Kitab Salam

بَابُ السَّلفِ والنهي عن بيع ما ليسَ عندك

Bab tentang salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dan larangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu.

الأصل في السلم الكتابُ والسنة والإجماع فأما الكتاب فآية المداينات قال ابن عباس في تفسير الآية أشهد بالله أن السلف المضمون إلى أجلٍ مسمى أحلّه الله وأذن فيه وتلا هذه الآية وروى ابنُ عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل المدينة فوجدهم يسلفون في التمر السنة وربما قال السنتين والثلاث فقال عليه السلام من أسلف فليسلف في كليلٍ معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم والإجماع منعقد على صحة السلم

Dasar hukum salam adalah Al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘. Adapun dalil dari Al-Qur’an adalah ayat tentang utang-piutang. Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut berkata, “Aku bersaksi demi Allah bahwa transaksi salam yang dijamin hingga waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah dan Dia membolehkannya,” lalu ia membacakan ayat tersebut. Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika masuk ke Madinah mendapati penduduknya melakukan transaksi salam dalam kurma untuk satu tahun, kadang dua tahun, atau tiga tahun. Maka beliau bersabda, “Barang siapa melakukan salam, hendaklah ia melakukannya dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan waktu yang jelas.” Ijmā‘ juga telah sepakat atas keabsahan salam.

والسلم والسلف اسمان للعقد الذي قُصد في هذا الكتاب بيان أحكامه وذكر الأصحاب عبارتين مشعرتين بمقصود السلم إحداهما أنه عقد على موصوف في الذمة ببدل يعطَى عاجلاً والثانية أنه عقد يفتقر إلى بذل ما يُستَحَق تسليمه عاجلاً في مقابلة ما لا يستحق تسليمه عاجلاً وقال أبو حنيفة بدل عاجل في آجل

Salam dan salaf adalah dua nama untuk akad yang penjelasan hukumnya menjadi tujuan dalam kitab ini. Para ulama menyebutkan dua ungkapan yang menunjukkan maksud dari salam: yang pertama, bahwa ia adalah akad atas sesuatu yang memiliki sifat tertentu dalam tanggungan dengan imbalan yang diberikan secara tunai; dan yang kedua, bahwa ia adalah akad yang memerlukan penyerahan sesuatu yang wajib diserahkan segera sebagai imbalan atas sesuatu yang tidak wajib diserahkan segera. Abu Hanifah berkata: imbalan yang tunai untuk sesuatu yang diserahkan di kemudian hari.

واللقب الخاص للعقد السلمُ والسلف يستعمل فيه وفي القرض

Istilah khusus untuk akad adalah salam dan salaf, yang digunakan dalam akad ini dan juga dalam qardh.

ثم قال الأئمة في توطئة الكتاب السلم يستند إلى سبعة شرائط شرطان في رأس المال وخمسة في المسلم فيه أحدها أن يكون ديناً في الذمة والثاني أن يكون موصوفاً بالصفات التي تختلف بها الأثمان والأعواض والثالث أن يكون معلوم القدر إن كان مما يقدّر والرابع أن يكون عامَّ الوجود عند المحل والخامس تعيين مكان التسليم على أحد القولين وكل ما ذكرناه تراجم ستأتي مفصلة في مواضعها إن شاء الله تعالى

Kemudian para imam berkata dalam pendahuluan kitab bahwa salam didasarkan pada tujuh syarat: dua syarat berkaitan dengan modal dan lima syarat berkaitan dengan muslam fih. Pertama, muslam fih harus berupa utang dalam tanggungan; kedua, harus memiliki sifat-sifat yang membedakan harga dan imbalan; ketiga, harus diketahui ukurannya jika termasuk sesuatu yang dapat diukur; keempat, harus umum keberadaannya pada waktu penyerahan; kelima, penetapan tempat penyerahan menurut salah satu pendapat. Semua yang telah kami sebutkan ini adalah judul-judul yang akan dijelaskan secara rinci pada tempatnya masing-masing, insya Allah Ta‘ala.

ثم مما يجب الاعتناء به أن لفظ السلم له أثر في العقد ومتضمنه أن يكون المطلوب ديناً؛ فإن العين لا تسمى سلماً وأما استحقاق تسليم رأس المال في المجلس فلا يتلقى من اللفظ وإنما هو يعتدّ بمثابة التعبد برعاية التقابض في بدلي العقد في الصرف وما يلتحق به

Selanjutnya, hal yang juga harus diperhatikan adalah bahwa lafaz salam memiliki pengaruh dalam akad, dan maknanya mencakup bahwa yang diminta adalah utang; sebab barang secara fisik tidak disebut salam. Adapun kewajiban penyerahan pokok modal di majelis, itu tidak diambil dari lafaznya, melainkan dianggap sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga serah terima kedua objek akad dalam sharf dan yang sejenis dengannya.

فلو قال الرجل اشتريت منك طعاماً صفته كذا وكذا بهذا العبد فقال بعته منك بهذا فهل يثبت حكم السَّلم فعلى وجهين ذكرهما صَاحبُ التقريب وغيره أحدهما أنه يثبت حكم السلم من كل وجه ويشترط فيه إقباض رأس المال في المجلس ويمتنع الاعتياض عن المسلم فيه والوجه الثاني لا يثبت حكم السلم ولا يجب تسليم الثمن المعيّن في المجلس وعلى هذا الوجه في الاعتياض عن المسلم فيه تردّدٌ فمن أصحابنا من خرّجه على قولين في جواز الاعتياض عن الثمن وقد تقدم ذكرهما ومنهم من قطع بمنع الاعتياض وإن لم يُثبت للعقد حكم السلم؛ فإن الموصوف في الذمة مقصودُ الجنس فكان كالمبيع المعيّن في كونه مقصودَ العين والغالب على الأثمان قصدُ المالية لا قصدُ الجنسِ

Jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu makanan dengan sifat demikian dan demikian dengan budak ini,” lalu penjual berkata, “Aku telah menjualnya kepadamu dengan ini,” maka apakah hukum salam berlaku? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib dan yang lainnya. Pendapat pertama, hukum salam berlaku secara sempurna dan disyaratkan penyerahan modal (harga) di majelis akad serta dilarang mengganti barang yang menjadi objek salam. Pendapat kedua, hukum salam tidak berlaku dan tidak wajib menyerahkan harga yang telah ditentukan di majelis akad. Dalam hal penggantian barang yang menjadi objek salam, terdapat perbedaan pendapat: sebagian ulama kami mengaitkannya dengan dua pendapat tentang bolehnya mengganti harga, yang telah disebutkan sebelumnya; sebagian lagi secara tegas melarang penggantian, meskipun akad tersebut tidak diberi hukum salam. Sebab, barang yang disebutkan sifatnya dalam tanggungan dimaksudkan untuk jenisnya, sehingga seperti barang tertentu yang dimaksudkan untuk zatnya, sedangkan pada umumnya harga dimaksudkan untuk nilai (uang), bukan untuk jenisnya.

ومما يتعلق بالكلام على اللفظ أن الرجل إذا قال أسلمت هذا الحمار أو هذا العبد في ثوبك هذا وذكر لفظ السلم ولم يف بحكمه وشرطه فلا شك أن ما جاء به ليس بسلم وهل ينعقد بيع العين بهذا اللفظ فعلى قولين ذكرهما القاضي أحدهما لا ينعقد اعتباراً باللفظِ والثاني ينعقد نظراً إلى المعنى وليس البيع إلا تمليك مال بمال يتواجب بين المتعاقدين وهذا أصلٌ طرده القاضي والمسألة التي ذكرناها في آخر البيع من حمل البيع المقيد بنفي الثمن على الهبة أبعد عما ذكرناه الآن

Terkait dengan pembahasan tentang lafaz, jika seseorang berkata, “Aku melakukan salam atas keledai ini atau budak ini dengan kainmu ini,” dan ia menyebut lafaz salam namun tidak memenuhi hukum dan syaratnya, maka tidak diragukan lagi bahwa apa yang ia lakukan bukanlah akad salam. Adapun apakah jual beli barang secara tunai dapat terjadi dengan lafaz tersebut, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi: yang pertama, tidak sah karena mempertimbangkan lafaznya; yang kedua, sah karena melihat maknanya, sebab jual beli pada hakikatnya adalah saling memiliki harta dengan harta yang wajib antara kedua belah pihak yang berakad. Ini adalah kaidah yang dipegang oleh al-Qadhi. Adapun masalah yang kami sebutkan di akhir pembahasan jual beli, yaitu membawa jual beli yang disyaratkan tanpa harga kepada hibah, lebih jauh dari apa yang kami sebutkan sekarang.

وحاصل الأصل راجع إلى أن الاعتبار بما يفهمه المتعاقدان من اللفظ أو بمعنى

Inti dari prinsip ini kembali kepada bahwa yang dijadikan pertimbangan adalah apa yang dipahami oleh kedua pihak yang berakad dari lafaz atau maknanya.

اللفظ في وضعه

Lafaz dalam penempatannya

فصل

Bab

قال وقد أذن الله تعالى في الرهن والسلم إلى آخره

Ia berkata, “Dan Allah Ta‘ala telah membolehkan rahn (gadai) dan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) hingga seterusnya.”

هذا وإن كان من كتاب الرهن فلا بد من ذكره؛ إذ ذكره الشافعي رحمة الله عليه فالرهن بالمسلم فيه جائز وإذا ثبت بتفسير ابن عباس أن الدين المذكور في آية المداينات هو السلم وقد قرنه الله تعالى بالرُّهُن المقبوضة فينبغي أن يتوثق مستحق السَّلم بالرهن أو الحَميل أمّا الرهن فغرضه الأظهر الوثيقةُ فإذا حل السلم وامتنع المسلم إليه واستمكن المرتهن من إثبات حقه في مجلس القاضي تولى القاضي بيع الرهن في حقّه

Meskipun ini termasuk dalam kitab rahn, tetap perlu disebutkan; karena Imam Syafi’i rahimahullah telah menyebutkannya, maka rahn pada akad salam itu diperbolehkan. Jika telah tetap menurut tafsir Ibnu Abbas bahwa utang yang disebutkan dalam ayat tentang utang-piutang adalah akad salam, dan Allah Ta’ala telah menyandingkannya dengan rahn yang diterima, maka sepatutnya pihak yang berhak atas salam memperkuat jaminannya dengan rahn atau kafālah. Adapun rahn, tujuan utamanya adalah sebagai jaminan. Jika waktu salam telah jatuh tempo dan pihak yang menerima salam menolak (menunaikan kewajibannya), sementara pihak yang menerima rahn mampu membuktikan haknya di hadapan hakim, maka hakim berwenang menjual barang jaminan tersebut untuk memenuhi haknya.

وإن لم يتمكن من إثبات حقه فلأصحابنا طريقان منهم من قطع بتسليط المرتهن على بيع الرهن عند العجز عن التوصّل إلى ذلك بالحكم والقضاء ومنهم من خرّج ذلك على ما إذا ظفر الإنسان بمال من عليه الحق وفيه تفصيل سيأتي في موضعه إن شاء الله تعالى وإن كان بالمسْلم فيه حَميلٌ طالبه المسلِمُ بحقه بالمحل فإذا أدّاه وكان ضمن بالإذن رجع على المضمون عنه على تفصيلٍ يشتمل على خلافٍ ووفاقٍ في المسائل وإذا ثبت له الرجوع نُظر في المضمون فإن كان مثلياً رجع بمثل ما ضمن وإن كان من ذوات القيم فيرجع بالقيمة أو بالمثل فعلى وجهين كالوجهين في القرض؛ فإن الضامن في حكم المقرض للمضمون عنه ما يرجع به عليه وهذا بيّن

Jika ia tidak mampu membuktikan haknya, maka menurut ulama mazhab kami ada dua pendapat: sebagian mereka secara tegas membolehkan pihak yang memegang gadai untuk menjual barang gadai tersebut ketika tidak mampu memperoleh haknya melalui putusan hukum dan pengadilan; sebagian lain mengqiyaskan hal ini dengan kasus ketika seseorang mendapatkan harta dari orang yang berutang kepadanya, dan dalam hal ini terdapat rincian yang akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala. Jika dalam akad salam terdapat penanggung (ḥamīl), maka pihak yang menyerahkan uang salam dapat menuntut haknya kepada penanggung di tempat yang telah disepakati. Jika penanggung telah membayar dan ia menjamin dengan izin dari pihak yang dijamin, maka ia berhak menuntut kembali kepada pihak yang dijamin, dengan rincian yang mencakup perbedaan dan kesepakatan dalam beberapa masalah. Jika ia berhak menuntut kembali, maka dilihat jenis barang yang dijamin: jika barang tersebut bersifat sejenis (mithlī), maka ia menuntut dengan barang sejenis yang dijaminkan; jika termasuk barang bernilai (qīmī), maka ia menuntut dengan nilai atau barang sejenis, menurut dua pendapat sebagaimana dalam kasus pinjaman (qarḍ); sebab penanggung dalam hal ini kedudukannya seperti orang yang meminjamkan kepada pihak yang dijamin atas apa yang ia tuntut darinya, dan hal ini jelas.

قال القاضي ولو قال أحد من في السفينة لصاحبه ألق متاعك في البحر فإذا ألقاه وكان مثلياً ضمن المستدعي مثلَه على تفصيل يأتي في موضعه إن شاء الله تعالى

Kata al-qadhi: Jika seseorang yang berada di kapal berkata kepada temannya, “Buanglah barangmu ke laut,” lalu temannya membuangnya, maka jika barang itu bersifat mitsli, orang yang meminta agar barang itu dibuang wajib mengganti barang sejenisnya, dengan rincian yang akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

وإن كان من ذوات القيم فيضمن له القيمة أو المثل فعلى الخلاف المذكور في القرض وهذا فيه احتمال؛ من جهة أنه ليس بإقراضٍ على الحقيقة وإنما هو استدعاء إتلافٍ لمصلحة وهو قريب من تعاطي المضطر أكل طعام الغير فالغالب على الظن أن القاضي يسلم القطعَ في ذلك بالرجوع إلى القيمة إذا كان المتلفُ من ذوات القيم

Dan jika barang tersebut termasuk kategori barang yang bernilai (dzawāt al-qīm), maka ia wajib mengganti dengan nilai atau dengan barang sejenis, sesuai dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan dalam masalah qardh. Namun, dalam hal ini terdapat kemungkinan lain; karena pada hakikatnya ini bukanlah peminjaman, melainkan permintaan untuk merusak barang demi suatu kemaslahatan, dan hal ini mirip dengan orang yang terpaksa memakan makanan milik orang lain. Maka, yang lebih kuat menurut dugaan adalah bahwa hakim akan memutuskan secara tegas dalam hal ini untuk mengganti dengan nilai, jika barang yang dirusak termasuk kategori barang yang bernilai.

فصل

Bab

قال وإذا جاز السَّلف في التمر السنين إلى آخره

Dan apabila diperbolehkan melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam kurma untuk beberapa tahun dan seterusnya.

يجوز السلم في المنقطع حالة العقد عندنا إذا كان يغلب على الظن عمومُ وجوده عند المحل وشرط أبو حنيفة أن يكون الجنس المسلمُ فيه موجوداً حالة العقد وشرط ألا يكون مما ينقطع بين العقد والمحل

Diperbolehkan akad salam pada barang yang tidak ada saat akad menurut kami, jika kuat dugaan bahwa barang tersebut umumnya akan tersedia pada waktu penyerahan. Abu Hanifah mensyaratkan bahwa jenis barang yang menjadi objek salam harus ada saat akad, dan mensyaratkan agar barang tersebut tidak termasuk yang kemungkinan akan langka antara waktu akad dan waktu penyerahan.

واحتج الشافعي عليه بما رواه ابن عباس أن أهل المدينة كانوا يسلفون في التمر السنة والسنتين ولا يكاد يخفى أن من أسلف في التمر سنتين فالتمر ينقطع في الأثناء ومعنى المذهب مذكور في الأساليب

Syafi‘i berdalil atasnya dengan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa penduduk Madinah biasa melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam kurma untuk satu tahun atau dua tahun, dan hampir tidak tersembunyi bahwa siapa yang melakukan salam dalam kurma untuk dua tahun, maka kurma itu akan habis di tengah-tengah waktu tersebut. Makna mazhab telah disebutkan dalam berbagai metode.

وإذا أسلم في شيءٍ ببلد وكان لا يوجد مثله في ذلك البلد ويوجد فيما عداه من البلاد والقرى فإن كان البلد الذي يعم وجود المسلم فيه قريباً من بلد العقد صحَّ وإن كان بعيداً لم يصح

Jika seseorang melakukan akad salam atas suatu barang di suatu negeri, sementara barang tersebut tidak terdapat di negeri itu tetapi terdapat di negeri-negeri atau desa-desa lain, maka jika negeri yang secara umum terdapat barang yang diserahkan dalam akad salam itu dekat dengan negeri tempat akad dilakukan, maka akadnya sah. Namun jika negeri tersebut jauh, maka akadnya tidak sah.

ثم قال الأئمة لا يعتبر فيما أطلقناه من القرب والبعد مسافةُ القصر والقصورُ عنها

Kemudian para imam berkata, dalam hal yang kami sebutkan tentang dekat dan jauh, tidak disyaratkan adanya jarak safar (masāfah al-qasr) ataupun kurang darinya.

وهذا مما يجب الاعتناء فيه بتقريب مأخذ يخرجه عن عماية الإجمال؛ فإن القول في مثله ينتشر ولا ضبطَ في قول القائل إن كان بحيث يشق النقل لم يصح السلم وإن كان بحيث لا يشق النقل يصح

Hal ini termasuk perkara yang harus diperhatikan dengan mendekatkan sumber pengambilan hukumnya agar tidak tetap dalam kebingungan yang bersifat global; sebab pembicaraan dalam masalah seperti ini bisa meluas dan tidak ada ketegasan dalam ucapan seseorang yang mengatakan: “Jika barangnya sulit untuk diangkut maka salam tidak sah, dan jika barangnya mudah untuk diangkut maka salam sah.”

وقد يقرب في هذا أن يقول إن جرت العادة بنقل ذلك الجنس إلى ذلك البلد يجوز ؛ فالمسلم فيه مقدور على تسليمه وإن كان ذلك لا يعتاد فهو ملتحق بما لا يقدر عليه ولا اعتبار بما ينقله آحاد الناس للتحف وإنما الاعتبار بما ينقل لأغراض المعاملة

Dalam hal ini dapat didekatkan dengan mengatakan: jika telah menjadi kebiasaan untuk mengirim jenis barang tersebut ke negeri itu, maka hal itu diperbolehkan; sebab seorang muslim di sana mampu menyerahkannya. Namun jika hal itu tidak lazim dilakukan, maka hukumnya sama dengan sesuatu yang tidak mampu diserahkan, dan tidak dianggap apa yang dibawa oleh segelintir orang sebagai cendera mata, melainkan yang menjadi pertimbangan adalah apa yang biasa dikirim untuk tujuan transaksi.

وهذا لا بأس به وإن قيل المتبع هو الذي يلقى متحمِّلُ النقل مشقةً ظاهرة خارجة عن اعتياد النقل

Hal ini tidak mengapa, meskipun dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “mengikuti” adalah ketika orang yang menanggung penyampaian (riwayat) mengalami kesulitan yang nyata di luar kebiasaan dalam menyampaikan riwayat.

وقد أجرى الشافعي في هذا لفظاً فليتأمله الناظر فقال هو كما لو أسلم في رطب البصرة وبلد المسلم من بلاد خُراسان وهذا سرف في تصوير التعذّر وهو يحصل بدون هذا

Syafi’i telah mengemukakan ungkapan dalam hal ini, hendaknya orang yang menelaahnya memperhatikannya, beliau berkata: “Ini seperti seseorang yang melakukan akad salam atas kurma muda Basrah, sementara negeri orang yang melakukan akad tersebut berada di salah satu wilayah Khurasan.” Ini adalah gambaran yang berlebihan dalam menggambarkan keadaan yang mustahil, padahal keadaan mustahil itu dapat terwujud tanpa gambaran seperti ini.

وبالجملة السلم عقد إرفاق من الجانبين والمحكَّم فيما ينتشر من أحكامِ المعاملة العرفُ فكل مشقة لا يبعد في غرض المعاملة أن تحتمل لاستعمال رأس المال فتلك المشقة لا تقدح في صحة السَّلم وكل مشقة لا تحتمل في أغراض التعامل فلا يبتنى جواز العقد عليها وليس للفقيه أن يصور غرضنا وراء المعاملة مثل أن يتفق تضييق وإرهاق في مصادرة وحاجةٍ حاقة في الرضا بمقاساة الكُلف للتجارة من الضرورة الناجزة فلا اعتبار بأمثال هذه الأحوال

Secara keseluruhan, salam adalah akad tolong-menolong dari kedua belah pihak, dan yang dijadikan patokan dalam berbagai hukum muamalah adalah ‘urf (kebiasaan). Maka, setiap kesulitan yang masih mungkin ditoleransi dalam tujuan muamalah demi penggunaan modal pokok, maka kesulitan tersebut tidak merusak keabsahan akad salam. Namun, setiap kesulitan yang tidak dapat ditoleransi dalam tujuan muamalah, maka tidak boleh dijadikan dasar kebolehan akad. Seorang faqih tidak boleh membayangkan tujuan di luar muamalah, seperti jika terjadi penyempitan dan tekanan dalam penyitaan, atau kebutuhan mendesak yang membuat seseorang rela menanggung beban berat demi perdagangan karena adanya kebutuhan yang sangat mendesak; maka keadaan-keadaan seperti ini tidak dapat dijadikan pertimbangan.

ويمكن أن يقال سبيل الضبط أو القرب منه أنّ النقل إذا كان يُلحق المنقولَ بما لا يعم إمكان الوصول إليه فهو من المتعذر الذي لا يجوز السلم فيه

Dapat dikatakan bahwa cara pengendalian atau yang mendekatinya adalah bahwa apabila barang yang diserahterimakan (dalam akad salam) disamakan dengan sesuatu yang tidak mungkin secara umum untuk diperoleh, maka hal itu termasuk sesuatu yang mustahil yang tidak boleh dilakukan akad salam atasnya.

وهذه العبارات تُشير إلى تقريب واحد

Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan pada satu pendekatan yang sama.

فصل

Bab

قال فإن نفد الرطب أو العنب حتى لا يبقى منه شيء إلى آخره

Dia berkata: Jika kurma basah atau anggur telah habis sehingga tidak tersisa sedikit pun darinya hingga akhir.

مقصود الفصل ذكر حكم انقطاع جنس المسلم فيه والوجه أن نبدأ

Maksud dari bab ini adalah menyebutkan hukum terputusnya jenis barang yang menjadi objek akad salam, dan cara yang tepat adalah kita mulai…

بالحكم ونُجري فيه ما يليق ثم نذكر دقيقةً في معنى الانقطاع

Kita menetapkan hukum dan menerapkan padanya apa yang sesuai, kemudian kita sebutkan satu hal yang mendalam terkait makna terputus.

فإذا انقطع جنس المسلم فيه حالة المحل لآفةٍ أو جائحةٍ فللشافعي قولان أحدهما أن العقد ينفسخ والثاني أنه لا ينفسخ ولكن للمسلم حق الخيار في الفسخ وله الانتظار إن أراد إلى زمان الإمكان

Jika jenis barang yang menjadi objek salam terputus pada waktu jatuh tempo karena suatu musibah atau bencana, menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat: yang pertama, akadnya batal; yang kedua, akadnya tidak batal, tetapi pihak yang melakukan salam memiliki hak khiyar untuk membatalkan akad, dan ia boleh menunggu jika menghendaki sampai waktu memungkinkan.

توجيه القولين من قال بانفساخ العقد احتج بأن عقد السَّلم تناول ثمرةَ السنة المعينة فإذا انقطعت فقد فات المعقود عليه وكان هذا بمثابة ما لو اشترى قفيزاً من صُبرة ثم تلفت الصبرة فالعقد ينفسخ

Penjelasan dua pendapat: Mereka yang berpendapat bahwa akad batal beralasan bahwa akad salam mencakup hasil panen tahun tertentu, sehingga jika hasil tersebut hilang, maka objek akad telah lenyap. Hal ini serupa dengan seseorang yang membeli satu takar dari sebuah tumpukan, lalu tumpukan itu rusak, maka akad pun batal.

ومن قال بالقول الثاني احتج بأن المسلم فيه دين والدين متعلق بالذمة ولا اختصاص له بوقتٍ وزمان وأما الآجال لإثبات أوقات المطالبات ولعل القياسَ هذا القول ثم انقطاع الجنس في وقت المحل يضاهي إباق العبد المبيع عن يد البائع فالبيع لا ينفسخ بإباقه ولكن يثبت الخيار للمشتري كذلك يثبت الخيار في مسألتنا للمسلم فإن فسخ العقد فذاك وإن رأى إنظار المسلم إليه إلى قابل فله ذلك

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa barang yang menjadi objek salam adalah utang, dan utang itu terkait dengan tanggungan (dzimmah) dan tidak terbatas pada waktu dan masa tertentu. Adapun penetapan jangka waktu adalah untuk menentukan waktu penagihan. Barangkali qiyās mendukung pendapat ini. Kemudian, terputusnya jenis barang pada waktu jatuh tempo menyerupai budak yang melarikan diri dari tangan penjual setelah dijual; maka jual beli tidak batal karena pelariannya, tetapi pembeli mendapatkan hak khiyar. Demikian pula, dalam permasalahan kita, hak khiyar tetap ada bagi pihak yang melakukan akad salam. Jika ia membatalkan akad, maka itu sah, dan jika ia memilih menunggu hingga waktu berikutnya, maka itu menjadi haknya.

ثم قال الأصحاب إذا أنظرة ثم بدا له أن يفسخ فله ذلك وقد وجدت الطرق متفقة في هذا

Kemudian para ulama mazhab berkata, jika ia telah memberinya penangguhan waktu lalu kemudian ia ingin membatalkan, maka ia berhak melakukannya, dan telah didapati bahwa semua pendapat sejalan dalam hal ini.

وشبه الأصحاب هذا برضا المرأة بالمُقام تحت زوجها المُولي بعد انقضاء مدة الإيلاء فإذا هي رضيت بعد توجه المطالبة بالمُقام ثم ندمت وأرادت رفع زوجها إلى مجلس الحاكم فلها ذلك وهذا تشبيه مسألة بمسألةٍ

Para ulama menganalogikan hal ini dengan kerelaan seorang wanita untuk tetap tinggal bersama suaminya yang melakukan ila’ setelah berakhirnya masa ila’. Jika ia telah rela untuk tetap tinggal setelah adanya tuntutan, lalu kemudian menyesal dan ingin membawa suaminya ke hadapan hakim, maka ia berhak melakukan hal itu. Ini adalah perumpamaan satu masalah dengan masalah lainnya.

والمعنى المعتمد أن الإنظار في التحقيق تأجيلٌ والأجل لا يلحق بعد لزوم العقد وإذا لم يلحق الأجل لغا الإنظار

Makna yang dipegang adalah bahwa penundaan dalam penelitian merupakan penangguhan, dan tenggat waktu tidak dapat ditambahkan setelah akad menjadi mengikat. Jika tenggat waktu tidak dapat ditambahkan, maka penundaan tersebut menjadi tidak berlaku.

وكان شيخي يقول حقه في الطلب يتجدد حالاً على حالٍ ورضاه ينحصر على وقته وهذا في قبيل إسقاط الحقوق يضاهى الإعارة في قبيل التسليط على الانتفاع

Dan guruku biasa berkata, “Hak seseorang dalam menuntut akan selalu diperbarui dari satu keadaan ke keadaan lain, sedangkan kerelaannya terbatas pada waktunya. Ini termasuk dalam kategori pengguguran hak, yang serupa dengan i‘ārah dalam hal memberikan izin untuk mengambil manfaat.”

وكان يقطع بهذا المسلك في الخيار الذي ثبت للمشتري عند إباق العبد

Dan ia menetapkan secara tegas dengan metode ini dalam hak khiyar yang ditetapkan bagi pembeli ketika budak melarikan diri.

فإن قيل أليس الإباق من قبيل العيوب التي يثبت الرد بها ومن رضي بالعيب لم ينفعه الندم ولم يملك الرجوع قلنا اعتياد الإباق عيب واتفاق الإباق لا يُلحق بالعيوب ثم غرضنا لا يختص بهذا ولو غصب غاصبٌ ذلك العبد وعيّبه فغرضنا يحصل فيه

Jika dikatakan, “Bukankah kaburnya budak termasuk jenis cacat yang dapat dijadikan alasan untuk mengembalikan (barang), dan siapa yang telah ridha dengan cacat tersebut maka penyesalan tidak bermanfaat baginya dan ia tidak berhak untuk kembali (membatalkan transaksi)?” Kami menjawab: Kebiasaan kabur memang merupakan cacat, namun terjadinya kabur secara kebetulan tidak dapat disamakan dengan cacat. Selain itu, maksud kami tidak terbatas pada hal ini saja. Seandainya ada seseorang yang merampas budak tersebut lalu mencacatinya, maka maksud kami juga tercapai dalam kasus itu.

ومما يتعلق بهذا الفن أن المشتري في العبد الآبق لو قال أبطلت حقي من الفسخ فالمذهب أن حقه لا يبطل وإن صرح به وكذلك القول في السَّلم إذا صرح بإبطال حقه من الفسخ والتفريع على أن السلم لا ينفسخ

Terkait dengan bidang ini, apabila pembeli budak yang melarikan diri berkata, “Aku telah menggugurkan hakku untuk membatalkan (akad),” maka menurut mazhab, haknya tidak gugur meskipun ia telah menyatakannya secara tegas. Demikian pula halnya dalam akad salam, jika seseorang secara tegas menggugurkan haknya untuk membatalkan (akad), maka ketentuannya mengikuti pendapat bahwa akad salam tidak batal.

وقد أبعد بعض أصحابنا؛ فقال عن عجز وخَوَر يبطل حق الفسخ؛ فإن مستحق الحق أبطله وإن كان يخرج هذا على أصلٍ فأقرب الأمور إليه الإبراء عما سيكون وقد ثبت سبب وجوبه

Sebagian ulama kami berpendapat secara ekstrem; mereka mengatakan bahwa ketidakmampuan dan kelemahan membatalkan hak untuk melakukan fasakh; maka jika pemilik hak tersebut membatalkannya, meskipun pendapat ini dapat dikembalikan kepada suatu prinsip, yang paling mendekatinya adalah bahwa hal itu seperti membebaskan dari sesuatu yang akan terjadi, padahal sebab kewajibannya telah tetap.

فانتظم من مجموع ما ذكرناه أن هذا النوع من الفسخ لا يُبطله التأخير ولا يُبطله بذلُ اللسان بالإنظار من غير تصريح بإبطال خيار الفسخ وإن فرض التصريح فهو على التردد الذي ذكرناه فإن حكمنا بالانفساخ أو فسخ المسلِم على القول الصحيح ونفذ فسخه نظرنا إلى رأس المال فإن كان معيناً في ابتداء العقد وعينُه باقٍ فيسترده الفاسخ وإن كان تالفاً يرجع إلى بدله فإن كان مثلياً فالمثل وإن كان متقوماً فالقيمة

Maka, dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa jenis pembatalan (fasakh) ini tidak menjadi batal karena penundaan, dan tidak pula menjadi batal hanya dengan ucapan yang menunjukkan penangguhan tanpa ada pernyataan tegas untuk membatalkan hak memilih (khiyār) fasakh. Bahkan jika ada pernyataan tegas, maka hukumnya tetap pada keraguan yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika kami memutuskan terjadinya pembatalan secara otomatis (infiṣākh) atau pembatalan oleh pihak yang melakukan akad (muslim) menurut pendapat yang paling kuat, dan pembatalannya sah, maka kami melihat kepada modal pokoknya. Jika modal tersebut telah ditentukan sejak awal akad dan barangnya masih ada, maka pihak yang membatalkan berhak mengambilnya kembali. Namun jika barang tersebut telah rusak, maka diganti dengan barang pengganti. Jika barang itu termasuk barang yang ada padanannya (mitsliy), maka diganti dengan barang sejenisnya; dan jika termasuk barang yang bernilai (mutaqawwam), maka diganti dengan nilainya.

وليس هذا بمثابة إفلاس المشتري بالثمن والمبيع تالف؛ فإن البائع لا يملك فسخ البيع والرجوعَ بقيمة المبيع كما سيأتي مفصلاً مشروحاً في كتاب التفليسِ إن شاء الله تعالى

Hal ini tidak sama dengan kasus iflās (kebangkrutan) pembeli ketika harga telah dibayar dan barang dagangan telah rusak; karena penjual tidak berhak membatalkan akad jual beli dan menuntut kembali nilai barang dagangan, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab Taflīs, insya Allah Ta‘ala.

والسَّبب فيه أن غرض البائع الانفراد بالمبيع والخروج عن جهة المضاربة ولو فسخ البيع تقديراً ورجع بالقيمة لضارب بها وسيعود هذا في مواضعه فليكتف الناظر بالمرامز إذا أحلناه

Penyebabnya adalah karena tujuan penjual adalah untuk menguasai barang yang dijual secara penuh dan keluar dari akad mudhārabah. Jika penjualan itu dibatalkan secara takdir dan ia kembali mengambil nilai barang, maka ia akan melakukan mudhārabah dengan nilai tersebut, dan hal ini akan kembali pada tempat-tempatnya. Maka cukuplah bagi pembaca dengan isyarat-isyarat yang kami tunjukkan jika kami merujuk kepadanya.

ولو كان رأس المال موصوفاً في الذمة أولاً ثم عُجل في المجلسِ فإذا

Jika modal pada awalnya berupa sesuatu yang ditetapkan sifatnya sebagai utang dalam tanggungan, kemudian dibayarkan secara tunai di majelis, maka…

تسلمه المسلم إليه وكان عينه باقياً في يده فهل يُسترد أم للمسلم إليهِ أن يأتي

Muslim penerima telah menerima barang tersebut, sementara barang itu sendiri masih ada di tangannya; apakah barang itu dapat diminta kembali ataukah penerima berhak untuk mengambilnya?

ببدله فعلى وجهين أحدهما أنه يتعين استرداد ذلك المقبوض؛ فإنه لما عُين

Dengan menggantinya, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa wajib mengembalikan barang yang telah diterima itu; karena barang tersebut telah ditentukan.

بالإقباض آخراً كان كالمعين أولاً والثاني لا يتعين؛ لأن العقد لم يتناول تلك

Dengan penyerahan di akhir, maka menjadi tertentu seperti yang ditentukan di awal, sedangkan yang kedua tidak menjadi tertentu; karena akad tidak mencakup hal tersebut.

الأعيان

Benda-benda (al-a‘yān)

وأصل هذا الخلاف أن المسلم لو ردّ المسلمَ فيه بعيب وقال ليس على

Asal mula perbedaan pendapat ini adalah apabila seorang Muslim mengembalikan barang milik Muslim lain karena cacat, lalu ia berkata, “Tidak ada kewajiban atas…”

الوصف الذي أستحقه فهل يجعل ذلك نقضاً للملك من الأصل تبيناً أو هو نقضٌ

Sifat yang menjadi hakku, apakah hal itu menjadikannya pembatalan kepemilikan sejak awal secara penjelasan, ataukah itu merupakan pembatalan…

في الحال فيه اختلافٌ قدمناهُ وعليه بنينا وجوبَ الاستبراء على المسلَم إليه إذا كان

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, dan atas dasar itulah kami membangun kewajiban istibra’ bagi orang yang menerima (hewan) jika memang demikian.

المردود جارية

Yang tertolak adalah jariyah (budak perempuan).

فإن قلنا ما يجري من ذلك في الموصوفات يتضمن رفع الملك من أصله فعلى

Jika kita mengatakan bahwa apa yang terjadi dari hal itu pada objek-objek yang dideskripsikan mencakup penghapusan kepemilikan dari asalnya, maka…

المسلم إليه وقد فسخ السلم ردُّ عين ما قبضه وإن قلنا يتضمن نقض الملك في

Pihak yang menerima akad salam, apabila membatalkan akad salam, wajib mengembalikan barang yang telah diterimanya. Meskipun kita katakan bahwa hal itu mengandung pembatalan kepemilikan atas barang tersebut.

الحال فللمسلم إليه الإبدال وهذا بيّنٌ للمتأمل

Dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim boleh melakukan penggantian, dan hal ini jelas bagi siapa saja yang memperhatikannya dengan saksama.

وإذا انتهى الكلام إلى هذا فنذكر ما فيه من مزيد فنقول أجمع أئمتنا على أن المتعاقدين لو تبايعا الدراهم بالدنانير وصفاً ثم عجلا في المجلس وتفرقا عن تقابض صح ذلك وإن اعتمد العقد في ابتدائه الذمة من الجانبين وهل يصح العقد على هذا الوجه بعبارة السلم فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أبو علي في الشرح وهذا مأخوذ من خلاف للأصحاب سنذكره في أن السلم هل يصح في الدراهم والدنانير إذا كان رأس المال ثوباً أو غيره

Jika pembahasan telah sampai pada poin ini, maka kami akan menyebutkan tambahan terkait hal ini. Kami katakan: Para imam kami telah sepakat bahwa jika dua pihak yang berakad saling menjual dirham dengan dinar secara deskripsi (bukan tunai), kemudian mereka menyegerakan pembayaran di majelis akad dan berpisah setelah terjadi serah terima, maka hal itu sah, meskipun akad pada awalnya didasarkan pada tanggungan (piutang) dari kedua belah pihak. Apakah akad dengan cara seperti ini sah dengan menggunakan lafaz salam? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali dalam syarahnya. Ini diambil dari perbedaan pendapat di kalangan para sahabat yang akan kami sebutkan, yaitu apakah akad salam sah dalam transaksi dirham dan dinar jika modalnya berupa kain atau barang lain.

ولو اشتمل العقد على عوضين من أموال الربا يشترط التقابض فيهما كالمطعومات يباع بعضها بالبعض فلا بد من التقابض في المجلس

Jika suatu akad mencakup dua kompensasi dari harta ribawi, maka disyaratkan adanya serah terima pada keduanya, seperti makanan pokok yang dijual sebagian dengan sebagian yang lain, maka harus ada serah terima di majelis akad.

فلو وصفا في الشقين ثم عجلا وجرى التقابض كما ذكرنا في الدراهم والدنانير ففي صحة ذلك وجهان مشهوران أحدهما الصحة كالنقود والثاني لا يصح؛ فإن الوصف يطول في العروض وتعيين الدراهم يقرب من وصفه ولهذا يكتفى في النقود الغالبة بالإطلاق من غير وصف والقياس أن لا فرق؛ فإن الوصف وإن كان يطول فإذا ذكر فهو كالوصف الذي يقرب ولا يطول

Jika kedua pihak menyebutkan sifat pada kedua sisi, kemudian mereka segera melakukan serah terima seperti yang telah kami sebutkan pada dinar dan dirham, maka ada dua pendapat yang masyhur mengenai keabsahannya. Pendapat pertama menyatakan sah seperti pada uang logam, dan pendapat kedua menyatakan tidak sah; karena penyebutan sifat pada barang dagangan biasanya memakan waktu lama, sedangkan penentuan dirham lebih dekat kepada penyebutan sifatnya. Oleh karena itu, dalam uang logam yang umum digunakan, cukup dengan penyebutan secara mutlak tanpa perlu menyebutkan sifat. Namun menurut qiyās, tidak ada perbedaan; sebab meskipun penyebutan sifat itu memakan waktu lama, jika telah disebutkan maka hukumnya sama dengan penyebutan sifat yang tidak memakan waktu lama.

ويتصل بهذا أنه لو استحق على رجل ديناً مستقراً ثم اعتاض عنه دراهم معينة صحَّ ولو اعتاض دراهم موصوفةً ثم عجلها في المجلس صح فإن لم يعجلها في المجلس نُظر فإن كان الدين نقداً لم يجز وإن كان الدين عَرْضاً ففي المسألة خلاف قدمناه في كتاب البيع

Terkait dengan hal ini, jika seseorang memiliki piutang yang telah tetap pada seseorang, kemudian ia menukarnya dengan sejumlah dirham tertentu, maka hal itu sah. Jika ia menukarnya dengan dirham yang memiliki sifat tertentu lalu segera menyerahkannya di majelis, maka itu juga sah. Namun, jika tidak segera diserahkan di majelis, maka perlu dilihat: jika piutang tersebut berupa uang tunai, maka tidak boleh; tetapi jika piutang tersebut berupa barang, maka dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam Kitab al-Bay‘.

وغرضنا الآن أنا حيث نشترط التعجيل في المجلس يجوز الاعتماد في أصل العقد على الوصف في الدراهم وهل يجوز الاعتماد على الوصف في العروض على أن تعجل في المجلس فعلى وجهين وهذا بعينه هو الذي قدمناه

Tujuan kami sekarang adalah bahwa ketika kami mensyaratkan penyelesaian (serah terima) di majelis, maka boleh bersandar pada deskripsi (spesifikasi) dalam akad pokok terkait dirham. Adapun apakah boleh bersandar pada deskripsi dalam barang dagangan dengan syarat diserahkan di majelis, maka terdapat dua pendapat. Inilah persis seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya.

ومما يتعلق بأطراف الكلام أن المسلم إذا فسخ السَّلم فإن كان رأس المال قائماً فيجوز الاستبدال عنه قبل القبض؛ لأنه وإن كان مضموناً فليس هو ضمان مقابلة على التحقيق وقد انفسخ العقد والاستبدال عن الأعيان المضمونة بالقيم جائز كما مهدناه في البيع ومنع أبو حنيفة الاستبدال عمَّا في يد الغير على حكم العقد المفسوخ وليس معه متعلق من طريق المعنى

Terkait dengan bagian akhir pembahasan, apabila seorang Muslim membatalkan akad salam, maka jika modal pokok masih ada, boleh dilakukan penggantian sebelum terjadi serah terima; karena meskipun modal tersebut dijamin, pada hakikatnya jaminan itu bukanlah jaminan sebagai imbalan, dan akad telah batal. Penggantian terhadap barang-barang yang dijamin dengan nilai diperbolehkan sebagaimana telah kami jelaskan dalam bab jual beli. Abu Hanifah melarang penggantian atas barang yang berada di tangan pihak lain berdasarkan ketentuan akad yang telah dibatalkan, dan pendapat beliau tidak memiliki sandaran dari segi makna.

وكل ما ذكرناه فيه إذا تعذر الوصول إلى جميع المسلم فيه

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila tidak memungkinkan untuk memperoleh seluruh objek yang menjadi muslam fih.

فأمَّا إذا فرض التعذر في بعضه فالقول في الانفساخ وثبوت حق الفسخ في المقدار

Adapun jika diasumsikan adanya halangan pada sebagian dari akad tersebut, maka pembahasan mengenai batalnya akad dan penetapan hak untuk membatalkan berlaku pada bagian tersebut.

المتعذر على ما تقدم ثم يزداد في هذه الصورة تفريع تفريق الصفقة وقد مضى في

Hal yang tidak mungkin dilakukan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kemudian dalam kasus ini bertambah lagi dengan adanya cabang dari pemisahan akad, dan hal ini telah dibahas sebelumnya.

موضعه مفصلاً فليعرف الفقيه الفصلَ بين أن يقبض الميسور ثم يطرأ التعذر وبين أن

Tempatnya secara terperinci adalah hendaknya seorang faqih mengetahui perbedaan antara menerima sesuatu yang mudah (diperoleh) kemudian terjadi halangan setelahnya, dengan antara…

يطرأ التعذّر قبل قبض الميسور وليتذكر الفرقَ إذا قبض الميسور بين أن يتلف وبين أن

Halangan dapat terjadi sebelum menerima bagian yang mudah didapat, dan hendaknya diingat perbedaan jika bagian yang mudah didapat telah diterima, antara jika bagian itu rusak dengan jika…

يكون باقياً

Tetap ada.

ولا مزيد على ما مهدناه في قواعد التفريق

Tidak ada tambahan lagi atas apa yang telah kami jelaskan dalam kaidah-kaidah at-tafriq.

وقد نجز الغرض في هذا

Dan tujuan dalam hal ini telah tercapai.

وبقي علينا ما وعدناه من فضل النظر في بيان معيى الانقطاع فممّا نستعين به في هذا ما قدمنا في الفصل السابق من تفصيل القول في أن من أسلم في جنس وهو ببلدة لا يوجد ذلك الجنس بها فهل يكون هذا من السلم في المنقطع حالة الحلول

Masih tersisa bagi kita apa yang telah kami janjikan, yaitu keutamaan meneliti penjelasan makna “inqithā‘” (terputusnya barang). Di antara hal yang dapat membantu kita dalam hal ini adalah apa yang telah kami sampaikan pada bab sebelumnya tentang rincian pendapat mengenai seseorang yang melakukan akad salam pada suatu jenis barang, sementara ia berada di suatu kota yang tidak terdapat jenis barang tersebut di sana. Apakah hal ini termasuk salam pada barang yang terputus (al-munqathi‘) pada saat jatuh tempo?

وهذا قد تمهد على قرب العهد

Hal ini telah menjadi jelas karena waktu yang masih dekat.

ونعود الآن فنقول إن تحقق انقطاع الجنس بالكلية بأن يسلم في جنس لا يوجد إلا في بلده ثم اتفق

Sekarang kita kembali mengatakan bahwa terwujudnya terputusnya suatu jenis secara keseluruhan adalah apabila seseorang masuk Islam dalam suatu jenis yang tidak ditemukan kecuali di negerinya, kemudian terjadi…

انقطاع ذلك الجنس في تلك السنة هذا هو الانقطاع المحقق الذي يجري فيه القولان في الفسخ والانفساخ

Terputusnya jenis itu pada tahun tersebut adalah pemutusan yang pasti, yang di dalamnya terdapat dua pendapat mengenai pembatalan (fasakh) dan batal dengan sendirinya (infiṣākh).

فأمّا إذا انقطع الجنس في تلك البلدة وكان النقل إليه ممكناً على حدٍّ لو فرض السَّلم في البلد لعُد المسلم فيه بتقدير النقل من الممكنات فهذا ليس بأنقطاع

Adapun jika jenis barang tersebut tidak ada lagi di kota itu, namun pengiriman ke sana masih memungkinkan, sehingga seandainya akad salam dilakukan di kota itu, orang yang melakukan salam masih dianggap mungkin untuk mendatangkan barang tersebut melalui pengiriman, maka hal ini tidak termasuk kategori terputusnya barang.

وإن كان النقل عسراً بحيث يمتنع السلم نُظر فإن كان لا يتصوّر أصلاً مثل أن يكون المسلم فيه جنساً لو نقل من مسافة شاسعة لفسد فهذا انقطاع أيضاً

Jika pengiriman itu sangat sulit sehingga akad salam menjadi tidak mungkin dilakukan, maka perlu dilihat lagi: jika memang sama sekali tidak dapat dibayangkan, seperti barang yang menjadi objek salam adalah jenis barang yang jika dikirim dari jarak yang sangat jauh akan rusak, maka ini juga termasuk kategori terputus (tidak sah).

وإن كان النقل ممكناً على عسر فالأصح القطع بأن السلم لا ينفسخ فإن قول الانفساخ إنما يجري إذا جعل ثمن السنة مع إضافة المستحق إليها بمثابة صُبرة بيع صاع منها

Jika pemindahan (hak) memungkinkan meskipun dengan kesulitan, maka pendapat yang paling sahih adalah memastikan bahwa akad salam tidak batal. Sebab, pendapat tentang batalnya akad hanya berlaku jika harga untuk satu tahun, beserta tambahan hak yang disandarkan kepadanya, diperlakukan seperti tumpukan barang yang dijual sebagian (misalnya satu sha‘ darinya).

فأما إذا كان الإحضار ممكناً على عسر فهو كإباق العبد إذا طرأ فيثبت خيار الفسخ وإن كان يمتنع إيراد العقد عليه

Adapun jika menghadirkannya memungkinkan namun dengan kesulitan, maka hukumnya seperti budak yang melarikan diri secara tiba-tiba, sehingga tetap berlaku hak khiyar fasakh, meskipun tidak boleh mengadakan akad atasnya.

ومن أصحابنا من يجعل التعذر الذي يمتنع بسببه السلم ابتداء إذا طرأ بمثابة الانقطاع الحقيقي حتى يُخرّج قولَ الانفساخ وهذا القائل يزعم أن التعذر في عقد الغرر كالتلف الحقيقي وبه يتوجه قول الانفساخ في أصله مع أن المسلم فيه دينٌ ومما يتعلق بتمام البيان في هذا الفصل أنه إذا أسلم في جنس يعم وجوده غالباً عند المحل فاتفق انقطاع الجنس قبل المحل على وجه يعلم أن الانقطاع يدوم في السنة قال القاضي في المسألة قولان أحدهما أنه لا ينفسخ العقد في الحال على قول الانفساخ ولا يثبت الخيار على قول الخيار حتى يحل الأجل فإذا حل فإذ ذاك يجيء القولان والقول الثاني أنه يتنجز قبل المحل ما ثبت عند الحلول قال وهذا يقرب من خلاف في الأيمان وإن كان مأخذ الأيمان يبعد عن

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa ketidakmampuan yang menyebabkan akad salam menjadi mustahil sejak awal, jika terjadi kemudian, diposisikan seperti terputusnya objek secara nyata, sehingga mereka mengeluarkan pendapat tentang batalnya akad. Pendapat ini menyatakan bahwa ketidakmampuan dalam akad gharar itu seperti kerusakan nyata, dan dengan demikian, pendapat tentang batalnya akad menjadi relevan pada asalnya, meskipun objek salam itu adalah utang. Termasuk penjelasan yang harus disempurnakan dalam bab ini adalah bahwa jika seseorang melakukan akad salam pada suatu jenis barang yang umumnya tersedia saat jatuh tempo, lalu kebetulan jenis barang itu terputus sebelum jatuh tempo dengan cara yang diketahui bahwa keterputusannya akan berlangsung sepanjang tahun, maka menurut Qadhi dalam masalah ini ada dua pendapat: salah satunya, akad tidak langsung batal saat itu juga menurut pendapat batalnya akad, dan hak khiyar pun tidak langsung berlaku menurut pendapat adanya khiyar, sampai tiba waktu jatuh tempo. Jika sudah jatuh tempo, barulah muncul dua pendapat tersebut. Pendapat kedua, bahwa sebelum jatuh tempo, berlaku apa yang berlaku saat jatuh tempo. Ia berkata, “Ini mendekati perbedaan pendapat dalam masalah sumpah, meskipun dasar pengambilan hukum dalam sumpah berbeda jauh dari sini.”

مأخذ الأحكام وذلك الأصل هو أن من حلف ليأكلن هذا الطعام غداً فتلف الطعام قبل دخول الغد فهل يحنث في الحال أم يتأخر الحنث إلى مجيء الغد فيه خلاف سيأتي ذكره ووجه الشبه بيّن

Sumber penetapan hukum, dan asal permasalahan ini adalah bahwa seseorang yang bersumpah akan memakan makanan ini besok, lalu makanan tersebut rusak sebelum datangnya hari esok, maka apakah ia langsung dianggap melanggar sumpahnya saat itu juga, ataukah pelanggaran sumpahnya ditunda hingga datangnya hari esok? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan disebutkan nanti, dan sisi kesamaannya jelas.

فصل

Bab

قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم حكيماً عن بيع ما ليس عنده وأجاز السلف إلى آخره

Rasulullah saw. melarang Hakim untuk menjual sesuatu yang tidak ada padanya dan membolehkan akad salam, dan seterusnya.

غرض الشافعي رحمه الله الكلام على حديث حكيم بن حزام وعلى الأخبار الدالة على السلم ولم يقصد نقلَ إجازة السَّلف مع قول رسول الله صلى الله عليه وسلم في متن حديث واحد ثم لا يخفى وجه الكلام فالذي نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم حكيماً عنه في بيع الأعيان من غير تقدير وصفٍ والتزامٍ في الذمة وفي حديث حكيم ما ينبه على هذا؛ فإنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إن الرجل ليأتيني فيساومني السلعة وليست عندي فأبيعها منه ثم أدخل السوق فأشتريها وأسلمها إليه فقال عليه السلام يا حكيم لا تبع ما ليس عندك

Tujuan Imam Syafi‘i rahimahullah adalah membahas hadis Hakim bin Hizam dan berita-berita yang menunjukkan kebolehan salam, dan beliau tidak bermaksud menyampaikan kebolehan salaf bersamaan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu matan hadis. Maka, tidak samar lagi maksud pembicaraannya; yaitu bahwa yang dilarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hakim adalah menjual barang yang berwujud tanpa ada penentuan sifat dan komitmen dalam tanggungan. Dalam hadis Hakim terdapat penjelasan tentang hal ini; karena ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seseorang datang kepadaku dan menawar barang yang tidak ada padaku, lalu aku menjualnya kepadanya, kemudian aku masuk ke pasar, membelinya, dan menyerahkannya kepadanya.” Maka beliau bersabda: “Wahai Hakim, janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.”

فصل

Bab

قال وإذا أجازه صلى الله عليه وسلم بصفةٍ مضموناً إلى أجل كان حالاً أجوزَ ومن الغرر أَبْعَدَ إلى آخره

Dan apabila Rasulullah saw. membolehkannya dengan suatu sifat yang dijamin hingga waktu tertentu, maka jika dilakukan secara tunai lebih diperbolehkan dan lebih jauh dari unsur gharar, dan seterusnya.

السلم يفرض على ثلاثة أقسام مؤجل وهو جائز بالاتفاق وحالٌّ مقيد بالحلول وهو جائز عند الشافعي إذا كان المسلمُ فيه عامَّ الوجود حالة العقد خلافاً لأبي حنيفة ومعتمد المذهب أن الحلول لا يجرّ إلى العقد غرراً وعسراً وإن أثر في قطع مَرفِق فمسوّغٌ تسويغ الرخص معلقاً بغرر فإذا وقع التراضي على حذفه لم يضر

Salam terbagi menjadi tiga jenis: yang ditangguhkan pembayarannya, dan ini diperbolehkan menurut kesepakatan; yang tunai dengan syarat pembayaran segera, dan ini diperbolehkan menurut Imam Syafi‘i jika barang yang menjadi objek salam itu umumnya tersedia pada saat akad, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Pendapat utama dalam mazhab menyatakan bahwa pembayaran tunai tidak menyebabkan akad mengandung gharar (ketidakjelasan) dan kesulitan, meskipun hal itu berpengaruh dalam menghilangkan kemudahan, sehingga diperbolehkan sebagaimana rukhshah (keringanan) yang dikaitkan dengan gharar. Maka jika kedua belah pihak sepakat untuk menghapus syarat tersebut, hal itu tidak membahayakan.

وأما التأجيل في الكتابة فمستَحق واعتمد بعض الأصحاب فيه تحققَ عجز المكاتب عن الوفاء بحق الحلول وهذا لست أرضاه؛ لما سأذكره في الكتابة إن شاء الله تعالى والمعتمد أن الكتابة حائدة عن قوانين المعاملات وحيْدُها محتملٌ لمكان رِفق فإذا زال الرِّفق فارق العقدُ موردَه الشرعي والسلم موضوع على مصالح المتعاملين وليس نائياً نأيَ الكتابة

Adapun penundaan dalam akad kitābah adalah sesuatu yang berhak didapatkan. Sebagian ulama mengandalkan pendapat bahwa penundaan itu terjadi jika muktātab benar-benar tidak mampu melunasi hak pada saat jatuh tempo, namun pendapat ini tidak saya setujui, sebagaimana akan saya jelaskan dalam pembahasan kitābah, insya Allah Ta‘ala. Pendapat yang kuat adalah bahwa akad kitābah menyimpang dari kaidah-kaidah mu‘āmalah, dan penyimpangannya itu dapat diterima karena adanya unsur keringanan. Jika unsur keringanan itu hilang, maka akad tersebut keluar dari koridor syariatnya. Adapun akad salam ditetapkan demi kemaslahatan para pihak yang bertransaksi, dan tidak menyimpang jauh seperti akad kitābah.

فأما القسم الثالث من السلم فهو ما يفرض مطلقاً من غير تعرض لأجل أو حلولٍ وقد اشتهر خلاف الأصحاب فيه فذهب بعضهم إلى أن العقد لا يصح؛ فإن المطلق في العقود محمول على العادة وللعادة وقعٌ عظيم في المعاملات وقد عم العرف بتأجيل المسلم فيه فالمطلق يحمل على الأجل فإذا لم يبيّن كان مجهولاً

Adapun bagian ketiga dari salam adalah apa yang disyaratkan secara mutlak tanpa menyebutkan waktu jatuh tempo atau penetapan waktu tertentu. Telah masyhur adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa akad tersebut tidak sah; karena sesuatu yang disebutkan secara mutlak dalam akad-akad dikembalikan kepada kebiasaan, dan kebiasaan memiliki pengaruh besar dalam muamalah. Telah menjadi kebiasaan umum bahwa barang yang menjadi objek salam itu ditangguhkan penyerahannya, maka yang disebutkan secara mutlak dianggap mengandung penangguhan. Jika waktu tidak dijelaskan, maka menjadi tidak jelas (majhul).

والأقيس الحكم بصحة السَّلم؛ فإن الإطلاق مشعر بالحلول في وضعه فإنّه يتضمن الالتزام وكل ملتزِم مطالَب وعليه بنينا حملَ الأجرة على الحلول في الإجارة المطلقة

Demikian pula qiyās atas penetapan hukum sahnya salam; sebab lafaz mutlak menunjukkan kewajiban pembayaran tunai dalam asalnya, karena ia mengandung unsur komitmen, dan setiap pihak yang berkomitmen dapat dituntut. Atas dasar inilah kami menetapkan bahwa upah dalam akad ijarah yang bersifat mutlak dibebankan sebagai pembayaran tunai.

فصل

Bab

قال المزني والذي اختاره الشافعي أن لا يسلف جزافاً من ثياب ولا غيرها إلى آخره

Al-Muzani berkata: Pendapat yang dipilih oleh asy-Syafi‘i adalah tidak boleh melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) secara tidak jelas takarannya, baik pada pakaian maupun selainnya, dan seterusnya.

مقصود الفصل الكلامُ فيما يصح أن يكون رأس مالٍ فنقول إذا كان رأس المال مشاراً إليه ولكن كان جزافاً ففي صحة السلم قولان أحدهما وهو الأقيس الصحة وهو اختيار المزني ووجهه أن المعيّن المشار إليه معلوم في عقود المعاوضات والإشارة مغنيةٌ عن القدر والوصف إذا لم يكن علينا تعبد في رعاية المماثلة ولم يكن على العاقد نظر في جهة الغبطة لطفل أو غيره ممن يليه وهذا قياسٌ ظاهر

Maksud dari bab ini adalah pembahasan mengenai apa yang sah dijadikan sebagai modal. Kami katakan, jika modal itu ditunjuk secara isyarat namun dalam bentuk takaran kasar (tidak ditakar atau ditimbang secara pasti), maka dalam keabsahan akad salam terdapat dua pendapat. Salah satunya, yang lebih kuat menurut qiyās, adalah sah, dan ini merupakan pilihan al-Muzani. Alasannya adalah bahwa barang tertentu yang ditunjuk dengan isyarat sudah dianggap diketahui dalam akad-akad pertukaran, dan isyarat sudah cukup tanpa harus menyebutkan takaran dan sifat, selama tidak ada kewajiban syariat untuk menjaga kesamaan (mimāthalah), dan tidak ada kepentingan pihak yang berakad dalam hal keuntungan untuk anak kecil atau selainnya yang berada di bawah tanggungannya. Ini adalah qiyās yang jelas.

والقول الثاني أنه لا بد من معرفة القدر والوصف كما في المسلم فيه والسلم عقد غرر وقد يفرض فيه فسخ أو انفساخ ثم تمس الحاجةُ إلى رجوع رأس المال وينتظم منه نزاع يعسر فصله والذي يليق بالحال أن العقد إذا كان مبناه على احتمالِ غررٍ لمكان غرض فينبغي أن يُتوقَّى من الغرر الذي لا يقتضيه ذلك المرفق ورأس المال إذا لم يقدّر بهذه المثابة

Pendapat kedua menyatakan bahwa harus diketahui kadar dan sifatnya, sebagaimana pada objek salam, sedangkan akad salam adalah akad yang mengandung gharar. Bisa saja terjadi pembatalan atau pembatalan otomatis dalam akad tersebut, kemudian muncul kebutuhan untuk mengembalikan modal pokok, sehingga timbul perselisihan yang sulit diselesaikan. Yang sesuai dengan keadaan adalah bahwa jika suatu akad didasarkan pada kemungkinan gharar karena adanya tujuan tertentu, maka seharusnya dihindari gharar yang tidak diperlukan oleh kemaslahatan tersebut. Adapun modal pokok, jika tidak ditentukan kadarnya dalam keadaan seperti ini…

قال المحققون اختلاف القول في هذا يقرب من اختلاف القول في الجمع في صفقة واحدة بين سلمٍ وبيع ووجه الشبه أنا نقدر تطرق الفسخ إلى أحدِ العقدين دون الثاني ثم يفضي القول فيه إلى نزاع عند محاولة التوزيع في الفسخ والإبقاء فينبغي أن يبعد السلم من هذا ولا يكتفَى بحصول العلم والإحاطة في الحال

Para peneliti berpendapat bahwa perbedaan pendapat dalam masalah ini hampir sama dengan perbedaan pendapat mengenai penggabungan antara akad salam dan jual beli dalam satu transaksi. Sisi kesamaannya adalah kita memperkirakan kemungkinan terjadinya pembatalan pada salah satu dari dua akad tersebut tanpa yang lainnya, kemudian hal itu akan menimbulkan perselisihan ketika mencoba membagi antara pembatalan dan keberlangsungan akad. Oleh karena itu, seharusnya akad salam dijauhkan dari hal seperti ini dan tidak cukup hanya dengan adanya pengetahuan dan pemahaman pada saat itu.

ثم نحن في طرد القولين لا نفصل بين المكيل والموزون وبين ما ليس كذلك فلو جعل رأس المال ثوباً غيرَ معلوم الذُّرعان اطرد القولان وأبو حنيفة يفصل بين المقدور وغيره فيُبطل السلمَ إذا ترك تقدير ما يقبل التقدير ولا يبالي بتطرق الجهالة إلى الثياب وغيرها إذا جعلت رأس مال

Kemudian, dalam menerapkan dua pendapat tersebut, kami tidak membedakan antara barang yang ditakar dan ditimbang dengan barang yang bukan demikian. Maka, jika modal dijadikan sehelai kain yang tidak diketahui ukurannya, kedua pendapat itu tetap berlaku. Abu Hanifah membedakan antara sesuatu yang dapat diukur dan yang tidak dapat diukur; ia membatalkan akad salam jika ukuran sesuatu yang bisa diukur tidak disebutkan, namun ia tidak mempermasalahkan adanya unsur ketidakjelasan pada kain dan selainnya jika dijadikan sebagai modal.

وهذا تحكّم؛ فإن التقدير فيما يقبل التقدير إنما يطلب لما فيه من الإعلام المنافي للجهالة والجهالة هي المحذورة في عاقبة السَّلم فإذا تحققت في الثيابِ كانت كما لو تحققت بترك المقدار فيما يقبل التقدير

Ini adalah sikap sewenang-wenang; sebab penetapan ukuran pada sesuatu yang dapat diukur itu dimaksudkan untuk memberikan kejelasan yang meniadakan ketidakjelasan, sedangkan ketidakjelasan itulah yang dikhawatirkan dalam akibat akad salam. Maka jika ketidakjelasan itu terjadi pada pakaian, keadaannya sama saja seperti jika ketidakjelasan itu terjadi karena tidak menetapkan ukuran pada sesuatu yang dapat diukur.

ومما يتصل بهذا أَنَّ رأس المال إذا أحيط بصفاته بطريق العِيان ولكن كان مجهول القيمة عند المتعاقدَيْن أو عند أحدهما فالذي ذهب إليه الأكثرون القطعُ بصحة السلم وقال آخرون الجهل بالقيمة يتضمن تخريج المسألة على قولين؛ فإن التوزيع يقع باعتبارها والتراجع يكون بحسبها

Terkait dengan hal ini, apabila modal diketahui sifat-sifatnya secara langsung, namun nilainya tidak diketahui oleh kedua belah pihak yang berakad atau oleh salah satu dari mereka, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa akad salam tetap sah secara pasti. Sementara sebagian ulama lain berpendapat bahwa ketidaktahuan terhadap nilai modal menyebabkan permasalahan ini memiliki dua pendapat; sebab pembagian dilakukan berdasarkan nilainya dan pengembalian juga mengikuti nilainya.

ولو كان العوض جزافاً في الإجارة فلأصحابنا طريقان منهم من أجراه مجرى رأس المال في السلم حتى يخرّج على القولين وليس عوضُ الإجارة عند هذا القائل كعوض البيع؛ فإن الإجارة لا ثبات لها إلى انقضاء مدتها؛ فإن الدار إذا سلمت لم ينقطع غررُ الإجارة؛ إذ هي عرضةُ الانفساخ إذا تلفت الدار في أثناء المدة ولو عابت في يد المستأجر تعرضت الإجارة لخيار الفسخ فشابهت الإجارةُ السلمَ فيما ذكرناه؛ لكنها تفارقه في أن التسليم في عوضها ليس شرطاً

Jika imbalan dalam akad ijarah ditentukan secara global (tidak rinci), maka menurut ulama mazhab kami ada dua pendapat. Sebagian dari mereka memperlakukannya seperti modal dalam akad salam, sehingga dikembalikan pada dua pendapat yang ada. Namun, imbalan ijarah menurut pendapat ini tidaklah sama dengan imbalan jual beli; sebab akad ijarah tidak memiliki kepastian hingga masa waktunya berakhir. Jika rumah telah diserahkan, ketidakpastian (gharar) dalam ijarah belum hilang, karena akad ijarah masih bisa batal jika rumah tersebut rusak di tengah masa sewa. Jika rumah itu cacat di tangan penyewa, maka akad ijarah bisa terkena hak khiyar untuk membatalkan. Dengan demikian, ijarah menyerupai akad salam dalam hal ini. Namun, ijarah berbeda dengan salam karena penyerahan imbalan dalam ijarah bukanlah syarat.

ومن أصحابنا من قطع بأن الأجرة في الإجارة على قياس العوض في البيع والإجارة لا تعد من عقود الغرر وتقدير التعذر في مقصودها ليس كتقدير التعذر في السلم

Sebagian ulama dari kalangan kami menegaskan bahwa upah dalam akad ijarah mengikuti qiyās dengan imbalan dalam jual beli, dan ijarah tidak termasuk dalam akad-akad gharar. Penetapan adanya kemungkinan terhalangnya tujuan dalam ijarah tidaklah sama dengan penetapan kemungkinan terhalangnya tujuan dalam akad salam.

ولو كان السلم حالاًّ فمن أئمتنا من قطع بأن رأس المال لو كان جزافاً فيه جاز وإنما القولان في السلم المؤجل؛ فإنه المعرض للخطر والسلم الحال تعامل على ناجز وهذا اختيار القاضي

Jika akad salam dilakukan secara tunai, sebagian imam dari kalangan kami menegaskan bahwa jika modal diserahkan secara takaran atau timbangan (bukan secara pasti), maka hal itu diperbolehkan. Adapun dua pendapat itu hanya berlaku pada akad salam yang ditangguhkan (salam mu’ajjāl), karena akad tersebut rawan risiko, sedangkan salam tunai dilakukan secara langsung dan aman. Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Qadhi.

ومن أئمتنا من قال لا فرق بين السلم الحال والمؤجل في تخريج المسألة على قولين إذا كان رأسُ المال جزافاً

Di antara para imam kami ada yang berpendapat bahwa tidak ada perbedaan antara akad salam yang tunai dan yang ditangguhkan dalam mengeluarkan masalah ini kepada dua pendapat, jika modalnya berupa taksiran (bukan ditimbang atau diukur secara pasti).

ولو كان رأس المال دُرّة لا يصح السلم فيها فضبطها بالوصف غير ممكنٍ وإذا انضم إلى ذلك كونها مجهولة القيمة فهذا من صور القولين إذا كان السلم مؤجلاً وإن كانت قيمتها معلومة فيعتبر ضبط وصفها فإن حَرَصا على ذكر الوصف فالأصح صحة السلم فإن قيل لم يمتنع السلم فيها مع إمكان وصفها قلنا لعزة وجودها وقد ذكرنا أن الشرط في المسلم فيه عموم الوجود ولا معنى لاشتراط هذا في رأس المال

Jika modalnya adalah mutiara, maka salam (akad jual beli dengan pembayaran di muka) tidak sah atasnya, karena tidak mungkin menetapkannya dengan deskripsi. Jika ditambah lagi dengan ketidakjelasan nilainya, maka ini termasuk dalam perbedaan dua pendapat jika akad salam itu bertempo. Namun, jika nilainya diketahui, maka yang dipertimbangkan adalah ketepatan deskripsinya. Jika kedua belah pihak berusaha menyebutkan deskripsinya, maka pendapat yang lebih sahih adalah sahnya akad salam tersebut. Jika ada yang bertanya, “Mengapa akad salam tidak diperbolehkan padanya padahal memungkinkan untuk dideskripsikan?” Kami jawab: Karena keberadaannya yang sangat langka, dan telah kami sebutkan bahwa syarat pada objek salam adalah mudah didapatkan secara umum, dan tidak ada makna untuk mensyaratkan hal ini pada modal.

وقال بعض أصحابنا كل ما لا يصح السلم فيه لا يصح جعله رأس مالٍ على أحد القولين ومثل هذا وإن ذكر في الكتب محمول عندي على ما إذا لم يطلع على وصفه أو قيمته غير أن معظم الناس لا يعتنون بنهايات البيان وإذا فصل مفصل كان ظاهر تفصيله مخالفاً لإطلاق الأولين ولا مخالفة

Sebagian ulama kami berkata, segala sesuatu yang tidak sah dijadikan objek salam, tidak sah pula dijadikan sebagai modal menurut salah satu pendapat. Hal seperti ini, meskipun disebutkan dalam kitab-kitab, menurut saya maksudnya adalah apabila sifat atau nilainya tidak diketahui. Namun, kebanyakan orang tidak memperhatikan rincian penjelasan. Jika ada seseorang yang merinci, maka rincian tersebut secara lahiriah tampak bertentangan dengan pernyataan para pendahulu, padahal sebenarnya tidak ada pertentangan.

فصل

Bab

قال والذي أحتج به في تجويز السلم في الحيوان إلى آخره السلم في الحيوان جائز عند الشافعي ولا يشك الفقيه أنه لا يجوز السلم في كل حيوان فإنه ما من جنسٍ يطلق القول بجواز السلم فيه إلا وفيه ما يمتنع السلم فيه على ما سنصفه الآن

Dan alasan yang digunakan untuk membolehkan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) pada hewan hingga akhirnya adalah bahwa salam pada hewan diperbolehkan menurut Imam Syafi‘i. Namun, seorang faqih tidak akan ragu bahwa tidak boleh melakukan salam pada setiap jenis hewan, karena tidak ada satu pun jenis hewan yang dapat dikatakan secara mutlak boleh dilakukan salam padanya, kecuali di dalamnya terdapat sesuatu yang menyebabkan salam tidak boleh dilakukan, sebagaimana akan kami jelaskan sekarang.

والمرعي فيما يجوز السلم فيه أن يكون قابلاً للوصف المعتبر عامَّ الوجود على الوصف المعتبر والقول في الوصف المعتبر لم يعتنَ بضبطه على ما ينبغي والذي أراه أن نذكر مسائل السَّلم على ترتيب السواد ونورد في كل مسألة ما يليق بها ثم نختم المسائل ونعطفُ عليها ما يضبط القول في الوصف المعتبر

Yang menjadi pertimbangan dalam hal barang yang boleh dijadikan objek salam adalah bahwa barang tersebut harus dapat dijelaskan sifat-sifatnya yang dianggap sah menurut syariat, serta umum keberadaannya sesuai dengan sifat yang dianggap sah itu. Adapun pembahasan mengenai sifat yang dianggap sah tersebut, para ulama belum memberikan batasan yang semestinya. Menurut pendapat saya, sebaiknya kita menyebutkan permasalahan-permasalahan salam sesuai urutan yang umum, lalu pada setiap permasalahan kita paparkan hal-hal yang sesuai dengannya, kemudian kita akhiri pembahasan masalah-masalah tersebut dan kembali menegaskan hal-hal yang menjadi batasan dalam sifat yang dianggap sah.

ففي الحيوانات ما تضبطه الأوصافُ المقصودة مع بقاء عموم الوجود ثم استدل الشافعي على جواز السلم في الحيوان بأخبار وردت في استقراض الحيوان وعلم الشافعي أن المخالف في السلم في الحيوان يخالف في استقراضه ومبنى مسائل السلم على ذكر ما يجوز السَّلم فيه وما لا يجوز على الجملة حتى إذا انتجز الكلام في الجمل انعطف الشافعي على ما أجمله وذكر مجامع الوصف في كل فن

Pada hewan, terdapat hal-hal yang dapat ditetapkan dengan sifat-sifat yang dimaksudkan, dengan tetap mempertahankan keumuman keberadaan. Kemudian, Imam Syafi‘i berdalil atas bolehnya salam dalam hewan dengan hadis-hadis yang meriwayatkan tentang peminjaman hewan. Imam Syafi‘i mengetahui bahwa pihak yang menentang salam dalam hewan juga menentang peminjamannya. Dasar-dasar permasalahan salam adalah dengan menyebutkan apa saja yang boleh dan tidak boleh menjadi objek salam secara umum, sehingga ketika pembahasan tentang unta telah selesai, Imam Syafi‘i kembali pada hal-hal yang masih global dan menyebutkan pokok-pokok sifat dalam setiap bidang.

وكنت أوثر أن أجمع مسائلها في تقاسيم ضابطة ولكن الجريان على ترتيب السواد أولى

Aku sebenarnya lebih memilih untuk mengumpulkan permasalahan-permasalahannya dalam pembagian-pembagian yang teratur, namun mengikuti urutan naskah aslinya lebih utama.

فصل

Bab

أجمع الأئمة على أن الاعتياض عن المسلم فيه لا يجوز؛ فإنه وإن كان موصوفاً فهو كالبيع في كونه مقصوداً وإذا امتنع التصرف في المبيع قبل القبض مع فرض توفير الثمن فالمسلم فيه وهو في الذمة لم يتحصل بعدُ بذلك أولى

Para imam telah sepakat bahwa mengganti barang yang menjadi objek salam tidak diperbolehkan; sebab meskipun barang itu bersifat maushuf (ditentukan sifatnya), ia tetap seperti jual beli dalam hal menjadi tujuan utama. Jika dilarang melakukan transaksi atas barang yang dijual sebelum diterima, padahal harga telah disediakan, maka barang salam yang masih berupa tanggungan dan belum diterima lebih utama lagi untuk dilarang.

وذكرنا في الاعتياض عن الأثمان قولين في كتاب البيوع

Kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai penggantian atas harga dalam Kitab al-Buyu‘.

وغرض هذا الفصل أن النقد إن التحق به باءُ الثمنية فهو ثمن وفي الاعتياضِ عنه القولان وإن اتصل باءُ الثمنية بثوبٍ أو غيرِه فقد ذكرنا في مسائل البيع خلافاً في أنه هل يكون ثمناً فلو قال اشتريت منك عشرة دنانير ووصفها بهذا الثوب

Tujuan dari bab ini adalah bahwa jika uang disertai dengan bā’ ats-tsamaniyyah, maka ia menjadi tsaman (alat tukar), dan dalam hal penggantian darinya terdapat dua pendapat. Jika bā’ ats-tsamaniyyah disandarkan pada kain atau selainnya, maka telah kami sebutkan dalam masalah-masalah jual beli adanya perbedaan pendapat tentang apakah ia menjadi tsaman atau tidak. Maka jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu sepuluh dinar dan menyifatinya dengan kain ini…”

وقد اتصل باء الثمن بالثوب وأقيم النقد على هذه الصيغة مقام المثمن فإن قلنا الدراهم ثمنٌ كيف أثبتت في العقد فيجوز الاعتياض عنه على أحد القولين في هذه الصورة

Huruf ba’ pada kata tsaman telah bersambung dengan tsawb, dan uang tunai ditempatkan dalam bentuk ini sebagai pengganti matsmun. Jika kita katakan bahwa dirham adalah tsaman, bagaimana ia bisa ditetapkan dalam akad, maka boleh mengambil pengganti darinya menurut salah satu pendapat dalam kasus ini.

وإن قلنا الثمن ما اتصل به باء التثمين فالثوب ثمن ولا يجوز الاعتياض عن الدراهم قولاً واحداً وإذا منعنا الاعتياض على هذا الترتيب فهل يجب تسليم الثوب في المجلس فعلى وجهين قدمنا أصلَهما فإن اتبعنا المعنى فالعقد سلمٌ وإن اتبعنا اللفظ فلم يجر لفظ السلم فلا يجب التسليم في المجلس

Jika kita mengatakan bahwa tsaman adalah apa yang disertai dengan huruf ba’ at-tatsmin, maka kain adalah tsaman dan tidak boleh mengambil ganti dari dirham menurut satu pendapat. Jika kita melarang pengambilan ganti dengan urutan seperti ini, maka apakah wajib menyerahkan kain di majelis? Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan asalnya: jika kita mengikuti maknanya, maka akadnya adalah salam; namun jika kita mengikuti lafaznya, maka tidak terjadi lafaz salam sehingga tidak wajib penyerahan di majelis.

وممّا يتعلق بهذا الفصل أن الفلوس إذا جرت في بعض البلاد وراجت رواج النقود فقد ذهب شرذمةٌ من الأصحاب إلى أنها تلتحق بالنقود في الأحكام ومنهم من قال ليس لها حكم النقود وإنما هي كالأعواض الرائجة وإن كسدت فهي كالأعواض الكاسدة

Termasuk hal yang berkaitan dengan bab ini adalah bahwa jika fulūs (uang logam kecil) beredar di sebagian negeri dan laku seperti mata uang, maka sekelompok kecil dari para ulama mazhab berpendapat bahwa fulūs disamakan dengan mata uang dalam hukum-hukumnya. Namun, sebagian dari mereka mengatakan bahwa fulūs tidak memiliki hukum seperti mata uang, melainkan seperti barang-barang pengganti yang laku; dan jika fulūs tidak laku, maka hukumnya seperti barang-barang pengganti yang tidak laku.

فإذا تبين هذا بنينا عليه أنه لو قال اشتريت منك مائة فلس بهذا الثوب فإن قلنا الفلوس من العُروض فليس في الصفقة ما هو ثمن في جوهره وإن قلنا الفلوس لها حكم النقود فإذا قال اشتريت منك مائة فلسٍ بهذا الثوب فهو كما لو قال اشتريت منك مائة درهم بهذا الثوب وقد سبق الكلام فيه

Jika hal ini telah jelas, maka kami membangun atasnya bahwa jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu seratus fulus dengan kain ini,” maka jika kita katakan fulus termasuk ‘urudh, maka dalam transaksi tersebut tidak ada sesuatu yang pada hakikatnya merupakan harga. Namun jika kita katakan fulus memiliki hukum sebagai nuqud, maka jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu seratus fulus dengan kain ini,” maka hal itu seperti seseorang berkata, “Aku membeli darimu seratus dirham dengan kain ini,” dan pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وإذا كسدت الفلوس فنادى منادي السلطان بالنهي عن التعامل عليها فتنقلب إذ ذاك عروضاً بلا خلاف

Jika fulūs mengalami penurunan nilai sehingga seorang penyeru dari pihak penguasa mengumumkan larangan bertransaksi dengannya, maka pada saat itu fulūs berubah status menjadi barang dagangan (‘urūḍ) tanpa ada perbedaan pendapat.

ثم جعل أبو حنيفة كساد الفلوس بمثابة تعذر تسليم المعقود عليه واضطربوا وراء هذا قال منهم قائلون هو كتلف المعقود عليه وقال آخرون هو كإباق العبد واضطربوا على وجوه في الفَلَس لسنا لها ومأخذها ما ذكرناه والمذهب أن الفلوس في جوهرها من العروض

Kemudian Abu Hanifah menganggap merosotnya nilai fulūs (uang logam) sebagai hal yang setara dengan tidak dapat diserahkannya objek akad, dan mereka pun berbeda pendapat setelah itu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa hal itu seperti hilangnya objek akad, sementara yang lain mengatakan bahwa hal itu seperti budak yang melarikan diri. Mereka pun berselisih pendapat dalam berbagai bentuk terkait masalah falas, yang tidak perlu kita bahas di sini, dan dasar pengambilan hukumnya adalah apa yang telah kami sebutkan. Adapun mazhab (pendapat) yang dipegang adalah bahwa fulūs pada hakikatnya termasuk dalam kategori barang dagangan (‘urūḍ).

فصل

Bab

قال ولو لم يذكر أجلاً فذكراه قبل أن يتفرقا جاز إلى آخره

Dan jika mereka tidak menyebutkan jangka waktu, lalu mereka menyepakatinya sebelum berpisah, maka itu diperbolehkan, dan seterusnya.

إذا عُقد السلم مطلقاً وحكمنا بصحته حملاً على الحلول وهو الأصح فلو أثبتا أجلاً في مجلس العقد فظاهر النص أن الأجل يلحق وهذا مشهور عند الأصحاب معدود من أصل المذهب

Jika akad salam dilakukan secara mutlak dan kita memutuskan keabsahannya dengan menganggapnya sebagai akad tunai, sebagaimana pendapat yang paling shahih, maka jika kedua belah pihak menetapkan jangka waktu dalam majelis akad, maka secara lahiriah dari nash, jangka waktu tersebut tetap berlaku. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan para ulama, dan dianggap sebagai bagian dari pokok mazhab.

وفي المسألة وجه آخر أن الزوائد لا تلحق في جواز العقد كما لا تلحق بعد لزومها وهذا منقاس وإن كان المشهور غيره

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain bahwa tambahan-tambahan tidak dianggap dalam kebolehan akad, sebagaimana tidak dianggap setelah akad menjadi mengikat, dan ini sesuai dengan qiyās, meskipun pendapat yang masyhur berbeda dengannya.

وقد استقصينا القول في هذا في كتاب البيع

Kami telah membahas hal ini secara mendalam dalam Kitab al-Bay‘.

ولو ذكر المتعاقدان في السلم أو في بيع الأعيان أجلاً مجهولاً في العوض الثابت في الذمة ثم حذفا تلك الجهالة في مجلس العقد فالذي ذهب إليه الأصحاب أن الحذف لا ينفع وفساد العقد مستمر فإن أعاداه على الصحة كان عقداً مبتدءاً

Jika kedua pihak yang berakad dalam akad salam atau dalam jual beli barang menyebutkan tenggat waktu yang tidak jelas pada imbalan yang menjadi utang, lalu mereka menghapus ketidakjelasan tersebut dalam majelis akad, maka menurut pendapat para ulama yang paling kuat, penghapusan itu tidak bermanfaat dan kerusakan akad tetap berlanjut. Jika mereka mengulangi akad dengan cara yang sah, maka akad tersebut dianggap sebagai akad baru.

وذكر صاحب التقريب وجهاً غريباً حكاه معظم الأصحاب عنه وهو أنهما لو حذفا الأجل المجهول في مجلس العقد فهل ينحذف حتى يحكم بصحة العقد واحتج عليه بأن قال المتعاقدان في مجلس العقد بمثابتهما بين التواجب فكأن العقد لا قرار له ما لم يتفرقا

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat yang ganjil yang dinukil oleh mayoritas para sahabat dari beliau, yaitu jika kedua belah pihak menghapuskan batas waktu yang tidak diketahui dalam majelis akad, apakah batas waktu itu benar-benar terhapus sehingga akad tersebut dianggap sah. Ia berdalil untuk pendapat ini dengan mengatakan bahwa kedua pihak yang berakad masih berada dalam satu majelis akad, sehingga seakan-akan akad itu belum tetap selama mereka belum berpisah.

وهذا الوجه مزيف لا يستقيم على قاعدة مذهب الشافعي؛ فإن المجلس إنما يتعلق به الحكم إذا صح العقد وإذا ذكر في صيغته مفسدٌ فلا عقد وإذا لم يكن عقدٌ فلا مجلس

Pendapat ini tidak sah dan tidak sesuai dengan kaidah mazhab Syafi‘i; sebab majelis hanya berkaitan dengan hukum apabila akadnya sah, dan jika dalam lafal akad disebutkan sesuatu yang merusak, maka tidak ada akad, dan jika tidak ada akad, maka tidak ada majelis.

ثم تكلم أصحابنا على هذا الوجه الضعيف من وجهين أحدهما يتعلق بضبط القول في مجرى هذا الوجه وبيان الأحكام التي يجرى فيها هذا الوجه والأحكام التي لا يجري فيها

Kemudian para ulama kami membahas pendapat yang lemah ini dari dua sisi: yang pertama berkaitan dengan penetapan pendapat dalam jalur pendapat ini serta penjelasan hukum-hukum yang berlaku menurut pendapat ini dan hukum-hukum yang tidak berlaku menurutnya.

لا خلاف أن الثمن والمثمن لو أثبت أحدهما على الفساد فلا ينفع إصلاحهما في مجلس العقد وهذا الوجه جارٍ في الأصل كما ذكرناه

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa apabila harga atau barang yang diperjualbelikan ditetapkan dalam keadaan rusak (tidak sah), maka perbaikannya di majelis akad tidak bermanfaat. Pendapat ini berlaku dalam pokok permasalahan sebagaimana telah kami sebutkan.

واختلف أصحابنا في جريانه في الخيار الفاسد إذا شرط والرهنِ والحَميل وزوائدِ العقد فمن أصحابنا من طرد هذا في جميع الزوائد التي تثبت على الفساد والأصح تخصيص ما ذكرناه بالأجل؛ وسببه أن المتعاقدين في مجلس العقد على حكم الأجل في الثمن؛ من قِبَل أن البائع لا يملك مطالبة المشتري بالثمن في المجلس وعاقبة المجلس مجهولة فكان الأجل مجهولاً؛ فلم يبعد أن يصلح الأجل في مجلس الخيار والكفيل والحميل ليسا في هذا المعنى كالأجل وأمّا شرط الخيار الزائد إذا حذف في المجلس فهو أقرب إلى الأجل من الكفيل والحميل؛ فإنه تأخيرٌ في لزوم العقد وليس كالأجل؛ فإنه يتصور رفعه على البت

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang berlakunya hukum ini pada khiyār yang rusak jika disyaratkan, serta pada rahn, hamīl, dan tambahan-tambahan akad. Sebagian dari ulama kami menerapkan hukum ini pada seluruh tambahan yang ditetapkan atas dasar kerusakan, namun pendapat yang lebih sahih adalah mengkhususkan apa yang telah kami sebutkan hanya pada penangguhan (ajal). Sebabnya adalah bahwa kedua belah pihak dalam majelis akad berada di bawah ketentuan penangguhan pembayaran harga; karena penjual tidak berhak menuntut pembeli untuk membayar harga dalam majelis, dan akhir dari majelis itu tidak diketahui, sehingga penangguhan itu menjadi tidak diketahui. Maka tidak mengherankan jika penangguhan itu sah dalam majelis khiyār. Adapun penjamin (kafīl) dan hamīl tidak termasuk dalam makna ini seperti halnya penangguhan. Adapun syarat khiyār tambahan, jika dihapus dalam majelis, maka ia lebih dekat kepada penangguhan daripada penjamin dan hamīl; karena ia merupakan penundaan dalam keharusan akad, namun tidak sama dengan penangguhan, sebab penangguhan dapat dihapuskan secara mutlak.

والخيار يتصف به العقد والأجل فُسحةٌ في عوض العقد

Khiyār merupakan sifat yang melekat pada akad, sedangkan tenggang waktu adalah kelonggaran dalam imbalan akad.

والحاصل مما رتب في ذلك أن ما صار إليه الجمهور أن الفساد لا يصلح إلا باستئناف العقد

Kesimpulan dari apa yang telah disusun dalam hal ini adalah bahwa menurut mayoritas ulama, kerusakan (fasad) tidak dapat diperbaiki kecuali dengan melakukan akad baru.

وقال صاحب التقريب فساد الأجل يصلح وقال غيره نعم فساد الأجل يصلح وكذلك فساد الرهن والحَميل والخيار وقال آخرون لا يصلح إلاّ فسادُ الأجل والخيار فهذا ما تكلم الأصحاب فيه

Pemilik kitab at-Taqrīb berkata: Kerusakan pada tenggat waktu (ajal) dapat diperbaiki. Sementara yang lain berkata: Ya, kerusakan pada tenggat waktu dapat diperbaiki, demikian pula kerusakan pada rahn (barang jaminan), ḥamīl (penanggung utang), dan khiyār (opsi). Namun, yang lain lagi berpendapat bahwa yang dapat diperbaiki hanyalah kerusakan pada tenggat waktu dan khiyār. Inilah yang dibahas oleh para ulama mazhab.

ومما ذكروه تفريعاً على هذا الوجه البعيد أن العقد لو شرط فيه الخيار على الصحة وأثبت فيه أجلٌ مجهول وتفرق المتعاقدان وزمان الخيار باقٍ فهل يكون الإصلاح في زمان الخيار بعد التفرق بمثابة الإصلاح في المجلس فعلى جوابين قال قائلون زمان الخيار بمثابة زمان المجلس في أن جهالة الأجل يصلح

Di antara hal yang mereka sebutkan sebagai cabang dari pendapat yang lemah ini adalah bahwa jika dalam akad disyaratkan adanya khiyar atas keabsahan akad dan ditetapkan di dalamnya batas waktu yang tidak diketahui, lalu kedua pihak yang berakad berpisah sementara masa khiyar masih berlangsung, maka apakah perbaikan (akad) pada masa khiyar setelah perpisahan itu sama kedudukannya dengan perbaikan (akad) di majelis akad? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: sebagian ulama berpendapat bahwa masa khiyar itu sama dengan masa majelis dalam hal ketidakjelasan batas waktu dapat diperbaiki.

وهذا بعيد؛ فإن مجلس العقد في حكم الحريم للعقد فلا يقاس به الخيار المستمر بعد التفرق

Hal ini tidak tepat; sebab majelis akad dipandang seperti tempat khusus bagi akad, sehingga tidak dapat dianalogikan dengan hak khiyar yang tetap ada setelah para pihak berpisah.

وكل ذلك خبط وخروج عن حد المذهب وجريان على مجاري مذهب أبي حنيفة

Semua itu adalah kekeliruan dan keluar dari batas mazhab, serta mengikuti alur mazhab Abu Hanifah.

والذي صح عندي من قول صاحب التقريب أنا إذا جعلنا إطلاق السَّلم لا يجوز لتردده بين الحلول والتأجيل فلو فرض إطلاقه ثم تبين حلوله أو تأجيله في المجلس فقد قال صاحب التقريب لا يبعد أن يحتمل ذلك؛ فإن العقد لم يشتمل على جهالة محققة

Pendapat yang sahih menurutku dari pendapat penulis kitab at-Taqrīb adalah bahwa jika kita menetapkan bahwa akad salam secara mutlak tidak boleh karena adanya kemungkinan antara tunai dan tangguh, maka jika akad tersebut dilakukan secara mutlak kemudian ternyata diketahui di majelis bahwa penyerahannya tunai atau tangguh, penulis at-Taqrīb mengatakan bahwa hal itu tidak mustahil untuk dibolehkan; karena akad tersebut tidak mengandung ketidakjelasan yang pasti.

وهذا في هذا الطَّرف بعيد أيضاًً فإنا إذا حملنا إطلاق اللفظ على التردد لزم القضاء بالفساد وإذا تحقق الفساد فلا عقد ولا مجلس

Hal ini pun dalam sisi ini juga jauh, karena jika kita memahami lafaz yang mutlak sebagai keraguan, maka hal itu mengharuskan adanya keputusan tentang kebatalan. Dan apabila kebatalan telah dipastikan, maka tidak ada akad dan tidak ada majelis.

فصل

Bab

قال ولا يجوز في السلف حتى يدفع الثمن قبل أن يفارقه إلى آخره

Ia berkata: Tidak boleh melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) hingga pembeli menyerahkan harga (uang) sebelum berpisah darinya, dan seterusnya.

ذكرنا أن من الشرائط في السلم تسليمَ رأس المال في المجلس وهذا متفق عليه ولو فرض التفرق قبل قبضه فسد العقد ولو جرى القبض في البعض دون الباقي وحصل التفرق فسد العقد في القدر الذي لم يجر القبض فيه ويسقط بنسبته من المسلم فيه وهل يبطل في الباقي كان شيخي يقول إذا اشتملت الصفقة أولاً على حلالٍ وحرامٍ؛ ففي انعقاد الصفقة في الحلال قولان وإذا انعقد العقد على عبدين مثلاً ثم تلف أحدهما قبل القبض وانفسخ العقد فيه فهل ينفسخ في العبد الباقي فعلى قولين مرتبين على التفرّق في الابتداء والانتهاء والانتهاء أولى بقبول التفرّق ؛ لأنه صح أولاً ثم اختص الطارىء بالبعض

Kami telah menyebutkan bahwa salah satu syarat dalam akad salam adalah penyerahan pokok modal di majelis akad, dan hal ini telah disepakati. Jika terjadi perpisahan sebelum modal diserahkan, maka akad menjadi batal. Jika penyerahan hanya dilakukan pada sebagian modal dan terjadi perpisahan, maka akad batal pada bagian yang belum diserahkan, dan bagian tersebut gugur sesuai proporsinya dari barang yang menjadi objek salam. Adapun apakah akad juga batal pada bagian yang sudah diserahkan, guru saya mengatakan: jika suatu transaksi sejak awal mencakup hal yang halal dan haram, maka dalam keabsahan transaksi pada bagian yang halal terdapat dua pendapat. Jika akad dilakukan atas dua budak, misalnya, lalu salah satunya rusak sebelum penyerahan dan akad pada budak tersebut batal, apakah akad juga batal pada budak yang tersisa? Maka terdapat dua pendapat yang terkait dengan perpisahan di awal dan di akhir, dan perpisahan di akhir lebih layak untuk diterima; karena pada awalnya akad sah, lalu kejadian yang membatalkan hanya terjadi pada sebagian saja.

فإذا وضح طرق الكلام فالتفرق في قبض رأس المال بين الدرجتين وهو أقرب إلى التفرق في الابتداء من مسألة العبدين؛ فإن قبض رأس المال ركن السلم فالانفساخ فيه جرى بأن يشبه بالفساد

Jika telah jelas cara pembicaraan, maka perbedaan dalam menerima pokok modal berada di antara dua tingkatan, dan hal ini lebih dekat kepada perbedaan dalam permulaan daripada masalah dua budak; sebab menerima pokok modal adalah rukun salam, maka pembatalan dalam hal ini terjadi karena ia menyerupai kerusakan.

فليتخيل الناظر ثلاث مراتب إحداها العقد والثانية ركن العقد والثالثة طريان الانفساخ على البعض بعد تمام العقد بشرائطه

Maka hendaklah orang yang memperhatikan membayangkan tiga tingkatan: yang pertama adalah akad, yang kedua adalah rukun akad, dan yang ketiga adalah terjadinya pembatalan pada sebagian setelah akad sempurna dengan syarat-syaratnya.

ولو سلم رأسَ المال في المجلس وتفرقا ثم وجد المسلَمُ إليه برأس المال عيباً فله رده وإذا رده كان ذلك فسخاً في العقد بعد الصحة وتوفر الأركان ولو تعذر ردُّ رأس المال بتلف حكمي أو حسِّي فيثبت للمسلم إليه الرجوعُ بالأرش حتى إذا كان العيب الذي حصل الاطلاع عليه مقدارَ عشر القيمة يسقط في مقابلته عشرُ المسلم فيه وهذا هو الأرش

Jika penyerahan uang pokok (ra’s al-māl) dilakukan di majelis akad lalu kedua belah pihak berpisah, kemudian pihak yang menerima pembayaran (al-muslam ilayh) menemukan cacat pada uang pokok tersebut, maka ia berhak mengembalikannya. Jika ia mengembalikannya, maka hal itu dianggap sebagai pembatalan akad setelah akad tersebut sah dan terpenuhi rukun-rukunnya. Jika pengembalian uang pokok tidak memungkinkan karena rusak secara hukum atau fisik, maka pihak penerima pembayaran berhak mendapatkan kompensasi (arsh). Sehingga, jika cacat yang ditemukan nilainya sepersepuluh dari harga, maka sepersepuluh dari barang yang dipesan (al-muslam fīh) gugur sebagai gantinya. Inilah yang disebut arsh.

ويجب وراء هذا التنبّهُ لدقيقتين إحداهما أن هذه الصورة لا تلتحق بتفريق الصفقة حتى يقال ارتفع العقد في عشرٍ فهل يرتفع في التسعة الأعشار فعلى قولين بل لا يرتفع في التسعة الأعشار قولاً واحداً والسبب فيه أن القبض قد جرى في رأس المال وهذا المستدرك لم يتضمن تبعيض القبض في رأس المال والدليل عليه أنه لو كان باقياً أمكن الرّضا به ولكن أثبت الشرع طريقاً في استدراك الظُّلامة وجِهةُ الاستدراك عند البقاء الرد وعند الفوات الأرشُ والعقد لم يختل ركنه؛ فالعشر إذن محطوط ولا يقال انفسخ العقد فيه بل حطه مستحق

Selain itu, perlu diperhatikan dua hal penting: Pertama, bahwa kasus ini tidak termasuk dalam kategori tafriq ash-shafqah (pemisahan akad), sehingga tidak dapat dikatakan bahwa akad batal pada sepersepuluh bagian, lalu dipertanyakan apakah batal juga pada sembilan persepuluh sisanya—dalam hal ini ada dua pendapat. Namun, dalam kasus ini, akad tidak batal pada sembilan persepuluh sisanya menurut satu pendapat saja. Sebabnya adalah karena qabdh (penguasaan barang) telah terjadi atas seluruh modal, dan hal yang dikoreksi ini tidak mengandung pemisahan qabdh pada modal. Buktinya, jika barang tersebut masih ada, maka masih mungkin untuk ridha (menerima) dengannya. Namun, syariat telah menetapkan cara untuk mengoreksi kezhaliman; jika barang masih ada, maka cara koreksinya adalah dengan mengembalikan, dan jika sudah tidak ada, maka dengan membayar ganti rugi (arasy). Rukun akad pun tidak rusak; maka sepersepuluh bagian itu gugur, dan tidak dikatakan bahwa akad batal pada bagian itu, melainkan bagian itu memang gugur karena hak.

فهذا بيان ما ذكرناه

Inilah penjelasan dari apa yang telah kami sebutkan.

ومما وجب التنبّه له أنه إذا سقط العشر مثلاً فلا خيار لمن يحط العشر عن استحقاقه ونحن نثُبت الخيار لخيالات تنحط عن هذا ولكن الوجه أن هذا حقٌّ مستحَقّ شرعاً فلا خِيَرَة مع حكم الشرع

Perlu diperhatikan bahwa jika ‘usyur, misalnya, gugur, maka tidak ada pilihan bagi siapa pun yang menggugurkan ‘usyur dari haknya. Padahal kita menetapkan adanya pilihan untuk hal-hal yang lebih rendah dari ini. Namun, yang benar adalah bahwa ini merupakan hak yang ditetapkan secara syar‘i, maka tidak ada pilihan ketika hukum syariat telah menetapkannya.

والدقيقة الثانية أن الرد إذا تعذّر ففي كلام الأصحاب تردد في أن الأرش يثبت من غير إثبات أم لا بُدّ من إثباته ظاهر كلام القاضي أن الأرش يثبت من غير حاجة إلى إثباته وإنما التردد والخِيَرة في حالة البقاء فإن شاء ردّ وإن شاء رضي به معيباً

Hal penting kedua adalah bahwa jika pengembalian barang tidak memungkinkan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah arsy (ganti rugi) dapat ditetapkan tanpa perlu pembuktian, ataukah harus ada pembuktian terlebih dahulu. Pendapat yang tampak dari al-Qadhi menyatakan bahwa arsy dapat ditetapkan tanpa perlu pembuktian, dan keraguan serta pilihan hanya berlaku ketika barang masih ada; jika mau, ia boleh mengembalikan, dan jika mau, ia boleh menerima barang tersebut dalam keadaan cacat.

وسبب التردد أنا لو لم نقل به لكان بدوُّ العيب متضمناً انفساخ العقد وهذا بعيد عن وضع العقد ومصلحته فأما إذا فات الردّ فالوجه ثبوت حق صاحب الحق مع بقاء العقد

Penyebab keraguan adalah bahwa jika kita tidak mengatakan demikian, maka tampaknya munculnya cacat berarti batalnya akad, dan ini jauh dari maksud dan kemaslahatan akad. Adapun jika masa pengembalian telah lewat, maka yang tepat adalah tetap adanya hak bagi pemilik hak dengan tetap berlakunya akad.

ومن أصحابنا من قال لا يثبت الأرش بنفس الاطلاع على العيب مع تعذر الرد؛ فإنَّ الرضا بالعيب كان ثابتاً في البقاء فليثبت إمكانه وحكمه بعدَ الفوات فعلى هذا يثبت الأرش بالطلب الجازم

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa kompensasi (arasy) tidak langsung ditetapkan hanya dengan mengetahui adanya cacat ketika pengembalian barang tidak memungkinkan; sebab kerelaan terhadap cacat itu sebelumnya telah ada selama barang masih ada, maka hendaknya kemungkinan dan hukumnya juga tetap ada setelah barang itu hilang. Berdasarkan pendapat ini, arasy baru ditetapkan jika ada permintaan yang tegas.

وهذا قريب من التردد في أنّ ملك الشفيع متى يثبت في الشقص المشفوع غير أنه يتجه في الشفعة جهاتٌ من القضاء وتأدية الثمن والطلب وهاهنا لا وجه إلا الربط بالطلب

Hal ini hampir sama dengan keraguan mengenai kapan kepemilikan syafii atas bagian yang diambil melalui syuf‘ah menjadi tetap, hanya saja dalam syuf‘ah terdapat beberapa aspek seperti keputusan hukum, pembayaran harga, dan permintaan, sedangkan di sini tidak ada alasan kecuali mengaitkannya dengan permintaan.

فصل

Bab

قال ويكون ما يسلف فيه موصوفاًً إلى آخره

Ia berkata: Dan barang yang dijadikan objek salam haruslah sesuatu yang dapat dideskripsikan, dan seterusnya.

قد ذكرنا أن أحد شرائط السَّلم كونُ المسلم فيه موصوفاً؛ فإن الإعلام لا بد منه فإذا لم يكن عِيانٌ ومشاهدة فلا بد من الوصفِ ثم بعض الأوصاف المقصودة لا تكفي ولا بد من استقصاء كل وصف مقصود

Kami telah menyebutkan bahwa salah satu syarat salam adalah barang yang menjadi objek salam harus berupa sesuatu yang dapat dideskripsikan; sebab pemberitahuan (tentang barang) itu wajib adanya. Jika tidak ada barang yang dapat dilihat langsung dan disaksikan, maka harus dengan deskripsi. Namun, sebagian deskripsi yang dimaksud saja tidaklah cukup, melainkan harus merinci setiap deskripsi yang menjadi tujuan.

ثم يكفي عند القبض والتسليم في كل وصف ما ينطلق عليه الاسم ولا يطلب الأقصى؛ فالنهايات لا ضبط لها حتى لو أسلم في كاتب فيكتفى بما ينطلق عليه اسم الكتابة لا يشترطُ التبحر فيها وكذلك القول في الصفات المشروطة في بيع الأعيان فإذا شرط كون العبد المشترى كاتباً اكتفي في الوفاء بالشرط بالاسم كما ذكرناه

Kemudian, dalam hal penyerahan dan penerimaan, cukup pada setiap sifat dengan apa yang dapat disebut dengan namanya, dan tidak disyaratkan yang paling sempurna; karena batasan-batasan akhirnya tidak dapat ditentukan. Maka, jika seseorang melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam seorang penulis, maka cukup dengan apa yang dapat disebut sebagai penulis, tidak disyaratkan harus sangat mahir di bidangnya. Demikian pula halnya dengan sifat-sifat yang disyaratkan dalam jual beli barang. Jika disyaratkan bahwa budak yang dibeli harus seorang penulis, maka cukup dalam memenuhi syarat tersebut dengan nama (penulis) sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ثم من الأوصاف ما يهتدي إليها الخواص والعوام كأوصاف الحنطة والشعير وما في معناهما والثياب المتخذة من القطن وما كان من هذا القبيل فأوصافها قليلة ومنها ما لا يهتدي إلى معرفة أوصافها إلا أهل الصنعة كأنواع القطن والإبريسم والمماليك

Kemudian, di antara sifat-sifat itu ada yang dapat diketahui oleh kalangan khusus maupun umum, seperti sifat-sifat gandum dan jelai serta yang sejenisnya, juga kain-kain yang terbuat dari kapas dan yang serupa dengannya; maka sifat-sifatnya sedikit. Ada pula sifat-sifat yang hanya dapat diketahui oleh para ahli di bidangnya, seperti berbagai jenis kapas, sutra, dan budak.

وقد ذكر شيخي وصاحب التقريب في ذلك ترتيباً ونحن نطرده على وجهه قالا إذا وقع السَّلم في موصوف أوصافه المقصودة معروفةٌ في الناس

Guru saya dan penulis kitab at-Taqrīb telah menyebutkan urutan dalam hal ini, dan kami akan mengikutinya sebagaimana mestinya. Mereka berdua berkata: Jika akad salam terjadi pada barang yang sifat-sifatnya yang dimaksudkan telah dikenal di kalangan masyarakat…

فالسلم صحيح لا يأتيه خلل من قبيل الوصف والأَوْلى إذا تعاقدا أن يُشهدا على الأوصاف؛ حتى لا يتنازعا والإشهاد مستحب غير مستحَق ولا يستحق الإشهاد إلا في النكاح

Jadi, akad salam itu sah dan tidak terdapat cacat dari segi sifat barang, dan yang lebih utama ketika kedua belah pihak berakad adalah menghadirkan saksi atas sifat-sifat barang tersebut agar tidak terjadi perselisihan. Persaksian itu hukumnya sunnah, tidak wajib, dan persaksian yang wajib hanyalah dalam akad nikah.

وإن كان الجنس المطلوب مما يختص بمعرفة صفته المتعاقدان فيما زعما فالسلم باطل؛ فإن المطلوب مجهول عند الناس ولو تشاجر المتعاقدان لم يُدْرَ كيف تداعيهما وعاد مقالهما تراطناً بينهما وعقد السلم عقد غرر فينبغي أن يُتوقَّى أمثالُ ذلك ولو لم تُجتنب لانضم إلى أصل الغرر في العقد وترتب منهما عَماية

Jika jenis barang yang diminta adalah sesuatu yang hanya diketahui sifatnya oleh kedua pihak yang berakad menurut pengakuan mereka, maka akad salam tersebut batal; sebab barang yang diminta itu tidak diketahui oleh orang banyak, dan jika kedua pihak yang berakad berselisih, tidak diketahui bagaimana cara mereka saling mengklaim, dan ucapan mereka akan menjadi seperti bahasa isyarat di antara mereka saja. Akad salam adalah akad yang mengandung gharar (ketidakjelasan), maka seharusnya dihindari hal-hal semacam itu. Jika tidak dihindari, maka akan bergabung dengan gharar yang sudah ada dalam akad dan menimbulkan kebingungan.

ولو كانت تلك الصفة بحيث يعرفها عدد الاستفاضة فيصح العقد ولا يشترط حضور أحد بل يشترط ما ذكرناه ليعرف عند النزاع تناكرهما وتقارّهما

Jika sifat tersebut sedemikian rupa sehingga dapat diketahui oleh jumlah orang yang mencapai derajat istifādhah, maka akadnya sah dan tidak disyaratkan kehadiran siapa pun. Namun, yang disyaratkan adalah apa yang telah kami sebutkan agar ketika terjadi perselisihan, dapat diketahui apakah keduanya saling mengingkari atau saling mengakui.

وإن عرف الصفة عدلان فهل يعتمد العقد معرفتهما حتى يصح أم لا بد من عدد الاستفاضة فعلى وجهين

Jika dua orang adil telah mengetahui sifatnya, apakah akad dapat didasarkan pada pengetahuan keduanya sehingga menjadi sah, ataukah harus dengan jumlah yang mencapai derajat istifādhah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وزعم الإمام أن هذا القياس يطرد في تعيين المكيال على ما سنعقد فيه فصلاً

Imam berpendapat bahwa qiyās ini berlaku secara konsisten dalam penetapan takaran, sebagaimana akan kami bahas dalam satu bab tersendiri.

والذي نعجله منه أنهما لو ذكرا مكيالاً شائعاً صح التقدير به إذا كان يعرفه أهل الاستفاضة فإن ذكرا مكيالاً زعما أنهما يعرفانه وكان لا يعرفه غيرهما فالسلم باطل وإن كان يعرف ذلك المكيالَ عدلان فوجهان إذا لم يَشع العلمُ في عدد الاستفاضة

Yang dapat kami simpulkan darinya adalah bahwa jika keduanya menyebutkan satu takaran yang umum, maka sah penetapan takaran tersebut jika diketahui oleh orang-orang yang tersebar pengetahuannya. Namun jika keduanya menyebutkan satu takaran yang mereka klaim hanya mereka berdua yang mengetahuinya dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya, maka akad salam tersebut batal. Jika ada dua orang adil yang mengetahui takaran itu, maka ada dua pendapat apabila pengetahuan tentangnya tidak tersebar luas di kalangan banyak orang.

وليس ما استشهدنا به في تعيين المكيال إشارة إليه؛ فإن ذلك فن يأتي وإنما هذا في ذكر مكيال معلوم أو مجهول كما فصلنا

Apa yang kami jadikan sebagai dalil dalam penetapan takaran bukanlah isyarat kepadanya; karena hal itu merupakan pembahasan yang akan datang, sedangkan yang dimaksud di sini adalah penyebutan takaran yang sudah diketahui atau belum diketahui, sebagaimana telah kami jelaskan secara rinci.

وهذا الترتيب حسن

Dan urutan ini baik.

ولكن فيما وقع القطع بفساد السلم فيه احتمال والأظهر الفساد

Namun, dalam hal yang telah dipastikan rusaknya akad salam, terdapat kemungkinan, namun yang lebih kuat adalah batal.

ليس هذا الذي خضنا فيه الفصلَ الموعودَ في ضبط الوصف المعتبر

Bukanlah hal yang telah kita bahas ini merupakan pembahasan yang dijanjikan tentang penetapan sifat yang dianggap sah.

وذلك يأتي في فصل إن شاء الله

Hal itu akan dibahas pada bab berikutnya, insya Allah.

فصل

Bab

قال قال الله عز وجل يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ إلى آخره

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal (bulan-bulan sabit),” hingga akhir ayat.

الغرض من الفصل أن السلم إذا اشتمل على الأجل فلا بد من إعلامه فإذا أجل إلى شهر صح وحمل على الشهر العربي والشهور العربية بالأهلة ومعلوم أن الشهر ينقص ويكمل وما يتوقع من كمالٍ ونقصانٍ محتمل بلا خلاف

Tujuan dari bab ini adalah bahwa apabila akad salam mengandung penetapan waktu, maka waktu tersebut harus dijelaskan. Jika ditetapkan hingga satu bulan, maka akad tersebut sah dan dimaknai sebagai bulan Arab, yaitu bulan-bulan Arab yang dihitung berdasarkan hilal. Telah diketahui bahwa bulan bisa kurang atau sempurna, dan kemungkinan terjadinya kekurangan atau kesempurnaan bulan adalah hal yang dapat diterima tanpa ada perbedaan pendapat.

ويبعد تطبيق أول الأجل على أول الشهر والغالب أن تردد الشهر يقع في الشهر الثاني والثالث فإذا وقع التأجيل ثلاثة أشهر فلينكسر الأول غالباً وكل شهر انكسر في الآجال اكملناه ثلاثين يوماً ولم ننظر إلى ذلك الشهر انتقص أم تكمّل فإذاً الشهر الثاني والثالث بالهلال والشهر الأول المنكسر على الكمال فنستكمله من أيام الشهر الرابع حتى لو وقع الأجل وقد بقي من الشهر لحظة انكسر الشهر بها ولزم من انكساره إكماله

Penerapan awal jatuh tempo pada awal bulan adalah hal yang jarang terjadi, dan umumnya keraguan mengenai bulan terjadi pada bulan kedua dan ketiga. Jika penundaan dilakukan selama tiga bulan, maka biasanya bulan pertama akan terpotong. Setiap bulan yang terpotong dalam penentuan jatuh tempo, kita sempurnakan menjadi tiga puluh hari, tanpa memperhatikan apakah bulan tersebut kurang atau genap. Maka, bulan kedua dan ketiga dihitung berdasarkan hilal, sedangkan bulan pertama yang terpotong disempurnakan secara penuh. Kita lengkapi kekurangannya dari hari-hari bulan keempat, sehingga jika jatuh tempo terjadi dan masih tersisa sedikit waktu dari bulan tersebut, maka bulan itu dianggap terpotong dan wajib untuk disempurnakan.

وبيان ذلك بالمثال أن ابتداء الأجل لو وقع وقد بقيت لحظة من شهر صفر فنقص الربيعان ونقص جُمادى فأمّا الربيعان فشهران محسوبان بالأهلة وأمّا جُمادى فإذا نقص كملناه بيوم من جُمادى الآخر

Penjelasannya dengan contoh adalah, jika awal jatuh tempo terjadi ketika masih tersisa satu saat dari bulan Shafar, lalu kedua bulan Rabi‘ dan bulan Jumada mengalami kekurangan hari. Adapun kedua bulan Rabi‘, keduanya dihitung sebagai dua bulan berdasarkan peredaran bulan (hilal), sedangkan Jumada, jika kurang, maka disempurnakan dengan satu hari dari Jumada Akhir.

وكنت أود في هذه الصورة أن نكتفي بالأشهر الثلاثة؛ فإنها جرت عربية كَوامِل وإن نقصت عدة الأيام وإنما يكمل إذا كان بقي من الشهر أيام بحيث لا يتمكن من احتساب شهر كاملٍ عربي فيأخذ من أيام الشهر الثالث ما يكمل أيام شهر صفر ثلاثين

Saya sebenarnya ingin dalam kasus ini kita cukupkan dengan tiga bulan saja; karena biasanya tiga bulan itu adalah bulan-bulan Arab yang sempurna, meskipun jumlah harinya kurang. Namun, hal itu menjadi sempurna jika masih tersisa dari bulan tersebut beberapa hari sehingga tidak memungkinkan untuk menghitung satu bulan Arab penuh, maka diambil dari hari-hari bulan ketiga sejumlah hari yang menyempurnakan bulan Shafar menjadi tiga puluh hari.

فأمّا إذا استمرت لنا أشهر عربية فليقع الاكتفاء بهذا

Adapun jika bulan-bulan Arab telah tetap bagi kita, maka cukuplah dengan hal itu.

وعلى هذا أمر العدة المنوطةِ بالأشهر

Atas dasar ini, perkara ‘iddah yang bergantung pada bulan-bulan.

وإذا كان الأجل إلى انقضاء شهرٍ أو انسلاخه أو انقضاء السنة جاز ان احتاج المتعاقدان إلى وقفة في درك ما بقي من السنة

Jika batas waktu ditetapkan sampai berakhirnya suatu bulan atau selesainya bulan tersebut, atau sampai berakhirnya tahun, maka hal itu diperbolehkan apabila kedua pihak yang berakad membutuhkan waktu jeda untuk menyelesaikan sisa dari tahun tersebut.

قال الأئمة هذا في الألفاظ يناظر ربط إعلام المبيع بالعِيان في مثل قول القائل بعتك من موقف قدمي إلى الشجرة

Para imam berkata, hal ini dalam hal lafaz-lafaz sebanding dengan mengaitkan penunjukan barang yang dijual dengan penglihatan langsung, seperti ucapan seseorang: “Aku menjual kepadamu dari tempat berdiriku sampai ke pohon itu.”

ثم كما انقضى الشهر أو السنة حكم بحلول الأجل

Kemudian, sebagaimana telah berakhirnya bulan atau tahun, maka diputuskan bahwa jatuh tempo telah tiba.

وذكر صاحب التقريب فصولاً في العبارات عن الأجل ونحن نذكرها ونتخذها أصولاً

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan beberapa bab tentang ungkapan-ungkapan mengenai tenggat waktu, dan kami akan menyebutkannya serta menjadikannya sebagai landasan.

فمنها أنه لو أجل شيئاً إلى نَفْر الحجيج فإن قيده بالنفر الأول في سنة مخصوصة صح وإن ذكر النفر مطلقاً أو أضافه إلى السنة المعلومة ففي المسألة وجهان

Di antaranya adalah bahwa jika seseorang menunda sesuatu hingga waktu nafar para jamaah haji, maka jika ia membatasinya dengan nafar pertama pada tahun tertentu, hal itu sah. Namun jika ia menyebutkan nafar secara mutlak atau mengaitkannya dengan tahun yang sudah diketahui, dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

هكذا ذكر صَاحب التقريب أحدهما يفسد الأجل لتردد محله بين النفرين والثاني يصح ويحمل على النفر الأول؛ فإنه تحقق الاسم به وهو كما لو قال إلى يوم عاشوراء فالأجل صحيح وآخره محمول على أول جزء من اليوم فإن الاسم يتحقق به فحمل على الأول ولم نلتفت إلى تمادي اليوم إلى غروب الشمس

Demikianlah yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb: salah satunya, batas waktu menjadi batal karena tempatnya masih samar antara dua kelompok; dan yang kedua, sah dan dibawa kepada kelompok pertama, karena nama tersebut telah terwujud dengannya. Hal ini seperti jika seseorang berkata, “sampai hari ‘Asyura,” maka batas waktu tersebut sah dan akhirnya dianggap pada bagian pertama dari hari itu, karena nama hari telah terwujud dengannya, sehingga dibawa kepada yang pertama dan kita tidak memperhatikan berlanjutnya hari itu hingga terbenam matahari.

وألحق العراقيون بذلك ما لو أجّله بشهر ربيع أو جمادى من سنة معلومةٍ ولم يذكر الأول والآخر وهذا قياسُ ما ذكره صاحب التقريب في النفر

Orang-orang Irak juga memasukkan ke dalam hal ini apabila seseorang menetapkan waktu pembayaran pada bulan Rabi‘ atau Jumada dari tahun tertentu tanpa menyebutkan apakah itu awal atau akhir bulan, dan ini adalah qiyās terhadap apa yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb dalam masalah nafar.

ثم يلتحق بهذا عندنا أصل نمهده أولاً ثم نفرعه وهو أن آخر الشهر اسمٌ ينطلق على ما يبقى بعد نصف الشهر إلى الانقضاء وليس المراد بالآخر الجزء الأخير فيقال العشر الأواخر وأواخر الشهر والقول في الأول كالقول في الآخر فهو اسم ينطلق على النصف ولا يتخصص به الجزء الأول

Kemudian, berkaitan dengan hal ini menurut kami, terdapat satu kaidah yang akan kami jelaskan terlebih dahulu lalu kami cabangkan, yaitu bahwa “akhir bulan” adalah istilah yang digunakan untuk menyebut waktu yang tersisa setelah pertengahan bulan hingga habisnya bulan, dan yang dimaksud dengan “akhir” bukanlah hanya bagian terakhir saja. Oleh karena itu, dikatakan “sepuluh hari terakhir” dan “akhir-akhir bulan”. Adapun pembahasan tentang “awal” sama seperti pembahasan tentang “akhir”, yaitu ia adalah istilah yang digunakan untuk menyebut setengah bulan dan tidak khusus hanya pada bagian pertama saja.

ثم أطلق أصحابنا وقالوا إذا قال إلى آخر الشهر أو إلى أول الشهر الفلاني

Kemudian para ulama kami memberikan ketentuan umum dan berkata: Jika seseorang berkata “sampai akhir bulan” atau “sampai awal bulan tertentu”…

كان ذلك مجهولاً حتى ينص على ما يعينه في الأول والآخر

Hal itu tetap tidak diketahui sampai disebutkan secara jelas apa yang dimaksudkan pada awal dan akhirnya.

وهذا مشكل عندي

Ini menjadi masalah bagiku.

وإذا كان الأصحاب يردّدون القول في الربيع المطلق والنَّفرِ وحمله بعضهم على ما ينطلق عليه الاسم أول مرة فهذا يتوجه في الأول والآخر من الشهر حتى يقال يحمل الأول على الجزء الأول ويحمل الآخر على الجزء الأول من النصف الثاني

Jika para ulama sering mengulang-ulang pendapat tentang “rabī‘” secara mutlak dan “nafr”, dan sebagian dari mereka menafsirkannya dengan sesuatu yang pertama kali dinamai demikian, maka hal ini berlaku pada awal dan akhir bulan, sehingga dikatakan bahwa awal bulan dimaknai sebagai bagian pertama, dan akhir bulan dimaknai sebagai bagian pertama dari paruh kedua.

وقد ينقدح للفَطن حمل الأخير على الجزء الأخير وحمل الأول على الجزء الأوّل

Mungkin terlintas dalam benak orang yang cerdas untuk mengaitkan yang terakhir pada bagian terakhir dan mengaitkan yang pertama pada bagian pertama.

وإذا لم يكن لصاحب المذهب نص ورجع الكلام إلى معاني الألفاظ اتسع المقال وارتفع الحرج

Dan apabila seorang pemilik mazhab tidak memiliki nash, lalu pembicaraan kembali kepada makna-makna lafaz, maka pembahasan menjadi lebih luas dan tidak ada lagi kesulitan.

ولست أرى مثل هذا مخالفةً في المذهب؛ فإن المحذور خلاف نص المذهب؛ كيف وقد نصوا على أن ذكر اليوم من غير عبارة تقتضي الظرفَ محمول على أوله وإن كان اسم اليوم يشمل الجميع فليكن الأول شاملاً لنصف والآخر شاملاً لنصف شمول اسم اليوم لساعات

Saya tidak melihat hal seperti ini sebagai penyimpangan dalam mazhab; karena yang dikhawatirkan adalah bertentangan dengan nash mazhab. Bagaimana tidak, padahal para ulama telah menegaskan bahwa penyebutan hari tanpa ungkapan yang menunjukkan makna waktu, maka itu dimaknai pada awal harinya, meskipun nama hari mencakup seluruh waktunya. Maka hendaknya awal hari mencakup setengahnya dan akhir hari mencakup setengahnya, sebagaimana nama hari mencakup seluruh jamnya.

فإذا قال أجلتك إلى يوم الجمعة حل الأجل بطلوع فجر يوم الجمعة وإذا قال أجلتك إلى شهر كذا فكما استهل تبين حلول الأجل معه

Jika seseorang berkata, “Aku menangguhkanmu sampai hari Jumat,” maka waktu jatuh temponya adalah saat terbit fajar pada hari Jumat. Dan jika ia berkata, “Aku menangguhkanmu sampai bulan tertentu,” maka sebagaimana awal bulan itu ditetapkan, demikian pula waktu jatuh temponya bersamaan dengan awal bulan tersebut.

ولو قال تؤديه في يوم كذا أو شهر كذا لم يجز؛ لأنه جعل جميع أجزاء اليوم ظرفاً ومحلاً فكأنه قال محل الأجل وقتٌ من أوقات يوم كذا وجوز أبو حنيفة هذا وذكر صاحب التقريب ذلك وجهاً لبعض أصحابنا لم أره لغيره

Dan jika ia berkata, “Engkau melunasinya pada hari ini atau bulan ini,” maka itu tidak sah; karena ia menjadikan seluruh bagian hari sebagai waktu dan tempat, seolah-olah ia berkata, “Tempat jatuh tempo adalah salah satu waktu dari hari tersebut.” Abu Hanifah membolehkannya, dan penulis kitab at-Taqrib menyebutkan pendapat ini sebagai salah satu pendapat sebagian ulama mazhab kami, namun aku tidak melihatnya pada selain beliau.

وإذا جعل محل الأجل فعلاً يتقدم أو يتأخر فهو مجهول مثل أن يقول إلى الحصاد أو إلى الدياس وكذلك إذا قال إلى العطاء يعني خروج الأُعطية ولو قال إلى وقت العطاء وكان له وقت معلوم جاز ولو قال إلى وقت الحصاد لم يجز؛ لأنه ليس له وقت معلوم

Dan apabila waktu jatuh tempo dikaitkan dengan suatu perbuatan yang bisa lebih awal atau lebih lambat, maka itu dianggap tidak jelas, seperti jika seseorang berkata “sampai panen” atau “sampai pengirikan.” Demikian pula jika ia berkata “sampai pemberian,” maksudnya sampai keluarnya pemberian. Namun, jika ia berkata “sampai waktu pemberian” dan waktu tersebut sudah diketahui secara pasti, maka itu diperbolehkan. Tetapi jika ia berkata “sampai waktu panen,” maka itu tidak diperbolehkan karena waktu tersebut tidak diketahui secara pasti.

ولو قال إلى النيروز والمهرجان فالمذهب الجواز؛ لأنه معلوم مفهوم عند الناس ومنع بعض الأصحاب ذلك وهو مشهور ولست أرى له وجهاً إلا الحمل على مسير الشمس؛ فإن النيروز والمهرجان يطلقان على الوقتين اللذين تنتهي الشمس فيهما إلى أوائل برجي الحمل والميزان وقد يتفق ذلك ليلاً ثم ينخنس مسير الشمس كل سنة بمقدار ربع يوم وليلة وشيء ومن اجتماع هذا التفاوت الكبايس في حساب الفلك

Jika seseorang berkata, “sampai hari Nairuz dan Mahrajan,” maka menurut mazhab hukumnya boleh, karena kedua hari tersebut diketahui dan dipahami oleh masyarakat. Namun, sebagian ulama melarang hal itu, dan pendapat ini cukup terkenal. Saya sendiri tidak melihat alasan yang kuat kecuali jika dikaitkan dengan perjalanan matahari; sebab Nairuz dan Mahrajan digunakan untuk menyebut dua waktu ketika matahari mencapai awal zodiak Aries dan Libra. Kadang-kadang hal itu terjadi pada malam hari, kemudian perjalanan matahari mundur setiap tahun sekitar seperempat hari dan malam serta sedikit lagi. Dari akumulasi perbedaan inilah muncul kabisat dalam perhitungan astronomi.

ولو قال إلى فِصْح النصارى وفطير اليهود وكان لا يعرف ذلك والرجوع فيه إلى النصارى واليهود فهذا مجهول ولا سبيل إلى اعتماد قول الكفار هكذا قال الشافعي

Dan jika seseorang berkata, “Sampai Paskah orang Nasrani dan Paskah orang Yahudi,” sementara ia tidak mengetahui waktu tersebut dan harus merujuk kepada orang Nasrani dan Yahudi, maka ini adalah sesuatu yang tidak jelas, dan tidak boleh bersandar pada ucapan orang-orang kafir. Demikianlah pendapat Imam Syafi‘i.

ولو أسلم منهم طائفةٌ وأخلوا بالفصح والشعانين وكانوا يعرفون فمفهوم نص الشافعي في التعليل بالمنع عن الرجوع إليهم يدل على أن ذلك جائز في الذين أسلموا وهم لا يحتاجون إلى المراجعة

Jika sebagian dari mereka masuk Islam dan mereka tidak melaksanakan perayaan Paskah dan Minggu Palma, padahal mereka dikenal, maka makna dari nash Imam Syafi’i dalam alasan pelarangan untuk kembali kepada mereka menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan bagi orang-orang yang telah masuk Islam dan mereka tidak membutuhkan untuk kembali (kepada orang-orang sebelumnya).

ومن أصحابنا من لم يجوز ذلك ولا محمل له إلا اجتناب التأقيت بمواقيت الكفار ويمكن أن يقرب من اختصاص المتعاقدين بمعرفةِ الأجل حتى ينزّل هذا على ما ذكرناه في الوصف النادر والمكيال النادر

Sebagian dari ulama kami tidak membolehkannya, dan tidak ada alasan lain kecuali menghindari penetapan waktu dengan memakai waktu kaum kafir. Namun, hal itu dapat didekatkan pada kekhususan kedua pihak yang berakad dalam mengetahui batas waktu, sehingga hal ini dapat disamakan dengan apa yang telah kami sebutkan mengenai sifat yang langka dan takaran yang langka.

فصل

Bab

قال وإن كان ما أسلف فيه مما يكال أو يوزن سمياً مكيالاً معروفاً عند العامة إلى آخره  القول في هذا الفصل يتعلق بأمرين أحدهما ذكر المكيال مطلقاًً

Ia berkata: “Dan jika barang yang dijadikan objek salam itu termasuk sesuatu yang ditakar atau ditimbang, maka harus disebutkan takaran atau timbangan yang dikenal oleh masyarakat umum, dan seterusnya.” Pembahasan dalam fasal ini berkaitan dengan dua hal; yang pertama adalah penyebutan takaran secara mutlak.

والثاني تعيين المكيال بالإشارة فأمّا ذكر المكيال مطلقاً فقد تقدم بما ذكرنا العامُّ والمستفيضُ وما لا يعرفه غير المتعاقدين وما يعرفه عدلان سواهما

Kedua, penetapan takaran dengan isyarat. Adapun penyebutan takaran secara mutlak, telah dijelaskan sebelumnya mengenai takaran yang umum, yang masyhur, yang tidak diketahui selain oleh kedua pihak yang berakad, dan yang hanya diketahui oleh dua orang adil selain mereka berdua.

وهذا كالوصف والغرض الآخر من الفصل التعيين

Ini seperti penjelasan, dan tujuan lain dari bab ini adalah penetapan.

والقول في هذا ينقسم إلى ما يشار إليه في بيع العين وإلى ما يشار إليه في السلم فأما تفصيل القول فيما يشار إليه في السلم فإن وقعت الإشارة إلى قصعةٍ ما جرى العرف في الكيل بها وبأمثالها فقد اتفق الأئمة على بطلان السلم والسبب فيه أن مِلأه مجهول والمسلم لا يدري أن ما أسلم فيه ما سعره أرخيص هو أم غال وينضم إلى ذلك أن القصعة عرضة التلف؛ فهذا غرر أُدخل على السلم من غير مَرْفق ولو تلفت القصعة لم يدر المتعاقدان إلى ماذا رجوعهما

Pendapat dalam hal ini terbagi menjadi apa yang ditunjuk dalam jual beli barang (‘ain) dan apa yang ditunjuk dalam akad salam. Adapun rincian pendapat mengenai apa yang ditunjuk dalam akad salam, jika penunjukan itu terhadap sebuah mangkuk yang sudah menjadi kebiasaan untuk menakar dengannya dan dengan benda sejenisnya, maka para imam telah sepakat bahwa akad salam tersebut batal. Sebabnya adalah karena isi mangkuk itu tidak diketahui, dan pihak yang melakukan salam tidak tahu apakah barang yang ia akadkan itu harganya murah atau mahal. Selain itu, mangkuk tersebut juga rentan rusak; maka ini adalah unsur gharar (ketidakjelasan) yang dimasukkan ke dalam akad salam tanpa ada kemaslahatan. Jika mangkuk itu rusak, kedua pihak yang berakad tidak tahu kepada apa mereka harus kembali.

وإن أشار إلى مكيال ملؤه معلوم وشرط أن يقع الكيل به دون غيره ففي المسألة وجهان مشهوران أحدهما أن العقد يفسد لإلزام ما لا يلزم مع تعرض ذلك المعين للتلف كما قدمناه والوجه الثاني أن السلم يصح والمعقود عليه ملء ذلك الصاع وتعيين ذلك فاسد لا يتعلق بغرض العقد وقد ذكرنا أن الشرائط التي لا تتعلق بغرض العقد ملغاة لا حكم لها

Jika seseorang menunjuk pada satu takaran yang isinya diketahui dan mensyaratkan agar penakaran dilakukan dengan takaran itu saja, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Pendapat pertama menyatakan bahwa akad menjadi batal karena mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, sementara benda tertentu itu bisa saja rusak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa akad salam tetap sah dan yang menjadi objek akad adalah isi takaran tersebut, sedangkan penentuan takaran tertentu itu batal karena tidak berkaitan dengan tujuan akad. Telah disebutkan bahwa syarat-syarat yang tidak berkaitan dengan tujuan akad dianggap batal dan tidak memiliki konsekuensi hukum.

هذا قولنا في تعيين المكيال بالإشارة في السلم

Inilah pendapat kami mengenai penetapan takaran dengan isyarat dalam akad salam.

فأما التعيين في بيع العين فإذا قال بعتك ملءَ هذه القصعة من هذه الصُّبرة فالأصح الصحة وفيه وجه أنه لا يصح؛ لجهالة المعقود عليه والعِيان غيرُ محيط بالمبيع وإنما إحاطته بطرفه والأصح الوجه الأول فإن التعويل الأظهر على ما ذكرناه من الغرر في السلم ولا غرر هاهنا

Adapun penentuan dalam jual beli barang tertentu, jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu satu penuh wadah ini dari tumpukan ini,” maka pendapat yang paling sahih adalah jual beli tersebut sah. Namun, ada pendapat lain yang menyatakan tidak sah karena objek akadnya tidak jelas dan barang yang dilihat tidak sepenuhnya meliputi barang yang dijual, melainkan hanya sebagian saja. Namun, pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama, karena yang menjadi acuan utama adalah apa yang telah kami sebutkan mengenai unsur gharar dalam akad salam, sedangkan di sini tidak terdapat unsur gharar.

ولو عين مِكْيَالاً معتاداً في بيع العين وشرط الكيلَ به فبيعُ العين والسلم بمثابةٍ في هذه؛ فإن ملء الكيل معلوم في العقدين والمكيال لا يتعين بالشرط فيهما

Jika seseorang menentukan takaran yang biasa digunakan dalam jual beli barang dan mensyaratkan takaran tersebut, maka jual beli barang secara tunai dan salam (jual beli pesanan) hukumnya sama dalam hal ini; karena isi takaran sudah diketahui dalam kedua akad tersebut dan takaran itu sendiri tidak menjadi sesuatu yang ditetapkan hanya dengan syarat pada keduanya.

وإنما الكلام في الحكم بشرط لا يلزم ولا يتعلق بغرض العقد والسلم الحال بين بيع العين والسلمِ المؤجل فمن أصحابنا من ألحقه بالقصعة والمكيال المعلوم بالبيع ومنهم من ألحقه بالسلم المؤجل

Adapun pembahasan mengenai hukum dengan syarat yang tidak wajib dan tidak berkaitan dengan tujuan akad, maka akad salam yang tunai berada di antara jual beli barang secara langsung dan salam yang berjangka. Sebagian ulama dari kalangan kami mengqiyaskan akad tersebut dengan penjualan wadah atau takaran yang sudah diketahui dalam jual beli, sementara sebagian lainnya mengqiyaskannya dengan salam yang berjangka.

فصل

Bab

قال ويكون المسلم فيه مأموناً في مَحِلِّه إلى آخره  أراد بذلك أنَّ المسلم فيه ينبغي أن يكون بحيث يغلب وجوده في العادة عند المحل المشروط فلو كان معدوماً عند المحل فالسلم باطل قولاً واحداً وهو كما لو جعل محلَّ الرطب الشتاءَ أو الربيع وكذلك لو كان نادر الوجود بحيث يتعذر تحصيله وقد لا يصادَف فلا يصح السلم وهذا هو المعني بقول الفقهاء لا يصح السلم فيما يعسر وجوده ومثّل الأئمة هذا بالسلم في قدرٍ صالح من تمرٍ في أول ما يدرك الجنس وهو إن وجد فقليلٌ يُتهادى باكورُه وظهور التعسّر في التحصيل كالعدم وهو بمثابة ما لو باع عبداً آبقاً وكان ردُّه عسراً فالبيع باطل وإن لم يكن مأيوساً

Dikatakan bahwa barang yang menjadi objek salam harus dapat dijamin ketersediaannya pada waktu penyerahan hingga akhir waktu tersebut. Maksudnya adalah bahwa barang yang menjadi objek salam seharusnya pada umumnya mudah didapatkan pada waktu yang telah disyaratkan. Jika barang tersebut tidak ada pada waktu penyerahan, maka akad salam batal menurut satu pendapat, seperti halnya jika waktu penyerahan kurma ditetapkan pada musim dingin atau musim semi. Demikian pula jika barang tersebut sangat langka sehingga sulit untuk didapatkan, bahkan mungkin tidak ditemukan sama sekali, maka salam tidak sah. Inilah yang dimaksud oleh para fuqaha dengan pernyataan bahwa salam tidak sah pada barang yang sulit didapatkan. Para imam mencontohkan hal ini dengan akad salam atas sejumlah kurma pada awal musim panen, padahal jika ada pun sangat sedikit dan biasanya hanya dijadikan hadiah permulaan panen. Kesulitan yang nyata dalam memperoleh barang tersebut sama dengan ketiadaannya, dan hal ini serupa dengan menjual budak yang melarikan diri dan sulit untuk dikembalikan; maka jual beli tersebut batal meskipun belum sepenuhnya mustahil untuk mendapatkannya.

وهذا فيه فضل نظر

Dan dalam hal ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

فإن كان المسلمُ فيه مما يغلب على القلب فقده ولا يبعد على ندورٍ وجودُه فالسلم باطل وإن كان مما يغلب على القلب وجوده ولكن كان لا يتوصل إلى تحصيله إلا بمشقة عظيمة ينكف بمثلها الطالبون عن الطلب غالباً فمن أئمتنا من قال السلم باطل في هذه الصورة؛ لأنه عقد غررٍ فلا يحتمل معاناة المشاق العظيمة ومنهم من قال إنه يصح ولعله القياس

Jika barang yang menjadi objek salam itu menurut dugaan kuat sulit didapatkan dan jarang sekali keberadaannya, maka akad salam tersebut batal. Namun, jika menurut dugaan kuat barang itu ada, tetapi untuk memperolehnya memerlukan usaha yang sangat berat sehingga kebanyakan orang enggan mencarinya, maka sebagian ulama kami berpendapat bahwa akad salam dalam kondisi ini batal, karena termasuk akad yang mengandung gharar, sehingga tidak layak disertai dengan kesulitan yang sangat besar. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa akad tersebut sah, dan mungkin inilah yang sesuai dengan qiyās.

والمسلم إليه إذا التزم أمراً وكان التحصيل فيه ممكناً غالباًً فعليه الوفاء بما التزمه على يسر أو عسر والشرط عند هذا القائل إمكان التحصيل في الوقت المشروط من غير استئخار فيه

Dan pihak yang menerima salam, apabila telah berkomitmen terhadap suatu hal dan pada umumnya memungkinkan untuk diperoleh, maka ia wajib menunaikan apa yang telah ia janjikan, baik dalam keadaan mudah maupun sulit. Menurut pendapat ini, syaratnya adalah kemungkinan memperoleh barang pada waktu yang telah disyaratkan tanpa ada penundaan di dalamnya.

فصل

Bab

ذكر الشافعي من هذا الموضع إلى آخر الباب تفاصيلَ ما يجب ذكره من الأوصاف في الأجناس التي يصح السلم فيها وعقدَ بعد نجاز غرضه باباً فيما يصح السلم فيه ونحن نذكر الأجناسَ التي ذكرها على ترتيب السواد ونورد في كل جنس ما ذكره الأصحاب ثم نُعقب المسائلَ بما وعدناه من الضبط في الصفات إن شاء الله تعالى

Syafi‘i menyebutkan dari bagian ini hingga akhir bab rincian-rincian tentang sifat-sifat yang wajib disebutkan pada jenis-jenis barang yang sah dilakukan salam padanya, dan setelah selesai membahas tujuannya, beliau membuat bab tentang barang-barang yang sah dilakukan salam padanya. Kami akan menyebutkan jenis-jenis barang yang beliau sebutkan sesuai urutan dalam naskah, dan pada setiap jenis kami akan menguraikan apa yang disebutkan para sahabat, kemudian kami akan menambahkan pembahasan dengan penjelasan yang telah kami janjikan mengenai ketentuan sifat-sifatnya, insya Allah Ta‘ala.

قال فإن كان تمراً قال صَيْحاني أو بَرْني فالمراد أنه إذا أسلم في تمر فلا بد من ذكر نوعه ولونه ولا بد من ذكر كونه حديثاً أو عتيقاً

Ia berkata: Jika yang dimaksud adalah kurma, seperti ṣaiḥānī atau barnī, maka yang dimaksud adalah bahwa apabila seseorang melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam kurma, wajib disebutkan jenis dan warnanya, serta wajib disebutkan apakah kurma itu baru atau lama.

وقد ردد أصحابنا ذكرَ الحديث والعتيق في الأطعمة وليس يطرد القول فيها على منهاجٍ واحد فكل جنس يختلف الغرض والثمن فيه بأن يكون جديداً أو عتيقاً كالتمر الذي نحن في بيانه فلا بد من التعرض له وكل جنس لا أثر للحدوث والعتق فيه فلا حاجة إلى التعرض لذكره فلو أسلم في الرطب ذكر فيه ما ذكرناه في التمر ولا يتعرض للحدوث والعتق

Para ulama kami telah mengulang-ulang penyebutan tentang yang baru dan yang lama dalam masalah makanan, namun pendapat dalam hal ini tidak berjalan pada satu pola yang sama. Setiap jenis makanan berbeda tujuan dan harganya, apakah ia baru atau lama, seperti kurma yang sedang kita bahas, maka harus dijelaskan. Sedangkan setiap jenis makanan yang tidak ada pengaruh antara baru dan lamanya, maka tidak perlu disebutkan. Jika seseorang melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam kurma basah (ruthab), maka disebutkan padanya apa yang telah kami sebutkan pada kurma kering, dan tidak perlu membahas tentang baru atau lamanya.

وإن أسلم في حنطة ذكر الأوصاف المقصودة فيها وتعرض لنوعها فذكر أنها شامية أو ميشانية وإن كان يختلف الغرض باختلاف البقاع نسبها إلى الناحية المقصودة ويصفها بالحدارة والدقة وذكر بعض أصحابنا أن التعرض للحدوث والعتق واجب فيها كما ذكرناه في التمر

Jika akad salam dilakukan dalam komoditas gandum, maka harus disebutkan sifat-sifat yang dimaksudkan dalam gandum tersebut dan menyebutkan jenisnya, misalnya disebutkan bahwa itu adalah gandum Syam atau Mishan. Jika tujuan penggunaan berbeda-beda tergantung daerah, maka harus dinisbatkan kepada daerah yang dimaksud, dan dijelaskan sifatnya seperti kadar kelembapan dan tingkat kehalusannya. Sebagian ulama kami menyatakan bahwa menyebutkan apakah gandum itu baru atau lama adalah wajib, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan tentang kurma.

وقال آخرون لا يجب ذكرهما؛ فإن الغرض لا يختلف في الحنطة فإن وقع التعرض لذلك كان احتياطاً؛ فإن العتق المحذور فيها يُدنيها من التسويس ومطلق العقد يقتضي سلامةَ المسلم فيه فلا حاجة إلى ذكر ذلك

Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa tidak wajib menyebutkan kedua hal tersebut; sebab tujuannya tidak berbeda dalam hal gandum. Jika hal itu disebutkan, maka itu hanya sebagai bentuk kehati-hatian; karena penyimpanan yang dikhawatirkan padanya dapat mendekatkannya pada kerusakan, sedangkan akad secara mutlak mengharuskan barang yang diserahkan dalam keadaan selamat, sehingga tidak perlu untuk menyebutkan hal itu.

ثم قال الشافعي ويذكر حالاً أو مؤجلاً وهذا تعلَّق به مَنْ شَرَطَ التعرض للحلول والتأجيل ومن لم يشترط ذلك وحمل المطلق على الحال وهو الصحيح حمل ما ذكره الشافعي على الاحتياط

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: “Dan ia menyebutkan (waktu pembayaran) secara tunai atau ditangguhkan.” Hal ini dijadikan sandaran oleh mereka yang mensyaratkan penyebutan tunai atau tangguh. Adapun mereka yang tidak mensyaratkan hal itu dan memahami lafaz mutlak sebagai tunai—dan ini adalah pendapat yang benar—maka apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dipahami sebagai bentuk kehati-hatian.

ثم قال في الحنطة يصف حصادَ عامٍ مسمّى وهذا إن كان مقصوداً فالأمر فيه يتوقف على أن ذلك هل يدرك وإن أُدرك فهل يشيع إدراكه وقد مضى فيه قول بالغ

Kemudian ia berkata tentang gandum: ia menyebutkan hasil panen pada tahun tertentu, dan jika hal ini memang dimaksudkan, maka perkara ini bergantung pada apakah hasil tersebut dapat diperoleh, dan jika dapat diperoleh, apakah hal itu umum terjadi. Dalam hal ini telah disebutkan pendapat yang tegas.

فصل

Bab

قال ويكون الموضع معروفاً إلى آخره  من أصحابنا من قال أراد الموضعَ الذي يرتفعُ منه الطعام المسلم فيه فيذكر أنه تمر ناحية كذا وفُرض فيه إذا كان الغرض يختلف بهذا أو كانت الناحية التي سماها لا يخلُف رَيْعه غالباًً

Dikatakan: Tempat tersebut harus diketahui hingga akhirnya. Sebagian dari ulama kami berkata, yang dimaksud adalah tempat di mana makanan yang diperjualbelikan itu diangkat darinya, sehingga disebutkan bahwa itu berasal dari daerah tertentu. Hal ini diwajibkan jika tujuan akad berbeda karena hal tersebut, atau jika daerah yang disebutkan biasanya tidak berubah hasilnya.

فإن كان موضعاً ضيقاً كقرية صغيرة أو مَحِلة أو بستان فقد أطلق أصحابنا أن هذا النوع من التعيين يُبطل السلم

Jika tempatnya sempit seperti desa kecil, lingkungan, atau kebun, para ulama mazhab kami telah menyatakan secara tegas bahwa penentuan seperti ini membatalkan akad salam.

وفي هذا نظر ومباحثة فإن أشار إلى نخلة أو نخلات أو بستان يحوي نخلات فالسلم باطل واختلف أصحابنا في تعليله فمنهم من قال سبب البطلان التعيينُ وهو منافٍ للدَّيْنيّه المرسلة وحق المسلم فيه أن يكون ديناً مرسلاً ينبسط الملتزِمُ في تحصيله على يسر فإذا عُينت نخلة أو نخلات ضاق مجال التحصيل

Dalam hal ini terdapat pandangan dan pembahasan. Jika seseorang menunjuk pada satu pohon kurma, beberapa pohon kurma, atau kebun yang berisi beberapa pohon kurma, maka akad salam menjadi batal. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam memberikan alasannya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebab batalnya adalah penentuan secara spesifik, yang bertentangan dengan sifat utang yang bersifat umum (daini-yah mursalāh). Hak pihak yang melakukan salam adalah agar utangnya bersifat umum sehingga pihak yang berkewajiban dapat memperoleh barang tersebut dengan mudah. Jika telah ditentukan satu pohon kurma atau beberapa pohon kurma secara spesifik, maka ruang untuk memperoleh barang tersebut menjadi sempit.

وكان المعيَّنُ عرضة للآفات فيجتمع فيها ظهورُ توقّع الآفة وضيق مجال التحصيل

Dan sesuatu yang telah ditentukan itu rentan terhadap berbagai gangguan, sehingga pada hal tersebut terkumpul munculnya kekhawatiran akan adanya gangguan dan sempitnya ruang untuk memperoleh (hasil).

وهذا القائل يقول المعتبر ما دللنا عليه بمنظوم الكلام ومفهومه حتى لو عيّن

Dan orang yang berpendapat demikian berkata: Yang dianggap adalah apa yang telah kami tunjukkan melalui lafaz yang tersusun dan maknanya yang dipahami, sehingga jika seseorang menentukan…

ثمار ناحية متسعة يبعد أن يعمها آفة ولايضيق مجال التحصيل فيها فالسلم صحيح

Hasil dari suatu bidang yang luas kecil kemungkinan terkena hama secara keseluruhan dan ruang untuk memperoleh hasil di dalamnya tidak sempit, maka akad salam itu sah.

وسلك بعض أصحابنا مسلكاً آخر فقيهاً فقال كل تعيين يضيِّق المجال يفسد السلم وإن لم يضيِّق المجالَ فالشرط أن يفيد التعيينُ نَوعيَّةً في المذكور وهو بمثابة تمر البصرة أو تمر ناحية أخرى لو قيس به تمر ناحية أخرى وإن جمعهما الصنف اشتمالاً لا يجمعهما النَّوعية وهذا كالمعقلي البصري يمتاز عن المعقلي البغدادي لا محالة وهذا عام في فواكه النواحي ولعله من الأهوية والتربة في مطرد العرف

Sebagian ulama kami menempuh jalan lain secara fiqh, mereka berkata: Setiap penetapan yang mempersempit ruang lingkup akan merusak akad salam. Namun, jika penetapan tersebut tidak mempersempit ruang lingkup, maka syaratnya adalah penetapan itu memberikan kekhususan jenis pada barang yang disebutkan. Hal ini seperti kurma Basrah atau kurma dari daerah lain, jika dibandingkan dengan kurma dari daerah lain, meskipun keduanya termasuk dalam satu jenis secara umum, namun tidak termasuk dalam kekhususan jenis. Contohnya seperti jenis ma‘qil Basrah yang pasti berbeda dengan ma‘qil Baghdad. Hal ini berlaku umum pada buah-buahan dari berbagai daerah, dan kemungkinan perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan iklim dan tanah menurut kebiasaan yang berlaku.

فما كان كذلك صح ومالم يكن كذلك فالتعيين فيه مفسد؛ فإنه تعيين لا غرض فيه فخرج أن من أصحابنا من اعتبر في الجواز اتساعَ المحل ومنهم من اعتبر ذلك واعتبر معه غرضَ النوعية ثم من لم يعتبر غرضَ النوعية ففي قوله احتمال عندي يجوز أن يتعين رَيْع القطر الذي عينه ويجوز أن يقال الغرض تحصيله أو تحصيل مثله ويلغو ذكر التعيين كما يلغو تعيين الصاع في وجه إذا كان له أمثال ومن اعتبر النوعية فإذا عينها وبنى العقدَ عليها فلو فُرض تمر بغداد مساوياً لتمر البصرة من كل وجه فهذا القائل يكتفي به لا محالة ويقول لم يكن الغرض بتعيين الناحية التعيين على الحقيقة ولكن الغرض العبارة عن النوع والأوصاف قد لا تصاغ لها عباراتٌ فردة وإنما تستبان بالإضافات

Maka apa yang demikian itu sah, dan apa yang tidak demikian maka penentuan di dalamnya menjadi rusak; karena itu adalah penentuan yang tidak ada tujuannya. Maka dari itu, sebagian ulama kami mensyaratkan dalam kebolehan adanya keluasan tempat, dan sebagian dari mereka mensyaratkan hal itu serta mensyaratkan juga adanya tujuan dari jenisnya. Kemudian, bagi yang tidak mensyaratkan tujuan jenis, dalam pendapatnya ada kemungkinan menurut saya bahwa boleh saja ditentukan hasil dari daerah yang telah ditetapkan, dan boleh juga dikatakan bahwa tujuannya adalah memperoleh hasil itu atau memperoleh yang semisalnya, dan penyebutan penentuan menjadi sia-sia sebagaimana penentuan satu sha‘ menjadi sia-sia dalam satu pendapat jika ada beberapa yang serupa. Dan bagi yang mensyaratkan jenis, jika ia telah menentukannya dan membangun akad di atasnya, maka seandainya kurma Baghdad sama dengan kurma Basrah dari segala sisi, maka orang yang berpendapat demikian pasti mencukupkan dengan itu dan berkata bahwa tujuan dari penentuan daerah bukanlah penentuan secara hakiki, tetapi tujuannya adalah untuk menyatakan jenis, dan sifat-sifat terkadang tidak dapat dirumuskan dengan ungkapan yang khusus, melainkan diketahui melalui perbandingan.

هذا تفصيل القول في التعيين المصلح والتعيين المفسد

Ini adalah perincian pembahasan tentang penetapan yang membawa kemaslahatan dan penetapan yang membawa kerusakan.

ومن أصحابنا من حمل قول الشافعي ويكون الموضع معروفاً على مكان التسليم والنصوص مترددة في هذا والأصحاب مختلفون فيه

Sebagian dari ulama kami menafsirkan perkataan asy-Syafi‘i “dan tempatnya harus diketahui” sebagai tempat penyerahan, sementara nash-nash terkait hal ini beragam, dan para ulama kami pun berbeda pendapat mengenainya.

والترتيب أن عقد السلم إن جرى في مكان لا يصلح للتسليم بأن كان في مفازة فلا بد من تعيين مكان التسليم

Urutannya adalah, jika akad salam dilakukan di tempat yang tidak layak untuk penyerahan barang, seperti di padang pasir, maka wajib menentukan tempat penyerahan.

وإن وقع العقد في مكان يصلح لتسليم المعقود عليه فيه فهذا موضع التردد

Jika akad dilakukan di tempat yang memungkinkan untuk penyerahan objek akad di situ, maka inilah tempat terjadinya keraguan.

من أصحابنا من قال إن كان لحَمْل المسلم فيه مؤنة وجب تعيين مكان التسليم ذِكراً فإن لم يذكر فسد العقد وإن لم يكن لحمل المسلم فيه مؤنة ففي المسألة قولان أحدهما يجب التعيين؛ فإن الأغراض تختلف باختلاف أماكن التسليم وليست المؤنة كل الغرض والثاني لا يجب ويحمل مطلق العقد على استحقاق التسليم في مكان العقد

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: Jika membawa barang yang menjadi objek salam itu membutuhkan biaya, maka wajib menentukan tempat penyerahan secara jelas; jika tidak disebutkan, maka akad menjadi batal. Namun, jika membawa barang tersebut tidak membutuhkan biaya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya, wajib menentukan tempat, karena tujuan-tujuan orang berbeda-beda tergantung pada tempat penyerahan dan biaya bukanlah satu-satunya tujuan; pendapat kedua, tidak wajib, dan akad yang bersifat mutlak dianggap memberikan hak penyerahan di tempat akad.

ولم يصر أحد إلى صحة العقد وإرسال مكان التسليم بل إما الفساد وإما تعيين مكان العقد

Tidak ada seorang pun yang berpendapat bahwa akad itu sah dan tempat penyerahan barang dibiarkan terbuka, melainkan pendapat yang ada adalah akad itu batal atau harus ditentukan tempat akadnya.

وهذه الطريقة في الترتيب هي الصحيحة

Dan metode dalam penyusunan seperti ini adalah yang benar.

ومن أصحابنا من عكس وقال إن لم يكن للحمل مؤنة لم يعتبر المكان وتعيّن مكان العقد وإن كانت فقولان أحدهما الفساد والثاني الصحة

Sebagian ulama kami berpendapat sebaliknya, mereka mengatakan: jika tidak ada biaya untuk membawa barang, maka tempat tidak diperhitungkan dan yang menjadi patokan adalah tempat akad. Namun jika ada biaya, maka terdapat dua pendapat: yang pertama batal, dan yang kedua sah.

ووجهه أن العرف يَحمل التسليمَ على مكان العقد

Penjelasannya adalah bahwa ‘urf menganggap penyerahan (barang) dilakukan di tempat akad.

وهذا لا يسلمه القائل الأول

Hal ini tidak diakui oleh pihak yang berpendapat pertama.

ومن أصحابنا من طرد القولين فيما فيه مؤنة وفيما لا مؤنة فيه

Sebagian ulama dari kalangan kami menerapkan dua pendapat tersebut baik pada perkara yang mengandung biaya maupun pada perkara yang tidak mengandung biaya.

وطرد المحققون أصلاً على هذا في جميع الديون فقالوا إذا عجل من عليه الدين المؤجل ما عليه فامتنع مستحق الدين فإن كان له غرض من توقي نهب أو غارة أو فساد يتسرع إلن ما يقتضيه فله الامتناع وإن لم يكن له غرض في الامتناع نُظر فإن كان للمعجِّل غرضٌ في التعجيل من فك الرهن أو غيره من الأغراض الصحيحة فظاهر المذهب أن مستحق الدين مجبر على قبضه؛ إذ لا غرض له في الامتناع وللمعجل غرض في التعجيل وإن لم يكن للمعجل غرض ظاهر ولا للممتنع غرض بيِّن ففي المسألة قولان

Para peneliti mendasarkan kaidah ini pada seluruh utang, sehingga mereka berkata: Jika orang yang berutang membayar lebih awal utang yang jatuh temponya, lalu pihak yang berhak atas utang tersebut menolak menerimanya, maka jika ia memiliki alasan seperti menghindari penjarahan, serangan, atau kerusakan yang mungkin terjadi akibat pembayaran tersebut, ia berhak menolak. Namun, jika ia tidak memiliki alasan untuk menolak, maka dilihat kembali: jika pihak yang membayar lebih awal memiliki tujuan tertentu dalam mempercepat pembayaran, seperti untuk melepaskan barang jaminan atau tujuan sah lainnya, maka menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, pihak yang berhak atas utang wajib menerima pembayaran tersebut; karena ia tidak memiliki alasan untuk menolak, sedangkan pihak yang membayar lebih awal memiliki tujuan dalam mempercepat pembayaran. Namun, jika baik pihak yang membayar lebih awal maupun pihak yang menolak tidak memiliki tujuan yang jelas, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

ومن أصحابنا من قال بطردِ القولين في الدين المؤجل وإن كان للمعجل غرض

Sebagian ulama kami berpendapat dengan menerapkan kedua pendapat tersebut pada utang yang jatuh temponya ditangguhkan, meskipun pada utang yang segera dibayarkan terdapat tujuan tertentu.

ثم كيفما فرض الأمر فمقصودنا من الفصل أنا إن أجبرنا على القبول أو فرضنا في الدين الحال وجرينا على الأصح من أنه يجبر المستحِق على القبول فإنما يجري الإجبار إذا كان المسلم يُسلِّم ما عليه في المكان المتعين شرعاً أو ذكراً فمن أراد التسليم في غيره لم يجز ولم يجبر صاحبه

Kemudian, bagaimanapun keadaannya, tujuan kami dalam pembahasan ini adalah bahwa jika kami diwajibkan untuk menerima atau kami menganggap utang tersebut jatuh tempo dan mengikuti pendapat yang lebih sahih bahwa pihak yang berhak dapat dipaksa untuk menerima, maka pemaksaan itu hanya berlaku jika pihak yang berutang menyerahkan kewajibannya di tempat yang telah ditentukan secara syariat atau disebutkan secara eksplisit. Maka, jika seseorang ingin menyerahkan di tempat lain, hal itu tidak diperbolehkan dan pihak yang berhak tidak dapat dipaksa untuk menerimanya.

ثم قال الشافعي ولا يستغنى في العسل إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i berkata: “Dan tidak dapat ditiadakan pada madu hingga akhirnya.”

إذا أسلم في العسل ذكر في أوصافه أنه جبلي أو بلدي والجبلي خير وأنه خريفي أو ربيعي والخريفي خير ويصف اللون ويختلف الغرض فيه ولا يشترط أن يذكر كونَه مصفَّى من الشمع؛ لأن الإطلاق يقتضي ذلك واسم العسل لا ينطلق على الشمع ثم إن أتى به مصفى بالشمس أو بالنار اللَّينة القريبة من الشمس حتى لا تعقد أجزاء العسل ولا تزيد على تمييز الشمع فيقبل ذلك وإن كانت النار أثّرت في التعقيد لم يقبل

Jika seseorang melakukan akad jual beli madu, maka dalam penyebutan sifat-sifatnya harus disebutkan apakah madu tersebut madu hutan (jabalī) atau madu lokal (baladī), dan madu hutan lebih baik. Juga harus disebutkan apakah madu tersebut madu musim gugur (kharīfī) atau madu musim semi (rabī‘ī), dan madu musim gugur lebih baik. Warna madu juga harus dijelaskan, karena tujuan penggunaannya berbeda-beda. Tidak disyaratkan untuk menyebutkan bahwa madu tersebut telah disaring dari lilin, karena penyebutan secara mutlak sudah mencakup hal itu, dan nama madu tidak berlaku untuk lilin. Jika madu tersebut dibawa dalam keadaan telah disaring dengan sinar matahari atau dengan api yang lembut yang mendekati panas matahari sehingga bagian-bagian madu tidak mengeras dan hanya memisahkan lilinnya, maka hal itu dapat diterima. Namun, jika api tersebut menyebabkan madu menjadi keras, maka tidak diterima.

ولا حاجة إلى ذكر هذه التفاصيل في العقد فإن العسل المطلق هو النقي عن الشمع من غير أن يلحقه عيب والتعقيد في العسل عيبٌ؛ ولا حاجة في السلم إلى التعرض للبراءة من العيوب لا مجملاً ولا مفصلاً؛ فإن استحقاق السلامة مقتضى إطلاق العقد

Tidak perlu menyebutkan rincian ini dalam akad, karena madu murni adalah madu yang bersih dari lilin tanpa ada cacat yang melekat padanya, dan adanya campuran dalam madu merupakan cacat. Dalam akad salam, tidak perlu menyebutkan pembebasan dari cacat, baik secara umum maupun terperinci, karena hak atas keselamatan (dari cacat) sudah menjadi konsekuensi dari keumuman akad.

ولو جاء بعسل ذائب فإن كان بحرارة الهواء قُبل وسيتماسك إذا اعتدل الهواء وإن كان انمياعه بعيب لم يقبل

Jika seseorang membawa madu yang cair, maka jika cairnya karena suhu udara, diterima dan madu itu akan mengental kembali jika udara menjadi normal. Namun jika cairnya disebabkan oleh cacat, maka tidak diterima.

والسلم في الشّهد جائز وإن كان مركباً وهذا النوع من التركيب له أثر في بيع العين ولذلك لم نجوّز بيعَ الشهد بالشهد وجوزنا بيع اللبن باللبن والسبب فيه أن تعويل السلم على الوصف لا على صورة التركيب والاتحاد والوصف يحيط بالشّهد وليس كالمعجونات ذوات الأخلاط المقصودة؛ فإنا سنذكر بعد هذا أن السلم فيها باطل ونوضح الفرق إذ ذاك

Salam dalam madu sarang (syahd) diperbolehkan meskipun ia merupakan benda yang tersusun (terdiri dari beberapa unsur), dan jenis susunan seperti ini memiliki pengaruh dalam jual beli barang secara langsung. Oleh karena itu, kami tidak membolehkan jual beli madu sarang dengan madu sarang, namun kami membolehkan jual beli susu dengan susu. Sebabnya adalah karena dalam salam, yang menjadi acuan adalah sifat (deskripsi) barang, bukan bentuk susunannya atau kesatuannya, dan sifat tersebut dapat mencakup madu sarang. Ini berbeda dengan campuran-campuran yang memang unsur-unsurnya disengaja dicampur; karena nanti akan kami sebutkan bahwa salam dalam barang-barang seperti itu batal, dan kami akan menjelaskan perbedaannya pada saat itu.

ثم قال ولو اشترط أطيب الطعام أو أردأه لم يجز إلى آخره

Kemudian beliau berkata, “Dan jika disyaratkan makanan yang terbaik atau yang terburuk, maka tidak boleh,” dan seterusnya.

أما لو ذكر الأجود فإنه لا يجوز؛ فإنه لا جيد إلا ويُرتَقب فوقه أجود منه فيؤدي ذكر الأجود إلى نزاع لا ينقطع وأما ذكر الجيد فليس كذلك؛ لأنة ينزل على أدنى درجات الجودة وتنقطع الخصومة

Adapun jika disebutkan yang paling baik, maka itu tidak diperbolehkan; sebab tidak ada sesuatu yang baik kecuali masih diharapkan ada yang lebih baik darinya, sehingga penyebutan yang paling baik akan menimbulkan perselisihan yang tiada henti. Adapun penyebutan yang baik, tidak demikian; karena ia merujuk pada tingkat kualitas terendah dari kebaikan dan perselisihan pun terhenti.

وأما السلم في الرديء شرطاً وذكراً ينظر فيه فإن كان رداءة النوع كالسلم في النوع الرديء من التمر مثل مصران الفارة والجُعْرور فالسلم صحيح

Adapun salam (jual beli dengan pembayaran di muka) terhadap barang yang buruk, baik disyaratkan maupun disebutkan, maka hal itu perlu ditinjau. Jika keburukan tersebut berkaitan dengan jenisnya, seperti salam pada jenis kurma yang buruk seperti mishran al-fa’rah dan al-ju‘rur, maka salam tersebut sah.

وإن لم يتعرض للنوع الرديء ولكن ذَكَرَ لفظَ الرديء مع ذكر النوع فالسلم باطل؛ فإن الرديء إذا لم يرد به النوع جر نزاعاً لا ينقطع؛ فإن المسلَم يأتي برديء فيقول المسلِم هذا غاية في الرداءة ولست أرضى به ودون هذا رديء لا يبلغ هذا المبلغ في الرداءة

Jika tidak disebutkan jenis yang buruk tetapi hanya menyebutkan kata “buruk” bersamaan dengan penyebutan jenis, maka akad salam batal; sebab jika yang dimaksud dengan “buruk” bukan jenis tertentu, hal itu akan menimbulkan perselisihan yang tiada habisnya; karena pihak yang menerima salam bisa saja membawa barang yang buruk, lalu pihak yang menyerahkan salam berkata, “Ini sangat buruk dan aku tidak ridha dengannya, masih ada barang buruk lain yang tingkat keburukannya tidak sampai seperti ini.”

ولو أسلم في نوعٍ وعيّنه وذكر الأردأ ففي المسألة قولان أحدهما أن العقد يبطل لذكر الرديء والثاني لا يبطل فإن جاء المسْلَم إليه برديء فقال المسلِم أريد أردأ من هذا لم يلتفت إليه وعُد متعنتاً في طلب الأردأ وإن طلب أمثل مما جيء به لم يكن له ذلك وقد ذكر الأردأ

Jika seseorang melakukan akad salam pada suatu jenis barang dan ia menentukannya serta menyebutkan kualitas yang paling rendah, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, akadnya batal karena menyebutkan kualitas yang rendah; pendapat kedua, akadnya tidak batal. Jika pihak yang menerima salam menyerahkan barang dengan kualitas rendah, lalu pihak yang melakukan salam berkata, “Saya menginginkan yang lebih rendah dari ini,” maka permintaannya tidak dihiraukan dan ia dianggap berlebihan dalam menuntut kualitas rendah. Namun, jika ia meminta kualitas yang lebih baik dari yang diberikan, maka ia tidak berhak memintanya karena sebelumnya telah menyebutkan kualitas yang paling rendah.

وقد ردد الشافعي شرط الجيد في كل صنف وائفق الأئمة على أن ذكر الجيد ليس بشرط؛ فإن مطلق الجيد معناه السليم من العيب وهذا يقتضيه العقد من غير ذكرٍ فإن ذكر فلا بأس وكان احتياطاً

Syafi‘i telah mengulang syarat “baik” pada setiap jenis, dan para imam sepakat bahwa penyebutan “baik” bukanlah syarat; karena secara mutlak, “baik” berarti bebas dari cacat, dan hal ini sudah dituntut oleh akad meskipun tanpa penyebutan. Jika disebutkan, tidak mengapa dan itu merupakan bentuk kehati-hatian.

ثم قال وإن كان ما سلف فيه رَقيقاً إلى آخره

Kemudian ia berkata, “Dan jika yang telah dilakukan salam itu adalah budak, dan seterusnya.”

ذكر في أوصاف العبيد ألفاظاً نذكرها ونذكر اختلاف الأصحاب في معناها ولا اطلاع على المرعي من صفات العبيد والحيوانات إلا في الفصل الضابط

Disebutkan dalam sifat-sifat budak beberapa ungkapan yang akan kami sebutkan beserta perbedaan pendapat para sahabat (ulama) mengenai maknanya, dan tidak ada penjelasan tentang sifat-sifat budak dan hewan kecuali pada bab yang membahas kaidahnya.

قال الشافعي رحمة الله عليه قال عبداً نوبياً خُماسياً أو سُداسياً ووصف سنَّه

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Ia mengatakan seorang budak Nubia yang berumur lima tahun atau enam tahun, dan ia menyebutkan usianya.”

فمن أصحابنا من قال أراد بالخماسي والسداسي ذكر المولد أي بذكر أنه خمس أو ست وقوله ووصف سنَّه أراد الأسنان المعروفة أي يذكر أنه أفلج الأسنان أو أدراها وغير ذلك من صفات الأسنان قال الأصحاب وهذا احتياط لشى بواجب

Sebagian dari ulama kami berkata bahwa yang dimaksud dengan khumāsī dan sudāsī adalah penyebutan yang muncul kemudian, yaitu dengan menyebut bahwa giginya lima atau enam. Adapun ucapannya “dan menyebutkan usia giginya”, yang dimaksud adalah gigi-gigi yang sudah dikenal, yaitu dengan menyebut bahwa giginya renggang, atau giginya sudah tumbuh semua, dan sifat-sifat lain dari gigi. Para ulama mengatakan bahwa ini merupakan bentuk kehati-hatian terhadap sesuatu yang wajib.

ومنهم من قال أراد بالخُماسي والسُّداسي القامةَ أي يذكر أن طوله خمسةُ أشبار أو ستةُ أشبار وهذا القائل يقول قوله ووصف سنَّه أراد به المولد

Sebagian dari mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khumasi dan sudasi adalah postur tubuh, yaitu menyebutkan bahwa tingginya lima jengkal atau enam jengkal. Orang yang berpendapat demikian mengatakan bahwa ucapannya dan penjelasan tentang usianya itu dimaksudkan sebagai waktu kelahiran.

وقال الأئمة لا بد من ذكر السن والنوع فيذكر أنه تركي أو هندي واللون فيذكر أنه أسود أو أبيض ولا بد من ذكر الأنوثة والذكورة ثم معرفة السن من المولودات فينا متيسرة فأما الجليبة فقلَّما يُعرف سنُّها إلا أن تُفرضَ بالغاً فيرجع إلى قولها

Para imam berkata bahwa harus disebutkan usia dan jenisnya, misalnya disebutkan bahwa ia Turki atau India, serta warnanya, misalnya disebutkan bahwa ia hitam atau putih. Juga harus disebutkan jenis kelamin, apakah perempuan atau laki-laki. Kemudian, mengetahui usia dari budak perempuan yang lahir di lingkungan kita itu mudah, adapun budak yang didatangkan dari luar, maka jarang diketahui usianya kecuali jika diasumsikan sudah baligh, maka kembali kepada pengakuannya.

ثم قال ولا يشترط معها ولدها إلى آخره

Kemudian beliau berkata, “Dan tidak disyaratkan bersamanya anaknya,” hingga akhir.

أراد به إذا وصف جارية وصفاً يضبطها وشرط أن يكون معها ولدها الرقيق فهذا باطل؛ لأنه يتصل بما يعزّ وجودُه

Yang dimaksud adalah apabila seseorang menggambarkan seorang jariah dengan deskripsi yang jelas sehingga dapat dikenali, lalu ia mensyaratkan agar bersama jariah tersebut ada anaknya yang juga seorang budak, maka syarat ini batal; karena syarat tersebut berkaitan dengan sesuatu yang sulit ditemukan.

والقول في ذلك يتفاوت فالزنجية التي لا تكثر صفاتها لا يعزّ ولدُها معها وإن كانت الجارية تُطلبُ حَظِيةً وسُرِّية فصفاتها تذكر؛ فتكثر فإذا ضم إليها شرطُ ولدها التحقت بما يعزّ وقد ذكرنا التفصيل فيما يعز وجوده وما يمتنع السلم فيه لأجل العزّة

Pendapat mengenai hal ini berbeda-beda; perempuan Zanjiyah yang sifat-sifatnya tidak banyak, anak yang lahir darinya tidak dianggap langka bersamanya. Namun, jika budak perempuan dicari untuk dijadikan selir atau suri, maka sifat-sifatnya disebutkan; sehingga menjadi banyak. Jika ditambahkan syarat anak darinya, maka ia termasuk dalam kategori yang langka. Kami telah menjelaskan secara rinci mengenai apa saja yang sulit didapatkan dan apa yang tidak boleh dilakukan akad salam karena kelangkaannya.

فإن أسلم في جاريتين وتناهى في وصفهما فجيء بهما وإحداهما أمٌّ والأخرى بنت فلا بأس إذا كانتا على الصفات المطلوبة

Jika seseorang masuk Islam dan memiliki dua budak perempuan, lalu ia sangat rinci dalam menyebutkan ciri-ciri keduanya, kemudian keduanya didatangkan dan ternyata salah satunya adalah ibu dan yang lainnya adalah anak perempuan, maka tidak mengapa selama keduanya sesuai dengan ciri-ciri yang diminta.

وإن أسلم في جارية وشرط كونَها حبلى فإن جرَّ ذلك عِزَّةً لم يصح السلم

Jika seseorang melakukan akad salam atas seorang budak perempuan dan mensyaratkan bahwa ia sedang hamil, maka jika hal itu menyebabkan adanya unsur keistimewaan (yang tidak lazim), akad salam tersebut tidak sah.

وإن كان لا يعز ذلك بأن لا تكون الجارية مطلوبة للتسري وإنما تُطلب للحضانة فهذا الآن وإن كان يعم يخرّج على القولين في أن من اشترى جارية معينة على أنها حبلى هل يصح ذلك

Dan jika hal itu tidak dianggap langka karena budak perempuan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijadikan selir, melainkan untuk pengasuhan anak, maka meskipun hal ini sekarang sudah umum, tetap dikembalikan kepada dua pendapat dalam masalah: apabila seseorang membeli budak perempuan tertentu dengan syarat bahwa ia sedang hamil, apakah jual beli tersebut sah atau tidak.

والقولان يقربأن في الجارية المعينة فما استنبطه الأئمة من القولين من معاني كلام الشافعي في أن الحمل هل يقابله قسط من الثمن فإن قلنا لا يقابله فهو صفة ولا يعد في ذكر الصفات الممكنة وإن قلنا الحمل يقابله قسط من الثمن فإذا ذكر فقد جُرِّدَ مقصوداً وهو مجهول فالسلم يخرج على هذا

Kedua pendapat itu mendekati dalam hal budak perempuan yang tertentu. Apa yang disimpulkan para imam dari kedua pendapat tersebut mengenai makna perkataan asy-Syafi‘i tentang apakah janin (kandungan) memiliki bagian dari harga atau tidak, maka jika kita katakan tidak memiliki bagian, ia hanyalah sifat dan tidak termasuk dalam penyebutan sifat-sifat yang mungkin. Namun jika kita katakan janin memiliki bagian dari harga, maka ketika disebutkan, ia telah dipisahkan sebagai maksud tersendiri dan ia adalah sesuatu yang tidak diketahui, sehingga akad salam tidak berlaku atas hal ini.

ثم قال وإن كان في بعيرٍ قال من نَعَم بني فلان ثَنِيّ غير مُودَن نقي من العيوب سبط الخلق أحمر مُجْفَر الجنبين

Kemudian ia berkata: Jika berupa unta, maka dari unta milik Bani Fulan, jenis tsaniy, bukan mudan, bersih dari cacat, bertubuh ramping, berwarna merah, dan kedua sisinya ramping.

والثنيُّ الذي استكمل خمس سنين والمُودَن الناقص القصير ومُجْفَرُ الجنبين عظيمهما

Sapi yang telah genap berumur lima tahun disebut ats-tsaniy, sedangkan sapi yang kurang umur dan bertubuh pendek disebut al-mu’addan, dan sapi yang kedua sisi tubuhnya cekung serta besar disebut mujfar al-janbayn.

قال الأصحاب أمّا ذكر الثنيِّ فلا بد منه فيذكر أنه ابنة لبون أو بنت مخاض أو ما يريده والتعرض للذكورة والأنوثة محتوم

Para ulama mazhab berkata: Adapun penyebutan hewan yang sudah masuk usia tsaniy, maka hal itu wajib disebutkan, seperti menyebutkan bahwa hewan tersebut adalah ibnu labūn, bintu makhādh, atau yang dikehendaki lainnya, dan menyebutkan jenis kelamin jantan atau betina juga merupakan keharusan.

قال ويذكر أنه من نَعَم بني فلان

Dia berkata dan menyebutkan bahwa ia berasal dari unta milik Bani Fulan.

والغرض يختلف بهذا والشرط أن تتسع نَعَمُ بني فلان بحيث لا ينتهي الأمر إلى عزّة الوجود

Tujuannya berbeda-beda dalam hal ini, dan syaratnya adalah bahwa hewan ternak milik Bani Fulan harus cukup banyak sehingga perkara ini tidak berujung pada kelangkaan keberadaan.

فأما قوله نقياً من العيوب فاحتياطٌ؛ فإن مطلق العقد من اقتضاء السلامة يغني عن هذا

Adapun ucapannya “bersih dari cacat” adalah sebagai bentuk kehati-hatian; karena sesungguhnya akad secara mutlak yang menuntut adanya keselamatan (dari cacat) sudah mencukupi dari hal ini.

ثم ذكر السلم في الخيل فلا بد من ذكر النوع عربي أو تركي وذِكرُ الألوانِ

Kemudian disebutkan salam dalam jual beli kuda, maka wajib disebutkan jenisnya, apakah Arab atau Turki, dan disebutkan pula warnanya.

والأسنان لا بد منه وقال الأصحاب الشياتُ ذِكرُها احتياطٌ كالأغر واللطيم والمحجّل ونحوها فلا يجب التعرض لذلك

Gigi itu pasti diperlukan, dan para ulama mazhab mengatakan bahwa menyebutkan tanda-tanda khusus hanyalah sebagai bentuk kehati-hatian, seperti al-aghr, al-latim, al-muhajjal, dan semacamnya, sehingga tidak wajib untuk menyebutkannya.

ثم قال يصف الثيابَ ويذكر جنسها وأنها من كتان أو قطن أو إبريسم والصفاقة والرقة واللين والخشونة والطول والعرض ونسجَ البلد اسكندراني أو يماني أو هَرَوي أو مَرْوي

Kemudian ia menyebutkan sifat-sifat pakaian itu dan jenisnya, apakah terbuat dari linen, kapas, atau sutra, serta ketebalan, tipis, kelembutan, kekasaran, panjang, lebar, dan tenunan asal daerahnya, apakah dari Iskandariyah, Yaman, Herat, atau Marw.

قال الأصحاب هذا إذ كان يختلف الغرض باختلاف نسج البلاد فأما إذا كان نَسْجُ ذلك الثوب في البلاد على قريب من الاستواء فلا معنى للذكر

Para ulama berpendapat, hal ini berlaku jika tujuan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tenunan di berbagai daerah. Adapun jika tenunan kain tersebut di daerah-daerah itu hampir seragam, maka tidak ada makna untuk menyebutkannya.

وذَكَر السلمَ في النحاس فيذكر النوعَ واللونَ والقَدْرُ لا بد منه

Dan salam disebutkan dalam kitab karya an-Nuhas, maka harus disebutkan jenis, warna, dan takarannya.

والحديد يذكر أنه ذكر أو أنثى

Dan besi disebutkan apakah ia jantan atau betina.

فأما الأواني المتخذة من هذه الجواهر ففيها كلام يأتي في الباب المشتمل على ذكر ما لا يجوز السلم فيه

Adapun wadah-wadah yang terbuat dari benda-benda berharga ini, maka pembahasannya akan dijelaskan pada bab yang memuat penjelasan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan akad salam atasnya.

وذَكَر السلمَ في اللحم وهو جائز فيذكر الجنسَ والنوعَ لحمَ بقر أو غنم ضأن أو ماعز من رضيع أو فطيم ويذكر المحل الذي منه يعطى ويبيّن أنه لحم فخذ أو كتف أو جنب ويذكر الذكورةَ والأنوثة وإذا شرط الذكورة ذكر أنه خصي أو غيرُه ويذكر أنه لحم راعيةٍ أو معلوفة ثم الاكتفاء في العلف بالمرة والمرات حتى ينتهي إلى مبلغ يؤثر في اللحم ولا يشترط أن يبيّن كونه منزوعاً عن العظم بل يصح السلم مطلقاً ويجبر المسلِم على قبول العظم المعتاد في العضو المذكور وينزل العظم في اللحم منزلةَ النواة من التمر

Disebutkan tentang salam dalam daging, dan itu diperbolehkan. Maka disebutkan jenis dan macamnya, seperti daging sapi atau kambing domba atau kambing biasa, dari yang masih menyusu atau yang sudah disapih. Disebutkan juga bagian mana dari tubuh hewan itu diambil, dan dijelaskan apakah itu daging paha, bahu, atau pinggang. Disebutkan pula jenis kelamin hewan, laki-laki atau perempuan. Jika disyaratkan laki-laki, maka disebutkan apakah itu hewan kastrasi atau bukan. Disebutkan juga apakah itu daging hewan yang digembalakan atau yang diberi pakan. Kemudian, dalam hal pakan, cukup disebutkan satu kali atau beberapa kali hingga mencapai kadar yang berpengaruh pada daging. Tidak disyaratkan untuk menjelaskan apakah daging itu telah dipisahkan dari tulangnya atau tidak, bahkan salam tetap sah secara mutlak. Orang yang melakukan salam wajib menerima tulang yang biasa terdapat pada bagian tubuh yang disebutkan, dan tulang dalam daging diperlakukan seperti biji dalam kurma.

ثم قال وأكره اشتراط الأعجف والمشوي والمطبوخ

Kemudian ia berkata, “Aku memakruhkan persyaratan (dalam jual beli) terhadap hewan yang kurus, daging yang dipanggang, dan daging yang dimasak.”

وهذا كراهية تحريم؛ لأن الأعجف معيب وشرط العيب مفسدٌ وهو شرط الرديء الذي سبق الكلام فيه فإن أراد بالأعجف الذي لم يسمّن فلا بأس

Ini adalah makruh tahrim, karena hewan yang kurus itu cacat, dan syarat cacat itu membatalkan (kurban), yaitu syarat hewan yang buruk yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika yang dimaksud dengan hewan kurus adalah yang belum digemukkan, maka tidak mengapa.

وأما المشوي والمطبوخ فقد قال الأصحاب لا يصح السلم فيهما لخروج أثر النار عن الضبط

Adapun makanan yang dipanggang dan dimasak, para ulama berpendapat bahwa akad salam tidak sah atas keduanya karena pengaruh api tidak dapat dikontrol secara pasti.

هذا مقتضى النص وهو الذي أطلقه الأصحاب في الطرق

Inilah konsekuensi dari nash, dan inilah yang dinyatakan secara mutlak oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqh.

قال الصيدلاني إن كان الشي والطبخ بحيث يمكن ضبطه فلا بأس وهو كالسلم في الخبز ولا خلاف في جواز السلم في الخبز و الطِّلَى والدِّبس والسكر والفانيذ

Al-Shaydalani berkata, jika memanggang dan memasak dapat dikontrol, maka tidak mengapa, dan hal itu seperti salam dalam roti. Tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya salam dalam roti, thilā, dibs, gula, dan fanidz.

وذكر بعض أصحابنا وجهاًً بعيداً في منع السلم في الدِّبْس والخبز أخذاً من منع بيع الدبس بالدبس والأصح الجوازُ والفقيه من يُنزل كلَّ باب على معتاده والمماثلة مرعية في بيع الأعيان الربوية المتجانسة وذلك يختلف باختلافِ تأثير النار كما قررناه في باب الربا والمرعي في السلم قربُ الضبط وهذا مع الواصف البالغ في الدبس والخبز قريبٌ

Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat yang lemah tentang larangan salam dalam transaksi dibs (sirup kurma) dan roti, dengan mengambil dasar dari larangan jual beli dibs dengan dibs. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah kebolehan. Seorang faqih adalah orang yang menempatkan setiap bab sesuai kebiasaannya. Kesamaan (mumathalah) diperhatikan dalam jual beli barang ribawi yang sejenis, dan hal itu berbeda-beda tergantung pengaruh api, sebagaimana telah kami jelaskan dalam bab riba. Yang menjadi perhatian dalam akad salam adalah kemudahan pengukuran, dan hal ini, dengan adanya penjelasan yang memadai tentang dibs dan roti, adalah sesuatu yang dekat (mungkin dilakukan).

وذَكَر السلم في لحم الصيد وسبيلُ الوصف فيه بيّن وينبغي أن يكون بحيث لا يعزّ وجودُه

Ia juga menyebutkan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) dalam daging hasil buruan, dan cara penjelasan sifatnya sudah jelas, serta seharusnya sifat tersebut tidak sulit ditemukan di pasaran.

وذكر السلمَ في السمن فنقول سمن ماعز أو ضأن أو بقر وإن كان يختلف بالبلاد ذكرها

Disebutkan akad salam dalam lemak, maka kita katakan: lemak kambing, domba, atau sapi. Dan jika terdapat perbedaan menurut daerah, maka disebutkan daerahnya.

وذكر السلم في اللبن وبين أوصافه على ما ينبغي وذكر من جملتها الأوارك وهي التي ترعى الأراك والمعلوفة والراعية فإن كان الغرض يختلف بجميع ذلك فهي مشروطة وإن كان الأمر لا يختلف فلا يشترط ذكر ما لا يختلف الغرض به ولا يشترط أن يقول لبنَ حليب؛ فإن الإطلاق يقتضي انتفاء الحموضة؛ إذ الحموضة في اللبن عيبٌ؛ ولا يجوز السلم في المعيب

Disebutkan tentang akad salam pada susu dan dijelaskan sifat-sifatnya sebagaimana mestinya, serta disebutkan di antaranya adalah susu dari unta yang memakan pohon arak, yang diberi pakan, dan yang digembalakan. Jika tujuan berbeda karena semua itu, maka harus disyaratkan. Namun jika tidak ada perbedaan, maka tidak disyaratkan untuk menyebutkan hal-hal yang tidak memengaruhi tujuan. Tidak disyaratkan pula untuk mengatakan “susu segar”, karena penyebutan secara mutlak sudah mengandung makna tidak asam; sebab keasaman pada susu adalah cacat, dan tidak boleh melakukan akad salam pada barang yang cacat.

قال ولا يسلم في المخيض؛ لأن فيه ماء

Ia berkata: Tidak boleh melakukan salam (jual beli salam) pada susu cair, karena di dalamnya terdapat air.

فإن كان كذلك فهو ملتحق بالمختلطات وسنعقد فيها فصلاً الآن وإن لم يكن فيه ماء فالسلم في المخيض جائز

Jika demikian, maka ia termasuk dalam kategori campuran, dan kami akan membahasnya dalam satu bab khusus setelah ini. Namun, jika di dalamnya tidak terdapat air, maka akad salam pada susu kental diperbolehkan.

فإن قيل إنه حامض قلنا أدنى حموضة في المخيضِ مقصودة والحموضة في اللبن عيب

Jika dikatakan bahwa ia asam, kami katakan: sedikit keasaman pada makhīḍ memang dimaksudkan, sedangkan keasaman pada susu adalah cacat.

فصل

Bab

قال وكذلك كل مختلط إلى آخره

Dia berkata: “Demikian pula setiap sesuatu yang bercampur hingga akhirnya.”

منع الشافعي السلم في المختلطات وقد رتبها العراقيون ترتيباً حسناً

Imam Syafi‘i melarang akad salam pada barang-barang yang bercampur, dan orang-orang Irak telah menyusunnya dengan urutan yang baik.

فقالوا هي على أربعة أوجه فمنها مختلط من جهة الخلقة وهو في نفسه يعد موصوفاًً مضبوطاً فالسلم فيه جائز كاللبن والشّهد

Mereka berkata bahwa ada empat bentuk; di antaranya adalah yang tercampur dari segi penciptaannya, namun pada dirinya sendiri tetap dianggap sebagai sesuatu yang memiliki sifat dan ukuran yang jelas, maka salam (jual beli dengan pembayaran di muka) padanya diperbolehkan, seperti susu dan madu.

ومنها مختلط خليطهُ من مصلحته وذلك الخليط في نفسه غير مقصود وهو كالجبن تخالطه الإنفحَّة ولكنها غير مقصودة في نفسها وكأنها كالمستهلكة والجبنُ على حكم الجنس الفرد وكذلك الخبز فيه الملح والماء ولكنهما غيرُ مقصودين

Di antaranya adalah sesuatu yang tercampur dengan unsur lain yang membawa maslahat, di mana unsur yang tercampur itu sendiri tidak dimaksudkan secara khusus. Contohnya adalah keju yang tercampur dengan rennet, namun rennet itu sendiri tidak dimaksudkan secara khusus, seolah-olah ia seperti unsur yang larut. Maka keju mengikuti hukum jenisnya yang asli. Demikian pula roti yang di dalamnya terdapat garam dan air, namun keduanya tidak dimaksudkan secara khusus.

والضرب الثالث مختلط ذو أركان وكل ركن منه مقصود ولا ينضبط أقدارُ الأخلاط فلا يصلح السلم فيه كالغالية من العطر والمعاجين والجُوَارِشْنات وكالهرائس من المطبوخات ومعظمِ المرق ذواتِ الأخلاط المقصودة

Jenis ketiga adalah campuran yang memiliki beberapa unsur, di mana setiap unsurnya dimaksudkan secara khusus, namun takaran campurannya tidak dapat ditentukan secara pasti, sehingga tidak sah akad salam padanya, seperti ghaliyah dari parfum, ma‘jūn, jawārish, serta harīsah dari makanan yang dimasak, dan sebagian besar kuah yang terdiri dari campuran unsur-unsur yang dimaksudkan.

والضرب الرابع مختلط في الصورة ولكن يتأتى ضبط ذلك لكل قسم منه وهو مثل الثياب التي نسجت من الغزل والإبريسم والخزوز بهذه الصفة فإن لم يتأت الضبط فالسلم باطل كالسلم في المعاجين

Golongan keempat adalah campuran dalam bentuknya, namun memungkinkan untuk menentukan kadar masing-masing bagiannya, seperti pakaian yang ditenun dari benang wol dan sutra serta kain campuran dengan sifat seperti ini. Jika tidak memungkinkan untuk menentukan kadarnya, maka akad salam menjadi batal, seperti salam pada adonan-obat.

وإن أمكن الضبط ففي المسألة وجهان أحدهما أن السلم يصح لإمكان الضبط والثاني لا يصح؛ فإن أحد القسمين لا يتميز في الحسّ عن الثاني في الثياب العتّابية ونحوها وهذا عندي قياسٌ

Jika memungkinkan untuk ditentukan secara jelas, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: yang pertama, akad salam sah karena memungkinkan untuk ditentukan secara jelas; dan yang kedua, tidak sah, karena salah satu dari dua jenis tersebut tidak dapat dibedakan secara nyata dari yang lain pada kain ‘attabiyyah dan sejenisnya. Dan menurut saya, ini adalah qiyās.

ونقل بعض المعتمدين أن الشافعي نص على جواز السلم في الخزوز فإن صح هذا فالخزوز أنواع فلعله جوّز السلم فيما يتحد جنسه ومنه ما لا يكون كذلك

Beberapa ulama yang dijadikan rujukan telah menukil bahwa Imam Syafi‘i menegaskan kebolehan akad salam pada khuzuz. Jika hal ini benar, maka khuzuz itu bermacam-macam; barangkali beliau membolehkan akad salam pada jenis yang seragam, dan di antaranya ada yang tidak demikian.

ولو جوزنا السلم في الثياب المختلطة من غير أن يتميز في الحس قسم عن قسم لوجب تجويز السلم في المعاجين تعويلاً على قول العاجن وإذا لم يجز ذلك فسبب المنع ما يتوقع من تنازع بين المسلِم والمسلَم إليه ومثل هذا غير محتمل في السلم

Jika kita membolehkan akad salam pada kain campuran tanpa ada perbedaan yang jelas secara inderawi antara satu jenis dengan jenis lainnya, maka seharusnya kita juga membolehkan akad salam pada adonan dengan bersandar pada ucapan pembuat adonan. Namun, ketika hal itu tidak diperbolehkan, maka sebab pelarangannya adalah karena dikhawatirkan akan terjadi perselisihan antara pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerima salam, dan hal seperti ini tidak mungkin terjadi dalam akad salam.

وعدّ المزني لما ذكر المختلطات من الأدوية وفنون الطيب من جملة ما لا يجوز السلم فيه الأدهانَ المرببة المطيّبةَ كدهن البنفسج والورد وما أشبههما وأجمع الأصحاب على أن ما قاله غلط غيرُ راجع إلى مأخذ الأحكام ولكنه أمرٌ تخيّله في التصوير فظن أن هذه الأدهان خالطها أشياء ليست منها وهذا خطأ؛ فإن أصول هذه الأدهان الشيرج ثم إن السمسم يمزج بالورد والبنفسج وغيرهما حتى يتروّحَ بها عن مجاورة ثم يعتصر السمسم؛ فإذاً هو شيرج محض واكتساب الروائح بالمجاورات لا تمنع صحة السلم

Al-Muzani, ketika menyebutkan obat-obatan campuran dan berbagai jenis parfum, memasukkan minyak-minyak yang dicampur dan diberi pewangi seperti minyak bunga violet, minyak mawar, dan yang semisalnya ke dalam kategori barang yang tidak boleh dilakukan akad salam atasnya. Namun, para sahabat sepakat bahwa apa yang dikatakannya adalah keliru dan tidak kembali pada dasar-dasar penetapan hukum, melainkan hanya sesuatu yang ia bayangkan dalam bentuk gambaran saja. Ia mengira bahwa minyak-minyak tersebut telah tercampur dengan sesuatu yang bukan bagian darinya, dan ini adalah kesalahan. Sebab, dasar dari minyak-minyak tersebut adalah minyak wijen (shirj), kemudian biji wijen dicampur dengan mawar, violet, dan selainnya hingga menyerap aroma dari kedekatan, lalu biji wijen itu diperas; sehingga hasilnya adalah minyak wijen murni. Perolehan aroma melalui pencampuran tidak menghalangi keabsahan akad salam.

وعد العراقيون خل التمر والزبيب من المختلطات التي يجوز السلم فيها وزعموا أن المقدار المعتبر من الزبيب يدرك بقوة الخل وضعفه والمقصود من الخل حموضته ونفاذُه وحدّتُه وهذا يقصد منه كما يقصد من الخل من العنب

Orang-orang Irak menganggap cuka kurma dan anggur kering (zabib) sebagai campuran yang boleh dilakukan akad salam atasnya. Mereka berpendapat bahwa kadar anggur kering yang dianggap cukup dapat diketahui dari kekuatan dan kelemahan cuka tersebut. Tujuan dari cuka adalah keasamannya, ketajamannya, dan kekuatannya, dan hal ini juga yang dimaksudkan dari cuka yang berasal dari anggur.

وزعموا أن مُدركَ العِيان يبيّن ما يعتبر من الإبريسم والغزل في العتَّابي؛ فإن لهذا الجنس رونق إذا كان الإبريسم فيه على الحد المقصود لا يخفى دركُه على أهل البصائر كما ذكروه

Mereka berpendapat bahwa apa yang dapat ditangkap secara langsung (‘iyān) akan menjelaskan apa yang dianggap dari sutra dan benang pintal dalam kain ‘attābī; sebab jenis kain ini memiliki keindahan tersendiri apabila sutra di dalamnya sesuai dengan kadar yang dimaksud, yang pengenalannya tidak samar bagi orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan, sebagaimana telah mereka sebutkan.

وما أشار إليه العراقيون وإن كان كلاماً فلا نقنع بمثله في التوقي من الغرر في أبواب السلم

Apa yang dikemukakan oleh para ulama Irak, meskipun berupa pendapat, tidaklah cukup bagi kami untuk dijadikan pegangan dalam menghindari gharar dalam bab-bab salam.

هذا ما أردناه في المختلطات

Inilah yang kami maksudkan dalam pembahasan tentang perkara-perkara yang tercampur.

ثم ذكر السلم في اللِّبأ والرائب وهو شائع؛ فإنّ المسلمَ فيه مضبوط وقد يُعرض اللِّبأ على النار عَرضةً خفيفة ولا اعتبار بها ولذلك صححنا السلم في الفانيذ والسكر وإن تردد الأصحاب في جواز بيع السكر بالسكر وذكرنا الميز بين البابين في المقصودين

Kemudian disebutkan tentang salam dalam jual beli colostrum dan susu asam, yang mana hal ini umum terjadi; karena barang yang diserahkan dalam akad salam tersebut sudah jelas ukurannya, dan terkadang colostrum dipanaskan dengan api secara ringan, namun hal itu tidak dianggap berpengaruh. Oleh karena itu, kami membolehkan akad salam dalam penjualan fanidz dan gula, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan jual beli gula dengan gula, dan kami telah menjelaskan perbedaan antara kedua bab tersebut dalam tujuan masing-masing.

وذكر بعض المعتمدين تردداً في السلم في الدبس قدمنا ذكره

Sebagian ulama yang menjadi rujukan menyebutkan adanya keraguan dalam akad salam pada kurma kental (dibs) sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

ثم ذكر أن من أصحابنا من نزل السكر والفانيذ في باب السلم منزلتهما في بيع الأعيان

Kemudian disebutkan bahwa sebagian ulama dari kalangan mazhab kami memposisikan gula dan fanidz dalam bab salam sebagaimana kedudukannya dalam jual beli barang-barang tertentu.

وقد اختلف أصحابنا في بيع السكر بالسكر والفانيذ بالفانيذ فهذا القائل يقول إن جوزنا بيع السكر بالسكر يجوز السلم فيه وإن منعنا بيع السكر بالسكر يمنع السلم فيه أيضاًً وهذا غير صحيح

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai jual beli gula dengan gula dan fanidz dengan fanidz. Ada yang berpendapat, jika kita membolehkan jual beli gula dengan gula, maka salam atas gula juga boleh. Namun jika kita melarang jual beli gula dengan gula, maka salam atas gula juga dilarang. Pendapat ini tidaklah benar.

ويترتب عند هذا القائل في الدبس والسكر ثلاثة أوجه أحدها المنع فيهما

Menurut pendapat ini, terkait dengan dibs dan gula terdapat tiga pendapat; yang pertama adalah pelarangan pada keduanya.

والثاني الجواز والثالث الفصل بين الدبس والسكر

Kedua, kebolehan, dan ketiga, pembedaan antara dibs dan gula.

وردد صاحب التقريب جوابه في السلم في المَاوَرْد ؛ من حيث إنه اعتقد اختلافَ تأثير النار فيما يتصعد ويقطر وهذا في نهاية الضعف لم أره لغيره

Penulis kitab at-Taqrīb mengulangi jawabannya tentang salam dalam kasus maward, karena ia meyakini adanya perbedaan pengaruh api terhadap sesuatu yang menguap dan yang menetes, dan pendapat ini sangat lemah, aku tidak menemukannya pada selain dirinya.

ثم ذكر الشافعي السلم في الصوف وأشار إلى الصفات التي ترعى فيها وشبهها بما قدمناه فممّا ذكر أنها طوال أو قصار ليّنة أو خشنة وذكر اللون وقال يكون نقياً مغسولاً أما النقاء فيغني عنه شرط السلامة وأما المغسول فإن أراد الغَسل ليُنَقَّى من الغبش والقاذورات فلا حاجة إلى هذا فإن اشتراط الصوف المجرد يُغني عن قولٍ غيرِه فإذن الغسل احتياط

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) pada wol, dan ia menunjukkan sifat-sifat yang harus diperhatikan padanya serta menyerupakannya dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya. Di antara yang ia sebutkan adalah bahwa wol itu bisa panjang atau pendek, lembut atau kasar, dan ia juga menyebutkan warna. Ia berkata bahwa wol itu harus bersih dan telah dicuci. Adapun kebersihan, maka syarat keselamatan (dari cacat) sudah cukup mewakilinya. Adapun dicuci, jika yang dimaksud adalah mencuci agar bersih dari kotoran dan najis, maka hal itu tidak diperlukan, karena mensyaratkan wol murni sudah cukup tanpa harus menyebutkan syarat lainnya. Maka, mencuci hanyalah sebagai bentuk kehati-hatian.

ثم ذكر الكرسفَ والسلمُ فيه صحيح والأوصاف المرعية فيه معلومة من اللين والخشونة وقد يختلف بالإضافة إلى البقاع

Kemudian disebutkan tentang kapas, dan akad salam atasnya sah, serta sifat-sifat yang diperhatikan padanya telah diketahui, seperti kelembutan dan kekasaran, dan bisa berbeda-beda tergantung pada daerah.

والضابط ما تقدم

Patokan atau kaidahnya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

والسلم في الجوزق المتشقق جائز على شرط التقدير بالوزن ولا يجوز السلم فيما ليس بمتشقق؛ فإن المقصود منه مستتر بما ليس بمقصود ولا يبقى فيه

Salam dalam jual beli kacang kenari yang telah pecah diperbolehkan dengan syarat ditakar berdasarkan berat, dan tidak diperbolehkan salam pada kacang yang belum pecah; karena yang dimaksudkan darinya masih tersembunyi oleh sesuatu yang bukan maksud utama, sehingga tidak tersisa padanya kejelasan.

وإن ظن ظان أن بيعه من أطراف بيع الغائب فلا مجال لهذا في السلم فإن الجهالات لا تحتمل في السلم

Jika ada yang mengira bahwa akad jual beli salam termasuk dalam kategori jual beli barang yang tidak hadir, maka anggapan ini tidak berlaku dalam akad salam, karena segala bentuk ketidakjelasan tidak dapat diterima dalam akad salam.

وذكر السلم من الإبريسم وذكر مما يعتبر فيه الدقة والغلظ والنوع والناحية التي يجلب منها إلى غير ذلك مما يتغير به الثمن والغرض

Disebutkan pula salam atas sutra, serta disebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan seperti tingkat ketebalan dan tipisnya, jenis, daerah asal barang tersebut, dan hal-hal lain yang dapat memengaruhi harga dan tujuan.

ثم قال ولا بأس أن يسلم في الشيء كيلاً وإن كان أصله الوزن

Kemudian ia berkata, “Tidak mengapa melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) pada suatu barang dengan takaran, meskipun asalnya adalah dengan timbangan.”

وهو كما قال و قد ذكرنا في باب الربا أن ما كان موزوناً لا يجوز بيع بعضه ببعض كيلاً وما كان مكيلاً في عصر الشارع لا يجوز بيع بعضه ببعض وزناً؛ فإن باب تحريم التفاضل في الربا مبناه على التعبد وباب السلم مبناه على الإعلام واتباع العرف فيما يعد مضبوطاً وإذا كان يجري الكيل والوزن في شيء فإعلامه بكل واحدٍ منهما ممكن

Sebagaimana yang telah disebutkan, dan telah kami jelaskan dalam bab riba bahwa barang yang ditakar dengan timbangan tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain secara takaran, dan barang yang ditakar dengan takaran pada masa Rasulullah tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain secara timbangan; sebab larangan adanya kelebihan dalam riba didasarkan pada aspek ta‘abbud (ketaatan tanpa mengetahui hikmahnya), sedangkan dalam bab salam didasarkan pada kejelasan dan mengikuti kebiasaan dalam hal yang dianggap terukur. Jika suatu barang dapat dikenai takaran dan timbangan, maka menjelaskannya dengan masing-masing cara tersebut adalah mungkin.

فهذا ما أطلقه الأصحاب

Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama.

وفيه فضل نظر عندي في الأشياء الخطيرة فإن فتات المسك يحصره الكيل ولست أرى الكيل فيه إعلاماً وكذلك العنبر وكل خطيرٍ فلعل الوجه أن يقال ما كان مكيلاً لا يجوز السلم فيه بالوزن فإنه حاصر وما يوزن عرفاً هل يصح السلم فيه كيلاً

Menurut saya, dalam hal-hal yang penting terdapat pertimbangan lebih lanjut; sebab serpihan misik dapat diukur dengan takaran, namun saya tidak melihat bahwa takaran itu sebagai penentu. Demikian pula dengan ambar dan setiap barang yang bernilai tinggi. Maka barangkali pendapat yang tepat adalah, barang yang biasa ditakar tidak boleh dilakukan akad salam dengan menggunakan timbangan, karena takaranlah yang menjadi penentu. Adapun barang yang secara umum ditimbang, apakah sah akad salam atasnya dengan takaran?

هذا ينقسم فمنه ما يُعدّ الكيلُ في مثله إعلاماً وإن كان الوزن معتاداً فليصح هذا وما لا يُعتاد الكيل في مثلهِ ضابطاً فلا يجوز السلم فيه كيلاً وإن كانت صورة الكيل تجري فيه

Ini terbagi menjadi dua: di antaranya ada yang takaran (kail) pada barang sejenisnya dianggap sebagai penentu meskipun yang lazim adalah timbangan (wazan), maka hal ini sah; dan ada pula yang tidak lazim menggunakan takaran sebagai standar pada barang sejenisnya, maka tidak boleh melakukan akad salam dengan takaran meskipun secara lahiriah takaran dapat dilakukan padanya.

وإن كان التعويل على قاعدةٍ واحدة فمسائل التردد ناشئةٌ من تلك القاعدة ورأيُ النظار عندي مشترك

Jika penekanan diletakkan pada satu kaidah saja, maka persoalan-persoalan keraguan muncul dari kaidah tersebut, dan menurut pendapat saya, pandangan para ahli nadhar bersifat bersama.

وإن استدرك البعض على البعض لم يرجع الخلاف إلى الفقه وإنما يرجع إلى أمور حسّية أو إلى أمور عُرفية

Dan jika sebagian orang mengoreksi sebagian yang lain, maka perbedaan tersebut tidak kembali kepada fiqh, melainkan kembali kepada hal-hal yang bersifat indrawi atau kepada hal-hal yang bersifat ‘urf.

ولو أسلم في شيء يكال ويوزن وشرط الكيلَ والوزنَ جميعاً فهذا ينتهي إلى التعذّر الذي يفسد السلمُ بمثله وهو مثل أن يقول أسلمت في مائةِ صاعٍ على أن يكون وزنها إذا رد إلى الوزن خَمسمائةِ منّ فهذا حكمٌ لا يتأتى الوفاء به مع العلم بأن الحنطة يتفاوت وزنها بسب اكتنازها ورخاوتها وصلابتها

Dan jika seseorang melakukan akad salam pada suatu barang yang ditakar dan ditimbang, lalu ia mensyaratkan takaran dan timbangan sekaligus, maka hal ini berujung pada kesulitan yang menyebabkan akad salam menjadi batal karenanya. Contohnya adalah jika seseorang berkata, “Aku melakukan akad salam untuk seratus sha‘ dengan syarat jika ditimbang beratnya menjadi lima ratus mann.” Ini adalah ketentuan yang tidak mungkin dapat dipenuhi, karena diketahui bahwa berat gandum berbeda-beda tergantung pada tingkat kepadatan, kelembutan, dan kekerasannya.

ولا يجوز السلم في شيءٍ عدداً وإن كان مضبوطاً فليقع السلم باعتبار الوزن وهذا كالسلم في البطيخ والسفرجل فاكتفاء الناس فيها بالعدد تسامح والتعويل على العِيان؛ فإنها تتفاوت في القيم نعم قد يتفق فيها ما لا يتفاوت قيمها وإن كانت مختلفة الأقدار لتسامع أطبق الناس عليه وهذا كالبيض والجوز فلا يجوز التعويل في السلم على العدد وذلك أن التسامح الذي حكيناه إنما يقع في مقدارٍ يسير كأعدادٍ قليلة من الجوز والبيض وإذا كثر فالجوزات الكبار والبيضات الكبار لو جمعت في موضع وقيست بالصغار تفاوت الأمر وصدقت الرغبة من الكبار وظهر تفاوت في الثمن بيّن؛ فلا يجوز التعويل على العدد في شيء من المعدودات

Tidak boleh melakukan akad salam pada sesuatu berdasarkan jumlah, meskipun telah ditentukan secara pasti; maka hendaknya akad salam dilakukan berdasarkan timbangan. Contohnya adalah akad salam pada buah semangka dan quince, di mana kebiasaan orang mencukupkan dengan jumlah hanyalah bentuk toleransi dan lebih mengandalkan pada penglihatan langsung, karena nilainya berbeda-beda. Memang, terkadang ditemukan barang yang nilainya tidak berbeda meskipun ukurannya berbeda, karena telah menjadi kesepakatan umum masyarakat, seperti telur dan kenari. Namun, tidak boleh mengandalkan jumlah dalam akad salam. Toleransi yang disebutkan tadi hanya berlaku pada jumlah yang sedikit, seperti beberapa butir kenari atau telur. Jika jumlahnya banyak, maka kenari atau telur yang besar jika dikumpulkan dan dibandingkan dengan yang kecil, akan tampak perbedaan yang jelas dan keinginan orang pasti lebih kepada yang besar, sehingga terjadi perbedaan harga yang nyata. Oleh karena itu, tidak boleh mengandalkan jumlah dalam akad salam pada barang-barang yang dihitung satuan.

ويجوز السلم في البطيخ والسفرجل وزناً؛ فإن الوزن يحصر وإن لم يحصر العدد

Diperbolehkan melakukan akad salam pada semangka dan quince dengan takaran berat; karena berat dapat membatasi (menentukan), meskipun jumlahnya tidak dapat dibatasi.

وذكر شيخي أن السلم يجوز في البيض وزناً وكذلك في الجوز واللوز وما في معناهما وما ذكره في البيض سديد؛ فإن قشورها لا تختلف اختلافاً به مبالاة وإن زاد وزنُ قشور الكبار منها فتلك الزيادة على نسبةٍ غيرِ متفاوتة بالإضافة إلى ما يقصد من المحّ والماح

Guru saya menyebutkan bahwa salam boleh dilakukan pada telur dengan takaran berat, begitu juga pada kenari, almond, dan yang sejenisnya. Apa yang beliau sebutkan tentang telur adalah pendapat yang tepat; karena kulitnya tidak berbeda secara signifikan sehingga perlu diperhatikan, meskipun berat kulit telur yang besar lebih banyak, namun penambahan itu proporsional dan tidak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan bagian putih dan kuning telur yang menjadi tujuan utama.

فأما قشور الجوز فأراها تختلف فمنها رقاق ومنها غلاظ ومنها ما ينفرك باليد للطافة القشور ومنها ما يحتاج إلى معاناة في كسرها فلست أرى السلمَ مسوَّغاً في الجوز وما في معناه وإن ذَكر وزنها

Adapun kulit kenari, menurut saya berbeda-beda; ada yang tipis, ada yang tebal, ada yang dapat dipisahkan dengan tangan karena tipisnya kulit, dan ada pula yang memerlukan usaha untuk memecahkannya. Maka saya tidak melihat akad salam dibolehkan pada kenari dan yang semisalnya, meskipun disebutkan beratnya.

فإن أمكن ضبطُ نوعٍ منها بالوصف يُقرِّب قشورها ثم اعتمد الوزن ولم يُفض الأمرُ إلى عزة الوجود فالجواب الجواز إن اقتضى الحال ذلك

Jika memungkinkan untuk menentukan jenisnya dengan deskripsi yang mendekati kulitnya, kemudian mengandalkan timbangan, dan hal itu tidak menyebabkan kelangkaan barang, maka jawabannya adalah boleh jika situasinya menuntut demikian.

وقد ذكرت أن اختلاف طرق الأصحاب في هذا الكتاب لا يرجع إلى التردد في أساليب الفقه وإنما رجوعه إلى مماراةٍ في الوقائع

Saya telah menyebutkan bahwa perbedaan cara para sahabat dalam kitab ini tidak kembali kepada keraguan dalam metode fiqh, melainkan kembali kepada perdebatan dalam peristiwa-peristiwa (kasus-kasus) yang terjadi.

وذكر الأصحاب جوازَ السلم في اللَّبِن والتعويل على الوزن وقد يجمع إليه العدد وهو المعتاد ولا عسر في الجمع فيسلم المسلم في مائة لبنة ويقول اللبنة الواحدة عشرة أمناء هذا لا بد منه وتحصيله لا عسر فيه ثم إَن وقع تسامحٌ في التسليم فلا بأس

Para ulama mazhab menyebutkan bolehnya akad salam dalam jual beli bata, dengan patokan pada timbangan, dan boleh juga digabungkan dengan hitungan jumlah, sebagaimana yang lazim dilakukan. Tidak ada kesulitan dalam menggabungkan keduanya, sehingga seseorang dapat melakukan akad salam untuk seratus bata, lalu mengatakan bahwa satu bata seberat sepuluh uqiyah; hal ini harus disebutkan dan tidak sulit untuk memastikannya. Kemudian, jika terjadi toleransi dalam penyerahan, maka tidak mengapa.

والسلم في الآجُر مما اختلف الأصحاب فيهِ اختلافَهم في الدبس والظاهر الجواز؛ فإن الوصف ممكن وتحصيل الموصوف لا تعذر فيه

Salam dalam akad jual beli bata adalah salah satu hal yang diperselisihkan oleh para ulama, sebagaimana mereka berselisih pendapat dalam masalah kurma cair (dibs). Pendapat yang tampak adalah kebolehan, karena sifat-sifatnya dapat dijelaskan dan memperoleh barang yang disifati itu tidaklah sulit.

ثم ذكر الشافعي السلم في لحم الطيور والوصفُ يحيط به فليذكر النوع والعضو الذي يسلم منه إن كان يسلم في المقطّع وإن كان يسلم في الطير المذبوح غيرَ مقطع فالوزن والسِّمن والصنف وكل ما يختلف الغرض فيه والطير لا سِنَّ له فيوصف بالصغر والكبر ويذكر أنه لحم فروج أو ناهض

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan tentang salam (jual beli dengan pembayaran di muka) pada daging burung, dan sifat-sifatnya harus dijelaskan secara rinci. Maka harus disebutkan jenis dan bagian (anggota tubuh) yang akan diserahkan jika yang dijual adalah bagian potongan. Jika yang diserahkan adalah burung yang telah disembelih secara utuh, maka harus dijelaskan berat, tingkat kegemukan, jenis, dan semua hal yang menjadi tujuan berbeda-beda. Burung tidak memiliki usia (gigi), maka dijelaskan dengan ukuran kecil atau besar, serta disebutkan apakah itu daging anak burung (furuuj) atau burung yang sudah hampir dewasa (nahidh).

وكذلك الحيتان

Demikian pula ikan-ikan.

وأما الخشب فإن كانت تراد للحطب فأوصافها قريبة فيذكر النوع وأنها دقاق أو غلاظ جزلة والوزن لا بد منه وقال الأصحاب لا حاجة للتعرض لليبوسة؛ فإن الرطوبة والنداوة عيبٌ والإطلاق يقتضي اليابس هكذا ذكره المحققون

Adapun kayu, jika dimaksudkan untuk dijadikan kayu bakar, maka sifat-sifatnya hampir serupa, yaitu disebutkan jenisnya, apakah kayu itu kecil-kecil atau besar-besar dan beratnya harus disebutkan. Para ulama menyatakan tidak perlu menyebutkan kekeringannya, karena kelembapan dan kebasahan merupakan cacat, dan penyebutan secara mutlak menunjukkan kayu yang kering. Demikianlah yang disebutkan oleh para ahli.

وإن كان السلم في الجذوع والعُمد فالطول والعرض والصنف واللون ويصح السلم إذا استوت الأجزاء فإن اشترط فيها تخريط وكان يختلف الأعالي والأسافل فهذا مما يؤثر في منع السلم عند الشافعي؛ فإنه لا يدري أن الخشبة من أين تأخذ في الدقة ولا ينضبط هذا مع تعلق القصد به وإذا أسلم في جذعٍ ذكر الطولَ والعرضَ والاستدارةَ واللونَ وفي ذكر الوزن تردد؛ فإن الوزن لا يقصد في العمد والاسطوانة

Jika akad salam dilakukan pada batang pohon dan tiang, maka harus disebutkan panjang, lebar, jenis, dan warna. Akad salam sah apabila bagian-bagiannya seragam. Jika disyaratkan adanya garis-garis pada batang tersebut, sementara bagian atas dan bawahnya berbeda-beda, maka hal ini menurut Imam Syafi‘i menyebabkan tidak bolehnya akad salam; sebab tidak diketahui dari bagian mana kayu itu diambil ketebalannya, dan hal ini tidak dapat ditentukan dengan pasti, padahal maksud pembeli terkait dengan hal itu. Jika seseorang melakukan akad salam pada batang pohon, maka harus disebutkan panjang, lebar, keliling, dan warna. Adapun mengenai penyebutan berat, terdapat perbedaan pendapat; sebab berat tidak menjadi tujuan dalam tiang dan pilar.

وكان شيخي يميل إلى اشتراط الوزن؛ صائراً إلى أن كلَّ خشبة تفرض فلا يمتنع أن تصير حطباً ويكون الوزن إذ ذاك مقصوداً وهذا فيه نظر

Guru saya cenderung mensyaratkan adanya timbangan; berpendapat bahwa setiap kayu yang ditentukan tidak mustahil berubah menjadi kayu bakar dan pada saat itu timbangan menjadi tujuan, namun dalam hal ini masih perlu ditinjau kembali.

والسلم في أحجار الرحى جائز إذا ذكر الطولَ منها والعرضَ والسمكَ واتفق على اعتبار الوزن فيها؛ فإن ثقلها مقصود وهي برَزَانتها تطحن ويختلف هذا برخاوة الأحجار وصلابتها ثم إذا ذكر الوزن فهو ممكن حتى انتهى الأصحاب إلى تصوير وزن الأرحية الكبار بالسفن وغوصها في الماء ثم العادة جارية بذكر أمثال هذه الأعلام ثم يقع التسامح حالة القبض

Salam dalam transaksi batu gilingan diperbolehkan jika disebutkan panjang, lebar, dan tebalnya, serta disepakati untuk memperhitungkan beratnya; sebab beratnya memang menjadi tujuan, dan dengan beratnya itulah batu tersebut dapat menggiling. Hal ini berbeda-beda tergantung pada kelembutan atau kekerasan batu. Jika beratnya disebutkan, maka hal itu memungkinkan, bahkan para ulama sampai menggambarkan penimbangan batu gilingan besar dengan menggunakan kapal dan menenggelamkannya ke dalam air. Selain itu, kebiasaan yang berlaku adalah dengan menyebutkan tanda-tanda seperti ini, kemudian biasanya ada toleransi pada saat penyerahan.

ثم ذكر جواز السلم في أنواع العطر وأمتعة الصيادلة كالمسك والكافور والعنبر والأدوية ولكل جنس أوصاف مقصودة لا يخفى دركها عند أهل البصيرة

Kemudian disebutkan bolehnya akad salam pada berbagai jenis parfum dan perlengkapan para ahli farmasi seperti misik, kapur barus, ambar, dan obat-obatan, di mana setiap jenis memiliki sifat-sifat khusus yang mudah dikenali oleh orang-orang yang berpengalaman.

وقد يقصد في بعضها أن تكون قطعاً كباراً كالعنبر فليكن التعرض لهذا

Terkadang, dalam sebagian kasus, dimaksudkan agar benda tersebut berupa potongan-potongan besar seperti ambar, maka hendaknya hal ini juga dibahas.

ثم قال لا يُسلم فيما خالطه لحوم الحيات

Kemudian ia berkata, tidak boleh diterima (tidak sah) sesuatu yang tercampur dengan daging ular.

والسبب فيه مع الاختلاط أن لحوم الحيات نجسة وقد ذكرنا منع بيع النجس والتداوي بالترياق جائز على حدّ تجويز أكل الميتة وفيه كلام طويل سيأتي في الأطعمة وعنده نذكر التداوي بالخمر والحدّ المعتبر في التداوي من الحاجة والضرورة

Penyebabnya, berkaitan dengan percampuran, adalah karena daging ular itu najis, dan kami telah menyebutkan larangan menjual barang najis. Berobat dengan tiryak (obat penawar racun) diperbolehkan sebagaimana diperbolehkannya memakan bangkai, dan dalam hal ini terdapat pembahasan panjang yang akan dijelaskan pada bab makanan. Pada bagian itu pula akan disebutkan tentang berobat dengan khamar, serta batasan yang dianggap dalam berobat antara kebutuhan dan keadaan darurat.

أما السموم القاتلة الطاهرة فهل يجوز بيعها قال الأصحاب إن قتلت بكثرتها لغلبة الطبيعة والقليل منه يستعمل في الأدوية الحارة فلا يمتنع بيعه ومن هذه الجملة السقمونيا والحنظل والخَرْبَق وما في معانيها ومنها الأفيون

Adapun racun mematikan yang suci, apakah boleh menjualnya? Para ulama berpendapat, jika racun itu mematikan karena jumlahnya yang banyak akibat pengaruh tabiatnya, sedangkan sedikitnya digunakan dalam obat-obatan yang bersifat panas, maka tidak dilarang menjualnya. Termasuk dalam kategori ini adalah scammony, handhal, kharbaq, dan yang sejenisnya, serta opium.

فأما السموم التي لا يستعمل جوهرها في دواء وهي منافية للقوة الحيوانية بأنفسها من غير كيفية تُعْقَل وهذا هو السم عند أهله فقد قال قائلون لا يجوز بيعها؛ فإنه لا خير فيها؛ إنما هي ضرر كله

Adapun racun-racun yang zatnya tidak digunakan dalam obat dan secara langsung bertentangan dengan kekuatan hayawaniyah tanpa ada sifat tertentu yang dapat dipahami—dan inilah yang disebut racun menurut para ahlinya—maka sebagian ulama berpendapat bahwa tidak boleh menjualnya; karena tidak ada kebaikan di dalamnya, melainkan seluruhnya adalah mudarat.

وكنا نقول للشيخ إذا كانت طاهرةً فلو أعدت لتستعمل في مكائدَ مع الكفار فهذا وجهٌ في صلاح السياسة والإيالة فرأيته يتردد في مواضع وأراد أن ينزلها منزلة الأسلحة

Kami biasa berkata kepada Syekh: Jika ia (sesuatu) suci, maka seandainya ia dibuat kembali untuk digunakan dalam tipu daya terhadap orang-orang kafir, hal itu merupakan salah satu bentuk kebijakan yang baik dalam urusan politik dan pemerintahan. Namun aku melihat beliau ragu-ragu dalam beberapa hal dan ingin menyamakannya dengan senjata.

ومن قتل إنساناً بسم قتلناه به فليتأمل الناظر في ذلك

Barang siapa membunuh seseorang dengan racun, maka kami membunuhnya dengan cara itu pula; hendaknya orang yang memperhatikan hal ini merenungkannya.

ثم قال ولو أقاله بعضَ السلم

Kemudian ia berkata: “Seandainya sebagian dari akad salam itu dibatalkan (oleh salah satu pihak)…”

قد ذكرنا تفصيل القول في الإقالة وأنها فسخ أم لا ثم قطعنا بأنها في السلم فسخ ثم رتبنا كلاماً هو مقصود هذا الفصل وقلنا إذا انفسخ العقد في بعض المعقود عليه ففي تعدي الفسخ إلى غيره ما فيه كما مضى في تفريق الصفقة وإن أراد أحدُ المتعاقدين أن يفرد بالرد بعضَ المعقود عليه ففيه تفاصيل مذكورة في صورة وإذا أراد المتعاقدان الفسخ في البعض عن تراضٍ وهو الإقالة فقد صحَّحَ أئمتنا هذا على التراضي ولم يخرّجوا على تفريق الصفقة وقد ذكرت ما يليق بذلك فيما تقدم

Kami telah menjelaskan secara rinci pendapat mengenai iqālah, apakah ia merupakan pembatalan (fasakh) atau bukan, kemudian kami tegaskan bahwa dalam akad salam, iqālah adalah fasakh. Selanjutnya, kami susun pembahasan yang menjadi tujuan dari bagian ini, dan kami katakan: jika akad batal pada sebagian objek akad, maka mengenai meluasnya pembatalan pada bagian lainnya terdapat pembahasan sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah tafrīq ash-shafqah. Jika salah satu pihak yang berakad ingin mengembalikan sebagian objek akad saja, maka terdapat rincian yang telah disebutkan dalam bentuk tertentu. Dan jika kedua belah pihak yang berakad ingin membatalkan sebagian dengan saling ridha, yaitu melalui iqālah, maka para imam kami telah membenarkan hal ini atas dasar kerelaan bersama dan tidak mengaitkannya dengan tafrīq ash-shafqah. Saya telah menyebutkan hal yang sesuai dengan itu pada penjelasan sebelumnya.

ولا يجزىء في السلم التشريك ولا التَّوْلية فإنهما بيعان وبيعُ السلم قبل القبض لا يجوز ومن جوَّز بيعَ المبيع من البائع قبل القبض لم يجوز بيعَ المسلَم فيه من المسلَم إليه قبل القبض وهذا رأيته متفقاً عليه والفرق عسر والوجه الاستدلال بموضع الوفاق على تزييف الوجه الضعيف في المبيع

Tidak sah dalam akad salam melakukan musyarakah (kerja sama) atau tawliyah (penyerahan hak), karena keduanya merupakan bentuk jual beli, sedangkan menjual barang salam sebelum diterima tidak diperbolehkan. Barang siapa yang membolehkan penjualan barang yang dibeli dari penjual sebelum diterima, tetap tidak membolehkan penjualan barang salam dari pihak yang menerima salam sebelum barang itu diterima. Hal ini saya dapati sebagai kesepakatan para ulama, meskipun perbedaannya sulit, dan yang tepat adalah menggunakan titik kesepakatan ini sebagai dalil untuk menolak pendapat lemah dalam masalah jual beli.

فهذا منتهى ما نقله المزني في الباب وعلينا الآن الوفاء بما وعدناه من ضبط القول فيما يُرعى من الصفات

Inilah akhir dari apa yang dinukilkan oleh al-Muzani dalam bab ini, dan sekarang menjadi kewajiban kita untuk menunaikan apa yang telah kami janjikan, yaitu menjelaskan secara rinci tentang sifat-sifat yang perlu diperhatikan.

فصل

Bab

قد كرر الأئمة في طرقهم أنه يجب ذكر الصفات التي تؤثر في القيمة والأغراض وهذا مضبوط لا لبس فيه ولا يتطرق إليه إلا شيئان أحدهما أن من الأشياء ما يهون وصفه وليس إذا وصف عزّ فيمتنع السلم فيه للعزة ومنه ما ينتهي إلى صفة لا تُشيع معرفتَه وفيه ترتيب تقدم ذكره إذْ ذكرنا ما يعرفه أهلُ الاستفاضة وما يعرفه عدلان وما يختص بمعرفته المتعاقدان على زعمهما

Para imam telah berulang kali menegaskan dalam metode mereka bahwa wajib menyebutkan sifat-sifat yang berpengaruh terhadap nilai dan tujuan. Hal ini sudah jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya, kecuali dua hal. Pertama, ada sebagian barang yang mudah untuk dijelaskan sifatnya, namun jika dijelaskan justru menjadi langka sehingga tidak mungkin melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) karena kelangkaannya. Kedua, ada barang yang pengetahuannya hanya sampai pada sifat yang tidak umum diketahui. Dalam hal ini terdapat urutan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu apa yang diketahui oleh orang banyak (istifāḍah), apa yang diketahui oleh dua orang yang adil, dan apa yang hanya diketahui oleh kedua pihak yang berakad menurut klaim mereka.

ومما يتعلق بالباب أن الأوصاف التي يمكن الاقتصار فيها على قدر الاسم معتبرة ثم لا تعتبر غاياتها وهذا جار في جميع الصفات وهذا إذا كان الخروج عن الضبط في جهة النهاية فأما إذا كان الخروج عن الضبط في جهة البداية فقبيله يمنع السلم وعليه بنى الأصحاب منعَ السلم في المعيب والرديء؛ فإن المسلِم سيقول سلم إلي ما هو في المرتبة الأولى في العيب المذكور والمسلَمُ إليه يزعم أن هذا كذلك فلا ضبط ولا يمكننا أن نُنزلهما على شيء ومن ضم إلى ما ذكره الأصحاب من الصفات المؤثرة في الغرض والقيمة هذه الأحوال الثلاثة استقل بالكلام في الأوصاف

Terkait dengan bab ini, sifat-sifat yang dapat dibatasi sesuai dengan kadar nama (jenisnya) dianggap sah, dan tidak perlu memperhatikan batas akhirnya. Hal ini berlaku untuk semua sifat. Ini jika ketidakjelasan terjadi pada batas akhir. Namun, jika ketidakjelasan terjadi pada batas awal, maka jenis ini mencegah terjadinya akad salam. Berdasarkan hal ini, para ulama melarang akad salam pada barang yang cacat dan buruk; sebab pihak yang melakukan salam akan berkata, “Serahkan kepadaku barang yang berada pada tingkat paling ringan dari cacat yang disebutkan,” sementara pihak yang diserahi akan mengklaim bahwa barang tersebut sudah sesuai, sehingga tidak ada kejelasan dan tidak mungkin kita menyesuaikan keduanya pada satu hal. Barang siapa yang menambahkan pada apa yang disebutkan para ulama tentang sifat-sifat yang berpengaruh pada tujuan dan nilai, tiga keadaan ini, maka ia telah mandiri dalam pembahasan sifat-sifat.

وكل هذا والمسلم فيه ليس بحيوان

Dan semua ini, sementara seorang Muslim di dalamnya bukanlah seekor hewan.

فأما إذا كان المسلمُ فيه حيواناً فنحن نذكر افتراق مسالك الأصحاب في الحيوانات ونستخرج من بينها ضبطاً

Adapun jika muslim tersebut memiliki hewan di dalamnya, maka kami akan menyebutkan perbedaan pendapat para sahabat dalam masalah hewan, dan kami akan mengambil dari perbedaan tersebut suatu ketentuan.

قال العراقيون إذا أسلم في جارية لم يشترط أن يقول في أوصافها دعجاء كحلاء وكذلك قالوا لا يشترط ذكر قدِّ الجارية والعبد وكان الشيخ أبو محمد رحمه الله يشترط التعرض لجميع ذلك ويقول لكل صفة عبارة فما غادر الوصافون مقصوداً إلا صاغوا عنه عبارات فلتذكر ثم لنقتصر من كل صفة على أدنى الدرجات ومن حمل من أصحابنا الخُماسي والسداسي على القِدَيَيْن الطول والقصر اعتضد بالنص

Orang-orang Irak berpendapat bahwa jika seseorang memeluk Islam atas seorang budak perempuan, tidak disyaratkan untuk menyebutkan dalam deskripsinya bahwa ia bermata besar dan bercelak. Demikian pula, mereka mengatakan tidak disyaratkan untuk menyebutkan tinggi badan budak perempuan maupun budak laki-laki. Namun, Syaikh Abu Muhammad rahimahullah mensyaratkan untuk menyebutkan semua hal tersebut dan mengatakan bahwa untuk setiap sifat terdapat ungkapan tersendiri; para ahli deskripsi tidak pernah meninggalkan sesuatu yang dimaksudkan kecuali mereka telah membuatkan ungkapan untuknya, maka hendaknya disebutkan. Kemudian, cukuplah dari setiap sifat dengan tingkatan terendahnya. Di antara para sahabat kami, ada yang memahami istilah khumasi dan sudasi berkaitan dengan dua ukuran, yaitu tinggi dan pendek, dan pendapat ini didukung oleh nash.

فكان شيخنا يقول الكَحَل والدَّعج لا ينقصان عن الجعودة في الشعر والسبوطة

Maka guru kami berkata, celak pada mata dan mata yang hitam pekat tidak kurang nilainya dibandingkan dengan rambut yang ikal dan lurus.

وقد اعتبرهما الأصحاب

Dan keduanya telah dianggap oleh para ulama.

وانتهى تساهلُ العراقيين في الصفات في الحيوانات إلى ما نذكره الآن قالوا إذا أسلم في بعير فإنه يذكر سنه ويذكر أنه من نَعَم بني فلان إذا كانوا جمعاً كثيراً تكثر النَّعم فيهم ثم قالوا إن كان نعمهم لا تختلف كفى ذلك وإن كان نعمهم تختلف ففي المسألة قولان أحدهما أنا نكتفي بأقل الاسم على السن المذكور من نعم بني فلان كما نكتفي بأدنى درجات الجودة والقول الثاني أنه لا بد من الوصف إذا اختلفت صفات نَعَم بني فلان

Kelonggaran orang-orang Irak dalam hal sifat-sifat pada hewan telah sampai pada apa yang akan kami sebutkan sekarang. Mereka berkata: Jika seseorang melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) atas seekor unta, maka ia menyebutkan usianya dan menyebutkan bahwa unta itu berasal dari ternak milik Bani Fulan, jika mereka adalah suatu kelompok besar yang memiliki banyak ternak. Kemudian mereka berkata: Jika ternak mereka tidak berbeda-beda, maka itu sudah cukup. Namun jika ternak mereka berbeda-beda, maka dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat pertama, kami cukupkan dengan menyebut nama yang paling sedikit pada usia yang disebutkan dari ternak Bani Fulan, sebagaimana kami cukupkan dengan tingkat kualitas terendah. Pendapat kedua, harus ada penjelasan sifat jika sifat-sifat ternak Bani Fulan berbeda-beda.

وهذا الذي ذكروه انحلال عظيم وخروج بالكلية عن قياس الباب ورضا بالعماية والجهالة واعترافٌ بأن السلم في الحيوان مبناه على احتمال المجاهيل

Apa yang mereka sebutkan itu merupakan penyimpangan besar dan keluar sepenuhnya dari qiyās dalam permasalahan ini, serta merupakan penerimaan terhadap kebodohan dan ketidaktahuan, juga pengakuan bahwa akad salam dalam hewan didasarkan pada kemungkinan hal-hal yang tidak diketahui.

وشيخنا كان يتشوف إلى تنزيل السلم في الحيوان منزلة السلم في المكيلات والموزونات وطلب نهايات الأوصاف ومن أحاط باللفظ الذي نقلناه عنه تبين ذلك منه إذ قال رحمه الله الصفات المقصودة معلومة وعن كل صفة عبارة والقاعدة الاكتفاء بالأقل

Guru kami cenderung untuk menyamakan akad salam pada hewan dengan akad salam pada barang yang ditakar dan ditimbang, serta mencari batas akhir dari sifat-sifat (hewan tersebut). Barang siapa yang memahami ucapan beliau yang telah kami nukilkan, akan jelas hal itu darinya, ketika beliau berkata rahimahullah: “Sifat-sifat yang dimaksud telah diketahui, dan untuk setiap sifat ada ungkapannya, dan kaidahnya adalah mencukupkan dengan yang paling sedikit.”

فإذا بان المسلكان قلنا بعدهما لا شك أنا لو رُدِدنا إلى القياس المحض وأردنا أن ندرك من صحة السلم في المكيلات والمثليات والمتقوّمات القليلةِ الأوصاف جوازَ السلم في الحيوان سيّما في العبيد الوصائف منهم والمرموقين من الغلمان والخيل العربيات ما كنا نستدرك هذا

Maka apabila kedua metode itu telah jelas, kami katakan setelahnya: tidak diragukan lagi bahwa jika kita dikembalikan kepada qiyās murni dan kita ingin memahami dari sahnya salam pada barang-barang yang ditakar, barang-barang yang sejenis, dan barang-barang yang memiliki sedikit sifat, bolehnya salam pada hewan—terutama pada budak perempuan, budak laki-laki yang bernilai tinggi, serta kuda-kuda Arab—maka kita tidak akan dapat memahami hal ini.

والشافعي لم يعتمد معنى في السلم في الحيوان وإنما اعتمد أخباراً وردت في إقراض الحيوان وعلم أن السلم في معنى القرض

Syafi‘i tidak mendasarkan pendapatnya pada makna dalam salam pada hewan, melainkan ia berpegang pada hadis-hadis yang datang tentang meminjamkan hewan, dan ia mengetahui bahwa salam itu sejalan dengan makna qardh.

فليعتقد المنصف أن السلم في الحيوان لا يتصوّر أن يلتزم فيه كلّ ما يؤثر في الثمن أو يتعلق بغرض وإن أمكن التقريب فيما يؤثر في القيمة فَطَمَعُ ضبطِ الأعراض طمعٌ في غير مطمع فالوجه أن نقول معظم الأوصاف التي تضيق العبارة عنها نقائضها عيوب في الحيوانات فإطلاق العقد يغني عنها وهذا جنسٌ عظيم في الصفات

Maka hendaknya orang yang adil meyakini bahwa salam (jual beli pesanan) pada hewan tidak mungkin untuk mewajibkan di dalamnya setiap hal yang memengaruhi harga atau berkaitan dengan tujuan, meskipun masih dimungkinkan pendekatan dalam hal-hal yang memengaruhi nilai. Maka keinginan untuk menetapkan sifat-sifat (hewan) adalah keinginan terhadap sesuatu yang mustahil. Oleh karena itu, yang tepat adalah kita katakan bahwa sebagian besar sifat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, lawannya adalah cacat pada hewan, sehingga pengikatan akad secara umum sudah mencakupnya. Dan ini merupakan jenis yang penting dalam hal sifat-sifat.

ومما نذكره أن الأغراض في الحيوان لا ضبط لها والناس على اختلاف فيها ولو ذكر كل ما يقصد في جميع الحيوان انتهى الأمر إلى عزّة الوجود لا محالة وإذا وضح هذا في الخَلْق ثم ضمت الأخلاق إليها صار المسلمُ فيه عنقاءَ مُغرب

Perlu kami sebutkan bahwa tujuan-tujuan pada hewan tidak dapat dibatasi dan manusia berbeda pendapat mengenainya. Jika disebutkan semua tujuan yang dimaksudkan pada seluruh hewan, maka perkara ini pasti akan berujung pada sesuatu yang sangat langka adanya. Jika hal ini sudah jelas dalam hal penciptaan, kemudian ditambah lagi dengan akhlak, maka sesuatu yang dapat diterima dalam hal ini menjadi seperti burung anqa’ yang sulit ditemukan.

فإذا تنبه المتنبه لما ذكرناه قلنا بعده كل فنٍّ يعتبر في غير الحيوان فهو في الحيوان أولى بالاعتبار الصنف وهو يضاهي الأجناس والأنواع واللون وقد تمهد اعتباره والسن وهو يناظر الحداثة والعتق فيما تقدم ذكره ولم يعتبر العراقيون القدّ وهذا خطأ صريح ؛ فإنا وجدنا لذلك نظراً في العُمُد والجذوع ولكن الشَّبْرَ بالأشبار لست أراه؛ فإن مما يتعين محاذرته الوقوعَ في العزّة غيرَ أن أهل المعرفة يعرفون الطويلَ والرَّبعَ والقصيرَ والتنزيل على أدنى الدرجات قانونُ الكتاب فهذه الأمور لا بد منها والسلامة فيها غناء عظيم

Maka apabila seseorang yang memperhatikan telah memahami apa yang kami sebutkan, kami katakan setelahnya bahwa setiap aspek yang dipertimbangkan pada selain hewan, maka pada hewan lebih utama untuk dipertimbangkan, seperti jenis yang menyerupai genus dan spesies, serta warna yang telah dijelaskan pertimbangannya, dan umur yang sebanding dengan kemudaan dan keusangan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Namun, para ulama Irak tidak mempertimbangkan ukuran tubuh, dan ini adalah kesalahan yang nyata; karena kami menemukan adanya pertimbangan ukuran pada tiang-tiang dan batang pohon. Akan tetapi, mengukur dengan jengkal menurut ukuran tangan, saya tidak melihatnya tepat; sebab hal yang harus dihindari adalah jatuh pada kesulitan. Namun, para ahli mengetahui mana yang panjang, sedang, dan pendek, dan penetapan pada tingkatan terendah adalah kaidah dalam kitab. Maka hal-hal ini tidak boleh diabaikan, dan keselamatan di dalamnya adalah keuntungan yang besar.

وبقي وراء هذا شيئان أحدهما أن ضبط كل عضو بما يليق به وبما يقصد منه لا سبيل إليه وإن كانت القيم تختلف بهذا اختلافاً بيناً

Masih ada dua hal setelah ini. Pertama, bahwa mengatur setiap anggota tubuh sesuai dengan apa yang layak baginya dan sesuai dengan tujuan penggunaannya tidaklah mungkin dilakukan, meskipun nilai-nilainya memang berbeda secara jelas karena hal ini.

والكلام في صفاتٍ تداول أهل البصائر اللهج بها كالدَّعج والكَحَل وكون الوجه مُكَلْثماً أو أسيلاً وهذا موضع النظر فلم أر للعراقيين التعرضَ لهذا واعتبرها شيخنا فلو وصف في السلم عضواً أو أعضاء ولم ينته إلى العزة فلا بأس

Pembahasan mengenai sifat-sifat yang biasa dibicarakan oleh para ahli, seperti mata yang besar dan hitam, mata yang bercelak, wajah yang bulat penuh atau halus, merupakan hal yang perlu diteliti. Saya tidak melihat para ulama Irak membahas hal ini, namun guru kami telah mempertimbangkannya. Jika dalam akad salam seseorang menyebutkan satu anggota tubuh atau beberapa anggota tanpa sampai pada sifat yang langka, maka tidak mengapa.

ولكن لا يشترط الخوض فيه؛ إذ لو شرط الخوض فيه لاشترط استيعابه وفي الاستيعاب العزة وفي ذكر البعض قبل الانتهاء إلى العزة تحكم

Namun, tidak disyaratkan untuk membahasnya; sebab jika pembahasan itu disyaratkan, maka akan disyaratkan pula untuk mencakup seluruhnya, padahal mencakup seluruhnya adalah hal yang sulit, dan menyebut sebagian sebelum mencapai kesulitan adalah tindakan yang sewenang-wenang.

فإن قيل ليصف إلى أن ينتهي إلى إمكان العزة قلنا من أي طرف يبتدىء

Jika dikatakan, “Hendaklah ia mendeskripsikan hingga sampai pada kemungkinan al-‘izzah (kemuliaan/kekuasaan),” kami katakan, “Dari sisi mana hendak memulai?”

فإن قال قائل فما قولكم في التعرض لكونها خميصةً مثقلةَ الأرداف ريانة السيقان شَثنِةَ الأصابع قلنا هذا كالكَحَل والدعج وقد مضى قول الأصحاب فيه

Jika ada yang bertanya, “Lalu apa pendapat kalian tentang menyebutkan bahwa ia mengenakan khamisah, berpinggul besar, betisnya montok, dan jari-jarinya kasar?” Kami katakan: Ini seperti menyebutkan celak mata dan mata yang indah, dan pendapat para ulama telah dijelaskan sebelumnya tentang hal ini.

فقد تَنَخَّل من مجموع ما ذكرناه أنه يذكر في الحيوان ما يذكر في سائر الأجناس التي يُسلَم فيها أو يذكر فيها ما يداني المذكورَ فيها كما ذكرناه في الطول والقصر فإنه يداني القدر في المقدَّرات أو الطولَ في المذروعات

Maka telah tersaring dari keseluruhan yang telah kami sebutkan bahwa pada hewan disebutkan apa yang disebutkan pada jenis-jenis lain yang diakui di dalamnya, atau disebutkan di dalamnya hal yang mendekati apa yang disebutkan pada jenis-jenis tersebut, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada panjang dan pendek, karena hal itu mendekati ukuran pada hal-hal yang ditakar, atau panjang pada hal-hal yang diukur.

ووصف كل عضو مع إمكانه لا يشترط وكل صفة نقيضها عيب فلا حاجة إلى ذكرها وهي كثيرة والأمور الجُمليّة التي تذكر في الترغيبات وتوجيه الطلبات نحو الحيوانات كالكَحَل والدعج ودِقة الخصر وثقل الأرداف وتكلثُم الوجه وما في معانيها في محل الخلاف لم يشترطها العراقيون وشرطها المراوزة

Deskripsi setiap anggota tubuh jika memungkinkan tidak disyaratkan, dan setiap sifat yang lawannya adalah cacat tidak perlu disebutkan karena jumlahnya banyak. Hal-hal umum yang biasanya disebutkan dalam anjuran dan penawaran, seperti pada hewan—misalnya mata yang indah, mata yang besar dan hitam, pinggang yang ramping, pinggul yang besar, wajah yang bulat, dan makna-makna serupa yang menjadi bahan perbedaan pendapat—tidak disyaratkan oleh para ulama Irak, namun disyaratkan oleh para ulama Marw.

وموضع زلل العراقيين قولهم لا يشترط القدّ وذكره وهذا خطأ؛ فإن أهل العراق مطبقون على ذكره والقيمةُ تختلف به ولا يفضي الأمر إلى العزة وهو على مضاهاة الأقدار في المقدَّرَات ولا شكّ أن الحِرفَ وإن كانت مقصودة فلا يشترط التعرض لها

Kesalahan orang-orang Irak terletak pada pernyataan mereka bahwa tidak disyaratkan adanya ukuran dan penyebutannya, dan ini adalah kekeliruan; sebab para ulama Irak sepakat untuk menyebutkannya, dan nilai (barang) berbeda karenanya, serta hal itu tidak akan mengakibatkan kelangkaan. Hal ini serupa dengan penetapan ukuran dalam hal-hal yang ditakar, dan tidak diragukan lagi bahwa keahlian (dalam pekerjaan) meskipun menjadi tujuan, tidak disyaratkan untuk disebutkan secara khusus.

وكنا نذكر للشيخ أبي محمد الملاحة وكان ينقل عن شيخه القفال تردداً في اشتراطها تارة كان يقول ليست الملاحة معنىً بل كل يشتهي فنّاً ويستملح صفة وقد يستقبح غيرُه تلك الصفة وهذا في تناصف الخلق وفي عُرْض الاعتدال من غير خروج إلى حد العيب

Kami pernah menyampaikan kepada Syekh Abu Muhammad tentang keelokan, dan beliau menukil dari gurunya, al-Qaffal, adanya keraguan dalam mensyaratkannya. Terkadang beliau berkata bahwa keelokan bukanlah suatu makna tertentu, melainkan setiap orang menginginkan suatu bentuk dan menganggap suatu sifat itu elok, sementara orang lain mungkin menganggap sifat tersebut buruk. Hal ini berlaku pada orang-orang yang memiliki fisik yang seimbang dan berada dalam batas-batas kewajaran, tanpa keluar menuju batas cacat.

وكان شيخنا يميل إلى اعتبار الملاحة ويقول هي صفة معلومة لا ينكرها أهل المعرفة ثم التنزيل على ما ينطلق عليه الاسم

Guru kami cenderung mempertimbangkan aspek keindahan dan berkata bahwa keindahan adalah sifat yang diketahui dan tidak diingkari oleh orang-orang yang memahami, kemudian penerapannya pada sesuatu yang layak disebut demikian.

فهذا منتهى الإمكان في ذلك ومبناه على اعتقاد خروج الحيوان عن قياس الباب وقد يتفق السلم في حيوان ينضبط بصفات معدودة من غير عُسرٍ ولا عزة فيجب التشوّفُ إلى الضبط فيه

Ini adalah batas maksimal yang mungkin dalam hal itu, dan dasarnya adalah keyakinan bahwa hewan keluar dari qiyās bab ini. Namun, terkadang akad salam pada hewan dapat dilakukan dengan kriteria yang dapat dibatasi dengan sejumlah sifat tertentu tanpa kesulitan atau keberatan, sehingga perlu memperhatikan ketelitian dalam hal ini.

بَابُ مَا لاَ يَجُوزُ فِيْهِ السَّلمُ

Bab tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam salam

ذكر الشافعي رحمة الله عليه في الباب الأول ما يجوز السلم فيه وأراد الإيناس بذكر الأوصاف فذكر أجناساً وأشار في كل جنسٍ إلى ما يليق به ومقصوده في هذا الباب أن يُبيّن ما لا يجوز السلم فيه ويشير إلى وجوه امتناع الوصف حتى يجتمع للناظر من الباب الأول وهذا الباب ما يفيد الامتناعَ وما يفيد التجويز وقد صدر الباب بالنَّبل فقال لا يجوز السلم في النَّبل

Imam Syafi‘i rahimahullah menyebutkan dalam bab pertama tentang apa saja yang boleh dilakukan akad salam padanya, dan beliau bermaksud memberikan pemahaman dengan menyebutkan sifat-sifatnya. Beliau menyebutkan berbagai jenis dan memberi isyarat pada setiap jenis tentang hal-hal yang sesuai dengannya. Tujuannya dalam bab ini adalah untuk menjelaskan apa saja yang tidak boleh dilakukan akad salam padanya, serta menunjukkan alasan-alasan tidak bolehnya sifat tertentu, sehingga bagi pembaca dapat terkumpul dari bab pertama dan bab ini hal-hal yang menunjukkan larangan maupun yang menunjukkan kebolehan. Bab ini diawali dengan pembahasan tentang anak panah, di mana beliau mengatakan bahwa tidak boleh melakukan akad salam pada anak panah.

والأمر على ما قال وسبب المنع التركّب من أركانٍ الخشبُ والعَقَب والريش والنصل في مكان الرَّعْظ وكل جنس من هذه الأجناس مقصود القدر في السهم وهو مجهول وفيه التخريط والأخذ في الدقة عن غِلظ وهو يتضمن جهالة والغرض يختلف به اختلافاً بيّناً هذا معلومٌ لا يلزم عليه إلا أن يعارَض بالحيوان

Keadaannya memang seperti yang telah dikatakan, dan sebab larangan tersebut adalah karena komponen-komponen anak panah terdiri dari beberapa bagian: kayu, ekor, bulu, dan mata panah yang diletakkan di tempat raa‘zh. Setiap jenis dari bagian-bagian ini dimaksudkan untuk mencapai ukuran tertentu pada anak panah, namun ukuran tersebut tidak diketahui secara pasti, dan di dalamnya terdapat ketidakjelasan serta upaya untuk mencapai ketelitian dari ketebalan, yang mengandung unsur ketidaktahuan. Tujuan penggunaan anak panah pun sangat berbeda-beda karenanya, dan hal ini sudah diketahui serta tidak dapat dihindari, kecuali jika dibandingkan dengan hewan.

وقد ذكرنا أنه خارج عن قياس الباب وقد انتهض بعض الأصحاب للانتصار فقال أفراد أركان الحيوان ليست مقصودة وإنما المقصود البنية ولا شفاء في هذا ما لم يحط المرء بما ذكرناه

Kami telah menyebutkan bahwa hal itu di luar qiyās dalam bab ini, dan sebagian sahabat telah berusaha membela dengan mengatakan bahwa bagian-bagian tubuh hewan secara individu bukanlah tujuan, melainkan yang dimaksud adalah keseluruhan struktur tubuhnya. Namun, tidak ada penjelasan yang memadai dalam hal ini selama seseorang belum memahami apa yang telah kami sebutkan.

ويجوز السلم في خشب النَّبل وفي بيع السهم وعليه الريش نظرٌ؛ لمعنىً في بيع العين؛ فان الريش المستعمل على النشاب نجس على القول الظاهر وقد يقع الكلام في تفريق الصفقة على تنجيس الريش فالوجه بيع النشابة دون الريش فيكون كبيع ثوب متضمخ بالنجاسة

Diperbolehkan akad salam pada kayu anak panah dan dalam jual beli anak panah yang sudah ada bulunya terdapat perincian; karena ada pertimbangan dalam jual beli barang itu sendiri. Sebab bulu yang digunakan pada anak panah dianggap najis menurut pendapat yang kuat, dan terkadang muncul persoalan mengenai pemisahan akad terhadap penajisan bulu tersebut. Maka yang tepat adalah menjual anak panah tanpa bulunya, sehingga keadaannya seperti menjual kain yang terkena najis.

فصل

Bab

قال ولا في اللؤلؤ ولا في الزبرجد إلى آخره

Ia berkata: “Dan tidak (ada zakat) pada mutiara maupun pada zamrud, hingga akhirnya.”

قال أصحابنا يمتنع في النفائس من هذه الجواهر وعلل بعضُهم بأن الضبط غيرُ ممكن وليس الأمر كذلك؛ فإن الضبط غيرُ مقصودٍ على أقصى الوجوه فيقال ياقوتة وزنها كذا وشكلها كذا لحمية أو جمرية أو وردية أو رمانية

Para ulama kami berpendapat bahwa tidak diperbolehkan dalam barang-barang berharga dari permata-permata ini, dan sebagian dari mereka beralasan bahwa penentuan secara pasti tidak mungkin dilakukan. Namun, kenyataannya tidak demikian; sebab penentuan secara pasti bukanlah tujuan utama dalam segala hal. Maka dapat dikatakan: zamrud dengan berat sekian, bentuknya seperti ini, warnanya merah daging, merah bara, merah mawar, atau merah delima.

ويقال لؤلؤة مدحرجة صافية اللون براقة البياض وزبرجد أخضر ريحاني أو سِلْقي

Dikatakan: mutiara yang menggelinding, jernih warnanya, berkilauan putihnya, dan zamrud hijau seperti daun kemangi atau seperti daun seledri.

فسبب المنع أن الأوصاف إن لم تذكر كان السلم فيه مجهولاً وإن ذكرت جَرَّت عزة

Penyebab pelarangannya adalah bahwa jika sifat-sifatnya tidak disebutkan, maka akad salam menjadi tidak jelas; dan jika disebutkan, akan menyebabkan kelangkaan.

والسلم في اللآلىء الصغار التي تباع وزنا ولا يُجرّدُ النظرُ إلى آحاد حباتها جائزٌ

Dan akad salam pada mutiara-mutiara kecil yang dijual berdasarkan timbangan dan tidak diperhatikan satu per satu butirannya adalah diperbolehkan.

وكان شيخي يقول يجوز السلم في الدرّ التي يُتحلَّى بها إذا لم تثقل وكان في الحبة سدس مثلاً؛ فإن هذا لا يعز وجوده

Guru saya berkata, boleh melakukan akad salam pada mutiara yang digunakan untuk perhiasan jika tidak terlalu berat dan pada setiap butirnya terdapat sepertiga atau seperenam misalnya; karena hal ini tidak sulit ditemukan.

ومنع بعض الأصحاب ذلك فإن اتفاق السدس من غير مزيد ولا نقصان مع استجماع الصفات المرعية نادر والمسألة محتملة

Sebagian ulama melarang hal itu, karena kesesuaian sepertiga tanpa ada tambahan atau pengurangan dengan terpenuhinya sifat-sifat yang diperhatikan adalah sesuatu yang jarang terjadi, dan masalah ini masih memungkinkan untuk diperdebatkan.

فإذاً مدار الفصل على الجهالة والإفضاء إلى العزة وأن يكون المرء محيطاً بمسائلِ السلم؛ حتى يضع السلم في الحيوان نبذة في فكره لا يقيس بها شيئاً

Jadi, inti permasalahan terletak pada ketidaktahuan dan berujung pada kesulitan, serta seseorang harus memahami masalah-masalah salam secara menyeluruh; agar ia tidak menerapkan akad salam pada hewan hanya berdasarkan gambaran sepintas dalam pikirannya tanpa melakukan qiyās apa pun.

ولا نقيسها على شيء ويجري في تفريعها جريان من لم يدرك أصله بقياسه وإنما زعه على قدر الضرورة

Kami tidak melakukan qiyās terhadapnya dengan sesuatu pun, dan dalam pengembangannya berlaku seperti orang yang tidak mengetahui asal hukumnya lalu melakukan qiyās; ia hanya melakukannya sebatas kebutuhan yang mendesak.

فصل

Bab

قال الشافعي وأرى الناس تركوا وزن الرؤوس إلى آخره

Syafi‘i berkata, “Dan aku melihat orang-orang telah meninggalkan penimbangan kepala hingga akhirnya.”

السلمُ في الرؤوس والأكارع قبل التنقية غير جائز لما عليها من الصوف والشعر والمقصود مستتر بها

Salam dalam transaksi jual beli kepala dan kaki hewan sebelum dibersihkan tidak diperbolehkan, karena masih terdapat bulu dan rambut di atasnya, sedangkan bagian yang menjadi tujuan transaksi masih tertutup olehnya.

وفي السلم فيها بعد التنقية قولان أحدهما الجواز كالسلم في لحم الفخذ وغيره من الأعضاء والثاني لا يجوز؛ لأنه يختلف اختلافا متبايناً في المشافر والمناخر وعظم اللحيين وعظم الأسنان واللسان فقد يعظم منها ما لا يؤكل إلا على تكره ويصغر منها ما يقصد وهذا يختص بالرأس والتجويز في الأكارع أقرب

Dalam akad salam atas kepala hewan setelah dibersihkan, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama membolehkan, sebagaimana salam pada daging paha dan anggota tubuh lainnya. Pendapat kedua tidak membolehkan, karena terdapat perbedaan yang sangat mencolok pada bibir, lubang hidung, tulang rahang, tulang gigi, dan lidah; bisa jadi ada bagian yang membesar sehingga tidak layak dimakan kecuali dengan rasa enggan, dan ada bagian yang mengecil padahal itu yang diinginkan. Hal ini khusus pada kepala, sedangkan kebolehan pada kaki hewan (al-akāri‘) lebih dekat (kepada kebenaran).

ثم من صحح السلم شرط الوزن

Kemudian, di antara mereka yang membolehkan akad salam, mensyaratkan adanya penimbangan.

وذكر بعد هذا منعَ السلم في الجلود يعني الجلودَ الطاهرة؛ فإنها لا تنضبط بتشكيل وفيها انعطافات متباينة والغرض من الأَدَم لا ينحصر على الوزن فالسلم إذاً فيها كالسلم في ثوب من غير ذرعٍ

Setelah itu disebutkan larangan salam (jual beli salam) pada kulit, yaitu kulit yang suci; karena kulit tersebut tidak dapat diukur dengan bentuk tertentu dan memiliki lekukan-lekukan yang berbeda-beda, sedangkan tujuan dari adam (kulit olahan) tidak terbatas pada berat saja, maka salam pada kulit sama seperti salam pada kain tanpa ukuran panjang.

ولو قطعت وشكلت أشكالاً تقبل المساحة كالنعال السبتية ففي السلم فيها وجهان أحدهما وهو الأصح الجواز والثاني المنع؛ لأن ثخانتها ودقتها خارجان عن الحصر وأطراف الأدَم متفاوتة في ذلك ولا يتأتى درك الجميع بسَبْر طرفٍ

Jika kulit dipotong dan dibentuk menjadi bentuk-bentuk yang dapat diukur luasnya, seperti sandal Sabtiyyah, maka dalam akad salam atas barang tersebut terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang lebih sahih, adalah boleh; pendapat kedua adalah tidak boleh, karena ketebalan dan ketipisannya tidak dapat dibatasi, dan tepi-tepi kulit berbeda-beda dalam hal itu, serta tidak mungkin mengetahui semuanya hanya dengan memeriksa salah satu sisinya.

والأصح الصحة والاعتمادُ على الوزن لا محالة ولا التفات إلى الحيوان

Pendapat yang paling sahih adalah sah dan yang dijadikan sandaran adalah timbangan, tidak diragukan lagi, dan tidak perlu memperhatikan (berpatokan pada) hewan.

ولا يصح السلم في الخفاف والصنادل؛ لأنها مجهولة كالنشاشيب

Tidak sah akad salam dalam jual beli khuf (sepatu kulit) dan sandal, karena keduanya tidak diketahui (spesifikasinya) seperti nashashib (jenis barang yang tidak jelas).

وإذا امتنع السلم في النشاب فالقوس المركب وهو قوس العجم أولى بالمنع

Jika akad salam tidak diperbolehkan pada anak panah, maka busur majemuk, yaitu busur ‘ajam, lebih utama untuk dilarang.

والنَّبعة التي يتخذ منها قوس العرب بأخذٍ في التخريط من الطرفين فتتطرق إليه الجهالة

Kayu nab‘ah yang digunakan untuk membuat busur oleh orang Arab diambil dengan cara dipangkas dari kedua ujungnya, sehingga terdapat unsur ketidakjelasan (jahālah) padanya.

والأواني المنطبعة إن كانت على شكل واحد لا تفاوت فيها تضايقاً واتساعاً جاز السلم فيها والاعتماد على الوزن وإن كانت تختلف أشكالُها تضايقاً واتساعاً فالسلم يمتنع

Wadah-wadah yang dicetak, jika memiliki satu bentuk yang tidak berbeda dalam hal sempit atau luasnya, maka boleh melakukan salam (jual beli salam) atasnya dan boleh mengandalkan timbangan. Namun jika bentuk-bentuknya berbeda dalam hal sempit atau luasnya, maka salam tidak diperbolehkan.

هذا مجموع ما ذكره رضي الله عنه

Inilah keseluruhan apa yang telah beliau sebutkan, semoga Allah meridhainya.

بَابُ التَّسْعِير

Bab Penetapan Harga

وهل ينادي منادي الإمام في البلد ويأمر بسعرٍ مقدرٍ في جنس حتى لا يتعدَّوْه

Apakah muadzin imam di kota boleh menyerukan dan memerintahkan harga tertentu pada suatu jenis barang agar tidak melampauinya?

فنقول ليس للإمام هذا في رخاء الأسعار وسكون الأسواق؛ فإنه حجرٌ على الملاك وهو ممتنع فأما إذا غلت الأسعار واضطر الناسُ فهل يجوز للإمام أن يسعّر فيه وجهان مشهوران أحدهما المنع طرداً للقياس الكلي والثاني الجواز نظراً إلى مصلحة العامة وقد روي أن عمرَ بن الخطاب رضي الله عنه مر بحاطب بن أبي بلتعة وبين يديه غَرارتان فيهما زبيب فسأله عن سعره فَسَعَّر مُدَّين بدرهم فرآه عمرُ غالياً وقال حُدّثتُ بعِيرٍ مقبلة من الطائف تحمل زبيباً وهم يعتبرون بسعرك فإما أن ترفع في السعر وإمَا أن تدخل زبيبك البيتَ فتبيعه كيف شئت وأراد برفع السعر الزيادة في وزن الزبيب

Maka kami katakan, imam tidak memiliki hak untuk melakukan penetapan harga (tas‘īr) pada saat harga-harga stabil dan pasar tenang; karena hal itu merupakan pembatasan terhadap para pemilik barang dan hal tersebut tidak diperbolehkan. Adapun jika harga-harga melambung tinggi dan masyarakat mengalami kesulitan, maka apakah imam boleh melakukan penetapan harga? Ada dua pendapat yang masyhur: yang pertama melarang, mengikuti qiyās secara umum; dan yang kedua membolehkan, dengan mempertimbangkan kemaslahatan umum. Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khattab ra. pernah melewati Hāṭib bin Abī Balta‘ah yang di hadapannya terdapat dua karung berisi kismis. ‘Umar bertanya tentang harganya, lalu Hāṭib menetapkan dua mud seharga satu dirham. ‘Umar memandang harga itu terlalu mahal dan berkata, “Aku mendengar ada kafilah unta datang dari Ṭā’if membawa kismis, dan mereka akan menyesuaikan harga dengan harga yang kamu tetapkan. Maka, naikkanlah harga—maksudnya tambahkan berat kismisnya—atau masukkan kismismu ke rumah, lalu juallah sesukamu.”

ومن منع التسعير احتج بما روي عن أنس أنه قال غلت الأسعار بالمدينة وقلنا يا رسول الله لو سعرت لنا! فقال عليه السلام إن الله هوَ المسعر القابض الباسط الرازق وإني لأرجو أن ألقى الله تعالى وليس لأحد منكم مظلمة في دم ولا مال وأما حديث عمر فقد روي أنه كان يحاسب نفسه كل ليلة بما جرى له في نهاره فروي أنه فعل ذلك فوجد فيما جرى له في يومه تسعيره على حاطب فندم وأتاه في جوف الليل وقال له إن الذي قلتُ ليس بعزيمة ولا قضاء وإنما هو شيء أردت به الخير لأهل البلد فحيث شئت فبع وكليف شئت فبع

Orang yang melarang penetapan harga berdalil dengan riwayat dari Anas yang berkata: Harga-harga naik di Madinah, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau menetapkan harga untuk kami!” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menyempitkan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki. Aku berharap dapat bertemu Allah Ta’ala dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku atas kezaliman dalam darah maupun harta.” Adapun hadis Umar, diriwayatkan bahwa beliau biasa menghisab dirinya setiap malam atas apa yang terjadi padanya di siang hari. Diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukan hal itu dan mendapati bahwa pada hari itu beliau telah menetapkan harga atas Hatib, lalu beliau menyesal dan mendatanginya di tengah malam seraya berkata kepadanya, “Apa yang aku katakan itu bukanlah ketetapan yang mengikat dan bukan pula keputusan, melainkan sesuatu yang aku maksudkan untuk kebaikan penduduk negeri ini. Maka, di mana pun engkau mau, juallah, dan dengan cara apa pun engkau mau, juallah.”

فصل

Bab

روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الجالب مرزوق والمحتكر ملعون وقال عليه السلام من احتكر طعاماً أربعين يوماً يقصد به الغلاء على الناس برئت منه ذمة الله

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang membawa barang dagangan akan diberi rezeki, dan orang yang menimbun barang terlaknat.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menimbun makanan selama empat puluh hari dengan maksud menaikkan harga atas manusia, maka lepaslah perlindungan Allah darinya.”

والجالب هو الذي يجلب الطعام إلى البلد وقتَ الضيق والغلاء ليوسع على المسلمين وهو على مضادة المحتكر؛ فإن المحتكر هو الذي يحبس الطعام حتى تزداد الأسعار غلاءً وارتفاعاً

Orang yang membawa barang adalah orang yang mendatangkan makanan ke suatu daerah pada masa kesulitan dan mahalnya harga, agar memberikan kelapangan bagi kaum Muslimin. Ia berlawanan dengan muhtakir; karena muhtakir adalah orang yang menahan makanan hingga harga-harga semakin mahal dan naik.

ثم قال الأصحاب المحتكر الذي يلحقه اللعن والوعيد صاحب مال يشتري الطعامَ ويحبسه ولا يتركه حتى يشتريه المساكين والضعفاء

Kemudian para ulama berkata, orang yang melakukan ihtikar (penimbunan) yang terkena laknat dan ancaman adalah pemilik harta yang membeli makanan lalu menimbunnya, dan tidak melepaskannya hingga orang-orang miskin dan lemah membelinya.

فأما من يشتري الطعام في وقت الرخص وكساد الأسواق ويحبسه ليبيعه إذا غلا فلا بأس؛ فإن أصل احتكاره وتربّصه كان في رخاء الأسعار حيث لا ضرار وربما يكون ما ادخره قائماً مقام الذُّخر للناس ولولا ادخاره لكان يضيع ويتفرق

Adapun orang yang membeli makanan pada saat harga murah dan pasar lesu, lalu menyimpannya untuk dijual ketika harga naik, maka tidak mengapa; karena asal mula penimbunannya dan penantiannya terjadi pada saat harga murah di mana tidak ada mudarat, dan bisa jadi apa yang ia simpan itu menjadi cadangan bagi masyarakat, dan kalau bukan karena ia menyimpannya, niscaya makanan itu akan rusak dan tercecer.

وكذلك من اتفقت له غَلة من ضيعته فحبسها على أي قصد أراد لم يتعرض للوعيد

Demikian pula, siapa saja yang memperoleh hasil dari tanah miliknya lalu menahannya untuk tujuan apa pun yang ia kehendaki, maka ia tidak terkena ancaman (dosa).

والقول في هذا الآن يتعلق بقطب عظيم وهو أن الناس إذا كانوا يتهاوَوْن على الرَّديء وقد أسرع فيهم المَوَتَانُ العظيم الذريع وانتهى كل واحدٍ إلى استحلال الميتة وطعام الغير فالقول في هذا وفي كل ما يدّخره كل إنسان لنفسه ولعياله ليس بالهين

Pembahasan mengenai hal ini sekarang berkaitan dengan pokok yang sangat penting, yaitu bahwa ketika manusia saling berebut terhadap sesuatu yang buruk, dan kematian besar yang dahsyat telah menimpa mereka dengan cepat, hingga masing-masing dari mereka sampai pada membolehkan bangkai dan makanan milik orang lain, maka pembicaraan tentang hal ini dan tentang segala sesuatu yang disimpan oleh setiap orang untuk dirinya dan keluarganya bukanlah perkara yang ringan.

وسأذكر فيه في باب المضطر أصلاً يرقى عن مجال الفقهاء وننبه على قاعدة عظيمة إن شاء الله عز وجل

Dan aku akan menyebutkan di dalamnya, pada bab tentang orang yang dalam keadaan darurat, suatu prinsip yang melampaui ranah para fuqaha, dan kami akan menunjukkan sebuah kaidah agung, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

بَابُ امْتِنَاعِ ذِي الحق

Bab Penolakan oleh Pemilik Hak

إذا أتى المسلَمُ إليه بما عليه على الصفات المطلوبة فلا كلام وإن أتى بجنسٍ آخر فهو الاعتياض عن المسلم فيه وهو باطل

Jika pihak yang menerima salam menyerahkan barang yang menjadi kewajibannya sesuai dengan sifat-sifat yang disyaratkan, maka tidak ada masalah. Namun jika ia menyerahkan jenis barang lain, maka itu berarti mengganti barang yang menjadi objek salam, dan hal itu batal.

وإن كان أجودَ مما وُصف جاز قبولُه وإن قال لا أقبله ولا أتقلّد المنة فالأصح أنه يجبر على قبوله

Jika barang itu lebih baik daripada yang telah dijelaskan, maka boleh diterima. Jika ia berkata, “Saya tidak mau menerimanya dan tidak mau menanggung budi,” maka pendapat yang paling sahih adalah ia dipaksa untuk menerimanya.

ومن أصحابنا من قال لا يجبر؛ لمكان المنّة وهي ثقيلة على ذوي المروءات

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak boleh dipaksa; karena adanya unsur pemberian (anugerah), yang terasa berat bagi orang-orang yang memiliki harga diri.

ولو أتى بأردأ مما وصف لم يلزم المسلِمَ القبولُ وإن قبل محابياً جاز وإن أتى بنوعٍ آخر والجنسُ متحد مثل أن يقع السلم في الزبيب الأبيض فيأتي بالزبيب الأسود أو الطائفي ففي المسألة وجهان عند التراضي أحدهما يصح قبوله ولا يكون اعتياضاً والثاني لا يجوز قبوله؛ فإن اختلاف النوع كاختلاف الجنس

Jika penjual menyerahkan barang yang lebih buruk dari yang telah disepakati, maka pembeli tidak wajib menerimanya. Namun, jika pembeli menerimanya karena ingin bermurah hati, maka itu diperbolehkan. Jika penjual menyerahkan jenis lain sementara jenisnya masih satu, seperti akad salam atas kismis putih lalu diserahkan kismis hitam atau kismis Thaif, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat ketika kedua belah pihak saling rela: pertama, boleh diterima dan itu tidak dianggap sebagai tukar-menukar; kedua, tidak boleh diterima, karena perbedaan jenis dianggap seperti perbedaan jenis barang.

ولو أسلم في الحنطة النفيسة فأتى بالخسيسة فمن أئمتنا من جعل ذلك كاختلاف النوع حتى يخرج على الخلاف ومنهم من جعل النوع واحداً وجعل هذا اختلافَ صفة مع اتحاد النوع

Jika seseorang melakukan akad salam dalam gandum yang berkualitas tinggi, lalu ia menyerahkan gandum yang berkualitas rendah, maka sebagian ulama kami menganggap hal itu seperti perbedaan jenis sehingga masuk dalam ranah khilaf, sementara sebagian yang lain menganggapnya tetap satu jenis dan perbedaan ini hanya pada sifat dengan tetap satu jenis.

وإذا جاء بعبد هندي والمسلَمُ فيه تركي فطريقان منهم من جعله كاختلاف الجنس ومنهم من جعله كاختلاف النوع على ما مضى

Jika seseorang membawa seorang budak India, sedangkan musallam fīh-nya adalah seorang Turki, maka ada dua pendapat: sebagian ulama menganggapnya seperti perbedaan jenis (jins), dan sebagian lagi menganggapnya seperti perbedaan macam (naw‘), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو أسلم في الحنطة لم يُقبل التراب والتبن فيه وقد ضبطت هذا في كتاب الربا وبيّنت القدرَ المحتمل منه

Jika seseorang melakukan akad salam dalam gandum, maka tanah dan jerami yang terdapat di dalamnya tidak diterima. Hal ini telah aku catat dalam Kitab Riba dan aku telah menjelaskan kadar yang masih dapat ditoleransi darinya.

وإذا أسلم في التمر فأتى بالرطب من ذلك النوع فطريقان منهم من جعل الرطب مع التمر نوعين ومنهم من جعلهما نوعاً واحداً

Jika seseorang melakukan akad salam dalam kurma kering, lalu ia membawa kurma basah dari jenis yang sama, terdapat dua pendapat: sebagian ulama menganggap kurma basah dan kurma kering sebagai dua jenis yang berbeda, sementara sebagian lainnya menganggap keduanya sebagai satu jenis.

وإذا أسلم في لحم الطير لم يُقبل الرأس والرجل يعني ما لا لحم عليه من الرجل

Dan apabila seseorang mengucapkan basmalah ketika menyembelih daging burung, maka kepala dan kaki tidak diterima, maksudnya adalah bagian kaki yang tidak ada dagingnya.

ولو أسلم في لحم السمك لم يقبل الرأس والذنب؛ لأن مطلق اسم اللحم لا ينصرف إليه ولا يقتضيه وليس كالعظم في أثناء اللحم؛ فإنه كالنوى في التمر وقد جرى العرف بتنحية الرأس والذنب في السمك

Jika seseorang mewakafkan daging ikan, maka kepala dan ekornya tidak termasuk; karena istilah umum “daging” tidak merujuk kepadanya dan tidak mengharuskannya. Ini berbeda dengan tulang yang berada di tengah daging; karena ia seperti biji kurma dalam buah kurma, dan telah menjadi kebiasaan untuk memisahkan kepala dan ekor pada ikan.

وفي هذا نظر عندي فأقول إن أسلم في لحم السمك فالأمر على ما قال الأصحاب وإن أسلم في السمك فلا يكلف تنحية الرأس والذنب والعلم عند الله

Menurut pendapat saya, dalam hal ini terdapat pertimbangan. Saya katakan, jika seseorang melakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) untuk daging ikan, maka urusannya sebagaimana yang dikatakan para ulama. Namun, jika salam dilakukan untuk ikan secara utuh, maka tidak diwajibkan untuk memisahkan kepala dan ekornya. Dan ilmu yang benar hanya milik Allah.

وأجنحة الطائر تُمَعَّط فيقع التسليم بعد ذلك ويجوز أن يقال يزال ذنب السمك وجناحه؛ فإن الحيتان صحيحة الأوساط وكأنها طيور الماء

Sayap burung dicabuti bulunya, lalu setelah itu dilakukan penyerahan. Boleh juga dikatakan bahwa ekor dan sirip ikan dihilangkan; sebab ikan memiliki tubuh bagian tengah yang utuh dan seakan-akan mereka adalah burung air.

ثم ذكر الشافعي أنه إذا أسلم في مكيل وقبض وزناً أو في موزونٍ وقبض كيلاً فليس هذا قبضاً صحيحاً وهو بمثابة القبض جزافاً وقد قدمته في قبوض البيع على أكمل وجه

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa jika seseorang melakukan akad salam dalam barang yang ditakar lalu menerima dengan timbangan, atau dalam barang yang ditimbang lalu menerima dengan takaran, maka ini bukanlah penerimaan (qabdh) yang sah. Hal ini serupa dengan penerimaan secara sembarangan (jazāf), dan saya telah menjelaskannya dalam pembahasan penerimaan dalam jual beli dengan penjelasan yang paling sempurna.

فصل

Bab

قال ولو جاءه بحقه قبل مَحِلِّه إلى آخره

Ia berkata: “Dan seandainya ia datang kepadanya dengan haknya sebelum waktu jatuh temponya, hingga akhir.”

من عليه الحق إذا جاء به فلا يخلو إما أن يكون الحق حالا أو مؤجلاً فإن كان مؤجلاً وأتى به قبل الحلول نظر فإن كان لصاحب الحق غرضٌ في التأخير كأن كان حيواناً لا غنى به عن علف أو كان في وقت نهب وليس للمعطي غرض ظاهر إلاّ براءة الذمة وخيفة هجوم الموت فلا يجبر صاحب الحق على قبول حقه حيث انتهى التصوير إليه قولاً واحداً؛ فإن غرضه في الامتناع عن القبول لائح

Orang yang memiliki kewajiban, apabila ia membawa hak tersebut, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: hak itu bersifat segera (jatuh tempo) atau ditangguhkan (belum jatuh tempo). Jika hak itu ditangguhkan dan ia membawanya sebelum jatuh tempo, maka perlu dilihat: jika pemilik hak memiliki tujuan tertentu dalam penundaan, seperti hak itu berupa hewan yang tidak bisa lepas dari pakan, atau sedang berada di masa kerusuhan, sementara pihak yang memberi tidak memiliki tujuan yang jelas kecuali untuk membebaskan tanggungan atau takut kematian mendadak, maka pemilik hak tidak dipaksa untuk menerima haknya—menurut pendapat yang sampai pada tahap ini secara bulat—karena tujuannya menolak untuk menerima hak tersebut sudah jelas.

ولو لم يكن لمستحق الحق غرض ظاهرٌ في الامتناع من القبول وكان للمعجِّل غرض في التعجيل كالمكاتب يستفيد بالتعجيل العتقَ وكذلك من رهن بالدين المؤجل عليه رهناً فهو يطلب بتعجيل الدين فك الرهن ومن الأغراض الظاهرة أن يكون بالدين ضامن وكان من عليه الدين يحاول تفريغ ذمته

Jika pihak yang berhak menerima hak tidak memiliki tujuan yang jelas untuk menolak penerimaan, sedangkan pihak yang mempercepat pembayaran memiliki tujuan dalam mempercepat, seperti seorang mukatab yang memperoleh kemerdekaan dengan percepatan pembayaran, demikian pula seseorang yang menjaminkan barang atas utang yang belum jatuh tempo, lalu ia meminta percepatan pembayaran utang untuk melepaskan barang jaminan tersebut. Di antara tujuan yang jelas juga adalah jika dalam utang tersebut ada penjamin, dan orang yang berutang berusaha untuk membersihkan tanggungannya.

فإذا لم يكن لذي الحق غرض في الامتناع وظهر غرضُ المعجل أُجبر صاحبُ الحق على القبول

Jika pemilik hak tidak memiliki tujuan untuk menolak dan tampak ada tujuan dari pihak yang ingin mempercepat, maka pemilik hak dipaksa untuk menerima.

وإن لم يكن لواحدٍ منهما غرض لا لذي الحق في الامتناع ولا للمعجل ففي المسألة قولان أحدهما أن ذا الحق لا يجبر وله أن يبني الأمر على الوفاء بالأجل ويجعل المعجِّلَ كالمتبرع المعطي مزيداً وإذا كان كذلك فله الامتناع من تقلّد هذه المنة

Jika tidak ada kepentingan bagi salah satu dari keduanya, baik bagi pemilik hak untuk menolak maupun bagi pihak yang mempercepat, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa pemilik hak tidak dipaksa dan ia berhak mendasarkan urusan pada pemenuhan waktu yang telah ditetapkan, serta menganggap pihak yang mempercepat seperti orang yang bersedekah dengan memberikan tambahan. Jika demikian, maka ia berhak menolak untuk menerima keutamaan ini.

والقول الثاني أنه يجبر؛ فإن الأجل حق من عليه الدين فإن أسقطه لم يكن لمستحق الحق أن يمتنع وإذا كان أصل الحق يسقط بإبراء مستحقه من غير شرط القبول على الأصح فينبغي أن يسقط حق الأجل من غير حاجة إلى قبول من يستحق أصل الدين

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia menjadi gugur; karena tenggat waktu adalah hak orang yang memiliki utang, maka jika ia menggugurkannya, pihak yang berhak atas hak tersebut tidak boleh menolak. Jika pokok hak dapat gugur dengan pembebasan dari pihak yang berhak tanpa syarat penerimaan menurut pendapat yang lebih kuat, maka seharusnya hak atas tenggat waktu juga gugur tanpa memerlukan penerimaan dari pihak yang berhak atas pokok utang.

ولو كان لصاحب الحق غرض في الامتناع وكان للمعجل غرض ظاهر في التعجيل فالذي ذهب إليه الأكثرون أنا نرعى جانب مستحق الحق ونقطع بأنه لا يجبر لعذره اللائح ومن أصحابنا من جعل تقابل العذرين كسقوطهما وخرَّج المسألة على القولين كما ذكرناه

Jika pemilik hak memiliki tujuan tertentu dalam menolak (pemberian) dan pihak yang mempercepat (pembayaran) juga memiliki tujuan yang jelas dalam mempercepat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa kita lebih mengutamakan pihak yang berhak dan memutuskan bahwa ia tidak dipaksa karena ada uzur yang nyata. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa adanya dua uzur yang saling berhadapan dianggap seperti keduanya tidak ada, dan mereka membahas masalah ini berdasarkan dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.

ولو لم يكن للمستحق غرض في الامتناع وظهر غرضُ المؤدي فقد قطع الأصحاب بالإجبار في هذه الصورة

Jika pihak yang berhak tidak memiliki tujuan untuk menolak, dan justru tujuan itu tampak pada pihak yang hendak membayar, maka para ulama terkemuka telah menegaskan adanya pemaksaan dalam kasus ini.

ولو كان الدين سلماً فعمّ وجودُ المسلمِ فيهِ قبل الحلول وكان يخاف المسلَمُ إليه من انقطاع الجنس قبل الحلول؛ فهل يعد ذلك عذراً في جانب المعجِّل؛ حتى يبنى عليه ما تقدم من التفصيل في أعذار المعجِّل؛ فعلى وجهين أحدهما أنه عذرٌ؛ فإنه قد يترتب على التأخير انفساخ العقد أو حق فسخه والثاني أنه ليس بعذر؛ فإن العقد إن انفسخ رد رأس المال وسقط عنه الدين في مقابلة ما يرد

Jika utang itu berupa salam, lalu barang yang menjadi objek salam itu sudah ada sebelum jatuh tempo, dan pihak yang menerima salam khawatir jenis barang tersebut akan habis sebelum jatuh tempo; apakah kekhawatiran itu dianggap sebagai uzur bagi pihak yang membayar lebih dahulu, sehingga berlaku ketentuan yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai uzur pihak yang membayar lebih dahulu? Maka ada dua pendapat: pertama, hal itu dianggap sebagai uzur, karena penundaan bisa menyebabkan batalnya akad atau timbul hak untuk membatalkannya; kedua, hal itu tidak dianggap sebagai uzur, karena jika akad batal, maka modal dikembalikan dan utang gugur sebagai ganti dari apa yang dikembalikan.

هذا كله في الدين المؤجل إذا عجَّله مَن عليه

Semua ini berlaku pada utang yang jatuh tempo jika orang yang berutang melunasinya lebih awal.

فأما إذا كان الدين حالا فجاء به من عليه وامتنع المستحق من القبول ففي المسألة طريقان من أصحابنا من قال بإجبار ذي الحق فيقال له إما أن تقبل وإما أن تبرىء ذمته من الدين

Adapun jika utang itu telah jatuh tempo, lalu orang yang berutang datang membayarnya, namun pihak yang berhak menolak untuk menerima, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pihak yang berhak dapat dipaksa, sehingga dikatakan kepadanya: “Terimalah pembayaran ini atau bebaskanlah tanggungannya dari utang tersebut.”

ومن أصحابنا من ذكر في ذلك قولين أيضاً؛ فإن مستحق الدين يقول الحق لي وإليّ طلبه فليس لمن عليه الحق أن يحتكم عليَّ في طلب الحق

Sebagian ulama dari kalangan kami juga menyebutkan dalam hal ini terdapat dua pendapat; sebab orang yang berhak atas utang berkata, “Hak itu milikku dan aku yang berhak menuntutnya, maka orang yang memiliki kewajiban atas hak tersebut tidak berhak memaksaku dalam menuntut hak itu.”

ومما يجب التَنبُّهُ له أنا في الدين المؤجل فصلنا بين المعذور وبين ما لا عذر له وإذا حل الدين فنقول أما جانب مستحق الحق فلا يختلف بأن يكون معذوراً ووجه بيّن وأما المعطي فإن كان معذوراً أُجبر صاحبه على القبولِ قولاً واحداً

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam utang yang jatuh tempo, kami membedakan antara orang yang memiliki uzur dan yang tidak memiliki uzur. Jika utang telah jatuh tempo, maka dari sisi pihak yang berhak menerima, tidak ada perbedaan apakah ia memiliki uzur atau tidak, dan ini jelas. Adapun dari sisi pemberi (utang), jika ia memiliki uzur, maka pihak yang berhak menerima dipaksa untuk menerima (pembayaran) menurut satu pendapat.

ولم يجر القولان؛ من قِبَل أن العذر يوجب قبول ما يَنْقُدُه من الدين المؤجل فما الظن بالدين الحالّ

Kedua pendapat tersebut tidak berlaku; karena uzur menyebabkan diterimanya sesuatu yang membatalkan utang yang jatuh temponya masih ditangguhkan, maka bagaimana lagi dengan utang yang sudah jatuh tempo.

ثم إذا وجد العذر في الجانبين والدّين حال فصاحب الحق مجبر على القبول قولاً واحداً؛ فإنا قد أوضحنا أن عذر مستحق الدين لا اعتبار به إذا كان الدين حالاً

Kemudian, jika terdapat uzur pada kedua belah pihak dan utang telah jatuh tempo, maka pemilik hak wajib menerima (pembayaran) menurut satu pendapat; karena kami telah menjelaskan bahwa uzur dari pihak yang berhak menerima utang tidak dianggap jika utang tersebut telah jatuh tempo.

ثم حيث يجبر على القبول فإن لم يقبل قبض القاضي عنه أو أناب من يقبض

Kemudian, apabila seseorang dipaksa untuk menerima (sesuatu) namun ia tidak mau menerimanya, maka hakim akan mengambilnya atas namanya atau menunjuk seseorang untuk mengambilnya.

وإذا جرى ذلك فقد برئت ذمة المديون وكان المال أمانةً لمستحق الحق في يد الحاكم أو في يد من أنابه

Jika hal itu telah dilakukan, maka tanggungan utang si berutang telah bebas, dan harta tersebut menjadi amanah bagi yang berhak menerima haknya, baik di tangan hakim maupun di tangan orang yang ditunjuk olehnya.

وممّا يتصل بهذا أن من عليه الحق إذا ظفر بمستحق الحق في غير المكان المتعيّن شرعاً أو شرطاً وأراد إجبار مستحق الحق على القبول فالتفاوت في المكان كالتفاوت في الزمان فإن كان على الناقل مؤونة لم يجبر مستحق الحق على قبوله وهو يناظر في الزمان ما إذا ظهر غرض بيّن في الامتناع قبل الحلول

Terkait dengan hal ini, apabila seseorang yang memiliki kewajiban menemukan pihak yang berhak menerima hak tersebut di tempat yang bukan tempat yang telah ditentukan secara syar‘i atau berdasarkan syarat, lalu ia ingin memaksa pihak yang berhak untuk menerima, maka perbedaan tempat itu seperti perbedaan waktu. Jika pemindahan itu menimbulkan beban biaya bagi yang memindahkan, maka pihak yang berhak tidak dapat dipaksa untuk menerimanya. Hal ini serupa dalam masalah waktu, yaitu apabila terdapat alasan yang jelas untuk menolak sebelum waktu jatuh tempo.

وإن لم يكن في نقل المستحق مؤونة فهل يجبر مستحِق الحق على قبوله في غير المكان المستحق؛ فعلى القولين المقدمين فيه إذا جاء بالحق قبل حلول الأجل؛ فالتفاوت المكاني في الحكم الذي أردناه كالتفاوت الزماني

Jika dalam pemindahan hak tidak ada biaya, maka apakah orang yang berhak dipaksa untuk menerima haknya di tempat selain tempat yang seharusnya? Maka, menurut dua pendapat utama dalam masalah ini, jika seseorang membawa hak tersebut sebelum jatuh tempo, maka perbedaan tempat dalam hukum yang dimaksudkan di sini adalah seperti perbedaan waktu.

فرع

Cabang

تردد الأئمة في السلم في الثوب الذي يصبغ بعد نسجه فيما ذكره العراقيون فأجازه بعضهم وهو ما قطع به الإمام

Para imam berbeda pendapat mengenai salam (jual beli dengan pembayaran di muka) pada kain yang akan diwarnai setelah ditenun, sebagaimana disebutkan oleh para ulama Irak. Sebagian dari mereka membolehkannya, dan inilah pendapat yang ditegaskan oleh Imam.

ولا خلاف في جواز السلم في الثوب الذي ينسج بعد الصبغ

Tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya akad salam pada kain yang ditenun setelah dicelup.

ولا فرق؛ فإن عين الصبغ قائم في الثوبين

Tidak ada perbedaan; karena zat pewarna itu tetap ada pada kedua kain tersebut.

ومن أئمتنا من منع السلم في الثوب المصبوغ بعد النسج واحتج عليه بأن الصبغ عينٌ ضمت إلى الثوب وهو مجهول المقدار والغرض يتفاوت وهذا إنما كان يتجه لو امتنع السلم في الذي صبغ غزلُه ثم نسج والأصح التجويز؛ فإن الصبغ صار صفة في الثوبِ لا يُطلب تمييزه وفصله

Sebagian dari imam kami ada yang melarang akad salam pada kain yang telah dicelup setelah ditenun, dan mereka beralasan bahwa zat pewarna adalah sesuatu yang ditambahkan pada kain, yang tidak diketahui kadar dan tujuannya dapat berbeda-beda. Ini sebenarnya hanya dapat diterima jika akad salam juga dilarang pada kain yang benangnya telah dicelup sebelum ditenun. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah membolehkannya, karena zat pewarna telah menjadi sifat pada kain tersebut, yang tidak perlu dibedakan dan dipisahkan.

فرع

Cabang

حكى صاحب التقريب عن ابن سريج أنه قال في السّمك المملح إن كان يظهر للملح وزن فلا يصح السلم لجهالة مقدار المسلَم فيه

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan dari Ibn Suraij bahwa ia berkata tentang ikan asin: Jika garamnya tampak memiliki berat, maka tidak sah akad salam karena tidak diketahui kadar barang yang diserahkan.

وإن كان لا يظهر للملح وزن لم يخل إما أن يكون له قيمة أو لا يكون فإن لم تكن له قيمة فلا أثر له؛ إذ لا قيمة ولا وزن والسلم صحيح وإن كان له قيمة فهو كالثوب المصبوغ بعد النسج

Jika garam tersebut tidak tampak memiliki berat, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memiliki nilai atau tidak. Jika tidak memiliki nilai, maka tidak berpengaruh; sebab tidak ada nilai dan tidak ada berat, sehingga akad salam tetap sah. Namun jika ia memiliki nilai, maka hukumnya seperti kain yang diwarnai setelah ditenun.

فإن قيل أرأيتم لو كان للصبغ وزن في الثوب قلنا لا أثر لوزنه في الثوب؛ فإن الثوب لا يوزن

Jika dikatakan, “Bagaimana pendapat kalian jika zat pewarna memiliki berat pada kain?” Kami katakan, “Tidak ada pengaruh beratnya pada kain; sebab kain tidak ditimbang.”

فرع

Cabang

إذا قبض المسلِمُ المسلَم فيه وتلف في يده واطلع على عيب فرده فالاستبدال منه غير ممكن بعد التلف ولكن له الرجوع بالأرش وهو قسط من رأس المال وإذا حصل الرجوع لم يكن هذا استرداداً ولكنه في حكم فسخ العقد في ذلك المقدار المسترد وذهب المزني إلى أن الرجوع بالأرش لا يثبت بعد تلف المقبوضِ

Jika pihak yang melakukan salam telah menerima barang yang menjadi objek salam, lalu barang itu rusak di tangannya, kemudian ia menemukan cacat pada barang tersebut dan mengembalikannya, maka penggantian barang tidak mungkin dilakukan setelah barang itu rusak. Namun, ia berhak mendapatkan kompensasi (arsh), yaitu bagian dari modal pokok. Jika kompensasi tersebut diberikan, hal itu bukanlah pengambilan kembali barang, melainkan dianggap sebagai pembatalan akad pada bagian yang dikembalikan tersebut. Al-Muzani berpendapat bahwa hak untuk mendapatkan kompensasi (arsh) tidak berlaku setelah barang yang diterima itu rusak.

Kitab ar-Rahn

الرهن توثيق الدين بعين مالٍ يسلمها الراهن إلى صاحب الدين وحقيقةُ الرهن الإثبات ومنه قيل الحالة الراهنة أي القائمة الثابتة

Rahn adalah peneguhan utang dengan suatu barang tertentu yang diserahkan oleh pihak yang berutang kepada pemilik utang. Hakikat rahn adalah penetapan, dan dari sini dikatakan “al-hālah ar-rāhinah” yang berarti keadaan yang tetap dan teguh.

والأصل في الرهن الكتاب والسنة والإجماع فأما الكتاب فقوله تعالى وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ قوله تعالى فَرِهَانٌ مصدر أقيم جزاءً للشرط بحرف التعقيب وهو الفاء فقام مقامَ الأمرِ؛ فإن الشرط والجزاء لا يعتقبان إلا على الأفعال فجرى ذلك مجرى الأمر كقوله تعالى فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ وقوله فَضَرْبَ الرِّقَابِ وقوله تعالى فَفِدْيَةٌ وقوله فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ أي فحرروا وافدوا واضربوا وصوموا

Dasar hukum rahn adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘. Adapun dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” Firman Allah Ta‘ala “barang tanggungan (rahan)” adalah bentuk mashdar yang ditempatkan sebagai balasan dari syarat dengan huruf ta‘qīb, yaitu “fa”, sehingga menempati posisi perintah; sebab syarat dan balasan syarat hanya berlaku pada perbuatan, maka hal itu berlaku seperti perintah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka memerdekakan seorang budak”, firman-Nya: “Maka penggal leher mereka”, firman-Nya: “Maka membayar fidyah”, dan firman-Nya: “Maka mengganti pada hari-hari yang lain”, artinya: maka merdekakanlah, bayarlah fidyah, penggallah, dan berpuasalah.

و رهن رسول الله صلى الله عليه وسلم درعه من أبي الشحم اليهودي بشعير استقرضه منه فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم ودرعه مرهون

Rasulullah saw. pernah menggadaikan baju besinya kepada Abu Syahm, seorang Yahudi, dengan gandum yang beliau pinjam darinya. Kemudian Rasulullah saw. wafat sementara baju besinya masih dalam keadaan tergadai.

والرهن محثوث عليه وليس حتماً فإنه قال تعالى في سياق الآية فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ

Gadai dianjurkan, namun tidaklah wajib, karena Allah Ta‘ala berfirman dalam rangkaian ayat: “Jika sebagian dari kalian saling percaya, maka hendaklah orang yang diberi amanah menunaikan amanahnya.”

وأصل الرهن مجمع عليه وهو يشتمل على ركنين مرهون ومرهون به أما المرهون فلا يكون إلا عيناً لأن الغرض من الرهن التوثيق ولا يتوثق الدين بالدين وهو مشبه بالهبة من حيث إنه تبرع يفتقر إلى القبول ثم الهبة تختص بالعين ولو قال وهبت منك ألف درهم ثم نقدها عن ذمته وأقبض لم يصح بخلاف ما لو باع ألفاً بألف ثم نقدا وتقابضا قبل التفرق هذا في المرهون

Dasar hukum rahn (gadai) telah menjadi ijma‘ (kesepakatan ulama) dan rahn terdiri atas dua rukun, yaitu barang yang digadaikan (marhūn) dan utang yang dijamin (marhūn bih). Adapun barang yang digadaikan (marhūn) tidak boleh berupa selain benda (‘ain), karena tujuan dari rahn adalah sebagai penjaminan, dan utang tidak dapat dijamin dengan utang. Rahn juga menyerupai hibah dalam hal bahwa ia merupakan pemberian yang memerlukan penerimaan (qabūl). Kemudian, hibah hanya berlaku untuk benda (‘ain). Jika seseorang berkata, “Aku hibahkan kepadamu seribu dirham,” lalu ia membayarkannya dari utangnya dan menyerahkannya, maka itu tidak sah, berbeda halnya jika ia menjual seribu dengan seribu, lalu keduanya saling membayar dan menerima sebelum berpisah. Demikianlah mengenai barang yang digadaikan (marhūn).

وأما المرهون به فلا يكون إلا ديناً؛ فإن الغرض استيفاء الدين من العين عند فرض العسر ولو كان المرهون به عيناً فاستيفاؤها من المرهون محال وهي متعينّة

Adapun objek yang dijadikan jaminan (marhun bih) tidaklah boleh kecuali berupa utang; karena tujuan dari rahn adalah untuk melunasi utang dari barang jaminan apabila terjadi kesulitan pembayaran. Jika objek yang dijadikan jaminan itu berupa barang, maka pelunasannya dari barang jaminan adalah mustahil, karena barang tersebut sudah tertentu.

وفي ضمان الأعيان المضمونة كلام وتردد سنفرعه على قولي كفالة الأبدان من كتاب الضمان وإذا جوزنا ضمان الأعيان المضمونة فهو بتقدير ضمان قيمتها إذا تلفت ولا يجوز الرهن بالعين على هذا التقدير في المذهب الظاهر؛ لأن الضامن لا ضرر عليه إذا امتد بقاء العين فالذمة متسعة لالتزام الحقوق ولو جاز الرهن على هذا التقدير لجر ضرراً دائماً لا نهاية له؛ فإن العين التي يقدر الرهن بها ربما لا تتلف أبداً فيبقى الرهن دائماً ويطرد الحجر بدوامه

Dalam hal penjaminan terhadap barang-barang yang dijamin, terdapat pembahasan dan keraguan yang akan kami rincikan berdasarkan dua pendapat tentang penjaminan badan dalam Kitab ad-Dhamān. Jika kita membolehkan penjaminan terhadap barang-barang yang dijamin, maka itu berarti penjaminan atas nilai barang tersebut jika barang itu rusak. Namun, tidak diperbolehkan melakukan rahn (gadai) atas barang tersebut menurut mazhab yang paling kuat; karena penjamin tidak akan mengalami kerugian jika keberadaan barang itu berlangsung lama, sebab tanggungan (dzimmah) masih luas untuk menanggung hak-hak. Jika rahn dibolehkan dalam kondisi seperti ini, maka hal itu akan menimbulkan kerugian yang terus-menerus tanpa batas; sebab barang yang dijadikan objek rahn mungkin tidak akan pernah rusak, sehingga rahn akan terus berlangsung dan larangan (hajr) pun akan tetap berlaku selama itu.

فصل

Bab

قال الشافعي والدين حق فيجوز الرهن به إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata, “Agama (utang) adalah hak, maka boleh menggadaikan (barang) karenanya,” dan seterusnya.

قال الأصحاب أراد حق لازم

Para ulama berpendapat: yang dimaksud adalah hak yang bersifat wajib.

فنقول قد تقدم أن المرهون به يشترط أن يكون ديناً وغرضنا انحصار الرهن في قبيل الديون وهذا الفصل يحوي تقاسيم الديون فهي منقسمة ثلاثة أقسام دينٌ لازم مستقر في الذمة كالسلم والقرض والأروش والأثمان والمهور والأجور فيجوز الرهن بهذه الديون

Maka kami katakan, telah dijelaskan sebelumnya bahwa barang yang dijadikan jaminan harus berupa utang, dan tujuan kami adalah membatasi rahn pada jenis-jenis utang. Pada bagian ini terdapat pembagian-pembagian utang, yaitu utang terbagi menjadi tiga macam: utang yang wajib dan tetap dalam tanggungan seperti salam, qardh, diyat, harga barang, mahar, dan upah; maka boleh menjadikan rahn dengan utang-utang ini.

والقسم الثاني دين لا يتصف باللزوم ولا يُفضي إليه وهو كنجوم الكتابة فلا يجوز الرهن بها؛ فإنها لم تتأكد باللزوم ولا يتصور أن تنتهي إليه في نفسه فالتوثيق به لا معنى له فان قيل إذا أدى المكاتب النجم فقد انتهى إلى التأكد قلنا نعم هو كذلك ولا حاجة بعده إلى التوثيق

Bagian kedua adalah utang yang tidak bersifat wajib dan tidak mengarah kepada kewajiban, seperti cicilan-cicilan pembayaran dalam akad kitabah, maka tidak boleh dijadikan barang gadai dengannya; karena utang tersebut belum dipastikan wajib dan tidak mungkin berakhir menjadi wajib dengan sendirinya, sehingga penjaminan dengannya tidak ada maknanya. Jika ada yang berkata, “Jika seorang mukatab telah membayar satu cicilan, maka cicilan itu telah menjadi pasti,” kami katakan, “Benar, memang demikian, dan setelah itu tidak lagi diperlukan penjaminan.”

والقسم الثالث دين لا يتصف باللزوم في نفسه ولكنه يفضي إلى اللزوم

Bagian ketiga adalah utang yang pada dirinya sendiri tidak bersifat wajib, namun dapat berujung menjadi wajib.

وهذا ينقسم قسمين منه ما أصله اللزوم والجواز دخيل فيه مرفق ومنه ما أصله الجواز ولكنه يفضي إلى اللزوم

Hal ini terbagi menjadi dua bagian: di antaranya ada yang pada dasarnya bersifat mengikat, namun kebolehan masuk ke dalamnya sebagai kemudahan; dan di antaranya ada yang pada dasarnya bersifat boleh, tetapi kemudian berujung menjadi mengikat.

أما القسم الأول فهو كالثمن في زمان الخيار فالرهن به جائز وهذا يتطرق إليه خلافٌ لا محالة متلقى من اختلاف القول في أن البيع في زمان الخيار هل يتضمن نقل الملك في المبيع إلى المشتري وفي الثمن إلى البائع فإن حكمنا بأنه يقتضي النقلَ فعليه قطع الأصحاب بصحة الرهن وإن قلنا إنه لا يقتضي النقلَ أصلاً فالظاهر منعُ الرهن ؛ إذ لا دين فيقع الرهن لو وقع قبل ثبوت الدين

Adapun bagian pertama adalah seperti harga dalam masa khiyār, maka rahn (gadai) dengannya diperbolehkan. Namun, hal ini pasti mengandung perbedaan pendapat yang bersumber dari perbedaan pendapat mengenai apakah jual beli dalam masa khiyār mengandung pemindahan kepemilikan barang yang dijual kepada pembeli dan harga kepada penjual. Jika kita berpendapat bahwa jual beli tersebut mengharuskan adanya pemindahan kepemilikan, maka para ulama sepakat atas sahnya rahn. Namun jika kita berpendapat bahwa jual beli tersebut sama sekali tidak mengharuskan adanya pemindahan kepemilikan, maka yang tampak adalah tidak diperbolehkannya rahn, karena belum ada utang sehingga rahn tidak dapat terjadi sebelum utang itu benar-benar ada.

هذا قسم من قسمين انقسم إليهما القسم الثالث

Ini adalah salah satu dari dua bagian yang menjadi bagian dari bagian ketiga.

والقسم الثاني الجُعْل في الجعالة فمبناه في وضع العقد على الجواز ولكنه ينتهي إلى اللزوم عند تمام العمل ففي جواز الرهن به وجهان أحدهما أنه جائز كالثمن في زمان الخيار والثاني لا يجوز؛ فإنه قبل اللزوم بعيد عن التوثيق؛ إذ لا يتصور من المتعاقدين في الجعالة أن يلزما الجُعل باختيارهما قبل العمل ويتصور من المتبايعين إلزام الثمن باختيارهما

Bagian kedua adalah upah (al-jul) dalam akad ju‘ālah, yang dasar penetapan akadnya adalah kebolehan, namun ia menjadi mengikat ketika pekerjaan telah selesai. Dalam hal kebolehan menjadikan upah tersebut sebagai objek rahn (gadai), terdapat dua pendapat: pertama, boleh seperti halnya harga dalam masa khiyar; kedua, tidak boleh, karena sebelum menjadi mengikat, upah tersebut jauh dari sifat sebagai jaminan, sebab tidak mungkin kedua pihak dalam akad ju‘ālah mewajibkan upah itu atas kehendak mereka sebelum pekerjaan selesai, sedangkan dalam jual beli, kedua pihak dapat mewajibkan harga atas kehendak mereka.

ومن قال بالوجه الأول انفصل عن هذا وقال لو كان ثبوت الرهن مأخوذاً من اختيار اللزوم لكان الرهن بالثمن في زمان الخيار متضمناً إلزامَ العقد وليس كذلك

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat pertama menjawab hal ini dan berkata: Jika keberadaan rahn diambil dari pemilihan untuk melazimkan akad, niscaya rahn dengan harga pada masa khiyar berarti mewajibkan akad, padahal kenyataannya tidak demikian.

وكل ما جاز الرهن به صح ضمانه وكل ما صح ضمانه جاز الرهن به إلا العهدة فإن ضمانها جائز على ظاهر المذهب وهو ضمان الدَّرَك ولا يجوز الرهن بعهدة المبيع والفارق بينهما أن ضمان العهدة إنما جاز مصلحة في العقد إذ قد لا يثق المشتري بغريب يبايعه فينكف عن معاملته ويلتحق بهذا السبب ضرار بالجانبين فسوغ الشرع التوثيقَ بالضمان ثم لا ضرر في ذلك الضمان؛ فإن الضامن لا طَلِبة عليه قبل بدوّ الاستحقاق وإن جوزنا الرهن بالعهدة لكان ذلك التزام حجرٍ في المرهون لا نهاية له وهو تنجيز ضرار لا نهاية له على مقابلة توقع ضرار

Segala sesuatu yang boleh dijadikan objek rahn (gadai), maka sah pula dijamin (dhaman) dengannya. Dan segala sesuatu yang sah dijamin dengannya, maka boleh pula dijadikan objek rahn, kecuali ‘uhdah (jaminan tanggungan); karena penjaminan ‘uhdah dibolehkan menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, yaitu penjaminan terhadap darak (tanggung jawab atas cacat atau kekurangan barang). Namun tidak boleh menjadikan ‘uhdah sebagai objek rahn atas barang yang dijual. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa penjaminan ‘uhdah dibolehkan demi kemaslahatan dalam akad, sebab bisa jadi pembeli tidak percaya kepada orang asing yang bertransaksi dengannya, sehingga ia enggan bermuamalah dan hal ini dapat menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak. Maka syariat membolehkan penguatan akad dengan penjaminan, dan dalam penjaminan tersebut tidak ada mudarat; karena penjamin tidak akan dimintai pertanggungjawaban sebelum munculnya hak klaim. Namun jika kita membolehkan rahn dengan ‘uhdah, maka itu berarti mewajibkan pembatasan pada barang yang digadaikan tanpa batas waktu, yang merupakan penetapan mudarat yang tiada akhir hanya demi mengantisipasi kemungkinan mudarat.

وحكى شيخي عن شيخه القفال وجهاًً في جواز الرهن بالعهدة والسبب فيه أن الثقة قد لا تحصل إلا به والرهن منصوص عليهِ في آية المداينات في طلب الوثائق دون الضمان وما قدر من الضرار غيرُ سديد؛ فإنه إنما يعظم وقع الضرار لما يلزم من غير اختيار وكلامنا هذا في جواز الرهن إذا وقع الرضاً به لا في وجوبه

Guru saya meriwayatkan dari gurunya, al-Qaffal, suatu pendapat tentang bolehnya gadai dengan tanggungan, dan sebabnya adalah karena kepercayaan terkadang tidak dapat diperoleh kecuali dengannya. Gadai telah disebutkan secara eksplisit dalam ayat tentang transaksi utang piutang dalam rangka mencari jaminan, bukan penjaminan. Apa yang diperkirakan sebagai bentuk mudarat tidaklah tepat, karena mudarat itu menjadi besar pengaruhnya apabila terjadi tanpa pilihan. Pembahasan kita ini adalah tentang kebolehan gadai jika terjadi atas dasar kerelaan, bukan tentang kewajibannya.

قال وكذلك كل حق لزم في حين الرهن وما تقدم الرهن إلى آخره

Demikian pula, setiap hak yang menjadi kewajiban pada saat terjadinya rahn maupun yang telah ada sebelum rahn hingga seterusnya.

أشار الشافعي إلى أن الآية في دين مخصوص ثم بين أن ما سواه من الديون اللازمة في معناه

Al-Syafi‘i menunjukkan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan utang tertentu dalam agama, kemudian beliau menjelaskan bahwa selain itu dari utang-utang yang wajib juga termasuk dalam maknanya.

فنقول إذا وجب الدين وأنشىء الرهنُ بعده فهذا رهنٌ لا كلام فيه ولو قدم الرهن بشقيه على وجوب الدين لم يصح عند الشافعي

Maka kami katakan: apabila utang telah wajib kemudian rahn (barang jaminan) diadakan setelahnya, maka ini adalah rahn yang sah tanpa ada perbedaan pendapat. Namun, jika rahn dengan kedua unsurnya didahulukan sebelum kewajiban utang, maka menurut Imam Syafi‘i hal itu tidak sah.

فلو قال رهنتك هذه العين بألف تقرضنيه فقال المخاطب ارتهنتُ ولا إقراض بعدُ ؛ فهذا مردود وإن جرى القرضُ بعد ذلك؛ فإن الرهن توثيق الدين ولا يعقل التوثيق قبل الدين إلا على مذهب التعليق وتعليق الرهن باطل

Jika seseorang berkata, “Aku menggadaikan barang ini kepadamu dengan seribu yang akan kau pinjamkan kepadaku,” lalu orang yang diajak bicara menjawab, “Aku menerima gadai, tetapi belum ada pinjaman,” maka hal ini tertolak, meskipun pinjaman itu terjadi setelahnya. Sebab, gadai adalah penjaminan utang, dan tidak masuk akal penjaminan dilakukan sebelum adanya utang, kecuali menurut pendapat yang membolehkan ta‘liq (penggantungan syarat), sedangkan penggantungan gadai itu batal.

والقول في الضمان قبل الوجوب كالقول في الرهن ثم في المذهب تفصيل طويل في ضمان ما لم يجب سيأتي في أولِ كتاب الضمان ونذكر ترتيبين في القديم والجديد

Pembahasan tentang penjaminan sebelum kewajiban itu ada adalah seperti pembahasan tentang rahn. Kemudian, dalam mazhab terdapat rincian yang panjang mengenai penjaminan terhadap sesuatu yang belum menjadi wajib, yang akan dijelaskan pada awal Kitab ad-Dhamān. Kami akan menyebutkan dua urutan dalam pendapat lama (qadīm) dan baru (jadīd).

ثم الرهن يجاري الضمان في محل الوفاق والخلاف إلا في أمثال ضمان العهدة؛ فإن الرهن ينفصل في ظاهر المذهب عن الضمان ويجري وجه مطرد للقفال في تنزيل الرهن منزلة الضمان

Kemudian, rahn sejalan dengan dhaman dalam hal-hal yang disepakati maupun diperselisihkan, kecuali dalam kasus-kasus seperti dhaman al-‘uhdah; karena rahn, menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, terpisah dari dhaman, dan terdapat pendapat yang konsisten dari al-Qaffal dalam menyamakan kedudukan rahn dengan dhaman.

هذا قولنا في طرفي الثبوت والنفي ذكرنا تقدم الدين وإنشاء الرهن بعده ثم ذكرنا تقدم الرهن بشقيه وابتداء الوجوب بعده

Inilah pendapat kami mengenai dua sisi penetapan dan penafian; kami telah menyebutkan tentang adanya utang lebih dahulu dan pembuatan rahn setelahnya, kemudian kami juga telah menyebutkan tentang adanya rahn lebih dahulu dengan kedua bagiannya dan permulaan kewajiban setelahnya.

ونحن نذكر الآن حكم الاقتران بين الرهن والدين ونُجري فيه حكم التعاقب أيضاًً ونرسم في غرضنا مسائل أرسالاً

Sekarang kami akan menyebutkan hukum penggabungan antara rahn dan utang, serta menerapkan padanya hukum ta‘āqub, dan kami akan menguraikan dalam pembahasan kami beberapa masalah secara terpisah.

فلو تقدم شِقَّا الرهن على البيع وذلك أن يتراهنا بالثمن ثم لا يتفرقا حتى يتبايعا فالمذهب المثبوت أن ذلك غيرُ جائز وأبعد بعض الأصحاب فجوّز ذلك إذا جمع المجلسُ الرهنَ والبيعَ وجعل اتحادَ المجلس كالاقتران بالإيجاب والقبول كما سنصفه الآن

Jika akad rahn dilakukan lebih dahulu daripada jual beli, yaitu kedua belah pihak saling merahnkan dengan harga tersebut, kemudian mereka tidak berpisah hingga melakukan akad jual beli, maka mazhab yang kuat menyatakan bahwa hal itu tidak diperbolehkan. Namun, sebagian ulama berpendapat lebih jauh dengan membolehkannya jika dalam satu majelis terkumpul akad rahn dan jual beli, serta menganggap kesatuan majelis seperti halnya keterkaitan antara ijab dan kabul, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

وهذا ليس بشيء؛ فإن المجلس إن ثبت له حكم فهو بعد البيع وعقد الرهن لا مجلس له ولا أثر لخيار المجلس فيه كما قدمناه ثم لو قدر له مجلس فالبيع بعده ليس من لواحقه ونحن إن رأينا إلحاق شيء بالعقد في مجلسه فهو في توابع العقد الذي المجلس مضاف إليه ولولا ذكرُ الأصحاب هذا لأضربنا عنه

Ini tidaklah benar; sebab jika majelis memiliki suatu hukum, maka itu berlaku setelah terjadinya jual beli, dan setelah akad rahn tidak ada lagi majelis serta tidak ada pengaruh khiyār majelis di dalamnya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Kemudian, seandainya pun ada majelis, maka jual beli yang terjadi setelahnya bukanlah bagian dari konsekuensinya. Jika kami menganggap ada sesuatu yang diikutkan pada akad dalam majelisnya, maka itu hanya pada hal-hal yang merupakan turunan dari akad yang majelisnya terkait dengannya. Kalau bukan karena para ulama menyebutkan hal ini, niscaya kami tidak akan membahasnya.

هذا بيان اجتماع الاقتران بتقدير تقدم الرهن وتعقب البيع

Ini adalah penjelasan tentang berkumpulnya keterkaitan dengan memperkirakan adanya pendahuluan rahn dan diikuti oleh jual beli.

فأما إن امتزج إيجاب الرهن واستيجابه بالتواجب في البيع فالوجه أن نفصله

Adapun jika ijab rahn dan permintaan rahn bercampur dengan saling mewajibkan dalam jual beli, maka yang tepat adalah kita merincinya.

