ditunda.

فَإِنْ أَحْلَفَهُ وَحَضَرَتِ الْبَيِّنَةُ جَازَ أَنْ يَسْمَعَهَا وَيَحْكُمَ بِهَا عَلَى مَا ذَكَرْنَا.

Jika ia telah menyuruhnya bersumpah, lalu ada bukti yang hadir, maka boleh baginya untuk mendengarkan bukti tersebut dan memutuskan perkara berdasarkan bukti itu sebagaimana telah kami sebutkan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَذْكُرَ أَنَّهُ لَهُ بَيِّنَةٌ حَاضِرَةٌ، وَيَسْأَلَ إِحْلَافَهُ مَعَ حُضُورِ بَيِّنَتِهِ، فَفِي جَوَازِ إِحْلَافِهِ وَجْهَانِ:

Jenis yang ketiga: yaitu seseorang menyebutkan bahwa ia memiliki bayyinah yang hadir, dan ia meminta agar lawannya disumpah bersamaan dengan hadirnya bayyinah tersebut. Maka, dalam kebolehan menyumpahkannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ لَيْسَ لَهُ إِحْلَافُهُ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْمُدَّعِي إِثْبَاتُ الْحَقِّ دُونَ إِسْقَاطِهِ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Hanifah: tidak boleh meminta sumpah darinya, karena tujuan penggugat adalah menetapkan hak, bukan menggugurkannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ، وَالْأَظْهَرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، لَهُ إِحْلَافُهُ لِجَوَازِ أَنْ يَتَوَرَّعَ عَنِ الْيَمِينِ فَيَعْتَرِفَ، وَالْإِقْرَارُ أَقْوَى مِنَ الْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Abu Yusuf dan yang lebih kuat dari mazhab Syafi‘i, adalah bahwa hakim boleh meminta sumpah darinya, karena dimungkinkan ia bersikap wara‘ (berhati-hati) dari bersumpah lalu mengakui, dan pengakuan itu lebih kuat daripada bukti (bayyinah).

فَإِنْ أَحْلَفَهُ وَأَرَادَ إِقَامَةَ الْبَيِّنَةِ سُمِعَتْ.

Jika ia telah menyuruhnya bersumpah dan ingin mengajukan bayyinah (alat bukti), maka bayyinah tersebut diterima.

وَلَوْ أَقَامَهَا قَبْلَ إِحْلَافِهِ وَأَرَادَ إِحْلَافَهُ بَعْدَ إِقَامَتِهَا لَمْ يَجُزْ لِعَدَمِ تَأْثِيرِهَا.

Dan jika ia mengajukan bukti sebelum melakukan sumpah, lalu ingin menyuruhnya bersumpah setelah pengajuan bukti tersebut, maka hal itu tidak diperbolehkan karena bukti tersebut tidak lagi berpengaruh.

فَلَوْ قَالَ الْمُدَّعِي: إِنْ حَلَفَ فَهُوَ بَرِيءٌ فَحَلَفَ لَمْ يَمْنَعْ ذَلِكَ مِنْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ لِأَنَّ الْبَرَاءَةَ لَا تَقَعُ بِالصِّفَاتِ.

Maka jika penggugat berkata: “Jika ia bersumpah, maka ia bebas dari tuduhan,” lalu ia bersumpah, hal itu tidak menghalangi untuk mendengarkan bukti, karena kebebasan dari tuduhan tidak terjadi dengan sifat-sifat (seperti sumpah) saja.

وَالضَّرْبُ الرَّابِعُ: أَنْ يَذْكُرَ أَنْ لَا بَيِّنَةَ لَهُ حَاضِرَةً وَلَا غَائِبَةً، وَيَسْأَلُ إِحْلَافَهُ فَعَلَى الْقَاضِي أَنْ يُحْلِفَهُ.

Golongan keempat adalah ketika seseorang menyatakan bahwa ia tidak memiliki bayyinah, baik yang hadir maupun yang tidak hadir, dan ia meminta agar lawannya disumpah, maka hakim wajib menyuruh lawannya bersumpah.

فَإِنْ أَحْلَفَهُ ثُمَّ أَحْضَرَ بَعْدَ يَمِينِهِ بَيِّنَةً فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي سَمَاعِهَا عَلَى وَجْهَيْنِ:

Jika ia telah menyuruhnya bersumpah, kemudian setelah sumpah itu ia menghadirkan bukti (bayyinah), maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai diterimanya bukti tersebut menjadi dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِينَ أَنَّهُ لَا يَسْمَعُهَا مِنْهُ لِأَنَّهُ قَدْ أَكْذَبَهَا بِإِنْكَارِهَا.

Salah satunya, yaitu pendapat mayoritas ulama, bahwa ia tidak mendengarnya darinya karena ia telah mendustakannya dengan mengingkarinya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ مَحْكِيٌّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ: أَنَّهُ يَسْمَعُهَا مِنْهُ، لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَهُ بَيِّنَةٌ ثُمَّ يَعْلَمُ، وَلَوْ عَلِمَ لَكَانَ ذَلِكَ كَذِبًا مِنْهُ وَلَمْ يَكُنْ تَكْذِيبًا لِلْبَيِّنَةِ.

Pendapat kedua, yang dinukil dari Abu Sa‘id al-Ishthakhri, adalah bahwa ia mendengarkannya darinya, karena bisa jadi ia tidak mengetahui bahwa ia memiliki bayyinah, kemudian ia mengetahuinya. Jika ia sudah mengetahui sebelumnya, maka hal itu merupakan kebohongan darinya dan bukan merupakan pendustaan terhadap bayyinah.

فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا ذَكَرْنَا، وَوَجَبَ إِحْلَافُ الْمُنْكِرِ، فَلَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يُحْلِفَهُ قَبْلَ مَسْأَلَةِ الْمُدَّعِي.

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan, dan wajib bagi orang yang mengingkari untuk bersumpah, maka tidak boleh bagi qadhi untuk menyuruhnya bersumpah sebelum adanya tuntutan dari pihak penggugat.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَعْرِضَ عَلَيْهِ الْيَمِينَ قَبْلَ مَسْأَلَةِ الْمُدَّعِي؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat tentang apakah boleh bagi seorang qadhi menawarkan sumpah sebelum permintaan dari pihak penggugat; terdapat dua pendapat dalam hal ini.

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ: لَا يَجُوزُ كَمَا لَمْ يَجُزْ لَهُ إِحْلَافِهِ.

Salah satunya, yaitu pendapat Abu Hanifah: tidak boleh, sebagaimana tidak boleh baginya menyuruh orang lain bersumpah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ يَجُوزُ أَنْ يَعْرِضَهَا وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يحلفه بها ليعلم إقدامه عليها فيغطه أَوْ يُوقِفُهُ عَنْهَا فَيُحَذِّرُهُ فَإِنِ اسْتَمْهَلَ الْمُنْكِرُ فِي الْيَمِينِ فَإِنْ كَانَ اسْتِمْهَالُهُ لِيُرَاجِعَ النَّظَرَ فِي حِسَابِهِ أَمْهَلَهُ بِحَسْبِ مَا يُمْكِنُهُ مُرَاجَعَةُ الْحِسَابِ، وَإِنِ اسْتَمهلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ لَمْ يُمْهِلْهُ وَلَمْ يَحْبِسْهُ عَلَى الْيَمِينِ، وَكَانَ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ حُكْمِ النُّكُولِ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, membolehkan untuk menawarkan sumpah kepadanya meskipun tidak boleh memaksanya bersumpah dengannya, agar diketahui keberaniannya untuk melakukannya, sehingga dapat dicegah atau dihentikan darinya, lalu diperingatkan. Jika pihak yang mengingkari meminta penundaan dalam bersumpah, maka jika permintaannya itu untuk meninjau kembali perhitungannya, ia diberi waktu sesuai dengan kebutuhan untuk meninjau perhitungan tersebut. Namun jika permintaannya bukan untuk itu, maka tidak diberi waktu dan tidak pula ditahan karena sumpah, dan berlaku atasnya hukum nukūl sebagaimana yang akan kami sebutkan.

فَلَوْ سَأَلَ الْمُنْكِرُ إِحْلَافَ الْمُدَّعِي عَلَى مَا ادَّعَاهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِحْلَافُهُ؛ لِأَنَّ الْيَمِينَ حَقٌّ عَلَيْهِ وَلَيْسَتْ حَقًّا عَلَى الْمُدَّعِي وَقِيلَ إِنَّمَا يَحْلِفُ الْمُدَّعِي بَعْدَ نُكُولِكَ إِنِ اخْتَارَ.

Maka jika pihak yang mengingkari meminta agar pihak penggugat disumpah atas apa yang ia dakwakan, maka ia tidak berhak meminta sumpah tersebut; karena sumpah adalah hak atas dirinya (pihak yang mengingkari) dan bukan hak atas pihak penggugat. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa penggugat hanya bersumpah setelah engkau (pihak yang mengingkari) menolak bersumpah, jika ia memilih untuk melakukannya.

وَلَوْ سَأَلَ الْمُدَّعِي تَأْخِيرَ إِحْلَافِ الْمُنْكِرِ، لِيَغْلُظَ عَلَيْهِ الْيَمِينُ بِإِحْلَافِهِ بعد العصر أَوْ فِي الْجَامِعِ، كَانَ لَهُ مُلَازَمَةُ الْمُنْكِرِ إِنِ اسْتَحَقَّ تَغْلِيظَهَا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مُلَازَمَتُهُ إِنْ لَمْ يَسْتَحِقَّ تَغْلِيظَهَا.

Dan jika penggugat meminta penundaan sumpah terhadap orang yang mengingkari, agar sumpah tersebut menjadi lebih berat baginya dengan melakukannya setelah Ashar atau di masjid jami‘, maka penggugat berhak untuk tetap mendampingi orang yang mengingkari jika memang berhak untuk memberatkan sumpah tersebut, dan tidak berhak mendampinginya jika tidak berhak untuk memberatkannya.

فَلَوْ كَانَتِ الدَّعْوَى تَشْتَمِلُ عَلَى أَنْوَاعٍ فَأَرَادَ الْمُدَّعِي أَنْ يُحْلِفَهُ عَلَى أَحَدِهَا وَيَتَوَقَّفَ عَنْ إِحْلَافِهِ فِيمَا عَدَاهُ جَازَ.

Jika suatu gugatan mencakup beberapa jenis perkara, lalu penggugat ingin meminta tergugat bersumpah hanya atas salah satu di antaranya dan menunda permintaan sumpah untuk yang lainnya, maka hal itu diperbolehkan.

وَإِنْ أَرَادَ أَنْ يُحْلِفَهُ عَلَى كُلِّ نَوْعٍ مِنْهَا يَمِينًا يَمِينًا، نُظِرَ: فَإِنْ فَرَّقَهَا فِي الدَّعْوَى جَازَ أَنْ تُفَرَّقَ فِي الْأَيْمَانِ، وَإِنْ جَمَعَهَا فِي الدَّعْوَى لَمْ يَجُزْ أَنْ تُفَرَّقَ فِي الْأَيْمَانِ.

Jika ia ingin menyuruhnya bersumpah untuk setiap jenis darinya dengan satu sumpah satu sumpah, maka dilihat: jika ia memisahkannya dalam gugatan, boleh untuk dipisahkan pula dalam sumpah; dan jika ia menggabungkannya dalam gugatan, tidak boleh untuk dipisahkan dalam sumpah.

وَلَوِ اشْتَرَكَ فِي الدَّعْوَى اثْنَانِ فَأَنْكَرَهُمَا وَجَبَ أَنْ يُحْلِفَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَمِينًا وَلَا يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فِي الْيَمِينِ الْوَاحِدَةِ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مُسْتَحِقٌّ لِيَمِينٍ في حقه فلم يجز أن تتبعض يمنيه فِي حَقِّهِمَا.

Dan jika dalam suatu gugatan terdapat dua orang yang berserikat, lalu keduanya dibantah (oleh tergugat), maka wajib bagi tergugat untuk bersumpah untuk masing-masing dari keduanya satu sumpah, dan tidak boleh menggabungkan keduanya dalam satu sumpah; karena masing-masing dari keduanya berhak atas sumpah tersendiri dalam haknya, sehingga tidak boleh membagi sumpahnya untuk keduanya.

فَإِنْ رَضِيَا أَنْ يَحْلِفَ لَهُمَا يَمِينًا وَاحِدَةً فَفِي جَوَازِهَا لِأَصْحَابِنَا وَجْهَانِ:

Jika keduanya rela untuk bersumpah satu kali saja untuk mereka, maka menurut para ulama kami terdapat dua pendapat mengenai kebolehannya:

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِوُقُوفِ الْيَمِينِ عَلَى خِيَارِ الْمُدَّعِي.

Salah satunya: Diperbolehkan karena sumpah bergantung pada pilihan penggugat.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنَ تَبْعِيضِ الْيَمِينِ؛ فَعَلَى هَذَا إِذَا أَحْلَفَهُ لَهُمَا يَمِينًا وَاحِدَةً لَمْ يَعْتَدَّ بِهَا وَاسْتَأْنَفَ إِحْلَافَهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَمِينًا مُفْرَدَةً.

Pendapat kedua: Tidak boleh, karena di dalamnya terdapat pemecahan sumpah; oleh karena itu, jika ia menyuruh keduanya bersumpah dengan satu sumpah, maka sumpah itu tidak dianggap sah dan ia harus memulai kembali dengan menyuruh masing-masing dari mereka bersumpah secara terpisah.

وَقَدْ أَحْلَفَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِيَ يَمِينًا وَاحِدَةً فِي حَقِّ شَرِيكَيْنِ فَأَنْكَرَهُ عَلَيْهِ فُقَهَاءُ عَصْرِهِ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ الْحَقُّ دَعْوَى أَحَدِهِمَا صَحِيحَةً فَإِذَا أَحْلَفَ أَنَّهُ لَا حَقَّ لَهُمَا عَلَيْهِ كَانَ صَادِقًا لِأَنَّ الْحَقَّ لَهُمَا.

Isma‘il bin Ishaq al-Qadhi pernah mengambil sumpah satu kali saja dalam perkara dua orang yang bersengketa, lalu para fuqaha pada masanya mengingkarinya, karena bisa jadi kebenaran ada pada salah satu dari keduanya. Jika ia bersumpah bahwa keduanya tidak memiliki hak atas dirinya, maka ia dianggap jujur, padahal hak itu bisa jadi milik salah satu dari mereka.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْفَصْلُ السَّادِسُ فِي حُكْمِ النُّكُولِ.

Bab keenam tentang hukum menolak bersumpah.

وَهُوَ أَنْ تَجِبَ عَلَى الْمُنْكِرِ الْيَمِينُ فَيَمْتَنِعُ مِنْهَا، أَوْ يَقُولُ: قَدْ نَكَلْتُ عَنْهَا أَوْ يَقُولُ: لَسْتُ أَحْلِفُ، فَيَصِيرُ بِجَمِيعِ ذَلِكَ نَاكِلًا فَلَمْ يَحْكُمْ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ وَإِنْ خَالَفَنَا فِيهِ أَبُو حَنِيفَةَ عَلَى مَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ بَعْدُ، وَإِنَّمَا يُوجِبُ نُكُولُهُ رَدَّ الْيَمِينِ على المدعي ليحكم له بِيَمِينِهِ وَلَا يَحْكُمُ لَهُ بِنُكُولِ خَصْمِهِ.

Yaitu apabila orang yang mengingkari diwajibkan untuk bersumpah, lalu ia menolak untuk bersumpah, atau ia berkata: “Aku telah menolak untuk bersumpah,” atau ia berkata: “Aku tidak mau bersumpah,” maka dengan semua itu ia menjadi orang yang menolak bersumpah (nākil). Namun, tidak diputuskan atasnya dengan hukum penolakan, meskipun Abu Hanifah berbeda pendapat dengan kami dalam hal ini sebagaimana akan disebutkan nanti. Penolakan bersumpah itu hanya mewajibkan dipindahkannya sumpah kepada pihak penggugat agar diputuskan untuknya dengan sumpahnya, dan tidak diputuskan untuknya hanya karena lawannya menolak bersumpah.

وَإِذَا صَارَ الْمُنْكِرُ نَاكِلًا، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ حُكْمَ النُّكُولِ وَجَبَ عَلَى الْقَاضِي أَنْ يُعْلِمَهُ حُكْمَهُ، وَأَنَّهُ يُوجِبُ رَدُّ الْيَمِينِ عَلَى الْمُدَّعِي، لِيَحْكُمَ لَهُ بِيَمِينِهِ، وَإِنْ عَرَفَ حُكْمَ النُّكُولِ اسْتَغْنَى الْقَاضِي بِمَعْرِفَتِهِ عَنْ إِعْلَامِهِ، وَلَكِنْ يَقُولُ لَهُ إِنْ أَقَمْتَ عَلَى امْتِنَاعِكَ جَعَلْتُكَ نَاكِلًا.

Apabila pihak yang mengingkari menjadi orang yang enggan bersumpah (nākil), maka jika ia tidak mengetahui hukum enggannya bersumpah, wajib bagi qādī untuk memberitahukan kepadanya hukumnya, yaitu bahwa hal itu mewajibkan pengalihan sumpah kepada pihak penggugat, agar qādī dapat memutuskan perkara untuknya dengan sumpahnya. Namun, jika ia sudah mengetahui hukum enggan bersumpah, maka qādī cukup dengan pengetahuannya itu tanpa perlu memberitahukannya, tetapi qādī tetap mengatakan kepadanya: “Jika engkau tetap pada penolakanmu, aku akan menetapkanmu sebagai orang yang enggan bersumpah (nākil).”

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بِمَاذَا يَسْتَقِرُّ نُكُولُهُ؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai dengan apa penolakan bersumpah itu menjadi tetap; ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجِ: يَسْتَقِرُّ نُكُولُهُ بِإِعْلَامِهِ وَلَوْ كَانَ بِدَفْعَةٍ وَاحِدَةٍ.

Salah satunya adalah pendapat Abu al-‘Abbas Ibn Surayj: penolakan sumpahnya menjadi tetap dengan pemberitahuannya, meskipun hanya dengan satu kali penolakan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْعِرَاقِ: لَا يَسْتَقِرُّ النُّكُولُ إِلَّا بِأَنْ يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا هِيَ حَدُّ الِاسْتِظْهَارِ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat para ulama Irak: penolakan bersumpah (nukūl) tidak dianggap tetap kecuali jika hakim menawarkannya kepada terdakwa sebanyak tiga kali, itulah batas istizhār (upaya maksimal untuk memperoleh kejelasan).

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا بَعْدَ اسْتِقْرَارِ النُّكُولِ هَلْ يَفْتَقِرُ إِلَى حُكْمِ الْقَاضِي بِهِ قَبْلَ رَدِّ الْيَمِينِ أَمْ لَا؟ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat setelah tetapnya penolakan (sumpah), apakah hal itu memerlukan keputusan hakim terlebih dahulu sebelum mengalihkan sumpah atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا يَرُّدُ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعِي إِلَّا بَعْدَ أَنْ يَقُولَ لِلْمُنْكِرِ قَدْ حَكَمْتُ عَلَيْكَ بِالنُّكُولِ لِمَا فِيهِ مِنَ الِاجْتِهَادِ فَإِنْ رَدَّهَا عَلَيْهِ قَبْلَ حُكْمِهِ بِهِ لَمْ يَصِحَّ.

Salah satunya adalah bahwa sumpah tidak boleh dialihkan kepada penggugat kecuali setelah hakim mengatakan kepada tergugat, “Aku telah memutuskan atasmu dengan hukum nikul,” karena di dalamnya terdapat unsur ijtihad. Jika hakim mengalihkan sumpah kepada penggugat sebelum memutuskan dengan hukum tersebut, maka hal itu tidak sah.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَرُدَّهَا عَلَى الْمُدَّعِي وَإِنْ لَمْ يَقُلْ قَدْ حَكَمْتُ عَلَيْكَ بِالنُّكُولِ، لِأَنَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ حُكْمٌ بِالنُّكُولِ.

Pendapat kedua: Boleh bagi hakim untuk mengembalikan sumpah itu kepada penggugat meskipun ia tidak mengatakan, “Aku telah memutuskan atasmu dengan penolakan sumpah,” karena mengembalikan sumpah itu kepadanya merupakan keputusan atas penolakan sumpah.

فَلَوْ بَذَلَ الْمُنْكِرُ الْيَمِينَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِنُكُولِهِ لَمْ يَجُزْ إِحْلَافُهُ لِانْتِقَالِ الْيَمِينِ إِلَى الْمُدَّعِي.

Maka jika pihak yang mengingkari menawarkan sumpah setelah diputuskan ia menolak bersumpah, tidak boleh lagi menyuruhnya bersumpah karena sumpah telah berpindah kepada pihak penggugat.

فَإِنْ حَلَفَ الْمُدَّعِي حَكَمَ لَهُ، وَإِنِ اسْتَمْهَلَ لِلنَّظَرِ فِي حِسَابِهِ أُمْهِلَ.

Jika penggugat bersumpah, maka diputuskan untuknya, dan jika ia meminta penundaan untuk meneliti perhitungannya, maka ia diberi penundaan.

وَإِنْ تَوَقَّفَ عَنِ الْيَمِينِ لِغَيْرِ اسْتِمْهَالٍ فَقَدِ اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ فِي يَمِينِ النُّكُولِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Dan jika seseorang menahan diri dari bersumpah tanpa meminta penundaan, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai hukum menetapkan baginya sebagai orang yang menolak bersumpah (nukūl) dalam sumpah nukūl, dengan dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ: يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ كَمَا حَكَمَ عَلَى الْمُنْكِرِ بِالنُّكُولِ، فَإِنْ رَامَ أَنْ يَحْلِفَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِنُكُولِهِ لَمْ يَجُزْ، كَمَا لَوْ رَامَهُ الْمُنْكِرُ.

Salah satunya adalah pendapat Abu Sa‘id al-Istakhri: diputuskan atasnya dengan hukum nukūl sebagaimana diputuskan atas orang yang mengingkari dengan hukum nukūl. Jika ia berusaha untuk bersumpah setelah diputuskan nukūlnya, maka itu tidak diperbolehkan, sebagaimana jika orang yang mengingkari berusaha melakukannya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يَحْكُمُ عَلَيْهِ بِالنُّكُولِ، وَإِنْ حَكَمَ عَلَى الْمُنْكِرِ بِالنُّكُولِ.

Pendapat kedua, yang lebih kuat, adalah bahwa tidak dijatuhkan hukum nukūl atasnya, meskipun dijatuhkan hukum nukūl atas orang yang mengingkari.

وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ نُكُولَ الْمُنْكِرِ يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقٌّ لِغَيْرِهِ، وَلَا يَتَعَلَّقُ بِنُكُولِ الْمُدَّعِي حَقٌّ لِغَيْرِهِ، وَيَكُونُ له أن يحلف متى شاء ويستحق.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa penolakan bersumpah dari pihak yang mengingkari berkaitan dengan hak orang lain, sedangkan penolakan bersumpah dari pihak penggugat tidak berkaitan dengan hak orang lain, dan penggugat berhak untuk bersumpah kapan saja ia mau dan berhak memperoleh haknya.

(حُضُورُ الْخَصْمِ قَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ وَاطِّرَادُهُ جَرْحَ الشهود)

Kehadiran pihak lawan sebelum putusan berlaku dan kelangsungan proses mencela para saksi.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَيَنْبَغِي إِذَا حَضَرَ أَنْ يَقْرَأَ عَلَيْهِ مَا شَهِدُوا بِهِ عَلَيْهِ وَيَنْسَخُهُ أَسْمَاءَهُمْ وَأَنْسَابَهُمْ وَيَطْرُدُهُ جَرْحَهُمْ فِإِنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ حَكَمَ عَلَيْهِ “.

Syafi‘i berkata: “Dan sebaiknya ketika ia hadir, dibacakan kepadanya apa yang mereka saksikan atasnya, dan dituliskan nama-nama serta nasab mereka, serta dijelaskan cacat (jarh) mereka. Jika ia tidak dapat menghadirkannya, maka diputuskan hukum atasnya.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: اخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي تَأْوِيلِ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى أَنَّهَا مُصَوَّرَةٌ فِي حَاضِرٍ سُمِعَتِ الْبَيِّنَةُ عَلَيْهِ قَبْلَ جَوَابِهِ عَنِ الدَّعْوَى، وَهَذَا قَوْلُ مَنْ أَجَازَ ذَلِكَ مِنْهُمْ، فَإِذَا حَضَرَ مَجْلِسَ الْحُكْمِ بَعْدَ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَيْهِ أَعْلَمَهُ الْقَاضِي أَسْمَاءَ الشُّهُودِ، وَأَطْرَدَهُ جَرْحَهُمْ، فَإِنْ أَثْبَتَ مَا يُوجِبُ سُقُوطَ شَهَادَتِهِمْ أَسْقَطَهَا، وَإِلَّا حَكَمَ بِهَا وَأَمْضَاهَا.

Al-Mawardi berkata: Para sahabat kami berbeda pendapat dalam menafsirkan masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa masalah ini digambarkan pada seseorang yang hadir, yang kesaksian atas dirinya telah didengar sebelum ia menjawab gugatan. Ini adalah pendapat dari mereka yang membolehkan hal tersebut. Maka apabila ia hadir di majelis pengadilan setelah kesaksian atas dirinya didengar, hakim memberitahukan kepadanya nama-nama para saksi dan membiarkannya untuk mencela mereka. Jika ia dapat membuktikan sesuatu yang menyebabkan kesaksian mereka gugur, maka kesaksian itu digugurkan. Jika tidak, maka hakim memutuskan berdasarkan kesaksian tersebut dan menetapkannya.

وَقَالَ آخَرُونَ بَلْ هِيَ مُصَوَّرَةٌ فِي غَائِبٍ سُمِعَتْ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ ثم قدم نفوذ الحكم بِهَا فَيُعْلِمُهُ الْقَاضِي مَا ثَبَتَ عِنْدَهُ بِالْبَيِّنَةِ وَيُعَرِّفُهُ أَسْمَاءَ الشُّهُودِ وَأَنْسَابَهُمْ وَيَطْرُدُهُ جَرْحُهُمْ وَهَذَا قَوْلُ مَنْ مَنَعَ مِنْ سَمَاعِ الْبَيِّنَةِ عَلَى الْحَاضِرِ قَبْلَ جَوَابِهِ عَنِ الدَّعْوَى.

Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa perkara itu digambarkan pada orang yang tidak hadir, lalu bukti (bayyinah) didengarkan atasnya, kemudian keputusan hukum dijatuhkan berdasarkan bukti tersebut. Maka, hakim memberitahukan kepada orang tersebut apa yang telah tetap di sisinya berdasarkan bukti, memperkenalkan nama-nama para saksi dan nasab mereka, serta membolehkan orang tersebut untuk menolak para saksi itu dengan alasan yang sah. Inilah pendapat orang yang melarang mendengarkan bukti atas orang yang hadir sebelum ia menjawab gugatan.

وَفِي قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَيَطْرُدُهُ جَرْحَهُمْ تَأْوِيلَانِ مُتَضَادَّانِ:

Menurut pendapat asy-Syafi‘i, dan yang menguatkannya adalah kritik mereka, terdapat dua penafsiran yang saling bertentangan.

أَحَدُهُمَا: مَعْنَاهُ يُمْهِلُهُ وَيُؤَخِّرُهُ، حَتَّى يُقِيمَ بَيِّنَةً بِجَرْحِهِمْ.

Salah satunya: maknanya adalah ia memberinya waktu dan menundanya, hingga ia dapat mengajukan bukti atas celaannya terhadap mereka.

وَالثَّانِي: بَلْ مَعْنَاهُ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ وَلَا يُؤَخِّرُهُ.

Dan yang kedua: bahkan maknanya adalah Allah menyempitkan baginya dan tidak menundanya.

وَعَلَى كِلَا التَّأْوِيلَيْنِ لَا بُدَّ أَنْ يُمْهِلَهُ قَدْرَ مَا يُمْكِنُهُ إِقَامَةَ الْبَيِّنَةِ الْحَاضِرَةِ بِجَرْحِهِمْ وَلَا يَزِيدُهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ لِتَطَاوُلِ الزَّمَانِ بِمَا زَادَ عَلَيْهَا وَيَجْتَهِدُ رَأْيَهُ فِيمَا دُونَ الثَّلَاثِ بِحَسَبِ الْحَالِ وَعِظَمِ الْبَلَدِ وَصِغَرِهِ.

Dan menurut kedua penafsiran tersebut, wajib baginya untuk memberi tenggang waktu secukupnya agar memungkinkan didatangkannya bukti yang ada untuk mencela mereka, dan tidak boleh menambah waktu lebih dari tiga hari karena jika melebihi itu maka waktunya menjadi terlalu lama. Ia harus berijtihad dalam menentukan waktu kurang dari tiga hari sesuai dengan situasi, besar atau kecilnya suatu daerah.

فَإِذَا قَدَّرَ لَهُ مُدَّةً أَنْظَرَهُ بِهَا فَلَمْ يَأْتِ فِيهَا بِالْبَيِّنَةِ عَلَى الْجَرْحِ أَنْفَذَ الْحُكْمَ عَلَيْهِ بِالشَّهَادَةِ.

Jika ia telah menetapkan baginya suatu tenggat waktu untuk menunggu, namun dalam tenggat tersebut ia tidak mendatangkan bukti atas celaan, maka keputusan atasnya dengan kesaksian itu tetap dijalankan.

وَإِنْ أَتَى بِالْبَيِّنَةِ فِي مُدَّةِ إِنْظَارِهِ بِجَرْحِ الشُّهُودِ بَعْدَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِمْ سَأَلَ شُهُودَ الْجَرْحِ عَنْ زَمَانِهِ فَإِنَّهُ لَا يَخْلُو جَوَابُهُمْ مِنْ ثلاثة أَحْوَالٍ:

Dan jika ia mendatangkan bukti (bayyinah) dalam masa penangguhan dengan mencacatkan para saksi setelah keadilan mereka ditetapkan, maka hakim menanyakan kepada para saksi pencacat tentang waktu terjadinya cacat tersebut. Jawaban mereka tidak lepas dari tiga keadaan:

إِحْدَاهَا: أَنْ يَشْهَدُوا بِجَرْحِهِمْ فِي زَمَانِ شَهَادَتِهِمْ فَهَذَا مُوجِبٌ لِإِسْقَاطِهَا، وَإِبْطَالِ الْحُكْمِ بِهَا، لِأَنَّ بَيِّنَةَ الْجَرْحِ أَثْبَتُ مِنْ بَيِّنَةِ التَّعْدِيلِ سَوَاءٌ كَانَ الْقَاضِي قَدْ أَنْفَذَ الْحُكْمَ بِشَهَادَتِهِمْ أَوْ لَمْ يُنْفِذْ.

Salah satunya: apabila mereka memberikan kesaksian tentang adanya jarh (celaan) terhadap mereka pada waktu mereka bersaksi, maka hal ini menyebabkan kesaksian tersebut gugur dan keputusan hukum yang didasarkan padanya menjadi batal, karena bukti jarh lebih kuat daripada bukti ta‘dil, baik hakim telah menjalankan keputusan berdasarkan kesaksian mereka maupun belum menjalankannya.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَشْهَدُوا بِجَرْحِهِمْ قَبْلَ زَمَانِ شَهَادَتِهِمْ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan kedua: yaitu mereka memberikan kesaksian tentang celaan mereka sebelum waktu kesaksian mereka, maka hal ini terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ بَيْنَ الزَّمَانَيْنِ مِنَ التَّطَاوُلِ مَا يَصْلُحُ فِيهِ حَالُ الْمَجْرُوحِ فَلَا يُوجِبُ سُقُوطَ شَهَادَتِهِمْ وَتَكُونُ بَيِّنَةُ التَّعْدِيلِ أَوْلَى.

Salah satunya adalah: jika antara dua waktu tersebut terdapat rentang yang cukup lama sehingga keadaan orang yang dicacatkan bisa berubah menjadi baik, maka hal itu tidak menyebabkan gugurnya kesaksian mereka, dan bukti penta’dilan lebih diutamakan.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَقْصُرَ مَا بَيْنَ الزَّمَانَيْنِ عَنْ أَنْ يَصْلُحَ فِيهِ حَالُ الْمَجْرُوحِ فَيَجِبُ سُقُوطُ شَهَادَتِهِمْ وَتَكُونُ بَيِّنَةُ الْجَرْحِ أَوْلَى.

Jenis kedua: yaitu jika jarak antara dua waktu itu terlalu singkat sehingga keadaan orang yang dicacat tidak mungkin menjadi baik dalam waktu tersebut, maka kesaksian mereka harus gugur dan bukti jarḥ lebih didahulukan.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَشْهَدُوا بِجَرْحِهِمْ بَعْدَ زَمَانِ شَهَادَتِهِمْ، فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Keadaan ketiga: yaitu mereka memberikan kesaksian tentang celaan mereka setelah masa kesaksian mereka, maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ الْجَرْحُ بَعْدَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِمْ فَلَا يُؤَثِّرُ فِيهِ مَا حَدَثَ بَعْدَهُ مِنْ جَرْحِهِمْ.

Salah satunya adalah apabila jarh terjadi setelah putusan telah berlaku berdasarkan kesaksian mereka, maka apa yang terjadi setelahnya berupa jarh terhadap mereka tidak berpengaruh pada putusan tersebut.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ الْجَرْحُ بَعْدَ شَهَادَتِهِمْ وَقَبْلَ نُفُوذِ الْحُكْمِ بِهَا فَيَتَوَقَّفُ عَنْ إِنْفَاذِ الْحُكْمِ بِشَهَادَةِ مَجْرُوحِينَ.

Jenis kedua adalah apabila jarh (kritik terhadap saksi) terjadi setelah mereka memberikan kesaksian namun sebelum putusan hukum dijalankan berdasarkan kesaksian tersebut, maka pelaksanaan putusan hukum berdasarkan kesaksian para saksi yang telah dijarh harus ditangguhkan.

فَأَمَّا إِنِ ادَّعَى الْمَشْهُودُ عَلَيْهِ قَضَاءَ الدَّيْنِ كَانَ تَصْدِيقًا لِلشَّهَادَةِ فَلَمْ تُسْمِعْ مِنْهُ بَيِّنَةُ الْجُرْحِ وَطُولِبَ بِالْبَيِّنَةِ عَلَى الْقَضَاءِ.

Adapun jika pihak yang disaksikan mengaku telah melunasi utang, maka itu berarti membenarkan kesaksian, sehingga tidak diterima darinya bukti yang melemahkan (kesaksian), dan ia diminta untuk menghadirkan bukti atas pelunasan tersebut.

فَإِنْ أَقَامَهَا، سَقَطَ الْحَقُّ عَنْهُ، وَإِنْ عَدِمَهَا أَحْلَفَ الشُّهُودَ لَهُ وَحَكَمَ لَهُ بِالْحَقِّ.

Jika ia dapat menghadirkannya, maka gugurlah hak tersebut darinya. Namun jika ia tidak dapat menghadirkannya, maka para saksi disumpah untuknya dan diputuskan hak itu untuknya.

(فَصْلٌ: فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ)

Bagian: Tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesaksian palsu

(مَسْأَلَةٌ)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَإِذَا عَلِمَ مِنْ رَجُلٍ بِإِقْرَارِهِ أَوْ تَيَقَّنَ أَنَّهُ شَهِدَ عِنْدَهُ بِزُورٍ عَزَّرَهُ وَلَمْ يَبْلُغْ بِالتَّعْزِيرِ أَرْبَعِينَ سَوْطًا وَشَهَرَ أَمْرَهُ فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْمَسْجِدِ وَقَفَهُ فِيهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلٍ قَبِيلٍ وَقَفَهُ فِي قَبِيلِهِ أَوْ فِي سُوقِهِ وَقَالَ إِنَّا وَجَدْنَا هَذَا شَاهِدَ زور فاعرفوه “.

Syafi‘i berkata: “Jika diketahui dari seseorang, baik melalui pengakuannya maupun dengan keyakinan bahwa ia telah memberikan kesaksian palsu di hadapannya, maka ia diberi ta‘zīr, namun hukuman ta‘zīr itu tidak sampai empat puluh cambukan, dan perkaranya diumumkan. Jika ia berasal dari kalangan ahli masjid, maka ia didirikan di dalam masjid; jika ia berasal dari suatu kabilah, maka ia didirikan di tengah kabilahnya atau di pasarnya, lalu dikatakan: ‘Sesungguhnya kami mendapati orang ini sebagai saksi palsu, maka kenalilah dia.’”

(حكم شهادة الزور)

(Hukum kesaksian palsu)

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا شَهَادَةُ الزُّورِ فَمِنَ الْكَبَائِرِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun kesaksian palsu termasuk dosa-dosa besar.

رَوَى خُرَيْمُ بْنُ فَاتِكٍ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – صَلَاةَ الصُّبْحِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَامَ قَائِمًا وَقَالَ ” عُدِلَتْ شَهَادَةُ الزُّورِ بِالْإِشْرَاكِ بِاللَّهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ” ثُمَّ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: {فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ} [الحج: 30] .

Khuraim bin Fatik meriwayatkan: Rasulullah ﷺ melaksanakan salat Subuh, lalu setelah selesai beliau berdiri dan bersabda, “Kesaksian palsu disamakan dengan perbuatan syirik kepada Allah,” sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta‘ala: “Maka jauhilah najis (berhala-berhala) itu dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30).

وَرَوَى مُحَارِبُ بْنُ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ شَاهِدَ الزُّورِ لَا تَزُولُ قدماه حتى يتبوأ مقعده من النار “.

Muharib bin Ditsar meriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Sungguh, kaki saksi palsu tidak akan bergeser hingga ia menempati tempat duduknya di neraka.”

(ما يتعلق بشهادة الزور من الأحكام) .

(Hukum-hukum yang berkaitan dengan kesaksian palsu).

وَالَّذِي يَتَعَلَّقُ بِشَهَادَةِ الزُّورِ أَرْبَعَةُ أَحْكَامٍ:

Adapun yang berkaitan dengan kesaksian palsu terdapat empat hukum:

أَحَدُهَا: مَا يَعْلَمُ بِهِ أَنَّهُ شَهِدَ بِزُورٍ.

Salah satunya adalah apa yang dengannya seseorang mengetahui bahwa ia telah memberikan kesaksian palsu.

وَهَذَا يُعْلَمُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Hal ini diketahui dari tiga aspek:

أَحَدُهَا: مِنْ إِقْرَارِهِ أَنَّهُ شَهِدَ بِزُورٍ.

Salah satunya: dari pengakuannya bahwa ia telah memberikan kesaksian palsu.

وَالثَّانِي: مِنِ اسْتِحَالَتِهِ أَنْ يَشْهَدَ عَلَى رَجُلٍ بِقَتْلٍ، أَوْ زِنًا، فِي زَمَانٍ مُعَيَّنٍ، فِي بَلَدٍ بِعَيْنِهِ، وَقَدْ عَلِمَ يَقِينًا أَنَّ الْمَشْهُودَ عَلَيْهِ كَانَ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ فِي غَيْرِ ذَلِكَ الْبَلَدِ.

Yang kedua: dari mustahilnya adalah seseorang bersaksi bahwa seorang laki-laki melakukan pembunuhan atau zina pada waktu tertentu di suatu kota tertentu, padahal diketahui dengan yakin bahwa orang yang disaksikan itu pada waktu tersebut berada di kota lain.

وَالثَّالِثُ: بِأَنْ تَقُومَ عَلَيْهِ الْبَيِّنَةُ أَنَّهُ شَهِدَ بِزُورٍ.

Ketiga: dengan adanya bukti yang menunjukkan bahwa ia telah memberikan kesaksian palsu.

فَأَمَّا إِنْ شَهِدَ بِمَا أَخْطَأَ فِيهِ أَوِ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ لَمْ تَكُنْ شَهَادَةُ زُورٍ وَلَكِنْ يُوَبَّخُ عَلَيْهَا، لِتَسَرُّعِهِ إِلَى الشَّهَادَةِ قَبْلَ تَحَقُّقِهَا.

Adapun jika seseorang memberikan kesaksian tentang sesuatu yang ia keliru di dalamnya atau yang masih samar baginya, maka itu bukanlah kesaksian palsu, namun ia tetap ditegur karenanya, karena ia tergesa-gesa memberikan kesaksian sebelum memastikan kebenarannya.

فَإِنْ كَثُرَ ذَلِكَ مِنْهُ رُدَّتْ شَهَادَتُهُ، وَإِنْ كَانَ عَلَى عَدَالَتِهِ لِعَدَمِ الثِّقَةِ بِهَا.

Jika hal itu sering dilakukan olehnya, maka kesaksiannya ditolak, meskipun ia dikenal sebagai orang yang adil, karena tidak dapat dipercaya lagi.

فَأَمَّا تَعَارُضُ الْبَيِّنَتَيْنِ فَلَا يَقْضِي فِيهِ بِالتَّكْذِيبِ وَالرَّدِّ، لِأَنَّهُ لَيْسَ تَكْذِيبُ إِحْدَاهُمَا بِأَوْلَى مِنْ تَكْذِيبِ الْأُخْرَى، فَلَمْ يَقْدَحْ ذَلِكَ فِي عَدَالَةِ إِحْدَاهُمَا.

Adapun mengenai pertentangan antara dua bukti (bayyinah), maka tidak diputuskan dengan cara mendustakan dan menolak salah satunya, karena tidak ada alasan yang lebih kuat untuk mendustakan salah satu dibandingkan yang lain, sehingga hal itu tidak merusak keadilan salah satu dari keduanya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْحُكْمُ الثَّانِي: تَأْدِيبُ شَاهِدِ الزُّورِ.

Hukum yang kedua: memberikan hukuman disiplin kepada saksi palsu.

وَتَأْدِيبُهُ التَّعْزِيرُ، لِأَنَّهُ مِمَّا لَمْ يَرِدْ فِيهِ حَدٌّ.

Dan hukumannya adalah ta‘zīr, karena perbuatan tersebut termasuk perkara yang tidak ada ketentuan hadd atasnya.

وَلَا يَبْلُغُ بِتَعْزِيرِهِ أَرْبَعِينَ وَغَايَتُهُ تِسْعَةٌ وَثَلَاثُونَ سَوْطًا لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أنه قال – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” لَا يُبْلَغُ بِالْحَدِّ فِي غَيْرِ حَدٍّ “، وَرُوِيَ عنه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ بَلَغَ مَا لَيْسَ بِحَدٍّ حَدًّا فَهُوَ مِنَ الْمُعْتَدِينَ “.

Dan hukuman ta‘zīr tidak boleh mencapai empat puluh cambukan, dan batas maksimalnya adalah tiga puluh sembilan cambukan, berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak boleh hukuman (cambuk) pada perkara yang bukan hudūd mencapai batas hudūd.” Dan diriwayatkan pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa menjatuhkan hukuman hudūd pada perkara yang bukan hudūd, maka ia termasuk orang-orang yang melampaui batas.”

وَلَا وَجْهَ لِمَا قَالَ مَالِكٌ، مِنْ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَزِيدَ فِي التَّعْزِيرِ عَلَى أَكْثَرِ الْحُدُودِ.

Tidak ada alasan bagi pendapat Malik yang mengatakan bahwa boleh menambah hukuman ta‘zīr melebihi sebagian besar hukuman hudūd.

وَلَا وَجْهَ لِمَا قَالَهُ ابْنُ أَبِي لَيْلَى أَنَّهُ لَا يَبْلُغُ بِهِ الْمِائَةَ، وَيَجُوزُ بِمَا دُونَهَا.

Tidak ada alasan bagi pendapat Ibnu Abi Laila yang mengatakan bahwa tidak boleh mencapai seratus, dan boleh dengan kurang dari itu.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: لَا يَبْلُغُ بِهِ ثَمَانِينَ، وَيَجُوزُ فِيمَا دُونَهَا.

Abu Yusuf berkata: Tidak boleh mencapai delapan puluh, dan diperbolehkan pada jumlah di bawahnya.

وَالصَّحِيحُ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ لَا يَبْلُغُ بِهِ الْأَرْبَعِينَ وَيَجُوزُ بِمَا دُونَهَا. لِأَنَّ الْأَرْبَعِينَ حَدُّ الْخَمْرِ فِي الْحُرِّ فَكَانَ غَايَةُ تَعْزِيرِ الْحُرِّ تِسْعَةً وَثَلَاثِينَ.

Pendapat yang benar adalah seperti yang telah kami sebutkan, bahwa tidak boleh mencapai empat puluh cambukan dan boleh dengan jumlah di bawahnya. Karena empat puluh adalah batas hukuman khamr bagi orang merdeka, maka batas maksimal ta‘zir bagi orang merdeka adalah tiga puluh sembilan.

ثُمَّ هَذِهِ الْغَايَةُ لَا يَجِبُ اسْتِعْمَالُهَا فِي كُلِّ مُعَزَّرٍ، لِأَنَّ التَّعْزِيرَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ حَالِ الْمُعَزَّرِ وَيَكُونُ مَوْقُوفًا عَلَى الِاجْتِهَادِ فَمَنْ أَدَّى الِاجْتِهَادُ إِلَى تَعْزِيرِهِ بِالضَّرْبِ اجْتُهِدَ فِي عَدَدِهِ، فَإِنْ أَدَّى الاجتهاد إلى تعزيرها بِعَشَرَةِ أَسْوَاطٍ لَمْ يَزِدْهُ عَلَيْهَا، وَإِنْ أَدَّى الِاجْتِهَادُ إِلَى تَعْزِيرِهِ بِالْحَبْسِ لَمْ يَعْدِلْ بِهِ إِلَى الضَّرْبِ، وَإِنْ أَدَّى الِاجْتِهَادُ إِلَى تَعْزِيرِهِ بِالْقَوْلِ وَالزَّجْرِ، لَمْ يَعْدِلْ بِهِ إِلَى ضَرْبٍ وَلَا حَبْسٍ وَقَدِ اسْتَوْفَيْنَا حُكْمَ التَّعْزِيرِ فِي بابه.

Kemudian, batasan ini tidak wajib diterapkan pada setiap orang yang dikenai ta‘zīr, karena ta‘zīr berbeda-beda tergantung keadaan orang yang dikenai ta‘zīr dan hal itu diserahkan kepada ijtihad. Maka, siapa yang ijtihadnya mengarah pada pemberian ta‘zīr dengan pukulan, maka ijtihad juga dilakukan dalam menentukan jumlahnya. Jika ijtihad mengarah pada ta‘zīr dengan sepuluh cambukan, maka tidak boleh menambah dari jumlah itu. Jika ijtihad mengarah pada ta‘zīr dengan penjara, maka tidak boleh dialihkan kepada hukuman pukulan. Jika ijtihad mengarah pada ta‘zīr dengan ucapan dan teguran, maka tidak boleh dialihkan kepada hukuman pukulan atau penjara. Hukum ta‘zīr telah kami jelaskan secara lengkap pada babnya.

(فصل: في التشهير بشاهد الزور)

(Bab: Tentang mempermalukan saksi palsu)

وَالْحُكْمُ الثَّالِثُ: إِشْهَارُ أَمْرِهِ.

Hukum yang ketiga: mengumumkan perkaranya.

لِرِوَايَةِ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَالَ: ” اذْكُرُوا الْفَاسِقَ بِمَا فِيهِ يَحْذَرُهُ النَّاسُ “.

Dari riwayat Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya: bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sebutlah orang fasik sesuai dengan apa yang ada padanya agar manusia waspada terhadapnya.”

وَلِأَنَّ فِي الشُّهْرَةِ زَجْرًا لَهُ وَلِغَيْرِهِ عَنْ مِثْلِهِ.

Karena dalam pemberitaan (syuhrah) terdapat efek jera bagi pelaku dan orang lain agar tidak melakukan hal serupa.

وَإِشْهَارُ أَمْرِهِ، أَنْ يُنَادَى عَلَيْهِ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ مَسْجِدٍ عَلَى بَابِ مَسْجِدِهِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ سُوقٍ فِي سُوقِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَبِيلَةٍ فِي قَبِيلَتِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَبِيلٍ فِي قَبِيلِهِ.

Dan mengumumkan perkaranya, yaitu dengan menyerukan tentangnya; jika ia berasal dari kalangan ahli masjid, maka diumumkan di pintu masjidnya; jika ia berasal dari pasar, maka diumumkan di pasarnya; jika ia berasal dari suatu kabilah, maka diumumkan di kabilahnya; dan jika ia berasal dari suatu kaum, maka diumumkan di kaumnya.

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْقَبِيلَةِ وَالْقَبِيلِ: أَنَّ الْقَبِيلَةَ بَنُو الْأَبِ الْوَاحِدِ وَالْقَبِيلَ: الْأَخْلَاطُ الْمُجْتَمِعُونَ مِنْ آبَاءٍ شَتَّى.

Perbedaan antara al-qabīlah dan al-qabīl adalah: al-qabīlah adalah anak-anak dari satu ayah, sedangkan al-qabīl adalah kelompok campuran yang berkumpul dari berbagai ayah.

فَيَقُولُ فِي النِّدَاءِ عَلَيْهِ فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ: إِنَّا وَجَدْنَا هَذَا شَاهِدَ زُورٍ فَاعْرِفُوهُ.

Maka dikatakan dalam pengumuman tentangnya di tempat-tempat ini: “Sesungguhnya kami mendapati orang ini sebagai saksi palsu, maka kenalilah dia.”

وَلَا يُزَادُ فِي هَذِهِ الشُّهْرَةِ تَسْوِيدُ وَجْهِهِ وَلَا حَلْقُ شَعْرِهِ ولا ندائه بِذَلِكَ عَلَى نَفْسِهِ.

Dan tidak boleh ditambahkan dalam bentuk penistaan ini dengan menghitamkan wajahnya, atau mencukur rambutnya, atau menyerukannya atas dirinya sendiri.

وَقَالَ شُرَيْحٌ: يَجُوزُ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ فِي شُهْرَتِهِ وَهَذِهِ مُثْلَةٌ نَكْرَهُهَا لنهي النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَنْهَا.

Syuraih berkata: Boleh melakukan hal itu pada masa terkenalnya, namun ini adalah tindakan mutilasi yang kami benci karena Nabi ﷺ melarangnya.

فَإِنْ كَانَ هَذَا الشَّاهِدُ بِالزُّورِ مِنْ ذَوِي الصِّيَانَةِ فَقَدْ حُكِيَ عَنِ ابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يُصَانُ عَنْ هَذَا النِّدَاءِ وَيُقْتَصَرُ منه على إشاعة أمره ليقول النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ “.

Jika saksi palsu tersebut termasuk orang yang terjaga kehormatannya, maka telah dinukil dari Ibnu Abi Hurairah bahwa ia dijaga dari seruan ini dan cukup dengan menyebarkan perkaranya, karena Nabi ﷺ bersabda: “Maafkanlah orang-orang yang terhormat atas kesalahan-kesalahan mereka.”

وَقَالَ غَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِنَا بِالتَّسْوِيَةِ فِي النِّدَاءِ بَيْنَ ذَوِي الصِّيَانَةِ وَغَيْرِهِمْ لِأَنَّ الصِّيَانَةَ قَدْ خرج منها بزوره.

Dan sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa dalam panggilan (azan) tidak ada perbedaan antara orang yang menjaga kehormatan diri dan selain mereka, karena sifat menjaga kehormatan itu telah hilang darinya dengan kebohongannya.

(فصل: في الأثر المترتب على توبة شاهد الزور)

(Bab: Tentang akibat yang timbul dari tobatnya saksi palsu)

وَالْحُكْمُ الرَّابِعُ: أَنْ يُقْضَى بِفِسْقِهِ فَلَا تُسْمَعُ لَهُ شَهَادَةٌ مِنْ بَعْدِ مَا لَمْ يَتُبْ مِنْهَا.

Hukum keempat: diputuskan bahwa ia fasik, sehingga kesaksiannya tidak diterima lagi setelah itu, kecuali jika ia telah bertobat darinya.

فَإِنْ تَابَ أَمْسَكَ عَنْ قَبُولِ شَهَادَتِهِ بَعْدَ التَّوْبَةِ حَتَّى يَسْتَمِرَّ عَلَيْهَا وَيَتَحَقَّقَ صِدْقُ مُعْتَقَدِهِ فِيهَا فَحِينَئِذٍ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ.

Jika ia bertobat, maka penolakan terhadap kesaksiannya tetap dilakukan setelah tobat hingga ia terus-menerus dalam tobat tersebut dan kebenaran keyakinannya dalam tobat itu benar-benar terbukti. Pada saat itulah kesaksiannya diterima.

وَفِي النِّدَاءِ بَعْدَ تَوْبَتِهِ بِقَبُولِ شَهَادَتِهِ وَجْهَانِ:

Dalam hal memanggil (azan) setelah ia bertaubat, mengenai diterimanya kesaksiannya, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: يُنَادَى بِهَا كَمَا نُودِيَ بِفِسْقِهِ.

Salah satunya adalah: ia dipanggil dengan sebutan itu sebagaimana ia dipanggil dengan kefasikannya.

وَالثَّانِي: لَا يُنَادَى عَلَيْهِ بِالتَّوْبَةِ وَإِنْ نُودِيَ عَلَيْهِ بِالْفِسْقِ لِأَنَّ ظُهُورَ التَّوْبَةِ بِأَفْعَالِهِ أَقْوَى، وَلِأَنَّ فِي النِّدَاءِ بِذْلَةً.

Yang kedua: Tidak diumumkan kepadanya untuk bertobat, meskipun diumumkan bahwa ia fasik, karena tampaknya tanda-tanda tobat melalui perbuatannya lebih kuat, dan karena dalam pengumuman itu terdapat kehinaan.

وَيَنْبَغِي لِلْقَاضِي إِذَا لَمْ يَثِقْ بِسَلَامَةِ الشُّهُودِ فِي هَذِهِ الْحَالِ أَنْ يُقَدِّمَ وَعْظَهُمْ وَتَخْوِيفَهُمْ وَتَحْذِيرَهُمْ فَقَدْ كَانَ شُرَيْحٌ إِذَا حَضَرَهُ شَاهِدَانِ لِلشَّهَادَةِ، قَالَ لَهُمَا: ” حَضَرْتُمَا وَلَمْ أَسْتَدْعِكُمَا، وَإِنِ انْصَرَفْتُمَا لَمْ أَمْنَعْكُمَا، وَإِنْ قُلْتُمَا سَمِعَتُ مِنْكُمَا، فَاتَّقِيَا اللَّهَ فَإِنِّي مُتَّقٍ بِكُمَا “.

Dan sepatutnya bagi seorang qadhi, apabila ia tidak yakin akan kejujuran para saksi dalam keadaan seperti ini, untuk mendahulukan menasihati, menakut-nakuti, dan memperingatkan mereka. Dahulu Syuraih, apabila didatangi oleh dua orang saksi untuk memberikan kesaksian, ia berkata kepada keduanya: “Kalian datang tanpa aku memanggil kalian, dan jika kalian pergi aku tidak akan melarang kalian, dan jika kalian berbicara aku akan mendengarkan dari kalian. Maka bertakwalah kepada Allah, karena aku akan bertindak berdasarkan kesaksian kalian.”