فمن صور ذلك أن يتقدم ذكر الرهن بأن يقول البائع ارتهنت ثوبك هذا بألف وبعتك هذه الدار به فقال المشتري رهنتُ واشتريت أو قال اشتريت ورهنت

Salah satu contohnya adalah mendahulukan penyebutan rahn dengan mengatakan, “Aku menjadikan pakaianmu ini sebagai rahn dengan seribu, dan aku menjual rumah ini kepadamu dengan harga itu,” lalu pembeli berkata, “Aku merahnkan dan membeli,” atau ia berkata, “Aku membeli dan merahnkan.”

فإذا قدم المبتدىء ذكر الرهن وعقبه في استكمال الكلام بذكر ما يليق به من شقي البيع فظاهر المذهب أن هذا غير جائز

Jika seorang pemula mendahulukan penyebutan rahn dan setelah itu dalam penyempurnaan pembicaraan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengannya dari dua sisi jual beli, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, hal ini tidak diperbolehkan.

ويلتحق بهذه الصورة أن يقول البائع بعت وارتهنت ويقول المشتري رهنت واشتريت فسواء وجد تقدم شقي الرهن على شقي البيع على صورة الاقتران أو وجد من أحد الجانبين تقديم شق من الرهن فالوجه منع صحة الرهن

Terkait dengan gambaran ini, jika penjual mengatakan, “Aku telah menjual dan mengambil gadai,” dan pembeli mengatakan, “Aku menggadaikan dan membeli,” maka baik terjadi pendahuluan salah satu sisi gadai atas sisi jual beli dalam bentuk bersamaan, atau salah satu pihak mendahulukan salah satu sisi gadai, maka pendapat yang kuat adalah tidak sahnya akad gadai.

ويقرب أن يرتب هذا على تقدم الشقين من الرهن ووقوع البيع بعدهما

Dekat dengan itu, hal ini dapat dihubungkan dengan mendahulukan dua sisi dari rahn dan terjadinya jual beli setelah keduanya.

ولكن لا ينبغي أن يُعتقد ذلك الوجه الضعيف من أصل المذهب حتى يُبتنى عليه أو يُرتَب عليه

Namun, tidak sepantasnya pendapat yang lemah dari asal mazhab itu diyakini, apalagi dijadikan dasar atau disandarkan padanya.

فلنبتدىء قائلين الأصح أن الرهن يفسد في الصورة التي ذكرناها؛ لأنه قُدِّم شق منه أو شقاه على شقي البيع المثبت للثمن وإذا كان الرهن يستدعي ثبوت الدين فأحد شقيه يستدعي ذلك أيضاًً ووضع الرهن استئخار أوله عن ثبوت الدين

Maka mari kita mulai dengan mengatakan bahwa pendapat yang lebih sahih adalah bahwa rahn menjadi batal dalam kasus yang telah kami sebutkan; karena sebagian atau kedua bagiannya didahulukan atas kedua bagian jual beli yang menetapkan harga. Dan karena rahn mensyaratkan adanya utang, maka salah satu bagiannya juga mensyaratkan hal itu. Sedangkan penetapan rahn adalah menunda permulaannya sampai utang itu tetap ada.

ومن المسائل في الباب أن يتقدم مصراع البيع على مصراع الرهن وذلك مثل أن يقول للبائع بعت منك هذه الدار وارتهنت هذا الثوب بالثمن فقال المشتري اشتريت ورهنت فقدم كل واحد شقَّ البيع على شق الرهن ووقع شقا الرهن ممتزجين بشقي البيع على ما وصفناه وميزنا هذا النوع في التصوير عما تقدم عليه بذكر كل واحد من المتخاطبين شق البيع أولاً فإنه لو ذكر أحدهما شق الرهن ثم شق البيع اتصل بالفن المتقدم على هذا

Di antara permasalahan dalam bab ini adalah apabila bagian akad jual beli didahulukan atas bagian akad rahn (gadai). Contohnya adalah ketika seseorang berkata kepada penjual: “Aku membeli rumah ini darimu dan menggadaikan kain ini sebagai jaminan harga,” lalu pembeli berkata: “Aku membeli dan menggadaikan.” Maka masing-masing mendahulukan bagian jual beli atas bagian rahn, dan kedua bagian rahn bercampur dengan kedua bagian jual beli sebagaimana telah kami jelaskan. Kami membedakan jenis ini dalam gambaran dari yang sebelumnya dengan menyebutkan bahwa masing-masing pihak yang berbicara menyebutkan bagian jual beli terlebih dahulu. Sebab, jika salah satu dari mereka menyebutkan bagian rahn terlebih dahulu kemudian bagian jual beli, maka hal itu termasuk dalam pembahasan sebelumnya.

ومن صور هذا القسم أن المشتري لو قال بعني هذه الدار ورهنت هذا الثوب فقال البائع بعت وارتهنت وجعلنا الاستدعاء قبولاً كما سيأتي في موضعه

Salah satu bentuk dari bagian ini adalah apabila pembeli berkata, “Jualkan kepadaku rumah ini dan aku menjadikan kain ini sebagai jaminan,” lalu penjual berkata, “Aku telah menjual dan menerima kain itu sebagai jaminan,” dan kita menganggap permintaan tersebut sebagai bentuk penerimaan, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya.

هذا بيان الصور

Ini adalah penjelasan tentang bentuk-bentuknya.

ونصُّ الشافعي ظاهر في تصحيح البيع في هذه الصور واتفق على القول بالصحة فيها الأصحاب

Teks Syafi‘i jelas menunjukkan keabsahan jual beli dalam kasus-kasus ini, dan para ulama mazhab sepakat atas pendapat keabsahan tersebut.

وذكر القاضي في طريقه تخريجاً من عند نفسه لم ينقله؛ فقال هذا مشكل؛ فإن أحد شقي الرهن يقع لا محالة قبل ثبوت الثمن بانعقاد البيع ووضع الرهن يقتضي استئخار إنشاء الرهن عن ثبوت الدين فقال يظهر أن يخرَّج هذا قولاً ويقول لا يصح الرهن ما لم يتقدم الدين بشقيه ثم يُنشأ أولُ الرهن بعدهما

Dan al-Qadhi menyebutkan dalam kitabnya sebuah takhrij dari dirinya sendiri yang tidak ia nukil dari siapa pun; ia berkata: “Ini bermasalah; karena salah satu dari dua sisi rahn pasti terjadi sebelum harga (utang) itu tetap dengan terjadinya akad jual beli, sementara penetapan rahn mengharuskan penundaan penciptaan rahn setelah utang itu tetap. Maka tampak bahwa hal ini dapat ditakhrij sebagai sebuah pendapat, dan dikatakan: Rahn tidak sah kecuali setelah utang itu tetap dengan kedua sisinya, kemudian barulah rahn itu dibuat setelah keduanya.”

وهذا يظهر تخريجه من مسألة للشافعي في الكتابة؛ فإنه قال إذا قال السيد لعبده كاتبتك على ألف درهم وبعت هذا العبد منك بألف فقال العبد قبلت الكتابة والبيع قال الشافعي لا يصح البيعُ؛ فإنه يستدعي ثبوت الكتابة أولاً وقد جرى أحد شقي البيع قبل انعقاد الكتابة ولا يصير العبد من أهل المعاملة مع مولاه ما لم تتم الكتابة فيخرج منع الرهن على هذا خروجاً ظاهراً

Hal ini tampak dalam penjelasan Imam Syafi‘i mengenai masalah kitabah; beliau berkata: Jika seorang tuan berkata kepada budaknya, “Aku membebaskanmu dengan membayar seribu dirham dan aku menjual budak ini kepadamu seharga seribu,” lalu budak itu berkata, “Aku menerima kitabah dan jual-beli tersebut,” maka Imam Syafi‘i berpendapat bahwa jual-beli itu tidak sah; sebab jual-beli tersebut mensyaratkan sahnya akad kitabah terlebih dahulu, sementara salah satu sisi jual-beli telah berlangsung sebelum akad kitabah terjadi, dan budak tersebut belum dianggap layak melakukan transaksi dengan tuannya sebelum akad kitabah sempurna. Oleh karena itu, larangan terhadap rahn (gadai) dalam hal ini menjadi jelas alasannya.

ثم قال لو أردنا فصلاً بين الأصلين فقهياً لم نجده إلا أن نتعلق بمصلحة العقد فنقول الرهن من مصلحة البيع فإن نفذ مقترناً بالبيع كان هذا لائقاً بالمصلحة؛ من جهة أن البائع ربما كان يطلب وقوع الاستيثاق بالرهن مع وقوع البيع والوجه مزج العقد بالعقد كما ذكرناه والبيع ليس من مصلحة الكتابة فجرى فساد البيع على القياس الذي مهدناه

Kemudian ia berkata, jika kita ingin memisahkan kedua asal tersebut secara fiqh, kita tidak menemukannya kecuali dengan mempertimbangkan kemaslahatan akad. Maka kita katakan, rahn (gadai) termasuk kemaslahatan jual beli. Jika rahn dilaksanakan bersamaan dengan jual beli, maka hal itu sesuai dengan kemaslahatan; dari sisi bahwa penjual mungkin menghendaki adanya jaminan dengan rahn bersamaan dengan terjadinya jual beli, dan tujuannya adalah menggabungkan satu akad dengan akad lainnya sebagaimana telah kami sebutkan. Sedangkan jual beli bukan termasuk kemaslahatan dalam kitabah (akad pembebasan budak secara bertahap), sehingga kerusakan jual beli mengikuti qiyās yang telah kami tetapkan.

وكان شيخنا أبو محمد لا يفرق بين أن يقول البائع ارتهنت وبعت أو يقول بعت وارتهنت والأحسن أن نفصل بينهما كما ذكرناه

Dan guru kami, Abu Muhammad, tidak membedakan antara ucapan penjual “Aku menggadaikan lalu menjual” atau “Aku menjual lalu menggadaikan”. Namun yang lebih baik adalah membedakan antara keduanya sebagaimana telah kami sebutkan.

فإن قيل لمَ وشق الرهن وقع قبل انعقاد البيع من الوجهين فإذا كان كذلك فأي أثر لتقديم شق البيع أو شق الرهن قلنا قول القائل بعت بألف وارتهنت به منتظم إلى أن يحكم بالصحة أو الفساد وقوله ارتهنت بألف وبعت ليس له نظم صحيح؛ فإن الرهن يستدعي استئخاراً عن ذكر مرهونه فيظهر الفرق في نظم العقد وإن لم يظهر في الوجوب والثبوت

Jika dikatakan, “Mengapa sisi rahn (gadai) terjadi sebelum terjadinya akad jual beli dari kedua sisi? Jika demikian, apa pengaruh mendahulukan sisi jual beli atau sisi rahn?” Kami jawab, ucapan seseorang, “Aku jual dengan harga seribu dan aku mengambilnya sebagai rahn,” merupakan susunan yang teratur hingga diputuskan sah atau tidaknya. Sedangkan ucapannya, “Aku mengambil sebagai rahn dengan harga seribu dan aku jual,” tidak memiliki susunan yang benar; karena rahn menuntut adanya penundaan setelah disebutkan barang yang digadaikan, sehingga tampak perbedaan dalam susunan akad meskipun tidak tampak dalam kewajiban dan ketetapannya.

فرع

Cabang

لو قال بعتك هذه الدار بألف درهم بشرط أن ترهنني ثوبك بالألف فقال اشتريت ورهنت والتفريع على النص في الحكم بصحة الرهن قال الأصحاب يتم الرهن بما جرى لأنه وجد من البائع استدعاء الرهن فكان ذلك بمثابة الارتهان والتلفظ به

Jika seseorang berkata, “Aku menjual rumah ini kepadamu seharga seribu dirham dengan syarat engkau menggadaikan kainmu kepadaku sebagai jaminan seribu dirham,” lalu pembeli berkata, “Aku membeli dan menggadaikan,” dan berdasarkan teks dalam penetapan hukum sahnya rahn, para ulama berkata, “Rahn tersebut menjadi sempurna dengan apa yang telah terjadi, karena dari penjual telah ada permintaan untuk menggadaikan, sehingga hal itu dianggap seperti menerima gadai dan mengucapkannya.”

قال القاضي الذي عندي أنه لا بد من لفظ الارتهانِ أو القبول من البائع بعد قول المشتري رهنت؛ لأن الذي وجد منه شرط الإيجاب وليس باستيجاب وهذا يبتني على أن الاستيجاب في البيع والرهن هل يكون بمثابة القبول؛ فإذا قال الرجل

Menurut pendapat saya, kata qadhi, harus ada lafaz ar-rahn (penyerahan barang jaminan) atau adanya penerimaan dari penjual setelah pembeli mengatakan “aku jadikan ini sebagai rahn”; karena yang terjadi dari pihak pembeli adalah syarat ijab, bukan istijab. Dan hal ini bergantung pada apakah istijab dalam jual beli dan rahn dapat dianggap setara dengan kabul; jika seseorang berkata…

بعني عبدك هذا بألف فقال البائع بعته منك بالألف فما تقدم من الاستيجاب واستدعاء الإيجاب هل يكفي وهل يحل محل التصريح بالاشتراء والقبول فيه قولان وترتيبُ نصوص سنذكرها في موضعها فإن قلنا الاستيجاب لا يكفي فلا كلام وإن قلنا الاستيجاب يكفي في البيع فإنه كاف في الرهن أيضاً

Jualkan budakmu ini kepadaku seharga seribu, lalu penjual berkata: Aku jual kepadamu dengan harga seribu. Apakah permintaan ijab dan permohonan ijab yang telah disebutkan sebelumnya sudah cukup dan dapat menggantikan pernyataan tegas dalam pembelian dan penerimaan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan urutan nash-nash akan kami sebutkan pada tempatnya. Jika kita mengatakan bahwa permintaan ijab tidak cukup, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa permintaan ijab cukup dalam jual beli, maka itu juga cukup dalam rahn (gadai).

فعلى هذا إذا قال البائع بعتك هذه الدار بألف درهم بشرط أن ترهنني ثوبك فقال اشتريت ورهنت فقوله بشرط أن ترهنني هل ينزل منزلة قوله بعت منك بألف وارهنِّي ثوبَك؛ فيه تردُّدٌ والأصح في القياس ما ذكره القاضي وإن كان الأشهر غيره

Maka berdasarkan hal ini, jika penjual berkata, “Aku jual rumah ini kepadamu seharga seribu dirham dengan syarat engkau menggadaikan kainmu kepadaku,” lalu pembeli berkata, “Aku beli dan aku gadaikan,” maka ucapannya “dengan syarat engkau menggadaikan kepadaku” apakah diposisikan seperti ucapannya “Aku jual kepadamu seharga seribu dirham dan gadaikan kainmu kepadaku”? Dalam hal ini terdapat keraguan, dan yang paling sahih menurut qiyās adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qadhi, meskipun pendapat yang masyhur berbeda.

فصل

Bab

قال ولا معنى للرهن حتى يكون مقبوضاً إلى آخره

Ia berkata, “Tidak ada makna bagi rahn hingga ia benar-benar telah diterima (oleh pihak penerima) sampai selesai.”

لا يلزم الرهن دون القبض خلافاً لمالك رحمه الله وهذا الخلاف مطرد معه في الهبة والعارية المؤقتة والتأجيل في القرض واعتبار الرهن بالهبة قريب؛ من قِبل أن كل واحد منهما تبرع والمتبرع قد يتعرض للندم والمعاوضات تبعد عن إمكان الندم ثم جعل الشارع لما ذكرناه من توقع الندم منتهى ومَردّاً وهو القبض ولسنا نتمسك بهذا المعنى تمسك من يقصد الاستقلال به بل مقصودُنا تشبيه الرهن بالهبة وهو ظاهر

Gadai tidak menjadi wajib tanpa adanya penyerahan barang, berbeda dengan pendapat Malik rahimahullah. Perbedaan pendapat ini juga berlaku dalam hal hibah, pinjaman barang sementara (‘āriyah mu’aqqatah), penundaan dalam utang, dan penilaian gadai yang mirip dengan hibah. Hal ini karena masing-masing merupakan bentuk pemberian sukarela, dan orang yang memberi secara sukarela bisa saja mengalami penyesalan, sedangkan transaksi tukar-menukar (mu‘āwadah) lebih kecil kemungkinan untuk menimbulkan penyesalan. Kemudian, syariat menetapkan adanya batas akhir dan titik kembali dari kemungkinan penyesalan tersebut, yaitu dengan penyerahan barang (qabdh). Namun, kami tidak berpegang pada alasan ini secara mandiri, melainkan maksud kami adalah menyerupakan gadai dengan hibah, dan hal ini jelas.

ثم المعتمد في الهبة حديمث لأبي بكر رضي الله عنه في ذلك سنذكره في كتاب الهبات إن شاء الله تعالى

Kemudian pendapat yang dipegang dalam masalah hibah adalah hadits Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengenai hal itu, yang akan kami sebutkan dalam Kitab Hibah, insya Allah Ta‘ala.

ثم قال الشافعي حتى يكون مقبوضاً من جائز الأمر حين رهَنَ وحين أقبض إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Hingga barang itu harus berada dalam penguasaan dari pihak yang sah pada saat barang itu dijadikan rahn dan pada saat diserahkan, hingga akhirnya.”

أما اشتراط الاستقلال والاتصاف بشرائطه عند العقد وعند القبض فبيّن لا إشكال فيه وإنما الكلام فيه إذا تخللت أحوال بين العقد وبين القبض ثم فرض زوالها فهل يُقضى بارتفاع العقد وانفساخه أم كيف الكلام

Adapun persyaratan kemandirian dan terpenuhinya syarat-syaratnya pada saat akad dan saat penyerahan, maka hal itu jelas dan tidak ada masalah di dalamnya. Namun, pembahasan terletak pada jika terdapat keadaan-keadaan yang terjadi di antara akad dan penyerahan, kemudian keadaan-keadaan tersebut hilang, maka apakah akad dianggap batal dan terputus, atau bagaimana pembahasannya?

الذي يقتضيه الترتيب أن نذكر موت الراهن أو موت المرتهن بين العقد والقبض نص الشافعي على أن الرهن يسلم إلى ورثة المرتهن وهذا تصريح منه بأن الرهن لا يبطل بموت المرتهن قبل القبض

Sesuai dengan urutan yang seharusnya, kita menyebutkan tentang kematian rahin atau kematian murtahin antara akad dan penyerahan barang; Imam Syafi‘i menegaskan bahwa barang gadai diserahkan kepada ahli waris murtahin, dan ini merupakan pernyataan jelas darinya bahwa gadai tidak batal dengan kematian murtahin sebelum penyerahan barang.

وحكى بعض أصحابنا نصّاً أن الراهن لو مات قبل الإقباض بطل الرهن ثم اختلف الأئمة فمنهم من جعل في موت الراهن والمرتهن قبل القبض قولين أحدهما أن الرهن يبطل بموت كل واحد منهما؛ فإنه على حقيقة الجواز قبل القبض والعقود الجائزة تنفسخ بموت أحد المتعاقدين في أثناء الجواز والذي يحقق ذلك أن القبض فيما يشترط القبض فيه يقع موقع أحد جوابي البيع وغيره؛ فإنه ركن في تحصيل مقصود العقد

Sebagian ulama kami meriwayatkan secara tekstual bahwa jika pihak yang menggadaikan (rahin) meninggal sebelum penyerahan barang gadai, maka gadai tersebut batal. Kemudian para imam berbeda pendapat; di antara mereka ada yang menetapkan dua pendapat dalam kasus kematian rahin atau pihak penerima gadai (murtahin) sebelum penyerahan, salah satunya adalah bahwa gadai batal dengan kematian salah satu dari keduanya. Sebab, pada hakikatnya, sebelum penyerahan, akad gadai masih bersifat jaiz (boleh dibatalkan), dan akad-akad jaiz akan batal dengan kematian salah satu pihak yang berakad selama masa kebolehan tersebut. Yang menguatkan hal ini adalah bahwa penyerahan (qabdh) dalam akad yang mensyaratkan penyerahan menempati posisi salah satu dari dua ijab-qabul dalam jual beli dan akad lainnya; karena penyerahan merupakan rukun dalam mewujudkan tujuan akad.

والقول الثاني لا يبطل العقد بموت كل واحد منهما؛ فإن مصير العقد إلى اللزوم على الحد المعلوم فكان الموت قبل القبض كموت أحد المتعاقدين في زمان الخيار

Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tidak batal dengan wafatnya salah satu dari keduanya; sebab akad akan menjadi lazim pada batas yang telah diketahui, sehingga kematian sebelum penyerahan dianggap seperti wafatnya salah satu pihak yang berakad pada masa khiyār.

ومن أصحابنا من قال يبطل الرهن بموت الراهن قبل القبض ولا يبطل بموت المرتهن والفارق أن الراهن ربما يموت وعليه ديون مستغرقة فإذا لم يلزم الرهن بالقبض فالوجه انقطاع الرهن وتقديم الحقوق اللازمة وإن لم يكن ديون فلا نظر إلى هذا بل النظر إلى إمكانه

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa rahn (gadai) menjadi batal apabila pihak yang menggadaikan (rahin) meninggal dunia sebelum barang gadai diserahkan, namun tidak batal jika yang meninggal adalah pihak penerima gadai (murtahin). Perbedaannya adalah, rahin bisa saja meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang yang seluruh hartanya habis untuk melunasi utang tersebut. Maka, jika rahn belum menjadi wajib dengan penyerahan barang, yang tepat adalah rahn terputus dan hak-hak yang wajib didahulukan. Namun, jika tidak ada utang, maka hal ini tidak perlu dipertimbangkan, melainkan yang diperhatikan adalah kemungkinan pelaksanaan rahn.

قال الشيخ أبو محمد السديد في ذلك أن نقول إن مات الراهن وخلَّف ديوناً مستغرقة فلأصحاب الديون المنعُ من تخصيص المرتهن بشيء لا يجوز خلاف ذلك

Syekh Abu Muhammad as-Sadid berkata mengenai hal itu: Jika orang yang menggadaikan (rahin) meninggal dunia dan meninggalkan utang yang seluruh hartanya habis untuk melunasinya, maka para pemilik utang berhak mencegah agar barang gadai tidak dikhususkan untuk penerima gadai (murtahin); tidak boleh ada pendapat yang berbeda dalam hal ini.

فأما إذا لم تكن ديون مستغرقة أو كانت ورضي الغرماء بالتخصيص وإنفاذ الرهن؛ فإذ ذاك يختلف الأصحاب

Adapun jika utang-utang tersebut tidak sepenuhnya menghabiskan (harta) atau utang-utang itu ada namun para kreditur rela dengan penetapan dan pelaksanaan rahn (gadai), maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.

والمذهب الظاهر أن الرهن لا يبطل بموت المرتهن ولا بموت الراهن لما ذكرناه من أن العقد مصيره إلى اللزوم والعقود الجائزة التي تنفسخ بالموت فمستندها أمر وقول لا لزوم له فإذا مات القائل انقطع أثر قوله كالجِعالة والوكالة ولهذا قال المحققون لا يشترط القبول في الجِعالة والوكالة فإذا آل سبب الانفساخ إلى انقطاع قول القائل تضمن الموتُ لا محالة الانفساخَ والرهنُ عقدٌ تام يشير إلى مقصود يتوقف لزومه على القبض فكان هذا يقتضي أن يبقى العقد على صفته بعد العاقدين وبعد موت أحدهما

Pendapat yang tampak adalah bahwa rahn (gadai) tidak batal karena kematian murtahin (penerima gadai) maupun karena kematian rahin (pemberi gadai), sebagaimana telah kami sebutkan bahwa akad ini pada akhirnya menjadi lazim, sedangkan akad-akad jaizah (tidak mengikat) yang batal karena kematian, dasarnya adalah perkara dan ucapan yang tidak bersifat mengikat. Maka, jika orang yang mengucapkan itu meninggal, terputuslah pengaruh ucapannya, seperti pada ji‘ālah (janji imbalan) dan wakālah (perwakilan). Oleh karena itu, para ahli menegaskan bahwa tidak disyaratkan adanya kabul dalam ji‘ālah dan wakālah. Jika sebab batalnya akad kembali pada terputusnya ucapan pihak yang mengucapkan, maka kematian pasti mengakibatkan batalnya akad tersebut. Adapun rahn adalah akad yang sempurna, yang mengarah pada tujuan tertentu, di mana kelazimannya bergantung pada penyerahan barang. Maka, hal ini menuntut agar akad tetap pada sifatnya setelah kedua pihak berakad maupun setelah salah satu dari keduanya meninggal.

التفريع

Pengembangan cabang hukum

إن حكمنا أن الموت لا يُبطل الرهن فلو فرض طريان الجنون فهو أولى بأن لا يبطله ثم إن جُن المرتهن نصب القاضي قيماً يقبض الرهنَ إن ساعده عليه الراهن وإن جُن الراهن نظر القيم في صلاح الأمر فإن رأى الأصلحَ له أن يقبض أقبض وإن رأى الأصلح في الفسخ فسخ

Jika kita menetapkan bahwa kematian tidak membatalkan rahn, maka jika terjadi kegilaan, itu lebih utama untuk tidak membatalkannya. Kemudian, jika yang menjadi marhun (penerima rahn) mengalami kegilaan, hakim mengangkat seorang wali untuk menerima rahn jika pihak rahin (pemberi rahn) bersedia menyerahkannya. Dan jika pihak rahin yang mengalami kegilaan, wali tersebut akan mempertimbangkan kemaslahatan perkara; jika ia melihat bahwa yang lebih maslahat adalah menerima rahn, maka ia akan menerimanya, dan jika ia melihat bahwa yang lebih maslahat adalah membatalkan akad, maka ia akan membatalkannya.

وإن قلنا طريان الموت يتضمن انفساخ الرهن ففي طريان الجنون وجهان وسنذكر تفصيل الجنون والإغماء وما في معناهما إن شاء الله عز وجل

Jika kita mengatakan bahwa terjadinya kematian mengakibatkan batalnya rahn, maka dalam hal terjadinya kegilaan terdapat dua pendapat. Kami akan menyebutkan rincian tentang kegilaan, pingsan, dan hal-hal yang semakna dengannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وإن طرأ السفه بين العقد والقبض فاقتضى طريانه عود الحجر أو إعادته فإذا طرأ الحجرُ ففي انفساخ الرهن خلافٌ مرتب على الجنون وهذا أولى بأن لا ينفسخ الرهن فيه؛ لأنه بالسفه لم يخرج عن أن يكون من أهل العبارة لو أُذن له فيها واستقصاء ذلك في كتاب الوكالة إن شاء الله تعالى

Jika kebodohan (safah) muncul di antara akad dan penyerahan barang, sehingga menyebabkan diberlakukannya kembali status tidak cakap (hajr) atau pengulangannya, maka apabila hajr terjadi, terdapat perbedaan pendapat mengenai batalnya rahn (gadai), yang didasarkan pada perbedaan pendapat tentang kasus kegilaan. Namun, dalam hal ini lebih utama untuk tidak membatalkan rahn; karena dengan kebodohan (safah), seseorang tidak keluar dari status sebagai orang yang masih dapat berucap (melakukan akad) jika diizinkan baginya. Penjelasan lebih rinci tentang hal ini terdapat dalam Kitab Wakalah, insya Allah Ta‘ala.

فرع

Cabang

إذا باع الراهن الرهن قبل القبض أو وهب أو أصدق أو أعتق فكل ذلك يصح منه ويكون رجوعاً في الرهن

Jika orang yang menggadaikan menjual barang gadai sebelum diterima, atau memberikannya sebagai hadiah, atau menjadikannya sebagai mahar, atau memerdekakannya, maka semua itu sah dilakukan olehnya dan dianggap sebagai penarikan kembali barang gadai.

فأما إذا أجَّر المرهون قبل القبض أو زوج الجارية أما التزويج قبل القبض فإنه لا يكون رجوعاً في الرهن؛ فإن التزويج لا يرِد على مورد الرد ولا يمتنع رهنُ المزوَّجة ابتداء

Adapun jika barang yang digadaikan disewakan sebelum diterima atau budak perempuan yang digadaikan dinikahkan, maka pernikahan sebelum penerimaan tidak dianggap sebagai penarikan kembali gadai; karena pernikahan tidak terjadi pada objek yang dapat ditarik kembali, dan tidak ada larangan menggadaikan budak perempuan yang sudah menikah sejak awal.

وأما الإجارة فإن قلنا لا يمتنع رهن المُكرَى وبيعُه فهو كالتزويج وإن قلنا يمتنع رهنُ المكرَى الأصح أن الإجارة تكون رجوعاً ومن أصحابنا من لم يجعلها رجوعاًً على هذا القول وهو بعيد

Adapun ijarah, jika kita mengatakan tidak terlarang menggadaikan atau menjual barang yang disewakan, maka hukumnya seperti pernikahan. Namun jika kita mengatakan terlarang menggadaikan barang yang disewakan, pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ijarah dianggap sebagai rujuk. Sebagian ulama dari kalangan kami ada yang tidak menganggapnya sebagai rujuk menurut pendapat ini, namun pendapat tersebut lemah.

ولو دبر العبدَ قبل القبض فالمنصوص أن ذلك رجوع عن الرهن وخرَّج الرّبيعُ قولاً آخر أنه لا يكون رجوعاًً وهذا منقاس؛ إذ بيع المدبَّر جائز عندنا وهذا كاختلاف القول في أن المدبر هل يجوز رهنه

Jika seseorang menetapkan budak sebagai mudabbar sebelum menerima serah terima, maka pendapat yang dinyatakan adalah bahwa hal itu merupakan penarikan kembali dari rahn, dan ar-Rabi‘ mengemukakan pendapat lain bahwa hal itu tidak dianggap sebagai penarikan kembali, dan ini sejalan dengan qiyās; sebab penjualan budak mudabbar dibolehkan menurut kami, dan ini seperti perbedaan pendapat mengenai apakah budak mudabbar boleh dijadikan rahn atau tidak.

ولو دبر عبداً ثم رهنه ففيه كلام يأتي بعد هذا على قرب وكل ذلك ينشأ من نصّ الشافعي في أن من أصدق امرأته عبداً فدبرته فطلقها الزوج قبل المسيس فهل يرجع في نصف المدبر فيه كلام سيأتي إن شاء الله عز وجل

Jika seseorang memerdekakan seorang budak secara ta‘liq (dengan penundaan) lalu menjadikannya sebagai barang gadai, maka ada pembahasan yang akan dijelaskan setelah ini dalam waktu dekat. Semua itu bersumber dari pendapat Imam Syafi‘i bahwa jika seseorang menjadikan seorang budak sebagai mahar untuk istrinya, lalu istrinya memerdekakan budak tersebut secara ta‘liq, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka apakah suami berhak kembali atas setengah dari budak yang telah dimerdekakan secara ta‘liq tersebut? Dalam hal ini terdapat pembahasan yang akan dijelaskan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وسأجمع بتوفيق الله مراتب الكلام في الرجوع في كل فن يقبل الرجوع في باب الرجوع عن الوصايا وقد قدمت طرفاً منه في أول البيع

Dengan taufik dari Allah, aku akan mengumpulkan tingkatan-tingkatan pembahasan tentang rujuk dalam setiap bidang yang memungkinkan adanya rujuk, dalam bab rujuk dari wasiat-wasiat. Sebagian darinya telah aku kemukakan di awal pembahasan jual beli.

فصل

Bab

قال وما جاز بيعه جاز رهنه إلى آخره

Ia berkata: “Apa yang boleh dijual, maka boleh pula digadaikan, dan seterusnya.”

قال الأصحاب الأشياء في البيع والرهنِ على أربعة أقسام أحدها ما لا يجوز بيعه ولا يجوز رهنه ككل ما لا يُملَك وكالموقوف وأم الولد والآبق وما لا يتمول

Para ulama menyatakan bahwa benda-benda dalam jual beli dan rahn terbagi menjadi empat bagian. Pertama, benda yang tidak boleh dijual dan tidak boleh dijadikan rahn, seperti segala sesuatu yang tidak dapat dimiliki, benda wakaf, umm al-walad, budak yang melarikan diri, dan sesuatu yang tidak memiliki nilai harta.

والقسم الثاني ما لا يجوز رهنه وفي بيعه تفصيل ومنه الدين فإنه لا يجوز رهنه وفي جواز بيعه خلاف وقد يلتحق بهذا القسم المدبر والمعلق عتقُه بصفةٍ فإن بيعهما نافذ وفي رهنهما كلام سيأتي

Bagian kedua adalah sesuatu yang tidak boleh dijadikan rahn, sedangkan dalam hal jual belinya terdapat perincian. Di antaranya adalah utang, yang tidak boleh dijadikan rahn, dan mengenai kebolehan menjualnya terdapat perbedaan pendapat. Yang termasuk dalam bagian ini juga adalah budak mudabbar dan budak yang dimerdekakan secara mu‘allaq (tergantung pada suatu sifat), karena penjualan keduanya sah, sedangkan mengenai rahn atas keduanya akan dijelaskan kemudian.

والقسم الثالث ما يجوز رهنه على وجه وفي بيعه خلاف ومنه العقد على الأم دون الولد وعلى الولد دون الأم هذا جائز في الرهن وفي البيع كلام

Bagian ketiga adalah sesuatu yang boleh dijadikan rahn dalam satu sisi, namun terdapat perbedaan pendapat dalam hal kebolehannya dijual. Contohnya adalah akad atas induk tanpa anaknya, atau atas anak tanpa induknya; hal ini diperbolehkan dalam rahn, sedangkan dalam jual beli terdapat perbedaan pendapat.

والقسم الرابع ما يجوز بيعه ورهنه وهو معظم الأعيان المملوكة على الإطلاق

Bagian keempat adalah sesuatu yang boleh dijual dan digadaikan, yaitu sebagian besar benda-benda yang dimiliki secara mutlak.

وسنلحق بكل قسم ما يليق به في مسائل الكتاب والذي ذكرناه الآن تراجم

Kami akan menambahkan pada setiap bagian hal-hal yang sesuai dengannya dalam permasalahan kitab ini, dan apa yang telah kami sebutkan sekarang adalah judul-judul bab.

وغرض الشافعي بما قال تجويز رهن المشاع وهو مذهبنا والخلاف فيه مع أبي حنيفة مشهور ثم إذا جرى الرهنُ في المشاع فالقبض فيه يتأتى بتسليم كله ثم يرتد إلى المالك النصفُ الذي لم يرهن على مهايأة ومناوبةِ ولا يمتنع صحة الرهن وإن كان القبض يتبعض بحكم الشيوع ونحن قد نبعض القبض لتوفير المنافِع على الراهن على ما سيأتي ذلك إن شاء الله عز وجل

Tujuan Imam Syafi‘i dengan ucapannya adalah membolehkan gadai atas harta bersama (musya‘), dan ini adalah mazhab kami. Perselisihan dalam hal ini dengan Abu Hanifah sudah terkenal. Kemudian, jika akad gadai terjadi pada harta bersama, maka penyerahan (qabdh) dapat dilakukan dengan menyerahkan seluruhnya, lalu setengah bagian yang tidak digadaikan kembali kepada pemiliknya berdasarkan kesepakatan dan pergiliran. Tidak terhalang keabsahan gadai meskipun penyerahan itu terbagi-bagi karena sifat kepemilikan bersama. Kami pun membolehkan pembagian penyerahan demi menjaga kemanfaatan bagi pihak yang menggadaikan, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

قال ويجوز ارتهان الحاكم وولي المحجور عليه ورهنهما عليه في النظر له إلى آخره

Dikatakan: Boleh bagi hakim dan wali orang yang berada di bawah perwalian untuk menerima barang gadai, serta menggadaikan barang milik orang yang berada di bawah perwalian demi kemaslahatan baginya, dan seterusnya.

صوّر الأئمة من ولي الطفل الارتهانَ للطفل وصوروا منه أيضاًً رهن مال الطفل واتفقوا على الجملةِ أن الرهن والارتهان منه متقيد بشرط الغبطة ورعاية المصلحة

Para imam menggambarkan bahwa wali anak dapat melakukan irtihān (menggadaikan) untuk anak, dan mereka juga menggambarkan bahwa wali dapat menggadaikan harta anak. Mereka sepakat secara umum bahwa rahn (gadai) dan irtihān yang dilakukan oleh wali harus terikat dengan syarat adanya keuntungan dan menjaga kemaslahatan.

اتفق العراقيون على أن الأب ليس له أن يبيع شيئاًً نسيئةً من مال الطفل ولو باع بأضعاف الثمن من مليء وفي إلى أجلٍ قريب ولم يرتهن شيئاً ولكن وثق بيسار المشتري وانتظام حاله وزعموا أن هذا تغريرٌ بمال الطفل ورفعٌ للملك واليد عنه لا في مقابلة عوض ناجز

Para ulama Irak sepakat bahwa seorang ayah tidak boleh menjual sesuatu secara kredit dari harta anak kecil, meskipun ia menjualnya dengan harga berlipat ganda kepada pembeli yang kaya dan terpercaya, dengan tempo yang dekat, tanpa mengambil barang jaminan apa pun, hanya karena ia percaya pada kemampuan dan kestabilan keadaan si pembeli. Mereka berpendapat bahwa hal ini merupakan tindakan membahayakan harta anak kecil dan menghilangkan kepemilikan serta kekuasaan atas harta tersebut tanpa adanya imbalan yang langsung diterima.

وهذا الذي ذكروه لم أر في طرقنا ما يخالفه على التصريح ولكن في معاني طرقنا ما يجوِّز ذلك وليس بيع ماله نسيئة من غير رهن بأكثر من الإبضاع بمال الطفل وقد ذكرنا في تجارة الوصي في مال اليتيم أن ذلك جائز ومعظم الأرباح ونماء التجاير يقع في النسايا

Apa yang mereka sebutkan ini, saya tidak melihat dalam referensi kami sesuatu yang secara tegas menentangnya, namun dalam makna-makna referensi kami terdapat hal yang membolehkan itu. Menjual harta miliknya secara nisyā’ (utang) tanpa jaminan dengan harga lebih tinggi tidak berbeda dengan melakukan mudhārabah dengan harta anak kecil. Kami telah sebutkan dalam pembahasan perdagangan wali terhadap harta anak yatim bahwa hal itu diperbolehkan, dan sebagian besar keuntungan serta pertumbuhan perdagangan terjadi pada transaksi nisyā’.

أما البيع نسيئة مع الارتهان فجائز لا منع فيه على الجملة على شرط رعاية الغبطة

Adapun jual beli secara nisyā’ah (tempo) dengan disertai penyerahan barang sebagai rahn (gadai), maka hukumnya boleh dan tidak ada larangan secara umum, dengan syarat tetap memperhatikan kemaslahatan.

وها نحن نفصلها بالمسائل فنذكر الارتهان للطفل ثم نذكر رهن مال الطفل فأما الارتهان للطفل فقد يفرض في بعضِ المواضع نظراً محضاً فالوجه القطع بنفوذه وذلك إذا أتلف رجل مالاً من أموال الطفل والتزم قيمتَه فإذا رهن بما لزمه للطفل مالاً فلا شكّ في صحة الرهن؛ فإنه يقع محض فائدة مجرّدة للصَّبي؛ فإنه يتوثق دينُه إلى اتفاق القضاء وليس عليه من الارتهان غرر ولا ضرر

Sekarang kami akan merincinya dalam bentuk masalah-masalah; kami akan menyebutkan tentang menerima gadai untuk anak, kemudian kami akan membahas menggadaikan harta anak. Adapun menerima gadai untuk anak, hal ini bisa terjadi dalam beberapa situasi secara murni teoritis. Maka, pendapat yang tepat adalah memastikan keabsahannya, yaitu apabila seseorang merusak harta milik anak lalu ia berkomitmen untuk mengganti nilainya, kemudian ia menyerahkan suatu harta sebagai gadai kepada anak atas kewajiban yang harus ia penuhi. Maka tidak diragukan lagi keabsahan gadai tersebut, karena hal itu merupakan manfaat murni yang sepenuhnya untuk anak; utangnya menjadi terjamin hingga terjadi penyelesaian perkara, dan anak tidak menanggung risiko atau bahaya apa pun dari penerimaan gadai tersebut.

ومن صور الارتهان للطفل أن الولي إذا رأى أن يبيع شيئاًً من ماله نسيئة على أن يرتهن والبيع على شرط الغبطة فالرهن صحيح والعراقيون لما قطعوا بمنع البيع نسيئة قيدوا القطع في المنع بما إذا لم يكن بالثمن رهن فأمّا إذا كان به رهن واقترنت المصلحة بالمعاملة فلا مانِع من الجواز

Salah satu bentuk penjaminan untuk anak adalah apabila wali melihat perlunya menjual sesuatu dari hartanya secara kredit dengan syarat adanya penjaminan, dan penjualan tersebut dilakukan atas dasar kemaslahatan, maka penjaminan itu sah. Para ulama Irak, ketika mereka menetapkan larangan penjualan secara kredit, mereka membatasi ketetapan larangan itu hanya jika tidak ada penjaminan atas harga. Adapun jika ada penjaminan atas harga dan kemaslahatan menyertai transaksi tersebut, maka tidak ada halangan untuk membolehkannya.

وإذا كان الولي يخاف النهب والغارة فرأى إيقاع مال الطفل في ذمة مليء وفيّ على أن يرتهن له كان ذلك جائزاً ولو باع مالَه نسيئة بمثل ما يُشترى به نقداً وارتهن فالبيع باطل والارتهان فاسد؛ فإن ثبوت الرهن موقوف على ثبوت مرهون به فإذا لم يثبت لم يصح الرهن

Jika wali khawatir terjadi perampokan dan penjarahan, lalu ia memandang perlu menempatkan harta anak dalam tanggungan orang yang kaya dan terpercaya dengan mengambil jaminan (rahn) darinya, maka hal itu diperbolehkan. Namun, jika ia menjual harta anak secara kredit dengan harga yang sama seperti harga tunai dan mengambil jaminan (rahn), maka jual belinya batal dan jaminannya rusak; sebab keberlakuan rahn tergantung pada keberlakuan utang yang dijaminkan, sehingga jika utang tersebut tidak sah, maka rahn pun tidak sah.

ثم إذا قبض الرهن على الفساد فهو أمانة هذا من الأصول المتفق عليها؛ فإن ما لا يقتضي ضماناً إذا صح ففاسده لا يقتضي الضمان على ما سيأتي ضبط أمثال ذلك

Kemudian, apabila barang gadai diterima dalam keadaan tidak sah, maka ia tetap merupakan amanah; ini termasuk kaidah yang telah disepakati. Sebab, sesuatu yang tidak mewajibkan tanggungan (ganti rugi) apabila sah, maka dalam keadaan tidak sah pun tidak mewajibkan tanggungan, sebagaimana akan dijelaskan contoh-contohnya nanti.

وكذلك لو أقرض مال الطفل لا في نهب ولا عند إرهاق حاجة فالإقراض فاسد

Demikian pula, jika harta anak kecil dipinjamkan bukan dalam keadaan perampasan dan bukan pula dalam keadaan kebutuhan yang mendesak, maka peminjaman tersebut batal.

ثم إذا أفسدنا المعاملة على مال الطفل فالعين مُتَّبعةٌ أينما صودفت وإن تلفت في يد المشتري أو المستقرض توجّه الضمانُ عليه والضمان على كل حال متوجه على الولي لتفريطه ورفعه اليدَ عن مال الطفل لا على جهة الغبطة

Kemudian, jika kami membatalkan transaksi atas harta anak, maka barang tersebut harus diikuti ke mana pun ia ditemukan. Jika barang itu rusak di tangan pembeli atau peminjam, maka tanggung jawab (jaminan) dibebankan kepadanya. Namun, dalam segala hal, tanggung jawab tetap dibebankan kepada wali karena kelalaiannya dan karena ia telah melepaskan kendali atas harta anak, bukan karena adanya kemaslahatan.

فهذا تفصيل الصور التي يجرى فيها الارتهان للطفل

Berikut ini adalah rincian gambaran-gambaran di mana praktik rahn berlaku bagi anak.

فأما رهن مال الطفل فهو إيقاع طائفة من ماله في حَجْر الرهن ولا يجوز هذا إلا بغبطةٍ ظاهرة عريّة عن الغرر أو حاجة ماسَّة على ما سنصف المسائل الآن

Adapun menggadaikan harta anak adalah menempatkan sebagian dari hartanya dalam kekangan gadai, dan hal ini tidak diperbolehkan kecuali karena adanya kemaslahatan yang nyata, terbebas dari unsur gharar, atau karena kebutuhan yang mendesak, sebagaimana akan kami jelaskan dalam permasalahan berikut.

فأمّا الحاجة فإذا مست حاجة الطفل إلى ما يصرف إلى نفقته وكان ماله عقاراً فضن الولي بالعقارِ ولم ير بيعه واستمكن من استقراض شيء يُتزجَّى به ولم يُبْعِد أن يتأدى ذلك الدين من رَيْع الضيعة ولكن لا يتمكن من هذا إلا برهن ذلك العقار فهذا جائز وظهور المصلحة فيه بيّن

Adapun kebutuhan, apabila kebutuhan anak sangat mendesak terhadap sesuatu yang digunakan untuk nafkahnya, sementara hartanya berupa tanah atau properti, lalu wali enggan menjual properti tersebut dan tidak melihat perlunya menjualnya, namun ia mampu meminjam sejumlah uang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan itu, dan tidak mustahil utang tersebut dapat dilunasi dari hasil sewa atau keuntungan properti itu, tetapi ia hanya dapat meminjam dengan menjaminkan properti tersebut, maka hal ini diperbolehkan dan kemaslahatan yang tampak di dalamnya jelas.

هذا بيان الحاجة

Ini adalah penjelasan tentang kebutuhan.

فأما الغبطة فإذا رأى الولي شيئاً يباع بألفٍ نسيئة وكان يساوي ألفين ولكن كان لا يستمر الأمر إلا برهن شيء يساوي ألفاً من مال الطفل فالولي يفعل ذلك؛ فإنه يتنجز فائدةَ الطفل وليس عليه غرر؛ فإن الرهن لو تلف وأدى الولي ألفاً لم يخسر الطفل شيئاً؛ فإن المشترَى يساوي ألفين وبمثله لو كان لا يقنع في هذه المعاملة إلا برهنٍ يساوي ألفين فلا غبطة؛ من جهة أن الحيلولة تقع ناجزة بين التصرف للطفلِ وبين الرهن في الحال ويجب بذل ألف في ثمن السلعةِ فإذا بذل الألف وفُرض التلف في الرهن فالثمن وقيمة المرهون ثلاثة آلاف والحاصل للطفل من المعاملة ألفان

Adapun mengenai keuntungan, jika wali melihat sesuatu yang dijual seharga seribu secara kredit, padahal nilainya dua ribu, namun transaksi itu hanya dapat berlangsung jika dijaminkan sesuatu senilai seribu dari harta anak, maka wali boleh melakukannya; karena ia memperoleh manfaat bagi anak tanpa ada unsur spekulasi. Jika barang jaminan itu rusak dan wali membayar seribu, anak tidak mengalami kerugian apa pun; sebab barang yang dibeli nilainya dua ribu. Demikian pula, jika dalam transaksi tersebut tidak diterima kecuali dengan jaminan senilai dua ribu, maka tidak ada keuntungan; karena terjadi penghalangan secara langsung antara tindakan untuk anak dan jaminan pada saat itu juga, dan harus mengeluarkan seribu sebagai harga barang. Jika seribu itu dikeluarkan dan diasumsikan barang jaminan rusak, maka harga barang dan nilai jaminan menjadi tiga ribu, sedangkan hasil yang diperoleh anak dari transaksi itu hanya dua ribu.

فإن قيل العين المرهونة كانت تتلف أيضاً لو بقيت في يد الطفلِ غير مرهون

Jika dikatakan, “Barang yang dijadikan rahn (gadai) itu juga akan rusak jika tetap berada di tangan anak kecil tanpa digadaikan.”

قلنا نعم ولكن انتجز منعُ التصرف فيه ولو كان التصرف سائغاً لكان ربما يسبق التصرف فآل المنعُ إلى تنجيز الحجر وضم الثمن

Kami katakan: Ya, tetapi larangan untuk melakukan tindakan terhadapnya tetap berlaku. Andaikata tindakan tersebut diperbolehkan, bisa jadi tindakan itu akan mendahului (proses lainnya), sehingga larangan tersebut pada akhirnya bermuara pada penegasan status hajr (pembatasan hak bertindak) dan penahanan harga (barang).

قال شيخي أبو محمد لو كان المرهون بحيث لا يتلف في مطّرد العادة كقراح من الأرض فهذا فيه احتمال؛ من جهة أن الزيادة حاصلة في قيمة المبيع وتحصيل الزيادة تنجيزُ ملك له على مقابلة حجر في الحال والتسبب إلى رفعه بأداء الثمن قريب وهذا الذي ذكره محتمل حسن؛ فإن الذي حقق الغرر تقدير تلفِ المرهون أمانة كما سبق التصوير فيه

Syekh saya, Abu Muhammad, berkata: Jika barang yang digadaikan adalah sesuatu yang secara kebiasaan tidak akan rusak, seperti sebidang tanah, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan; dari satu sisi, karena adanya tambahan nilai pada barang yang dijual, dan memperoleh tambahan tersebut berarti mempercepat kepemilikan atas imbalan yang saat ini masih terhalang, serta upaya untuk menghilangkan penghalang itu dengan membayar harga adalah hal yang dekat. Apa yang beliau sebutkan ini adalah kemungkinan yang baik; sebab inti dari gharar adalah memperkirakan kerusakan barang gadai sebagai amanah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والذي ذكره شيخنا وإن كان منقاساً فهو على خلاف ظاهر المذهب

Apa yang disebutkan oleh guru kami, meskipun dapat dianalogikan (qiyās), namun bertentangan dengan pendapat yang tampak dalam mazhab.

هذا تفصيل القول في الارتهان للطفل وفي الرهن من ماله

Ini adalah penjelasan rinci mengenai gadai untuk anak dan tentang gadai dari hartanya.

وذكر العراقيون وجهاًً بعيداً أخرته حتى لا ينتظم في ترتيب المذهب وذلك أنهم قالوا ذهب بعض أصحابنا إلى أن بيع مال الطفل نسيئةَ قط لا يجوز وإن فرض التوثق بالرهن والتشوف إلى الغبطة الظاهرة وإنما يجوز التأجيل في بعض الثمن إذا نقد من الثمن قيمةَ السلعة يعني القيمة التي تشترى بها نقداً وذلك إذا كانت السلعة تساوي مائة نقداً ومائة وعشرين نسيئة فباع الولي بمائة وعشرين مائة منها نقداً وعشرون نسيئة وبالعشرين رهن قال هذا القائل لا تجوز النسيئة إلا كذلك في بعضٍ من الثمن

Orang-orang Irak menyebutkan satu pendapat yang jauh (lemah), yang saya tunda penyebutannya agar tidak tercampur dalam urutan mazhab. Yaitu bahwa mereka berkata: Sebagian ulama kami berpendapat bahwa penjualan harta anak kecil secara nisyā’ (tempo) sama sekali tidak boleh, meskipun telah dilakukan penjaminan dengan rahn (gadai) dan ada harapan memperoleh keuntungan yang nyata. Penangguhan pembayaran hanya boleh dilakukan pada sebagian harga jika telah dibayarkan dari harga tersebut senilai harga barang, yaitu nilai yang dapat digunakan untuk membeli barang itu secara tunai. Misalnya, jika barang tersebut bernilai seratus secara tunai dan seratus dua puluh secara nisyā’, lalu wali menjualnya seharga seratus dua puluh, seratus di antaranya dibayar tunai dan dua puluh secara nisyā’, dan untuk dua puluh itu diberikan rahn, maka menurut pendapat ini, nisyā’ hanya boleh dilakukan dengan cara seperti itu pada sebagian dari harga.

وهذا بعيد لا أصل له ولا ينتظر هذا عاقل ثم اشتراط الرهن في الفاضل من القيمة المنقودة خارج عن قياس المعاملات؛ فإن تيك الزيادة لو لم تحصل لم يضع بتعذرها شيء من مال الطفل فلا أصل لهذا الوجه والتعويل على ما رتبناه في الارتهان والرهن

Hal ini sangat jauh dan tidak memiliki dasar, serta tidak mungkin diharapkan oleh orang yang berakal. Kemudian, pensyaratan rahn (gadai) pada kelebihan dari nilai yang dibayarkan tunai adalah di luar qiyās (analogi) dalam muamalah; sebab jika kelebihan itu tidak diperoleh, tidak ada sedikit pun harta anak yang hilang karena ketidakmampuannya. Maka, tidak ada dasar bagi pendapat ini, dan yang dijadikan sandaran adalah apa yang telah kami susun dalam pembahasan ar-rahn (gadai) dan rahn.

ثم قال المعتبرون من أئمة المذهب تصرف المكاتب في الرهن والبيع بنسيئة كتصرف الولي للطفل؛ فإن تصرف المكاتب إذا لم يشتمل على تركِ النظر مُطلق لهُ وأقصى النظر المرعي ما نأمر به الأولياء في حق الطفل

Kemudian para ulama terkemuka dari mazhab ini mengatakan bahwa tindakan seorang mukatab dalam hal gadai dan jual beli secara kredit adalah seperti tindakan wali terhadap anak kecil; sebab tindakan mukatab, selama tidak mengandung unsur mengabaikan kemaslahatan secara mutlak baginya, dan standar kemaslahatan yang diperhatikan adalah apa yang kami perintahkan kepada para wali dalam hal anak kecil.

وذكر العراقيون والشيخ أبو علي وجهاً آخر أن المكاتب لا يبيع نسيئة على الاستقلال وهو على كل حال في حقه معدود من التبرعات سواء ارتهن أو لم يرتهن والولي في مال الطفل أبسطُ يداً من المكاتب وعليه حجرُ الرق فإذاً بيعه نسيئة على هذا الوجه ملحق بتبرعاته فإن استقل لم ينفذ وإن استأذن السيد فعلى قولين قياساً على سائر تبرعاته

Orang-orang Irak dan Syekh Abu Ali menyebutkan pendapat lain bahwa seorang mukatab tidak boleh menjual secara kredit secara mandiri, dan dalam segala hal, hal itu dalam haknya dianggap sebagai bentuk tabarru‘ (pemberian sukarela), baik ia mengambil jaminan atau tidak. Wali dalam harta anak lebih leluasa daripada mukatab, sedangkan pada mukatab terdapat pembatasan karena status budaknya. Maka, penjualan secara kredit oleh mukatab dalam bentuk ini disamakan dengan tabarru‘-nya; jika ia melakukannya secara mandiri, maka tidak sah, dan jika ia meminta izin kepada tuannya, maka ada dua pendapat, diqiyaskan dengan bentuk tabarru‘ lainnya.

ولو رهن المكاتب حيث ينفذ رهن الولي في مال الطفل ففي رهنه من الكلام ما في بيعه نسيئة فالذي ذهب إليه أهل التحقيق أنه ينفذ رهنه حيث ينفذ رهن الولي

Jika seorang mukatab menggadaikan (hartanya) di tempat di mana gadai wali atas harta anak kecil sah, maka dalam hal gadai yang dilakukan oleh mukatab terdapat pembahasan yang sama seperti dalam jual beli secara kredit yang dilakukannya. Pendapat yang dipegang oleh para ahli tahqiq adalah bahwa gadai yang dilakukan oleh mukatab itu sah di tempat di mana gadai wali juga sah.

وفي المسألة وجه آخر حكَوْه أن رهنه تبرع ولا يخفى حكم تبرعه

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain yang mereka sebutkan, yaitu bahwa menggadaikannya merupakan tindakan tabarru‘ (sukarela), dan hukum tabarru‘ tidaklah samar.

ثم إن قلنا لا ينفذ الرهن من المكاتب ففي نفوذه من العبد المأذون وجهان؛ من جهة أن الرهن في نفسه حجر وليس من عقود التجارة وهذا يقرب من الاختلاف الذي ذكرناه في أن العبد هل يملك إجارة الرقاب التي يتصرف فيها ووجه التشبيه أن الإجارة والرهن ليس من عين التجارة وهو مأذون له في التجارة

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa rahn (gadai) tidak sah dari seorang mukatab, maka mengenai keabsahannya dari seorang budak yang diberi izin (untuk berdagang) terdapat dua pendapat; dari satu sisi, rahn pada hakikatnya adalah bentuk pembatasan (hajr) dan bukan termasuk akad perdagangan, dan hal ini mendekati perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan mengenai apakah budak memiliki hak atas akad ijarah (sewa-menyewa) terhadap dirinya yang ia kelola. Adapun sisi kesamaannya adalah bahwa ijarah dan rahn bukan termasuk inti perdagangan, sementara ia diberi izin untuk berdagang.

فصل

Bab

قال ولو كان لابنه الطفل عليه حق إلى آخره

Ia berkata: “Dan seandainya anaknya yang masih kecil memiliki hak atasnya, dan seterusnya.”

ما قدمناه من رهن مال الصبي على شرط الغبطة ومن الارتهان له يستوي فيه الأب والقيم الأجنبي والوصي فلا خلاف في وجوه التصرّفات ووجوه النظر

Apa yang telah kami sampaikan mengenai menjadikan harta anak kecil sebagai rahn dengan syarat adanya kemaslahatan, begitu pula menerima rahn untuknya, maka dalam hal ini kedudukan ayah, wali asing, dan washi adalah sama; tidak ada perbedaan dalam bentuk-bentuk tasharruf maupun bentuk-bentuk pengelolaan.

وإنما خالف الولي الوصيَّ فيما قدمناه في كتاب البيع من حمل ظاهر تصرف الولي على المصلحة وعلى من يدعي خلافَها الحجةُ والوصي يطالب بإقامة الحجة على رعاية المصلحة

Perbedaan wali dengan washi (pelaksana wasiat) sebagaimana telah kami jelaskan dalam Kitab Jual Beli adalah bahwa tindakan wali secara lahiriah dianggap demi kemaslahatan, sehingga pihak yang mengklaim sebaliknya harus mendatangkan bukti. Adapun washi, ia dituntut untuk membuktikan bahwa tindakannya benar-benar demi kemaslahatan.

وهذا الفصل يختص مضمونه بالأب والجد فإذا كان لابنه الطفل عليه دين فارتهن مال نفسه لطفله بالدين الذي للطفل عليه جاز هذا ولو ارتهن مال الطفل من نفسه حيث يجوز له أن يرهنه من غيره فيصح ولا يأتي هذا في الوصي والقيّم والحاكم؛ فإن هؤلاء لا يتولَّوْن طرفي العقد

Bab ini secara khusus membahas tentang ayah dan kakek. Jika seorang ayah memiliki utang kepada anaknya yang masih kecil, lalu ia menggadaikan hartanya sendiri kepada anaknya sebagai jaminan atas utang yang ia miliki kepada anaknya, maka hal itu diperbolehkan. Bahkan jika ia menggadaikan harta anaknya dari dirinya sendiri, di mana ia juga boleh menggadaikannya kepada orang lain, maka hal itu sah. Hal ini tidak berlaku bagi washi, qayyim, dan hakim; karena mereka tidak boleh mewakili kedua belah pihak dalam akad.

ثم إذا باع الأب من نفسه مال طفله أو باع من طفله مال نفسه أو رهن منه أو ارتهن له فهل عليهِ أن يأتي بشقي العقد الإيجاب والقبول؛ أم يكفيه الإتيان بأحد الشقين فعلى وجهين مشهورين أحدهما لا بد من أن يقول رهنت وارتهنت وبعت واشتريت أو بعت ورهنت وقبلت؛ لأن العقد استقلاله بركنيه وبهما كان عقداً

Kemudian, apabila seorang ayah menjual harta anaknya kepada dirinya sendiri, atau menjual harta dirinya kepada anaknya, atau menggadaikan kepada anaknya, atau menerima gadai dari anaknya, maka apakah ia wajib mengucapkan kedua sisi akad, yaitu ijab dan qabul; ataukah cukup baginya mengucapkan salah satu sisi saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya menyatakan bahwa harus mengucapkan: “Saya menggadaikan dan saya menerima gadai, saya menjual dan saya membeli,” atau “Saya menjual dan saya menggadaikan, dan saya menerima,” karena akad itu berdiri sendiri dengan kedua rukunnya, dan dengan keduanya akad menjadi sah.

والثاني يكتفى بأحد الشقين والتعيين إلى اختيار الولي؛ فإن التواجب تخاطب وهذا لا ينتظم من الشخص الواحد فيكفي الإثبات بشق لرسم العقد والتنصيص عليه وإذا اكتُفي بعاقد واحد لم يبعد الاكتفاء بلفظ واحد

Yang kedua, cukup dengan salah satu dari dua sisi, dan penentuan diserahkan kepada pilihan wali; karena ijab dan qabul adalah bentuk saling berbicara, dan hal itu tidak mungkin terjadi dari satu orang saja, maka cukup dengan salah satu sisi untuk menetapkan akad dan menegaskannya. Jika cukup dengan satu pihak yang melakukan akad, maka tidaklah jauh kemungkinan cukup dengan satu lafaz saja.

وإذا باع الأب من طفله أو ابتاع من ماله ففي ثبوت خيار المجلس خلاف من أصحابنا من قال لا يثبت؛ فإن المجلس منتهاه التفرق وهو بين شخصين

Apabila seorang ayah menjual kepada anak kecilnya atau membeli dari hartanya, maka mengenai tetapnya khiyār majlis terdapat perbedaan pendapat di antara ulama kami; sebagian dari mereka berpendapat tidak tetap, karena majlis itu akhirnya adalah perpisahan, sedangkan itu terjadi antara dua orang.

ومنهم من أثبت خيار المجلس

Dan di antara mereka ada yang menetapkan adanya khiyār majlis.

ثم اختلف هؤلاء فقال بعضهم ينقطع الخيار بمفارقة مجلس العقد وقال آخرون لا ينقطع الخيار إلا أن يختارَ إلزام العقد ويقطعَ الخيارَ لفظاً؛ فإنه في مقام البائع والمشتري فمفارقته المجلس كاصطحاب المتعاقدين ومفارقتهما المجلس

Kemudian mereka berbeda pendapat; sebagian dari mereka mengatakan bahwa hak khiyar gugur dengan berpisahnya majelis akad, sementara yang lain mengatakan bahwa hak khiyar tidak gugur kecuali jika salah satu memilih untuk menetapkan akad dan mengakhiri hak khiyar secara lisan; karena ia berada pada posisi penjual dan pembeli, maka perpisahannya dari majelis seperti kebersamaan kedua pihak yang berakad dan perpisahan mereka dari majelis.

وإذا رهن من طفله أو ارتهن من مال طفله فهل يحتاج إلى إجراء قبض الكلام فيه كالكلام فيما إذا رهن الوديعة عند المودعَ وسيأتي ذلك في فصلٍ فإذا استقصيناه أعدنا القول في الأب

Jika seorang ayah menggadaikan harta anaknya atau menerima gadai dari harta anaknya, apakah diperlukan pelaksanaan serah terima? Pembahasan mengenai hal ini sama seperti pembahasan ketika seseorang menggadaikan barang titipan kepada orang yang dititipi, dan hal ini akan dijelaskan pada bab tersendiri. Jika telah dijelaskan secara rinci di sana, maka akan kami ulangi pembahasannya terkait ayah.

فصل

Bab

قال وإذا قبض الرهنَ لم يكن لصاحبه إخراجُه من الرهن إلى آخره

Dan apabila barang gadai telah diterima, maka pemiliknya tidak berhak mengeluarkannya dari status gadai hingga selesai.

إذا رهن شيئاً وألزم الرهنَ بالإقباض تأكدت الوثيقة ولا فكاك إلا بسقوط الدين إما بالأداء وإما بالإبراء أو بفسخ المرتهن الرهنَ؛ فإن الرهن جائز في حقه أما الراهن فلا يجد سبيلاً إلى الفِكاك ما بقي الدين فلو أدى معظمَ الدين لم ينفك من الرهن شيء ما بقي من الدين حبة أو أقل ولا يتوزع الدينُ على قيمة المرهون؛ حتى يقال إذا أدى بعضاً فك من الرهن بقسطه

Jika seseorang menggadaikan sesuatu dan mewajibkan penerimaan barang gadai, maka jaminan itu menjadi kuat dan tidak ada jalan untuk melepaskannya kecuali dengan gugurnya utang, baik dengan pelunasan, pembebasan, atau pembatalan gadai oleh pihak penerima gadai; karena gadai itu bersifat jaiz (boleh) bagi pihak penerima gadai, sedangkan bagi pihak yang menggadaikan tidak ada jalan untuk melepaskan gadai selama utang masih ada. Jika ia melunasi sebagian besar utang, tidak ada bagian dari barang gadai yang terbebas selama masih tersisa utang meskipun hanya sebutir atau kurang, dan utang tidak terbagi atas nilai barang yang digadaikan; sehingga tidak bisa dikatakan jika ia melunasi sebagian, maka sebagian barang gadai terbebas sesuai bagiannya.

وإذا أثبتنا حق الحبس للبائع فلو أدى المشتري بعض الثمن فالذي اختاره الأئمة أنه لا يستحق تسليمَ شيء من المبيع إليه ما لم يوفِّ الثمنَ بكماله والمحبوس في هذا الحكم بالثمن كالمرهون المحبوس بالدين

Jika kita menetapkan hak hibs bagi penjual, maka apabila pembeli membayar sebagian dari harga, pendapat yang dipilih oleh para imam adalah bahwa pembeli tidak berhak menerima sebagian pun dari barang yang dibeli sampai ia melunasi seluruh harga. Barang yang ditahan dalam hukum ini karena harga, kedudukannya seperti barang gadai yang ditahan karena utang.

ولو كان لرجل على رجلين دين عن جهة واحدةٍ أو جهتين فرهنا بما عليهما عبداً مشتركاً عند مستحِق الدين وأقبضاه إياه فإذا أدى أحدُهما ما عليه من الدين انفك الرهنُ في حصته؛ إذ لا تعلّق لرهنه نصيبَه برهن صاحبه

Jika seorang laki-laki memiliki piutang kepada dua orang laki-laki, baik dari satu sebab maupun dua sebab, lalu mereka berdua menyerahkan sebagai gadai seorang budak yang dimiliki bersama kepada pihak yang berhak atas piutang tersebut dan mereka berdua menyerahkan budak itu kepadanya, maka apabila salah satu dari mereka melunasi bagian utangnya, maka bagian gadai atasnya menjadi bebas; karena gadai atas bagiannya tidak terkait dengan gadai milik temannya.

ولو وكلا وكيلاً حتى رهن عبدهما المشترك من مستحِق الدين فإن علم المرتهن صورةَ الحال فالأمر على ما تقدم ولا يختلف الأمر باتحاد الوكيل

Jika keduanya menunjuk seorang wakil hingga wakil tersebut menggadaikan budak mereka yang dimiliki bersama kepada pihak yang berhak atas utang, maka jika penerima gadai mengetahui keadaan yang sebenarnya, ketentuannya tetap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dan tidak ada perbedaan hukum meskipun wakilnya satu.

وقد ذكرنا تردد الأصحاب في اتحاد الوكيل وتعدده في البيع والشراء وأن الاعتبار في تعدد الصفقة بالوكيل المباشر للعقد أم بالموكل هذا ذكرناه على الاستقصاء في كتابِ البيع في الفصل المشتمل على شراء رجلين عبداً من رجل أما الرهن فلا أثر فيه للوكيل والنظر إلى الموكل؛ إذ ليس الرهن عقد ضمان حتى ينظر فيه إلى من تولاه بخلاف البيع

Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah wakil itu satu atau lebih dalam jual beli, dan bahwa yang menjadi tolok ukur dalam menghitung banyaknya transaksi adalah wakil yang secara langsung melakukan akad ataukah pihak yang mewakilkan. Hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Kitab al-Bay‘ pada bab yang membahas dua orang laki-laki yang membeli seorang budak dari seorang laki-laki. Adapun dalam masalah rahn (gadai), tidak ada pengaruh bagi wakil di dalamnya, dan yang menjadi perhatian adalah pihak yang mewakilkan; sebab rahn bukanlah akad penjaminan sehingga perlu dilihat siapa yang melakukannya, berbeda halnya dengan jual beli.

ولو جرى الرهن والاقتراض من شخص واحد ولم يشعر المقرِض المرتهن بكون المستقرض الراهن وكيلاً ثم تبين أنه وكيل شخصين في الاقتراض والرهن فالمذهب الأصح في هذه الصورة أن أحد الموكِّلين إذا أدى الدين انفك الرهن في حصته

Jika terjadi akad rahn dan peminjaman dari satu orang, dan pihak pemberi pinjaman yang memegang rahn tidak mengetahui bahwa pihak peminjam yang menyerahkan rahn adalah seorang wakil, kemudian ternyata diketahui bahwa ia adalah wakil dari dua orang dalam hal peminjaman dan rahn, maka mazhab yang paling sahih dalam kasus ini adalah jika salah satu dari dua orang yang mewakilkan melunasi utangnya, maka rahn terbebas pada bagiannya.

ومن أصحابنا من قال إذا جرى الرهن على ظن أن المتعاطي هو صاحب الأمر لم يحصل الانفكاك في شيء ما بقي من الدين شيء

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa apabila gadai dilakukan dengan dugaan bahwa pihak yang menerima adalah pemilik urusan, maka pembebasan gadai tidak terjadi selama masih tersisa sebagian dari utang.

وهذا غريب ولكن حكاه صاحب التقريب قولاً وكرره في مواضع ومثل هذا القول يشوّش قاعدة المذهب فحق الناظِر أن يكتفي بمعرفته ولا يعتده من أصل المذهب

Ini memang aneh, namun penulis kitab at-Taqrīb telah meriwayatkannya sebagai sebuah pendapat dan mengulanginya di beberapa tempat. Pendapat semacam ini dapat mengacaukan kaidah mazhab, maka sudah sepantasnya bagi penelaah cukup mengetahui hal itu saja dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari pokok mazhab.

فرع

Cabang

إذا رهن رجل عبداً من رجل بألف درهم ومات الراهن وخلف ابنين؛ فأدى أحدُهما حصته وهو خَمسمائة فهل ينفك الرهن في نصف العبد ذكر صاحب التقريب قولين أحدهما ينفك كما لو كان الراهن في الابتداء اثنين

Jika seseorang menggadaikan seorang budak kepada orang lain dengan nilai seribu dirham, lalu orang yang menggadaikan itu meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak; kemudian salah satu dari keduanya membayar bagiannya, yaitu lima ratus dirham, maka apakah gadai itu bebas pada setengah bagian budak tersebut? Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah gadai itu bebas sebagaimana jika sejak awal yang menggadaikan itu dua orang.

وهذا ضعيف لا أصل له والقول الثاني أنه لا ينفك من الرهن شيء ما بقي من الدين شيء وهذا ما قطع به الإمام والمحققون؛ فإن الرهن في الابتداء اقتضى وثيقةً على وجهٍ فلتدم تلك الوثيقة

Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak memiliki dasar. Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak ada bagian dari barang gadai (rahn) yang terbebas selama masih ada sisa utang. Inilah yang ditegaskan oleh imam dan para ahli yang teliti; sebab pada awalnya rahn ditetapkan sebagai jaminan dengan cara tertentu, maka jaminan itu harus tetap ada.

وإنما ينقدح القولان في فك تعلّق التركة فإذا مات رجل وعليه دين متعلق بتركته فإذا أدّى أحد الوارثين لحصته فانفكاك تعلق الدين بحصته لا يبعد أن يخرج على قولين مبنيين على أن أحدهما لو أقر بالدين وأنكر الثاني فهل يلزم المقر تأدية الدين من حصته من التركة فيه قولان مشهوران كما سنذكرهما في كتاب الأقارير

Dua pendapat itu muncul dalam masalah terlepasnya keterikatan harta warisan. Jika seseorang meninggal dunia dan ia memiliki utang yang terkait dengan harta warisannya, lalu salah satu ahli waris membayar bagian utangnya, maka terlepasnya keterikatan utang dari bagiannya tidak mustahil dikembalikan pada dua pendapat yang dibangun atas dasar: jika salah satu dari dua ahli waris mengakui adanya utang sementara yang lain mengingkarinya, apakah yang mengakui wajib membayar utang dari bagiannya dalam harta warisan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur, sebagaimana akan kami sebutkan dalam Kitab al-Iqrar.

فأما وثيقة أثبتها شخص واحد على قضية فيبعد أن تزول تلك القضية بموته وتعدد ورثته ولهذا التفاتٌ على موت السّيد المكاتِب وتخليفه ورثة وأداء المكاتَب حصةَ بعضهم والقول في هذا طويل

Adapun dokumen yang dibuktikan oleh satu orang saja atas suatu perkara, maka kecil kemungkinan perkara tersebut hilang karena kematian orang itu dan bertambahnya ahli warisnya. Dalam hal ini terdapat perhatian terhadap kematian tuan yang memerdekakan budaknya melalui akad mukatabah, kemudian ia meninggalkan ahli waris, lalu budak mukatab tersebut membayar bagian sebagian dari mereka. Pembahasan tentang hal ini cukup panjang.

فصل

Bab

قال ولو أكرى الرهنَ من صاحبه أو أعاره أياماً لم ينفسخ الرهن إلى آخره

Dan jika pemilik barang gadai menyewakan barang gadai itu dari pemiliknya atau meminjamkannya selama beberapa hari, maka gadai tersebut tidak batal sampai selesai.

اختلف الأصحاب في صورة المسألة فمنهم من قال صورة المسألة أن يكتري الراهن المرهونَ من المرتهن لأن الإكراء إنما يصح منه؛ إذ هو المالك والمستحِق للتصرف في المنفعة فعلى هذا يسمَّى المرتهن صاحبَ الرهن بماله من حق الحبس وقصد الردَّ على أبي حنيفة حيث قال الرهن والكراء لا يجتمعان

Para ulama berbeda pendapat mengenai bentuk masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa bentuk masalahnya adalah si rahin (pemberi gadai) menyewa barang yang digadaikan dari murtahin (penerima gadai), karena akad sewa-menyewa hanya sah dilakukan oleh murtahin; sebab dialah pemilik dan yang berhak melakukan tasharruf atas manfaat barang tersebut. Dengan demikian, murtahin disebut sebagai pemilik barang gadai karena ia memiliki hak menahan barang tersebut. Pendapat ini dimaksudkan untuk membantah Abu Hanifah yang berpendapat bahwa gadai dan sewa-menyewa tidak dapat digabungkan.

وإذا أجزنا فآخرهما ينقضُ أولهما

Jika kita membolehkannya, maka yang terakhir dari keduanya membatalkan yang pertama.

ومن أصحابنا من قال صورة المسألة أن يكري المرتهن المرهون من الراهن ويُقبضه على اعتقاد الإجارة فلا شكّ أن الإجارة فاسدة؛ فإنها ليست صادرة عن استحقاق ولكن الغرض أَن المرهون وإن رجع إلى يد الراهن فلا يُقضى بانفساخ الرهن وإن كان العود إلى يده برضا مستحِق اليد وهو المرتهن

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa gambaran masalahnya adalah apabila penerima gadai (al-murtahin) menyewa barang yang digadaikan dari pihak yang menggadaikan (ar-rahin), lalu ia menerima barang tersebut dengan anggapan sebagai sewaan, maka tidak diragukan lagi bahwa akad sewa tersebut batal; karena akad itu tidak dilakukan atas dasar hak kepemilikan. Namun, maksudnya adalah bahwa barang yang digadaikan meskipun kembali ke tangan pihak yang menggadaikan, tidaklah diputuskan bahwa gadai tersebut batal, meskipun kembalinya barang itu ke tangannya atas kerelaan pihak yang berhak memegang barang, yaitu penerima gadai.

ومن أصحابنا من صور إجارةً تصح من المرتهن لينتظم كلامُ الشافعي فقال لو أكرى رجل عبداً من رجل ثم إنه رهنه منه فالعقدان ثابتان والمرتهن يتصرف في المنافع؛ فإنه مستحقها بالإجارة السابقة فإذا أجر ذلك العبدَ من الراهن ففي صحة الإجارة وجهان سيأتي ذكرهما في كتاب الإجارة وسبب الخلاف كون المستأجر مالكاً للرقبة فهذه صورة الإجَارة الصحيحة على وجه وغرضُ الفصل أن الرهن لا يبطل برجوع العين إلى يد الراهن

Sebagian ulama kami menggambarkan adanya akad ijarah yang sah dari pihak murtahin agar sesuai dengan pendapat Imam Syafi’i. Mereka berkata: Jika seseorang menyewakan seorang budak kepada orang lain, kemudian budak itu dijadikan rahn (jaminan) oleh penyewa kepada pemiliknya, maka kedua akad tersebut tetap sah dan murtahin berhak memanfaatkan hasilnya, karena ia memang berhak atas manfaat tersebut berdasarkan akad ijarah sebelumnya. Jika kemudian murtahin menyewakan budak itu kembali kepada pihak yang merahnkannya, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan akad ijarah ini, yang akan dijelaskan dalam Kitab Ijarah. Sebab perbedaan pendapat ini adalah karena musta’jir (penyewa) juga merupakan pemilik atas benda (budak) tersebut. Inilah gambaran ijarah yang sah menurut salah satu pendapat. Tujuan pembahasan ini adalah bahwa rahn tidak batal hanya karena barang yang dijaminkan kembali ke tangan pihak yang merahnkan.

فصل

Bab

قال ولو رهنه وديعةً له في يده إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia menjadikannya sebagai rahn (barang gadai) dan sebagai wadiah (titipan) miliknya yang berada di tangannya, hingga seterusnya.”

إذا أودع رجل عيناً عند رجل ثم إن مالك العين رهنها من المودَع فالذي نص عليه هاهنا أنه لا بد في القبض من إذنٍ ونفسُ عقد الرهن مع ثبوت اليد للمرتهن لا يكون متضمناً إذن في القبض

Jika seseorang menitipkan suatu barang kepada orang lain, kemudian pemilik barang tersebut menggadaikannya kepada orang yang dititipi, maka menurut pendapat yang dinyatakan di sini, dalam hal penyerahan barang gadai harus ada izin secara khusus, dan akad rahn itu sendiri, meskipun tangan pemegang barang sudah berada pada murtahin, tidak otomatis mengandung izin untuk penyerahan (qabdh).

ونص على أنه لو وهبَ شيئاً وهو في يد المتهب صار مقبوضاً من غير إذنٍ جديد

Dan disebutkan bahwa jika seseorang memberikan sesuatu sebagai hibah sementara barang itu sudah berada di tangan penerima hibah, maka barang tersebut dianggap telah diterima tanpa memerlukan izin baru.

ونصه هذا يخالف نصَّه في الرهن فاختلف أصحابنا على طريقين فمنهم من جعل في المسألة قولين بالنقل والتخريج أحدهما لا يشترط الإذن في القبض لا في الرهن ولا في الهبة؛ فنفس العقد إذا صادف اليدَ من المرتهن والمتهب كان متضمنا إذناً في القبض والقول الثاني وهو القياس أنه لا بد من الإذن في القبض في المسألتين؛ فإنه لم يَجْر له تعرض واليدُ السابقة كانت يدَ وديعة أو يداً عن جهة أخرى

Teks ini bertentangan dengan nash beliau dalam masalah rahn, sehingga para ulama kami berbeda pendapat dalam dua jalur. Sebagian dari mereka menetapkan dalam masalah ini ada dua pendapat berdasarkan riwayat dan istinbat: yang pertama, tidak disyaratkan izin dalam qabd, baik dalam rahn maupun hibah; maka akad itu sendiri jika bertepatan dengan tangan penerima rahn atau penerima hibah, sudah mengandung izin untuk qabd. Pendapat kedua, yang merupakan qiyās, bahwa harus ada izin dalam qabd pada kedua masalah tersebut; karena tidak ada penjelasan khusus tentang hal itu, dan kepemilikan sebelumnya adalah kepemilikan sebagai wadiah atau dari sebab lain.

ومن أصحابنا من أقر النَّصين في الرهن والهبة قرارَهما وشرط الإذن في القبض في الرهن ولم يشترط ذلك في الهبة وفرق بينهما بالقوة والضعف فالهبة مملِّكة والرهن مقصوده إثباتُ اختصاص

Sebagian ulama dari kalangan kami menetapkan kedua nash tentang rahn (gadai) dan hibah (pemberian) sebagaimana adanya, serta mensyaratkan izin dalam hal penerimaan pada rahn, namun tidak mensyaratkan hal itu pada hibah. Mereka membedakan antara keduanya berdasarkan kekuatan dan kelemahan; karena hibah bersifat memindahkan kepemilikan, sedangkan rahn tujuannya adalah menetapkan hak khusus (atas barang yang digadaikan).

فإن قلنا لا بد من الإذن فالعقد قبل الإذن على الجواز وهو رهن غير مقيدٍ بالقبض وإذا جرى الإذن لم يحصل القبض بمجرد الإذن أيضاً حتى يمضي من الزمان ما يتأتى فيه القبض وهو زمان يسع الرجوع إلى موضع الوديعة

Jika kita mengatakan bahwa izin itu wajib, maka akad sebelum adanya izin adalah boleh, yaitu gadai yang tidak terikat dengan penyerahan barang. Dan apabila izin telah diberikan, penyerahan barang pun tidak terjadi hanya dengan izin semata, hingga berlalu waktu yang memungkinkan terjadinya penyerahan, yaitu waktu yang cukup untuk kembali ke tempat titipan.

وعلة هذا أنا نريد أن نجعل دوام اليد كابتداء القبض بالإذن ولا أقل من أن يجري زمنٌ يُتصوّر فيه ابتداء القبض لو أُريد ذلك

Alasannya adalah karena kita ingin menjadikan keberlangsungan penguasaan (atas barang) seperti permulaan pengambilan dengan izin, dan paling tidak harus ada suatu masa yang memungkinkan terjadinya permulaan pengambilan jika memang dikehendaki demikian.

وإن جعلنا نفسَ العقد إذناً في القبض فلا بد وأن يمضي من وقت العقد زمان يسع إمكان الإقباض بتقدير الرجوع إلى المكان الذي به العين وقد اتفقت الطرق على اعتبار الزمان

Jika kita menganggap bahwa akad itu sendiri merupakan izin untuk melakukan qabḍ (pengambilan barang), maka harus ada jeda waktu setelah akad yang cukup untuk memungkinkan terjadinya penyerahan barang, dengan memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke tempat di mana barang itu berada. Seluruh pendapat (madzhab) sepakat bahwa waktu ini harus diperhitungkan.

قال الشافعي لو كان في المسجد والوديعةُ في البيت لم يكن قبضاً حتى يصير إلى منزله الذي هو فيه

Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang berada di masjid sementara barang titipan (wadi‘ah) berada di rumah, maka itu belum dianggap sebagai qabadh (pengambilan/penyerahan barang) sampai ia benar-benar sampai di rumah tempat barang itu berada.

فإذا ثبت اعتبارُ مضي الزمان فهل يشترط حقيقةُ الرجوع من القابض ومعاينة العين فعلى وجهين أحدهما لا يشترط ذلك بل يكتفى بمضي زمان إمكان الرجوع؛ فإن الأمر مبني على استدامة لا على ابتداء فعل والذي يليق ثَمَّ بالاستدامة الاكتفاء بزمان الرجوع

Jika telah tetap bahwa berlalunya waktu dianggap, maka apakah disyaratkan adanya pengembalian secara nyata dari pihak yang menerima dan melihat barang tersebut? Ada dua pendapat. Pendapat pertama, hal itu tidak disyaratkan, melainkan cukup dengan berlalunya waktu yang memungkinkan untuk mengembalikan; karena perkara ini dibangun atas keberlanjutan, bukan atas permulaan suatu perbuatan, dan yang sesuai dengan keberlanjutan adalah cukup dengan waktu untuk mengembalikan.

والوجه الثاني أنه لا بد من الرجوع حتى يصير الدوام مع الثقة بوجود العين بمثابة افتتاح إقباض ونصُّ الشافعي دليل عليه؛ فإنه قال لو كان في المسجد والوديعةُ في البيت لم يكن قبضاً حتى يصير إلى منزله

Adapun alasan kedua, harus ada pengembalian hingga keberlangsungan dengan keyakinan akan keberadaan barang titipan itu menjadi seperti permulaan penerimaan. Dan nash Imam asy-Syafi‘i menjadi dalil atas hal ini; karena beliau berkata, “Jika seseorang berada di masjid sementara barang titipan ada di rumah, maka itu belum dianggap sebagai penerimaan hingga ia sampai ke rumahnya.”

وذكر بعض أصحابنا وجهاًً ثالثاً فقال إن كانت العين مأمونةَ التلف فلا حاجة إلى الرجوع والمعاينة وإن كان لا يأمن تلفه فلا بد من الرجوع والمعاينة

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga, yaitu: jika barang tersebut aman dari kerusakan, maka tidak perlu kembali dan memeriksa; namun jika dikhawatirkan barang itu rusak, maka harus kembali dan memeriksa.

ثم ما ذكرناه من الأمر يُكتفى فيه بغلبةِ الظن ولا يشترط اليقين في ذلك

Kemudian, apa yang telah kami sebutkan mengenai perkara tersebut, cukup dengan didasarkan pada dugaan kuat (ghalabatuzh-zhan) dan tidak disyaratkan keyakinan pasti dalam hal itu.

قال العراقيون هذا هو المذهب عنَوْا مضيَّ الزمان وحَكَوْا عن حرملة من أصحابنا أنا إذا لم نشترط إذناً فلا نشترط مضيَّ مدة أيضاًً ولكن يتم القبض بنفس العقد ولفظه حكماً فظاهر ما نقلوه عن حرملة سقوطُ اعتبار الزمان على قولنا أنا لا نشترط إذناً في القبض ومقتضى نقلهم أنه يوافق الأصحابَ على قول اشتراط الإذن ويعتبر مضي الزمان من وقت الإذن

Orang-orang Irak berkata, inilah mazhabnya, yaitu maksudnya adalah berlalu waktu. Mereka meriwayatkan dari Harmalah, salah satu ulama kami, bahwa jika kami tidak mensyaratkan izin, maka kami juga tidak mensyaratkan berlalu waktu, tetapi penyerahan (qabdh) dianggap sah dengan akad itu sendiri dan secara hukum. Maka, dari apa yang mereka riwayatkan dari Harmalah tampak bahwa tidak dipertimbangkan lagi waktu menurut pendapat kami yang tidak mensyaratkan izin dalam penyerahan. Dan konsekuensi dari riwayat mereka adalah bahwa ia sependapat dengan para sahabat (ulama) dalam pendapat yang mensyaratkan izin, dan waktu dihitung sejak adanya izin.

وقياس مذهبه إسقاط اعتبار الزمان بعد الإذن كما يسقط اعتباره بعد العقد إذا لم يشترط الإذن

Qiyās mazhabnya adalah menghapus pertimbangan waktu setelah adanya izin, sebagaimana pertimbangan waktu juga gugur setelah akad jika izin tidak disyaratkan.

ومن تمام التفريع على المذهب المشهور أنا إذا اشترطنا الرجوعَ إلى مكان العين فهل يشترط أن ننقلها من مكان إلى مكان كما يقع مثله قبضاً وإقباضاً بين اثنين؛ فعلى وجهين أحدهما لا بد منه لتثبت صورة القبض وكأن هذا القائل ليس يقنع بدوام اليد وهذا ضعيف؛ فإنه إن كان يشترط إجراء قبضٍ فكيف يكون الشخص الواحد قابضاً مقبضاً؛ وقد ذكرنا ما فيه من مسائل القبض في كتاب البيع

Sebagai penyempurna dari penjabaran menurut mazhab yang masyhur, apabila kita mensyaratkan harus kembali ke tempat barang (‘ain), maka apakah juga disyaratkan untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain sebagaimana biasanya terjadi dalam proses qabd (pengambilan barang) dan penyerahan antara dua orang? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan hal itu wajib agar bentuk qabd benar-benar terjadi, seolah-olah pendapat ini tidak cukup hanya dengan keberlangsungan penguasaan (dawam al-yad), dan ini adalah pendapat yang lemah; sebab jika memang disyaratkan adanya proses qabd, bagaimana mungkin satu orang bisa sekaligus menjadi pihak yang mengambil dan menyerahkan? Kami telah menjelaskan permasalahan terkait qabd ini dalam Kitab al-Bay‘.

ثم استكمل التفريع الشيخ أبو علي فقال إذا ثبت أنه لا بد في القبض من انقضاء زمان بعد الإذن ولا بد من الإذن فابتداءُ المدة من وقت الإذن فلو كان الكلام في مبيع فهو قبل انقضاء المدة في ضمان البائع لو تلف ولو تلف بعد المدة فهو من ضمان المشتري

Kemudian Syekh Abu Ali melanjutkan penjelasan dengan mengatakan: Jika telah tetap bahwa dalam qabdh (penguasaan barang) harus ada jeda waktu setelah adanya izin, dan izin itu memang diperlukan, maka permulaan masa (waktu) dihitung sejak saat izin diberikan. Jika pembicaraan ini berkaitan dengan barang yang dijual, maka sebelum berakhirnya masa tersebut, barang itu masih dalam tanggungan penjual jika terjadi kerusakan. Namun jika kerusakan terjadi setelah masa itu berakhir, maka tanggungannya beralih kepada pembeli.

وإذا شرطنا الإذن في القبض في الرهن والهبة؛ فيصح الرجوع عن الإذن قبل انقضاء المدة ولو انقضت المدة ولم نشترط الرجوع إلى عينه لم يؤثر رجوعه عن الإذن

Jika kita mensyaratkan izin dalam pengambilan barang pada rahn (gadai) dan hibah, maka sah untuk menarik kembali izin tersebut sebelum berakhirnya jangka waktu. Namun, jika jangka waktu telah berakhir dan kita tidak mensyaratkan pengembalian kepada barang itu sendiri, maka penarikan kembali izin tidak berpengaruh.

وكل ذلك بيّن ولكني أحببت نقلَه منصوصاً لإمام

Semua itu sudah jelas, namun aku ingin mengutipnya secara tekstual dari seorang imam.

وتمام بيان الفصل في شيء وهو أنا إذا جعلنا نفسَ العقد منهما إذناً في القبض فهل يملك العاقد الرجوعَ قبل مضي الزمانِ فعلى وجهين أشار إليهما صاحب التقريب وصرح بهما شيخي أحدهما أن الرجوع ممكن؛ إذ لا قبض بعدُ والثاني لا؛ فإن القبض صار ضمناً للعقد

Penyempurnaan penjelasan dalam masalah ini adalah bahwa jika kita menjadikan akad itu sendiri dari kedua belah pihak sebagai izin untuk melakukan qabḍ (penguasaan barang), maka apakah pihak yang berakad berhak menarik kembali izin tersebut sebelum waktu berlalu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disinggung oleh penulis at-Taqrīb dan ditegaskan oleh guru saya. Pendapat pertama menyatakan bahwa penarikan kembali izin itu memungkinkan, karena qabḍ belum terjadi. Pendapat kedua menyatakan tidak boleh, karena qabḍ telah menjadi bagian dari akad itu sendiri.

ولعل حرملة قال ما قال عن هذا حيث أسقط اعتبار الزمان على قول اشتراط الإذن

Mungkin Harmalah mengatakan apa yang ia katakan tentang hal ini karena ia mengabaikan pertimbangan waktu dalam pendapat yang mensyaratkan izin.

هذا كشف الغطاء في الفصل

Ini adalah penyingkapan tabir dalam bab ini.

ولم نتعرض فيما أجريناه للبيع والقبض فيه وهذا أوانُ ذكرِه وقد قطع الأئمة في الطرق أنه لا حاجة إلى إذنٍ في القبض في البيع بل إذا باع مالك الوديعةِ الوديعةَ من الموح ومضى زمان يحتمل الرجوعَ فقد استقر العقد وانتقل الضمان

Kami belum membahas mengenai jual beli dan serah terima (qabḍ) di dalamnya, dan sekaranglah saatnya untuk menyebutkannya. Para imam dalam berbagai pendapat telah memastikan bahwa tidak diperlukan izin untuk serah terima dalam jual beli. Bahkan, jika pemilik titipan menjual titipan tersebut kepada pembeli dan telah berlalu waktu yang memungkinkan untuk menarik kembali, maka akad telah tetap dan tanggungan (ḍamān) pun telah berpindah.

وفرّقوا بَيْن البيع والهبة والرهن بأن قالوا البيع مقتضاه وجوب الإقباض على الجملة فإذا أورده المالك على يد المشتري فقد أوجب له القبضَ والقبضُ لا يستحق قط على الراهن والواهب بل وَضْعُ العقدين على وقوف القبض على اختياره وهذا يتأكد بحصول الملك للمشتري فإذا انضم ملكُه إلى دوام يده و ورد عليه العقد تم الأمرُ

Mereka membedakan antara jual beli, hibah, dan rahn dengan mengatakan bahwa jual beli menuntut kewajiban penyerahan secara keseluruhan. Maka, apabila pemilik menyerahkan barang kepada tangan pembeli, ia telah mewajibkan hak menerima barang tersebut, dan hak menerima barang tidak pernah menjadi hak yang wajib atas orang yang menggadaikan (rahin) maupun pemberi hibah (wahib). Bahkan, kedua akad tersebut (rahn dan hibah) didasarkan pada penyerahan barang yang bergantung pada pilihan penerima. Hal ini semakin kuat dengan terjadinya kepemilikan bagi pembeli. Maka, apabila kepemilikannya bersatu dengan keberlangsungan barang di tangannya dan akad telah terjadi atasnya, sempurnalah perkara tersebut.

وعلى هذا ظهر خلاف بين الأصحاب في أن الزمان هل يعتبر بعد جريان العقد

Dengan demikian, tampak adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai apakah waktu itu diperhitungkan setelah terjadinya akad.

فمنهم من قال لا حاجة إلى الزمان مع تأكد الحال في اجتماع الملك واليد ومنهم من قال لا بد من اعتبار الزمان كما ذكرناه في الرهن والهبة

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak diperlukan waktu apabila keadaan telah kuat, yaitu ketika kepemilikan dan penguasaan telah berkumpul. Namun, sebagian lain berpendapat bahwa waktu tetap harus diperhitungkan, sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan rahn dan hibah.

هذا هو المسلك المشهور للأصحاب

Inilah pendapat yang masyhur di kalangan para ulama mazhab.

وذكر الشيخ أبو علي في الشرح وجهاًً أن القبض لا يحصل ولا يبطل حق البائع في حبس المبيع إذا أثبتنا له حقَّ الحبس ما لم يأذن في القبض أو يتوفر عليه الثمن من جهة المشتري وهذا غريب وإن كان قياسه على قبض الهبة والرهن واضحاً

Syekh Abu Ali menyebutkan dalam syarahnya satu pendapat bahwa qabdh (penguasaan barang) tidak terjadi dan hak penjual untuk menahan barang tidak gugur jika kita menetapkan hak penahanan tersebut baginya, selama penjual belum mengizinkan qabdh atau harga belum dilunasi oleh pembeli. Pendapat ini memang aneh, meskipun qiyās-nya terhadap qabdh pada hibah dan rahn cukup jelas.

ثم لو وفر الثمن على هذا الوجه الضعيف أو أذن البائع في القبض ففي اعتبار الزمان ما ذكرناه من الخلاف

Kemudian, jika harga telah disediakan dengan cara yang lemah ini atau penjual mengizinkan untuk menerima barang, maka dalam hal mempertimbangkan waktu terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan.

والذي ينقدح لنا في هذا أنا إن لم نُحصل القبضَ حتى يتوفر الثمن فينبغي أن تكون العين في يد المشتري بمثابة المبيع يقبضه قبل توفير الثمن حتى لو فرض التلف لجرى الأمر فيه كما أوضحناه في كتاب البيع وهذا يلتفت على قبض الطعام المشترى مكايلة جزافاً

Menurut pendapat yang terlintas bagi kami dalam hal ini, jika kami belum memperoleh qabdh (penguasaan fisik) hingga harga terpenuhi, maka seharusnya barang tersebut berada di tangan pembeli seperti halnya barang yang dibeli dan diambil sebelum harga dilunasi. Sehingga, jika terjadi kerusakan pada barang tersebut, maka perlakuannya sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam Kitab al-Bay‘ (kitab jual beli). Hal ini berkaitan dengan qabdh atas makanan yang dibeli secara takaran atau secara borongan.

هذا منتهى البيان في أطراف الفصل

Ini adalah akhir penjelasan pada bagian-bagian bab ini.

وقد كنا وعدنا أن نذكر حكم قبض الأبِ إذا رهن من طفله أو ارتهن من مال طفله

Kami telah berjanji untuk menyebutkan hukum penerimaan (qabḍ) oleh seorang ayah apabila ia menggadaikan harta anaknya atau menerima gadai dari harta anaknya.

فنقول إن ارتهن من مال طفله فاليد في مال طفله له؛ فهو كالموح ولكن الترتيب في المودَع يتعلق بإذن المالك والمرعيّ هاهنا قصد الأب ثم الكلام بعد قصده في الزمان كما مضى

Maka kami katakan, jika seseorang mengambil barang gadai dari harta anaknya, maka kekuasaan atas harta anak itu ada padanya; sehingga ia seperti orang yang menerima titipan, namun urutan dalam hal barang titipan berkaitan dengan izin pemilik, dan yang diperhatikan di sini adalah niat ayah, kemudian pembicaraan setelah niatnya berkaitan dengan waktu sebagaimana telah dijelaskan.

هذا إذا ارتهن من مال طفله

Ini jika ia mengambil barang gadai dari harta anaknya.

فأما إذا رهن من الطفل فيرعى أن يقصد إقباضَه وإقباضُه أن يقبض له

Adapun jika yang menggadaikan adalah seorang anak kecil, maka harus diperhatikan bahwa yang dimaksud adalah menyerahkan barang gadai tersebut, dan penyerahan barang gadai itu dilakukan oleh orang yang menerima untuknya.

ثم القول في المدة وما يتصل بها كما مضى

Kemudian pembahasan mengenai jangka waktu dan hal-hal yang berkaitan dengannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ونجز الفصل على أبلغ وجه في البيان

Bab ini diselesaikan dengan penjelasan yang paling jelas.

فصل

Bab

قال ولا يكون القبض إلا ما حضره المرتهن أو وكيله إلى آخره

Ia berkata: “Penyerahan (qabḍ) tidak terjadi kecuali pada sesuatu yang dihadiri oleh penerima gadai (al-murtahin) atau wakilnya, dan seterusnya.”

قبض المرهون مما يتطرق النيابة إليه فإن قبض المرتهن بنفسه عند إقباض الراهن إياه أو عند إذنه له في القبض فذاك وإن وكل وكيلاً حتى يقبضه له صح

Pengambilan barang yang digadaikan termasuk perkara yang dapat diwakilkan. Jika penerima gadai mengambilnya sendiri ketika pemberi gadai menyerahkannya kepadanya atau ketika pemberi gadai mengizinkannya untuk mengambil, maka itu sah. Dan jika ia mewakilkan seorang wakil untuk mengambilkannya, maka itu pun sah.

وليكن ذلك الوكيل ممن يصح قبضُه ولا تكون يده يدَ الراهن هذا عقدُ الفصل

Dan hendaknya wakil tersebut adalah orang yang sah menerima (barang), dan tangannya bukan merupakan tangan rahin (pemberi gadai). Inilah inti pembahasan bab ini.

فلو وكل عبدَ الراهن أو مدبَّره أو أمَّ ولده حتى يقبض لم يحصل القبضُ بأيديهم؛ فإنها بمثابة يد المالك الراهن ولو وكل مكاتَب الراهن صح قبضُه فإن يدَه مستقلة وهو بمحل أن يعامل سيدَه

Maka jika seseorang mewakilkan kepada budak milik rahin, atau mudabbar-nya, atau ummu walad-nya untuk menerima barang, maka penerimaan tersebut tidak dianggap sah di tangan mereka; karena tangan mereka sama dengan tangan pemilik, yaitu rahin. Namun jika yang diberi kuasa adalah mukatab milik rahin, maka penerimaannya sah karena tangannya berdiri sendiri dan ia berada pada posisi yang memungkinkan untuk bertransaksi dengan tuannya.

ولو وكل عبدَ الراهن المأذونَ في التجارة فقد ذكر الشيخ أبو علي ثلاثةَ أوجه

Dan jika seorang budak milik rahin yang diizinkan berdagang dijadikan wakil, maka Syekh Abu Ali menyebutkan tiga pendapat.

أحدها أن قبضه لا يصح وهو الأصح؛ فإنه قِنٌّ لمالكه والوجه الثاني أنه يصح لانفراده بالتصرف والتزام العهد والوجه الثالث وهو اختيار الشيخ أنه إن لم يكن مديوناً لم يصح قبضه للمرتهن وإن كان مديوناً صح ذلك؛ فإنه إذا أحاطت به الديون تُثبت له أحكاماً لا تثبت قبلها

Pertama, bahwa penyerahan barang tidak sah, dan inilah pendapat yang paling kuat; karena ia adalah budak milik pemiliknya. Pendapat kedua, bahwa penyerahan itu sah karena ia sendiri yang melakukan transaksi dan menanggung perjanjian. Pendapat ketiga, yang dipilih oleh Syaikh, adalah jika ia tidak memiliki utang maka penyerahan barang kepada penerima gadai tidak sah, namun jika ia memiliki utang maka penyerahan itu sah; sebab jika ia dikelilingi oleh utang, maka berlaku baginya hukum-hukum yang tidak berlaku sebelumnya.

قال الشيخ لو اشترى المأذون شقصاً وسيده شريك في الدار فإن لم يكن عليه دين فلا شفعة للسيد؛ فإن الشراء وقع له فلا فائدة في الشفعة وإن كان عليه دين فهل تثبت الشفعة للسيد؛ فعلى وجهين

Syekh berkata: Jika seorang ma’dzun membeli bagian (saham) dan tuannya adalah sekutu dalam rumah tersebut, maka jika ia tidak memiliki utang, tidak ada hak syuf‘ah bagi tuannya; karena pembelian itu terjadi untuk dirinya sendiri sehingga tidak ada manfaat dari syuf‘ah. Namun jika ia memiliki utang, apakah syuf‘ah tetap berlaku bagi tuannya? Maka ada dua pendapat dalam hal ini.

وهذا بعيد عندي؛ من جهة أن الملك يقع له ومن يمنعه من أداء الديون وتخليص الشقص المشترَى لنفسه ولعلِّي أعود إلى هذا في كتاب الشفعة

Menurut saya, hal ini tidak mungkin; karena kepemilikan itu terjadi padanya, dan tidak ada yang mencegahnya untuk melunasi utang-utang serta menebus bagian yang dibeli untuk dirinya sendiri. Mungkin saya akan kembali membahas hal ini dalam kitab syuf‘ah.

ولو وكل المرتهن صبياً بقبضه فقبضُ الصبي باطل ولا يلزم الرهن به وقد ذكرنا طرفاً صالحاً منه في كتاب البيع

Jika penerima gadai mewakilkan kepada seorang anak kecil untuk menerima barang gadai, maka penerimaan oleh anak kecil itu tidak sah dan barang gadai tidak menjadi wajib karenanya. Sebagian penjelasan yang memadai tentang hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘.

فرع

Cabang

ذكر العراقيون نصّين عن الشافعي فيه إذا قال الراهن للمرتهن قد أذنت لك في قبض الرهن فلم يقبضه وقال المرتهن قد قبضتُه قالوا قال الشافعي في موضعٍ القول قول المرتهن وقال في موضع القول قول الراهن ثم قالوا ليست المسألة على قولين ولكنها على حالين فحيث قال القول قول المرتهن أراد إذا كان الرهن في يده وحيث قال القول قول الراهن أراد إذا كانت يدُه ثابتة على العين المرهونة

Orang-orang Irak meriwayatkan dua teks dari asy-Syafi‘i mengenai masalah ini: jika pihak yang menggadaikan (rahin) berkata kepada pihak penerima gadai (murtahin), “Aku telah mengizinkanmu untuk mengambil barang gadai,” namun barang tersebut belum diambil, lalu pihak murtahin berkata, “Aku telah mengambilnya.” Mereka mengatakan bahwa asy-Syafi‘i dalam suatu tempat berpendapat bahwa yang dijadikan pegangan adalah ucapan murtahin, dan di tempat lain beliau berpendapat bahwa yang dijadikan pegangan adalah ucapan rahin. Kemudian mereka menjelaskan bahwa masalah ini bukanlah dua pendapat, melainkan dua keadaan: ketika asy-Syafi‘i mengatakan yang dijadikan pegangan adalah ucapan murtahin, maksudnya adalah jika barang gadai sudah berada di tangannya; dan ketika beliau mengatakan yang dijadikan pegangan adalah ucapan rahin, maksudnya adalah jika barang tersebut masih tetap berada di tangan rahin atas barang yang digadaikan.

فرع

Cabang

إذا رهن المودِع الوديعة عند المودع وقلنا لا بد من الرجوع إلى مكان الوديعة فلو وكل وكيلاً حتى يرجع ويشاهد وينوب عنه فهل يصح التوكيل في ذلك أم لا بد من رجوع المرتهن بنفسه فعلى وجهين أحدهما يصح التوكيل فيه وهو الأصح كالتوكيل في أصل القبض والثاني لا يصح؛ فإنه ليس قبضاً على الحقيقة وإنما هو أمر حكمي واليد للمودَع فليكن الرجوع منه

Jika seorang yang menitipkan barang (mudi‘) menggadaikan barang titipan (wadi‘ah) tersebut kepada orang yang dititipi (muda‘), dan kita berpendapat bahwa harus kembali ke tempat barang titipan, maka jika ia mewakilkan kepada seorang wakil untuk kembali, menyaksikan, dan bertindak atas namanya, apakah sah melakukan perwakilan (tawkil) dalam hal ini ataukah harus orang yang menerima gadai (murtahin) sendiri yang kembali? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, sah melakukan perwakilan dan ini adalah pendapat yang lebih kuat, sebagaimana perwakilan dalam pokok penerimaan (qabdh); dan pendapat kedua, tidak sah, karena ini bukanlah penerimaan secara hakiki, melainkan perkara hukum, dan kekuasaan (yad) tetap pada orang yang dititipi (muda‘), maka hendaknya pengembalian dilakukan olehnya.

فرع متصل بقبض الصّبيان وما يتلف في أيديهم نقله بعض الأثبات من أجوبة القاضي عن مسائلِ الوقائع سئل عن تلاعب الصبيان بالجوز فقال إنه قمار ولا حرج على الصبيان لعدم التكليف وما يتلف في يد الصبي من جوز صبي فضمانه ثابت في مال الصبي الذي تلف في يده

Cabang yang berkaitan dengan penerimaan (qabḍ) anak-anak dan apa yang rusak di tangan mereka, sebagaimana dinukil oleh sebagian ulama terpercaya dari jawaban-jawaban qāḍī atas masalah-masalah aktual: Ditanyakan tentang anak-anak yang bermain-main dengan kacang kenari, maka beliau menjawab bahwa itu adalah qimar (perjudian), namun tidak ada dosa bagi anak-anak karena mereka belum terkena taklif. Adapun apa yang rusak di tangan seorang anak dari kacang kenari milik anak lain, maka tanggungannya tetap dibebankan pada harta anak yang menyebabkan kerusakan tersebut.

فإن كان يلاعبهم بالغ فما يتلف في يده من جوز الصبيان مضمون عليه وما يتلف في أيدي الصبيان من جوزه فلا ضمان؛ فإنه المفرِّط بتسليطهم على جوزه وإثبات أيديهم عليها

Jika yang bermain dengan mereka adalah orang dewasa, maka apa yang rusak di tangannya dari biji-bijian milik anak-anak menjadi tanggung jawabnya, dan apa yang rusak di tangan anak-anak dari biji-bijian miliknya tidak ada tanggungan; karena dialah yang lalai dengan membiarkan mereka menguasai biji-bijiannya dan membiarkan tangan mereka atasnya.

وإذا حصل في يد صبي جوزات صبي وعلم بها القيم أو الأب ومن يلي بنفسه أو بتوليةٍ فإذا لم ينتزعها وجب الضمان على القيّم أو الولي للتفريط

Apabila di tangan seorang anak terdapat barang-barang milik anak lain, dan hal itu diketahui oleh pengasuh, ayah, atau wali yang mengurusnya secara langsung atau melalui penunjukan, maka jika mereka tidak mengambil barang tersebut, wajib bagi pengasuh atau wali untuk menanggung ganti rugi karena kelalaian.

وإن علمت به أُمُّه ولم تنتزعها فالأصح أنه لا ضمان عليها؛ تخريجاً على أن الأم ليست وليّة فسبيلها ولا نظر لها كسبيل الأجانب

Jika ibunya mengetahui hal itu namun tidak mengambilnya, maka pendapat yang lebih sahih adalah tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya; berdasarkan analogi bahwa ibu bukanlah wali, sehingga urusannya tidak seperti wali dan ia tidak memiliki wewenang seperti orang lain yang bukan wali.

ولا إشكال في شيء ممّا ذكرناه وإنما المستفاد منه التسبب إلى تخريج مسألة مبنية على أصول هي أقطاب المذهب

Tidak ada keraguan dalam apa yang telah kami sebutkan, melainkan yang dapat diambil darinya adalah upaya untuk merumuskan suatu permasalahan yang dibangun di atas ushul yang merupakan pilar-pilar mazhab.

فصل

Bab

قال والأقرار بقبض الرهن جائز إلى آخره

Ia berkata: Pengakuan atas penerimaan barang gadai adalah diperbolehkan, dan seterusnya.

إذا أقر المالك بالرهن والإقباض حكم عليه بموجب إقراره

Jika pemilik mengakui adanya rahn (gadai) dan penyerahan barang, maka ia diputuskan berdasarkan pengakuannya.

ولو قامت البينة على إقراره بالرهن والإقباض فقال قد أشهدت على إقراري وما أقبضتُ نُظر فإن ذكر سبباً لا يستنكر وقوع مثله مثل أن يقول ظننت أني أقبضتُ فأقررت على موجب ظني ثم تبينت خلاف ذلك أو قال اعتمدت كتاب وكيلٍ لي ثم تبينت أنه مزور أو قال ظننت أن الإقباض بالقول صحيح فبنيت إقراري عليه أو قدمت الإشهاد على الصك والعرف جابى بمثله فهذه جهات غير منكرة فإذا ادَّعى شيئاً منها واقتصر على دعواه هذه لم يلتفت إليه وقد جرى القضاء بالإقرار

Jika ada bukti yang menunjukkan bahwa ia telah mengakui adanya rahn (gadai) dan penyerahan barang, lalu ia berkata, “Aku memang menghadirkan saksi atas pengakuanku, tetapi aku tidak menyerahkan barangnya,” maka hal ini perlu diteliti. Jika ia menyebutkan alasan yang tidak mustahil terjadi, seperti ia berkata, “Aku mengira telah menyerahkan barang itu, maka aku mengakui berdasarkan dugaanku, lalu ternyata tidak demikian,” atau ia berkata, “Aku mengandalkan surat dari wakilku, lalu ternyata surat itu palsu,” atau ia berkata, “Aku mengira penyerahan barang cukup dengan ucapan, maka aku membangun pengakuanku atas dasar itu,” atau ia mendahulukan penyaksian atas dokumen, dan kebiasaan memang membenarkan hal seperti itu, maka alasan-alasan seperti ini tidak dianggap mustahil. Namun, jika ia mengaku salah satu dari alasan tersebut dan hanya sebatas pengakuan itu saja, maka tidak dihiraukan, dan hukum tetap berjalan berdasarkan pengakuan.

وإن قال حلّفوا المرتهن أنه قبض فله تحليفه ثم لا يخفى طريق فصل الخصومة عند عرض اليمين وفرض الحلف أو النكول وإنما جوزنا تحليفه؛ لأن ما قاله ممكن والمدعي يكتفي في ثبوت دعواه بإمكانها وكيفما فُرض الأمر فغايته أن يُسعَف بتحليف خصمه

Jika ia berkata, “Suruhlah pemegang gadai bersumpah bahwa ia telah menerima barang gadai,” maka ia berhak menyuruhnya bersumpah. Kemudian, tidak tersembunyi cara memutuskan perkara ketika sumpah diajukan dan kemungkinan terjadi sumpah atau penolakan sumpah. Kami membolehkan ia menyuruh bersumpah karena apa yang dikatakannya itu mungkin terjadi, dan penggugat cukup dalam menetapkan gugatannya dengan kemungkinan tersebut. Bagaimanapun keadaannya, pada akhirnya ia hanya dapat dibantu dengan menyuruh lawannya bersumpah.

ولو أنه أقر بالإقباض ثم قال كذبتُ فيما قلت ولم يذكر جهة يستند إليها صَدَرُ إقراره ودعواه التي يدعيها بعده فالذي قطع به المراوزة أنه لا يقبل منه على هذه الصيغة ولا يملك تحليفَ خصمه وهذه صيغة لفظه

Jika seseorang telah mengakui telah menerima pembayaran, kemudian ia berkata, “Aku telah berdusta dalam apa yang aku katakan,” tanpa menyebutkan alasan yang menjadi dasar pengakuan dan klaim yang dia ajukan setelahnya, maka menurut pendapat tegas para ulama Marwazi, pengakuannya dengan redaksi seperti ini tidak diterima darinya dan ia tidak berhak meminta lawannya untuk bersumpah. Inilah redaksi lafazhnya.

وذكر العراقيون هذه المسألة وهي إذا كذّب نفسه صريحاً في إقراره السابق وقالوا ما صار إليه معظم الأصحاب أن له أن يحلِّف خصمه ويحمل تكذيبه نفسَه على جهة من الجهات التي ذكرناها لا على الكذبِ الصريح؛ فإن هذا ممكن وقد ذكرنا أن الدعوى لا تعتمد إلا الإمكان وهذا متحقق في التكذيب

Orang-orang Irak menyebutkan masalah ini, yaitu ketika seseorang secara tegas mendustakan dirinya sendiri dalam pengakuan sebelumnya, dan mereka mengatakan bahwa pendapat mayoritas para ahli adalah bahwa ia boleh meminta lawannya bersumpah dan menafsirkan pendustaan dirinya itu pada salah satu sisi yang telah kami sebutkan, bukan pada kebohongan yang nyata; karena hal itu memungkinkan, dan kami telah sebutkan bahwa suatu gugatan hanya didasarkan pada kemungkinan, dan hal ini terwujud dalam pendustaan tersebut.

قالوا قال أبو إسحاق المروزي ليس له في هذه الصورة أن يُحلِّف وهذا الذي قطع به المراوزة وكان شيخي أبو محمد يحكي عن شيخه القفال أن ما ذكره من ملك الدعوى والتحليف فيه إذا ثبت الإقرار في مجلس القاضي بالبينة فأما إذا ادعى الخصمُ الرهنَ والإقباضَ فاعترف في مجلس القضاء ثم أراد أن يذكر لإقراره محملاً ويحلّف خَصمه عند ذلك القاضي لم يكن له ذلك

Mereka berkata: Abu Ishaq al-Marwazi mengatakan bahwa dalam kasus ini ia tidak berhak meminta sumpah, dan inilah pendapat tegas para ulama Marwazi. Guru saya, Abu Muhammad, meriwayatkan dari gurunya, al-Qaffal, bahwa apa yang disebutkan mengenai hak mengajukan gugatan dan meminta sumpah itu berlaku jika pengakuan telah terbukti di majelis hakim dengan adanya bukti. Adapun jika lawan perkara mengklaim adanya rahn (gadai) dan penyerahan barang, lalu ia mengakuinya di majelis hakim, kemudian ingin memberikan alasan atas pengakuannya dan meminta hakim untuk menyumpah lawan perkaranya, maka ia tidak berhak melakukan hal itu.

وهذا تخييل عندي فإنا إذا كنا نعتمد الإمكان فينبغي أن يُكتفى به نعم إن اتحد المجلس فقد يتجه أن نجعل هذا بمثابة تكذيبه نفسَه وإن قام من ذلك المجلس وعاد وأبدى عذراً فيتجه تنزيل هذا منزلة ما لو أبدى عذراً في مخالفة الشهود

Menurut pendapat saya, ini hanyalah sebuah anggapan, sebab jika kita sudah berpegang pada kemungkinan, maka seharusnya itu sudah cukup. Benar, jika majelisnya satu, maka mungkin dapat dianggap bahwa hal ini sama dengan ia mendustakan dirinya sendiri. Namun, jika ia bangkit dari majelis itu lalu kembali dan mengemukakan alasan, maka hal ini dapat diposisikan seperti seseorang yang mengemukakan alasan atas perbedaan dengan para saksi.

وإن أقام الفقيه لما يجري في مجلس القضاء مزية واعتضد فيه بأمر يتعلق بخرم أبهة القضاء والغض من مجالس القضاة وذلك أن الرجل إذا أقر بين يدي القاضي ثم قال على الفور كذبت أو أخطأت فحلّف خصمي فهذا مما لا يعتمد مثله ولو فرض لم نشك أن القضاة الأولين كانوا لا يسعفون بالتحليف بل ربما كانوا يرون ذلك لو وقع من مظانّ التأديب والتعزير وكل هذا والمذكور إقرار

Jika seorang faqih memberikan keistimewaan terhadap apa yang terjadi di majelis pengadilan dan memperkuatnya dengan sesuatu yang berkaitan dengan merusak wibawa pengadilan serta merendahkan majelis para qadhi, maka hal itu terjadi ketika seseorang mengakui di hadapan qadhi lalu segera berkata, “Saya berdusta” atau “Saya keliru, maka sumpahkanlah lawan saya.” Hal seperti ini tidak dapat dijadikan sandaran, dan seandainya terjadi, kami tidak ragu bahwa para qadhi terdahulu tidak akan mengabulkan permintaan sumpah, bahkan mungkin mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang patut diberi hukuman atau ta‘zir, padahal semua ini terjadi dalam konteks pengakuan.

فأما إذا شهد عدلان على فعل الإقباض فقال المشهود عليه للقاضي حلّف خصمي لم يجب إلى ذلك؛ فإنه كذبَ الشهودَ وليس كذلك إذا شهدوا على الإقرار فإنه في طلب التحليف ليس يكذِّب الشهود وإنما يجمع بين تقدير ذلك الإقرار وبين وجهٍ ممكن

Adapun jika dua orang saksi adil memberikan kesaksian atas perbuatan penyerahan (iqbāḍ), lalu pihak yang disaksikan berkata kepada hakim, “Suruhlah lawanku bersumpah,” maka permintaan itu tidak dikabulkan; karena ia telah mendustakan para saksi. Berbeda halnya jika mereka bersaksi atas pengakuan (iqrār), maka dalam permintaan sumpah tersebut ia tidak mendustakan para saksi, melainkan menggabungkan antara kemungkinan adanya pengakuan itu dengan kemungkinan lain yang masuk akal.

وهذا معترِض في هذا الباب واستقصاء أصله وتفصيله في كتاب الدعاوى

Hal ini merupakan keberatan dalam bab ini, dan penjelasan asal-usul serta rinciannya terdapat dalam Kitab ad-Da‘āwā.

فصل

Bab

قال والقبض في العبد والثوب إلى آخره

Ia berkata: “Dan penyerahan (qabḍ) pada budak dan kain, dan seterusnya.”

أراد الشافعي أن يتكلم في طرف من كيفية القبض وقد مضى استقصاء هذا في البيع وبيّنا ثَمَّ ما يكون قبضاً في المنقول وما يكون قبضاً في العقار

Syafi‘i ingin membahas sebagian dari tata cara qabḍ (penguasaan), dan pembahasan rinci tentang hal ini telah dijelaskan dalam bab jual beli. Di sana telah kami jelaskan apa saja yang dianggap sebagai qabḍ pada benda bergerak dan apa yang dianggap sebagai qabḍ pada benda tidak bergerak.

والذي يقع الاكتفاء به هاهنا أن ما يكون قبضا ناقلاً للضمان في البيع فهو قبض في الرهن؛ فإن صور القبوض لا تختلف باختلاف المقاصد

Yang cukup dijelaskan di sini adalah bahwa apa yang dianggap sebagai qabḍ (penyerahan) yang memindahkan tanggungan dalam jual beli, maka itu juga dianggap sebagai qabḍ dalam rahn; karena bentuk-bentuk qabḍ tidak berbeda berdasarkan perbedaan tujuan.

قال القاضي ذكرنا قولاً في كتاب البيع في أن التخلية في المنقولاتِ هل تكون قبضاً أم لا بدّ من النقل وهذا لا يخرّج في الرهن والهبة؛ من جهة أن خروجه اتجه في البيع بكون القبض مستحقاً فيه فإذا ارتفع حجر البائع وهو مستحِق الحبس بالتخلية وانضم إليه ملك المشتري واستحقاقُه القبضَ لم يبعد أن تكون التخليةُ كافيةً وهذا المعنى لا يتحقق في الرهن والهبة؛ فإن القبض غيرُ مستَحق فيها

Qadhi berkata: Kami telah menyebutkan satu pendapat dalam Kitab al-Bay‘ mengenai apakah penyerahan (takhliyah) pada barang-barang bergerak dianggap sebagai qabdh (penguasaan) ataukah harus ada pemindahan secara fisik. Hal ini tidak dapat diterapkan pada rahn (gadai) dan hibah; karena dalam jual beli, qabdh memang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Maka, jika larangan penjual telah hilang, sementara ia berhak menahan barang dengan penyerahan, lalu kepemilikan berpindah kepada pembeli dan ia berhak atas qabdh, maka tidaklah jauh jika penyerahan saja sudah cukup. Namun, makna ini tidak berlaku pada rahn dan hibah; sebab qabdh bukanlah syarat yang harus dipenuhi di dalamnya.

وهذا الذي ذكره حسن ولكن صرح الأصحاب بذكر قولِ التخلية في الهبة والرهن؛ مصيراً إلى أن القبوض صورٌ فلا تختلف باختلاف المحال

Apa yang disebutkan itu memang baik, namun para ulama mazhab secara tegas menyebutkan ucapan penyerahan dalam hibah dan rahn; karena mereka berpendapat bahwa penyerahan hanyalah berupa bentuk-bentuk (tindakan), sehingga tidak berbeda menurut perbedaan objeknya.

فصل

Bab

قال ولو كان في يد المرتهن بغصبٍ إلى آخره

Ia berkata: “Dan seandainya barang tersebut berada di tangan murtahin (penerima gadai) karena ghāshb (perampasan), dan seterusnya.”

مالك العين إذا صادفها مغصوبة فرهنها عند الغاصب فالرهن صحيح والذي ذهب إليه معظم الأصحاب أن القول في حصول القبض بنفس الرهن كالقول فيه إذا رهن المودِع عند المودعَ بلا اختلاف

Pemilik barang, jika mendapati barang tersebut dalam keadaan digelapkan lalu ia menjadikannya sebagai rahn (barang jaminan) di tangan penggelap, maka rahn tersebut sah. Pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama adalah bahwa penetapan terjadinya qabdh (penguasaan) hanya dengan penyerahan rahn itu sama halnya dengan penyerahan barang titipan oleh penitip kepada penerima titipan, tanpa ada perbedaan.

وذهب بعض أصحابنا إلى أن القول الذي يخرّج في المودعَ في أن نفس الرهن يتضمن الإقباض لا يخرّج هاهنا؛ فإن يد المودع صدرت عن حكم المالك فإذا صادفها الرهن كان دوامُ اليد بمثابة ابتدائها في قولٍ وهذا لا يتحقق في يد الغاصب

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa pendapat yang diambil dalam kasus orang yang menerima titipan, yaitu bahwa akad rahn (gadai) itu sendiri mengandung unsur penyerahan barang, tidak dapat diterapkan di sini; sebab kepemilikan tangan (penguasaan) penerima titipan terjadi berdasarkan izin pemilik. Maka apabila akad rahn terjadi atas barang tersebut, keberlanjutan penguasaan itu dianggap seperti permulaannya menurut satu pendapat, dan hal ini tidak dapat diterapkan pada penguasaan seorang ghashib (perampas).

وهذا تخييل والأصح ما عليه الجمهور

Ini hanyalah khayalan, dan pendapat yang lebih tepat adalah sebagaimana yang dipegang oleh mayoritas ulama.

ثم إذا حكمنا بتمام الرهن على التفاصيل المقدمة أو صرح الراهن بالإذن في الإمساك عن جهة الرهن فمذهب الشافعي أن ضمان الغصب لا يزول بهذا فتكون العين مرهونةً في يد الغاصب مضمونة عليه بحكم الغصب وبناء المذهب على أن الضمان يثبت بيد الغاصب فلا يزول ما لم تزل يد الغاصب إلى المالك أو يزول ملك المالك إلى الغاصب

Kemudian, apabila kita memutuskan bahwa rahn telah sempurna sesuai dengan rincian yang telah disebutkan sebelumnya, atau pihak yang me-rahn-kan secara tegas mengizinkan penahanan barang dari sisi rahn, maka menurut mazhab Syafi‘i, tanggungan (jaminan) akibat ghashab tidak hilang dengan hal ini. Maka barang tersebut tetap menjadi barang rahn di tangan pihak yang meng-ghashab, dan tetap menjadi tanggungannya berdasarkan hukum ghashab. Mazhab ini didasarkan pada prinsip bahwa tanggungan (jaminan) tetap berlaku di tangan pihak yang meng-ghashab, dan tidak hilang kecuali tangan pihak yang meng-ghashab berpindah kepada pemilik, atau kepemilikan pemilik berpindah kepada pihak yang meng-ghashab.

وقنع بعض أصحابنا بأن أطلقوا إمكان اجتماع الرهن والغصب إذا فرض طريان العدوان وهذا غير سديد؛ فإنّ طريان العدوان سببه إحداث المرتهن ما لم يكن له أن يحدثه وليس يشبه هذا إذنَ المالك للغاصب في الإمساك ومن لا يستشعر غموضَ هذه المسألة فليس من الفقه في شيء؛ فإن ضمان الغصب سببه عدوانُ الغاصب وقد انقطع العدوان بالإذن في جهة غير مضمِّنة

Sebagian ulama kami merasa cukup dengan menyatakan kemungkinan berkumpulnya status rahn (barang gadai) dan ghashb (barang yang digasak) jika diasumsikan terjadinya tindakan melampaui batas (‘udwān) secara tiba-tiba. Namun, pendapat ini tidaklah tepat; sebab terjadinya tindakan melampaui batas itu disebabkan oleh perbuatan pihak yang menerima rahn yang melakukan sesuatu yang tidak berhak ia lakukan. Hal ini tidaklah serupa dengan izin pemilik kepada penggasak untuk menahan barang. Barang siapa yang tidak merasakan kerumitan masalah ini, maka ia sama sekali tidak memahami fiqh; sebab tanggungan ghashb itu sebabnya adalah tindakan melampaui batas dari penggasak, dan tindakan melampaui batas itu terputus dengan adanya izin pada sisi yang tidak menimbulkan tanggungan.

ولو أودع العينَ المغصوبة عند الغاصب فقد ظهر اختلاف الأصحاب في انقطاع ضمان الغصب فمنهم من قال لا ينقطع ما لم تتبدَّلُ اليد ومنهم من قال يزول ضمان الغصب؛ فإن الائتمان مقصود في الإيداع وليس الائتمان مقصوداً في الرهن بل مقصوده التوثيق ثم الأمانة من موجَبه ومقتضاه

Jika barang yang digasap dititipkan kepada pelaku ghasab, maka para ulama berbeda pendapat tentang gugurnya tanggungan ghasab. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tanggungan tersebut tidak gugur selama kepemilikan (penguasaan) belum berganti tangan, dan sebagian lain berpendapat bahwa tanggungan ghasab itu hilang; sebab kepercayaan (al-i‘timān) memang menjadi tujuan dalam penitipan (wadī‘ah), sedangkan kepercayaan bukanlah tujuan dalam rahn (gadai), melainkan tujuannya adalah penjaminan, kemudian amanah merupakan konsekuensi dan tuntutannya.

ولو أجر المالك العين المغصوبة من الغاصب والعين المستأجرة أمانة في يد المستأجر فهل يُقضَى بأن المغصوب ينقلب أمانة في يد الغاصب بالإجارة فعلى وجهين مرتبين على الوجهين في الإيداع والإجارة أولى بأن لا تُسقط ضمان الغصب؛ لأن الائتمان ليس مقصوداً فيها

Jika pemilik menyewakan barang yang digasb (diambil secara zalim) kepada penggasab, dan barang sewaan itu menjadi amanah di tangan penyewa, maka apakah diputuskan bahwa barang yang digasb itu berubah menjadi amanah di tangan penggasab karena akad sewa? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam masalah titipan, dan akad sewa lebih utama untuk tidak menggugurkan tanggungan atas perbuatan ghasab; karena kepercayaan (amanah) bukanlah tujuan utama dalam akad ini.

ولو وكل المالكُ الغاصبَ بالبيع فإن استحفظه في الحال مودَعاً ثم أذن له في البيع إذا وجد طالباً فالاستحفاظ إيداع وقد مضى الكلام فيه وإن لم يجر استحفاظٌ فالوكالة المطلقة في البيع نازلةٌ منزلة الإجارة؛ لأن الائتمان غيرُ مقصود فيها بخلاف الإيداع؛ وكانت الوكالة من هذه الوجوه كالإجارة

Jika pemilik mewakilkan kepada pihak yang merampas (ghāṣib) untuk menjual, lalu ia menitipkannya kepadanya saat itu juga sebagai titipan (wadī‘ah), kemudian mengizinkannya untuk menjual ketika ada pembeli, maka penitipan itu adalah iḍā‘ah (penitipan barang), dan penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika tidak terjadi penitipan, maka wakalah (perwakilan) mutlak dalam penjualan diposisikan seperti ijarah (sewa-menyewa); karena kepercayaan (amanah) tidak dimaksudkan di dalamnya, berbeda dengan iḍā‘ah (penitipan); dan dari sisi-sisi ini, wakalah dalam hal ini seperti ijarah.

ويجوز أن يقال الوكالة المطلقة أولى بأن لا تُبطل ضمان الغصب؛ من قِبل أن الإجارة في ضمنها تسليط القبض والإمساك والتوكيل في البيع ليس كذلك فيتجه ترتيب الوكالة المطلقة على الإجارة

Dan boleh dikatakan bahwa wakalah mutlak lebih utama untuk tidak membatalkan jaminan ghasab; karena dalam ijārah terdapat pelimpahan hak untuk menerima dan menahan barang, sedangkan dalam wakalah untuk jual beli tidak demikian, sehingga logis jika wakalah mutlak diqiyaskan kepada ijārah.

فإن قيل اعتمدتم في ترتيب المذهب أن الأمانة ليس مقصوداً في الإجارة وإن كانت الأمانة من حكمها فهلاّ نزلتم الرهنَ منزلة الإجارة؛ فإن الرهن في وضعه لا يقتضي ضماناً كالإجارة

Jika dikatakan, “Kalian berpegang dalam penataan mazhab bahwa amanah bukanlah tujuan dalam ijarah, meskipun amanah merupakan salah satu hukumnya. Maka mengapa kalian tidak menyamakan rahn dengan ijarah; padahal rahn pada dasarnya tidak mengharuskan adanya tanggungan (dhamān) sebagaimana ijarah?”

قلنا نود لو كان كذلك ولكن لم نطلع في هذا على خلافي للأصحاب معتبرٍ والاعتبار بما يُجريه أئمةُ النظر في مسائل الخلاف إذا كان لا يستند إلى أصل في المذهب من طريق النقل

Kami katakan, kami berharap seandainya memang demikian, namun kami tidak menemukan adanya perbedaan pendapat yang dianggap sah dari para sahabat (ulama mazhab) dalam hal ini. Yang dijadikan pertimbangan adalah apa yang dikemukakan oleh para imam ahli ijtihad dalam masalah-masalah khilafiyah, jika hal itu tidak bersandar pada suatu dasar dalam mazhab melalui jalur riwayat (nash).

والذي ينتظم في محاولة الفرق بين الرهن والإجارة أن بناء بقاء الضمان على أنه حكم ثابت باليد؛ فلا يزول مع دوام اليدِ والملكِ والإيداعُ خرج على الخلاف والظاهر أنه يقطع الضمان؛ لأن يد المودع مقصورةٌ على غرض المالك وحظه فنزِّل الإيداع منزلة الرد

Yang menjadi inti dalam upaya membedakan antara rahn dan ijarah adalah bahwa dasar keberlangsungan tanggungan (dhamān) adalah karena ia merupakan hukum yang tetap karena adanya kepemilikan (yad); maka tanggungan itu tidak hilang selama masih ada kepemilikan dan penguasaan. Sedangkan al-wadī‘ah (titipan) diperselisihkan, namun pendapat yang tampak adalah bahwa ia memutus tanggungan; karena kepemilikan (yad) orang yang dititipi terbatas pada tujuan dan kepentingan pemilik, sehingga al-wadī‘ah diposisikan seperti pengembalian barang.

ويد المستأجر مستأجرة من يد المودع؛ من حيث إن الحظ فيها ليس للمالك على التمخض ولكن الحظ مشترك فحظّ المستأجِر استيفاءُ المنفعة وحظ المالك تقرير عوض المنفعة فاقتضى ذلك فرقاً ظاهراً بين يد المستأجر ويد المودع فأما يد الرهن فلا حظ فيها للمالك أصلاً وإنما الحظ كله للمرتهن

Tangan penyewa adalah tangan yang disewa dari tangan penerima titipan; dalam hal ini, keuntungan di dalamnya bukan semata-mata milik pemilik untuk memperoleh hasil, melainkan keuntungan tersebut bersifat bersama: keuntungan penyewa adalah memperoleh manfaat, sedangkan keuntungan pemilik adalah mendapatkan imbalan atas manfaat tersebut. Hal ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara tangan penyewa dan tangan penerima titipan. Adapun tangan pada barang gadai, tidak ada keuntungan sama sekali bagi pemilik; seluruh keuntungan ada pada pihak penerima gadai.

وإذا كان كذلك لم تنزل يدُ المرتهن منزلة الرد على المالك

Jika demikian, tangan penerima gadai tidak dapat disamakan dengan pengembalian barang kepada pemiliknya.

فإن قيل إذا كان الحظ للمرتهن فهلا جعلتم يده يد ضمان كيد المستعير قلنا إنما كان ذلك لأن المقصود من الرهن الوثيقةُ والتعرضُ لغرر الضمان لا يطابق الوثيقة

Jika dikatakan, “Jika kemaslahatan itu untuk pihak yang menerima gadai (murtahin), mengapa kalian tidak menjadikan kepemilikannya sebagai kepemilikan jaminan seperti tangan peminjam (musta‘īr)?” Kami menjawab, “Hal itu karena tujuan dari rahn (gadai) adalah sebagai jaminan, sedangkan terpapar risiko jaminan tidak sejalan dengan tujuan jaminan tersebut.”

فإن قالوا نفيُ الضمان إذاً مقتضى الرهن فاجعلوا الأمر كذلك فأسقطوا ضمان الغصب أو لا تصححوا يدَ الراهن

Jika mereka berkata, “Penghilangan tanggungan (dhamān) itu adalah konsekuensi dari rahn, maka jadikanlah perkara demikian, sehingga gugurkanlah tanggungan atas ghashb, atau janganlah kalian sahkan kepemilikan (yad) pihak yang menggadaikan (rāhin).”

قلنا ذلك لأنا لا نرى الأيدي الطارئة على الغصب منقسمة ويدُ المرتهن لو لم يسبقها عدوان لا تقتضي ضماناً ولكنها لا تقوى على إزالة ضمان وهذا في نهاية الإشكال وهو من فنون الاحتيال التي نكرهها من أصحاب أبي حنيفة في مدافعات الكليات الجلية

Kami mengatakan demikian karena kami tidak memandang tangan-tangan yang datang belakangan setelah perampasan itu berbeda-beda, dan tangan pemegang gadai, jika sebelumnya tidak ada tindakan melampaui batas, tidak menuntut adanya kewajiban ganti rugi. Namun, tangan itu juga tidak cukup kuat untuk menghapus kewajiban ganti rugi. Ini adalah persoalan yang sangat rumit, dan termasuk jenis-jenis rekayasa hukum yang kami tidak sukai dari para pengikut Abu Hanifah dalam menghadapi kasus-kasus besar yang jelas.

والأصل الذي يبتدره الفقيه المنصف أن يزول الضمان عند انقطاع العدوان

Prinsip dasar yang dipegang oleh seorang faqih yang adil adalah bahwa tanggung jawab (dhamān) hilang ketika tindakan pelanggaran (’udwān) telah berhenti.

فهذا منتهى الإمكان ومعتمد المذهب النقل

Inilah batas maksimal yang mungkin, dan sandaran mazhab adalah pada dalil naqlī.

ومما يتعلق بأطراف المسألة أن المالك إذا قال للغاصب أبرأتك عن ضمان الغصب ففيه وجهان أحدهما أنه لا يبرأ والثاني أنه يبرأ؛ وتصير يدهُ يدَ أمانة والوجهان مأخوذان من الأصل المشهور في أن ما لم يجب ووُجد سببُ وجوبه هل يصح الإبراء منه وفيه قولان وبيان ذلك أن القيمة إنما تجب على الغاضب إذا فاتت العين وامتنع ردها والغصب سببٌ ناجز لاقتضاء هذا الضمان عند تعذر الرد

Terkait dengan cabang-cabang permasalahan ini, apabila pemilik berkata kepada perampas, “Aku membebaskanmu dari tanggungan ghasab,” maka terdapat dua pendapat: pertama, ia tidak terbebas; kedua, ia terbebas dan tangannya menjadi tangan amanah. Kedua pendapat ini diambil dari kaidah yang masyhur, yaitu bahwa sesuatu yang belum wajib namun sebab kewajibannya telah ada, apakah sah pembebasan darinya atau tidak; dalam hal ini terdapat dua pendapat. Penjelasannya adalah bahwa nilai barang baru menjadi wajib atas perampas jika barang tersebut telah hilang dan tidak mungkin dikembalikan, sedangkan ghasab merupakan sebab langsung yang menuntut adanya tanggungan ini ketika pengembalian tidak memungkinkan.

/م ثم ذكر الشيخ أبو علي للرهن المغصوب ترتيباً هو تتمة الكلام فقال إذا رهن المالك المغصوبَ من الغاصب وأذن في القبض وتم القبض كما فصلناه فيما تقدم فقد انبرم الرهن حتى لو أراد الراهن الفسخ لم يجد إليه سبيلاً

Kemudian Syaikh Abu Ali menyebutkan tentang urutan gadai atas barang yang digasap sebagai kelanjutan pembahasan, beliau berkata: Jika pemilik menggadaikan barang yang digasap dari penggasap, lalu mengizinkan untuk diterima dan penerimaan itu telah sempurna sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, maka gadai tersebut telah sah sepenuhnya, sehingga jika pihak yang menggadaikan ingin membatalkannya, ia tidak menemukan jalan untuk itu.

ولو أراد المرتهن أن يزول عنه ضمان الغصب فليرد العين إلى الراهن فيخرج عن ضمان الغصب ولا ينقطع حقه من الوثيقة ثم إنه كما رده على المالك يملك استردادَه ويخرج من ذلك أن له أن يجبر الراهن على قبض الرهن؛ ليزول عنه الضمان وليس للراهن أن يمتنع من ذلك ثم ما قبضه يلزمه أن يردّه على المرتهن؛ لأن الرد لازم

Jika pemegang gadai ingin terbebas dari tanggungan jaminan akibat perampasan (ghashb), maka hendaklah ia mengembalikan barang gadai kepada pemberi gadai, sehingga ia keluar dari tanggungan jaminan perampasan, namun haknya atas jaminan tidak terputus. Kemudian, sebagaimana ia telah mengembalikannya kepada pemilik, ia berhak untuk memintanya kembali. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ia boleh memaksa pemberi gadai untuk menerima barang gadai tersebut agar ia terbebas dari tanggungan, dan pemberi gadai tidak boleh menolak hal itu. Selanjutnya, barang yang telah diterima oleh pemberi gadai wajib dikembalikan kepada pemegang gadai, karena pengembalian itu adalah kewajiban.

وجرى في أثناء كلام الشيخ ما يدل على أن للراهن أن يسترد العين المغصوبة ثم يردها حتى إذا امتنع المرتهن من ذلك أجبر على الرد ثم يرد عليه

Dalam penjelasan Syekh disebutkan bahwa pihak yang menggadaikan (rahin) berhak untuk mengambil kembali barang gadai yang dirampas (maghsubah), kemudian mengembalikannya. Jika penerima gadai (murtahin) menolak untuk menerima pengembalian tersebut, maka ia dapat dipaksa untuk menerima, lalu barang itu dikembalikan kepadanya.

هذا ما أجراه

Inilah yang telah dilakukan.

والقياس عندي أن الراهن لا يملك هذا؛ فإنه أثبت للمرتهن يداً لازمة ونحن إنما جوزنا للمرتهن أن يجبر الراهن على استرداد العين ليحصّل غرضَه في الخروج عن الضمان وهذا لا يتحقق في جانب الراهن؛ فإنه لا غرض له في تبرئة ذمة المرتهن عن عهدة الضمان وقد صرح القاضي بهذا في الأسرار والمسألة ظاهرة

Menurut pendapat saya, qiyās menunjukkan bahwa pihak yang menggadaikan (rahin) tidak memiliki hak ini; sebab, telah ditetapkan bagi penerima gadai (murtahin) hak kepemilikan yang tetap atas barang tersebut. Kami hanya membolehkan penerima gadai memaksa pihak yang menggadaikan untuk mengambil kembali barang gadai agar ia dapat mencapai tujuannya, yaitu keluar dari tanggungan jaminan. Hal ini tidak terwujud pada pihak yang menggadaikan, karena ia tidak memiliki tujuan untuk membebaskan tanggungan penerima gadai dari kewajiban jaminan. Qadi telah menegaskan hal ini dalam kitab al-Asrār, dan masalah ini jelas.

فرع

Cabang

العارية مضمونة في يد المستعير فلو رهن العينَ العاريَّةَ من المستعير وأذن له في قبضه عن الرهن فهل يزول ضمان العارية؛ فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب أحدهما لا يزول كما لا يزول ضمان الغصب والثاني يزول؛ فإن ضمان العارية أخف من ضمان الغصب وهذا الْتفاتٌ منه على الخلاف المشهور في أن العارية هل تضمن ضمان الغصوب

Barang pinjaman (al-‘āriyah) tetap menjadi tanggungan di tangan peminjam. Jika barang pinjaman tersebut dijadikan jaminan (rahn) oleh peminjam, dan ia mengizinkan penerima gadai untuk mengambilnya sebagai barang jaminan, maka apakah tanggungan atas barang pinjaman itu hilang? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb: pertama, tanggungan itu tidak hilang, sebagaimana tanggungan atas barang hasil ghasab juga tidak hilang; kedua, tanggungan itu hilang, karena tanggungan atas barang pinjaman lebih ringan daripada tanggungan atas barang hasil ghasab. Ini merupakan isyarat dari beliau terhadap perbedaan pendapat yang masyhur mengenai apakah barang pinjaman itu ditanggung sebagaimana barang hasil ghasab.

وأنا أقول المرتهن مراعٍ حظَّ نفسه وعلةُ الضمان في حق المستعير أنه قابض لحظ نفسه من غير استحقاق فلما ثبت الاستحقاق في حق المرتهن وانطبق هذا على الإذن ظهر فيه زوال الضمان وليس كذلك ضمان الغصب

Dan saya katakan bahwa pemegang gadai memperhatikan kepentingan dirinya sendiri, sedangkan alasan tanggungan (dhamān) bagi peminjam adalah karena ia memegang barang untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa hak. Maka ketika hak itu tetap ada pada pemegang gadai dan hal ini sesuai dengan izin, tampaklah hilangnya tanggungan (dhamān) pada kasus ini. Tidak demikian halnya dengan tanggungan (dhamān) pada kasus perampasan (ghashb).

ولست أذكر هذا عن اعتقاد؛ فإن مضادة الرهن للعدوان أوقع مما تكلفناه في الرهن والعارية

Aku tidak menyebutkan hal ini karena keyakinan; sebab pertentangan antara rahn dan tindakan melampaui batas (‘udwān) lebih jelas daripada apa yang telah kami upayakan dalam pembahasan rahn dan ‘āriyah.

فصل

Bab

قال ولو رهنه دارين فقبض إحداهما إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia menggadaikan dua rumah kepadanya, lalu ia menerima salah satunya, dan seterusnya.”

إذا رهن عبدين أو دارين بدَين وأقبض إحداهما دون الأخرى فالتي جرى القبض فيها مرهونة بجميع الدين عندنا خلافاً لأبي حنيفة

Jika seseorang menggadaikan dua budak atau dua rumah untuk suatu utang, lalu menyerahkan salah satunya saja dan tidak yang lainnya, maka yang telah diserahkan itu menjadi barang gadai untuk seluruh utang menurut pendapat kami, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.

ومعوّل المذهب أن الدين لا يتعلق بالمرهون تعلق التقسيط بل كل جزء من الرهن مرهون بكل الدين ولا خلاف أنه لو تلف أحدهما في يد الراهن وأقبض الثاني كان مرهوناً بالجميع

Dasar mazhab adalah bahwa utang tidak terkait dengan barang gadai secara proporsional, melainkan setiap bagian dari barang gadai menjadi jaminan untuk seluruh utang. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika salah satu dari barang gadai itu rusak di tangan penggadai dan yang satunya diserahkan, maka yang diserahkan itu tetap menjadi jaminan untuk seluruh utang.

وإذا باع الرجل عبدين بمبلغ من الثمن ثم انفسخ البيع في أحدهما لم يكن الباقي في مقابلة جميع الثمن؛ لأن انفساخ العقد في المعوض يوجب انفساخه في العوض الذي يقابله ومساق هذا يتضمن سقوطَ مقدارٍ من الثمن فكيف يُتخيل والحالة هذه أن يكون الباقي محبوساً بجميع الثمن وقد تحقق سقوط قسط من الثمن وليس الدين عوضاً للرهن حتى يفرض بانفساخ الرهن في بعض المرهون سقوط بعض الدين

Jika seseorang menjual dua budak dengan sejumlah harga, kemudian akad jual beli itu batal pada salah satunya, maka yang tersisa tidaklah menjadi pengganti seluruh harga; karena batalnya akad pada objek yang diperjualbelikan menyebabkan batalnya akad pada imbalan yang menjadi pasangannya. Konsekuensi dari hal ini adalah gugurnya sebagian dari harga. Maka, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini dapat dibayangkan bahwa yang tersisa tetap terikat dengan seluruh harga, padahal telah nyata gugurnya bagian dari harga tersebut? Dan hutang itu bukanlah imbalan dari barang yang digadaikan, sehingga jika sebagian barang gadai batal, maka sebagian hutang juga gugur.

وقد ذهب الأئمة المعتبرون إلى أن من باع مقداراً من المكيل بثمن معلوم وتوفر عليه معظم الثمن والتفريع على أن حق الحبس ثابت للبائع فلا يلزم تسليم شيء ما بقي من الثمن شيء فلما كان الثمن باقياً جرى حبس المبيع على قياس حبس الرهن وآل افتراق البابين إلى سقوط بعض العوض في البيع عند فوات بعض المبيع

Para imam yang terkemuka berpendapat bahwa apabila seseorang menjual sejumlah barang takaran dengan harga tertentu dan sebagian besar harga tersebut telah dibayarkan, serta berdasarkan cabang hukum bahwa hak penahanan tetap dimiliki oleh penjual, maka penjual tidak wajib menyerahkan barang selama masih ada sisa harga yang belum dibayar. Karena masih ada sisa harga, maka penahanan barang yang dijual berlaku sebagaimana penahanan barang gadai. Perbedaan antara kedua bab ini berujung pada gugurnya sebagian imbalan dalam jual beli ketika sebagian barang yang dijual tidak dapat diserahkan.

وهذا لا يتصور في الدين بالإضافة إلى الرهن

Hal ini tidak dapat dibayangkan dalam agama jika dikaitkan dengan rahn (gadai).

وقد ذهب بعض أصحابنا إلى أن توفير بعض الثمن يوجب على البائع تسليمَ مقدارِه من المثمن إذا كان المبيع قابلاً للقسمة وهذا رديء غيرُ معتد به والأصل ما قدمناه

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa pembayaran sebagian harga mewajibkan penyerahan sebagian barang oleh penjual jika barang yang dijual dapat dibagi. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan, sedangkan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.

وهذا الوجه ليس بأبعد في القياس عن قول مشهور في الحكاية في تفريع تفريق الصفقة وهو أن كل الثمن يبقى وإن انفسخ العقد في معظم الثمن ورب وجه منقاس لا أعده من المذهب؛ إذ لم يشتهر نقله وأعد قولاً أضعف منه لاشتهار النقل فيه

Pendapat ini tidak lebih jauh dalam qiyās dibandingkan dengan pendapat yang masyhur dalam riwayat terkait cabang permasalahan tafrīq ash-shafqah, yaitu bahwa seluruh harga tetap ada meskipun akad batal pada sebagian besar harga. Seringkali ada pendapat yang sesuai qiyās namun tidak aku anggap sebagai bagian dari mazhab, karena tidak masyhur riwayatnya, sementara aku anggap suatu pendapat yang lebih lemah darinya sebagai bagian dari mazhab karena riwayatnya yang masyhur.

ثم ذكر الشافعي أن من ارتهن داراً وقبضها وانهدمت في يده فالرهن باقٍ على الساحة والنقض المنهدم رهن؛ فإنَّ تغيّر صفة المرهون لا يخرجه عن كونه رهناً وهذا مستبين

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa siapa saja yang menggadaikan sebuah rumah, lalu menerimanya dan rumah itu runtuh di tangannya, maka gadaiannya tetap berlaku atas tanahnya dan puing-puing bangunan yang runtuh itu juga tetap menjadi barang gadai; sebab perubahan sifat barang yang digadaikan tidak mengeluarkannya dari statusnya sebagai barang gadai, dan hal ini jelas.

فصل

Bab

قال ولو رهنه جارية إلى آخره

Dia berkata: “Dan jika ia menjadikan seorang budak perempuan sebagai rahn (barang gadai), dan seterusnya.”

هذا الفصل يقتضي تأخير ما قدمه الشافعي وتقديم ما أخره فنبدأ باستقصاء القول في عتاق الراهن العبدَ المرهون واستيلادِه الجاريةَ المرهونة حتى إذا استوفينا أطراف الكلام انعطفنا حينئذ على صدر الفصل

Bab ini mengharuskan penundaan terhadap apa yang telah didahulukan oleh asy-Syafi‘i dan mendahulukan apa yang ia akhirkan. Maka kita mulai dengan menguraikan secara rinci pembahasan tentang pembebasan budak yang dijadikan rahin (jaminan) dan istīlād (menjadikan sebagai ummu walad) terhadap jariyah yang dijadikan rahin, hingga apabila kita telah menuntaskan seluruh pembahasan, barulah kita kembali pada awal bab ini.

فإذا رهن الرجل عبداً وسلمه وانبرم الرهن فيه ثم أعتقه من غير إذن المرتهن ففي نفوذ عتقه أقوال أحدها أنه ينفذ لوروده على الملكِ الثابت للمعتِق وكون المعتِق من أهل العتق ومبنى العتق على النفوذ

Jika seseorang menggadaikan seorang budak, menyerahkannya, dan akad gadai telah sempurna atasnya, kemudian ia memerdekakannya tanpa izin dari penerima gadai, maka terdapat beberapa pendapat mengenai keabsahan pemerdekaannya. Salah satunya adalah bahwa pemerdekaan itu sah karena dilakukan atas kepemilikan yang tetap milik orang yang memerdekakan, dan orang yang memerdekakan adalah termasuk pihak yang berhak memerdekakan, serta dasar pemerdekaan adalah pada keabsahan (berlaku).

والقول الثاني أنه لا ينفذ العتق؛ فإن الرهن يتضمن حجراً لازماً على الراهن فلو سلطناه على الإعتاق لكان مناقضاً للحجر المحكوم بلزومه

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan budak tidak sah; karena gadai mengandung larangan yang mengikat bagi pihak yang menggadaikan, sehingga jika kita membolehkannya untuk membebaskan budak, maka hal itu bertentangan dengan larangan yang telah ditetapkan sebagai sesuatu yang wajib ditaati.

والقول الثالث أنا نَفْصِل بين كون الراهن موسراً وبين أن يكون معسراً فإن كان موسراً نفذ عتقه وغرِم قيمةَ العبد المرتهن ليكون رهناً وإن كان معسراً لا ينفذ عتقه أصلاً

Pendapat ketiga adalah kita membedakan antara keadaan orang yang menggadaikan (rahin) apakah ia mampu (musr) atau tidak mampu (mu‘sir). Jika ia mampu, maka pembebasan budak (‘itq) yang dilakukannya sah dan ia wajib membayar nilai budak tersebut kepada pihak yang menerima gadai (murtahin) agar budak itu tetap menjadi barang gadai. Namun jika ia tidak mampu, maka pembebasan budak sama sekali tidak sah.

وهذا القائل يشبه جريانَ العتق وسريانَه إلى حق المرتهن بمثابة سريان عتق أحد الشريكين إلى نصيب صاحبه من العبد المشترك وقد تحقق أنا نفصل في عتق الشريك بين الموسر والعسر

Orang yang berpendapat demikian mengibaratkan berlakunya pembebasan budak dan meluasnya efeknya hingga mengenai hak pemegang gadai, seperti halnya meluasnya pembebasan budak yang dilakukan oleh salah satu dari dua orang yang berserikat atas bagian temannya dari budak yang dimiliki bersama. Telah jelas bahwa kita membedakan dalam pembebasan budak oleh salah satu pihak antara yang mampu dan yang tidak mampu.

ثم قال العراقيون إذا فرعنا على قول التفصيل فلو كان الراهن موسراً وأعتق فكيف الترتيب في نفوذ عتقه

Kemudian orang-orang Irak berkata: Jika kita membangun pendapat berdasarkan perincian, maka apabila orang yang menggadaikan itu kaya dan ia memerdekakan (budak yang digadaikan), bagaimana urutan dalam berlakunya pemerdekaan tersebut?

قالوا اختلف أصحابنا فمنهم من قال يخرّج في وقت نفوذ عتقه ثلاثة أقوال أحدها أنه يتعجل نفوذ العتق وبعده يتوجه الغرم كما نفصله

Para ulama kami berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa pada waktu berlakunya pembebasan budak terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa pembebasan budak itu langsung berlaku, dan setelahnya baru timbul kewajiban ganti rugi sebagaimana akan kami jelaskan.

والثاني نفوذ العتق يقع مع غرامة القيمة للمرتهن

Yang kedua, pembebasan budak tetap berlaku dengan kewajiban membayar ganti rugi senilai budak tersebut kepada pihak yang memegang gadai.

والثالث أن الأمر موقوف

Dan yang ketiga adalah bahwa perkara tersebut ditangguhkan.

وهذا القائل يُجري هذه الأقوال من الأقوال المشهورة في وقت نفوذ عتق الشريك سرياناً إلى نصيب الشريك هذه طريقة

Orang yang berpendapat demikian menerapkan pendapat-pendapat ini, yang merupakan pendapat-pendapat masyhur, dalam hal waktu berlakunya pembebasan budak oleh salah satu sekutu yang berimbas pada bagian sekutu lainnya; inilah metodenya.

قالوا ومن أصحابنا من قطع بأن العتق ينفذ عاجلاً قولاً واحداً وليس على قياس سريان العتق إلى ملك الشريك والسبب فيه أن عتق الراهن صادف ملكَه والعتق الذي نُسرِّيه في العبد المشترك ينفذ في ملك الغير فيجوز أن يتوقف انتقالُ الملك فيه إلى المعتِق على تقرير ملك الشريك على العوض وإنما يستقر الملك على عوض التلف إذا بُذل وثبتت يدُ المتلَف عليه على ذلك العوض

Mereka berkata, di antara ulama mazhab kami ada yang menegaskan bahwa pembebasan budak (‘itq) berlaku seketika tanpa perbedaan pendapat, dan hal ini tidak mengikuti qiyās tentang berlakunya pembebasan budak pada kepemilikan seorang mitra. Sebabnya adalah karena pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan (rāhin) terjadi pada miliknya sendiri, sedangkan pembebasan budak yang kami berlakukan pada budak yang dimiliki bersama berlaku pada milik orang lain. Maka boleh jadi perpindahan kepemilikan dalam hal ini bergantung pada penetapan kepemilikan mitra atas kompensasi. Kepemilikan atas kompensasi kerugian baru menjadi tetap jika kompensasi itu diberikan dan pihak yang kehilangan tetap memegang kompensasi tersebut.

وهذا القائل يقول لو كان عتق الراهن على قياس سريان العتق لقطعنا بالفرق بين الموسر والمعسر ولا قطعَ بل الأصح أن لا فرق

Dan orang yang berpendapat demikian berkata: Seandainya pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan (rahin) itu mengikuti qiyās pembebasan budak yang berlaku secara umum, niscaya kita akan memastikan adanya perbedaan antara orang yang mampu dan yang tidak mampu, namun tidak ada kepastian demikian, bahkan pendapat yang lebih sahih adalah tidak ada perbedaan.

التفريع

Pencabangan

إن حكمنا بأن العتق ينفذ فعلى الراهن أن يغرَم القيمةَ للمرتهن والاعتبار بقيمة ساعة الإعتاق؛ فإنها ساعةُ الإتلاف

Jika kita memutuskan bahwa pembebasan budak itu sah, maka pihak yang menggadaikan harus membayar ganti rugi kepada penerima gadai sebesar nilai barang tersebut pada saat pembebasan; karena saat itulah dianggap sebagai waktu terjadinya perusakan.

ثم إذا بذل القيمة وسلّمها لم يشترط عقد رهن فيها بل نفس التسليم إلى المرتهن على قصد الغُرم يجعل المسلَّم رهناً ولا شك أنه لا يتم ذلك ما لم يقصد الراهن المعتِق التسليمَ عن جهة الغُرم وهذا جار في كل مالٍ يلزم الذمةَ ثم يسلّمه ملتزمُه حتى لو سلَّم ثم قال قصدت الإيداعَ عندك فالقول قوله ويقع المقبوض وديعة

Kemudian, apabila nilai (barang) telah diberikan dan diserahkan, tidak disyaratkan adanya akad rahn (gadai) di dalamnya. Bahkan, penyerahan itu sendiri kepada murtahin (penerima gadai) dengan maksud sebagai jaminan utang sudah menjadikan barang yang diserahkan itu sebagai rahn. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu tidak akan sempurna kecuali jika rahin (pemberi gadai) yang memerdekakan memang bermaksud menyerahkan barang tersebut sebagai jaminan utang. Hal ini berlaku pada setiap harta yang menjadi tanggungan (dalam utang), kemudian diserahkan oleh pihak yang berkewajiban. Bahkan, jika ia telah menyerahkan lalu berkata, “Aku bermaksud menitipkannya padamu,” maka perkataannya diterima dan barang yang diterima itu menjadi titipan (wadi‘ah).

وإن قلنا لا ينفذ العتق فيبقى الرهن فإن مست الحاجة إلى بيعه في الدين بعناه ثم إذا بيع فلو عاد إلى الراهن المعتِق يوماً بعد زوال ملكه فلا ينفد عتقه الآن وإن زالت الموانع

Jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak tidak berlaku, maka barang gadai tetap menjadi gadai. Jika ada kebutuhan mendesak untuk menjualnya guna melunasi utang, maka kita jual. Kemudian, jika barang tersebut telah dijual, lalu suatu saat kembali kepada orang yang menggadaikan dan telah membebaskan budak itu setelah kepemilikannya hilang, maka pembebasan budak tidak berlaku sekarang, meskipun semua penghalang telah hilang.

وإن انفك الرهن ولم يزل ملك الراهن عنه بأن يفك المرتهن الرهن أو بأن ينفك بأداءٍ أو إبراء فهل ينفذ العتق الآن فعلى وجهين أقيسهما أنه لا ينفذ؛ فإنه وجه على العبد منجزاً فرأينا ردَّه واللفظ إذا رُدّ وأُبطل حكمه لم يبق له بعد بطلان أثره حكم

Jika rahn terlepas dan kepemilikan rahin tidak hilang darinya, baik karena murtahin melepaskan rahn tersebut atau karena rahn terlepas dengan pelunasan atau pembebasan, maka apakah pembebasan budak (‘itq) menjadi sah sekarang? Ada dua pendapat; yang lebih sesuai dengan qiyās adalah bahwa pembebasan itu tidak sah, karena pembebasan tersebut telah diarahkan kepada budak secara langsung, lalu kami melihat perlunya menolaknya. Jika suatu lafaz telah ditolak dan hukumnya dibatalkan, maka setelah batalnya pengaruh lafaz tersebut, tidak ada lagi hukum yang tersisa baginya.

وسيكون لنا إلى هذا الفصل عودة من وجه آخر وعنده نفصل الأمر ونبين الحقيقة المطلوبة

Kita akan kembali pada bab ini dari sudut pandang yang lain, dan pada saat itu kita akan merinci persoalan serta menjelaskan kebenaran yang dimaksud.

ولو علق الراهن عتقَ العبد المرهون نُظر فإن علق عتقه على انفكاك الرهن فانفك الرهن نفذ العتقُ المعلّق؛ لأن التعليق لا يزاحم حقَّ المرتهن

Jika pihak yang menggadaikan menggantungkan pembebasan budak yang digadaikan, maka perlu dilihat: jika ia menggantungkan pembebasannya pada terlepasnya gadai, lalu gadai itu benar-benar terlepas, maka pembebasan yang digantungkan itu berlaku; karena penggantungan tersebut tidak bertentangan dengan hak penerima gadai.

وإذا نفذنا العتق بعد انفكاك الرهن لم يكن نفوذ العتق وارداً على حق المرتهن

Jika kita melaksanakan pembebasan budak setelah lepasnya barang jaminan dari gadai, maka berlakunya pembebasan budak tersebut tidak mengenai hak pihak yang menerima gadai.

وليس تعليق العتق على ما وصفناه بمثابة تقديم تعليق العتق على حصول الملك

Mengaitkan pembebasan budak dengan apa yang telah kami jelaskan tidaklah sama dengan mendahulukan pengaitan pembebasan budak atas terjadinya kepemilikan.

ولو علق عتق العبد المرهون بصفة قد توجد قبل انفكاك الرهن فنقول إن وجدت في استمرار الرهن فالعتق مردود تفريعاً على رد تنجيز العتق؛ فإن التعليق والصفة اجتمعا في دوام لزوم الرهن وكانا كتنجيز العتق ولو وُجدت تلك الصفة بعد انفكاك الرهن ففي المسألة خلافٌ والأصح النفوذ إذا كان لا يفضي الحكم بالنفوذ إلى إبطالِ حق المرتهن

Jika kemerdekaan budak yang digadaikan digantungkan pada suatu sifat yang mungkin terjadi sebelum pelepasan gadai, maka kami katakan: jika sifat itu terjadi selama masa gadai masih berlangsung, maka kemerdekaan tersebut ditolak, sebagai cabang dari penolakan kemerdekaan secara langsung; karena penggantungan dan sifat itu berkumpul dalam masa tetapnya gadai, dan keduanya seperti kemerdekaan secara langsung. Namun jika sifat tersebut terjadi setelah pelepasan gadai, maka dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat, dan pendapat yang paling sahih adalah kemerdekaan itu berlaku jika penetapan kemerdekaan tersebut tidak menyebabkan hilangnya hak penerima gadai.

ومن أصحابنا من قال لا يصح التعليق أصلاً كما لا يصح التنجيز وهذا يقرب من خلاف الأصحاب فيه إذا قال العبد لزوجته إن دخلت الدار فأنت طالق ثلاثاً ثم عَتَقَ العبدُ فدخلت الدار ففي وقوع الطلقة الثالثة خلاف وبين القاعدتين فرق؛ فإن العبد لو قال لزوجته إن عَتَقتُ فأنت طالق ثلاثاً جرى الخلاف في هذه الصورة

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa tidak sah melakukan ta‘liq (penggantungan) sama sekali, sebagaimana tidak sah juga melakukan tanjīz (penegasan langsung). Pendapat ini mendekati perbedaan pendapat di kalangan para ulama mazhab kami dalam kasus apabila seorang budak berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak tiga,” kemudian budak tersebut merdeka, lalu istrinya masuk ke dalam rumah, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai jatuhnya talak ketiga. Antara kedua kaidah tersebut terdapat perbedaan; sebab jika seorang budak berkata kepada istrinya, “Jika aku merdeka, maka kamu tertalak tiga,” maka perbedaan pendapat juga terjadi dalam kasus ini.

ولو قال الراهن إذا انفك الرهن فهذا العبد حر نفذ العتق بعد انفكاكه

Jika orang yang menggadaikan berkata, “Apabila gadai ini telah lepas, maka budak ini merdeka,” maka pembebasan budak itu berlaku setelah gadai tersebut lepas.

والفارق أن الطلقة ليست مملوكة للعبد ومحل العتق مملوك للراهن وسبب امتناع العتق حق المرتهن؛ إذ لو أَذِن نفذ العتق

Perbedaannya adalah bahwa talak bukanlah milik budak, sedangkan objek pembebasan budak adalah milik pihak yang menggadaikan. Alasan larangan pembebasan budak adalah karena adanya hak penerima gadai; sebab jika penerima gadai mengizinkan, maka pembebasan budak itu sah.

فهذا ما أردناه

Inilah yang kami maksudkan.

ولو علق عتق عبده بصفة ثم رهنه فوجدت الصفة بعد لزوم الرهن ففيه اختلاف مشهور وللمسألة نظائر يجمعها أن الاعتبار بحالة التعليق أو بحالة وجود الصفة وعليه يخرّج خلاف الأصحاب في أن الصحيح إذا علق عتق عبد بصفة ثم مرض مرض الموت ووجدت الصفة فالعتق من رأس المال أو هو محسوب من الثلث فيه خلاف مشهور وسيأتي أصل ذلك وفرعه في كتاب الوصايا إن شاء الله تعالى

Jika seseorang menggantungkan pembebasan budaknya pada suatu sifat, lalu ia menjadikan budak itu sebagai barang gadai, kemudian sifat tersebut terwujud setelah gadai menjadi tetap, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur. Permasalahan ini memiliki beberapa analogi yang intinya adalah apakah yang menjadi acuan adalah keadaan saat penggantungan (ta‘liq) atau saat terwujudnya sifat tersebut. Berdasarkan hal ini, para ulama berbeda pendapat dalam masalah: jika seseorang yang sehat menggantungkan pembebasan budaknya pada suatu sifat, lalu ia sakit dengan sakit yang menyebabkan kematian, dan sifat itu terwujud, maka apakah pembebasan budak itu diambil dari harta keseluruhan (ra’s al-māl) atau dihitung dari sepertiga harta (al-thuluts)? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur, dan asal serta cabangnya akan dijelaskan dalam Kitab Wasiat, insya Allah Ta‘ala.

ومما يتفرع على العتق أن الرجل إذا رهن نصفاً من عبد مملوك له واستبقى منه نصفاً فالرهن صحيح فلو أعتق النصفَ الذي لم يرهنه نفذ العتق فيه وفي سريان العتق إلى النصف المرهون على القول الذي نفرع عليه وجهان أصحهما النفوذ؛ فإن العتق إذا كان يسري من الملك إلى ملك الغير فلأن يسري إلى محل حق الغير أولى

Salah satu cabang dari pembahasan tentang ‘itq (pembebasan budak) adalah bahwa jika seseorang menggadaikan separuh dari seorang budak miliknya dan menyisakan separuhnya, maka gadai tersebut sah. Jika kemudian ia memerdekakan separuh yang tidak digadaikannya, maka pemerdekaan itu berlaku pada bagian tersebut. Adapun mengenai apakah pemerdekaan itu juga berlaku pada separuh yang digadaikan, menurut pendapat yang menjadi dasar cabang ini, terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah pemerdekaan itu berlaku; sebab jika pemerdekaan dapat berlaku dari kepemilikan seseorang kepada milik orang lain, maka lebih utama lagi jika berlaku pada bagian yang menjadi objek hak orang lain.

والوجه الثاني أنه لا يسري؛ لأن العبد بجملته مملوك للراهن فلا يحمل عتقُه على مذهب السريان بل إن نفذ التنجز فذاك وإلا فلا نفوذ وهذا يعتضد بأن الراهن هو الذي حجر على نفسه فليس له التسبب إلى مناقضة الحجر ولا يلزم عليه ما لو باع النصف من عبده؛ فإن ذاك ليس حجراً إنما هو خروج منه في المبيع عن رتبة الملاّك ولو نفذنا سريان عتقه على الأصح فإنْ وجّه العتقَ على المرهون قصداً وقال أعتقت ما رهنت من هذا العبد فالوجه القطع برد عتقه إذا كان التفريع على الرد

Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak berlaku (sistem sirkulasi); karena seluruh budak adalah milik penuh pihak yang menggadaikan, sehingga pembebasannya tidak dapat diberlakukan menurut mazhab sirkulasi. Namun, jika pembebasan itu berlaku secara langsung, maka itu sah, jika tidak maka tidak sah. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa pihak yang menggadaikan sendirilah yang membatasi dirinya, sehingga ia tidak berhak menyebabkan terjadinya kontradiksi terhadap pembatasan tersebut. Hal ini berbeda dengan kasus jika ia menjual setengah dari budaknya; karena itu bukanlah pembatasan, melainkan ia hanya melepaskan sebagian hak miliknya atas barang yang dijual. Dan jika kita membenarkan berlakunya sirkulasi pembebasan budak menurut pendapat yang lebih kuat, lalu ia secara sengaja membebaskan bagian budak yang digadaikan dan berkata, “Aku membebaskan bagian yang kugadaikan dari budak ini,” maka pendapat yang tepat adalah membatalkan pembebasannya jika didasarkan pada pendapat yang membatalkan.

ثم قال المحققون إذا رأينا تنفيذ سريان العتق في صورة الوجهين فنقطع بالفصل بين الموسر والمعسر؛ فإن سبب نفوذ هذا قياسُ السراية وقياس السراية في مذهب الشافعي يقتضي الفصْلَ بين الموسر والمعسر كما سيأتي في كتاب العتق

Kemudian para peneliti berkata, jika kita melihat pelaksanaan berlakunya pembebasan budak dalam dua keadaan, maka kita memastikan adanya perbedaan antara orang yang mampu dan yang tidak mampu; sebab yang menyebabkan berlakunya hal ini adalah qiyās saráyah, dan qiyās saráyah menurut mazhab Syafi‘i mengharuskan adanya perbedaan antara orang yang mampu dan yang tidak mampu, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab ‘Itq.

وأما إعتاق المشتري العبدَ في يد البائع على قولنا بثبوت حق الحبس فقد مضى مفصلاً ولا شك أن عتق المشتري أولى بالنفوذ من عتق الراهن؛ فإن حق الحبس في المبيع لم يثبت بعقدٍ مقصود في إثبات الحجر والرهنُ عقد متضمنه حجر مقصودٌ على المالك

Adapun pembebasan budak oleh pembeli yang masih berada di tangan penjual, menurut pendapat kami tentang tetapnya hak penahanan, telah dijelaskan secara rinci sebelumnya. Tidak diragukan lagi bahwa pembebasan oleh pembeli lebih utama untuk berlaku daripada pembebasan oleh pihak yang menggadaikan; karena hak penahanan atas barang yang dijual tidak ditetapkan melalui akad yang memang dimaksudkan untuk menetapkan larangan, sedangkan akad gadai mengandung larangan yang memang dimaksudkan terhadap pemiliknya.

هذا كله بيان القول في إعتاق الراهن

Semua ini merupakan penjelasan mengenai pendapat tentang memerdekakan orang yang digadaikan.

ونحن نبتدىء بعد ذلك التفصيل في استيلاده

Setelah itu, kita akan memulai penjelasan secara rinci mengenai proses penurunannya.

فنقول إذا أقبض الجارية المرهونة إن صححنا رهن الجواري كما سيأتي وهو الأصح فإذا استولدها الراهن بعد انبرام الرهن أما الولدُ فلا شك في انعقاده حراً؛ فإنه لا حق للمرتهن في ولد المرهونة رقيقاً فُرِض أو حراً ولا يغرَم قيمة الولد؛ لما ذكرناه من انقطاع حق المرتهن عن الولد والمهر لا ريب في أنه لا يلزم؛ فإنه عوض منافع البضع ولا حق للمرتهن في المنافع

Maka kami katakan: Jika penerima gadai menerima budak perempuan yang digadaikan—jika kita menganggap sah gadai budak perempuan sebagaimana akan dijelaskan, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat—lalu si penggadai menghamili budak perempuan itu setelah akad gadai terjalin, maka mengenai anak yang lahir, tidak diragukan lagi bahwa statusnya adalah merdeka; karena penerima gadai tidak memiliki hak atas anak dari budak perempuan yang digadaikan, baik anak itu berstatus budak maupun merdeka, dan ia tidak wajib membayar nilai anak tersebut, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa hak penerima gadai terputus dari anak tersebut. Sedangkan mahar, tidak diragukan lagi bahwa itu tidak wajib; karena mahar adalah kompensasi atas manfaat hubungan badan, dan penerima gadai tidak memiliki hak atas manfaat tersebut.

والكلام وراء ذلك في ثبوت الاستيلاد

Pembahasan setelah itu adalah mengenai penetapan status istilād.

وقد خرّج الأئمة نفوذ الاستيلادِ على الأقوال المتقدمة في نفوذ العتق ثم رأَوْا أن يرتبوا الاستيلادَ ويجعلوه أولى بالنفوذ؛ من قِبَل أنه فِعْل والأفعال بعيدة عن الرد والأقوال عرضة الإفساد والتصحيح والفسخ بعد النفوذ؛ ولذلك ينفذ الاستيلاد ممن هو محجور عليه في تصرفاته كالسفيه والمجنون واستيلاد المريض جاريتَه نافذٌ والعتق يحسب من رأس المال وهو بمثابة الاستهلاك الحسي

Para imam mazhab telah mengaitkan keberlakuan istīlād (menggauli budak perempuan hingga melahirkan anak) dengan pendapat-pendapat terdahulu tentang keberlakuan pembebasan budak, kemudian mereka memandang perlu untuk mengurutkan istīlād dan menjadikannya lebih utama untuk diberlakukan; karena istīlād adalah perbuatan, sedangkan perbuatan lebih jauh dari kemungkinan dibatalkan, sementara ucapan rentan terhadap pembatalan, perbaikan, dan pembatalan setelah diberlakukan. Oleh karena itu, istīlād tetap berlaku meskipun dilakukan oleh orang yang dibatasi tindakannya seperti orang safih (bodoh) dan orang gila, dan istīlād seorang yang sakit terhadap budak perempuannya tetap sah, sedangkan pembebasan budak dihitung dari harta pokok dan kedudukannya seperti konsumsi secara fisik.

فإن حكمنا بأن الاستيلاد ينفذ فينفسخ الرهن وعلى الراهن قيمةُ الجارية معتبرةً بوقت العلوق ففيه حصل الاستيلاد والخروج عن الرق المطلق وقد مضى القول في القيمة

Jika kita memutuskan bahwa istīlād berlaku, maka rahn menjadi batal, dan atas pihak yang menggadaikan wajib membayar nilai budak perempuan yang diperhitungkan pada waktu terjadinya kehamilan. Dalam hal ini, telah terjadi istīlād dan keluarnya budak dari status perbudakan secara mutlak. Adapun pembahasan mengenai nilai (budak) telah dijelaskan sebelumnya.

وإن قلنا لا ينفذ الاستيلاد فالجارية مرهونة كما كانت فإن حل الحق وهي حامل فالذي أطلقه الأئمة قطعُ القول بأنه يمتنع بيعها؛ لمكان اشتمال رحمها على الولد الحر وزعموا أن مطلق البيع لا يقصر عن الولد وتناوله للجنين الحرّ محالٌ

Jika kita mengatakan bahwa istīlād tidak berlaku, maka budak perempuan tersebut tetap menjadi barang gadai seperti sebelumnya. Jika hak (piutang) jatuh tempo sementara ia sedang hamil, maka pendapat yang ditegaskan oleh para imam adalah bahwa penjualannya tidak diperbolehkan, karena rahimnya mengandung anak yang merdeka. Mereka berpendapat bahwa penjualan secara mutlak tidak terbatas hanya pada budak perempuan saja, dan mencakup janin yang merdeka adalah hal yang mustahil.

وقد قدمت في هذا خلافاً في كتاب البيع ونزّلته منزلة ما لو باع الرجل جاريةً حاملاً بولدٍ مملوك واستثنى حملَها ولا فرق بين أن يقع الاستثناء شرطاً وبين أن يقع استثناؤه شرعاً ولكن المذهب المنع كما ذكره الأصحاب وإن كان تجويز البيع منقاساً

Saya telah menyebutkan perbedaan pendapat tentang hal ini dalam Kitab al-Bay‘, dan saya menganggapnya setara dengan kasus seseorang yang menjual seorang budak perempuan yang sedang hamil dengan anak yang juga merupakan budak, lalu ia mengecualikan kandungannya. Tidak ada perbedaan antara pengecualian itu dijadikan sebagai syarat atau pengecualian itu terjadi secara syar‘i. Namun, mazhab yang dipegang adalah larangan, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, meskipun membolehkan jual beli tersebut secara qiyās.

ولو ولدت المرهونة وماتت في الطلق فالذي صار إليه جماهير الأصحاب أن الراهن يلتزم قيمةَ الجارية للمرتهن فيضعُها مرهونة كما لو قتل الجارية المرهونة

Jika budak perempuan yang digadaikan melahirkan lalu meninggal saat melahirkan, maka menurut pendapat mayoritas ulama mazhab, pihak yang menggadaikan wajib mengganti nilai budak perempuan tersebut kepada penerima gadai, lalu nilai tersebut dijadikan sebagai barang gadai, sebagaimana jika ia membunuh budak perempuan yang digadaikan.

والسبب فيه أن الطلق مترتب على العلوق وهو مترتب على وطء الراهن والضمان يناط بالأسباب تارة وبالمباشرات أخرى

Penyebabnya adalah karena talak bergantung pada terjadinya kehamilan, sedangkan kehamilan bergantung pada hubungan suami istri antara pihak yang menggadaikan, dan tanggungan (dhamān) kadang-kadang dikaitkan dengan sebab-sebab, dan kadang-kadang dengan perbuatan langsung.

وفي بعض التصانيف أن ضمان القيمة لا يجب؛ من جهة أن إحالة التلف على العلوق فيه بعد وقد تفرض أسباب جِبِلِّية هي التي جرّت الطلق الشديد

Dalam beberapa karya tulis disebutkan bahwa kewajiban mengganti nilai tidaklah wajib; karena mengaitkan kerusakan dengan keterikatan (janin) di dalam rahim masih jauh, dan bisa jadi terdapat sebab-sebab alami yang menyebabkan terjadinya kontraksi hebat.

ولا خير في هذا الوجه فلا تعتبروا به والتفريع على وجوب الضمان كما ذكرناه

Tidak ada kebaikan dalam pendapat ini, maka janganlah kalian menganggapnya, dan penetapan hukum didasarkan pada wajibnya ganti rugi sebagaimana telah kami sebutkan.

فلو وطىء جاريةَ إنسان بشبهة فولدت فماتت في الطلق التزم قيمتها تفريعاً على الأصح

Jika seseorang menyetubuhi budak perempuan milik orang lain karena syubhat, lalu budak itu melahirkan dan meninggal dunia saat melahirkan, maka ia wajib membayar nilai budak tersebut, berdasarkan pendapat yang lebih sahih.

ولو وطىء حرة بشبهة وأعلقها فماتت من الطلق ففي وجوب الدية وجهان أحدهما أنها تلزم اعتباراً بالأمة؛ فإن التسبب حاصل كما تقدم والثاني لا تلزم الدية؛ فإن الأمةَ يتُصوّر الاستيلاء عليها فيصير الوطء في حكم الاستيلاء فيها أوّلاً ثم العلوق أثرٌ باقٍ من الاستيلاء السابق كالسراية تستند إلى الجراحة وكالصيد يُنفِّره المحرم فيبقى نِفارُه إلى العشار والموت والحرة لا يتصور الاستيلاء عليها أولاً وليس الوطء في نفسه سبباً قويّاً

Jika seseorang menyetubuhi wanita merdeka karena syubhat dan menyebabkan kehamilan, lalu wanita itu meninggal karena melahirkan, maka ada dua pendapat mengenai kewajiban membayar diyat. Pendapat pertama menyatakan bahwa diyat wajib dibayar, dengan pertimbangan seperti pada budak perempuan; sebab perbuatan yang menyebabkan kematian tetap ada sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa diyat tidak wajib dibayar; sebab pada budak perempuan dimungkinkan adanya penguasaan atas dirinya, sehingga persetubuhan dianggap sebagai akibat dari penguasaan tersebut terlebih dahulu, lalu kehamilan merupakan dampak yang tersisa dari penguasaan sebelumnya, seperti halnya luka yang menimbulkan efek lanjutan, atau seperti hewan buruan yang dijadikan liar oleh orang yang sedang ihram sehingga liarnya tetap hingga sepuluh tahun dan menyebabkan kematian. Sedangkan pada wanita merdeka tidak mungkin terjadi penguasaan atas dirinya terlebih dahulu, dan persetubuhan itu sendiri bukanlah sebab yang kuat.

وهذا وإن كان مشهوراً وقد قطع به طوائف من أصحاب المذهب فالقياس الأول؛ فإن طريق الضمان التسبب إلى الإتلاف وهذا لا يختلف بالحرية والرق بمثابة احتفارِ البئر في محل العدوان وغيرِه من أسباب الضمان

Meskipun pendapat ini terkenal dan telah dipastikan oleh sekelompok pengikut mazhab, namun qiyās yang utama adalah bahwa jalan penjaminan (dhamān) adalah sebab yang mengantarkan pada perusakan, dan hal ini tidak berbeda antara orang merdeka dan budak, sebagaimana halnya menggali sumur di tempat yang terlarang dan sebab-sebab penjaminan (dhamān) lainnya.

ولو زنا بامرأة فعلِقت منه وطُلِقَت وماتت فالذي ذكره الأصحاب أن الضمان لا يجب وإن فرض ذلك في الأمة وكذلك إن قدرت مضبوطة غيرَ ممكِّنة والسبب فيه أن الطلقَ مترتب على العلوق والولد المنتسب إلى الواطىء يُسبب الطلقَ وولد الزنا لا انتساب له وليس العلوق من هذا الشخص المعيّن معلوماً؛ حتى يحمل هذا على جناية متحققة ولولا حكم الشرع بانتساب الأولاد إلى الآباء لما وثقنا بكون ولد من رجل

Jika seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita lalu wanita itu hamil darinya, kemudian ia dicerai dan meninggal dunia, maka menurut keterangan para ulama, kewajiban membayar ganti rugi tidak berlaku, meskipun hal itu terjadi pada seorang budak perempuan. Demikian pula jika wanita tersebut diketahui terjaga dan tidak memungkinkan (untuk berzina dengan orang lain). Sebabnya adalah karena perceraian itu bergantung pada kehamilan, dan anak yang dinisbatkan kepada laki-laki yang menggauli menyebabkan terjadinya perceraian, sedangkan anak hasil zina tidak memiliki nasab. Selain itu, kehamilan dari orang tertentu ini tidak dapat dipastikan, sehingga tidak bisa dianggap sebagai tindak pidana yang benar-benar terjadi. Jika bukan karena ketetapan syariat yang menetapkan nasab anak kepada ayahnya, niscaya kita tidak akan yakin bahwa seorang anak benar-benar berasal dari seorang laki-laki tertentu.

وإذا علقت امرأة الرجل منه وماتت في الطلق فلا ضمان من قِبَل أن العلوق مترتب على سبب مستَحق للزوج والمترتب على المستحقات غيرُ مضمون عندنا ولذلك أهدرنا سراية القصاص

Jika seorang wanita hamil dari seorang laki-laki dan ia meninggal dunia saat melahirkan, maka tidak ada kewajiban ganti rugi, karena kehamilan tersebut terjadi akibat sebab yang menjadi hak suami, dan segala sesuatu yang terjadi akibat hak-hak yang sah tidak menimbulkan kewajiban ganti rugi menurut kami. Oleh karena itu, kami juga mengabaikan dampak lanjutan dari pelaksanaan qishāsh.

ثم إذا ألزمنا الرجلَ قيمةَ الجارية التي ماتت في الطلق فأيةُ قيمةٍ تراعى في ذلك؛ للعراقيين ثلاثة أوجه أحدها أنه يجبُ أقصى القيم من يوم الإحبال إلى الموت كما يجب على الغاصب أقصى القيمة من يوم القبض إلى التلف وكأن الجارية في يد الواطىء منذ علقت إلى أن ماتت

Kemudian, apabila kami mewajibkan kepada laki-laki tersebut untuk membayar nilai budak perempuan yang meninggal karena melahirkan, maka nilai mana yang harus diperhatikan dalam hal ini? Menurut ulama Irak, terdapat tiga pendapat; salah satunya adalah bahwa yang wajib dibayar adalah nilai tertinggi sejak hari terjadinya kehamilan hingga kematian, sebagaimana seorang ghashib (perampas) wajib membayar nilai tertinggi dari hari pengambilan hingga kerusakan, seakan-akan budak perempuan itu berada di tangan pelaku zina sejak ia hamil hingga ia meninggal.

والثاني أنه يجب قيمةُ يوم الإحبال؛ فإنه سبب الإتلافِ والأمة وإن بقيت مملوكة فهي مع سبب الردى هالكة ولهذا نظائر ستأتي في كتاب الجراح إن شاء الله تعالى

Kedua, bahwa yang wajib adalah nilai pada hari terjadinya kehamilan; karena itulah sebab terjadinya kerusakan, dan meskipun budak perempuan tersebut masih tetap menjadi milik, namun dengan adanya sebab kebinasaan, ia dianggap binasa. Hal yang serupa dengan ini akan dijelaskan pada Kitab al-Jirāḥ, insya Allah Ta‘ala.

والثالث وهو اختيار ابن أبي هريرة أنه يجب قيمة يوم الوضع؛ فإن التلف تحقق يومئذ وما تقدم غير موثوقٍ به ولا مُحاطٍ به وهذا كاعتبار النهايات في أروش الجنايات على الأحرار

Yang ketiga, yaitu pendapat yang dipilih oleh Ibn Abi Hurairah, adalah bahwa yang wajib adalah nilai pada hari terjadinya kerusakan; karena kerusakan itu benar-benar terjadi pada hari itu, sedangkan apa yang terjadi sebelumnya tidak dapat dipercaya dan tidak dapat dipastikan. Ini seperti mempertimbangkan nilai akhir dalam urūsh jināyāt atas orang-orang merdeka.

ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أن الراهن إذا وطىء الجارية وأعلقها فولدت ونَقَصها الولادةُ وجب على الراهن أرشُ النقص ووضعه رهناً وهكذا سبيل أروش جناياته على المرهون على ما ستأتي فصول الجنايات

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan sempurna dalam masalah ini adalah bahwa apabila orang yang menggadaikan (rahin) menggauli budak perempuan (jāriyah) lalu menghamilinya, kemudian budak tersebut melahirkan dan proses melahirkan itu menyebabkan kekurangan (cacat) pada dirinya, maka wajib atas orang yang menggadaikan untuk membayar kompensasi (arsh) atas kekurangan tersebut dan meletakkannya sebagai tambahan barang gadai. Demikian pula halnya dengan kompensasi atas luka-luka atau cedera yang ditimbulkan oleh orang yang menggadaikan terhadap barang gadai, sebagaimana akan dijelaskan pada bab-bab tentang jināyāt (tindak pidana).

ولو وطىء الجارية المرهونة وكانت بكراً وافتضها فعليه أرش البكارة وليس هذا بمثابة المهر في الثيب؛ فإن الافتضاض جنايةٌ على جزء من الجملة والجملة بأجزائها مرهونة

Jika seseorang menyetubuhi budak perempuan yang sedang digadaikan, dan ia masih perawan lalu keperawanannya direnggut, maka ia wajib membayar ganti rugi keperawanan. Hal ini tidak sama dengan mahar pada perempuan janda; sebab merenggut keperawanan merupakan tindakan pelanggaran terhadap sebagian dari keseluruhan, sedangkan keseluruhan beserta bagian-bagiannya adalah barang yang digadaikan.

فإن قيل لمَّا فرعتم على نفوذ الاستيلاد قطعتم القولَ بأن الاعتبار بقيمة يوم العلوق وردّدتم المذهب حيث انتهيتم في التفريع إليه قلنا إذا ثبت الاستيلاد انفك الرهن ولم يتوقف انفكاكه على الولادة فتعين اعتبارُ ذلك اليوم وما يفرض من نقصان أو زيادةٍ بعد الانفكاك فلا تعلق له بحق المرتهن

Jika dikatakan: Ketika kalian membangun pendapat atas dasar sahnya istibra’, kalian menetapkan secara tegas bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari terjadinya kehamilan, dan kalian mengulang-ulang pendapat mazhab ketika sampai pada rincian tersebut. Maka kami katakan: Jika istibra’ telah terbukti, maka rahn (barang jaminan) menjadi terlepas, dan pelepasan tersebut tidak bergantung pada kelahiran. Oleh karena itu, yang dijadikan acuan adalah hari tersebut, dan segala penurunan atau kenaikan nilai yang terjadi setelah pelepasan tidak ada kaitannya dengan hak murtahin (penerima gadai).

وإذا قلنا لا ينفذ الاستيلاد وأوجبنا القيمة بسبب الهلاك وقد تقدم السبب المقتضي له فتردُّدُ الأصحابِ بين السبب والتلف كما تقدم

Dan apabila kami mengatakan bahwa istīlād tidak sah dan kami mewajibkan pembayaran nilai karena adanya kehancuran, padahal sebab yang mewajibkannya telah ada sebelumnya, maka keraguan para ulama antara sebab dan kehancuran adalah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ومما يتفرع على قولنا لا يثبت الاستيلاد لحق المرتهن أنها تباع في الرهن إذا مست الحاجة إلى بيعها ثم إذا بيعت فلو عادت يوماً إلى المستولد فهل تصير أم ولدٍ له؛ فعلى قولين مشهورين ولا اختصاص لهما بهذه الصورة بل كل جارية علقت بولد حر من مستولد محترم وامتنع نفوذ الاستيلاد فإذا ثبت للمستولد الملكُ المطلقُ فيها ففي نفوذ الاستيلاد القولان

Salah satu cabang dari pendapat kami bahwa hak istirad (status sebagai umm walad) tidak tetap bagi pihak yang menerima gadai adalah bahwa budak perempuan tersebut boleh dijual dalam keadaan tergadai jika ada kebutuhan mendesak untuk menjualnya. Kemudian, jika budak itu telah dijual, lalu suatu saat kembali lagi kepada orang yang pernah menjadikan dia sebagai umm walad, apakah dia kembali menjadi umm walad baginya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur, dan kedua pendapat ini tidak khusus pada kasus ini saja, melainkan berlaku pada setiap budak perempuan yang telah mengandung anak dari seorang laki-laki merdeka yang terhormat, namun status istirad-nya tidak dapat dijalankan. Jika kemudian kepemilikan mutlak atas budak itu kembali kepada orang yang menjadikan dia sebagai umm walad, maka dalam hal berlakunya istirad terdapat dua pendapat.

ومن صور القولين أن يطأ جارية الغير بالشبهة ويُعْلِقَها ثم يشتريها وقد ذكرنا في التفريع على ردّ عتق الراهن أن العبد المرهون الذي أعتقه الراهنُ إذا بيع في الدَّين وعاد ملكاً إلى الراهن فلا ينفذ العتق المردود والفارق ظاهر؛ فإن اللفظ إنما ينفذ حيث ينفذ بصيغته وكان صيغة إعتاق الراهن التنجيزَ فإذا رُدّ ارتد وقد زال الملك الذي كان إعتاقه تصرفاً فيه

Di antara bentuk dua pendapat adalah seseorang menyetubuhi budak perempuan milik orang lain karena syubhat lalu menghamilinya, kemudian ia membelinya. Kami telah sebutkan dalam penjabaran tentang pembatalan pembebasan budak yang digadaikan, bahwa budak yang digadaikan dan dimerdekakan oleh pihak yang menggadaikan, jika dijual karena utang dan kembali menjadi milik pihak yang menggadaikan, maka pembebasan budak yang telah dibatalkan itu tidak berlaku. Perbedaannya jelas; sebab suatu lafaz hanya berlaku jika ia berlaku dengan redaksinya, dan redaksi pembebasan budak oleh pihak yang menggadaikan adalah secara langsung (tanpa penangguhan), sehingga jika dibatalkan maka batal pula, dan kepemilikan yang menjadi dasar tindakan pembebasan budak itu telah hilang.

والاستيلاد فعل والأفعال قد تتوقف وكأنا نقدّر إعلاق الجارية بولدٍ حُر تسبُّباً إلى حصول الحرية يوماً من الدهر ومبنى الاستيلاد على هذا؛ فإنه لا يُنجِّز العتاقة

Istilad adalah suatu perbuatan, dan perbuatan-perbuatan bisa saja terhenti. Seolah-olah kita menganggap bahwa menghamili seorang jariyah dengan anak yang merdeka merupakan sebab yang akan menghasilkan kemerdekaan pada suatu hari di masa depan, dan dasar dari istilad memang demikian; sebab istilad tidak langsung mewujudkan kemerdekaan.

ولو انفك الرهن عن الجارية وكنا رددنا استيلادَ الراهن فلأصحابنا طريقان فمنهم من قطع بنفوذ الاستيلاد في هذه الصورة لاستمرار الملك وانقطاع المزاحم ومنهم من خرَّجه على قولين ورتبهما على القولين في صورة وطء الشبهة وفيه إذا زال الملك عن المرهونة ثم عاد ولا يكاد يخفى وجه الترتيب وطريق الفرق

Jika gadai telah terlepas dari budak perempuan dan kita telah menolak istibdā’ (pengakuan sebagai ibu anak) dari pihak yang menggadaikan, maka menurut para ulama kami terdapat dua pendapat. Sebagian mereka secara tegas menyatakan sahnya istibdā’ dalam kasus ini karena kepemilikan tetap berlangsung dan tidak ada lagi pihak yang menghalangi. Sebagian lain mengaitkannya dengan dua pendapat, dan mereka mengurutkannya berdasarkan dua pendapat dalam kasus jima‘ syubhat, yaitu jika kepemilikan atas barang yang digadaikan hilang lalu kembali lagi. Hampir tidak samar alasan pengurutan dan cara membedakan kedua kasus tersebut.

والأوجه عندي القطعُ بنفوذ الاستيلاد إذا انفك الرهن والاستيلاد عندي على هذا القول مشبَّه بتعليق العتق على ما بعد الانفكاك وقد قدمنا القطعَ بنفوذ التعليق على هذا الوجه

Menurut pendapat saya, yang lebih kuat adalah memastikan berlakunya istibra’ jika rahn telah lepas, dan istibra’ menurut saya dalam pendapat ini diserupakan dengan menggantungkan pembebasan budak pada sesuatu setelah pelepasan rahn, dan sebelumnya telah kami tegaskan berlakunya penggantungan seperti ini.

وإذا أعتق الراهنُ العبدَ المرهون ورددنا عتقه ثم انفك الرهن فقد أشرنا إلى خلافٍ في ذلك والسبب فيه استمرار الملك وزوالُ الحجر وهذا يقرب من اختلاف القول في أن المحجور عليه بالفلس إذا أعتق عبداً من جملة مالِه فرددنا عتقه ثم انفك الحجر عنه ولم يتَّفق بيعُ ذلك العبدِ في ديونه ففي نفوذ العتق عند إطلاق الحجر قولان سيأتي ذكرهما في كتاب التفليس إن شاء الله تعالى ووجه التشبيه بيّن

Jika orang yang menggadaikan memerdekakan budak yang digadaikan, lalu kita menolak kemerdekaannya, kemudian gadai tersebut lepas, maka telah kami isyaratkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Sebabnya adalah karena kepemilikan tetap berlangsung dan larangan (atas harta) telah hilang. Hal ini mirip dengan perbedaan pendapat dalam masalah seseorang yang terkena hajr karena pailit, jika ia memerdekakan seorang budak dari sebagian hartanya, lalu kita menolak kemerdekaannya, kemudian hajr itu dicabut darinya dan budak tersebut tidak sempat dijual untuk membayar utangnya, maka dalam hal berlakunya kemerdekaan budak setelah hajr dicabut terdapat dua pendapat yang akan disebutkan dalam Kitab Taflis, insya Allah Ta‘ala. Dan sisi kemiripan antara kedua kasus ini jelas.

ولا خلاف أن العتق لا ينفذ في اطراد الحجر عليه؛ فإن فائدة الحجر منعُه من التصرف في ماله وتفاصيل ذلك يأتي في موضعه والراهن مطلقٌ وقد أبقى ملكَ نفسه في الرقبة فظن ظانون أنه مطلق صادف عتقُه ملكَه وسرى إلى حق غيره

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa pembebasan budak tidak berlaku selama seseorang masih berada dalam status mahjur ‘alaih (dikenai pembatasan hak bertindak); karena tujuan dari pembatasan tersebut adalah mencegahnya melakukan tindakan terhadap hartanya, dan rincian mengenai hal ini akan dijelaskan pada tempatnya. Adapun orang yang menggadaikan budaknya secara mutlak, ia tetap mempertahankan kepemilikan atas dirinya (budak) pada zatnya, sehingga sebagian orang mengira bahwa pembebasan budak yang dilakukan oleh pemiliknya itu sah karena mengenai miliknya sendiri, lalu pembebasan itu merambat hingga mengenai hak orang lain.

ثم سنذكر في بيع المفلس مالَه إذا انفك الحجر عنه ولم يتفق صرفُ مبيعه في دينه قولين

Kemudian kami akan menyebutkan dalam penjualan harta orang yang pailit, apabila status pencekalan telah dicabut darinya dan hasil penjualan hartanya tidak disepakati untuk digunakan membayar utangnya, terdapat dua pendapat.

وأطلق الأصحاب القول بأن بيع الراهن في المرهون مردود ولم يقفوه على انفكاك الحجر ولا فرق عندي بين البابين ولا محمل لتصحيح بيع المفلس مالَه على قولٍ إلا الحملُ على الوقف ومحمل القولين لا يمتنع جريانه في الرهن

Para ulama menyatakan secara mutlak bahwa penjualan barang yang digadaikan oleh pihak yang menggadaikan adalah batal, dan mereka tidak mensyaratkannya dengan terlepasnya status penyitaan. Menurut saya, tidak ada perbedaan antara kedua permasalahan ini, dan tidak ada alasan untuk membenarkan penjualan harta orang yang pailit menurut salah satu pendapat kecuali dengan menafsirkannya sebagai penjualan yang tertunda (waqf). Penafsiran kedua pendapat ini juga tidak mustahil diterapkan dalam kasus gadai.

وبالجملة لا فرق بين البابين إلا أن أحد الحجرين جرى من غير اختيار المحجور عليه في جميع ماله والحجر الذي نحن فيه وهو الرهن جرى في مالٍ خاص باختيار مالكه فالوجه التسويةُ بين البابين وتنزيلُ البيع والعتقِ على ترتيب واحد فالعتق أولى بالنفوذ والبيع أبعدُ منه وهذا فنّ من الوقف زائد على الأصناف التي ذكرناها في كتاب البيع وتقريرُه في كتاب الحجر

Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan antara kedua bab tersebut kecuali bahwa salah satu bentuk pembatasan (hajr) terjadi tanpa pilihan dari orang yang dibatasi atas seluruh hartanya, sedangkan pembatasan yang sedang kita bahas di sini, yaitu rahn (gadai), terjadi pada harta tertentu atas pilihan pemiliknya. Maka, yang tepat adalah menyamakan antara kedua bab tersebut dan menetapkan bahwa jual beli dan pembebasan budak (‘itq) berlaku dengan urutan yang sama, yaitu pembebasan budak lebih utama untuk berlaku (sah), sedangkan jual beli lebih jauh kemungkinannya untuk berlaku. Ini merupakan salah satu cabang dari bab wakaf yang menambah dari jenis-jenis yang telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘ (Kitab Jual Beli), dan penjelasannya ada dalam Kitab al-Hajr (Kitab Pembatasan).

والفارق بين البيع والعتق أن تنفيذ التصرف بطريق الوقف ملتفت إلى مذهب التعليق فكأن المفلس قال إذا انفك الحجر فهذا العبد حر وهذا يتطرق إلى العتق ويبعد عن البيع والمحجور المبذّر عتقه مردودٌ في الحال وإذا انفك الحجر عنه وظهر الرشد لم ينفذ من العتق ما رددناه

Perbedaan antara jual beli dan pembebasan budak adalah bahwa pelaksanaan tindakan melalui cara waqaf berkaitan dengan mazhab ta‘liq, seolah-olah orang yang pailit berkata: “Jika status pencekalan telah dicabut, maka budak ini merdeka.” Hal ini berkaitan dengan pembebasan budak dan jauh dari jual beli. Adapun orang yang dicegah karena pemborosan, pembebasan budaknya ditolak saat itu juga. Jika status pencekalan telah dicabut darinya dan telah tampak kedewasaannya, maka pembebasan budak yang sebelumnya kami tolak tidak menjadi sah.

ولو قال في سفهه إذا ظهر رشدي فعبدي هذا حر لم ينفذ عتقه إذا آنس رشدَه وأما استيلاده فنافذ في الحالِ؛ فإنه يجري على مذهب الاستهلاك وهذا واضح

Jika seseorang yang masih dalam keadaan safih berkata, “Jika telah tampak kecerdasanku, maka budakku ini merdeka,” maka pembebasan budaknya tidak berlaku ketika telah tampak kecerdasannya. Adapun jika ia melakukan istilād (menggauli budak perempuan hingga melahirkan anak), maka hal itu langsung berlaku saat itu juga; karena hal tersebut mengikuti mazhab istihlāk (penggunaan yang menghabiskan), dan ini jelas.

وقد نجز غرضنا من تفصيل القول في إعتاق الراهن واستيلاده وما يتعلق بأطراف الكلام في ذلك

Tujuan kami telah tercapai dengan merinci pembahasan tentang memerdekakan orang yang digadaikan, menjadikannya sebagai anak, dan hal-hal yang berkaitan dengan pokok-pokok pembicaraan dalam masalah tersebut.

ثم قال الشافعي في أثناء الكلام تفريعاً على ثبوت الاستيلاد وتعتِق بموت السيد في قول من يعتقها

Kemudian asy-Syafi‘i berkata di tengah pembicaraan sebagai rincian atas penetapan status istilād, bahwa ia merdeka dengan wafatnya tuan menurut pendapat yang memerdekakannya.

وهذا ترديدُ قولٍ منه في بيع أمهات الأولاد وهذا القول مشهور في القديم وترديده القولَ فيما نقله المزني غريب والاستيلاد على قوله القديم لا أثر له وهو من ضروب الاستخدام فكأن السيد إذا أودعها ماءه ثم انفصل فبقيت على رقها كالظرف يحتوي على شيء ثم يفرغ منه وعلى هذا لا تعتق مستولدة ولا يمتنع بيعُها وهذا قولٌ لا عمل به ولا فتوى وقد كان فيه اختلاف في الصدر الأول ثم أطبق العلماء بعدهم على المنع فالتحق هذا بإجماع بعد خلاف وهذا مستقصى في فن الأصول

Ini merupakan pengulangan pendapat beliau dalam masalah jual beli ummahāt al-awlād, dan pendapat ini terkenal dalam pendapat lama. Pengulangan pendapat tersebut sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani adalah hal yang ganjil. Istilah istīlād menurut pendapat lamanya tidak memiliki pengaruh apa pun, dan itu termasuk salah satu bentuk pemanfaatan. Seolah-olah tuan, jika telah menanamkan maninya pada budak perempuan itu lalu berpisah darinya, maka budak tersebut tetap dalam status budak seperti wadah yang berisi sesuatu lalu isinya dikeluarkan. Berdasarkan pendapat ini, budak yang telah melahirkan anak dari tuannya tidak merdeka dan tidak terlarang untuk dijual. Namun, pendapat ini tidak diamalkan dan tidak dijadikan fatwa. Dahulu memang terdapat perbedaan pendapat di masa awal, kemudian para ulama setelah mereka sepakat atas pelarangan, sehingga hal ini menjadi ijmā‘ setelah adanya perbedaan. Masalah ini telah dibahas secara rinci dalam bidang ushul.

فإذا مهدنا هذا الأصل الكبير فقد حان أن نرجع إلى صدر الفصل فنقول

Setelah kami menjelaskan prinsip besar ini, maka kini saatnya kita kembali ke awal pembahasan dan berkata:

إذا رهن الرجل جارية فظهر بها حمل وقال الراهن هذا الولد مني وقد كانت علقت به ولم أشعر فرهنتها فإن صدقه المرتهن فلا كلام فيثبت النسب والولد حرٌّ لا ولاء عليه والجارية أم ولد والرهن باطل وليس على الراهن قيمةٌ توضع رهناً؛ من قِبل أنه لم يجن على رهنٍ لازم بل تبيّنا أن لا رهن

Jika seseorang menggadaikan seorang budak perempuan, lalu ternyata budak itu hamil dan si penggadai berkata, “Anak ini adalah anakku, dia telah mengandung dariku tanpa sepengetahuanku, lalu aku menggadaikannya,” maka jika pihak penerima gadai membenarkannya, tidak ada masalah; nasab anak itu ditetapkan, anak tersebut merdeka dan tidak ada hak wala’ atasnya, budak perempuan itu menjadi umm walad, dan gadaiannya batal. Tidak ada kewajiban atas penggadai untuk membayar nilai budak sebagai barang gadai, karena ia tidak melakukan pelanggaran terhadap gadai yang sah, melainkan ternyata tidak ada gadai sejak awal.

نعم لو كان هذا الرهن مشروطاً في بيعٍ وقد تبين امتناعهم بالسبب الذي ظهر فيثبت الخيار للبائع؛ من قِبل تعذر الوفاء بالشرط المذكور في العقد وسيأتي هذا في موضعه من الكتاب إن شاء الله عز وجل

Ya, jika gadai ini disyaratkan dalam suatu jual beli dan ternyata mereka menolak karena sebab yang telah tampak, maka hak khiyar bagi penjual menjadi tetap; karena tidak dapat dipenuhinya syarat yang disebutkan dalam akad, dan hal ini akan dijelaskan pada tempatnya dalam kitab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

هذا إذا صدقه المرتهن

Ini jika murota­han (penerima gadai) mempercayainya.

فإن كذبه المرتهن وقال ليس الولدُ منك فإن كانت للراهن بينة أقامها أو أقامتها الجارية والشهادة على جريان الوطء من الراهن قبل العقد أو بعد الرهن قبل الإقباض والحكم ما قلناه في المسألة الأولى

Jika pihak murtahin (penerima gadai) mendustakannya dan berkata, “Anak itu bukan dari kamu,” maka jika pihak rahin (penggadai) memiliki bukti, ia harus mengajukannya, atau budak perempuan itu mengajukannya. Kesaksian diberikan atas terjadinya hubungan suami istri antara rahin sebelum akad atau setelah gadai namun sebelum penyerahan (budak), dan hukum dalam hal ini sama seperti yang telah kami sebutkan pada masalah pertama.

فإن قيل يحتمل أن يثبت الوطء ولا يثبت العلوق قلنا نعم هو كذلك

Jika dikatakan: mungkin saja terbukti terjadinya hubungan suami istri namun tidak terbukti terjadinya kehamilan, kami katakan: ya, memang demikian.

ولكن العلوق عيبٌ ولا شيء يدار الإقرارُ والإنكار عليه إلا الوطء ولهذا قلنا إن السيد إذا اعترف بوطء مملوكته وأتت بولدٍ لزمانٍ يمكن أن يكون من الوطء فالنسب لاحق على تفصيل يأتي في موضعه إن شاء الله تعالى وهذا يعتضد باستلحاقه النسبَ فصار مجموع هذا مثبتاً للاستيلاد

Namun, kehamilan adalah cacat, dan tidak ada sesuatu pun yang menjadi dasar pengakuan dan penyangkalan kecuali hubungan suami istri. Oleh karena itu, kami katakan bahwa apabila seorang tuan mengakui telah menggauli budaknya, lalu budak tersebut melahirkan anak pada waktu yang memungkinkan anak itu berasal dari hubungan tersebut, maka nasab anak itu diakui, dengan rincian yang akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala. Hal ini juga diperkuat dengan pengakuan nasab, sehingga keseluruhan hal ini menetapkan status istilād (pengakuan anak dari budak).

وإن كذبه المرتهن ولا بينة فنقول أما نسبُ المولود فثبت لاستلحاق الراهن وتثبت حريةُ الولد وأما الاستيلاد فهل يحكم به حتى يبتني عليه تبين بطلان الرهن؛ فعلى ثلاثة أوجه أحدها لا يحكم به؛ لأنه أثبت للمرتهن حقاً ثم ادعى ما يتضمن بطلانَه فلا يقبل

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) mendustakannya dan tidak ada bukti, maka kami katakan: Adapun nasab anak tersebut tetap sah karena pengakuan pihak yang menggadaikan (rahin), dan status kemerdekaan anak juga tetap. Adapun status istilad (anak yang dilahirkan dari budak perempuan yang diakui sebagai anak oleh tuannya), apakah diputuskan berdasarkan hal itu sehingga berakibat batalnya akad gadai? Maka ada tiga pendapat: salah satunya, tidak diputuskan demikian; karena pihak yang menerima gadai telah memiliki hak, kemudian pihak yang menggadaikan mengaku sesuatu yang mengakibatkan batalnya hak tersebut, maka pengakuan itu tidak diterima.

والوجه الثاني أنه مقبول؛ من جهة انتفاء التهمة؛ إذ إقراره لو ثبت فمتضمنه زوال الرق وقد يقبل الإقرار في محل حق الغير لانتفاء التهمة وعليه بنينا قبول إقرار العبد بما يوجب سفك دمه أو بما يوجب عقوبةً عليه

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu dapat diterima; dari sisi tidak adanya tuduhan, karena jika pengakuannya terbukti maka konsekuensinya adalah hilangnya status budak, dan terkadang pengakuan dapat diterima dalam perkara yang berkaitan dengan hak orang lain karena tidak adanya tuduhan. Atas dasar inilah kami membangun penerimaan pengakuan seorang budak atas sesuatu yang menyebabkan darahnya ditumpahkan atau yang menyebabkan ia mendapat hukuman.

والوجه الثالث أنا نفصّل بين أن تأتي بالولد لستة أشهرٍ فما دونها من وقت الإقباض وبين أن تأتي بالولد لأكثر من ستة أشهر؛ فإن الأمر إذا كان كذلك اتسع مسلك الإمكان ولم يبعد أن يُفرض العلوقُ بعد تمام الرهن وتحقيق الفرق أنا إذا أثبتنا العلوق حالة القبض فإقرار الراهن يرد على غير محل الرهن ولو كان موجوداً حالة القبض فيقع ثبوت الاستيلاد تابعاً

Adapun sisi yang ketiga, kami merinci antara jika ia melahirkan anak dalam enam bulan atau kurang dari waktu akad, dengan jika ia melahirkan anak lebih dari enam bulan; maka jika keadaannya demikian, jalur kemungkinan menjadi lebih luas dan tidak mustahil untuk menganggap kehamilan terjadi setelah akad rahn selesai. Penjelasan perbedaannya adalah: jika kami menetapkan kehamilan terjadi saat penyerahan, maka pengakuan pihak yang menggadaikan tidak berkaitan dengan objek rahn; dan seandainya anak itu sudah ada saat penyerahan, maka penetapan istilād (status anak) menjadi mengikuti.

وهذا يلتفت إلى أصل سيأتي بعد هذا وهو أن من رهن عبداً أو باعه ثم زعم بعد ظهور اللزوم أنه كان أعتقه أو كان باعه وهذا سيأتي في مسائل الرهن إن شاء الله تعالى

Hal ini berkaitan dengan pokok yang akan dibahas setelah ini, yaitu apabila seseorang menggadaikan seorang budak atau menjualnya, kemudian setelah tampak keharusan (akad) ia mengaku bahwa ia telah memerdekakannya atau telah menjualnya, maka hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan masalah rahn (gadai) insya Allah Ta‘ala.

فإن قيل إن قبلتم إقراره فلا سؤال وإن لم تقبلوه فهلا خرَّجتم هذا على الأقوال في أنه لو أنشأ الاستيلاد هل يثبت؛ حتى تقولوا إن نفذنا منه الاستيلاد ابتداء ينفذ إقراره وإن لم ينفذ منه الاستيلاد ابتداء فلا يقبل إقراره تخريجاً على تنزيل الإقرار بالشيء منزلة إنشائه؛ فإن الوكيل بالبيع لو أقر بالبيع نفذ إقراره كما ينفذ إنشاؤه البيع ولو أظهر الموكِّل عزله ثم ادعى الوكيلُ البيعَ لم ينفذ قوله وهذا يطرد لنا وينعكس

Jika dikatakan: Jika kalian menerima pengakuannya, maka tidak ada pertanyaan lagi. Namun jika kalian tidak menerimanya, mengapa kalian tidak mengaitkan hal ini dengan pendapat-pendapat mengenai apakah jika seseorang memulai istīlād (menetapkan status sebagai ummu walad) itu dapat berlaku; sehingga kalian mengatakan: Jika kami membolehkan istīlād darinya sejak awal, maka pengakuannya pun berlaku. Namun jika kami tidak membolehkan istīlād darinya sejak awal, maka pengakuannya tidak diterima, berdasarkan analogi bahwa pengakuan terhadap sesuatu diposisikan seperti penciptaannya. Sebab, seorang wakil dalam jual beli, jika ia mengakui telah melakukan jual beli, maka pengakuannya berlaku sebagaimana berlaku pula jika ia sendiri yang melakukan akad jual beli. Namun jika pemberi kuasa telah menampakkan pencabutan kuasa, lalu si wakil mengaku telah melakukan jual beli, maka pengakuannya tidak berlaku. Hal ini berlaku secara konsisten dan sebaliknya bagi kami.

قلنا هذا جارٍ في التصرفاتِ التي يسلِّط الشرعُ على الإقدام عليها فيجعل الإخبارَ عن الشيء بمثابة إنشائه إذا كان إنشاؤه مملوكاً للمقر والراهن على كل مذهب ممنوعٌ من الإقدام على استيلاد الجارية المرهونة وهذا مما اختلف أصحابنا فيه وتخريجه على أصلٍ سيأتي في كتابِ الحجر

Kami katakan, hal ini berlaku pada tindakan-tindakan yang syariat memberi kewenangan untuk melakukannya, sehingga pemberitahuan tentang suatu hal diposisikan seperti pembentukannya (penciptaannya), jika pembentukan itu merupakan hak milik orang yang mengakui. Adapun orang yang menggadaikan, menurut setiap mazhab, dilarang untuk melakukan istibdā’ (menjadikan budak perempuan sebagai ibu anak) terhadap budak perempuan yang digadaikan. Ini adalah masalah yang diperselisihkan di antara para ulama kami, dan penjelasannya akan dibahas pada pembahasan pokok yang akan datang dalam Kitab al-Ḥajr.

وهو أن المبذر لو أقر بالطلاق نَفَذَ اعتباراً بأنشائه ولو أقر أنه أتلف مالاً ففي قبول إقراره خلاف؛ فإن الإتلاف ليس ما يملكه شرعاً ولكن يتصور وقوعه منه وهل يقبل إخباره فيه فعلى وجهين

Yaitu, apabila seseorang yang boros mengakui telah menjatuhkan talak, maka talaknya sah karena dianggap sebagai perbuatannya sendiri. Namun, jika ia mengakui telah merusak harta, terdapat perbedaan pendapat mengenai diterimanya pengakuan tersebut; sebab perusakan bukanlah sesuatu yang dimilikinya secara syar‘i, meskipun perbuatan itu mungkin terjadi darinya. Apakah pengakuannya diterima dalam hal ini, maka terdapat dua pendapat.

كذلك قلنا لو وقع استيلاد الراهن لنفذ فإذا اعترف به ففي نفوذه الخلاف الذي أشرنا إليه

Demikian pula, kami katakan bahwa jika pemilik gadai melakukan istibdā’ (menjadikan budak perempuan sebagai ummul walad), maka hal itu berlaku. Maka jika ia mengakuinya, terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahannya sebagaimana yang telah kami singgung.

فصل

Bab

كل تصرف يمتنع نفوذُه لحق المرتهن فإذا أذن فيه نفذ؛ فإن المانع حقُّه وإذا أذن للرّاهن في بيع المرهون أو في هبته فباع أو وهب نفذ وإذا فرعنا على أن العتق لا ينفذ من الراهن فإذا أذن فيه المرتهن نفذ وسنذكر أن الراهن لا يجوز له أن يطأ الجارية المرهونة إذا كانت بصدد أن تحبل وفي التي لا تحبل كلام سيأتي إن شاء الله تعالى

Setiap tindakan yang keabsahannya terhalang karena hak musnah bagi pihak murtahin, maka jika ia mengizinkan, tindakan itu menjadi sah; sebab penghalangnya adalah haknya. Jika murtahin mengizinkan rahin untuk menjual barang yang digadaikan atau memberikannya sebagai hibah, lalu rahin menjual atau menghibahkannya, maka tindakan itu sah. Jika kita berpendapat bahwa pembebasan budak (‘itq) oleh rahin tidak sah, maka jika murtahin mengizinkannya, pembebasan itu menjadi sah. Akan disebutkan bahwa rahin tidak boleh menggauli budak perempuan yang digadaikan jika dikhawatirkan akan hamil, dan mengenai budak yang tidak mungkin hamil akan ada pembahasan tersendiri, insya Allah Ta‘ala.

وإذا أذن في الوطء فوطىء الراهن بالإذن وترتب عليه العلوق ثبت الاستيلاد وإن وقع التفريع على أن الاستيلاد لا ينفذ لو انفرد الراهن

Jika pemilik gadai mengizinkan untuk melakukan hubungan suami istri, lalu pemilik gadai melakukannya dengan izin tersebut dan mengakibatkan kehamilan, maka status istilad (menjadikan budak sebagai ummul walad) menjadi tetap, meskipun menurut pendapat yang menyatakan bahwa istilad tidak sah jika hanya dilakukan oleh pemilik gadai saja.

ثم الإذن المجرّد لا يرفع عقد الرهن حتى يتصل بوقوع التصرف

Kemudian izin semata tidak membatalkan akad rahn sampai izin tersebut disertai dengan terjadinya suatu tindakan.

وللمرتهن أن يرجع قبل التصرف عن إذنه وإذا أذن في الهبة والإقباض فوهب الراهن ورجع المرتهن عن الإذن لم يملك الراهن الإقباضَ ولو أذن في البيع من غير تعجيل حق ولا شرط جَعْل الثمن رهنا فباع الراهن على شرط الخيار فقال المرتهن رجعت عن الإذن

Dan bagi pihak yang menerima gadai (murtahin) boleh menarik kembali izinnya sebelum terjadi tindakan atas barang gadai tersebut. Jika ia telah mengizinkan hibah dan penyerahan, lalu pihak yang menggadaikan (rahin) memberikan hibah, kemudian murtahin menarik kembali izinnya, maka rahin tidak berhak melakukan penyerahan. Jika murtahin mengizinkan penjualan tanpa syarat percepatan pelunasan hak dan tanpa syarat menjadikan harga sebagai barang gadai, lalu rahin menjual barang dengan syarat khiyar, kemudian murtahin berkata, “Saya menarik kembali izin tersebut,” maka…

الذي ذهب إليه المحققون أن رجوعه لا ينفعه وللراهن إلزام العقد وقطع الخيار كالهبة مع القبض وذلك لأن القبض ركنُ العقد فيه وهو ينزل منزلة القبول من الإيجاب وكأن الهبة عدلاً والوفاء بها الإقباض والبيع مبناه على اللزوم والخيار دخيل فيه فهو مفوّض إلى من له الخيار

Pendapat yang dipegang oleh para peneliti adalah bahwa penarikan kembali (rujuk) tidak bermanfaat baginya, dan bagi pihak yang menggadaikan (rahin) berhak untuk menegaskan akad serta memutuskan hak khiyar, sebagaimana dalam hibah setelah terjadi penyerahan. Hal ini karena penyerahan (qabḍ) merupakan rukun akad dalam hal ini, yang diposisikan seperti penerimaan (qabul) terhadap ijab, seolah-olah hibah itu adalah keadilan dan pelaksanaannya adalah dengan penyerahan, sedangkan jual beli dasarnya adalah bersifat mengikat dan khiyar merupakan unsur tambahan di dalamnya, sehingga hak tersebut diserahkan kepada pihak yang memiliki hak khiyar.

ولو أذن في الوطء فوطىء ولم يتفق العلوق فحق الرهن باق؛ فإن الوطء لا ينافي الرهن وإنما ينافيه العلوق وثبوت الاستيلاد فلو لم يأذن إلا في وطأة فلم تَعْلق فلا يعود الراهن إلى الوطء ولو كان أذن في جنس الوطء ثم رجع عن إذنه تعين على الراهن أن يمتنع

Jika pemilik mengizinkan untuk melakukan hubungan suami istri, lalu ia melakukannya namun tidak terjadi kehamilan, maka hak rahn tetap ada; karena hubungan suami istri tidak bertentangan dengan rahn, yang bertentangan dengannya adalah kehamilan dan terbuktinya istilad. Jika pemilik hanya mengizinkan satu kali hubungan, lalu tidak terjadi kehamilan, maka pemilik tidak boleh kembali melakukan hubungan. Namun jika ia mengizinkan secara umum untuk melakukan hubungan, kemudian ia menarik kembali izinnya, maka pemilik wajib menahan diri.

ثم فرض الشافعي والأصحابُ صوراً في اختلاف الراهن والمرتهن في الحكم الذي نحن فيه ونحن نرسم مسائل تستوعب الغرض

Kemudian Imam Syafi‘i dan para sahabatnya mengemukakan beberapa gambaran tentang perbedaan pendapat antara rahin dan murtahin dalam hukum yang sedang kita bahas, dan kami akan merumuskan beberapa permasalahan yang mencakup tujuan tersebut.

فمنها أن يختلفا في أصل الإذن فيقول الراهن أذنت في الوطء وأنكر المرتهن فالقول قول المرتهن مع يمينه؛ لأن الأصل عدم الإذن

Di antaranya adalah apabila keduanya berselisih tentang asal izin, misalnya rahin (orang yang menggadaikan) berkata, “Aku telah memberi izin untuk berhubungan badan,” sedangkan murtahin (penerima gadai) mengingkarinya, maka yang dipegang adalah pernyataan murtahin dengan sumpahnya; karena pada dasarnya tidak ada izin.

ثم إذا كان أولدها وجرى الخلاف كما وصفناه وحلف المرتهن عاد التفريع إلى وقوع الاستيلاد والأولى تفريع صور الخلاف على أن الاستيلاد لا يثبت على استبدادٍ فإن نكل الراهن عن يمين الرد فأرادت الجارية أن تحلف لمكان حقها من عُلقة الحرية فهل لها ذلك على وجهين ذكرهما العراقيون قالوا والأصح أنها لا تحلف؛ فإنها ليست بمتأصلة في الحق وإنما يثبت أمرها تبعاً والأيمان لا تعرض على الأتباع ولذلك لا يحلف الوكيل وسنذكر نظائر ذلك في كتاب القسامة ثم في كتاب الدعاوى إن شاء الله هذه مسألة في الاختلاف

Kemudian, jika si budak perempuan melahirkan anak dan terjadi perselisihan sebagaimana telah kami jelaskan, lalu pihak yang memegang gadai bersumpah, maka pembahasan kembali kepada terjadinya istibdād (pengakuan sepihak atas istidlād). Yang utama adalah membahas bentuk-bentuk perselisihan dengan asumsi bahwa istibdād tidak dapat ditetapkan secara sepihak. Jika pihak yang menggadaikan menolak untuk bersumpah sebagai balasan, lalu budak perempuan itu ingin bersumpah demi haknya atas kemungkinan merdeka, apakah ia boleh melakukannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak; mereka mengatakan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ia tidak boleh bersumpah, karena ia bukanlah pihak yang memiliki hak secara langsung, melainkan haknya hanya mengikuti (pihak lain), dan sumpah tidak ditawarkan kepada pihak yang mengikuti. Oleh karena itu, wakil (dalam suatu perkara) juga tidak boleh bersumpah. Kami akan menyebutkan contoh-contoh serupa dalam Kitab al-Qasāmah dan kemudian dalam Kitab al-Da‘āwā, insya Allah. Inilah satu masalah dalam kasus perselisihan.

المسألة الثانية أن يقع الوفاق على أصل الإذن ويعودَ الخلاف إلى جريان الوطء فقال الراهن قد وطئتُ وأنكر المرتهن ذلك فيقول ما وطئتَ وليس الولد الذي جاءت به الجارية منك هذا أصل التصوير

Permasalahan kedua adalah terjadinya kesepakatan mengenai asal izin, kemudian perselisihan kembali pada terjadinya hubungan suami istri. Maka sang rahin berkata, “Aku telah menggaulinya,” dan sang murtahin mengingkari hal itu dengan berkata, “Engkau belum menggaulinya, dan anak yang dilahirkan oleh budak perempuan itu bukan anakmu.” Inilah inti permasalahannya.

ثم ذكر الأئمة صورتين إحداهما أن يبتدىء الراهن فيقول أذنتَ لي في الوطء فوطئتُ وأعلقتُ ثم يقول المرتهن أذنت لك وما وطئت فالقول قول الراهن؛ فإن الإذن متفق عليه والوطء المختلف فيه من فعل الراهن فليكن الرجوع إليه في فعله

Kemudian para imam menyebutkan dua gambaran, salah satunya adalah apabila pihak yang menggadaikan memulai dengan berkata, “Apakah engkau telah mengizinkan aku untuk melakukan hubungan suami istri? Maka aku telah melakukannya dan menyebabkan kehamilan.” Lalu pihak penerima gadai berkata, “Aku memang mengizinkanmu, tetapi engkau tidak melakukannya.” Maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan pihak yang menggadaikan; karena izin telah disepakati, sedangkan hubungan suami istri yang diperselisihkan itu berasal dari perbuatan pihak yang menggadaikan, maka rujukan dalam hal perbuatannya adalah kepadanya.

هذا هو الأصح

Inilah pendapat yang paling benar.

ومن أصحابنا من قال الأصل عدمُ الوطء وبقاء الرهن وهذا يناظر ما لو قال الرجل لامرأته إن زنيتِ فأنت طالق فإذا زعمت أنها زنت فالقول قول الزوج في إنكار زناها؛ فإن الأصل عدم وقوع الطلاق وعدم الزنا

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hukum asalnya adalah tidak terjadi hubungan suami istri dan tetapnya status gadai. Ini serupa dengan kasus ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu berzina, maka kamu tertalak.” Jika sang istri mengaku bahwa ia telah berzina, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan suami dalam mengingkari perzinaan istrinya; karena hukum asalnya adalah tidak terjadi talak dan tidak terjadi perzinaan.

هذا أصل المذهب وليس كما لو قال إن حضت فإنت طالق فقالت حضتُ فالقول قولها؛ إذ لا يُطلع على حيضها إلا من جهتها ويُطَّلع على سائر أفعالها من غير جهتها ولا فرق بين ما يخفى في العادة وبين ما يظهر كدخول الدّار ونحوه

Ini adalah pokok madzhab, dan tidak seperti jika seseorang berkata, “Jika kamu haid, maka kamu tertalak,” lalu si istri berkata, “Aku telah haid,” maka perkataan istri diterima; karena haidnya hanya dapat diketahui dari pihaknya sendiri, sedangkan perbuatan-perbuatan lainnya dapat diketahui dari selain dirinya. Tidak ada perbedaan antara hal-hal yang biasanya tersembunyi dan hal-hal yang tampak, seperti masuk ke dalam rumah dan semacamnya.

ومن أصحابنا من صدق المرأة فيما يخفى وتطرد العادة بكتمانه كالزنا ونحوه

Sebagian ulama dari kalangan kami membenarkan ucapan perempuan dalam hal-hal yang tersembunyi dan umumnya biasa dirahasiakan, seperti zina dan semacamnya.

وهذا مزيف لا أصل له فإن قيل لم كان ظاهر المذهب تصديقَ الراهن في الصورة التي ذكرتموها وما الفرق قلنا إذا كان الوطء مأذوناً فادّعاه من أُذن له كان هذا ادعاءَ أمر يملك إنشاءه وكل مأذون في شيء يدعي مع دوام الإذن إيقاعَ ما أُذن فيه فقوله مقبولٌ كالوكيل بالبيع إذا ادّعى البيعَ قبل أن يُعزل؛ فتصديق الراهن يؤخذ من هذا الأصل وهو غير متحقق في تعليق الطلاق بالصفات؛ إذ ليس في التعليق تسليطٌ على أمرٍ وتولية في شيء والطلاق يعلق تارةً بما يدخل تحت اختيار الزوجة وتارة يعلّق بأمور ضرورية لا اختيار فيها كغروب الشمس وطلوعها هذا فيه إذا قال الراهنُ أولاً أذنت لي فوطئت وقال المرتهن بعده ما وطئتَ

Ini adalah sesuatu yang palsu dan tidak memiliki dasar. Jika ada yang bertanya, “Mengapa pendapat yang tampak dari mazhab adalah membenarkan pihak rahin (yang menggadaikan) dalam situasi yang kalian sebutkan, dan apa perbedaannya?” Kami katakan: Jika jima‘ (hubungan suami istri) itu diizinkan, lalu orang yang diberi izin mengaku telah melakukannya, maka ini adalah pengakuan atas sesuatu yang ia berhak untuk melakukannya. Setiap orang yang diberi izin atas suatu perkara, lalu selama izin itu masih berlaku ia mengaku telah melakukan apa yang diizinkan, maka ucapannya diterima, seperti halnya wakil dalam jual beli yang mengaku telah melakukan jual beli sebelum ia diberhentikan; maka pembenaran terhadap pihak rahin diambil dari prinsip ini. Hal ini tidak terwujud dalam kasus talak yang digantungkan pada sifat-sifat tertentu; sebab dalam penggantungan itu tidak ada penyerahan kekuasaan atas suatu perkara atau pelimpahan wewenang dalam sesuatu. Talak terkadang digantungkan pada sesuatu yang berada dalam pilihan istri, dan terkadang digantungkan pada perkara-perkara yang bersifat pasti dan tidak ada pilihan di dalamnya, seperti terbenamnya matahari atau terbitnya. Ini berlaku jika pihak rahin berkata terlebih dahulu, “Aku telah diberi izin, lalu aku melakukan jima‘,” dan pihak murtahin (penerima gadai) berkata setelahnya, “Engkau belum melakukannya.”

فأما إذا قال المرتهن أولاً أذنتُ لك في الوطء فما وطئتَ فقال الراهن بعده أذنت لي فوطئتُ ذكر الأئمة في هذه الصورة وجهين ورتبوهما على الخلاف في الصورة الأولى وجعلوا هذه الصورة الأخيرة أولى أن يصدَّق المرتهن فيها وعلّلوا بأن قول المرتهن إذا تقدَّم يتضمن عزل الراهن عن الإذن في الوطء فيقع قول الراهن بعد انعزاله وليس كالصورة الأولى إذا تقدم قول الراهن وهذا ليس بشيء وليس ما قاله المرتهن قطعاً للإذن ولا عزلاً وإنما هو خبر عن الإذن واعتراف به ثم ادعاءُ عدم الوطء؛ فلا عزل إذاً

Adapun jika pihak yang memegang gadai (murtahin) terlebih dahulu berkata, “Aku telah mengizinkanmu untuk melakukan hubungan (jima‘), maka engkau belum melakukannya,” lalu setelah itu pihak yang menggadaikan (rahin) berkata, “Aku telah diberi izin, maka aku melakukannya,” para imam menyebutkan dalam kasus ini dua pendapat dan mereka mengaitkannya dengan perbedaan pendapat pada kasus pertama. Mereka menjadikan kasus terakhir ini lebih utama untuk membenarkan pihak murtahin, dan mereka beralasan bahwa jika pernyataan murtahin lebih dahulu, maka itu mengandung makna mencabut izin dari rahin untuk melakukan hubungan, sehingga pernyataan rahin terjadi setelah ia dicabut izinnya. Ini berbeda dengan kasus pertama jika pernyataan rahin yang lebih dahulu. Namun, hal ini tidaklah benar; apa yang dikatakan oleh murtahin bukanlah pemutusan izin secara pasti dan bukan pula pencabutan, melainkan hanya pemberitahuan tentang adanya izin dan pengakuan atasnya, kemudian klaim bahwa hubungan belum terjadi; maka tidak ada pencabutan izin di sini.

وحصل من الصورتين أوجه أحدُها أن القول قول المرتهن في الصورتين؛ فإن الأصل عدم الوطء والثاني أن القولَ قولُ الراهن في الصورتين كما استشهدنا به من ادعاء الوكيل البيع الذي وكل به والوجه الثالث أنه يفصل بين أن يتقدم قول الراهن وبين أن يتقدم قول المرتهن فالمصدَّق من يقدَّم قوله وهذا ما اختاره القاضي وهو ضعيف؛ فإنه بناه على العزل وزعم أن قول المرتهن يتضمن عزلَ الراهن وهذا غيرُ مفهوم

Dari kedua gambaran tersebut, terdapat beberapa pendapat. Pertama, pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak murtahin (penerima gadai) dalam kedua kasus; karena pada dasarnya tidak terjadi hubungan suami istri. Kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak rāhin (penggadai) dalam kedua kasus, sebagaimana kami jadikan dalil dari pengakuan wakil terhadap penjualan yang diwakilkan kepadanya. Pendapat ketiga, ada perincian antara jika pernyataan rāhin lebih dahulu atau pernyataan murtahin lebih dahulu; maka yang dibenarkan adalah siapa yang lebih dahulu menyampaikan pernyataannya. Inilah yang dipilih oleh Qādī, namun pendapat ini lemah; karena ia mendasarkan pada pencabutan kuasa dan mengira bahwa pernyataan murtahin mengandung pencabutan kuasa dari rāhin, padahal hal ini tidak dapat dipahami demikian.

ثم قال لو قال الوكيل بالبيع لموكله أذنتَ لي في البيع فبعتُ وأنكر الموكِّل بيعَه واعترف بالإذن فالقول قول الوكيل ولو قال الموكل أولاً أذنت لك في البيع فلم تبع وقال الوكيل قد بعتُ ذكرَ وجهين في هذه الصورة أخذاً مما تخيله من أن قول الآذن في ذلك رجوع عن الإذن وهذا كلام عريٌّ عن التحصيل

Kemudian ia berkata: Jika seorang wakil dalam jual beli berkata kepada muwakkilnya, “Engkau telah mengizinkan aku untuk menjual, maka aku telah menjual,” lalu muwakkil mengingkari bahwa wakil telah melakukan penjualan namun mengakui adanya izin, maka yang dipegang adalah ucapan wakil. Namun jika muwakkil terlebih dahulu berkata, “Aku telah mengizinkanmu untuk menjual, tetapi engkau tidak menjual,” lalu wakil berkata, “Aku telah menjual,” maka disebutkan dua pendapat dalam kasus ini, berdasarkan anggapan bahwa ucapan pemberi izin dalam hal ini merupakan penarikan kembali izin tersebut. Namun, pendapat ini adalah pendapat yang tidak memiliki dasar yang kuat.

ومن مسائل الاختلاف أن يتفقا على الإذن وجريان الوطء ويقول المرتهن هذا الولد الذي أتت الجارية به ليس منك ولم تُعلقها أنت بوطئك وإنما زنت وأتت بولدٍ من غيرك فالقول في هذه الصورة قول الراهن بلا خلاف؛ فإن أصل الإذن متفق عليه وكذلك جريان الوطء ولا يبقى بعد هذا في نفوذ الاستيلاد شيء إلا استلحاق المولود والاستلحاق إلى الواطىء وهو من الأمور المفوّضةِ إليه فلا معنى لتقدير مزاحمته

Di antara permasalahan yang diperselisihkan adalah ketika kedua belah pihak sepakat atas izin dan terjadinya hubungan suami istri, lalu pihak murtahin (pemegang gadai) berkata: “Anak yang dilahirkan oleh budak perempuan ini bukanlah anakmu, dan engkau tidak menghamilinya melalui hubunganmu, melainkan ia telah berzina dan melahirkan anak dari orang lain.” Dalam kasus seperti ini, pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak rahin (penggadai) tanpa ada perbedaan pendapat; karena pada dasarnya izin telah disepakati, demikian pula terjadinya hubungan suami istri, sehingga tidak ada lagi yang tersisa dalam keabsahan istilad (penetapan anak) kecuali pengakuan terhadap anak tersebut, dan pengakuan itu menjadi hak orang yang melakukan hubungan, yang merupakan urusan yang diserahkan kepadanya, sehingga tidak ada makna untuk memperkirakan adanya pihak lain yang menyaingi hak tersebut.

ثم وجدت الطرق متفقة على أن الراهن لا يحلَّف في الصورة الأخيرة ويكفي استلحاقُه وإذا جعلنا القولَ قولَ الراهن في ادعاء الوطء فهل يحلّف ذكر الأصحاب وجهين والأظهر عندي أن يحلّف ووجهُ قول من لا يحلّفه أن حاصل كلامه يرجع إلى استلحاق المولود وقد تقدم أنه لا استحلاف فيه

Kemudian aku dapati pendapat-pendapat sepakat bahwa pihak yang menggadaikan tidak disumpah dalam kasus terakhir, dan cukup dengan pengakuannya. Jika kita menjadikan pernyataan pihak yang menggadaikan sebagai pegangan dalam pengakuan telah melakukan hubungan suami istri, maka apakah ia disumpah? Para ulama menyebutkan dua pendapat, dan menurutku yang lebih kuat adalah ia disumpah. Adapun alasan pendapat yang tidak mensumpahkannya adalah bahwa inti dari pernyataannya kembali pada pengakuan anak, dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam hal itu tidak ada sumpah.

ولو ادعى الوطء ولم يتعرض لاستلحاق النسب لم يثبت الاستيلاد والوجهان في تحليف الراهن على الوطء ذكرهما صاحب التقريب على النسق الذي ذكرناه

Jika seseorang mengaku telah melakukan hubungan suami istri namun tidak menyebutkan permintaan penetapan nasab, maka status istilda’ (anak yang diakui sebagai anak dari budak yang telah digauli) tidak dapat ditetapkan. Terdapat dua pendapat mengenai apakah pihak yang menggadaikan (rahin) harus disumpah atas pengakuan hubungan tersebut; kedua pendapat ini disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib dengan urutan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وإن رأينا تصديق المرتهن في نفي الوطء فلا يُثبت يمينُه؛ فإن كل من أراد نفيَ فعل غيره لم يزد في يمينه على نفي العلم به وهذا لو صح الرجوع إلى قول المرتهن أصل لا مراء فيه وبه يضعف أصلُ هذا الوجه؛ فإن المرتهن في الغالب لا يطلع على الوطء؛ ومهما حلف على نفي العلم بالوطء برَّت يمينُه فيؤدي هذا المسلكُ إلى أن لا يثبت حقُّ وطء الراهن قط إلا أن يطأ على رؤوس الأشهاد

Jika kita melihat bahwa pernyataan pemegang gadai diterima dalam menafikan terjadinya hubungan suami istri, maka sumpahnya tidak menetapkan apa pun; sebab siapa pun yang ingin menafikan perbuatan orang lain, sumpahnya tidak lebih dari menafikan pengetahuannya tentang hal itu. Ini, jika benar-benar kembali pada pendapat pemegang gadai sebagai dasar, tidak ada perdebatan di dalamnya, dan dengan itu melemahkan dasar pendapat ini; karena pemegang gadai pada umumnya tidak mengetahui terjadinya hubungan suami istri. Dan kapan pun ia bersumpah menafikan pengetahuannya tentang terjadinya hubungan tersebut, sumpahnya dianggap sah, sehingga cara ini akan berakibat bahwa hak hubungan suami istri bagi pihak yang menggadaikan tidak akan pernah dapat dibuktikan, kecuali jika ia melakukannya di hadapan banyak saksi.

وهذا ينفصل عن تعليق الطلاق؛ فإن وقوع الطلاق ليس من حقها وكذلك فعلُها الذي هو صفة في الطلاق فإن كان لا يظهر وقوع الطلاق فليس فيه تعطيل حق والراهن يطأ بحق الملك؛ فإن الوطء لا يستباح بالإذن ولكن الإذن يرفع المانع من اليمين

Hal ini berbeda dengan talak yang digantungkan; sebab terjadinya talak bukan merupakan hak istri, demikian pula perbuatannya yang menjadi sifat dalam talak. Jika tidak tampak terjadinya talak, maka tidak ada hak yang terhalangi. Sedangkan orang yang menggadaikan (rahin) berhubungan (jima‘) dengan hak kepemilikan; karena hubungan suami istri tidak menjadi halal hanya dengan izin, tetapi izin itu hanya menghilangkan penghalang dari sumpah.

وإذا كان هذا من حق الراهن فينبغي له أن يمهّد له سبيلٌ إلى إثباته على يسر

Jika hal ini merupakan hak bagi rāhin, maka seharusnya diberikan kemudahan baginya untuk membuktikannya dengan mudah.

ثم إن المزني ذكر المسألة الأخيرةَ وحكى عقيبها عن الشافعي أنه قال إن كان موسراً فعليه القيمةُ وإن كان معسراً فلا شيء عليه ذكر هذا في صورة الاعتراف بالإذن والوطء ثم أخذ يعترض ويقول وجب أن لا نلزم القيمة لأن الوطء جرى بالإذن فوجب بطلان حقه

Kemudian al-Muzani menyebutkan masalah terakhir dan meriwayatkan setelahnya dari asy-Syafi‘i bahwa beliau berkata: Jika pelaku mampu, maka wajib baginya membayar nilai (barang), dan jika ia tidak mampu maka tidak ada kewajiban atasnya. Ia menyebutkan hal ini dalam konteks pengakuan adanya izin dan terjadinya hubungan (jima‘), kemudian ia mulai mengajukan keberatan dan berkata: Seharusnya kita tidak mewajibkan pembayaran nilai karena hubungan itu terjadi dengan izin, maka haknya menjadi gugur.

قلنا الأمر على ما ذكرتَ ولكن أخطأتَ ووهمت في النقل والشافعي ذكر هذا في المسألة الأولى من مسائل الاختلاف وهي إذا أنكر المرتهن أصلَ الإذن وحلف وقد تتبّع الأثباتُ نصوصَ الشافعي في الكتب فلم يجدوا ما ذكره المزني من الفرق بين الموسر والمعسر إلا على أثر إنكار المرتهن أصلَ الإذن

Kami katakan, perkara ini sebagaimana yang engkau sebutkan, namun engkau telah keliru dan salah dalam menukil, dan asy-Syafi‘i menyebutkan hal ini dalam masalah pertama dari permasalahan ikhtilaf, yaitu apabila murtahin mengingkari asal izin dan bersumpah. Para peneliti telah menelusuri nash-nash asy-Syafi‘i dalam kitab-kitabnya, namun mereka tidak menemukan apa yang disebutkan oleh al-Muzani tentang perbedaan antara orang yang mampu dan yang tidak mampu, kecuali setelah murtahin mengingkari asal izin.

فرع

Cabang

ذكر العراقيون في أثناء الكلام عند ذكرهم إذْنَ المرتهن مسألة في الإذن أحببت نقلها وهي أنهم قالوا لو قال السيد اضرب عبدي فضربه وأتى الضرب عليه قالوا لا ضمان على الضارب وقالوا الزوج مأذون من جهة الشرع في ضرب زوجته ولو ضربها وأتى الضرب عليها ضمنها وفرقوا بأن الإذن في ضرب الزوجة مقيد بتوقي القتل وإبقائها والإبقاء عليها والإذنُ في الضرب مطلق في المسألة التي ذكرناها لا تقييد فيه

Orang-orang Irak menyebutkan dalam pembahasan mereka ketika membicarakan izin dari pihak yang menerima gadai, sebuah permasalahan tentang izin yang ingin saya sampaikan, yaitu mereka berkata: Jika seorang tuan berkata, “Pukullah budakku,” lalu seseorang memukulnya dan pukulan itu menyebabkan kematian budak tersebut, mereka mengatakan tidak ada kewajiban ganti rugi atas orang yang memukul. Mereka juga berkata bahwa seorang suami diizinkan secara syariat untuk memukul istrinya, namun jika ia memukulnya hingga menyebabkan kematian, maka ia wajib menanggung ganti rugi. Mereka membedakan antara keduanya dengan mengatakan bahwa izin memukul istri dibatasi dengan syarat tidak sampai membunuh dan tetap menjaga keberadaan istri, sedangkan izin memukul dalam kasus budak yang kami sebutkan bersifat mutlak, tidak ada pembatasan di dalamnya.

وكأنهم رأوا الأمر بالضرب أمراً بجنسه بالغاً ما بلغ

Seolah-olah mereka memandang perintah untuk memukul itu adalah perintah terhadap jenis perbuatan tersebut, apa pun kadar atau tingkatannya.

وهذا محتمل عندي؛ فإن الضرب يخالف القتل فالأمر به أراه مُشعراً بالاقتصار عليه ومن قتل إنساناً لا يقال ضربه ولو قال أدِّب عبدي فلا يجوز أن يُشكَّ في أنه لو قتله ضمنه؛ فإن التأديب مصرِّحُ بإبقاء المؤدَّب

Hal ini menurut saya masih mungkin; sebab memukul berbeda dengan membunuh, maka perintah untuk memukul menurut saya menunjukkan pembatasan hanya pada tindakan itu saja. Dan barang siapa membunuh seseorang, tidak dikatakan bahwa ia telah memukulnya. Bahkan jika seseorang berkata, “Didiklah hambaku,” maka tidak boleh diragukan bahwa jika ia membunuhnya, ia wajib menanggungnya; karena perintah mendidik secara tegas mengharuskan tetapnya orang yang dididik.

فصل

Bab

قال ولو وطئها المرتهن إلى آخره

Dia berkata: “Dan jika orang yang menerima gadai (murtahin) menyetubuhinya, dan seterusnya.”

قد ذكرنا فيما تقدم وطءَ الراهن بالإذن وغيرِ الإذن وهذا الفصل مضمونه ذكرُ وطء المرتهن الجاريةَ المرهونة ولذلك صورتان

Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya tentang persetubuhan yang dilakukan oleh rahin dengan izin maupun tanpa izin, maka pada bagian ini isinya adalah pembahasan mengenai persetubuhan yang dilakukan oleh murtahin terhadap budak perempuan yang digadaikan, dan untuk hal ini terdapat dua gambaran.

إحداهما أن يقع الوطء من غير إذن الراهن والأخرى أن يقع الوطء بإذنه

Pertama, jika hubungan seksual terjadi tanpa izin dari pihak yang menggadaikan (rahin), dan yang kedua, jika hubungan seksual terjadi dengan izinnya.

فأما إذا وطىء بغير إذن الراهن فلا يخلو إما أن يكون عالماً بالتحريم وإما أن يدعي الجهلَ به فإن كان عالماً بالتحريم فهو زان يلزمه الحد فإن استكره الموطوءة التزم مهرَها للراهن وإن طاوعته فهي زانية

Adapun jika ia melakukan hubungan suami istri tanpa izin dari rahin, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia mengetahui keharamannya, atau ia mengaku tidak mengetahuinya. Jika ia mengetahui keharamannya, maka ia adalah pezina yang wajib dikenai had. Jika ia memaksa perempuan yang digaulinya, maka ia wajib membayar mahar perempuan itu kepada rahin. Namun jika perempuan itu rela, maka ia juga adalah pezina.

واختلف الأصحاب في وجوب المهر منهم من قال لا مهر وإليه ميلُ المحققين ومنهم من أوجب المهر

Para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban mahar; sebagian dari mereka berpendapat tidak ada mahar, dan pendapat inilah yang lebih condong dipilih oleh para muhaqqiq, sementara sebagian yang lain mewajibkan mahar.

التوجيه من قال يجبُ المهر احتج بأنَ مُطاوعتها إباحة منها وإباحتها مهدرة في حق المولى فأشبه ما لو أباحت قطع طرفها لجانٍ؛ فإن الضّمان لا يسقط بإباحتها

Penjelasan: Orang yang berpendapat bahwa mahar wajib beralasan bahwa kerelaannya adalah bentuk pembolehan darinya, dan pembolehan tersebut tidak dianggap dalam hak tuannya, sehingga hal itu serupa dengan jika ia membolehkan pemotongan anggota tubuhnya oleh seorang pelaku kejahatan; maka tanggungan (kewajiban membayar ganti rugi) tidak gugur hanya karena ia membolehkannya.

ومن قال يسقط احتج بأن قال هي بغيّ أوّلاً وقد نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن مهر البغي ومنافع البضع تقوّمت بالشرع إذا استهلكت وهي محترمة ولا حرمة مع البغاء

Dan siapa yang berpendapat bahwa gugur, ia berdalil dengan mengatakan bahwa ia adalah pelacur pertama-tama, dan Rasulullah saw. telah melarang mahar pelacur, serta manfaat kemaluan telah ditetapkan nilainya oleh syariat jika telah digunakan dan ia dihormati, namun tidak ada kehormatan dalam perzinaan.

وفيه لطيفةٌ من جهة المعنى وذلك أنها إذا طاوعت فهي مشاركة في العمل وليس الزاني منفرداً بإتلاف المنفعة ولا تمييز ولا تشطير والشرع لا يتقاضى إثباتَ البدل لحقٍّ حرمه فلا شيء

Di dalamnya terdapat suatu kehalusan makna, yaitu bahwa jika ia (perempuan) setuju, maka ia turut serta dalam perbuatan tersebut, sehingga pezina tidak sendirian dalam merusak manfaat itu, dan tidak ada pembedaan maupun pembagian. Syariat tidak menuntut penetapan pengganti untuk hak yang telah diharamkan, maka tidak ada apa-apa (yang wajib diberikan).

هذا إذا كان عالماً بالتحريم

Ini berlaku jika ia mengetahui tentang keharaman tersebut.

فأما إذا كان جاهلاً فيما زعم بأن كان حديث العهد بالإسلام وظن أن الارتهان يبيح المرهونة فإذا ادعى الجهلَ ولم يبعُد ما قال فلا حد وإذا انتفى الحد فالكلام بعده في المهر والنسب والحكم برق الولد وحريته

Adapun jika ia benar-benar tidak tahu, seperti seseorang yang baru masuk Islam dan mengira bahwa gadai membolehkan mengambil barang yang digadaikan, maka jika ia mengaku tidak tahu dan apa yang dikatakannya tidak mustahil, maka tidak ada had. Jika had tidak diterapkan, maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai mahar, nasab, serta hukum status anak apakah menjadi budak atau merdeka.

الظاهر أن النسب يثبت؛ لمكان الشبهة الدارئة للعقوبة وإذا اندفع الحد لشبهة كان الوطء على حظ من الحرمة ؛ فيثبت النسب

Tampaknya nasab tetap ditetapkan; karena adanya syubhat yang menggugurkan hukuman, dan jika had gugur karena syubhat, maka hubungan seksual tersebut masih memiliki unsur keharaman; sehingga nasab tetap ditetapkan.

ومن أصحابنا من قال لا يثبت ثم الطريقة الصحيحة تخريج رق المولود على الخلاف في النسب فإن حكمنا بالنسب فالولد حر وإن نفينا النسب فالولد رقيق

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hal itu tidak tetap, kemudian cara yang benar adalah mengembalikan status budak anak yang lahir kepada perbedaan pendapat dalam masalah nasab; jika kami menetapkan adanya nasab, maka anak tersebut merdeka, dan jika kami menafikan nasab, maka anak tersebut berstatus budak.

وقال بعض أصحابنا النسبُ يثبت وفاقاً وفي ثبوت الحرية وجهان وهذا القائل يزعم أن النسب أسرع إلى الثبوت

Sebagian ulama kami berkata bahwa nasab dapat ditetapkan secara sepakat, sedangkan dalam penetapan status merdeka terdapat dua pendapat. Orang yang berpendapat demikian menganggap bahwa nasab lebih cepat untuk dapat ditetapkan.

وعكس بعض من ينتسب إلى التحقيق هذا فقطع بإثبات الحرية وردّد القول في النسب وصار إلى أن الولد النسيب هو المنعقد من ماء محترم والحرمة غير متكاملة

Sebaliknya, sebagian orang yang mengaku melakukan penelitian justru menetapkan kebebasan secara pasti, namun ragu-ragu dalam hal nasab, dan berpendapat bahwa anak yang memiliki nasab adalah yang terlahir dari air mani yang dihormati, sementara keharaman (hubungan) belum sempurna.

وهذا كله خبط

Semua ini adalah kekacauan.

والوجه إجراء النسب والحرية مجرى واحداً والمذهب ثبوتهما وكان شيخي يعلل الوجه الآخر بضعف الشبهة ويقول الحدّ يندرىء بأدنى شبهة والنسب يستدعي شبهة لها وقعٌ

Pendapat yang benar adalah memperlakukan nasab dan status kemerdekaan dengan cara yang sama, dan mazhab menetapkan keduanya. Guru saya memberikan alasan untuk pendapat lain dengan mengatakan bahwa syubhatnya lemah, dan beliau berkata bahwa hudud gugur dengan adanya syubhat yang paling ringan, sedangkan nasab memerlukan syubhat yang memiliki pengaruh.

وقرّر القاضي في هذا كلاماً وقال من لا يعلم حكم الإسلام تحريم هذا الوقاع فكأن لا شبهةَ ولا بصيرة ثم قال إذا زنى مجنون بعاقلة فالقول في النسب يجب أن يخرّج على هذين الوجهين فإن المجنون ليس ممن يدري وليس ممن يتصف بنقيض الدراية والشبهةُ إنما تثبت في حق من يعذر بظنٍّ وهو بصدد الدراية وعليه يخرّج عندي الخلاف في عمد المجنون في القتل؛ فإن إلحاقه برتبة المخطىء لا وجه له وإقدامُه معلوم حساً وهذا لائح في المجنون فأما إلحاق عاقل جهل التحريم ومن الممكن أن يعرفه بالمجنون فبعيد فأما المهر ففيه تردد للأصحاب؛ من جهة ضعف الشبهة وأنها لم تورِث حرمة والأصح ثبوت المهر

Qadhi telah menetapkan dalam hal ini suatu pendapat dan berkata: Barang siapa yang tidak mengetahui hukum Islam tentang haramnya perbuatan ini, maka seolah-olah tidak ada syubhat dan tidak ada pemahaman. Kemudian ia berkata: Jika seorang gila berzina dengan orang yang berakal, maka pembahasan tentang nasab harus dikembalikan pada dua pendapat ini, karena orang gila bukanlah termasuk orang yang mengetahui, dan juga bukan termasuk orang yang memiliki sifat kebalikan dari mengetahui. Syubhat itu hanya berlaku bagi orang yang dimaafkan karena dugaan dan ia dalam posisi bisa mengetahui. Atas dasar inilah menurutku perbedaan pendapat dalam kasus pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja oleh orang gila harus dikembalikan; sebab menyamakannya dengan kedudukan orang yang keliru (khatha’) tidak ada dasarnya, sementara tindakannya dilakukan secara nyata secara inderawi, dan ini jelas pada orang gila. Adapun menyamakan orang berakal yang tidak tahu keharaman, padahal ia mungkin bisa mengetahuinya, dengan orang gila, maka itu jauh (tidak tepat). Adapun mengenai mahar, para ulama berbeda pendapat karena lemahnya syubhat dan karena syubhat tersebut tidak menimbulkan keharaman, dan pendapat yang paling kuat adalah mahar tetap wajib.

هذا كله إذا وطىء المرتهن من غير إذن الراهن

Semua ini berlaku jika penerima gadai melakukan hubungan (dengan barang gadai) tanpa izin dari pihak yang menggadaikan.

فأما إذا وطىء بإذن الراهن فإذا كان عالماً بالتحريم لزمه الحد في ظاهر المذهب

Adapun jika ia melakukan hubungan suami istri dengan izin dari pihak yang menggadaikan, maka jika ia mengetahui keharamannya, maka baginya wajib dikenakan had menurut pendapat yang tampak dalam mazhab.

وقيل لا حدَّ عليه لشبهة الخلاف؛ فإن عطاء بن أبي رباح كان يجوّز إعارة الجواري وكان يبعث بجواريه إلى ضيفانه فلينتهض مذهبُه شبهة في درء الحدّ

Dan dikatakan bahwa tidak ada hudud atasnya karena adanya syubhat khilaf; sebab ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ membolehkan meminjamkan budak perempuan dan ia biasa mengirimkan budak-budaknya kepada tamu-tamunya, maka pendapatnya dapat dijadikan syubhat untuk menolak penerapan hudud.

وهذا ليس بشيء؛ فإن الحد لا يدرأ بالمذاهب وإنما يدرأ بما يتمسك به أهل المذاهب من الأدلة ولا نرى لفظاً في هذا متمسكاً ولا أصل لهذا الوجه

Ini tidaklah benar; karena hudud tidak gugur hanya karena adanya perbedaan mazhab, melainkan gugur dengan dalil yang dijadikan pegangan oleh para pengikut mazhab. Kami tidak melihat adanya lafaz yang dapat dijadikan pegangan dalam hal ini, dan tidak ada dasar bagi pendapat ini.

فإن قلنا لا حد فالكلام في النسب وحرية الولد على ما قدمناه في حق من وطىء من غير إذن وادّعى الجهل بالتحريم

Jika kita mengatakan tidak ada had, maka pembahasan tentang nasab dan status kemerdekaan anak adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya mengenai orang yang melakukan hubungan tanpa izin dan mengaku tidak tahu tentang keharamannya.

وإن أوجبنا الحد فلا نسب والولد رقيق

Jika kami mewajibkan had, maka tidak ada nasab dan anak tersebut berstatus budak.

وإن ادعى الجهل بالتحريم عند إذن الراهن فالدعوى في هذه الصورة أظهر

Dan jika ia mengaku tidak tahu tentang keharaman saat mendapat izin dari pihak yang menggadaikan, maka pengakuan dalam keadaan seperti ini lebih jelas.

واتفق الأصحابُ على أنه يتعلق بها دفع الحد وثبوت النسب وحريةُ الولد

Para ulama sepakat bahwa dengannya (yaitu syubhat) terkait penolakan hudud, penetapan nasab, dan kebebasan anak.

ولا تصير الجارية أم ولد وإذا ملكها يوماً من الدهر ففيها القولان المشهوران وأما المهر فقد اختلف قولُ الشافعي في وجوبه فقال في قول لا يجب؛ لأن الإذن من الحرّ المستوجب للمهر قد حصل وإذا سلطه ذو الحق على إتلاف حقّهِ فلا ضمان

Budak perempuan tersebut tidak menjadi umm walad, dan jika ia dimiliki walau hanya sehari dalam hidupnya, maka terdapat dua pendapat yang masyhur mengenai hal itu. Adapun mengenai mahar, Imam Syafi‘i berbeda pendapat tentang kewajibannya. Dalam salah satu pendapat beliau, mahar tidak wajib, karena izin dari orang merdeka yang berhak atas mahar telah diberikan. Jika pemilik hak telah mengizinkan orang lain untuk menghilangkan haknya, maka tidak ada tanggungan (kewajiban membayar ganti rugi).

وقال في قول آخر يجب المهر؛ فإن الإباحة لا وقع لها في الأبضاع وليس الوطء زنا

Dan dalam pendapat lain ia mengatakan bahwa mahar wajib; karena kebolehan tidak berlaku dalam masalah kemaluan, dan hubungan badan tersebut bukanlah zina.

قال القاضي هذا الاختلافُ قريب من اختلاف قول الشافعي في أن المفوضة هل تستحق المهر وسيأتي ذلك مفصلاً في كتاب الصداق إن شاء الله تعالى

Kata al-qadhi: Perbedaan ini hampir sama dengan perbedaan pendapat asy-Syafi‘i mengenai apakah wanita yang pernikahannya tanpa penentuan mahar (al-mufawwaḍah) berhak mendapatkan mahar, dan hal ini akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab ash-Shadaq, insya Allah Ta‘ala.

هذا قولنا في المهر

Inilah pendapat kami tentang mahar.

فأما قيمة الولد وقد ثبتت حريته ففيها طريقانِ فالذي ذهب إليه معظم الأصحاب أنها تجب ولا تسقط بسبب الإذن في الوطء؛ فإن العلوق لا صنع فيه للواطىء فلا يكون الإذن في الوطء متعلِّقاً به

Adapun mengenai nilai anak yang telah terbukti kemerdekaannya, terdapat dua pendapat. Pendapat yang dianut oleh mayoritas para ulama adalah bahwa nilai tersebut tetap wajib dibayar dan tidak gugur hanya karena adanya izin untuk melakukan hubungan suami istri; sebab terjadinya kehamilan bukanlah hasil perbuatan orang yang melakukan hubungan, sehingga izin untuk berhubungan tidak berkaitan dengannya.

هذا أحد الطريقين

Ini adalah salah satu dari dua jalan.

وقد ذكر صاحب التقريب طريقة أخرى في تخريج قيمة الولد على قولي المهر؛ فإن العلوق مترتب على الوطء المأذون فيه والدليل عليه أنّ إذنَ المرتهن للراهن في الوطء يوجب تنفيذ الاستيلاد وسقوطَ الغرامة وإن كان الاستيلاد ترتب على العلوق

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan cara lain dalam menentukan nilai anak berdasarkan dua pendapat tentang mahar; karena kehamilan itu bergantung pada hubungan suami istri yang diizinkan, dan dalilnya adalah bahwa izin dari murtahin kepada rāhin untuk melakukan hubungan suami istri menyebabkan istīlād (menjadikan budak sebagai ibu dari anak) menjadi sah dan gugurnya kewajiban membayar ganti rugi, meskipun istīlād itu terjadi akibat kehamilan.

وليس هو من صنع الواطىء ولكن التسبب إلى الشيء بمثابة مباشرته

Hal itu bukanlah perbuatan langsung dari pelaku, namun menyebabkan terjadinya sesuatu itu kedudukannya seperti melakukannya secara langsung.

فصل

Bab

قال ولو كان الرهن إلى أجلٍ فأذن للراهن في بيع الرهن إلى آخره

Dan jika gadai itu sampai waktu tertentu, lalu pemilik barang yang digadaikan diberi izin untuk menjual barang gadai tersebut, dan seterusnya.

إذا أذن المرتهن للراهن في العتق فأعتق بإذنه بطل حقُّه من الرهن سواء كان الحق حالاًّ أو مؤجلاً؛ فإن الإعتاق إتلافٌ للمالية لا إلى عوض؛ فإذا أذن المرتهن به سقط حقه بالكلية من الوثيقة

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) mengizinkan pihak yang menggadaikan (rahin) untuk memerdekakan (budak) lalu ia memerdekakannya dengan izinnya, maka haknya atas barang gadai menjadi batal, baik hak tersebut sudah jatuh tempo maupun masih ditangguhkan; karena memerdekakan (budak) merupakan tindakan yang menghilangkan nilai harta tanpa ada pengganti; maka jika pihak penerima gadai mengizinkannya, gugurlah seluruh haknya atas jaminan tersebut.

فأمَّا إذا أذن بالبيع فلا يخلو إما أن يكون حالاًَ أو مؤجلاً

Adapun jika diizinkan untuk menjual, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah penjualannya tunai atau ditangguhkan.

فإن كان مؤجلاً ففيه مسائل أحدها أن يُطلق المرتهن الإذن في البيع ولا يقيده بشرط فإذا باع الراهن بالإذن انفك الرهن ولا يلزم البائعَ جعلُ الثمن رهناً مكان ما باع خلافاً لأبي حنيفة هذه مسألة

Jika utangnya bertempo, maka terdapat beberapa permasalahan di dalamnya. Pertama, apabila pihak yang menerima gadai memberikan izin secara mutlak untuk menjual dan tidak membatasinya dengan syarat tertentu, lalu pihak yang menggadaikan menjual barang tersebut dengan izin tersebut, maka gadai menjadi lepas, dan penjual tidak wajib menjadikan harga jual sebagai barang gadai pengganti barang yang dijual, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Inilah salah satu permasalahannya.

والمسألة الثانية أن يأذن في البيع على شرط أن يعجل الدين من ثمنه فهذا الشرط باطل؛ فإنه يتضمن إثبات حق غيرِ ثابت وهو التعجيل وإذا تبين فساد هذا الشرط فالإذن يفسد بفساد الشرط ولا ينفذ بيع الراهن وينزل ما جرى منزلة ما لو باع مستبداً من غير إذن وهذا يعد من مشكلات المذهب

Masalah kedua adalah apabila mengizinkan penjualan dengan syarat agar utang dipercepat pelunasannya dari hasil penjualan tersebut, maka syarat ini batal; karena syarat tersebut mengandung penetapan hak yang tidak tetap, yaitu percepatan pelunasan. Jika telah jelas bahwa syarat ini rusak, maka izin tersebut juga rusak karena kerusakan syaratnya, dan penjualan yang dilakukan oleh pihak yang menggadaikan tidak sah. Apa yang terjadi dalam kasus ini diperlakukan seperti halnya jika ia menjual secara mandiri tanpa izin, dan hal ini termasuk salah satu permasalahan yang rumit dalam mazhab.

وذهب المزني إلى أن البيع نافذ بالإذن واحتج عليهِ بأن قال الإذن في البيع لا فساد فيه وإنما الفساد في الشرط المقرون به فليفسد الشرط وليصح البيع بالإذن واستشهد عليه بالتوكيل بالبيع مع شرط فاسد مثل أن يقول بع عبدي هذا ولك عشرُ ثمنه فالأجرة فاسدة؛ من جهة أن مبلغ الثمن مجهول والجزء من المجهول مجهول ولكن البيع من الوكيل نافذ والرجوع إلى أجر المثل فليكن الأمر كذلك فيما نحن فيه؛ حتى يصح البيع ويفسدَ الشرط

Al-Muzani berpendapat bahwa jual beli sah dengan adanya izin, dan ia berdalil bahwa izin dalam jual beli tidak mengandung kerusakan, sedangkan kerusakan itu terdapat pada syarat yang menyertainya. Maka, syaratnya batal, tetapi jual belinya sah karena adanya izin. Ia juga mengambil dalil dari kasus wakalah dalam jual beli dengan syarat yang rusak, seperti seseorang berkata, “Juallah budakku ini dan engkau akan mendapatkan sepersepuluh dari harganya.” Upah tersebut batal karena jumlah harga tidak diketahui dan bagian dari sesuatu yang tidak diketahui juga tidak diketahui, namun jual beli yang dilakukan oleh wakil tetap sah dan kembali kepada upah yang sepadan. Maka, hendaknya perkara ini juga demikian; sehingga jual belinya sah dan syaratnya batal.

وهذا الذي ذكره المزني في ظاهره معنى كلي

Apa yang disebutkan oleh al-Muzani ini, secara lahiriah, merupakan makna yang bersifat universal.

وقد قال العراقيون حكي عن أبي إسحاق المروزي أنه ذكر قولاً مخرجاً موافقاً لمذهب المزني فحكم بنفوذ البيع وبفساد الشرط هذا حكَوْه ثم زيفوه

Orang-orang Irak berkata: Diriwayatkan dari Abu Ishaq al-Marwazi bahwa ia menyebutkan suatu pendapat yang dikeluarkan sesuai dengan mazhab al-Muzani, sehingga ia memutuskan sahnya jual beli namun batalnya syarat tersebut. Demikianlah yang mereka riwayatkan, kemudian mereka melemahkan pendapat itu.

وقالوا التعويل فيما يُنقل عن أبي إسحاق على ما يوجد في شرحه وهذا غير موجود في شرحه فالوجه القطع بما نص عليه الشافعي

Mereka berkata bahwa acuan dalam hal yang dinukil dari Abu Ishaq adalah apa yang terdapat dalam syarahnya, dan hal ini tidak terdapat dalam syarahnya, maka yang tepat adalah menetapkan apa yang telah ditegaskan oleh asy-Syafi‘i.

وما ذكره المزني نقول فيه الإذن في البيعِ في مسألتنا مُعَارض باشتراط شيء لا يستحَق فكأن المرتهن أَذِنَ وقابَل الإذن بشرط يجر به منفعة إلى نفسه ولم يُثبت الشرع ذلك الشرط ففسد وإذا فسد مقابلُ الشيء فسد ذلك الشيء وهذا يمثَّل بفساد أحد العوضين في المعاملات؛ فإن من حكمه فسادُ مقابلِهِ وليس كذلك التوكيل بالبيع؛ فإنَ أصل الإذن لا مقابِل له وإنما المقابلة في عمل الوكيل وما شُرط له والإذن في البيع خارج عنهما فاستقل الإذن بالصحة وتقابل العمل والشرط فقيل لَحِقَهما الفسادُ أما أثر الفساد في العمل فهو أنه لا يستحق وأثر الفساد في العوض لائح فيخرج منه نفوذ البيع بحكم الإذن المطلق والرجوع إلى أجر المثل على قياس المعاوضات الفاسدة

Apa yang disebutkan oleh al-Muzani, kami katakan bahwa izin dalam jual beli dalam permasalahan kita ini bertentangan dengan pensyaratan sesuatu yang tidak berhak, seolah-olah pihak yang menerima gadai memberikan izin dan membalas izin tersebut dengan syarat yang mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, sementara syarat tersebut tidak ditetapkan oleh syariat, maka syarat itu menjadi batal. Jika sesuatu yang menjadi imbalan itu batal, maka batal pula hal yang dipertukarkan dengannya. Hal ini dapat diumpamakan dengan batalnya salah satu dari dua imbalan dalam transaksi; karena salah satu hukumnya adalah batalnya imbalan yang lain. Tidak demikian halnya dengan perwakilan dalam jual beli; karena pada dasarnya izin itu tidak memiliki imbalan, melainkan imbalan terdapat pada pekerjaan wakil dan apa yang disyaratkan untuknya, sedangkan izin dalam jual beli berada di luar keduanya, sehingga izin itu tetap sah secara mandiri, sedangkan pekerjaan dan syaratnya saling berhadapan, maka dikatakan keduanya terkena dampak kebatalan. Adapun pengaruh kebatalan pada pekerjaan adalah bahwa pekerjaan itu tidak berhak didapatkan, dan pengaruh kebatalan pada imbalan sangat jelas, sehingga yang tersisa hanyalah berlakunya jual beli berdasarkan izin mutlak dan kembali kepada upah yang sepadan menurut qiyās pada transaksi yang fasad.

ونفس الإذن في مسألتنا مقابَل بفسادٍ وذلك الفساد عوض الإذن

Dan izin itu sendiri dalam permasalahan kita dihadapkan dengan suatu kerusakan, dan kerusakan itu menjadi pengganti dari izin tersebut.

هذا منتهى الإمكان في هذا

Ini adalah batas maksimal yang mungkin dalam hal ini.

والمسألة الثالثة أن يأذن في البيع ويشترطَ وضعَ ثمنه رهناً مكانه وفي المسألة قولان أحدهما أن الشرط يفسد ثم يفسد بفساده الإذن في البيع كما قدمناه في المسألة الثانية

Masalah ketiga adalah apabila seseorang mengizinkan penjualan dan mensyaratkan agar harga jualnya dijadikan sebagai rahn (barang jaminan) sebagai pengganti barang tersebut. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa syarat tersebut batal, dan dengan batalnya syarat tersebut maka izin untuk menjual juga menjadi batal, sebagaimana telah dijelaskan pada masalah kedua.

والقول الثاني أن الشرط صحيح والإذن في البيع صحيح فإذا بيع المرهون لزم جعلُ ثمنه رهناً وهذا في حكم نقل الرهن من العين إلى عوضه فإذا كان يجري هذا وفاقاً؛ فإن المرهون إذا هلك تعلق حق الوثيقة بقيمته وما يقع لا يمتنع شرطه

Pendapat kedua menyatakan bahwa syarat tersebut sah dan izin untuk menjual juga sah. Maka jika barang yang digadaikan dijual, wajib menjadikan harganya sebagai barang gadai. Ini dalam hukum dianggap sebagai pemindahan gadai dari barang ke penggantinya. Jika hal ini berlaku secara ijmā‘, maka apabila barang gadai rusak, hak jaminan berpindah kepada nilainya, dan sesuatu yang terjadi secara fakta tidak terlarang untuk disyaratkan.

وهذا يترتب على أصل سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى وهو أن من رهن ما يتسارع الفساد إليه فهل يصح الرهن فيه والدين مؤجل فعلى قولين أحدهما لا يصح؛ فإن مقتضى الرهن الحبسُ إلى حلول الدين والحبس يفسد الرهن

Hal ini bergantung pada suatu prinsip yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala, yaitu apabila seseorang menggadaikan sesuatu yang mudah rusak, apakah sah akad rahn (gadai) atasnya sementara utangnya masih ditangguhkan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya menyatakan tidak sah, karena konsekuensi rahn adalah menahan barang hingga jatuh tempo utang, sedangkan penahanan tersebut justru merusak barang gadai.

والقول الثاني يصح الرهن ويباع ويوضع ثمنه رهناً وسيأتي ذلك فإن أفسدنا فيما يفسد من يومه فذاك لمصيرنا إلى امتناع النقل فلا يجوز إذاً شرط النقل

Pendapat kedua menyatakan bahwa rahn (barang jaminan) sah, boleh dijual, dan hasil penjualannya dijadikan sebagai rahn. Hal ini akan dijelaskan nanti. Jika kita menganggap batal pada kasus-kasus yang menyebabkan batal sejak hari itu juga, maka hal itu karena kita berpendapat tidak bolehnya pemindahan (rahn), sehingga tidak boleh disyaratkan adanya pemindahan.

وإن صححنا رهنَ ما يفسد ونزلنا على نقل الوثيقة من العين إلى ثمنها فلا يمتنع شرطه

Jika kita membolehkan gadai atas barang yang mudah rusak dan kita menganggap bahwa dokumen gadai berpindah dari barang tersebut kepada harganya, maka tidak terlarang mensyaratkannya.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الدين مؤجلاً وجرى الإذن من المرتهن في البيع قبل حلول الأجل مطلقاً أو مقيداً

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika utang itu berjangka waktu dan telah ada izin dari pihak penerima gadai untuk menjual sebelum jatuh tempo, baik izinnya bersifat mutlak maupun terbatas.

/م وأما إذا كان الحق حالاًّ فأذن المرتهن في البيع نُظر فإن كان الإذن مطلقاًً نفذ البيع ولزم قضاء الحق من ثمنه؛ لأن هذا مستحق بحكم الرهن فمطلق الإذن محمول عليه فإنْ شَرَطَ قضاءَ الحق منه فقد زاد تأكيداً وصرح بما يقتضيه الإطلاق

Adapun jika hak tersebut telah jatuh tempo lalu pihak murtahin mengizinkan penjualan, maka perlu dilihat: jika izinnya bersifat mutlak, maka penjualan sah dan wajib melunasi hak dari hasil penjualannya; karena hal ini memang menjadi hak berdasarkan hukum rahn, sehingga izin yang bersifat mutlak dianggap mencakup hal tersebut. Jika ia mensyaratkan pelunasan hak dari hasil penjualan, maka itu berarti menambah penegasan dan memperjelas apa yang sudah terkandung dalam izin mutlak.

ولو أذن في البيع على شرط أن يوضع ثمنه رهناً ففي المسألة قولان والحقُّ حالٌّ كالقولين إذا كان مؤجلاً فلا يختلف الترتيب في هذا الشرط في الحالّ والمؤجل فإنَّ نقل الرهن غيرُ مستحق في الحالتين هذا بيان المسألة

Jika diizinkan melakukan jual beli dengan syarat bahwa harganya dijadikan sebagai rahn (barang jaminan), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Adapun jika harga tersebut tunai, maka hukumnya sama dengan dua pendapat tersebut ketika harga itu ditangguhkan; sehingga urutan hukum pada syarat ini tidak berbeda antara harga tunai dan harga yang ditangguhkan. Sebab, pemindahan rahn tidak menjadi hak dalam kedua keadaan tersebut. Inilah penjelasan masalahnya.

ثم ذكر الشافعي بعد هذا اختلافاً بين الراهن والمرتهن في كيفية الإذن والقول مفروض في الدين المؤجل فإذا باع الراهن الرهنَ بالإذن ثم اختلف الراهن والمرتهن فقال الراهن أذنتَ في البيع المطلق وقال المرتهن أذنتُ في البيع وشرطتُ أن يوضع ثمنُه رهناً فظاهر المذهب أن القول قول المرتهن مع يمينه؛ فإن البائع يدعي الإذن على وجه ينقطع فيه تعلق المرتهن والمرتهن يأبى ذلك والأصل استمرار تعلقه بحق الوثيقة

Kemudian setelah itu, asy-Syafi‘i menyebutkan adanya perbedaan pendapat antara pihak yang menggadaikan (rahin) dan penerima gadai (murtahin) dalam hal bagaimana bentuk izin diberikan, dan pembahasan ini diasumsikan terjadi pada utang yang masih ditangguhkan. Jika pihak yang menggadaikan menjual barang gadai dengan izin, kemudian terjadi perselisihan antara rahin dan murtahin, di mana rahin berkata, “Engkau telah mengizinkan penjualan secara mutlak,” sedangkan murtahin berkata, “Aku mengizinkan penjualan dengan syarat harganya dijadikan sebagai barang gadai,” maka pendapat yang tampak dari mazhab adalah bahwa yang dijadikan pegangan adalah pernyataan murtahin dengan sumpahnya; sebab penjual mengklaim adanya izin dengan cara yang memutuskan keterkaitan murtahin, sedangkan murtahin menolak hal itu, dan pada dasarnya hak murtahin terhadap jaminan tersebut tetap berlanjut.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً آخر في ذلك ووجهوه بأن أصل الإذن متفق عليه و المرتهن يدعي ضم شيء إلى الإذن والأصل عدمه وهذا ليس بشيء والمذهب الأول

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat lain dalam masalah ini dan mereka mengemukakan alasannya bahwa pada dasarnya izin itu telah disepakati, sedangkan pihak yang menerima gadai (al-murtahin) mengklaim adanya tambahan sesuatu pada izin tersebut, sementara asalnya adalah tidak ada tambahan itu. Namun, pendapat ini tidak kuat, dan madzhab yang pertama lebih utama.

وهذا ذكره شيخي وأنا أحسبه هفوة فلا يعتد به

Ini disebutkan oleh guruku, namun aku menganggapnya sebagai kekeliruan sehingga tidak dapat dijadikan pegangan.

ثم أطنب المزني في التعلّق بمسألة الوكيل الذي شرط له الجعل الفاسد وقد تكلمنا عليه بما فيه مقنع مذهباً وحجاجاً

Kemudian al-Muzani memperluas pembahasan tentang masalah wakil yang disyaratkan baginya imbalan yang fasid, dan kami telah membahasnya dengan penjelasan yang memadai baik dari segi mazhab maupun argumentasi.

فرع

Cabang

إذا أذن المرتهن في البيع مطلقاًً والدين مؤجل ثم رجع عن الإذن قبل جريان البيع صح رجوعه ونفس الإذن في البيع لا يبطل حقَّ المرتهن بل الأمر موقوفٌ على جريان البيع على حكم الإذن فلو اختلف الراهن والمرتهن وقد جرى الإذنُ في البيع والرجوعُ فقال الراهن بعتُ قبل رجوعك وقال المرتهن بل رجعتُ قبل بيعك فالذي ذهب إليه الأكثرون أن القول قول المرتهن؛ فإنه تقابل هاهنا أصلان أحدهما أن الأصل عدم بيعه في الوقت الذي يدعيه والأصل عدم رجوع المرتهن أيضاًً في ذلك الوقت فيتقابلان ويبقى أصل الرهن على ما تقرر ابتداء

Jika pihak yang memegang gadai (murtahin) mengizinkan penjualan barang gadai secara mutlak sementara utang masih jatuh tempo, lalu ia menarik kembali izinnya sebelum penjualan terjadi, maka penarikan izin tersebut sah. Pemberian izin untuk menjual tidak membatalkan hak murtahin, melainkan perkara ini bergantung pada terjadinya penjualan sesuai dengan izin yang diberikan. Jika terjadi perselisihan antara pihak yang menggadaikan (rahin) dan murtahin, di mana izin penjualan dan penarikan izin telah terjadi, lalu rahin berkata, “Aku telah menjual sebelum engkau menarik izin,” sedangkan murtahin berkata, “Aku telah menarik izin sebelum engkau menjual,” maka pendapat mayoritas ulama adalah bahwa yang dipegang adalah pernyataan murtahin. Sebab, di sini terdapat dua asas yang saling berhadapan: pertama, asas bahwa pada waktu yang diklaim, penjualan belum terjadi; kedua, asas bahwa pada waktu itu penarikan izin oleh murtahin juga belum terjadi. Keduanya saling berhadapan, sehingga status gadai tetap seperti semula.

ومن أصحابنا من قال ينفذ البيع؛ فإن الأصل استمرار المرتهن على حكم الإذن الذي سبق منه

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jual beli tersebut tetap sah; karena pada dasarnya penerima gadai tetap berada pada ketentuan izin yang telah diberikan sebelumnya.

وهذه المسألة تلتفت على اختلاف الزوجين في الرجعة وانقضاء العدة وسيأتي تفصيل ذلك في موضعه إن شاء الله عز وجل

Masalah ini berkaitan dengan perbedaan pendapat antara suami istri mengenai rujuk dan berakhirnya masa iddah, dan rincian tentang hal ini akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

قال ولو رهنه أرضاً من أرض الخراج فالرهن مفسوخ؛ لأنها غير مملوكة إلى آخره

Dan jika ia menjadikan tanah kharaj sebagai barang gadai, maka gadai tersebut batal; karena tanah itu bukan milik (penuh), dan seterusnya.

أراد بأرض الخراج سوادَ العراق وكان غنمه المسلمون واستولَوْا عليه عَنْوة واقتسموا واشتغلوا بالحراثة وتعلقوا بأذناب البقر وتقاعدوا عن الجهاد فاستطاب أمير المؤمنين عمرُ رضي الله عنه قلوبَهم عنها فاستردَّ ها منهم بعوض وغير عوض ثم حبّسها على المسلمين وردَّها على سكان العراق ووظّف عليهم أجرة هذا مذهب الشافعي وسيأتي شرحه في موضعه إن شاء الله عز وجل في كتاب السِّير والجزية والغرض من ذكره الآن تفصيل القول في رهن تلك الأراضي

Yang dimaksud dengan tanah kharaj adalah Sawad Irak, yang telah direbut oleh kaum Muslimin dan mereka menguasainya secara ‘anwah (dengan kekuatan), lalu mereka membaginya dan sibuk bertani serta bergantung pada ekor-ekor sapi, sehingga mereka meninggalkan jihad. Maka Amirul Mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu merasa tidak nyaman dengan sikap mereka terhadap tanah itu, lalu beliau menarik kembali tanah tersebut dari mereka, baik dengan ganti rugi maupun tanpa ganti rugi. Kemudian beliau mewakafkannya untuk kaum Muslimin dan mengembalikannya kepada penduduk Irak serta membebankan kepada mereka pembayaran sewa. Inilah mazhab Syafi‘i, dan penjelasannya akan datang pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla, dalam Kitab as-Siyar dan Jizyah. Tujuan penyebutannya sekarang adalah untuk merinci pembahasan tentang gadai tanah-tanah tersebut.

وزعم ابنُ سريج أن عمر باع تلك الأراضي من أهل العراق وما حبسها وجعل الثمن موظفاً عليهم وهذا يخالف نصَّ الشافعي فإن ابن سريج يزعم أن سواد العراق على التأويل الذي ذكره مملوك فينفذ بيعه ورهنه ونص الشافعي يصرح بأن تلك الأراضي محبَّسةٌ ممتنعٌ بيعها ورهنها

Ibnu Surayj berpendapat bahwa Umar telah menjual tanah-tanah tersebut kepada penduduk Irak dan tidak menahannya, serta menjadikan harga jualnya sebagai kewajiban atas mereka. Pendapat ini bertentangan dengan nash asy-Syafi‘i, karena Ibnu Surayj mengklaim bahwa Sawad Irak, menurut penafsiran yang ia sebutkan, adalah milik (pribadi) sehingga sah dijual dan digadaikan. Sementara nash asy-Syafi‘i secara tegas menyatakan bahwa tanah-tanah tersebut adalah tanah yang diwakafkan sehingga tidak boleh dijual maupun digadaikan.

قال العراقيون سواد العراق من عَبَّادان إلى الموصل طولاً ومن القادسية إلى حُلوان عرضاً فلو فعل الإمام فينا مثلَ هذا جاز والقول فيه يطول وليس هو من غرض الكتاب وإنما المقصود الكلامُ في أن رهن سواد العراق غيرُ جائز على النص؛ فإنه محبس وهو جائز على تخريج ابن سريج

Orang-orang Irak berkata: Wilayah Sawad Irak membentang dari ‘Abbadān hingga Mosul secara memanjang, dan dari Qadisiyah hingga Hulwān secara melebar. Jika imam melakukan hal seperti itu kepada kami, maka hal itu boleh. Pembahasan tentang hal ini cukup panjang dan bukan tujuan dari kitab ini. Yang dimaksudkan di sini adalah pembicaraan mengenai bahwa menggadaikan Sawad Irak tidak diperbolehkan menurut nash; karena ia adalah tanah wakaf, namun diperbolehkan menurut takhrīj Ibnu Surayj.

وأما بيع ما فيهِ من أبنية فكل بناء كان من برّية العراق فهو أيضاً غير مملوك وما لم يكن من برّيته فمملوك والغراس لا شك أنه مستحدث فإذا كان مملوكاً فالرهن فيه جائز وكذلك البيع

Adapun penjualan bangunan yang ada di atasnya, maka setiap bangunan yang berasal dari tanah liar Irak juga tidak dimiliki, dan apa yang bukan berasal dari tanah liarnya maka itu dimiliki. Sedangkan tanaman jelas merupakan sesuatu yang baru, maka jika ia dimiliki, maka gadai atasnya diperbolehkan, demikian pula penjualannya.

ولو جمع بين رهن أرضٍ من السواد وغراس فيه مملوك فهذا من باب تفريق الصفقة

Jika seseorang menggabungkan antara menggadaikan tanah sawad dan tanaman di atasnya yang dimiliki, maka ini termasuk dalam kategori tafrīq ash-shafqah (memisahkan transaksi).

ثم مما وقع التعرض له في هذا الفصل أن بيع الأرض هل يستتبع الغراس وهذا قد استقصيناه في كتاب البيع على أبلغ وجه فلا معنى لإعادته وشرط هذا الكتاب أن نضم فيه أطرافَ الكلام في المثنيات والمكررات

Kemudian, di antara hal yang dibahas dalam bab ini adalah apakah penjualan tanah juga mencakup tanaman yang tumbuh di atasnya. Masalah ini telah kami bahas secara tuntas dalam Kitab al-Bay‘ dengan penjelasan yang paling lengkap, sehingga tidak ada gunanya mengulanginya di sini. Syarat dalam kitab ini adalah kami mengumpulkan berbagai sisi pembahasan pada masalah-masalah yang berpasangan dan berulang.

ثم قال الشافعي لو أدى عنه الخراج فهو متطوِّع إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Jika seseorang membayarkan kharaj atas nama orang lain, maka ia termasuk orang yang melakukan amal sunnah,” dan seterusnya.

فالمراد أن من رهن بناء مملوكاً أو غراساً فالخراج على الراهن فلو أدى المرتهن الخراج نُظر فإن أداه من غير إذن من عليه الخراج فهو متطوع لا يجد إلى ما أداه مرجعاً ولو أداه بإذن من عليه بشرط الرجوع رجع ولو أدّاه بإذنٍ وما كان الإذن متقيداً بشرط الرجوع ففي المسألة وجهان مشهوران

Maksudnya adalah bahwa siapa pun yang menggadaikan bangunan atau tanaman miliknya, maka kewajiban membayar pajak (kharāj) tetap berada pada pihak yang menggadaikan (rāhin). Jika pihak penerima gadai (murtahin) membayar pajak tersebut, maka dilihat keadaannya: jika ia membayarnya tanpa izin dari pihak yang berkewajiban membayar pajak, maka ia dianggap sebagai orang yang berbuat sukarela dan tidak berhak menuntut kembali apa yang telah dibayarkannya. Namun, jika ia membayarnya dengan izin dari pihak yang berkewajiban membayar pajak, dengan syarat boleh menagih kembali, maka ia berhak menagih kembali. Jika ia membayarnya dengan izin, tetapi izinnya tidak disertai syarat boleh menagih kembali, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur.

ولا اختصاص لهذا بما نحن فيه وكل من أدى ديناً على إنسان فتفصيله في الرجوع على ما ذكرناه

Hal ini tidak khusus dengan permasalahan yang sedang kita bahas, dan setiap orang yang melunasi utang atas nama seseorang, rincian tentang hak untuk kembali (menagih) adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ونصُّ الشافعي يميل إلى الرجوع إذا كان الإذن مطلقاًً قال الشافعي لو فادى أسيراً دون إذنه لم يرجع عليه وإن فاداه بإذنه رجع عليه ولم يعتبر شرطَ الرجوع ونصَّ أيضاًً على أن من اكترى داراً وقبضها وأكراها فأدى المكتري الثاني الكراءَ عن الأول إلى المُكري بإذنه رجع وإن لم يكن بإذنه لم يرجع ولم يعتبر شرط الرجوع

Teks Imam Syafi‘i cenderung kepada kebolehan untuk meminta kembali (penggantian) jika izin diberikan secara mutlak. Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang menebus tawanan tanpa izinnya, maka ia tidak boleh meminta penggantian darinya. Namun, jika ia menebusnya dengan izinnya, maka ia boleh meminta penggantian darinya, tanpa mensyaratkan adanya syarat khusus untuk meminta penggantian. Beliau juga menegaskan bahwa jika seseorang menyewa sebuah rumah, lalu menerimanya dan kemudian menyewakannya lagi, kemudian penyewa kedua membayar uang sewa kepada pemilik rumah dengan izin penyewa pertama, maka penyewa pertama boleh meminta penggantian darinya. Namun, jika pembayaran itu tanpa izinnya, maka ia tidak boleh meminta penggantian, dan tidak disyaratkan adanya syarat khusus untuk meminta penggantian.

والمسائل كلها على الخلاف بين الأصحابِ

Seluruh permasalahan ini merupakan titik perbedaan pendapat di antara para sahabat (ulama mazhab).

فصل

Bab

قال ولو اشترى عبداً بالخيار ثلاثاً فرهنه قبلها فالرهن جائز وهو قطع لخياره إلى آخره

Dikatakan: Jika seseorang membeli seorang budak dengan hak khiyar selama tiga hari, lalu ia menggadaikannya sebelum masa khiyar berakhir, maka gadai tersebut sah dan hal itu merupakan pemutusan hak khiyarnya hingga selesai.

إذا شرط الخيار لنفسه دون البائع فالمذهب أن الملك للمشتري وخرّج فيه قولان آخران تقدم ذكرهما في أول البيع والشافعي فرعّ على أن الملك للمشتري وقال لو رهنه في زمان الخيار صح الرهن وانقطع الخيار ولزم البيع

Jika seseorang mensyaratkan hak khiyar untuk dirinya sendiri tanpa untuk penjual, maka menurut mazhab, kepemilikan menjadi milik pembeli. Namun, ada dua pendapat lain yang telah disebutkan di awal pembahasan jual beli. Asy-Syafi‘i berpendapat bahwa kepemilikan menjadi milik pembeli, dan beliau berkata: Jika pembeli menjadikan barang itu sebagai rahn (gadai) selama masa khiyar, maka rahn tersebut sah, hak khiyar terputus, dan jual beli menjadi mengikat.

وهذا مما ذكرناه في كتاب البيع على أبلغ وجه في البيان وأحسن مساق في التفصيل والرهن في زمان الخيار بمثابة البيع وحاصل المذهب ثلاثةُ أوجه أحدها أن الرهن فاسد والعقد على جوازه

Hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘ dengan penjelasan yang paling gamblang dan uraian yang paling baik dalam perincian, dan rahn pada masa khiyar kedudukannya seperti jual beli. Kesimpulan madzhab terdapat tiga pendapat; salah satunya adalah bahwa rahn itu fasid dan akadnya bersifat jaiz.

والثاني أن الرهن فاسد والخيار ينقطع والثالث وهو ظاهر النص أن الرهن يصح وينقطع الخيار به

Kedua, bahwa rahn (gadai) batal dan hak khiyar menjadi gugur. Ketiga, yang merupakan makna lahir dari nash, bahwa rahn sah dan hak khiyar gugur karenanya.

وذكر العراقيون وصاحب التقريب في الوصية اختلافاً يناظر هذا فإذا أوصى رجل بعبد لرجلٍ ومات الموصي فرهن الموصى له العبدَ الموصَى به بعد موت الموصي وقبل القبول ففي المسألة أوجه أحدها يصح الرهن ويكون قبولاً للوصية والثاني لا يصح الرهن ولا القبول والثالث يفسد الرهن ولكن يقع قبولاً للوصية

Orang-orang Irak dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dalam pembahasan wasiat suatu perbedaan pendapat yang serupa dengan ini. Jika seseorang berwasiat memberikan seorang budak kepada seseorang, lalu pewasiat meninggal dunia, kemudian penerima wasiat itu menggadaikan budak yang diwasiatkan setelah kematian pewasiat dan sebelum menerima wasiat tersebut, maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Pendapat pertama, gadai tersebut sah dan dianggap sebagai penerimaan wasiat. Pendapat kedua, gadai tersebut tidak sah dan tidak dianggap sebagai penerimaan wasiat. Pendapat ketiga, gadai tersebut rusak (tidak sah), tetapi tetap dianggap sebagai penerimaan wasiat.

فصل

Bab

ويجوز رهن العبد المرتد وهذا معنى مستقصى في البيع ثم ذكرنا المذهبَ في بيع العبد المرتد وبيع العبد المحارب المستوجب للقتل؛ بسبب القتل والمحاربة وأوضحنا أن من اشترى عبداً مرتداً وقبضه وقتل في يده بالردة فهو من ضمان البائع أو من ضمان المشتري ولا وجه لإعادة ما سبق

Diperbolehkan menggadaikan budak murtad, dan ini adalah makna yang telah dibahas secara rinci dalam bab jual beli. Kemudian kami telah menyebutkan pendapat mazhab tentang jual beli budak murtad dan jual beli budak yang melakukan perlawanan (bughat) yang telah dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan dan perlawanan. Kami juga telah menjelaskan bahwa siapa pun yang membeli budak murtad, lalu menerimanya dan budak itu dibunuh di tangannya karena murtad, maka tanggung jawabnya ada pada penjual atau pada pembeli, dan tidak ada alasan untuk mengulang penjelasan yang telah lalu.

والقدرُ المتعلق بكتاب الرهن أن من ارتهن عبداً مرتداً وصححنا الرهن فقبضه ثم قتل في يده بالردة نظر فإن لم يكن الرهنُ مشروطاً في بيعٍ فلا أثر لما جرى وقد ارتفع الرهن بفوات المرهون وإن كان الرهن مشروطاً في بيع فإذا قتل العبد في يد المرتهن ففيه الخلاف المقدم ذكرُه في البيع ففي وجهٍ يُجعل كما لو قتل في يد الراهن ولو قتل في يده لما كان وافياً بالرهن المشروط ثم حُكمه أن يتخير البائع في فسخ البيع؛ فإن من شرط رهناً فلم يتفق الوفاء به ثبت له الخيار

Batasan yang berkaitan dengan kitab rahn adalah bahwa siapa pun yang menerima gadai seorang budak murtad, dan kita mengesahkan akad rahn tersebut lalu ia mengambilnya, kemudian budak itu dibunuh di tangannya karena murtad, maka hal ini perlu ditinjau. Jika rahn tidak disyaratkan dalam akad jual beli, maka apa yang terjadi tidak berpengaruh dan rahn batal karena objek gadai telah hilang. Namun jika rahn disyaratkan dalam akad jual beli, lalu budak itu dibunuh di tangan penerima gadai, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam masalah jual beli. Dalam satu pendapat, kasus ini diperlakukan seperti jika budak itu dibunuh di tangan pemberi gadai. Jika budak itu dibunuh di tangannya, maka itu tidak memenuhi syarat rahn yang telah ditetapkan. Kemudian, hukumnya adalah penjual berhak memilih untuk membatalkan akad jual beli; karena siapa pun yang mensyaratkan rahn lalu tidak terpenuhi, maka ia berhak memilih (untuk membatalkan akad).

وسيأتي بيان هذا الأصل

Prinsip ini akan dijelaskan nanti.

وإن قلنا المرتد في يد المرتهن محسوبٌ عليه فقد توفر عليه المشروط فلا يثبت له حق فسخ البيع

Dan jika kita katakan bahwa murtad yang berada di tangan pemegang gadai dianggap sebagai tanggungannya, maka syarat yang ditetapkan telah terpenuhi atasnya, sehingga ia tidak berhak membatalkan jual beli.

ويتصل بهذا الفصل أن الرهن إذا كان مشروطاً ثم اتفق ضياعه في يد المرتهن ثم اطلع المرتهن على عيب بعد فوات الرهن فهذا من غوامض الأحْكام في الرهن وهو بين أيدينا ولكن نُنْجز منه شيئاً

Terkait dengan bab ini, apabila rahn disyaratkan kemudian terjadi kehilangan rahn di tangan murtahin, lalu setelah itu murtahin mengetahui adanya cacat pada rahn setelah rahn tersebut hilang, maka ini termasuk salah satu masalah hukum yang rumit dalam rahn. Permasalahan ini ada di hadapan kita, namun kita akan menyelesaikan sebagian darinya.

فنقول إن اطلع على عيب وأمكن الرد ورَدَّ ففائدة ذلك أن يتخيّر في فسخ البيع

Maka kami katakan, jika seseorang mengetahui adanya cacat, dan memungkinkan untuk mengembalikan barang lalu ia mengembalikannya, maka manfaat dari hal itu adalah ia berhak memilih untuk membatalkan akad jual beli.

وإن عسر الرد بالتلف وقد فرض الاطلاع من بعدُ ففي المسألة وجهان أحدهما أنه قد فات الأمر؛ فإن الرد غير ممكن والأرش لا وجه له؛ فإن الأرش استردادُ جزءٍ من الثمن

Jika pengembalian menjadi sulit karena barang telah rusak, dan kemudian diketahui setelahnya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa perkara tersebut telah terlewat; karena pengembalian tidak mungkin dilakukan dan kompensasi (arsh) tidak ada dasarnya; sebab arsh adalah pengambilan kembali sebagian dari harga.

والوجه الثاني أنه يثبت للمرتهن حق فسخ البيع؛ لأن النقصان الذي اطلع عليه في حكم جزء لم يصل المرتهن إليه ولم يتحقق الوفاء بالشرط فيه فهو كما لو شرط رهن أشياءَ فاتفق الوفاء برهن بعضها دون بعضٍ فالخيار ثابت

Dan alasan kedua adalah bahwa hak membatalkan jual beli tetap berlaku bagi murtahin; karena kekurangan yang diketahui itu pada hakikatnya merupakan bagian yang belum sampai kepada murtahin dan belum terpenuhi syarat padanya, maka hal itu seperti ketika seseorang mensyaratkan gadai beberapa barang, lalu ternyata yang diserahkan hanya sebagian barang tersebut, maka hak memilih (khiyar) tetap berlaku.

ونص الشافعي يميل إلى هذا

Teks Imam Syafi’i cenderung kepada hal ini.

فإذا ارتهن مرتداً فقتل في يده وفرعنا أنه محسوب عليه فلو اطلع على الردة من بعدُ فهذا ما ذكرناه من الاطلاع على العيب بعد فوات الرد

Jika seseorang mengambil barang gadai dari seorang murtad, lalu si murtad dibunuh saat barang masih di tangannya, dan kita berasumsi bahwa barang tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya, maka jika setelah itu ia mengetahui adanya kemurtadan, inilah yang kami maksud dengan mengetahui adanya cacat setelah masa pengembalian telah lewat.

فصل

Bab

قال ولو أسلفه ألفاً برهنٍ إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia memberikan pembayaran di muka (salam) sebesar seribu dengan jaminan hingga selesai (akadnya)…”

إذا رهن من عليه ألف عبداً بالألف ثم أراد أن يرهن بذلك الألف عبداً آخر أو ما بدا له فليفعل ولا منع من هذا؛ والسببُ فيه أن الرهن هو المشغول بالدين والدين غيرُ مشغولٍ بالرّهن؛ فإنه ليس عوضه ولا موثقاً به فالزيادة في الرهن لا منع منها

Jika seseorang yang memiliki utang seribu merahnkan seorang budak untuk utang seribu itu, kemudian ia ingin merahnkan budak lain atau apa pun yang ia kehendaki untuk utang seribu itu, maka silakan lakukan dan tidak ada larangan dalam hal ini. Sebabnya adalah bahwa rahan (barang jaminan) itulah yang dibebani oleh utang, sedangkan utang tidak dibebani oleh rahan; karena rahan bukanlah sebagai pengganti utang dan bukan pula yang menguatkannya, maka penambahan dalam rahan tidaklah dilarang.

فأما إذا أراد أن يزيد في الدين ويرهن ذلك المرهون بدين آخر ضما إلى الدين الأول فإن فسخا الرهن الأول وأعاداه بالدينين فلا شك في جوازه

Adapun jika seseorang ingin menambah utang dan menjadikan barang yang digadaikan itu sebagai jaminan untuk utang lain yang digabungkan dengan utang pertama, maka jika mereka membatalkan akad gadai yang pertama dan mengadakannya kembali untuk kedua utang tersebut, tidak diragukan lagi kebolehannya.

ولو قررا الرهن الأول وأرادا ضم دين آخر إليه ففي جواز ذلك قولان أحدهما يجوز وهو القديم واختيار المزني

Jika keduanya telah menetapkan rahn yang pertama dan ingin menambahkan utang lain kepadanya, maka dalam kebolehan hal itu terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan boleh, dan ini adalah pendapat lama serta pilihan al-Muzani.

والثاني لا يجوز وهو الجديد ومذهب أبي حنيفة

Yang kedua tidak diperbolehkan, dan inilah pendapat baru serta mazhab Abu Hanifah.

توجيه القولين من منع ذلك احتج بأن قال إذا أُقر الرهنُ الأولُ وزيد في الدين بذلك الرهن فهذا رهنُ مرهونٍ ورهنُ المرهون لا يجوز كما لو فرض رهنه من آخر

Penjelasan kedua pendapat yang melarang hal itu adalah dengan alasan bahwa jika gadai pertama tetap diakui dan hutang ditambah dengan gadai tersebut, maka ini berarti menggadaikan barang yang sudah digadaikan, dan menggadaikan barang yang sudah digadaikan tidak diperbolehkan, sebagaimana jika diasumsikan barang tersebut digadaikan kepada orang lain.

ومن قال إنه جائز فلا وجه لقوله إلا اعتبارُ الدين بالرهن وقد قدمنا أن الزيادة في الرهن جائزة؛ فإذا لم يمتنع هذا في أحد الجانبين وحكمُ العقود التساوي لم يمتنع في الجانب الآخر ولمَّا منعنا الزيادةَ في الثمن بعد لزوم العقد منعناها في المثمن

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa hal itu boleh, maka tidak ada alasan bagi pendapatnya kecuali mempertimbangkan utang dengan rahn, dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penambahan dalam rahn itu diperbolehkan; maka jika hal ini tidak terlarang pada salah satu sisi dan hukum akad adalah kesetaraan, maka tidak terlarang pula pada sisi yang lain. Dan ketika kami melarang penambahan pada harga setelah akad menjadi mengikat, maka kami juga melarangnya pada barang yang dijual (al-mutsman).

ومن بدائع الأمور اختيار المزني جوازَ هذا الإلحاق مع ميله إلى القياس في اختياراته وأبدعُ من هذا منعُ أبي حنيفة لهذا الإلحاق مع مصيره إلى أن الزيادة

Di antara hal-hal yang menakjubkan adalah pilihan al-Muzani yang membolehkan penyamaan (ilḥāq) ini, padahal ia cenderung kepada qiyās dalam pilihannya. Yang lebih menakjubkan lagi adalah penolakan Abu Hanifah terhadap penyamaan (ilḥāq) ini, meskipun ia berpendapat bahwa penambahan…

تلحق الثمن والمثمن بعد لزوم العقد

Harga dan barang yang menjadi objek akad akan mengikuti setelah akad menjadi mengikat.

ومما يتعلق بالمسألة أن العبد المرهون لو جنى جنايةً وتعلق الأرش برقبته وسنذكر أنه يباع في الأرش ولا يبالَى بحق المرتهن إذا لم يَفْدِه الراهن فلو قال المرتهن أنا أفديه ويكون ما أفديه به ديناً على السيد ويصير العبد مرهوناً بما أُقرضُ الراهنَ في فدائه ففي جواز ذلك قولان مرتبان على القولين في الأصل

Terkait dengan masalah ini, apabila seorang budak yang digadaikan melakukan suatu pelanggaran dan diyatnya menjadi tanggungan lehernya, sebagaimana akan dijelaskan bahwa budak tersebut dijual untuk membayar diyat dan hak pemegang gadai tidak dipedulikan jika pihak yang menggadaikan tidak menebusnya. Jika pemegang gadai berkata, “Saya akan menebusnya dan apa yang saya gunakan untuk menebus itu menjadi utang atas tuannya, lalu budak tersebut menjadi barang gadai atas apa yang saya pinjamkan kepada tuannya untuk menebusnya,” maka dalam kebolehan hal ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam masalah asalnya.

وهذه الصورة أولى بالجواز من قِبل أن هذا الفداء من مصلحة الرهن وهو سبب استبقائه فكان ما قدرناه فيه أقربَ إلى الجواز

Gambaran ini lebih utama untuk dibolehkan karena penebusan ini merupakan bagian dari kemaslahatan rahn dan menjadi sebab tetapnya rahn tersebut, sehingga apa yang kami perkirakan di dalamnya lebih dekat kepada kebolehan.

وقرب الأئمة هذا من أصلٍ رمزنا إليه في كتاب البيع وهو أن المشرف من الحقوق على الزوال إذا استدركت يُجعل استدراكها بمثابة زوالها وإعادتها أم يحمل الاستدراك على موجب الاستدامة فيها؛ فعلى قولين مأخوذين من معاني كلام الشافعي وعليه بنينا استثناء الثمار عن مطلق بيع الأشجار قبل بدوِّ الصلاح حيث قلنا إنها إن كانت كالزائلة العائدة فلا بد من شرط القطع في استثنائها وإن بنينا الأمر فيها على الاستدامة وهو الصحيح فلا معنى لشرط القطع

Para imam mendekatkan masalah ini dengan suatu prinsip yang telah kami isyaratkan dalam Kitab al-Bay‘, yaitu bahwa hak-hak yang hampir hilang, jika dipulihkan kembali, apakah pemulihan itu diperlakukan seperti hak yang telah hilang lalu dikembalikan, ataukah pemulihan itu dianggap sebagai kelanjutan keberadaannya; maka terdapat dua pendapat yang diambil dari makna perkataan Imam Syafi‘i. Berdasarkan hal itu, kami membangun pengecualian buah-buahan dari keumuman jual beli pohon sebelum tampak tanda-tanda kematangan, di mana kami katakan: Jika buah-buahan itu dipandang seperti sesuatu yang telah hilang lalu kembali, maka harus ada syarat pemotongan dalam pengecualiannya. Namun jika kami mendasarkan masalah ini pada kelangsungan (hak), dan inilah yang benar, maka tidak ada makna mensyaratkan pemotongan.

فإذا جنى العبد المرهون فقد أشرف الرهن على الزوال بتقدير أنه يباع في أرش الجناية فإذا فدى المرتهن بالإذن على الشرط الذي ذكرناه فهل يجعل هذا كما لو انفك الرّهن ثم أعيد ولو كان كذلك لصحّ فيه الخلاف الذي ذكرناه

Jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana, maka barang gadai tersebut hampir saja lenyap dengan perkiraan bahwa ia akan dijual untuk membayar denda tindak pidana tersebut. Jika pihak yang menerima gadai menebusnya dengan izin, sesuai syarat yang telah kami sebutkan, maka apakah hal ini diperlakukan seperti ketika barang gadai telah bebas lalu dikembalikan lagi? Jika memang demikian, maka perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya menjadi sah berlaku padanya.

فصل

Bab

قال ولو أشهد المرتهن أن هذا الرهن في يده بألفين إلى آخره

Dan seandainya penerima gadai menghadirkan saksi bahwa barang gadai ini ada di tangannya dengan nilai dua ribu, dan seterusnya.

صورة المسألة إذا أقر الراهن أن العبد الذي في يد المرتهن مرهون عنده بألفين ثم ادّعى بعد ذلك أنه رهنه أولاً بألفٍ ثم ألحق به ألفاً آخر على ما ذكرناه في صورة القولين فإن قلنا الزيادة في الدين جائزة فلا معنى لدعواه وإن قلنا

Gambaran masalahnya adalah apabila pihak yang menggadaikan mengakui bahwa budak yang berada di tangan penerima gadai digadaikan kepadanya dengan nilai dua ribu, kemudian setelah itu ia mengklaim bahwa ia pertama kali menggadaikannya dengan seribu, lalu menambahkan seribu lagi sebagaimana telah kami sebutkan dalam gambaran dua pendapat. Jika kita mengatakan bahwa penambahan dalam utang itu diperbolehkan, maka tidak ada makna dari klaimnya tersebut. Namun jika kita mengatakan…

لا يجوز ذلك فلو صدّقه المرتهن فذاك وإن كذّبه فالقول قول المرتهن

Hal itu tidak diperbolehkan. Jika penerima gadai membenarkannya, maka demikianlah. Namun jika ia mendustakannya, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan penerima gadai.

وللراهن أن يحلّفه؛ فإن ما يدعيه محتمل

Dan pihak yang menggadaikan (rahin) berhak meminta sumpah darinya; karena apa yang ia klaim masih mungkin terjadi.

وقد مهدنا فيما سبق أن جواز التحليف يعتمد الإمكان وإنما جعلنا القول قول المرتهن؛ لظهور الإقرار في ثبوت الرهن بألفين وظهور الإقرار واحتمال ما قال الراهن يبيح الرجوعَ إلى قول المرتهن مع يمينه

Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa kebolehan untuk bersumpah bergantung pada kemungkinan, dan kami menetapkan bahwa pernyataan yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menerima gadai (murtahin); karena pengakuan yang tampak menunjukkan adanya gadai dengan nilai dua ribu, dan pengakuan yang tampak serta kemungkinan apa yang dikatakan oleh pihak yang menggadaikan (rahin) membolehkan kembali kepada pernyataan pihak murtahin dengan sumpahnya.

ولو ادعى الراهن ما وصفناه فقال المرتهن فسخنا الرهن الأول بالألف وأعدناه بالألفين وأنكر الراهن الفسخ وادعى الإلحاق من غير فسخ وإعادة ففي المسألة وجهان أحدهما أن القول قولُ المرتهن؛ فإنه معتضد بالإقرار المطلقِ الصادر من الراهن؛ إذ قال أولاً العبد مرهون بالألفين

Jika rahin mengklaim seperti yang telah kami jelaskan, lalu murtahin berkata, “Kami telah membatalkan rahn yang pertama dengan seribu dan mengadakannya kembali dengan dua ribu,” sedangkan rahin mengingkari pembatalan tersebut dan mengklaim penambahan tanpa pembatalan dan pengadaan ulang, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang dipegang adalah pernyataan murtahin; karena didukung oleh pengakuan mutlak yang keluar dari rahin, yaitu ketika ia sebelumnya berkata, “Budak ini menjadi rahn dengan dua ribu.”

والثاني أن القول قول الراهن؛ فإن المرتهن ادعى فسخاً وإعادة والأصل عدم ما ادعاه وكل من ادعى عقداً جديداً فهو في مقام المدعين

Kedua, pendapat yang dipegang adalah pendapat rahin; karena murtahin mengklaim adanya pembatalan dan pengulangan akad, sedangkan pada dasarnya apa yang diklaimnya itu tidak ada. Setiap orang yang mengklaim adanya akad baru, maka ia berada pada posisi sebagai pihak yang mengklaim.

ومما يتصل بهذا الفصل أنا إذا منعنا إلحاق الزيادة بالدين مع اتحاد الرهن فلو قال الراهن لشاهدين كان هذا العبد رهناً بألفٍ فجعلته رهناً بألفين فشهد الشاهدان على لفظه ونقلاه إلى مجلس القاضي وكان القاضي يعتقد أن الزيادة لا تلحق فمعلوم أن اللفظة التي نقلها الشاهدان محتملةٌ لفسخٍ وتجديدٍ ومحتملة للإلحاق ففي المسألة وجهان ذكرهما صاحبُ التقريب أحدهما لا يحكم الحاكم بكونه رهناً بالألف الثاني حتى يتبين له تفصيل الحال والثاني أنه يلزمه الحكم بكونه رهناً؛ فإنه يجب على الحاكم حمل ما ينقله الشهود على الصحة

Terkait dengan pembahasan ini, apabila kita melarang penambahan utang dengan tetap menggunakan barang jaminan yang sama, maka jika pihak yang menggadaikan berkata kepada dua orang saksi, “Budak ini menjadi barang jaminan atas utang seribu, lalu aku menjadikannya sebagai barang jaminan atas utang dua ribu,” kemudian kedua saksi tersebut memberikan kesaksian atas ucapannya dan menyampaikannya di hadapan hakim, sementara hakim berpendapat bahwa penambahan tidak dapat diberlakukan, maka diketahui bahwa ucapan yang disampaikan para saksi itu masih mengandung kemungkinan adanya pembatalan dan pembaruan, atau kemungkinan adanya penambahan. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb: pertama, hakim tidak boleh memutuskan bahwa budak tersebut menjadi barang jaminan atas utang yang kedua sampai jelas baginya rincian keadaannya; kedua, hakim wajib memutuskan bahwa budak tersebut menjadi barang jaminan, karena hakim harus menafsirkan apa yang disampaikan para saksi dengan penafsiran yang sah.

والدليل عليه أنهم لو شهدوا على بيع مطلق حمل على الصّحة في ظاهر المذهب

Dan dalil atas hal itu adalah bahwa jika mereka bersaksi atas suatu jual beli secara mutlak, maka dalam zahir mazhab hal itu dianggap sah.

مع اختلاف العلماء في الصحيح والفاسد من البيوع

Dengan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai jual beli yang sahih dan yang fasid.