(حُكْمُ القاضي بعلمه)

(Putusan hakim berdasarkan pengetahuannya sendiri)

(مسألة)

(Masalah)

: قال المزني رَحِمَهُ اللَّهُ ” اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِي الْخَصْمِ يُقِرُّ عِنْدَ الْقَاضِي فَقَالَ فِيهَا قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا أَنَّهُ كَشَاهِدٍ وَبِهِ قَالَ شُرَيْحٌ وَالْآخَرُ أَنَّهُ يَحْكُمُ بِهِ (قَالَ الْمُزَنِيُّ) وَقَطَعَ بِأَنَّ سَمَاعَهُ الْإِقْرَارَ مِنْهُ أَثْبَتُ مِنَ الشَّهَادَةِ وَهَكَذَا قَالَ فِي كِتَابِ الرِّسَالَةِ أَقْضِي عَلَيْهِ بِعِلْمِي وَهُوَ أَقْوَى مِنْ شَاهِدَيْنِ أَوْ بِشَاهِدَيْنِ وَبِشَاهِدٍ وَامْرَأَتَيْنِ وَهُوَ أَقْوَى مِنْ شَاهِدٍ وَيَمِينٍ وَبِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ وَهُوَ أَقْوَى مِنَ النُّكُوَلِ وَرَدَّ الْيَمِينَ “.

Al-Muzani rahimahullah berkata: “Pendapat Imam Syafi’i berbeda mengenai pihak yang bersengketa yang mengakui di hadapan hakim. Dalam hal ini, terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa ia seperti seorang saksi, dan pendapat ini juga dikatakan oleh Syuraih; dan yang lain bahwa hakim memutuskan berdasarkan pengakuan tersebut. (Al-Muzani berkata) dan beliau menegaskan bahwa mendengar pengakuan langsung dari pihak yang bersangkutan lebih kuat daripada kesaksian. Demikian pula yang beliau katakan dalam Kitab ar-Risalah: ‘Aku memutuskan perkara atas dasar pengetahuanku, dan itu lebih kuat daripada dua orang saksi, atau dengan dua orang saksi dan satu laki-laki serta dua perempuan, dan itu lebih kuat daripada satu saksi dan sumpah, atau dengan satu saksi dan sumpah, dan itu lebih kuat daripada penolakan sumpah dan pengembalian sumpah.’”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: لَا اخْتِلَافَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ أَنَّ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ.

Al-Mawardi berkata: Tidak ada perbedaan pendapat di antara para fuqaha bahwa seorang qadhi boleh memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri dalam hal jarh dan ta‘dil.

وَاخْتَلَفُوا فِي حُكْمِهِ بِعِلْمِهِ فِي الْحُقُوقِ وَالْحُدُودِ عَلَى مَذَاهِبَ شَتَّى.

Mereka berbeda pendapat tentang hukum seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan ilmunya sendiri dalam masalah hak-hak dan hudud menurut berbagai mazhab.

فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَحْكُمُ بِمَا عَلِمَهُ فِي زَمَانِ وِلَايَتِهِ وَفِي مَوَاضِعِ عَمَلِهِ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ، وَلَا يَحْكُمُ بِعِلْمِهِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَا بِمَا عَلِمَهُ قَبْلَ وِلَايَتِهِ، وَلَا بِمَا عَلِمَهُ فِي غَيْرِ مَوَاضِعِ عَمَلِهِ.

Abu Hanifah berkata: Seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan apa yang ia ketahui pada masa jabatannya dan di tempat ia bertugas dalam perkara hak-hak manusia, namun ia tidak memutuskan perkara dengan pengetahuannya dalam perkara hak-hak Allah Ta‘ala, tidak pula dengan apa yang ia ketahui sebelum masa jabatannya, dan tidak pula dengan apa yang ia ketahui di luar tempat tugasnya.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي لَيْلَى: يَحْكُمُ بِمَا عَلِمَهُ فِي مَجْلِسِ قَضَائِهِ وَلَا يَحْكُمُ بِمَا عَلِمَهُ فِي غَيْرِهِ.

Ibnu Abi Laila berkata: Seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan apa yang ia ketahui di majelis pengadilan, dan tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang ia ketahui di luar majelis tersebut.

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: يَحْكُمُ بِعِلْمِهِ إِلَّا فِي الْحُدُودِ.

Abu Yusuf berkata: Hakim boleh memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, kecuali dalam perkara hudud.

وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يَحْكُمُ بِعِلْمِهِ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ وَبِهِ قَالَ مِنَ التَّابِعَيْنِ شُرَيْحٌ، وَالشَّعْبِيُّ وَمِنَ الْفُقَهَاءِ الْأَوْزَاعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ.

Malik berkata: Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri dalam keadaan apa pun. Pendapat ini juga dipegang oleh para tabi’in seperti Syuraih dan asy-Sya‘bi, serta dari kalangan fuqaha seperti al-Auza‘i, Ahmad, dan Ishaq.

فَأَمَّا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ فَقَدْ نَصَّ فِي كِتَابِ الْأُمِّ عَلَى قَوْلَيْنِ فَقَالَ فِي أَدَبِ الْقَاضِي مِنَ الْأُمِّ: لَا يَجُوزُ فِيهِ إِلَّا وَاحِدٌ مِنْ قَوْلَيْنِ:

Adapun mazhab Syafi‘i, beliau telah menegaskan dalam kitab al-Umm dua pendapat. Beliau berkata dalam bab Adab al-Qadhi dari al-Umm: Tidak boleh dalam hal ini kecuali salah satu dari dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ لَهُ أَنْ يَقْضِيَ بِكُلِّ مَا عَلِمَ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ وَغَيْرِهِ مِنْ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Salah satunya: bahwa ia boleh memutuskan dengan segala sesuatu yang ia ketahui, baik sebelum maupun sesudah menjabat (sebagai hakim), di majelis pengadilan maupun di luar majelis, dalam perkara-perkara hak-hak manusia.

وَالثَّانِي: لَا يَقْضِي بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ وَلَا غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ عَلَى مِثْلِ مَا عَلِمَ فَيَكُونُ عِلْمُهُ وَجَهْلُهُ سَوَاءً.

Kedua: Hakim tidak boleh memutuskan perkara dengan sesuatu yang ia ketahui sendiri, baik di majelis pengadilan maupun di luar majelis, kecuali jika ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atas hal yang sama dengan apa yang ia ketahui, sehingga pengetahuan dan ketidaktahuannya menjadi sama saja.

وَأَظْهَرُ قَوْلَيْهِ عَلَى مَذْهَبِهِ جَوَازُ حُكْمِهِ بِعِلْمِهِ وَهُوَ اخْتِيَارُ الْمُزَنِيِّ وَالرَّبِيعِ وَإِنَّمَا لَمْ يَقْطَعْ بِهِ حَذَارًا مِنْ مَيْلِ الْقُضَاةِ.

Pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat menurut mazhabnya adalah bolehnya seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, dan ini adalah pilihan al-Muzani dan ar-Rabi‘. Hanya saja tidak dipastikan (sebagai pendapat yang pasti) karena dikhawatirkan para hakim akan condong (kepada hawa nafsu).

فَأَمَّا حُكْمُهُ بِعِلْمِهِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى فَقَدْ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي أَدَبِ الْقَاضِي يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ كَحُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُفَرَّقَ بَيْنَهُمَا.

Adapun keputusan hakim berdasarkan ilmunya sendiri dalam perkara hak-hak Allah Ta‘ala, maka asy-Syafi‘i berkata dalam Adab al-Qādī: Ada kemungkinan hukumnya disamakan dengan hak-hak manusia, dan ada kemungkinan pula dibedakan antara keduanya.

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُهُ فِي مَذْهَبِهِ فِيهَا فَكَانَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ وَأَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ يَجْمَعَانِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ فِي تَخْرِيجِهَا عَلَى قَوْلَيْنِ.

Para muridnya berbeda pendapat mengenai mazhab beliau dalam masalah ini. Abu al-‘Abbas Ibn Surayj dan Abu ‘Ali Ibn Abi Hurairah menggabungkan antara masalah ini dan hak-hak manusia dalam menurunkannya pada dua pendapat.

وَذَهَبَ الْأَكْثَرُونَ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ فِيهَا بِعِلْمِهِ قَوْلًا وَاحِدًا وَإِنَّمَا الْقَوْلَانِ فِي حُقُوقِ الْآدَمِيِّينَ.

Mayoritas dari para sahabatnya berpendapat bahwa tidak boleh seorang hakim memutuskan perkara tersebut berdasarkan pengetahuannya sendiri secara mutlak, dan perbedaan pendapat hanya terjadi dalam perkara hak-hak manusia.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ مَنَعَ الْقَاضِيَ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ بِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فاجلدوهم ثمانين جلدة} ، فَلَوْ جَازَ لَهُ الْحُكْمُ بِعِلْمِهِ لَقَرَنَهُ بِالشَّهَادَةِ.

Orang yang melarang qadhi memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya, kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali cambukan.” Maka, seandainya qadhi boleh memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, tentu Allah akan menyebutkannya bersamaan dengan persaksian.

ولقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – لِلْحَضْرَمِيِّ فِي دَعْوَاهُ الْأَرْضَ عَلَى الْكِنْدِيِّ: ” شَاهِدَاكَ أَوْ يَمِينُهُ لَيْسَ لَكَ إِلَّا ذَلِكَ ” فَدَلَّ عَلَى انْتِفَاءِ الْحُكْمِ بِالْعِلْمِ.

Dan karena sabda Nabi ﷺ kepada al-Hadhrami dalam perkaranya atas al-Kindi mengenai tanah: “Dua orang saksi atau sumpahnya, tidak ada bagimu kecuali itu.” Maka hal ini menunjukkan tidak adanya penetapan hukum berdasarkan pengetahuan (hakim semata).

وَلِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ عَلِمَ مِنْ كُفْرِ الْمُنَافِقِينَ مَا لَمْ يَحْكُمْ فِيهِ بِعِلْمِهِ.

Dan karena Rasulullah ﷺ telah mengetahui kekafiran orang-orang munafik, namun beliau tidak memutuskan perkara terhadap mereka berdasarkan pengetahuannya itu.

وَبِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّهُ تَقَاضَى إِلَيْهِ نَفْسَانِ فَقَالَ أحدهما: أنت شاهدي، فقال: ” إن شِئْتُمَا شَهِدْتُ وَلَمْ أَحْكُمْ أَوْ أَحْكُمُ وَلَا أَشْهَدُ “.

Dan berdasarkan riwayat dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa dua orang bersengketa di hadapannya, lalu salah satu dari mereka berkata: “Engkau adalah saksiku.” Maka Umar berkata: “Jika kalian berdua menghendaki, aku bisa menjadi saksi namun tidak memutuskan perkara, atau aku memutuskan perkara namun tidak menjadi saksi.”

وَتَرَافَعَ إِلَى شُرَيْحٍ خَصْمَانِ فَقَالَ لِلْمُدَّعِي: أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟ قَالَ نَعَمْ أَنْتَ شَاهِدِي. قَالَ شُرَيْحٌ أَنْتَ الْأَمِيرُ حَتَّى أَحْضُرَ فَأَشْهَدَ لَكَ ” وَلَمْ يُعَاصِرْهُمَا مُخَالِفٌ.

Dua orang yang berselisih mengajukan perkara kepada Syuraih. Ia berkata kepada penggugat: “Apakah engkau memiliki bukti?” Penggugat menjawab: “Ya, engkau adalah saksiku.” Syuraih berkata: “Engkau adalah amir sampai aku hadir dan bersaksi untukmu.” Dan tidak ada seorang pun dari kalangan yang sezaman dengan mereka berdua yang menyelisihi.

وَلِأَنَّ الشَّاهِدَ مَنْدُوبٌ لِلْإِثْبَاتِ وَالْقَاضِيَ مَنْدُوبٌ لِلْحُكْمِ فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ الشَّاهِدُ قَاضِيًا بِشَهَادَتِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي شَاهِدًا لِحُكْمِهِ.

Karena saksi ditugaskan untuk menetapkan (kebenaran), dan qadhi ditugaskan untuk memutuskan hukum, maka sebagaimana tidak boleh seorang saksi menjadi qadhi dengan kesaksiannya sendiri, demikian pula tidak boleh seorang qadhi menjadi saksi atas putusannya sendiri.

وَلِأَنَّ الشَّهَادَةَ لَا تَجُوزُ بِأَقَلِّ مِنِ اثْنَيْنِ فَلَوْ جَازَ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ لَصَارَ إِثْبَاتُ الْحَقِّ بِشَهَادَةِ وَاحِدٍ.

Dan karena kesaksian tidak sah dengan kurang dari dua orang, maka jika diperbolehkan bagi qadhi untuk memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, berarti penetapan hak dapat dilakukan hanya dengan satu kesaksian.

وَلَوْ صَارَ الْقَاضِي كَالشَّاهِدَيْنِ لَصَحَّ عَقْدُ النِّكَاحِ بِحُضُورِهِ وَحْدَهُ لِقِيَامِهِ مَقَامَ شَاهِدَيْنِ وَفِي امْتِنَاعِ هَذَا دَلِيلٌ عَلَى مَنْعِهِ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ.

Seandainya hakim itu seperti dua orang saksi, niscaya akad nikah sah hanya dengan kehadirannya saja karena ia menempati posisi dua orang saksi. Namun, tidak dibolehkannya hal ini merupakan dalil bahwa hakim dilarang memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ أَجَازَ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ} [الإسراء: 36] فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ يجوز أن يقفوا مَا لَهُ بِهِ عِلْمٌ.

Orang yang membolehkan bagi qadhi untuk memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36), maka ayat ini menunjukkan bahwa boleh bagi mereka mengikuti apa yang mereka memiliki pengetahuan tentangnya.

وَبِمَا رَوَاهُ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ: ” بَايَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ بِالْحَقِّ حَيْثُ كُنَّا وَأَنْ لَا نَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ “.

Dan berdasarkan riwayat dari ‘Ubādah bin aṣ-Ṣāmit bahwa ia berkata: “Kami membaiat Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat, serta agar kami tidak memperebutkan urusan (kepemimpinan) dari ahlinya, dan agar kami menegakkan kebenaran di mana pun kami berada, serta agar kami tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam (menegakkan) agama Allah.”

وَرَوَى أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” لَا يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ فِي حَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ سَمِعَهُ “.

Abu Sa‘id al-Khudri meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengatakan kebenaran ketika ia melihatnya atau mendengarnya.”

وَلِأَنَّ الْحُكْمَ بِالْأَقْوَى أَوْلَى مِنَ الْحُكْمِ بِالْأَضْعَفِ عَلَى مَا وَصَفَهُ الشَّافِعِيُّ وَالْحُكْمُ فِي الشَّهَادَةِ بِغَالِبِ الظَّنِّ وَبِالْعِلْمِ مِنْ طَرِيقِ الْيَقِينِ وَالْقَطْعِ فَلَمَّا جَازَ الْحُكْمُ بِالشَّهَادَةِ كَانَ بِالْعِلْمِ أَوْلَى وَأَجْوَزَ، أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ كَانَ الْحُكْمُ بِخَبَرِ التَّوَاتُرِ أَوْلَى، وَلَمَّا جَازَ الْحُكْمُ بِقَوْلِ الرَّاوِي عَنِ الرَّسُولِ كَانَ الْحُكْمُ بِقَوْلِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَوْلَى.

Dan karena menetapkan hukum dengan yang lebih kuat lebih utama daripada menetapkan hukum dengan yang lebih lemah, sebagaimana dijelaskan oleh asy-Syafi‘i, dan penetapan hukum dalam kesaksian didasarkan pada dugaan kuat (ghālib azh-zhann) serta pada ilmu yang diperoleh melalui keyakinan dan kepastian. Maka ketika penetapan hukum dengan kesaksian diperbolehkan, maka dengan ilmu (yang pasti) tentu lebih utama dan lebih layak. Tidakkah engkau melihat bahwa ketika penetapan hukum dengan khabar al-wāḥid diperbolehkan, maka penetapan hukum dengan khabar at-tawātur tentu lebih utama. Dan ketika penetapan hukum dengan perkataan perawi dari Rasulullah diperbolehkan, maka penetapan hukum dengan perkataan Rasulullah ﷺ sendiri tentu lebih utama.

وَلِأَنَّهُ لما جَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ بِعِلْمِهِ، جَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِي غَيْرِهِمَا بِعِلْمِهِ، لِثُبُوتِهِ بِأَقْوَى أَسْبَابِهِ.

Dan karena ketika diperbolehkan seorang hakim memutuskan dalam perkara jarh dan ta‘dil berdasarkan ilmunya sendiri, maka diperbolehkan pula baginya memutuskan dalam perkara selain keduanya berdasarkan ilmunya sendiri, karena penetapannya didasarkan pada sebab-sebab yang paling kuat.

وَلِأَنَّ مَنْعَ الْقَاضِي مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ مُفْضٍ إِلَى وُقُوفِ الْأَحْكَامِ أَوْ فِسْقِ الْحُكَّامِ فِي رَجُلٍ سَمِعَهُ الْقَاضِي يُطَلِّقُ زَوْجَتَهُ ثَلَاثًا أَوْ يُعْتِقُ عَبْدَهُ، ثُمَّ أَنْكَرَ الْعِتْقَ أَوِ الطَّلَاقَ فَإِنِ اسْتَحْلَفَهُ وَمَكَّنَهُ فَسَقَ وَإِنْ لَمْ يَسْتَحْلِفْهُ وَقَفَ الْحُكْمَ وَإِذَا حَكَمَ بِعِلْمِهِ سَلِمَ مِنَ الْأَمْرَيْنِ.

Karena melarang qadhi untuk memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri akan menyebabkan terhentinya pelaksanaan hukum atau terjerumusnya para hakim ke dalam kefasikan. Misalnya, dalam kasus seorang laki-laki yang didengar oleh qadhi mengucapkan talak tiga kepada istrinya atau memerdekakan budaknya, kemudian ia mengingkari perbuatan memerdekakan atau talak tersebut. Jika qadhi meminta sumpah kepadanya dan memberinya kesempatan, maka qadhi telah berbuat fasik. Namun jika qadhi tidak meminta sumpah dan menunda keputusan, maka pelaksanaan hukum akan terhenti. Adapun jika qadhi memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri, maka ia selamat dari kedua hal tersebut.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ مَنَعَ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى بِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” هَلَّا سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ يَا هَزَّالُ؟ “.

Orang yang melarang menetapkan hukum berdasarkan pengetahuan pribadi dalam hak-hak Allah Ta‘ala berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: “Mengapa engkau tidak menutupinya dengan pakaianmu, wahai Hazzal?”

وَبِمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَنَّهُ قَالَ: ” لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا عَلَى حَدٍّ لَمْ أَحُدَّهُ بِهِ حَتَّى تَقُومَ الْبَيِّنَةُ بِهِ عِنْدِي “.

Dan berdasarkan riwayat dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Seandainya aku melihat seseorang melakukan pelanggaran yang terkena hudud, aku tidak akan menjatuhkan hudud kepadanya sampai ada bukti yang tegak di hadapanku.”

وَلِأَنَّ حُقُوقَ اللَّهِ تَعَالَى مَوْضُوعَةٌ عَلَى التَّخْفِيفِ وَالْمُسَامَحَةِ لِإِسْقَاطِهَا بِالشُّبْهَةِ.

Karena hak-hak Allah Ta‘ala didasarkan pada keringanan dan kemurahan, sehingga dapat gugur dengan adanya syubhat.

وَاسْتَدَلَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ مَا عَلِمَهُ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا، بِأَنَّ حُكْمَهُ بِعِلْمِهِ كَحُكْمِهِ بِالشَّهَادَةِ فَلَمَّا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِمَا سَمِعَهُ مِنَ الشَّهَادَةِ قَبْلَ الْمُحَاكَمَةِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ، وَلِأَنَّ عِلْمَهُ قَبْلَ الْوِلَايَةِ عِلْمُ شَهَادَةٍ وَبَعْدَهَا عِلْمُ حُكْمٍ فَجَازَ أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِ الْحُكْمِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِ الشَّهَادَةِ.

Orang yang membedakan antara pengetahuan yang diperoleh sebelum menjabat (sebagai hakim) dan setelahnya, berdalil bahwa keputusan hakim berdasarkan pengetahuannya itu seperti keputusannya berdasarkan kesaksian. Maka, sebagaimana tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan kesaksian yang didengarnya sebelum persidangan, demikian pula tidak boleh memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sebelum menjabat. Karena pengetahuannya sebelum menjabat adalah pengetahuan sebagai saksi, sedangkan setelahnya adalah pengetahuan sebagai hakim. Maka, boleh baginya memutuskan perkara dengan pengetahuan sebagai hakim, dan tidak boleh memutuskan perkara dengan pengetahuan sebagai saksi.

وَالدَّلِيلُ عَلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَ مَا قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا: أَنَّهُ لَمَّا جَازَ أَنْ يَحْكُمَ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ بِعِلْمِهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ فِي الْحُدُودِ بِعِلْمِهِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا، وَجَبَ أَنْ يَكُونَ مَا عَدَاهُمَا مُعْتَبَرًا بِهِمَا، إِنْ جَازَ الْحُكْمُ فِيهِ بِالْعِلْمِ اسْتَوَى مَا عَلِمَهُ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا كَالْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ فِيهِ بِالْعِلْمِ اسْتَوَى مَا عَلِمَهُ قَبْلَ الْوِلَايَةِ وَبَعْدَهَا كَالْحُدُودِ فَبَطَلَ بِهَذَا الْفَرْقُ بَيْنَ الْعِلْمَيْنِ.

Dan dalil tentang persamaan antara sebelum dan sesudah mendapatkan wewenang adalah: bahwa ketika diperbolehkan bagi seorang hakim untuk memutuskan dalam perkara jarḥ dan ta‘dīl berdasarkan pengetahuannya, baik sebelum maupun sesudah mendapatkan wewenang, dan tidak diperbolehkan baginya untuk memutuskan dalam perkara hudūd berdasarkan pengetahuannya, baik sebelum maupun sesudah mendapatkan wewenang, maka wajib bahwa perkara selain keduanya diukur dengan keduanya; jika diperbolehkan memutuskan di dalamnya berdasarkan pengetahuan, maka sama saja apakah pengetahuan itu didapat sebelum atau sesudah mendapatkan wewenang, seperti dalam jarḥ dan ta‘dīl. Dan jika tidak diperbolehkan memutuskan di dalamnya berdasarkan pengetahuan, maka sama saja apakah pengetahuan itu didapat sebelum atau sesudah mendapatkan wewenang, seperti dalam hudūd. Dengan demikian, batal perbedaan antara kedua jenis pengetahuan tersebut.

فَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ فَهُوَ أَنَّ سَمَاعَ الْبَيِّنَةِ لَا يَجُوزُ إِلَّا بَعْدَ التَّحَاكُمِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِمَا عَلِمَهُ قَبْلَ التَّحَاكُمِ فَافْتَرَقَا.

Adapun jawaban terhadap argumentasinya dengan mendengarkan bukti adalah bahwa mendengarkan bukti tidak diperbolehkan kecuali setelah adanya tahākum (pengajuan perkara ke pengadilan), sedangkan boleh bagi hakim memutuskan dengan apa yang ia ketahui sebelum tahākum. Maka keduanya berbeda.

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنِ اسْتِدْلَالِهِ بِأَنَّ عِلْمَهُ قَبْلَ الْوِلَايَةِ عِلْمُ شَهَادَةٍ وَبَعْدَهَا عِلْمُ حُكْمٍ، فَهُوَ أَنَّ عِلْمَ الشَّهَادَةِ قَبْلَ الْوِلَايَةِ يَصِيرُ عِلْمَ حكم بعد الولاية.

Adapun jawaban atas dalilnya bahwa pengetahuannya sebelum menjadi wali adalah ilmu syahadah dan setelahnya menjadi ilmu hukum, maka sesungguhnya ilmu syahadah sebelum menjadi wali berubah menjadi ilmu hukum setelah menjadi wali.

(فصل: شروط نفوذ حكم القاضي بعلمه) .

(Bab: Syarat-syarat berlakunya keputusan hakim berdasarkan pengetahuannya).

فَإِذَا ثَبَتَ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ تَوْجِيهِ الْقَوْلَيْنِ وَإِبْطَالِ الْفَرْقِ بَيْنَ الْعِلْمَيْنِ فَإِنْ قِيلَ بِجَوَازِ حُكْمِهِ بِعِلْمِهِ وَهُوَ أَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ كَانَ نُفُوذُ حُكْمِهِ بِعِلْمِهِ مُعْتَبَرًا بِشَرْطَيْنِ:

Maka apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan tentang penjelasan dua pendapat dan pembatalan perbedaan antara dua jenis ilmu tersebut, maka jika dikatakan bahwa boleh seorang hakim memutuskan perkara berdasarkan ilmunya sendiri—dan ini adalah pendapat yang lebih sahih di antara dua pendapat—maka berlakunya keputusan hakim berdasarkan ilmunya sendiri itu dipertimbangkan dengan dua syarat:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَقُولَ لِلْمُنْكِرِ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ لَهُ عَلَيْكَ مَا ادَّعَاهُ.

Salah satunya adalah dengan mengatakan kepada orang yang mengingkari: “Aku telah mengetahui bahwa ia memang memiliki hak atasmu sebagaimana yang ia klaim.”

وَالثَّانِي: أَنْ يَقُولَ وَحَكَمْتُ عَلَيْكَ بِعِلْمِي.

Yang kedua: yaitu jika ia berkata, “Aku memutuskan hukuman atasmu berdasarkan ilmuku.”

فَإِنِ اقْتَصَرَ عَلَى أَحَدِ الشَّرْطَيْنِ وَأَغْفَلَ الْآخَرَ لَمْ يُنَفَّذْ حُكْمُهُ.

Jika ia hanya memenuhi salah satu dari dua syarat dan mengabaikan syarat yang lain, maka keputusannya tidak dijalankan.

وَإِنْ قِيلَ بِمَنْعِهِ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ، فَقَدْ قَالَ مَالِكٌ: إِذَا أَقَرَّ عِنْدَهُ الْخُصُومُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ عَلَى الْمُقِرِّ إِلَّا أَنْ يَشْهَدَ بِإِقْرَارِهِ شَاهِدَانِ، لِئَلَّا يَصِيرَ حَاكِمًا بِعِلْمِهِ.

Dan jika dikatakan bahwa hakim dilarang memutuskan perkara berdasarkan ilmunya sendiri, maka Malik berkata: Apabila para pihak yang bersengketa mengakui sesuatu di hadapan hakim, tidak boleh hakim memutuskan atas orang yang mengakui tersebut kecuali jika ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atas pengakuannya, agar hakim tidak menjadi orang yang memutuskan perkara berdasarkan ilmunya sendiri.

فَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي اعْتِبَارِ هَذَا إِذَا مُنِعَ مِنَ الْحُكْمِ بِعِلْمِهِ.

Para ulama kami berbeda pendapat dalam mempertimbangkan hal ini apabila seorang hakim dilarang memutuskan perkara berdasarkan ilmunya sendiri.

فَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى اعْتِبَارِهِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَى الْمُقِرِّ بِإِقْرَارِهِ، حَتَّى يَشْهَدَ بِهِ شَاهِدَانِ، لِئَلَّا يَصِيرَ حَاكِمًا بِعِلْمِهِ.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu harus diperhatikan, dan bahwa tidak boleh bagi seorang hakim memutuskan perkara atas orang yang mengaku hanya berdasarkan pengakuannya, sampai ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atasnya, agar hakim tidak memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri.