وهذا الذي ذكرناه فيه إذا لم يطلع الشاهدان على سر الحال ولكن سمعا من الراهن لفظه المطلق إنِّي جعلت هذا رهناً بألفين

Hal yang telah kami sebutkan ini berlaku apabila kedua saksi tidak mengetahui rahasia keadaan, tetapi mereka mendengar dari pihak yang menggadaikan ucapan secara umum, seperti “Aku jadikan ini sebagai rahn (gadai) untuk dua ribu.”

فأمَّا إذا علم الشاهدان أنهما ما جددا عقداً بعد فسخٍ وإنما ألحقا وكان الشاهدان يعتقدان أن ذلك لا يجوز والزيادة لا تلحق فلو أرادا أن يشهدا مطلقاًً

Adapun jika kedua saksi mengetahui bahwa mereka tidak memperbarui akad setelah pembatalan, melainkan hanya menambahkan, dan kedua saksi meyakini bahwa hal itu tidak boleh dan penambahan tidak dapat disertakan, maka jika mereka berdua ingin memberikan kesaksian secara mutlak…

وينقلا لفظ الراهن إني جعلت هذا رهناً بألفين فهل لهما أن يشهدا مطلقاًً قال صاحبُ التقريب هذا ينبني على أن القاضي هل يقبل ذلك فإن قلنا لا يقبله فلا نظر إلى إطلاقهما ثم إذا استفصل القاضي فصَّلا ما عندهما وإن قلنا القاضي يقضي بالمطلق من شهادتهما من غير بحث فعلى هذا هل يجوز لهما إطلاق الشهادة مع العلم بسر الحال فعلى وجهين ذكرهما صاحبُ التقريب قال والأصح أنه لا يجوز الإطلاق

Jika orang yang menggadaikan berkata, “Aku jadikan ini sebagai rahn (barang gadai) untuk dua ribu,” apakah keduanya (saksi) boleh bersaksi secara mutlak? Pemilik kitab at-Taqrib berkata, “Hal ini tergantung pada apakah hakim menerima hal tersebut atau tidak. Jika kita katakan hakim tidak menerimanya, maka tidak perlu memperhatikan kesaksian mereka yang bersifat mutlak. Kemudian, jika hakim meminta penjelasan, maka keduanya harus merinci apa yang mereka ketahui. Namun, jika kita katakan hakim memutuskan berdasarkan kesaksian mereka yang bersifat mutlak tanpa meneliti lebih lanjut, maka dalam hal ini, apakah keduanya boleh memberikan kesaksian secara mutlak padahal mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh pemilik kitab at-Taqrib, dan pendapat yang lebih sahih adalah bahwa tidak boleh memberikan kesaksian secara mutlak.”

والأمر على ما قال وليس للوجه الثاني وجه

Keadaannya seperti yang telah dikatakan, dan pendapat kedua tidak memiliki dasar.

فصل

Bab

قال ولو رهن عبداً قد صارت في عنقه جناية إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang menggadaikan seorang budak yang telah terbebani diyat (tebusan) atas lehernya karena suatu tindak pidana, hingga akhir (pembahasan)…”

قد تقدم في كتاب البيع اختلافُ القول في بيع العبد الجاني إذا تعلق برقبته أرشُ جنايته فلو رهن المالك العبدَ الجاني وفي عنقه الأرش فلأصحابنا طريقان منهم من أجرى القولين في صحّة الرهن والقبض كما تقدم في البيع

Telah dijelaskan dalam Kitab al-Bay‘ adanya perbedaan pendapat mengenai jual beli budak yang melakukan tindak pidana apabila pada dirinya terdapat tanggungan diyat atas kejahatannya. Maka, jika pemiliknya menggadaikan budak yang melakukan tindak pidana tersebut, sementara pada dirinya masih ada tanggungan diyat, para ulama kami memiliki dua pendekatan: di antara mereka ada yang menjalankan dua pendapat dalam hal keabsahan rahn dan qabd sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah jual beli.

ومنهم من قطع بأن الرهن مردود قولاً واحداً بخلاف البيع واعتلَّ بأن المرهون لو جنى جناية مالية وتعلق أرشها برقبته وامتنع السيد من فدائه عُرض على البيع وبيع في أرش الجناية وإذا كان طريان الأرش يتضمن قطعَ حق المرتهن وتقدّمَ حق الأرش على حقه فينبغي أن يُمْنَع إيراد الرهن على العبد الذي في رقبته أرش وإذا امتنع رهنُ المرهون فالوجه امتناع رهن الجاني؛ فإن تعلق الأرش بالرقبة يوثق بها والمتعلَّق الأظهر في الحال لأرش الرقبة والدين الذي به رهنٌ يتعلق أصله بالذمة والتوثق في حكم تأكيد الأصل فإذا امتنع رهن المرهون وجب أن يمتنع رهن الجاني الذي في رقبته مالٌ

Sebagian dari mereka berpendapat tegas bahwa gadai (rahn) ditolak secara mutlak, berbeda dengan jual beli, dengan alasan bahwa jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana yang mengakibatkan denda finansial dan denda tersebut dibebankan pada lehernya, lalu tuannya enggan menebusnya, maka budak itu akan ditawarkan untuk dijual dan dijual guna membayar denda tersebut. Jika munculnya kewajiban denda menyebabkan hak pemegang gadai terputus dan hak denda lebih didahulukan daripada haknya, maka seharusnya tidak diperbolehkan menggadaikan budak yang pada lehernya terdapat kewajiban denda. Jika tidak boleh menggadaikan barang yang sudah digadaikan, maka lebih utama lagi tidak boleh menggadaikan pelaku tindak pidana; sebab keterikatan denda pada leher budak itu lebih kuat, dan yang paling tampak saat ini adalah hak denda pada leher budak, sedangkan utang yang menjadi sebab gadai pada dasarnya terkait dengan tanggungan (dzimmah), dan penguatan gadai hanyalah sebagai penegasan atas pokok utang. Maka jika tidak boleh menggadaikan barang yang sudah digadaikan, maka wajib pula tidak boleh menggadaikan pelaku tindak pidana yang pada lehernya terdapat kewajiban harta.

ولو جنى العبد جناية توجب القصاص ففي بيعه تصرفٌ للأصحاب وخرّجوه على أن موجب العمد ماذا وقد مضى هذا مفصلاً في البيع فإذا جوزنا البيع جواباً على أن موجب العمد القودُ المحض وجوّزنا الرهن في هذه الصورة على هذا القول والجريان على أن تعلقَ الأرض يمنع الرهن فلو فرض بعد انبرام الرهن بالقبض عفوُ المجني عليه على مالٍ أو من غير مالٍ ورأينا العفو المطلق مقتضياً للمال فقد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال ثبوتُ المال طارئاً في الصورة التي انتهينا إليها بمثابة جنايةٍ تطرأ على الرّهن من العبد المرهون ولو كان كذلك لم نحكم ببطلان الرهن ولكن يثبت حق بيعه في الجناية فإن اتفق ذلك انقطع الرهن وإن لم يتفق بسببٍ فالرهن باقٍ كذلك إذا عفا المجني عليه عفواً يوجب المال

Jika seorang budak melakukan tindak pidana yang mewajibkan qishash, maka dalam hal penjualannya terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama), dan mereka mengaitkannya dengan pertanyaan tentang apa yang menjadi konsekuensi dari pembunuhan sengaja (al-‘amd), dan hal ini telah dijelaskan secara rinci dalam bab jual beli. Jika kita membolehkan penjualan dengan jawaban bahwa konsekuensi dari pembunuhan sengaja adalah qishash murni, maka kita juga membolehkan gadai dalam kasus ini menurut pendapat tersebut, dan pendapat yang berlaku adalah bahwa keterikatan tanah mencegah terjadinya gadai. Jika setelah akad gadai sempurna dengan penyerahan, korban memaafkan pelaku dengan imbalan harta atau tanpa harta, dan kita berpendapat bahwa pemaafan mutlak menuntut adanya harta, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa penetapan harta yang datang belakangan dalam kasus yang telah kita bahas ini serupa dengan tindak pidana yang terjadi pada budak yang sedang digadaikan. Jika demikian, maka kita tidak memutuskan batalnya gadai, tetapi hak penjualan budak dalam kasus tindak pidana tersebut tetap ada. Jika hal itu terjadi, maka gadai terputus; dan jika tidak terjadi karena suatu sebab, maka gadai tetap berlaku, demikian pula jika korban memaafkan dengan pemaafan yang mewajibkan harta.

ومن أصحابنا من قال وهو اختيار شيخي نتبين أنّ الرهن في أصله غيرُ منعقد

Sebagian dari ulama kami berpendapat—dan ini adalah pilihan guru saya—bahwa rahn pada asalnya tidaklah sah atau tidak terjalin.

ولا شك أن التفريع على منع رهن الجاني جناية مالية ووجهُ الوجه الذي ذكرناه أن الرهن جرى مقترناً بسبب هو الذي أفضى إلى ثبوت المال في المآل فتبين آخراً أن السبب المقترن كان مانعاً ومن الأصول تنزيل الأسباب إذاً أفضت إلى مسبباتها منزلة تحقق المسببات وليس كالجناية الطارئة التي لا استناد لها إلى سبب متقدّم

Tidak diragukan lagi bahwa penjabaran hukum atas larangan menjadikan pelaku tindak pidana harta sebagai rahin (pemberi gadai) didasarkan pada alasan yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa akad rahn (gadai) terjadi bersamaan dengan suatu sebab yang kemudian menyebabkan harta itu menjadi milik pada akhirnya. Namun, kemudian ternyata sebab yang menyertai akad tersebut merupakan penghalang. Salah satu kaidah usul adalah bahwa sebab-sebab yang jika mengantarkan kepada akibatnya, maka diperlakukan seperti terwujudnya akibat itu sendiri. Hal ini berbeda dengan tindak pidana (jinayah) yang terjadi secara tiba-tiba, yang tidak bersandar pada sebab yang mendahuluinya.

التفريع

Percabangan

إن جرينا على الوجه الأول وهو تنزيل ثبوت المالِ طارئاً منزلة طريان الجنايةِ فلا كلام وإن أسندنا تبيّن فساد الرهن فلو كان العبد احتفر بئراً في محل عدوان فرُهن وأُقبض وتردّى في البئر متردٍّ فأرشه يتعلق برقبة العبد المرهون المتسبب بالحفر ثم كيف السَّبيل فيه على هذا الوجه الذي ذكرناه في العفو عن جناية الرهن عمداً وجهان في هذه الصورة أحدها أنا نتبين أن الرهن كان فاسداً كما تبينا الفساد في العفو الطارىء والوجه الثاني أن هذا ليس بالعفو؛ فإن الجناية واقعة في تلك الصورة والعبد منعوت بكونه جانياً وليس كذلك حفر البئر؛ فإنه ليس جناية واقعة والفرق لائح

Jika kita mengikuti pendapat pertama, yaitu menyamakan terjadinya harta secara tiba-tiba dengan terjadinya tindak pidana secara tiba-tiba, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita menyandarkan penjelasan tentang batalnya rahn, maka seandainya seorang budak menggali sumur di tempat yang dilarang, lalu dijadikan rahn dan diserahkan, kemudian seseorang terjatuh ke dalam sumur tersebut, maka diyatnya terkait dengan leher budak yang digadaikan karena ia yang menyebabkan penggalian itu. Selanjutnya, bagaimana cara menyikapinya menurut pendapat yang telah kami sebutkan tentang pemaafan terhadap tindak pidana rahn secara sengaja? Dalam hal ini ada dua pendapat: yang pertama, kita menyimpulkan bahwa rahn tersebut batal, sebagaimana kita menyimpulkan batalnya pemaafan yang terjadi secara tiba-tiba; dan pendapat kedua, bahwa ini bukanlah pemaafan, karena tindak pidana benar-benar terjadi dalam kasus tersebut dan budak itu disifati sebagai pelaku tindak pidana, sedangkan tidak demikian halnya dengan penggalian sumur, karena itu bukan tindak pidana yang benar-benar terjadi, dan perbedaannya jelas.

فهذا منتهى قولنا في ذلك

Inilah akhir dari penjelasan kami mengenai hal itu.

ثم إن صححنا رهنه العبد الجاني جناية مالية فنجعل السيد مختاراً للفداء كما إذا باعه وفرعنا على نفوذ بيعه حتى قال الأئمة هل يلزمه الفداء أم ننقض عليه بيعَه إذا امتنع فعلى وجهين لا يخفى توجيههما وعلى حالٍ لا يبطل حق المجني عليه

Kemudian, jika kita mengesahkan gadai terhadap budak yang melakukan tindak pidana yang berkaitan dengan harta, maka kita menjadikan tuannya memiliki pilihan untuk membayar diyat, sebagaimana jika ia menjualnya. Dan jika kita berpendapat bahwa penjualannya sah, para imam berbeda pendapat: apakah tuan wajib membayar diyat ataukah penjualannya dibatalkan jika ia enggan membayar? Ada dua pendapat yang jelas alasannya, dan dalam kondisi apa pun, hak korban tidak menjadi batal.

ولو باع العبدَ الجاني وكان معسراً ليس له وفاء بالفداء فالمذهب الأصح الحكم بفساد البيع وتخصيص القولين بما إذا كان السيد متمكناً من الفداء

Jika seseorang menjual budak yang melakukan tindak pidana dan budak tersebut dalam keadaan tidak mampu, tidak memiliki harta untuk membayar diyat, maka pendapat yang paling sahih dalam mazhab adalah menetapkan batalnya jual beli tersebut, dan dua pendapat yang ada dikhususkan pada keadaan ketika tuan budak mampu membayar diyat.

ومن أصحابنا من نفذ البيع من المعسر لحق ملكه وأثبت للمجني عليه الخيارَ

Sebagian ulama dari kalangan kami membolehkan penjualan oleh orang yang terlilit utang demi menjaga hak kepemilikannya, dan memberikan hak khiyar kepada pihak yang menjadi korban.

وما ذكرناه في البيع من ذلك كله جارٍ في الرهن فإذا رهن وأقبض كان كما لو باع ومهما اختلف الأصحاب في فساد البيع فالرهن أحق بالفساد لما ذكرناه في أصل الفصلِ من اختلاف طريق الأصحاب في تصحيح رهن العبد الجاني

Apa yang telah kami sebutkan dalam jual beli dari semua hal tersebut juga berlaku dalam rahn. Maka jika seseorang melakukan rahn dan menyerahkan barangnya, keadaannya seperti ketika ia menjual. Dan kapan pun para sahabat berbeda pendapat tentang rusaknya jual beli, maka rahn lebih utama untuk dianggap rusak, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada pokok pembahasan tentang perbedaan metode para sahabat dalam mensahkan rahn terhadap budak yang melakukan kejahatan.

وإذا جرى التفريع على الفساد فلا فرق بين أن يكون أرشُ الجاني مستغرقاً لقيمته وبين أن يكون أقلَّ منها فإن المانع إذا منع التعلق فهذا المعنى متحقق في القليل والكثير وهو بمثابة الحكم بفساد بيع المرهون دون إذن المرتهن ولا فرق بين أن يكون الدين في مقداره مثلَ القيمة وبين أن يكون أقل منها

Jika dilakukan penjabaran hukum berdasarkan kerusakan (fasād), maka tidak ada perbedaan antara apakah diyat pelaku kejahatan itu setara dengan nilai barang atau kurang darinya. Sebab, penghalang yang mencegah terjadinya keterikatan (tashallut) itu berlaku baik pada jumlah yang sedikit maupun banyak. Hal ini serupa dengan hukum batalnya jual beli barang gadai tanpa izin dari penerima gadai, dan tidak ada perbedaan apakah jumlah utangnya setara dengan nilai barang atau kurang darinya.

فصل

Bab

قال ولو ارتهنه فقبضه ثم أقر الراهن أنه جنى إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang menjadikan sesuatu sebagai rahn (barang gadai) lalu penerima gadai (murtahin) mengambilnya, kemudian pihak yang menggadaikan (rahin) mengakui bahwa ia telah melakukan tindak pidana (jinayah) terhadap barang tersebut, dan seterusnya.”

إذا رهن مالك العبد العبدَ وأقبض ثم أقر بأنه كان جانياً والأرش في رقبته لمّا رهنه وأنكر المرتهن ذلك ورام استمرار الرهن له نُظر فإن لم يذكر الراهن المجنيَّ عليه بل أرسل الإقرار بالجناية وتعلّقِ الأرش فقوله مردود؛ فإنه رام إبطال حقٍّ التزمه بقوله ولم يسنده إلى مستحِق فلم يبطل الحق الذي ظهر التزامُه بقول مبهم بلا ثبت وسيتضح هذا في أثناء الكلام إن شاء الله

Jika pemilik budak menggadaikan budaknya dan telah menyerahkannya, kemudian ia mengakui bahwa budak tersebut telah melakukan tindak pidana dan diyat (ganti rugi) menjadi tanggungan lehernya ketika digadaikan, sementara pihak penerima gadai mengingkari hal itu dan ingin agar gadai tetap berlangsung untuknya, maka hal ini perlu diteliti. Jika pihak yang menggadaikan tidak menyebutkan siapa korban tindak pidana tersebut, melainkan hanya menyampaikan pengakuan secara umum tentang tindak pidana dan keterkaitan diyat, maka pengakuannya ditolak; sebab ia berusaha membatalkan hak yang telah ia akui dengan ucapannya sendiri tanpa menyandarkannya kepada pihak yang berhak. Maka, hak yang telah nyata ia akui tidak batal hanya dengan ucapan yang samar tanpa bukti. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikutnya, insya Allah.

وإن أسند الراهن إقراره إلى مجنيٍّ عليه في نفسه أو ماله فإن كذبه المقَرُّ له بطل إقراره واستمر حق المرتهن وإن صدقه المقَرّ له فهذا موضع اختلاف النصوص واضطراب الأقوال

Jika pihak yang menggadaikan mengaitkan pengakuannya kepada seseorang yang menjadi korban pada dirinya atau hartanya, lalu orang yang diakui tersebut mendustakannya, maka pengakuannya batal dan hak penerima gadai tetap berlaku. Namun jika orang yang diakui tersebut membenarkannya, maka dalam hal ini terdapat perbedaan dalam nash dan pendapat yang tidak konsisten.

وحاصل ما نقل في المذهب في تأسيس الفصل ثلاثة أقوال أحدها أن إقرارَ الراهن مردود لمنافاته موجَبَ رهنه وإقباضِه وأصل الشرع أن يؤاخذ الرجل بسابق قوله وفعله فيما يتعلق بثبوت الحقوق وبطلانها ولو نفذنا إقراره لأبطلنا مقتضى تصرفه وإقباضه وهذا القول أَقْيس الأقوال

Kesimpulan dari apa yang dinukil dalam mazhab mengenai penetapan bab ini ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa pengakuan pihak yang menggadaikan ditolak karena bertentangan dengan konsekuensi gadaiannya dan penyerahannya. Prinsip dasar syariat adalah seseorang dibebani dengan ucapan dan perbuatannya terdahulu dalam hal yang berkaitan dengan penetapan dan pembatalan hak-hak. Jika kita menerima pengakuannya, maka kita telah membatalkan konsekuensi dari tindakannya dan penyerahannya. Pendapat ini adalah yang paling sesuai dengan qiyās di antara pendapat-pendapat yang ada.

والقول الثاني أن إقراره مقبول؛ من جهة أن ملكه مستمر في المرهون والتهمة منتفية؛ من قبل أَنَّ العاقل لا يتسبب إلى التزام مَغرم في ملكه لإبطال حق وثيقة لغيره وبيان ذلك أن المعترَف به أصلُ الغرم وحق المرتهن توثُّق وتعلُّق فيبعد أن يلتزم أصلَ الغرم لقطع تعلُّقٍ وهذا يناظر قبولَ إقرار العبد فيما يوجب عليه عقوبة

Pendapat kedua menyatakan bahwa pengakuannya diterima; karena kepemilikannya atas barang yang digadaikan tetap berlangsung dan tuduhan (kecurigaan) tidak ada, sebab orang yang berakal tidak akan dengan sengaja menanggung beban kewajiban dalam miliknya sendiri untuk membatalkan hak jaminan bagi orang lain. Penjelasannya adalah bahwa yang diakui itu adalah pokok beban kewajiban, sedangkan hak penerima gadai hanyalah sebagai penguat dan keterikatan, sehingga kecil kemungkinan seseorang mau menanggung pokok beban kewajiban hanya untuk memutuskan keterikatan tersebut. Hal ini serupa dengan diterimanya pengakuan seorang budak dalam perkara yang mewajibkan hukuman atas dirinya.

والقول الثالث أن المقر إن كان موسراً نفذ إقراره ويلزم أن يغرم للمرتهن قيمةَ المرهون ليوضع رهناً؛ فإنه بقوله تسبب إلى بطلان حق المرتهن وإن كان معسراً لم يقبل إقراره؛ فإن في قبوله إبطالُ حق المرتهن لا إلى بدلٍ

Pendapat ketiga menyatakan bahwa jika orang yang mengakui (mukir) itu mampu, maka pengakuannya dilaksanakan dan ia wajib membayar kepada murtahin (penerima gadai) senilai barang yang digadaikan untuk dijadikan sebagai barang gadai; karena dengan pengakuannya, ia telah menyebabkan hilangnya hak murtahin. Namun jika ia tidak mampu, maka pengakuannya tidak diterima; karena jika diterima, hal itu akan menghilangkan hak murtahin tanpa adanya pengganti.

واختلاف الأقوال في قبول الإقرار وردِّه قريب المأخذ من اختلاف الأقوال في تنفيذ عتق الراهن وردِّه وقد ذكرنا فيه ثلاثة أقوالٍ أحدها الفرق بين الموسر والمعسر

Perbedaan pendapat mengenai diterima atau ditolaknya pengakuan (iqrār) hampir sama sumbernya dengan perbedaan pendapat tentang pelaksanaan atau penolakan pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan (rahin), dan kami telah menyebutkan di dalamnya tiga pendapat, salah satunya adalah membedakan antara orang yang mampu (musr) dan yang tidak mampu (mu‘sir).

والعتقُ على رأي من نفذه يعتمد الملكَ والإقرارُ عند من ينفِّذه يعتمد الملكَ أيضاً وانتفاءَ التهمة

Pembebasan budak menurut pendapat yang membolehkannya bergantung pada kepemilikan, dan pengakuan menurut pihak yang membolehkannya juga bergantung pada kepemilikan serta tidak adanya tuduhan.

ولهذا التفات على اختلاف القول في أن العبد إذا أقر بسرقة مالٍ نفذ الإقرار في وجوب القطع وهل ينفذ في ثبوت المال؛ فيه تردد أشرنا إليه وسيأتي تقريره في كتاب السرقة إن شاء الله تعالى

Oleh karena itu, terdapat perhatian terhadap perbedaan pendapat mengenai apakah ketika seorang hamba mengakui telah mencuri suatu harta, pengakuan tersebut berlaku dalam mewajibkan hukuman potong tangan, dan apakah juga berlaku dalam penetapan kepemilikan harta; dalam hal ini terdapat keraguan yang telah kami singgung sebelumnya dan akan dijelaskan lebih lanjut dalam Kitab Pencurian, insya Allah Ta‘ala.

وعبر الأئمة عن هذه الأصول بأن قالوا الإقرار ممن هو صحيح العبارة إذا انتفت التهمة عنه بالكلية وتعلق بما للمقِر فيه حق فهو مقبول وإن تضمن بطلانَ حق الغير كما ذكرناه في ثبوت العقوبة بإقرار العبد

Para imam mengungkapkan tentang prinsip-prinsip ini dengan mengatakan bahwa pengakuan dari seseorang yang sah ucapannya, apabila sama sekali tidak ada tuduhan terhadapnya, dan pengakuan itu berkaitan dengan sesuatu yang ia memiliki hak di dalamnya, maka pengakuan tersebut diterima, meskipun di dalamnya mengandung pembatalan hak orang lain, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam penetapan hukuman melalui pengakuan seorang budak.

وإذا اقترن بالإقرار شيء يتعلق الإقرار المقبول به فهل يقبل الإقرار في قرينة العقوبة؛ فيه اختلاف قولٍ وأصل الإقرار مقبول من السيد لا خلاف فيه ولو انفك الرهن كان مؤاخذاً به؛ فإن الأصل لا تهمة فيه وهو مصادِف محلَّ حقه وبطلان حق المرتهن قرينة مقترنة بإقرارٍ مقبول الأصل وفي نفوذ الإقرار في القرينة التردد الذي ذكرناه

Apabila pengakuan disertai dengan sesuatu yang berkaitan dengan pengakuan yang diterima, maka apakah pengakuan itu diterima dalam konteks adanya indikasi hukuman; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Pada dasarnya, pengakuan diterima dari pihak tuan tanpa ada perbedaan pendapat, dan jika gadai telah terlepas, maka ia tetap bertanggung jawab atasnya; karena pada dasarnya tidak ada tuduhan padanya dan ia berada pada tempat haknya. Gugurnya hak pihak yang menerima gadai merupakan indikasi yang menyertai pengakuan yang pada dasarnya diterima, dan dalam keberlakuan pengakuan pada indikasi tersebut terdapat keraguan sebagaimana telah disebutkan.

ولو أقرّ الراهن بأنه كان أعتق العبد قبل أن يرهنه ففي إقراره الأقوال الثلاثة وكذلك لو أقر بأنه كان مغصوباً عنده وأنه رهنه متعدياً وكان غاصباً

Jika pihak yang menggadaikan mengakui bahwa ia telah memerdekakan budak tersebut sebelum menggadaikannya, maka dalam pengakuannya terdapat tiga pendapat. Demikian pula jika ia mengakui bahwa budak itu adalah barang yang digasap olehnya dan ia menggadaikannya secara melampaui batas serta ia adalah seorang ghashib.

ولو باع عبداً وألزم العقد ثم جرى بعد لزوم العقد إقرارٌ من البائع لو قدر نفوذه لبطل البيع ولا تهمة على المقِر في ظاهر الأمر فقد قطع الأصحاب برد هذا الإقرار في حق المشتري وتقرِير البيع؛ والسبب فيه أن إقراره جرى وليس للمقِر ملك في ظاهر الحال وإقرار الإنسان في ملك غيره مردود وليس كإقرار الراهن؛ فإنه صادف محلَّ ملكه

Jika seseorang menjual seorang budak dan akad telah menjadi mengikat, kemudian setelah akad mengikat tersebut terjadi pengakuan dari penjual yang jika dianggap sah akan membatalkan jual beli, dan tidak ada indikasi kecurigaan terhadap orang yang mengaku secara lahiriah, maka para ulama sepakat bahwa pengakuan ini ditolak terhadap hak pembeli dan jual beli tetap berlaku. Sebabnya adalah karena pengakuan tersebut terjadi ketika orang yang mengaku tidak lagi memiliki kepemilikan secara lahiriah, dan pengakuan seseorang atas milik orang lain adalah tertolak. Hal ini berbeda dengan pengakuan pihak yang menggadaikan (rahin), karena pengakuannya terjadi pada saat ia masih memiliki hak milik.

وقد ذكر بعض الأصحاب طردَ الأقوال في إقرار البائع فيما يتضمن بطلانَ البيع ورمز إليه شيخي في بعض أجوبته ثم رجع وهذا فيما أراه هفوة لا يعتد بها

Sebagian ulama menyebutkan adanya kesinambungan pendapat dalam pengakuan penjual yang mengandung pembatalan akad jual beli, dan guruku pernah menyinggung hal ini dalam sebagian jawabannya, kemudian beliau menarik kembali pendapat tersebut. Menurut pendapat saya, hal ini adalah kekeliruan yang tidak perlu diperhitungkan.

وقد يعترض للناظر أن الراهن إذا أقر بكونه غاصباً فليس إقراره في محل ملكه على زعمه وفيه الأقوال

Mungkin saja muncul pertanyaan bagi penelaah, bahwa apabila pihak yang menggadaikan mengakui dirinya sebagai seorang perampas, maka pengakuannya itu tidak berada pada tempat kepemilikannya menurut pengakuannya sendiri, dan dalam hal ini terdapat beberapa pendapat.

وقد يقول هذا القائل إقرار البائع له تعلق ببيعه الذي تعاطاه وعهدته متعلقة به وليس كقرارٍ مرسلٍ من أجنبي في ملك الغير ولا اغترار بهذا ولا وجه إلا القطعُ برد إقرار البائع بعد لزوم العقد وتخصيص الاختلاف بالرهن

Orang yang berkata demikian mungkin berpendapat bahwa pengakuan penjual berkaitan dengan penjualan yang ia lakukan dan tanggung jawabnya terkait dengannya, dan tidak seperti pengakuan yang dilepaskan begitu saja dari orang asing atas milik orang lain. Tidak ada unsur penipuan dalam hal ini, dan tidak ada alasan kecuali untuk memastikan penolakan pengakuan penjual setelah akad menjadi mengikat, serta membatasi perbedaan pendapat hanya pada masalah rahn.

نعم في معناه الإجارة فلو أجر عبده ثم اعترف بأنه كان جانياً والتفريع على منع إجارة الجاني قبل الفداء فالأقوال تخرج خروجها في المرهون؛ لأن الإقرار صدر عن مالك الرقبة فانتظم الترتيب كما ذكرناه

Ya, dalam maknanya adalah ijarah. Maka jika seseorang menyewakan budaknya, kemudian ia mengakui bahwa budak tersebut adalah seorang pelaku kejahatan, dan berdasarkan pendapat yang melarang ijarah terhadap pelaku kejahatan sebelum ditebus, maka pendapat-pendapat yang ada keluar sebagaimana pendapat dalam masalah barang yang digadaikan; karena pengakuan itu keluar dari pemilik budak, sehingga urutannya menjadi teratur sebagaimana telah kami sebutkan.

ومما يتعلق بتمهيد أصل الأقوال في إقرار الراهن أنه لو أقر بتعلق أرش يقصر مقدارُه عن قيمة العبد ومبلغِ الدين فالتهمة في ذلك المقدار تنتفي والأقوال الثلاثة تخرج ولو قبلنا الإقرارَ لأبطلنا الرهن في الزائد والتهمةُ متمكنة فيه

Terkait dengan penjelasan dasar pendapat-pendapat mengenai pengakuan dari pihak yang menggadaikan, jika ia mengakui adanya keterkaitan diyat (ganti rugi) yang nilainya lebih kecil dari nilai budak dan jumlah utang, maka tuduhan (adanya rekayasa) pada jumlah tersebut hilang, dan tiga pendapat pun muncul. Jika kita menerima pengakuan tersebut, berarti kita membatalkan gadai pada kelebihan nilainya, dan tuduhan (rekayasa) tetap ada pada kelebihan itu.

ولأصحابنا في ذلك الزائد طريقان منهم من قطع برد الإقرار فيه لتمكن التهمة

Menurut para ulama mazhab kami, dalam hal kelebihan tersebut terdapat dua pendapat. Sebagian dari mereka secara tegas menyatakan tidak diterimanya pengakuan dalam hal itu karena kuatnya kemungkinan adanya tuduhan.

ومنهم من أجرى الأقوالَ الثلاثة في الجميع طرداً للباب

Sebagian dari mereka menerapkan tiga pendapat tersebut pada seluruh permasalahan, sebagai konsistensi dalam pembahasan.

وهذا ضعيف وسيخرجُ عليه في أثناء الكلام تفريع وعنده يبينُ حاصل القول في أصل الفصل الزائد

Ini lemah, dan nanti akan dijelaskan turunannya dalam pembahasan, dan di situ akan dijelaskan inti pembahasan pada pokok bahasan tambahan.

وقد انتهى الغرض في تأصيل الأقوال وحان التفريع عليها

Tujuan dalam menetapkan dasar-dasar pendapat telah selesai, dan kini saatnya untuk merincikan cabang-cabangnya.

فإن قلنا لا نقبل إقرار الراهن فلا بد من فرض دعوى من المقَر له وبذلك ينتظم الكلام والتفريع فإذا أصر المقَرّ له على الدعوى ورَدَدْنا على القول الذي نفرع عليه إقرارَ الراهن راجعنا المرتهنَ فإن صدق الراهن فيباع العبد في أرش الجناية أو يفدى؛ فإنا رددنا إقرارَ الراهن استبقاءً لحق المرتهن فلا يبقى مع تصديقه إلا تنفيذ حكم الجناية ثم إذا بيع العبد في الأرش وكان المرتهن شرط في البيع رهناً فيثبت له في هذه الصورة فسخُ البيع إذا لم يتحقق الوفاء بمشروطه هذا إذا وافق المرتهن

Jika kita katakan bahwa kita tidak menerima pengakuan dari pihak yang menggadaikan, maka harus ada anggapan adanya gugatan dari pihak yang diakui kepadanya, dan dengan demikian pembicaraan dan rincian masalah menjadi teratur. Jika pihak yang diakui kepadanya tetap bersikeras pada gugatannya, dan kita menolak pengakuan pihak yang menggadaikan menurut pendapat yang kita jadikan dasar, maka kita kembali kepada pihak penerima gadai. Jika ia membenarkan pihak yang menggadaikan, maka budak tersebut dijual untuk membayar diyat jinayah atau ditebus; karena kita menolak pengakuan pihak yang menggadaikan demi menjaga hak penerima gadai, maka setelah ia membenarkan, tidak tersisa kecuali pelaksanaan hukum jinayah. Kemudian, jika budak tersebut dijual untuk membayar diyat, dan penerima gadai mensyaratkan dalam penjualan bahwa barang tersebut tetap menjadi gadai, maka dalam hal ini ia berhak membatalkan penjualan jika syarat yang ditetapkan tidak terpenuhi, dan ini jika penerima gadai menyetujui.

فأمّا إذا أنكر وقد رددنا قول الراهن فلا بد من تحليف المرتهن إذا طلب المدعي ذلك ثم لا يخلو إما أن يحلف أو ينكُل فإن حلف استقر حقه في الرهن وبقي الكلام بعد ذلك في أن المقَر له هل يغرَم له الراهن المقِر بسبب أنه بالرهن والإقباض حال بين المجني عليه وبين حقه من رقبة الجاني ثم باعترافه أقر بصنيعه

Adapun jika ia mengingkari dan kami telah menolak ucapan pihak yang menggadaikan, maka wajib bagi pihak penerima gadai untuk disumpah jika pihak penggugat memintanya. Setelah itu, keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia bersumpah atau enggan bersumpah. Jika ia bersumpah, maka haknya atas barang gadai tetap berlaku. Setelah itu, pembahasan selanjutnya adalah apakah pihak yang diakui haknya berhak menuntut ganti rugi dari pihak yang menggadaikan yang telah mengakui, karena dengan gadai dan penyerahan barang gadai tersebut, ia telah menghalangi pihak yang berhak (korban) dari haknya atas pelaku, kemudian dengan pengakuannya ia telah mengakui perbuatannya.

في المسألة قولان سيأتي أصلهما في المغصوب

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang asalnya akan dijelaskan pada pembahasan tentang barang yang digusur (maghsūb).

والذي ننجزه الآن بناؤهما على ما لو قال صاحب اليد في الدار غصبت هذه الدار من زيد لا بل من عمرو فالدار مسلَّمةٌ إلى المقَرّ له أولاً والإقرار الثاني في حكم الرجوع عن الإقرار الأول فتسلّم الدار إلى الأول وهل يغرم المقِر للثاني قيمةَ الدار بسبب إيقاعه الحيلولةَ بينه وبين الدار بالإقرار الأول في المسألة قولان

Yang kami simpulkan sekarang adalah membangun keduanya atas dasar jika seseorang yang menguasai rumah berkata, “Rumah ini saya rampas dari Zaid,” lalu ia berkata lagi, “Bukan, tetapi dari Amr,” maka rumah itu diserahkan kepada orang yang pertama kali diakui. Pengakuan kedua dianggap sebagai pencabutan dari pengakuan pertama, sehingga rumah diserahkan kepada yang pertama. Adapun apakah orang yang mengaku harus mengganti kepada yang kedua nilai rumah karena ia telah menyebabkan terhalangnya yang kedua dari rumah itu dengan pengakuan pertamanya, dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

ثم نعود إلى ما ذكرناه في مسألتنا فإن قلنا لا يغرَم الراهن للمقَر له شيئاًً فلا كلام وإن قلنا إنه يغرَم ففي القدر الذي يغرَم له طريقان من أصحابنا من قال فيه قولان أحدهما أنه يغرَم أقلَّ الأمرين من الأرش والقيمة والثاني أنه يغرَم الأرش بالغاً ما بلغ وإن زاد على القيمة وهذا بعينه اختلاف القول في أن السيد إذا أراد أن يفدي عبده الجاني فبكم يفتديه وسيأتي تفصيل ذلك في آخر الديات إن شاء الله تعالى

Kemudian kita kembali kepada apa yang telah kami sebutkan dalam permasalahan kita. Jika kita katakan bahwa pihak yang menggadaikan tidak wajib membayar ganti rugi apa pun kepada pihak yang berhak, maka tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita katakan bahwa ia wajib membayar ganti rugi, maka mengenai besaran yang harus dibayarkan kepadanya terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami. Salah satunya adalah ia wajib membayar ganti rugi dengan jumlah yang lebih kecil antara arsy dan nilai barang, dan pendapat kedua adalah ia wajib membayar arsy berapapun besarnya, meskipun melebihi nilai barang tersebut. Perbedaan pendapat ini sama persis dengan perbedaan pendapat mengenai berapa jumlah yang harus dibayarkan oleh tuan jika ingin menebus budaknya yang melakukan tindak pidana, dan rincian masalah ini akan dijelaskan pada akhir pembahasan diyat, insya Allah Ta‘ala.

هذه طريقة

Ini adalah suatu metode.

ومن أصحابنا من قطع القولَ بأن الراهن لا يغرَم للمقر له إلا أقل الأمرين كما لا يغرم سيدُ المستولدة في فدائها إلا الأقلَّ والجامع أَنَّ فداء المستولدة ضروري لا تعلق له بالاختيار فكان بمثابة مَا لو جنى العبدُ وتعلق الأرش برقبته فقتله مولاه وكان الأرش زائداً على القيمة؛ فلا يغرَم المولى إلا القيمةَ؛ فإن إتلافه لا ينبغي أن يزيد غرمه على غرم إتلاف الأجنبي

Sebagian dari ulama kami berpendapat tegas bahwa pihak yang menggadaikan tidak wajib membayar kepada orang yang mengaku kecuali sebesar yang lebih kecil di antara dua hal, sebagaimana tuan dari budak wanita yang melahirkan anak tidak wajib membayar dalam menebusnya kecuali yang lebih kecil, dan kesamaannya adalah bahwa penebusan budak wanita yang melahirkan anak itu bersifat darurat dan tidak terkait dengan pilihan, sehingga keadaannya seperti jika seorang budak melakukan tindak pidana dan diyatnya menjadi tanggungan lehernya, lalu tuannya membunuhnya, dan diyat tersebut lebih besar dari nilainya; maka tuan tersebut tidak wajib membayar kecuali sebesar nilainya saja; sebab perbuatannya membinasakan budak itu tidak seharusnya menyebabkan dia menanggung beban lebih besar daripada beban yang harus ditanggung oleh orang lain yang membinasakannya.

وإذا وضح هذا فالغرم على الراهن بعد تقدم الرهن مع الحكم برد إقراره غرمٌ ضروري فاتجه القطع باعتبار الأقل

Jika hal ini telah jelas, maka tanggungan kerugian tetap menjadi beban rahin setelah akad rahn berlangsung, dengan ketentuan bahwa pengakuannya ditolak. Tanggungan kerugian ini bersifat darurat, sehingga pendapat yang kuat adalah memperhitungkan jumlah yang paling sedikit.

هذا كله إذا حلَّفنا المرتهن فحلف

Semua ini berlaku jika kita meminta sumpah kepada pihak yang menerima gadai (murtahin), lalu ia bersumpah.

ثم لا يخفى أنه يحلف على عدم العلم بجناية العبد وكل يمين يتعلق بنفي فعلِ الغير فهي على نفي العلم

Kemudian tidaklah tersembunyi bahwa ia bersumpah atas tidak mengetahui adanya kejahatan yang dilakukan oleh budak, dan setiap sumpah yang berkaitan dengan penafian perbuatan orang lain, maka sumpah itu atas penafian pengetahuan.

فأما إذا نكل المرتهن فاليمين على من ترد؛ على قولين أحدهما أنها تُردّ على المجني عليه المقَر له؛ فإن الحق له ولولا حقه لقرّ الرهنُ وانقطع الخصام فليقع الرد عليه والقول الثاني أن اليمين ترد على الراهن المقِر؛ فإنه المالك وكأنه ينفي حقَّ المرتهن من الرهن فارتبطت الخصومة به من هذا الوجه

Adapun jika pihak yang menerima gadai (murtahin) menolak bersumpah, maka sumpah itu dialihkan kepada pihak lain; terdapat dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama, sumpah itu dialihkan kepada korban (majni ‘alaih) yang diakui haknya; karena hak itu miliknya, dan kalau bukan karena haknya, barang gadai itu akan tetap di tangan penerima gadai dan perselisihan pun selesai, maka pengalihan sumpah itu kepadanya. Pendapat kedua, sumpah itu dialihkan kepada pihak yang menggadaikan (rahin) yang mengakui; karena dialah pemilik barang tersebut, seolah-olah ia menafikan hak penerima gadai atas barang gadai itu, sehingga perselisihan terkait dengannya dari sisi ini.

التفريع على القولين

Penjabaran hukum berdasarkan dua pendapat

فإن رددنا اليمين على المجني عليه نظر فإن حلف ثبت دعواه وانتُزع العبد من يد المرتهن وبيع في حقه وليس للمرتهن أن يفسخ البيع الذي شُرط الرهنُ فيه؛ لأن الراهن يقول أنت أبطلت حقك بنكولك فإن قال المرتهن وأنت أقررت أيها الراهن بانتفاء الرهن فالراهن يقول لكنك لم تقبل إقراري ولم يقبله الشرع ولم يبطلُ الرهن إلا بسبب نكولك ولم يكن لقولي أثر وهذا واضح

Jika kita mengembalikan sumpah kepada korban, maka dilihat: jika ia bersumpah, maka gugatan diterima dan budak tersebut diambil dari tangan pemegang gadai dan dijual demi haknya. Pemegang gadai tidak berhak membatalkan jual beli yang disyaratkan adanya gadai di dalamnya; karena pihak yang menggadaikan berkata, “Engkau telah menggugurkan hakmu dengan enggan bersumpah.” Jika pemegang gadai berkata, “Dan engkau, wahai penggadai, telah mengakui tidak adanya gadai,” maka penggadai menjawab, “Tetapi engkau tidak menerima pengakuanku, dan syariat pun tidak menerimanya, dan gadai tidak batal kecuali karena engkau enggan bersumpah, sehingga perkataanku tidak berpengaruh.” Hal ini jelas.

وإن نكل المجني عليه المقَرّ له لم يكن له أن يغرِّم الراهنَ شيئاًً ويبقى العبد رهناً

Jika pihak yang menjadi korban, yaitu yang diakui haknya, enggan bersumpah, maka ia tidak berhak menuntut ganti rugi apa pun dari pihak yang menggadaikan, dan budak tersebut tetap menjadi barang jaminan.

والسبب فيما ذكرناه أنه بنكوله أبطل حقَّ نفسه ووضوح ذلك يغني عن بسطه

Alasan dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa dengan penolakannya, ia telah menggugurkan haknya sendiri, dan kejelasan hal ini sudah cukup sehingga tidak perlu diperluas penjelasannya.

هذا إن رأينا ردَّ اليمين بعد نكول المرتهن على المجني عليه

Ini jika kita memandang bahwa sumpah dikembalikan kepada korban setelah penerima gadai enggan bersumpah.

فأما إذا قلنا اليمين ترد على الراهن المقِرّ فعلى هذا إن حلف سُلّم العبد للبيع في حق المجني عليه وليس للمرتهن في هذه الصورة فسخ أيضاًً؛ فإنه بنكوله أبطل حق نفسه فكانت الإحالة على نكوله هذا إذا حلف الراهن

Adapun jika kita mengatakan bahwa sumpah dikembalikan kepada pihak rahin yang mengakui, maka dalam hal ini, jika ia bersumpah, budak tersebut diserahkan untuk dijual demi hak pihak yang dizalimi, dan dalam kasus ini, pihak murtahin juga tidak memiliki hak untuk membatalkan; sebab dengan penolakannya (tidak bersumpah), ia telah menggugurkan haknya sendiri, sehingga keputusan dikembalikan kepada penolakannya ini jika pihak rahin bersumpah.

وإن نكل الراهن عن يمين الرد فهل للمجني عليه أن يحلف بعد نكول الراهن

Jika rahin (pemberi gadai) enggan mengucapkan sumpah penolakan, apakah pihak yang dirugikan (majnu ‘alaih) boleh bersumpah setelah rahin menolak?

قولان أحدهما له ذلك؛ لأن مصير الحق إليه ويستحيل أن يَبطل حقُّه بنكول الراهن كما لا يبطل حقه بسبب رجوعه عن الإقرار والقول الثاني لا ترد اليمين على المجني عليه؛ فإن اليمين في الخصومات ليس لها إلا مرد واحد ومنتهاها مردُّها فإذا ثبتت يمين الرد في جانب لم تتحول عنها فإن قلنا لا يرد اليمين إلى المجني عليهِ نجعل نكولَ الراهن بمثابة حلف المرتهن ونقرر الرهنَ ثم يعود القولان في أن الراهن المقِرَّ هل يغرَم للمقَر له؛ من جهة أنه حقق الحيلولةَ وقد مضى هذا

Terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa hal itu boleh baginya, karena hak itu akan berpindah kepadanya, dan mustahil haknya menjadi batal karena penolakan sumpah oleh pihak yang menggadaikan, sebagaimana haknya tidak batal karena pencabutan pengakuan. Pendapat kedua menyatakan bahwa sumpah tidak dikembalikan kepada korban; sebab dalam persengketaan, sumpah hanya memiliki satu arah pengembalian dan batas akhirnya adalah tempat pengembaliannya. Jika sumpah pengembalian telah tetap pada satu pihak, maka tidak berpindah darinya. Jika kita mengatakan bahwa sumpah tidak dikembalikan kepada korban, maka penolakan sumpah oleh pihak yang menggadaikan dianggap seperti sumpah pihak yang menerima gadai, dan gadai itu ditetapkan. Kemudian muncul dua pendapat lagi tentang apakah pihak yang menggadaikan yang telah mengakui harus mengganti kerugian kepada pihak yang diakui; dari sisi bahwa ia telah memastikan adanya penghalang, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وإن قلنا يرد اليمين على المجني عليه فإن حلف ثبت حقه وبيع العبد في الأرش وليس للمرتهن خيار الفسخ؛ فإنه أبطل حقه بنكوله عن اليمين وقد تمهد هذا

Dan jika kita mengatakan bahwa sumpah dikembalikan kepada korban, maka jika ia bersumpah, haknya tetap dan budak dijual untuk membayar diyat, dan pemegang gadai tidak memiliki hak untuk membatalkan akad; karena ia telah menggugurkan haknya dengan menolak bersumpah, dan hal ini telah dijelaskan.

وإن نكل المجني عليه عن اليمين لم يكن له تغريم الراهن قولاً واحداً؛ فإنه كان مقتدراً على رفع الحيلولة فلم يرفعها وأكدها فإذا كانت الحيلولة محالاً عليه لم يثبت له تغريم الراهن المقر

Dan jika pihak yang menjadi korban enggan bersumpah, maka ia tidak berhak menuntut ganti rugi dari pihak yang menggadaikan, menurut satu pendapat yang disepakati; sebab ia sebenarnya mampu menghilangkan halangan tersebut namun tidak melakukannya, bahkan justru memperkuatnya. Maka jika halangan itu menjadi tanggung jawabnya, tidaklah tetap baginya hak untuk menuntut ganti rugi dari pihak yang menggadaikan yang telah mengakui.

وكل ما ذكرناه تفريع على أن إقرار الراهن غير مقبول والقول قول المرتهن ثم انشعب الكلام من تحليف المرتهن إلى صور

Semua yang telah kami sebutkan merupakan cabang dari ketetapan bahwa pengakuan rahin tidak diterima dan perkataan yang dipegang adalah perkataan murtahin, kemudian pembahasan berkembang dari sumpah murtahin kepada beberapa bentuk kasus.

فأما إذا فرعنا على أن إقرار الراهن مقبول فهل يقبل قوله من غير يمين أم يحلَّف في المسألة وجهان أحدهما أنه لا يحلّف؛ من جهة أنه مقر على ملكه وسبب نفوذ إقراره مصادفته ملكَه مع انتفاء التهمة وهذا المعنى يوجب أن لا يحلّف

Adapun jika kita membangun pendapat bahwa pengakuan rahin diterima, maka apakah pengakuannya diterima tanpa sumpah ataukah ia harus disumpah? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia tidak disumpah; karena ia mengakui atas miliknya sendiri dan sebab diterimanya pengakuannya adalah karena pengakuannya itu mengenai miliknya sendiri serta tidak ada tuduhan, dan makna ini mengharuskan agar ia tidak disumpah.

ومن أصحابنا من قال لا بد من تحليفه لتعلق حق المرتهن بمحل إقراره فالإقرار مقبول على قاعدته واليمين معروضة لمكان حق المرتهن

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa harus diambil sumpah darinya, karena hak pihak yang menerima gadai terkait dengan objek pengakuannya. Maka, pengakuan itu diterima berdasarkan kaidahnya, dan sumpah diajukan karena adanya hak pihak yang menerima gadai.

فإن قلنا يقبل قوله دون اليمين سلّم إلى البيع في حق المجني عليه وإن قلنا إنه يحلّف لم يخل إما أن يحلِف أو ينكُل فإن حلف ثبت الإقرار وبيع العبد في الجناية وتخير المرتهن إن كان الرهن مشروطاً في بيع وإن نكل عن اليمين فالمرتهن يحلف؛ من قِبل أن الخصومة بينهما تدور وإنما حلفناه لحق المرتهن فإذا نكل فالرد على صاحب الحق ثم إن نكل المرتهن كان نكوله بمثابة حلف الراهن جرياً على القياس الممهد في حكم يمين الرد ولا خيار له؛ فإنه بنكوله أبطل حق نفسه في هذا المكان؛ فلم يملك الفسخ هذا إذا نكل عن يمين الرد

Jika kita katakan bahwa ucapannya diterima tanpa sumpah, maka budak tersebut diserahkan untuk dijual dalam hak korban. Namun jika kita katakan bahwa ia harus bersumpah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia bersumpah atau menolak bersumpah. Jika ia bersumpah, maka pengakuan itu tetap dan budak dijual karena tindak pidana, dan pemegang gadai berhak memilih jika gadai itu disyaratkan dalam jual beli. Namun jika ia menolak bersumpah, maka pemegang gadai yang bersumpah; karena perselisihan terjadi antara keduanya dan kita mewajibkan sumpah demi hak pemegang gadai. Jika ia menolak, maka hak untuk bersumpah berpindah kepada pemilik hak. Jika pemegang gadai juga menolak, maka penolakannya dianggap seperti sumpah pemberi gadai, sesuai dengan qiyās yang telah ditetapkan dalam hukum sumpah balasan, dan ia tidak memiliki hak memilih; karena dengan penolakannya, ia telah menggugurkan haknya sendiri dalam hal ini, sehingga ia tidak berhak membatalkan. Ini jika ia menolak sumpah balasan.

فأما إذا حلف المرتهن لما نكل الراهن والتفريع على قبول قول الراهن مع يمينه فإذا انتهى الأمر إلى ما ذكرناه ففي المسألة قولان أحدهما أن العبد يَقِرُّ في يد المرتهن مرهوناً وهذا فائدة حلفه وظاهر القياس هذا ولا يتجه غيرُه

Adapun jika pihak murtahin bersumpah setelah pihak rahin enggan bersumpah, dan berdasarkan cabang hukum yang menerima ucapan rahin beserta sumpahnya, maka apabila perkara telah sampai pada apa yang telah kami sebutkan, terdapat dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa budak tetap berada di tangan murtahin sebagai barang gadai, dan inilah manfaat dari sumpahnya. Secara lahiriyah, qiyās juga menunjukkan hal ini dan tidak ada pendapat lain yang sejalan dengannya.

والقول الثاني أن العبد يُنتزع من يده ويباع في الجناية ولا أثر لنكول الراهن وحلف المرتهن إلا أنه يُغرِّمه قيمةَ العبد المرهون ليوضع رهناً وينسب في الامتناع عن اليمين إلى تفويت حق المرتهن ولا فائدة على هذا القول لتصوير اليمين والرد إلا بتثبيت قيمة العبد ووضعها رهناً مكان العبد

Pendapat kedua menyatakan bahwa budak tersebut diambil dari tangan pemiliknya dan dijual karena tindak pidana, dan tidak ada pengaruh dari penolakan sumpah oleh pihak yang menggadaikan maupun sumpah pihak yang menerima gadai, kecuali bahwa pihak yang menggadaikan wajib mengganti nilai budak yang digadaikan untuk dijadikan sebagai barang gadai, dan penolakan untuk bersumpah dianggap sebagai tindakan yang menyebabkan hilangnya hak pihak penerima gadai. Tidak ada manfaat, menurut pendapat ini, untuk menggambarkan sumpah dan penolakan kecuali dengan menetapkan nilai budak dan menempatkannya sebagai barang gadai pengganti budak tersebut.

ومما يجب التنبيه له في هذا المنتهى أنا نتخيل الأقارير ثلاث مراتب المرتبة العليا إقرار من مُطلق فيما يعرف حقاً له فهو مقبول؛ فإنه صادر من مُقِر مُطلق فيما يقتضي الظاهر كونَه حقه وليس يتضمن إقرارُه إبطالاً لحق غيره هذه مرتبة وعليها خروج الأقارير الصحيحة

Hal yang perlu diperhatikan pada pembahasan ini adalah bahwa kita membayangkan pengakuan (iqrār) itu terbagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah pengakuan dari seseorang yang secara mutlak mengakui sesuatu yang diketahui sebagai haknya, maka pengakuan itu diterima; karena pengakuan tersebut berasal dari orang yang mengakui secara mutlak terhadap sesuatu yang secara lahiriah tampak sebagai haknya, dan pengakuannya itu tidak mengandung pembatalan hak orang lain. Inilah satu tingkatan, dan pada tingkatan inilah keluar pengakuan-pengakuan yang sah.

والمرتبة الأخرى إقرارٌ في محلٍّ هو في ظاهر الظن حق الغير ولا ولاية للمقر

Tingkatan lainnya adalah pengakuan yang dilakukan pada sesuatu yang secara lahiriah diduga sebagai hak orang lain dan si pengaku tidak memiliki wewenang atasnya.

فهذا الإقرار مردود؛ لأنه على الغير لا في حقه فإن اشتمل الإقرار على ما ينفي التهمة فالإقرار قد يقبل في محل انتفاء التهمة وهذا يظهر فيه إذا كان حق الغير يتلف بعقوبةٍ على المقِر كالعبد يُقر بما يوجب عليه قصاصاً أو حداً ولو كان لما وصفناه قرينة ففي نفوذ الإقرار فيها القولان المقدمان وهو كإقرار العبد بسرقة مالٍ

Maka pengakuan ini ditolak, karena pengakuan tersebut berkaitan dengan hak orang lain, bukan hak dirinya sendiri. Jika pengakuan itu mengandung hal yang meniadakan tuduhan, maka pengakuan tersebut dapat diterima pada tempat yang tidak ada tuduhan. Hal ini tampak jelas apabila hak orang lain akan hilang akibat hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang mengaku, seperti seorang budak yang mengaku melakukan perbuatan yang mewajibkan qishāsh atau hudud atas dirinya. Jika dalam kasus yang kami sebutkan terdapat indikasi (qarīnah), maka dalam berlakunya pengakuan tersebut terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya. Hal ini seperti pengakuan seorang budak atas pencurian harta.

فهذا بيان هذه المرتبة مع ما يستثنى منها

Inilah penjelasan mengenai tingkatan ini beserta pengecualiannya.

ومن مراتب الإقرار أن يصادف ملكاً فيه حقٌ لازم ظاهراً والمقر مطلق في نفسه ففي قبول أصل الإقرار خلاف فإذا قبلناه عدنا فترددنا في أنه يقبل من غير يمين أم مع اليمين وسبب هذا التردد قيامُ حق المرتهن

Di antara tingkatan pengakuan adalah ketika pengakuan itu bertepatan dengan suatu kepemilikan yang di dalamnya terdapat hak yang wajib secara lahiriah, dan pihak yang mengakui adalah orang yang merdeka dalam dirinya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat mengenai diterimanya pokok pengakuan tersebut. Jika kita menerimanya, maka kita kembali berselisih pendapat apakah pengakuan itu diterima tanpa sumpah ataukah harus disertai sumpah. Sebab keraguan ini adalah adanya hak pihak yang memegang gadai (murtahin).

ثم إن فرضنا حَلِفاً من المقر نفذ الأمر ولم يبق للمرتهن إلا الخيارُ في البيع وإن فرضنا نكولَه عن اليمين رددنا اليمين وترددنا؛ من جهة أن التفريع على قول قبول الإقرار ويبعد في مسالك الأقارير أن يرد لمكان نكولٍ عن يمين مع رد يمين وبعُدَ علينا أن نعطِّل أثر اليمين بالكلية فقلنا في قولٍ يستخرج العبد من يد المرتهن؛ فقول الراهن إذن ليس إقراراً بل كأنه قولٌ مقبول ممن يظهر صدقُه كقول المودعَ في الرد وقول كل مدّعىً عليه ومساق هذا يوجب تثبيت الرهن في يده إذا حَلف على خلاف قول الراهن

Kemudian, jika kita menganggap adanya sumpah dari pihak yang mengakui, maka perkara dijalankan dan tidak ada hak bagi pihak yang menerima gadai kecuali memilih untuk menjual. Namun jika kita menganggap ia enggan bersumpah, maka sumpah dikembalikan dan kita pun ragu; karena berdasarkan pendapat yang menerima pengakuan, jarang dalam kasus pengakuan-pengakuan itu ditolak hanya karena enggan bersumpah dengan mengembalikan sumpah. Namun, terasa berat bagi kami untuk sama sekali meniadakan pengaruh sumpah. Maka kami katakan dalam satu pendapat: budak tersebut diambil dari tangan pihak penerima gadai; sehingga pernyataan pihak yang menggadaikan bukanlah pengakuan, melainkan seperti pernyataan yang diterima dari orang yang tampak kejujurannya, seperti pernyataan pihak yang dititipi barang ketika mengembalikan, dan pernyataan setiap orang yang didakwa. Alur ini mengharuskan penetapan barang gadai di tangannya jika ia bersumpah bertentangan dengan pernyataan pihak yang menggadaikan.

وإن قلنا العبد يستخرج من يد المرتهن وإن حلف فقولُ الراهن إقرارٌ في حقه ولكنه لو حلف لأبان بحلفه أن أصل الرهن لم يكن فإذا لم يحلف وحلف المرتهن غرّمنا الراهن في حق المرتهن كالمعتِق لما انجر إليه من التهمة لما نكل فألزمناه القيمة لهذا التخيّل وهذا ضعيف ولكن نقله الأئمة المحققون

Jika kita mengatakan bahwa budak diambil dari tangan murtahin, dan jika ia bersumpah, maka ucapan rahin adalah pengakuan atas dirinya sendiri. Namun, jika ia bersumpah, dengan sumpahnya itu ia menunjukkan bahwa asal gadai tidak pernah ada. Maka, jika ia tidak bersumpah dan murtahin yang bersumpah, kita membebankan ganti rugi kepada rahin untuk kepentingan murtahin, seperti halnya orang yang memerdekakan budak, karena tuduhan yang timbul akibat penolakannya bersumpah, sehingga kita mewajibkan pembayaran nilai (budak) karena dugaan ini. Namun, pendapat ini lemah, meskipun telah dinukil oleh para imam yang ahli.

فإن قلنا يبقى الرهن في يد المرتهن فلا كلام وإن قلنا يغرم الراهن له القيمة فهل يثبت له الخيار فعلى وجهين أصحهما أنه يثبت؛ لأنه لم يسلم له الرهن في العبد الذي عينه والوجه الثاني أنه لاخيار له كما لو سلّم العبد المشروط ثم أتلفه؛ فإنه يلتزم قيمته ولا خيار للمرتهن

Jika kita mengatakan bahwa barang gadai tetap berada di tangan penerima gadai, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita mengatakan bahwa pemberi gadai harus mengganti nilainya kepada penerima gadai, maka apakah penerima gadai berhak memilih (khiyār)? Ada dua pendapat; pendapat yang lebih sahih adalah bahwa hak memilih itu tetap ada, karena barang gadai yang telah ditentukan, yaitu budak tersebut, tidak sampai kepadanya. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak memiliki hak memilih, sebagaimana jika budak yang disyaratkan telah diserahkan kemudian dimusnahkan; maka ia wajib mengganti nilainya dan penerima gadai tidak memiliki hak memilih.

من قال بالأول انفصل عن الإتلاف بأَنْ قال لما أقبضه فقد وفاه حقَّه وصار وافياً بشرطه فانقطع الخيار لذلك وقول الجاني فيما نحن فيه له انعكاس على أول الرهن؛ من قِبل أنه يُشعر بأن الرهن لم ينعقد

Siapa yang berpendapat seperti pendapat pertama, memisahkan kasus ini dari kasus perusakan dengan mengatakan bahwa ketika barang telah diserahkan kepadanya, berarti haknya telah dipenuhi dan telah terpenuhi syaratnya, sehingga hak khiyār pun terputus karena hal itu. Sedangkan pendapat pelaku pelanggaran dalam kasus yang sedang kita bahas ini memiliki dampak yang berlawanan dengan awal akad rahn; karena hal itu menunjukkan bahwa akad rahn belum terjadi.

فليتأمل الناظر تردد الفقهاء عند تركّب الموجَبات والمقتَضيات

Maka hendaklah orang yang memperhatikan merenungkan keraguan para fuqaha ketika terjadi perpaduan antara sebab-sebab yang mewajibkan dan hal-hal yang menuntut.

ثم إن قلنا تقر العين المرهونة في يد المرتهن فهل يغرم الراهن للمجني عليه؛ فعلى قولين مقدمين؛ من جهة أنه بنكوله حقَّقَ الحيلولةَ بين ذي الحق وبين محل حقه

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa barang yang dijadikan rahn tetap berada di tangan murtahin, maka apakah rahin wajib mengganti kerugian kepada pihak yang dizalimi? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan; dari satu sisi, karena dengan penolakannya, ia benar-benar telah menghalangi pemilik hak dari objek haknya.

ولهذا نظائر ستأتي مشروحة في كتاب النكاح إن شاء الله تعالى

Hal yang serupa dengan ini akan dijelaskan pada Kitab Nikah, insya Allah Ta‘ala.

وكل ما ذكرناه تفريع على أن رهن العبد الجاني الذي في رقبته أرشٌ باطل

Semua yang telah kami sebutkan merupakan rincian dari ketentuan bahwa gadai terhadap budak pelaku tindak pidana yang pada dirinya terdapat kewajiban membayar diyat adalah batal.

فأما إذا صححنا رهن الجاني والتفريع على أن إقرار الراهن مردودٌ فيما يتضمن بطلانَ حق المرتهن فلو قال قد رهنت وأقبضت ثم أقررت إقراراً لا ينافي رهني وإقباضي فاقبلوا قولي

Adapun jika kita menganggap sah gadai yang dilakukan oleh pelaku, dan berdasarkan pendapat bahwa pengakuan pemberi gadai ditolak jika mengandung pembatalan hak penerima gadai, maka jika ia berkata, “Aku telah menggadaikan dan menyerahkan barang gadai, kemudian aku mengakui suatu pengakuan yang tidak bertentangan dengan gadaiku dan penyerahanku, maka terimalah pengakuanku.”

قلنا اضطرب الأئمة في ذلك؛ والقول فيه محتمل جداً وقد تردد الأئمةُ فقال بعضهم إقراره بتقدم الجناية مقبول على هذا القول؛ فإنه لا منافاة بين تصحيح الرهن والقبض وبين الجناية وهو مُطلق أقر بأمرٍ ممكن في ماله وليس كما إذا فرعنا على أن رهن الجاني مردود؛ فإنه إذا رهن وأقبض ثم أقر فإقراره يتضمن مناقضة ما قدمه من عقده وإقباضه فلم يقبل منه في قولٍ كما سبق

Kami katakan, para imam berbeda pendapat dalam masalah ini; dan pendapat dalam hal ini sangat mungkin untuk dipertimbangkan. Para imam pun ragu-ragu, sebagian mereka berkata bahwa pengakuannya tentang terjadinya jinayah sebelumnya dapat diterima menurut pendapat ini; karena tidak ada pertentangan antara sahnya rahn dan qabd dengan jinayah, dan ia secara mutlak mengakui sesuatu yang mungkin terjadi pada hartanya. Ini tidak seperti jika kita berpendapat bahwa rahn pelaku jinayah itu ditolak; sebab jika ia melakukan rahn dan menyerahkan barang, lalu kemudian mengaku, maka pengakuannya itu mengandung pertentangan dengan akad dan penyerahan yang telah ia lakukan sebelumnya, sehingga pengakuannya tidak diterima menurut salah satu pendapat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وذهب بعض الأصحاب إلى أنا إذا رأينا رد إقراره على قولنا بفساد رهن الجاني فيُرد إقرارُه على القول بصحة رهن الجاني؛ فإن قبول إقراره يتضمن نقضَ يد المرتهن

Sebagian ulama berpendapat bahwa jika kita melihat penolakan pengakuannya menurut pendapat kita tentang batalnya gadai yang dilakukan oleh pelaku kejahatan, maka pengakuannya juga ditolak menurut pendapat yang membolehkan gadai pelaku kejahatan; karena menerima pengakuannya berarti membatalkan hak kepemilikan pihak penerima gadai.

والرهن إذا انبرم بالقبض فمقتضاه لزوم حق المرتهن فالراهن المُقبض ملتزم إلزام حق المرتهن فإذا أتى بما يناقض قولَه ومضمونَ فعله رُدَّ على قولَ الرد كما يرد إقرارُه على قول فساد رهن الجاني؛ من جهة أنه بلفظه في العقد وإقباضه التزم صحته له فإذا أقر بما ينافي الصحّةَ رُدّ إقرارُه في القول الذي عليه التفريع

Apabila rahn telah sempurna dengan penyerahan barang, maka konsekuensinya adalah hak murtahin menjadi tetap. Maka, rahin yang telah menyerahkan barang berarti telah berkomitmen untuk menegakkan hak murtahin. Jika kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ucapannya dan makna perbuatannya, maka ucapannya itu ditolak, sebagaimana pengakuannya tentang batalnya rahn pelaku tindak pidana juga ditolak; karena dengan ucapannya dalam akad dan penyerahan barang, ia telah berkomitmen atas keabsahan rahn tersebut bagi murtahin. Maka jika ia mengakui sesuatu yang bertentangan dengan keabsahan itu, pengakuannya ditolak dalam hal yang menjadi dasar cabang hukum ini.

فرع

Cabang

إذا رأينا قبول إقرار الراهن على قول فساد رهن الجاني وانتهى الأمرُ إلى بيع العبد المرهون في أرش الجناية فإذا بعناه فلو فضل من ثمنه شيء فقد اختلف أصحابنا في ذلك الفاضل فمنهم من قال هو خارج عن هذا الرهن لا عُلْقة فيه للمرتهن

Jika kita menerima pengakuan dari pihak yang menggadaikan bahwa gadai pelaku kejahatan itu batal, dan perkara tersebut berujung pada penjualan budak yang digadaikan untuk membayar diyat kejahatan, maka apabila kita telah menjualnya dan terdapat kelebihan dari hasil penjualannya, para ulama kami berbeda pendapat mengenai kelebihan tersebut. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kelebihan itu berada di luar gadai ini dan tidak ada hak sama sekali bagi pihak yang menerima gadai terhadapnya.

ومنهم من قال ذلك الفاضل مرهون؛ فإن إقرار الراهن إنما يقبل في مقدار الأرش

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kelebihan tersebut tetap menjadi barang gadai; karena pengakuan pihak yang menggadaikan hanya diterima dalam hal besarnya arsy (ganti rugi).

وهذا يلتفت على ما أجريناه في أثناء الكلام من أن الراهن لو أقر بأرش يقصر عن القيمة ورأينا قبول إقراره فهل نحكم بانفكاك الرَّهن في الجميع أم نقضي بانفكاكه في مقدار الأرش فيه التردد الذي سبق فالقول في الفاضل ملتفتٌ عليه

Hal ini kembali kepada apa yang telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu jika orang yang menggadaikan mengakui adanya arsy yang nilainya kurang dari nilai barang, dan kita menerima pengakuannya itu, maka apakah kita memutuskan bahwa barang gadai terbebas seluruhnya, ataukah kita memutuskan bahwa barang gadai terbebas hanya sebesar nilai arsy? Dalam hal ini terdapat keraguan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, maka pembahasan mengenai kelebihan nilainya juga kembali kepada hal tersebut.

ولكن على الناظر فضلُ تدبر فإن حكمنا بأن الزائد على مقدار الأرش لا ينفك الرهن فيه فلا وجه لبيعه حتى ينتهي الكلام إلى كونه رهناً أم لا وإن قلنا الرهن مردود في الجميع فالمصير إلى أن الفاضل رهن بعيد فما الوجه في تنزيل هذا الخلافِ في الفاضل قال شيخي أبو محمد نحن وإن قلنا الجاني لا يصح رهنه فإذا أقر وقبلنا إقراره وفضل من الثمن شيء فلسنا نقولُ إنه بان لنا أن الرهن بطل بإقراره ولكن كأَنَّا قدَّمنا حقَّ المقَر له بالأرش على حق المرتهن ولم نجعل الإقرارَ مبطلاً فإذا فضل شيء من حق المقَر له فيبقى حق المرتهن فيه

Namun, bagi yang meneliti, sebaiknya memperhatikan dengan seksama, karena jika kita memutuskan bahwa kelebihan dari jumlah arsy tidak terlepas dari status rahn, maka tidak ada alasan untuk menjualnya sampai pembahasan berakhir pada apakah ia tetap menjadi rahn atau tidak. Dan jika kita mengatakan bahwa rahn ditolak pada seluruhnya, maka berpendapat bahwa kelebihan itu tetap menjadi rahn adalah jauh. Lalu, bagaimana cara menempatkan perbedaan pendapat ini pada kelebihan tersebut? Syekh saya, Abu Muhammad, berkata: Meskipun kami mengatakan bahwa pelaku tidak sah menjadikan barang sebagai rahn, jika ia mengakui dan kami menerima pengakuannya, lalu ada sisa dari harga, kami tidak mengatakan bahwa telah jelas bagi kami bahwa rahn batal karena pengakuannya, tetapi seolah-olah kami mendahulukan hak orang yang diakui (muqarr lah) atas arsy daripada hak murtahin, dan kami tidak menjadikan pengakuan itu membatalkan rahn. Maka jika ada sisa dari hak orang yang diakui, maka hak murtahin tetap ada pada sisa tersebut.

وهذا بعيد عندي عن النظم والوجه القطع بأنّا نتبين بالإقرار فسادَ الرهن فإن كان الأرش أقلَّ نردُّ نظرنا إلى أن بيع ما يزيد على الأرش مرود أو غير مردود

Menurut saya, hal ini jauh dari susunan yang tepat dan pendapat yang benar adalah bahwa kita dapat memastikan kerusakan rahn (barang gadai) melalui pengakuan. Jika nilai arsy (ganti rugi) lebih kecil, maka kita kembalikan perhatian kita pada apakah penjualan barang yang nilainya melebihi arsy itu sah atau tidak sah.

ولا مصير إلى تصحيح البيع ورد الخلاف إلى أن الفاضل رهن أم لا

Dan tidak dapat dijadikan dasar untuk membenarkan jual beli serta mengembalikan perbedaan pendapat pada apakah kelebihan itu merupakan rahn (barang gadai) atau bukan.

فصل

Bab

قال ولو جنى بعد الرهن ثم برىء من الجناية بعفوٍ أو صلحٍ إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia melakukan tindak pidana setelah barang dijadikan rahn, kemudian ia terbebas dari tindak pidana tersebut karena dimaafkan atau melalui sulh (perdamaian), dan seterusnya.”

العبد المرهون إذا جنى في يد المرتهن جنايةً مالية تعلق الأرش برقبته ولم يتضمن ذلك بطلانَ الرهن؛ فإنه لو فرض عفو عن الأرش أو فداءٌ من المولى فالرهن يبقى مستمراً ولكن إن لم يجر مما أشرنا إليه شيءٌ فيباع في الأرش إن كان مستغرِقاً لقيمته وإذا بيع تبين ارتفاع الرهن قبيل البيع ولو كان الرهنُ مشروطاً في بيعٍ ثم أفضى الأمر إلى الجناية والبيعِ فيها فلا خيار للمرتهن في فسخ البيع؛ فإن الراهن قد وفّى بما شُرط عليه ولا نُلزمه أن يعصم المرهون عن الجناية كما لا نُلزمه عصمتَه من طوارق الحَدَثان

Budak yang dijadikan barang jaminan (rahn) apabila melakukan tindak pidana yang menyebabkan kerugian harta saat berada di tangan pemegang gadai (murtahin), maka diyat (arsh) terkait dengan dirinya, dan hal itu tidak menyebabkan batalnya rahn. Sebab, jika diyat tersebut dimaafkan atau ditebus oleh tuannya, maka rahn tetap berlangsung. Namun, jika tidak terjadi salah satu dari hal yang telah disebutkan, maka budak tersebut dijual untuk membayar diyat jika nilainya sebanding dengan harga dirinya. Jika budak itu dijual, maka terbuktilah bahwa rahn telah gugur sebelum penjualan. Jika rahn itu disyaratkan dalam akad jual beli, lalu kemudian terjadi tindak pidana dan penjualan budak tersebut, maka pemegang gadai tidak memiliki hak untuk membatalkan akad jual beli; karena pihak yang menggadaikan telah memenuhi apa yang disyaratkan atasnya, dan kita tidak mewajibkan dia untuk menjamin budak yang digadaikan dari melakukan tindak pidana, sebagaimana kita juga tidak mewajibkannya untuk menjamin budak tersebut dari berbagai peristiwa yang mungkin terjadi.

فإن قيل لم قدمتم حقَّ المجني عليه على حق المرتهن وهلاّ قلتم لا يتعلق الأرش برقبة المرتهن لكونها مشغولةً بوثيقة الرهن

Jika dikatakan, “Mengapa kalian mendahulukan hak korban atas hak murtahin? Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa diyat tidak terkait dengan barang yang digadaikan karena barang tersebut sedang terikat sebagai jaminan rahn?”

قلنا تكلف أصحابنا في هذا كلاماً فنذكره أولاً قالوا حق المرتهن له محلاّن العين والذمة فإن فاتت العين استقل الحق بالذمة وحق المجني عليه ناجزاً ينحصر في العين فقُدم كما قدم إزالةُ النجاسة على رفع الحدث إن كان الماء لا يفي إلا بأحدهما فإن لطهر الحدث بدلاً وقيل حق المجني عليه يثبت بأصل الشرع فكان أقوى من حق المرتهن الثابت بالعقد

Kami katakan, para ulama mazhab kami telah membahas masalah ini secara mendalam, dan kami akan menyebutkannya terlebih dahulu. Mereka berkata: Hak pemegang gadai (murtahin) memiliki dua tempat, yaitu pada barang (‘ain) dan pada tanggungan (dzimmah). Jika barang itu hilang, maka haknya berdiri sendiri pada tanggungan. Sedangkan hak korban tindak pidana (majni ‘alaih) bersifat langsung dan terbatas pada barang, sehingga didahulukan, sebagaimana mendahulukan penghilangan najis atas menghilangkan hadats jika air hanya cukup untuk salah satunya. Sebab, untuk bersuci dari hadats masih ada pengganti. Ada juga yang berpendapat bahwa hak korban tindak pidana ditetapkan oleh syariat secara langsung, sehingga lebih kuat daripada hak pemegang gadai yang ditetapkan melalui akad.

وهذا تكلُّفٌ عندي وقد تتعارض الأقوال ولا يعدَم الفقيه كلاماً في ترجيح وثيقة الرهن ولو لم يثبت في ذلك إلا القطعُ بمنع بيع المرهون مع التردد في بيع الجاني لكان ذلك متنفساً والوجه ألا نلتزم هذا الفنَّ أصلاً؛ فنقول حقُّ المرتهن في رقبة المرهون لا يزيد على حق المالك ثم الأرش يتعلق بمحل الملك فليتعلق بمحل الرهن فإن روجعنا في تعليل أصل التعليق لم نخض فيه الآن

Menurut saya, ini adalah suatu bentuk pemaksaan. Terkadang pendapat-pendapat bisa saling bertentangan, namun seorang faqih tidak akan kekurangan argumen dalam menguatkan dokumen rahn (gadai). Andaikata yang dapat dipastikan hanyalah larangan menjual barang yang digadaikan, sementara masih ada keraguan dalam menjual pelaku kejahatan, maka itu sudah menjadi jalan keluar. Pendapat yang lebih kuat adalah kita tidak perlu terikat dengan metode ini sama sekali; sehingga kita katakan bahwa hak murtahin (penerima gadai) atas barang yang digadaikan tidak lebih besar dari hak pemilik. Kemudian, arsy (ganti rugi) berkaitan dengan objek kepemilikan, maka hendaknya ia juga berkaitan dengan objek rahn. Jika kita dituntut untuk menjelaskan alasan utama keterkaitan tersebut, maka kita tidak akan membahasnya sekarang.

فصل

Bab

قال ولو دبّره ثم رهنه كان الرهن مفسوخاً إلى آخره

Ia berkata: Jika seseorang memerdekakan budaknya secara tadbir, kemudian ia menjadikannya sebagai barang gadai, maka gadai tersebut batal, dan seterusnya.

مقصود الفصل الكلام في رهن المدبر ونحن نقدم عليه القولَ في رهن المعلّق عتقُه بالصفة فنقول رهن العبد المعلق عتقه بالدين الحالّ جائز ثم إن بيع قبل وجود الصفة فذاك وإن وجدت الصفة قبل البيع فهذا يبتني على أن العبرة في التعليقات بحالة التعليق أو حالة وجود الصفة وقد ذكرنا طرفاً في ذلك كافياً في غرض هذا الكتاب وسيأتي تفصيل هذا الأصل في الوصايا والعتق إن شاء الله تعالى

Maksud dari bab ini adalah membahas tentang gadai budak mudabbar. Sebelumnya, kami akan membahas tentang gadai budak yang dimerdekakan secara mu‘allaq (tergantung pada suatu sifat). Kami katakan, menggadaikan budak yang kemerdekaannya digantungkan pada utang yang sudah jatuh tempo adalah boleh. Kemudian, jika budak itu dijual sebelum sifat (syarat) tersebut terwujud, maka tidak masalah. Namun, jika sifat itu terwujud sebelum penjualan, maka hal ini kembali pada persoalan: apakah yang menjadi acuan dalam ta‘liq (penggantungan) adalah keadaan saat penggantungan atau saat terwujudnya sifat. Kami telah menyebutkan sebagian penjelasan yang cukup untuk tujuan kitab ini, dan rincian asal masalah ini akan dijelaskan pada pembahasan wasiat dan ‘itq (pembebasan budak), insya Allah Ta‘ala.

ولو رهن المعلّقَ عتقُه بدينٍ مؤجل ففيه مسائل أحدها إن تيقن أن حلولَ الأجل يسبق وجودَ الصفة فيجوز الرهن كما يجوز بالحالّ

Jika seseorang menjadikan budak yang kemerdekaannya digantungkan pada suatu syarat sebagai barang gadai untuk utang yang jatuh temponya di masa depan, maka terdapat beberapa permasalahan. Pertama, jika diyakini bahwa jatuh tempo utang akan terjadi sebelum terpenuhinya syarat tersebut, maka gadai itu boleh dilakukan sebagaimana halnya dengan utang yang jatuh temponya segera.

والمسألة الثانية أن يتيقن أن الصفة توجد قبل حلول الأجل ففي جواز الرهن والحالة هذه وجهان أظهرهما المنع والثاني أنه يجوز والوجهان يقربان من قولين سيأتي ذكرهما في رهن الطعام الذي يسرعُ الفساد إليه بدين مؤجَّل يسبق فسادَ الرهن حلولُ أجله وسيأتي ذلك في مسائل الكتاب إن شاء الله تعالى

Masalah kedua adalah jika diyakini bahwa sifat (barang) tersebut ada sebelum jatuh tempo, maka dalam kebolehan melakukan rahn (gadai) dalam keadaan seperti ini terdapat dua pendapat; yang lebih kuat adalah pendapat yang melarang, sedangkan pendapat kedua membolehkan. Kedua pendapat ini mendekati dua pendapat yang akan disebutkan terkait rahn makanan yang cepat rusak dengan utang yang jatuh temponya setelah barang gadai tersebut rusak. Hal ini akan dibahas pada beberapa masalah dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala.

ووجه الشبه لائح فتقدير نفوذ العتق قبل الأجل كتقدير فساد المرهون وهذا يحتاج إلى تأمل

Kesamaan antara keduanya jelas, sehingga menganggap sahnya pembebasan budak sebelum jatuh tempo itu seperti menganggap batalnya barang yang digadaikan, dan hal ini memerlukan perenungan lebih lanjut.

وإنما يَسْتدُّ ما ذكرناه من البناء تفريعاً على أن العتق ينفذ عند وجود الصفة فيقع النّظر في أن مقصود الوثيقة يزول بنفوذ العتق قبل الحلول

Apa yang telah kami sebutkan mengenai pembangunan (hukum) ini didasarkan pada anggapan bahwa pembebasan budak (’itq) berlaku ketika sifat (syarat) itu terpenuhi, sehingga perlu diperhatikan bahwa tujuan dari dokumen jaminan tersebut menjadi gugur dengan berlakunya pembebasan budak sebelum jatuh tempo.

فأمّا إذا قلنا العتق المعلَّق قبل الرهن لا ينفد في حالة الرهن فليس يتأتى والتفريع على هذا الوجه أخْذُ هذا من رهن ما يتسارع الفساد إليه؛ فإنا إذا قدرنا ثبوتَ الرهن ورتبنا عليه منعَ نفوذ العتق قبل الأجل فقد خرج بنا الكلام عما تقدّم

Adapun jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak yang digantungkan sebelum akad rahn tidak berlaku selama masa rahn, maka hal itu tidak mungkin terjadi, dan berdasarkan pendapat ini, tidak dapat diambil hukum dari rahn atas sesuatu yang mudah rusak; karena jika kita menganggap rahn itu sah dan menetapkan bahwa pembebasan budak sebelum jatuh tempo tidak berlaku, maka pembahasan kita telah keluar dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya.

فالوجه أن نقول إن كنا ننفذ العتق نأخذهُ من تسرع الفساد وإن كنا نرى أن العتق لا ينفذ لو قدر الرهن فالقول في صحة الرهن يخرّج على أصل آخر وهو أن الراهن صار مدافعاً لعتقٍ صار كالمستحق بالتعليق فهل يصح الرهن وهذا الآن يخرّج على الخلاف الذي سنذكره في رهن المدبَّر مع القطع بجواز بيعه وثَمَّ يتبيّن حقيقة ما نقول إن شاء الله تعالى

Maka yang tepat adalah kita katakan: jika kita membolehkan pembebasan budak, maka kita mengambilnya dari tindakan yang mempercepat kerusakan. Dan jika kita berpendapat bahwa pembebasan budak tidak sah andaikan ada gadai, maka pembahasan tentang keabsahan gadai dikembalikan pada prinsip lain, yaitu bahwa orang yang menggadaikan telah menjadi penunda terhadap pembebasan budak yang seakan-akan telah menjadi hak karena adanya penangguhan. Maka, apakah gadai itu sah? Dan hal ini sekarang dikembalikan pada perbedaan pendapat yang akan kami sebutkan dalam masalah gadai budak mudabbar, dengan keyakinan bolehnya dijual. Di sana akan tampak hakikat apa yang kami katakan, insya Allah Ta‘ala.

ومن مسائل التعليق أنه إذا رهن عبداً معلقَ العتق بصفةٍ يجوز وجودها قبل المَحِل ويجوز استئخارها عن المَحِل ففي جواز الرهن وجهان مرتبان على الوجهين فيه إذا استيقنا تقدّم الصفة على الأجل وهذه الصورة أولى بالجواز

Di antara permasalahan tentang ta‘liq adalah apabila seseorang menggadaikan seorang budak yang kemerdekaannya digantungkan pada suatu sifat yang mungkin terjadi sebelum waktu jatuh tempo dan mungkin juga ditunda setelah waktu jatuh tempo, maka dalam kebolehan gadai terdapat dua pendapat yang dikaitkan dengan dua pendapat dalam masalah apabila kita yakin sifat tersebut terjadi sebelum jatuh tempo. Dan gambaran kasus ini lebih utama untuk dibolehkan.

ووجه الفرق بيّن

Perbedaan antara keduanya jelas.

فهذا تمام ما أردنا ذكرَه في رهن المعلّق عتقُه

Inilah seluruh pembahasan yang ingin kami sampaikan mengenai gadai atas budak yang kemerdekaannya masih tergantung.

فأما رهن المدبر فنذكر فيه اختلاف طرق الأصحاب ثم نرجع إلى النص فمن أصحابنا من بنى رهن المدبر على القولين في أن التدبير وصية أو عتقٌ بصفة قال إن جعلناه عتقاً بصفةٍ فهذه الصفة يجوز أن توجد قبل المحل ويجوز أن توجد بعده فجواز الرهن يخرّج على قولي رهن العبد المعلق عتقه بصفةٍ يجوز أن توجد قبل المحل ويجوز أن تستأخر

Adapun mengenai gadai budak mudabbar, kami akan menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama mazhab), kemudian kami akan kembali kepada nash. Sebagian dari ulama kami membangun hukum gadai budak mudabbar berdasarkan dua pendapat tentang apakah tadbir itu wasiat atau pembebasan budak yang dikaitkan dengan suatu sifat (syarat). Mereka berkata: Jika kita menganggapnya sebagai pembebasan budak yang dikaitkan dengan suatu sifat, maka sifat tersebut bisa saja terjadi sebelum waktu yang ditentukan, dan bisa juga terjadi setelahnya. Maka kebolehan menggadaikan (budak mudabbar) dikembalikan kepada dua pendapat tentang menggadaikan budak yang pembebasannya dikaitkan dengan suatu sifat, di mana sifat itu bisa saja terjadi sebelum waktu yang ditentukan, dan bisa juga ditunda.

ومن أصحابنا من قال يجوز رهن المدبر قولاً وَاحداً وهذا هو القياس؛ لأن التدبير إن كان وصية فالرهن جائز وإن كان عتقاً بصفة فهو محسوب من الثلث

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa boleh menggadaikan budak mudabbar menurut satu pendapat, dan inilah yang sesuai dengan qiyās; karena jika tadbīr itu merupakan wasiat, maka gadai itu boleh, dan jika tadbīr itu merupakan pembebasan budak dengan syarat, maka ia dihitung dari sepertiga harta.

وحق المرتهن من رأس المال فهو مقدَّم على ما يحسب من الثلث غاية ما يُقدّر أن يموت من عليه الدين ولا يخلِّف إلا هذا العبدَ ولو كان كذلك وكان الدين مستغرِقاً لقيمته لصرفناه إلى الدين وأبطلنا العتق وليس كذلك رهنُ المعلَّق عتقه بصفة توجد في حياة المعلِّق؛ فإن ذلك العتق لو نفذ في حياة المعلِّق لكان مقدماً على الديون فلا تأكّدَ للعتق في التعليق وصار في حكم الاستحقاق والرهن تصرفٌ ضعيف منحط عن البيع اقتضى ذلك تجويزَ البيع ومنع الرهن والعتق الذي يقدر حصوله في المدبر ضعيف؛ من قبل انحصاره في الثلث فيقدم الدين عليه

Hak pemegang gadai atas harta pokok didahulukan atas apa yang dihitung dari sepertiga, dengan batas maksimal jika orang yang berutang itu meninggal dan tidak meninggalkan apa pun kecuali budak ini. Jika memang demikian, dan utangnya sebanding dengan nilai budak tersebut, maka budak itu digunakan untuk melunasi utang dan pembebasan budak dibatalkan. Tidak demikian halnya dengan gadai atas budak yang pembebasannya digantungkan pada suatu syarat yang mungkin terjadi selama hidup orang yang menggantungkan; sebab jika pembebasan itu berlaku selama hidup orang yang menggantungkan, maka pembebasan tersebut didahulukan atas utang-utang. Maka, tidak ada penegasan pembebasan dalam bentuk penggantungan, sehingga statusnya menjadi seperti hak kepemilikan, dan gadai merupakan tindakan yang lemah, lebih rendah daripada jual beli, sehingga hal itu membolehkan jual beli dan melarang gadai. Sementara pembebasan budak yang mungkin terjadi pada budak mudabbar adalah lemah, karena terbatas pada sepertiga harta, sehingga utang didahulukan atasnya.

وقال بعض أصحابنا رهن المدبر باطل قولاً واحداً وهذا هو الذي قطع به الشافعي؛ إذ قال رهنه مفسوخ والمراد بالمفسوخ الباطل وهذا يعتاده الشافعي كثيراً

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa gadai terhadap budak mudabbar adalah batal menurut satu pendapat, dan inilah yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i; karena beliau berkata bahwa gadai tersebut fasakh, dan yang dimaksud dengan fasakh di sini adalah batal, dan ini sering dilakukan oleh asy-Syafi‘i.

وهذا القائل يزعم أن التدبير ليس وصية محضة فلا يلزم تصحيحَ الرهن على قول الوصية وهذه الطريقة وإن كانت توافق النص فليس ينقدح لي في توجيهها شيء

Orang yang berpendapat demikian mengklaim bahwa at-tadbīr bukanlah wasiat murni, sehingga tidak wajib membenarkan ar-rahn menurut pendapat tentang wasiat. Cara ini, meskipun sesuai dengan nash, namun aku tidak menemukan alasan yang jelas dalam mengarahkannya.

وكأن الشافعي يعتقد أن التدبير على حال عقدُ عتاقةٍ شرعي ولا يطابق هذا مذهبَه في جواز البيع وجواز الرجوع عن التدبير على الأصح والمدبر على الحقيقة عندنا عبدٌ قن فإذا مات السيد جعلنا عتقه محسوباً من محل الوصايا وللشافعي في كتاب الصّداق كلام في أن المرأة إذا دبرت العبد المصْدقَ ثم طلقها زوجهاً فهل يرجع إلى نصف المدبر فلعلنا نجد ثَمَّ بسطةً في الكلام

Seolah-olah asy-Syafi‘i berpendapat bahwa at-tadbīr dalam keadaan akad adalah pembebasan budak yang sah secara syar‘i, namun hal ini tidak sesuai dengan mazhab beliau mengenai bolehnya menjual dan bolehnya menarik kembali at-tadbīr menurut pendapat yang lebih sahih. Budak yang benar-benar berstatus mudabbir menurut kami adalah budak murni (‘abdun qin), sehingga jika tuannya meninggal, maka pembebasannya dihitung sebagai bagian dari harta wasiat. Asy-Syafi‘i dalam Kitab ash-Shadaq membahas tentang seorang wanita yang menjadikan budak sebagai mahar, kemudian ia melakukan at-tadbīr terhadap budak tersebut, lalu suaminya menceraikannya; apakah suami berhak kembali pada setengah bagian budak mudabbir tersebut? Mungkin kita akan menemukan penjelasan yang lebih luas tentang hal ini di sana.

وقد انتهى غرضنا الآن والله أعلم

Tujuan kami telah selesai sampai di sini, dan Allah Maha Mengetahui.

فصل

Bab

قال ولو رهنه عصيراً حلواً كان جائزاً فإن حال إلى أن يصير خلاً أو مزّاً إلى آخر الفصل

Ia berkata: Jika seseorang menggadaikan air anggur yang manis, maka itu diperbolehkan. Jika kemudian air anggur itu berubah menjadi cuka atau menjadi masam hingga akhir bagian pembahasan, maka…

تقرأ مُزّاً وهو بين شدة الخمر وحموضة الخل وليس بمسكر على حالٍ

Rasanya adalah muzz, yaitu di antara kerasnya khamr dan asamnya cuka, namun dalam keadaan apa pun tidak memabukkan.

وتقرأ مُرِّياً وهذا بعيد؛ فإن الخمر لا يصير مُرِّياً

Dan dibaca “murriyyan”, namun ini jauh (dari kebenaran); sebab khamr tidak menjadi murriyy.

فنخوض في غرض الفصل ونقول رهن العصير جائز بالدين الحال

Maka kita membahas tujuan bab ini dan mengatakan bahwa menjaminkan perasan anggur (‘ashir) itu diperbolehkan atas utang yang sudah jatuh tempo.

فلو رهن العصير وأقبضه فاستحال العصير خمراً في يد المرتهن فلا نحكم بأن الخمرَ توصف بكونها رهناً أصلاً واختلف الأصحاب في العبارة عنها قال قائلون بطل الرهن لمّا استحال العصير خمراً؛ فإن الخمر ليست مالاً وما لا يكون مالاً لا يكون رهناً

Jika seseorang menggadaikan air perasan anggur dan menyerahkannya, lalu air perasan anggur itu berubah menjadi khamar di tangan penerima gadai, maka kita tidak menetapkan bahwa khamar itu dapat disebut sebagai barang gadai sama sekali. Para ulama berbeda pendapat dalam mengekspresikan hal ini. Sebagian mengatakan, gadai tersebut batal ketika air perasan anggur berubah menjadi khamar, karena khamar bukanlah harta, dan sesuatu yang bukan harta tidak dapat dijadikan barang gadai.

ثم إذا استحالت الخمر خلاً فالخل مرهون وهذا القائل يقول عاد الرهن من غير إعادة كما زال من غير إزالة وليس كما لو فسخا الرهن؛ فإنه لا يعود ما لم يعيداه؛ من جهة أن الرهن زال عن قصد ورضا فلا يعود إلا بمثل ما زال به

Kemudian, jika khamr berubah menjadi cuka, maka cuka tersebut menjadi barang gadai. Orang yang berpendapat demikian mengatakan bahwa barang gadai kembali tanpa perlu diadakan kembali, sebagaimana ia hilang tanpa perlu dihilangkan. Hal ini berbeda dengan jika keduanya membatalkan akad gadai; maka barang gadai tidak kembali kecuali jika keduanya mengadakannya kembali, karena barang gadai hilang dengan sengaja dan kerelaan, sehingga tidak kembali kecuali dengan cara yang sama seperti ketika ia hilang.

ومن أصحابنا من قال إذا استحال العصير خمراً فالرهن موقوف لا يحكم ببطلانه فإن عاد خلاً بان أنه لم يبطل وهذه الطريقة عريّةٌ عن التحصيل؛ من جهة أن لا توقف في أن الخمر ليست مالاً والتبيّن إنما يحسن لو كنا نتبين أن الشدة لم تطرأ

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa jika perasan anggur berubah menjadi khamar, maka status rahn (barang gadai) ditangguhkan, tidak langsung diputuskan batal. Jika kemudian berubah kembali menjadi cuka, maka jelaslah bahwa rahn tersebut tidak batal. Namun, metode ini tidak memiliki dasar yang kuat; karena tidak ada keraguan bahwa khamar bukanlah harta (yang sah), dan penjelasan seperti itu hanya tepat jika kita hendak memastikan bahwa sifat memabukkan tidak pernah muncul.

والطريقة الأولى قاصرة أيضاًً عن شفاء الغليل والكشف التام

Cara pertama juga masih terbatas dalam memuaskan dahaga intelektual dan memberikan penjelasan yang sempurna.

والوجه عندنا أن يقال من اتخذ عصيراً وقصد تركه إلى أن يصير خلاً فإذا صار العصير خمراً فالخمرة ليست مملوكة ولكن لمالك العصير فيها حقُّ ملكٍ وإن لم يكن حقيقةَ ملكٍ فهو على حق الملك فيها فإذا انقلبت خلاً كان على حقيقة الملك الآن؛ من جهة أنه استفاد هذا المالَ عن اختصاصه بالخمر كذلك المرتهن له حق اختصاص بالخمر وليس ذلك الحق رهناً فإذا انقلبت الخمر خلاً عاد حقه في الرهن لترتبه على ما ذكرنا نظيره في الملك

Pendapat kami adalah bahwa jika seseorang membuat ‘asir (jus anggur) dengan maksud membiarkannya hingga menjadi khamr, maka ketika ‘asir itu berubah menjadi khamr, khamr tersebut bukanlah milik (yang sah), namun pemilik ‘asir tetap memiliki hak kepemilikan atasnya. Meskipun bukan kepemilikan secara hakiki, ia tetap berada dalam posisi memiliki hak atasnya. Ketika khamr itu berubah menjadi khall (cuka), maka saat itulah kepemilikan yang sebenarnya kembali, karena ia memperoleh harta tersebut melalui kekhususan atas khamr. Demikian pula, orang yang menerima barang gadai (murtahin) memiliki hak kekhususan atas khamr, namun hak tersebut bukanlah hak gadai. Jika khamr itu berubah menjadi khall, maka haknya atas gadai kembali, karena hal itu mengikuti apa yang telah kami sebutkan yang serupa dalam masalah kepemilikan.

ولو رهن شاة وسلمها فماتت فلا شك أن الرهن لا يبقى في الميتة وإنما النظر في جلدها إذا دُبغت فهل نحكم بأن الرهن يعود في ذلك الجلد من غير استئناف عقدٍ فعلى وجهين أحدهما يعود الرهن كالخمر إذا عادت خلاً؛ فإنها تعود رهناً كما تقدم

Jika seseorang menggadaikan seekor kambing dan telah menyerahkannya, lalu kambing itu mati, maka tidak diragukan lagi bahwa gadaiannya tidak lagi berlaku pada bangkai tersebut. Namun, yang menjadi perhatian adalah kulitnya jika telah disamak; apakah kita memutuskan bahwa gadaian kembali berlaku pada kulit itu tanpa perlu memperbarui akad? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, gadaian kembali berlaku sebagaimana khamar yang berubah menjadi cuka; maka ia kembali menjadi barang gadaian sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والوجه الثاني لا يعود الجلد إذا دبغ رهناً؛ فإنه ليس ينقلب بنفسه مدبوغاً بل لا بد من إتيان فعل فيه وإنما يستقيم العَوْدُ من غير اختيارٍ رهناً إذا كان الانقلاب على هذه الصفة

Pendapat kedua, kulit tidak kembali menjadi barang gadai jika telah disamak; karena kulit itu tidak berubah dengan sendirinya menjadi kulit yang telah disamak, melainkan harus ada tindakan yang dilakukan padanya. Maka, kembalinya barang gadai tanpa pilihan hanya dapat diterima jika perubahan itu terjadi dengan sifat seperti ini.

ومن غصب خمراً أو جلداً غير مدبوغ ثم استحالت الخمر خلاً ودبغ الغاصبُ الجلدَ فهل يجب عليه ردُّ الخل والجلدِ المدبوغ هذا من القواعد العظيمة في الغصب وهو شعبة من أصلٍ يحوي تقاسيم والوجه تأخير جملته إلى كتاب الغصب والعودُ إلى ما يتعلق بهذا الكتاب

Barang siapa yang merampas khamar atau kulit yang belum disamak, kemudian khamar itu berubah menjadi cuka dan perampas tersebut menyamak kulit itu, maka apakah wajib baginya mengembalikan cuka dan kulit yang telah disamak? Ini termasuk kaidah-kaidah besar dalam masalah ghashab dan merupakan cabang dari suatu pokok yang mencakup berbagai rincian. Pendapat yang tepat adalah menunda pembahasan keseluruhannya hingga pada Kitab Ghashab dan kembali pada hal-hal yang berkaitan dengan kitab ini.

فلو باع عصيراً وسلمه عصيراً فقد تم العقد وتحمل ما يفضي إليه من انتقال العهدة فلو استحال في يد المشتري خمراً فليس يتعلق بذلك من تبدل قضايا العقد شيء في غرضنا وليس كالمرهون يستحيل خمراً؛ فإن مقصود الرهن منتظرٌ وهو بيعُ الرهن في الدين عند مسيس الحاجة إليه فوقع الاعتناءُ باستحالة العصير في يد المرتهن

Jika seseorang menjual air buah dan menyerahkannya dalam bentuk air buah, maka akad telah sempurna dan segala akibat yang timbul dari perpindahan tanggung jawab menjadi kewajiban. Jika kemudian air buah itu berubah menjadi khamar di tangan pembeli, maka perubahan tersebut tidak memengaruhi ketentuan-ketentuan akad dalam konteks pembahasan kita. Hal ini berbeda dengan barang gadai yang berubah menjadi khamar; sebab tujuan dari gadai masih dinantikan, yaitu penjualan barang gadai untuk melunasi utang ketika sangat dibutuhkan, sehingga perhatian khusus diberikan terhadap perubahan air buah menjadi khamar di tangan penerima gadai.

وشبه الأئمة بيع العصير واستحالتَه خمراً في يد البائع باستحالة العصير خمراً في يد المرتهن؛ فإن البيع لزم بانتفاء الخيار عنه ولا يتوقف لزومُه على الإقباض ولكن انتقال الضمان ونفوذ التصرف منتظر بعدُ فقال الأئمة إذا استحال العصير خمراً في يد البائع ثم استحالت الخمر خلاً فالعقد قائم والقول في انقطاعه وعَوْدِه أو في وقوف الأمر فيه على نحو ما قررناه في المرهون بعد القبض وقال القاضي النص ما ذكرناه في الرهن والبيع وهو الأصل

Para imam (ulama) menganalogikan penjualan jus anggur yang kemudian berubah menjadi khamar di tangan penjual dengan perubahan jus anggur menjadi khamar di tangan penerima gadai; sebab akad jual beli telah menjadi mengikat dengan hilangnya hak khiyar darinya dan keabsahan akad tidak bergantung pada penyerahan barang, namun perpindahan tanggungan dan berlakunya hak pengelolaan masih menunggu. Maka para imam berkata: Jika jus anggur berubah menjadi khamar di tangan penjual, lalu khamar itu berubah menjadi cuka, maka akad tetap berlaku, dan pembahasan tentang batal atau kembalinya akad, atau tentang statusnya yang tertunda, adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan pada barang gadai setelah penyerahan. Dan menurut pendapat qadhi, nash yang kami sebutkan berlaku pada masalah gadai dan jual beli, dan itulah pendapat pokok.

وكان لا يمتنع في القياس أن نقول العصير المبيع إذا استحال خمراً والخمر ليست بمالٍ فالعقد قد عدم موردَه ومحلَّه فإذا انقلبت الخمر خلاً فالقياس أن نجعل هذا على قياس عَوْد الحِنْث فيه إذا علق الرجل طلاقاً أو عتاقاً ثم بت النكاح وأزال الملك عن الرقبة فلو فرض عودٌ بعقدٍ ففي حكم التعليق السابق في الملك والنكاح اللاحقين قولان مشهوران

Dan tidaklah mustahil menurut qiyās (analogi) untuk mengatakan bahwa jus yang dijual, apabila berubah menjadi khamar (minuman keras), sedangkan khamar bukanlah harta, maka akad telah kehilangan objek dan tempatnya. Jika kemudian khamar itu berubah menjadi cuka, maka menurut qiyās, kita dapat menyamakan hal ini dengan kasus kembalinya pelanggaran sumpah (ḥinth) apabila seseorang menggantungkan talak atau pembebasan budak, lalu ia memutuskan pernikahan dan menghilangkan kepemilikan atas budak tersebut. Jika kemudian terjadi pengembalian dengan akad baru, maka dalam hukum pengaitan sebelumnya terhadap kepemilikan dan pernikahan yang baru, terdapat dua pendapat yang masyhur.

ووجه التشبيه أن العقد في استحالة العصير خمراً على حالةٍ لو فرض ابتداءُ العقد لم يثبت لانعدام المحل لا لعجزٍ أو غيره من الموانع والأمر على هذا الوجه في عود الحِنْث فإن النكاح انبتَّ وكذلك الملك ولم يبق محلٌّ يفرض فيه نفوذ طلاق أو عتاق ثم كان في العوْد ما ذكرناه

Adapun alasan adanya analogi adalah bahwa akad dalam perubahan sari buah menjadi khamar berada pada suatu keadaan yang jika akad itu dianggap terjadi sejak awal, maka tidak akan sah karena tidak adanya objek akad, bukan karena ketidakmampuan atau sebab penghalang lainnya. Demikian pula halnya dengan kembalinya dosa (ḥinth), sebab pernikahan telah terputus, demikian pula kepemilikan, sehingga tidak ada lagi objek yang dapat dianggap sah untuk berlakunya talak atau pembebasan budak, kemudian dalam hal kembalinya (dosa) terdapat apa yang telah kami sebutkan.

فإن كانت الخمرة تستحيل بنفسها واعتقد المعتقد ذلك فرقاً فهذا لا يعارض الفقه الذي ذكره القاضي من تحقق انعدام المحل ولكنه لم يذكر هذا إلا منبهاً على طريق المعنى والمذهب ذاك الذي نقلناه

Jika khamr berubah dengan sendirinya dan seseorang meyakini hal itu sebagai perbedaan, maka hal ini tidak bertentangan dengan fiqh yang disebutkan oleh qāḍī tentang terwujudnya hilangnya objek, namun ia hanya menyebutkan hal ini sebagai penunjuk pada jalan makna, dan madzhab adalah sebagaimana yang telah kami nukilkan.

وكل هذا في استحالة العصير بعد القبض

Dan semua ini berkaitan dengan perubahan sari buah setelah diterima.

فأما إذا استحال العصير خمراً قبل القبض فإن جرى الإقباض على الشدة فالقبض فاسد

Adapun jika air perasan anggur berubah menjadi khamar sebelum penyerahan, maka jika penyerahan dilakukan atas barang yang telah menjadi minuman keras, maka penyerahan tersebut tidak sah.

ولو استحالت خلاًّ فلا عود للرهن؛ فإن الركن الأعظم جرى على الفساد وهو كما لو رهن الخمرة المحترمة ثم استحالت فالعقدُ على الفساد ولا ينقلب إلى الصحة بسبب انقلاب الخمر ولو استحال العصير خمراً قبل القبض وانقلب خلاً قبل القبض فهل يفسد الرهن فساداً لا يعود بالانقلاب إلى الحموضة فعلى وجهين أحدهما يفسد لانعدام المحل في حال جواز الرهن وضعفه؛ إذ هو غير منتهٍ إلى اللزوم بعدُ

Jika benda yang digadaikan berubah menjadi cuka, maka gadai tidak kembali (menjadi sah); karena rukun terpenting telah berlangsung dalam keadaan rusak, dan hal ini seperti jika seseorang menggadaikan khamar yang dihormati, kemudian berubah bentuk, maka akadnya tetap rusak dan tidak berubah menjadi sah hanya karena perubahan khamar tersebut. Jika sari buah berubah menjadi khamar sebelum penyerahan, lalu berubah menjadi cuka sebelum penyerahan, apakah gadai menjadi rusak dengan kerusakan yang tidak dapat kembali menjadi sah karena perubahan menjadi asam? Maka ada dua pendapat: salah satunya mengatakan rusak karena objeknya tidak ada pada saat gadai boleh dilakukan, dan pendapat ini lemah; sebab gadai tersebut belum sampai pada tahap wajib.

والثاني يعود العقد كما ذكرناه بعد القبض

Yang kedua, akad kembali seperti yang telah kami sebutkan setelah terjadi qabdh (penyerahan).

وهذان الوجهان يقربان من الأصل الذي مهدناه في موت الراهن قبل القبض وجنونه

Kedua pendapat ini mendekati prinsip yang telah kami jelaskan mengenai wafatnya pihak yang menggadaikan sebelum penyerahan barang dan tentang kegilaannya.

وألحق الشيخ أبو علي بهذا الأصلِ ما لو رهن الرجل عبداً فجنى قبل القبض وتعلق الأرش برقبته وقلنا رهن الجاني فاسد وقد ثبت أن طريان الجناية بعد القبض لا يفسد الرهن ولكن يُثبت حقَّ رفعه بالبيع في الجناية فإذا فُرض ذلك بعد تأكد الرهن بالقبض ففي ارتفاع الرهن وانفساخه وجهان

Syekh Abu Ali menambahkan pada kaidah ini, yaitu apabila seseorang menggadaikan seorang budak, lalu budak itu melakukan tindak pidana sebelum penyerahan, sehingga diyat (ganti rugi) terkait pada lehernya, dan kita berpendapat bahwa gadai terhadap pelaku tindak pidana adalah fasid (rusak). Telah tetap bahwa terjadinya tindak pidana setelah penyerahan tidak membatalkan gadai, namun menetapkan hak untuk membatalkannya melalui penjualan dalam kasus tindak pidana tersebut. Maka, jika hal itu terjadi setelah gadai menjadi pasti dengan penyerahan, dalam hal hapusnya gadai dan batalnya, terdapat dua pendapat.

وهذا الذي ذكره الشيخ أبعد من انقلاب العصير خمراً؛ فإن العبد وإن جنى فهو قائم والملك فيه دائم

Apa yang disebutkan oleh Syekh ini lebih jauh daripada perubahan jus menjadi khamar; sebab meskipun seorang hamba melakukan pelanggaran, ia tetap ada dan kepemilikan atas dirinya tetap berlangsung.

وقد يلزم على هذا المساق تخريج وجهين فيه إذا أبق العبد المرهون قبل القبض وانتهى إلى حالة يمتنع ابتداء الرهن فيه ويجوز أن يُتخيّلَ فرق من جهة أن الجناية بعد القبض تؤثر في الرهن والإباقُ لا يؤثر بعد القبض

Dengan demikian, mungkin perlu untuk mengeluarkan dua pendapat dalam masalah ini jika budak yang digadaikan melarikan diri sebelum penyerahan, lalu sampai pada keadaan di mana awal gadai menjadi tidak mungkin. Bisa jadi dibayangkan adanya perbedaan dari sisi bahwa tindak kejahatan setelah penyerahan berpengaruh terhadap gadai, sedangkan pelarian tidak berpengaruh setelah penyerahan.

وإذا كان أخذ هذه المسائل من طريان الجنون والموت فليس الإباق بعيداً إذا فُرض طريانه قبل القبض عن التردد وتقدير الخلاف

Jika pengambilan masalah-masalah ini didasarkan pada kemungkinan terjadinya kegilaan dan kematian, maka tidaklah jauh kemungkinan lari (ibāq) jika diasumsikan terjadinya sebelum penerimaan, dari keraguan dan perkiraan adanya perbedaan pendapat.

وإذا بانَ ما ذكرناه في استحالة العصير خمراً قبل القبض فإن قلنا ينفسخ الرهن ولا يعود فإذا جرى الإقباضُ على الشدة فالقبض فاسد والرهن منفسخ ولا توقع في العَوْد على الوجه الذي عليه نفرعّ فاستحالة الخمر خلاً بعد ذلك لا أثر له فإن أعادا عقداً بعد الحموضة لم يخف حكمه

Jika telah jelas apa yang kami sebutkan tentang berubahnya jus anggur menjadi khamar sebelum penyerahan, maka jika kami katakan bahwa rahn (gadai) menjadi batal dan tidak kembali, apabila penyerahan terjadi saat sudah menjadi khamar, maka penyerahan itu tidak sah dan rahn menjadi batal, serta tidak ada kemungkinan untuk kembali seperti yang akan kami uraikan. Maka, berubahnya khamar menjadi cuka setelah itu tidak berpengaruh apa-apa. Jika keduanya mengulangi akad setelah menjadi asam, maka hukumnya tidak samar lagi.

وإن قلنا لا ينفسخ الرهن انفساخاً لا يعود فإذا جرى القبض على الشدة فالقبض فاسد فإذا استحالت الخمر خلاً فعقد الرهن باقٍ والذي جرى ليس بقبضٍ فلا بد من قبضٍ بعد الحموضة وإذا ورد العقد على يدٍ ففي تضمن العقد الإقباض كلامٌ مضى فأما إذا أردنا إثبات قبضٍ مجدد على يدٍ مستدامةٍ فلا بُدَّ من إقباض من طريق الصورة فلو قال اقبضه لنفسك ففيه خلافٌ قدّمته في كتاب البيع وهذا ذاك بعينه ولو قال أمسكه لنفسك لم يكن إقباضاً

Jika kita mengatakan bahwa rahn tidak batal secara permanen sehingga tidak dapat kembali lagi, maka apabila terjadi qabd (penguasaan barang jaminan) dalam keadaan barang tersebut masih dalam kondisi keras (belum berubah), maka qabd tersebut tidak sah. Jika kemudian khamr (minuman keras) berubah menjadi cuka, maka akad rahn tetap berlaku dan apa yang telah terjadi sebelumnya bukanlah qabd yang sah, sehingga harus dilakukan qabd setelah barang tersebut menjadi asam (cuka). Jika akad dilakukan atas suatu tangan (pihak penerima), maka telah disebutkan sebelumnya tentang apakah akad itu mengandung unsur penyerahan (iqbādh) atau tidak. Adapun jika kita ingin menetapkan adanya qabd baru atas tangan yang masih memegang barang tersebut, maka harus ada penyerahan secara formal. Jika dikatakan, “Ambillah untuk dirimu sendiri,” maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan dalam Kitab al-Bay‘, dan ini sama persis dengan yang tersebut di sana. Namun jika dikatakan, “Peganglah untuk dirimu sendiri,” maka itu bukanlah penyerahan (iqbādh).

وإذا جوزنا له أن يقبض لنفسه بنفسه فلا بد من صورة نجريها يقع مثلها قبضاً ابتداء هكذا ذكره الأئمة وصرّحوا

Dan apabila kita membolehkannya untuk menerima (barang) untuk dirinya sendiri secara langsung, maka harus ada suatu bentuk (tindakan) yang kita lakukan yang semisal dengannya dapat dianggap sebagai penerimaan (qabdh) sejak awal; demikianlah yang disebutkan oleh para imam dan mereka menegaskannya.

وذكر صاحب التقريب أن الإذن في الإمساك واليدُ دائمة يخرّج على أن العقد هل يتضمن إقباضاً ثم رجّح فقال هذا أولى؛ فإنه يعرض لنفس القبض فإذا كنا نجعل ضمن العقد إقباضاً فلأن نجعل الإذن في الإمساك قبضاً أولى

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan bahwa izin untuk memegang barang sementara tangan tetap berada padanya dapat dianalogikan dengan pertanyaan apakah akad itu sendiri mengandung unsur penyerahan barang (iqbāḍ). Kemudian ia menguatkan pendapatnya dengan mengatakan bahwa hal ini lebih utama; sebab yang terjadi adalah penyerahan barang itu sendiri. Maka jika kita menganggap bahwa akad itu mengandung penyerahan barang, maka menganggap izin untuk memegang barang sebagai penyerahan barang tentu lebih utama.

وهذا قياس لست أنكره ولكن صرح الأئمة بخلافه

Ini adalah qiyās yang tidak aku ingkari, namun para imam telah secara tegas menyatakan pendapat yang berbeda.

هذا تمام البيان في هذا الفصل ثم وصل الشافعي بهذا الفصل تخليل الخمر والمعالجةَ في استعجال الحموضة وذكر الأصحاب هذا الفصل هاهنا فنتأسَّى بهم

Inilah penjelasan lengkap pada bab ini. Kemudian asy-Syafi‘i menyambung bab ini dengan pembahasan tentang pengolahan khamar dan upaya percepatan proses menjadi asam. Para ulama juga menyebutkan bab ini di sini, maka kita mengikuti mereka.

فصل

Bab

الخمر تنقسم إلى خمرة غير محترمة وإلى خمرة محترمة فأما التي لا تحترم فهي التي اتخذها المالك لتكون خمراً فهذه الخمرة غيرُ محترمة؛ وتتعين الإراقة على أهلها وإذا التمسوا أن يكتفى بإيقاع الحيلولة بينهم وبينها حتى تتخلل بأنفسها لم نُجبهم إلى هذا وعجلنا إراقتها وهذا مشعر باستحقاق الإراقةِ فيها؛ فإنا إن عولنا على محاذرة مخامرتهم لها وعدم الأمن بهم فيها فالحيلولة تحسم هذه المادة وتقطعها ولا اكتفاء بها فوضح أنها مستحقة الإراقة

Khamr terbagi menjadi khamr yang tidak dihormati dan khamr yang dihormati. Adapun khamr yang tidak dihormati adalah khamr yang dimiliki oleh seseorang dengan tujuan agar tetap menjadi khamr; khamr seperti ini tidak dihormati, sehingga wajib untuk dituangkan (dibuang) oleh pemiliknya. Jika mereka meminta agar cukup dengan menghalangi mereka dari khamr itu sampai berubah sendiri menjadi cuka, permintaan itu tidak kami kabulkan, dan kami percepat pembuangannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembuangan khamr tersebut memang layak dilakukan; sebab jika kita hanya mengandalkan kehati-hatian mereka agar tidak mendekati khamr itu dan tidak merasa aman dari mereka terhadap khamr tersebut, maka penghalangan saja sudah cukup untuk mencegah dan memutuskan perkara ini, namun itu tidak dianggap cukup. Maka jelaslah bahwa khamr tersebut memang layak untuk dibuang.

فلو لم يتفق إراقتها حتى استحالت خلاًّ من غير علاج ولا تسبب فالخل مالٌ ولا خلافَ أنه لا يراق على صاحبه

Jika cuka tersebut terbentuk tanpa disengaja hingga berubah menjadi cuka tanpa ada perlakuan atau sebab apa pun, maka cuka itu adalah harta, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa cuka tersebut tidak boleh dibuang dari pemiliknya.

فنقول الخمر وإن كانت مستحقة الإراقة فقد انعدمت الشدّة وكأن تيك العين قد زالت والخل رزق جديد هذا متفق عليه

Maka kami katakan, meskipun khamr memang layak untuk ditumpahkan, namun sifat memabukkannya telah hilang, seakan-akan zat yang dahulu itu telah lenyap dan cuka adalah rezeki yang baru; hal ini telah menjadi kesepakatan.

ولو خلل مخلل هذه الخمرة التي وصفناها بكونها مستحقة الإراقة نُظر فإن طرح فيها عيناً من ملح أو خلٍ أو غير ذلك فانقلبت خلاً فهو نجس محرّم وعلل بعض أصحابنا ذلك بأن العين الواقعةَ في الخمر تنجست بملاقاتها فإذا انقلبت الخمر خلاً نجسته تيك العين المتنجسة بملاقاة الخمر

Jika seseorang mencampurkan sesuatu ke dalam khamr yang telah kami sebutkan wajib untuk dibuang, maka perlu diperhatikan: jika ia memasukkan benda seperti garam, cuka, atau selainnya ke dalamnya lalu khamr itu berubah menjadi cuka, maka cuka tersebut tetap najis dan haram. Sebagian ulama kami beralasan bahwa benda yang dimasukkan ke dalam khamr menjadi najis karena bersentuhan dengannya, sehingga ketika khamr itu berubah menjadi cuka, cuka tersebut tetap dinajiskan oleh benda yang telah menjadi najis karena bersentuhan dengan khamr.

وهذا قول غيرُ صادر عن فكرٍ قويم؛ فإنه لا معنى لتنجيس العين إلا اتصال أجزاء الخمر بها وجوهر تلك العين على الطهارة فإذا انقلبت الخمر خلاً فمن ضرورة ذلك أن تنقلب تلك الأجزاء التي لاقت العينَ الواردةَ على الخمر؛ فلا حاصل إذن لذلك والتعويل في تحريم الخل على تحريم التخليل كما ذكرناه في الأساليب

Ini adalah pendapat yang tidak berasal dari pemikiran yang lurus; sebab tidak ada makna menajiskan suatu benda kecuali karena adanya bagian-bagian khamar yang bersentuhan dengannya, sedangkan zat benda tersebut tetap suci. Jika khamar berubah menjadi cuka, maka secara otomatis bagian-bagian yang bersentuhan dengan benda yang terkena khamar itu pun ikut berubah; sehingga tidak ada hasil apa pun dari pendapat tersebut. Oleh karena itu, dasar dalam pengharaman cuka adalah pada pengharaman proses mengubah khamar menjadi cuka (takhallul), sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan sebelumnya.

هذا قولنا في التخليل بطرح شيء في الخمر والحكم متفق عليه والتعويل على تحريم التخليل

Inilah pendapat kami tentang proses penjernihan dengan menambahkan sesuatu ke dalam khamar, dan hukumnya telah disepakati, serta penekanan pada keharaman melakukan penjernihan tersebut.

/ م ولو لم يطرح في الخمرة المستحقة الإراقة شيئاًً ولكن نقلت إلى ظل أو شمس وكان ذلك سبباً في المعالجة ومعاجلة تحصيل الحموضة فإذا زالت الشدة ففي المسألة وجهان بناهما بعض الأصحاب على التردد الذي ذكرناه في التعليل في المسألة الأولى قالوا إن عللنا بالنجاسة فهذا المعنى مفقود هاهنا؛ لأنه لم يطرأ على الخمرة ما ينجسُ بها وإن عوّلنا على التحريم فالتخليل عبارة عن التسبّب إلى إكساب الخمر الحموضة وهذا المعنى يحصل بالتشميس والنقل ولا حاجة إلى هذا البناء؛ فإن فصل النجاسة باطل قطعاً وإن اعتمده أبو يعقوب وطائفة من أئمة الخلاف ولكن توجيه الوجهين في التشميس والنقل يهون من غير بناءٍ فأحد القائلين يتمسك بقصد التخليل وقد حرمه النبي عليه السلام في الخمرة المستحقة الإراقة ولما قال أبو طلحة في خمور الأيتام أخللها قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا ولم يتعرض للتفصيل في التخليل فهذا وجه

Meskipun tidak dicampurkan sesuatu ke dalam khamar yang wajib dibuang itu, namun dipindahkan ke tempat teduh atau ke bawah sinar matahari, dan hal itu menjadi sebab dalam proses pengolahan dan usaha memperoleh keasaman; jika sifat kerasnya telah hilang, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang sebagian ulama mendasarkannya pada keraguan yang telah kami sebutkan dalam alasan pada masalah pertama. Mereka berkata: Jika kita mengaitkan dengan najis, maka alasan ini tidak ada di sini, karena tidak terjadi sesuatu pada khamar yang menjadikannya najis. Namun jika kita berpegang pada keharaman, maka takhīl (proses mengubah khamar menjadi cuka) adalah upaya untuk memberikan keasaman pada khamar, dan hal ini bisa terjadi dengan menjemur atau memindahkannya, sehingga tidak perlu membangun pendapat atas dasar ini. Karena memisahkan antara najis dan tidaknya adalah pendapat yang jelas batil, meskipun dipegang oleh Abu Ya‘qub dan sekelompok imam khilaf. Namun, mengarahkan dua pendapat dalam menjemur dan memindahkan itu mudah tanpa harus membangun di atasnya. Salah satu pihak berpegang pada maksud melakukan takhīl, dan Nabi saw. telah mengharamkannya pada khamar yang wajib dibuang. Ketika Abu Thalhah berkata tentang khamar milik anak yatim, “Aku akan mengubahnya menjadi cuka,” Rasulullah saw. bersabda, “Jangan,” dan beliau tidak merinci dalam masalah takhīl. Inilah satu sisi pendapat.

والوجه الثاني أن الخل يحلّ اعتباراً بالإمساك

Pendapat kedua adalah bahwa cuka menjadi halal karena pertimbangan dengan cara dibiarkan (disimpan).

ثم لو فرض إمساك الخمر المستحقة الإراقة على قصد التخليل فتخللت ففي المسألة وجهان أيضاًً بالترتيب على الوجهين في النقل والتشميس وهذه الصورة أولى بالحلّ ؛ من جهة أنه لم يوجد فيها فعل والقصد المجرد يبعد أن يحرم

Kemudian, jika misalnya khamar yang wajib ditumpahkan itu ditahan dengan tujuan untuk dijadikan cuka, lalu berubah menjadi cuka, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat juga, mengikuti urutan dua pendapat dalam masalah memindahkan dan menjemur. Dan keadaan ini lebih utama untuk dibolehkan; karena tidak terdapat perbuatan di dalamnya, dan niat semata-mata sulit untuk dihukumi haram.

ولو اتفق لُبث من غير قصد إليه فاستحالت الخمر في تلك المدة فالخل حلال بلا خلاف؛ لما قدمناه في صدر الفصل

Jika terjadi penyimpanan tanpa disengaja, lalu selama masa itu khamar berubah menjadi cuka, maka cuka tersebut halal tanpa ada perbedaan pendapat; sebagaimana telah kami jelaskan di awal bab ini.

فهذا بيان الخمرة التي ليست محترمة

Berikut ini adalah penjelasan tentang khamr yang tidak dihormati.

فأمّا الخمرة المحترمة وهي خمرة الخل وتصوير ذلك أن اتخاذ الخل جائز بلا خلاف والعصير لا ينقلب من الحلاوة إلى الحموضة من غير توسط الشدة فإذا انقلبت خمراً فلا سبيل إلى إتلافها؛ إذ لو أُتلفت لما تصوّر اتخاذُ الخل

Adapun khamr yang dihormati, yaitu khamr yang akan dijadikan cuka, penjelasannya adalah bahwa membuat cuka hukumnya boleh tanpa ada perbedaan pendapat, dan cairan anggur tidak akan berubah dari rasa manis menjadi asam tanpa melalui fase keras (memabukkan). Maka jika cairan itu telah berubah menjadi khamr, tidak boleh dimusnahkan; sebab jika dimusnahkan, tidak mungkin lagi membuat cuka darinya.

وهذى بعضُ الناس فقال نُضرب عنها فإن عثرنا عليها خمراً أرقناها ولم يصر إلى هذا أحد من أئمة المذهب وإنما هو من ركوب أصحاب الخلات ثم كان يستد هذا في حق من يأمر بالمعروف فمن يتخذ الخل في نفسه يعلم انقلاب العصير خمراً ويفطن لدركِ رائحتها وهو مقَرٌّ عليها فلا اعتداد بأمثال هذا

Sebagian orang berkata, “Kita abaikan saja, lalu jika kita menemukannya sebagai khamar, kita tumpahkan.” Namun, tidak ada seorang pun dari para imam mazhab yang berpendapat demikian; pendapat ini hanyalah berasal dari orang-orang yang mengikuti keinginan pribadi. Kemudian, pendapat ini dijadikan alasan bagi orang yang memerintahkan amar ma‘ruf. Maka, siapa pun yang membuat khall untuk dirinya sendiri, ia mengetahui perubahan jus anggur menjadi khamar dan dapat mengenali baunya, serta ia tetap membiarkannya, maka tidak dianggap pendapat orang semacam ini.

وذكر الشيخ أبو علي في الفصل كلاماً أؤخره عن ترتيب المذهب ثم آتي عليه

Syekh Abu Ali menyebutkan suatu pembahasan dalam bab tersebut yang akan saya tunda penjelasannya dari urutan mazhab, kemudian saya akan membahasnya.

والقدر الذي فيه اكتفاء أن هذه الخمرةَ غيرُ مراقة على صاحبها وإذا استحالت خلاً بالإمساك فالخل طاهر محترم وكذلك تكون الخلول

Batasan yang mencukupi adalah bahwa khamr tersebut tidak sedang dituangkan oleh pemiliknya, dan jika khamr itu berubah menjadi cuka karena dibiarkan, maka cuka tersebut suci dan dihormati, demikian pula semua jenis cuka.

ولو استعجل صاحب الخمر وخلل نُظِر فإن كان التخليلُ بإلقاء شيء من ملح أو غيره فظاهر المذهب منعُ هذا وإذا فعل فالخل على موجَب المنع محرّم

Jika pemilik khamar tergesa-gesa mengubahnya menjadi cuka, maka perlu dilihat: jika proses pengasaman itu dilakukan dengan menambahkan sesuatu seperti garam atau selainnya, maka pendapat yang paling kuat dalam mazhab adalah melarang hal tersebut. Jika tetap dilakukan, maka cuka yang dihasilkan menurut pendapat yang melarang adalah haram.

ويشهد له حديث أبي طلحة فإنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن خمور الأيتام وما كانت اتخذت إلا واتخاذها جائز ثم نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن تخليلها

Hal ini didukung oleh hadis Abu Thalhah, karena ia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang khamar milik anak yatim, padahal khamar tersebut sebelumnya dibuat dan pembuatannya dibolehkan, kemudian Rasulullah saw. melarang untuk mengubahnya menjadi cuka.

ومن أصحابنا من قال يحل التخليل في الخمر المحترمة؛ فإنها ليست مستحقة الإراقة وهذا القائل يجيب عن حديث أبي طلحة ويقول أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم براقتها والخمرة المحترمة لا تراق بالإجماع فلعلَّ تلك الخمرةَ كانت اتخذت بعد التحريم فإن العصير ينقلب في يوم في حر الحجاز خمراً ولعل هذا كان والأمر على التشديد كما يدّعيهِ أصحاب أبي حنيفة وللنظر في هذا مجال على الجملة

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa diperbolehkan melakukan takhilil (mengubah khamr menjadi cuka) pada khamr yang dihormati; karena khamr tersebut tidak wajib untuk ditumpahkan. Pendapat ini menjawab hadis Abu Thalhah dengan mengatakan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk menumpahkannya, sedangkan khamr yang dihormati tidak boleh ditumpahkan menurut ijmā‘. Mungkin saja khamr yang dimaksud dalam hadis itu dibuat setelah adanya pengharaman, karena air buah (anggur) di daerah panas seperti Hijaz bisa berubah menjadi khamr dalam sehari. Mungkin inilah yang terjadi, dan perintah tersebut bersifat penegasan sebagaimana yang diklaim oleh para pengikut Abu Hanifah. Secara umum, masalah ini masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut.

ولا مبالاة إن جوزنا التخليل بما ذكره أبو يعقوب من فصل النجاسة هذا إذا كان التخليل بإلقاء شيء في الخمرة المحترمة

Tidak masalah jika kita membolehkan pencampuran sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Ya‘qub tentang pemisahan najis, hal ini jika pencampuran dilakukan dengan memasukkan sesuatu ke dalam khamar yang dihormati.

فأما إذا كان التخليل بالنقل من شمس إلى ظل أو من ظل إلى شمس فالمذهب جواز ذلك وإلحاقُه بالإمساك

Adapun jika penyelaan dilakukan dengan memindahkan dari tempat yang terkena sinar matahari ke tempat yang teduh, atau dari tempat yang teduh ke tempat yang terkena sinar matahari, maka menurut mazhab hal itu diperbolehkan dan disamakan hukumnya dengan menahan.

وذهب طائفة من أئمة المذهب إلى تحريم ذلك وإلحاقِه بالتخليل المحرم

Sekelompok ulama mazhab berpendapat bahwa hal itu hukumnya haram dan menyamakannya dengan takhīl yang diharamkan.

وهذا رديء مخالف لما درج عليه الأولون فعلاً ولم يُبْدَ عليهم نكير

Ini adalah pendapat yang buruk dan bertentangan dengan apa yang telah menjadi kebiasaan para pendahulu dalam praktiknya, dan tidak ada yang mengingkari mereka.

وكان شيخي أبو محمد يقول إن طرح في العصير ملحٌ وكان سبباً لتعجيل التخليل ففيه تردد بين الأصحاب وهو في معنى النقل وهذا عندي بعيد؛ فإن المعالجة لم تصادف خمراً

Guru saya, Abu Muhammad, berkata: Jika ke dalam perasan anggur ditambahkan garam dan hal itu menjadi sebab percepatan proses menjadi cuka, maka terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat (ulama). Hal ini serupa dengan kasus pemindahan (naskh). Namun menurut saya, hal itu jauh (tidak tepat); sebab perlakuan tersebut tidak mengenai khamar.

وسمعته مرة يقول تلك الأعيان لا حاجة إليها فتنْجُس بالخمر ثم لا يزول حكم النجاسة عنها بخلاف نجاسة الظروف وهذا تردد على طريقة أبي يعقوب وهي في أصلها باطلة والتفريع عليها باطل؛ فإنا لو التزمنا تمحيص العصير لنقَّيناه من العناقيد والثجير والتزمنا تصفيته جهدنا عن الأقذاء وهذا أمر طويل لا يستريب محصل في حَيْده عن سمت الشريعة

Aku pernah mendengarnya berkata, “Benda-benda itu tidak diperlukan, sehingga menjadi najis karena terkena khamar, lalu hukum najis tidak hilang darinya, berbeda dengan najis pada wadah.” Ini adalah keraguan menurut metode Abu Ya‘qub, dan pada dasarnya pendapat ini batil, serta cabang-cabang yang dibangun di atasnya juga batil. Sebab, jika kita harus benar-benar membersihkan jus anggur, tentu kita akan membersihkannya dari tangkai dan ampasnya, dan kita pun harus berusaha sekuat tenaga untuk menyaringnya dari kotoran-kotoran. Ini adalah perkara yang panjang dan tidak diragukan lagi oleh siapa pun yang memahami, bahwa hal itu menyimpang dari arah syariat.

نعم لو وقع شيء في الخمرة من غير قصد فقد رأيت فيه تردداً لبعض الأصحاب إذا منعنا التخليل

Ya, jika sesuatu jatuh ke dalam khamr tanpa disengaja, aku melihat ada keraguan di antara sebagian sahabat (ulama) mengenai hal ini, jika kita melarang proses penjernihan (takhilil).

وقد نجز التفصيل في التخليل وحان أن نذكر ما وعدناه من كلامٍ للأصحاب خارجٍ عن ضبط المذهب وذلك في صورتين إحداهما أن العناقيد إذا استحالت أجوافها إلى الشدة والحبات متصلة بالعساليج فقد ذكر القاضي وطائفة من الأئمة وجهين في جواز بيعها وطردوا هذا الخلافَ في بيع البيضة التي حال مُحُّها وماحُها دماً وهو إلى الانقلاب إلى تخليق الفرخ ومن ذكر هذين الوجهين

Telah selesai pembahasan secara rinci mengenai proses pengolahan, dan kini saatnya kami menyampaikan apa yang telah kami janjikan berupa pendapat para ulama yang berada di luar ketentuan mazhab, yaitu dalam dua kasus. Pertama, apabila buah anggur telah berubah bagian dalamnya menjadi keras sementara butirannya masih melekat pada tangkainya, maka al-Qadhi dan sekelompok imam menyebutkan dua pendapat mengenai kebolehan menjualnya. Mereka juga memperluas perbedaan pendapat ini pada penjualan telur yang bagian kuning dan putihnya telah berubah menjadi darah dan hampir berubah menjadi embrio anak ayam. Orang yang menyebutkan dua pendapat ini…

لم يخصهما بحال من يقصد اتخاذَ الخل حتى يحمل على الحرمة نصّ عليه القاضي ولم يفرض المسألةَ إلا فيمن يتخذ الخمر ثم روجع في نجاسة أجوافها فتوقف وهذا عظيم؛ فإن متضمنها الخمر الشديدة ولا يليق بقاعدتنا أن ننفي حكمَ النجاسة عما في بواطنها ثم نقول لو اعتصرت صارت نجسةً والانفصال لا يتضمن تثبيت النجاسة

Ia tidak mengkhususkan keduanya pada keadaan orang yang bermaksud membuat cuka, sehingga dapat diarahkan pada keharaman—hal ini telah dinyatakan secara tegas oleh al-Qadhi—dan ia tidak mengandaikan masalah tersebut kecuali pada orang yang membuat khamr, kemudian ia ditanya kembali tentang kenajisan bagian dalamnya, lalu ia ragu. Ini adalah perkara besar; sebab kandungannya adalah khamr yang sangat kuat, dan tidak sesuai dengan kaidah kita jika kita menafikan hukum najis dari apa yang ada di bagian dalamnya, kemudian kita mengatakan bahwa jika diperas maka menjadi najis, padahal pemisahan itu sendiri tidak mengandung penetapan kenajisan.

وهذا يوافق مذهب أبي حنيفة إذ قال الدماء في العروق في خلل اللحم ليست نجسة؛ فإذا سفح وزايل اكتسب النجاسة وزعم أنه تمسك في هذا بظاهر قوله تعالى أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا وهذا مخصوص بالدم فلا وجه لهذا إذنْ ولا خروج للخلاف في البيع إلا على أمرٍ وهو أن البيضة ظاهرها طاهر والنجاسة مستترة بالقيض استتار خِلقة والبيضة في نفسها صائرة إلى رتبة الفرخ فكان ابتياع البيضة وحشوها الدم كابتياع العصفورة وحشوها النجاسة فاعتمد البيعُ مقصودَ البيضة وطهارة الظاهر والعنقودُ طاهرٌ وحشوه نجاسة مستترةٌ وهي إلى الحموضة

Hal ini sesuai dengan mazhab Abu Hanifah yang berpendapat bahwa darah yang berada di dalam urat dan di sela-sela daging tidak najis; apabila darah itu mengalir dan terpisah, barulah ia menjadi najis. Ia beralasan dengan makna lahir dari firman Allah Ta‘ala: “atau darah yang mengalir” (aw daman masfūḥan). Namun, ini dikhususkan untuk darah saja, sehingga tidak ada alasan untuk pendapat ini, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam jual beli kecuali pada satu hal, yaitu bahwa kulit luar telur itu suci, sedangkan najis tersembunyi di balik cangkangnya secara alami, dan telur itu sendiri pada akhirnya akan menjadi anak ayam. Maka membeli telur yang di dalamnya terdapat darah seperti membeli burung pipit yang di dalamnya terdapat najis. Oleh karena itu, jual beli didasarkan pada maksud membeli telur dan kesucian bagian luarnya, sedangkan buah anggur itu suci dan bagian dalamnya tersembunyi najis yang akan berubah menjadi asam.

فإن قيل قد فرضتموها في حال من يقصد الخمرَ قلنا نعم ولكن العادة جاريةٌ بأن من يبغي الخمر يعتصر ولا يصب في الدنان إلا العصير فإن الثجير وعفوصتَه تفسد شدة الخمر فإذا وجدنا العناقيد لم نعول على قصد المتخذ إذا كان ما وجدناه مائلاً عن عادة من يقتني الخمور وهذا القائل يقول لا نجوز إتلافَ العناقيد على أربابها؛ إذ يستحيل الجمعُ بين جواز بيعها وبين جواز إفسادها وليس كالمرتد يباع؛ فإنّ قتله غير مستحق ولكنه مدعوّ قهراً إلى الإسلام بالتعنيف والقتلُ المستحق قد يمنع صحة البيع في العبد الذي استوجب القتلَ في المحاربة وقد ذكر الأصحاب منعَ البيع في المرتد كما قدمته

Jika dikatakan, “Kalian telah mewajibkannya dalam keadaan orang yang memang berniat membuat khamar,” kami katakan, “Ya, benar. Namun kebiasaan yang berlaku adalah bahwa siapa yang menginginkan khamar akan memeras (anggur) dan tidak menuangkannya ke dalam gentong kecuali berupa perasan anggur, karena ampas dan keasaman anggur akan merusak kekuatan khamar. Maka jika kami menemukan (anggur) masih berupa tandan, kami tidak memperhatikan niat orang yang membuatnya, selama apa yang kami temukan itu berbeda dari kebiasaan orang yang mengolah khamar.” Adapun orang yang berpendapat demikian mengatakan, “Kami tidak membolehkan merusak tandan anggur milik pemiliknya, karena tidak mungkin menggabungkan antara bolehnya menjualnya dengan bolehnya merusaknya. Ini tidak seperti (hukum) murtad yang boleh dijual; sebab pembunuhannya tidak wajib, melainkan ia dipaksa masuk Islam dengan cara ditekan, dan pembunuhan yang memang wajib dapat mencegah sahnya penjualan pada budak yang berhak dibunuh karena berperang. Para ulama juga telah menyebutkan larangan menjual (budak) murtad, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya.”

فهذا تلخيص القول في ذلك

Inilah ringkasan pembahasan mengenai hal tersebut.

فإن قيل أليس اختلف الأصحاب في جواز الصلاة مع البيضة المذرة فهلا فهمتم من هذا الاختلاف الترددَ في نجاسة حشو البيضة قلنا جواز الصلاة مأخوذ من الاستتار الخِلقي المشبه باستتار النجاسة بالحيوان وقد طرد بعض الأصحاب الخلافَ في جواز الصلاة مع حمل قارورة مصممة حشوها نجاسة

Jika dikatakan, “Bukankah para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya salat dengan membawa telur yang busuk? Mengapa kalian tidak memahami dari perbedaan pendapat ini adanya keraguan tentang kenajisan isi telur tersebut?” Kami menjawab, bolehnya salat diambil dari adanya penutup alami yang menyerupai tertutupnya najis pada tubuh hewan. Sebagian ulama juga meneruskan perbedaan pendapat ini pada bolehnya salat dengan membawa botol tertutup rapat yang di dalamnya terdapat najis.

هذا بيان إحدى الصورتين

Ini adalah penjelasan dari salah satu dari dua bentuk tersebut.

الصورة الأخرى في الخمرة المحترمة كما سبق وصفها قطع الأصحاب بأنها ليست مالاً ولا تضمن إذا أُتلفت وليس على متلفها إلا التوبيخ والتأديب على ما يراه صاحب الأمر وذكر الشيخ أبو علي تردداً في بيعها وتردداً في طهارتها وهي خمرة مشتدّة محرّمة وهذا خرم المذهب ومصادمة القاعدة وما ذكرناه من استحالة العصير خمراً وارتفاع الرهن وعوده إذا صارت الخمر خلاً والفصل بين ما قبل القبض وبعده يخالف جواز بيع الخمر فلا وجه لهذا وإنما التردد في مسألة العنقود وفيها من الإشكال ما تقدّم

Bentuk lain dari khamr yang dihormati, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, para ulama sepakat bahwa ia bukanlah harta dan tidak wajib diganti jika dirusak; pelakunya hanya dikenai teguran dan hukuman sesuai kebijakan penguasa. Syaikh Abu Ali menyebutkan adanya keraguan dalam hal jual belinya dan juga keraguan dalam hal kesuciannya, padahal ini adalah khamr yang sangat memabukkan dan diharamkan. Pendapat ini bertentangan dengan mazhab dan kaidah yang ada. Adapun yang telah kami sebutkan tentang berubahnya jus anggur menjadi khamr, batalnya rahn (gadai) dan kembalinya jika khamr berubah menjadi cuka, serta perbedaan antara sebelum dan sesudah penyerahan, semua itu bertentangan dengan kebolehan menjual khamr. Maka tidak ada alasan untuk pendapat tersebut. Keraguan hanya ada pada masalah ‘unqūd (tandan anggur), dan di dalamnya terdapat permasalahan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والوجه القطع بمنع بيعها أيضاً لنجاسة أجوافها وليست هي حيوان فإن الحيوان لاختصاصه بالحياة ممتاز عن النجاسات المجاورة له والبيضة والعنقود وإن انتظمت ظواهرها وبواطنها خِلقة فإذا بيعت بجملتها فلا تمييز لبعضها عن البعض بالحياة والجمادية فالبيع فيها ممتنع؛ وأيضاً فإن المقصود منها أجوافها وحشوها نجس والمقصود من الحيوان نفسه

Pendapat yang benar adalah memastikan larangan menjualnya juga, karena bagian dalamnya najis dan ia bukanlah hewan. Sebab, hewan karena memiliki kehidupan, berbeda dari najis yang ada di sekitarnya. Sedangkan telur dan anggur, meskipun bagian luar dan dalamnya tersusun secara alami, jika dijual secara keseluruhan maka tidak ada pembedaan antara sebagian dengan sebagian lain dalam hal kehidupan dan kebendaan, sehingga penjualannya tidak diperbolehkan. Selain itu, yang menjadi tujuan dari benda-benda tersebut adalah bagian dalamnya, sedangkan isinya najis, berbeda dengan hewan yang tujuan utamanya adalah dirinya sendiri.

فهذا تمام ما يحضرنا في بيان ذلك

Demikianlah seluruh penjelasan yang dapat kami sampaikan mengenai hal tersebut.

فصل

Bab

ولو قال رهنتكه عصيراً فصار في يدك خمراً إلى آخره

Dan jika ia berkata, “Aku menjadikanmu sebagai penerima gadai atas cairan anggur, lalu cairan itu berubah menjadi khamar di tanganmu,” dan seterusnya.

إذا اختلف الراهن والمرتهن في عيبٍ ثابت فقال الراهن حدث العيب في يدك ولا خيار لك وقال المرتهن حدث العيب في يدك أيها الراهن وقد اطلعتُ عليه الآن فأرده وأفسخ البيع الذي شرطتُ هذا الرهنَ فيه فالقول قول الراهن؛ قياساً على اختلاف البائع والمشتري في قدم العيب وحدَثِه؛ فإذا كنا نجعل القول قول البائع استدامةً للعقد فلنجعل هاهنا القولَ قولَ الراهن استدامة للرهن والبيعِ الذي الرهنُ شرطٌ فيه وهذا واضح

Jika terjadi perselisihan antara pihak yang menggadaikan (rahin) dan pihak penerima gadai (murtahin) mengenai cacat yang sudah ada, lalu pihak rahin berkata, “Cacat itu terjadi ketika barang ada di tanganmu dan kamu tidak punya hak khiyar,” sedangkan pihak murtahin berkata, “Cacat itu terjadi ketika barang masih di tanganmu, wahai rahin, dan aku baru mengetahuinya sekarang, maka aku ingin mengembalikannya dan membatalkan jual beli yang mensyaratkan gadai ini,” maka pendapat yang dipegang adalah pendapat rahin; qiyās-nya adalah pada perselisihan antara penjual dan pembeli tentang cacat lama atau baru. Jika kita menetapkan bahwa pendapat penjual yang dipegang demi kelangsungan akad, maka di sini pun pendapat rahin yang dipegang demi kelangsungan gadai dan jual beli yang gadai menjadi syarat di dalamnya, dan ini jelas.

ولو كان رهن عصيراً فرأيناه خمراً في يد المرتهن وقد اختلف الراهن والمرتهن فقال الراهن أقبضتك العصير فانقلب خمراً في يدك وأنا قد وفيت بالشرط ووفيتك المشروط وقال المرتهن أقبضتني الخمر وكانت الاستحالة إلى الشدة في يدك فالقول قول من هذا يبتني على ما مهدناه من أن الإقباض على الشدة فاسد

Jika yang dijadikan rahin adalah air anggur, lalu kita melihatnya telah berubah menjadi khamar di tangan murtahin, kemudian terjadi perselisihan antara rahin dan murtahin. Rahin berkata, “Aku telah menyerahkan kepadamu air anggur, lalu berubah menjadi khamar di tanganmu. Aku telah memenuhi syarat dan menyerahkan apa yang disyaratkan.” Sedangkan murtahin berkata, “Engkau telah menyerahkan kepadaku khamar, dan perubahan menjadi memabukkan terjadi di tanganmu.” Maka, pendapat siapa yang diterima dalam hal ini bergantung pada apa yang telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa penyerahan dalam keadaan memabukkan adalah tidak sah.

وقد اختلف الأصحاب في أن العصير إذا استحال خمراً في يد الراهن؛ هل ينفسخ الرهن وقد مضى ذلك الآن فالراهن يدّعي استقرار الرهن والمرتهن يأبى ذلك

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah perasan anggur yang berubah menjadi khamar di tangan pihak yang menggadaikan; apakah gadai tersebut menjadi batal. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya, sehingga pihak yang menggadaikan mengklaim bahwa gadai tetap berlaku, sedangkan pihak penerima gadai menolaknya.

ففي المسألة قولان أحدهما القول قول الراهن؛ لأنه ادّعى إقباضه عصيراً والأصل بقاؤه على صفة الحلاوة والقول الثاني أن القول قول المرتهن؛ فإن الراهن يدّعي عليه أنه قبض قبضاً صحيحاً وهو منكر للقبض والأصل عدمه ولا حكم للقبض الذي اعترف به فإنه فاسد ليس قبضاً شرعياً فكأن لا قبض وقيل القولان يقربان من اختلاف الأصحاب في حد المدعي والمدعَى عليه كما سيأتي في الدعاوى

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat: yang pertama, pendapat yang dipegang adalah pendapat rahin (pemberi gadai); karena ia mengaku telah menyerahkan barang dalam bentuk jus dan pada dasarnya barang tersebut tetap dalam sifat manisnya. Pendapat kedua, yang dipegang adalah pendapat murtahin (penerima gadai); karena rahin mengklaim bahwa murtahin telah menerima barang dengan penerimaan yang sah, sedangkan murtahin mengingkari telah menerima, dan pada dasarnya penerimaan itu tidak ada. Tidak ada hukum bagi penerimaan yang diakui oleh rahin, karena penerimaan tersebut rusak dan bukan penerimaan secara syar‘i, sehingga seakan-akan tidak ada penerimaan sama sekali. Dikatakan pula bahwa kedua pendapat ini mendekati perbedaan pendapat para ashhab (ulama mazhab) dalam batasan siapa yang disebut sebagai penggugat (mudda‘i) dan siapa yang disebut sebagai tergugat (mudda‘ā ‘alaih), sebagaimana akan dijelaskan dalam bab gugatan.

ومن أصحابنا من قال المدعي مَنْ يدعي أمراً خفياً والمدّعى عليه من يذكر أمراً جلياً ومنهم من قال المدعي من لو سكت تُرِك والسكوت والمدعى عليه من لا يترك وسكوته ووجه التخريج أن المرتهن لو سكت تُرك فهو المدعي إذاً والقول قول الراهن؛ فإنه لو سكت لم يترك

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa yang disebut sebagai mudda‘i adalah orang yang mengklaim sesuatu yang tersembunyi, sedangkan mudda‘a ‘alaih adalah orang yang menyebutkan sesuatu yang jelas. Ada juga yang berpendapat bahwa mudda‘i adalah orang yang jika diam maka ia akan dibiarkan dan diamnya dianggap, sedangkan mudda‘a ‘alaih adalah orang yang tidak akan dibiarkan jika diam. Penjelasan dari pendapat ini adalah bahwa jika murtahin (penerima gadai) diam, maka ia akan dibiarkan, sehingga ia adalah mudda‘i, dan pendapat yang dipegang adalah pendapat rāhin (pemberi gadai); sebab jika ia diam, ia tidak akan dibiarkan.

وإن قلنا المدعي من يدعي أمراً خفياً فالمدعي هو الراهن إذاً على هذا؛ فإنه يدعي القبض المبرم والأصل عدمه والمرتهن يدعي عدم القبض وهو الأصل

Dan jika kita mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mudda‘i adalah orang yang mengklaim sesuatu yang tersembunyi, maka dalam hal ini mudda‘i adalah pihak rāhin; karena ia mengklaim telah terjadi qabd yang sempurna, padahal asalnya tidak demikian, sedangkan pihak murtahin mengklaim tidak terjadi qabd, dan itulah asalnya.

ولو قال المرتهن كنتُ شرطتُ الرهنَ وقد رهنتني خمراً إذْ رهنتني وقال الراهن بل رهنتك عصيراً وهذه المسألة مفروضة فيه إذا شرطا رهناً معيناً وفرض الوفاء به ثم قال المرتهن العين التي شرطنا رهنها كانت خمراً وقال الراهن بل كانت عصيراً فهذا يبتني على أن شرط الرهن الفاسد هل يُفسد البيعَ وفيه قولان سيأتي ذكرهما

Jika pihak penerima gadai berkata, “Aku telah mensyaratkan adanya barang gadai, dan engkau telah menggadaikan kepadaku khamar ketika engkau menggadaikannya,” sedangkan pihak yang menggadaikan berkata, “Aku menggadaikan kepadamu ‘asir (jus anggur),” maka permasalahan ini terjadi apabila keduanya telah mensyaratkan barang gadai tertentu dan telah disepakati pemenuhannya. Kemudian pihak penerima gadai berkata, “Barang yang telah kita syaratkan sebagai barang gadai itu adalah khamar,” sedangkan pihak yang menggadaikan berkata, “Bahkan itu adalah ‘asir.” Maka permasalahan ini bergantung pada apakah syarat barang gadai yang fasid (rusak/tidak sah) dapat merusak akad jual beli atau tidak. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti.

فإن قلنا إنه لا يوجب فساد البيع فالتنازع في الوفاء بالشرط وعدم الوفاء به يخرّج على القولين والاختلافِ في حالة القبض وهذا بيّن

Jika kita mengatakan bahwa hal itu tidak menyebabkan batalnya akad jual beli, maka perselisihan mengenai pemenuhan syarat atau tidak dipenuhinya syarat tersebut dikembalikan kepada dua pendapat dan perbedaan pendapat dalam keadaan setelah penyerahan barang, dan hal ini jelas.

وإن قلنا شرط الرهن الفاسد يفسد البيع فالذي قالاه نزاع في فساد البيع وصحته وقد ذكرنا اختلاف أصحابنا فيه إذا اختلف المتعاقدان في شرط مفسد فادّعاه أحدهما ونفاه الثاني وقد استقصينا القول فيه في باب اختلاف المتبايعين

Jika kita mengatakan bahwa syarat rahn yang fasid membatalkan jual beli, maka apa yang mereka berdua katakan adalah perselisihan tentang batal atau sahnya jual beli tersebut. Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat para sahabat kami dalam hal ini, yaitu ketika dua pihak yang berakad berbeda pendapat tentang adanya syarat yang membatalkan; salah satunya mengklaim adanya syarat tersebut, sementara yang lain menolaknya. Kami telah membahas secara rinci masalah ini dalam bab Ikhtilaf al-Mutabayi‘ayn (perbedaan pendapat antara dua pihak yang berjual beli).

فرع

Cabang

سئل عنه القاضي فقيل إن اشترى لبناً في قمقمة فصبه البائع في قمقمةٍ للمشتري فَعَلتْه فأرةٌ فاختلفا فقال المشتري بعتني اللبن طاهراً فوقعت فيه فأرة وقال البائع لا بل كانت الفأرة في قمقمك

Seorang qadhi ditanya tentang hal ini: Jika seseorang membeli susu dalam sebuah kendi, lalu penjual menuangkan susu itu ke dalam kendi milik pembeli, kemudian seekor tikus jatuh ke dalamnya. Keduanya pun berselisih. Pembeli berkata, “Engkau telah menjual kepadaku susu yang suci, lalu seekor tikus jatuh ke dalamnya.” Sedangkan penjual berkata, “Tidak, justru tikus itu sudah ada di dalam kendimu.”

فكان من جوابه أن قال هذا يخرّج على القولين في إقباض الخمر والعصير؛ فإن المشتري يقول أقبضتنيه نجساً والبائع يقول بل أقبضتك طاهراً وحصلت النجاسة في يدك من قمقمك

Maka di antara jawabannya adalah ia berkata: Ini dikembalikan kepada dua pendapat tentang penyerahan khamar dan perasan anggur; karena pembeli berkata, “Engkau menyerahkannya kepadaku dalam keadaan najis,” sedangkan penjual berkata, “Justru aku menyerahkannya kepadamu dalam keadaan suci, dan kenajisan itu terjadi di tanganmu dari wadahmu sendiri.”

ولو قال البائع كانت هذه الفأرة في قمقمك وقال المشتري بل كان اللبن حالة العقد نجساً لكون الفأرة فيه فهذا نزاع في أن العقد عقد على الفساد أم لا وهو مناظر اختلاف المتبايعين في فساد العقد كما ذكرناه

Jika penjual berkata, “Tikus ini ada di kendi milikmu,” dan pembeli berkata, “Justru susu itu saat akad berlangsung sudah najis karena ada tikus di dalamnya,” maka ini adalah perselisihan tentang apakah akad tersebut merupakan akad yang rusak atau tidak. Perselisihan ini serupa dengan perbedaan pendapat antara penjual dan pembeli mengenai rusaknya akad, sebagaimana telah kami sebutkan.

هذا جوابه وتفصيله

Inilah jawabannya dan penjelasannya.

فإن قيل إذا قال المشتري في الصورة الأولى تنجس اللبن في يدك فهو ادّعاء انفساخ البيع قلنا نعم هو كذلك والعصير إذا استحال خمراً فهل نحكم بانفساخ الرهن

Jika dikatakan: Apabila pembeli dalam kasus pertama berkata, “Susu itu menjadi najis di tanganmu,” maka itu adalah klaim pembatalan akad jual beli. Kami katakan: Ya, memang demikian. Dan jika perasan anggur berubah menjadi khamar, apakah kita memutuskan bahwa rahn (barang gadai) menjadi batal?

فإن قيل إذا كانت النجاسة في ظرف المشتري فاللبن ينجس بملاقاة النجاسة فليس ما ادعاه البائع إقباضاً على الصحة قلنا ليس كذلك؛ فإن اللبن إذا حصل في فضاء الظرف ثبت له حكم القبض جزءاً جزءاً قبل أن يلقى النجاسة هذا بيان قوله

Jika dikatakan: Apabila najis berada di dalam wadah milik pembeli, maka susu menjadi najis karena bersentuhan dengan najis tersebut, sehingga apa yang diklaim oleh penjual sebagai penyerahan yang sah tidaklah benar. Kami menjawab: Tidak demikian; sebab apabila susu telah berada di dalam ruang wadah, maka berlaku hukum penyerahan atasnya secara bertahap sebelum bersentuhan dengan najis. Inilah penjelasan atas pernyataannya.

فلينظر الناظر في ذلك

Maka hendaklah orang yang memperhatikan, memperhatikan hal itu.

فصل

Bab

قال ولا بأس أن يرهن الجارية ولها ولد صغير؛ لأن هذا ليس بتفرقة إلى آخره

Ia berkata, “Tidak mengapa menggadaikan seorang budak perempuan yang memiliki anak kecil, karena hal itu bukanlah suatu bentuk pemisahan,” dan seterusnya.

التفرقة في البيع بين الأم وولدها الصغير حرام؛ قال النبي عليه السلام لا تُولَّه والدة بولدها ثم إن بيعت الجارية دون الولد أو بيع الولد دون الجارية وارتكب المتعاقدان محظور التفرقة ففي صحة البيع قولان سيأتي ذكرهما في كتاب السير إن شاء الله تعالى وفيه نذكر حد الصغر المؤثر والتفريقَ المؤثر بين الوالد والولد ثم بين جميع المحارم

Memisahkan dalam jual beli antara seorang ibu dan anak kecilnya adalah haram; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang ibu dipisahkan dari anaknya.” Kemudian, jika seorang budak perempuan dijual tanpa anaknya, atau anaknya dijual tanpa budak perempuan tersebut, sehingga kedua pihak yang berakad melakukan larangan berupa pemisahan, maka mengenai keabsahan jual belinya terdapat dua pendapat yang akan disebutkan dalam Kitab as-Siyar, insya Allah Ta‘ala. Di sana juga akan dijelaskan batas usia kecil yang berpengaruh dan bentuk pemisahan yang berpengaruh antara orang tua dan anak, kemudian antara seluruh mahram.

وقدرُ غرضنا الآن أن صحة البيع الواقع على حكم التفرقة فيها قولان أحدهما وهو الجديد أن البيع باطل والثاني وهو القديم أن البيع صحيح

Tujuan pembahasan kita sekarang adalah bahwa keabsahan jual beli yang terjadi berdasarkan hukum perbedaan pendapat di dalamnya terdapat dua pendapat: yang pertama, yaitu pendapat baru, menyatakan bahwa jual beli tersebut batal; dan yang kedua, yaitu pendapat lama, menyatakan bahwa jual beli tersebut sah.

قال الشافعي لو رهن الأمَّ دون ولدها أو على العكس فالرهن صحيح؛ لأن ذلك ليس بتفرقة بينهما

Imam Syafi‘i berkata, jika seseorang menggadaikan induk hewan tanpa anaknya, atau sebaliknya, maka gadaiannya sah; karena hal itu bukanlah termasuk memisahkan antara keduanya.

واختلف أصحابنا في معنى هذا اللفظ فمنهم من قال معناه أن الرهن لا يوجب التفرقة؛ فإن منافع الأم للراهن فيجمع بين الأم وولدها ويكلفها احتضانه وإرضاعه ومنهم من قال معنى قوله إن ذلك ليس بتفرقة أن البيع منتظرٌ فإذا مست الحاجة إليهِ لم يفرق بين الأم والولد فإذا ثبت صحة الرهن فإذا مست الحاجة إلى البيع بأن حَلّ الدينُ فهل يجوز إفراد الأم بالبيع والتفريع على أن التفريق مفسد للعقد على هذا القول وجهان أحدهما أن البيع يبطل إذا تضمن التفريقَ؛ طرداً للقياس والثاني لا يبطل؛ لأن هذا بيع قهري ولا يمتنع التفريق قهراً لأمر شرعي وهذا كما لو كان للجارية ولد صغير حُر فبَيع الأم جائز والحرية فرقت بين الأم والولد كذلك اختصاص الرهن بالجارية يوجب تخصيصه بالبيع

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai makna lafaz ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksudnya adalah bahwa rahn (gadai) tidak menyebabkan terjadinya perpisahan; sebab manfaat dari induk tetap menjadi milik orang yang menggadaikan, sehingga ia dapat mengumpulkan antara induk dan anaknya serta membebankan kepadanya untuk mengasuh dan menyusuinya. Sebagian lain berpendapat bahwa makna dari perkataan “hal itu bukanlah perpisahan” adalah bahwa penjualan masih ditunda, sehingga apabila ada kebutuhan mendesak untuk menjualnya, maka tidak dipisahkan antara induk dan anaknya. Apabila telah tetap keabsahan rahn, lalu muncul kebutuhan untuk menjualnya karena utang telah jatuh tempo, maka apakah boleh menjual induk saja? Berdasarkan pendapat bahwa perpisahan membatalkan akad, terdapat dua pendapat: yang pertama, penjualan menjadi batal jika mengakibatkan perpisahan, sesuai dengan qiyās; yang kedua, penjualan tidak batal, karena ini adalah penjualan secara paksa dan tidak terlarang memisahkan secara paksa karena alasan syar‘i. Hal ini sebagaimana jika seorang budak perempuan memiliki anak kecil yang merdeka, maka penjualan induk tetap sah dan kemerdekaan telah memisahkan antara induk dan anak. Demikian pula, kekhususan rahn pada budak perempuan menyebabkan kekhususan dalam penjualannya.

التفريع

Pencabangan

إن قلنا تباع الجارية والولد عند مَحِل الدين وهو الذي نص عليه الشافعي فلا حظ للمرتهن في الولد وقد جرى البيع في الأم والولد فإذا أردنا توزيع الثمن على الجارية والولد فما وجه التوزيع

Jika kita mengatakan bahwa budak perempuan dan anak dijual pada saat jatuh tempo utang, sebagaimana yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i, maka tidak ada hak bagi pihak yang menerima gadai atas anak tersebut, dan penjualan telah terjadi pada ibu dan anak. Jika kita ingin membagi hasil penjualan antara budak perempuan dan anak, bagaimana cara pembagiannya?

هذه المسألة تقتضي تقديم أخرى عليها وهي بين أيدينا ولكنا لا نجد بُدّاً من ذكرها الان في غرضٍ لنا

Permasalahan ini menuntut untuk didahului oleh permasalahan lain yang sebenarnya sedang kita bahas, namun kami tidak menemukan jalan lain selain menyebutkannya sekarang demi tujuan tertentu yang kami maksud.

فنقول من رهن أرضا بيضاء وكان فيها نوى فقبض المرتهن الرهنَ ثم أنبتت النوى أشجاراً فلا سبيل إلى قلعها ولكن إذا حل الحق وبعنا الأرض والغراس فكيف يقبض الثمنَ المأخوذَ على الأرض والغراس اختلف أئمتنا في ذلك فقال بعضهم تقُوّم الأرض بيضاء فإذا قيمتها مائة ثم نقوّمها مع الغراس فإذا قيمتها مع الغراس مائة وعشرون فقد زاد تقدير الضم على تقدير الانفراد في الأرض البيضاء بعشرين درهماً والعشرون من المائة والعشرين سدسها فنحفظ هذه النسبة فإذا هي نسبة الأسداس فإذا بعنا الأرضَ والغراس وزّعنا الثمنَ على النسبة التي معنا فصرفنا خمسةَ أسداسه إلى المرتهن وصرفنا سُدسه إلى الغرماء الباقين

Kami katakan, jika seseorang menggadaikan sebidang tanah kosong dan di dalamnya terdapat biji kurma, lalu penerima gadai menerima barang gadai tersebut, kemudian biji kurma itu tumbuh menjadi pohon, maka tidak boleh mencabut pohon-pohon itu. Namun, jika utang telah jatuh tempo dan kita menjual tanah beserta tanaman tersebut, bagaimana cara membagi harga yang diperoleh dari penjualan tanah dan tanaman itu? Para imam kami berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka berkata: tanah dinilai dalam keadaan kosong, misalnya nilainya seratus. Kemudian dinilai bersama tanaman, misalnya nilainya menjadi seratus dua puluh. Maka, penambahan nilai gabungan dibandingkan nilai tanah kosong adalah dua puluh dirham. Dua puluh dari seratus dua puluh adalah seperenamnya. Maka, kita catat perbandingan ini, yaitu perbandingan seperenam. Jika kita menjual tanah dan tanaman, kita membagi hasil penjualan sesuai perbandingan yang ada pada kita. Lima perenamnya diberikan kepada penerima gadai, dan seperenamnya diberikan kepada para kreditur lainnya.

هذا وجه

Ini adalah satu sisi.

والوجه الثاني أنا نقوّم الأرضَ بيضاء فإذا قيمتها مائة ونقوم الغراس في الأرض مفردة فإذا قيمتها خمسون فنضبط النسبة بأثلاث فنوزع الثمن عليها فنصرف ثلثي الثمن إلى المرتهن وثلثه إلى الغرماء فهذا بيان الاختلاف في مسألة الأرض والغراس

Adapun cara kedua, kita menaksir tanah dalam keadaan kosong, misalnya nilainya seratus, lalu kita menaksir tanaman yang ada di atas tanah itu secara terpisah, misalnya nilainya lima puluh. Maka kita tetapkan perbandingan dengan membaginya menjadi tiga bagian, lalu kita bagi harga jualnya sesuai perbandingan itu: dua pertiga dari harga diberikan kepada pihak yang memegang hak gadai, dan sepertiganya diberikan kepada para kreditur. Inilah penjelasan tentang perbedaan pendapat dalam masalah tanah dan tanaman.

عدنا الآن إلى الجارية وولدها وقد بيعا وقد يحسن فرض هذه المسألة إذا كانت الأم مفردة وليست ذات ولد أو بيعت دون ولدها وكان ثمنها أكثرَ لانفرادها وإذا بيعت مشتغلة بحضانة الولد فقيمتها أقل وعند ذلك يظهر التردد والاختلاف وقد اختلف أصحابنا في كيفية التوزيع فقال بعضهم التوزيع على الأم والولد كالتوزيع على الأرض والغراس وفيه وجهان نعيدهما أحدهما أنا نقوم الأم وحدها فإذا قيمتها مائة ونقوّمها مع الولد فإذا قيمتها عند الضم مائة وعشرون فقد زاد سدس فليقع التوزيع على الأسداس هذا وجه

Sekarang kita kembali kepada budak perempuan dan anaknya yang telah dijual, dan mungkin baik jika kita mengandaikan masalah ini ketika sang ibu sendirian dan tidak memiliki anak, atau dijual tanpa anaknya, dan harganya lebih mahal karena ia sendiri. Namun jika ia dijual dalam keadaan mengasuh anaknya, maka nilainya lebih rendah. Pada saat itulah muncul keraguan dan perbedaan pendapat. Para ulama kami berbeda pendapat tentang cara pembagian (harga) ini. Sebagian dari mereka berkata bahwa pembagian antara ibu dan anak seperti pembagian antara tanah dan tanaman, dan dalam hal ini ada dua pendapat yang akan kami ulangi. Salah satunya adalah kita menaksir harga ibu saja, misalnya nilainya seratus, lalu kita taksir bersama anaknya, misalnya nilainya menjadi seratus dua puluh. Maka terdapat kelebihan sepertiga, sehingga pembagian dilakukan berdasarkan perbandingan sepertiga ini. Inilah salah satu pendapat.

والوجه الثاني أنا نقوم الأم وحدها فإذا قيمتها مائة ونقوم الولد وحده مضموماً إلى الأم فإذا قيمته وحده مع الأم خمسون فيظهر لنا نسبة الأثلاث فليقع التوزيع كذلك وهذا بعينه ما ذكرناه في الأرض والغراس في الوجهين

Adapun cara kedua adalah kita menaksir nilai induk saja, misalnya nilainya seratus, lalu kita menaksir nilai anak saja yang digabungkan dengan induknya, misalnya nilainya sendiri bersama induknya adalah lima puluh, maka akan tampak bagi kita perbandingan sepertiga, sehingga pembagian dilakukan sesuai dengan itu. Inilah persis seperti yang telah kami sebutkan pada kasus tanah dan tanaman dalam dua cara tersebut.

هذه طريقة وهي اختيار الشيخ أبي علي والقاضي

Ini adalah suatu metode yang merupakan pilihan Syaikh Abu ‘Ali dan al-Qadhi.

وذكر صاحب التقريب هذه الطريقة وذكر معها طريقة أخرى واختارها فقال ينبغي أن تقوم الأم مع الولد وهي حاضنة ويقوم الولد مع الأم ولا يفرد واحد منهما بالتقويم على تقدير الانفراد بخلاف مسألة الغراس والفرق أن الجارية رهنت وهي ذات ولد فاستحق المرتهن بيعها على نعت الضم وليس الأرض كذلك؛ فإنها رهنت إذْ رهنت ولا غرس ثم حدث الغراس من بعدُ كما سنصوره على الاستقصاء إن شاء الله تعالى ونحن قدرنا الأرض بيضاء في الوجهين جميعاً ورددنا الاختلاف إلى كيفية اعتبار قيمة الغراس وهاهنا لا تعتبر قيمة الجارية وحدها لما نبهنا عليه فليتأمله النّاظر؛ فإنه حسن

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan metode ini dan juga menyebutkan metode lain serta memilihnya. Ia berkata: Seharusnya ibu dan anaknya dinilai bersama-sama saat ibu menjadi pengasuh, dan anak dinilai bersama ibunya, serta tidak boleh salah satu dari keduanya dinilai secara terpisah dengan anggapan mereka terpisah, berbeda dengan kasus tanaman. Perbedaannya adalah budak perempuan digadaikan dalam keadaan sudah memiliki anak, sehingga pihak yang menerima gadai berhak menjualnya dengan syarat anaknya ikut serta, sedangkan tanah tidak demikian; karena tanah digadaikan saat masih kosong, lalu kemudian tumbuhlah tanaman di atasnya, sebagaimana akan kami jelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala. Kami menganggap tanah itu kosong dalam kedua kasus, dan kami kembalikan perbedaan pendapat pada cara menilai harga tanaman. Di sini, harga budak perempuan saja tidak dipertimbangkan, sebagaimana telah kami jelaskan, maka hendaknya hal ini diperhatikan oleh para pembaca; karena ini adalah pendapat yang baik.

قال صاحب التقريب نظير مسألة الغراس من الجارية ما لو رهنت ولم تك ذاتَ ولد ثم علقت بمولود رقيق وولدت فيطابق هذا على صورة الغراس؛ من حيث انعقد الرهن وتم والأم على نعت التفردِ كالأرض البيضاء فلا جرم يجري في التوزيع عند بيعها الخلافُ الذي ذكرناه في الأرض والغراس

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Contoh kasus penanaman pohon pada budak perempuan adalah jika ia digadaikan sementara ia belum memiliki anak, kemudian ia hamil dari seorang anak yang juga berstatus budak dan melahirkan. Maka hal ini sesuai dengan gambaran penanaman pohon; di mana akad gadai telah terjadi dan selesai sementara sang ibu masih dalam keadaan sendiri, seperti tanah kosong. Oleh karena itu, dalam pembagian hasil saat ia dijual, berlaku perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam kasus tanah dan tanaman.

ومن تمام البيان في هذا الفصل أن ما ذكرناه من المطابقة في التوزيع إنما يحسن وقعه وأثره إذا حُجر على الراهن أو مات والديون محيطةٌ مستغرقة واختلفت الأغراض في التوزيع فالكلام على ما ذكرناه

Sebagai penyempurna penjelasan dalam bab ini, perlu ditegaskan bahwa apa yang telah kami sebutkan mengenai kesesuaian dalam pembagian hanya akan memberikan hasil dan pengaruh yang baik apabila pihak yang menggadaikan dibatasi haknya atau meninggal dunia, sedangkan utang-utang telah meliputi dan menghabiskan harta, serta tujuan-tujuan dalam pembagian berbeda-beda; maka pembahasan tetap pada apa yang telah kami sebutkan.

فأما إذا لم يفلس الراهن ولم يضق مالُه وبعنا الجارية والولد فعلى الراهن توفيرُ الدين كَمَلاً ولا يكاد يظهر فائدة المسألة هكذا قال الشيخ أبو علي

Adapun jika pihak yang menggadaikan tidak jatuh pailit dan hartanya tidak sempit, lalu kita menjual budak perempuan dan anak tersebut, maka wajib bagi pihak yang menggadaikan untuk melunasi utang secara penuh. Hampir-hampir tidak tampak manfaat dari permasalahan ini; demikianlah yang dikatakan oleh Syekh Abu Ali.

وهذا فيه فضل نظرٍ يُبيّنُه كلامٌ وهو أن المرهون إذا بيع في دين المرتهن فلو أراد الراهن أن يصرف طائفة من مالِه إلى دين المرتهن سوى الثمن المحصّل من بيع الرهن فهل يسوغ ذلك أوْ لا والوجه القطع بجوازه كما لو أدى الدين وفك به الرهن فتَعَلُّقُ حقِّه بثمن البيع كَتَعَلُّق حقِّه بالمرهون قبل أن بيع

Hal ini mengandung keutamaan pemikiran yang dijelaskan oleh uraian berikut: apabila barang gadai dijual untuk melunasi utang kepada penerima gadai, lalu pemilik gadai ingin mengalokasikan sebagian hartanya untuk membayar utang kepada penerima gadai selain dari harga yang diperoleh dari penjualan barang gadai, apakah hal itu diperbolehkan atau tidak? Pendapat yang kuat adalah bahwa hal itu diperbolehkan, sebagaimana jika ia melunasi utang dan menebus barang gadai tersebut. Keterkaitan hak penerima gadai dengan hasil penjualan sama seperti keterkaitan haknya dengan barang gadai sebelum dijual.

ولو أراد أن يتصرف في ثمن الرهن قبل أن يؤدي حق المرتهن لم يكن له ذلك

Jika ia ingin menggunakan harga barang yang digadaikan sebelum melunasi hak penerima gadai, maka ia tidak berhak melakukannya.

وإذا أراد أن يتصرف فيما يقابل الولد المضمومَ فله ذلك وثَمَّ القدر الذي يقابل به الولد فيه الاختلاف المقدم

Jika seseorang ingin melakukan tindakan terhadap bagian yang sepadan dengan anak yang diasuh, maka ia boleh melakukannya, dan mengenai kadar yang sepadan dengan anak tersebut terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

ولاح بهذا أن أثر الخلاف قائم في حق المطلَق قيامَه في حق المحجور والغرض أن نبيّن أن متعلَّق الرهن والوثيقة من الثمن المحصل من الجارية والولد كم فإذا بانت الكمية ظهر أمرُها عند الحجر في الفضّ على الغرماء وعلى المرتهن

Dengan demikian, tampak bahwa pengaruh perbedaan pendapat tetap berlaku atas orang yang merdeka sebagaimana berlaku atas orang yang berada di bawah perwalian. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bahwa objek rahn dan jaminan berasal dari harga yang diperoleh dari budak perempuan dan anaknya, berapa pun jumlahnya. Jika jumlahnya telah diketahui, maka keadaannya akan jelas ketika terjadi pembatasan hak, baik dalam pembagian kepada para kreditur maupun kepada pihak yang menerima rahn.

ويظهر أثرها حيث لا حجر في تصرف الراهن فيما يزيد على مقدار الرهن

Dampaknya terlihat ketika tidak ada larangan bagi pihak yang menggadaikan untuk melakukan tindakan atas sesuatu yang melebihi jumlah barang yang digadaikan.

فصل

Bab

قال ولو ارتهن نخلاً مثمراً قال ثمر خارج من الرهن إلى آخره

Ia berkata: “Jika seseorang menggadaikan pohon kurma yang sedang berbuah, maka buahnya tidak termasuk dalam barang gadai, dan seterusnya.”

إذا رهن نخيلاً عليها الثمار واقتصر على تسمية النخيل ولم يسم الثمار نافياً ولا مُثبتاً نُظر فإن كانت الثمار مؤبّرة فلا شك أنّها لا تدخل في مطلق تسمية النخل؛ فإنها لا تدخل في تسميتها في عقد البيع على قُوّته فلأن لا تدخل في حكم الرهن تحت الأشجار أولى وإن كانت النخيل مُطْلِعَةً ولكن لم تكن مؤبرة فقد ذكرنا في كتاب البيع أنها تدخل تحت تسمية النخيل في البيع المطلق وهل تدخل في حكم الرهن تحت تسمية النخيل ظاهر المذهب أنها لا تدخل

Jika seseorang menggadaikan pohon kurma yang sedang berbuah, dan hanya menyebutkan pohon kurma tanpa menyebutkan buahnya, baik menafikan maupun menetapkan, maka perlu dilihat: jika buahnya sudah dibuahi (dibuahi secara manual), maka tidak diragukan lagi bahwa buah tersebut tidak termasuk dalam penyebutan pohon kurma secara mutlak; sebab buah tersebut juga tidak termasuk dalam penyebutan pohon kurma pada akad jual beli yang kuat, maka lebih utama lagi untuk tidak termasuk dalam hukum gadai di bawah pohon tersebut. Namun, jika pohon kurma tersebut baru mulai berbuah tetapi belum dibuahi, telah kami sebutkan dalam Kitab Jual Beli bahwa buah tersebut termasuk dalam penyebutan pohon kurma pada jual beli mutlak. Adapun apakah buah tersebut termasuk dalam hukum gadai di bawah penyebutan pohon kurma, maka pendapat yang tampak dalam mazhab adalah bahwa buah tersebut tidak termasuk.

والرهنُ في ذلك يخالف البيعَ والفارق أن البيع يزيل الملك في الأصل فلا يبعد أن يقوى على الاستتباع والرهن لا يقطع ملك المالك عن الأصل؛ ولا يرفع سلطانه وكأنه موعد في دوام الملك أوجب الشرع الوفاء به فاختص وجوب الوفاء بمورده المسمى ولذلك لا يتعدى الرهنُ إلى الزوائد التي ستحدث في مستقبل الزمان والملك في البيع يُثبت للمشتري حق الملك فيما يتجدد

Dalam hal ini, rahn (gadai) berbeda dengan jual beli. Perbedaannya adalah bahwa jual beli pada dasarnya menghilangkan kepemilikan, sehingga tidak mengherankan jika ia memiliki kekuatan untuk mencakup hal-hal yang mengikuti (barang pokok). Sedangkan rahn tidak memutus kepemilikan pemilik atas barang pokok dan tidak menghilangkan kekuasaannya. Seolah-olah rahn adalah janji untuk tetap mempertahankan kepemilikan, yang syariat mewajibkan untuk dipenuhi, sehingga kewajiban memenuhi itu hanya terbatas pada objek yang disebutkan secara khusus. Oleh karena itu, rahn tidak meluas kepada tambahan-tambahan (zaidah) yang akan muncul di masa mendatang. Sedangkan dalam jual beli, kepemilikan menetapkan bagi pembeli hak kepemilikan atas apa yang akan muncul kemudian.

وخرّج طوائف من الأئمة قولاً آخر في الرهن وهو أن الثمار تتبع تسمية النخيل إذا لم تكن بارزة قياساً على البيع وذلك لأنا لم نتبِع الثمارَ النخيلَ في البيع لقوة البيع ولكنا رأينا الثمار الكامنة جزءاً متصلاً كامناً واعتقدنا اللفظ شاملاً وهذا يستوي فيه القوي والضعيف

Sekelompok imam mengemukakan pendapat lain dalam masalah rahn, yaitu bahwa buah-buahan mengikuti penamaan pohon kurma jika buahnya belum tampak, dengan qiyās terhadap jual beli. Hal ini karena kita tidak menjadikan buah-buahan mengikuti pohon kurma dalam jual beli karena kuatnya akad jual beli, tetapi kita memandang buah yang masih tersembunyi sebagai bagian yang menyatu dan tersembunyi, serta menganggap lafaznya mencakup semuanya. Dalam hal ini, baik akad yang kuat maupun yang lemah sama saja.

وهذا القول منقاسٌ وهو مأخوذ من أصلٍ مع القول الأول وهو أن من باع حاملاً ثبت الحمل مستحقاً للمشتري والتردد في أنه هل يقابله قسط من الثمن أم لا

Pendapat ini bersifat qiyās dan diambil dari satu pokok yang sama dengan pendapat pertama, yaitu bahwa siapa pun yang menjual hewan yang sedang hamil, maka janin yang ada di dalamnya menjadi hak pembeli. Namun, masih terdapat keraguan apakah janin tersebut memiliki bagian dari harga atau tidak.

ولو رهن جارية حاملاً ففي تعلق حق الوثيقة بالحمل الموجود حالة الرهن قولان والرأي ترتيب الثمار غيرِ المؤبرة على الحمل فإن قضينا بأن الرهن لا يتعلق بالحمل فلأن لا يتعلق بالثمار أولى وإن قلنا يتعلق الرهن بالحمل ففي تعلقه بالثمار قولان والفرق أن الحمل لا يقبل التصرف على الانفراد فكان حريّا بالتبعية والثمار تقبل التصرف على الانفراد

Jika seseorang menggadaikan seorang budak perempuan yang sedang hamil, maka terdapat dua pendapat mengenai keterkaitan hak jaminan dengan janin yang ada pada saat akad gadai. Pendapat yang lebih kuat adalah memperlakukan buah-buahan yang belum dibuahi seperti janin. Jika kita memutuskan bahwa gadai tidak terkait dengan janin, maka buah-buahan tentu lebih tidak terkait lagi. Namun, jika kita mengatakan bahwa gadai terkait dengan janin, maka ada dua pendapat mengenai keterkaitannya dengan buah-buahan. Perbedaannya adalah bahwa janin tidak dapat diperlakukan secara terpisah, sehingga lebih layak untuk diikutkan (sebagai bagian dari induknya), sedangkan buah-buahan dapat diperlakukan secara terpisah.

ومسائل الحمل ستأتي إن شاء الله تعالى

Masalah-masalah tentang kehamilan akan dibahas nanti, insya Allah Ta‘ala.

ولكنا نعجل منها شيئاًً فنقول إن قلنا رهن الجارية الحامل لا يتناول الحملَ فلو قال رهنتها مع حملها ففي هذا تردد للأصحاب والظاهر أن رهن الجارية لا يتعلق بالحمل؛ فإنه إذا لم يمتنع فتقدير الانفراد فيه بالذكرِ لا وجه له؛ إذ لو ساغ ذلك لجاز إفراده بالرهن دون الأم

Namun, kami akan mempercepat pembahasan dengan mengatakan: jika dikatakan bahwa gadai budak perempuan yang sedang hamil tidak mencakup janinnya, maka jika seseorang berkata, “Aku menggadaikan dia beserta kandungannya,” dalam hal ini terdapat keraguan di kalangan para ulama, dan yang tampak adalah bahwa gadai budak perempuan tidak berkaitan dengan janinnya; sebab jika hal itu tidak terhalangi, maka menganggap janin itu berdiri sendiri dalam penyebutan tidaklah beralasan; karena jika hal itu dibenarkan, niscaya boleh menggadaikan janin saja tanpa ibunya.

وهذا الرمز الآن كافٍ وسنعود إليه عند ذكرنا مسائل الحمل إن شاء الله تعالى

Simbol ini sekarang sudah cukup, dan kita akan kembali membahasnya ketika menyebutkan masalah-masalah tentang kehamilan, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bagian

قال الشافعي بعد تقرير المذهب في أن الرهن أمانة وإذا رهنه ما يفسدُ من يومه إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata, setelah menjelaskan mazhab bahwa rahn (barang gadai) adalah amanah, dan jika seseorang menggadaikan sesuatu yang dapat rusak dalam satu hari hingga hari berikutnya…

أما القول في أن الرهن أمانة فسيأتي في باب معقود إن شاء الله تعالى

Adapun pembahasan mengenai bahwa rahn adalah amanah, akan dijelaskan pada bab tersendiri, insya Allah Ta‘ala.

ونحن نذكر الآن تفصيلَ المذهب في رهن ما يتسارع إليه الفساد فنقول إذا رهن الفواكه الرطبة وغيرَها مما يتسارع إليه الفساد نظر فإن رهنها بدين حالٍّ صح ثم إن أدى الدين من موضع آخر فذاك وإن اتفق بيعُها في الدين وصرف ثمنها إليه فهو المراد وإن لم يتفق الصرف إلى الدين وأشرف المرهون على الهلاك فلا خلاف أنه يباع ويوضع الثمن رهناً مكانه؛ إذ لا طريق إلى استيفاء الحق إلا هذا الطريق والرهن يتضمن توثيقاً فإذا أشرف محلّ الوثيقة على الهلاك ولو هلكت لضاعت الوثيقة فالوجه في تبقية الوثيقة البيعُ ووضع الثمن رهناً مكان المبيع

Sekarang kami akan menjelaskan secara rinci mazhab mengenai gadai barang yang mudah rusak. Jika seseorang menggadaikan buah-buahan segar atau barang lain yang mudah rusak, maka perlu diperhatikan: jika barang tersebut digadaikan untuk utang yang sudah jatuh tempo, maka sah. Jika utang tersebut dilunasi dari sumber lain, maka selesai urusannya. Jika terjadi penjualan barang gadai untuk melunasi utang dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar utang, maka itulah yang dimaksudkan. Namun, jika hasil penjualan tidak digunakan untuk membayar utang dan barang gadai hampir rusak, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa barang tersebut harus dijual dan hasil penjualannya dijadikan sebagai barang gadai pengganti; karena tidak ada cara lain untuk memenuhi hak kecuali dengan cara ini, dan gadai itu sendiri mengandung unsur penjaminan. Jika barang jaminan hampir rusak, dan jika rusak maka jaminan akan hilang, maka cara yang tepat untuk menjaga jaminan adalah dengan menjual barang tersebut dan menjadikan hasil penjualannya sebagai barang gadai pengganti.

وإن رهن ما يتسارع إليه الفساد بدين مؤجل نظر فإن عرفنا أن حلول الأجل يتقدم على فساد المرهون صح الرهن وكان كما لو رهن بدين حالّ وانتظم الترتيب على ما ذكرناه وإن عرفنا أن الفساد يسبق حلولَ الأجل فتنقسم المسألة أقساماً

Jika seseorang menggadaikan barang yang mudah rusak untuk utang yang jatuh temponya masih lama, maka hal ini perlu diteliti. Jika diketahui bahwa jatuh tempo utang akan tiba sebelum barang gadai rusak, maka gadai tersebut sah dan hukumnya seperti menggadaikan untuk utang yang jatuh temponya segera, serta urutannya berjalan sebagaimana telah dijelaskan. Namun, jika diketahui bahwa kerusakan barang akan terjadi sebelum jatuh tempo utang, maka permasalahan ini terbagi menjadi beberapa bagian.

منها أن يرهن ويشترط البيع عند الإشراف على الفساد فإن كان كذلك صح الرهنُ ولزم الوفاء بالشرط إذا مست الحاجة إليه فإذا أشرف على الفساد بيع ووضع الثمن رهناً

Di antaranya adalah seseorang menggadaikan barang dan mensyaratkan penjualan ketika barang tersebut hampir rusak. Jika demikian, maka gadai itu sah dan wajib memenuhi syarat tersebut apabila kebutuhan mendesak. Maka ketika barang itu hampir rusak, barang itu dijual dan harga jualnya dijadikan sebagai barang gadai.

ومن الأقسام أن يرهن ويُقرن الرهن بشرط أن لا يباع عند ظهور الفساد فإن كان كذلك فالرهن فاسد؛ فإنّ شرط تبقيته يتضمن فساده وهو مناقض للتوثق فجرى الشرط مخالفاً لوضع الرهن

Di antara pembagian-pembagian adalah seseorang menggadaikan dan mengaitkan gadai dengan syarat bahwa barang gadai tidak boleh dijual ketika terjadi kerusakan. Jika demikian, maka gadai tersebut batal; karena syarat untuk mempertahankannya mengandung unsur kebatalan dan hal itu bertentangan dengan tujuan penjaminan, sehingga syarat tersebut bertentangan dengan hakikat gadai.

ومن أقسام المسألة أن يطلق الرهن من غير تعرض لشرط البيع أو نقيضه فإذا كان كذلك ففي المسألة قولان منصوصان أحدهما أن الرهن صحيح ومطلقه محمول على البيع عند الحاجة ووضع الثمن رهناً والقول الثاني أن الرهن فاسد ومطلقه محمول على تبقية الرهن وإن كان يفسد فهو كما لو قيَّد بأن لا يباع

Di antara pembagian masalah ini adalah ketika seseorang melepaskan rahn tanpa menyebutkan syarat jual atau lawannya. Jika demikian, dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit. Pendapat pertama menyatakan bahwa rahn tersebut sah, dan rahn yang bersifat mutlak itu dianggap sebagai izin untuk menjual ketika ada kebutuhan, serta menempatkan harga jual sebagai rahn pengganti. Pendapat kedua menyatakan bahwa rahn tersebut batal, dan rahn yang bersifat mutlak itu dianggap sebagai tetapnya rahn. Jika memang batal, maka hukumnya seperti jika dipersyaratkan untuk tidak dijual.

فإن قيل أليس لو رهن ما يتسارع إليه الفساد بدين حال كان صحيحاً قولاً واحداً وإذا مست الحاجة إلى بيعه ووضع ثمنه رهناً بيع ولم يختلف في ذلك والرهن مطلق في الموضعين فما الفاصل قلنا إذا كان الدين مؤجّلاً فحكم الرهن التبقية في حال سقوط المطالبة بالدين

Jika dikatakan, “Bukankah jika seseorang menggadaikan barang yang mudah rusak untuk utang yang jatuh tempo, maka hal itu sah menurut satu pendapat, dan jika ada kebutuhan mendesak untuk menjualnya lalu menjadikan hasil penjualannya sebagai barang gadai, maka barang itu dijual, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, padahal status gadai pada kedua keadaan tersebut adalah mutlak? Lalu apa pembeda antara keduanya?” Kami menjawab: Jika utangnya masih ditangguhkan, maka hukum gadai adalah tetap membiarkan barang gadai itu selama belum ada tuntutan pembayaran utang.

هذا حكم الإطلاق في الرهن بالدين المؤجل فكان تردد القول لذلك وإذا كان الدين حالاً فالطلِبة حاقّة لا تأخير فيها يُشعر بتبقية الرهن إلى ثبوت الطلبة

Ini adalah hukum secara mutlak dalam rahn atas utang yang jatuh temponya masih di masa depan, sehingga terdapat perbedaan pendapat karena hal itu. Adapun jika utangnya sudah jatuh tempo, maka tuntutan pembayaran menjadi hak penuh tanpa ada penundaan, yang menunjukkan bahwa rahn tetap dipertahankan hingga tuntutan tersebut terbukti.

ولو كان المرهون بالإضافة إلى الأجل بحيث لا يقطع بفساده قبل الحلول وكان لا يقطع ببقائه أيضاًً وتردد الاحتمال ففي جواز الرهن المطلق من غير تقييد بالبيع عند الإشفاء على الهلاك قولان مرتبان على القولين فيه إذا كان يهلك المرهون قبل الأجل لا محالة وهذه الصورة أولى بالصحة من الأولى ووجه الفرق بيّن

Jika barang yang digadaikan berkaitan dengan waktu jatuh tempo sehingga tidak dapat dipastikan rusaknya sebelum jatuh tempo, dan juga tidak dapat dipastikan keberlangsungannya, serta masih terdapat kemungkinan yang diperdebatkan, maka dalam hal kebolehan gadai secara mutlak tanpa pembatasan dengan penjualan ketika hampir rusak, terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam kasus apabila barang yang digadaikan pasti akan rusak sebelum jatuh tempo. Dan keadaan ini lebih utama untuk dinyatakan sah dibandingkan keadaan sebelumnya, dan alasan perbedaannya jelas.

وقد كنا بنينا رهن المعلّق عتقُه بصفة توجد قبل حلول الأجلِ على رهن ما يتسارع إليه الفساد قبل حلول الأجل وخرّجنا صحة الرهن على قولين قال صاحب التقريب إذا فرعنا على قول صحة الرهن فقربت الصفة وكاد العتق أن يقع بعناه بَيْعَنا الطعامَ المشرفَ على الفساد وإذا كان الأصل كالأصل فالتفصيل كالتفصيل

Kami telah membangun pembahasan tentang gadai yang kemerdekaannya digantungkan pada suatu sifat yang mungkin terjadi sebelum jatuh tempo, atas gadai barang yang cepat rusak sebelum jatuh tempo, dan kami mengeluarkan pendapat tentang keabsahan gadai ini menjadi dua pendapat. Penulis kitab at-Taqrib berkata: Jika kita merujuk pada pendapat yang membolehkan keabsahan gadai, lalu sifat yang digantungkan itu hampir terjadi dan kemerdekaan itu hampir terlaksana, maka kami memperlakukan hal itu seperti menjual makanan yang hampir rusak. Jika pokok permasalahannya sama, maka perinciannya pun sama.

وإذا رهن ما لا يتسارع إليه الفساد فطرأ بعد لزوم الرهن سبمب يقرّبه من الهلاك قبل حلول الأجل فطريان ذلك لا يوجب انفساخ الرهن وفاقاً

Jika seseorang menggadaikan sesuatu yang tidak mudah rusak, lalu setelah akad gadai menjadi lazim terjadi sesuatu yang mendekatkannya kepada kebinasaan sebelum jatuh tempo, maka terjadinya hal tersebut tidak menyebabkan batalnya akad gadai, menurut kesepakatan.

وإن منعنا رهنَ ما هذه صفته ابتداء على أحد القولين وتسرُّعُ الفساد طارئاً ومقارناً على منع الرهن ابتداء يضاهي إباق العبد فإذا اقترن منَعَ وإذا طرأ لم يتضمن انفساخ العقد

Jika kita melarang gadai atas barang yang memiliki sifat seperti ini sejak awal menurut salah satu pendapat, maka kerusakan yang cepat terjadi, baik sebagai sesuatu yang datang kemudian maupun yang menyertai, menjadi alasan untuk melarang gadai sejak awal. Hal ini menyerupai budak yang melarikan diri; jika pelarian itu terjadi bersamaan, maka gadai dilarang, namun jika terjadi setelah akad, maka tidak menyebabkan batalnya akad.

فرع

Cabang

إذا صح الرهن ولزم في عين ثابتة لا يخشى فسادها فقال الراهن نقلتُ حقك في الوثيقة من هذه الرقبة إلى هذا العبد فقال المرتهن رضيت ذكر أصحابنا في ذلك وجهين

Jika rahn telah sah dan mengikat pada suatu barang tetap yang tidak dikhawatirkan rusak, lalu pihak yang menggadaikan berkata, “Aku pindahkan hakmu dalam jaminan ini dari barang ini ke budak ini,” kemudian pihak yang menerima gadai berkata, “Aku setuju,” para ulama mazhab kami menyebutkan dalam hal ini ada dua pendapat.

أحدهما أن هذا يلغو والوثيقة لا تنتقل ورضا المرتهن لا يتضمن فسخَ الرهن

Pertama, hal ini menjadi sia-sia dan dokumen tersebut tidak berpindah, serta kerelaan pihak yang menerima gadai tidak mengandung pembatalan rahn.

والوجه الثاني أنها تنتقل وتقرُّ في العبد الثاني وما جرى بينهما يتضمن فسخاً للرهن الأول وإعادةً له في المحل الثاني

Pendapat kedua menyatakan bahwa barang tersebut berpindah dan tetap pada pihak kedua, dan apa yang terjadi di antara keduanya mencakup pembatalan rahn pertama dan pengadaan kembali rahn tersebut pada tempat yang kedua.

وأخذ العلماء هذا الخلافَ من رهن ما يفسد قبل الأجل ووجه الأخذ منه أَنَّ الرهن فيما يفسد تضمن نقل الوثيقة إلى عوضِ المرهون بتقدير البيع فقالوا إذا كنا نجوز ذلك فما يمنع من نقل الحق اختياراً من محل إلى محل وهذا غير سديد؛ فإن بيع ما يفسد مستحق شرعاً وإقامة الأثمان والقيم مقام الأصول قاعدة ممهدة في الشرع فأما نقل حق مستقر من محل إلى محل فليس له أصل من غير حاجة ولا ضرورة وليس النقل والرضا مشعراً بالفسخ والإعادة على التحقيق وليس كما لو قال لمالكِ عبدٍ أعتق عبدَك عني؛ فإن هذا من ضرورته تقديم نقل الملك فكان ضمناً لاستدعاء العتق وأما نقل الوثيقة فمبنيٌّ على اعتقاد إبقاء الرهن الأولى مع نقل موجبه وعلى هذا يخرّج انتقال الوثيقة من المثمن إلى الثمن فالوجه إفساد الرهن من عين إلى عين

Para ulama mengambil perbedaan pendapat ini dari masalah gadai atas barang yang dapat rusak sebelum jatuh tempo. Adapun alasan pengambilan dari situ adalah bahwa dalam gadai atas barang yang dapat rusak, terdapat pemindahan jaminan kepada pengganti barang yang digadaikan jika terjadi penjualan. Mereka berkata, “Jika kita membolehkan hal itu, maka apa yang menghalangi pemindahan hak secara pilihan dari satu tempat ke tempat lain?” Namun, pendapat ini tidaklah tepat; karena penjualan barang yang dapat rusak memang dibenarkan secara syar‘i, dan penetapan harga atau nilai sebagai pengganti barang pokok merupakan kaidah yang telah mapan dalam syariat. Adapun pemindahan hak yang sudah tetap dari satu tempat ke tempat lain tanpa adanya kebutuhan atau darurat, maka hal itu tidak memiliki dasar. Pemindahan dan kerelaan tidak menunjukkan adanya pembatalan dan pengulangan secara pasti. Hal ini tidak sama dengan kasus seseorang berkata kepada pemilik budak, “Merdekakanlah budakmu atas namaku,” karena dalam hal ini secara otomatis harus ada pemindahan kepemilikan terlebih dahulu, sehingga hal itu mengandung permintaan pembebasan budak. Adapun pemindahan jaminan didasarkan pada anggapan tetapnya gadai yang pertama dengan memindahkan akibat hukumnya. Berdasarkan hal ini, dipahami pula pemindahan jaminan dari barang yang dijual kepada harga penjualannya. Maka yang tepat adalah bahwa gadai dari satu barang ke barang lain adalah rusak (tidak sah).

فرع

Cabang

إذا رهن ما لا يفسد ثم طرأ عليه ما يقرّبه من الفساد قبل القبض وقلنا لا يصح رهن ما هذا وصفه ففي انفساخ الرهن وجهان مبنيانِ على الوجهين في نظائر هذا كطريان الجنون والموت وطريان جناية المرهون والتفريع على منع رهنه

Jika seseorang menggadaikan sesuatu yang tidak rusak, kemudian terjadi sesuatu yang mendekatkannya kepada kerusakan sebelum penyerahan, dan kita berpendapat bahwa tidak sah menggadaikan barang yang memiliki sifat seperti ini, maka terdapat dua pendapat mengenai batalnya gadai tersebut. Kedua pendapat ini dibangun di atas dua pendapat dalam kasus-kasus serupa, seperti terjadinya kegilaan, kematian, atau terjadinya tindak pidana pada barang yang digadaikan, serta konsekuensi dari pelarangan menggadaikannya.

ولو قُتل العبد المرهون قبل القبض ففي تعلق حق الوثيقة بقيمته الواجبة على المتلف الوجهان المذكوران؛ فإن القيمة تقع ديناً والديون لا ترهن ولكن إن جرى ذلك بعد تأكُّد الرهن بالقبض احتُمل على ارتقاب أن تستوفى القيمة وتعيّن

Jika budak yang dijadikan jaminan (rahn) dibunuh sebelum diserahkan, maka dalam hal keterkaitan hak jaminan dengan nilai (ganti rugi) yang wajib dibayar oleh pelaku, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan; karena nilai tersebut menjadi utang, sedangkan utang tidak dapat dijadikan jaminan. Namun, jika hal itu terjadi setelah jaminan dipastikan dengan penyerahan, maka dimungkinkan untuk menunggu hingga nilai tersebut dibayarkan dan ditetapkan.

ثم من يقول من أئمتنا إذا استحال العصير خمراً زال الرهن ثم يعود إذا تجددت الحموضة ما أراه يطلق القول بأن الرهن يزول بانقلاب المالية في عين الرهن ديناً؛ فإن حقيقة المالية باقية والقول في هذا محال هذا إذا كان بعد القبض

Kemudian, siapa pun dari para imam kami yang mengatakan bahwa jika jus anggur berubah menjadi khamar maka rahn (barang jaminan) menjadi batal, lalu kembali lagi jika muncul keasaman yang baru, aku tidak melihatnya menyatakan secara mutlak bahwa rahn batal karena berubahnya status harta pada barang rahn menjadi utang; sebab hakikat nilai harta itu tetap ada, dan pernyataan seperti ini adalah mustahil—ini jika terjadi setelah penyerahan (qabdh).

فأما إذا جرى الإتلاف قبل القبض ففي انفساخ الرهن ما ذكرناه

Adapun jika kerusakan terjadi sebelum penyerahan, maka mengenai batalnya rahn sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ولو صادف الرهن عيناً ثابتة فعرض لها بعد القبض عارض يدنيها من الفساد فقد تمهد أن الرهن لا ينفسخ وقطع الأئمة بأنه يستحق بيعه ووضع ثمنه رهناً وكان شيخنا يقول إذا كان إتلاف المرهون يتضمن نقلَ حق المرتهن إلى القيمة فيتبين أن حقه المستحَق غيرُ منحصر في العين فعلى هذا يكون الإشفاء على الهلاك بمثابة إتلاف المرهون من ضامن

Jika barang yang dijadikan rahn (gadai) adalah suatu benda tetap, lalu setelah diterima terjadi sesuatu yang mendekatkannya kepada kerusakan, maka telah ditegaskan bahwa rahn tersebut tidak batal. Para imam (ulama) sepakat bahwa barang tersebut berhak dijual dan harganya dijadikan sebagai rahn. Guru kami berkata, jika perusakan barang yang digadaikan mengandung makna pemindahan hak penerima gadai (murtahin) kepada nilai barang, maka jelaslah bahwa haknya yang menjadi hak tidak terbatas pada barang itu saja. Dengan demikian, keadaan barang yang hampir rusak dianggap sama dengan perusakan barang yang digadaikan oleh pihak yang wajib menanggung.

فصل

Bab

قال ولو رهنه أرضاً بلا نخل فأخرجت نخلاً إلى آخره

Ia berkata: “Jika seseorang menggadaikan kepadanya sebidang tanah tanpa pohon kurma, lalu tanah itu kemudian menumbuhkan pohon kurma, dan seterusnya.”

إذا كان الراهن دفن أعداداً من النوى ورهن الأرض البيضاء قبل أن تنبت النوى فنبتت فليس للمرتهن القلعُ؛ فإن الرهن ورد على الأرض وفيها النوى

Jika orang yang menggadaikan telah menanam sejumlah biji kurma dan menggadaikan tanah kosong sebelum biji-biji itu tumbuh, lalu biji-biji itu tumbuh, maka pihak penerima gadai tidak berhak mencabutnya; karena gadai tersebut berlaku atas tanah yang di dalamnya sudah terdapat biji kurma.

ولكن إن كان عالماً بذلك فليس له فسخ البيع الذي الرهنُ شرطٌ فيه وإن كان جاهلاً ثم تبين فله فسخ البيع الذي الرهن شرط فيه من قِبل أَنَّه حسب أن الساحة البيضاء تَسْلَم لحق وثيقته فإذا بأن أنها مشغولة فذلك نقصٌ فيترتب عليهِ ثبوت الفسخ في البيع وسيأتي أصل ذلك بعد هذا إن شاء الله تعالى

Namun, jika ia mengetahui hal itu, maka ia tidak berhak membatalkan jual beli yang di dalamnya terdapat syarat rahn. Namun jika ia tidak mengetahui, lalu kemudian menjadi jelas, maka ia berhak membatalkan jual beli yang di dalamnya terdapat syarat rahn, karena ia mengira bahwa tanah lapang yang putih itu bebas untuk hak jaminannya, lalu ternyata tanah itu sedang dalam sengketa, maka hal itu merupakan kekurangan yang menyebabkan hak pembatalan jual beli menjadi tetap. Dasar dari hal ini akan dijelaskan setelah ini, insya Allah Ta‘ala.

ولو غشَّى السيلُ الأرضَ المرهونة وكان في جميعها نوى؛ فنبتت فلو قال المرتهن أقلعُه؛ فإنه لم يكن وإنما حدث بعد لزوم الرهن لم يكن له القلع قبل حلول الدين؛ إذ لا ضرر عليه في الحال ولا حاجة إلى بيع الساحة وإذا حل الحق نُظر فإن كان في قيمة العرصة لو بيعت مع النخيل وفاءٌ بالدين بيعت العرصة ولم يقلع النخيل وإن لم يكن فيها وفاء ولو قلعت دون النخيل وفت بالدين ولم يؤدّ الراهن الدينَ من جهة أخرى فيقلع الغراس لحق المرتهن وإن كان القلع مضرّاً بالراهن؛ من قبل نقصان الغراس بالقلع فالسبب فيه أن الراهن التزم الوفاء بحق الوثيقة في الأرض البيضاء فلزمه أن يفي بما التزمه

Jika air bah menutupi tanah yang digadaikan dan di seluruhnya terdapat biji kurma; lalu tumbuhlah pohon kurma, kemudian pemegang gadai berkata, “Aku akan mencabutnya”; maka karena pohon itu tidak ada sebelumnya dan baru muncul setelah akad gadai menjadi tetap, ia tidak berhak mencabutnya sebelum jatuh tempo utang, karena saat ini tidak ada mudarat baginya dan tidak ada kebutuhan untuk menjual lahan tersebut. Jika utang telah jatuh tempo, maka dilihat: jika nilai lahan, apabila dijual bersama pohon kurma, cukup untuk melunasi utang, maka lahan dijual tanpa mencabut pohon kurma. Namun jika nilainya tidak mencukupi, dan jika pohon kurma dicabut nilainya cukup untuk melunasi utang, dan pihak yang menggadaikan tidak melunasi utang dari sumber lain, maka pohon kurma dicabut demi hak pemegang gadai, meskipun pencabutan itu merugikan pihak yang menggadaikan karena pohon kurma akan berkurang nilainya akibat dicabut. Sebabnya adalah karena pihak yang menggadaikan telah berkomitmen untuk memenuhi hak jaminan pada tanah kosong, maka ia wajib memenuhi apa yang telah ia komitmenkan.

هذا إذا لم يكن على الراهن دين يوجب اطراد الحجر عليه فأما إذا ركبته الديون واطرد عليه الحجر والمسألة حيث انتهت فلا سبيل إلى قلع الأشجار رعايةً لحق الغرماء

Ini jika si rahin tidak memiliki utang yang menyebabkan terus-menerusnya status hajr atas dirinya. Adapun jika ia telah dililit utang dan status hajr terus-menerus berlaku atasnya, dan perkara telah sampai pada tahap tersebut, maka tidak ada jalan untuk menebang pohon-pohon demi menjaga hak para kreditur.

فإن قيل حق المرتهن سابق وفي تبقية الغراس تنقيصُ حقه السابق قلنا نعم ولكن حق الغرماء صادفَ الأشجار وتعلق بها وليس للمرتهن إلا وثيقة فلا ينبغي أن يُحبط حقوق الغرماء والمالك بالكلية

Jika dikatakan bahwa hak pemegang gadai lebih dahulu dan dengan membiarkan tanaman tersebut berarti mengurangi haknya yang lebih dahulu, kami katakan: benar, tetapi hak para kreditur telah mengenai pohon-pohon itu dan telah melekat padanya, sedangkan pemegang gadai hanya memiliki jaminan. Maka tidak sepantasnya hak para kreditur dan pemilik digugurkan seluruhnya.

والذي يقتضيه الإنصاف بيعُ الأرض مع الغراس ثم في كيفية التوزيع على الأرض والغراس خلافٌ بين الأصحاب ذكرناه في مسألة بيع الجارية وولدها

Yang dituntut oleh keadilan adalah menjual tanah beserta tanaman yang ada di atasnya, kemudian dalam hal cara pembagian antara tanah dan tanaman terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah penjualan budak perempuan dan anaknya.

قال الأئمة إذا رهن الرجل أرضاً بيضاء وأقبضها ثم أراد أن يغرسها ابتداء فهل يمنع من ذلك والدين مؤجل فعلى وجهين أحدهما لا يمنع كما لا يقلع ما نبت من حميل السيل والثاني يمنع؛ فإن هذا إثبات تنقيصٍ في الحال على سبيل الاختيار ثم إن لم نمنعه فالكلام في القلع عند حلول الدين كما تفصَّل

Para imam berkata: Jika seseorang menggadaikan sebidang tanah kosong dan telah menyerahkannya, kemudian ia ingin menanaminya dari awal, apakah ia dicegah dari hal itu padahal utangnya masih jatuh tempo? Maka ada dua pendapat: yang pertama, tidak dicegah, sebagaimana tidak dicabut tanaman yang tumbuh karena terbawa arus banjir; dan yang kedua, dicegah, karena hal itu merupakan penetapan kekurangan secara langsung atas dasar pilihan. Kemudian, jika kita tidak mencegahnya, maka pembahasan mengenai pencabutan tanaman ketika utang telah jatuh tempo dijelaskan secara rinci.

وإن كنّا نمنعه من الغراس فلو غرس ونبت فهل يقلع عليه قبل حلول الأجل فيه اختلاف توجيهه قريب من توجيه الوجهين في أصل المنع فإن قلنا إنه مقلوع فلا شك أنه يقلع عند المحِل إذا لم يكن على الراهن حجر وهل يقلع إذا كانت عليه ديون واطرد الحجر فعلى وجهين ولا يخفى الفرق بين هذا وبين ما لو نبتت النخلات من نوى في حميل السيل؛ فإن ذلك جرى ولا منع يقترن به بخلاف ما فرعناه في ابتداء الغرس قصداً من الراهن

Dan jika kita melarangnya untuk menanam, lalu ia tetap menanam dan tanaman itu tumbuh, apakah tanaman itu harus dicabut sebelum jatuh tempo? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, dan arah perbedaannya mirip dengan dua pendapat dalam pokok larangan tersebut. Jika kita katakan bahwa tanaman itu harus dicabut, maka tidak diragukan lagi bahwa ia harus dicabut ketika jatuh tempo, jika tidak ada status tidak cakap (hajr) atas pihak yang menggadaikan. Namun, apakah tanaman itu harus dicabut jika ia memiliki utang dan hajr tetap berlaku atasnya? Maka ada dua pendapat. Tidak samar perbedaan antara kasus ini dengan kasus jika tumbuh pohon kurma dari biji yang terbawa arus banjir; karena dalam kasus itu terjadi secara alami tanpa ada larangan yang menyertainya, berbeda dengan kasus yang kita bahas, yaitu penanaman yang dilakukan secara sengaja oleh pihak yang menggadaikan.

فصل

Bab

قال ولو رهنه أرضاً ثم اختلفا فقال أحدثت فيها نخلاً إلى آخره

Dia berkata: Jika seseorang menggadaikan sebidang tanah kepadanya, kemudian keduanya berselisih, lalu salah satu berkata, “Aku yang menanam pohon kurma di atasnya,” dan seterusnya.

إذا صادفنا أرضاً مرهونة وفيها نخيل فقالى المرتهن للراهن رهنتني الأرضَ والنخيل القائمةَ فيها يوم رهنتني وقال الراهن بل رهنتك الأرض بيضاء وأحدثتَ هذه النخيل بعد الرهن ولم تكن موجودة حالة الرهن فإن كانت المشاهدة تكذب المرتهن؛ بأن تقدّم تاريخ الرهن وامتد سنين والنخيل بعد فَسِيلٌ لا يخفى أنها نبات سنة فالمرتهن مكذَّب ولا حاجة إلى اليمين

Jika kita menjumpai sebidang tanah yang digadaikan dan di atasnya terdapat pohon kurma, lalu pihak penerima gadai berkata kepada pihak yang menggadaikan, “Engkau telah menggadaikan kepadaku tanah beserta pohon kurma yang sudah ada di atasnya pada hari engkau menggadaikannya kepadaku,” sedangkan pihak yang menggadaikan berkata, “Aku hanya menggadaikan kepadamu tanah yang kosong, dan pohon kurma ini baru ditanam setelah akad gadai dan tidak ada ketika akad gadai berlangsung,” maka jika kenyataan yang terlihat membantah klaim penerima gadai—misalnya tanggal akad gadai sudah lama berlalu bertahun-tahun, sedangkan pohon kurma tersebut masih berupa bibit yang jelas-jelas baru ditanam setahun terakhir—maka klaim penerima gadai dianggap dusta dan tidak perlu sumpah.

وإن كانت المشاهدة تكذِّب الراهن بأن كان النخيل باسقة وتاريخ الرهن قريب فالمشاهدة كذبت الراهنَ في دعواه عدمَ النخيل عند الرهن ولكن لا تنفصل معه الخصومة بهذا؛ إذْ لم يثبت إلا وجود النخيل حالة الرهن ولا يمتنع أن تكون موجودة ولا تكون مرهونة فتتوجه الدعوى عليه بالرهن فإن أصر على قوله الأوَّل لم يقبل منه والمشاهدة تكذبه ويجعل منكراً وتعرض عليه اليمين فإن تمادى في محاله الأولى جُعل ناكلاً وفصلت الخصومة بطريقها وإن اعترف بالوجود آخراً وأراد أن ينكر الرهن قُبل منه الإنكار وكَذْبتُه الأولى لا تسدّ عليه إنكارَ الدعوى ثم تُدَارُ الخصومة على نظمها

Jika kenyataan yang terlihat membantah pernyataan pihak yang menggadaikan, misalnya pohon kurma tampak tinggi menjulang sementara waktu penggadaian masih dekat, maka kenyataan tersebut membantah klaim pihak yang menggadaikan bahwa pohon kurma tidak ada saat penggadaian. Namun, hal ini tidak serta-merta mengakhiri sengketa; sebab yang terbukti hanyalah keberadaan pohon kurma pada saat penggadaian, dan tidak mustahil pohon itu ada namun tidak dijadikan objek gadai. Maka, tuntutan terhadap penggadaian tetap diarahkan kepadanya. Jika ia tetap bersikukuh pada pernyataan awalnya, maka pernyataannya tidak diterima dan kenyataan yang terlihat membantahnya, sehingga ia dianggap sebagai pihak yang mengingkari dan diminta bersumpah. Jika ia tetap bertahan pada pengingkaran semula, maka ia dianggap menolak bersumpah dan sengketa diputuskan sesuai prosedurnya. Namun, jika akhirnya ia mengakui keberadaan pohon kurma dan ingin mengingkari penggadaian, maka pengingkarannya diterima dan kebohongan sebelumnya tidak menghalanginya untuk mengingkari tuntutan. Selanjutnya, sengketa berjalan sesuai ketentuannya.

وإن كانت النخيل بحيث يحتمل أنها كانت يوم الرهن ويحتمل أنها حدثت بعده بأيام فالقول قول الراهن في نفي الرهن

Jika pohon-pohon kurma tersebut masih mungkin diduga sudah ada pada hari akad rahn, dan juga mungkin diduga tumbuh setelahnya beberapa hari, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang menggadaikan dalam menafikan keberadaan rahn.

ولو اقتصر على نفي وجود النخيل وكان انتفاؤها ممكناً فالأظهر أنه يُكتفَى منه بإنكار الوجود؛ فإنّ في إنكار الوجود إنكارَ الرهن المدّعىَ والمسألة مفروضة فيه إذا قال المرتهن كانت موجودة فرهنتَها مع الأرض ولهذا نظائر فيها ترددٌ للأصحاب ستأتي في كتاب الدعاوى

Jika hanya terbatas pada penolakan adanya pohon kurma dan ketiadaannya itu memungkinkan, maka pendapat yang lebih kuat adalah cukup baginya dengan mengingkari keberadaan; sebab dalam pengingkaran keberadaan itu sudah termasuk pengingkaran terhadap rahn yang didakwakan, dan masalah ini diasumsikan jika pihak murtahin berkata, “Pohon kurma itu dulu ada lalu engkau menjadikannya sebagai rahn bersama tanah.” Untuk hal ini terdapat beberapa contoh serupa yang menjadi perdebatan di kalangan para ashhab, yang akan dibahas dalam Kitab al-Da‘āwā.

ولو قال المرتهن رهنتني هذه الأشجار ولم يتعرض لوقت رهنها ولم يذكر اقترانَها ولا تأخرها فلا ينفع والدعوى على هذه الصيغة تعرض الراهن لتقدم وجود النخيل وتأخرها؛ فإنه لا يمتنع رهنها وإن تأخرت والمرتهن إنما يدعي الرهن المطلق وهذا بيِّن إذا لم يكن الرهن مشروطاً في بيع

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) berkata, “Engkau telah menggadaikan kepadaku pohon-pohon ini,” tanpa menyebutkan waktu penggadaiannya, tanpa menyebutkan apakah penggadaian itu bersamaan atau setelahnya, maka hal itu tidak bermanfaat. Pernyataan dengan redaksi seperti ini memungkinkan pihak yang menggadaikan (rahin) untuk mengklaim bahwa keberadaan pohon kurma itu lebih dahulu atau belakangan; sebab tidak terlarang menggadaikan pohon tersebut meskipun keberadaannya belakangan. Pihak yang menerima gadai hanya mengklaim gadai secara mutlak, dan hal ini jelas jika gadai tersebut tidak disyaratkan dalam jual beli.

فأما إذا كان الرهن مشروطاًً في بيع وصيغة الدعوى كما تقدمت قال المرتهن رهنتها مع الأرض يوم رهنتني الأرض وقال الراهن لم تكن النخيل موجودة يوم رهن الأرض وكانت المشاهدة لا تكذبه وقد ربطا قوليهما ببيعٍ فقال المرتهن شرطتَ رهن الأرض والنخيل فإذا قال الراهن لم تكن النخيل فقد ذهب المحققون إلى أن هذا الاختلاف ليس مما يوجب التحالف في البيع؛ فإن حاصله راجع إلى التنازع في وجود النخيل وعدمها والتحالف إنما يترتب على تنازع في صفة عقدٍ يتصور التصادق عليها

Adapun jika rahn disyaratkan dalam jual beli dan redaksi gugatan seperti yang telah disebutkan, pihak murtahin berkata, “Aku telah menerima rahn ini bersama tanah pada hari engkau menggadaikan tanah kepadaku,” sedangkan pihak rahin berkata, “Pohon-pohon kurma itu tidak ada pada hari tanah digadaikan,” dan pengamatan tidak mendustakannya, serta keduanya mengaitkan pernyataan mereka dengan jual beli, maka murtahin berkata, “Engkau mensyaratkan rahn tanah dan pohon kurma.” Jika rahin berkata, “Pohon kurma itu tidak ada,” maka para muhaqqiq berpendapat bahwa perbedaan ini bukanlah termasuk yang menyebabkan terjadinya tahaluf dalam jual beli; karena inti permasalahannya kembali pada perselisihan tentang ada atau tidaknya pohon kurma, sedangkan tahaluf hanya berlaku pada perselisihan mengenai sifat akad yang memungkinkan adanya kesepakatan di antara keduanya.

وهذا حسن دقيق

Ini adalah sesuatu yang baik dan mendalam.

والظاهر عندي أنهما يتحالفان؛ فإنَّ المرتهن ادعى شرط رهن ممكن وأنكر الراهن الشرط وعلله بعلة فالتنازع في صفة العقد قائم فليجر التحالف

Menurut pendapat saya yang tampak, keduanya saling bersumpah; karena pihak murtahin mengklaim adanya syarat rahn yang mungkin, sedangkan pihak rahin mengingkari syarat tersebut dan memberikan alasan, sehingga perselisihan mengenai sifat akad tetap ada, maka hendaklah dilakukan tahaluf (saling bersumpah).

وإن اتفقا على وجود النخيل وقال المرتهن شرطنا في البيع رهنَ الأرض والنخيل وقال الراهن لم نشترط إلا رهنَ الأرض ولم يتعرضا لنفي وجود النخيل بل توافقا عليه فهذا اختلافٌ في صفة العقد لا محالة فيتحالفان ويتفاسخان العقد

Jika keduanya sepakat tentang adanya pohon kurma, lalu pihak murtahin (penerima gadai) berkata, “Kami mensyaratkan dalam jual beli ini gadai atas tanah dan pohon kurma,” sedangkan pihak rāhin (pemberi gadai) berkata, “Kami hanya mensyaratkan gadai atas tanah saja,” dan keduanya tidak membahas tentang meniadakan keberadaan pohon kurma, bahkan sepakat atas keberadaannya, maka ini adalah perselisihan dalam sifat akad, tidak diragukan lagi. Maka keduanya saling bersumpah dan akadnya dibatalkan.

ولو قال المرتهن لِمَ نتحالف وأنا معترف بأنك وفَّيت بالرهن المشروط في النخيل فاختلافنا في الرهن قيل له هذا أمر تبنيه أنت فرعاً على أصل والراهن منكرٌ لأصل الشرط فلا بُدّ من التحالف

Jika pihak yang menerima gadai berkata, “Mengapa kita harus saling bersumpah, padahal aku mengakui bahwa engkau telah memenuhi syarat gadai yang ditetapkan pada pohon kurma, sehingga perselisihan kita hanya pada objek gadai?” Maka dikatakan kepadanya, “Ini adalah perkara yang engkau bangun sebagai cabang dari suatu pokok, sementara pihak yang menggadaikan mengingkari pokok syarat tersebut, sehingga harus ada sumpah dari kedua belah pihak.”

فصل

Bab

قال ولو شرط للمرتهن إذا حل الحق أن يبيعه لم يجز أن يبيع بنفسه إلا بأن يحضره ربّ الرهن إلى آخره

Dikatakan: Jika disyaratkan kepada penerima gadai bahwa ketika hak telah jatuh tempo ia boleh menjualnya, maka tidak boleh baginya menjual sendiri kecuali jika pemilik barang gadai menghadirinya hingga selesai.

إذا حلّ الحق فقال الراهن للمرتهن بع لي واستوفِ ثمنَه لي ثم استوفه لنفسك فإذا باع نفذ البيع بالإذن ثم إذا استوفى الثمنَ وقع الثمن للراهن ويكون أمانة بعدُ في يد المرتهن فإن أراد استيفاءَه لنفسه فلا بد من وزنٍ جديد إن كان موزوناً أو كيل جديد إن كان مكيلاً فإن وزنه ثانياً فهل يصح الاستيفاء على هذا الترتيب؛ فعلى وجهين تقدم ذكرهما في كتاب البيع فإن صححنا الاستيفاء دخل في ضمانه وبرئت ذمة الراهن من الدين وإن لم نصحح الاستيفاء فما قبضه على الفساد مضمون عليه وإن لم يكن مقبوضاً على الصحة عن جهة حقه فالدين باق في ذمة الراهن

Apabila jatuh tempo hak (pelunasan utang) lalu pihak rahin (yang menggadaikan) berkata kepada pihak murtahin (penerima gadai): “Juallah barangku dan ambillah hasil penjualannya untukku, kemudian ambillah untuk dirimu sendiri,” maka jika barang itu dijual, penjualan tersebut sah karena adanya izin. Setelah itu, jika harga (hasil penjualan) telah diterima, maka harga tersebut menjadi milik rahin dan menjadi amanah di tangan murtahin. Jika murtahin ingin mengambilnya untuk dirinya sendiri, maka harus dilakukan penimbangan ulang jika barangnya ditimbang, atau pengukuran ulang jika barangnya ditakar. Jika ia menimbangnya untuk kedua kalinya, apakah pengambilan tersebut sah dengan urutan seperti ini? Ada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab al-Bay‘ (Kitab Jual Beli). Jika kita menganggap pengambilan itu sah, maka barang tersebut masuk dalam tanggungannya dan tanggungan rahin atas utang menjadi bebas. Namun jika kita tidak menganggap pengambilan itu sah, maka apa yang diambil secara tidak sah tetap menjadi tanggungannya, dan jika tidak diambil secara sah atas dasar haknya, maka utang tetap menjadi tanggungan rahin.

ومن تمام التفريع في ذلك أنا إذا صححنا الاستيفاء فالذي ذكره الأصحاب أنه لا بد من إنشاء فعلٍ فيه وليس كما لو رهن الوديعة عند المودَع فإنا في قولٍ ظاهر نكتفي بدوام يده كما تفصّل ذلك وهاهنا لا بد من فعلٍ في الاستيفاء وتعليله واضح؛ فإن الاستيفاء إنما يصح بناء على إذن الراهن ولفظُه في الإذن ثم استوف منه حقك وهذا تصريح بإحداث أمر

Sebagai penyempurna penjabaran dalam hal ini, apabila kita membenarkan pelaksanaan pengambilan (hak), para ulama menyebutkan bahwa harus ada perbuatan yang dilakukan dalam pelaksanaannya, dan hal ini tidak seperti ketika barang titipan dijadikan jaminan di tangan penerima titipan, karena dalam salah satu pendapat yang kuat, kita cukup dengan keberlangsungan penguasaan tangannya, sebagaimana telah dirinci sebelumnya. Namun dalam hal ini, harus ada perbuatan dalam pelaksanaan pengambilan (hak), dan alasannya jelas; sebab pelaksanaan pengambilan (hak) hanya sah berdasarkan izin dari pihak yang menjaminkan, dan redaksi izinnya adalah: “Kemudian ambillah hakmu darinya,” dan ini merupakan pernyataan tegas untuk melakukan suatu tindakan.

ولو قال بعه لي واستوف الثمن لي ثم أمسكه لنفسك فالظاهر أنه لا بد من فعلٍ في القبض كما تقدم

Dan jika seseorang berkata, “Juallah untukku dan ambillah pembayaran untukku, kemudian tahanlah (barang itu) untuk dirimu sendiri,” maka yang tampak adalah tetap diperlukan adanya suatu perbuatan dalam hal qabd (pengambilan barang), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ومن أصحابنا من أقام الإمساك على قول صحة القبض مقام الاستيفاء إذا كان الاستيفاء مأذوناً فيه

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa menahan (barang) berdasarkan pendapat sahnya qabdh (penguasaan) dapat menggantikan istifā’ (pengambilan sepenuhnya), jika istifā’ tersebut memang diperbolehkan.

وإذا قلنا الاستيفاء لا يصح ثم جعلنا قبضه على الفساد مُدخلاً للثمن في ضمانه فلو لم يوجد منه فعل والمأذون فيه الاستيفاء ولكن نوى أن يمسكه لنفسه فهذا لا يدخله في ضمانه؛ فإن اليد يد أمانة والأمانات لا تزول بمجرد النيات ولو نوى المودَع تغييب الوديعة ولم يُحدث أمراً لم يضمن بمجرد النية

Dan apabila kita mengatakan bahwa pengambilan tidak sah, kemudian kita menjadikan penerimaan barang dalam keadaan fasad (rusak) sebagai sebab masuknya harga dalam tanggungan, maka jika tidak ada perbuatan darinya, sementara yang diizinkan hanyalah pengambilan, tetapi ia berniat untuk menahan barang itu untuk dirinya sendiri, hal ini tidak memasukkan barang tersebut ke dalam tanggungannya; karena tangan tersebut adalah tangan amanah, dan amanah tidak hilang hanya dengan niat semata. Jika orang yang diberi titipan berniat untuk menyembunyikan titipan, namun tidak melakukan suatu perbuatan, maka ia tidak menanggungnya hanya karena niat.

ولو قال الراهن بعه لي واستوفِ ثمنه لنفسك صح البيع ولم يصح الاستيفاء؛ فإن الغير يستحيل أن يستوفي حقه قبل ثبوت القبض الصحيح لمن يقع الاستيفاء من جهته وقد مهدنا هذا في البيع

Jika pihak yang menggadaikan berkata, “Juallah barang ini untukku dan ambillah harganya untuk dirimu sendiri,” maka jual belinya sah, namun pengambilan (harga) tersebut tidak sah; karena tidak mungkin seseorang mengambil haknya sebelum adanya penerimaan yang sah bagi pihak yang darinya pengambilan itu dilakukan, dan hal ini telah kami jelaskan dalam pembahasan jual beli.

وإن قال الراهن للمرتهن بعه لنفسك فباع فظاهر النص وما ذكره العراقيون واختاره القاضي أن البيع يفسد؛ لأنه لا يتصور أن يبيع الإنسان مال الغير لنفسه

Jika pihak yang menggadaikan berkata kepada pihak penerima gadai, “Juallah untuk dirimu sendiri,” lalu ia menjualnya, maka menurut zahir nash dan apa yang disebutkan oleh para ulama Irak serta yang dipilih oleh al-Qadhi, jual beli tersebut batal; karena tidak mungkin seseorang menjual harta milik orang lain untuk dirinya sendiri.

وذكر صاحبُ التقريب قولاً آخر ارتضاه لنفسه أن البيع صحيح بناء على قوله بعه والفساد في قوله لنفسك فليستقل البيع بالإذن فيه

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain yang ia pilih untuk dirinya sendiri, yaitu bahwa akad jual beli tersebut sah berdasarkan pada ucapannya “juallah”, sedangkan unsur rusaknya terdapat pada ucapannya “untuk dirimu sendiri”, sehingga akad jual beli berdiri sendiri dengan izin yang diberikan padanya.

وهذا وإن كان منقاساً فالمذهب ما قدمته

Meskipun hal ini dapat diqiyaskan, namun pendapat mazhab adalah seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya.

ولو قال الراهن للمرتهن بعه ولم يقل بعه لي ولا لنفسك هذا موضع الاختلاف الظاهر بين الأصحاب ولا عود إلى ما ذكره صاحب التقريب فمن أصحابنا من قال يجوز له أن يبيع كالأجنبي يقول له مالك العبد بعه ومن أصحابنا من قال لا ينفذ بيع المرتهن وهؤلاء عللوا امتناع البيع بعلتين إحداهما أن البيع مستحَقّ للمرتهن بعد حلول الحق والمسألة مفروضة في هذا والدليل على أن البيع مستحق للمرتهن أنه لو أذن المرتهن للراهن في البيع مُطلقاً والحق حالّ فالبيع يقع للمرتهن حتى لو أراد الراهن صرفَ الثمن إلى جهة أخرى لم يجد إليه سبيلاً فإذا كان البيع مستحقاً للمرتهن فالإذن المطلق إذا اقترن باستحقاق البيع في حق المرتهن نازلٌ منزلة الإذن المقيد بالبيع في حق المرتهن فإذا قال بعه فكأنه قال بعه لنفسك هذا إحدى العلتين

Dan jika pihak yang menggadaikan berkata kepada pihak yang menerima gadai, “Juallah,” tanpa mengatakan “juallah untukku” atau “juallah untuk dirimu sendiri,” maka inilah tempat terjadinya perbedaan pendapat yang nyata di antara para sahabat kami, dan tidak kembali kepada apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib. Di antara sahabat kami ada yang berpendapat bahwa ia boleh menjualnya, sebagaimana orang luar (bukan pemilik) berkata kepada pemilik budak, “Juallah.” Dan di antara sahabat kami ada yang berpendapat bahwa penjualan oleh pihak penerima gadai tidak sah. Mereka ini beralasan dengan dua alasan: Pertama, bahwa penjualan itu menjadi hak pihak penerima gadai setelah jatuh tempo utang, dan masalah ini memang dalam konteks tersebut. Dalil bahwa penjualan itu menjadi hak pihak penerima gadai adalah jika pihak penerima gadai mengizinkan pihak yang menggadaikan untuk menjual secara mutlak dan utang telah jatuh tempo, maka penjualan itu terjadi untuk pihak penerima gadai, sehingga jika pihak yang menggadaikan ingin mengalihkan hasil penjualan ke arah lain, ia tidak dapat melakukannya. Maka, jika penjualan itu memang menjadi hak pihak penerima gadai, maka izin secara mutlak yang disertai dengan hak penjualan bagi pihak penerima gadai, kedudukannya sama dengan izin yang dibatasi untuk menjual bagi pihak penerima gadai. Maka, jika ia berkata, “Juallah,” seakan-akan ia berkata, “Juallah untuk dirimu sendiri.” Inilah salah satu dari dua alasan tersebut.

والعلة الأخرى أن المرتهن متهم في ترك النظر؛ فإنه يبغي الوصولَ إلى حق نفسه فقد يستعجل ذلك فلا يبالي بترك النظر للرّاهنِ وليس كالوكيل المطلق؛ فإنه لا حقّ له في البيع فيبيع لغرض الموكِّل طالباً مصلحته

Alasan lainnya adalah bahwa pihak yang menerima gadai (murtahin) dicurigai akan lalai dalam menjaga barang gadai; sebab ia berkeinginan untuk segera mendapatkan haknya sendiri sehingga mungkin saja ia tergesa-gesa dan tidak peduli untuk menjaga kepentingan pihak yang menggadaikan (rahin). Hal ini berbeda dengan wakil mutlak, karena ia tidak memiliki hak dalam penjualan, sehingga ia menjual demi kepentingan pihak yang mewakilkan (muwakkil) dengan tujuan mencari kemaslahatan baginya.

ولو قال من عليه الدين لمستحق الدين بع هذا الثوب ولم يكن مرهوناً وخذ حقك من ثمنه أمّا البيع فصحيح؛ فإن بيع ذلك الثوب ليس مستحقاً له فهو فيه كسائر الغرماء وبيعه لا يقع إلا بحكم الوكالة

Jika orang yang berutang berkata kepada pihak yang berhak menerima utang: “Jual baju ini—dan baju itu bukan barang gadai—lalu ambillah hakmu dari hasil penjualannya,” maka penjualannya sah; sebab penjualan baju tersebut bukan khusus untuknya, sehingga ia dalam hal ini sama seperti para kreditur lainnya, dan penjualannya hanya terjadi berdasarkan hukum wakalah (perwakilan).

ثم فَرَّع الأصحاب على العلتين المذكورتين في توجيه أحد الوجهين فقالوا إن كان الدين مؤجّلاً فقال الراهن للمرتهن بعه فهذا يخرّج على المعنيين؛ فإن منعنا البيع عند حلول الحق لكون البيع مستحقاً على التحقيق الذي مضى فهذا المعنى مفقود قبل حلول الأجل؛ فإن البيع غيرُ مستَحق للمرتهن والدليل عليه أن المرتهن لو قال للراهن قبل حلول الأجل بعه نفذ البيع وبطل حق المرتهن كما مضى تفصيله هذا إن عللنا بالاستحقاق

Kemudian para ulama menurunkan cabang hukum dari dua ‘illat yang telah disebutkan dalam penjelasan salah satu pendapat, lalu mereka berkata: Jika utang itu masih bertempo, kemudian pihak yang menggadaikan (rahin) berkata kepada penerima gadai (murtahin), “Juallah (barang ini),” maka hal ini dikembalikan kepada dua makna (‘illat) tersebut. Jika kita melarang penjualan ketika hak telah jatuh tempo karena penjualan itu menjadi wajib menurut penjelasan yang telah lalu, maka makna ini tidak ada sebelum jatuh tempo; sebab penjualan itu belum menjadi wajib bagi murtahin. Dalilnya adalah, jika murtahin berkata kepada rahin sebelum jatuh tempo, “Juallah (barang ini),” maka penjualan itu sah dan hak murtahin batal, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci sebelumnya—ini jika kita mengaitkan alasan dengan kewajiban (istihqāq).

وإن عللنا بكون المرتهن متَّهماً؛ من جهة استعجال الحق فهذا المعنى قبل الحلول مفقود أيضاًً؛ فإنه إنما يبيعه بإذنٍ مُطلقٍ والبيع بماذنٍ مطلق قبل حلول الأجل يفك الرهنَ

Dan jika kita mengaitkan (‘illat) dengan adanya kecurigaan terhadap murtahin (penerima gadai) dari sisi keinginannya untuk segera mendapatkan haknya, maka makna ini juga tidak ada sebelum jatuh tempo; karena ia hanya akan menjualnya dengan izin yang bersifat mutlak, dan penjualan dengan izin mutlak sebelum jatuh tempo membebaskan barang gadai.

وإن قال قبل حلول الأجل بعه واستوفِ حقك على التفاصيل المقدّمة فتتحقق التهمة ويخرج وجهان؛ فإن عللنا بالاستحقاق فلا استحقاق وإن عللناه بالتهمة فهي قائمة

Dan jika ia berkata sebelum jatuh tempo, “Jual dan ambillah hakmu,” menurut rincian yang telah disebutkan sebelumnya, maka tuduhan (rekayasa) menjadi nyata, dan terdapat dua pendapat: jika kita mengaitkannya dengan hak untuk menagih, maka belum ada hak untuk menagih; namun jika kita mengaitkannya dengan adanya tuduhan, maka tuduhan itu tetap ada.

وإن قدَّر الراهن ثمناً للمرتهن فقال بعه بكذا فإذا باع بذلك المقدار فقد زالت التهمة

Jika pihak yang menggadaikan menentukan harga kepada pihak penerima gadai dengan mengatakan, “Juallah dengan harga sekian,” lalu ia menjual dengan jumlah tersebut, maka tuduhan (adanya unsur riba atau penipuan) telah hilang.

فإن عللنا فساد البيع بالتهمة صح وإن عللنا بالاستحقاق لم يصح

Jika kita mengaitkan batalnya jual beli dengan adanya tuduhan (syubhat), maka hal itu sah. Namun jika kita mengaitkannya dengan istihqāq (hak milik orang lain), maka hal itu tidak sah.

فإن قيل ما وجه التعلّق بالتهمة وثمن المثل معلوم فينبغي أن نقول على اعتبار التهمة إن باع بثمن المثل صح وإن باع بأقل منه لم ينفذ

Jika dikatakan, apa hubungan dengan tuduhan (tuhmah) padahal harga sepadan (tsaman al-mitsl) sudah diketahui, maka seharusnya kita mengatakan bahwa berdasarkan pertimbangan tuduhan, jika ia menjual dengan harga sepadan maka sah, dan jika ia menjual dengan harga yang lebih rendah darinya maka tidak sah.

قلنا وراء ثمن المثل تهمة؛ فإن الشيء قد يطلب بأكثر من ثمن مثله فيبيعه المتهم بثمن المثل وسر هذا يأتي في كتاب الوكالة إن شاء الله تعالى

Kami katakan bahwa di balik harga sepadan terdapat unsur tuduhan; sebab suatu barang kadang-kadang diminta dengan harga lebih tinggi dari harga sepadannya, lalu orang yang dicurigai menjualnya dengan harga sepadan. Rahasia hal ini akan dijelaskan dalam Kitab Wakalah, insya Allah Ta‘ala.

هذا بيان الوجهين وتفريعهما

Ini adalah penjelasan tentang dua pendapat beserta rincian keduanya.

ثم لفظ الشافعي دليل على أن البيع بالإذن المُطلق باطل من المرتهن عند حلول الأجل؛ فإنه قال في صدر الفصل لو شرط المرتهن إن حل الحقُّ أن يبيعه لم يجز أن يبيع بنفسه فظاهر النص منعُ البيع عند إطلاق الإذن

Kemudian, lafaz asy-Syafi‘i merupakan dalil bahwa jual beli dengan izin yang bersifat mutlak dari pihak murtahin (penerima gadai) saat jatuh tempo adalah batal; sebab ia berkata di awal bab: “Jika murtahin mensyaratkan bahwa apabila hak telah jatuh tempo maka ia boleh menjualnya,” maka tidak boleh ia menjualnya sendiri. Maka, zahir nash menunjukkan larangan jual beli ketika izin diberikan secara mutlak.

ومن قال بالوجه الثاني وهو القياس أوّل النص وقال قوله لم يجز أن يبيعه لنفسه معناه لم يجز أن يبيعه من نفسه؛ فإنَّ تولِّي طرفي العقد لا يسوغ من الوكيل

Dan barang siapa yang berpendapat dengan pendapat kedua, yaitu qiyās, menakwilkan nash dan berkata bahwa ucapannya “tidak boleh menjualnya untuk dirinya sendiri” maksudnya adalah “tidak boleh menjualnya kepada dirinya sendiri”; karena menjadi pelaku kedua belah pihak dalam akad tidak diperbolehkan bagi seorang wakil.

ومما يتفرع على ما ذكرناه أن الراهن لو أذن للمرتهن في البيع مطلقاً عند حلول الحق فباعه والراهن حاضر فمن راعى التهمة نفذ العقدَ ومن راعى الاستحقاق لم يفصل بين البيع في الحضرة وبين البيع في المغيب؛ لجريان الاستحقاق في الموضعين ولفظ الشافعي في صدر الفصل يدل على صحة البيع بحضرة الراهن؛ فإنه قال لم يجز أن يبيع بنفسه إلا بأن يحضره ربُّ الرهن

Di antara cabang dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa jika pihak yang menggadaikan (rahin) mengizinkan pihak penerima gadai (murtahin) untuk menjual barang gadai secara mutlak ketika utang jatuh tempo, lalu ia menjualnya sementara pihak yang menggadaikan hadir, maka menurut pendapat yang memperhatikan adanya tuduhan (potensi kecurangan), akad jual beli tersebut sah. Sedangkan menurut pendapat yang memperhatikan hak (istihqāq), tidak ada perbedaan antara penjualan yang dilakukan saat pihak yang menggadaikan hadir maupun tidak hadir, karena hak berlaku pada kedua keadaan tersebut. Lafal Imam Syafi’i di awal bab menunjukkan sahnya penjualan dengan kehadiran pihak yang menggadaikan; karena beliau berkata: “Tidak boleh ia (penerima gadai) menjual sendiri kecuali dengan kehadiran pemilik barang gadai.”

ومن منع البيع مع حضوره وسلك مسلك الاستحقاق أوّل النص وقال فيه إضمار كلامٍ والتقدير لم يجز أن يبيعه المرتهن إلا أن يحضره الراهن فيبيعه

Dan orang yang melarang penjualan dengan kehadirannya serta menempuh pendekatan istihqāq, menakwilkan nash tersebut dan mengatakan bahwa di dalamnya terdapat kalimat yang tersembunyi, dengan takdir: “Tidak boleh bagi murtahin (penerima gadai) menjualnya kecuali jika rahin (pemberi gadai) hadir lalu ia (murtahin) menjualnya.”

وهذا على التحقيق استثناء من غير الجنس كما يعرفه ذو الحظ من الأصول

Ini, menurut penelitian yang cermat, merupakan pengecualian dari jenis yang berbeda, sebagaimana diketahui oleh orang yang memahami ushul.

وبنى بعض أصحابنا الوجهين في الصحة والفساد حيث تتطرق التهمة على وجهين سيأتي ذكرهما في الوكالة إن شاء الله تعالى

Sebagian ulama kami membangun dua pendapat mengenai sah dan batalnya (akad) ketika terdapat dugaan tuduhan, berdasarkan dua sisi yang penjelasannya akan disebutkan pada pembahasan wakalah, insya Allah Ta‘ala.

وذلك إذا وكل الرجل وكيلاً ببيع ماله فباعه الوكيل من أبيه أو ابنه ففي صحة بيعه وجهان وسببهما تمكن التهمة من الوكيل في بيعه من أبيه أو ابنه

Hal itu terjadi apabila seseorang mewakilkan kepada seorang wakil untuk menjual hartanya, lalu wakil tersebut menjualnya kepada ayah atau anaknya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya, dan sebab perbedaan pendapat tersebut adalah adanya kemungkinan tuduhan terhadap wakil dalam menjual kepada ayah atau anaknya.

هذا كله في إذن الراهن في البيع وترديد القول في إطلاقه وتقييده

Semua ini berkaitan dengan izin dari pihak yang menggadaikan dalam hal penjualan, serta pembahasan mengenai apakah izinnya bersifat mutlak atau terbatas.

ومن بقية الكلام في الفصل أَنَّ الراهن عند حلول الحق لو أراد أن يستقلّ ببيع المرهون وصرف ثمنه إلى المرتهن لم يكن له ذلك أبداً فإن طابقه المرتهن فذاك وإلا لا خلاص له إلا بأن يرفع الأمر إلى القاضي ثم القاضي يقول للمرتهن ائذن في بيعه وخذ حقك كما مضى أو أبرئه عن حقك

Dan sisa pembahasan dalam bab ini adalah bahwa pihak yang menggadaikan, ketika jatuh tempo utang, jika ia ingin secara mandiri menjual barang yang digadaikan dan menyerahkan hasil penjualannya kepada pihak penerima gadai, maka ia sama sekali tidak berhak melakukan itu. Jika pihak penerima gadai setuju, maka tidak masalah, tetapi jika tidak, maka tidak ada jalan keluar baginya kecuali dengan membawa perkara tersebut kepada hakim. Kemudian hakim akan berkata kepada pihak penerima gadai: “Izinkanlah barang itu dijual dan ambillah hakmu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, atau bebaskanlah ia dari hakmu.”

ولو سلطنا الراهن على الاستقلال بالبيع لبطل أثر التوثق وحبسُ المرتهن ومنعُه من التصرف ولو أراد المرتهن أن يبيع الرهن بنفسه فإن أمكنه مراجعةَ الراهن واستيفاءَ الحق منه فليس له أن يستقل بالبيع وإن غاب الراهن أو جحد ولا بينة وتعذر استيفاء الحق منه فقد قطع الأصحابُ بتنزيل المرهون والحالة هذه منزلَة شيء يظفر به مستحِق الدين من مال من عليه الدين وفيه تفصيلٌ واختلافُ قول سيأتي في كتاب الدعاوى إن شاء الله تعالى فإن قيل فلا أثر للرهن إذاً إذا كان لا يسلطه على البيع قولاً واحداً

Jika kita memberikan hak penuh kepada rahin (pemberi gadai) untuk secara mandiri menjual barang gadai, maka hilanglah tujuan penjaminan, dan hak habs (penahanan) serta larangan bagi murtahin (penerima gadai) untuk melakukan tindakan atas barang tersebut menjadi batal. Jika murtahin ingin menjual barang gadai itu sendiri, maka jika memungkinkan untuk menghubungi rahin dan menagih haknya darinya, maka ia tidak berhak untuk secara mandiri melakukan penjualan. Namun, jika rahin tidak ada atau mengingkari (utang) dan tidak ada bukti, serta tidak memungkinkan untuk menagih hak darinya, maka para ulama secara tegas menetapkan bahwa dalam kondisi seperti ini, barang gadai diperlakukan seperti harta yang ditemukan oleh orang yang berhak atas utang dari harta orang yang berutang. Dalam hal ini terdapat rincian dan perbedaan pendapat yang akan dijelaskan dalam Kitab al-Da‘āwā, insya Allah Ta‘ala. Jika ada yang berkata: “Kalau begitu, tidak ada pengaruh dari rahn (gadai) jika tidak memberikan hak kepada pemiliknya untuk menjual barang gadai secara mutlak,”

قلنا أثره يبين في زحمة الديون وضيق المال؛ فإن ذلك إذا وقع قُدِّم المرتهن بالرهن وإن لم يكن الرهن وكان قد ظفر بشيء من ماله وهو تحت يده استرددناه منه ورددناه في جملة الأمتعة وتركناهم يتضاربون على أقدار الديون

Kami katakan, dampaknya akan tampak ketika terjadi banyaknya utang dan sempitnya harta; jika hal itu terjadi, maka pemegang gadai didahulukan karena adanya rahn. Namun jika tidak ada rahn dan ia telah mendapatkan sesuatu dari hartanya yang berada di tangannya, maka kami ambil kembali dari padanya dan kami kembalikan ke dalam kumpulan barang-barang, lalu kami biarkan mereka saling berebut sesuai dengan besarnya utang masing-masing.

وقد نجز الفصل بما فيه

Bab ini telah selesai beserta isinya.

فصل

Bagian

قال ولو كان الشرط للعَدْلِ جاز بيعُه ما لم يفسخا أو أحدهما وكالته إلى آخره

Dikatakan: Jika syarat itu untuk keadilan, maka jual belinya boleh selama keduanya atau salah satunya belum membatalkan, demikian pula halnya dengan perwakilannya, dan seterusnya.

إذا حل الحق فقال الراهن أحضر الرهنَ وأنا أؤدي دينك من مالي لم يلزم المرتهن أن يُحضره ولو رفع الأمر إلى مجلس القاضي والتمس منه أن يُلزم المرتهن إحضارَ الرّهن حتى يقعَ قضاءُ الدين واستردادُ الرهن بمرأىً من القاضي لم يُلزم القاضي المرتهن ذلك وقال حقه في الوثيقة قائم حتى يؤدَّى دينُه ثم إن أدّاه فليس على المرتهن إحضارُ الرهن؛ فإن الرهن أمانة وليس على المؤتمن ردُّ الأمانة

Apabila waktu pelunasan tiba, lalu pihak yang menggadaikan berkata, “Bawalah barang gadai itu dan aku akan melunasi utangmu dari hartaku,” maka pihak penerima gadai tidak wajib membawanya. Bahkan jika perkara ini dibawa ke hadapan majelis hakim dan diminta agar hakim mewajibkan penerima gadai untuk membawa barang gadai tersebut supaya pelunasan utang dan pengambilan kembali barang gadai itu terjadi di hadapan hakim, maka hakim pun tidak mewajibkan penerima gadai untuk melakukannya. Hak penerima gadai atas barang jaminan tetap ada sampai utangnya dilunasi. Jika utangnya telah dilunasi, maka penerima gadai tidak wajib membawa barang gadai tersebut; karena barang gadai itu adalah amanah dan orang yang diberi amanah tidak wajib mengembalikan amanah secara langsung.

نعم لا يُمنع صاحبُ الأمانة من أَخذها ولو أراد الراهنُ بيعَ المرهون وأداءَ الدين من غير ثمنه لم يكن له ذلك كما تقدّم

Ya, pemegang amanah tidak dilarang untuk mengambilnya, dan jika pihak yang menggadaikan ingin menjual barang gadai dan melunasi utang dari selain hasil penjualannya, maka ia tidak berhak melakukan hal itu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو قال للقاضي أريد أن أؤدي حقَّه من ثمن الرهن فليس للمرتهن أن يُلزم الراهن تحصيلَ الدين من جهةٍ أخرى ولا فرق بين أن يكون قادراً على أداء الدين من جهةٍ أخرى وبين أن يكون عاجزاً كما قدمناه من منع البيع فيه إذا كان يزعم أنه يؤدي الدين من غير ثمن الرهن

Jika seseorang berkata kepada qadhi, “Saya ingin melunasi haknya dari harga gadai,” maka pihak yang menerima gadai tidak berhak memaksa pihak yang menggadaikan untuk melunasi utang dari sumber lain. Tidak ada perbedaan apakah ia mampu melunasi utang dari sumber lain atau tidak mampu, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya tentang larangan menjual barang gadai jika ia mengaku dapat melunasi utang tanpa menggunakan harga gadai.

ومما يليق بتمام البيان في ذلك أن البيع لو كان لا يتأتى إلا بإحضار الرهن فلا يكلّف المرتهنُ إحضارَه؛ إذ قد يكون عليه في ذلك كُلْفة أو مؤنة وعلى الراهن إذا أراد قضاء الدين من ثمن الرهن أن يتكلف إحضارَه ويبذل مُؤنة إن مست الحاجةُ إلى بذلها ثم قد لا يثق المرتهن بيده فلا يسلمه إليه ولا تنفصل الخصومة إلا بالقاضي فإنه يبعث من يعتمده حتى يكون هو المُحضِر وإن مست الحاجةُ إلى مؤنةٍ بذلها الراهن

Dan termasuk penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa jika penjualan tidak dapat dilakukan kecuali dengan menghadirkan barang gadai, maka tidak dibebankan kepada penerima gadai untuk menghadirkannya; karena bisa jadi hal itu memberatkannya atau menimbulkan biaya baginya. Adapun pihak yang menggadaikan, jika ia ingin melunasi utang dari hasil penjualan barang gadai, maka dialah yang harus berusaha menghadirkannya dan menanggung biaya jika memang diperlukan. Namun, bisa jadi penerima gadai tidak percaya untuk menyerahkannya kepadanya, sehingga barang tersebut tidak diserahkan kepadanya, dan perselisihan tidak dapat diselesaikan kecuali melalui hakim. Maka hakim akan mengutus seseorang yang dapat dipercaya untuk menghadirkannya, dan jika memang diperlukan biaya, maka pihak yang menggadaikanlah yang menanggungnya.

ثم نظم الشافعي فصولاً في تعديل الرهن على يد عدلٍ ومزج بها جملاً من أحكام الوكالات وقضايا الأمانات ولو أُخرت إلى مواضعها لتعطلت فصولُ الكتاب؛ فلا وجه إلا ذكرها بما يتعلق بها على الاستقصاء

Kemudian asy-Syafi‘i menyusun beberapa bab tentang penyesuaian rahn di tangan seorang yang adil, dan mencampurkan di dalamnya sejumlah hukum tentang wakalah dan perkara-perkara amanat. Jika hal-hal tersebut ditunda ke tempatnya masing-masing, maka bab-bab kitab ini akan terputus; oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali menyebutkannya secara rinci sesuai dengan keterkaitannya.

فإذا وقع التراضي على تعديل الرهن على يد عدلٍ جاز ذلك وكانت يدُ العدل نائبةً عن يد المرتهن ولا شركة في اليد للراهن؛ فإن حق القبض للمرتهن

Apabila terjadi kesepakatan untuk mengubah barang gadai melalui perantara seorang penengah, maka hal itu diperbolehkan dan tangan penengah tersebut mewakili tangan penerima gadai, serta tidak ada hak kepemilikan bersama atas barang tersebut bagi pemberi gadai; karena hak penguasaan ada pada penerima gadai.

ولكن لو أراد المرتهن أن يستردَّ الرهن من العدلِ؛ صائراً إلى أن الحق في القبض لي لم يكن له ذلك؛ من جهة أن الراهن قد لا يثق بالمرتهن؛ وإنما يقع التعديل لهذه الحالة؛ فالراهن وإن لم يكن له حق في القبض فله حق رعاية ملكه وقد رأى التعديل وجهاًً في الرعاية

Namun, jika penerima gadai ingin mengambil kembali barang gadai dari pihak penengah, dengan alasan bahwa hak dalam kepemilikan ada padanya, maka ia tidak berhak melakukannya; karena pihak yang menggadaikan mungkin tidak mempercayai penerima gadai, dan penunjukan penengah dilakukan untuk keadaan seperti ini. Maka, meskipun pihak yang menggadaikan tidak memiliki hak dalam kepemilikan, ia tetap memiliki hak untuk menjaga kepemilikannya, dan ia memandang penunjukan penengah sebagai bentuk perlindungan atas kepemilikannya.

ثم إن أذن الراهنُ للعدل في بيع الرهن عند محِل الحق وصرفِه إلى المرتهن لم ينفذ بيعُه دون إذن المرتهن؛ فإن بيع الراهن لا ينفذ إلا على التفصيل المقدّم فكيف ينفذ بيع وكيله

Kemudian, jika pihak yang menggadaikan (rahin) memberi izin kepada pihak penengah (adil) untuk menjual barang gadai pada saat jatuh tempo hak dan menyerahkan hasilnya kepada pihak penerima gadai (murtahin), maka penjualan yang dilakukan oleh penengah tersebut tidak sah tanpa izin dari pihak penerima gadai; sebab penjualan yang dilakukan oleh pihak yang menggadaikan sendiri tidak sah kecuali dengan rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka bagaimana mungkin penjualan yang dilakukan oleh wakilnya dapat sah?

ولو وكل الراهنُ العدلَ بالبيع ورضي بالبيع المرتهنُ فينفذ بيعُه إذا داما على الرضا

Jika pihak yang menggadaikan mewakilkan penjualan kepada pihak penengah (adil) dan pihak yang menerima gadai merelakan penjualan tersebut, maka penjualannya sah selama keduanya tetap ridha.

ولو عزله الراهن ارتفعت الوكالة بالبيع فإن أراد الراهن أن يبيع العدلُ جدد توكيلاً

Jika rahin mencabutnya, maka berakhirlah status wakalah dalam penjualan. Jika rahin ingin agar ‘adl tetap menjual, maka ia harus memperbarui pemberian kuasa.

وإن لم يعزله الراهن ولكن قال المرتهن لا تبعه بعد أن رضي لم يبع؛ فإن إذنه معتبر في البيع وإذا اعتبر إذنه ابتداءً اعتبر استمراره عليه وإذا رجع بطل إذنه

Dan jika pemberi gadai tidak mencabutnya, tetapi penerima gadai berkata, “Jangan engkau jual setelah aku setuju,” maka barang tersebut tidak boleh dijual; karena izinnya dianggap dalam penjualan, dan jika izinnya dianggap sejak awal, maka kelangsungan izinnya juga harus diperhatikan. Jika ia menarik kembali izinnya, maka izinnya menjadi batal.

ثم هل يقال تبطل الوكالة أم لا قال المحققون الوكالة قائمة؛ فإن العدل في البيع وكيلُ الراهن وليس وكيلُ الراهن وكيلَ المرتهن

Lalu, apakah dikatakan bahwa akad wakalah menjadi batal atau tidak? Para ahli menegaskan bahwa akad wakalah tetap berlaku; karena pihak yang adil dalam jual beli adalah wakil dari rāhin (pemberi gadai), dan wakil rāhin bukanlah wakil dari murtahin (penerima gadai).

نعم إذا رجع المرتهن عن الإذن انخرم شرطٌ في نفوذ تصرف الوكيل فإذا أعاد الإذنَ فالوكالة الآن على شرطها والتصرف نافذ

Ya, jika pihak yang menerima gadai (murtahin) menarik kembali izinnya, maka gugurlah salah satu syarat sahnya tindakan wakil. Namun, jika ia memberikan izin kembali, maka akad wakalah kembali pada syaratnya dan tindakan tersebut menjadi sah.

وذهب بعض الضعفة إلى أن رجوع المرتهن عن الإذن يوجب رفع الوكالة فعلى هذا إذا عاد فأذن فلا بد من توكيلٍ جديدٍ من الراهنِ وهذا ضعيف غيرُ معتد به

Sebagian ulama yang lemah pendapatnya berpendapat bahwa pencabutan izin oleh murtahin menyebabkan berakhirnya status wakalah. Oleh karena itu, jika murtahin kembali memberikan izin, maka harus ada pemberian wakalah yang baru dari rahin. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan.

ومما يتعلق بهذا الفصل أن الراهن والمرتهن لو أذنا للعدل في بيع الرهن عند محلِ الحق واستمرّا على الإذن فهل يستبد العدل بالبيع دون مراجعة الراهن والمرتهن أم كيف السبيل فيه ذكر العراقيون وجهين في تعيُّن مراجعة الراهن أصحهما أن المراجعة لا تجب ووجهه بيّن والثاني أنها واجبةٌ؛ فقد يبدو له أن يستبقي الرهنَ ويؤدي الدين من سائر ماله

Terkait dengan bab ini, apabila pihak yang menggadaikan (rahin) dan penerima gadai (murtahin) sama-sama memberi izin kepada pihak penengah (adil) untuk menjual barang gadai pada saat jatuh tempo hak, dan keduanya tetap pada izin tersebut, maka apakah pihak penengah boleh melakukan penjualan secara mandiri tanpa harus meminta persetujuan kembali dari rahin dan murtahin, atau bagaimana seharusnya? Para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai keharusan meminta persetujuan kembali dari rahin; pendapat yang lebih kuat adalah bahwa persetujuan kembali tidak wajib, dan alasannya jelas. Pendapat kedua menyatakan bahwa persetujuan kembali itu wajib, karena bisa saja rahin ingin mempertahankan barang gadai dan melunasi utangnya dari harta lain yang dimilikinya.

وهذا يعتضد بأمرٍ يتعلق بالتصرف وهو أن الاستنابات قِبَل الحاجات تجري في العادات ثم إذا حقت الحاجة فالعادة مطردةٌ بالمراجعة فحُمل المطلقُ على هذا

Hal ini didukung oleh suatu perkara yang berkaitan dengan tindakan, yaitu bahwa pelimpahan wewenang karena kebutuhan berlaku dalam urusan kebiasaan. Kemudian, apabila kebutuhan itu benar-benar ada, maka kebiasaan tersebut terus berlangsung dengan adanya rujukan kembali, sehingga ketentuan yang bersifat umum diarahkan kepada hal ini.

وهذا ضعيف والأصل الاستمرار على الإذن فإن أراد الراهن رفعه عزله

Ini lemah, dan hukum asalnya adalah tetap pada izin tersebut. Jika rahin ingin mencabutnya, ia dapat memberhentikannya.

ولا خلاف أن المرتهن لا يراجع؛ فإن غرضه توفيةُ الحق وليس له في الرهن حق ملكٍ أما الراهن فقد يستبقي الملكَ ويؤدي من موضعٍ آخر وهذا ليس خالياً عن الاحتمال إن صح ذلك الوجه البعيد

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa pihak yang menerima gadai (murtahin) tidak dapat meminta kembali; karena tujuannya adalah pelunasan hak, dan ia tidak memiliki hak kepemilikan atas barang gadai. Adapun pihak yang menggadaikan (rahin), ia mungkin mempertahankan kepemilikan dan melunasi dari sumber lain, dan hal ini tidak lepas dari kemungkinan jika pendapat yang jauh itu benar.

فصل

Bab

قال ولو باع بما يتغابن الناسُ بمثله فلم يفارقه حتى جاء من يزيده قَبِلَ الزيادة إلى آخره

Dan jika seseorang menjual dengan harga yang biasa orang saling menipu dalam hal serupa, lalu ia belum berpisah dengannya hingga datang seseorang yang menambah harga, maka ia boleh menerima tambahan tersebut sampai selesai.

هذا من فصول الوكالة فنفرضه في العَدْل وهو مُطّردٌ في كل وكيل

Ini termasuk dalam bab wakalah, maka kita menetapkannya pada orang yang adil, dan ketentuan ini berlaku pada setiap wakil.

فإذا وكّل الراهنُ العدل ببيع الرهن ورضي المرتهن والتوكيل مطلق فالعدل مأخوذ في إطلاق التوكيل برعاية ثلاث خِلال أحدها ألا يبيع بغبن وسيأتي تفصيل الغبن والخصلةُ الأخرى ألا يبيع إلا بنقد والثالثة ألا يبيع نسيئة

Jika pemberi gadai mewakilkan kepada pihak yang adil untuk menjual barang gadai dan penerima gadai telah setuju, serta pendelegasian tersebut bersifat mutlak, maka pihak yang adil dalam menjalankan pendelegasian tersebut harus memperhatikan tiga hal: pertama, tidak boleh menjual dengan kerugian (ghabn)—dan rincian tentang ghabn akan dijelaskan nanti; kedua, tidak boleh menjual kecuali dengan pembayaran tunai; dan ketiga, tidak boleh menjual secara kredit.

فإن باع بثمن المثل وكان مع المشتري في مجلس العقد فأشرف عليهما من يزيد في الثمن فنقول أولاً إذا كانت السلعة تطلب بأكثر من ثمن مثلها فليس للوكيل أن يبيعها ب ثمن المثل؛ وهذه غبينة بين أرباب المعاملات

Jika ia menjual dengan harga pasar dan pembeli masih bersama di majelis akad, lalu ada orang lain yang menawarkan harga lebih tinggi kepada keduanya, maka pertama-tama kami katakan: jika barang tersebut sebenarnya dapat dijual dengan harga lebih tinggi dari harga pasar, maka wakil tidak boleh menjualnya dengan harga pasar; hal ini merupakan kerugian yang nyata menurut para pelaku transaksi.

فإذا تمهد هذا قلنا إذا جاء من يزيده فظاهر النص يشير إلى أنه يبيع تلك السلعة ممن يزيد في الثمن فإذا قَبِلَ الزائدَ ترتَّب عليه تحصيلُ الزيادة وانفساخُ البيع الأول وهذا قد استقصيناه في أول كتاب البيع ولا بد من تجديد العهد به فنقول

Jika hal ini telah dijelaskan, kami katakan: apabila datang seseorang yang menambah harga, maka makna lahiriah dari nash menunjukkan bahwa ia menjual barang tersebut kepada orang yang menambah harga. Jika orang yang menambah itu menerima, maka konsekuensinya adalah mendapatkan tambahan harga dan batalnya jual beli yang pertama. Hal ini telah kami bahas secara rinci di awal Kitab al-Bay‘, namun perlu untuk mengingatkannya kembali, maka kami katakan:

من باع سلعة ثم باعها في زمان الخيار أو مكان الخيار ففي هذا البيع أوجه أحدها أنه ينفذ ثم من ضرورة نفوذه انفساخ العقد الأول

Barang siapa menjual suatu barang, kemudian ia menjualnya lagi pada masa khiyār atau di tempat khiyār, maka dalam penjualan ini terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa penjualan tersebut sah, dan sebagai konsekuensi dari keabsahannya, akad pertama menjadi batal.

والثاني أنه لا ينفذ ولا ينفسخ به العقد الأول والثالث لا ينفذ وينفسخ به العقد الأول وقد ذكرنا الأوجه وفرعناها

Kedua, bahwa akad pertama tidak menjadi sah dan tidak batal karenanya. Ketiga, tidak sah dan akad pertama menjadi batal karenanya. Kami telah menyebutkan pendapat-pendapat tersebut dan merincinya.

فإن وقع التفريع على نفوذ البيع الثاني وانفساخ الأول فالوجه أن يبيع؛ فإنه إن قبل من زاد حصل الغرض وإن أبى فالبيع الأول قائم كما كان

Jika penjabaran dilakukan atas dasar berlakunya jual beli kedua dan batalnya jual beli pertama, maka yang tepat adalah ia menjual; sebab jika ia menerima dari yang menambah harga, tujuan pun tercapai, dan jika ia menolak, maka jual beli pertama tetap berlaku sebagaimana sebelumnya.

وحق هذه المسألة أن تُرتَّب على الوجه الذي نصفه فيقال إن قلنا البيع في زمان الخيار فاسد ولا بد من جلب الزيادة الظاهرة من هذا الذي زاد فالذي يقتضيه مساق الكلام أن فسخ العقد الأول مستحق وإذا كان كذلك فلا خِيَرة في إبقاء ذلك ولا سبيل إلى أن نقول يلزم الوكيلَ الفسخُ فيتيعن من مجموع ما ذكرناه أن ذلك العقد ينفسخ وهذا معنى استحقاق الفسخ ثم سبب الفسخ تحصيل الزيادة

Hak permasalahan ini seharusnya diatur sebagaimana yang akan kami jelaskan berikut: Jika kita mengatakan bahwa jual beli pada masa khiyār adalah fasid (rusak/tidak sah) dan harus mendatangkan tambahan yang nyata dari pihak yang menambahkannya, maka yang dituntut dari konteks pembicaraan ini adalah bahwa pembatalan akad pertama menjadi sesuatu yang wajib. Jika demikian, maka tidak ada pilihan untuk mempertahankan akad tersebut, dan tidak mungkin dikatakan bahwa pembatalan itu wajib bagi wakil. Maka, dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat dipastikan bahwa akad tersebut batal, dan inilah makna dari wajibnya pembatalan akad. Adapun sebab pembatalan adalah untuk memperoleh tambahan (keuntungan) tersebut.

فلو حكمنا بالفسخ لمّا ظهرت الزيادة وأردنا البيع ممن زاد فإن وافق وابتاع بما كان يذكر فذاك وإن امتنع ولم يُتم ما وعد فقد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال انقطع العقد الأول فليبتدىء الوكيلُ بيعاً إن فوض إليه وهذا أوجه وقياسه بيّن

Jika kita memutuskan pembatalan ketika telah tampak adanya penambahan harga dan kita ingin menjual kepada orang yang menambah harga tersebut, maka jika ia setuju dan membeli dengan harga yang telah disebutkan, maka itu sah. Namun jika ia menolak dan tidak memenuhi apa yang telah dijanjikan, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa akad pertama telah terputus, sehingga wakil boleh memulai penjualan baru jika hal itu diserahkan kepadanya, dan pendapat ini lebih kuat serta qiyās-nya jelas.

ومن أصحابنا من قال إذا أبى هذا الذي زاد تبين أن الفسخ الذي حكمنا به غيرُ نافذ فكأنه كان فسخاً موقوفاً على هذا الوجه وكان سببه الطمع في تحصيل الزيادة فإذا أيسنا من تحصيلها من هذه الجهة فالعقد قائم كما كان وضُرب لذلك مثل وهو أن الابن إذا بذل الطاعة لأبيه في الحج فلم يرشحه الأب لذلك ثم رجع الابن قبل حج الحجيج في تلك السنة فنتبين أن ما حسبناه استطاعةً لم يكن استطاعة ولا يستقر الحج في ذمته

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jika orang yang menambah (harga) itu menolak, maka menjadi jelas bahwa pembatalan yang telah kami putuskan sebelumnya tidaklah sah, seolah-olah pembatalan itu bersifat mu‘allaq (tergantung) pada hal ini, dan sebabnya adalah harapan untuk mendapatkan tambahan. Jika kami telah putus asa untuk mendapatkannya dari sisi ini, maka akad tetap berlaku seperti semula. Untuk hal ini diberikan sebuah perumpamaan, yaitu apabila seorang anak menawarkan diri untuk menaati ayahnya dalam menunaikan ibadah haji, namun sang ayah tidak memilihnya untuk itu, lalu si anak kembali sebelum jamaah haji berangkat pada tahun itu, maka menjadi jelas bahwa apa yang kami anggap sebagai kemampuan (istithā‘ah) ternyata bukanlah kemampuan, dan kewajiban haji tidak tetap dalam tanggungannya.

هذا إذا حكمنا بأن الفسخ مستحَق وبيّنا وجه الاستحقاق فيه ثم أنهينا التفريع منتهاه في هذا الطريق

Ini berlaku jika kita memutuskan bahwa pembatalan itu berhak dilakukan dan telah kami jelaskan alasan hak tersebut, kemudian kami menyelesaikan penjabaran hingga tuntas pada jalur ini.

قال الشيخ أبو محمد إذا كان فوض البيعَ عوداً على بدء إلى هذا الوكيل فلما بدت الزيادة أراد أن يحصِّلها بأن يبيع من الزائد وفرعنا على صحة البيع ونفوذ الفسخ به فعلى هذه الطريقة لا نحكم بأنفساخ العقد إذا كان الوكيل سلك المسلك المستصوب فإن امتنع منه حينئذٍ حكمنا بالانفساخ وعاد التفريع إلى ما ذكرناه

Syekh Abu Muhammad berkata: Jika penjualan dikembalikan lagi kepada wakil ini, kemudian ketika muncul tambahan harga ia ingin memperoleh tambahan itu dengan menjual kepada pihak yang menambah, dan kita telah membahas tentang sahnya penjualan dan berlakunya pembatalan dengan cara tersebut, maka menurut metode ini kita tidak memutuskan batalnya akad jika wakil menempuh cara yang dianggap tepat. Namun, jika ia menolak melakukannya saat itu, barulah kita memutuskan batalnya akad, dan cabang permasalahan kembali kepada apa yang telah kami sebutkan.

فامَّا إذا قلنا لا يصح هذا الطريق ولا بد من تقدير ارتفاع العقد الأوَّل فلا سبيل إلى الحكم بوجوب إنشاء الفسخ كما مضى فرجع الكلام إلى أن البيع في مكان الخيار إن صححناه وضمّنَّاه الفسخَ فهو وجهٌ إن أنشأه الوكيل وإن امتنع منه أو قلنا لا يصح البيع تعين الحكم بالانفساخ ثم هو نافذٌ أو موقوف على ما ذكرناه

Adapun jika kita mengatakan bahwa cara ini tidak sah dan harus diperkirakan bahwa akad pertama telah berakhir, maka tidak ada jalan untuk menetapkan kewajiban membuat pembatalan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Maka pembahasan kembali pada masalah bahwa jual beli di tempat khiyār, jika kita menganggapnya sah dan mewajibkan adanya pembatalan, maka itu adalah satu pendapat jika pembatalan tersebut dilakukan oleh wakil. Namun jika ia menolak melakukannya atau kita mengatakan bahwa jual beli tersebut tidak sah, maka wajib ditetapkan hukum batalnya akad. Selanjutnya, batalnya akad itu berlaku langsung atau tergantung, sebagaimana telah kami sebutkan.

وممّا لا بد من ذكره أن الوكيل بالبيع لو باع ثم فسخ العقد فهل له أن يبيع مرة أخرى فيه تفصيل يأتي في كتاب الوكالة

Perlu disebutkan bahwa apabila seorang wakil dalam jual beli telah menjual kemudian membatalkan akad, apakah ia boleh menjual kembali, maka terdapat rincian yang akan dijelaskan dalam Kitab Wakalah.

والقدر الذي نذكره هاهنا أن الأصحاب اختلفوا في ذلك فمنهم من قال ليس له أن يبيع إلا بتوكيل جديد؛ فإنه لم يوكل إلا ببيع واحد ومنهم من قال له البيع من غير توكيل جديد؛ فإنه وُكِّل ببيع يتم ويؤدي إلى الغرض فإذا لم يتم وفُسخ فهو مأمور ببيعٍ يتم على موجَب التوكيل الأول

Yang perlu kami sebutkan di sini adalah bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia tidak boleh melakukan penjualan kecuali dengan pemberian kuasa (wakalah) yang baru, karena ia hanya diberi kuasa untuk satu kali penjualan saja. Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa ia boleh melakukan penjualan tanpa pemberian kuasa yang baru, karena ia diberi kuasa untuk melakukan penjualan yang sah dan mencapai tujuan. Maka jika penjualan tersebut belum sah dan dibatalkan, ia tetap diperintahkan untuk melakukan penjualan yang sah sesuai dengan ketentuan wakalah yang pertama.

وسنكشف هذا في كتاب الوكالة إن شاء الله تعالى

Kami akan menjelaskan hal ini dalam Kitab Wakālah, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال وإذا بيع فثمنه من الراهن حتى يقبضه المرتهن إلى آخره

Dan apabila barang gadai itu dijual, maka hasil penjualannya menjadi milik orang yang menggadaikan (rahin) hingga penerima gadai (murtahin) menerimanya, dan seterusnya.

قوله من الراهن أي من ضمان الراهن

Ucapannya “dari rahin” maksudnya adalah dari tanggungan rahin.

مقصود هذا الفصل ذكر طرفٍ من العُهدة على الوكيل وبيانُ قرار الضّمان وذكرُ سببه فنقول للعهدة ثلاثةُ أركان في قاعدة المذهب أحدها في توجيه الطلب فنقول من اشترى بالنيابة شيئاًً لموكِّله فهل للبائع توجيه المطالبة بالثمن على الوكيل نُظر فإن عقد العقد بلفظ السفارة ولم يضف الشراء إلى نفسه فقال اشتريت لفلان ولم يقل اشتريت مطلقاًً فلا مطالبة على السفير

Maksud dari bab ini adalah menyebutkan sebagian tanggungan pada wakil, menjelaskan letak tanggung jawab, dan menyebutkan sebabnya. Maka kami katakan, tanggungan (al-‘uhdah) memiliki tiga rukun menurut kaidah mazhab. Salah satunya berkaitan dengan arah tuntutan. Kami katakan, siapa yang membeli sesuatu sebagai perwakilan untuk muwakkilnya, apakah penjual berhak menuntut pembayaran harga kepada wakil? Hal ini perlu ditinjau. Jika akad dilakukan dengan lafaz perwakilan dan tidak menisbatkan pembelian kepada dirinya sendiri, misalnya ia berkata, “Saya membeli untuk si Fulan,” dan tidak berkata, “Saya membeli” secara mutlak, maka tidak ada tuntutan terhadap perwakil.

والنكاح لما كان لا يعقد إلا بالسفارة لم تتوجه الطلِبة على السفير القابل للزوج

Dan karena akad nikah tidak dilakukan kecuali melalui perantara, maka tuntutan tidak diarahkan kepada perantara yang menerima untuk pihak suami.

فإن أضاف الوكيل الشراءَ إلى نفسه فقال اشتريتُ فإن لم يعلم البائع كونَه وكيلاً فلا شك أنه يطالبه وإن علم أنه وكيل واعترف به فله مطالبة الموكِّل لم يختلف فيه أصحابنا وإنما اختلفوا في مطالبة سيد العبد المأذون؛ لِما ذكرناه في مسائله وهل يطالب الوكيل اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال لا مطالبةَ؛ فإنه سفير في الحقيقة ولم يصرح بالسفارة فأشبه ما لو صرح بها والوجه الثاني أنه يطالبه بالثمن وإن علم كونَه وكيلاً؛ فإن قوله اشتريتُ التزام فإذا كنا نُلزم من يقول ضمنتُ الدينَ فلا بُعْدَ لو ألزمنا من يقول اشتريت أو قبلتُ

Jika wakil menisbatkan pembelian kepada dirinya sendiri dengan mengatakan, “Saya membeli,” maka jika penjual tidak mengetahui bahwa ia adalah wakil, tidak diragukan lagi bahwa penjual dapat menuntutnya. Namun, jika penjual mengetahui bahwa ia adalah wakil dan mengakuinya, maka penjual berhak menuntut muwakkil (pemberi kuasa), dan para ulama kami tidak berselisih pendapat dalam hal ini. Perbedaan pendapat di antara mereka hanya terjadi dalam hal penuntutan terhadap tuan dari budak yang diberi izin, sebagaimana telah kami sebutkan dalam permasalahannya. Adapun apakah wakil dapat dituntut, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak ada tuntutan, karena pada hakikatnya ia hanyalah perantara dan ia tidak secara tegas menyatakan sebagai perantara, sehingga keadaannya serupa dengan orang yang secara tegas menyatakan sebagai perantara. Pendapat kedua, wakil dapat dituntut untuk membayar harga, meskipun diketahui bahwa ia adalah wakil, karena ucapannya “Saya membeli” adalah bentuk komitmen. Jika kita mewajibkan orang yang berkata, “Saya menjamin utang itu,” maka tidaklah jauh jika kita juga mewajibkan orang yang berkata, “Saya membeli” atau “Saya menerima.”

هذا ركنٌ من أركان العُهدة

Ini adalah salah satu rukun dari rukun-rukun ‘uhdah.

ثم إذا غرم الوكيل فلا شك أنه يرجع على الموكِّل ولا تفصيل في ذلك

Kemudian, apabila wakil mengalami kerugian, tidak diragukan lagi bahwa ia berhak menuntut ganti rugi kepada muwakkil, dan dalam hal ini tidak ada perincian.

بخلاف ما لو قال من عليه الدين لرجل اضمن عني الدينَ فإذا ضمنه وغرِمه ففي رجوعه على المضمون عنه خلافٌ إذا لم يقيد المضمونُ عنه الإذنَ في الضمان بشرط الرجوع وهاهنا لا حاجة إلى ذلك بل نفس عهدة العقد تقتضي الرجوع بعد الغرم إن اتفق ذلك

Berbeda halnya jika orang yang berutang berkata kepada seseorang, “Tanggungkanlah utangku,” lalu orang tersebut menanggungnya dan membayarnya; maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya ia menuntut kembali kepada orang yang utangnya ditanggung, jika orang yang utangnya ditanggung tidak mensyaratkan izin penanggungan dengan syarat boleh menuntut kembali. Namun dalam kasus ini, tidak diperlukan syarat tersebut, bahkan tanggungan akad itu sendiri sudah menuntut adanya hak untuk menuntut kembali setelah pembayaran, jika hal itu terjadi.

الركن الثاني من العهدة تصوير خروج المبيع مستحقاً بعد قبض الثمن فإذا باع الوكيل وسلَّم المبيعَ وتسلم الثمن ثم خرج المبيعُ مستحقاً فإن كان عينُ الثمن باقياً استردَّها المشتري وردَّ المبيع على مستحقه

Rukun kedua dari tanggungan adalah menggambarkan keluarnya barang yang dijual sebagai milik orang lain setelah harga diterima. Jika seorang wakil menjual, menyerahkan barang, dan menerima harga, kemudian ternyata barang tersebut adalah milik orang lain, maka jika harga dalam bentuk barang masih ada, pembeli berhak mengambil kembali harga tersebut dan mengembalikan barang kepada pemilik aslinya.

ولو تلف ذلك الثمنُ لم يخل إما أن يتلف في يد الوكيل وإمّا أن يتلف في يد الموكِّل

Jika harga tersebut hilang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi hilang di tangan wakil, atau hilang di tangan muwakkil.

فإن تلف في يد الوكيل من غير تفريطه فللمشتري الرجوع عليه ووجهه بيّن فإنَّ دراهمه تلفت في يده ولم يكن مؤتمناً من جهته ثم يثبت له الرجوع إلى الموكِّل فإنه هو الذي ورَّطه فيما انتهى إليه الأمر لمّا أمره بالبيع وأقامه وكيل نفسه فيضمن هذا حق الرجوع عليه وهذا متفق عليه في عُلقة العهدة ولا محمل له إلا تعريضه إياه لما جرى فهو من التغرير الذي يجرّ ضماناً لا محالة وهو بمثابة ما لو أودع الغاصب العينَ المغصوبة عند إنسانٍ والحال مشكل على المودَع فالطّلِبة تتوجّه عليه لثبوت اليد في الظّاهر ثم إنه يرجع على الغاصب المودع؛ من جهة أنه غره لمَّا أَوْدع عنده وإن كان التلف حصل في يد المودَع فالقرار على الغاصب المودِع

Jika barang tersebut rusak di tangan wakil tanpa adanya kelalaian dari pihaknya, maka pembeli berhak menuntut ganti rugi darinya, dan alasannya jelas, karena uang pembeli telah hilang di tangannya dan ia bukanlah orang yang dipercaya dari pihak pembeli. Kemudian, wakil tersebut berhak menuntut kepada pihak yang mewakilkannya, karena dialah yang menyebabkan wakil terjerumus ke dalam permasalahan ini dengan memerintahkannya untuk menjual dan menjadikannya sebagai wakil dirinya, sehingga ia berhak menuntut ganti rugi kepadanya. Hal ini telah disepakati dalam kaitan tanggung jawab, dan tidak ada alasan lain kecuali karena ia telah menjerumuskannya ke dalam apa yang terjadi, sehingga hal ini termasuk dalam kategori penipuan yang pasti menimbulkan tanggung jawab. Keadaannya serupa dengan jika seseorang menitipkan barang hasil ghasab kepada orang lain, sementara situasinya tidak jelas bagi orang yang dititipi; maka tuntutan akan diarahkan kepadanya karena secara lahiriah barang itu ada di tangannya, kemudian ia dapat menuntut kepada pelaku ghasab yang menitipkan barang tersebut, karena ia telah menipunya ketika menitipkan barang itu kepadanya, meskipun kerusakan terjadi di tangan orang yang dititipi, maka tanggung jawab akhir tetap pada pelaku ghasab yang menitipkan.

هذا الذي اتفق الأصحاب عليه في الوكيل الذي نصبه الموكل في البيع والقبض ثم ثبت الاستحقاق وقد تلف الثمنُ المقبوض في يد الوكيل من غير تفريطه

Inilah yang telah disepakati oleh para sahabat (ulama mazhab) mengenai wakil (agen) yang ditunjuk oleh muwakkil (pemberi kuasa) dalam urusan jual beli dan penerimaan (barang), kemudian ternyata ada hak milik orang lain (istihqāq), dan harga (uang) yang telah diterima itu telah rusak (hilang) di tangan wakil tanpa adanya kelalaian darinya.

وقد ذكرنا أن للمشتري مطالبةَ الوكيل بقبضه ماله ثم له الرجوع على موكِّله لتغريره إياه وينتظم منه أن قرار الضمان على الموكِّل؛ فإن أراد المشتري بذلك أن يطالب الموكِّل بالثمن وما ثبتت يده عليهِ فلست أرى له ذلك؛ من جهة أن يده ما وصلت إلى عين مالِ المشتري وإن كان قرار الضمان عليه؛ من جهة الوكيل إذا غرِم فلم يوجد منه في حق المشتري إلا أنه أمر وكيله بالمعاملة ومن أمر غيره بغصب مالٍ لم يصر بأمره غاصباً فأقصى ما يتخيل في ذلك أنه غرّ وكيلَه فغرّ وكيلُه المشتري وهذا لا يوجب انتظام سبب المطالبة بين المشتري وبين الموكِّل وهذا ما أراه

Kami telah menyebutkan bahwa pembeli berhak menuntut wakil untuk menerima hartanya, kemudian ia dapat kembali menuntut muwakkil (pemberi kuasa) karena telah menipunya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tanggungan jaminan berada pada muwakkil. Jika pembeli bermaksud menuntut muwakkil atas harga (barang) dan apa yang ada di tangannya, maka saya tidak melihat ia berhak melakukan itu; karena tangan muwakkil tidak pernah sampai pada harta pembeli secara langsung, meskipun tanggungan jaminan berada padanya; sebab wakil yang menanggung jika ia harus membayar. Tidak ada pada muwakkil terhadap pembeli kecuali bahwa ia memerintahkan wakilnya untuk melakukan transaksi. Dan siapa yang memerintahkan orang lain untuk merampas harta, ia tidak menjadi perampas hanya karena perintahnya. Paling jauh yang dapat dibayangkan dalam hal ini adalah bahwa muwakkil telah menipu wakilnya, lalu wakilnya menipu pembeli. Hal ini tidak menyebabkan adanya hubungan sebab tuntutan antara pembeli dan muwakkil. Inilah yang saya pandang.

وكذلك يجب أن يقال إذا عُقد النكاح على حكم الغُرور وألزمنا المغرور قيمةَ الولد لسيد الأمة ثم أثبتنا للمغرور الرجوع على الغار فقد جعلنا الغارَّ محلاً لقرار الضمان وليس يتجه أن يقال لسيد الأمة تغريمُ الغارّ ابتداءً وإن كان الضمان يتوصّل إليه بطريق رجوع المغرور عليه

Demikian pula harus dikatakan, jika akad nikah dilakukan berdasarkan hukum ghurur (penipuan), lalu kita mewajibkan pihak yang tertipu untuk membayar nilai anak kepada tuan dari budak perempuan tersebut, kemudian kita menetapkan bagi pihak yang tertipu hak untuk menuntut kembali kepada pihak yang menipu, maka kita telah menjadikan pihak yang menipu sebagai pihak yang menanggung beban jaminan. Namun, tidak tepat jika dikatakan bahwa tuan budak dapat langsung menuntut pihak yang menipu, meskipun jaminan tersebut pada akhirnya dapat dicapai melalui hak regres pihak yang tertipu terhadap pihak yang menipu.

وليس هذا كالغاصب إذا أودع؛ فإن للمغصوب منه مطالبة من شاء منهما؛ والسبب فيه أن يد كل واحد منهما اتصل بملك المغصوب منه فكان مطالَباً لذلك هذا ما أقدره

Hal ini tidak sama dengan kasus orang yang merampas barang kemudian menitipkannya; karena pemilik barang yang dirampas berhak menuntut siapa saja dari keduanya. Sebabnya adalah karena tangan masing-masing dari keduanya telah bersentuhan dengan hak milik pemilik barang yang dirampas, sehingga keduanya dapat dimintai pertanggungjawaban atas hal itu. Inilah yang aku mampu jelaskan.

ولستُ أنفي احتمالاً يراه ناظر في تثبيت مطالبة الموكِّل في مسألتنا والغار في بابِ الغرور من جهة أن استناد حرية الولد إلى التغرير لا إلى الإيلاد والإعلاق وكذلك القول في الوكيل والموكِّل

Saya tidak menafikan kemungkinan yang dilihat oleh seorang peneliti dalam menetapkan tuntutan dari pihak yang memberi kuasa dalam permasalahan kita ini, dan dari pihak penipu dalam bab penipuan, dari sisi bahwa sandaran kebebasan anak adalah pada penipuan, bukan pada kelahiran dan hubungan nasab; demikian pula halnya dalam perkara antara wakil dan pihak yang memberi kuasa.

فهذا بيان ما أردناه والميل إلى الأول

Inilah penjelasan dari apa yang kami maksudkan dan kecenderungan kepada pendapat yang pertama.

وقد صرح العراقيون بأن المبيع إذا خرج مستحقاً وقد تلف الثمن في يد الوكيل من غير تقصيرٍ منه فلا يرجع المشتري على الوكيل أصلاً وإنما يرجع على الموكِّل

Para ulama Irak telah menyatakan bahwa apabila barang yang dijual ternyata merupakan milik orang lain (bukan milik penjual yang sah), dan harga (uang pembayaran) telah hilang di tangan wakil tanpa adanya kelalaian dari pihak wakil, maka pembeli sama sekali tidak dapat menuntut kepada wakil, melainkan hanya dapat menuntut kepada pihak yang mewakilkan.

وهذا تصريح منهم بأن المشتري يطالِب المغرِّر وألفاظ المراوزة تدل على أنه لا تتوجه المطالبة على الموكّل وإنما يطالب الوكيل ثم إذا غرِم الوكيل رجع على الموكّل ونفيُهم مطالبةَ الوكيل بعيدٌ عن قياس المراوزة

Ini adalah pernyataan tegas dari mereka bahwa pembeli menuntut pihak yang menipu, dan ungkapan-ungkapan para ulama Marwazi menunjukkan bahwa tuntutan tidak diarahkan kepada pihak yang memberi kuasa, melainkan kepada wakil. Kemudian jika wakil telah membayar ganti rugi, ia dapat menuntut kembali kepada pihak yang memberi kuasa. Penolakan mereka terhadap tuntutan kepada wakil itu jauh dari qiyās menurut pendapat para ulama Marwazi.

والذي تحصل من ذلك أن الضمان متعلق بالموكِّل استقراراً والذي يظهر القطع به أن الوكيل مطالَبٌ وفيه وجه ضعيف حكيتُه عن العراقيين وفي توجيه المطالبة على الموكِّل ابتداء ترددٌ والذي ظهر من كلام المراوزة أنه لا يطالب ابتداءً والذي صرح به العراقيون أنه يطالبه المشتري ابتداءً

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tanggungan (dhamān) pada akhirnya menjadi tanggung jawab muwakkil, dan yang tampak pasti adalah bahwa wakil tetap dituntut. Ada satu pendapat lemah yang saya nukil dari ulama Irak, dan dalam hal alasan penuntutan kepada muwakkil sejak awal terdapat keraguan. Adapun yang tampak dari perkataan ulama Marw adalah bahwa muwakkil tidak dituntut sejak awal, sedangkan yang ditegaskan oleh ulama Irak adalah bahwa pembeli menuntut muwakkil sejak awal.

وكل هذا إذا تلف الثمن في يد الوكيل ولم ينته إلى يد الموكل فأمّا إذا انتهى إلى يد الموكِّل فتلف في يده فلا شك أن المشتري يوجّه المطالبةَ على الموكِّل؛ فإن يده ثبتت على ماله وإنما التردد المتقدم فيه إذا تلف الثمن في يد الوكيل فإذا ثبت أن الموكِّل مطالَب من جهة المشتري ابتداءً فهل له مطالبة الوكيل نُظر فيه فإن لم يمرّ الثمنُ بيد الوكيل فلست أرى لمطالبة الوكيل وجهاًً إذا لم تثبت له يدٌ والعقد لم يصح حتى يتضمن عهدةً متعلقة بمن تولى العقد؛ إذ المبيع خرج مستحقاً وإن مرَّ الثمن بيده وانتهى إلى يد الموكِّل ففي مطالبة الوكيل في هذه الصورة جوابان ظاهران في طريقة المراوزة؛ من جهة أن الوكيل متوسط وقد بلغ المال منتهاه وتلف في يد الموكِّل والوكيل مؤتمنٌ من جهة موكِّله والمشتري وإن لم يوكِّله فإنه يسلم الثمنَ إليه ليسلّمه إلى موكِّله فكأنه من هذا الوجه مؤتمن من جهة المشتري مأذون له في إيصال الثمن إلى موكله

Semua ini berlaku jika harga (barang) rusak di tangan wakil dan belum sampai ke tangan muwakkil (pemberi kuasa). Adapun jika telah sampai ke tangan muwakkil lalu rusak di tangannya, maka tidak diragukan lagi bahwa pembeli akan mengarahkan tuntutannya kepada muwakkil; karena barang itu telah berada di bawah kekuasaannya. Adapun keraguan yang telah disebutkan sebelumnya adalah jika harga (barang) rusak di tangan wakil. Jika telah tetap bahwa muwakkil yang dituntut oleh pembeli sejak awal, maka apakah muwakkil berhak menuntut wakil? Hal ini perlu diteliti. Jika harga (barang) tidak pernah melewati tangan wakil, maka aku tidak melihat adanya alasan untuk menuntut wakil, karena ia tidak pernah memegang barang tersebut dan akad pun tidak sah hingga mengandung tanggungan yang berkaitan dengan pihak yang melakukan akad; sebab barang yang dijual telah keluar sebagai barang yang memang menjadi haknya. Namun jika harga (barang) melewati tangannya lalu sampai ke tangan muwakkil, maka dalam hal menuntut wakil pada kondisi ini terdapat dua pendapat yang jelas dalam metode para ulama Marw (maraweza); dari satu sisi, wakil adalah perantara dan harta telah sampai pada tujuannya lalu rusak di tangan muwakkil, sedangkan wakil adalah orang yang dipercaya oleh muwakkil. Sementara pembeli, meskipun tidak mewakilkan kepadanya, tetap menyerahkan harga (barang) kepadanya untuk disampaikan kepada muwakkilnya, sehingga dari sisi ini seolah-olah ia juga dipercaya oleh pembeli dan diizinkan untuk menyampaikan harga (barang) kepada muwakkilnya.

وقيل تتعلق الطَّلِبة به؛ لأن أخذ المال كان على حكم العُهدة

Dan dikatakan bahwa tuntutan tetap terkait dengannya, karena pengambilan harta tersebut berdasarkan ketentuan tanggungan.

وكل ما ذكرناه فيه إذا باع العدل بتوكيل الراهن وأذن المرتهن ثم جرى ما وصفناه

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila seorang ‘adl menjual dengan perwakilan dari rāhin dan dengan izin dari murtahin, kemudian terjadi sebagaimana yang telah kami uraikan.

فأمّا إذا تولى الحاكم بنفسه بيعَ الرهن عند اتصال الخصومة بمجلسه وقبض الثمن ليوصله إلى جهته فتلف في يده ثم خرج المبيع مستحقاً فقد أجمع أصحابنا على أن الحاكم لا يتعلق به طَلِبةٌ ولا ضمان ولا يقال يطالَب به ثم يرجع؛ فإن الحكام لو تعلقت بهم العهدة في العقود التي يُنشِئونها لظاهر الاستصلاح لعظم الأمرُ وكثرت المشقة فاتفق الأصحاب على إخراج الولاة في أمثال هذه العقود عن العهد والطّلِبةِ والتغريمِ ابتداء وقراراً

Adapun jika hakim sendiri yang melakukan penjualan barang gadai ketika sengketa telah sampai di majelisnya, lalu ia menerima harga jual untuk disampaikan kepada pihak yang berhak, kemudian barang tersebut rusak di tangannya, lalu ternyata barang yang dijual itu adalah milik orang lain, maka para ulama kami sepakat bahwa hakim tidak dibebani tuntutan, tidak pula jaminan, dan tidak dikatakan bahwa ia harus menanggungnya lalu kemudian menuntut kembali; sebab jika para hakim dibebani tanggung jawab dalam akad-akad yang mereka lakukan demi kemaslahatan yang tampak, maka urusan akan menjadi berat dan kesulitan akan banyak terjadi. Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk membebaskan para penguasa dalam akad-akad semacam ini dari tanggung jawab, tuntutan, dan kewajiban membayar ganti rugi, baik pada awal maupun akhirnya.

وإذا كان كذلك فلا بد من إثبات الرجوع؛ فإن حق المشتري لا يضيع والرجوع ابتداءً على الراهن لا خلاف فيه

Jika demikian, maka harus ada pembuktian pengembalian; sebab hak pembeli tidak boleh hilang, dan pengembalian pada awalnya menjadi tanggung jawab pihak yang menggadaikan, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

فإن قيل ليس الراهن موكّلاً في عقدٍ يُتخيّل مرجوعاً عليه وإنما الحاكم فعل ما فعل؛ فكان يجب أن يقال لم يصدر من الراهن عقدٌ ولا توكيل في عقد والحاكم لا يضمن فلا يجد المشتري مرجعاً

Jika dikatakan bahwa pihak yang menggadaikan (rahin) bukanlah seorang wakil dalam akad yang dapat dibayangkan adanya tuntutan kembali kepadanya, melainkan hakimlah yang melakukan apa yang telah dilakukan; maka seharusnya dikatakan bahwa tidak ada akad yang dilakukan oleh rahin, tidak pula ada pendelegasian dalam akad, dan hakim tidak menanggung (tanggung jawab), sehingga pembeli tidak menemukan pihak untuk menuntut kembali.

قلنا هذا لا قائل به وسبب تضمين الراهن أنه رهن ملكَ غيره وكل من رهن شيئاًً فقد عرَّضه للبيع على استحقاقٍ وهذا أبلغ من وكالة تقبل العزل على الاختيار فالحاكم بنى بيعه على حكم رهنِه فقد صار بالرهن إذاً مغرِّراً كما تقدم

Kami katakan, tidak ada yang berpendapat demikian. Alasan penjaminan terhadap orang yang menggadaikan adalah karena ia menggadaikan milik orang lain, dan setiap orang yang menggadaikan sesuatu berarti telah menjadikannya berpotensi untuk dijual jika terjadi istihqāq (klaim kepemilikan oleh pihak lain), dan ini lebih kuat daripada perwakilan (wakālah) yang dapat dibatalkan atas pilihan. Maka hakim membangun penjualan atas dasar hukum gadai tersebut, sehingga dengan gadai itu, ia telah melakukan tindakan yang berisiko, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وهذا يعضد توجيهَ المطالبة على الموكِّل ابتداء في المسألة الأولى؛ فإنا لما رفعنا الحاكم من البَيْن ووجهنا المطالبة على الراهن فهو في هذه المسألة بمنزلة الموكِّل في المسألة الأولى ونص الشافعي فيمن مات وخلف تركة مستغرقة بالدين فباع الحاكم تركته وتلف الثمن في يده قبل أن يصرفه إلى الديون المحيطة بالتركة ثم خرج المبيع مستحقاً قال الشافعي لا عهدة على الحاكم ولا طَلِبةَ والعهدة على الميت وتركتِه

Hal ini menguatkan pengarahan tuntutan kepada wakil sejak awal dalam permasalahan pertama; karena ketika kita mengeluarkan hakim dari perantara dan mengarahkan tuntutan kepada pihak yang menggadaikan, maka dalam permasalahan ini ia berada pada posisi seperti wakil dalam permasalahan pertama. Imam Syafi’i menegaskan dalam kasus seseorang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan yang seluruhnya habis untuk membayar utang, lalu hakim menjual harta warisan tersebut dan harga jualnya rusak di tangannya sebelum digunakan untuk membayar utang-utang yang membebani harta warisan, kemudian ternyata barang yang dijual itu adalah milik orang lain, maka Imam Syafi’i berkata: tidak ada tanggungan apa pun atas hakim dan tidak ada tuntutan terhadapnya, tanggungan itu ada pada si mayit dan harta warisannya.

فإن قيل إن كان الراهن في المسألة التي ذكرتموها الآن مغرراً برهنه من حيث كان مقتضى الرهن التعريضَ للبيع فما سبب تعليق الضمان بذمة الميت في المسألة الأخيرةِ

Jika dikatakan: Jika pihak yang menggadaikan dalam permasalahan yang kalian sebutkan tadi telah menanggung risiko terhadap barang gadaiannya karena konsekuensi dari gadai adalah kemungkinan dijual, maka apa sebab penanggungan (dhamān) dibebankan pada tanggungan si mayit dalam permasalahan terakhir?

قلنا احتواؤه على المغصوب حتى يتعلق به الدين إذا مات تسبُّبٌ منه إلى تسليط الحاكم على البيع والسبب المضمِّن قد يقرُب وقد يبعد

Kami katakan: Termasuknya barang yang digasak (maghshūb) di dalamnya sehingga berkaitan dengannya utang jika ia meninggal adalah bentuk perbuatan yang menyebabkan hakim berwenang untuk melakukan penjualan, dan sebab yang menimbulkan tanggungan itu bisa dekat maupun bisa jauh.

فهذا إذا تولى الحاكم البيعَ وأمّا إذا نصب أميناً فباع الأمين الرهنَ أو عيناً من التركة بإذن الحاكم وتلف الثمن في يد الأمين ثم تبين الاستحقاق؛ فلأصحابنا وجهان مشهوران أحدهما أنه لا تتعلق الطَّلِبة بالأمين؛ من جهة أنه منصوب من مجلس الحاكم فكان كالحاكم وهذا ظاهر نص الشافعي

Ini jika hakim sendiri yang melakukan penjualan. Adapun jika hakim menunjuk seorang amīn lalu amīn tersebut menjual barang gadai atau suatu barang dari harta warisan dengan izin hakim, kemudian harga penjualan itu hilang di tangan amīn, lalu ternyata barang tersebut ternyata milik orang lain (bukan milik yang dijual), maka menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa tuntutan tidak diarahkan kepada amīn, karena ia ditunjuk oleh majelis hakim sehingga kedudukannya seperti hakim. Ini adalah pendapat yang jelas dari Imam Syafi‘i.

ومن أصحابنا من علق الطَّلِبةَ بالعَدْلِ وإن كان منصوباً من جهة الحاكم وهذا بعيد عن النص والقياس وإن كان مشهوراً فليس ينقدح الفرقُ بين الحاكم وبين منصوبه؛ فإن الحكام لا يتعاطون جملة العقود بأنفسهم وما يفوضونه إلى الأمناء أكثر مما يتعاطَوْنه ولو تعرض الأمناء من جهتهم لغرر العُهدة لامتنعوا عن مباشرة الأمور ويضيق بهذا السبب الأمرُ على القضاة فإذا حططنا الطَّلِبةَ عن الحاكم؛ صيانةً لمنصبه وجب طردُ ذلك في أمينه

Sebagian dari ulama mazhab kami mensyaratkan adanya permintaan (ṭalabah) terhadap keadilan (al-‘adl), meskipun orang tersebut diangkat oleh hakim. Namun, pendapat ini jauh dari nash dan qiyās. Meskipun pendapat ini terkenal, tidak tampak adanya perbedaan antara hakim dan orang yang diangkat olehnya; sebab para hakim tidak menangani seluruh akad secara langsung, dan apa yang mereka serahkan kepada para amīn (orang kepercayaan) lebih banyak daripada yang mereka tangani sendiri. Jika para amīn yang diangkat oleh hakim harus menanggung risiko tanggung jawab, tentu mereka akan enggan untuk menangani urusan-urusan tersebut, dan hal ini akan menyulitkan para qāḍī (hakim). Maka, jika kita menggugurkan syarat permintaan (ṭalabah) dari hakim demi menjaga kedudukan jabatannya, maka hal itu juga harus diberlakukan pada amīn yang diangkatnya.

وقد قال أئمتنا إذا ادّعى رجل محكوم عليه أن القاضي ظلمني وتحيَّف عليَّ في حكمه فلا تقبل دعواه على الحاكم نفسِه فإنا لو فتحنا هذا البابَ لانطلقت ألسنُ الخصوم على الولاة

Para imam kami telah berkata: Jika seseorang yang telah dijatuhi putusan mengklaim bahwa hakim telah menzhaliminya dan bersikap tidak adil dalam putusannya, maka klaimnya terhadap hakim itu sendiri tidak diterima. Sebab, jika kami membuka pintu ini, niscaya lisan para pihak yang bersengketa akan bebas mencela para penguasa.

وفي هذا ترتيبٌ وتفصيل سنذكره في أدب القضاة إن شاء الله تعالى

Dalam hal ini terdapat urutan dan perincian yang akan kami sebutkan pada pembahasan adab para qādī, insya Allah Ta‘ala.

فحصل من مجموع ما ذكرناه مراتب إحداها الوكيل الذي ينصبه الحاكم وقد مضى القول في مطالبته ورجوعه ومطالبة موكِّله

Maka dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, terdapat beberapa tingkatan. Salah satunya adalah wakil (agen) yang diangkat oleh hakim, dan telah dijelaskan sebelumnya tentang tuntutan terhadapnya, haknya untuk menuntut kembali, serta tuntutan terhadap pihak yang mewakilkannya.

والمرتبة الثانية في تصرف الحكام بأنفسهم

Tingkatan kedua dalam tindakan para hakim adalah dengan tindakan mereka sendiri.

والثالثة في تصرف الأمناء المنصوبين من جهة الحكام

Dan yang ketiga berkaitan dengan tindakan para amīn (orang-orang yang diberi amanah) yang diangkat oleh para hakim.

وقد نجز هذا الركن من أركان العهدة

Dan rukun ini dari rukun-rukun ‘ahdah telah selesai.

وليعلم الناظر أن ذلك ليس من عهدة العقد؛ إذ لا عقدَ مع الاستحقاق ولكن القول في هذا دائر على التغرير والتسبب إليه مع ثبوت الأيدي للمتوسّطين

Dan hendaklah diketahui oleh pembaca bahwa hal itu bukan merupakan tanggungan akad; sebab tidak ada akad ketika terdapat istihqāq (hak milik orang lain), namun pembahasan dalam hal ini berkisar pada unsur penipuan (taghrīr) dan sebab-sebab yang mengarah kepadanya, dengan tetap adanya penguasaan (yad) bagi para perantara.

والركن الثالث من العهدة يتعلق بالرد بالعيب وليس هذا موضعه

Rukun ketiga dari tanggung jawab berkaitan dengan pengembalian karena cacat, dan ini bukan tempat pembahasannya.

وسنأتي به مبسوطاً في كتاب الوكالة إن شاء الله عزّ وجل

Kami akan membahasnya secara rinci dalam Kitab Wakalah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم قال الشافعي إذا بيع الرهن وخرج مستحقاً لم تتعلق عهدة الثمن بالمرتهن أصلاً؛ إذ لم تثبت يده عليه فإن الرهن وإن بيع في حقه فلم يأت من جهته تغرير ولم تثبت يده على مال المشتري وعينُ الرهن قد قبضها مستحقها وقال أبو حنيفة يتعلق العهد بالمرتهن وقد رمز الشافعي إلى الرد عليه فقال وليس الذي بيع له الرهن من العهدة بسبيل

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Jika barang gadai dijual lalu ternyata barang itu milik orang lain (bukan milik yang menggadaikan), maka tanggung jawab harga tidak berkaitan sama sekali dengan penerima gadai; karena penerima gadai tidak pernah memegang barang tersebut secara sah. Meskipun barang gadai dijual demi kepentingannya, namun dari pihaknya tidak ada unsur penipuan, dan ia pun tidak pernah memegang harta pembeli, sedangkan barang gadai itu sendiri telah diambil oleh pemilik aslinya. Abu Hanifah berpendapat bahwa tanggung jawab itu tetap berkaitan dengan penerima gadai. Asy-Syafi‘i menanggapi pendapat ini dengan mengatakan: “Orang yang dibelikan barang gadai itu tidak ada hubungannya dengan tanggung jawab tersebut.”

فصل

Bab

قال ولو باع العدلُ وقبض الثمن فقال ضاع مني فهو مصدق إلى آخره

Dikatakan: Jika seorang ‘adl (orang yang adil/tepercaya) menjual dan menerima pembayaran, lalu ia berkata, “Uang itu hilang dariku,” maka ia dipercaya, dan seterusnya.

العدْل إذا وكله الراهنُ بالبيع ورضي المرتهن فباع وقبض الثمن ثم قال ضاع الثمن في يدي من غير تقصير فهو أمين مصدَّق وإن اتّهم حُلِّف وهذا لا شك فيه

Adil, apabila ia diberi kuasa oleh rahin untuk menjual dan disetujui oleh murtahin, lalu ia menjual dan menerima harga, kemudian ia berkata bahwa harga tersebut hilang di tangannya tanpa kelalaian, maka ia adalah orang yang dipercaya dan ucapannya diterima. Namun, jika ia dituduh, maka ia harus disumpah. Hal ini tidak diragukan lagi.

فلو ادعى العدل أنه دفع الثمن إلى المرتهن فإن صدقه المرتهن فذاك وإن كذبه نُظر فإن كذبه الراهن أيضاًً توجه الضّمان على العدل أمّا المرتهن فلا شك أنه لا يقبل قول العدل عليه والقول قوله إني لم أقبض حقي وقول العدل غير مقبول على الراهن في هذا المقام؛ من جهة أنه وإن كان أميناً في حقه فقد ادعى تسليم المال إلى من لم يأتمنه وقصر إذا لم يُشهد مع إمكان الجحود

Jika pihak yang adil mengaku bahwa ia telah menyerahkan pembayaran kepada pihak yang menerima gadai, maka jika pihak penerima gadai membenarkannya, maka selesai. Namun jika pihak penerima gadai mendustakannya, maka perlu diteliti lebih lanjut. Jika pihak yang menggadaikan juga mendustakannya, maka tanggung jawab (dhaman) dibebankan kepada pihak yang adil. Adapun pihak penerima gadai, tidak diragukan lagi bahwa pengakuan pihak yang adil tidak diterima terhadapnya, dan pernyataannya bahwa ia belum menerima haknya adalah yang diterima. Pengakuan pihak yang adil juga tidak diterima terhadap pihak yang menggadaikan dalam hal ini; karena meskipun ia adalah orang yang dipercaya dalam haknya, ia telah mengaku menyerahkan uang kepada orang yang tidak mempercayainya, dan ia dianggap lalai jika tidak menghadirkan saksi padahal ada kemungkinan untuk mengingkari.

ولو قال الراهن صدقتَ فيما ادعيتَ وأنا أعلم أنك سلمت إلى المرتهن ما قبضت فهل يضمن العدل والحالة هذه فعلى وجهين مشهورين أحدهما لا يضمن لتصديق الراهن إياه والثاني يضمن لتقصيره في ترك الإشهاد ولهذا نظائر ستأتي إن شاء الله تعالى

Jika pihak yang menggadaikan berkata, “Engkau benar dalam apa yang engkau klaim, dan aku tahu bahwa engkau telah menyerahkan kepada penerima gadai apa yang telah engkau terima,” maka apakah dalam keadaan seperti ini pihak penengah (adil) tetap bertanggung jawab? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya, ia tidak bertanggung jawab karena pengakuan pihak yang menggadaikan; dan yang kedua, ia tetap bertanggung jawab karena kelalaiannya dalam tidak menghadirkan saksi. Dan ada beberapa kasus serupa yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.

ولو صدقه الراهن في التسليم واعترف بأنه كان أشهد ولكن مات شهوده؛ فلا ضمان

Jika pihak rahin membenarkannya dalam hal penyerahan dan mengakui bahwa ia memang telah menghadirkan saksi, namun para saksinya telah meninggal; maka tidak ada tanggungan (ganti rugi).

ولو ادعى العدل أني كنتُ أشهدتُ ولكن مات شهودي أو غابوا وأنكر الراهن إشهاده واعترف بتسليمه إلى المرتهن فإن قلنا اعترافه بتسليم الثمن إلى المرتهن كافٍ لتبرئة العدل فلا إشكال وإن قلنا يضمن العدل وإن صدقه الراهنُ لتقصيره فهل يضمن إذا ادعى الإشهاد وأنكره الراهن فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب ومُدرَك توجيههما لائح

Jika seorang ‘adl (penjaga barang gadai) mengaku, “Aku telah menghadirkan saksi, tetapi para saksiku telah meninggal atau pergi,” sementara pihak yang menggadaikan (rahin) menyangkal adanya penyaksian itu dan mengakui bahwa ia telah menyerahkan barang kepada pihak penerima gadai (murtahin), maka jika kita berpendapat bahwa pengakuan rahin atas penyerahan barang kepada murtahin sudah cukup untuk membebaskan tanggung jawab ‘adl, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita berpendapat bahwa ‘adl tetap bertanggung jawab meskipun rahin membenarkannya karena kelalaiannya, maka apakah ‘adl tetap bertanggung jawab jika ia mengaku telah menghadirkan saksi namun rahin menyangkalnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib, dan dasar argumentasi kedua pendapat tersebut tampak jelas.

ولا خلاف أن الراهن لو شرط على العدل أن يُشهد على تسليمه واعترف العدل بأنه لم يشهد واعترف الراهن بأنه سلم إلى المرتهن فالضمان يجبُ في هذه الصورة وجهاً واحداً؛ من جهة أنه خالف شرطَ موكله وإن لم يكن شرط فالمسألة على التردد في أن الاحتياط هل يُلزم العدلَ الإشهادَ

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika pihak yang menggadaikan mensyaratkan kepada pihak penengah (adil) untuk menghadirkan saksi atas penyerahannya, lalu penengah mengakui bahwa ia tidak menghadirkan saksi, dan pihak yang menggadaikan mengakui bahwa ia telah menyerahkan kepada pihak penerima gadai, maka kewajiban jaminan berlaku dalam kasus ini secara pasti; karena penengah telah menyelisihi syarat pemberi kuasa. Namun jika tidak ada syarat tersebut, maka permasalahan ini masih diperdebatkan, apakah kehati-hatian mewajibkan penengah untuk menghadirkan saksi atau tidak.

هذا مأخذ الكلام

Inilah pokok pembahasan.

فصل

Bab

قال ولو قال أحدهما بع بدنانير إلى آخره

Dan jika salah satu dari keduanya berkata, “Juallah dengan dinar,” dan seterusnya.

إذا حل الحق فقال الراهن للعدل بع الرهن بالدنانير وقال الآخر بعْ بالدراهم فلا يبيع بواحد منهما فإن بيع العدل ينفذ إذا صدر عن توكيل الراهن أو رضا المرتهن فإذا تخالفا لم يمتثل قول واحد منهما بل يرفع القضية إلى مجلس الحكم ثم الحاكم يبيع أو يأذن لمن يبيع بنقد البلد إن رأى المصلحة فيه

Jika hak telah jatuh tempo lalu pihak yang menggadaikan berkata kepada pihak penengah, “Jual barang gadai dengan dinar,” sementara pihak lainnya berkata, “Jual dengan dirham,” maka tidak boleh dijual dengan salah satu dari keduanya. Penjualan oleh penengah menjadi sah jika dilakukan atas dasar perwakilan dari pihak yang menggadaikan atau atas persetujuan pihak penerima gadai. Jika keduanya berselisih, maka tidak boleh mengikuti perkataan salah satu dari mereka, melainkan perkara tersebut diajukan ke majelis hakim, lalu hakimlah yang akan menjual atau memberi izin kepada seseorang untuk menjual dengan mata uang yang berlaku di negeri tersebut jika ia melihat ada kemaslahatan di dalamnya.

وهذا بيّن لا خفاء به

Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

فصل

Bab

قال وإن تغيرت حال العدل إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika keadaan seorang ‘adl (orang yang adil) berubah, dan seterusnya.”

إذا توافق الراهن والمرتهن على تعديل الرهن على يد عدلٍ فإن أرادا رفعَ الرهن من يده وردَّه إلى آخر جاز ذلك فالحق لا يعدوهما وإن أراد الراهن أن يتحكم بإزالة يد العدل ويرد الرهن إلى يدِ آخر لم يكن له ذلك؛ فإن حق القبض للمرتهن فلا يجوز التصرف في اليد دون إذن المرتهن

Jika pihak yang menggadaikan (rahin) dan penerima gadai (murtahin) sepakat untuk mengubah status barang gadai melalui perantara yang adil, lalu keduanya ingin memindahkan barang gadai dari tangan perantara tersebut dan menyerahkannya kepada orang lain, maka hal itu diperbolehkan karena hak atas barang gadai hanya milik mereka berdua. Namun, jika pihak yang menggadaikan ingin secara sepihak mencabut kekuasaan perantara dan menyerahkan barang gadai kepada orang lain, maka ia tidak berhak melakukannya; sebab hak untuk memegang barang gadai adalah milik penerima gadai, sehingga tidak boleh ada tindakan terhadap barang gadai tanpa izin penerima gadai.

ولو أراد المرتهن أن يرفع الرهن من يد ذلك العدلِ دون إذن الراهن لم يكن له ذلك لا شك فيه

Jika pihak penerima gadai ingin mengambil barang gadai dari tangan pihak penengah tersebut tanpa izin dari pihak yang menggadaikan, maka ia tidak berhak melakukannya, tidak diragukan lagi.

والعدل في نفسه لا يرد الرهن على الراهن دون المرتهن ولا يرد على المرتهن دون الراهن فإن فعل صار ضامناً فإن دفعه إلى المرتهن دون إذن الراهن ففات في يده ضمن القيمة للراهن وإن دفعه إلى الراهن دون المرتهن ضمن للمرتهن إذا فات الرهنُ في يد الراهن ثم ينظر فإن كان الحق حالاًّ فيضمن للمرتهن أقلَّ الأمرين من دَيْنه أو قيمةِ الرهن وإن كان مؤجلاً فعليه كمالُ القيمة ليكون رهناً عند المرتهن

Keadilan itu sendiri tidak mengembalikan barang gadai kepada pemberi gadai tanpa penerima gadai, dan tidak pula mengembalikannya kepada penerima gadai tanpa pemberi gadai. Jika ia melakukannya, maka ia menjadi penanggung. Jika ia menyerahkan barang gadai kepada penerima gadai tanpa izin pemberi gadai lalu barang itu hilang di tangannya, maka ia wajib mengganti nilainya kepada pemberi gadai. Dan jika ia menyerahkannya kepada pemberi gadai tanpa penerima gadai, maka ia wajib mengganti kepada penerima gadai jika barang gadai itu hilang di tangan pemberi gadai. Kemudian dilihat, jika hak (piutang) sudah jatuh tempo, maka ia wajib mengganti kepada penerima gadai dengan nilai yang lebih kecil antara jumlah utangnya atau nilai barang gadai. Namun jika piutang itu masih ditangguhkan, maka ia wajib mengganti seluruh nilai barang gadai agar tetap menjadi barang gadai di tangan penerima gadai.

وهذا يلتفت على أصل وهو أن من يستحق ديناً مؤجلاً قد لا يجبره من عليه الدين على قبول حقه قبل محِلِّه وقد مضى تفصيل ذلك في مواضع

Hal ini kembali kepada suatu prinsip, yaitu bahwa seseorang yang berhak atas utang yang jatuh tempo pada waktu tertentu, bisa jadi tidak dapat memaksa pihak yang berutang kepadanya untuk menerima pelunasan haknya sebelum waktu jatuh tempo. Penjelasan rinci mengenai hal ini telah dibahas pada beberapa tempat sebelumnya.

فالغرض إذا ينكشف بذكر صورتين إحداهما أن يساعد الراهنُ العدلَ فيخرَّج الأمر على ترتيب تعجيل الدين المؤجل وتوفير المعجّل ومساعدة الراهن بأن يأذن للعدل في أداء الدين أو يؤدي الدينَ بنفسه ويكفينا الآن التصوير في إذنه للعدل بأن يؤدي الدين فينتظم الفرق بين الحالّ والمؤجل

Maka tujuannya akan menjadi jelas dengan menyebutkan dua gambaran. Pertama, ketika pihak yang menggadaikan membantu pihak penengah, sehingga perkara tersebut disusun dengan urutan mempercepat pelunasan utang yang masih ditangguhkan dan menjaga utang yang sudah jatuh tempo, serta bantuan dari pihak yang menggadaikan dengan memberikan izin kepada penengah untuk melunasi utang, atau ia sendiri yang melunasi utang tersebut. Saat ini, cukup bagi kita untuk menggambarkan izinnya kepada penengah agar melunasi utang, sehingga perbedaan antara utang yang sudah jatuh tempo dan yang masih ditangguhkan menjadi jelas.

فإن كان الدين حالاً لم يلزمه إلا أقلُّ الأمرين كما ذكرناه تفريعاً على أن من أدى دينه المعجل لم يكن له أن يمتنع عن قبوله وإن فرض في الدين المؤجل ففي الإجبار على القبول التفصيل المذكور فإن قلنا لا يجبر من له دين مؤجل على قبوله تعيّن على العدل أن يضع قيمةَ الرهن رهناً إلى حلول الدين وإن قلنا يجبر على قبول الدين فالكلامُ في الدين المؤجل كالكلام في الدين الحالّ وهذا كله إذا أذن الراهن له في أداء الدين

Jika utang itu jatuh tempo, maka yang wajib hanyalah yang lebih sedikit dari dua hal sebagaimana telah kami sebutkan, berdasarkan cabang hukum bahwa siapa yang melunasi utang yang telah jatuh tempo, tidak boleh bagi pihak yang berpiutang menolak untuk menerimanya. Namun, jika utangnya belum jatuh tempo, maka dalam hal pemaksaan untuk menerima pembayaran terdapat rincian yang telah disebutkan. Jika kita berpendapat bahwa pihak yang memiliki utang yang belum jatuh tempo tidak dipaksa untuk menerimanya, maka wajib bagi hakim untuk menempatkan nilai barang gadai sebagai jaminan hingga utang tersebut jatuh tempo. Namun, jika kita berpendapat bahwa ia dipaksa untuk menerima pembayaran utang, maka pembahasan tentang utang yang belum jatuh tempo sama dengan pembahasan tentang utang yang telah jatuh tempo. Semua ini berlaku jika pihak yang menggadaikan telah mengizinkan penerimaan pembayaran utang.

فأما إذا لم يصادِف الراهنَ حتى يستأذن منه أو لم يأذن له الراهنُ في أداء الدين فلا يجب على المرتهن أن يقبل الدين منه مؤجلاً كان أو حالاً بل يقول لستَ مأذوناً من جهة من عليه الدين ولا أقبل تبرعك بأداء الدين وإذا كان كذلك نُظر فإن كان الراهن حاضراً قاله له العدل رددتُ عليك الرهن وأنت المالك فخلِّصني بالإذن في أداء الدين أو بأداء الدين

Adapun jika pihak yang menggadaikan tidak ditemui hingga meminta izinnya atau pihak yang menggadaikan tidak mengizinkan kepada penerima gadai untuk membayar utang, maka tidak wajib bagi penerima gadai menerima pembayaran utang darinya, baik utang itu masih jatuh tempo maupun sudah jatuh tempo. Bahkan, ia berkata: “Kamu tidak diizinkan oleh pihak yang berutang dan aku tidak menerima sukarela pembayaran utang darimu.” Jika demikian keadaannya, maka dilihat lagi: jika pihak yang menggadaikan hadir, maka pihak yang adil berkata kepadanya: “Aku kembalikan barang gadai kepadamu, dan engkaulah pemiliknya, maka bebaskanlah aku dengan memberikan izin untuk membayar utang atau dengan membayar utang itu.”

وإنما تحسن هذه المسألة إذا كان الدين أقلَّ من قيمة الرهن وقَبْل أن تتفق مفاوضة الراهن بما ذكرناه يغرَم للمرتهن قيمة الرهن وإن كانت ألفاً والدين دينار

Permasalahan ini hanya menjadi baik jika utang lebih kecil dari nilai barang gadai, dan sebelum terjadi kesepakatan antara pihak yang menggadaikan dengan apa yang telah kami sebutkan, maka pihak yang menerima gadai berhak mendapatkan ganti rugi sebesar nilai barang gadai, meskipun nilainya seribu dan utangnya hanya satu dinar.

ثم إذا تمكن من الراهن ففاوضه فقال الراهن لست آذن لك في أداء الدين ولست أؤديه وكان المرتهن لا يطالب أيضاً فهذا يؤدي إلى تعطيل مال عظيم على العدل من غير فائدة ولكن القيمة مرهونة والراهن مأمورٌ بتخليصها إذا كان الدين حالاًّ كما يؤمر المستعير بتخليص العبد لمعيره كما سنذكر؛ فإن تغريم القيمة لغير المالك والعين مردودة على المالك يستحيل أن تبقى على التأبد بغير نهاية فيتعطل مال بأن يتواطأ الراهن والمرتهن

Kemudian, jika pihak yang menerima gadai (murtahin) berhasil menemui pihak yang menggadaikan (rahin), lalu ia berdiskusi dengannya, namun pihak yang menggadaikan berkata, “Aku tidak mengizinkanmu untuk melunasi utang itu dan aku pun tidak akan melunasinya,” sementara pihak penerima gadai juga tidak menuntut, maka hal ini akan menyebabkan harta yang besar menjadi terhenti di tangan hakim tanpa ada manfaat. Namun, barang yang digadaikan tetap menjadi jaminan, dan pihak yang menggadaikan diperintahkan untuk menebusnya jika utangnya telah jatuh tempo, sebagaimana orang yang meminjamkan barang diperintahkan untuk menebus budaknya bagi pemberi pinjaman, sebagaimana akan dijelaskan. Jika membebankan nilai barang kepada selain pemiliknya, sementara barangnya dikembalikan kepada pemilik, maka tidak mungkin hal itu berlangsung selamanya tanpa batas sehingga harta menjadi terhenti karena adanya kesepakatan antara pihak yang menggadaikan dan pihak penerima gadai.

ولو كان عين الرهن قائمة فهي مستردة من الراهن وإن تلفت فضمان القيمة لتوضع رهناً متوجه على الراهن

Jika barang yang dijadikan rahn masih ada, maka barang itu harus dikembalikan dari pihak rahin. Namun jika barang tersebut rusak, maka kewajiban mengganti nilainya agar dijadikan rahn tetap menjadi tanggungan rahin.

ولو غرم العدل للمرتهن قيمةَ الرهن وقد سلمه إلى الراهن فله الرجوع بما غرم على المالك الراهن

Jika pihak yang adil (penitip) membayar kepada penerima gadai (murtahin) nilai barang gadai, padahal ia telah menyerahkan barang gadai tersebut kepada pemiliknya (rahin), maka ia berhak menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan dari pemilik barang gadai (rahin).

فإن فاتت العين فإنه يقول إنما غرمت بسبب أخذك الرهن بغير حق فأرجع عليك ولو كان الرَّهن قائماً في يد الراهن لوجب رده على حكم قبض المرتهن

Jika barangnya telah hilang, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku menanggung kerugian karena engkau mengambil barang gadai tanpa hak, maka aku menuntut ganti rugi darimu.” Dan seandainya barang gadai itu masih ada di tangan pemberi gadai, maka wajib dikembalikan sesuai ketentuan penerimaan oleh penerima gadai.

وهذا بيّن

Dan ini jelas.

وما ذكرناه فيه إذا أعرض المرتهن عن مخاصمة الراهن وتشبث بالعدل

Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika pihak penerima gadai berpaling dari menggugat pihak pemberi gadai dan berpegang pada hakim.

والتفصيل ما ذكرناه

Perinciannya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.

فصل

Bab

ثم ذكر الشافعي تغير حال العدل عن العدالة وبنى عليه أنه إذا فسق فللراهن ألا يرضى بيده وإن رضي الراهن فللمرتهن ألا يرضى؛ فإن الحق ثابت لهما أما الراهن فله طلب الاسترداد والاستبدال به؛ محافظة على ملكه وللمرتهن مثل ذلك محافظةً على وثيقته وإذا جنى العدل عمداً على الرهن فهو منه فسوق ولو جنى خطأً لم يفسق ولزمه أرش جنايته والرهن مُقَرٌّ تحت يده ولو كان من عدّل الرهن عنده فاسقاً في الابتداء وكانا عالمين بفسقه فأراد أحدهما أن يرفع يده عن الرهن لم يكن له ذلك

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan tentang perubahan keadaan orang yang adil dari sifat keadilannya, dan beliau membangun pendapat bahwa jika ia menjadi fasik, maka pihak rahin (pemberi gadai) berhak untuk tidak merelakan barang gadai tetap di tangannya. Jika rahin merelakan, maka pihak murtahin (penerima gadai) berhak untuk tidak merelakan; karena hak itu tetap bagi keduanya. Adapun rahin, ia berhak meminta pengembalian dan penggantian orang tersebut demi menjaga kepemilikannya, dan murtahin juga berhak melakukan hal yang sama demi menjaga jaminannya. Jika orang yang adil tersebut dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap barang gadai, maka itu termasuk kefasikan darinya. Namun jika ia melakukan pelanggaran karena tidak sengaja, ia tidak menjadi fasik, tetapi ia tetap wajib membayar ganti rugi atas pelanggarannya, dan barang gadai tetap berada di bawah tanggung jawabnya. Jika sejak awal orang yang dititipi barang gadai itu adalah seorang fasik dan kedua belah pihak mengetahuinya, lalu salah satu dari mereka ingin mencabut barang gadai dari tangannya, maka ia tidak berhak melakukan hal itu.

فإن ازداد فسوقاً إلى فسوقه المتقدم كان ذلك بمثابة فسوق العدل وقد سبق التفصيل فيه

Jika ia semakin bertambah kefasikannya di atas kefasikan yang telah lalu, maka hal itu sama dengan kefasikan seorang yang ‘adl (adil), dan penjelasannya telah disebutkan sebelumnya.

ثم ذكر الشافعي بعد ذلك أن العدل لو أراد أن يودع الرهن الكائن تحت يده عند إنسان فكيف حكمه وهذا لا اختصاص له بالرهن وسأذكره مستقصى في كتاب الوديعة إن شاء الله تعالى

Kemudian setelah itu, asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa jika seorang yang adil ingin menitipkan barang gadai yang ada di tangannya kepada seseorang, bagaimana hukumnya. Hal ini tidak khusus berkaitan dengan rahn, dan akan saya jelaskan secara rinci dalam Kitab al-Wadi‘ah, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال ولو جنى المرهون على سيده إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika barang yang digadaikan melakukan tindak pidana terhadap tuannya, dan seterusnya.”

إذا رهن الرجل عبداً وسلمه إلى المرتهن فجنى على السيد الراهن فلا يخلو إما أن يجني على طرفه وإما أن يجني على نفسه فإن جنى على الطرف لم يخل إما أن يكون موجباً للقصاص أو للمال فإن كان موجباً للقصاص فللسيد الراهن أن يقتصّ منه؛ لأن عماد القصاص الزجرُ وشفاءُ الغيظ والحاجةُ ماسة إلى زجر العبيد عن الجناية على السادة وشفاءُ الغليل مما يحتاج السيد إليه فله القصاص وإن كان يؤدي إلى إبطال حق المرتهن من الوثيقة ومهما جرى من المرهون ما يوجب القصاص لم يندفع القصاص بسبب حقِّ الغير في المالية وإن كانت الجناية موجبة للمال في جنسها أو كان موجباً للقصاص فعفا السيدُ على مال فلا يثبت المال أصلاً؛ لأن السيد لايستوجب في ذمة عبده مالاً على الابتداء قط

Jika seseorang menggadaikan seorang budak lalu menyerahkannya kepada penerima gadai, kemudian budak tersebut melakukan kejahatan terhadap tuannya (pemberi gadai), maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia melakukan kejahatan terhadap anggota tubuh tuannya, atau terhadap dirinya sendiri. Jika ia melakukan kejahatan terhadap anggota tubuh, maka kejahatan itu bisa jadi mewajibkan qishāsh atau mewajibkan pembayaran harta. Jika kejahatan itu mewajibkan qishāsh, maka tuan (pemberi gadai) berhak menuntut qishāsh darinya; karena inti dari qishāsh adalah sebagai pencegah (hukuman) dan penawar kemarahan, dan kebutuhan untuk mencegah budak melakukan kejahatan terhadap tuannya serta penawar kemarahan adalah sesuatu yang sangat diperlukan oleh tuan, maka ia berhak menuntut qishāsh, meskipun hal itu dapat menyebabkan hilangnya hak penerima gadai atas jaminan. Dan setiap kali terjadi pada barang gadai sesuatu yang mewajibkan qishāsh, maka qishāsh tidak gugur hanya karena adanya hak orang lain dalam aspek kepemilikan harta. Jika kejahatan itu mewajibkan pembayaran harta pada jenisnya, atau mewajibkan qishāsh namun tuan memaafkan dengan meminta harta, maka harta itu sama sekali tidak menjadi hak; karena tuan tidak pernah berhak menuntut harta dari budaknya sejak awal.

وإذا لم يثبت له حق مال في رقبة عبده ولم يثبت القصاص أو ثبت وسقط فيبقى العبد مرهوناً إلى الفكاك

Jika tidak terbukti adanya hak harta pada diri budaknya dan qishāsh tidak terbukti atau telah terbukti namun gugur, maka budak tersebut tetap menjadi rahn (jaminan) hingga ditebus.

هذا ما أجمع عليه الأصحابُ ولم يحكِ أحدٌ فيه خلافاً إلا صاحبُ التقريب فإنّه ذكر وجهاً بعيداً فقال ذهب ابن سُريج إلى أَنَّ للسَّيد أن يبيع من العبد الجاني بقدر أرش الجناية؛ حتى ينفك الرهن في ذلك المقدار فيثبت له هذا الحق وإن كان لا يثبت له دين على عبده

Inilah yang telah disepakati oleh para sahabat (ulama mazhab), dan tidak ada seorang pun yang meriwayatkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini kecuali penulis kitab at-Taqrīb. Ia menyebutkan satu pendapat yang lemah, yaitu bahwa Ibnu Surayj berpendapat bahwa tuan (pemilik budak) boleh menjual bagian dari budak yang melakukan tindak pidana sebesar nilai diyat (ganti rugi) tindak pidana tersebut, sehingga gadai pada bagian itu menjadi bebas, dan dengan demikian hak ini tetap dimiliki oleh tuan, meskipun ia tidak memiliki piutang terhadap budaknya.

وهذا ضعيف جداً حكيناه ولا نعود إليه

Ini sangat lemah, kami telah menyebutkannya dan tidak akan kembali kepadanya.

هذا إذا كان تعلُّق الجناية بالطرف

Ini berlaku jika tindak pidana tersebut berkaitan dengan anggota tubuh.

فأما إذا قتل العبد المرهونُ السيدَ الراهن فإن أراد ورثتهُ الاقتصاصَ كان لهم ذلك وإن لم تكن الجناية جنايةَ قصاص أو ثبت القصاص فأسقطوه بالعفو فلا يثبت لهم عُلقة مالية؛ فإنا إن قلنا الدية تجب للمقتول ثم تنتقل منه إلى وارثه فعلى هذا لو أثبتنا الدية للسيّد لأثبتناها للمالك وقد ذكرنا أن ذلك محال

Adapun jika budak yang digadaikan membunuh tuannya yang menggadaikan, maka jika para ahli warisnya ingin menuntut qishāsh, mereka berhak melakukannya. Namun, jika tindak pidananya bukan tindak pidana yang mengharuskan qishāsh, atau qishāsh telah ditetapkan lalu mereka menggugurkannya dengan memberi maaf, maka mereka tidak berhak mendapatkan hubungan kepemilikan harta apa pun. Sebab, jika kita mengatakan bahwa diyat wajib diberikan kepada korban lalu berpindah kepemilikannya kepada ahli warisnya, maka dalam hal ini, jika kita menetapkan diyat untuk tuan, berarti kita menetapkannya untuk pemilik, dan telah kami sebutkan bahwa hal itu mustahil.

وإن فرَّعنا على أن الدية تثبت ابتداءً للورثة فهم يملكون رقبة العبدِ الجاني في الوقت الذي يملكون فيه الدَّيْن لو أمكن ملكهم فيه وكما لا يطرأ ثبوت الدين للسيد على ملكه وكذلك لا يقترنان؛ فإنهما على حكم التناقض يتجاريان فكيف فرض الأمر لم يثبت للورثة حق مالي؛ فيبقى العبد مرهوناً كما كان على المذهب المقطوع به

Dan jika kita membangun pendapat bahwa diyat pada awalnya menjadi hak para ahli waris, maka mereka memiliki hak atas budak pelaku kejahatan pada waktu yang sama ketika mereka memiliki hak atas utang, jika memungkinkan mereka memilikinya. Sebagaimana tidak mungkin timbulnya hak utang bagi tuan atas miliknya sendiri, demikian pula keduanya (hak atas budak dan hak atas diyat) tidak dapat bersatu; karena keduanya berada dalam posisi saling bertentangan. Maka, bagaimanapun keadaannya, tidak tetap bagi ahli waris suatu hak harta; sehingga budak tersebut tetap menjadi barang gadai sebagaimana sebelumnya menurut mazhab yang telah dipastikan.

ولو جنى العبد المرهون على ابن السيد الراهن نُظر فإن كانت الجناية على الطرف فللابن القصاصُ فإن استوفاه فذاك وإن عفا على مالٍ أو كانت الجناية مالية فالعبد يباع في الأرش ويفك الرهن

Jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana terhadap anak tuan yang menggadaikan, maka dilihat dahulu: jika tindak pidana tersebut mengenai anggota tubuh, maka anak tersebut berhak melakukan qishāsh; jika ia melaksanakan qishāsh, maka selesai; namun jika ia memaafkan dengan meminta kompensasi harta atau jika tindak pidana tersebut bersifat harta, maka budak tersebut dijual untuk membayar diyat, dan gadaiannya pun dilepaskan.

وإن لم يتفق من الابن تحصيلُ ذلك والمطالبه به حتى مات وورثه أبوه الراهن لم يُخَلِّف وارثاً غيرَه فهذا موضع تردد الأصحاب

Jika sang anak tidak berhasil memperoleh hal itu dan menuntutnya hingga ia meninggal dunia, lalu ayahnya si rahin mewarisinya tanpa meninggalkan ahli waris selain ayahnya, maka inilah tempat terjadinya keraguan di kalangan para ulama.

منهم من قال يثبت للأب حق فك الرهن على ما تقتضيه الجناية؛ فإن المال لم يثبت له ابتداءً حتى يحكم باستحالته

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ayah berhak untuk melepaskan barang gadai sesuai dengan tuntutan tindak pidana; karena harta tersebut belum menjadi miliknya sejak awal sehingga dapat diputuskan sebagai sesuatu yang mustahil baginya.

ومن أصحابنا من قال لا يثبت حق فك الرهن

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hak untuk melepaskan barang gadai tidaklah tetap.

وبنى الأئمة هذا الاختلافَ على أصل وهو أن من استحق دين على عبداً ثم ملكه فالدين الثابت قبل الملك هل يسقط بطريان الملك فيه خلافٌ مشهور فإن حكمنا بأن الدين يسقط بالملك الطارىء قال الأصحاب فعلى هذا لا يثبت للأب إذا ورث ابنَه حقُّ فك الرهن وسقط بما جرى الاستحقاقُ وإن قلنا الدينُ لا يسقط بالملك الطارىء فقد قال الأصحاب للأب حقُّ فكِّ الرهن في مسألتنا

Para imam membangun perbedaan pendapat ini di atas suatu prinsip, yaitu bahwa apabila seseorang berhak atas suatu utang dari seorang budak, kemudian ia memiliki budak tersebut, maka mengenai utang yang telah tetap sebelum kepemilikan, apakah utang itu gugur karena adanya kepemilikan baru, terdapat perbedaan pendapat yang masyhur. Jika kita memutuskan bahwa utang gugur karena kepemilikan yang baru, para ulama berpendapat bahwa dalam hal ini, ayah yang mewarisi anaknya tidak berhak menebus barang gadai dan hak tersebut gugur karena adanya perolehan hak waris. Namun jika kita mengatakan bahwa utang tidak gugur karena kepemilikan yang baru, maka para ulama berpendapat bahwa ayah berhak menebus barang gadai dalam permasalahan kita ini.

هذا ما اشتملت عليه الطرق واتفق الأصحاب عليه كأنهم تواصَوْا فيه وهو في نهاية الإشكال؛ من جهة أن الملكَ في العبد مستدامٌ والإرث إن أثبت له ملكاً أثبته جديداً على مملوكه فكيف يكون الاستحقاق الطارىء على الملك بمثابة الملك الطارىء على الاستحقاق

Inilah yang tercakup dalam berbagai metode dan telah disepakati oleh para sahabat, seolah-olah mereka saling berwasiat dalam hal ini, padahal perkara ini sangat rumit; dari satu sisi, kepemilikan atas budak itu bersifat terus-menerus, sedangkan warisan, jika menetapkan kepemilikan baginya, berarti menetapkan kepemilikan baru atas sesuatu yang sudah dimilikinya. Maka, bagaimana mungkin hak yang datang belakangan atas kepemilikan dapat disamakan dengan kepemilikan yang datang belakangan atas hak?

ولكن الأصحاب قالوا إذا ثبت دينٌ ففي سقوطه بالملك الطارىء خلاف فإذا ثبت الدين لغير المالك ثم انتقل إلى المالك فيخرّج هذا على الخلاف؛ فإن أصلَ الدين ثبت

Namun, para ulama mazhab berkata: Jika suatu utang telah tetap, maka ada perbedaan pendapat mengenai gugurnya utang tersebut karena kepemilikan yang datang kemudian. Jika utang itu pada awalnya tetap menjadi milik selain pemilik, lalu berpindah kepada pemilik, maka hal ini dikembalikan kepada perbedaan pendapat tersebut; karena pada dasarnya utang itu telah tetap.

فهذا هو المنتهى في ذلك نقلاً وتنبيهاً

Inilah batas akhirnya dalam hal ini, baik dari segi riwayat maupun penjelasan.

وكان القول فيه يتعلق بأن العبد له ذمة ولا احتكام للسيد عليه فيها وإنما منعْنا معاملةَ السيد عبدَه القن من جهة أنا لا نرى للعبد استمكان الخروج عما نقدّره لازماً والرق لا نهاية له فإذا فرض للدين ثبوت في جهة فكأنهم على وجهٍ لا يستبعدون انتقاله إلى السيد بعد ارتباطه بالذمة كما لا يستبعدون بقاء الدين إذا طرأ الملك

Pembahasan dalam hal ini berkaitan dengan bahwa seorang hamba memiliki dzimmah (tanggung jawab hukum), dan tuannya tidak dapat memaksakan kehendak atasnya dalam hal itu. Kami melarang muamalah antara tuan dan hambanya yang murni (hamba sahaya) karena kami memandang bahwa hamba tidak memiliki kemampuan penuh untuk keluar dari apa yang kami anggap sebagai kewajiban, dan perbudakan itu tidak ada akhirnya. Maka, jika utang itu dianggap tetap pada suatu pihak, seolah-olah mereka memandang tidak mustahil utang itu berpindah kepada tuan setelah terikat pada dzimmah, sebagaimana mereka juga tidak menganggap mustahil utang itu tetap ada jika kepemilikan (atas hamba) terjadi kemudian.

وكل ما ذكرناه فيه إذا جنى المرهون على طرف ابن الراهن ثم مات بسبب آخر

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika barang gadai itu melakukan tindak pidana terhadap anak pihak yang menggadaikan, kemudian anak tersebut meninggal karena sebab lain.

فأما إذا قتل المرهونُ ابنَ الراهن فإن كان القتل موجباً للقصاص فقد مضى القول في القصاص ووضح أنه لا دفع له إذا أراده مستحقُّه وإن كان القتل خطأً رتب الأئمة القولَ في ذلك على اختلافٍ سيأتي في الديات في أن الدية تجب للقتيل أولاً ثم تنتقل إلى ورثته أم تجب ابتداءً للورثة قالوا إن قلنا تجب للورثة ابتداءً فلو أثبتناها لأثبتناها للسَّيد الوارث ابتداءً وهذا لا سبيل إليه فلا يثبت له حق فك الرهن

Adapun jika barang yang digadaikan membunuh anak pemilik gadai, maka jika pembunuhan tersebut mewajibkan qishāsh, telah dijelaskan sebelumnya mengenai qishāsh dan telah terang bahwa tidak ada penolakan terhadapnya jika yang berhak menghendakinya. Namun jika pembunuhan itu terjadi karena kesalahan, para imam mengaitkan pembahasan ini dengan perbedaan pendapat yang akan dijelaskan dalam bab diyat, yaitu apakah diyat itu wajib terlebih dahulu untuk korban lalu berpindah kepada ahli warisnya, ataukah wajib sejak awal untuk ahli waris. Mereka berkata: Jika kita katakan diyat itu wajib sejak awal untuk ahli waris, maka jika kita menetapkannya, berarti kita menetapkannya sejak awal untuk tuan yang menjadi ahli waris, dan ini tidak mungkin dilakukan, sehingga ia tidak berhak untuk menebus barang gadai tersebut.

وإن قلنا الدية تثبت للمقتول ثم تنتقل إلى ورثته فهذا في الترتيب كأرش الطرف إذا ثبت للابن ثم مات بسبب آخر وقد فصَّلنا هذا

Jika kita mengatakan bahwa diyat itu menjadi hak milik orang yang terbunuh lalu berpindah kepada ahli warisnya, maka dalam urutannya hal ini seperti arsy anggota tubuh yang telah menjadi hak milik anak, kemudian ia meninggal karena sebab lain. Kami telah merinci hal ini.

ولو جنى العبد المرهون على عبد الراهن تُصوِّرت مسائل عند ذلك

Jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana terhadap budak milik pemberi gadai, maka terdapat beberapa permasalahan yang dapat dibayangkan dalam hal ini.

إحداها ألا يكون ذلك العبدُ المجنيُّ عليه مرهوناً فحكمه حكم ما لو جنى على نفس الراهن أمَّا القصاص فإلى المولى وأما المال فلا يثبت كما مضى

Salah satunya adalah apabila hamba yang menjadi korban tersebut sedang dalam status sebagai barang gadai, maka hukumnya sama seperti jika seseorang melakukan tindak pidana terhadap diri orang yang menggadaikan. Adapun qishāsh menjadi hak tuannya, sedangkan hak atas harta tidak tetap, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ومن المسائل أن يجني العبد المرهون على عبد آخر للراهن مرهون عند إنسان آخر أما القصاص فكما مضى وإن كانت الجناية مالية أو آل الأمر إلى المال فقد تحقق اعتراض على حق المرتهن الذي قُتل العبد المرهون عنده فإن كانت قيمةُ العبد القاتل مثلَ قيمة المقتول أو أقلّ منها بعناه ووضعنا ثمنه رهناً بدل العبد المقتول وإن كانت قيمة الجاني أكثر فنبيع منه قدرَ قيمة المقتول ونضعه رهناً وإن كان التشقيص يتضمن تعييباً ففي بيع بعضه إبطالُ حق المالك وفيه أيضاًً إبطال حق المرتهن الذي جنى العبد المرهون عنده فإذا رضي المالك ومرتهنُ الجاني ببيع كلِّه بعناه وصرفنا مقدار قيمة المقتول إلى مرتهن المقتول وجعلناه رهناً عنده وتركنا الباقي عند مرتهن الجاني

Di antara permasalahan adalah apabila seorang budak yang menjadi barang gadai melakukan tindak pidana terhadap budak lain milik pemberi gadai yang juga digadaikan kepada orang lain. Adapun mengenai qishāsh, maka hukumnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika tindak pidananya berupa harta atau berujung pada pembayaran harta, maka telah terjadi gangguan terhadap hak pemegang gadai yang budaknya terbunuh. Jika nilai budak pelaku sama dengan atau kurang dari nilai budak yang terbunuh, maka budak pelaku dijual dan hasil penjualannya dijadikan barang gadai pengganti budak yang terbunuh. Jika nilai budak pelaku lebih besar, maka dijual sebagian sesuai nilai budak yang terbunuh dan dijadikan barang gadai. Namun, jika penjualan sebagian budak menyebabkan cacat, maka dalam penjualan sebagian tersebut terdapat pembatalan hak pemilik, dan juga pembatalan hak pemegang gadai yang budaknya melakukan tindak pidana. Jika pemilik dan pemegang gadai budak pelaku ridha untuk menjual seluruhnya, maka budak tersebut dijual, lalu sejumlah nilai budak yang terbunuh diberikan kepada pemegang gadai budak yang terbunuh dan dijadikan barang gadai di sisinya, sedangkan sisanya tetap menjadi hak pemegang gadai budak pelaku.

وإن قال مرتهن الجاني لست أرضى ببيع الفاضل منه عن قدر القيمة وقال المالك لست أرضى بتنقيص ملكي بسبب التشقيص وقد يفرض هذا على العكس بأن يرضى المالك بالتشقيص ولا يرضى المرتهن فالذي يدل عليه كلام الأصحابِ أنّا نرعى المصلحةَ ولا نبالي بمن يحيد عنها؛ فإن المالية هي المقصودة فإذا اجتمع اعتبار المالية وحقُّ الاختصاص بالغير فالمالية أولى بالرعاية وإذا لم يكن بد من إجابة أحدهما واستحال الجمع فلا فرق في تقديم جانب على جانب إلا رعاية المصلحة

Jika pemegang gadai dari pihak yang melakukan pelanggaran berkata, “Saya tidak rela jika kelebihan dari barang tersebut dijual melebihi nilai taksiran,” dan pemilik berkata, “Saya tidak rela jika kepemilikan saya dikurangi karena pembagian tersebut,” maka bisa juga terjadi sebaliknya, yaitu pemilik rela dengan pembagian tetapi pemegang gadai tidak rela. Berdasarkan pendapat para ulama, kita harus mempertimbangkan kemaslahatan dan tidak memperdulikan siapa yang menolaknya; sebab yang menjadi tujuan adalah nilai harta. Jika pertimbangan nilai harta dan hak khusus pihak lain berkumpul, maka nilai harta lebih utama untuk dijaga. Jika tidak ada pilihan selain mengabulkan salah satu pihak dan tidak mungkin menggabungkan keduanya, maka tidak ada perbedaan dalam mendahulukan satu pihak atas pihak lain kecuali dengan mempertimbangkan kemaslahatan.

ومن تمام البيان في ذلك أن قيمة الجاني لو كانت مثلَ قيمة المقتول وكنا نفك الرهن بسبب مرتهن المقتول فلو قال الراهن لمرتهن المقتول لا غرض لك في بيع هذا العبد فاكتف برقبته حتى أفك رهن مرتهن الجاني وأنقلَ حقك إلى رقبته فإن رضي بذلك مرتهنُ المقتول جاز وفسخ الرهن في حق مرتهن الجاني ولا مجال له في المناقشة في هذا؛ فإن حقه إذا كان يرتفع فتعلقه باستدعاء البيع فضول

Dan sebagai penyempurna penjelasan dalam hal ini, jika nilai pelaku kejahatan sama dengan nilai korban, dan kita hendak membebaskan barang gadai karena hak pemegang gadai korban, maka jika pihak yang menggadaikan berkata kepada pemegang gadai korban, “Kamu tidak punya kepentingan dalam menjual budak ini, maka cukuplah dengan mengambil budaknya saja sampai aku membebaskan barang gadai milik pemegang gadai pelaku kejahatan dan memindahkan hakmu kepada budaknya,” lalu pemegang gadai korban setuju dengan hal itu, maka hal tersebut boleh dan gadai dibatalkan atas hak pemegang gadai pelaku kejahatan, dan tidak ada ruang baginya untuk memperdebatkan hal ini; karena jika haknya telah gugur, maka keterkaitannya dengan permintaan penjualan menjadi sia-sia.

أما مرتهن المقتول إذا قال لست أبغي هذا العبدَ فبعه وضع ثمنَه رهناً فهل يجاب إلى ذلك ذكر شيخي وصاحب التقريب وجهين في هذا أحدهما أنه لا يباع؛ فإن حقه عاد إلى المالية والعبد الجاني قد تعلق الأرش برقبته فهو أقرب من قيمته والوجه الثاني أنه يجاب فيباع؛ فإنه يقول كان حقي في رقبة العبد الذي قتل فإذا قتل فحقي في قيمته فلا أرضى إلا بها

Adapun pemegang gadai yang terbunuh, jika ia berkata, “Aku tidak menginginkan budak ini, maka juallah dia dan jadikan harganya sebagai barang gadai,” apakah permintaannya itu dikabulkan? Guruku dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama, budak tersebut tidak dijual; karena haknya kembali kepada nilai harta, dan budak yang melakukan tindak pidana telah terkait dengan diyat pada lehernya, sehingga itu lebih utama daripada nilainya. Pendapat kedua, permintaannya dikabulkan, sehingga budak itu dijual; karena ia berkata, “Hakku ada pada leher budak yang membunuh, maka jika ia terbunuh, hakku ada pada nilainya, dan aku tidak rela kecuali dengan nilai tersebut.”

ولا خلاف أنه لو أتى بعبدٍ آخر وأراد أن يُجبر المرتهنَ على قبوله رهناً بدل العبد المقتول لم يُجبَر المرتهنُ على قبوله؛ فإنه ليس قيمة ولا متعلّق قيمة والعبد الجاني قد تعلق القيمةُ برقبته

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang membawa budak lain dan ingin memaksa pihak yang menerima gadai untuk menerimanya sebagai barang gadai pengganti budak yang terbunuh, maka pihak yang menerima gadai tidak dapat dipaksa untuk menerimanya; karena budak tersebut bukanlah nilai (qimah) dan juga bukan sesuatu yang berkaitan dengan nilai, sedangkan pada budak yang melakukan tindak pidana, nilai (qimah) telah terkait pada lehernya.

ولم نطوّل الفصلَ بذكر القتل الواقع عمداً مع تصوير العفو مطلقاًً أو على مال

Kami tidak memperpanjang pembahasan dengan menyebutkan pembunuhan yang terjadi secara sengaja beserta penjelasan tentang pemaafan secara mutlak atau dengan imbalan harta.

وتخريجه على اختلاف الأقوال ولكنا نذكر قولاً وجيزاً فنقول إذا ثبت حق القصاص للراهن على العبد المرهون وكان قتل عبداً آخر مرهوناً عند آخر فإن أراد الاقتصاصَ فلا منع وإن أراد العفو على مالٍ ثبت المال وتعلق به حق مرتهن المقتول وإن عفا على غير مال فهو في العفو على غير مالٍ كالمفلس يعفو عن قصاصٍ ثبت له على غير مالٍ والديون محيطةٌ والحجر مطرد وذلك لأن الراهن محجورٌ عليه حجرَ خصوصٍ في المرهون كما أن المفلس محجور عليه وتفصيل هذا يأتي في كتاب الجراح إن شاء الله تعالى

Penjelasannya berbeda-beda menurut pendapat para ulama, namun kami akan menyebutkan pendapat yang ringkas, yaitu: Jika hak qishash telah tetap bagi pihak yang menggadaikan (rahin) terhadap budak yang digadaikan, dan budak tersebut membunuh budak lain yang juga digadaikan kepada orang lain, maka jika ia ingin menuntut qishash, tidak ada larangan. Namun jika ia ingin memaafkan dengan menerima uang (diyat), maka uang tersebut menjadi hak dan terkait dengan hak pemegang gadai (murtahin) dari pihak yang terbunuh. Jika ia memaafkan tanpa menerima uang, maka dalam hal ini sama seperti orang yang pailit yang memaafkan hak qishash yang dimilikinya tanpa menerima uang, sementara utang-utang mengelilinginya dan ia berada dalam status pencekalan. Hal ini karena pihak yang menggadaikan (rahin) berada dalam pencekalan khusus terhadap barang yang digadaikan, sebagaimana orang yang pailit juga berada dalam pencekalan. Rincian lebih lanjut tentang hal ini akan dijelaskan dalam Kitab al-Jirah, insya Allah Ta’ala.

وكل ما ذكرناه فيه إذا قتل عبد مرهون عبداً آخر لذلك الراهن وكان مرهوناً عند رجل آخر

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila seorang budak yang digadaikan membunuh budak lain milik orang yang sama, dan budak tersebut digadaikan kepada orang lain.

فأما إذا رهن رجل عبدين عند آخر فقتل أحد العبدين الآخر فإن كانا مرهونين بدين واحد فقد فات العبدُ الذي مات والعبدُ الباقي مرتهنٌ بجميع الدين ولا حاجةَ إلى تكلف نقل وكنا هكذا نقول لو مات أحدهما حتف أنفه

Adapun jika seseorang menggadaikan dua budak kepada orang lain, lalu salah satu dari kedua budak itu membunuh yang lainnya, maka jika keduanya digadaikan untuk satu utang yang sama, maka budak yang mati telah hilang dan budak yang tersisa tetap menjadi barang gadai untuk seluruh utang, dan tidak perlu bersusah payah memindahkan (hak gadai). Demikian pula yang akan kami katakan seandainya salah satu dari keduanya mati dengan sendirinya.

فأمّا إذا رهن كلَّ واحد من العبدين بدينٍ مغاير للدين الآخر فإذا قتل أحدُ العبدين الثاني وقال المرتهن للراهن قرِّر الدينَ المتعلقَ برقبة القاتل وانقل إلى رقبته الدينَ الذي كان متعلقاً برقبة العبد الذي قُتل فلسنا نجيبه إلى ذلك اتفق الأصحاب عليه فليقطع الناظر إمكان ذلك عن فكره؛ والسبب فيه أنه ما لم يفك عن الرهن المتعلِّق به لا يتصور ربطُ دين آخر به

Adapun jika masing-masing dari kedua budak itu dijadikan sebagai rahn (barang jaminan) untuk utang yang berbeda dengan utang yang lain, kemudian salah satu dari kedua budak itu membunuh yang lainnya, lalu pihak murtahin (penerima rahn) berkata kepada pihak rahin (pemilik rahn): “Tetapkanlah utang yang terkait dengan leher si pembunuh, dan pindahkanlah ke lehernya utang yang sebelumnya terkait dengan leher budak yang terbunuh,” maka kami tidak mengabulkan permintaan itu—para sahabat sepakat atas hal ini, maka hendaknya orang yang menelaah perkara ini menyingkirkan kemungkinan tersebut dari pikirannya; sebabnya adalah selama rahn yang terkait dengannya belum ditebus, tidak mungkin mengaitkan utang lain kepadanya.

هذا سبيل اعتراض الجنايات على المرهون فإذا أردنا تقريرَ الرهن الأول ونقلَ الدين الثاني لم يكن ذلك على مقتضى تأثير الجناية في الرهن

Ini adalah cara keberatan terhadap tindak pidana yang menimpa barang yang digadaikan. Jika kita ingin menetapkan gadai pertama dan memindahkan utang kedua, maka hal itu tidak sesuai dengan pengaruh tindak pidana terhadap barang gadai.

فإذا ثبت هذا نظرنا بعده وقلنا إن كان الدين المتعلق بالقاتل أكثر من الدين الذي كان متعلقاً بالمقتول فلا فائدة في نقض رهن القاتل ونقل رهن المقتول إليه وليقع الفرض فيه إذا استوى الدينان في التأجيل والتعجيل كذلك إذا استوى مقدار الدينين مع ما ذكرناه فلا غرض فإذا استدعى المرتهن النقل لم نسعفه واعتقدناه ملتمساً شيئاًً غير مفيد

Jika hal ini telah tetap, kemudian kita perhatikan setelahnya dan kita katakan: Jika utang yang berkaitan dengan si pembunuh lebih banyak daripada utang yang berkaitan dengan si terbunuh, maka tidak ada manfaat dalam membatalkan gadai milik si pembunuh dan memindahkan gadai milik si terbunuh kepadanya. Demikian pula, hal ini berlaku jika kedua utang tersebut sama dalam hal tempo pembayaran, baik ditangguhkan maupun dipercepat, juga jika jumlah kedua utang tersebut sama seperti yang telah kami sebutkan, maka tidak ada tujuan (manfaat) dalam hal itu. Maka jika pemegang gadai meminta pemindahan (gadai), kami tidak mengabulkannya dan kami menganggapnya meminta sesuatu yang tidak bermanfaat.

نعم لو قال بيعوا هذا الجاني وضعوا قيمته رهناً؛ فإني لا آمنه وقد يبدر منه ما بدر والقيمة أبعد عن قبول الآفات من العبد فهل يجاب لهذا الغرض إلى ما يريد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال نجيبه إلى مهواه؛ فإنه ذكر غرضاً صحيحاً وقد حدث ما يوجب تغييراً على الجملة والثاني أنا لا نجيبه كما لو ارتهن عبداً فبدر منه هناةٌ قرَّبته من الهلاك فقال بيعوه أثق بثمنه لم نجبه إلا أن يمرض مرضاً يخافُ موته فيلحق التفصيل بالمطعوم الذي يُسرع الفساد إليه وقد مضى

Ya, jika seseorang berkata, “Juallah budak yang melakukan pelanggaran ini dan jadikan nilainya sebagai barang gadai; karena aku tidak mempercayainya dan dikhawatirkan ia akan melakukan sesuatu seperti sebelumnya, sedangkan nilai (uang) lebih kecil kemungkinan terkena kerusakan dibandingkan budak,” maka apakah permintaan ini dapat dikabulkan untuk tujuan tersebut? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berkata, “Kita kabulkan permintaannya, karena ia mengemukakan alasan yang benar dan telah terjadi sesuatu yang secara umum membolehkan adanya perubahan.” Pendapat kedua, “Kita tidak mengabulkannya, sebagaimana jika seseorang menggadaikan seorang budak lalu budak itu melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya hingga hampir binasa, kemudian ia berkata, ‘Juallah dia, aku lebih percaya pada harganya,’ maka kita tidak mengabulkannya, kecuali jika budak itu sakit dengan penyakit yang dikhawatirkan menyebabkan kematian, maka dalam hal ini ada perincian sebagaimana pada barang makanan yang cepat rusak, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.”

فإن قلنا لا نجيب المرتهن في مسألة الجناية فلا كلام

Jika kita mengatakan bahwa kita tidak memenuhi permintaan murtahin dalam masalah jinayah, maka tidak ada pembahasan lagi.

وإن قلنا نجيبه فنضع ثمنه إذا بعناه رهناً بالدين الذي كان متعلقاً برقبة المقتول هكذا يقع الأمر وإن كان الغرض لا يختلف في المقدار والحلول والتأجيل حتى لو كان الدين المتعلق بالقاتل أكثر لم نجعل ثمنه رهناً إلا بالدين الأقل؛ فإنّ بيع العبد بسبب الجناية مع تبقية القيمة في ذلك الرهن بعينه محال

Dan jika kita katakan bahwa kita memenuhi permintaannya, maka kita menjadikan harga budak tersebut ketika kita menjualnya sebagai jaminan (rahn) atas utang yang terkait dengan leher orang yang dibunuh; demikianlah keadaannya. Meskipun tujuan tidak berbeda dalam hal jumlah, jatuh tempo, dan penundaan, sehingga jika utang yang terkait dengan si pembunuh lebih besar, kita tidak menjadikan harga budak tersebut sebagai jaminan kecuali untuk utang yang lebih kecil; karena menjual budak akibat tindak pidana dengan tetap menjadikan nilai (budak) itu sebagai jaminan pada rahn yang sama adalah hal yang mustahil.

ولو اختلف الجنس وكان أحدهما دنانيرَ والآخر دراهم ولكنَّ المقدارين متساويان في المالية وكانت الدراهم بحيث لو قومت بالدنانير لبلغت قيمتُها مبلغَ الدنانير التي هي أحد الدينين فليس اختلاف الجنس من اختلاف الغرض ولو كان الدينان متفاوتين بالحلول والتأجيل فهذا من الأغراض ولا فرق بين أن يكون دينُ المقتول مؤجلاً أو حالاً؛ إذ في الحال غرض ليس في المؤجل وفي المؤجل غرض ليس في الحال؛ فإن القاتل لو كان رهناً بالحال نقلنا إلى المؤجل ليتوثق ويستوفى الحالُّ في الحال وإن كان القاتل رهناً بالمؤجَّل ننقله إلى الحالّ فيبيعه فيه وهذا غرض ظاهر

Jika jenisnya berbeda, misalnya salah satunya dinar dan yang lain dirham, namun kedua jumlah tersebut setara dalam nilai finansial, dan dirham tersebut jika dinilai dengan dinar akan mencapai nilai yang sama dengan dinar yang merupakan salah satu dari dua utang itu, maka perbedaan jenis bukanlah perbedaan tujuan. Namun, jika kedua utang itu berbeda dalam hal jatuh tempo—yang satu sudah jatuh tempo dan yang lain masih ditangguhkan—maka ini termasuk tujuan (yang diperhitungkan). Tidak ada perbedaan apakah utang korban itu ditangguhkan atau sudah jatuh tempo; sebab pada utang yang sudah jatuh tempo terdapat tujuan yang tidak ada pada utang yang ditangguhkan, dan pada utang yang ditangguhkan terdapat tujuan yang tidak ada pada utang yang sudah jatuh tempo. Jika si pembunuh menjadi jaminan atas utang yang sudah jatuh tempo, maka kita pindahkan ke utang yang ditangguhkan agar lebih terjamin dan utang yang sudah jatuh tempo dapat segera dilunasi. Jika si pembunuh menjadi jaminan atas utang yang ditangguhkan, maka kita pindahkan ke utang yang sudah jatuh tempo agar dapat dijual di situ, dan ini adalah tujuan yang jelas.

ومبنى المسألة على اتباع الغرض فإن لم يكن في النقل غرض فلا نقلَ إلا في استدعاء جواز البيع؛ فإن فيه اختلافاً ذكرته

Permasalahan ini didasarkan pada mengikuti tujuan; maka jika dalam pemindahan tidak ada tujuan, tidak ada pemindahan kecuali dalam rangka meminta kebolehan jual beli; karena dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan.

وإنما ينتظم ذكر الأغراض إذا فرعنا على أنه لا يجاب إلى بيع القاتل إذا لم يلُح غرضٌ غيرُ البيع

Penyebutan tujuan-tujuan hanya menjadi teratur jika kita berpendapat bahwa permintaan untuk menjual pembunuh tidak dikabulkan apabila tidak tampak tujuan lain selain penjualan.

ثم ذكرَ الشافعي إقرارَ العبد المرهون بما يوجب القصاص وبما يوجب المال وقد تقدم القول فيهما وذكرنا التفصيل فيه إذا أقر بما يوجب القصاص وقبلنا إقرارَه في العقوبة فعفا المقَرُّ له على مالٍ

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan pengakuan budak yang digadaikan terhadap sesuatu yang mewajibkan qishāsh dan sesuatu yang mewajibkan pembayaran harta. Telah disebutkan pembahasan tentang keduanya sebelumnya, dan kami telah menjelaskan rinciannya apabila ia mengaku terhadap sesuatu yang mewajibkan qishāsh, lalu kami menerima pengakuannya dalam hal hukuman, kemudian orang yang diakui berhak memaafkan dengan ganti harta.

ثم قال فإن كان السيد أمر العبد بالجناية إلى آخره

Kemudian ia berkata: Jika tuan memerintahkan budaknya untuk melakukan kejahatan, dan seterusnya.

إذا رهن عبداً وأقبضه ثم أمره بالجناية فإن كان مميَّزاً ولم يصدر من السيد إكراهٌ فلا أثر لأمره فيما يتعلق بأحكام الجناية وحكم الجناية الصادرةِ عن أمره كحكم الجناية التي يستبدّ بها وإن كان غير مميز ولكن كان ألِفاً لاتِّباع أمر سيده إلفَ السبُع لمن يقوم عليه وكان يسترسل في الجناية عند الأمر طبعاً استرسالَ السبع عند الإشلاء والإغراء فإذا أشار السيد إلى مثل هذا العبدِ فانطلق وقتل إنساناً أما السيد فحكمه حكم المكرِه على القتل وأمّا العبد فلا شك أنه لا يتعرض لاستحقاق عقوبة ولا تمييز له فالعقوبة على المكلّف وفي تعلق الأرش برقبة مثل هذا العبد وجهان مشهوران أحدهما أنه يتعلق برقبته بصدور عين الفعل منه

Jika seseorang menggadaikan seorang budak dan menyerahkannya, kemudian memerintahkannya untuk melakukan kejahatan, maka jika budak itu sudah mumayyiz (dapat membedakan) dan tidak ada paksaan dari tuannya, perintah tuannya tidak berpengaruh dalam hukum kejahatan tersebut, dan hukum kejahatan yang dilakukan atas perintah tuannya sama dengan hukum kejahatan yang dilakukan secara mandiri. Namun jika budak itu belum mumayyiz, tetapi sudah terbiasa mengikuti perintah tuannya sebagaimana binatang buas yang terbiasa mengikuti orang yang mengurusnya, dan ia secara naluriah akan melakukan kejahatan ketika diperintah, sebagaimana binatang buas ketika diperintah untuk menyerang, maka jika tuan memberi isyarat kepada budak seperti ini lalu budak itu pergi dan membunuh seseorang, maka hukum bagi tuan adalah seperti hukum orang yang memaksa melakukan pembunuhan, sedangkan budak tersebut jelas tidak dikenai hukuman atau tanggung jawab karena tidak memiliki kemampuan membedakan, sehingga hukuman dibebankan kepada pihak yang mukallaf (berakal dan baligh). Adapun mengenai apakah diyat (ganti rugi) terkait dengan leher budak seperti ini, terdapat dua pendapat yang masyhur; salah satunya adalah diyat tetap terkait pada leher budak karena perbuatan itu benar-benar keluar darinya.

والثاني لا يتعلق برقبته فإنه كالآلة المردَّدة وكالسبع يغريه القائم عليه ثم لا يتعلق برقبة الفهد المغرَى شيء كما لا يتعلق بالسيف والأسلحة

Yang kedua tidak berkaitan dengan tanggungan pelakunya, karena ia seperti alat yang digunakan berulang-ulang, dan seperti binatang buas yang diarahkan oleh pemiliknya, maka tidak ada tanggungan atas pemilik cheetah yang diarahkan, sebagaimana tidak ada tanggungan atas pedang dan senjata.

ولو أكره السيد عبدَه المختارَ على الجناية ففي المكرَه قولان وتفاصيل طويلة ستأتي في كتاب الجراح إن شاء الله تعالى

Jika seorang tuan memaksa budaknya yang berakal untuk melakukan tindak kejahatan, maka mengenai budak yang dipaksa terdapat dua pendapat dan rincian yang panjang, yang insya Allah akan dijelaskan dalam Kitab al-Jināyāt.

وقدر غرضنا منها أنا إن جعلنا المكرَه كالآلة ولم نعلِّق به غرضاً ولا عقوبة فلا يمتنع أن نخرّج المسألةَ فيه على وجهين في أن الأرش هل يتعلق برقبته أم لا كما ذكرناه في العبد الأعجمي ولا يبعد أن يرتب ويجعل المكرَه أولى بأن يتعلق برقبته من قِبَل أن التكليف ليس منقطعاً عنه وإن كان مُكرهاً على القتل فتأثيمه من أحكام ثبوت اختياره وليس كالعبد الأعجمي

Tujuan kami dari pembahasan ini adalah bahwa jika kita menganggap orang yang dipaksa seperti alat dan tidak mengaitkan padanya tujuan atau hukuman apa pun, maka tidak mustahil kita mengeluarkan masalah ini dalam dua pendapat: apakah diyat (arasy) itu berkaitan dengan dirinya atau tidak, sebagaimana telah kami sebutkan pada budak asing. Tidaklah jauh kemungkinan untuk mengaturnya dan menjadikan orang yang dipaksa lebih utama untuk dikaitkan diyat pada dirinya, karena taklif (pembebanan hukum) tidak terputus darinya meskipun ia dipaksa untuk membunuh. Maka, dosa tetap berlaku sebagai hukum atas tetapnya pilihan pada dirinya, dan ia tidak sama dengan budak asing.

وحقائق هذه الفصول تأتي في الجنايات إن شاء الله تعالى

Hakikat dari pembahasan-pembahasan ini akan dijelaskan pada bab jinayat, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال ولو أذن له فرهنه فجنى فبيع في الجناية فأشبهُ الأمرين أنه كير ضامنٍ وليس كالمستعير الذي منفعته مشغولة إلى آخره

Dia berkata: “Jika seseorang mengizinkannya, lalu ia menggadaikannya, kemudian barang gadai itu melakukan tindak pidana sehingga dijual karena tindak pidana tersebut, maka menurut pendapat yang lebih mendekati, ia tidak wajib menanggung (kerugian), dan tidak seperti orang yang meminjamkan barang yang manfaatnya masih terikat hingga selesai.”

إذا استعار رجل عبداً من مالكه ليرهنه بدين عليه فقد أطلق الأصحاب أنه إذا رهن العبد المستعار بإذن مولاه فالرهن جائز ثم قالوا في حقيقة هذا الرهنِ قولان؛ أحدهما أنه يُنحى به نحو الضمان والثاني أنه يُنحى به نحو العاريّة فنبيّن القولين ثم نوجههما ثم نفرعّ عليهما

Jika seseorang meminjam seorang budak dari pemiliknya untuk dijadikan barang jaminan atas utang yang menjadi tanggungannya, para ulama menyatakan secara umum bahwa apabila ia menjadikan budak yang dipinjam itu sebagai barang jaminan dengan izin pemiliknya, maka gadai tersebut sah. Kemudian mereka menyebutkan bahwa hakikat gadai ini terdapat dua pendapat: pertama, diposisikan seperti penjaminan; kedua, diposisikan seperti pinjaman barang (‘āriyah). Selanjutnya, kami akan menjelaskan kedua pendapat tersebut, kemudian memberikan argumentasi atas keduanya, lalu menguraikan cabang-cabang hukumnya.

أما بيانهما فمن قال سبيله سبيلُ الضمان فتقديره أنه إذا أذن للمستعير أن يُلزم رقبةَ العبد المستعار مالاً وسيد العبد وإن كان بريئاً عن دين المستعير فلو ضمنه لصار ملتزماً ماله فهذا في حكم ضمانٍ في عين العبد ومالكُ العبد متبرع به تبرّعَ الضامنين بإنشاء الضّمان

Adapun penjelasan keduanya, maka barang siapa yang mengatakan bahwa hukumnya seperti hukum dhamān (jaminan), maksudnya adalah bahwa jika pemilik mengizinkan kepada peminjam untuk membebankan harta pada budak yang dipinjam, sedangkan tuan budak itu sendiri terbebas dari utang si peminjam, maka jika ia menjaminnya, ia menjadi orang yang menanggung hartanya. Maka ini pada hakikatnya adalah dhamān pada diri budak tersebut, dan pemilik budak telah berbuat secara sukarela sebagaimana para penjamin yang secara sukarela membuat akad dhamān.

ومن قال يجري مجرى العارية فمعناه أن المستعير ينتفع بمنافع المستعار فكأنه جعل التوثق برقبته انتفاعاً به فهذا معنى جريانه مجرى العواري

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa hal itu berjalan seperti ‘āriyah, maksudnya adalah bahwa peminjam mengambil manfaat dari barang yang dipinjam, seolah-olah menjadikan penjaminan dengan jaminan dirinya sebagai bentuk pemanfaatan terhadapnya. Inilah makna perumpamaannya dengan ‘awāri.

توجيه القولين من نزله منزلة الضمان فوجهه أن المالك بريء عن دين المستعير وإذا ثبت الرهنُ وانبرم بالقبض فموجبه اللزوم ولا وجهَ للزوم الدين في حق البريء عنه إلا الضّمان غيرَ أن المالك يتصرف في ذمته ويتصرف في أعيان ملكه ثم ملك أن يُلزم ذمته البريئة دينَ الغير بطريق الضّمانِ فيملك أن يُلزم رقبةَ ماله دينَ الغير متبرعاً وهو في الوجهين متصرِّفٌ في محل تمكنه ومِلكه غيرَ أنه إن ضمن فلا تعلق للمضمون بماله وإذا علق الدينَ بماله فلا تعلّق له بذمته

Penjelasan dua pendapat tersebut, bagi yang menyamakannya dengan jaminan (ḍamān), adalah bahwa pemilik bebas dari utang peminjam. Jika rahn telah ditetapkan dan sah dengan penyerahan, maka konsekuensinya adalah kewajiban (untuk menunaikan). Tidak ada alasan untuk mewajibkan utang atas orang yang bebas darinya kecuali melalui jaminan (ḍamān). Namun, pemilik dapat bertindak atas tanggungannya dan atas harta miliknya sendiri. Maka, ia berhak membebankan tanggungan yang bebas dari utang orang lain melalui jaminan (ḍamān), sehingga ia juga berhak membebankan harta miliknya sebagai jaminan utang orang lain secara sukarela. Dalam kedua hal tersebut, ia bertindak atas sesuatu yang ia kuasai dan miliki. Hanya saja, jika ia menjamin (menanggung utang), maka pihak yang dijamin tidak memiliki hubungan dengan hartanya. Namun, jika ia mengaitkan utang dengan hartanya, maka utang tersebut tidak berkaitan dengan tanggungannya.

ومن قال يُنحى به نحو العارية فوجهه أن الضمان محلُّه الذمة فلا يتعلق الملتزَم بعينٍ قط وهذا الحق يتعلق بالعين وراهنه مستعيرٌ فالرهن عاريةٌ في جهة مخصوصة

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa rahan (barang gadai) diperlakukan seperti ‘āriyah (barang pinjaman), alasannya adalah bahwa tanggungan (dhamān) tempatnya di dalam tanggungan jiwa (dzimmah), sehingga sesuatu yang dijaminkan tidak pernah terkait dengan suatu benda tertentu. Sementara hak ini terkait dengan benda (yang digadaikan), dan orang yang menggadaikan adalah seperti peminjam, maka rahan itu adalah ‘āriyah dalam sisi tertentu.

ونصُّ الشافعي مردَّدٌ بين القولين فإنه قال فأشبه الأمرين فكان هذا ترديداً ثم قال وليس هذا كالمستعير ففي نصه تردد وصغوُه إلى قول الضمان

Teks Imam Syafi‘i bersifat ragu-ragu antara dua pendapat, karena beliau berkata, “Maka lebih mirip dengan dua perkara tersebut,” sehingga ini merupakan suatu keraguan. Kemudian beliau berkata, “Dan ini tidak seperti orang yang meminjam,” maka dalam nash beliau terdapat keraguan dan kecenderungan kepada pendapat yang mewajibkan jaminan.

أمّا التفريع فقد اختلفت الطرق وتباينت المسالك والسبب فيه ميلُ هذا الأصل عن قياس القواعد وبعده عن الأفهام فلا يكاد يحيط بأطراف المسألة إلا فقيه موفق

Adapun dalam hal penjabaran hukum, maka metode-metodenya berbeda-beda dan jalur-jalurnya beragam. Penyebabnya adalah karena dasar hukum ini cenderung menyimpang dari qiyās terhadap kaidah-kaidah umum dan sulit dipahami oleh akal, sehingga hampir tidak ada yang mampu menguasai seluruh sisi permasalahan kecuali seorang faqih yang mendapat taufik.

فأول ما نصدّر الكلامَ به بعد ذلك أن العراقيين حَكَوْا عن ابن سريج أنه قال إن جعلنا الرهن مشبهاً بالضّمان فهو صحيح ثابت وإن قلنا يُنحَى به نحو العواري فالرهن غير صحيح؛ فإن من حُكم الرهن أن يلزم بالقبض والعارية لا تلزم فلا وجه لجمع حكميهما النقيضين ولكن كأن المعير وعد المستعير أن يرخص له في بيع المستعار وصرفِ ثمنه إلى دينه وليس بينهما إلا موعد ورجاء فإن وفى فحسن وإن أخلف فله ذلك

Hal pertama yang perlu kami sampaikan setelah itu adalah bahwa para ulama Irak meriwayatkan dari Ibn Suraij bahwa beliau berkata: Jika kita mengqiyaskan rahn (gadai) dengan dhaman (penjaminan), maka rahn itu sah dan tetap berlaku. Namun jika kita mengarahkannya seperti ‘ariyah (pinjaman pakai), maka rahn tidak sah; sebab di antara hukum rahn adalah ia menjadi wajib dengan adanya qabdh (penyerahan barang), sedangkan ‘ariyah tidak menjadi wajib, sehingga tidak ada alasan untuk menggabungkan dua hukum yang saling bertentangan tersebut. Namun seakan-akan pihak yang meminjamkan (mu‘īr) berjanji kepada peminjam (‘āri) untuk mengizinkannya menjual barang yang dipinjamkan dan menggunakan hasil penjualannya untuk membayar utangnya, dan di antara mereka berdua hanya ada janji dan harapan saja. Jika janji itu dipenuhi, maka itu baik; namun jika tidak dipenuhi, maka itu adalah haknya.

وهذا قريب في القياس بعيد في الحكاية وسيكون لنا في أثناء الفصل إلى هذا عودةٌ مقرونة بتنبيه فليقع التفريع على صحة الرهن فالتفاريع نخرّجها على القولين فنذكر من قضايا الفصل أحكاماً ونفرعّ كل حكم على القولين وإذا نجزت تعدَّينا إلى حكمٍ آخر حتى نأتي على أطراف المسألة

Hal ini dekat menurut qiyās namun jauh dalam riwayat. Kami akan kembali membahas hal ini di tengah-tengah pembahasan bab ini, disertai dengan penjelasan, maka pembahasan cabang-cabang masalah didasarkan pada keabsahan rahn. Cabang-cabang masalah ini kami keluarkan berdasarkan dua pendapat, sehingga kami sebutkan dari permasalahan bab ini beberapa hukum, lalu setiap hukum kami rincikan menurut dua pendapat tersebut. Jika satu hukum telah selesai dibahas, kami beralih ke hukum lain, hingga seluruh sisi permasalahan ini selesai dibahas.

فالذي أرى تقديمه القولُ في لزوم هذا الرهن فإن فرَّعنا على قول العارية فالذي ذكره القاضي أن للمعير أن يرجع عن إذنه قبل جريان الرهن وله أن يفسخ الرهن بعد جريانه وقبل اتصاله بالقبض فإذا اتصل بالقبض لم يملك المعيرُ فسخَ الرهن والرجوعَ في العارية؛ فإنه لو ملك ذلك لم يكن لهذا الرهن معنى ولم تحصل به الثقة

Menurut pendapat yang saya anggap lebih kuat, perlu didahulukan pembahasan tentang keharusan rukun ini. Jika kita merinci berdasarkan pendapat tentang ‘ariyah (barang pinjaman), sebagaimana disebutkan oleh al-Qadhi, maka pemberi pinjaman (al-mu‘īr) berhak menarik kembali izinnya sebelum akad rahn (gadai) berlangsung, dan ia juga berhak membatalkan akad rahn setelah akad berlangsung namun sebelum barang tersebut diserahkan (qabdh). Namun, apabila barang sudah diserahkan (qabdh), maka pemberi pinjaman tidak lagi berhak membatalkan akad rahn maupun menarik kembali barang pinjaman; sebab jika ia masih memiliki hak tersebut, maka akad rahn tidak lagi memiliki makna dan tidak akan memberikan jaminan kepercayaan.

ومن دقيق ما ينبغي أن يتأمله الناظر في هذه التفاريع الفرقُ بين المستعير وبين

Di antara hal-hal mendalam yang sepatutnya diperhatikan oleh para penelaah dalam rincian-rincian ini adalah perbedaan antara musta‘īr (peminjam) dan…

المرتهن فالعارية متمحضة على قول العارية في حق المستعير فأما المرتهن فليس مستعيراً وإذا لم يكن مستعيراً وجب أن تثبت له خاصية الرهن وهي وثيقة ولا وثيقة من غير ثقة ولا ثقة مع إمكان الرجوع ورب عارية تُفضي إلى اللزوم؛ فإن من استعار بقعةً ليدفن فيها ميتاً فدفن لم يجز نبشه إلى غير ذلك من نظائرَ ستأتي إن شاء الله تعالى

Penerima gadai dalam kasus pinjaman pakai (al-‘āriyah) sepenuhnya mengikuti ketentuan pinjaman pakai bagi peminjamnya. Adapun penerima gadai, ia bukanlah peminjam. Jika ia bukan peminjam, maka haruslah baginya tetap berlaku kekhususan gadai, yaitu sebagai jaminan. Tidak ada jaminan tanpa adanya kepercayaan, dan tidak ada kepercayaan jika masih mungkin untuk menarik kembali barang tersebut. Bahkan, ada pinjaman pakai yang dapat berujung pada keharusan (tidak dapat ditarik kembali); misalnya, seseorang meminjam sebidang tanah untuk menguburkan jenazah, lalu jenazah dikuburkan di sana, maka tidak boleh membongkar kuburan itu untuk dipindahkan ke tempat lain, dan contoh-contoh serupa akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.

وقطع صاحب التقريب والشيخ أبو محمد والأثبات من أصحاب القفال أن الرهن لا ينتهي إلى اللزوم على قول العارية؛ والمعير متى شاء رجع واستردّ وإن اتصل الرهن بالقبض

Pemilik kitab at-Taqrīb, Syekh Abu Muhammad, dan para ulama terpercaya dari kalangan sahabat al-Qaffāl menegaskan bahwa rahn (gadai) tidak menjadi wajib menurut pendapat tentang ‘āriyah (barang pinjaman); dan pemilik barang dapat kapan saja menarik kembali dan mengambil barangnya, meskipun rahn tersebut telah diserahkan (kepada penerima gadai).

وذكر صاحب التقريب وجهين في صورةٍ وهي أنه لو كان الدين مؤجلاً قال يجوز له أن يرجع بعد حلول الأجل وهل له أن يرجع قبل حلول الأجل فيه وجهان أحدهما يجوز كما لو كان حالاً إذ لم تلزم العارية

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam satu kasus, yaitu jika utang itu berjangka waktu, maka boleh baginya untuk menarik kembali setelah jatuh tempo. Adapun apakah boleh baginya untuk menarik kembali sebelum jatuh tempo, terdapat dua pendapat: salah satunya membolehkan, sebagaimana jika utangnya sudah jatuh tempo, karena pinjaman tidaklah mengikat.

والثاني يجوز؛ لأنه أقَّت إذنه ورُبط به شيء فصار كما لو أعار للغراس إلى مدة

Yang kedua diperbolehkan; karena izinnya dibatasi waktu dan dikaitkan dengan sesuatu, sehingga menjadi seperti seseorang yang meminjamkan untuk menanam sampai batas waktu tertentu.

هذا بيان اختلاف الطرق على قول العارية

Ini adalah penjelasan tentang perbedaan pendapat dalam masalah ‘ariyah.

فأما إذا فرّعنا على قول الضمان فإذا اتصل الرهنُ بالقبض لزم على هذا القول؛ ولم يملك المعير الانفراد بالرجوع وهذا على هذا القول متفق عليه بين الأصحاب

Adapun jika kita membangun pendapat atas dasar kewajiban ganti rugi, maka apabila rahn telah bersambung dengan qabdh, rahn menjadi wajib menurut pendapat ini; dan pemilik barang yang meminjamkan tidak berhak secara sepihak untuk menarik kembali barang tersebut. Dalam hal ini, menurut pendapat ini, para ulama sepakat.

ولو أراد المعير الرجوعَ بعد الرهن وقبل القبض مَلَك فإن قيل لم كان كذلك وهلا ثبت الضمان لازماً في حق المعير بنفس عقد الرهن قلنا لا شك أن المستعير يتخير قبل الإقباض في فسخ الرهن فإذا لم يلزم الرهن في حقه وعليه الدين فكيف يلزم في حق المعير والتحقيق فيه أن الرهن إذا تم حل محلَّ الضمان ولا يتم إلا إذا اتصل بقبضٍ

Jika pemilik barang yang meminjamkan ingin menarik kembali barangnya setelah akad rahn (gadai) namun sebelum barang tersebut diserahkan, maka ia berhak melakukannya. Jika ada yang bertanya, “Mengapa demikian? Bukankah seharusnya tanggungan (jaminan) itu langsung tetap atas pemilik barang sejak akad rahn dilakukan?” Maka kami katakan: Tidak diragukan lagi bahwa pihak yang menerima pinjaman (murtahin) masih memiliki hak memilih untuk membatalkan rahn sebelum penyerahan barang. Maka, jika rahn belum menjadi kewajiban baginya, padahal ia yang menanggung utang, bagaimana mungkin rahn menjadi kewajiban bagi pemilik barang? Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa rahn baru benar-benar menjadi jaminan jika telah sempurna, dan kesempurnaan itu hanya terjadi apabila telah disertai dengan penyerahan barang.

والذي يُظهر سرَّ هذا الفصل في هذا المقام أن الذين صاروا إلى أن الرهن لا ينتهي إلى اللزوم على قول العارية ما نراهم يُثبتون من الرهن إلا اسماً ولقباً وعندي أن مذهبهم موافقٌ لما حكاه العراقيون عن ابن سريج؛ فإن الرهن إذا كان لا يلزم ولا يملك الراهنُ المستعيرُ بيعَ الرهن في دينه كما سنذكره فلا أثر للحكم بصحة الرهن ويؤول القول فيه إلى وعد مجرد

Yang menunjukkan rahasia perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah bahwa mereka yang berpendapat bahwa rahn (gadai) tidak sampai pada status wajib seperti pada pendapat tentang ‘āriyah (pinjaman pakai), menurut pengamatan kami, mereka hanya menetapkan rahn itu sebatas nama dan sebutan saja. Menurut saya, mazhab mereka sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh para ulama Irak dari Ibn Suraij; sebab jika rahn itu tidak wajib dan pihak yang menggadaikan yang meminjam tidak memiliki hak untuk menjual barang gadai demi melunasi utangnya, sebagaimana akan kami jelaskan, maka tidak ada pengaruh dari penetapan sahnya rahn tersebut, dan pada akhirnya pendapat itu hanya menjadi janji semata.

ومما نفرعه أنا إذا قلنا هذا عارية وحل الحق أو وَقع الرهن بدَيْنٍ حالٍّ أوّلاً فلو أراد المستعير بيعَه وصرْفَ الثمن إلى دينه من غير مراجعةِ مالك العين لم يجد إليه سبيلاً فلا يبيعه إلا بإذن مجدد صرح بهذا معظم الأصحاب ورمز به آخرون

Di antara cabang permasalahan dari hal ini adalah bahwa jika kita mengatakan bahwa ini adalah ‘āriyah (barang pinjaman) dan hak telah jatuh tempo, atau barang tersebut menjadi rahn (barang gadai) karena utang yang telah jatuh tempo terlebih dahulu, maka jika peminjam ingin menjualnya dan menggunakan hasil penjualannya untuk membayar utangnya tanpa meminta persetujuan pemilik barang, ia tidak boleh melakukannya. Ia tidak boleh menjualnya kecuali dengan izin baru dari pemilik. Hal ini telah ditegaskan secara jelas oleh mayoritas ulama, dan sebagian lainnya hanya memberikan isyarat tentang hal ini.

وإن فرعنا على قول الضمان فلا يملك المستعير الانفراد بالبيع أيضاًً ما وجد اقتداراً على أداء الدين من ماله فإن أفلس ولم يجد ما يؤدي به دينَه فيباع المرهون في دينه وإن سَخِط المعير

Jika kita mendasarkan pada pendapat tentang kewajiban jaminan (ḍamān), maka peminjam juga tidak berhak secara mandiri menjual barang yang dipinjamkan selama masih mampu membayar utangnya dengan hartanya sendiri. Namun, jika ia bangkrut dan tidak menemukan sesuatu untuk membayar utangnya, maka barang yang digadaikan dijual untuk melunasi utangnya, meskipun pemberi pinjaman tidak rela.

فانتظم من هذا أنا إذا فرّعنا على قول العارية فلا سبيل إلى البيع في اليسار والإعسار إلا بذن مجدد ونفسُ الإذن في الرهن لا يكون إذناً في البيع وإن فرَّعنا على قول الضمان لم يجز البيع إلا عند العجز عن الأداء فإذا تحقق لم نرعَ رضا المالك المعير وما ذكره من التفريع على قول العارية يؤكد تخريجَ ابن سريج ويوهي الحكمَ بصحة الرهن فليتنبه الناظر لما يمرّ به

Maka dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa jika kita membangun pendapat berdasarkan qaul ‘āriyah, maka tidak boleh dilakukan penjualan baik dalam keadaan mampu maupun tidak mampu kecuali dengan izin yang baru, dan izin untuk melakukan rahn itu sendiri tidak dianggap sebagai izin untuk menjual. Namun jika kita membangun pendapat berdasarkan qaul ḍamān, maka penjualan tidak boleh dilakukan kecuali ketika benar-benar tidak mampu membayar. Jika hal itu telah terbukti, maka kita tidak lagi memperhatikan kerelaan pemilik barang yang meminjamkan. Apa yang disebutkan mengenai pengembangan berdasarkan qaul ‘āriyah menegaskan istinbāṭ Ibn Suraij dan melemahkan hukum sahnya rahn, maka hendaknya orang yang menelaah memperhatikan hal ini dengan seksama.

وقياسُ طريق القاضي إذا حكم بلزوم الرهن على قول العارية أن يجوز بيعُ الرهن عند الإعسار من غير مراجعة كما يجوز ذلك على قول الضمان هذا قياسه

Qiyās menurut pendapat qāḍī, jika ia memutuskan wajibnya rahn berdasarkan pendapat ‘āriyah, adalah bolehnya menjual barang yang dijadikan rahn ketika terjadi ketidakmampuan (membayar) tanpa perlu meminta persetujuan kembali, sebagaimana hal itu dibolehkan menurut pendapat ḍamān; inilah qiyās-nya.

ولكن لم يتعرض له صريحاً

Namun, hal itu tidak disebutkan secara eksplisit.

وممّا نفرعه القولُ في أن المعير هل يجبر المستعير على فك الرهن أما من قال لا يلزم الرهن على قول العارية فلا فائدة لهذا والمعيرُ مستبد بالرجوع متى شاء

Di antara cabang pembahasan ini adalah mengenai apakah pemilik barang pinjaman dapat memaksa peminjam untuk menebus barang gadai. Adapun menurut pendapat yang mengatakan bahwa gadai tidak wajib menurut pendapat tentang ‘ariyah (pinjam pakai), maka tidak ada manfaat dalam hal ini, dan pemilik barang pinjaman berhak menarik kembali barangnya kapan saja ia mau.

وإن ألزمنا الرهن على قول الضمان اتجه إجبار المعير المستعيرَ على فك الرهن

Jika kita mewajibkan adanya rahn menurut pendapat yang mengharuskan adanya jaminan, maka masuk akal untuk memaksa pemilik barang pinjaman agar membebaskan barang pinjaman tersebut dari rahn.

قال القاضي إن كان الدين حالاًّ ملك المعير إجبار المستعير على فك الرهن

Qadhi berkata: Jika utang tersebut telah jatuh tempo, maka pemilik barang yang meminjamkan berhak memaksa peminjam untuk menebus barang gadai.

سواء قلنا إنه عارية أو ضمان وليؤدِّ الدين من ماله ولا شك أن هذا في حالة يساره وإن كان الدين مؤجلاً قال خرج الإجبار على الفك على القولين فإن قلنا الرهن عارية ملك إجبارَ المستعير على الفك فأثر العاريةِ عند القاضي يظهر في الدين المؤجل وكأنه جعل الإجبار على الفك من آثار العواري

Baik kita katakan bahwa itu adalah ‘āriyah atau jaminan, hendaknya ia melunasi utang dari hartanya sendiri, dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini berlaku ketika ia mampu. Jika utangnya masih ditangguhkan, dikatakan bahwa kewajiban untuk membebaskan (barang jaminan) berlaku menurut dua pendapat. Jika kita katakan bahwa rahn adalah ‘āriyah, maka pemilik berhak memaksa peminjam untuk membebaskan (barang jaminan). Maka, pengaruh ‘āriyah di hadapan qādī tampak pada utang yang ditangguhkan, seolah-olah kewajiban untuk membebaskan (barang jaminan) termasuk akibat dari ‘awārī (barang pinjaman).

وإن قلنا الرهن ضمان فلا يملك إجبارَ المستعير على الفك كما لو ضمن ديناً مؤجلاً؛ فإنه لم يملك إجبارَ الأصيل المضمون عنه على تبرئة ذمته بأداء ما عليه من الدين

Dan jika kita mengatakan bahwa rahn adalah jaminan, maka peminjam tidak berhak memaksa pemberi pinjaman untuk melepaskannya, sebagaimana jika seseorang menjamin utang yang jatuh temponya masih di kemudian hari; ia tidak berhak memaksa pihak asli yang dijamin untuk membebaskan tanggungannya dengan melunasi utang yang menjadi kewajibannya.

ولو كان الدين حالاًّ فقد نقول يملك الضامن بإذن المضمون له إجبارَ المضمون عنه على أداء ما عليه حتى يبرأ الضامن

Jika utang tersebut telah jatuh tempo, maka bisa dikatakan bahwa penjamin, dengan izin dari yang dijamin haknya, berhak memaksa pihak yang dijamin untuk melunasi kewajibannya hingga penjamin terbebas dari tanggung jawab.

فإن قيل أليس ذلك مختلَفاً فيه قلنا نعم اختلف الأصحاب في أن من ضمن ديناً بإذن من عليه الدين فهل يملك إجبارَه على أداء ما عليه فإن يل هلاَّ خرجتم الرهن في قول الضمان على هذا الخلاف حتى تحكموا بأن إجبارَ المستعير على فك الرهن والدين يخرج على وجهين قلنا بين المسألتين فرق؛ وذلك أن الضامن قبل أن يغرَم ليس عليه بأس إلا تعلق الدين بذمته وليس كذلك ما نحن فيه؛ فإن العبد المستعار مشتغل بوثيقة الرهن فكان هذا شبيهاً بأداء الضامن ما ضمنه ولو أداه يرجع به على المضمون عنه إذا كان الضمان مأذوناً فيه وهذا مضمومٌ إلى العلم بأن الرهن ليس ضماناًً محضاً وهو مشوب نقصاً بالعارية وكأن حقيقة الخلاف راجع إلى أن المغلّبَ حكم الضمان أو حكم العارية ومن طلب من المشوبات مقتضى التمحّض لم يكن على بصيرة

Jika dikatakan, “Bukankah hal itu diperselisihkan?” Kami katakan, “Ya, para sahabat berbeda pendapat tentang apakah seseorang yang menanggung utang dengan izin dari orang yang berutang, boleh memaksa orang yang berutang untuk melunasi utangnya. Maka mengapa kalian tidak mengaitkan masalah gadai dalam pendapat tentang penjaminan (ḍamān) pada perbedaan ini, sehingga kalian memutuskan bahwa memaksa peminjam untuk menebus barang gadai dan utang itu keluar dalam dua kemungkinan?” Kami katakan, “Antara kedua masalah itu terdapat perbedaan; sebab penjamin, sebelum ia membayar, tidak ada beban atasnya kecuali keterikatan utang pada tanggungannya. Tidak demikian halnya dengan masalah yang sedang kita bahas; karena budak yang dipinjamkan sedang terikat dengan jaminan gadai, maka hal ini serupa dengan penjamin yang telah membayar apa yang dijaminnya, dan jika ia telah membayarnya, ia dapat menuntut kembali kepada orang yang dijamin jika penjaminan itu dengan izin. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan bahwa gadai bukanlah penjaminan (ḍamān) murni, melainkan bercampur kekurangan karena sifat pinjaman (‘āriyah). Seolah-olah hakikat perbedaan pendapat kembali kepada apakah yang lebih dominan adalah hukum penjaminan atau hukum pinjaman. Barang siapa yang menuntut konsekuensi dari sesuatu yang bercampur seakan-akan ia murni, maka ia tidak memiliki pandangan yang jelas.”

ومما نفرعه أن العبد المستعار المرهون لو مات في يد المرتهن فحكم الضمان مفرّع على القولين فإن أجرينا الرهن مجرى العارية وجب ضمان القيمة على المستعير؛ فإن العارية مضمونة

Di antara cabang permasalahan yang dapat diambil dari hal ini adalah jika seorang budak yang dipinjamkan kemudian digadaikan, lalu ia meninggal di tangan penerima gadai, maka hukum tanggung jawab (jaminan) didasarkan pada dua pendapat. Jika gadai diperlakukan seperti ‘ariyah (barang pinjaman), maka wajib bagi peminjam untuk menanggung nilai (budak tersebut); karena barang pinjaman itu dijamin (tanggung jawabnya).

وإذا قلنا سبيله سبيل الضمان فلا ضمان فإن قيل هلا جعلتم تلف العبد على حكم المستعير بمثابة تلف مالٍ في يد إنسانٍ قد أخذه ليصرفه إلى دينه قلنا ذلك اقتراض في الحقيقة وما نحن فيه تعليق برقبة العبد والأداء منه مرقوب فإذا فرض التلف فلا ضمان قال القاضي إذا ضَمَّنا المستعيرَ على قول العارية فلا ضمان على المرتهن؛ فإنه ليس مستعيراً وإنما المستعير هو الراهن والمرتهن يمسكه رهناً لا عارية وهذا حسن منقاس

Dan jika kita katakan bahwa hukumnya seperti hukum dhamān (tanggung jawab ganti rugi), maka tidak ada tanggungan. Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menyamakan hilangnya budak yang ada pada peminjam dengan hilangnya harta yang berada di tangan seseorang yang mengambilnya untuk digunakan membayar utangnya?” Kami katakan, itu pada hakikatnya adalah pinjaman (qardh), sedangkan yang sedang kita bahas adalah penanggungan pada budak dan pembayaran utang dari hasil budak tersebut yang dijadikan jaminan. Maka jika terjadi kehilangan, tidak ada tanggungan. Al-Qadhi berkata, “Jika kita membebankan tanggung jawab kepada peminjam menurut pendapat barang pinjaman (al-‘āriyah), maka tidak ada tanggungan atas pihak yang menerima gadai (al-murtahin); karena ia bukanlah peminjam, melainkan yang meminjam adalah pihak yang menggadaikan (ar-rāhin), sedangkan pihak yang menerima gadai hanya memegangnya sebagai barang gadai, bukan sebagai pinjaman. Dan ini adalah pendapat yang baik dan sesuai dengan qiyās.”

وإذا فرع مفرع على قول ابن سريج ففي تعليق الضمان بالمرتهن نفسِه تردّدٌ والظاهر أن لا ضمان عليه

Jika seseorang membuat cabang pendapat berdasarkan pendapat Ibnu Suraij, maka dalam hal mengaitkan tanggung jawab (dhamān) kepada pemegang gadai itu sendiri terdapat keraguan, dan yang tampak adalah tidak ada tanggung jawab atasnya.

ومما نفرعه جنايةُ العبد المستعار فإن حكمنا بأن الرهن ضمان فلا يجب على المستعير ضمان أرش الجناية؛ فإن يد المستعير على هذا القول ليست يد ضمان فما الظن على اليد المتفرعة على يده

Di antara cabang pembahasan ini adalah mengenai tindak pidana (jinayah) yang dilakukan oleh budak yang dipinjam. Jika kita berpendapat bahwa rahn (barang gadai) adalah jaminan, maka peminjam tidak wajib menanggung ganti rugi (arasy) atas tindak pidana tersebut; sebab tangan peminjam dalam pendapat ini bukanlah tangan jaminan, maka bagaimana lagi dengan tangan yang bercabang dari tangannya.

وإن قلنا الرهن عارية فيد المستعير يدُ ضمان فهل يضمن أرشَ جناية العبد المستعار فعلى وجهين مبنيّين على أن العارية تُضمن ضمان الغصوب أم لا فإن قلنا تضمن ضمان الغصوب فيضمَن أرشَ جناية العبد؛ قياساً على العبد المغصوب يجني في يد الغاصب وإن قلنا لا تضمن العاريةُ ضمان الغصوب فلا يضمن المستعيرُ أرش الجناية والأقيسُ الوجه الأول وهذا موضع نص الشافعي في المسألة فإنه قال لو أذن له فرهنه فجنى فأشبه الأمرين أنه غيرُ ضامنٍ وليس كالمستعير فالنص دليل على أن التفريع على قول الضمان وفيه دليل على أن المستعير يضمن أرشَ جناية المستعار؛ فإنه قال وليس كالمستعير

Jika kita mengatakan bahwa rahn adalah ‘āriyah, maka tangan musta‘īr adalah tangan dhamān. Apakah musta‘īr wajib menanggung diyat atas tindak pidana budak yang dipinjam? Ada dua pendapat yang dibangun atas dasar apakah ‘āriyah itu wajib ditanggung seperti barang yang dighaṣab atau tidak. Jika kita mengatakan bahwa ‘āriyah wajib ditanggung seperti barang yang dighaṣab, maka musta‘īr wajib menanggung diyat atas tindak pidana budak, dengan qiyās kepada budak yang dighaṣab lalu melakukan tindak pidana di tangan ghaṣib. Namun jika kita mengatakan bahwa ‘āriyah tidak wajib ditanggung seperti barang yang dighaṣab, maka musta‘īr tidak wajib menanggung diyat atas tindak pidana tersebut. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, dan inilah tempat nash Imam Syafi‘i dalam masalah ini. Beliau berkata: “Jika ia diizinkan lalu menggadaikannya, kemudian budak itu melakukan tindak pidana, maka yang lebih mirip dari dua keadaan adalah ia tidak wajib menanggungnya, dan ini berbeda dengan musta‘īr.” Nash ini menjadi dalil bahwa cabang masalah ini didasarkan pada pendapat wajibnya dhamān, dan di dalamnya juga terdapat dalil bahwa musta‘īr wajib menanggung diyat atas tindak pidana barang yang dipinjam, karena beliau berkata: “dan ini berbeda dengan musta‘īr.”

ومما يتفرع على القولين أن العبد إذا بيع في دين المستعير إما بإذنٍ مجرّد أو بتصوير الاضطرار من المستعير فبماذا الرجوع وكيف السبيل لا شك أن المستعير إذا صرف ثمنَ العبد إلى دينه حيث يصح ذلك فالسيد يرجع على المستعير فإنْ بِيع بمقدار قيمته فلا كلام

Salah satu cabang dari dua pendapat tersebut adalah bahwa apabila seorang budak dijual untuk membayar utang peminjam, baik dengan izin semata atau dalam keadaan terpaksa dari pihak peminjam, maka bagaimana cara pengembaliannya dan apa jalannya? Tidak diragukan lagi bahwa jika peminjam menggunakan harga budak tersebut untuk membayar utangnya, di mana hal itu sah, maka tuan budak berhak menuntut kepada peminjam. Jika budak dijual seharga nilai wajarnya, maka tidak ada masalah.

وإن كانت قيمتُه ألفاً واتفق بيعه بألفٍ ومائةٍ فمالك العبد بكم يرجع على المستعير إذا صرف الثمن كاملاً في دينه هذا ينبني على القولين فإن قلنا الرهن ضمان فالرجوع على المستعير بالثمن بالغاً ما بلغ ووجهه بيّن وإن فرعنا على قول العارية فالرجوع على المستعير بكم فعلى وجهين أحدهما أنه يرجع عليه بالثمن أيضاًً وهو قياس بيّن والثاني أن المعير يرجع على المستعير بالقيمة ولا يجد مرجعاً بالمائة الزائدة عليها؛ فإن العارية سبيلُ ضمانها القيمةُ فلا يرجع المعير إلا بها ولا يرجع بالزائد عليها

Jika nilai barang itu seribu, lalu disepakati penjualannya seharga seribu seratus, maka dengan berapa pemilik budak dapat menuntut kepada peminjam jika seluruh harga tersebut digunakan untuk membayar utangnya? Masalah ini bergantung pada dua pendapat. Jika kita mengatakan bahwa rahn (gadai) adalah jaminan, maka pemilik dapat menuntut kepada peminjam sebesar harga penjualan, berapapun jumlahnya, dan alasannya jelas. Namun, jika kita mengikuti pendapat tentang ‘āriyah (pinjaman pakai), maka dengan berapa pemilik dapat menuntut kepada peminjam? Ada dua pendapat: pertama, ia juga dapat menuntut sebesar harga penjualan, dan ini adalah qiyās yang jelas; kedua, pemberi pinjaman hanya dapat menuntut kepada peminjam sebesar nilai barang, dan tidak dapat menuntut kelebihan seratus di atasnya, karena dalam ‘āriyah, jaminannya adalah nilai barang, sehingga pemberi pinjaman hanya dapat menuntut nilai itu saja dan tidak dapat menuntut kelebihannya.

وهذا ضعيفٌ في القياسِ ولا أصل لاستبداد المستعير بالزائد على القيمة وهو من ثمن ملك المعير ولم يجرِ ما يتضمن اختصاصَ المستعير به وهذا الوجه على ضعفه لم يَحْكِ القاضي على قول العارية غيرَه

Ini lemah dalam qiyās dan tidak ada dasar bagi peminjam untuk secara sepihak mengambil kelebihan dari nilai barang, karena itu merupakan bagian dari harga milik pemilik barang, dan tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan bahwa peminjam berhak secara khusus atas kelebihan tersebut. Pendapat ini, meskipun lemah, tidak disebutkan oleh qadhi adanya pendapat lain dalam masalah ‘āriyah.

وممّا يتفرع على القولين أن العبد المستعار لو كانت قيمتُه العدل مائة فبيع بمائة إلا دينار أو أكثر ولم ينته النقصانُ إلى مبلغٍ يعد غبناً بل كان مقداراً يتغابن الناسُ في مثله فإذا جرى ذلك وصرفه المستعير إلى دينه فإن قلنا الرهن ضمان لم يرجع المعير على المستعير إلا بمقدار الثمن وإن قلنا الرهن عارية رجع المعير بالقيمة الكاملة وهي المائة ولم يحط القدرَ الذي يتغابن في مثله

Di antara cabang dari dua pendapat tersebut adalah jika seorang budak yang dipinjamkan nilainya menurut keadilan adalah seratus, lalu dijual dengan harga seratus dikurangi satu dinar atau lebih, namun kekurangannya tidak sampai pada batas yang dianggap sebagai kerugian besar, melainkan pada kadar yang biasa terjadi dalam transaksi jual beli di antara manusia, maka jika hal itu terjadi dan peminjam menggunakan hasil penjualannya untuk membayar utangnya, maka jika kita berpendapat bahwa rahn (gadai) adalah jaminan, pemilik barang tidak dapat menuntut kepada peminjam kecuali sebesar harga jualnya. Namun jika kita berpendapat bahwa rahn adalah ‘āriyah (pinjaman pakai), maka pemilik barang dapat menuntut nilai penuh, yaitu seratus, dan tidak mengurangi kadar yang biasa terjadi dalam transaksi jual beli.

ومما نفرعه أنا إذا قلنا الرهن عارية فلا حاجة إلى إعلام القدر الذي سيقع الرهنُ به ويكفي أن يستعير عبدَه مطلقاًً ويستأذنَه أن يرهنه ولا يشترط أن يُبيِّن جنسَ ما يقع الرهن به وقدرَه ولا كونَه حالاً أو مؤجلاً

Di antara cabang dari masalah ini adalah bahwa jika kita mengatakan rahn (gadai) adalah ‘āriyah (pinjaman pakai), maka tidak perlu memberitahukan jumlah yang akan dijadikan rahn, cukup seseorang meminjamkan hambanya secara mutlak dan meminta izin kepadanya untuk menggadaikannya, dan tidak disyaratkan untuk menjelaskan jenis barang yang akan dijadikan rahn, jumlahnya, maupun apakah barang itu bersifat tunai atau tangguh.

وإن قلنا الرهن ضمان فلا بد من إعلام الجنس والقدر والتعرض لبيان الحلول والتأجيل فإن الإعلام شرطٌ في صحة الضمان

Dan jika kita mengatakan bahwa rahn adalah jaminan, maka wajib untuk memberitahukan jenis dan jumlahnya serta menyebutkan waktu jatuh tempo dan penundaan, karena pemberitahuan merupakan syarat sahnya jaminan.

وإذا قلنا إعلام هذه الأشياء ليس بشرط على قول العارية فلو نصَّ المعير على شيء منها لم يكن للمستعير أن يخالفَه ويزيدَ وإن كان يجوز إطلاق الإذن من غير إعلامٍ وذلك لأنه إذا أمَرَ وقدَّر فيجب إيقاع أمره؛ فإنه المستند والمعتمد في الباب

Dan apabila kita mengatakan bahwa memberitahukan hal-hal ini bukanlah syarat menurut pendapat tentang ‘āriyah, maka jika pemberi pinjaman secara tegas menyebutkan salah satu di antaranya, peminjam tidak boleh menyelisihinya dan menambah, meskipun diperbolehkan memberikan izin secara mutlak tanpa pemberitahuan. Hal ini karena apabila ia memerintahkan dan menentukan, maka wajib melaksanakan perintahnya; sebab dialah sandaran dan acuan dalam masalah ini.

ومن ذلك أنا على قول العارية لا نشترط أن يعيّن المعير من يرهن منه المستعار بل يجوز إجراء الإذن فيه على الإطلاق فلو عيّن المعيرُ شخصاً فلا يجوز للمستعير أن يرهنه من غيره؛ لما ذكرناه من وجوب اتباع الأمر ولو قال المستعير أرهنه من فلان فكان التعيين من جهته ولم يصدر من المعير اقتراحٌ فيه ولكنه نزَّل الإذنَ على حسب التماس المستعير فالذي يقتضيه الرأي أن من عيَّنه المستعير يتعيّن وإن لم يعين المعيرُ بتعيينه ابتداءً؛ فإن كلام المعير مبنيّ على كلام المستعير منزّل عليه

Di antara hal tersebut adalah bahwa menurut pendapat tentang ‘āriyah, kita tidak mensyaratkan agar pemilik barang meminjamkan harus menentukan kepada siapa barang pinjaman itu boleh digadaikan, melainkan boleh saja memberikan izin secara umum. Maka jika pemilik barang menentukan seseorang, tidak boleh bagi peminjam untuk menggadaikannya kepada selain orang tersebut; karena sebagaimana telah disebutkan, wajib mengikuti perintah. Namun jika peminjam berkata, “Saya akan menggadaikannya kepada si Fulan,” sehingga penentuan itu berasal dari pihak peminjam dan tidak ada usulan dari pemilik barang, melainkan izin itu diberikan sesuai permintaan peminjam, maka pendapat yang tepat adalah bahwa orang yang ditunjuk oleh peminjam menjadi orang yang ditentukan, meskipun penunjukan itu bukan berasal dari pemilik barang sejak awal; karena ucapan pemilik barang didasarkan pada ucapan peminjam dan mengikuti permintaannya.

ولو فرعنا على قول الضمان فعيَّن المعيرُ شخصاً ولم يرضَ أن يرتهن غيرَه فلا مَعْدل عنه وإن أطلق ولم يتعرض لتعيين المرتهن والتفريع على قول الضّمان ووجوب الإعلام فهل يصح الإذن على هذا الوجه مطلقاً من غير تعيين من يرتهن فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب أحدهما أنه لا يصح الإذنُ مع الإطلاق في ذكر المرتهن حتى يُعيَّن والثاني لا حاجة إلى ذلك والمستعير يرهنه ممن شاء

Jika kita membangun pendapat berdasarkan kewajiban dhaman (tanggung jawab), lalu pemberi pinjaman barang (mu‘īr) menentukan seseorang dan tidak rela jika yang menerima gadai adalah selain orang itu, maka tidak boleh beralih darinya. Namun jika ia membebaskan dan tidak menyebutkan penentuan penerima gadai, dan kita membangun pendapat berdasarkan kewajiban dhaman serta kewajiban pemberitahuan, maka apakah sah izin dengan cara ini secara mutlak tanpa penentuan siapa yang menerima gadai? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb: salah satunya, tidak sah izin secara mutlak tanpa menyebutkan penerima gadai sampai ia ditentukan; dan yang kedua, tidak perlu hal itu, dan peminjam boleh menggadaikannya kepada siapa saja yang ia kehendaki.

وهذا الخلاف ينبني على تردد الأصحاب في أنا هل نشترط في صحة الضمان أن

Perselisihan ini didasarkan pada keraguan para ulama mengenai apakah kita mensyaratkan dalam keabsahan dhamān bahwa…

يكون المضمون له معلوماً أمْ لا ثم قال الأصحاب لا يجوز للمستعير أن يخالف المعير فيما رسم له؛ فإن أصل أمره على اتباع الإذن حتى لو أذن في الرهن بدراهم لم يجز الرهن بالدنانير وكذلك القول في عكس هذا ولو أذن في الرهن بالحال لم يرهن بالمؤجل وكذلك لو أذنَ في الرهن المؤجل لم يرهن بالحال والأغراض تختلف بالحلول والتأجيل ولا يكاد يخفى تقريره؛ فيجب اتباع مراسم المعير المالك

Baik isi yang dijaminkan itu diketahui atau tidak, kemudian para ulama berpendapat bahwa tidak boleh bagi peminjam untuk menyelisihi pemberi pinjaman dalam hal yang telah ditetapkan olehnya; karena pada dasarnya urusan ini mengikuti izin yang diberikan, sehingga jika diizinkan untuk menjaminkan dengan dirham, maka tidak boleh menjaminkan dengan dinar, begitu pula sebaliknya. Jika diizinkan menjaminkan dengan barang yang tunai, maka tidak boleh dijaminkan dengan barang yang ditangguhkan, begitu pula jika diizinkan menjaminkan dengan barang yang ditangguhkan, maka tidak boleh dijaminkan dengan barang yang tunai. Karena tujuan-tujuan berbeda antara yang tunai dan yang ditangguhkan, dan penjelasannya hampir tidak tersembunyi; maka wajib mengikuti ketentuan pemberi pinjaman yang merupakan pemilik.

ولو قال للمستعير أذنت لك في أن ترهنه بمائةٍ فلو رهنه بخمسين جاز ذلك ولا يعد النقصان في المقدار مخالفةً بل إذا نقص فقد زاد بالنقصان خيراً وحطَّ وبالاً وضُرّاً؛ فهو بمثابة ما لو قال مالك المتاع لوكيله بعْ هذا العبدَ بألف فلو باعه الوكيل بألفين صح ولا مرد لتلك الزيادة والرجوع في أمثال هذا إلى العرف ومعلوم أن هذا لا يعد مخالفة بل يعد موافقةً وسنذكر تحقيقَ هذا في كتاب الوكالة إن شاء الله تعالى

Dan jika pemilik barang berkata kepada peminjam, “Aku izinkan kamu untuk menggadaikannya dengan nilai seratus,” lalu peminjam menggadaikannya dengan nilai lima puluh, maka hal itu tetap sah dan pengurangan jumlah tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran. Bahkan, jika nilainya berkurang, berarti ia telah menambah kebaikan dengan pengurangan itu dan mengurangi beban serta mudarat. Hal ini serupa dengan kasus ketika pemilik barang berkata kepada wakilnya, “Juallah budak ini seharga seribu,” lalu sang wakil menjualnya seharga dua ribu, maka penjualan itu sah dan kelebihan harga tersebut tidak dapat dibatalkan. Dalam kasus-kasus seperti ini, rujukannya adalah kebiasaan (‘urf), dan sudah diketahui bahwa hal tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran, melainkan sebagai kesesuaian. Kami akan menjelaskan hal ini secara rinci dalam Kitab al-Wakālah, insya Allah Ta‘ala.

ولو قال المعير ارهنه بألفٍ فرهنه بألفين فالزيادة مخالفة ثم قال معظم الأصحاب إذا خالف وزاد لم يصح الرهن في مقدار الموافقة أيضاً؛ لأنه بنى صيغة العقد على مخالفة المالك فلم يصح

Jika pemberi pinjaman berkata, “Gadaikanlah dengan seribu,” lalu digadaikan dengan dua ribu, maka tambahan tersebut merupakan bentuk penyimpangan. Kemudian mayoritas ulama berpendapat, jika terjadi penyimpangan dengan menambah, maka gadai tidak sah bahkan pada jumlah yang sesuai sekalipun; karena ia membangun akad atas dasar penyimpangan dari kehendak pemilik, sehingga tidak sah.

وخرّج صاحب التقريب قولاً آخر أن الرهن يصح في المقدار الذي عينه المعير ورضي به والزيادة مردودة وزعم صاحب التقريب أن هذا يُخرّج على اختلاف القولى في تفريق الصفقة؛ فإنه جمع بين ألفٍ لا إذن فيه وبين ألفٍ مأذونٍ فيه فإذا بطل العقد في الألف الزائد ففي المزيد الخلافُ الذي ذكرناه

Penulis kitab at-Taqrīb mengemukakan pendapat lain bahwa rahn (gadai) sah pada jumlah yang telah ditentukan oleh pemberi pinjaman dan disetujui olehnya, sedangkan kelebihan dari jumlah itu ditolak. Penulis at-Taqrīb berpendapat bahwa hal ini didasarkan pada perbedaan pendapat dalam masalah tafrīq ash-shafqah (memisahkan akad); karena dalam kasus ini digabungkan antara seribu yang tidak diizinkan dan seribu yang diizinkan. Jika akad batal pada seribu yang melebihi, maka pada tambahan tersebut terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.

وهذا لم يصححه المحققون ورأَوْا القطعَ ببطلان الرهن

Hal ini tidak dibenarkan oleh para peneliti, dan mereka berpendapat tegas bahwa rahn tersebut batal.

ولا خلاف أن من وكل إنساناً ببيع عبد واقتضى مطلقُ التوكيل البيعَ بثمن المثل فلو باعه بغبنٍ فالبيع مردود ولا يقال نصحح البيعَ في مقدارٍ من العبد يكون الثمن قيمة عدلٍ له ونحذف جزءاً من العبد عن مقتضى العقد وتقديرُ الزيادة في المبيع كتقدير الزيادة في الثمن إذا وقعت الزيادة على موجب المخالفة

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa apabila seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menjual seorang budak, dan perwakilan itu bersifat mutlak, maka yang dimaksud adalah menjual dengan harga yang sepadan. Jika ia menjualnya dengan harga yang merugikan (ghabn), maka jual beli tersebut batal. Tidak dapat dikatakan bahwa kita membenarkan jual beli itu pada sebagian dari budak yang nilainya sepadan dengan harga yang adil, lalu kita mengeluarkan sebagian dari budak itu dari konsekuensi akad. Menetapkan adanya tambahan pada objek yang dijual sama saja dengan menetapkan tambahan pada harga apabila tambahan itu terjadi karena pelanggaran terhadap ketentuan.

ثم قال القاضي لو جرى الرهن واتصل بالقبض ثم إنَّ المالك المعير أعتق عبده فنفوذ عتقه يخرّج على القولين فإن قلنا الرهن ضمان فالعتق ينفذ وإن قلنا إنه عارية فإعتاقه إياه بمثابة إعتاق الراهن المالك العبدَ المرهون وفيه الأقوال المعروفة وهذا خرّجه القاضي على طريقةٍ في الحكم بلزوم الرهن على قول العارية ثم رأى الرهنَ على قول العارية رهناً محضاً في حق المرتهن لازماً ورآه على قول الضمان غير متأكد في التعلق بالرقبة ومعظم الأصحاب على مخالفته في ذلك؛ فإنهم ضعفوا الرهنَ وحكمَه على قول العارية وألزموه وأكدوه على قول الضمان

Kemudian, kata al-Qadhi: Jika akad rahn telah terjadi dan diikuti dengan penyerahan barang, lalu pemilik yang meminjamkan memerdekakan budaknya, maka keabsahan pemerdekaannya dikembalikan kepada dua pendapat. Jika kita katakan rahn adalah jaminan, maka pemerdekaan itu sah. Namun jika kita katakan rahn adalah pinjaman (‘āriyah), maka memerdekakan budak tersebut sama seperti pemilik rahn memerdekakan budak yang sedang digadaikan, dan dalam hal ini terdapat pendapat-pendapat yang sudah dikenal. Al-Qadhi mengaitkan hal ini dengan metode penetapan hukum tentang wajibnya rahn menurut pendapat ‘āriyah. Kemudian ia memandang rahn menurut pendapat ‘āriyah sebagai rahn murni yang mengikat bagi pihak yang menerima gadai, dan memandangnya menurut pendapat jaminan tidak terlalu kuat dalam keterkaitannya dengan kepemilikan budak. Mayoritas ulama berbeda pendapat dengannya dalam hal ini; mereka melemahkan rahn dan hukumnya menurut pendapat ‘āriyah, dan mewajibkan serta menguatkannya menurut pendapat jaminan.

وما ذكره جارٍ على قياسه ولكن في قطعه بنفوذ العتق على قولِ الضمان كلام

Apa yang disebutkan itu sesuai dengan qiyās-nya, namun dalam penegasannya tentang berlakunya pembebasan budak menurut pendapat dhamān, masih terdapat pembahasan.

والوجه عندنا تنزيلُ العبد على قول الضمان منزلة العبد الجاني الذي تعلق الأرش برقبته وقد فصلنا القول في بيعه ورهنه

Menurut kami, posisi budak dalam pernyataan penjaminan disamakan dengan budak pelaku kejahatan yang diyatnya melekat pada lehernya, dan kami telah merinci pembahasan tentang penjualan dan penggadaiannya.

ومما يتم به بيان الفصلِ أن القاضي سئل في التفريع على قول الضمان وقيل له لو قال مالك العبد ضمنت ما لفلان عليك في رقبة عبدي هذا فكيف حكم هذا فقال إذا فرعنا على قول الضمان تعلّق الدين برقبة العبد وكان بمثابة الرهن المستعار فإن شئنا قلنا رهن العبد المستعار ضمانٌ في رقبته أو قلنا الضمان في رقبته رهنٌ

Dan di antara hal yang menyempurnakan penjelasan bab ini adalah bahwa seorang qadhi ditanya dalam kitab at-Tafri‘ berdasarkan pendapat tentang dhaman (jaminan), lalu dikatakan kepadanya: Jika pemilik budak berkata, “Aku menjamin apa yang menjadi hak Fulan atasmu dengan budakku ini sebagai tanggungan,” bagaimana hukumnya? Maka beliau menjawab: Jika kita merinci berdasarkan pendapat tentang dhaman, maka utang tersebut terkait dengan budak itu, dan kedudukannya seperti barang gadai yang dipinjamkan. Jika kita mau, kita bisa mengatakan bahwa gadai budak yang dipinjamkan adalah dhaman pada dirinya, atau kita bisa mengatakan bahwa dhaman pada dirinya adalah gadai.

وهذا الذي ذكره حسن بالغ على الجملة ولكن فيه تفصيل فإذا قال مالك العبد لمستعيره ارهنه بدينك فقد أنابه مناب نفسه في الضمان في رقبة عبده فاجتمع رضا المالك وإنشاءُ الرهن وقبولُ المرتهن وإذا قال المالك ضمنت ما لفلان عليك في رقبة هذا العبد ولم يُوجَد قبولٌ من المضمون له ففي هذا تردُّدٌ

Apa yang disebutkan itu secara umum adalah baik, namun di dalamnya terdapat perincian. Jika pemilik budak berkata kepada orang yang meminjam budaknya, “Gadaikanlah budak itu untuk utangmu,” maka ia telah menempatkannya sebagai wakil dirinya dalam penjaminan atas budaknya. Maka berkumpullah kerelaan pemilik, akad rahn, dan penerimaan dari pihak yang menerima gadai. Namun jika pemilik berkata, “Aku menjamin utang si Fulan kepadamu dengan budak ini,” tetapi tidak ada penerimaan dari pihak yang dijamin, maka dalam hal ini terdapat keraguan.

وظاهرُ كلام القاضي أن ذلك يكفي تفريعاً على أنه لا يشترط في الضمان رضا المضمون له

Tampaknya menurut pendapat al-Qadhi, hal itu sudah cukup jika didasarkan pada pendapat bahwa dalam dhaman tidak disyaratkan kerelaan pihak yang dijamin.

ويجوز أن يقال ذلك في الضمان المطلق الذي يرد على الذم فأما ما يتعلق بالأعيان فلا بُدّ من تقريبه من الرهون وشرط صحتها القبولُ من المرتهن

Dan boleh dikatakan demikian pada dhaman mutlak yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah). Adapun yang berkaitan dengan benda-benda tertentu, maka harus didekatkan dengan rahn, dan syarat sahnya adalah adanya penerimaan (qabul) dari pihak murtahin.

ويجوز أن يقال إنما يفتقر إلى القبول إذا جرى على صيغة الرهن فأمّا إذا وقع الضّمان مصرّحاً به فلا حاجة إلى ذلك وقد تختلف الشرائط باختلاف الألفاظ وإن اتحد المقصود؛ فإن المذهب أن الإبراء لا يفتقر إلى القبول ولو قال مستحق الدين لمن عليه الدين وهبت منك الدين الذي لي عليك فالأصح افتقارُ ذلك إلى القبول

Boleh dikatakan bahwa kebutuhan akan adanya penerimaan itu hanya diperlukan jika dilakukan dengan lafaz rahn (gadai). Adapun jika dilakukan dengan lafaz dhamān (penjaminan) secara tegas, maka tidak diperlukan adanya penerimaan. Syarat-syarat bisa berbeda-beda tergantung pada lafaz, meskipun maksudnya sama. Menurut mazhab, ibra’ (pembebasan utang) tidak memerlukan penerimaan. Namun, jika orang yang berhak atas utang berkata kepada orang yang berutang, “Aku hibahkan kepadamu utangku yang ada padamu,” maka pendapat yang lebih sahih adalah hal itu membutuhkan penerimaan.

وقد نجز الكلام في رهن المستعار على أبلغ وجه في البيان

Pembahasan mengenai gadai atas barang pinjaman telah selesai disampaikan dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya.

فصل

Bagian

قال والخصمُ فيما جُني على العبد سيدُه إلى آخره

Ia berkata: “Dan pihak yang menjadi lawan dalam perkara yang menimpa seorang budak adalah tuannya,” dan seterusnya.

إذا جنى جانٍ على العبد المرهون فقد قال الشافعي الخصمُ فيما جُني على العبد سيده فإن أحب المرتهن حصر خصومتَه فإذا قُضي له بشيء أخذه رهناً هذا لفظُ الشافعي فنقول إذا جُني على العبد المرهون جناية نُظر فيها فإن كان موجَبها مالٌ فقد تضمنت الجنايةُ إتلاف مالية وتضمنت فواتَ حق الوثيقة للمرتهن في ذلك الفائت فافتتاحُ الخصومة للمالك؛ فإن الأصل هو الملك وحق الرهن متفرع عليه وإذا بدأ المالك الخصومة لم يزاحمه المرتهن فإذا ثبت حق الملك ابتنى عليه حقُّ الرهن

Jika seseorang melakukan tindak pidana terhadap budak yang dijadikan barang jaminan (rahn), Imam Syafi’i berkata bahwa pihak yang berhak menggugat atas tindak pidana terhadap budak tersebut adalah tuannya. Namun, jika pihak yang menerima jaminan (murtahin) ingin membatasi gugatan hanya untuk dirinya, maka jika diputuskan sesuatu untuknya, ia mengambilnya sebagai barang jaminan. Inilah redaksi dari Imam Syafi’i. Maka kami katakan, jika terjadi tindak pidana terhadap budak yang dijadikan barang jaminan, maka harus dilihat terlebih dahulu. Jika akibat tindak pidana itu adalah harta, maka tindak pidana tersebut mencakup kerusakan nilai harta dan juga hilangnya hak sebagai jaminan bagi murtahin atas bagian yang hilang itu. Oleh karena itu, gugatan pertama kali diajukan oleh pemilik, karena pada dasarnya kepemilikan adalah hak utama dan hak rahn merupakan cabang darinya. Jika pemilik telah memulai gugatan, maka murtahin tidak dapat bersaing dengannya. Jika hak kepemilikan telah ditetapkan, maka hak rahn pun mengikuti di atasnya.

فإن قيل لم لم تثبتوا للمرتهن حقَّ المخاصمة وهو يخاصم المالك وتدور بينهما الدعوى واليمين والرد قلنا هو كذلك ولكن المالك في صورة الجناية أولى بالخصومة وفي قيامه بها ثبوت حق المرتهن فإذا كان حق المرتهن لا يتعطل قدمنا المالك؛ حتى قال المحققون لو امتنع المالك من الخصومة انتهض المرتهن خصماً وتوصل إلى ثبوت حقه وليس هذا كما لو افترضه السائل من مخاصمة المرتهن المالكَ؛ فإن تلك الخصومة لو تركها المرتهن والراهن على إنكاره لم يقم فيها غيرُ المرتهن مقامه بخلاف ما نحن فيه نعم لو ترك المالك الخصومة فلا جرم نقول للمرتهن أن يخاصم حتى لا يتعطل حقه

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menetapkan hak bagi pemegang gadai (murtahin) untuk bersengketa, padahal ia bersengketa dengan pemilik dan terjadi antara mereka gugatan, sumpah, dan penolakan?” Kami katakan, memang demikian, tetapi dalam kasus tindak pidana, pemilik lebih berhak untuk bersengketa, dan dengan keterlibatannya dalam sengketa tersebut, hak pemegang gadai tetap terjaga. Jika hak pemegang gadai tidak terabaikan, maka kami dahulukan pemilik; bahkan para ahli menegaskan, jika pemilik enggan bersengketa, maka pemegang gadai dapat menjadi pihak yang bersengketa dan berupaya menegakkan haknya. Ini berbeda dengan apa yang diasumsikan penanya tentang pemegang gadai yang bersengketa dengan pemilik; sebab dalam sengketa tersebut, jika pemegang gadai meninggalkannya dan pihak yang menggadaikan tetap pada penolakannya, maka tidak ada pihak lain yang dapat menggantikan posisi pemegang gadai, berbeda dengan kasus yang sedang kita bahas. Ya, jika pemilik meninggalkan sengketa, maka sudah pasti kami katakan bahwa pemegang gadai berhak untuk bersengketa agar haknya tidak terabaikan.

قال الشافعي ولو عفا المرتهن كان عفوه باطلاً وتفصيل القول في هذا أن المرتهن لو أبرأ الجاني عن أرش الجناية فإبراؤه باطل؛ لأن الإبراء إنما يصح من مالكٍ مطلق التصرف والمرتهن ليس مالكاً؛ فلم يصح إبراؤه

Syafi‘i berkata: Jika pihak yang menerima gadai memaafkan, maka pemaafannya batal. Penjelasan rinci dalam hal ini adalah, jika pihak yang menerima gadai membebaskan pelaku tindak pidana dari denda tindak pidana, maka pembebasan tersebut batal; karena pembebasan hanya sah dilakukan oleh pemilik yang memiliki hak penuh untuk bertindak, sedangkan pihak yang menerima gadai bukanlah pemilik; maka pembebasannya tidak sah.

وتمام البيان في هذا الفصل ما نذكره فنقول أطلق المراوزة القولَ بأنّ أرش الجناية لا يتصف بكونه مرهوناً؛ فإنه دين والديون لا تكون مرهونة كما قدمنا ذلك في صدر الكتاب وألحقوا مصير العين المرهونة بسبب الإتلاف ديناً في ذمة المتلِف بأنقلاب العصير خمراً ثم رأَوْا تفصيلَ المذهب إذا قبض الدينَ وتعيّن بالقبض كتفصيله إذا انقلبت الخمر خلاً

Penyempurnaan penjelasan dalam bab ini adalah apa yang akan kami sebutkan, yaitu: Para ulama Marwazi secara mutlak berpendapat bahwa arsy (ganti rugi) atas tindak pidana tidak dapat disifati sebagai barang yang digadaikan; karena ia adalah utang, dan utang tidak dapat dijadikan barang gadai sebagaimana telah kami sebutkan di awal kitab ini. Mereka juga mengaitkan keadaan barang yang digadaikan yang kemudian, karena perusakan, berubah menjadi utang dalam tanggungan pelaku perusakan, seperti berubahnya jus anggur menjadi khamar, kemudian mereka melihat adanya perincian dalam mazhab ini: jika utang telah diterima dan menjadi tertentu dengan penerimaan itu, maka perinciannya sama seperti jika khamar berubah menjadi cuka.

وذكر العراقيون عن بعض الأصحاب أن الدين وإن كان لا يجوز تقديره مرهوناً ابتداءً فإذا استقر الرهن على عينٍ وجنى عليها جانٍ فالدين اللازم بسبب الجناية على العين مرهون وليس كالخمر؛ فإن الدين مملوكٌ والخمر ليست مالاً والدين مترتب على عين حيث انتهى الكلام إليه ومصيره إلى عين إذا قُدِّر استيفاؤه

Orang-orang Irak menyebutkan dari sebagian sahabat bahwa utang, meskipun tidak boleh ditetapkan sebagai barang gadai sejak awal, namun jika barang gadai telah tetap pada suatu benda lalu ada seseorang yang melakukan tindak pidana terhadap benda tersebut, maka utang yang timbul akibat tindak pidana terhadap benda itu menjadi barang gadai. Ini tidak sama dengan khamr; sebab utang adalah sesuatu yang dimiliki, sedangkan khamr bukanlah harta, dan utang itu berkaitan dengan suatu benda ketika pembicaraan sampai padanya, serta pada akhirnya akan menjadi benda jika pelunasannya dapat dilakukan.

هذا ما حَكوه في ذلك

Inilah yang mereka ceritakan tentang hal itu.

ثم قالوا إذا قال المرتهن عفوت عن حقي من الوثيقة أو أسقطت حقي منها والمسألة مفروضة فيه إذا أتلف الجاني المرهونَ فقال المرتهن قبل استيفاء الحق من الجاني ما قال فيسقط حقه وإذا استوفى الدينَ فلا حق له فيه ولو قال المرتهن أبرأتك عما عليك أيها الجاني فإبراؤه لا يتضمن سقوطَ الدين ولكن هل يتضمن سقوط حقه من الوثيقة إذا استوفى الأرش ذكروا وجهين أحدهما أن حقه لا يسقط؛ فإنه لم يتعرض للتنصيص على إسقاطه وإنما أسقط الدين وليس له إسقاطه فلو سقط حق الوثيقة لكان مرتباً على سقوط الأصل وإذا لم يسقط الأصل لم يسقط ما يترتبُ عليه هذا طريقهم

Kemudian mereka berkata, jika pihak yang memegang gadai (murtahin) berkata, “Aku telah memaafkan hakku atas barang jaminan ini,” atau “Aku telah menggugurkan hakku atasnya,” dan permasalahan ini terjadi ketika pelaku (jāni) merusak barang yang digadaikan, lalu pihak murtahin berkata demikian sebelum mengambil haknya dari pelaku, maka gugurlah haknya. Namun jika ia telah mengambil piutangnya, maka ia tidak lagi memiliki hak atasnya. Dan jika pihak murtahin berkata kepada pelaku, “Aku membebaskanmu dari tanggunganmu, wahai pelaku,” maka pembebasan itu tidak serta-merta menggugurkan utang, tetapi apakah hal itu juga menggugurkan haknya atas barang jaminan jika ia telah mengambil ganti rugi (arasy)? Mereka menyebutkan dua pendapat: salah satunya, haknya tidak gugur; karena ia tidak secara tegas menyatakan pengguguran hak tersebut, melainkan hanya menggugurkan utang, dan ia tidak berhak menggugurkannya. Maka, jika hak atas barang jaminan gugur, itu harusnya merupakan konsekuensi dari gugurnya pokok utang. Jika pokok utang tidak gugur, maka apa yang menjadi konsekuensinya pun tidak gugur. Inilah pendapat mereka.

وكان شيخي يقول إذا قال المرتهن أسقطت حقي من الرهن أو أبطلت وثيقتي وكان الرهن قائماً فهذا فسخ منه للرهن وللمرتهن أن يفسخ الرهن؛ فإن الرهن في جانبه جائزٌ ولم يتعرض لصورة الدين ونصُّ الشافعي دليل على أن المرتهن إذا أبرأ الجاني فإبراؤه لغوٌ وعفوه باطل وهذا يتضمن بقاء حقه

Dan guruku biasa berkata: Jika pihak yang menerima gadai (al-murtahin) berkata, “Aku telah menggugurkan hakku atas barang gadai ini” atau “Aku telah membatalkan jaminanku,” sementara barang gadai itu masih ada, maka ini merupakan pembatalan gadai dari pihaknya. Pihak penerima gadai memang berhak membatalkan gadai, karena dalam hal ini akad gadai bersifat jaiz (boleh) baginya. Tidak dibahas mengenai keadaan utangnya. Teks Imam Syafi‘i menjadi dalil bahwa jika pihak penerima gadai memaafkan pelaku (misalnya dalam kasus pidana), maka pemaafannya itu dianggap sia-sia dan pengampunannya batal. Hal ini mengandung makna bahwa haknya tetap ada.

أما الراهن لو أبرأ الجاني عن الأرش فقد قطع الأصحاب بإبطال إبرائه؛ لحق المرتهن؛ فإنا وإن لم نطلق القول بكون الأرش مرهوناً قبل الاستيفاء فلسنا ننكر تأكُّد حق المرتهن فيه فالإبراء في الدين بمثابة الهبة في العين ولو وهب الراهن العين المرهونة لم يختلف المذهب في بُطلان هبته وإنما تردُّدُ الأقوال في العتق والاستيلاد كما تقدم

Adapun jika pihak yang menggadaikan membebaskan pelaku dari kewajiban membayar diyat, para ulama sepakat bahwa pembebasan tersebut batal karena adanya hak pihak yang menerima gadai. Meskipun kami tidak secara mutlak menyatakan bahwa diyat menjadi barang gadai sebelum pelunasan, kami tidak mengingkari kuatnya hak pihak penerima gadai atasnya. Pembebasan dalam utang itu seperti hibah pada barang; jika pihak yang menggadaikan menghibahkan barang yang digadaikan, tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab tentang batalnya hibah tersebut. Adapun perbedaan pendapat hanya terjadi dalam masalah memerdekakan budak dan istibra’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ثم قال الأصحاب لو كانت الجناية على العبد المرهون موجبةً للقَصاصِ فللرّاهن حقُّ الاقتصاص وقد تكرر هذا فلو عفا الراهن على مالٍ ثبت المال وتعلق حق المرتهن به وإن عفا على غير مالٍ ترتب على موجب العمد ونزل عفوه منزلة عفو المفلس المحجور عليه وقد أشرنا إلى ذلك وأحلنا استقصاءه على كتاب الجراح

Kemudian para ulama mazhab berkata, jika tindak pidana terhadap budak yang digadaikan mewajibkan qishāsh, maka pihak yang menggadaikan (rāhin) berhak melakukan qishāsh, dan hal ini telah berulang kali disebutkan. Jika rāhin memaafkan dengan imbalan harta, maka harta tersebut menjadi hak dan hak penerima gadai (murtahin) terkait dengannya. Namun jika ia memaafkan tanpa imbalan harta, maka berlaku ketentuan tindak pidana sengaja (‘amd), dan pemaafannya diposisikan seperti pemaafan orang yang bangkrut yang sedang dalam status pencegahan (mahjūr ‘alaih). Kami telah menyinggung hal ini dan merujuk pembahasannya secara rinci pada Kitab al-Jirāḥ.

فصل

Bab

قال وأكره أن يرهن المشركَ المصحفَ إلى آخره

Ia berkata, “Aku tidak menyukai jika seseorang menyerahkan mushaf kepada orang musyrik sebagai barang gadai,” dan seterusnya.

أراد بالكراهية التحريمَ والقولُ في بيع المصحف والعبد المسلم من الكافر قد تقدّم استقصاؤه في كتاب البيع وبينا المذهب فيه على أكمل بيان والرهن على الجملة مرتَّب على البيع وهو أولى بالجواز وإذا منعنا بيع السلاح من الحربي ففي رهنه منه وجهان وبيعُ السلاح من الذمي ورهنُه جائز؛ مات رسول الله صلى الله عليه وسلم ودرعه مرهون عند أبي الشحم اليهودي

Yang dimaksud dengan makruh di sini adalah haram, dan pembahasan mengenai jual beli mushaf serta budak muslim oleh orang kafir telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-Bay‘, dan kami telah menjelaskan mazhab dalam hal ini dengan penjelasan yang paling sempurna. Secara umum, rahn (gadai) mengikuti hukum jual beli, bahkan lebih utama untuk dibolehkan. Jika kami melarang penjualan senjata kepada orang harbi, maka dalam hal menggadaikannya kepada mereka terdapat dua pendapat. Adapun menjual senjata kepada dzimmi dan menggadaikannya kepada mereka adalah boleh; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat sementara baju besinya tergadai pada Abu Syahm, seorang Yahudi.

وقد نجز البابُ في السواد وانسل عن ضبطنا في الأصول مسائلُ ونحن نوردها فروعاً ومنها ما أورده المشايخ ولا اختصاص له بالرهن ونحن نتأسى بهم

Bab ini telah selesai dibahas dalam kitab as-sawād, namun ada beberapa permasalahan yang terlepas dari pembahasan pokok kita dalam ushul. Kami akan menyebutkannya sebagai cabang-cabang (furu‘), di antaranya ada yang disebutkan oleh para masyaikh dan tidak khusus berkaitan dengan rahn, dan kami mengikuti jejak mereka.

فرع

Cabang

إذا أقر المرتهن بأن العبد المرهون قد جنى وكذبه الراهن فالقول قول الراهن في نفي الجناية فإذا بيع العبد في الرهن وسُلِّم الثمن إلى المرتهن عن حقه فجاء المقَرُّ له بالجناية وقال للمرتهن قد أقررتَ لي بأرش الجناية والآن قبضتَ الثمن فسلمه لي قال صاحب التقريب ليس للمقَرّ له ذلك؛ فإنا إن جوزنا بيع الجاني فهذا الثمن مسلم إلى المرتهن بحق ولو ثبتت الجناية لم يثبت للمجني عليه على قول جواز البيع إلا بيعُ العبد فأمَّا التعلُّق بثمنه فليس يثبت له وليس كما لو قُتل العبدُ الجاني واستوفيت قيمته ؛ فإن حق المجني عليه في قيمته كحقه في رقبته فإن القيمة تخلفُ العين؛ حتى كأنها خلافة خِلقة ولا حاجة فيها إلى اختيار مقابلة وإثبات معاوضة فأما ثمن البيع فلا حظ للمجني عليه فيه إجماعاً فإن فرض البيع بإذنه على قولنا لا ينفذ البيع دون إذنه فهو بمثابة بيع الرهن بإذن المرتهن في حقه الحال

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) mengakui bahwa budak yang digadaikan telah melakukan tindak pidana, namun pihak yang menggadaikan (rahin) membantahnya, maka yang dipegang adalah pernyataan rahin dalam menafikan tindak pidana tersebut. Jika kemudian budak dalam gadai itu dijual dan harga jualnya diserahkan kepada murtahin sebagai pelunasan haknya, lalu orang yang diakui sebagai korban tindak pidana datang kepada murtahin dan berkata, “Engkau telah mengakui kepadaku adanya ganti rugi tindak pidana, dan sekarang engkau telah menerima harga jualnya, maka serahkanlah kepadaku,” maka menurut penulis kitab at-Taqrib, orang yang diakui sebagai korban tidak berhak atas hal itu; sebab jika kita membolehkan penjualan budak yang melakukan tindak pidana, maka harga jual itu memang diserahkan kepada murtahin secara sah. Dan sekalipun tindak pidana itu terbukti, menurut pendapat yang membolehkan penjualan, hak korban tindak pidana hanyalah sebatas penjualan budak tersebut, adapun hak atas harga jualnya tidaklah tetap baginya. Ini berbeda dengan kasus jika budak pelaku tindak pidana dibunuh dan nilainya diganti, maka hak korban atas nilai budak itu sama dengan haknya atas budak itu sendiri, karena nilai itu menggantikan wujud aslinya, seolah-olah merupakan pengganti secara alami, sehingga tidak memerlukan adanya pilihan untuk menerima ganti atau penetapan akad tukar-menukar. Adapun harga jual hasil penjualan, maka korban tindak pidana tidak memiliki hak atasnya secara ijmā‘. Jika penjualan dilakukan dengan izinnya, menurut pendapat yang menyatakan bahwa penjualan tidak sah tanpa izinnya, maka hukumnya sama seperti penjualan barang gadai dengan izin murtahin dalam hal hak yang sedang berjalan.

هذا إن قدرنا جوازَ بيع الجاني

Ini jika kita menganggap bolehnya menjual pelaku kejahatan.

وإن لم نجوز بيعَه فالثمن الذي في يد المرتهن ملكُ مشتري العبد الجاني ولا حظ للمجني عليه فيه فينتظم منه أن المقَرَّ له بالجناية لا يرجع على المرتهن بسبب قبضه ثمن العبد الذي أقر المرتهن بجنايته وهذا واضح

Dan jika kita tidak membolehkan penjualannya, maka harga yang ada di tangan pemegang gadai adalah milik pembeli budak yang melakukan tindak pidana, dan tidak ada hak bagi korban dalam harga tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang diakui sebagai korban tindak pidana tidak dapat menuntut pemegang gadai karena telah menerima harga budak yang pemegang gadai akui telah melakukan tindak pidana, dan hal ini jelas.

فرع

Cabang

ذكر صاحب التقريب في خلل الكلام مسألةً في الجنايات لا اختصاص لها بالرهن فنسردُها على وجهها ونقول لو جنى رجل على بهيمة وكانت ماخضاً فأَجْهَضَتْ جنينَها وكان الجنين حيَّاً لما انفصل متأثراً بالجناية فمات على القرب ذكر قولين فيما يلزم الجاني في هذه الصورة أحدهما أنه يلزمه قيمةُ الجنين حيَّاً ولا يلزمه أكثرُ من ذلك

Penulis kitab at-Taqrīb dalam pembahasan tentang kekeliruan dalam ucapan menyebutkan satu masalah dalam bab jinayat yang tidak khusus berkaitan dengan rahn. Maka kami paparkan masalah tersebut sebagaimana adanya, yaitu: jika seseorang melakukan jinayat terhadap seekor hewan betina yang sedang bunting, lalu hewan itu mengalami keguguran dan janinnya keluar dalam keadaan hidup akibat jinayat tersebut, kemudian tidak lama setelah itu janin tersebut mati, maka penulis menyebutkan dua pendapat tentang apa yang wajib ditanggung oleh pelaku jinayat dalam kasus ini. Salah satunya adalah bahwa pelaku wajib mengganti nilai janin dalam keadaan hidup dan tidak wajib menanggung lebih dari itu.

القول الثاني أنه يلزمه أكثرُ الأمرين من نقص الأم بالولادة والإجهاض أو قيمةُ الجنين فأيهما كان أكثر فهو الواجب

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang wajib adalah membayar yang lebih besar di antara dua hal: kekurangan pada ibu akibat melahirkan dan keguguran, atau nilai janin; mana saja yang lebih besar, itulah yang menjadi kewajiban.

ثم قال صاحب التقريب والقولان فيه إذا لم يظهر بالأم شَيْنٌ سوى الولادة وكان للجنين لو بقي حيَّاً قيمةٌ فإذا مات فالنظر إلى الأكثر في أحد القولين

Kemudian penulis kitab at-Taqrīb berkata: Terdapat dua pendapat dalam masalah ini, yaitu apabila pada ibu tidak tampak cacat selain karena melahirkan, dan janin tersebut jika tetap hidup memiliki nilai, maka jika ia meninggal, yang diperhatikan adalah yang lebih besar menurut salah satu dari dua pendapat.

والواجب قيمة الولد في القول الثاني

Dan yang wajib adalah nilai anak menurut pendapat kedua.

وقد ذكر العراقيون هذين القولين على هذا الوجه

Orang-orang Irak telah menyebutkan dua pendapat ini dengan cara seperti ini.

والذي يجب الاعتناء به في المسألة فهمُ صورتها وفيها يبينُ مثارُ القولين فالبهيمة وهي ماخض تساوي مائة وإذا ولدت صارت تساوي تسعين ولم يظهر فيها نقص إلا أن الولد زايلها فكانت مع الولد تساوي مقداراً ودونه تساوي أقلَّ منه لمزايلة الولد لا لعيب أحدثه الولادة ثم انفصل الولد حياً وعليه أثر الجناية ومات فلو أوجبنا قيمة الولد وأوجبنا ما انتقص من قيمة الماخض بسبب الولادة ومزايلة الولد لكان ذلك تضعيفاً في الغرامة والولد صار أصلاً بنفسه فعسر الجمع بين الوجهين

Hal yang harus diperhatikan dalam masalah ini adalah memahami bentuk kasusnya, di mana letak perbedaan pendapat menjadi jelas. Seekor hewan betina yang sedang bunting bernilai seratus. Ketika melahirkan, nilainya menjadi sembilan puluh, dan tidak tampak ada kekurangan pada dirinya kecuali anaknya telah terpisah darinya. Maka, bersama anaknya, nilainya sejumlah tertentu, dan tanpanya nilainya lebih rendah karena perpisahan anak, bukan karena cacat yang disebabkan oleh proses melahirkan. Kemudian anak itu lahir dalam keadaan hidup dan terdapat bekas tindak kejahatan padanya, lalu ia mati. Jika kita mewajibkan pembayaran nilai anak dan juga mewajibkan pembayaran atas penurunan nilai induk akibat melahirkan dan perpisahan anak, maka itu berarti menggandakan denda. Padahal, anak tersebut telah menjadi entitas tersendiri, sehingga sulit untuk menggabungkan kedua sisi tersebut.

وتردّدَ القولُ فقال الشافعي في قول أنظر إلى الولد؛ فإن تعطيله صعب وأوجب قيمته وقال في القول الثاني أُوجب الأكثرَ من نقص الأم بسبب مزايلة الولد وقيمة الولد فأيهما كان أكثر أوجبته هذا بيان القولين

Pendapat ulama berbeda-beda; Imam Syafi‘i dalam salah satu pendapatnya berkata: “Lihatlah kepada anak itu; sebab menelantarkannya sulit, maka aku mewajibkan membayar nilainya.” Dan dalam pendapat kedua, beliau berkata: “Aku mewajibkan yang lebih besar antara kerugian pada induk akibat berpisahnya anak dan nilai anak itu sendiri; mana yang lebih besar, itulah yang aku wajibkan.” Inilah penjelasan kedua pendapat tersebut.

قال العراقيون إذا كانت البهيمة مرهونة وجرى ما وصفناه؛ فإن أوجبنا قيمة الولد لم يكن ذلك رهناً وإن أوجبناالأكثر فقيمة الولد لم تكن رهناً أيضاًً وإن أوجبنا ما نقص من قيمة الأم بسبب مزايلة الولد كان ذلك رهناً

Orang-orang Irak berpendapat, jika seekor hewan ternak digadaikan dan terjadi seperti yang telah kami jelaskan; maka jika kami mewajibkan nilai anaknya, maka itu tidak menjadi barang gadai. Jika kami mewajibkan yang lebih besar, maka nilai anaknya juga tidak menjadi barang gadai. Namun jika kami mewajibkan apa yang berkurang dari nilai induk karena terpisahnya anak, maka itu menjadi barang gadai.

وهذا فيه نظر والوجه تخريجه على أَنَّ الحمل الموجود يومَ الرهن هل يدخل تحت الرهن فإن قُلنا إنه داخل فيجب أن يكون المأخوذ من الجاني رهناً كيف كان؛ فإنا على هذا القول كنا نبيع الولدَ لو بقي في الرهن

Hal ini masih perlu ditinjau kembali, dan yang lebih tepat adalah mengembalikannya pada persoalan apakah janin yang ada pada hari akad rahn termasuk dalam objek rahn atau tidak. Jika kita katakan bahwa ia termasuk, maka apa yang diambil dari pelaku kejahatan harus menjadi bagian dari rahn bagaimanapun keadaannya; sebab menurut pendapat ini, kita akan menjual anak tersebut jika ia tetap berada dalam rahn.

وإن قلنا الرهن لا يتعلق بالجنين الموجود حالةَ الرهن فإن أوجبنا قيمة الولد لم يكن رهناً وإن أوجبنا نقصانَ الولادة فالمسألة محتملة ويظهر خلاف ما قالوه؛ فإن ذلك النقصان لم يكن إلا لمزايلة الولد ولم تتغير صفتها ويجوز أن يتخيل ما ذكروه بناء على أصلٍ وهو أن الحمل لو بقي إلى البيع لبعنا الأم حاملاً ولصرفنا الثمن إلى الدين إن لم يزد على مقداره فمزايلة الولد تخرم هذا الوجه

Jika kita mengatakan bahwa rahn tidak berkaitan dengan janin yang sudah ada pada saat akad rahn, maka jika kita mewajibkan nilai anak, ia tidak menjadi rahn. Namun jika kita mewajibkan kekurangan akibat kelahiran, maka permasalahan ini masih mungkin terjadi dan tampak berbeda dari apa yang mereka katakan; sebab kekurangan itu tidak terjadi kecuali karena keluarnya anak, dan sifat induknya tidak berubah. Bisa saja dibayangkan apa yang mereka sebutkan itu didasarkan pada suatu prinsip, yaitu bahwa jika janin tetap ada hingga saat penjualan, maka kita akan menjual induknya dalam keadaan hamil dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar utang selama tidak melebihi jumlah utang tersebut. Maka keluarnya anak merusak kemungkinan ini.

والأصح عندي أنه لا يكون رهناً؛ فإن المزايلة قد وقعت

Pendapat yang paling sahih menurutku adalah bahwa itu tidak menjadi rahn; karena pemisahan telah terjadi.

فرع

Cabang

إذا دفع الراهن والمرتهن الرهن إلى عدلين وفوضا إليهما الحفظَ مطلقاًً فلو أن أحدهما سلم الرهنَ إلى الثاني كَمَلاً وفوض إليه الاستقلالَ بالحفظ فهل يكون بذلك متعدياً

Jika rahin dan murtahin menyerahkan barang gadai kepada dua orang yang adil dan keduanya diberi wewenang untuk menjaga secara mutlak, lalu salah satu dari keduanya menyerahkan barang gadai tersebut sepenuhnya kepada yang lain dan memberikan wewenang penuh untuk menjaga secara mandiri, maka apakah dengan tindakan itu ia dianggap telah melakukan pelanggaran?

ذكر ابن سريج فيما حكاه العراقيون وجهين أحدهما أنه يكون متعدياً؛ فإنه لم يثبت لواحدٍ منهما الاستقلال بالحفظ فإذا أثبت أحدُهما ذلك لصاحبه كان على خلاف موجب الاستحفاظ

Ibnu Suraij menyebutkan, sebagaimana dikisahkan oleh para ulama Irak, ada dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa hal itu menjadi perbuatan yang melampaui batas; sebab tidak ada salah satu dari keduanya yang terbukti memiliki kemandirian dalam menjaga (barang), sehingga jika salah satu dari mereka menetapkan hal itu untuk temannya, maka hal itu bertentangan dengan konsekuensi kewajiban menjaga.

والوجه الثاني أنه لا يكون المسلِمُ إلى صاحبه متعدياً وكذلك لا يكون المستقلّ متعدياً؛ فإن استحفاظهما يشعر في الظاهر بقيام كل وَاحد منهما بحق الحفظ لو لم يكن صاحبه حاضراً؛ فإن اعتقاد اجتماعهما أبداً على الحفظ وهو أمر دائم بعيدٌ

Adapun alasan kedua adalah bahwa orang yang menyerahkan (barang) kepada temannya tidak dianggap melakukan pelanggaran, demikian pula orang yang memegang sendiri (barang) tersebut juga tidak dianggap melakukan pelanggaran; sebab penjagaan yang dilakukan oleh keduanya secara lahiriah menunjukkan bahwa masing-masing dari mereka akan menjalankan hak penjagaan seandainya temannya tidak hadir; karena beranggapan bahwa keduanya akan selalu bersama-sama dalam menjaga adalah sesuatu yang terus-menerus dan itu adalah hal yang jauh (dari kenyataan).

والألفاظ المطلقة تؤخذ من موجَب العرف وليس كما لو فرضَ الوصايةَ إلى رجلين فإن التصرفات لا يستقل بها أحدُهما دون الثاني؛ فإن الاجتماع على تصرف يقع في الأوقات ليس متعذراً فحَمْل الأمرِ على اشتراكهما وصدور التصرفِ عن رأيهما ليس بعيداً بخلاف دوام الحفظ

Ungkapan-ungkapan yang bersifat mutlak diambil berdasarkan ketentuan ‘urf (kebiasaan), tidak seperti jika seseorang menetapkan wasiat kepada dua orang laki-laki, maka dalam hal tindakan (pengelolaan), salah satu dari keduanya tidak boleh bertindak sendiri tanpa yang lain; sebab berkumpul untuk melakukan suatu tindakan pada waktu-waktu tertentu bukanlah sesuatu yang mustahil, sehingga memaknai perintah itu sebagai keikutsertaan keduanya dan terjadinya tindakan berdasarkan pendapat mereka berdua bukanlah hal yang jauh, berbeda halnya dengan penjagaan yang berlangsung terus-menerus.

ثم إذا أثبتنا عند إطلاق الاستحفاظ لكل واحد منهما رتبةَ الاستقلال فلو تنازعا

Kemudian, apabila kita telah menetapkan bahwa ketika istilah istihfāẓ digunakan secara mutlak untuk masing-masing dari keduanya, maka masing-masing memiliki kedudukan independen, maka jika keduanya berselisih…

فليس أحدُهما أولى من الثاني فإن أمكن الاشتراك في إثبات اليد فلا مَعْدَل عنه

Maka tidaklah salah satu dari keduanya lebih utama daripada yang lain; jika memungkinkan untuk berbagi dalam menetapkan kepemilikan, maka tidak ada pilihan lain selain itu.

وإن عسر وقد تنازعا ورأى القاضي أن يقسم العين بينهما وكانت قابلةً للقسمة فله ذلك؛ فإنا إذا كنا نثبت لكل واحد منهما الاستقلالَ بالحفظ فلا يمتنع بسبب النزاع أن ينفرد كل واحد منهما بحفظ البعض

Jika terjadi kesulitan dan keduanya berselisih, lalu hakim memandang untuk membagi barang tersebut di antara mereka berdua, dan barang itu memungkinkan untuk dibagi, maka hakim boleh melakukannya; sebab jika kita menetapkan bagi masing-masing dari mereka kemandirian dalam menjaga, maka tidak terhalang karena perselisihan bahwa masing-masing dari mereka menjaga sebagian.

وإن قلنا لا يثبت لكل واحد منهما رتبة الاستقلال وهو المذهب عند المراوزة فلا سبيل إلى قسمة العين بينهما؛ فإنا لو فعلنا ذلك لكنا مخصصين كل واحد منهما بالانفراد في بعض العين وهذا يخالف موجَبَ الاشتراك

Dan jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya tidak memiliki kedudukan independen—dan inilah mazhab menurut ulama Marw—maka tidak ada jalan untuk membagi barang tersebut di antara mereka berdua; sebab jika kita melakukan itu, berarti kita telah mengkhususkan masing-masing dari mereka untuk memiliki bagian secara sendiri-sendiri pada sebagian barang, dan hal ini bertentangan dengan konsekuensi dari musyārakah (kepemilikan bersama).

فرع

Cabang

قال ابن سريج لو سلما الرهنَ إلى عدلٍ ووكلاه ببيعه عند محِل الحق وكانت العين من ذوات الأمثال فأتلفه أجنبي وغرم المثل قال ابن سريج يسلّم إلى العدل بحكم الاستحفاظ الأول وإذا حل الحق لم يبعه إلا بإذن جديد

Ibnu Suraij berkata: Jika keduanya menyerahkan barang gadai kepada seorang pihak ketiga yang adil dan mewakilkannya untuk menjualnya ketika waktu pelunasan utang tiba, lalu barang tersebut termasuk barang yang memiliki padanan dan dirusak oleh orang lain, kemudian orang tersebut mengganti dengan barang sepadan, maka menurut Ibnu Suraij, barang pengganti itu diserahkan kepada pihak ketiga yang adil berdasarkan ketentuan penjagaan yang pertama. Dan apabila waktu pelunasan utang telah tiba, barang itu tidak boleh dijual kecuali dengan izin baru.

أما قوله لا يبيعه إلا بإذن جديد فصحيح وأما قوله يحفظه العدل من غير استحفاظٍ جديدٍ فهذا لا وجهَ له أصلاً؛ فإن العين قد تبدلت وتقييده بالمثل يشعر بأنه لا يقول ذلك في قيمة المتقومات

Adapun pernyataannya bahwa tidak boleh menjualnya kecuali dengan izin baru, maka itu benar. Namun pernyataannya bahwa barang tersebut dijaga oleh orang adil tanpa perlu permintaan penjagaan baru, maka ini sama sekali tidak berdasar; sebab barangnya telah berubah, dan pembatasannya pada barang sejenis menunjukkan bahwa ia tidak berpendapat demikian dalam hal nilai barang-barang yang tidak memiliki padanan.

وكل ذلك خبطٌ غيرُ معدودٍ من المذهب ولعل ابنَ سريج تخيّل في الفرق بين الحفظ والبيع أمراً وهو أن العدل إذا استحفظه الراهن والمرتهن لم يكن لكل واحد منهما أن يعدل عنه فكأن الحفظ صار في حكم المستحق المتعيّن في حق هذا العدل فإذا فرض التلف والاستحقاق في الحفظ إذا تمَّ لم يبعد أن يقوم البدل مقام التالف والإذن في البيع ليس كذلك؛ فإن من صرفه من الراهن والمرتهن ينعزل فليس البيع مستحقاً متعيناً في حق العدل فهذا إن ثبت فلا فرق فيه بين المتقوم والمثلي

Semua itu adalah pendapat yang kacau dan tidak termasuk dalam mazhab. Barangkali Ibn Suraij membayangkan adanya perbedaan antara penjagaan (hifzh) dan penjualan (bai‘), yaitu bahwa apabila seorang adil dititipi oleh rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai), maka masing-masing dari mereka tidak dapat menggantikan orang adil tersebut. Seolah-olah penjagaan itu menjadi hak yang telah ditentukan bagi orang adil ini. Maka jika terjadi kerusakan atau pengambilan secara sah dalam penjagaan setelah sempurna, tidaklah jauh kemungkinan pengganti dapat menggantikan barang yang rusak. Sedangkan izin untuk menjual tidaklah demikian; sebab siapa pun yang memberhentikan dari rahin atau murtahin, maka ia terputus. Jadi penjualan itu bukanlah hak yang telah ditentukan bagi orang adil. Jika hal ini benar, maka tidak ada perbedaan antara barang yang memiliki nilai (mutaqawwam) dan barang yang sejenis (mithli).

والظاهر عندي أنه لا بد من استحفاظ جديدٍ؛ لأن العين قد تبدّلت

Menurut pendapat saya yang tampak, harus ada penjagaan baru, karena barangnya telah berubah.

فرع

Cabang

إذا استعار رجل عبداً من شريكين فرهنه ثم أدى نصف الدين على قصد أنه يفك به نصيب زيدٍ من الشريكين فهل ينفك نصيبه أم لا ينفك شيء من الرهن ما بقي من الدين شيء

Jika seseorang meminjam seorang budak milik dua orang yang berserikat, lalu ia menjadikan budak itu sebagai barang gadai, kemudian ia membayar setengah dari utangnya dengan maksud untuk membebaskan bagian Zaid dari kedua orang yang berserikat itu, maka apakah bagian Zaid menjadi bebas ataukah tidak ada bagian dari barang gadai yang bebas selama masih ada sisa utang?

ذكر العراقيونَ قولين ولهذا أمثلةٌ ستأتي في الكتاب إن شاء الله عز وجل

Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat, dan untuk hal ini terdapat beberapa contoh yang akan disebutkan dalam kitab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإن قلنا لا ينفك فلا كلام وإن قلنا ينفك حصته من الرهن نُظِر فإن كان المرتهن عالماً بحقيقة الحال فلا خيارَ له وإن كان جاهلاً ولم يَدْرِ صدَرَ الرهن في شركة فهل له الخيار ذكروا وجهين أحدهما له الخيار وهو الذي قطع به الشيخ أبو محمد ووجهه بيّن والوجه الثاني أنه لا خيار له؛ فإن الذي بدا ليس عيباً بالمرهون والحال لا يطرد على نسق واحدٍ في الاتحاد فلا خيار

Jika kita mengatakan bahwa (hak) itu tidak terpisah, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa (hak) itu terpisah, maka bagiannya dari barang gadai dilihat kembali. Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia tidak memiliki hak khiyar. Namun jika ia tidak mengetahui dan tidak tahu bahwa akad gadai dilakukan dalam syirkah, maka apakah ia memiliki hak khiyar? Para ulama menyebutkan dua pendapat: salah satunya, ia memiliki hak khiyar, dan inilah yang ditegaskan oleh Syekh Abu Muhammad, dan alasannya jelas. Pendapat kedua, ia tidak memiliki hak khiyar, karena apa yang muncul itu bukanlah ‘aib pada barang yang digadaikan, dan keadaan ini tidak berjalan secara tetap dalam kesatuan, maka tidak ada hak khiyar.

ولعل الأشبه في هذا أن المرتهن إن لم يعرف كونَ العين مستعاراً تخيَّر وإن علمه مستعاراً فلا ضبط لمن يستعار منه

Barangkali pendapat yang lebih mendekati dalam hal ini adalah bahwa jika penerima gadai tidak mengetahui bahwa barang gadai itu adalah barang pinjaman, maka ia boleh memilih (antara menerima atau menolaknya). Namun jika ia mengetahui bahwa barang itu adalah barang pinjaman, maka tidak ada batasan tertentu mengenai dari siapa barang itu dipinjam.

ويجوز أن يقال الغالبُ الاتحاد في السادة ويبعد في الوقوع العبد المشترك إلا

Dan boleh dikatakan bahwa yang dominan adalah kesatuan pada para tuan, sedangkan sangat jarang terjadi pada budak yang dimiliki bersama, kecuali…

في المواريث والتجاير بين الشركاء

Dalam hal warisan dan transaksi di antara para sekutu.

والوجه إثبات الخيار كما قاله الإمام

Pendapat yang kuat adalah menetapkan adanya khiyār sebagaimana yang dikatakan oleh Imam.

فرع

Cabang

قال العراقيون إذا رهن رجل جاريةً فعلقت بمولود رقيقٍ من بعدُ فجنى جانٍ عليها فَأَجْهَضَت ونقصت بسبب الإجهاض نقصاناً عائداً إلى صفتها زائداً على مزايلة الولد فإذا التزم الجاني بدلَ الجنين لم يكن رهناً؛ فإن الولد طارىء وليس للمرتهن بسبب نقصان الجارية شيء؛ فإن نقصانها يندرج تحت بدل الجنين وبدل الجنين خارج عن الرهن فنقصان الجارية في حق المرتهن بمثابة النقصان بآفة سماوية وهذا حسن لطيف

Orang-orang Irak berpendapat: Jika seseorang menggadaikan seorang budak perempuan, lalu ia hamil dan melahirkan anak budak setelahnya, kemudian seseorang melakukan kejahatan terhadapnya sehingga ia mengalami keguguran dan akibat keguguran itu terjadi kekurangan pada dirinya yang berkaitan dengan sifatnya, melebihi sekadar berpisahnya anak tersebut, maka jika pelaku kejahatan itu menanggung ganti rugi janin, ganti rugi tersebut tidak menjadi barang gadai; karena anak itu merupakan sesuatu yang datang kemudian, dan pihak yang menerima gadai tidak berhak atas apa pun akibat kekurangan pada budak perempuan itu; sebab kekurangan tersebut termasuk dalam ganti rugi janin, dan ganti rugi janin berada di luar objek gadai. Maka kekurangan pada budak perempuan itu bagi pihak penerima gadai sama seperti kekurangan akibat bencana alam, dan ini adalah pendapat yang baik dan halus.

فرع

Cabang

إذا قُتل العبد المرهون فجاء إنسان وقال أنا قتلته فإن صدقه الراهن والمرتهن غرّمناه القيمةَ ووضعناها رهناً وإن كذباه لم يخفَ الحكم فإن كذبه المرتهن وصدقه الراهن غرِم القيمةَ وفاز بها الراهن؛ فإن المرتهن أنكر حقه فيها

Jika budak yang digadaikan dibunuh, lalu seseorang datang dan berkata, “Sayalah yang membunuhnya,” maka jika pemilik gadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin) membenarkannya, kami mewajibkan dia membayar nilai budak tersebut dan kami menjadikannya sebagai barang gadai. Namun jika keduanya mendustakannya, maka hukum tidak samar. Jika penerima gadai mendustakannya dan pemilik gadai membenarkannya, maka dia wajib membayar nilai budak tersebut dan pemilik gadai yang mendapatkannya; karena penerima gadai telah mengingkari haknya atas nilai tersebut.

وإن صدقه المرتهن وكذبه الراهن فتؤخذ القيمةُ وتجعل رهناً في يد المرتهن

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) membenarkannya dan pihak yang menggadaikan (rahin) mendustakannya, maka diambil nilai barang tersebut dan dijadikan sebagai barang gadai di tangan murtahin.

ثم إذا حلَّ الدينُ وقضى الراهنُ الدينَ من موضع آخر فترد تلك القيمة على المُقِرِّ بالجناية؛ فإن الراهن منكر لاستحقاقه

Kemudian, apabila utang telah jatuh tempo dan pihak yang menggadaikan melunasi utang tersebut dari sumber lain, maka nilai barang itu dikembalikan kepada orang yang mengakui telah melakukan jinayah; karena pihak yang menggadaikan mengingkari hak atas barang tersebut.

وفي هذه المسألة وأمثالها خلافٌ ولكنا جرينا على الأصح

Dalam masalah ini dan yang semisalnya terdapat perbedaan pendapat, namun kami mengikuti pendapat yang paling sahih.

وقد نقول نضع تلك القيمة عند الوالي ويعتقدها مالاً ضائعاً

Kita juga dapat mengatakan bahwa nilai tersebut diserahkan kepada penguasa dan dianggap sebagai harta yang hilang.

فرع

Cabang

قال صاحب التقريب إذا خلّى الراهن بين المرتهن وبين الرهن المشروط في البيع فامتنع من قبضه فهل يجبره القاضي على قبضه فعلى وجهين أحدهما أنه يُجبر؛ حتى ينقطع خياره في فسخ البيع وقد تتلف تلك العينُ المعينة قبل القبض وقد تعيب

Menurut penulis kitab at-Taqrīb, jika pihak yang menggadaikan (rahin) membiarkan pihak penerima gadai (murtahin) mengambil barang gadai yang disyaratkan dalam jual beli, lalu penerima gadai menolak untuk menerimanya, apakah hakim dapat memaksanya untuk menerima barang tersebut? Maka ada dua pendapat: salah satunya, ia dipaksa untuk menerimanya agar hak pilih (khiyar) dalam membatalkan jual beli terputus, karena barang tertentu tersebut bisa saja rusak sebelum diterima atau menjadi cacat.

والوجه الثاني أنه لا يجبر على القبض ولكن إن امتنع من القبض أبطل القاضي خيارَه في فسخ البيع اهـ

Adapun pendapat kedua, ia tidak dipaksa untuk menerima (barang), namun jika ia menolak untuk menerima, maka hakim membatalkan hak khiyar-nya dalam membatalkan jual beli.

باب في الرَّهْن وَالحَمِيلِ في البيع

Bab tentang rahn (gadai) dan ḥamīl (penjamin) dalam jual beli

ذكر الشافعي رحمه الله في أول الباب أن الرهن أمانة وتعلق بطرق من الحجاج وسيأتي في ذلك باب ثم قال فلو باع رجل شيئاًً على أن يرهنه به من ماله إلى آخره

Imam Syafi‘i rahimahullah menyebutkan di awal bab bahwa rahn (gadai) adalah amanah dan berkaitan dengan beberapa cara berhujah, dan akan ada bab khusus tentang hal itu. Kemudian beliau berkata: Jika seseorang menjual sesuatu dengan syarat akan menggadaikannya kepada pembeli dari hartanya, dan seterusnya.

شرط الرهن جائز في البيع وإن كان مطلقُ العقد لا يقتضيه ولكن لما كان من مصلحة العقد عُدَّ شرطه جائزاً وكذلك شرط الضمان والإشهاد فهذه الوثائق الثلاث يجوز شرطها في البيع وذكر الشافعي لفظاً في صدر الفصل نذكر ما فيه أولاً ثم نخوض في مقصود الباب

Syarat rahn (gadai) diperbolehkan dalam jual beli, meskipun akad secara mutlak tidak menuntutnya. Namun karena hal itu merupakan bagian dari kemaslahatan akad, maka pensyaratannya dianggap boleh. Demikian pula syarat dhamān (penjaminan) dan isyhad (persaksian), maka tiga dokumen ini boleh disyaratkan dalam jual beli. Asy-Syafi‘i menyebutkan suatu lafaz di awal bab; kita akan sebutkan isinya terlebih dahulu, kemudian kita akan membahas maksud utama bab ini.

ظاهر لفظه يدل على أن البائع إذا قال بعتك عبدي هذا بألفٍ على أن ترهنني دارَك هذه فقال المشتري اشتريت ورهنت فالرهن ينعقد من غير قبول يصدر من البائع ومقتضى كلامه دليل على إقامة شرط البائع في الرهن مقام قبوله من غير احتياج إلى شيء آخر وقد صار إلى هذا طوائف من أصحابنا

Lafal zahirnya menunjukkan bahwa apabila penjual berkata, “Aku jual budakku ini kepadamu seharga seribu dengan syarat engkau menjadikan rumahmu ini sebagai rahanku,” lalu pembeli berkata, “Aku beli dan aku jadikan sebagai rahanku,” maka rahn (gadai) itu sah tanpa perlu adanya kabul yang keluar dari penjual. Konsekuensi dari ucapannya menjadi dalil bahwa syarat yang diajukan penjual dalam rahn menempati posisi kabul dari penjual tanpa memerlukan hal lain. Pendapat ini diikuti oleh sekelompok ulama dari kalangan mazhab kami.

والأصح الذي ارتضاه المحققون أن الرهن لا ينعقد مالم يذكر البائع بعد إيجاب المشتري الرهن قبولاً له ولا يقع الاكتفاء بالشرط الذي يقدَّم؛ فإن الرهن عقد مفتقرٌ إلى الإيجاب والقبول فلا بد منهما وليس شرط الرهن بمثابة استدعائه؛ فإنا على قول صحيح نقيم استدعاءَ العقد من أحد الجانبين مع الإيجاب من الجانب الثاني مقام شقي العقد؛ وليس الشرط في معنى الاستدعاء؛ إذ صيغةُ الاستدعاء أن يقول ارهن مني دارَك هذه بألفٍ فإذا قال رهنتكها بالألف كفى ذلك على الصحيح

Pendapat yang paling sahih yang disetujui oleh para ahli adalah bahwa rahn (gadai) tidak sah kecuali penjual menyebutkan setelah ijab dari pembeli bahwa ia menerima rahn tersebut, dan tidak cukup hanya dengan syarat yang diajukan sebelumnya; karena rahn adalah akad yang memerlukan ijab dan qabul, maka keduanya harus ada. Syarat rahn tidak sama dengan permintaan (istid‘ā’) rahn; sebab menurut pendapat yang sahih, kita menganggap permintaan akad dari salah satu pihak bersama ijab dari pihak lain sebagai pengganti dua sisi akad. Namun, syarat tidak bermakna seperti permintaan; karena lafaz permintaan adalah seperti seseorang berkata, “Gadaikan kepadaku rumahmu ini dengan seribu,” lalu jika yang lain berkata, “Aku gadaikan kepadamu rumah ini dengan seribu,” maka itu sudah cukup menurut pendapat yang sahih.

ومن قال بظاهر النص احتج بأن الرهن وإن كان عقداً قائماً يتعلق بالبيع من جهة الشرط فيجوز أن يقوم الشرطُ فيه شِقّاً بخلاف العقد الذي لا يكون مشروطاًً في عقد وهذا ضعيف

Dan siapa yang berpegang pada makna lahiriah nash beralasan bahwa rahn meskipun merupakan akad yang berdiri sendiri, ia terkait dengan jual beli dari sisi syarat, sehingga boleh saja syarat itu menjadi bagian darinya, berbeda dengan akad yang tidak disyaratkan dalam akad lain. Namun, pendapat ini lemah.

فإن قيل كيف تُؤوّلون ظاهرَ النص قلنا ليس التعرض للإيجاب والقبول من مقاصد الفصل؛ فلم يفصله الشافعي؛ فالقبول مضمرٌ معنى وإن لم يصرح به

Jika dikatakan, bagaimana kalian menakwilkan makna lahiriah dari nash tersebut? Kami katakan, penyebutan ijab dan qabul bukanlah termasuk tujuan utama dari pembahasan ini; karena itu Imam Syafi‘i tidak merincinya. Maka qabul sudah tersirat secara makna meskipun tidak disebutkan secara eksplisit.

ثم إنما يصح شرط الرهن إذا عُيِّن ولا يسوغ اشتراطُ رهنٍ مطلقاًً وفاقاً ولو شُرط رهنٌ على الجهالة كان الشرط فاسداً وعند ذلك يختلف القول في فساد البيع كما سيأتي إن شاء الله تعالى

Kemudian, syarat rahn (gadai) hanya sah jika telah ditentukan, dan tidak dibenarkan mensyaratkan rahn secara mutlak, menurut kesepakatan. Jika disyaratkan rahn dalam keadaan tidak jelas, maka syarat tersebut batal, dan setelah itu pendapat mengenai batalnya jual beli berbeda, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala.

وكذلك إذا كان يشترط في العقد ضميناً بالثمن فلا بد من تعيينه؛ فإن الأغراض تختلف بمراتب الضمناء

Demikian pula, jika dalam akad disyaratkan adanya penjamin atas harga, maka penjamin tersebut harus ditentukan; sebab kepentingan orang-orang berbeda-beda sesuai dengan tingkatan para penjamin.

وإذا شرط رهناً معيناً فهل يشترط بيان من يوضع على يديه فوجهان أحدهما لا بد من ذلك؛ فإن الغرض يختلف به ومنهم من قال لا يشترط لأن الرهن هو الوثيقة وهو متعين لا جهالة فيه وظاهر النص مع الوجه الأول

Jika seseorang mensyaratkan adanya rahn tertentu, apakah harus disebutkan kepada siapa rahn itu diletakkan? Ada dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa hal itu harus disebutkan, karena tujuan akad dapat berbeda karenanya. Sebagian ulama berpendapat tidak harus disebutkan, karena rahn adalah bentuk jaminan yang sudah tertentu dan tidak ada unsur ketidakjelasan di dalamnya. Namun, zahir nash lebih mendukung pendapat pertama.

وإن فرعنا على الثاني فإن اتفقا على يد عدلٍ أو على يد المرتهن فذاك وإن تنازعا رفع الأمرُ إلى الحاكم؛ حتى يعيِّن عدلاً ويقطع الخصومة بينهما فإن عين رهناً فلم يفِ المشتري برهنه ثبت الخيار للبائع في فسخ البيع وكذلك إذا كان عيّن كفيلا في شرطه فامتنع ذلك الشخص من الكفالة تخير البائع ثم إذا ثبت الخيار في البيع فإن فسخ فذاك وإن أجاز ورضي لزم العقد ولم يتخير المشتري وقال مالك يتخير المشتري وتعرَّض الشافعي للرد عليه بما لا نحتاج إلى ذكره

Jika kita mengambil cabang pada pendapat kedua, maka jika keduanya sepakat untuk menyerahkan barang kepada pihak yang adil atau kepada tangan pihak pemegang gadai, maka itu diperbolehkan. Namun jika keduanya berselisih, maka perkara tersebut diajukan kepada hakim agar ia menunjuk seorang yang adil dan memutuskan perselisihan di antara mereka. Jika hakim telah menetapkan barang jaminan, namun pembeli tidak memenuhi penyerahan barang jaminannya, maka penjual berhak memilih untuk membatalkan akad jual beli. Demikian pula, jika dalam syaratnya telah ditentukan seorang penjamin, namun orang tersebut menolak menjadi penjamin, maka penjual berhak memilih. Kemudian, jika hak memilih dalam jual beli telah tetap, maka jika penjual membatalkan, maka batal; dan jika ia menerima dan ridha, maka akad menjadi mengikat dan pembeli tidak lagi berhak memilih. Malik berpendapat bahwa pembeli berhak memilih, namun asy-Syafi‘i telah membantah pendapat tersebut dengan bantahan yang tidak perlu kami sebutkan di sini.

فصل

Bab

قال الشافعي ولو كانا جهلا الرهن والحميل فالبيع فاسد إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: “Jika keduanya tidak mengetahui tentang rahn (barang jaminan) dan hamīl (penanggung utang), maka jual beli tersebut fasid (rusak/batal), dan seterusnya.”

قد ذكرنا أن الوثائق ثلاث الرهن والكفيل والشهادة أما الرهن والكفيل فلا بد من تعيينهما وأما الشهادة فلا يشترط تعيين من يتحمل الشهادة؛ وذلك أن الأغراض تختلف على الجملة باختلاف الرهون والضمناء فأما الشهادة فالغرض منها أن يتحمل عُدُولٌ العقدَ أو الإقرار به وهذا لا يختلف باختلاف العدول واتفق أصحابنا عليه فلا يشترط إذن تعيين الشاهد

Telah kami sebutkan bahwa dokumen itu ada tiga: rahn (gadai), kafīl (penjamin), dan syahadah (kesaksian). Adapun rahn dan kafīl, maka keduanya harus ditentukan secara spesifik. Sedangkan untuk syahadah, tidak disyaratkan penentuan siapa yang akan memikul kesaksian; karena tujuan secara umum berbeda-beda tergantung pada rahn dan penjamin, sedangkan pada syahadah, tujuannya adalah agar para ‘adūl (orang-orang yang adil) memikul akad atau pengakuan atasnya, dan hal ini tidak berbeda-beda tergantung siapa para ‘adūl tersebut. Para ulama kami sepakat atas hal ini, maka tidak disyaratkan penentuan saksi secara spesifik.

ولكن لو عين العاقد شهوداً في شرطه فهل يتعينون كالرهن والكفيل فعلى وجهين أحدهما يتعينون كالرهن والكفيل فإن لم يشهد المتعينُ تخير الشارط

Namun, jika pihak yang berakad menentukan para saksi dalam syaratnya, apakah mereka menjadi tertentu seperti rahn (barang jaminan) dan kafīl (penjamin)? Ada dua pendapat: salah satunya, mereka menjadi tertentu seperti rahn dan kafīl. Maka jika saksi yang telah ditentukan itu tidak memberikan kesaksian, pihak yang mensyaratkan boleh memilih.

والثاني لا يتعينون وإن عُينوا شرطاً؛ إذ لو تعينوا لوجب شرطُ تعيينهم كالرهن والكفيل

Yang kedua, mereka tidak menjadi tertentu meskipun mereka disebutkan secara spesifik sebagai syarat; sebab jika mereka menjadi tertentu, maka syarat penentuan mereka menjadi wajib, seperti halnya rahn (barang jaminan) dan kafīl (penjamin).

ثم قال الأئمة إذا حكمنا بأنهم لا يتعينون وألغينا شرط التعيين فلا يفسد العقد بهذا؛ من جهة أنا أخرجنا تعيين الشهود من مقاصد العقود وكل شرط لا يتعلق بمقصود العقد ففساده لا يبطل العقد كما لو قال بعتك هذا العبد على أن يلبس الخز وما في معناه من الشرائط اللاغية

Kemudian para imam berkata, jika kami memutuskan bahwa mereka (para saksi) tidak harus ditentukan dan kami mengabaikan syarat penentuan (saksi), maka akad tidak menjadi batal karena hal ini; karena kami telah mengeluarkan penentuan saksi dari tujuan utama akad, dan setiap syarat yang tidak berkaitan dengan tujuan utama akad, maka kerusakannya tidak membatalkan akad, sebagaimana jika seseorang berkata, “Aku menjual budak ini kepadamu dengan syarat ia memakai kain sutra,” dan syarat-syarat lain yang serupa yang dianggap tidak sah.

ثم إذا لم يتعين الشهود فلا يبعد أن يقال ينبغي أن يأتي المشروط عليه برجالٍ يقربون من المعينين في الصفات المقصودة في الشهادة حتى لا يكتفي بإشهاد أقوام يظهر انحطاطهم عنهم والعلم عند الله تعالى

Kemudian, jika para saksi tidak ditentukan secara spesifik, maka tidaklah jauh untuk dikatakan bahwa seharusnya pihak yang dikenai syarat menghadirkan orang-orang yang mendekati sifat-sifat yang dimaksudkan dalam persaksian, sehingga tidak cukup dengan menghadirkan orang-orang yang tampak lebih rendah dari mereka; dan ilmu yang sebenarnya hanya milik Allah Ta‘ala.

ثم إذا شُرط في العقد رهن مجهول أو كفيل من غير تعيين فقد ذكرنا فساد الشرط ثم إذا فسد الشرط ففي فساد البيع قولان أحدهما يبطل كسائر الشروط الفاسدة والثاني لا يفسد البيع؛ لأن الرهن عقدٌ مبتدأ ينفصل عن البيع وقد يتأخر عقدُ الرهن عن عقد البيع فليس إذن هو صفة في البيع فلا يفسد البيع بفساده والصداق لما لم يتأصل ركناً في العقد وتصور انفراد النكاح عنه لا جرم لم يفسد النكاح بفساده

Kemudian, jika dalam akad disyaratkan adanya rahn yang tidak diketahui atau penjamin tanpa penunjukan secara spesifik, maka telah kami sebutkan bahwa syarat tersebut batal. Selanjutnya, apabila syarat tersebut batal, terdapat dua pendapat mengenai batal atau tidaknya jual beli. Pendapat pertama menyatakan bahwa jual beli menjadi batal seperti syarat-syarat fasid lainnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tidak batal, karena rahn adalah akad tersendiri yang terpisah dari jual beli, dan akad rahn bisa saja dilakukan setelah akad jual beli. Maka, rahn bukanlah sifat dalam jual beli, sehingga kerusakannya tidak membatalkan jual beli. Demikian pula mahar, karena ia bukan rukun yang mendasar dalam akad dan pernikahan dapat terjadi tanpanya, maka kerusakan pada mahar tidak membatalkan akad nikah.

فإن قيل لم قطعتم بذلك في الصداق وجعلتم المسألة على قولين في شرط الحَميل والرهن قلنا في الصداق قولٌ ضعيف أيضاًً سيأتي في موضعه إن شاء الله تعالى؛ ثم الرَّهن إذا كان مجهولاً صار الثمن مجهولاً؛ فإنه متعلَّق الثمن وجهالة الثمن تُبطل العقد وهل يرد على هذا شرط الرهن الصَّحيح؛ فإنه إذا انضم إلى الثمن كان زيادة وليست مضبوطة فكأن العين مبيع بألفٍ وشيء قلنا إذا كان الرهن معلوماً فليس يخفى وقعه ثم هو كالأجل والخيارِ في أنه من مصالح العقد فاحتمل شرطه ولا ضرورة في شرط المجاهيل كما ذكرناه في الأجل

Jika dikatakan, “Mengapa kalian memastikan hal itu dalam masalah mahar, sementara kalian menjadikan permasalahan syarat penjamin (ḥamīl) dan gadai (rahn) sebagai dua pendapat?” Kami jawab: Dalam masalah mahar juga terdapat pendapat yang lemah, yang akan disebutkan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala. Kemudian, jika gadai itu tidak diketahui (majhūl), maka harga (tsaman) menjadi tidak diketahui pula, karena harga itu terkait dengannya, dan ketidakjelasan harga membatalkan akad. Apakah syarat gadai yang sah juga terkena hal ini? Sebab, jika gadai itu digabungkan dengan harga, maka ia menjadi tambahan yang tidak terukur, sehingga seolah-olah barang dijual dengan seribu dan sesuatu (yang tidak jelas). Kami katakan, jika gadai itu diketahui, maka pengaruhnya tidak samar, dan ia seperti tempo (ajal) dan opsi (khiyār) dalam hal bahwa ia termasuk maslahat akad, sehingga syaratnya dapat ditoleransi. Tidak ada kebutuhan mendesak untuk mensyaratkan hal-hal yang tidak diketahui, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah tempo.

فصل

Bab

ولو قال رهنتك أحدَ عبديَّ إلى آخره

Dan jika ia berkata, “Aku menggadaikan kepadamu salah satu dari dua hambaku,” dan seterusnya.

قد ذكرنا أن هذا مجهول وشرط الرهن المجهول فاسد

Telah kami sebutkan bahwa ini tidak diketahui, dan syarat rahn yang tidak diketahui adalah fasid (rusak/tidak sah).

ثم قال لو أصاب المرتهن بعد القبض بالرهن عيباً إلى آخره

Kemudian ia berkata: Jika setelah menerima barang gadai, pemegang gadai menyebabkan cacat pada barang gadai, dan seterusnya.

إذا اختلف الراهن والمرتهن بعد قبض الرَّهن في عيبٍ كان بالرهن فقال الراهنُ حدث العيب في يدك وقال المرتهن بل كان قديماً في يدك فالقول قول الراهن كما قدمناه في اختلاف المتبايعين وهذا إذا لم تكذِّب المشاهدةُ أحدهما فلا يخفى حكمه إن كان كذلك ثم إن كان الرهن مبتدأ غير مشروط فلا أثر للعيب فيه؛ فإن المرتهن لو أراد أن يفسخ الرهن من غير عيب كان له ذلك وإنما مسائل عيوب الرهن فيه إذا كانت مشروطة في البيع فإذا فُرض الرهن مشروطاًً في البيع ثم اطلع المرتهن على عيبٍ قدبم به كان له أن يفسح البيع ولا يتأتى ذلك منه ما لم يردّ الرهنَ ففائدة الاطلاع على عيب المرهون ردُّ البيع

Jika terjadi perselisihan antara rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai) setelah barang gadai diterima terkait cacat yang ada pada barang gadai, lalu rahin berkata, “Cacat itu terjadi ketika barang ada di tanganmu,” sedangkan murtahin berkata, “Cacat itu sudah ada sejak barang di tanganmu,” maka yang dipegang adalah pernyataan rahin, sebagaimana telah dijelaskan dalam perselisihan antara penjual dan pembeli. Hal ini berlaku selama tidak ada bukti nyata yang mendustakan salah satu dari keduanya, sehingga hukumnya tidak samar jika memang demikian keadaannya. Kemudian, jika barang gadai tersebut sejak awal tidak disyaratkan dalam akad, maka cacat pada barang itu tidak berpengaruh; sebab jika murtahin ingin membatalkan gadai tanpa adanya cacat pun, ia berhak melakukannya. Permasalahan cacat pada barang gadai hanya berlaku jika gadai itu disyaratkan dalam akad jual beli. Jika gadai memang disyaratkan dalam jual beli, lalu murtahin menemukan cacat lama pada barang gadai, maka ia berhak membatalkan jual beli, dan hal itu tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengembalikan barang gadai. Maka, manfaat dari mengetahui adanya cacat pada barang gadai adalah untuk membatalkan jual beli.

ولو قال لست أفسخ البيع ولكني أردّ الرهن قيل له لا فائدة في ردك إذاً إلا فسخ الرهن ولو لم تطلع على عيب لكنتَ متمكناً من فسخ الرهن

Jika seseorang berkata, “Saya tidak membatalkan jual beli, tetapi saya mengembalikan barang gadai,” maka dikatakan kepadanya, “Tidak ada manfaat dari pengembalianmu itu kecuali berarti membatalkan gadai. Andaikan kamu tidak mengetahui cacatnya, tentu kamu tetap berhak membatalkan gadai.”

ولو كان الرهن مشروطاًً في البيع فقبضه المرتهن وتلف في يده ثم اطلع على عيب قديم به فالرد بعد التلف غيرُ ممكن في المبيع والثمن ولكن يثبت للمطلع على العيب الرجوع بأرشه عند تعذر رده والأرش لا معنى له في الرهن؛ فإن معناه في البيع الرجوعُ بقسطٍ من العوض المقابل للمبيع الفائت والمرهون لا عوض له حتى يُفرضَ الرجوعُ في قسطٍ منه فإذا لم يكن الرجوع ممكناً فهل يثبت للمطلع على العيب حقُّ فسخ البيع فعلى وجهين أحدهما لا يثبت؛ فإن حق الفسخ مرتب على رد الرهن فإذا عسر رده ولم يمكنّا أن نثبت للعيب أرشاً فلا وجه إلا سدُّ باب الرد وإلزامُ البيع

Jika rahn disyaratkan dalam jual beli, lalu rahn tersebut telah diterima oleh murtahin dan kemudian rusak di tangannya, kemudian ditemukan cacat lama pada barang tersebut, maka pengembalian setelah kerusakan tidak mungkin dilakukan baik pada barang yang dijual maupun pada harga. Namun, bagi yang menemukan cacat, tetap berhak untuk menuntut kompensasi (arsh) ketika pengembalian tidak memungkinkan. Arsh tidak ada maknanya dalam rahn; karena maknanya dalam jual beli adalah pengembalian sebagian dari imbalan yang sepadan dengan barang yang hilang, sedangkan barang yang digadaikan (marhun) tidak memiliki imbalan sehingga tidak mungkin dianggap ada pengembalian sebagian darinya. Jika pengembalian tidak memungkinkan, apakah orang yang menemukan cacat berhak membatalkan jual beli? Ada dua pendapat: salah satunya, tidak berhak; karena hak pembatalan tergantung pada pengembalian rahn. Jika pengembaliannya sulit dan kita tidak mungkin menetapkan arsh karena cacat, maka tidak ada jalan lain kecuali menutup pintu pengembalian dan mewajibkan jual beli tetap berlaku.

والوجه الثاني أنه يرد البيعَ ويفسخه ويقول استحققت بالشرط رهناً سليماً فلم يتفق الوفاء به فكأنك لم ترهن عندي ولو شرط البائع رهنَ عبدين عيَّنَهما فرهنَ المشتري أحدهما دون الثاني فللبائع فسْخُ العقد بنقصان الصفة ؛ من حيث إنه يؤثر في المقصود بمثابة نقصان العين

Dan sisi kedua adalah bahwa ia mengembalikan jual beli tersebut dan membatalkannya, lalu berkata: “Aku berhak mendapatkan jaminan (rahn) yang sah sesuai syarat, namun tidak terpenuhi, maka seolah-olah engkau tidak menyerahkan jaminan kepadaku.” Jika penjual mensyaratkan jaminan berupa dua budak yang telah ditentukan, lalu pembeli hanya menyerahkan salah satunya dan bukan yang kedua, maka penjual berhak membatalkan akad karena kekurangan sifat; karena hal itu memengaruhi tujuan sebagaimana kekurangan pada objek (barang) itu sendiri.

والقائل الأول يقول شُرط للبائع رهنٌ معين فوفَّى المشتري به فلم يوجد من جهته تأخير وتقصير يكون به غير موفٍ بالشرط ثم تعذر الرَّدُّ فَفَسْخُ عَقْده بعيد

Pendapat pertama mengatakan: Penjual mensyaratkan adanya barang jaminan tertentu, lalu pembeli telah memenuhinya sehingga tidak terdapat penundaan atau kelalaian dari pihaknya yang menyebabkan ia tidak memenuhi syarat tersebut, kemudian pengembalian menjadi sulit, maka pembatalan akadnya adalah hal yang jauh (tidak tepat).

وليس كما لو شرط رهن عبدين فلم يف بأحدهما وهذا يتوجه عليه أن الرد ثبت إذا كان المرهون باقياً ولا يقال قد وفى المشتري بما شُرِط عليه في معين

Tidak seperti ketika disyaratkan gadai dua budak lalu tidak dipenuhi dengan salah satunya; hal ini berkaitan dengan bahwa pengembalian (akad) berlaku jika barang yang digadaikan masih ada, dan tidak dapat dikatakan bahwa pembeli telah memenuhi apa yang disyaratkan atasnya pada sesuatu yang tertentu.

هذا بيان الوجهين

Inilah penjelasan kedua pendapat.

فصل

Bab

قال ولو اشترط أن يكون المبيع بعينه رهناً فالبيع مفسوخ إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika disyaratkan bahwa barang yang dijual itu sendiri menjadi rahn (barang jaminan), maka jual belinya batal, dan seterusnya.”

إذا شرط البائع جعل المبيع رهناً بالثمن نُفرِّع هذا على الأقوال في أن البداية في وجوب التسليم بمن فإن حكمنا بأن البداية بالبائع فشرطُ حبس المبيع بطريق الرهن يخالف هذا المقتضى وإذا خالفه فسد وأفسد العقدَ وكذلك إذا قلنا هما يجبران على تسليم العوضين أو قلنا لا يجبران ومن بدأ بتسليم العوض الذي التزمه أجبر صاحبه على تسليم مقابله فإذا وقع التفريع على هذين القولين ثم جرى في العقد شرط رهن المبيع فسد الشرط وفسد البيع من جهة أنه تضمَّن خروج البيع عن مقتضاه فلا يحتمل هذا

Jika penjual mensyaratkan agar barang yang dijual dijadikan rahn (jaminan) atas harga, maka hal ini dikaitkan dengan pendapat-pendapat tentang siapa yang lebih dahulu wajib menyerahkan (barang atau harga). Jika kita memutuskan bahwa yang lebih dahulu adalah penjual, maka syarat menahan barang dengan cara rahn bertentangan dengan ketentuan ini. Jika bertentangan, maka syarat tersebut batal dan membatalkan akad. Demikian pula jika kita mengatakan bahwa keduanya (penjual dan pembeli) dipaksa untuk saling menyerahkan barang dan harga, atau kita mengatakan keduanya tidak dipaksa, dan siapa yang lebih dahulu menyerahkan barang yang menjadi kewajibannya, maka pihak lain dipaksa menyerahkan barang yang menjadi imbalannya. Jika kita mengikuti dua pendapat ini, lalu dalam akad terdapat syarat rahn atas barang yang dijual, maka syarat tersebut batal dan jual belinya juga batal, karena hal itu berarti jual beli keluar dari ketentuannya, dan hal ini tidak dapat diterima.

ومن الأصول المعتمدة في البياعات أن العقد إذا كان له مقتضى عند الإطلاق فلا يجوز تغييره في مقتضى إطلاقه بما لا نفع فيه ولا مصلحة تتعلق بالعقد فأما الشرط الذي يتعلق بمصلحة العقد فلا يجوز الاسترسال في تجويزه بل يُتَّبع فيه توقيفُ الشارع كالخيار وما في معناه؛ فإن هذه الأشياء في المعاملات كالرخص في العبادَاتِ فلئن ثبت الرهن بنص الكتاب والإجماع فرهن المبيع من وجهٍ لا حاجة إليه وهو على حالٍ مغيرٌ لمقتضى إطلاق العقد ولا توقيف فيه فلا سبيل إلى احتماله

Di antara prinsip yang dijadikan pegangan dalam jual beli adalah bahwa suatu akad, apabila memiliki konsekuensi tertentu secara umum, maka tidak boleh mengubah konsekuensi umum tersebut dengan sesuatu yang tidak membawa manfaat atau maslahat yang berkaitan dengan akad. Adapun syarat yang berkaitan dengan maslahat akad, maka tidak boleh terlalu longgar dalam membolehkannya, melainkan harus mengikuti ketetapan syariat seperti dalam hal khiyār dan yang semisalnya; sebab hal-hal ini dalam muamalah seperti rukhshah dalam ibadah. Maka jika rahn telah ditetapkan dengan nash Al-Qur’an dan ijmā‘, maka menjadikan barang yang dijual sebagai rahn dari satu sisi yang tidak diperlukan dan dalam keadaan yang mengubah konsekuensi umum akad tanpa ada ketetapan syariat, maka tidak ada jalan untuk membolehkannya.

فإذا قلنا البداية بالتسليم على المشتري والمبيع بحق العقد محبوس بالثمن فلو شرط البائع رهن المبيع عنده بالثمن فهل يصح الشرط على هذا القول فعلى وجهين أحدهما يصح؛ فإنه موافق لمقتضى العقد؛ إذ مقتضاه على هذا القول حبس المبيع بالثمن والرهن يوافق هذا المعنى

Jika kita mengatakan bahwa permulaan dimulai dengan penyerahan salam kepada pembeli dan barang yang dijual secara hakikat terikat oleh harga, maka jika penjual mensyaratkan agar barang yang dijual dijadikan sebagai jaminan (rahn) di sisinya atas harga tersebut, apakah syarat ini sah menurut pendapat ini? Maka terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan sah; karena hal itu sesuai dengan konsekuensi akad, sebab konsekuensi akad menurut pendapat ini adalah menahan barang yang dijual dengan harga, dan rahn sejalan dengan makna ini.

والوجه الثاني لا يجوز الشرط ويفسد العقد به؛ لأن المبيع إذا كان محبوساً بالثمن فهو من ضمان البائع والرهن لو قدر ثبوته فمقتضاه أن يكون المرهون أمانة في يد المرتهن فقد اختلف موجَب الحبسين فشرطُ أحدهما مع الثاني طلب الجمع بين مختلفين

Pendapat kedua menyatakan bahwa syarat tersebut tidak boleh dan akad menjadi batal karenanya; sebab jika barang yang dijual masih tertahan karena harga, maka barang itu masih dalam tanggungan penjual, sedangkan jika gadai itu dianggap sah, maka konsekuensinya barang yang digadaikan menjadi amanah di tangan penerima gadai. Maka, kedua penahanan tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda, sehingga mensyaratkan keduanya berarti menggabungkan dua hal yang berbeda.

ثم إن حكمنا بصحة الشرط ووفَّى المشتري به فالمبيع يكون مرهوناً عند البائع مضموناً عليه بحكم العقد؛ فإن ضمان العقد لا يزول إلا بالقبض ولا يتصور على مذهبنا مرهون يسقط الدين بتلفه إلا هذا ولكن الثمن لا يسقط بسبب تلف الرهن من حيث كان رهناً وإنما يسقط بتلف المبيع من حيث كان مضموناً على البائع

Kemudian, apabila kita memutuskan sahnya syarat tersebut dan pembeli telah memenuhi syarat itu, maka barang yang dijual menjadi barang gadai di tangan penjual dan menjadi tanggungan penjual berdasarkan hukum akad; sebab tanggungan akad tidak hilang kecuali dengan penyerahan barang, dan menurut mazhab kami tidak ada barang gadai yang menyebabkan hutang gugur karena rusaknya barang tersebut kecuali dalam kasus ini. Namun, harga (barang) tidak gugur karena rusaknya barang gadai sebagai barang gadai, melainkan gugur karena rusaknya barang yang dijual sebagai barang yang menjadi tanggungan penjual.

ثم قال الشافعي ولو قال للذي عليه الحق أرهنك على أن تزيدني في الأجل إلى آخره إذا قال المشتري والثمن مؤجل عليه للبائع أزيدك رهناً فزدني أجلاً فنقول الزيادة لا تلحق بالعقد؛ فلا مطمع في حصول هذا الغرض ويُنظر إلى الرهن الذي يزيده المشتري فإن أطلقه وما ذكر معه شرطاً فالذي تقدم من الزيادة في الأجل لغوٌ وهذا الرهن ثابت وإن شرط في الرهن الزيادة في الأجل فقد ضمّن الرهنَ شرطاً فاسداً ففسد الرهن به

Kemudian Imam Syafi’i berkata: Jika seseorang yang memiliki kewajiban (utang) berkata kepada pihak yang berhak, “Aku akan memberikanmu barang jaminan (rahn) asalkan engkau menambah waktu jatuh tempo bagiku,” atau jika pembeli berkata kepada penjual yang pembayaran harganya masih ditangguhkan, “Aku akan menambah barang jaminan, maka tambahkanlah waktu jatuh tempo bagiku,” maka kami katakan bahwa penambahan tersebut tidak dapat dihubungkan dengan akad; sehingga tidak ada harapan untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian dilihat pada barang jaminan yang ditambahkan oleh pembeli: jika ia memberikannya secara mutlak tanpa menyebutkan syarat apa pun bersamanya, maka penambahan waktu jatuh tempo yang telah disebutkan sebelumnya menjadi sia-sia, dan barang jaminan itu tetap sah. Namun jika dalam pemberian barang jaminan itu disyaratkan penambahan waktu jatuh tempo, maka ia telah menyertakan syarat yang rusak (fasad) dalam akad rahn, sehingga rahn tersebut menjadi batal karenanya.

فصل

Bab

قال ولو أقر أن الموضوع على يديه الرهنُ قبض الرهن إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang mengakui bahwa barang yang ada di tangannya adalah rahn (barang gadai), maka dianggap telah terjadi qabdh (penguasaan) atas rahn tersebut, dan seterusnya.”

إذا رهن الرجل عيناً وكانا ذكراً عدلاً ثم قال الراهن سلّمت الرهن إلى العدل وقبضه عن جهة الرهن ثم استرددته منه بعد لزوم الرهن للانتفاع أو غيره من الأغراض فقال العدل ما قبضتُ ثبت لزوم الرهن بقول الراهن؛ فإنه معترف على نفسه بلزوم الحق للمرتهن فكان مؤاخذاً بإقراره وقوله غير مقبول على العدل حتى لو بيع ذلك الرهن و خرج مستحقا فليس لمستحقه مطالبة العدل بناء على أن متاعه قد مر بيده؛ فإنا لم نصدق الراهن على العدل وإنما حكمنا عليه بموجب إقراره ليثبت حق المرتهن وهذا هين المُدرَك في أحكام الأقارير وما يتصل يها من القضايا

Jika seseorang menggadaikan suatu barang dan keduanya adalah laki-laki yang adil, kemudian pihak yang menggadaikan berkata, “Saya telah menyerahkan barang gadai itu kepada pihak yang adil dan ia telah menerimanya atas nama gadai, lalu saya mengambilnya kembali darinya setelah gadai itu menjadi wajib, baik untuk dimanfaatkan atau tujuan lainnya,” lalu pihak yang adil berkata, “Saya tidak pernah menerimanya,” maka tetaplah kewajiban gadai itu berdasarkan pernyataan pihak yang menggadaikan; karena ia telah mengakui atas dirinya sendiri tentang kewajiban hak bagi penerima gadai, sehingga ia terikat dengan pengakuannya, dan ucapannya tidak diterima terhadap pihak yang adil. Bahkan jika barang gadai itu dijual dan ternyata barang itu milik orang lain, maka pemilik aslinya tidak berhak menuntut pihak yang adil dengan alasan barangnya pernah berada di tangannya; sebab kami tidak membenarkan pihak yang menggadaikan terhadap pihak yang adil, melainkan kami memutuskan atasnya berdasarkan pengakuannya agar hak penerima gadai tetap terjaga. Inilah hal yang mudah dipahami dalam hukum-hukum pengakuan dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya.

ولو قال لمن وكله بالبيع قد بِعْتَ ما وكلتُك ببيعه من فلان فإقراره محكوم به مقبول في حق المعيَّن للشراء ولكن لا يُقبل إقرارُه على الوكيل إذا كان يتعلق بالوكيل ضمان أو عهدة فلو أراد المشتري المقَرُّ له أن يطالب الوكيل بعهدة العقد بناء على إقرار البائع له بالبيع لم يمكنه ذلك؛ لأن الوكيل لم يعترف بالبيع وإقرار الموكل إنما يقبل على نفسه للمشتري ولا يقبل على الوكيل حتى يلزمه عُهدة

Jika seseorang berkata kepada orang yang ia wakilkan untuk menjual, “Engkau telah menjual apa yang aku wakilkan kepadamu untuk dijual kepada si Fulan,” maka pengakuannya itu dihukumi sah dan diterima terhadap orang yang ditunjuk sebagai pembeli. Namun, pengakuan tersebut tidak diterima terhadap sang wakil jika berkaitan dengan tanggung jawab atau jaminan yang harus dipikul oleh wakil. Maka, jika pembeli yang diakui ingin menuntut wakil atas tanggung jawab akad berdasarkan pengakuan penjual kepadanya tentang penjualan, ia tidak dapat melakukannya; karena wakil tidak mengakui adanya penjualan, dan pengakuan muwakkil (pemberi kuasa) hanya diterima atas dirinya sendiri terhadap pembeli, tidak diterima terhadap wakil hingga mewajibkan tanggung jawab kepadanya.

فصل

Bab

قال المزني وجملة قوله في اختلاف الراهن والمرتهن أن القول قول الراهن في الحق والقول قول المرتهن في الرهن إلى آخره

Al-Muzani berkata: Secara keseluruhan, pendapatnya mengenai perselisihan antara rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai) adalah bahwa yang dipegang adalah ucapan rahin dalam hal hak (utang), dan ucapan murtahin dalam hal barang gadai, dan seterusnya.

أراد المزني أن يضبط الصور التي يُصَدَّقُ فيها الراهن والمسائل التي يُصَدَّقُ فيها المرتهن فأتى بقول مبهمٍ لا يفهم وأجرى كلاماً ظاهره الفساد ولا يجوز أن يشكل عليه وجه الحق فيه فاجتمع أمران أحدهما أنه لم يُنتفَعْ بضبطه والآخر أنا نحتاج إلى تأويل اللفظ

Al-Muzani ingin menetapkan gambaran-gambaran di mana pihak yang menggadaikan dipercaya, dan permasalahan-permasalahan di mana pihak penerima gadai dipercaya. Namun, ia mengemukakan pernyataan yang samar dan tidak dipahami, serta mengutarakan ucapan yang secara lahiriah tampak rusak, sehingga tidak boleh ada keraguan terhadap kebenaran maksudnya. Maka, terkumpullah dua hal: pertama, tidak ada manfaat dari penetapannya; kedua, kita membutuhkan penafsiran terhadap lafaznya.

أما قوله القول قول الراهن في الحق فصحيح ومعناه لو اختلفا في قدر الحق فقال الراهن رهنت بخمسمائة وقال المرتهن بألفٍ أو اختلفا في الجنس فقال الراهن رهنت بالدنانير وقال المرتهن بل بالدراهم التي لي عليك وكانت له عليه دراهم ودنانير فالقول قول الراهن

Adapun pernyataannya bahwa yang dipegang adalah ucapan rahin (pemberi gadai) dalam hal hak, maka itu benar. Maksudnya, jika keduanya berselisih tentang jumlah hak, lalu rahin berkata, “Saya menggadaikan dengan lima ratus,” sedangkan murtahin (penerima gadai) berkata, “Dengan seribu,” atau mereka berselisih tentang jenisnya, lalu rahin berkata, “Saya menggadaikan dengan dinar,” sedangkan murtahin berkata, “Bukan, tetapi dengan dirham yang menjadi utangmu kepadaku,” padahal ia memang memiliki piutang berupa dirham dan dinar atas rahin, maka yang dipegang adalah ucapan rahin.

وأما قوله القول قول المرتهن في الرهن فمشكل؛ فإن الراهن والمرتهن لو اختلفا في مقدار الرهن أو في إقباضه فنفى الراهنُ مقداراً عن الرهن أو نفى الإقباضَ فالقول في ذلك كله قول الراهن فلا يستدّ مطلق قول المزني ولا بد للفظه من تأويل فنذكر وجهه وهو على التحقيق مراده وسياق كلامه دليل عليه فمراده أن الرهن إذا كان مشروطاًً في البيع فالمرتهن هو البائع والراهن المشتري فإذا تنازعا في أصل الرهن كان أو لم يكن أو في قدره أو جنسه فهذا اختلاف المتبايعين في صفة العقد والحكم فيه التحالف ثم البداية على الأصح تقع بالبائع وهو المرتهن فالمعني بقوله القول قول المرتهن هذا

Adapun pernyataannya bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menerima gadai (al-murtaḥin) dalam masalah rahn (gadai), maka hal ini bermasalah; sebab jika pihak yang menggadaikan (ar-rāhin) dan pihak yang menerima gadai berselisih tentang jumlah barang yang digadaikan atau tentang penyerahannya, lalu pihak yang menggadaikan menafikan jumlah tertentu dari barang gadai atau menafikan penyerahan, maka dalam semua hal tersebut, pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menggadaikan. Maka, pernyataan al-Muzani secara mutlak tidak dapat diterima, dan ucapannya harus ditakwil. Kami akan menyebutkan maksudnya, dan inilah sebenarnya yang ia maksudkan, serta konteks ucapannya menjadi bukti atas hal itu. Maksudnya adalah, jika rahn disyaratkan dalam akad jual beli, maka pihak yang menerima gadai adalah penjual dan pihak yang menggadaikan adalah pembeli. Jika keduanya berselisih tentang asal-usul rahn, apakah ada atau tidak, atau tentang jumlah atau jenisnya, maka ini adalah perselisihan antara dua pihak yang berakad jual beli mengenai sifat akad, dan hukumnya adalah kedua belah pihak saling bersumpah (taḥāluf), kemudian menurut pendapat yang paling kuat, dimulai dari penjual, yaitu pihak yang menerima gadai. Maka, yang dimaksud dengan pernyataannya bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menerima gadai adalah hal ini.

ويمكن أن يُفرض نزاعٌ في بعض أحكام الرهن والقول فيها قول المرتهن وذلك إذا اتفقا على الرهن والقبض فقال الراهن فسخنا الرهن وقال المرتهن لم نفسخه فالقول قول المرتهن؛ لأن الأصل أن لا فسخ

Mungkin saja terjadi perselisihan dalam beberapa hukum rahn, di mana pendapat yang dipegang adalah pendapat murtahin. Hal ini terjadi apabila keduanya telah sepakat atas rahn dan penyerahan barang, kemudian rahin berkata, “Kita telah membatalkan rahn,” sedangkan murtahin berkata, “Kita belum membatalkannya.” Maka pendapat yang dipegang adalah pendapat murtahin, karena pada dasarnya tidak ada pembatalan.

ثم قال فيما يشبه ولا يشبه وهذا رد على مالكٍ؛ فإنه يقول لو كان الدّين ألفاً فقال المرتهن رهنتني هذا العبد وقيمته ألف فقال الراهن بل رهنتك الآخر وقيمته خمسمائة قال مالك القول قول المرتهن؛ لأن الظاهر أنه لا يرضى أن يرتهن بالألف ما يساوي خمسمائة وهذا الذي ذكره مالك لا عبرة به ولا نظر إلى مقدار القيمة

Kemudian ia berkata tentang perkara yang serupa dan tidak serupa, dan ini merupakan bantahan terhadap pendapat Malik; sebab Malik berpendapat, jika utangnya seribu, lalu pihak yang menerima gadai berkata, “Engkau menggadaikan kepadaku budak ini, dan nilainya seribu,” sedangkan pihak yang menggadaikan berkata, “Bukan, aku menggadaikan kepadamu budak yang lain, dan nilainya lima ratus,” maka Malik berpendapat bahwa yang dipegang adalah ucapan pihak yang menerima gadai; karena secara lahiriah, tidak mungkin ia rela menerima gadai barang senilai lima ratus untuk utang seribu. Namun, apa yang disebutkan oleh Malik ini tidak dapat dijadikan pertimbangan, dan tidak perlu memperhatikan besaran nilai barang tersebut.

فصل

Bab

قال الشافعي ولو قال الرجل لرجلين رهنتماني إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: “Seandainya seseorang berkata kepada dua orang, ‘Kalian berdua telah menjadikan aku sebagai penerima rahn (barang gadai),’ dan seterusnya.”

إذا ادعى رجل على رجلين أنهما رهنا منه عبدهما بمائة نُظر فإن صدّقاه ثبت الرهن وإن كذباه فالقول قولهما مع اليمين؛ لأن الأصل عدم الرهن فإن صدقه أحدهما وكذبه الآخر فنصيب المصدِّق وهو النصف رهنٌ بخمسين إذا كان الدين مائة ونصيب المكذِّب خارج عن الرهن إن حلف على ما نفاه فإن شهد المصدِّق على المكذِّب فشهادته مقبولة؛ فإن شهادة الشريك على الشريك مقبولة وإنما النظر في شهادة الشريك للشريك كما سنذكره الآن إن شاء الله عز وجل

Jika seseorang mengklaim terhadap dua orang bahwa mereka telah menggadaikan budak mereka kepadanya dengan nilai seratus, maka dilihat terlebih dahulu: jika keduanya membenarkannya, maka gadai tersebut sah; namun jika keduanya mengingkarinya, maka perkataan mereka yang diterima dengan sumpah, karena pada dasarnya tidak ada gadai. Jika salah satu dari keduanya membenarkan dan yang lain mengingkari, maka bagian orang yang membenarkan, yaitu setengahnya, menjadi gadai sebesar lima puluh jika utangnya seratus, dan bagian orang yang mengingkari tidak termasuk dalam gadai jika ia bersumpah atas penolakannya. Jika orang yang membenarkan memberikan kesaksian terhadap orang yang mengingkari, maka kesaksiannya diterima; karena kesaksian mitra terhadap mitra diterima, sedangkan yang perlu diperhatikan adalah kesaksian mitra untuk mitra, sebagaimana akan kami jelaskan sekarang insya Allah عز وجل.

ولو ادعى رجلان على رجل أنه رهن عِندهما ثوباً له فإن صدقهما فذاك وإن كذبهما فالقول قوله مع يمينه وإن صدق أحدهما دون صاحبه فالنصف رهن من المصدَّق فإن شهد هذا المصدَّق للمكذَّب ففي قبول شهادته وجهان أحدهما أنها مقبولة؛ إذ لا جرَّ في شهادته ولا دفع والوجه الثاني لا تقبل شهادته له وهذا الخلاف في الشهادة يبتني على أصل سنذكره في كتاب الأقارير وكتاب الدعاوى إن شاء الله تعالى

Jika dua orang laki-laki mengaku terhadap seseorang bahwa ia telah menggadaikan kepadanya sebuah kain miliknya, maka jika ia membenarkan keduanya, maka demikianlah adanya. Namun jika ia mendustakan keduanya, maka perkataan kembali kepada dirinya dengan sumpahnya. Jika ia membenarkan salah satu dari keduanya dan mendustakan yang lain, maka setengah kain itu menjadi barang gadai bagi yang dibenarkan. Jika yang dibenarkan itu memberikan kesaksian untuk yang didustakan, maka ada dua pendapat mengenai diterimanya kesaksiannya: pendapat pertama, kesaksiannya diterima karena tidak ada keuntungan atau kerugian dalam kesaksiannya; pendapat kedua, kesaksiannya tidak diterima untuknya. Perbedaan pendapat dalam kesaksian ini didasarkan pada prinsip yang akan kami sebutkan dalam Kitab Pengakuan dan Kitab Gugatan, insya Allah Ta‘ala.

والذي لا بد من ذكره هاهنا أن رجلين إذا ادعيا اتِّهابهما عبداً من رجلٍ وأنه وهبه منهما وسلمه إليهما فصدَّق المدعى عليهِ أحدهما وكذب الثاني فَيَسْلم من تصديقه الهبةُ في النصف ثم ذلك النصف هل يستبدُّ به المقَرُّ له أم لصاحبه أن يقول نحن فيما بيننا تصادقنا وتقارَرْنا على أن الهبة جرت مشتركة إيجاباً وقبولاً وتسليماً وقد سلم النصف بإقراره فليكن هذا مشتركاً فيه وجهان أحدهما أن النصف يَسْلم للمقرّ له لا نزاع فيه والثاني أن صاحبه يشاركه في النصف الذي سَلِم وهذا التردد يجري في كل ملكٍ وحقٍّ متلقّىً من عقدٍ على سبيل الشيوع

Hal yang perlu disebutkan di sini adalah apabila dua orang mengaku bahwa mereka berdua telah diberi seorang budak oleh seseorang, dan bahwa orang tersebut telah memberikannya kepada mereka berdua, lalu orang yang dituduh hanya membenarkan salah satu dari keduanya dan mendustakan yang lain, maka hibah itu sah untuk separuhnya berdasarkan pengakuan yang dibenarkan. Kemudian, apakah separuh itu menjadi hak khusus bagi orang yang diakui, ataukah temannya dapat berkata, “Di antara kita berdua, kita telah saling membenarkan dan sepakat bahwa hibah itu terjadi secara bersama-sama, baik dalam ijab, kabul, maupun penyerahan, dan separuhnya telah sah berdasarkan pengakuannya, maka hendaknya separuh itu menjadi milik bersama”? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pertama, separuh itu menjadi milik orang yang diakui, tanpa ada perselisihan; kedua, temannya ikut memiliki bagian dalam separuh yang telah sah tersebut. Keraguan ini berlaku pada setiap kepemilikan dan hak yang diperoleh dari akad secara musya‘ (kepemilikan bersama).

ولو اعترف بأن هذه الدار ورثتها أنا وفلان من أبينا وكانت مجحودة فسلم لأحدهما بعضها فيشركه فيها شريكُه في الميراث وسيأتي هذا بأصله وتفريعه

Jika seseorang mengakui bahwa rumah ini diwarisi olehnya dan si Fulan dari ayah mereka, dan rumah tersebut sebelumnya diingkari, lalu ia menyerahkan sebagian rumah itu kepada salah satu dari mereka, maka dalam bagian tersebut, rekannya dalam warisan akan ikut serta bersamanya. Masalah ini beserta asal dan rincian cabangnya akan dijelaskan nanti.

عُدنا إلى غرضنا إذا ادعيا على رجل أنه رهن منهما فأقر لأحدهما فذلك

Kita kembali kepada pokok pembahasan kita: jika dua orang mengaku bahwa mereka telah menerima barang gadai dari seorang laki-laki, lalu laki-laki itu mengakui kepada salah satu dari keduanya, maka hal itu…

الحاصل بالإقرار إن قلنا يختص به المصدَّق فشهادته مقبولة للمُكذَّب وإن قلنا يَشْركُه فيه المكذَّب؛ فشهادته تتضمن دفعاً عن نفسه؛ فترد لذلك

Kesimpulannya, jika menurut pendapat bahwa hak yang diperoleh melalui iqrar hanya khusus bagi pihak yang dibenarkan, maka kesaksiannya diterima untuk pihak yang didustakan. Namun jika menurut pendapat bahwa pihak yang didustakan juga turut memiliki hak tersebut, maka kesaksiannya mengandung unsur pembelaan diri; oleh karena itu, kesaksiannya ditolak.

/ م ولو ادعى رجلان على رجلين أنهما رهنا عبداً لهما منهما فإن صدقاهما ثبت الرهن وإن كذباهُما فالقول قولهما مع أَيْمانهما والنزاع بينهم يتصور على وجوه ولا يكاد يخفى مُدرك جميعها على متأملٍ

Dan jika dua orang laki-laki mengklaim terhadap dua orang laki-laki bahwa keduanya telah menggadaikan seorang budak milik mereka berdua dari keduanya, maka jika keduanya membenarkan klaim tersebut, maka gadai itu sah. Namun jika keduanya mendustakan klaim tersebut, maka keputusan kembali kepada keduanya dengan sumpah mereka. Perselisihan di antara mereka dapat terjadi dalam beberapa bentuk, dan alasan hukum dari masing-masing bentuk tersebut hampir tidak samar bagi orang yang memperhatikannya.

ونحن نذكر أغمض الصور فنقول إذا ادعى بكر وخالد على زيد وعمرو أنهما رهنا منهما عبدَهما المشتركَ بينهما فصدَّق زيد خالداً وكذَّب بكراً وصدق عمرو بكراً وكذب خالداً وكلّ واحدٍ من زيدٍ وعمرٍو له نصفُ العبد وقد جمع في نصفه بين إقرار وإنكار فيضمن بكر من جهة المقر مُقِرّاً له بربع العبد وهو نصف نصيب أحدهما وكذلك الثاني ولا غموض لهذا

Kami akan menyebutkan contoh yang paling rumit, yaitu: Jika Bakar dan Khalid mengklaim terhadap Zaid dan Amr bahwa keduanya telah menerima gadai dari mereka berupa budak milik bersama mereka, lalu Zaid membenarkan Khalid dan mendustakan Bakar, sedangkan Amr membenarkan Bakar dan mendustakan Khalid, dan masing-masing dari Zaid dan Amr memiliki setengah bagian dari budak tersebut, maka pada setengah bagian budak itu terkumpul antara pengakuan dan penolakan. Maka Bakar bertanggung jawab dari sisi orang yang mengakui, yaitu mengakui kepadanya seperempat bagian budak, yaitu setengah dari bagian salah satu dari mereka, demikian pula yang kedua. Tidak ada kerumitan dalam hal ini.

وإنما يهاب المبتدىء هذا لما نقل بعضُ الأئمة أن ابن سريج قال ما انتهيت إلى هذه المسألة إلا احتجت إلى إتقان الفكر حتى أثبتها على حاشية الكتاب

Hanya saja, seorang pemula merasa gentar terhadap hal ini karena sebagian imam telah meriwayatkan bahwa Ibn Suraij berkata, “Setiap kali aku sampai pada masalah ini, aku membutuhkan ketelitian berpikir hingga aku dapat menuliskannya di pinggir kitab.”

فصل

Bab

قال وإن كان له على رجل ألفان إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang memiliki piutang dua ribu atas seseorang, dan seterusnya.”

إذا استحق على رجل دينين من جهتين ومبلغ كلِّ دين ألفٌ فإن رهن بألفٍ في جهة مخصوصة عبداً ثم إنَّ مَنْ عليه الدين أدى ألفاً وتنازع الراهن والمرتهن فقال المرتهن أديت الألفَ الذي لم يكن موثقاً بالرهن والرهن باقٍ بالألف الثاني وقال المؤدي بل أديتُ عن الرهن وفككته

Jika seseorang memiliki dua utang dari dua pihak yang berbeda, dan jumlah masing-masing utang adalah seribu, lalu ia menjaminkan seorang budak untuk salah satu utang secara khusus, kemudian orang yang berutang itu membayar seribu, lalu terjadi perselisihan antara pemberi gadai dan penerima gadai. Penerima gadai berkata, “Engkau telah membayar seribu yang tidak dijamin dengan gadai, dan gadai masih tetap untuk seribu yang kedua.” Sedangkan orang yang membayar berkata, “Aku telah membayar untuk menebus gadai dan telah membebaskannya.”

فنقول لا شك أن الاعتبار بقصد المؤدِّي حتى لو فرض منه قصد في أداء دين مخصوص ولم يُفرض من القابض قصدٌ في القبض؛ فإن المؤدَّى يقع في حُكم الله تعالى على نحو قصد المؤدي فإذاً تبين هذا حكماً حتى قال الأصحاب لو ظن القابض أن المؤدِّي يودعه الألفَ وأنه مستحفظ فيه وقصد المؤدِّي قضاءَ حقه فالقبض يتم وذمة المؤدي تبرأ

Maka kami katakan, tidak diragukan lagi bahwa yang menjadi pertimbangan adalah niat orang yang memberikan (sesuatu), sehingga jika misalnya ia berniat untuk melunasi utang tertentu dan tidak ada niat apa pun dari pihak penerima dalam menerima (sesuatu tersebut), maka apa yang diberikan itu berlaku menurut hukum Allah Ta’ala sesuai dengan niat pemberi. Dengan demikian, hal ini menjadi suatu ketetapan hukum, bahkan para ulama mengatakan, jika penerima mengira bahwa pemberi menitipkan seribu (dirham) kepadanya dan bahwa ia hanya sebagai penjaga, sementara pemberi berniat melunasi haknya, maka penerimaan itu sah dan tanggungan pemberi menjadi bebas.

وهذا فيه أدنى نظر عندي؛ فإن الإقباض شرطه التمليك وكل من عليه الدين إذا أداه فكأنه يُملّك القابضَ ويثبت له في الأعيان ملكاً؛ فإن حقه لم يكن متعلِّقاً بعين فإن وصل المُقبضُ فِعله بقولٍ فذاك وإن لم يصله بقول فلا يبعد أن نقول لا بد من مَخِيلة مُملِّكة مشعرة بتسليط القابض؛ فإن التمليك بالمبهمات غيرُ متجه

Menurut pendapat saya, hal ini masih memerlukan pertimbangan lebih lanjut; sebab penyerahan (iqbāḍ) syaratnya adalah pemilikan, dan setiap orang yang memiliki utang apabila melunasinya, seolah-olah ia memberikan kepemilikan kepada penerima dan menetapkan kepemilikan atas barang secara nyata baginya; karena haknya sebelumnya tidak terkait pada suatu benda tertentu. Jika orang yang menyerahkan mengiringi perbuatannya dengan ucapan, maka itu sudah cukup. Namun jika tidak disertai ucapan, tidak mustahil kita mengatakan bahwa harus ada indikasi yang menunjukkan adanya pemindahan kepemilikan yang memberi isyarat bahwa penerima diberi kuasa; sebab pemilikan dengan sesuatu yang samar tidaklah dapat diterima.

فإذا تبين ما ذكرناه عاد بنا الكلامُ بعده إلى طريق فصل التنازع

Setelah jelas apa yang telah kami sebutkan, maka pembicaraan kita kembali kepada cara memisahkan perselisihan.

فنقول إذا اختلف الراهن والمرتهن على ما ذكرناه فالقول قول الراهن مع يمينه ولو قال أديتُ الألفَ وقصدت أن يكون نصفُه عن جهة الرهن ونصفه عن الألف المرسل فهو مصدَّق فإن نُوزع يُحَلَّف

Maka kami katakan, apabila terjadi perselisihan antara rahin dan murtahin sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka yang dipegang adalah pernyataan rahin dengan sumpahnya. Dan jika ia berkata, “Aku telah membayar seribu itu dan aku bermaksud agar setengahnya untuk pelunasan rahn dan setengahnya untuk seribu yang dipinjamkan,” maka ia dibenarkan. Jika diperselisihkan, maka ia disumpah.

وإن قال لم يكن لي قصدٌ في تعيين جهةٍ وإنما أديت الألف مرسلاً ففي المسألة وجهان أحدهما أنا نقول له الآن اصرف الألفَ إلى أي جهة شئت فإن صرفه إلى الرهن انفك وإن صرفه إلى الآخر بقي الرهن وإن قسمه عليهما انقسم والوجه الثاني أن الأداء المطلق محمول على التقسيم فيقع عن كلّ دين قسطٌ من المؤدَّى فإن استويا في المقدار يقسط عليهما بالسوية وإن اختلفا يقسط عليهما على تفاوت القدرين

Jika ia berkata, “Aku tidak bermaksud menentukan tujuan tertentu, melainkan aku hanya membayarkan seribu itu secara umum,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, kita katakan kepadanya sekarang: “Arahkanlah seribu itu ke tujuan mana pun yang kamu kehendaki; jika kamu mengarahkannya untuk pelunasan gadai, maka gadai itu lepas; jika kamu mengarahkannya ke utang yang lain, maka gadai itu tetap; dan jika kamu membaginya untuk keduanya, maka terbagi pula.” Pendapat kedua, pembayaran yang bersifat mutlak dianggap sebagai pembagian, sehingga setiap utang mendapatkan bagian dari jumlah yang dibayarkan; jika kedua utang itu sama besar, maka dibagi rata; dan jika berbeda, maka dibagi sesuai perbedaan jumlahnya.

ولهذا نظائر منها أنه لو أقرض مشرك مشركا ألفاً بألفين ثم قضاه أحد الألفين في الشرك ثم أسلما فقال المؤدي أديتُ في الشرك ما أديتُ عن جهة الربح فالألف قائم عليه وهو مطالبٌ به في الإسلام وإن زعم أن الذي أديتُه قصدتُ به تأدية رأس المال فهو مصدّق وإن اتهم حُلِّف وموجب تصديقه الحكمُ ببراءته؛ فإن أصل الدين قد تأدى؛ ولا ربحَ في الإسلام وإن زعم أني أديت الألف ولم أقصد صرفَه إلى جهة مخصوصة فوجهان أحدهما أن المؤدّى مُقسط على الربح ورأس المال وحكم ذلك أن يطالبه في الحال بخمسمائة؛ فإنه قد أدَّى خمسمائة من الأصل ولم يبق إلا خمسمائة ولا ربح

Demikian pula terdapat beberapa kasus serupa, di antaranya: jika seorang musyrik meminjamkan kepada musyrik lain seribu dengan syarat dikembalikan dua ribu, lalu salah satu dari dua ribu itu dibayar saat masih dalam keadaan syirik, kemudian keduanya masuk Islam. Jika pihak yang membayar mengatakan, “Saya telah membayar saat masih syirik apa yang saya bayarkan itu untuk keuntungan (riba),” maka seribu masih menjadi tanggungannya dan ia tetap dituntut membayarnya dalam Islam. Namun, jika ia mengaku bahwa apa yang telah ia bayarkan itu ia maksudkan untuk membayar pokok pinjaman, maka ia dipercaya. Jika ia dicurigai, maka ia harus bersumpah, dan konsekuensi dari kepercayaannya adalah diputuskan bahwa ia telah bebas dari tanggungan; karena pokok utang telah dibayarkan, dan tidak ada keuntungan (riba) dalam Islam. Jika ia mengaku, “Saya telah membayar seribu, dan saya tidak bermaksud mengalokasikannya untuk tujuan tertentu,” maka ada dua pendapat: salah satunya, bahwa pembayaran tersebut dibagi rata antara keuntungan dan pokok pinjaman. Konsekuensinya, ia dituntut saat itu juga untuk membayar lima ratus; karena ia telah membayar lima ratus dari pokok pinjaman dan yang tersisa hanya lima ratus, tanpa ada keuntungan (riba).

والوجه الثاني أنه يقال له اصرف ما أديته الآن إلى ما شئت فإن صرفه إلى الربح فعليه الألف التام عن جهة رأس المال وإن صرفه إلى رأس المال سقط الربح وسقطت المطالبة وإن بعَّض قصدَه تبعّض الأمرُ ولم يختلف الحكم كما قدمناه

Adapun sisi kedua, dikatakan kepadanya: “Arahkanlah apa yang telah engkau bayarkan sekarang kepada tujuan yang engkau kehendaki.” Jika ia mengarahkannya kepada keuntungan, maka ia wajib membayar seribu penuh dari sisi modal. Jika ia mengarahkannya kepada modal, maka keuntungan gugur dan gugur pula tuntutan. Jika ia membagi niatnya, maka urusannya pun terbagi, dan hukumnya tidak berbeda sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

وكذلك لو ترابيا في الشرك درهماً بدرهمين وأقبض الزائدُ المُفْضِلُ أحدَهما ثم أسلماً فالقول في القصد والاختلاف على حسب ما مضى وهذه المسألة مفروضة في البيع والأخرى التي قبلها مفروضة في القرض ولا فرق

Demikian pula, jika dua orang melakukan transaksi barter dalam riba fadhl, misalnya menukar satu dirham dengan dua dirham, lalu pihak yang memberikan kelebihan menyerahkan salah satunya, kemudian keduanya masuk Islam, maka pembahasan tentang niat dan perbedaan pendapat berlaku sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Masalah ini diasumsikan terjadi dalam jual beli, sedangkan masalah sebelumnya diasumsikan dalam pinjaman, dan tidak ada perbedaan di antara keduanya.

ولو وكل الرجلان رجلاً ليقتضي دينين لهما على رجلٍ وكل دين ألف مثلاً فدفع

Jika dua orang laki-laki mewakilkan kepada seorang laki-laki untuk menagih dua utang mereka kepada seseorang, dan masing-masing utang tersebut misalnya seribu, lalu ia menyerahkan…

من عليه الدينان ألفاً إلى الوكيل فإن قال حال الدفع خُذْه عن دين فلان وعيّن أحدَ

Barang siapa yang memiliki dua utang sebesar dua ribu kepada wakil, lalu saat menyerahkan (uang) ia berkata, “Ambillah ini untuk membayar utang Fulan,” dan ia menentukan salah satu dari keduanya…

موكِّلَيْه وقع عن تلك الجهة ولو قال بعد ذلك قصدتُ خلافَ ما قلت لم يقبل

Apa yang dilakukan oleh kedua wakilnya dianggap berasal dari pihak tersebut, dan jika setelah itu ia berkata, “Aku bermaksud selain dari apa yang aku katakan,” maka tidak diterima.

منه وهذا يطرد في جميع المسائلِ التي ذكرناها ولو لم يقل شيئاًً ثم راجعناه

Hal ini berlaku pada seluruh permasalahan yang telah kami sebutkan, meskipun ia tidak mengatakan apa pun, kemudian kami menanyakannya kembali.

فقال قصدت أحدَ الموكلَيْن وقع المقبوض على حسب قصده وإن قال لم

Maka jika ia bermaksud salah satu dari dua pihak yang mewakilkan, maka barang yang diterima itu dianggap milik pihak yang dimaksud sesuai dengan niatnya. Namun jika ia berkata tidak…

أقصد تعيين واحد منهما فيعود الوجهان نقول في أحدهما يتقسط ما أداه على

Saya maksudkan penetapan salah satu dari keduanya, maka kembali kepada dua pendapat: kita katakan pada salah satunya, apa yang telah dibayarkan dibagi rata atas keduanya.

ديْنَي الموكِّلَيْن ونقول في الثاني للمؤدي اصرف الآن قصدَك إلى من شئت منهما أو

Utang kedua wakil, dan pada kasus kedua kita katakan kepada yang membayar: sekarang arahkan niatmu kepada siapa pun yang kamu kehendaki di antara keduanya, atau…

قسِّط عليهما

Cicil kepada keduanya.

ولو قال من عليه الدين للوكيل من جهة المستحقَّيْن خذ الألفَ وادفعه إلى فلان فقد اختلف أصحابنا في هذه المسألة فمنهم من قال إذا جرى ذلك انعزل الوكيل بالقبض عن حكم ذلك التوكيل وصار وكيلا للمؤدِّي؛ فإنَّ حكم قوله ادفعه أن يتوقف الأمر على وصوله إلى الموكِّل وحكم البقاء على توكيله بالقبض أن يبرأ الدافع بالدفع إلى الوكيل فلا يكون لقوله ادفع إلى فلان معنى

Jika orang yang berutang berkata kepada wakil dari pihak yang berhak, “Ambillah seribu itu dan berikan kepada si Fulan,” maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika hal itu terjadi, maka wakil dalam hal penerimaan telah terhenti dari status perwakilan tersebut dan menjadi wakil dari pihak yang membayar; karena makna dari ucapannya “berikanlah” adalah bahwa urusan tersebut bergantung pada sampainya (uang itu) kepada pemberi kuasa, sedangkan makna tetapnya perwakilan dalam hal penerimaan adalah bahwa pihak yang membayar telah bebas dari tanggung jawab dengan menyerahkan kepada wakil, sehingga ucapan “berikanlah kepada si Fulan” tidak lagi memiliki makna.

ومن أصحابنا من قال لا ينعزل عن التوكيل بالقبض وإن قبل التوكيل بالدفع على اللفظ الذي حكيناه؛ وذلك أن يدَ الوكيل ليست تنتهي بالقبض ومعنى قبضه أن يوصّلَه إلى موكِّله فإذا قال من عليه الدين ادفع هذا إلى موكِّلك لم يكن ما قاله مضاداً للقبض والمسألة محتملة لطيفة والأفقه الوجه الأول

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa seseorang tidak diberhentikan dari tugas sebagai wakil untuk menerima (qabḍ) meskipun ia menerima tugas sebagai wakil untuk menyerahkan (daf‘) berdasarkan lafaz yang telah kami sebutkan; sebab, kekuasaan (yad) wakil tidak berakhir dengan penerimaan (qabḍ), dan makna penerimaannya adalah menyampaikan (barang tersebut) kepada pemberi kuasa (muwakkil). Maka, jika orang yang berutang berkata, “Serahkan ini kepada pemberi kuasamu,” ucapan tersebut tidak bertentangan dengan penerimaan (qabḍ). Masalah ini mengandung kemungkinan yang halus, namun pendapat yang lebih fiqh adalah pendapat pertama.

ثم مما يجب التنبه لهُ في تصوير المسألة أنا لا نشترط من الوكيل تصريحاً بالقبول لمّا قال من عليه الدين ادفع إلى موكلك بل مجرد قوله له ادفع يتضمن أني لا أقنع بيدك على حسب ما وكلك صاحبك ولكن آمرك ابتداءً بأن تسلمه إليه

Kemudian, hal yang juga perlu diperhatikan dalam menggambarkan masalah ini adalah bahwa kami tidak mensyaratkan adanya pernyataan penerimaan secara eksplisit dari wakil ketika orang yang berutang berkata kepadanya, “Serahkanlah kepada wakilmu.” Namun, cukup dengan ucapannya, “Serahkanlah,” yang sudah mengandung makna bahwa aku tidak puas jika berada di tanganmu sesuai dengan apa yang diwakilkan oleh pemilikmu, melainkan aku memerintahkanmu secara langsung untuk menyerahkannya kepadanya.

هذا ما نشأ منه التردد وهو لا يفتقر إلى تصوير قبول فليفهم الناظر

Inilah yang menjadi sebab munculnya keraguan, dan hal ini tidak memerlukan gambaran tentang kemungkinan penerimaan, maka hendaklah yang menelaah memahaminya.

وأثر ما ذكرناه أنا إذا قلنا لا يقع قبضه على حكم توكيل موكِّله فلو تلف في يده فذمة من عليه الدين مشغولة وإن قلنا إنه يبقى على حكم التوكيل بالقبض فلو تلف ما قبضه في يده كان من ضمان موكِّله وقد برىء المؤدِّي فإن لم يكن منْ الوكيل تقصير فلا ضمان أصلاً وإن كان منه تقصير فهو متعدٍّ في ملك غيره وطرف الإنصاف والانتصاف بينهما بيِّن والغرضُ ما اتضح من براءة المؤدِّي

Dampak dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa jika kita mengatakan bahwa penerimaan (qabdh) yang dilakukan tidak berlaku sebagai penerimaan atas dasar perwakilan (tawkil) dari pihak yang mewakilkan, maka jika barang tersebut rusak di tangannya, tanggungan utang tetap berada pada pihak yang berutang. Namun, jika kita mengatakan bahwa penerimaan tersebut tetap atas dasar perwakilan dalam penerimaan, maka jika barang yang diterima itu rusak di tangannya, maka menjadi tanggungan pihak yang mewakilkan, dan pihak yang membayar telah bebas dari kewajiban. Jika tidak ada kelalaian dari pihak wakil, maka sama sekali tidak ada tanggungan. Namun jika ada kelalaian darinya, maka ia dianggap melampaui batas dalam kepemilikan orang lain, dan batas keadilan serta hak antara keduanya jelas. Tujuan utamanya adalah kejelasan bahwa pihak yang membayar telah bebas dari kewajiban.

فصل

Bab

قال ولو قال رهنته هذه الدارَ التي في يده بألفٍ إلى آخره

Dia berkata: “Aku telah menjadikan rumah ini yang ada di tangannya sebagai rahn (barang jaminan) dengan nilai seribu, dan seterusnya.”

إذا اعترف الرَّجل بأنه رهن داره من إنسان وصادفنا تلك الدار في يد المرتهن ثم اختلفا فقال الراهن غصبته مني وقال المرتهن بل أقبضتنيه فالقول قول الراهن في أصل المذهب لأن الأصل عدم القبض والخيار إلى المقبض

Jika seorang laki-laki mengakui bahwa ia telah menggadaikan rumahnya kepada seseorang, lalu kita mendapati rumah tersebut berada di tangan penerima gadai, kemudian keduanya berselisih pendapat—si penggadai berkata, “Kau telah merampasnya dariku,” sedangkan penerima gadai berkata, “Justru engkau yang menyerahkannya kepadaku”—maka menurut pendapat utama dalam mazhab, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan penggadai, karena pada dasarnya tidak ada penyerahan, dan hak memilih ada pada pihak yang menyerahkan.

ولو قال الراهن أعرتُه أو أودعتُه أو أكريتُه أو أكريتُ الدار من فلانٍ فأكراها منه أو أعارها منه فحصلت تحت يده بهذه الجهة وقال المرتهن بل أقبضتنيه عن جهة الرَّهن ففي المسألة وجهان أحدهما القولُ قول الراهن كالمسألة الأولى وهي إذا ادعى الراهن الغصبَ وادعى المرتهن القبض المستحق والوجه الثاني القول قول المرتهن لتقارِّهما على أن القبض لا عدوان فيه وأن صدَرَه عن الإذن ثم ظاهرُ اليد يدل على حق ذي اليد كما أن ظاهرها يدّل على ملك ذي اليد إذا كان المتنازَعُ الملكَ والظاهر بناء القبض على العقد المقتضي للقبض

Jika pihak yang menggadaikan berkata, “Aku meminjamkannya kepadanya,” atau “Aku titipkan kepadanya,” atau “Aku sewakan kepadanya,” atau “Aku menyewa rumah dari si Fulan lalu aku sewakan kepadanya,” atau “Aku meminjamkan rumah itu kepadanya,” sehingga barang tersebut berada di tangannya melalui cara-cara tersebut, lalu pihak yang menerima gadai berkata, “Justru aku menerimanya dalam rangka gadai,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menggadaikan, sebagaimana pada masalah pertama, yaitu ketika pihak yang menggadaikan mengaku barangnya digelapkan, sedangkan pihak penerima gadai mengaku telah menerima barang secara sah. Pendapat kedua, yang dipegang adalah pernyataan pihak penerima gadai, karena keduanya sepakat bahwa penerimaan barang itu tidak mengandung unsur pelanggaran dan terjadi atas izin, kemudian secara lahiriah barang berada di tangan orang yang memegangnya, sebagaimana secara lahiriah juga menunjukkan kepemilikan orang yang memegangnya jika yang diperselisihkan adalah kepemilikan. Dan secara lahiriah, penerimaan barang itu didasarkan pada akad yang mengharuskan adanya penyerahan.

هذا الذي سردناه أصلُ المذهب وقد أبعد بعض الأصحاب فذكر وجهاًً ضعيفاً في أن القول قول المرتهن وإن قال الراهن غصبتنيه وهذا ضعيف غيرُ معتد به وسنعيده مع تفريعاتٍ في كتاب العارية إن شاء الله تعالى

Apa yang telah kami paparkan ini adalah pokok mazhab, dan sebagian sahabat telah berlebihan dengan menyebutkan satu pendapat lemah bahwa yang dipegang adalah perkataan murtahin meskipun rahin berkata, “Barang itu telah dirampas dariku.” Pendapat ini lemah dan tidak dianggap, dan kami akan mengulanginya beserta rincian-rinciannya dalam Kitab al-‘Ariyah, insya Allah Ta‘ala.

فلو قال البائع غصبتنيه وقال المشتري بل أقبضتنيه والتفريع على أن المبيع محبوس بالثمن وعلى المشتري البداية فإذا تنازعا كما وصفناه فإن كان قد وفر المشتري الثمنَ أو كان الثمنُ مؤجَّلا فلا معنى لهذا الاختلاف؛ فإن قبض المبيع مستحَق للمشتري وإن كانَ الثمن حالاً ولم يوفر المشتري الثمن فالقول قول البائع؛ لأن الأصل عدمُ الإقباض وإن قال البائع أعرتكه أو أودعتكه وقال المشتري بل أقبضتنيه عن البيع ففي المسألة وجهان أظهرهما الحكمُ بالقبض؛ لأن المبيع ملك المشتري وحق البائع في الحبس ضعيف

Jika penjual berkata, “Barang itu telah dirampas dariku,” dan pembeli berkata, “Justru engkau telah menyerahkannya kepadaku,” maka penjelasan masalah ini didasarkan pada prinsip bahwa barang yang dijual tertahan karena harga dan pembeli yang harus memulai. Jika keduanya berselisih sebagaimana telah dijelaskan, maka jika pembeli telah menyediakan harga atau harga tersebut memang ditangguhkan, maka perselisihan ini tidak bermakna; sebab penguasaan atas barang yang dijual memang menjadi hak pembeli. Namun, jika harga harus segera dibayar dan pembeli belum menyediakan harga, maka yang dipegang adalah pernyataan penjual, karena pada dasarnya penyerahan belum terjadi. Jika penjual berkata, “Aku meminjamkan atau menitipkan barang itu kepadamu,” dan pembeli berkata, “Justru engkau telah menyerahkannya kepadaku sebagai barang jualan,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat, yang paling kuat adalah menetapkan terjadinya penyerahan; karena barang yang dijual telah menjadi milik pembeli dan hak penjual untuk menahan barang tersebut lemah.

وهذا يصفو بشيء وهو أن البائع لو أعار المشتري المبيعَ على أن ينتفع به ويردَّه محبوساً بالثمن فالإعارة هل تُبطل حق حبسه وجهان ذكرهما الشيخ وصاحب التقريب وطائفة من العراقيين أحدهما أن حق حبسه يبطل فإنه لم يكن حقّاً مقصوداَّ بَعقد فإذا ثبتت يدُ المشتري وهو مالك وكان زوال اليد عن رضاً فلا عود إلى اليد

Hal ini menjadi jelas dengan suatu hal, yaitu apabila penjual meminjamkan barang yang dijual kepada pembeli agar pembeli dapat memanfaatkannya dan kemudian mengembalikannya dalam keadaan tertahan karena harga (belum dibayar), maka apakah peminjaman tersebut membatalkan hak penahanan barang? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh asy-Syaikh, penulis at-Taqrib, dan sekelompok ulama Irak. Salah satunya adalah bahwa hak penahanan menjadi batal, karena hak tersebut bukanlah hak yang dimaksudkan secara khusus dalam akad. Maka, apabila barang telah berada di tangan pembeli yang merupakan pemiliknya, dan pelepasan barang itu terjadi atas dasar kerelaan, maka tidak ada lagi hak untuk mengambil kembali barang tersebut.

والوجه الثاني أن حق البائع لا يسقط فإنه لم يسقطه فيجب الوقوف على منتهى قصده

Pendapat kedua adalah bahwa hak penjual tidak gugur, karena ia tidak menggugurkannya, maka harus tetap berpegang pada maksud akhirnya.

ولو أودع البائع المبيع عند المشتري ففي بطلان حق البائع من الحبس وجهان مرتبان على الوجهين في العارية و اختلف أصحابنا في كيفية الترتيب فمنهم من جعل الإيداع أولى ببطلان حق البائع؛ من جهة أنه يبعد كل البعد أن يحفظ المالك ملكه لغيره وفي الإعارة غرضٌ على حالٍ سوى الحفظ

Jika penjual menitipkan barang yang dijual kepada pembeli, maka terdapat dua pendapat mengenai gugurnya hak penjual untuk menahan barang, yang diurutkan berdasarkan dua pendapat dalam masalah ‘ariyah (pinjam pakai). Para ulama kami berbeda pendapat tentang cara pengurutan tersebut. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa penitipan (wadi‘ah) lebih utama menyebabkan gugurnya hak penjual, karena sangat tidak masuk akal jika pemilik menjaga miliknya untuk orang lain, sedangkan dalam pinjam pakai (‘ariyah) masih ada tujuan lain selain sekadar menjaga.

ومن أصحابنا من جعل الإيداع أولى بأن لا يُبطل حقَّ البائع؛ فإنه ليس فيه تسليط أصلاَّ وفي الإعارة تسليط

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa penitipan (wadi‘ah) lebih utama untuk tidak membatalkan hak penjual; karena dalam penitipan tidak terdapat unsur memberikan kekuasaan sama sekali, sedangkan dalam peminjaman (i‘ārah) terdapat unsur memberikan kekuasaan.

ولم يختلف أئمتنا في أن المرتهن لو رَدَّ الرهنَ إلى يد الراهن بأية جهة فرضت مع استمراره على الرهن فحقه قائم لا يبطل

Para imam kami tidak berbeda pendapat bahwa jika pihak yang menerima gadai mengembalikan barang gadai kepada tangan pemberi gadai dengan alasan apa pun, selama barang tersebut tetap dalam status gadai, maka haknya tetap ada dan tidak batal.

عاد الآن بنا الكلامُ إلى ما كنا فيه من اختلاف البائع والمشتري فإن قلنا الإعارة والإيداع يُبطل حقَّ البائع فلا معنى للاختلاف؛ فإنه اعترف بمبطلِ حقه

Sekarang pembicaraan kita kembali kepada persoalan yang sedang kita bahas, yaitu perselisihan antara penjual dan pembeli. Jika kita katakan bahwa ‘ariyah (peminjaman) dan wadi‘ah (titipan) membatalkan hak penjual, maka tidak ada makna bagi perselisihan tersebut; karena ia telah mengakui sesuatu yang membatalkan haknya.

وإن قلنا الإعارة والإيداع لا يبطلان حقَّه من الحبس فإذا تنازعا انتظم الخلاف الذي ذكرناه والوجه الضعيف في ادعاء البائع للغصب وادعاء المشتري الإقباض عائدٌ

Jika kita mengatakan bahwa ‘āriyah (peminjaman) dan wadī‘ah (titipan) tidak membatalkan haknya untuk menahan (barang), maka apabila keduanya berselisih, terangkai perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan, dan pendapat yang lemah dalam klaim penjual atas ghashb (perampasan) serta klaim pembeli atas iqbādh (penyerahan barang) kembali lagi.

وبالجملة يد البائع ضعيفة وآية ذلك أن المشتري إذا قتل العبدَ المشترى جعل ذلك قبضاً منه ناقلاً للضّمان وإن كان على كُره من البائع وكان من الممكن أن نقولَ يغرم قيمةَ المبيع ويسلمَها لتُحبس على الثمن كما نقول يغرَم الراهن قيمةَ المرهون إذا قتله لتوضع رهناً إلى أداء الدين

Secara ringkas, hak penjual itu lemah, dan buktinya adalah jika pembeli membunuh budak yang dibelinya, maka hal itu dianggap sebagai bentuk penerimaan (qabdh) darinya yang memindahkan tanggungan (dhaman), meskipun hal itu tidak disukai oleh penjual. Padahal, sebenarnya mungkin saja kita mengatakan bahwa pembeli harus membayar nilai barang yang dijual dan menyerahkannya agar dapat ditahan sebagai jaminan atas harga, sebagaimana kita mengatakan bahwa pihak yang menggadaikan (rahin) harus membayar nilai barang gadai (marhun) jika ia membunuhnya, agar nilai tersebut dijadikan sebagai barang gadai hingga pelunasan utang.

وذكر صاحب التقريب وجهاً في كتاب البيع أن إتلاف المشتري لا يكون قبضاً وأن القيمة تلزمه فتجعلُ محبوسةً كما ذكرناه في الرهن

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat dalam Kitab al-Bay‘ bahwa perusakan (barang) oleh pembeli tidak dianggap sebagai qabḍ (penguasaan), dan bahwa nilai barang tersebut wajib diganti olehnya, lalu nilai itu dianggap tertahan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan rahn.

وهذا بعيد جداً لم يتفق منا حكايتُه في كتاب البيع

Hal ini sangatlah jauh, tidak ada seorang pun dari kami yang meriwayatkannya dalam kitab al-bay‘.

ومما يتعلق باختلاف المحابس لما نحن فيه أنه لو قال من عليه الدين لمستحقه رهنتك هذا العبدَ بالألف الذي لك عليَّ وقال صاحب الحق بل بعتنيه بالألف فالقول قول من عليه الحق لا خلاف فيه؛ فإن صاحبه ادعى عليه إزالةَ الملك بطريق البيع والأصل عدمه وبقاءُ الملك؛ فينتفي البيعُ بنفيه ولا نحكم بالرهن؛ لأن المستحِق ليس يدعيه

Terkait dengan perbedaan bentuk penahanan (muhabbas) dalam permasalahan kita ini, jika seseorang yang berutang berkata kepada pihak yang berhak, “Aku menjadikan budak ini sebagai rahn (jaminan) atas seribu (dinar/dirham) yang menjadi utangku kepadamu,” lalu pihak yang berhak berkata, “Justru engkau telah menjual budak ini kepadaku dengan harga seribu itu,” maka pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang berutang, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sebab, pihak yang berhak telah menuduh adanya pengalihan kepemilikan melalui jual beli, padahal asalnya tidak ada jual beli dan kepemilikan tetap ada pada pemilik semula; maka jual beli dianggap tidak terjadi dengan pengingkaran dari pihak yang berutang. Namun, kita juga tidak menetapkan adanya rahn, karena pihak yang berhak tidak mengakuinya.

ولو كان الخلاف على العكس فقال من عليه الحق بعتك هذا العبد بالألف الذي لك علي وقال صاحب الحق بل رهنتنيه فالوجه أن يحلف كل واحد منهما على نفي العقد الذي يُدّعى عليه فينتفي الرهن والبيع جميعا فلا يبقى لصاحب اليد حق أما الرهن فقد نفاه من عليه الحق وهو مصدّق وأمّا البيع فقد نفاه هو في نفسه

Jika perselisihan terjadi sebaliknya, yaitu orang yang memiliki kewajiban berkata, “Aku telah menjual budak ini kepadamu dengan harga seribu yang menjadi utangku kepadamu,” sedangkan pihak yang berhak berkata, “Justru engkau telah menggadaikannya kepadaku,” maka yang tepat adalah masing-masing dari keduanya bersumpah untuk menolak akad yang didakwakan kepadanya, sehingga baik akad rahn maupun akad jual beli sama-sama gugur, dan pemilik barang tidak lagi memiliki hak. Adapun rahn, telah dibantah oleh orang yang memiliki kewajiban dan ia dibenarkan; sedangkan jual beli, telah dibantah oleh pihak yang bersangkutan sendiri.

فرع

Cabang

العدل إذا باع الرهن بإذنهما ثم قال قد سلمت الثمن إلى المرتهن و أنكر المرتهن فالقول قوله ولا يقبل قول العدل عليه؛ فإنه أمين المرتهن في تحفظ الرهن فحسب ثم هو بالخيار إن شاء طالب الراهن بدينه وإن شاء طالب العدلَ فإن أراد مطالبة العدل فله ذلك؛ فإنه يقول قد أقررتَ بحصول عوض رهني في يدك ورُدّ قولُك في التسليم فله مطالبته إذن ثم إذا غرِم العدلُ كما ذكرناه فلا يجد العدل به مرجعاً على أحد؛ فإنه يعترف بأنه مظلوم من جهة المرتهن ولا يرجع المظلوم إلا على من ظلمه

Apabila seorang adil menjual barang gadai dengan izin kedua belah pihak, kemudian ia berkata bahwa ia telah menyerahkan harga barang tersebut kepada pihak yang menerima gadai (al-murtahin), namun pihak penerima gadai mengingkarinya, maka yang dipegang adalah ucapan pihak penerima gadai dan tidak diterima ucapan orang adil terhadapnya; sebab orang adil itu hanyalah sebagai kepercayaan pihak penerima gadai dalam menjaga barang gadai tersebut. Setelah itu, pihak penerima gadai berhak memilih, jika ia mau, ia dapat menuntut pihak yang menggadaikan atas utangnya, dan jika ia mau, ia dapat menuntut orang adil tersebut. Jika ia ingin menuntut orang adil, maka ia berhak melakukannya; sebab ia dapat berkata, “Engkau telah mengakui bahwa pengganti barang gadaiku ada di tanganmu, dan ucapanmu tentang penyerahan (uang) telah ditolak, maka aku berhak menuntutmu.” Kemudian, apabila orang adil itu telah membayar ganti rugi sebagaimana yang telah disebutkan, maka ia tidak dapat menuntut kembali kepada siapa pun; sebab ia mengakui bahwa ia telah dizalimi oleh pihak penerima gadai, dan orang yang dizalimi tidak dapat menuntut kecuali kepada orang yang menzaliminya.

فرع

Cabang

حكى العراقيون عن الأصحاب أنهم قالوا لو كان لرجل ألفُ درهم على رجلين على كل واحد خمسمائة ولهما عبد مشترك فادعى أنكما رهنتماني العبدَ فأنكر كل واحد رهنَ نصيبه وزعم صاحبه رهنه وهو في نفسه لم يرهن ثم شهد كل واحد منهما على صاحبه وحلف المدعي مع شهادة كل واحد منهما يميناً يميناً فيثبت له الرهن عليهما جميعاً في جميع العبد وتعليله بيّن وهو موجَب القضاء بالشاهد واليمين

Orang-orang Irak meriwayatkan dari para sahabat (ulama mazhab) bahwa mereka berkata: Jika seseorang memiliki seribu dirham atas dua orang, masing-masing lima ratus, dan keduanya memiliki seorang budak secara bersama, lalu ia mengklaim, “Kalian berdua telah menjadikan budak itu sebagai rahanku,” namun masing-masing dari keduanya mengingkari telah merahnkan bagiannya dan menganggap temannya yang merahnkannya, padahal pada kenyataannya ia sendiri tidak merahnkan, kemudian masing-masing dari keduanya bersaksi atas temannya, dan si penggugat bersumpah bersama kesaksian masing-masing dari mereka satu kali sumpah, maka hak rahn (gadai) itu ditetapkan baginya atas keduanya secara bersama atas seluruh budak tersebut. Alasannya jelas, yaitu karena keputusan ini merupakan hasil dari ketetapan hukum dengan saksi dan sumpah.

قال الشيخ أبو حامد في هذا نظر عندي فينبغي أن لا تقبل شهادة واحد منهما؛ فإن المدَّعي يقول قد كذب كل واحد منهما لما أنكر الرهن في حق نفسه فإذا كان يكذِّب شاهدَه في شيء فكيف تقبل شهادته في حقه

Syekh Abu Hamid berkata, “Menurut pendapat saya, dalam hal ini terdapat keraguan, sehingga seharusnya tidak diterima kesaksian salah satu dari keduanya; karena pihak penggugat mengatakan bahwa masing-masing dari mereka telah berbohong ketika mengingkari rahn atas dirinya sendiri. Maka, jika ia mendustakan saksinya dalam suatu hal, bagaimana mungkin kesaksiannya diterima untuk kepentingannya?”

وفيما قاله الشيخ أبو حامد نظر؛ فإن أقوالهما في إنكارهما مجمل لا يوجب تفسيقهما؛ من تقدير غفلة أو ذهول وبالجملة ليس من الرأي ابتدار التفسيق مع اتجاه احتمالاتٍ لا فسق فيها

Dalam apa yang dikatakan oleh Syekh Abu Hamid terdapat sesuatu yang perlu ditinjau kembali; karena pernyataan keduanya dalam penolakannya bersifat umum dan tidak menyebabkan keduanya divonis fasiq, baik karena kemungkinan lalai atau lupa. Secara umum, bukanlah suatu pendapat yang baik untuk tergesa-gesa memvonis fasiq sementara masih ada kemungkinan-kemungkinan yang tidak mengandung unsur kefasikan di dalamnya.

فرع

Cabang

إذا رهن شيئاًً وسلمه إلى المرتهن فمات المرتهن وقال لا أرضى بيد الورثة فكيف السبيل فيه المذهب الأصح أن الأمر يرفع إلى القاضي فينصب القاضي عدلاً ويضع الرهن على يده نقل العراقيون فيه نصَّ الشافعي وخرّج منه أن للراهن إزالة يد الورثة ولا فرق بين أن يكونوا عدولاً وبين أن يكونوا دون مورثهم في الثقة والعدالة

Jika seseorang menggadaikan suatu barang dan menyerahkannya kepada penerima gadai, lalu penerima gadai meninggal dunia dan si penggadai berkata, “Aku tidak ridha barang itu berada di tangan para ahli waris,” maka bagaimana solusinya? Madzhab yang paling sahih menyatakan bahwa perkara ini diajukan kepada qadhi, lalu qadhi menunjuk seorang yang adil dan meletakkan barang gadai tersebut di tangannya. Ulama Irak menukil nash dari asy-Syafi‘i dan menyimpulkan darinya bahwa penggadai berhak mencabut barang gadai dari tangan para ahli waris, tanpa membedakan apakah mereka orang-orang yang adil atau kurang terpercaya dan kurang adil dibandingkan pewaris mereka.

وقال بعض أئمتنا لا يزيل القاضي أيدي الورثة؛ فإنهم استحقوها خلافة ووراثة نعم للقاضي أن يضم إلى أيديهم يداً إذا استدعاه الراهن فأما إزالة حقوقهم فلا سبيل إليه

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa hakim tidak boleh mencabut hak para ahli waris; karena mereka berhak atasnya sebagai pengganti dan pewaris. Namun, hakim boleh menambahkan tangan (pengelola) lain bersama mereka jika diminta oleh pihak yang menggadaikan. Adapun mencabut hak mereka, maka tidak ada jalan untuk itu.

فرع

Cabang

إذا أراد العدلُ أن يسلم الرهن إلى القاضي والراهن والمرتهن جميعاً حاضران فليس له ذلك قبل عرض الأمر عليهما وليس للقاضي أن يقبله إذا أحاط بالحال فلو سلم من غير مراجعة توجه الضمان على العدل

Jika seorang adil ingin menyerahkan barang gadai kepada hakim sementara pihak yang menggadaikan dan penerima gadai keduanya hadir, maka ia tidak boleh melakukannya sebelum mengajukan persoalan tersebut kepada keduanya. Hakim pun tidak boleh menerimanya jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jika barang gadai itu diserahkan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu, maka tanggung jawab (jaminan) menjadi beban si adil.

فأما إذا غاب الراهن والمرتهن إلى مسافة القصر فللعدل التسليم إلى الحاكم

Adapun jika rahin dan murtahin bepergian hingga mencapai jarak safar qashar, maka pihak yang dipercaya (adil) boleh menyerahkan (barang gadai) kepada hakim.

وإن كان دون مسافة القصر فليس له الرفع إلى الحاكم حتى يستأذنَهما ولا يمتنع عندنا اعتبار مسافة العدوى في ذلك حتى يقال إن كانا على مسافة العدوى فلا بد من مراجعتهما وإن كانا فوق مسافة العدوى ففيه تردد

Jika jaraknya kurang dari jarak safar, maka tidak boleh mengajukan perkara kepada hakim sebelum meminta izin kepada keduanya. Menurut kami, tidak ada halangan untuk mempertimbangkan jarak ‘adwā dalam hal ini, sehingga dikatakan: jika keduanya berada pada jarak ‘adwā, maka harus menghubungi mereka terlebih dahulu; namun jika jaraknya melebihi jarak ‘adwā, maka terdapat keraguan dalam hal ini.

ولو كانا حاضرين فعرض عليهما فامتنعا من الاسترداد فيرفع الأمرَ إلى القاضي حينئذ حتى يحملهما على الأخذ منه ثم لا يخفى منتهى الكلام في ذلك

Jika keduanya hadir lalu ditawarkan kepada mereka namun mereka menolak untuk mengambil kembali, maka perkara tersebut diajukan kepada qadhi saat itu juga agar qadhi memaksa mereka untuk mengambilnya darinya, kemudian tidak samar batas akhir pembicaraan dalam hal itu.

بَابُ

Bab

الزيادةِ في الرّهنْ ومَا يحدثُ فيهِ

Penambahan pada rahn dan hal-hal yang terjadi padanya

قال الشافعي وقد روي عن أبي هريرة عن النبي عليه السلام أنه قال الرهن محلوب ومركوب إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata, telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda: “Barang gadai itu boleh diperah susunya dan boleh ditunggangi,” hingga akhir hadis.

مقصود الباب الكلام في فوائد الرهن ومصارفها وتفصيل القول فيها

Tujuan bab ini adalah membahas manfaat rahn, penggunaannya, dan rincian pembahasan terkait hal tersebut.

وهي آثارٌ وأعيانٌ في التقسيم الأول والمعنيُّ بالآثار المنافع وهي للراهن وتَتْبَع

Ia adalah atsar dan benda (‘ayn) dalam pembagian pertama, dan yang dimaksud dengan atsar adalah manfaat, yang menjadi hak bagi rahin dan mengikutinya.

ملكه ولا تتعطّل وأبو حنيفة في مذهبه المشهور يرى تعطيلها وذهب أحمد

Kepemilikannya tetap ada dan tidak menjadi tidak berlaku, sedangkan Abu Hanifah dalam mazhabnya yang masyhur berpendapat bahwa kepemilikan itu menjadi tidak berlaku, dan Ahmad berpendapat…

وإسحاق إلى أنها للمرتهن واعتمد الشافعي الخبر ثم قد يقتضي إزالة يد المرتهن

Dan Ishaq berpendapat bahwa barang tersebut menjadi milik murtahin, sedangkan asy-Syafi‘i berpegang pada hadis, yang kemudian dapat mengharuskan dihilangkannya kepemilikan murtahin atas barang tersebut.

للانتفاع بالرّهنِ؛ فإن الراهن إذا أراد استخدام العبد وركوب الدابة فلا يتأتى له ذلك

Untuk memanfaatkan barang gadai; karena jika orang yang menggadaikan ingin menggunakan budak atau menunggangi hewan tunggangan, maka hal itu tidak dapat ia lakukan.

إلا بإزالة يد المرتهن ولأجل هذا عطل أبو حنيفة المنافع؛ إذ معتقده أن القبض وحق اليد الركن الأعظم في الرهن؛ ولهذا منع رهن المشاع وجرى في المسألتين على تناقض؛ حيث منع رهن المشاع وكان يمكنه أن يديم يد المرتهن على الشائع وصحح رهن ما ينتفع به وعطل المنافع ولو طرد القياس لمنع رهن ما ينتفع به؛ حتى لا تتعطل المنافع وقد قررنا ذلك في الأساليب

Kecuali dengan menghilangkan kekuasaan tangan murtahin (penerima gadai), dan karena itulah Abu Hanifah meniadakan manfaat-manfaat; sebab menurut keyakinannya, qabdh (penguasaan fisik) dan hak atas benda adalah rukun terpenting dalam rahn (gadai). Oleh karena itu, ia melarang gadai atas barang yang bersifat musya‘ (tidak terbagi), dan dalam dua permasalahan ini ia bersikap kontradiktif; di satu sisi ia melarang gadai atas barang musya‘ padahal ia bisa saja membiarkan tangan murtahin tetap atas bagian musya‘, dan di sisi lain ia membolehkan gadai atas barang yang dapat diambil manfaatnya namun meniadakan manfaat-manfaat tersebut. Seandainya ia konsisten dengan qiyās, tentu ia akan melarang gadai atas barang yang dapat diambil manfaatnya, agar manfaat-manfaat tersebut tidak menjadi sia-sia. Hal ini telah kami jelaskan dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya.

ثم لأصحابنا اضطراب في الجمع بين توفير المنافع على المالك وبين رعاية حق المرتهن في القبض ونحن نذكر مضطرب الأئمة في هذا

Kemudian, para ulama kami mengalami kebingungan dalam menggabungkan antara memberikan manfaat sepenuhnya kepada pemilik dan menjaga hak murtahin dalam hal qabdh, dan di sini kami akan menyebutkan pendapat para imam yang berbeda dalam masalah ini.

أولا اتفقوا على أن الراهن لو أراد المسافرة بالعبد لينتفع به في سفره لم يمكّن من ذلك والزوج يسافر بزوجته لتأكد حقه منها ولا يبالي بما يتعطل من منافع الزوجة الحرة والسيد يسافر بالأمة التي زوّجها ولا يبالي بحق الزوج منها وهذه الأصول في ظواهرها أدنى تفاوت

Pertama, mereka sepakat bahwa jika orang yang menggadaikan ingin bepergian dengan budak untuk memanfaatkannya dalam perjalanannya, maka ia tidak diperbolehkan melakukan itu. Sedangkan suami bepergian dengan istrinya karena haknya atas istrinya lebih kuat, dan ia tidak memperdulikan manfaat istri merdeka yang terhalang. Demikian pula tuan bepergian dengan budak perempuan yang telah dinikahkannya, dan ia tidak memperdulikan hak suami atas budak perempuan tersebut. Prinsip-prinsip ini, secara lahiriah, tampak memiliki sedikit perbedaan.

ووجه الكلام على الإيجاز عليها أن النكاح في الحرة هو الأصل في بابه وهو عقد العُمر وبه قوام العالم وبقاء النوع فعظم قدره ويقل بالإضافة إليه منفعة بدن الحرّة ونكاح الأمة دخيل في الباب يُجرَى مجرى الرخص والرهن عارض يعقد للتوثيق وسيؤول على القرب إلى الفَكّ أو إلى البيع وليس في المنع من المسافرة تعطيل كلي

Penjelasan secara ringkas mengenai hal ini adalah bahwa pernikahan dengan perempuan merdeka merupakan asal dalam babnya, yaitu akad seumur hidup, dan dengannya tegaknya dunia serta kelangsungan jenis manusia, sehingga kedudukannya sangat agung. Jika dibandingkan dengannya, manfaat tubuh perempuan merdeka menjadi sedikit. Adapun pernikahan dengan budak perempuan adalah sesuatu yang masuk kemudian dalam bab ini, yang diperlakukan seperti rukhshah (keringanan), sedangkan gadai adalah sesuatu yang bersifat sementara, diadakan untuk tujuan penjaminan, dan dalam waktu dekat akan berakhir dengan pembebasan atau penjualan. Tidak ada dalam larangan bepergian (dengan membawa budak) unsur pembatalan secara total.

ثم قال الأصحاب إن وثِق المرتهن بالراهن سلم العبدَ إليه نهاراً ليستخدمه ثم يرده ليلاً إليه أو إلى يد عدلٍ وإن لم يكن الراهن موثوقاً به كلفه المرتهن أن يُشهد في كل أخذ ورد؛ حتى يقوم الإشهاد في أدائه التوثيق مقامه وإن كان الراهن موثوقاً به في الناس مشهوراً بالعدالة ففي المسألة وجهان أحدهما أنه يجب الاكتفاء بعدالته؛ إذ يشق تكليفه كل غداة أن يُشهد على نفسه وإن لم يكن مشهوراً بالعدالة فقد أُتي من قِبَل نفسه ومن أصحابنا من قال إذا طلب المرتهن الإشهادَ وجب الإسعافُ به

Kemudian para ulama berkata, jika pemegang gadai (murtahin) mempercayai orang yang menggadaikan (rahin), maka ia menyerahkan budak tersebut kepadanya pada siang hari untuk digunakan, lalu mengembalikannya pada malam hari kepadanya atau kepada pihak yang adil. Namun jika orang yang menggadaikan tidak dapat dipercaya, maka pemegang gadai mewajibkannya untuk menghadirkan saksi setiap kali mengambil dan mengembalikan; sehingga penyaksian dalam pengembalian itu menjadi pengganti dari kepercayaan. Jika orang yang menggadaikan dikenal di masyarakat sebagai orang yang adil dan terpercaya, maka dalam masalah ini ada dua pendapat: salah satunya adalah cukup dengan keadilannya, karena memberatkannya untuk menghadirkan saksi atas dirinya setiap pagi adalah hal yang sulit. Namun jika ia tidak dikenal sebagai orang yang adil, maka kekurangan itu berasal dari dirinya sendiri. Di antara ulama kami ada yang berpendapat bahwa jika pemegang gadai meminta adanya saksi, maka wajib dipenuhi permintaannya.

وحكى صاحب التقريب من لفظ الشافعي في الرهن الصغير من القديم قولاً أن الراهن لا يزيل يدَ المرتهن قط ولا يدَ العدل ولكن يستكسب العبدَ في يد المرتهن ويحصل أجرته وإن كان يضيع معظم منافعه فلا يبالَى به أصلاً؛ فإن إزالة يد المرتهن لا سبيل إليه وليس كرهن المشاع؛ فإنه أُورد والإشاعة مقترنة به وهي تقتضي قطع اليد لا محالة والوصول إلى المنفعة ممكن من غير إزالة اليد

Pengarang kitab at-Taqrīb menukil dari lafaz Imam asy-Syafi‘i dalam masalah gadai budak kecil menurut pendapat lama, bahwa pemberi gadai tidak pernah dapat menghilangkan kekuasaan pemegang gadai maupun kekuasaan pihak penengah, tetapi budak tersebut dapat diberdayakan untuk bekerja di tangan pemegang gadai dan upahnya diperoleh, meskipun sebagian besar manfaatnya hilang, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah; sebab tidak ada jalan untuk menghilangkan kekuasaan pemegang gadai, dan hal ini tidak seperti gadai atas barang syirkah (milik bersama); karena dalam gadai syirkah, unsur syirkah melekat padanya dan itu menuntut terputusnya kekuasaan (atas barang), sedangkan memperoleh manfaat masih mungkin dilakukan tanpa menghilangkan kekuasaan.

فهذا اضطرابُ الأصحاب

Inilah kerancuan (perbedaan pendapat) para sahabat.

فيتنخل منه أن المسافرة ممنوعة؛ فإنها حيلولةٌ عظيمة ولم يسمح بها الأصحاب مع الإشهاد

Dari situ dapat disimpulkan bahwa bepergian itu dilarang; karena bepergian merupakan penghalang besar dan para ulama tidak membolehkannya meskipun disertai penyaksian.

وأما إزالة اليد مع حضور المرتهن لينتفع به في وقت الانتفاع ويردّ في وقت السكون والاستراحة فهو ظاهر النص في الجديد وإليه ميل معظم الأصحاب

Adapun pelepasan tangan dengan kehadiran murtahin agar dapat mengambil manfaat darinya pada waktu pemanfaatan, lalu mengembalikannya pada waktu tidak digunakan dan istirahat, maka hal itu adalah jelas berdasarkan nash dalam pendapat baru, dan mayoritas para sahabat (ulama) cenderung kepadanya.

والكلام في أن الراهن هل يحسم الإشهاد وقد فصلت المذهب فيه

Pembahasan mengenai apakah penyerahan barang gadai dapat menggantikan keharusan adanya penyaksian, dan aku telah merinci pendapat mazhab dalam hal ini.

وفي القديم قول آخر أن يد المرتهن لا تُزال بسبب الانتفاع كما لا تزال يد البائع عن المبيع المحبوس بالثمن بسبب الانتفاع وسنصف هذا في أثناء الفصل إن شاء الله تعالى

Dalam pendapat lama, terdapat pendapat lain bahwa hak pemegang gadai tidak hilang karena adanya pemanfaatan, sebagaimana hak penjual atas barang yang masih tertahan oleh harga tidak hilang karena adanya pemanfaatan. Hal ini akan kami jelaskan pada bagian pembahasan berikutnya, insya Allah Ta‘ala.

ومن راعى الإشهادَ يقول لو كان الراهن خائناً مشهوراً بالخيانة لا يسلم إليه وإن أشهد

Dan menurut pendapat yang memperhatikan adanya penyaksian, dikatakan: Jika pihak yang menggadaikan (rahin) adalah seorang pengkhianat yang terkenal dengan sifat khianatnya, maka barang tidak boleh diserahkan kepadanya, meskipun ia telah menghadirkan saksi.

فإن قيل ما قولكم في منافع المبيع المحبوس بالثمن على قولنا بإثبات حق الحبس قلنا اتفق الأصحاب على أن المشتري لا يزيل يده لينتفع بخلاف ما ذكرناه في الراهن؛ فإن ملك المشتري غيرُ مستقر قبل القبض وملك الراهن مستقر

Jika ditanyakan, “Apa pendapat kalian tentang manfaat barang yang dijual namun masih tertahan karena harga (belum dibayar), menurut pendapat kami yang menetapkan hak penahanan?” Kami katakan: Para ulama sepakat bahwa pembeli tidak boleh mengambil barang tersebut untuk dimanfaatkan, berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan pada kasus orang yang menggadaikan barang; sebab kepemilikan pembeli belum tetap sebelum barang diterima, sedangkan kepemilikan orang yang menggadaikan barang sudah tetap.

واختلف أصحابنا في أن المبيع هل يستكسب في يد البائع للمشتري أم تتعطل منافعه فقال بعضهم لا سبيل إلى التعطيل وهو مستكسب في يد البائع وقال قائلون منافعه تُعطل

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah barang yang dijual dapat dimanfaatkan oleh penjual untuk kepentingan pembeli ataukah manfaatnya menjadi terhenti. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak boleh ada penghentian manfaat, sehingga barang tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh penjual. Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa manfaatnya menjadi terhenti.

هذا قولنا في منافع الرهن

Inilah pendapat kami tentang manfaat rahn.

فأما القول في الفوائد التي تكون أعياناً فهي منقسمة إلى الزوائد المتصلة وإلى المنفصلة فأما الزوائد المتصلة فلا حكم لها والرهن يتعلق بالمزيد والزيادة ولا أثر للزوائد المتصلة إلا في الصداق عند وقوع الطلاق قبل المسيس كما سيأتي في موضعه إن شاء الله تعالى

Adapun pembahasan mengenai manfaat-manfaat yang berupa benda, maka manfaat tersebut terbagi menjadi tambahan yang melekat dan tambahan yang terpisah. Adapun tambahan yang melekat, maka tidak ada ketentuan hukum atasnya, dan rahn (barang gadai) tetap terkait dengan barang yang bertambah beserta tambahannya. Tidak ada pengaruh bagi tambahan yang melekat kecuali dalam masalah mahar ketika terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

وأمّا الزوائد المنفصلة فإنها تنقسم إلى ما كانت موجودة حالة الرهن على صفة االاتصال وإلى ما يوجد بعد الرهن ثم ينفصل فأما ما لا يكون موجوداً حالة الرهن ويوجد من بعدُ ثم ينفصل كالحمل يطرأ وينفصل وكذلك الثمار والألبان فلا يتعلق الرهن بها خلافاً لأبي حنيفة ووافق أن الرهن لا يتعلق بالأكساب ثم ألحق العُقر وإن لم يكن عوض عينٍ بالأعيان في خبطٍ له معروف

Adapun tambahan-tambahan yang terpisah, maka ia terbagi menjadi dua: ada yang sudah ada pada saat akad rahn dalam keadaan masih menyatu, dan ada yang muncul setelah akad rahn lalu terpisah. Adapun yang tidak ada pada saat akad rahn dan baru muncul kemudian lalu terpisah, seperti janin yang muncul dan kemudian terpisah, demikian pula buah-buahan dan susu, maka rahn tidak berkaitan dengannya, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Ia (Abu Hanifah) sepakat bahwa rahn tidak berkaitan dengan hasil usaha, kemudian ia menyamakan ‘uqur, meskipun bukan sebagai pengganti suatu benda, dengan benda-benda dalam kasus tertentu yang sudah dikenal.

ونحن نجمع معاقد المذهب فيما يتعدى إلى الولد الطارىء وفيما لا يتعدّى إليه وعماد المذهب أن كل ما صار الملك مستغرَقاً به حتى يعدَّ الملك مستحَقاً في تلك الجهة وبلغ تأكده مبلغاً يمتنع تقدير زواله فما كان كذلك؛ فإنه يتعدّى إلى الولد كالاستيلاد؛ فإن أولاد المستولدة من النكاح والسفاح بمثابة المستولدة في استحقاق العتاقة وألحق الأئمة بذلك ولد الأضحية المعينة للتضحية بقول المالك جعلتها ضحية؛ فإن تعينها لجهة القربة لا يزول كالاستيلاد فالمالية مستهلكة فيها بجهة القربة والرهن عارض على الملك التام وكأنه عِدَةٌ موثوق بها وهو عرضة الزوال

Kami akan merangkum pokok-pokok mazhab terkait hal-hal yang berpengaruh terhadap anak yang lahir kemudian dan hal-hal yang tidak berpengaruh kepadanya. Pokok mazhab adalah bahwa segala sesuatu yang kepemilikannya telah menyeluruh sehingga kepemilikan itu dianggap sah pada aspek tersebut dan telah mencapai tingkat penegasan yang sedemikian rupa sehingga mustahil diperkirakan hilangnya, maka segala sesuatu yang demikian itu akan berpengaruh kepada anak, seperti istilad (proses perolehan budak perempuan melalui hubungan), karena anak-anak dari budak perempuan, baik dari pernikahan maupun zina, kedudukannya sama dengan budak perempuan itu dalam hal berhak mendapatkan kemerdekaan. Para imam juga menyamakan dengan itu anak hewan kurban yang telah ditetapkan untuk dikurbankan dengan ucapan pemiliknya, “Saya jadikan ini sebagai hewan kurban,” karena penetapan hewan itu untuk tujuan ibadah tidak akan hilang, sebagaimana istilad. Maka nilai kepemilikan telah habis di dalamnya karena tujuan ibadah, sedangkan gadai hanyalah sesuatu yang menempel pada kepemilikan sempurna, seolah-olah ia adalah janji yang dapat dipercaya dan tetap mungkin hilang.

واختلف قول الشافعي في ولد المدبرة والمكاتبة؛ من جهة أن من يُدبِّر يبغي التأبيد إلى العتاقة وإن ملَّكه الشرعُ الرجوعَ وكذلك الكتابة واختلف القول في أولادهما

Pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai anak dari budak mudabbirah dan budak mukatabah; karena orang yang melakukan tadbir menginginkan pembebasan secara permanen, meskipun syariat memberinya hak untuk menarik kembali, demikian pula halnya dengan mukatabah, dan pendapat pun berbeda mengenai anak-anak keduanya.

وولد الأمة التي نذر مولاها إعتاقَها على طريقين أحدهما أنه كولد المدبرة والآخر أن الاستحقاق يتعدى إليه؛ فإن النذر لا رجوع عنه ولكن من حيث إنه ربط العتق بالالتزام تردد الأصحاب ومن نذر التضحية بشاةٍ ولم يقل جعلتها ضحية ففي ولدها طريقان أيضاًً على ما سيأتي في كتاب الضحايا إن شاء الله تعالى

Anak dari budak perempuan yang tuannya bernazar untuk memerdekakannya memiliki dua kemungkinan: yang pertama, seperti anak dari budak mudabbirah; yang kedua, hak (kemerdekaan) itu juga berlaku padanya. Sebab nazar tidak dapat ditarik kembali, namun karena kemerdekaan itu dikaitkan dengan komitmen, para ulama berbeda pendapat. Barang siapa bernazar untuk berkurban dengan seekor kambing, namun tidak mengatakan “aku menjadikannya sebagai hewan kurban”, maka pada anak kambing itu juga terdapat dua kemungkinan, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab al-Dhahaya, insya Allah Ta‘ala.

وفي ولد العارية والمأخوذ سوماً وجهان أحدهما أنه مضمون كالأم والثاني أنه ليس مضموناً وسبيله سبيل الثوب يلقيه الريح في دار إنسانٍ وهذا الاختلاف ينشأ من أن الأيدي المضمَّنة الصادرة عن إذن السيد هل توجب ضمان الغصوب أم لا وفيه خلافٌ رمزنا إليه وسنصفه من بعد إن شاء الله تعالى

Dalam hal anak dari barang pinjaman (al-‘āriyah) dan barang yang diambil dengan harga tawar-menawar (ma’khūdz sawman), terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia harus dijamin seperti induknya, dan yang kedua adalah bahwa ia tidak harus dijamin, dan keadaannya seperti kain yang diterbangkan angin ke dalam rumah seseorang. Perbedaan pendapat ini muncul dari pertanyaan apakah tangan-tangan yang menanggung tanggung jawab (al-aydī al-mudhammanah) yang terjadi atas izin pemilik, mewajibkan jaminan atas barang-barang yang digushub (al-ghusūb) atau tidak. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami singgung, dan akan kami jelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.

ولو أودع رجل بهيمة عند رجل أو جارية فولدت في يد المودَع ففي المسألة وجهان أحدهما أنه وديعة بمثابة الأم والثاني أنه ليس بوديعةٍ وهذا القائل يقول ليس مضموناً بل هو كالثوب تهبُّ به الريح فتلقيه في دار إنسانٍ وأثر هذا الخلاف أنا إن لم نجعله وديعة فلا بد فيه من إذن جديد وإلا لا تجوز إدامة اليد عليه كمسألة الثوب والريح وإذا قلنا هو وديعة استمر المودَع ولم يستأذن وسبيله سبيل الأم

Jika seseorang menitipkan seekor hewan atau seorang budak perempuan kepada orang lain, lalu hewan atau budak tersebut melahirkan saat berada di tangan orang yang dititipi, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa anak yang lahir tersebut adalah titipan seperti halnya induknya. Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut bukanlah titipan, dan orang yang berpendapat demikian mengatakan bahwa anak itu tidak menjadi tanggungan, melainkan seperti kain yang diterbangkan angin lalu jatuh ke rumah seseorang. Dampak dari perbedaan pendapat ini adalah, jika kita tidak menganggapnya sebagai titipan, maka diperlukan izin baru untuk anak tersebut, jika tidak maka tidak boleh terus memegangnya, sebagaimana dalam masalah kain dan angin. Namun jika kita mengatakan bahwa anak itu adalah titipan, maka orang yang dititipi tetap memegangnya tanpa perlu meminta izin, dan statusnya sama seperti induknya.

وهذا الخلاف في ولد الوديعة له التفاتٌ على خلاف الأصحابِ في أن الوديعة عقد أم لا وفيه اختلاف بين الأصحاب ومن أدنى آثار هذا الخلافِ أنه إذا أودع وشرط شرطاً فاسداً مثل أن يقول أودعتك على أن يكون الإنفاق عليك فهذا يخالف وضع الشرع فمن جعل الوديعة عقداً أفسدها بهذا الشرط وما في معناه فلا بد من ائتمانٍ جديدٍ وإلا كان ما أخذه وديعة بمثابة الثوب والريح وإن لم نجعل الوديعة عقداً فالشرط لا يؤثر فيه أصلاً بل يلغو الشرط الفاسد ويبقى موجب الإيداع إلى الرد أو إلى عدوان يصدر من المودَع

Perbedaan pendapat mengenai anak dari barang titipan ini berkaitan dengan perbedaan pendapat para ulama mengenai apakah wadi‘ah (titipan) itu merupakan akad atau bukan, dan dalam hal ini memang terdapat perbedaan di antara para ulama. Salah satu dampak paling ringan dari perbedaan ini adalah jika seseorang menitipkan sesuatu dan mensyaratkan syarat yang rusak, seperti mengatakan, “Aku titipkan kepadamu dengan syarat bahwa biaya pemeliharaan menjadi tanggunganmu,” maka ini bertentangan dengan ketentuan syariat. Bagi yang menganggap wadi‘ah sebagai akad, maka akad tersebut menjadi batal karena syarat ini dan yang semisalnya, sehingga harus ada penyerahan kepercayaan yang baru; jika tidak, maka barang yang diambil sebagai titipan itu seperti kain yang tertiup angin. Namun, jika wadi‘ah tidak dianggap sebagai akad, maka syarat tersebut sama sekali tidak berpengaruh, bahkan syarat yang rusak itu dianggap batal dan kewajiban pengembalian barang titipan tetap berlaku sampai barang itu dikembalikan atau sampai terjadi tindakan melampaui batas dari pihak yang dititipi.

ويقربُ من هذا المأخذ مسألةٌ نص الشافعي فيها على قولين وهي إذا أودع صبياً فأتلفه هل يجبُ الضمان على الصبي فعلى قولين أحدهما لا ضمان؛ لأن المالك سلطه عليه بعقد فهو المتسبب إلى إتلاف ماله والثاني يضمن؛ فإن الإيداع ليس بعقد حتى يُقضى على المالك بأنه عقد عقداً على الفساد ولكن مهما أتلف الصبي ضمن؛ فإنه أتلف مال غيره ولا عقد

Hampir serupa dengan dasar ini adalah permasalahan yang di dalamnya Imam Syafi’i memberikan dua pendapat, yaitu apabila seseorang menitipkan barang kepada anak kecil lalu anak kecil itu merusaknya, apakah wajib mengganti kerugian atas anak kecil tersebut? Maka ada dua pendapat: yang pertama, tidak wajib mengganti kerugian, karena pemilik barang telah memberinya wewenang melalui akad, sehingga dialah yang menyebabkan kerusakan hartanya sendiri. Pendapat kedua, wajib mengganti kerugian, karena penitipan bukanlah sebuah akad sehingga dapat diputuskan bahwa pemilik barang telah melakukan akad yang rusak, tetapi kapan pun anak kecil itu merusak, maka ia wajib mengganti kerugian, karena ia telah merusak harta milik orang lain dan tidak ada akad di sana.

أما ولد المبيعة فلا خلاف أنه لا يجوز حبسه لاستيفاء الثمن يعني ولداً يحدث بعد لزوم العقد وقبل القبض فإن قيل ولد المغصوبة مضمونٌ بجهة ضمان الأم فهلا كان ولد المبيعة مضموناً بجهة أمه قلنا المبيع يضمن بالعقد على مقابلة الثمن والولد لم يقابل بالثمن والغاصب يضمن بالعدوان وهو متعدِّ بإدامة اليد على الولد كما أنه متعد بإدامتها على الأم

Adapun anak dari barang yang dijual, tidak ada perbedaan pendapat bahwa tidak boleh menahannya untuk mengambil pembayaran harga, yaitu anak yang lahir setelah akad menjadi mengikat dan sebelum penyerahan barang. Jika dikatakan bahwa anak dari barang yang digasak (maghshūbah) menjadi tanggungan karena tanggungan atas induknya, maka mengapa anak dari barang yang dijual tidak menjadi tanggungan karena induknya? Kami katakan: Barang yang dijual menjadi tanggungan karena akad sebagai imbalan harga, sedangkan anaknya tidak menjadi imbalan harga. Adapun orang yang menggusur (ghāshib) menanggung karena perbuatan melampaui batas, dan ia tetap melampaui batas dengan terus-menerus menguasai anak tersebut sebagaimana ia melampaui batas dengan terus-menerus menguasai induknya.

فهذه جملٌ تجري مجرى التراجم والمجامع في الأحكام التي تتعدى إلى الأولاد و التي لا تتعدى إليها وما ذكرناه نشأ من كلامنا في الولد المتجدد بعد الرهن والمنفصل قبل بيع الرهن في الدين

Ini adalah beberapa ringkasan yang berfungsi sebagai judul-judul dan kumpulan hukum yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi anak-anak, baik yang hukumnya berlaku atas mereka maupun yang tidak, dan apa yang telah kami sebutkan itu berasal dari pembahasan kami tentang anak yang lahir setelah akad rahn serta anak yang lahir sebelum penjualan barang yang dijadikan rahn dalam kasus utang.

ونحن نذكر الآن تفصيل القول في الحمل الموجود حالة الرهن ثم نتبعه نظائره كان يقول شيخي أبو محمد إذا كان الحمل موجوداً يوم الرهن على نعت الاجتنان في البطن ثم بقي مجتناً إلى البيع في الرهن فلا حكم للحمل ونعتقده صفة للجارية فكأنها بيعت على صفة كانت عليها حالة الرهن

Sekarang kami akan menyebutkan rincian pendapat mengenai janin yang ada pada saat barang dijadikan rahn (gadai), kemudian kami akan menyusulnya dengan kasus-kasus yang serupa. Syekh kami, Abu Muhammad, berkata: Jika janin sudah ada pada hari barang dijadikan rahn dalam keadaan masih berada dalam kandungan, lalu tetap dalam keadaan demikian hingga barang tersebut dijual dalam keadaan tergadai, maka janin itu tidak memiliki hukum tersendiri dan kami menganggapnya sebagai sifat dari budak perempuan tersebut. Seolah-olah budak itu dijual dengan sifat yang sama seperti ketika ia dijadikan rahn.

فأما إذا كان الجنين موجوداً ابتداءً وانفصل قبل بيع الرهن ففي المسألة قولان أحدهما أنه يكون رهناً؛ لأنه كان موجوداً حالة العقد والثاني لا يكون رهناً كالمعدوم ما لم ينفصل وقد كان الانفصال بعد الرهن وبنى الأصحاب القولين على أن الحمل هل يعلم فإن قلنا إنه لا يعلم فكأن لا حمل ونعتقد الولادة فائدةً جديدة بعد العقد وإن قلنا الحمل يعلم فقد تناول الرهن الأم ولا مانع في الولد

Adapun jika janin sudah ada sejak awal dan terpisah sebelum penjualan barang gadai, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa janin tersebut menjadi barang gadai, karena ia sudah ada pada saat akad. Pendapat kedua menyatakan bahwa janin tersebut tidak menjadi barang gadai, seperti halnya sesuatu yang tidak ada, selama belum terpisah, dan perpisahan itu terjadi setelah barang digadaikan. Para ulama membangun dua pendapat ini atas dasar apakah keberadaan janin dapat diketahui atau tidak. Jika kita katakan bahwa keberadaan janin tidak dapat diketahui, maka seolah-olah tidak ada janin dan kita menganggap kelahiran sebagai sesuatu yang baru setelah akad. Namun jika kita katakan bahwa keberadaan janin dapat diketahui, maka barang gadai mencakup induknya dan tidak ada halangan untuk mencakup anaknya.

وكان شيخي يقول إن قلنا الحمل لا يعلم فهو على ما ذكره الأصحاب وإن قلنا إنه معلوم ففي تعلق الرهن به قولان؛ فإن الرهن ضعيف لا يقوى على الاستتباع ولم يقع التعرض للولد ولو وقع التعرض له لكان فاسداً

Dan guruku berkata, jika kita mengatakan bahwa janin tidak diketahui, maka hukumnya seperti yang disebutkan para ulama; namun jika kita mengatakan bahwa janin itu diketahui, maka ada dua pendapat mengenai keterkaitan rahn dengannya. Sebab, rahn itu lemah, tidak cukup kuat untuk mengikuti, dan tidak disebutkan mengenai anak (janin). Jika disebutkan mengenai anak, maka akadnya menjadi fasad.

ولو علقت الجارية المرهونة بمولودٍ بتيقن بعد الرهن ولم ينفصل حتى حل الحق ومست الحاجة إلى البيع ففي المسألة قولان أحدهما أنها تباع حاملاً؛ ويعتقد الولد المجتن في البطن زيادة متَّصلة فقد تعدّى الرهن إليه إذاً في هذه الصورة

Jika budak perempuan yang digadaikan ternyata hamil dengan keyakinan setelah akad gadai, dan janin tersebut belum lahir hingga tiba waktu pelunasan utang dan kebutuhan untuk menjualnya sangat mendesak, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa budak tersebut boleh dijual dalam keadaan hamil; dan janin yang masih dalam kandungan dianggap sebagai tambahan yang menyatu, sehingga gadaiannya pun berlaku atas janin tersebut dalam kondisi seperti ini.

والقول الثاني إن الرهن لا يتعدى إليه ولا تباع ما دام الولد مجتناً وإذا انفصل لم يتعلق استيثاق الرهن به وَبَيْعُ الأم دون الولد لا سبيل إليه على ظاهر المذهب فقد تحصلت أحوال أربع أحدها أن لا يكون الحمل موجوداً في الطرفين لا عند العقد ولا عند البيع ولكن يحدث وينفصل فهذا خارج عن الرهن قطعاً مِنّا

Pendapat kedua menyatakan bahwa rahn tidak meluas kepadanya (janin) dan tidak dijual selama anak masih berada dalam kandungan. Jika telah lahir, maka jaminan rahn tidak berkaitan dengannya. Menjual induk tanpa anak tidak diperbolehkan menurut pendapat mazhab yang tampak. Maka, terdapat empat keadaan: pertama, jika janin tidak ada pada kedua sisi, baik saat akad maupun saat penjualan, namun kemudian terjadi dan lahir, maka ini jelas tidak termasuk dalam rahn menurut kami.

والحالة الثانية أن يكون موجوداً في الطرفين فلا مبالاة به وهو يجري مجرى الصفة

Keadaan kedua adalah apabila sesuatu itu terdapat pada kedua belah pihak, maka tidak perlu diperhatikan, dan hal itu dianggap seperti sifat saja.

الحالة الثالثة أن يكون موجوداً حالة العقد وينفصل قبل البيع وفيها القولان

Keadaan ketiga adalah ketika (barang) itu ada pada saat akad dan terpisah sebelum penjualan, dalam hal ini terdapat dua pendapat.

والحالة الرابعة أن يتجدد العلوق بعد الرهن ولا ينفصل حتى يدخل وقت البيع وهو مجتن بعدُ وفيه قولان

Keadaan keempat adalah apabila terjadi keterikatan baru setelah akad rahn dan keterikatan itu tidak terlepas hingga tiba waktu penjualan, sementara barang tersebut masih belum dipisahkan. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

أمّا الثمار إذا لم تكن مؤبرة حالة العقد فأُبّرت من بعدُ فطريقان من أصحابنا من قال هي كالحمل وقد مضى التفصيل فيه ومنهم من قال لا يتعلق الرهن به قولاً واحداً؛ لأنه لم يذكر وهو ممَّا يفرد بالتصرف والتبعية ضعيفة في الرهن

Adapun buah-buahan, jika pada saat akad belum diserbuki lalu diserbuki setelahnya, maka terdapat dua pendapat dari kalangan ulama kami. Sebagian mereka berpendapat bahwa hukumnya seperti janin dalam kandungan, dan rincian hukumnya telah dijelaskan sebelumnya. Sebagian lain berpendapat bahwa tidak ada kaitan rahn (gadai) dengannya menurut satu pendapat saja, karena tidak disebutkan secara eksplisit dan ia termasuk sesuatu yang dapat dipisahkan dalam transaksi, sedangkan keterikatan sebagai pengikut dalam rahn itu lemah.

وكان شيخي يقول إذا كانت الثمرة غيرَ مؤبّرة حالة الرهن وبقيت مستترة إلى وقت البيع فالحمل على مثل هذه الصورة يتعلق الرهن به تعلقه بالصفات وفي الثمار طريقان من أصحابنا من أجراها مجرى الحمل وقطع فيها بتعلق الرهن بها ومنهم من خَرّج التعلق بها على قولين وإن وجد الاكتتام والاستتار في الطرفين فهذا متجه فقيه

Dan guruku biasa berkata: Jika buah-buahan belum diserbuki pada saat akad rahn dan masih tersembunyi hingga waktu penjualan, maka rahn pada keadaan seperti ini terkait dengannya sebagaimana keterkaitannya dengan sifat-sifat. Dalam masalah buah-buahan terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami: sebagian dari mereka memperlakukannya seperti janin (yang masih dalam kandungan) dan secara tegas menyatakan bahwa rahn terkait dengannya, sementara sebagian yang lain mengaitkan keterkaitan rahn dengannya pada dua pendapat. Jika ditemukan keadaan tersembunyi dan tersembunyi pada kedua sisi, maka ini adalah pendapat yang kuat secara fiqh.

وممّا نتكلم فيه اللبن والصوف فنقول أمّا اللبن الذي يتجدد بعد الرهن ويحلب فلا شكّ فيه ولا تعلق للرهن به وقد صرّح به النبي صلى الله عليه وسلم؛ إذ قال الرهن محلوب ولا شك أنه أراد أن الراهن حالب البهيمة المرهونة وراكبها والمنفق عليها

Adapun yang akan kita bahas adalah susu dan wol. Kami katakan, mengenai susu yang dihasilkan setelah barang dijadikan rahn dan diperah, maka tidak ada keraguan padanya dan rahn tidak berkaitan dengannya. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi ﷺ, ketika beliau bersabda: “Rahn itu diperah,” dan tidak diragukan lagi bahwa yang beliau maksud adalah bahwa orang yang menggadaikan (rahin) adalah yang memerah hewan yang digadaikan, menungganginya, dan menafkahinya.

فأما اللبن الكائن في الضرّع حالة العقد ففيه طريقان منهم من قال هو كالحمل ومنهم من قطع بأن الرهن لا يتناوله؛ فإنه موجود مقطوع به وقد قابل النبي صلى الله عليه وسلم لبنَ المصرّاة بعوض

Adapun susu yang terdapat di dalam ambing pada saat akad, terdapat dua pendapat: sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti janin dalam kandungan, dan sebagian lain secara tegas menyatakan bahwa susu tersebut tidak termasuk dalam objek rahn; karena keberadaannya sudah pasti dan Nabi ﷺ pernah menukar susu sapi yang diikat ambingnya dengan kompensasi.

وأما الصوف الموجود حالة العقد فالذي نقله الربيع أنه يدخل تحت العقدِ؛ فإنه متصل اتصال خلقة وهو ظاهر بادٍ فأشبه أغصان الأشجار والصحيح أنه لا يدخل تحت العقد؛ فإنه وإن كان متصلاً معدودٌ في العرف منفصلاً ومن أصحابنا من قال إن كان الصوف مستجزًّا حالة العقد فهو كالمجزوز فلا يدخل في الرهن وإن لم يكن مستجزًّا دخل في العقد ثم تلك الجِزّة متعلق الرهن إذا جزت

Adapun bulu domba (wol) yang ada pada saat akad, menurut riwayat dari ar-Rabi‘, ia termasuk dalam akad; karena ia menyatu secara alami dan tampak jelas, sehingga serupa dengan ranting-ranting pohon. Namun pendapat yang shahih adalah bahwa ia tidak termasuk dalam akad; sebab meskipun menyatu, menurut kebiasaan ia dianggap terpisah. Sebagian ulama mazhab kami berpendapat: jika bulu domba tersebut telah dicukur pada saat akad, maka hukumnya seperti bulu yang telah dicukur sehingga tidak termasuk dalam objek rahn (gadai); namun jika belum dicukur, maka ia termasuk dalam akad, dan bulu yang dicukur setelah itu menjadi bagian dari rahn jika telah dicukur.

وأمّا أغصان الأشجار فما لا يعتاد قطعها داخلة في الرَّهن وما يعتاد قطعها ثم إنها تنبت أغصاناً من محل القطع كالخِلاف وما أشبهه فهذه الأغصان نزَّلها العلماء منزلة الصوفِ من جهة أن الصوف يستجز فتجز كما أن الأغصان تستغلظ فتقطع

Adapun cabang-cabang pohon, maka yang tidak biasa dipotong termasuk dalam barang gadai, sedangkan yang biasa dipotong kemudian tumbuh kembali cabang-cabang dari tempat pemotongan seperti pohon khilaf dan yang semisalnya, maka cabang-cabang ini oleh para ulama diposisikan seperti bulu domba, karena bulu domba dapat dicukur maka ia dicukur, sebagaimana cabang-cabang pohon itu menebal lalu dipotong.

وأمّا أوراق الأشجار فما يعتمد قطعها كأوراق الفِرصاد فالقول فيها كالقول في الثمار وقد ذكرنا أن الثمار لا تدخل ثم هي تُخلق ظاهرة فكانت كالثمار المؤبرة البارزة

Adapun daun-daun pohon, jika yang dimaksud adalah daun yang biasa dipetik seperti daun murbei, maka hukumnya sama dengan buah-buahan. Telah kami sebutkan bahwa buah-buahan tidak termasuk (dalam akad salam), kemudian ia tumbuh dalam keadaan tampak, sehingga ia seperti buah-buahan yang telah diserbuki dan tampak jelas.

وأما الأوراق التي لا تقطع ولكنها تنتثر أوان الخريف فالرهن يتعلق على ظاهر المذهب بها وإذا تجمع منها ما يُجمع كان بمثابة ما ينتقض من الدار المرهونة

Adapun daun-daun yang tidak terpotong tetapi berjatuhan pada musim gugur, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, rahn tetap terkait dengannya. Jika daun-daun itu terkumpul hingga menjadi satu kumpulan, maka hukumnya seperti bagian rumah yang terlepas dari rumah yang digadaikan.

ومن أصحابنا من قال إذا انتثرت الأوراق أو نثرت لم يتعلق استحقاق الرهن بها

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa apabila lembaran-lembaran itu tercerai-berai atau disebarkan, maka hak atas gadai tidak berkaitan dengannya.

هذا بيان ما يتعلق بالزوائد الموجودة حالة العقد

Ini adalah penjelasan mengenai hal-hal tambahan yang ada pada saat akad.

ثم كان شيخي يختم هذا الفصل ويقول كل حُكمٍ علقناه بالاقتران بالعقد فالعقد هو المعتبر لا غير حتى لو وجد حالة القبض ولم يكن موجوداً حالة العقد فهو متجدد وقد مضى تفصيل القول فيما يتجدد من الزوائد

Kemudian guruku menutup bab ini dan berkata: Setiap hukum yang kami kaitkan dengan keterikatan pada akad, maka akad itulah yang dianggap, tidak yang lain. Sehingga jika ditemukan keadaan qabd (penguasaan barang) namun tidak ada pada saat akad, maka itu adalah sesuatu yang baru muncul. Adapun rincian pembahasan tentang hal-hal tambahan yang baru muncul telah dijelaskan sebelumnya.

ومن أصحابنا من قال العبرة في الاقتران بوقت القبض؛ فإنه الركن وبه التمام وكأن اللفظ جارٍ معه وهو غير سديدٍ

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa yang menjadi tolok ukur dalam penyatuan adalah pada waktu penerimaan; karena itulah rukun dan dengannya akad menjadi sempurna, seolah-olah lafaz berjalan bersamanya, namun pendapat ini tidaklah tepat.

وقد نجز ما أردناه من الكلام في الزوائد العينية التي تقارن العقد ثم تنفصل ثم تتجدد من بعدُ وتنفصل أو تبقى إلى وقت البيع

Telah selesai apa yang kami maksudkan dari pembahasan tentang tambahan-tambahan ‘ainiyah yang menyertai akad, kemudian terpisah, lalu muncul kembali setelah itu dan terpisah lagi atau tetap ada hingga waktu penjualan.

فصل

Bagian

قال وكذلك سكنى الدار وزرع الأرض وغيرها إلى آخره

Demikian pula, tinggal di rumah, menanam di tanah, dan lain sebagainya hingga seterusnya.

المنافع قسمان منفعةٌ لا يَنْقُصُ القيمةَ استيفاؤها كالسكنى والركوب والاستخدام فللراهن أن يستوفيها وقد ذكرنا التردد في طريق استيفائها مع رعاية حق المرتهن في قبضه ويده

Manfaat terbagi menjadi dua: manfaat yang pemanfaatannya tidak mengurangi nilai barang, seperti tempat tinggal, menunggangi, dan menggunakan; maka pihak rāhin berhak memanfaatkannya. Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai cara pemanfaatannya dengan tetap memperhatikan hak murtahin dalam hal penerimaan dan penguasaannya.

ومنفعة ينقص القيمةَ استيفاؤُها كالغرس والتزويج والوطء وفي الزرع تفصيلٌ على ما سنصفه

Dan manfaat yang pengambilannya mengurangi nilai barang, seperti menanam pohon, menikahkan, dan bersetubuh; adapun pada tanaman terdapat perincian yang akan kami jelaskan.

فالقاعدة المعتبرة في هذا القسم أن المنافع وإن لم تكن متعلَّقاً لوثيقة المرتهن فالعين محل الوثيقة على الحقيقة فكل انتفاع يؤدي إلى تنقيص القيمة فهو ممنوع؛ من جهة أدائه إلى التأثير في محل الوثيقة وقد سبق تصوير تأثير الغرس في نقصان الأرض والتزويجُ لا شك أنه ينقص؛ فإذا رهن جارية لم يزوجها والوطء في التي يخشى علوقها محرّم وإن كانت الجارية بحيث لا يخشى علوقها لصغرها أو كبرها ففي حلّ الوطء وجهان أشهرهما المنع حسماً للباب وقياساً على قاعدة العدة؛ فإن مبناها على استبراء الرحم ثم الصغيرة الموطوءة تعتد كالبالغة وكذلك تعتد الطاعنة في السن اعتداد الشابة

Kaidah yang berlaku dalam bagian ini adalah bahwa meskipun manfaat tidak menjadi objek jaminan bagi pihak yang menerima gadai (murtahin), namun barang yang digadaikan adalah benar-benar menjadi objek jaminan. Maka setiap pemanfaatan yang menyebabkan berkurangnya nilai barang tersebut adalah terlarang, karena hal itu berdampak pada objek jaminan. Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana penanaman tanaman dapat mengurangi nilai tanah, dan pernikahan (terhadap budak perempuan) tidak diragukan lagi juga mengurangi nilainya. Maka jika seseorang menggadaikan seorang budak perempuan yang belum dinikahkan, maka hubungan seksual dengan budak yang dikhawatirkan akan hamil adalah haram. Namun jika budak tersebut tidak dikhawatirkan hamil karena masih kecil atau sudah tua, maka terdapat dua pendapat mengenai kebolehan melakukan hubungan seksual dengannya, dan pendapat yang lebih masyhur adalah pelarangan untuk menutup pintu (kerusakan) dan berdasarkan qiyās terhadap kaidah masa iddah, karena dasarnya adalah memastikan rahim bersih. Maka budak perempuan yang masih kecil namun telah digauli tetap menjalani masa iddah seperti perempuan dewasa, demikian pula budak yang sudah sangat tua tetap menjalani masa iddah sebagaimana perempuan muda.

والزراعة إن كانت تَنْقُصُ قيمةَ الأرض لتأثيرها في الرقبة وتضعيفها تربتها كالدُّرة فيما قيل فهي ممنوعة إلا أن يأذن فيها المرتهن؛ لسبب أدائها إلى تنقيص القيمة

Dan jika pertanian dapat mengurangi nilai tanah karena pengaruhnya terhadap pokok tanah dan melemahkan kesuburan tanahnya, seperti tanaman jagung menurut sebagian pendapat, maka hal itu dilarang kecuali jika diizinkan oleh pihak yang menerima gadai; karena hal tersebut dapat menyebabkan penurunan nilai.

أمّا زرع سائر الحبوب إذا كان لا يؤدي إلى تنقيصٍ معتبر فالنظر فيه إلى مدة بقاء الرهن إلى الاستحصاد فإن كان يحصد قبل حلول الأجل فلا منع منه؛ فإن المنفعة تتوصل إلى الراهن ولا تؤدي إلى تنقيصٍ من القيمة مع فراغ الأرض عند مسيس الحاجة إلى بيعها في الدَّيْن

Adapun menanam biji-bijian lainnya, jika tidak menyebabkan pengurangan yang signifikan, maka yang menjadi pertimbangan adalah lamanya barang gadai tetap ada hingga masa panen. Jika panen dilakukan sebelum jatuh tempo, maka tidak ada larangan; karena manfaatnya akan kembali kepada pihak yang menggadaikan dan tidak menyebabkan pengurangan nilai, serta tanah akan kosong ketika diperlukan untuk dijual guna melunasi utang.

فإن كان أمد الزرع يتمادى حتى تبقى الأرض مزروعةً عند حلول الحق فالمذهب منعُ الراهن من هذا النوع؛ فإن الأرض لا يُرغب فيها مزروعة كما يُرغب فيها وهي فارغة وقال الربيع للراهن أن يزرع ثم ينظر إلى حالة الحلول فإن وفى بيعُ الأرض دون الزرع بالدين فذاك وإن لم يف قلعنا الزرع ولا معنى للمنع من إنشاء الزراعة قبل حلول الحق إذا كان الاستدراك ممكناً بتكليف القلع وهذا تخريج الربيع والظّاهرُ المنع من الزراعة ابتداءً وقد ذكرنا مثل هذا الخلاف في إنشاء الغرس

Jika masa pertumbuhan tanaman berlangsung sehingga tanah tetap ditanami ketika waktu pelunasan tiba, maka menurut mazhab, pihak yang menggadaikan (rahin) dilarang menanam jenis ini; sebab tanah yang masih ada tanamannya tidak diminati sebagaimana tanah yang kosong. Al-Rabi‘ berpendapat bahwa pihak yang menggadaikan boleh menanam, lalu dilihat keadaannya saat jatuh tempo; jika hasil penjualan tanah tanpa tanaman cukup untuk melunasi utang, maka itu diperbolehkan. Namun jika tidak cukup, maka tanaman tersebut harus dicabut. Tidak ada alasan untuk melarang memulai penanaman sebelum jatuh tempo jika masih memungkinkan untuk mengatasinya dengan mewajibkan pencabutan tanaman. Ini adalah pendapat al-Rabi‘, namun pendapat yang tampak adalah larangan menanam sejak awal. Kami juga telah menyebutkan perbedaan pendapat serupa dalam memulai penanaman pohon.

وأما إجارة المرهون نُظر فيها إن كان حالاًّ فغير جائز وإن كان مؤجلاً ومدة الإجارة تنقضي قبل حلول الحق أو معه فالإجارة تنعقد وإن كانت مدة الإجارة تدوم ولا تنقضي عند الحلول فلا نحكم بانعقادها ابتداء لأن مقتضاها التبعيض عند مسيس الحاجة وتقليل الرغبة ولا جواز لذلك والربيع يوافق فيما ذكرناه وإن خالف في الزرع من قِبل أن الزرع إن أمكن قلعه فالإجارة لو ثبتت للزمت ولا سبيل إلى قطعها على المستأجر

Adapun mengenai penyewaan barang yang dijadikan rahn (jaminan), maka perlu diperhatikan: jika hak tagihnya sudah jatuh tempo, maka tidak diperbolehkan. Namun jika masih bertempo dan masa sewa berakhir sebelum atau bersamaan dengan jatuh tempo hak tagih, maka akad sewa boleh dilakukan. Tetapi jika masa sewa berlangsung dan tidak berakhir saat jatuh tempo, maka kita tidak menetapkan keabsahan akad sewa sejak awal, karena konsekuensinya adalah terjadinya pemecahan hak saat ada kebutuhan mendesak dan menurunnya minat, dan hal itu tidak diperbolehkan. Al-Rabi‘ sependapat dengan apa yang kami sebutkan, meskipun ia berbeda pendapat dalam hal tanaman, karena jika tanaman itu memungkinkan untuk dicabut, maka jika akad sewa telah sah, maka akad itu tetap berlaku dan tidak ada jalan untuk membatalkannya atas penyewa.

ولو كان الرهن فحلاً فأراد الراهن إنزاءَه على إناثٍ فإن كان الإنزاء ينقص من القيمة منعنا منه وإن كان لا ينقص فلا منع

Jika barang gadai itu adalah hewan jantan, lalu pemilik gadai ingin mengawinkannya dengan betina-betina, maka jika pengawinan itu mengurangi nilai barang gadai, kami melarangnya. Namun jika tidak mengurangi nilai, maka tidak ada larangan.

وإن كان الرهن أنثى فأراد الإنزاء عليها نُظر فإن كان الحمل ينقصها منعنا من الإنزاء عليها وإن كان لا ينقصها وفرعنا على أنها قد تباع حاملاً في الدين فلا منع وإن أبينا بيعها حاملاً في الدين إذا كان الحمل متجدداً بعد الرهن فإذا كان كذلك فالإنزاء في أصله ممنوع وهذا قياس بيّن في النفي والإثبات

Jika barang gadai itu betina dan seseorang ingin mengawinkannya, maka dilihat terlebih dahulu: jika kehamilan dapat mengurangi nilainya, maka kami melarang mengawinkannya; namun jika kehamilan tidak mengurangi nilainya, dan kami berpegang pada pendapat bahwa ia boleh dijual dalam keadaan hamil untuk pelunasan utang, maka tidak ada larangan. Namun jika kami tidak membolehkan penjualannya dalam keadaan hamil untuk pelunasan utang apabila kehamilan itu terjadi setelah barang tersebut digadaikan, maka dalam keadaan seperti ini, mengawinkannya pada dasarnya dilarang. Ini adalah qiyās yang jelas dalam hal penafian dan penetapan.

وكل منفعة تضمَّن إستيفاؤها نقصاناً فاستيفاؤها بإذن المرتهن جائز؛ فإنّ الحق له ومن هذه الجملة الإذنُ في الوطء وهذا غريب؛ فإن الوطء إذا كان ممنوعاً لم يستبح بإذن آذن ولكن حقيقة القول أن الوطء مباح في نفسه والمنع ليس راجعاً إلى عينه وإنما المرعي حق المرتهن فإذا رضي استمر الوطء على الحل

Setiap manfaat yang pengambilannya mengandung pengurangan nilai, maka pengambilannya dengan izin dari pemegang gadai diperbolehkan; karena hak itu miliknya. Di antara contoh dari hal ini adalah izin untuk melakukan hubungan suami istri (jima‘), dan ini merupakan hal yang aneh; sebab hubungan suami istri jika dilarang, tidak menjadi halal hanya dengan izin pemberi izin. Namun, hakikatnya adalah bahwa hubungan suami istri pada dasarnya adalah mubah, dan larangan itu bukan karena zatnya, melainkan yang diperhatikan adalah hak pemegang gadai. Jika ia rela, maka hubungan suami istri tetap diperbolehkan.

ثم قال وأكره رهن الأمة إلى آخره

Kemudian beliau berkata, “Aku memakruhkan menggadaikan budak perempuan,” hingga akhir.

إن لم تكن الأمة مرغوباً فيها لصغرها أو لخستها أو دمامة صورتها فلا بأس برهنها وفاقاً وإن كانت بمحل أن ترمق فظاهر النص والمذهب يشعر بجواز رهنها ثم لا تسلّم إلى المرتهن إن لم يكن مأمون الجانب؛ فإنه قد يستخلي بها ويُلمُّ بها وما حرمت الخلوة مع الأجانب في وضع الشرع إلا من الجهة التي أشرنا إليها ولكن الوجه وضعُها على يدي امرأةٍ أو عدل لا يتطرق إليه إمكان إلمام بها

Jika budak perempuan tidak diinginkan karena usianya yang masih kecil, statusnya yang rendah, atau rupanya yang buruk, maka tidak mengapa dijadikan barang gadai menurut kesepakatan. Namun jika budak perempuan tersebut menarik perhatian, maka secara lahiriah, teks dan mazhab menunjukkan bolehnya menjadikan budak perempuan sebagai barang gadai. Akan tetapi, budak perempuan itu tidak diserahkan kepada pihak yang menerima gadai jika ia bukan orang yang dapat dipercaya, karena dikhawatirkan ia akan berduaan dan melakukan hal-hal yang dilarang dengannya. Larangan berduaan dengan laki-laki asing dalam syariat tidak lain adalah karena sebab yang telah kami sebutkan. Oleh karena itu, yang tepat adalah menempatkan budak perempuan tersebut di tangan seorang perempuan atau orang adil yang tidak mungkin melakukan perbuatan tercela dengannya.

وإن كان المرتهن محفوفاً بأهله وذويه وأقربته في دارٍ وكانت الحشمة تَزَعُه من الإقدام على الإلمام بها بين أظهرهم فهذا من الموانع فليعتبر المعتبر ما جعلناه معتبرَ الفصل

Jika pihak yang menerima gadai (murtahin) dikelilingi oleh keluarga, kerabat, dan sanak saudaranya di sebuah rumah, dan rasa malu (al-ḥishmah) menahannya untuk mendekati barang gadai itu di hadapan mereka, maka hal ini termasuk salah satu penghalang. Maka hendaknya orang yang mempertimbangkan perkara ini memperhatikan apa yang telah kami tetapkan sebagai pertimbangan dalam pembahasan ini.

وذكر الشيخ أبو علي في شرح التخليص قولاً أن رهن الجارية الحسناء ممنوعٌ أصلاً إلا أن تكون مَحْرماً للمرتهن فلا بأس حينئذ

Syekh Abu Ali menyebutkan dalam Syarh at-Takhlīṣ suatu pendapat bahwa menggadaikan budak perempuan yang cantik pada dasarnya dilarang, kecuali jika ia adalah mahram bagi penerima gadai, maka tidak mengapa pada saat itu.

هذا تفصيل القول في المنافع وجهاتِ استيفائها

Ini adalah perincian pembahasan mengenai manfaat dan cara-cara pemanfaatannya.

ثم قال الأئمة لا يُمنع الراهن من تعهد الرهن بما يدفع عنه ضرراً أو

Kemudian para imam berkata, tidak dilarang bagi orang yang menggadaikan (rahin) untuk merawat barang gadai (rahn) dengan sesuatu yang dapat mencegah bahaya darinya atau…

يحصّل خيراً فإذا دعت الحاجة إلى حجامةٍ أو فصدٍ أو توديجٍ في الدابة أو بَزْغٍ فلا يُمنع الراهن من هذه الأجناس؛ إذ لا خطر والحاصل منها دفعٌ أو نفعٌ ومن جملة ذلك الختان وأبدى بعض الأصحاب خلافاً في الختان عند القرب من حلول الحق؛ من جهة أن البيع يفرض ورودُه والمختون أَلِمٌ وهذا ينقص القيمةَ والرغبةَ وهذا باطل؛ فإن هذا القدر لا أثر له في النقصان أصلا فلا منع منه أمّا إذا أراد قطع سِلعةٍ يخاف سريانها إلى الروح أو إلى العضو فهذا ممنوع؛ تخريجا على القاعدة التي ذكرناها

Ia memperoleh kebaikan, maka jika ada kebutuhan untuk melakukan hijamah, fasd, atau kauterisasi pada hewan, atau pencabutan gigi, maka tidak boleh melarang pihak yang menggadaikan dari hal-hal tersebut; karena tidak ada bahaya dan hasilnya adalah pencegahan atau manfaat. Termasuk dalam hal ini adalah khitan. Sebagian ulama mengemukakan perbedaan pendapat tentang khitan ketika mendekati jatuh tempo hak; dari sisi bahwa penjualan mungkin terjadi dan orang yang baru dikhitan sedang merasakan sakit, dan ini dapat mengurangi nilai dan minat. Namun, pendapat ini batal; karena kadar seperti ini sama sekali tidak berpengaruh pada penurunan nilai, sehingga tidak ada larangan darinya. Adapun jika ingin memotong benjolan yang dikhawatirkan akan menyebar ke nyawa atau anggota tubuh, maka ini dilarang; berdasarkan kaidah yang telah kami sebutkan.

وإذا نجز القول في انتفاع الراهن وما يمتنع منه وما يسوغ فنقول مؤنة الرهن فىِ القاعدة الكلية على الراهن المالكِ؛ فإن المؤونة تتبع الملكَ في أصل الشرع ثم الذي نص عليه الأصحاب في الطرق أن المؤن الراتبة على الراهن وإذا امتنع عن شيء منها أُجبر ويشهد له حديث النبي صلى الله عليه وسلم إذْ قال وعلى من يحلبه ويركبه نفقته فجعل وجوب النفقة في مقابلة ملك الانتفاع وأيضاً فإن الراهن ألزم نفسه الوفاء بتحقيق حق المرتهن من الوثيقة ومِن ضرورة هذا الإنفاقُ على حسب مسيس الحاجة

Apabila telah selesai pembahasan mengenai pemanfaatan barang gadai oleh pihak yang menggadaikan, hal-hal yang dilarang dan yang diperbolehkan, maka kami katakan bahwa biaya pemeliharaan barang gadai pada prinsip dasarnya menjadi tanggungan pihak yang menggadaikan (rahin) selaku pemilik; sebab biaya-biaya itu mengikuti kepemilikan menurut hukum asal syariat. Kemudian, sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama dalam berbagai referensi, biaya-biaya rutin tetap menjadi tanggungan pihak yang menggadaikan, dan jika ia menolak membayarnya, maka ia dapat dipaksa. Hal ini didukung oleh hadis Nabi ﷺ yang bersabda: “Dan atas orang yang memerah susu dan menungganginya, wajib menanggung nafkahnya,” sehingga kewajiban menanggung nafkah itu sebagai konsekuensi dari hak pemanfaatan. Selain itu, pihak yang menggadaikan telah mewajibkan dirinya untuk memenuhi hak penerima gadai (murtahin) atas jaminan tersebut, dan hal ini meniscayakan adanya pengeluaran sesuai kebutuhan yang ada.