وَذَهَبَ الْأَكْثَرُونَ وَهُوَ قَوْلُ الْحُسَيْنِ الْكَرَابِيسِيِّ وَأَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ إِلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ فِي إِقْرَارِهِ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ لِأَنَّهُ حُكْمٌ بِالْإِقْرَارِ وَلَيْسَ حُكْمٌ بِالْعِلْمِ.

Mayoritas ulama, yaitu pendapat al-Husain al-Karabisi dan Abu al-‘Abbas Ibn Surayj, berpendapat bahwa kesaksian tidak dianggap dalam pengakuan di majelis pengadilan, karena itu adalah putusan berdasarkan pengakuan dan bukan putusan berdasarkan pengetahuan.

وَعَلَى هَذَا لَوْ أَقَرَّ فِي مَجْلِسِ حُكْمِهِ بِحَدّ للَّهِ تَعَالَى وَقِيلَ إِنَّهُ لَا يَحْكُمُ فِي الْحُدُودِ بِعِلْمِهِ، فَإِنْ مَنَعَ مِنَ الْحُكْمِ بِالْإِقْرَارِ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ، لَمْ يَحْكُمْ عَلَيْهِ بِالْحَدِّ، وَإِنْ أُجِيزَ لَهُ الْحُكْمُ بِالْإِقْرَارِ مِنْ غَيْرِ شَهَادَةٍ، حُكِمَ عَلَيْهِ بِالْحَدِّ.

Berdasarkan hal ini, jika seseorang mengakui di hadapan majelis hakim tentang suatu hudud (hukuman yang telah ditetapkan Allah Ta‘ala), dan dikatakan bahwa hakim tidak boleh memutuskan perkara hudud berdasarkan pengetahuannya sendiri, maka jika hakim tidak membolehkan menetapkan hukuman hanya dengan pengakuan kecuali dengan adanya kesaksian, maka ia tidak menetapkan hudud atas orang tersebut. Namun, jika diperbolehkan baginya menetapkan hukuman dengan pengakuan tanpa adanya kesaksian, maka hudud dijatuhkan atas orang tersebut.

وَعَلَى هَذَا إِذَا شَهِدَ عِنْدَهُ شَاهِدَانِ بِمَا يَعْلَمُ خِلَافَهُ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ بِعِلْمِهِ.

Oleh karena itu, jika ada dua saksi yang memberikan kesaksian di hadapannya tentang sesuatu yang ia ketahui berbeda dengan kenyataan, maka tidak boleh baginya memutuskan perkara berdasarkan pengetahuannya sendiri.

وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِي جَوَازِ حُكْمِهِ بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهَيْنِ:

Para ulama kami berbeda pendapat tentang kebolehan hakim memutuskan perkara berdasarkan kesaksian atas kesaksian, dengan dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَحْكُمُ بِهَا لِأَنَّ الشَّهَادَةَ هِيَ الْمُعْتَبَرَةُ فِي حُكْمِهِ دُونَ عِلْمِهِ.

Salah satunya: ia memutuskan perkara berdasarkan kesaksian karena kesaksianlah yang dianggap dalam putusannya, bukan pengetahuannya sendiri.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ أَصَحُّ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ بِالشَّهَادَةِ، لِأَنَّهُ مُتَحَقِّقٌ لِكَذِبِهَا.

Pendapat kedua, dan inilah yang lebih sahih, adalah tidak boleh memutuskan hukum berdasarkan kesaksian tersebut, karena telah terbukti kebohongannya.

فَأَمَّا إِذَا ذَكَرَ الْقَاضِي أَنَّ بَيِّنَةً قَامَتْ عِنْدَهُ فَهُوَ مُصَدَّقٌ عَلَى مَا ذَكَرَ مِنْهَا وَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ بِهَا عَلَى الْقَوْلَيْنِ لِأَنَّهُ حَاكِمٌ بالبينة دون العلم.

Adapun jika seorang qādī menyebutkan bahwa telah ada bayyinah di hadapannya, maka ia dipercaya atas apa yang ia sebutkan dari bayyinah tersebut, dan boleh baginya memutuskan perkara dengannya menurut kedua pendapat, karena ia memutuskan berdasarkan bayyinah, bukan berdasarkan pengetahuan pribadi.

(فصل: تحكيم الخصمين شخصا)

(Bab: Dua pihak yang bersengketa menunjuk seseorang sebagai hakam)

وَإِذَا حَكَّمَ خَصْمَانِ رَجُلًا مِنَ الرَّعِيَّةِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمَا فِيمَا تَنَازَعَاهُ فِي بَلَدٍ فِيهِ قَاضٍ أَوْ لَيْسَ فِيهِ قَاضٍ جَازَ.

Apabila dua orang yang berselisih menunjuk seorang dari rakyat untuk memutuskan perkara yang mereka perselisihkan di suatu negeri, baik di negeri itu ada qadhi maupun tidak ada qadhi, maka hal itu diperbolehkan.

لِأَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ تَحَاكَمَا إِلَى زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ.

Karena Umar bin al-Khattab dan Ubay bin Ka‘b pernah mengajukan perkara kepada Zaid bin Tsabit.

وَلِأَنَّهُ لَمَّا حَكَّمَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فِي الْإِمَامَةِ كَانَ التَّحْكِيمُ فِيمَا عَدَاهَا أَوْلَى.

Dan karena ketika Ali bin Abi Thalib menetapkan hukum dalam urusan imamah, maka penetapan hukum dalam perkara selainnya tentu lebih utama.

وَهَكَذَا حَكَّمَ أَهْلُ الشُّورَى فيها عبد الرحمن بن عوف.

Demikian pula, para anggota syūrā telah menjadikan ‘Abdurrahman bin ‘Auf sebagai penentu keputusan dalam perkara ini.

(نفوذ حكم المحكم) .

(Berlakunya putusan hakam).

وَإِذَا جَازَ التَّحْكِيمُ فِي الْأَحْكَامِ فَنَفَاذُ حُكْمِهِ مُعْتَبَرٌ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ:

Dan apabila tahkīm (arbitrase) diperbolehkan dalam hukum-hukum, maka berlakunya keputusan hakim tersebut bergantung pada empat syarat:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ الْمُحَكَّمُ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَاضِيًا، لِأَنَّهُ قَدْ صَارَ بِالتَّحْكِيمِ حَاكِمًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ بَطَلَ تَحْكِيمُهُ، وَلَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ.

Salah satunya: Bahwa muḥakkam haruslah berasal dari kalangan ahli ijtihad, dan boleh juga seorang qāḍī, karena dengan tahkīm ia telah menjadi hakim. Jika ia bukan dari kalangan ahli ijtihad, maka tahkīm-nya batal dan keputusannya tidak berlaku.

وَالشَّرْطُ الثَّانِي: أَنْ يَتَّفِقَ الْخَصْمَانِ عَلَى التَّرَاضِي بِهِ، إِلَى حِينِ الْحُكْمِ فَإِنْ رَضِيَ بِهِ أَحَدُهُمَا دُونَ الْآخَرِ أَوْ رَضِيَا بِهِ ثُمَّ رَجَعَا أَوْ رَضِيَ أَحَدُهُمَا بَطَلَ تَحْكِيمُهُ وَلَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ سَوَاءٌ حَكَمَ لِلرَّاضِي أَوْ لِلرَّاجِعِ.

Syarat kedua: kedua pihak yang bersengketa harus sepakat untuk menerima keputusan tersebut hingga saat penetapan hukum. Jika hanya salah satu dari keduanya yang setuju, atau keduanya telah setuju lalu menarik kembali persetujuannya, atau hanya salah satu yang menarik persetujuannya, maka keputusan tersebut batal dan tidak berlaku, baik keputusan itu menguntungkan pihak yang setuju maupun pihak yang menarik persetujuannya.

وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ التَّحَاكُمُ فِي أَحْكَامٍ مَخْصُوصَةٍ.

Syarat ketiga: bahwa tahākum (pengambilan keputusan hukum) dilakukan dalam hukum-hukum tertentu.

وَالْأَحْكَامُ تَنْقَسِمُ فِي التَّحْكِيمِ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Hukum-hukum dalam tahkīm terbagi menjadi tiga bagian:

قِسْمٌ يَجُوزُ فِيهِ التَّحْكِيمُ: وَهُوَ حُقُوقُ الْأَمْوَالِ، وَعُقُودُ الْمُعَاوَضَاتِ، وَمَا يَصِحُّ فِيهِ الْعَفْوُ وَالْإِبْرَاءُ.

Bagian yang diperbolehkan di dalamnya tahkīm adalah hak-hak harta, akad-akad mu‘āwaḍah, dan segala sesuatu yang sah di dalamnya adanya pemaafan dan pembebasan.

وَقِسْمٌ لَا يَجُوزُ فِيهِ التَّحْكِيمُ، وَهُوَ مَا اخْتَصَّ الْقُضَاةُ بِالْإِجْبَارِ عَلَيْهِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَالْوِلَايَاتِ عَلَى الْأَيْتَامِ وَإِيقَاعِ الْحَجْرِ عَلَى مُسْتَحِقِّيهِ.

Dan ada bagian yang tidak boleh dilakukan tahkīm padanya, yaitu perkara-perkara yang menjadi kekhususan para qāḍī untuk memaksakan pelaksanaannya, seperti hak-hak Allah Ta‘ālā, perwalian atas anak yatim, dan penetapan hajr (pembatasan hak bertindak) atas orang yang berhak menerimanya.

وَقِسْمٌ مُخْتَلَفٌ فِيهِ وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَحْكَامٍ: النِّكَاحُ وَاللِّعَانُ وَالْقَذْفُ وَالْقِصَاصُ.

Dan ada bagian yang diperselisihkan, yaitu empat hukum: nikah, li‘ān, qadzaf, dan qishāsh.

فَفِي جَوَازِ التَّحْكِيمِ فِيهَا وَجْهَانِ:

Dalam kebolehan tahkīm dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ لِوُقُوفِهَا عَلَى رِضَا الْمُتَحَاكِمَيْنِ.

Yang pertama: Diperbolehkan karena bergantung pada kerelaan kedua pihak yang bersengketa.

وَالثَّانِي: لَا يَجُوزُ لِأَنَّهَا حُقُوقٌ وَحُدُودٌ يَخْتَصُّ الْوُلَاةُ بِهَا.

Dan pendapat kedua: Tidak boleh, karena hal itu merupakan hak-hak dan hudūd yang menjadi kekhususan para penguasa.

فَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً لَا وَلِيَّ لَهَا خَطَبَهَا رَجُلٌ فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ لِيُزَوِّجَ أَحَدَهُمَا بِالْآخَرِ فَإِنْ كَانَا فِي دَارِ الْحَرْبِ أَوْ فِي بَادِيَةٍ لَا يَصِلَانِ إِلَى حَاكِمٍ جَازَ تَحْكِيمُهُمَا وَتَزْوِيجُ الْمُحَكَّمِ لَهُمَا. وَإِنْ كَانَا فِي دَارِ الْإِسْلَامِ وَحَيْثُ يَقْدِرَانِ فِيهِ عَلَى الْحَاكِمِ كَانَ فِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ عَلَى مَا ذَكَرْنَا.

Jika ada seorang wanita yang tidak memiliki wali, lalu seorang laki-laki melamarnya, kemudian keduanya mengajukan perkara kepada seorang laki-laki agar menikahkan salah satu dari mereka dengan yang lain, maka jika keduanya berada di negeri perang atau di daerah terpencil yang tidak dapat menjangkau hakim, maka boleh bagi mereka untuk mengangkat orang tersebut sebagai hakim dan pernikahan yang dilakukan oleh orang yang diangkat itu sah bagi mereka. Namun jika keduanya berada di negeri Islam dan di tempat di mana mereka mampu menjangkau hakim, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.

وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: فِيمَا يَصِيرُ الْحُكْمُ بِهِ لَازِمًا لَهُمَا.

Syarat keempat: pada hal yang menyebabkan hukum menjadi wajib bagi keduanya.

وَفِيهِ لِلشَّافِعِيِّ قَوْلَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا فِي اخْتِلَافِ الْعِرَاقِيِّينَ:

Dalam hal ini, menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat yang beliau tegaskan dalam kitab Ikhtilāf al-‘Irāqiyyīn.

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُمَا الْحُكْمُ إِلَّا بِالْتِزَامِهِ بَعْدَ الْحُكْمِ كَالْفُتْيَا، لِأَنَّهُ لَمَّا وَقَفَ عَلَى خِيَارِهِمَا فِي الِابْتِدَاءِ وَجَبَ أَنْ يَقِفَ عَلَى خِيَارِهَا فِي الِانْتِهَاءِ وَهُوَ قَوْلُ الْمُزَنِيِّ.

Salah satunya adalah bahwa hukum tidak wajib bagi keduanya kecuali setelah mereka berkomitmen terhadapnya setelah adanya keputusan, seperti fatwa. Karena ketika diketahui adanya pilihan bagi keduanya di awal, maka wajib pula diketahui adanya pilihan baginya di akhir, dan ini adalah pendapat al-Muzani.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ الْكُوفِيِّينَ وَأَكْثَرِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يَكُونُ بحُكْم الْمُحَكَّمِ لَازِمًا لَهُمَا وَلَا يَقِفُ بَعْدَ الْحُكْمِ عَلَى خِيَارِهِمَا، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ حَكَمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ تَرَاضَيَا بِهِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ ” فَكَانَ الْوَعِيدُ دَلِيلًا عَلَى لُزُومِ حُكْمِهِ كَمَا قَالَ فِي الشَّهَادَةِ: {وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ} [البقرة: 283] فَدَلَّ الْوَعِيدُ عَلَى لُزُومِ الْحُكْمِ بِشَهَادَتِهِ وَكَقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ” مَنْ عَلِمَ عِلْمًا وَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ ” فَدَلَّ الْوَعِيدُ عَلَى لُزُومِ الْحُكْمِ بِمَا أَبْدَاهُ.

Pendapat kedua, yaitu pendapat para ulama Kufah dan mayoritas ulama mazhab kami, menyatakan bahwa keputusan hakim (muhakkam) menjadi mengikat bagi kedua belah pihak dan tidak bergantung pada pilihan mereka setelah keputusan dijatuhkan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa memutuskan perkara di antara dua orang yang telah rela kepadanya, lalu ia tidak berlaku adil di antara keduanya, maka atasnya laknat Allah.” Ancaman ini menjadi dalil bahwa keputusan hakim tersebut bersifat mengikat, sebagaimana firman Allah tentang kesaksian: “Dan barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah: 283). Maka ancaman tersebut menunjukkan wajibnya menetapkan hukum berdasarkan kesaksiannya. Demikian pula sabda beliau ﷺ: “Barang siapa mengetahui suatu ilmu lalu menyembunyikannya, Allah akan mengalunginya pada hari kiamat dengan kendali dari api.” Maka ancaman ini menunjukkan wajibnya menetapkan hukum berdasarkan apa yang telah ia sampaikan.

وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – أَنَّهُ قَالَ: ” وَإِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَأَمِّرُوا عَلَيْكُمْ وَاحِدًا ” فَصَارَ بِتَأْمِيرِهِمْ لَهُ نَافِذَ الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ كَنُفُوذِهِ لَوْ كَانَ وَالِيًا عَلَيْهِمْ وَلِذَلِكَ انْعَقَدَتِ الْإِمَامَةُ بِاخْتِيَارِ أَهْلِ الِاخْتِيَارِ.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apabila kalian bertiga, maka angkatlah salah satu dari kalian sebagai pemimpin.” Maka, dengan pengangkatan mereka terhadapnya, keputusannya menjadi berlaku atas mereka sebagaimana berlakunya keputusan jika ia adalah wali atas mereka. Oleh karena itu, imamah (kepemimpinan) terwujud dengan pilihan ahl al-ikhtiyār (orang-orang yang berhak memilih).

وَحَكَى أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ فِيهِ وَجْهًا ثَالِثًا: أَنَّ خِيَارَهُمَا فِي التَّحْكِيمِ يَنْقَطِعُ بِشُرُوعِهِ فِي الْحُكْمِ، فَإِذَا شَرَعَ فيه صار لازما لهما، وإن كان قيل شُرُوعِهِ فِيهِ مَوْقُوفًا عَلَى خِيَارِهِمَا لِأَنَّ خِيَارَهُمَا بَعْدَ الشُّرُوعِ فِي الْحُكْمِ مُفْضٍ إِلَى أَنْ لَا يَلْزَمَ بِالتَّحْكِيمِ حُكْمٌ إِذَا رَأَى أَحَدُهُمَا تَوَجَّهَ الْحُكْمُ عَلَيْهِ فَيَصِيرُ التَّحْكِيمُ لَغْوًا.

Abu Sa‘id al-Ishthakhri meriwayatkan pendapat ketiga dalam masalah ini: bahwa hak memilih (khiyar) kedua belah pihak dalam tahkim (arbitrase) terputus dengan dimulainya proses penghakiman. Maka, apabila proses penghakiman telah dimulai, hal itu menjadi mengikat bagi keduanya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa dimulainya proses penghakiman itu tergantung pada hak memilih keduanya, karena jika hak memilih itu tetap ada setelah dimulainya proses penghakiman, maka hal itu akan menyebabkan tidak adanya keputusan yang mengikat dalam tahkim, apabila salah satu pihak melihat bahwa keputusan itu akan diarahkan kepadanya, sehingga tahkim menjadi sia-sia.

فَإِذَا صَارَ نَافِذَ الْحُكْمِ بِمَا ذَكَرْنَاهُ، نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمْ عَلَيْهِمْ لَزِمَ الْمُتَنَازِعَيْنِ إِلَيْهِ حُكْمُهُ، وَكَانَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ مَأْخُوذًا بِهِ مَا لَمْ يَتَعَدَّ الْحُكْمَ إِلَى غَيْرِ الْمُتَنَازِعَيْنِ.

Maka apabila keputusan telah menjadi sah sebagaimana telah kami sebutkan, maka diperhatikan, jika hakim tersebut termasuk orang yang boleh menjadi saksi bagi mereka atas mereka, maka kedua pihak yang bersengketa wajib menerima keputusannya, dan pihak yang diputuskan atasnya terikat dengan keputusan itu selama keputusan tersebut tidak melampaui kedua pihak yang bersengketa.

وَلَمْ يَكُنْ لِلْقَاضِي أَنْ يَرُدَّ حُكْمَهُ إِلَّا مَا يَرُدُّهُ مِنْ حُكْمِ غَيْرِهِ مِنَ الْقُضَاةِ.

Dan seorang qādī tidak boleh membatalkan putusannya sendiri kecuali apa yang dapat ia batalkan dari putusan qādī lain.

وَإِذَا حَكَمَ بَيْنَهُمَا أَشْهَدَ بِهِ فِي الْمَجْلِسِ الَّذِي حَكَمَ فِيهِ قَبْلَ التَّفَرُّقِ، لِأَنَّ قَوْلَهُ لَا يُقْبَلُ عَلَيْهِمَا بَعْدَ الِافْتِرَاقِ، كَمَا لَا يُقْبَلُ قَوْلُ الْحَاكِمِ بَعْدَ الْعَزْلِ.

Dan apabila ia memutuskan perkara di antara keduanya, maka ia harus menghadirkan saksi atas keputusan itu di majelis tempat ia memutuskan sebelum mereka berpisah, karena pernyataannya tidak diterima terhadap keduanya setelah mereka berpisah, sebagaimana pernyataan hakim tidak diterima setelah ia diberhentikan.

فَإِنْ تَعَدَّى الْحُكْمُ إِلَى غَيْرِ الْمُتَنَازِعَيْنِ فَضَرْبَانِ:

Jika hukum tersebut meluas kepada selain kedua pihak yang berselisih, maka ada dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا كَانَ مُنْفَصِلًا عَنِ الْحُكْمِ، وَلَا يَتَّصِلُ بِهِ إِلَّا عَنْ سَبَبٍ مُوجِبٍ كَتَحَاكُمِهِمَا إِلَيْهِ فِي دَيْنٍ فَأَقَامَ بِهِ مُدَّعِيهِ بَيِّنَةً شَهِدَتْ بِوُجُوبِ الدَّيْنِ، وَأَنَّ فُلَانًا ضَامِنُهُ لَزِمَ حُكْمُهُ فِي الدَّيْنِ وَلَمْ يَلْزَمْ حُكْمُهُ فِي الضَّمَانِ لِوُجُودِ الرِّضَا مِمَّنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الدَّيْنُ وَعَلِمَ الرِّضَا مِمَّنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الضَّمَانُ.

Salah satunya adalah perkara yang terpisah dari hukum, dan tidak berkaitan dengannya kecuali karena adanya sebab yang mewajibkan, seperti dua pihak yang saling mengajukan perkara kepada hakim dalam urusan utang, lalu pihak yang menuntut mendatangkan bukti yang menyatakan wajibnya utang tersebut dan bahwa si Fulan adalah penjaminnya. Maka, hukum hakim berlaku dalam urusan utang, namun tidak berlaku dalam urusan penjaminan, karena adanya kerelaan dari pihak yang wajib membayar utang dan diketahui adanya kerelaan dari pihak yang wajib menjadi penjamin.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مُتَّصِلًا بِالْحُكْمِ، وَلَا يَنْفَصِلُ عَنْهُ إِلَّا بِسَبَبٍ مُوجِبٍ كَتَحَاكُمِهِمَا إِلَيْهِ فِي قَتْلٍ خَطَأٍ قَامَتْ بِهِ الْبَيِّنَةُ فَفِي وُجُوبِ الدِّيَةِ عَلَى الْعَاقِلَةِ الَّتِي لَمْ تَرْضَ بِحُكْمِهِ وَجْهَانِ:

Jenis yang kedua: yaitu yang berkaitan langsung dengan hukum, dan tidak terpisah darinya kecuali karena sebab yang mengharuskan, seperti keduanya mengajukan perkara kepadanya dalam kasus pembunuhan karena kesalahan yang telah dibuktikan dengan bayyinah, maka dalam kewajiban diyat atas ‘āqilah yang tidak ridha dengan hukumnya terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: تَجِبُ عَلَيْهِ الدِّيَةُ لِوُجُوبِهَا عَلَى الرَّاضِي بِحُكْمِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الدِّيَةَ عَلَى الجاني ثم تَتَحَمَّلهَا عَنْهُ الْعَاقِلَةُ.

Salah satunya: diwajibkan membayar diyat kepadanya karena kewajiban itu berlaku atas orang yang rela dengan putusannya, jika dikatakan bahwa diyat itu menjadi tanggungan pelaku, kemudian ‘āqilah menanggungnya atas namanya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا تَجِبُ عَلَى الْعَاقِلَةِ الدِّيَةُ لِأَنَّهُمْ لَمْ يَرْضَوْا بِحُكْمِهِ إِذَا قِيلَ إِنَّ الدِّيَةَ تَجِبُ بِابْتِدَاءٍ عَلَى الْعَاقِلَةِ.

Pendapat kedua: Diyat tidak wajib atas ‘āqilah karena mereka tidak rela dengan ketetapan tersebut jika dikatakan bahwa diyat wajib sejak awal atas ‘āqilah.

وَإِذَا رَضِيَ الْمُتَنَازِعَانِ بِتَحْكِيمِ اثْنَيْنِ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُ أَحَدِهِمَا حَتَّى يَجْتَمِعَا فَإِنِ اخْتَلَفَا فِي الْحُكْمِ لَمْ يَنْفُذْ حُكْم وَاحِد مِنْهُمَا حَتَّى يَتَّفِقَا عَلَى الْحُكْمِ كَمَا اتَّفَقَا عَلَى النَّظَرِ.

Apabila kedua pihak yang bersengketa sepakat untuk menunjuk dua orang sebagai hakam, maka keputusan salah satu dari mereka tidak berlaku sampai keduanya berkumpul. Jika keduanya berbeda pendapat dalam menetapkan hukum, maka keputusan salah satu dari mereka tidak berlaku sampai keduanya sepakat atas keputusan, sebagaimana mereka telah sepakat untuk bersama-sama memeriksa perkara tersebut.

وَإِنْ كَانَ التَّحْكِيمُ مِنَ الْمُتَنَازِعَيْنِ لِمَنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمَا وَلَا عَلَيْهِمَا وَالَّذِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمَا وَالِدٌ وَوَلَدٌ وَالَّذِي لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْهِمَا عَدُوٌّ فَيَنْظُرُ: فَإِنْ حَكَمَ عَلَى مَنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ لِمَنْ يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ مِنَ الْأَجَانِبِ جَازَ، كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ.

Jika dua pihak yang bersengketa menunjuk seorang hakim dari kalangan orang yang tidak boleh menjadi saksi untuk mereka berdua, maka yang dimaksud dengan orang yang tidak boleh menjadi saksi untuk mereka adalah ayah dan anak, sedangkan yang tidak boleh menjadi saksi atas mereka adalah musuh. Maka perlu diperhatikan: jika hakim tersebut memutuskan perkara atas orang yang tidak boleh menjadi saksi untuknya, seperti ayah atau anak, demi kepentingan orang lain yang boleh menjadi saksi untuknya dari kalangan orang luar, maka hal itu diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan baginya untuk menjadi saksi atasnya meskipun tidak boleh menjadi saksi untuknya.

وَإِنْ حَكَمَ لِمَنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ مِنْ وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ عَلَى مَنْ يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُ مِنَ الْأَجَانِبِ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika seorang hakim memutuskan perkara untuk orang yang tidak boleh ia menjadi saksi baginya, seperti ayah atau anak, terhadap orang yang boleh ia menjadi saksi baginya dari kalangan orang lain (bukan kerabat), maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ حُكْمُهُ لَهُ، كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ بِوِلَايَةِ الْقَضَاءِ.

Salah satunya: tidak boleh ia memutuskan hukum untuk dirinya sendiri, sebagaimana tidak boleh ia memutuskan hukum untuk dirinya sendiri dengan wewenang sebagai qādī.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ بِوِلَايَةِ التَّحْكِيمِ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ بولاية الْقَضَاءِ، لِأَنَّ وِلَايَةَ التَّحْكِيمِ مُنْعَقِدَةٌ بِاخْتِيَارِهِمَا فَصَارَ الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ رَاضِيًا بِحُكْمِهِ عَلَيْهِ وَخَالَفَتِ الْوِلَايَةُ الْمُنْعَقِدَةُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِمَا.

Pendapat kedua: Boleh bagi seseorang untuk memutuskan perkara dengan wewenang tahkīm (arbitrase), meskipun tidak boleh baginya memutuskan perkara dengan wewenang qadā’ (peradilan), karena wewenang tahkīm terjalin atas dasar pilihan kedua belah pihak, sehingga pihak yang diputuskan atasnya telah rela dengan keputusan tersebut terhadap dirinya. Hal ini berbeda dengan wewenang yang terjalin tanpa pilihan kedua belah pihak.

وَإِنْ حَكَمَ لِعَدُوِّهِ نَفَذَ حُكْمُهُ.

Dan jika ia memutuskan hukum untuk musuhnya, maka keputusannya tetap berlaku.

وَإِنْ حَكَمَ عَلَى عَدُوِّهِ فَفِي نُفُوذِ حُكْمِهِ عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ:

Jika seorang hakim memutuskan perkara terhadap musuhnya, maka dalam keberlakuan putusannya atas musuh tersebut terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِوِلَايَةِ الْقَضَاءِ بِوِلَايَةِ التَّحْكِيمِ كَمَا لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْهِ.

Salah satunya: Tidak boleh memutuskan perkara atasnya dengan wewenang kehakiman melalui wewenang tahkīm, sebagaimana tidak boleh memberikan kesaksian terhadapnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِوِلَايَةِ الْقَضَاءِ وَوِلَايَةِ التَّحْكِيمِ بِخِلَافِ الشَّهَادَةِ، لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا، بِأَنَّ أَسْبَابَ الشَّهَادَةِ خَافِيَةٌ وَأَسْبَابَ الْحُكْمِ ظَاهِرَةٌ.

Pendapat kedua: Boleh baginya untuk memutuskan perkara dengan wewenang qadhā’ maupun dengan wewenang tahkīm, berbeda dengan kesaksian, karena terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu sebab-sebab kesaksian bersifat tersembunyi sedangkan sebab-sebab hukum bersifat nyata.

الْوَجْهُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِوِلَايَةِ التَّحْكِيمِ لِانْعِقَادِهَا عَنِ اخْتِيَارِهِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَيْهِ بِوِلَايَةِ الْقَضَاءِ لِانْعِقَادِهَا بِغَيْرِ اختياره.

Pendapat ketiga: Bahwa boleh memutuskan perkara atasnya dengan wilayah tahkīm karena tahkīm terjadi atas pilihannya, dan tidak boleh memutuskan perkara atasnya dengan wilayah qadhā’ karena qadhā’ terjadi tanpa pilihannya.

(الاستخلاف على القضاء)

(Pengangkatan pengganti dalam urusan peradilan)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَأُحِبُّ لِلْإِمَامِ إِذْ وَلَّى الْقَضَاءَ رَجُلًا أَنْ يَجْعَلَ لَهُ أَنْ يُوَلِّيَ الْقَضَاءَ مَنْ رَأَى فِي الطَّرَفِ مِنْ أَطْرَافِهِ فَيَجُوزُ حُكْمُهُ “.

Asy-Syafi‘i berkata: “Aku menyukai bagi imam, apabila mengangkat seseorang menjadi qadhi, agar memberinya wewenang untuk mengangkat qadhi di daerah-daerah lain yang ia anggap layak, sehingga keputusan hukumnya menjadi sah.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا الْإِمَامُ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَى الْقَضَاءِ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ لِعُمُومِ وِلَايَتِهِ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَى غَيْرِ الْقَضَاءِ فِيمَا يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ لِأَنَّ كُلَّ الْأُمُورِ مَوْكُولَةٌ إِلَى نَظَرِهِ فَلَمْ يَخْتَصَّ بِبَعْضِهَا فَيَخْتَصُّ بِمُبَاشَرَتِهِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun imam, maka boleh baginya untuk mengangkat wakil dalam urusan peradilan meskipun ia mampu melaksanakannya sendiri, karena keumuman wilayah kekuasaannya, sebagaimana juga boleh baginya mengangkat wakil dalam urusan selain peradilan yang ia mampu melaksanakannya sendiri, karena seluruh urusan diserahkan kepada pertimbangannya, sehingga tidak dikhususkan pada sebagian urusan saja sehingga ia harus melaksanakannya sendiri.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ رَجُلَيْنِ أَتَيَا النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – فَقَالَ أَحَدُهُمَا: إِنَّ لِي حِمَارًا وَلِهَذَا بَقَرَةً وَأَنَّ بَقَرَتَهُ قَتَلَتْ حِمَارِي. فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ: ” اقْضِ بَيْنَهُمَا ” فَقَالَ: لَا ضَمَانَ عَلَى الْبَهَائِمِ فَقَالَ لِعُمَرَ: ” اقْضِ بَيْنَهُمَا ” فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ لَعَلِّي: ” اقْضِ بَيْنَهُمَا ” فَقَالَ عَلِيٌّ: أَكَانَا مرسلين؟ فقالا: لا قال: أكانا مشدودين؟ قال: لَا. قَالَ: أَفَكَانَتِ الْبَقَرَةُ مَشْدُودَةً وَالْحِمَارُ مُرْسَلًا؟ قال: لَا. قَالَ: أَفَكَانَ الْحِمَارُ مَشْدُودًا وَالْبَقَرَةُ مُرْسَلَةً؟ قَالَا: نَعَمْ. قَالَ: ” عَلَى صَاحِبِ الْبَقَرَةِ الضَّمَانُ “.

Diriwayatkan bahwa dua orang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ. Salah seorang dari mereka berkata, “Saya memiliki seekor keledai dan orang ini memiliki seekor sapi, lalu sapi miliknya membunuh keledai saya.” Maka beliau berkata kepada Abu Bakar, “Berilah keputusan di antara mereka berdua.” Abu Bakar berkata, “Tidak ada tanggungan (dhamān) atas hewan.” Lalu beliau berkata kepada Umar, “Berilah keputusan di antara mereka berdua.” Umar pun berkata seperti itu. Kemudian beliau berkata kepada Ali, “Berilah keputusan di antara mereka berdua.” Ali bertanya, “Apakah keduanya dilepas?” Mereka menjawab, “Tidak.” Ali bertanya lagi, “Apakah keduanya diikat?” Mereka menjawab, “Tidak.” Ali bertanya, “Apakah sapi diikat dan keledai dilepas?” Mereka menjawab, “Tidak.” Ali bertanya lagi, “Apakah keledai diikat dan sapi dilepas?” Mereka menjawab, “Ya.” Ali berkata, “Maka atas pemilik sapi ada tanggungan (dhamān).”

قال أصحابنا: تأويل الْمَسْأَلَةِ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ قَضَيَا بِسُقُوطِ الضَّمَانِ عَنْ صَاحِبِ الْبَقَرَةِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهَا وَإِنَّ عَلِيًّا قَضَى بِوُجُوبِ الضمَان عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مَعَهَا. فَقَدِ اسْتَخْلَفَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – على القضاء بمشهده وإن أمكنه القضاء نفسه.

Para ulama mazhab kami berkata: Penjelasan masalah ini adalah bahwa Abu Bakar dan Umar memutuskan gugurnya kewajiban ganti rugi dari pemilik sapi jika ia tidak bersamanya, sedangkan Ali memutuskan wajibnya ganti rugi atasnya jika ia bersamanya. Maka sungguh Rasulullah ﷺ telah mengangkat mereka sebagai hakim di hadapannya, meskipun beliau sendiri mampu memutuskan perkara tersebut.

فَإِنْ قِيلَ فَكَيْفَ رَدَّهُ إِلَى عُمَرَ بَعْدَ قَضَاءِ أَبِي بَكْرٍ، وَرَدَّهُ إِلَى عَلِيٍّ بَعْدَ قَضَاءِ عُمَرَ، وَالْحُكْمُ إِذَا نَفَذَ انْقَطَعَ بِهِ التنازع.

Jika dikatakan: Lalu bagaimana mungkin perkara itu dikembalikan kepada ‘Umar setelah Abu Bakar memutuskan, dan dikembalikan kepada ‘Ali setelah ‘Umar memutuskan, padahal jika suatu hukum telah diputuskan maka perselisihan pun terhenti karenanya?

قِيلَ: لِأَنَّ جَوَابَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ خَرَجَ مِنْهُمَا مَخْرَجَ الْفُتْيَا دُونَ الْحُكْمِ فَلِذَلِكَ رَدَّهُ إِلَى عَلِيٍّ حَتَّى حَكَمَ بِاللَّفْظِ الْمُعْتَبَرِ فِي الْأَحْكَامِ، وَلَوْ كَانَ جَوَابُ أَبِي بَكْرٍ حُكْمًا لما استجاز رده إلى غيره.

Dikatakan: Karena jawaban Abu Bakar dan Umar keluar dari keduanya dalam bentuk fatwa, bukan dalam bentuk hukum, maka itulah sebabnya perkara tersebut dikembalikan kepada Ali hingga ia memutuskan dengan lafaz yang dianggap sah dalam hukum-hukum. Seandainya jawaban Abu Bakar merupakan sebuah hukum, niscaya tidak diperbolehkan untuk mengembalikannya kepada orang lain.

(استخلاف القاضي غَيْرِهِ)

(Pengangkatan wakil oleh seorang qādī kepada orang lain)

فَأَمَّا الْقَاضِي إِذَا قَلَّدَهُ الْإِمَامُ عَمَلًا فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَيْهِ لَمْ يَخْلُ حَالُ تَقْلِيدِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ:

Adapun seorang qāḍī apabila imam memberinya tugas tertentu, lalu ia ingin mengangkat wakil atas tugas tersebut, maka keadaan pelimpahan tugas itu tidak lepas dari tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَجْعَلَ لَهُ الْإِمَامُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَيْهِ فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ سَوَاءٌ قَلَّ عَمَلُهُ أَوْ كَثُرَ. لَكِنَّهُ إِنْ قَلَّ وَقَدَرَ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ كَانَ فِي الِاسْتِخْلَافِ مُخَيَّرًا، وَإِنْ كَثُرَ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ كَانَ الِاسْتِخْلَافُ عَلَيْهِ وَاجِبًا.

Salah satunya: apabila imam memberinya wewenang untuk mengangkat pengganti atas dirinya, maka boleh baginya untuk mengangkat pengganti, baik pekerjaannya sedikit maupun banyak. Namun, jika pekerjaannya sedikit dan ia mampu melaksanakannya sendiri, maka ia diberi pilihan dalam mengangkat pengganti. Tetapi jika pekerjaannya banyak dan ia tidak mampu melaksanakannya sendiri, maka mengangkat pengganti atas dirinya menjadi wajib.

ثُمَّ يَنْظُرُ فِي الْعَمَلِ، فَإِنْ كَانَ مِصْرًا كَبِيرًا وَسَوَادًا كَثِيرًا قَضَى فِي الْمِصْرِ وَاسْتَخْلَفَ عَلَى السَّوَادِ؛ لِأَنَّهُ تَبَعٌ فَاخْتَصَّ فِي الْمَتْبُوعِ لَا بِالتَّابِعِ.

Kemudian ia memperhatikan wilayah tugasnya; jika wilayah itu adalah sebuah kota besar dan daerah pedesaan yang luas, maka ia memutuskan perkara di kota tersebut dan mengangkat wakil untuk daerah pedesaan, karena daerah pedesaan itu merupakan bagian yang mengikuti, sehingga kekhususan itu berlaku pada yang diikuti, bukan pada yang mengikuti.

وَإِنْ كَانَا مِصْرَيْنِ مُتَكَافِئَيْنِ كَالْبَصْرَةِ وَالْكُوفَةِ كَانَ بِالْخِيَارِ فِي أَنْ يَقْضِيَ فِي أَيِّهِمَا شَاءَ وَيَسْتَخْلِفَ عَلَى أَيِّهِمَا شَاءَ.

Jika kedua kota itu setara, seperti Basrah dan Kufah, maka ia bebas memilih untuk memutuskan perkara di kota mana pun yang ia kehendaki dan dapat mengangkat wakil di kota mana pun yang ia kehendaki.

وَلَهُ إِذَا حَكَمَ فِي أَحَدِهِمَا أَنْ يَنْتَقِلَ إِلَى بَلَدِ خَلِيفَتِهِ يَنْقُلَ خَلِيفَتَهُ إِلَى بَلَدِهِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ قَدْ عَيَّنَ لَهُ الْحُكْمَ فِي أَحَدِهِمَا وَالِاسْتِخْلَافَ عَلَى الْآخَرِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَعْدِلَ عَمَّا عُيِّنَ لَهُ وَتَكُونُ وِلَايَتُهُ عَلَى الْبَلَدِ الْآخَرِ مَقْصُورَةً عَلَى اخْتِيَارِ النَّاظِرِ فِيهِ دُونَ الْحُكْمِ.

Dan baginya, jika telah memutuskan perkara di salah satu dari keduanya, boleh berpindah ke negeri wakilnya atau memindahkan wakilnya ke negerinya, kecuali jika imam telah menetapkan baginya untuk memutuskan perkara di salah satunya dan memberikan wewenang penggantian pada yang lain, maka tidak boleh baginya menyelisihi apa yang telah ditetapkan untuknya, dan kekuasaannya atas negeri yang lain terbatas hanya pada memilih pengawas di dalamnya tanpa kewenangan memutuskan perkara.

فَإِنْ عَيَّنَ لَهُ الْإِمَامُ عَلَى مَنْ يَسْتَخْلِفُهُ فِيهِ صَارَتْ وِلَايَتُهُ عَلَيْهِ مَقْصُورَةً عَلَى تَنْفِيذِ وِلَايَةِ الْمُسْتَخْلَفِ وَمُرَاعَاتِهِ وَخَرَجَتْ عَنْ وِلَايَةِ الْحُكْمِ وَالِاخْتِيَارِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عَزْلُ هَذَا الْمُسْتَخْلَفِ، وَإِنْ كَانَتْ لَهُ عَزَلَ مَنِ اسْتَخْلَفَهُ بِاخْتِيَارِهِ لِأَنَّ التَّعْيِينَ عَلَيْهِ قَدْ مَنَعَهُ مِنِ اسْتِخْلَافِ غَيْرِهِ.

Jika imam telah menentukan kepada siapa seseorang harus mengangkat pengganti dalam jabatannya, maka kekuasaannya atas orang tersebut terbatas hanya pada melaksanakan wewenang pengganti dan mengawasinya, serta keluar dari wewenang memutuskan hukum dan memilih sendiri. Ia tidak berhak memberhentikan pengganti tersebut. Namun, jika ia diberi hak untuk memberhentikan orang yang diangkatnya atas pilihannya sendiri, maka penunjukan yang telah ditetapkan kepadanya telah mencegahnya untuk mengangkat selain orang yang telah ditentukan.

فَإِنْ كَانَ هَذَا الْمُعَيَّنُ عَلَى اسْتِخْلَافِهِ لَيْسَ بِأَهْلٍ لِلْقَضَاءِ لَمْ يَكُنْ لَهُ تَنْفِيذُ اسْتِخْلَافِهِ لِفَسَادِهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ اسْتِخْلَافُ غَيْرِهِ لِمَنْعِ التَّعْيِينِ عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِهِ. وَيَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ فِي بَلَدِ حُكْمِهِ لِعُمُومِ الْإِذْنِ.

Jika orang yang ditunjuk untuk menjadi pengganti itu tidak memenuhi syarat sebagai qadhi, maka penunjukan pengganti tersebut tidak sah karena rusak, dan ia juga tidak boleh menunjuk orang lain sebagai pengganti karena adanya penunjukan khusus atas dirinya, sehingga tidak boleh dari selain dirinya. Namun, boleh baginya untuk menunjuk pengganti di daerah kekuasaannya karena adanya izin yang bersifat umum.

فَإِنْ تَنَازَعَ خَصْمَانِ فِيهِ وَفِي خَلِيفَتِهِ فَطَلَبَ أَحَدُهُمَا الْمُحَاكَمَةَ إِلَيْهِ وَطَلَبَ الْآخَرُ الْمُحَاكَمَةَ إِلَى خَلِيفَتِهِ نُظِرَ: فَإِنْ كَانَ الْقَاضِي فِي يَوْمِ التَّنَازُعِ نَاظِرًا فَالدَّاعِي إِلَيْهِ أَوْلَى مِنَ الدَّاعِي إِلَى خَلِيفَتِهِ لِأَنَّهُ أَصْلٌ وَإِنْ كَانَ الْقَاضِي فِيهِ تَارِكًا وَخَلِيفَتُهُ نَاظِرًا كَانَ الدَّاعِي إِلَى خَلِيفَتِهِ أَوْلَى مِنَ الدَّاعِي إِلَيْهِ لِأَنَّهُ أَعْجَلُ.

Jika dua pihak yang bersengketa berselisih mengenai hal ini dan mengenai pengganti hakim, lalu salah satu dari mereka meminta agar perkara diadili oleh hakim tersebut, sedangkan yang lain meminta agar perkara diadili oleh penggantinya, maka dilihat: jika pada hari perselisihan hakim sedang bertugas, maka pihak yang meminta diadili oleh hakim itu lebih berhak daripada pihak yang meminta diadili oleh penggantinya, karena hakim adalah asal. Namun jika hakim pada saat itu tidak bertugas dan penggantinya yang sedang bertugas, maka pihak yang meminta diadili oleh penggantinya lebih berhak daripada pihak yang meminta diadili oleh hakim, karena penggantinya lebih cepat (dalam menyelesaikan perkara).

فَإِنْ جَعَلَ لَهُ الْإِمَامُ عَلَى الْقَضَاءِ رِزْقًا نُظِرَ: فَإِنْ سَمَّى الرِّزْقَ لَهُ اخْتُصَّ بِهِ دُونَ خُلَفَائِهِ وَإِنْ سَمَّاهُ لِلْقَضَاءِ شَارَكَهُ فِيهِ خُلَفَاؤُهُ، بِحَسَبِ كِفَايَاتِهِمْ فِي النَّظَرِ وَكَثْرَةِ الْعَمَلِ، فَإِنْ عَزَلَ مَنِ اسْتَخْلَفَهُ وَقَامَ بِعَمَلِهِ جَازَ أَنْ يَأْخُذَ رِزْقَهُ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْخُذَهُ.

Jika imam memberikan tunjangan kepada seorang qadhi atas tugas kehakiman, maka hal itu perlu diperhatikan: jika tunjangan tersebut disebutkan secara khusus untuk dirinya, maka itu menjadi hak khusus baginya dan tidak untuk para penggantinya. Namun jika tunjangan itu disebutkan untuk tugas kehakiman, maka para penggantinya berhak mendapatkannya bersama dia, sesuai dengan kebutuhan mereka dalam menjalankan tugas dan banyaknya pekerjaan. Jika seorang pengganti diberhentikan dan qadhi tersebut melaksanakan sendiri tugasnya, maka boleh baginya mengambil tunjangan itu. Namun jika ia tidak melaksanakan tugas tersebut, maka tidak boleh baginya mengambil tunjangan itu.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَنْهَاهُ الْإِمَامُ فِي التَّقْلِيدِ أَنْ يَسْتَخْلِفَ، فَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ سَوَاءٌ قَلَّ عَمَلُهُ أَوْ كَثُرَ، لَكِنَّهُ إِنْ قَلَّ عَمَلُهُ بَاشَرَ الْحُكْمَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ، لِأَجْلِ الْمَنْعِ مِنْهُ، فَإِنِ اسْتَخْلَفَ فَلَا وِلَايَةَ لِخَلِيفَتِهِ وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُعْدِيَ خَصْمًا.

Bagian kedua: Yaitu apabila imam dalam taqlid melarangnya untuk mengangkat pengganti, maka tidak boleh baginya mengangkat pengganti, baik pekerjaannya sedikit maupun banyak. Namun, jika pekerjaannya sedikit, ia sendiri yang langsung menjalankan pemerintahan dalam perkara tersebut dan tidak boleh mengangkat pengganti karena adanya larangan tersebut. Jika ia tetap mengangkat pengganti, maka penggantinya tidak memiliki wewenang, dan tidak boleh baginya untuk memutuskan perkara bagi pihak yang bersengketa.

فَإِنْ حَكَمَ بَيْنَ خَصْمَيْنِ تَرَافَعَا إِلَيْهِ كَانَ كَالْحُكْمِ مِنَ الرَّعَايَا فِي جَوَازِ حُكْمِهِ. وَفِي لُزُومِهِ قَوْلَانِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ فِي حُكْمِ الْمُحَكَّمِ.

Jika ia memutuskan perkara antara dua pihak yang bersengketa yang mengajukan perkara kepadanya, maka hukumnya seperti keputusan dari para hakim di kalangan rakyat dalam hal bolehnya keputusan tersebut. Adapun mengenai kewajiban untuk melaksanakan keputusan itu, terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam hukum al-muhakkam.

وَإِنْ كَثُرَ عَمَلُهُ لَزِمَهُ إِعْلَامُ الْإِمَامِ بِعَجْزِهِ عَنِ النَّظَرِ فِي جَمِيعِهِ، لِيَكُونَ الْإِمَامُ بَعْدُ بَيْنَ خِيَارَيْنِ إِمَّا أَنْ يَأْذَنَ لَهُ فِي الِاسْتِخْلَافِ أَوْ يَقْتَصِرَ بِهِ عَلَى مَا يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ وَالنَّظَرِ فِيهِ، وَيَصْرِفُهُ عَمَّا عَدَاهُ.

Jika pekerjaannya sangat banyak, maka wajib baginya untuk memberitahukan kepada imam tentang ketidakmampuannya dalam menangani semuanya, agar imam kemudian memiliki dua pilihan: membolehkannya untuk mengangkat pengganti, atau membatasi tugasnya hanya pada hal-hal yang mampu ia tangani dan urus, serta memindahkan tugas-tugas lainnya dari dirinya.

وَلَمْ يَجُزْ لِلْإِمَامِ بَعْدَ عِلْمِهِ أَنْ يَتْرُكَهُ عَلَى حَالِهِ.

Dan tidak boleh bagi imam, setelah ia mengetahui (keadaan tersebut), membiarkannya tetap dalam keadaannya.

وَأَوْلَى الْأَمْرَيْنِ بِالْإِمَامِ صَرْفُهُ عَنِ الزِّيَادَةِ لِيَكُونَ هُوَ الْمُتَوَلِّي لِلِاخْتِيَارِ، وَلَا يَرُدُّ الِاخْتِيَارَ إِلَى غَيْرِهِ، لِيَكُونَ عَلَى ثِقَةٍ مِنْ صِحَّةِ الِاخْتِيَارِ.

Dari dua pilihan, yang lebih utama bagi imam adalah mengalihkan (hak) dari penambahan, agar dialah yang memegang kendali dalam memilih, dan tidak menyerahkan pilihan itu kepada selain dirinya, sehingga ia dapat merasa yakin akan kebenaran pilihannya.

فَإِنْ لَمْ يَعْلَمِ الْإِمَامُ أَوْ أَعْلَمَهُ، فَلَمْ يَأْذَنْ لَهُ فِي أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ فَكَثْرَةُ عَمَلِهِ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Jika imam tidak mengetahui atau telah diberitahu, namun ia tidak mengizinkannya dalam salah satu dari dua hal tersebut, maka banyaknya amalnya terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكُونَ مِصْرًا كَثِيرَ السَّوَادِ كَالْبَصْرَةِ فَيَكُونُ نَظَرُهُ مُخْتَصًّا بِالْبَلَدِ، اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ، وَلَهُ أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَ أَهْلِ سَوَادِهِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْهِ فَإِنِ اسْتَعْدَى إِلَيْهِ عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ السَّوَادِ، فَإِنْ كَانَ عَلَى أَقَلِّ مِنْ مَسَافَةِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَزِمَهُ إِحْضَارُهُ، لِخُرُوجِهِ عَنْ مَسَافَةِ الْقَصْرِ فَصَارَ كَالْحَاضِرِ وَإِنْ كَانَ عَلَى مَسَافَةِ الْقَصْرِ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَأَكْثَرَ فَفِي وُجُوبِ إِحْضَارِهِ وَجْهَانِ مَضَيَا.

Salah satunya: jika sebuah kota besar yang banyak wilayah pedesaannya seperti Basrah, maka kewenangan hakim terbatas pada kota tersebut, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Ia juga berhak memutuskan perkara di antara penduduk wilayah pedesaan jika mereka datang kepadanya. Jika ada seseorang dari penduduk pedesaan yang diajukan kepadanya, maka jika jaraknya kurang dari satu hari satu malam perjalanan, wajib baginya untuk menghadirkannya, karena ia berada di luar jarak qashar sehingga dianggap seperti orang yang hadir. Namun jika jaraknya sejauh jarak qashar, yaitu satu hari satu malam perjalanan atau lebih, maka dalam kewajiban menghadirkannya terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَكُونَ عَمَلُهُ مُشْتَمِلًا عَلَى مِصْرَيْنِ مُتَبَاعِدَيْنِ كَالْبَصْرَةِ وَبَغْدَادَ فَهُوَ بِالْخِيَارِ فِي النَّظَرِ فِي أَيِّهِمَا شَاءَ لِاشْتِمَالِ وِلَايَتِهِ عَلَيْهِمَا.

Jenis kedua: Jika pekerjaannya mencakup dua negeri yang berjauhan seperti Basrah dan Baghdad, maka ia bebas memilih untuk melakukan pemeriksaan di salah satu dari keduanya yang ia kehendaki, karena wilayah kekuasaannya mencakup keduanya.

فَإِذَا نُظِرَ فِي أَحَدِهِمَا فَفِي انْعِزَالِهِ عَنِ الْآخَرِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Maka apabila salah satu dari keduanya diperhatikan, maka dalam pemisahannya dari yang lain terdapat dua kemungkinan yang dapat diterima.

أَحَدُهُمَا: قَدِ انْعَزَلَ عَنْهُ لِتَعَذُّرِ حُكْمِهِ فِيهِ بِالْعَجْزِ فَصَارَ كَتَعَذُّرِ حُكْمِهِ بِآفَةٍ.

Salah satunya: telah terpisah darinya karena tidak mungkin menetapkan hukum padanya akibat ketidakmampuan, sehingga keadaannya seperti tidak mungkin menetapkan hukum karena adanya suatu halangan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لَا يَنْعَزِلُ عَنْهُ وَيَكُونُ بَاقِيَ الْوِلَايَةِ عَلَيْهِ لِصِحَّةِ الْوِلَايَةِ عَلَيْهِمَا مَعَ الْعَجْزِ عَنْهُمَا فَعَلَى هَذَا يَجُوزُ أَنْ يَنْتَقِلَ مِنْ أَحَدِهِمَا إِلَى الْآخَرِ وَلَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ عَلَى الْوَجْهِ الْأَوَّلِ.

Pendapat kedua: Bahwa ia tidak dicabut dari jabatannya dan tetap memiliki kekuasaan atasnya, karena kekuasaan atas keduanya tetap sah meskipun tidak mampu menjalankannya. Dengan demikian, menurut pendapat ini, boleh baginya berpindah dari salah satu dari keduanya kepada yang lain, sedangkan menurut pendapat pertama, hal itu tidak diperbolehkan baginya.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ مُطْلِقَ الْوِلَايَةِ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فِي الِاسْتِخْلَافِ وَلَمْ يُنْهَ عَنْهُ، فَفِيهِ لِأَصْحَابِنَا حِينَ عَلَّقَ الشَّافِعِيُّ الْقَوْلَ فِيهِ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:

Bagian ketiga: yaitu seseorang yang memiliki wewenang secara mutlak, namun tidak diberi izin untuk mengangkat pengganti dan juga tidak dilarang darinya. Dalam hal ini, menurut para ulama kami, ketika Imam Syafi‘i menggantungkan pendapatnya dalam masalah ini, terdapat tiga pendapat.

أَحَدُهَا: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي عَلِيِّ بْنِ خَيْرَانَ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ قَلَّ عَمَلُهُ أَوْ كَثُرَ. لِأَنَّ الْقَضَاءَ نِيَابَةٌ فَاعْتُبِرَ فِيهَا لَفْظُ الْمُسْتَنِيبِ.

Salah satu pendapat, yaitu pendapat Abu ‘Ali bin Khairan, menyatakan bahwa seorang hakim tidak berhak mengangkat wakil, baik pekerjaannya sedikit maupun banyak. Sebab, peradilan adalah sebuah bentuk perwakilan, sehingga yang menjadi acuan di dalamnya adalah lafaz dari pihak yang mewakilkan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيِّ إِنَّ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ، قَلَّ عَمَلُهُ أَوْ كَثُرَ اعْتِبَارًا بِعُمُومِ وِلَايَتِهِ.

Pendapat kedua: yaitu pendapat Abu Sa‘id al-Ishthakhri bahwa ia boleh mewakilkan (mengangkat pengganti), baik tugasnya sedikit maupun banyak, dengan pertimbangan keumuman wilayah kekuasaannya.