وذكر شيخي وطائفة من الأئمة أن الراهنَ إذا امتنع من الإنفاقِ لم يجبر ولكن القاضي يبيع جزءاً من المرهون ويصرفه في جهة المؤنة على حسب الحاجة وهذا فيه نظر؛ فإن قصاراه يؤدي إلى بيع الرهن شيئاًً شيئاًً في جهة المؤنة وهو منافٍ لحقيقة الاستيثاق والوجه تكليف الراهن الإنفاقَ

Syekh saya dan sekelompok imam menyebutkan bahwa jika orang yang menggadaikan (rahin) menolak untuk memberikan nafkah, maka ia tidak dipaksa, tetapi hakim menjual sebagian dari barang yang digadaikan dan menggunakannya untuk kebutuhan biaya sesuai kebutuhan. Namun, pendapat ini perlu ditinjau kembali; karena pada akhirnya akan menyebabkan barang gadai dijual sedikit demi sedikit untuk kebutuhan biaya, dan hal ini bertentangan dengan hakikat penjaminan. Pendapat yang lebih tepat adalah mewajibkan orang yang menggadaikan untuk memberikan nafkah.

وقد تحقق بعد البحث عن الطرق إطباق المراوزة على أن النفقة لا تجب على الراهن وإن كان المرهون حيواناً فليس إيجابُ النفقة لحق المرتهن وحفظ الرهن عليه وإنما تجب لحرمة الروح وليس للمرتهن فيه طَلِبة إلا من جهة الأمر بالمعروف والمسلمون فيه شَرعٌ سواء وإن امتنع فالقاضي يبيع شيئاًً من الحيوان على قدر مسيس الحاجة

Setelah dilakukan penelitian terhadap berbagai pendapat, telah disepakati oleh para ulama Marw bahwa nafkah tidak wajib atas pihak yang menggadaikan (rahin), meskipun barang yang digadaikan itu adalah hewan. Kewajiban memberikan nafkah bukanlah demi hak penerima gadai (murtahin) atau demi menjaga barang gadai untuknya, melainkan karena penghormatan terhadap jiwa (hewan tersebut). Penerima gadai tidak memiliki hak menuntut nafkah kecuali dalam rangka amar ma‘ruf, dan dalam hal ini seluruh kaum muslimin memiliki kedudukan yang sama menurut syariat. Jika pihak yang berkewajiban tetap menolak, maka hakim dapat menjual sebagian dari hewan tersebut sesuai dengan kebutuhan yang sangat mendesak.

وإذا ثبت هذا من مذهبهم في النفقة على الحيوان لم يخف قياسُهم في سائر المؤن وحاصل طريق المراوزة أن الإنفاق على الرهن لا يجب لحق المرتهن

Jika hal ini telah jelas sebagai mazhab mereka dalam hal nafkah untuk hewan, maka tidak samar lagi qiyās mereka dalam berbagai kebutuhan lainnya. Inti dari metode para ulama Marw adalah bahwa pengeluaran untuk barang gadai tidak wajib demi hak penerima gadai (murtahin).

وقطع العراقيون بأنه يجبُ على الراهن أن ينفق على المرهون إبقاءً لحق المرتهن وإدامةً لوثيقته واحتجوا عليه بأنا إن كنا نُنْفِق على الرهن من الرهن والدينُ مؤجل فهذا يُفضي إلى رفع الوثيقة فالراهن إذا كان يحتاج إلى بذل مالٍ في الإنفاق على الرهن فلا فرق عنده بين أن يأتي بطائفة من ماله وبين أن يباع جزء من الرهن هذا كلامهم

Orang-orang Irak menegaskan bahwa wajib bagi pihak yang menggadaikan (rahin) untuk menafkahi barang gadai (marhun) demi menjaga hak pihak penerima gadai (murtahin) dan mempertahankan kekuatan jaminannya. Mereka berdalil bahwa jika kita menafkahi barang gadai dari barang gadai itu sendiri sementara utangnya masih belum jatuh tempo, maka hal itu akan mengakibatkan hilangnya kekuatan jaminan. Maka, jika pihak yang menggadaikan harus mengeluarkan biaya untuk menafkahi barang gadai, tidak ada perbedaan baginya antara mengeluarkan sebagian dari hartanya sendiri atau menjual sebagian dari barang gadai tersebut. Demikianlah pendapat mereka.

ونصُّ الشافعي في آخر باب الرهن يجمع شيئين موافقٌ للعراقيين وأنا أنقل لفظه على وجهه قال رضي الله عنه وإذا رهنهُ ثمرةً فعلى الراهن تنقيتها وإصلاحُها وجِدادُها وتشميسُها كما يكون عليه نفقةُ العبد وسيأتي في كتاب الإجارة إن شاء الله تعالى أنا نوجب على المكري عمارة الدار في يد المكتري حتى يتمكن من استيفاء المنفعة

Imam Syafi‘i menegaskan dalam akhir bab rahn (gadai) suatu pernyataan yang sejalan dengan pendapat ulama Irak, dan aku akan menukilkan lafaznya secara persis. Beliau berkata, “Apabila seseorang menggadaikan buah-buahan, maka menjadi kewajiban pihak yang menggadaikan (rahin) untuk membersihkan, memperbaiki, memanen, dan menjemurnya, sebagaimana ia juga berkewajiban menanggung nafkah budak.” Dan akan dijelaskan dalam Kitab Ijārah, insya Allah Ta‘ala, bahwa kami mewajibkan kepada pemilik rumah (mukri) untuk memperbaiki rumah yang disewakan selama masih berada di tangan penyewa (musta’jir), agar penyewa dapat mengambil manfaat darinya.

والمراوزة فيما أظن يحملون كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم أولاً إذ قال وعلى من يحلبه ويركبه نفقته على أن الراهن لا يرضى ببيع ملكه في نفقته وهذا عليه الاعتياد الغالب فالنفقة عليه لا على المرتهن وفرض الامتناع عن النفقة ومسيس الحاجة إلى البيع ليس مما تعرض له الحديث ولا الشافعي

Dan menurut dugaan saya, orang-orang Marw (maraweza) memahami sabda Rasulullah saw. pertama-tama ketika beliau bersabda, “Dan atas orang yang memerah susunya dan menungganginya, wajib menanggung nafkahnya,” bahwa pihak rahin (yang menggadaikan) tidak rela jika hartanya dijual untuk menanggung nafkah tersebut, dan inilah kebiasaan yang umum berlaku; maka nafkah itu menjadi tanggung jawab rahin, bukan murtahin (penerima gadai). Adapun anggapan tentang penolakan memberi nafkah dan kebutuhan mendesak untuk menjual barang gadai, hal itu tidak dibahas dalam hadis maupun oleh Imam Syafi‘i.

والمسألة محتملة جدّاً

Masalah ini sangat mungkin terjadi.

ويتصل بتمامها أنا إذا فرّعنا على طريق المراوزة فيتشعب منه أن المرتهن إن علم أن النفقة ستأكل الرَّهن قبل الأجل فحق هذا أن يلحق بما يفسد قبل حلول الأجل حتى يسوغ للمرتهن طلبُ بيعه وردّه ناضّا يستقل بقاؤه دون مؤنة وهذا طرفٌ لا بد من عرضه على الفكر

Terkait dengan penyempurnaannya, apabila kita merinci menurut metode orang-orang Marw, maka dari situ bercabang bahwa jika pihak yang menerima gadai mengetahui bahwa biaya pemeliharaan akan menghabiskan barang gadai sebelum jatuh tempo, maka hal ini sepatutnya disamakan dengan sesuatu yang rusak sebelum jatuh tempo, sehingga diperbolehkan bagi pihak penerima gadai untuk meminta penjualan barang gadai tersebut dan mengembalikannya dalam bentuk tunai yang dapat bertahan tanpa memerlukan biaya. Ini adalah satu sisi yang perlu dipertimbangkan secara mendalam.

ولو كان الإنفاق يأكل نصفَ الرهن مثلاً فينقدح أن يُملَّك المرتهنُ طلبَ البيع في جميعِه؛ دفعاً لتنقيص التشقيص أولاً والآخر أن النفقة تبقى على ما يبقى ثم يتسلسل القول فيه

Jika biaya nafkah menghabiskan setengah dari barang gadai, misalnya, maka timbul kemungkinan bahwa pemegang gadai diberi hak untuk meminta penjualan seluruh barang gadai; pertama, untuk mencegah terjadinya pengurangan bagian (pada barang gadai), dan kedua, bahwa biaya nafkah tetap mengikuti sisa barang gadai, lalu pembahasan tentang hal ini akan berlanjut terus.

فليفهم الناظر ذلك؛ فإنه لطيف

Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami hal itu; karena sesungguhnya hal itu sangat halus.

وممَّا يتصل بالمؤن القول في أجرة البيت الذي يأوي الرهن إليه فليلتحق بالمؤن وقد تفصلت وإنما أفردتها بالذكر؛ فإن الفَطِن قد يخطر له أن الحفظ حق المرتهن فيختص بالتزام ما يتعلق بذلك وليس الأمر كذلك بالإجماع

Termasuk dalam pembahasan tentang biaya-biaya adalah pembicaraan mengenai upah rumah yang menjadi tempat penyimpanan barang gadai; maka hal ini termasuk dalam biaya-biaya yang telah dirinci sebelumnya, hanya saja saya sebutkan secara khusus di sini. Sebab, orang yang cermat mungkin akan terlintas dalam benaknya bahwa penjagaan adalah hak pihak penerima gadai (murtahin), sehingga hanya ia yang wajib menanggung segala hal yang berkaitan dengannya. Namun, kenyataannya tidak demikian menurut ijmā‘.

بابُ رَهْن الرَّجُلَيْنِ الشيء الواحد من الرجل الواحد

Bab tentang dua orang laki-laki yang bersama-sama menggadaikan satu barang milik satu orang.

قال وإذا رهنا عبداً بمائة إلى آخره

Dan apabila seseorang menggadaikan seorang budak dengan nilai seratus, dan seterusnya.

إذا رهن رجلان عبداً مشتركاً بينهما بمائة درهم لإنسانٍ عليهما وتم الرهن ولزم فالمائة مقسطة على الراهنين على كل واحد منهما خمسون فيما نصوره فإذا أدى أحدهما ما عليه من المائة انفك الرهن عن حصّته في العبد وبقي نصيب الثاني من العبد مرتهناً بما عليه من الدين وتعليل ذلك بيّن؛ فإنَّ كل واحد من الراهنين رهن ملكه بما عليه وقد أدّى تمام ما عليه ويستحيل أن يبرأ الراهن من الدَّين ويبقى ملكه مرهوناً ولو بقي مرهوناً لبقي مرهوناً بدين غيره ويستحيل ذلك؛ فإنه ما رهن نصيبه بدين غيره وقال أبو حنيفة لا ينفك الرهن عن شيء من العبد ما بقي من دين واحد منهما شيء وهذا ظاهر السقوط

Jika dua orang merahnkan seorang budak yang mereka miliki bersama kepada seseorang sebagai jaminan atas utang seratus dirham yang menjadi tanggungan mereka berdua, dan akad rahn telah sempurna serta mengikat, maka seratus dirham itu dibebankan secara merata kepada kedua orang yang merahnkan, masing-masing lima puluh dirham, sebagaimana yang kami gambarkan. Jika salah satu dari mereka melunasi bagiannya dari seratus dirham tersebut, maka rahn atas bagiannya dari budak itu menjadi bebas, sedangkan bagian yang lain dari budak tersebut tetap menjadi rahn atas utang yang masih menjadi tanggungan orang kedua. Penjelasan hal ini jelas; karena masing-masing dari kedua orang yang merahnkan telah menggadaikan miliknya atas utang yang menjadi tanggungannya, dan ia telah melunasi seluruh utangnya. Tidak mungkin seseorang yang telah bebas dari utang masih tetap memiliki hartanya dalam keadaan tergadaikan. Jika tetap tergadaikan, berarti ia tergadaikan atas utang orang lain, dan hal itu tidak mungkin; karena ia tidak menggadaikan bagiannya untuk utang orang lain. Abu Hanifah berpendapat bahwa rahn tidak bisa bebas dari sebagian budak selama masih ada sisa utang dari salah satu di antara mereka, namun pendapat ini jelas tertolak.

وإنما نذكر في الأحايين مذهباً يخالف مذهبنا حتى يكون ذلك تذكرة ويتمهد الأصل به

Kami hanya menyebutkan dalam beberapa kesempatan suatu mazhab yang berbeda dengan mazhab kami agar hal itu menjadi pengingat dan dasar pokok dapat ditegaskan dengannya.

ولو رهن رجل واحدٌ من رجلين عبداً بدينين لهما عليه فَأَوْجَبَ الرهنَ بلفظه وقبلاه فإذا أدّى ما لأحدهما عليه انفك الرهن في حصته وانطلق تصرفه فيه وبقي الباقي مرهوناً بدين المرتهن الآخر وتعليل ذلك أن أحد المرتهنين استوفى جميع حقه وبرىء الراهن من دينه فيستحيل أن يبقى ما كان مرهوناً به على الراهن

Jika seorang laki-laki menggadaikan satu budak kepada dua orang atas dua utang yang ia miliki kepada mereka, lalu ia menetapkan gadai dengan ucapannya dan keduanya menerimanya, maka apabila ia melunasi utang kepada salah satu dari mereka, bagian gadai untuk yang telah dilunasi utangnya menjadi bebas dan ia dapat mempergunakan bagian tersebut, sedangkan sisanya tetap menjadi gadai untuk utang kepada pemegang gadai yang lain. Alasannya adalah karena salah satu pemegang gadai telah menerima seluruh haknya dan pihak yang menggadaikan telah bebas dari utangnya, sehingga tidak mungkin bagian yang telah dijadikan gadai untuk utang tersebut tetap berada pada pihak yang menggadaikan.

وأبو حنيفة يخالف في هذا الطرف أيضاً ويقول تمام العبد مرهونٌ عند كل واحد منهما وإذا أدى الراهن نصيب أحدهما لم ينفك من الرهن شيء ثم ناقض أصلَه فقال أوَّلاً جميع العبد مرهون عند كل واحد منهما وبنى عليه أنَّ الرهن لا ينفك عن شيء من العبد بأداء أحد الدينين ثم ناقض وقال لو هلك العبد وقيمته ألف وكل دين ألف لم تسقط الألفان بسقوط الدين بتلف المرهون ولكن يسقط من كل دين مقدار قيمة الحصة المرهونة عنده

Abu Hanifah juga berbeda pendapat dalam hal ini dan mengatakan bahwa seluruh budak itu tergadaikan pada masing-masing dari keduanya. Jika pemberi gadai melunasi bagian salah satu dari mereka, maka tidak ada bagian dari gadai yang terbebas. Kemudian ia bertentangan dengan pendiriannya sendiri; pertama, ia mengatakan bahwa seluruh budak tergadaikan pada masing-masing dari keduanya dan berdasarkan hal itu, gadai tidak terbebas dari bagian mana pun dari budak dengan pelunasan salah satu utang. Namun kemudian ia bertentangan lagi dan berkata: jika budak itu hilang dan nilainya seribu, sedangkan masing-masing utang juga seribu, maka kedua utang itu tidak gugur dengan hilangnya barang yang digadaikan, melainkan gugur dari setiap utang sebesar nilai bagian yang digadaikan pada masing-masing pihak.

ولا فرق في مذهبنا إذا رهن الرجل من رجلين بين أن يثبت الدينان عليه من جهتين وبين أن يثبتا من جهة واحدة كإتلاف مقوم عليهما أو كابتياع عبدٍ منهما فالحكم ما ذكرناه

Tidak ada perbedaan dalam mazhab kami, apabila seseorang menggadaikan kepada dua orang, antara apakah kedua utang itu ditetapkan atasnya dari dua sebab yang berbeda atau dari satu sebab saja, seperti merusak barang yang bernilai atas keduanya, atau seperti membeli seorang budak dari keduanya; maka hukumnya adalah seperti yang telah kami sebutkan.

وحكى صاحب التقريب وجهاًً غريباً أن الدين إذا ثبت لهما من جهةٍ واحدة فلا ينفك الرهن بأداء حصة أحدهما وهذا غلط صريح؛ إذ لا يتحقق الشيوع في الدين وكل واحد يطالِب بحقه من غير مزيد فبقاء الرهن في تلك الصورة مع سقوط الدين محال ولا يتصور أن يثبت دينان لرجلين إلا على حكم التعدد والتميز

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan satu pendapat yang aneh, yaitu bahwa jika utang itu tetap bagi keduanya dari satu sisi, maka gadai tidak lepas dengan pelunasan bagian salah satu dari keduanya. Ini adalah kesalahan yang nyata; sebab tidak terwujud adanya kepemilikan bersama dalam utang, dan masing-masing menuntut haknya tanpa tambahan. Maka, tetapnya gadai dalam keadaan seperti itu sementara utang telah gugur adalah mustahil, dan tidak mungkin ada dua utang bagi dua orang kecuali atas dasar perbedaan dan keterpisahan.

ولو استعار رجلٌ من رجل عبداً ليرهنه بمائة فرهن من شخصين بمائة ثم قضى دينَ أحدهما انفك الرهن في النصف كما قدمناه

Jika seseorang meminjam seorang budak dari orang lain untuk dijadikan barang jaminan atas utang seratus, lalu ia menjaminkan budak itu kepada dua orang dengan utang seratus, kemudian ia melunasi utang kepada salah satu dari keduanya, maka barang jaminan itu bebas pada setengahnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

ولو استعار من رجلين ورهن من رجلين ثم قضى دين أحدهما انفكَّ الرهن في النصف ويقع ذلك النصف للمعيرين لا محالة؛ فإن الرهن جرى في ملك مشترك وحصتين شائعتين فينزل الفك على حسب ذلك

Jika seseorang meminjam dari dua orang dan menggadaikan kepada dua orang, kemudian melunasi utang salah satunya, maka barang gadai itu bebas pada setengahnya, dan setengah itu pasti menjadi milik para peminjam; karena gadai tersebut terjadi pada kepemilikan bersama dan dua bagian yang bercampur, maka pembebasan gadai berlaku sesuai dengan hal itu.

ولو استعار رجلان من واحد ورهنا من واحدٍ ثم قضى أحدهما ما عليه من الدين انفك النصف من الرهن وعاد إلى المعير وكذلك لو رهنا من رجلين بدينين عليهما

Jika dua orang meminjam dari satu orang dan kemudian mereka bersama-sama menjadikan barang pinjaman itu sebagai rahn (barang jaminan) kepada satu orang, lalu salah satu dari mereka melunasi utangnya, maka setengah dari barang jaminan itu bebas dan kembali kepada pemilik barang yang dipinjamkan. Demikian pula jika mereka menjadikan barang itu sebagai rahn kepada dua orang untuk dua utang yang menjadi tanggungan mereka berdua.

ولو استعار من شخصين ورهن من واحدٍ فالراهن واحد وهو المستعير والمرتهن واحد فإذا قضى الراهنُ المستعيرُ نصفَ الدين ليفتك نصفُ الرهن ففي المسألة قولان نص عليهما في الرهن الصغير أحدهما لا يفتك من الرهن شيء؛ لأن الدين واحد ومستحقه واحد وقد وقع الرهن من واحد بدين واحدٍ وحكم الرهن أن يكون كله متعلقاً بكل جزء من الدين الواحد وما ذكرناً من الصّور قبل هذا مضمونه تعدد الدين إمَّا بتعدد من عليه وإمّا بتعدد مستحق الدين وإما بالتعدد من الجانبين فجرت تلك التفاصيل بناء على تعدّد الدين والدين متحد في مسألتنا وإنما وجد التعدد في مالك الرهن وسبب التمكن من تصوير العدد في الملك مع اتحاد الدّين والراهن والمرتهن التصويرُ في الرهن المستعار؛ فإن الملاك المتعددين لا دين عليهم والراهن لا ملك له فلما اجتمع عدد المالك حيث لا دين واتحاد الراهن الذي عليه الدين ولا ملك له انتظم منه القولان

Jika seseorang meminjam barang dari dua orang lalu menggadaikannya kepada satu orang, maka yang menjadi rahin (penggadai) adalah satu, yaitu peminjam, dan yang menjadi murtahin (penerima gadai) juga satu. Jika rahin yang meminjam itu membayar setengah utang untuk menebus setengah barang gadai, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang dinyatakan dalam kitab “ar-Rahn ash-Shaghir”. Salah satunya adalah tidak dapat ditebus sebagian dari barang gadai, karena utangnya satu dan yang berhak atas utang juga satu, dan gadai itu terjadi dari satu orang untuk satu utang. Hukum gadai adalah seluruh barang gadai terkait dengan setiap bagian dari satu utang. Adapun contoh-contoh yang telah kami sebutkan sebelumnya, intinya adalah adanya banyak utang, baik karena banyaknya pihak yang berutang, banyaknya pihak yang berhak atas utang, atau banyaknya dari kedua sisi, sehingga rincian tersebut didasarkan pada banyaknya utang. Sedangkan dalam masalah kita, utangnya satu, hanya saja yang berbeda adalah pemilik barang gadai. Sebab adanya kemungkinan untuk menggambarkan jumlah dalam kepemilikan meskipun utang, rahin, dan murtahin satu, adalah karena gadai yang dipinjam; karena para pemilik yang banyak itu tidak memiliki utang, dan rahin tidak memiliki kepemilikan. Maka ketika berkumpul banyaknya pemilik di mana tidak ada utang, dan rahin yang menanggung utang tetapi tidak memiliki barang, muncullah dua pendapat tersebut.

وقد ذكرنا أحدهما

Dan kami telah menyebutkan salah satunya.

والقول الثاني أنه ينفك لأن صَدَرَ الرهن عن ملكين فينبغي أن يكون ذلك كما لو صدر عن دينين

Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya terpisah, karena rahn itu berasal dari dua kepemilikan, sehingga seharusnya hal itu seperti jika berasal dari dua utang.

ولا يتم الغرض في هذا مالم نوضح التصوير ببيانٍ أظهرَ ممَّا ذكرناه

Tujuan ini tidak akan tercapai kecuali jika kita memperjelas gambaran tersebut dengan penjelasan yang lebih jelas daripada yang telah kami sebutkan.

فالمسألة فيه إذا استعار رجل عبداً من رجلين مشتركين فيه ورهنه بألف درهم من رجل واحد ثم أدى خمسمائة

Maka permasalahannya adalah apabila seseorang meminjam seorang budak milik dua orang yang memilikinya secara bersama, lalu ia menjadikan budak itu sebagai barang gadai untuk utang seribu dirham dari satu orang, kemudian ia membayar lima ratus dirham.

هذا أصل التصوير وتمامه أنه إن نوى بالخمسمائة فكَّ نصيب أحدهما

Ini adalah pokok permasalahan dalam tashwīr, dan penyempurnaannya adalah bahwa jika seseorang berniat dengan lima ratus tersebut untuk melepaskan bagian salah satu dari keduanya.

وعين ذلك الشخصَ بقصده فالمسألة تخرجُ على قولين أحدهما أنه لا ينفك شيء والثاني ينفك حصة من عينه وأما إذا قصدنا بخمسمائة أن تؤدّى على الشيوع من غير تخصيص بحقه فلا ينفك في هذه الصورة من الرهن شيء؛ فإنه إذا تحقق تقدير أداء البعض عن كل حصة فتلك الحصّة بكمالها تبقى مرتهنة إلى تقدير أداء جميع ما يقابلها من الدين هذا حكم الرهن فتصوير محل القولين يفتقر إلى فرض قصد المؤدي في فك إحدى الحصتين

Dan jika seseorang itu ditentukan dengan maksud tertentu, maka masalah ini terbagi menjadi dua pendapat: salah satunya adalah tidak ada bagian yang terlepas, dan yang kedua adalah sebagian dari bagiannya terlepas. Adapun jika kita maksudkan dengan lima ratus itu untuk dibayarkan secara bersama-sama tanpa menentukan bagian tertentu, maka dalam keadaan ini tidak ada bagian dari barang gadai yang terlepas; sebab jika pembayaran sebagian dianggap sebagai pembayaran untuk setiap bagian, maka bagian tersebut secara utuh tetap menjadi barang gadai sampai seluruh utang yang berkaitan dengannya dilunasi. Inilah hukum rahn (gadai), sehingga gambaran tempat kedua pendapat tersebut memerlukan adanya anggapan bahwa orang yang membayar memang bermaksud untuk melepaskan salah satu dari dua bagian.

ولو استعار عبدين من شخصين ورهنهما من رجل واحد بدين عليه متحد ثم قضى نصفَ الحق وقصد فكَ الرهن في أحد العبدين وكانت قيمة كل واحد منهما مائة فقد اختلف أصحابنا في هذه المسألة على طريقين فذهب جمعٌ من الأصحاب إلى أنه يفتك الرهن في العبد الذي عينه بقصده؛ ففرق هؤلاء بين العبدين والعبد الواحد؛ من جهة تعدد المحل وتميز أحد العبدين عن الثاني

Jika seseorang meminjam dua budak dari dua orang yang berbeda, lalu menjadikan keduanya sebagai barang gadai kepada satu orang atas satu utang yang sama, kemudian ia melunasi setengah dari utangnya dan bermaksud untuk membebaskan gadai pada salah satu dari kedua budak itu, sedangkan nilai masing-masing budak adalah seratus, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa ia dapat membebaskan gadai pada budak yang ia tentukan dengan niatnya; mereka membedakan antara dua budak dan satu budak, dari sisi banyaknya objek dan perbedaan salah satu budak dari yang lain.

وذهب المحققون إلى طرد القولين في صورة العبدين إذا اتحد الدين باتحاد الراهن فالتعويل على اتحاد الدين وتعدده والمرهون لا ينظر إلى تعدده واتحاده ولا يشك الناظر أن مسألة العبدين فيه إذا انفرد كل مالكٍ بعبدٍ فعند ذلك تخيل أقوام الفرقَ فأمّا إذا كانا مشتركين بين سيدين فلا يخفى أن المسألة من صور القولين

Para peneliti mendalam berpendapat untuk menerapkan dua pendapat dalam kasus dua budak apabila utang itu satu karena penjaminnya satu, maka yang menjadi acuan adalah kesatuan dan keberagaman utang, sedangkan barang yang dijaminkan tidak dilihat dari keberagaman atau kesatuannya. Tidak diragukan lagi bagi orang yang menelaah bahwa masalah dua budak ini, jika masing-masing pemilik memiliki satu budak, maka pada saat itu sebagian orang membayangkan adanya perbedaan. Adapun jika kedua budak itu dimiliki bersama oleh dua orang tuan, maka tidak samar lagi bahwa masalah ini termasuk dalam gambaran dua pendapat.

ونقل بعضُ الأثباتِ عن الشافعي في الأم نصاً غريباً وهو أنه قال إن كان المرتهن عالماً بحقيقة الحال وكونِ المرهون مستعاراً من شخصين افتك الرهن في النصف؛ لمكان علمه بتعدد مالك الرهن فإن لم يعلمه لم يفتك وهذا لا ندري له وجهاً؛ فإن عدم الانفكاك سببه اتحادُ الدَّين وعدمُ النظر إلى تعدد المالك واتحاده وهذا لا يختلف بعلم المرتهن وجهله

Sebagian ulama yang terpercaya menukil dari Imam Syafi‘i dalam kitab al-Umm sebuah teks yang unik, yaitu beliau berkata: Jika penerima gadai mengetahui keadaan yang sebenarnya dan mengetahui bahwa barang gadai itu dipinjam dari dua orang, maka gadai itu dapat ditebus pada separuhnya, karena ia mengetahui adanya dua pemilik barang gadai tersebut. Namun jika ia tidak mengetahuinya, maka tidak dapat ditebus. Kami tidak mengetahui alasan pendapat ini; sebab tidak terlepasnya gadai itu disebabkan oleh kesatuan utang dan tidak memperhatikan apakah pemilik barang gadai itu satu atau lebih, dan hal ini tidak berbeda apakah penerima gadai mengetahui atau tidak mengetahuinya.

نعم يؤثّر العلمُ والجهل في شيء آخر وهو أن من رهن عبداً مستعاراً من مالكين عند رجلٍ واحدٍ بثمن مشروط بالرّهن وفرعنا على أن أداء ما يقابل نصيب أحد المعيرين يوجب انفكاك الرهن في حصته نظر في المرتهن فإن كان جاهلاً بتعدد المالك وصفة الحال ثبت له الخيار إذا تبين الأمر؛ فإنه بنى الأمر على رهن مطلق بدينٍ واحد وموجبه أن لا ينفك منه شيء ما بقي من الدين شيء وإن كان عالماً بحقيقة الحال دارياً بأن ذلك يُفضي إلى تبعيضٍ في الفك فلا خيار له إذا حصل التبعيض في الفك

Ya, pengetahuan (‘ilm) dan ketidaktahuan (jahl) berpengaruh pada hal lain, yaitu jika seseorang menggadaikan seorang budak yang dipinjam dari dua pemilik kepada satu orang dengan harga yang disyaratkan dalam akad gadai, dan kita berasumsi bahwa pelunasan bagian dari salah satu pemilik yang meminjamkan mewajibkan lepasnya gadai pada bagiannya, maka perlu dilihat keadaan penerima gadai (murtahin). Jika ia tidak mengetahui adanya dua pemilik dan kondisi sebenarnya, maka ia berhak memilih (khiyar) ketika kenyataan itu terungkap; sebab ia mendasarkan akad pada gadai mutlak atas satu utang, dan konsekuensinya adalah tidak ada bagian yang lepas dari gadai selama masih ada sisa utang. Namun jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya dan paham bahwa hal itu akan menyebabkan terjadinya pemisahan dalam pelepasan gadai, maka ia tidak memiliki hak khiyar jika memang terjadi pemisahan dalam pelepasan gadai tersebut.

ولو كان بين رجلين عبد مشترك فأذن أحد الشريكين لصاحبه في أن يرهن نصيبه من المشتري مع نصيبه المملوك له فرهن العبدَ ونصفُه ملكُه ونصفه مستعار من شريكه بالدين الواحد الذي عليه فلو قصد فك الرهن في نصيب نفسه وإبقائه في نصيب الشريك المعيرِ أو على العكس ففي المسألة القولان المقدمان؛ فإن المالك متعدد وأحدهما المعير والثاني الراهن والدين متحد وهذا منشأ الخلاف

Jika ada seorang budak yang dimiliki bersama oleh dua orang laki-laki, lalu salah satu dari kedua pemilik tersebut memberi izin kepada rekannya untuk menggadaikan bagian kepemilikannya dari budak itu bersama dengan bagian yang dimilikinya sendiri, kemudian ia menggadaikan budak tersebut, di mana setengahnya adalah miliknya dan setengahnya lagi dipinjam dari rekannya, untuk satu utang yang sama yang menjadi tanggungannya, maka jika ia bermaksud untuk membebaskan gadai pada bagiannya sendiri dan membiarkannya tetap pada bagian rekannya yang meminjamkan, atau sebaliknya, dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya; karena pemiliknya lebih dari satu, salah satunya adalah yang meminjamkan dan yang lainnya adalah yang menggadaikan, serta utangnya satu, dan inilah asal mula perbedaan pendapat.

ولو وكَّل رجلان رجلاً واحداً ليرهن عبداً لهما من واحد بدين لذلك الواحد عليهما فإذا قضى أحد الموكِّلين نصيبَه من الدين فقد ذكر بعض أصحابنا أن هذا من صور القولين؛ لأن الراهن متحد وكذلك المرتهن والراهن المتحد هو الوكيل

Jika dua orang mewakilkan kepada satu orang untuk menggadaikan seorang budak milik mereka berdua kepada satu orang karena utang yang menjadi tanggungan mereka berdua kepada orang tersebut, kemudian salah satu dari kedua pemberi kuasa itu melunasi bagiannya dari utang, maka sebagian ulama kami menyebutkan bahwa ini termasuk salah satu contoh dari dua pendapat; karena pihak yang menggadaikan adalah satu orang, demikian pula pihak penerima gadai, dan pihak yang menggadaikan yang satu itu adalah wakil.

وهذا خطأ ولا ننظر إلى اتحاد الراهن من طريق الصورة وإنما يَفْهَم عَقْدَ هذا الباب من يدري أن قطبه ومداره على اتحاد الدين وإذا كان لرجل على رجلين دين فهو في التحقيق دينان ولا يتصور اتحاد الدين مع تعدد المستحق أو تعدد المستحق عليه

Ini adalah sebuah kekeliruan, dan kita tidak melihat kesatuan rahin dari segi bentuk lahiriah semata, melainkan yang memahami akad dalam bab ini adalah orang yang mengetahui bahwa inti dan porosnya terletak pada kesatuan utang. Jika seseorang memiliki utang pada dua orang, maka pada hakikatnya itu adalah dua utang, dan tidak mungkin terjadi kesatuan utang apabila terdapat lebih dari satu pihak yang berhak atau lebih dari satu pihak yang berutang.

فصل

Bab

قال ولو كان الرهن ممَّا يكال كان للذي افتك نصفه أن يقاسم المرتهن بإذن شريكه إلى آخره

Dan jika barang gadai itu termasuk barang yang ditakar, maka orang yang menebus setengahnya boleh membagi barang tersebut dengan pihak penerima gadai dengan izin dari rekannya, dan seterusnya.

إذا رهن رجلان شيئاًً من المكيلات مشتركاً أو من الموزونات فإذا قضى أحدُهما نصيبه من الدين فقد افتك الرهنَ في نصيبه بناء على ما مهدناه من تعدد الدين قال الشافعي للذي افتك نصيبه أن يقاسِم وهذا الذي ذكره جواب على قولنا القسمة إفراز حق فإن جعلناها بيعاً لم يجز لأنه يؤدي إلى بيع المرهون بغيره وهذا أصل يجري على الاطراد فيما يمتنع البيع فيه ففي إجراء القسمة قولان مبنيان على أن القسمة إفرازٌ أو بيع وقد يطرأ على قول البيع في بعض المواضع قول في جواز القسمة؛ وذلك لمكان الضرورة وهذا كما سنذكره في قسمة الوقف؛ فإنه على التأبيد والشركة القائمة قد تجرّ عسراً عظيماً فإذا لم تفرض ضرورة ظاهرة انطبق جواز القسمة ومنعها على القولين في أن القسمة بيع أم ليست بيعاً

Jika dua orang merahnkan suatu barang yang dapat ditakar atau ditimbang secara bersama-sama, lalu salah satu dari mereka melunasi bagiannya dari utang, maka ia telah membebaskan barang jaminan pada bagiannya, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan tentang adanya banyak utang. Imam Syafi‘i berpendapat bahwa orang yang telah membebaskan bagiannya boleh melakukan pembagian. Apa yang disebutkan ini adalah jawaban atas pendapat kami bahwa pembagian (qismah) adalah pemisahan hak. Jika pembagian dianggap sebagai jual beli, maka tidak boleh dilakukan, karena hal itu akan menyebabkan penjualan barang yang digadaikan dengan barang lain, dan ini adalah prinsip yang berlaku secara umum pada hal-hal yang penjualannya dilarang. Dalam pelaksanaan pembagian, terdapat dua pendapat yang didasarkan pada apakah pembagian itu merupakan pemisahan hak atau jual beli. Kadang-kadang, pada pendapat yang menganggap pembagian sebagai jual beli, muncul pendapat yang membolehkan pembagian dalam beberapa kondisi karena adanya kebutuhan mendesak. Hal ini sebagaimana akan kami sebutkan dalam pembagian harta wakaf; karena wakaf itu bersifat abadi dan kemitraan yang terus berlangsung dapat menimbulkan kesulitan besar. Jika tidak ada kebutuhan mendesak yang nyata, maka kebolehan dan larangan pembagian kembali kepada dua pendapat, yaitu apakah pembagian itu dianggap sebagai jual beli atau bukan.

ومسألتنا من صور القولين؛ فإن الرهن ينفك عما قليل فلا يظهر الضّرر

Masalah kita termasuk dalam contoh dua pendapat; karena gadai akan segera lepas sehingga tidak tampak adanya mudarat.

ثم ذكر الشافعي لفظاً فقال للذي افتك نصيبَه أن يقاسم المرتهن بإذن

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan suatu lafaz, lalu beliau berkata bahwa orang yang menebus kembali bagiannya harus membagi hasilnya dengan pihak yang menerima gadai, dengan seizinnya.

الشريك

Mitra

قلنا المقاسمة الحقيقية تجري مع الشريك؛ فإن المقسوم هو الملك وهو منسوب إلى المالكين ولكن الشافعي توسع في الكلام؛ إذ قال يقاسم من افتك نصيبَه المرتهنَ وحقيقة الاقتسام يتعلق بالمالك والمرتهنُ ليس مالكاً حتى إذا فرّعنا على إجراء القسمة فقد اختلف أصحابنا في أن إذن المرتهن هل يشترط فمنهم من قال لا يشترط إذنُه ولا تعلق للقسمة به ومنهم من قال لا بد من مراجعته لمكان حقه وهذا كقولنا لا يصح بيع الرهن دون مراجعة المرتهن وإن زعم الراهن أنه يبيعه في حقه

Kami katakan bahwa pembagian yang sebenarnya terjadi bersama dengan sekutu; karena yang dibagi adalah kepemilikan dan itu dinisbatkan kepada para pemilik. Namun, asy-Syafi‘i memperluas pembicaraan ketika beliau mengatakan bahwa orang yang menebus bagiannya membagi dengan pihak yang menerima gadai. Padahal, hakikat pembagian berkaitan dengan pemilik, sedangkan pihak yang menerima gadai (murtahin) bukanlah pemilik. Sehingga, jika kita mengambil cabang hukum bahwa pembagian dilakukan, maka para ulama kami berbeda pendapat apakah izin dari pihak yang menerima gadai itu disyaratkan. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa izinnya tidak disyaratkan dan pembagian tidak ada kaitannya dengannya. Ada juga yang mengatakan bahwa harus ada rujukan kepadanya karena ada haknya di situ. Ini seperti pendapat kami bahwa tidak sah menjual barang gadai tanpa merujuk kepada pihak yang menerima gadai, meskipun pihak yang menggadaikan mengklaim bahwa ia menjualnya untuk haknya sendiri.

ثم القسمة في المكيلات والموزونات قسمةُ إجبارٍ فمن دعا إليها أجابه الحاكم وإن امتنع الشريك المالك؛ فلا أثر للمراجعة؛ فإن المستدعي مجابٌ نعم حق على الحاكم أن يراجع الشريك؛ فإن أطاع كان هو المنشىء للقسمة وإن أبى فإذ ذاك يظهر إجبار الوالي وعلى هذا التفسير في مراجعة المرتهن من الخلاف ما قدمناه فافهموه

Kemudian, pembagian dalam barang-barang yang ditakar dan ditimbang adalah pembagian yang bersifat memaksa. Maka, siapa pun yang meminta pembagian tersebut, hakim wajib mengabulkannya, meskipun salah satu dari para pemilik yang menjadi sekutu menolak; penolakan tersebut tidak berpengaruh, karena pihak yang meminta pembagian pasti dikabulkan. Namun, menjadi hak bagi hakim untuk meninjau kembali kepada sekutu tersebut; jika ia setuju, maka dialah yang memulai pembagian, dan jika ia menolak, maka pada saat itulah tampak adanya pemaksaan dari penguasa. Berdasarkan penafsiran ini, dalam meninjau kembali kepada pihak yang menggadaikan (marhun), terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, maka pahamilah hal ini.

ولا يختص ما ذكرناه بالمكيلات والموزونات ولكن كل قسمة يَجري الإجبارُ عليها على الجملة فإذا فرض الرهن في جنسه فالكلام في القسمة فيه على ما مضى

Apa yang telah kami sebutkan tidak khusus berlaku pada barang-barang yang ditakar dan ditimbang saja, tetapi setiap pembagian yang secara umum dapat dipaksakan, maka jika gadai terjadi pada jenis barang tersebut, pembicaraan tentang pembagiannya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

ولو رهن رجلان عبدين مشتركين بينهما بدين كان لرجلين عليهما ثم قضى أحدُهما ما عليه من الدين فافتك الرهنَ في نصفي العبدين فلو قال لشريكه العبدان متساويان في القيمة فتعال نقتسمها وينفرد كل واحد منا بعبدٍ فهذه القسمة ليست قسمة جزئية؛ إذ لا يعبر عن الحصتين فيهما بجزأين بل لو جرت لانفرد كل واحد بشخصٍ وهذا النوع يسمى قسمةَ التعديل ومعناه أنها لا تعتمد إلا تعديلَ القيمة

Jika dua orang merelakan dua budak yang dimiliki bersama sebagai jaminan atas utang yang mereka miliki kepada dua orang lain, kemudian salah satu dari mereka melunasi bagiannya dari utang tersebut dan menebus jaminan atas setengah bagian dari kedua budak itu, lalu ia berkata kepada rekannya: “Kedua budak ini nilainya sama, mari kita bagi dan masing-masing dari kita mengambil satu budak,” maka pembagian seperti ini bukanlah pembagian bagian (qismah juz’iyyah); sebab bagian masing-masing tidak dapat dinyatakan sebagai dua bagian dari keseluruhan. Bahkan jika pembagian itu terjadi, maka masing-masing akan memiliki satu orang budak secara penuh. Jenis pembagian seperti ini disebut qismah ta‘dīl (pembagian berdasarkan penyesuaian nilai), yang maksudnya adalah pembagian ini hanya didasarkan pada penyesuaian nilai.

فالقِسَم ثلاثٌ منها ما يعتمد الجزئية المحضة وهي في المثليات ومنها ما يعتمد التعديل في القيمة والجزئية وعليها بناء قسمة الأقرحة والدور والإجبار يجري في هذين القسمين والقسم الثالث يعتمد تعديل القيمة ولا مجال للجزئية فيه كتمييز عبدٍ من عبد وكوضع القسمة على أن ينفرد شريك بدار وينفرد الآخر بدارٍ أو بستانٍ أو سلعة من المنقولات وللشافعي في الإجبار على هذه القسم الأخير قولان سيأتي ذكرهما في باب القِسام إن شاء الله تعالى

Pembagian itu ada tiga: pertama, yang didasarkan pada bagian secara murni, yaitu pada benda-benda yang serupa; kedua, yang didasarkan pada penyesuaian nilai dan bagian, dan atas dasar inilah dibangun pembagian tanah, rumah, dan pemaksaan berlaku pada dua jenis pembagian ini; sedangkan jenis ketiga didasarkan pada penyesuaian nilai tanpa ada ruang untuk pembagian bagian, seperti membedakan antara satu budak dengan budak lain, atau menetapkan pembagian sehingga satu mitra mendapatkan satu rumah dan mitra lain mendapatkan rumah lain, kebun, atau barang bergerak lainnya. Mengenai pemaksaan pada jenis pembagian terakhir ini, menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat yang akan disebutkan pada bab pembagian, insya Allah Ta‘ala.

فإن قلنا يجري الإجبار على هذه القسمة فمن أصحابنا من قال هذا النوع بيعٌ قولاً واحداً ومنهم من قال هو خارجٌ على القولين فإن قلنا هي بيع قولاً واحداً امتنع جريانُها في الرّهن فإن قيل أرأيت لو رضي المرتهن؛ قلنا لا يصح مع رضاه أيضاً؛ فإن رضاه يعمل في فك الرّهن فأما في بيع الرهن بما ليس برهن ليصير رهناً فلا مساغ لهذا أصلاً والأجوبة وإن اختلفت في جواز نقل الرهن من عين إلى عين على حكم التراضي فلا اختلاف في أن التبادل بصيغة البيع لا يجوز

Jika kita mengatakan bahwa pemaksaan berlaku pada pembagian ini, maka sebagian ulama kami berpendapat bahwa jenis ini adalah jual beli menurut satu pendapat, dan sebagian lain berpendapat bahwa hal ini termasuk dalam dua pendapat. Jika kita mengatakan bahwa ini adalah jual beli menurut satu pendapat, maka tidak boleh dilakukan pada barang yang digadaikan (rahn). Jika ada yang bertanya: Bagaimana jika pihak yang menerima gadai (murtahin) rela? Kami katakan: Tidak sah meskipun ia rela; karena kerelaannya hanya berlaku dalam pembebasan gadai, adapun dalam menjual barang gadai dengan sesuatu yang bukan barang gadai agar menjadi barang gadai, maka sama sekali tidak diperbolehkan. Jawaban-jawaban, meskipun berbeda dalam membolehkan pemindahan gadai dari satu barang ke barang lain atas dasar kerelaan, tidak ada perbedaan pendapat bahwa pertukaran dengan akad jual beli tidak diperbolehkan.

وإن قلنا القولان جاريان في هذا الضرب من القسمة فإن قلنا لا إجبار عليها فصحة القسمة مبنية على القولين كما ذكرناه ولكنا ذكرنا اختلافاً في القسمين المقدمين في أن المرتهن هل يُراجع فإن قلنا ثَمَّ يراجع فلأن يراجع ها هنا أولى وإن قلنا ثَمّ لا يراجع فهاهنا وجهانِ ذكرهما القاضي

Jika kita mengatakan bahwa dua pendapat berjalan dalam jenis pembagian ini, maka jika kita mengatakan tidak ada paksaan atasnya, maka keabsahan pembagian didasarkan pada dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan. Namun, kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam dua bagian sebelumnya tentang apakah pihak yang memegang gadai dapat meminta kembali. Jika kita mengatakan di sana boleh meminta kembali, maka di sini lebih utama untuk boleh meminta kembali. Dan jika kita mengatakan di sana tidak boleh meminta kembali, maka di sini ada dua pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi.

والأصح عندي أنه لا بد من مراجعة المرتهن فإن ضرورة الإجبار إن أوهبَ حقُّ المرتهن فيما تقدم فيبعد جداً في صورةٍ لا إجبار فيها أن يخرج عن حق المرتهن في معرض التراضي شيءٌ كان متعلقَ حقِّه

Pendapat yang paling sahih menurutku adalah bahwa harus ada persetujuan dari pihak yang menerima gadai, karena kebutuhan untuk memaksa itu terjadi jika hak penerima gadai diberikan secara hibah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Maka sangat tidak masuk akal, dalam keadaan tidak ada paksaan, ada sesuatu yang terkait dengan hak penerima gadai keluar dari haknya hanya karena adanya kerelaan.

فليفهم النّاظر ما يمر به من البدائع

Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami segala keajaiban yang dilaluinya.

ثم ذكر الشافعي بعضَ تفريعات رهن المستعار وبين أن حق المستعير أن يذكر للمعير الدَّينَ الذي يرهن به وهذا تفريع منه على أن رهن المستعار ينحى به نحو الضّمان

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan beberapa rincian tentang gadai barang pinjaman dan menjelaskan bahwa hak peminjam adalah memberitahukan kepada pemilik barang pinjaman utang yang akan dijaminkan dengan barang tersebut. Ini merupakan rincian dari beliau bahwa gadai barang pinjaman diarahkan seperti penjaminan.

وقد تقصينا بما فيه مقنع

Dan kami telah menguraikan secara rinci dengan penjelasan yang memadai.

فصل

Bab

قال ولو رهن عبده رجلين وأقر لكل واحد منهما بقبضه كله إلى

Dan jika seseorang menggadaikan budaknya kepada dua orang, lalu ia mengakui kepada masing-masing dari keduanya bahwa mereka telah menerima seluruhnya, hingga…

آخره

Akhirnya.

هذا الفصل فيه تعقد من جهة التصوير لا من مأخذ الفقه والتدرج إلى البيان فيه يستدعي الاعتناء بالتفصيل

Bab ini memiliki kerumitan dari segi penggambaran, bukan dari segi pendekatan fiqh, dan penjelasan secara bertahap di dalamnya memerlukan perhatian pada perincian.

فنقدم أولاً على الخصوص في المقصود تجديدَ العهد بأمور سبق تمهيدها أولاً إذا أقر المالك بأنه رهن عبده من زيد ثم بأن أنه رهنه من عمرو وسلمه إليه ولم يتعرض في الإقرار الأول للقبض وإنما ذكر الرهن المطلق فيسلم الرهن إلى المقر له الثاني؛ من قِبل أنه لم يعترف في حق الأول إلا بالرهن ولو رهن من رجلٍ ولم يُقبض ثم رهن من الثاني وأقبض فيرتفع الرهن الأول ويتم الثاني هذا إذا جرى الإقراران على هذا الترتيب

Maka pertama-tama, secara khusus dalam maksud pembahasan ini, kita perlu memperbarui pemahaman terhadap beberapa hal yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika seorang pemilik mengakui bahwa ia telah menggadaikan budaknya kepada Zaid, kemudian ia mengakui bahwa ia telah menggadaikannya kepada Amr dan menyerahkannya kepadanya, sementara dalam pengakuan pertama tidak disebutkan adanya penyerahan barang gadai, melainkan hanya disebutkan gadai secara mutlak, maka barang gadai tersebut diserahkan kepada pihak kedua yang diakui. Hal ini karena dalam hak pihak pertama, ia hanya mengakui adanya gadai saja. Jika seseorang menggadaikan kepada seseorang namun belum diserahkan, kemudian ia menggadaikan kepada orang kedua dan menyerahkannya, maka gadai yang pertama gugur dan yang kedua menjadi sah. Ini berlaku jika kedua pengakuan tersebut terjadi dengan urutan seperti ini.

ولو قال أولاً رهنت من زيد عبدي هذا وسلمه إليه ثم أقرّ بعد ذلك أنه رهنه أولاً من عمرو وسلمه إليه فكان إقراره الثاني مخالفاً للأول أما الرهن فهو في ظاهر الأمر مسلَّمٌ إلى المقر له أولاً وهل يغرَم المقِر للمقر له ثانياً قيمة ذلك الرهن لتوضع رهناً فهو على قولين مأخوذين من أصلٍ معروف في أن الحيلولة في الأموال بالأقارير وبالشهادات هل توجب الغرامة على المتسبب إلى إيقاعها بالإقرار أو بالشهادة المتصلة بحكم الحاكم هذا الأصل على قولين

Jika seseorang berkata pertama kali, “Aku telah menjadikan budakku ini sebagai rahn (barang jaminan) kepada Zaid,” lalu ia menyerahkannya kepada Zaid, kemudian setelah itu ia mengakui bahwa ia telah lebih dahulu menjadikannya sebagai rahn kepada ‘Amr dan telah menyerahkannya kepada ‘Amr, maka pengakuan keduanya bertentangan dengan yang pertama. Adapun rahn tersebut, secara lahiriah, telah diserahkan kepada orang yang diakui pertama kali. Apakah orang yang mengakui tersebut wajib mengganti nilai rahn itu kepada orang yang diakui kedua agar dapat dijadikan rahn? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diambil dari kaidah yang sudah dikenal, yaitu apakah penghalangan terhadap harta melalui pengakuan atau kesaksian mewajibkan ganti rugi bagi orang yang menyebabkan terjadinya penghalangan itu melalui pengakuan atau kesaksian yang diikuti dengan keputusan hakim; kaidah ini sendiri juga memiliki dua pendapat.

ومن صوره لو قال غصبت هذه الدارَ من فلان لا بل من فلان

Di antara contohnya adalah jika seseorang berkata, “Aku telah merampas rumah ini dari si Fulan,” lalu ia berkata, “Bukan, tetapi dari si Fulan.”

وسيأتي تفصيل ذلك إن شاء الله عز وجل في كتاب الغصوب وفيه يتبين تفاوت المراتب في مسائل الأصل ويتسلسل الترتيب وما ذكرناه من القولين في الرهن ليسا على كمال البيان

Penjelasan rinci tentang hal ini akan dibahas, insya Allah ‘Azza wa Jalla, dalam Kitab Ghashab. Di sana akan tampak perbedaan tingkatan dalam masalah-masalah pokok dan urutan yang berkesinambungan. Adapun dua pendapat yang telah kami sebutkan mengenai rahn belumlah dijelaskan secara sempurna.

وكمال بيانهما في أثناء الفصل وإنما غرضنا التنبيه على ما يُفضي إليه الإقرار الثاني من أمر الغرم

Penjelasan keduanya secara sempurna akan disampaikan di tengah pembahasan, dan tujuan kami hanyalah memberikan penjelasan tentang akibat yang ditimbulkan oleh pengakuan kedua terkait masalah tanggungan.

ومما نقدمه أن المالك لو قال رهنت عبدي فلاناً من زيدٍ وأقبضته بعد أن كنتُ رهنته من عمرو وأقبضته فصدقُ الإقرار يقتضي تقديمَ زيد ومنتهى الكلام المنعطف على أوله يقتضي أن يكون المتقدم عمراً

Perlu kami sampaikan bahwa jika pemilik berkata, “Aku telah menggadaikan budakku si Fulan kepada Zaid dan telah menyerahkannya setelah sebelumnya aku menggadaikannya kepada Amr dan telah menyerahkannya,” maka kebenaran pengakuan menuntut untuk mendahulukan Zaid, sedangkan akhir ucapan yang kembali kepada awalnya menuntut agar yang didahulukan adalah Amr.

هذا تخريجٌ على القولين في أن الاعتبار في مثل ذلك بأول الإقرار أو بآخر الكلام المتواصل فإن قلنا الاعتبار بآخر الكلام فالمقَرُّ له بحق السبق هو المذكور آخراً

Ini adalah penjelasan berdasarkan dua pendapat mengenai apakah yang dijadikan acuan dalam kasus seperti itu adalah awal pengakuan atau akhir dari ucapan yang bersambung. Jika kita berpendapat bahwa yang dijadikan acuan adalah akhir ucapan, maka pihak yang diakui memiliki hak atas prioritas adalah yang disebutkan terakhir.

وإن قلنا الاعتبار بصدر الكلام فالمقر له أولاً هو المذكور أولاً في صدر الكلام وهذا مأخوذ من قول القائل لفلان علي ألفُ درهم من ثمن خمرٍ فإن بنينا الأمر على آخر الكلام لم نُلزمه شيئاًً وإن بنيناه على أوله ألزمناه الألفَ المقرَّ به المذكورَ صدراً في الكلام وأحبطنا الآخر وسيأتي بيان هذا في الأقارير إن شاء الله

Jika kita mengatakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah awal ucapan, maka orang yang pertama kali diakui haknya adalah yang disebutkan pertama kali di awal ucapan. Hal ini diambil dari ucapan seseorang: “Untuk Fulan atas saya seribu dirham dari harga khamar.” Jika kita membangun perkara ini berdasarkan akhir ucapan, maka kita tidak mewajibkan apa pun kepadanya. Namun jika kita membangunnya berdasarkan awal ucapan, maka kita mewajibkan seribu dirham yang diakui dan disebutkan di awal ucapan, dan kita gugurkan bagian yang lain. Penjelasan mengenai hal ini akan datang pada pembahasan tentang pengakuan (iqrār), insya Allah.

فإذا تبين الاختلاف في مسألة الرّهن في أن الأوّل في ظاهر الحكم مَنْ فمن نقدره أولاً فالرهن مسلم إليه وهل يغرَم المقر لمن نقدِّره آخراً أم لا فعلى ما قدمناه من القولين

Jika telah jelas adanya perbedaan pendapat dalam masalah rahn, yaitu siapa yang secara lahiriah dianggap sebagai yang pertama, maka siapa yang kita tetapkan sebagai yang pertama, rahn diserahkan kepadanya. Adapun apakah ia wajib membayar ganti rugi kepada orang yang kita tetapkan sebagai yang terakhir atau tidak, maka hal itu kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

عاد بنا الكلامُ إلى الهجوم على مقصود الفصل فإذا ادعى رجلان على واحدٍ كلُّ واحدِ منهما يدعي عليه أنه رهن عبده منه وسلمه إليه وقال كل واحد منهما إنه بعدما سلمه إليه رهناً مستحقاً انتزعه من يده غصباً أو استعاره منه وسلمه إلى الثاني

Pembicaraan kita kembali pada pembahasan pokok bab ini, yaitu jika dua orang mengajukan klaim terhadap satu orang, masing-masing dari mereka mengklaim bahwa orang tersebut telah menerima budaknya sebagai rahn (barang jaminan) darinya dan telah menyerahkannya kepadanya. Kemudian masing-masing dari mereka mengatakan bahwa setelah ia menyerahkan budaknya sebagai rahn, budak itu ternyata adalah milik orang lain (mustahaqq), lalu orang tersebut mengambilnya dari tangannya secara paksa (ghashab) atau meminjamnya darinya, kemudian menyerahkannya kepada orang yang kedua.

ونفرض المسألة فيه إذا لم يكن لواحد منهما بينة؛ فإن القول في البينات وتعارضها لا يبين إلا في كتاب الشهادات فإذاً لا بينة والدعوتان مطلقتان لا تاريخ في واحد منهما إلا أن كل واحد منهما يدعي السبقَ والتقديمَ بالقبض فلا يخلو إما أن يكون العبد في يد المالك أو في أيديهما أو في يد أحدهما

Kita mengandaikan kasus ini jika tidak ada bukti dari salah satu pihak; karena pembahasan tentang bukti dan pertentangannya hanya akan dijelaskan dalam Kitab Kesaksian. Maka, tidak ada bukti dan kedua klaim tersebut bersifat mutlak, tidak ada tanggal pada keduanya, kecuali bahwa masing-masing mengaku lebih dahulu dan lebih berhak dalam hal penguasaan. Maka, tidak lepas dari kemungkinan bahwa budak tersebut berada di tangan pemilik, atau di tangan keduanya, atau di tangan salah satu dari mereka.

فإن كان في يدي المالك أو يدي وكيله أو نائبه فلا يخلو في التقسيمة الأولى إما أن يصدقهما وإما أن يكذبهما وإما أن يصدق أحدهما ويكذبَ الآخر فإن كذبهما فالقول قوله مع يمينه فيحلف وينتفي العقدان

Jika barang itu berada di tangan pemilik atau di tangan wakilnya atau penggantinya, maka dalam pembagian pertama tidak lepas dari tiga kemungkinan: bisa jadi ia membenarkan keduanya, atau mendustakan keduanya, atau membenarkan salah satunya dan mendustakan yang lain. Jika ia mendustakan keduanya, maka perkataan dipegang berdasarkan sumpahnya; ia bersumpah dan kedua akad itu gugur.

وإن صدق أحدَهما وكذّب الثاني حكم بالرهن في ترتيب الكلام للمصدَّق منهما وهل للمكذَّب أن يستحلف المقِرَّ هذا يبتني على أنه لو أقرّ له بعد أن أقر للأوَّل فهل يغرم القيمة للثاني فعلى قولين نبهنا عليهما في صَدْر الفصل فإن قلنا لا يغرَم فلا فائدة في تحليفه؛ فإن اليمين تعرض حتى يهابها المعروض عليه ويقرّ ولو أقر لم يكن لإقراره حكمٌ في حق الثاني لا في نقض حق الأول من الرهن ولا في إثبات العوض فلا معنى لليمين إذاً

Jika salah satu dari keduanya dibenarkan dan yang kedua didustakan, maka keputusan tentang rahn mengikuti urutan ucapan dari yang dibenarkan di antara keduanya. Apakah yang didustakan berhak meminta sumpah dari orang yang mengakui? Ini bergantung pada persoalan: jika ia mengakui kepada yang kedua setelah sebelumnya mengakui kepada yang pertama, apakah ia wajib membayar nilai (barang) kepada yang kedua? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami singgung di awal bab. Jika kami katakan ia tidak wajib membayar, maka tidak ada manfaat dalam meminta sumpah; karena sumpah itu diajukan agar pihak yang diminta sumpah merasa gentar lalu mengakui, namun jika ia mengakui, pengakuannya tidak memiliki konsekuensi hukum bagi yang kedua, baik dalam membatalkan hak yang pertama atas rahn maupun dalam menetapkan ganti rugi. Maka tidak ada makna sumpah dalam hal ini.

وهاهنا تنبيه على خبطٍ لبعض الأصحاب تردد في مواضع فإن قلنا لا يحلف المقِرّ فلا كلام وإن قلنا يحلف فإن حلف فلا كلام وإن نكل رُدّت اليمين على المدعي فإن نكل كان نكولُه بمنزلة حلف صاحبه وقد مضى حُكم حلفه وإن حلف فقد قال بعض أصحابنا هذا ينبني على أن يمين الرد بمثابة إقرار المحلَّف الناكل أو بمثابة بيِّنةٍ مقامة في الخصومة فإن قلنا هي بمثابة إقراره فلا يثبت إلا الغرم كما تفصل من قبل وإن قلنا يمين الرد كبينة فقد قال بعض الضعفة تُجعل يمين الرد كبينة في الواقعة تزيل يدَ المقر له أولاً ويسلم الرهن إلى الثاني كما لو قامت بينة على حسب هذا

Di sini terdapat peringatan terhadap kekeliruan sebagian sahabat yang berulang di beberapa tempat. Jika kita mengatakan bahwa orang yang mengakui (tuntutan) tidak disumpah, maka tidak ada masalah. Namun jika kita mengatakan bahwa ia disumpah, lalu ia bersumpah, maka tidak ada masalah. Tetapi jika ia enggan bersumpah, maka sumpah itu dialihkan kepada penggugat. Jika penggugat juga enggan bersumpah, maka keengganannya itu diposisikan seperti sumpah lawannya, dan telah dijelaskan sebelumnya hukum sumpahnya. Jika penggugat bersumpah, sebagian sahabat kami mengatakan bahwa hal ini bergantung pada apakah sumpah yang dialihkan itu setara dengan pengakuan orang yang enggan bersumpah, atau setara dengan bayyinah yang ditegakkan dalam persengketaan. Jika kita mengatakan bahwa sumpah tersebut setara dengan pengakuannya, maka yang ditetapkan hanyalah kewajiban membayar, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika kita mengatakan bahwa sumpah yang dialihkan itu seperti bayyinah, maka sebagian ulama yang lemah berpendapat bahwa sumpah yang dialihkan itu seperti bayyinah dalam kasus ini, sehingga menghilangkan hak kepemilikan pihak yang diakui sebelumnya dan menyerahkan barang gadai kepada pihak kedua, sebagaimana jika ada bayyinah yang menegaskan hal tersebut.

وهدا غلط صريح صرّح الأصحاب بنقله ونحن لا ننقل أمثاله إلا للتنبيه على كونه زللاً

Ini adalah kesalahan yang nyata, yang telah ditegaskan oleh para ulama dalam karya-karya mereka, dan kami tidak menyampaikan hal-hal semacam ini kecuali untuk memberikan peringatan bahwa itu adalah sebuah kekeliruan.

والوجه فيه أن يمين الرد لا يكون كبينة في حق غير المتخاصمين واعتقاد هذا محالٌ؛ فإن قصاراه أن يصير نكولٌ من خصم ويمين من آخر حجةً على غيرهما ولا يصير إلى اعتقاد هذا ذو لبٍ وإذا كان غلطاً فلا معنى للاعتناء بالتفريع عليه على عادتنا في العرض ولكن القدر الذي فرعه الأصحاب على هذا الوجه الضعيف أنا لو استرددنا الرَّهن من الأول ورددناه إلى الثاني فالأول هل يغرم القيمة من حيث قصر فلم يحلف فيه طريقان منهم من قال قولان ومنهم من قطع بأنه لا غرم عليه للأوَّل؛ فإنه إن كان يلتزم بالإقرار الثاني بعد الإقرار الأول غرماً فسببه أنه قال ما كان من حقه أن لا يقوله وتقصيره في مسألة الحلف امتناعه من اليمين ويبعد أن يوجب ذلك تغريماً

Alasannya adalah bahwa sumpah penolakan tidak dapat dianggap sebagai bukti bagi selain kedua pihak yang bersengketa, dan meyakini hal ini adalah sesuatu yang mustahil; karena paling jauh, hal itu hanya akan menjadi penolakan dari satu pihak dan sumpah dari pihak lain yang dijadikan hujah terhadap selain mereka berdua, dan tidak ada orang yang berakal akan meyakini hal ini. Jika ini adalah kekeliruan, maka tidak ada gunanya memperhatikan cabang-cabang hukum yang dibangun di atasnya menurut kebiasaan kami dalam pembahasan. Namun, kadar yang telah dijelaskan oleh para sahabat dalam cabang yang lemah ini adalah bahwa jika kita mengambil kembali barang gadai dari pihak pertama dan mengembalikannya kepada pihak kedua, apakah pihak pertama wajib mengganti nilainya karena kelalaiannya tidak bersumpah? Ada dua pendapat dalam hal ini: sebagian mereka mengatakan ada dua pendapat, dan sebagian lagi menegaskan bahwa tidak ada kewajiban ganti rugi atas pihak pertama; karena jika ia diwajibkan mengganti rugi karena pengakuan kedua setelah pengakuan pertama, maka sebabnya adalah karena ia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan, dan kelalaiannya dalam masalah sumpah adalah penolakannya untuk bersumpah, dan sulit untuk mengatakan bahwa hal itu mewajibkan ganti rugi.

ولا ينبغي أن نزيد على هذا الخبط في تفريع أصلٍ هو خطأ

Dan tidak sepantasnya kita menambah kekacauan ini dalam merinci suatu pokok yang memang keliru.

هذا كله فيه إذا كذبهما أو كذّب أحدهما وصدق الثاني

Semua ini berlaku jika ia mendustakan keduanya atau mendustakan salah satunya dan membenarkan yang lainnya.

فإن صدقهما وقال قد رهنت منك وسلمته إليك وقال للآخر قد رهنته منك وسلمته إليك وكنت في أحد الرهنين والتسليمين مبطلاً ولست أدري من المحق منكما ومن المبطل وكيف جرى تأريخ السبق والتقدّم فإذا قال المالك ذلك لم يخل المدعيان إما أن يدعيا علمه فكلٌّ يقول تعلم سبقي وتنكر علمك به وإما ألا يدعيا علمه فإن لم يدّعيا إحاطته بحقيقة الحال فلا نزاع لهما معه والخصومة بين المدعيين فلكل واحد منهما أن يحلِّف صاحبه فإن تحالفاً أو نكلا عسر إمضاء الأمر بينهما ولم يكن أحدهما أولى بحقه من الثاني

Jika pemilik barang membenarkan keduanya dan berkata, “Aku telah menggadaikan barang itu kepadamu dan telah menyerahkannya kepadamu,” dan kepada yang lain ia berkata, “Aku telah menggadaikannya kepadamu dan telah menyerahkannya kepadamu, dan aku dalam salah satu dari dua akad gadai dan penyerahan itu adalah keliru, dan aku tidak tahu siapa di antara kalian yang benar dan siapa yang keliru, serta bagaimana urutan waktu dan siapa yang lebih dahulu,” maka jika pemilik barang mengatakan demikian, kedua penggugat tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi masing-masing mengaku bahwa pemilik mengetahui urutannya, sehingga masing-masing berkata, “Engkau tahu aku yang lebih dahulu dan engkau mengingkari pengetahuanmu tentang yang lain,” atau keduanya tidak mengaku bahwa pemilik mengetahui urutannya. Jika keduanya tidak mengaku bahwa pemilik mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka mereka tidak memiliki sengketa dengan pemilik, dan perselisihan terjadi antara kedua penggugat. Maka masing-masing dari keduanya berhak meminta lawannya bersumpah. Jika keduanya saling bersumpah atau keduanya enggan bersumpah, maka sulit untuk memutuskan perkara di antara mereka, dan tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih berhak atas barang tersebut daripada yang lain.

قال الأصحاب إذا انتهى الأمر إلى هذا المنتهى انفسخ الرهن قال الشيخ

Para ulama mengatakan, apabila perkara telah sampai pada batas ini, maka rahn menjadi batal. Syekh berkata…

أبو محمد يمكن أن يجعل هذا بمثابة ما لو تحالف المتبايعان وفيه خلاف في أن

Abu Muhammad berpendapat bahwa hal ini dapat disamakan dengan kasus apabila kedua pihak yang berjual beli saling bersumpah, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.

العقد ينفسخ أو يُفسخ ثم إن قلنا ينشأ فسخُه فالقاضي يفسخ أو المتعاقدان

Akad dapat batal atau dibatalkan, kemudian jika kita mengatakan bahwa pembatalannya terjadi, maka yang membatalkan adalah hakim atau kedua pihak yang berakad.

فليخرّج هذا على ذاك فإن حكمنا بالانفساخ أو نفذنا الفسخ كما سنذكره فالقول في الظاهر والباطن يعود وهذا اختلافٌ حقُّه الجريان في كل موضع ترتب الحكم بالفسخ فيه على الإشكال وتعذُّرِ إمضاءِ العقد

Maka hendaknya hal ini dianalogikan dengan hal itu; jika kita memutuskan terjadinya pembatalan atau melaksanakan pembatalan sebagaimana akan kami sebutkan, maka persoalan tentang zahir dan batin kembali berlaku. Ini adalah perbedaan pendapat yang seharusnya berjalan pada setiap tempat di mana penetapan hukum pembatalan bergantung pada adanya kesamaran dan sulitnya melaksanakan akad.

فإن قلنا بالانفساخ وهو الذي أطلقه الأصحاب في هذه المسألة فلا كلام

Jika kita mengatakan terjadi infisakh, sebagaimana yang dinyatakan secara mutlak oleh para ulama dalam masalah ini, maka tidak ada pembicaraan lagi.

وإن قلنا بأنشاء الفسخ فليس ذلك إلى المدعيَين ولكن يفسخ الحاكم ويبعد أن يقال يفسخ المالك؛ فإن الخصومة ما تعلقت به فالوجه والله أعلم تفويض الأمرِ إلى الحاكم فإن قيل إذا استوى المتداعيان في الحلف أو في النكول فهلا قلتم يقسم الرهن بينهما قلنا تداعيا عقداً والعقود لا تقبل التقسيط وسيكون لنا إلى هذا الفصل عودة في أثناء الكلام إن شاء الله تعالى

Jika kita mengatakan bahwa pembatalan (fasakh) harus dilakukan, maka hal itu bukanlah wewenang kedua pihak yang bersengketa, melainkan hakimlah yang membatalkannya. Tidak tepat jika dikatakan bahwa pemilik yang membatalkannya, karena sengketa tidak berkaitan dengannya. Maka pendapat yang lebih kuat—dan Allah lebih mengetahui—adalah menyerahkan urusan ini kepada hakim. Jika ada yang bertanya: apabila kedua pihak yang bersengketa sama-sama bersumpah atau sama-sama menolak bersumpah, mengapa kalian tidak membagi rahn (barang gadai) di antara mereka? Kami jawab: mereka bersengketa atas suatu akad, dan akad tidak dapat dibagi-bagi. Akan ada pembahasan kembali mengenai masalah ini di bagian pembicaraan selanjutnya, insya Allah Ta‘ala.

وإن حلف أحدهما ونكل الآخر قُضي للحالف وكل ذلك فيه إذا لم يدعيا علمَ المالك

Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lainnya menolak, maka diputuskan untuk yang bersumpah. Semua itu berlaku jika keduanya tidak mengaku mengetahui pemiliknya.

فإن ادّعيا علمَه وكلٌّ يدعي علمه على وفق ما يدعيه ففي ذلك مسائل إحداها أن ينكل عن اليمين في حقهما جميعاً فتعود الخصومة إليهما كما لو لم يدعيا علمَه؛ فإنه بنكوله عن اليمين حسم باب العلم وأبهم الأمرَ وإذا عادت الخصومة إلى المتداعيين فقد تفصل ذلك بما فيه مقنع

Jika keduanya mengaku mengetahui, dan masing-masing mengaku mengetahui sesuai dengan apa yang didakwakannya, maka dalam hal ini terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah jika keduanya menolak bersumpah, maka perselisihan kembali kepada mereka berdua, sebagaimana jika mereka tidak mengaku mengetahui; karena dengan penolakan bersumpah, pintu pengetahuan telah tertutup dan perkara menjadi samar. Jika perselisihan kembali kepada para pihak yang bersengketa, maka hal itu dapat diselesaikan dengan sesuatu yang dianggap memadai.

ولو حلف المالك على نفي العلم في حق كل واحد منهما ففي المسألة وجهان أحدهما أن هذا منتهى الخصومة وقد تحقق تعذر الإمضاء فيترتب على حلفه لهما على نفي العلم انفساخُ الرهنين ثم الكلامُ في الانفساخ ما مضى

Jika pemilik bersumpah untuk menafikan pengetahuan terhadap masing-masing dari keduanya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ini merupakan akhir dari perselisihan dan telah terbukti mustahil untuk melanjutkan, sehingga akibat dari sumpahnya kepada keduanya untuk menafikan pengetahuan adalah batalnya kedua rahn tersebut, kemudian pembahasan tentang pembatalan telah dijelaskan sebelumnya.

والوجه الثاني أنَّ فائدة حلفه لهما أن تنقطع الخصومة عنه من جهتهما والخصومة قائمة بين المتداعيين ما بلغت منتهاها وهذا الوجه الثاني ذكره صاحب التقريب وشيخي وهو حسن فقيه

Adapun alasan kedua adalah bahwa manfaat sumpahnya kepada keduanya adalah agar perselisihan dari pihak mereka terputus darinya, sedangkan perselisihan masih tetap berlangsung di antara kedua pihak yang bersengketa selama belum mencapai akhirnya. Alasan kedua ini disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb dan guruku, dan ini adalah pendapat yang baik menurut fiqh.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً ثالثاً أن الرهن بين المتداعيين نصفان؛ إذ هو مُقِرّ لهما وقد أشكل المتقدم منهما ولا يمكننا أن نجعل العين كلَّها رهناً من كل واحدٍ ولا من واحدٍ على التعيين فالتقسيط أعدل وهذا و إن كان مشهوراً فليس يستند إلى فقه مُبين مع بقاء المتداعيَيْن على النزاع القائم

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga bahwa barang gadai di antara kedua pihak yang bersengketa dibagi dua; karena barang tersebut diakui milik keduanya, sementara yang lebih dahulu di antara mereka masih belum jelas, dan tidak mungkin kami menjadikan seluruh barang itu sebagai gadai dari masing-masing pihak, atau dari salah satu pihak secara pasti, maka pembagian adalah yang paling adil. Meskipun pendapat ini cukup terkenal, namun tidak didasarkan pada fiqh yang jelas selama kedua pihak yang bersengketa masih tetap dalam perselisihan yang ada.

نعم لو اعترفا بالالتباس كما حلف المالك عليه فالمصير إلى التقسيط في مثل ذلك رأيٌ قد نقول به في الأملاك المُشْكِلَةِ المترددة بين طائفة من المدعين على ما سيأتي بيان الأملاك المشكلة بين المتنازعين ثم حكمها إذا اعترفوا بالإشكال

Ya, jika keduanya mengakui adanya ketidakjelasan sebagaimana telah disumpahkan oleh pemilik, maka keputusan untuk membagi secara proporsional dalam kasus seperti itu adalah pendapat yang mungkin kami pegang dalam perkara kepemilikan yang bermasalah dan masih diperselisihkan di antara sekelompok penggugat, sebagaimana akan dijelaskan mengenai kepemilikan yang bermasalah di antara para pihak yang bersengketa dan kemudian hukumnya apabila mereka mengakui adanya permasalahan.

ثم قال القاضي إذا ذكرنا وجهاًً في أن الرهن بينهما وقد حلف المالك فهذا الوجه يخرج إذا نكل عن اليمين في حقهما جميعاً؛ إذ لا فرق

Kemudian al-Qadhi berkata: Jika kami menyebutkan satu pendapat bahwa barang gadai itu milik bersama antara keduanya dan pemilik telah bersumpah, maka pendapat ini juga berlaku jika ia menolak bersumpah terhadap keduanya; karena tidak ada perbedaan.

هذا كله إذا التبس الأمر كما قدمناه

Semua ini berlaku apabila perkara tersebut masih samar, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

فأمّا إذا أقر لأحدهما فإقراره له مقبول وهل يحلف للثاني فعلى وجهين أو قولين أحدهما أنه يقبل إقراره للمقَر له بلا يمين؛ إذ الملك له وإليه الرجوع ولو رجع عن إقراره لم ينفعه رجوعه

Adapun jika ia mengakui kepada salah satu dari keduanya, maka pengakuannya kepada orang tersebut diterima. Apakah ia harus bersumpah untuk yang kedua, terdapat dua pendapat atau dua wajah: salah satunya adalah bahwa pengakuannya kepada orang yang diakui diterima tanpa sumpah; karena kepemilikan memang miliknya dan kepadanyalah hak kembali, dan jika ia menarik kembali pengakuannya, maka penarikannya itu tidak bermanfaat baginya.

والثاني يحلف وهذه الأصول الملتفة راجعة إلى قواعدَ مضبوطة فتحليفه في حق الثاني مأخوذ مما تقدم من أنه هل يغرم للثاني لو أقر له وقد مضى هذا وعليه بنينا مسألةً في الجنايات من كتاب الرهن وهي أن الراهن لو أقر بعد جريان القبض في الرهن بجناية قبل الرهن وقلنا القول قول الراهن فهل يصدق بلا يمين أم لا بد من تحليفه فيه قولان فإن قلنا إنه يحلف فلو حلف انقطعت الخصومة واستمر الإقرار وإن نكل عن اليمين ونكل المدعي أيضاًً عن يمين الرّد فهو كما لو حلف المقر المالك

Yang kedua bersumpah, dan pokok-pokok yang saling berkaitan ini kembali kepada kaidah-kaidah yang teratur. Maka, pengambilan sumpah dari yang kedua didasarkan pada apa yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu apakah ia wajib mengganti kerugian kepada yang kedua jika ia mengaku kepadanya, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan hal ini, kami membangun suatu permasalahan dalam bab jinayat dari Kitab Rahn, yaitu apabila orang yang menggadaikan (rahin) setelah terjadi penyerahan barang gadai mengaku telah melakukan jinayat sebelum gadai, dan kami mengatakan bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat rahin, maka apakah ia dipercaya tanpa sumpah atau harus disumpah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Jika dikatakan bahwa ia harus bersumpah, maka jika ia bersumpah, perselisihan pun selesai dan pengakuan tetap berlaku. Namun jika ia enggan bersumpah, dan penggugat juga enggan melakukan sumpah balasan, maka keadaannya seperti halnya jika orang yang mengaku, yaitu pemilik, telah bersumpah.

وإن حلف من رددنا عليه فمن أصحابنا من قال في المسألة وجهان أحدهما أنه ينفسخ الرهنان والثاني يقسم بينهما وهذا القائل يزعم أن الاقرار السّابق حجة ويمين الرد من المدعي الثاني حجة وينزل ما تقدم مع ما تأخّر منزلةَ ما لو ادعى المرتهنان عليه فحلف لا يعلم وذلك أن حلفه في الصورة المتقدمة يُلبّس الأمرَ ويُعمي الخصومة ويوجب استواء المرتهنين ثم ينشأ من استوائهما أوجهٌ قدمناها وجهان منها أن الرهن بينهما؛ إذ الرهنان ينفسخان وقد تحقق الاستواء بالإقرار ويمين الرد وهذا مسلكٌ لبعض الأصحاب وإذا قيل له فلو أقرّ للثاني بعدما أقر للأول لم يتضمن إقراره للثاني المترتب على الأول استواءً بين المرتهنين حتى يقضى بأنفساخ الرهن أو انقسامه قال مجيباً الإقرار الثاني مردود إلا في حق الغرم واليمين الصادرة من المدعي حجة انتظمت الخصومة بها وأفضت إليها فلم يكن كإقرار ثانٍ بعد الإقرار الأول

Jika orang yang kami kembalikan kepadanya bersumpah, maka sebagian dari ulama kami mengatakan dalam masalah ini ada dua pendapat: yang pertama, kedua rahn (barang gadai) menjadi batal; yang kedua, rahn dibagi di antara keduanya. Pendapat kedua ini beranggapan bahwa pengakuan sebelumnya adalah hujjah, dan sumpah yang dikembalikan dari penggugat kedua juga merupakan hujjah. Apa yang telah terjadi sebelumnya dan yang datang belakangan diposisikan seperti halnya jika kedua murtahin (penerima gadai) mengklaim kepadanya lalu ia bersumpah bahwa ia tidak tahu. Hal ini karena sumpahnya dalam gambaran yang telah disebutkan sebelumnya membuat perkara menjadi samar dan memperumit perselisihan, serta menyebabkan kedua murtahin menjadi setara. Dari kesetaraan keduanya ini, muncul beberapa pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, di antaranya bahwa rahn dibagi di antara mereka; sebab kedua rahn menjadi batal dan kesetaraan telah terwujud melalui pengakuan dan sumpah yang dikembalikan. Inilah pendapat sebagian ulama kami. Jika dikatakan kepadanya: “Bagaimana jika ia mengakui kepada yang kedua setelah mengakui kepada yang pertama, apakah pengakuan kepada yang kedua yang mengikuti pengakuan kepada yang pertama tidak menyebabkan kesetaraan antara kedua murtahin sehingga diputuskan batalnya rahn atau pembagiannya?” Ia menjawab: “Pengakuan kedua itu tertolak kecuali dalam hak para kreditur, dan sumpah yang dikeluarkan oleh penggugat adalah hujjah yang menyempurnakan perselisihan dan berujung kepadanya, sehingga tidak sama dengan pengakuan kedua setelah pengakuan pertama.”

وسلك بعضُ أصحابنا مسلكاً آخر فقال إن جعلنا يمين الرد بمثابة الإقرار فلا يستفيد الحالف المردود عليه حيث انتهى التفريع إليه إلا الغرم كما قدمناه وإن جعلنا يمين الرد بمثابة بيّنة فالرهن يسلم إلى الحالف الآن؛ ويبطل حكم الإقرار الأول وهذه الطريقة ضعيفة

Sebagian ulama kami menempuh jalan lain dengan mengatakan: Jika kita menganggap sumpah balasan (yamin ar-radd) setara dengan pengakuan, maka pihak yang bersumpah dan dikembalikan kepadanya perkara itu, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, tidak memperoleh apa pun selain kewajiban membayar. Namun jika kita menganggap sumpah balasan setara dengan bukti (bayyinah), maka barang gadai diserahkan kepada pihak yang bersumpah saat ini, dan hukum pengakuan pertama menjadi batal. Cara ini lemah.

والطريقة الصحيحة القطع بتقرير الرهن الأول على موجب الإقرار الأول من غير أن يُتبع بشركةٍ أو نقض أو انفساخ؛ فإن الانفساخ يعتمد الإشكال وقد استقل الإقرار الأول في البيان والشركة تعتمد الاستواء ولا استواء مع التقدم والتأخر

Cara yang benar adalah memastikan penetapan gadai pertama berdasarkan pengakuan pertama, tanpa diikuti dengan syirkah, pembatalan, atau pembatalan otomatis; karena pembatalan otomatis bergantung pada adanya masalah, sedangkan pengakuan pertama sudah cukup jelas dalam penjelasan, dan syirkah bergantung pada kesetaraan, padahal tidak ada kesetaraan jika ada yang lebih dahulu dan yang belakangan.

ونقض الرهن الأول وتسليمه إلى الثاني نتيجة بيّنةٍ تقوم وقد ذكرنا أن يمين الرد ليست بيّنة في حق غير الناكل والمردود عليه فقد بطلت هذه المآخذ ولم يبق إلا القطع بأن الرهن يسلم إلى الأول والناكل يغرَم للحالف القيمة؛ فإذا تبيّنا جواز تحليفه على تقديم الغرم لا ينقدح عندنا في القياس إلا هذه الطريقة

Pembatalan rahn (barang jaminan) yang pertama dan penyerahannya kepada yang kedua adalah akibat dari adanya bukti yang jelas. Kami telah menyebutkan bahwa sumpah penolakan bukanlah bukti bagi selain orang yang menolak bersumpah dan orang yang ditolak sumpahnya, sehingga alasan-alasan ini menjadi batal dan tidak tersisa kecuali keputusan bahwa rahn diserahkan kepada yang pertama, dan orang yang menolak bersumpah wajib mengganti nilai kepada orang yang bersumpah. Jika telah jelas bagi kita bolehnya mewajibkan sumpah untuk mendahulukan pembayaran ganti rugi, maka menurut qiyās (analogi hukum), tidak ada cara lain di sisi kami kecuali metode ini.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الرهن في يدي الراهن أو في يدي نائبه بتقدير نزعه الرهن ممن سلمه إليه

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika barang gadai berada di tangan pemberi gadai atau di tangan wakilnya, dengan ketentuan barang gadai tersebut diambil dari orang yang telah diserahkan kepadanya.

وقد أجرينا المذهب بكماله في هذا الطرف ولكنا نخشى أن يتخبط على الناظر فاللائق بطلب البيان أن نترجم ما قدمناه إلى الآن ثم نبتدىء القسم الثاني

Kami telah menerapkan mazhab ini secara sempurna pada bagian ini, namun kami khawatir hal itu akan membingungkan para pembaca. Maka yang layak bagi pencari penjelasan adalah menerjemahkan apa yang telah kami sampaikan hingga saat ini, kemudian memulai bagian kedua.

فنقول إذا جرى رهنٌ وتسليمٌ من رجلين وعسر درك السابق منهما فإن ادعيا علماً على الراهن والرهن في يده فإن حلف لا يعلم فقد أشكل الأمر من جهته ونشأ منه أوجه أحدها قسمة الرهن؛ أخذاً من استواء المدعيين والثاني انقسام الرهن تلقياً من الاستواء ولا تبعيض بينهما بالاتفاق والثالث وهو الأصح الأقيس أن المرتهنين لا بد وأن يختصما فإن تحالفا أو نكلا اعترض عند ذلك الانفساخ والفسخُ في معناه أو القسمة للاستواء وإن حلف أحدهما قُضي له؛ فإنه منتهى الخصومة

Maka kami katakan, apabila terjadi akad rahn dan penyerahan dari dua orang, lalu sulit untuk memastikan siapa yang lebih dahulu di antara keduanya, kemudian keduanya mengaku mengetahui kepada pihak yang menggadaikan, dan barang gadai masih berada di tangannya, maka jika ia bersumpah bahwa ia tidak tahu, perkara menjadi samar dari sisinya. Dari sini muncul beberapa pendapat: pertama, membagi barang gadai, berdasarkan kesetaraan kedua penggugat; kedua, membagi hak atas barang gadai karena kesetaraan, dan tidak ada pemisahan di antara keduanya menurut kesepakatan; ketiga, dan ini yang paling sahih dan paling sesuai dengan qiyās, bahwa kedua murtahin harus saling bersengketa. Jika keduanya saling bersumpah atau sama-sama enggan bersumpah, maka pada saat itu terjadi pembatalan akad, atau pembagian karena adanya kesetaraan. Namun jika salah satu dari mereka bersumpah, maka diputuskan untuknya, karena itulah akhir dari persengketaan.

هذا إذا ادّعى علمَ الراهن فحلف فأما إذا نكل فلا تقف الخصومة على النكول وجهاً واحداً؛ فإن القضاء بالنكول لا يلائم مذهبنا ولكن تسترسل الخصومة على المدعيين ثم قد ذكرنا منتهى خصومتهما

Ini jika pihak yang mengaku mengetahui (tentang barang gadai) bersumpah, namun jika ia enggan bersumpah, maka perselisihan tidak berhenti hanya karena keengganan tersebut secara mutlak; sebab memutuskan perkara dengan keengganan bersumpah (nukūl) tidak sesuai dengan mazhab kami. Akan tetapi, perselisihan tetap berlanjut antara kedua pihak yang saling mengklaim, kemudian kami telah menyebutkan akhir dari perselisihan mereka berdua.

هذا إذا ادعيا علمه

Ini berlaku jika keduanya mengaku mengetahuinya.

فإن لم يدعيا علمه فلا يتركان والاختصام من غير مراجعة المالك ولكن لو اعترفا بأنه لا يعلم وهو معترف أيضاً فيكون هذا بمثابة ما لو نكل عن اليمين الموجهة عليه في دعوى العلم ثم منتهى خصومتهما إذا أفضى إلى استواءٍ في نكولٍ أو حلف عاد الوجهان في الانفساخ والانقسام وإن وقعت الخصومةُ على حلف من أحدهما ونكولٍ من الثاني جرى القضاء باليمين لا محالة

Jika keduanya tidak mengaku mengetahui, maka mereka tidak dibiarkan begitu saja dan tidak diperbolehkan berselisih tanpa merujuk kepada pemilik. Namun, jika keduanya mengakui bahwa mereka tidak mengetahui, dan pemilik juga mengakui hal itu, maka ini sama halnya dengan seseorang yang menolak bersumpah ketika diminta bersumpah dalam perkara pengetahuan. Kemudian, akhir dari perselisihan mereka, jika berujung pada keduanya sama-sama menolak bersumpah atau sama-sama bersumpah, maka kembali muncul dua pendapat tentang batalnya akad atau pembagian. Namun, jika perselisihan terjadi dengan salah satu dari keduanya bersumpah dan yang lain menolak, maka keputusan hukum dijatuhkan berdasarkan sumpah, tanpa keraguan.

ولو قال الراهن أنا على علم وأقر لأحدهما واليد له نفذ إقراره ولو أقر للثاني فقولا الغرم وإن لم يقر ففي التحليف قولان مأخوذان من الغرم فإن حلف انتهت الخصومة واستقر الرهن على موجب الإقرار وإن نكل ونكل المدعي فهو كما لو حلف

Jika pihak yang menggadaikan berkata, “Saya mengetahui dan mengakui kepada salah satu dari mereka, dan barang gadai ada di tangannya,” maka pengakuannya sah. Namun, jika ia mengakui kepada pihak kedua, maka pendapat yang diikuti adalah pendapat tentang tanggungan (ghurm). Jika ia tidak mengakui, dalam hal sumpah terdapat dua pendapat yang diambil dari pendapat tentang tanggungan. Jika ia bersumpah, maka perselisihan selesai dan barang gadai tetap sesuai dengan pengakuan. Namun jika ia enggan bersumpah dan penggugat juga enggan, maka hukumnya seperti jika ia bersumpah.

وإن حلف المدّعي تحزب الأصحاب أحزاباً وذكروا طرقاً ثلاثة أتينا عليها في آخر التفصيل وارتضينا الصحيحَ الجاري على القياس

Jika penggugat telah bersumpah, para ulama terbagi menjadi beberapa kelompok dan mereka menyebutkan tiga metode yang akan kami paparkan di akhir penjelasan ini, dan kami memilih pendapat yang sahih yang sesuai dengan qiyās.

هذه ترجمة ما قدمناه

Ini adalah terjemahan dari apa yang telah kami sampaikan.

ونحن نخوض الآن في القسم الأخير من مضمون أصل الباب فنقول كل ما ذكرناه فيه إذا كانت اليد فيه للراهن فأما إذا كانت اليد لأحد المدعيين أو كان الرهن في أيديهما جميعاً فنقول في ذلك لو كان في يد أحد المدعيين نظر فإن أقر المالكُ لصاحب اليد حكم له بالرهن؛ فإنه حصلت له شهادة اليد وإقرار المالك وإن أقر المالك لصاحبه الذي لا يدَ له في الحال وزعم أن هذا المرتهن الذي هو ذو اليد أزال يده التي أثبتها له ففي المسألة قولان أحدهما أنا نرجّح الإقرار على اليد؛ فإن قول المالك هو المعتبر وإليه الرجوع واليد لا تدل على الرهن وإنما تدل على الملك على تفاصيلَ ستأتي وذو اليد ليس يدعي إلا حقّ الرهن

Sekarang kita memasuki bagian terakhir dari isi pokok bahasan ini. Kami katakan bahwa semua yang telah kami sebutkan sebelumnya berlaku jika barang tersebut berada dalam kekuasaan pihak yang menggadaikan (rahin). Adapun jika barang tersebut berada dalam kekuasaan salah satu dari dua orang yang bersengketa, atau berada dalam kekuasaan keduanya, maka kami katakan: Jika barang tersebut berada dalam kekuasaan salah satu dari dua orang yang bersengketa, maka perlu diteliti. Jika pemilik barang mengakui hak orang yang memegang barang, maka keputusan diberikan kepadanya atas barang gadai tersebut; karena ia telah mendapatkan bukti berupa kekuasaan atas barang dan pengakuan dari pemilik. Namun jika pemilik barang mengakui hak orang lain yang tidak memegang barang saat ini, dan mengklaim bahwa pihak yang memegang barang (murtahin) telah menghilangkan kekuasaannya yang sebelumnya diakui, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa kami lebih mengutamakan pengakuan daripada kekuasaan atas barang; karena ucapan pemiliklah yang dianggap dan kepadanya perkara dikembalikan, sedangkan kekuasaan atas barang tidak menunjukkan status barang gadai, melainkan hanya menunjukkan kepemilikan, dengan rincian yang akan dijelaskan nanti. Adapun orang yang memegang barang, ia tidak mengklaim kecuali hak atas barang gadai.

والقول الثاني أن الترجيح لليد وهذا ضعيف لما قدمناه وإن كان مشهوراً

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang diutamakan adalah tangan, namun pendapat ini lemah sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, meskipun pendapat ini masyhur.

وصاحبه يقول إذا كنَّا نرجح اليد في دعوى الملك فاعتبارها في دعوى الوثيقة ليس بعيداً واليد أليق بالرهن منها بالملك فإن القبض ركن الرهن ولا يكاد يخفى فرض المسائل كلها في تسليم جريان الرهن في صورته مع الرجلين وإنما النزاع في السابق بالقبض

Dan sahabatnya berkata, jika kita menguatkan tangan (penguasaan fisik) dalam klaim kepemilikan, maka mempertimbangkannya dalam klaim dokumen tidaklah jauh (berbeda), dan tangan (penguasaan) lebih layak pada rahn (gadai) daripada pada kepemilikan, karena qabdh (penyerahan fisik) adalah rukun rahn, dan hampir tidak tersembunyi bahwa semua permasalahan ini dapat dibayangkan terjadi dengan penyerahan rahn secara nyata kepada kedua orang tersebut, dan sesungguhnya perselisihan hanya terjadi pada siapa yang lebih dahulu melakukan qabdh.

ولو كان الرهن في أيديهما فأقر لأحدهما فإن قلنا نرجح الإقرار على اليد حُكم به للمقر له وإن قلنا نرجح اليدَ على الإقرار فالرهن بينهما

Jika barang gadai berada di tangan keduanya, lalu salah satu dari mereka mengakui hak kepada yang lain, maka jika kita berpendapat bahwa pengakuan lebih diutamakan daripada kepemilikan (fisik), maka barang gadai itu diputuskan menjadi milik orang yang diakui. Namun jika kita berpendapat bahwa kepemilikan (fisik) lebih diutamakan daripada pengakuan, maka barang gadai itu tetap menjadi milik bersama di antara keduanya.

ثم من قضينا له بالإقرار تمَّ أمرُه في استحقاق الرهن وإن كنا نرجح اليدَ فلا نقضي باليد المجردةِ فيبقى النزاع معها غير أن القول قول صاحب اليد مع يمينه وهذا لا شك فيه وهو الشاهد بأن الإقرار أولى من اليد

Kemudian, bagi orang yang telah kami putuskan haknya berdasarkan pengakuan, maka urusannya telah selesai dalam hal berhak atas gadai. Namun, meskipun kami lebih menguatkan kepemilikan (al-yad), kami tidak memutuskan hanya berdasarkan kepemilikan semata, sehingga perselisihan tetap ada bersamanya. Akan tetapi, pernyataan tetap pada pemilik kepemilikan dengan sumpahnya. Hal ini tidak diragukan lagi, dan ini menjadi bukti bahwa pengakuan (iqrār) lebih utama daripada kepemilikan (al-yad).

واختار المزني أضعفَ القولين فقال إذا أقر المالك بالرهن والقبض لمن لا يد له فالقول قول صاحب اليد وهذا تقديم منه لليد على الإقرار وليس له أصل ولا نعرف الخلاف أن الإنسان إذا كان في يده ملكٌ لغيره فادعى أنه رهنه منه المالك وأنكر صاحب الملك أصلَ الرهن فالقول قول المالك في نفيه ولا حكم ليد مدّعي الرهن وإنما القولان فيه إذا جرى الرهن وآل النزاع إلى القبض وإذا كان الرهن لا يلزم بنفسه فأي أثر له والقبض متنازع فيه

Al-Muzani memilih pendapat yang paling lemah dari dua pendapat, yaitu: jika pemilik mengakui adanya rahn (gadai) dan penyerahan barang kepada seseorang yang tidak memegang barang tersebut, maka yang dipegang adalah pernyataan orang yang memegang barang. Ini merupakan pengutamaan pihak yang memegang barang atas pengakuan, dan tidak ada dasarnya. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika ada barang milik orang lain di tangan seseorang, lalu pemiliknya mengaku telah menggadaikannya kepada orang tersebut, namun pemilik barang menyangkal adanya rahn sejak awal, maka yang dipegang adalah pernyataan pemilik dalam penolakannya, dan tidak ada kedudukan bagi tangan orang yang mengaku rahn. Adapun dua pendapat itu muncul jika rahn telah terjadi dan perselisihan berujung pada masalah penyerahan barang. Jika rahn itu sendiri tidak mengikat, maka apa pengaruhnya, sedangkan penyerahan barang masih diperselisihkan?

ثم فرع المزني فقال إذا صادفنا الرهن في يد أحدهما فقال لقد قبضت وقبض صاحبي أيضاًً ولكن كان قبضي أسبق من قبضه فيقال له لو كان قبضك أسبق من قبضه كانت اليد لصاحبك الآن فإنك أقررت له بصورة القبض أيضاًً وادعيت أنك السابق وهذا يقتضي أن تكون اليد لصاحبك وقد تلقاها منك غصباً أو استعارةً فموجب ما قلت يتضمن إقراراً لصاحبك باليد فسلِّم إليه الرهنَ ثم أثبت سبقَك

Kemudian al-Muzani memberikan rincian: Jika kita mendapati barang gadai berada di tangan salah satu dari mereka, lalu ia berkata, “Saya telah menerima barang itu, dan rekan saya juga telah menerimanya, tetapi penerimaan saya lebih dahulu daripada penerimaannya,” maka dikatakan kepadanya: “Seandainya penerimaanmu lebih dahulu daripada penerimaannya, tentu sekarang barang itu ada di tangan rekanmu. Sebab, kamu telah mengakui adanya penerimaan oleh rekanmu juga, dan kamu hanya mengklaim bahwa kamu yang lebih dahulu. Ini berarti bahwa barang itu seharusnya berada di tangan rekanmu, dan ia menerimanya darimu secara paksa (ghashb) atau pinjaman (isti‘ārah). Maka, konsekuensi dari ucapanmu adalah pengakuan bahwa barang itu berada di tangan rekanmu. Karena itu, serahkanlah barang gadai itu kepadanya, lalu buktikan bahwa kamu yang lebih dahulu menerimanya.”

قال القفال فيما قاله نظر وتفصيل فنقول إن صرح بأنه لم يقبض إلا مرّة واحدة وكذلك صاحبه لم تتجدد يده ثم قال وأنا سابق ولم تزل يدي فلم يتكرر فهذه مناقضة والجوابُ ما قال المزني

Apa yang dikatakan oleh al-Qaffal mengandung pertimbangan dan perincian. Maka kami katakan: jika ia secara tegas menyatakan bahwa ia tidak menerima (barang) kecuali satu kali saja, demikian pula rekannya tidak memperbarui kepemilikannya, kemudian ia berkata, “Aku lebih dahulu dan tanganku tidak pernah terlepas, maka tidak terjadi pengulangan,” maka ini adalah kontradiksi. Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muzani.

فأمّا إذا قال كنت السابق بالقبض فأخذ مني صاحبي غصباً فانتزعته من يده ففي هذه الصورة يبقى في يده

Adapun jika ia berkata, “Aku adalah yang lebih dahulu menerima (barang itu), lalu temanku mengambilnya dariku secara paksa, maka aku merebutnya kembali dari tangannya,” maka dalam keadaan ini barang tersebut tetap berada di tangannya.

وما ذكره المزني محتمل في الصورة التي ذكرها القفال آخراً فإنه على الجملة اعترف له بيده قبل هذه اليد التي نشاهدها وادعى أنه كان مغتصباً فيها فعليه إقامة البينة فيما يدعيه من الغصب والأمر محتمل كما ترى

Apa yang disebutkan oleh al-Muzani masih mungkin terjadi dalam kasus yang disebutkan terakhir oleh al-Qaffal, karena secara umum ia mengakui kepemilikan dengan tangannya sebelum tangan yang kita saksikan sekarang, dan ia mengklaim bahwa ia dahulu telah merampasnya. Maka ia wajib mendatangkan bukti atas klaim perampasan tersebut, dan perkara ini masih mungkin terjadi sebagaimana yang engkau lihat.

باَبُ الرّهنِ يَجْمَعُ شَيْئَينِ

Bab rahn mencakup dua hal.

قال الشافعي رحمة الله عليه إذا رهن أرضاً إلى آخره

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang menggadaikan sebidang tanah, dan seterusnya.

الفصل يشتمل على شيئين أحدهما أن من رهن أرضاً فيها أشجار ولم يتعرض للأشجار ولا لاسم يشتمل على الأشجار كالبستان ونحوه بل ذكر الأرض مطلقا فهل تدخل الأشجار تحت تسمية الأرض فيه اختلاف نصوص وكذلك في البيع مثل ذلك وللأصحاب طرق سبقت مفصلة فلا نعيده هذا أحد المقصودين

Bab ini mencakup dua hal. Pertama, jika seseorang menggadaikan sebidang tanah yang di atasnya terdapat pepohonan, namun tidak menyebutkan pepohonan tersebut atau tidak menggunakan istilah yang mencakup pepohonan seperti “kebun” dan semacamnya, melainkan hanya menyebutkan tanah secara mutlak, maka apakah pepohonan tersebut termasuk dalam penyebutan tanah? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dalam berbagai nash, demikian pula dalam jual beli terdapat permasalahan yang serupa. Para ulama memiliki beberapa metode yang telah dijelaskan secara rinci sebelumnya, sehingga tidak perlu kami ulangi di sini. Inilah salah satu dari dua hal yang dimaksud.

والثاني أن يبيع شجرة في مغرسها أو يرهنها من غير تعرض لذكر المغرس فحاصل المذهب أقوالٌ وربما كان يقول أوجه فإن النصوص في المقصود الأول وهو بيع الأرض من غير ذكر الشجر وهذا من بيع الشجر من غير ذكر المغرِس

Kedua, jika seseorang menjual pohon di tempat tumbuhnya atau menggadaikannya tanpa menyebutkan tempat tumbuhnya, maka menurut madzhab terdapat beberapa pendapat, dan terkadang disebutkan sebagai beberapa kemungkinan, karena nash-nash (teks-teks) itu berkaitan dengan maksud yang pertama, yaitu menjual tanah tanpa menyebutkan pohonnya, sedangkan yang ini adalah menjual pohon tanpa menyebutkan tempat tumbuhnya.

فمن أصحابنا من قال لا يدخل المغرس لا في البيع ولا في الرهن؛ فإن الشجر بالإضافة إلى الأرض فرعٌ ويبعد استتباع الفرع الأصل

Di antara ulama mazhab kami ada yang berpendapat bahwa tempat tumbuhnya tanaman tidak termasuk dalam jual beli maupun dalam rahn; karena pohon itu, jika dibandingkan dengan tanah, adalah cabang, dan tidak lazim cabang mengikuti induknya.

والثاني أن المغرِس يدخل في الرهن والبيع جميعاً؛ فإن مطلق العقد على الشجرة القائمةِ التي لا يعتاد قلعها يُشعر بحق تقريرها وذلك يثبت الاستحقاق في المغرس

Kedua, bahwa tanah tempat menanam juga termasuk dalam rahn dan jual beli secara bersamaan; sebab akad secara mutlak atas pohon yang masih berdiri dan tidak lazim untuk dicabut menunjukkan adanya hak untuk menetapkannya, dan hal itu menetapkan hak kepemilikan atas tanah tempat menanam tersebut.

والثالث أن البيع يتضمن استتباع المغرس بخلاف الرهن والفرق ما قدمناه مراراً من ضعف الرهن وقوة البيع وعليه خرّجنا الخلاف في أن مطلق تسمية الشجرة هل يستتبع الثمارَ التي لم تؤبر في الرهن استتباعها إياه في البيع

Ketiga, bahwa jual beli mencakup pengikutan tanaman, berbeda dengan rahn (gadai). Perbedaannya telah kami sebutkan berulang kali, yaitu lemahnya rahn dan kuatnya jual beli. Berdasarkan hal ini, kami mengemukakan perbedaan pendapat tentang apakah penyebutan pohon secara mutlak dalam rahn dapat mengikutsertakan buah yang belum dibuahi, sebagaimana pengikutsertaan buah tersebut dalam jual beli.

هذا قولنا في المغارس

Inilah pendapat kami tentang al-mughāras.

فأما إذا كان بين النخيل قطع أراضٍ لا غراس فيها نُظر فإن كانت بحيث تفرد بالانتفاع بها دونَ النخيل فلا شك أنها لا تدخل تحت مطلق تسمية النخيل

Adapun jika di antara pohon-pohon kurma terdapat beberapa bidang tanah yang tidak ada tanaman di atasnya, maka perlu diperhatikan: jika tanah-tanah itu dapat dimanfaatkan secara terpisah tanpa pohon kurma, maka tidak diragukan lagi bahwa tanah-tanah tersebut tidak termasuk dalam penyebutan “kebun kurma” secara mutlak.

وإن كانت تيك القطع لا يتأتى إفرادها بالانتفاع بها إلا على طريق التبعية للأشجار فقد ذَكر شيخي وصاحب التقريب وجيهن فيها أحدهما أنها بمثابة المغارس حتى تخرّج فيها الأوجه التي ذكرناها في طرق الأصحاب ومن أصحابنا من قطع بأنها لا تدخل تحت البيع والرهن جميعاً وجهاًً واحداً؛ فإنها ليست مغارس وإن كانت لا تستقل بأنفسها وهذا هو الأصح فيها؛ فإن استتباع المغارس على حالٍ ضعيفٌ لما ذكرناه من لزوم استتباع الفرع الأصل

Jika potongan-potongan itu tidak dapat dimanfaatkan secara mandiri kecuali sebagai pengikut dari pohon-pohon, maka guruku dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat tentangnya. Salah satunya, bahwa potongan-potongan itu diperlakukan seperti maghāris (bibit yang ditanam), sehingga berlaku padanya pendapat-pendapat yang telah kami sebutkan dalam metode para ulama mazhab. Sebagian ulama mazhab kami ada yang berpendapat tegas bahwa potongan-potongan itu tidak termasuk dalam objek jual beli maupun gadai, menurut satu pendapat saja; karena ia bukanlah maghāris, meskipun tidak dapat berdiri sendiri. Dan inilah pendapat yang paling sahih; sebab mengikuti maghāris dalam hal ini adalah lemah, sebagaimana telah kami sebutkan tentang keharusan cabang mengikuti induknya.

وما ذكره في الأشجار ومغارسها يجري في بيع الأبنية من غير تعرض لأساسها فالمسألة وقد سميت الجدران والبنيان في استتباع الأساس تُخَرّج على الأوجه الثلاثة فإن قضينا بأن الشجرة تستتبع مغرسها والجدار يستتبع أُسَّه فهذا استتباع ملك وهو كاستتباع الأرض الغراسَ والبناءَ في الأقوال المقدمة

Apa yang disebutkan mengenai pohon-pohon dan tempat tumbuhnya juga berlaku dalam penjualan bangunan tanpa menyebutkan fondasinya. Maka permasalahan ini, yang mana dinding dan bangunan disebutkan dalam kaitannya dengan mengikuti fondasi, dapat dirujukkan kepada tiga pendapat. Jika kita memutuskan bahwa pohon mengikuti tempat tumbuhnya dan dinding mengikuti fondasinya, maka ini adalah mengikuti dalam kepemilikan, dan hal ini seperti tanah yang mengikuti tanaman dan bangunan menurut pendapat-pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

ولو رتب مرتب استتباع الشجر والجدار المغرسَ والأساسَ على استتباع الأرض الغراسَ والبناء كان متجهاً؛ فإن قلنا لا تستتبع الأرضُ الغراسَ فلأن لا يستتبع الغراسُ المغرس أولى وإن قلنا تستتبع الأرضُ الغراسَ فهل يستتبع الغراسُ المغرسَ والجدارُ الأسَّ فعلى وجهين والفرق لائح

Jika seseorang menyusun urutan bahwa pohon dan dinding mengikuti tanah tempat penanaman dan fondasi, berdasarkan urutan bahwa tanah mengikuti tanaman dan bangunan, maka hal itu dapat diterima. Jika kita mengatakan bahwa tanah tidak mengikuti tanaman, maka lebih utama lagi bahwa tanaman tidak mengikuti tanah tempat penanaman. Namun jika kita mengatakan bahwa tanah mengikuti tanaman, maka apakah tanaman juga mengikuti tanah tempat penanaman dan dinding mengikuti fondasi, terdapat dua pendapat dalam hal ini, dan perbedaannya jelas.

وإن قلنا الشجرة لا تستتبع مغرسَها ملكاً فليس لبائعها قلعُها مجّاناً نعم؛ اختلف أصحابنا فمنهم من قال حق عليه أن يبقيها ما أراد المشتري بقاءها فإنه باعها وهي ذات حق في الثبوت في المغرس فليثبت للمشتري على وجه ثبوته للبائع اعتباراً بسائر الحقوق والوجه الثاني أن البائع لو أراد قلع الشجرة لم يمنع من قلعها ولكن يغرَم ما ينقصه القلع كما يغرَمه المعير في مثل هذه الصورة؛ فإن من أعار أرضا لتغرس فغرست فللمعير قلعُ الغراس على شرط الضمان فيما ينقصه القلع وسيأتي تفصيل ذلك في كتاب العَواري إن شاء الله عز وجل

Jika kita berpendapat bahwa pohon tidak otomatis menyebabkan kepemilikan atas tanah tempat tumbuhnya, maka penjual pohon tidak berhak mencabutnya secara cuma-cuma. Ya, para ulama mazhab kami berbeda pendapat: sebagian dari mereka berpendapat bahwa penjual wajib membiarkan pohon itu tetap berada selama pembeli menghendakinya, karena ia telah menjual pohon yang memang memiliki hak untuk tetap berada di tanah tersebut, maka hak itu juga harus diberikan kepada pembeli sebagaimana hak itu sebelumnya dimiliki penjual, dengan mempertimbangkan hak-hak lain yang serupa. Pendapat kedua, jika penjual ingin mencabut pohon tersebut, ia tidak dilarang untuk mencabutnya, namun ia wajib mengganti kerugian atas apa yang berkurang akibat pencabutan itu, sebagaimana pemberi pinjaman tanah juga wajib mengganti kerugian dalam kasus serupa; yaitu jika seseorang meminjamkan tanah untuk ditanami, lalu ditanami, maka pemilik tanah berhak mencabut tanaman tersebut dengan syarat menanggung kerugian akibat pencabutan itu. Rincian masalah ini akan dijelaskan dalam Kitab al-‘Awāri, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bagian

قال ولو رهن ثمراً قد خرج من نخله إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang menggadaikan buah yang telah keluar dari pohon kurmanya hingga selesai (masa panennya) kepada orang lain…”

يمتزج بمقصود هذا الفصل رهن ما يتسارع إليه الفساد وقد فصلنا المذهب فيه وفرقنا بين رهنه بالدين الحال وبين رهنه بالمؤجل وذكرنا ما يليق به من التفصيل فإذا اعترض كلامٌ في أثناء الفصل يتعلق برهن ما يفسد أحلنا البيان على ما تقدم

Tujuan dari bab ini berkaitan dengan gadai barang yang cepat rusak, dan kami telah merinci mazhab dalam hal ini serta membedakan antara menggadaikannya untuk utang yang jatuh tempo dan menggadaikannya untuk utang yang ditangguhkan, serta kami telah menyebutkan rincian yang sesuai dengannya. Maka jika ada pembahasan di tengah bab yang berkaitan dengan gadai barang yang mudah rusak, penjelasannya kami kembalikan pada uraian yang telah lalu.

ومقصود الفصل التفصيل في رهن الثمار على رؤوس الأشجار

Tujuan bab ini adalah memberikan penjelasan rinci mengenai gadai buah-buahan yang masih berada di atas pohonnya.

والقول فيها ينقسم فنتكلم في رهنها وحدها دون الأشجار ثم نتكلم في رهنها مع الأشجار

Pembahasan mengenai hal ini terbagi; maka kita akan membahas tentang gadai tanah saja tanpa pohon-pohon terlebih dahulu, kemudian kita akan membahas tentang gadai tanah beserta pohon-pohonnya.

فأما رهنها دون الأشجار فنقول لا يخلو إما أن تكون مُزهيةً قد بدا الصَّلاح فيها وإما أن تكون غيرَ مزهية فإن كانت مزهية فهي ناجية من العاهة وكلامنا وراء ذلك في الدين الحال والمؤجَّل فإن كان الدين حالاًّ صح رهنها على كل حالٍ؛ فإنها وإن كانت لا تدّخر فرهنها بالحالّ مسوغّ

Adapun menggadaikan (tanah) tanpa pohon-pohonnya, maka kami katakan: hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan, yaitu apakah tanah tersebut sudah berbuah dan tanda-tanda kematangan buah telah tampak, ataukah belum berbuah. Jika sudah berbuah, maka ia telah selamat dari kerusakan, dan pembahasan kita setelah itu berkaitan dengan utang yang jatuh tempo maupun yang masih ditangguhkan. Jika utangnya sudah jatuh tempo, maka sah menggadaikannya dalam segala keadaan; sebab meskipun tanah itu tidak dapat disimpan, menggadaikannya untuk utang yang sudah jatuh tempo tetap diperbolehkan.

وإن رُهنت بالمؤجل لم يخلُ صنف الثمر فإن كان يُجدُّ ويجفف فالرهن جائز وليست الثمرة مما تُعد جارية إلى الفسادِ وإن كان صنف الثمر بحيث لا يدّخر يُنظر فإن كان يفسد قبل حلول الأجل فالرهن جائز ولا غموض في الفصل وكل ذلك إذا كانت الثمرة مُزهيةً

Jika buah-buahan dijadikan barang jaminan untuk utang yang jatuh temponya di masa mendatang, maka jenis buah tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan. Jika buah itu dapat dipetik dan dikeringkan, maka gadai tersebut sah dan buah itu tidak termasuk yang dianggap mudah rusak. Namun, jika jenis buah tersebut tidak dapat disimpan, maka perlu dilihat: jika buah itu akan rusak sebelum jatuh tempo, maka gadai tersebut sah dan tidak ada kerancuan dalam masalah ini. Semua itu berlaku jika buahnya sudah mulai matang.

فأمَّا إذا كانت غير مزهيةٍ فما بدا الصلاح فيها فلا شك أن بيعها مطلقاًً وبشرط التَّبقية باطل عندنا

Adapun jika buah itu belum matang, maka apa yang tampak baik darinya, tidak diragukan lagi bahwa menjualnya secara mutlak maupun dengan syarat tetap di pohon adalah batal menurut kami.

والمعنى الذي ذكرناه حداً للمذهب تعرّضُ الثمار للعاهة قبل بدوّ الصلاح

Makna yang telah kami sebutkan sebagai definisi mazhab adalah bahwa buah-buahan itu terancam oleh kerusakan sebelum tampak tanda-tanda kematangan.

فأما رهنها مطلقاًً فكيف السَّبيل فيه نرسم صوراً ونرتب بعضها على بعض

Adapun mengenai gadai secara mutlak, maka bagaimana caranya? Kita akan menggambarkan beberapa bentuk dan menyusunnya satu per satu.

فنبدأ برهن الثمار قبل بدو الصّلاح فيها ونفرض رهنها بالدين الحال فنقول إذا رهنت بالدين الحال مطلقاًً من غير شرط القطع ففي صحة الرهن قولان ذكرهما صاحبُ التقريب وغيرُه أحدهما أن الرهن يفسد كما يفسد البيع على هذا الوجه والرهن يتبع البيع في الصحة والفساد والثاني أنه لا يفسد لمعنيين أحدهما أن الحلول في الرهن قرينةٌ حالّة محل شرط القطع؛ فإنّ مبنى الرهن بالدين الحال أن الرهن إذا كان بحيث يتسارع الفساد إليه فإنه يباع على فوره ويصرف ثمنه إلى الدين أو يوضع رهناً فإذا كنا نصحح رهنَ ما يتسارع إليه الفساد بالدين الحال حملاً على ما ذكرناه فرهن الثمار بالدين الحال قبل بدوُّ الصلاح أولى؛ فإن ما يتوقعه من تعرّضها للصّواعق وغيرها من الآفات أبعد من توقع الفساد فهذا أحد المعنيين

Maka kita mulai dengan membahas gadai buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan padanya, dan kita misalkan buah tersebut digadaikan untuk utang yang sudah jatuh tempo. Maka kami katakan: jika buah tersebut digadaikan untuk utang yang sudah jatuh tempo secara mutlak tanpa syarat harus dipetik, maka ada dua pendapat mengenai keabsahan gadai tersebut, sebagaimana disebutkan oleh penulis at-Taqrib dan yang lainnya. Pendapat pertama, gadai tersebut batal sebagaimana batalnya jual beli dalam kasus seperti ini, karena hukum gadai mengikuti hukum jual beli dalam hal keabsahan dan kebatalan. Pendapat kedua, gadai tersebut tidak batal karena dua alasan. Pertama, jatuh tempo dalam gadai merupakan indikasi yang menempati posisi syarat harus dipetik; sebab dasar gadai untuk utang yang sudah jatuh tempo adalah bahwa jika barang gadai tersebut termasuk yang cepat rusak, maka barang itu segera dijual dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar utang, atau barang itu tetap dijadikan sebagai barang gadai. Jika kita membolehkan gadai barang yang cepat rusak untuk utang yang sudah jatuh tempo dengan pertimbangan seperti yang telah disebutkan, maka gadai buah-buahan untuk utang yang sudah jatuh tempo sebelum tampak tanda-tanda kematangan lebih utama untuk dibolehkan; karena kemungkinan buah-buahan tersebut terkena petir atau bencana lainnya lebih kecil dibandingkan kemungkinan rusak. Inilah salah satu dari dua alasan tersebut.

والثاني أنا لا نشترط في الرهن من الاحتياط ما نشترطه في البيع؛ والسبب فيه أن حق المرتهن الأصلي دينه ودينه لا يسقط بفوات الرهن؛ ومقصود البيع يضيع بتلف المعقود عليه وهذا المعنى فيه ضعف وإن ذكره الأئمة والمعنى الأول كافٍ

Kedua, kami tidak mensyaratkan kehati-hatian dalam rahn sebagaimana yang kami syaratkan dalam jual beli; sebabnya adalah bahwa hak asli murtahin adalah piutangnya, dan piutangnya tidak gugur dengan hilangnya barang yang dijadikan rahn; sedangkan tujuan jual beli akan hilang jika objek akad rusak, dan makna ini lemah meskipun disebutkan oleh para imam, sedangkan makna yang pertama sudah cukup.

هذا إذا كان الرَّهن بدين حال

Ini berlaku jika rahn diberikan untuk utang yang telah jatuh tempo.

فأما إذا كان بدين مؤجل نُظر فإن كان الصَّلاح لا يبدو قبل حلول الأجل بل الأجل يحل أولا فلو رهن الراهن هذه الثمارَ على شرط أن لا تباع بشرط القطع ففي صحة الرهن قولان مشهوران أحدهما لا يصح كما لا يصح البيع في نظير هذا ومن اشترى ثماراً لم يبد الصلاح فيها على شرط أن يقطعها بعد يوم فالبيع يفسد لتضمنه شرط التبقية ولو في زمن قريب فليكن الرهن كذلك

Adapun jika berkaitan dengan utang yang jatuh temponya masih di masa mendatang, maka perlu dilihat: jika kematangan (buah) belum tampak sebelum jatuh tempo, melainkan jatuh tempo itu datang lebih dahulu, lalu pihak yang menggadaikan menjadikan buah-buahan tersebut sebagai barang gadai dengan syarat tidak dijual kecuali dengan syarat harus dipetik, maka terdapat dua pendapat masyhur mengenai keabsahan rahn (gadai) tersebut. Salah satunya menyatakan tidak sah, sebagaimana tidak sah jual beli dalam kasus serupa ini. Barang siapa membeli buah-buahan yang belum tampak kematangannya dengan syarat akan dipetik setelah beberapa hari, maka jual belinya batal karena mengandung syarat penundaan pemetikan, meskipun hanya dalam waktu dekat. Maka demikian pula halnya dengan rahn (gadai) tersebut.

والثاني أن الرهن يصح ولم يوجه الأصحاب هذا القولَ إلا بالمعنى الثاني الضعيف الذي ذكرناه في صورة الرهن بالدين الحالّ فقالوا البيع لو بني على الغرر خيف سقوط العوض والمعوض بتقدير التلف والرهن لو ضاع لم يضع الدين به

Kedua, bahwa rahn (gadai) sah, dan para ulama tidak menguatkan pendapat ini kecuali dengan makna kedua yang lemah yang telah kami sebutkan dalam kasus rahn dengan utang yang sudah jatuh tempo. Mereka berkata, “Jual beli jika didasarkan pada gharar (ketidakjelasan), dikhawatirkan akan hilang baik imbalan maupun barang yang diakadkan jika terjadi kerusakan. Sedangkan rahn, jika hilang, utang tidak hilang karenanya.”

وهذا لست أُوثره بل أقول ليست الثمار قبل بدوّ الصلاح مما يعد فاسداً من ساعته ولو رُددنا إلى المعنى لما أفسدنا بيعها بشرط التبقية والمعتمد في إفساد البيع الخبر والخبر وارد في البيع فهذا أولى في توجيه هذا القول مما قدمناه مع مصيرنا إلى فساد الرهن فيما يتسارع إلى الفساد على تفصيلٍ مضى

Saya sendiri tidak memilih pendapat ini, bahkan saya mengatakan bahwa buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan tidak serta-merta dianggap rusak sejak saat itu. Jika kita kembali kepada makna (dasar), maka kita tidak akan membatalkan jual beli buah tersebut dengan syarat dibiarkan tetap di pohon. Dasar yang dijadikan pegangan dalam membatalkan jual beli adalah hadis, dan hadis itu berkaitan dengan jual beli, sehingga ini lebih utama dalam mengarahkan pendapat ini dibandingkan yang telah kami sebutkan sebelumnya, meskipun kami berpendapat bahwa gadai menjadi batal pada barang yang cepat rusak, dengan rincian yang telah dijelaskan sebelumnya.

ثم رتب أئمتنا القولين في رهن الثمار قبل بدوّ الصلاح في الصورة التي نصصنا عليها والدين مؤجل على القولين والدين حال ولا شك أن الرهن بالفساد أولى إذا كان الدين مؤجلاً

Kemudian para imam kita mengurutkan dua pendapat mengenai gadai buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan pada gambaran yang telah kami sebutkan, baik utang itu jatuh tempo menurut dua pendapat maupun utang itu sudah harus dibayar. Tidak diragukan lagi bahwa gadai menjadi batal lebih utama jika utangnya masih ditangguhkan.

ولو رهن الثمار قبل بدو الصلاح بدين مؤجل وكان الصلاح لا يبدو إلا بعد الأجل ولم يجر تعرضٌ للقطع عند المحل ففي الرهن قولان مرتبان على القولين فيه إذا تعرض الراهن لذكر القطع عند المحل إما بأن يشترط قطعه أو يشترط بيعه بشرط القطع والصورة المبهمة الأخيرة أولى بالفساد والفرق لائح وقد قطع شيخي بصحة رهن ما لم يبدُ الصلاَّح فيه بالدين الحالّ ولا وجه عندي إلا ما ذكر؛ فإنه إذا جاز رهن ما يفسد من ساعته بالدين الحالّ فما المانع من تصحيح الرهن فيما لم يبد الصَّلاح فيه والذي ينقدح لمن يخرج القولين تعارض أصلين أحدهما أن ما يفسد يباع ويوضع رهناً والأصل الثاني أن العادة مطردةٌ بتبقية الثمار

Jika seseorang menjadikan buah-buahan sebagai barang gadai sebelum tampak tanda-tanda kematangan untuk utang yang jatuh temponya masih lama, dan kematangan buah itu baru akan tampak setelah jatuh tempo, serta tidak ada pembicaraan mengenai pemotongan buah pada saat jatuh tempo, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam kasus ketika pemberi gadai menyebutkan pemotongan buah pada saat jatuh tempo, baik dengan mensyaratkan pemotongan atau mensyaratkan penjualan dengan syarat dipotong. Adapun gambaran terakhir yang masih samar lebih utama dianggap rusak (tidak sah), dan perbedaannya jelas. Guru saya telah memutuskan sahnya gadai atas buah yang belum tampak kematangannya untuk utang yang sudah jatuh tempo, dan menurut saya tidak ada pendapat lain kecuali yang telah disebutkan; sebab jika boleh menggadaikan sesuatu yang bisa rusak seketika itu juga untuk utang yang sudah jatuh tempo, maka apa yang menghalangi untuk membolehkan gadai atas buah yang belum tampak kematangannya? Pendapat yang mungkin muncul bagi orang yang mengeluarkan dua pendapat tersebut adalah adanya pertentangan antara dua prinsip: pertama, bahwa sesuatu yang bisa rusak boleh dijual dan dijadikan barang gadai; dan prinsip kedua, bahwa kebiasaan yang berlaku adalah membiarkan buah tetap berada di pohonnya.

وقطع صاحب التقريب قوله بإبطال الرهن بالدين المؤجل إذا لم يقع تعرضٌ لذكر القطع عند المحل

Penulis kitab at-Taqrīb menegaskan pendapatnya dengan membatalkan rahn atas utang yang ditangguhkan apabila tidak ada pembahasan mengenai penetapan pemutusan pada saat jatuh tempo.

هذا بيان الطرق

Ini adalah penjelasan tentang metode-metodenya.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الصَّلاح لا يبدو إلا بعد الأجل

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila kemaslahatan tidak tampak kecuali setelah jangka waktu tertentu.

فأما إذا كانت الثمار حيث يبدو صلاحها قبل الحلول فقد قال الشيخ أبو علي بدوّ الصلاح عند المحل كشرط القطع عند المحل إذا كان الصلاح لا يبدو فتنزل هذه المسألة في ترتيب المذهب منزلة ذكر القطع عند المحل؛ فإن سقوط شرط القطع بالصلاح عند المحل كذكر شرط القطع قبل الصلاح

Adapun jika buah-buahan telah tampak tanda-tanda kematangannya sebelum waktu jatuh tempo, maka Syekh Abu Ali berkata bahwa tampaknya kematangan pada waktu jatuh tempo itu seperti syarat pemotongan pada waktu jatuh tempo jika kematangan itu belum tampak. Maka permasalahan ini dalam urutan mazhab diposisikan seperti penyebutan syarat pemotongan pada waktu jatuh tempo; sebab gugurnya syarat pemotongan dengan kematangan pada waktu jatuh tempo itu seperti penyebutan syarat pemotongan sebelum kematangan.

هذا كله في رهن الثمار على الأشجار دون الأشجار

Semua ini berlaku pada gadai buah-buahan yang masih di atas pohon, bukan pada pohonnya.

فأما إذا رهن الثمار مع الأشجار فالقول الوجيز فيها أن ما يتعلق بشرط القطع فهو ساقط في هذه الصورة اعتباراً بالبيع في مثلها وإن كانت الثمار بحيث تفسد في حَبسها قبل حلول الأجل فيتصل هذا برهن ما يتسارع إليه الفساد بدين مؤجل وتفصيله بيّن فحيث يقتضي المذهب تصحيح الرهن في الثمار لم نشك في تصحيحه في الأشجار وحيث يقتضي المذهب فسادَ الرهن في الثمار ففي فساد الرهن في الأشجار قولا تفريق الصفقة

Adapun jika buah-buahan digadaikan bersama pohonnya, maka pendapat ringkas dalam hal ini adalah bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan syarat pemotongan menjadi gugur dalam kasus ini, sebagaimana halnya pada jual beli yang serupa. Namun, jika buah-buahan tersebut akan rusak jika ditahan sebelum jatuh tempo, maka hal ini berkaitan dengan gadai barang yang mudah rusak untuk utang yang jatuh temponya masih lama, dan rinciannya sudah jelas. Maka, di mana mazhab membolehkan gadai pada buah-buahan, kami tidak ragu membolehkannya juga pada pohonnya. Dan di mana mazhab membatalkan gadai pada buah-buahan, maka dalam pembatalan gadai pada pohonnya terdapat dua pendapat, yaitu pendapat tafriq ash-shafqah (memisahkan akad).

هذا عقد المذهب

Ini adalah ikhtisar mazhab.

وألحق بعض أئمتنا رهن الثمار قبل بدوّ الصلاح برهن ما يتسارع إليه الفساد وإن كان توقّع الفساد لا يأتيها إلا من الجوائح فعلى هذا إن قطعنا ببيع الأشجار وعليها الثمار ففي رهن الأشجار وعليها الثمار كلام ففي الثمار تفصيلها وفي الأشجار تفريق الصفقة والسبب فيه أن الأشجار أصلٌ في حق المشتري وليمست أصلا في حق المرتهن؛ فإنها تباع في حقه بيع الثمار

Sebagian imam kami mengaitkan gadai buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan dengan gadai sesuatu yang cepat rusak, meskipun kemungkinan kerusakan itu hanya datang dari bencana alam. Berdasarkan hal ini, jika kita memastikan penjualan pohon-pohon yang masih berbuah, maka dalam hal gadai pohon beserta buahnya terdapat pembahasan: pada buah-buahannya ada perinciannya, dan pada pohonnya ada pemisahan akad. Sebabnya adalah karena pohon merupakan pokok (aset utama) bagi pembeli, namun bukan pokok bagi penerima gadai; karena pohon itu dijual baginya seperti penjualan buah-buahan.

فصل

Bab

قال وإن كان من الثمر شيء يخرج فرهنه إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ada sebagian dari buah yang keluar, maka buah itu juga menjadi barang gadai, dan seterusnya.”

المقصود ذكر الثمار المتلاحقة وقد مضى التفصيل في تلاحقها قبل القبض في البيع وذكرنا القولين في أن المبيع إذا اختلط بغير المبيع قبل القبض على وجه يتعذر التمييز فهل ينفسخ البيع أم لا فلو فرض هذا الاختلاطُ في الرهن بعد القبض فالتفصيل في الرهن المقبوض كالتفصيل في البيع قبل القبض؛ وذلك أن المرتهن إنما يتوثق إذا قبض فهو والرهن في يده كالبائع والمبيع محبوسٌ عنده وقد ذكرنا أنّ الاختلاط في البيع بعد القبض لا يؤثر في فرع العقد وانفساخه على المذهب الأصح؛ فإن العلائق في هذه الصور تنقطع في البيع بانتقال الضمان إلى المشتري

Yang dimaksud adalah menyebutkan buah-buahan yang terus-menerus muncul, dan telah dijelaskan rinciannya tentang kemunculannya secara berurutan sebelum penyerahan dalam jual beli. Kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai jika barang yang dijual bercampur dengan barang lain sebelum penyerahan dengan cara yang tidak memungkinkan untuk dibedakan, apakah jual beli menjadi batal atau tidak. Jika percampuran ini terjadi pada barang gadai setelah penyerahan, maka rincian hukum pada barang gadai yang telah diserahkan sama seperti rincian pada jual beli sebelum penyerahan. Hal ini karena pihak yang menerima gadai hanya mendapatkan jaminan jika ia telah menerima barang tersebut, sehingga ia dan barang gadai yang ada di tangannya seperti penjual dan barang yang dijual yang ditahan di sisinya. Kami telah menyebutkan bahwa percampuran dalam jual beli setelah penyerahan tidak berpengaruh pada kelanjutan akad dan pembatalannya menurut pendapat yang paling kuat, karena hubungan dalam kasus-kasus ini terputus dalam jual beli dengan berpindahnya tanggungan risiko kepada pembeli.

وهذا في الرهن لا يتحقق

Hal ini dalam rahn tidak terwujud.

ثم إذا قلنا ينفسخ الرهن بالاختلاط بعد القبض فلا كلام وإن قلنا لا ينفسخ فلو فرض الاختلاط قبل القبض في الرهن فالمذهب الانفساخ لا وجه غيره

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa rahn batal karena tercampur setelah penyerahan, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun, jika kita mengatakan bahwa rahn tidak batal, maka jika tercampur terjadi sebelum penyerahan dalam rahn, menurut mazhab, batal, dan tidak ada pendapat lain selain itu.

وأبدى بعض الأصحاب وجهاً أنه لا ينفسخ كما لو كان الرهن عصيراً فاستحال خمراً وقد ذكرنا في ذلك وأمثالِه خلافاً وهذا ليس بشيء؛ فإن الخمر يتوقع انقلابها خلاً والمختلط لا يتوقع تميزه

Sebagian ulama sahabat berpendapat bahwa akad tidak batal, sebagaimana jika barang gadai berupa air anggur lalu berubah menjadi khamar. Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini dan yang semisalnya. Namun, pendapat tersebut tidak kuat; sebab khamar masih mungkin berubah menjadi cuka, sedangkan barang yang tercampur tidak diharapkan dapat dipisahkan kembali.

هذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.

ثم ذكر الشيخ أبو علي بعد الفراغ من الثمار رهنَ الزرع وهو بقل ونحن نقول فيه إن كان البقل متزايداً وكان يُخْلِفُ على الركيب إذا جُزَّ فرهنهُ كرهن ما يختلط وقد ذكرناه وإن فرض رهنه بمؤجل من غير شرط القطع فالرهن باطل قطعا؛ فإن المرهون يختلط بغير المرهون لا محالة وإن شرط القطع فالرهن صحيحٌ ثم يقع بعد القبض في تفصيل ما يفسد فإن البقل بعد الجزّ يفسد على القرب وقد تفصل المذهب

Kemudian Syekh Abu Ali menyebutkan, setelah selesai membahas buah-buahan, tentang gadai tanaman saat masih muda. Kami mengatakan dalam hal ini: jika tanaman muda tersebut terus bertambah dan dapat tumbuh kembali pada batangnya setelah dipotong, maka menggadaikannya seperti menggadaikan sesuatu yang bercampur, dan kami telah menjelaskannya. Jika diasumsikan menggadaikannya dengan tempo tanpa syarat pemotongan, maka gadai tersebut batal secara pasti; karena barang yang digadaikan pasti akan bercampur dengan barang lain yang tidak digadaikan. Namun, jika disyaratkan pemotongan, maka gadai tersebut sah, kemudian setelah penyerahan terjadi perincian mengenai apa yang dapat merusaknya, karena tanaman muda setelah dipotong akan cepat rusak, dan dalam mazhab terdapat perincian lebih lanjut.

وإن رهن بدين حالٍّ ففي صحة الرهن قولان كما ذكرناه في الثمرة قبل الصلاح

Jika seseorang menggadaikan barang untuk utang yang telah jatuh tempo, maka dalam keabsahan gadai tersebut terdapat dua pendapat, sebagaimana telah kami sebutkan pada pembahasan tentang buah-buahan sebelum masak.

هذا والركيب يخلُف بعد الجزّ فأما إذا جرى العقدُ على زرع هو بقل والركيب لا يُخْلِف فقد اختلف أصحابنا فيما يزداد إلى الإدراك فمنهم من جعله كما لا يزداد من البقل المخلف وهذا اختيار الشيخ أبي علي ومن أصحابنا من قال لا حكم لهذه الزيادة كما لا حُكم لكبر الثمرة وهذا فقيه عندي

Adapun mengenai tanaman yang dapat tumbuh kembali setelah dipotong, maka jika akad dilakukan atas tanaman yang berupa sayuran dan tanaman tersebut tidak dapat tumbuh kembali, para ulama kami berbeda pendapat mengenai tambahan hasil hingga masa panen. Sebagian dari mereka menganggapnya seperti tambahan pada sayuran yang dapat tumbuh kembali, dan ini adalah pilihan Syaikh Abu Ali. Sementara sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa tambahan tersebut tidak memiliki hukum, sebagaimana tidak ada hukum bagi buah yang membesar, dan pendapat ini menurut saya lebih fiqh.

وحقيقة المذهب فيه تتعلق بأن من ابتاع زرعاً لا يُخْلِفُ ركيبه فهل يملك أصل الزرع المكتتم بالأرض وفيه تردد فإن قلنا إنه يملك فما يزداد يزداد على ملكه وهو حقاً ككبر الثمرة وإن قلنا لا يملك مشتري الزرع الركيب المستتر فيظهر إذن إلحاق الزيادة بما يزداد من البقل الذي يُجَزّ فيُخْلِف

Hakikat mazhab dalam masalah ini berkaitan dengan bahwa siapa pun yang membeli tanaman yang tidak tumbuh kembali setelah dipanen, maka apakah ia memiliki pokok tanaman yang tersembunyi di dalam tanah? Dalam hal ini terdapat keraguan. Jika kita katakan bahwa ia memilikinya, maka setiap pertambahan yang terjadi adalah bertambah atas kepemilikannya, dan ini pada hakikatnya seperti bertambahnya buah. Namun jika kita katakan bahwa pembeli tanaman tidak memiliki pokok tanaman yang tersembunyi, maka tampaklah bahwa tambahan tersebut disamakan dengan pertambahan sayuran yang dipotong lalu tumbuh kembali.

عدنا إلى الكلام في الرهن وقلنا الزيادات التي تكون كالبقول ليست محتملة فإن ألحقنا زيادة الزرع بها فالتفصيل كما مضى من اختلاط المرهون بغير المرهون

Kita kembali membahas tentang rahn (gadai), dan telah kami katakan bahwa tambahan-tambahan yang berupa sayuran tidak dapat ditoleransi. Jika kita menyamakan tambahan hasil tanaman dengan hal tersebut, maka perinciannya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai tercampurnya barang yang digadaikan dengan barang yang tidak digadaikan.

وإن لم نبال بهذه الزيادة بقي النظر في تعرض الزرع وهو بقل للآفات والكلام في شرط القطع وقد مضى ذلك على ما ينبغي

Dan jika kita tidak mempermasalahkan tambahan ini, maka yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan tanaman yang masih muda terkena hama, serta pembahasan mengenai syarat pemotongan, dan hal itu telah dijelaskan sebagaimana mestinya.

ثم قال الشافعي وإذا رهنه ثمرة فعلى الراهن سقيها إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang menggadaikan buah-buahan, maka kewajiban menyiraminya tetap berada pada pihak yang menggadaikan hingga selesai.

هذا تعرض منه للكلام في المؤن وقد استَقْناه فيما تقدم وأشرنا إلى اختلاف الطرق في ذلك؛ فلا نعيده

Ini merupakan pembahasan tentang nafkah, yang telah kami jelaskan sebelumnya dan telah kami singgung adanya perbedaan pendapat dalam hal itu; maka tidak akan kami ulangi lagi.

باب ما يُفسدُ الرَّهن مِنَ الشرْطِ

Bab tentang syarat yang membatalkan rahn (gadai)

قال الشافعي إذا اشترط المرتهن من منافع الرهن شيئاًً إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: Jika pihak yang menerima gadai mensyaratkan sesuatu dari manfaat barang yang digadaikan, dan seterusnya.

الشروط في الرهن تنقسم فمنها ما يوافق موضوع العقد ويتضمن تصريحاً بما يقتضيه مطلق العقد فما كان كذلك لم يكن شرطاً على الحقيقة وإنما هو تكرير معنى العقد وهو بمثابة قول الراهن رهنتك هذا على أن تتوثق به أو على أن يباع في دينك عند الحاجة إلى البيع أو تَقَدَّم به عند ازدحام الغرماء فلا أثر لذكر أمثال هذا والذي يذكر فيه أن من سماه شرطاً مجازفٌ متجوّز؛ فإنَّ الشرط هو الذي يزيد على مقتضى العقد

Syarat-syarat dalam rahn terbagi; di antaranya ada yang sesuai dengan substansi akad dan mengandung penegasan terhadap apa yang sudah menjadi konsekuensi akad secara mutlak. Apa yang demikian itu, pada hakikatnya bukanlah syarat, melainkan hanya pengulangan makna akad. Hal ini seperti ucapan pihak yang menggadaikan, “Aku menggadaikan ini kepadamu agar engkau dapat mengambil jaminan darinya,” atau “agar dijual untuk melunasi utangmu ketika perlu dijual,” atau “agar didahulukan dalam pelunasan ketika para kreditur berdesakan.” Maka, penyebutan hal-hal semacam ini tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan, siapa yang menyebutnya sebagai syarat, ia telah berlebihan dan menggunakan istilah secara tidak tepat; karena syarat yang sebenarnya adalah yang menambah pada konsekuensi akad.

وأمَّا الشرط الذي لا يتضمنه إطلاق العقد فإنه ينقسم قسمين أحدهما ما يقدح في مقصود الرهن فلا شك أن الشرط يفسد ويفسد الرهن بفساده قولاً واحداً

Adapun syarat yang tidak tercakup dalam keumuman akad, maka syarat tersebut terbagi menjadi dua bagian. Salah satunya adalah syarat yang merusak maksud dari rahn, maka tidak diragukan lagi bahwa syarat tersebut batal dan rahn pun menjadi batal karena kebatalannya, menurut satu pendapat.

وهو مثل أن يقول الراهن رهنتك هذا على أن لا تَقدَّم به في مزدحم الديون أو على أن لا يباع في حقّك فهذا الشرط في الرهن بمثابة قول البائع بعتك هذا على أن لا تملكه هذا قسم

Ini seperti seseorang yang berkata kepada penerima gadai, “Aku menggadaikan barang ini kepadamu dengan syarat barang ini tidak didahulukan dalam kerumunan utang, atau dengan syarat barang ini tidak dijual untuk menunaikan hakmu.” Syarat seperti ini dalam akad rahn sama halnya dengan penjual yang berkata, “Aku menjual barang ini kepadamu dengan syarat kamu tidak memilikinya.” Ini adalah satu jenis.

والثاني ما لا يتعرض لإبطال حق المرتهن من مقصود الرهن ولكنه فاسد في نفسه وقد يتضمن اشتراط مزيدٍ للمرتهن وتصوير ذلك أن يقول الراهن رهنتك هذا على أن منافعه لك أو رهنتك البستان أو هذا القطيع على أن الثمار والنتاج ملكُك أما الشرط فلا شك في فساده وفي فساد الرهن به قولان أحدهما أنه يفسد؛ فإنه اشتمل على شرط فاسدٍ يتعلق بأغراض الناس وأصحاب الرهون في العرف الغالب يطلبون الرهون لمنافعها فالشرط إذاً على فساده متعلق بما هو معدود من مقصود العقد

Kedua, yaitu sesuatu yang tidak membatalkan hak murtahin dari tujuan rahn, namun pada dirinya sendiri batal, dan terkadang mengandung syarat tambahan bagi murtahin. Contohnya adalah ketika rahin berkata, “Aku gadaikan ini kepadamu dengan syarat manfaatnya untukmu,” atau, “Aku gadaikan kebun ini atau kawanan hewan ini kepadamu dengan syarat buah dan anakannya menjadi milikmu.” Adapun syarat tersebut, tidak diragukan lagi kebatilannya. Terkait kebatalan rahn karena syarat ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa rahn menjadi batal, karena mengandung syarat yang batil yang berkaitan dengan kepentingan manusia, dan dalam kebiasaan umum para pemilik rahn mencari rahn untuk memperoleh manfaatnya. Maka syarat tersebut, meskipun batil, berkaitan dengan sesuatu yang dianggap sebagai tujuan dari akad.

والقول الثاني أن الرهن لا يفسد؛ فإن المقصود فيه للمرتهن وحقه لم يتغير بالشرط ولم يقع لمقصوده تغرّض أما شرط تمليكه الزوائد ففاسد مطَّرح وليست الزيادات المشروطة على الفساد في البيع بهذه المثابة؛ فإنها إن تضمنت مزيداً في شق من غير تنقيص مقصود العقد في ذلك الشق فإنها تتضمن تنقيصاً في الشق الآخر والبيع معاوضة يتعلق مقصودها بالطرفين ومقصود الرهن لا يتعلق إلا بجانب المرتهن

Pendapat kedua menyatakan bahwa rahn tidak batal; karena tujuan dalam rahn adalah untuk kepentingan murtahin dan haknya tidak berubah karena syarat tersebut serta tidak ada gangguan terhadap tujuannya. Adapun syarat untuk memiliki tambahan (zaidah) adalah batal dan harus ditinggalkan. Tambahan-tambahan yang disyaratkan secara batil dalam jual beli tidaklah sama dengan hal ini; sebab jika tambahan itu mengandung kelebihan pada satu sisi tanpa mengurangi tujuan akad pada sisi tersebut, maka ia pasti mengandung pengurangan pada sisi lain. Jual beli adalah akad pertukaran yang tujuannya berkaitan dengan kedua belah pihak, sedangkan tujuan rahn hanya berkaitan dengan pihak murtahin saja.

هذا بيان القول في ذلك

Ini adalah penjelasan pendapat mengenai hal itu.

ولو قال رهنتك هذه الشاة على أن يكون نتاجها رهناً عندك إذا وجدت فقد اختلف القول في الشرط هل يصح حتى يُقضى بأن الرهن يتعدى إلى النتاج بالشرط فأحد القولين أن الرهن لا يتعدى وهو الأصح؛ فإن العقد لا يقتضي التعدّي إلى النتاج والشرطُ تعلّق بنتاج مفقودٍ

Jika seseorang berkata, “Aku menggadaikan domba ini kepadamu dengan syarat anakannya juga menjadi barang gadai di sisimu jika ada,” maka terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahan syarat tersebut, apakah syarat itu sah sehingga dapat diputuskan bahwa gadaiannya meluas hingga kepada anakannya karena syarat tersebut. Salah satu pendapat menyatakan bahwa gadaian tidak meluas, dan inilah pendapat yang paling sahih; sebab akad tidak mengharuskan perluasan hingga kepada anakannya, dan syarat itu berkaitan dengan anakan yang belum ada.

والقول الثاني أن الرهن يتعدى إلى النتاج مع الشرط؛ فإن الذي حملنا على قصر الرهن على المحل المذكور ضعفُ الرهن وحكمُ اللفظ؛ فإنه خُص على ضعفه بمحل فاختص به فإذا أثبت سارياً إلى النتاج ثبت كما أثبت

Pendapat kedua menyatakan bahwa rahn (gadai) dapat meluas hingga mencakup hasil (produk) dengan adanya syarat; sebab yang mendorong kami membatasi rahn hanya pada objek yang disebutkan adalah lemahnya rahn dan ketentuan lafaz; karena ia, meskipun lemah, telah dikhususkan pada objek tertentu sehingga terbatas padanya. Maka jika ditetapkan berlaku juga pada hasil, maka hal itu tetap berlaku sebagaimana telah ditetapkan.

وكان شيخي يقول إذا فرعنا على أن الرهن يتعدى بالشرط إلى النتاج ففي تعديه بالشرط إلى الأكسابِ تردد والأظهر أنه لا يتعدى إليها؛ فإنها ليست من أجزاء الأصل وإنما يثبت الملك فيها ابتداءً لمالك العبد بسبب أن مكتسبها مملوكُه

Guru saya biasa berkata, jika kita telah menetapkan bahwa rahn (gadai) dapat meluas dengan syarat hingga mencakup hasil (netāj), maka mengenai perluasannya dengan syarat hingga mencakup penghasilan (aksāb) masih terdapat keraguan. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa rahn tidak meluas hingga penghasilan tersebut, karena penghasilan itu bukan bagian dari pokok (asl), melainkan kepemilikan atasnya baru muncul bagi pemilik budak karena penghasilan tersebut adalah milik budaknya.

وكان يلحق العُقرَ بالأكساب ولا يؤثر فيه مذهب أصحاب أبي حنيفة

Dan ‘uqr’ disamakan dengan harta-harta perolehan, dan pendapat para pengikut Abu Hanifah tidak berpengaruh terhadapnya.

هذا تفصيل المذهب في فساد الرهن والشرط وصحتهما وصحة الرهن وفساد الشرط

Ini adalah perincian mazhab mengenai batalnya rahn dan syarat, serta keabsahan keduanya, juga keabsahan rahn dan batalnya syarat.

والآن نذكر أحكام الرهن المشروط في البيع على النعوت التي ذكرناها فإن فسد الرهن بشرط يؤثر في مقصود الرهن وقد شرط هذا الرهن في بيع فهل يفسد البيع بفسادِ ذلك الرهن المشروط فعلى قولين مشهورين تقدم ذكرهما وتوجيههما

Sekarang kami akan menyebutkan hukum-hukum tentang rahn yang disyaratkan dalam jual beli menurut sifat-sifat yang telah kami sebutkan. Jika rahn tersebut rusak karena suatu syarat yang memengaruhi maksud dari rahn, dan rahn ini disyaratkan dalam jual beli, maka apakah jual beli tersebut menjadi rusak karena rusaknya rahn yang disyaratkan itu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur yang telah disebutkan dan dijelaskan sebelumnya.

ولو جرى ذكر تمليك المرتهن زوائدَ الرهن وهذا الرّهنُ على هذا النعت مشروط في البيع فالبيع يفسد قولاً واحداً سواء رأينا فساد الرهن أو لم نره؛ لأن شرط زيادة ملكٍ على الفساد للبائع مقروناً بالثمن يُصيّر الثمنَ مجهولاً ثم يفسد البيع لا محالة به وليس كما لو شرط رهن خمرٍ أو مغصوب أو شرط في الرهن ما ينقص حق المرتهن؛ فإن شيئاً من ذلك لا ينضم إلى الثمن فلا يصير الثمن مجهولاً والرهن عقد على حياله فيتجه في قولٍ أن لا يفسد البيع

Dan jika disebutkan pemberian kepemilikan kepada murtahin atas tambahan-tambahan dari barang gadai, dan barang gadai tersebut dengan sifat seperti ini disyaratkan dalam jual beli, maka jual beli menjadi fasid menurut satu pendapat, baik kita memandang gadai itu fasid atau tidak; karena syarat adanya tambahan kepemilikan yang rusak bagi penjual yang digabungkan dengan harga, menjadikan harga menjadi majhul, kemudian jual beli pasti menjadi fasid karenanya. Hal ini tidak seperti jika disyaratkan gadai berupa khamr atau barang yang dirampas, atau disyaratkan dalam gadai sesuatu yang mengurangi hak murtahin; karena tidak ada satu pun dari hal tersebut yang digabungkan dengan harga, sehingga harga tidak menjadi majhul, dan gadai adalah akad tersendiri, sehingga menurut satu pendapat jual beli tidak menjadi fasid.

وإن قلنا مثل هذه الزيادة لا يفسد بها الرهن فيفسد البيع لما ذكرناهُ من انضمامها إلى الثمن ويخرج منه أن البيع إذا فسد يفسد الرهن أيضاًً لسقوط الدين الذي يُطلب توثيقه وانتظم منه أن القولين في أن الرهن هل يفسد أم لا لا يجريان إلا في رهن غير مشروط في بيع إما بأن يفرض رهنٌ مبتدأ في قيمة متلف أو يُقدَّرَ رهنٌ في قرض أو ثمنُ مبيع بعد لزومهما

Jika kita mengatakan bahwa tambahan seperti ini tidak membatalkan rahn, maka jual beli menjadi batal karena tambahan tersebut bergabung dengan harga. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa jika jual beli batal, maka rahn juga batal karena gugurnya utang yang hendak dijamin. Dengan demikian, dua pendapat mengenai apakah rahn batal atau tidak, hanya berlaku pada rahn yang tidak disyaratkan dalam jual beli, baik berupa rahn yang baru pada nilai barang yang rusak, atau rahn yang ditetapkan dalam pinjaman atau harga barang yang dijual setelah keduanya menjadi wajib.

فصل

Bab

قال ولو كان له ألف فقال زدني ألفاً إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia memiliki seribu, lalu ia berkata, ‘Tambahkanlah seribu lagi,’ hingga akhirnya.”

إذا استحق ألفاً على إنسان فقال من عليه الدين زدني ألفاً تقرضنيه على أن أرهنك بالألف القديم والألف الجديد رهنا فإذا جرى القرض مشروطاًً بهذا الشرط كان القرض فاسداً؛ والسبب فيه أن القرض الجديد مشروط بالرهن في الدين القديم وهذا قرض جر منفعة وقد نهى عنه النبي صلى الله عليه وسلم

Jika seseorang berhak menerima seribu dari orang lain, lalu orang yang berutang berkata, “Tambahkan seribu lagi sebagai pinjaman kepadaku dengan syarat aku akan memberimu jaminan untuk seribu yang lama dan seribu yang baru,” maka jika pinjaman itu terjadi dengan syarat seperti ini, pinjaman tersebut menjadi fasid (rusak/tidak sah); sebabnya adalah karena pinjaman yang baru disyaratkan dengan jaminan atas utang yang lama, dan ini merupakan pinjaman yang mendatangkan manfaat, padahal Nabi ﷺ telah melarang hal tersebut.

وليس ذلك بمثابة ما لو شرط في نفس الإقراض رهناً بذلك القرض بعينه؛ فإن الرهن في عين القرض لا يعد منفعة وقد ذكرنا ذلك في باب القرض مفصلاً وإنما ظهر جر المنفعة في هذه الصورة من قِبل شرط الرهن في غير القرض الجديد

Hal itu tidak sama dengan jika dalam akad peminjaman itu sendiri disyaratkan adanya rahn (gadai) atas pinjaman tersebut secara langsung; sebab rahn atas objek pinjaman tidak dianggap sebagai suatu manfaat, dan hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam bab qardh (pinjaman). Adapun munculnya unsur mengambil manfaat dalam kasus ini adalah karena syarat rahn tersebut ditetapkan bukan pada pinjaman yang baru.

ومن دقيق الكلام في هذا الفن أن المقرض لو قال أقرضتك ألفاً على أن ترهنني به وبالألف القديم فهذا على التحقيق شرطٌ فاسد مفسد لهذا القرض

Di antara pembahasan yang mendalam dalam bidang ini adalah apabila pemberi pinjaman berkata, “Aku meminjamkanmu seribu dengan syarat engkau menjaminkan kepadaku dengan seribu itu dan dengan seribu yang lama,” maka menurut pendapat yang kuat, syarat ini adalah syarat yang rusak dan merusak akad qardh tersebut.

ولو قال المستقرض أقرضني ألفاً على أن أرهنك بالألف القديم فجرى الشرط من المستقرض لا من المقرض فهذا فيه تردد والظاهر أن الشرط فاسد مفسد كما لو صدر من المقرض

Jika pihak yang meminjam berkata, “Pinjamkan aku seribu dengan syarat aku akan memberimu gadai berupa seribu uang lama,” lalu syarat itu berasal dari pihak peminjam, bukan dari pihak pemberi pinjaman, maka dalam hal ini terdapat keraguan. Namun yang tampak adalah syarat tersebut batal dan merusak akad, sebagaimana jika syarat itu berasal dari pihak pemberi pinjaman.

وقال بعض الأصحاب الشرط المفسد هو ما يصدر من المقرض؛ فإن اللفظ يُرعَى في جانبه والشرط لفظ يتعلق بالشق الذي يعتبر فيه اللفظ فهذا يبتني على ما تقدم ذكره من أنا هل نعتبر لفظ القبول في جانب المستقرض فإن اعتبرنا في جانبه لفظا كما تمهد في باب القرض فالشرط الصادر منه كالشرط الصادر من المقرض

Sebagian ulama berpendapat bahwa syarat yang merusak (akad) adalah syarat yang berasal dari pihak pemberi pinjaman; karena lafaz diperhatikan pada pihaknya, dan syarat adalah lafaz yang berkaitan dengan sisi yang dianggap lafaznya. Hal ini kembali pada apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu apakah kita mempertimbangkan lafaz penerimaan di pihak peminjam. Jika kita mempertimbangkan adanya lafaz di pihaknya, sebagaimana telah dijelaskan dalam bab qardh, maka syarat yang berasal darinya sama dengan syarat yang berasal dari pemberi pinjaman.

وإن قلنا لا يعتبر في جانب المستقرض لفظ فالمسألة فيها احتمال كما تقدّم من قِبَل أن المستقرض إذا تلفّظ ابتنى على لفظه لفظُ المقرض ونزل شرط المستقرض منزلة شرط المقرض

Jika kita mengatakan bahwa tidak disyaratkan adanya lafaz di pihak mustaqriḍ, maka dalam masalah ini terdapat kemungkinan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, karena apabila mustaqriḍ mengucapkan lafaz, maka lafaz muqriḍ dibangun di atas lafaz tersebut, dan syarat yang diajukan mustaqriḍ diposisikan seperti syarat yang diajukan muqriḍ.

فإذا تبين فساد القرض في الصورة التي ذكرناها فإذا سلم المقرض ألفاً على الفساد إلى المستقرض ثم رهن المستقرضُ شيئاًً بالألف القديم والألف الجديد فنقول إن كان الألف الجديد موجوداً بعدُ؛ فالرهن به فاسد؛ فإنها أعيان مقرَّة على ملك المقرض والرهن بالأعيان فاسد فإذا جمع بين الألف القديم والجديد في الرهن وأبطلنا الرهن في الألف الموجود فهل يبطل في القديم فعلى قولي تفريق الصفقة وكل صورة جرى فيها تفريق الصفقة في الرهن فهي مرتبة على نظير منها في البيع والرهن أولى بالصحة؛ إذ ليس فيه عوض يصير مجهولاً ويفسد العقد بسبب جهالته والمعنى المعتمد في إفسادِ الصفقة إذا افترقت جهالةُ العوض وهذا مفقود في أصل الرهن

Jika telah jelas bahwa akad pinjaman dalam bentuk yang telah kami sebutkan adalah batal, kemudian si pemberi pinjaman menyerahkan seribu (uang) dalam keadaan batal kepada peminjam, lalu peminjam itu menggadaikan sesuatu atas seribu yang lama dan seribu yang baru, maka kami katakan: jika seribu yang baru itu masih ada, maka gadai atasnya adalah batal; karena itu adalah barang-barang tertentu yang tetap menjadi milik pemberi pinjaman, dan gadai atas barang tertentu adalah batal. Jika digabungkan antara seribu yang lama dan yang baru dalam gadai, lalu kami batalkan gadai atas seribu yang masih ada, maka apakah gadai atas yang lama juga batal? Hal ini kembali kepada dua pendapat tentang tafrīq ash-shafqah (memisahkan akad). Setiap kasus yang terjadi tafrīq ash-shafqah dalam gadai, maka hukumnya mengikuti kasus serupa dalam jual beli, dan gadai lebih utama untuk dinyatakan sah; karena dalam gadai tidak ada kompensasi yang menjadi tidak jelas sehingga akad menjadi batal karena ketidakjelasannya. Makna yang menjadi dasar dalam membatalkan akad adalah jika ketidakjelasan kompensasi itu terpisah-pisah, dan hal ini tidak terdapat dalam pokok gadai.

ثم إذا أفسدنا الرهن في الألف القديم فلا كلام وإن صححنا الرهن فيه فقد قال الأئمة الرهن يتوثق بالألف القديم ولا يوزّع الرهن على الألفين المذكورين وقد تقدم في تفريق الصفقة في البيع أن الأصح إذا بطل البيع في بعض مضمون العقد أن يسقط قسطُه من الثمن وهذا المعنى غير معتبر في الرهن والدليل عليه أن الرهن لو صح بالألفين ثم أدّى أحدَهما فلا ينفك من الرهن شيء أصلاً وكان الرهن على حقيقته في الألف الباقي حتى كأنه لم يرهن ذلك الرهن إلا به

Kemudian, jika kami membatalkan rahn pada seribu yang lama, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun, jika kami mensahkan rahn pada seribu tersebut, para imam berpendapat bahwa rahn menjadi jaminan atas seribu yang lama dan rahn tidak dibagi pada dua seribu yang disebutkan. Telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan pemisahan akad dalam jual beli bahwa pendapat yang lebih sahih adalah jika jual beli batal pada sebagian dari isi akad, maka bagian harganya gugur. Namun, makna ini tidak dianggap dalam rahn. Buktinya, jika rahn sah atas dua seribu, lalu salah satunya dibayar, maka tidak ada bagian dari rahn yang terbebas sama sekali, dan rahn tetap utuh atas seribu yang tersisa, seakan-akan rahn itu tidak dijadikan jaminan kecuali untuk seribu tersebut.

وإذا كان كذلك فلا معنى للتقسيط في موضوع الرهن وهذا بيّن لا خفاء به لمن تأمل

Jika demikian, maka tidak ada makna bagi pembayaran secara angsuran dalam masalah rahn, dan hal ini jelas serta tidak samar bagi siapa pun yang memperhatikannya.

ولو أقرضه ألفاً على الفساد فتلف الألف في يده فقد صار ديناً الآن عليه فيصح الرهن بالألفين جميعاً ولا إشكال

Jika seseorang meminjamkan seribu kepadanya dengan akad yang rusak, lalu seribu itu rusak di tangannya, maka sekarang seribu itu menjadi utang atasnya. Maka sah melakukan rahn (gadai) dengan dua ribu sekaligus, dan tidak ada masalah.

ومما يتعلق بتحقيق الفصل أنه لو شرط الرهن في الألف القديم مع القرض الجديد كما صورناه وحكمنا بفساد الشرط وأفسدنا بسبب فساده القرضَ فلو رهن بالألف القديم فقد قال القاضي إن كان يعتقد أن الرهن به واجب وأنه وافٍ بواجب التزمه بالشرط فالرهن مع هذا الاعتقاد لا يصح واحتج عليه بأنه اعتقده واجباً ولم يكن كما اعتقده ولو لزم الرهن لوقع واجباً على معنى أنه لا دفع له بعد انبرامه بالتسليم وشبه هذا بما لو أدى ألفاً إلى إنسان على ظن أنه دين عليه ثم تبين أنه لم يكن عليه دين فالمؤدى مسترد والأداء غير معتد به

Terkait dengan penjelasan masalah ini, jika seseorang mensyaratkan rahn (gadai) atas seribu dinar lama bersamaan dengan pinjaman baru sebagaimana telah kami gambarkan, lalu kami memutuskan bahwa syarat tersebut batal dan karena batalnya syarat itu, pinjaman pun menjadi batal, maka jika ia menggadaikan dengan seribu dinar lama, Qadhi berkata: Jika ia meyakini bahwa rahn tersebut wajib dan bahwa rahn itu mencukupi kewajiban yang ia ikatkan dengan syarat, maka rahn dengan keyakinan seperti ini tidak sah. Alasannya adalah karena ia meyakini rahn itu wajib, padahal kenyataannya tidak demikian. Jika rahn itu dianggap sah, maka rahn itu menjadi wajib dalam arti tidak bisa dibatalkan setelah diserahkan. Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang membayar seribu dinar kepada orang lain dengan sangkaan bahwa ia memiliki utang, lalu ternyata ia tidak memiliki utang, maka apa yang telah dibayarkan dapat diminta kembali dan pembayaran tersebut tidak dianggap sah.

وهذا الذي ذكره غير صحيح

Apa yang disebutkan itu tidak benar.

وقد صرح شيخي وغيره بتصحيح الرهن إذا كان عرياً عند الإنشاء عن شرط يفسده

Guru saya dan yang lainnya telah menyatakan dengan jelas bahwa rahn (gadai) dinyatakan sah apabila pada saat akad dibuat tidak terdapat syarat yang merusaknya.

ولو شرط بيعاً في بيع وأفسدنا البيع الناجز لمكان الشرط الفاسد ثم أنشأ المشروطُ عليه ذلك البيعَ المشروطَ الموعودَ على ظن أنه يجب عليه الوفاء بذلك البيع فقياس ما قاله القاضي أن البيع على اعتقاد الوجوب فاسد مردود

Jika seseorang mensyaratkan adanya jual beli dalam jual beli, lalu kita membatalkan jual beli yang telah terjadi karena adanya syarat yang rusak, kemudian pihak yang disyaratkan melakukan jual beli yang dijanjikan itu dengan anggapan bahwa ia wajib memenuhi jual beli tersebut, maka menurut qiyās pendapat al-Qāḍī, jual beli yang dilakukan dengan keyakinan adanya kewajiban tersebut adalah batal dan tertolak.

وكان شيخي يقطع بصحة البيع كيف فرض الاعتقاد إذا كان خلياً عند الجريان عما يفسده وهذا هو الذي لا يسوغ غيره

Dan guruku menegaskan sahnya akad jual beli, bagaimanapun keyakinan yang dianut, selama pada saat berlangsungnya akad tidak terdapat sesuatu yang membatalkannya. Inilah pendapat yang tidak boleh dibenarkan selainnya.

وقد يخرّج عليه أنه لو باع شيئاًً ظنه خمراً فإذا هو خل فقياسه في ذلك قد يغمض وقياسُ شيخي الصّحة

Dan dapat diturunkan darinya bahwa jika seseorang menjual sesuatu yang ia kira adalah khamar, ternyata itu adalah cuka, maka qiyās dalam hal ini bisa menjadi samar, sedangkan qiyās menurut pendapat guru-guru adalah sah.

ولو أسلفه ألفاً على أن يرهن عنده به رهن وشرط المرتهن لنفسه منافع الرهن فهذا جر منفعة على الحقيقة والقرض يفسد بسببه وإذا فسد القرض فسد الرهن لا محالة

Jika seseorang memberikan pembayaran di muka sebesar seribu dengan syarat pihak yang menerima pembayaran tersebut menyerahkan barang jaminan kepadanya, lalu pihak yang menerima jaminan itu mensyaratkan manfaat dari barang jaminan tersebut untuk dirinya sendiri, maka ini benar-benar termasuk mengambil manfaat (dari transaksi) secara nyata, dan pinjaman menjadi rusak karenanya. Jika pinjaman rusak, maka barang jaminan pun pasti menjadi rusak (batal) pula.

ولو شرط البائع رهناً بالثمن وشرط أن تكون منافع الرهن له فالرهن يفسد لمزيد المنفعة التي شرطها والثمن يصير مجهولاً به لا محالة

Jika penjual mensyaratkan adanya rahn (barang jaminan) atas harga dan mensyaratkan bahwa manfaat dari rahn tersebut menjadi miliknya, maka rahn tersebut menjadi batal karena adanya tambahan manfaat yang disyaratkan, dan harga pun menjadi tidak jelas karenanya, tanpa diragukan lagi.

وقد حكى المزني هذه المسألة وحكى فيها أن البائع بالخيارِ ثم أخذ يعترض ويقول أصل الشافعي أن البيع إذا فسد فلا معنى للخيار فيه وظن أن الشافعي يرى أن الشرط الفاسد لو حذف يصح العقد وهذا ظن سوء والجواب المبتوت أن العقد فاسد ولا معنى للخيار فيه بعد الحكم بالفساد على وجهٍ أصلاً ولكن المزني غلط في النقلِ ثم أخذ يعترض وإنما الخلل في النقل

Al-Muzani telah meriwayatkan masalah ini dan menyebutkan bahwa penjual memiliki hak khiyar, kemudian ia mulai mengkritik dan berkata bahwa menurut pendapat pokok asy-Syafi‘i, apabila akad jual beli rusak maka tidak ada makna khiyar di dalamnya. Ia mengira bahwa asy-Syafi‘i berpendapat bahwa jika syarat yang rusak dihapus maka akad menjadi sah, dan ini adalah dugaan yang keliru. Jawaban yang tegas adalah bahwa akad tersebut rusak dan tidak ada makna khiyar di dalamnya setelah diputuskan sebagai akad yang rusak sama sekali. Namun, al-Muzani keliru dalam meriwayatkan, lalu ia mulai mengkritik, padahal kekeliruan terletak pada periwayatannya.

ثم أخل المزني بنظم الكلام من وجه آخر فصوّر رهناً مشروطاًً في بيع وقد شرط في الرهن أن يتعدى إلى الزوائد وفرّع على أن ذلك فاسد ثم قال إذا وقع البيع على هذا الوجه فرع الرهن والبائع بالخيار قال أصحابنا إنما قال الشافعي في هذه المسألة فُسخ البيع أو البائع بالخيار فردد قوله في فساد البيع ووقع الفسخ عبارة عن الفساد؛ فذكر المزني فيما نقله فَسْخَ الرهن والبائع بالخيار وهذا كلام لا نظم له وإنما أخل به المزني ثم اختيار المزني مهما فسد الرهن المشروط في البيع أن البيع لا يفسد وهذا غريب من اختياره؛ فإن القياس فساد البيع إذا فسد الرهن المشروط

Kemudian al-Muzani telah mengacaukan susunan pembicaraan dari sisi lain, yaitu dengan menggambarkan adanya rahn (gadai) yang disyaratkan dalam jual beli, dan dalam rahn tersebut disyaratkan agar mencakup tambahan-tambahan (za’id), lalu ia menurunkan hukum bahwa hal itu batal. Kemudian ia berkata, jika jual beli terjadi dengan cara seperti ini, maka rahn batal dan penjual memiliki hak memilih (khiyar). Para sahabat kami (ulama mazhab Syafi’i) berkata: Sesungguhnya Imam Syafi’i dalam masalah ini berkata, “Jual beli dibatalkan atau penjual memiliki hak memilih,” sehingga beliau mengulang-ulang pendapatnya tentang batalnya jual beli, dan penggunaan istilah “pembatalan” di sini bermakna kerusakan (fasad). Maka al-Muzani dalam riwayat yang ia sampaikan menyebutkan pembatalan rahn dan penjual memiliki hak memilih, dan ini adalah ungkapan yang tidak teratur, yang justru dikacaukan oleh al-Muzani sendiri. Kemudian pilihan al-Muzani, bahwa apabila rahn yang disyaratkan dalam jual beli itu batal, maka jual belinya tidak batal, dan ini adalah hal yang aneh dari pilihannya; sebab menurut qiyās, jual beli menjadi batal jika rahn yang disyaratkan itu batal.

وهذا منتهى الغرض في ذلك

Dan inilah tujuan akhir dalam hal itu.

فصل

Bab

قال ولو دفع إليه حُقاً وقال رهنتكه بما فيه إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang menyerahkan kepadanya sebuah wadah (hūq) dan berkata, ‘Aku gadaikan kepadamu beserta isinya,’ dan seterusnya.”

مضمون الفصل يتضح بأربع مسائل إحداها أن الراهن لو قال رهنتك ما في هذا الحُق أو ما في هذه الخريطة فإن كانا عالمين بما فيهما وكانا قد رأياه فلا شك في صحة الرهن وإن لم تسبق رؤيةٌ فيهما وقع الكلام في رهن ما لم يُر فإن جهلا وصف ما فيهما مع انتفاء الرؤية فقد نرى القطع بفساد الرهن وذلك مذكور على الاستقصاء في تفريع بيع الغائب فلا حاجة إلى إعادته

Isi bab ini dijelaskan dalam empat permasalahan. Pertama, jika orang yang menggadaikan berkata, “Aku menggadaikan kepadamu apa yang ada di dalam kotak ini” atau “apa yang ada di dalam peta ini”, maka jika keduanya mengetahui isi di dalamnya dan telah melihatnya, tidak diragukan lagi keabsahan gadai tersebut. Namun, jika sebelumnya belum pernah melihat isinya, maka perbincangan terjadi mengenai hukum menggadaikan sesuatu yang belum pernah dilihat. Jika keduanya tidak mengetahui sifat barang yang ada di dalamnya dan belum pernah melihatnya, maka tampaknya pendapat yang kuat adalah rusaknya akad gadai tersebut. Hal ini telah dijelaskan secara rinci dalam pembahasan cabang tentang jual beli barang yang tidak hadir, sehingga tidak perlu diulang kembali di sini.

المسألة الثانية أن يقول رهنتك الحُقَّ بما فيه أو الخريطةَ بما فيها فإن كان ما فيهما معلوماً مرئياً صح الرهن في الحق والخريطة وإن كان الرهن لا يصح فيهما كما تقدمفالنظر في الحق والخريطة

Masalah kedua adalah seseorang berkata, “Aku gadaikan kepadamu kantong beserta isinya” atau “peta beserta isinya.” Jika apa yang ada di dalam keduanya diketahui dan dapat dilihat, maka sah gadai atas kantong dan peta tersebut. Namun jika gadai tidak sah atas keduanya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka yang menjadi perhatian adalah pada kantong dan peta itu sendiri.

فإن كانا نفيسين بحيث يجرّد القصد إلى شرائهما أو رهنهما فنقول فسد الرهن فيما فيهما وفيهما قولا تفريق الصفقة وإن كان الحُقُّ بحيث يُقصد ولم تكن الخريطة بحيث تقصد أما الحق ففيه قولا تفريق الصفقة وأما الخريطة ففيها طريقان من أصحابنا من قطع بفساد الرهن فيها؛ فإنها بالإضافة إلى ما فيها غير مقصود؛ فإذا لم يصح الرهن في حشوها بسببٍ لم يصح في الخريطة أيضاًً؛ فإنها ما قُصدت وإنما قصد ما فيها فإذا لم يصح العقد على ما فيها فكأن لا مقصود وهذا فقيه لطيف وهو كثير الجريان في المعاملات ومعناه تنزيل العقد على موجب العرف والاعتياد من غير اتباع صيغة اللفظِ

Jika keduanya bernilai tinggi sehingga tujuan diarahkan untuk membeli atau menggadaikan keduanya, maka kami katakan gadai menjadi batal pada keduanya dan pada apa yang ada di dalamnya, menurut pendapat tafriq ash-shafqah (memisahkan akad). Namun jika kotak itu memang dimaksudkan, sedangkan kantongnya tidak dimaksudkan, maka pada kotak berlaku pendapat tafriq ash-shafqah, sedangkan pada kantong ada dua pendapat: sebagian ulama kami secara tegas menyatakan batalnya gadai pada kantong tersebut; karena dibandingkan dengan isinya, kantong itu sendiri tidak menjadi tujuan; sehingga jika gadai pada isinya tidak sah karena suatu sebab, maka gadai pada kantongnya juga tidak sah; sebab kantong itu tidak dimaksudkan, yang dimaksudkan hanyalah isinya, sehingga jika akad pada isinya tidak sah, maka seolah-olah tidak ada tujuan. Ini adalah pendapat fiqh yang halus dan sering terjadi dalam transaksi, dan maknanya adalah menyesuaikan akad dengan kebiasaan dan adat yang berlaku tanpa mengikuti redaksi lafaz secara tekstual.

ومن أصحابنا من قال إذا كانت الخريطة متمولة فالرهن إن لم يصح في حشوها فيصح فيها؛ لأن الرهن أضيف إلى الخريطة وما فيها كما قدمناه في الحُق وإن لم تكن الخريطة متمولة فنقطع بفساد الرهن فيهما لا محالة

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa jika kantong tersebut berisi barang berharga, maka gadai itu, jika tidak sah pada isinya, tetap sah pada kantongnya; karena gadai itu disandarkan pada kantong beserta isinya, sebagaimana telah kami jelaskan pada kasus kotak. Namun, jika kantong tersebut tidak berisi barang berharga, maka kami memastikan batalnya gadai pada keduanya tanpa keraguan.

المسألة الثالثة أن يقول رهنتك الحُق دون ما فيه فيصح الرهن فيه دون ما فيه؛ فإنه خصص عقد الرهن بالحُق فلم يتعدّه إلى ما فيه ولا فرق بين أن يكون الحُق حقيراً أو خطيراً إذا كان له أدنى قيمة بحيث يتمول وقد سبق تفصيل التمول في آخر كتاب البيع؛ فيصح الرهن كما ذكرناه

Masalah ketiga adalah apabila seseorang berkata, “Aku menggadaikan kepadamu wadahnya saja, bukan isinya,” maka sah gadai pada wadahnya saja, tidak pada isinya; karena ia telah membatasi akad gadai pada wadah tersebut, sehingga tidak mencakup isinya. Tidak ada perbedaan apakah wadah itu bernilai kecil atau besar, selama ia memiliki nilai yang dapat diperjualbelikan. Penjelasan tentang sesuatu yang dapat diperjualbelikan telah dijelaskan pada akhir Kitab al-Bay‘. Maka sah gadai sebagaimana telah disebutkan.

ولو أطلق رهنَ الحُق والخريطة ولم يتعرض لذكر ما فيهما بنفي ولا إثبات وهذه هي المسألة الرابعة فنقول

Jika seseorang melepaskan gadai terhadap al-huq dan al-kharīṭah tanpa menyebutkan apa yang ada di dalamnya, baik dengan menafikan maupun menetapkan, inilah masalah keempat, maka kami katakan…

إن كان الظرف بحيث يقصد في نفسه فذكر الظرفِ مطلقاً يقتضي نزولَ الرهن عليه دون ما في جوفه وتعليله بيِّن وإن كان ذلك الظرف حقيراً لا يقصد في نفسه مفرداً أصلاً ولكنه مما يتمول فإذا جرى ذكرُ الظرف الذي وصفناه ولم يجر تعرض لما فيه نفياً وإثباتاً فلأصحابنا فيه وجهان أصحهما أن الرهن ينزل على الظرف لا غير؛ فإنه قابل للعقد واللفظ لا يشعر في وضعه إلا به فأشبه ما لو كان خطيراً

Jika wadah itu memang dimaksudkan pada dirinya sendiri, maka penyebutan wadah secara mutlak mengharuskan barang gadai berlaku atas wadah tersebut saja, bukan atas isi di dalamnya, dan alasannya jelas. Namun, jika wadah itu tidak bernilai, tidak dimaksudkan pada dirinya sendiri sama sekali, tetapi masih memiliki nilai ekonomi, maka apabila disebutkan wadah seperti yang telah kami gambarkan dan tidak ada penjelasan mengenai isinya, baik penafian maupun penetapan, menurut para ulama mazhab kami terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa barang gadai berlaku atas wadah saja, tidak atas isinya; karena wadah itu dapat dijadikan objek akad dan lafaznya dalam penggunaannya hanya menunjukkan kepada wadah itu saja, sehingga serupa dengan kasus jika wadah itu bernilai tinggi.

والوجه الثاني أن العقد نازل على الخريطة بما فيها؛ فإنها إذا لم تكن مقصودة فذكرها في العرف يُعنَى به الخريطةَ لما فيها من هذا الوجه وهو من باب تنزيل العقد على موجب العرف من غير احتفالٍ بصيغة والعقد منزل على قرينة الحال وموجب التفاهم العرفي

Adapun sisi kedua adalah bahwa akad itu berlaku atas peta beserta isinya; sebab jika isinya tidak dimaksudkan, maka penyebutan peta dalam kebiasaan dimaksudkan adalah peta beserta isinya dari sisi ini, dan hal ini termasuk dalam kategori penyesuaian akad dengan ketentuan ‘urf tanpa memperhatikan lafaz, dan akad itu disesuaikan dengan indikasi situasi serta makna yang dipahami secara ‘urf.

وكل ما ذكرناه في الرهن فلا شك أنه لو صوّر في البيع لكان الجواب على نحو ما ذكرنا حرفاً حرفاً فلا إشكال في الفصل وإنما المقصود منه تصوير ظرفِ مالٍ ولكنه لا يقصد مع كونه مالاً إذا كان في جوفه مقصود وقد فصلنا الغرض في تفصيل المسائل على ما ينبغي

Segala sesuatu yang telah kami sebutkan dalam masalah rahn, tidak diragukan lagi bahwa jika hal itu digambarkan dalam jual beli, maka jawabannya akan sama persis seperti yang telah kami jelaskan, huruf demi huruf, sehingga tidak ada keraguan dalam perinciannya. Adapun maksud dari hal ini adalah untuk menggambarkan wadah suatu harta, namun wadah tersebut tidak dimaksudkan sebagai harta jika di dalamnya terdapat sesuatu yang menjadi tujuan utama. Kami telah merinci maksud tersebut dalam penjabaran masalah-masalah sebagaimana mestinya.

بَابُ الرَّهْن غَير مَضْمُوْنٍ

Bab Rahn (gadai) Tidak Dijamin

ذكر الشافعي قول النبي صلى الله عليه وسلم لا يغلَق الرهنُ من صاحبه له غنمه وعليه غرمه واختلفوا في قوله لا يغلَق الرهن قيل معناه لا يملكه المرتهن بدينه ولا يتعلق الملك على الراهن وقيل معناه لا يغلَق على الراهن الانتفاع به وقيل معناه لا يسقط الدين بهلاكه

Syafi‘i menyebutkan sabda Nabi ﷺ: “Gadai tidak boleh diambil alih dari pemiliknya; keuntungannya milik pemiliknya dan kerugiannya menjadi tanggungannya.” Mereka berbeda pendapat mengenai makna sabda beliau “tidak boleh diambil alih gadai itu.” Ada yang mengatakan maksudnya adalah pihak yang menerima gadai tidak memiliki barang gadai itu karena piutangnya, dan kepemilikan tidak berpindah dari pemberi gadai. Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah pemberi gadai tidak terhalang untuk memanfaatkan barang gadai tersebut. Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah utang tidak gugur jika barang gadai itu rusak.

وقوله الرهن من صاحبه أي من ضمان صاحبه

Dan ucapannya “rahn dari pemiliknya” maksudnya adalah dari tanggungan (jaminan) pemiliknya.

مذهب الشافعي أن الرهن أمانة في يد المرتهن فإذا تلف في يده أو في يد العدل كان أمانة والدين لا يسقط منه شيءٌ عنده

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa rahn (barang jaminan) adalah amanah di tangan murtahin (penerima gadai). Jika barang tersebut rusak di tangannya atau di tangan pihak penengah (adil), maka ia tetap merupakan amanah, dan utang tidak gugur sedikit pun karenanya menurut mazhab ini.

وقال أبو حنيفة هو مضمون بالدين على تفصيل له معروف

Abu Hanifah berkata, “Itu dijamin dengan utang menurut perincian yang telah dikenal.”

ولو شرط الراهن كون الرهن مضموناً على المرتهن فالشرط فاسد؛ لأنه مخالف لمضمون الرهن ثم يفسد الرهن بفساد الشرط ولكنه مع فساده يكون أمانة في يد المرتهن وهذا أصلٌ مطرد فكل ما يكون أمانة في وضعه لو صح لا ينقلب مضموناً ولا يخرج عن كونه أمانةً بأن يفسد

Jika pihak yang menggadaikan mensyaratkan agar barang gadai menjadi tanggungan pihak penerima gadai, maka syarat tersebut batal; karena bertentangan dengan substansi gadai. Kemudian, gadai menjadi batal karena batalnya syarat tersebut. Namun, meskipun batal, barang gadai tetap menjadi amanah di tangan penerima gadai. Ini adalah kaidah yang berlaku umum: segala sesuatu yang pada asalnya merupakan amanah jika sah, tidak berubah menjadi tanggungan dan tidak keluar dari statusnya sebagai amanah hanya karena menjadi batal.

واستثنى بعض الأغبياء مسألة عن هذه القاعدة وهي إذا رهن شيئاًً عنده بدين مؤجَّل وشرط أنه إن لم يفك الرهن في شهر فهو مبيع عند المرتهن وراء الشهر

Beberapa orang yang kurang cerdas mengecualikan satu masalah dari kaidah ini, yaitu apabila seseorang menggadaikan sesuatu kepada orang lain sebagai jaminan utang yang jatuh temponya masih akan datang, lalu disyaratkan bahwa jika ia tidak menebus barang gadai itu dalam waktu sebulan, maka barang tersebut menjadi milik orang yang menerima gadai setelah lewat sebulan.

فهذا الشرط فاسد ولكن إذا مضى الشهر فيصير بعد مضي الشهر مضموناً فهذا رهن انقلب مضموناًَ بحكم شرط فاسد

Maka syarat ini batal, namun jika telah berlalu satu bulan, maka setelah berlalu bulan tersebut barang itu menjadi tanggungan. Ini adalah rahn (gadai) yang berubah menjadi tanggungan karena adanya syarat yang batal.

وهذا يحتاج إلى فضل بيان

Hal ini memerlukan penjelasan lebih lanjut.

فنقول إن تلف في يده قبل مضي الشهر فلا شكَّ أنه يكون أمانة؛ فإنه لم يدخل أوانُ البيع بعدُ وحكم الأمانة ثابت فإذا دخل وقتُ البيع المشروط على الفساد نظر فإن كان يمسكه المرتهن على حكم البيع فهو مضمون عليه وهو خارج عن حقيقة الرهن سواء قُدِّر على الصحة أو على الفساد

Maka kami katakan, jika barang itu rusak di tangannya sebelum lewat sebulan, tidak diragukan lagi bahwa barang itu berstatus sebagai amanah; karena waktu jual beli belum tiba dan hukum amanah masih tetap berlaku. Jika telah masuk waktu jual beli yang disyaratkan namun rusak (akadnya), maka perlu dilihat: jika barang itu dipegang oleh penerima gadai berdasarkan hukum jual beli, maka ia menjadi tanggungannya dan ini keluar dari hakikat rahn, baik akad itu dianggap sah maupun rusak.

وإن علم أن شرط البيع فاسد فكان يُمسكه على موجَب الرهن وقصد ذلك ونواه فالمذهب أن الضمان يجب؛ فإن الرهن فاسداً قُدّرَ أو صحيحاً ممدودٌ إلى شهر فلا رهن بعد انقضائه ولا يد إلا عن جهة البيع الفاسد وهذا ظاهرٌ لا إشكال فيه

Jika diketahui bahwa syarat jual beli itu fasid (rusak/tidak sah), lalu ia menahan barang tersebut berdasarkan tuntutan rahn (gadai) dan memang bermaksud serta meniatkannya demikian, maka menurut madzhab, kewajiban tanggungan (dhaman) tetap berlaku; sebab jika rahn itu fasid, baik diperkirakan demikian atau sah namun diperpanjang sampai sebulan, maka setelah masa itu berakhir tidak ada lagi rahn, dan tidak ada hak memegang barang kecuali berdasarkan jual beli yang fasid, dan hal ini jelas serta tidak ada keraguan di dalamnya.

وأبعد بعضُ الأصحاب فنفى الضمان إذا لم يقصد المرتهنُ إمساكه وراء الشهر عن جهة البيع وقصر الضّمان فيه إذا كان يقصد الإمساك على اعتقاد البيع وهذا رديء لا أصل له لما ذكرناه

Sebagian ulama berpendapat jauh dengan meniadakan tanggungan (dhamān) jika penerima gadai (murtahin) tidak bermaksud menahan barang gadai setelah sebulan dari sisi penjualan, dan membatasi tanggungan hanya jika ia bermaksud menahan dengan keyakinan akan menjualnya. Pendapat ini buruk dan tidak memiliki dasar, sebagaimana telah kami sebutkan.

ووجه الغلط في الاستثناء أن المرهون وراء الشهر خارج عن كونه مرهوناً بحكم اللفظ فما استثنى هذا القائلُ مرهوناً إذن فكان ما جاء به لغواً

Kesalahan dalam pengecualian tersebut terletak pada bahwa barang yang digadaikan setelah sebulan sudah keluar dari status sebagai barang gadai menurut lafaznya. Maka, orang yang mengatakan pengecualian ini sebenarnya tidak mengecualikan barang gadai apa pun, sehingga apa yang ia kemukakan menjadi sia-sia.

وقد نجزت مسائل الكتاب ونحن نرسم الآن فروعاً تجري مجرى الأصول وقد يقع فيها مسائل متبدّدة غير منتظمة والغرض الإتيان بجميعها

Saya telah menyelesaikan pembahasan masalah-masalah dalam kitab ini, dan sekarang saya akan menyusun cabang-cabang yang berjalan sebagaimana kaidah-kaidah pokok. Dalam cabang-cabang ini mungkin terdapat beberapa masalah yang tersebar dan tidak teratur, namun tujuan saya adalah menyebutkan semuanya.

فرع

Cabang

قال العراقيون المودَع إذا ادعى رد الوديعة على مالكها فالقول قوله مع يمينه ولو استأجر الإنسان شيئاً ثم استوفى حقه منه لما قبضه فهو أمانة في يده ولو ادّعى أنه رده على المالك المكري وأنكر المالك فالقول قول المالك فإنه قبض المستأجر لحق نفسه لا لغرض المالك ولا يُصدّق في دعوى الرد بخلاف المودَع

Menurut para ulama Irak, apabila orang yang menerima titipan (muda‘) mengaku telah mengembalikan barang titipan kepada pemiliknya, maka ucapannya diterima dengan sumpahnya. Jika seseorang menyewa sesuatu, lalu ia telah mengambil haknya dari barang itu ketika menerimanya, maka barang tersebut menjadi amanah di tangannya. Jika ia mengaku telah mengembalikannya kepada pemilik (pemberi sewa) namun pemiliknya mengingkari, maka ucapan pemiliklah yang diterima, karena penyewa menerima barang itu untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan pemilik, sehingga ia tidak dipercaya dalam pengakuan pengembalian, berbeda dengan orang yang menerima titipan (muda‘).

قالوا كذلك إذا ادّعى المرتهن ردّ العين المرهونة على الراهن وأنكر الراهن فالقول قول الراهن؛ لما ذكروه من أن المرتهن تثبت يده لغرضه فلا يُقبل منه يمينه برد ما قبضه

Mereka juga mengatakan, jika pihak penerima gadai mengaku telah mengembalikan barang yang digadaikan kepada pemberi gadai, namun pemberi gadai menyangkalnya, maka yang dipegang adalah pernyataan pemberi gadai; karena sebagaimana telah disebutkan, tangan penerima gadai atas barang tersebut ada karena kepentingannya, sehingga sumpahnya atas pengembalian barang yang telah diterimanya tidak dapat diterima.

ولو ادعى الوكيل الذي كان قبض من موكله عيناً ليبيعها أنه ردها على الموكل قالوا إن كان الوكيل يتصرف من غير جُعلٍ فقوله مقبول كما يُقبل قولُ المودَع؛ فإنه لا غرض له في قبضهِ ويدِه

Jika seorang wakil yang telah menerima suatu barang dari pemberi kuasa untuk dijual mengaku bahwa ia telah mengembalikannya kepada pemberi kuasa, para ulama mengatakan: Jika wakil tersebut bertindak tanpa imbalan, maka pengakuannya dapat diterima sebagaimana diterimanya pengakuan orang yang menerima titipan; karena ia tidak memiliki kepentingan dalam menerima barang tersebut dan dalam penguasaannya atas barang itu.

وإن كان يتصرف بجُعلٍ فادّعى ردَّ العين ففي المسألة وجهان

Jika ia bertindak dengan imbalan tertentu lalu mengaku telah mengembalikan barang, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

وكذلك إذا ادّعى المقارض ردّ شيء من مال القراض على المالك ففي قبول قوله وجهان أحدهما لا يقبل قوله؛ لما له في المال الذي كان تحت يده من الغرض فأشبه المستأجر والمرتهن

Demikian pula, jika mudharib mengklaim telah mengembalikan sebagian dari harta mudharabah kepada pemilik, maka dalam menerima pengakuannya terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, pengakuannya tidak diterima; karena ia memiliki kepentingan terhadap harta yang ada di tangannya, sehingga ia serupa dengan penyewa dan pemegang gadai.

والوجه الثاني يقبل قوله؛ لأنه لا غرض له في العين المقبوضة وإنما غرضه في مالٍ قدر له بسبب العين التي في يده وحق المستأجر والمرتهن في عين ما قبضه أولا ثم ادعى ردَّه

Pendapat kedua diterima; karena ia tidak memiliki kepentingan terhadap barang yang dipegangnya, melainkan kepentingannya terletak pada harta yang telah ditetapkan baginya karena barang yang ada di tangannya, dan hak penyewa serta pemegang gadai adalah atas barang yang pertama kali diterima, kemudian ia mengaku telah mengembalikannya.

هذا ترتيب أئمة العراق وهو حسن بالغ

Ini adalah urutan para imam Irak, dan itu sangat baik.

وأما المراوزة فإنهم قطعوا أقوالهم بأن كلَّ مؤتمن لو تلفت العين في يده من غير تقصيره لم يلزمه الضّمان فإذا ادعى رده على مالكه المطلق فهو مصدق فيه مع يمينه ولم يفصلوا بين الوديعة والرهن والإجارة وهذا قياسٌ مُطَّرد وهو أوقع في طريق المعنى مما ذكره العراقيون وما أشاروا إليه من كون يد المرتهن والمستأجر عائدة إلى منافعها لا معتبر به؛ إذ لو جاز التعويل عليه للزم أن يكون ما ذكروه سبباً في إيجاب الضمان في الأصل على المرتهن والمستأجر لو تلفت العين في أيديهما كما يجب الضمان على المستعير والمستأجَر فإذا لم يكن كذلك؛ فلا معوَّل على ما ذكروه وليت شعري ما قولهم لو ادّعى المرتهن والمستأجر تلف العين في أيديهما هل يصدقان عندهم أم لا والقياس أن ينزل دعوى التَّلف منزلة دعوى الرد في كل تفصيل

Adapun para ulama Marw, mereka menegaskan pendapat mereka bahwa setiap orang yang diberi amanah, jika barang itu rusak di tangannya tanpa kelalaiannya, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi. Jika ia mengaku telah mengembalikannya kepada pemiliknya secara mutlak, maka ia dipercaya dalam pengakuannya itu dengan sumpahnya, dan mereka tidak membedakan antara wadiah, rahn, dan ijarah. Ini adalah qiyās yang konsisten dan lebih tepat dalam pendekatan makna daripada apa yang disebutkan oleh para ulama Irak, serta apa yang mereka isyaratkan bahwa kepemilikan barang gadai dan penyewa kembali kepada manfaatnya, hal itu tidak dapat dijadikan pertimbangan; sebab jika hal itu boleh dijadikan sandaran, niscaya apa yang mereka sebutkan akan menjadi sebab wajibnya ganti rugi pada asalnya atas orang yang menerima gadai dan penyewa jika barang itu rusak di tangan mereka, sebagaimana wajibnya ganti rugi atas peminjam dan yang disewa. Maka jika kenyataannya tidak demikian, tidak dapat dijadikan sandaran apa yang mereka sebutkan. Dan aku ingin tahu, apa pendapat mereka jika orang yang menerima gadai dan penyewa mengaku bahwa barang itu rusak di tangan mereka, apakah mereka dipercaya menurut pendapat mereka atau tidak? Qiyās menunjukkan bahwa pengakuan tentang kerusakan barang diposisikan sama dengan pengakuan tentang pengembalian barang dalam setiap rincian.

فرع

Cabang

إذا رهن الغاصب العينَ المغصوبة عند إنسانٍ وكان المرتهن يحسَبه مالكاً لتلك العين فإذا تلفت في يد المرتهن وجاء المغصوب منه مطالباً قالوا هل له مطالبة المرتهن أم لا على وجهين أحدهما لا يطالبه؛ فإن يده يدُ أمانةٍ على الجملة ولم يوجد من جهته عدوان؛ فلا وجه لمطالبته

Jika seorang ghashib (perampas) menggadaikan barang yang digasak kepada seseorang, dan pihak yang menerima gadai (murtahin) mengira bahwa ghashib adalah pemilik barang tersebut, lalu barang itu rusak di tangan murtahin dan pemilik aslinya datang menuntut, para ulama mengatakan: Apakah pemilik berhak menuntut murtahin atau tidak? Ada dua pendapat. Salah satunya, ia tidak boleh menuntut murtahin; karena tangan murtahin adalah tangan amanah secara umum dan tidak ada tindakan melampaui batas darinya, maka tidak ada alasan untuk menuntutnya.

والوجه الثاني أنه يطالَبُ؛ لأن العين المغصوبة تلفت في يده ولم يوجد من جهة مالكها ائتمان فيها ثم فرعوا على الوجهين قالوا إن قلنا لا يطالب المرتهن فلا كلام وإن قلنا إنه مطالبٌ فهل يستقر الضمان عليه فعلى وجهين أحدهما يستقر؛ فإن التلف حصل في يده فأشبه ما لو أتلفه بنفسه والتلف والإتلاف في الأعيان المغصوبة بمثابة واحدة فينبغي أن يصير التلف منتهى الضمان في يد من وجد التلف في يده وهذا معنى القرار ثم من أثر الحكمِ بالقرار أنه إذا غرَّم المالكُ المرتهنَ لم يرجع على الغاصب فإذا غرَّم الغاصبَ رجع هو على المرتهن

Alasan kedua adalah bahwa ia tetap dituntut, karena barang yang digadaikan tersebut rusak di tangannya dan tidak ada kepercayaan dari pemiliknya terhadapnya, kemudian mereka merinci berdasarkan dua pendapat: mereka berkata, jika kita katakan bahwa pemegang gadai tidak dituntut, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita katakan bahwa ia dituntut, maka apakah tanggung jawab itu tetap melekat padanya? Dalam hal ini ada dua pendapat: salah satunya, tanggung jawab itu tetap melekat, karena kerusakan terjadi di tangannya, sehingga serupa dengan jika ia sendiri yang merusaknya. Kerusakan dan perusakan pada barang yang digadaikan hukumnya sama, sehingga seharusnya kerusakan menjadi batas akhir tanggung jawab di tangan orang yang terjadi kerusakan di tangannya, dan inilah makna dari penetapan tanggung jawab. Kemudian, di antara dampak hukum dari penetapan tanggung jawab ini adalah bahwa jika pemilik barang menuntut ganti rugi dari pemegang gadai, maka ia tidak dapat menuntut kembali kepada perampas. Namun jika ia menuntut ganti rugi dari perampas, maka perampas dapat menuntut kembali kepada pemegang gadai.

وقد طردوا ما ذكروه من الترتيب في يد المستأجر من الغاصب ويد المودَع من جهة الغاصب وكل ذلك وهم يحسبون أن الغاصب مالك العين

Mereka telah menolak apa yang mereka sebutkan tentang urutan dalam kepemilikan penyewa dibandingkan dengan perampas, dan kepemilikan orang yang menerima titipan dibandingkan dengan perampas, padahal semua itu mereka lakukan dengan anggapan bahwa perampas adalah pemilik barang.

وطريق العراقيين مخالف لطريق المراوزة في هذه القاعدة؛ فإن المراوزة يقطعون بتوجيه المطالبة على المرتهن والمستأجر والمودَع من جهة الغاصب على جهلٍ بحقيقة الحال في هذه المنازل ثم يقطعون بأن الضمان مستقر على هؤلاء أصلاً هذا بيان الطرق فيما ذكرنا

Metode para ulama Irak berbeda dengan metode para ulama Marw dalam kaidah ini; sebab para ulama Marw menetapkan bahwa tuntutan diarahkan kepada pihak yang menerima gadai, penyewa, dan pihak yang menerima titipan dari pihak perampas, meskipun tidak mengetahui keadaan sebenarnya dalam situasi-situasi ini, kemudian mereka menetapkan bahwa tanggungan (dhamān) tetap menjadi tanggung jawab pihak-pihak tersebut secara prinsip. Inilah penjelasan metode dalam hal yang telah kami sebutkan.

فرع

Cabang

قد ذكرنا صحة رهن المشاع عندنا فلو كانت دار مشتركة بين شريكين فلو رهن أحدُهما نصيبه شائعاً من بيتٍ معين من الدار المشتركة فقد ذكر العراقيون وجهين في صحة الرهن أصحهما الصحة جرياناً على القاعدة الممهَّدة

Kami telah menyebutkan bahwa rahn atas harta bersama (musya‘) adalah sah menurut kami. Maka, jika ada sebuah rumah yang dimiliki bersama oleh dua orang, lalu salah satu dari keduanya menggadaikan bagian kepemilikannya yang bersifat musya‘ (tidak terbagi) dari suatu kamar tertentu di rumah bersama tersebut, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai keabsahan rahn tersebut. Pendapat yang lebih kuat adalah sahnya rahn itu, sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.

والثاني لا يصح؛ فإنا لو قدرنا الاستقسام من الشريكِ فربما يتفق وقوعُ هذا البيت كلِّه في نصيب الشريك الذي لم يرهن وهذا يُفضي لو صح إلى بطلان الرهن وهذه مسألة لطيفة

Yang kedua tidak sah; sebab jika kita mengandaikan adanya pembagian dari seorang syarik, mungkin saja seluruh rumah itu jatuh ke bagian syarik yang tidak menggadaikan, dan jika hal ini dibenarkan maka akan menyebabkan batalnya rahn. Ini adalah masalah yang halus.

ثم لو صححنا الرهن على الأصح ففي كيفية إجراء القسمة تردّدٌ إن كنا نرى إجراءها في المرهون؛ فإنا وإن جوزنا القسمة في المرهون فليس فيها إبطال حق المرتهن بالكلية ولكن يتعين حقه بعد أن كان مشاعاً ولو أجرينا القسمة في الصورة التي ذكرناها فقد يؤدي إلى إخراج البيت بالكلية عن الرّهن وفيه إبطال حق المرتهن فليتأمل الناظر في القسمة إن وقعت وتضمنت خروج البيت عن ملك الراهن بالكلية أيتجه أن يقال يغرَم الراهن قيمة الشقص المرهون ويضعها رهناً عند المرتهن أم كيف السبيل فيه

Kemudian, jika kita menganggap sahnya rahn menurut pendapat yang lebih kuat, maka dalam hal bagaimana pelaksanaan pembagian (qismah) terdapat keraguan, jika kita berpendapat bahwa pembagian dapat dilakukan pada barang yang digadaikan; sebab meskipun kita membolehkan pembagian pada barang yang digadaikan, hal itu tidak berarti membatalkan hak penerima gadai (murtahin) secara keseluruhan, melainkan haknya menjadi tertentu setelah sebelumnya bersifat tidak terbagi. Namun, jika kita melakukan pembagian dalam bentuk yang telah kami sebutkan, bisa jadi hal itu menyebabkan rumah tersebut sepenuhnya keluar dari status gadai, dan ini berarti membatalkan hak penerima gadai. Maka hendaknya orang yang menelaah masalah pembagian ini memperhatikan, jika pembagian terjadi dan mengakibatkan rumah tersebut sepenuhnya keluar dari kepemilikan pemberi gadai (rahin), apakah layak dikatakan bahwa pemberi gadai harus mengganti nilai bagian yang digadaikan dan menempatkannya sebagai barang gadai pada penerima gadai, atau bagaimana jalan keluarnya dalam masalah ini.

ووجه التردد أنه لم يأت من قبل الراهن شيء ولم يجز الشريكُ المستقسم فقد يحتمل أن يجعل هذا بمثابة تلف المرهون في يد المرتهن ولكن قد اعتاض عنه الراهن؛ فإن ملكه إن زال عن قسطه من البيت فقد وقع له في القسمة خلوص شيء آخر في قُطرٍ آخر فالوجه إذن تغريمه القيمة

Alasan keraguan adalah karena tidak ada sesuatu pun yang dilakukan oleh pihak yang menggadaikan sebelumnya, dan rekan yang melakukan undian pun tidak membolehkannya. Maka, mungkin saja hal ini diperlakukan seperti hilangnya barang gadai di tangan penerima gadai, namun pihak yang menggadaikan telah mendapatkan pengganti atasnya; sebab jika kepemilikannya hilang atas bagian rumahnya, maka dalam pembagian ia memperoleh sesuatu yang lain di tempat yang berbeda. Oleh karena itu, yang tepat adalah mewajibkan penggantian nilainya.

فرع

Cabang

إذا اشترى رجل عبداً بألف فجاء إنسان وتبرع بأداء الدين وكان ما أداه من جنس الثمن فيصح وتبرأ ذمة المشتري ولا يرجع المتبرِّع عليه بما أداه وإن أبرأ ذمته؛ فإنه لم يؤدِّ بإذنه فلو خرج المبيع مستحقاً وبان بطلان العقد فالبائع يرد ما قبض على المتبرع ولا يرده على المشتري؛ فإن المتبرع إنما أداه ثمناً فإذا لم يكن ردَّ عليه ما سلمه إليه

Jika seseorang membeli seorang budak seharga seribu, lalu datang seseorang dan secara sukarela membayar utangnya, dan apa yang dibayarkan itu sejenis dengan harga (yang disepakati), maka transaksi itu sah dan tanggungan pembeli menjadi bebas, serta orang yang berderma itu tidak boleh menuntut kembali apa yang telah dibayarkannya kepada pembeli. Jika ia membebaskan tanggungan pembeli, maka ia tidak membayar dengan izinnya. Jika ternyata barang yang dijual itu milik orang lain dan akadnya batal, maka penjual harus mengembalikan apa yang telah diterimanya kepada orang yang berderma, bukan kepada pembeli; sebab orang yang berderma itu telah membayarkan harga, maka jika barang itu dikembalikan, harus dikembalikan kepadanya apa yang telah ia serahkan.

ولو استمر العقد على الصحة ولكن وجد المشتري بالمبيع عيباً فرده على البائع فالبائع يرد ثمنه واختلف أئمتنا فمنهم من قال يرده على المشتري؛ فإن البيع لم يتبين بطلانُه وبقي الثمن على حقيقته فلا سبيل للمتبرع إلى الرجوع فيما تبرع به وليس ذلك كصور الاستحقاق

Jika akad tetap sah, namun pembeli menemukan cacat pada barang yang dibeli lalu mengembalikannya kepada penjual, maka penjual wajib mengembalikan harganya. Para imam kami berbeda pendapat; sebagian mereka berpendapat bahwa penjual mengembalikannya kepada pembeli, karena akad jual beli tidak terbukti batal dan harga barang tetap sebagaimana aslinya, sehingga orang yang telah memberikan sesuatu secara sukarela tidak berhak menarik kembali apa yang telah ia berikan secara sukarela. Hal ini tidak sama dengan kasus istihqāq (pengambilan barang oleh pihak yang berhak).

ومن أصحابنا من قال يرد الثمن على المتبرع؛ فإنه ما جرى بينه وبين المشتري ما يتضمن تمليك المشتري من طريق التضمين وإنما طلب المتبرع أن يبرىء ذمة المشتري من غير تقدير تمليك له حتى يقال دخل المؤدَّى في ملك المشتري في ألطف زمان ثم انتقل من ملكه ودخل ملك البائع فإذا لم يكن ذلك ممكناً فالرجوع إلى المشتري بعيد مع أنه لم يخرج من ملكه شيء وإنما يعود إلى الملك ما يخرج منه

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa harga (barang) dikembalikan kepada pihak yang membayar secara sukarela (mutabarri‘); karena tidak terjadi antara dia dan pembeli sesuatu yang mengandung makna pemindahan kepemilikan kepada pembeli melalui jalan penjaminan (tadhammun). Yang dilakukan oleh mutabarri‘ hanyalah meminta agar pembeli dibebaskan dari tanggungan, tanpa ada maksud memberikan kepemilikan kepadanya, sehingga bisa dikatakan bahwa yang dibayarkan itu masuk ke dalam kepemilikan pembeli dalam waktu yang sangat singkat, lalu berpindah dari kepemilikannya dan masuk ke dalam kepemilikan penjual. Jika hal itu tidak mungkin terjadi, maka mengembalikan (uang) kepada pembeli adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), karena tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kepemilikannya; yang kembali ke dalam kepemilikan hanyalah sesuatu yang pernah keluar darinya.

ولو جاء المتبرع وأدّى إلى البائع عَرْضاً عوضاً عن الثمن الذي في ذمة المشتري فالمذهب أن ذلك جائز كما لو تبرع بأداء جنس الثمن

Jika ada seseorang yang memberikan secara sukarela dan menyerahkan kepada penjual suatu barang sebagai pengganti dari harga yang menjadi tanggungan pembeli, maka menurut mazhab hal itu diperbolehkan, sebagaimana jika ia secara sukarela membayar dengan jenis harga yang sama.

ومن أصحابنا من منع ذلك من المتبرع؛ فإن بذلَ العوض يستدعي دخول المعوَّض في ملك باذل العوض وهذا غير متصور في حق المتبرع

Sebagian ulama dari kalangan kami melarang hal itu bagi orang yang berbuat secara sukarela; karena pemberian imbalan menuntut agar sesuatu yang menjadi imbalan itu masuk ke dalam kepemilikan pemberi imbalan, dan hal ini tidak dapat dibayangkan dalam kasus orang yang berbuat secara sukarela.

والأصح الوجه الأول لما ذكرناه من نزول تبرع المتبرع منزلة الفداء وذلك يجري في الجنس وغير الجنس

Pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama, karena sebagaimana telah kami sebutkan, pemberian sukarela dari orang yang berderma diposisikan seperti fidyah, dan hal ini berlaku baik pada barang sejenis maupun yang tidak sejenis.

ولو نكح الرجل امرأة وأصدقها شيئاًً فتبرع أجنبي وأدّى ذلك الصدّاقَ عن الزوج من غير إذنه ثم الزوج طلقها قبل المسيس فنصف ما أدّاه المتبرع يرجع إلى الزوج أم يرجع إلى المتبرع فعلى الوجهين المذكورين في صورة الرد بالعيب

Jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dan memberikan mahar kepadanya, lalu ada orang lain yang secara sukarela membayar mahar tersebut atas nama suami tanpa seizinnya, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka setengah dari mahar yang telah dibayarkan oleh orang yang memberi secara sukarela itu, apakah dikembalikan kepada suami atau kepada orang yang memberi secara sukarela, hal ini mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan dalam kasus pengembalian karena cacat.

فرع

Cabang

إذا استحفظ الرهنَ عدلان فهل لأحدهما أن ينفرد بالحفظ فعلى وجهين ذكرهما القاضي وغيره أحدهما أنه لا ينفرد؛ لأن ظاهر التفويض إلى شخصين يقتضي أن يشتركا فيه ويجمعا نظريهما كما نقول في الوصيين

Jika barang gadai dipercayakan kepada dua orang yang adil, apakah salah satu dari mereka boleh menjaga barang tersebut sendirian? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi dan yang lainnya. Salah satunya adalah bahwa tidak boleh sendirian, karena secara lahiriah penyerahan kepada dua orang mengharuskan keduanya bersama-sama dalam menjaga dan menggabungkan pengawasan mereka, sebagaimana yang kita katakan pada dua orang washi.

والثاني يجوز لكل واحد أن ينفرد بالحفظ؛ فإن الاشتراك في عينٍ بحُكم العرف يقتضي تسليط كل واحدٍ على الحفظ وقد ذكرت هذا فيما تقدم ولكن رددت احتمالات فقد وجدناها منصوصة للأئمة

Kedua, setiap orang diperbolehkan untuk secara mandiri menjaga (barang tersebut); karena kepemilikan bersama atas suatu barang menurut ‘urf (kebiasaan) mengharuskan setiap orang diberi wewenang untuk menjaganya. Hal ini telah saya sebutkan sebelumnya, namun saya mengulang kemungkinan-kemungkinan yang ada karena kami telah menemukan hal tersebut dinyatakan secara eksplisit oleh para imam.

فإن كان الشيء مما ينقسم وقد جوزنا الانفراد بالحفظ فهل يجوز أن يقسم بينهما حتى ينفرد كل واحد بحفظ حصته فعلى وجهين أحدهما أن ذلك جائز كما يجوز على الوجه الذي نفرع عليه أن ينفرد كل واحد بحفظ الكل إذا لم تكن منازعة

Jika suatu benda dapat dibagi dan kita membolehkan masing-masing pihak untuk menyimpan secara terpisah, maka apakah boleh benda itu dibagi di antara mereka sehingga masing-masing dapat menyimpan bagiannya sendiri? Ada dua pendapat. Pendapat pertama, hal itu diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan—berdasarkan pendapat yang kita jadikan dasar—masing-masing menyimpan seluruhnya jika tidak ada perselisihan.

والثاني لا تجوز القسمة؛ فإن الانفراد قد تلقيناه من العرف أما القسمة فليس يشعر بها العرف ولا يتضمنها الإذن

Kedua, tidak diperbolehkan melakukan pembagian; karena kepemilikan sendiri telah kita terima dari ‘urf, sedangkan pembagian tidak dipahami dari ‘urf dan tidak tercakup dalam izin.

فرع

Cabang

إذا رهن رجل من رجل شيئاًً ثم سلمه إليه وقال قصدت بالتسليم إليك إيداعه عندك ولم أقصد إتمام الرهن وإلزامه بالقبض فهل يصدق الراهن فعلى وجهين أحدهما أنه يصدق؛ فإنه المسلَّم وإليه القصد والنية

Jika seseorang menggadaikan sesuatu kepada orang lain, lalu ia menyerahkannya kepadanya dan berkata, “Aku bermaksud dengan penyerahan ini menitipkannya kepadamu dan tidak bermaksud menyempurnakan akad rahn serta mewajibkannya dengan qabdh (penguasaan fisik),” maka apakah orang yang menggadaikan (rahin) dapat dipercaya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ia dapat dipercaya, karena ia yang menyerahkan dan maksud serta niat itu kembali kepadanya.

ولا خلاف أنه لو قال عند التسليم خذه وديعة ولست أقصد إلزام الرهن فإنه يقع وديعة والرهن على جوازه وكذلك إذا نوى وقصد

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata saat penyerahan, “Ambillah ini sebagai titipan dan aku tidak bermaksud mewajibkan rahn,” maka itu menjadi titipan (wadi‘ah) dan rahn tetap bersifat boleh, demikian pula jika ia berniat dan bermaksud demikian.

والوجه الثاني أن القول قول المرتهن؛ فإن الغالب في العرف أن من رهن فإنه لا يسلّم المرهون إلا من جهة الرهن وإن هو لم يرد ذلك فالغالب أنه يودع المرهونَ عند غير المرتهن فصدقنا المرتهن لظاهر الحال وللفرع التفاتٌ على أن اليد هل تدل على الرهن

Pendapat kedua adalah bahwa yang dipegang adalah pernyataan pihak murtahin; sebab yang lazim dalam kebiasaan, siapa pun yang menggadaikan sesuatu, ia tidak akan menyerahkan barang gadai kecuali dalam rangka gadai. Jika ia tidak bermaksud demikian, maka yang lazim adalah ia menitipkan barang gadai itu kepada selain murtahin. Maka kita membenarkan pihak murtahin karena sesuai dengan keadaan lahiriah. Cabang masalah ini berkaitan dengan apakah kepemilikan atas barang (yad) menunjukkan adanya akad gadai atau tidak.

فرع

Cabang

قد ذكرنا أن يد العدل تنوب عن يد الراهن من وجه وعن يد المرتهن من وجهٍ وليس للمرتهن أن يأخذ الرهن من يد العدل فلو أنه اغتصبه وأخذه من يده فقد صار متعدتاً ضامناً بما جرى منه فلو جاء ورده إلى العدل فالذي ذهب إليه جماهيرُ الأصحاب أن المرتهن يبرأ بما فعل عن ضمان الغصب؛ لأن يد العدل يدُ المالك؛ فإذا رد ما أخذه إلى نائب المالك حكمنا ببراءته عن الضمان

Telah kami sebutkan bahwa tangan pihak adil (penjaga barang gadai) mewakili tangan rahin (pemberi gadai) dari satu sisi dan tangan murtahin (penerima gadai) dari sisi lain. Penerima gadai tidak berhak mengambil barang gadai dari tangan pihak adil. Jika ia merampas dan mengambilnya dari tangan pihak adil, maka ia telah bertindak melampaui batas dan wajib menanggung kerugian atas perbuatannya. Jika kemudian ia datang dan mengembalikannya kepada pihak adil, maka menurut mayoritas para sahabat (ulama mazhab), penerima gadai terbebas dari tanggungan atas perbuatan perampasan tersebut; karena tangan pihak adil adalah tangan pemilik (pemberi gadai). Maka jika ia mengembalikan apa yang diambilnya kepada wakil pemilik, kami memutuskan bahwa ia terbebas dari tanggungan.

ومن أصحابنا من قال لا يبرأ عن الضمان ما لم يرد المأخوذ إلى المالك ثم

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa seseorang tidak terbebas dari tanggungan (dhamān) selama barang yang diambil belum dikembalikan kepada pemiliknya.

يأذن للعدل إذناً جديداً في قبض الرهن من المرتهن؛ وذلك أن يد العدل قد زالت بطارىء العدوان فإعادة اليد أمر جديد فلا بد فيه من إذن جديدٍ والأصح الأول

Diberikan izin baru kepada pihak adil untuk menerima barang gadai dari pemegang gadai; hal ini karena kekuasaan pihak adil telah hilang akibat terjadinya pelanggaran, sehingga pengembalian kekuasaan merupakan perkara baru yang memerlukan izin baru, namun pendapat yang lebih sahih adalah pendapat pertama.

وإن قلنا بالثاني فليس للعدل أن يقبضه منه إذا جاء به؛ فإنا نزعم أن التعديل الأول قد انقطع وزال فلا بد من تجديد

Dan jika kita memilih pendapat kedua, maka seorang ‘adl (orang yang adil) tidak berhak mengambilnya darinya ketika ia membawanya; karena kita berpendapat bahwa penetapan keadilan yang pertama telah terputus dan hilang, sehingga harus diperbarui.

وما ذكرناه في العدل فلا شكّ في جريانه في المودَع وسيأتي شرح ذلك وتفصيلُ القول في أنَّ المودَع هل يخاصِم من غصب الوديعة حتى يستردها في كتاب الوديعة إن شاء الله عز وجل

Apa yang telah kami sebutkan mengenai keadilan, tidak diragukan lagi juga berlaku pada orang yang menerima titipan (muwadda‘), dan penjelasan tentang hal itu serta rincian pembahasan mengenai apakah orang yang menerima titipan boleh menggugat orang yang merampas barang titipan hingga dapat mengambilnya kembali akan dijelaskan dalam Kitab Wadi‘ah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فرع

Cabang

إذا رهن عند إنسانٍ أرضاً وشرط للمرتهن أن يغرسها لنفسه بعد مضي شهر فيدُه قبل انقضاء تلك المدة يد أمانةٍ وإذا انقضت المدة وأخذ في الانتفاع صارت يده يدَ عاريةٍ؛ من جهة أنه منتفع بالإذن من غير استحقاقٍ وهذا معنى المستعير فلو أنه غرس قبل المدة المضروبة فقد تعدى موجَب الإذن؛ وغراسه لهذا السَّبب مقلوع ولو أنه غرس في أوان الإذن في الغراس فهو مستعير غارس فلا يُقلع غراسه مجاناً كما سيأتي ذلك مشروحاً في كتاب العارية

Jika seseorang menggadaikan sebidang tanah kepada orang lain dan mensyaratkan kepada penerima gadai (murtahin) bahwa ia boleh menanaminya untuk dirinya sendiri setelah lewat satu bulan, maka kepemilikan atas tanah itu sebelum berakhirnya masa tersebut adalah kepemilikan amanah. Namun, jika masa itu telah berlalu dan ia mulai memanfaatkannya, maka kepemilikannya menjadi kepemilikan pinjaman (‘āriyah); karena ia memanfaatkannya atas dasar izin tanpa hak milik, dan inilah makna dari peminjam (‘āri). Jika ia menanam sebelum waktu yang ditentukan, berarti ia telah melampaui batas izin; dan tanamannya karena sebab ini harus dicabut. Namun, jika ia menanam pada waktu yang diizinkan untuk menanam, maka ia adalah peminjam yang menanam, sehingga tanamannya tidak dicabut secara cuma-cuma, sebagaimana hal ini akan dijelaskan dalam Kitab al-‘āriyah.

ولو قال الراهن رهنتك الأرضَ فإذا مضى شهرٌ فهي مبيعة منك فإذا انقضى الشهر فغرسه فلا شك أن الأرض ليست مبيعةً منه فإذا غرسها نُظر فإن كان يعتقد أنها مبيعة وأن غرسه واقع في ملكه فقد نقل أئمة المذهب عن الشافعي في هذه الصورة أنه قال هو في غراسه كالمستعير إذا غرس على وفق الإذن فإنا لا نقلع غراسه مجاناً وهذا حسن منقاس لا شكّ؛ فإن ما جرى من صورة البيع لا ينحط عن الإذن في الغراس

Jika pihak yang menggadaikan berkata, “Aku menggadaikan tanah ini kepadamu, lalu jika telah berlalu satu bulan maka tanah ini menjadi milikmu (terjual) kepadamu,” kemudian setelah bulan itu berlalu ia menanaminya, maka tidak diragukan lagi bahwa tanah tersebut bukanlah miliknya (bukan terjual kepadanya). Jika ia menanaminya, maka dilihat: jika ia meyakini bahwa tanah itu telah menjadi miliknya dan tanamannya berada di atas miliknya, para imam mazhab telah menukil dari Imam Syafi’i dalam kasus seperti ini bahwa beliau berkata, “Ia dalam hal tanamannya seperti orang yang meminjamkan (tanah) jika menanam sesuai izin, maka kami tidak mencabut tanamannya secara cuma-cuma.” Dan ini adalah qiyās yang baik dan tidak diragukan; karena apa yang terjadi dalam bentuk jual beli tidak lebih rendah dari izin untuk menanam.

فأما إذا كان عالماً بفساد البيع وأقدم على الغراس مع العلم بحقيقة الحال فقد نُقل عن الشافعي أنه قال غراسه مقلوع

Adapun jika seseorang mengetahui rusaknya akad jual beli dan tetap menanam tanaman dengan pengetahuan tentang keadaan yang sebenarnya, maka telah dinukil dari Imam Syafi‘i bahwa tanaman yang ditanamnya harus dicabut.

فإن قيل إن لم يصح البيع فهلا قيل ما صدر من الراهن إذنٌ في الغراس قلنا لم يتعرض الراهن لتفصيل التصرفات وإنما ذكر بيعاً فإن صح حكم به وإن فسد وجرى غرس على جهل يعذر الغارس وكان كالمستعير وَإن غرس عن علم فلا عذر

Jika dikatakan: Jika jual beli itu tidak sah, mengapa tidak dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pihak yang menggadaikan adalah izin untuk menanam? Kami katakan: Pihak yang menggadaikan tidak membedakan rincian bentuk-bentuk tindakan, melainkan hanya menyebutkan jual beli. Jika jual beli itu sah, maka diberlakukan hukumnya. Namun jika batal dan terjadi penanaman tanpa pengetahuan yang cukup sehingga penanam dapat dimaafkan, maka ia seperti orang yang meminjam. Tetapi jika ia menanam dengan pengetahuan, maka tidak ada alasan baginya.

وهذا على حاله غير خالٍ عن ضرب من الاحتمال

Hal ini, pada keadaannya, tidak lepas dari suatu bentuk kemungkinan.

فرع

Cabang

من مات وخلف تركة والديون على قدرها أو أكثر أو أقل فالذي أطلقه علماء الشريعة أن الديون تتعلق بأعيان التركة وتصير التركة موثقة بها ثم ذكر العراقيون قولين في أن تصرف الوارث هل ينفذ في التركة قبل أداء الدين أحدهما أنه لا ينفذ وهو ظاهر ما اختاره المراوزة

Barang siapa yang meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan, sementara utang-utang sebanding dengan harta tersebut, atau lebih banyak, atau lebih sedikit, maka para ulama syariat secara umum menyatakan bahwa utang-utang itu terkait langsung dengan harta peninggalan dan harta warisan tersebut menjadi jaminan atas utang-utang itu. Kemudian, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat tentang apakah tindakan ahli waris terhadap harta warisan sebelum pelunasan utang dapat berlaku atau tidak. Salah satunya menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak berlaku, dan ini merupakan pendapat yang jelas dipilih oleh para ulama Marw.

والقول الثاني إنّ تصرفه نافذ ونزلوا تعلق الدين بالتركة منزلة تعلق الأرش برقبة العبد الجاني وقد مضى في بيع الجاني قولان والتفريع عليهما في كتاب البيع وإنما شبهوا هذا بتعلق الأرش؛ من قِبل أن الأرش يتعلق برقبة الجاني من غير قصدٍ من المالك كذلك الدين يتعلق بالتركة من غير إيثار واختيارٍ من المتوفَّى ومن الورثة

Pendapat kedua menyatakan bahwa tindakannya sah, dan mereka menganggap keterikatan utang pada harta warisan seperti keterikatan arsy pada leher budak yang melakukan kejahatan. Telah disebutkan dalam pembahasan jual beli budak yang melakukan kejahatan terdapat dua pendapat dan rincian hukumnya dalam kitab jual beli. Mereka menyamakan hal ini dengan keterikatan arsy karena arsy itu melekat pada leher budak pelaku kejahatan tanpa kehendak pemiliknya, demikian pula utang melekat pada harta warisan tanpa adanya keinginan atau pilihan dari orang yang wafat maupun dari para ahli waris.

وهذا الذي ذكروه تشبيه حسن من طريق الظاهر

Apa yang mereka sebutkan itu adalah perumpamaan yang baik dari segi lahiriah.

ولكن الذي يقتضيه الأصل عندي أن تعلق الدين بالتركة يضاهي طريق تعلق الرهون والدليل عليه أن هذا مما حكم الشارع به نظراً للمتوفَّى ولأجل تحقيق ذلك الحكم بحلول الآجال مع ما فيها من التفاوت في المالية فإذا كان سبب تعلق الديون بالتركة ما وصفناه فلا يليق بهذه المصلحة تسليطُ الوارث على التصرف وليس كالأرش؛ فإنه أمر جزئي في حالٍ نادر والديون في التركات عامة الكَوْن والوقوع

Namun, menurut saya, yang dituntut oleh prinsip dasar adalah bahwa keterikatan utang pada harta warisan menyerupai cara keterikatan gadai. Dalilnya adalah bahwa hal ini ditetapkan oleh syariat dengan mempertimbangkan kepentingan orang yang wafat, demi merealisasikan hukum tersebut ketika jatuh tempo, dengan adanya perbedaan nilai harta. Jika sebab keterikatan utang pada harta warisan adalah seperti yang telah kami jelaskan, maka tidaklah sesuai dengan kemaslahatan ini untuk memberikan kekuasaan kepada ahli waris untuk bertindak atas harta tersebut. Hal ini berbeda dengan arsy (ganti rugi), karena ia merupakan perkara yang bersifat parsial dan jarang terjadi, sedangkan utang dalam harta warisan adalah sesuatu yang umum terjadi dan sering dijumpai.

ثم فرع العراقيون وقالوا إن رددنا بيع الوارث فلا كلام وإن نفذناه نظر فإن أدّى الدينَ من ماله جرى البيع على نفاذه وإن امتنع نقضنا بيعه والتفريع على الجملة يقع على حسب تفريع بيع السيد للعبد الجاني فإن قلنا لا ينفذ بيع الوارث لمكان الدين لم يفصل بين الدين المستغرق وبين الزائد وبين الناقص

Kemudian para ulama Irak merinci dan mengatakan: Jika kita menolak jual beli yang dilakukan oleh ahli waris, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita membolehkannya, maka perlu dilihat: jika ia melunasi utang dari hartanya sendiri, maka jual belinya tetap sah; tetapi jika ia menolak, maka jual belinya dibatalkan. Perincian secara umum mengikuti perincian jual beli yang dilakukan tuan terhadap budak yang melakukan tindak pidana. Jika kita berpendapat bahwa jual beli ahli waris tidak sah karena adanya utang, maka tidak dibedakan antara utang yang seluruhnya menghabiskan harta warisan, utang yang melebihi harta warisan, maupun utang yang kurang dari harta warisan.

هذا ظاهر المذهب

Ini adalah pendapat yang jelas dalam mazhab.

وذكر بعض أصحابنا وجهاًً أن الدين إن كان أقلَّ من التركة لم يمتنع به التصرف

Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat bahwa jika utang itu lebih sedikit daripada harta warisan, maka hal itu tidak menghalangi dilakukannya transaksi.

على الوارث وينفذ التصرف إلى أن لا يبقى من التركة إلا كِفَاء الدين وسنعود إلى هذا في كتاب التفليس إن شاء الله عز وجل على قياس الديون في الرهون

Kepada ahli waris, dan tindakan tersebut tetap berlaku hingga tidak tersisa dari harta warisan kecuali sekadar cukup untuk membayar utang. Kami akan kembali membahas hal ini dalam Kitab Taflis, insya Allah ‘Azza wa Jalla, berdasarkan qiyās utang dalam rahn.

وإن لم يكن في التركة دين وكان البائع باع عبداً واستوفى ثمنه وأتلفه ثم مات وخلف تركة ولم يخلف ديناً فتصرف الوارث في التركة بالبيع ثم وجد مشتري العبد به عيباً فردّه في التركة فيصير الثمن ديناً وهل يتبع تصرف الورثة في التركة بالنقض لمكان الدين المنعكس على التركة فعلى وجهين ذكرهما العراقيون مفرَّعين على أن الدين الناجز في التركة يمنع التصرف أحدهما أنا نتبين فساد تصرفه في الأصل ونجعل ما لحق من الدين بسبب الرد بمثابة ما يكون موجوداً حالة الإقدام على التصرف؛ فإن السبب الموجب لذلك كان مقارناً كمَا لو كان الدين

Jika dalam harta warisan tidak ada utang, dan penjual telah menjual seorang budak, menerima pembayaran harganya, lalu membinasakannya, kemudian ia meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan tanpa meninggalkan utang, lalu ahli waris melakukan transaksi atas harta warisan dengan menjualnya, kemudian pembeli budak tersebut menemukan cacat pada budak itu dan mengembalikannya ke harta warisan, maka harga budak itu menjadi utang. Apakah transaksi ahli waris atas harta warisan dapat dibatalkan karena adanya utang yang kembali membebani harta warisan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak, yang didasarkan pada pendapat bahwa utang yang telah tetap pada harta warisan mencegah adanya transaksi. Salah satu pendapat menyatakan bahwa kita menilai transaksi tersebut sejak awal adalah batal, dan menjadikan utang yang timbul akibat pengembalian (budak) itu seperti utang yang sudah ada pada saat transaksi dilakukan; karena sebab yang mewajibkan utang tersebut telah ada bersamaan dengan transaksi, sebagaimana jika utang itu memang sudah ada.

مقارناً

Perbandingan

ثم إن قلنا يتبين فساد التصرف فلا كلام وإن قلنا لا يستند والبيع قد انقضى على نعت اللزوم فإن أدّى الوارث الثمن المنعكس على التركة فذاك وإن لم يؤده فهل يفسخ تصرفه فعلى وجهين أحدهما أنا نفسخه؛ فإنا لو لم نفعل ذلك أدى إلى أن لا يجد من رد بالعيب مرجعاً ولا سبيل إلى تضييع حقه

Kemudian, jika kita katakan bahwa batalnya transaksi menjadi jelas, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun, jika kita katakan bahwa batalnya tidak bersifat surut dan akad jual beli telah selesai dengan sifat lazim, maka jika ahli waris membayar harga yang kembali kepada harta warisan, maka itu cukup. Namun, jika ia tidak membayarnya, apakah transaksi tersebut dibatalkan? Ada dua pendapat: salah satunya, kita membatalkannya; sebab jika kita tidak melakukan itu, maka orang yang mengembalikan barang karena cacat tidak akan menemukan tempat kembali, dan tidak boleh ada jalan untuk menyia-nyiakan haknya.

والوجه الثاني أنا لا نفسخ ذلك التصرف؛ فإنه كان انتهى إلى صفة اللزوم فلا وجه لمنع لزومه على الوجه الذي نفرع عليه ولو كنا نُسند الأمر إلى ما سبق لأسندنا تبيّن الفساد إلى التصرّف فعلى هذا إذاً لا وجه إلا مطالبةُ المتصرف في التركة كما يطالب بدينه المختص به ورُبَّ دينٍ يلزم إنساناً وإن لم يكن ملتزمَه في الابتداء كما يلزم الضامن بسبب الضمان

Adapun sisi yang kedua, kami tidak membatalkan tindakan tersebut; karena tindakan itu telah mencapai status yang mengikat, maka tidak ada alasan untuk mencegah keharusan mengikatnya menurut pendapat yang kami bangun. Seandainya kami mengaitkan perkara ini dengan apa yang telah lalu, tentu kami akan mengaitkan terbuktinya kerusakan pada tindakan tersebut. Maka berdasarkan hal ini, tidak ada jalan lain kecuali menuntut orang yang melakukan tindakan atas harta warisan, sebagaimana ia dituntut atas utangnya yang menjadi hak khususnya. Dan bisa jadi ada utang yang wajib atas seseorang, meskipun ia tidak berkomitmen sejak awal, sebagaimana kewajiban penjamin akibat akad penjaminan.

ولو خلف تركة ولا دين فاقتسم التركة الورثةُ وتصرفوا فيها ثم تردَّى متردٍّ في بئر كان احتفرها المتوفَّى في محل عدوان فاقتضى الحالُ انعكاسَ الضمان على التركة فهل يُتبع ما تقدم من التصرفات بالنقض في المسألة وجهان مرتبان على التي نجزت الآن وهذه الأخيرة أولى بأن لا تنقض التصرفات فيها إسناداً؛ فإن من مات وكان باع عبداً فعهدة العقد قائم فكأنه ترك على الورثة ذلك العبدَ بعهدته ولا شك أن هذا أقرب من فرض تردِّي بهيمة في بئر بعد سنين ثم التفريع في هذه المسألة على حسب التفريع في مسألة الرد بالعيب والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب انتهى كتاب الرهن

Jika seseorang meninggalkan harta warisan tanpa ada utang, lalu para ahli waris membagi dan menggunakan harta warisan tersebut, kemudian seseorang terjatuh ke dalam sumur yang digali oleh si mayit di tempat yang dilarang, sehingga keadaan menuntut agar tanggung jawab (dhamān) dibebankan kembali kepada harta warisan, maka apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya oleh para ahli waris dapat dibatalkan? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang mengikuti perincian yang telah dijelaskan sebelumnya. Pendapat terakhir lebih utama untuk tidak membatalkan tindakan-tindakan tersebut secara isnad (penyandaran hukum); sebab jika seseorang meninggal dunia dan sebelumnya telah menjual seorang budak, maka tanggungan akad masih tetap ada, sehingga seolah-olah ia meninggalkan budak tersebut kepada ahli waris beserta tanggungannya. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih dekat daripada mengandaikan seekor hewan terjatuh ke dalam sumur setelah bertahun-tahun. Kemudian, cabang hukum dalam masalah ini mengikuti cabang hukum pada masalah pengembalian barang karena cacat (‘aib). Allah Maha Mengetahui kebenaran, kepada-Nya tempat kembali dan tujuan. Selesai Kitab Ar-Rahn.

Kitab Taflīs (Bab Kepailitan)

التفليس والإفلاس في أصل اللسان يعبر بهما عن الانتهاء إلى غاية الضُّر في المسكنة وقول القائل أفلس فلان معناه انتهى بضرورته إلى فلوسه ولم يبق له مال يُرمق وقول القائل أفلس معناه وصل إلى الفلوس وهو على مذهب العرب إذا قالت أسهل زيدٌ وأحزن عمرو إذا انتهيا إلى السهل والحَزْن

Secara asal bahasa, istilah taflis dan iflās digunakan untuk mengungkapkan keadaan yang mencapai puncak kesulitan dalam kemiskinan. Ucapan seseorang “si Fulan telah muflis” berarti ia telah sampai pada kondisi di mana ia hanya memiliki uang logam kecil (fulūs) dan tidak ada harta lain yang tersisa padanya. Ucapan “telah muflis” maksudnya adalah telah sampai pada fulūs, sebagaimana kebiasaan orang Arab mengatakan “Zaid telah sampai ke tanah datar” dan “Amr telah sampai ke tanah berbatu” jika keduanya telah mencapai tempat datar dan berbatu.

والتفليس اكتساب المفلس نعتَ إفلاسه

Dan taflis adalah diperolehnya status pailit oleh seseorang yang dinyatakan pailit.

والذي نصدِّر به الكتابَ أن من قلّ مالهُ وكثرت ديونه فللقاضي أن يحجر

Yang kami jadikan pembuka dalam kitab ini adalah bahwa siapa saja yang hartanya sedikit dan utangnya banyak, maka hakim (qāḍī) berhak untuk memberlakukan pemblokiran (ḥajr) terhadapnya.

عليه لأجل غرمائه إذا استدعَوْا ذلك منه ويستفيدون باستدعاء الحجر قصرَ يده عن التصرفات في ماله؛ حتى تُصرفَ أموالُه إلى جهات ديونه والأصل في جواز ذلك ما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه حجر على معاذ بن جبل رضي الله عنه وباع عليه ماله في ديونه وعن عمر بن الخطاب أنه قال في أثناء الخطبة ألا إن الأُسَيْفعَ أُسيْفِع جهينة رضي من دِينه وأمانته بأن يقال سبق الحاجَّ فادّان معرضاً فأصبح وقد رين به وإنّا بائعو ماله غداً فمن كان له عليه حق فليحضر

Hal itu dilakukan demi kepentingan para krediturnya jika mereka memintanya, dan mereka mendapatkan manfaat dari permintaan penetapan status hajr (pembatasan hak bertindak) berupa pembatasan haknya untuk melakukan tindakan terhadap hartanya, sehingga harta tersebut dapat dialokasikan untuk membayar utang-utangnya. Dasar kebolehan hal ini adalah riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau pernah menetapkan hajr atas Mu‘ādz bin Jabal ra. dan menjual hartanya untuk membayar utang-utangnya. Juga dari ‘Umar bin Khattab ra. yang berkata di tengah khutbahnya: “Ketahuilah, sesungguhnya al-Usaifa‘ Usaifa‘ Juhainah telah rela dengan utangnya dan amanahnya dengan dikatakan bahwa ia telah mendahului jamaah haji lalu berutang dengan sengaja, maka pagi harinya ia telah diliputi utang. Maka kami akan menjual hartanya besok, maka siapa yang memiliki hak atasnya hendaklah hadir.”

ثم إذا زادت ديون المرء على ماله واستدعى الغرماءُ الحجرَ عليه أسعفهم وضرب عليه حجراً

Kemudian, apabila utang seseorang melebihi hartanya dan para kreditur meminta agar ia dikenai pembatasan (hajr), maka permintaan mereka dikabulkan dan ia dikenai hajr.

فإن كانت ديونه على مقدار ماله من غير زيادة ولا نقصان فهل يحجر عليه إذا استدعى الغرماء الحجرَ فعلى وجهين مشهورين أحدهما لا يحجر عليه؛ فإن ماله كفاءٌ لديونه وفيه وفاءٌ بجملتها وإنما فائدة الحجر تضارب الغرماء بحصصهم ورجوع كلٍّ إلى ما يقتضيه بسبب حقه

Jika utangnya sebanding dengan hartanya, tanpa ada kelebihan atau kekurangan, lalu para kreditur meminta agar ia dikenai pembatasan (hajr), maka terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah tidak dikenai pembatasan, karena hartanya cukup untuk membayar utangnya secara keseluruhan. Adapun manfaat dari pembatasan hanyalah agar para kreditur dapat saling berbagi sesuai porsi mereka dan masing-masing kembali kepada apa yang menjadi haknya.

والوجه الثاني أنه يحجر إذا استدعَوْا؛ فإن الديون إذا ساوت فما أسرع ما تزيد ولو لم يبتدر القاضي الحجْرَ لجرَّ تركُ الحجر ضرراً على الغرماء وهذا الوجه مختار عند الأئمة؛ فإنا إذا كنا نسعى في إيصال الغرماء إلى حصصٍ من ديونهم عند ضيق المال فلنسْع في إيصالهم إلى كمال حقوقهم عند مساواة الديون المالَ

Pendapat kedua adalah bahwa dilakukan pemblokiran (hajr) jika para kreditur memintanya; sebab jika utang-utang itu seimbang, maka sangat cepat jumlahnya akan bertambah, dan jika hakim tidak segera melakukan pemblokiran, maka membiarkan tanpa pemblokiran akan menimbulkan kerugian bagi para kreditur. Pendapat ini adalah yang dipilih oleh para imam; karena jika kita berupaya untuk memberikan bagian dari utang mereka kepada para kreditur ketika harta terbatas, maka sudah sepatutnya kita juga berupaya untuk memberikan hak mereka secara penuh ketika jumlah utang seimbang dengan harta.

ولو كانت الديون أقل من مقدار المال واستدعى الغرماءُ الحجرَ عليه فقد ذكر أصحابنا في إسعافهم وجهين مرتبين على الوجهين في مساواة الديون المال والصورة الأخيرة أولى بأن لا يجابوا إلى ملتمسهم

Jika utang-utang itu lebih sedikit daripada jumlah harta, lalu para kreditur meminta agar ia dikenai status pailit, para ulama kami menyebutkan dua pendapat yang dikaitkan dengan dua pendapat dalam kasus utang yang sama dengan harta. Namun, pada kasus terakhir ini, lebih utama untuk tidak mengabulkan permintaan mereka.

وأطلق الأئمة ذكرَ الخلاف في الديون القليلة فلا بد من تفصيل ذلك؛ فإنا على قطعٍ نعلم أن من يرجع إلى ثروة طائلة؛ ونعمة ضخمة وعليه دين قليل بالإضافة إلن يساره فتجويز الحجر على من هذا وصفه محال وقائله في حكم الخارق للإجماع فالوجه في تقرير القول في ذلك ما ذكره صاحب التقريب حيث قال إذا انحط قدر الدين عن قدر المال ولكنا كنا نرى الديون إلى ازدياد والدّخل إلى انحطاط وظهر في ظننا إفضاءُ الأمر على قُربٍ إلى المساواة ثم منها إلى الزيادة فإذا كان كذلك اتجه الخلاف في ضرب الحجر

Para imam telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai utang yang sedikit, maka hal ini memerlukan perincian; sebab kita dengan yakin mengetahui bahwa seseorang yang memiliki kekayaan melimpah dan kenikmatan besar, sementara ia hanya memiliki utang sedikit dibandingkan dengan kelapangannya, maka membolehkan pemblokiran (hajr) terhadap orang dengan kondisi seperti ini adalah mustahil, dan orang yang berpendapat demikian dianggap menyalahi ijmā‘. Maka penjelasan pendapat dalam hal ini adalah sebagaimana yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb, yaitu: Jika jumlah utang lebih kecil daripada jumlah harta, namun kita melihat utang-utang itu cenderung bertambah dan pemasukan cenderung menurun, dan menurut dugaan kuat kita, keadaan ini dalam waktu dekat akan menyebabkan keseimbangan antara utang dan harta, lalu setelah itu utang akan melebihi harta, maka dalam kondisi seperti ini, perbedaan pendapat mengenai penetapan hajr menjadi relevan.

والأمر على ما ذكره فلا يسوغ تخيلُ غيره

Keadaan adalah sebagaimana yang telah disebutkan, maka tidak dibenarkan membayangkan selain itu.

ثم ذكر أئمتنا في الدين القليل في التركة خلافاً أيضاً في أنَّ الوارث هل

Kemudian para imam kita dalam agama juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai harta warisan yang sedikit, yaitu apakah ahli waris…

يمتنع عليه التصرف في التركة بسبب الدين القليل وقد قدمنا ذكرَ هذا في آخر كتاب الرهن والنظر في هذا إذا كان الدين قليلاً على خلاف ما ذكرناه في حالة الحياة؛ فإن التركة متعلقة بالديون كالرهون التي يتوثق الدين بها وكرقاب الجناة و على أي وجه فرضنا الأمر فلا فرق بين القليل والكثير والحجر في حالة الحياة ابتداءُ امرٍ لدرء الضرار عن الغرماء وليست أموال من عليه الديون متعلقة للديون قبل اطراد الحجر

Ia dilarang melakukan tindakan terhadap harta warisan karena adanya utang yang sedikit, dan kami telah menyebutkan hal ini di akhir Kitab Rahn. Pembahasan mengenai hal ini, jika utangnya sedikit, berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan dalam keadaan masih hidup; sebab harta warisan terkait dengan utang sebagaimana barang gadai yang menjadi jaminan utang, dan seperti budak-budak milik para pelaku tindak pidana. Dalam keadaan apa pun kita menganggap perkara ini, tidak ada perbedaan antara utang yang sedikit dan yang banyak. Larangan bertindak pada masa hidup merupakan permulaan tindakan untuk mencegah bahaya bagi para kreditur, dan harta orang yang berutang tidak terkait dengan utang sebelum adanya larangan bertindak.

ثم قال العلماء لا يضرب القاضي الحجر إلا إذا استدعى الغرماء فإن

Kemudian para ulama berkata, hakim tidak menetapkan status pailit (hajr) kecuali setelah memanggil para kreditur.

استدعى كلُّهم أجبيوا على التفصيل المقدّم وإن استدعى بعضُهم نُظر فإن كان دين

Mereka semua berhak untuk meminta, dan permintaan mereka dijawab sesuai dengan penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika hanya sebagian dari mereka yang meminta, maka perlu dilihat lagi; jika itu adalah utang…

المستدعي بحيث يجوز الحجر بمثله لو لم يكن معه دين آخر فإنه يجاب ثم

Pemohon, di mana boleh dilakukan penahanan terhadapnya dengan alasan seperti itu jika ia tidak memiliki utang lain, maka permohonannya dikabulkan.

لا يختص الحجر به بل يصير محجوراً عليه في حقوق الغرماء كافة

Hajr tidak khusus baginya saja, melainkan ia menjadi orang yang terkena hajr dalam seluruh hak para kreditur.

ولو لم يوجد من الغرماء كلِّهم الاستدعاء واستدعى مَن دينُه يقل عن مبلغ المال والتفريع على أن الدين القليل لا يحجرُ القاضي به فهل يحجر إذا استدعى بعضُ الغرماء فعلى وجهين أحدهما أنه يحجُر وهو اختيار شيخنا أبي محمد ومن أصحابنا من قال لا يحجرُ ما لم يبلغ ديونُ المستدعين مبلغاً يجوز الحجر بمثله لو لم يكن مزيد ووجهه بيِّن

Jika tidak ada seorang pun dari para kreditur yang mengajukan permohonan, lalu ada seseorang yang jumlah utangnya lebih sedikit dari jumlah harta yang ada mengajukan permohonan, dan berdasarkan cabang hukum bahwa utang yang sedikit tidak menyebabkan hakim menetapkan status pailit, maka apakah hakim boleh menetapkan pailit jika sebagian kreditur mengajukan permohonan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: yang pertama, hakim boleh menetapkan pailit, dan ini adalah pilihan guru kami, Abu Muhammad. Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hakim tidak boleh menetapkan pailit selama jumlah utang para pemohon belum mencapai batas yang membolehkan penetapan pailit jika tidak ada tambahan utang lain, dan alasan pendapat ini jelas.

ولو لم يستدعِ الغرماء الحجرَ أصلا فليس للقاضي أن يحجُر على المديون ابتداءً نظراً منه إلى طلب المصلحة الكلّية هذا لا خلاف فيه

Jika para kreditur sama sekali tidak meminta penetapan status pailit, maka hakim tidak berwenang menetapkan pailit atas orang yang berutang sejak awal hanya karena mempertimbangkan kemaslahatan umum; hal ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.

ولو ارتفع بنفسه إلى مجلس القضاء واستدعى منه أن يحجُر عليه ويفض أمواله على غرمائه فهل يجيبه أم لا اختلف أصحابنا في المسألة فذهب الأكثرون إلى أنه يجيبه وقال آخرون لا يجيبه مالم يستدع الحجر غريمٌ أو غرماء

Jika seseorang datang sendiri ke majelis pengadilan dan meminta agar hakim menetapkan status pailit atas dirinya serta membagi hartanya kepada para krediturnya, apakah hakim mengabulkan permintaannya atau tidak? Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Mayoritas berpendapat bahwa hakim mengabulkannya, sementara sebagian lain berpendapat bahwa hakim tidak mengabulkannya kecuali permintaan penetapan pailit itu diajukan oleh seorang kreditur atau para kreditur.

وقد قال العلماء ما كان حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم على معاذ بن جبل من جهة استدعاء غرمائه والأشبه أن ذلك جرى باستدعائه

Para ulama berkata bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap Mu‘ādz bin Jabal berupa pelarangan (hajr) adalah dari sisi permintaan para penagih utangnya, dan yang lebih mendekati adalah bahwa hal itu terjadi atas permintaan mereka.

ثم إن الشافعي ذكر بعد تمهيد القول في الحجر أن البائع يرجع بعين المبيع إذا أفلس المشتري بالثمن واطَّرد الحجر عليه والقول في هذه المسألة وأطرافِها معظمُ الكلام في التفليس

Kemudian, asy-Syafi‘i menyebutkan setelah mengawali pembahasan tentang al-hajr bahwa penjual berhak mengambil kembali barang yang dijual apabila pembeli jatuh pailit atas harga (barang tersebut) dan telah ditetapkan al-hajr atasnya. Pembahasan mengenai masalah ini dan rincian-rinciannya merupakan inti dari pembicaraan tentang taflis.

فنقول من باع عيناً وسلمها وأفلس المشتري فحجر القاضي عليه فللبائع أن يرجع بعين المبيع ويفسخ البيع؛ حتى لا يحتاج إلى مضاربة الغرماء و محاصصتهم بالثمن والأصل في ذلك الحديثُ وهو ما روي عن أبي هريرة أنه رأى رجلا قد أفلس فقال هذا الذي قضى فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم أيمّا رجل مات أو أفلس فصاحب المتاع أحق بمتاعه إذا وجده بعينه وقوله هذا الذي ظاهر معناه أنه لم يُرد أن النبي صلى الله عليه وسلم قضى على ذلك الشخص المعيّن وإنما أراد بتعيينه التعرض لقضاء رسول الله صلى الله عليه وسلم في صنفٍ عينه

Maka kami katakan, siapa yang menjual suatu barang dan telah menyerahkannya, lalu pembeli jatuh pailit dan hakim menetapkan pailit atasnya, maka penjual berhak mengambil kembali barang yang dijual tersebut dan membatalkan akad jual belinya; agar ia tidak perlu bersaing dengan para kreditur lain dan berbagi harga barang tersebut dengan mereka. Dasar hukumnya adalah hadits, yaitu riwayat dari Abu Hurairah bahwa ia melihat seorang laki-laki yang jatuh pailit, lalu ia berkata: “Inilah orang yang pernah diputuskan hukumnya oleh Rasulullah saw.: Barang siapa yang meninggal atau jatuh pailit, maka pemilik barang lebih berhak atas barangnya jika ia masih menemukannya dalam keadaan utuh.” Ucapan beliau “inilah orangnya” secara lahiriah maksudnya bukan bahwa Nabi saw. memutuskan hukum atas orang tertentu itu, melainkan maksudnya dengan penunjukan tersebut adalah untuk menunjukkan keputusan Rasulullah saw. pada jenis kasus yang serupa.

وأبو حنيفة خالف في المسألة ومنع فرع البيع بعد تسليم المبيع

Abu Hanifah berbeda pendapat dalam masalah ini dan melarang cabang jual beli setelah penyerahan barang yang dijual.

ثم أجرى الفقهاء في الخلاف طرفاً من المعنى ووجَّه الخصوم عليها أسئلة فدفعها أئمة المذهب بأمور مستفادة مذهبية ولا ينتظم ذكرها إلا في معرض الأسئلة والأجوبة

Kemudian para fuqaha mengaitkan sebagian makna dalam perbedaan pendapat dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pihak lawan, lalu para imam mazhab menolaknya dengan hal-hal yang diambil dari mazhab mereka, yang penyebutannya tidak teratur kecuali dalam konteks tanya jawab.

فالذي هو عماد المذهب في إثبات حق الفسخ أن الثمن أحد عوضي البيع فليكن التعذر فيه بمثابة التعذر في المبيع؛ فإن البائع يستحق على المشتري تسليمَ الثمن كما يستحق المشتري على البائع تسليمَ المبيع والتعاوض تبادل في العوضين فالذي يقتضيه العقد استواء الشقين ثم اعتضد الأصحاب بالقياس على تعذر المُسْلَم فيه بسبب انقطاعه

Yang menjadi pokok mazhab dalam menetapkan hak fasakh adalah bahwa harga merupakan salah satu dari dua imbalan dalam jual beli, maka ketidakmampuan pada harga harus diperlakukan seperti ketidakmampuan pada barang yang dijual; sebab penjual berhak menuntut pembeli untuk menyerahkan harga sebagaimana pembeli berhak menuntut penjual untuk menyerahkan barang, dan saling tukar-menukar itu adalah pertukaran antara dua imbalan, sehingga yang dituntut oleh akad adalah kesetaraan kedua belah pihak. Kemudian para ulama memperkuat hal ini dengan qiyās terhadap ketidakmampuan menyerahkan barang salam karena barang tersebut tidak tersedia.

هذا متعلق المذهب على الجملة أوردناه لنفضَّ عليه الأسئلة المذهبية

Ini adalah pokok-pokok mazhab secara umum yang kami paparkan untuk menyingkap pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mazhab.

فإن قيل لو كان الثمن كالمُسْلَم فيه لما جاز الاستبدال عنه قبل قبضه كالمُسْلَم فيه قلنا في الاستبدال عن الثمن قولان منصوصان

Jika dikatakan: “Seandainya harga (tsaman) itu seperti muslam fihi, tentu tidak boleh menggantinya sebelum diterima, sebagaimana muslam fihi,” maka kami katakan: Dalam hal mengganti harga (tsaman), terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit.

فإن قيل هلا قلتم انقطاع جنس الثمن يقتضي من الانفساخ أو ثبوتِ حق الفسخ ما يقتضيه انقطاعُ المسْلم فيه قلنا هذا خارج على قولي الاستبدال فإن ألحقنا الثمن بالمسلم فيه في الاستبدال عنه فلو انقطع جنس الثمن كان كما لو انقطع المسلم فيه

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa hilangnya jenis harga (tsaman) mengharuskan terjadinya pembatalan atau penetapan hak untuk membatalkan sebagaimana yang diakibatkan oleh hilangnya barang yang menjadi objek salam (muslam fīh)?” Kami menjawab, “Ini kembali kepada dua pendapat tentang istibdāl (penggantian). Jika kami menyamakan harga dengan muslam fīh dalam hal penggantian, maka jika jenis harga itu hilang, hukumnya sama seperti jika muslam fīh itu hilang.”

فإن قيل هلا أثبتم للبائع حقَّ الرجوع وإن تلف المبيع في يد المشتري قلنا سبب إثبات حق الفسخ الخلاص من زحمة المضاربة وإنما يتأتى هذا بالرجوع إلى عيْنٍ لا يزاحَم الراجِع فيها

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menetapkan hak bagi penjual untuk melakukan khiyar (hak membatalkan akad) meskipun barang yang dijual telah rusak di tangan pembeli?” Kami menjawab, sebab penetapan hak fasakh (pembatalan akad) adalah untuk melepaskan diri dari kerumitan persaingan, dan hal ini hanya dapat terwujud dengan kembali kepada barang yang tidak ada pihak lain yang bersaing terhadap orang yang kembali tersebut.

فإن قيل قدّموه بقيمة المبيع من غير مضاربة قلنا حقه في العين فلا يقدَّم إذا فاتت

Jika dikatakan: mereka mendahulukannya dengan nilai barang yang dijual tanpa akad mudhārabah, maka kami katakan: haknya ada pada barang itu sendiri, sehingga tidak didahulukan jika barang tersebut telah hilang.

فإن قيل الرهن قد يفوت وتنتقل الوثيقةُ إلى بدله فهلاَّ كان الأمر كذلك في البائع مع المفلس قلنا حق المرتهن لا يتأتى في وضع الرهن إلا من بدله فلم يمتنع انتقال حقه إلى البدل بخلاف البائع؛ فإنّ حقّه في العين فإن قالوا إنما يُثبتون للبائع حق الرجوع طلبا لفائدةٍ وقد يستفيد بالمضاربة بالقيمة أمراً وذلك إذا كانت القيمة أكثرَ من الثمن المسمى فإذا ضارَب بالقيمة كانت حصته أكثر من حصته في المضاربة بالثمن قلنا الأمور تحمل على اعتدال والغالب أن القيمة كالثمن وإن فرضت زيادتها تارة لم يمتنع فرض نقصانها أخرى

Jika dikatakan bahwa barang gadai bisa hilang dan jaminan berpindah kepada penggantinya, maka mengapa hal itu tidak berlaku pada penjual terhadap pembeli yang bangkrut? Kami katakan, hak pemegang gadai tidak dapat terealisasi pada barang gadai kecuali dari penggantinya, sehingga tidak terlarang haknya berpindah kepada pengganti, berbeda dengan penjual; karena haknya ada pada barang itu sendiri. Jika mereka berkata, sesungguhnya mereka menetapkan hak kembali bagi penjual demi memperoleh suatu manfaat, dan terkadang ia bisa mendapatkan manfaat dengan melakukan mudharabah atas nilai barang, yaitu jika nilai barang lebih tinggi dari harga yang telah disepakati, maka jika ia melakukan mudharabah dengan nilai barang, bagiannya akan lebih besar daripada bagiannya jika bermudharabah dengan harga, kami katakan, segala perkara harus didasarkan pada keadaan yang wajar, dan pada umumnya nilai barang sama dengan harga. Kalaupun diasumsikan nilainya lebih tinggi pada suatu waktu, tidak mustahil juga diasumsikan nilainya lebih rendah pada waktu lain.

وقد قال بعض أئمتنا بالمضاربة بالقيمة إذا ظهرت الفائدة وحكى الإمام ذلك وحكاه غيرُه على ندور واشتهر بين الخلافيين

Sebagian ulama kami berpendapat tentang mudharabah berdasarkan nilai jika keuntungan telah tampak, dan Imam telah meriwayatkan pendapat tersebut, begitu pula selain beliau, meskipun jarang, namun pendapat ini dikenal di kalangan para ahli khilaf.

فإن قيل ينبغي ألا يفسخ إذا قدمه الغرماء بتمام الثمن قلنا له الفسخ وإن قدموه؛ لمعنيين أحدهما أنه ربما لا يرضى بتقلّدِ منةٍ منهم ويأبى إلا ما أثبته الله تعالى له والثاني أنه لا يأمن ظهور غرماء لا يرضَوْن بتقديمه

Jika dikatakan seharusnya tidak dibatalkan jika para kreditur telah membayarkan seluruh harga, kami katakan bahwa ia tetap berhak membatalkan meskipun mereka telah membayarnya, karena dua alasan: pertama, bisa jadi ia tidak rela menerima pemberian dari mereka dan hanya menginginkan apa yang telah Allah tetapkan baginya; kedua, ia tidak merasa aman dari kemungkinan munculnya kreditur lain yang tidak rela didahulukan.

فإن قيل قد استشهدتم بالانقطاع في المُسْلَم فيه وذلك لما أَثْبتَ حقَّ الفسخ لم يفرق فيه بين أن يكون رأسُ المال قائماً أو تالفاً قلنا السبب فيه أن المُسْلَم إليه إذا لم يكن مفلساً فالرجوع إلى بدل رأس المال ممكن معه؛ إذ لا مضاربة حيث لا حجر

Jika dikatakan, “Kalian telah berdalil dengan terputusnya (akad) pada objek yang diserahkan (muslam fīh), dan karena itulah kalian menetapkan hak fasakh tanpa membedakan apakah modal masih ada atau telah hilang,” maka kami katakan: Sebabnya adalah karena jika pihak yang menerima salam (muslam ilayh) tidak dalam keadaan bangkrut, maka pengembalian kepada pengganti modal masih memungkinkan; sebab tidak ada mudharabah di mana tidak ada pembatasan (hajr).

فإن قالوا لو أفلس المُسْلَمُ إليه وحُجر عليه وجنس المُسْلَم فيه غير منقطع فماذا ترون

Jika mereka berkata, “Bagaimana pendapat kalian jika orang yang menerima salam jatuh pailit dan dikenai pembatasan, sedangkan jenis barang yang menjadi objek salam tidak langka?”

قلنا يفسخ المسلِمُ ويرجع إلى رأس المال رجوع البائع إلى المبيع فلو كان رأس المال تالفاً في هذه الحالة وجنس المسلَم فيه غير منقطع فلا يثبت الفسخ بسبب فوات عين رأس المال ومسيس الحاجة إلى المضاربة كما قدمناه؛ فلا فرق بين الفلس بالمُسْلَم فيه وبين الفلس بالثمن

Kami katakan, akad salam dibatalkan dan pihak yang melakukan salam berhak kembali kepada pokok modal, sebagaimana penjual kembali kepada barang jualannya. Maka, jika pokok modal telah hilang dalam keadaan ini, dan jenis barang yang menjadi objek salam tidak terputus keberadaannya, maka pembatalan tidak dapat ditetapkan karena hilangnya pokok modal dan adanya kebutuhan mendesak terhadap mudharabah, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya; sehingga tidak ada perbedaan antara pailit pada barang salam dengan pailit pada harga.

فإن قيل لو اجتمع فَلَسُ المسلَم إليه وانقطاعُ جنس المسلَم فيه فماذا ترون قلنا اختلف أصحابنا في هذه المسألة فمنهم من قال لا يثبت الفسخ مع الفلس إذا لم يجد مَنْ يُقدَّرُ فاسخاً عيناً يُقدّم بها؛ لأنه لو فرع لاحتاج إلى المضاربة والفسخ إنما أثبت للخلاص منها وظاهر المذهب أنه ثبت حق الفسخ في هذه الصورة؛ لأنه يستفيد بالفسخ الوصولَ إلى بعض حقه عاجلاً ولو لم يفسخ لأنظره إلى وجود الجنس فربما يوجد الجنس ولم يبق بيده شيء يؤدى منه حق المُسْلِم

Jika dikatakan: Bagaimana pendapat kalian jika terjadi kebangkrutan pada pihak yang menerima salam dan pada saat yang sama jenis barang yang menjadi objek salam pun tidak tersedia? Kami katakan: Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hak fasakh (pembatalan akad) tidak tetap bersamaan dengan kebangkrutan, jika tidak ditemukan seseorang yang dapat dijadikan sebagai pengganti secara nyata untuk diserahkan; sebab jika didasarkan pada kemungkinan, maka akan membutuhkan mudharabah, sedangkan fasakh itu sendiri ditetapkan untuk membebaskan dari hal tersebut. Adapun pendapat yang tampak dalam mazhab adalah bahwa hak fasakh tetap ada dalam kondisi seperti ini; karena dengan melakukan fasakh, pihak yang berhak dapat memperoleh sebagian haknya secara langsung. Jika ia tidak melakukan fasakh, maka ia harus menunggu sampai jenis barang tersebut tersedia, padahal bisa jadi barang tersebut tidak ditemukan lagi dan tidak ada sesuatu pun yang tersisa di tangan pihak yang menerima salam untuk membayar hak pihak yang melakukan salam.

ومما يجري في هذه المسألة أنهم يقولون الفسخ لا يرد على العين المبيعة فإنه سلمها إلى المشتري وإيراد الفسخ على الثمن وهو دين محال فإن الفسوخ تعتمد الأعيان فتردها ثم تقتضي استرداد أعواضها قلنا هذا ينقضه السَّلم؛ فإنَّ الفسخ ينشأُ من تعذر فيه وهو دين ثم الفسخ يرد على العقد إذا قام ما يوجب الفسخ وعلى هذا بنينا إجراء التفاسخ إذا تحالف المتعاقدان بعد تلف المبيع

Di antara hal yang terjadi dalam masalah ini adalah bahwa mereka mengatakan pembatalan (fasakh) tidak berlaku atas barang yang dijual, karena penjual telah menyerahkannya kepada pembeli, dan menerapkan pembatalan atas harga (tsaman) yang berupa utang adalah hal yang mustahil. Sebab, pembatalan (fusūkh) bergantung pada barang, sehingga barang itu dikembalikan terlebih dahulu, kemudian menuntut pengembalian gantinya. Kami katakan, hal ini dibatalkan oleh akad salam; karena pembatalan (fasakh) dapat terjadi akibat adanya halangan pada barang yang berupa utang. Kemudian, pembatalan (fasakh) itu berlaku atas akad apabila terdapat sebab yang mewajibkan pembatalan. Atas dasar inilah kami membangun kebolehan saling membatalkan akad apabila kedua belah pihak saling bersumpah setelah barang yang dijual rusak.

فإن قيل هل تجوزون أن يقول البائع رددتُ الثمن أو فسخت العقد فيه قلنا امتنع من إطلاق ذلك بعضُ الأصحاب وقالوا حق الفسخ أن يضاف إلى العقد المرسل ثم إذا انفسخ استعقب الفسخُ مقتضاه وقال قائلون تصح العبارة على الوجه الذي طلبه السائل ولا يضر إضافة الفسخ إلى الثمن وقولنا في ذلك كقول الجميع في السلم

Jika ada yang bertanya, “Apakah kalian membolehkan penjual berkata: ‘Aku telah mengembalikan harga (barang)’ atau ‘Aku telah membatalkan akad ini’?” Kami katakan: Sebagian sahabat (ulama) menahan diri dari membolehkan hal itu secara mutlak, dan mereka berkata, “Yang benar dalam pembatalan (fasakh) adalah disandarkan kepada akad secara umum, kemudian jika akad itu batal, maka pembatalan tersebut akan menimbulkan akibat hukumnya.” Namun ada juga yang berpendapat bahwa ungkapan tersebut sah sebagaimana yang dimaksud oleh penanya, dan tidak mengapa membatalkan akad dengan menyandarkannya kepada harga (tsaman). Pendapat kami dalam hal ini sama seperti pendapat semua ulama dalam masalah salam.

فإن قيل إذا باع رجل عبداً بجاريةٍ وتقابضا فقبض المشتري العبدَ والبائع الجاريةَ وتلف العبد في يد قابضه وأفلس ووجد قابضُ الجارية بها عيباً فإنه يردّها فهل يتقدم بقيمة العبد المستردّ على الغرماء قال القاضي هذا يحتمل وجهين أحدهما لا يتقدم بها؛ لأنّها دَيْنٌ والتقديم بالدّين محال والثاني يتقدم؛ لأن الغرماء وإن قدمنا عليهم من ردّ الجارية فذلك في مقابلة ما أدخلناه في حقوقهم فإنا رددنا عليهم الجارية وكان التقدم في هذه الصورة بالقيمة يضاهي تقديم من يعامله بعد الحجر بأثمان المعاملات

Jika dikatakan: Apabila seseorang menjual seorang budak dengan seorang budak perempuan, lalu keduanya saling menerima barang, pembeli mengambil budak laki-laki dan penjual mengambil budak perempuan, kemudian budak laki-laki itu rusak di tangan penerimanya dan ia bangkrut, lalu penerima budak perempuan menemukan cacat pada budak perempuan tersebut, maka ia mengembalikannya. Apakah ia berhak didahulukan dengan nilai budak laki-laki yang dikembalikan atas para kreditur? Al-Qadhi berkata: Hal ini memiliki dua kemungkinan. Pertama, ia tidak didahulukan, karena itu adalah utang, dan mendahulukan utang tidak diperbolehkan. Kedua, ia didahulukan, karena para kreditur—meskipun kita mendahulukan orang yang mengembalikan budak perempuan atas mereka—hal itu sebagai imbalan atas apa yang kita masukkan ke dalam hak mereka, sebab kita telah mengembalikan budak perempuan kepada mereka. Maka, dalam kasus ini, didahulukan dengan nilai budak laki-laki itu serupa dengan mendahulukan orang yang bertransaksi setelah terjadi pembekuan harta dengan harga transaksi.

فهذا تمام ما أردنا أن نذكره من دقائق المذهب في أثناء الأسئلة والأجوبة

Inilah seluruh hal yang ingin kami sampaikan mengenai rincian mazhab dalam pembahasan tanya jawab ini.

ومما نلحقه بقاعدة الفصل أنا إذا أثبتنا حقَّ الفسخ للبائع فهو على الفور أم على التراخي فعلى وجهين أحدهما أنه على الفور؛ لأنه خيار فسخٍ شرع لدَرْء الضرار فينبغي أن يكون على الفور كخيار الرّد بالعيب والخُلف والثاني أنه على التراخي؛ لأنه خيار يتضمنه الرجوع في عينٍ سلمها وأزال الملك عنها فأشبه ذلك حقَ الرجوع في الهبة

Termasuk yang kami kaitkan dengan kaidah pemisahan adalah bahwa jika kami menetapkan hak fasakh bagi penjual, apakah hak itu harus segera dilaksanakan atau boleh ditunda? Maka ada dua pendapat: pertama, harus segera dilaksanakan, karena ini adalah khiyār fasakh yang disyariatkan untuk mencegah mudarat, sehingga seharusnya dilakukan segera seperti khiyār radd karena cacat dan khiyār karena pelanggaran. Kedua, boleh ditunda, karena ini adalah khiyār yang mengandung unsur kembali pada barang yang telah diserahkan dan kepemilikannya telah dilepaskan, sehingga hal itu serupa dengan hak rujuk dalam hibah.

قال القاضي لا يمتنع أن يتأقت هذا الخيار بثلاثة أيام؛ فإنا سنذكر قولاً كذلك في خيار المعتقة تحت زوجها القن إن شاء الله تعالى

Kata al-qadhi: Tidak mustahil bahwa hak khiyar ini dibatasi waktunya selama tiga hari; karena kami akan menyebutkan pendapat yang serupa mengenai hak khiyar bagi wanita yang dimerdekakan yang masih berada di bawah suaminya yang berstatus budak, insya Allah Ta‘ala.

ومما يتعلق بتمام الكلام في ذلك أن المشتري لو لم يكن مفلساً ولكنه امتنع عن أداء الثمن وعسر تحصيله منه فهل يثبت للبائع حقُّ الرجوع فوجهان أحدهما يثبت للتعذر والثاني لا يثبت وهو ظاهر المذهب؛ لأن حكم الممتنع في الشرع أن يستوفَى منه الحقُّ طوعاً أو كرهاً فإن فرض ماردٌ لم يُبْنَ الشرعُ عليه

Terkait dengan penyempurnaan pembahasan dalam hal ini, jika pembeli bukanlah seorang yang bangkrut, namun ia menolak untuk membayar harga dan sulit untuk memperoleh pembayaran darinya, apakah penjual berhak untuk melakukan hak khiyar (hak untuk membatalkan jual beli)? Ada dua pendapat: salah satunya menyatakan hak tersebut tetap ada karena adanya kesulitan, dan pendapat kedua menyatakan hak tersebut tidak tetap, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat dalam mazhab; karena hukum bagi orang yang menolak (membayar) dalam syariat adalah hak tersebut diambil darinya, baik secara sukarela maupun secara paksa. Jika diasumsikan ada orang yang membangkang, syariat tidak dibangun di atas asumsi seperti itu.

وإن غاب المشتري فإن كان للبائع بيّنة وقد ترك المشتري في البلد ما يفي بالثمن فلا يرجع في عين المبيع وإن لم تكن له بينة ولا له مال في البلد

Jika pembeli tidak ada (tidak berada di tempat), maka jika penjual memiliki bukti dan pembeli telah meninggalkan di kota tersebut sesuatu yang cukup untuk membayar harga (barang), maka penjual tidak boleh mengambil kembali barang yang dijual. Namun, jika penjual tidak memiliki bukti dan pembeli juga tidak memiliki harta di kota tersebut, maka…

فهذا بمثابة الامتناع الذي حكينا تردّدَ الأصحاب فيه

Ini serupa dengan penolakan yang telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat mengenai hal itu.

ويثبت الرجوع إلى عين المبيع بعد وفاة المشتري وفي حال حياته إذا أفلس وضُرب الحجر عليه وأثبت مالك الرجوعَ في حال الحياة ولم يثبته بعد الوفاة وتعرض الشافعي له بالمحاجة بأمورٍ لا حاجة بنا إليها

Dan hak untuk kembali kepada barang yang dijual tetap berlaku setelah kematian pembeli, dan juga pada saat pembeli masih hidup jika ia bangkrut dan dikenakan pembatasan (hajr) atasnya. Imam Mālik menetapkan hak kembali pada saat pembeli masih hidup, namun tidak menetapkannya setelah kematian pembeli. Imam Syāfi‘ī membahas masalah ini dengan beberapa argumen yang tidak perlu kita bahas di sini.

ومما نثبته في أصل الكتاب توطئةً للقواعد أن أصحاب الديون الحالّة يتضاربون في مال المفلس واختلف القول في الديون المؤجّلة فأحد قولي الشافعي أنها تحل بالحجر كما تحل الديون المؤجلة بالموت والقول الثاني إنها لا تحل

Salah satu hal yang kami tetapkan dalam pokok kitab ini sebagai pengantar bagi kaidah-kaidah adalah bahwa para pemilik utang yang jatuh tempo saling bersaing dalam harta orang yang pailit. Adapun mengenai utang-utang yang masih ditangguhkan, terdapat perbedaan pendapat: salah satu dari dua pendapat Imam Syafi‘i menyatakan bahwa utang tersebut menjadi jatuh tempo karena adanya status pailit, sebagaimana utang yang ditangguhkan menjadi jatuh tempo karena kematian; sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa utang tersebut tidak menjadi jatuh tempo.

فإن قضينا بحلولها اضطربوا مع المضطربين وإن حكمنا بأنها لا تحل فالمال العتيد الموجود مصروف إلى أصحاب الديون الحالة وأصحاب الدُّيون المؤجلة يؤخَّرون ثم إذا حلت آجال ديونهم بعد فضّ المال على الديون الحالة لم يملكوا أن يرجعوا بشيء مما تضارب أصحاب الديون الحالة

Jika kita memutuskan bahwa utang-utang itu telah jatuh tempo, maka mereka akan bercampur dengan orang-orang yang utangnya memang telah jatuh tempo. Namun jika kita menetapkan bahwa utang-utang itu belum jatuh tempo, maka harta yang tersedia akan diberikan kepada para pemilik utang yang telah jatuh tempo, sedangkan para pemilik utang yang belum jatuh tempo harus menunggu. Kemudian, apabila utang mereka telah jatuh tempo setelah harta dibagikan kepada utang-utang yang telah jatuh tempo, mereka tidak berhak menuntut kembali apa pun dari bagian yang telah diterima oleh para pemilik utang yang telah jatuh tempo.

وسيكون لنا إلى تفصيل القول في حلول الآجال عودة إن شاء الله تعالى

Kita akan kembali membahas secara rinci mengenai jatuh tempo pada kesempatan berikutnya, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال فإن تغيرت السلعة بنقصٍ في بدنها إلى آخره

Ia berkata: “Jika barang tersebut mengalami perubahan dengan adanya kekurangan pada fisiknya, dan seterusnya.”

إذا أفلس المشتري فالمبيع لا يخلو إما أن يكون تالفاً أو قائماً فإن كان تالفاً لم يثبت للبائع حق فرع العقد وليس له إلا مضاربة الغرماء بمقدار الثمن كما قررناه فيما تقدم

Jika pembeli jatuh pailit, maka barang yang dibeli tidak lepas dari dua keadaan: bisa jadi barang tersebut telah rusak atau masih ada. Jika barang tersebut telah rusak, maka penjual tidak memiliki hak cabang dari akad, dan ia hanya berhak bersaing dengan para kreditur lainnya sebesar nilai harga barang tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فأمّا إن كان قائماً فلا يخلو إما أن يكون متغيراً في ذاته أو غير متغير فإن لم يكن متغيراً لم يخل إما أن يكون خرج عن ملك المشتري ثم عاد إليه أو لم يكن خرج عن ملكه فإن كان خرج عن ملكه ثم عاد إليه ثم أفلس نُظر فإن عاد بهبة أو وصية أو إرث ففي المسألة وجهان أحدهما يرجع نظراً إلى قيام السلعة في ذاتها والثاني أنه لا يرجعُ؛ فإن حق الفاسخ أن ينقض بفرعه الملك الذي استقر منه بالعقد من جهته والملك الزائل العائد ليس كذلك ولهذا نظائر منها زوال ملك المتهب وعوده بإحدى هذه الجهات فهل للواهب الرجوع فعلى ما ذكرناه من الوجهين

Adapun jika barang tersebut masih ada, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi barang itu mengalami perubahan pada zatnya atau tidak mengalami perubahan. Jika tidak mengalami perubahan, maka ada dua kemungkinan lagi: apakah barang itu pernah keluar dari kepemilikan pembeli lalu kembali lagi kepadanya, atau tidak pernah keluar dari kepemilikannya. Jika barang itu pernah keluar dari kepemilikannya lalu kembali lagi, kemudian pembeli jatuh pailit, maka perlu dilihat: jika barang itu kembali melalui hibah, wasiat, atau warisan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, penjual berhak mengambil kembali barang tersebut dengan mempertimbangkan keberadaan barang itu secara zatnya. Pendapat kedua, penjual tidak berhak mengambil kembali; karena hak pihak yang membatalkan adalah membatalkan kepemilikan yang telah tetap melalui akad dari pihaknya, sedangkan kepemilikan yang telah hilang lalu kembali tidak demikian halnya. Dalam hal ini ada beberapa contoh serupa, di antaranya adalah hilangnya kepemilikan penerima hibah dan kembalinya kepemilikan itu melalui salah satu cara tersebut; apakah pemberi hibah berhak menarik kembali hibahnya, maka hal ini mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan.

وإذا زال ملك المرأة عن الصّداق وعاد قبل الطلاق فإذا طلقها زوجهاً قبل المسيس فهل يرجع في نصف عين الصداق فعلى ما ذكرناه من الخلاف

Jika kepemilikan wanita atas mahar hilang dan kemudian kembali sebelum terjadi talak, lalu suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka apakah suami berhak mengambil kembali setengah dari mahar secara langsung? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

وإذا باع عبداً بثوبٍ فخرج العبد من ملك المشتري ثم عاد إليه وقد اطلع صاحبه على عيب بالعوض الذي قبضه فله ردُّه ولكنه هل يرجع بالعبد الذي زال وعاد فعلى وجهين

Jika seseorang menjual seorang budak dengan imbalan sebuah kain, lalu budak tersebut keluar dari kepemilikan pembeli kemudian kembali lagi kepadanya, dan pemilik kain mengetahui adanya cacat pada barang yang diterimanya, maka ia berhak mengembalikannya. Namun, apakah ia dapat menuntut kembali budak yang telah keluar dan kembali tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

ومسلك الكلام في جميعها واحد

Dan metode pembahasan dalam semuanya adalah satu.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان زال ملك المشتري وعاد بتبرع أو بجهةٍ لا عوض فيها فأما إذا زال ملك المشتري بجهةٍ من الجهات أيةِ جهةٍ كانت ثم عاد إليه ببيع ثم أفلس فقد تحقق إفلاسه بالثمن الأوّل في البيع الأوّل وتحقق إفلاسه بالثمن الثاني ففي المسألة أوجه أحدها أن حق الرجوع للثاني وهو القياس فيرجع في المبيع إن شاء ؛ لأن تلقي الملك فيه من جهته الآن

Segala yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika kepemilikan pembeli hilang dan kembali kepadanya melalui hibah atau sebab lain yang tidak ada imbalannya. Adapun jika kepemilikan pembeli hilang karena suatu sebab apa pun, kemudian kembali kepadanya melalui jual beli, lalu ia jatuh pailit, maka kepailitannya telah terbukti atas harga pertama pada jual beli pertama dan terbukti pula atas harga kedua. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa hak untuk melakukan penarikan kembali (hak raj‘) menjadi milik penjual kedua, dan inilah qiyās; maka ia boleh menarik kembali barang yang dijual jika ia menghendaki, karena kepemilikan atas barang tersebut sekarang berasal dari pihaknya.

والوجه الثاني حق الرجوع للأول؛ لأنه أسبق فهو أولى بالتقديم وهذا يتجه بالبناء على أن الرجوع يثبت في الملك الذي زال وعاد كما ذكرناه فكأن الملك لم يزل في حق الأول وحقه مستدام فيه

Pendapat kedua adalah hak untuk kembali kepada pihak pertama; karena ia lebih dahulu sehingga lebih berhak untuk didahulukan. Hal ini dapat diterima jika didasarkan pada pendapat bahwa hak untuk kembali tetap berlaku pada kepemilikan yang telah hilang lalu kembali lagi, sebagaimana telah kami sebutkan, sehingga seakan-akan kepemilikan itu tidak pernah hilang bagi pihak pertama dan haknya tetap berlangsung di dalamnya.

والوجه الثالث أنهما يستويان فيه؛ لأن للأول حق السبق وللثاني حق الدنوّ والقربِ واطرادِ الملك من غير تقطع وإذا تقابل المعنيان أوجب ذلك أن يستويا فيرجع كلٌّ بنصف الجارية ويضارب بنصف الثمن

Alasan ketiga adalah bahwa keduanya setara dalam hal ini; karena pihak pertama memiliki hak atas prioritas, sedangkan pihak kedua memiliki hak atas kedekatan dan kesinambungan kepemilikan tanpa terputus. Jika kedua makna ini saling berhadapan, maka hal itu mengharuskan keduanya disamakan, sehingga masing-masing mendapatkan setengah dari budak perempuan tersebut dan bersaing atas setengah dari harganya.

ثم نفرع فنقول

Kemudian kita merinci dan mengatakan

إن عفا الأول فالحق للثاني وجهاًً واحداً وإن عفا الثاني فهل للأول حق الرجوع فعلى وجهين مبنيين على أنه لو زال ملكه بهبةٍ ثم عاد بمثلها أو بإرث فهل يثبت للبائع حق الرجوع فيه الخلافُ الذي تقدّم

Jika yang pertama memaafkan, maka hak berpindah kepada yang kedua menurut satu pendapat. Namun jika yang kedua yang memaafkan, apakah yang pertama berhak untuk kembali? Ada dua pendapat yang dibangun atas permasalahan: jika kepemilikannya hilang karena hibah, lalu kembali dengan hibah serupa atau melalui warisan, apakah penjual berhak untuk kembali? Inilah perbedaan pendapat yang telah dijelaskan sebelumnya.

هذا كله إذا كان قد خرج عن ملك المشتري وعاد

Semua ini berlaku jika barang tersebut telah keluar dari kepemilikan pembeli dan kemudian kembali lagi.

فإن لم يخرج عن ملكه بل اطرد ملكه فلا يخلو إما أن تعلّق به حق الغير أو لم يتعلق فإن تعلق به حق الغير لم يخل إما أن يكون متعلقاً بعينه أو لا بعينه فإن كان متعلقاً بعينه كحق المرتهن والمجني عليه والكتابة فلا يملك البائع إبطال هذه الحقوق ولكن لو صبر حتى فك عن الرهن وبرىء عن الجناية فإنه يرجع الآن هكذا قال فقهاؤنا

Jika barang itu tidak keluar dari kepemilikannya, melainkan tetap berada dalam kepemilikannya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ada hak orang lain yang terkait dengannya atau tidak. Jika ada hak orang lain yang terkait dengannya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah hak itu terkait langsung dengan barang tersebut atau tidak. Jika hak itu terkait langsung dengan barang tersebut, seperti hak pemegang gadai, korban tindak pidana, dan hak dalam akad kitābah, maka penjual tidak berhak membatalkan hak-hak tersebut. Namun, jika ia bersabar hingga barang tersebut lepas dari gadai dan terbebas dari tindak pidana, maka ia dapat kembali (mengambil haknya). Demikianlah yang dikatakan oleh para fuqahā’ kita.

وقد ذكرت طرفاً من هذا في أحكام الرد بالعيب

Saya telah menyebutkan sebagian dari hal ini dalam pembahasan hukum pengembalian barang karena cacat.

وأما إذا كان مكاتباً فصبر حتى رَقَّ المكاتَب وعجز عن أداء النجوم قال بعض أصحابنا هذا يخرّج على الوجهين؛ لأن الكتابة ألحقته في أحكام الاستقلال بالأحرار فيجعل الاتصاف بها والعود إلى الرق المطلق بمثابة زوال الملك في المبيع وعوده

Adapun jika ia adalah seorang mukatab, lalu ia bersabar hingga mukatab tersebut menjadi lemah dan tidak mampu membayar cicilan-cicilannya, sebagian ulama kami mengatakan bahwa hal ini dikembalikan kepada dua pendapat; karena status mukatab telah menjadikannya dalam hukum-hukum kemandirian seperti orang-orang merdeka, maka status tersebut dan kembalinya ia kepada perbudakan sepenuhnya dipersamakan dengan hilangnya kepemilikan pada barang yang dijual dan kembalinya kepemilikan itu.

هذا إذا كان الحق متعلقاً بالعين

Ini berlaku jika hak tersebut berkaitan dengan benda tertentu.

فأما إذا كان متعلقاً بالمنفعة كالإجارة والتزويج فيثبت للبائع حقُّ الرجوع ناجزاً ولكن المنافع تبقى مستحقة أما منافع الإجارة فإلى الاستيفاء ومنافع الزوج لا تتأقت فهي مستحقة ما دامت الزوجية

Adapun jika berkaitan dengan manfaat seperti ijarah (sewa-menyewa) dan pernikahan, maka penjual berhak melakukan khiyar (hak untuk membatalkan) secara langsung, namun manfaat-manfaat tersebut tetap menjadi hak. Adapun manfaat ijarah, maka tetap menjadi hak hingga diambil (dimanfaatkan), sedangkan manfaat istri tidak terbatas waktu, sehingga tetap menjadi hak selama masih ada hubungan pernikahan.

فأمّا إذا كان المبيع قائماً لم يتبدل الملك فيه ولم يتعلق فيه حق فلا يخلو إما أن يكون على هيئته التي كان عليها غير متغير لا بزيادة ولا بنقصان وإما أن يكون متغيراً فإن كان غير متغير فإنه يرجع فيه كما قدمناه

Adapun jika barang yang dijual masih ada dan kepemilikan atasnya belum berubah serta tidak ada hak yang terkait dengannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi barang tersebut tetap dalam keadaan semula, tidak berubah baik dengan penambahan maupun pengurangan, atau bisa jadi telah berubah. Jika barang tersebut tidak berubah, maka ia dikembalikan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وإن كان متغيراً لم يخل إما أن يتغير بزيادة أو نقصان فإن تغير بزيادةٍ لم تخل الزيادة إما أن تكون متصلةً وإما أن تكون منفصلة فإن كانت متصلة رجع البائع فيها مع الزيادة ولا مبالاة بالزيادة المتصلة في قواعد الشريعة إلا في أصلٍ واحد وهو إذا أصدق الرجل امرأته عيناً فزادت في يدها زيادة متصلة وطلقها الزوج قبل المسيس والعين زائدة فللمرأة أن تتمسك بعين الصداق ويرجع الزوج عليها بنصف القيمة ولا فرق بين أن تكون موسرة أو معسرة

Jika barang tersebut mengalami perubahan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: berubah karena penambahan atau pengurangan. Jika berubah karena penambahan, maka penambahan itu bisa jadi bersifat menyatu atau terpisah. Jika penambahan itu menyatu, maka penjual berhak mengambil kembali barang tersebut beserta penambahannya, dan penambahan yang menyatu tidak dianggap penting dalam kaidah-kaidah syariat kecuali dalam satu pokok saja, yaitu jika seorang laki-laki menjadikan suatu barang sebagai mahar untuk istrinya, lalu barang itu bertambah di tangan istrinya dengan penambahan yang menyatu, kemudian suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, dan barang tersebut telah bertambah, maka istri berhak mempertahankan barang mahar itu, dan suami berhak menuntut setengah dari nilainya. Tidak ada perbedaan apakah istri itu mampu atau tidak mampu membayar.

ولو أفلست والعين الزائدة في يدها وإذا لم يرجع الزوج لم يملك شيئاً إلا المضاربة ففي هذه الصورة وجهان أحدهما أنه ليس له إلا القيمةُ والمضاربة بها؛ فإن الزيادة قطعت حقه من العين

Jika istri jatuh pailit sementara barang tambahan masih berada di tangannya, dan apabila suami tidak menarik kembali (haknya), maka ia tidak memiliki apa pun kecuali mudharabah. Dalam kasus ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa suami hanya berhak atas nilai barang tersebut dan bermudharabah dengannya; karena tambahan tersebut telah memutuskan haknya atas barang itu.

والوجه الثاني وهو اختيار أبي إسحاق المروزي أنه يرجع إلى نصف العين وإن زادت لضرورة المضاربة والإفلاسُ إذا كان يسلط على رفع أصل العقد فلا يبعد أن يؤثر في قطع حقها من الاختصاص بالصّداق لمكان الزيادة ثم عَسُرَ على الأصحاب الفرقُ بين الصداق وبين سائر الأصول فيما يتعلق بالزيادة المتصلة

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Ishaq al-Marwazi, adalah bahwa pengembalian dilakukan pada setengah pokok harta, meskipun jumlahnya bertambah karena kebutuhan mudharabah. Adapun pailit, jika dapat membatalkan akad pokok, maka tidak mustahil hal itu juga berpengaruh dalam memutuskan hak istri atas kekhususan mahar karena adanya tambahan tersebut. Kemudian, para ulama kesulitan membedakan antara mahar dan pokok-pokok harta lainnya dalam hal yang berkaitan dengan tambahan yang menyatu.

ولعل المرضيَّ القريبَ أن الجهات التي يثبت فيها استردادُ العين تنقسم فمنها الفسخ والفسوخ تستأصل الأسباب من أصولها فلا يبقى معها عُلقة لمن عليه الرجوع ومنها ما يهجم على قطع الملك كالرجوع في الهبة فهو في معنى الفسخ والزوج بطلاقه ليس فاسخاً ولا هاجماً على الرجوع وإنما التشطير حكم من الشرع لم ينشئه الزوج بسبب يقطع أصلاً كالفسخ ولم يتعمد قطع الملك فقوي تعلُّقُها بعين الصداق

Kemungkinan pendapat yang mendekati kebenaran adalah bahwa sebab-sebab yang memungkinkan kembalinya barang (yang telah diberikan) terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya adalah pembatalan (fasakh), di mana pembatalan tersebut mencabut sebab-sebab dari akarnya sehingga tidak tersisa lagi hubungan apa pun bagi pihak yang harus mengembalikan. Ada pula sebab yang secara langsung memutuskan kepemilikan, seperti penarikan kembali hibah, yang dalam hal ini serupa dengan fasakh. Sedangkan suami ketika menjatuhkan talak, ia tidak melakukan fasakh dan tidak secara langsung memutuskan hak kepemilikan. Pembagian (harta) setengah merupakan ketetapan dari syariat yang tidak diciptakan oleh suami melalui suatu sebab yang memutuskan dari akarnya seperti fasakh, dan ia juga tidak sengaja memutuskan kepemilikan. Oleh karena itu, keterkaitan istri dengan barang mahar tetap kuat.

فإن قيل ما تقولون فيه إذا زاد الصّداق في يدها ثم ارتدت قبل المسيس قلنا اختلف أصحابنا في ذلك فقال قائلون المرأة أولى بعين الصداق قياساً على تشطير الصداق عند الطلاق والصحيح أن الصداق يرتد إلى الزوج؛ فإن طريقه الفسخ وقد ذكرنا أنَّ الفسوخ تستأصل الأسباب والعلائق

Jika ditanyakan, “Bagaimana pendapat kalian jika mahar itu bertambah di tangan istri, lalu ia murtad sebelum terjadi hubungan suami istri?” Kami katakan, para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian berpendapat bahwa wanita lebih berhak atas mahar tersebut, dengan qiyās pada pembagian setengah mahar saat terjadi talak. Namun pendapat yang benar adalah bahwa mahar itu kembali kepada suami, karena jalan keluarnya adalah fasakh, dan telah kami sebutkan bahwa fasakh itu menghapus seluruh sebab dan hubungan.

هذا في الزوائد المتّصلة

Ini berlaku pada tambahan-tambahan yang bersambung.

فأما الزياداتُ المنفصلة كالثمار والأولاد والألبان وما في معانيها فهي خالصة للمشتري مصروفةٌ إلى ديون الغرماء والبائع يرجع في عين المبيع

Adapun tambahan-tambahan yang terpisah seperti buah-buahan, anak, susu, dan yang semakna dengannya, maka semuanya menjadi hak penuh pembeli dan digunakan untuk membayar utang para kreditur, sedangkan penjual berhak kembali pada barang yang dijual itu sendiri.

هذا كله إذا كان التغير بالزيادة

Semua ini berlaku jika perubahan tersebut berupa penambahan.

فأما إذا كان التغير بالنقصان لم يخل إما أن يكون نقصان جزء أو نقصانَ صفة فإن كان نقصان جزء مثل أن يبيع عبدين ويموتَ أحدُهما في يد المشتري ويبقى الثاني وما كان قبض البائع من الثمن شيئاًً؛ فإنه يرجع في الباقي من المبيع ويضارب الغرماء بقسطٍ من الثمن وتفصيل التقسيط يأتي في أثناء الكتاب إن شاء الله تعالى؛ فإن هذا الفصلَ في حكم التراجم والمعاقد وشرح ما نفصل بين أيدينا

Adapun jika perubahan itu berupa pengurangan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: pengurangan bagian atau pengurangan sifat. Jika pengurangan bagian, seperti seseorang menjual dua budak lalu salah satunya meninggal di tangan pembeli dan yang satunya masih tersisa, sedangkan penjual belum menerima sedikit pun dari harga, maka ia berhak kembali pada sisa barang yang dijual dan bersaing dengan para kreditur atas bagian dari harga. Rincian tentang pembagian ini akan dijelaskan di tengah-tengah kitab, insya Allah Ta‘ala. Karena bagian ini termasuk dalam hukum judul-judul dan akad-akad, serta penjelasan yang akan kami uraikan di hadapan kita.

فأما إذا كان النقصان راجعاً إلى الصفة فلا يخلو إمَّا أن ينتقص المبيع بآفة أو بجناية جانٍ فإن انتقص بآفة سماويةٍ مثل أن سلم إليه العبد المبيع فاعورّت عينُه في يده أو شَلَّت يده فنقول للبائع المبيعُ كما ترى فإن رضيتَ به معيباً فارجع فيه ولا حظَّ لك في غيره وإن أردت أن تكون أُسوة الغرماء فضاربهم بالثمن

Adapun jika kekurangan itu kembali kepada sifat, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah barang yang dijual itu berkurang karena musibah atau karena perbuatan orang lain. Jika berkurang karena musibah dari langit, seperti misalnya budak yang dijual telah diserahkan kepadanya lalu matanya menjadi buta atau tangannya menjadi lumpuh ketika berada di tangannya, maka kami katakan kepada penjual: “Barang yang dijual itu sebagaimana yang kamu lihat. Jika kamu rela menerimanya dalam keadaan cacat, maka ambillah kembali dan kamu tidak berhak atas selainnya. Namun jika kamu ingin menjadi seperti para kreditur lainnya, maka tuntutlah mereka dengan harga barang tersebut.”

والعيب السماوي بالمبيع في يد المشتري في حق فسح البائع بمثابة العيب الحادث

Cacat yang terjadi pada barang yang dibeli di tangan pembeli, dalam hal hak penjual untuk membatalkan, diperlakukan seperti cacat yang baru terjadi.

في يد البائع بآفة سماوية في حق فرع المشتري وقد ذكرنا في أحكام العيوب أن المشتري يتخيّر إن شاء فسخ البيع بالعيب الحادث في يد البائع وإن شاء أجازه بتمام الثمن

Jika terjadi cacat karena musibah yang menimpa barang di tangan penjual, maka hal itu menjadi hak bagi pihak pembeli. Telah kami sebutkan dalam hukum-hukum cacat bahwa pembeli memiliki hak memilih: jika ia mau, ia dapat membatalkan jual beli karena cacat yang terjadi di tangan penjual; dan jika ia mau, ia dapat melanjutkan akad dengan membayar harga penuh.

هذا سبيل البائع مع المشتري فيما نحن فيه

Inilah cara penjual berinteraksi dengan pembeli dalam masalah yang sedang kita bahas.

ولو حدث النقصُ بجناية لم يخل إمّا أن يكون الجاني أجنبياً وإمّا أن يجني المشتري فإن كان أجنبياً فلا شكّ أنه يلتزمُ الأرشَ للمشتري ثم الأصح أنه يلتزمه باعتبار النسبة إلى الجملة فجراح العبد من قيمته كجراح الحرّ من ديته فإن كان قطع يداً أو عوَّر عيناً فنصف القيمة واجبٌ على الجاني

Jika terjadi kekurangan (cacat) karena suatu tindak pidana, maka pelakunya bisa jadi orang lain (asing) atau pembelinya sendiri. Jika pelakunya adalah orang lain, tidak diragukan lagi bahwa ia wajib membayar arsy (ganti rugi) kepada pembeli. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa ia wajib membayar arsy tersebut berdasarkan perbandingan terhadap keseluruhan (nilai budak), sebagaimana luka pada budak diukur dari nilainya, seperti luka pada orang merdeka diukur dari diyat-nya. Jika pelaku memotong tangan atau merusak mata, maka setengah dari nilai budak wajib dibayar oleh pelaku.

وإذا آل الأمر إلى البائع قلنا له أرش العيب على الجملة محطوط عنك؛ فإنَّا وجدنا للضمان فيه متعلَّقاً فإذا لم يتعطل ذلك العيب في نفسه لم يطوّق البائع أمره مجَّاناً ولكن المعتبر في حق البائع نقصان القيمة لا التقدير الشرعي المتعلق بنسبة الأعضاء إلى جملتها وبيان ذلك أنَّ الجاني التزم للمشتري بقطع يده نصفَ القيمة وكان انتقص ثلث القيمة بالسوق فيعتبر في حق البائع نقصانُ السوق فنقول كأنك ظفرت بثلثي المبيع فارجع فيما وجدت وضارب الغرماء بثلث الثمن ويصير نقصان الصفة في هذه القسمة بمثابة نقصان الجزء

Jika perkara ini kembali kepada penjual, kami katakan kepadanya: arsy al-‘ayb secara keseluruhan telah gugur darimu; karena kami menemukan adanya keterkaitan tanggungan (dhamān) di dalamnya. Maka, selama cacat tersebut tidak hilang dengan sendirinya, penjual tidak dibebani urusan itu secara cuma-cuma. Namun, yang menjadi pertimbangan bagi penjual adalah penurunan nilai (harga pasar), bukan taksiran syar‘i yang berkaitan dengan persentase anggota tubuh terhadap keseluruhannya. Penjelasannya: pelaku (jāni) telah berkomitmen kepada pembeli untuk memotong tangannya dengan setengah nilai, sementara di pasar nilainya berkurang sepertiga. Maka, yang diperhitungkan bagi penjual adalah penurunan harga pasar. Kami katakan: seolah-olah engkau memperoleh dua pertiga dari barang yang dijual, maka kembalikan apa yang kau temukan dan bersainglah dengan para kreditur atas sepertiga harga. Dengan demikian, penurunan sifat dalam pembagian ini setara dengan penurunan bagian.

فإن قيل هلا اعتبرتم تقدير الشرع في حق البائع قلنا الأطرافُ تتقدرُ في الجناية فأمَّا المعاوضاتُ فالأعواض تتقسط على المعوَّضات باعتبار القيم وأرش الجناية تقدير الشرع

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mempertimbangkan ketentuan syariat dalam hak penjual?” Kami katakan, anggota tubuh ditetapkan kadarnya dalam kasus jinayah (pelanggaran), adapun dalam mu‘āwadah (transaksi pertukaran), maka imbalan dibagi secara proporsional terhadap objek yang dipertukarkan berdasarkan nilai, sedangkan diyat jinayah adalah ketentuan syariat.

ولو التزمنا هذا فربما يلقانا محالٌ لا سبيل إلى التزامه؛ فإن الجاني لو قطع يدي عبدٍ معا فعليه كمالُ قيمته فإذا أفلس مشتري ذلك العبد بالثمن لم يمكنا أن نقول ليس العبد الأقطع موجوداً ويستحيل أن نثبت حقَّ الرجوع فيه ثم نُثبت المطالبةَ بجملة الثمن نظراً إلى ما وجب على الجاني

Jika kita berpegang pada hal ini, mungkin kita akan menghadapi sesuatu yang mustahil untuk dipegang; sebab jika seseorang melakukan kejahatan dengan memotong kedua tangan seorang budak sekaligus, maka ia wajib membayar nilai penuh budak tersebut. Jika kemudian pembeli budak itu bangkrut dan tidak mampu membayar harga budak, kita tidak bisa mengatakan bahwa budak yang kedua tangannya terpotong itu tidak ada, dan mustahil untuk menetapkan hak untuk menarik kembali budak tersebut, lalu menetapkan tuntutan atas seluruh harga budak hanya dengan mempertimbangkan apa yang wajib dibayar oleh pelaku kejahatan.

هذا إذا كان الجاني هو الأجنبي

Ini berlaku jika pelaku adalah orang asing.

فأما إذا جنى المشتري على العبد فالصحيح أن المشتري كالأجنبي في حكم الجناية وتفاصيل الرجوع وقد مضى ذلك مبيناً الآن

Adapun jika pembeli melakukan tindak pidana terhadap budak, maka pendapat yang sahih adalah bahwa pembeli diperlakukan seperti orang lain (ajnabi) dalam hukum tindak pidana dan rincian hak untuk menuntut ganti rugi, dan hal itu telah dijelaskan sebelumnya.

ومن أصحابنا من قال حكم جناية المشتري حكم جناية البائع على المبيع قبل

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa hukum jinayah (tindak pidana) yang dilakukan oleh pembeli atas barang yang dibeli adalah sama dengan hukum jinayah yang dilakukan oleh penjual terhadap barang dagangan sebelum terjadinya akad jual beli.

القبض حتى نقول في قولٍ إنها كجناية أجنبي وقد مضى وفي قولٍ نجعل أثر جنايته كآفة سماوية

Penyerahan (qabḍ) hingga kami mengatakan dalam satu pendapat bahwa hal itu seperti tindak pidana orang lain, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Dalam pendapat lain, kami menganggap akibat tindak pidananya seperti musibah alam (āfah samāwiyyah).

والجملة في ذلك أن المشتري والمبيعُ في يده كالبائع في المبيع قبل القبض

Secara ringkas, dalam hal ini, pembeli yang memegang barang yang dibeli posisinya seperti penjual terhadap barang sebelum barang tersebut diserahkan.

فهذا مجامع القول في التغايير التي تلحق المبيع حكماً وحقيقة

Inilah rangkuman pembahasan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada objek jual beli, baik secara hukum maupun secara hakikat.

فرع إذا اشترى حنطة فبثها بذراً فنبت الزرع وأحصد ثم أفلس المشتري فالحنطة الحاصلة من زرع ذلك البذر لمن اختلف أصحابنا فيها فمنهم من قال نجعلها مبيعة ونقدر كثرتها زيادة متصلة كالعبد يشتريه طفلا ثم يشب ويترعرع والفسيل يشتريه ويغرسه ثم يصير أشجاراً فيثبت للبائع الرجوع إذاً ولا حكم لتلك الكثرة

Cabang: Jika seseorang membeli gandum lalu menaburkannya sebagai benih, kemudian tumbuhlah tanaman dan dipanen, lalu pembeli jatuh pailit, maka gandum yang dihasilkan dari tanaman benih tersebut menjadi bahan perbedaan pendapat di antara para ulama kami. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kita menganggapnya sebagai barang yang dijual, dan kita menganggap pertambahannya sebagai tambahan yang menyatu, seperti seseorang membeli budak dalam keadaan masih kecil lalu tumbuh dewasa dan berkembang, atau membeli bibit lalu menanamnya hingga menjadi pohon-pohon, maka penjual berhak untuk menarik kembali barangnya dalam hal ini, dan pertambahan tersebut tidak memiliki pengaruh hukum.

ومن أصحابنا من لا يجعل الحبَّ الحاصل من الزرع بمثابة مبيع زائدٍ ولكنا نجعلها أعيانا مستفادة في ذواتها وليس للمشتري إلا المضاربة ووجه ذلك أن البذر يعفَن تحت التراب ثم ينشأ الزرع منه بعد مصيره إلى حالة العفن وفي هذه الحالة لا يُعدّ فيها مالاً ثم الزرع نشءٌ جديد

Sebagian dari ulama kami tidak menganggap hasil gabah dari tanaman sebagai barang tambahan yang dijual, tetapi kami menganggapnya sebagai benda yang diperoleh secara mandiri pada dirinya sendiri, dan pembeli hanya berhak atas mudharabah. Alasannya adalah bahwa benih akan membusuk di dalam tanah, kemudian tumbuhlah tanaman darinya setelah benih itu menjadi busuk, dan dalam keadaan seperti itu benih tidak lagi dianggap sebagai harta, lalu tanaman yang tumbuh itu adalah sesuatu yang baru.

ومن هذا ما لو اشترى بيضة وأحضنها دجاجة فتفقأت عن فرخ من أصحابنا من جعل الفرخ مبيعا وقدّر ما لحقه من تغايير الخلقة بمثابة الزيادة المتصلة

Di antara contohnya adalah apabila seseorang membeli telur, lalu telur itu dierami oleh seekor ayam hingga menetas menjadi anak ayam. Sebagian ulama dari kalangan mazhab kami berpendapat bahwa anak ayam tersebut termasuk barang yang dijual, dan perubahan bentuk yang terjadi padanya dianggap sebagai tambahan yang menyatu dengan barang tersebut.

ومنهم من لم يقدره مبيعاً ولم يُثبت للبائع حقَّ الرجوع

Sebagian dari mereka tidak menganggapnya sebagai objek jual beli dan tidak menetapkan hak khiyar bagi penjual.

ومن هذا القبيل ما لو اشترى عصيراً فانقلب خمراً في يد المشتري ثم انقلبت الخمر خلا فالخل هل يكون مبيعاً أم لا فيه التردد الذي ذكرناه ولا خلاف أن الزرع مُلِك من البذر مِلْكِه وكذلك القول في الفرخ والخل

Demikian pula, jika seseorang membeli jus anggur lalu berubah menjadi khamar di tangan pembeli, kemudian khamar itu berubah menjadi cuka, maka mengenai cuka tersebut apakah menjadi barang yang dibeli atau tidak, terdapat keraguan sebagaimana yang telah kami sebutkan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa tanaman menjadi milik dari benih karena kepemilikannya, demikian pula halnya dengan anak burung dan cuka.

وسنذكر هذه المسائل في موقعها في كتاب الغصوب إن شاء الله تعالى

Kami akan menyebutkan masalah-masalah ini pada tempatnya dalam Kitab al-Ghushub, insya Allah Ta‘ala.

وكذلك لو اشترى رجل أرضاً مزروعة وكان الزرع بقلا لم يُسنبِل بعدُ فإذا ظهرت السنابل ثم أفركت وديست فهل نجعل الحب مبيعاً ذكر العراقيون وجهين وبنَوْهما على المسائل التي تقدمت ورأَوْا جعلَ الحب مبيعاً وقد كان المشترَى زرعا أوْلى؛ من جهة أن الزرع يشمل الأخضرَ والمسنبِل فالسنبلة تعد من الزرع فهي بالاندراج تحت ما كان مبيعا أولى من الفرخ بالإضافة إلى البيض؛ فإنهما متباينان صفةً واسماً

Demikian pula, jika seseorang membeli sebidang tanah yang telah ditanami dan tanaman tersebut masih berupa rerumputan yang belum berbulir, kemudian setelah itu muncul bulir-bulir, lalu bulir itu dipetik dan digiling, apakah kita menganggap biji-bijian itu sebagai barang yang dijual? Ulama Irak menyebutkan dua pendapat dan mendasarkan keduanya pada permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka berpendapat bahwa menjadikan biji-bijian sebagai barang yang dijual, padahal yang dibeli adalah tanaman, lebih utama; karena tanaman mencakup yang masih hijau maupun yang sudah berbulir, sehingga bulir termasuk bagian dari tanaman. Maka, memasukkan bulir ke dalam apa yang telah dijual lebih utama daripada memasukkan anak burung ke dalam telur; karena keduanya berbeda baik dari segi sifat maupun nama.

وحاصل القول في ذلك أن التغايير التي لا تنتهي إلى قلب الجنس وتغيير الاسم لا حكم لها ويبقى ما كان مبيعاً على حكمه حتى يثبت للبائع الرجوع

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa perubahan-perubahan yang tidak sampai mengubah jenis dan nama barang tidak berpengaruh hukum, dan barang yang telah dijual tetap berada pada ketentuan hukumnya semula hingga penjual memperoleh hak untuk mengambil kembali.

ثم إن كان التغيير إلى زيادة متصلة فهي للبائع إذا أراد الرجوع

Kemudian, jika perubahan itu berupa penambahan yang bersambung, maka penambahan tersebut menjadi milik penjual apabila ia ingin menarik kembali.

وما تغير إلى نقصانٍ فلا حكم له عند قصد الرجوع والبائع على خِيَرته إن شاء ضارب بالثمن وإن شاء قنع بالمبيع الناقص

Dan apa yang berubah menjadi berkurang, maka tidak ada hukumnya ketika ada maksud untuk mengembalikan, dan penjual memiliki pilihan: jika ia mau, ia dapat menuntut harga, dan jika ia mau, ia dapat menerima barang yang telah berkurang tersebut.

وكل تغييرٍ ينتهي إلى قلب الجنس والاسم ولكن المتغير مترتب على ما كان مبيعاً كالزرع والبذر والفرخ والبيض ففيه الخلاف وما يغير الجنس ويبقى اشتمال الاسم معه ففيه خلافٌ قريب

Setiap perubahan yang berujung pada pergantian jenis dan nama, namun perubahan tersebut merupakan kelanjutan dari apa yang telah dijual, seperti tanaman, benih, anak burung, dan telur, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Adapun perubahan yang mengubah jenis tetapi nama tetap mencakupnya, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dekat.

وزوائد الأصول إذا انفصلت وإن حصلت من أصولها فهي منقطعة عنها؛ فإن الأصول قائمة على صفاتها وقد تجدّد منها ما تجدّد وليس كالبذر ينقلب زرعاً؛ فإنّه في نفسه ما بقي على ما كان عليه نعم الملك ينتظم الأصلَ والزيادةَ؛ فإنا لا نجد للزيادة مصرفاً أولى من مالك الأصل فإن قدرناها جزءاً من الأصل فلا كلام وإن لم نفصل وهو الرأي فالوجه أن نجعلها كصيود تتعقل بشبكات متهيئةٍ لها وما ذكرته أصدق شاهدٍ في أن الزوائد المنفصلة ليست من عين الأصول؛ إذ لو كانت من أعيانها لكانت كالحب الكثير ينبتها البذر اليسير وكان يدرج في

Tambahan-tambahan dari pokok jika terpisah, meskipun berasal dari pokoknya, maka ia terputus darinya; sebab pokok tetap dengan sifat-sifatnya dan darinya muncul sesuatu yang baru, dan itu tidak seperti benih yang berubah menjadi tanaman; karena benih itu sendiri tidak lagi seperti semula. Memang, kepemilikan mencakup pokok dan tambahannya; karena kita tidak menemukan pihak yang lebih berhak atas tambahan selain pemilik pokok. Jika kita menganggapnya sebagai bagian dari pokok, maka tidak ada masalah. Namun jika kita memisahkannya—dan inilah pendapat yang benar—maka sebaiknya kita menganggapnya seperti hewan buruan yang terperangkap dalam jaring yang memang disiapkan untuknya. Apa yang telah aku sebutkan adalah bukti paling nyata bahwa tambahan yang terpisah bukanlah bagian dari pokok; sebab jika ia merupakan bagian dari pokok, maka ia akan seperti banyak biji yang tumbuh dari sedikit benih, dan itu akan digabungkan dalam…

قياس المسائل التي نظمناها

Qiyās terhadap permasalahan-permasalahan yang telah kami susun

فصل

Bab

قال ولو باع نخلاً فيه ثمر أو طلعٌ قد أُبّر فاستثناها المشتري إلى آخره

Dan jika seseorang menjual pohon kurma yang di atasnya terdapat buah atau mayang yang telah dibuahi, lalu pembeli mengecualikan buah tersebut sampai habis, maka…

قوله فاستثناها المشتري لنفسه معناه فاشترطها لنفسه وهذا اللفظ يطلق في غالب الأمر في استثناء شيء من جملة فاستعملها للمشتري في معنى الاشتراط

Ucapannya “lalu pembeli mengecualikannya untuk dirinya sendiri” maksudnya adalah pembeli mensyaratkannya untuk dirinya sendiri, dan lafaz ini umumnya digunakan dalam konteks mengecualikan sesuatu dari suatu keseluruhan, sehingga digunakan untuk pembeli dalam makna pensyaratan.

والمسألة مصورة فيه إذا باع نخيلاً عليها ثمار ظاهرةٌ مؤبرة وأدخل الثمار في البيع ثم قبض المشتري الشجر والثمر واستهلك الثمرة وأفلس بالثمن كله فالبائع يرجع في الشجر ولا يكتفي بها؛ فإنها بعضُ المبيع بل يضارب بقسطٍ من الثمن يقابل الثمرة الفائتة

Permasalahan ini digambarkan dalam kasus ketika seseorang menjual pohon kurma yang di atasnya terdapat buah yang sudah tampak dan telah dibuahi, lalu buah tersebut dimasukkan ke dalam akad jual beli. Setelah itu, pembeli menerima pohon dan buahnya, kemudian menghabiskan buah tersebut dan jatuh pailit atas seluruh harga (pembayaran). Maka penjual berhak kembali mengambil pohonnya dan tidak cukup hanya dengan itu, karena pohon tersebut hanyalah sebagian dari barang yang dijual. Namun, penjual juga berhak menuntut bagian dari harga yang sebanding dengan buah yang telah hilang.

هذا الأصل ثابت لا شك فيه

Prinsip ini adalah sesuatu yang tetap dan tidak diragukan lagi.

ولكن لا يمكن الوصول إلى ما يرجع به من الثمن إلا بمعرفة قيمة الثمار وقيمة الأشجار ثم إذا بانت القيمتان قدَرَ توزيعَ الثمن على المبْلَغَيْن فما يقابل الثمر ضارب به وما يقابل الشجر يكتفي فيه بالشجر إن أراد الرجوع فيها؛ فيأخذ الشجر بقسطها ويضارب الغرماء بقسط الثمرة من الثمن

Namun, tidak mungkin mengetahui bagian harga yang dapat dikembalikan kecuali dengan mengetahui nilai buah-buahan dan nilai pohon-pohon. Setelah kedua nilai tersebut diketahui, maka dilakukan pembagian harga atas kedua jumlah tersebut. Bagian yang sepadan dengan buah-buahan digunakan untuk bersaing dengan para kreditur, sedangkan bagian yang sepadan dengan pohon cukup diambil dari pohon itu sendiri jika ingin mengambil kembali darinya; sehingga ia mengambil pohon sesuai bagiannya dan bersaing dengan para kreditur atas bagian buah-buahan dari harga tersebut.