وَالْوَجْهُ الثَّالِثُ: وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْبَصْرِيِّينَ: إِنَّ اسْتِخْلَافَهُ مُعْتَبَرٌ بِعَمَلِهِ فَإِنْ قَلَّ وَقَدَرَ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَسْتَخْلِفَ وَإِنْ كَثُرَ وَعَجَزَ عَنْ مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ جَازَ أَنْ يَسْتَخْلِفَ اعْتِبَارًا بِالْوَكِيلِ إِذَا وُكِّلَ فِي عَمَلٍ قَدَرَ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُوَكِّلَ فِيهِ وَإِنْ عَجَزَ عَنْ مُبَاشَرَتِهِ بِنَفْسِهِ جَازَ أَنْ يُوَكِّلَ فِيهِ فَعَلَى هَذَا فِيمَا يَسْتَخْلِفُ عَلَيْهِ وَجْهَانِ:

Pendapat ketiga, yaitu pendapat jumhur ulama Basrah: bahwa pengangkatan pengganti itu dipertimbangkan berdasarkan pekerjaannya. Jika pekerjaannya sedikit dan ia mampu melakukannya sendiri, maka tidak boleh mengangkat pengganti. Namun jika pekerjaannya banyak dan ia tidak mampu melakukannya sendiri, maka boleh mengangkat pengganti, sebagaimana halnya seorang wakil; jika ia diberi kuasa dalam suatu pekerjaan yang mampu ia lakukan sendiri, maka tidak boleh mewakilkan kepada orang lain, tetapi jika ia tidak mampu melakukannya sendiri, maka boleh mewakilkan. Berdasarkan hal ini, dalam perkara yang diangkat pengganti padanya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ فِيمَا عَجَزَ عَنْهُ مِنْ زِيَادَةِ الْعَمَلِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ فِيمَا قَدَرَ عَلَيْهِ اعْتِبَارًا بِالْحَاجَةِ.

Salah satunya: Boleh baginya untuk mewakilkan (tugas) pada hal yang ia tidak mampu melakukannya karena banyaknya pekerjaan, dan tidak boleh baginya untuk mewakilkan pada hal yang ia mampu melakukannya sendiri, dengan pertimbangan kebutuhan.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ عَلَى جَمِيعِهِ لِأَنَّ الْعُرْفَ فِيهِ كَالْإِذْنِ فَعَلَى هَذَا إِنِ اسْتَخْلَفَ عَلَى مَا يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ جَازَ لَهُ أَنْ يَعْزِلَ خَلِيفَتَهُ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى سَلَامَتِهِ.

Pendapat kedua: Boleh baginya untuk mengangkat wakil atas seluruhnya, karena ‘urf dalam hal ini seperti izin. Maka berdasarkan hal ini, jika ia mengangkat wakil atas sesuatu yang mampu ia lakukan sendiri, maka ia boleh memberhentikan wakilnya tersebut selama ia masih dalam keadaan sehat.

وَإِنِ اسْتَخْلَفَ فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَتِهِ فَفِي جَوَازِ عَزْلِهِ مَعَ بَقَائِهِ عَلَى سَلَامَتِهِ وَجْهَانِ:

Dan jika seseorang mengangkat wakil dalam perkara yang ia tidak mampu untuk melakukannya sendiri, maka dalam hal bolehnya memberhentikan wakil tersebut sementara ia masih sehat terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: تَجُوزُ النِّيَابَةُ عَنْهُ كَالْوَكِيلِ.

Salah satunya: boleh dilakukan perwakilan atasnya seperti wakil.

وَالثَّانِي: لَا تَجُوزُ لِأَنَّهُ نَائِبٌ عنه في حقوق المسلمين.

Yang kedua: Tidak boleh, karena ia adalah wakil darinya dalam hak-hak kaum muslimin.

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” لَوْ عُزِلَ فَقَالَ قَدْ كُنْتُ قَضَيْتُ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ لَمْ يُقْبَلْ إِلَا بِشُهُودٍ “.

Syafi‘i berkata: “Jika seorang hakim diberhentikan lalu ia berkata, ‘Aku pernah memutuskan perkara untuk si fulan atas si fulan,’ maka tidak diterima kecuali dengan adanya saksi.”

قَالَ الماوردي: فالكلام فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يَشْتَمِلُ عَلَى أَرْبَعَةِ فُصُولٍ: أَحَدُهَا: فِي وِلَايَتِهِ.

Al-Mawardi berkata: Pembahasan dalam masalah ini mencakup empat bagian: yang pertama, tentang wilayahnya.

وَالثَّانِي: فِي عَزْلِهِ. وَالثَّالِثُ: فِي حُكْمِهِ. وَالرَّابِعُ: فِي قَوْلِهِ.

Kedua: dalam pencopotannya. Ketiga: dalam hukumnya. Keempat: dalam ucapannya.

فَأَمَّا الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي وِلَايَتِهِ فَمُعْتَبَرَةٌ بِمَا تَضَمَّنَهُ عَهْدُهُ مِنْ حُدُودِ الْعَمَلِ وَصِفَةِ النَّظَرِ مِنْ عُمُومٍ أَوْ خُصُوصٍ وَعَلَى الْإِمَامِ فِيهِ حَقٌّ وَعَلَى الْقَاضِي فِيهِ حَقٌّ.

Adapun bagian pertama tentang wilayah kekuasaannya, maka hal itu dipertimbangkan berdasarkan apa yang tercantum dalam surat pengangkatannya mengenai batas-batas tugas dan sifat wewenangnya, apakah bersifat umum atau khusus. Dalam hal ini, terdapat hak yang menjadi kewajiban imam dan ada pula hak yang menjadi kewajiban qadhi.

فَأَمَّا مَا عَلَى الْإِمَامِ مِنْ حَقٍّ فَثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:

Adapun hak-hak yang menjadi kewajiban imam ada tiga hal:

أَحَدُهَا: تَقْوِيَةُ يَدِهِ حَتَّى لَا يَعْجِزَ عَنِ اسْتِيفَاءِ حَقٍّ وَدَفْعِ ظُلْمٍ.

Salah satunya adalah memperkuat tangannya agar ia tidak lemah dalam menunaikan hak dan menolak kezaliman.

وَالثَّانِي: مُرَاعَاةُ عَمَلِهِ حَتَّى لَا يَتَخَطَّاهُ إِلَى غَيْرِهِ وَلَا يُخِلُّ بِبَعْضِهِ.

Yang kedua: memperhatikan pelaksanaannya agar tidak melampaui kepada selainnya dan tidak mengabaikan sebagian darinya.

وَالثَّالِثُ: مُرَاعَاةُ أَحْكَامِهِ وَإِنْ تَحَرَّى عَمَلَ السَّدَادَ مِنْ غَيْرِ تَجَاوُزٍ وَلَا تَقْصِيرٍ.

Ketiga: memperhatikan hukum-hukumnya, meskipun berusaha melakukan tindakan yang tepat tanpa melampaui batas dan tanpa kekurangan.

وَلِذَلِكَ مَا اخْتَرْنَا لِلْإِمَامِ أَنْ يُثْبِتَ نُسْخَةَ الْعَهْدِ فِي دِيوَانِهِ لِتُعْتَبَرَ أَفْعَالُهُ بِمَا تَضَمَّنَهَا وَمَا يَلْزَمُهُ مِنْ مُرَاعَاتِهِ فِي مَبَادِئِ نَظَرِهِ أَكْثَرُ مِمَّا يَلْزَمُهُ فِيمَا بَعْدُ وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يُخِلَّ بِمُرَاعَاتِهِ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ.

Oleh karena itu, kami memilih agar imam menetapkan salinan perjanjian di dalam diwan-nya, agar tindakannya dapat dipertimbangkan sesuai dengan isi perjanjian tersebut, dan kewajiban yang harus diperhatikannya dalam permulaan pandangannya lebih banyak daripada kewajiban yang harus diperhatikannya setelah itu, meskipun tidak boleh baginya untuk mengabaikan perhatian terhadapnya dalam keadaan apa pun.

فَإِنْ شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ نَدَبَ لَهُ مَنْ يُرَاعِيهِ وَيُنْهِي إِلَيْهِ مَا يَجْرِي فِيهِ.

Jika hal itu terasa berat baginya, maka disunnahkan baginya untuk meminta seseorang mengawasinya dan memberitahukan kepadanya apa yang terjadi padanya.

وَلِذَلِكَ قَلَّدَ الْإِمَامُ قَاضِيَ الْقُضَاةِ لِيَكُونَ نَائِبًا عَنْهُ فِي مُرَاعَاةِ الْقُضَاةِ.

Oleh karena itu, imam mengangkat Qāḍī al-Quḍāt agar menjadi wakilnya dalam mengawasi para qāḍī.

وَأَمَّا مَا عَلَى الْقَاضِي مِنَ الْحَقِّ فَثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ:

Adapun hak-hak yang wajib dipenuhi oleh seorang qādī ada tiga hal:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْمَلَ بِمَا تَضَمَّنَهُ عَهْدُهُ مِنْ عَمَلٍ، وَنَظَرٍ فَلَا يَتَجَاوَزُ عَمَلَهُ وَلَا يُقَصِّرُ عَنْهُ وَلَا يتعدى جُعِلَ إِلَيْهِ مِنْ خُصُوصِ النَّظَرِ وَلَا يُخِلُّ بِمَا جُعِلَ إِلَيْهِ مِنَ الْعُمُومِ النَّظَرِ.

Salah satunya adalah bahwa ia harus melaksanakan apa yang tercakup dalam tugas yang diamanahkan kepadanya, baik dalam hal amal maupun pengamatan, sehingga ia tidak melampaui tugasnya dan tidak pula menguranginya, tidak melampaui batas yang telah ditetapkan baginya dalam hal pengamatan khusus, dan tidak mengabaikan apa yang telah ditetapkan baginya dalam hal pengamatan umum.

وَلِذَلِكَ أَمَرَ بِقِرَاءَةِ عَهْدِهِ عَلَى أَهْلِ عَمَلِهِ لِيَعْلَمُوا مِنْهُ مَا إِلَيْهِ وَمَا لَيْسَ إِلَيْهِ.

Oleh karena itu, ia memerintahkan agar perjanjian jabatannya dibacakan kepada para pegawai di wilayah kerjanya, agar mereka mengetahui apa saja yang menjadi tanggung jawabnya dan apa yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

وَالْأَوْلَى أَنْ يَكُونَ مَعَهُ عِنْدَ قِرَاءَةِ عَهْدِهِ شَاهِدَانِ قَدْ شَهِدَا عَلَى مَا تَضَمَّنَهُ لِيَشْهِدُوا بِهِ عِنْدَ أَهْلِ عَمَلِهِ حَتَّى يَلْتَزِمُوا طَاعَتَهُ.

Yang lebih utama adalah hendaknya ada dua orang saksi bersamanya ketika membacakan surat pengangkatannya, yang telah menyaksikan isi yang terkandung di dalamnya, agar mereka dapat menjadi saksi di hadapan orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinannya, sehingga mereka berkomitmen untuk menaati perintahnya.

فَإِنْ أَعْوَزَتِ الشَّهَادَةُ وَاقْتَرَنَ بِقِرَاءَةِ الْعَهْدِ مِنْ شَوَاهِدِ الْأَحْوَالِ مَا يَدُلُّ عَلَى صِحَّتِهِ مِنَ الْقُرْبِ مِنْ بَلَدِ الْإِمَامِ وَانْتِشَارِ الْحَالِ وَاشْتِهَارِهَا لَزِمَتْهُمُ الطَّاعَةُ.

Jika kesaksian tidak didapatkan, namun pembacaan surat pengangkatan itu disertai dengan tanda-tanda keadaan yang menunjukkan kebenarannya, seperti dekatnya dari negeri imam, tersebarnya berita tersebut, dan ketenarannya, maka wajib bagi mereka untuk menaati.

وَإِنْ لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ شَاهِدُ حَالٍ لَمْ تَلْزَمِ الطَّاعَةُ.

Dan jika tidak disertai dengan indikasi keadaan, maka ketaatan tidaklah wajib.

وَالثَّانِي: مِنَ الْحُقُوقِ عَلَى الْقَاضِي: أَنْ يَسْتَمِدَّ مَعُونَةَ الْإِمَامِ فِيمَا عَجَزَ عَنْهُ، مِنِ اسْتِيفَاءِ حَقٍّ أَوْ دَفْعِ ظُلْمٍ، حَتَّى لَا يَفُوتَ حَقٌّ قَدْ نُدِبَ لِاسْتِيفَائِهِ وَلَا يَتِمَّ ظُلْمٌ قَدْ نُدِبَ لِرَفْعِهِ.

Kedua: Di antara hak-hak atas seorang qadhi adalah hendaknya ia meminta bantuan imam dalam hal-hal yang tidak mampu ia lakukan, baik dalam menunaikan suatu hak maupun mencegah suatu kezaliman, agar tidak ada hak yang terlewatkan yang ia ditugaskan untuk menunaikannya, dan tidak ada kezaliman yang sempurna yang ia ditugaskan untuk menghilangkannya.

وَالثَّالِثُ: أَنْ لَا يُخِلَّ بِالنَّظَرِ مَعَ الْمَكِنَةِ اعْتِبَارًا بِالْعُرْفِ وَالْعَادَةِ فِي أَنْ لَا يَتَأَخَّرَ الْخُصُومُ عَنِ الْمُحَاكَمَةِ، وَلَا يَمْنَعُ مِنَ الِاسْتِرَاحَةِ، وَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ الْقُضَاةِ لِلِانْقِطَاعِ بِمِثْلِهِ.

Ketiga: Tidak boleh lalai dalam meneliti perkara selama masih memiliki kemampuan, dengan mempertimbangkan ‘urf dan kebiasaan agar para pihak tidak terlambat dalam proses persidangan, dan hal itu tidak menghalangi untuk beristirahat, serta sesuai dengan kebiasaan para qadi dalam menghentikan sementara perkara dengan alasan yang serupa.

فَإِنْ كَانَ مُرْتَزَقًا لَمْ يَسْتَحِقَّ رِزْقُهُ قَبْلَ وُصُولِهِ إِلَى عَمَلِهِ.

Jika ia adalah seorang yang menerima gaji, maka ia tidak berhak atas gajinya sebelum ia mulai melaksanakan pekerjaannya.

فَإِذَا وَصَلَ إِلَيْهِ وَنَظَرَ اسْتَحَقَّ الرِّزْقَ.

Maka apabila ia telah sampai kepadanya dan melihatnya, ia berhak mendapatkan rezeki.

وَإِنْ وَصَلَ وَلَمْ يَنْظُرْ فَإِنْ كَانَ مُتَصَدِّيًا لِلنَّظَرِ يَسْتَحِقُّهُ وَإِنْ لَمْ يَنْظُرْ، كَالْأَجِيرِ فِي الْعَمَلِ إِذَا سَلَّمَ نَفْسَهُ إِلَى مُسْتَأْجِرِهِ فَلَمْ يَسْتَعْمِلْهُ اسْتَحَقَّ أُجْرَتَهُ.

Dan jika ia telah hadir namun belum melakukan penelaahan, maka jika ia memang telah bersiap untuk menelaah, ia tetap berhak mendapatkannya meskipun belum menelaah, seperti halnya seorang pekerja upahan dalam pekerjaan, apabila ia telah menyerahkan dirinya kepada orang yang mempekerjakannya namun belum digunakan tenaganya, ia tetap berhak atas upahnya.

وَإِنْ لَمْ يَتَصَدَّ لِلنَّظَرِ فَلَا رِزْقَ لَهُ، كَالْأَجِيرِ إِذَا لَمْ يُسَلِّمْ نَفْسَهُ لِلْعَمَلِ.

Dan jika ia tidak menyibukkan diri untuk meneliti (masalah), maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah, seperti pekerja upahan yang tidak menyerahkan dirinya untuk bekerja.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي فِي الْعَزْلِ فَهُوَ: عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun bagian kedua tentang ‘azl, maka ia terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: أَنْ يَعْزِلَهُ الْإِمَامُ الْمُوَلِّي.

Salah satunya adalah pemecatan oleh imam yang mengangkatnya.

فَإِنْ كَانَ عَزْلُهُ عَنِ اجْتِهَادٍ أَدَّى إِلَيْهِ، إِمَّا لِظُهُورِ ضَعْفِهِ وَإِمَّا لِوُجُودِ مَنْ هُوَ أَكْفَأُ مِنْهُ جَازَ أَنْ يَعْزِلَهُ.

Jika pencopotannya didasarkan pada ijtihad yang mengantarkan kepada keputusan tersebut, baik karena tampak kelemahannya maupun karena adanya orang lain yang lebih cakap darinya, maka boleh untuk mencopotnya.

وَإِنْ لَمْ يُؤَدِّهِ الِاجْتِهَادُ إِلَى عَزْلِهِ لِاسْتِقْلَالِهِ بِالنَّظَرِ فِي عَمَلِهِ عَلَى الصِّحَّةِ وَالِاسْتِقَامَةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَعْزِلَهُ لِأَنَّهُ لَا مَصْلَحَةَ فِي عَزْلِ مِثْلِهِ.

Dan jika ijtihadnya tidak membawanya untuk memberhentikan orang tersebut karena ia telah mandiri dalam memperhatikan pekerjaannya dengan benar dan lurus, maka ia tidak berhak memberhentikannya, karena tidak ada kemaslahatan dalam memberhentikan orang seperti itu.

فَإِنْ عَزْلَهُ انْعَزَلَ وَإِنْ كَانَ الِاجْتِهَادُ بِخِلَافِهِ.

Jika ia memberhentikannya, maka ia pun diberhentikan, meskipun ijtihad menunjukkan sebaliknya.

لِأَنَّ عَزْلَهُ حُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ الْإِمَامِ لَا يُرَدُّ إِذَا لَمْ يُخَالِفْ نَصًّا أَوْ إِجْمَاعًا. وَعَزْلُهُ يَكُونُ بِالْقَوْلِ فَإِنْ قَلَّدَ غَيْرَهُ وَاقْتَرَنَ بِتَقْلِيدِهِ شَوَاهِدُ الْعَزْلِ كَانَ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ عَزْلًا لَهُ.

Karena pemecatannya merupakan salah satu hukum dari imam yang tidak dapat ditolak selama tidak bertentangan dengan nash atau ijmā‘. Pemecatannya dapat dilakukan dengan ucapan; jika imam mengangkat orang lain dan pengangkatan tersebut disertai dengan tanda-tanda pemecatan, maka pengangkatan orang lain itu dianggap sebagai pemecatan baginya.

وَإِنْ لَمْ تَقْتَرِنْ بِهِ شَوَاهِدُ الْعَزْلِ كَانَ الْأَوَّلُ عَلَى وِلَايَتِهِ وَالثَّانِي مُشَارِكًا لَهُ فِي نَظَرِهِ.

Dan jika tidak disertai dengan bukti-bukti pemberhentian, maka yang pertama tetap dalam jabatannya dan yang kedua menjadi mitra baginya dalam wewenangnya.

وَيَنْعَزِلُ بِعَزْلِهِ جَمِيعُ خُلَفَائِهِ إِنْ كَانَ خَاصَّ الْعَمَلِ.

Dan seluruh para penggantinya akan diberhentikan dengan pemberhentiannya, jika ia adalah pejabat khusus dalam suatu tugas.

وَلَا يَنْعَزِلُ مَنْ وَلَّاهُ عَلَى الْأَيْتَامِ وَالْوُقُوفِ مِنْ أُمَنَائِهِ لِنَظَرِهِمْ فِي حَقِّ غَيْرِهِ.

Dan tidak diberhentikan orang yang diangkatnya untuk mengurus anak yatim dan wakaf dari para kepercayaannya karena mereka mengurus hak orang lain.

فَإِنْ نَظَرَ هَذَا الْمَعْزُولُ قَبْلَ عِلْمِهِ بِعَزْلِهِ فَفِي نُفُوذِ أَحْكَامِهِ قَوْلَانِ كَالْوَكِيلِ إِذَا عَقَدَ بَعْدَ عَزْلِ مُوَكِّلِهِ وَقَبْلَ عِلْمِهِ:

Jika hakim yang telah diberhentikan ini memutuskan perkara sebelum ia mengetahui pemberhentiannya, maka terdapat dua pendapat mengenai berlakunya putusannya, sebagaimana halnya seorang wakil yang melakukan akad setelah ia diberhentikan oleh pihak yang mewakilkan, namun sebelum ia mengetahui pemberhentiannya.

أَحَدُهُمَا: أَنَّ أَحْكَامَهُ بَاطِلَةٌ، إِذَا قِيلَ إِنَّ عَقْدَ الْوَكِيلِ بَاطِلٌ.

Salah satunya: bahwa hukum-hukumnya batal, jika dikatakan bahwa akad yang dilakukan oleh wakil adalah batal.

وَالثَّانِي: أَنَّ أَحْكَامَهُ جَائِزَةٌ إِذَا قِيلَ إِنَّ عَقْدَ الْوَكِيلِ جَائِزٌ.

Kedua: bahwa hukum-hukumnya boleh jika dikatakan bahwa akad wakil itu boleh.

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: بَلْ أَحْكَامُهُ جَائِزَةٌ قَوْلًا وَاحِدًا، وَإِنْ كَانَتْ عُقُودُ الْوَكِيلِ عَلَى قَوْلَيْنِ.

Dan sebagian ulama kami berkata: Bahkan hukum-hukumnya sah menurut satu pendapat, meskipun akad-akad yang dilakukan oleh wakil terdapat dua pendapat.

وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا مِنْ وَجْهَيْنِ:

Dan beliau membedakan antara keduanya dari dua sisi:

أَحَدُهُمَا: أَنَّ الْقَاضِيَ نَاظِرٌ فِي حَقِّ غَيْرِ الْمُوَلِّي، وَالْوَكِيلَ نَاظِرٌ فِي حَقِّ الْمُوَكِّلِ.

Salah satunya adalah bahwa qādī (hakim) memeriksa perkara yang berkaitan dengan hak orang selain yang mengangkatnya, sedangkan wakil memeriksa perkara yang berkaitan dengan hak orang yang mewakilkannya.

وَالثَّانِي: أَنَّ مَوْتَ الْإِمَامِ الْمُوَلِّي لَا يُوجِبُ عَزْلَ الْقَاضِي وَمَوْتَ الْمُوَكِّلِ مُوجِبٌ لِعَزْلِ الْوَكِيلِ فَقَوِيَ الْقَاضِي بِهَذَيْنِ الْفَرْقَيْنِ عَلَى الْوَكِيلِ فَصَحَّ لِأَجْلِهَا أَحْكَامُ الْقَاضِي وَإِنْ لَمْ تَصِحَّ عُقُودُ الْوَكِيلِ.

Kedua: Bahwa wafatnya imam yang mengangkat tidak menyebabkan pemberhentian qadhi, sedangkan wafatnya muwakkil menyebabkan pemberhentian wakil. Maka qadhi menjadi lebih kuat daripada wakil karena dua perbedaan ini, sehingga karena keduanya, putusan-putusan qadhi tetap sah meskipun akad-akad wakil tidak sah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يَعْزِلَ نَفْسَهُ.

Jenis yang kedua: yaitu seseorang memisahkan dirinya sendiri.

فَإِنْ كَانَ لِعُذْرٍ جَازَ اعْتِزَالُهُ وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِ عُذْرٍ مُنِعَ مِنَ الِاعْتِزَالِ وَإِنْ لَمْ يُجْبَرْ عَلَيْهِ لِأَنَّ وِلَايَةَ الْقَضَاءِ مِنَ الْعُقُودِ الْجَائِزَةِ دُونَ اللَّازِمَةِ وَلِذَلِكَ نَفَذَ فِيهِ عَزْلُ الْإِمَامِ وَإِنْ خَالَفَ

Jika karena uzur, maka boleh baginya mengundurkan diri, namun jika tanpa uzur, ia dilarang untuk mengundurkan diri, meskipun tidak dipaksa untuk tetap menjabat, karena jabatan qadha’ termasuk akad yang jaiz (boleh) dan bukan akad yang lazim (mengikat). Oleh karena itu, pemberhentian oleh imam tetap berlaku meskipun bertentangan.

الْأَوْلَى لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَعْتَزِلَ إِلَّا بَعْدَ إِعْلَامِ الْإِمَامِ وَاسْتِعْفَائِهِ لِأَنَّهُ مَوْكُولٌ لِعَمَلٍ يَحْرُمُ عَلَيْهِ إِضَاعَتُهُ.

Yang utama, namun tidak boleh baginya untuk mengundurkan diri kecuali setelah memberitahu imam dan meminta izin darinya, karena ia telah diberi tugas yang haram baginya untuk menyia-nyiakannya.

وَعَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُعْفِيَهُ مِنَ النَّظَرِ إِذَا وَجَدَ غَيْرَهُ حَتَّى لَا يَخْلُوَ الْعَمَلُ مِنْ نَاظِرٍ.

Dan wajib bagi imam untuk membebaskannya dari tugas pengawasan jika telah ditemukan orang lain, agar pekerjaan tidak pernah tanpa pengawas.

فَإِنْ أَعْفَاهُ قَبْلَ ارْتِيَادِ غَيْرِهِ جَازَ إِنْ كَانَ لَا يَتَعَذَّرُ وَلَمْ يَجُزْ إِنْ تَعَذَّرَ.

Jika ia membebaskannya sebelum orang lain mencobanya, maka hal itu boleh jika tidak sulit dilakukan, dan tidak boleh jika sulit dilakukan.

وَيَتِمُّ عَزْلُهُ بِاسْتِعْفَائِهِ وَإِعْفَائِهِ وَلَا يَتِمُّ بِأَحَدِهِمَا.

Pemberhentiannya menjadi sempurna dengan permintaan pengunduran dirinya dan pemberhentian darinya, dan tidak menjadi sempurna dengan salah satu dari keduanya saja.

فَإِنْ نَظَرَ بَيْنَ اسْتِعْفَائِهِ وَإِعْفَائِهِ صَحَّ نَظَرُهُ.

Jika ia memutuskan perkara di antara permintaan pengunduran dirinya dan pemberhentiannya, maka keputusannya sah.

وَلَا يَكُونُ قَوْلُهُ قَدْ عَزَلْتُ نَفْسِي عَزْلًا؛ لِأَنَّ الْعَزْلَ يَكُونُ مِنَ الْمُوَلِّي وَهُوَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُوَلِّيَ نَفْسَهُ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَعْزِلَهَا وَإِنَّمَا هُوَ أَنْ يَسْتَعْفِيَ فَيُعْفَى.

Dan ucapan seseorang, “Aku telah memberhentikan diriku sendiri,” tidak dianggap sebagai pemberhentian; karena pemberhentian itu dilakukan oleh pihak yang mengangkat, sedangkan tidak diperbolehkan seseorang mengangkat dirinya sendiri, maka tidak sah pula baginya untuk memberhentikan dirinya sendiri. Yang ada hanyalah ia mengajukan permohonan pengunduran diri, lalu permohonannya itu dikabulkan.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: أَنْ تَحْدُثَ أَسْبَابُ الْعَزْلِ وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ: مَوْتٌ وَعَجْزٌ وَجَرْحٌ.

Jenis yang ketiga: Terjadinya sebab-sebab pencopotan, yang terbagi menjadi tiga macam: kematian, ketidakmampuan, dan cacat.