والكلام وراء هذا في أن قيمة الثمرة متى تعتبر وكذا قيمة الشجر ولا يلقَى الناظرُ في الكتاب أمراً أولى بإنعام النظر فيه من هذا فهو عمدة الكتاب وسرّ الباب

Pembahasan setelah ini adalah mengenai kapan nilai buah dianggap berlaku, begitu pula nilai pohon, dan tidak ada hal yang lebih layak untuk dicermati secara mendalam oleh pembaca kitab ini selain hal tersebut, karena inilah pokok utama kitab dan inti dari pembahasannya.

قال الشافعي فيما نقله المزني تعتبر قيمة الثمرة بيوم القبض لا بيوم العقد ولا بيوم الجائحة هذا ما نقله ونحن نستوعب ما يتعلق بالثمرة ثم نذكر ما يتعلق بالشجر

Syafi‘i berkata, sebagaimana dinukil oleh al-Muzani, bahwa nilai buah-buahan ditetapkan berdasarkan harga pada hari penerimaan, bukan pada hari akad maupun pada hari terjadinya bencana. Inilah yang dinukilkan, dan kami akan membahas secara menyeluruh hal-hal yang berkaitan dengan buah-buahan, kemudian kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan pohon.

أما القول في الثمرة فقد ذهب المحققون إلى مخالفة النص المنقول وقالوا نعتبر أقلَّ القيمتين من يوم العقد والقبض فإن كانت قيمته يوم العقد أكثرَ وقيمتُه يوم القبض أقلَّ فالمشتري يقول لا تحتسب عليَّ زيادة كانت في يد البائع وإنما دخلت الثمرة في ضماني يوم قبضتُها فليس للبائع أن يعتبر زيادةً قبل ضمان المشتري

Adapun mengenai buah, para ahli yang teliti berpendapat berbeda dengan teks yang diriwayatkan, dan mereka mengatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai terendah dari dua nilai, yaitu pada hari akad dan hari penerimaan. Jika nilainya pada hari akad lebih tinggi dan nilainya pada hari penerimaan lebih rendah, maka pembeli berkata, “Tambahan nilai yang ada di tangan penjual tidak diperhitungkan atas diriku, karena buah tersebut baru masuk dalam tanggunganku pada hari aku menerimanya.” Maka penjual tidak berhak memperhitungkan tambahan nilai sebelum buah itu menjadi tanggungan pembeli.

وإن كانت قيمته يوم العقد أقلَّ وقيمته يوم القبض أكثر فالمشتري يقول ما كان من زيادةٍ بعد العقد فهي لي وحدثت على ملكي فليس للبائع أن يعتبرها في تقويم الثمن عليّ ولا شك أن قيمة الثمرة إذا كثرت كثر ما يرجع به من الثمن فإذاً للمشتري أن يقول لا تحتسب عليّ زيادةً إن حسبتها زاد مقدارُ ما ترجع به والزيادة تثبت ملكاً لي

Jika nilai barang pada hari akad lebih rendah dan nilainya pada hari penyerahan lebih tinggi, maka pembeli berkata: “Setiap kenaikan setelah akad adalah milikku dan terjadi di bawah kepemilikanku, sehingga penjual tidak berhak memperhitungkannya dalam penetapan harga terhadapku.” Tidak diragukan bahwa jika nilai buah-buahan bertambah, maka jumlah harga yang dapat dikembalikan juga bertambah. Maka dari itu, pembeli dapat berkata: “Janganlah engkau memperhitungkan kenaikan itu terhadapku, karena jika engkau memperhitungkannya, maka jumlah yang engkau kembalikan akan bertambah, dan kenaikan itu menjadi milikku.”

فإن قيل الزيادة المتصلة ينبغي ألا تفرد بالاعتبار؛ فإنها كانت تكون للبائع لو بقيت الثمار فالرجوع بحصتها من الثمن يجبُ أن يكون باعتبار زيادتها معها قلنا هذا غير سديد؛ فإنَّا لا ننكر أن الزيادة المتصلةَ حصلت للمشتري في ملكه ولكن إذا كانت العين قائمةً ومست الحاجة إلى ردّها تبعت الزيادةُ الأصلَ ضَرورةً وإذا فاتت العين بعدما طرأت عليها زيادةٌ متصلة في ملك المشتري فأي ضرورة تحوج إلى عدّ تلك الزيادة الحادثة في ملك المشتري في حق البائع حتى تكثر في التقويم ليكثر ما يرجع به

Jika dikatakan bahwa tambahan yang menyatu seharusnya tidak dipertimbangkan secara terpisah; sebab tambahan itu akan menjadi milik penjual jika buah-buahan tersebut tetap ada, maka pengembalian bagian dari harga seharusnya juga memperhitungkan tambahan tersebut bersamanya. Kami katakan, ini tidaklah tepat; karena kami tidak mengingkari bahwa tambahan yang menyatu itu memang terjadi dalam kepemilikan pembeli. Namun, jika barangnya masih ada dan ada kebutuhan untuk mengembalikannya, maka tambahan itu mengikuti barang pokok secara otomatis. Tetapi jika barang pokok telah hilang setelah terjadi tambahan yang menyatu dalam kepemilikan pembeli, maka tidak ada kebutuhan yang mengharuskan untuk memperhitungkan tambahan yang terjadi dalam kepemilikan pembeli tersebut bagi penjual, sehingga nilainya menjadi besar dan jumlah yang dikembalikan pun menjadi banyak.

فيلتأمل الفطن أول هذا الكلام؛ فإنه منشأ غائلة الفصل فقد حصل من وفاق المحققين أنا نعتبر أقل القيمتين للثمرة في يومي العقد والقبض

Hendaknya orang yang cerdas merenungkan awal dari pembicaraan ini, karena di sinilah munculnya bahaya perbedaan pendapat. Telah terjadi kesepakatan di antara para muhaqqiq bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai terendah dari dua nilai buah pada hari akad dan hari penyerahan.

وحكى صاحب التقريب قولا مرسلا من بعض الأصحاب أن الاعتبار بقيمة يوم القبض ويزعم هذا القائل أن القول مأخوذ من النص الذي نقله المزني

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan sebuah pendapat mursal dari sebagian sahabat (ulama) bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari penerimaan, dan orang yang berpendapat demikian mengklaim bahwa pendapat tersebut diambil dari nash yang dinukil oleh al-Muzanī.

فإن كانت قيمةُ يومِ القبض أقلَّ فلا شك في اعتبارها وإن كانت أكثرَ فكأن هذا القائلَ يعتبر تلك القيمة؛ مصيراً منه إلى تقويم الزيادة المتصلة للبائع بناء على أنها لو كانت باقية لكان البائع يأخذها بزيادتها

Jika nilai pada hari penerimaan lebih rendah, maka tidak diragukan lagi bahwa nilai itulah yang dianggap. Namun jika nilainya lebih tinggi, tampaknya pendapat ini mempertimbangkan nilai tersebut; hal ini karena ia berpendapat bahwa kenaikan nilai yang melekat pada barang dihitung untuk penjual, berdasarkan pertimbangan bahwa jika barang itu masih ada, penjual akan mengambilnya beserta kenaikannya.

وهذا وهمٌ عظيم؛ من جهة أن البائع ليس يرجع عند تلفها إلى قيمتها وإنما يرجع إلى قسطٍ من الثمن باعتبار قيمتها والقسط من الثمن إذا أُثبت فهو في مأخذ الأحكام على مضادة الرجوع في العين فنعتبر والحالة هذه بقسطٍ لا يحسب فيه حقّ المشتري عليه للبائع

Ini adalah kekeliruan besar; karena penjual, ketika barang itu rusak, tidak kembali kepada nilainya, melainkan kembali kepada bagian dari harga berdasarkan nilainya, dan bagian dari harga jika telah ditetapkan maka dalam pengambilan hukum-hukum bertentangan dengan pengembalian barang itu sendiri. Maka dalam keadaan seperti ini, kita mempertimbangkan bagian tersebut tanpa memperhitungkan hak pembeli atas penjual.

هذا أقصى الإمكان في التعبير عن هذا الغرض والفطن يبتدره والبليد لا يزداد في هذا المقام بزيادة البيان إلا حَبَطاً

Inilah batas maksimal dalam mengungkapkan maksud ini, orang yang cerdas akan segera memahaminya, sedangkan orang yang tumpul akalnya tidak akan bertambah pemahamannya di tempat ini meskipun penjelasan ditambah, kecuali hanya akan sia-sia.

ولا عود إلى ما ذكره صاحب التقريب؛ فإنه ساقط غير معتد به

Dan tidak kembali kepada apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb; karena hal itu gugur dan tidak dianggap.

هذا قولنا في القيمة التي نعتبرها للثمرة وهذه القيمة لا تستقل بإفادة غرضها دون الإحاطة بقيمة الشجر وقد اضطرب المحصلون في قيمة الشجر ونحن نأتي بما قالوه ونضبط حاصلَ الفصل عند نجازه بما يُبيّن مسلكَ كلِّ فريق

Inilah pendapat kami tentang nilai yang kami pertimbangkan untuk buah, dan nilai ini tidak dapat berdiri sendiri dalam memberikan tujuannya tanpa memperhitungkan nilai pohon. Para ahli berbeda pendapat mengenai nilai pohon, dan kami akan menyampaikan apa yang mereka katakan serta merangkum inti pembahasan ini ketika selesai, dengan penjelasan yang menunjukkan metode masing-masing kelompok.

قال بعض الأثبات من أصحاب القفال نعتبر في الشجر أكثرَ قيمةٍ من يومي العقد والقبض وهذا وإن كان في الظاهر يخالفُ ما ذكرناه في قيمة الثمرة فهو موافق له في المقصود؛ فإن قيمة الشجر إذا كثرت قلَّ ما يرجع به البائع من الثمر وقيمةُ الثمر إذا قلَّت قلَّ ما يرجع به البائع من ال ثمر فإن الشجرة يأخذها البائع بقسطه فإذا كثر قل ما يبقى وهذا الذي ذكرناه ضبط من طريق اللفظ والتحقيق وراءه

Beberapa ulama tepercaya dari kalangan sahabat al-Qaffal mengatakan bahwa dalam hal pohon, yang dijadikan acuan adalah nilai tertinggi antara hari akad dan hari penyerahan. Meskipun secara lahiriah hal ini tampak bertentangan dengan apa yang telah kami sebutkan mengenai nilai buah, namun pada hakikatnya keduanya sejalan dalam maksudnya; sebab jika nilai pohon tinggi, maka sedikit yang dapat diambil kembali oleh penjual dari buahnya, dan jika nilai buah rendah, maka sedikit pula yang dapat diambil kembali oleh penjual dari buahnya. Sebab pohon itu diambil oleh penjual sesuai bagiannya, sehingga jika nilainya tinggi, maka sedikit yang tersisa. Apa yang kami sebutkan ini adalah penjelasan secara lafaz, sedangkan hakikatnya ada pembahasan lebih lanjut di balik itu.

وذهب القاضي إلى مسلكٍ آخر فقال إن كانت قيمة الشجر يوم العقد أقلَّ وكانت يوم القبض أكثر فالاعتبار بقيمة يوم العقد واحتج عليه بأن قال إذا كان البائع يأخذ الشجر فالزيادة المتصلة مأخوذة له فلا تحسب عليه وكأنا نتبين بالأخرة أنها زادت له فليقع الاختصَار على قيمة العقد وليس ما نحن فيه بمثابة الثمرة؛ فإن الثمرة فائتةٌ فليست زيادتها منقلبة إلى البائع وليست مضمونةً له ضمان قيمة وقد حدثت للمشتري وهلكت له فلا تدخل في حساب التوزيع فأما زيادة الشجرة؛ فإنها منقلبة إلى البائع فلا تحسب عليه في حساب التوزيع

Qadhi mengambil pendekatan lain dengan mengatakan bahwa jika nilai pohon pada hari akad lebih rendah dan pada hari penyerahan lebih tinggi, maka yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari akad. Ia berdalil dengan mengatakan bahwa jika penjual mengambil pohon tersebut, maka tambahan yang menyatu dengan pohon itu menjadi haknya, sehingga tidak dihitung sebagai milik pembeli. Seolah-olah kita kemudian mengetahui bahwa tambahan itu menjadi milik penjual, maka cukup dijadikan patokan nilai pada saat akad. Keadaan ini tidak sama dengan buah-buahan; sebab buah-buahan itu telah hilang, sehingga pertambahannya tidak kembali kepada penjual dan tidak dijamin untuknya sebagai jaminan nilai. Buah-buahan itu telah terjadi pada pembeli dan rusak pada pembeli pula, sehingga tidak masuk dalam perhitungan distribusi. Adapun pertambahan pada pohon, maka itu kembali kepada penjual, sehingga tidak dihitung dalam perhitungan distribusi.

وللقائل الأول أن يقول حدوث هذه الزيادة على ملك المشتري لا شك فيه فإن كنا نردها على البائع وما حدثت في ملكه فالذي يقتضيه الإنصافُ أن نقول قدِّر هذه الزيادة أنها للبائع؛ كأنها كانت حالة العقد وإذا قرن بها لأنها متصلة بالمبيع فاعتبرها في قيمة المبيع وليس من الإنصاف أن تفوز بها وما حدثت في ملكك ولا تحسبها من المبيع

Bagi pendapat pertama, dapat dikatakan bahwa terjadinya tambahan ini pada kepemilikan pembeli tidak diragukan lagi. Jika kita mengembalikannya kepada penjual, padahal tambahan itu tidak terjadi dalam kepemilikannya, maka yang dituntut oleh keadilan adalah kita menganggap tambahan ini seolah-olah milik penjual, seakan-akan sudah ada saat akad. Dan karena tambahan itu melekat pada barang yang dijual, maka perhitungkanlah ia dalam nilai barang tersebut. Tidaklah adil jika engkau mendapatkan tambahan itu, padahal ia terjadi dalam kepemilikanmu, namun tidak engkau hitung sebagai bagian dari barang yang dijual.

هذا بيان المسلكين وهما متجهان

Ini adalah penjelasan tentang dua metode tersebut, dan keduanya memiliki arah yang jelas.

وكأنَّ الكلامَ في الزيادة المتصلة في غرضنا يتعلق بثلاث مراتب إحداها أن

Seolah-olah pembahasan tentang tambahan yang bersambung dalam konteks kita berkaitan dengan tiga tingkatan, yang pertama adalah bahwa…

البائع إذا كان يرجع في المبيع الزائد زيادة متصلة ولا حاجة إلى تقدير توزيع فإن المبيع

Penjual, jika ingin mengambil kembali barang yang dijual yang terdapat tambahan yang menyatu, dan tidak perlu memperkirakan pembagian, maka barang yang dijual…

بجملته باقٍ فإذا كان كذلك فلا نظر إلى الزيادة وهي تنقلب إلى البائع تبعاً للأصل

Keseluruhannya tetap ada, maka jika demikian, tidak perlu memperhatikan tambahan tersebut, dan tambahan itu kembali kepada penjual sebagai pengikut dari pokoknya.

المرتبة الثانية إن زاد شيء من المبيع وتلف واحتجنا إلى تقويم ذلك التالف المرجوع بقسط من الثمن يقابله فلا تعتبر الزيادة المتصلة بالحادثة في ملك المشتري بعد العقد؛ فإن تلك الزيادة ليست ترتد إلى البائع ولا قيمتُها فأخرجنا اعتبارها من البَيْن حتى كأنها زيادة متَّصلةٌ غيرُ معتد بها

Tingkatan kedua, jika ada tambahan pada barang yang dijual lalu barang tersebut rusak, dan kita perlu menaksir nilai barang yang rusak itu untuk dikembalikan dengan bagian dari harga yang sepadan dengannya, maka tambahan yang menyatu dengan barang yang terjadi dalam kepemilikan pembeli setelah akad tidak diperhitungkan; karena tambahan tersebut tidak kembali kepada penjual, begitu pula nilainya, sehingga kami mengeluarkan pertimbangannya dari perhitungan, seolah-olah tambahan yang menyatu itu tidak dianggap.

المرتبة الثالثة في زيادة ترتدّ مع أصلها إلى البائع ولكن تخلَّف الحكم في شيء لا يرجع إلى البائع باختلافها فهل نعتبر تلك الزيادة بمقدارٍ من الثمن يتعلق بغير العين التي رجع فيها أم لا نعتبرها كزيادة الأشجار المنقلبة إلى البائع إن اعتبرناها قلّ قسط الثمار وإن لم نعتبرها كثر قسطها هذا موضع تردد المحققين على ما حكيناه عن القاضي وغيره

Peringkat ketiga dalam tambahan yang kembali bersama pokoknya kepada penjual, namun hukum tertinggal dalam sesuatu yang tidak kembali kepada penjual karena perbedaannya. Apakah kita menganggap tambahan tersebut sebagai bagian dari harga yang berkaitan dengan selain barang yang dikembalikan, ataukah kita tidak menganggapnya seperti tambahan pohon yang kembali kepada penjual? Jika kita menganggapnya, maka bagian buahnya menjadi sedikit, dan jika tidak kita anggap, maka bagian buahnya menjadi banyak. Inilah tempat keraguan para ahli yang telah kami riwayatkan dari al-Qadhi dan yang lainnya.

وإذا تمهد أصل الفصل نهذبه الآن بالصور ثم ننعطفُ على الأصلِ ونَرِمّ ما نراه على إشكال في أطراف المسألة

Setelah pokok bahasan ini dijelaskan, sekarang kita akan memperjelasnya dengan contoh-contoh, kemudian kita akan kembali pada pokok permasalahan dan memperbaiki apa yang kita anggap masih bermasalah pada bagian-bagian dari permasalahan ini.

فنصور كأن قيمة الشجرة كانت مائة وقيمة الثمرة كانت خمسين فإذا لم تفرض زيادة ولا نقصان في الشجر والثمر وقد فاتت الثمر فيرجع البائع في الشجر ويأخذها بثلثي الثمن ويضارب بثلث الثمن في مقابلة الثمر

Kita membayangkan seolah-olah nilai pohon adalah seratus dan nilai buahnya adalah lima puluh. Jika tidak diasumsikan adanya penambahan atau pengurangan pada pohon dan buah, dan buah tersebut telah hilang, maka penjual kembali pada pohon dan mengambilnya dengan dua pertiga dari harga, dan menuntut sepertiga harga sebagai ganti buah.

ولو لم تختلف قيمة الشجر واختلفت قيمة الثمر فكانت يوم العقد تساوي خمسين وصارت تساوي يوم القبض خمساً وعشرين فالاعتبار بقيمة يوم القبض؛ فإنها أقل وقيمة الشجر لم تختلف فيأخذ البائع الشجر على نسبة الأخماس بأربعة أخماس ويضارب الغرماء بخمس الثمن في مقابلة الثمر

Jika nilai pohon tidak berubah tetapi nilai buahnya berbeda, misalnya pada hari akad nilainya lima puluh dan pada hari penyerahan menjadi dua puluh lima, maka yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari penyerahan karena itu lebih kecil, dan nilai pohon tidak berubah. Maka penjual mengambil pohon sesuai dengan perbandingan lima bagian, yaitu empat per lima, dan bersaing dengan para kreditur atas seperlima harga sebagai ganti buahnya.

ولو كانت قيمة الثمر يوم العقد خمسين فصارت يوم القبض تساوي مائة فلا اعتبار بالزيادة؛ والتوزيع على نسبة الثلث والثلثين كما تقدم هذا في تغيّر الثمر وبقاء الشجر

Jika nilai buah pada hari akad adalah lima puluh, lalu pada hari penerimaan menjadi seratus, maka kenaikan tersebut tidak dianggap; pembagian tetap berdasarkan proporsi sepertiga dan dua pertiga sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam hal perubahan buah dan tetapnya pohon.

فأما إذا تغيرت قيمة الشجر فنصور الشجر حالة العقد بحيث تساوي مائة وكانت حالة القبض تساوي مائة وخمسين وقيمة الثمرة كانت خمسين وبقيت كذلك أما من اعتبر في الشجر أكثرَ قيمةٍ فيحسب زيادة القيمة على البائع إذا رجع ويقول الشجر مائة وخمسون والثمر خمسون فيرجع البائع في الشجر بثلاثة أرباع الثمن ويضارب الغرماء بربع الثمن في مقابلة الثمر

Adapun jika nilai pohon berubah, maka kita gambarkan keadaan pohon saat akad bernilai seratus, sedangkan saat penyerahan bernilai seratus lima puluh, dan nilai buahnya adalah lima puluh dan tetap demikian. Adapun menurut pendapat yang mempertimbangkan nilai pohon yang lebih tinggi, maka kelebihan nilai tersebut dihitung untuk penjual jika ia menarik kembali, dan dikatakan: pohon bernilai seratus lima puluh dan buah bernilai lima puluh, maka penjual berhak atas tiga perempat dari harga pohon, dan bersaing dengan para kreditur atas seperempat harga sebagai ganti buah.

والقاضي يقول تلك الزيادة يفوز بها البائع غيرَ محسوبة عليه؛ فإنها زيادة متصلة فيأخذ الشجر إذاً بثلثي الثمن ويضارب بثلث الثمن

Dan hakim berkata, tambahan itu menjadi keuntungan bagi penjual dan tidak diperhitungkan atasnya; karena itu merupakan tambahan yang menyatu, maka ia mengambil pohon dengan dua pertiga harga dan bersaing dengan sepertiga harga.

ولو كانت الشجر تساوي مائة فصارت يوم القبض تساوي مائتين أمّا الأول يقول يأخذ البائع الشجر بأربعة أخماس الثمن ويضارب في مقابلة الثمر بخمس الثمن والقاضي لا يحسب الزيادة على البائع ويقول الحساب من المائة التي كانت قيمة الشجر

Jika nilai pohon itu seratus, lalu pada hari penyerahan menjadi dua ratus, maka menurut pendapat pertama, penjual mengambil pohon dengan empat per lima dari harga, dan bermuamalah mudharabah terhadap buahnya dengan seperlima harga. Sedangkan menurut pendapat qadhi, penambahan nilai tidak dihitung untuk penjual, dan perhitungan didasarkan pada seratus yang merupakan nilai pohon sebelumnya.

هذا بيان المذهب بالصور ثم ننعطف الآن على أمور قد تزل عن فهم الناظر فنقول

Ini adalah penjelasan mazhab beserta contohnya, kemudian sekarang kita akan beralih kepada beberapa hal yang mungkin luput dari pemahaman para pembaca, maka kami katakan:

القاضي لم يحسب الزيادة في الشجر على البائع ولكنه قال لو كانت الشجر تساوي مائة حالة العقد ثم نقصت فصارت تساوي خمسين فالنقصان محسوب على البائع؛ فإنه حدث من ضمانه

Hakim tidak memperhitungkan pertambahan pada pohon terhadap penjual, namun ia berkata: Jika pohon itu pada saat akad bernilai seratus, lalu kemudian berkurang sehingga nilainya menjadi lima puluh, maka kekurangan tersebut menjadi tanggungan penjual; karena hal itu terjadi dalam masa tanggung jawabnya.

فإذا كانت الشجر تساوي يوم العقد مائة فصارت تساوي يوم القبض خمسين فيأخذها البائع بحساب المائة وهي الثلثان ويضارب بالثلث أما القاضي فيقول النقصان محسوب على البائع

Jika pada hari akad, nilai pohon seratus, lalu pada hari penyerahan nilainya menjadi lima puluh, maka penjual mengambilnya berdasarkan nilai seratus, yaitu dua pertiga, dan bermudharabah dengan sepertiganya. Adapun menurut qadhi, penurunan nilai tersebut menjadi tanggungan penjual.

وأما من اعتبر الأكثر من قيمة الشجر فأكثر القيمتين المائة فيتفق المسلكان لا محالة وإنما يختلفان في العلّة

Adapun menurut pendapat yang mempertimbangkan nilai yang lebih besar dari nilai pohon, maka nilai yang lebih besar dari keduanya adalah seratus, sehingga kedua metode tersebut pasti akan sepakat; hanya saja keduanya berbeda dalam alasan (illat)-nya.

ومما يتعلق بأطراف المسألة أنا قلنا في الثمرة يعتبر فيها أقل قيمتي العقد والقبض ولم نتعرض لما بينهما

Adapun hal yang berkaitan dengan cabang permasalahan ini, kami telah mengatakan bahwa pada buah-buahan, yang dijadikan acuan adalah nilai terendah antara nilai saat akad dan nilai saat penerimaan, dan kami tidak membahas mengenai nilai di antara keduanya.

وهذا مما يخطر للفقيه فنفصله ونقول إذا كان قيمة الثمرة خمسين يوم العقد فرجعت إلى خمسٍ وعشرين في يد البائع ثم عادت إلى خمسين فما حكم ذلك النقصان إذا تخلل وزال قلنا

Ini adalah hal yang terlintas dalam benak seorang faqih, maka kami akan merincinya dan mengatakan: Jika nilai buah-buahan itu lima puluh pada hari akad, lalu turun menjadi dua puluh lima di tangan penjual, kemudian kembali lagi menjadi lima puluh, maka bagaimana hukum penurunan nilai tersebut jika terjadi dan kemudian hilang? Kami katakan…

نجدد العهد بأصلٍ قدمناه في أحكام العيوب من باب الخراج بالضمان

Kami menegaskan kembali prinsip yang telah kami kemukakan dalam pembahasan hukum cacat, yaitu prinsip al-kharāj bi al-ḍamān.

وذلك أن من اشترى عبداً وقبضه وعاب في يده عيباً حادثاً واطلع على عيب قديم به فالعيب الحادث يمنع الرد بالعيب القديم فلو زال ذلك العيب الحادث فهل يتمكن المشتري من الرد بالعيب القديم فيه تردد للأصحاب معروفٌ

Hal itu karena apabila seseorang membeli seorang budak, lalu ia telah menerima budak tersebut, kemudian muncul cacat baru pada budak itu di tangannya, dan ia mengetahui adanya cacat lama pada budak tersebut, maka cacat yang baru terjadi itu menghalangi pembeli untuk mengembalikan budak karena cacat lama. Namun, jika cacat yang baru itu hilang, apakah pembeli dapat mengembalikan budak karena cacat lama? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dikenal di kalangan para ulama.

ولو عاب المبيع في يد البائع فيثبت للمشتري حق الرد به فلو زال ذلك العيب وعاد المبيع كما كان فظاهر المذهب أنه يزول حق رد المشتري وفيه خلافٌ أيضاًً

Jika barang yang dijual cacat saat masih di tangan penjual, maka pembeli berhak mengembalikannya karena cacat tersebut. Namun, jika cacat itu hilang dan barang kembali seperti semula, maka menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab, hak pembeli untuk mengembalikan barang tersebut juga hilang, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.

فإذا تجدد العهد بما ذكرناه فنقول

Jika telah diperbarui pemahaman terhadap apa yang telah kami sebutkan, maka kami katakan

لو عاب المبيع قبل القبض وصار ناقص القيمة بسبب العيب ثم طرأت

Jika barang yang dijual mengalami cacat sebelum diterima dan nilainya menjadi berkurang karena cacat tersebut, kemudian terjadi…

زيادة خِلْقية ردت قيمة المبيع إلى ما كان وذلك العيبُ باقٍ يثبت حقُّ الرّد للمشتري

Penambahan yang bersifat bawaan yang mengembalikan nilai barang yang dijual seperti semula, sementara cacat itu masih ada, tetap menetapkan hak pembeli untuk mengembalikan barang.

وكذلك لو نقصت القيمة بالعيب ثم صار المبيع يشترَى بالقيمة التامة لارتفاع سعر السوق فهذه الزيادة لا حكم لها والرد ثابت

Demikian pula, jika nilai barang berkurang karena cacat, kemudian barang yang dijual itu dibeli kembali dengan nilai penuh karena kenaikan harga pasar, maka tambahan nilai tersebut tidak dianggap dan hak pengembalian tetap berlaku.

فإذا ثبتت هذه المقدمات عدنا إلى غرضنا فنقول

Jika premis-premis ini telah terbukti, maka kita kembali kepada tujuan kita dan berkata

إذا طرأ نقصان على المبيع بالسوق ثم زاد وعاد إلى ما كان عليه فلا حكم لذلك النقصان المتخلل فإنا مع تشديد الشرع على الغاصب لا نؤاخذه بما يطرأ من نقصان السوق فما الظن بالبائع وإن طرأ على الشجر في مسألتنا نقصان من جهة الآفة ونقصت القيمة بها ثم ارتفع السوق وعادت القيمة بسبب السعر إلى ما كان فالذي أراه في هذه الصورة اعتبار قيمة يوم العيب وإن كان ذلك اليوم بعد العقد وقبل القبض فإن النقصان قد تحقق من ضمان البائع وما كان من ارتفاع بعد هذا فهو في حق المشتري وملكه فلا ينْجبر به ما وقع من النقصان

Jika terjadi penurunan nilai pada barang yang dijual di pasar lalu kemudian nilainya naik kembali seperti semula, maka penurunan nilai yang terjadi di antara waktu itu tidak dianggap. Sebab, meskipun syariat sangat menekankan tanggung jawab pada pihak yang merampas, kita tidak membebankan tanggung jawab atas penurunan nilai pasar yang terjadi. Maka, apalagi terhadap penjual. Jika pada pohon dalam kasus kita terjadi penurunan nilai karena suatu musibah sehingga nilainya turun, lalu harga pasar naik kembali sehingga nilainya kembali seperti semula, menurut pendapat saya dalam kasus ini yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari terjadinya cacat, meskipun hari itu terjadi setelah akad dan sebelum penyerahan. Sebab, penurunan nilai tersebut sudah menjadi tanggungan penjual. Adapun kenaikan nilai setelah itu menjadi hak pembeli dan termasuk dalam kepemilikannya, sehingga kenaikan tersebut tidak dapat menutupi kerugian akibat penurunan nilai yang telah terjadi.

وإن نقصت الثمار بآفة وبقي النقص ولكن حصلت زيادة خِلقية من جهةٍ أخرى فالذي أراه أن تلك الزيادة لا تعتبر؛ فإن العيب قائم ولا جبران على هذا الوجه

Jika buah-buahan berkurang karena suatu hama dan kekurangan itu masih ada, namun kemudian terjadi pertambahan secara alami dari sisi lain, menurut pendapat saya, pertambahan tersebut tidak dianggap; karena cacatnya tetap ada dan tidak ada kompensasi dalam hal ini.

فأما إذا طرأ النقصان بعيب ثم زال بزوال ذلك العيب فهذا يخرج على ما ذكرناه في مقدمة هذا والظاهر أن هذا إذا جرى في يد البائع فإذا زال سقط حكمه

Adapun jika terjadi kekurangan karena suatu cacat, kemudian cacat itu hilang sehingga kekurangan tersebut pun hilang, maka hal ini kembali kepada apa yang telah kami sebutkan dalam pendahuluan. Yang tampak, hal ini berlaku jika terjadi di tangan penjual; maka jika cacat itu hilang, hukumnya pun gugur.

هذا منتهى النظر في هذا

Inilah akhir dari pembahasan dalam hal ini.

ومما يتعلق بأطرافِ المسألة أن الثمرة لو نقصت في يد المشتري بعد القبض فكانت تساوي يوم العقد خمسين ويوم القبض خمسين فنقصت وصارت تساوي ثلاثين ثم فاتت الثمرة وحل وقت التوزيع عند الإفلاس فنقول ذلك النقصان محسوب على المشتري؛ فإنه حدث في يده؛ فَحُسِب عليه وإن كنا نقول لو بقيت معيبة لم يكن للبائع إن أراد الرجوع إلا الرضا بها على عيبها ولكن لا ننظر إلى هذا إذا كنا نعتبر قيمة الثمار لأجل التوزيع؛ فإن رضا البائع بعيب الثمرة لو بقيت في حكم الضرورة إذا كان يرجع إلى العين فالنقصان في يد المشتري محسوب عليه في مقام التوزيع كما أن النقصان في يد البائع محسوب على البائع

Terkait dengan cabang-cabang permasalahan ini, jika buah-buahan mengalami penurunan nilai di tangan pembeli setelah diterima, misalnya pada hari akad nilainya lima puluh, pada hari penerimaan juga lima puluh, lalu nilainya turun menjadi tiga puluh, kemudian buah tersebut hilang dan tiba waktu pembagian saat terjadi kebangkrutan, maka kami katakan bahwa penurunan nilai tersebut menjadi tanggungan pembeli; karena penurunan itu terjadi di tangannya, sehingga dihitung sebagai tanggungannya. Meskipun kami mengatakan bahwa jika buah itu masih ada namun cacat, maka penjual yang ingin menarik kembali barangnya tidak berhak kecuali dengan menerima cacat tersebut, namun hal ini tidak menjadi pertimbangan jika kita memperhitungkan nilai buah untuk keperluan pembagian. Kerelaan penjual terhadap cacat buah jika masih ada adalah dalam kondisi darurat ketika ia ingin mengambil kembali barangnya, maka penurunan nilai di tangan pembeli menjadi tanggungannya dalam konteks pembagian, sebagaimana penurunan nilai di tangan penjual menjadi tanggungan penjual.

ومن تمام البيان في هذا أن من اعتبر أكثر القيمتين في الشجرة إذا فرعنا على أصله وقلنا قيمةُ الشجرة يوم العقد مائة ويوم القبض مائة وخمسون ويوم رجوع البائع مائتان فالوجه القطع باعتبار المائتين؛ فإنه يومئذ ياخذ فيقع الحساب وقت قبضه فإنا إذْ ذاك نقول يأخذ ما يأخذ بكم وعلى هذا المذهب لو كان يوم القبض مائة وخمسين ويوم العقد مائة ويوم أخذ البائع مائة فيعتبر يوم أخذه؛ فإن ما طرأ من زيادة ثم زال لي هو ثابتاً يوم العقد حتى نقول إنه وقتُ مقابلة الثمن والمثمن وليس وقتَ أخذ البائع حتى يحسب عليه فلا وجه إلا ما ذكرناه

Sebagai penjelasan yang sempurna dalam hal ini, bahwa siapa pun yang mempertimbangkan nilai yang lebih besar dari dua nilai pada pohon, jika kita membangun pendapat berdasarkan asalnya dan mengatakan bahwa nilai pohon pada hari akad adalah seratus, pada hari penyerahan seratus lima puluh, dan pada hari penarikan kembali oleh penjual adalah dua ratus, maka pendapat yang kuat adalah mempertimbangkan dua ratus; karena pada hari itulah ia mengambilnya sehingga perhitungan dilakukan pada saat ia menerimanya. Maka pada saat itu kita mengatakan, ia mengambil apa yang ia ambil dengan berapa. Berdasarkan mazhab ini, jika pada hari penyerahan nilainya seratus lima puluh, pada hari akad seratus, dan pada hari penarikan kembali oleh penjual seratus, maka yang dipertimbangkan adalah hari ia mengambilnya; karena kenaikan yang terjadi lalu hilang itu tidak tetap pada hari akad sehingga kita bisa mengatakan bahwa itu adalah waktu pertukaran antara harga dan barang, dan bukan waktu penarikan kembali oleh penjual sehingga diperhitungkan atasnya, maka tidak ada pendapat lain kecuali apa yang telah kami sebutkan.

وهذا منتهى الفكر لم نغادر منه للناظر مثارَ إشكال إن شاء الله تعالى

Inilah akhir dari pembahasan; kami tidak meninggalkan sedikit pun dari hal ini yang dapat menimbulkan keraguan bagi para pembaca, insya Allah Ta‘ala.

وذكر الأصحاب صورةً تداني ما مهدناه وهي أن الرجل إذا باع عبدين قيمة أحدهما ألف وقيمة الثاني خمسمائة باعهما بألف فإن أقبضهما من غير تغير استحق الألف وإن أقبض الذي قيمته خمسمائةٍ فتلف الآخر في يد البائع استحق البائع ثلث الألف وسقط الثلثان؛ لأن المبيع تلف ثلثاه ولو انحطّ الذي قيمته الألف إلى خمسمائة ثم تلف في يد البائع وأقبض الذي قيمته خمسمائة يستحق أيضاً ثلث الألف كما بقيت لو بقيت قيمته ألفاً؛ فإن النقصان محسوب على البائع

Para ulama menyebutkan suatu kasus yang hampir sama dengan yang telah kami jelaskan, yaitu apabila seseorang menjual dua budak, nilai salah satunya seribu dan nilai yang kedua lima ratus, lalu ia menjual keduanya seharga seribu. Jika ia menyerahkan keduanya tanpa ada perubahan, maka ia berhak menerima seribu. Namun jika ia menyerahkan yang nilainya lima ratus, lalu yang satunya lagi rusak di tangan penjual, maka penjual hanya berhak atas sepertiga dari seribu dan dua pertiganya gugur; karena barang yang dijual telah rusak dua pertiganya. Jika yang nilainya seribu turun menjadi lima ratus lalu rusak di tangan penjual, dan ia menyerahkan yang nilainya lima ratus, maka penjual juga hanya berhak atas sepertiga dari seribu, sebagaimana jika nilainya tetap seribu; karena penurunan nilai ditanggung oleh penjual.

ولو أنه أقبضه الذي كانت قيمته ألفاً بعد أن تراجع إلى خمسمائة ثم تلف الثاني في يده استحق نصف الثمن لأنه يوم القبض كان نصف المبيع

Seandainya orang yang nilai barangnya seribu itu menyerahkan barangnya setelah nilainya turun menjadi lima ratus, lalu barang kedua rusak di tangannya, maka ia berhak atas setengah harga, karena pada saat penyerahan, yang diterima hanyalah setengah dari barang yang dijual.

وهذا بيّن لمن تمهد عنده ما قدمناه من الأصول

Hal ini jelas bagi siapa saja yang telah memahami apa yang telah kami paparkan sebelumnya dari pokok-pokok dasar.

ثم قال الشافعي وكذلك الزرع خرج أو لم يخرج

Kemudian Imam Syafi‘i berkata, demikian pula tanaman, baik sudah tumbuh maupun belum tumbuh.

منهم من قال أراد به تسنبل الزرع أو لم يتسنبل وصورة المسألة أنه باع أرضاً مزروعة فيرجع فيها مع الزرع وإن كان تسنبل الزرع في ملك المشتري وهذا يدل على أحد الوجهين المذكورين في فرع البذر والزرع والبيضة والفرخ

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ketika tanaman telah berbulir atau belum berbulir. Bentuk permasalahannya adalah seseorang menjual sebidang tanah yang telah ditanami, maka ia berhak menarik kembali tanah tersebut beserta tanamannya, meskipun tanaman tersebut telah berbulir di kepemilikan pembeli. Hal ini menunjukkan salah satu dari dua pendapat yang disebutkan dalam cabang permasalahan benih dan tanaman, serta telur dan anak burung.

ومن أصحابنا من قال قوله خرج أو لم يخرج معناه نبت أو لم ينبت

Sebagian dari ulama kami berkata bahwa maksud dari ucapannya “keluar atau tidak keluar” adalah “tumbuh atau tidak tumbuh”.

وصورة المسألة عند هذا القائل أنه باع أرضاً مبذورة فأنبتت ثم فرضنا الرجوع بعد الفَلَس وهذا التأويل يخرّج على أصلين أحدهما صحة بيع الأرض المبذورة وفيها قولان تقدم ذكرهما والثاني في البذر إذا نبت وقد ذكرنا الخلاف في ذلك في فرع البذر والزرع والبيض والفرخ

Gambaran masalah menurut pendapat ini adalah seseorang menjual tanah yang telah ditaburi benih, lalu benih itu tumbuh, kemudian kita misalkan terjadi pembatalan setelah jatuh bangkrut. Penafsiran ini didasarkan pada dua prinsip: pertama, sahnya jual beli tanah yang telah ditaburi benih, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya; kedua, mengenai benih yang telah tumbuh, dan kami telah menyebutkan perbedaan pendapat tentang hal ini dalam cabang pembahasan tentang benih, tanaman, telur, dan anak burung.

فصل

Bab

قال ولو باعه حائطاً لا ثمرة فيه أو أرضاً لا زرع فيها إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia menjualnya berupa kebun yang tidak ada buahnya, atau tanah yang tidak ada tanamannya, dan seterusnya.”

إذا باعه حائطاً لا ثمر على أشجاره فأثمرت في يد المشتري وأُبّرت الثمار أو باع أرضاً لا زرع فيها فزرعها المشتري ثم أفلس فالبائع يرجع في الحائط والأرض ولا حق له في الثمر والزرع وعليه أن يُبقي الثمارَ إلى أوان الجِداد والزرعَ إلى وقت الحصاد؛ لأن الزراعة كانت بحق وكذلك إمساك النخيل الذي جرى فيه بدوّ الثمار كان بحق فلزم تقرير الزرع والثمار والغاصبُ إذا زرع قُلع زرعه لاعتدائه في ابتداء الزرع

Jika seseorang menjual kebun yang tidak ada buah di pohon-pohonnya, lalu pohon itu berbuah di tangan pembeli dan buahnya telah dibuahi, atau menjual tanah yang tidak ada tanaman di atasnya lalu pembeli menanaminya, kemudian pembeli jatuh pailit, maka penjual berhak mengambil kembali kebun dan tanah tersebut, namun ia tidak berhak atas buah dan tanaman yang ada. Ia wajib membiarkan buah itu sampai waktu panen dan tanaman sampai waktu dituai, karena penanaman tersebut dilakukan dengan hak, demikian pula pohon kurma yang telah mulai berbuah juga dilakukan dengan hak, sehingga wajib menetapkan keberadaan tanaman dan buah tersebut. Adapun jika seorang perampas menanam, maka tanamannya harus dicabut karena ia telah melakukan pelanggaran sejak awal penanaman.

ثم البائع إذا ألزمناه تقرير الزرع والثمر فليس له أن يطلب أجرةً أما الأشجار فلا أجرة لها اصلاً وأما الأرض فقد صادفت الزراعة فيها ملك المشتري وقد دخل في العقد على أن المنفعة لا تكون مضمونة عليه؛ فإن منافع المبيع لا تكون مضمونة بعقد البيع فلم تلزم الأجرة

Kemudian, apabila penjual kami wajibkan untuk membiarkan tanaman dan buah tetap berada di tempatnya, maka ia tidak berhak menuntut upah. Adapun pohon-pohon, sama sekali tidak ada upah atasnya. Sedangkan untuk tanah, penanaman itu terjadi di atas kepemilikan pembeli, dan telah termasuk dalam akad bahwa manfaatnya tidak menjadi tanggung jawab pembeli; sebab manfaat dari barang yang dijual tidak menjadi tanggungan dalam akad jual beli, maka tidak wajib membayar upah.

ولو اكرى أرضا فزرعها المكتري وفُلِّس المكتري فالمكري يرجع فيما بقي من مدة الإجارة ونجعله في المنافع الباقية كالبائع يجد عين ماله ثم إذا فسح الإجارة في بقية المدة فلا يقلع زرعَ المكتري المفلس ولكنه يغرِّمه أجرةَ المثل للمدة التي يبقى الزرع فيها والفرق بين المشتري والمكتري أن المشتري لم يدخل في العقد على أن يضمن المنافع والمكتري دخل في العقد على أن يضمن المنافع وإذا انقطعت الإجارة ضمن أجرة المثل لمدة الزرع وما ذكرناه أن البائع والمكري لا يملكان القلع عنينا به أنهما لا يملكان القلع لحق فسخ العقد لما ذكرناه

Jika seseorang menyewakan tanah, lalu penyewa menanaminya, kemudian penyewa dinyatakan pailit, maka pemilik tanah dapat mengambil kembali haknya atas sisa masa sewa. Dalam hal ini, kita memperlakukannya terhadap manfaat yang tersisa seperti penjual yang menemukan kembali barang miliknya. Kemudian, jika sisa masa sewa dibatalkan, tanaman milik penyewa yang pailit tidak dicabut, tetapi ia dibebankan untuk membayar sewa yang sepadan selama masa tanaman itu masih ada. Perbedaan antara pembeli dan penyewa adalah bahwa pembeli tidak masuk dalam akad dengan kewajiban menjamin manfaat, sedangkan penyewa masuk dalam akad dengan kewajiban menjamin manfaat. Jika akad sewa terputus, maka ia wajib membayar sewa yang sepadan selama masa tanaman. Apa yang kami sebutkan bahwa penjual dan pemilik tanah tidak berhak mencabut, maksudnya adalah mereka tidak berhak mencabut karena alasan pembatalan akad, sebagaimana telah dijelaskan.

ولكن وراء ذلك نظر في القلع والتبقية إلى الإدراك

Namun, di balik itu terdapat pertimbangan dalam mencabut atau membiarkan yang berkaitan dengan persepsi.

فإن رضي المفلس والغرماء بالتبقية إلى الإدراك بقَّيْنا وإن رضوا بالقلع قلعنا وإن قال المفلس يبقى إلى أن يدرك ويحصل منه وفاءُ الديون أو مقدارٌ صالح وقال الغرماء يقلع ويباع بما يشترى ولا نرضى بتأخير حقوقنا بل نتعجل من حقوقنا ما نقدر عليه فالغرماء يجابون إلى ما يبغون لما ذكروه

Jika si bangkrut dan para kreditur sepakat untuk membiarkan (tanaman) tetap hingga masa panen, maka kami biarkan. Jika mereka sepakat untuk mencabutnya, maka kami cabut. Namun, jika si bangkrut berkata, “Biarkan hingga panen agar dapat digunakan untuk melunasi utang atau sebagian yang layak,” sedangkan para kreditur berkata, “Cabut saja dan jual dengan harga yang ada, kami tidak rela hak kami ditunda, kami ingin segera mengambil hak kami sebisa mungkin,” maka para kreditur dikabulkan sesuai keinginan mereka berdasarkan alasan yang mereka sebutkan.

ولو قال الغرماء يبقى إلى أن يدرك فقال المفلس بل أقلع وأتعجل إنفاق مالي في الديون حتى ينفك عني الحجر فللمفلس ذلك

Jika para kreditur berkata, “Biarkan (hartanya) tetap hingga ia dewasa,” namun si muflis (orang yang pailit) berkata, “Justru saya ingin menjualnya dan segera membelanjakan harta saya untuk membayar utang-utang agar status pencekalan atas saya dicabut,” maka si muflis berhak melakukan hal itu.

وبالجملة كل من يدعو إلى التعجيل من المفلس والغرماء فهو مجابٌ إلى ما يطلبه

Secara umum, setiap orang yang meminta percepatan, baik dari pihak yang pailit maupun para kreditur, maka permintaannya dikabulkan.

وهذا الذي ذكرناه فيه إذا كان للمقلوع قيمة وإن قلّت فأما إذا لم تكن له قيمة أصلا فلا يجاب من يطلب القلع من جهة أن ما يبغيه يؤدي إلى إبطال المالية وتضييع الملك بالكلية وقد نُهينا عن إضاعة المال

Hal yang telah kami sebutkan ini berlaku jika benda yang dicabut masih memiliki nilai, meskipun nilainya sedikit. Adapun jika benda tersebut sama sekali tidak memiliki nilai, maka permintaan pencabutan tidak dikabulkan, karena apa yang diinginkan akan mengakibatkan hilangnya nilai harta dan menyia-nyiakan kepemilikan secara keseluruhan, padahal kita telah dilarang untuk menyia-nyiakan harta.

ولو قال بعض الغرماء نقلع وقال المفلس وباقي الغرماء نبُقي فلا بدّ من اتباع رأي من يطلب القلع ولكن قال القاضي إذا طلب واحدٌ القلعَ قلعنا الجميع فإنا لا ندري كم نقلع بحصة المستدعي فإذا لم يمكنّا أن نُقدِّر شيئاًً فلا بد من قلع الجميع

Jika sebagian kreditur berkata, “Kita cabut (tanaman atau barang),” sementara si bangkrut dan sisa kreditur lainnya berkata, “Kita biarkan,” maka harus mengikuti pendapat pihak yang meminta pencabutan. Namun, menurut pendapat qadhi, jika satu orang saja meminta pencabutan, maka kita cabut semuanya, karena kita tidak tahu berapa banyak yang harus dicabut sesuai bagian pemohon. Jika kita tidak bisa memperkirakan sesuatu, maka harus mencabut semuanya.

وهذا فيه نظر عندي فإن الزرع قد يبلغ مبلغاً عظيماً وأعداد الغرماء قد يكون مائةً فصاعداً فكيف يحسن أن نقلعَ جميع الزرع بسبب دين درهم لرجل واحد ونعطّلَ مائة ألف لمائة نفسٍ وليس من الرأي أن نترك أصلاً ظاهراً لا سبيل إلى تقدير مثله بسبب جهالة نستشعرها فلا وجه لإبطال حقوقٍ كثيرة بسبب تعنتٍ من ذي حق حقير

Menurut saya, hal ini perlu dipertimbangkan kembali, sebab tanaman bisa saja telah tumbuh sangat besar dan jumlah para kreditur bisa mencapai seratus orang atau lebih. Bagaimana mungkin layak untuk mencabut seluruh tanaman hanya karena utang satu dirham milik satu orang, lalu kita menelantarkan seratus ribu milik seratus orang? Tidak bijak jika kita meninggalkan suatu prinsip yang jelas dan tidak ada cara untuk memperkirakan yang serupa hanya karena adanya ketidaktahuan yang kita rasakan. Maka, tidak ada alasan untuk membatalkan banyak hak hanya karena keberatan dari pemilik hak yang kecil.

فإن قيل كم تقلعون لحق من يستدعي قلنا إذا كان حقه عُشراً لم يخف علينا أن مقدار الخمس لا يقلع بسببه ونحن نستيقن استيفاء العشر إذا زدنا عليه قليلاً فلم نجبه إلى استيعاب الزرع بالقلع فإن كان من نظرٍ ففي المقدار الذي يتمارى فيه

Jika ada yang bertanya: “Berapa banyak yang harus dicabut demi memenuhi hak orang yang menuntutnya?” Kami katakan: Jika haknya adalah sepersepuluh, maka tidak samar bagi kami bahwa kadar seperlima tidak perlu dicabut karenanya. Kami yakin bahwa sepersepuluh akan terpenuhi jika kami menambahkannya sedikit saja. Maka, kami tidak mengabulkan permintaannya untuk mencabut seluruh tanaman. Jika ada perbedaan pendapat, maka itu hanya pada kadar yang masih diperselisihkan.

ثم يتجه احتمالٌ في القلع إلى درك اليقين أو في الاكتفاء بما نَحْزِرُ ونخمّن ويجوز أن يخطر لذي نظر أنا لا نقلع ما نشك فيه مراعاة لحق الغرماء الآخرين ؛ فيعود التردد إلى محل الإشكال وفيه احتمال من الجهة التي ذكرتها فأما استيعابُ الزرع بالقلع فلست أرى له وجهاًً

Kemudian ada kemungkinan dalam pencabutan (tanaman) untuk mencapai keyakinan, atau cukup dengan apa yang kita perkirakan dan duga. Boleh jadi terlintas dalam benak orang yang berpikir bahwa kita tidak mencabut apa yang masih kita ragukan demi menjaga hak para kreditur lainnya; maka keraguan itu kembali pada titik permasalahan, dan di dalamnya terdapat kemungkinan dari sisi yang telah saya sebutkan. Adapun mencabut seluruh tanaman, saya tidak melihat adanya alasan untuk itu.

ولو قال الغرماء نصبر وقال المفلس نعجل ونقلع قد ذكرنا أن المفلس يجاب إلى القلع فلو قال الغرماء نبذل مؤنة الزرع من عند أنفسنا ونسقي ونتعهد إلى الإدراك ولا نقلع فقد ذكر صاحب التقريب وجهين في ذلك أحدهما أنه يمنع من القلع إذا كان كذلك؛ فإنه لا غرض للمفلس وقلعُه وهو مكفيٌّ المؤونةَ تعنت

Jika para kreditur berkata, “Kami akan bersabar,” sementara orang yang pailit berkata, “Segeralah cabut (tanaman itu),” telah kami sebutkan bahwa orang yang pailit dipenuhi permintaannya untuk mencabut. Namun, jika para kreditur berkata, “Kami akan menanggung biaya penanaman dari diri kami sendiri, kami akan menyirami dan merawatnya hingga panen, dan tidak akan mencabutnya,” maka penulis kitab at-Taqrib menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya adalah bahwa pencabutan tidak diperbolehkan jika keadaannya demikian; sebab, orang yang pailit tidak memiliki kepentingan dalam pencabutan itu, sementara ia telah dibebaskan dari biaya, sehingga pencabutan tersebut dianggap sebagai tindakan yang memberatkan tanpa alasan.

وهذا ضعيف؛ فإنه يقول غرضي أن يتعجل انفكاك الحجر عني وليس عليّ توفير حقوق الغرماء وهذا لا يدرؤه قيامُ الغرماء بالمؤنة

Ini lemah; sebab ia berkata, “Tujuanku adalah agar pelepasan penyitaan atas diriku segera terjadi dan aku tidak berkewajiban memenuhi hak-hak para kreditur,” dan hal ini tidak terhalangi oleh para kreditur yang menanggung biaya.

فإن قيل لو قال الغرماء لا نقلع ونحن نفك الحجر عنك فهذا كلام عريٌّ عن التحصيل؛ فإنه لو انفك الحجر عنه كان له القلع بعلّة انطلاق الحجر وإن استمر الحجر كان له القلع باستعجال انفكاك الحجر فلا حاصل إذاً لما قاله الغرماء

Jika dikatakan, “Seandainya para kreditur berkata: ‘Kami tidak akan mencabut (penyitaan), dan kami akan melepaskan penyitaan darimu’,” maka ini adalah ucapan yang kosong dari makna yang dapat diperoleh; sebab jika penyitaan telah dilepaskan darinya, maka ia berhak mencabut (harta) dengan alasan telah berakhirnya penyitaan, dan jika penyitaan tetap berlangsung, maka ia berhak mencabut (harta) dengan alasan ingin segera berakhirnya penyitaan. Maka, tidak ada makna yang dapat diambil dari ucapan para kreditur tersebut.

والذي نستتم به بيان الفصل أنه لو اجتمعت عليه ديون وكانت أصنافٌ من الأموال وعلمنا أنه لا ينتجز بيعُها إلا في مدة شهرٍ مثلاً وكان الزرع يدرك في هذه المدة فالذي أراه أنه لا يقلع الزرع وإن استدعاه المفلس؛ من جهة أنه لا يستفيد بقلعه انفكاك الحجر عنه والحجر سيتمادى إلى منتهى مدة إدراك الزرع ومال المحجور عليه في حكم المتعيِّن لحقوق الغرماء فلا بد من رعاية غبطتهم فيه إذا لم يظهر خلافَ جهة الغبطة غرضٌ ظاهر للمفلس

Kesimpulan dari penjelasan bab ini adalah bahwa jika seseorang memiliki banyak utang dan hartanya terdiri dari berbagai jenis, lalu kita mengetahui bahwa penjualan harta tersebut tidak dapat segera dilakukan kecuali dalam waktu sekitar satu bulan, dan dalam waktu tersebut tanaman akan matang, maka menurut pendapat saya, tanaman tersebut tidak boleh dicabut meskipun si pailit memintanya; karena dengan mencabutnya, ia tidak akan memperoleh pembebasan dari status pailit, dan status pailit itu akan tetap berlangsung sampai masa panen tanaman berakhir. Harta orang yang sedang dalam status pailit dianggap telah ditetapkan untuk hak para kreditur, sehingga harus memperhatikan kemaslahatan mereka selama tidak ada tujuan nyata dari si pailit yang bertentangan dengan kemaslahatan tersebut.

هذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.

ومما ذكره الأصحاب في الفصل أنا قدمنا استيفاء الزرع والثمر في الأرض والشجر وأوضحنا أن البائع والمكري لا يجابان إلى تفريغ الشجر والأرض عن الثمر والزرع فقد يكون البائع والمكري ذا دينين على المفلس ويكونان من جملة غرمائه ويثبت لهما طلب القلع على التفصيل المقدم في طلب الغرماء لحق استحقاق الدين لا لحق الفسخ الثابت لهما في البيع والإجارة

Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama dalam bab ini adalah bahwa kami telah menjelaskan tentang pemanfaatan hasil tanaman dan buah-buahan di tanah dan pohon, serta telah kami terangkan bahwa penjual dan penyewa tidak dikabulkan permintaannya untuk mengosongkan pohon dan tanah dari buah dan tanaman. Bisa jadi penjual dan penyewa tersebut memiliki dua piutang atas orang yang bangkrut dan termasuk di antara para krediturnya, sehingga keduanya berhak meminta pencabutan (tanaman atau buah) sebagaimana penjelasan sebelumnya mengenai permintaan para kreditur atas hak penagihan utang, bukan karena hak pembatalan yang tetap bagi keduanya dalam jual beli dan sewa.

وهذا واضح لا خفاء به

Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

ولو اعتنى الفقيه بحل مشكلات الفقه كان أولى من الاشتغال بتعقيداتٍ في الصورة

Jika seorang faqih mencurahkan perhatian untuk menyelesaikan permasalahan fiqh, itu lebih utama daripada sibuk dengan kerumitan-kerumitan dalam bentuk lahiriah.

فصل

Bab

قال وكذلك لو باع أمةً فولدت إلى آخره

Demikian pula, jika seseorang menjual seorang budak perempuan lalu ia melahirkan, dan seterusnya.

هذا الفصل يجمع صور الوفاق والخلاف فيما يبقى للمفلس والغرماء من الحمل والثمر فنقول الوجه تقديم الكلام في الحمل ثم إتباعه بالثمرة

Bab ini mengumpulkan bentuk-bentuk kesepakatan dan perbedaan pendapat mengenai apa yang masih menjadi hak milik orang yang pailit dan para kreditur terkait janin dan buah-buahan. Maka kami katakan, yang utama adalah mendahulukan pembahasan tentang janin, kemudian diikuti dengan pembahasan tentang buah-buahan.

فمن باع جارية فعلقت بعد البيع بولد وانفصل الولد قبل رجوع البائع في الجارية فالولد للغرماء يتضاربون فيه وليس للبائع فيه نصيب؛ فإنه لم يكن موجوداً في طرفي البيع والرجوع

Barang siapa menjual seorang budak perempuan, lalu ia hamil setelah penjualan, dan anak itu lahir sebelum penjual mengambil kembali budak tersebut, maka anak itu menjadi milik para kreditur yang membagi-baginya di antara mereka, dan penjual tidak memiliki bagian apa pun darinya; karena anak itu tidak ada pada saat terjadinya akad jual beli maupun saat penjual mengambil kembali budak tersebut.

وإن باع جاريةً حبلى وأفلس المشتري ورجع البائع في الجارية قبل الولادة ارتد الحمل إليه في هذه الصورة وفاقاً؛ من جهة أنه كان موجوداً في الطرفين وتحقيق الفقه فيه أن المشتري استحق الحمل الموجود تبعاً ثم لم تتغير الجارية عن صفتها فيرجع كما خرج

Jika seseorang menjual seorang budak perempuan yang sedang hamil, lalu pembelinya bangkrut dan penjual kembali mengambil budak perempuan tersebut sebelum melahirkan, maka janin yang dikandungnya kembali menjadi milik penjual dalam kasus ini menurut kesepakatan; karena janin tersebut sudah ada pada kedua pihak. Penjelasan fiqh-nya adalah bahwa pembeli berhak atas janin yang sudah ada sebagai ikutan, kemudian budak perempuan itu tidak berubah sifatnya, sehingga ia kembali sebagaimana saat keluar.

ولو باع جارية حاملاً فولدت في ملك المشتري ثم رجع البائع بعد انفصال الولد ففي المسألة قولان مشهوران أحدهما أنه يرجع في الولد أيضاً؛ فإنه كان موجوداً حالة العقد وسبيل كل ما ملك على البائع بالبيع أن يرجع إليه بالرجوع

Jika seseorang menjual seorang budak perempuan yang sedang hamil, lalu ia melahirkan dalam kepemilikan pembeli, kemudian penjual menarik kembali (barang yang dijual) setelah anak itu lahir, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa penjual juga berhak menarik kembali anak tersebut; karena anak itu sudah ada pada saat akad, dan segala sesuatu yang menjadi milik penjual melalui akad jual beli, maka ia berhak untuk menariknya kembali jika ia menarik kembali barang jualannya.

والقول الثاني أنه لا يرجع الولد إليه؛ فإنه كان صفة حالة العقد غير موثوق بها وهو الآن عبدٌ مملوك مستقلٌّ بنفسه فقدرناه كأنه وجد جديداً بعدَ البيع وبنى الأصحاب هذين القولين على القولين في أن الحمل هل يعرف فقالوا إن قلنا إنه يعرف فيرجع إلى البائع من حيث كان موجوداً حالة العقد وإن قلنا لا يعرف فكأنه لم يكن حالة البيع وإنما تجدد من بعد

Pendapat kedua menyatakan bahwa anak tersebut tidak kembali kepada penjual; karena pada saat akad, ia hanyalah sifat yang tidak dapat dipercaya keberadaannya, sedangkan sekarang ia adalah seorang budak yang merdeka dan berdiri sendiri, maka kami menganggapnya seolah-olah ia baru ada setelah penjualan. Para ulama mendasarkan dua pendapat ini pada dua pendapat tentang apakah janin dapat diketahui keberadaannya atau tidak. Mereka berkata: Jika kita mengatakan bahwa janin dapat diketahui, maka ia kembali kepada penjual karena ia telah ada pada saat akad. Namun jika kita mengatakan bahwa janin tidak dapat diketahui, maka seolah-olah ia tidak ada pada saat penjualan, melainkan baru ada setelahnya.

والأولى في ذلك ما ذكرته في التوجيه من كون الحمل صفةً وكون المنفصل عبداً مستقلاً ويجعل تجدد الاستقلال كتجدد الوجود وهذا أوْلى في التوجيه على ضعفه من التعرض لكون الحمل مجهولاً؛ فإنا إن شككنا في الحمل حالة اجتنانه فإذا انفصل لما دون ستة أشهر لم نشك بعد انفصاله في كونه موجوداً عند العقد

Yang lebih utama dalam hal ini adalah apa yang telah saya sebutkan dalam penjelasan, yaitu bahwa janin adalah suatu sifat, sedangkan yang telah lahir adalah seorang hamba yang berdiri sendiri, dan pembaruan kemandirian itu dianggap seperti pembaruan keberadaan. Ini lebih utama dalam penjelasan, meskipun lemah, daripada membahas bahwa janin itu tidak diketahui; sebab jika kita ragu tentang janin ketika masih dalam kandungan, maka ketika ia lahir kurang dari enam bulan, kita tidak lagi ragu setelah kelahirannya bahwa ia telah ada pada saat akad.

ولو باع جارية حائلاً ثم علقت بمولود بعد البيع وأفلس المشتري وأراد البائع الرجوعَ والجارية حامل فظاهر النص أن الحمل يرجع إلى البائع ويتبع الجارية كما يتبعها حالة البيع حتى يصير المشتري أولى بالتَّبع

Jika seseorang menjual seorang budak perempuan yang tidak sedang hamil, kemudian ia hamil setelah penjualan, lalu pembeli jatuh pailit dan penjual ingin melakukan hak khiyar untuk mengambil kembali budak tersebut, sedangkan budak itu sedang hamil, maka menurut zahir nash, janin tersebut kembali kepada penjual dan mengikuti status budak perempuan itu, sebagaimana janin tersebut mengikuti ibunya pada saat penjualan, hingga pembeli menjadi lebih berhak untuk diikuti.

وخرّج الأئمة قولاً آخر أن الحمل لا يرجع إلى البائع في هذه الصورة؛ فإنه إنما يرجع إليه ما كان موجوداً حالة العقد وليس الحمل كزيادة متصلة

Para imam mengemukakan pendapat lain bahwa janin tidak kembali kepada penjual dalam kasus ini; karena yang kembali kepadanya hanyalah apa yang sudah ada pada saat akad, sedangkan janin tidaklah seperti tambahan yang menyatu.

ونصُّ الشافعي دليل على أن الحمل لا ينفرد باعتبارٍ وليس له قسط من الثمن وسبيله التبعية فإن قلنا يرجع الحمل إلى البائع كما يقتضيه النص فلا كلام وإن قلنا يبقى للمشتري وغرمائه فلا ينبغي أن يمتنع رجوع البائع بالجارية بسبب حملٍ لا يرجع إليه؛ فإنا وإن منعنا بيع جارية في بطنها حملٌ حرٌ على تفصيل قدمناه فلا يمتنع الرجوع لمكان الحمل

Teks Imam Syafi’i merupakan dalil bahwa janin tidak berdiri sendiri dalam penilaian dan tidak memiliki bagian dari harga, melainkan posisinya adalah sebagai pengikut. Jika kita katakan bahwa janin kembali kepada penjual sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash, maka tidak ada masalah. Namun jika kita katakan bahwa janin tetap menjadi milik pembeli dan para krediturnya, maka seharusnya tidak dihalangi kembalinya penjual atas budak perempuan karena adanya janin yang tidak kembali kepadanya; sebab meskipun kita melarang penjualan budak perempuan yang di dalam rahimnya terdapat janin yang merdeka, sebagaimana perincian yang telah kami sebutkan sebelumnya, namun tidak terlarang pengembalian karena adanya janin.

والقول في هذا وفي كيفية الرجوع في الجارية دون الحمل وفي معنى الرجوع فيها دون الولد المنفصل على قولنا بمنع التفريق بين الأم وولدها كلامٌ لا يتصور الوفاء ببيانه إلا بعد تقديم فصل الغراس والبناء وهو إذا اشترى الرجل أرضاً وغرسها أو بنى عليها فأفلس وأراد بائع الأرض الرجوعَ بالأرض وهذا الفصل يأتي مستقصىً إن شاء الله بعد هذا على القرب ثم نعقبه بما ذكرناه من الحمل والولد المنفصل الذي يمتنع التفريق بينه وبين الأم

Pembahasan mengenai hal ini, tentang bagaimana cara melakukan rujuk pada budak perempuan tanpa janin, serta makna rujuk pada budak perempuan tanpa anak yang telah lahir—berdasarkan pendapat kami yang melarang pemisahan antara ibu dan anaknya—adalah pembahasan yang tidak mungkin dijelaskan secara tuntas kecuali setelah mengemukakan bab tentang penanaman dan pembangunan. Yaitu, apabila seseorang membeli sebidang tanah lalu menanaminya atau membangun di atasnya, kemudian ia jatuh bangkrut dan penjual tanah ingin mengambil kembali tanah tersebut. Bab ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah, setelah ini dalam waktu dekat. Setelah itu, kami akan melanjutkan dengan pembahasan yang telah kami sebutkan mengenai janin dan anak yang telah lahir, yang tidak boleh dipisahkan dari ibunya.

هذا منتهى مرادنا الآن في الحمل

Ini adalah batas akhir maksud kami saat ini dalam pembahasan tentang kehamilan.

فأما إذا باع شجرة وعليها طلع لم يؤبر فلأصحابنا في الثمار غيرِ المؤبرة وفي تثبيه استتارها بالأكِمَّة باستتار الجنين بالأم وتشبيه ظهورها بالتأبير بظهور الحمل بالولادة اضطراب ونحن نجمع جميع مرادهم تحت سياق الترتيب

Adapun jika seseorang menjual pohon dan di atasnya terdapat buah yang belum diserbuki, maka menurut para ulama kami, mengenai buah yang belum diserbuki dan dalam penyerupaannya dengan tersembunyinya buah di balik kelopak seperti tersembunyinya janin dalam rahim ibu, serta penyerupaan munculnya buah setelah penyerbukan dengan munculnya janin setelah kelahiran, terdapat perbedaan pendapat. Kami akan mengumpulkan seluruh maksud mereka dalam urutan pembahasan.

وقد ذكرنا أربع صور في الحمل فنقابل كلَّ صورة منها بصورة في الطلع

Kami telah menyebutkan empat bentuk dalam masalah hamil, maka kami akan membandingkan setiap bentuk tersebut dengan satu bentuk dalam masalah talak.

فلو باع نخلة وعليها طلع لم يؤبر فأفلس المشتري وكان رجوع البائع قبل أن يؤبر فهذا يناظر ما لو باع جارية حاملاً فأفلس المشتري وهي حامل وقد ذكرنا ثَمَّ أن البائع يرجع في الجارية الحامل فتنقلب إليه كما خرجت عن ملكه ونحن نقول في الثمار إنها ترجع مع النخلة إلى الباح على اتفاق ولا حاجة إلى ترجيح محل الإجماع على محل الإجماع وإذا ذكرنا الترتيب في صور الخلاف بأن غرضنا

Jika seseorang menjual pohon kurma yang di atasnya terdapat mayang yang belum dibuahi, lalu pembeli jatuh pailit dan penjual ingin mengambil kembali pohon tersebut sebelum mayangnya dibuahi, maka hal ini serupa dengan kasus seseorang yang menjual seorang budak perempuan yang sedang hamil, kemudian pembeli jatuh pailit sementara budak tersebut masih hamil. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa penjual dapat mengambil kembali budak perempuan yang hamil tersebut, sehingga ia kembali kepada penjual sebagaimana ia keluar dari kepemilikannya. Kami juga mengatakan dalam hal buah-buahan, bahwa buah tersebut kembali bersama pohon kurma kepada penjual berdasarkan kesepakatan, dan tidak perlu mengunggulkan salah satu pendapat ijmā‘ atas yang lain. Jika kami menyebutkan urutan dalam kasus-kasus khilaf, maka maksud kami adalah…

ومن صور الحمل ألا يوجد في طرفي البيع والرجوع بل تَعْلقُ بعد البيع وتلد قبل الرجوع فلا حظ لبائع النخلة في الثمار؛ فإنها لم تكن موجودة حالة العقد ثم بدت وظهرت وزايلت حدَّ التبعية قبل الرجوع

Salah satu bentuk kemungkinan adalah tidak adanya janin pada kedua pihak saat akad jual beli dan saat pengembalian, melainkan janin itu muncul setelah akad jual beli dan lahir sebelum pengembalian, sehingga penjual pohon kurma tidak memiliki hak atas buahnya; karena buah tersebut tidak ada saat akad, kemudian muncul dan tampak, serta telah keluar dari status sebagai bagian yang mengikuti sebelum pengembalian.

ومن صور الحمل أن يكون الحمل موجوداً حالة العقد ثم ينفصل قبل الرجوع وفيه قولان ونظيره من الثمار ما لو باع نخلة عليها طلع لم يؤبر ثم يؤبّر قبل الرجوع وفي هذه الصورة قولان أيضاًً مرتبأن على القولين في نظير هذه الصورة من الحمل والثمارُ أولى بأن يَرجع فيها البائع والسبب فيه أنها وإن تبعت الشجرة في معظم تسميتها فهي مقصودة في نفسها ويسوغ في المذهب الظاهر إفرادها بالبيع فكأنها جُعلت مقصودةً في العقد فكانت بالرجوع أولى والحمل كأنّه صفة والولادة كأنه التجدد والحدوث كما ذكرناه في توجيه القولين

Di antara bentuk-bentuk kehamilan adalah ketika kehamilan sudah ada pada saat akad, kemudian terpisah sebelum adanya rujuk, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat. Hal yang serupa dari buah-buahan adalah jika seseorang menjual pohon kurma yang di atasnya terdapat mayang yang belum dibuahi, kemudian dibuahi sebelum adanya rujuk, maka dalam kasus ini juga terdapat dua pendapat yang terkait dengan dua pendapat dalam kasus serupa tentang kehamilan. Buah-buahan lebih utama untuk dikembalikan kepada penjual, dan sebabnya adalah karena meskipun buah-buahan itu mengikuti pohon dalam penamaannya secara umum, namun ia juga dimaksudkan secara tersendiri, dan dalam mazhab yang kuat, diperbolehkan menjualnya secara terpisah. Maka seakan-akan buah-buahan itu dianggap sebagai tujuan dalam akad, sehingga lebih utama untuk dikembalikan ketika ada rujuk. Adapun kehamilan, seakan-akan ia hanyalah sifat, dan kelahiran seakan-akan merupakan sesuatu yang baru dan terjadi kemudian, sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan dua pendapat tersebut.

ومن صور الحمل ألا يكون موجوداً حالة العقد ويحدث العلوق به بعد العقد ثم يتفق وقتُ الرجوع والحمل في البطن فقد ذكرنا قولين في الحمل أظهرهما أنه يرجع في الحمل والقول الثاني أنه يبقى للمشتري ونظير هذا من الثمر ما لو باع نخلة لا طلع عليها ثم أطلعت ولم تؤبر وحان الرجوع ففي الثمار قولان مرتبان على القولين في الحمل فإن قلنا لا يرجع البائع في الحمل فلأن لا يرجع في الثمرة التي لم تؤبر أولى وإن قلنا يرجع البائع في الحمل من حيث إنه غير مقصود فهل يرجع البائع في الثمر أم لا فعلى قولين والفرق أن الثمر مقصود في نفسه قابل للإفراد بالبيع ولم يكن موجوداً حالة العقد فرجوعٌ بشيء مقصود إليه لم يكن موجوداً حالة العقد بعيدٌ بخلاف الحمل؛ فإن كونه مقصوداً مختلف فيه فكان رجوعه إلى البائع أقربَ من الجهة التي اختلفت في كونه مقصوداً

Di antara bentuk-bentuk kehamilan adalah ketika kehamilan itu tidak ada pada saat akad, lalu terjadi kehamilan setelah akad, kemudian waktu hak kembali (hak khiyar) dan kehamilan itu bersamaan. Kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai kehamilan, yang paling kuat di antaranya adalah bahwa hak kembali berlaku pada kehamilan, dan pendapat kedua menyatakan bahwa kehamilan tetap menjadi milik pembeli. Yang serupa dengan ini dalam kasus buah adalah apabila seseorang menjual pohon kurma yang belum ada bakal buahnya, lalu setelah itu muncul bakal buah namun belum dibuahi, dan tiba waktu hak kembali. Dalam masalah buah ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam masalah kehamilan. Jika kita mengatakan bahwa penjual tidak berhak kembali pada kehamilan, maka lebih utama lagi ia tidak berhak kembali pada buah yang belum dibuahi. Namun jika kita mengatakan bahwa penjual berhak kembali pada kehamilan karena kehamilan itu bukan tujuan utama, maka apakah penjual juga berhak kembali pada buah atau tidak, terdapat dua pendapat. Perbedaannya adalah bahwa buah itu sendiri merupakan tujuan utama dan bisa dijual secara terpisah, dan ia tidak ada pada saat akad, sehingga hak kembali pada sesuatu yang menjadi tujuan utama namun tidak ada saat akad adalah hal yang jauh (tidak tepat), berbeda dengan kehamilan; karena status kehamilan sebagai tujuan utama masih diperselisihkan, sehingga hak kembali kepada penjual lebih dekat dari sisi yang diperselisihkan tersebut.

هذا بيان ترتيب المذهب في الثمار والحمل في الصور الأربع

Ini adalah penjelasan tentang urutan mazhab dalam masalah buah-buahan dan janin pada keempat keadaan.

فصل

Bab

قال ولو قال البائع اخترت عين حقي قبل الإبار وأنكر المفلس

Dan jika penjual berkata, “Aku memilih barang yang menjadi hakku sebelum penaburan benih,” namun orang yang bangkrut mengingkarinya…

إلى آخره

Dan seterusnya.

فرَّع الشافعي رضي الله عنه هذا الفصل على القول المنصوص الظاهر وهو أن من باع نخلة فأطلعت بعد البيع وأفلس المشتري قبل التأبير وأراد الرجوع فله أن يرجع في الثمار مع الأشجار ولو أُبرت الثمار قبل الرجوع لم يرجع البائع في الثمار وفاقاً ومضمون الفصل مُدارٌ على هاتين الصورتين

Syafi‘i raḥimahullāh merinci bagian ini berdasarkan pendapat yang dinyatakan secara jelas, yaitu bahwa siapa pun yang menjual pohon kurma lalu pohon itu berbuah setelah penjualan, kemudian pembeli bangkrut sebelum penyerbukan dan penjual ingin menarik kembali, maka ia berhak menarik kembali buah-buahan beserta pohonnya. Namun, jika buah-buahan telah diserbuki sebelum penarikan kembali, maka penjual tidak dapat menarik kembali buah-buahan tersebut, dan hal ini merupakan kesepakatan. Inti dari bagian ini berputar pada dua gambaran tersebut.

فلو قال البائع رجعتُ والثمار غيرُ مؤبرة فهي لي وقال المشتري بل رجعتَ بعد التأبير فالثمار لي تصرف إلى غرمائي فالقول قول المشتري؛ لأن الأصل إبقاء ملكه في الثمار والأصل عدم رجوعه أيضاًً

Jika penjual berkata, “Aku kembali sementara buah-buahan belum mengalami ta’bir, maka buah itu milikku,” dan pembeli berkata, “Justru engkau kembali setelah ta’bir, maka buah itu milikku dan akan aku serahkan kepada para kreditorku,” maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan pembeli; karena pada dasarnya kepemilikan buah tetap berada padanya dan pada dasarnya penjual juga belum kembali.

فإن قيل قد تقابلَ قولُنا الأصل عدم الرجوع و قولُنا الأصلُ عدم التأبير فتعارضا وتقابلا فليخرّج ذلك على تقابل الأصلين

Jika dikatakan, “Telah berhadapan antara pernyataan kami bahwa asalnya tidak kembali (kepada hukum semula) dan pernyataan kami bahwa asalnya tidak melakukan ta’bīr (penyerbukan), sehingga keduanya saling bertentangan dan berhadapan, maka hendaknya hal ini dianalisis berdasarkan pertentangan dua dalil asal (al-aṣlain).”

قلنا تعارض القولان كما ذكره السائل والأصل بقاء الملك للمشتري

Kami katakan, kedua pendapat tersebut saling bertentangan sebagaimana disebutkan oleh penanya, dan pada dasarnya kepemilikan tetap berada pada pembeli.

ثم إذا جعلنا القولَ قولَ المشتري وأراد البائع تحليفه فلا يتأتى منه تحليفه ما لم يدَّع عليه العلمَ بتقدّم رجوعه على وقوع التأبير ولو كلفه أن يحلف أنه ما رجع قبل التأبير كان مكلفاً إياه ما لا سبيل إليه

Kemudian, jika kami menjadikan pendapat yang dipegang adalah pendapat pembeli, dan penjual ingin meminta sumpahnya, maka penjual tidak dapat memintanya bersumpah kecuali jika ia menuduh pembeli mengetahui bahwa penjual telah menarik kembali sebelum terjadinya ta’bīr. Jika penjual memaksanya untuk bersumpah bahwa ia tidak menarik kembali sebelum ta’bīr, berarti ia membebankan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

ولو أقر البائِعُ بجهل المشتري بتاريخ الرجوع فيكون مسلماً له الثمرة؛ إذ مبنى الأَيْمان المتعلقة بنفي فعل الغير على أن تتضمن نفي العلم بها؛ إذ ليس في القوة البشرية درْكُ القطع بأنتفاء ما يمكن من فعل الغير فإن لم يدع البائع العلمَ بقيت الثمار للمشتري وغرمائه

Jika penjual mengakui bahwa pembeli tidak mengetahui tanggal penarikan kembali, maka buah tersebut menjadi milik pembeli; karena dasar sumpah yang berkaitan dengan penafian perbuatan orang lain adalah harus mencakup penafian pengetahuan tentangnya; sebab tidaklah dalam kemampuan manusia untuk memastikan secara pasti tidak terjadinya sesuatu yang mungkin dilakukan oleh orang lain. Jika penjual tidak mengaku mengetahui, maka buah-buahan tetap menjadi milik pembeli dan para krediturnya.

فإن ادعى علمَ المشتري بتقدم رجوعه على التأبير فيحلف المشتري على ذلك فإن حلف بالله أنه لا يعلم أنه رجع قبل التأبير انفصلت الخصومة واستقرت الثمرة للمشتري على ذلك

Jika pembeli mengaku mengetahui bahwa penarikan kembali (penjualan) dilakukan sebelum penyerbukan, maka pembeli harus bersumpah atas hal itu. Jika ia bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui bahwa penarikan kembali terjadi sebelum penyerbukan, maka sengketa pun selesai dan buah tersebut tetap menjadi milik pembeli berdasarkan hal itu.

وإن حلف المشتري على البت بالله أنه لم يرجع فالخصومة تنفصل أيضاً بهذه اليمين وإن كان المشتري يُعدُّ مجازفاً ومحملُ يمينه البتُّ والقطعُ على أمور مظنونة

Jika pembeli bersumpah dengan sumpah tegas demi Allah bahwa ia tidak menarik kembali (pembeliannya), maka perselisihan juga selesai dengan sumpah tersebut, meskipun pembeli dianggap bersikap gegabah dan dasar sumpah tegasnya adalah keyakinan terhadap hal-hal yang masih bersifat dugaan.

ومعظم الناس لا يميزون بين العلم وغالب الظن فاليمين الباتة تفيد ما يفيده اليمين النافية للعلم هذا إن حلف

Kebanyakan orang tidak dapat membedakan antara ilmu dan dugaan kuat, maka sumpah tegas memberikan faedah yang sama dengan sumpah yang menafikan pengetahuan, yaitu jika ia bersumpah.

فإن نكل المشتري فهاهنا وقفة؛ فإن البائع لو رددنا عليه اليمين وحلف لفاز بالثمار

Jika pembeli enggan bersumpah, maka di sini terdapat perhentian (titik perhatian); sebab jika penjual kita kembalikan sumpah kepadanya dan ia bersumpah, maka ia akan memperoleh buah-buahan tersebut.

فلو قال الغرماء لئن قصر المشتري ونكل فالثمار لو ثبتت له لكانت مصروفة إلينا فلئن لم يحلف فنحن نحلف فلا تردُّوا اليمين على البائع فنقدم على ذلك أصلاً قريباً منه ونقول

Jika para kreditur berkata, “Jika pembeli lalai dan enggan bersumpah, maka buah-buahan itu, seandainya tetap menjadi miliknya, pasti akan diberikan kepada kami. Maka jika ia tidak mau bersumpah, biarlah kami yang bersumpah. Janganlah kalian mengembalikan sumpah itu kepada penjual,” maka kami akan mengemukakan dasar yang serupa dengannya dan berkata…

إذا مات الرجل وعليه ديون فادعى ورثة المديون ديناً للميت وأقاموا به شاهداً ونكلوا عن اليمين معه فهل للغرماء أن يحلفوا فعلى قولين مشهورين

Jika seseorang meninggal dunia dan memiliki utang, lalu para ahli waris orang yang berutang tersebut mengaku bahwa si mayit memiliki piutang dan mereka menghadirkan seorang saksi atas hal itu, namun mereka enggan bersumpah bersamanya, maka apakah para kreditur berhak untuk bersumpah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur.

ولو ادّعى المفلس ديناً له على إنسان وأقام شاهداً واحداً ثم لم يحلف معه فقال الغرماء نحن نحلف معه حتى إذا ثبت الدين صُرف إلينا ففي المسألة طريقان أحدهما تخرّج المسألة على قولين كما تقدم في ورثة المديون والغرماء والطريقة الأخرى القطع بأنهم لا يحلفون؛ فإن صاحب القصة المتوفَّى في المسألة الأولى وقد مات وأشكل أمره فإذا حلف الغرماء لم يظهر نقيض الصدق في أيمانهم والمفلس صاحب القصة في مسألتنا فإذا امتنع عن اليمين تمكنت التهمة من الغرماء إذا حلفوا

Jika seorang yang pailit mengaku memiliki piutang pada seseorang dan menghadirkan satu orang saksi, lalu ia tidak bersumpah bersama saksi tersebut, kemudian para kreditur berkata, “Kami akan bersumpah bersamanya agar jika piutang itu terbukti, dapat diberikan kepada kami,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, masalah ini dikembalikan pada dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan pada kasus ahli waris orang yang berutang dan para kreditur. Pendapat kedua, dipastikan bahwa mereka (para kreditur) tidak boleh bersumpah; sebab dalam kasus pertama, pemilik perkara telah wafat dan keadaannya tidak jelas, sehingga jika para kreditur bersumpah, tidak tampak adanya kebohongan dalam sumpah mereka. Sedangkan dalam kasus kita, orang yang pailit adalah pemilik perkara, sehingga jika ia enggan bersumpah, maka kecurigaan terhadap para kreditur yang bersumpah menjadi kuat.

فنعود بعد ذلك إلى اختلاف البائع والمشتري في الرجوع والتأبير فنقول

Maka setelah itu kita kembali kepada perbedaan pendapat antara penjual dan pembeli mengenai hak untuk membatalkan (akad) dan tentang penyerbukan, lalu kami katakan…

إن لم يحلف المشتري فهل يحلف الغرماء فعلى الطريقين المذكورين فيه إذا أقام المفلس شاهداً على دينٍ ولم يحلف معه فأراد الغرماء أن يحلفوا لا فرق بين المسألتين؛ فإن نكول المفلس فيهما جميعاً يجرّ تهمة إلى الغرماء على أن الغرماء ليسوا مستحلفين من جهة المدعي وإنما هم يقتحمون اليمين ويبغونها والأصل المستحلَف ناكلٌ وأيمانهم على صورة النيابة عن يمين المشتري والنيابةُ لا تتطرق إلى الأيمان في وضعها

Jika pembeli tidak bersumpah, apakah para kreditur dapat bersumpah? Maka menurut dua pendapat yang telah disebutkan di dalamnya, jika orang yang bangkrut menghadirkan seorang saksi atas utangnya namun tidak bersumpah bersamanya, lalu para kreditur ingin bersumpah, maka tidak ada perbedaan antara kedua permasalahan tersebut; sebab penolakan sumpah oleh orang yang bangkrut dalam kedua kasus tersebut menimbulkan kecurigaan terhadap para kreditur, karena para kreditur bukanlah pihak yang diminta bersumpah oleh penggugat, melainkan mereka yang berinisiatif untuk bersumpah dan menginginkannya, sedangkan pihak yang seharusnya bersumpah justru menolak, dan sumpah mereka seolah-olah sebagai perwakilan dari sumpah pembeli, padahal perwakilan tidak berlaku dalam sumpah menurut ketentuannya.

ونذكر لاستكمال هذا الفن مسألة أخرى ثم نرجع إلى ترتيب المسألة فنقول

Untuk melengkapi pembahasan dalam bidang ini, kami akan menyebutkan satu masalah lain, kemudian kami akan kembali pada penataan masalah, maka kami katakan:

لو أقر المفلس لإنسانٍ بدَيْنٍ فقد اختلف قول الشافعي في قبول إقراره في الحال وسيأتي ذكر ذلك فإن قبلنا إقراره فلا كلام وإن لم نقبل إقراره بسبب الغرماء فهل للمقَر له أن يحلَّف الغرماء

Jika seorang yang pailit mengakui adanya utang kepada seseorang, maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi‘i mengenai diterima atau tidaknya pengakuan tersebut pada saat itu, dan hal ini akan dijelaskan nanti. Jika kita menerima pengakuannya, maka tidak ada masalah. Namun jika kita tidak menerima pengakuannya karena adanya para kreditur, maka apakah orang yang diakui berhak menuntut para kreditur untuk bersumpah?

قال العراقيون في المسألة طريقان على العكس مما تقدم فمن أصحابنا من قال في المسألة قولان؛ لأن الغرماء ليسوا أصولاً في الخصومة والخصومة وإن أمكنت النيابةُ فيها فلا نيابة في الأيمان والطريقة الأخرى القطعُ بأنهم يحلفون؛ فإنهم ليسوا نائبين عن المفلس في أيمانهم والخصومة موجهة عليهم ولولا حقوقهم لنفذ إقرارُ المفلس فإذا أرادوا أن يأخذوا أموالهم ويحرموا المقرَّ له فقد انتصبوا خصومه

Orang-orang Irak berpendapat dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berlawanan dengan yang telah disebutkan sebelumnya. Di antara ulama mazhab kami ada yang mengatakan dalam masalah ini ada dua pendapat; karena para kreditur bukanlah pihak pokok dalam persengketaan, dan meskipun persengketaan itu memungkinkan adanya perwakilan, namun dalam sumpah tidak ada perwakilan. Pendapat lainnya adalah pendapat yang tegas bahwa mereka (para kreditur) bersumpah; karena mereka bukanlah wakil dari orang yang pailit dalam sumpah mereka, dan persengketaan itu diarahkan kepada mereka. Kalau bukan karena hak-hak mereka, tentu pengakuan orang yang pailit itu akan berlaku. Maka jika mereka ingin mengambil harta mereka dan menghalangi orang yang diakui (oleh si pailit) untuk mendapatkannya, berarti mereka telah menjadi lawannya.

عدنا إلى ترتيب المسألة إذا نكل المشتري عن اليمين

Kita kembali pada pembahasan mengenai urutan permasalahan jika pembeli enggan bersumpah.

فإن قلنا الغرماء يحلفون فيحلفون على نفي العلم كما كان المشتري يحلف لو رغب في اليمين وإن قلنا إنهم لا يحلفون فترد اليمين على البائع وكذلك إن قلنا إنهم يحلفون ونكلوا فإن نكل البائع عن يمين الرد جُعل نكوله كحلف المشتري وبقيت الثمار للمشتري يتضارب فيها غرماؤه

Jika kita mengatakan bahwa para kreditur bersumpah, maka mereka bersumpah atas dasar tidak mengetahui, sebagaimana pembeli bersumpah jika ia menginginkan sumpah. Dan jika kita mengatakan bahwa mereka tidak bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada penjual. Demikian pula, jika kita mengatakan bahwa mereka bersumpah lalu mereka enggan, dan penjual juga enggan bersumpah sebagai balasan, maka keengganan penjual dianggap seperti sumpah pembeli, dan buah-buahan tetap menjadi milik pembeli sehingga para krediturnya dapat bersaing atasnya.

وإن حلف المشتري فقد قال الأصحاب هذا يخرّج الآن على الاختلاف في أن يمين الرد تنزل منزلة البينة المقامة للخصومة أم تنزل منزلة إقرار المدعَى عليه وفيه اختلاف معروف

Jika pembeli bersumpah, para ulama mengatakan bahwa hal ini sekarang dikembalikan pada perbedaan pendapat mengenai apakah sumpah penolakan itu diposisikan seperti bukti yang diajukan dalam persengketaan, atau diposisikan seperti pengakuan dari pihak tergugat, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang sudah dikenal.

وهذا أوان تقريره

Dan inilah saatnya untuk menetapkannya.

فنذكر ما سرده الأصحاب على وجهه قالوا

Maka kami menyebutkan apa yang telah disampaikan oleh para sahabat (ulama) sebagaimana adanya; mereka berkata:

إن قلنا يمين الرد كالبينة قضينا بالثمرة للبائع كما لو أقام بينة على تقذم رجوعه على التأبير وإن قلنا يمين الرد كإقرار المدعى عليه فتخرج المسألة على قولين مبنيين على أن المفلس لو صدّق البائع وأقر له بما يدعيه من الثمار فهل يُقضى له بموجب إقراره على الغرماء وفيه قولان مرتبان فإن رأينا قبول إقراره فلا كلام وينفذ القضاء بالثمرة للبائع وإن رأينا ردَّ إقراره وقد نزلنا يمين البائع منزلة إقرار المشتري بحقوق الغرماء مقدمةً في الحال فيتضاربون في الثمار تضاربهم في سائر أصناف الأموال

Jika kita mengatakan bahwa sumpah penolakan (yamin ar-radd) seperti bukti (baiyinah), maka kita memutuskan buah-buahan itu milik penjual, sebagaimana jika ia mendatangkan bukti atas telah kembalinya sebelum masa penyerbukan. Namun jika kita mengatakan bahwa sumpah penolakan seperti pengakuan terdakwa, maka masalah ini keluar pada dua pendapat yang dibangun atas dasar: jika orang yang bangkrut membenarkan penjual dan mengakui apa yang diklaimnya berupa buah-buahan, apakah diputuskan haknya berdasarkan pengakuan itu atas para kreditur? Dalam hal ini ada dua pendapat yang tersusun. Jika kita memandang diterimanya pengakuan itu, maka tidak ada masalah dan keputusan diberikan kepada penjual atas buah-buahan tersebut. Namun jika kita memandang ditolaknya pengakuan itu, dan kita menempatkan sumpah penjual pada posisi pengakuan pembeli terhadap hak-hak para kreditur yang didahulukan saat itu juga, maka mereka saling bersaing dalam buah-buahan tersebut sebagaimana mereka bersaing dalam berbagai jenis harta lainnya.

فإن قيل فاليمين التي أقدم عليها البائع لاغيةٌ في عقباها فلم حلّفتموه قلنا ليست لاغيةً؛ فإنّ تيك الثمار لو فصلت عن الديون بأن وجدنا في السلع التي كنا نبيعها من يشتريها بأكثر من أثمانها وفصلت الثمار وانطلق الحجر فهي مصروفة إلى البائع بيمينه

Jika dikatakan bahwa sumpah yang diucapkan oleh penjual itu tidak berpengaruh pada akibatnya, lalu mengapa kalian menyuruhnya bersumpah? Kami katakan, sumpah itu tidaklah sia-sia; sebab jika buah-buahan itu dipisahkan dari utang—misalnya kami menemukan orang yang mau membeli barang dagangan yang kami jual dengan harga lebih tinggi dari nilainya, lalu buah-buahan itu dipisahkan dan batu penanda diangkat—maka buah-buahan itu dikembalikan kepada penjual dengan sumpahnya.

فإن قيل نراكم تذكرون هذا الأصل تارة وتزيفون البناء عليه وأنتم الآن لم تظهروا تزييفة فأظهروا آراءكم فيه

Jika dikatakan, “Kami melihat kalian kadang-kadang menyebutkan prinsip ini dan membatalkan bangunan hukum di atasnya, sedangkan sekarang kalian belum menampakkan pembatalannya. Maka tunjukkanlah pendapat kalian tentang hal ini.”

قلنا نعم إنما نزيف التلقي من هذا الأصل إذا كان يفرِّع المفرع عليه بما يُفضي إلى إزالة ملك الغير بعد ثبوته له ولا تعلق للخصومة به مثل أن يقرّ الراهن لأحد المتداعيين بالتقدم بالرهن والإقباض وينفذ الحكم بإقرار المالك الراهن فإذا ادعى الآخر على الراهن وحلّفناه فنكل ورددنا اليمين على المدعي فمن قال من أصحابنا إنا إذا جعلنا يمين الرد بمثابة البينة؛ فإنا نسترد الرهن من المقر له أولاً فهذا مزيف لا سبيل إلى اعتقاده؛ من قِبل أن الإقرار الأول قد نفذ فنقضُه بسبب إنكار المقر ونكوله محال؛ فإنه لو صرح بالرجوع لم يكن لتصريحه بالرجوع عن الإقرار حكم وحَلْفُ المردود عليه قولُ خصمه والقضاء عليه بيمين خصمه وكان معه في رتبة المدعين محال هذا هو الذي يزيَّف ويُطَّرح

Kami katakan, benar, penyelewengan dalam mengambil keputusan dari asal ini terjadi jika cabang yang dihasilkan menyebabkan hilangnya hak milik orang lain setelah hak itu telah tetap baginya, dan tidak ada kaitan sengketa dengannya. Contohnya adalah jika pihak yang menggadaikan mengakui kepada salah satu dari dua pihak yang bersengketa bahwa ia lebih dahulu menerima gadai dan telah menerima barang gadai tersebut, lalu keputusan hukum dijalankan berdasarkan pengakuan pemilik yang menggadaikan. Kemudian jika pihak lain mengajukan gugatan terhadap pihak yang menggadaikan, lalu kami meminta sumpah darinya, namun ia enggan bersumpah dan kami alihkan sumpah kepada penggugat, maka menurut sebagian ulama kami yang berpendapat bahwa sumpah yang dialihkan kedudukannya seperti bukti, sehingga kami mengambil kembali barang gadai dari pihak yang pertama kali diakui, maka pendapat ini tertolak dan tidak dapat diterima. Sebab, pengakuan pertama telah berlaku, sehingga membatalkannya karena penolakan dan keengganan pengaku dari sumpah adalah mustahil; bahkan jika ia secara tegas menarik kembali pengakuannya, maka penarikan pengakuan itu tidak berpengaruh. Sumpah yang dialihkan hanyalah merupakan pernyataan lawannya, dan keputusan hukum atasnya berdasarkan sumpah lawannya, sehingga ia berada pada posisi yang sama dengan para penggugat, adalah hal yang mustahil. Inilah yang tertolak dan harus ditinggalkan.

فأما إذا توجهت الدعوى على المفلس فهو المخاطب بالخصومة ولو ثبت له ملك لكان له ثَمَّ صَرْفُه إلى ديونه قد يكون وقد لا يكون وإن اتفق ذلك فهو من مصلحته أيضاًً ولا يمكننا أن نقول للغرماء حق ثابت في هذا المتنازع فيه لم يثبت بعدُ فيجري التفريع على أن يمين الرد كالبينة أو كالإقرار في مثل هذه الصورة وذلك أنه لم يثبت بعدُ للغرماء حقٌ في الثمار والمفلس ذُو عبارة صحيحة في الخصومة فإذا انتظم من مخاصمته انتهاء الأمر إلى يمين الرد فلا يمتنع القضاء به ويكون ذلك منعاً للغرماء مما يرونه لأنفسهم ولا يكون قطعاً لحقوقهم

Adapun jika gugatan ditujukan kepada orang yang pailit, maka dialah yang menjadi pihak yang berhak berperkara. Sekalipun terbukti ia memiliki harta, maka ia berhak menggunakannya untuk membayar utangnya, bisa jadi demikian dan bisa juga tidak. Jika memang demikian, itu pun merupakan kemaslahatannya juga. Kita tidak bisa mengatakan bahwa para kreditur memiliki hak yang tetap atas harta yang masih dipersengketakan dan belum terbukti tersebut. Maka, perincian masalah ini bergantung pada apakah sumpah jawab (yamin ar-radd) diposisikan seperti bukti (bayyinah) atau seperti pengakuan (iqrār) dalam kasus seperti ini. Sebab, para kreditur belum memiliki hak atas hasil (harta) tersebut, dan orang yang pailit masih memiliki kapasitas yang sah untuk berperkara. Jika dari perkaranya itu berujung pada sumpah jawab, maka tidak terlarang untuk memutuskan perkara dengannya. Hal itu berarti mencegah para kreditur dari sesuatu yang mereka anggap sebagai hak mereka, namun tidak berarti memutuskan hak-hak mereka.

فإن قيل إذا كنتم تردون إقرار المفلس في الحال فلا يمتنع عليه أن يواطىء كلَّ من يريد الإقرار له حتى يدعي عليه فينكر وينكل فيرد اليمين عليه

Jika dikatakan, “Jika kalian menolak pengakuan orang yang pailit pada saat ini, maka tidak mustahil baginya untuk bersekongkol dengan siapa saja yang ingin dia akui haknya, sehingga orang itu mengajukan gugatan terhadapnya, lalu dia mengingkari dan enggan bersumpah, sehingga sumpah itu dikembalikan kepadanya.”

قلنا هذا لو لم يكن لليمين بالله تعالى موقع في النفوس وهي معظمة في دين الله تعالى فمن أنكر أثرها لم يبعد إنكار أثر الأَيْمان كلها ومن ها هنا ينشأ التردد في أنه بينة أم هي نازلة منزلة إقرار الخصم

Kami katakan, hal ini berlaku jika sumpah dengan nama Allah Ta‘ala tidak memiliki kedudukan di hati manusia, padahal sumpah tersebut sangat dimuliakan dalam agama Allah Ta‘ala. Maka barang siapa yang mengingkari pengaruhnya, tidak mustahil ia juga mengingkari pengaruh seluruh sumpah. Dari sinilah timbul keraguan apakah sumpah itu merupakan bayyinah ataukah ia diposisikan seperti pengakuan lawan.

ومما يتم به التفريع في هذا الطرف أنا إن قضينا بيمين البائع في الحال فلا كلام

Dan hal yang menyempurnakan penjabaran dalam bagian ini adalah bahwa jika kami memutuskan dengan sumpah penjual pada saat itu juga, maka tidak ada pembicaraan lagi.

وإن أبَيْنا القضاء بيمينه فحكم هذا أن يفوز الغرماء بالثمار ويعود حق البائع إلى مطالبة المشتري بعد انفكاك الحجر عنه

Jika kami menolak untuk memutuskan perkara dengan sumpahnya, maka ketentuannya adalah para kreditur berhak atas hasil panen, dan hak penjual kembali kepada menuntut pembeli setelah status pencekalan atasnya dicabut.

فلو قال البائع للغرماء احلفوا لي بالله لا تعلمون تقدّمَ رجوعي على التأبير فهل له أن يحلّفهم فعلى طريقين ذكرناهما الآن إحداهما القطع بأنهم يحلفون لما سبق تقريره فإن رأينا ذلك وحلفوا فذاك وإن نكلوا ردّت اليمين على البائع مرة أخرى في الخصومة الجديدة وكأن اليمين الأولى من البائع لم تكن ثم إذا حلف بعد نكول الغرماء قُضي له بالثمار لا محالة

Jika penjual berkata kepada para kreditur, “Bersumpahlah kalian kepadaku dengan nama Allah bahwa kalian tidak mengetahui adanya penarikan kembali (barang) sebelum masa penyerbukan,” maka apakah ia berhak meminta mereka bersumpah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya; salah satunya adalah pendapat tegas bahwa mereka harus bersumpah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika kita memilih pendapat ini dan mereka bersumpah, maka selesai perkara. Namun jika mereka enggan bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada penjual sekali lagi dalam perselisihan yang baru, seakan-akan sumpah pertama dari penjual tidak pernah ada. Kemudian, jika penjual bersumpah setelah para kreditur menolak, maka diputuskan bahwa buah-buahan itu menjadi haknya, tanpa keraguan.

فهذه صورة تنجَّز الكلام فيها

Inilah gambaran yang telah selesai dibahas pembicaraannya.

فلو صدّق المشتري البائع فيما ادعاه من استحقاق الثمرة وكذبه الغرماء فالمسألة تخرّج على القولين في أن إقرار المفلس هل يقبل في الحال فإن قبلنا إقراره فلا كلام وإن رددناه فالبائع المقر له هل يحلّف الغرماء فعلى ما ذكرناه من اختلاف الطريقين

Jika pembeli membenarkan penjual atas apa yang dia klaim mengenai hak milik buah tersebut, sementara para kreditur mendustakannya, maka permasalahan ini dikembalikan kepada dua pendapat mengenai apakah pengakuan orang yang bangkrut diterima saat itu juga. Jika kita menerima pengakuannya, maka tidak ada masalah. Namun jika kita menolaknya, maka apakah penjual yang diakui haknya itu dapat meminta para kreditur untuk bersumpah? Hal ini kembali kepada apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan dua metode (tharīq) dalam masalah ini.

ولو ادعى البائع ما ادعاه فكذبه المفلس وصدقه جميع الغرماء وانتجزت الخصومة بين البائع وبين المفلس فإن حلف المفلس على ما أوضحنا كيفية حلفه فلا يقبل تصديق الغرماء للبائع في وجوب تسليم الثمرة إليه غير أنهم لو أرادوا أن يطالبوا المشتري بتسليم تلك الثمار إليهم عن جهة ديونهم لم يكن لهم ذلك من قِبل اعترافهم بأنهم لا يستحقونها فتبقى الثمار في يدي المشتري لا تسلم إلى البائع ولا يتعلق بها الغرماء لإقرارهم السابق ثم لا يملك المشتري التصرف فيها؛ لأنه محجور عليه على حالٍ وقد يظهر له غرماء لسنا نعرفهم الآن

Jika penjual mengklaim apa yang diklaimnya, lalu orang yang pailit mendustakannya dan semua para kreditur membenarkan penjual, serta perselisihan telah selesai antara penjual dan orang yang pailit, maka jika orang yang pailit bersumpah sebagaimana telah kami jelaskan tata cara sumpahnya, maka pembenaran para kreditur terhadap penjual tidak diterima dalam hal kewajiban menyerahkan buah tersebut kepadanya. Namun, jika mereka ingin menuntut pembeli untuk menyerahkan buah-buahan itu kepada mereka atas dasar utang mereka, maka mereka tidak berhak melakukannya karena pengakuan mereka bahwa mereka tidak berhak atasnya. Maka buah-buahan itu tetap berada di tangan pembeli, tidak diserahkan kepada penjual, dan para kreditur pun tidak berhak atasnya karena pengakuan mereka sebelumnya. Namun, pembeli juga tidak berhak melakukan tindakan apa pun terhadapnya, karena ia sedang dalam status pencekalan, dan bisa jadi akan muncul kreditur lain yang saat ini belum kita ketahui.

ثم إن ضاق المال عن الديون فالمفلس يلتمس من الحاكم أن يصرف إليهم تلك الثمار فيما يصرفه إليهم فإن قالوا نحن نعلم أنها مغصوبة فلِمَ يكلفنا أخذَها قلنا لا يقبل قولكم في حق المفلس والحجر مطرد عليه وغرضه ظاهر في حصول براءة ذمته عن ديونه فخذوا الثمار عن حقوقكم أو أبرئوه عن مقدارها من الديون على نظرٍ في ذلك نستقصيه

Kemudian, jika harta tidak mencukupi untuk membayar utang-utang, maka orang yang pailit meminta kepada hakim agar membagikan buah-buahan itu kepada para kreditur sesuai dengan bagian yang menjadi hak mereka. Jika mereka berkata, “Kami tahu bahwa buah-buahan itu adalah barang yang digasak (maghsūbah), lalu mengapa kami dibebani untuk mengambilnya?” Kami katakan, “Perkataan kalian tidak diterima dalam perkara orang yang pailit, dan pembatasan (hajr) tetap berlaku atasnya. Tujuannya jelas, yaitu agar ia terbebas dari tanggungan utangnya. Maka ambillah buah-buahan itu sebagai pelunasan hak kalian, atau bebaskanlah ia dari utang sebesar nilai buah-buahan itu, dengan pertimbangan yang akan kami teliti lebih lanjut.”

فإن أخذوها حكمنا ببراءة المفلس عن أقدارها من الديون ثم كما ثبتت أيديهم على الثمار لزمهم الرد على البائع لاعترافهم السابق؛ فإن إقرارهم إن كان مردوداً على المفلس وما يتعلق بأمره فهو مقبول عليهم وهذا بيِّنٌ في قواعد الشريعة

Jika mereka mengambilnya, maka kami memutuskan bahwa orang yang pailit terbebas dari utang sebesar nilai barang tersebut. Kemudian, sebagaimana tangan mereka tetap atas buah-buahan itu, mereka wajib mengembalikannya kepada penjual karena pengakuan mereka sebelumnya; sebab pengakuan mereka, jika ditolak atas orang yang pailit dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka pengakuan itu tetap berlaku atas mereka. Dan hal ini jelas dalam kaidah-kaidah syariat.

ولو قالوا لا تكلفونا قبض الثمار ولا تصرفوا أثمانها إلينا ونحن نرضى برفع الحجر عنه فهل يجبرون على قبض ذلك فعلى قولين وهذا هو الأصل الذي تكرر مراراً من قِبل أن الغرماء إذا كانوا لا يدّعون للمفلس مالاً سوى ما في يد الحاكم واعترفوا بأن الثمار ليست له فالحجر ينفك أو يفك على تفصيل يأتي لا محالة إن شاء الله إلا أن يدّعوا له مالاً خفياً وسيظهر أثر ذلك من بعد

Jika para kreditur berkata, “Jangan bebankan kepada kami untuk mengambil buah-buahan itu dan jangan serahkan hasil penjualannya kepada kami, dan kami rela jika larangan (atas orang yang pailit) dicabut,” maka apakah mereka dipaksa untuk menerima hal tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Inilah pokok permasalahan yang sering diulang-ulang sebelumnya, yaitu jika para kreditur tidak mengklaim adanya harta bagi orang yang pailit selain yang ada di tangan hakim, dan mereka mengakui bahwa buah-buahan itu bukan miliknya, maka larangan (atas orang yang pailit) dapat dicabut, atau dicabut dengan rincian yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah, kecuali jika mereka mengklaim adanya harta tersembunyi milik orang yang pailit, dan pengaruh dari hal itu akan tampak setelahnya.

فكأن المشتري مديون أتى بمالٍ ليصرفه إلى مستحق الدين فأبى عن قبوله وزعم أنه غصبٌ فقوله بأنه غصب مردود وهل يجبر على قبوله فعلى القولين المشهورين في أن من جاء بدين مؤجل عليه أو حالٍّ فامتنع المستحِق عن قبوله فهل يجبر عليه أم لا هذا حاصل الكلام في ذلك

Seolah-olah pembeli adalah orang yang berutang, lalu ia datang membawa uang untuk diberikan kepada pihak yang berhak menerima utang tersebut, namun pihak penerima menolak untuk menerimanya dan mengklaim bahwa itu adalah tindakan ghasab. Klaimnya bahwa itu adalah ghasab tertolak. Adapun apakah ia dipaksa untuk menerimanya atau tidak, maka hal ini kembali kepada dua pendapat masyhur dalam masalah apabila seseorang datang membawa utang yang belum jatuh tempo atau sudah jatuh tempo atasnya, lalu pihak yang berhak menolak untuk menerimanya, apakah ia dipaksa untuk menerimanya atau tidak. Inilah inti pembahasan dalam masalah ini.

ولو جاء المكاتَب بالنجم فقال السيد إنه مغصوب لم يقبل قول السيد وأجبر على القبول؛ فإن للمكاتب غرضاً صحيحاً في قبول ما جاء به وقول السيد مردود عليه

Jika seorang mukatab datang membawa pembayaran cicilan, lalu tuannya berkata bahwa harta itu adalah barang hasil ghasab (hasil rampasan), maka perkataan tuan tidak diterima dan ia dipaksa untuk menerima pembayaran tersebut; karena mukatab memiliki tujuan yang sah dalam menyerahkan apa yang dibawanya, dan perkataan tuan itu ditolak atasnya.

نظير هذا من مسألتنا ما لو امتنع الغرماء من قبول الثمار وأبَوْا أن يفكوا الحجر وزعموا أن له مالاً سوى الثمار مغيّباً وكانت الديون تتأدى بالثمار فيجبر الغرماء حينئذ على القبول؛ لظهور غرض المفلس في استفادة انفكاك الحجر

Hal yang serupa dari permasalahan kita adalah apabila para kreditur menolak menerima buah-buahan dan enggan untuk melepaskan status pailit, serta mereka mengklaim bahwa si pailit memiliki harta selain buah-buahan yang disembunyikan, padahal utang-utang dapat dilunasi dengan buah-buahan, maka para kreditur saat itu dipaksa untuk menerima; karena jelas tujuan si pailit adalah untuk memperoleh pelepasan status pailit.

هذا فيه إذا كذب المفلس البائع وصدقه الغرماء

Ini berlaku apabila orang yang bangkrut mendustakan penjual, sedangkan para kreditur membenarkannya.

فأما إذا كذب المفلس البائع كما ذكرناه وانقسم الغرماء فصدّق بعضهم البائعَ وكذبه آخرون فالأولى أن يَرفُق الحاكمُ بالمصدقين ويصرف الثمرة إلى المكذبين ويصرفَ إلى المصدقين صنفاً آخر؛ فإنه لو لم يفعل ذلك وصرف إلى المصدق شيئاًً من الثمرة لكان ذلك خسراناً عليه من جهة أنه يلزمه تسليمه إلى البائع المقَر له

Adapun jika orang yang bangkrut mendustakan penjual sebagaimana telah kami sebutkan, lalu para kreditur terbagi: sebagian membenarkan penjual dan sebagian lainnya mendustakannya, maka yang utama adalah hakim bersikap bijaksana kepada pihak yang membenarkan, dan menyerahkan buah (hasil) kepada pihak yang mendustakan, serta memberikan kepada pihak yang membenarkan jenis lain; sebab jika tidak dilakukan demikian dan diberikan kepada pihak yang membenarkan sebagian dari buah itu, maka hal itu akan menjadi kerugian bagi mereka, karena mereka wajib menyerahkannya kepada penjual yang telah diakui haknya.

ثم يُبيّن المصدقَ والمكذبَ حكمٌ نصفه في صورة فنقول الثمرة خمسمائة وللمفلس ألف سواها وله غريمان لكل واحد منهما ألفٌ فإذا صرفنا الخمسمائة إلى المكذّب منهما وبقي الألف بين المصدق والمكذب فلو قال المصدق ضارب في الألفِ بخمسمائة؛ فإنها حقك بزعمك فالألف بيننا أثلاثاً أضرب فيه بسهمين وتضرب فيه بسهم فكيف السبيل اختلف أصحابنا فيه فمنهم من قال تقسم الألف ثُلثاً وثلثين بينهما ويؤاخذ المكذب بإقراره وقد قال قبضت من حقي خمسمائة هذا وجه ظاهر

Kemudian dijelaskan bahwa pihak yang membenarkan (muṣaddiq) dan yang mengingkari (mukadzdzib) memiliki hukum yang setengahnya dalam suatu kasus. Misalnya, dikatakan: buahnya lima ratus, sedangkan milik orang yang pailit seribu selain itu, dan ia memiliki dua orang kreditur, masing-masing berhak atas seribu. Jika kita berikan lima ratus kepada pihak yang mengingkari, maka sisa seribu dibagi antara pihak yang membenarkan dan yang mengingkari. Jika pihak yang membenarkan berkata, “Aku berhak atas seribu ini dengan lima ratus; sebab itu adalah hakmu menurut pengakuanmu, maka seribu itu dibagi di antara kita bertiga: aku mendapat dua bagian dan kamu satu bagian.” Bagaimana caranya? Para ulama kami berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka berkata: seribu itu dibagi sepertiga dan dua pertiga di antara keduanya, dan pihak yang mengingkari diminta pertanggungjawaban atas pengakuannya. Ia berkata, “Aku telah menerima lima ratus dari hakku.” Ini adalah pendapat yang jelas.

ومنهم من قال يضارب المكذب المصدق في الألف الباقي على نسبة التشطير ويقول ألفي باقٍ على زعمك وأنت مؤاخذ بإقرارك وقد فرّطتَ وضيعتَ مضطرَبَك؛ إذ صدقت البائع فيرجع من الألف خمسمائة إلى المكذب ويتوفر عليه حقُّه كملاً

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa antara yang mendustakan dan yang membenarkan dilakukan mudārabah terhadap seribu yang tersisa berdasarkan proporsi pembagian dua sama, dan dikatakan: “Seribu milikku masih tersisa menurut pengakuanmu, dan engkau terikat dengan pengakuanmu, serta telah lalai dan menyia-nyiakan hakmu karena engkau membenarkan penjual.” Maka dari seribu itu, lima ratus dikembalikan kepada yang mendustakan, dan haknya tetap utuh sepenuhnya.

وما ذكرناه من أمر الحاكم بتسليم الثمرة إلى المكذب كيف قولنا فيه أهو حتمٌ أم للحاكم أن يقسط الثمرة على المكذب والمصدّق ذكر العراقيون في ذلك وجهين أحدهما أنه لا يجوز للحاكم صرفُ الثمرة إلى المصدّق إذا أمكنه صرفُها إلى المكذِّب لما فيه من التخسير والثاني لا يجب على الحاكم رعاية هذا وإنما يُمضي حكمَه وقضاءَه على قول مَنْ جعل الشرعُ القولَ قولَه والأصح أنه يجب عليه رعايةُ هذا فإنه ناظِرٌ للمسلمين فلا يجوز أن يسعى في إيذائهم من غير غرض

Apa yang telah kami sebutkan mengenai perintah hakim untuk menyerahkan buah kepada pihak yang mengingkari, terdapat dua pendapat di kalangan ulama Irak tentang hal ini: apakah hal itu bersifat wajib ataukah hakim boleh membagi buah tersebut antara yang mengingkari dan yang membenarkan. Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak boleh bagi hakim untuk menyerahkan buah kepada pihak yang membenarkan jika memungkinkan untuk menyerahkannya kepada pihak yang mengingkari, karena hal itu dapat menyebabkan kerugian. Pendapat kedua menyatakan bahwa hakim tidak wajib memperhatikan hal ini, melainkan cukup menjalankan putusan dan keputusannya berdasarkan pendapat yang menjadikan syariat sebagai sandaran ucapannya. Namun, pendapat yang paling sahih adalah bahwa hakim wajib memperhatikan hal ini, karena ia adalah pengurus urusan kaum muslimin, sehingga tidak boleh berupaya menimbulkan mudarat kepada mereka tanpa alasan yang jelas.

فصل

Bab

قال وإن وَجَدَ بعضَ ماله كان له بحصته إلى آخره

Ia berkata: Jika ia menemukan sebagian dari hartanya, maka ia berhak atas bagian tersebut sampai selesai.

وهذا مما سبق تقريره فيما مضى ولكنا نعيده لغرضٍ لنا فنقول إذا باع شيئين بثمن وسلمهما فأفلس المشتري وقد تلف في يده أحدُ الشيئين فقاعدة المذهب أنه يرجع بالعين الباقية ويأخذها بما يخصها من الثمن ويضارب الغرماء بما يخص العين الفائتة من الثمن

Hal ini telah dijelaskan sebelumnya, namun kami mengulanginya untuk tujuan tertentu. Kami katakan: Jika seseorang menjual dua barang dengan satu harga, lalu menyerahkannya, kemudian pembeli jatuh pailit dan salah satu dari dua barang tersebut rusak di tangannya, maka kaidah mazhab adalah penjual berhak mengambil kembali barang yang masih ada dan mengambilnya dengan bagian harga yang sesuai, serta menuntut kepada para kreditur atas bagian harga yang sesuai dengan barang yang telah hilang.

هذا هو الأصل

Inilah asalnya.

وذكر صاحب التقريب والعراقيون في هذه المسألة وفي كل مسألة تضاهيها أن من أصحابنا من خرّج هذا على أصلٍ ذكرناه في تفريق الصفقة وهو أن من اشترى عبدَيْن فتلف أحدهما قبل القبض وانفرع العقد فيه وأجاز المشتري البيع في الباقي الخِيَرةُ بتمام الثمن أو بقسطه

Penulis kitab at-Taqrīb dan para ulama Irak menyebutkan dalam masalah ini, dan dalam setiap masalah yang serupa dengannya, bahwa sebagian ulama mazhab kami mengaitkan persoalan ini dengan suatu prinsip yang telah kami sebutkan dalam pembahasan tentang pemisahan akad, yaitu apabila seseorang membeli dua budak lalu salah satunya rusak sebelum diterima dan akadnya terpisah pada yang rusak itu, kemudian pembeli menyetujui jual beli pada yang tersisa, maka ia diberi pilihan antara membayar harga penuh atau membayar sesuai bagiannya.

فعلى قولين فقال قائلون ها هنا يخرّج هذان القولان أيضاًً ففي قولٍ نقول للبائع خذ العين القائمة بجميع الثمن أو دَعْها وضارب بجميع الثمن

Maka menurut dua pendapat, sebagian ulama berkata bahwa di sini juga kedua pendapat tersebut dapat diterapkan. Dalam satu pendapat, kita katakan kepada penjual: ambillah barang yang masih ada itu dengan seluruh harga, atau tinggalkanlah, lalu lakukanlah mudhārabah dengan seluruh harga tersebut.

وفي قولٍ نقول يأخذ ما وجد بحصته ويضارب الغرماء بحصته من الثمن

Dalam satu pendapat, dikatakan bahwa ia mengambil apa yang ia temukan sesuai bagiannya dan menuntut para kreditur dengan bagiannya dari harga.

والقول المذكور في أن العقد يجاز في العبد الباقي بعد تلف العبد الآخر بتمام الثمن في نهاية الضعف والمصير إلى ذلك القياس في هذا المقام خرقٌ لنظم المذهب بالكلية

Pendapat yang disebutkan bahwa akad tetap sah pada budak yang masih ada setelah budak lainnya binasa dengan membayar seluruh harga adalah sangat lemah, dan berpegang pada qiyās dalam masalah ini merupakan pelanggaran total terhadap sistem mazhab.

وطرد هذا القائل هذا المسلك في الشفعة فقال من باع سيفاً قيمته مائة وشقصا قيمته عشرة بمائة وعشرة فجاء الشفيع يطلب الشقص؛ فنقول في قول خذ الشقص بجميع الثمن أو دع الشفعة وفي قول نقول خذ الشقصَ بنسبته وهذا الآن عندي قريب من خرق الإجماع فالوجه القطع بأن البائع يرجع فيما بقي ويأخذه بقسطه ويضارب بقسط من الثمن

Orang yang berpendapat demikian juga menerapkan metode ini dalam masalah syuf‘ah. Ia berkata: Jika seseorang menjual sebuah pedang yang nilainya seratus dan sebidang tanah (syuqṣ) yang nilainya sepuluh dengan harga seratus sepuluh, lalu datang pemilik hak syuf‘ah menuntut bagian tanah tersebut, maka menurut satu pendapat dikatakan: “Ambillah bagian tanah itu dengan seluruh harga atau tinggalkan hak syuf‘ah.” Menurut pendapat lain dikatakan: “Ambillah bagian tanah itu sesuai dengan proporsinya.” Namun, menurut saya, pendapat ini hampir mendekati pelanggaran ijmā‘, sehingga pendapat yang benar adalah bahwa penjual berhak mengambil kembali sisanya dan mengambil bagiannya secara proporsional, serta menuntut bagian dari harga tersebut.

فإن قيل كيف نعتبر قيمة الفائت والباقي قلنا نحن على قرب عهدٍ بهذا فالفائت بمنزلة الثمار في المسألة العويصة في صدر الكتاب إذا صوَّرنا فواتها والعبد الباقي بمثابة الشجرة الباقية وقد ذكرنا تفصيل المسألة على أحسن مساق

Jika dikatakan, bagaimana kita mempertimbangkan nilai yang telah hilang dan yang masih tersisa, kami katakan: Kita masih dekat dengan masa kejadian ini, maka yang telah hilang itu seperti buah-buahan dalam masalah yang rumit di awal kitab ini ketika kita membayangkan buah itu telah hilang, dan budak yang masih ada itu seperti pohon yang masih tersisa. Kami telah menyebutkan rincian masalah ini dengan penjelasan yang sebaik-baiknya.

فصل

Bab

قال ولو كانت داراً فبنيت أو أرضاً فغرست إلى آخره

Dan jika itu adalah sebuah rumah lalu dibangun, atau tanah lalu ditanami, dan seterusnya.

هذا من فصول الكتاب فليخصِّصْه الناظر بتثبُّت في الفكر

Ini adalah salah satu bagian dari kitab, maka hendaknya pembaca memberinya perhatian khusus dengan ketelitian dalam berpikir.

إذا باع الرجل أرضاً من إنسان وسلّمها فغرسها المشتري أو بنى فيها ثم أفلس وما كان أدّى الثمن والأرض مبنية و مغروسة فالوجه التنبيه لمثار الإشكال في المسألة أولاً ثم نخوض فيها بعون الله وتوفيقه

Jika seseorang menjual sebidang tanah kepada orang lain dan telah menyerahkannya, lalu pembeli menanaminya atau membangun di atasnya, kemudian ia jatuh pailit sementara ia belum membayar harga tanah tersebut, dan tanah itu telah dibangun dan ditanami, maka yang perlu dilakukan adalah menunjukkan sumber permasalahan dalam masalah ini terlebih dahulu, kemudian kita akan membahasnya dengan bantuan dan taufik Allah.

فنقول المشتري بغرسه وبنائه متصرف في ملك نفسه وليس أيضاًً على رتبة مستعير؛ فإن العاريّة عرضة الاسترداد و لما أفلس وقد تمهد في الشرع أن البائع يرجع إلى عين ماله وعين ماله عتيدة ولكنها مُغيَّرة والجمع بين تفريغ الأرض له وبين رعاية حق المشتري والغرماء عَسِر فكيف السبيل فنقول أولاً إن طمع البائع في أن يقلع البناء والغراس مجاناً وتحبَطَ قيمة البناء والغراس ويرد إلى النقض والحطب فهذا طمع محال؛ فإن المشتري لم يكن غاصباً وإنما يُنقض على هذا الوجه بناء الغاصب وغراسه

Maka kami katakan bahwa pembeli, dengan menanam dan membangun, bertindak dalam kepemilikan miliknya sendiri, dan ia juga tidak berada pada kedudukan seperti peminjam; karena barang pinjaman itu rawan untuk diminta kembali. Ketika ia bangkrut, dan telah ditetapkan dalam syariat bahwa penjual berhak kembali kepada barang miliknya, maka barang miliknya itu memang tersedia, namun telah berubah. Menggabungkan antara mengosongkan tanah untuk penjual dengan menjaga hak pembeli dan para kreditur adalah hal yang sulit. Lalu bagaimana solusinya? Maka pertama-tama kami katakan, jika penjual berharap dapat mencabut bangunan dan tanaman secara cuma-cuma, dan nilai bangunan serta tanaman itu hilang, lalu dikembalikan dalam bentuk bongkahan dan kayu bakar, maka harapan itu adalah mustahil; karena pembeli bukanlah seorang perampas. Adapun pembongkaran dengan cara seperti ini hanya berlaku pada bangunan dan tanaman milik perampas.

فلو قال البائع لست أرجع في عين الأرض إلا على هذا الوجه قلنا فلا مرجع لك إذاً فضارب الغرماء بالثمن واقنع بما يخصك

Jika penjual berkata, “Aku tidak akan mengambil kembali tanah itu kecuali dengan cara ini,” maka kami katakan, “Kalau begitu, kamu tidak memiliki hak untuk mengambil kembali.” Maka bersainglah dengan para kreditur atas harga (tanah) tersebut dan terimalah bagian yang menjadi hakmu.

وإن كان لا يبغي البائع هذا المحال ولكن أراد أن يرجع إلى عين حقه

Dan jika penjual tidak menginginkan hal yang mustahil ini, melainkan ia bermaksud untuk kembali kepada barang haknya sendiri.

ومعلوم أن الأرض البيضاءَ أكثرُ قيمة من الأرض المبنية والمغروسة إذا كانت تباع دون الغراس والبناء فلا بد وأن يتداخله نقص

Dan telah diketahui bahwa tanah kosong (al-arḍ al-bayḍā’) lebih tinggi nilainya daripada tanah yang telah dibangun atau ditanami, jika dijual tanpa tanaman dan bangunan, maka pasti akan ada pengurangan nilainya.

فإذا تنبه الفقيه لهذا ولما ذكرناه فعبارات الأصحاب فيها بعض الإيهام والخبط وأنا بعون الله تعالى آتي بمقصود الطرق على أقرب صيغةٍ إن شاء الله تعالى

Jika seorang faqih memperhatikan hal ini dan apa yang telah kami sebutkan, maka ungkapan-ungkapan para ulama terkadang mengandung sebagian kerancuan dan kekeliruan. Dengan pertolongan Allah Ta‘ala, aku akan menyampaikan maksud dari berbagai metode tersebut dengan redaksi yang paling ringkas, insya Allah Ta‘ala.

فأقول

Maka aku berkata

حاصل ما ذكره الأئمة في ذلك أقوال أحدها أنا نجعل البائع واجداً عين ماله فليرجع فيها من غير أن يعتقد جواز القلع مجاناً وله أحكامٌ على هذا القول سأصفه في التفريع

Kesimpulan dari apa yang disebutkan para imam dalam hal ini ada beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa kita menganggap penjual menemukan kembali barang miliknya, maka ia boleh mengambilnya kembali tanpa meyakini bolehnya mencabut secara cuma-cuma. Pendapat ini memiliki beberapa hukum yang akan saya jelaskan dalam rincian selanjutnya.

والقول الثاني أنا نجعل بائع الأرض فاقداً عين ماله فإن قيل لم ذلك وهو

Pendapat kedua menyatakan bahwa kita menganggap penjual tanah sebagai orang yang kehilangan barang miliknya. Jika ditanyakan, mengapa demikian padahal ia…

يقول أنا أقنع بالأرض ناقصةً ولا أقلع الغراس والبناء قلنا قد جرى البناء بحق وقيمته على مبلغ لو كانت الأرض معه ولو رجع البائع بعين ماله لنقص البناء وإن لم يقلع فتضمن ذلك غضاً من قيمة البناء وقد أُنشىء بحق وليس كما لو كان المبيع مجرداً لا يؤدي الرجوعُ فيه إلى تنقيص حق المشتري ويتم وجه هذا القول بأن الباني يغرَم في البناء أموالاً يجبرها قيمة البناء فإذا قطعنا الأرض عن البناء تضمن ذلك تخسيراً للمشتري ظاهراً وهذا يضاهي الردَّ بالعيب القديم مع عيب حادث؛ فإنه لو تسامح كان استدراك ظلامة في ضمن إلحاق ظلامة

Ia berkata, “Saya rela dengan tanah yang berkurang nilainya dan tidak mencabut tanaman maupun bangunan.” Kami katakan, bangunan itu telah didirikan secara sah dan nilainya dihitung seandainya tanah itu tetap bersamanya. Jika penjual mengambil kembali barangnya, maka nilai bangunan akan berkurang, meskipun tidak dicabut, sehingga hal itu mengurangi nilai bangunan. Padahal bangunan itu telah didirikan secara sah, dan ini tidak sama seperti jika barang yang dijual itu hanya berupa tanah kosong, di mana pengembalian barang tidak menyebabkan berkurangnya hak pembeli. Penjelasan pendapat ini adalah bahwa orang yang membangun telah mengeluarkan biaya untuk bangunan, yang nilainya diukur dengan harga bangunan itu. Jika tanah dipisahkan dari bangunan, hal itu jelas merugikan pembeli. Ini serupa dengan pengembalian barang karena cacat lama yang disertai cacat baru; jika ada toleransi, maka itu berarti mengatasi satu kezaliman dengan menambah kezaliman lain.

هذا بيان هذا القول

Ini adalah penjelasan dari pendapat ini.

وذكر بعض أصحابنا قولاً ثالثاً وهو أن البائع يرجع في عين الأرض ولكن لا يمكن بيعها فتباع الأرض مع البناء؛ حتى لا يؤدي إلى التخسير ويجعل البائع الراجع شريكاً بمثابة صاحب الثوب غير المصبوغ إذا صبغ المشتري ثوبَه على تفاصيلَ ستأتي إن شاء الله عزّ وجلّ ثم الثوب المصبوغ يباع ويوزع الثمن على قيمة الثوب والصبغ وهذا عدلٌ في رعاية الحقين؛ فلا صاحب البناء يبيع بناءه وحده ولا صاحب الأرض بل تباعان

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga, yaitu bahwa penjual berhak kembali pada tanah itu secara langsung, namun ia tidak dapat menjualnya sendiri. Maka tanah tersebut dijual bersama bangunannya, agar tidak menimbulkan kerugian. Penjual yang kembali dianggap sebagai mitra, seperti pemilik kain yang belum diwarnai apabila pembeli mewarnai kainnya, dengan rincian yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian kain yang telah diwarnai itu dijual dan harga jualnya dibagi berdasarkan nilai kain dan nilai pewarnaannya. Ini adalah keadilan dalam menjaga hak kedua belah pihak; sehingga pemilik bangunan tidak menjual bangunannya saja, dan pemilik tanah pun demikian, melainkan keduanya dijual bersama.

ومن سلك المسلك المقدم استبعد الحجر على صاحب الأرض في بيعه أرضَه وقال ليس ذلك كالثوب والصبغ؛ فإن إفراد أحدهما بالبيع غير ممكن فاضطررنا إلى بيع الثوب في الحقين

Dan barang siapa yang menempuh pendekatan yang disebutkan sebelumnya, menganggap tidak mungkin diberlakukan larangan (hajr) terhadap pemilik tanah dalam menjual tanahnya, dan ia berkata bahwa hal itu tidak sama dengan kain dan pewarna; karena memisahkan salah satu dari keduanya dalam jual beli tidaklah mungkin, sehingga kita terpaksa menjual kain tersebut dalam dua hak sekaligus.

وحكى العراقيون قولاً آخر بعيداً وقالوا إن كانت قيمة البناء أكثر فليس بائعُ الأرض واجداً عينَ ماله وإن كانت قيمة الأرض أكثر فصاحبُ الأرض واجدٌ لعين ماله ولعل هذا القائل يذهب مذهب اتباع الأقل و الأكثر ولم يتعرضوا لاستواء القيمتين وهذا يقل قدره عن إتعاب الفكر في تفريعه

Orang-orang Irak meriwayatkan pendapat lain yang jauh berbeda, mereka berkata: Jika nilai bangunan lebih besar, maka penjual tanah tidak mendapatkan kembali barangnya secara langsung. Namun jika nilai tanah lebih besar, maka pemilik tanah mendapatkan kembali barangnya secara langsung. Barangkali orang yang berpendapat demikian mengikuti metode membedakan antara yang lebih sedikit dan yang lebih banyak, dan mereka tidak membahas jika kedua nilai itu sama. Pendapat ini nilainya lebih rendah daripada upaya pemikiran dalam merincinya.

والآن نفرع على الأقوال فنقول من قال إنه فاقدٌ لعين ماله فنجعل حقه في المضاربة بالثمن ومن قال إنه واجد وليس وجدانه على مذهب الشركة التي ثبتت في الثوب المصبوغ فظاهرُ التفريع على هذا القول أنه إذا رجع في عين الأرض ثبتت له سلطنة وهي خِيَرةٌ بين ثلاث خلالٍ فإن أراد بذَلَ قيمة البناء والغراس ثابتين وإن أراد قلَعَهما وضمن ما ينقصه القلع وإن أراد بَقَّاهُما وألزم من يبقى البناء له أجر المثل له في المستقبل

Sekarang kita akan merinci berdasarkan pendapat-pendapat tersebut. Kami katakan: Barang siapa yang berpendapat bahwa ia kehilangan barangnya secara hakiki, maka haknya dalam mudharabah adalah pada harga (barang tersebut). Dan barang siapa yang berpendapat bahwa ia menemukannya, namun penemuannya tidak menurut mazhab syirkah yang telah ditetapkan pada kain yang telah diwarnai, maka penjelasan cabang hukum berdasarkan pendapat ini adalah: jika ia kembali pada barang berupa tanah secara fisik, maka ia memperoleh kekuasaan, yaitu pilihan di antara tiga hal: jika ia menghendaki, ia memberikan nilai bangunan dan tanaman dalam keadaan tetap; jika ia menghendaki, ia mencabut keduanya dan menanggung kerugian akibat pencabutan itu; dan jika ia menghendaki, ia membiarkan keduanya dan mewajibkan orang yang tetap memiliki bangunan tersebut untuk membayar sewa yang sepadan di masa mendatang.

والتعيين في كل خصلة من هذه الخصال إلى البائع الراجع وكأنا أحبَبْنا ردَّ الأرْض عليه كما خرجت عن ملكه فصدّنا عنه امتناعُ إبطال البناء والغراس فأثبتنا له رتبةَ سلطان المالكين حتى كأن البناء صدر عن إذنه وكأنه المعير ومن أعار أرضاً حتى نبتت وغرست فمآل الأمر يؤول إلى ما ذكرناه

Penentuan dalam setiap perkara dari perkara-perkara ini kembali kepada penjual yang memiliki hak kembali, seolah-olah kita ingin mengembalikan tanah itu kepadanya sebagaimana tanah itu telah keluar dari kepemilikannya. Namun, kita terhalang untuk membatalkan bangunan dan tanaman karena tidak memungkinkan, sehingga kami menetapkan baginya kedudukan seperti kekuasaan para pemilik, sampai-sampai seolah-olah bangunan itu didirikan dengan izinnya dan seolah-olah ia adalah orang yang meminjamkan tanah. Barang siapa meminjamkan tanah hingga ditanami dan ditumbuhi tanaman, maka pada akhirnya perkara itu kembali kepada apa yang telah kami sebutkan.

ومن تمام البيان في ذلك أن الغرماء لو امتنعوا عن قبول هذه الأشياء واختلفوا فعيّن البائع خصلة وطلبَ الغرماءُ والمشتري خصلة فكيف السبيل والحال هذه اختلف أصحابنا في هذه المسألة فمنهم من قال إذا استيقن منهم النكد وظهرت المخالفة قُلع الغراس والبناء مجاناً كما يفعل ذلك بين المعير والمستعير؛ فإن المستعير إذا أبى قبول خصلة من الخصال التي ذكرناها قُلع غراسه مجّاناً وقد نزّلنا البائع على التقدير الذي ذكرناه منزلة المعير هذا وجه

Sebagai penjelasan yang sempurna dalam hal ini, jika para kreditur menolak menerima barang-barang tersebut dan mereka berselisih, lalu penjual menentukan salah satu opsi dan para kreditur serta pembeli memilih opsi lain, maka bagaimana solusinya dalam keadaan seperti ini? Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika telah diyakini adanya kesulitan dari mereka dan tampak adanya perselisihan, maka tanaman dan bangunan dicabut secara cuma-cuma, sebagaimana yang dilakukan antara pemberi pinjaman dan peminjam; karena jika peminjam menolak menerima salah satu dari beberapa opsi yang telah kami sebutkan, maka tanamannya dicabut secara cuma-cuma. Kami telah menyamakan posisi penjual dalam kasus yang telah kami sebutkan dengan posisi pemberi pinjaman. Inilah salah satu pendapat.

والوجه الثاني أنهم وإن خالفوا ولم يقبلوا لم يُقلع بناؤهم مجاناً ولكنا نقول للبائع ماذا تريد فإن أراد القلع قلعنا ولهم ما ينقصه القلع وإن أراد تملك البناء والغراس بالقيمة ملّكناه تلك الأعيان وألزمناه قيمتها وإن أراد أن يلزمهم الأجرة ما أبقَوْا البناء والشجر ألزمناهم؛ فلا حاجة إلى تعطيل حقوقهم وقلع بنائهم وغراسهم مجاناً ونحن نتمكن من تحصيل ما يريده البائع في الخِيَرَات الثلاث

Adapun sisi kedua, meskipun mereka menyalahi dan tidak menerima, bangunan mereka tidak dicabut secara cuma-cuma. Namun, kami katakan kepada penjual: “Apa yang Anda inginkan?” Jika ia menginginkan pencabutan, maka kami cabut dan mereka berhak atas apa yang berkurang akibat pencabutan itu. Jika ia menginginkan untuk memiliki bangunan dan tanaman dengan membayar nilai, maka kami jadikan bangunan dan tanaman itu miliknya dan mewajibkan ia membayar nilainya. Jika ia ingin mewajibkan mereka membayar sewa selama bangunan dan pohon itu masih ada, maka kami wajibkan mereka membayar sewa. Maka tidak perlu menelantarkan hak-hak mereka dan mencabut bangunan serta tanaman mereka secara cuma-cuma, padahal kami mampu memenuhi keinginan penjual dalam tiga pilihan tersebut.

نعم إذا عاند المستعير ارتفع عذرُ المعير وجاز له استرداد الأرض كما كانت من غير غرم وسنستقصي ذلك في كتاب العاريّة والمشتري لا يعتمد بناءه وغراسه إذنا متعرضاً للرجوع ولكنه اعتمد ملكه الثابت فلا حاجة لتعطيل تصرفه وتخسيره ماله

Ya, jika peminjam bersikeras menolak, maka uzur pemberi pinjaman menjadi gugur dan ia boleh mengambil kembali tanah tersebut seperti semula tanpa menanggung kerugian. Hal ini akan dibahas lebih rinci dalam Kitab ‘Ariyah. Adapun pembeli, ia tidak mendasarkan pembangunan dan tanamannya pada izin yang memungkinkan penarikan kembali, melainkan ia mendasarkan pada kepemilikan yang tetap, sehingga tidak perlu menghalangi tindakannya dan merugikan hartanya.

وإن فرعنا على أن بائع الأرض يرجع فيها رجوع بائع الثوب بعد صبغه فمعنى ذلك أن الأرض والغراس أو البناء يباعان معاً ويوزّع الثمن عليهما فما خص الأرض كما سنصف التوزيع ينفرد البائع به وما خص البناء فهو للمشتري وغرمائه

Jika kita berpendapat bahwa penjual tanah dapat mengambil kembali tanahnya seperti penjual kain setelah kain itu diwarnai, maka maksudnya adalah tanah dan tanaman atau bangunan dijual bersama-sama dan harga jual dibagi di antara keduanya. Bagian harga yang khusus untuk tanah, sebagaimana akan kami jelaskan cara pembagiannya, menjadi hak penjual sendiri, sedangkan bagian harga yang khusus untuk bangunan menjadi milik pembeli dan para krediturnya.

ومن امتنع من بيع ما أضفناه إليه أُجبر على البيع؛ فإنا لو كلفنا واحداً أن ينفرد ببيع ملكه لكان ذلك مضراً به مُخسراً إياه وسبيل الأرض والبناء في هذه القاعدة وهي الحَمْل على بيعهما كسبيل الثوب والصبغ على ما سنذكره

Dan siapa pun yang menolak untuk menjual apa yang telah kami nisbatkan kepadanya, maka ia dipaksa untuk menjualnya; sebab jika kami membebani seseorang untuk menjual miliknya sendiri secara terpisah, hal itu akan merugikannya dan menyebabkan kerugian baginya. Adapun hukum tanah dan bangunan dalam kaidah ini, yaitu keharusan menjual keduanya, adalah seperti hukum kain dan pewarnaan, sebagaimana akan kami jelaskan.

هذا بيان هذا القول على الجملة وتمام بيانه موقوف على بيان كيفية التوزيع

Ini adalah penjelasan pendapat ini secara garis besar, dan penjelasan lengkapnya bergantung pada penjelasan tentang tata cara pembagian.

وقد اختلف أصحابنا فيه فمنهم من قال تقوَّم الأرض دون النخيل والبناء ثم مع النخيل والبناء فنقول قيمتهما دونها مائة ومعها مائة وخمسون فيقسم الثمن أثلاثا بالغاً ما بلغ ثلثاه لمالك الأرض ومنهم من قال تقوّم الأرض دون النخيل والبناء فإذا قيمتها مائة ثم يقوّم البناء والنخيل دون الأرض فإذا قيمتهما مائة فيقسم الثمن بينهما نصفين وقد تقدّم نظير هذا الاختلاف في الأصول السابقة

Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tanah dinilai tanpa memperhitungkan pohon kurma dan bangunan, kemudian dinilai bersama pohon kurma dan bangunan. Misalnya, jika nilainya tanpa pohon kurma dan bangunan adalah seratus, dan bersama keduanya menjadi seratus lima puluh, maka harga dibagi menjadi tiga bagian, berapapun jumlahnya, dua pertiganya untuk pemilik tanah. Sebagian lain berpendapat bahwa tanah dinilai tanpa pohon kurma dan bangunan, misalnya nilainya seratus, kemudian bangunan dan pohon kurma dinilai tanpa tanah, misalnya nilainya seratus, lalu harga dibagi dua sama rata antara keduanya. Perbedaan pendapat serupa telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.

ولو وهب رجل أرضاً بيضاء وسلمها وكان يثبت له حق الرجوع في

Jika seseorang memberikan hibah sebidang tanah kosong dan telah menyerahkannya, sementara ia masih memiliki hak untuk menarik kembali hibah tersebut,

الهبة فلو بنى المتَّهب وغرس فيها فرَجْع الواهب في الأرض بعد بناء المتهب وغراسه كرجوع البائع في كل تفصيلٍ بلا فرق في الأقوال والتفريع عليها

Hibah, maka jika penerima hibah membangun dan menanam di atasnya, kemudian pemberi hibah menarik kembali tanah tersebut setelah penerima hibah membangun dan menanam, maka hukum kembalinya pemberi hibah atas tanah itu sama dengan hukum kembalinya penjual dalam setiap rincian, tanpa ada perbedaan dalam pendapat dan cabang-cabang hukumnya.

فرع إذا باع الرجل جاريةً فولدت في يد المشتري وأفلس المشتري وكان الولد بحيث لا يرجع فيه بائع الجارية ومنعنا التفريق بين الأم وولدها فكيف يرجع البائع وليس الولد له

Cabang masalah: Jika seseorang menjual seorang budak perempuan, lalu budak itu melahirkan anak di tangan pembeli, kemudian pembeli jatuh pailit, dan anak tersebut berada dalam kondisi di mana penjual budak tidak dapat mengambilnya kembali, serta kami melarang pemisahan antara ibu dan anaknya, maka bagaimana penjual dapat mengambil kembali budaknya, padahal anak itu bukan miliknya?

ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنه يقال له إما أن تبذل قيمة الولد فتأخذه مع الجارية وإما أن يباعا معاً فتأخذ حصتك من الجارية وتدفع إلى الغرماء ما يقابل الولد

Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah dikatakan kepadanya, “Engkau boleh memilih, apakah engkau membayar nilai anak itu lalu mengambilnya bersama budak perempuan tersebut, atau keduanya dijual bersama-sama, lalu engkau mengambil bagianmu dari budak perempuan itu dan membayar kepada para kreditur sejumlah yang sepadan dengan anak tersebut.”

والوجه الثاني أنه يقال إما أن تبذل بدلَ الولد وإما ألافجعلك واجداً لعين مالك فتضارب الغرماء بثمن الجارية ويبطل حقك من الرجوع فإذا كان يرجع البائع في الجارية الحامل ولا يرجع في حملها على قولٍ في صورةٍ فلا وجه إلا المكث إلى انفصال الولد وعند ذلك يتفرع ما ذكرناه في الجارية وولدها من اختلاف الجوابين عن طريقة العراق ولا يمكننا أن نقوّمها حاملاً ونقوّمها حائلاً؛ فإن الحمل غير موثوق به قبل الانفصال فلا ينتظم توزيع يُهتدى إليه والأصحُّ وظاهر النص أنه يرجع في الحمل كما تقدم

Adapun sisi kedua, dapat dikatakan: apakah Anda akan memberikan pengganti anak, ataukah saya akan menjadikan Anda sebagai orang yang memiliki harta Anda sendiri, sehingga Anda bersaing dengan para kreditur atas harga budak perempuan tersebut, dan hak Anda untuk kembali menjadi gugur. Maka, jika penjual dapat kembali pada budak perempuan yang sedang hamil namun tidak dapat kembali pada kandungannya menurut salah satu pendapat dalam suatu kasus, maka tidak ada jalan lain kecuali menunggu hingga anak tersebut lahir. Setelah itu, akan bercabang apa yang telah kami sebutkan mengenai budak perempuan dan anaknya, berupa perbedaan dua jawaban menurut metode Irak. Kami tidak dapat menaksirnya dalam keadaan hamil dan menaksirnya dalam keadaan tidak hamil; karena kehamilan tidak dapat dipastikan sebelum kelahiran, sehingga tidak mungkin dilakukan pembagian yang dapat dijadikan pedoman. Pendapat yang paling sahih dan yang tampak dari nash adalah bahwa penjual dapat kembali pada kandungan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فصل

Bab

قال ولو كانا عبدين بمائةٍ إلى آخره

Ia berkata: “Dan seandainya keduanya adalah dua budak dengan harga seratus, dan seterusnya.”

صورة المسألة باع عبدين متفقي القيمة بمائةٍ وقبض خمسين فتلف أحدهما في يد المشتري وفُلِّس فقد اجتمع في المسألة تبعيضٌ في الثمن وتبعيض في المثمن فإن البائع قبض نصف الثمن وبقي في يد المشتري عبدٌ وهو على نصف قيمة المثمن فالذي نص عليه الشافعي أن البائع يرجع في العبد الباقي ببقيّة الثمن فجميع المقبوض من الثمن في الهالك والباقي في القائم وصار في هذا إلى أن إحالة البائع على المفلس بشيء من الثمن مع أن الباقي من المثمن وافٍ بالباقي من الثمن لا وجه له وكأن هذا القائل يجعل تعلق البائع بالمبيع في الثمن بمثابة تعلق المرتهن بالرّهنِ في مقابلة الدين

Gambaran masalahnya adalah seseorang menjual dua budak yang nilainya sama seharga seratus, lalu menerima lima puluh, kemudian salah satu dari keduanya rusak di tangan pembeli dan pembeli dinyatakan pailit. Maka dalam masalah ini terkumpul pemisahan pada harga dan pemisahan pada barang yang dijual; karena penjual telah menerima setengah dari harga dan tersisa di tangan pembeli satu budak, yang nilainya setengah dari barang yang dijual. Pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i adalah bahwa penjual berhak kembali menuntut sisa harga pada budak yang masih ada. Maka seluruh harga yang telah diterima diperuntukkan bagi budak yang telah rusak, dan sisanya untuk budak yang masih ada. Dalam hal ini, penjual tidak dapat mengalihkan tuntutannya kepada orang yang pailit untuk sebagian harga, sementara sisa barang yang dijual masih cukup untuk menutupi sisa harga; hal itu tidak dapat dibenarkan. Seolah-olah pendapat ini menyamakan keterikatan penjual pada barang yang dijual terhadap harga dengan keterikatan pemegang gadai pada barang gadai sebagai jaminan utang.

وفي المسألة قول آخر خرّجه الأصحاب من أجوبة الشافعي في الصداق والزكاة وهو أن المقبوض من الثمن يتوزع على التالف والباقي؛ والباقي من الثمن يقابل التالف والباقي وهذا يتضمن أن يرجع في نصف العبد القائم الذي في يد المشتري ويضارب الغرماء بما يقابل نصف التالف فيقع الرجوع في ربع الجملة وهو نصف العبد القائم وتقع المضاربة في ربع الثمن

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain yang dikemukakan oleh para ulama berdasarkan jawaban-jawaban Imam Syafi‘i dalam masalah mahar dan zakat, yaitu bahwa bagian harga yang telah diterima dibagi antara barang yang rusak dan yang masih ada; sedangkan sisa harga menjadi penyeimbang bagi barang yang rusak dan yang masih ada. Ini berarti bahwa pengembalian dilakukan pada setengah budak yang masih ada di tangan pembeli, dan ia bersaing dengan para kreditur atas bagian yang sepadan dengan setengah barang yang rusak, sehingga pengembalian terjadi pada seperempat keseluruhan, yaitu setengah budak yang masih ada, dan persaingan (mudārabah) terjadi pada seperempat harga.

وهذا القول المترجم بالشيوع اختيار المزني وهو القياس والقول الأول يُشهر بقول الحصر

Pendapat yang dikenal luas ini adalah pilihan al-Muzani dan merupakan qiyās, sedangkan pendapat pertama dikenal dengan sebutan pendapat pembatasan.

وسنذكر حقيقة الشيوع في كتاب الصداق إن شاء الله تعالى

Kami akan menjelaskan hakikat syuyu‘ dalam kitab tentang mahar, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال ولو أكراه أرضاً ففُلِّس والزرع بقلٌ في أرضه إلى آخره

Ia berkata: Dan jika seseorang menyewakan tanahnya, lalu ia dinyatakan pailit, sementara tanaman di tanahnya masih berupa kecambah hingga seterusnya.

إذا اكراه أرضاً مدة ولم يقبض الأجرة وسلّم الأرض ثم أفلس المكتري فالمكري في بقية المدة بمثابة البائع الواجد لبعض المبيع بعينه والمنافع في المدة الماضية مستوفاة فائتة فلا يتوقع الرجوع فيها والمنفعة الباقية بمثابة بعض المبيع؛ فللمكري أن يفسخ الإجارة في بقية المدة ويرجع إلى قسطٍ من الأجرة في مقابلة المنافع المستوفاة

Jika seseorang menyewakan tanah untuk suatu jangka waktu tertentu namun belum menerima pembayaran sewa dan telah menyerahkan tanah tersebut, kemudian penyewa jatuh pailit, maka pemilik tanah untuk sisa masa sewa berada dalam posisi seperti penjual yang menemukan sebagian barang jualannya masih ada. Adapun manfaat yang telah dinikmati selama masa sewa yang telah berlalu sudah terpakai dan tidak dapat diminta kembali. Sedangkan manfaat yang tersisa diperlakukan seperti sebagian barang yang masih ada; maka pemilik tanah berhak membatalkan akad sewa untuk sisa masa sewa dan menuntut bagian dari pembayaran sewa sebagai imbalan atas manfaat yang telah dinikmati.

هذا هو المنصوص عليه وهو الذي قطع به جماهير الأئمة

Inilah yang telah dinyatakan secara tegas dan inilah yang dipastikan oleh mayoritas para imam.

وحكى صاحب التقريب قولاً غريباً أنه لا يثبت الرجوع بالمنافع وليست كالأعيان؛ فإن الوجود لا يتحقق فيها وإنما الرجوع في الأعيان القائمة فلا مرجع للمكري إلا إلى المضاربة بالأجرة المسماة ثم تلك المنافع في بقية المدة ينبغي ألا تضيع ولكن تكرى الأرض في بقية المدة وتصرف أجرتها إلى ديون المفلس

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan sebuah pendapat yang ganjil, yaitu bahwa tidak berlaku pengembalian pada manfaat, karena manfaat tidak seperti benda (‘ayn); keberadaannya tidak dapat terwujud pada manfaat, sedangkan pengembalian hanya berlaku pada benda yang masih ada. Maka, tidak ada jalan bagi pemilik sewa kecuali dengan bersaing dalam mendapatkan upah yang telah disebutkan. Kemudian, manfaat dari sisa masa sewa seharusnya tidak hilang begitu saja, melainkan tanah tersebut disewakan kembali untuk sisa masa sewa dan hasil sewanya digunakan untuk membayar utang-utang orang yang pailit.

وهذا القول وإن كان يتجه بعض الاتجاه فليس معدوداً من متن المذهب

Pendapat ini, meskipun memiliki arah tertentu, tidak termasuk dalam inti mazhab.

فنعود إلى التفريع على النص ونقول

Maka kita kembali kepada penjabaran atas nash dan berkata

إذا أراد الرجوع إلى المنفعة في بقية المدة فالوجه تقويمها فيما يبقى من الزمان حتى إذا ثبت مقدار أجرتها قيس بمقدار أجرة المثل للمنفعة الماضية ثم يقع التوزيع على المبلغين فيأخذ المنفعة الباقية بما يساويها من الأجرة المسماة المنسوبة إلى أجرة المثل ويضارب بما يقابل أجرة المنفعة الماضية من الأجرة المسمّاة ولا تعويل على زمانٍ؛ فإن الأوقات ليست معقوداً عليها وإنما المعقود عليه المنافع الواقعة فيها فهي لها ظروف مقدرةٌ كالآصع والمكاييل للمكيلات ومبَالغ الأجر تتفاوت بكثرة الراغبين وقلتهم فيعتبر ذلك لا الزمانُ نفسه وقد تقع المنافع في الزمان الماضي وفي المستقبل في مواسم الرغبات فالمسكن في موسم الحج قد يكترى بالمائة وأيام الموسم شهرٌ أو أقل وذلك المسكن يكترى في طول السنة بعشرة فلا بد من اعتبار هذا وسنصفه إن شاء الله تعالى

Jika seseorang ingin kembali memanfaatkan manfaat (objek sewa) pada sisa waktu, maka caranya adalah menaksir nilai manfaat tersebut untuk sisa waktu yang ada. Setelah diketahui besaran upah sewanya, maka dibandingkan dengan besaran upah sewa sepadan untuk manfaat yang telah lalu, kemudian dilakukan pembagian pada kedua jumlah tersebut. Maka, ia mengambil manfaat yang tersisa sesuai nilai upah yang sepadan dari upah yang telah disepakati yang disesuaikan dengan upah sewa sepadan, dan ia berhak atas bagian dari upah yang disepakati yang sepadan dengan upah manfaat yang telah lalu. Tidak perlu memperhitungkan waktu, karena waktu itu sendiri bukanlah objek akad, melainkan yang menjadi objek akad adalah manfaat yang terjadi di dalamnya. Maka waktu hanyalah wadah yang diukur, seperti takaran dan timbangan untuk barang yang ditakar, dan besaran upah berbeda-beda tergantung banyak atau sedikitnya peminat, sehingga yang diperhitungkan adalah hal itu, bukan waktu itu sendiri. Bisa jadi manfaat terjadi pada waktu yang telah lalu atau di masa depan pada musim-musim yang banyak peminatnya. Misalnya, rumah di musim haji bisa disewa dengan harga seratus, padahal hari-hari musim itu hanya sebulan atau kurang, sedangkan rumah yang sama disewa sepanjang tahun hanya dengan harga sepuluh. Maka hal ini harus diperhitungkan, dan akan kami jelaskan insya Allah Ta‘ala.

ولو كان أكرى أرضا وسلَّمها فزرعها المكتري وفُلِّس واختار المكري الرجوعَ إلى المنفعة في بقية المدة فليفعل ذلك وليفسخ الإجارة ولا سبيل إلى قلع الزرع؛ فإنه زرع بحق الملك ولا يجوز للمكري القلع بشرط ضمان النقصان بخلاف ما ذكرناه في الغراس والبنيان والسبب فيه أن الغراس والبنيان لا ينتهيان إلى أمدٍ في الزمان فلم يبعد التسليط فيهما على القلع بشرط الضمان والزرعُ له أمد معلوم

Jika seseorang menyewakan tanah lalu menyerahkannya, kemudian penyewa menanaminya dan dinyatakan pailit, lalu pemilik tanah memilih untuk kembali mengambil manfaat tanah pada sisa masa sewa, maka ia boleh melakukannya dan membatalkan akad sewa. Namun, tidak boleh mencabut tanaman yang telah ditanam; karena tanaman itu ditanam dengan hak kepemilikan. Tidak boleh bagi pemilik tanah mencabut tanaman dengan syarat menanggung kerugian, berbeda dengan yang telah kami sebutkan mengenai tanaman keras dan bangunan. Sebabnya adalah karena tanaman keras dan bangunan tidak memiliki batas waktu tertentu, sehingga tidak mengapa memberi wewenang untuk mencabutnya dengan syarat menanggung kerugian, sedangkan tanaman memiliki batas waktu yang jelas.

وأقرب المسالك في استدارك الحقوق جُمَع تبقيةُ الزرع ثم فائدة فرعه الإجارةَ أنه يرجع إلى أجرة المثل للمدة الباقية لا يضارب بها بل يُقدَّم بها كما نُقدِّم مَنْ تعامل بعد الإفلاس معاملة تليق باستصلاح أموال المفلس فيرجع بأجرة المثل فيما بقي من المدة مقدَّماً بها ويضارب بأجرة مثل ما سبق من المنافع الغرماءَ

Jalan yang paling dekat dalam menjaga hak-hak adalah dengan mengumpulkan sisa hasil panen, kemudian manfaat cabangnya adalah bahwa dalam masalah ijarah, seseorang kembali kepada upah sewa yang sepadan untuk sisa waktu yang ada; ia tidak bersaing dengan para kreditur, melainkan didahulukan sebagaimana kita mendahulukan orang yang melakukan transaksi setelah terjadi iflās (kebangkrutan) dengan transaksi yang sesuai untuk memperbaiki harta orang yang bangkrut. Maka ia berhak atas upah sewa yang sepadan untuk sisa waktu secara didahulukan, dan bersaing dengan para kreditur atas upah sewa yang sepadan untuk manfaat yang telah lalu.

وقد كنا ذكرنا أن من باع أرضاً وسلمها؛ فزرعها المشتري ثم أفلس ورجع البائع إلى عين الأرض فالزرع يبقى إلى الحصاد كما ذكرناه ثم لا يرجع البائع بأجرة مثل الأرض في تلك المدة وفرقنا بين الشراء والاكتراء بأن المكتري خاض في العقد على ضمان المنافع والمشتري لم يخض على ضمان المنفعة هذا ما ذهب إليه جميع الأصحاب

Kami telah menyebutkan bahwa apabila seseorang menjual sebidang tanah dan menyerahkannya, lalu pembeli menanaminya kemudian ia bangkrut, dan penjual kembali menuntut tanah tersebut, maka tanaman tetap dibiarkan hingga masa panen sebagaimana telah kami sebutkan. Setelah itu, penjual tidak berhak menuntut upah sewa tanah selama masa tersebut. Kami membedakan antara jual beli dan sewa-menyewa, karena penyewa telah terikat dalam akad untuk menjamin manfaat, sedangkan pembeli tidak terikat untuk menjamin manfaat. Inilah pendapat seluruh para sahabat (ulama).

وحكى صاحب التقريب قولاً مخرجاً عن ابن سريج في أن البائع إذا فسخ البيعَ ورجع في المبيع استحق أجرة المثل لبقية المدة؛ فإن الأرض انقلبت إلى ملكه والمنافع المحتسبة بسبب إبقاء الزرع تالفة من حقه وملكه فلتُضمن له

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan suatu pendapat yang dinisbatkan kepada Ibn Suraij, bahwa apabila penjual membatalkan akad jual beli dan mengambil kembali barang yang dijual, maka ia berhak atas upah sewa sepadan untuk sisa waktu yang ada; sebab tanah tersebut telah kembali menjadi miliknya, dan manfaat-manfaat yang tertahan akibat tetapnya tanaman yang ada merupakan hak dan miliknya, sehingga harus diganti rugi kepadanya.

وأقرب نظير في هذا أن المشتري لو بنى وغرس فأراد البائع الراجع في المبيع أن يُبقي البناءَ والغراسَ ويُلزم المفلسَ أجرة المثلِ مدة بقاء البناء فله ذلك وهذا أجرة منفعة في عاقبة بيعٍ فُسخ بالإفلاس فلا فرق بين منافع الأرض في مدة الزرع وبين منافعها في آمادٍ من البناء إلا أنَّ لإحدى المنفعتين أمداً محدداً

Contoh yang paling dekat dalam hal ini adalah jika pembeli telah membangun atau menanam, lalu penjual yang menarik kembali barang yang dijual ingin agar bangunan dan tanaman tersebut tetap ada, dan ia mewajibkan orang yang pailit untuk membayar sewa yang sepadan selama bangunan itu masih berdiri, maka ia berhak melakukan hal itu. Ini adalah sewa atas manfaat sebagai akibat dari jual beli yang dibatalkan karena pailit. Maka tidak ada perbedaan antara manfaat tanah selama masa penanaman dengan manfaatnya selama masa tertentu dari bangunan, kecuali bahwa salah satu dari kedua manfaat tersebut memiliki batas waktu yang jelas.

وهذا منقاسٌ بالغ

Dan ini termasuk qiyās yang kuat.

ولكن المذهب المشهور ما ذهب إليه الجمهور من أن منفعة الأرض في مدة الزرع في صورة البيع لا تقابل بأجرة وتعتقد كأنها تابعةٌ ومدةُ مهلة في تفريغ المبيع

Namun, mazhab yang masyhur adalah pendapat jumhur ulama bahwa manfaat tanah selama masa penanaman dalam kasus jual beli tidak diperhitungkan dengan sewa, melainkan dianggap sebagai sesuatu yang mengikuti (akad jual beli) dan merupakan masa tenggang untuk mengosongkan barang yang dijual.

ثم ما ذكرناه من أن الزرع لا يقلع عَنَيْنا به أن المكري لا يملك القلع بحق الفسخ فلو طلب الغرماء القلع ليتعجلوا ميسور حقوقهم أجيبوا ولو كان المكري من الغرماء بسبب المنفعة المستوفاة في الزمان الماضي فله المطالبة بالقلع لحق تعجيل الدين لا لحق الفسخ وهذا مما سبق تقريره

Kemudian, apa yang telah kami sebutkan bahwa tanaman tidak dicabut, maksudnya adalah bahwa pemilik sewa tidak berhak mencabutnya karena hak pembatalan. Namun, jika para kreditur meminta pencabutan agar mereka dapat segera memperoleh bagian dari hak mereka, maka permintaan mereka dikabulkan. Dan jika pemilik sewa termasuk di antara para kreditur karena manfaat yang telah dinikmati pada waktu yang telah lalu, maka ia berhak menuntut pencabutan demi percepatan pelunasan utang, bukan karena hak pembatalan. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

ولو اتفق الغرماء على التبقية واحتيج إلى السقي والتعهدِ إلى الإدراك؛ فإنْ تطوَّع الغرماءُ بهذا فلا كلام وإن أرادوا بذلَ المؤنةِ على أن يُقدَّموا بها ورضي المفلس واقتضت المصلحة ذلك أجيبوا إلى هذا

Jika para kreditur sepakat untuk membiarkan (tanaman atau barang) tetap ada dan diperlukan penyiraman serta perawatan hingga matang, maka jika para kreditur bersedia melakukan hal itu secara sukarela, tidak ada masalah. Namun jika mereka ingin mengeluarkan biaya dengan syarat mereka didahulukan dalam penggantian biaya tersebut dan pihak yang pailit setuju serta maslahat menuntut demikian, maka permintaan mereka itu dikabulkan.

فلو فرضنا غريمين لا غيرَ ثم قَدَّما المؤنة على نسبة حقَّيهما فإن لم يَبْدُ غريمٌ غيرُهما وحقوقهما تزيد على مبلغ المال فلا يظهرُ أثرُ تقديمنا للغريمين ما عجلاه من المؤنة؛ فإن المال كلَّه مصروف إلى حقوقهما وإن فرض بُدُوُّ غريمٍ ثالث فإذ ذاك يتبين أثر تقديمنا للغريمين بما عجلاه لمؤنة تبقية الزرع

Seandainya kita mengandaikan hanya ada dua kreditur saja, lalu mereka berdua mendahulukan biaya (mu’nah) sesuai dengan proporsi hak masing-masing, maka jika tidak muncul kreditur lain dan hak mereka berdua melebihi jumlah harta yang ada, maka tidak tampak pengaruh dari pendahuluan biaya yang telah mereka keluarkan; sebab seluruh harta itu akan digunakan untuk memenuhi hak mereka berdua. Namun, jika kemudian muncul kreditur ketiga, maka pada saat itulah akan tampak pengaruh dari pendahuluan biaya yang telah dikeluarkan oleh kedua kreditur tersebut untuk biaya pemeliharaan tanaman.

وهذا واضحٌ لا خفاء به

Dan ini jelas, tidak ada keraguan di dalamnya.

فصل

Bab

قال وإن باعه زيتاً فخلطه بمثله إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika ia menjual minyak lalu mencampurnya dengan minyak sejenisnya, dan seterusnya.”

إذا اشترى زيتاً وخلطه بما عنده لم يخل إما أن يخلطه بجنسه وإما أن يخلطه بما ليس جنساً له فإن خلطه بجنسه إما أن يخلطه بمثله أو أردأ منه أو أجود منه فإن خلطه بزيتٍ مثله أو أردأ منه فظاهر النص أن بائع الزيت واجدٌ عينَ ماله وسبيل رجوعه إلى عين ماله القسمةُ فإن كان الخلط بالمثل وكان خلطه مكيلةً بمكيلةٍ فالقسمة على السّوية

Jika seseorang membeli minyak lalu mencampurnya dengan minyak yang sudah dimilikinya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mencampurnya dengan jenis yang sama atau dengan yang bukan jenisnya. Jika ia mencampurnya dengan jenis yang sama, maka bisa jadi ia mencampurnya dengan minyak yang sejenis, yang kualitasnya lebih rendah, atau yang kualitasnya lebih baik. Jika ia mencampurnya dengan minyak yang sejenis atau yang kualitasnya lebih rendah, maka menurut teks yang jelas, penjual minyak tetap dapat menemukan barang miliknya, dan cara pengembaliannya kepada barang miliknya adalah dengan pembagian. Jika pencampuran itu dengan jenis yang sama dan dilakukan antara takaran dengan takaran, maka pembagiannya dilakukan secara merata.

وإن خلطه بأردَأ منه فالقسمة على السوية أيضاًً

Dan jika ia mencampurnya dengan yang kualitasnya lebih rendah darinya, maka pembagiannya juga dilakukan secara merata.

ثم إذا رَدَدْنا من هذا المختلط مقدار المبيع إلى البائع فلا شك أن حقه ناقص ولكن ما لحقه من النقص ملحقٌ بعيب يفرض طريانه وإذا عاب المبيع ثم أفلس المشتري وأراد البائع الرجوع إلى عين المبيع فيلزمه أن يقنع بالمبيع معيباً ولا يرجع بأرش

Kemudian, jika kita kembalikan dari barang campuran ini sejumlah barang yang dijual kepada penjual, maka tidak diragukan lagi bahwa haknya berkurang. Namun, kekurangan yang menimpanya itu disamakan dengan cacat yang dianggap telah terjadi. Jika barang yang dijual itu cacat, lalu pembeli bangkrut dan penjual ingin mengambil kembali barang tersebut secara langsung, maka penjual wajib menerima barang itu dalam keadaan cacat dan tidak boleh menuntut ganti rugi (arsh).

وهذا كلامٌ منّا مُبْهمٌ في صدر الفصل ولا ينتجز الفصل إلا بعد انكشاف الغطاء إن شاء الله تعالى

Ini adalah penjelasan dari kami yang masih samar di awal pembahasan, dan pembahasan ini tidak akan tuntas kecuali setelah tabirnya tersingkap, insya Allah Ta‘ala.

هذا إذا كان الخلط بالمثل أو الأردأ

Ini berlaku jika pencampuran dilakukan dengan barang sejenis atau dengan barang yang kualitasnya lebih rendah.

فأما إذا خلط المشتري الزيتَ بزيت عنده أجود فهل يكون البائع واجداً عين ماله تردد قولُ الشافعي فيه فقال في أحد القولين إنه واجد كما إذا وقع الخلط بالمثل أو الأردأ وكما لو باع ثوباً فصبغه المشتري فبائع الثوب واجد عينَ ماله وإن اتصل به عينُ مال المشتري اتصالاً لا يقبل التمييز على ما سنذكر هذا على الاتصال بهذا الفصل

Adapun jika pembeli mencampurkan minyak yang dibelinya dengan minyak miliknya sendiri yang lebih bagus, maka apakah penjual dianggap masih menemukan barang miliknya? Dalam hal ini terdapat keraguan dalam pendapat asy-Syafi‘i. Dalam salah satu pendapatnya, beliau mengatakan bahwa penjual tetap dianggap menemukan barang miliknya, sebagaimana jika pencampuran terjadi dengan barang yang sejenis atau yang kualitasnya lebih rendah. Hal ini juga seperti jika seseorang menjual kain, lalu pembeli mewarnai kain tersebut; maka penjual kain tetap dianggap menemukan barang miliknya, meskipun barang milik pembeli telah menyatu dengan barang milik penjual dalam bentuk yang tidak dapat dipisahkan, sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan ini.

وقال في القول الثاني البائع فاقدٌ في الحكم عينَ المبيع قال الشافعي لأن الذائب إِذا اختلط بالذائب انقلب وأشار إِلى أن عين المبيع لا يمتاز أصلاً ولا يتأتى امتيازه حساً ودَرْكاً وليس كالثوب يُصبغ والسَّوِيقُ يُلتُّ بالسّمن؛ فإِنّ أحد الجوهرين ممتازٌ في الدرك

Dan dalam pendapat kedua, penjual dianggap kehilangan secara hukum zat barang yang dijual. Imam Syafi‘i berkata, karena jika benda cair bercampur dengan benda cair lainnya, maka ia berubah, dan beliau menunjukkan bahwa zat barang yang dijual sama sekali tidak dapat dibedakan, baik secara inderawi maupun secara pengetahuan. Hal ini tidak seperti kain yang diwarnai atau tepung yang dicampur dengan minyak samin; karena salah satu dari dua unsur tersebut masih dapat dibedakan secara pengetahuan.

ثم إِن أصحابنا لما رأَوْا الشافعي يتعلق بانقلاب الذائب انعكسوا على الخلط بالمثل والأردأ فرأى بعضهم أن يخرّج فيما مضى قولاً أن البائع فاقدٌ عين ماله؛ فإن المبيع لا يأتي تميُّزه فصلاً ولا دَركُه على التعيين وقد ذكرنا أن من اشترى حنطة فانثالت عليها حنطة أخرى للبائع قبل التسليم إِلى المشتري فهل يُقضى بأنفساخ العقد فعلى قولين وإِذا كنا نجعل الاختلاط في قولٍ بمثابة تلفِ المبيع فلا يبعد أن يجعل الاختلاط بالمثل في يد المشتري بمثابة التلف

Kemudian, ketika para ulama kami melihat bahwa Imam Syafi‘i berpegang pada perubahan barang cair, mereka berbalik kepada pembahasan pencampuran dengan barang sejenis dan yang lebih rendah mutunya. Maka sebagian dari mereka berpendapat bahwa dalam kasus yang telah lalu dapat ditarik satu pendapat bahwa penjual dianggap kehilangan barang miliknya; karena barang yang dijual tidak mungkin lagi dibedakan secara jelas, dan tidak mungkin pula dituntut secara spesifik. Telah kami sebutkan bahwa jika seseorang membeli gandum, lalu sebelum diserahkan kepada pembeli gandum tersebut tercampur dengan gandum lain milik penjual, maka apakah akadnya batal? Dalam hal ini ada dua pendapat. Jika kita menganggap pencampuran dalam salah satu pendapat setara dengan rusaknya barang yang dijual, maka tidak mustahil pencampuran dengan barang sejenis di tangan pembeli juga dipandang seperti kerusakan.

ومن أصحابنا من أجرى الخلط بالمثل والأردأ على القطع وخصص القولين بما إِذا كان الخلط بالأجود وهذا ظاهر النص ومقتضى نظم كلام الشافعي ويبعد عن موافقة مراده أن نقول ما فصَّله ثم قطع جوابه في بعض التفاصيل وردده في البعضِ لا فرق فيه

Sebagian dari ulama mazhab kami ada yang memberlakukan hukum pencampuran dengan barang sejenis dan yang lebih rendah mutunya secara pasti, dan membatasi adanya dua pendapat hanya jika pencampuran terjadi dengan barang yang lebih baik mutunya. Ini adalah makna yang tampak dari nash dan sesuai dengan susunan perkataan asy-Syafi‘i. Jauh dari maksud beliau jika kita mengatakan sebagaimana yang telah dirincikan, kemudian beliau menetapkan jawabannya secara pasti pada sebagian rincian dan meragukannya pada sebagian yang lain, padahal tidak ada perbedaan di dalamnya.

وهذا إِن قيل به ردٌّ لكلام الشافعي وإِبطالٌ لتقسيمه وتفصيله

Dan jika pendapat ini dikatakan, maka itu merupakan penolakan terhadap pendapat asy-Syafi‘i dan pembatalan terhadap pembagian serta perinciannya.

ونحن نذكر تنبيهاً على قواعدَ في الخلط فنقول

Kami akan menyampaikan penjelasan mengenai beberapa kaidah dalam hal percampuran, maka kami katakan:

أما فرض الاختلاط في البيع قبل القبض فإِنه جارٍ في ملكٍ غيرِ مُفضٍ إِلى القرار وهو عرضةٌ للانقلاب إِلى البائع فإِن تردد القول وتمثل في انفساخ العقد عند اختلاط المبيع بمثله فسببه ما ذكرناه

Adapun kewajiban terjadinya percampuran dalam jual beli sebelum penerimaan barang, maka hal itu terjadi pada kepemilikan yang belum menetap dan masih berpotensi kembali kepada penjual. Jika terdapat keraguan pendapat dan muncul kemungkinan batalnya akad ketika barang yang dijual bercampur dengan barang sejenisnya, maka sebabnya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ولو كان للرجل ملكٌ مستقر في شيء دون شيء من ذوات الأمثال فاختلط به ملكٌ لغيره مثلٌ له وليس بينهما عقد يُفسخ فالوجه قسمة ذلك المختلط بينهما لا طريق غيره وليس في هذه الواقعة عقد يتوقع رفعه بل الاختلاط في المثليات يصير بمثابة الشيوع في الملك فلا فرق بين أن يرث رجلان صاعين من الحنطة في أن طريق التفاصل القسمة وبين أن يختلط صاعٌ لأحدهما بصَاعٍ لآخر؛ ولهذا صحت الخلطة في المثليات عمدةً للشركة كما سنصف ذلك في قاعدة الكتاب إِن شاء الله تعالى

Jika seseorang memiliki kepemilikan yang tetap atas suatu barang tertentu dari jenis barang yang memiliki padanan, lalu kepemilikan orang lain yang sepadan dengannya bercampur dengan miliknya, dan tidak ada akad di antara keduanya yang dapat dibatalkan, maka cara yang tepat adalah membagi barang yang tercampur itu di antara mereka berdua; tidak ada jalan lain. Dalam kasus ini tidak ada akad yang diharapkan untuk dibatalkan, melainkan percampuran pada barang-barang yang memiliki padanan menjadi seperti kepemilikan bersama, sehingga tidak ada perbedaan antara dua orang yang mewarisi dua sha‘ gandum, di mana cara memisahkan hak mereka adalah dengan membagi, dengan kasus tercampurnya satu sha‘ milik salah satu dari mereka dengan satu sha‘ milik yang lain. Oleh karena itu, percampuran pada barang-barang yang memiliki padanan sah dijadikan dasar untuk syirkah (kemitraan), sebagaimana akan kami jelaskan dalam kaidah kitab ini, insya Allah Ta‘ala.

وإِذا باع شيئاًً من ذوات الأمثال فخلطه المشتري بجنسه فهذا خلط في معقودٍ عليه جرى بعد قرار الملك ولكن طريان الإِفلاس يسلط البائعَ على الرجوع في المبيع فكان على مخالفة المبيع قبل القبض ولم يكن أيضاًً كاختلاط ملك بملكٍ من غير فرض عقد؛ فإِن البائع إِنما يرجع في المبيع لمكان البيع الذي جرى وهذا يقتضي أن يرجع فيما كان مورداً للعقد فألحق بعضُ الأئمة الخلطَ كيف فرض بالخلط قبل القبض حتى يتردد القول في الخلط بالمثل والأجود والأرْدأ

Jika seseorang menjual sesuatu yang termasuk dalam kategori barang yang dapat diserupakan (dzawāt al-amtsāl), lalu pembeli mencampurnya dengan barang sejenis miliknya, maka ini adalah pencampuran pada objek akad yang terjadi setelah kepemilikan menjadi tetap. Namun, terjadinya kebangkrutan memberikan hak kepada penjual untuk menarik kembali barang yang dijual, sehingga seolah-olah pencampuran itu terjadi sebelum penyerahan. Akan tetapi, hal ini juga tidak sama dengan pencampuran antara dua kepemilikan tanpa adanya akad; sebab penjual hanya berhak menarik kembali barang yang dijual karena adanya akad jual beli yang telah terjadi, dan ini menuntut agar penarikan kembali dilakukan pada barang yang menjadi objek akad. Oleh karena itu, sebagian imam (ulama) menyamakan pencampuran ini, bagaimanapun keadaannya, dengan pencampuran sebelum penyerahan, sehingga pendapat pun berbeda-beda dalam hal pencampuran dengan barang sejenis, baik yang lebih baik maupun yang lebih buruk.

والوجه في المذهب ألا يُقضى بأن الخلط في عينه يؤثر من قِبَل أنه جرى في ملكٍ مستقر ولكن إِن أمكن فرض الرجوع من غير تعذر لزم إِثباته وتنزيلُ الأمر على التفاصل الذي يجري بين الملكين إِذَا اختلطا وإِن فرض تعذرٌ في طريق الرجوع كما سنصفه في الخلطِ بالأجود فينشأ منه تردُّدٌ في أن البائع هل يكون واجداً عين ماله وسبب التردد تعذر تصوير الرجوع إِلى المقدار المبيع وهذا إِنما يتبين بالتفريع

Pendapat yang benar dalam mazhab adalah bahwa pencampuran pada zatnya sendiri tidak berpengaruh karena terjadi dalam kepemilikan yang sudah tetap. Namun, jika memungkinkan untuk mengembalikan tanpa ada kesulitan, maka wajib menetapkannya dan memperlakukan perkara tersebut seperti pemisahan yang terjadi antara dua hak milik jika keduanya bercampur. Tetapi jika diasumsikan ada kesulitan dalam cara pengembalian, sebagaimana akan kami jelaskan pada pencampuran dengan barang yang lebih baik, maka timbul keraguan apakah penjual masih dianggap memiliki barang miliknya. Sebab keraguan ini adalah karena sulitnya menggambarkan pengembalian kepada kadar barang yang dijual, dan hal ini akan menjadi jelas dengan penjabaran lebih lanjut.

فهذا بيان قاعدة الفصل في الفرق بين الخلط بالمثل والأردأ والأجود

Ini adalah penjelasan kaidah pemisahan dalam membedakan antara pencampuran dengan yang sejenis, yang lebih rendah mutunya, dan yang lebih baik mutunya.

عُدنا إِلى التفريع على القولين في الخلط بالأجود فنقول

Kita kembali pada perincian menurut dua pendapat mengenai pencampuran dengan yang lebih baik, maka kami katakan:

لو كان الزيت المشترى يساوي درهماً وقد خلطه بمقدارٍ من الزيت الجيد مثلِ مقدار المبيع ولكن كان قيمةُ الجيد درهمين فإِن قلنا لا يكون البائع واجداً عين ماله ضارَب بالثمن وكان أُسوة الغرماء وإِن جعلناه واجداً عين ماله ففي طريق إِيصالِه إِلى حقه من عين المبيع إِذا اختار فسخَ البيع قولان أحدهما أن الزيتين يباعان ويوزع الثمن بالغاً ما بلغ على الثلث والثلثين وهذه النسبة مأخوذة من تفاوت القيمتين هذا قول

Jika minyak yang dibeli seharga satu dirham kemudian dicampur dengan sejumlah minyak berkualitas baik sebanyak jumlah barang yang dijual, namun nilai minyak yang baik itu dua dirham, maka jika kita katakan bahwa penjual tidak menemukan barangnya secara langsung, ia berhak menerima bagian dari harga dan diperlakukan sama dengan para kreditur lainnya. Namun jika kita anggap ia menemukan barangnya secara langsung, maka dalam hal cara penjual memperoleh haknya dari barang yang dijual apabila ia memilih untuk membatalkan jual beli, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah kedua jenis minyak tersebut dijual, lalu hasil penjualannya dibagi, berapapun jumlahnya, dengan perbandingan sepertiga dan dua pertiga. Perbandingan ini diambil dari perbedaan nilai keduanya. Ini adalah salah satu pendapat.

والقول الثاني أن الزيت المختلط يقسم بين البائع والمشتري على نسبة القيمة ثلثاً وثلثين فإِن كان المقدار المختلط مكيلتين قسمناها ثلثاً وثلثين فرددنا إِلى البائع ثلثي مكيلةٍ وبقَّينا على المشتري مكيلةً وثلثاً يضطرب فيها غرماؤُه

Pendapat kedua menyatakan bahwa minyak yang tercampur dibagi antara penjual dan pembeli berdasarkan proporsi nilai, yaitu sepertiga dan dua pertiga. Jika jumlah yang tercampur adalah dua takaran, maka kita membaginya sepertiga dan dua pertiga; kita kembalikan kepada penjual dua pertiga takaran, dan sisanya pada pembeli satu takaran dan sepertiga, yang di dalamnya para krediturnya berselisih.

فإِن قيل هذا صورة الربا؛ فإِنه سلّم مكيلةً وألزمتموه الاكتفاء بثلثي مكيلةٍ قلنا هذا القول يخرّج على أصلين أحدهما أن القسمة إِفراز حق؛ فإِنا لو قدرناها بيعاً فلا مجاز لهذا؛ إِذ حقيقته مقابلة مكيلة ببعضها ثم لا تخرج القسمة مع التفريع على أنها إِفراز حق إِلا على أصلٍ آخر وهو أن القسمة التي تبنى على تعديل القيمة لا على تسوية الأجزاء هل يقع الإِجبار عليها وهي كفرض قسمةٍ بين عبيدٍ ودورٍ وغيرها بأن تُفصّلَ أقساماً معدَّلة القيم فتُوقع العبيدَ مثلاً في قسم والثيابَ في آخر والدور في آخر على ما يتفق من ضم بعض الأصناف إِلى البعض فهذا الضرب من القسمة هل يجري الإِجبار فيها فعلى قولين سنذكرهما في كتاب القسمة

Jika dikatakan bahwa ini adalah bentuk riba; karena ia telah menyerahkan satu takaran dan kalian mewajibkannya untuk cukup dengan dua pertiga takaran, kami katakan: pendapat ini dibangun di atas dua prinsip. Pertama, bahwa qismah (pembagian) adalah pemisahan hak; maka jika kita menganggapnya sebagai jual beli, tidak ada kias untuk itu, karena hakikatnya adalah mempertemukan satu takaran dengan sebagian darinya. Kemudian, qismah tidak keluar dari cabang bahwa ia adalah pemisahan hak kecuali berdasarkan prinsip lain, yaitu bahwa qismah yang dibangun atas dasar penyesuaian nilai, bukan atas dasar penyamaan bagian, apakah boleh dipaksakan atasnya? Ini seperti qismah yang terjadi antara budak, rumah, dan selainnya, dengan cara membagi bagian-bagian yang telah disesuaikan nilainya, lalu menempatkan budak misalnya dalam satu bagian, pakaian di bagian lain, dan rumah di bagian lain, sesuai dengan kesepakatan untuk menggabungkan sebagian jenis dengan sebagian yang lain. Maka, jenis qismah seperti ini, apakah boleh dipaksakan? Dalam hal ini ada dua pendapat yang akan kami sebutkan dalam Kitab Qismah.

فإِن رأينا الإِجبار على مثل هذه القسمة واعتقدنا أن القسمة إِفرازٌ انتظم منه قسمة الزيتين على تعديل القيمة من غير نظر إِلى الجزئية أما الربا فلا يلزم القول به لمصيرنا إِلى أن القسمة ليست بيعاً وأما الإِجبار من غير جزئية تعويلاً على التعديل بالقيمة؛ فإِنه خارج على الأصل الآخر الذي ذكرناه

Jika kita melihat adanya pemaksaan terhadap pembagian seperti ini dan kita meyakini bahwa pembagian adalah ifrāz yang di dalamnya terjadi pembagian dua minyak dengan penyesuaian nilai tanpa memperhatikan bagian-bagian tertentu, maka tidak mesti berpendapat adanya riba karena kita berpendapat bahwa pembagian bukanlah jual beli. Adapun pemaksaan tanpa adanya bagian tertentu dengan bersandar pada penyesuaian nilai, maka hal itu keluar dari kaidah lain yang telah kami sebutkan.

فإِن قيل هلا قسمتم الزيت بين البائع والمشتري نصفين وألحقتم ما ثبت من المزية بسبب الخلط بالأجود بالزيادات المتصلة ولو باع الرجل عبداً صغيراً فشبَّ ويَفَع في يد المشتري وتضعَّفت قيمتُه فالبائع يرجع في عينه قلنا لا سبيل إِلى ذلك؛ فإِن عين ملك المشتري اتصل بالمبيع فإلحاقه بالزيادات المتصلة لا وجه له وما كان المشتري معتدياً فيما فعل فتخسيره وضم ماله إِلى مال الراجع محال فلا وجه مع القول بكون البائع واجداً عينَ ماله إلا ما ذكرناه من القولين في كيفية الرجوع

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak membagi minyak itu antara penjual dan pembeli menjadi dua bagian, lalu menyamakan kelebihan yang timbul karena tercampur dengan yang lebih baik dengan tambahan-tambahan yang melekat?” Dan seandainya seseorang menjual seorang budak kecil, lalu budak itu tumbuh dewasa dan menjadi kuat di tangan pembeli sehingga nilainya berlipat ganda, kemudian penjual ingin mengambil kembali budak itu, maka kami katakan: Tidak ada jalan untuk itu; sebab harta milik pembeli telah menyatu dengan barang yang dijual, sehingga tidak ada alasan untuk menyamakannya dengan tambahan-tambahan yang melekat. Selama pembeli tidak berbuat zalim dalam tindakannya, maka merugikannya dan menggabungkan hartanya dengan harta yang dikembalikan adalah hal yang tidak masuk akal. Maka, tidak ada alasan, jika dikatakan bahwa penjual menemukan kembali barang miliknya, kecuali apa yang telah kami sebutkan dari dua pendapat tentang tata cara pengembalian.

والأصح أنه يباع الزيتان ويقسط الثمن على القيمتين؛ فإِن القسمة على مخالفة الجزئية تقع على صورة الربا وإِن تكلفنا له تخريجاً على الأصلين والشرع حرم مقابلة المطعوم بمثله وبأكثر من مثله لا لاسم البيع فلتحرم المقابلة على نعت المفاضلة كيف فرضت

Pendapat yang paling sahih adalah kedua minyak itu dijual, lalu harga hasil penjualannya dibagi sesuai dengan nilai masing-masing; karena pembagian dengan cara pertukaran sebagian akan menyerupai bentuk riba, meskipun kita memaksakan untuk mengaitkannya dengan dua prinsip dasar. Syariat telah mengharamkan pertukaran makanan pokok dengan sejenisnya atau dengan jumlah yang lebih banyak dari sejenisnya, bukan karena nama jual belinya. Maka, pertukaran dengan sifat kelebihan (tafāḍul) harus diharamkan dalam bentuk apa pun.

وذكر صاحب التقريب تصرفاً عن ابن سريج في خلط الزيتِ بالأردأ وذلك أنه قال إِذا كنا نرعى مقدارَ قيمتي الزيتين عند التفاضل في العين أو عند البيع وقد اتفق الخلط بالأجود فيجب سلوك هذه الطريقة في الخلط بالأردأ حتى يقال إِذا كان قيمة الزيت المبيع درهمين والزيت الذي خلطه المشتري به درهماً فيتجه قولان أحدهما أنه يباع المختلط ويصرف ثلثا الثمن إلى البائع والثاني أنه يقسم الزيتان على هذه النسبة فيصرف ثلثاه إلى البائع ويبقى ثُلُثُه للمشتري؛ فإنه إذا قسمنا الزيتين نصفين واعتقدنا الرداءة التي لحقت الزيت المبيع عيباً سماوياً لزمنا أن نعتقد الجودة التي لحقت في الخلط بالأجود زيادةً متصلة هذا ما يقتضيه الإنصاف والنظر للجانبين

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat yang dinukil dari Ibn Suraij mengenai pencampuran minyak dengan kualitas yang lebih rendah, yaitu beliau berkata: Jika kita mempertimbangkan nilai kedua minyak saat terjadi perbedaan dalam barang atau saat penjualan, dan telah terjadi pencampuran dengan minyak yang lebih baik, maka seharusnya metode ini juga diterapkan pada pencampuran dengan minyak yang lebih rendah. Sehingga dikatakan: Jika nilai minyak yang dijual adalah dua dirham dan minyak yang dicampurkan oleh pembeli bernilai satu dirham, maka ada dua pendapat. Pertama, minyak campuran itu dijual dan dua pertiga dari harga diberikan kepada penjual. Kedua, kedua minyak itu dibagi sesuai perbandingan tersebut, sehingga dua pertiganya diberikan kepada penjual dan sepertiganya tetap menjadi milik pembeli. Sebab, jika kita membagi kedua minyak itu menjadi dua bagian yang sama dan menganggap kualitas rendah yang menimpa minyak yang dijual sebagai cacat alami, maka kita juga harus menganggap kualitas baik yang terjadi pada pencampuran dengan minyak yang lebih baik sebagai tambahan yang melekat. Inilah yang dituntut oleh keadilan dan pertimbangan terhadap kedua belah pihak.

ومن صار إلى طريقة الجماهير فصل بين الجانبين بأن المشتري تصرف بحق ورجوع البائع إلى عين المبيع ليس ضربة لازب فلا يجوز أن نعتبر جانبَ الرّاجع بجانب المشتري بل لا يبعد أن يقال للبائع إما أن تقنع وإما ألا ترجع أصلاً فأما أخذ عين من مال المشتري ليستمر للبائع رجوعه وهو نقضٌ لبيعٍ لزم فهذا لا سبيل إليه

Dan barang siapa yang mengikuti pendapat mayoritas, maka ia membedakan antara kedua sisi, yaitu bahwa pembeli telah melakukan tindakan secara sah, dan hak penjual untuk kembali kepada barang yang dijual bukanlah sesuatu yang pasti, sehingga tidak boleh menyamakan posisi penjual yang ingin kembali dengan posisi pembeli. Bahkan, tidaklah jauh jika dikatakan kepada penjual: “Silakan engkau rela (dengan keadaan ini) atau jangan kembali sama sekali.” Adapun mengambil barang dari harta pembeli agar penjual tetap dapat kembali, yang berarti membatalkan jual beli yang telah sah, maka hal itu tidak dapat dibenarkan.

هذا منتهى القول في المسألة

Inilah akhir pembahasan dalam masalah ini.

وكل ما ذكرناه فيه إذا وقع الخلط بجنس المبيع فأما إذا وقع المزجُ بما لا يجانس المبيعَ فلا يخلو إما أن يختلط اختلاطاً لا يبين معه في الحس لمدرِكٍ وإمّا أن يتميز المبيع في الحس للمدرِك وإن عسر تمييزهُ فعلاً فأما إذا تحقق الاختلاط وعسر المَيْز والدرك مثل أن يختلط الزيت بدهن البان أو الشَّيْرج فهذا اختلاط مع اختلاف الجنس وتعذُّر التمييز بالفعل والدرك فقد ذهب جماهير الأصحابِ إلى القطع بأن البائع فاقدٌ لعين ماله بخلاف ما إذا اتحد الجنس؛ فإن القسمة يمكن فرضُها مع اتحادِ الجنس ولا يمكن تقديرها والجنس مختلف

Semua yang telah kami sebutkan sebelumnya berlaku jika terjadi pencampuran dengan jenis barang yang sama dengan barang yang dijual. Adapun jika terjadi pencampuran dengan sesuatu yang tidak sejenis dengan barang yang dijual, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi pencampuran tersebut sedemikian rupa sehingga tidak dapat dibedakan secara inderawi oleh orang yang mampu membedakannya, atau barang yang dijual masih dapat dibedakan secara inderawi oleh orang yang mampu membedakannya meskipun sulit untuk memisahkannya secara nyata. Jika benar-benar terjadi pencampuran dan sulit untuk memisahkan serta membedakannya, seperti minyak zaitun tercampur dengan minyak biji kapas atau minyak wijen, maka ini adalah pencampuran dengan perbedaan jenis dan tidak mungkin dipisahkan serta dibedakan secara nyata. Dalam hal ini, mayoritas ulama berpendapat dengan tegas bahwa penjual telah kehilangan barang miliknya, berbeda dengan jika jenisnya sama; karena pembagian masih mungkin dilakukan jika jenisnya sama, sedangkan jika jenisnya berbeda maka tidak mungkin dilakukan pembagian.

وهذا ينقدح فيه احتمال ظاهر مع تحقق وجود المبيع وإمكان بيع المختلط فالوجه أن نقول إذا جعلنا سبيل إيصال البائع إلى حقه في الخلط بالأجود بيعَ المختلط وفَضَّ الثمن فهذا ممكن و الخلطُ بغير الجنس

Dalam hal ini, terdapat kemungkinan yang jelas, mengingat barang yang dijual memang ada dan memungkinkan untuk menjual barang yang tercampur. Maka pendapat yang tepat adalah, jika cara untuk memberikan hak penjual dalam pencampuran dengan barang yang lebih baik adalah dengan menjual barang yang tercampur lalu membagi hasil penjualannya, maka hal itu memungkinkan. Adapun pencampuran dengan barang yang berbeda jenis…

وإن قلنا الطريق في إيصال البائع إلى عين حقه القسمةُ فالقسمة عسرة مع اختلاف الجنس وقد ينقدح للفطن تخريجاً على قسمة التعديل؛ فإن هذا المنهج إذا احتمل مع التفاوت في المقدار نظراً إلى التعديل لم يبعد ذلك مع اختلاف الجنس

Jika kita mengatakan bahwa cara untuk memberikan penjual barang yang menjadi haknya adalah dengan pembagian, maka pembagian itu sulit dilakukan jika jenis barangnya berbeda. Namun, bagi orang yang cerdas mungkin terlintas pemikiran untuk mengqiyaskan dengan pembagian secara ta‘dīl; sebab jika metode ini dimungkinkan meskipun ada perbedaan dalam jumlah dengan mempertimbangkan keadilan, maka tidaklah mustahil pula dilakukan meskipun terdapat perbedaan jenis barang.

وهذا لعمري محل النظر؛ فإن قسمة التعديل في الأجناس المختلفة إنما تجري بسبب ثبوت الشيوع في كل جنس فيقع التفاصل بالتعديل من جهة القيمة ولم يكن للمشتري قبل الشراء في الزيت شِرْك ولم يكن للبائع في البان شرْك وهذا يعارضه زيادة المقدار أمّا تخريجه على قول البيع وفضّ الثمن فظاهرٌ لإدراكه

Demi umurku, inilah tempat yang patut diperhatikan; sebab pembagian penyesuaian (ta‘dīl) pada jenis-jenis yang berbeda hanya berlaku karena adanya kepemilikan bersama (syuyu‘) yang tetap pada setiap jenis, sehingga pemisahan dilakukan dengan penyesuaian dari sisi nilai. Padahal, pembeli sebelum membeli minyak tidak memiliki bagian (syirkah) di dalamnya, dan penjual pun tidak memiliki bagian dalam susu. Hal ini bertentangan dengan adanya kelebihan jumlah. Adapun penjelasannya menurut pendapat tentang jual beli dan pembagian harga, maka itu jelas karena dapat dipahami.

والذي يعضد ذلك القسمُ الثاني وهو إذا خلط المبيعَ بجنسٍ يخالفه وكان متميزاً في الدَّرْك والإحساس مثل أن يشتري صِبغاً ويصبغ به ثوباً عنده أو يشتري ثوباً ويصبغه بصبغ عنده فقد تحقق الاشتباك بين المبيع وغيره وأجمع الأصحاب على أن البائع واجدٌ عين ماله هذا متفق عليه

Yang menguatkan hal tersebut adalah bagian kedua, yaitu apabila barang yang dijual dicampur dengan jenis lain yang berbeda dengannya dan tetap dapat dibedakan secara nyata dan inderawi, seperti seseorang membeli pewarna lalu mewarnai kain miliknya dengan pewarna itu, atau membeli kain lalu mewarnainya dengan pewarna yang sudah dimilikinya. Maka telah terjadi percampuran antara barang yang dijual dan selainnya, dan para ulama sepakat bahwa penjual tetap dianggap menemukan barang miliknya. Hal ini telah menjadi kesepakatan.

ولا فقه في إمكان الرؤية بعدما تحقق تعذر التمييز بين الثوب والصبغ المعقود

Tidak ada fiqh dalam kemungkinan melihat setelah dipastikan mustahil membedakan antara kain dan pewarna yang telah menyatu.

ثم سبيل إيصال البائع إلى حقه بيعُ الثوب المصبوغ وقسمةُ الثمن على قيمة الثوب والصبغ كما سنذكره بعد هذا في مسائل الكتاب إن شاء الله تعالى

Kemudian cara untuk memberikan hak penjual adalah dengan menjual kain yang telah diwarnai, lalu membagi hasil penjualannya sesuai dengan nilai kain dan nilai pewarna, sebagaimana akan dijelaskan setelah ini dalam pembahasan-pembahasan kitab, insya Allah Ta‘ala.

ولو اشترى سويقاً ولتَّه بسمن عنده أو على العكس والسمن بادٍ على السويق حسَّاً فهو ملتحق بصبغ الثوب وسيأتي إن شاء الله متصلاً بهذا

Jika seseorang membeli syaweeq lalu mencampurnya dengan samin yang dimilikinya, atau sebaliknya, dan samin tersebut tampak jelas pada syaweeq secara kasat mata, maka hukumnya disamakan dengan mewarnai kain, dan insya Allah hal ini akan dijelaskan lebih lanjut setelah ini.

وقد نجزت أطراف المسألة ولم يبق فيها للناظر مضطرَب إلا فيما أصفه فأقول

Seluruh sisi permasalahan ini telah dijelaskan, dan tidak ada lagi keraguan bagi orang yang menelaahnya kecuali pada hal yang akan aku uraikan berikut ini.

لو اشترى مائةَ منٍّ من الزيت وخلطه بربع رطل عنده أو أقل على شرط أن يكون متمولاً والغرض بالتصوير أن يُفرض كونُ الأكبر غامراً للأقل وكونُ الأقل مستهلكاً فيه حساً

Jika seseorang membeli seratus mann minyak lalu mencampurnya dengan seperempat rithl minyak yang ia miliki, atau kurang dari itu, dengan syarat bahwa minyak tersebut bernilai, dan maksud dari penggambaran ini adalah untuk mengandaikan bahwa bagian yang lebih banyak menutupi bagian yang lebih sedikit dan bagian yang lebih sedikit larut di dalamnya secara inderawi.

وهذا يحسن تصويره على قولنا إن الاختلاط يُلحق المبيع بالمفقود والمعدوم

Hal ini dapat dijelaskan dengan baik menurut pendapat kami bahwa ikhtilāṭ (tercampurnya barang) menjadikan barang yang dijual disamakan dengan barang yang hilang dan tidak ada.

فإذا كان المبيع كما وصفناه كيف السبيل

Jika barang yang dijual seperti yang telah kami jelaskan, bagaimana caranya?

قلنا إن كان ذلك المقدار النزر بحيث لا يبين له أثر من طريق القدر وذلك بأن يفرض وقوعُ مثله بين الكيلين والوزنين فإن كان كذلك فالوجه عندي القطع بكون البائع واجداً عين ماله ولا يحبَط حق المشتري مع ذلك فنرد عليه مقدار ما خلطه

Kami katakan, jika kadar yang sedikit itu sedemikian rupa sehingga tidak tampak pengaruhnya dari segi jumlah—yaitu dengan mengandaikan bahwa kadar seperti itu biasa terjadi di antara dua takaran atau dua timbangan—maka jika demikian, menurut pendapat saya, yang tepat adalah memastikan bahwa penjual masih mendapatkan barang miliknya secara utuh dan hak pembeli tidak gugur karenanya. Maka, dikembalikan kepada pembeli kadar yang telah dicampurkan itu.

فإن كان هذا المقدار النزرُ مبيعاً وكان الأكثر للمشتري فالظاهر عندي القطعُ بكون البائع فاقداً ولا يبعد خلافُ ذلك

Jika bagian yang sedikit ini adalah barang yang dijual dan bagian yang lebih banyak menjadi milik pembeli, maka yang tampak menurutku adalah memastikan bahwa penjual menjadi kehilangan, namun tidak mustahil ada pendapat yang berbeda tentang hal itu.

أما وجه الظهور فلأن مثلَ هذا المقدار لا يشيع في المقدار الكثير ولا يثبت على الانبساط في الجميع وليس كذلك إذا كان المبيع مقداراً بيِّناً يظهر اختلاطه؛ فإنه إذا رجع لا بد وأن يرجع إلى شيء من عين ماله فلا يبعد أن يقال هو واجد ثم يسلم إليه مقدار المبيع من المختلط

Adapun alasan kemunculannya adalah karena kadar seperti ini tidak menyebar dalam jumlah yang banyak dan tidak tetap tersebar di seluruh bagian, berbeda halnya jika barang yang dijual adalah suatu kadar yang jelas sehingga tampak percampurannya; sebab jika ia kembali, pasti ia akan kembali kepada sebagian dari harta miliknya sendiri, sehingga tidak jauh jika dikatakan bahwa ia adalah orang yang menemukan (harta miliknya), kemudian diserahkan kepadanya kadar barang yang dijual dari barang yang telah bercampur itu.

فإن كان الخلط بالأجود فعلى ما يقتضيه القولان والتفريع عليهما وإن كان المقدار النزر بحيث يبين من الكيلين والوزنين ولكنه مغمورٌ بالمقدار الكبير فيجوز أن يخرّج على التفاصيل المقدمة حيث لا غمر ويجوز أن يرتب على ما تقدم وتجعل هذه الصورة أولى بأن يكون البائع واجداً إذا كان نصيبه كثيراً غامراً ويجعل أولى بالفقدان إذا كان نصيبه مغموراً

Jika pencampuran terjadi dengan barang yang lebih baik, maka hukumnya mengikuti dua pendapat dan rincian yang telah dijelaskan atas keduanya. Namun, jika jumlahnya sangat sedikit sehingga dapat dibedakan dari dua takaran atau dua timbangan, tetapi tetap tertutupi oleh jumlah yang besar, maka boleh dirujuk pada rincian yang telah disebutkan sebelumnya ketika tidak ada yang tertutupi, dan boleh juga diatur sebagaimana yang telah dijelaskan. Dalam hal ini, keadaan ini lebih utama untuk dianggap penjual sebagai orang yang memiliki (barang) jika bagiannya banyak dan menutupi, dan lebih utama dianggap tidak memiliki jika bagiannya tertutupi.

هذا منتهى الفصل والله أعلم

Inilah akhir dari pembahasan ini, dan Allah Maha Mengetahui.

فصل

Bab

قال وإن كان حنطة فطحنها ففيها قولان إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika berupa gandum lalu digiling, maka ada dua pendapat dalam hal ini, dan seterusnya.”

هذا من الفصول المنعوتة في الكتاب فلْيخُض الناظر فيه على أناةٍ مستعيناً بالله تعالى وسبيل بيان مضمونه أن نطرد ما ذكره الأصحاب مرتباً على أحسن مساق ثم ننعطف عليه ونتدارك مواقع الإشكال فنكون جامعين بين النقل وبين حلّ المُعْوصات فليقع في ابتداء الفصل طرفٌ من حكم الصبغ ثم نبني عليه ما عداه ثم نختم الفصل باستقصاء القول في الصبغ فنسأل الله تعالى التأييد والتوفيق

Ini adalah salah satu bab yang disebutkan dalam kitab, maka hendaknya pembaca menelaahnya dengan tenang, seraya memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala. Cara untuk menjelaskan isinya adalah dengan menguraikan apa yang telah disebutkan para ulama secara teratur dengan susunan terbaik, kemudian kita kembali padanya dan mengatasi titik-titik yang sulit, sehingga kita dapat menggabungkan antara penyampaian dan pemecahan persoalan yang rumit. Maka pada awal bab ini akan disebutkan sebagian hukum tentang pewarnaan, lalu kita bangun pembahasan lain di atasnya, kemudian kita akhiri bab ini dengan pembahasan yang mendalam tentang pewarnaan. Maka kami memohon kepada Allah Ta‘ala pertolongan dan taufik.

فإذا اشترى الرجل ثوباًً وصبغه بصِبغ من عنده فالصِّبغ عين مال المشتري ألحقه بالثوب المشترَى فإن لم يبن مزيدٌ في قيمة الثوب وانعقد الصبغ عليه وعسر التمييز فالصبغ ضائع وذلك إذا اشترى ثوباً بعشرة وصبغه بصبغ يساوي درهماً فإذا كان الثوب مصبوغاً يساوي عشرة فنقول ضاع الصبغ للمشتري ويرجع البائع إلى الثوب المصبوغ اتفق الطرق عليه والسبب فيه أنه لو صبغ بشيء لا قيمة له وليس مما يتمول فلا يخفى أنه لا وقع ولا أثر لما استعمله في الثوب فكذلك إذا لم يبق للصبغ قيمة؛ فإنه كان مالاً قبل الاستعمال والآن صار في حكم الصفة للثوب ولم يظهر له في الثوب قيمة؛ ولأنه صار بالاستعمال غيرَ متمول

Jika seseorang membeli kain lalu mewarnainya dengan pewarna miliknya sendiri, maka pewarna tersebut adalah harta milik pembeli yang disatukan dengan kain yang dibeli. Jika tidak tampak adanya penambahan nilai pada kain tersebut, pewarna telah melekat pada kain dan sulit dipisahkan, maka pewarna itu dianggap hilang. Misalnya, jika seseorang membeli kain seharga sepuluh dirham lalu mewarnainya dengan pewarna senilai satu dirham, kemudian kain yang telah diwarnai itu tetap bernilai sepuluh dirham, maka dikatakan bahwa pewarna tersebut hilang bagi pembeli, dan penjual berhak kembali mengambil kain yang telah diwarnai itu. Para ulama sepakat atas hal ini. Sebabnya adalah, jika kain diwarnai dengan sesuatu yang tidak bernilai dan bukan termasuk harta yang dapat dimiliki, maka jelas tidak ada pengaruh atau akibat dari penggunaannya pada kain tersebut. Demikian pula jika pewarna itu tidak lagi memiliki nilai; sebelumnya ia adalah harta sebelum digunakan, namun sekarang telah menjadi sifat pada kain dan tidak tampak lagi nilainya pada kain tersebut. Selain itu, dengan pemakaian tersebut, pewarna itu menjadi tidak lagi bernilai.

وإن ظهر مزيدٌ في قيمة الثوب فصاحبُ الصِّبغ شريك في الثوب وإذا بيع الثوب قُسِّط الثمن كما سنوضح تفصيلَه وليس الكلام في الصبغ من غرضنا الآن

Jika terjadi kenaikan nilai pada kain, maka pemilik pewarna menjadi sekutu dalam kain tersebut. Jika kain itu dijual, maka harga jualnya dibagi secara proporsional, sebagaimana akan kami jelaskan rinciannya. Namun, pembahasan tentang pewarnaan bukanlah tujuan utama kami saat ini.

وإنّما ذكرنا هذا المقدار ليبين للناظر كون الصبغ عيناً

Kami menyebutkan penjelasan ini agar jelas bagi pembaca bahwa pewarna itu adalah suatu benda (‘ain).

ونحن نبني الآن عليه القِصارةَ في الثوب وما في معناها

Sekarang, kita membangun hukum atasnya mengenai mencuci pakaian dan hal-hal yang sejenis dengannya.

فإذا اشترى رجل ثوباًً على البت وقصره ثم أراد البائع الرجوع في الثوب فالذي أطلقه الأئمة في صدر الفصل أن قالوا القِصارة في الثوب والطحن في الحنطة وما في معنى هذين أثرٌ في الثوب أم عين فعلى قولين أحدهما أنه أثر والثاني أنه عين هكذا عبر الأئمة عن القولين

Jika seseorang membeli kain secara kontan lalu ia memotongnya, kemudian penjual ingin menarik kembali kain tersebut, maka yang dinyatakan oleh para imam di awal pembahasan ini adalah bahwa pemotongan pada kain, penggilingan pada gandum, dan hal-hal yang serupa dengan keduanya, apakah itu merupakan pengaruh pada kain ataukah merupakan zat, maka terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa itu adalah pengaruh, dan yang kedua bahwa itu adalah zat. Demikianlah para imam mengungkapkan kedua pendapat tersebut.

وقد ذكرنا أنا نسوق ترتيب الأصحاب ثم ننعطف على مواقع الإشكال

Kami telah menyebutkan bahwa kami akan mengemukakan urutan pendapat para sahabat, kemudian kami akan kembali pada titik-titik permasalahan.

والقدر الذي يلوح به القولان ويعلقان بالفهم إلى تمام البيان أنا إن قلنا هذه الصفات آثار فلا حكم لها ولا تعلق بها ومن له الاستحقاق في العين على استحقاقه لا يزاحم فيها

Sejauh yang dapat dipahami dari kedua pendapat tersebut dan berkaitan dengan pemahaman hingga penjelasan yang tuntas adalah: jika kita mengatakan bahwa sifat-sifat ini hanyalah akibat-akibat, maka tidak ada hukum baginya dan tidak ada kaitan dengannya. Orang yang memiliki hak atas suatu benda tetap pada haknya dan tidak ada yang menyainginya dalam hal itu.

وإذا قلنا هذه الصفات أعيانٌ أردنا أنها كالأعيان المشابكة للموصوفات بها كالصبغ في الثوب والسَّمن في السويق وما في معناهما ومن حُكم هذا القول أن يصير محصِّل هذه الصفة شريك في الثوب كمالك الصبغ

Dan apabila kami mengatakan bahwa sifat-sifat ini adalah a‘yan, yang kami maksud adalah bahwa sifat-sifat tersebut seperti a‘yan yang melekat pada sesuatu yang disifati dengannya, seperti warna pada kain dan lemak pada tepung, serta hal-hal yang serupa dengannya. Konsekuensi dari pendapat ini adalah bahwa orang yang memperoleh sifat tersebut menjadi sekutu dalam kain itu, sebagaimana pemilik warna.

فإذا ظهرَ المراد من رسم القولين فهذان القولان لا يجريان في جملة الصفات المتجددة؛ فإن السِّمن وكبر الغلام وإرقال الشجر زوائدُ متصلة لا حكم لها؛ فقال الأئمة القولان يجريان في كل صفةٍ تحدث في العين يتسبب إلى تحصيلها بفعلٍ يجوز الاستئجار عليه وتعدّ الصفةُ من آثار الفعل ثم لا بد من ظهور الصفة فلو استأجر المشتري من يحفظ الدابة المشتراةَ ويسوسها فهذا فعل يجوز الاستئجار عليه ولكن لا تظهر منه صفة في الدابة فإن هي كبرت فللترقي في السن وإن سمنت فمن العلف والقصارة أثر يوقعه فعل القصّار في الثوب وكذلك الطحن في الدّقيق

Jika telah jelas maksud dari istilah dua pendapat tersebut, maka kedua pendapat ini tidak berlaku pada seluruh sifat-sifat baru yang muncul; sebab kegemukan, tumbuh besar pada anak laki-laki, dan tumbuhnya daun pada pohon adalah tambahan-tambahan yang menyatu dan tidak memiliki hukum tersendiri. Para imam mengatakan bahwa dua pendapat tersebut berlaku pada setiap sifat yang muncul pada suatu benda yang dapat diupayakan melalui suatu perbuatan yang boleh dijadikan objek ijarah (sewa-menyewa), dan sifat tersebut dianggap sebagai akibat dari perbuatan tersebut. Namun, sifat itu harus tampak jelas. Jika pembeli menyewa seseorang untuk menjaga hewan yang dibelinya dan mengurusnya, maka ini adalah perbuatan yang boleh dijadikan objek ijarah, tetapi tidak muncul darinya suatu sifat pada hewan tersebut. Jika hewan itu tumbuh besar, itu karena bertambahnya usia; jika menjadi gemuk, itu karena makanan; hasil pencucian adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan pencuci pada pakaian, demikian pula penggilingan pada tepung.

ويتصل بذلك ما يتعلق بالأخلاق كارتياض الدابة وتعلّم العبد الحرف فلتلتحق الأخلاق بالصفات التي تحسن

Terkait dengan hal itu adalah persoalan akhlak, seperti melatih hewan tunggangan dan seorang budak mempelajari suatu keahlian, maka akhlak hendaknya disatukan dengan sifat-sifat yang baik.

هذا بيان محل القولين

Ini adalah penjelasan mengenai tempat (konteks) kedua pendapat tersebut.

ثم فرع الأصحاب في غير المفلس على القولين ثم اندفعوا في تفريع أحكام المفلس فمما فرعوه في غير المفلس أن القصارَ المستأجَر على القصارة إذا قصر الثوبَ أو طحن الطحان البُّرّ فهل يثبت للصّابغ حبسُ محل صُنعه حتى يحبس القصار الثوب والطحان الدقيق إلى أن يتوفر عليه الأجرة حَبْسَ البائع المبيع إن رأينا له الحبس إلى توفية الثمن هذا يُخرّج على القولين في الأثر والعين

Kemudian para ulama memerinci (masalah) pada selain orang yang pailit menurut dua pendapat, lalu mereka melanjutkan dengan merinci hukum-hukum orang yang pailit. Di antara rincian yang mereka sebutkan pada selain orang yang pailit adalah bahwa tukang cuci yang disewa untuk mencuci kain, jika ia telah mencuci kain tersebut, atau tukang giling yang menggiling gandum, apakah bagi tukang celup berhak menahan barang yang dikerjakannya, sebagaimana tukang cuci menahan kain dan tukang giling menahan tepung, hingga ia menerima upahnya, sebagaimana penjual menahan barang dagangan jika kita berpendapat ia berhak menahan barang hingga menerima harga? Hal ini dikembalikan kepada dua pendapat mengenai hak menahan antara manfaat dan barang.

فإن جعلنا هذه الصفات آثاراً فلا يجوز للعَمَلة حبسُ محالّ العمل بسبب الأجرة

Jika kita menganggap sifat-sifat ini sebagai akibat, maka tidak boleh bagi para pekerja menahan tempat kerja karena upah.

وإن جعلناها أعياناً فالعمَلةُ في حبس محال العمل كالبائع في حبس المبيع

Dan jika kita menganggapnya sebagai barang berwujud, maka orang yang melakukan pekerjaan dalam menahan tempat kerja itu seperti penjual dalam menahan barang dagangan.

ومما فرعوه أن العامل إذا وفَّى عملَه وأثبت الصفةَ المطلوبةَ في محلّها فلو تلف محلُّ العمل في يده قبل تسليمه إلى المالك فهذا يتفرعّ على الأثر والعين فإن جعلنا القصارة أثراً فللعملة أجورُهم وهي لا تسقط بسبب تلف المحالّ في أيديهِم وإن قلنا إنها أعيان سقطت أجورهم كما تسقط الأثمان بتلف الأشياء المبيعة في أيدي البائعين

Di antara cabang permasalahan yang mereka bahas adalah bahwa apabila seorang pekerja telah menyelesaikan pekerjaannya dan membuktikan sifat yang diminta pada objeknya, kemudian objek pekerjaan itu rusak di tangannya sebelum diserahkan kepada pemiliknya, maka hal ini berkaitan dengan perbedaan antara “atsar” (hasil kerja) dan “‘ain” (benda fisik). Jika kita menganggap hasil pekerjaan seperti mencuci pakaian (al-qasārah) sebagai atsar, maka para pekerja berhak atas upah mereka dan upah itu tidak gugur karena kerusakan objek di tangan mereka. Namun jika kita menganggapnya sebagai ‘ain, maka upah mereka gugur sebagaimana harga barang yang dijual gugur ketika barang tersebut rusak di tangan penjual.

هذا ما فرعه الأصحاب على القولين في حق غير المفلس

Inilah yang dirinci oleh para ulama berdasarkan dua pendapat mengenai hak selain orang yang pailit.

ثم اندفعوا في تفريع حكم المفلس فصوروا فيه صورتين إحداهما ألا يتعاطى القِصارةَ بنفسه ويحصلها بعمل أجيرٍ ويوفِّي أجرته قبل التفليس ثم يُفلس فهذه صورة وسنذكر الأخرى إذا نجز الكلام في الأولى

Kemudian mereka melanjutkan pembahasan tentang rincian hukum orang yang pailit, lalu mereka menggambarkan dua keadaan dalam hal ini. Pertama, ia tidak melakukan pekerjaan penyempurnaan (qisārah) sendiri, melainkan memperolehnya melalui pekerjaan seorang buruh dan membayar upahnya sebelum dinyatakan pailit, kemudian setelah itu ia dinyatakan pailit. Ini adalah satu keadaan, dan kami akan menyebutkan keadaan lainnya setelah selesai membahas yang pertama.

فإذا جاء بائع الثوب فصادفه مقصوراً فهذا يفسخّ على الأثر والعين فإن جعلنا القِصارة أثراً فإن البائعَ أحق بالثوب ولا حكم للقصارة وهي نازلة منزلة الزوائد المتصلة هذا اختيار المزني والتمسك بالزوائد المتصلة احتجاجُه

Jika penjual kain datang lalu mendapati kain tersebut telah dikerjakan oleh tukang pemutih, maka akad dapat dibatalkan baik karena pengaruh maupun karena barangnya. Jika kita menganggap pemutihan itu sebagai pengaruh, maka penjual lebih berhak atas kain tersebut dan tidak ada ketetapan hukum bagi pemutihan itu, karena ia diposisikan seperti tambahan yang menyatu dengan barang. Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, dan berpegang pada tambahan yang menyatu merupakan dasar argumentasinya.

وإن حكمنا بأن القِصارة عين فهي في معنى الصبغ فنقول إن كانت قيمة الثوب بعد القِصارة كقيمتها وهي على البت فلا شركة للمفلس في الثوب والقصارة مُنمحقة وقد ذكرنا ذلك في الصبغ المنعقد وهو جِرمٌ على التحقيق

Jika kita memutuskan bahwa qisārah (proses pencucian atau penyucian kain) adalah suatu benda, maka ia serupa dengan pewarnaan. Maka kita katakan, jika nilai kain setelah qisārah sama dengan nilainya ketika masih berupa benang, maka orang yang bangkrut tidak memiliki hak kepemilikan bersama atas kain tersebut dan hasil qisārah dianggap hilang. Hal ini telah kami sebutkan dalam pembahasan tentang pewarnaan yang telah menyatu, yang pada hakikatnya adalah suatu benda.

فأما إذا زادت قيمة الثوب بسبب القصارة التي حصلها المفلس فهو شريك بمقدار الزيادة يُباع الثوب ويقسم الثمن على قيمة المِلْكين الثوب والقِصارة فلو كان الثوب يساوي على البت عشرة وهو يساوي مقصوراً خمسة عشر فالقِصارة قيمتها خمسة فإذا بيع الثوب بخمسة عشر فالعشرة مدفوعة إلى البائع والخمسة إلى المشتري يقتسمها الغرماء

Adapun jika nilai kain bertambah karena proses penyempurnaan (qasārah) yang dilakukan oleh orang yang pailit, maka ia menjadi sekutu sebesar nilai tambahan tersebut. Kain itu dijual dan harga penjualannya dibagi berdasarkan nilai dua kepemilikan, yaitu kain dan qasārah. Jika kain itu pada awalnya bernilai sepuluh, lalu setelah disempurnakan nilainya menjadi lima belas, maka nilai qasārah adalah lima. Jika kain itu dijual seharga lima belas, maka sepuluh diberikan kepada penjual dan lima kepada pembeli, yang kemudian dibagi di antara para kreditur.

فلو لم يتفق بيعُ الثوب حتى ارتفعت القيمة إلى ثلاثين فيضعّف حق البائع والمفلس والقسمة على نسبة الثلث والثلثين للبائع عشرون وللمفلس عشرة بين غرمائه

Jika kain tersebut belum berhasil dijual hingga nilainya naik menjadi tiga puluh, maka hak penjual dan orang yang pailit menjadi berlipat, dan pembagian dilakukan berdasarkan proporsi sepertiga dan dua pertiga: penjual mendapat dua puluh, dan orang yang pailit mendapat sepuluh yang akan dibagi di antara para krediturnya.

ولو عهدنا الثوب بخمسة عشر على الترتيب الذي ذكرناه الثوب عشرة والقِصارة خمسة ثم انحطت قيمةُ الثوب بالسوق إلى عشرة فهي مقسومة بين البائع والمفلس ثلُثاً وثلثين فينقص حقُّ كل واحدٍ بانحطاط السوق

Jika kita telah mengetahui harga kain sebesar lima belas dengan urutan yang telah kami sebutkan, yaitu kain sepuluh dan biaya pencucian lima, kemudian nilai kain di pasar turun menjadi sepuluh, maka nilai tersebut dibagi antara penjual dan orang yang bangkrut, sepertiga dan dua pertiga, sehingga hak masing-masing berkurang seiring turunnya harga pasar.

وإنما يظهر التصوير بما نذكره فنقول؛ كان الثوب على البت عشرة والنقصان خمسة والآن يوجد ثوبٌ على البت بستة دراهم وثلثي درهم والقصارة في مثله لا يساوي إلا ثلاثة وثلثاً فهذا معنى الانحطاط

Gambaran masalah ini akan tampak jelas dengan penjelasan berikut: Dahulu harga kain secara lelang adalah sepuluh, dan penurunan harganya lima. Sekarang terdapat kain yang dilelang dengan harga enam dirham dan dua pertiga dirham, sedangkan upah pencucian kain serupa hanya bernilai tiga dan sepertiga. Inilah yang dimaksud dengan penurunan harga.

ولْيميز الناظر هذا عما قدمناه من أن القِصارة قد تنمحق في الثوب بألاّ يزيد في قيمته شيئاًً وذلك بأن يكون الثوب على البت والثوب المقصور متساويين في القيمة

Dan hendaklah orang yang meneliti membedakan hal ini dari apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu bahwa zat pewarna bisa saja lenyap dari kain sehingga tidak menambah nilai kain sama sekali, yaitu ketika kain polos dan kain yang telah diwarnai nilainya sama.

والذي ذكرناه أخيراً فرضُ نقصانٍ في قيمة جوهر الثوب وصفة القصارة

Apa yang kami sebutkan terakhir adalah anggapan adanya kekurangan pada nilai substansi kain dan sifat pencucian.

ولو ارتفعت قيمة الثوب دون القصارة فالزيادة للبائع ليس لصاحب القصارة فيها شيء وبيان ذلك أن الثوب على البت كان عشرة ومع القصارة خمسة عشر والآن صار الثوب على البت يشترى بخمسة عشرَ وهذا المقصور يشترَى بعشرين فالقصارة ما ازدادت قيمتُها وإنما الازدياد في جوهر الثوب لا جرم نقول يصرف إلى البائع من العشرين خمسةَ عشرَ ويصرف إلى صاحب القِصارة خمسةٌ بلا مزيد

Jika nilai kain naik tanpa adanya proses penyempurnaan (qasārah), maka kelebihan nilai tersebut menjadi milik penjual, dan pemilik jasa penyempurnaan tidak mendapatkan bagian apa pun darinya. Penjelasannya adalah: kain pada harga pokok bernilai sepuluh, setelah melalui proses penyempurnaan menjadi lima belas. Sekarang, kain pada harga pokok dibeli dengan harga lima belas, dan kain yang telah disempurnakan dibeli dengan harga dua puluh. Nilai jasa penyempurnaan tidak mengalami kenaikan, melainkan peningkatan terjadi pada inti kain itu sendiri. Oleh karena itu, kami katakan: dari harga dua puluh, sebanyak lima belas diberikan kepada penjual, dan lima sisanya diberikan kepada pemilik jasa penyempurnaan, tanpa ada tambahan lagi.

ولو فرض الارتفاع في القِصارة فالزيادة الحاصلة من أجلها مصروفة إلى صاحب القِصارة وتصوير ذلك أن الثوب المقصور كان يساوي خمسة عشر على الترتيب الذي ذكرناه عشرة للثوب وخمسة للقِصارة ثم صار هذا الثوب المقصور يساوي عشرين ونحن نجد ثوباًً على البت مساوياً لهذا الثوب بعشرة فنستبين أن الزيادة منحصرة في قيمة القصارة لا جرم نصرفها إلى مستحق القصارة ونبيع الثوب بالعشرين فنصرف نصف الثمن إلى البائع ونصفه إلى المفلس يتضارب فيه غرماؤه ثم إذا تمهدت عندنا نسبة في قيمتي الثوب والقِصارة فلو وجدنا زبوناً يشتري الثوب رغبةً بأكثر من قيمته بالقصارة فالمأخوذ منه مقسّط على النسبة التي تمهدت عندنا في القيمتين فالثوب الذي جعلناه نصفين وهو يساوي عشرين لو اشتراه راغب بثلاثين فللبائع من الثلاثين خمسةَ عشرَ وللمشتري خمسةَ عشرَ في الصورة الأخيرة

Jika terjadi kenaikan nilai pada proses penyempurnaan kain (al-qisārah), maka tambahan nilai yang dihasilkan karenanya diberikan kepada pemilik qisārah. Penjelasannya, kain yang telah disempurnakan tadinya bernilai lima belas, sebagaimana urutan yang telah kami sebutkan: sepuluh untuk kain dan lima untuk qisārah. Kemudian kain yang telah disempurnakan itu menjadi bernilai dua puluh. Kami dapati kain lain yang sejenis dengan kain tersebut bernilai sepuluh, sehingga jelaslah bahwa tambahan nilai itu sepenuhnya berasal dari qisārah. Maka, tambahan itu diberikan kepada pihak yang berhak atas qisārah, dan kain dijual seharga dua puluh; setengah harga diberikan kepada penjual, dan setengahnya lagi kepada pihak yang bangkrut, yang kemudian akan dibagi di antara para krediturnya. Jika telah jelas bagi kami perbandingan nilai antara kain dan qisārah, lalu ada pembeli yang ingin membeli kain tersebut dengan harga lebih tinggi dari nilai kain setelah qisārah, maka hasil penjualan itu dibagi sesuai dengan perbandingan nilai yang telah ditetapkan antara keduanya. Misalnya, kain yang kami bagi menjadi dua bagian dan nilainya dua puluh, jika ada pembeli yang membelinya seharga tiga puluh karena keinginannya, maka dari tiga puluh itu penjual mendapat lima belas, dan pembeli (pemilik qisārah) juga mendapat lima belas, sebagaimana pada contoh terakhir.

ولا يخفى قياس الباب

Tidak tersembunyi (jelas) qiyās dalam permasalahan ini.

فلو قال قائل إذا ارتفعت قيمة القِصارة كما صورتم في الصورة الأخيرة فهلاّ قلتم يرجع من الزيادة شيء إلى بائع الثوب؛ فإن القصارة ما قامت إلا بثوبه وهو حاملها فهلاّ كانت القصارة كالبناء يَسْتَجِدُّه المشتري في الأرض المشتراة قلنا حقيقة هذه الصورة تحل هذا الإشكال وتدفع هذا السؤال؛ فإنا في الأرض المبنية لا نزيد لمالك الأرض على قيمتها بيضاء وقد تنقص على اختلافٍ ذكرناه للأصحاب في كيفية التوزيع وإذا نحن وفينا مالكَ الثوب قيمةَ ثوبه على ما باعه من غير قِصارة فطمعه في الزيادة والمشتري قصر بحقٍّ طمعٌ في غير مطمع

Jika ada yang berkata: “Jika nilai jasa penyucian kain (qisārah) meningkat seperti yang kalian gambarkan pada contoh terakhir, mengapa kalian tidak mengatakan bahwa sebagian dari kenaikan nilai itu harus dikembalikan kepada penjual kain? Bukankah jasa qisārah itu tidak akan ada tanpa kainnya, dan kain itu adalah milik penjual? Maka mengapa qisārah tidak diperlakukan seperti bangunan yang didirikan pembeli di atas tanah yang dibelinya?” Maka kami katakan: Hakikat dari contoh ini sendiri sudah menjawab dan menolak pertanyaan tersebut; sebab dalam kasus tanah yang dibangun, kita tidak menambah nilai tanah bagi pemilik tanah melebihi harga tanah dalam keadaan kosong, bahkan nilainya bisa berkurang, sesuai perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan di antara para ulama mengenai cara pembagiannya. Dan jika kami telah memberikan kepada pemilik kain nilai kainnya sesuai harga jual tanpa qisārah, maka harapan penjual untuk mendapatkan tambahan nilai, dan keinginan pembeli untuk mengurangi hak penjual, adalah harapan yang tidak pada tempatnya.

هذا الذي ذكرناه كلامٌ في إحدى الصورتين في المفلس

Apa yang telah kami sebutkan ini adalah pembahasan mengenai salah satu dari dua keadaan pada orang yang pailit.

الصورة الأخرى أن يشتري ثوباًً ويستأجر من يقصره فيقصره الأجير ولا يتوفر عليه الأجرة ويُفلس المشتري فللأجير تعلُّقٌ بالقِصارة على قول العين فيزدحم على الثوب القصارُ للقِصارة التي حصَّلها وبائع الثوب فنقول إن حكمنا بأن القِصارةَ أثر فلا أثر لها ولا حكم وبائع الثوب يرجع إلى الثوب المقصور ولا يُزاحَم فيه والأجير أُسوة الغرماء؛ يضاربهم بالأجرة من غير تعلّق بالعين

Gambaran lainnya adalah seseorang membeli sebuah kain dan menyewa orang untuk memendekkannya, lalu pekerja itu memendekkannya namun belum menerima upahnya, dan pembeli kain tersebut jatuh pailit. Maka, menurut pendapat yang mengatakan adanya keterkaitan pada barang, pekerja tersebut memiliki hak atas hasil pemendekan kain itu, sehingga terjadi persaingan antara pekerja pemendek kain atas hasil kerjanya dan penjual kain atas kain tersebut. Kami katakan, jika kami memutuskan bahwa hasil pemendekan itu hanyalah efek (dari pekerjaan), maka tidak ada pengaruh dan tidak ada hak atasnya, dan penjual kain berhak kembali atas kain yang sudah dipendekkan tanpa ada persaingan di dalamnya, sedangkan pekerja diperlakukan sama seperti para kreditur lainnya; ia menuntut upahnya bersama mereka tanpa ada keterkaitan dengan barang tersebut.

وإن قلنا القصارة عينٌ فللأجير على الجملة تعلق فإن لم يزدد بالقصارة أولاً شيء في قيمة الثوب وكان الثوب مقصوراً يساوي عشرة ولو فرض على البت لكان يساوي عشرة فالثوب مسلّم إلى البائع بلا زحمة وقد انمحقت القِصارة وصارت مستهلكة

Jika kita katakan bahwa proses pencucian adalah suatu benda, maka tukang cuci secara umum memiliki keterkaitan. Jika dengan pencucian itu pada awalnya tidak menambah apa pun pada nilai kain, dan kain yang telah dicuci itu bernilai sepuluh, bahkan jika dianggap secara pasti pun nilainya tetap sepuluh, maka kain itu diserahkan kepada penjual tanpa ada kesulitan, dan pencucian itu dianggap telah lenyap dan menjadi sesuatu yang habis terpakai.

فأما إذا زاد بالقصارة شيءٌ فنقول أجرة القِصارة درهم وقيمة القصارة خمسةٌ فالثوب على البت عشرة وهو مع القصارة خمسة عشر فإذَا بيع بخمسةَ عشرَ فالعشرة لبائع الثوب والدرهم للقصّار يقدم به على الغرماء لتعلقه بعين القصارة وأربعة دراهم للمشتري يتضارب فيها غرماؤه هكذا نص الشافعي

Adapun jika dengan proses pencucian (al-qisārah) terdapat tambahan nilai, maka kita katakan upah pencucian adalah satu dirham dan nilai pencucian adalah lima. Maka kain pada awalnya seharga sepuluh, dan setelah dicuci menjadi lima belas. Jika kain itu dijual seharga lima belas, maka sepuluh dirham untuk penjual kain, satu dirham untuk pencuci kain (al-qassār) yang didahulukan atas para kreditur karena berkaitan langsung dengan hasil pencucian, dan empat dirham untuk pembeli, di mana para krediturnya berbagi secara proporsional atas bagian tersebut. Demikianlah nash dari Imam asy-Syafi‘i.

ولو استأجر الأجيرَ بخمسة والثوبُ على البت عشرة وهو بعد القصارة أحدَ عشرَ فإذا بعنا الثوب بأحدَ عشرَ سلمنا عشرة إلى مالك الثوب ودرهماً إلى القصّار على قول العين يقدم بها ويضارب الغرماء ببقية أجرته وهو أربعة

Jika seseorang menyewa pekerja dengan upah lima, sedangkan harga kain secara kontan adalah sepuluh, dan setelah proses pencucian kain itu menjadi sebelas, maka jika kita menjual kain tersebut seharga sebelas, kita serahkan sepuluh kepada pemilik kain dan satu dirham kepada pencuci kain menurut pendapat yang mengutamakan barang (‘ayn), dan ia menuntut sisa upahnya, yaitu empat, bersama para kreditur lainnya.

هذا تفريع الشافعي والأصحابِ على قولي الأثر والعين وقد تخطينا مواقع الإشكال لإنهاء الترتيب نهايته

Ini adalah penjabaran Imam Syafi‘i dan para sahabatnya berdasarkan dua pendapat, yaitu atsar dan ‘ain, dan kami telah melewati titik-titik permasalahan demi menyelesaikan urutan pembahasan hingga akhirnya.

و الآن ننعطف عليها بعد وقوع الإيناس وتتبُّع مظنة كل إلباس ونبدأ بخاتمة الكتاب

Sekarang kita kembali membahasnya setelah adanya penjelasan dan penelusuran terhadap setiap kemungkinan kerancuan, dan kita mulai dengan penutup kitab ini.

فإن قيل فرّع الشافعي على قول العين فاقتضى ذلك أن يقال ليس

Jika dikatakan, “Imam Syafi‘i membangun cabang hukum berdasarkan pendapat ‘ain, maka hal itu menuntut untuk dikatakan bahwa tidak…

للقصّار إلا القصارة إذا أراد التعلق بها ويلزم من مساق هذا أن نقول إذا كانت قيمة القصارة خمسة وأجرة القصارة درهماً فأراد الرجوعَ في القِصارة فينبغي أن يفوز بقيمة القِصارة وهي الخمسة بتمامها ولا نظر إلى أجرته نقصت أو زادت؛ فإن الأجرة كالثمن والقصارة كالعين المبيعة وقد قال الشافعي إذا كانت الأجرة درهماً فليس للقصّار إلا درهم وهذا يناقض التفريع على قول العين

Bagi tukang pencuci kain, tidak ada hak kecuali atas jasa pencucian jika ia ingin menuntutnya, dan dari uraian ini mengharuskan kita mengatakan: jika nilai jasa pencucian adalah lima dan upah pencucian satu dirham, lalu ia ingin menuntut kembali atas jasa pencucian, maka seharusnya ia mendapatkan nilai jasa pencucian tersebut, yaitu lima secara penuh, tanpa memperhatikan apakah upahnya berkurang atau bertambah; karena upah itu seperti harga, dan jasa pencucian itu seperti barang yang dijual. Imam Syafi’i berkata: jika upahnya satu dirham, maka tukang pencuci kain hanya berhak atas satu dirham, dan ini bertentangan dengan rincian berdasarkan pendapat tentang barang.

ثم تمام السؤال أن الأجرة لو كانت خمسة وقيمة القصارة درهم فإذا آثر القصّار التعلق بالقصارة وجب ألا تثبت له إلا القصارة كالمبيع إذا قلت قيمته وزاد مبلغُ الثمن عليها فإذا أراد البائع الرجوعَ لزمه الاكتفاء بالمبيع وقد قال الشافعي إذا كانت القصارة درهماً والأجرة خمسة أخذ القصار الدرهم وضارب بالأربعة الباقية وهذا أيضاً يخالف قياس قول العين

Selanjutnya, penyempurnaan pertanyaan adalah bahwa jika upahnya lima dan nilai jasa pencucian kain satu dirham, maka apabila tukang cuci lebih memilih untuk tetap pada jasa pencucian, seharusnya ia hanya berhak mendapatkan jasa pencucian saja, sebagaimana barang yang dijual apabila nilainya turun dan jumlah harga melebihi nilainya; jika penjual ingin menarik kembali, maka ia harus cukup dengan barang yang dijual. Imam Syafi‘i berkata: Jika nilai jasa pencucian satu dirham dan upahnya lima, maka tukang cuci mengambil satu dirham dan bermitra dengan empat dirham sisanya. Ini pun bertentangan dengan qiyās atas barang (‘ayn).

وقد اعتاص على كثير من الأصحاب الخروج عن عهدة هذا السؤال ولا يبيّن الغرضَ فيه إلا التصريحُ بحقيقة هذا القول وكنا لا نقدر على البوح به قبل الإحاطة بمجامع المسألة وتقاسيمها فالآن نقول ليست القصارة على قول العين عيناً على الحقيقة مملوكة تباع وتشترى ويتصرف فيها بالرجوع والاسترداد حسب ما يتصرف في الأعيان هذا محال تخيُّلُه مع العلم بأن القصارة صفةٌ والدليل عليه أن المشارك في الثوب بالقصارة ليس مالكَ عين ولو كانت القصارة عيناً للزم أن يقال من غصب ثوباً وقصره وزادت قيمة الثوب بسبب القصارة؛ فيصير شريكاً في الثوب كما لو صبغ الثوبَ بصِبغٍ من عنده وقد اتفق العلماء على أنّ الغاصب يصير شريكاً في الثوب إذا صبغه بصِبغٍ من عنده ولا يصير شريكاً إذا قصره

Banyak dari para sahabat mengalami kesulitan untuk keluar dari tanggungan pertanyaan ini, dan tujuan dari pertanyaan ini tidak akan jelas kecuali dengan menyatakan secara tegas hakikat pendapat ini. Kami sebelumnya tidak mampu mengungkapkannya sebelum memahami keseluruhan masalah dan pembagiannya. Maka sekarang kami katakan: tidaklah benar menurut pendapat bahwa kasarah (pekerjaan menghaluskan kain) adalah suatu benda (‘ain) yang secara hakiki dimiliki, dapat dijual-belikan, dan dapat diperlakukan seperti benda (‘ain) lainnya dengan penarikan kembali dan pengembalian; hal ini mustahil dibayangkan, karena kasarah adalah sifat. Buktinya, orang yang berpartisipasi dalam kain melalui kasarah bukanlah pemilik benda (‘ain) kain tersebut. Jika kasarah itu adalah benda (‘ain), maka seharusnya dikatakan bahwa siapa yang merampas kain lalu mengkasarnya dan nilai kain itu bertambah karena kasarah, maka ia menjadi sekutu dalam kain tersebut, sebagaimana jika ia mewarnai kain itu dengan pewarna miliknya. Para ulama telah sepakat bahwa perampas menjadi sekutu dalam kain jika ia mewarnainya dengan pewarna miliknya, namun tidak menjadi sekutu jika ia hanya mengkasarnya.

فحاصل قولنا القصارة عين أنها صفة مقصودة يتعلق بها العامل المُوقعُ لها تعلق اختصاص كما يتعلق المرتهن بالرهن

Kesimpulan dari pernyataan kami adalah bahwa al-qasārah merupakan sesuatu yang konkret, yaitu sifat yang dimaksudkan, yang berkaitan dengan pelaku yang melakukannya dengan keterikatan khusus, sebagaimana keterikatan seorang penerima gadai terhadap barang gadai.

هذا قولنا في الأجير

Inilah pendapat kami tentang ajir (pekerja upahan).

أمَّا إذا أضفناها إلى المشتري فله فيها حقيقة الاستحقاق؛ لأنها وقعت في ملكه وإذا تبين أن تعلق الأجير على النحو الذي ذكرناه فإن كانت الأجرة درهماً وقيمة القصارة خمسة فلا يزاد الدين بزيادة قيمة الرهن وإن كانت الأجرة خمسة ووالقصارة درهماً فإذا صرفت القصارة إلى الأجرة كان ذلك كصرف الرهن إلى الدين وإذا نقص ثمنُ الرهن عن مبلغ الدين فالفاضل من الدين يبقى لا محالة

Adapun jika kita mengaitkannya dengan pembeli, maka ia benar-benar memiliki hak atasnya; karena barang tersebut telah menjadi miliknya. Jika telah jelas bahwa keterkaitan pekerja upahan (ajir) sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka jika upahnya satu dirham dan nilai jasa pencucian kain (qasārah) adalah lima, maka utang tidak bertambah dengan bertambahnya nilai barang gadai. Namun jika upahnya lima dan jasa pencucian kain satu dirham, maka jika jasa pencucian kain dialihkan untuk membayar upah, hal itu seperti mengalihkan barang gadai untuk membayar utang. Jika harga barang gadai kurang dari jumlah utang, maka sisa utang tetap ada, tidak diragukan lagi.

فتمهد مما ذكرناه أن القصارة ليست في حكم المملوكة للأجير وإنما تكون في حكم المملوكة للمشتري

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa hasil pengolahan (al-qisārah) tidak dianggap sebagai milik pekerja upahan, melainkan dianggap sebagai milik pembeli.

وههنا الآن غلطتان نذكرهما لا ليلتحقا بالمذهب ولكن ليتبين وجه الغلط إحداهما أن الأجرة إذا كانت درهماً والقصارة خمسة والثوب عشرة فقد ذكرنا من نص الشافعي أن الثوب إذا بيع بخمسةَ عشرَ فللبائع الراجع عشرةٌ وللأجير درهم وللمشتري أربعة فلو زادت قيمة الثوب؛ فاشتري بثلاثين قال شيخي في دروسٍ يتضاعف حق كل ذي حق فلصاحب الثوب عشرون وللأجير درهمان وللغرماء ثمانية أما تضعيف حق صاحب الثوب وتضعيفُ حق الغرماء فبيّن؛ فإن الثوب ملكُ البائع الراجع والقصارة مستحقة للمشتري فارتفاع قيمة المستحق ليس بدعاً فأما تضعيف الأجرة فلا وجه له؛ فإنا ذكرنا أنّه ليس مستحقاً للقصارة؛ إذ لو كان مستحقاً لفاز بجميعها فَوْزَ البائع بجميع المبيع وإن ارتفعت قيمته فالوجهُ القطع بأنه على درهمه ولكنه مقدم به لتعلّقه بالعين كما يقدم المرتهن بالدين الموثق بالرهن فذلك الدرهم إذاً للمشتري؛ فإنه من قيمة القصارة وليس للبائع إلا ثلثاً الثمن وما سلّم إلى القصّار من حساب القصارة فهذه غلطة

Di sini sekarang terdapat dua kekeliruan yang kami sebutkan, bukan untuk dimasukkan ke dalam mazhab, tetapi agar jelas letak kekeliruannya. Salah satunya adalah jika upahnya satu dirham, biaya pencucian lima, dan harga kain sepuluh, maka telah kami sebutkan dari nash Syafi‘i bahwa jika kain dijual seharga lima belas, maka penjual yang berhak kembali mendapat sepuluh, pekerja mendapat satu dirham, dan pembeli mendapat empat. Jika nilai kain meningkat lalu dibeli seharga tiga puluh, guru saya dalam pelajaran mengatakan: hak setiap yang berhak menjadi dua kali lipat, sehingga pemilik kain mendapat dua puluh, pekerja mendapat dua dirham, dan para kreditur mendapat delapan. Adapun pelipatan hak pemilik kain dan pelipatan hak para kreditur itu jelas, karena kain adalah milik penjual yang berhak kembali, dan biaya pencucian menjadi hak pembeli, sehingga naiknya nilai barang yang menjadi hak bukanlah hal yang aneh. Adapun pelipatan upah, maka tidak ada dasarnya; karena telah kami sebutkan bahwa pekerja tidak berhak atas biaya pencucian, sebab jika ia berhak, tentu ia akan memperoleh seluruhnya sebagaimana penjual memperoleh seluruh barang yang dijual jika nilainya naik. Maka yang benar adalah ia tetap pada satu dirhamnya, namun ia didahulukan dalam penerimaan karena haknya terkait dengan barang, sebagaimana pemegang gadai didahulukan dalam pelunasan utang yang dijamin dengan gadai. Maka dirham itu milik pembeli, karena berasal dari nilai biaya pencucian, dan penjual tidak berhak kecuali dua pertiga dari harga, serta apa yang telah diserahkan kepada pencuci dari perhitungan biaya pencucian. Inilah kekeliruan tersebut.

الغلطة الأخرى وهي شائعةٌ في ألفاظ الأصحاب ولا يتجه فيها احتمال وذلك أنهم قالوا في التفريع على قول العين يفسخ القصّارُ العقدَ ويرجع إلى القِصارة ثم فصلوا المذهب وهذا بعينه مصير إلى أن القصارة هلكت من القصّار وهي ترجع بالفسخ إليه ولو كان كذلك لاستحق القصارة بكمالها بالغة ما بلغت قيمتها وليس الأمر كذلك؛ فليس للقصار من القصارة إلا التوثّق المحض ولا معنى مع هذا الذكر للفسخ نعم لو أراد المضاربة كان كالمرتهن يُبطل حق توثقه ويجعل نفسَه مع الغرماء مضارباً ويسلم لهم محل تعلقه

Kesalahan lain yang juga sering ditemukan dalam ungkapan para ulama, dan tidak ada kemungkinan lain di dalamnya, yaitu bahwa mereka berkata dalam penjabaran pendapat bahwa barang (yang menjadi objek akad) adalah milik, maka tukang cuci (al-qassār) membatalkan akad dan kembali kepada jasa pencucian, kemudian mereka merinci mazhab. Ini pada hakikatnya berarti bahwa jasa pencucian telah hilang dari tukang cuci dan dengan pembatalan akad, jasa itu kembali kepadanya. Seandainya memang demikian, maka tukang cuci berhak atas seluruh jasa pencucian, berapapun nilainya. Namun kenyataannya tidak demikian; tukang cuci tidak berhak atas jasa pencucian kecuali sebatas sebagai jaminan semata, dan tidak ada makna penyebutan pembatalan akad dalam hal ini. Ya, jika ia menghendaki mudhārabah, maka keadaannya seperti orang yang menggadaikan barang, yang membatalkan hak jaminannya dan menempatkan dirinya bersama para kreditur sebagai mudhārib, serta menyerahkan tempat keterkaitannya kepada mereka.

هذا تفصيل القول في ذلك والتنبيه على محل الإشكال والانفصال وإيضاح

Ini adalah perincian penjelasan tentang hal itu, penunjukan pada letak permasalahan dan pemisahannya, serta penjelasan.

عثراتِ العاثرين

Kesalahan-kesalahan orang yang tergelincir

فإن قيل أليس ذكر الأصحابُ قبل الخوض في أحكام التفليس من هذا الفصل أن العامل يحبس الثوبَ المقصورَ حبس البائع المبيع قلنا ليس ذلك بدعاً والمرتهن يحبس المرهون إلى توفير الدين عليه وحبسُه آكد من حبس البائع

Jika dikatakan, bukankah para sahabat (ulama mazhab) telah menyebutkan sebelum membahas hukum-hukum taflīs dalam bab ini bahwa pekerja boleh menahan kain yang telah diputihkan sebagaimana penjual menahan barang yang dijual? Kami katakan, hal itu bukanlah sesuatu yang aneh; pemegang gadai pun menahan barang gadai hingga utangnya dilunasi, dan penahanan oleh pemegang gadai lebih kuat daripada penahanan oleh penjual.

فإن قيل إن كان كذلك فلا وجه لدفع قولهم لو تلف الثوب في يد القصار سقط حقُّه من الأجرة كما يسقط الثمن بتلف المبيع قبل القبض ولو كان تعلقُ حقه على قياس تعلق حق المرتهن لما سقط حقه بتلف متعلَّقه كما لا يسقط الدين بتلف الرهن في يد المرتهن

Jika dikatakan, “Jika demikian, maka tidak ada alasan untuk menolak pernyataan mereka bahwa jika kain itu rusak di tangan penatu, gugurlah haknya atas upah sebagaimana harga jual juga gugur jika barang yang dijual rusak sebelum diterima pembeli. Seandainya keterkaitan haknya itu berdasarkan qiyās dengan keterkaitan hak pemegang gadai, tentu haknya tidak gugur karena rusaknya objek yang menjadi haknya, sebagaimana utang tidak gugur karena barang gadai rusak di tangan pemegang gadai.”

قلنا هذا الآن يُحْوِجُنا إلى فن آخر من الكلام فنقول سبب سقوط أجرته أننا نقدر القصارة كأنها جزء من عمله فإذا لم ينته إلى يد المستأجر وكان عمله بعدُ في ضمانه فإذا تلف الثوب سقطت الأجرة لذلك ولا تكون القصارة مملوكةً مبيعةً

Kami katakan, hal ini sekarang mengharuskan kita untuk membahas cabang lain dari pembicaraan. Maka kami katakan, sebab gugurnya upahnya adalah karena kita menganggap jasa mencuci itu seolah-olah bagian dari pekerjaannya. Jika hasil pekerjaannya belum sampai ke tangan penyewa dan pekerjaannya masih dalam tanggungannya, maka jika kain itu rusak, upahnya gugur karena hal itu, dan jasa mencuci tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang dimiliki atau dijual.

هذا واضح ولم يبق بعد هذا إشكال على ذي نظر

Hal ini jelas dan setelah ini tidak ada lagi keraguan bagi orang yang berpikir.

وحان أن نخوض في فصل الصِّبغ مشمرين مستعينين بالله تعالى فنقول أولاً إنما أخرنا طرف الصِّبغ لأنّه يتعلق بما هو عين وفاقاً وهو جِرمُ الصِّبغ وإنما اختلف القول في أنه أثر أو عين فيما هو صنعة الصباغ المسمى الصَّبغ فإذا تمهد القول في محل الأثر والعين ينتظم بعد ذلك ما نحاول في هذا الفصل إن شاء الله تعالى

Kini tibalah saatnya kita membahas bab tentang pewarnaan dengan bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala. Pertama-tama, kami menunda pembahasan tentang pewarnaan karena hal itu berkaitan dengan sesuatu yang merupakan zat menurut kesepakatan, yaitu zat pewarna itu sendiri. Adapun perbedaan pendapat terjadi mengenai apakah hasil pekerjaan tukang pewarna yang disebut pewarnaan itu merupakan efek (atsar) atau zat (‘ain). Jika pembahasan tentang tempat efek dan zat telah jelas, maka setelah itu akan teratur apa yang akan kami bahas dalam bab ini, insya Allah Ta‘ala.

فنقول

Maka kami katakan

من اشترى ثوباًً وصبغه بصبغ من عنده فالصِّبغ القائم في الثوب عينٌ حسّاً فلو ارتفعت قيمة الثوب والصّبغ أيضاً مثل أن يكون الثوب غيرَ مصبوغ عشرةً والصِّبغ درهم والثوب المصبوغ خمسةَ عشرَ فالزيادة على قيمة الثوب وجِرم الصِّبغ إنما حصلت بالصَّبغ وحسنِ الصنعة وما يحصل من الصنعة فهو على قولين في أنه أثر أو عين كالقِصارة فنبيّن غرضَنا بالصور نرسلها ونأتي في كل واحدة بما يليق بها

Barang siapa membeli kain lalu mewarnainya dengan pewarna miliknya, maka pewarna yang ada pada kain tersebut adalah sesuatu yang nyata secara fisik. Jika nilai kain dan pewarna sama-sama naik, misalnya kain yang belum diwarnai seharga sepuluh, pewarna satu dirham, dan kain yang sudah diwarnai menjadi lima belas, maka kelebihan nilai di atas harga kain dan bahan pewarna itu terjadi karena proses pewarnaan dan keindahan pengerjaan. Apa yang dihasilkan dari pengerjaan tersebut, menurut dua pendapat, apakah ia merupakan pengaruh atau sesuatu yang nyata seperti dalam kasus pencucian kain (qisārah). Kami akan menjelaskan maksud kami dengan beberapa contoh yang akan kami kirimkan, dan pada setiap contoh akan kami sebutkan penjelasan yang sesuai.

فإذا ابتاع الثوب بعشرة وقيمته عشرة فصبغه بصبغ من عنده يساوي خمسة نُظر فإن كان الثوب يساوي مصبوغاً عشرة فقد ضاع الصِّبغ والثوب المصبوغ للبائع الراجع لا حق للمشتري والغرماءِ فيه فصار الصبغ مستهلكاً وقد قررنا ذلك مراراً

Jika seseorang membeli kain seharga sepuluh, dan nilainya memang sepuluh, lalu ia mewarnainya dengan pewarna miliknya sendiri yang nilainya lima, maka dilihat: jika kain yang sudah diwarnai itu nilainya tetap sepuluh, berarti pewarna tersebut hilang sia-sia, dan kain yang sudah diwarnai itu menjadi milik penjual yang mengambil kembali barangnya, tidak ada hak bagi pembeli maupun para kreditur atasnya. Maka pewarna tersebut dianggap telah habis, dan hal ini telah kami jelaskan berulang kali.

ولو كان الثوب مصبوغاً يساوي ثلاثة عشر فالنقص محسوبٌ على الصِّبغ دون الثوب؛ فنقول يسلم إلى صاحب الثوب عشرة كاملة وإلى المشتري والغرماء ثلاثة ولو لم تزد قيمة الثوب والصبغ ولم تنقص وكان الثوب مصبوغاً يساوي خمسةَ عشرَ والثوب وحده عشرة والصبغ خمسة فليس في هذه المسألة للصنعة أثر فإن كان من نعتٍ فضائعٌ غائصٌ في عين الثوب والصبغ فإذا بعنا الثوب بخمسةَ عشرَ فالثلث من الثوب مصروف إلى المشتري وغرمائه والثلثان للبائع

Jika kain itu telah dicelup dan nilainya menjadi tiga belas, maka kekurangan dihitung pada pewarnaan, bukan pada kainnya; maka kita katakan, diberikan kepada pemilik kain sepuluh penuh, dan kepada pembeli serta para kreditur tiga. Jika nilai kain dan pewarnaan tidak bertambah dan tidak berkurang, dan kain yang telah dicelup itu bernilai lima belas, sedangkan kain saja sepuluh dan pewarnaan lima, maka dalam masalah ini keterampilan tidak berpengaruh. Jika ada sifat khusus yang melekat kuat pada kain dan pewarnaannya, lalu kita menjual kain itu seharga lima belas, maka sepertiganya dari kain diberikan kepada pembeli dan para krediturnya, dan dua pertiganya untuk penjual.

ولو كانت قيمة الثوب كما وصفنا عشرة وقيمة الصّبغ خمسة والثوب المصبوغ يساوي عشرين فالزائد على خمسةَ عشرَ من آثار الصنعة فتخرج المسألة على قولين في أنها هل تكون في حكم الأثر أم في حكم العين فإن قلنا هي أثر فلا حكم لها وكل زيادة حصلت أثراً للصنعة فهي مصروفة إلى بائع الثوب يستبدّ بها بلا مزاحمة هكذا أورده الشيخ أبو علي في الشرح

Jika nilai kain sebagaimana telah kami jelaskan adalah sepuluh, nilai pewarna lima, dan kain yang telah diwarnai bernilai dua puluh, maka kelebihan dari lima belas itu berasal dari pengaruh keterampilan (shina‘ah). Maka permasalahan ini kembali kepada dua pendapat: apakah ia termasuk dalam hukum pengaruh (atsar) atau dalam hukum benda (‘ayn). Jika kita katakan bahwa ia adalah pengaruh, maka tidak ada hukum baginya, dan setiap tambahan yang terjadi sebagai pengaruh dari keterampilan, maka itu diberikan kepada penjual kain untuk dimiliki sepenuhnya tanpa ada persaingan. Demikianlah yang dijelaskan oleh Syekh Abu ‘Ali dalam syarahnya.

وكنت أودّ أَنْ يُفَضَّ أثرُ الصنعة على الثوب وجرم الصَّبغ فيصرف إلى صاحب الثوب ثلثاه وإلى المشتري الذي هو مالكُ جِرم الصَّبغ ثلثه؛ فإن الصنعة اتصلت بالصَّبغ والثوب جميعاً وهذا بيّن ولكن لعله قال ما قال من حيث إن الموصوف هو الثوب وإليه يرجع أثر الصنعة فليقف المتأمّل إذا انتهى إلى ذلك ولينعم النّظر

Saya ingin agar pengaruh keterampilan (pekerjaan) dibagi antara kain dan zat pewarna, sehingga dua pertiganya diberikan kepada pemilik kain dan sepertiganya kepada pembeli yang merupakan pemilik zat pewarna; sebab keterampilan tersebut berkaitan dengan baik kain maupun zat pewarna, dan hal ini jelas. Namun, barangkali ia mengatakan apa yang ia katakan karena yang menjadi objek (yang dideskripsikan) adalah kain, dan pengaruh keterampilan kembali kepadanya. Maka hendaknya orang yang menelaah berhenti sejenak ketika sampai pada hal ini dan memperhatikan dengan seksama.

وإن قلنا سبيله سبيل العين فقد حدثت العين للمشتري وقد فرضنا فيه إذا كان الصّبغ مملوكاً للمشتري فالصَّبغ له وأثر العمل له فإذا بعنا الثوب بعشرين صرفنا عشرة إلى صاحب الثوب وعشرة إلى المشتري وغرمائه خمسة في مقابلة الصِّبغ وخمسة في مقابلة أثر الصنعة وإذا كان كذلك فلو وجدنا راغباً يشتري الثوب بثلاثين فقاعدة الحساب بيننا التنصيف في الثوب كما ذكرناه

Dan jika kita katakan hukumnya seperti hukum ‘ain (barang berwujud), maka ‘ain tersebut telah menjadi milik pembeli, dan kita telah menetapkan bahwa jika pewarna itu milik pembeli, maka warna itu menjadi miliknya, dan hasil pekerjaannya juga menjadi miliknya. Maka jika kita menjual kain itu seharga dua puluh, kita alokasikan sepuluh kepada pemilik kain dan sepuluh kepada pembeli, serta kepada para krediturnya: lima sebagai ganti pewarna, dan lima sebagai ganti hasil pekerjaan. Jika demikian, maka jika kita menemukan pembeli yang berminat membeli kain itu seharga tiga puluh, maka dasar perhitungannya di antara kita adalah pembagian setengah-setengah pada kain tersebut sebagaimana telah kami sebutkan.

صورة أخرى إذا كان الثوب يساوي عشرة والصِّبغ يساوي درهماً فلما صبغ المفلسُ الثوبَ صار يساوي خمسةَ عشرَ فقد زادت أربعة دراهم بالصنعة قال الشيخُ إن قلنا ما يحصل بالصنعة أثرٌ لا حكم له فالأربعة لبائع الثوب مع العشرة وليس للمشتري إلا قيمة صِبغه وهذا جوابه الأول وعليه من السؤال ما تقدّم

Contoh lain, jika sebuah kain bernilai sepuluh dan pewarnaannya bernilai satu dirham, lalu si pailit mewarnai kain tersebut sehingga nilainya menjadi lima belas, maka telah bertambah empat dirham karena keterampilan (pewarnaan) itu. Syekh berkata: Jika kita katakan bahwa yang dihasilkan dari keterampilan hanyalah pengaruh yang tidak memiliki konsekuensi hukum, maka tambahan empat dirham itu menjadi milik penjual kain bersama sepuluh dirham, dan pembeli tidak berhak kecuali atas nilai pewarnaannya. Inilah jawaban pertamanya, dan terkait pertanyaan ini telah dijelaskan sebelumnya.

فأما إذا قلنا أثرُ الصنعة عينٌ فهي للمشتري فله إذاً خمسة وللبائع عشرة

Adapun jika kita mengatakan bahwa hasil dari keterampilan adalah benda itu sendiri, maka itu menjadi milik pembeli; dengan demikian, pembeli memperoleh lima bagian dan penjual memperoleh sepuluh bagian.

فلو كانت المسألة بحالها ووجدنا راغباً اشترى الثوب بثلاثين فإن جعلنا الزيادة للمشتري فثلث الثمن يصرف إليه والثلثان للبائع وإن قلنا الزيادة للبائع فثمن الأصل خمسةَ عشرَ وإنما اتفق البيع بالثلاثين رغبة فيوزع الثمن على خمسةَ عشرَ فللبائع من أصل القيمة أربعةَ عشرَ فنضعِّفها له وللمشتري درهم فنضعِّفه له

Jika permasalahan tetap seperti itu dan kita menemukan seseorang yang berminat lalu membeli kain tersebut seharga tiga puluh, maka jika kita menetapkan kelebihan harga untuk pembeli, sepertiga dari harga tersebut diberikan kepadanya dan dua pertiganya untuk penjual. Namun jika kita mengatakan kelebihan harga untuk penjual, maka harga pokoknya adalah lima belas, dan terjadinya jual beli dengan harga tiga puluh itu karena adanya minat, sehingga harga tersebut dibagi atas lima belas. Maka penjual dari nilai pokok mendapatkan empat belas, kita gandakan untuknya, dan pembeli mendapatkan satu dirham, kita gandakan untuknya.

فنقول للبائع ثمانية وعشرون وللمشتري درهمان

Maka kami katakan kepada penjual: dua puluh delapan, dan kepada pembeli: dua dirham.

فإن قيل هلاّ جعلتم هذه الزيادة للبائع قلنا ليست هذه زيادةَ صنعة وإنما هي اتفاق ربح فيقسط الربح عليهما على مقدار استحقاقهما في الأصل وتضعّفُ قيمةِ الصبغ منقاسٌ وإنما الغلط تضعيفُ أجرة الأجير في القصارة كما بيّنته من غلط بعض الأئمة

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menjadikan tambahan ini untuk penjual?” Kami katakan, tambahan ini bukanlah tambahan karena keahlian, melainkan merupakan kesepakatan keuntungan, sehingga keuntungan itu dibagi kepada keduanya sesuai dengan kadar hak mereka atas pokok dan nilai pewarnaan yang bertambah secara qiyās. Adapun kekeliruan adalah menggandakan upah pekerja dalam proses pencucian kain, sebagaimana telah aku jelaskan sebagai kekeliruan sebagian imam.

ثم ذكر الشيخ أبو علي قولي الشافعي في أن القِصارة أثر أم عين وحكى عن صاحب التلخيص شيئاًً ممّا لا بد من ذكره فقال إذا باع ثوباًً قيمته عشرة واستأجر المشتري مَنْ قَصره بدرهم فإذا الثوب المقصور يساوي خمسةَ عشرَ ففي المسألة قولان أحدهما أن القِصارة عينٌ والثاني أثرٌ

Kemudian Syaikh Abu Ali menyebutkan dua pendapat Imam Syafi’i mengenai apakah qisārah itu merupakan ‘atsar (bekas) atau ‘ain (zat), dan ia meriwayatkan dari penulis kitab at-Talkhīṣ sesuatu yang perlu disebutkan, yaitu: Jika seseorang menjual kain yang nilainya sepuluh, lalu pembeli menyewa seseorang untuk mengisah kain itu dengan upah satu dirham, kemudian kain yang telah dikisah itu ternyata bernilai lima belas, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa qisārah adalah ‘ain, dan yang kedua bahwa qisārah adalah ‘atsar.

فإن قلنا إنها أثر فهي للبائع لكنا نقول للبائع لك الثوب المقصور لا تُشارَك فيه وعليك أجرة القصارة حتى كأنك استأجرته وهذا غلط منه باتفاق أصحابنا

Jika kita katakan bahwa itu adalah bekas, maka itu menjadi milik penjual. Namun, kita katakan kepada penjual: “Bagimu kain yang telah dibleaching, tidak ada pihak lain yang berhak atasnya, dan atasmu membayar upah bleaching, sehingga seolah-olah engkau menyewanya.” Dan ini adalah kekeliruan menurut kesepakatan para ulama kami.

فإنّا إذا قلنا إن القصارة أثر فللبائع الثوبُ ولا شيء عليه من الأجرة

Jika kita mengatakan bahwa hasil pencucian adalah suatu bekas (atsar), maka kain itu menjadi milik penjual dan ia tidak berkewajiban membayar upah apa pun.

والأجير يضاربُ الغرماء بأجرته وذلك أنّا لم نجعل القِصارة عيناً فيتعلق بها الأجير وبائع الثوب لم يستأجره فهذا غلط ظاهر لا شك فيه

Dan pekerja (ajīr) menuntut para kreditur dengan upahnya, karena kami tidak menjadikan jasa pencucian (al-qisārah) sebagai barang tertentu sehingga pekerja dapat bergantung padanya, dan penjual kain tidak menyewanya. Maka ini adalah kekeliruan yang jelas dan tidak diragukan lagi.

وقد نجز الفصل بأطرافه

Bab ini pun telah selesai dengan seluruh bagiannya.

فصل

Bab

ذكره صاحب التلخيص وغلط فيه من أوله إلى آخره

Hal itu disebutkan oleh penulis at-Talkhīṣ, namun ia keliru dari awal hingga akhir.

ونحن ننقل أجوبته ونذكر وجه الصواب فيها

Kami akan menyampaikan jawaban-jawabannya dan menjelaskan sisi kebenaran di dalamnya.

قال إذا اشترى رجل من العصير عشرة أرطالٍ بعشرة دراهم ثم أغلاه بالنار حتى رجع إلى ثمانية أرطال وصار رُبّاً

Ia berkata: Jika seseorang membeli sepuluh rithal jus anggur seharga sepuluh dirham, kemudian ia memasaknya dengan api hingga tersisa delapan rithal dan menjadi rab,

ذكر ثلاثة أحوالٍ في المسألة فقال إذا كان العصير يساوي عشرة ولما عاد إلى ثمانية أرطال صار يساوي سبعة؛ فللبائع الرجوع في عين الرُّب ومضاربة الغرماء بقدر نقصان القيمة وقدرُ النقصان ثلاثةُ دراهم فيضارب بها وعلل بأن قال ليس ما حدثَ مجرد نقصان صفة بل انضم إليه نقصان العين هذا جوابه وتعليله وهو خطأ

Ia menyebutkan tiga keadaan dalam masalah ini, lalu berkata: Jika jus anggur itu bernilai sepuluh, kemudian setelah kembali menjadi delapan rithl nilainya menjadi tujuh; maka penjual berhak mengambil kembali barang berupa rab (sirup anggur) tersebut dan bersaing dengan para kreditur sebesar penurunan nilai, dan besarnya penurunan adalah tiga dirham, maka ia bersaing dengan jumlah itu. Ia memberikan alasan dengan mengatakan bahwa yang terjadi bukan sekadar penurunan sifat, tetapi juga disertai penurunan zat barang. Inilah jawabannya dan alasannya, namun ini adalah kesalahan.

والصواب أن نقول قد نقص بالنار خُمس المبيع فهو كما لو نقص بانصبابٍ أو غيرهِ من أسباب الضياع فيرجع في الرب إن شاء ولا حظَّ له في مقابلة الدرهم الناقص من القيمة؛ فإن العين باقية في أربعة الأخماس وزناً وقدراً فليرجع إن أراد في الأربعة الأخماس كما هي ويضارب بخمس الثمن وهو درهمان

Pendapat yang benar adalah bahwa barang yang terbakar telah berkurang seperlima dari barang yang dijual, maka hukumnya seperti jika berkurang karena tumpah atau sebab-sebab lain yang menyebabkan kerusakan; maka pembeli boleh membatalkan akad jika ia mau, dan ia tidak berhak atas pengganti dari nilai yang hilang; karena barang masih tersisa empat perlimanya, baik dari segi berat maupun ukuran, maka jika ia mau, ia dapat mengambil kembali empat perlimanya sebagaimana adanya, dan ia menuntut seperlima dari harga, yaitu dua dirham.

وإن لم يُرد الرجوع في المبيع ضرب مع الغرماء في جميع الثمن والجملة في هذا أنا نجعل النقصان بسبب الغليان بمثابة التلف في ذلك القدر ويجري في الباقي على قياس الأصول فهذه حالة من الأحوال الثلاثة

Jika ia tidak ingin kembali pada barang yang dijual, maka ia berhak mendapatkan bagian bersama para kreditur atas seluruh harga. Kesimpulan dalam hal ini adalah bahwa kami menganggap kerugian akibat kenaikan harga sebagai setara dengan kerusakan pada kadar tersebut, dan sisanya mengikuti qiyās berdasarkan prinsip-prinsip yang ada. Inilah salah satu dari tiga keadaan.

أما الحالة الثانية فهي أن تكون قيمةُ العصير عشرة كما صورناه فلما صار رُبّاً رجع إلى ثمانية ولكن كان يساوي عشرة مع نقصان وزنه قال صاحب التلخيص إن أراد الرجوع فيرجع في الرُّب ولا يضارب الغرماء بشيء؛ فإنه قد وصل إليه قدرُ المبيع قيمةً وقد ساعده بعض الأصحاب في هذه الصورة

Adapun keadaan kedua adalah ketika nilai sari buah itu sepuluh sebagaimana yang telah kami gambarkan, lalu setelah menjadi rab kembali menjadi delapan, namun ia tetap bernilai sepuluh meskipun beratnya berkurang. Menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, jika ia ingin menarik kembali, maka ia menariknya pada rab dan tidak menuntut apa pun dari para kreditur; karena ia telah menerima nilai barang yang dijual sesuai nilainya, dan sebagian ulama mendukung pendapat ini dalam kasus ini.

وهو خطأ

Dan itu adalah kesalahan.

والسديد أن نقول أما القدر الذي هو نقص وهو خُمس المبيع فله أن يضارب الغرماء في مقابلته بخمس الثمن ويَبْقى الكلام في أربعة أخماس المبيع وقد زَادت قيمته بالصّنعة فإن قلنا زيادة الصنعة للبائع وهي أثر فيرجع في الرُّب ويفوز بالزيادة ويضارب الغرماء بخمس الثمن كما ذكرنا

Pendapat yang tepat adalah bahwa untuk kadar yang merupakan kekurangan, yaitu seperlima dari barang yang dijual, maka ia berhak menuntut haknya bersama para kreditur sebagai ganti dari seperlima harga, dan pembahasan tetap pada empat perlima barang yang dijual yang nilainya telah bertambah karena adanya proses pengerjaan (shina‘ah). Jika kita katakan bahwa tambahan nilai karena pengerjaan itu menjadi milik penjual, yaitu merupakan pengaruh (atsar), maka ia berhak kembali pada seperempat dan memperoleh tambahan tersebut, serta menuntut haknya bersama para kreditur atas seperlima harga sebagaimana telah disebutkan.

وإن قلنا زيادة الصنعة بمنزلة العين وهي للمشتري فقد قال القفال في هذه الصورة إن هذه الزيادة على هذا القول للبائع أيضاً؛ فإنها بمنزلة السِّمَن وكِبر الغلام؛ فإن الغليان مما لا يجوز الاستئجار عليه فلا يصح أن يُستأجر رجل ليرد عشرةَ أرطالٍ بالإغلاء إلى ثمانية؛ فإن هذا مما لا ينضبط هذا طريق القفال

Jika kita mengatakan bahwa tambahan hasil kerja (zīyādah aṣ-ṣan‘ah) itu seperti barang (‘ayn) dan menjadi milik pembeli, maka al-Qaffāl berkata dalam kasus ini bahwa tambahan tersebut menurut pendapat ini juga menjadi milik penjual; karena tambahan itu seperti kegemukan (as-siman) dan bertambah besarnya seorang budak. Sebab, proses perebusan (al-ghalyān) adalah sesuatu yang tidak boleh disewakan, sehingga tidak sah seseorang disewa untuk mengubah sepuluh ratl menjadi delapan dengan cara direbus; karena hal ini tidak dapat diukur secara pasti. Demikianlah pendapat al-Qaffāl.

وذهب بعض أصحابنا إلى أن الاستئجار عليه جائز فالزيادة إذاً للمشتري وقد ضارب البائع بخمس الثمن وبقي أربعة أخماس المبيع للبائع فيه ثمانية وللمشتري درهمان

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa melakukan akad sewa atasnya adalah boleh, maka kelebihan (hasil) itu menjadi milik pembeli. Dengan demikian, penjual telah melakukan mudharabah dengan seperlima harga, dan masih tersisa empat perlima bagian barang yang menjadi milik penjual, sehingga penjual mendapatkan delapan dirham dan pembeli mendapatkan dua dirham.

وقد سبق القول في مثله

Telah dijelaskan sebelumnya mengenai hal yang serupa.

والجملة في ذلك أن هذه المسألة تنزل منزلة ما لو باع ثوبين أحدهما يساوي درهمين والثاني يساوي ثمانيةً فتلف في يد المشتري الذي يساوي درهمين وقَصَر المشتري الآخر فصار يساوي عشرة

Secara ringkas, permasalahan ini dapat dianalogikan seperti seseorang yang menjual dua kain: salah satunya bernilai dua dirham dan yang lainnya bernilai delapan dirham, lalu kain yang bernilai dua dirham rusak di tangan pembeli, sedangkan kain yang lain justru mengalami kenaikan nilai sehingga menjadi bernilai sepuluh dirham.

والحالة الثالثة هي أن يكون العصير مساوياً عشرة كما قدمنا ورجع وزن الرُّب إلى ثمانية ولكنه يساوي اثني عشر درهماً

Keadaan ketiga adalah apabila sari buah itu sama dengan sepuluh seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lalu berat rab kembali menjadi delapan, namun nilainya setara dengan dua belas dirham.

قال صاحب التلخيص البائع بالخيار إن شاء لم يرجع في العين وضارب الغرماء بالعشرة التي جعلت ثمناً ابتداءً وإن أراد الرجوعَ إلى الرُّب فله ذلك ولكنه يغرَم الزيادة على القيمة الأولى فيرجع إلى الرّب ويغرَم للمشتري والغرماء درهمين وطرد قياسه الفاسد في الأحوال الثلاثة

Menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, penjual yang memiliki hak khiyar, jika ia menghendaki, tidak kembali pada barang, dan ia menuntut para kreditur dengan sepuluh dirham yang dijadikan sebagai harga pada awalnya. Namun jika ia ingin kembali kepada harga empat dirham, maka ia boleh melakukannya, tetapi ia harus membayar kelebihan dari nilai pertama, sehingga ia kembali kepada harga empat dirham dan membayar kepada pembeli dan para kreditur dua dirham. Dan ini merupakan penerapan qiyās yang rusak menurut pendapatnya dalam tiga keadaan tersebut.

والصحيح أن نقول أما خمس المبيع فقد فات فيضارب الغرماء بخمس الثمن وأمّا أربعة الأخماس فقد زادت فإن قلنا زيادة الصنعة أثر فهي للبائع فيرجع في الرُّب بكماله ويستبدّ بالزيادة ويضارب الغرماء بخمس الثمن

Pendapat yang benar adalah bahwa seperlima dari barang yang dijual telah hilang, maka ia bersaing dengan para kreditur atas seperlima dari harga. Adapun empat perlima sisanya telah mengalami pertambahan. Jika kita mengatakan bahwa tambahan karena pengerjaan (shina‘ah) memiliki pengaruh, maka tambahan itu menjadi milik penjual; ia berhak kembali atas barang tersebut secara utuh dan berhak sepenuhnya atas tambahan itu, serta bersaing dengan para kreditur atas seperlima dari harga.

وإن قلنا الزيادة الحاصلة بالصنعة للمشتري فعلى طريقة القفال هي للبائع في هذه الصورة وعلى طريقة غيره هي للمشتري وقد رجع البائع في خمس الثمن بجهة المضاربة وله في الأخماس الباقية ثمانية دراهم وللمشتري أربعة دراهم

Jika kita mengatakan bahwa tambahan yang dihasilkan dari proses pembuatan adalah milik pembeli, maka menurut metode al-Qaffāl, tambahan tersebut menjadi milik penjual dalam kasus ini, sedangkan menurut metode selainnya, tambahan itu menjadi milik pembeli. Penjual telah mengambil kembali seperlima dari harga dengan alasan mudhārabah, dan dari kelima bagian sisanya, penjual memperoleh delapan dirham, sedangkan pembeli memperoleh empat dirham.

وقد سبق التفصيل في مثله

Telah dijelaskan secara rinci sebelumnya dalam hal yang serupa.

هذا بيان جوابه في الأحوال الثلاثة ووجهُ الصواب في هذا وقولُه في هذا الفصل غير معدود من المذهب؛ فإنه هفوة وقد ذكرنا أن هفوات الأئمة إذا لم يكن للظن فيها مضطرب لا يعتد بها

Ini adalah penjelasan jawabannya dalam tiga keadaan dan penjelasan yang benar dalam hal ini, serta pendapatnya dalam bab ini tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab; karena itu adalah kekeliruan, dan kami telah menyebutkan bahwa kekeliruan para imam, jika tidak ada dugaan yang kuat di dalamnya, tidak dianggap sebagai pegangan.

ومما ذكره صاحب التلخيص في أثناء كلامه أن من اشترى عبداً وعلمه

Dan di antara yang disebutkan oleh penulis at-Talkhīṣ dalam pembicaraannya adalah bahwa barang siapa membeli seorang budak lalu mengajarinya.

حرفة أو علمه القرآن فهذا بمثابة القصارة في الثوب وهذا الذي ذكره صحيح

Pekerjaan atau ilmunya adalah Al-Qur’an, maka ini seperti kapur pada pakaian, dan apa yang disebutkan itu benar.

وقد ذكرناه في فصل القصارة وإنما أعدناه لأن الشيخ أبا علي حكى عن بعض الأصحاب وجهاًً أنّ الزيادة الحاصلة من هذه الجهة أثرٌ قولاً واحداً وإن جاز الاستئجارُ على تحصيله لأنه لا يظهر على المبيع ظهوراً محسوساً وإنما القولان في أثر يُحسّ كالقصارة في الثوب والطحن في الحنطة والحِرفُ ليست كذلك وهذا مزيّفٌ مردود والصحيحُ طرد القولين في كل صفةٍ يتوصل إلى تحصيلها بالاستئجار سواء كانت مدركة بالحس أو لم تكن مدركة

Kami telah menyebutkannya dalam bab tentang pencucian kain, namun kami mengulanginya di sini karena Syekh Abu Ali meriwayatkan dari sebagian sahabat suatu pendapat bahwa tambahan yang dihasilkan dari sisi ini adalah atsar menurut satu pendapat saja, meskipun boleh menyewa untuk memperolehnya, karena tambahan tersebut tidak tampak secara nyata pada barang yang dijual. Adapun dua pendapat itu terdapat pada atsar yang tampak secara nyata, seperti pencucian pada kain dan penggilingan pada gandum, sedangkan keahlian (hirāf) tidak demikian. Pendapat ini tertolak dan tidak benar; yang benar adalah dua pendapat itu berlaku pada setiap sifat yang dapat diperoleh dengan menyewa, baik sifat tersebut dapat dirasakan secara inderawi maupun tidak.

فصل

Bab

قال ولو تبايعا بالخيار ثلاثاً فَفُلّسا أو أحدهما فلكل واحد منهما إجازةُ البيع وردُّه دون الغرماء؛ لأنّهُ ليس ببيع مستحدث إلى آخره

Dikatakan: Jika dua orang melakukan jual beli dengan hak khiyar selama tiga hari, lalu keduanya atau salah satu dari mereka jatuh miskin (menjadi muflis), maka masing-masing dari mereka berhak untuk meneruskan atau membatalkan jual beli tersebut, tanpa melibatkan para kreditur; karena hal itu bukan merupakan jual beli yang baru, dan seterusnya.

من اشترى شيئاًً على شرط الخيار أو باع شيئاًً كذلك فَفُلِّس وجرى الحجر عليه ففي إجازته وفرعه بحكم الخيار طريقان لأصحابنا أحدهما أن تصرفه ينفذ بالفسخ والإجازة من غير رعاية مصلحةٍ وغبطة كما كان ينفذ وهو مطلق

Barang siapa membeli sesuatu dengan syarat khiyār atau menjual sesuatu demikian, lalu ia dinyatakan pailit dan dikenakan pembatasan (hajr) atasnya, maka dalam hal keabsahan tindakannya dan cabang-cabang hukumnya terkait khiyār, terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami. Salah satunya adalah bahwa tindakannya sah baik dalam pembatalan maupun persetujuan tanpa mempertimbangkan maslahat dan keuntungan, sebagaimana tindakannya sah ketika ia masih bebas.

وما صدّرنا به الفصلَ من لفظ الشافعي دليل ظاهر على هذا ووجه ذلك أن التصرف بحكم الخيار مستفاد بعقدٍ مضى في حالة الإطلاق فهو مستند إليه وما يجري منه

Apa yang kami kemukakan di awal bab ini berupa perkataan asy-Syafi‘i merupakan dalil yang jelas atas hal ini. Penjelasannya adalah bahwa tindakan berdasarkan hak khiyar diambil dari akad yang telah lalu dalam keadaan tanpa syarat, sehingga ia bersandar kepadanya dan segala sesuatu yang timbul darinya.

لا يحمل على تصرف مبتدأ

Tidak dapat dianggap sebagai tindakan yang baru dimulai.

والذي يوضح ذلك أن الحجر يطَّرد على الأملاك الثابتة؛ فإنها مهيأة للتصرف إلى ديون

Yang menjelaskan hal itu adalah bahwa pelarangan (hajr) berlaku secara konsisten pada harta tetap; karena harta tersebut memang disiapkan untuk dijadikan objek transaksi guna melunasi utang.

الغرماء والمعقود عليه على حكم الخيار ليس كذلك؛ فإنه لا يؤثر الحجرُ فيه ومساق

Para kreditur dan objek akad yang berada dalam status khiyar tidaklah demikian; sebab status pencekalan (hajr) tidak berpengaruh terhadapnya, dan demikian pula alur pembahasannya.

ذلك يقتضي استثناءَه عن حكم الحجر وبقاءه على موجب الإطلاق وليس المفلس

Hal itu menuntut pengecualiannya dari hukum al-ḥajr dan tetap berada pada ketentuan asal, dan ia bukanlah seorang muflis.

منظوراً له بخروجه عن الاستقلال وإنما سبب الحجر عليه قَصْرُ تصرفه عما يجب صرفه

Hal itu dimaksudkan karena ia telah keluar dari kemandirian, dan sebab diberlakukannya pembatasan terhadapnya adalah karena terbatasnya tindakannya dari apa yang seharusnya dilakukan.

إلى الدَّين وهذا إنما يتحقق في الأملاك اللاّزمة؛ فإذاً لا يفصل هذا القائل في تنفيذ

…kepada utang, dan hal ini hanya terwujud pada kepemilikan yang tetap; maka, menurut pendapat ini, tidak ada perincian dalam pelaksanaan…

الفسخ والإجازة بين البائع والمشتري ولا يخصص ما ينفذه بقولنا لا يحصل الملك

Pembatalan (fasakh) dan pengesahan (ijazah) berada di tangan penjual dan pembeli, dan tidak dikhususkan apa yang dilaksanakannya dengan ucapan kita bahwa kepemilikan tidak terjadi.

في زمان الخيارِ للمشتري؛ بل يطرده على كل قول في كل حالٍ

Pada masa khiyār bagi pembeli; bahkan hal ini berlaku menurut setiap pendapat dalam segala keadaan.

هذا بيان هذه الطريقة

Ini adalah penjelasan mengenai metode ini.

ولو جن المشتري في زمن الخيار وانتصب قوّامٌ عليه فلا بدّ من رعاية مصلحته

Jika pembeli mengalami gangguan jiwa pada masa khiyār dan telah diangkat seorang wali untuknya, maka wajib menjaga kemaslahatannya.

في الفسخ والإجازة؛ لأنه منظور له ولا وجه لتصرف وليه إلا طلب مصلحته

Dalam hal pembatalan dan pengesahan; karena ia menjadi perhatian, dan tidak ada alasan bagi tindakan walinya kecuali demi mencari kemaslahatannya.

والطريق الثاني يُبيّنُه تفصيلٌ فنقول من اشترى على شرط الخيار ثم

Jalur kedua dijelaskan dengan perincian sebagai berikut: barangsiapa membeli dengan syarat khiyār, kemudian…

فُلّس في مدة الخيار فرعنا ذلك على القولين في حصول الملك فإن قلنا

Uang logam yang dinyatakan tidak berlaku selama masa khiyār, kami cabangkan masalah ini berdasarkan dua pendapat mengenai terjadinya kepemilikan; jika kita katakan…

لا يحصل الملك في المبيع للمشتري فإن فرع المشتري أو أجاز على وفق

Kepemilikan atas barang yang dijual tidak berpindah kepada pembeli; maka jika cabang pembeli atau ia sendiri memberikan izin sesuai dengan itu…

الغبطة فلا شكّ في نفوذ ذلك ولم يختلف أصحابنا في تنفيذ الفسخ والإجازة

Tidak diragukan lagi bahwa kebahagiaan itu sah, dan para ulama kami tidak berbeda pendapat mengenai keabsahan pembatalan dan pengesahan.

منه وإن كان لا ينفذ بيعه في أمواله التي شملها الحجر وإن وافق الغبطة وفي

Meskipun demikian, penjualannya tidak sah pada harta yang termasuk dalam cakupan hajr, meskipun sesuai dengan kemaslahatan.

شرائه كلام سيأتي بعد هذا إن شاء الله تعالى

Pembahasannya akan dijelaskan setelah ini, insya Allah Ta‘ala.

وهذا يوضح أن التصرف بالفسخ والإجازة مستثنى على الجملة عن التصرفات

Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pembatalan (fasakh) dan pengesahan (ijazah) secara umum dikecualikan dari tindakan-tindakan lainnya.

فأمّا إن فرع أو أجاز على خلاف الغبطة قلنا أمَّا الفسخ على خلاف الغبطة

Adapun jika ia menetapkan cabang atau membolehkan sesuatu yang bertentangan dengan kemaslahatan, maka kami katakan: Adapun pembatalan yang bertentangan dengan kemaslahatan…

فنافذ؛ فإنه ليس يُخرِجُ به عن ملكه شيئاًً وإنما يمنع به عن جلب ملك والتفريع

Maka itu sah; karena dengan hal itu ia tidak mengeluarkan sesuatu pun dari kepemilikannya, melainkan hanya mencegah datangnya kepemilikan, dan penjelasan lebih lanjut…

على أنه لا ملك له في زمان الخيار في المبيع والثمن قارٌّ على ملكه؛ فقد بقي بالفسخ على ملكه الثمن ولم يحصل له الملك في المبيع ورجع ترك نظره إلى عدم الكسب والجلب وليس على المفلس أن يكسب وإن قدر عليه هذا إذا فسخ

Bahwa ia tidak memiliki hak kepemilikan selama masa khiyār atas barang yang dijual, sedangkan harga tetap berada dalam kepemilikannya; maka dengan pembatalan akad, harga tetap menjadi miliknya dan ia tidak memperoleh kepemilikan atas barang yang dijual. Kembali tidak diperhatikannya hal ini karena tidak ada usaha dan perolehan, dan tidak wajib bagi orang yang pailit untuk berusaha meskipun ia mampu melakukannya, hal ini jika akad dibatalkan.

وأمَّا إن أجاز العقد على خلاف الغبطة والتفريع على أن لا ملك له في المبيع في زمان الخيار فإجازته على خلاف الغبطة مردودة؛ من جهة أنه يُخرج بها الثمنَ عن ملكه على خلاف المصلحة وليس له أن يُخرج عن ملكه شيئاًً على خلاف الغبطة

Adapun jika ia membolehkan akad yang bertentangan dengan kemaslahatan, dan berdasarkan bahwa ia tidak memiliki hak atas barang yang dijual selama masa khiyar, maka persetujuannya yang bertentangan dengan kemaslahatan itu ditolak; karena dengan persetujuan tersebut ia mengeluarkan harga dari kepemilikannya dengan cara yang tidak sesuai dengan kemaslahatan, padahal ia tidak berhak mengeluarkan sesuatu dari kepemilikannya dengan cara yang bertentangan dengan kemaslahatan.

وإن قلنا إن الملك في المبيع للمشتري في زمان الخيار فإن فسخ أو أجاز ولم يخالف الغبطة نفذ ذلك

Dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan atas barang yang dijual berada pada pembeli selama masa khiyār, maka apabila ia membatalkan atau meneruskan (akad) dan tidak bertentangan dengan kemaslahatan, hal itu berlaku.

والذي دل عليه كلام المشايخ في هذه الطريقة أنه ينفذ الفسخُ والإجازةُ إذا استوى وجه الغبطة ولم يترجح وجهٌ على وجهٍ فأمَّا إذا فسخ والغبطة في الإجازة ففسخه مردود؛ من جهة أنه بفسخه يُخرج المبيع عن ملكه والغبطة في خلافه وإن أجاز على هذا القول على خلاف الغبطة نفذت إجازته؛ لأنه بالإجازة تاركٌ ردّ الثمن إلى ملكه وإذا ملكناه المبيع في زمان الخيار ملكنا البائع الثمن لا محالة؛ فهو بالإجازة تاركٌ جلبَ الملك في الثمن وليس على المفلس الجلبُ والكسبُ كما قدمناه

Yang ditunjukkan oleh perkataan para syekh dalam metode ini adalah bahwa pembatalan (fasakh) dan persetujuan (ijazah) dapat dijalankan jika kedua sisi maslahat (ghibthah) seimbang dan tidak ada sisi yang lebih kuat dari yang lain. Adapun jika pembatalan dilakukan sementara maslahat ada pada persetujuan, maka pembatalannya ditolak; karena dengan pembatalan tersebut ia mengeluarkan barang dari kepemilikannya, padahal maslahatnya ada pada sebaliknya. Namun jika ia menyetujui (ijazah) menurut pendapat ini, meskipun bertentangan dengan maslahat, maka persetujuannya tetap sah; karena dengan persetujuan itu ia meninggalkan pengembalian harga ke dalam kepemilikannya. Jika kita memberikan kepemilikan barang pada masa khiyar, maka kita juga memberikan kepemilikan harga kepada penjual, sudah pasti; maka dengan persetujuan itu ia meninggalkan upaya memperoleh kepemilikan atas harga. Dan tidak wajib atas orang yang bangkrut untuk berusaha dan mencari keuntungan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فحاصل الطريقة إذاً راجع إلى أنا لا ننفذ منه على خلاف الغبطة إخراجَ شيء عن ملكه ولا نكلّفه ردَّ شيء إلى ملكه

Maka, inti dari metode ini kembali pada bahwa kita tidak melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan kemaslahatan dengan mengeluarkan sesuatu dari kepemilikannya, dan kita juga tidak membebani dia untuk mengembalikan sesuatu ke dalam kepemilikannya.

هذا بيان الطريقتين

Ini adalah penjelasan tentang dua metode tersebut.

ونقل الأصحاب نصاً عن الشافعي متعلقاً بالرد بالعيب قال رضي الله عنه إذا اشترى في الصحة عبداً ثم مرض واطلع على عيبٍ به في مرضه لزمه الرد وإن لم يَرُد حُسب من ثُلثه؛ لأن العيب كفقد جزء

Para ulama madzhab menukil secara tekstual dari Imam Syafi’i terkait pengembalian barang karena cacat. Beliau, rahimahullah, berkata: Jika seseorang membeli seorang budak dalam keadaan sehat, lalu budak itu jatuh sakit dan pembeli mengetahui adanya cacat pada budak itu saat sakit, maka ia berhak mengembalikannya. Jika ia tidak mengembalikannya, maka nilai budak itu dihitung dari sepertiga harta, karena cacat itu seperti kehilangan sebagian anggota tubuh.

كلامه المطلق يحتاج إلى التفصيل فنقول إن اشترى في الصحة عبداً بمائةٍ وقيمته خمسون لو كان سليماً فالمحاباة محتملة بسبب جريان العقد في الصحة

Ucapannya yang bersifat umum memerlukan perincian, maka kami katakan: jika seseorang membeli seorang budak saat sehat dengan harga seratus, padahal nilainya lima puluh seandainya ia sehat, maka adanya unsur memihak (al-muhābāh) masih mungkin terjadi karena akad dilakukan saat sehat.

فلو اطلع على عيب في مرض الموت ينقص عُشرَ قيمة العبد فإن رده فذاك وإن أجاز العقدَ كان متبرعاً بعشر الثمن وهو عشرة ولا نجعله متبرعاً بعشر قيمة العبد؛ لأنّ المسترد في مقابلته الثمن والأرش المقابل للعيب عشر الثمن لا عشر القيمة فإجازته تتضمن ترك عشر الثمن والمحاباة وراء ذلك جارية في الصحة وليس على المريض أن يكسب للورثة باسترداد جميع الثمن

Jika seseorang mengetahui adanya cacat pada masa sakit yang menyebabkan nilai budak berkurang sepersepuluh, maka jika ia mengembalikannya, itu sudah cukup. Namun jika ia membiarkan akad tetap berjalan, berarti ia telah memberikan hibah sebesar sepersepuluh dari harga, yaitu sepuluh. Kita tidak menganggapnya telah memberikan hibah sebesar sepersepuluh dari nilai budak, karena yang dikembalikan sebagai ganti adalah harga, dan kompensasi (arsh) atas cacat itu adalah sepersepuluh dari harga, bukan sepersepuluh dari nilai. Maka, persetujuannya berarti ia telah melepaskan sepersepuluh dari harga, dan kemurahan di luar itu tetap sah. Tidak wajib bagi orang sakit untuk memberikan keuntungan kepada ahli waris dengan mengembalikan seluruh harga.

وفي الفصل غائلة ننبه عليها وندرؤها بسؤالٍ وجواب فإن قيل قد

Dalam pembahasan ini terdapat bahaya yang perlu kami ingatkan dan kami tangkal dengan pertanyaan dan jawaban. Jika ada yang bertanya: Sungguh…

ذكرتم أن المريض ليس عليه الاكتساب فليس عليه أن يقبل الهبة والوصية ولا أن

Anda menyebutkan bahwa orang sakit tidak wajib mencari penghasilan, maka ia juga tidak wajib menerima hibah dan wasiat, serta tidak wajib…

يكتسب بجهة أخرى والملك حاصل للبائع في جميع الثمن واستردادُ الأرش نقصٌ

Kepemilikan dapat diperoleh dari sisi lain, sedangkan kepemilikan atas seluruh harga tetap berada pada penjual, dan pengambilan kembali arsy merupakan suatu pengurangan.

للملك في حق البائع وجلبٌ من جهة المشتري فلم كان تركه تبرعاً قلنا هذا

Kepemilikan itu berada di pihak penjual, dan penarikan (hak) berasal dari pihak pembeli. Maka, mengapa jika ia meninggalkannya dianggap sebagai hibah? Kami katakan, hal ini…

العقد يتضمن الاستحقاقَ فإسقاطه إسقاط حق مستحق تضمنه العقد وقد ثبت

Akad mengandung hak yang dapat dituntut, maka menggugurkannya berarti menggugurkan hak yang telah menjadi bagian dari akad, dan hal itu telah tetap.

هذا في مرض الموت وكان إسقاطه بمثابة إسقاط دين والدين وإن سميناه ملكاً

Hal ini terjadi pada saat sakit menjelang kematian, dan penggugurannya dianggap seperti pengguguran utang, meskipun kita menyebutnya sebagai kepemilikan.

فليس شيئاً محصلاً ولكنه استحقاق التوصل إلى تحصيل الملك في عين ولذلك

Maka hal itu bukanlah sesuatu yang telah diperoleh, melainkan merupakan hak untuk berusaha memperoleh kepemilikan atas suatu benda, oleh karena itu…

يحط الأرش عن الشفيع وإن كان مقتضى الشرع أن يأخذ الشّقصَ بثمن العقد وليس هذا كما ردَّدْناه في خيار الشرط؛ فإن ذلك تروٍّ محض وليس الفسخ به والإجازة متضمنين إسقاط حق مستحق فليفهم الناظر ذلك فبه تمامُ الغرض

Akan gugur arsy bagi syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah), meskipun menurut ketentuan syariat ia seharusnya mengambil bagian (syuqs) dengan harga akad. Hal ini berbeda dengan apa yang telah kami ulangi dalam pembahasan khiyar syarat; karena dalam hal itu hanyalah pertimbangan murni, dan pembatalan serta pengesahan (akad) di dalamnya tidak mengandung pengguguran hak orang yang berhak. Maka hendaklah yang memperhatikan hal ini memahaminya, karena dengan itu tujuan pembahasan menjadi sempurna.

فإن قيل الرد مستحق أيضاًً بالعيب فأوجبوه قلنا لو أوجبناه لألزمنا نقضَ المحاباة التي أمضيناها في صحته وهذا لا سبيل إليه

Jika dikatakan bahwa pengembalian (barang) juga wajib karena cacat sehingga mereka mewajibkannya, kami katakan: Jika kami mewajibkannya, niscaya kami harus membatalkan muhabāh (pemberian kelebihan) yang telah kami sahkan keabsahannya, dan hal itu tidak mungkin dilakukan.

فإن قيل لو كان الثمن جارية وقد فرض الاطلاع على العيب فهل تجوزون لقابض الجارية وطأها قلنا نعم؛ فإن الجارية في يده وإن تعرضت للاسترداد بمثابة الجارية في يد المتهب مع استمكان الواهب من الرجوع في الهبة

Jika dikatakan: Seandainya harga (barang) adalah seorang budak perempuan, dan diasumsikan telah diketahui adanya cacat padanya, apakah kalian membolehkan orang yang menerima budak perempuan tersebut untuk menggaulinya? Kami katakan: Ya; karena budak perempuan itu berada di tangannya, dan meskipun ada kemungkinan untuk dikembalikan, kedudukannya sama seperti budak perempuan yang berada di tangan orang yang menerima hibah, sementara pemberi hibah masih memiliki kesempatan untuk menarik kembali hibah tersebut.

فإن قيل لو كانت المسألة مفروضة حيث نقلتم نص الشافعي في الصحة والمرض فإذا ترَوْن قلنا إن كان الثلث وافياً فمجوز الوطء إلى أن يتفق ما يجري من بائع الجارية وإن لم يكن الثلث وافياً فالمحذور الرجوع إلى قسط من الجارية ولو فرض ترك ذلك القسط على قابض الجارية؛ فهو في الحال تبرع

Jika dikatakan: Seandainya masalah ini diasumsikan sebagaimana kalian menukilkan nash Imam Syafi’i dalam keadaan sehat dan sakit, maka jika kalian melihat (demikian), kami katakan: Jika sepertiga (harta) mencukupi, maka diperbolehkan melakukan hubungan (suami istri) hingga terjadi kesepakatan sebagaimana yang berlaku pada penjual budak perempuan. Namun jika sepertiga (harta) tidak mencukupi, maka yang dikhawatirkan adalah harus kembali kepada bagian dari budak perempuan itu. Dan seandainya bagian tersebut dibiarkan pada penerima budak perempuan, maka pada saat itu hal tersebut merupakan hibah (pemberian) secara sukarela.

ولكن لو تبرع المريض بجارية لا يملك غيرها وأقبضها تسلط المتهب على وطئها بناءً على استمرار الحياة ثم إذا مات المتبرع نقضنا تبرّعه في ثلثيها تبيُّناً وقد نلزمه ثلثي مهرها كما سيأتي في الوصايا

Namun, jika seorang pasien memberikan seorang budak perempuan yang ia tidak memiliki selain dirinya, lalu ia menyerahkannya, maka penerima hibah berhak menggaulinya dengan dasar anggapan bahwa si pemberi masih hidup. Kemudian, jika si pemberi hibah meninggal dunia, maka hibah tersebut dibatalkan pada dua pertiganya secara penjelasan, dan bisa jadi ia diwajibkan membayar dua pertiga dari mahar budak tersebut, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan wasiat.

فخرج من مجموع ذلك أنا لا نحرم الوطءَ كيف فرض الأمر وهذا تصريح بحقيق الملك ومع ذلك نجعل ترك مقدار الأرش تبرعاً

Maka dari keseluruhan itu dapat disimpulkan bahwa kami tidak mengharamkan hubungan suami istri dalam keadaan apa pun sebagaimana yang telah dijelaskan, dan ini merupakan penegasan atas hak kepemilikan yang sebenarnya. Meskipun demikian, kami menganggap pengabaian sejumlah nilai ganti rugi (arsh) sebagai suatu bentuk pemberian sukarela.

وتمام القول فيه أنه لو مات هذا التارك للأرش المريض ولم يَفِ الثلث فالزائد على الثلث على قولنا التبرعُ الزائد مردود يُثبت للورثة ملكاً لهم أم هم يثبتوه الظاهر عندنا أنه يثبت لهم ولا حاجة إلى إثباتهم لأنفسهم وما قدمناه من التسليط على الوطء محمول على مذهب التبيّن بالأَخَرة والإسناد

Kesimpulan pembahasan ini adalah bahwa jika orang yang sakit tersebut meninggal dunia dan ia telah meninggalkan hak arsy, lalu ternyata sepertiga harta tidak mencukupi, maka kelebihan dari sepertiga itu—menurut pendapat kami—hibah yang melebihi batas tersebut ditolak. Apakah kelebihan itu menjadi milik ahli waris atau mereka harus menetapkannya untuk diri mereka sendiri? Yang tampak menurut kami adalah bahwa kelebihan itu memang menjadi milik mereka, dan mereka tidak perlu lagi menetapkannya untuk diri mereka sendiri. Adapun yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang pemberian izin untuk melakukan hubungan suami istri, itu didasarkan pada mazhab yang menetapkan kepastian di akhir dan pada sanadnya.

فانتظم من هذا أنّه إذا مرض مرضَ موته وفرض الاطلاعُ على العيب وتَرْكُ الأرش فقد تبيّن بالأَخرة رجوعُ شيء من الثمن إسناداً فليفهم الناظر ذلك

Maka dari hal ini dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang sakit dengan sakit yang menyebabkan kematiannya, dan diasumsikan telah mengetahui cacat serta meninggalkan hak atas kompensasi (arasy), maka pada akhirnya menjadi jelas bahwa sebagian dari harga (barang) dapat kembali secara isnad (penyandaran). Maka hendaklah orang yang menelaah hal ini memahaminya.

ويحتمل أن يقال للورثة حق الرجوع في الأرش بعد الموت وإذ ذاك يثبت ملكهم والأظهر الأول

Dan mungkin dapat dikatakan bahwa para ahli waris memiliki hak untuk menuntut kembali arsy setelah kematian, dan pada saat itu kepemilikan mereka menjadi sah. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama.

ونحن نذكر صورة أخرى في ذلك فنقول لو اشترى عبداً قيمته مائة بخمسين واطلع على عيب به ينقص عشرَ القيمة فلو رد كان الرد على خلاف الغبطة؛ فإن العبد مع العيب يساوي تسعين فلو رده واسترد خمسين كان متبرعاً بأربعين فالرد إذاً تبرع كما ذكرناه لأن الغبطة في إمساكه وهو ملكه الحاصل ورده إخراجٌ له عن الملك فإذا كان على خلاف الغبطة كان متبرعاً فلو قال أرجع بالأرش فقال بائع العبد بل ردّه فليس له مطالبة بالأرش؛ فإنا نبني الأمر على حياته وإذا كان الرد ممكناً في الحياة لم يجز التحكم بإلزام الأرش ولو مات فأراد الورثة المطالبة بالأرش لم يكن لهم ذلك أيضاًً؛ فإن المريض تبرّعُه في الرد فإذا لى يرد فإنما راعى الغبطة في ترك الرد ويستحيل أن يقع ترك الرد غبطة وينضمُّ إليه الرجوعُ إلى الأرش

Kami akan menyebutkan gambaran lain dalam hal ini, yaitu: jika seseorang membeli seorang budak yang nilainya seratus dengan harga lima puluh, lalu ia mengetahui adanya cacat pada budak itu yang mengurangi sepersepuluh dari nilainya. Jika ia mengembalikan budak itu, maka pengembalian tersebut bertentangan dengan kemaslahatan; sebab budak itu dengan cacatnya masih bernilai sembilan puluh. Jika ia mengembalikannya dan mengambil kembali lima puluh, berarti ia telah menyumbangkan empat puluh. Maka pengembalian dalam kasus ini adalah tindakan sukarela, sebagaimana telah kami sebutkan, karena kemaslahatan ada pada tetap memilikinya, yaitu kepemilikan yang telah diperoleh, sedangkan mengembalikannya berarti mengeluarkannya dari kepemilikan. Jika hal itu bertentangan dengan kemaslahatan, maka ia dianggap telah berbuat sukarela. Jika ia berkata, “Saya ingin menuntut kompensasi (arasy),” lalu penjual budak berkata, “Kembalikan saja budaknya,” maka ia tidak berhak menuntut kompensasi; karena kami mendasarkan perkara ini pada masa hidupnya. Selama pengembalian masih memungkinkan selama hidup, maka tidak boleh memaksakan pemberian kompensasi. Jika budak itu meninggal dunia dan para ahli waris ingin menuntut kompensasi, mereka juga tidak berhak melakukannya; sebab tindakan orang sakit dalam mengembalikan budak adalah tindakan sukarela, sehingga jika ia tidak mengembalikan, berarti ia mempertimbangkan kemaslahatan dalam tidak mengembalikan, dan tidak mungkin pengabaian pengembalian itu dianggap sebagai kemaslahatan lalu digabungkan dengan hak menuntut kompensasi.

ونظير هذا ما لو اشترى الولي للطفل عبداَّ بَخمسين وقيمته مائة لو كان سليماً فلو اطلع على عيب به ينقص عشرَ قيمته فليس له الرد وليس له أن يُطالبَ بائع العبد برد شيء من الثمن هذا ما نراه واللهُ أعلم

Demikian pula halnya jika wali membeli untuk anak seorang budak seharga lima puluh, padahal nilai budak itu seratus jika dalam keadaan sehat. Jika kemudian diketahui ada cacat pada budak tersebut yang mengurangi sepersepuluh dari nilainya, maka wali tidak berhak mengembalikan (membatalkan) pembelian itu dan tidak berhak menuntut penjual budak untuk mengembalikan sebagian dari harga. Inilah yang kami pandang benar, dan Allah Maha Mengetahui.

وقد يخطر لمن لا يغوص أن الرد إذا امتنع فالأرش جزءٌ مستحق الاسترداد

Mungkin terlintas dalam benak orang yang tidak mendalami (masalah ini) bahwa jika pengembalian (barang) tidak memungkinkan, maka arsy adalah bagian yang berhak untuk dikembalikan.

وليس الأمر كذلك

Keadaannya tidaklah demikian.

فصل

Bab

قال ولو أسلفه فضة بعينها في طعام ثم فُلّس كان أحقَّ بفضته إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang memberikan uang muka berupa perak tertentu kepada orang lain untuk membeli makanan, kemudian orang tersebut dinyatakan pailit, maka ia lebih berhak atas peraknya tersebut, dan seterusnya.”

قد ذكرنا في غير المفلس أن من أسلم في جنس وانقطع جنسُ المسلَم فيه عند المَحِلِّ ولا إفلاس ولا حجر ففي المسألة قولان أحدهما أن العقد ينفسخ والثاني أن المسلم يتخير إن شاء فسخ وإن شاء أنظر المسلَم إليه إلى وجود الجنس ونحن نذكر في السلم بعد تجديد العهد بهذا الأصل صورتين في المفلس إحداهما أن يفلس المسلم إليهِ والمسلَمُ فيه عامّ الوجود فإن كان رأس المال قائماً فللمسلم فرع العقد والرجوعُ إلى رأس المال ولا فرق بين أن يعيّن رأس المال حالة العقد وبين أن يطلق ذكر الدراهم حالة العقد ثم يعينها في المجلس بالإقباض فإذا كان ما عين أولاً بالتسمية أو عين بالإقباض في المجلس قائماً فرع العقد ورجع في تيك العين وإن أراد المضاربة فسنذكر في آخر الفصل كيفية المضاربة بالمسلَم فيه

Telah kami sebutkan pada pembahasan selain tentang orang yang pailit, bahwa siapa pun yang melakukan akad salam pada suatu jenis barang, lalu jenis barang yang menjadi objek salam tersebut tidak tersedia pada waktu penyerahan, sementara tidak ada kepailitan dan tidak ada larangan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: yang pertama, akadnya batal; yang kedua, pihak yang melakukan salam berhak memilih, jika ia mau maka ia membatalkan akad, dan jika ia mau maka ia menunggu sampai barang tersebut tersedia. Kami akan menyebutkan dalam pembahasan salam, setelah memperbarui penjelasan tentang prinsip ini, dua gambaran dalam kasus orang yang pailit. Pertama, apabila pihak yang menerima salam menjadi pailit, sedangkan barang yang menjadi objek salam masih banyak tersedia. Jika modal masih ada, maka pihak yang melakukan salam dapat membatalkan akad dan mengambil kembali modalnya. Tidak ada perbedaan apakah modal tersebut telah ditentukan pada saat akad atau hanya disebutkan secara umum sebagai dirham pada saat akad, lalu ditentukan pada majelis dengan penyerahan. Jika barang yang telah ditentukan sejak awal dengan penyebutan atau ditentukan dengan penyerahan di majelis masih ada, maka ia membatalkan akad dan mengambil kembali barang tersebut. Jika ia ingin melakukan mudharabah, maka akan kami jelaskan di akhir bab ini tentang tata cara mudharabah dengan barang yang menjadi objek salam.

ولو كان رأس المال تالفاً فهل للمسلم أن يفسخ العقد فعلى وجهين أصحهما أنه لا يفسخ؛ لأنه لو فسخ لضارب ببدل رأس المال؛ إذْ عيْنُه تالفة وإنما يثبت الفسخ بعذر الفلس إذا كان الفاسخ يتخلص عن المضاربة والوجه الثاني أنه يثبت له الفسخ بتعذر الوصولِ إلى تمامِ المسلم فيه وإذا كان التعذر بانقطاع الجنس يثبت حق الفسخ فالتعذر بالفلس ينبغي أن يُثبت حق الفسخ وهذا القائل لا يخرّج قول الانفساخ بسبب الفلس بخلاف ما إذا انقطع الجنس هذا بيان صورة واحدة

Jika modal pokok telah hilang, apakah pihak yang melakukan salam (muslim) berhak membatalkan akad? Ada dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ia tidak boleh membatalkan; karena jika ia membatalkan, maka mudharib akan mengganti modal pokok, sebab barangnya sendiri telah hilang. Pembatalan hanya dapat dilakukan jika ada uzur berupa kebangkrutan, yaitu ketika pihak yang membatalkan ingin melepaskan diri dari akad mudharabah. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia berhak membatalkan karena tidak mungkin lagi memperoleh seluruh barang yang diserahkan dalam akad salam. Jika ketidakmungkinan itu disebabkan oleh hilangnya jenis barang, maka hak pembatalan tetap ada; demikian pula jika ketidakmungkinan itu karena kebangkrutan, maka seharusnya hak pembatalan juga tetap ada. Namun, pendapat ini tidak menganggap batalnya akad secara otomatis karena kebangkrutan, berbeda halnya jika jenis barang telah hilang. Inilah penjelasan untuk satu gambaran kasus.

الصورة الثانية مفروضة فيه إذا أفلس المسلم إليه وانقطع المسلم فيه فاجتمع الفلس والانقطاع؛ فإن كان رأس المال قائماً فسخ العقد ورجع فيه وإن كان تالفاً فهل يثبت للمسلم حق الفسخ فعلى وجهين أحدهما لا يثبت؛ لأنه لا يتخلص عن مضاربة الغرماء

Gambaran kedua diwajibkan jika orang yang menerima salam mengalami kebangkrutan dan barang yang menjadi objek salam tidak tersedia, sehingga berkumpul antara kebangkrutan dan tidak tersedianya barang; jika modal pokok masih ada, maka akad dibatalkan dan modal dikembalikan. Namun, jika modal telah hilang, apakah bagi pihak yang melakukan salam tetap berhak membatalkan akad? Ada dua pendapat: salah satunya tidak berhak, karena ia tidak dapat melepaskan diri dari persaingan dengan para kreditur.

والثاني وهو الأصح أنه يثبت له حق الفسخ؛ لأنه بالفسخ يصل إلى بعض حقه في الحال ولو لم يفسخ وصبر إلى عود جنس المسلم فيه فربما لا يجد في يده شيئاًً يأخذه بحقه؛ فترك الفسخ يلحق به ضرراً بيِّناً وأيضاًً فإن حق الفسخ إذا كان يثبت في حالة الإطلاق فيستحيل أن لا يثبت في حالة الحجر وكل سبب أثبت الفسخ في الإطلاق لم يُبْن الأمرُ فيه على الغرض فإن من اطلع على عيب المبيع الذي قبضه فله رده على مفلس لا يجد ما بقي بالثمن

Pendapat kedua, yang lebih shahih, adalah bahwa ia berhak melakukan fasakh; karena dengan fasakh, ia dapat memperoleh sebagian haknya saat itu juga. Jika ia tidak melakukan fasakh dan bersabar hingga barang yang menjadi objek salam tersedia kembali, bisa jadi ia tidak mendapatkan apa pun di tangannya sebagai ganti haknya. Maka, tidak melakukan fasakh akan menimbulkan kerugian yang nyata baginya. Selain itu, jika hak fasakh dapat ditetapkan dalam kondisi umum, maka mustahil hak tersebut tidak berlaku dalam kondisi hajar (pembatasan). Setiap sebab yang menetapkan fasakh dalam kondisi umum, tidak didasarkan pada tujuan tertentu; misalnya, seseorang yang menemukan cacat pada barang yang telah diterimanya, maka ia berhak mengembalikannya kepada orang yang pailit, meskipun orang tersebut tidak memiliki sisa harga barang.