فَأَمَّا الْمَوْتُ: فَهُوَ مَوْتُ الْمُوَلِّي فلا يخلو المولى من ثلاثة أَحْوَالٍ:

Adapun kematian: yaitu wafatnya orang yang mewakilkan, maka orang yang diwakilkan tidak lepas dari tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَكُونَ إِمَامًا عَامَّ الْوِلَايَةِ عَلَى الْقَضَاءِ وَغَيْرِهِ فَلَا تَبْطُلُ بِمَوْتِهِ وِلَايَاتُ الْقُضَاةِ وَإِنْ بَطَلَ بِمَوْتِ الْمُوَكِّلِ وِكَالَةُ الْوَكِيلِ لِأَنَّ تَوْلِيَةَ الْإِمَامِ لِلْقَاضِي اسْتِنَابَةٌ فِي حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ لَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ بِخِلَافِ الْوَكِيلِ الْمُسْتَنَابِ فِي حَقِّ مُوَكِّلِهِ.

Salah satunya: apabila seorang imam memiliki wewenang umum atas peradilan dan selainnya, maka kematian imam tersebut tidak membatalkan wewenang para qadi, meskipun kematian pemberi kuasa membatalkan keagenan seorang wakil. Sebab, pengangkatan qadi oleh imam merupakan penunjukan dalam hak-hak kaum Muslimin, bukan dalam hak dirinya sendiri, berbeda dengan wakil yang diangkat untuk kepentingan pemberi kuasanya.

قَدْ قَلَّدَ رَسُولُ الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – عَتَّابَ بْنَ أَسِيدٍ قَضَاءَ مَكَّةَ وَصَدَقَاتِ أَهْلِهَا فَلَمَّا مَاتَ اخْتَبَأَ عَتَّابٌ وَامْتَنَعَ مِنَ الْقَضَاءِ فَأَظْهَرَهُ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَقَالَ: إِنْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ – قَدْ مَاتَ فَإِنَّ الْمُسْلِمِينَ بَاقُونَ، فَعَادَ عَتَّابٌ إِلَى نَظَرِهِ، وَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ فَصَارَ إِجْمَاعًا.

Rasulullah ﷺ telah mengangkat ‘Attab bin Asid sebagai hakim di Mekah dan pengelola zakat penduduknya. Ketika Rasulullah wafat, ‘Attab bersembunyi dan enggan menjalankan tugas kehakiman. Lalu Suhail bin Amr menampakkan dirinya dan berkata, “Jika Rasulullah ﷺ telah wafat, maka kaum Muslimin tetap ada.” Maka ‘Attab kembali menjalankan tugasnya, dan tidak ada seorang pun dari para sahabat yang mengingkari hal itu, sehingga hal tersebut menjadi ijmā‘.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُوَلِّي قَاضِيَ نَاحِيَةٍ أَوْ صُقْعٍ قَدِ اسْتَخْلَفَ فِيهِ مَنْ يَنُوبُ عَنْهُ فِي الْقَضَاءِ، فَيَكُونُ مَوْتُهُ مُبْطِلًا لِوِلَايَاتِ خُلَفَائِهِ لِمَعْنَيَيْنِ:

Keadaan kedua: apabila yang memberikan pelimpahan adalah seorang qāḍī (hakim) di suatu wilayah atau daerah, yang telah mengangkat seseorang sebagai wakilnya dalam menjalankan tugas kehakiman, maka wafatnya qāḍī tersebut membatalkan kekuasaan para penggantinya karena dua alasan:

أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ خَاصُّ النَّظَرِ خَاصُّ الْعَمَلِ فَخَالَفَ مَوْتُ الْإِمَامِ فِي عُمُومِ نَظَرِهِ وَعُمُومِ عَمَلِهِ.

Salah satunya adalah bahwa ia bersifat khusus dalam penelaahan dan khusus dalam penerapan, sehingga berbeda dengan wafatnya imam yang bersifat umum dalam penelaahan dan umum dalam penerapan.

وَالثَّانِي: أَنَّ الْإِمَامَ يَقْدِرُ عَلَى اسْتِدْرَاكِ الْأَمْرِ فِي مَوْتِهِ بِتَقْلِيدِ غَيْرِهِ.

Kedua: bahwa imam mampu mengatasi persoalan yang timbul akibat wafatnya dengan mengangkat orang lain sebagai penggantinya.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُوَلِّي هُوَ قَاضِي الْقُضَاةِ الْعَامُّ الْوِلَايَةِ فِي جَمِيعِ الْأَمْصَارِ فَهُوَ عَامُّ الْعَمَلِ خَاصُّ النَّظَرِ.

Keadaan yang ketiga: apabila yang mengangkat (pejabat) adalah Qāḍī al-Quḍāt (hakim agung) yang memiliki wewenang umum di seluruh negeri, maka ia bersifat umum dalam pelaksanaan tugas, namun khusus dalam pengawasan.

فَعُمُومُ عَمَلِهِ: أَنَّهُ وَالٍ عَلَى الْبِلَادِ كُلِّهَا.

Secara umum tugasnya adalah bahwa ia merupakan penguasa atas seluruh negeri.

وَخُصُوصُ نَظَرِهِ: أَنَّهُ مَقْصُورٌ عَلَى الْقَضَاءِ دُونَ غَيْرِهِ.

Kekhususan pandangannya adalah bahwa ia terbatas pada urusan peradilan saja, tidak pada selainnya.

فَشَابَهَ الْإِمَامَ فِي عُمُومِ عَمِلِهِ، وَخَالَفَهُ فِي خُصُوصِ نَظَرِهِ.

Ia menyerupai imam dalam keumuman amalnya, namun berbeda dengannya dalam kekhususan pandangannya.

فَفِي انْعِزَالِ الْقُضَاةِ بِمَوْتِهِ وجهان:

Dalam hal pemberhentian para qāḍī karena kematiannya, terdapat dua pendapat:

أَحَدُهُمَا: لَا يَنْعَزِلُونَ لِعُمُومِ نَظَرِهِ كَالْإِمَامِ.

Salah satunya: mereka tidak diberhentikan karena pengawasan mereka yang bersifat umum seperti imam.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَنْعَزِلُونَ بِمَوْتِهِ لِخُصُوصِ نَظَرِهِ كَقَاضِي إِقْلِيمٍ.

Pendapat kedua: mereka tidak lagi menjabat setelah kematiannya karena kekhususan wewenangnya, seperti qadhi pada suatu wilayah.

وَأَمَّا الْعَجْزُ: فَهُوَ أَنْ يَحْدُثَ فِي الْقَاضِي عَجْزٌ يَمْنَعُهُ مِنَ النَّظَرِ فَهُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:

Adapun ketidakmampuan: yaitu apabila terjadi pada seorang qāḍī suatu ketidakmampuan yang menghalanginya untuk menjalankan tugas pengadilan, maka ketidakmampuan itu terbagi menjadi tiga jenis:

أَحَدُهَا: مَا يُمْنَعُ مِنَ التَّقْلِيدِ كَالْعَمَى وَالْخَرَسِ فَقَدِ انْعَزَلَ بِحُدُوثِهِ فِيهِ.

Salah satunya: sesuatu yang menghalangi dari melakukan taqlid seperti buta dan bisu, maka ia telah terisolasi dengan terjadinya hal tersebut padanya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا لَا يَمْنَعُ مِنَ التَّقْلِيدِ كَالزَّمَانَةِ فَلَا يَنْعَزِلُ بِهَا؛ لِأَنَّهُ يَعْجَزُ بِهَا عَنِ النَّهْضَةِ وَلَا يَعْجَزُ بِهَا عَنِ الْحُكْمِ.

Jenis kedua: yaitu yang tidak menghalangi dari melakukan taqlid, seperti penyakit lumpuh, maka tidak diberhentikan karenanya; karena dengan penyakit itu ia hanya tidak mampu untuk bergerak, namun tidak menjadi tidak mampu untuk menetapkan hukum.

وَالضَّرْبُ الثَّالِثُ: الْمَرَضُ فَإِنْ أَعْجَزَهُ عَنِ النَّهْضَةِ وَلَمْ يُعْجِزْهُ عَنِ الْحُكْمِ لَمْ يَنْعَزِلْ بِهِ وَإِنْ أَعْجَزَهُ عَنِ النَّهْضَةِ وَالْحُكْمِ فَإِنْ كَانَ مَرْجُوُّ الزَّوَالِ لَمْ يَنْعَزِلْ بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مَرْجُوِّ الزَّوَالِ انْعَزَلَ بِهِ.

Jenis ketiga: sakit. Jika sakit itu menghalanginya untuk bangkit (melaksanakan tugas) namun tidak menghalanginya untuk menjalankan pemerintahan, maka ia tidak diberhentikan karenanya. Jika sakit itu menghalanginya untuk bangkit dan juga menjalankan pemerintahan, maka jika sakit tersebut masih diharapkan sembuh, ia tidak diberhentikan karenanya. Namun jika sakit tersebut tidak diharapkan sembuh, maka ia diberhentikan karenanya.

وَأَمَّا الْجَرْحُ: وَهُوَ الْفِسْقُ فَإِنْ حَدَثَ فِي الْمُوَلِّي كَانَ كَمَوْتِهِ؛ لِأَنَّهُ يَنْعَزِلُ بِالْفِسْقِ، كَمَا يَنْعَزِلُ بِالْمَوْتِ، فَيَكُونُ عَلَى مَا مَضَى مِنِ اخْتِلَافِ أَحْوَالِ الْمُوَلِّي.

Adapun al-jarḥ, yaitu kefasikan, maka jika terjadi pada orang yang diangkat (pejabat), hukumnya seperti kematiannya; karena ia diberhentikan dari jabatannya karena kefasikan, sebagaimana ia diberhentikan karena kematian, sehingga hukumnya mengikuti perbedaan keadaan orang yang diangkat tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

وَإِنْ حدث الفسق في القاضي المولى فإن استدامه مُصِرًّا عَلَيْهِ أُنْزِلَ بِهِ.

Dan jika kefasikan terjadi pada seorang qadhi yang telah diangkat, maka jika ia terus-menerus melakukannya dengan bersikeras, ia harus diberhentikan dari jabatannya.

وَإِنْ حَدَثَ الْفِسْقُ في القاضي المولى فإن استدامه مصرا عليه انْعَزَلَ بِهِ.

Dan jika kefasikan terjadi pada seorang qadhi yang diangkat, maka jika ia terus-menerus melakukannya dengan bersikeras, ia diberhentikan karenanya.

وَإِنْ كَانَ إِقْلَاعُهُ عَنْ نَدَمٍ وَتَوْبَةٍ نُظِرَ، فَإِنْ كَانَ فِسْقُهُ قَدْ ظَهَرَ قَبْلَ التَّوْبَةِ انْعَزَلَ بِهِ.

Dan jika ia berhenti karena penyesalan dan tobat, maka hal itu perlu diteliti; jika kefasikannya telah tampak sebelum tobat, maka ia diberhentikan karena hal itu.

وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ حَتَّى تَابَ مِنْهُ لَمْ يَنْعَزِلْ بِهِ لِانْتِفَاءِ الْعِصْمَةِ عَنْهُ. وَإِنَّ هَفَوَاتِ ذَوِي الْهَيْئَاتِ مَقَالَةٌ قَلَّ أَنْ يَسْلَمَ مِنْهَا إِلَّا مَنْ عُصِمَ.

Dan jika perbuatan itu tidak tampak hingga ia telah bertobat darinya, maka ia tidak diberhentikan karenanya, karena tidak adanya sifat ma‘shūm (terjaga dari dosa) pada dirinya. Dan sesungguhnya kesalahan-kesalahan orang-orang terhormat adalah perkara yang jarang sekali ada yang selamat darinya kecuali orang yang dijaga (oleh Allah).

وَإِذَا انْعَزَلَ بِالْفِسْقِ فَحَكَمَ فِي حَالِ انْعِزَالِهِ فَإِنْ كَانَ إِلْزَامًا بِإِقْرَارٍ صَحَّ، وَإِنْ كَانَ حُكْمًا بِشَهَادَةٍ بَطَلَ.

Dan apabila seorang hakim diberhentikan karena kefasikan, lalu ia memutuskan perkara dalam keadaan telah diberhentikan, maka jika keputusannya berupa penetapan berdasarkan pengakuan, maka sah; namun jika keputusannya berdasarkan kesaksian, maka batal.

وَعَلَيْهِ أَنْ يَمْتَنِعَ مِنَ الْحُكْمِ وَيُنْهِيَ حَالَهُ إِلَى الْإِمَامِ إِلَى مَنْ وَلَّاهُ مِنَ الْقَضَاءِ لِيُقَلِّدَ غَيْرَهُ وَلَا يَغْتَرَّ بِهِ النَّاسُ إِنْ لَمْ يَعْرِفُوهُ وَتَقِفُ أَحْكَامُهُمْ إِنْ عَرَفُوهُ.

Oleh karena itu, ia harus menahan diri dari memutuskan perkara dan melaporkan keadaannya kepada imam atau kepada pihak yang telah mengangkatnya sebagai qadhi, agar ia dapat menyerahkan tugas tersebut kepada orang lain. Jangan sampai orang-orang tertipu olehnya jika mereka tidak mengenalnya, dan keputusan-keputusannya harus dihentikan jika mereka telah mengetahuinya.

وَهُوَ فِي إِنْهَاءِ حَالِهِ بَيْنَ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ يُظْهِرَ الِاسْتِعْفَاء وَيَكْتُمَ حَالَهُ لِيَكُونَ حَافِظًا لِسَتْرِهِ، وَهُوَ أَوْلَاهُمَا، وَإِمَّا أَنْ يُخْبِرَ بِحَالِهِ وَسَبَبِ انْعِزَالِهِ، وَإِنْ كَرِهَ لَهُ هَتْكَ سِتْرِهِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ ” وَإِنْ خَرَجَ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ مَأْثَمِ الْإِمْسَاكِ.

Dalam menyelesaikan keadaannya, ia berada di antara dua pilihan: pertama, menampakkan permintaan maaf dan menyembunyikan keadaannya agar tetap menjaga penutupannya, dan ini adalah yang lebih utama; kedua, memberitahukan keadaannya dan sebab pengasingannya, meskipun ia tidak menyukai terbukanya aibnya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa melakukan sesuatu dari perbuatan keji ini, hendaklah ia menutupi dirinya dengan penutup Allah.” Dan dengan kedua pilihan tersebut, ia telah keluar dari dosa menahan diri.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي حُكَمِهِ: فَهُوَ عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian ketiga tentang hukumnya: maka hukumnya terbagi menjadi dua macam:

أَحَدُهُمَا: مَا تَمَّمَهُ وَأَمْضَاهُ قَبْلَ مَوْتِهِ وَعَزْلِهِ، فَهُوَ عَلَى نَفَاذِهِ وَإِمْضَائِهِ وَلَا يُؤَثِّرُ فِيهِ مَا حَدَثَ بَعْدَهُ مِنْ مَوْتِهِ أَوْ عَزْلِهِ.

Salah satunya adalah apa yang telah diselesaikan dan ditetapkannya sebelum wafat atau pemberhentiannya, maka hal itu tetap berlaku dan sah, dan apa yang terjadi setelahnya berupa wafat atau pemberhentiannya tidak berpengaruh terhadapnya.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: مَا شَرَعَ فِيهِ ثُمَّ مَاتَ أَوْ عُزِلَ قَبْلَ تَمَامِهِ فَيَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Jenis kedua: perkara yang telah ia mulai kerjakan, kemudian ia meninggal atau diberhentikan sebelum selesai, maka perkara ini terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: مَا يَجُوزُ لِلثَّانِي أَنْ يَبْنِيَ عَلَى فِعْلِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَتِمَّ وَلَا يَلْزَمُهُ اسْتِئْنَافُهُ وَهُوَ كُلُّ مَا لَا يَجُوزُ أَنْ يُعَادَ وَلَا يُزَادُ.

Salah satunya: sesuatu yang boleh bagi orang kedua untuk melanjutkan atas perbuatan orang pertama hingga selesai, dan tidak wajib baginya untuk memulai kembali, yaitu segala sesuatu yang tidak boleh diulang dan tidak boleh ditambah.

مِثْلَ: حَدُّ الْقَذْفِ إِذَا عُزِلَ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ بَعْضِهِ وَبَقَاءِ بَعْضِهِ فَيَجُوزُ لِلثَّانِي أَنْ يَبْنِيَ عَلَى فِعْلِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ بِهِمَا.

Seperti: hukuman had untuk qazaf apabila hakim pertama diberhentikan setelah sebagian hukuman dijalankan dan sebagian lainnya masih tersisa, maka hakim kedua boleh melanjutkan pelaksanaan hukuman yang telah dimulai oleh hakim pertama hingga hukuman tersebut sempurna dengan keduanya.

وَكَاللِّعَانِ إِذَا عُزِلَ بَعْدَ لِعَانِ الزَّوْجِ أَوْ بَعْضِهِ وَقَبْلَ لِعَانِ الزَّوْجَةِ أَوْ بَعْضِهِ فَيَبْنِي الثَّانِي عَلَى حُكْمِ الْأَوَّلِ وَلَا يَسْتَأْنِفُهُ حَتَّى يَتِمَّ اللِّعَانُ بِهِمَا.

Demikian pula halnya dengan li‘ān, apabila seseorang dipisahkan setelah li‘ān suami atau sebagian darinya, dan sebelum li‘ān istri atau sebagian darinya, maka yang kedua melanjutkan atas dasar hukum yang pertama dan tidak memulai dari awal hingga li‘ān itu sempurna dengan keduanya.

وَكَتَحَالُفِ الْمُتَبَايِعَيْنِ إِذَا اخْتَلَفَا فَيَعْزِلُ بَعْدَ يَمِينِ أَحَدِهِمَا وَقَبْلَ يَمِينِ الْآخَرِ، فَيَبْنِي الثَّانِي عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ إِحْلَافِ الْأَوَّلِ وَلَا يَسْتَأْنِفُ التَّحَالُفَ.

Seperti halnya sumpah kedua belah pihak yang berjual beli apabila terjadi perselisihan di antara mereka, maka salah satu dari keduanya dipisahkan setelah sumpah salah satunya dan sebelum sumpah yang lain, sehingga yang kedua membangun sumpahnya atas apa yang telah didahului oleh sumpah yang pertama dan tidak memulai sumpah yang baru.

وَكَالْأَيْمَانِ فِي الْقِسَامَةِ إِذَا عُزِلَ وَقَدْ حَلَفَ الْمُقْسِمُ بَعْضَ الْأَيْمَانِ وَبَقِيَ بَعْضُهَا فَيَبْنِي الثَّانِي عَلَى إِحْلَافِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ الْأَيْمَانَ وَلَا يَسْتَأْنِفَهَا إِلَى نَظَائِرِ هَذَا.

Demikian pula sumpah dalam kasus qisāmah, apabila seorang hakim diganti sementara pihak yang bersumpah telah mengucapkan sebagian sumpah dan masih tersisa sebagian lainnya, maka hakim yang kedua melanjutkan pengambilan sumpah dari apa yang telah dilakukan oleh hakim pertama hingga seluruh sumpah itu sempurna, dan tidak memulai ulang sumpah tersebut; demikian pula pada kasus-kasus serupa.

وَهَذَا الْبِنَاءُ مُعْتَبَرٌ بِتَصَادُقِ الْخَصْمَيْنِ، أَوْ بِقِيَامِ الْبَيِّنَةِ إِنْ تَكَاذَبَا.

Bangunan ini dianggap sah berdasarkan kesepakatan kedua pihak yang bersengketa, atau dengan adanya bukti jika keduanya saling mendustakan.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: مَا يَسْتَأْنِفُهُ الثَّانِي وَلَا يَبْنِي عَلَى حُكْمِ الْأَوَّلِ وَهُوَ كُلُّ مَا كَانَ الْفِعْلُ فِيهِ مُقْتَرِنًا بِالْحُكْمِ.

Bagian kedua adalah perkara yang dimulai oleh yang kedua dan tidak dibangun di atas putusan yang pertama, yaitu setiap perkara di mana perbuatan tersebut disertai dengan hukum.

مِثْلَ حُكْمِهِ بِفَسْخِ النِّكَاحِ بِإِعْسَارِ الزَّوْجِ وَلَا يَفْسَخُهُ حَتَّى يَعْزِلَ، فَلَيْسَ لِلثَّانِي فَسْخُهُ بِحُكْمِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الْحُكْمَ.

Seperti halnya putusan hakim untuk membatalkan pernikahan karena suami tidak mampu, maka hakim tidak membatalkannya sampai ia memisahkan (antara keduanya). Maka hakim kedua tidak boleh membatalkannya berdasarkan putusan hakim pertama sampai ia memulai putusan yang baru.

وَكَمَا لَوْ حَكَمَ بِبَيْعِ مَالِ الْمُفْلِسِ ثُمَّ عُزِلَ قَبْلَ بَيْعِهِ لَمْ يَكُنْ لِلثَّانِي بَيْعُهُ بِحُكْم الْأَوَّل حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الْحُكْمَ بِهِ.

Sebagaimana jika seorang hakim memutuskan untuk menjual harta orang yang pailit, kemudian ia diberhentikan sebelum harta itu dijual, maka hakim yang kedua tidak boleh menjualnya berdasarkan putusan hakim pertama, kecuali setelah memulai kembali penetapan hukum atasnya.

وَكَمَا لَوْ أَذِنَ لِوَلِّيِ يَتِيمٍ فِي بَيْعِ مَالِهِ فِي مَصَالِحِهِ فَلَمْ يَبِعْهُ الْوَلِيُّ، حَتَّى عُزِلَ، مُنِعَ مِنَ الْبَيْعِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الثَّانِي الْإِذْنَ فِيهِ.

Sebagaimana jika seseorang memberi izin kepada wali seorang yatim untuk menjual hartanya demi kemaslahatan yatim tersebut, lalu wali itu tidak segera menjualnya hingga ia diberhentikan, maka wali yang baru tidak boleh melakukan penjualan sampai ia mendapatkan izin kembali untuk itu.

وَكَمَا لَوْ حَكَمَ بِشُفْعَةِ الْجِوَارِ وَلَمْ يُسَلِّطِ الشَّفِيعُ عَلَى الْأَخْذِ حَتَّى عَزَلَ، فَلَيْسَ لِلثَّانِي تَسْلِيطُهُ بِحُكْمِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الْحُكْمَ بِالشُّفْعَةِ وَالتَّسْلِيطِ إِلَى نَظَائِرِ هَذَا.

Demikian pula, jika seorang hakim memutuskan hak syuf‘ah karena alasan bertetangga, namun pihak yang berhak syuf‘ah belum diberi wewenang untuk mengambil hingga hakim tersebut diberhentikan, maka hakim berikutnya tidak boleh memberikan wewenang itu berdasarkan putusan hakim sebelumnya, kecuali dengan memulai kembali putusan mengenai syuf‘ah dan pemberian wewenang, dan demikian pula pada kasus-kasus serupa.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا اخْتَلَفَتْ أَحْوَالُهُ فِي الْبِنَاءِ وَالِاسْتِئْنَافِ، وَهُوَ سَمَاعُ البينة، وله في العزل بعد سماعها ثلاثة أَحْوَالٍ:

Bagian ketiga: adalah perkara yang berbeda keadaannya dalam hal melanjutkan atau memulai kembali, yaitu mendengarkan bukti (bayyinah). Dalam hal pencopotan setelah mendengarkan bukti, terdapat tiga keadaan:

أَحَدُهَا: أَنْ يَسْمَعَهَا وَلَا يَحْكُمَ بِقَبُولِهَا حَتَّى يَعْزِلَ فَلَا يَجُوزُ لِلثَّانِي أَنْ يَحْكُمَ بِقَبُولِهَا بِسَمَاعِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ الشَّهَادَةَ.

Salah satunya: apabila ia mendengarnya namun belum memutuskan untuk menerimanya hingga ia memisahkan diri, maka tidak boleh bagi yang kedua untuk memutuskan penerimaannya hanya dengan mendengar dari yang pertama, hingga ia mengulangi persaksian tersebut dari awal.

فَإِنْ قِيلَ أَفَلَيْسَ يَجُوزُ لِلْقَاضِي أَنْ يَكْتُبَ بِسَمَاعِ الْبَيِّنَةِ حَتَّى يَحْكُمَ الْمَكْتُوبُ إِلَيْهِ بِقَبُولِهَا وَإِنْفَاذِ الْحُكْمِ بِمَا تَضَمَّنَهَا فَهَلَا كَانَ الثَّانِي بَعْدَ الأول بمثابته؟ .

Jika dikatakan, “Bukankah boleh bagi seorang qadhi untuk menulis berdasarkan pendengaran terhadap bukti, sehingga orang yang ditulis kepadanya dapat memutuskan dengan menerima bukti tersebut dan menjalankan putusan sesuai dengan apa yang terkandung di dalamnya? Maka, mengapa yang kedua setelah yang pertama tidak diposisikan sama dengannya?”

قِيلَ لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ الثَّانِي قَادِرٌ عَلَى سَمَاعِهَا كَالْأَوَّلِ وَلَا يَقْدِرُ الْغَائِبُ عَلَى سَمَاعِهَا كَالْحَاضِرِ.

Dikatakan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya, yaitu yang kedua mampu mendengarnya seperti yang pertama, sedangkan orang yang tidak hadir tidak mampu mendengarnya seperti orang yang hadir.

وَالْحَالُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَعْزِلَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِقَبُولِهَا وَبَعْدَ إِلْزَامِ الْحَقِّ الَّذِي تَضَمَّنَهَا، فَعَلَى الثَّانِي إِذَا أَشْهَدَ الْأَوَّلُ عَلَى نَفْسِهِ بإلزام أَنْ يَبْنِيَ عَلَى حُكْمِ الْأَوَّلِ فِي تَنْفِيذِ الْإِلْزَامِ.

Keadaan kedua: Jika ia diberhentikan setelah adanya putusan untuk menerima (kesaksian) dan setelah penetapan kewajiban hak yang terkandung di dalamnya, maka menurut pendapat kedua, apabila hakim pertama telah menghadirkan saksi atas dirinya sendiri mengenai penetapan kewajiban tersebut, maka hakim kedua wajib melanjutkan putusan hakim pertama dalam melaksanakan penetapan kewajiban itu.

وَالْحَالُ الثَّالِثَةُ: أَنْ يَعْزِلَ بَعْدَ الْحُكْمِ بِقَبُولِهَا وَقَبْلَ الْحُكْمِ بِإِلْزَامِ مَا تَضَمَّنَهَا فَلَا تَخْلُو حَالُ مَنْ شَهِدَ عِنْدَهُ مِنْ أَنْ يَكُونُوا أَحْيَاءً أَوْ مَوْتَى.

Keadaan ketiga: yaitu ketika ia diberhentikan setelah keputusan untuk menerima (kesaksian) telah ditetapkan, namun sebelum keputusan untuk mewajibkan apa yang terkandung di dalamnya. Maka, keadaan orang-orang yang memberikan kesaksian di hadapannya tidak lepas dari dua kemungkinan: mereka masih hidup atau sudah meninggal.

فَإِنْ كَانُوا أَحْيَاءً مَوْجُودِينَ، لَمْ يَكُنْ لِلثَّانِي أَنْ يَبْنِيَ عَلَى حُكْمِ الْأَوَّلِ حَتَّى يَسْتَأْنِفَ سَمَاعَ الشَّهَادَةِ وَالْحُكْمِ، لِأَنَّ الْقُدْرَةَ عَلَى شُهُودِ الْأَصْلِ تَمْنَعُ مِنَ الْحُكْمِ بِشُهُودِ الْفَرْعِ.

Jika para saksi itu masih hidup dan ada, maka hakim kedua tidak boleh menetapkan hukum berdasarkan keputusan hakim pertama sampai ia memulai kembali pemeriksaan kesaksian dan penetapan hukum, karena kemampuan untuk menghadirkan saksi asli mencegah penetapan hukum dengan saksi pengganti.