وقد نعود في آخر الفصل إلى تحقيق هذا الوجه من هذه الصورة إن شاء الله تعالى

Dan mungkin kita akan kembali di akhir bab ini untuk meneliti aspek ini dari gambaran tersebut, insya Allah Ta‘ala.

ونحن نذكر الآن كيفية المضاربة في المسلم فيه فنقول إذا كان المسلم فيه جنساً من الأجناس فالمضاربة به غير ممكنةٍ؛ لأن التضارب إنما ينتظم في النقود فإذا لم يكن المسلم فيه نقداً فلا وجه لتقدير المضاربة به ولكنا نرده إلى القيمة تقديراً ونُثبت المضاربة بها ثم ننظر إلى مقدار ما يخصه في المضاربة فإن كانت القيمة مائة وقد خصه بالمضاربة عشرة لم نترك العشرة عليه؛ فإنا لو فعلنا ذلك كنا معتاضين عن المسلم فيه وأخذ البدل عن المسلم فيه باطل غيرُ مباح فالوجه أن يصرف ما يخصه من الدراهم والدنانير إلى جنس المسلم فيه وتسلمه إليه فتكون المضاربة واقعةً في أحد النقدين وملكُ المسلِم مستقرٌ آخراً في مقدارٍ من جنس المسلَم فيه

Sekarang kami akan menjelaskan bagaimana cara melakukan mudharabah pada barang yang menjadi objek salam. Kami katakan, jika barang yang menjadi objek salam itu merupakan salah satu jenis barang dagangan, maka mudharabah dengannya tidak mungkin dilakukan, karena mudharabah hanya dapat dilakukan dengan uang. Jika barang yang menjadi objek salam itu bukan uang, maka tidak ada alasan untuk memperkirakan mudharabah dengannya. Namun, kami mengembalikannya kepada nilai (harga) sebagai taksiran, lalu menetapkan mudharabah berdasarkan nilai tersebut. Kemudian kami melihat berapa bagian yang menjadi haknya dalam mudharabah. Jika nilainya seratus dan ia mendapatkan bagian sepuluh dalam mudharabah, kami tidak membiarkan sepuluh itu tetap padanya; sebab jika kami melakukan itu, berarti kami telah menukarkan barang salam dengan barang lain, dan mengambil pengganti dari barang salam adalah batal dan tidak diperbolehkan. Maka, cara yang benar adalah menukarkan bagian yang menjadi haknya dari dinar atau dirham ke dalam jenis barang yang menjadi objek salam, lalu menyerahkannya kepadanya. Dengan demikian, mudharabah terjadi pada salah satu dari dua mata uang, dan kepemilikan musallam (pihak yang melakukan salam) akhirnya tetap pada sejumlah tertentu dari jenis barang yang menjadi objek salam.

والذي قطع به الأئمة أن ملك المسلم لا يثبت في الحصة التي تميزت له من الدراهم وإنما يثبت ملكه في القدر الحاصل من المسلَم فيه فلو ميزنا له باعتبار القيمة عشرة وقدرناها عُشْرَ حقه مثلاً فهاج رخصٌ وانخفض السعرُ قبل اتفاق صرف الدراهم إلى جنس المسلم فيه ووجدنا بذلك القدر الذي أقررناه له قدرَ حقه من جنس المسلم فيه بكماله قال الأصحاب صرفنا الكلَّ إليه وأوصلنا إليه حقه كَمَلاً وبرئت ذمة المسلم إليه

Para imam telah memastikan bahwa kepemilikan seorang muslim tidaklah tetap pada bagian yang telah ditentukan baginya dari dirham, melainkan kepemilikannya tetap pada kadar yang diperoleh dari objek salam. Jika kita telah menentukan baginya, berdasarkan nilai, sepuluh dirham dan kita perkirakan itu adalah sepersepuluh dari haknya, kemudian terjadi penurunan harga sebelum terjadi kesepakatan penukaran dirham dengan jenis barang salam, lalu kita dapati bahwa kadar yang telah kita tetapkan baginya itu sama dengan haknya dari jenis barang salam secara penuh, para ulama berpendapat bahwa seluruhnya kita serahkan kepadanya dan kita sampaikan haknya secara sempurna, sehingga terbebaslah tanggungan pihak yang menerima salam.

وان وجدنا به أكثر من حقه فالزيادة مردودة على الغرماء

Dan jika kami menemukan padanya lebih dari haknya, maka kelebihannya dikembalikan kepada para kreditur.

قال القاضي هذا مشكل والقياسُ أن نقول إذا هاج الرِّخص وصار ما كنّا نقدره بمائة يوجد بعشرة فنغير اعتبار القيمة ونقول إنه يضرب بعشرة وننظر ما يخصه مع مزدحم الديون ونبتدىء بتبيّن مقدار حقه وإنما كان كذلك لأن الحصة المقررة له على حساب المائة لم تدخل في ملكه لما قدمناه من استحالة ملك عوض المسلم فيه فإذا لم يثبت ملكه فيما ميزنا بان أن الأمر موقوف على ما يتبين آخراً وقد بان برخاء السعر وظهور الرخص أن قيمة المسلم فيه عشرة فدينه إذاً يقدر بهذا

Kata al-Qadhi: Ini adalah masalah yang rumit, dan menurut qiyās, kita katakan bahwa jika harga barang menjadi murah dan sesuatu yang sebelumnya kita perkirakan seratus kini didapatkan dengan sepuluh, maka kita ubah pertimbangan nilai dan kita katakan bahwa ia dihitung dengan sepuluh, lalu kita lihat berapa bagian yang menjadi haknya di antara tumpukan utang, dan kita mulai dengan menentukan besaran haknya. Hal ini demikian karena bagian yang telah ditetapkan untuknya berdasarkan perhitungan seratus belum masuk ke dalam kepemilikannya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya tentang mustahilnya kepemilikan atas pengganti barang salam. Maka jika kepemilikannya belum tetap atas apa yang telah kami pisahkan, jelaslah bahwa perkara ini tergantung pada apa yang akan tampak kemudian. Dan ketika harga menjadi murah dan barang menjadi melimpah, nilai barang salam itu menjadi sepuluh, maka utangnya pun dinilai dengan itu.

هذا ما قاله

Inilah yang dia katakan.

والذي ذهب إليه الجماهير ما قدمناه أولاً

Pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan pertama kali.

فانتظم مما قالوه وقاله القاضي وجهان أحدهما ما ذكره القاضي ووجهه القياس البيّن الذي ذكره والثاني ما ذكره الأصحاب ووجهه أنا وإن كنا لا نملِّك المسلِم العشرةَ الدراهم فنجعله أولى بها؛ حتى كأنها مرتهنة بحقه وكأنه مرتهن فيها ولو كان كذلك لكنا نقدمه بتمام حقه فيما هو مرهون عنده فيجري إذاً قياس الرهن ونقول إن وفّى ما ميزناه بحقه أدينا منه حقه كاملاً وإن زاد على مقدار حقه أدينا منه قدرَ حقه وصرفنا الفاضل إلى الغرماء كدأبنا في المرهون إذا بعناه

Maka dari apa yang mereka katakan dan yang dikatakan oleh al-Qadhi, terkumpul dua pendapat: salah satunya adalah apa yang disebutkan oleh al-Qadhi dan alasannya adalah qiyās yang jelas yang telah disebutkannya; dan yang kedua adalah apa yang disebutkan oleh para sahabat (ulama) dan alasannya adalah bahwa meskipun kita tidak menjadikan sepuluh dirham itu milik muslim, kita menjadikannya lebih berhak atasnya, seakan-akan ia tergadaikan untuk haknya dan seakan-akan ia adalah orang yang menerima gadai atasnya. Jika demikian, maka kita mendahulukannya untuk melunasi seluruh haknya dari barang yang digadaikan kepadanya, sehingga berlaku qiyās rahn (gadai). Dan kita katakan: jika apa yang telah kami pisahkan itu cukup untuk melunasi haknya, maka kami bayarkan haknya secara penuh darinya; dan jika melebihi jumlah haknya, maka kami bayarkan sesuai kadar haknya dan sisanya kami serahkan kepada para kreditur, sebagaimana kebiasaan kami dalam barang gadai jika kami menjualnya.

فإن قيل لم فعلتم ذلك قلنا إفراز الحاكم للحصص تخصيصٌ منه لكل ذي حق بمقدار فما يتصور فيه التمليك حُمل تخصيصه على حقيقة الملك وما امتنع التمليك فيهِ حُمل على ما يتصوَّر وهو التخصيص بطريق الاستيثاق فكأن حقوق الغرماء انقطعت عن العشرة بالقسمة التي جرت على التقدير الصحيح ابتداءً

Jika ada yang bertanya, “Mengapa kalian melakukan hal itu?” Kami menjawab, pemisahan bagian-bagian oleh hakim merupakan bentuk penetapan khusus dari hakim kepada setiap orang yang berhak sesuai kadarnya. Maka, pada hal-hal yang memungkinkan terjadinya pemilikan, penetapan khusus tersebut dianggap sebagai pemilikan yang sebenarnya. Sedangkan pada hal-hal yang tidak memungkinkan terjadinya pemilikan, penetapan khusus itu diarahkan pada hal yang mungkin, yaitu penetapan khusus sebagai bentuk penjagaan (istitsaq). Seolah-olah hak-hak para kreditur telah terputus dari sepuluh (bagian) itu melalui pembagian yang dilakukan berdasarkan perhitungan yang benar sejak awal.

فهذا هو الممكن في توجيه ما قاله الأصحاب وليس يخفى ظهور ما قاله القاضي في القياس

Inilah penjelasan yang mungkin atas apa yang dikatakan oleh para ashhab, dan tidak tersembunyi kejelasan apa yang dikatakan oleh al-qadhi dalam qiyās.

ثم إن كان المسلم فيه شيئاًً من ذوات الأمثال وقد خص المسلِم عشرُ

Kemudian, jika objek yang menjadi pokok akad salam itu adalah sesuatu yang memiliki padanan (dapat ditakar atau ditimbang), dan orang yang melakukan salam telah menentukan sepuluh…

قيمته فإنا نصرفه إلى عشر المسلم فيه وإن كان المسلم فيه ثوباًً واحداً أو حيواناً فالوجه صرف ما يخص المسلِم إلى جزء شائع من ثوب أو حيوانٍ مستجمعٍ للصفات المذكورة لا وجه غيره هكذا ذكره صاحب التقريب وغيرُه فإذا ضارب بمائة فخصه من زحمة الديون عشرة وصرفناها إلى جنس المسلَم فيه فلو انطلق الحجر وحدث له مال جديد وعاد الغرماء يضاربون فللمسلم حق المضاربة في بقية حقه في المال الجديد فتقوَّم السلعة مرة أخرى فإن كانت مثل القيمة الأولى فلا كلام وإن كانت القيمة أعلى من هذا الوقت فإنه يضارب بالقيمة العالية؛ فإنَّ المقصود إيصالُه إلى جنس المسلم فيه والقيمة في البين واسطةٌ اضطررنا إلى اعتبارها فنعتبر إذاً قيمة المسلم فيه بالغة ما بلغت وهذا سديد

Nilainya, maka kami mengalihkannya kepada sepersepuluh dari barang yang menjadi objek salam, dan jika barang salam itu berupa satu kain atau satu hewan, maka yang tepat adalah mengalihkan bagian yang menjadi hak musallam (pemberi salam) kepada bagian tidak tertentu (syu‘) dari kain atau hewan yang memenuhi sifat-sifat yang telah disebutkan; tidak ada cara lain selain itu. Demikian disebutkan oleh penulis at-Taqrīb dan yang lainnya. Maka jika seseorang melakukan mudharabah dengan seratus, lalu dari tumpukan utang hanya mendapat sepuluh, dan kami alihkan kepada jenis barang yang menjadi objek salam, kemudian jika harta itu hilang dan ia memperoleh harta baru, lalu para kreditur kembali melakukan mudharabah, maka musallam berhak melakukan mudharabah atas sisa haknya pada harta baru tersebut. Maka barang itu dinilai kembali; jika nilainya sama dengan nilai pertama, maka tidak ada masalah. Namun jika nilainya lebih tinggi dari waktu sebelumnya, maka ia berhak melakukan mudharabah dengan nilai yang lebih tinggi; karena yang dimaksud adalah menyampaikan haknya kepada jenis barang yang menjadi objek salam, dan nilai di sini hanyalah perantara yang terpaksa kami pertimbangkan. Maka kami pertimbangkan nilai barang salam itu berapapun besarnya, dan ini adalah pendapat yang tepat.

فأمَّا إذا قومنا المسلم فيه آخراً في الصورة التي انتهينا إليها فكانت قيمته أنقص في الكرّة الثانية فقد ذكر صاحب التقريب وجهين في ذلك أحدهما أنه يضارب باعتبار القيمة الثانية وهي قيمة الوقت ووجهه بيّن

Adapun jika kita menilai barang yang menjadi objek salam pada akhirnya, dalam kasus yang telah kita bahas, lalu nilainya lebih rendah pada penilaian kedua, maka penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat tentang hal ini. Salah satunya adalah bahwa perhitungan mudārabah didasarkan pada nilai kedua, yaitu nilai pada waktu itu, dan alasannya jelas.

والوجه الثاني أنه يضارب بالقيمة الأولى المعتبرة في الحجر الأول وهذا لا أدري له وجهاًً مع قطعنا بأن القيمة ليست عينَ حقه

Pendapat kedua adalah bahwa ia melakukan mudharabah dengan nilai pertama yang dianggap pada penahanan pertama, dan aku tidak mengetahui alasan untuk hal ini, sementara kita meyakini bahwa nilai tersebut bukanlah haknya secara langsung.

ولو لم يتفق الحجر الثاني ووفى ما في يد المسلم إليه بتمام حق المسلِم وهاج الرخص فليس على المسلم إليه إلا توفيةُ حقه

Jika batu kedua tidak cocok dan barang yang ada di tangan pihak yang menerima salam telah mencukupi seluruh hak pihak yang melakukan salam, lalu harga-harga menjadi murah, maka pihak yang menerima salam tidak berkewajiban selain memenuhi haknya.

وإذا رخص السعر فإذا فرض حجرٌ ثانٍ وجب أن يضارب بالقيمة الناجزة فإن القيم تقديرات والغرض الوصول إلى المقوّم ولولا أن صاحب التقريب كرّر هذا الوجه الثاني وإلا كنت لا أذكره لضعفه

Dan jika harga menjadi murah, lalu ditetapkan larangan kedua, maka wajib bermuamalah dengan nilai tunai, karena nilai-nilai itu hanyalah perkiraan, dan tujuannya adalah mencapai penilaian yang sebenarnya. Seandainya bukan karena penulis at-Taqrīb mengulangi pendapat kedua ini, niscaya aku tidak akan menyebutkannya karena lemahnya pendapat tersebut.

فصل

Bab

قال ولو أكرى داراً منه سنة ثم أفلس المكري إلى آخره

Dia berkata: “Dan jika seseorang menyewakan sebuah rumah miliknya selama satu tahun, kemudian si pemilik rumah jatuh pailit, dan seterusnya.”

هذا الفصل يشتمل على بيان إفلاس المكري وإفلاس المكتري والبداية بإفلاس المكري

Bab ini memuat penjelasan tentang kebangkrutan al-mukri dan kebangkrutan al-muktari, dimulai dengan kebangkrutan al-mukri.

ولا تخلو الإجارة إما أن تكون واردة على العين وإما أن تكون واردة على ذمة المكري فإن كان الكراء على العين بأن أكرى داره أو دابته وعقد إجارةً على شرط الصحة فإذا أفلس المكري قبل انقضاء الإجارة وحصول الوفاء بها فالإجارة لا تفسخ لمصلحة المفلس حتى لو فرعنا على منع بيع المكرى؛ فإنا نمتنع عن بيع العين المكراة إلى انقضاء مدة الإجارة وفاءً بما اقتضاه العقد وإن قلنا يجوز بيع المكرَى فنبيعه في ديونه ولو كانت قيمته تنقص لمكان الإجارة لم نبال بنقصانها فإذا اتفق بيعُ الدار المكراة وصرْفُ ثمنها في حقوق غرماء المكري وانفصل الأمر وانطلق الحجر والإجارة باقيةٌ فلو انهدمت الدار في بقية المدة وقضينا بأنفساخ الإجارة وكان المكتري وفَّى الأجرة كاملة فيثبت له حق الرجوع بقسط من الأجرة لانفساخ الإجارة في بقية المدة وهذا الحق يثبت جديداً مترتباً على الانفساخ الواقع بالانهدام فهل لهذا المكتري أن يزاحم الغرماء الأولين فيما اقتسموه بينهم وتضاربوا به فعلى وجهين ذكرهما العراقيون أحدهما أنه لا يزاحمهم؛ لأن دينه متجدد حادث بعد القسمة وفضّ المال على الغرماء فلا يثبت لأصحاب الديون الجديدة مزاحمةُ القدماء من الغرماء

Ijarah (sewa-menyewa) tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa saja berkaitan dengan objek tertentu, atau berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) pihak yang menyewakan. Jika sewa-menyewa dilakukan atas objek tertentu, seperti seseorang menyewakan rumah atau kendaraannya dan mengadakan akad ijarah dengan syarat sah, lalu pihak yang menyewakan jatuh pailit sebelum masa sewa berakhir dan sebelum terpenuhinya akad tersebut, maka akad ijarah tidak dibatalkan demi kemaslahatan pihak yang pailit. Bahkan jika kita berpendapat bahwa objek yang disewakan tidak boleh dijual, maka kita menahan diri dari menjual objek yang sedang disewakan hingga masa sewa berakhir, sebagai bentuk pemenuhan terhadap apa yang dituntut oleh akad. Namun, jika kita berpendapat bahwa objek yang disewakan boleh dijual, maka kita boleh menjualnya untuk melunasi utang-utang pihak yang menyewakan, meskipun nilainya berkurang karena adanya akad sewa, kita tidak mempermasalahkan penurunan nilainya. Jika terjadi penjualan rumah yang disewakan dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar hak-hak para kreditur pihak yang menyewakan, lalu urusan selesai dan status pailit dicabut, sementara akad ijarah masih berlangsung, kemudian rumah tersebut roboh di sisa masa sewa dan kita memutuskan bahwa akad ijarah batal karena robohnya rumah, sedangkan penyewa telah membayar seluruh uang sewa, maka ia berhak menuntut pengembalian sebagian uang sewa sesuai dengan sisa masa sewa yang batal. Hak ini muncul sebagai akibat baru yang timbul dari pembatalan akad karena robohnya rumah. Lalu, apakah penyewa ini berhak menuntut bagian dari harta yang telah dibagi-bagikan kepada para kreditur sebelumnya dan bersaing dengan mereka? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Salah satunya adalah bahwa ia tidak berhak bersaing dengan mereka, karena piutangnya muncul setelah pembagian harta dan pelunasan kepada para kreditur, sehingga pemilik piutang baru tidak berhak bersaing dengan para kreditur lama.

والوجه الثاني أن المكتري يزاحمهم مزاحمةَ غريم يبدو أخِراً ونتبين استحقاقَه لدَيْنه متأخراً بتاريخ سابق لاستحقاق الأولين ديونَهم حالة المزاحمة ووجه ذلك أن الرجوع وإن ثبت الآن فهو مستند إلى موجَب عقد سابق وهو الإجارة فإذا كان رجوع المكتري مستنداً إلى الإجارة السابقة كان حقه بمثابة دين سابق يبدو

Adapun alasan kedua adalah bahwa penyewa bersaing dengan mereka seperti seorang kreditur yang muncul belakangan, namun kemudian diketahui bahwa ia berhak atas piutangnya berdasarkan tanggal yang lebih awal daripada tanggal jatuh tempo piutang para kreditur pertama pada saat terjadi persaingan. Penjelasannya adalah bahwa meskipun hak untuk menuntut baru muncul sekarang, hak tersebut bersandar pada akibat dari akad sebelumnya, yaitu akad ijarah (sewa-menyewa). Maka, jika hak penuntutan penyewa bersandar pada akad ijarah yang telah lalu, maka haknya dianggap sebagai piutang yang lebih dahulu muncul.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت الإجارة واردة على العين وقد أفلس المكري

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika akad ijarah dilakukan atas objek tertentu dan pihak yang menyewakan mengalami pailit.

فأما إذا كانت الإجارة واردة على ذمة المكري وما كانت ربطت بعين وهذا كالتزام المكري نقلَ مقدار مبيّنٍ من طعامٍ أو غيره من بقعة إلى بقعة فهذا لازمٌ ذمةَ المكري فإذا أفلس وفي ذمته ما وصفناه لم يخلُ إما إن كان سلّم دابةً إلى المكتري ليحمّلها الطعامَ المذكور وإما إن لم يكن سلم إلى المكتري شيئاًً

Adapun jika akad ijarah itu terkait dengan tanggungan (dzimmah) pihak yang menyewakan dan tidak dikaitkan dengan suatu benda tertentu, seperti pihak yang menyewakan berkomitmen untuk memindahkan sejumlah tertentu makanan atau selainnya dari satu tempat ke tempat lain, maka hal itu menjadi kewajiban dalam tanggungan pihak yang menyewakan. Jika ia jatuh pailit sementara dalam tanggungannya masih terdapat apa yang telah kami sebutkan, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia telah menyerahkan hewan kepada penyewa untuk mengangkut makanan tersebut, ataukah ia belum menyerahkan apa pun kepada penyewa.

فإن لم يكن سلم إليه شيئاًً فالذي في ذمته دينٌ من الديون فإن كان عِوضُ الإجارة باقياً وقد أفلس المكري فللمكتري الرجوع إلى العوض الذي صادفه باقياً وإن كان العوض تالفاً ضارب المكتري الغرماءَ بأجر مثل ما استحق من المنفعة على القياس الذي ذكرناه في رجوع المسلِم إذا أفلس المسلم إليه

Jika ia belum menyerahkan apa pun kepadanya, maka yang menjadi tanggungannya adalah utang seperti utang-utang lainnya. Jika imbalan ijarah masih ada dan pihak yang menyewakan jatuh pailit, maka pihak penyewa berhak mengambil kembali imbalan yang masih ada tersebut. Namun jika imbalan itu telah hilang, maka pihak penyewa menjadi salah satu kreditur bersama para kreditur lainnya atas upah sepadan dengan manfaat yang telah ia peroleh, berdasarkan qiyās yang telah kami sebutkan mengenai hak kembali pihak yang melakukan salam apabila pihak yang menerima salam jatuh pailit.

ثم يعرِض في منتهى الكلام أمرٌ يجب إنعام النظرِ فيه وهو أنا إذا أثبتنا للمكتري حقَّ المضاربة بأجرة المنفعة المستحقة فإذا بأنت حصته في تقدير المضاربة فصرْفُ ذلك المقدارِ إليه بمثابة صرفِ مقدارٍ من قيمة المسلم فيه إلى المسلِم وهذا اعتياضٌ عن المسلم فيه

Kemudian, pada akhir pembahasan muncul suatu persoalan yang perlu dicermati dengan seksama, yaitu apabila kita menetapkan bagi penyewa hak untuk melakukan mudhārabah dengan upah atas manfaat yang menjadi haknya, lalu bagian keuntungannya dalam penetapan mudhārabah tersebut telah jelas, maka penyerahan bagian tersebut kepadanya serupa dengan penyerahan sebagian nilai barang salam kepada pihak yang menyerahkan, dan ini merupakan penggantian atas barang salam.

وقد اختلف أصحابنا في الإجارة الواردة على الذمة هل تنزل منزلة السلم حتى نرعى فيها ما يُرعى في السلم من وجوب تسليم الأجرة في مجلس العقد أم كيف السبيل فيه وسيأتي شرح ذلك في كتاب الإجارة إن شاء الله تعالى

Para ulama kami berbeda pendapat mengenai akad ijarah yang terjadi atas tanggungan (dzimmah), apakah diposisikan seperti akad salam sehingga harus memperhatikan ketentuan dalam salam, seperti wajibnya menyerahkan upah di majelis akad, ataukah ada ketentuan lain dalam hal ini. Penjelasan tentang hal ini akan dijelaskan pada Kitab Ijarah, insya Allah Ta‘ala.

فإن جعلنا الإجارةَ الواردة على الذمة بمثابة السَّلم وهو الصحيح فلا سبيل إلى ترك حصة المكتري النازل منزلة المُسْلِم عليه من القيمة ؛ فإن ذلك اعتياضٌ عن المسلم فيه

Jika kita menganggap akad ijarah yang berlaku atas tanggungan (dzimmah) seperti akad salam, dan inilah pendapat yang benar, maka tidak ada jalan untuk meninggalkan bagian penyewa yang disamakan dengan pihak yang menjadi objek salam dari nilai; karena hal itu merupakan pengganti dari barang yang menjadi objek salam.

ثم إن كان المقصود أمراً لا يتبعض مثل أن يقول تحملني إلى بلدة عيّنها فالحمل إلى بعض الطريق قد لا يفيد أو ربما يكون الموضع المقدَّر مهلكة فإذا تحقق التعذر وامتنع الاعتياض فلا وجه إلا تخيير المكتري في الفسخ وإذا فسخ العقد ضارب الغرماء بقيمة الأجرة التي كان بذلها وقد يتجه عُسرٌ إذا كان المسلَم فيه ثوباًً؛ فإنه إذا خصّه عشرُ القيمة فلا يجد به عشرَ ثوب فإذا ظهر تعذرٌ يجر نقيصةً وخسراناً ثبت الخيار كما ذكرناه

Kemudian, jika yang dimaksud adalah sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi, seperti seseorang berkata, “Bawalah aku ke suatu kota yang telah ia tentukan,” maka membawa hanya sampai sebagian jalan mungkin tidak bermanfaat, atau bisa jadi tempat yang ditentukan itu adalah tempat yang membahayakan. Jika telah dipastikan adanya halangan dan tidak mungkin mendapatkan pengganti, maka tidak ada pilihan lain selain memberikan hak kepada penyewa untuk memilih membatalkan akad. Jika akad dibatalkan, maka ia akan bersaing dengan para kreditur atas nilai sewa yang telah ia bayarkan. Kesulitan juga dapat muncul jika barang yang diserahkan adalah kain; sebab jika ia hanya mendapatkan sepersepuluh dari nilainya, ia tidak akan mendapatkan sepersepuluh kain. Maka jika ternyata ada halangan yang menyebabkan kekurangan dan kerugian, maka hak memilih (khiyār) tetap berlaku sebagaimana telah kami sebutkan.

وإن كان ألزم ذمة المكري حملَ مائة منٍّ إلى بقعة وكان حَمْلُ البعضِ مُفيداً على قدره صرفنا القيمة التي خصته إلى البعض

Jika pemilik sewa diwajibkan untuk mengangkut seratus mann ke suatu tempat, dan pengangkutan sebagian dari barang tersebut memberikan manfaat sesuai kadarnya, maka nilai yang menjadi bagian dari sebagian itu dialihkan kepada sebagian tersebut.

والجملةُ أن التبعيض إن أمكن من غير تعذر صرفنا حصة المضاربة إليه وإن عسر أو تضمن التبعيض نقصاً ثبت الخيار لا طريقَ غيرُه ولا وجه لتمليك القيمة والتفريع على أَنَّ الإجارة سلمٌ

Secara ringkas, jika memungkinkan untuk melakukan pembagian tanpa ada kesulitan, maka bagian mudharabah diarahkan kepadanya. Namun jika pembagian itu sulit atau mengakibatkan kekurangan, maka hak khiyar tetap berlaku; tidak ada jalan lain selain itu, dan tidak ada alasan untuk memberikan kepemilikan nilai, serta tidak tepat untuk membangun hukum atas dasar bahwa ijarah adalah salam.

وإن حكمنا بأن الإجارة الواردة على الذمة لا تكون بمثابة السلم فإذا ضارب المستحق الغرماء بأجرة المنفعة المستحقة وبانت حصته منها لم يمتنع أن يملك حصته من القيمة عوضاً؛ فإن الاعتياض عن الديون غيرُ ممتنع إذا لم يكن مسلماً فيها وللنّظر فيها مضطرب والعلم عند الله

Jika kita memutuskan bahwa ijārah yang berkaitan dengan tanggungan tidak dianggap seperti salam, maka apabila pihak yang berhak menuntut upah manfaat yang menjadi haknya dari para kreditur, lalu bagian upahnya telah diketahui, tidak terlarang baginya untuk memiliki bagiannya dari nilai tersebut sebagai pengganti; sebab penggantian utang dengan sesuatu yang lain tidaklah terlarang selama bukan dalam akad salam, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, dan ilmu yang pasti hanya milik Allah.

و كل ما ذكرناه في الإجارة الواردة على الذمة إذا لم يكن قد سلم المكري عيناً إلى المكتري فإن كان ألزم ذمته حمل مائة منٍّ فسلم إليه دابة حتى يحمّلها المائة ثم أفلس المكري فظاهر المذهب أن تلك الدابة متعيّنة لاستحقاق المكتري كما لو استأجرها في عينها وأورد الإجارة عليها فليستوف حقه من تلك الدابة وليحمّلها؛ فإنها سُلمت إليه قبل اطّراد الحجر فتعينت كما تتعين الدراهم إذا سلمها من عليه الدراهم والحقوق المتعلقة بالذمم تتعين بالتعيين والتسليم

Semua yang telah kami sebutkan berlaku pada akad ijarah yang berkaitan dengan dzimmah, jika pemilik tidak menyerahkan suatu barang tertentu kepada penyewa. Namun, jika ia mewajibkan atas dirinya untuk membawa seratus mann, lalu ia menyerahkan seekor hewan kepada penyewa agar hewan itu digunakan untuk membawa seratus mann tersebut, kemudian pemilik jatuh pailit, maka menurut pendapat yang masyhur, hewan tersebut menjadi barang tertentu yang berhak dimiliki oleh penyewa, sebagaimana jika ia menyewanya secara langsung dan akad ijarah dilakukan atas hewan itu. Maka penyewa berhak mengambil haknya dari hewan tersebut dan menggunakannya untuk membawa barang; karena hewan itu telah diserahkan kepadanya sebelum terjadi pembekuan harta, sehingga menjadi barang tertentu sebagaimana dirham yang menjadi tertentu jika telah diserahkan oleh orang yang berutang. Hak-hak yang berkaitan dengan dzimmah menjadi tertentu dengan adanya penentuan dan penyerahan.

ومن أصحابنا من قال لا تتعين تلك الدابة؛ فإنها ليست مورد الإجارة والمنافع ليست أعياناً ويشهد لهذا أن تلك الدابة لو عطبت لم تنفسخ الإجارة بعطبها بخلاف ما لو وردت الإجارة على عينها فإذا كان لا يثبت لها حُكم التعيين في انفساخ الإجارة عند تقدير تلفها لم يثبت لها حكم التعيين في اختصاص المكتري بها؛ فعلى هذا إذا أفلس المكري فلا حكم لتسليم تلك الدابة

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa hewan tunggangan tersebut tidak menjadi tertentu; sebab hewan itu bukanlah objek utama dalam akad ijarah dan manfaat bukanlah benda konkret. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa jika hewan tersebut rusak, akad ijarah tidak batal karena kerusakannya, berbeda halnya jika akad ijarah ditetapkan atas hewan tertentu. Maka, jika penetapan tertentu tidak berlaku dalam pembatalan akad ijarah ketika hewan itu dianggap rusak, maka penetapan tertentu juga tidak berlaku dalam hal penyewa memiliki kekhususan atas hewan itu. Oleh karena itu, jika pemilik hewan bangkrut, maka penyerahan hewan tersebut tidak memiliki pengaruh hukum.

والأصح الأول

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama.

وهذا يخرّج على اختلافٍ للأصحاب سيأتي مشروحاً في الإجارة وهو أَنَّ من التزم حمْلَ إنسان إلى موضع وسلم إليه دابةً فهل له أن يبدلها بأخرى من غير سببٍ فيه اختلاف سيأتي موضحاً إن شاء الله تعالى

Hal ini dikaitkan dengan perbedaan pendapat di kalangan para ulama yang akan dijelaskan dalam bab ijarah, yaitu apabila seseorang berkomitmen untuk mengantarkan seseorang ke suatu tempat dan menyerahkan kepadanya seekor hewan tunggangan, apakah ia boleh menggantinya dengan hewan lain tanpa sebab; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala.

هذا كله إذا أفلس المكري

Semua ini berlaku jika pemilik sewa mengalami kebangkrutan.

فأما إذا أفلس المكتري فلا يخلو إما أن تكون الإجارة على العين أو على الذمة فإن كانت الإجارة على العين بأن كان اكترى داراً معينة أو دابةً معينة وما سلم الأجرة فأفلس والإجارة باقية فالمذهب الصحيح أنه يثبت للمكري الرجوعُ إلى المنافع في بقية المدة فإن آثر ذلك فلتفرع الإجارة في بقية المدة ويضارب الغرماء بأجرة المنفعة الماضية وقد تقدم شرح هذا

Adapun jika penyewa dinyatakan pailit, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah akad ijarah (sewa) atas objek tertentu atau atas tanggungan (dzimmah). Jika akad ijarah atas objek tertentu, seperti menyewa rumah tertentu atau hewan tertentu, dan penyewa belum membayar sewa lalu dinyatakan pailit sementara akad ijarah masih berlangsung, maka pendapat yang benar dalam mazhab adalah bahwa pemilik berhak mengambil kembali manfaat dari sisa masa sewa. Jika ia memilih hal itu, maka akad ijarah untuk sisa masa sewa dianggap batal, dan ia bersaing dengan para kreditur atas upah manfaat yang telah lalu. Penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.

ثم قال العلماء إن كان أجَّر أرضاً فزرعها المستأجر وأفلس فللمكري الفسخ و لا يقلع الزرع بل يرجع بأجرة مثل بقية المدة يقدم بها من غير مضاربة كما تقدم

Kemudian para ulama berkata, jika seseorang menyewakan tanah lalu penyewa menanaminya dan kemudian bangkrut, maka pemilik tanah berhak membatalkan sewa, namun tanaman tidak dicabut, melainkan pemilik tanah berhak menuntut upah sewa sepadan untuk sisa masa sewa, yang didahulukan tanpa ada perselisihan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو كان اكترى دابة وحمَّلها وأفلس في خلال الطريق فللمكري الفسخُ

Jika seseorang menyewa seekor hewan tunggangan, kemudian memuat barang di atasnya, lalu ia jatuh pailit di tengah perjalanan, maka pemilik hewan berhak membatalkan akad sewa tersebut.

ولكن لا يضيّع متاع المفلس بل يمكّنه من نقله إلى مأمن وليس عليه أن يمكنه من نقله إلى مقصده؛ فإنّ المطلوب ألا يضيع حق المكتري لا أن يحصِّل مقصودَه

Namun, barang milik orang yang bangkrut tidak boleh disia-siakan, melainkan ia harus diberi kesempatan untuk memindahkannya ke tempat yang aman. Akan tetapi, tidak wajib memberinya kesempatan untuk memindahkannya ke tujuan akhirnya; karena yang dituntut adalah agar hak penyewa tidak hilang, bukan untuk memenuhi tujuannya.

ولو لم يؤثر المكري الفسخ وأراد مضاربةَ الغرماء بالأجرة المسماة فله ذلك ولا تضيع المنفعة في بقية المدة على الغرماء؛ فإن كانت مشغولة بزراعة أو غيرها فهو المراد وإن لم تكن مشغولة أكريت تلك العين وصرفت أجرتها إلى حقوق الغرماء

Jika pemilik tidak memilih untuk membatalkan akad dan ingin melakukan mudārabah dengan para kreditur atas upah yang telah disepakati, maka ia berhak melakukannya dan manfaat dari sisa masa sewa tidak akan hilang bagi para kreditur. Jika objek sewa sedang digunakan untuk pertanian atau keperluan lain, maka itulah yang dimaksud. Namun jika tidak sedang digunakan, maka objek tersebut disewakan dan hasil sewanya dialokasikan untuk memenuhi hak-hak para kreditur.

هذا إذا كانت الإجارة واردة على العين

Ini berlaku jika akad ijarah ditujukan pada objek tertentu.

فأمّا إذا كانت على الذمة وأفلس المكتري فإن كان المكري قد استوفى الأجرة قبل الحجر فلا كلام والمنفعة في ذمة المكري حقٌّ من حقوق المكتري المفلس تُصرف إلى ديونه كسائر أمواله

Adapun jika akad sewa-menyewa dilakukan atas dasar tanggungan (dzimmah) dan penyewa mengalami pailit, maka jika pemilik telah menerima pembayaran sewa sebelum dilakukan penyitaan, tidak ada masalah. Manfaat (yang menjadi objek sewa) yang masih menjadi tanggungan pemilik merupakan hak dari penyewa yang pailit dan dialokasikan untuk membayar utang-utangnya sebagaimana harta miliknya yang lain.

وإن لم يكن المكري قبض الأجرة وفرعنا على أن الإجارة الواردة على الذمة ليست سلماًً ولا يجب تسليم الأجرة في المجلس فإذا أفلس المكتري فللمكري فسخُ الإجارة بسبب تعذر العوض؛ فإن آثر ذلك برئت ذمته منه عما عليه من الحق وانفسخت الإجارة

Jika pemilik sewa belum menerima upah, dan kita berasumsi bahwa akad ijarah yang terjadi atas tanggungan bukanlah akad salam, serta tidak wajib menyerahkan upah di majelis akad, maka jika penyewa jatuh pailit, pemilik sewa berhak membatalkan akad ijarah karena adanya halangan dalam memperoleh imbalan; jika ia memilih untuk membatalkannya, maka tanggungan penyewa atas hak tersebut menjadi bebas dan akad ijarah pun batal.

فصل

Bab

ولو قسم الحاكلم ماله بين غرمائه ثم قَدِم آخرون إلى آخره

Jika hakim telah membagi hartanya di antara para kreditornya, kemudian datang kreditur lain setelah itu, dan seterusnya.

إذا حجر القاضي على المفلس وقسم ماله على غرمائه ووزعها عليهم فلا شك أن التوزيع يقع على أقدار الديون لا على أعداد الرؤوس فإذا كان له غريمان لأحدهما عليه أربعة آلافٍ وللثاني ألفان وجملةُ ماله ثلاثة آلافٍ فيصرف ألفان إلى من له الأربعة ألف وألف إلى من له ألفان

Jika hakim telah memutuskan pailit terhadap seseorang dan membagi hartanya kepada para krediturnya serta mendistribusikannya kepada mereka, maka tidak diragukan lagi bahwa pembagian itu dilakukan berdasarkan besarnya utang, bukan berdasarkan jumlah orang. Jika ia memiliki dua kreditur, yang satu berpiutang empat ribu dan yang lain dua ribu, sementara seluruh hartanya berjumlah tiga ribu, maka dua ribu diberikan kepada yang berpiutang empat ribu dan seribu kepada yang berpiutang dua ribu.

ووضوح ذلك مغنٍ عن بسطهِ فإذا قسمنا المال على مبالغِ الديون فظهر للمفلس غرماء آخرون بعد القسمة وفَضِّ الأموال على الحصص وتبين أن الذين ظهروا كانوا على استحقاقهم حالة الحجر ولكن كانوا غُيَّباً فهؤلاء يخاصمون الذين قسمنا المال عليهم وينزلون معهم منزلة ما لو كانوا موجودين حالة القسمة حتى إذا كان المال ثلاثةَ آلافٍ والغريمان الأولان على أربعة آلافٍ وألفين فظهر غريمٌ ثالث بأربعة آلافٍ؛ فإنه يسترد من الألفين الذين سلمناهما إلى صاحب الأربعة ثمانمائة ويسترد من صاحب الألفين من الألف أربعمائة فيخلص له ألف ومائتان ويبقى لصاحب الأربعة آلاف ألفٌ ومائتانِ ويبقى في يد صاحب الألفين ستمائةٍ فتعتدل القسمة على الاحتياط والحصص

Penjelasan tentang hal ini sudah cukup jelas sehingga tidak perlu diperluas. Jika kita membagi harta kepada jumlah utang, lalu setelah pembagian dan pembagian harta sesuai porsi, ternyata muncul kreditur lain dari pihak yang pailit, dan diketahui bahwa mereka sebenarnya sudah berhak sejak masa penetapan pailit, hanya saja mereka tidak hadir, maka mereka berhak menggugat orang-orang yang telah kita bagikan harta kepadanya, dan mereka diperlakukan seperti seolah-olah mereka hadir saat pembagian. Misalnya, jika harta berjumlah tiga ribu, dan dua kreditur pertama masing-masing memiliki piutang empat ribu dan dua ribu, lalu muncul kreditur ketiga dengan piutang empat ribu, maka dari dua ribu yang telah kita serahkan kepada pemilik piutang empat ribu, harus diambil kembali delapan ratus, dan dari seribu yang telah kita serahkan kepada pemilik piutang dua ribu, harus diambil kembali empat ratus, sehingga kreditur ketiga memperoleh seribu dua ratus, pemilik piutang empat ribu tersisa seribu dua ratus, dan di tangan pemilik piutang dua ribu tersisa enam ratus. Dengan demikian, pembagian menjadi seimbang sesuai kehati-hatian dan porsi.

ولو كان عند القسمة غريمان لكل واحد منهما ألف والمال ألف فقسمناه بينهما نصفين فأتلف أحد الغريمين حصته وأعسر وظهر غريم ثالث بألف ولم يجد مرجعاً على الغريم الذي أتلف ما خصَّه وأعسر فصادف الخمسمائة في يد الآخر فبكم يحاصّه اختلف أصحابنا في المسألة فذهب الأكثرون إلى أنه يشاطره فيها ويقول تلك الحصة قد فاتت وأنا وأنت سيّان فيما بقي وتقدُّمُ صورة القسمة لا يخلّفني عنك وقدْرُ دَيْني كمقدار دينك فيشترك في هذا الباقي على استواءٍ

Jika pada saat pembagian ada dua orang kreditur, masing-masing memiliki piutang seribu, dan harta yang tersedia juga seribu, lalu kami membaginya di antara mereka berdua masing-masing setengah. Kemudian salah satu kreditur membinasakan bagiannya dan menjadi tidak mampu membayar, lalu muncul kreditur ketiga dengan piutang seribu dan ia tidak menemukan jalan untuk menuntut kepada kreditur yang telah membinasakan bagiannya dan menjadi tidak mampu membayar. Maka ia mendapati lima ratus di tangan kreditur yang lain. Dengan berapa bagian ia berhak menuntutnya? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Mayoritas berpendapat bahwa ia berhak mendapat bagian yang sama dengannya. Mereka mengatakan: Bagian itu telah hilang, dan aku serta engkau sama saja dalam sisa yang ada. Bentuk pembagian sebelumnya tidak menghalangiku darimu, dan besarnya piutangnya sama dengan besarnya piutangmu, sehingga mereka berdua berbagi secara setara dalam sisa harta tersebut.

وذهب بعض أصحابنا إلى أنه لا يأخذ من هذه الخمسمائة إلا ثلثها؛ فإن الحصة الأخرى لو كانت باقية لكان يأخذ منها ثلثها أيضاً فلئن فاتت تلك الحصة وأعسر صاحبها فلا ينبغي أن يرجع بما فات من حقه بسبب تلك الحصة الفائتة على الحصة الباقية وكان حقه في أيديهما ففواته بسبب فوات ما في يد أحدهما لا يرد جميع حقه إلى ما في يد الثاني

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia hanya mengambil sepertiga dari lima ratus itu; sebab bagian yang lain, jika masih ada, maka ia pun akan mengambil sepertiganya juga. Maka jika bagian tersebut telah hilang dan pemiliknya tidak mampu membayarnya, tidak sepantasnya ia menuntut bagian haknya yang hilang karena bagian yang telah lenyap itu dari bagian yang masih tersisa. Haknya berada di tangan keduanya, maka hilangnya hak tersebut karena hilangnya apa yang ada di tangan salah satu dari keduanya tidak menyebabkan seluruh haknya dialihkan kepada apa yang ada di tangan yang kedua.

وهذا الخلاف قريبُ المأخذ من القولين في أن أحد الوارثَيْن لو أقر بدَيْنٍ وأنكر الثاني فهل ينحصر جميعُ الدين في حصة المقر أم لا يلزمه منه إلا ما كان يطالَب به لو أقر صاحبه معه وفيه قولان سيأتي ذكرهما في كتاب الأقارير إن شاء الله تعالى

Perselisihan ini dekat sumbernya dengan dua pendapat dalam masalah jika salah satu dari dua ahli waris mengakui adanya utang, sedangkan yang lain mengingkarinya, apakah seluruh utang itu terbatas pada bagian orang yang mengakui, ataukah ia hanya wajib menanggung bagian yang akan dituntut darinya seandainya temannya juga mengakui. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan disebutkan dalam Kitab al-Iqrar, insya Allah Ta‘ala.

ومما أطلقه الأصحاب في قاعدة هذا الفصل أن قالوا إذا اقتسم الغرماء مالَ المحجور ثم ظهر غريم بدين قديم فالقسمة السَّابقة لا تنقض ولكن الغريم الظاهر يُحاصن كلَّ واحد بمقدار حقه واعتلّوا بأن قالوا الغريم لا حق له في أعيان الأموال وإنما تعلقه بالمالية وإذا كان يرجع على كلٍّ بحصته فلا معنى لنقض القسمة مع وصوله إلى ما هو حقه من غير تقدير تعويض وإبدالٍ

Di antara ketentuan yang disebutkan oleh para ulama dalam kaidah bab ini adalah pernyataan mereka: Jika para kreditur telah membagi harta orang yang terkena hajr, kemudian muncul kreditur lain dengan utang lama, maka pembagian sebelumnya tidak dibatalkan. Namun, kreditur yang baru muncul tersebut berhak menuntut bagian dari masing-masing orang sesuai dengan haknya. Mereka beralasan bahwa kreditur tidak memiliki hak atas benda tertentu, melainkan haknya terkait dengan nilai harta tersebut. Jika ia dapat menuntut bagiannya dari masing-masing orang, maka tidak ada alasan untuk membatalkan pembagian, karena ia tetap memperoleh haknya tanpa perlu adanya penggantian atau substitusi.

وهذا يظهر جداً إذا ردت الأمتعة إلى النقود وفُضّت على أقدار الديون ولم يكن لواحد من الغرماء في محل الكلام عين مال وإنما حقوقهم ديون مرسلة

Hal ini sangat jelas apabila barang-barang dikembalikan menjadi uang dan dibagikan sesuai dengan besaran utang, dan tidak ada satu pun dari para kreditur dalam konteks ini yang memiliki barang secara langsung, melainkan hak-hak mereka hanyalah berupa utang yang belum ditentukan.

ولو اقتسم الورثة أعيان التركة ثم بدا دينٌ فالأصح المنصوص عليه أن القسمة لا تنقض ببَدْو الدَّيْن بل يرجع الغريم على كل وارث بحصته إلى استيعاب حقه؛ فإن حقه يتعلق بمالية التركة لا بأعيانها وأثر القسمة في إفراز الأعيان وإلا فالتركة في أيدي الورثة

Jika para ahli waris telah membagi harta peninggalan secara konkret, kemudian ternyata ada utang yang muncul, maka pendapat yang paling sahih dan dinyatakan secara tegas adalah bahwa pembagian tersebut tidak dibatalkan hanya karena munculnya utang. Akan tetapi, kreditur dapat menuntut setiap ahli waris sesuai bagiannya hingga haknya terpenuhi; sebab hak kreditur berkaitan dengan nilai harta peninggalan, bukan pada benda-benda tertentu. Pengaruh pembagian hanya pada pemisahan benda-benda, sedangkan harta peninggalan tetap berada di tangan para ahli waris.

ولو اقتسم الورثة أعيان التركة ثم ظهر وارث آخر فالقسمة منقوضة؛ فإن الوارث يتعلق استحقاقه بالأعيان فتصحيح الإفراز مع شيوع شركته في التركة محال

Jika para ahli waris telah membagi harta peninggalan secara konkret, kemudian muncul ahli waris lain, maka pembagian tersebut batal; karena hak ahli waris berkaitan langsung dengan benda-benda harta peninggalan, sehingga tidak mungkin membenarkan pemisahan bagian sementara kepemilikan bersama atas harta warisan masih ada.

وللشافعي قول آخر إنه إذا بدا دين تبيّنا انتقاض القسمة من أصلها؛ لأن التركة مرتهنة بالدين والتصرف في المرتهن مردود وسنذكر هذا في موضعه إن شاء الله تعالى

Imam Syafi‘i memiliki pendapat lain, yaitu apabila ternyata ada utang, maka jelaslah bahwa pembagian warisan batal sejak awal; karena harta warisan itu tergadai oleh utang dan segala bentuk tindakan terhadap barang yang tergadai adalah tidak sah. Kami akan menjelaskan hal ini pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

ولو أجرى مُجرٍ هذا القول في بُدوّ غريم للمحجور عليه بعد اقتسام الغرماء الأوَّلين لم يكن بعيداً؛ إذ لا فرق بين بُدوّ دَيْنٍ في التركة وبين ظهور غريم للمحجور عليه

Jika seseorang menerapkan pendapat ini pada munculnya seorang kreditur baru bagi orang yang dikenai hajr setelah para kreditur sebelumnya membagi harta, maka hal itu tidaklah jauh (dari kebenaran); sebab tidak ada perbedaan antara munculnya utang baru dalam warisan dengan munculnya kreditur bagi orang yang dikenai hajr.

ومما يتعلق بهذا الفصل أن المحجور عليه لو استفاد مالاً جديداً والحجر مطّردٌ عليه بأن قبل هبةً أو وصية أو احتش أو احتطب أو اشترى وصححنا شراءه على الأصح فهذه الأملاك الحادثة في اطراد الحجر هل يتعدى إليها مقتضى الحجر حتى لا ينفذ فيها تصرف المحجور عليه أم هي خارجة عن موجَب الحجر فعلى وجهين أحدهما أنها خارجةٌ عن موجب الحجر؛ فإن الحجر تعلق بالأموال العتيدة الموجودة لدى الحجر وكان المقصود منه قصر يد المفلس عن التصرّف فيها فلا سبيل إلى تعدية الحجر عن تلك الأموال والحجر من القاضي في أموال المفلس كحجر الراهن على نفسه في العين المرهونة ثم الرهن لا يتعدى موردَه هذا وجه

Terkait dengan bab ini, jika seseorang yang sedang dikenai hajr memperoleh harta baru, sementara hajr masih terus berlaku atasnya—misalnya dengan menerima hibah, wasiat, memungut hasil hutan, mengumpulkan kayu bakar, atau membeli sesuatu dan kita menganggap sah pembeliannya menurut pendapat yang lebih kuat—maka kepemilikan baru yang muncul selama hajr berlangsung ini, apakah ketentuan hajr juga berlaku atasnya sehingga orang yang dikenai hajr tidak sah melakukan tindakan hukum atas harta tersebut, ataukah harta itu tidak termasuk dalam cakupan hajr? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa harta tersebut tidak termasuk dalam cakupan hajr, karena hajr hanya berkaitan dengan harta yang sudah ada saat hajr ditetapkan, dan tujuan hajr adalah membatasi hak orang yang pailit untuk bertindak atas harta tersebut, sehingga tidak dapat memperluas hajr ke harta yang baru diperoleh. Hajr yang diputuskan oleh qadhi atas harta orang yang pailit itu seperti hajr yang dilakukan oleh pihak yang menggadaikan terhadap dirinya sendiri atas barang yang digadaikan, dan gadai itu tidak berlaku di luar objek yang digadaikan; inilah salah satu pendapat.

والوجه الثاني أن الحجر يتعلق بالأموال المستجدة؛ فإن السلطان لم يقصد بحجره تخصيصَ مالٍ وإنما قصد التسبب إلى إيصال الحقوق إلى مستحقها وهذا القصدُ لا اختصاص له بالمال الموجود فليكن المحجور عليه تحت الحجر فيما كان موجوداً وفيما استجدّه واستحدثه

Pendapat kedua adalah bahwa larangan (hajr) berkaitan dengan harta yang baru didapatkan; karena penguasa tidak bermaksud dengan larangannya untuk membatasi harta tertentu, melainkan bertujuan untuk menyampaikan hak-hak kepada yang berhak menerimanya. Tujuan ini tidak terbatas pada harta yang sudah ada, maka orang yang dikenai larangan tetap berada di bawah larangan baik terhadap harta yang sudah ada maupun yang baru didapatkan dan diusahakan.

ومن الأصول اللائقة بما نحن فيه أَنَّ الحجر إذا انطلق كما سنوضح سبب انطلاقه في آخر الفصل وكان الغرماء على بقايا من ديونه فلو حدث للمديون مالٌ بعد انطلاق الحجر لم يعد محجوراً عليه بنفس حدوث المال ولكن لو استدعى الغرماء إعادةَ الحجر بسبب المال الحادث وكانت بقايا الديون زائدةً على المال الحادث أو مساوية له على التفصيل المقدم في أول الكتاب فالقاضي يجيب إلى ذلك

Di antara kaidah yang relevan dengan pembahasan kita adalah bahwa apabila status pencegahan (hajr) telah dicabut—sebagaimana akan dijelaskan sebab pencabutannya di akhir bab ini—sementara para kreditur masih memiliki sisa piutang, lalu si berutang memperoleh harta setelah pencabutan hajr, maka ia tidak otomatis kembali menjadi orang yang dikenai hajr hanya karena memperoleh harta tersebut. Namun, jika para kreditur meminta agar hajr diberlakukan kembali karena adanya harta baru itu, dan sisa utang lebih besar atau sama dengan harta yang baru diperoleh—sesuai rincian yang telah dijelaskan di awal kitab—maka hakim akan mengabulkan permintaan tersebut.

فلو تجددت له ديون مع تجدد الأموال لم يختص الغرماء الذين حدثت حقوقهم بالمال الحادث بل اشترك فيه القدماء من الغرماء الذين حدثت حقوقهم

Maka jika muncul utang-utang baru bersamaan dengan munculnya harta baru, para kreditur yang haknya baru muncul tidaklah khusus mendapatkan harta yang baru tersebut, melainkan para kreditur lama yang haknya telah ada sebelumnya juga ikut serta di dalamnya.

ولو بدا للمحجور عليه مال قديم اختص بالتضارب فيه الغرماء القدماء ولم يشاركهم فيه من حدث حقه

Jika ternyata orang yang sedang dalam status mahjur memiliki harta lama, maka para kreditur lama memiliki hak khusus untuk bersaing atas harta tersebut, dan kreditur baru yang haknya muncul belakangan tidak ikut serta di dalamnya.

والضَّابط فيه أن المال الحادث يشترك فيه الغريم القديم والحادث والمال القديم الذي كان في الحجر الأوَّل يختص به الأولون ولا يشارك فيه من حدث حقه بعد انطلاق الحجر الأوّل ولو انطلق الحجر الأول وحدث بعده مال ولا حجر بعدُ وحدث بعد حدوث المال دين ثم ضرب الحجر ثانياً اشترك القدماء ومن حدث دينه وليس للقدماء أن يقولوا لا يشركنا في المال الحادث من حدث دينه بعد حدوث المال؛ فإن ذلك الدين إذا حدث قبل عَوْد الحجر فلا نظر إلى تقدم المال عليه إذا اجتمع حدوث المال والدين في انطلاق الحجر وهذا واضحٌ لا يخفى على الفقيه ولا يضرّ التنصيص عليه

Patokan dalam hal ini adalah bahwa harta yang baru muncul dibagi bersama antara kreditur lama dan baru, sedangkan harta lama yang sudah ada pada masa penahanan pertama hanya menjadi hak kreditur lama dan tidak boleh dibagi dengan mereka yang haknya muncul setelah penahanan pertama berakhir. Jika penahanan pertama telah berakhir, kemudian muncul harta baru, dan tidak ada penahanan lagi, lalu setelah munculnya harta tersebut muncul utang, kemudian dilakukan penahanan kedua kalinya, maka baik kreditur lama maupun yang baru sama-sama berhak atas harta tersebut. Kreditur lama tidak berhak mengatakan bahwa mereka yang haknya muncul setelah harta itu ada tidak boleh ikut serta dalam harta baru; sebab utang tersebut jika muncul sebelum penahanan kedua, maka tidak perlu memperhatikan apakah harta itu lebih dulu ada atau tidak, selama kemunculan harta dan utang itu terjadi setelah penahanan pertama berakhir. Hal ini jelas dan tidak samar bagi seorang faqih, dan tidak perlu penegasan lebih lanjut.

ومما يليق بمضمون الفصل أَنَّ الديون التي تتجدد في زمان الحجر تنقسم فمنها ما يتجدد في المصلحة المتعلقة بمال المفلس كالمؤن التي تلزم من أجرة الدلال أو الكيّال أو غيرهما فما كان كذلك فهو متقدّم على حقوق الغرماء من غير مضاربة؛ فإنا لو لم نقدم هذه الديون لامتنع التصرف في مال المفلس على مقتضى الصَّلاح ولرغب العمَلة عن العمل الذي لا بد منه

Dan termasuk hal yang sesuai dengan isi bab ini adalah bahwa utang-utang yang muncul pada masa pencekalan terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya ada yang muncul untuk kepentingan yang berkaitan dengan harta orang yang pailit, seperti biaya-biaya yang diperlukan untuk upah makelar, penakar, atau lainnya. Maka utang yang seperti ini didahulukan atas hak-hak para kreditur yang tidak melakukan mudharabah; sebab jika kita tidak mendahulukan utang-utang ini, maka pengelolaan harta orang yang pailit sesuai dengan kemaslahatan tidak akan dapat dilakukan, dan para pekerja pun akan enggan melakukan pekerjaan yang memang diperlukan.

وأما ما يتجدد من دَيْن في ماله ولا تعلق له بصلاح الأمر وحاجة الوقت فلا تعلق لمستحق هذا النوع من الدين بمال المحجور عليه فإن ذلك المال في حق الغرماء الذين جرى الحجر باستدعائهم بمثابة المرهون في حق المرتهن فلو أتلف المفلس مالاً تعلق بدلُه بذمتهِ ولم يزاحم مستحقُّ الدين الغرماء في الأموال

Adapun utang yang muncul kemudian pada hartanya dan tidak berkaitan dengan kemaslahatan urusan maupun kebutuhan waktu, maka pihak yang berhak atas jenis utang ini tidak memiliki hubungan dengan harta orang yang sedang dikenai hajr (pembatasan hak mengelola harta). Sebab, harta tersebut bagi para kreditur yang meminta diberlakukannya hajr, posisinya seperti barang yang digadaikan bagi penerima gadai. Maka jika orang yang pailit itu merusak suatu harta, penggantinya menjadi tanggungan pribadinya dan pihak yang berhak atas utang tersebut tidak dapat bersaing dengan para kreditur dalam memperoleh harta itu.

وكذلك القول في جملة الديون التي لا يتعلق لزومها بالمصلحة والحاجة

Demikian pula halnya dengan seluruh utang yang kewajibannya tidak berkaitan dengan kemaslahatan dan kebutuhan.

فهذا تمامُ القول في ذلك

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai hal tersebut.

فصل

Bab

قال وإن أراد الحاكم بيع متاعه أو رهنه أحضره إلى آخره

Ia berkata: Jika hakim ingin menjual barang miliknya atau menggadaikannya, maka ia harus menghadirkannya, dan seterusnya.

إذا استمر الحجر اشتغل الحاكم على القُرب بتنجيز الأمر حتى لا يطول أمد الحجر من غير حاجة وذلك بأن يبتدر بيعَ الأمتعة ويَنْصِب في ذلك كافياً أميناً إن كان لا يتعاطاه بنفسه ولا ينبغي أن يُفْرِط في العجلة فتُشتَرَى الأمتعة ببخس ولا يتأنَّى بعد حصول الاحتياط اللائق بالحال

Jika status pencekalan (hajr) tetap berlangsung, hakim segera menyelesaikan urusan tersebut agar masa pencekalan tidak berlangsung lama tanpa kebutuhan. Caranya adalah dengan segera menjual barang-barang dan menunjuk seseorang yang cukup dan terpercaya untuk melakukannya jika hakim tidak menanganinya sendiri. Namun, tidak sepatutnya terlalu tergesa-gesa sehingga barang-barang dijual dengan harga yang sangat murah, dan juga tidak terlalu lambat setelah melakukan kehati-hatian yang sesuai dengan keadaan.

ثم قال ينبغي أن يحضر المحجورُ عليه مكانَ البيع؛ فإن ذلك أنفى للتهمة وقد يعرف صاحب المتاع مما يُروِّج به متاعَه ما لا يعرفه غيره وهذا استحباب وذكرٌ للأَوْلى

Kemudian dikatakan bahwa sebaiknya orang yang sedang dalam status mahjur (yang dibatasi hak perdata) hadir di tempat penjualan; karena hal itu lebih menghilangkan tuduhan, dan bisa jadi pemilik barang mengetahui cara memasarkan barangnya yang tidak diketahui oleh orang lain. Ini merupakan anjuran dan penyebutan hal yang lebih utama.

ثم قال ينبغي أن يبدأ ببيع الحيوانات؛ فإنها عرضةٌ للتلف وفي إبقائها تكثيرُ المؤن ثم يبيع ما يتسارع إليه الفساد ويؤخر بيعَ العقار ويبيعُ كل شيء في سوقه فإن ذلك أرْوج لها وأحرى بأن يَنْفَد العَرْض فيها

Kemudian ia berkata, sebaiknya dimulai dengan menjual hewan-hewan, karena hewan-hewan itu rentan rusak dan jika dibiarkan akan menambah beban biaya. Setelah itu, dijual barang-barang yang cepat rusak, dan penjualan properti ditunda. Setiap barang dijual di pasarnya masing-masing, karena hal itu lebih cepat laku dan lebih memungkinkan barang tersebut habis terjual.

ثم إن رضي الغرماء جَمْعَ أثمان السلع حتى إذا انتجزت فرقها حينئذ على أقدار الحقوق وإن أبَوْا أن يصبروا ورأَوْا أن يفرّق عليهم كلَّ مقدار ينتجز ويَحصُل أجيبوا إلى ذلك وإن رضوا بالجمع جمع القاضي عند عدل ولا يبعدُ في مسلك الرأي أن يُقرِضَ ما يتحصل مَليّاً وفيّاً؛ فإن أعيان الأموال قد تضيع والدين في ذمة المليء الوفي أقربُ إلى الثبوت وقد ذكرنا في تصرف القُوَّام أنهم لو شاؤوا أن يُقرضوا مالَ الطفل على موجَب المصلحة فلا معترضَ عليه

Kemudian, jika para kreditur setuju untuk mengumpulkan harga-harga barang hingga semuanya terkumpul, lalu setelah itu dibagikan sesuai dengan besarnya hak masing-masing, maka hal itu boleh dilakukan. Namun, jika mereka tidak mau menunggu dan menghendaki agar setiap jumlah yang berhasil didapatkan segera dibagikan kepada mereka, maka permintaan itu pun harus dipenuhi. Jika mereka setuju untuk mengumpulkan, maka hakim mengumpulkannya di hadapan seorang yang adil. Tidak jauh dari pendapat yang rasional bahwa hasil yang didapatkan dapat dipinjamkan kepada orang yang kaya dan terpercaya; sebab barang-barang bisa saja hilang, sedangkan utang yang berada dalam tanggungan orang kaya yang terpercaya lebih dekat kepada kepastian. Kami telah menyebutkan dalam pembahasan tentang tindakan para pengelola bahwa jika mereka mau meminjamkan harta anak kecil demi kemaslahatan, maka tidak ada yang berhak memprotesnya.

ثم قال صاحب التقريب إذا أراد القاضي أن يبتدىء قسمةَ المال لم يُحوج الغرماء أن يقيموا بيِّنةً على أنه لا غريمَ للمحجور غيرُنا وقد نقول لا يقسم الحاكم التركة بين ورثة المتوفَّى حتى تقوم بينة من أقوام ذوي خبرة بباطن أمر المتوفى أنهم لا يعرفون له على طول المخالطة والخبرة وارثاً سوى الحاضرين وسيأتي ذلك في كتاب الدعاوى إن شاء الله عز وجل

Kemudian penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seorang qadhi ingin memulai pembagian harta, ia tidak mewajibkan para kreditur untuk menghadirkan bukti bahwa tidak ada kreditur lain bagi orang yang dikenai pembatasan selain kami. Namun, kami juga mengatakan bahwa hakim tidak membagi warisan di antara para ahli waris orang yang wafat sampai ada bukti dari orang-orang yang ahli dan mengetahui keadaan batin si mayit, bahwa mereka tidak mengetahui adanya ahli waris lain selain yang hadir, setelah bergaul lama dan memiliki pengetahuan mendalam. Hal ini akan dijelaskan nanti dalam Kitab ad-Da‘āwā, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

قال صاحب التقريب إذا حجر القاضي وشَهَر حجرَه وأشاعه في الناس كفى ذلك في حصول الغلبة على الظن بأنه لا غريم له سوى هؤلاء؛ إذ لو كانوا لظهروا ولما حجر عمر رضي الله عنه على الجهني اكتفى بأن شَهَر الحجرَ بذكره إياه في أثناء الخطبة وما ذكره صاحب التقريب حسن ولكن لا فرق عندنا بين القسمة على الغرماء والقسمة على الورثة فحيث نقول لا بد من إقامة الشهادة على أن لا وارث فلا بد من مثله في القسمة على الغرماء

Menurut penulis kitab at-Taqrīb, jika seorang qadhi menetapkan pemblokiran (hajr) dan mengumumkan serta menyebarluaskan pemblokiran tersebut di tengah masyarakat, maka hal itu sudah cukup untuk menimbulkan dugaan kuat bahwa tidak ada pihak yang berpiutang selain mereka yang telah disebutkan; sebab jika ada, tentu mereka akan muncul. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu memblokir harta al-Juhani, beliau cukup mengumumkan pemblokiran itu dengan menyebutkannya di tengah khutbah. Apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb adalah baik, namun menurut kami tidak ada perbedaan antara pembagian kepada para kreditur dan pembagian kepada para ahli waris. Maka, di mana kami mengatakan harus ada penyaksian bahwa tidak ada ahli waris, maka hal yang sama juga diperlukan dalam pembagian kepada para kreditur.

وممّا يتعلق بتمام الفصل أن القاضي إذا قسم ما وجد من ماله على غرمائه واعترف الغرماء بأن لا مال له سوى المقسوم علينا فهل يُحكَم بانطلاق الحجر عنه أم لا بد أن يتولى القاضي إطلاقَه فعلى وجهين في طريقة العراق أحدهما أنه لا حاجة إلى إطلاقه؛ فإن موجَب الحجر قد زال والثاني أنه لا بد من الإطلاق؛ فإن ذلك مجتهَدٌ فيه وقد تمس الحاجة إلى مزيد بحث فليتوقف الأمر على إطلاق القاضي حسماً للمادّة وقطعاً للتهمة وكما لا يثبت الحجر ابتداء من غير ضرب ينبغي ألا ينحلّ انتهاءً من غير رفعٍ وليس كحجر الجنون والصبا على ما سيأتي ذكرهما في كتاب الحجر إن شاء الله تعالى

Termasuk hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan ini adalah bahwa apabila qadhi telah membagi harta yang ditemukan dari seseorang kepada para krediturnya, dan para kreditur mengakui bahwa tidak ada harta lain milik orang tersebut selain yang telah dibagikan kepada kami, maka apakah status pelarangan (hajr) atas orang tersebut otomatis dicabut, ataukah harus qadhi yang mencabutnya? Dalam metode ulama Irak terdapat dua pendapat: pertama, tidak perlu ada pencabutan secara khusus, karena sebab pelarangan telah hilang; kedua, harus ada pencabutan secara khusus, karena hal ini merupakan perkara ijtihadiyyah dan terkadang masih diperlukan penelitian lebih lanjut, sehingga sebaiknya pencabutan dilakukan oleh qadhi untuk menutup celah masalah dan menghilangkan tuduhan. Sebagaimana pelarangan tidak dapat diberlakukan sejak awal tanpa adanya sebab, maka demikian pula pelarangan tidak dapat dicabut di akhir tanpa adanya pencabutan resmi. Ini berbeda dengan pelarangan karena gila atau belum dewasa, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab al-Hajr, insya Allah Ta‘ala.

ثم المنصوبُ الذي يتولى بيع مال المفلس بإذن الحاكم ليس له أن يسلّم مبيعاً من ماله قبل توفير الثمن عليه وقد ذكرنا في أن البداية في التسليم بالبائع أو المشتري أقوالاً في كتابِ البيع ولا يجري منها في الذي يبيع مال المفلس إلا قولان أحدهما أن المشتري منه هو المجبر على تسليم الثمن والقول الثاني أنهما يجبران على تسليم المبيع والثمن معاً ولا يخرج قولنا إن البائع يجبر على البداية؛ من جهة أنه يجب على النائب رعاية حق من يتصرف له هذا هو اللائق بمنصب النائب الأمين ولا يخرج أيضاًً قولنا لا يجبران؛ فإن الحاجة ماسة إلى تنجيز الأمر حتى لا يطول أمد الحجر

Kemudian, orang yang ditunjuk untuk menjual harta orang yang pailit dengan izin hakim tidak boleh menyerahkan barang yang dijual dari hartanya sebelum menerima pembayaran harga barang tersebut. Kami telah menyebutkan dalam Kitab al-Bay‘ beberapa pendapat mengenai siapa yang lebih dahulu menyerahkan, apakah penjual atau pembeli. Dari pendapat-pendapat itu, yang berlaku dalam kasus penjualan harta orang pailit hanya ada dua: pertama, pembeli wajib terlebih dahulu menyerahkan harga barang; kedua, keduanya—penjual dan pembeli—wajib menyerahkan barang dan harga secara bersamaan. Pendapat kami bahwa penjual dipaksa untuk memulai penyerahan tidak berlaku di sini, karena wakil harus menjaga hak orang yang diwakilinya, dan ini sesuai dengan kedudukan wakil yang amanah. Begitu pula, pendapat kami bahwa keduanya tidak dipaksa untuk menyerahkan, juga tidak berlaku, karena kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan perkara agar masa pembatasan tidak terlalu lama.

وقد يقع الفرض في صورة لا يخرج فيها إلا قولٌ واحد وهو أن يكون البائع نائباً كما ذكرناه ويكون المشتري وكيلاً أيضاً فلا يخرجُ في هذه الصورة قولُ إجبار المشتري على البداية وينحصر الجواب في أنهما يجبران معاً حتى يتوفر الغرضان ويعتدل الجانبان

Kewajiban bisa terjadi dalam bentuk di mana hanya ada satu pendapat, yaitu ketika penjual bertindak sebagai wakil, sebagaimana telah disebutkan, dan pembeli juga sebagai wakil. Dalam keadaan ini, tidak muncul pendapat yang mewajibkan pembeli untuk memulai, dan jawabannya terbatas pada keduanya dipaksa bersama-sama agar kedua tujuan terpenuhi dan kedua pihak menjadi seimbang.

وما ذكرناه في المتصرف في مال المحجور يجري في كُلّ وكيلٍ

Apa yang telah kami sebutkan mengenai orang yang bertindak atas harta orang yang berada dalam perwalian, berlaku pula pada setiap wakil.

ولو باع الوكيل سلعةَ مُوكِّله ونَهَيْنا عن البداية بالتسليم كما تقرر فلو ابتدر وسلم المبيع فقد تعدّى وأساء ولو وُفّر الثمن عليه خرج عن حكم العهدة إذا كان مأذوناً له في قبض الثمن ولا نقول تعدّيه في البداية يُديم عليه حكمَ العدوان في الثمن الذي توفر عليه

Jika seorang wakil menjual barang milik muwakkilnya dan kita telah melarang untuk memulai dengan penyerahan barang sebagaimana telah ditetapkan, maka jika ia terburu-buru dan menyerahkan barang yang dijual, berarti ia telah melampaui batas dan berbuat buruk. Namun, jika harga (barang) itu diterimakan kepadanya, maka ia terbebas dari tanggung jawab jika memang ia diberi izin untuk menerima harga tersebut. Kami tidak mengatakan bahwa pelanggarannya dalam memulai penyerahan barang menjadikan status pelanggaran itu tetap melekat padanya terhadap harga yang telah diterimanya.

ولو سلم المبيع وعسُر قبض الثمن وفات الأمر فيضمن الوكيل وفيما يضمنه وجهان ذكرهما صاحبُ التقريب أحدهما أنه يضمن الثمن؛ فإنه فوّت متعلّق الثمن وكان كالشاهد الزور إذا أوقعت شهادته حيلولة ثم رجع عن شهادته وهذا القائل يعضد مذهبه بأن تغريم الوكيل قيمة المبيع للموكِّل بالبيع بعيد والمبيع ليس ملكاَّ بَعدَ البيع للمُوكِّل بالبيع وليس كالمرهون الذي يضمن متلفه قيمتَه للمرتهن؛ فإن حق الوثيقة يتعدى إلى القيمة

Jika barang yang dijual telah diserahkan namun sulit untuk menerima pembayaran dan perkara tersebut telah berlalu, maka wakil bertanggung jawab. Dalam hal apa wakil bertanggung jawab, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib. Salah satunya adalah bahwa wakil bertanggung jawab atas pembayaran; karena ia telah menyebabkan hilangnya hak atas pembayaran tersebut, dan keadaannya seperti saksi palsu yang kesaksiannya menyebabkan terhalangnya hak, kemudian ia menarik kembali kesaksiannya. Pendapat ini didukung dengan alasan bahwa mewajibkan wakil membayar nilai barang kepada pemberi kuasa dalam akad jual beli adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), karena barang yang dijual setelah akad bukan lagi milik pemberi kuasa, dan tidak seperti barang gadai yang jika dirusak, pelakunya wajib mengganti nilainya kepada penerima gadai; sebab hak jaminan dalam gadai dapat beralih kepada nilai barang tersebut.

والوجه الثاني أنه يضمن قيمة المبيع من جهة أنه التزام بالخوض في البيع ألا يسلمه ولا يثبت حق موكله فيه إلا بشرط فإذا لم يف بالشرط لزمته القيمة؛ نظراً إلى ما قبل البيع وإن كان المبيع عند التسليم خارجاً عن ملك الموكل

Pendapat kedua adalah bahwa ia wajib mengganti nilai barang yang dijual dari sisi bahwa ia telah berkomitmen untuk terlibat dalam jual beli, yaitu tidak menyerahkan barang tersebut dan hak wakilnya atas barang itu tidak tetap kecuali dengan syarat. Maka jika ia tidak memenuhi syarat tersebut, ia wajib mengganti nilainya; hal ini dilihat dari keadaan sebelum jual beli, meskipun pada saat penyerahan barang yang dijual itu sudah keluar dari kepemilikan muwakkil.

وهذا الضمان على الجملة بدعٌ خارج عن قانون الضمان؛ فإنه لم يلتزم الثمنَ بجهةٍ ولما سلم المبيع لم يجر عدوانُه في ملك الموكِّل وحق الحبس لا يُضمن بالقيمة فالقياس الكلّي نفيُ الضمان والاقتصار على تأثيم الوكيل إن عمد؛ فإن المشتري إذا قبض المبيع وأتلفه فقد وقع القبض مستحقاً ولكن اتفق الأصحاب على الضمان وهو من آثار عهدة العقد فالأوجه إذاً ألا يلزم الوكيلَ إلا الأقلُّ؛ فإن كان الثمن أقلَّ من القيمة لم يلزمه إلا الثمن وإن كانت القيمة أقل فقد يقول الوكيل احسبوني غاصب عين ومتلفها

Jaminan secara umum seperti ini adalah bid‘ah yang keluar dari kaidah jaminan; sebab ia tidak berkomitmen terhadap harga dengan suatu sebab tertentu, dan ketika barang yang dijual telah diserahkan, tidak terjadi pelanggaran pada kepemilikan pihak yang mewakilkan, dan hak tahan tidak dijamin dengan nilai. Maka qiyās secara keseluruhan menafikan adanya jaminan dan cukup dengan menganggap wakil berdosa jika ia sengaja melakukannya; sebab jika pembeli telah menerima barang dan merusaknya, maka penerimaan itu memang sudah menjadi haknya. Namun para ulama sepakat atas adanya jaminan, dan ini termasuk akibat dari tanggungan akad. Maka yang lebih tepat adalah wakil tidak wajib menanggung kecuali yang paling sedikit; jika harga lebih rendah dari nilai barang, maka ia hanya wajib menanggung harga, dan jika nilai barang lebih rendah, bisa jadi wakil berkata: anggap saja aku sebagai perampas barang dan perusaknya.

وإلزامه الثمنَ والقيمة أقل له وجهٌ على بعد وأما إلزامه القيمة والثمن أقلُّ فلا وجه له

Mewajibkan dia membayar harga (tsaman) sementara nilai (qīmah) lebih rendah masih memiliki sisi pendapat meskipun lemah, adapun mewajibkan dia membayar nilai (qīmah) sementara harga (tsaman) lebih rendah, maka tidak ada sisi pendapat yang membenarkannya.

فصل

Bab

قال وينبغي أن يُشهد أنه وقف مالَه إلى آخره

Ia berkata, “Dan sebaiknya disaksikan bahwa ia telah mewakafkan hartanya hingga selesai.”

إذا حجر على المفلس الحاكمُ فالأوْلى أن يُشهد على الحجر وليس ذلك بواجب ولكن الأولى ما ذكرناه والغرض منه شَهْرُ الحجر ونشر الأمر والتأكيدُ بالإشهاد حتى إذا ظهر ذلك لم يعامَل المحجور اغتراراً بما عُهد له من مال

Jika hakim menetapkan pencekalan terhadap orang yang pailit, maka yang lebih utama adalah menghadirkan saksi atas pencekalan tersebut, meskipun hal itu tidak wajib. Namun yang lebih utama adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan pencekalan, mengumumkan perkara tersebut, dan menegaskan dengan adanya kesaksian, sehingga jika hal itu telah diketahui, orang yang dikenai pencekalan tidak lagi diperlakukan berdasarkan anggapan bahwa ia masih memiliki harta seperti yang pernah dikenal sebelumnya.

ثم ذكر الشافعي تفصيلَ القول فيما يمتنع من تصرفات المحجور

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan rincian pendapat mengenai hal-hal yang dilarang dari tindakan-tindakan orang yang dikenai hajr.

والقول الجامع أن تصرفاته تنقسم إلى ما يتعلق بعين ماله وإلى ما لا يتعلق بها فأما ما يتعلق بعين ماله فلا ينفذ في الحال انفرادُه بالتصرفات وهذا أثر الحجر ولو كان من ماله عبيدٌ فأعتقهم لم ينتجز نفوذُ العتق فيهم وفاقاً وإذا مست الحاجةُ إلى بيعهم في الديون بعناهم وصرفنا أثمانهم إلى الغرماء وإن جزم المفلسُ إعتاقَهم

Pendapat yang mencakup adalah bahwa tindakan-tindakannya terbagi menjadi dua: yang berkaitan dengan harta bendanya secara langsung dan yang tidak berkaitan dengannya. Adapun yang berkaitan dengan harta bendanya secara langsung, maka tidak sah baginya untuk bertindak sendiri dalam hal tersebut pada saat itu; inilah akibat dari status hajr (pembatasan hak bertindak). Jika di antara hartanya terdapat budak lalu ia memerdekakan mereka, maka kemerdekaan mereka tidak langsung berlaku menurut kesepakatan. Jika ada kebutuhan untuk menjual mereka guna membayar utang, maka kami akan menjual mereka dan mengalokasikan hasil penjualannya kepada para kreditur, meskipun orang yang pailit itu telah menegaskan kemerdekaan mereka.

ولو أعتق الراهن العبدَ المرهون فقد اختلف القولُ في نفوذ عتقهِ فقد نقول في قولٍ ينفذ عتقه وإن كان معسراً وهذا مما يجب التنبيه له والوقوفُ عنده؛ فإنَّ الفقيه قد يرى الحجر بالرّهن المنبرم بالإقباض آكد والتحقيق في هذا أن القاضي يحجر على تصرفه وليس يرهن ماله فأثر حجره منعه من التصرف والرهن متضمنه تعليق وثيقة بعين فتخيل قائلون أن ملك الراهن أقوى من حق وثيقة المرتهن

Jika orang yang menggadaikan memerdekakan budak yang digadaikan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai sah atau tidaknya pemerdekaannya. Dalam satu pendapat, pemerdekaannya tetap sah meskipun ia dalam keadaan tidak mampu. Hal ini perlu mendapat perhatian dan dicermati; sebab seorang ahli fiqh mungkin memandang bahwa larangan bertindak akibat gadai yang telah sempurna dengan penyerahan barang lebih kuat. Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa hakim melarang orang tersebut melakukan tindakan hukum, bukan menggadaikan hartanya. Maka akibat dari larangan tersebut adalah mencegahnya dari bertindak, sedangkan gadai itu sendiri mengandung penangguhan jaminan pada barang tertentu. Karena itu, sebagian orang berpendapat bahwa kepemilikan orang yang menggadaikan lebih kuat daripada hak jaminan pihak penerima gadai.

ولكن إذا أعتق المفلس عبداً واتفق تأدية الديون بأن وجدنا راغبين اشتَرَوْا الأمتعةَ بأكثرَ من قيمتها وفضَلَ ذلك العبدُ فهل نحكمُ بنفوذ العتق فيه وقد برئت الذمة فعلى قولين وتوجيههما أن العتق من المفلس مردود أم موقوف فعلى قولين أحدهما أنه مردود؛ فإن الحجر تضمن إبطالَ عباراته في التصرفات المتعلّقة بالمال فلغا ما قال

Namun, jika seorang yang bangkrut memerdekakan seorang budak, lalu terjadi pelunasan utang dengan adanya orang-orang yang berminat membeli barang-barang dengan harga lebih tinggi dari nilainya, dan budak tersebut masih tersisa, maka apakah kita menetapkan sahnya pemerdekaan budak itu karena tanggungan utang telah bebas? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Penjelasannya adalah apakah pemerdekaan budak oleh orang yang bangkrut itu batal ataukah ditangguhkan? Ada dua pendapat: salah satunya menyatakan batal, karena status pailit mencakup pembatalan segala pernyataan terkait transaksi harta, sehingga apa yang diucapkannya menjadi tidak berlaku.

والقول الثاني العتق موقوف؛ فإن القاضي لم يلحق المحجور عليه المفلسَ بالناقص بصباه أو سفهه وإنما راعى حق الغرماء فالمفلس تامٌّ بصفته والعتق قابل للوقف فانتظم منه انتظار العاقبة ثم إذا فضل ذلك العبدُ تبيّنا نفوذَ العتق على هذا القول من وقت اللفظ هذا في إعتاقه

Pendapat kedua menyatakan bahwa pembebasan budak itu ditangguhkan; sebab hakim tidak menyamakan orang yang pailit yang sedang dalam status mahjur dengan orang yang kurang sempurna karena masih kecil atau karena kebodohannya, melainkan hanya memperhatikan hak para kreditur. Maka orang yang pailit itu tetap sempurna sifatnya, dan pembebasan budak itu sendiri memungkinkan untuk ditangguhkan, sehingga dapat menunggu hasil akhirnya. Kemudian, jika budak tersebut ternyata masih tersisa (setelah pelunasan utang), maka menurut pendapat ini, pembebasan budak itu dinyatakan sah sejak saat pengucapan (lafaz) pembebasan tersebut, dan ini berlaku dalam kasus pembebasan budak olehnya.

ولو كاتب عبداً لم تنجّز الكتابة حتى نقدرها مانعة من صرف هذا العبد إلى الدين ولكن لو فضل هذا العبدُ عن الديون كما صورناه في العتق ففي نفوذ الكتابة على مذهب التبيّن القولان

Jika seseorang melakukan mukatabah terhadap seorang budak, maka akad mukatabah itu belum dianggap terlaksana sampai kita menilainya sebagai penghalang untuk menjadikan budak tersebut sebagai pelunasan utang. Namun, jika budak tersebut memiliki kelebihan harta setelah melunasi utang-utang, sebagaimana gambaran pada kasus pembebasan budak, maka mengenai berlakunya akad mukatabah menurut mazhab at-tabayyun terdapat dua pendapat.

ولو باع شيئاً من أمواله لم يكن بيعه مانعاً للقاضي من تصرفه اللائق بالحال

Dan jika ia menjual sesuatu dari hartanya, maka penjualannya itu tidak menghalangi qādī untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan situasi.

ولكن لو فضل ذلك المبيع ففي نفوذ البيع على التبيّن قولان

Namun, jika barang yang dijual itu ternyata lebih (dari yang disepakati), maka mengenai keabsahan jual beli setelah diketahui kelebihan tersebut terdapat dua pendapat.

وكان شيخي يرتب هذه المسائل ويجعل العتق أولى بالنفوذ من قِبَل قبوله التعليق بالأغرار والوقفُ دون التصريح بالتعليق والكتابة تلي العتقَ وتستأخر عنه لما فيها من المعاوضة والبيع يترتب على الكتابة وهو أولى بأن لا ينفذ؛ لأنه معاوضة محضة عرية عن قبول التعليق بالأغرار والهبة في هذا الترتيب في درجة البيع فإنها لا تُعلّق كما أن البيع لا يعلّق

Guru saya mengurutkan masalah-masalah ini dan menempatkan pembebasan budak (ʿitq) sebagai yang paling utama untuk berlaku, karena ia menerima penangguhan dengan ketidakpastian, sedangkan wakaf berada di bawahnya karena tidak secara tegas menerima penangguhan, dan kitabah (perjanjian pembebasan budak dengan pembayaran) berada setelah pembebasan budak dan tertunda darinya karena mengandung unsur pertukaran. Jual beli diurutkan setelah kitabah dan lebih utama untuk tidak berlaku, karena ia merupakan pertukaran murni yang tidak menerima penangguhan dengan ketidakpastian. Hibah dalam urutan ini setara dengan jual beli, karena hibah tidak dapat digantungkan sebagaimana jual beli juga tidak dapat digantungkan.

فهذا بيان ترتيب هذه المسائل

Berikut ini adalah penjelasan urutan masalah-masalah tersebut.

فإن رأينا إلغاء هذه التصرفات وإبطالَها في الحال والمآل تصرفنا في المبيع والمعتَق والمكاتَب تصرُّفَنَا في سائر الأموال وإن رأينا إجراءها على الوقف وأمكننا تأدية الديون دون التصرف في محال تصرفات المفلس أخرنا محالَّ تصرفه وإن انتهت الحاجةُ إليها ابتدرنا ما وهبه وقدمنا التصرف فيه على التصرف في المبيع؛ فإن البيع ألزم من الهبة وأبعد من النقض ثم نتصرف بعد الموهوب في المبيع ثم في المكاتَب ويؤخر المعتق وهذا الذي نذكره على قول الوقف استحقاقٌ وترتيبه واجب وليس على مذهب الأوْلى والمستحب وكل تصرف كان أقوى فإنا نؤخر محلَّه جهدنا

Jika kita memandang bahwa pembatalan dan penghapusan tindakan-tindakan ini, baik secara langsung maupun di masa mendatang, berlaku pada barang yang dijual, budak yang dimerdekakan, dan budak mukatab, maka kita memperlakukan tindakan tersebut sebagaimana kita memperlakukan harta benda lainnya. Namun, jika kita memandang bahwa tindakan-tindakan itu tetap berlaku atas harta wakaf dan kita masih dapat melunasi utang tanpa harus melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh orang yang pailit, maka kita menunda pelaksanaan tindakan tersebut. Jika kebutuhan terhadap tindakan itu telah berakhir, kita segera memproses apa yang telah dihibahkan dan mendahulukan tindakan atas hibah daripada tindakan atas barang yang dijual; sebab jual beli lebih mengikat daripada hibah dan lebih sulit untuk dibatalkan. Setelah itu, kita memproses barang yang dijual, kemudian budak mukatab, dan menunda budak yang dimerdekakan. Inilah yang kami sebutkan menurut pendapat bahwa wakaf adalah hak kepemilikan dan urutannya wajib, bukan menurut pendapat yang lebih utama atau yang dianjurkan. Setiap tindakan yang lebih kuat, maka kita akan menunda pelaksanaannya semaksimal mungkin.

ولو لم نجد زبوناً يشتري من أمتعة المحجور إلا العبد الذي أعتقه والتفريع على قول الوقف فقال الغرماء حاجتنا ماسة في الحال إلى شيء فلا تؤخروا حقّنا ونَجِّزوا بيعَ هذا العبد فهذا فيه احتمالٌ ظاهر؛ فإن تأخير حقهم بعيدٌ وإبطالُ الإعتاق لتوقفٍ مع الاشتغال والتشمير فيه بعيدٌ أيضاًً؛ فلينظر الناظر

Jika kita tidak menemukan pembeli yang mau membeli barang-barang milik orang yang dikenai hajr kecuali budak yang telah dimerdekakannya, dan jika kita mengikuti pendapat yang menganggap sahnya waqaf, lalu para kreditur berkata, “Kami sangat membutuhkan sesuatu saat ini, maka jangan tunda hak kami dan segerakanlah penjualan budak ini,” maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas; sebab menunda hak mereka adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), dan membatalkan pemerdekaan karena adanya penundaan sementara sudah ada upaya dan kesungguhan juga merupakan hal yang jauh (tidak tepat); maka hendaknya orang yang meneliti perkara ini memperhatikan dengan seksama.

وغالب الظن أن الغرماء يجابون في الصورة التي ذكرناها

Kemungkinan besar para kreditur akan dikabulkan dalam kasus yang telah kami sebutkan.

فهذا بيان تصرفات المفلس في أعيان أمواله

Berikut ini adalah penjelasan mengenai tindakan-tindakan orang yang pailit terhadap harta bendanya.

فأما تصرفه الذي لا يتعلق بعين ماله فنذكر ما قد يخفى ونترك ما لا خفاء به كنفوذ طلاقه وخُلعه وعفوه عن القصاص واستلحاق النسب ونفيه باللعان فلا خفاء بنفوذ هذه الأشياء

Adapun tindakan-tindakannya yang tidak berkaitan dengan benda miliknya, maka kami akan menyebutkan hal-hal yang mungkin tersembunyi dan meninggalkan hal-hal yang sudah jelas, seperti sahnya talak, khulu‘, pemaafan atas qishāsh, pengakuan nasab, dan penafian nasab melalui li‘ān, karena tidak ada keraguan tentang keabsahan hal-hal tersebut.

والذي يُعتنى به أنه لو نكح امرأةً صح وإن كان النكاح يُلزمه النفقة على ما سنعيد هذا في الفصل المشتمل على بيان النفقات إن شاء الله تعالى

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika seseorang menikahi seorang wanita, maka pernikahan itu sah, meskipun pernikahan tersebut mewajibkannya untuk memberikan nafkah, sebagaimana akan kami jelaskan kembali pada bab yang membahas tentang nafkah, insya Allah Ta‘ala.

ولا شكّ أنه لو اتّهب أو قبل الوصيّة صح ذلك منه؛ فإنّ ما يأتي به من هذه الأجناس اكتساب أموالٍ وليس تصرفاً في المال الذي اشتمل الحجرُ عليه

Tidak diragukan bahwa jika ia menerima hibah atau wasiat, maka hal itu sah baginya; sebab apa yang ia lakukan dari jenis-jenis ini adalah perolehan harta, dan bukan tindakan terhadap harta yang menjadi objek pembatasan (ḥajr).

ولو اشترى المفلس فالمذهب الأصح أن شراءه صحيحٌ إذا كان الثمن وارداً على الذمة؛ فإنه ليس محجوراً عليه في لفظه وذمته وذكر بعض أصحابنا قولاً في إبطال شرائه توجيهه يظهر بالتفريع

Jika seorang yang pailit membeli sesuatu, maka mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa pembeliannya sah apabila harga barang tersebut menjadi tanggungan di dalam dzimmah; sebab ia tidak dilarang dalam hal ucapan dan dzimmah-nya. Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat yang membatalkan pembeliannya, dan alasan pendapat tersebut akan tampak ketika dijabarkan lebih lanjut.

فإن قلنا لا يصح الشراء فلا كلام وإن قلنا يصح الشراء فلا يؤدَّى الثمنُ من المال الذي اشتمل الحجر عليه ولكن هذا يخرّج عندنا على الخلاف المقدّم في أن المال الذي يحدث للمحجور هل يشتمل عليه الحجر فإن قلنا يشتمل الحجر على ما يستحدثه فهذا القياس يقتضي أن يصرف ما اشتراه إلى ديونه ويقال لمعامله والبائع منه أسأْتَ إذ عاملته فاكتف بذمته وارتقب يُسره في ثاني الحال هذا هو القياس وفيه تحقيق

Jika kita mengatakan bahwa jual beli tersebut tidak sah, maka tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita mengatakan bahwa jual beli tersebut sah, maka pembayaran harga tidak boleh diambil dari harta yang berada dalam status hajr. Akan tetapi, hal ini dikembalikan pada perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya tentang apakah harta yang diperoleh kemudian oleh orang yang terkena hajr juga termasuk dalam hajr. Jika kita mengatakan bahwa hajr mencakup harta yang diperoleh kemudian, maka qiyās mengharuskan agar barang yang dibeli itu digunakan untuk melunasi utangnya, dan dikatakan kepada pihak yang bertransaksi dan penjualnya: “Engkau telah berbuat salah karena telah bertransaksi dengannya, maka cukupkanlah dengan piutangmu dan tunggulah kelapangan di waktu berikutnya.” Inilah qiyās, dan di dalamnya terdapat penjelasan lebih lanjut.

وحاصل المذهب المأخوذ من مرامز كلام الأصحاب وجهان أحدهما ما ذكرناه وهو أن الغرماء يتضاربون في المبيع والبائع محالٌ على ذمة المفلس يطالبه بالثمن إذا انطلق عنه الحجر وتعليله ما ذكرناه

Kesimpulan mazhab yang diambil dari inti pembicaraan para ulama ada dua pendapat. Salah satunya adalah yang telah kami sebutkan, yaitu para kreditur berbagi secara proporsional dalam barang yang dijual, sedangkan penjual dialihkan haknya kepada tanggungan si pailit dan dapat menuntut pembayaran harga barang setelah status pailitnya dicabut. Alasannya adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan.

والوجه الثاني أن البائع لا يضارب الغرماء في الأموال التي انعقد الحجر عليها؛ فإن دينه جديد ولكنه يضارب الغرماء في ثمن المبيع المستفاد منه؛ فإن فى دينه يثبت مع ثبوت الملك في المبيع وهو عوض المبيع فلا أقل من أن يشارك الغرماءَ في العين المبيعة

Alasan kedua adalah bahwa penjual tidak bersaing dengan para kreditur dalam harta yang telah dikenakan pembatasan; karena utangnya adalah utang baru. Namun, ia bersaing dengan para kreditur dalam harga barang yang diperoleh darinya; sebab utangnya muncul bersamaan dengan kepemilikan atas barang yang dijual, yang merupakan pengganti dari barang tersebut. Maka, paling tidak, ia berhak untuk ikut serta bersama para kreditur dalam barang yang dijual.

وممَّا يتعلق بتمام البيان في هذا الفصل القولُ في أن البائع لو أراد الرجوعَ في العين المبيعة على الأصل الممهد في إثبات ذلك للبائع إذا وجد عين ما باعه في يد المشتري ونحن نقدم على ذلك مسألة ذكرها الشيخ في شرح التلخيص وهي أَنَّ العبد القِنَّ لو اشترى بغير إذن سيده شيئاًً فالمذهب أن البيع فاسد ومن أصحابنا من حكم بصحة البيع وقد ذكرنا ذلك في كتاب البيع

Termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan sempurna dalam bab ini adalah pembahasan tentang apabila penjual ingin mengambil kembali barang yang dijual, berdasarkan kaidah yang telah ditetapkan mengenai penetapan hak bagi penjual untuk mengambil kembali barang yang dijual apabila ia masih mendapati barang tersebut di tangan pembeli. Kami mendahulukan pembahasan ini dengan satu masalah yang disebutkan oleh Syekh dalam Syarh at-Talkhīṣ, yaitu apabila seorang budak murni (al-‘abd al-qin) membeli sesuatu tanpa izin tuannya, maka mazhab menyatakan bahwa jual belinya fasid (rusak/tidak sah). Namun, sebagian ulama kami ada yang berpendapat bahwa jual belinya sah, dan kami telah menjelaskan hal ini dalam Kitab al-Bay‘.

فإن فرعنا على صحة البيع فلا شكّ أنه يتعذر على البائع استيفاء الثمن؛ فإن متعلقه الذمة على الإطلاق وكل دين تعلق بالذمة فالعبد لا يطالَب به في رقِّه ولكن إذا عَتَق اتُّبع به

Jika kita berasumsi bahwa jual beli tersebut sah, maka tidak diragukan lagi bahwa penjual akan kesulitan untuk memperoleh pembayaran harga; karena yang menjadi objeknya adalah tanggungan (dzimmah) secara mutlak, dan setiap utang yang terkait dengan dzimmah, maka budak tidak dapat dituntut pembayarannya selama ia masih dalam status budak, namun jika ia telah merdeka, maka ia dapat dituntut untuk membayarnya.

فإذا علم البائع ذلك وكان الثمن حالاًّ ولم يكن عالماً بكونه عبداً حالة العقد

Jika penjual mengetahui hal itu, sedangkan harga barang dibayar tunai, dan ia tidak mengetahui bahwa orang tersebut adalah seorang budak pada saat akad dilakukan.

فله حق فسخ البيع والرجوع إلى المبيع قطع به الشيخ وحكى فيه وفاق الأصحاب

Maka ia berhak membatalkan jual beli dan mengembalikan barang yang dijual; hal ini telah dipastikan oleh asy-Syaikh dan dinukil adanya kesepakatan para sahabat (ulama) dalam masalah ini.

ولو كان عالماً بحقيقة رقِّه عند البيع ففي ثبوت الخيار وجهان أحدهما أنه يثبت الخيار وهو الذي حكاه الشيخ في الشرح والثاني أنه لا خيار له حكاه غيره ووجهه أنه أقدم على معاملته مع العلم بحقيقة صفته فلا يثبت الخيار لمن يكون مطلعاً على سببه عند العقد

Jika seseorang mengetahui dengan pasti status budaknya saat penjualan, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah hak khiyar (pilihan) tetap berlaku. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak khiyar tetap berlaku, sebagaimana yang disebutkan oleh asy-Syaikh dalam syarahnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak memiliki hak khiyar, sebagaimana yang disebutkan oleh selainnya, dengan alasan bahwa ia telah melakukan transaksi dengan pengetahuan yang jelas tentang sifat sebenarnya, sehingga hak khiyar tidak berlaku bagi orang yang telah mengetahui sebabnya pada saat akad.

فإذا ثبتت هذه المقدمة عدنا إلى غرضنا فنقول

Jika premis ini telah terbukti, maka kita kembali kepada tujuan kita dan berkata

إذا باع شيئاًً من المفلس المحجور عليه وكان عالماً بحاله عند العقد فظاهرُ المذهب أنه لا خيار له بخلاف العبد؛ فإن انطلاق الحجر عنه مأمولٌ قريب غيرُ بعيد بخلاف العتق؛ فإن توقعه بعيد وظاهرُ الرق الاستمرار فإذا انضم ذلك إلى علمه بفلسه امتنع ثبوت الخيار

Jika seseorang menjual sesuatu milik orang yang pailit dan telah dikenai status hajr, sementara ia mengetahui keadaannya saat akad, maka pendapat yang tampak dalam mazhab adalah bahwa ia tidak memiliki hak khiyar, berbeda dengan kasus budak; sebab kemungkinan dicabutnya hajr darinya masih diharapkan dan waktunya dekat, tidak seperti pembebasan budak (‘itq); karena kemungkinan terjadinya jauh dan pada dasarnya status budak itu akan terus berlanjut. Maka jika hal itu digabungkan dengan pengetahuannya tentang kepailitannya, maka hak khiyar tidak dapat ditetapkan.

وفي المسألة وجه آخر بعيد أن الخيار يثبت كما ذكرناه في العبد إذا اشترى بغير إذن مولاه ووجه الجمع بيّنٌ واضح

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain yang lemah, yaitu bahwa hak khiyar tetap berlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan pada kasus budak jika ia membeli tanpa izin tuannya, dan alasan penggabungannya jelas dan terang.

ولو باع من المفلس ظانّاً أنه مطلق في تصرفه فإذا تبيّن له فلسه واطرادُ الحجر عليه فالظاهر أنه يثبت له حق الفسخ؛ لاطلاعه على السّبب الذي تعذر به استيفاء الثمن

Jika seseorang menjual sesuatu kepada orang yang bangkrut dengan dugaan bahwa orang tersebut bebas dalam melakukan transaksi, kemudian ternyata diketahui bahwa ia memang bangkrut dan telah terus-menerus dikenai pembatasan (hajr), maka yang tampak adalah penjual berhak untuk membatalkan akad; karena ia telah mengetahui sebab yang menyebabkan tidak mungkinnya menerima pembayaran harga.

ومن أصحابنا من لم يُثبت الخيارَ في هذه الصورة؛ إذ لا خلاف أنه لو باع من معسرٍ غيرِ محجور عليه لم يكن له أن يفسخ إذا اطلع على إعساره حتى يُحجر عليه والحجر الواقع في مسألتنا لم يضرب لأجل البائع بل كان المحجور مطلقاً في حق البيع الذي جرى؛ فإنه استبد بنفسه فيه فنفذناه دون مراجعة الوالي والغرماء فكان بيعه مستثنى عن حكم الحجر وهو بمثابة ما لو باع شيئاًً ممن ظنه موسراً وسلمه إليه ثم تبين أنه معسر؛ فإنه لا يفسخ البيع من غير حجر على المشتري

Sebagian dari ulama mazhab kami tidak menetapkan adanya hak khiyar dalam kasus ini; sebab tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang menjual kepada orang yang sedang mengalami kesulitan keuangan namun belum dikenakan status pencekalan (hajr), maka penjual tidak berhak membatalkan akad ketika mengetahui kondisi kesulitan keuangan pembeli, kecuali setelah pembeli tersebut benar-benar dikenakan hajr. Adapun hajr yang terjadi dalam permasalahan kita ini tidak diberlakukan demi kepentingan penjual, melainkan orang yang dikenakan hajr tersebut memang secara mutlak terkena hajr dalam kaitannya dengan transaksi jual beli yang telah terjadi; sebab ia melakukan transaksi itu sendiri, maka kami mengesahkan jual belinya tanpa perlu meminta persetujuan wali atau para kreditur. Maka, jual belinya dikecualikan dari ketentuan hajr, dan hal ini serupa dengan kasus ketika seseorang menjual sesuatu kepada orang yang ia kira mampu membayar lalu menyerahkan barang tersebut, kemudian ternyata pembeli itu dalam keadaan kesulitan keuangan; maka jual beli tersebut tidak dapat dibatalkan tanpa adanya hajr atas pembeli.

ومما يتعلق بتصرفات المفلس أنه لو أقر في حال قيام الحجر بدين في ذمته فالمقَر له لا يضارب الغرماء الذين ثبتت ديونهم إذا لم يصدقوا المفلسَ ولكن الدين يثبت في ذمة المفلس للمقر له يطالبه به إذا انطلق الحجر عنه واستفاد مالاً وهذا متفق عليه؛ فإن الإقرار ليس عقداً أنشأه

Terkait dengan tindakan-tindakan seorang yang pailit, apabila ia mengakui adanya utang dalam tanggungannya pada saat masih dalam status penyitaan, maka pihak yang diakui sebagai kreditur tidak dapat bersaing dengan para kreditur lain yang utangnya telah terbukti, kecuali jika para kreditur tersebut membenarkan pengakuan si pailit. Namun, utang tersebut tetap menjadi tanggungan si pailit kepada pihak yang diakui, sehingga ia dapat menuntutnya setelah status penyitaan dicabut dan si pailit memperoleh harta. Hal ini telah menjadi kesepakatan; sebab pengakuan bukanlah akad yang diciptakan.

وإذا كنا نقول الظاهر صحة شرائه لوروده على الذمة وإن كان الشراء عقْدَ عهدة على الجملة فالإقرار الذي هو إجبار محض يُلزم ذمتَه المقَرَّ به لا محالة من غير تخيل خلاف ولكن لا يضارب المقَرُّ له الغرماءَ في الأموال التي جرى الحجر فيها

Jika kita mengatakan bahwa yang tampak adalah sahnya pembelian karena dilakukan atas tanggungan (dzimmah), meskipun pembelian itu pada dasarnya adalah akad tanggung jawab secara umum, maka pengakuan (iqrār) yang merupakan paksaan murni mewajibkan tanggungan orang yang mengaku terhadap apa yang diakuinya tanpa keraguan, namun orang yang diakui haknya (muqarr lah) tidak dapat bersaing dengan para kreditur (ghurama’) dalam harta yang telah dikenakan pembatasan (hajr) padanya.

ولو أقر المفلس بأن عيناً من الأعيان التي اطرد الحجر عليها ظاهراً وكانت في يده مغصوبةٌ وهي لفلان فقد نص الشافعي في كتبه القديمة على قولين في إقراره بالعين أحدهما أنه لا ينفذ في الحال وإن مسّت الحاجة إلى صرفها إلى ديونه صرفت إليها والثاني أن إقراره ينفذ في العين وهي مصروفة إلى المقر له بها؛ فإن عبارة المفلس صحيحة ولا تهمة في قوله

Jika seorang yang pailit mengakui bahwa suatu barang tertentu yang telah dikenai pembatasan secara lahiriah dan berada di tangannya dalam keadaan digelapkan, serta barang itu milik si Fulan, maka Imam Syafi’i dalam kitab-kitab lamanya menyatakan dua pendapat mengenai pengakuan atas barang tersebut. Pendapat pertama, pengakuannya tidak langsung berlaku; jika ada kebutuhan mendesak untuk menggunakannya guna membayar utangnya, maka barang itu digunakan untuk itu. Pendapat kedua, pengakuannya berlaku atas barang tersebut dan barang itu diberikan kepada orang yang diakui sebagai pemiliknya; karena pernyataan orang yang pailit itu sah dan tidak ada kecurigaan dalam ucapannya.

فقال الأئمة يجب طرد القولين في الإقرار بالدَّين المرسل أحدهما أن المقر له لا يضارب الغرماء بالدين والثاني أنه يضارب تخريجاً على قبول إقراره بالعين ناجزاً وهذا القول يتجه في القياس وفي الجملة لا فرق بين الدين والعين

Para imam berkata, dua pendapat harus diterapkan secara konsisten dalam pengakuan utang yang mursal: yang pertama, bahwa orang yang diakui haknya tidak bersaing dengan para kreditur lain dalam utang tersebut; dan yang kedua, bahwa ia boleh bersaing, berdasarkan analogi dengan diterimanya pengakuan terhadap barang secara tunai. Pendapat kedua ini sesuai dengan qiyās, dan secara umum tidak ada perbedaan antara utang dan barang.

والمريض وإن كان محجوراً عليه في الزائد على الثلث فقراره بالدين المستغرِق مقبول وكذلك لو أقر بعين مالٍ قُبل إقراره

Orang yang sakit, meskipun dibatasi haknya dalam hal melebihi sepertiga harta, maka pengakuannya terhadap utang yang meliputi seluruh hartanya tetap diterima. Demikian pula, jika ia mengakui kepemilikan suatu barang tertentu, maka pengakuannya itu diterima.

فإن قيل قطعتم القول برد عتقه وبيعه في الحال وذكرتم القولين في نفوذهما لو سلم محالهما عن الصرف إلى الديون على مذهب الوقف وذكرتم قولاً في تنفيذ الإقرار بالعين والدين المرسل ناجزاً وإن أضر ذلك بالغرماء قلنا هو كذلك؛ فإن الحجر مقصوده منع المحجور عليه من التصرف؛ فتنفيذ تصرفه فيما جرى الحجر عليه يناقض مقصود الحجر والحجر لم يسلبه العبارة عن أمرٍ مضى وليس هو إنشاء تصرف في الحال ؛ فكان ذلك فرقاً واضحاً

Jika dikatakan: Kalian telah memastikan penolakan terhadap pembebasan budak dan penjualan (harta) secara langsung, dan kalian menyebutkan dua pendapat tentang keabsahan keduanya jika objeknya terbebas dari pengalihan kepada utang menurut mazhab waqaf, serta kalian menyebutkan satu pendapat tentang keabsahan pengakuan terhadap barang dan utang yang disampaikan secara langsung meskipun hal itu merugikan para kreditur—kami katakan: Memang demikianlah adanya; karena tujuan dari hajr (pembatasan hak bertindak) adalah mencegah orang yang dikenai hajr dari melakukan tindakan hukum; maka membenarkan tindakannya dalam perkara yang menjadi objek hajr bertentangan dengan tujuan hajr itu sendiri. Hajr tidak menghilangkan kemampuannya untuk mengungkapkan sesuatu yang telah lalu, dan itu bukanlah penciptaan tindakan hukum pada saat ini; maka hal itu merupakan perbedaan yang jelas.

وإذا لم ينفذ إقراره بالعين في الحال ولكن سَلِمت العين عن الصرف إلى الديون وانطلق الحجر فلا خلاف في مؤاخذة المحجور بإقراره في تلك العين بعد ارتفاع الحجر ولا يخرّج على القولين المذكورين في البيع والعتق وغيرهما؛ فإنَّ مذهب الوقف في العقود على التردد مشهور والإقرار يحتمل مثل ذلك ولو قال إنسان إن فلاناً أعتق فرُدّ قولُه فيه فلو اشتراه كان مؤاخذاً بموجب قوله السابق

Jika pengakuannya terhadap suatu barang tidak langsung dilaksanakan saat itu juga, namun barang tersebut tetap aman dari dialihkan untuk membayar utang dan status larangan (hajr) telah dicabut, maka tidak ada perbedaan pendapat mengenai bolehnya menuntut orang yang sebelumnya terkena hajr atas pengakuannya terhadap barang tersebut setelah hajr dicabut. Hal ini tidak mengikuti dua pendapat yang disebutkan dalam masalah jual beli, pembebasan budak, dan selainnya; sebab pendapat tentang penangguhan dalam akad-akad yang masih diperdebatkan sudah masyhur, dan pengakuan juga memungkinkan hal serupa. Jika seseorang berkata bahwa si Fulan telah membebaskan budaknya, lalu ucapannya itu ditolak, kemudian ia membeli budak tersebut, maka ia tetap akan dimintai pertanggungjawaban atas ucapannya yang terdahulu.

فهذا منتهى المراد في تصرفات المفلس في غرض الفصل

Inilah batas akhir yang dimaksud dalam pembahasan mengenai tindakan-tindakan orang yang pailit dalam konteks bab ini.

فصل

Bab

قال وذهب بعض المفتين إلى أن ديون المفلس تَحِلُّ بالحجر إلى آخره

Sebagian mufti berpendapat bahwa utang-utang orang yang pailit menjadi jatuh tempo dengan adanya status pailit hingga seterusnya.

لا خلاف أن من مات وعليه ديون مؤجلة حلت الديونُ بموته وهذا متفق عليه وإن كان قد يظهر إضرار ذلك بالورثة؛ فإن الدين المؤجل إلى عشرين سنة لا يساوي شيئاًً به مبالاة؛ وإذا حل الدين فقد تضاعفت المالية في حق مستحق الدين ولكن الأمر على ما وصفناه

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa siapa pun yang meninggal dunia dan masih memiliki utang yang jatuh temponya di masa mendatang, maka utang tersebut menjadi jatuh tempo dengan kematiannya, dan hal ini telah disepakati, meskipun tampaknya hal itu dapat merugikan para ahli waris. Sebab, utang yang jatuh tempo dua puluh tahun lagi tidaklah bernilai apa-apa untuk diperhatikan; namun jika utang itu menjadi jatuh tempo, maka nilainya menjadi berlipat ganda bagi pihak yang berhak menerima utang tersebut. Namun, ketentuannya tetap seperti yang telah kami jelaskan.

ولو جن من عليه ديون مؤجلة ففي حلول الدين وقد استمر الجنون قولان أصحهما أنها لا تَحِلُّ؛ فإن حلولها على الميت غير منقاس على أن الممكن أن الآجال مَهْلٌ وفَسْحٌ والغرض منها طلبٌ لمحل الدين في مدة الأجل؛ وذلك مأيوسٌ منه في حق المتوفَّى؛ فإن الموت حسم إمكان العمل واستأصل أصلَ الأجل؛ فلا يبعد أن يقطع مدّة الأجل وهذا لا يتحقق في طريان الجنون؛ فإن الآمال مبسوطة ما بقيت الحياة

Jika seseorang yang memiliki utang-utang yang jatuh tempo di masa mendatang mengalami gangguan jiwa, maka mengenai jatuh temponya utang tersebut sementara gangguan jiwa itu terus berlangsung, terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa utang tersebut tidak menjadi jatuh tempo; sebab jatuh temponya utang pada orang yang meninggal dunia tidak dapat dianalogikan (qiyās). Hal ini karena mungkin saja tenggat waktu (ajal) itu merupakan kelonggaran dan kesempatan, dan tujuan dari penetapan tenggat waktu adalah memberi kesempatan kepada orang yang berutang untuk melunasi utangnya dalam masa tersebut; dan hal itu sudah tidak mungkin lagi pada orang yang telah meninggal dunia, karena kematian telah memutus kemungkinan beramal dan menghilangkan asal tenggat waktu itu sendiri; sehingga tidak mustahil jika masa tenggat waktu itu diputus. Namun, hal ini tidak dapat diterapkan pada kasus timbulnya gangguan jiwa; sebab harapan masih terbuka selama seseorang masih hidup.

وكان شيخي أبو محمد يذكر في طريان الجنون القولين كما ذكرناهما

Dan guruku, Abu Muhammad, menyebutkan dalam pembahasan tentang timbulnya kegilaan dua pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ثم كان يذكر في طريان الحجر بسبب الفلس قولين مرتبين على القولين في الجنون ويجعل الجنون أولى بمضاهاة الموتِ في اقتضاء الحلول من الحجر؛ من قِبل أن المجنون لا استقلال له ولكن يخلفه قيِّمه ووليّه كما يخلف الوارثُ الموروثَ والمفلس ليس خارجاً عن الاستقلال في التصرفات المختصة به

Kemudian disebutkan dalam hal pencabutan hak atas harta karena pailit terdapat dua pendapat yang diurutkan berdasarkan dua pendapat dalam kasus kegilaan, dan dijadikan bahwa kegilaan lebih utama untuk diserupakan dengan kematian dalam hal menuntut terjadinya pelimpahan hak dari pencabutan hak; karena orang gila tidak memiliki kemandirian, melainkan digantikan oleh pengampu dan walinya, sebagaimana ahli waris menggantikan orang yang diwarisi, sedangkan orang yang pailit tidak keluar dari kemandirian dalam tindakan-tindakan yang khusus baginya.

وهذا فيه نظر عندي؛ من قبل أن قيّم المجنون لو أراد أن يتصرف له تصرفاً مشتملاً على ثمن مؤجل لم يمتنع ذلك ابتداءً؛ وإذا كان لا يمتنع ما ذكرناه ابتداء فاقتضاؤه قطعَ الأجل محالٌ لا اتّجاه له والوجه عندي تخصيص القولين بالمفلس المحجور نظراً لمستحق الدين والحجر مضروبٌ لمصلحة أصحاب الديون

Menurut saya, hal ini masih perlu ditinjau kembali; sebab wali dari orang gila, jika ingin melakukan suatu tindakan hukum untuknya yang mengandung harga yang ditangguhkan pembayarannya, maka hal itu pada dasarnya tidak terlarang. Jika pada awalnya hal yang telah kami sebutkan itu tidak terlarang, maka menuntut untuk memutuskan tempo pembayaran adalah sesuatu yang mustahil dan tidak memiliki dasar. Menurut saya, dua pendapat tersebut sebaiknya dikhususkan pada orang yang pailit yang telah dikenai pembatasan, dengan mempertimbangkan hak para kreditur, dan pembatasan itu diberlakukan demi kemaslahatan para pemilik piutang.

وبالجملة لا وجه للمصير إلى حلول الأجل في غير الموت والمعتمد في الموت الاتباع كما ذكرناه ولا يستدّ فيه معنى على السبر

Secara keseluruhan, tidak ada alasan untuk berpegang pada penetapan waktu jatuh tempo selain kematian, dan yang dijadikan pegangan dalam hal kematian adalah ittibā‘ sebagaimana telah kami sebutkan, serta tidak diperlukan makna lain berdasarkan penelusuran (al-sabr).

ونحن الآن نفرع على القولين في حلول الأجل وبقائه فنقول

Sekarang, kita akan merinci berdasarkan dua pendapat mengenai jatuh tempo, apakah telah tiba atau masih tetap, maka kami katakan:

إن حكمنا بأن الأجل لا ينقطع والدين لا يحل فنتكلم في أمرين أحدهما المضاربة بالدين المؤجل والثاني فسخ البيع

Jika kita memutuskan bahwa tenggat waktu tidak terputus dan utang belum jatuh tempo, maka kita akan membahas dua hal: pertama, mudharabah dengan utang yang masih ditangguhkan, dan kedua, pembatalan jual beli.

فأمَّا الكلام في فسخ البيع فالمذهبُ الأصح أن من باع شيئاًً بثمن مؤجل وفُلّس المشتري بسبب ديونٍ حالة فليس للبائع والثمن مؤجل أن يفسخ البيع ويرجع إلى عين المبيع؛ فإن الأجل يمنع حقَّ الطلب والفسخُ مترتب على تعذر الثمن المطلوب

Adapun pembahasan tentang pembatalan jual beli, mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa siapa saja yang menjual sesuatu dengan harga yang ditangguhkan pembayarannya, lalu pembeli dinyatakan pailit karena utang-utang yang telah jatuh tempo, maka penjual yang piutangnya masih dalam tenggang waktu tidak berhak membatalkan jual beli dan kembali mengambil barang yang dijual; karena tenggang waktu mencegah hak untuk menuntut, sedangkan pembatalan jual beli bergantung pada tidak mungkinnya mendapatkan harga yang dituntut.

وذكر العراقيون وغيرُهم وجه آخر وقالوا نقرر المبيع ولا نصرفه إلى الديون الحالّة وننظر ما يكون فإن حل الأجل والحجر قائم بعدُ فللبائع حقُّ الفسخ وإن كان الحجر قد انطلق وأمكن استيفاء الثمن كاملاً استوفاه البائع وإن كان معسراً فقد ثبت حقُّ الفسخ كما سنصفه في التفريع

Orang-orang Irak dan selain mereka menyebutkan pendapat lain, mereka berkata: Kami menetapkan penjualan dan tidak mengalihkannya kepada utang-utang yang telah jatuh tempo, lalu kami menunggu apa yang akan terjadi. Jika waktu jatuh tempo tiba sementara status pencekalan (hajr) masih berlaku, maka penjual berhak membatalkan (fasakh) akad. Jika pencekalan telah dicabut dan memungkinkan untuk menerima pembayaran harga secara penuh, maka penjual dapat menerima pembayaran tersebut. Namun jika pembeli dalam keadaan tidak mampu (muflis), maka hak pembatalan (fasakh) tetap berlaku, sebagaimana akan dijelaskan dalam rincian berikutnya.

وهذا القائل يحتج بأصل هذا الوجه بأن حق البائع متعلق بالمبيع تعلقَ حق المرتهن بالمرهون ثم لو فرض دَيْنٌ مؤجَّل موثَّق برهن ثم جرى الحجر فاختصاصُ المرتهن بالرهن قائم مع استمرارِ الأجل فليكن الأمر كذلك في الثمن المؤجل

Orang yang berpendapat demikian berdalil dengan dasar bahwa hak penjual terkait dengan barang yang dijual sebagaimana hak murtahin terkait dengan barang gadai. Kemudian, jika kita misalkan ada utang yang jatuh temponya masih lama dan dijamin dengan barang gadai, lalu terjadi pembatasan (hajr), maka kekhususan murtahin terhadap barang gadai tetap berlaku selama masa jatuh tempo masih berlangsung. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku pada harga (barang) yang pembayarannya ditangguhkan.

وهذا مزيف عند المحققين؛ فإن اختصاص المرتهن كان ثابتاً مقدَّماً على جريان الحجر فدام ذلك الحق ومن باع شيئاًً مؤجَّلاً فمقتضى بيعِه تسليمُ المبيع وتركُ التعلّق به فإثبات الاختصاص بالمبيع مع دوام الأجل بعيد

Ini adalah pendapat yang tidak sahih menurut para peneliti; karena hak khusus bagi penerima gadai telah tetap dan didahulukan atas berlakunya larangan, sehingga hak itu tetap ada. Barang siapa menjual sesuatu secara tangguh, maka konsekuensi dari jual belinya adalah menyerahkan barang yang dijual dan melepaskan keterkaitan dengannya. Maka menetapkan hak khusus atas barang yang dijual sementara tenggang waktu masih berlangsung adalah sesuatu yang jauh (dari kebenaran).

وهذا الوجه على بعده مشهور؛ فلا بد من تفصيله بالتفريع فنقول

Pendapat ini, meskipun terkesan jauh, adalah pendapat yang masyhur; maka harus dirinci dengan penjabaran, sehingga kami katakan:

إذا حل الأجل والحجر قائم فحق الفسخ يثبت كما ذكرناه وإن انطلق الحجر وحل الأجل والمشتري معسر فالظاهر على هذا الوجه أن يفسخ البيع من غير حاجةٍ إلى إعادة الحجر؛ فإنّ وَقْفَنا المبيع وعزلَنا إياه على انتظار حلول الأجل من أحكام الحجر فكأنّ حكمَ الحجر قائم باقٍ في حق المبيع

Jika waktu jatuh tempo telah tiba sementara status hajr (pembatasan hak) masih berlaku, maka hak untuk membatalkan akad tetap berlaku sebagaimana telah kami sebutkan. Namun, jika hajr telah dicabut dan waktu jatuh tempo tiba, sedangkan pembeli dalam keadaan tidak mampu, maka menurut pendapat yang kuat, penjualan dapat dibatalkan tanpa perlu menetapkan kembali hajr; sebab penahanan barang yang dijual dan pemisahannya untuk menunggu jatuh tempo merupakan bagian dari ketentuan hajr, sehingga seolah-olah hukum hajr masih tetap berlaku terhadap barang yang dijual tersebut.

ومن أئمتنا من قال إذا حل الأجل والعسر دائم أعدنا الحجرَ ليفسخ البائع

Dan sebagian imam kami berpendapat bahwa apabila tempo pembayaran telah jatuh tempo dan kesulitan (membayar) masih terus berlanjut, maka kami mengembalikan larangan (menjual barang tersebut) agar penjual dapat membatalkan akad.

وهذا بعيد غيرُ سديد

Ini adalah pendapat yang jauh dari kebenaran dan tidak tepat.

ومما يتصل ببيان هذه القاعدة أنا إذا كنّا لا نحكم بحلول الأجل؛ جرياً

Dan yang berkaitan dengan penjelasan kaidah ini adalah bahwa jika kita tidak memutuskan jatuh tempo; sebagaimana biasanya,

على الصحيح فلو لم يكن على المشتري إلا أثمانٌ مؤجلة ولم يكن عليه دين حال

Menurut pendapat yang paling sahih, jika pembeli hanya memiliki utang berupa harga-harga yang masih tertunda pembayarannya dan tidak memiliki utang yang sudah jatuh tempo, maka…

فلا يثبت لأصحاب الأثمان المؤجلة طلب الحجر عليه وإن فرعنا على الوجه البعيد

Maka para pemilik piutang yang jatuh temponya masih ditangguhkan tidak berhak meminta agar ia dikenai status pailit, meskipun kita berpendapat dengan pendapat yang lemah.

في عزل المبيع للبائع بالثمن المؤجل؛ فإنَّ من لا يملك طلب الثمن كيف يملك طلب

Dalam hal penjual memisahkan barang dagangan dengan harga yang ditangguhkan; maka siapa yang tidak berhak menuntut harga, bagaimana mungkin ia berhak menuntutnya?

الحجر والتفريع على بقاء الأجل وإن رأينا عزلَ المبيع وانتظارَ حلول الأجل

Pelarangan dan penetapan hukum cabang atas tetapnya tenggat waktu, meskipun menurut pendapat kami barang yang dijual dipisahkan dan menunggu sampai jatuh tempo.

فسببه ألا يصرف المبيع إلى الديون الحالة فيخيب البائع وهذا واضح لا إشكال

Maka sebabnya adalah agar barang yang dijual tidak digunakan untuk membayar utang-utang yang telah jatuh tempo sehingga penjual menjadi kecewa, dan hal ini jelas tanpa ada keraguan.

فيه

Di dalamnya.

وما ذكرناه تمام الغرض في حكم فسخ البيع على الوجه الذي فرعنا عليه

Apa yang telah kami sebutkan merupakan penjelasan lengkap mengenai hukum pembatalan jual beli sesuai dengan rincian yang telah kami uraikan.

فأما القول في المضاربة بالدين المؤجل فقد قطع الأصحاب كافة بأن صاحب الدين المؤجل لا يعزل له مقدارُ دينه؛ فإن أصحاب الديون الحالة يختصون بالتضارب في الأموال العتيدة التي جرى الحجر فيها واطرد عليها والوجه الذي حكيناه في عزل المبيع سببه على بعده تشبيه المبيع بالمرهون وهذا المعنى لا ينقدح في مؤجل لا متعلق له بعين

Adapun pembahasan tentang mudharabah dengan piutang yang masih jatuh tempo, maka seluruh ulama sepakat bahwa pemilik piutang yang masih jatuh tempo tidak dipisahkan bagian sebesar piutangnya; karena para pemilik piutang yang sudah jatuh tempo memiliki kekhususan dalam mudharabah pada harta-harta yang sudah ada, yang telah dikenakan pembatasan dan berlaku atasnya. Adapun alasan yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang pemisahan barang yang dijual, sebabnya—meskipun jauh—adalah karena menyerupakan barang yang dijual dengan barang yang digadaikan, dan makna ini tidak berlaku pada piutang yang masih jatuh tempo yang tidak terkait dengan suatu barang tertentu.

وكل ما ذكرناه تفريع على أن الأجل لا يَحِلّ فأمّا إذا قلنا بحلول الأجلِ فأصحابُ الديون المؤجَّلة يضاربون أصحاب الديون الحالة وهذه فائدة الحلول

Semua yang telah kami sebutkan merupakan cabang dari pendapat bahwa tenggat waktu belum jatuh tempo. Adapun jika kita berpendapat bahwa tenggat waktu telah jatuh tempo, maka para pemilik piutang yang berjangka ikut bersaing dengan para pemilik piutang yang sudah jatuh tempo, dan inilah manfaat dari jatuh temponya utang.

ولا يشك فقيه في أن من مات وكانت عليه ديون حالة وأخرى مؤجلة ووقع الحكم بالحلول بسبب الموت استوى في التضارب من كان دينه مؤجلاً ومن كان دينه حالاً

Tidak ada seorang pun ahli fiqh yang meragukan bahwa siapa pun yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang yang jatuh tempo dan utang yang belum jatuh tempo, lalu terjadi penetapan hukum bahwa semua utang menjadi jatuh tempo karena kematian, maka dalam hal pertentangan kepentingan, kedudukan pemilik utang yang belum jatuh tempo sama dengan pemilik utang yang sudah jatuh tempo.

ولو كان في يد المفلس مبيع وقد وقع الحكم بحلول الثمن فالمذهب أن البائع يملك فسخ البيع بسبب حلول الثمن مع الحجر

Jika di tangan orang yang pailit terdapat barang yang telah dijual dan telah ditetapkan keputusan bahwa harga telah jatuh tempo, maka menurut mazhab, penjual berhak membatalkan jual beli karena harga telah jatuh tempo bersamaan dengan adanya status pailit.

ومن أصحابنا من قال وإن حكمنا بحلول الثمن فلا يثبت حق الفسخ والسَّبب فيه أن البيع مع الأجل مبناه على انقطاع حق البائع عن المبيع بالكلية ولهذا لا يثبت للبائع حق حبس المبيع إذا كان الثمن مؤجلاً فلا ينبغي أن يتغير البيع عن وضعه وينقلب البائع إلى التعلق بالمبيع وهذا ضعيف لا أصل له؛ فإن الثمن إذا كان حالاًّ فحق الحبس يبطل بتسليم المبيع إلى المشتري طوعاً قبل استيفاء الثمن ثم يعود تعلّق البائع بالمبيع بسبب طريان الفلس؛ فالوجه إذاً القطع بأنه يثبت للبائع حق الحبس إذا فرّعنا على اقتضاء الحجر حلولَ الثمن

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa meskipun kami memutuskan jatuh tempo harga (thaman), maka hak pembatalan (fasakh) tidaklah tetap. Alasannya adalah karena jual beli dengan pembayaran tangguh (ajal) dasarnya adalah terputusnya hak penjual atas barang secara keseluruhan. Oleh karena itu, penjual tidak memiliki hak menahan barang jika harga masih ditangguhkan, sehingga tidak seharusnya akad jual beli berubah dari ketentuannya dan penjual kembali memiliki keterikatan dengan barang. Namun, pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar; sebab jika harga telah jatuh tempo, maka hak menahan barang gugur dengan penyerahan barang secara sukarela kepada pembeli sebelum menerima harga, kemudian hak penjual untuk menahan barang kembali muncul karena adanya kebangkrutan (fils). Maka, pendapat yang benar adalah menetapkan bahwa penjual berhak menahan barang jika kita berpendapat bahwa pencekalan (hajr) menyebabkan jatuh temponya harga.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً بعيداً في التفريع على وجه الحلول فقال فائدة الحكم بالحلول ألا يخيب من كان حقه مؤجّلاً وإذا كان كذلك اكتفينا بأن نعزل حقَّ من كان دينه مؤجّلاً على ما يقتضي حسابُ التضارُب ثم ننتظر حلول الأجل فكأن الأجلَ باقٍ في حق المفلسِ وإن سقط أثره في حقوق الغرماء الذين هم أصحاب الديون الحالة

Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat yang jauh dalam penjabaran berdasarkan pendapat hulul (jatuh tempo), yaitu bahwa manfaat penetapan hulul adalah agar orang yang haknya masih ditangguhkan tidak kecewa. Jika demikian, maka cukup bagi kami untuk memisahkan hak orang yang piutangnya masih ditangguhkan sesuai dengan perhitungan pertentangan (tadhārub), kemudian kami menunggu jatuh temponya. Seolah-olah tempo itu tetap berlaku bagi si muflis (orang yang pailit), meskipun pengaruhnya telah gugur terhadap hak para kreditur yang piutangnya telah jatuh tempo.

وهذا مزيّف لا أعدُّه من المذهبِ ولا يجب أن نعتقد جريان هذا الوجه الضعيف في حق الميت إذا حلت الديون عليه؛ فإنه ليس للانتظار وجهٌ في حقوق الورثة وإنما ذكر الأصحاب هذا الوجهَ في حق المفلس الحي وهو باطل حيث ذكروه

Ini adalah pendapat yang palsu, yang tidak aku anggap sebagai bagian dari mazhab, dan kita tidak wajib meyakini berlakunya pendapat lemah ini terhadap mayit jika ia memiliki utang; sebab tidak ada alasan untuk menunggu dalam hak para ahli waris. Para ulama hanya menyebutkan pendapat ini dalam kasus orang yang hidup namun bangkrut, dan itu pun batil sebagaimana mereka sebutkan.

ومما يتعلق بتمام البيان في التفريع على حلول الديون في حق المفلس أنه إذا لم يكن على الإنسان دَيْنٌ حال وإنما ديونه مؤجَّلة كلها فهل يملك أصحابها المطالبةَ بالحجر حتى لا تضيع حقوقهم فعلى وجهين أحدهما أنهم يملكون ذلك؛ فإن ديونهم تحل بالحجر فينبغي أن يملكوا طلبه

Terkait dengan penjelasan yang sempurna dalam pembahasan cabang tentang jatuh tempo utang pada hak orang yang pailit, apabila seseorang tidak memiliki utang yang telah jatuh tempo dan seluruh utangnya masih tertunda, apakah para pemilik utang tersebut berhak menuntut pemblokiran harta agar hak-hak mereka tidak hilang? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa mereka berhak menuntut hal tersebut, karena utang-utang mereka akan jatuh tempo dengan adanya pemblokiran, sehingga seharusnya mereka berhak memintanya.

والثاني لا يملكون ذلك؛ فإن طلب الحجر يتبع طلب الدين وليس ذلك ثابتاً لهم فكيف يملكون الحجرَ وطلبَه وهم لا يملكون طلبَ أصل الدّين حتى إذا تعذر مطلوبُهم توصلوا إلى استدعاء الحجر وهذا الوجه أصح وأقيس

Dan yang kedua, mereka tidak memiliki hak tersebut; sebab permintaan penetapan status tidak cakap bertindak (hajr) mengikuti permintaan utang, sementara hal itu tidak tetap bagi mereka. Maka bagaimana mereka dapat memiliki hak menetapkan hajr dan memintanya, padahal mereka tidak memiliki hak menuntut pokok utang, sehingga jika apa yang mereka tuntut tidak terpenuhi, mereka dapat berupaya meminta penetapan hajr? Pendapat ini lebih sahih dan lebih sesuai dengan qiyās.

فرع

Cabang

إذا قلنا لا يحل الأجل بالحجر فلو باع الإنسان شيئاًً بثمنٍ مؤجَّل وحل الأجل وحجر على المفلس والمبيع قائم فالمذهبُ أن البائع يملك فسخ البيع طرداً للقياس في الباب

Jika kita mengatakan bahwa jatuh tempo tidak menjadi wajib karena adanya status mahjur, maka jika seseorang menjual sesuatu dengan harga yang ditangguhkan pembayarannya, lalu waktu jatuh tempo tiba dan pembeli dinyatakan mahjur karena pailit, sementara barang yang dijual masih ada, maka menurut mazhab, penjual berhak membatalkan akad jual beli, sesuai dengan qiyās dalam permasalahan ini.

وقال بعض أصحابنا لا يملك الفسخ؛ لأن مبنى العقد على انقطاع علائق البائع عن المبيع بالكلية وهذا غير سديد

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa penjual tidak berhak melakukan pembatalan, karena dasar akad adalah terputusnya seluruh hubungan penjual dengan barang yang dijual, dan pendapat ini tidaklah tepat.

ولا خلاف أن أصحاب الديون المؤجَّلة إذا حلت حقوقُهم ملكوا طلب الحجر كما يملكه من كان أصل دينه حالاً

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa para pemilik utang yang jatuh temponya telah tiba, berhak mengajukan permohonan pencekalan (hajr) sebagaimana hak yang dimiliki oleh orang yang pokok utangnya telah jatuh tempo.

فرع

Cabang

إذا باع شيئاًً من عبدٍ بغير إذْن مولاه وفرَّعنا على الوجه الضعيف في صحة البيع فلو أراد البائع فسخَ البيع قبل حلول الأجل لم يملكه قطع به الشيخ في الشرح

Jika seseorang menjual sesuatu dari seorang budak tanpa izin tuannya, dan kita mengikuti pendapat lemah tentang sahnya jual beli tersebut, maka jika penjual ingin membatalkan jual beli sebelum jatuh tempo, ia tidak berhak melakukannya; hal ini ditegaskan oleh asy-Syaikh dalam kitab Syarh.

وإذا حل الأجل فأراد الفسخَ فقد قطع أيضاًً بأنه لا يفسخ وهذا محتمل أن يثبت له حق الفسخ كما إذا كان الثمن حالاً ولهذا قلنا يثبت حقُّ الفسخ لمن كان الثمن في بيعه مؤجَّلاً ثم يحل قبل الحجر ثم يتفق الحجر

Dan apabila jatuh tempo, lalu ia ingin melakukan fasakh, maka telah dipastikan juga bahwa ia tidak boleh melakukan fasakh. Namun, hal ini masih mungkin bahwa ia berhak melakukan fasakh, sebagaimana jika harga (barang) itu tunai. Oleh karena itu, kami katakan bahwa hak fasakh tetap ada bagi orang yang harga (barang) dalam jual belinya ditangguhkan, kemudian jatuh tempo sebelum terjadi hajr, lalu setelah itu terjadi hajr.

وإذا فرعنا على أن الثمن لا يحل بالحجر وجرينا على أنه لا يثبت للبائع حق الفسخ بأن يعزل المبيع له وحكمنا بأن المبيع مستحق الصرف إلى الديون الحالة فلو لم يتفق صرفُه إليها حتى حل الأجل في أثناء الأمر فهل يثبت له الآن حق الفسخ فيه احتمالٌ وترددٌ مترتب على ما مهدناه في نظائر ذلك

Jika kita berasumsi bahwa harga tidak menjadi wajib dengan adanya penahanan, dan kita berpegang pada pendapat bahwa penjual tidak memiliki hak untuk membatalkan dengan memisahkan barang dagangan untuk dirinya, serta kita memutuskan bahwa barang dagangan tersebut wajib dialokasikan untuk membayar utang-utang yang telah jatuh tempo, maka jika barang tersebut belum sempat dialokasikan untuk utang-utang tersebut hingga jatuh tempo di tengah-tengah proses, apakah sekarang penjual memiliki hak untuk membatalkan? Dalam hal ini terdapat kemungkinan dan keraguan yang bergantung pada apa yang telah kami jelaskan dalam kasus-kasus serupa.

فصل

Bab

قال ولو جُني عليه عمداً إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika seseorang menjadi korban kejahatan secara sengaja, hingga akhir (pembahasan).”

مضمون الفصل ذِكْرُ الجناية على المفلس وعلى عبده وذكْرُ جناية المفلس وجناية عبده

Isi bab ini adalah penjelasan tentang tindak pidana terhadap orang yang pailit dan terhadap budaknya, serta penjelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh orang yang pailit dan tindak pidana yang dilakukan oleh budaknya.

فأمَّا الجناية على المفلس فإن كانت موجبة للقصاص فله حق الاقتصاص وليس

Adapun tindak kejahatan terhadap orang yang pailit, jika kejahatan tersebut mewajibkan qishāsh, maka ia berhak menuntut qishāsh dan tidak…

للغرماء أن يكلفوه العفوَ على مالٍ ليصرف إلى حقوقهم وإن عَفا على مالٍ صُرف إلى ديونه؛ تفريعاً على الأصح في أن ما يستفيده المفلس جديداً فحكم الحجر جارٍ فيه

Para kreditur berhak meminta orang yang pailit untuk memaafkan (piutang) dengan imbalan harta agar dapat digunakan untuk memenuhi hak-hak mereka. Jika ia memaafkan dengan imbalan harta, maka harta tersebut digunakan untuk membayar utang-utangnya; ini merupakan cabang dari pendapat yang lebih sahih bahwa apa pun yang diperoleh oleh orang yang pailit setelah diputuskan pailit, maka ketentuan penyitaan tetap berlaku atasnya.

وإن عفا المفلس على غير مال فهذا يتفرع على أن موجب العمد ماذا وسيأتي شرح هذا في كتاب الجراح والفصلُ بين المفلس وبين المبذّر والسّفيه

Jika orang yang pailit memaafkan tanpa imbalan harta, maka hal ini bercabang pada pembahasan tentang apa akibat dari tindakan sengaja, dan penjelasan mengenai hal ini akan datang dalam Kitab al-Jirah, serta perbedaan antara orang yang pailit, orang yang boros, dan orang yang safih.

ولو كانت الجنايةُ موجبة للمال ابتداءً فهو مصروف إلى الديون؛ جرياً على اطراد الحجر على المال المستحدث

Jika tindak pidana tersebut sejak awal mewajibkan pembayaran harta, maka harta itu dialokasikan untuk membayar utang; mengikuti ketentuan umum bahwa harta yang baru diperoleh tetap berada dalam status mahjur (terhalang pengelolaannya).

والجناية على عبد المفلس كالجناية على المفلس نفسه فتنقسم إلى العمد وغيره

Kejahatan terhadap budak milik orang yang pailit hukumnya seperti kejahatan terhadap orang yang pailit itu sendiri, sehingga terbagi menjadi kejahatan yang disengaja dan selainnya.

وتفصيل القصاص والعفو عنه كما سبقت الإشارة إليه وإحالة الاستقصاء على كتاب الجراح

Perincian tentang qishāsh dan pemaafan terhadapnya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan penjelasan lebih lanjutnya dirujukkan kepada Kitab al-Jirāḥ.

فأما إذا جنى المفلس فلا يخفى تفصيل القصاص عليه وإن جنى جناية موجَبُها المال لم يشارك المجنيُّ عليه أصحابَ الديون في الأموال التي جرى الحجر فيها؛ فإن الأرش دينٌ جديد وليس متعلقاً بمصلحة الحجر فإن صدرت الجناية من عبد المفلس فهو من جملة الأموال الموقوفة للغرماء فلو أراد المفلس أن يفديه بعين من أعيان أمواله فهذا تصرُّفٌ منه في أعيان الأموال وقد سبق التفصيل في تصرفاته فلا حاجة إلى إعادتها والقاضي لو أراد الفداء ورأى ذلك مصلحة وغبطة نفذ ذلك منه وحق المجني عليه إذا تعلق برقبة العبد مقدم على حقوق الغرماء كما نُقدِّم حقَّ المجني عليه على حق المرتهن إذا جنى العبد المرهون

Adapun jika orang yang pailit melakukan tindak pidana, maka rincian tentang qishāsh padanya sudah jelas. Jika ia melakukan tindak pidana yang hukumannya berupa harta, maka pihak yang dirugikan tidak berbagi dengan para pemilik utang dalam harta yang telah dikenai pembekuan; karena arsy (denda) adalah utang baru dan tidak berkaitan dengan kepentingan pembekuan tersebut. Jika tindak pidana itu dilakukan oleh budak milik orang yang pailit, maka budak tersebut termasuk bagian dari harta yang ditahan untuk para kreditur. Jika orang yang pailit ingin menebusnya dengan salah satu barang miliknya, maka itu merupakan tindakan dalam harta bendanya, dan rincian tentang tindakannya telah dijelaskan sebelumnya sehingga tidak perlu diulang. Jika hakim ingin melakukan penebusan dan melihat hal itu sebagai maslahat dan keuntungan, maka tindakan tersebut sah darinya. Hak pihak yang dirugikan jika berkaitan dengan budak lebih didahulukan daripada hak para kreditur, sebagaimana hak pihak yang dirugikan lebih didahulukan daripada hak pemegang gadai jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana.

وهذا واضح وليس كالجناية على المفلس نفسه ووضوح ذلك يغني عن بسطه

Hal ini jelas dan tidak seperti tindakan melukai terhadap orang yang pailit itu sendiri, dan kejelasan hal ini sudah cukup sehingga tidak perlu diperluas penjelasannya.

فصل

Bab

قال وليس على المفلس أن يُؤاجر نفسه إلى آخره

Ia berkata, “Dan tidak wajib bagi orang yang bangkrut untuk menyewakan dirinya,” dan seterusnya.

ليس على المديون عندنا محجوراً كان أو مطلقاً أن يكتسب لأجل الدّين؛ وإن كان ممكناً منه وقال أحمد عليه ذلك وزعم أن القاضي يؤاجر المفلسَ ويصرف أجرته إلى نفسه ومعتمدنا أن الرّب تعالى قال في كتابه فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ أوجب الإنظار ولم يُلزم الاكتساب وفي إيجاب الاكتساب لأجل النفقة كلامٌ سيأتي في كتاب النفقة إن شاء الله تعالى

Menurut kami, orang yang berutang, baik yang sedang dalam status mahjur (dikenai pembatasan hukum) maupun yang bebas, tidak wajib bekerja untuk melunasi utangnya, meskipun ia mampu melakukannya. Ahmad berpendapat demikian pula, dan ia berpendapat bahwa hakim dapat mempekerjakan orang yang bangkrut dan mengalokasikan upahnya untuk dirinya sendiri. Dasar pendapat kami adalah firman Allah Ta‘ala dalam kitab-Nya: “Maka berilah tangguh sampai dia mampu membayar,” yang mewajibkan penangguhan dan tidak mewajibkan bekerja. Adapun kewajiban bekerja demi nafkah, pembahasannya akan datang dalam Kitab Nafkah, insya Allah Ta‘ala.

فإن قيل أليس روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم باع سُرَّقا في دينه وحُمل ذلك على أنه آجره؛ فإن الحر لا يباع قلنا يحتمل أنه كان عبداً فباعه في أرشٍ كان تعلق برقبتهِ

Jika dikatakan, bukankah telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah menjual seseorang yang melakukan pencurian dalam agamanya, dan hal itu dipahami sebagai beliau menyewakannya; sebab orang yang merdeka tidak boleh dijual. Kami katakan, mungkin saja orang tersebut adalah seorang budak, lalu beliau menjualnya untuk membayar diyat yang terkait dengan dirinya.

ولو كان للمفلس أم ولد فهل يؤاجرها القاضي ليصرف أجرتها إلى الديون فعلى وجهين أحدهما يفعل ذلك؛ فإن منافعها مالٌ فلئن تعذر بيعها فلا تعذر في صرف منافعها إلى الدين والثاني لا يفعل ذلك؛ فإنّ المنافع ليست أموالاً عتيدة موجودة ولو كانت بمثابة الأموال الموجودة لوجب إجارةُ المفلس من نفسه

Jika seorang yang bangkrut memiliki umm walad, apakah hakim boleh menyewakannya agar upah sewanya digunakan untuk membayar utang? Ada dua pendapat. Pendapat pertama, hakim boleh melakukannya, karena manfaatnya adalah harta; jika penjualannya tidak memungkinkan, maka tidak ada halangan untuk menggunakan manfaatnya untuk membayar utang. Pendapat kedua, hakim tidak boleh melakukannya, karena manfaat bukanlah harta yang nyata dan tersedia; jika manfaat itu setara dengan harta yang ada, maka seharusnya orang yang bangkrut juga disewakan dari dirinya sendiri.

واختلف الأئمة فيه أيضاً إذا كان على المفلس وقفٌ وأمكن إجارته هل يجب ذلك وصرفُ الأجرة إلى الديون فيه الخلاف الذي ذكرناه في أم الولد ثم إن لم نوجب الإجارةَ فلا كلام وإن أوجبناها فالوجه أن نوالي بين المُدد في الإجارة إلى الوفاء بالديون؛ فإن المنافع لا نهاية لها وليست كالأموال العتيدة التي تعنى بالصرف إلى الديون

Para imam juga berbeda pendapat dalam hal ini, apabila seorang yang bangkrut memiliki harta wakaf dan memungkinkan untuk disewakan, apakah wajib melakukannya dan hasil sewanya digunakan untuk membayar utang; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan pada kasus umm al-walad. Kemudian, jika kita tidak mewajibkan penyewaan, maka tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita mewajibkannya, maka yang tepat adalah memperpanjang masa sewa secara berkesinambungan hingga utang-utang terlunasi; sebab manfaat (dari wakaf) tidak memiliki batas akhir dan tidak seperti harta tunai yang memang diperuntukkan untuk membayar utang.

فإذا كان كذلك فيلزم من قياس هذا أن يدوم الحجر إلى أداء الديون من جهة الإجارة وهذا فيه بُعد لا يخفى مُدركه على الفقيه

Jika demikian, maka konsekuensi dari qiyās ini adalah bahwa status hajr (pembatasan hak) akan terus berlaku hingga pelunasan utang dari hasil ijārah (sewa-menyewa), dan hal ini merupakan sesuatu yang jelas memiliki kelemahan yang tidak samar bagi seorang faqih.

فصل

Bab

قال ويترك له من ماله ما لا غِنى به عنه إلى آخره

Ia berkata: “Dan dibiarkan untuknya dari hartanya apa yang tidak bisa ia tinggalkan (kebutuhan pokok) hingga akhir.”

الحاكم قبل تفرقة مال المفلس ينفق عليه وعلى من تلزمه نفقته من زوجاته وأقاربه الذين يستحقون إنفاقه عليهم فإن قيل النفقة على المفلس بيّنة فما سبب الإنفاق على غيره والمال موقوفٌ بسبب الديون قلنا النفقة في ترتيب المعاملة مقدمة على أداء الديون في كل يوم وأمواله بنفقاته أولى منه بديونه والإشكال في نفقة الأقارب وكان لا يمتنع أن يُلحق في حقوقهم بالفقير الذي لا مال له ولكن أجمع الأصحاب على ما ذكرناه فليثق الطالب بما نقلناه

Sebelum harta orang yang pailit dibagi-bagikan, hakim memberikan nafkah kepadanya dan kepada orang-orang yang wajib ia nafkahi, seperti istri-istrinya dan kerabat-kerabatnya yang berhak menerima nafkah darinya. Jika ada yang bertanya, “Nafkah untuk orang yang pailit itu jelas, tetapi apa alasan memberikan nafkah kepada selainnya, padahal hartanya sedang ditahan karena utang-utang?” Kami katakan, nafkah dalam urutan perlakuan didahulukan atas pelunasan utang setiap harinya, dan hartanya untuk nafkah lebih utama daripada untuk membayar utang. Permasalahan muncul pada nafkah kerabat, dan sebenarnya tidak mustahil jika hak mereka disamakan dengan orang fakir yang tidak memiliki harta. Namun, para sahabat (ulama mazhab) telah berijmā‘ atas apa yang kami sebutkan, maka hendaklah penuntut ilmu percaya pada apa yang kami sampaikan.

ولو كان عليه دينٌ وقد رهن به مالاً لا يملك غيره لا ينفق عليه ولا على أهله وأولاده منه؛ فإن المرهون خارجٌ عن حكم تصرفه إلى الفكاك والأموالُ باقية على حق المحجور ولكنه بالحجر محمولٌ على أن يبتدر إلى صرفها إلى ديونه ثم القاضي يجري فيها على ما كان يجري المديون لو لم يكن محجوراً عليه

Jika seseorang memiliki utang dan telah menggadaikan harta yang ia miliki—dan ia tidak memiliki harta lain selain itu—maka ia tidak boleh menggunakan harta tersebut untuk menafkahi dirinya, keluarganya, atau anak-anaknya; karena harta yang digadaikan telah keluar dari wewenang pemilikannya hingga dilunasi, sedangkan harta-harta lainnya tetap berada dalam hak orang yang dikenai pembatasan (mahjūr). Namun, dengan adanya pembatasan tersebut, ia didorong untuk segera mengalokasikan harta itu untuk membayar utangnya, kemudian hakim akan memperlakukan harta tersebut sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap harta orang berutang jika ia tidak dikenai pembatasan.

وفي القلب من نفقة الأقارب مخالجةٌ ظاهرة ولكن المذهب نقلٌ ونحن لا نذكر وجهاً إلا عن نقل صريح أو أخذٍ من رمز وفحوى في كلام الأصحاب ولم أر فيما حكيته شيئاًً

Dalam hati terdapat keraguan yang jelas mengenai nafkah kerabat, namun mazhab ini berdasarkan riwayat. Kami tidak menyebutkan suatu pendapat kecuali berdasarkan riwayat yang jelas atau pengambilan dari isyarat dan makna dalam perkataan para ashhab, dan aku tidak melihat dalam apa yang aku sebutkan sesuatu pun.

ثم لا شكَّ أن نفقته نفقةُ المعسرين

Kemudian tidak diragukan lagi bahwa nafkahnya adalah nafkah orang-orang yang dalam keadaan sulit.

وإذا فضّ القاضي أموالَه على ديونه فلا شكّ أنه يُبقي له نفقةَ اليوم الذي يتفق التفريق فيه قال الأصحاب يُبقي أيضاً نفقة زوجاته وأقاربه في ذلك اليوم كما تقدم ولا مزيد على نفقة ذلك اليوم؛ فإنه لا ضبط بعده يقف عنده

Jika hakim telah membagikan hartanya untuk melunasi utangnya, tidak diragukan lagi bahwa ia tetap menyisakan nafkah untuk hari di mana pembagian itu dilakukan. Para ulama menyatakan bahwa ia juga menyisakan nafkah untuk istri-istrinya dan kerabatnya pada hari itu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan tidak ada tambahan selain nafkah untuk hari tersebut; karena setelah itu tidak ada batasan yang dapat dijadikan patokan.

ثم قال يُبقي له دستَ ثوبٍ من ماله والأمر على ما ذكره؛ فإنه لا سبيل إلى تركه عارياً ولا خلاف أنا لا نكتفي بما يستر عورته بل نرعَى ستراً لا يخرم مروءته ويختلف ذلك باختلاف الدّرجات فإن كان الرجل من العلماء فقد قال كثير من الأئمة يُبقي له دَسْتَ ثوب ومن جملته طيلسان وخُفّ ولي في الخف والطيلسان نظرٌ؛ فإنهما معدودان وراء الاقتصاد وليس في تركهما خرمٌ للمروءة والمتبع أن لا تنخرم مروءته ولا شك أنا لا نبقي له دستَ ثوب يليق بحاله في بسطته وثروته ولكن ليكن ما نُبقيه لائقاً بحالته وإن كان الرجل سوقياً نبُقي له دستَ ثوب يليق بحاله وإن كان أتونياً نبُقي له أطماراً لائقةً به وإن كان في انبساطه تزيّدٌ في التجمل على ما يليق برتبته فنرده في إفلاسه إلى ما يليق بمنزلته ولا يُعتبر مجاوزتُه حدَّ الاعتدال اللائق بحاله ولو كان في ثروته يلبس الخسيس من الثيابِ وكان يُعدّ مقتراً على نفسه فإن أفلس رضينا له بما كان يرضى به في ثروته؛ فإنا لا نزيده في حالة الإفلاس على ما كان عليه قبله نعم لا نقول بحطه عما كان يعتاده من الخسيس بسبب إفلاسه كما قد نفعل ذلك في حق المقتصد

Kemudian dikatakan, disisakan untuknya satu stel pakaian dari hartanya, dan perkara ini sebagaimana yang telah disebutkan; sebab tidak mungkin membiarkannya dalam keadaan telanjang, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa kita tidak cukup hanya dengan pakaian yang menutupi auratnya, melainkan kita juga memperhatikan penutup yang tidak merusak martabatnya, dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan tingkatan masing-masing. Jika orang tersebut adalah seorang ulama, banyak imam yang berpendapat bahwa disisakan untuknya satu stel pakaian, termasuk di dalamnya jilbab dan sepatu kulit. Namun, menurut saya, dalam hal sepatu kulit dan jilbab masih perlu dipertimbangkan; karena keduanya termasuk di luar batas kebutuhan pokok, dan meninggalkannya tidak merusak martabat. Yang menjadi pegangan adalah martabatnya tidak boleh rusak. Tidak diragukan lagi, kita tidak menyisakan untuknya satu stel pakaian yang sesuai dengan keadaannya saat lapang dan kaya, tetapi hendaknya apa yang kita sisakan itu sesuai dengan kondisinya. Jika orang tersebut adalah seorang pedagang, kita sisakan untuknya satu stel pakaian yang sesuai dengan keadaannya. Jika dia seorang tukang pembakar batu, kita sisakan untuknya pakaian compang-camping yang sesuai dengannya. Jika dalam kelapangannya ia berlebihan dalam berhias melebihi yang layak untuk kedudukannya, maka ketika ia bangkrut, kita kembalikan pada apa yang layak untuk posisinya, dan tidak diperhitungkan jika ia telah melampaui batas kewajaran yang sesuai dengan keadaannya. Jika dalam kekayaannya ia memakai pakaian yang sederhana dan dianggap berhemat terhadap dirinya sendiri, maka jika ia bangkrut, kita cukupkan dengan apa yang biasa ia pakai saat kaya; sebab kita tidak menambahkannya dalam keadaan bangkrut dari apa yang biasa ia pakai sebelumnya. Namun, kita juga tidak mengatakan untuk menurunkannya dari kebiasaan memakai pakaian sederhana hanya karena ia bangkrut, sebagaimana yang mungkin kita lakukan terhadap orang yang hidupnya sedang-sedang saja.

فليفهم الناظر ذلك

Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami hal itu.

وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث منجيات وثلاث مهلكات فالمنجيات القصدُ في الغنى والفقر والعدل في الرضا والغضب وذكر الله تعالى على كل حال والمهلكات شح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan. Adapun yang menyelamatkan adalah bersikap pertengahan dalam kaya dan miskin, berlaku adil dalam keadaan ridha maupun marah, dan senantiasa mengingat Allah Ta‘ala dalam segala keadaan. Sedangkan yang membinasakan adalah sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

ويعطيه في الصيف ما يليق به وإن اتفق تفريق ماله في الشتاء أعطيناه ما يليق بالشتاء ولا يجمع له بين كسوتي فصلين

Dan diberikan kepadanya pada musim panas pakaian yang sesuai baginya, dan jika pembagian hartanya terjadi pada musim dingin, maka diberikan kepadanya pakaian yang sesuai untuk musim dingin, dan tidak dikumpulkan baginya pakaian untuk dua musim sekaligus.

ولو مات المفلس بدَأْنا بكفنه ومؤنة دفنه وفي القدر الذي يكفن به خلافٌ ذكرناه في كتاب الجنائز ونحن نرمز إليه لغرضٍ لنا في فقه هذا الفصل

Jika seorang yang pailit meninggal dunia, maka kita mulai dengan mengurus kain kafannya dan biaya pemakamannya. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah kain kafan yang digunakan, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab Jenazah. Kami menyinggung hal ini untuk tujuan tertentu yang berkaitan dengan fiqh pada pembahasan ini.

قال أبو إسحاق المروزي إذا مات المفلس اكتفينا بستر عورته بخرقة وهذا مأخوذ عليه واختلف أصحابنا في تزييف هذا المذهب على وجهين أحدهما أنه يكفن في ثوب واحد يواريه؛ فإن الغرض المواراة بالكفن وقضاء دينه أهم من تكفينه في ثلاثة أثواب

Abu Ishaq al-Marwazi berkata: Jika seorang yang bangkrut meninggal dunia, maka cukup baginya ditutupi auratnya dengan sehelai kain. Pendapat ini dipegang olehnya. Para ulama kami berbeda pendapat dalam membantah mazhab ini menjadi dua pendapat: Pertama, ia dikafani dengan satu kain yang menutupi tubuhnya, karena tujuan dari kafan adalah menutupi jenazah, dan membayar utangnya lebih penting daripada mengafani dengan tiga helai kain.

والوجه الثاني أنه يكفن في ثلاثة أثواب إقامةً لشعار الدين في إكرام جثة المسلم

Alasan kedua adalah bahwa jenazah dikafani dengan tiga helai kain sebagai bentuk penegakan syiar agama dalam memuliakan jasad seorang muslim.

والغرض ممّا ذكرناه أن الأصحاب فرقوا بين الكفن وبين ما نبقيه للمفلس من دست ثوب؛ إذ أجمعوا على أن الثوب الواحد لا يكتفى به في حق الحي وفي الاكتفاء بالثوب الواحد الساتر الخلافُ الذي ذكرناه والفرق أن الحي يراعَى فيه ما يُبقي عليه رتبتَه ومروءتَه والميت وإن شُرع إكرامُه فإلى البلى مصيره فليعرف الناظر قصدَ الأصحاب في الفرق بين الباب والباب

Tujuan dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa para ulama membedakan antara kain kafan dan pakaian yang kami sisakan untuk orang yang bangkrut berupa sehelai pakaian; sebab mereka sepakat bahwa satu helai pakaian saja tidak cukup bagi orang yang masih hidup, dan dalam hal mencukupkan dengan satu helai pakaian yang menutupi aurat terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan. Perbedaannya adalah bahwa pada orang yang masih hidup, harus diperhatikan hal yang menjaga martabat dan kehormatannya, sedangkan jenazah, meskipun disyariatkan untuk dimuliakan, pada akhirnya akan menuju kehancuran. Maka hendaknya orang yang memperhatikan masalah ini memahami maksud para ulama dalam membedakan antara satu bab dan bab yang lain.

ولو مات عبده أو قريبه الذي يمونه فالكفن من المال العتيد كالنفقات الدارّة

Jika budaknya atau kerabatnya yang ia nafkahi meninggal dunia, maka kain kafan diambil dari harta yang tersedia, sebagaimana nafkah yang terus-menerus diberikan.

والقول في تكفين هؤلاء كالقول في تكفين المفلس نفسه

Pendapat mengenai mengafani orang-orang ini sama seperti pendapat mengenai mengafani orang yang bangkrut itu sendiri.

ولو ماتت زوجةُ المطلِّق الموسر ففي وجوب تكفينها على الزوج وجهان مشهوران ذكرناهما وإن كان الزوج مفلساً ففي وجوب التكفين الخلافُ الذي ذكرناه ولا معنى لتخيل الترتيب؛ فإن كل مؤنة لا يشترط فيها اليسار مُخْرجة من مال المفلس بسبب الذين يمونُهم المفلس

Jika istri dari suami yang menceraikan dan mampu secara finansial meninggal dunia, maka terdapat dua pendapat yang masyhur mengenai kewajiban suami untuk menanggung biaya kafan, sebagaimana telah kami sebutkan. Jika suami dalam keadaan bangkrut, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai kewajiban menanggung biaya kafan sebagaimana telah kami jelaskan. Tidak ada alasan untuk membayangkan adanya urutan (dalam hal ini); sebab setiap nafkah yang tidak disyaratkan adanya kemampuan finansial, dikeluarkan dari harta orang yang bangkrut karena orang-orang yang menjadi tanggungannya.

وممّا يتعلق بتمام البيان في الفصل أن المفلس لو كان مخدوماً وكان أَلِف غلاماً يخدمه فالمنصوص عليه أنه يباع في الدين ونص في الكفارة على أن ذلك العبد غيرُ محسوب على من عليه الكفارة ولا يلزمه صرفه إليها واختلف أصحابنا فمنهم من جعل في المسألتين قولين نقلاً وتخريجاً والمذهب تقرير النصين والفرق من وجهين أحدهما أن العتق في الكفارة حق الله تعالى وحقوق الله تعالى مبناها على المسامحة ومبنى حقوق الآدميين على الضيق

Termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan sempurna dalam bab ini adalah bahwa jika seseorang yang bangkrut memiliki seorang pelayan dan ia telah terbiasa dengan seorang budak yang melayaninya, maka menurut nash (teks) yang ada, budak tersebut dijual untuk membayar utang. Dalam masalah kafarat, dinyatakan bahwa budak tersebut tidak dihitung sebagai bagian dari orang yang wajib membayar kafarat dan tidak wajib baginya untuk mengalokasikan budak itu untuk kafarat. Para ulama kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka menyatakan bahwa dalam dua permasalahan ini terdapat dua pendapat, baik secara riwayat maupun istinbath. Namun, mazhab yang dipegang adalah menegaskan kedua nash tersebut, dan perbedaannya dari dua sisi: pertama, bahwa pembebasan budak dalam kafarat adalah hak Allah Ta‘ala, sedangkan hak-hak Allah Ta‘ala didasarkan pada kemurahan, sedangkan hak-hak manusia didasarkan pada ketatnya aturan.

والثاني أن العتق له بدل في الكفارة ينتقل إليه ولا بدل للدّين

Kedua, bahwa pembebasan budak dalam kafarat memiliki pengganti yang dapat dialihkan kepadanya, sedangkan utang tidak memiliki pengganti.

هذا قولنا في الخادم ثم إن رأينا إبقاءه فليكن قريبَ القيمة لائقاً بأحوال المعسرين

Inilah pendapat kami mengenai budak pelayan. Kemudian, jika kita memandang perlu untuk mempertahankannya, maka hendaklah ia bernilai mendekati harga pasar dan sesuai dengan kondisi orang-orang yang mengalami kesulitan.

ولو لم يكن له خادم وكان ممن يُخدم فهل نشتري له خادماً كما نشتري له دستَ ثوب إن لم نصادفه فعلى وجهين والأصح أنا نشتريه إن فرّعنا على هذا الوجه الضعيف فظاهر المذهب أنا لا نبقي له خادماً بل نصرفه إلى الديون

Jika ia tidak memiliki pembantu, padahal termasuk orang yang biasa dilayani pembantu, apakah kita membelikan pembantu untuknya sebagaimana kita membelikan satu set pakaian jika tidak menemukannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih adalah kita membelikannya. Jika kita mengikuti pendapat yang lemah ini, maka menurut madzhab yang tampak, kita tidak membiarkan pembantu tetap untuknya, melainkan kita alihkan untuk membayar utang.

فأما المسكن فهو أحق من الخادم إذا كان لائقاً بالحال ولم يكن رفيع القيمة وإبقاءُ المسكن أولى من إبقاء الخادم على كل حال سيّما إذا كان الرجل ضعيفاً ذا عيلةٍ وذِكْرُ الخلاف في إبقاء المسكن للمفلس أقربُ من ذكره في إبقاء الخادم لما أشرنا إليه من الفرق بينهما في حكم الحاجة وذكر الخلاف على طريق النقل في احتساب المسكن على من لزمته الكفارة المرتبة أبعدُ من تقدير النقل في الخادم

Adapun tempat tinggal, maka ia lebih berhak dipertahankan daripada pembantu jika sesuai dengan keadaan dan tidak bernilai terlalu tinggi. Mempertahankan tempat tinggal lebih utama daripada mempertahankan pembantu dalam segala keadaan, terutama jika laki-laki tersebut lemah dan memiliki tanggungan keluarga. Pembahasan tentang perbedaan pendapat dalam mempertahankan tempat tinggal bagi orang yang pailit lebih dekat untuk disebutkan dibandingkan dengan pembahasan dalam mempertahankan pembantu, sebagaimana telah kami isyaratkan tentang perbedaan antara keduanya dalam hukum kebutuhan. Menyebutkan perbedaan pendapat secara riwayat dalam memperhitungkan tempat tinggal bagi orang yang wajib menunaikan kafarat yang berurutan lebih jauh dibandingkan memperhitungkan pembantu.

وإذا أردنا جمع مقتضى ما أشرنا إليه من الفرق بين الخادم والمسكن في حق المفلس فالصيغة المشعرة بالمقصود أن نقول في الخادم والمسكن في حق المفلس ثلاثةُ أوجهٍ أحدها أنهما لا يبقيان له والثاني أنهما يبقيان والثالث أنه يبقى المسكن دون الخادم ومهما أبقينا له شيئاًً مما ذكرناه اشترينا له إن لم نجده كدأبنا في الثياب

Jika kita ingin merangkum inti dari apa yang telah kami singgung mengenai perbedaan antara pembantu dan tempat tinggal bagi orang yang pailit, maka rumusan yang menunjukkan maksudnya adalah: dalam hal pembantu dan tempat tinggal bagi orang yang pailit terdapat tiga pendapat. Pertama, keduanya tidak tetap menjadi miliknya; kedua, keduanya tetap menjadi miliknya; dan ketiga, tempat tinggal tetap menjadi miliknya sedangkan pembantu tidak. Dan kapan pun kita menetapkan sesuatu dari yang telah disebutkan untuknya, maka kita membelikannya jika tidak kita temukan, sebagaimana kebiasaan kita dalam hal pakaian.

فصل

Bab

قال وإن أقام شاهداً واحداً على رجل بحق ولم يحلف مع شاهده إلى آخره

Ia berkata: Jika seseorang menghadirkan satu orang saksi atas seseorang terkait suatu hak, namun ia tidak bersumpah bersama saksinya hingga akhir (proses), …

قد سبق منا تمهيد هذا الأصل ولكنا نعيد تنبيهنا عليه للجريانِ على الترتيب فالذي نص عليه الشافعي أن المفلس لو ادّعى ديناً على إنسان وأقام شاهداً واحداً وامتنع عن الحلف معه؛ فأراد الغرماء أن يحلفوا مع شاهده لم يكن لهم ذلك

Kami telah menjelaskan prinsip ini sebelumnya, namun kami mengingatkannya kembali demi menjaga urutan. Imam Syafi‘i menegaskan bahwa jika seorang yang pailit mengaku memiliki piutang pada seseorang dan menghadirkan satu orang saksi, lalu ia enggan bersumpah bersama saksi tersebut, maka jika para kreditur ingin bersumpah bersama saksi itu, mereka tidak berhak melakukannya.

وقال الشافعي لو أقام الوارث شاهداً واحداً على رجل بدين للميت ولم يحلف معه فأراد غرماء التركة أن يحلفوا لم يكن لهم كما ذكرناه في المفلس

Imam Syafi’i berkata: Jika ahli waris menghadirkan satu orang saksi atas seseorang yang berutang kepada mayit, namun ia tidak bersumpah bersamanya, lalu para kreditur harta warisan ingin bersumpah, maka mereka tidak berhak melakukannya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam kasus orang yang pailit.

هذا نصه في الجديد ونص في القديم على قولين في مسألة الوارث أحدهما أن الغرماء يحلفون والثاني أنهم لا يحلفون

Ini adalah teksnya dalam kitab al-Jadid, dan terdapat teks dalam kitab al-Qadim mengenai dua pendapat dalam masalah ahli waris: salah satunya bahwa para kreditur bersumpah, dan yang kedua bahwa mereka tidak bersumpah.

فمن أصحابنا من ذكر في غرماء المفلس قولاً بنقل الجواب عن غرماء التركة أنهم يحلفون إذا لم يحلف المفلس والصحيح الفرقُ بين المسألتين وقَطْعُ القول بأن غرماء المفلس لا يحلفون؛ فإن المفلس صاحبُ الواقعة وقد ادّعى الدين لنفسه فإذا امتنع عن اليمين من ادعى الحق لنفسه بعُد تحليف غيره والدين في مسألة الوارث يُدّعى للميت فكان حَلِفُ الغريم أقربَ إذا فرض نكول الوارث

Sebagian ulama dari kalangan kami menyebutkan dalam permasalahan para kreditur orang yang pailit suatu pendapat dengan menukil jawaban dari permasalahan para kreditur harta warisan, yaitu bahwa mereka bersumpah jika orang yang pailit tidak bersumpah. Namun pendapat yang benar adalah membedakan antara kedua permasalahan tersebut dan menetapkan bahwa para kreditur orang yang pailit tidak bersumpah; sebab orang yang pailit adalah pemilik perkara dan ia sendiri yang mengaku memiliki utang tersebut. Maka jika orang yang mengaku hak itu untuk dirinya sendiri enggan bersumpah, sangat tidak tepat untuk meminta orang lain bersumpah. Adapun utang dalam permasalahan ahli waris, diakui untuk mayit, sehingga sumpah kreditur lebih layak jika ahli waris menolak bersumpah.

ومما يخرّج على ما ذكرناه أنه لو لم يُقم المفلسُ والوارث شاهداً ولكنهما ادّعيا فحلَّفنا المدعى عليه فنكل عن اليمين واقتضى الحال ردّ اليمين على المدعي فنكل المدعي فهل يحلف الغريم يمين الرد ترتيب المذهب فيه كترتيب المذهب في اليمين مع الشاهد

Dan termasuk yang dapat dianalogikan dengan apa yang telah kami sebutkan adalah jika orang yang pailit dan ahli waris tidak menghadirkan saksi, namun keduanya mengajukan klaim, lalu kami meminta terdakwa bersumpah, namun ia enggan bersumpah, sehingga keadaan menuntut agar sumpah dikembalikan kepada penggugat, lalu penggugat pun enggan bersumpah. Maka, apakah pihak yang dituntut bersumpah dengan sumpah pengembalian? Urutan pendapat mazhab dalam hal ini sama dengan urutan pendapat mazhab dalam sumpah bersama saksi.

ولو ادعى الراهن أنه استولد الجارية المرهونة بإذن المرتهن والتفريع على أن الاستيلاد لا يثبت دون إذنه فإذا أنكر المرتهن الإذنَ وحلّفناه فنكل فإن حلف الراهن ثبت ما يبغيه وإن نكل فأرادت الجارية أن تحلف كان لها ذلك نصَّ عليه في الجديدِ والقديمِ قاطعاً جوابه والفرق بينها وبين الغريم في المفلس والوارث ظاهر وذلك أنها صاحبة حق في تأكد حق الحرية لها وهذا في حكم حق ثبت ناجزاً من غير تقدير توصل إليه بخلاف الغريم؛ فإن الدين لو ثبت لم يكن حقاً له ولكنه قد يصير إليه بطريقِ الصرف

Jika pihak yang menggadaikan (rahin) mengklaim bahwa ia telah menjadikan budak perempuan yang digadaikan sebagai ummul walad dengan izin pihak penerima gadai (murtahin), dan menurut pendapat yang menyatakan bahwa status ummul walad tidak dapat ditetapkan tanpa izin murtahin, lalu murtahin mengingkari telah memberikan izin dan kita meminta sumpah darinya, namun ia menolak bersumpah, maka jika rahin bersumpah, apa yang ia inginkan menjadi tetap. Namun jika rahin juga menolak bersumpah, lalu budak perempuan itu ingin bersumpah, maka ia berhak melakukannya. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam pendapat baru dan lama, dengan jawaban yang pasti. Perbedaan antara kasus ini dengan kasus kreditur dalam perkara pailit dan ahli waris sangat jelas, karena budak perempuan tersebut adalah pemilik hak dalam penguatan hak kemerdekaan baginya. Ini termasuk dalam kategori hak yang telah tetap secara langsung tanpa perlu upaya untuk mendapatkannya, berbeda dengan kreditur; sebab jika utang itu terbukti pun, itu belum menjadi haknya, namun bisa saja menjadi haknya melalui proses pengalihan.

وممّا يجب أن يُعتنى به أن الأصحاب وإن ذكروا خلافاً في حِلْف الغريم قالوا لو لم يدّع المفلس والوارث لم يكن للغريم أن يدعي في المسألتين ابتداءً وإنما التردد فيه إذا سبقت الدعوى من الوارث والمفلس وأفضى الأمرُ إلى الحلف كما ذكرناه

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa para ulama mazhab, meskipun menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam sumpah pihak yang berpiutang, mengatakan bahwa jika orang yang pailit dan ahli waris tidak mengajukan gugatan, maka pihak yang berpiutang tidak berhak mengajukan gugatan dalam kedua permasalahan tersebut sejak awal. Adapun keraguan dalam hal ini hanya terjadi jika gugatan telah diajukan terlebih dahulu oleh ahli waris atau orang yang pailit, sehingga perkara tersebut berujung pada sumpah, sebagaimana telah kami sebutkan.

وكان شيخي يصرح بنقل الخلاف في أن الغريم هل يبتدىء الدعوى ويقول الحلف تِلْوُ الدعوى فمن ملكه لم يمتنع أن يملك الدعوى وهذا وإن كان قريباً في المعنى فلم أره إلا له

Guru saya secara tegas menyampaikan adanya perbedaan pendapat tentang apakah pihak yang berpiutang (gharim) memulai gugatan dan mengatakan bahwa sumpah dilakukan setelah gugatan; maka siapa yang memiliki sumpah tidak mustahil juga memiliki hak untuk menggugat. Meskipun pendapat ini secara makna cukup dekat, saya tidak pernah melihatnya kecuali berasal darinya.

وقطع الأصحاب القول بأن الدعوى ممتنعة وإنما ذكروا الخلاف في الحلف إذا سبقت الدعوى من المفلس والوارث

Para ulama terkemuka telah menetapkan bahwa gugatan tidak dapat diajukan, dan mereka hanya menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai sumpah apabila gugatan telah lebih dahulu diajukan oleh orang yang pailit atau ahli waris.

والمستولدة إذا ادعت عُلقةَ الاستيلاد والرّقُ بعدُ مستمر عليها نُظر فإن ادعته والمولى يبغي بيعها فحاولت دفعَ ذلك فالوجه قبول دعواها وإن كان المولى لا يتعرض لبيعها ففي قبول دعواها على الابتداء والمولى صامتٌ غير متعرض تردّدٌ ظاهر واحتمال بيّنٌ مأخوذ من فحوى كلام الأئمة

Budak perempuan yang telah diistilahkan sebagai mustauladah, jika ia mengaku memiliki hubungan sebagai mustauladah sementara status perbudakan masih tetap melekat padanya, maka hal ini perlu diteliti. Jika ia mengakuinya sementara tuannya berniat menjualnya dan ia berusaha mencegah hal itu, maka pendapat yang kuat adalah menerima pengakuannya. Namun, jika tuannya tidak berniat menjualnya, maka dalam hal menerima pengakuannya sejak awal, sementara tuannya diam dan tidak melakukan apa-apa, terdapat keraguan yang jelas dan kemungkinan yang nyata, yang diambil dari makna perkataan para imam.

ومما يتعلق بتتمة الكلام في الفصل أن رجلاً لو ادّعى على المفلس ديناً فإن أقر به ففي قبول إقراره وردّه الخلافُ الذي تقدم ذكره في تصرفات المفلس وإن أنكر كان إنكاره مقبولاً على معنى أنه يبتدىء عليه تحليفه فإن حلف انقطعت الخصومة إذا لم تكن بيّنة وإن نكل فهل تردّ اليمين على المدعي قال الأئمة هذا يخرّج على أن يمين الرد بمنزلة البينة في الخصومة أو بمنزلة إقرار المدعى عليه فإن قلنا إنها كالبينة حلّفنا المدعي يمين الرد وقضينا بثبوت الدعوى وإن قلنا إنها كالإقرار ورأينا التفريع على ردّ إقرار المفلس فلا تُثبت يمين الردِّ حقَّ المدعي حتى يثبت له مضاربةُ الغرماء

Adapun yang berkaitan dengan kelanjutan pembahasan dalam bab ini, jika seseorang mengklaim adanya utang pada orang yang pailit, lalu orang pailit itu mengakuinya, maka dalam hal diterima atau ditolaknya pengakuan tersebut terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya mengenai tindakan-tindakan orang pailit. Jika orang pailit mengingkari, maka pengingkarannya diterima dalam arti bahwa ia harus terlebih dahulu disumpah. Jika ia bersumpah, maka perselisihan pun selesai selama tidak ada bukti. Namun jika ia enggan bersumpah, apakah sumpah itu kemudian dialihkan kepada penggugat? Para imam mengatakan bahwa hal ini dikembalikan pada apakah sumpah pengganti itu diposisikan seperti bukti dalam perselisihan, atau seperti pengakuan dari pihak tergugat. Jika kita mengatakan bahwa sumpah pengganti itu seperti bukti, maka kita menyuruh penggugat bersumpah dan memutuskan kebenaran gugatan. Namun jika kita mengatakan bahwa sumpah itu seperti pengakuan, dan kita berpendapat untuk menolak pengakuan orang pailit, maka sumpah pengganti tidak menetapkan hak bagi penggugat sampai ia membuktikan adanya mudārabah para kreditur.

وصورة يمين الرد تجري بلا خلاف وإنما الكلام في تعلق حق المضاربة ناجزاً فإنا وإن رددنا إقراره في حق الغرماء في الحالة الراهنة لم نختلف في ثبوت موجَب إقراره في حق المفلس نفسه حتى يطالَب به إذا انطلق الحجر عنه وإذا كان كذلك فإجراء صورة يمين الرد تخرج على ما مهدناه من ثبوت حكم إقراره على الجملة

Bentuk sumpah balasan berlangsung tanpa ada perbedaan pendapat, hanya saja pembahasan terletak pada keterkaitan hak mudharabah yang bersifat langsung. Sebab, meskipun kita menolak pengakuannya terhadap hak para kreditur pada keadaan saat ini, kita tidak berbeda pendapat mengenai tetapnya konsekuensi dari pengakuannya itu terhadap si pailit sendiri, sehingga ia dapat dituntut ketika status pencekalan telah dicabut darinya. Jika demikian, maka pelaksanaan bentuk sumpah balasan didasarkan pada apa yang telah kami jelaskan tentang tetapnya hukum pengakuannya secara umum.

فرع

Cabang

نص الشافعي على أن الرَّجل لو كان وَهَب شيئاًً في حالة الإطلاق ثم أفلس وحجر عليه فأثابه المتهب ما هو أكبر قيمةً من الموهوب لم يلزمه القبول في حالة الحجر وإن أثابه ما هو أقل قيمة من الموهوب فله الرضا وهذا يبتني على أصلٍ سنشرحه في الهبات إن شاء الله تعالى

Asy-Syafi‘i menegaskan bahwa jika seseorang memberikan hibah secara mutlak, kemudian ia jatuh pailit dan dikenakan pembatasan (hajr), lalu penerima hibah memberikan balasan yang nilainya lebih besar dari barang yang dihibahkan, maka orang yang jatuh pailit itu tidak wajib menerima balasan tersebut pada saat ia sedang dalam status hajr. Namun, jika balasan yang diberikan nilainya lebih kecil dari barang yang dihibahkan, maka ia boleh menerimanya. Hal ini didasarkan pada suatu prinsip yang akan dijelaskan dalam pembahasan tentang hibah, insya Allah Ta‘ala.

والوجه في النص في الهبة المطلقة والتفريعُ على أنها تقتضي الثواب ثم إذا جرينا على هذا ففي مقدار الثواب خلافٌ وتفصيلٌ طويل فإن قلنا الهبة المطلقة تقتضي المثلَ في الثواب من جهة المالية والقيمة فلا يجوز أن يرضى المفلس بما هو أقل من ذلك؛ فإن المثل عِوض مستحق نعم لا يلزمه قبول الزائد على مقدار المثل

Adapun dasar penetapan hukum dalam hibah mutlak dan rincian bahwa hibah tersebut mengharuskan adanya imbalan, maka jika kita mengikuti pendapat ini, terdapat perbedaan dan rincian yang panjang mengenai kadar imbalan tersebut. Jika kita mengatakan bahwa hibah mutlak mengharuskan imbalan yang sepadan dari segi nilai dan harga, maka tidak boleh bagi orang yang berutang (muflis) untuk menerima sesuatu yang nilainya lebih rendah dari itu; karena yang sepadan adalah pengganti yang memang berhak diterima. Namun, ia juga tidak wajib menerima sesuatu yang nilainya melebihi kadar yang sepadan.

وإن قلنا للمتهب أن يثيب بما شاء وإن قل وانتقصَ عن المثل فعلى هذا يخرّج نص الشافعي فإن زاد الثوابُ على المثل لم يلزمه القبول ؛ فإن الزيادة غير مستحقة وليس على المفلس قبول الهبات والتبرعات وإن كان الذي بذله أقلَّ من المثل؛ فإنه يقبله؛ إذ لا يجب على المتهب غيرُه والرجوع فيما نثُبته ونَنْفيه إلى أصلين أحدهما أنه لا يجب على المفلس قبول التبرع وليس له أن يُسقط مستحقاً

Jika kita katakan kepada penerima hibah agar membalas dengan apa yang dia kehendaki, meskipun sedikit dan kurang dari nilai yang sepadan, maka atas dasar ini pendapat Imam Syafi’i dapat ditafsirkan. Jika balasan yang diberikan melebihi nilai yang sepadan, maka ia tidak wajib menerimanya; karena kelebihan itu bukanlah hak yang harus diterima. Tidak wajib bagi orang yang pailit untuk menerima hibah dan pemberian sukarela. Jika yang diberikan kurang dari nilai yang sepadan, maka ia menerimanya; karena tidak wajib atas penerima hibah selain itu. Adapun dalam hal yang kami tetapkan dan kami tiadakan, maka kembali kepada dua prinsip: pertama, tidak wajib bagi orang yang pailit menerima pemberian sukarela, dan kedua, ia tidak berhak menggugurkan hak yang seharusnya diterima.

بَابُ العُهْدةِ في مالِ المفلس

Bab al-‘uhdah dalam harta orang yang pailit

ذكر الشافعي رضي الله عنه في صدر الباب فصلاً قدمنا ذكره في تعلق الضّمان بالعدل في الرّهن والوصي والحاكم ولا شكّ أن هؤلاء أمناء إذا تلفت أعيان الأموال في أيديهم من غير تقصير منهم وغرض الشافعي التعرض لبيان المرجع في عهدة العقود

Imam Syafi‘i raḥimahullāh menyebutkan pada awal bab ini suatu bagian yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai keterkaitan tanggung jawab (ḍamān) dengan keadilan (‘adālah) pada kasus rahn, wasiat, dan hakim. Tidak diragukan bahwa mereka ini adalah para pemegang amanah (amīn); jika barang-barang yang ada di tangan mereka hilang tanpa adanya kelalaian dari mereka, maka tidak ada tanggungan atas mereka. Tujuan Imam Syafi‘i adalah membahas penjelasan tentang rujukan dalam tanggung jawab (‘uhdah) akad-akad.

فإذا باع العدلُ في الرهن بالإذن وقبض الثمن وضاع في يده الثمنُ الذي قبضه ولم يكن وكيلاً من جهة المرتهن بالقبض فالثمن من ضمان المبيع عليه وهو الراهن وكذلك القول في الوصي إذا باع مالاً فضاع الثمن من يده فهو من ضمان المبيع عليه ولو فرض استحقاقٌ في المبيع ففي تعلق الضمان بالعدل والوصيّ والقيم والحاكم التفصيلُ المقدم في كتاب الرهن؛ فلا حاجة إلى إعادته

Jika seorang adil menjual barang gadai dengan izin, lalu menerima harga jualnya, kemudian harga tersebut hilang di tangannya, dan ia bukan wakil dari pihak penerima gadai (murtahin) dalam hal penerimaan harga, maka harga tersebut menjadi tanggungan atas barang yang dijual, yaitu tanggungan pihak yang menggadaikan (rahin). Demikian pula halnya dengan washi jika ia menjual suatu harta lalu harga jualnya hilang di tangannya, maka itu menjadi tanggungan atas barang yang dijual, yaitu tanggungan washi. Jika terjadi adanya hak orang lain (istihqāq) atas barang yang dijual, maka terkait penjaminan oleh adil, washi, pengelola (qayyim), dan hakim, terdapat rincian yang telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Gadai (Kitāb ar-Rahn); sehingga tidak perlu diulangi di sini.

والذي يختص بغرض الباب أنا إذا بعنا عيناً من أعيان مال المفلس وقبضنا الثمن وخرج المبيع مستحقاً فإن كان عين الثمن باقيةً قائمة فلا شكّ أن المشتري يرجع فيها وإن كنا سلمناه إلى الغريم اتبعها المشتري ولو تلفت في يده؛ فإنه يضمّن الغريم لا محالة فإن عين ماله تلفت في عقد ضمان في يد إنسان فله اتباعه بالتغريم

Adapun yang berkaitan dengan tujuan bab ini adalah bahwa jika kita menjual suatu barang dari harta orang yang pailit dan kita telah menerima harganya, lalu ternyata barang yang dijual itu adalah milik orang lain (bukan milik si pailit), maka jika uang hasil penjualan itu masih ada dan belum berubah bentuk, tidak diragukan lagi bahwa pembeli berhak mengambilnya kembali. Namun, jika uang itu telah kita serahkan kepada kreditur, maka pembeli boleh menuntutnya dari kreditur tersebut, meskipun uang itu telah hilang di tangan kreditur; sebab kreditur tersebut tetap wajib menggantinya, karena harta milik pembeli telah hilang dalam akad jaminan di tangan seseorang, maka pembeli berhak menuntut ganti rugi darinya.

ولو تلف الثمن في يد الحاكم وقد تمهد أن الضّمان لا يتعلق بالحاكم فللمشتري الرجوع وظاهر النص أنه يقدّم بمبلغ الثمن ولا يحمل على المضاربة

Jika harga (barang) hilang di tangan hakim, padahal telah ditegaskan bahwa tanggung jawab (dhamān) tidak berkaitan dengan hakim, maka pembeli berhak menuntut kembali. Dan secara lahiriah dari nash, ia didahulukan dengan jumlah harga tersebut dan tidak dibebankan pada akad mudhārabah.

ونقل الربيع وحرملة أنه أُسوة الغرماء فيضاربهم فمن أصحابنا من قال في المسألة قولان أحدهما أنه لا يتقدّم في رجوعه لأنه دين في ذمة المفلس كسائر الديون ومن أصحابنا من قطع القولَ بأنه يقدم لأنا لو لم نقدمه لامتنع الناس عن معاملة المتصرفين في أموال المفاليس وسبيل كل دين يتعلق بمصلحة المفلس حالةَ الحجر أن يقدم ولذلك تُقدم أجرةُ الدَّلالين والمتصرفين على حسب الحاجة في الأموال العتيدة التي اطرد الحجر عليها وكذلك القول في أعواض المؤن الثابتة في حالة الحجر فلتكن عُهدة البيع المنشأ لمصلحة التصرف في مال المفلس مقدمةً أيضاًً

Ar-Rabi‘ dan Harmalah meriwayatkan bahwa ia sebanding dengan para kreditur lainnya, sehingga ia bersaing dengan mereka. Di antara ulama kami ada yang mengatakan dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia tidak didahulukan dalam pengembaliannya karena itu adalah utang dalam tanggungan orang yang pailit seperti utang-utang lainnya. Dan di antara ulama kami ada yang secara tegas berpendapat bahwa ia didahulukan, karena jika tidak didahulukan, maka orang-orang akan enggan bertransaksi dengan pihak yang mengelola harta orang yang pailit. Setiap utang yang berkaitan dengan kemaslahatan orang yang pailit pada saat diberlakukan pembekuan harta, maka harus didahulukan. Oleh karena itu, upah makelar dan pengelola juga didahulukan sesuai kebutuhan pada harta yang telah dibekukan. Demikian pula halnya dengan kompensasi atas biaya-biaya yang tetap pada saat pembekuan harta, maka tanggungan jual beli yang dilakukan demi kemaslahatan pengelolaan harta orang yang pailit juga harus didahulukan.

والدليل عليه أنا لو راعينا قياس الديون في المضاربة للزم أن نقول لا يضارب الغرماء أيضاًً فإن حقه متجدد بعد جريان الحجر والذي يقتضيه قياس الباب أن الدين الحادث بعد الحجر لا يُقدّم ولا يضارب به أصلاً

Dan dalil atas hal itu adalah, jika kita memperhatikan qiyās utang-utang dalam mudhārabah, maka seharusnya kita mengatakan bahwa para kreditur juga tidak boleh ikut mudhārabah, karena hak mereka muncul setelah terjadinya penyitaan (hajr). Sementara yang dituntut oleh qiyās dalam bab ini adalah bahwa utang yang muncul setelah hajr tidak didahulukan dan sama sekali tidak boleh ikut mudhārabah dengannya.

فهذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.

باب حبس المفلس

Bab Penahanan Orang yang Bangkrut

مضمون هذا الباب ثلاثة فصول أولها في قاعدة الحبس

Isi bab ini terdiri dari tiga bagian; yang pertama membahas kaidah al-habs.

والثاني في إثبات الإعسار

Dan yang kedua tentang penetapan ketidakmampuan (al-i‘sār).

والثالث في مسافرة من عليه الدين

Dan yang ketiga adalah tentang bepergian bagi orang yang memiliki utang.

فأما الفصل الأول فنقول

Adapun bagian pertama, maka kami katakan

/ م إذا ثبت الحق وتعذر استيفاؤه لم يخل إما أن يكون التعذر بسبب الإعسار والفلس وإما أن يكون بسبب امتناع من عليه الحق من تأديته فإن كان بسبب الفلس فحكم الله تعالى إنظار المفلس وإزالة التعرض عنه إلى ميسرة قال الله تعالى وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ الآية

Apabila hak telah tetap namun pelaksanaannya mengalami kendala, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: kendala tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan atau kebangkrutan, atau disebabkan oleh penolakan orang yang berkewajiban untuk menunaikan hak tersebut. Jika kendala itu disebabkan oleh kebangkrutan, maka hukum Allah Ta‘ala adalah memberikan penangguhan kepada orang yang bangkrut dan menghilangkan tuntutan terhadapnya hingga ia mampu. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia mampu.”

وإن امتنع من عليه الحق من أداء ما عليه مع القدرة فهو ظالم مندرجٌ تحت قوله صلى الله عليه وسلم مطل الغني ظلمٌ ليُّ الواجد ظلم ثم القاضي إن وجد له مالاً وقد تحقق امتناعَه؛ فإنه يملك بيعَه وصرفه إلى دينه ولا حاجة إلى ضرب الحجر عليه بل يبتدر البيع؛ فإن منصب الولاية يقتضي استيداءَ الحقوق وإيفاءها على مستحقيها على ما يساعد الإمكان فيه

Jika seseorang yang memiliki kewajiban menolak untuk melunasi kewajibannya padahal ia mampu, maka ia adalah seorang yang zalim dan termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah kezaliman.” Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Kemudian, jika hakim menemukan bahwa orang tersebut memiliki harta dan telah terbukti penolakannya, maka hakim berhak menjual hartanya dan menggunakannya untuk membayar utangnya, tanpa perlu menetapkan larangan bertindak atas hartanya (hajr) terlebih dahulu, melainkan langsung melakukan penjualan. Sebab, jabatan kekuasaan menuntut untuk menagih hak-hak dan menunaikannya kepada yang berhak sesuai dengan kemampuan yang ada.

ومنع أبو حنيفة بيع العروض والسلع في الديون وناقض فجوّز بيعَها في بعض النفقات وسوغ على العموم صرف الدراهم إلى الدنانير وصرف الدنانير إلى الدراهم ولا فصل عندنا

Abu Hanifah melarang penjualan barang dagangan dan komoditas dalam transaksi utang, namun ia bertentangan dengan pendapatnya sendiri dengan membolehkan penjualannya dalam sebagian nafkah, dan secara umum membolehkan penukaran dirham dengan dinar serta penukaran dinar dengan dirham, sedangkan menurut kami tidak ada perbedaan dalam hal ini.

ولو لم يظهر للممتنع مالٌ وأشكل الأمرُ فحكم الحال الحبس

Jika orang yang menolak (membayar) tidak tampak memiliki harta dan perkara tersebut masih samar, maka hukum dalam keadaan seperti ini adalah penahanan.

هذا ما درج عليه الأوّلون ومضى عليه الحكام والحبس في نفسه عقوبة

Inilah yang menjadi kebiasaan para pendahulu dan dijalankan oleh para hakim, dan penahanan itu sendiri merupakan suatu bentuk hukuman.

ولكن قد يقع حيث لا يُستيقن استحقاقُ الممتنعِ العقوبةَ؛ من جهة أن الممتنع إذا لم يثبُت يسارُه وادعى الإعسارَ؛ فإنا نجوّز صدقَه ومع تجويز ذلك نحبسه والسَّبب فيه أن إطلاقه تضييع لحق المدعي من غير ثَبَت فلا وجه إلا حبسُه إلى البيان وليس الحبس إيلاماً في الحال فالمسلك القصد يقتضيه لا محالة

Namun, bisa saja terjadi di mana tidak diyakini secara pasti bahwa orang yang menolak itu berhak mendapatkan hukuman; karena jika orang yang menolak tidak terbukti mampu membayar dan ia mengaku tidak mampu, maka kita masih mungkin membenarkan pengakuannya. Namun, meskipun ada kemungkinan itu, kita tetap menahannya. Alasannya adalah, membebaskannya berarti menyia-nyiakan hak penggugat tanpa ada kepastian, sehingga tidak ada pilihan lain selain menahannya sampai ada kejelasan. Penahanan ini bukanlah bentuk penyiksaan pada saat itu, sehingga pendekatan yang moderat memang menuntut hal tersebut.

ولو تحقق القاضي ظلمَ من عليه الحق في امتناعه وعلم أنه متمكن من تأدية ما عليه وقد يظهر ذلك بقراره أو بجهةٍ أخرى على ما سيأتي الشرح عليه إن شاء الله تعالى فالأمر وقد ظهر العناد مفوّضٌ إلى رأي القاضي فإن أراد أن يعزّره حتى يُظهر المال فله ذلك ولا مزيد على الحبس مع اليسر وإن ظهر العناد فللقاضي أن يزيد على الحبس ويعزّر

Jika hakim benar-benar mengetahui adanya kezaliman dari pihak yang berkewajiban membayar hak, karena ia menolak membayar padahal diketahui bahwa ia mampu untuk melunasi kewajibannya—hal ini bisa diketahui dari pengakuannya sendiri atau dari cara lain sebagaimana akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala—maka jika telah tampak sikap keras kepala, urusan ini diserahkan kepada pertimbangan hakim. Jika hakim ingin memberikan ta‘zīr (hukuman disiplin) agar ia mau mengeluarkan harta, maka hakim berhak melakukannya. Tidak ada tambahan hukuman selain penahanan jika ia mampu membayar. Namun jika sikap keras kepala telah nyata, maka hakim boleh menambah hukuman selain penahanan dan memberikan ta‘zīr.

وقد نص الشافعي في نكاح المشركات على أن من أسلم على أكثر من أربع وأوجبنا عليه أن يختار أربعاً وحبسناه لذلك فإن تمادى على امتناعه فللقاضي أن يعزره وسببُ التعزير امتناعُه عن حقٍّ محتوم عليه مع الاقتدار عليه

Syafi‘i telah menegaskan dalam masalah pernikahan dengan perempuan musyrik bahwa siapa pun yang masuk Islam dengan memiliki istri lebih dari empat, lalu kami mewajibkan kepadanya untuk memilih empat di antara mereka dan menahannya demi hal itu, maka jika ia tetap bersikeras menolak, hakim berhak memberinya ta‘zir. Sebab ta‘zir tersebut adalah penolakannya terhadap suatu hak yang telah menjadi kewajiban baginya, padahal ia mampu melaksanakannya.

وإنَّما خصص الشافعي هذه الصورة بذكر التعزير لظهور العناد فيه وتبيّن الاقتدار على الاختيار فمهما ظهر العنادُ في الحقوق المستحقةِ كان الأمرُ على ما ذكره الشافعي في نكاح المشركات

Syafi‘i secara khusus menyebutkan ta‘zīr dalam kasus ini karena tampaknya terdapat sikap keras kepala di dalamnya dan jelas adanya kemampuan untuk memilih. Maka, kapan pun tampak adanya sikap keras kepala dalam hak-hak yang menjadi kewajiban, maka ketentuannya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syafi‘i dalam pernikahan dengan perempuan musyrik.

ثم التعزير المتعلق بالنظر العام والاستصلاح موكول إلى رأي الإمام ولسنا نعني بذلك أنه يتخير فيه بل يجتهد ويرى رأيه ويسلك المسلك الأقصَد وقد يختلف ذلك باختلاف مراتب الخلق فذو اللّدَدِ والعناد قد لا يكترث بتطويل الحبس وقد يعلم القاضي أو يظن أن الغرض يحصل بالحبس المحض؛ فليجر على ما يقتضيه الحال

Kemudian, ta‘zīr yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kemaslahatan diserahkan kepada pertimbangan imam. Namun, yang kami maksud bukanlah bahwa imam bebas memilih secara mutlak, melainkan ia harus berijtihad, mempertimbangkan pendapatnya, dan menempuh jalan yang paling tepat. Hal ini bisa berbeda-beda sesuai dengan tingkatan manusia; seseorang yang keras kepala dan membangkang mungkin tidak akan terpengaruh dengan perpanjangan masa penahanan, dan bisa jadi hakim mengetahui atau menduga bahwa tujuan dapat tercapai hanya dengan penahanan semata; maka hendaknya ia bertindak sesuai dengan apa yang dituntut oleh keadaan.

ثم التعزير لايبلغ مبلغ الحد على ما سنصف المذهبَ فيه في كتاب الحدود

Kemudian ta‘zīr tidak mencapai kadar hukuman had, sebagaimana akan kami jelaskan pendapat mazhab dalam hal ini pada Kitab al-Hudūd.

وقد يقتضي الحال تعزيراتٍ في أوقاتٍ يبلغ مجموعها حداً أو يزيد فليفعل ما يراه والاستمرارُ على الامتناع على ممرّ الأوقات في حكم أسبابٍ متجددة يقتضي تجددَ التعزيرات ولا يغفل فيما يأتيه من ذلك عن ترك الموالاة وما في معناها

Terkadang situasi menuntut adanya ta‘zīr pada waktu-waktu tertentu yang jika dijumlahkan mencapai batas tertentu atau bahkan melebihi, maka lakukanlah apa yang dipandang perlu. Ketekunan dalam menahan diri sepanjang waktu dianggap sebagai sebab-sebab baru yang menuntut adanya ta‘zīr yang juga baru. Namun, janganlah lalai untuk meninggalkan mualāt (kesinambungan tanpa jeda) dan hal-hal yang sejenis dengannya dalam pelaksanaan tersebut.

فإذا بلغ التعزير مبلغاً وكان أثره ظاهرَ البقاء فليصبر إلى الاستقلال وظهور البُرْء

Jika hukuman ta‘zīr telah mencapai batas tertentu dan bekasnya tampak jelas masih ada, maka hendaklah bersabar hingga benar-benar pulih dan tanda-tanda kesembuhan telah tampak.

ونحن قد نرعَى ذلك في إقامة حدود الله تعالى على شخصٍ واحد فما الظن بتعزيرات موكولة إلى الاجتهاد لا يُقضى بتعيّنها

Kita telah memperhatikan hal itu dalam penegakan hudud Allah Ta‘ala terhadap satu orang saja, maka bagaimana lagi dengan ta‘zir yang diserahkan kepada ijtihad dan tidak ditetapkan bentuknya secara pasti?

الفصل الثاني من الباب

Bab Kedua dari Bagian

إذا ادّعى من عليه الحق الفلس والإعسار لم يخل إما أن يكون له بينةٌ وإما ألا تكون فإن وجد بينةً أقامها كما سنذكر الوجه فيها وإذا قامت وجرى البحثُ عن التعديل فلا يسوغ عندنا إدامة الحبس بعد ذلك؛ فإنه على الجملة من قبيل العقوبات وقد يرى الوالي التعزيرَ به وحده

Jika orang yang memiliki kewajiban mengaku bangkrut dan tidak mampu membayar, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memiliki bukti atau tidak. Jika ia memiliki bukti, maka ia harus mengajukannya sebagaimana akan kami jelaskan nanti alasannya. Jika bukti tersebut telah diajukan dan telah dilakukan pemeriksaan terhadap keadilan saksi-saksinya, maka menurut kami tidak dibenarkan untuk terus-menerus menahan orang tersebut setelah itu; karena pada dasarnya penahanan termasuk jenis hukuman, dan penguasa dapat saja memandang penahanan itu sebagai bentuk ta‘zīr (hukuman disiplin) semata.

وقال أبو حنيفة لا يُصغي القاضي إلى البيّنة على الإعسار حتى يمضي أمدٌ ثم اختلف قوله فيه فقال مرة لا بدَّ من مضي شهرين وقال مرة أربعين يوماً أو خمسين وقال مرة أربعة أشهر ونحن لا نرعى شيئاًً من ذلك ونُصغي إلى البينة ونقضي بها من غير تأخير

Abu Hanifah berkata, hakim tidak memperhatikan bukti atas ketidakmampuan (membayar utang) hingga berlalu suatu masa tertentu. Kemudian ia berbeda pendapat tentang lamanya masa itu; ia pernah berkata harus berlalu dua bulan, pernah juga berkata empat puluh atau lima puluh hari, dan pernah pula berkata empat bulan. Adapun kami, tidak memperhatikan hal-hal tersebut dan langsung memperhatikan bukti serta memutuskan perkara dengannya tanpa penundaan.

ثم نتكلّم وراءَ ذلك فيما يتعلق بحق الشاهد وتحمّله ونذكر بعده نظرَ القاضي في أحوال الشهود على الإعسار

Kemudian setelah itu kita akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan hak saksi dan tanggung jawabnya, lalu setelah itu kita akan menyebutkan pandangan qādī terhadap keadaan para saksi mengenai ketidakmampuan (al-i‘sār).

فأما الشاهد فلا يحل له أن يشهد على الإعسار بظاهر الحال؛ فإن الأموال في وضع الجبلات تخفَى ولا تظهر هذا حكم العادة الغالبة فليبحث من يتحمل هذه الشهادةَ عن الباطن ولْيسبُر حالَ المشهود له ولا يخفى طريق البحث في كل باب على الخبير

Adapun saksi, maka tidak halal baginya untuk bersaksi atas keadaan tidak mampu (‘usr) hanya berdasarkan penampakan lahiriah; karena harta secara tabiatnya tersembunyi dan tidak tampak, demikianlah hukum kebiasaan yang dominan. Maka hendaknya orang yang memikul kesaksian ini meneliti keadaan batin, dan menyelidiki keadaan orang yang akan disaksikan untuknya. Cara-cara penelitian dalam setiap bidang tidaklah samar bagi orang yang ahli.

هذا قولنا في الشاهد

Inilah pendapat kami mengenai saksi.

فأمّا الكلام في نظر القاضي فقد قال الشافعي لا ينبغي له أن يقبل هذه الشهادة إلا من أهل الخبرة الباطنة؛ والسَّبب فيما افتتحناه من ذلك أن مستند الشهادة على الإعسار النفيُ ولو جرينا على قياس الشهادات لم نقبلها فإن النافي لا يكون مثبتاً ولا يستمكن من ادعاء العلم بالنفي ولهذه الشهادة نظائر منها الشهادة على أن لا وارث للمتوفَّى سوى من حضر وهذه الشهادة متعلقة بالنفي مقبولةٌ من أهل الخبرة الباطنة ومنها الشهادة على تعديل الشهود؛ فإن متضمنها نفيُ الأسباب المخرجة عن العدالة ويلزم قبول هذه الشهادات ولا مستند لها إلى اليقين قطعاً للضرورةِ ومسيسِ الحاجة؛ فإن تخليد الحبس وتأبيد وقف الميراث محال والتعديلُ عماد القضاء ولا يتصور فيه إلا المسلك الذي ذكرنا فيلتحق عندنا بما ذكرناه الشهادةُ على الأملاك؛ فإنها لا تنتهي إلى يقين قطّ وإنّما غايتها بناء الأمر على ظواهرَ يصفها العلماء من اليد والتصرف وغيرهما ولكن لا بد من الاكتفاء بما ذكرناه؛ إذ الحاجةُ ماسة ومنتهى الإمكان ما أشرنا إليه فكأنّا نشترط استنادَ الشهادة إلى اليقين فيما يمكن اليقين فيه كالأقوال والأفعال التي يتعلق بها الحواس

Adapun pembahasan mengenai pemeriksaan hakim, Imam Syafi‘i berkata bahwa tidak sepantasnya hakim menerima kesaksian ini kecuali dari orang-orang yang benar-benar ahli dan berpengalaman secara mendalam; alasannya, sebagaimana telah kami sebutkan di awal, adalah bahwa dasar kesaksian tentang ketidakmampuan (al-i‘sār) adalah penafian. Jika kita mengikuti qiyās dalam kesaksian, maka kita tidak akan menerimanya, karena orang yang menafikan tidak dapat menjadi penetap dan tidak mungkin mengklaim mengetahui sesuatu yang tidak ada. Ada beberapa contoh kesaksian seperti ini, di antaranya adalah kesaksian bahwa tidak ada ahli waris bagi orang yang wafat selain yang hadir; kesaksian ini berkaitan dengan penafian dan diterima dari orang-orang yang benar-benar ahli dan berpengalaman. Contoh lainnya adalah kesaksian tentang keadilan para saksi; karena substansinya adalah menafikan sebab-sebab yang menggugurkan keadilan, maka kesaksian ini wajib diterima, meskipun tidak didasarkan pada keyakinan secara pasti, karena adanya kebutuhan mendesak dan keadaan darurat; sebab, mengurung seseorang selamanya di penjara atau menahan warisan secara abadi adalah hal yang mustahil, dan penetapan keadilan adalah pilar utama dalam peradilan, yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan cara yang telah kami sebutkan. Maka, menurut kami, kesaksian tentang kepemilikan juga termasuk dalam hal ini; karena kesaksian tersebut tidak pernah sampai pada tingkat keyakinan mutlak, melainkan hanya membangun perkara berdasarkan indikasi-indikasi lahiriah yang dijelaskan oleh para ulama, seperti penguasaan, pengelolaan, dan lain-lain. Namun, harus mencukupkan diri dengan apa yang telah kami sebutkan, karena kebutuhan sangat mendesak dan batas kemampuan hanyalah seperti yang telah kami isyaratkan. Seolah-olah kita mensyaratkan bahwa kesaksian harus didasarkan pada keyakinan dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk diyakini, seperti ucapan dan perbuatan yang dapat dijangkau oleh pancaindra.

ولا مزيد على ما ذكرناه؛ فإن أسرار الشهادات مذكورة في كتابها

Tidak ada tambahan atas apa yang telah kami sebutkan; karena rahasia-rahasia tentang kesaksian telah disebutkan dalam kitabnya.

ومن لطيف الكلام في ذلك أن كل ما تستند الشهادةُ فيه إلى اليقين فلو علمه القاضي بنفسه اختلف القولُ في جواز قضائه بعلمه ولو انتهى القاضي فيما لا علم فيه إلى منتهى يشهد فيه كالأصولِ التي ذكرناها فلا يحل له القضاء وإن كان يحلّ له أن يشهد بما أحاط به وظهر عنده فليتأمل الناظر هذا؛ فإنه من أسرار القضاء

Salah satu ungkapan yang menarik dalam hal ini adalah bahwa setiap perkara yang kesaksiannya didasarkan pada keyakinan, maka jika hakim mengetahui sendiri perkara tersebut, terdapat perbedaan pendapat mengenai kebolehan hakim memutuskan berdasarkan pengetahuannya sendiri. Namun, jika hakim dalam perkara yang tidak diketahuinya sampai pada batas yang memungkinkan untuk memberikan kesaksian, seperti kaidah-kaidah yang telah kami sebutkan, maka tidak halal baginya untuk memutuskan perkara tersebut, meskipun ia boleh memberikan kesaksian atas apa yang diketahuinya secara pasti dan jelas baginya. Maka hendaknya orang yang menelaah hal ini memperhatikannya, karena ini termasuk rahasia dalam bidang peradilan.

وتمامُ البيان في الفصل يتعلق بتردد الأصحاب في أمرٍ نذكره وهو أن القاضي إن علم أن الشاهد من أهل الخبرة الباطنة في الإعسارِ ونظائرِه قبل شهادته وإن لم يتحقق ذلك عند القاضي ولكن ذكر الشاهدُ أنه خبر باطنه وهو عدل رضاً كفى ذلك فإنه قد يُعتمد في شهادته كما يعتمد في ذكره أنه من أهل الخبرة الباطنة وإن أطلق الشهادة على الإعسار ولم يتبين للقاضي من جهة بحثه ولا من جهة ذكر الشاهد أنه من أهل الخبرة فيتوقف لا محالة هكذا ذكره الأئمة

Penjelasan yang sempurna dalam bagian ini berkaitan dengan keraguan para ulama dalam suatu perkara yang akan kami sebutkan, yaitu apabila seorang qadhi mengetahui bahwa saksi termasuk orang yang memiliki keahlian mendalam dalam hal kesulitan (‘usr) dan hal-hal serupa, maka kesaksiannya diterima. Namun, jika hal itu tidak dipastikan oleh qadhi, tetapi saksi menyebutkan bahwa ia mengetahui secara mendalam dan ia adalah orang yang adil serta terpercaya, maka itu sudah cukup, karena kesaksiannya dapat dijadikan sandaran sebagaimana dapat dijadikan sandaran ketika ia menyebutkan bahwa dirinya termasuk orang yang memiliki keahlian mendalam. Namun, jika ia memberikan kesaksian tentang kesulitan (‘usr) secara umum dan qadhi tidak menemukan kejelasan baik dari hasil penelitiannya maupun dari keterangan saksi bahwa ia termasuk orang yang ahli dalam hal tersebut, maka qadhi harus menangguhkan perkara itu tanpa ragu. Demikianlah yang disebutkan oleh para imam.

والشهادة على الملك وإن كانت لا تستند إلى يقين مقبولةٌ على الإطلاق من العدل الموثوق به وليس على القاضي بحثٌ عن أسباب تحمّل الشهادة والسَّبب فيه أن تلك الأسباب ثابتةٌ من اليد والتصرف ولا يُظَن بالشاهد إلا التثبتُ والإعسارُ وانتفاءُ الوارث وعدمُ الأسباب المخرجة عن العدالة نفيٌ محققٌ وعلى الناظر في هذا مزيد بحثٍ سيأتي الشرح عليه في الشهاداتِ إن شاء الله تعالى

Persaksian atas kepemilikan, meskipun tidak didasarkan pada keyakinan pasti, tetap diterima secara mutlak dari seorang yang adil dan terpercaya. Hakim tidak berkewajiban meneliti sebab-sebab pengambilan persaksian tersebut. Alasannya adalah karena sebab-sebab itu telah tetap melalui penguasaan dan tindakan atas objek yang dimiliki, dan tidak diduga dari seorang saksi kecuali ketelitian, kesulitan, ketiadaan ahli waris, serta tidak adanya sebab-sebab yang mengeluarkan dari keadilan, yang merupakan penafian yang pasti. Bagi yang menelaah masalah ini, masih ada pembahasan lebih lanjut yang akan dijelaskan pada bab persaksian, insya Allah Ta‘ala.

وممَّا يليق بهذا أن الإعسار يثبت بشهادة شاهدين مع الاحتياط الذي ذكرناه وذكر بعض المصنفين لفظاً مضمونه أنه لا بد من ثلاثة شهود وهذا خُرقٌ عظيم وخروج عن الضبط ولعله أراد أن القاضي إن بدا له أن يستظهر بالعدد فعل لما حققناه من إشكال الإعسار

Dan yang sesuai dengan hal ini adalah bahwa keadaan tidak mampu dapat dibuktikan dengan kesaksian dua orang saksi, disertai kehati-hatian yang telah kami sebutkan. Sebagian penulis menyebutkan secara lafaz bahwa harus ada tiga orang saksi, dan ini merupakan pelanggaran besar serta keluar dari ketentuan yang baku. Mungkin maksudnya adalah bahwa jika hakim memandang perlu meminta tambahan jumlah saksi, maka hal itu boleh dilakukan, karena telah kami tegaskan adanya kerancuan dalam perkara tidak mampu.

وفي استظهار القاضي بعدد الشهود كلام طويل لا نخوض فيه

Dalam upaya hakim untuk memperjelas dengan jumlah saksi, terdapat pembahasan yang panjang yang tidak akan kami bahas di sini.

ثم قال الشافعي إذا قامت البينة على الإعسار حلّفنا الشهود بعساره مع البينة وخالف أبو حنيفة فيه

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Jika telah ada bukti atas keadaan tidak mampu, maka kami akan menyuruh para saksi bersumpah tentang ketidakmampuannya bersama bukti tersebut. Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini.

واختلف أصحابنا في أن هذا التحليف هل يقف على استدعاء الخصم ومسألته منهم من قال إنه موقوف على الاستدعاء والمسألة وهو من حق الخصم ومنهم من قال إنه من أدب القضاء فيتحتم على القاضي التحليف وإن لم يسأله الخصم إلا أن يقنع الخصمُ ويبدي الرضا بإطلاقه فلا إشكال إذاً

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah pengambilan sumpah ini bergantung pada permintaan pihak lawan dan permohonannya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu bergantung pada permintaan dan permohonan, karena merupakan hak pihak lawan. Sebagian lain berpendapat bahwa hal itu termasuk adab peradilan, sehingga hakim wajib mengambil sumpah meskipun pihak lawan tidak memintanya, kecuali jika pihak lawan merasa puas dan menyatakan ridha tanpa pengambilan sumpah, maka tidak ada masalah dalam hal ini.

هذا كله إذا أقام بينة على الإعسار

Semua ini berlaku jika ia dapat menghadirkan bukti atas ketidakmampuannya.

فأمَّا إذا قال أنا معسر وليس يشهد على إعساري أحد فكيف خلاصي من هذا الحبس قال الأصحاب إن عُرف له يسار سابق فلا سبيل إلى إطلاقه والحالة هذه ما لم تقم بينة على زوال اليسار؛ فإنَّ الظاهر بقاؤه والغالبُ استمكانه من إثبات زوال أسباب اليسار فإذا لم يُقم بيّنةً ظهر كذبه

Adapun jika seseorang berkata, “Saya dalam keadaan sulit (miskin) dan tidak ada seorang pun yang dapat menjadi saksi atas kesulitan saya ini, lalu bagaimana cara saya bisa bebas dari penahanan ini?” Para ulama (ashhab) mengatakan: Jika sebelumnya diketahui ia pernah mampu (berkecukupan), maka tidak ada jalan untuk membebaskannya dalam keadaan seperti ini kecuali ada bukti yang menunjukkan hilangnya kemampuan tersebut; karena yang tampak adalah kemampuan itu masih ada dan pada umumnya ia mampu membuktikan hilangnya sebab-sebab kecukupan itu. Maka jika ia tidak menghadirkan bukti, tampaklah kebohongannya.

وإن لم يعرف له يسار سابق فادّعى الإعسارَ ففي قبول قوله مع يمينه أوجه

Dan jika tidak diketahui bahwa sebelumnya ia pernah mampu, lalu ia mengaku tidak mampu, maka terdapat beberapa pendapat mengenai diterimanya pengakuannya itu dengan sumpahnya.

أحدها أنه يُقبل؛ إذ الأصلُ الفقر والثاني لا يقبل؛ لأن الظاهر من حال الحُرّ أن يملك شيئاًً وإن قلّ ويندرُ حُرٌّ لا ملك له والثالث أنه إن التزم الدينَ باختياره مثل مال الضَّمان والصَّداقِ فلا يُقبل قوله؛ لأن الظّاهر أنه لا يلتزم باختياره مالاً إلا مع التعويل على ملكٍ وافٍ به وإن لزمه ضمانٌ من غير اختيار قُبل قولُه في دعوى الإعسار

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa diterima; karena asalnya adalah kefakiran. Kedua, tidak diterima; karena yang tampak dari keadaan seorang merdeka adalah bahwa ia memiliki sesuatu, meskipun sedikit, dan jarang ada orang merdeka yang tidak memiliki apa pun. Ketiga, jika ia berkomitmen terhadap utang atas pilihannya sendiri, seperti harta jaminan dan mahar, maka tidak diterima pengakuannya; karena yang tampak adalah seseorang tidak akan berkomitmen secara sukarela terhadap harta kecuali dengan mengandalkan kepemilikan yang cukup baginya. Namun, jika ia diwajibkan membayar jaminan tanpa pilihannya, maka diterima pengakuannya dalam mengaku tidak mampu.

هذه الأوجه الثلاثة هي التي عليها التعويل

Tiga pendapat inilah yang menjadi sandaran utama.

وذكر أصحابنا وجهاًً رابعاً نسوقه على وجهه ونبيّن اختلاله قالوا من أصحابنا من قال كل دين لزمه عوضاً عن مالٍ فلا يقبل فيه دعوى الإعسار وما لم يكن عوضاً عن مالٍ يقبل فيه دعوى الإعسار وهذا ليس وجهاً رابعاً؛ فإنا حكينا وفاق الأصحابِ في أنه لو ثبت له ملك لم تقبل دعوى الإعسار منه بتقدير زوال اليسار وإذا كان هذا متفقاً عليه فكأن هذا القائل في تفصيله جمع بين صورة الإجماع وبين قبول قوله مطلقاً في غير محل الإجماع

Para ulama kami menyebutkan pendapat keempat yang akan kami sampaikan sebagaimana adanya dan kami akan menjelaskan kekeliruannya. Mereka berkata, di antara ulama kami ada yang berpendapat: setiap utang yang wajib dibayar sebagai ganti dari harta, maka tidak diterima pengakuan tidak mampu (‘udzur karena kefakiran) di dalamnya; sedangkan utang yang bukan sebagai ganti dari harta, maka diterima pengakuan tidak mampu di dalamnya. Namun, ini bukanlah pendapat keempat; sebab kami telah meriwayatkan adanya kesepakatan para ulama bahwa jika seseorang telah tetap memiliki harta, maka tidak diterima pengakuan tidak mampu darinya dengan anggapan hilangnya kemampuan. Dan jika hal ini telah menjadi kesepakatan, maka seakan-akan orang yang berpendapat demikian dalam perinciannya telah menggabungkan antara kasus yang telah menjadi ijmā‘ dengan menerima pengakuan secara mutlak pada selain tempat yang telah menjadi ijmā‘.

وقد يخطر للفقيه حملُ هذا الوجه الرابع على دين ثبت عوضاً وكان ملتزمه يدعي أنه لم يقبض المعوّضَ فإن كان ذاكرُ هذا الوجه منزّلَه على هذا التقدير لا على الاعتراف بقبض المعوّض وادعاء تلفه فهذا على حالٍ وجهٌ ضعيف؛ فإنه إذا ثبت الملك في المعوّض فالظّاهر قبضُه ونحن إنما لا نقبل قول من سبق له يسارٌ بتأويل ادعاء زواله ؛ من جهة أن قولَه يظهر الخُلف فيه وزوال اليسار ممكن فعدم قبض المبيع بهذه المثابة والعلم عند الله تعالى

Terkadang seorang faqih mungkin terlintas untuk menafsirkan pendapat keempat ini pada kasus utang yang ditetapkan sebagai pengganti, dan pihak yang berkomitmen terhadapnya mengklaim bahwa ia belum menerima barang pengganti tersebut. Jika orang yang menyebutkan pendapat ini memang menafsirkannya dalam konteks demikian, bukan dalam pengakuan telah menerima barang pengganti lalu mengklaim barang itu hilang, maka dalam hal ini pendapat tersebut tetaplah lemah. Sebab, jika kepemilikan atas barang pengganti telah ditetapkan, maka yang tampak adalah barang itu telah diterima. Kami pun tidak menerima ucapan orang yang sebelumnya berkecukupan dengan alasan mengklaim barang itu telah hilang, karena ucapannya tampak bertentangan dan hilangnya kekayaan itu mungkin saja terjadi. Maka, tidak diterimanya penerimaan barang yang dijual dalam keadaan seperti ini, dan Allah Ta‘ala lebih mengetahui.

ووراء هذه الأوجه نوعان من الكلام يحصل بهما تمام الغرض

Di balik berbagai pendapat ini, terdapat dua jenis pembahasan yang dengan keduanya tujuan utama dapat tercapai.

أحدهما أنا إذا قلنا يُقبل قول المعسر مع يمينه فلست أرى قبولَ قوله مع اليمين بداراً فيظهر عندي مسلك أبي حنيفة في التأني مع البحث الممكن عن أحواله غير أن ما ذكره أبو حنيفة مع البينة باطل عندنا؛ من جهة أنا نحمل كلام الشهود على صدوره عن بحث منهم فإذا شهدوا وجب الاكتفاء بشهادتهم أما إذا لم تكن بينة وكان الرجوع إلى قول المدَّعي ويمينه فيظهر أن يبحث القاضي عن بواطن أمره وليس ذلك بعيداً عن الإمكان وهذا يقرب عندي من قول الشافعي في الفاسق إذا تاب استبرأتُه أشهُراً فإن التوبة مأخوذةٌ من قوله فرأى الشافعي معه الاستبراء نعم لست أنكر فرقاً بين الأصلين؛ فإن يمين المعسر بمثابة الجحد

Pertama, jika kita mengatakan bahwa perkataan orang yang dalam kesulitan diterima bersama sumpahnya, maka saya tidak melihat penerimaan perkataannya bersama sumpah sebagai sesuatu yang tergesa-gesa; menurut saya, pendapat Abu Hanifah untuk berhati-hati dengan melakukan penelitian yang memungkinkan tentang keadaannya adalah benar. Namun, apa yang disebutkan Abu Hanifah mengenai adanya bukti (bainah) adalah batal menurut kami; karena kami menganggap perkataan para saksi itu muncul setelah adanya penelitian dari mereka, sehingga jika mereka telah bersaksi, maka wajib mencukupkan dengan kesaksian mereka. Adapun jika tidak ada bukti dan kembali kepada perkataan penggugat dan sumpahnya, maka tampak bahwa hakim hendaknya meneliti keadaan batin orang tersebut, dan hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Ini menurut saya mendekati pendapat asy-Syafi‘i tentang orang fasik yang bertobat, yaitu beliau menguji orang tersebut selama beberapa bulan, karena tobat itu diambil dari pengakuannya, maka asy-Syafi‘i memandang perlu adanya pengujian. Ya, saya tidak mengingkari adanya perbedaan antara kedua asal tersebut; karena sumpah orang yang dalam kesulitan itu seperti penolakan.

والذي ذكرته لست أعزيه إلى نقلٍ وفي كلام الأصحاب ما يدل عليه وظاهر النقل يُشعر بالبدار إلى قبول قوله مع يمينه حيث يقبل قوله

Apa yang aku sebutkan ini tidak aku sandarkan pada suatu riwayat tertentu, namun dalam perkataan para ulama terdapat indikasi ke arah itu, dan secara lahiriah riwayat menunjukkan untuk segera menerima ucapannya beserta sumpahnya, di mana ucapannya diterima.

فهذا أحد النّوعين

Maka inilah salah satu dari dua jenis tersebut.

والثاني أنا إن قلنا لا يقبل قوله والمحبوس غريبٌ لا يتوصل إلى إثبات إعساره ببيّنة فتخليد حبسه شديدٌ عندي والذي أراه فيه أن السلطان يوكّل به من يبحث عن منشئه ومولده ومنقَلبه ويتناهى في البحث جهده ثم يُسوّغ المُفتون للباحثين أن يشهدوا هذا لا أرى منه بداً والعلم عند الله تعالى

Kedua, jika kita mengatakan bahwa pernyataannya tidak diterima, sedangkan orang yang dipenjara adalah orang asing yang tidak dapat membuktikan kemiskinannya dengan bukti, maka memenjarakannya selamanya menurut saya adalah hal yang sangat berat. Pendapat yang saya pilih dalam hal ini adalah bahwa penguasa hendaknya menugaskan seseorang untuk menyelidiki asal-usul, tempat lahir, dan tempat tinggalnya, serta melakukan penyelidikan secara maksimal. Kemudian, para peneliti tersebut diperbolehkan oleh mufti untuk memberikan kesaksian. Saya tidak melihat jalan lain selain ini, dan ilmu itu milik Allah Ta‘ala.

وممّا يتعلق بهذا الفصل أنه لو أقام البينة على الإعسار فأقام مستحق الدين بيّنة على أنه كان في يده مالٌ فاعترف بكونه في يده وقال كان لفلان في يدي وديعة فإن نسبه إلى حاضرٍ قُبل قولُه بلا يمين وإن كان غائباً حُلِّف وهذا من معَاصاتِ كتابِ الدعاوى

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan bab ini adalah apabila seseorang mendatangkan bukti atas ketidakmampuannya, lalu pihak yang berhak atas utang tersebut mendatangkan bukti bahwa sebelumnya ada harta di tangannya, kemudian ia mengakui bahwa harta itu memang ada di tangannya dan berkata, “Itu adalah titipan milik si Fulan yang ada di tanganku.” Jika ia menisbatkannya kepada orang yang hadir, maka ucapannya diterima tanpa sumpah. Namun jika orang tersebut tidak hadir, maka ia harus disumpah. Ini termasuk pembahasan dalam Kitab al-Da‘āwā (Kitab Gugatan).

فإذا ادّعى رجل على رجل مالاً في يده فقال المدعى عليه المال لفلانٍ وليس لي ولا لك فالقول في تقاسيم هذا الفصل وجوانبه غمرة كتاب الدعاوى وسنذكره إن شاء الله تعالى

Apabila seorang laki-laki menuntut harta kepada laki-laki lain yang berada di tangannya, lalu pihak tergugat berkata, “Harta ini milik si Fulan, bukan milikku dan bukan pula milikmu,” maka pembahasan mengenai rincian dan sisi-sisi bab ini terdapat secara mendalam dalam Kitab al-Da‘āwā, dan akan kami sebutkan insyaallah.

والقولُ الذي يليق بما نحن فيه ما أشرنا إليه فإنْ تفرّق فكرُ الناظرِ في جوانب الفصل فلينظر شرحها وليطلبه من موضعه

Pendapat yang sesuai dengan pembahasan kita adalah sebagaimana yang telah kami isyaratkan; maka jika pemikiran pembaca terpecah pada berbagai sisi pembahasan, hendaklah ia melihat penjelasannya dan mencarinya pada tempatnya.

وإذا ثبت الإفلاس وجب الإطلاق فلا حبس على معسر ثم لا يجوز التعرض له إلى أن يُفيد مالاً فإن صرفه إلى دينه فذاك وإن أبى رفع إلى مجلس القضاء وحُمل على تأدية الدّين من المال الذي أفاده بالحبس وغيره على ما تفصّل

Apabila status iflās telah ditetapkan, maka wajib membebaskan (orang tersebut), sehingga tidak boleh menahan orang yang mengalami kesulitan (mu‘sir). Setelah itu, tidak boleh mengganggunya sampai ia memperoleh harta. Jika ia menggunakan harta tersebut untuk membayar utangnya, maka itu sudah cukup. Namun jika ia menolak, maka ia dibawa ke majelis pengadilan dan dipaksa untuk membayar utang dari harta yang diperolehnya, baik dengan penahanan maupun cara lain sebagaimana telah dirinci.

والمحجور عليه المفلس إذا صرف القاضي أموالَه الموجودةَ إلى غرمائه فهل يرتفع الحجر عنه أو لا بد من أن يفكه الحاكم

Orang yang dikenai status pailit (mahjūr ‘alaih al-muflis), apabila hakim telah membagikan harta yang ada padanya kepada para krediturnya, apakah status pencekalan (hajr) atas dirinya otomatis terangkat ataukah harus ada keputusan pencabutan dari hakim?

في المسألة وجهان أحدهما لا بد من رفع الحاكم؛ فإن ذلك يتعلق بالنظر والبحث والاجتهادِ فكما لا يثبت الحجر إلا بضربِ السلطان كذلك لا ينفك إلا بفكه

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa harus ada keputusan dari hakim; karena hal itu berkaitan dengan pertimbangan, penelitian, dan ijtihad. Sebagaimana status pencekalan (hajr) tidak dapat ditetapkan kecuali dengan keputusan penguasa, demikian pula pencekalan itu tidak dapat dicabut kecuali dengan pencabutan dari penguasa.

والوجه الثاني أن الحجر ينفك ؛ فإن سببه صرفُ ما كان له من مالٍ إلى ديونه فإذا انتجز ذلك لم يكن للحكم باستمرار الحجر وقد زال سببه معنىً

Pendapat kedua adalah bahwa status pencekalan (hajr) dapat terputus; sebabnya adalah pengalihan harta yang dimilikinya untuk membayar utang-utangnya. Jika hal itu telah terlaksana, maka tidak ada alasan untuk tetap memberlakukan pencekalan, karena sebabnya telah hilang maknanya.

والسَّفيه إذا ظهر صلاحه في الدِّين وإصلاحه المالَ فلا ينطلق الحجر عنه إلا بطلاق القاضي كما سنذكرُه في كتاب الحجر إن شاء الله تعالى والسبب فيه أن الحجر نظرٌ للسَّفيه والحق فيه له ونظر السلطان قائم والأمر موقوف إلى إظهاره انطلاقَ الحجر عنه وسيأتي هذا في كتاب الحجر إن شاء الله تعالى

Orang safih, apabila telah tampak kebaikannya dalam agama dan kemampuannya memperbaiki harta, maka larangan (hajr) atasnya tidak dapat dicabut kecuali dengan keputusan qadhi, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Hajr, insya Allah Ta‘ala. Sebabnya adalah karena hajr merupakan bentuk perlindungan bagi orang safih dan hak tersebut ada padanya, sementara pengawasan penguasa tetap berlaku, dan perkara ini bergantung pada pernyataan penguasa tentang pencabutan hajr atasnya. Hal ini akan dijelaskan dalam Kitab Hajr, insya Allah Ta‘ala.

وأمّا المجنون إذا أفاق فلا شك في ارتفاع الحجر عنه؛ فإن الجنون وارتفاعَه لا يتعلقان بالنظر والاجتهاد وسنستقصي القول فيمن عدا المفلسَ من المحجورين في كتاب الحجر إن شاء الله تعالى

Adapun orang gila, apabila telah sadar, maka tidak diragukan lagi bahwa status hajr (larangan bertindak hukum) atasnya telah hilang; sebab kegilaan dan hilangnya tidak berkaitan dengan ijtihad dan penalaran. Kami akan menguraikan secara rinci tentang selain orang yang pailit dari kalangan orang-orang yang dikenai hajr dalam Kitab al-Hajr, insya Allah Ta‘ala.

ومن تمام القول في ذلك أن الغرماء لو قالوا رفعنا الحجر عنك والحق لا يعدونا ففي ارتفاع الحجر من غير رفع الأمر إلى القاضي ترددٌ للأصحاب يدل عليه تلويحاتُهم ومرامزُهم فيجوزُ أن يقال يرتفع الحجر لما ذكرناه من أن الحجر كان بسببهم وهم مطلقون لا تولي عليهم وهم في الأموال تحت الحجر كالمرتهن في العين المرهونة

Sebagai penyempurna pembahasan dalam hal ini, jika para kreditur berkata, “Kami telah mencabut status pencekalan atasmu dan hak kami tidak akan melampaui itu,” maka dalam hal pencabutan pencekalan tanpa mengajukan perkara kepada hakim terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama, sebagaimana ditunjukkan oleh isyarat dan petunjuk mereka. Maka boleh dikatakan bahwa pencekalan itu dicabut, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa pencekalan itu terjadi karena mereka, dan mereka telah membebaskan (pencekalan) itu tanpa ada kekuasaan atas mereka. Mereka dalam hal harta berada di bawah pencekalan seperti halnya pemegang gadai terhadap barang yang digadaikan.

ويجوز أن يقال لا بد من الرفع إلى القاضي فقد يظهر غريم غيرهم والأمر فيه مربوط بنظر الوالي؛ فإنه النائب عن كل غائب

Dan boleh dikatakan bahwa harus diajukan kepada qadhi, karena bisa saja muncul pihak yang berutang selain mereka, dan urusan ini terkait dengan pertimbangan wali; sebab wali adalah wakil dari setiap orang yang tidak hadir.

وذكر الشيخ في الشرح مسألةً تتعلق بما نحن فيه وهو أَنَّه لو باع المفلس جميع ماله من غريمه ولا نَعرف غريماً سواه قال صاحب التلخيص يصح بيعُه قطع جوابَه به؛ فإن الحجر بسبب هذا الغريم فإذا دار العقدُ بينهما وصدر عن تراضيهما فلا وجه إلا تصحيحه

Syekh dalam syarah menyebutkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan pembahasan kita, yaitu jika seorang yang pailit menjual seluruh hartanya kepada krediturnya dan kita tidak mengetahui ada kreditur lain selain dia, maka menurut penulis kitab at-Talkhish, jual belinya sah secara pasti; sebab pencekalan (hajr) itu disebabkan oleh kreditur ini, maka jika akad terjadi di antara keduanya dan dilakukan atas dasar kerelaan bersama, tidak ada alasan kecuali mensahkannya.

قال الشيخ أبو علي كان يدور في خلدي إمكان خلافٍ في ذلك حتى رأيت للشيخ أبي زيدٍ وجهاًً آخر في ذلك أنه لا يصح البيع من الغريم من غير مرافعة القاضي وما ذكرته من التردد في رفع الغريم الحجرَ عن المحجور عليه من غير مراجعة القاضي مأخوذ من هذه المسألة

Syekh Abu Ali berkata, “Saya sempat terlintas kemungkinan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, hingga saya menemukan pendapat lain dari Syekh Abu Zaid bahwa tidak sah jual beli dari orang yang berutang tanpa adanya pengajuan perkara kepada qadhi. Apa yang saya sebutkan tentang keraguan dalam pencabutan status hajr dari orang yang dikenai hajr oleh pihak yang berpiutang tanpa merujuk kepada qadhi, diambil dari permasalahan ini.”

ولما حكى الشيخ الترددَ في البيع من الغريم بالدين الذي له على المحجور حكى بعده أن المحجورَ لو باع ماله من غريمٍ بعينٍ آخر ولم يبعه منه بالدين الذي له عليه فلا يصح هذا وإن صدر عن الرضا

Setelah Syaikh menyebutkan adanya keraguan dalam jual beli dari orang yang berutang (gharim) dengan utang yang dimiliki atas orang yang sedang dalam status mahjur, beliau kemudian menyebutkan bahwa jika orang yang sedang dalam status mahjur menjual hartanya kepada orang yang berutang kepadanya dengan barang lain, dan tidak menjualnya dengan utang yang dimiliki atasnya, maka jual beli ini tidak sah meskipun dilakukan dengan kerelaan.

وكذلك قال لو باع المحجور بإذن الغريم مالَه من أجنبي لم ينفذ وإنما حكى عن صاحب التلخيص وأبي زيد المروزي الخلاف فيه إذا باع المحجورُ عليه مالَه من الغريم بالدين والذي ذكره الشيخ من الوفاق لا يساعَد عليه ونفوذ البيع بإذن الغريم على نهاية الظهور في الاحتِمال ثم وجْهُ تخصيص الخلاف بالبيع بالدين أن ذلك يتضمن سقوطَ الدين وفي سقوطه انطلاقُ الحجر وفي البيع بغير الدين اطّرادُ الحجر وكذلك في البيع من الأجنبي وما ذكرته من رفع الحجر ينطبق على البيع بالدين لا محالة

Demikian pula, jika seseorang yang terkena hajr (larangan bertindak atas hartanya) menjual hartanya kepada orang asing dengan izin krediturnya, maka jual beli tersebut tidak sah. Hanya saja, yang dinukil dari penulis kitab at-Talkhīṣ dan Abū Zayd al-Marwazī terdapat perbedaan pendapat jika orang yang terkena hajr menjual hartanya kepada kreditur dengan pembayaran utang. Adapun pendapat yang disebutkan oleh Syaikh tentang adanya kesepakatan (ijmā‘) dalam hal ini, tidak dapat diterima. Keabsahan jual beli dengan izin kreditur sangat mungkin terjadi. Adapun alasan khusus adanya perbedaan pendapat pada jual beli dengan pembayaran utang adalah karena hal itu mengandung penghapusan utang, dan dengan hapusnya utang berarti hajr juga terangkat. Sedangkan pada jual beli tanpa pembayaran utang, hajr tetap berlaku, demikian pula pada jual beli kepada orang asing. Apa yang saya sebutkan tentang terangkatnya hajr hanya berlaku pada jual beli dengan pembayaran utang, tidak diragukan lagi.

وقد نجز الفصل الثاني من الفصول الثلاثة

Bab kedua dari tiga bab telah selesai.

الفصل الثالث

Bab Ketiga

قال وإذا أراد الذي عليه انحق إلى أجلٍ السفرَ إلى آخره

Dan apabila orang yang memiliki kewajiban utang yang jatuh tempo ingin bepergian hingga batas waktu tertentu,

من عليه دينٌ حالّ ولم يثبت إعساره إذا هم بالسفر استمكن مستحِق الدين من منعه من المسافرة

Orang yang memiliki utang yang telah jatuh tempo dan belum terbukti ia tidak mampu membayar, jika ia berniat untuk bepergian, maka pihak yang berhak atas utang tersebut dapat mencegahnya dari melakukan perjalanan.

وحقيقةُ القول في ذلك أنه لا يمنعه عن السفر في عينه منع السيد عبدَه والزوجِ زوجتَه ولكنه يتمكن من شغله عن السفر برفعه إلى مجلس الحُكم والتشبثِ به إلى تَوْفية الحق

Hakikat dari permasalahan ini adalah bahwa ia (orang yang berhak) tidak dapat melarangnya bepergian secara langsung sebagaimana tuan melarang budaknya atau suami melarang istrinya, tetapi ia dapat menghalanginya dari bepergian dengan mengadukannya ke majelis hukum dan menahannya sampai haknya dipenuhi.

ولو كان الدين مؤجَّلاً لم يمتنع على من عليه السفرُ؛ إذْ ليس لمستحق الدّين التشبث به قبل حلول الأجل

Jika utang itu berjangka waktu (tidak segera jatuh tempo), maka tidak terlarang bagi orang yang berutang untuk bepergian; sebab pihak yang berhak atas utang tersebut tidak berhak menuntutnya sebelum jatuh tempo.

وهذا مُطّردٌ في الأسفار خلا سفر الغزو؛ فإن أصحابنا اختلفوا فيه فذهب بعضهم إلى أنه يجوز منعه؛ فإن مسيره ومصيره إلى مصرعه وهو سببُ حلول الدين وهذا بعيدٌ لا أصل له

Hal ini berlaku dalam semua perjalanan kecuali perjalanan untuk berperang; karena para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa boleh mencegahnya, karena perjalanannya dan keberangkatannya menuju tempat kematiannya, dan hal itu merupakan sebab jatuhnya utang. Namun, pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar.

والأصح أنه لا يمتنع على من عليه الدين المؤجل أن يسافر نحو الغزو فإن النظر إلى الحالِّ

Pendapat yang lebih sahih adalah tidak terlarang bagi orang yang memiliki utang yang jatuh temponya masih lama untuk bepergian, seperti pergi berjihad, karena yang dipertimbangkan adalah keadaan saat ini.

ولوْ همَّ من عليه الدين المؤجل بالسفر فساوقه مستحق الدين عازماً على أن يلزمه حيث يحل الدين فلا يمنع من الخروج معه إذا كان لا يؤذيه إيذاء المراقب والجادّة مَطْرق الخلق

Jika seseorang yang memiliki utang yang jatuh temponya masih lama berniat untuk bepergian, lalu pihak yang berhak atas utang tersebut ikut bepergian bersamanya dengan maksud untuk menagihnya ketika utang itu jatuh tempo, maka ia tidak dilarang keluar bersamanya selama tidak menyakitinya seperti pengawas, dan jalan yang dilalui adalah jalan umum yang biasa dilalui orang.

ولو قال مستحق الدين المؤجل لمن عليه الدين لا تسافر حتى تعطيني كفيلاً بالدين أو رهناًَ لم يكن على من عليه الدين إسعافُه خلافاً لمالك

Jika pemilik hak atas utang yang masih jatuh tempo berkata kepada orang yang berutang, “Jangan bepergian sampai engkau memberiku penjamin atas utang itu atau barang gadai,” maka orang yang berutang tidak wajib memenuhi permintaannya, berbeda dengan pendapat Malik.

ولو قال لمن عليه الدين أشهد على ديني فالذي قطع به الأصحابُ أنه لا يلزمه ذلك وهو الذي اختاره صاحبُ التقريب أيضاً وحكى وجهاًً غريباً أنه يلزمه إجابته إلى الإشهاد وهذا لا أصل له فلا أعده من المذهب

Jika seseorang yang berutang berkata kepada pihak yang menagih utang, “Jadikanlah utangku ini sebagai bukti dengan menghadirkan saksi,” maka pendapat yang ditegaskan oleh para ulama adalah bahwa ia tidak wajib melakukannya. Inilah juga pendapat yang dipilih oleh penulis kitab at-Taqrib. Namun, ada satu pendapat yang ganjil yang menyatakan bahwa ia wajib memenuhi permintaan untuk menghadirkan saksi, tetapi pendapat ini tidak memiliki dasar sehingga aku tidak menganggapnya sebagai bagian dari mazhab.

فرع

Cabang

إذا أراد الإنسان أن يدّعي ديناً مؤجلاً على إنسان ففي قبول دعواه قبل حلول الأجل وجهان أحدهما أنه لا يقبل؛ فإنه لا يملك المطالبة به فكيف يملك الاستعداءَ والرفعَ إلى مجلس القضاء ومن أصحابنا من قال تُقبل الدعوى؛ فإنه يبغي به التسبب إلى إثباتِ ملكٍ له فليملك ذلك وإن كان لا يتوصل إليه في الحال

Jika seseorang ingin mengajukan klaim atas utang yang jatuh temponya masih di masa depan terhadap seseorang, maka dalam menerima klaimnya sebelum jatuh tempo terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa klaim tersebut tidak diterima, karena ia belum berhak menuntutnya, maka bagaimana mungkin ia berhak mengadukan dan membawa perkara itu ke majelis pengadilan. Namun sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa klaim tersebut diterima, karena dengan itu ia bermaksud untuk menetapkan hak miliknya, maka ia berhak melakukan hal tersebut meskipun ia belum dapat menagihnya saat ini.

فإن قلنا الدّعوى بالدين المؤجل مقبولة فلا كلام وإن قلنا إنها غيرُ مقبولة فعلى من يدعي الدين الحال أن يصرح بذكر الحلول أو يقول لي عليك ألف يلزمك تسليمه إليّ فإن قال ذلك وكان الدّين مؤجَّلاً فللمدعى عليه أن يقول لا يلزمني تسليم ما ادّعيتَه

Jika kita mengatakan bahwa gugatan atas utang yang jatuh temponya masih di masa depan dapat diterima, maka tidak ada masalah. Namun jika kita mengatakan bahwa gugatan tersebut tidak dapat diterima, maka orang yang menggugat utang yang sudah jatuh tempo harus secara tegas menyebutkan bahwa utangnya telah jatuh tempo, atau mengatakan, “Kamu berutang seribu kepadaku yang wajib kamu serahkan kepadaku.” Jika ia mengatakan demikian, padahal utangnya masih belum jatuh tempo, maka pihak tergugat berhak mengatakan, “Aku tidak wajib menyerahkan apa yang kamu gugat itu.”

وكشف القول يستدعي مزيد بَيانٍ مأخوذٍ من الاختلاف في مسألة وهي أن الرجل إذا أقرّ بألفٍ مؤجل فهل يقبل قوله في الأجل أم يؤاخذ بالألف حالاًّ والقول قول المقر له في نفي الأجل مع يمينه فيه قولان سيأتي ذكرهما إن شاء الله تعالى في كتاب الأقارير

Penjelasan lebih lanjut memerlukan uraian tambahan yang diambil dari perbedaan pendapat dalam suatu masalah, yaitu apabila seseorang mengakui utang seribu yang jatuh tempo di kemudian hari, apakah diterima pengakuannya tentang tempo tersebut ataukah ia harus membayar seribu itu secara tunai, dan pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang diakui haknya dalam menolak tempo dengan sumpahnya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan disebutkan, insya Allah Ta‘ala, dalam Kitab al-Aqarir.

فإن قلنا لا يقبل قوله في الأجل لو أقر بالدين المؤجل فيكتفَى منه والحالة هذه أن يقول لا يلزمني التسليم ويحلف عليه

Jika kita mengatakan bahwa pernyataannya tentang tenggat waktu tidak diterima, maka jika ia mengakui utang yang jatuh temponya masih di masa depan, maka dalam keadaan seperti ini cukup baginya untuk mengatakan, “Saya tidak wajib menyerahkan (barang/uangnya),” dan ia bersumpah atas hal itu.

وإن قلنا لا يؤاخذ بالألف حالاًّ لو اعترف به مؤجلاً فوراء ذلك نظرٌ يجب التثبت فيه وهو أنا إذا فرعنا على أنه لا يؤاخذ بالألف حالاً؛ فلو قال المقر له حلفوني أحلف على نفي الأجل قلنا لا يكتفى منك بهذا؛ فإنا نفرع على أنه غير مؤاخذ بالألف وما ذكرته موجب المؤاخذة؛ فإنه على قول المؤاخذة كان لا يعجز عن تحليفك فكأنا نقول لا يلزمه إلا ما اعترف به والمعترَف به دين مؤجل

Dan jika kita mengatakan bahwa ia tidak dibebani untuk membayar seribu secara tunai, lalu ia mengakuinya sebagai utang yang jatuh tempo di kemudian hari, maka ada persoalan lain yang perlu diteliti secara cermat, yaitu: jika kita berpendapat bahwa ia tidak dibebani untuk membayar seribu secara tunai, lalu pihak yang diakui haknya berkata, “Suruhlah dia bersumpah agar menafikan adanya tempo,” maka kami katakan, “Permintaanmu itu tidak cukup.” Sebab, kami berpendapat bahwa ia tidak dibebani untuk membayar seribu, dan apa yang engkau sebutkan justru mewajibkan pembebanan itu; karena menurut pendapat yang membebani, ia tidak akan kesulitan untuk menyuruhmu bersumpah. Maka seakan-akan kami mengatakan, “Ia tidak wajib kecuali atas apa yang diakuinya, dan yang diakui adalah utang yang jatuh tempo di kemudian hari.”

فإذا ثبت هذا عدنا إلى غرضنا قائلين

Jika hal ini telah terbukti, maka kita kembali kepada tujuan kita dengan mengatakan

إن حكمنا بأنه يؤاخذ بالألف حالاًّ وقد ادعى المدعي الألف حالاًّ ولو اعترف المدعى عليه بالألف المؤجل لكان مؤاخذاً بالألف حالاًّ وغاية مضطرَبه أن يحلف المقر له فعلى هذا يكفيه أن يقول في جواب الدعوى لا يلزمني تسليم ما ادّعيتَه ولا يحلفُ إلا على هذا الوجه

Jika kita memutuskan bahwa seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban atas seribu (uang) yang harus segera dibayar, sementara penggugat menuntut seribu yang harus segera dibayar, maka meskipun tergugat mengakui adanya seribu yang ditangguhkan pembayarannya, ia tetap dapat dimintai pertanggungjawaban atas seribu yang harus segera dibayar. Paling jauh, yang dapat dilakukan adalah meminta orang yang diakui haknya untuk bersumpah. Oleh karena itu, cukup bagi tergugat untuk menjawab gugatan dengan mengatakan, “Saya tidak wajib menyerahkan apa yang Anda tuntut,” dan ia hanya diminta bersumpah atas hal tersebut.

وإن قلنا لو أقر بالدّين المؤجَّل لم يؤاخذ بالألف حالاًّ فهل يقنع منه بأن يقول لا يلزمني تسليمه فعلى وجهين أحدهما أنه يُقنع منه بذاك؛ فإن مقصود الدعوى مطالبة المدعى عليه فإذا أنكر وجوب التوفية وحلف عليه فقد تعرض لمضادة مقصود الدعوى

Jika kita mengatakan bahwa jika seseorang mengakui utang yang masih ditangguhkan, maka ia tidak dibebani untuk segera membayar seribu (misal), maka apakah cukup baginya untuk mengatakan, “Saya tidak wajib menyerahkannya sekarang”? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah cukup baginya dengan pernyataan tersebut; karena tujuan gugatan adalah menuntut pihak tergugat, maka jika ia mengingkari kewajiban pelunasan dan bersumpah atasnya, berarti ia telah menentang tujuan gugatan.

ومن أصحابنا من قال عليه أن يبوح فإن لم يكن أصلٌ للدين فليصرح بنفيه في الإنكار وإن كان الدين ولكنه مؤجل فليقر به مؤجلاً

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa ia wajib mengungkapkan (kebenaran). Jika tidak ada asal (dasar) agama, maka hendaknya ia secara tegas menafikannya dalam penolakan. Namun jika itu adalah agama tetapi masih ditangguhkan, maka hendaknya ia mengakuinya sebagai sesuatu yang ditangguhkan.

وممّا يتعلق ببيان ما نحن فيه أن من اعترف إعسار إنسان وأراد أن يدعي عليه ديناً ليثبته على توقع مطالبته به إذا أفاد مالاً ففي سماع ذلك خلافٌ مضاهٍ لما ذكرناه من دعوى الدين المؤجل وهذه الصورة أولى بأن لا تُقبل الدعوى فيها؛ فإنّ زوال العسر لا منتهى له بضبط وليس كالأجل

Termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan masalah yang sedang kita bahas adalah bahwa apabila seseorang mengakui bahwa seseorang lain sedang dalam keadaan tidak mampu, lalu ia ingin mengajukan gugatan utang terhadapnya untuk menetapkan utang tersebut dengan harapan akan menagihnya ketika orang itu memperoleh harta, maka dalam hal diterimanya gugatan tersebut terdapat perbedaan pendapat yang serupa dengan yang telah kami sebutkan mengenai gugatan utang yang masih ditangguhkan. Namun, dalam kasus ini, lebih utama untuk tidak menerima gugatan tersebut; sebab berakhirnya keadaan tidak mampu tidak dapat ditentukan batas akhirnya secara pasti, berbeda dengan tempo jatuh tempo utang.

وذكر الأئمة في الدعوى على العبد في دين متعلق بذمته تردداً أيضاً

Para imam juga menyebutkan adanya keraguan dalam gugatan terhadap seorang hamba atas utang yang menjadi tanggungan dalam dzimmah-nya.

وقد اشتمل كلامنا على ثلاث مراتب المرتبة الأولى في الدين المؤجل والثانية في الدعوى على المعسر مع الاعتراف بإعساره والثالثة وهي أبعدها وأولاها بالرد الدّعوى على العبد بدَيْن متعلقٍ بذمته على ارتقاب العتق وزوال الرق

Pembahasan kami mencakup tiga tingkatan: tingkatan pertama mengenai utang yang ditangguhkan, tingkatan kedua mengenai gugatan terhadap orang yang kesulitan membayar dengan pengakuan atas kesulitannya, dan tingkatan ketiga—yang paling jauh dan paling layak untuk ditolak—yaitu gugatan terhadap seorang budak atas utang yang terkait dengan tanggungannya dengan harapan ia akan merdeka dan status perbudakannya hilang.

Kitab al-Hajr

الحجر هو المنع وكل تحريمٍ حجرٌ في الشرع والحجر في اصطلاح الفقهاء ما يتضمن المنعَ من التصرف

Hajr adalah pencegahan, dan setiap sesuatu yang diharamkan merupakan hajr dalam syariat. Adapun hajr menurut istilah para fuqaha adalah sesuatu yang mengandung makna pencegahan dari melakukan tindakan (tasarruf).

والأسبابُ المقتضية للحجر الجنون والصبا والرق والسفه والفلس

Penyebab-penyebab yang mewajibkan adanya ḥajr (pembatasan hak bertindak) adalah kegilaan, belum dewasa, perbudakan, safah (ketidakmampuan mengelola harta), dan pailit.

فأما المجنون فلا استقلال له وأمره مفوضٌ إلى القوّام عليه والجنون يسلب حكمَ أقوال المجنون بجملتها والصبا يضاهي الجنونَ في سلب الأقوال الملزمة وعليه بنينا منعَ إسلام الصبي على المذهب الظاهر والصلاة تنعقد منه؛ لأنها ليست لازمة وفي إحرامه احتياط في المذهب بيَنَّاه في المناسك والفرق بين الإسلام والإحرام عسر

Adapun orang gila, maka ia tidak memiliki kemandirian dan urusannya diserahkan kepada wali yang mengurusnya. Kegilaan menghilangkan seluruh konsekuensi hukum dari ucapan-ucapan orang gila. Masa kanak-kanak menyerupai kegilaan dalam hal menghilangkan keabsahan ucapan-ucapan yang mengikat. Berdasarkan hal itu, kami menetapkan larangan Islamnya anak kecil menurut mazhab yang zahir. Namun, salat yang dilakukan anak kecil tetap sah, karena salat bukanlah kewajiban yang mengikat. Mengenai ihramnya anak kecil, terdapat sikap kehati-hatian dalam mazhab, sebagaimana telah kami jelaskan dalam bab manasik. Perbedaan antara Islam dan ihram dalam hal ini memang sulit.

وأمّا الحجر بالرق فثابت وقد أنكر بعضُ أصحابنا عدَّ الرقيق من المحجورين وقال إنه لا يملك شيئاًً فلم يتصرف وهذا لا أصل له ووجه منعه بيّنٌ والقول في ذلك لا يشير إلى فقهٍ

Adapun larangan (hajr) karena status budak adalah tetap, namun sebagian ulama kami mengingkari penggolongan budak sebagai orang yang terkena hajr dan mengatakan bahwa budak tidak memiliki apa pun sehingga tidak dapat melakukan transaksi. Pendapat ini tidak memiliki dasar, alasan pelarangannya jelas, dan pembicaraan mengenai hal ini tidak menunjukkan adanya fiqh.

وتصاريف أحوال العبيد تنقسم ثلاثة أقسام قسمٌ لا ينفذ منه وإن أذن المولى فيه كالولايات والشهادات وقسم يستفيده دون إذن المولى كالعبادات والتصرفاتِ في النكاح المأذون فيه وقسم يتوقف نفوذه على إذن السيد وهو كابتداء النكاح والبيع والشراء على الأصح وغيرهما

Perubahan keadaan para budak terbagi menjadi tiga bagian: bagian yang tidak sah dilakukan oleh budak meskipun tuannya mengizinkan, seperti jabatan dan kesaksian; bagian yang dapat diperoleh budak tanpa izin tuannya, seperti ibadah dan tindakan dalam pernikahan yang telah diizinkan; dan bagian yang keabsahannya bergantung pada izin tuan, yaitu seperti memulai pernikahan, jual beli, dan selainnya menurut pendapat yang lebih kuat.

وأمَّا المحجور عليه بالفلس فقد انقضى حكمه في كتابه وأمَّا المحجور عليه بالسفه فتفصيل القول في اطراد الحجر عليه وفيما ينفذ منه وما لا ينفذ سيأتي على الاتصالِ إن شاء الله تعالى وهو مقصود الكتاب

Adapun orang yang dikenai status pailit, maka hukum terkait dirinya telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Sedangkan orang yang dikenai status karena safih (tidak cakap mengelola harta), maka rincian pembahasan tentang berlakunya status tersebut, serta apa saja yang sah dan tidak sah darinya, akan dijelaskan secara berurutan setelah ini, insya Allah Ta‘ala, dan itulah tujuan utama dari kitab ini.

ثم ذكر الأصحاب في صدر الكتاب تفصيلَ القول في البلوغ وسببه

Kemudian para ulama mazhab menyebutkan di awal kitab ini rincian pendapat mengenai baligh dan sebab-sebabnya.

والغرض التعرض للسَّفَه والتبذير والرشد المناقض لهما ولكنّ نظمَ الكلام يقتضي ذكرَ زوال الصبا والنظرُ بعد زواله في الرشد والسفه والصّبي في الإطلاق غيرُ مكلَّف وكأن الشرعَ لم يُلزم الصبيَّ قضايا التكليف بسببين أحدهما أنه في مظنة الغباوة وضعف القصد فلا يستقل بأعباء التكليف والثاني أنه عري عن البلية العظمى وهي الشهوة ثم ربط الشرعُ التزام التكليف بأمدٍ أو تركّب الشهوة أمّا الأمد فيُشير إلى التهذب بالتجارب وأما تركب الشهوة؛ فإنه تعرض للبلايا العظام فرأى الشرع تثبيت التكليف معه زاجراً وإن اتفق ذلك دون الأمد المعتبر في البلوغ

Tujuan pembahasan ini adalah membahas tentang safah (ketidakdewasaan), tabdzir (pemborosan), dan rusyd (kedewasaan) yang merupakan lawan dari keduanya. Namun, susunan kalimat menuntut untuk menyebutkan hilangnya masa kanak-kanak, kemudian setelah itu meneliti tentang rusyd dan safah. Anak kecil secara mutlak tidak dibebani taklif, seolah-olah syariat tidak mewajibkan anak kecil untuk menjalankan ketentuan-ketentuan taklif karena dua alasan: pertama, ia berada dalam posisi rawan kebodohan dan lemahnya tujuan, sehingga belum mampu memikul beban taklif; kedua, ia belum terkena ujian besar, yaitu syahwat. Kemudian, syariat mengaitkan kewajiban taklif dengan batas waktu tertentu atau dengan munculnya syahwat. Adapun batas waktu, itu menunjukkan adanya pembentukan akhlak melalui pengalaman; sedangkan munculnya syahwat, itu berarti seseorang telah menghadapi ujian-ujian besar. Maka syariat memandang perlu menetapkan taklif bersamaan dengan munculnya syahwat sebagai pencegah, meskipun hal itu terjadi sebelum batas waktu yang dianggap sebagai tanda baligh.

فأما الأمد فمذهب الشافعي أن بلوغ الغلام والجارية يحصل باستكمال خمسَ عشرةَ سنة هذا هو المذهب

Adapun mengenai batas usia, menurut mazhab Syafi‘i, baligh bagi anak laki-laki dan perempuan terjadi setelah genap berusia lima belas tahun; inilah pendapat dalam mazhab.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً بعيداً في أن البلوغَ يحصل بالطعن في السنة الخامسة عشرة من غير استكمال وهذا لا أصلَ له هذا قولنا فيما يتعلق بالزمان

Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat yang lemah bahwa baligh terjadi dengan memasuki tahun kelima belas tanpa harus menyempurnakannya, dan pendapat ini tidak memiliki dasar. Inilah pendapat kami terkait dengan masalah usia.

فأمّا تركب الشهوةِ فلا مُطَّلعَ عليه إلا من جهة العلامة حتى نذكر العلامة في الغلام والجارية والخنثى

Adapun timbulnya syahwat, maka tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali melalui tanda, sehingga kami akan menyebutkan tanda-tandanya pada anak laki-laki, anak perempuan, dan khuntsa.

فأمّا الغلام فعلامة تركّب الشهوة فيه انفصالُ المني وقد وصفناه في كتاب الطّهارة ثم اختلف أصحابنا في أقلّ السّن الذي يُفرض بلوغ الغلام بالاحتلام فيه فقال قائلون إنه يحتلم إذا استكمل العاشرة ولو فرض انفصال ما نراه على صفة المني في التاسعة فهذا نادرٌ

Adapun anak laki-laki, maka tanda timbulnya syahwat padanya adalah keluarnya mani, dan kami telah menjelaskannya dalam Kitab Thaharah. Kemudian para ulama kami berbeda pendapat tentang usia minimal yang dianggap balighnya anak laki-laki karena mimpi basah. Sebagian mereka berpendapat bahwa ia mengalami mimpi basah jika telah genap berusia sepuluh tahun. Namun, jika terjadi keluarnya sesuatu yang kami anggap seperti mani pada usia sembilan tahun, maka hal itu adalah sesuatu yang jarang terjadi.

وقد مضى القول في كتاب الحيض فيما يُفرض ندورُه في الحيض وأقلِّه وأكثرِه

Telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Haid mengenai hal-hal yang jarang terjadi dalam haid, serta tentang batasan minimal dan maksimalnya.

والمتبع في هذه الأبواب الوجودُ واتباع الأولين وقد أشبعنا القول في ذلك على أقصى الإمكان

Yang diikuti dalam bab-bab ini adalah realitas yang ada dan mengikuti para pendahulu, dan kami telah membahas hal itu secara tuntas sejauh mungkin.

وإنما الذي نُجريه الآن ذكرُ كلام الأصحاب خلافاً ووفاقاً على ما تقرّر عندهم في حكم العادة هذا قولنا في سبب بلوغ الغلام

Adapun yang kami lakukan sekarang adalah menyebutkan pendapat para ulama, baik yang berbeda maupun yang sepakat, sesuai dengan apa yang telah mereka tetapkan dalam hukum kebiasaan. Inilah pendapat kami tentang sebab balighnya seorang anak laki-laki.

فأمّا سبب بلوغ الجارية فاعتبار السن فيها كاعتبار السن في الغلام

Adapun sebab baligh bagi seorang perempuan, maka penetapan usia padanya sama seperti penetapan usia pada laki-laki.

وقد روى الدارقطني بإسناده أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا استكمل المولود خمسَ عشرةَ سنةً كتب ما له وما عليهِ وأقيمت عليه الحدود ولفظ المولود يعم الغلام والجارية فلا فرق بينهما فيما يتعلق بالسن باتفاق الأصحاب

Ad-Daraquthni meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang anak telah genap berusia lima belas tahun, maka dicatatlah hak dan kewajibannya, serta ditegakkan atasnya hudud.” Lafaz “anak” mencakup baik laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak ada perbedaan di antara keduanya dalam hal yang berkaitan dengan usia menurut kesepakatan para ulama.

وأمّا الخارجُ الدال على البلوغ فيها فالحيض لا شك أَنَّه يدل على البلوغ

Adapun tanda lahir yang menunjukkan telah baligh pada perempuan adalah haid; tidak diragukan lagi bahwa haid menunjukkan telah baligh.

والقول في أقل سن الحيض استقصيناه في كتاب الحيض

Pembahasan tentang usia minimal haid telah kami uraikan secara rinci dalam Kitab Haid.

والمرأة إذا احتلمت وخرج منها ما يُعتقد أنه أصل فطرة المولود من جانبها فقد ذكرنا في كتاب الطّهارة أن المرأة تغتسل إذا رأت ذلك واستشهدنا عليه بحديث المرأة التي سألته صلى الله عليه وسلم وقالت ما على المرأة إذا هي احتلمت فقال صلى الله عليه وسلم في آخر الحديث إذا رأت ذلك فلتغتسل فإذا رأت الصبية ما وصفناه فهل يكون ذلك بلوغاً منها إذا رأت ذلك على سن إمكان البلوغ فعلى وجهين ذكرهما الأصحاب أحدهما أنه يكون بلوغاً منها بمثابة احتلام الغلام

Dan apabila seorang perempuan mengalami mimpi basah dan keluar darinya sesuatu yang diyakini sebagai asal fitrah bayi dari sisinya, maka telah kami sebutkan dalam Kitab Thaharah bahwa perempuan wajib mandi jika melihat hal tersebut. Kami juga menguatkannya dengan hadits tentang seorang perempuan yang bertanya kepada Nabi ﷺ, “Apa yang harus dilakukan perempuan jika ia mengalami mimpi basah?” Maka Nabi ﷺ di akhir hadits bersabda, “Jika ia melihat hal itu, hendaklah ia mandi.” Jika seorang anak perempuan melihat apa yang telah kami jelaskan tadi, apakah hal itu dianggap sebagai tanda baligh baginya jika ia melihatnya pada usia kemungkinan baligh? Maka ada dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama; salah satunya adalah bahwa hal itu dianggap sebagai tanda baligh baginya, sebagaimana mimpi basah pada anak laki-laki.

والثاني لا يكون بلوغا؛ لأن ذلك نادر في جنسهن وحق البلوغ أن يُناط بالعلامات الظّاهرة وللنَّظر وراء ذلك مضطرَبٌ

Yang kedua tidak dianggap sebagai baligh; karena hal itu jarang terjadi pada jenis mereka dan hakikat baligh seharusnya dikaitkan dengan tanda-tanda yang tampak, sedangkan jika melihat lebih jauh dari itu terdapat banyak kerancuan.

فإذا قلنا يحصل البلوغ وهو الأصح فلا إشكال وإن قلنا لا يحصل البلوغ فالذي يتّجه عندي أن هذه لا يلزمها الغسل في هذا المقام؛ فإنا لو ألزمناها ذلك لكان حكماً بأن المنفصل منيٌّ والجمع بين الحكم بأنه منيٌّ يوجب خروجُه الغسلَ وبين الحكم بأن البلوغ لا يحصل به فيه تناقض فعلى هذا يُقطع بوجوب الغسل بخروج المني من المرأة التي لا نشك في بلوغها وإذا رأت الصبيةُ ذلك في مظنة البلوغ ففي وجوب الغسل ما ذَكرته هذا ما رأيته

Jika kita katakan bahwa baligh terjadi (dengan keluarnya mani), dan inilah pendapat yang paling benar, maka tidak ada masalah. Namun jika kita katakan bahwa baligh tidak terjadi (dengan keluarnya mani), maka menurut pendapat saya, perempuan tersebut tidak wajib mandi junub dalam keadaan ini; sebab jika kita mewajibkannya mandi junub, berarti kita menetapkan bahwa cairan yang keluar itu adalah mani, dan menggabungkan antara menetapkan bahwa itu adalah mani yang mewajibkan mandi junub dengan menetapkan bahwa baligh tidak terjadi karenanya adalah kontradiksi. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa mandi junub wajib bagi perempuan yang kita tidak ragu lagi telah baligh ketika keluar mani. Adapun jika seorang anak perempuan melihat hal itu dalam keadaan diduga telah baligh, maka dalam hal kewajiban mandi junub sebagaimana yang telah saya sebutkan. Inilah yang saya pahami.

وظاهر كلام الأصحاب ثبوتُ الغسل وجهاً واحداً والتردُّدُ في حصول البلوغ من جهة ندور الشيء وهذا غير سديد وظاهر المذهب حصول البلوغ فقد اجتمع للمرأة أسبابٌ ثلاثة إلى أن يلحق بها بعد ذلك ما ينبغي فالأسباب الثلاثة السن والحيض وانفصال ماء الفطرة

Tampak dari perkataan para ulama mazhab bahwa kewajiban mandi junub telah tetap menurut satu pendapat, sedangkan keraguan hanya terjadi dalam hal tercapainya baligh karena jarangnya hal tersebut, dan ini tidaklah tepat. Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, baligh telah tercapai, karena pada perempuan telah berkumpul tiga sebab hingga kemudian akan menyusul sebab-sebab lain yang semestinya. Tiga sebab tersebut adalah usia, haid, dan keluarnya mani fitrah.

فأما الإنباتُ يعني إنباتَ العانة فإنه يعم الغلامَ والجارية ولم يختلف الأصحاب في أنه تعلّقَ به الحكمُ بالبلوغ في حق أولاد الكفار والشاهد له ما كان من رسول الله صلى الله عليه وسلم في بني قريظة لما حكم سعدٌ بقتل مقاتلتهم فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم برجالهم فضربت أعناقهم وكان يأمر بالكشف عن مؤتزر الغلام فكل من أنبت منهم كان يقدّم وتضربُ رقبته

Adapun tumbuhnya rambut kemaluan, maksudnya adalah tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan, maka hal ini berlaku bagi anak laki-laki maupun perempuan. Para ulama sepakat bahwa tumbuhnya rambut kemaluan menjadi tanda baligh bagi anak-anak kaum kafir. Dalilnya adalah apa yang terjadi pada peristiwa Bani Quraizhah, ketika Sa‘d memutuskan hukuman bunuh bagi para prajurit mereka, maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar laki-laki mereka dibunuh. Beliau memerintahkan agar diperiksa bagian bawah kain anak laki-laki, sehingga setiap anak yang telah tumbuh rambut kemaluannya didahulukan dan dipenggal lehernya.

ثم الترتيب الجامع المرضي في ذلك أن الأصحاب اختلفوا في أن الإنبات عينُ البلوغ أو علامةُ البلوغ هكذا قال الأصحاب فإن جعلنا الإنبات عينَ البلوغ وجب الحكمُ بالبلوغ عنده في أولاد المسلمين كما يجب ذلك في أولاد الكفار

Kemudian, urutan yang komprehensif dan memuaskan dalam hal ini adalah bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai apakah tumbuhnya rambut kemaluan merupakan hakikat baligh atau hanya tanda baligh. Demikianlah yang dikatakan para ulama. Jika kita menetapkan bahwa tumbuhnya rambut kemaluan adalah hakikat baligh, maka wajib menetapkan hukum baligh karenanya pada anak-anak kaum muslimin sebagaimana wajib pula menetapkannya pada anak-anak kaum kafir.

وإن قلنا إنه علامةُ البلوغ ففي أولاد المسلمين وجهان أحدهما يحكم بالبلوغ فيهم قياساً على أولاد الكفار

Jika kita mengatakan bahwa itu adalah tanda baligh, maka mengenai anak-anak kaum Muslimin terdapat dua pendapat; salah satunya adalah mereka dihukumi telah baligh dengan melakukan qiyās terhadap anak-anak kaum kafir.

والثاني لا يُحكم؛ فإنا نطلع على تواريخ ولادة أولاد المسلمين؛ فلا نتعلق بالأمر الخفي وقد لا نطلع على التواريخ في أولاد المشركين فنكتفي بهذه العلامة

Yang kedua tidak dijadikan dasar hukum; karena kita dapat mengetahui tanggal kelahiran anak-anak kaum Muslimin, sehingga kita tidak bergantung pada hal yang samar. Adapun pada anak-anak kaum musyrik, kita mungkin tidak mengetahui tanggal kelahirannya, maka kita cukup dengan tanda ini.

وهذا الذي ذكره الأصحاب فيه بعضُ النّظر فلا وجه عندنا للحكم بأن الإنبات عينُ البلوغ ولا طريق إلا القطعُ بأنه علامةٌ ثم ينتظم عليه مراد الأصحاب في القطع بأنه علامة في أولاد الكفار والتردد في أولاد المسلمين

Apa yang disebutkan oleh para ulama ini masih perlu ditinjau kembali; menurut kami, tidak ada alasan untuk menetapkan bahwa tumbuhnya rambut kemaluan adalah hakikat baligh, dan tidak ada jalan lain kecuali memastikan bahwa itu hanyalah tanda. Dengan demikian, maksud para ulama dapat dipahami, yaitu memastikan bahwa itu adalah tanda pada anak-anak kafir dan masih ada keraguan pada anak-anak muslim.

والمعنيُّ بالإنبات ظهورُ الشعر الخشن الذي يتميز عن الزغب

Yang dimaksud dengan tumbuh adalah munculnya rambut kasar yang berbeda dari rambut halus (zaghb).

وحكى بعض الأثبات عن القاضي أنه نزَّل نبات اللحية والشارب والإبط منزلة نبات العانة وهذا حسن متّجه وإنبات العانة يقع في مفتتح تحريك الطبيعة في تركب الشهوة

Sebagian ulama yang terpercaya meriwayatkan dari al-Qadhi bahwa beliau menyamakan tumbuhnya rambut janggut, kumis, dan ketiak dengan tumbuhnya rambut kemaluan, dan ini adalah pendapat yang baik dan dapat diterima. Tumbuhnya rambut kemaluan terjadi pada awal munculnya dorongan naluri dalam pembentukan syahwat.

ونباتُ اللحية والشاربِ والإبط لا يتراخى في الغالب عن البلوغ فكان أولى بالدلالة على البلوغ من إنبات شعر العانة

Tumbuhnya jenggot, kumis, dan bulu ketiak biasanya tidak terlambat dari masa baligh, sehingga lebih utama dijadikan tanda baligh dibandingkan tumbuhnya rambut kemaluan.

فأمَّا انفراق الأرنبة ونتوء غضروفة الحلقوم وثقل الصوت ونهودُ الثدي فشيء منها لا يكون علامةً في البلوغ

Adapun terbelahnya ujung hidung, menonjolnya tulang rawan tenggorokan, beratnya suara, dan membesarnya payudara, maka tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang menjadi tanda baligh.

هذا منتهى ما أردناه في بلوغ الغلام والجارية وما يختص به كل واحد منهما وما يشتركان فيه

Inilah akhir dari apa yang ingin kami sampaikan mengenai balighnya anak laki-laki dan perempuan, hal-hal yang menjadi kekhususan masing-masing dari keduanya, serta hal-hal yang mereka berdua miliki secara bersama.

فأمّا الخنثى فالسن في حقه كالسن في حق الجنسين وأمَّا انفصال ما هو على نعت المني وخروجُ ما هو على صفة الحيض فهل يتعلق البلوغ به ذكر الشيخ أبو علي والعراقيون طريقةً نحن طاردوها ثم ننبه على وجه التحقيق

Adapun khuntsa, maka usia (baligh) baginya sama seperti usia (baligh) pada kedua jenis kelamin. Adapun terpisahnya sesuatu yang sifatnya seperti mani dan keluarnya sesuatu yang sifatnya seperti haid, apakah baligh terkait dengannya? Syaikh Abu Ali dan para ulama Irak menyebutkan satu metode yang akan kami paparkan, kemudian kami akan menunjukkan sisi penjelasan yang lebih tepat.

قالوا إذا انفصل منه ما هو على صفة المني فلا نحكم بالبلوغ لجواز أن يعارضه خروجُ ما هو على صفة الحيض وكذلك إذا سبق خروج المني من فرج النساء لم نحكم بالبلوغ لما ذكرناه من احتمال خروج الدم بعده ولو خرج المني من الذكر والدمُ من الفرج ففي الحكم بالبلوغ وجهان أحدهما أنه يحكم به؛ فإنه إن كان رجلاً فقد أمنى وإن كانت امرأةً فقد حاضت

Mereka berkata: Jika keluar dari seseorang sesuatu yang sifatnya seperti mani, maka kita tidak menetapkan telah baligh, karena mungkin saja hal itu diiringi keluarnya sesuatu yang sifatnya seperti haid. Demikian pula, jika mani keluar lebih dahulu dari kemaluan perempuan, kita tidak menetapkan telah baligh karena kemungkinan setelah itu keluar darah. Jika mani keluar dari penis dan darah keluar dari vagina, maka dalam penetapan baligh terdapat dua pendapat: salah satunya adalah menetapkan baligh; sebab jika ia laki-laki maka ia telah mengeluarkan mani, dan jika ia perempuan maka ia telah mengalami haid.

والوجه الثاني أنه لا يُحكم بالبلوغ لتعارض الخارجَيْن وليس أحدهما بأن يحال عليه البلوغ أولى من الثاني

Pendapat kedua adalah bahwa tidak dapat dihukumi telah baligh karena adanya dua tanda lahir yang saling bertentangan, dan tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih layak dijadikan acuan untuk menetapkan baligh dibandingkan yang lain.

قال الشيخ أبو علي نصُّ الشافعي يدل على هذا الوجهِ الأخير وهو أن البلوغ لا يحصل عند التعارض

Syekh Abu Ali berkata, teks (nash) Imam Syafi‘i menunjukkan pada pendapat terakhir ini, yaitu bahwa baligh tidak terjadi ketika terdapat pertentangan (dalil).

وهذا الذي ذكروه كلام مختلط لا يستند إلى تحصيل وقد ذكر الأصحابُ في الطرق في علامات الذكورة والأنوثة أن الخنثى إن كان يبول بمبالِ الرجل فهو رجل وإن كان يبول بمبال النساء فهو امرأة وإن كان يبول بهما فالأمر مشكل فيتعلق بخروج المني والحيض أوان البلوغ فإن أمنى بفرج الرجال فهو رجل وإن حاض بفرج النساء فهو امرأة فإن كان خروج ما هو على نعت المني دالاًّ على الذكورة فيجب القطع بكونه منيَّاً دالاًّ على البلوغ وإن لم نحكم بالبلوغ وجب ألا نحكم بالذكورة وهذا لا شك فيه

Apa yang mereka sebutkan itu adalah pembicaraan yang rancu dan tidak didasarkan pada pemahaman yang benar. Para ulama dalam mazhab telah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka tentang tanda-tanda kelelakian dan keperempuanan, bahwa jika khuntsa (orang yang memiliki dua alat kelamin) kencing melalui saluran kencing laki-laki, maka ia dianggap laki-laki. Jika ia kencing melalui saluran kencing perempuan, maka ia dianggap perempuan. Jika ia kencing melalui keduanya, maka masalahnya menjadi rumit dan dikaitkan dengan keluarnya mani dan haid pada masa baligh. Jika ia mengeluarkan mani dari alat kelamin laki-laki, maka ia dianggap laki-laki. Jika ia mengalami haid dari alat kelamin perempuan, maka ia dianggap perempuan. Jika keluarnya sesuatu yang menyerupai mani menunjukkan kelelakian, maka harus dipastikan bahwa itu adalah mani yang menandakan baligh. Jika kita tidak memutuskan bahwa ia telah baligh, maka tidak boleh kita memutuskan bahwa ia laki-laki. Hal ini tidak diragukan lagi.

والقول في الحيض إذا انفرد ولم يعارضه المني كالقول في المني إذا لم يعارضه الحيض

Pendapat mengenai haid apabila berdiri sendiri dan tidak bertentangan dengan mani adalah sama seperti pendapat mengenai mani apabila tidak bertentangan dengan haid.

وأنا أذكر مسلكين أحدهما الحق عندي والثاني يفيد تقريب كلام الأصحاب من وجهٍ على بعده فأمّا الحق الذي يجب اتباعُه فهو أن نقول المني إذا انفرد خروجه كان بلوغاً وكذلك القول في الحيض إذا انفرد فإن قيل إذا سبق المني لم يبعد توقعُ الحيض بعده فكيف يقع به الحكم بالبلوغ قلنا هذا يتوجه في الحكم بالذكورة والأنوثة وإن شبب مشبب بخلافٍ في الذكورة والأنوثة في الحيض والمني أُلزم خروجَ البول من أحد المبالين؛ فإنه يبيّن الذكورة والأنوثة وإن كنا لا نأمن خروجَه من المبال الثاني بعد خروجه من المبال الأوَّل ثم لا خلاف أنا نعلق الحكم بالمبال إذاً سبق فإن تأخّر عنه الخروج من المبال الثاني نقضنا ما حكمنا به فالوجه إذاً القطع بحصول الذكورة بالمني إذا انفرد وحصول البلوغ وكذلك القول في الحيض إذا انفرد

Saya akan menyebutkan dua pendekatan: salah satunya adalah yang benar menurut saya, dan yang kedua bermanfaat untuk mendekatkan penjelasan para ulama meskipun dari satu sisi agak jauh. Adapun kebenaran yang wajib diikuti adalah bahwa kita katakan, jika mani keluar sendiri maka itu menandakan telah baligh, demikian pula halnya dengan haid jika terjadi sendiri. Jika ada yang berkata: “Jika mani keluar terlebih dahulu, tidak mustahil haid akan terjadi setelahnya, lalu bagaimana bisa ditetapkan hukum baligh dengan keluarnya mani?” Kami katakan: Hal ini juga berlaku dalam penetapan jenis kelamin laki-laki dan perempuan; jika ada yang menganggap ada perbedaan dalam penetapan jenis kelamin melalui haid dan mani, maka keluarnya air kencing dari salah satu saluran kencing juga menjadi penentu jenis kelamin laki-laki atau perempuan, meskipun kita tidak bisa memastikan tidak akan keluar dari saluran yang lain setelah keluar dari saluran pertama. Namun tidak ada perbedaan bahwa kita menetapkan hukum berdasarkan saluran yang lebih dahulu keluar; jika kemudian keluar dari saluran kedua, maka kita membatalkan hukum yang telah kita tetapkan sebelumnya. Maka, yang tepat adalah menetapkan jenis kelamin dengan mani jika keluar sendiri, dan menetapkan baligh, demikian pula halnya dengan haid jika terjadi sendiri.

وإن خرج المني والحيض فلا شك أنا لا نحكم بالذكورة والأنوثة لتعارض الأمرين وهل يُحكم بالبلوغ هذا محتمل جدّاً يجوز أن يقال يحصل البلوغ؛ فإنه إن التبس الذكورة والأنوثة فقد حصلت العلامتان المعتبرتان في البلوغ فإن كانت امرأة فقد حاضت وإن كان رجلاً فقد أمنى ويجوز أن يقال لا يحصل البلوغ بناء على أن الخارجَيْن ليسا منياً ولا حيضاً؛ فإن تعارضهما قد يثير هذا الإشكال فإنَّ الجبلّة التي تنشىء المني لا تنشىء الحيض من مغيضه والطبيعة التي تنشىء الحيض لا تنشىء المني فلا يمتنع ألاّ نحكم على الواحد من الخارجَيْن تحقيقه وبهذا نوجه نصّ الشافعي إن كان له نص فهذه الطريقة التي أرتضيها

Jika keluar mani dan haid, tidak diragukan lagi bahwa kita tidak menetapkan jenis kelamin laki-laki atau perempuan karena adanya pertentangan antara keduanya. Adapun apakah dihukumi telah baligh, hal ini sangat mungkin diperdebatkan. Boleh jadi dikatakan telah baligh; sebab jika jenis kelamin laki-laki dan perempuan masih samar, maka telah terdapat dua tanda yang dianggap sebagai tanda baligh: jika ia perempuan, maka ia telah haid; jika ia laki-laki, maka ia telah mengeluarkan mani. Namun boleh juga dikatakan belum baligh, berdasarkan anggapan bahwa kedua cairan yang keluar itu bukanlah mani dan bukan pula haid; sebab pertentangan antara keduanya dapat menimbulkan keraguan ini. Sebab, fitrah yang menghasilkan mani tidak akan menghasilkan haid dari tempat keluarnya, dan tabiat yang menghasilkan haid tidak akan menghasilkan mani. Maka tidak mustahil jika kita tidak menetapkan salah satu dari dua cairan itu secara pasti. Dengan ini, kami menafsirkan pendapat Imam Syafi’i jika memang ada pendapat beliau dalam masalah ini. Inilah metode yang saya pilih.

فأما تقريب قول الأصحاب وحملُه على وجهٍ يقرب بعض القرب فهو أن يقال إن سبقَ المني حكمنا حكماً ظاهراً بالبلوغ وكذلك إن سبق الحيض؛ فإن سبق أحدُهما ولحقه الثاني فحُكْمنا بالبلوغ ربطاً بالسابق منقوضٌ لا محالة فهذا هو المعنيّ بقول الأصحاب لا نحكم بالبلوغ فإذا اعتقبا فهل نحكم الآن وقد نقضنا حكمنا الأول بالبلوغ فعلى التردد وهذا مع بذل الجهد فيه مُثبَّجٌ

Adapun penjelasan pendapat para ulama dan membawanya pada makna yang lebih dekat adalah dengan mengatakan bahwa jika mani keluar terlebih dahulu, maka kita menetapkan hukum baligh secara lahiriah, demikian pula jika haid datang terlebih dahulu; namun jika salah satunya mendahului lalu diikuti oleh yang kedua, maka penetapan kita atas hukum baligh yang dikaitkan dengan yang pertama pasti akan dibatalkan. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan para ulama bahwa kita tidak menetapkan hukum baligh. Maka jika keduanya terjadi secara berurutan, apakah kita menetapkan hukum baligh sekarang setelah kita membatalkan penetapan pertama? Maka hal ini menjadi titik keraguan. Dan meskipun telah dicurahkan segala upaya dalam hal ini, tetap saja permasalahannya rumit.

فصل

Bab

قد ذكرنا ما يحصل البلوغ به ونحن نذكر الآن الرشدَ ومعناه ونقيضه وهو السفه؛ فإن الربَّ تعالى علق زوال الحجر في حق الصبي بالبلوغ وإيناس الرشد فقال تعالى فَإِنْ آَنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فنذكر معنى الرشد فنقول الرشيد هو الصالح في دينه المصلح لمالهِ فلو بلغ الصبي مبذراً وهو الذي يصرف ماله في جهةٍ لا يستفيد به أجراً في الآجل ولا حمداً ممّن يُعتبر حمدُه في العاجل هذا معنى التبذير

Kami telah menjelaskan hal-hal yang menyebabkan seseorang mencapai usia baligh, dan sekarang kami akan menjelaskan tentang rasyid (kedewasaan) beserta maknanya, serta lawannya yaitu safih (ketidakdewasaan); karena Allah Ta‘ala mengaitkan hilangnya status perwalian atas anak kecil dengan baligh dan adanya tanda-tanda rasyid, sebagaimana firman-Nya: “Jika kalian telah melihat pada mereka tanda-tanda rasyid…” Maka kami akan menjelaskan makna rasyid, yaitu orang yang baik dalam agamanya dan mampu memperbaiki urusan hartanya. Jika seorang anak telah baligh namun masih bersikap mubazir, yaitu menggunakan hartanya untuk hal-hal yang tidak mendatangkan pahala di akhirat maupun pujian dari orang yang layak dipuji di dunia, maka inilah yang dimaksud dengan tabdzir (pemborosan).

فإن بلغ الصبي فاسقاً وكان يعدُّه أهل المعاملات مصلحاً لماله مقتِّراً ضابطاً فهو في معنى المبذر؛ والسَّبب فيه أن الفاسقَ قد يصرف أمواله إلى اتخاذ الخمور وأجرة القَيْنات وأبناءُ جنسه يعدّونه مقتصداً في نوعه وصرفُ المال إلى هذه الجهات تبذيرٌ في الشرع وإفسادٌ للمال

Jika seorang anak laki-laki telah baligh dalam keadaan fasiq, namun oleh para pelaku muamalah dianggap sebagai orang yang pandai mengelola hartanya, hemat, dan mampu menjaga hartanya, maka ia dalam hukum dianggap seperti seorang yang mubadzir. Sebabnya adalah karena seorang fasiq mungkin saja membelanjakan hartanya untuk membeli khamar, membayar penyanyi perempuan, dan orang-orang sejenisnya menganggap hal itu sebagai pengeluaran yang wajar dalam jenisnya. Padahal, membelanjakan harta untuk hal-hal tersebut menurut syariat adalah pemborosan (tabdzir) dan perusakan terhadap harta.

ولو كان يتعدى طوره في اتخاذ الأطعمة الفائقة الكثيرة القيمة والمؤنة وكان لا يليق ما يفعله بمنصبه ومرتبته في اليسار فهذا منه تبذير ويختلف ما أشرنا إليه باختلاف المنازل والرتب

Jika seseorang melampaui batas dalam memilih makanan-makanan mewah yang sangat mahal dan membutuhkan biaya besar, sementara perbuatannya itu tidak sesuai dengan kedudukan dan tingkat kemampuannya, maka hal itu termasuk pemborosan darinya. Apa yang telah kami isyaratkan ini berbeda-beda sesuai dengan tingkatan dan kedudukan masing-masing.

وذكر أئمتنا أنّ صرف المال في الخيرات وجهاً القربات ليس بتبذير

Para imam kami menyebutkan bahwa membelanjakan harta untuk kebaikan dan berbagai bentuk pendekatan diri kepada Allah bukanlah termasuk pemborosan.

ومن رشيق كلام المتقدمين قول بعضهم لا خير في السَّرف ولا سرف في الخير

Di antara ungkapan indah dari para ulama terdahulu adalah perkataan sebagian mereka: “Tidak ada kebaikan dalam pemborosan, dan tidak ada pemborosan dalam kebaikan.”

وكان شيخي يفصل ذلك تفصيلاً حسناً ويقول إذا بلغ الصبي وكان يتشوف إلى صرف المال إلى الخيرات على سرفٍ فهو تبذير منه وإن بلغ مصلحاً للمال مقتصداً وزال الحجر ثم طرأ السَّفه فنذكر أنه يعود الحجرُ فلو طرأ إفراطٌ في صرف المال إلى الخيرات فلا نُعيد عليه الحجرَ بهذا وعند ذلك يقع الفرق بين السرف في النفقات وبين السرف في الخيراتِ وهذا على حسنه ممَّا انفرد به

Guru saya menjelaskan hal itu dengan penjelasan yang baik dan berkata: Jika seorang anak laki-laki telah baligh dan ia ingin membelanjakan hartanya untuk kebaikan secara berlebihan, maka itu termasuk pemborosan darinya. Namun, jika ia telah baligh dalam keadaan mampu mengelola harta dan bersikap sederhana, lalu status perwalian atas hartanya dicabut, kemudian setelah itu muncul sifat boros, maka kami menyatakan bahwa perwalian atas hartanya kembali diberlakukan. Akan tetapi, jika yang muncul adalah sikap berlebihan dalam membelanjakan harta untuk kebaikan, maka kami tidak mengembalikan perwalian atas hartanya karena hal itu. Pada saat itulah terdapat perbedaan antara sikap berlebihan dalam pengeluaran (umum) dan sikap berlebihan dalam kebaikan. Dan penjelasan yang baik ini merupakan pendapat yang khas dari beliau.

والأئمة لم يفرقوا بين حالة البلوغ وبين ما يطرأ من ضراوةٍ بالخيرات والمسألة في الإطلاق والتفصيل محتملة جدّاً

Para imam tidak membedakan antara keadaan baligh dengan keadaan yang muncul karena semangat yang besar dalam kebaikan; persoalan ini sangat mungkin untuk dipahami secara umum maupun terperinci.

وإذا بلغ الصبي سفيهاً اطرد الحجر عليه ووليّه بعد بلوغه سفيهاً مَنْ كان وليّه في صباه؛ فإن السَّفه اتصل بالصبا فكان ذلك بمثابة تمادي الصّبا

Jika seorang anak laki-laki mencapai usia baligh dalam keadaan safih (tidak cakap mengelola harta), maka status hajr (pembatasan hak mengelola harta) tetap berlaku atasnya, dan walinya setelah ia baligh dalam keadaan safih adalah orang yang menjadi walinya ketika ia masih kecil; sebab sifat safih itu berlanjut dari masa kanak-kanak, sehingga hal itu dianggap seperti berlanjutnya masa kanak-kanak.

وإذا زال سفهُ السفيه وبان رشدُه فالأصح أنه ينطلق الحجر عنه من غير حاجةٍ إلى رفع القاضي وإطلاقهِ؛ فإن استمرار الحجر لم يكن بضرب القاضي فلا يتوقف زواله على إطلاقه وإزالته

Apabila kebodohan seseorang yang dianggap safīh telah hilang dan telah nyata kecerdasannya, maka pendapat yang paling sahih adalah bahwa status pembatasan (ḥajr) atas dirinya otomatis gugur tanpa perlu keputusan atau pencabutan dari qāḍī; sebab kelanjutan status ḥajr itu bukan karena keputusan qāḍī, sehingga hilangnya pun tidak bergantung pada pencabutan atau penghapusan oleh qāḍī.

ومن أصحابنا من قال لا ينطلق الحجر عنه وإن ظهر رشدُه ما لم يتصل الأمر بنظر القاضي وإطلاقه؛ فإنَّ زوال السَّفه مجتهدٌ فيه فيجب ربط رفع الحجر بمن إليه النّظر العام وهذا بعيد جداً

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa status tidak cakap (hajr) tidak gugur darinya meskipun telah tampak tanda-tanda kedewasaannya, selama perkara tersebut belum diajukan kepada hakim dan belum ada keputusan pembebasan darinya; karena hilangnya sifat boros (safah) adalah perkara ijtihadi, maka pencabutan status hajr harus dikaitkan dengan pihak yang memiliki wewenang umum dalam hal ini. Namun, pendapat ini sangat jauh (dari kebenaran).

وممَّا يتصل بتمام القول في ذلك أن الصبيَّ لو بلغ ولم يظهر منه ما يخالف الرشدَ فالأصح أن الحجر يرتفع عنه ولا حاجة إلى إطلاق القاضي

Terkait dengan penyempurnaan pembahasan ini, apabila seorang anak telah mencapai usia baligh dan tidak tampak darinya sesuatu yang bertentangan dengan sifat rasyid, maka pendapat yang paling sahih adalah bahwa status ketidakdewasaan (hajr) gugur darinya tanpa perlu adanya keputusan dari hakim.

وذكر بعض الأصحاب وجهاً بعيداً في هذا المقام أيضاًً في أن رفع الحجر يتصل بالحكم وإطلاق الحاكم وهذا بعيد جدّاً وهو أبعد ممَّا حكيناه فيه إذا بلغ سفيهاً ثم زال السفه واستمر الرشد؛ فإنه قد يظن أن الحجر ثبت بمجتهَدٍ فيه وهو السفه فيزيله المجتهد بنظره وهذا يبعد كل البعد إذا لم يثبت سفَه متصل بزوال الصبا

Sebagian ulama juga menyebutkan satu pendapat yang lemah dalam masalah ini, yaitu bahwa pencabutan status tidak cakap hukum (hajr) berkaitan dengan keputusan dan pernyataan hakim. Namun, pendapat ini sangat lemah, bahkan lebih lemah daripada yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu jika seseorang yang belum dewasa kemudian menjadi dewasa namun masih tetap bodoh, lalu kebodohannya hilang dan kecakapannya berlanjut; bisa saja disangka bahwa status hajr ditetapkan karena ijtihad hakim atas kebodohannya, lalu hakim mencabutnya berdasarkan ijtihadnya pula. Namun, hal ini sangat tidak masuk akal jika tidak terbukti adanya kebodohan yang berlanjut setelah masa belum dewasa berakhir.

فلو بلغ الصبيُّ رشيداً وثبت كونُه مطلَقاً فعاد سفيهاً فلا بد من الحجر والمذهبُ الأصح أنه لا يعود بنفسه محجوراً عليه بل يتوقف الحجر على ضرب القاضي؛ فإنه ثبت استقلالُه وانقطاع الولاية عنه؛ فلا سبيل إلى عَوْد الحجر بأمرٍ مجتهد فيه من غير أن يصدرعن نظر المجتهد

Jika seorang anak laki-laki telah mencapai usia dewasa dan terbukti bahwa ia sepenuhnya merdeka, kemudian ia kembali menjadi safih (boros atau tidak cakap), maka harus dilakukan tindakan hajr (pembatasan hak bertindak). Pendapat yang paling sahih dalam mazhab adalah bahwa ia tidak otomatis kembali menjadi orang yang dikenai hajr, melainkan hajr tersebut harus dilakukan dengan keputusan qadhi (hakim); karena telah terbukti kemandiriannya dan terputusnya wilayah (kewenangan) atas dirinya, maka tidak ada jalan untuk mengembalikan hajr hanya dengan perkara yang masih diperselisihkan tanpa keputusan dari seorang mujtahid.

ومن أصحابنا من قال يعود محجوراً عليه كما عاد السفه ولا حاجة إلى نظر القاضي بل عَوْدُ السفه وطريانُه بمثابة طريان الجنون

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia kembali menjadi orang yang dibatasi hak perdata (mahjūr ‘alaih) sebagaimana ia kembali menjadi orang yang bodoh (safīh), dan tidak diperlukan keputusan hakim, bahkan kembalinya sifat kebodohan dan kemunculannya itu seperti kemunculan kegilaan.

ثم إذا كان الحجرُ يثبت بنفس السفه أو بضرب القاضي فلو طرأ الفسقُ مع استدامة الضبط في المال والضِّنةِ به فهل يعاد الحجر عليه لمكان الفسق المذهب أَنَّه لا يعاد؛ ولو حجر القضاةُ على الفسقة لحُجر على معظم الخليقة وكل ما يفعله الحُكّام نظراً فهو محتوم ونحن نعلم أن الأولين لم يَرَوْا الحجرَ على الفسقة ولو رأَوْه لأظهروه ثم كان لا يخفى النقل فيه

Kemudian, jika status mahjur (larangan bertindak hukum) dapat ditetapkan karena sifat safih (bodoh dalam mengelola harta) atau dengan keputusan qadhi, maka apabila muncul kefasikan sementara ia tetap mampu mengelola harta dan menjaga kehati-hatian terhadapnya, apakah status mahjur itu dikembalikan kepadanya karena kefasikan tersebut? Pendapat mazhab menyatakan bahwa status mahjur tidak dikembalikan; sebab jika para qadhi menetapkan mahjur atas orang-orang fasik, niscaya kebanyakan manusia akan terkena status mahjur. Segala sesuatu yang dilakukan para hakim atas dasar pertimbangan adalah sesuatu yang pasti, dan kita mengetahui bahwa para ulama terdahulu tidak memandang perlu menetapkan mahjur atas orang-orang fasik; seandainya mereka memandangnya perlu, tentu mereka akan menampakkannya, dan pastilah riwayat tentang hal itu tidak akan samar.

فخرج ممَّا ذكرناه أن طريان الفسق مع التبذير يتضمن الحجرَ وطريان التبذير مع الصَّلاح في الدين يوجب الحجرَ أيضاً فأمّا الفسق المجرَّد ففيه من الخلاف ما ذكرناه

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa munculnya kefasikan bersamaan dengan pemborosan mengakibatkan diberlakukannya hajr, dan munculnya pemborosan bersamaan dengan kebaikan dalam agama juga mewajibkan hajr. Adapun kefasikan semata, maka di dalamnya terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.

ولئن قال قائلون طريان التبذير يوجب الحجرَ من غير ضربٍ من جهة القاضي فلا ينبغي أن يُعتقدَ هذا الوجهُ في الفسق المجرّد مع الضِّنة بالمال ويجب القطعُ بأن الحجر بالفسق المجرد إن رأيناه فلا مأخذ له إلا ضربُ القاضي واجتهادُه

Dan jika ada yang berkata bahwa terjadinya pemborosan mewajibkan pemblokiran (harta) tanpa keputusan dari hakim, maka tidak sepantasnya pendapat ini diyakini dalam kasus kefasikan semata yang disertai sikap hati-hati terhadap harta. Harus dipastikan bahwa pemblokiran (harta) karena kefasikan semata, jika memang kita melihatnya, maka tidak ada sumbernya kecuali keputusan dan ijtihad hakim.

ثم إن زال السفه الطارىء وظهر الرشدُ فإن قلنا الحجر موقوف على ضربٍ فالانطلاق عنه موقوف على قضاء القاضي وإن قلنا نثُبت الحجرَ من غير ضرب من جهة القاضي ففي زوال الحجر عند زوال السَّفه الطارىء وجهان كما تقدّم ذكرهما في زوال السّفه الذي كان متصلاً بالصبا

Kemudian, jika sifat boros yang muncul secara tiba-tiba itu hilang dan telah tampak kedewasaan, maka jika kita mengatakan bahwa pembatasan (hajr) itu bergantung pada keputusan hakim, maka pembebasan dari pembatasan itu juga bergantung pada keputusan hakim. Namun jika kita menetapkan pembatasan tanpa keputusan hakim, maka dalam hal hilangnya pembatasan ketika sifat boros yang muncul secara tiba-tiba itu hilang, terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan tentang hilangnya sifat boros yang berkaitan dengan masa kanak-kanak.

وتمام الغرض في ذلك أن الصبيّ إذا بلغ سفيهاً وكان يليه في صباه أبوه فوليّه في السفه وليُّه في الصبا بلا خلاف وكذلك لو بلغ مجنوناً واتصل الجنون بالبلوغ فيليه مجنوناً من كان يليه صبياً

Kesimpulan dari hal ini adalah bahwa jika seorang anak mencapai usia baligh dalam keadaan safih (tidak cakap mengelola harta), dan yang mengurusnya saat kecil adalah ayahnya, maka wali baginya dalam keadaan safih adalah wali yang sama seperti saat ia masih kecil, tanpa ada perbedaan pendapat. Demikian pula, jika ia mencapai usia baligh dalam keadaan gila dan kegilaan itu berlanjut sejak baligh, maka yang menjadi walinya saat ia gila adalah orang yang menjadi walinya saat ia masih kecil.

ولو بلغ عاقلاً رشيداً ثم طرأ الجنون فلا شك في كون المجنون محجوراً عليه واختلف أصحابنا في أن وليه القاضي أو الأب فمن أصحابنا من قال وليّه الأبُ كما كان يليه من قبل فليَلِيَه الآن ومن أصحابنا من قال يليه القاضي

Jika seseorang telah baligh, berakal, dan cerdas, kemudian setelah itu mengalami gangguan jiwa, maka tidak diragukan lagi bahwa orang gila tersebut berada dalam status mahjur ‘alaih (dikenai pembatasan hak bertindak hukum). Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai siapa walinya: apakah hakim (qadhi) atau ayahnya. Sebagian ulama kami berpendapat bahwa walinya adalah ayahnya, sebagaimana sebelumnya ia juga menjadi walinya, maka sekarang pun ia tetap menjadi walinya. Sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa yang menjadi walinya adalah hakim (qadhi).

ولو عاد التبذير وقلنا القاضي هو الضارب للحجر فهو الولي أو من ينصبه القاضي وإن قلنا يعود الحجر من غير ضربٍ للقاضي ففي وليّه وجهان مرتبان على الوجهين في الجنون الطارىء وهذه الصورة أولى بأن يكون القاضي ولياً فيها؛ فإن التبذير وزواله مجتهَدٌ فيه بخلافِ الجنون

Jika pemborosan itu kembali terjadi dan kita mengatakan bahwa hakimlah yang menetapkan larangan (hajr), maka wali adalah hakim atau orang yang ditunjuk oleh hakim. Namun jika kita mengatakan bahwa larangan itu kembali tanpa penetapan hakim, maka ada dua pendapat mengenai siapa walinya, yang diurutkan berdasarkan dua pendapat dalam kasus kegilaan yang datang secara tiba-tiba. Dalam kasus ini, hakim lebih utama untuk menjadi wali; karena pemborosan dan hilangnya adalah perkara ijtihad, berbeda dengan kegilaan.

فرع

Cabang

إذا بلغ صبيٌّ في قُطرٍ شاغرٍ عن الولاة وكان سفيهاً ولم يكن له أبٌ ولا جدٌّ فالذي ذهب إليه الأصحاب أنه محجور عليه لا ينفذ تصرفه على ما سنذكر تصرفَ المحجور عليه ونصفه وحكى الشيخ أبو علي في شرح التلخيص وجهاً عن بعض الأصحاب أن تصرفه ينفذ إلا أن يلحقه نظرُ والٍ فيضرب عليه حجراً حينئذ والسفهُ المتصل عند هذا القائل بالبلوغ بمثابة السفه الطارىء على الرشد وقد ذكرنا أن المذهب أن من طرأ عليه السفه لا يصير محجوراً عليه من غير ضرب القاضي ونظرِه وهذا بعيدٌ

Jika seorang anak laki-laki telah baligh di suatu wilayah yang kosong dari para penguasa, dan ia adalah seorang yang boros, serta tidak memiliki ayah maupun kakek, maka pendapat yang dianut oleh para ulama adalah bahwa ia tetap berada dalam status mahjur ‘alaih (orang yang dibatasi hak bertindak), sehingga tindakannya tidak sah sebagaimana akan kami jelaskan tentang tindakan orang yang mahjur ‘alaih dan penjelasannya. Syaikh Abu ‘Ali dalam Syarh at-Talkhish meriwayatkan satu pendapat dari sebagian ulama bahwa tindakannya tetap sah kecuali jika ada penguasa yang memperhatikannya, lalu menetapkan status mahjur ‘alaih baginya saat itu juga. Menurut pendapat ini, sifat boros yang menyertai baligh dianggap seperti sifat boros yang muncul setelah seseorang mencapai kedewasaan. Kami telah sebutkan bahwa menurut mazhab, siapa saja yang baru mengalami sifat boros tidak otomatis menjadi mahjur ‘alaih tanpa adanya keputusan dan pertimbangan hakim, dan pendapat ini adalah pendapat yang lemah.

والوجه القطع بما قدمناه من اطراد الحجر عليه ووقوعُه نبذةً من نظر الولاةِ وهو سفيه كوقوعه كذلك وهو صبي

Dan pendapat yang benar adalah memastikan sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa penetapan pembatasan (hajr) atasnya berlaku secara konsisten, dan hal itu terjadi sebagai bagian dari kebijakan para penguasa, di mana ia (seseorang) dianggap safih (bodoh dalam mengelola harta), sebagaimana hal itu juga terjadi pada anak kecil.

فرع

Cabang

إذا كان البالغ رشيداً في الوجوه بَيْد أنه كان يغبن في بعض التصرفات على الخصوص فهل للقاضي أن يضرب عليه حجراً خاصاً فيه فعلى وجهين أحدهما ليس له ذلك؛ فإن الحجر والإطلاق يبعد اجتماعهما في حق شخصٍ واحدٍ

Jika seseorang yang telah baligh dan berakal sehat dalam berbagai urusan, namun ia sering tertipu dalam sebagian transaksi tertentu secara khusus, maka apakah hakim boleh memberlakukan pembatasan khusus terhadapnya dalam hal tersebut? Ada dua pendapat: salah satunya, hakim tidak boleh melakukan itu; karena pembatasan dan kebebasan tidak mungkin berkumpul pada satu orang dalam waktu yang sama.

والوجه الثاني أنه يجوز ذلك اتباعاً للمعنى

Dan alasan kedua adalah bahwa hal itu diperbolehkan dengan mengikuti makna.

قال الشافعي رضي الله عنه في توجيه جواز ذلك قولُ رسول الله صلى الله عليه وسلم لحَبّان وكان يغبن في البياعات إذا بعت فقل لا خلابة يشبه أن يكون حجراً عليه في إلزام البيع وعقدِه من غير خيارٍ وهذا قاله في سياق الاحتجاج على مالك ؛ إذ قال الغبن يُثبت حقَّ الفسخ فقال الشافعي لو كان الأمر كذلك لما أمر حَبَّانَ بشرط الخيار ثم بنى عليه ما ذكرناه من تبعيض الحجر

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata dalam penjelasan tentang bolehnya hal itu, sabda Rasulullah ﷺ kepada Ḥabbān yang sering tertipu dalam jual beli: “Jika engkau berjual beli, katakanlah: ‘Lā khilābah’ (tidak ada penipuan),” yang tampaknya merupakan bentuk pembatasan terhadapnya dalam mewajibkan jual beli dan akad tanpa adanya khiyār (hak memilih). Beliau mengatakannya dalam konteks berdalil terhadap pendapat Malik; karena Malik berpendapat bahwa penipuan (ghabn) menetapkan hak untuk membatalkan (fasakh), maka Imam Syafi‘i berkata: “Seandainya perkara itu demikian, niscaya Rasulullah tidak akan memerintahkan Ḥabbān untuk mensyaratkan khiyār.” Kemudian beliau membangun pendapat yang telah kami sebutkan tentang pembatasan (ta‘bīḍ al-ḥajr).

فصل

Bab

قد ذكرنا فيما تقدم السفه ومعناه وثبوتَ الحجر وارتفاعَه والتفصيلَ في اقتران السَّفه بالبلوغ وطريانه بعد الرشد ومقصود هذا الفصل تفصيلُ ما يصح منه وما لا يصح

Telah kami sebutkan sebelumnya tentang safih (orang yang kurang akal), maknanya, penetapan dan pencabutan status hajr (pembatasan hak bertindak), serta rincian tentang safih yang bersamaan dengan baligh dan yang muncul setelah rusyd (kedewasaan berakal). Tujuan dari bagian ini adalah merinci apa saja yang sah dilakukan olehnya dan apa saja yang tidak sah.

قال الأئمة يصح طلاقُه وخلعُه وظهاره وإقراره بالنسب استلحاقاً؛ فإن هذه الأشياء لا تدخل تحت الحجر وليس المبذر كالصبي؛ فإن الصبي مسلوبُ العبارة بالكلية ويصح أيضاً إقرارُه بما يوجب القصاصَ عليه

Para imam berpendapat bahwa sah talaknya, khulu‘-nya, zihar-nya, dan pengakuannya terhadap nasab dalam bentuk istilhaq; karena hal-hal ini tidak termasuk dalam larangan (hajr) dan orang yang mubadzir tidaklah sama dengan anak kecil, sebab anak kecil sama sekali tidak memiliki hak untuk mengucapkan pernyataan. Juga sah pengakuannya terhadap sesuatu yang mewajibkan qishash atas dirinya.

فإن قيل لم صححتم الخلع منه وهو تصرف مالي قلنا إذا كان يصح منه الطلاق بلا عوض فلأن يصح منه الطلاق بعوض وإن قلّ أوْلى

Jika dikatakan, “Mengapa kalian membenarkan khulu‘ darinya padahal itu merupakan tindakan yang berkaitan dengan harta?” Kami menjawab, “Jika talak tanpa kompensasi sah darinya, maka lebih utama lagi talak dengan kompensasi, meskipun sedikit.”

وذهب الأكثرون إلى أنه يصح منه قبول الهبة بخلاف الصبي؛ فإنه لا عبارة له وسنذكر في وصيّة الصبي وتدبيره عبدَه قولين في كتاب الوصايا وفي المبذر في التدبير والوصية قولان مرتبان على الصبي وهما بالنفوذ أوْلى من المبذر؛ فإنه من أهل العبارة

Mayoritas ulama berpendapat bahwa sah baginya untuk menerima hibah, berbeda dengan anak kecil; karena ia tidak memiliki kapasitas bertindak. Kami akan menyebutkan dalam pembahasan wasiat anak kecil dan pengelolaan budaknya dua pendapat dalam Kitab al-Washaya, dan mengenai orang yang boros dalam pengelolaan dan wasiat juga terdapat dua pendapat yang mengikuti pendapat tentang anak kecil, dan keduanya dalam hal keabsahan lebih utama daripada orang yang boros; karena ia termasuk orang yang memiliki kapasitas bertindak.

وأمَّا بيعُه وشراؤُه ونكاحُه فلا يصح شيء منها إذا استقل واستبد بذاته

Adapun jual beli, pembelian, dan pernikahannya, maka tidak sah salah satu darinya jika dilakukan sendiri dan secara mandiri olehnya.

ولو أذن له الولي في عقدٍ وعيّنه له فحاصل ما قاله الأصحاب أوجهٌ

Jika wali telah mengizinkannya untuk melakukan akad dan telah menentukannya baginya, maka kesimpulan yang dikemukakan oleh para ulama adalah terdapat beberapa pendapat.

أحدها أنها تصح إذا صدرت عن إذن الولي؛ فإنّ عبارته صحيحة والمحذور استقلاله

Pertama, akad tersebut sah jika dilakukan dengan izin wali; karena lafal akadnya sah, dan yang dikhawatirkan adalah jika ia bertindak sendiri.

والوجه الثاني أنها لا تصح؛ فإن عبارته مسلوبة في العقود الملزمة

Dan alasan kedua adalah bahwa akad tersebut tidak sah; karena pernyataannya tidak dianggap dalam akad-akad yang bersifat mengikat.

والوجه الثالث أن النكاح يصح بعبارته عند الإذن بخلاف البيع والإجارة

Alasan ketiga adalah bahwa akad nikah sah dengan pernyataannya sendiri ketika telah mendapat izin, berbeda dengan jual beli dan ijarah.

وفي نكاح المحجور تفاصيلُ مشروحة في كتاب النكاح فليطلب منه

Dalam pernikahan orang yang berada di bawah perwalian terdapat rincian-rincian yang dijelaskan dalam Kitab Nikah, maka hendaklah merujuk kepadanya.

فرع

Cabang

إذا اشترى المحجور شيئاًً في ذمته من غير إذن الولي فالذي قطع به الأصحاب أن شراءه فاسد لمكان الحجر

Jika seseorang yang sedang dalam status mahjur membeli sesuatu dengan tanggungan (utang) atas dirinya tanpa izin wali, maka pendapat yang ditegaskan oleh para ulama adalah bahwa jual belinya batal karena adanya status hajr (pembatasan hak).

وحكى بعض المصنفين وجهاًً في صحةِ شرائه تخريجاً على الوجه الضعيف الذي حكيناه في شراء العبد بغير إذن مولاه وهذا ليس بشيء؛ فإن العبد من أهل النظر إذا كان رشيداً وإنما الحجر عليه بسبب المولى فإذا كنا لا نعلِّق برقبة العبد وكسبه شيئاًً من عُهدة عقده فلا يمتنع تصحيحُ عقده والمبذر يُنظر له في الحجر وحقه مرعيّ في الحال والمآل وقد نَسب هذا الإنسان هذا الوجه إلى الشيخ أبي حامد وقد تتبعت كتب العراقيين وتعليق أبي حامدٍ فلم أجد ذلك فالتفريع إذاً على أنه إذا اشترى المحجورُ المبذّر شيئاًً لم يصح فلو أقبضه البائع ما باعه فتلف في يده؛ لم يلزمه الضمان والبائع هو الذي ضيّع حقَّ نفسه

Sebagian penulis menyebutkan satu pendapat tentang sahnya pembelian tersebut, yang didasarkan pada pendapat lemah yang telah kami sebutkan mengenai pembelian budak tanpa izin tuannya. Namun, pendapat ini tidak dapat diterima; sebab budak termasuk orang yang memiliki kecakapan bertindak jika ia sudah dewasa, dan larangan baginya hanya karena adanya tuan. Jika kita tidak membebankan kepada budak dan hasil kerjanya tanggungan apa pun dari akad yang ia lakukan, maka tidak mengapa mensahkan akadnya. Adapun orang yang boros, maka ia dipertimbangkan dalam hal larangan, dan haknya tetap dijaga baik saat ini maupun di masa mendatang. Ada yang menisbatkan pendapat ini kepada Syaikh Abu Hamid, namun saya telah meneliti kitab-kitab ulama Irak dan catatan Abu Hamid, dan saya tidak menemukannya. Maka, kesimpulannya adalah bahwa jika orang yang dibatasi haknya karena pemborosan membeli sesuatu, maka pembeliannya tidak sah. Jika penjual telah menyerahkan barang yang dijual lalu barang itu rusak di tangan pembeli, maka pembeli tidak wajib menanggung ganti rugi, dan penjual sendirilah yang telah menyia-nyiakan haknya.