وَإِنْ كَانُوا مَوْتَى أَوْ غَيْرَ مَوْجُودِينَ فِي الْأَحْيَاءِ جَازَ لِلثَّانِي أَنْ يَبْنِيَ عَلَى حُكْمِ الْأَوَّلِ، فَيَحْكُمُ بِالْإِلْزَامِ بِحُكْمِ الْأَوَّلِ بِالْقَبُولِ؛ لِأَنَّ تَعَذُّرَ الْقُدْرَةِ عَلَى شُهُودِ الْأَصْلِ يُبِيحُ الْحُكْمَ بِشُهُودِ الْفَرْعِ.

Dan jika mereka telah meninggal dunia atau tidak ada di antara orang-orang yang hidup, maka diperbolehkan bagi hakim kedua untuk membangun keputusan berdasarkan putusan hakim pertama, sehingga ia memutuskan dengan mewajibkan mengikuti putusan hakim pertama dengan menerimanya; karena ketidakmampuan untuk menghadirkan saksi asal membolehkan memutuskan dengan menghadirkan saksi cabang.

وَكَمَا يَجُوزُ لِلْقَاضِي الْمَكْتُوبِ إِلَيْهِ أَنْ يَحْكُمَ بِالْإِلْزَامِ بِحُكْمِ الْكَاتِبِ بِالْقَبُولِ.

Dan sebagaimana diperbolehkan bagi qadhi yang menerima surat untuk memutuskan dengan mewajibkan berdasarkan putusan qadhi penulis surat tersebut dengan penerimaan.

(فَصْلٌ)

(Bab)

: وَأَمَّا الْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي قَوْلِهِ: وَهُوَ مَا يُخْبِرُ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ حَكَمَ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ بِكَذَا فَهَذَا عَلَى ضَرْبَيْنِ:

Adapun bagian keempat, yaitu pada ucapannya: “Dan itu adalah ketika seseorang memberitakan tentang dirinya sendiri bahwa ia telah memutuskan untuk si fulan terhadap si fulan dengan ketetapan tertentu,” maka hal ini terbagi menjadi dua jenis:

أَحَدُهُمَا: أَنْ يُخْبِرَ بِهِ فِي وِلَايَتِهِ فَقَوْلُهُ فِيهِ مَقْبُولٌ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ.

Salah satunya adalah bahwa ia memberitakan hal itu dalam wilayah kekuasaannya, maka perkataannya diterima, dan ini adalah pendapat Abu Hanifah dan mayoritas fuqaha.

وَحُكِيَ عَنْ مَالِكٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ حَتَّى يَشْهَدَ بِهِ شَاهِدَانِ اسْتِدْلَالًا بأنه لَمَّا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَحْكُمَ عَلَى الْمُنْكِرِ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ لَمْ يُقْبَلْ قَوْلُهُ عَلَى الْمُنْكِرِ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ.

Diriwayatkan dari Malik dan Muhammad bin al-Hasan bahwa perkataannya tidak diterima sampai disaksikan oleh dua orang saksi, dengan alasan bahwa karena ia tidak boleh memutuskan perkara atas orang yang mengingkari kecuali dengan kesaksian, maka perkataannya terhadap orang yang mengingkari juga tidak diterima kecuali dengan kesaksian.

وَدَلِيلُنَا هُوَ أَنَّهُ لَمَّا مَلَكَ أَنْ يَحْكُمَ فِي وِلَايَتِهِ مَلَكَ الْإِقْرَارَ بِالْحُكْمِ فِي وِلَايَتِهِ، لِأَنَّ مَنْ مَلَكَ فِعْلَ شَيْءٍ مَلَكَ الْإِقْرَارَ بِهِ كَمَنْ مَلَكَ عِتْقَ عَبْدِهِ مَلَكَ الْإِقْرَارَ بِعِتْقِهِ. فَأَمَّا اعْتِبَارُ ذَلِكَ بِالشَّهَادَةِ فَخَارِجٌ عَنْهَا لِوُقُوعِ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ لِلْحَاكِمِ وِلَايَةً وَلَيْسَ لِلشَّاهِدِ وِلَايَةٌ.

Dalil kami adalah bahwa ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk memutuskan hukum dalam wilayah kekuasaannya, maka ia juga memiliki kekuasaan untuk mengakui hukum dalam wilayahnya. Sebab, siapa yang memiliki hak melakukan suatu perbuatan, maka ia juga memiliki hak untuk mengakuinya, seperti seseorang yang memiliki hak memerdekakan budaknya, maka ia juga memiliki hak untuk mengakui kemerdekaannya. Adapun menyamakan hal itu dengan kesaksian, maka tidak dapat diterima, karena terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu bahwa hakim memiliki wilayah (kekuasaan), sedangkan saksi tidak memiliki wilayah.

وَالضَّرْبُ الثَّانِي: أَنْ يُخْبِرَ بَعْدَ عَزْلِهِ بِأَنَّهُ قَدْ كَانَ حَكَمَ لِفُلَانٍ عَلَى فُلَانٍ بِكَذَا لَمْ يَقْبَلِ الْقَاضِي قَوْلَهُ وَحْدَهُ، حَتَّى يَشْهَدَ بِهِ شَاهِدَانِ لِأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَمْلِكِ الْحُكْمَ بَعْدَ عَزْلِهِ لَمْ يُقْبَلْ قَوْلُهُ فِي الْحُكْمِ بَعْدَ عَزْلِهِ.

Jenis kedua adalah apabila setelah diberhentikan dari jabatannya, ia memberitahukan bahwa dahulu ia pernah memutuskan perkara untuk si Fulan terhadap si Fulan dengan keputusan tertentu, maka pernyataannya saja tidak diterima oleh qadhi, kecuali jika didukung oleh dua orang saksi. Sebab, setelah ia diberhentikan, ia tidak lagi memiliki kewenangan untuk memutuskan perkara, sehingga pernyataannya mengenai keputusan setelah pemberhentiannya tidak dapat diterima.

أَلَا تَرَاهُ لَوْ أَقَرَّ الْمُطَلِّقُ بِرَجْعَةِ زَوْجَتِهِ فِي عِدَّتِهَا قُبِلَ قَوْلُهُ وَلَا يُقْبَلُ قَوْلُهُ بَعْدَ عِدَّتِهَا، لِأَنَّهُ يَمْلِكُ الرَّجْعَةَ فِي الْعِدَّةِ فَمَلَكَ الْإِقْرَارَ بِهَا، وَلَا يَمْلِكُ الرَّجْعَةَ بَعْدَ الْعِدَّةِ فَلَمْ يَمْلِكِ الْإِقْرَارَ بِهَا.

Tidakkah engkau melihat, jika seorang yang menceraikan istrinya mengakui telah merujuk istrinya dalam masa ‘iddahnya, maka pengakuannya diterima; namun pengakuannya tidak diterima setelah masa ‘iddahnya berakhir. Sebab, ia memiliki hak rujuk selama masa ‘iddah, sehingga ia juga memiliki hak untuk mengakui rujuk tersebut. Sedangkan setelah masa ‘iddah berakhir, ia tidak lagi memiliki hak rujuk, maka ia pun tidak memiliki hak untuk mengakui rujuk tersebut.

وَلَوْ أَقَرَّ بِعِتْقِ عَبْدٍ قَبْلَ بَيْعِهِ قُبِلَ مِنْهُ وَلَوْ أَقَرَّ بِعِتْقِهِ بَعْدَ بَيْعِهِ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ، لِأَنَّهُ يَمْلِكُ عِتْقَهُ قَبْلَ الْبَيْعِ وَلَا يَمْلِكُ عِتْقَهُ بَعْدَ الْبَيْعِ.

Jika seseorang mengakui telah memerdekakan seorang budak sebelum menjualnya, pengakuan itu diterima darinya. Namun jika ia mengakui telah memerdekakan budak tersebut setelah menjualnya, maka pengakuan itu tidak diterima darinya, karena ia memiliki hak memerdekakan budak tersebut sebelum penjualan, dan tidak memiliki hak memerdekakannya setelah penjualan.

وَهَذَا أَصْلٌ مُسْتَمِرٌّ.

Dan ini adalah prinsip yang terus berlaku.

وَإِذَا كَانَ هَكَذَا لَمْ يُقْبَلْ قَوْلُهُ فِي الْحُكْمِ بَعْدَ الْعَزْلِ فَإِنْ شَهِدَ بِهِ شَاهِدَانِ لَزِمَ بِالشَّهَادَةِ.

Jika demikian, maka pendapatnya tidak diterima dalam penetapan hukum setelah ia diberhentikan. Namun, jika ada dua orang saksi yang memberikan kesaksian atasnya, maka keputusan didasarkan pada kesaksian tersebut.

فَأَمَّا إِنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ الْقَاضِي شَاهِدًا فِيمَا أَخْبَرَ بِهِ لِيَشْهَدَ بِهِ مَعَ غَيْرِهِ انْقَسَمَ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ:

Adapun jika yang dimaksud adalah hakim ingin menjadi saksi atas apa yang ia beritakan agar ia dapat bersaksi bersama orang lain, maka hal ini terbagi menjadi tiga bagian:

أَحَدُهَا: أَنْ يَشْهَدَ بِإِقْرَارِ مُقِرٍّ عِنْدَهُ، فَهَذَا جَائِزٌ؛ لِأَنَّهَا شَهَادَةٌ بِإِقْرَارٍ، وَلَيْسَتْ بِحُكْمٍ وَلَا يَحْتَاجُ فِي هَذَا الْإِقْرَارِ إِلَى اسْتِرْعَاءٍ؛ لِأَنَّ الْإِقْرَارَ فِي مَجْلِسِ الْحُكْمِ اسْتِرْعَاءٌ.

Salah satunya: seseorang memberikan kesaksian atas pengakuan seseorang yang mengakui sesuatu di hadapannya, maka hal ini diperbolehkan; karena itu adalah kesaksian atas pengakuan, bukan merupakan keputusan hukum, dan dalam pengakuan ini tidak diperlukan permintaan khusus untuk bersaksi, karena pengakuan di majelis pengadilan itu sendiri sudah dianggap sebagai permintaan untuk bersaksi.

وَالْقِسْمُ الثَّانِي: أَنْ يَشْهَدَ بحُكْمٍ أَمْضَاهُ عَلَيْهِ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا فِيهِ لِأَنَّهُ يَشْهَدُ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ.

Bagian kedua: yaitu seseorang memberikan kesaksian atas suatu putusan yang telah dijatuhkan terhadap dirinya, maka menurut mazhab Syafi‘i, tidak boleh baginya menjadi saksi dalam perkara tersebut karena ia memberikan kesaksian atas perbuatannya sendiri.

وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا: يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا فِيهِ وَإِنْ كَانَ شَهَادَةً عَلَى فِعْلِهِ كَمَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُرْضِعَةِ عَلَى الرَّضَاعِ.

Abu Sa‘id al-Ishthakhri dari kalangan ulama kami berkata: Boleh seseorang menjadi saksi dalam perkara tersebut meskipun kesaksiannya berkaitan dengan perbuatannya sendiri, sebagaimana diterima kesaksian perempuan yang menyusui atas peristiwa penyusuan.

وَهَذَا جَمْعٌ فَاسِدٌ؛ لِأَنَّ الرَّضَاعَ مِنْ فِعْلِ الْوَلَدِ فَجَازَتْ شَهَادَتُهَا فِيهِ وَالْحُكْمُ مِنْ فِعْلِهِ فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ شَاهِدًا فِيهِ.

Ini adalah penggabungan yang tidak sah; karena menyusu adalah perbuatan anak, maka kesaksiannya boleh diterima dalam hal itu, sedangkan hukum adalah perbuatannya sendiri, sehingga tidak boleh ia menjadi saksi dalam hal tersebut.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ: أَنْ يَشْهَدَ بِأَنَّ حَاكِمًّا حَكَمَ عَلَيْهِ بِكَذَا وَيُرْسِلَ ذِكْرَ الْحَاكِمِ بِهِ فَلَا يُعْزِيهِ إِلَى نَفْسِهِ وَلَا إِلَى غَيْرِهِ فَفِي قَبُولِ شَهَادَتِهِ وَجْهَانِ:

Bagian ketiga: yaitu seseorang bersaksi bahwa seorang hakim telah memutuskan terhadapnya dengan suatu perkara, namun ia hanya menyebutkan keputusan hakim tersebut tanpa menyandarkannya kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Maka, dalam hal diterimanya kesaksiannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: لَا تُقْبَلُ حَتَّى يُعْزِيَهُ إِلَى غَيْرِهِ لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْحَاكِمُ بِهِ.

Salah satunya: tidak diterima sampai ia menisbatkannya kepada selain dirinya, karena mungkin saja ia sendiri yang memutuskan hukum tersebut.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَقْبَلُ مَا لَمْ يعْزِه إِلَى نَفْسِهِ تَغْلِيبًا لِصِحَّةِ الشَّهَادَةِ.

Pendapat kedua: diterima selama tidak dinisbatkan kepada dirinya sendiri, dengan mengedepankan keabsahan kesaksian.

( [مَنْ لَا يَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ له القاضي] )

(Orang yang tidak boleh diputuskan hukumnya oleh qādī untuknya)

(مسألة)

(Masalah)

: قال الشافعي: ” وَكُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ لِنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَمَنْ لَا تَجُوزُ لَهُ شَهَادَتُهُ رُدَّ حُكْمُهُ “.

Syafi‘i berkata: “Setiap keputusan yang diputuskan oleh seorang hakim untuk dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya, atau siapa saja yang tidak sah baginya memberikan kesaksian, maka keputusannya itu ditolak.”

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا حُكْمُهُ لِنَفْسِهِ فَمَرْدُودٌ كَمَا تُرَدُّ شَهَادَتُهُ لِنَفْسِهِ لِأَنَّهُ مُؤْتَمَنٌ فِي حَقِّ غَيْرِهِ لَا فِي حَقِّ نَفْسِهِ.

Al-Mawardi berkata: Adapun keputusan hakim untuk dirinya sendiri, maka itu ditolak, sebagaimana kesaksiannya untuk dirinya sendiri juga ditolak, karena ia dipercaya dalam hak orang lain, bukan dalam hak dirinya sendiri.

وَأَمَّا حُكْمُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَمَقْبُولٌ.

Adapun hukum yang ditetapkannya atas dirinya sendiri, maka itu diterima.

وَهَلْ يَكُونُ إِقْرَارًا أَوْ حُكْمًا؟ فِيهِ وَجْهَانِ:

Apakah hal itu dianggap sebagai pengakuan atau sebagai putusan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَكُونُ إِقْرَارًا، فَعَلَى هَذَا يَصِحُّ فِي كُلِّ مَا يَصِحُّ الْإِقْرَارُ بِهِ وَيُرَدُّ فِيمَا لَا يَلْزَمُ بِالْإِقْرَارِ، كَشُفْعَةِ الْجِوَارِ إِذَا قَالَ: قَدْ حَكَمْتُ بِهَا عَلَى نَفْسِي لِلْجَارِ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ بِهَا عَلَى نَفْسِهِ.

Salah satunya: berupa pengakuan, maka dalam hal ini sah pada segala sesuatu yang sah diakui dengannya dan ditolak pada perkara yang tidak wajib dengan pengakuan, seperti hak syuf‘ah karena bertetangga; jika seseorang berkata, “Aku telah menetapkan hak itu atas diriku untuk tetanggaku,” maka ketetapannya atas dirinya sendiri tidak berlaku.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: يَكُونُ حُكْمًا عَلَى نَفْسِهِ، فَإِذَا حَكَمَ عَلَيْهَا بِشُفْعَةِ الْجِوَارِ لَزِمَتْهُ، وَإِذَا حَكَمَ عَلَيْهِ بِمُقَاسَمَةِ الْإِخْوَةِ لِلْجَدِّ فِي الْمِيرَاثِ وَكَانَ جَدًّا نَفَذَ حُكْمُهُ وَإِنْ كَانَ أَخًا لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ؛ لِأَنَّهُ حَكَمَ لَهَا.

Adapun sisi kedua: yaitu ketika ia menetapkan hukum atas dirinya sendiri. Maka jika ia menetapkan atas dirinya hak syuf‘ah karena bertetangga, maka hukum itu wajib baginya. Dan jika ia menetapkan atas dirinya pembagian warisan antara saudara-saudara dengan kakek, dan ia adalah seorang kakek, maka hukumnya berlaku. Namun jika ia adalah seorang saudara, maka hukumnya tidak berlaku, karena ia telah menetapkan hukum untuk dirinya sendiri.

فَأَمَّا حُكْمُهُ لِأَحَدٍ مِنْ وَالِدَيْهِ، وأن يعدوا، أَوْ لِأَحَدٍ مِنْ مَوْلُودِيهِ وَإِنْ سَفُلُوا، فَمَرْدُودٌ فِي قَوْلِ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ. وَحُكِيَ عَنْ أَبِي ثَوْرٍ جَوَازهُ.

Adapun jika ia memutuskan hukum untuk salah satu dari kedua orang tuanya, atau untuk salah satu dari anak keturunannya meskipun jauh, maka menurut jumhur fuqaha, hukumnya tidak sah. Namun, dari Abu Tsaur diriwayatkan bahwa hal itu diperbolehkan.

وَهَذَا خَطَأٌ؛ لِأَنَّ الْحُكْمَ أَقْوَى مِنَ الشَّهَادَةِ، وَهُوَ مَمْنُوعٌ مِنَ الشَّهَادَةِ لَهُمْ، فَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَمْنَعَ مِنَ الْحُكْمِ لَهُمْ.

Ini adalah sebuah kekeliruan; karena hukum itu lebih kuat daripada kesaksian, dan ia dilarang memberikan kesaksian untuk mereka, maka lebih utama lagi ia dilarang menetapkan hukum untuk mereka.

فَأَمَّا حُكْمُهُ عَلَى وَالِدَيْهِ وَمَوْلُودَيْهِ فَجَائِزٌ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا جَازَتْ شَهَادَتُهُ عَلَيْهِمْ جَازَ حُكْمُهُ عَلَيْهِمْ.

Adapun hukum seorang hakim terhadap kedua orang tua dan anak-anaknya adalah boleh; karena ketika kesaksiannya atas mereka dibolehkan, maka hukumnya atas mereka pun dibolehkan.

فَأَمَّا مَنْ عَدَا طَرَفَيْهِ الْأَعْلَى وَالْأَسْفَلِ مِنْ أَقَارِبِهِ كَالْإِخْوَةِ وَبَنِيهِمْ وَالْأَعْمَامِ وَبَنِيهِمْ فَيَجُوزُ أَنْ يَحْكُمَ لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ كَمَا يَجُوزُ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمْ وَعَلَيْهِمْ.

Adapun selain kedua ujung teratas dan terbawah dari kerabatnya, seperti saudara-saudara dan anak-anak mereka, serta paman-paman dan anak-anak mereka, maka boleh baginya memutuskan perkara untuk mereka maupun atas mereka, sebagaimana boleh baginya memberikan kesaksian untuk mereka maupun atas mereka.

فَلَوْ تَحَاكَمَ إِلَيْهِ وَلَدُهُ وَوَالِدُهُ فَحَكَمَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ مُحْتَمَلَانِ:

Maka jika anaknya dan orang tuanya mengadukan perkara kepadanya, lalu ia memutuskan hukum untuk salah satu dari keduanya atas yang lain, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat yang mungkin.

أَحَدُهُمَا: لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّهُ حَكَمَ لِوَالِدِهِ وولده.

Salah satunya: tidak boleh; karena ia telah memutuskan hukum untuk orang tuanya dan anaknya.

والوجه الثاني: يجوز؛ لأنها قَدِ اسْتَوَيَا فِي الْبَعْضِيَّةِ فَانْتَفَتْ عَنْهُ تُهْمَةُ الْمُمَايَلَةِ فَصَارَ حَاكِمًا عَلَى وَالِدٍ أَوْ وَلَدٍ.

Pendapat kedua: Boleh; karena keduanya telah setara dalam hal sebagian, sehingga hilang darinya tuduhan keberpihakan, maka ia dapat menjadi hakim atas ayah atau anak.

(فصل: استخلاف القاضي ولده أو والده) .

(Bab: Seorang qadhi mengangkat anaknya atau ayahnya sebagai pengganti.)

وَإِذَا أَرَادَ الْقَاضِي أَنْ يَسْتَخْلِفَ فِي أَعْمَالِهِ وَالِدًا أَوْ وَلَدًا جَازَ، وَإِنْ لَمْ يَجُزْ أَنْ يَشْهَدَ لَهُمْ وَلَا يَحْكُمَ، إِذَا كَانُوا مِمَّنْ يَجُوزُ أَنْ يَسْتَخْلِفَهُمْ غَيْرُهُمْ لِأَنَّ مَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْبَعْضِيَّةِ الَّتِي تُجْرِيهِمْ مَجْرَى نَفْسِهِ، فَحُكْمُهُ بِنَفْسِهِ جَائِزٌ فَجَازَ بِمَنْ هُوَ بَعْضُهُ، وَلِذَلِكَ جَازَ أَنْ يَسْتَخْلِفَ الْإِمَامُ فِي أَعْمَالِهِ مَنْ يَرَى مِنْ أَوْلَادِهِ.

Apabila seorang qadhi ingin mengangkat wakil dalam tugas-tugasnya dari kalangan orang tua atau anaknya, maka hal itu diperbolehkan, meskipun tidak diperbolehkan baginya untuk menjadi saksi bagi mereka atau memutuskan perkara untuk mereka, selama mereka termasuk orang yang boleh diangkat sebagai wakil oleh selain dirinya. Hal ini karena adanya hubungan sebagian (al-ba‘diyyah) antara mereka yang menjadikan mereka seakan-akan bagian dari dirinya sendiri; maka jika hukumnya atas dirinya sendiri diperbolehkan, maka diperbolehkan pula terhadap orang yang merupakan bagiannya. Oleh karena itu, imam juga diperbolehkan mengangkat wakil dalam tugas-tugasnya dari anak-anaknya yang ia kehendaki.

وَخَالَفَ تَقْلِيدُ الْقَضَاءِ، لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَقْضِيَ بِنَفْسِهِ، فَجَازَ أَنْ يقتضي من يجري بالقضية يجري نَفْسِهِ.

Berbeda dengan taqlid dalam urusan peradilan, karena seorang hakim boleh memutuskan perkara sendiri, maka boleh pula ia mengikuti keputusan yang dijalankan oleh dirinya sendiri.

فَأَمَّا إِذَا رَدَّ الْإِمَامُ إِلَى الْقَاضِي اخْتِيَارَ قَاضٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَخْتَارَ وَالِدَهُ وَلَا وَلَدَهُ؛ لِأَنَّ رَدَّ الِاخْتِيَارِ إِلَيْهِ يَمْنَعُهُ مِنِ اخْتِيَارِ نَفْسِهِ، فَمَنَعَهُ ذَلِكَ مِنِ اخْتِيَارِ ممَنْ يَجْرِي بِالْبَعْضِيَّةِ مَجْرَى نَفْسِهِ.

Adapun jika imam menyerahkan kepada qadhi untuk memilih seorang qadhi, maka ia tidak boleh memilih ayahnya maupun anaknya; karena penyerahan pilihan kepadanya mencegahnya untuk memilih dirinya sendiri, maka hal itu juga mencegahnya memilih orang yang dalam sebagian hal diperlakukan seperti dirinya sendiri.

(فصل: محاكمة القاضي خصمه)

(Bab: Hakim Mengadili Lawannya)

فَإِذَا أَرَادَ الْإِمَامُ مُحَاكَمَةَ خَصْمٍ جَازَ أَنْ يُحَاكِمَهُ إِلَى قُضَاتِهِ؛ لِأَنَّهُمْ وُلَاةٌ فِي حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ صَدَرَتْ عَنْهُ وِلَايَاتُهُمْ. قَدْ حَاكَمَ عَلِيٌّ يَهُودِيًّا فِي دِرْعٍ إِلَى شُرَيْحٍ وَهُوَ قَاضِيهِ.

Jika imam ingin mengadili seorang lawan, maka boleh baginya untuk mengadilinya di hadapan para qadhi-nya; karena mereka adalah para wali dalam urusan hak-hak kaum Muslimin, meskipun jabatan mereka berasal darinya. Ali pernah mengadili seorang Yahudi dalam perkara baju zirah di hadapan Syuraih, yang merupakan qadhi-nya.

فَأَمَّا إِنْ حَاكَمَ الْإِمَامُ خَصْمَهُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْ رَعِيَّتِهِ جَازَ، ثُمَّ نُظِرَ، فَإِنْ قَلَّدَهُ خُصُوصَ هَذَا النَّظَرِ صَارَ قَاضِيًا خَاصًّا قَبْلَ التَّرَافُعِ إِلَيْهِ، فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِيهِ رِضَا الْخَصْمِ، وَإِنْ لَمْ يُقَلِّدْهُ النَّظَرُ قَبْلَ التَّرَافُعِ اعْتُبِرَ فِيهِ رِضَا الْخَصْمِ.

Adapun jika imam membawa lawannya untuk diadili oleh salah satu dari rakyatnya, maka hal itu diperbolehkan. Kemudian diperhatikan, jika imam memberikan wewenang khusus untuk perkara ini sebelum perkara diajukan kepadanya, maka orang tersebut menjadi qadi khusus, sehingga tidak disyaratkan adanya kerelaan dari pihak lawan. Namun jika imam tidak memberikan wewenang untuk perkara tersebut sebelum perkara diajukan, maka kerelaan dari pihak lawan menjadi syarat.

فَأَمَّا الْقَاضِي إِذَا أَرَادَ مُحَاكَمَةَ خَصْمٍ لَهُ، فَإِنْ كَانَ فِي بَلَدِ الْإِمَامِ، جَازَ أَنْ يُحَاكِمَهُ إِلَى الْإِمَامِ أَوْ إِلَى مَنْ يَرُدُّ إِلَيْهِ الْإِمَامُ الْحُكْمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَصْمِهِ.

Adapun seorang qadhi apabila ingin mengadili lawan sengketanya, maka jika ia berada di negeri imam, boleh baginya membawa perkara tersebut kepada imam atau kepada orang yang oleh imam diserahi wewenang untuk memutuskan perkara antara dia dan lawan sengketanya.

وَإِنْ بَعُدَ عَنْ بَلَدِ الْإِمَامِ وَعَنْ بَلَدٍ فِيهِ قَاضٍ مِنْ قِبَلِ الْإِمَامِ وَأَرَادَ أَنْ يُحَاكِمَ خَصْمَهُ إِلَى خَلِيفَتِهِ، فَفِي جَوَازِهِ وَجْهَانِ:

Jika seseorang berada jauh dari negeri imam maupun dari negeri yang di dalamnya terdapat qadhi yang diangkat oleh imam, lalu ia ingin mengajukan perkara lawannya kepada wakil imam tersebut, maka dalam kebolehannya terdapat dua pendapat.

أَحَدُهُمَا: يَجُوزُ كَمَا لِلْإِمَامِ مُحَاكَمَةُ خَصْمِهِ إِلَى خَلِيفَتِهِ.

Salah satunya: Diperbolehkan, sebagaimana seorang imam boleh mengadili lawannya di hadapan khalifahnya.

وَالْوَجْهُ الثَّانِي: لَا يَجُوزُ؛ لِأَنَّ كُلَّ الْقُضَاةِ خُلَفَاءُ الْإِمَامِ وَلَيْسَ كل القضاء خُلَفَاءَ هَذَا الْقَاضِي، فَجَازَ لِلْإِمَامِ مَا لَمْ يجز لهذا القاضي والله أعلم. .

Pendapat kedua: Tidak boleh; karena semua qadi adalah khalifah (wakil) imam, dan tidak semua qadi adalah khalifah qadi ini. Maka, dibolehkan bagi imam sesuatu yang tidak dibolehkan bagi qadi ini. Allah lebih mengetahui.