ثم قال الأئمة لو صار السفيه رشيداً وانطلق الحجر عنه فلا يطالَب أيضاًً؛ والسبب فيه ما ذكرناه من أنّا رَاعَينا حقَّ المبذر وحقُّه مرعيٌ في الحجر والإطلاق؛ وليس كالمفلس؛ فإنّا قد نردّ بعض تصرفاته في الحجر ثم ننفذه إذا انطلق الحجر عنه والسبب فيه أن المرعي حقوقُ الغرماء والحجر مضروب بسببهم وقد زالت حقوقهم

Kemudian para imam berkata: Jika seseorang yang safih (boros) telah menjadi rasyid (dewasa dan bijak) dan status hajr (pembatasan hak) telah dicabut darinya, maka ia juga tidak dituntut (untuk memenuhi transaksi yang dilakukan saat masih dalam hajr); alasannya adalah sebagaimana telah kami sebutkan, yaitu kami memperhatikan hak orang yang mubadzir (boros), dan haknya tetap diperhatikan baik saat dalam hajr maupun setelah hajr dicabut. Hal ini berbeda dengan orang yang muflis (bangkrut); karena kami kadang membatalkan sebagian tindakannya saat dalam hajr, lalu membolehkannya setelah hajr dicabut darinya. Alasannya adalah bahwa yang diperhatikan adalah hak-hak para kreditur, dan hajr dijatuhkan karena mereka, dan jika hak-hak mereka telah hilang, maka hajr pun dicabut.

وقال الأئمة لو اشترى المبذر شيئاًً وقبضه وأتلفه كان كما لو تلف في يده وإن كان لو أتلف مال أجنبي ابتداءً تعلق الضّمان بماله ولكن إذا ترتب الإتلاف على الشراء فسببه تسليط البائع

Para imam berkata, jika seorang mubadzir membeli sesuatu, kemudian ia menerimanya dan merusaknya, maka hukumnya seperti jika barang itu rusak di tangannya. Meskipun jika ia merusak harta orang lain sejak awal, tanggungan ganti rugi dibebankan pada hartanya, namun jika perusakan itu terjadi akibat pembelian, maka sebabnya adalah penyerahan barang oleh penjual.

قال صاحب التقريب هو غير مطالب ظاهراً ولكن إذا انطلق الحجر عنه فهل نقول إنه وإن لم يطالب ظاهراً فالضمان واجبٌ عليه بينه وبين الله تعالى فعلى وجهين

Menurut penulis kitab at-Taqrīb, ia secara lahiriah tidak dituntut, namun jika batu itu terlepas darinya, apakah kita mengatakan bahwa meskipun secara lahiriah ia tidak dituntut, kewajiban ganti rugi tetap berlaku atasnya antara dia dengan Allah Ta‘ala? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وهو عندي هفوة؛ فإنه لو ثبتت المطالبة باطناً فلا مانع من توجيهها ظاهراً

Menurut saya, itu adalah sebuah kekeliruan; sebab jika tuntutan itu benar-benar ada secara batin, maka tidak ada halangan untuk mengarahkannya secara lahiriah.

والذي ذكره فيه إذا أتلف وما أراه يطرُد ما حكاه فيه إذا تلفت العين في يده من غير إتلافٍ والعلم عند الله

Apa yang disebutkan di dalamnya adalah jika terjadi perusakan, dan menurut pendapatku hal itu tidak berlaku pada apa yang dikisahkan di dalamnya apabila barang tersebut rusak di tangannya tanpa ada perusakan, dan ilmu yang sebenarnya hanya di sisi Allah.

فرع

Cabang

إذا أقر المبذر أنه أتلف مالاً لأجنبي ففي قبول إقراره قولان

Jika seseorang yang boros mengakui bahwa ia telah merusak harta milik orang lain, maka terdapat dua pendapat mengenai diterimanya pengakuan tersebut.

أصحهما الرد كما لو أقر بدين مرسل أو أقر بأن عيناً من أعيان أمواله مغصوبةٌ من فلان؛ فإن أقاريرَه مردودةٌ في هذه الجهات

Pendapat yang paling sahih adalah penolakan, sebagaimana jika seseorang mengakui adanya utang secara mutlak atau mengakui bahwa suatu barang dari harta bendanya adalah barang yang digasak oleh si Fulan; maka pengakuan-pengakuannya dalam hal-hal tersebut ditolak.

والقول الثاني أن إقراره مقبول؛ فإن الإتلاف يتصوّر منه ولو جرى لأوجب وكل ما يتصور فالإقرار به صحيح ممّن تصح عبارته

Pendapat kedua menyatakan bahwa pengakuannya diterima; sebab perusakan dapat terjadi darinya, dan jika memang terjadi, maka ia wajib mengganti. Segala sesuatu yang mungkin terjadi, maka pengakuan atasnya sah dari orang yang sah ucapannya.

والأصح الأول؛ فإن الإقرار تعبير بإنشاء مسوّغٌ في الشرع وإتلاف مال الغير غيرُ مسوَّغٍ ثم كل إقرارٍ رَدَدْناه في حالة الحجر فلا مؤاخذة به بعد الإطلاق إلا أن يعيد بعده إقراراً جديداً

Pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama; karena ikrar merupakan ungkapan yang menciptakan sebab yang dibenarkan dalam syariat, sedangkan membinasakan harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan tidak diperbolehkan. Maka setiap ikrar yang kami tolak pada masa seseorang dalam keadaan mahjur, tidak ada tanggungan atasnya setelah ia bebas, kecuali jika setelah itu ia mengulangi ikrar baru.

فرع

Cabang

ينبغي للولي أن يختبر الصبيَّ أوانَ البلوغ ليعلم سفهَه ورشده فإن كان على مرتبة السوقة والتجار دفع إليه مالاً وأمره بالتصرف فيه بالبيع والشراء وإن لم يكن من هؤلاء وكان منصبه لا يقتضي البيعَ والشراء فاختباره بأن يدفع إليه مالاً ويأمره بإنفاقه على الخدم ويعلم اقتصادَه وغباوتَه

Seyogianya wali menguji anak laki-laki pada saat baligh untuk mengetahui apakah ia bodoh atau cerdas. Jika ia berada pada tingkatan orang kebanyakan atau pedagang, wali memberikan kepadanya sejumlah harta dan memerintahkannya untuk mengelolanya dengan jual beli. Namun jika ia bukan termasuk golongan tersebut dan kedudukannya tidak menuntut untuk melakukan jual beli, maka ujiannya adalah dengan memberikan sejumlah harta kepadanya dan memerintahkannya untuk membelanjakannya bagi para pelayan, lalu memperhatikan sikap hemat dan kebodohannya.

والاختبار في كل جنسٍ على ما يليق بهم ولا حاجة إلى التطويل بالتفصيل

Ujian pada setiap jenis dilakukan sesuai dengan apa yang layak bagi mereka, dan tidak perlu memperpanjang penjelasan dengan rincian.

ثم قال الأصحاب ينبغي أن يقع الاختبار قُبَيْل البلوغ حتى إذا ظهر الرشد وقع البدار إلى تسليم المال فإن كان الاختبار بعقد بيعٍ فالأصح أنه يأمر الصبيّ حتى يساوم ويطلب ويماكِس فإذا حان العقد ورآه الوليُّ صواباً تولى بنفسه العقدَ؛ فإنَّ عقدَ الصبي باطلٌ وأبعد بعضُ أصحابنا فصحّح عقدَ الاختبار من الطفل وتعلق بظاهر قوله تعالى وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ ولا متعلَّق فيها؛ فإن الابتلاء مجملٌ لا تعرض فيه للعقد وأسبابه

Kemudian para ulama berpendapat bahwa sebaiknya dilakukan pengujian (terhadap anak yatim) menjelang baligh, agar jika telah tampak kecakapannya, segera diserahkan hartanya. Jika pengujian itu dilakukan dengan akad jual beli, pendapat yang paling sahih adalah wali memerintahkan anak untuk menawar, meminta harga, dan menawar kembali; lalu ketika tiba saat akad dan wali melihatnya sudah benar, maka wali sendiri yang melakukan akad tersebut. Sebab, akad yang dilakukan oleh anak adalah batal. Sebagian ulama kami berpendapat jauh dengan membenarkan akad pengujian yang dilakukan oleh anak, dan berdalil dengan lahiriah firman Allah Ta‘ala: “Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah.” Namun, ayat tersebut tidak dapat dijadikan dalil, karena pengujian (ibtalā’) itu bersifat umum dan tidak secara khusus membahas akad dan sebab-sebabnya.

فرع

Cabang

السفيه إذا أحرم بالحج انعقد إحرامُه فإن كان الحج تطوعاً فلا يسلّم إليه الولي مالاً يتبلغ به واختلف أصحابنا بعد ذلك فمنهم من قال حكمه حكمُ المحصر الذي له أن يتحلل وقد مضى القول في الحصر ومنهم من قال ليس كالمحصر ولا سبيل إلى تحليله وحكمه حكم معسر يُحرم وعدمُ النفقةِ لا يكون إحصَاراً

Orang safih (tidak cakap mengelola harta) apabila berihram untuk haji, maka ihramnya sah. Jika hajinya adalah haji tathawwu‘ (sunnah), maka wali tidak menyerahkan harta kepadanya untuk bekal perjalanan. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat setelah itu; sebagian dari mereka berpendapat hukumnya seperti orang yang terhalang (mahshur) yang boleh bertahallul, dan penjelasan tentang mahshur telah disebutkan sebelumnya. Sebagian lain berpendapat bahwa ia tidak seperti mahshur dan tidak ada jalan untuk membolehkannya bertahallul, dan hukumnya seperti orang yang tidak mampu (mu‘sir) yang berihram, sedangkan tidak adanya bekal tidak dianggap sebagai penghalang (ihsar).

فرع

Cabang

إذا كان السفيه مِطلاقاً والحاجة ماسة فالوجه أن يشتري الولي له جاريةً فإنَّ عتقه لا ينفذ فيها ومهما تبرم بها باعَها الولي واشترى غيرها

Jika seorang safīh (orang yang kurang bijak dalam mengelola harta) sangat gemar menceraikan istri dan kebutuhannya mendesak, maka pendapat yang tepat adalah wali membelikan untuknya seorang jariyah (budak perempuan), karena jika ia memerdekakannya, kemerdekaannya tidak sah. Setiap kali ia merasa tidak suka terhadapnya, wali dapat menjual budak tersebut dan membelikan yang lain untuknya.

Kitab al-Shulh

صدّر الشافعي رضي الله عنه الكتاب تيمناً بقول عمر رضي الله عنه؛ إذ قال الصلح جائز بين المسلمين إلا صلحاً أحل حراماً أو حرَّم حلالاً

Imam Syafi‘i raḥimahullāh memulai kitab ini dengan mengambil berkah dari perkataan ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu; yaitu ketika beliau berkata: “Sulh (perdamaian) diperbolehkan di antara kaum Muslimin, kecuali sulh yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.”

فالمحلِّل للحرام هو الصلح المورَد على عوضٍ محرم كالخمر والخنزير والمغصوب وغيرها

Yang menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal adalah akad shulḥ yang dilakukan dengan imbalan yang haram, seperti khamar, babi, barang hasil ghasab, dan selainnya.

والصلح المحرِّم للحلال هو المشتمل على شرط يتضمن المنعَ من تصرفٍ مباح شرعاً كشرط المنع من المبيع والهبة في العوض المذكور في الصلح

Perdamaian yang mengharamkan sesuatu yang halal adalah perdamaian yang mengandung syarat yang mencakup larangan melakukan suatu tindakan yang secara syariat dibolehkan, seperti syarat larangan menjual atau memberikan hibah terhadap kompensasi yang disebutkan dalam akad perdamaian.

والوجه أن يصدَّر الكتابُ بتقسيمٍ حاوٍ يجمع صحيح الصلح وفاسدَه ومحلَّ الوفاق والخلاف جمعاً كلياً فإن شذّ عن التقاسيم شيء تداركناه بفرض المسائل ورسم الفروع

Yang tepat adalah memulai kitab ini dengan suatu pembagian yang menyeluruh, yang mencakup shulh yang sah dan yang rusak, serta tempat terjadinya kesepakatan (ijmā‘) dan perbedaan pendapat secara keseluruhan. Jika ada sesuatu yang luput dari pembagian tersebut, maka akan kami lengkapi dengan mengajukan permasalahan dan merinci cabang-cabangnya.

والصلح في البحث الأوّلي ينقسم إلى ما يجري بين المدعي والمدعى عليه وإلى ما يجري بين أجنبي وبين المدّعي

Secara awal, shulh terbagi menjadi dua: yang terjadi antara penggugat dan tergugat, dan yang terjadi antara pihak ketiga dan penggugat.

فأما الصلح الذي بين المدّعي والمدعى عليه قسمان صلح مع الإقرار وصلح مع الإنكار فأما الصلح مع الإقرار فإمَّا أن يكون عن عين وإما أن يكون عن دينٍ فأمَّا الصلح الواقع عن عينٍ فينقسم إلى صلح معاوضة وإلى صلح حطيطة

Adapun sulh (perdamaian) antara penggugat dan tergugat terbagi menjadi dua: sulh dengan pengakuan dan sulh dengan penolakan. Adapun sulh dengan pengakuan, maka bisa terjadi atas suatu barang atau atas suatu utang. Adapun sulh yang terjadi atas suatu barang, terbagi menjadi sulh mu‘āwaḍah (pertukaran) dan sulh khaṭīṭah (pengurangan).

فأمّا صلح المعاوضة الذي يشتمل على عوض سوى العين المدعاة المعترف بها

Adapun shulh mu‘āwaḍah yang mencakup adanya imbalan selain barang yang diakui dalam sengketa.

وذلك إذا ادّعى رجل على رجل داراً أو عبداً أو ثوباًً فاعترف به وصدق المدعي

Hal itu terjadi apabila seorang laki-laki mengklaim terhadap laki-laki lain sebuah rumah, budak, atau pakaian, lalu orang yang dituduh mengakuinya dan membenarkan pengakuan si pengklaim.

ثمِ قال للمدعي صالحني عن هذه العين على هذا وعين عوضاً أو وصفه وصفاً

Kemudian ia berkata kepada penggugat, “Berdamailah denganku atas barang ini dengan imbalan ini,” lalu ia menyebutkan barang pengganti atau menyebutkan sifatnya secara rinci.

يُقنعُ به في المعاوضات فإذا أسعفه المدعي وقال صالحتك من ثوبي الذي في

Hal itu dapat diterima dalam transaksi pertukaran, sehingga jika pihak penggugat membantunya dan berkata, “Aku telah melakukan shulh denganmu atas bajuku yang ada pada…”

يدك على كذا فقال المدعى عليه قبلتُ صحت المعاملة وهي بيعٌ على

Engkau meletakkan tanganmu atas barang tersebut, lalu pihak tergugat berkata, “Aku menerima,” maka transaksi itu sah dan itu adalah jual beli.

الحقيقة معقودة بلفظ الصلح

Makna hakiki terikat dengan lafaz shulh.

وإذا قال الفقيه حكمه حكم البيع كانت عبارته مختلّة؛ فإنه بيعٌ بنفسه ويتعلق به جميعُ أحكام البيع وقضايا الربا إن اشتمل على الربويات والعُهَدُ المألوفة في البيع وأحكام الضّمان والردود ولا مزيد؛ فقد قطعنا بأنه بيع

Jika seorang faqih mengatakan, “Hukumnya sama dengan hukum jual beli,” maka ucapannya itu tidak tepat; karena ia sendiri adalah jual beli dan seluruh hukum jual beli berlaku padanya, termasuk ketentuan riba jika mengandung barang-barang ribawi, kebiasaan-kebiasaan yang lazim dalam jual beli, hukum jaminan, dan pengembalian barang, dan tidak ada tambahan selain itu; maka kami menetapkan bahwa itu adalah jual beli.

قال صاحبُ التلخيص الصلح في المقام الذي نحن فيه بيع عُقد بلفظ الصلح

Penulis kitab at-Talkhīṣ berkata: Shulḥ dalam konteks yang sedang kita bahas adalah jual beli yang diakadkan dengan lafaz shulḥ.

ويجوز عقد الصلح بلفظ البيع إلا في شيء واحد وهو الصلح عن الجنايات؛ فإن الصلح جائز عن الإبل وإن لم تكن على الصفات الضابطة في السلم ولو فرض عقد تلك المعاملة بلفظ البيع لم يصح

Diperbolehkan melakukan akad shulh dengan lafaz jual beli, kecuali dalam satu hal, yaitu shulh terkait jinayah; maka shulh diperbolehkan atas unta meskipun tidak sesuai dengan sifat-sifat yang menjadi ketentuan dalam akad salam, dan seandainya akad tersebut dilakukan dengan lafaz jual beli, maka tidak sah.

قال الشيخ أبو علي هذا الذي ذكره غير صحيح والتفصيل فيه أن الأرش إن كان مجهولاً كالحكومة التي لم تقدَّر فلا يصح الصلح عنه ولا يجوز تقدير بيعه وإن كان الأرش معلوماً على التحقيق كما إذا كان دراهم أو دنانير صحَّ الصلح عنه ويصح التصرف فيه بلفظ البيع وإن كان الأرش مقدراً ولكن كان من الإبل والأوصافُ المرعية في الديات لا يقع الاكتفاء بها في السلم ففي جواز الصلح عنها وجهان اختار صاحبُ التلخيص أحدهما فإن نحن صحَّحْنا الصلحَ لم يمتنع تصحيح المعاملة بلفظ البيع أيضاًً وإذا لم نصحح الصلح فلا شك في امتناع البيع أيضاًً ثم قال الشيخ إذا قلنا موجب العمدِ القودُ المحض فالصلح من القصاص جائز ولا يجوز استعمال لفظ البيع فيه

Syekh Abu Ali berkata: Apa yang disebutkan itu tidak benar, dan perinciannya adalah sebagai berikut: Jika arsy (ganti rugi) tidak diketahui, seperti hukūmah yang belum ditetapkan kadarnya, maka tidak sah melakukan shulh (perdamaian) atasnya dan tidak boleh memperkirakan penjualannya. Namun jika arsy itu diketahui secara pasti, seperti berupa dirham atau dinar, maka sah melakukan shulh atasnya dan sah melakukan transaksi atasnya dengan lafaz jual beli. Jika arsy itu telah ditetapkan kadarnya tetapi berupa unta dan sifat-sifat yang diperhatikan dalam diyat tidak cukup untuk akad salam, maka dalam kebolehan shulh atasnya terdapat dua pendapat, dan penulis kitab at-Talkhīṣ memilih salah satunya. Jika kita mensahkan shulh, maka tidak terhalang pula mensahkan transaksi dengan lafaz jual beli. Namun jika kita tidak mensahkan shulh, maka tidak diragukan lagi bahwa penjualan juga tidak sah. Kemudian Syekh berkata: Jika kita mengatakan bahwa akibat dari pembunuhan sengaja adalah qishāsh murni, maka shulh dari qishāsh itu boleh, tetapi tidak boleh menggunakan lafaz jual beli di dalamnya.

ثم هذا القسم الذي نحن فيه من الصلح يجوز أن يكون العِوضُ فيه عيناً ويجوز أن يكون ديناً إذا لم يكن الذي عنه الصلح مالَ رباً يقتضي العقد عليه التقابضَ في المجلس ولا معنى للإطناب بعد البيان

Kemudian, bagian yang sedang kita bahas dari shulh ini boleh saja imbalannya berupa barang, dan boleh juga berupa utang, selama objek yang menjadi dasar shulh bukanlah harta ribawi yang mengharuskan adanya serah terima dalam majelis akad. Tidak ada gunanya memperpanjang penjelasan setelah keterangan yang sudah jelas.

هذا صلح المعاوضة

Ini adalah shulh mu‘āwaḍah.

فأما صلح الحطيطة في هذا القسم فتصويره أن يدعي رجلٌ على رجلٍ عيناً من الأعيان فيعترف المدعى عليه بالملك للمدّعي ثم يقول صالحني منهُ على نصفه فإذا قال صالحتك كان تقدير هذا راجعاً إلى هبة بعض العين من المدعى عليه فإذا جرت المعاملة كذلك فقال المدعي صالحتك من ثوبي هذا على نصفه وقال المدعى عليه قبلت ففي المسألة وجهان ذكرهما الشيخ في شرح التلخيص أحدهما وهو الظاهر الذي قطع به مَنْ سِواه أن ذلك يصح ويتضمن هبةَ النصف من المدعى عليه ويثبت له أحكام الهبات في جملة المعاني والقضايا

Adapun ṣulḥ al-haṭīṭah dalam bagian ini, gambaran kasusnya adalah seseorang mengklaim suatu barang tertentu kepada orang lain, lalu pihak tergugat mengakui kepemilikan barang tersebut kepada penggugat, kemudian berkata, “Aku berdamai denganmu atas setengahnya.” Jika penggugat berkata, “Aku menerima perdamaian denganmu,” maka hakikatnya hal ini kembali kepada pemberian sebagian barang tersebut dari pihak tergugat. Jika transaksi berlangsung seperti itu, lalu penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu atas kainku ini dengan setengahnya,” dan pihak tergugat berkata, “Aku terima,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh asy-Syaikh dalam Syarḥ at-Talkhīṣ. Salah satunya, yang merupakan pendapat yang lebih kuat dan dipilih oleh selainnya, adalah bahwa hal itu sah dan mengandung pemberian setengah dari pihak tergugat, serta berlaku padanya hukum-hukum hibah dalam berbagai makna dan ketentuannya.

والوجه الثاني أن هذا باطل؛ فإن الصلح متضمنه المعاوضة وبيع الرجل ملكه من عينٍ بنصف العين باطلٌ متناقض

Adapun alasan kedua, hal ini batal; karena shulh (perdamaian) mengandung unsur mu‘awadhah (pertukaran), dan menjual milik seseorang berupa suatu barang dengan setengah dari barang tersebut adalah batal dan kontradiktif.

والقائل الأوَّل يقول الصلح عبارة صالحة للمعاوضة في أوانها وهو مشعر بالهبة في هذا المقام والدليل عليه أَنَّ إطلاق هذا اللفظ شَائعٌ في الاستعمالِ ولا معنى له إلا ما ذكرناه والمطلوب من الألفاظ معانيها وما يفهم من وضعها

Pendapat pertama mengatakan bahwa ṣulḥ adalah istilah yang dapat digunakan untuk transaksi pertukaran pada waktunya, dan dalam konteks ini menunjukkan makna hibah. Dalilnya adalah bahwa penggunaan istilah ini sudah lazim dalam praktik, dan tidak ada makna lain selain yang telah kami sebutkan. Yang diinginkan dari suatu lafaz adalah maknanya dan apa yang dipahami dari penggunaannya.

هذا كله فيه إذا كان الصلح دائراً بين المدعي والمدّعى عليه من عينٍ

Semua ini berlaku apabila shulh berlangsung antara penggugat dan tergugat atas suatu barang tertentu.

فأمَّا إذا كان الصلح عن دين فتصويره أن يدعي رجل على رجلٍ ديناً فيعترف به ثم يقع الصّلح فيه

Adapun jika shulh dilakukan atas suatu utang, maka gambaran kasusnya adalah seseorang menuntut utang kepada orang lain, lalu orang tersebut mengakuinya, kemudian terjadi shulh atas utang itu.

والصلح في هذا القسم ينقسم إلى صلح معاوضة وإلى صلح حطيطة فأمَّا صلح المعاوضة فهو أن يذكر أعواضاً عن الدين المعترف به ثم إن كان ذلك العوض عيناً وسُلّمت العين في مجلس المعاوضة صح الصلح على شرط الشرع ومتضمن الصلح مقابلة عينٍ بدين

Dan shulh dalam bagian ini terbagi menjadi shulh mu‘āwaḍah dan shulh haṭīṭah. Adapun shulh mu‘āwaḍah adalah menyebutkan kompensasi sebagai pengganti utang yang diakui, kemudian jika kompensasi tersebut berupa barang dan barang itu diserahkan dalam majelis mu‘āwaḍah, maka shulh sah menurut syarat syariat, dan shulh tersebut mengandung pertukaran barang dengan utang.

وإن لم يتفق تسليمُ العين في مجلس الصلح فهل يبطل الصلح بالتفرق فعلى وجهين مشهورين أقيسهما أنه لا يبطل؛ لأنه لم يَجُرّ ما يتضمن الإقباض من أصل الربا وليس الصلح الموصوف بيعَ دين بدين حتى يدخل تحت نهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الكالىء بالكالىء

Jika penyerahan barang tidak terjadi dalam majelis shulh, apakah shulh menjadi batal karena berpisah? Maka terdapat dua pendapat yang masyhur; yang lebih sesuai dengan qiyās adalah bahwa shulh tidak batal, karena hal itu tidak menyebabkan terjadinya sesuatu yang mengandung penyerahan dari pokok riba, dan shulh yang dimaksud bukanlah jual beli utang dengan utang sehingga termasuk dalam larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang jual beli al-kali’ bil-kali’.

والوجه الثاني أن الصلح يفسد بالتفرق قبل إقباض العين المجعولة عوضاً؛ وكان ذلك نوعاً من الإنساء المضاهي للدينية

Pendapat kedua adalah bahwa shulh menjadi batal apabila para pihak berpisah sebelum menyerahkan barang yang dijadikan sebagai pengganti; dan hal itu merupakan salah satu bentuk penundaan yang menyerupai transaksi utang-piutang.

وهذا الوجه وإن كان مشهوراً فالأصح الأول

Pendapat ini meskipun terkenal, namun yang lebih sahih adalah pendapat pertama.

ولو كان العوض المذكور عن الدين المعترف به ديناً ثم فرضت المفارقة قبل الإقباض فلا شك في بطلان الصلح؛ فإنه اشتمل على مقابلةِ الدين بالدين وهو المنهي عنه نصّاً ولو ذكر العِوض موصوفاً ديناً ثم أُحضر في المجلس وسُلّم جاز؛ فإن هذا لا يمتنع في عقد الصرف فكيف يمتنع في غيره

Jika kompensasi yang disebutkan sebagai pengganti utang yang diakui itu juga berupa utang, kemudian terjadi perpisahan sebelum penyerahan, maka tidak diragukan lagi bahwa akad shulh tersebut batal; karena hal itu mengandung pertukaran utang dengan utang, yang secara tegas dilarang. Namun, jika kompensasi disebutkan sebagai utang yang memiliki sifat tertentu, lalu dihadirkan dalam majelis dan diserahkan, maka hal itu diperbolehkan; sebab hal ini tidak terlarang dalam akad sharf, maka tentu lebih tidak terlarang dalam akad selainnya.

هذا كله في صلح المعاوضة عن الدينِ

Semua ini berkaitan dengan shulh mu‘āwaḍah atas utang.

فأمّا صلح الحطيطة في الدين فصورته أن يقول المدّعى عليه المعترف بالألف للمدّعي صالحني عن الألف الذي لك على خمسمائة فإذا قال صالحتك وقبل المستدعي أو جعلنا الاستدعاء كافياً ففي المسألة وجهان أظهرهما أن ذلك يصحُّ ومتضمنه الإبراء عن خمسمائة

Adapun shulh huthāthah dalam utang, bentuknya adalah ketika tergugat yang mengakui utang seribu kepada penggugat berkata, “Berdamailah denganku atas utang seribu yang menjadi hakmu dengan lima ratus.” Jika penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu,” dan penerima permintaan atau permintaan itu sendiri dianggap cukup, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; yang lebih kuat adalah bahwa hal itu sah dan mengandung makna pembebasan dari lima ratus.

والوجه الثاني حكاه الشيخ أبو علي أن ذلك باطل والألف باقٍ بكماله؛ فإن صيغة اللفظ المعاوضة وهي مناقضة لمعنى الإبراء

Pendapat kedua yang dikemukakan oleh Syekh Abu Ali adalah bahwa hal itu batal dan alif tetap utuh seluruhnya; karena bentuk lafaz tersebut adalah mu‘āwaḍah, yang bertentangan dengan makna ibrā’.

فإن فرعنا على الأصح وهو أن ذلك إبراء فلو ابتدأ المدعي وقال صالحتك من الألف على خمسمائة فهل يكفي ذلك في حصول البراءة أم لا بدّ من القبول يقدّم عليه إن الإبراء إذا استعمل لفظه نفذ ولا حاجة إلى قبول المبرأ عنه على الأصح

Jika kita berpegang pada pendapat yang lebih sahih, yaitu bahwa hal itu merupakan ibra’, maka jika pihak penggugat memulai dengan berkata, “Aku telah melakukan shulh denganmu dari seribu atas lima ratus,” apakah hal itu cukup untuk terjadinya pembebasan (barā’ah) ataukah tetap diperlukan adanya penerimaan dari pihak yang dibebaskan? Maka didahulukan atasnya bahwa jika lafaz ibra’ digunakan, maka ia sah dan tidak membutuhkan penerimaan dari pihak yang dibebaskan menurut pendapat yang lebih sahih.

وفي المسألة وجه بعيد أنه لا بدّ من القبول

Dalam masalah ini terdapat pendapat yang lemah bahwa harus ada penerimaan.

فإن فرعنا على الأصحّ وهو أنه لا حاجة إلى القبول إذا استعمل لفظ الإبراء فهل يشترط القبول إذا كان المستعمل لفظ الصلح فعلى وجهين وهذا يناظر ما لو قال مستحق الدين لمن عليه دين وهبت مالي من الدين منك فهذا إذا نفذ معناهُ الإبراء وفي اشتراط لفظ القبول وجهان أحدهما لا يشترط كلفظ الإبراء

Jika kita membangun pendapat berdasarkan yang paling sahih, yaitu bahwa tidak diperlukan adanya kabul jika digunakan lafaz ibra’, maka apakah disyaratkan kabul jika yang digunakan adalah lafaz shulh? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Ini serupa dengan kasus ketika orang yang berhak atas utang berkata kepada orang yang berutang kepadanya, “Aku hibahkan hartaku dari utang itu kepadamu.” Jika maknanya berlaku sebagai ibra’, maka dalam pensyaratan lafaz kabul terdapat dua pendapat; salah satunya adalah tidak disyaratkan, sebagaimana pada lafaz ibra’.

والثاني يشترط؛ لأن اللفظ معناه التمليك فيستدعي في وضعه القبول

Yang kedua disyaratkan; karena lafaz tersebut maknanya adalah pemilikan, sehingga dalam penetapannya memerlukan adanya kabul.

وإذا كان المدعَى المعترف به عيناً وفرضنا صلح الحطيطة فيه بأن يقول المدّعي صالحتك من ثوبي هذا على نصفه فإذا صححنا ذلك على معنى الهبة فلا شك في اشتراط القبول؛ فإن الهبة في معناها تفتقر إلى القبول بخلاف الإبراء وهذا واضح

Jika objek yang diakui oleh terdakwa adalah suatu barang, lalu kita misalkan terjadi shulh huthaythah (perdamaian pengurangan) di dalamnya, misalnya penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu atas kainku ini dengan setengahnya,” maka jika kita membenarkan hal itu dengan makna hibah, tidak diragukan lagi bahwa syaratnya adalah adanya penerimaan; karena hibah dalam maknanya membutuhkan penerimaan, berbeda dengan ibra’ (pembebasan utang), dan hal ini jelas.

ولو كان الصلح عن دين وهو ألف مثلاً فأحضر المدعى عليه خمسمائة فقال المدعي صالحتك من الألف على هذه الخمسمائة والتفريع على أنه لو قال صالحتك عن الألف على خمسمائة من غير تعيين كان إبراءً عن الخمسمائة فعلى هذا إذا أشار إلى الخمسمائة المعينة وقال صالحتك من الألف الذي لي عليك على هذه الخمسمائة فالأصح أن هذه المعاملة فاسدة؛ والألفُ باقٍ؛ فإن اللفظ الذي جاء به مع التعيين صريح في عرض المعاوضة وبيعُ الألف بخمسمائة باطل

Jika perdamaian dilakukan atas utang, misalnya seribu, lalu tergugat menghadirkan lima ratus, kemudian penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu dari seribu itu atas lima ratus ini,” maka penjelasannya adalah: jika ia berkata, “Aku berdamai denganmu dari seribu atas lima ratus,” tanpa penentuan, maka itu merupakan pembebasan dari lima ratus. Berdasarkan hal ini, jika ia menunjuk pada lima ratus tertentu dan berkata, “Aku berdamai denganmu dari seribu yang menjadi hakku atasmu dengan lima ratus ini,” maka pendapat yang paling sahih adalah bahwa transaksi ini rusak; dan seribu itu tetap ada; karena lafaz yang diucapkan dengan penentuan tersebut jelas merupakan tawaran mu‘āwadah (pertukaran), dan menjual seribu dengan lima ratus adalah batal.

وقيل يجوز والمقصود الإبراء عن خمسمائة ثم تيك الخمسمائة المعينة لا تتعين عند هذا الإنسان إلا باتفاق تسليمها إليه؛ إذ لو تعينت لكان عوضاً

Dan ada yang berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan, dan yang dimaksudkan adalah pembebasan dari kewajiban atas lima ratus, kemudian lima ratus yang telah ditentukan itu tidak menjadi tertentu bagi orang ini kecuali dengan kesepakatan penyerahannya kepadanya; sebab jika sudah menjadi tertentu, maka ia menjadi pengganti.

ولا خلاف أنه لو قال بعتك الألفَ الذي لي عليك بهذه الخمسمائة فالبيع باطل والألف باقٍ بكماله

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu seribu yang menjadi piutangku atasmu dengan lima ratus ini,” maka jual beli tersebut batal dan seribu itu tetap utuh sebagaimana adanya.

وكل ما ذكرناه فيه في الصلح الواقع من المدير والمدعى عليه مع الإقرار

Segala sesuatu yang telah kami sebutkan mengenai hal ini berlaku pada shulḥ yang terjadi antara mudīr dan tergugat dengan adanya pengakuan.

وأمَّا الصلح بينهما مع إنكار المدّعى عليه فلا يخلو إما أن يكون على عوضٍ غير المدعى وإما أن يكون على بعض المدعى

Adapun perdamaian antara keduanya ketika tergugat mengingkari, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi perdamaian itu atas suatu imbalan selain yang didakwakan, atau atas sebagian dari yang didakwakan.

فإن كان الصلح بشيء غيرِ المدعى مع الإصرار على الإنكار فالصلح باطل عندنا خلافاً لأبي حنيفة ولا بد من تصوير محل الخلاف والتنبيه على تمام البيان

Jika perdamaian dilakukan dengan sesuatu selain yang didakwakan, sementara tetap bersikeras pada pengingkaran, maka perdamaian tersebut batal menurut kami, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Perlu dijelaskan letak perbedaan pendapat dan diberikan penjelasan yang lengkap.

فإن قال المدعى عليه والمدعَى ثوب أو ألفُ درهم للمدعي صالحني عن دعواك بكذا من الدراهم أو بهذا الثوب فهذا هو الصلح على الإنكار في حقيقته وهو باطل عندنا

Jika tergugat berkata, sementara barang yang disengketakan adalah sebuah kain atau seribu dirham milik penggugat, “Berdamailah denganku atas gugatanmu dengan sejumlah dirham ini atau dengan kain ini,” maka ini pada hakikatnya adalah shulh atas dasar pengingkaran, dan menurut kami hal itu batal.

ولو قال المدعى عليه بعد الإنكار صالحني بكذا أو بهذا فقال المدعي صالحتك فهو باطل وهو من صور الصلح على الإنكار

Jika tergugat, setelah mengingkari, berkata, “Aku berdamai denganmu dengan sejumlah ini atau dengan ini,” lalu penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu,” maka itu batal, dan ini termasuk salah satu bentuk ṣulḥ atas pengingkaran.

ولو قال المدعى عليه بعد الإنكار السابق صالحني عن هذه الدار على كذا ففي المسألة وجهان أحدهما أن هذا صلح على الإنكار وهو باطل والثاني أنّه إذا أضاف الصلح إلى العين المدعاة كان ذلك إقراراً منه بالملك فيها للمدّعي؛ فإن الصلح حيث يصح كالبيع وإضافة البيع إلى تلك العين إقرار بها فليكن إضافة الصلح إليها بهذه المثابة والقائل الأول يقول البيع صريح في اقتضاء إثبات الملك لمن هو في منزلة البائع ولفظ الصلح قد يستعمل في اللَّبس والاختلاط ومحاولة الخلاص

Jika tergugat berkata, setelah penyangkalan sebelumnya, “Ia telah berdamai denganku atas rumah ini dengan imbalan sekian,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa ini adalah shulh atas penyangkalan dan hukumnya batal. Pendapat kedua menyatakan bahwa jika shulh itu disandarkan pada objek yang disengketakan, maka itu merupakan pengakuan dari tergugat atas kepemilikan rumah tersebut bagi penggugat; sebab shulh, jika sah, seperti jual beli, dan penyandaran jual beli pada objek tersebut merupakan pengakuan atasnya, maka demikian pula penyandaran shulh pada objek itu harus diperlakukan sama. Sedangkan pihak yang berpendapat pertama mengatakan bahwa jual beli secara tegas menunjukkan penetapan kepemilikan bagi pihak yang setara dengan penjual, sedangkan lafaz shulh terkadang digunakan dalam situasi samar, campur aduk, dan upaya untuk melepaskan diri.

وما ذكرناه فيه إذا جرى الصلح مع الإنكار على غير العين المدعاة

Apa yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila terjadi shulh dengan pengingkaran atas selain objek (barang) yang didakwakan.

وأمَّا إذا جرى الصلح على بعض المدعى مع تصوير الإمكان فلا يخلو المدعَى إمّا أن يكون عيناً وإما أن يكون ديناً فإن كان عيناً كأن كان المدعى ثوباً فأنكر ثم قال صالحني على نصفه ففي المسألة وجهان مشهوران

Adapun jika terjadi shulh atas sebagian dari yang didakwakan dengan kemungkinan yang dapat dibayangkan, maka perkara yang didakwakan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa berupa ‘ayn (barang tertentu) atau berupa dayn (utang/piutang). Jika berupa ‘ayn, misalnya yang didakwakan adalah sebuah pakaian lalu terdakwa mengingkari, kemudian berkata, “Berdamailah denganku atas setengahnya,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur.

أحدهما لا يجوز ذلك ويلغو والصلح صلحُ إنكار فيُقضَى بفساده

Salah satu pendapat menyatakan bahwa hal itu tidak boleh dan batal, serta perdamaian tersebut adalah shulh inkār sehingga diputuskan sebagai batal.

والوجه الثاني يجوز ويجعل كأنه وهب منه نصف المدّعى

Pendapat kedua membolehkan, dan dianggap seolah-olah ia telah menghibahkan setengah dari perkara yang disengketakan.

وفي الحقيقة إذا صالحه على النصف وسلمه إليه فقد اتفقا على استحقاقه فيه غير أنهما اختلفا في جهة الاستحقاق فالمدعي يزعم أنه يستحقه بحكم الملك والمدعى عليه يقول بل بحكم الهبة

Sebenarnya, jika ia berdamai dengannya atas setengahnya dan menyerahkannya kepadanya, maka keduanya telah sepakat atas hak kepemilikannya atas bagian itu, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai dasar hak tersebut; pihak penggugat mengklaim bahwa ia berhak atasnya berdasarkan hukum kepemilikan, sedangkan pihak tergugat mengatakan bahwa ia berhak atasnya berdasarkan hukum hibah.

ولو كان المدعى ديناً فأنكره المدعى عليه ثم صالحه المدعي على خمسمائةٍ نُظر فإن صالح على خمسمائة في الذمة لم يجز الصلح وإن وقع تعيينُ الخمسمائة وإقباضُها؛ فإن المدعى عليه يزعم أنه وَهَب من المدعي خمسمائةٍ وإيراد الهبة على الذمة باطل ولو قال رجل لآخر وهبتُ منك ألف درهم ثم حصله وأقبضه إياه لم يصح ذلك

Jika yang didakwakan adalah utang, lalu tergugat mengingkarinya, kemudian penggugat melakukan shulh (perdamaian) dengannya atas lima ratus (dirham), maka dilihat dahulu: jika shulh dilakukan atas lima ratus dalam bentuk utang (di dalam tanggungan), maka shulh tersebut tidak sah, meskipun telah ditentukan lima ratus itu dan telah diserahkan; karena tergugat mengklaim bahwa ia telah memberikan hibah kepada penggugat sebesar lima ratus, dan pemberian hibah atas utang (di dalam tanggungan) adalah batal. Jika seseorang berkata kepada orang lain, “Aku telah menghibahkan kepadamu seribu dirham,” lalu ia memberikannya dan menyerahkannya, maka hal itu tidak sah.

ولو أحضر المدعى عليه خمسمائة فقال المدعي صالحتك على هذه الخمسمائة فهذا يترتب على ما قدمناه فيه إذا كان المدعى عيناً فإن حكمنا ببطلان الصلح في العين فلأن يبطل الصلح في الصورة التي انتهينا إليها أولى وإن حكمنا بأن الصلح من العين على بعضها صحيح محمول على الهبة فإذا جرى الصلح من ألف على خمسمائةٍ معينة ففي هذا الصلح وجهان أحدهما أنه يصح وهو محمول على هبة الخمسمائة الحاضرة وما ذكرناه في تقدير هبة بعض العين إذا كان المدّعى عيناً والصلح على بعضها

Jika tergugat membawa lima ratus (dirham/mata uang) lalu penggugat berkata, “Aku berdamai denganmu atas lima ratus ini,” maka hal ini bergantung pada apa yang telah kami jelaskan sebelumnya. Jika yang didakwakan adalah suatu barang tertentu (‘ain), maka jika kami memutuskan batalnya shulh (perdamaian) atas barang tertentu, maka batalnya shulh pada kasus yang sedang kita bahas ini lebih utama. Namun, jika kami memutuskan bahwa shulh atas sebagian barang tertentu (‘ain) itu sah dan dianggap sebagai hibah, maka jika terjadi shulh dari seribu atas lima ratus yang telah ditentukan, dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah shulh itu sah dan dianggap sebagai hibah atas lima ratus yang ada, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam penetapan hibah atas sebagian barang tertentu (‘ain) jika yang didakwakan adalah barang tertentu dan shulh atas sebagian darinya.

ومنهم من قال لا يصح والفرق أن الصلح من العين على بعضها ليس في معناه شَوْبُ معاوضة والصلح من ألف في الذمة على خمسمائةٍ حاضرةٍ منقودةٍ فيه معنى المعاوضة فكان حريّاً بالبطلان مع قيام الإنكار ومقابلة الألف بالخمسمائة

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak sah, dengan alasan bahwa perbedaan antara shulh (perdamaian) atas sebagian dari barang dengan barang itu sendiri tidak mengandung unsur mu‘āwaḍah (pertukaran), sedangkan shulh atas seribu dalam tanggungan dengan lima ratus yang tunai dan diserahkan mengandung makna mu‘āwaḍah. Oleh karena itu, lebih layak untuk dianggap batal ketika ada pengingkaran dan pertukaran antara seribu dengan lima ratus.

وكل ما ذكرناه في جريان الصلح بين المدعي والمدعى عليه مع الإقرار والإنكار

Segala hal yang telah kami sebutkan mengenai berlakunya shulh antara penggugat dan tergugat, baik dalam keadaan pengakuan maupun penolakan.

فأما إذا جرى الصلح بين المدّعي والأجنبي لا يخلو إمّا أن يكون مع إقرار المدعى عليه وإمّا أن يكون مع إنكاره فإن كان مع إقراره لم يخل إما أن يكون المدعى ديناً أو عيناً فإن كان عيناً كأن ادّعى عليه ثوباًً فأقر به فتقدم أجنبي إلى المدعي ليصالح ففي ذلك مسائل إحداها أن يقول وكلني المدعى عليه لأصالحك عنه له على كذا فيجوز هذا والأجنبي وكيل بالشراء

Adapun jika terjadi shulh antara penggugat dan pihak ketiga, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dengan pengakuan tergugat, atau dengan penolakannya. Jika dengan pengakuan tergugat, maka tidak lepas dari dua keadaan: apakah yang didakwakan berupa utang atau berupa barang. Jika berupa barang, seperti seseorang mengaku bahwa tergugat berutang kain kepadanya, lalu tergugat mengakuinya, kemudian pihak ketiga datang kepada penggugat untuk melakukan shulh, maka dalam hal ini terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah jika pihak ketiga berkata, “Tergugat telah mewakilkan kepadaku untuk melakukan shulh denganmu atas nama dia dengan imbalan sekian,” maka hal ini diperbolehkan, dan pihak ketiga tersebut menjadi wakil dalam pembelian.

والمسألة الثانية أن يقول أصالحك عنه لنفسي على كذا فأجابه المدّعي والأجنبي كأنه يقصد الشراء لنفسه قال الأصحاب ذلك صحيح وقد اشترى عيناً من مالكها

Masalah kedua adalah ketika seseorang berkata, “Aku berdamai denganmu atas nama diriku sendiri dengan imbalan sekian,” lalu pihak penggugat dan orang luar itu menyetujuinya, seolah-olah ia bermaksud membeli untuk dirinya sendiri. Para ulama mengatakan bahwa hal itu sah, dan ia telah membeli suatu barang dari pemiliknya.

وكان شيخي يتردَّد في ذلك تردُّداً يؤول إلى اللفظ ويقول أولاً في غير صور المنازعة والدعوى إذا تقدّم رجل إلى مالك عينٍ وقال صالحني عن ثوبك هذا بدينارٍ فقال صالحتك فهل يكونُ ذلك شراءً صحيحاً فعلى وجهين أحدهما يصح والثاني لا ينعقد البيع فإنّ الصلح من غير تقدم منازعةٍ غيرُ مستعمل ولو تقدمت دعوى في مفصل خصومة ترتب عليها إقرارٌ فقال المدعى عليه صالحني على كذا صح ولو قال أجنبي للمدعي صالحني على كذا وقصد أن يملك لنفسه وقد ثبت ملك المدعي بإقرار المدَّعى عليه ففي صحة ذلك وجهان مرتبان على ما لو جرى الصلح من غير نزاع أصلاً وهذه الصورة أولى بالصحّة؛ فإن لفظ الصلح ترتب على صورة دعوى وجواب وإن لم تتعلق الدعوى بالأجنبي المصالح

Guru saya sering ragu-ragu dalam hal ini, keraguan yang kembali pada lafaz, dan beliau berkata: Pertama, dalam selain kasus perselisihan dan gugatan, jika seseorang datang kepada pemilik suatu barang dan berkata, “Berdamailah denganku atas kainmu ini dengan satu dinar,” lalu pemilik barang itu berkata, “Aku berdamai denganmu,” apakah itu merupakan jual beli yang sah? Maka ada dua pendapat: yang pertama sah, dan yang kedua jual belinya tidak terjadi, karena sulh (perdamaian) tanpa adanya perselisihan sebelumnya tidak lazim digunakan. Namun, jika telah ada gugatan dalam suatu perkara yang disengketakan, lalu terjadi pengakuan, kemudian tergugat berkata, “Berdamailah denganku atas sekian,” maka itu sah. Tetapi jika orang lain (bukan tergugat) berkata kepada penggugat, “Berdamailah denganku atas sekian,” dan ia bermaksud memiliki untuk dirinya sendiri, sementara kepemilikan penggugat telah tetap berdasarkan pengakuan tergugat, maka dalam hal ini ada dua pendapat yang dikaitkan dengan kasus jika sulh terjadi tanpa adanya perselisihan sama sekali. Dan kasus ini lebih utama untuk dianggap sah, karena lafaz sulh terjadi dalam konteks adanya gugatan dan jawaban, meskipun gugatan itu tidak berkaitan dengan pihak ketiga yang melakukan sulh.

ولو تقدم الأجنبي إلى المدعي وقال أصالحك عن العين المدَّعى عليه بكذا وما كان وكله المدعى عليه المقر فأجابه المدّعي فلا يقع الملك للمدّعى عليه المقر تفريعاً على المذهب الظّاهر في منع وقف العقود كما فصلناه في كتاب البيع وإذا لم يقع الملك للمقر المدّعَى عليه فهل يقع للأجنبي في وقوعه وجهان يجريان في كل من اشترى لغيره شيئاًً من غير توكيل فلا يقع لغيره وفي وقوعه للعاقد وجهان هذا إذا صرح بالإضافة فإن أضمرها فلا خلاف في الوقوع للعاقد ولو قبل النكاح لمن لم يوكله لم يقع لواحد منهما اتفاقاً

Jika seorang pihak ketiga datang kepada penggugat dan berkata, “Aku akan berdamai denganmu atas barang yang sedang disengketakan ini dengan imbalan sekian,” padahal pihak ketiga itu tidak diberi kuasa oleh tergugat yang telah mengakui, lalu penggugat menerima tawaran tersebut, maka kepemilikan tidak jatuh kepada tergugat yang mengakui, berdasarkan pendapat mazhab yang kuat dalam melarang pemberhentian (waqf) akad, sebagaimana telah kami jelaskan dalam Kitab al-Bay‘. Dan jika kepemilikan tidak jatuh kepada tergugat yang mengakui, maka apakah kepemilikan jatuh kepada pihak ketiga? Dalam hal ini ada dua pendapat, yang juga berlaku pada setiap orang yang membeli sesuatu untuk orang lain tanpa adanya perwakilan (tawkil): kepemilikan tidak jatuh kepada orang lain tersebut, dan dalam hal jatuhnya kepada pihak yang berakad juga ada dua pendapat. Ini jika penyandaran dilakukan secara jelas (tashrih bi al-idhafah). Namun jika penyandaran hanya disembunyikan (idmar), maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa kepemilikan jatuh kepada pihak yang berakad. Jika seseorang menerima akad nikah untuk orang lain tanpa diberi kuasa, maka tidak sah untuk keduanya menurut kesepakatan (ijma‘).

أما إذا قال وكلني لأصالح له بثوبي أو عبدي ففي وقوعه عن الموكل وجهان يجريان في التوكيل كذلك من غير نزاع فإن لم نوقعه للموكل ففي وقوعه للوكيل الوجهان وإن أوقعناه للموكل فنقول هل الثوبُ موهوبٌ أو مقرض فعلى الوجهين السابقين والثاني لا يقع للمدَّعى عليه فعلى هذا لا يقع للأجنبي المُصالح أيضاًً تفريعاً على بُطلان شراء الدين في ذمة الغير وهذا بخلافِ العين؛ فإن شراء العين جائز هذا منتهى الكلام في صلح الأجنبي مع إقرار المدعى عليه عيناً كان المدعى أو ديناً

Adapun jika seseorang berkata, “Wakilkan aku untuk berdamai baginya dengan menggunakan pakaianku atau hambaku,” maka dalam hal ini terdapat dua pendapat mengenai apakah perdamaian itu dianggap sah atas nama muwakkil (pemberi kuasa), sebagaimana halnya dalam masalah perwakilan tanpa ada perselisihan. Jika kita tidak menganggapnya sah untuk muwakkil, maka ada dua pendapat mengenai apakah perdamaian itu dianggap sah untuk wakil. Jika kita menganggapnya sah untuk muwakkil, maka muncul pertanyaan: apakah pakaian itu dianggap sebagai hibah atau pinjaman? Maka hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa perdamaian tidak sah untuk tergugat, dan berdasarkan hal ini, perdamaian juga tidak sah untuk pihak ketiga yang berdamai, sebagai konsekuensi dari batalnya jual beli utang yang ada dalam tanggungan orang lain. Ini berbeda dengan barang (ain), karena jual beli barang itu diperbolehkan. Demikianlah pembahasan mengenai perdamaian oleh pihak ketiga dengan pengakuan tergugat, baik yang didakwakan itu berupa barang maupun utang.

فأما الصلح من الأجنبي مع إنكار المدعى عليه فينقسم إلى العين والدين فإن كان في العين كأن ادّعى عليه ثوباًً وأنكر فجاء أجنبي ليصالح ففي ذلك مسائل إحداها أن يقول أقر المدّعى عليه عندي ووكلني لأصالحك عنه على مالٍ فهذا جائز لا امتناع فيه بوجهٍ

Adapun sulh (perdamaian) dari pihak ketiga dengan penolakan dari tergugat, maka terbagi menjadi dua: berkaitan dengan barang (‘ain) dan berkaitan dengan utang (dain). Jika berkaitan dengan barang, seperti seseorang mengklaim sebuah baju lalu tergugat mengingkarinya, kemudian datang pihak ketiga untuk melakukan sulh, maka dalam hal ini terdapat beberapa permasalahan. Salah satunya adalah jika pihak ketiga berkata, “Tergugat telah mengakui kepadaku dan telah mewakilkan kepadaku untuk melakukan sulh denganmu atas sejumlah harta,” maka hal ini diperbolehkan dan tidak ada larangan sama sekali.

وفي المسألة غائلة لا بد من التنبيه لها وهي أنا لو سمعنا المدعى عليه يُعيد الإنكار بعد ما ادّعى الأجنبي أنه وكيله فعادة الإنكار منه عزلٌ له فتنقطع الوكالة ولو لم يُعِدْ إنكاراً بعد الإنكار الأول فالأمرُ على ما ذكرناه حينئذ

Dalam masalah ini terdapat bahaya yang perlu diperhatikan, yaitu apabila kita mendengar pihak tergugat mengulangi penolakan setelah orang asing mengaku sebagai wakilnya, maka pengulangan penolakan tersebut secara adat merupakan pemecatan baginya sehingga hubungan wakalah terputus. Namun, jika ia tidak mengulangi penolakan setelah penolakan pertama, maka urusannya tetap seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya.

ومن مسائل هذا القسم أن يقول الأجنبي قد أقر المدّعى عليه عندي بعد إنكاره وأنا أصالحك عنه لنفسي على كذا فقد قال طوائف من أصحابنا يصحّ هذا العقد فإنَّا نبني صحة العقد على الصيغة الدائرة بين المتعاقدين وهما متقارّان وصورة العقد مبنيّة على التقارِّ وهؤلاء يشترطون لا محالة أن يكون المشتري قادراً على انتزاع تلك العين من يد المدعى عليه ولو قال الأجنبي أنا قادر على الانتزاع من يده بُني العقدُ على حكم قوله في الظاهر وحُكم بصحته

Di antara permasalahan dalam bagian ini adalah apabila seorang pihak ketiga berkata, “Terdakwa telah mengakui kepadaku setelah sebelumnya mengingkari, dan aku berdamai denganmu atas namaku sendiri dengan imbalan sekian.” Maka sekelompok ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa akad ini sah, karena kami mendasarkan keabsahan akad pada lafaz yang digunakan antara kedua belah pihak yang berakad dan keduanya saling sepakat. Bentuk akad ini didasarkan pada adanya kesepakatan. Mereka ini mensyaratkan bahwa pembeli harus mampu mengambil barang tersebut dari tangan terdakwa. Jika pihak ketiga berkata, “Aku mampu mengambilnya dari tangannya,” maka akad ini didasarkan pada pernyataannya secara lahiriah dan dihukumi sah.

وكان شيخي أبو محمّد يطلق القول بأن الصلح في هذه الصورة لا يصح على هذا الوجه؛ فإن ظاهر الشرع قاضٍ بثبوت الملك للمدعى عليه وابتياعُ ملكه المحكومُ به من غير إذنه لا يصح

Guru saya, Abu Muhammad, secara mutlak berpendapat bahwa shulh dalam kasus seperti ini tidak sah dengan cara demikian; sebab, zahir syariat menetapkan kepemilikan bagi pihak tergugat, dan membeli miliknya yang telah diputuskan tanpa izinnya tidaklah sah.

والوجه التفصيلُ عندنا بأن يقال إن كان الأجنبي صادقاً بينه وبين الله تعالى حُكم بصحة العقد باطناً قطعاً ولكن لو قيل يُحكم بصحة العقد ظاهراً على معنى أن تزال يدُ المدعى عليه من غير ثَبتٍ فهذا لا وجه له ولا سبيل إليه

Penjelasan rinci menurut kami adalah sebagai berikut: jika orang asing itu jujur antara dirinya dengan Allah Ta’ala, maka secara batin akad tersebut dihukumi sah secara pasti. Namun, jika dikatakan bahwa akad tersebut dihukumi sah secara lahiriah dalam arti tangan pihak tergugat diambil tanpa adanya bukti yang kuat, maka hal itu tidak dapat dibenarkan dan tidak ada jalan untuk melakukannya.

وإن قيل هل يطالِب المدّعي الأجنبيَّ المصالحَ بالثمن الذي التزمه بناء على قوله والتزامه فالوجه القطع بأنه يطالبه ويؤاخذه بحكم قوله

Jika ditanyakan, apakah pihak ketiga yang mengajukan gugatan dapat menuntut pihak yang melakukan ishlah untuk membayar harga yang telah disepakati berdasarkan pernyataan dan komitmennya, maka pendapat yang tepat adalah memastikan bahwa ia dapat menuntutnya dan memintanya bertanggung jawab sesuai dengan pernyataannya.

وإن كان المدّعي كاذباً في علم الله تعالى فالعقد باطل باطناً وفي مؤاخذة الأجنبي بالظاهر بناء على قوله والتزامه الذي ذكرناه

Jika penggugat itu berdusta menurut pengetahuan Allah Ta‘ala, maka akad tersebut batal secara batin, dan dalam hal menanggung akibat bagi pihak luar berdasarkan apa yang tampak, itu didasarkan pada pernyataannya dan komitmen yang telah kami sebutkan.

وما ذكرهُ شيخي له اتجاهٌ؛ فإن انتزاع تلك العين من يَدِ المدّعى عليه ممنوع شرعاً

Apa yang disebutkan oleh guruku memiliki arah; sebab mengambil benda tersebut dari tangan tergugat dilarang secara syar‘i.

لا يعارضه إقرار الأجنبي بالاقتدار على الانتزاع

Pengakuan orang lain bahwa ia mampu merebut (hak tersebut) tidak bertentangan dengannya.

هذا منتهى الكلام

Inilah akhir dari pembahasan.

والوجه مَا ذكرناه من التعرض للظاهر والباطن

Yang dimaksud adalah seperti yang telah kami sebutkan, yaitu mencakup bagian luar dan dalam.

ومن المسائل أن يقول الأجنبي لم يُقرّ المدعى عليه عندي لكني أعلم أنك محق فأصالحك لنفسي فهذا بزعم هذا الأجنبي شراء المغصوب والتفصيل فيه كالتفصيل في المسألة المقدمة

Di antara permasalahan adalah ketika seorang asing berkata, “Terdakwa tidak mengakui di hadapanku, tetapi aku tahu bahwa engkau berada di pihak yang benar, maka aku akan melakukan ishlah denganmu untuk diriku sendiri.” Maka menurut anggapan orang asing ini, hal itu merupakan pembelian barang yang digasak, dan perinciannya sama seperti perincian pada masalah yang telah disebutkan sebelumnya.

ومن المسائل أن يقول لم يقر المدعى عليه لكني أعلم أنك محق فأصالحك للمدعى عليه لقطع الخصومة وتخليص العين للمدّعى عليه ففي المسألة وجهان مشهوران أظهرهما أن ذلك ممتنع؛ فإنه موقعٌ الصلحَ لمنكرٍ والمدّعى عين من الأعيان

Di antara permasalahan adalah ketika seseorang berkata, “Tergugat memang tidak mengakui, tetapi aku tahu bahwa engkau benar, maka aku berdamai denganmu atas nama tergugat untuk mengakhiri perselisihan dan membebaskan barang tersebut untuk tergugat.” Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur, dan yang lebih kuat adalah bahwa hal itu tidak diperbolehkan; karena berarti melakukan shulh (perdamaian) untuk orang yang mengingkari, sedangkan yang disengketakan adalah suatu barang tertentu.

والثاني يصح العقد؛ لأن الأجنبي والمدعي متقاران بينهما وهو يبغي تنزيه العين عن دعوى المدعي فكان كما لو سعى في تبرئة ذمته عن دين وهذا رديء جدّاً ولكنه مشهورٌ في الحكاية

Yang kedua, akadnya sah; karena antara pihak asing dan penggugat terdapat kesepakatan di antara keduanya, dan ia bermaksud membersihkan objek dari klaim penggugat, sehingga keadaannya seperti seseorang yang berusaha membebaskan tanggungannya dari utang. Namun, pendapat ini sangat lemah, meskipun terkenal dalam riwayat.

ومن المسائل أن يقول أقر عندي وأنا الآن أصالحك له وما وكلني فلا يقع للمدعى عليه بلا خلاف؛ فإنه يزعم أنه أقر باطناً فليس متمادياً على إنكاره فلا بد من التوكيل من جهته ولكن إذا لم يقع عن المدّعى عليه فهل يقع عن الأجنبي فعلى الوجهين المذكورين في نظائر هذا

Di antara permasalahan adalah seseorang berkata, “Ia telah mengakui di hadapanku, dan sekarang aku berdamai denganmu atas nama dia, namun ia tidak mewakilkan kepadaku.” Maka hal itu tidak berlaku atas terdakwa tanpa ada perbedaan pendapat; sebab ia mengklaim bahwa pengakuan itu dilakukan secara batin, sehingga ia tidak terus-menerus dalam penolakannya, maka harus ada perwakilan dari pihaknya. Namun, jika tidak berlaku atas terdakwa, apakah berlaku atas orang lain (pihak ketiga)? Maka hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah disebutkan dalam kasus-kasus serupa.

ولو قال الأجنبي أعلمك مبطلاً ولكني أصالح لقطع الخصومة فهذا باطل؛ فإن الصلح على هذه الصيغة مع المدعى عليه لا يصح؛ لأنه على الإنكار فكذلك لا يصح مع الأجنبي

Jika seorang pihak ketiga berkata, “Aku mengetahui bahwa gugatanmu batal, tetapi aku berdamai denganmu untuk mengakhiri perselisihan,” maka ini batal; karena perdamaian dengan redaksi seperti ini bersama tergugat tidak sah, sebab didasarkan pada pengingkaran, maka demikian pula tidak sah jika dilakukan dengan pihak ketiga.

وكل ما ذكرناه والمدّعى عين

Dan semua yang telah kami sebutkan dan yang didakwakan adalah sama.

فأمَّا إذا كان المدعى ديناً وقد أنكره المدعى عليه فجاء أجنبي ليصالح نُظر فإن قال أقر عندي ووكلني لأصالح له فجائز على نحو ما ذكرناه في العين وقد تقدم

Adapun jika yang didakwakan adalah utang dan terdakwa mengingkarinya, lalu datanglah seorang pihak ketiga untuk melakukan ishlah, maka hal itu perlu diteliti. Jika ia berkata, “Ia telah mengakui di hadapanku dan mewakilkan kepadaku untuk melakukan ishlah baginya,” maka hal itu diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan pada kasus barang, dan penjelasannya telah lalu.

وإن قال أصالح لنفسي فهو شراء الدين وتفريعنا على الحكم ببطلانه

Dan jika ia berkata, “Aku berdamai untuk diriku sendiri,” maka itu adalah pembelian utang, dan menurut pendapat kami, hukumnya batal.

وإن قال الأجنبي أعلمك مبطلاً ولكني أصالحك لقطع الخصومة فهذا باطل وهو صلح على الإنكار

Jika seorang pihak luar berkata, “Aku mengetahui bahwa engkau tidak berhak, tetapi aku berdamai denganmu untuk mengakhiri perselisihan,” maka hal ini batal, dan ini disebut shulh ‘ala al-inkār (perdamaian atas dasar pengingkaran).

وإن قال لم يقر وأعلمك محقاً ولكني أصالح للمدعى عليه فالأظهرُ أنه جائز؛ لأنه قضاء دين الغير دون إذنه وقضاء الدين لا يقف على إذن المقضي عنه بخلاف العين؛ لأن تملك العين بغير إذنه وقبوله غيرُ متجه وقيل لا يصح هذا في الدين وهو بعيد

Jika seseorang berkata, “Saya tidak mengakui dan saya memberitahumu bahwa saya benar, tetapi saya berdamai untuk pihak tergugat,” maka pendapat yang lebih kuat adalah hal itu diperbolehkan; karena ini merupakan pelunasan utang orang lain tanpa izinnya, dan pelunasan utang tidak bergantung pada izin orang yang dilunasi utangnya, berbeda dengan barang (ain); karena memiliki barang tanpa izin dan penerimaan dari pemiliknya tidaklah sah. Ada juga yang berpendapat bahwa hal ini tidak sah dalam perkara utang, namun pendapat ini lemah.

وفي هذا الفصل مزيد تفصيل يستدعي تقديم مقدّمةٍ هي مقصودة في نفسها وهي أن من عليه الدين إذا قال لإنسانٍ أدِّ ديني فإن أدى المأمور جنسَ الدين جاز وإن أدى عِوضاً ففي المسألة وجهان أظهرهما أنه يجوز كما لو أعطى جنس الحق والثاني لا يجوز؛ لأنه يعطيه على سبيل العوض ومبنى ما يعطيه المرء عوضاً أن يقابله تملك شيء من جهة باذل العوض وليس الأمر كذلك

Pada bab ini terdapat penjelasan lebih rinci yang memerlukan pengantar tersendiri, yang memang dimaksudkan secara khusus, yaitu: apabila seseorang yang memiliki utang berkata kepada orang lain, “Bayarkanlah utangku,” maka jika orang yang diminta itu membayarkan utang tersebut dengan jenis yang sama, maka hukumnya boleh. Namun, jika ia membayarkannya dengan sesuatu sebagai pengganti (iwadh), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hal itu boleh, sebagaimana jika ia memberikan jenis hak yang sama. Pendapat kedua menyatakan tidak boleh, karena ia memberikannya sebagai pengganti, sedangkan dasar dari sesuatu yang diberikan sebagai pengganti adalah bahwa pemberi pengganti memperoleh kepemilikan sesuatu dari pihak yang menerima pengganti, dan dalam kasus ini tidak demikian keadaannya.

ولو ضمن رجل مالاً فأعطى عوضاً إلى المضمون له وقع الموقع وجهاًً واحداً؛ لأن الضّامن من التزم المال بالضمان فصار أصلاً في الالتزام فما يعطيه يعطيه فيما عليه ويُسلّم له في مقابلة براءته فإن قلنا بظاهر المذهب في جواز بذل العوض أو وضعنا الكلام في الضّامن الذي يملك الرجوع على المضمون عنه والتصوير في المأمور بأداء الدين فيه إذا كان يملك الرجوع وإن كان العوض المبذول قيمته مثل الدين رجع به وإن كان أكثر من الدين لم يرجع بالزائد وإن كان أقلَّ من الدين ففي المسألة وجهان أحدهما أنه يرجعُ بقدر قيمته اعتباراً بما غرم

Jika seseorang menjamin suatu harta, lalu memberikan kompensasi kepada pihak yang dijamin haknya, maka hal itu sah secara mutlak; karena penjamin telah berkomitmen terhadap harta tersebut melalui akad jaminan, sehingga ia menjadi pihak utama dalam kewajiban tersebut. Apa yang ia berikan, ia berikan atas tanggungannya, dan diserahkan kepada pihak yang dijamin sebagai imbalan atas pembebasannya. Jika kita mengikuti pendapat mazhab yang membolehkan pemberian kompensasi, atau jika kita membahas penjamin yang berhak menuntut kembali kepada pihak yang dijamin, dan hal ini terjadi pada orang yang diperintahkan untuk membayar utang jika ia berhak menuntut kembali, maka jika kompensasi yang diberikan nilainya sama dengan utang, ia boleh menuntut kembali sebesar itu. Jika kompensasi itu lebih besar dari utang, ia tidak boleh menuntut kelebihan tersebut. Jika kompensasi itu lebih kecil dari utang, ada dua pendapat: salah satunya, ia boleh menuntut kembali sebesar nilai kompensasi yang telah ia keluarkan, berdasarkan apa yang telah ia tanggung.

والثاني بقدر الدين؛ اعتباراً بما سقط وسنقرر هذا الأصل في كتاب الضمان إن شاء الله تعالى

Yang kedua adalah seukuran dengan jumlah utang; berdasarkan pertimbangan terhadap apa yang gugur, dan kami akan menjelaskan prinsip ini dalam Kitab al-Dhamān, insya Allah Ta‘ala.

فإذا ثبتت هذه المقدمة فإذا جاء الأجنبي في صورة الصلح وقال للمدعي أعلمك محقاً وأريد أن أصالح المدعى عليه وما أقر عندي وما وكلني فإن بذل الأجنبي جنس الدين فالظاهر الصحة وفيه الوجه الضعيف

Jika premis ini telah ditetapkan, maka apabila seorang pihak ketiga datang dalam bentuk shulh (perdamaian) dan berkata kepada penggugat, “Aku mengetahui engkau berada di pihak yang benar, dan aku ingin berdamai dengan tergugat, namun ia tidak mengakui di hadapanku dan tidak mewakilkan kepadaku,” maka jika pihak ketiga tersebut memberikan sesuatu yang sejenis dengan utang, maka yang tampak adalah sah, meskipun ada pendapat yang lemah dalam hal ini.

وإن بذل عوضاً والتفريع على أن بذل جنس الدين صحيح ففي بذل العوض وصحته من الخلاف ما ذكرناه فيه إذا قال من عليهِ الدين أدّ ديني فبذل المأمور عوضاً

Dan jika memberikan kompensasi, serta berdasarkan pendapat bahwa memberikan kompensasi sejenis dengan utang itu sah, maka dalam hal memberikan kompensasi dan keabsahannya terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu jika orang yang berutang berkata, “Bayarkanlah utangku,” lalu orang yang diperintah itu memberikan kompensasi.

فصل

Bab

يحوي مسائل من الصُّلح مع الإقرار والمدَّعَى المَقَرُّ به دينٌ

Paragraf ini memuat permasalahan tentang shulh dengan adanya pengakuan, dan perkara yang diakui tersebut adalah utang.

فلو استحق الرجل ألف درهم مؤجّلاً وصالح على ألف حالٍّ فهذا إسقاط الأجل عن الدين ولا يسقط الأجل عن الدين نعم لو عجَّل من عليه الدينُ المُؤجَّلُ الدينَ وقبله مستحق الدين وقع الموقع وإنّما الذي ذكرناه في أن هذا الصلح لفظٌ لا يوجب سقوط الأجل

Jika seseorang berhak menerima seribu dirham yang jatuh tempo di kemudian hari, lalu ia melakukan shulh atas seribu dirham yang langsung dibayarkan, maka ini berarti menggugurkan tempo dari utang tersebut, dan tempo itu tidak gugur dari utang. Namun, jika orang yang memiliki utang yang jatuh tempo di kemudian hari membayar utangnya lebih awal dan pihak yang berhak menerima utang itu menerimanya, maka hal itu sah. Adapun yang kami sebutkan adalah bahwa shulh dengan lafaz seperti ini tidak menyebabkan gugurnya tempo.

ولو كان الألفُ حالاًّ فقال صالحتُ على ألفٍ مؤجَّل فهذا ليس بشيء وهو على الحقيقة إلحاق الأجل بالدين والأجل لا يلتحق بالدين

Jika seribu itu bersifat tangguhan, lalu seseorang berkata, “Aku berdamai atas seribu yang ditangguhkan,” maka ini tidak sah dan pada hakikatnya merupakan penambahan tempo pada utang, sedangkan tempo tidak dapat ditambahkan pada utang.

فلو صالح من ألفٍ مؤجَّل على خمسمائة حالّ لم يجز لأنه طلب الحلول ورأى المقدار الذي ذكره حالاًّ أولى عنده من الألف المؤجّل فكان ذلك على حقيقة المعاوضة ومقابلةُ الألف بالخمسمائة باطل

Maka jika seseorang berdamai atas seribu yang tertunda dengan lima ratus yang tunai, tidak diperbolehkan, karena ia menginginkan percepatan pembayaran dan memandang jumlah yang disebutkan secara tunai itu lebih utama baginya daripada seribu yang tertunda, sehingga hal itu pada hakikatnya adalah pertukaran, dan menukar seribu dengan lima ratus adalah batal.

ولو قال صالحت من ألفٍ حالٍّ على خمسمائة مؤجلة فمعنى الكلام الإبراء عن خمسمائة وإلحاق الأجل بالخمسمائة الباقية وليس في هذا الكلام معنى المعاوضة وطلب مقصود يُطلب بالمعاوضة فالوجْه أن نقول الإبراء صحيح عن خمسمائةٍ وخمسمائة ثابتةٌ على حلولها وذِكْره الأجلَ وعدٌ بالتأخير فلا يلزمه الوفاء بهِ

Jika seseorang berkata, “Aku telah melakukan ishlah dari seribu yang sudah jatuh tempo menjadi lima ratus yang ditangguhkan,” maka makna dari ucapan tersebut adalah pembebasan dari lima ratus dan penambahan tempo pada lima ratus sisanya. Dalam ucapan ini tidak terdapat makna mu‘āwadah (pertukaran) dan tidak ada maksud yang dituntut melalui mu‘āwadah. Maka pendapat yang tepat adalah bahwa pembebasan (ibrā’) sah atas lima ratus, dan lima ratus sisanya tetap wajib dibayar pada saat jatuh tempo. Penyebutan tempo (penangguhan) hanyalah janji untuk menunda, sehingga ia tidak wajib menepatinya.

ولو صالحهُ من ألف صحاحٍ على ألفٍ مُكسّرة فهذا وعد جميل من جهة صاحب الحق لا يجبُ الوفاء به نعم لو قبض المكسر مسامحاً وقع الموقع

Jika seseorang berdamai dengan pihak lain atas seribu uang logam utuh dengan menukarnya menjadi seribu uang logam pecahan, maka ini merupakan janji baik dari pihak yang memiliki hak, namun tidak wajib untuk dipenuhi. Ya, jika ia menerima uang pecahan tersebut dengan kerelaan, maka hal itu sah dan berlaku.

ولو صالح من ألف مُكسَّرٍ على خمسمائة صحاحٍ لم يصح الإبراء عن شيء؛ فإن ذلك صيغة المعاوضة؛ إذ الصحة صفة مقصودة في الخمسمائة فكأنه قابل الألفَ المكسّرَ بالخمسمائة الصحاح فيبطل العقد لا محالة

Jika seseorang melakukan shulh atas seribu uang pecahan dengan imbalan lima ratus uang utuh, maka tidak sah pembebasan dari sebagian utang; karena hal itu merupakan bentuk akad pertukaran (mu‘āwaḍah). Sebab, keutuhan (ṣihhah) adalah sifat yang dimaksudkan pada lima ratus tersebut, sehingga seolah-olah ia menukar seribu uang pecahan dengan lima ratus uang utuh, maka akad tersebut batal tanpa keraguan.

ولو صالح من ألفٍ صحاح على خمسمائة مكسرة فليس في هذا ثبوت المعاوضة فالوجه تصحيح الإبراء في الخمسمائة والخمسمائة الباقية على صحتها وذكر المكسرة وعد جميل منه

Jika seseorang berdamai dari seribu uang logam yang utuh dengan lima ratus uang logam yang rusak, maka dalam hal ini tidak terdapat keabsahan mu‘āwaḍah (pertukaran). Maka yang tepat adalah membenarkan sebagai pembebasan utang (ibrā’) pada lima ratus, dan lima ratus sisanya tetap utuh, sedangkan penyebutan uang logam yang rusak hanyalah sebagai ungkapan kebaikan darinya.

ولو استحق على رجلٍ ألفَ درهم وخمسين ديناراً فصالحه منها على ألفي درهم فقد قال معظم الأصحاب يجوز ونجعله في أحد الألفين مستوفياً الألف الذي له والثاني في مقابلة الدنانير وهذا متجه حسن

Jika seseorang memiliki hak atas seribu dirham dan lima puluh dinar dari seseorang, lalu ia melakukan shulh (perdamaian) dengan orang tersebut atas dua ribu dirham, maka mayoritas para sahabat (ulama mazhab) berpendapat hal itu boleh, dan kita menganggap bahwa dari dua ribu dirham itu, seribu dirham sebagai pelunasan dari hak seribu dirhamnya, dan seribu sisanya sebagai pengganti dari dinar-dinar tersebut. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat dan baik.

قال القاضي الصحيح عندي فساد هذه المعاملة وحمل الأمر على بيع ألف درهم وخمسين ديناراً بألفي درهم

Menurut pendapat saya yang benar, transaksi ini batal dan perkara ini dianggap sebagai jual beli seribu dirham dan lima puluh dinar dengan dua ribu dirham.

والأوجهُ عندي ما ذكر الأصحاب؛ فإن الألف في مقابلة الألف استيفاءً ولا يجوز تقدير البيع فيه ولو قال مستحق الألف بعتك الألف الذي عليك بهذا الألف الحاضر فالذي جاء به لي بيعاً وإنما هو استيفاء وإذا اتضح ذلك فالوجه حمل أحد الألفين على استيفاء الألف الذي كان ديناً فتتجرد المعاوضة في الألف الأخير والدنانير وذاك لا امتناع فيه

Pendapat yang paling kuat menurut saya adalah apa yang disebutkan oleh para sahabat (ulama mazhab); bahwa seribu (uang) yang satu sebagai imbalan atas seribu yang lain adalah bentuk pelunasan (istifā’), dan tidak boleh dianggap sebagai jual beli di dalamnya. Seandainya orang yang berhak atas seribu itu berkata, “Aku jual kepadamu seribu yang menjadi tanggunganmu dengan seribu yang ada di tanganmu sekarang,” maka apa yang dia lakukan itu bukanlah jual beli, melainkan pelunasan. Jika hal ini telah jelas, maka pendapat yang tepat adalah salah satu dari dua seribu itu dianggap sebagai pelunasan atas seribu yang merupakan utang, sehingga akad pertukaran hanya terjadi pada seribu yang terakhir dan dinar, dan hal itu tidak terlarang.

فصل

Bab

يحوي مسائل مقصودة في المذهب أَلزمَها أصحابُ أبي حنيفة

Paragraf ini memuat permasalahan-permasalahan yang dimaksudkan dalam mazhab yang diwajibkan oleh para pengikut Abu Hanifah.

في تصحيح صلح الإنكار

Dalam penetapan keabsahan shulh al-inkār (perdamaian atas pengingkaran).

منها

Di antaranya.

أن الرجل إذا طلق إحدى امرأتيه لا بعينها ومات قبل التعيين نوقف بينهما ميراثَ زوجة فإن اصطلحتا على اقتسام الموقوف نصفين أو على نسبةٍ فقد أجاز الأصحابُ ذلك فاستمسك أصحابُ أبي حنيفة بالمسألة وقالوا هما متناكرتان كل واحدة تدعي أنها زوجته وأن صاحبتها محرومة فالذي جرى من الصلح صلح مع تقرير الإصرار على التناكر

Jika seorang laki-laki menceraikan salah satu dari dua istrinya tanpa menentukan siapa yang diceraikan, lalu ia meninggal sebelum penentuan, maka keduanya ditahan (haknya) sebagai ahli waris istri. Jika keduanya sepakat untuk membagi harta yang ditahan itu menjadi dua bagian sama rata atau berdasarkan suatu persentase, para ulama membolehkan hal tersebut. Para pengikut Abu Hanifah berpegang pada masalah ini dan berkata: Keduanya saling menyangkal, masing-masing mengaku bahwa dialah istrinya dan bahwa temannya tidak berhak. Maka perdamaian yang terjadi di antara mereka adalah perdamaian dengan tetap mempertahankan sikap saling menyangkal.

وهذا الذي ذكروه في الإلزام باطلٌ واقتسام على التراضي صحيح وما ذكروه من التناكر لا حقيقة له؛ فإنهما لو أنصفتا لاعترفتا بالإشكال؛ إذ ليست إحداهما مختصة بنوع من البيان دون صاحبتها فليس بينهما تناكر

Apa yang mereka sebutkan tentang kewajiban itu batal, dan pembagian berdasarkan kerelaan adalah sah. Apa yang mereka sebutkan tentang adanya saling mengingkari tidaklah benar; sebab jika keduanya bersikap adil, tentu mereka akan mengakui adanya permasalahan, karena tidak ada salah satu dari keduanya yang secara khusus memiliki jenis penjelasan tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga tidak ada saling mengingkari di antara keduanya.

ولو فرضنا تناكراً فلا محمل له إلا أن تدعي كل واحدة أنها اطلعت على بيانٍ في أنها الزوجة فإن كان كذلك فالصلح مع الإنكار على نعت الحطيطة وقد ذكرنا أن صلح الحطيطة هل يحمل على الهبة أم لا وفيه الخلاف المقدّم وإن اعترفتا بالإشكال فالقسمة على التراضي صحيحة

Dan seandainya kita mengandaikan adanya saling mengingkari, maka tidak ada kemungkinan lain kecuali masing-masing mengaku bahwa ia telah mendapatkan penjelasan bahwa dialah istrinya. Jika demikian, maka perdamaian dengan pengingkaran dilakukan dengan sifat pengurangan, dan telah kami sebutkan bahwa perdamaian dengan pengurangan apakah dianggap sebagai hibah atau tidak, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya. Dan jika keduanya mengakui adanya kerancuan, maka pembagian berdasarkan kerelaan bersama adalah sah.

فإن قيل كيف صححتم المعاملة مع الجهل قلنا إذا انحسم البيان وتعذر وقف المال إلى غير نهايةٍ فالشرع يحتمل الجهالةَ في مثل هذه الصورة ولا وجه إلا احتمالها

Jika dikatakan, bagaimana kalian membenarkan transaksi dengan adanya ketidaktahuan? Kami katakan, apabila penjelasan telah terputus dan tidak mungkin menahan harta sampai waktu yang tidak berkesudahan, maka syariat membolehkan adanya ketidaktahuan dalam kasus seperti ini, dan tidak ada jalan lain kecuali membolehkannya.

ولو صالحت إحداهما الأخرى على عينٍ أخرى سوى الموقوف بينهما فقد قال الأصحابُ هذا باطل مع الاعتراف بالإشكال فإنه استبدال مالٍ هو ملك من يبذل في مقابلة ما لا يعلم كونه ملكاً له وليس كما لو اقتسما ذلك الموقوف؛ فإن كل واحدة تقول إن كنت أنا الزوج فالحاصل في يدي ملكٌ لي والباقي أيضاًً ملكٌ لي وإن لم أكن زوجة فالحاصل في يدي موهوب مني من صاحبتي وهذا لا يمكن اعتقاده وقد بُذل عوضٌ آخر سوى الموقوف

Jika salah satu dari keduanya berdamai dengan yang lain dengan memberikan barang lain selain harta yang sedang ditahan di antara mereka, para ulama mengatakan bahwa hal ini batal meskipun diakui adanya kerumitan. Sebab, ini merupakan pertukaran harta milik seseorang dengan sesuatu yang belum jelas apakah itu miliknya atau bukan. Hal ini berbeda dengan jika mereka membagi harta yang sedang ditahan itu; karena masing-masing dapat berkata: “Jika aku adalah istri, maka yang ada di tanganku adalah milikku dan sisanya juga milikku. Jika aku bukan istri, maka yang ada di tanganku adalah hibah dari temanku.” Keyakinan seperti ini tidak mungkin terjadi, apalagi jika ada kompensasi lain selain harta yang sedang ditahan.

ومما أَلزَموه ما إذا أسلم الرجل عن أكثر من أربع نسوة فكنَّ خمساً أو ستاً ومات الزوج قبل البيان فإنا نقف بينهن ميراثَ زوجة ثم الكلام في الاصطلاح على حسب ما ذكرنا إلزاماً وجواباً

Di antara hal yang mereka wajibkan adalah apabila seorang laki-laki masuk Islam dengan istri lebih dari empat orang, misalnya lima atau enam, lalu suami tersebut meninggal sebelum memilih, maka kami menahan warisan istri di antara mereka, kemudian pembicaraan mengenai pemilihan dilakukan sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan sebagai kewajiban dan jawaban.

ولو ادعى رجلان داراً في يد إنسان كل واحد يدعي تمامها لنفسه فقال المدعى عليه الدار لأحدكما ولم يبيّن ومات وعسر تلقي البيان منه فلو اصطلحا واقتسما الدار صح وهذا فيه فضلُ نظر؛ فإنهما ما بنيا الأمرَ على الاعتراف بالإشكالِ بل كل واحد ادعى الانفراد بالملك في جميع الدار فكان هذا نظيراً لما إذا ادّعت المرأتان وقد وقعت طلقةٌ مبهمةٌ بينهما العلمَ بحقيقة الحال فكانت كل واحدة تدعي إني معينةٌ للزوجية وقد ذكرنا أن الصلح في هذه الصورة صلحُ حطيطة على الإنكار فالقول في المدعيين يحل هذا المحل

Jika dua orang laki-laki mengklaim sebuah rumah yang ada di tangan seseorang, masing-masing mengklaim seluruh rumah itu untuk dirinya sendiri, lalu orang yang digugat mengatakan, “Rumah ini milik salah satu dari kalian,” namun tidak menjelaskan siapa, kemudian ia meninggal dunia dan sulit untuk mendapatkan penjelasan darinya, maka jika keduanya berdamai dan membagi rumah itu, hal itu sah. Namun, dalam hal ini terdapat pertimbangan lebih lanjut; sebab keduanya tidak membangun perkara ini atas dasar pengakuan adanya kerancuan, melainkan masing-masing mengklaim kepemilikan penuh atas seluruh rumah. Ini serupa dengan kasus dua perempuan yang keduanya mengaku telah terjadi talak yang tidak jelas antara mereka, dan masing-masing mengaku bahwa dialah yang masih berstatus sebagai istri. Telah kami sebutkan bahwa perdamaian dalam kasus seperti ini adalah perdamaian pengurangan atas dasar penolakan, maka pendapat mengenai dua penggugat ini menempati posisi tersebut.

فصل

Bab

قال فإن صالح رجل أخاه من موروثه إلى آخره

Ia berkata: “Jika seorang laki-laki berdamai dengan saudaranya mengenai bagian warisannya, dan seterusnya.”

إذا صالح واحد من الورثة الباقين عن حصةٍ من التركة وهي أعيان فهذا منه بيعُ حصّته بعوض فحكمُه حكمُ البيع في كل معنىً فقد يدخل فيه أحكام الصَّرف وتفريق الصفقة والقطع بالبُطلان في المجهول والعبد الآبق

Jika salah satu ahli waris melakukan perdamaian dengan ahli waris lainnya atas bagian dari harta warisan yang berupa barang-barang tertentu, maka hal itu merupakan penjualan bagiannya dengan imbalan tertentu. Maka hukumnya sama dengan hukum jual beli dalam segala aspeknya, sehingga di dalamnya dapat masuk hukum-hukum sharf, pemisahan akad, dan keputusan batal pada barang yang tidak diketahui atau budak yang melarikan diri.

ولا حاجة إلى البيان في الواضحات

Tidak perlu penjelasan dalam hal-hal yang sudah jelas.

ولو كانت التركة بين اثنين مثلاً وكانت عشرةَ دنانير وأقمشةً فصالح أحدهما صاحبَه على عشرة نقل القاضي عن الأصحاب جوازَ ذلك وحكى عنهم أن ذلك استيفاءُ حصته من الدنانير واعتياضٌ فيما زاد على حصته من الدنانير عن حصته من الأقمشة

Jika warisan itu, misalnya, hanya antara dua orang dan terdiri dari sepuluh dinar serta kain-kain, lalu salah satu dari keduanya berdamai dengan temannya atas sepuluh dinar, maka menurut pendapat yang dinukil oleh qadhi dari para ulama, hal itu diperbolehkan. Mereka menyebutkan bahwa hal tersebut merupakan pengambilan bagian miliknya dari dinar dan sebagai pengganti atas kelebihan dari bagiannya dalam dinar terhadap bagiannya dari kain.

ثم قال القاضي والذي عندي أنه لا يجوز فإنه مقابلة دنانير بدنانير

Kemudian al-Qadhi berkata, menurut pendapat saya, hal itu tidak diperbolehkan, karena merupakan pertukaran dinar dengan dinar.

وهذا الذي ذكروه كلام مختلط والوجهُ أن يقال إن أحضر الدنانير سوى دنانير التركة فالبيع باطل قطعاً ولا يجوز تقدير خلافٍ في هذه الصُّورة من الأصحاب وإن سُلمت الدنانيرُ التي في التركة إلى أحد الوارثَيْن واكتفى بها فالوجه القطع بجوازها؛ فإنه يكون مستوفياً لحقه من العشرة وأخذ باقي العشرة عوضاً عن حصته من الأقمشة لا وجه غيرُ هذا

Apa yang mereka sebutkan itu adalah pendapat yang rancu, dan yang benar adalah dikatakan: Jika ia membawa dinar-dinar selain dinar warisan, maka jual beli itu batal secara pasti dan tidak boleh dianggap ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam hal ini. Namun, jika dinar-dinar yang ada dalam warisan diserahkan kepada salah satu dari dua ahli waris dan ia merasa cukup dengannya, maka yang benar adalah memastikan kebolehannya; karena dengan itu ia telah mengambil haknya dari sepuluh (dinar), dan mengambil sisa dari sepuluh itu sebagai pengganti bagi bagiannya dari kain-kain, tidak ada penjelasan lain selain ini.

والذي قدمناه منه إذا كان على رجل ألفُ درهم دَيْناً وخمسون ديناراً وبذل ألفي درهم عما عليه فتقديرُ المنع من هذه الصورة فيه إخالة على البعدِ؛ من جهة أن الألفين المنقودين عينٌ والذي في ذمة باذلهما دينٌ أمّا العشرة هاهنا إذا قبضها فقَدْرُ حقه يقع استيفاءً فتجرد باقي العشرة في مقابلة الأقمشة

Apa yang telah kami kemukakan sebelumnya adalah, jika seseorang memiliki utang seribu dirham dan lima puluh dinar, lalu ia menawarkan dua ribu dirham untuk melunasi utangnya, maka larangan dalam kasus ini tampak jauh kemungkinannya; karena dua ribu dirham yang diserahkan adalah barang tunai, sedangkan yang menjadi tanggungan pemberinya adalah utang. Adapun sepuluh di sini, jika ia telah menerimanya, maka bagian dari haknya itu dianggap sebagai pelunasan, sehingga sisa dari sepuluh itu menjadi imbalan atas kain-kain.

فصل

Bab

قال ولو أشرع جناحاً على طريقٍ نافذةٍ إلى آخره

Ia berkata: “Dan seandainya seseorang membangun atap yang menjorok di atas jalan yang tembus hingga ke ujungnya…”

إشراع الجناح والساباط فيه مسائل

Membuat kanopi dan serambi memiliki beberapa permasalahan.

إحداها أن يُشرِعَه في ملك الغير من غير إذنه فهو ممتنع منقوضٌ على المُشْرع؛ فإن هواء الملك حق المالك ولو أراد المصالحة عن ذلك الهواء بمالٍ يبذله لم يجز ذلك؛ فإن العِوض مالٌ فلا يجوز بذلُه إلا في مقابلة مال

Salah satunya adalah bahwa seseorang mensyariatkan sesuatu di atas milik orang lain tanpa izinnya, maka hal itu tidak diperbolehkan dan tertolak bagi yang mensyariatkannya; karena udara di atas suatu kepemilikan adalah hak pemiliknya, dan jika seseorang ingin berdamai atas udara tersebut dengan memberikan sejumlah harta, maka hal itu tidak diperbolehkan; karena imbalan itu adalah harta, sehingga tidak boleh diberikan kecuali sebagai ganti dari harta pula.

والثانية أن يُشرع في الشارع وهو المسلكُ النافذ الذي يشترك فيه الطارقون فالمرعي في المنع والجواز تضرر السالكين وانتفاء ذلك فإن كانوا يتضررون امتنع الإشراع وإن كانوا لا يتضررون لا يمتنع ولا يتوقف على أمر مَنْ إليه الأمر ولا مخاصمة لآحاد الناس فيه عندنا وأبو حنيفة يعتبر في المنع مخاصمةَ من يخاصم من آحاد المسملين

Yang kedua adalah jika dilakukan di jalan umum, yaitu jalan yang terbuka yang digunakan bersama oleh para pengguna jalan, maka yang menjadi pertimbangan dalam larangan dan kebolehan adalah adanya mudarat bagi para pengguna jalan atau tidak. Jika mereka mengalami mudarat, maka tidak boleh dilakukan; namun jika mereka tidak mengalami mudarat, maka tidak dilarang dan tidak bergantung pada izin pihak yang berwenang, serta tidak ada gugatan dari individu masyarakat menurut kami. Sedangkan Abu Hanifah mensyaratkan adanya gugatan dari individu kaum muslimin dalam pelarangan tersebut.

فإذا ثبت أن أصل الضرر هو المعتبر عندنا فلا يخصص الضرر بالمشاة المارين بل لو كان يتضرَّرُ الركبان بالجناح المشرَع مُنع حتى قال الأصحاب ينبغي أن يكون الجناح بحيث لا يصطك به كنيسة على بعير ولا نظر إلى أن هذا قد يندر؛ فإنه لا ضبط لأحوال المارة واطراد الرفاق مع الحمولات والكنائس وغيرها وقد يتفق ذلك ليلاً ونهاراً فالوجه اعتبار الأقصى في الباب

Jika telah tetap bahwa asal mudarat itulah yang menjadi pertimbangan menurut kami, maka mudarat tidak dikhususkan hanya pada pejalan kaki yang lewat, bahkan jika para penunggang pun dirugikan oleh atap yang menjorok, maka hal itu juga dilarang. Bahkan para ulama berpendapat bahwa seharusnya atap tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga tidak mengenai seseorang yang sedang duduk di atas unta, tanpa memandang bahwa hal itu mungkin jarang terjadi; sebab tidak ada batasan pasti terhadap keadaan orang-orang yang lewat dan rombongan yang membawa muatan serta kendaraan lainnya, dan hal itu bisa saja terjadi baik siang maupun malam. Maka yang tepat adalah mempertimbangkan kemungkinan terjauh dalam masalah ini.

وحكى العراقيون وغيرهم عن بعض الأصحاب أن الجناح ينبغي أن يكون بحيث لا يناله رأسُ رمحٍ منصوب من رَاكب وهذا عزاه العراقيون إلى أبي عبيد بن حَرْبُوَيْه ثم زيف الأصحاب ذلك وفيه زحف وعدُّوه سرفاً في تصوير الصور؛ فإن إضجاع الرمح يسيرٌ غيرُ عسير فينبغي أن يكون ضبط الضرر بما يتعسر تغييره على الطارقين لمكان الأجنحة كالكنائس والحمولات

Orang-orang Irak dan selain mereka meriwayatkan dari sebagian sahabat bahwa atap sayap (bangunan) seharusnya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak dapat dijangkau oleh ujung tombak yang ditegakkan oleh seorang penunggang. Pendapat ini dinisbatkan oleh orang-orang Irak kepada Abu Ubaid bin Harbuwaih, kemudian para sahabat (ulama) melemahkan pendapat tersebut. Dalam hal ini terdapat unsur berlebihan dan mereka menganggapnya sebagai sikap berlebih-lebihan dalam menggambarkan bentuk-bentuk (bangunan); sebab menidurkan tombak itu perkara yang mudah dan tidak sulit. Maka seharusnya ukuran bahaya itu ditetapkan pada sesuatu yang sulit diubah oleh orang-orang yang datang ke tempat sayap (bangunan) seperti gereja dan tempat membawa barang.

وممَّا يتعلق بأحكام الشوارع في الفن الذي نحن فيه أن طائفة من أصحابنا قالوا لو بنى الإنسان دَكَّةً على باب داره أو غرس أشجاراً فإن كان يتضرر به المارة مُنع منه وإن كان لا يتضرر به المارة فلا منع ثم قال هؤلاء لا يختص بناء الدَّكة وغرسُ الأشجار بفِناء الملك بل لو تباعد عن داره وبنى دَكة بقرب دار الغير أو غرس أشجاراً لا يتضرر بها المارة فلا يمتنع منه هذا مسلكٌ لبعض أصحابنا وإليه ميل القاضي فيما نقل الأثبات عنه

Di antara hal yang berkaitan dengan hukum-hukum jalan umum dalam pembahasan yang sedang kita bahas adalah bahwa sekelompok ulama dari kalangan kami berpendapat: jika seseorang membangun bangku di depan pintu rumahnya atau menanam pohon, maka jika hal itu membahayakan para pejalan kaki, ia dilarang melakukannya. Namun jika tidak membahayakan para pejalan kaki, maka tidak ada larangan. Kemudian mereka mengatakan bahwa membangun bangku dan menanam pohon tidak terbatas hanya di halaman miliknya saja, bahkan jika ia membangun bangku jauh dari rumahnya, di dekat rumah orang lain, atau menanam pohon yang tidak membahayakan para pejalan kaki, maka hal itu juga tidak dilarang. Ini adalah pendapat sebagian ulama kami, dan pendapat ini juga cenderung dipilih oleh qāḍī sebagaimana dinukil oleh para penukil terpercaya darinya.

وكان شيخي يقول لا يسوغ غرس الأشجار في الشوارع؛ فإن مكانه مستحق للطروق وفي شغله بالغراس منعٌ للطريق

Guru saya biasa berkata bahwa tidak diperbolehkan menanam pohon di jalan-jalan; karena tempat tersebut memang diperuntukkan bagi lalu lintas, dan menempatinya dengan tanaman berarti menghalangi jalan.

والدَّكةُ المرتفعة في معنى الغراس ولا نظر إلى اتساع الطريق وتضايقها مع ما حققناه؛ فإن الرفاق قد تصطدم وقد يفرض طروقُ عسكرٍ أو أسرابٍ من البهائم والذين ذكروا في الأجنحة توقع اصطكاك الحمولات والكنائس لم يفصلوا بين اتساع الطرق وتضايقها

Dakka yang tinggi kedudukannya sama dengan tanaman, dan tidak dipertimbangkan apakah jalan itu luas atau sempit sesuai dengan apa yang telah kami tegaskan; sebab para pejalan kaki bisa saja saling bertabrakan, dan bisa jadi ada pasukan tentara atau rombongan hewan yang lewat. Orang-orang yang membahas tentang sayap-sayap (bangunan) dan kemungkinan bertabrakannya muatan serta gereja-gereja, mereka tidak membedakan antara jalan yang luas dan yang sempit.

ومن أشخص دكاناً أو غرس أشجاراً فقد جمع بين شغل بقعةٍ من الشارع وبين شغل هواء الشارع فكان البناء والغراس أولى بالمنع من الجناح المختص بشغل الهواء

Barang siapa yang mendirikan toko atau menanam pohon, maka ia telah menggabungkan antara memanfaatkan sebidang tanah dari jalan dan memanfaatkan udara jalan. Maka, bangunan dan tanaman lebih utama untuk dilarang dibandingkan atap yang khusus memanfaatkan udara saja.

وإنما لم ينظر المحققون إلى اتساع الطرق؛ من جهة أن الرفاق قد تطرق ليلاً ويعسر عليها مراقبةُ الأجنحة وهذا يتحقق في الغراس والدَّكة

Para peneliti tidak memperhatikan banyaknya jalan karena para rombongan bisa saja melewati pada malam hari dan sulit bagi mereka untuk mengawasi sisi-sisinya, dan hal ini juga terjadi pada tanaman dan bangku.

والذي يتحتم على من يسوّغ بناء الدَّكة وإثبات الغراس أن يفصل في الجناح بين اتساع الطريق وضيقها وهذا لم نذكره إلزاماً وإنما هو قولٌ لا بد منه في التفريع على هذا الوجه

Orang yang membolehkan membangun dekka (bangunan kecil di pinggir jalan) dan menetapkan keberadaan tanaman harus membedakan dalam hal pelanggaran antara jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Hal ini bukanlah sesuatu yang kami sebutkan sebagai keharusan, melainkan merupakan pendapat yang harus disebutkan dalam rincian pada sisi ini.

وفي البناء والغراس مزيدُ أمرٍ وهو أنه قد يلتبس على طول الزمان محلُّ البناء والغراس بالأملاك وينقطع أثر استحقاق الطروق وقد لا يتحقق ذلك في الأجنحة ولا يتحقق شفاء الغليل في هذا الفصل إلا بذكر ماهية الشرع في أصل الوضع وسنصف ذلك في آخر الفصل إن شاء الله تعالى

Dalam masalah bangunan dan tanaman, terdapat tambahan persoalan, yaitu bahwa seiring berjalannya waktu, letak bangunan dan tanaman bisa tercampur dengan kepemilikan (pribadi) sehingga jejak hak atas jalan-jalan bisa terputus. Hal ini mungkin tidak terjadi pada bagian-bagian bangunan yang menjorok (seperti balkon atau sayap bangunan). Tidak akan tercapai penjelasan yang memuaskan dalam pembahasan ini kecuali dengan menyebutkan hakikat syariat dalam asal penetapannya, dan kami akan menjelaskan hal itu di akhir pembahasan ini, insya Allah Ta‘ala.

وقد نجز القول في إشراع في ملك الغير وفي الشارع المشترك بين الكافة

Telah selesai pembahasan mengenai membangun di atas milik orang lain dan di atas jalan umum yang menjadi milik bersama seluruh masyarakat.

ونحن نذكر الآن التفصيل في إشراع الأجنحة في السكة المنسدةِ

Sekarang kami akan menjelaskan secara rinci tentang membentangkan sayap pada jalan yang tertutup.

الأسفل فإذا أراد واحدٌ من أهل السكة أن يشرع جناحاً فاشتغل به هواء السكة فقد قال الأصحاب إن الذين دون أسفل من موضع الجناح إلى أسفل السّكة لهم المنعُ من البناء والنقضُ بعدَه؛ فإنهم في محاولة النفوذ من رأس السكة يطرقون ما يسامت الجناح من عَرْصة السّكة فأمّا الذين دارهم أعلى من مكان الجناح فقد اختلف أصحابنا فيهم فذهب ذاهبُون إلى أنهم لا يعترضون؛ فإنّهم في النفوذ من السكة لا يطرقون مكان الجناح فلا اعتراض

Jika salah satu penghuni gang ingin membangun atap tambahan sehingga atap tersebut menjorok ke udara gang, para ulama berpendapat bahwa penghuni yang rumahnya terletak di bawah, dari posisi atap tambahan itu hingga ke dasar gang, berhak melarang pembangunan tersebut dan boleh membongkarnya setelah dibangun; sebab ketika mereka ingin melintas dari ujung gang, mereka akan melewati bagian gang yang sejajar dengan atap tambahan itu. Adapun penghuni yang rumahnya berada di atas posisi atap tambahan, para ulama kami berbeda pendapat tentang mereka. Sebagian berpendapat bahwa mereka tidak berhak mengajukan keberatan; karena ketika mereka melintas di gang, mereka tidak melewati tempat atap tambahan tersebut, sehingga tidak ada alasan untuk keberatan.

وقال آخرون لهم الاعتراض؛ فإن السكة في حكم عرصة مشتركة بين سُكَّان السّكة فيثبت حق الاعتراض للجميع ولمن تعلو داره حقُّ الاعتراض في جميع السّكة وغاية هذا الفصل تتبين بذكرنا حقيقة المذهبِ في آخر الفصل إن شاء الله تعالى

Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka berhak mengajukan keberatan; karena gang (sikka) itu dalam hukum dianggap sebagai lahan bersama di antara para penghuni gang, sehingga hak untuk mengajukan keberatan berlaku bagi semua orang, dan bagi siapa pun yang rumahnya berada di atas (menghadap) gang tersebut, ia berhak mengajukan keberatan di seluruh gang. Kesimpulan dari pembahasan ini akan dijelaskan dengan menyebutkan hakikat mazhab pada akhir bagian ini, insya Allah Ta‘ala.

ولو صالح أهل السّكة مُشرع الجناح لم يجز لما قدمناه من امتناع المصالحة على الهواء المجرّد فهذا الذي ذكرناه الطريقةُ المشهورة للأصحاب وفاقاً وخلافاً

Jika penduduk suatu kawasan berdamai dengan seseorang yang memiliki hak atas udara (misalnya, hak membangun bagian bangunan yang menjorok), maka hal itu tidak diperbolehkan, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya tentang larangan melakukan perdamaian atas udara semata. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan para ulama, baik yang sepakat maupun yang berbeda pendapat.

وقال العراقيون يجوز إشراع الجناح في السكة المنسدة حيث يجوز إشراعُها في الشوارع وإنما قال العراقيون ذلك فيمن له بابٌ نافذ في السكة فأما من لا ممر له وإنّما جداره على السّكة فليس له أن يُشرع الجناحَ في السكة المنسدة

Orang-orang Irak berpendapat bahwa diperbolehkan membuat atap menjorok (jannah) di gang buntu sebagaimana diperbolehkan membuatnya di jalan-jalan umum. Namun, orang-orang Irak mengatakan hal itu bagi orang yang memiliki pintu yang tembus ke gang tersebut. Adapun bagi orang yang tidak memiliki jalan masuk, melainkan hanya dindingnya saja yang berbatasan dengan gang, maka ia tidak diperbolehkan membuat atap menjorok di gang buntu.

وهذا نقلته من طرق معتمدة لهم على ثَبَت فالمرعي عند هؤلاء الضرر وانتفاؤه كما تقدّم في الشارع العام وهذا لا تعرفه المراوزة أصلاً ولعل العراقيين لم يثبتوا في عرصة السكة حقيقةَ الملك لأهل السكة وإنما أثبتوا فيها حق الطروق ولكنه مختص بسكان السكة والطروقُ في الشارع العام لا اختصاص فيه

Ini saya nukil dari jalur-jalur yang mereka andalkan berdasarkan sumber yang terpercaya. Menurut mereka, yang menjadi tolok ukur adalah adanya mudarat dan ketiadaannya, sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan jalan umum. Hal ini sama sekali tidak dikenal oleh kalangan Marwazi. Mungkin saja para ulama Irak tidak menetapkan kepemilikan hakiki atas jalan gang bagi para penduduk gang, melainkan hanya menetapkan hak untuk melintasi saja. Namun, hak melintasi ini khusus bagi para penghuni gang, sedangkan melintasi jalan umum tidak ada kekhususan di dalamnya.

وممَّا يتعلق بهذه التصرفات فتح الأبواب و الكَوَّاتِ والمنافذ فأمّا فتح الأبواب في الشوارع العامة فلا منع منه؛ فإن الذي يفتحها يتصرف في جدار نفسه بالرفع وذلك إليه وإذا رفع مقداراً منه استحال منعُه ثم حق الطروق بعد الفتح ثابت؛ فإنه حقٌ عام للناس كافة

Adapun yang berkaitan dengan tindakan-tindakan ini adalah membuka pintu, jendela, dan celah-celah. Adapun membuka pintu di jalan umum, maka tidak ada larangan darinya; karena orang yang membukanya bertindak atas dinding miliknya sendiri dengan menambahkannya, dan itu adalah haknya. Jika ia menambah sebagian darinya, maka tidak mungkin untuk melarangnya. Kemudian hak jalan setelah pintu dibuka tetap berlaku; karena itu adalah hak umum bagi seluruh manusia.

فأما فتح باب جديد في السكة المنسدة ففيه تردد يستدعي مزيد تثبت

Adapun membuka pintu baru pada jalan yang tertutup, maka dalam hal ini terdapat keraguan yang memerlukan kehati-hatian lebih lanjut.

قال بعض المحققين لو أراد من له باب في السكة المنسدة أن يفتح باباً آخر في

Sebagian ulama muhaqqiq berpendapat, jika seseorang yang memiliki pintu di jalan buntu ingin membuka pintu lain di sana,

السكة على جداره المملوك نُظر فإن كان يفتحه دون باب دارِه فللذين دورهم

Jalan kecil yang berada di atas dinding miliknya perlu diteliti; jika ia membukanya tanpa pintu rumahnya, maka haknya adalah bagi orang-orang yang memiliki rumah di sekitarnya.

أسفل المنعُ وهل للذين دورهم أعلى من داره المنع فعلى الوجهين المذكورين في الجناح وإن كان يفتح الباب الجديد فوق بابه المعهود فليس للذين دورهم أسفل المنعُ أصْلاً وهل للذين دورهم أعلى من ذلك الباب المفتوح أو هم في مقابلة ذلك الباب المنع فعلى وجهين أما ذكر الوجهين في الذين بابهم أعلى من الباب المفتوح فهو على القياس المقدّم في الجناح وليس تفصيلاً محدثاً وأمَّا القطع بأن الذين هم أسفل من بابه المعهود لا يعترضون وجهاًً واحداً فهذا إحداث حكم لم نذكره في الجناح

Apakah orang-orang yang rumahnya berada di bawah berhak melarang? Dan apakah orang-orang yang rumahnya berada di atas rumahnya berhak melarang? Maka terdapat dua pendapat sebagaimana yang telah disebutkan dalam masalah junnāh. Jika seseorang membuka pintu baru di atas pintu yang biasa, maka orang-orang yang rumahnya berada di bawah sama sekali tidak berhak melarang. Adapun apakah orang-orang yang rumahnya berada di atas pintu yang baru dibuka itu, atau mereka yang berhadapan langsung dengan pintu tersebut, berhak melarang, maka terdapat dua pendapat. Adapun penyebutan dua pendapat bagi mereka yang pintunya berada di atas pintu yang baru dibuka, itu mengikuti qiyās yang telah dijelaskan dalam masalah junnāh dan bukanlah perincian baru. Sedangkan penegasan bahwa mereka yang berada di bawah pintu yang biasa tidak boleh mengajukan keberatan dengan satu pendapat saja, maka ini adalah penetapan hukum yang tidak kami sebutkan dalam masalah junnāh.

وكان شيخي يذكر في الذين هم أسفل وجهين إذا كان الفتح أعلى من الباب المعهود كما ذكرنا وجهين في الذين هم فوق الجناح المشروع ويقول من أصحابنا من لا يخصص المنعَ ببعض السكان دون بعض طرداً للقياس

Guru saya menyebutkan dua pendapat mengenai mereka yang berada di bawah dua sisi, jika bagian atas lebih terbuka daripada pintu yang biasa, sebagaimana kami telah sebutkan dua pendapat mengenai mereka yang berada di atas sisi yang disyariatkan. Dan beliau mengatakan bahwa sebagian ulama dari kalangan kami tidak mengkhususkan larangan hanya pada sebagian penghuni saja, melainkan memberlakukannya secara umum berdasarkan qiyās.

ثم الذي يتخيل في المنع من إحداثِ باب جديد ازدحامُ الناس عليه أو وقوف

Kemudian, hal yang terbayangkan sebagai alasan pelarangan membuat pintu baru adalah karena orang-orang akan berdesakan di sana atau berhenti di situ.

دابةٍ بالقربِ منه وهذا في حق الأعلى والأسفل على وتيرة فهذا ما قيل فيه

Seekor hewan berada di dekatnya, dan hal ini berlaku baik bagi yang di atas maupun yang di bawah secara setara; inilah yang telah dikatakan mengenai hal itu.

ووراء ذلك فكر لا بد من الإحاطة به وهو أنه إن سد الباب القديم وأحدث فوقه باباً مما يلي الدرب فلا يتجه أصلاً حق المنع لمن هو أسفل ولا لمن هو أعلى

Di balik itu terdapat pemikiran yang harus dipahami, yaitu bahwa jika pintu lama ditutup dan dibuat pintu baru di atasnya yang menghadap ke jalan, maka sama sekali tidak ada hak untuk melarang, baik bagi yang berada di bawah maupun yang berada di atas.

وإن فتح باباً جديداً ولم يسد الباب القديم فقد يتجه حق المنع للمتسفلين فإن هذا إحداث فتحٍ وهو مظنة الشغل مع استدامة الأول فالذين هم أعلى فالأمر فيهم على التردد كما ذكرناه في السَّابَاطِ والظاهر أن الذي يقابل الفتح الجديد يثبت له حق الاعتراض؛ لأن الضرر الذي أومأنا إليه يناله وهذا مما يجب القطع به

Jika seseorang membuka pintu baru dan tidak menutup pintu yang lama, maka hak untuk melarang dapat berpihak kepada penghuni yang berada di bawah, karena hal ini merupakan tindakan membuka akses yang baru yang berpotensi menimbulkan gangguan, sementara akses yang lama tetap digunakan. Adapun bagi mereka yang berada di atas, maka perkaranya masih dipertimbangkan sebagaimana telah kami sebutkan dalam kasus sabāṭ. Yang tampak adalah bahwa orang yang berhadapan langsung dengan pintu baru tersebut berhak untuk mengajukan keberatan, karena bahaya yang telah kami isyaratkan akan menimpanya, dan hal ini merupakan sesuatu yang harus dipastikan.

ولو كان الباب المقابل بين بابي هذا الفاتح القديم والحديث فلا وجه إلا القطعُ بثبوت الاعتراض؛ فإن ممرّه على الباب المستحدث وليس بابُه أسفل من الباب القديم؛ حتى يقال هذا البابُ الحديث في معنى البابِ القديم بل هو في حقه إحداث ممرٍّ لم يكن له والسر في هذا مبيَّنٌ في آخر الفصل

Jika pintu yang berhadapan itu terletak di antara kedua pintuku ini, yaitu pintu lama yang terbuka dan pintu yang baru, maka tidak ada alasan selain memastikan adanya keberatan; sebab jalannya melewati pintu yang baru, dan pintunya tidak lebih rendah dari pintu yang lama, sehingga dapat dikatakan bahwa pintu baru ini sama kedudukannya dengan pintu lama. Bahkan, dalam hal ini, pintu baru tersebut berarti membuat jalan masuk yang sebelumnya tidak ada, dan rahasia permasalahan ini akan dijelaskan di akhir bab.

والذي نذكره الآن نقل مقالاتِ الأصحاب مع التحقيق الذي يليق به

Yang akan kami sebutkan sekarang adalah memaparkan pendapat-pendapat para sahabat (ulama) beserta penelaahan yang sesuai dengannya.

فأمّا فتحُ الكوّاتِ والمنافذ لجلب الضوء من غير إشراعٍ في الهواء فلا منع منه أصلاً

Adapun membuka jendela dan lubang untuk memasukkan cahaya tanpa menjorok ke udara, maka sama sekali tidak ada larangan terhadapnya.

ولو فتح باباً جديداً وزعم إني أريد الاستضاءة ولست أطرق منه وطلب أن يقيمه مقام كوة يفتحها فقد اضطرب أصحابنا في ذلك فمنهم من قال لا سبيل إلى منعه وكذلك لو أراد رفع جميع جدارِه لم يمنع

Jika seseorang membuka sebuah pintu baru dan mengklaim bahwa ia hanya ingin mendapatkan cahaya dan tidak akan melewati pintu tersebut, serta meminta agar pintu itu dijadikan sebagai jendela yang dapat dibuka, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak ada jalan untuk melarangnya, demikian pula jika ia ingin membongkar seluruh dindingnya, maka ia tidak dilarang.

ومنهم من قال يمنع؛ فإن الباب شاهد على حق المرور من محل الفتح فليمنع من هذا وليس كالفتحة العالية التي لا يتوقع النفوذ منها

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu dilarang; sebab pintu merupakan bukti atas hak melintas dari tempat terbukanya, maka hendaknya dicegah dari hal ini, dan ini tidak sama dengan lubang yang tinggi yang tidak diharapkan ada yang bisa melewatinya.

ولو كان للإنسان دار بابُها لافظٌ في سكة منسدة وكانت تلي الشارع ففتح لها باباً في الشارع جاز ذلك ولو كان بابُها لافظاً في الشارع وكان جدارٌ منها يلي سكة منسدةَ الأسفل لم يجز له أن يفتح باباً في تلك السكة إلا برضا أهلها فإذا رضُوا كان ذلك إعارةً منهم للمرور من السّكة ومهما أرادوا الرجوع رجعوا في العارية ولا يلتزمون إذا رجعوا شيئاً بخلاف ما إذا أعار مالك الأرض ممّن بنى عليها؛ فإن الرجوع وإن كان جائزاً فقلْع البناء مجاناً لا يجوز على ما سيأتي مشروحاً إن شاء الله تعالى

Jika seseorang memiliki rumah yang pintunya menghadap ke gang buntu dan rumah tersebut berbatasan dengan jalan raya, lalu ia membuat pintu ke arah jalan raya, maka hal itu diperbolehkan. Namun, jika pintu rumahnya sudah menghadap ke jalan raya dan ada salah satu dinding rumahnya yang berbatasan dengan gang buntu di bagian bawah, maka ia tidak boleh membuat pintu ke arah gang tersebut kecuali dengan izin para pemilik gang. Jika mereka mengizinkan, maka itu berarti mereka meminjamkan hak lewat di gang tersebut, dan kapan pun mereka ingin menarik kembali izin tersebut, mereka boleh melakukannya dalam status pinjaman itu, dan mereka tidak berkewajiban apa pun ketika menarik kembali izin tersebut. Hal ini berbeda dengan kasus ketika pemilik tanah meminjamkan tanahnya kepada seseorang yang membangun di atasnya; jika pemilik tanah menarik kembali pinjamannya, maka membongkar bangunan secara cuma-cuma tidak diperbolehkan, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala.

ولو كانت له داران بابُ أحدهما لافظٌ في الشارع وبابُ الثانية نافذٌ في سكة غيرِ نافذة فأراد أن يفتح باباً من إحدى الدارين في الأخرى ليصيرا واحدة فهل لأهل السكة المنعُ فعلى وجهين أقيسهما أنه لا يُمنع؛ لأن حق الاستطراق في السكة مُستحق له ومنعه من فتح ملكه في ملكه لا وجه له

Jika seseorang memiliki dua rumah, pintu salah satunya terbuka ke jalan umum dan pintu yang lain terbuka ke gang buntu, lalu ia ingin membuka pintu dari salah satu rumah ke rumah yang lain agar keduanya menjadi satu, apakah penduduk gang berhak melarangnya? Ada dua pendapat; menurut pendapat yang lebih kuat berdasarkan qiyās, mereka tidak berhak melarangnya, karena hak melintas di gang itu memang sudah menjadi haknya, dan melarangnya membuka pintu dari miliknya ke miliknya sendiri tidak ada dasarnya.

ومن أصحابنا من جوز لأهل السكة المنسدة أن يمنعوه والسَّبب فيه عند هؤلاء أنه أثبت للدَّار التي تلي الشارع ممراً في هذه السّكة لم يكن وربما يسد باب الشارع فيرجع الممرُّ من تلك الدّار إلى هذه السّكةِ

Sebagian dari ulama kami membolehkan bagi para pemilik gang buntu untuk melarangnya, dan alasan menurut mereka adalah bahwa hal itu menetapkan bagi rumah yang berbatasan dengan jalan umum sebuah jalan masuk ke gang tersebut yang sebelumnya tidak ada, dan mungkin saja pintu rumah yang menghadap jalan umum ditutup, sehingga jalan masuk dari rumah tersebut beralih ke gang ini.

ولو كانت له داران بينهما جدارٌ وباب أحدهما لافظٌ في سكةٍ وبابُ الثانية نافذٌ في أخرى والسّكتان منسدتان فأراد فتحَ بابٍ بين الدّارين فهل لأهل السّكتين المنعُ فعلى الوجهين المتقدمين

Jika seseorang memiliki dua rumah yang di antara keduanya terdapat sebuah dinding, dan pintu salah satu rumah menghadap ke satu gang, sedangkan pintu rumah yang lain menghadap ke gang lain, dan kedua gang tersebut tertutup, lalu ia ingin membuka sebuah pintu di antara kedua rumah itu, maka apakah para penghuni kedua gang tersebut berhak melarangnya? Hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

فهذا منتهى القول في المسائل التي ذكرها الأصحابُ في هذا الصنف

Inilah akhir pembahasan mengenai permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan oleh para ashhab dalam kategori ini.

ونحن نختم الفصلَ الآن بتحقيق القول في أصل الشارع العام ثم نذكرُ الآن حقيقةَ القول في السكة المنسدة

Sekarang kami menutup bab ini dengan mengkaji pendapat tentang asal hukum syariat secara umum, kemudian kami akan menyebutkan hakikat pendapat mengenai jalan yang tertutup.

أما الشارع فالذي نبتدىء به أنا إذا ألفينا جادَّة معبّدةً ومسلكاً مشروعاً نافذاً تبينا حكمَ استحقاق الاستطراق بظاهر الحال ولم نلتفت إلى المبدأ الذي عليه ابتنى مصير تلك البقعة شارعاً وهذا لا خفاء به ثم حكم الشارع ما قدمناه في مسائل الفصل

Adapun jalan umum, maka yang kami mulai adalah bahwa apabila kami mendapati jalan yang telah dibangun dan jalur yang telah ditetapkan serta berlaku, maka kami memahami hukum hak melintas berdasarkan keadaan lahiriah, dan kami tidak memperhatikan prinsip yang menjadi dasar penetapan suatu tempat sebagai jalan umum; hal ini sudah jelas. Adapun hukum jalan umum telah kami sebutkan sebelumnya dalam permasalahan bab ini.

وفيه أحكام تتعلق بالمقاعد في الأسواق يحويها بابٌ من كتاب إحياء الموات

Di dalamnya terdapat hukum-hukum yang berkaitan dengan tempat duduk di pasar-pasar, yang tercakup dalam satu bab dari Kitab Ihyā’ al-Mawāt.

وغرضنا وراء ذلك أن من جعل ملكاً من الأملاك شارعاً وصرفه إلى هذه الجهة صار الملك سبيلاً مسبَّلاً على السابلةِ وكان ذلك جهةً في ثبوت الشارع

Tujuan kami di balik hal itu adalah bahwa siapa pun yang menjadikan suatu kepemilikan sebagai jalan umum dan mengalihkannya untuk tujuan tersebut, maka kepemilikan itu menjadi jalan yang diwakafkan untuk para pengguna jalan, dan hal itu menjadi dasar dalam penetapan status jalan umum.

ولو أحيا جماعةٌ قريةً أو بلدة وملكوا البقاع بطرق الإحياء وفتحوا أبواب المساكن إلى صوب وتركوا مسلكاً بين دورهم ومساكنهم وبساتينهم نافذاً فتصير تلك البقعة شارعاً؛ فإنهم لا يستغنون عن النفوذِ في مساكنهم إلى البقاع وكذلك يحتاجون إلى نفوذ الناس إليهم

Jika sekelompok orang menghidupkan sebuah desa atau kota, lalu mereka memiliki tanah-tanah itu melalui cara-cara ihya’ (menghidupkan tanah mati), kemudian mereka membuka pintu-pintu rumah ke satu arah dan meninggalkan sebuah jalan di antara rumah, tempat tinggal, dan kebun mereka yang dapat dilalui, maka tanah tersebut menjadi jalan umum; sebab mereka tidak bisa lepas dari kebutuhan untuk melintasi tempat tinggal mereka menuju tanah-tanah itu, demikian pula mereka membutuhkan akses orang-orang lain kepada mereka.

وهذا من لطيف ما يتعين تأمله فالموات لا ينتقل عن حُكمِ الإباحة من غير ظهور آثار حكم الإحياء فيه وفي الآثار تفاصيل ستأتي في كتابها إن شاء الله تعالى

Ini termasuk hal yang patut dicermati dengan saksama, bahwa tanah mati (al-mawāt) tidak keluar dari status kebolehan (ibāhah) kecuali setelah tampak tanda-tanda hukum ihyā’ (penghidupan tanah) padanya. Dalam riwayat-riwayat terdapat rincian yang akan dijelaskan pada kitabnya, insyaallah.

والشارع قد لا يحتاج فيه إلى إثباتِ أثر ولكن احتفافَ الدور واصطفافَها على شقي بقعةٍ من الموات مع تهيئة المنافذ إليها يهيئها وينزل منزلة التأثير في المواتِ باتخاذها مزارعَ أو زرائبَ أو دوراً ولا حاجة في ذلك إلى لفظٍ ونطقٍ ولا حاجة إلى تقدمٍ في المواتِ ثم ردّه إلى جهة الاستطراق وليس الشارع من حقوق الأملاك؛ فإن الناس فيه شَرَعٌ فلم يلتحق بالحقوق المختصة كالدِّمَن ومطارح التراب وغيرها؛ فإذاً اتجه مصير المواتِ شارعاً بجهتين إحداهما صرفُ الملك إليه والثاني ما ذكرناه من تشكيل الأملاك على شكلٍ يقتضي مصيرَ المواتِ شارعاً

Syariat tidak selalu memerlukan pembuktian adanya pengaruh, namun keberadaan deretan rumah yang berjejer di satu sisi sebidang tanah mati (al-mawāt) dengan tersedianya jalan masuk ke sana, menjadikannya setara dengan adanya pengaruh pada tanah mati tersebut, seperti menjadikannya lahan pertanian, kandang ternak, atau rumah-rumah. Dalam hal ini tidak diperlukan ucapan atau pernyataan secara lisan, juga tidak perlu ada pendahuluan pada tanah mati lalu mengembalikannya kepada kepentingan lalu lintas umum. Jalan bukanlah termasuk hak milik pribadi; sebab dalam hal ini manusia memiliki hak bersama (syar‘), sehingga tidak disamakan dengan hak-hak khusus seperti tempat pembuangan kotoran, tempat pembuangan tanah, dan sejenisnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa tanah mati bisa menjadi jalan dengan dua cara: pertama, dengan mengalihkannya menjadi milik umum, dan kedua, sebagaimana telah disebutkan, dengan penataan kepemilikan yang membentuk pola sehingga tanah mati tersebut menjadi jalan.

وكل موات في علم الله تعالى فهو شارعٌ للخلق على أنه لا منع من الاستطراق ولكن لا يمتنع إحياؤه حتى لو لم يفرض ما قدمناه من تهيئة الشوارع

Setiap tanah mati menurut ilmu Allah Ta‘ala adalah jalan bagi makhluk, dalam arti tidak ada larangan untuk melintasinya, namun tidak dilarang pula untuk menghidupkannya, sehingga sekalipun tidak ditetapkan terlebih dahulu seperti yang telah kami sebutkan tentang penyiapan jalan-jalan.

وكان بعض الناس يطرقون الموات فلا يُمنع إحياؤه والتحويطُ عليه وصرفُ الممرّ منه

Sebagian orang mendatangi tanah mati, maka mereka tidak dilarang untuk menghidupkannya, memagari, dan mengalihkan jalan darinya.

وكان شيخي يقول هذا إذا لم يصر موضعٌ من المواضع جادَّةً مَتْناً يطرقها الرفاق فإن ظهرت جادةٌ موصوفة بهذه الصفة وإن لم تحتفّ بها أملاكٌ ذاتُ منافذ فلا يجوز تغييره وصرفُ الممر عنه فإن كان هذا يُعدّ إحياءً فهو بدع لا نظير له إذ ليس يُدرى فيه مبتدىء عن قصدٍ وممهِّدٌ ولا يتعين فيه قصدُ قاصد ولكن إذا أُلفي أُقرّ فليفصل الفاصل بين الممر المعروف وبين مسلك التعاسيف وكان يتردد في بُنيّات الطرق إذا لم تكن جادة وكانت مسالك يعرفها الخواص في كل بقعة

Dan guruku biasa berkata, hal ini berlaku jika suatu tempat belum menjadi jalan utama yang sering dilalui oleh para musafir. Jika telah tampak jalan utama yang memiliki sifat tersebut, meskipun di sekitarnya tidak terdapat kepemilikan pribadi yang memiliki akses keluar-masuk, maka tidak boleh mengubahnya atau mengalihkan jalur tersebut. Jika hal ini dianggap sebagai ihya’ (menghidupkan tanah mati), maka itu adalah bid‘ah yang tidak ada contohnya, karena tidak diketahui siapa yang memulai dengan sengaja dan siapa yang membangun jalan tersebut, serta tidak ada tujuan khusus dari orang yang melaluinya. Namun, jika jalan itu telah ditemukan dan diakui, maka hendaknya dipisahkan dengan jelas antara jalan umum yang dikenal dan jalur-jalur kecil yang dibuat secara sembarangan. Ia juga ragu terhadap cabang-cabang jalan jika bukan merupakan jalan utama, melainkan hanya jalur yang dikenal oleh orang-orang tertentu di setiap daerah.

فهذا منتهى القول في الشارع العام

Inilah akhir pembahasan mengenai jalan umum.

فأمّا السّكة المنسدة فلا شك في اختصاص عَرصتها لأصحاب الدور التي لها أبواب إليها ولو أراد أهلها أن يسدوا الدرب حتى لا يدخلها داخل كان لهم ذلك وجواز دخول السّكة المنسدة إذا صودفت أبوابُها مفتّحةً من قبيل الإباحاتِ المستفادة من قرائن الأحوالِ على ما سيأتي تفصيل أصنافها ومواضعها إن شاء الله تعالى

Adapun gang buntu, tidak diragukan lagi bahwa lahan di dalamnya khusus bagi para pemilik rumah yang pintunya menghadap ke sana. Jika para pemilik rumah tersebut ingin menutup gang itu sehingga tidak ada orang yang bisa masuk, maka mereka berhak melakukannya. Adapun kebolehan masuk ke gang buntu ketika pintu-pintunya kebetulan terbuka, termasuk dalam kategori kebolehan yang diambil dari indikasi keadaan, sebagaimana akan dijelaskan rincian jenis-jenis dan tempat-tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

فأطلق الأئمةُ أقوالهم بأن عَرْصة السكة مملوكةٌ لأهلها ولم يختلفوا في أنهم لو أرادوا أن يلحقوها بعَرصاتِ دورهم ويوسِّعوا بها رِباعَهم كان لهم ذلك وكذلك لو رجعت الدور ملكاً لواحد فله رفع السّكة وردها إلى رقعة الدور ثم يفتح باباً أو أبواباً إلى الشارع العام

Para imam mengemukakan pendapat mereka secara umum bahwa lahan gang adalah milik para pemilik rumah di sekitarnya, dan mereka tidak berbeda pendapat bahwa jika para pemilik rumah ingin menggabungkan lahan gang tersebut ke dalam lahan rumah mereka dan memperluas tanah milik mereka, maka mereka berhak melakukannya. Demikian pula, jika seluruh rumah di sekitar gang itu menjadi milik satu orang, maka ia berhak menutup gang tersebut dan mengembalikannya menjadi bagian dari lahan rumah, kemudian ia boleh membuka satu atau beberapa pintu menuju jalan umum.

وقال المشايخ لو أراد من يسكن في أسفل السكة أن يُدخلوا ذلك القدر من السّكة في أملاكهم فهل للذين يسكنون أعلى السكة حق الاعتراض فعلى الوجهين المذكورين في الأجنحة وما في معانيها

Para ulama berkata, jika penduduk yang tinggal di bagian bawah gang ingin memasukkan bagian tersebut dari gang ke dalam kepemilikan mereka, apakah penduduk yang tinggal di bagian atas gang berhak mengajukan keberatan? Maka hukumnya mengikuti dua pendapat yang telah disebutkan dalam masalah sayap bangunan dan hal-hal yang serupa dengannya.

فتحصّل من كلام المشايخ أن السكة المنسدة مملوكة وكان شيخي يطلق القولَ بجواز بيعها وطريق تملكها على الاختصاص كطريق ثبوت الشارع العام غير أنها أثبتت على هيئة الاختصاص فمُلِّكت كذلك

Dari penjelasan para ulama, dapat disimpulkan bahwa gang buntu adalah milik pribadi, dan guru saya membolehkan secara mutlak untuk menjualnya. Cara memilikinya adalah melalui hak khusus, sebagaimana cara penetapan jalan umum, hanya saja gang buntu itu ditetapkan dalam bentuk hak khusus, sehingga dimiliki dengan cara demikian.

وقد نجز المقصود من تفصيل الفصل أولاً وتأصيله آخراً

Tujuan dari penjabaran bab ini telah tercapai pada bagian awal, dan penetapannya telah diselesaikan pada bagian akhir.

فصل

Bab

قال ولو أن رجلين ادعيا داراً في يد رجل فقالا ورثناها من أبينا إلى آخره

Dia berkata: Seandainya ada dua orang mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, lalu mereka berdua berkata, “Kami mewarisinya dari ayah kami,” dan seterusnya.

إذا ادّعى رجلان داراً في يد رجل وقالا ورثناها من أبينا ولم يذكرا أنهما قبضا تلك الدار فإذا أقر المدعى عليه لأحدهما بنصف الدّار فقد نصَّ الشافعي رضي الله عنه على أن ذلك النصف مشترك بين المدعيين فإنهما ادعيا من جهة الإرث وحكم الإرث الشيوع فإذا تخلص بسبب الإقرار نصفُ الدار عن يد المدعى عليه فهو ميراث أبيهما بينهما بزعمهما

Jika dua orang laki-laki mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, dan keduanya berkata, “Kami mewarisinya dari ayah kami,” tanpa menyebutkan bahwa mereka telah menerima rumah tersebut, lalu orang yang digugat mengakui kepada salah satu dari mereka atas setengah rumah itu, maka Imam Syafi’i rahimahullah telah menegaskan bahwa setengah bagian tersebut menjadi milik bersama kedua penggugat. Sebab, mereka berdua mengklaimnya atas dasar warisan, dan hukum warisan adalah bersifat syuyu‘ (kepemilikan bersama). Maka jika setengah rumah itu keluar dari tangan tergugat karena pengakuan, maka setengah itu menjadi warisan ayah mereka berdua menurut pengakuan mereka.

ولو قالا ورثناها وكانت في أيدينا فغصبها منا فإذا أقر المدعى عليه لأحدهما بنصف الدار فقد اختلف أصحابنا فيه فذهب الأكثرون إلى أن ذلك النصف مشترك بين المدعيين في هذه الصورة كما ذكرناه في الصورة المتقدمة ولا أثر لادعاء تقدم اليد ونسبةِ المدعى عليه إلى الغصب

Jika keduanya berkata, “Kami mewarisinya dan rumah itu berada di tangan kami, lalu dirampas dari kami,” kemudian tergugat mengakui kepada salah satu dari mereka atas setengah rumah, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Mayoritas berpendapat bahwa setengah tersebut menjadi milik bersama antara kedua penggugat dalam kasus ini, sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus sebelumnya, dan tidak ada pengaruh dari klaim mendahului kepemilikan atau tuduhan penggugat terhadap tergugat atas perampasan.

وذكر صاحب التقريب والعراقيون وجهاًً آخر أنه يختص بالنصف المقَرّ له ولا يشاركه صاحبه؛ فإن الغصب الذي ادعياه يُشعر بنوع اختصاصٍ كأنّ كلَّ واحد منهما ادّعى أنه غُصب منه النصف ومن صاحبه النصف الآخر فإذا سلم لأحدهما نِسْبته إلى نفسه لم يشارَك فيه وهذا بعيد؛ فإن دعوى الغصب لا تقدحُ في شيوع الإرث ولا تتضمن اختصاصاً معقولاً

Dan penulis kitab at-Taqrīb serta para ulama Irak menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa bagian setengah yang diakui untuknya itu khusus baginya dan tidak disertai oleh temannya; sebab ghashab (perampasan) yang mereka berdua klaim menunjukkan adanya semacam kekhususan, seakan-akan masing-masing dari mereka mengaku bahwa setengahnya dirampas darinya dan setengah lainnya dari temannya. Maka jika salah satu dari mereka telah diakui bagian yang dinisbatkan kepadanya, maka ia tidak disertai dalam bagian itu. Namun, pendapat ini jauh (lemah); sebab klaim ghashab tidak merusak keumuman warisan dan tidak mengandung kekhususan yang dapat diterima akal.

هذا قولُنا إذا ادعيا الإرث

Ini adalah pendapat kami apabila keduanya mengaku sebagai ahli waris.

فلو ادّعيا الدار عن جهتين فقال أحدهما النصف لي اشتريتُه منك وقال الآخر النصف لي وهبتنيه فإذا أقر لأحدهما بنصف الدار مُطلقاً ولم يتعرض لتصديقه في الجهة التي ذكرناها فالنصف الذي يثبت له بالإقرار لا يشاركه فيه الآخر وفاقاً؛ فإن السبب متميز عن السَّبب ولا يمتنع ثبوت أحدهما دون الآخر ويمتنع ثبوتُ الإرث لأحد الاثنين دون الثاني

Jika dua orang mengklaim sebuah rumah dari dua alasan yang berbeda, lalu salah satunya berkata, “Separuh rumah itu milikku, aku membelinya darimu,” dan yang lain berkata, “Separuh rumah itu milikku, engkau memberikannya kepadaku sebagai hibah,” kemudian pemilik rumah mengakui kepada salah satu dari mereka atas separuh rumah secara mutlak tanpa menyebutkan kebenaran alasan yang telah disebutkan, maka separuh yang ditetapkan baginya melalui pengakuan itu tidak boleh disertai oleh yang lain, menurut kesepakatan; karena sebab yang satu berbeda dengan sebab yang lain, dan tidak mustahil salah satunya terbukti tanpa yang lain, sedangkan tidak mungkin warisan ditetapkan untuk salah satu dari dua orang tanpa yang lain.

هذا إذا نسبا دعوتيهما إلى جهتين مختلفتين

Ini jika kedua klaim mereka dinisbatkan kepada dua pihak yang berbeda.

فأمَّا إذا نسباهما إلى جهةٍ واحدة غيرِ الإرث مثل أن يقولا الدارُ لنا اشتريناها أو اتهبناها فأقر المدعى عليه لأحدهما بالملك المطلق في النصف فقد اختلف جوابُ أئمتنا فقال بعضهم هذا النصف مشترك بينهما كما لو ادّعياه إرثاً وهو اختيار القاضي وجماعة من المحققين

Adapun jika keduanya menisbatkan (hak milik) kepada satu sebab selain warisan, seperti keduanya berkata, “Rumah ini milik kami, kami membelinya” atau “kami menerimanya sebagai hibah,” lalu pihak tergugat mengakui kepemilikan mutlak atas setengah bagian kepada salah satu dari mereka, maka para imam kami berbeda pendapat dalam menjawabnya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa setengah bagian ini menjadi milik bersama antara keduanya, sebagaimana jika keduanya mengakuinya sebagai warisan, dan ini adalah pilihan al-Qadhi dan sekelompok ulama yang ahli.

وذهب بعضهم إلى أنه يختص بالنصف المقَر له به بخلاف جهة الإرث وقد ذكره شيخي والصيدلاني وبعض المصنفين

Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu khusus berlaku pada setengah bagian yang diakui untuknya, berbeda dengan bagian waris. Pendapat ini disebutkan oleh guruku, As-Saidalani, dan beberapa penulis lainnya.

ووجهه في القياس أن الشراء يتميز عن الشراء وإن جمعهما اسم واحد فكان الشراء في حقهما كجهتين وقد جلبتا الوفاق والذي يحقق ذلك أنّه لو جرى شراؤهما في النصفين بدفعتين وقعت الدعوى منهما كذلك ولا يجوز أن يتخيل خلافٌ في هذه الصورة بل الوجه القطع بأنه إذا أقر لأحدهما لم يشاركه الآخر؛ فإن الشراء متميز عن الشراء تميُّز الشراء عن الهبة والتميز هو المعتبر لا صورة الاختلاف والتماثُل

Dasar qiyās-nya adalah bahwa pembelian yang satu berbeda dengan pembelian yang lain, meskipun keduanya memiliki nama yang sama, sehingga pembelian bagi keduanya seperti dua sisi yang berbeda, dan keduanya membawa kesepakatan. Yang menguatkan hal ini adalah, jika pembelian keduanya dilakukan atas dua bagian dalam dua kali transaksi, maka gugatan dari keduanya pun akan terjadi demikian pula, dan tidak boleh dibayangkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Bahkan, yang benar adalah bahwa jika seseorang mengakui hak salah satunya, maka yang lain tidak ikut serta; sebab pembelian yang satu berbeda dengan pembelian yang lain, sebagaimana pembelian berbeda dengan hibah, dan perbedaan itulah yang dianggap, bukan sekadar bentuk perbedaan atau kesamaan.

وإذا ثبت هذا فشراء رجلين في صفقة من رجل في ظاهر مذهبنا محمول على تفريق الصفقة وتعددها وإذا ثبت ما ذكرناه ترتب عليه أنهما إذا ادّعيا أنهما اشتريا معاً فالأمر على الخلاف الذي ذكرناه وإن ادّعى كل واحدٍ منهما انفراده بالعقد في النصف الذي يدعيه فلا مشاركة إذا فرض إقرار لأحدهما

Jika hal ini telah tetap, maka pembelian dua orang dalam satu transaksi dari satu orang menurut mazhab kami yang zahir dianggap sebagai pemisahan transaksi dan penggandaannya. Jika apa yang kami sebutkan telah tetap, maka konsekuensinya adalah apabila keduanya mengaku bahwa mereka membeli bersama-sama, maka perkara ini mengikuti perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan. Namun jika masing-masing dari mereka mengaku melakukan akad sendiri-sendiri atas separuh yang diklaimnya, maka tidak ada kemitraan jika salah satu dari mereka diakui.

وإذا ادّعيَا الشراء مطلقاًً فهو متردد بين تعدد الشراء واتحاده فإذا أقر لأحدهما روجع فإن ادعى الانفراد بالشراء انفرد بالمقر به وإن ادعى وقوع الشراء معاً فهو على الخلاف

Jika keduanya mengaku telah membeli secara mutlak, maka hal itu masih samar antara terjadinya pembelian secara terpisah atau bersamaan. Jika salah satu dari mereka diakui (haknya), maka ditanyakan kembali; jika ia mengaku membeli sendiri, maka ia berhak atas apa yang diakui kepadanya. Namun jika ia mengaku bahwa pembelian terjadi bersama-sama, maka hal itu kembali kepada perbedaan pendapat (khilāf).

ثم قال الشافعي إذا ادّعيا الدّار عن جهة الإرث فأقر لأحدهما بالملك وثبت أن صاحبه مشاركه في ذلك النّصف فلو صالح المقر له من النصف المقر به على مالٍ فظاهر النص يشير إلى صحة الصلح وكَوْنُ العوض ثابتاً على الاشتراك

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Jika keduanya mengklaim rumah tersebut berdasarkan jalur warisan, lalu ia mengakui kepemilikan kepada salah satu dari mereka dan terbukti bahwa yang satunya lagi adalah sekutunya dalam setengah bagian itu, maka jika orang yang diakui kepemilikannya berdamai dengan pihak yang mengakui atas setengah bagian yang diakui itu dengan imbalan harta, maka zahir nash menunjukkan sahnya perdamaian tersebut dan bahwa imbalannya tetap menjadi milik bersama.

والوجه المبتوتُ في ترتيب المذهبِ أن يقال إذا ثبت كونُ ذلك النصف مشترَكاً فإن جرى الصلح بإذن الشريك صح وإن جرى من غير إذنه فالصلح باطل في حصة شريكه وهل يبطل في حصة المقَر له فعلى قولي تفريق الصفقة

Pendapat yang tegas dalam penataan mazhab adalah bahwa jika telah tetap bahwa setengah bagian itu adalah milik bersama, maka jika perdamaian dilakukan dengan izin sekutu, maka sah; dan jika dilakukan tanpa izinnya, maka perdamaian batal pada bagian milik sekutunya. Adapun apakah batal juga pada bagian milik orang yang diakui (muqarr lah), maka hal itu tergantung pada dua pendapat (qaul) tentang tafriq ash-shafqah (pemisahan akad).

هذا قياس المذهب

Ini adalah qiyās menurut mazhab.

وذكر طوائف من أصحابنا وجهاً آخر في صحة الصلح في جميع النصف وهو ظاهر النص في السواد ولست أعرف لهذا وجهاًً وكل ما تُكلف ذكرُه في التصحيح يتضمن استبداد المقر له بالنصف وثمنه وأقصى ما قيل فيه إن كان يعرف حكم المسألة يعترف لصاحبه بحصته في النصف المقر به وإن كان لا يعرفه فهو كذلك ومَنْ ظن ملكَ الغير ملكَ نفسه لم ينفذ بهذا السَّبب بيعُه فيه

Sekelompok ulama dari kalangan kami menyebutkan pendapat lain tentang sahnya shulh atas seluruh setengah bagian, dan ini merupakan zahir dari nash dalam kasus tanah sawad. Namun, aku tidak mengetahui alasan yang jelas untuk pendapat ini. Segala upaya yang dilakukan untuk membenarkannya pada hakikatnya mengandung makna bahwa pihak yang diakui berhak atas setengah bagian tersebut dan harganya secara penuh. Pendapat paling jauh yang dikemukakan dalam hal ini adalah: jika ia mengetahui hukum masalah ini, maka ia mengakui hak temannya atas bagiannya dalam setengah bagian yang diakui; dan jika ia tidak mengetahuinya, maka keadaannya tetap sama. Barang siapa yang menyangka bahwa milik orang lain adalah miliknya sendiri, maka jual belinya atas dasar sangkaan tersebut tidak sah.

فرع

Cabang

قال صاحب التقريب إذا باع اثنان عبداً مشتركاً بينهما بثمن معلوم فهل لأحدهما الانفرادُ بقبض حصته من الثمن ولو قبض شيئاًً من الثمن فهل يشاركه فيه صاحبه فعلى وجهين أحدهما ليس له أن يشاركه وله الانفراد بقبض حصته ووجه ذلك في القياس بيّن والوجه الثاني أنه لا ينفرد وما يجري القبض فيه مشترك كما لو كاتَبَا عبداً فأراد أحدُهما الانفرادَ بقبض حصته من النجوم لم يكن له ذلك كما سنذكره في كتاب الكتابة إن شاء الله تعالى

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika dua orang menjual seorang budak yang mereka miliki bersama dengan harga tertentu, apakah salah satu dari mereka boleh secara sendiri mengambil bagian dari harga tersebut? Dan jika salah satu dari mereka telah mengambil sebagian dari harga itu, apakah temannya berhak mendapat bagian darinya? Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama, ia tidak berhak untuk berbagi, dan ia boleh secara sendiri mengambil bagiannya; alasan pendapat ini dalam qiyās sangat jelas. Pendapat kedua, ia tidak boleh mengambil sendiri, dan apa yang terjadi dalam hal penerimaan (uang) adalah sesuatu yang bersifat bersama, sebagaimana jika keduanya melakukan mukātabah terhadap seorang budak, lalu salah satu dari mereka ingin secara sendiri mengambil bagiannya dari cicilan, maka ia tidak berhak melakukannya, sebagaimana akan kami jelaskan dalam Kitab al-Kitābah, insya Allah Ta‘ala.

والقائل الأول يقُول ليست الكتابة كالبيع؛ إذ يتصور من أحد الشريكين بيع نصيبه وإن لم يبع الثاني وليس لأحد السيدين أن يكاتب نصيبه دون الثاني كما سيأتي في الكتابة إن شاء الله تعالى وثَمَّ توضيح تعليل ما ذكرناه في الكتابة جُهدنا

Pendapat pertama mengatakan bahwa kitabah tidak sama dengan jual beli; karena dimungkinkan salah satu dari dua orang yang berserikat menjual bagiannya meskipun yang kedua tidak menjual, sedangkan tidak diperbolehkan bagi salah satu dari dua tuan untuk melakukan kitabah atas bagiannya saja tanpa yang lain, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan kitabah, insya Allah Ta‘ala. Di sana juga akan dijelaskan penjelasan alasan yang telah kami sebutkan dalam kitabah semampu kami.

فرع

Cabang

إذا ادّعى رجلان داراً في يد ثالثٍ على الشيوعِ وذكرا الملك المطلق ولم ينسباه إلى سبب فقد ألحق أصحابنا هذا بما لو نسبا دعوتيهما إلى الشراء أو غيره من الأسباب المتحدة الواقعة على موجب الشركة وقد مضى التفصيل فيه

Jika dua orang laki-laki mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan orang ketiga secara bersama-sama, dan mereka menyebutkan kepemilikan mutlak tanpa mengaitkannya dengan suatu sebab, maka para ulama kami menganggap kasus ini sama dengan jika mereka mengaitkan klaim mereka dengan pembelian atau sebab lain yang bersifat tunggal yang sesuai dengan ketentuan syirkah, dan rincian masalah ini telah dijelaskan sebelumnya.

فرع

Cabang

إذا ادّعى رجلان داراً في يد رجل وقال كل واحدٍ منهما نصف هذه الدار لي فأقر المدعى عليه بأن جميع الدار لأحدهما وعيَّنه نُظر فإن لم يَزِد المقر له ابتداءً على أن نصف الدار لي ولم ينف عن نفسه النصف الآخر فلا يمتنع الحكم بجميع الدّار له آخراً بسبب الإقرار؛ إذ لا منافاة بين ادعائه النصفَ وبين ثبوت الكل؛ إذ مستحق الكل قد يدّعي نصفَه

Jika dua orang laki-laki mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, dan masing-masing dari mereka berkata, “Separuh rumah ini milik saya,” lalu orang yang digugat mengakui bahwa seluruh rumah itu milik salah satu dari mereka dan menyebutkannya secara spesifik, maka hal itu perlu diteliti. Jika orang yang diakui kepemilikannya sejak awal tidak menuntut lebih dari separuh rumah dan tidak menafikan separuh lainnya dari dirinya, maka tidak terhalang untuk memutuskan seluruh rumah menjadi miliknya pada akhirnya karena adanya pengakuan; sebab tidak ada pertentangan antara klaim atas separuh dengan penetapan seluruhnya, karena seseorang yang berhak atas keseluruhan bisa saja hanya mengklaim separuhnya.

وإن ادّعى أن النصف له والنصف لصاحبه المدعي معه فإذا أقر المدعى عليه له بالجميع فلا يثبت له إلا النصف؛ تعلقاً بقوله الأول

Dan jika ia mengaku bahwa separuh adalah miliknya dan separuh lagi milik temannya yang menggugat bersamanya, maka apabila tergugat mengakui kepadanya atas seluruhnya, tidaklah tetap baginya kecuali separuh saja; berpegang pada pernyataan pertamanya.

ولو ادعى النصف لنفسه ونفى الاستحقاق عن غيره ولم يثبته لشريكه في الدعوى وقد أقر له صاحب اليد بالجميع ففيه ثلاثة أوجه جمعها العراقيون أحدها أن ذلك النصف مُقَرٌّ في يد المقِر فإنه أولى به لثبوت يده في الظاهر والمقَر له ينفيه

Jika seseorang mengklaim setengah bagian untuk dirinya sendiri dan menafikan hak atas bagian tersebut dari orang lain, serta tidak menetapkan hak itu untuk rekannya dalam klaim, kemudian pemilik barang (yang memegang barang) mengakui seluruhnya untuknya, maka dalam hal ini terdapat tiga pendapat yang dihimpun oleh para ulama Irak. Pendapat pertama, setengah bagian itu tetap menjadi milik orang yang mengakui (pemilik barang), karena ia lebih berhak atasnya berdasarkan kepemilikan secara lahiriah, sedangkan orang yang diakui (yang diklaim) menafikan hak atas bagian tersebut.

والثاني أنه يسلم إلى القاضي فيحفظه كما يحفظ الأملاك التي لا يتعين ملاكها ويُنتظر البيانُ فيها

Kedua, harta tersebut diserahkan kepada qadhi agar dijaga sebagaimana menjaga harta-harta yang tidak diketahui secara pasti pemiliknya, dan menunggu kejelasan mengenai hal itu.

والثالث أنه يسلم النصف إلى الشريك الثاني المدعي؛ فإن المدّعى عليه أقر بزوال الملك له ونفاه المقَرّ له عن نفسه وأولى من يصرف إليه هذا الذي يدعيه وهذا ضعيفٌ لا أصل له وهو على التحقيق إثبات الملك بالدعوى المجرَّدة

Ketiga, ia menyerahkan setengah bagian kepada mitra kedua yang mengklaim; karena pihak tergugat telah mengakui hilangnya kepemilikan darinya, dan pihak yang diakui menafikan kepemilikan itu dari dirinya sendiri, maka yang paling berhak menerima bagian itu adalah orang yang mengklaimnya. Namun, pendapat ini lemah, tidak memiliki dasar, dan pada hakikatnya merupakan penetapan kepemilikan hanya berdasarkan klaim semata.

ولو ادّعى أولاً النصف ونفى استحقاقَه عن غيره ثم تخلل زمان يجوز أن يتجدّد في مثله له ملكٌ في النصف الباقي ثم أقر له صاحب اليد بجميع الدّار فصدّقه المقَر له يثبت له الملك في جميع الدار؛ إذ لا منافاة بين الأوّل والثاني وإن لم يتخلل زمان يفرض فيه تجدد الملك فالإقرار في النصف الثاني مردود للمقر له لقوله الأول والمرء مؤاخذ بالقول الأول فإن قيل إذا قال أولاً النصف لي والنصف لصاحبي فأقر صاحب اليد بالتمام له فهل يؤثر إقراره أولاً لصاحبه بثبوت الملك له قلنا لا أثر لهذا الإقرار في هذا المعنى والأمرُ على الأوجه الثلاثة التي ذكرناها

Jika seseorang pada awalnya mengklaim setengah bagian dan menafikan hak kepemilikan orang lain atas sisanya, kemudian berlalu suatu waktu yang memungkinkan secara kebiasaan baginya untuk memperoleh kepemilikan atas setengah bagian yang tersisa, lalu pemilik tangan (yang menguasai barang) mengakui seluruh rumah kepadanya dan orang yang diakui membenarkannya, maka kepemilikan seluruh rumah menjadi miliknya; karena tidak ada pertentangan antara pernyataan pertama dan kedua. Namun, jika tidak ada jeda waktu yang memungkinkan terjadinya pembaruan kepemilikan, maka pengakuan atas setengah bagian kedua ditolak untuk orang yang diakui, berdasarkan pernyataan pertamanya, dan seseorang terikat dengan pernyataan pertamanya. Jika dikatakan: apabila pada awalnya ia berkata, “Setengah milikku dan setengah milik temanku,” lalu pemilik tangan mengakui seluruhnya kepadanya, apakah pengakuan awalnya kepada temannya berpengaruh dalam penetapan kepemilikan baginya? Kami katakan: pengakuan tersebut tidak berpengaruh dalam hal ini, dan perkara ini kembali pada tiga kemungkinan yang telah kami sebutkan.

ولو قال رجل هذا العبد لزيد وكان في يد عمرو وتحت تصرفه فرد قوله ثم أكذب نفسه في قوله الأول واشترى ذلك العبد من صاحب اليد؛ فإنا نحكم بصحة البيع ظاهِراً لتقارّ المتعاقدين لذا العقد ثم إذا حكمنا بالصحة بينهما ألزمنا المشتري أن يرد العبد إلى من أقر له به أولاً؛ فإنه تمكن من ذلك الآن وليس هذا كما إذا أقر أحد المدعيين للثاني بالنصف ثم أقر صاحب اليد له بالجميع؛ فإن الإقرار له مردود في الشرع بقوله فلا حكم له وليس كالشراء وهذا بيّن

Jika seseorang berkata, “Budak ini milik Zaid,” padahal budak itu berada di tangan Amr dan di bawah kekuasaannya, lalu ia menarik kembali ucapannya, kemudian ia mendustakan dirinya sendiri atas pernyataan pertamanya dan membeli budak itu dari pemilik tangan (Amr); maka kami menetapkan keabsahan jual beli tersebut secara lahiriah karena kedua belah pihak yang berakad telah sepakat atas akad itu. Kemudian, jika kami telah menetapkan keabsahan jual beli di antara mereka, kami mewajibkan pembeli untuk mengembalikan budak itu kepada orang yang pertama kali ia akui sebagai pemiliknya; karena sekarang ia telah mampu melakukan hal itu. Ini tidak sama dengan kasus ketika salah satu dari dua penggugat mengakui kepada yang kedua atas setengah bagian, lalu pemilik tangan mengakui kepadanya atas seluruhnya; maka pengakuan itu tertolak secara syariat karena ucapannya, sehingga tidak ada ketetapan hukum baginya dan tidak seperti jual beli. Hal ini jelas.

فصل

Bab

قال فإن تداعى رجلان جداراً بين داريهما إلى آخره

Dia berkata: “Jika dua orang saling mengklaim sebuah dinding yang terletak di antara dua rumah mereka, dan seterusnya.”

وصورة ثبوت الجدار أن يكون حائلاً بين عرصتي الداريْن أو بين بيتَيْن من الدارين أو بين بيت وعرصة

Bentuk tetapnya tembok adalah apabila tembok itu menjadi pembatas antara dua bidang tanah milik dua rumah, atau antara dua rumah dari kedua rumah tersebut, atau antara sebuah rumah dan sebidang tanah.

فإذا تنازع مالكا الدارين في الجدار لم يخلُ إما أن يكون متصلاً ببناء كل واحدة منهما اتصال ترصيع وإما أن يكون متصلاً ببناء أحدهما دون الآخر

Jika dua pemilik rumah bersengketa mengenai sebuah dinding, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dinding itu tersambung dengan bangunan kedua rumah secara rapat, atau hanya tersambung dengan bangunan salah satunya saja tanpa yang lain.

وأول ما نبدأ به بيان التصوير واتصال البناء معناه أن يتداخل نصفٌ من الجدار المتنازع فيه في الجدار المتفق عليه ونصف من ذلك في هذا وإنما يظهر ذلك في الزوايا فإذا كان الجدار ممتداً بين الدارين كما قدمناه واتصل أحد طرفيه بجدارٍ هو ملك لمالك إحدى الدارين وانعطف أحد الجدارين على الثاني وظهر في المنعطف زاوية وكانت على هيئة التداخل والترصيع فهذا هو الاتصال ونقيضه أن يُرى انعطاف الجدار على الجدار ولا ترصيع بينهما عند الملتقى في طرف الجدار بل كان أحدهما ملصقاً بالثاني إلصاق مجاورة فهذا منفصل

Hal pertama yang akan kami jelaskan adalah makna tashwīr dan ittishāl al-binā’, yaitu bahwa setengah dari dinding yang diperselisihkan masuk ke dalam dinding yang telah disepakati, dan setengah dari dinding itu masuk ke dalam dinding yang lain. Hal ini biasanya tampak pada sudut-sudut. Jika dinding itu memanjang di antara dua rumah sebagaimana telah kami sebutkan, lalu salah satu ujungnya tersambung dengan dinding yang merupakan milik salah satu pemilik rumah, dan salah satu dinding membelok ke dinding yang lain, lalu pada bagian yang membelok itu tampak sudut, dan bentuknya seperti saling masuk dan menyatu, maka inilah yang disebut ittishāl (tersambung). Lawannya adalah jika terlihat salah satu dinding membelok ke dinding yang lain, namun tidak ada penyatuan di antara keduanya pada titik pertemuan di ujung dinding, melainkan salah satunya hanya menempel pada yang lain sebagai tetangga, maka ini disebut terpisah.

فإذا تبين ذلك قلنا إذا لم يتصل طرفٌ من الجدار الواقع بين الدارين بجدار دارِ واحدٍ منهما اتصال بنيان فاليد في الجدار لهما جميعاً؛ والسَّبب فيه أن الجدار سورُ دار كل واحد منهما أو سور بنيان داره ولو لم تقدَّر الدارُ الأخرى لكان جزءاً من هذه الدار قطعاً؛ فإذا وقع الجدار من دار كلٍّ منهما هذا الموقع فقد تحقق استواؤهما فيما لو انفرد كل واحد منهما به لكان اليد له والاشتراك في هذه الصورة يتضمن الاشتراك في ظاهر الملك

Jika telah jelas demikian, kami katakan: apabila tidak ada satu pun sisi dari tembok yang terletak di antara dua rumah itu yang tersambung dengan tembok rumah salah satu dari keduanya dengan sambungan bangunan, maka hak kepemilikan atas tembok itu adalah milik bersama keduanya; sebabnya adalah bahwa tembok tersebut merupakan pagar rumah masing-masing dari mereka, atau pagar bangunan rumahnya. Seandainya rumah yang lain tidak ada, niscaya tembok itu pasti menjadi bagian dari rumah ini. Maka, jika tembok itu berada pada posisi seperti ini dari masing-masing rumah, berarti telah terwujud kesetaraan antara keduanya, di mana jika masing-masing dari mereka memilikinya sendiri, maka hak kepemilikan ada padanya. Dan kepemilikan bersama dalam kasus ini mengandung makna kepemilikan bersama secara lahiriah.

فهذا إذا لم يتصل الطرفان اتصال بنيان ولو اتصل الطرفان بالدارين اتصال بنيان فالجوابُ كما مضى وهما متساويان في اليد وظاهرِ الملك

Ini jika kedua ujungnya tidak tersambung secara bangunan. Namun, jika kedua ujungnya tersambung dengan kedua rumah secara bangunan, maka jawabannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu keduanya sama dalam hal penguasaan (yad) dan kepemilikan yang tampak.

وإن اتصل أحد طرفي الجدار بجدارٍ خالص من دار أحدهما عند المنعطف اتصال بنيان ولم يتصل الطرفُ الآخر من الجدار بدار الآخر إلا اتصال جوارٍ فاليد في الجدار لصاحب الاتصال اتفق العلماء فيه؛ والسَّبب فيه أنا على تحقيق نعلم أن هذا الجدار بني مع الجدار الآخر بناءً واحداً والوصف والترصيع شاهد فيه لا يدافَع فلزم الحكم به؛ إذ يستحيل أن يُبنى جدار الغير مع جداره ترصيعاً ثم لا يتصل بدار من يدعيه إلا جواراً

Jika salah satu ujung dinding tersambung dengan dinding milik salah satu dari keduanya secara penuh dari bangunan rumahnya pada bagian sudut dengan sambungan bangunan, sedangkan ujung lainnya dari dinding tersebut hanya tersambung dengan rumah yang lain sebatas bertetangga saja, maka hak atas dinding itu menjadi milik pihak yang memiliki sambungan bangunan, dan para ulama sepakat dalam hal ini. Sebabnya adalah karena secara pasti kita mengetahui bahwa dinding ini dibangun bersamaan dengan dinding yang lain sebagai satu bangunan, dan ciri serta pola sambungan pada bangunan menjadi bukti yang tidak dapat disangkal, sehingga wajib menetapkan hukum berdasarkan hal itu. Sebab mustahil dinding milik orang lain dibangun bersamaan dengan dindingnya secara terhubung, namun tidak tersambung dengan rumah orang yang mengklaimnya kecuali hanya sebatas bertetangga.

ثم قال الأئمة ما ذكرناه من الترصيع فيه إذا كان الجداران على هذا النّعت من الأصل والأمر إلى الطرف الأعلى حيث نتبين أنه لا يتصور إحداثه بعد البناء

Kemudian para imam berkata, apa yang telah kami sebutkan tentang penyusunan itu berlaku jika kedua dinding tersebut memiliki sifat seperti ini sejak awal, dan perkara ini berlangsung hingga bagian atas, di mana kita dapat memastikan bahwa hal itu tidak mungkin dibuat setelah bangunan selesai.

فأمَّا إذا وجد التداخل في جر ـن من الجدارين بحيث يظهر أنه بعد البناء فلا تعلق به وذلك مثل نزع طوبة وإدخال أخرى على التداخل

Adapun jika ditemukan adanya saling masuk (tadākhul) pada salah satu dari dua dinding sehingga tampak bahwa hal itu terjadi setelah pembangunan, maka tidak ada kaitannya dengannya. Contohnya adalah mencabut sebuah batu bata dan memasukkan batu bata lain secara saling masuk (tadākhul).

وإذا كان الجدار بين الدارين وكان لأحد المالكين على الجدار جذوع ولم يكن للثاني جذوع فلا ترجيح لصاحب الجذوع والجدارُ في أيديهما ولا فرق بين الجذع الواحد والعدد ومعتمد المذهب أن وضع الجذوع يقع بعد بناء الجدار وقد ذكرنا أن كون الجدار بين الدارين مثبتٌ لمنصب اليدِ في حق كل واحد منهما وكيف لا وهو جزء من كل دارٍ ووضع الجذوع يقل عن هذا ويقصُر عنه ويتجه حمله على الإعارة والإجارة وابتياع حق البناء كما سنذكره بعد هذا فاختصاص أحدهما بالجذوع اختصاصُ مزيد انتفاع بعد الاستواء في اليد فكان كما لو سكن رجلان داراً لأحدهما فيه أمتعةٌ وأقمشة ولا قماش للثاني

Jika ada dinding di antara dua rumah, dan salah satu pemilik memiliki balok-balok kayu di atas dinding itu sementara yang lain tidak, maka tidak ada keutamaan bagi pemilik balok tersebut; dinding itu tetap berada dalam kekuasaan keduanya. Tidak ada perbedaan antara satu balok dengan jumlah yang banyak. Pendapat yang dipegang dalam mazhab adalah bahwa peletakan balok terjadi setelah dinding dibangun. Telah kami sebutkan bahwa keberadaan dinding di antara dua rumah menetapkan hak kepemilikan bagi masing-masing pihak, karena dinding itu adalah bagian dari setiap rumah. Sementara peletakan balok itu lebih sedikit dan lebih rendah tingkatannya dari hal tersebut, sehingga dapat ditafsirkan sebagai pinjaman, sewa, atau pembelian hak membangun, sebagaimana akan kami jelaskan setelah ini. Maka, kekhususan salah satu dari keduanya dalam hal balok hanyalah kekhususan dalam hal tambahan pemanfaatan setelah keduanya setara dalam kepemilikan, sebagaimana jika dua orang menempati satu rumah, lalu salah satunya memiliki barang-barang dan kain di dalamnya, sementara yang lain tidak memiliki kain.

ولو تنازع رجلان دابةً أحدُهما راكبها فالركوب يناظر وضعَ الجذوع ولكن لم يثبت متعلَّق في اقتضاء اليد في الدابة فتعَلَّقنا بالركوب وقد أوضحنا ثبوتَ اليد في الجدار ورددنا وضع الجذع إلى مزيد انتفاع بعد الاستواء في اليد

Jika dua orang berselisih atas seekor hewan, salah satunya menungganginya, maka menunggangi itu sebanding dengan meletakkan balok, namun belum terbukti adanya keterkaitan yang menetapkan hak kepemilikan (yad) pada hewan, sehingga kami berpegang pada menunggangi tersebut. Kami telah menjelaskan penetapan hak kepemilikan (yad) pada dinding dan mengembalikan peletakan balok sebagai bentuk tambahan pemanfaatan setelah adanya kesetaraan dalam hak kepemilikan (yad).

ولو تنازعا دابة وأحدهما راكبها والثاني متعلق بلجامها أو تنازعا ثوباًً وأحدُهما لابسه والثاني متعلق به يجاذبه فالمذهبُ أن اليد للراكب واللابس

Jika dua orang berselisih mengenai seekor hewan, salah satunya menungganginya dan yang lain memegang kendalinya, atau mereka berselisih mengenai sebuah pakaian, salah satunya memakainya dan yang lain memegangnya sambil menarik-narik, maka pendapat yang dipegangi (al-madzab) adalah bahwa kepemilikan (yad) ada pada orang yang menunggangi hewan atau yang memakai pakaian tersebut.

وأبعد بعضُ الأصحاب فأثبت اليد لهما

Sebagian ulama bahkan berpendapat lebih jauh dengan menetapkan hak kepemilikan (tangan) bagi keduanya.

وهذه الأحوال حقها أن تؤخذ من العاداتِ؛ إذ ليس فيها توقيفاتٌ شرعية ولا يخفى أن الرّاكب هو الذي يعد مستولياً على الدابة دون المتعلَّقِ باللجام وكذلك القول في لابس الثوب وجاذبه

Keadaan-keadaan seperti ini seharusnya diambil dari kebiasaan (‘urf), karena tidak ada ketentuan syar‘i di dalamnya. Tidaklah samar bahwa orang yang menunggangi hewanlah yang dianggap menguasai hewan tersebut, bukan orang yang hanya berpegangan pada talinya. Demikian pula halnya dengan orang yang mengenakan pakaian dan orang yang menariknya.

ثم لما ذكر الشافعي معتبرهُ في الجدارِ وأوضح أن الرجوع إلى اتصال البنيان كما وصفناه قال فإن لم يكن فالجدار مقر على اليدين واعتبار تقريره على اليدين أوْلى من كل ما يتخيل بعده سوى اتصال الرّصف والترصيع وعدَّه ممّا لا يعتبر مما قد يُخيل

Kemudian, setelah asy-Syafi‘i menyebutkan hal yang menjadi pertimbangannya dalam masalah dinding dan menjelaskan bahwa rujukan kembali kepada keterhubungan bangunan sebagaimana telah kami uraikan, beliau berkata: Jika tidak ada (keterhubungan bangunan), maka dinding itu tetap berada di tangan kedua belah pihak. Menetapkan dinding itu di tangan kedua belah pihak lebih utama daripada segala sesuatu yang dibayangkan setelahnya, kecuali keterhubungan lantai dan pemasangan batu, dan beliau menganggap hal-hal lain yang mungkin dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak dianggap.

وأشارَ إلى خلاف العلماء قال لا أنظر إلى من إليه الخوارج والدواخل وأنصافُ اللَّبن ومعاقدِ القُمط والقُمُط جمع القِماط وهو الحبل

Ia juga menunjuk pada adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, seraya berkata: Aku tidak memperhatikan pendapat orang-orang yang condong kepada khawarij, orang-orang yang masuk dari luar, orang-orang setengah matang, serta para pengikat tali dan tali-tali, yaitu jama‘ dari qimāṭ, yaitu tali.

وأراد بالدواخل والخوارج الكتابةَ بالجص والآجر إذا كان على أحدِ وجهي الجدار كتابة فلا تعويل عليها وكذلك إذا كان على أحد وجهي الجدار تزويقاتٌ أو طبقات تزين الجدار وأراد بأنصاف اللبن أن الجدار لو كان متخذاً من اللبناتِ المقطعة وكان الوجوه إلى أحد الجانبين والجوانب المكسرة من الجانب الآخر فلا احتفال بشيء من هذا ومعاقد القمُط يظهر في الستر بين السطوح والمتخذ من القصب والحُصر وغيرهما فقد يشد عليها خشبة مستطيلة ومعترضة بالحبال وقد يُظن أن الباني لها لا يجعل وجه العقد والخشب في جانب نفسه ويجعل الوجه المستوي إلى الجانب الذي يليه ولا تعويل على ذلك ولا ترجيح خلافاً لمالكٍ

Yang dimaksud dengan bagian dalam dan luar adalah penulisan dengan kapur dan batu bata; jika pada salah satu sisi dinding terdapat tulisan, maka tidak dapat dijadikan pegangan. Demikian pula jika pada salah satu sisi dinding terdapat hiasan atau lapisan yang memperindah dinding, maka hal itu juga tidak dianggap. Yang dimaksud dengan setengah bata adalah jika dinding terbuat dari bata yang dipotong, dan sisi-sisinya menghadap ke satu arah sementara sisi-sisi yang terpotong menghadap ke arah lain, maka hal ini juga tidak perlu diperhatikan. Tempat ikatan tali tampak pada tirai antara permukaan-permukaan dan pada bangunan yang terbuat dari bambu, tikar, dan selainnya; terkadang pada bagian itu dipasang kayu panjang yang diikat dengan tali. Bisa saja orang mengira bahwa pembangun tidak meletakkan sisi lengkungan dan kayu di sisinya sendiri, melainkan meletakkan sisi yang rata ke sisi yang menghadapnya. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan pegangan dan tidak ada keutamaan, berbeda dengan pendapat Malik.

ولو كان لأحد المتنازعين في الجدار على الجدار أَزَجٌ نظر فإن كان على منتهاه فهو بمثابة وضع الجذوع بعد تمام البناء وقد ذكرنا أنه لا تعلق بوضع الجذوع ولو كان الجدار من أصله مقوساً من جهة أحدهما إلى منتهى الأَزَج فإذا فرض النزاع والحالة هذه فصاحبُ الأزَج صاحب الجدار؛ فإن الجدار جزء من الأَزَج وليس الأزَج موضوعاً بعد بناء الجدار ولا يعد مثل هذا سوراً في جانب جدارٍ من الأزج له فإذا كان البيت المؤَزَّج لأحدهما وفاقاً فالجدار الذي ذكرنا من غير الأَزَج فهذا منتهى القول في ذلك

Jika salah satu pihak yang bersengketa atas dinding memiliki azaj (lengkungan) di atas dinding tersebut, maka perlu dilihat: jika azaj itu berada di ujungnya, maka kedudukannya seperti meletakkan balok setelah bangunan selesai, dan telah kami sebutkan bahwa tidak ada kaitan dengan peletakan balok. Jika sejak awal dinding itu memang dibuat melengkung dari salah satu sisinya hingga ujung azaj, lalu terjadi sengketa dalam keadaan seperti ini, maka pemilik azaj adalah pemilik dinding; karena dinding tersebut merupakan bagian dari azaj, dan azaj itu bukanlah sesuatu yang diletakkan setelah dinding dibangun, serta tidak dianggap sebagai pagar di sisi dinding dari azaj yang dimilikinya. Maka jika rumah yang memiliki azaj itu milik salah satu dari mereka secara sepakat, maka dinding yang kami sebutkan tadi bukan bagian dari azaj. Demikianlah akhir penjelasan tentang masalah ini.

ثم ردد الشافعي قوله في أمر نحن نوضِّحه ونستعين بالله تعالى فيهِ فنقول إذا كان بين رجلين جدار مشترك فأراد أحدهما أن يضع عليه جذوعاً لم يكن له أن ينفرد به دون إذن شريكه؛ فإن انفراد أحد الشركاء بالتصرف في الملك المشترك لا مساغ له

Kemudian asy-Syafi‘i mengulangi ucapannya dalam suatu perkara yang akan kami jelaskan dan kami memohon pertolongan Allah Ta‘ala di dalamnya. Kami katakan: Jika terdapat dinding bersama antara dua orang, lalu salah satu dari mereka ingin meletakkan balok di atasnya, maka ia tidak berhak melakukannya sendiri tanpa izin dari rekannya; sebab tindakan sepihak salah satu dari para pemilik bersama dalam kepemilikan bersama tidaklah dibenarkan.

وقال الشافعي رضي الله عنه في القديم إن ثبتت حاجةُ الجار إلى الجذوع على الجدار وجب إسعافه ولا يختص هذا بالجدار المشترك؛ فإنه لو كان الجدار ملكاً خالصاً للجار ومسَّت إليها حاجة الآخر كما ذكرناه لم يُمنع من وضع الجذوعِ على الجدار واعتمد في القديم ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال من كان يؤمن بالله واليوم الآخر؛ فلا يمنع جاره بأن يضع خشبة على جداره وقيل كان الناس لا يعملون بهذا فلما ولي أبو هريرة مكة أو المدينة قال ما لي أراكم معرضين عنها والله لأرمين بها بين أكتافكم واختلف في تفسير لفظه فقيل معناه لأكلفنكم ذلك ولأضعن جذوع الجيران على أكتافكم ضرباً للمثال وقصداً إلى المبالغة في البيان وقيل أراد بقوله لأضعنها أي لأضعن هذه السُّنة بين أكتافكم ولأحملنكم العمل بها

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata dalam pendapat lamanya: Jika kebutuhan tetangga terhadap balok-balok di atas tembok telah terbukti, maka wajib membantunya. Hal ini tidak khusus pada tembok yang dimiliki bersama; sebab jika tembok itu milik penuh salah satu tetangga dan yang lain membutuhkan sebagaimana telah disebutkan, maka tidak boleh melarangnya meletakkan balok-balok di atas tembok tersebut. Dalam pendapat lamanya, beliau berpegang pada riwayat dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia melarang tetangganya meletakkan kayu di atas temboknya.” Dikatakan bahwa dahulu orang-orang tidak mengamalkan hal ini, maka ketika Abu Hurairah menjadi gubernur Makkah atau Madinah, ia berkata: “Mengapa aku melihat kalian berpaling dari hal ini? Demi Allah, sungguh akan aku lemparkan hal ini di antara pundak kalian!” Terdapat perbedaan pendapat dalam menafsirkan ucapannya; ada yang mengatakan maksudnya adalah: “Sungguh akan aku wajibkan kalian melakukannya dan akan aku letakkan balok-balok tetangga di atas pundak kalian,” sebagai perumpamaan dan untuk menegaskan penjelasan. Ada pula yang mengatakan maksudnya: “Sungguh akan aku letakkan sunnah ini di antara pundak kalian dan akan aku bebankan kalian untuk mengamalkannya.”

فإن فرعنا على الجديد فلا سبيل إلى الوضع على الملك الخالص ولا على الملك المشترك وإن مست الحاجة إليه وهذا قانون الشرع ومقتضى القياس الكلّي والجزئي وحديث أبي هريرة محمول على التأكيد في الندب والاستحباب وقد يرد أمثال هذا في الحث على المكرمات

Jika kita mengikuti pendapat baru, maka tidak ada jalan untuk mewajibkan (wakaf) atas kepemilikan murni maupun kepemilikan bersama, meskipun ada kebutuhan mendesak terhadapnya. Inilah kaidah syariat dan konsekuensi dari qiyās secara umum maupun khusus. Hadis Abu Hurairah dipahami sebagai penegasan dalam anjuran dan kesunnahan, dan hal semacam ini sering dijumpai dalam dorongan untuk melakukan kemuliaan-kemuliaan.

وإن فرعنا على القول القديم فلا بد من فرض حاجةٍ

Dan jika kita membangun pendapat berdasarkan qaul qadim, maka harus ada anggapan adanya kebutuhan.

ثم قال الأصحابُ هذا مشروط بشرطين أحدهما أن يضع ما لا يُثقل الجدار ولا يؤدّي إلى هدمه فأما أن يبني عليه ما يثقله فهو ممنوع إلا بالرضا

Kemudian para ulama berpendapat bahwa hal ini disyaratkan dengan dua syarat: pertama, ia meletakkan sesuatu yang tidak memberatkan dinding dan tidak menyebabkan kerusakannya. Adapun jika ia membangun di atasnya sesuatu yang memberatkannya, maka hal itu dilarang kecuali dengan kerelaan.

والثاني أن تكون الجوانب الثلاثة من البيت لصاحب البيت وهو يحتاج إلى جانب رابع فأمّا إذا كان الكل للغير فلا يضع الجذوع عليها قولاً واحداً

Kedua, jika tiga sisi rumah itu milik pemilik rumah dan ia membutuhkan sisi keempat, maka ia boleh meletakkan balok-balok di atasnya. Adapun jika seluruh sisi itu milik orang lain, maka ia tidak boleh meletakkan balok-balok di atasnya menurut satu pendapat.

ومن أصحابنا من لم يشترط هذا الشرط الأخير

Sebagian dari ulama kami tidak mensyaratkan syarat terakhir ini.

والحاجة التي أطلقناها لم نُرد بها ضرورةً وإنما أردنا حاجة البناء حتى لا يظن ظان أن المعنيَّ بالحاجة ضرورةٌ مرهقةٌ وداعيةٌ مستقرة ولكن لو بنى بناء لا يحتاج إليه وكان البناء يحتاج إلى ما وصفناه من وضع الجذع فله الوضع وفي هذا أدنى نظر عندي

Kebutuhan yang kami maksud di sini bukanlah suatu keharusan (dharurat), melainkan kebutuhan dalam pembangunan, agar tidak ada yang mengira bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan di sini adalah suatu keharusan yang mendesak dan kebutuhan yang tetap. Namun, jika seseorang membangun suatu bangunan yang sebenarnya tidak ia perlukan, sementara bangunan tersebut membutuhkan apa yang telah kami jelaskan berupa peletakan balok, maka ia tetap boleh meletakkannya. Menurut saya, dalam hal ini terdapat sedikit pertimbangan.

ولا يمتنع تخصيص ما ذكره في القديم بحاجةٍ إلى أصل الوضع وهذا التردد يضاهي ما ذكرناه في كتاب الطهارة من تضبيب الإناء بالفضة إذْ شرطنا الحاجة إلى التضبيب

Tidak tertutup kemungkinan untuk mengkhususkan apa yang disebutkan dalam pendapat lama karena kebutuhan terhadap asal penetapan, dan keraguan ini serupa dengan yang telah kami sebutkan dalam Kitab Thaharah mengenai melapisi bejana dengan perak, di mana kami mensyaratkan adanya kebutuhan untuk pelapisan tersebut.

وإذا فرعنا على القول الجديد قلنا إن رضي مالك الجدار بوضع الجذوع على جداره من غير عوض كان ذلك إعارة وسنصف في كتاب العارية أن من أعار أرضه أو جداره للبناء عليه أو للغراس فإذا بنى المستعير وغرس فللمعير الرجوع في العارية ولكن يضمن ما ينقُصه بالقلع في الغراس والبناء

Jika kita mengikuti pendapat baru, maka jika pemilik dinding rela meletakkan balok-balok di atas dindingnya tanpa imbalan, hal itu dianggap sebagai ‘ariyah (peminjaman). Akan dijelaskan dalam Kitab al-‘Ariyah bahwa siapa pun yang meminjamkan tanah atau dindingnya untuk dibangun atau ditanami, lalu si peminjam membangun atau menanam, maka peminjam boleh menarik kembali pinjamannya, namun ia wajib mengganti kerugian yang timbul akibat pencabutan tanaman atau bangunan tersebut.

وسيأتي هذا على الاستقصاء في موضعه إن شاء الله تعالى

Hal ini akan dibahas secara rinci pada tempatnya nanti, insya Allah Ta‘ala.

وغرضنا الآن أن من استعار أرضاً وغرسها أو بنى فيها فللمعير الرجوع على شرط ضمان النقصان

Tujuan kami sekarang adalah bahwa apabila seseorang meminjam tanah lalu menanaminya atau membangun di atasnya, maka pemilik yang meminjamkan berhak untuk mengambil kembali tanah tersebut dengan syarat menanggung kerugian akibat kekurangan nilai.

ومن استعار جداراً ووضع عليه جذوعاً فإذا أراد مالك الجدار الرجوعَ في العارية رفعَ الجذوعَ والتزمَ غرامةَ النقصان

Barang siapa meminjam dinding lalu meletakkan balok-balok di atasnya, kemudian jika pemilik dinding ingin menarik kembali pinjamannya, maka ia harus mengangkat balok-balok tersebut dan wajib menanggung ganti rugi atas kekurangan (kerusakan) yang terjadi.

وظاهر المذهب أن ذلك سائغ على قياس الباب

Pendapat yang tampak dari mazhab adalah bahwa hal itu diperbolehkan menurut qiyās dalam permasalahan ini.

وقال بعض أصحابنا فيما حكاه القاضي لا يجوز الرجوع في هذه العارية؛ فإن ضرر القلع والرفع يتداعى إلى ما هو خاص ملك المستعير؛ فإن الجذوع إذا رفعت أطرافها من جدارٍ لم تستمسك على باقي الجُدُر فإذا عظم الضرر امتنع القلع

Sebagian ulama kami, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Qadhi, berpendapat bahwa tidak boleh menarik kembali ‘ariyah (pinjaman barang pakai) ini; sebab kerusakan akibat pencabutan dan pengangkatan akan berimbas pada sesuatu yang merupakan hak milik khusus peminjam. Jika ujung-ujung balok diangkat dari sebuah dinding, maka balok-balok itu tidak akan dapat bertahan pada dinding-dinding lainnya. Jika kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, maka pencabutan tidak diperbolehkan.

فأثرُ رجوع المعير أن يُلزم المستعير أجر المثل في مستقبل الزمان وتفصيل ذلك يأتي في موضعه إن شاء الله تعالى

Dampak dari penarikan kembali oleh pemberi pinjaman adalah mewajibkan peminjam untuk membayar sewa yang setara pada masa yang akan datang, dan rincian mengenai hal ini akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

وممّا أجراه الأئمة من أحكام العارية إذا اتصل الكلام بها أن من استعار أرضاً وزرعها لم يكن للمستعير قلعُ الزرع قبل إدراكه بخلاف الغراس؛ فإن الزرع له أمدٌ معلوم فلو كان غرس فأثمرت الأشجار فلا يجوز للمعير قلعها قبل جِدادِ الثمار؛ فإن الثمار لها أمدٌ كالزرع وهذا منقاسٌ لا خفاء به فإذا جُدَّت الثمار؛ فإذ ذاك يقلع المعيرُ إن أراد على شرط الضمان

Di antara ketentuan yang diterapkan para imam terkait hukum ‘āriyah, jika pembicaraan berkaitan dengannya, adalah bahwa siapa pun yang meminjam tanah lalu menanaminya, maka peminjam tidak boleh mencabut tanaman sebelum matang, berbeda halnya dengan tanaman keras; sebab tanaman memiliki batas waktu yang jelas. Jika yang ditanam adalah pohon dan pohon itu berbuah, maka pemilik tanah tidak boleh mencabutnya sebelum buahnya dipanen; karena buah juga memiliki batas waktu seperti tanaman. Hal ini bersifat qiyās yang jelas dan tidak samar. Jika buah telah dipanen, maka saat itulah pemilik tanah boleh mencabut pohon tersebut jika ia menghendaki, dengan syarat adanya jaminan.

فرع

Cabang

إذا كان الجدار المتنازع بين الدارين مبنياً على خشبةٍ طويلة وكان طرفٌ من تلك الخشبة والِجاً في ملك أحدهما ولم يكن شيء منها والِجاً في ملك الثاني قال العراقيون الخشبة تكون لمن يكون طرفها في ملكه ثم قالوا إذا ثبت أن الخشبة له فالجدار المبني عليها تحت يده؛ فإن الظاهر أن جدار غيره لا ينبني على ملكه هذا ما ذكروه ولم أجده في طرقنا وليست المسألة خاليةً عن احتمال في الخشبة والجدار

Jika ada dinding yang diperselisihkan antara dua rumah dibangun di atas sebuah balok kayu panjang, dan salah satu ujung balok tersebut masuk ke dalam milik salah satu dari keduanya, sedangkan tidak ada bagian dari balok itu yang masuk ke dalam milik yang lain, maka menurut para ulama Irak, balok kayu itu menjadi milik orang yang ujungnya berada di dalam miliknya. Kemudian mereka berkata, jika telah tetap bahwa balok itu miliknya, maka dinding yang dibangun di atasnya berada di bawah kekuasaannya; karena secara lahiriah, dinding milik orang lain tidak akan dibangun di atas miliknya. Inilah yang mereka sebutkan, namun aku tidak menemukannya dalam jalur madzhab kami, dan masalah ini tidak lepas dari kemungkinan dalam hal balok kayu dan dinding tersebut.

فرع

Cabang

قال العراقيون إذا تنازع الجاران الجدارَ بينهما وشهدت بيّنة لأحدهما بملك الجدار ولزم القضاء بها فيصير صاحبَ يدٍ في القاعدة التي عليها الجدار

Orang-orang Irak berkata, jika dua tetangga berselisih mengenai tembok di antara mereka, lalu ada bukti (bayyinah) yang bersaksi untuk salah satu dari keduanya atas kepemilikan tembok tersebut, dan pengadilan memutuskan berdasarkan bukti itu, maka orang yang dimenangkan menjadi pemilik yang sah menurut kaidah yang berlaku atas tembok tersebut.

وكذلك إذا تنازع رجلان شجرة وشهدت البينة لأحدهما فيصير مالك الشجرة صاحبَ يد في مغرس الشجرة هكذا قالوا وهو قياس طريقنا

Demikian pula, jika dua orang berselisih mengenai sebuah pohon dan ada bukti yang bersaksi untuk salah satu dari keduanya, maka pemilik pohon tersebut menjadi orang yang memegang hak atas tanah tempat pohon itu tumbuh; demikianlah yang mereka katakan, dan ini adalah qiyās menurut mazhab kami.

فإن قيل الجدار على قاعدته والشجرةُ على مغرسها بمثابة الجذع على الجدار فكيف يدلُ على اليد وقاعدته وكذلك السؤال في الشجرة ومغرسها قلنا نبهنا على هذا؛ إذ قلنا الجدار بين الدارين في يدي مالكهما؛ من حيث إنه جزء من كل دارٍ فكان هذا التمسك بالجزئية أولى من التعلق بوضع الجذع وهذا لا يتحقق في قاعدة الجدار ومغرس الشجرة فصار الجدار يداً في القاعدة والشجرة يداً في المغرس

Jika dikatakan bahwa tembok di atas pondasinya dan pohon di atas tempat tumbuhnya itu seperti batang pohon di atas tembok, lalu bagaimana hal itu menunjukkan adanya hak kepemilikan (yad) pada pondasinya? Demikian pula pertanyaan mengenai pohon dan tempat tumbuhnya. Kami jawab: Kami telah menjelaskan hal ini, yaitu bahwa tembok yang berada di antara dua rumah adalah berada dalam kekuasaan (yad) kedua pemiliknya, karena ia merupakan bagian dari masing-masing rumah. Maka, keterikatan dengan unsur kebagianan (juz’iyyah) ini lebih utama daripada keterikatan dengan peletakan batang pohon. Hal ini tidak berlaku pada pondasi tembok dan tempat tumbuh pohon. Maka, tembok menjadi bukti kepemilikan (yad) pada pondasinya, dan pohon menjadi bukti kepemilikan (yad) pada tempat tumbuhnya.

ونظير ذلك أن الدار إذا كانت مشحونة بأمتعة إنسان وكان لا يسكنها أحد فالدار تحت يد صاحب الأمتعة ولو كان يسكنها رجلان ولأحدهما أمتعة فلا نظر إلى الأمتعة مع شهود المتداعيين في الدار وسكونها

Demikian pula, jika sebuah rumah dipenuhi dengan barang-barang milik seseorang dan tidak ada seorang pun yang menempatinya, maka rumah itu berada dalam kekuasaan pemilik barang-barang tersebut. Namun, jika rumah itu ditempati oleh dua orang dan salah satunya memiliki barang-barang di dalamnya, maka keberadaan barang-barang tersebut tidak menjadi pertimbangan selama kedua pihak yang bersengketa sama-sama hadir di rumah dan menempatinya.

ثم قال العراقيون لو أقر إنسان بجدار لإنسان أو بشجرة فالإقرار لهما هل يكون إقراراً بقاعدة الجدار وبمغرس الشجرة فعلى قولين مأخوذين من أن البيع فيهما هل يتناول أصلهما وفيه قولان قدمنا ذكرهما

Kemudian orang-orang Irak berkata: Jika seseorang mengakui bahwa sebuah tembok atau sebuah pohon adalah milik seseorang, maka pengakuan itu ditujukan kepada keduanya. Apakah pengakuan tersebut juga mencakup dasar tembok dan tempat tumbuh pohon? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diambil dari permasalahan apakah dalam jual beli keduanya juga mencakup asalnya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وفي المسألة فضل نظر فيما نصفه سؤالاً وجواباً

Dalam masalah ini terdapat ruang untuk telaah lebih lanjut, yang akan kami uraikan dalam bentuk tanya jawab.

فإن قيل إذا كان لفظ المقر مع اختصاصه بالجدار يتعدّى إلى أصله حتى يجعل إقراراً به في أحد القولين مع أن مبنى الإقرار على الحمل على الأقل فإذا شهد عدلان لإنسان بملك جدار فقولوا لفظ الشهود يتضمن الملك في أصل الجدار على أحد القولين قياساً على الإقرار قلنا هكذا نقول ولا فرق والعلم عند الله تعالى

Jika dikatakan: Apabila lafaz “al-muqir” (orang yang mengakui) meskipun secara khusus berkaitan dengan dinding, dapat mencakup juga kepada asal (pondasi) dinding sehingga dianggap sebagai pengakuan atasnya menurut salah satu pendapat, padahal dasar dari pengakuan adalah memaknainya pada batas minimal; maka jika dua orang saksi memberikan kesaksian bahwa seseorang memiliki sebuah dinding, katakanlah bahwa lafaz para saksi mencakup kepemilikan atas asal dinding menurut salah satu pendapat dengan qiyās kepada pengakuan. Kami katakan: Memang demikianlah yang kami katakan, dan tidak ada perbedaan, dan ilmu itu milik Allah Ta‘ala.

وهذا يلتفت إلى أصلٍ وهو أن الشاهد على البائع تقبل شهادته مطلقاًَ من غير بحث عن شرائط صحة البيع على المذهب الظاهر ويحمل البيع المشهود به على الصحّة على ما سيأتي ذلك في موضعه إن شاء الله تعالى

Hal ini kembali kepada suatu prinsip, yaitu bahwa saksi atas penjual diterima kesaksiannya secara mutlak tanpa meneliti syarat-syarat sahnya jual beli menurut mazhab yang zahir, dan jual beli yang disaksikan itu dianggap sah, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.

فصل

Bab

قال ولا أجعل لواحد منهما أن يفتح كوة فيه إلى آخره

Ia berkata, “Dan aku tidak membolehkan salah satu dari keduanya untuk membuka jendela di dalamnya hingga selesai.”

الجدار المشترك بين شريكين لا يجوز لأحدهما أن يفتح كوة أو يثبت فيه وتداً يعلق فيه شيئاًً؛ فإن التصرف في الجدار المشترك تصرفٌ في ملك الشريكِ والتصرف في ملك الشريك من غير إذنه غيرُ سائغ ولا يمتنع على كل واحد من الشريكين أن يستند إلى الجدار المشترك أو يسند إليه شيئاً من الأمتعة؛ فإن هذا النوع من المنفعة غيرُ معتدٍ به ولا أثر له ولو استند إنسان إلى جدارٍ خالص لغيره لم يمتنع ذلك ولو منع المالكُ منه ففيه تردد للأئمة

Tembok yang dimiliki bersama oleh dua orang tidak boleh salah satu dari mereka membuka lubang atau menancapkan pasak untuk menggantung sesuatu padanya; sebab melakukan tindakan terhadap tembok bersama berarti bertindak atas milik mitra, dan bertindak atas milik mitra tanpa izinnya tidak diperbolehkan. Namun, tidak dilarang bagi masing-masing dari dua mitra untuk bersandar pada tembok bersama atau menyandarkan barang-barangnya padanya; karena jenis pemanfaatan seperti ini tidak dianggap sebagai pelanggaran dan tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan jika seseorang bersandar pada tembok yang sepenuhnya milik orang lain pun hal itu tidak dilarang, dan jika pemiliknya melarangnya, maka para imam berbeda pendapat dalam hal ini.

ويخرَّجُ عليه ما لو تمانع الشريكان في هذا النوع أيضاً؛ فإن الملك المشترك في حكم الملك الخالص

Demikian pula dapat dianalogikan terhadapnya apabila dua orang sekutu saling menolak dalam jenis ini juga; karena kepemilikan bersama dalam hukum dianggap seperti kepemilikan pribadi.

وأمّا الاستظلال بظل جدار للغير في الشارع فلا أثر له ولا يملك مالك الجدار المنعَ منه

Adapun bernaung di bawah bayangan dinding milik orang lain di jalan, maka hal itu tidak berpengaruh apa-apa dan pemilik dinding tidak berhak melarangnya.

و كما يمتنع التصرف في الجدار المشترك بالفتح يمتنع البناءُ عليه

Sebagaimana tidak diperbolehkan melakukan tindakan pada dinding bersama dengan membuat lubang, demikian pula tidak diperbolehkan membangun di atasnya.

ولا يجوز للشريك في الدار أن يسكنها دون إذن الشركاء وإذا تمانعوا فالمهايأة إذا رضوا بها توفر عليهم حقوقهم من المنافع وهي في الظاهر تناوبُ في المنافع وفي الحقيقة بيعُ المنافع فإذا تراضى شريكان بالمهايأة على أن يسكن أحدهما شهراً فالمنفعة الحاصلة في كل نوبةٍ في أصل الوضع مشتركة فكأنَّ كلَّ شريكٍ باع حصته من المنفعة في نوبة شريكه بما يتوفر عليه في نوبته من حق شريكه

Tidak boleh bagi seorang sekutu dalam sebuah rumah untuk menempatinya tanpa izin para sekutu lainnya. Jika mereka saling menolak, maka dilakukanlah muhayā’ah (pembagian waktu pemanfaatan) jika mereka rela dengannya, karena muhayā’ah menjaga hak-hak mereka atas manfaat (rumah tersebut). Secara lahiriah, muhayā’ah adalah pergiliran dalam pemanfaatan, namun pada hakikatnya merupakan jual beli manfaat. Jika dua orang sekutu sepakat dalam muhayā’ah bahwa salah satu dari mereka menempati rumah selama satu bulan, maka manfaat yang diperoleh pada setiap giliran pada dasarnya adalah milik bersama. Seolah-olah setiap sekutu menjual bagian manfaatnya pada giliran sekutunya dengan imbalan hak sekutunya yang akan ia peroleh pada gilirannya sendiri.

والصحيح أن المهايأة لا تلزم ولا يجب الوفاء بها وإن وقع التراضي فيها

Pendapat yang benar adalah bahwa al-muhāya’ah tidak bersifat mengikat dan tidak wajib untuk dipenuhi, meskipun telah terjadi kesepakatan di dalamnya.

فإن قيل لو اكترى رجل داراً سنة بمنفعة عبد سنة أو أكثر أو أقل؛ فالإجارة صحيحة ومقابلة المنفعة بالمنفعة سائغةٌَ عندنا فهلا وقع القضاء بلزوم المهايأة الصَّادرة عن التراضي قلنا من ضرورة التناوب بالمهايأة على منافع العين الواحدة أن تنتجز نوبة وتتأخرَ الأخرى والمنافع المضافة إلى المدة التي ستأتي لا يجوز إيراد العقد عليها عندنا؛ فإن من استأجر داراً السنة القابلة لم يصح فلا تلزم المهايأة على هذا الأصل وليست معاملةً تقتضي تمليكاً على الصحة نعم هي على صورة بيع فاسد ولهذا قلنا لا يصح الإجبار عليها؛ فإن الإجبار على البيع الصَّحيح ممتنع فما الظن بالإجبار على ما هو على صورة البيع الفاسد

Jika dikatakan: Seandainya seseorang menyewa sebuah rumah selama satu tahun dengan imbalan manfaat dari seorang budak selama satu tahun, atau lebih, atau kurang; maka akad ijārah tersebut sah, dan pertukaran manfaat dengan manfaat diperbolehkan menurut kami. Lalu mengapa tidak diputuskan wajibnya mūhāya’ah (pembagian giliran pemanfaatan) yang terjadi atas dasar kerelaan bersama? Kami katakan: Salah satu konsekuensi dari pergiliran dalam mūhāya’ah atas manfaat suatu benda yang sama adalah bahwa satu giliran akan langsung didapatkan, sementara giliran yang lain akan tertunda, dan manfaat yang dikaitkan dengan waktu yang akan datang tidak boleh menjadi objek akad menurut kami; sebab jika seseorang menyewa rumah untuk tahun berikutnya, maka akadnya tidak sah. Maka, mūhāya’ah tidak wajib berdasarkan prinsip ini, dan ia bukanlah transaksi yang menuntut terjadinya kepemilikan secara sah. Benar, bentuknya memang seperti jual beli fāsid (batal), dan karena itu kami katakan tidak sah memaksa seseorang untuk melakukannya; sebab memaksa dalam jual beli yang sah saja tidak diperbolehkan, apalagi memaksa dalam sesuatu yang bentuknya seperti jual beli fāsid.

فإن قيل هلا جعلتم المهايأة قسمة بمعنى الإفراز؛ تخريجاًَ على أن القسمة إفراز حق قلنا ليست المهايأة على صورة القسمة الصحيحة أيضاًً؛ فإن القسمة ينتجز فيها الأقساط والحصص ويفرض تعديلها وتنزيل الشركاء عليها والمنافع توجد شيئاً فشيئاً وليس من التعديل مقابلة واقع منتجز بمتوقع

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menjadikan al-muhāya’ah sebagai qismah dalam arti ifrāz, berdasarkan bahwa qismah adalah ifrāz hak?” Kami jawab, al-muhāya’ah juga tidak sesuai dengan bentuk qismah yang benar; karena dalam qismah, bagian-bagian dan porsi-porsi menjadi pasti, diwajibkan penyesuaiannya, dan para syarik (sekutu) harus menerima bagian tersebut, sedangkan manfaat-manfaat muncul sedikit demi sedikit, dan penyesuaian itu bukanlah mempertemukan sesuatu yang sudah nyata dengan sesuatu yang masih diharapkan.

وذهب بعض أصحابنا إلى الإجبار على المهايأة؛ لأن الضرورة ماسّةٌ إليها عند تنازع الشركاء ولو لم يجبر عليها لتعطلت المنافع وهذا بعيد عن القياس ولكن مبناه على الحاجة الحاقّة العامّة وقد نميل عن مسلك القياس بمثل ما ذكرنا

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa para pihak dapat dipaksa untuk melakukan muhayā’ah, karena kebutuhan terhadapnya sangat mendesak ketika terjadi perselisihan di antara para syarik. Jika tidak dipaksakan, maka kemanfaatan akan terhenti. Pendapat ini memang jauh dari qiyās, namun dasarnya adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan bersifat umum. Kita dapat menyimpang dari jalur qiyās dalam kasus seperti yang telah disebutkan.

فإن قلنا لا إجبار على المهايأة فلو تهايأ شريكان على التراضي واستوفى أحدهما المنفعة في النوبة التي قُدّرت ثم أراد الرجوعَ فيما توافقا عليه ومَنع شريكِه من استيفاء المنفعة في نوبته فله ذلك ولكنه يغرَم لشريكه قيمةَ حصته من المنفعة في النوبة التي استوفاها

Jika kita mengatakan bahwa tidak ada pemaksaan dalam mūhāya’ah, maka apabila dua orang sekutu melakukan mūhāya’ah atas dasar kerelaan, lalu salah satu dari keduanya telah mengambil manfaat pada giliran yang telah ditetapkan, kemudian ia ingin menarik kembali kesepakatan yang telah disetujui dan mencegah sekutunya untuk mengambil manfaat pada gilirannya, maka ia berhak melakukan hal itu. Namun, ia wajib mengganti kepada sekutunya nilai bagian manfaat pada giliran yang telah ia nikmati.

وإن قلنا بالإجبار على المهايأة فإن استوفى أحدُهما النوبةَ الموظفةَ لم يكن له الرجوع بل تُوفَّر على الشريك مثلُ تلك النوبة ثم تعتقب النوب الموضوعة إلا أن يتراضى الشركاء على نقضها فلابُدّ من اتباع رضاهم

Dan jika kita mengatakan bahwa pemaksaan terhadap mūhāya’ah (pembagian waktu pemanfaatan bersama) diperbolehkan, maka apabila salah satu dari mereka telah menyelesaikan giliran yang telah ditetapkan, ia tidak berhak untuk menarik kembali (haknya), melainkan harus diberikan kepada sekutunya giliran yang serupa, kemudian giliran-giliran yang telah ditetapkan itu berjalan secara bergantian, kecuali jika para sekutu sepakat untuk membatalkannya, maka harus mengikuti kerelaan mereka.

ثم النوب تطرد إلى غير نهاية وهذا من الوجوه الظاهرة في الخروج عن القياس

Kemudian pergiliran itu berlangsung terus-menerus tanpa batas, dan ini merupakan salah satu bentuk yang jelas dalam penyimpangan dari qiyās.

ثم إن قلنا بالإجبار على المهايأة فلا كلام وإن منعنا الإجبار عليها واستمر الشركاء على التدافع فهذا يؤدي إلى تعطيل المنافع فهل يباع عليهم الملك عند الامتناع من المهايأة وإدامةِ الطلب فعلى وجهين حكاهما القاضي أحدهما أن العين تباع على الشركاء لقيام النزاع وإفضاءِ الأمر إلى تعطيل المنافع وهذا وجهٌ ضعيف لم أره في غير هذه الطريقة

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa para pihak dapat dipaksa untuk melakukan muhayā’ah, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita melarang pemaksaan atas muhayā’ah dan para syarik tetap saling menolak, maka hal ini akan menyebabkan terhentinya pemanfaatan. Apakah kepemilikan mereka dijual ketika mereka menolak muhayā’ah dan terus-menerus saling menuntut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dikemukakan oleh al-Qādī. Salah satunya adalah bahwa objek tersebut dijual kepada para syarik karena adanya perselisihan dan perkara ini berujung pada terhentinya pemanfaatan. Namun, pendapat ini lemah dan aku tidak menemukannya dalam selain metode ini.

والأصح أنه لا إجبار على المهايأة ولا على البيع وتترك المنافع تتعطل إلى أن يتراضيا

Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa tidak ada paksaan untuk melakukan muhayā’ah maupun untuk menjual, dan manfaat (dari barang bersama) dibiarkan tidak digunakan sampai keduanya saling merelakan.

ولم يذكر أحد من الأصحاب الإجبارَ على الإجارة ولعل السَّبب فيه أن الأمد في الإجارة لا متوقف له ولا سبيل إلى التحكّم بهذه والإجبارُ يقدر والشريكان متمانعان والبيع يرد على مورد متعين وكل ذلك خبط والوجه نفي الإجبار في المهايأة والبيع

Tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang menyebutkan adanya pemaksaan dalam akad ijarah, mungkin sebabnya adalah karena jangka waktu dalam ijarah tidak memiliki batas yang pasti dan tidak ada jalan untuk memaksakan hal ini, sedangkan pemaksaan itu dapat dilakukan dan kedua mitra saling menahan (tidak sepakat), sementara jual beli berlaku pada objek yang tertentu, dan semua itu adalah kekacauan. Pendapat yang benar adalah menafikan adanya pemaksaan dalam muhayā’ah dan jual beli.

فصل

Bab

قال وقسمته بينهما إن شاءا إلى آخره

Ia berkata: “Dan ia boleh membaginya di antara keduanya jika mereka menghendaki, hingga akhirnya.”

الكلام في هذا الفصل يتعلق بأمرين أحدهما التفصيل في قسمة الجدار المشترك إجباراً واختياراً والثاني القول في قسمة أُس الجدار ومبناه إذا كان قد انهدم الجدار وانهار

Pembahasan dalam bab ini berkaitan dengan dua hal: pertama, perincian tentang pembagian dinding bersama baik secara paksa maupun sukarela; kedua, pembahasan mengenai pembagian pondasi dan bangunan dinding apabila dinding tersebut telah runtuh dan roboh.

فأمّا الجدار المشترك فقسمته تفرض على وجهين أحدهما قسمة جميع الطول في نصف العرض فهذا النوع لا إجبار عليه لوجهين أحدهما أن قسمة الإجبار لو فرضت لكان التعيين بالقرعة ثم القرعة ربما تخرج على خلاف ما يقصد في جهة الانتفاع بأن تخرج قرعة زيد على الشق الذي يلي دارَ صاحبه ولا يتأتى والحالة هذه من واحدٍ منهما الانتفاع المقصود هذا وجه

Adapun dinding bersama, pembagiannya ditetapkan dalam dua bentuk. Salah satunya adalah membagi seluruh panjang pada setengah lebar. Jenis pembagian ini tidak dapat dipaksakan karena dua alasan. Pertama, jika pembagian secara paksa ditetapkan, maka penentuan bagian dilakukan dengan undian (qur‘ah). Namun, undian tersebut bisa saja menghasilkan bagian yang tidak sesuai dengan tujuan pemanfaatan, misalnya undian Zaid jatuh pada sisi yang bersebelahan dengan rumah temannya, sehingga dalam keadaan seperti ini, masing-masing dari mereka tidak dapat memperoleh manfaat yang dimaksudkan. Inilah alasannya.

والثاني أن الإفراز على الحقيقة لا يتصور؛ من قبل أنا وإن فصلنا شِقاً عن شق بخط نرسمه فاصلاً بين الشقين فلو وضع أحدهما على شقه جذوعاً أو بنى عليه أدّى ذلك إلى تثقيل الشق الآخر والتحامل عليه وهكذا يكون نعت الجدار فلا تتأتى المفاصلة إذاً

Kedua, pemisahan secara hakiki itu tidak dapat dibayangkan; sebab meskipun kita memisahkan satu bagian dari bagian lain dengan garis yang kita gambar sebagai pemisah di antara keduanya, jika salah satu bagian diletakkan di atas bagian lainnya berupa balok-balok atau dibangun di atasnya, hal itu akan menyebabkan bagian yang lain menjadi berat dan tertekan olehnya. Demikian pula sifat dinding, sehingga pemisahan yang sebenarnya tidak dapat terwujud.

وذكر صاحب التقريب وجهاً بعيداً في الإجبار على هذا النوع من القسمة إذا دعا إليها أحد من الشريكين ثم قال نخصص كلَّ واحد منهما بالحصة التي تليه من غير قرعة وهذا بعيد في الحكاية وإن كان يتجه بعضَ الاتجاه وما ذكرناه من أن المفاصلة لا تتحقق فيه نظر؛ من قِبل اتفاق الأصحاب على تصحيح القسمة بالتراضي ولو كانت المفاصلة لا تتحقق لامتنعت القسمة أصلاً

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat yang lemah tentang adanya paksaan dalam jenis pembagian ini jika salah satu dari dua orang yang berserikat memintanya, kemudian ia berkata: “Kita khususkan masing-masing dari mereka dengan bagian yang menjadi haknya tanpa undian.” Ini adalah pendapat yang lemah dalam riwayatnya, meskipun ada sedikit arah kebenaran. Adapun yang telah kami sebutkan bahwa mufāṣalah (pemisahan hak secara sempurna) tidak terwujud di dalamnya, masih perlu ditinjau kembali; karena para ulama sepakat membolehkan pembagian dengan kerelaan, dan jika mufāṣalah tidak terwujud, tentu pembagian sama sekali tidak akan diperbolehkan.

وما ذكرناه في قسمة الجدار في جميع الطول في نصف العرض

Apa yang telah kami sebutkan mengenai pembagian dinding pada seluruh panjangnya dengan setengah dari lebarnya.

فأمّا قسمة الجدار في جميع العرض في نصف الطول فإنها صحيحة مع التراضي وهل يجبر عليها الممتنع منهما إذا دعا إليها أحد الشريكين فعلى وجهين مذكورين في الطرق بناهما المرتِّبون على المعنيين اللذين ذكرناهما في الصورة الأولى فإن اعتمدنا تعطل الانتفاع لأمرٍ يرجع إلى خروج القرعة فهذا لا يتحقق في الصورة الأخيرة فليقع الإجبار على القسمة

Adapun pembagian dinding pada seluruh lebar dengan setengah panjangnya, maka itu sah jika kedua belah pihak saling rela. Apakah orang yang menolak dari keduanya dapat dipaksa jika salah satu dari dua orang yang berserikat meminta pembagian tersebut, terdapat dua pendapat yang disebutkan dalam berbagai jalur, yang disusun oleh para penyusun berdasarkan dua makna yang telah kami sebutkan pada gambaran pertama. Jika kita berpegang pada pendapat bahwa terhalangnya pemanfaatan itu disebabkan oleh keluarnya undian, maka hal itu tidak terjadi pada gambaran terakhir ini, sehingga pemaksaan untuk melakukan pembagian dapat diberlakukan.

وإن اعتمدنا على أن المفاصلة لا تتحقق فهذا المعنى قد يجري في النوع الأخير من القسمة؛ فلا إجبار إذاً

Jika kita berpegang pada pendapat bahwa pemisahan (mufāṣalah) tidak terwujud, maka makna ini juga dapat berlaku pada jenis pembagian terakhir; maka tidak ada paksaan.

ولو انهدم الجدار وبرز الأُس فأراد قسمته فالقسمة في جميع العرض في بعض الطول يجري الإجبار عليها لفقد المعنيين فأمّا القسمة في جميع الطول في بعض العرض فإن جرينا على تعيين حصة كل شريك فيما يليه من غير قرعةٍ فالإجبار جائز وإن قلنا لا بُدّ إذا فرضت القسمة من إجراء القرعة ففي الإجبار على القسمة وجهان مبنيان على المعنيين المذكورين في قسمةِ الجدار نفسه على هذه الصورة

Jika dinding itu runtuh dan pondasinya tampak, lalu mereka ingin membaginya, maka pembagian pada seluruh lebar dalam sebagian panjangnya, paksaan untuk membaginya dapat dilakukan karena hilangnya dua makna tersebut. Adapun pembagian pada seluruh panjang dalam sebagian lebarnya, jika kita menetapkan bagian masing-masing mitra pada bagian yang berdekatan dengannya tanpa undian, maka paksaan itu boleh. Namun jika kita mengatakan bahwa pembagian harus dilakukan dengan undian, maka paksaan untuk membaginya memiliki dua pendapat yang didasarkan pada dua makna yang telah disebutkan dalam pembagian dinding itu sendiri dalam kasus seperti ini.

فصل

Bab

إذا انهدم الجدار فعمّراه وأعاداه بالأعيان التي كانت في الجدار من غير مزيدٍ واستويا في العمل وفي الاستئجار عليه واشترطا أن يكون الثلثان لواحد والثلث لآخر فهذا الشرط لغوٌ والجدارُ نصفان كما كان ومن رضي بالنقصان منهما واعدٌ هبةً فإن وفَّى بها فذاك وإلا فلا طَلِبَة عليه

Jika tembok itu runtuh lalu keduanya membangunnya kembali dan mengembalikannya dengan bahan-bahan yang sebelumnya ada pada tembok tersebut tanpa ada tambahan, serta keduanya seimbang dalam pekerjaan dan dalam menyewa untuk membangunnya, kemudian mereka mensyaratkan bahwa dua pertiga bagian untuk salah satu dan sepertiga bagian untuk yang lain, maka syarat tersebut dianggap batal dan tembok itu tetap menjadi dua bagian sama seperti sebelumnya. Barang siapa di antara keduanya yang rela mendapatkan bagian yang lebih sedikit dan menjanjikan hibah, maka jika ia menepatinya, itu sah; namun jika tidak, maka tidak ada tuntutan atasnya.

ولو اختص أحدهما بالإعادة وشرط أن يكون الثلثان من الجدار له فتقدير ذلك مقابلة عمل العامل على الثلث الذي يقدّر بقاؤه وللذي لم يعمل بالسدس من ملكه في الجدار فالسدس إذاً أجرةُ العمل على الثلث وهذا سائغٌ على شرط تقدير ذلك من الأساس والنقض؛ حتى تكون الأجرة عتيدة

Jika salah satu dari keduanya secara khusus melakukan pembangunan ulang dan mensyaratkan bahwa dua pertiga dari dinding menjadi miliknya, maka perhitungannya adalah pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja dibandingkan dengan sepertiga yang diperkirakan akan tetap ada, dan bagi yang tidak bekerja mendapatkan seperenam dari kepemilikannya pada dinding. Maka seperenam itu menjadi upah atas pekerjaan pada sepertiga bagian tersebut, dan hal ini diperbolehkan dengan syarat perhitungannya dilakukan sejak dari fondasi dan pembongkaran; sehingga upahnya menjadi jelas.

ولو فرض ربط الأجرة بالسدس بعد البناء لم يصح؛ فإن هذا تعليق في عين

Jika upah dikaitkan dengan seperenam setelah bangunan selesai, maka hal itu tidak sah; karena ini merupakan penangguhan pada sesuatu yang tertentu.

وذلك إذا لم يجدّد العاملُ عيناً في الجدار من ملك نفسه فلو جدد ليقع الفرض فيه إذا أعاد الجدار بأعيانٍ من عند نفسه من غير أن يستعمل شيئاًً من النقض فهذه المعاملةُ يتدبرها النّاظر تصوراً ثم لا يخفى الحكم فيها فالعامل كأنّه يبيع ثلثَ الأعيان التي أتى بها ويضم إليها عملَه فيها والعوض المقابل السدس من أس الجدار

Hal itu terjadi jika pekerja tidak memperbarui suatu benda tertentu di dinding dari miliknya sendiri. Namun, jika ia memperbarui agar kasusnya terjadi ketika ia membangun kembali dinding dengan benda-benda tertentu dari miliknya sendiri tanpa menggunakan sedikit pun dari puing-puing yang lama, maka transaksi ini perlu dipertimbangkan oleh orang yang menelaahnya secara konseptual, kemudian hukumnya tidak samar lagi. Pekerja seolah-olah menjual sepertiga dari benda-benda yang ia bawa dan menambahkan pekerjaannya pada benda-benda tersebut, sedangkan imbalannya adalah seperenam dari nilai pokok dinding.

هذا تقدير المعاملة وهي مشتملة على الجمع بين العين والمنفعة وهو من صور تفريق الصفقة والتنبيه كافٍ فيما ذكرناه

Ini adalah penjelasan tentang akad, yang mencakup penggabungan antara objek (barang) dan manfaat, dan hal ini termasuk dalam bentuk tafriq ash-shafqah (memisahkan transaksi). Penjelasan ini sudah cukup untuk apa yang telah kami sebutkan.

ولا بد في الصورة الأخيرة من تعيين الأعيان والإشارة إليها على سبيل الشيوع أو ذكرِها وصفاً على سبيل السَّلم

Pada kasus terakhir, harus dilakukan penetapan terhadap barang-barang tertentu dan menunjuknya secara umum atau menyebutkannya dengan deskripsi sebagaimana dalam akad salam.

ثم ذكر الشافعي في آخر الفصل أن الشريكين لو اصطلحا على وجه يصح وشرطا أن يحمل أحدهما على الجدار ما شاء فهذا الشرط مفسد ؛ فإن الجدار لا يحتمل الوفاء بالشرط والقدرُ المحتمل مجهول فالشرط فاسد وإذا فسد أفسد ما يفرض من معاملة

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan di akhir bab bahwa jika dua orang yang berserikat berdamai dengan cara yang sah, lalu mereka mensyaratkan agar salah satu dari keduanya boleh meletakkan di atas dinding sebanyak yang dia kehendaki, maka syarat ini rusak; karena dinding tidak dapat menanggung pemenuhan syarat tersebut dan kadar yang dapat ditanggung tidak diketahui, maka syarat itu batal. Jika syarat itu batal, maka ia merusak akad yang disepakati dalam muamalah.

فهذا طرد المذهبِ على وجهه في التفصيل

Inilah penerapan mazhab secara konsisten dalam perinciannya.

وقد ذكر صاحب التقريب وجهاً بعيداً في الصورة الأولى لا وجه له فأخرته وأنا الآن ذاكره قال لو استويا في الإعادة بالنقض القديم ولم يتخصص أحدهما بمزيدٍ فلا يمتنع أن ينقص نصيب أحدهما بالتراضي وزعم أن المشتركَيْن في الدار على تقدير التشطير لو قال أحدهما بعت نصفي من الدار بثلث الدار من نصفك فقال المخاطبُ قبلت قال لا يمتنع أن يحصل بهذه المعاملة أحدهما على الثلثين ويبقى للآخر الثلث

Penulis kitab at-Taqrīb telah menyebutkan suatu pendapat yang jauh (lemah) dalam gambaran pertama yang sebenarnya tidak memiliki dasar, sehingga aku menundanya, dan sekarang aku akan menyebutkannya. Ia berkata: Jika keduanya sama dalam pengulangan dengan pembatalan yang lama dan tidak ada salah satu dari keduanya yang dikhususkan dengan tambahan, maka tidak mustahil bagian salah satu dari keduanya berkurang dengan kesepakatan bersama. Ia berpendapat bahwa dua orang yang memiliki rumah secara bersama, jika diasumsikan pembagian dua bagian, lalu salah satu dari keduanya berkata, “Aku menjual setengah rumah milikku dengan sepertiga rumah dari setengah milikmu,” kemudian pihak yang diajak bicara berkata, “Aku terima,” maka tidak mustahil dengan transaksi ini salah satu dari keduanya memperoleh dua pertiga dan yang lain memperoleh sepertiga.

وهذا عندي كلام ملتبسٌ لا أصل له والوجه القطع بفساد هذا النوع من المعاملة

Menurut saya, ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak memiliki dasar, dan yang benar adalah memastikan rusaknya jenis transaksi seperti ini.

ولو قال أحد الشريكين لصاحبه مع استمرار الشيوع بعت نصفي من الدار بنصفك فلا يجوز أن يقدر هذا بيعاً حتى يترتب عليه تقدير شفعةٍ أو غيرها من أحكام البيوع؛ فإن وضع الشرع في البيع على إفادة التبادُل ولا يتحقق مع اطراد الشيوع فلا وجه لما قال إذاً

Jika salah satu dari dua orang yang berserikat berkata kepada rekannya, sementara kepemilikan bersama masih berlangsung, “Aku menjual setengah bagianku dari rumah ini dengan setengah bagianmu,” maka hal itu tidak dapat dianggap sebagai jual beli sehingga dapat diberlakukan hak syuf‘ah atau hukum-hukum jual beli lainnya; sebab ketentuan syariat dalam jual beli adalah untuk memberikan manfaat pertukaran, dan hal itu tidak terwujud selama kepemilikan bersama masih berlangsung, maka tidak ada alasan untuk apa yang dikatakannya itu.

فرع

Cabang

إذا استعار رجل جداراً ووضع عليه جذوعاً ثم انهدم الجدارُ نُظر فإن أُعيد الجدارُ بأعيانٍ جديدةٍ لم يملك المستعيرُ ردَّ الجذوع على الإعارةِ الأولى وإن أعيد الجدارُ بنقضه من غير مزيدٍ واستعمالِ عين جديدة فقد ذكر العراقيون وغيرُهم وجهين في أن المستعير هل له ذلك من غير مراجعةٍ؛ بناءً على الإعارة الأولى ففيه الخلاف الذي ذكرناه

Jika seseorang meminjam sebuah dinding lalu meletakkan balok-balok di atasnya, kemudian dinding itu runtuh, maka dilihat keadaannya: jika dinding itu dibangun kembali dengan bahan-bahan yang baru, maka peminjam tidak berhak mengembalikan balok-balok tersebut berdasarkan peminjaman yang pertama. Namun jika dinding itu dibangun kembali dengan bongkahan yang sama tanpa tambahan dan tanpa menggunakan bahan baru, maka para ulama Irak dan lainnya menyebutkan dua pendapat mengenai apakah peminjam boleh melakukannya tanpa meminta persetujuan kembali, berdasarkan peminjaman yang pertama; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.

ولا ينبغي أن يُعتقد خلافٌ في أن صاحب الجدار لو منع من الإعادة يبقى للمستعير خيار ثم إذا منع فلا يغرَم ما يغرَمه لو رفع الجذوع ونقض بناء المستعير مع بقاء الجدار فعاد الخلافُ إذاً إلى الاستمرار على حكم الإعارة الأولى ثمَّ لو فرض إعادة الجذوع تفريعاً على جواز ذلك فلا ينقض المستعير إلا مع ضمان أرش النقصان

Tidak sepantasnya diyakini adanya perbedaan pendapat bahwa jika pemilik dinding melarang pengulangan (peletakan kembali), maka si peminjam tetap memiliki hak memilih (khiyar). Kemudian, jika dilarang, ia tidak menanggung ganti rugi sebagaimana yang harus ia tanggung jika ia mengangkat balok-balok dan membongkar bangunan si peminjam sementara dinding masih tetap ada. Maka, perbedaan pendapat kembali pada kelanjutan hukum i‘ārah (peminjaman) yang pertama. Selanjutnya, jika diasumsikan balok-balok itu diletakkan kembali berdasarkan kebolehan hal tersebut, maka si peminjam tidak boleh membongkar kecuali dengan menjamin ganti rugi atas kekurangan yang terjadi.

فصل

Bab

قال وإن كان السفل في يد رجلٍ والعلو في يد آخر فتنازعا سقفه إلى آخره

Ia berkata: “Jika bagian bawah (bangunan) berada dalam penguasaan seseorang dan bagian atasnya dalam penguasaan orang lain, lalu mereka berselisih mengenai atapnya, dan seterusnya.”

إذا كان السفل في يد إنسانٍ والعلو المسامتُ له في يد آخر فتنازع صاحبُ العلو والسفل السقفَ الحائلَ بينهما نُظر فإن كان بناء سقف العلو قبل بناء سقف السفل ممكناً بأن يفرض سقفٌ عالٍ ثم يفرضَ سقف دونه بأن تدرج رؤوس الجذوع في وسط الجدار وينظم عليها السقف فإذا كان هذا التصوير ممكناً فالسَّقف الحائل بين العلو والسفل إذا تداعياه فهو في أيديهما؛ فإنه في حكمِ الجزء للعلو أرضاً وهو أيضاً في حكم الجزء للسفل سماءً وسقفاً فصار توسط السقف بين العلو والسفل كتوسطِ الجدار بين دارين الواقع سوراً لكل واحدٍ منهما

Jika bagian bawah berada dalam penguasaan seseorang dan bagian atas yang sejajar dengannya berada dalam penguasaan orang lain, lalu pemilik bagian atas dan bawah berselisih mengenai atap yang menjadi pembatas di antara keduanya, maka perlu dilihat: jika memungkinkan membangun atap bagian atas sebelum membangun atap bagian bawah—misalnya dengan membayangkan adanya atap yang tinggi terlebih dahulu, kemudian di bawahnya dibuat atap lain dengan cara ujung-ujung balok kayu dimasukkan ke tengah-tengah dinding lalu di atasnya disusun atap—maka jika gambaran seperti ini memungkinkan, atap yang menjadi pembatas antara bagian atas dan bawah, jika diperselisihkan oleh keduanya, maka atap itu berada dalam penguasaan mereka berdua; karena atap tersebut dianggap sebagai bagian dari tanah bagi bagian atas, dan juga dianggap sebagai bagian dari langit dan atap bagi bagian bawah. Dengan demikian, posisi atap di antara bagian atas dan bawah seperti posisi dinding di antara dua rumah yang menjadi pagar bagi masing-masing rumah tersebut.

هذا إذا كان إحداث سقفٍ للسفل ممكناً بعد تقدير سقف العلو

Ini berlaku jika memungkinkan untuk membuat atap bagi bagian bawah setelah memperkirakan atap bagian atas.

فأمّا إذا كان لا يمكن إحداث سقف السفل على وسط الجدار بعد امتدادِه إلى منتهى العلو وذلك كالأزَج فإنه لا يمكن استحداثُه على وسط الجدارِ فإذا كان كذلِك علمنا أن السَّقف بُني أولاً واستحدث بعده جدار العُلو وسقفُه فالسقف في هذه الصورة في يد صاحبِ السُّفل

Adapun jika tidak memungkinkan untuk membuat atap lantai bawah di tengah dinding setelah dinding tersebut memanjang hingga ke puncaknya, seperti pada azaj, maka tidak mungkin membuatnya di tengah dinding. Jika demikian keadaannya, kita mengetahui bahwa atap tersebut dibangun terlebih dahulu, kemudian setelah itu dibangun dinding lantai atas beserta atapnya. Maka, dalam keadaan seperti ini, atap tersebut berada dalam kekuasaan pemilik lantai bawah.

وممَّا يجبُ تأمله فيما قدمناه من تفصيلٍ القولُ في التنازع في الجدار الممتدّ بين الدارين ذكرنا تفصيلاً في الأَزَج وجعلنا الأَزَج المبني على الجدار المستوي بمثابة الجذوع التي توضع بعد تمام بناء الجدار والأزج الذي قوّس له الجدار من أسّه هو المعتبر وهذا التفصيل لا وقع له فيما ذكرناه في السفل والعلو؛ فإن الجُدران المحيطةَ بفضاء السفلِ لا نزاع فيها وهي مختصة بيد صاحبِ السفلِ والأَزج هو الذي فيه الكلام وقد تبين أنه ما بُني أرضاً للعلو وإنما تم بناء السفل بالأَزَج ثم كان استحداث العلو بعده فلم يكن الأَزَج مضافاً إلى العلو والسفلِ على قضية الاستواء أرضاً وسماءً وهذا بيّنٌ

Hal yang perlu diperhatikan dari uraian yang telah kami sampaikan mengenai perincian perselisihan tentang dinding yang membentang di antara dua rumah adalah bahwa kami telah menjelaskan secara rinci tentang azaj, dan kami menganggap azaj yang dibangun di atas dinding yang rata seperti halnya balok-balok yang diletakkan setelah dinding selesai dibangun. Sedangkan azaj yang dindingnya dibuat melengkung sejak pondasinya, itulah yang dianggap sah. Perincian ini tidak berlaku pada apa yang telah kami sebutkan mengenai bagian bawah (sufl) dan bagian atas (ulu); karena dinding-dinding yang mengelilingi ruang bagian bawah tidak diperselisihkan, dan itu khusus menjadi milik pemilik bagian bawah. Adapun azaj, itulah yang menjadi pokok pembahasan. Telah jelas bahwa azaj itu tidak dibangun sebagai dasar bagi bagian atas, melainkan pembangunan bagian bawah telah selesai dengan azaj, kemudian bagian atas baru dibangun setelahnya. Maka azaj itu tidak dinisbatkan kepada bagian atas dan bawah berdasarkan kesetaraan sebagai dasar dan atap. Hal ini jelas.

فإن كان السقف كما ذكرناه في القسم الأوَّل وحكمنا بأنه في أيديهما فلا خلاف أن صاحب العلو يجلسُ عليه ويضع عليه أثقاله على الاعتيادِ في مثله وهذا انتفاعٌ بالمشتركِ وقد تقدم امتناع الانتفاع بالمشترك ولكن هذا منزَّل على الاعتياد في مثله

Jika atap itu seperti yang telah kami sebutkan pada bagian pertama dan kami memutuskan bahwa atap itu berada dalam kekuasaan keduanya, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa pemilik bagian atas boleh duduk di atasnya dan meletakkan barang-barangnya di atasnya sebagaimana kebiasaan yang berlaku pada umumnya. Ini merupakan bentuk pemanfaatan terhadap sesuatu yang dimiliki bersama (musytarak), dan sebelumnya telah dijelaskan larangan memanfaatkan sesuatu yang dimiliki bersama, namun hal ini disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku pada umumnya.

واتفق الأصحابُ على أن صاحبَ السفل لو أراد تعليق شيء من السَّقفِ لم يمنع منه والسَّبب فيه أن صاحب العلوّ انتفع بالسّقف وملك تثقيله بنفسه وأمتعته فملك صاحبُ السفلِ مساواتَه في تعليق الأثقال في السَّقف وهما محمولان على حكم العادة في الباب

Para ulama sepakat bahwa jika pemilik bagian bawah ingin menggantung sesuatu pada langit-langit, ia tidak dilarang melakukannya. Sebabnya adalah karena pemilik bagian atas telah mengambil manfaat dari langit-langit dan memiliki hak untuk memberatkannya dengan dirinya sendiri dan barang-barangnya, maka pemilik bagian bawah juga berhak untuk setara dengannya dalam menggantung beban di langit-langit. Keduanya didasarkan pada kebiasaan yang berlaku dalam masalah ini.

هذا هو المذهب الظاهر

Inilah mazhab Zhahir.

ومن أصحابنا من لم يجوز لصاحب السفل تعليقَ ثقل في السّقف ويُلزمه أن يكتفي بالاستظلال من السَّقف ومن أصحابنا من قال إن أمكن التعليق من غير إثبات وتدٍ في جرْم السّقف جاز مع اجتناب السَّرَف ولزومِ الاقتصاد فأما إثبات الوتد في جِرم السقف فممتنع

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa pemilik bagian bawah tidak diperbolehkan menggantungkan beban di atap dan ia wajib mencukupkan diri dengan sekadar berteduh di bawah atap. Sebagian ulama dari kalangan kami juga berpendapat, jika memungkinkan untuk menggantungkan beban tanpa menancapkan pasak pada struktur atap, maka hal itu diperbolehkan dengan syarat menghindari pemborosan dan tetap bersikap hemat. Adapun menancapkan pasak pada struktur atap, maka hal itu tidak diperbolehkan.

فتحصل ثلاثةُ أوجهٍ على ما ذكرناه

Maka didapatkan tiga pendapat berdasarkan apa yang telah kami sebutkan.

والذي يجب الاعتناء به صرفُ الفكر بين الجدارِ الممتد الواقع بين الدارين سوراً لهما وبين السقف الفاصل بين العلوّ والسفلِ فنقول

Hal yang harus diperhatikan adalah memusatkan pemikiran pada dinding yang membentang sebagai pembatas yang terletak di antara dua rumah sebagai tembok bagi keduanya, dan pada atap yang menjadi pemisah antara bagian atas dan bawah, maka kami katakan…

أصل الفرق لابُدّ منه؛ فإن جلوس صاحب العلوّ ووضعَه الأثقالَ على السّطح انتفاعٌ ظاهر مؤثر في السقف وهو مسوَّغ بلا خلاف ولا يجوز مثله في الجدار الممتد بين الدارين والسبب فيه أنا لو منعنا صاحبَ العلو ممّا ذكرناه لتعطل العلو فكان هذا في حكم الضرورة من وضع العلو والسفل ثم ثار الاختلاف بين الأصحاب في صاحب السفلِ ثم حاولوا أن يسوّوا بين صاحب السفل والعلوّ فكان الظاهرُ تمليكَ صاحبِ السفل تعليق شيء في السقف ليوازي صاحبَ العلو في تثقيل السقف ومنع مانعون ذلك صائرين إلى أن الاستظلال في حق صاحب السفلِ هو قدْرُ الضرورة وفصَل فاصلون بين نصب الوتِد والتعليق وغير ذلك كما قدمناه

Perbedaan pokok ini harus ada; sebab duduknya pemilik lantai atas dan meletakkan barang-barangnya yang berat di atas atap merupakan bentuk pemanfaatan yang jelas dan berpengaruh pada langit-langit, dan hal ini dibolehkan tanpa ada perbedaan pendapat. Tidak boleh melakukan hal yang sama pada dinding yang membentang di antara dua rumah, dan sebabnya adalah jika kita melarang pemilik lantai atas dari apa yang telah disebutkan, maka lantai atas akan menjadi tidak berguna, sehingga hal ini dianggap sebagai suatu kebutuhan antara lantai atas dan bawah. Kemudian timbul perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai hak pemilik lantai bawah, lalu mereka berusaha menyamakan antara hak pemilik lantai bawah dan lantai atas. Maka yang tampak adalah memberikan hak kepada pemilik lantai bawah untuk menggantung sesuatu di langit-langit agar seimbang dengan hak pemilik lantai atas dalam membebani langit-langit. Namun, sebagian ulama melarang hal itu, dengan alasan bahwa berteduh bagi pemilik lantai bawah hanyalah sebatas kebutuhan. Ada pula yang membedakan antara memasang pasak, menggantung, dan hal-hal lain sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وكان شيخي يقول إذا منعنا صاحب السفلِ من نصبِ وتِد في الوجه الذي يليهِ من السقف فنمنع صاحب العلو في العلو من غرز الوتِد أيضاًً؛ إذ لا ضرورة فيه وإن جوزنا لصاحب السفلِ نصبَ الوتِد في الوجه الذي يليه فهل يجوز ذلك لصاحب العلو فعلى وجهين؛ فإن صورة التعليق قد تُحوج إلى نصب وتِد ولا يتحقق مثلُه على هذا النسق في حق صاحب العلو

Dan guruku biasa berkata: Jika kita melarang pemilik bagian bawah untuk memasang pasak di sisi langit-langit yang menghadap kepadanya, maka kita juga melarang pemilik bagian atas untuk menancapkan pasak di bagian atas; karena tidak ada kebutuhan mendesak di dalamnya. Namun, jika kita membolehkan pemilik bagian bawah memasang pasak di sisi yang menghadap kepadanya, apakah hal itu juga boleh bagi pemilik bagian atas? Maka terdapat dua pendapat. Sebab, bentuk menggantung sesuatu terkadang membutuhkan pemasangan pasak, dan hal seperti itu tidak dapat terwujud dengan cara yang sama bagi pemilik bagian atas.

وما اختلف الأصحاب فيه من التعليق فيما يُقدَّر له أثر فأما ما لا أثر له كتعليق ثوب أو غيره ممّا لا يؤثر على طول الدهر في السقف فلا منع منه ولا يُدرج في الخلاف الذي حكيناه؛ إذ هو بمثابة الاستناد إلى الجدار المشترك الممتد بين الدارين

Adapun perbedaan pendapat di antara para sahabat mengenai menggantung sesuatu yang memiliki pengaruh, maka untuk sesuatu yang tidak memiliki pengaruh seperti menggantung kain atau benda lain yang tidak berpengaruh dalam waktu yang lama pada atap, tidak ada larangan terhadapnya dan tidak termasuk dalam perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan; karena hal itu seperti bersandar pada dinding bersama yang membentang di antara dua rumah.

وقد يتعلق بهذا الفصل أحكام من عمارة الأملاك المشتركة

Bab ini juga dapat berkaitan dengan hukum-hukum mengenai pemeliharaan harta milik bersama.

فصل

Bab

الأملاك المشتركة إذا استرمَّت ومست الحاجة إلى العمارة فإن توافق الشريكان على العمارة أو على تركها فلا كلام

Kepemilikan bersama, apabila tetap berlangsung dan kebutuhan akan pembangunan sangat mendesak, maka jika kedua mitra sepakat untuk membangun atau sepakat untuk tidak membangunnya, tidak ada masalah.

وإن امتنع أحدهما عن العمارة ودعا الثاني إليها ففي إجبار الممتنع عن العمارة قولان أقيسهما وهو المنصوص عليه في الجديد أنه لا يجبر الممتنع؛ فإن الملك المشترك يشتمل على ملك الممتنع وعلى ملك غيره ويبعد أن يجبر لملكه كما لو انفرد بملك شيء ويبعد أن يجبر لملك غيره

Jika salah satu dari keduanya menolak untuk melakukan perbaikan (pemeliharaan) dan yang lainnya mengajaknya untuk melakukannya, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah yang menolak dapat dipaksa untuk melakukan perbaikan. Pendapat yang lebih kuat dan merupakan pendapat yang dinyatakan dalam pendapat baru (al-jadid) adalah bahwa yang menolak tidak dapat dipaksa; karena kepemilikan bersama mencakup kepemilikan orang yang menolak dan kepemilikan orang lain, dan tidaklah wajar jika seseorang dipaksa untuk memperbaiki demi kepemilikannya sendiri, sebagaimana jika ia memiliki sesuatu secara tunggal, dan tidaklah wajar pula jika ia dipaksa demi kepemilikan orang lain.

والمنصوص عليه في القديم أن الممتنع يُجبر على العمارة وهذا القول مبني على مصلحةٍ عامة لا سبيل إلى إنكارها ولو لم يفرض الإجبارُ لأفضى إلى ضرر بيّن سيّما في القنوات وما في معناها من الضِّياع وغيره وإن كنا نجبره على القسمة لضرر المداخلة في المساهمة فالضرر بترك العمارة أشد وأعظم

Pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama adalah bahwa pihak yang enggan dipaksa untuk melakukan pembangunan, dan pendapat ini didasarkan pada kemaslahatan umum yang tidak dapat disangkal. Jika pemaksaan tidak diberlakukan, maka akan timbul kerugian yang nyata, terutama pada saluran air dan hal-hal lain yang sejenis seperti lahan pertanian dan sebagainya. Jika kita memaksanya untuk melakukan pembagian karena adanya mudarat akibat percampuran dalam kepemilikan bersama, maka mudarat yang timbul akibat meninggalkan pembangunan justru lebih besar dan lebih berat.

التفريع على القولين

Penjabaran berdasarkan dua pendapat

إن جرينا على الجديد وفرضنا الكلام في العلو والسُّفل ليقيس النّاظر على محل الكلام ما في معناه قلنا لو انهدم العلو والسفل وامتنع صاحب السفل من العمارة لم نجبره فإن قال صاحب العلو لصاحب السفل أنت حامل ثِقْلي فأعد الأمر إلى ما كان واحمل ببناء السفل ثِقْل العلو لم نجبه إلى مراده في إجبار صاحب السفل؛ فإن جدران السفل خالصُ ملكه فلم يُجبر على إعادتها وما ذكره صاحب العلو من حقه مردود عليه؛ فإن ذلك إنما يثبت إذا بُني السفل فأمّا الإجبار على تحصيل السّفل لمكان العلوّ فلا سبيل إليه على هذا القول

Jika kita mengikuti pendapat baru dan mengandaikan pembicaraan tentang bangunan atas dan bawah agar seseorang dapat mengqiyaskan pada kasus yang serupa, maka kami katakan: Jika bangunan atas dan bawah roboh dan pemilik bagian bawah enggan membangunnya kembali, maka kita tidak memaksanya. Jika pemilik bagian atas berkata kepada pemilik bagian bawah, “Engkau menanggung beban bangunanku, maka kembalikanlah keadaan seperti semula dan tanggunglah beban bangunan atas dengan membangun bagian bawah,” maka kita tidak mengabulkan permintaannya untuk memaksa pemilik bagian bawah; karena dinding bagian bawah adalah milik sepenuhnya, sehingga ia tidak diwajibkan untuk membangunnya kembali. Apa yang diklaim oleh pemilik bagian atas tentang haknya itu tertolak; karena hak tersebut hanya berlaku jika bagian bawah telah dibangun. Adapun memaksa untuk membangun bagian bawah demi kepentingan bagian atas, maka tidak ada jalan untuk itu menurut pendapat ini.

فلو قال صاحب العلو أنا أبني السُّفل وأعيد عليه علوي فلا يمتنع عليه البناء وإن كان ذلك تصرفاً في ملك صاحب السفل؛ فإنا إن كنا لا نلزم صاحب السفل شيئاًً فإبطال حق صاحب العلوّ محال ومنعه من التوصل إلى حقه في العلو ببناء السفل تعطيلٌ لصاحب العلو

Maka jika pemilik bagian atas berkata, “Aku akan membangun bagian bawah dan mengembalikan bagian atasku di atasnya,” maka tidak boleh dilarang baginya untuk membangun, meskipun itu merupakan tindakan terhadap milik pemilik bagian bawah; sebab jika kita tidak mewajibkan apa pun kepada pemilik bagian bawah, maka meniadakan hak pemilik bagian atas adalah hal yang mustahil, dan mencegahnya untuk mendapatkan haknya di bagian atas dengan membangun bagian bawah berarti meniadakan hak pemilik bagian atas.

ثم لا يخلو إما أن يعيد السفلَ بالنقض القديم من غير مزيدٍ وإمّا أن يُدخل فيه أعياناًَ من ملك نفسه وأي الأمرين فعل لم يُمنع منه أجمع الأصحاب عليه لما ذكرناه؛ لأن المنع من ذلك تعطيل لحقه

Kemudian, tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia membangun kembali bagian bawah dengan pembongkaran lama tanpa tambahan apa pun, atau ia memasukkan ke dalamnya benda-benda miliknya sendiri. Dalam kedua hal tersebut, ia tidak dilarang melakukannya; seluruh para sahabat sepakat atas hal itu sebagaimana telah kami sebutkan, karena melarang hal tersebut berarti meniadakan haknya.

ثم ينظر فإن بنى بالنقض القديم وكانت أعيان السقف الفاصل بين السفل والعلو عتيدة فلصاحب السُفل أن يأوي إلى سفله وينتفع به على حسب ما كان ينتفع به قبلُ من المسكن والاستظلال

Kemudian dilihat, jika ia membangun kembali dengan pembongkaran yang lama dan unsur-unsur atap yang memisahkan antara lantai bawah dan atas masih ada, maka pemilik lantai bawah berhak untuk kembali ke lantai bawahnya dan memanfaatkannya sebagaimana dahulu ia memanfaatkannya, baik untuk tempat tinggal maupun berteduh.

فلو قال صاحب العلو اغرَم لي أجرة البانين لم يُجب إلى ذلك وإن قال أمنعك من السكون لم يجب إلى ذلك؛ فإنه أوى إلى ملك نفسه وإن قال إذا كان كذلك فأنا أنقض بنائي وأرُدُّ الأمرَ إلى ما كان نُظر إن لم يأت بعينٍ جديدة في البناء فليس له نقضه؛ إذْ ليس له في الجدار إلا حقُّ الصنعة وقد كان انفرد بها ولا سبيل إلى استدراك الصنعة فالصنعة لا تستدرك

Jika pemilik bagian atas berkata, “Bayarkanlah untukku upah para pembangun,” maka permintaannya itu tidak dikabulkan. Dan jika ia berkata, “Aku melarangmu untuk menempati (bagian bawah),” maka permintaannya itu juga tidak dikabulkan; sebab ia telah menempati miliknya sendiri. Jika ia berkata, “Kalau begitu, aku akan membongkar bangunanku dan mengembalikan keadaan seperti semula,” maka hal itu perlu diteliti: jika ia tidak menambahkan sesuatu yang baru pada bangunannya, maka ia tidak berhak membongkarnya; karena ia hanya memiliki hak atas hasil pekerjaannya (ṣan‘ah) pada dinding tersebut, dan ia telah melakukannya sendiri. Tidak ada cara untuk mengganti hasil pekerjaan itu, karena hasil pekerjaan (ṣan‘ah) tidak dapat diganti.

وإن كان أعاد جدران السفل بأعيانٍ من عند نفسه فله نقضه وليس له منعُ صاحب السفل من السكنى إلى اتفاق النقض؛ لأنه يقول أنا أدخل ملكي فلا سبيل إلى منعه ثم حيث نمنعه من النقض وذلك إذا لم يحدث عيناً في البناء فلو هدم فالمذهب أنه يغرَم ما ينقصُه النقض؛ فإنه إذا بنى فقد انقطع عمله والبناء على صفته مملوك لصاحب السفل فإذا هدمه كان جانياً على ملك غيره وسنمهد هذه القاعدة في كتاب الغصوب ونذكر فيها ضبطاً لبعض الأصحابِ إن شاء الله تعالى

Jika ia membangun kembali dinding lantai bawah dengan material miliknya sendiri, maka ia berhak membongkarnya, dan ia tidak berhak melarang pemilik lantai bawah untuk menempatinya sampai terjadi kesepakatan pembongkaran; karena ia dapat berkata, “Aku masuk ke dalam milikku,” sehingga tidak ada jalan untuk melarangnya. Kemudian, dalam hal kita melarangnya membongkar, yaitu jika ia tidak menambahkan material baru pada bangunan tersebut, maka jika ia membongkar, menurut mazhab, ia wajib mengganti kerugian yang diakibatkan oleh pembongkaran itu; sebab jika ia telah membangun, maka pekerjaannya telah selesai dan bangunan dalam kondisinya menjadi milik pemilik lantai bawah. Maka jika ia membongkarnya, berarti ia telah merusak milik orang lain. Kami akan menjelaskan kaidah ini dalam Kitab al-Ghushub dan menyebutkan penjelasan dari sebagian ulama, insya Allah Ta‘ala.

ولو كان بنى السفل بأعيان ملكه فالذي ذهب إليه الأصحاب أنه لا يمنع صاحب السفل من الانتفاع بالسفل سُكنى وليس للباني إلا النقضُ والرجوعُ إلى عين ماله

Jika seseorang membangun bagian atas dengan menggunakan barang miliknya sendiri, maka menurut pendapat para ulama, ia tidak boleh melarang pemilik bagian bawah untuk memanfaatkan bagian bawah sebagai tempat tinggal, dan bagi orang yang membangun hanya berhak membongkar bangunannya dan mengambil kembali barang miliknya.

وذكر صاحب التقريب وجهاً أن لصاحب العلو الباني منع صاحب السفل فيقول له إما أن تبذل قيمة أعيان ملكي وإما أن تنكف عن الانتفاع بها وإذا دخلت السفل فقد انتفعت بالسقف والجدران وهي من أعيان ملكي وقد بنيتُ ولي البناء

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat bahwa pemilik bagian atas yang membangun berhak melarang pemilik bagian bawah, dengan mengatakan kepadanya: “Kamu harus membayar nilai dari benda-benda milikku, atau kamu harus berhenti memanfaatkannya. Jika kamu masuk ke bagian bawah, berarti kamu telah memanfaatkan atap dan dinding, padahal itu adalah bagian dari benda-benda milikku, dan aku yang membangun serta memiliki bangunan tersebut.”

وهذا وجهٌ غريبٌ غيرُ معتد به والمذهب والقياسُ ما قدمناه من أن الباني لا يملك إلا نقضَ البناء فأما المنع من الانتفاع فلا والذي ذكره صاحب التقريب يشبه قياس المصالح والمصلحة تقتضي الإجبارَ على العمارة وتفريعنا على الجديد

Ini adalah pendapat yang ganjil dan tidak dianggap, sedangkan mazhab dan qiyās adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu bahwa orang yang membangun tidak memiliki hak kecuali membongkar bangunan tersebut. Adapun melarang pemanfaatan, maka tidak boleh. Apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb menyerupai qiyās al-mashālih, dan kemaslahatan menuntut adanya pemaksaan untuk membangun, sedangkan penjelasan kami mengikuti pendapat yang baru.

فأما إذا قلنا بالقول الثاني وهو أن الممتنع مجبر على العمارة فلسنا نعني بها عمارةً تجلبُ مزيداً فإنا لو أجبرنا عليها فقد لا نجد لها موقعاً سيما في وإنما الإجبار على العمارة التي لو تركت لاختل الملك بتركها ثم قد يتداعى الخلل

Adapun jika kita mengikuti pendapat kedua, yaitu bahwa pihak yang menolak dipaksa untuk melakukan pemeliharaan, maka yang kami maksud dengan pemeliharaan di sini bukanlah pemeliharaan yang mendatangkan tambahan manfaat, karena jika kami memaksanya untuk itu, bisa jadi tidak ada tempat untuknya, terutama di beberapa kasus. Pemaksaan itu hanya berlaku pada pemeliharaan yang jika ditinggalkan akan menyebabkan kerusakan pada kepemilikan, dan kemudian kerusakan itu bisa semakin meluas.

فإن اتفق إجباره فلا كلامَ وإن لم يصادفه فالقاضي يبيع عليه ماله إن وجده وإن لم يجد له مالاً فله أن يستدين عليه وله أن يأذن للشريك في الإنفاق على شرط الرجوع على الشريك الغائب

Jika memungkinkan untuk memaksanya, maka tidak ada masalah. Namun jika tidak memungkinkan, hakim dapat menjual hartanya jika menemukannya. Jika tidak menemukan harta, hakim boleh berutang atas namanya, dan hakim juga boleh mengizinkan sekutu untuk mengeluarkan biaya dengan syarat dapat menagih kembali kepada sekutu yang tidak hadir.

ثم الأولى أن يُشهد على ما يجري ليكون أقطعَ للخصومة ولو لم يُشهد وأنكر صاحبه إذْ ذاك يكون القول قول المنكر مع يمينه فإن استبد الشريك وأنفق بنفسه من غير مراجعة القاضي فالذي قطع به معظم الأصحاب أنه لا يرجع على شريكه

Kemudian yang lebih utama adalah menghadirkan saksi atas apa yang terjadi agar lebih memutuskan perselisihan. Namun jika tidak menghadirkan saksi dan pasangannya mengingkari, maka pada saat itu yang dipegang adalah pernyataan orang yang mengingkari disertai sumpahnya. Jika salah satu mitra bertindak sendiri dan membelanjakan harta tanpa berkonsultasi dengan qadhi, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa ia tidak dapat menuntut kembali kepada mitranya.

وذكر شيخي وصاحب التقريب وجهاًً آخر أن للشريك أن ينفرد بالعمارة ويرجع وهذا الوجه خرجوه على ظفر صاحب الحق بغير جنس حقه؛ فإنا في وجهٍ نجوّز له الانفرادَ ببيع ما ظفر به واستيفاءِ الحق من ثمنه

Syekh saya dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa seorang mitra boleh secara mandiri melakukan pemeliharaan (bangunan) dan kemudian menuntut penggantian biaya. Pendapat ini mereka analogikan dengan kasus seseorang yang memperoleh haknya bukan dari jenis yang sama dengan haknya; karena dalam salah satu pendapat, kami membolehkan orang tersebut secara mandiri menjual barang yang ia peroleh dan mengambil haknya dari hasil penjualan tersebut.

وقال قائلون إن أمكنه مراجعة الحاكم فليس له أن يستبد إذ ذاك بالإنفاق

Dan sebagian ulama berkata, jika memungkinkan baginya untuk mengajukan perkara kepada hakim, maka ia tidak boleh secara sepihak mengambil keputusan dalam hal nafkah.

وهذا أعدل الوجوه وله التفات إلى هرب الجمَّال واستئجار صاحب المتاع جمَّالاً وستأتي تلك المسألة إن شاء الله تعالى

Ini adalah pendapat yang paling adil, dan pendapat ini berkaitan dengan kasus larinya seorang pengemudi unta serta penyewaan pengemudi unta oleh pemilik barang. Masalah tersebut akan dibahas nanti, insya Allah Ta‘ala.

ثم قال الأئمة كما اختلف القول في الإجبار على عمارة الملك المشترك كذلك اختلف القول في أن صاحب السفل هل يُجبَر على العمارة مع العلم بأن السُّفل خالصُ حقه ولكن يتعلق ببنائه حقُّ صاحب العلو فجرى الإجبار على القول القديم على العمارة؛ لمكان حق البناء لصاحب العلو

Kemudian para imam berkata, sebagaimana terdapat perbedaan pendapat mengenai kewajiban memaksa untuk memperbaiki kepemilikan bersama, demikian pula terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah pemilik bagian bawah (sufl) dapat dipaksa untuk melakukan perbaikan, padahal bagian bawah itu sepenuhnya adalah haknya, namun pada bangunannya terdapat hak milik pemilik bagian atas (uluww). Maka kewajiban untuk memperbaiki berlaku menurut pendapat lama, karena adanya hak bangunan bagi pemilik bagian atas.

وإذا فرعنا على القول القديم فبنى صاحب العلو السفلَ بأعيان ملكه فلو أراد نقضَه فقال صاحب السفل لا تنقضه وأنا أغرَم لك قيمة أعيان ملكك فأبى الباني إلا النقضَ فقد أجمع الأئمة في الطرق على أنه يُمنع من النقض على القديم ونسعف صاحب السفل فَنَقْنَع منه ببذل القيمة؛ فإنا نفرع على القول القديم ومبناه على رعاية المصلحة والمصلحة تقتضي ما ذكرناه

Jika kita merujuk pada pendapat lama, lalu pemilik bangunan atas membangun di atas tanah milik pemilik bawah dengan barang miliknya sendiri, kemudian ia ingin membongkar bangunan tersebut, namun pemilik bawah berkata, “Jangan bongkar, dan aku akan membayar kepadamu nilai barang milikmu,” tetapi si pembangun tetap bersikeras ingin membongkar, maka para imam telah sepakat dalam berbagai riwayat bahwa ia dicegah dari membongkar menurut pendapat lama, dan kita membantu pemilik bawah dengan menerima darinya pembayaran nilai barang; karena kita merujuk pada pendapat lama yang dasarnya adalah menjaga kemaslahatan, dan kemaslahatan menuntut seperti yang telah kami sebutkan.

فصل

Bab

إذا ملك الرجل بيتاً فجاء رجل واشترى منه حقَّ البناء على سطحه فقد أجمع أصحابنا على جواز ذلك ودلَّ عليه نص الشافعي ثم الذي أطلقه الأصحاب أنَّ هذا بيعٌ واتفقوا على أنه لا يعتمد ملكَ عين ولم يمتنعوا من تأبيد العقد والقضاءِ بلزومه وترددوا في جواز إنشاء هذا العقد بلفظ الإجارة فجوز بعضهم ذلك وامتنع آخرون مصيراً إلى أن الإجارة في وضع الشرع تستدعي إعلام المقصود بطريق النهاية وذلك يحصل بضرب المدّة تارة وبذكر عملٍ متناهٍ أخرى مثل الاستئجار على خياطة الثوب ونحوها

Jika seorang laki-laki memiliki sebuah rumah, lalu datang seseorang dan membeli darinya hak membangun di atas atapnya, maka para ulama mazhab kami telah sepakat atas bolehnya hal itu, dan hal ini didukung oleh nash dari Imam Syafi’i. Kemudian, yang dinyatakan secara umum oleh para ulama adalah bahwa ini merupakan jual beli, dan mereka sepakat bahwa hal ini tidak bergantung pada kepemilikan benda (fisik), serta mereka tidak melarang akad ini berlangsung selamanya dan memutuskan wajibnya. Namun, mereka berbeda pendapat tentang bolehnya membuat akad ini dengan lafaz ijarah; sebagian membolehkannya dan sebagian lain melarangnya, dengan alasan bahwa ijarah menurut syariat mensyaratkan kejelasan tujuan dengan cara menentukan batas akhirnya, yang bisa dicapai dengan menetapkan jangka waktu tertentu atau dengan menyebutkan pekerjaan yang terbatas, seperti menyewa untuk menjahit pakaian dan semacamnya.

فإن قيل ما وجه تسمية هذه المعاملة بيعاً ومقصودُها منفعة قلنا البيوع وإن كانت في الظاهر ترتبط بأعيانٍ تقضي بجريان الملك فيها فنهاية المقصود ترجع إلى الانتفاع وملكِ التصرف وهو ضربٌ من الانتفاع ولكن أضيفت المنافع إلى عينٍ هي متعلّقها وُضع عن جميع حقوق المنافع فيها بلفظ الملك

Jika dikatakan, “Apa alasan penamaan transaksi ini sebagai jual beli padahal tujuannya adalah manfaat?” Kami katakan, jual beli meskipun secara lahiriah berkaitan dengan objek tertentu yang mengharuskan terjadinya perpindahan kepemilikan atasnya, namun pada akhirnya tujuan utamanya kembali kepada pemanfaatan dan kepemilikan hak untuk menggunakan, yang merupakan salah satu bentuk pemanfaatan. Akan tetapi, manfaat-manfaat tersebut dikaitkan dengan suatu objek yang menjadi tempat berlakunya, dan seluruh hak atas manfaat-manfaat itu dilekatkan dengan lafaz kepemilikan.

قال المحققون هذا النوع الذي نحن فيه بيعُ حقوق الأملاك وقد قال الشافعي رضي الله عنه الإجارة صنفٌ من البيوع وذهب المحققون إلى جواز عقد الإجارة بلفظ البيع ومعتمد المذهب في ذلك مسيس الحاجة إليه وهو مضنون به يهون بَذْلُك العوضَ في مقابلته ثم إنما ينتظم هذا النوعُ من الانتفاع بالتأبيد كما أن مقصود النكاح ينتظم بالتأبيد ولا ضرورة إلى تأبيد الاستئجار للسكون وغيرِه من جهات الانتفاع والأبنية وضْعُها التأبيد ويجوز الوصية بالمنفعة أبداً؛ فإنا نحتمل في الوصية ما لا نحتمله في المعاملات فهذا عقد المذهب

Para ulama yang teliti mengatakan bahwa jenis yang sedang kita bahas ini adalah jual beli hak kepemilikan. Imam Syafi‘i ra. berkata bahwa ijārah adalah salah satu jenis jual beli, dan para ulama yang teliti membolehkan akad ijārah dengan lafaz jual beli. Dasar mazhab dalam hal ini adalah adanya kebutuhan yang mendesak terhadapnya, sehingga diperbolehkan memberikan imbalan sebagai gantinya. Selanjutnya, jenis pemanfaatan ini hanya teratur dengan keabadian, sebagaimana tujuan dari pernikahan juga teratur dengan keabadian. Tidak ada kebutuhan untuk mengabadikan sewa-menyewa untuk tempat tinggal atau bentuk pemanfaatan lainnya, sedangkan bangunan memang diletakkan untuk keabadian. Wasiat atas manfaat untuk selamanya juga diperbolehkan; karena dalam wasiat kita menoleransi sesuatu yang tidak kita toleransi dalam transaksi. Inilah pendapat mazhab.

وذهب المزني إلى أن هذه المعاملة فاسدة لخروجها عن قضية الإجارة والبيع جميعاً وهذا معدود من مذهبه المختص به لم يخرِّجه للشافعي

Al-Muzani berpendapat bahwa transaksi ini batal karena keluar dari ketentuan ijarah dan jual beli sekaligus, dan ini termasuk pendapat khusus beliau sendiri yang tidak dinisbatkan kepada asy-Syafi‘i.

واحتج المزني بأن قال لو أخرج الرجل جناحاً في ملك غيره بعوض لم يصح ذلك فليكن ما نحن فيه بهذه المثابة

Al-Muzani beralasan dengan mengatakan: “Seandainya seseorang membangun sayap (bangunan tambahan) di atas milik orang lain dengan imbalan, maka hal itu tidak sah; maka seharusnya perkara yang sedang kita bahas ini juga demikian keadaannya.”

قلنا له ما استشهدتَ به يعتمدُ الهواءَ المحضَ وأمّا حق البناء فإنه يتعلق بعينٍ والدليل عليه أن المزني لا يمنع استئجار بقعةٍ مدةً معلومة للبناء عليها ولا يجوز فرضُ مثل هذا في إشراع الجناح فبان افتراق الأصلين في باب جواز المعاملة في جواز أحدهما ونفيه في الثاني وآل الكلام بعد ذلك إلى أنا نجوز تأبيد المعاملة للحاجة الماسة كما تقرر ولا نمنع أيضاً من تقرير هذه المعاملة إن وقع التوافق عليها

Kami katakan kepadanya bahwa apa yang engkau jadikan sebagai dalil itu bergantung pada udara semata, sedangkan hak membangun berkaitan dengan suatu benda (fisik). Dalilnya adalah bahwa al-Muzani tidak melarang menyewa sebidang tanah untuk jangka waktu tertentu guna membangun di atasnya, dan tidak mungkin memisalkan hal seperti ini dalam kasus menonjolkan atap (syar‘ al-janāḥ). Maka jelaslah perbedaan kedua asal tersebut dalam bab kebolehan transaksi, yaitu bolehnya pada salah satunya dan tidak bolehnya pada yang lain. Setelah itu, pembicaraan berujung pada bahwa kami membolehkan transaksi yang berlangsung selamanya karena kebutuhan yang mendesak sebagaimana telah dijelaskan, dan kami juga tidak melarang penetapan transaksi ini jika memang terjadi kesepakatan atasnya.

وينتظم للفقيه في ذلك مراتب إحداها البيعُ والتأبيدُ مستحق فيه؛ فإنه يتضمن التمليك الحقيقي واستئصالَ حق المتقدم بالكلية

Bagi seorang faqih, dalam hal ini terdapat beberapa tingkatan. Salah satunya adalah bahwa dalam jual beli, keabadian menjadi sesuatu yang harus ada; karena jual beli mengandung kepemilikan yang hakiki dan penghilangan hak pihak sebelumnya secara keseluruhan.

و هذا يشعر على بقاء الملك للمُكري ودخول المستأجر على وجه الإلمام والأصلُ لغيره

Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan tetap berada pada pihak pemilik sewaan (al-mukri), dan penyewa (al-musta’jir) masuk (menggunakan barang sewaan) hanya sebatas pemanfaatan, sedangkan asal kepemilikan adalah untuk selainnya.

ثم هذا ينقسم إلى ما يجب ضبطه بالنهاية؛ إذ لا حاجة إلى إثباته دون الضبط وفي هذا القسم ضرورات الإجارات ويقع في هذا ما يظهر فيه قصد التأبيد كما نحن فيه ولا يمتنع تأقيتُه أيضاًً

Kemudian hal ini terbagi menjadi apa yang wajib ditetapkan batas akhirnya; karena tidak perlu menetapkannya tanpa penetapan batas, dan dalam bagian ini termasuk kebutuhan-kebutuhan dalam ijarah. Dalam hal ini juga termasuk apa yang tampak adanya maksud untuk menjadikannya bersifat permanen seperti yang sedang kita bahas, namun tidak terlarang juga untuk membatasinya dengan waktu tertentu.

ومن المراتب ما يقصد فيه المنفعة ولكن لا ينتظم أيضاً إثباته على نعت التأقيت

Di antara tingkatan tersebut ada yang dimaksudkan untuk kemaslahatan, namun penetapannya juga tidak teratur dengan sifat pembatasan waktu.

كالنكاح ؛ فإن الغرض منه التواصل والتوصل إلى النسل وذلك ينافيه التأقيت

Seperti halnya nikah; karena tujuan dari nikah adalah untuk menjalin hubungan dan memperoleh keturunan, sedangkan pembatasan waktu bertentangan dengan tujuan tersebut.

و لما كان النكاح يسوغ تأقيته في ابتداء الإسلام لعله كان يشير إلى اكتفاء بعض الناس بقضاء الأوطار أياماً معدودة ثم استقر الشرع على استحقاق التأبيد؛ ليقع النكاح على وضعه ثم قدرة الزوج على الطلاق تُفيده الاستمكانَ من الخلاص إن أراد

Dan ketika pada awal Islam pernikahan diperbolehkan untuk dibatasi waktunya, barangkali hal itu menunjukkan bahwa sebagian orang cukup dengan memenuhi kebutuhan mereka selama beberapa hari saja, kemudian syariat menetapkan kewajiban untuk menjadikannya bersifat permanen; agar pernikahan berlangsung sesuai ketentuannya, lalu kemampuan suami untuk melakukan talak memberikan keleluasaan baginya untuk melepaskan diri jika ia menghendaki.

ثم ما ذكرناه من المعاملة لا يختص بحق البناء؛ إذ لو أراد ابتياعَ حق الممر أو حقِّ مجرى الماء أو مسيله في ملكه ساغ ذلك كلُّه والضابط أنها حقوق مقصودةٌ تتعلق بأعيان الأملاك

Kemudian, apa yang telah kami sebutkan mengenai transaksi tidaklah khusus berlaku pada hak membangun; sebab jika seseorang ingin membeli hak jalan, atau hak aliran air, atau hak saluran air di dalam miliknya, semuanya itu diperbolehkan. Kaidahnya adalah bahwa hak-hak tersebut merupakan hak yang dimaksudkan dan berkaitan dengan benda-benda milik.

وهذا يَقُضُّ من لا خبرة له بالحقائق وزعم أن هذه المعاملات بيعٌ والمبيع منها الصفحةُ العليا من الموضع الذي يتعلق الحق به وإنما أُتي هذا القائل من ضِيق العَطن وبلادةِ الفِطن والمصيرِ إلى أن ما سماه الشرع بيعاً يستدعي عيناً مملوكة

Hal ini akan membingungkan orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat-hakikat dan mengira bahwa transaksi-transaksi ini adalah jual beli, dan yang dijual darinya hanyalah bagian atas dari tempat yang berkaitan dengan hak tersebut. Sebenarnya, pendapat orang yang berkata demikian muncul karena sempitnya wawasan, tumpulnya kecerdasan, dan keyakinannya bahwa apa yang dinamakan syariat sebagai jual beli pasti mensyaratkan adanya suatu benda yang dimiliki.

وقد مهدنا القول في هذا بما فيه أكمل مقنع

Kami telah menguraikan pembahasan dalam hal ini dengan penjelasan yang paling sempurna dan memuaskan.

ثم إذا تمهدت المعاملة فلا بد فيها وإن تأبَّدت من الإعلام اللائق بها فإن كان مقصودها البناء على جدارٍ فلا بد من إعلام المبني؛ فإن الغرض يختلف بذلك فتُذكر الجدران طولاً وعرضاً وتوصف بكونها مُطبقة أو رَصْفاً وتوصف السقوف بما يثبتها ولم يشترط معظم أصحابنا ذكرَ الوزن وحكى شيخنا عن بعض الأصحاب اشتراط ذلك وهذا غلوٌّ ومجاوزةٌ لحكم العادة في الإعلام

Kemudian, apabila akad telah disepakati, maka harus ada penjelasan yang sesuai tentangnya, meskipun akad tersebut bersifat permanen. Jika tujuannya adalah membangun di atas sebuah dinding, maka harus dijelaskan dinding yang akan dibangun; sebab tujuan dapat berbeda karenanya. Maka disebutkan dinding-dinding tersebut secara panjang dan lebar, dan dijelaskan apakah dinding itu berupa tembok penuh atau susunan bata, serta dijelaskan atap-atapnya dengan apa yang dapat menguatkannya. Mayoritas ulama kami tidak mensyaratkan penyebutan beratnya, namun guru kami meriwayatkan dari sebagian ulama yang mensyaratkan hal itu, dan ini adalah sikap berlebihan serta melampaui kebiasaan dalam penjelasan.

ومن اشترى من أرضٍ حقَّ البناء عليها فلا حاجة بعد تعيين الأرض وإعلام رقعتها إلى إعلام القدر المبني؛ فإن الأرض تحتمل كلَّ ثقل وعلى هذا قال الأئمة لا يجوز أن يقول الباني على العلو أبني ما أشاء ويجوز إيراد المعاملة على الأرض بهذه الصيغة

Barang siapa membeli sebidang tanah dengan hak membangun di atasnya, maka setelah tanah itu ditentukan dan letak lahannya diberitahukan, tidak perlu lagi memberitahukan ukuran bangunan yang akan didirikan; sebab tanah dapat menanggung segala beban. Berdasarkan hal ini, para imam berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang yang membangun di atas bangunan bertingkat untuk berkata, “Aku akan membangun sesuka hatiku,” namun boleh melakukan transaksi atas tanah dengan ungkapan seperti ini.

ومن لطيف ما يذكر في ذلك أن من اشترى البناء على علوّ وصح له ما يبغيه ثم انهدم السفل فالقول في عمارة السُّفل والإجبار عليها كما تقدم

Salah satu hal menarik yang disebutkan dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang membeli bangunan di bagian atas dan telah sah baginya apa yang diinginkannya, kemudian bagian bawah bangunan itu runtuh, maka pembicaraan mengenai renovasi bagian bawah dan kewajiban untuk memperbaikinya adalah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والغرض الآن أن ما اشتراه إذا سُلّم إليه وثبتت يده عليه ثم فرض التلف فلا يكون ذلك بمثابة انهدام الدار المكراة؛ فإن الإجارة تنفسخ وقد تقدّم أن المقصود من المعاملة التي نحن فيها منفعةٌ مؤبدة فلا انفساخ؛ إذ لا خلاف أن السفل لو أعيد فحق البناء ثابتٌ لمستحقه والدار لو أعيد بناؤها لم تعد الإجارة التي حكمنا بأنفساخها

Tujuan pembahasan sekarang adalah bahwa barang yang dibeli, apabila telah diserahkan kepadanya dan ia telah menguasainya, kemudian barang itu rusak secara tiba-tiba, maka hal itu tidak sama dengan runtuhnya rumah yang disewakan; sebab dalam kasus sewa, akadnya batal, sedangkan telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dari transaksi yang sedang kita bahas adalah manfaat yang bersifat permanen, sehingga tidak terjadi pembatalan akad; karena tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika bangunan bawah dibangun kembali, hak membangun tetap menjadi milik yang berhak, sedangkan jika rumah yang disewa dibangun kembali, akad sewa yang telah dinyatakan batal tidak kembali berlaku.

فخرج مما ذكرناه أن التلف بعد التسليم لا يوجب الانفساخ والعوض المأخوذ لا يرتد ولكن من أتلف هذا الحق على إنسانٍ ضمن له قيمتَه فيقال له اغرَم قيمةَ حق البناء على هذا الموضع

Maka dari apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa kerusakan setelah penyerahan tidak menyebabkan pembatalan akad dan kompensasi yang telah diambil tidak dikembalikan. Namun, siapa pun yang merusak hak ini atas seseorang, maka ia wajib mengganti nilainya. Maka dikatakan kepadanya: bayarlah ganti rugi sebesar nilai hak membangun di tempat ini.

ولو باع صاحب السفل حقَّ البناء ثم إنه أتلف السُّفل بعد التسليم وغرمناه القيمة كما ذكرناه وقررنا العوضَ في يده فلو أعاد البناء بعد سنةٍ مثلاً فيعود حق البناء ويسترد تلك القيمةَ ويُقضى بأنها سلمت في مقابلة الحيلولة كما يغرَمُ الغاصب قيمةَ العبد المغصوب إذا أبق وإذا رجع استرد العوض المبذولَ على مقابلة الحيلولة

Jika pemilik bagian bawah menjual hak membangun, kemudian setelah penyerahan ia merusak bagian bawah tersebut dan kami mewajibkannya membayar ganti rugi sebagaimana telah kami sebutkan, lalu kami tetapkan ganti rugi itu di tangannya, maka jika ia membangun kembali setelah satu tahun misalnya, hak membangun itu kembali dan ia berhak mengambil kembali nilai ganti rugi tersebut, dan diputuskan bahwa ganti rugi itu diberikan sebagai kompensasi atas terhalangnya hak. Sebagaimana seorang ghashib (perampas) wajib membayar nilai budak yang dirampas jika budak itu melarikan diri, dan jika budak itu kembali, maka ia berhak mengambil kembali ganti rugi yang telah diberikan sebagai kompensasi atas terhalangnya hak.

فإن قيل فهل يغرَم متلفُ السفل لمستحق البناء على العلو أجرةَ البناء للمدة التي دامت الحيلولة فيها قلنا لا سبيل إلى ذلك؛ فإن هذا مما يبعد تبعيضه ومن هدم على رجلٍ داره غرِم أرشَ النقض ولم يغرَم قيمة منفعة الدار بعد هدمها كذلك القول في إتلاف السفل وتعطيل حق البناء

Jika dikatakan: Apakah orang yang merusak bagian bawah harus membayar kepada pemilik hak membangun di bagian atas sewa bangunan untuk masa terhalangnya pemanfaatan? Kami katakan: Tidak ada jalan untuk itu; karena hal ini sulit untuk dipisahkan. Barang siapa yang merobohkan rumah seseorang, ia wajib membayar ganti rugi atas kerusakan, namun tidak wajib membayar nilai manfaat rumah setelah dirubuhkan. Demikian pula halnya dalam perusakan bagian bawah dan penghalangan hak membangun.

ومن هذا الوجه يُشبّه المعقودُ عليه في هذه المعاملة بالعين المملوكة تتلفُ

Dari sisi ini, objek akad dalam transaksi ini diserupakan dengan barang yang dimiliki yang kemudian musnah.

والذي يوضح المقصود أن حق البناء إذا عاد فقيمته وهو مؤبّد لا تنقص عن قيمته قبل هذا بسنين وهو مؤبد فإن ما يقدّر لا يُحطُّ مما لا يتناهى

Yang dimaksud adalah bahwa hak membangun, jika dikembalikan nilainya dan ia bersifat abadi, maka nilainya tidak akan berkurang dari nilainya sebelumnya meskipun telah berlalu bertahun-tahun dan ia bersifat abadi; karena sesuatu yang nilainya ditetapkan tidak akan dikurangi dari sesuatu yang tidak terbatas.

وليس من حصافة الفقيه أن يقول قد يستأجر الرجل علواً للبناء عليه عشر سنين فلنوجب مثلَ ذلك العوض على من أوقع الحيلولةَ في تلك المدة؛ فإن مسألتنا مفروضةٌ فيه إذا عاد إليه الحق المؤبد فليفهم الناظر ولْيتأنَّ في هذا المقام

Bukanlah suatu kebijaksanaan seorang faqih jika ia berkata, “Seseorang dapat menyewa sebuah loteng untuk dibangun di atasnya selama sepuluh tahun, maka kita wajibkan imbalan serupa atas orang yang menghalangi selama jangka waktu tersebut.” Sebab, permasalahan kita ini dimaksudkan jika hak yang bersifat permanen kembali kepadanya. Maka hendaklah yang menelaah memahami dan berhati-hati dalam persoalan ini.

فرع

Cabang

إذا كان للإنسان حق مجرى ماءٍ في ملك غيره واسترم ذلك المجرى فلا يجب على صاحب الحق المشاركة في العمارة فإن تيك العمارة تتعلق بأعيان الملك وليست الأعيان لمستحق المجرى

Jika seseorang memiliki hak atas aliran air yang melewati milik orang lain, lalu saluran tersebut membutuhkan perbaikan, maka pemilik hak tidak wajib ikut serta dalam perbaikan itu, karena perbaikan tersebut berkaitan dengan benda milik, sedangkan benda itu bukan milik orang yang berhak atas aliran air.

ولو كان ذلك الاختلال بسبب جريان الماء فعمارةُ المجرى على مَنْ هذا محتملٌ عندي والظاهر أن العمارة لا تجب على مستحق الجري ولعلنا نطلع في ذلك على تصرفٍ لبعض الأصحاب فنلحقه بهذا المحل

Jika kerusakan itu disebabkan oleh aliran air, maka perbaikan saluran air tersebut menjadi tanggungan siapa—hal ini menurutku masih memungkinkan untuk diperdebatkan. Yang tampak adalah bahwa perbaikan tidak wajib atas pihak yang berhak atas aliran air. Mungkin kita akan menemukan pendapat sebagian ulama yang dapat kita kaitkan dengan permasalahan ini.

فصل

Bab

إذا كان لرجل سُفل دارٍ أو سفل خَانٍ وما فيه من بيوت وأروقة وصُفَف وكان علو الخان لآخر وصاحب العلوّ كان يرقى من درجٍ في السفل إلى علوّه فلو تنازعا في العرصة هي في يد من فكيف التفصيل قال علماؤنا إن كان المرقى في آخر الخان بحيث يخرق الماشي إليه العرصةَ فالعرصةُ والحالة هذه في يد صاحب السفل والعلو جميعاً فإنها محل انتفاعهما أجمع الأصحاب على هذا في الطرق

Jika seorang laki-laki memiliki bagian bawah dari sebuah rumah atau bagian bawah dari sebuah penginapan beserta kamar-kamar, lorong-lorong, dan ruangan-ruangan di dalamnya, sedangkan bagian atas penginapan dimiliki oleh orang lain, dan pemilik bagian atas naik ke atas melalui tangga yang berada di bagian bawah menuju ke bagian atasnya, lalu jika mereka berselisih tentang halaman, siapakah yang memegang halaman tersebut? Bagaimana rinciannya? Para ulama kami mengatakan: Jika tangga tersebut berada di ujung penginapan sehingga orang yang berjalan menuju tangga itu harus melewati halaman, maka dalam keadaan seperti ini, halaman tersebut berada dalam penguasaan pemilik bagian bawah dan bagian atas sekaligus, karena halaman itu merupakan tempat yang dimanfaatkan oleh keduanya. Seluruh sahabat (ulama mazhab) sepakat mengenai hal ini dalam kasus jalan.

وفي القلب من هذا أدنى شيء؛ من جهة أنا لا نلقى لصاحب العلو في العرصة إلا حقَّ الممر وقد قدمنا في الفصل السابق أن حق الممر يجوز أن يُشترَى على حياله ووجدنا لصاحب السفل حقُّ الممرّ والتبسطُ في العرصة بالوضعِ فيها والجلوس وما شاء من ذلك وكان لا يبعد في طريق المعنى ألا يثبت لصاحب العلو إلا حقُّ الممرّ فأمّا الملكُ في رقبة العرصة فلا

Dalam hal ini, terdapat keraguan sedikit pun di hati; sebab kita tidak memberikan kepada pemilik bangunan atas di lahan bersama kecuali hak jalan lewat saja. Telah kami sebutkan pada bagian sebelumnya bahwa hak jalan lewat boleh dibeli secara terpisah, dan kami dapati bahwa pemilik bangunan bawah memiliki hak jalan lewat dan hak menggunakan lahan bersama, seperti meletakkan barang di atasnya, duduk, dan hal-hal lain yang diinginkannya. Maka, secara makna, tidaklah jauh kemungkinan bahwa pemilik bangunan atas hanya memiliki hak jalan lewat saja, adapun kepemilikan atas tanah lahan bersama, maka tidak.

ولم يصر إلى هذا أحدٌ من الأصحاب؛ فإنَّ المقصود الظّاهر من العرصات المرور؛ والذي يرقى إلى العلو لا يلزمه أن يستدّ في مقابلة المرقى ولو أراد أن يجلس ساعة أو يقف فلا منع وكذلك جرى العُرف بأن صاحب العلو لا يُمنع من وضع شيء في عرصة الخان

Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang berpendapat demikian; sebab tujuan yang tampak dari halaman-halaman itu adalah untuk lalu-lalang, dan orang yang naik ke atas tidak wajib untuk duduk di hadapan tangga. Jika ia ingin duduk sebentar atau berdiri, maka tidak ada larangan. Demikian pula telah menjadi kebiasaan bahwa pemilik lantai atas tidak dilarang untuk meletakkan sesuatu di halaman khan.

فهذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.

ولو كان المرقى في دهليز الخان فتنازعا في ذلك فقد ظهر اختلاف الأصحاب في ذلك فمنهم من قال اليد فيها لصاحب السفل ولعله الأصح ووجهه بيِّن

Jika tangga itu berada di lorong penginapan lalu mereka berselisih tentang hal itu, maka telah tampak adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hak kepemilikan (yad) atasnya adalah milik pemilik bagian bawah, dan pendapat ini tampaknya yang lebih kuat, serta alasannya pun jelas.

ومنهم من قال هي في أيديهما وهذا الخلافُ قرَّبَه الأصحابُ من التردد الذي ذكرناه في السكة المنسدّة الأسفل إذا أشرع بعض السكان جناحاً في أسفل السكة فهل يثبت لمن أعلاها حقُّ الاعتراض ولا ممرَّ له في أسفل السِّكة وهذا التشبيه قريب

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia berada di tangan keduanya, dan perbedaan pendapat ini didekatkan oleh para sahabat dengan keraguan yang telah kami sebutkan mengenai gang buntu di bagian bawah, apabila sebagian penghuni mengulurkan bangunan menjorok di bagian bawah gang tersebut, apakah penghuni bagian atas memiliki hak untuk menolak, padahal ia tidak memiliki jalan di bagian bawah gang itu; dan perumpamaan ini memang dekat.

ويمكن أن يقال العلو محتفٌّ بالعرصة احتفافَ السفل والهواء محتوش بالسفلِ والعلو فلا يبعدُ والحالة هذه أن تضاف العرصة إليهما؛ فإنه يقال صحن الخان وعرصة الخان والعلو والسُفل من الخان وهذا الذي ذكرناه ظاهر فيه إذا كان مالك العلو يحيط ملكه بالعلو كله

Dapat dikatakan bahwa bagian atas mengelilingi halaman sebagaimana bagian bawah, dan udara dikelilingi oleh bagian bawah dan bagian atas. Maka, dalam keadaan seperti ini, tidaklah jauh kemungkinan halaman itu disandarkan kepada keduanya; sebab dikatakan halaman khan, halaman penginapan, bagian atas dan bagian bawah dari penginapan. Apa yang kami sebutkan ini jelas berlaku jika pemilik bagian atas menguasai seluruh bagian atas dengan kepemilikannya.

وإن ملك بعضاً منه وملك إنسان بعضاً من السُفل فالاستحقاق من المستحق على قدر الاستحقاق في السفل والعلو على التفصيل الذي ذكرناه

Jika seseorang memiliki sebagian dari bangunan tersebut dan orang lain memiliki sebagian dari bagian bawahnya, maka hak kepemilikan atas bagian atas dan bawah berlaku sesuai dengan kadar kepemilikan masing-masing pada bagian bawah dan atas, sesuai dengan rincian yang telah kami sebutkan.

ولو كان المرقى على نصف العرصة لا في صدر الخان فإن قلنا اليد في العرصة لهما لو كان المرقى في الدهليز فما الظن بهذه الصورة وإن قلنا يختص باليد على العرصة صاحب السفل إذا كان المرقى في غير الدهليز فاليد تثبت لصاحب العلوّ على ما يُسامت ممشاه من العرصة وفيما وراء المرقى التردد الذي ذكرناه في أعلى السكة وأسفلها

Jika tangga berada di tengah halaman, bukan di bagian depan khan, maka jika kita mengatakan bahwa hak kepemilikan atas halaman adalah milik bersama, sebagaimana jika tangga berada di lorong, maka tentu saja dalam kasus ini juga demikian. Namun, jika kita mengatakan bahwa hak kepemilikan atas halaman hanya dimiliki oleh pemilik lantai bawah apabila tangga tidak berada di lorong, maka hak kepemilikan itu tetap dimiliki oleh pemilik lantai atas atas bagian halaman yang sejajar dengan jalur menuju ruangannya, sedangkan untuk bagian halaman yang berada di belakang tangga, terdapat keraguan sebagaimana yang telah kami sebutkan pada pembahasan tentang bagian atas dan bawah gang.

وهذه الصورة على حالٍ أولى بأن تثبت اليد فيها لصاحب العلو على ما لا ممشى له فيه من العرصة

Dan keadaan seperti ini lebih utama untuk menetapkan hak kepemilikan (yad) bagi pemilik bangunan atas bagian tanah terbuka (arshah) yang tidak memiliki jalan akses di dalamnya.

ولو كان مرقى العلو خارجاً من خِطة الخان فيبعد والحالة هذه أن يثبت لصاحب العلو يدٌ في العرصة وليس كما لو كان المرقى في الدهليز؛ فإنَّ الدهليز من العرصة فكان من العرصة كأعلى السكة من أسفلها

Jika tangga menuju lantai atas berada di luar area khan, maka dalam keadaan seperti ini, kecil kemungkinan pemilik lantai atas memiliki hak atas tanah halaman. Hal ini berbeda jika tangga berada di lorong; sebab lorong termasuk bagian dari halaman, sehingga dianggap sebagai bagian dari halaman, sebagaimana bagian atas gang merupakan bagian dari bagian bawahnya.

هذا قولنا في العرصة وثبوت اليد فيها

Inilah pendapat kami mengenai tanah kosong (al-‘arshah) dan kepemilikan (tsubut al-yad) atasnya.

فأمَّا الدرج والمرقى فقد قال الأصحاب إن لم يكن لصاحب السفل به انتفاع ولم يكن تحته بيت مسكون فاليد في المرقى لصاحب العلوّ فحسب وإن كان ينتفع صاحب السفل بالدرج بأن كان يصفف عليها الصفريّات وغيرها ففي المسألة وجهان أحدهما أن اليد لصاحب العلو كما ذكرناه

Adapun tangga dan tempat naik, para ulama berpendapat: jika pemilik bagian bawah tidak mendapatkan manfaat darinya dan di bawahnya tidak terdapat ruangan yang dihuni, maka hak kepemilikan atas tempat naik itu hanya milik pemilik bagian atas saja. Namun, jika pemilik bagian bawah mendapatkan manfaat dari tangga tersebut, misalnya dengan meletakkan peralatan tembaga dan barang-barang lainnya di atasnya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa hak kepemilikan tetap milik pemilik bagian atas sebagaimana telah disebutkan.

والثاني أنهما مشتركان فإنهما مشتركان في المنفعة

Kedua, keduanya memiliki kesamaan karena keduanya sama-sama memiliki manfaat.

والأصح الأول؛ فإن الدرج لا تبتنى لذلك وإنما تبنى للرقي فيها

Pendapat yang lebih sahih adalah yang pertama; karena tangga tidak dibangun untuk tujuan itu, melainkan dibangun untuk naik melaluinya.

ولو كان تحت المرقى بيت وهو سقفه فاليد لهما في الدرج؛ فإنها سقفُ أحدهما من جهة وممرّ الآخر من أخرى فصار كالسقف من السفل والعلو

Jika di bawah tangga terdapat sebuah rumah dan tangga itu menjadi atapnya, maka hak atas tangga dimiliki oleh keduanya; karena tangga itu merupakan atap bagi salah satu dari satu sisi dan jalan bagi yang lain dari sisi yang lain, sehingga keadaannya seperti atap dari bawah dan atas.

ولو كان لا ينتفع صاحب السُّفل إلا بوضع الجدار والكيزان تحت الدرج مستظلاً بها فالظاهر أن ذلك لا يوجب له يداً في الدرج وفيه شيء بعيد

Jika pemilik bagian bawah tidak mendapatkan manfaat apa pun kecuali dengan meletakkan dinding dan kendi-kendi di bawah tangga untuk berteduh di bawahnya, maka yang tampak adalah hal itu tidak memberinya hak kepemilikan atas tangga, namun dalam hal ini masih terdapat kemungkinan lain yang lemah.

وأصل الدرج في يد من الدرج في يده؛ فإن مغرس الشجر وأسَّ الجدار في يد من له اليد في الشجرة والجدار

Asal kepemilikan tanah adalah pada orang yang menguasai tanah tersebut; maka tempat tumbuhnya pohon dan pondasi tembok adalah milik orang yang memiliki kekuasaan atas pohon dan tembok itu.

وقد نجز الغرض من المسائل المقصودة في الصلح وذكر المزني فصولاً معادة قليلةَ الفائدة سنجمعها في فصلٍ في آخر الكتاب

Tujuan dari pembahasan masalah-masalah yang dimaksud dalam bab shulh telah tercapai, dan al-Muzani menyebutkan beberapa bagian yang diulang-ulang dan kurang bermanfaat, yang akan kami kumpulkan dalam satu bab di akhir kitab.

فصل

Bab

قال وإن كان لرجلٍ شجرةٌ أو نخلةٌ فاستعلت أغصانُها إلى آخره

Ia berkata: Jika seseorang memiliki sebuah pohon atau pohon kurma, lalu cabang-cabangnya menjulang tinggi, dan seterusnya.

إذا غرس الرجل شجرة في ملكه فعلت وانتشرت أغصانها في هواء ملك الغير فله أن يمنعه من ذلك؛ فإن هواء ملكه حقُّه وإن أمكن صرفُ الأغصان عن الهواء بأن تضم إلى الشجرة كفى ذلك وإن كان لا يتأتى تفريغ الهواء إلا بقطع الأغصان فلا بد من قطعها إذا طلب صاحب الهواء تفريغه

Jika seseorang menanam pohon di tanah miliknya lalu cabang-cabangnya tumbuh dan menyebar ke udara milik orang lain, maka ia berhak melarang hal tersebut; karena udara di atas tanahnya adalah haknya. Jika cabang-cabang itu dapat dialihkan dari udara tersebut dengan cara diikatkan kembali ke pohon, maka itu sudah cukup. Namun, jika tidak memungkinkan mengosongkan udara itu kecuali dengan memotong cabang-cabangnya, maka cabang-cabang itu harus dipotong jika pemilik udara meminta agar udaranya dikosongkan.

وانتشار العروق تحت الأرض كانتشار الأغصان في الهواء والأرض أولى بالتنقية؛ فإنها مملوكة والهواء حق الملك والشكاير التي تنبت على العروق المنبثة لمالك العروق وإن حدثت في ملك الغير خلافاً لأبي حنيفة

Penyebaran akar di bawah tanah seperti penyebaran cabang di udara, dan tanah lebih utama untuk dimiliki; karena tanah itu dimiliki, sedangkan udara adalah hak milik, dan tunas-tunas yang tumbuh pada akar-akar yang menyebar adalah milik pemilik akar tersebut, meskipun tumbuh di tanah milik orang lain, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.

فصل يجمع المسائل التي ذكرها المزني

Bagian yang menghimpun masalah-masalah yang disebutkan oleh al-Muzani.

ونحن نورد صورها ونرمز إلى المُعاد ونذكر ما يشتمل على فائدةٍ جديدة فممَّا ذكره أن من صالح عن دراهمَ بدنانير أو عن دنانير بدراهم أو عن عين بدين أو عن دين بعين وكل هذا ممَّا تقدّم وممَّا زاده أنه إذا جرى القبض في المجلس فيتعلق القول بتفريق الصفقة

Kami akan menyebutkan bentuk-bentuknya, memberi simbol pada yang diulang, dan menyebutkan hal-hal yang memuat manfaat baru. Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seseorang membayar zakat fitrah dengan dirham untuk dinar, atau dengan dinar untuk dirham, atau dengan barang tunai untuk utang, atau dengan utang untuk barang tunai—semua ini telah disebutkan sebelumnya. Tambahan yang disebutkan adalah bahwa jika terjadi serah terima di majelis, maka pembahasan berkaitan dengan pemisahan akad.

وممَّا ذكره أن من ادعى داراً في يد إخوةٍ وكانت تحت أيديهم على حكم الإرثِ في الظاهر فقال المدعي هذه الدار لي كان غصبها أبوكم مني فلو صدقه أحدُ الإخوة وكذبه الآخران فيثبت الثلث بتصديق ذلك المصدق

Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seseorang mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan beberapa saudara, dan rumah itu tampak berada di bawah kekuasaan mereka berdasarkan hukum waris secara lahiriah, lalu si pengklaim berkata, “Rumah ini milikku, ayah kalian telah merampasnya dariku,” kemudian salah satu saudara membenarkannya sementara dua lainnya mendustakannya, maka sepertiga bagian rumah itu menjadi milik si pengklaim berdasarkan pembenaran dari saudara yang membenarkan.

فلو صالحه الأخ المقِر على جميع الدار فنقول أما صلحه عما في أيدي إخوته فسبيله كسبيل صلح الأجنبي عن العين المدعَى عليه مع إنكاره وقد مضى فإن صححناه فذاك وإن أبطلنا الصلح في حق الآخرين فهل يصح في حقه فعلى قولي تفريق الصفقة وقد مضى هذا في تأصيل الكتاب

Jika saudara yang mengakui melakukan shulh (perdamaian) atas seluruh rumah, maka kami katakan: Adapun shulh-nya atas apa yang ada di tangan saudara-saudaranya, maka hukumnya seperti hukum shulh orang asing atas barang yang digugat kepadanya sementara ia mengingkarinya, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Jika kami menganggap sah shulh tersebut, maka demikianlah; namun jika kami membatalkan shulh atas hak orang lain, maka apakah shulh itu sah atas haknya sendiri? Maka hal ini kembali kepada dua pendapat tentang tafriq ash-shafqah (pemisahan transaksi), dan hal ini telah dijelaskan dalam pembahasan dasar kitab ini.

فصل

Bab

إذا ادعى على رجلين داراً فأقر له أحدُهما بنصيبه وأنكر الثاني فقد

Jika seseorang mengklaim sebuah rumah terhadap dua orang, lalu salah satu dari keduanya mengakui bagiannya kepadanya dan yang kedua mengingkarinya, maka…

ثبت النصف بحكم الإقرار للمدَّعي فلو صالحه المقر عن النصف الذي أقر به على مالٍ فالصلح صحيح بينهما فلو قال الأخ المنكر آخذ هذا النصف بالشفعة نُظر فإن كان سبب استحقاق كل واحد منهما مخالفاً لسبب استحقاق الثاني فيثبت للمنكر حقُّ الشفعة كأن كان أحدهما اشترى نصيبه والثاني ورثه من جهةٍ أخرى أو اتّهبه والسَّبب فيه أن السبب إذا اختلف فليس في إنكار المنكر في نصيبه تكذيبُ المدعي في نصيب صاحبه وإن كان ثبت حقهما ظاهراً من جهة واحدة لا تنقسم كالإرث مثلاً فإذا ادّعى عليهما فأقر أحدهما وأنكر الثاني ففي ضمن إنكار المنكِر تكذيبُ المدّعي في جميع دعواه فإذا جرى الصلحُ وحكمنا بصحته بين المدّعي والمقر فالمذهب الظاهرُ أنه لا يثبت حق الشفعة للمنكر وأبعد بعض أصحابنا فأثبت له الشفعة وهذا بعيد لا أصل له؛ فإن الإنسان مؤاخذ بحكم قوله في حق نفسه

Setengah bagian telah ditetapkan berdasarkan pengakuan untuk penggugat. Maka jika orang yang mengakui berdamai dengan penggugat atas setengah bagian yang ia akui dengan imbalan harta, maka perdamaian itu sah di antara mereka berdua. Jika kemudian saudara yang mengingkari berkata, “Saya akan mengambil setengah bagian ini dengan hak syuf‘ah,” maka perlu dilihat: jika sebab kepemilikan masing-masing dari mereka berbeda, maka orang yang mengingkari berhak mendapatkan syuf‘ah, seperti salah satunya membeli bagiannya dan yang lain mewarisinya dari pihak lain atau mendapatkannya sebagai hibah. Sebabnya adalah jika sebabnya berbeda, maka pengingkaran orang yang mengingkari atas bagiannya tidak berarti mendustakan penggugat atas bagian temannya. Namun, jika hak mereka berdua secara lahiriah berasal dari satu sebab yang tidak dapat dibagi, seperti warisan misalnya, lalu keduanya digugat dan salah satunya mengakui sementara yang lain mengingkari, maka dalam pengingkaran orang yang mengingkari terkandung pendustaan terhadap seluruh tuntutan penggugat. Maka jika terjadi perdamaian dan kita memutuskan sahnya perdamaian antara penggugat dan orang yang mengakui, maka pendapat yang kuat adalah bahwa hak syuf‘ah tidak ditetapkan bagi orang yang mengingkari. Sebagian ulama kami berpendapat jauh dengan menetapkan hak syuf‘ah baginya, namun ini pendapat yang lemah dan tidak ada dasarnya; sebab seseorang terikat dengan ucapannya atas hak dirinya sendiri.

وممَّا ذكره المزني أن من ادعى داراً في يد إنسانٍ فأقر المدعى عليه بها ثم صالحه على أن يبني على سطحها جاز وهذا كلام عري عن التحصيل وحاصله أنه أقر بالدار ثم طلب منه أن يُعير منه سقفها ليبني عليه وليس هذا مما يورد في المختصرات

Di antara yang disebutkan oleh al-Muzani adalah bahwa jika seseorang mengklaim sebuah rumah yang berada di tangan seseorang, lalu pihak yang dituduh mengakuinya, kemudian berdamai dengannya dengan syarat ia boleh membangun di atas atap rumah tersebut, maka hal itu diperbolehkan. Namun, ini adalah pernyataan yang tidak memberikan manfaat yang berarti, dan intinya adalah bahwa ia telah mengakui kepemilikan rumah tersebut, kemudian meminta agar dipinjamkan atapnya untuk membangun di atasnya. Hal seperti ini tidak layak dimasukkan dalam kitab-kitab ringkasan.

وممَّا ذكره المزني نقلاً عن كتاب أدب القاضي أن الشافعي قال لو كان البيت علوُّه لواحد وسفلُه لآخر فأرادا أن يقتسماه على أن يصير العلوّ لصاحب السُّفل والسفل لصاحب العلو قال الشافعي لا يجوز ذلك وإنما نقل هذا تأكيداً لمذهبه في أن حق البناء لا يجوز بيعه وهذا كلام مضطرب؛ فإنه يجوز بيع العلو بالسفل وإنما أورد الشافعي هذا في سياق ما لا يجبر عليه من أنواع القَسْم وعد منها ما نقله ولم يُرد منعَ التبادل إذا صدر عن تراضٍ منهما ثم أنَّى هذا من مراد المزني في بيع حق البناء والمسألة التي نقلها في بيع العلو بالسفل والعلو مبني كالسفل

Di antara yang disebutkan oleh al-Muzani dengan mengutip dari Kitab Adab al-Qadhi adalah bahwa asy-Syafi‘i berkata: Jika sebuah rumah bagian atasnya milik seseorang dan bagian bawahnya milik orang lain, lalu keduanya ingin membaginya sehingga bagian atas menjadi milik pemilik bagian bawah dan bagian bawah menjadi milik pemilik bagian atas, maka asy-Syafi‘i berkata: Hal itu tidak boleh. Ia hanya menukil hal ini untuk menegaskan pendapatnya bahwa hak membangun (haq al-bina’) tidak boleh dijual. Namun, ini adalah pendapat yang rancu; karena sebenarnya boleh menjual bagian atas dengan bagian bawah. Asy-Syafi‘i menyampaikan hal ini dalam konteks perkara-perkara yang tidak boleh dipaksakan dalam berbagai jenis pembagian, dan ia menyebutkan di antaranya apa yang ia nukil tersebut, dan tidak bermaksud melarang pertukaran jika dilakukan atas dasar kerelaan kedua belah pihak. Lagi pula, hal ini berbeda dengan maksud al-Muzani dalam menjual hak membangun, dan masalah yang ia nukil tentang penjualan bagian atas dengan bagian bawah, padahal bagian atas telah dibangun sebagaimana bagian bawah.

ومما نقله المزني مسألة معادة في شراء الزرع ونحن نطردها بمزيد فائدة فيها فنقولُ إذا ادّعى رجل على رجل زرعاً في أرضٍ فاعترف المدعى عليه وصالح عن الزرع على شيء فلا بُدّ من شرط القطع؛ فإن الصلح مع الإقرار بيعٌ وإن لم يجر شرطُ القطعِ والأرضُ لغيرِ المقر لم يجز

Di antara hal yang dinukil oleh al-Muzani adalah masalah yang berulang tentang jual beli tanaman, dan kami akan melanjutkannya dengan tambahan manfaat di dalamnya. Kami katakan: Jika seseorang mengklaim terhadap orang lain bahwa ada tanaman miliknya di suatu tanah, lalu orang yang dituduh mengakui dan melakukan islah (perdamaian) atas tanaman itu dengan sesuatu (sejumlah harta), maka harus ada syarat pemotongan (tanaman tersebut). Sebab, islah dengan pengakuan adalah jual beli. Jika tidak disyaratkan pemotongan dan tanah itu milik selain orang yang mengakui, maka tidak boleh (jual beli tersebut).

وإن كانت الأرض للمقر ففي المسألة وجهان تقدّم ذكرهما في باب بيع الثمار إذ ذكرنا أن من اشترى النخلة والثمرة جميعاً فليس عليه شرط القطع وإن اشترى الثمرة وحدها قبل بدوّ الصَّلاح فلا بد من شرط القطع وإن كانت الشجرة له والثمرة لغيره فاشترى الثمرة وضم ملكها إلى ملك الشجرة ففي اشتراط القطع الخلاف الذي ذكرناه الآن في الزرع

Jika tanah itu milik orang yang mengakui (kepemilikan), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya dalam bab jual beli buah-buahan, yaitu: apabila seseorang membeli pohon kurma beserta buahnya sekaligus, maka tidak disyaratkan adanya syarat pemotongan (buah). Namun jika ia membeli buahnya saja sebelum tampak tanda-tanda kematangan, maka harus ada syarat pemotongan. Jika pohonnya milik dia dan buahnya milik orang lain, lalu ia membeli buah tersebut sehingga kepemilikan buah bergabung dengan kepemilikan pohon, maka dalam hal disyaratkannya pemotongan terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan tadi dalam masalah tanaman.

فلو أقر المدعَى عليه بنصف الزرع ثم أراد بيعَه وهو أخضر أو المصالحةَ عنه حيث يشترط القطع فالبيع فاسد؛ فإنّ قطعَ النصف غيرُ ممكن ولا يتوصل إليه إلا بقطع الجميع

Jika tergugat mengakui setengah dari tanaman, kemudian ingin menjualnya saat masih hijau atau melakukan ishlah atasnya dengan syarat harus dipotong, maka jual beli tersebut batal; karena memotong setengahnya tidak mungkin dilakukan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan memotong seluruhnya.

قال الأصحاب لا يتصور شراء نصف الزرع بشرط القطع إلا في صورة واحدةٍ وهي إذا كانت الأرض والزرع مشتركين بين شخصين فاصطلحا على أن يصير الزرع خالصاً لواحد والأرض خالصة لآخر بشرط القطع قيل يصح ويلزم قطع النصف بحكم شرط القطع فيه وقطع النصف بحكم تفريغ المبيع وهي الأرض وهذا فيه نظر

Para ulama berpendapat bahwa tidak mungkin terjadi jual beli setengah tanaman dengan syarat harus dipotong kecuali dalam satu keadaan, yaitu apabila tanah dan tanaman dimiliki bersama oleh dua orang, lalu keduanya sepakat agar tanaman menjadi milik salah satu secara penuh dan tanah menjadi milik yang lain secara penuh dengan syarat tanaman harus dipotong. Ada yang berpendapat bahwa hal itu sah dan wajib memotong setengah tanaman berdasarkan syarat pemotongan tersebut, dan memotong setengah lainnya karena harus mengosongkan barang yang dijual, yaitu tanah. Namun, pendapat ini masih perlu ditinjau kembali.

وقد منع طائفة من المحققين البيعَ في هذه الصورة أيضاً؛ فإن تفريغ الأرض من الزرع لا يجب بقطعه وإذا شُرط لم يجب الوفاء فيبقى تعذّر استحقاق القطع ثم الذين قالوا بالصحّة بناءً على شرط تفريغ الأرض فلست أدري ما قولهم في أن شرط التفريغ هل يجب الوفاء به أم هو على الجواز هذا محتمل؛ من جهة أن هذا ليس في المعقود عليه من الزرع وإنما هو في بيع حصّةٍ من الأرض

Sekelompok ulama yang teliti juga melarang jual beli dalam kasus ini; karena mengosongkan tanah dari tanaman tidak harus dilakukan dengan memotongnya, dan jika disyaratkan pun tidak wajib dipenuhi, sehingga tetap ada kemungkinan tidak terpenuhinya hak untuk memotong. Adapun mereka yang membolehkan jual beli ini dengan syarat mengosongkan tanah, saya tidak tahu apa pendapat mereka mengenai apakah syarat pengosongan itu wajib dipenuhi atau hanya bersifat boleh; hal ini masih mungkin diperdebatkan, karena syarat tersebut tidak berkaitan dengan objek akad berupa tanaman, melainkan pada penjualan bagian dari tanah.

ولو باع رجلٌ أرضاً مزروعة واستثنى الزرع لنفسه وشرط قلع الزرع وتفريغ

Jika seseorang menjual sebidang tanah yang telah ditanami, lalu ia mengecualikan tanaman tersebut untuk dirinya sendiri dan mensyaratkan pencabutan tanaman serta pengosongan tanah,

الأرض منه ففي وجوب الوفاء تردد للأصحابِ قدمت رمزاً إليه في بيع الثمار

Terdapat keraguan di kalangan para ulama mengenai kewajiban memenuhi (akad) jika tanahnya termasuk di dalamnya; saya telah mengisyaratkan hal ini dengan simbol pada pembahasan jual beli buah-buahan.

وهذا منزَّلٌ على ذلك

Dan ini didasarkan pada hal tersebut.

فرع

Cabang

إذا كان للرجل حقُّ مسيل ماءٍ في أرض الغير فليس له أن يدخل الأرض من غير سبب وحاجةٍ ولكن إن مسَّت الحاجة إلى تنقيته من الحَمْأة وسدِّ البثق وغيره فله طروق الأرض لهذا السَّبب هكذا قال الأصحاب

Jika seseorang memiliki hak aliran air di tanah orang lain, maka ia tidak boleh memasuki tanah tersebut tanpa alasan dan kebutuhan. Namun, jika ada kebutuhan untuk membersihkan saluran dari lumpur, menutup lubang, dan sebagainya, maka ia boleh memasuki tanah itu untuk tujuan tersebut. Demikianlah pendapat para ulama.

Kitab al-Hawālah

الأصل في الحوالة ما روى أبو هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال مَطل الغني ظلم وإذا أُتبع أحدُكم على مليءٍ فليَتْبع وفي رواية ليُّ الواجد ظلم فإذا أحيل أحدكم على مليءٍ فليَحْتل

Dasar hukum hawālah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Jika salah seorang di antara kalian dialihkan (piutangnya) kepada orang yang mampu, maka hendaklah ia menerima pengalihan itu.” Dalam riwayat lain: “Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Jika salah seorang di antara kalian dipindahkan (piutangnya) kepada orang yang mampu, maka hendaklah ia menerima pemindahan itu.”

والحوالة مجمعٌ عليها ونسُمِّيها من طريق المعنى الارتفاقَ الظاهر وهي في مخالفتها قياسَ البياعات لما فيها من الحاجة الحاقّة تشبهُ القرضَ والسلمَ والإجارةَ وكلَّ عقدٍ أثبته الشرعُ مُرفِقاً خارجاً عن قياس النظائر

Hawalah adalah perkara yang telah disepakati (ijmā‘) dan dari segi makna disebut sebagai kemudahan yang nyata. Dalam hal perbedaannya dengan qiyās pada akad-akad jual beli, karena adanya kebutuhan yang mendesak, hawalah menyerupai qardh, salam, ijarah, dan setiap akad yang ditetapkan oleh syariat sebagai bentuk kemudahan yang keluar dari qiyās terhadap akad-akad yang serupa.

وأصل الحوالة في اللغة من الإحالة والتحويل وصورتها في محل الوفاق بيّنة ومدارها على ثلاثة أشخاص المحيل وهو من عليه الحق والمحتال وهو صاحب الحق والمحال عليه وهو الذي يحال بالحق عليه وعليه للمحيل مثلُ ما كان للمحتال على المحيل ولا يخفى أن الحوالة متضمنها مقابلةُ دين في ذمةٍ بدين في ذمةٍ أخرى

Asal kata hawālah dalam bahasa Arab berasal dari kata al-ihālah dan at-tahwīl (pemindahan dan pengalihan). Bentuknya dalam kasus yang disepakati sangat jelas, dan inti dari hawālah melibatkan tiga orang: al-muhīl, yaitu orang yang memiliki utang; al-muhtāl, yaitu pemilik hak (kreditur); dan al-muhāl ‘alayh, yaitu orang yang dialihkan kepadanya hak tersebut, yang memiliki utang kepada al-muhīl sejumlah yang sama dengan hak al-muhtāl atas al-muhīl. Tidak diragukan lagi bahwa hawālah mengandung makna pertukaran utang dalam satu tanggungan dengan utang dalam tanggungan lain.

وقد اختلفت عبارة الأئمة عن حقيقتها وماهيتها فقال قائلون الحوالة معاوضة؛ لأن المحتال يعتاض ما للمحيل في ذمة المحال عليه عمَّا له في ذمة المحيل والمحيل يعوّضه ماله في ذمة المحال عليه عما عليه للمحتال

Para imam berbeda pendapat dalam mengungkapkan hakikat dan esensi hawālah. Sebagian mengatakan bahwa hawālah adalah suatu bentuk mu‘āwadah (pertukaran); karena pihak yang menerima hawālah (muḥtāl) menukar haknya atas piutang yang ada pada pihak yang mengalihkan (muḥīl) dengan hak yang ada pada pihak yang dialihkan (muḥāl ‘alayh), dan pihak yang mengalihkan (muḥīl) juga menukar haknya atas piutang yang ada pada pihak yang dialihkan (muḥāl ‘alayh) dengan kewajiban yang harus dipenuhi kepada pihak yang menerima hawālah (muḥtāl).

وقال قائلون من أئمتنا الحوالةُ استيفاءٌ ومن كان له دين فاستوفاهُ فما قبضه ليس نفسَ الدين؛ فإن الدين لم يكن متعيناً وليس ما عُيّن عوضاً عن الدين هو الدين أيضاً بل هو الحق الموفَّى كذلك الحوالة أقيمت استيفاءَ حقٍّ حتى كأن المحتالَ استوفى ما في ذمته عما كان له في ذمّته وصار استحقاقه على المحال عليه وحلوله محل المحيل نازلاً منزلة استيفاء عينٍ عن دين

Dan sebagian ulama kami berkata: Hawalah adalah bentuk pelunasan. Barang siapa memiliki piutang lalu melunasinya, maka apa yang diterimanya itu bukanlah hakikat utang itu sendiri; sebab utang tersebut belum tertentu wujudnya, dan apa yang telah ditentukan sebagai pengganti utang itu juga bukanlah utang itu sendiri, melainkan hak yang telah dilunasi. Demikian pula hawalah ditegakkan sebagai pelunasan hak, sehingga seolah-olah pihak yang menerima hawalah telah melunasi apa yang menjadi tanggungannya atas apa yang menjadi haknya, dan haknya berpindah kepada pihak yang menjadi sasaran hawalah, serta kedudukan pihak yang menerima hawalah menggantikan kedudukan pihak yang mengalihkan, sebagaimana pelunasan barang secara langsung atas utang.

وقال قائلون تسمية الحوالة معاوضة محضة غير سديد وتسميتها استيفاء محضاً غير سديد والصحيح أنها متركبة من المعاوضة والاستيفاء فهي معاوضةٌ ضمِّنت استيفاءً واستيفاءٌ بطريق المعاوضة وأقرب شيء شبهاً بها ما لو أخذ مستحق الدين عوضاً عمّا له في ذمة المديون فهذه معاوضة تضمنت استيفاء الحق

Sebagian orang berpendapat bahwa menyebut hawālah (pengalihan utang) sebagai mu‘āwaḍah (pertukaran murni) adalah tidak tepat, dan menyebutnya sebagai istifā’ (pengambilan hak murni) juga tidak tepat. Yang benar, hawālah itu tersusun dari mu‘āwaḍah dan istifā’. Ia adalah mu‘āwaḍah yang di dalamnya terkandung unsur istifā’, dan istifā’ yang dilakukan melalui jalan mu‘āwaḍah. Hal yang paling mirip dengannya adalah jika orang yang berhak atas utang mengambil ganti atas haknya dari tanggungan orang yang berutang; ini adalah mu‘āwaḍah yang di dalamnya terkandung istifā’ atas hak.

وذكر شيخي بعد تزييف محض المعاوضة والاستيفاء قولين عن ابن سريج في حقيقة الحوالة أحدهما أنها معاوضة باستيفاء والثاني أنها ضمان بإبراء فكان هو عن حق المحيل

Syekh saya menyebutkan, setelah menolak pendapat bahwa hawālah murni merupakan akad pertukaran dan pelunasan, dua pendapat dari Ibn Suraij mengenai hakikat hawālah: yang pertama, bahwa hawālah adalah akad pertukaran dengan pelunasan; dan yang kedua, bahwa hawālah adalah jaminan dengan pembebasan, sehingga hak itu berpindah dari pihak muḥīl.

أمّا القول الأوّل فهو الصحيح وحاصل الخلاف أن الغالب على الحوالة معنى المعاوضة ومعنى الاستيفاء فأما تضمنها المعنيين فلا خلاف فيه

Adapun pendapat pertama itulah yang benar, dan inti dari perbedaan pendapat adalah bahwa yang dominan dalam hawālah adalah makna mu‘āwaḍah dan makna istifā’. Adapun mencakup kedua makna tersebut, maka tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.

وأمّا القول الثاني وهو أنّها ضمان بإبراء فليس له معنىً في أصل الحوالة؛ فإن المحتال يملك ما في ذمة المحال عليه في مقابلة ما كان له على المحيل وإنّما تحسن هذه العبارة إذا لم يكن على المحال عليه دين كما سنصف ذلك بعد هذا إن شاء الله تعالى

Adapun pendapat kedua, yaitu bahwa hawālah adalah jaminan dengan pembebasan utang, maka pendapat ini tidak memiliki makna dalam hakikat hawālah itu sendiri; sebab orang yang menerima hawālah (muḥtāl) memiliki hak atas apa yang ada dalam tanggungan pihak yang dialihkan utangnya (muḥāl ‘alayh) sebagai ganti dari apa yang menjadi haknya atas pihak yang mengalihkan utangnya (muḥīl). Ungkapan ini hanya tepat jika pihak yang dialihkan utangnya (muḥāl ‘alayh) tidak memiliki utang, sebagaimana akan kami jelaskan setelah ini insya Allah Ta‘ala.

ثم الأصل في الحوالة الأشخاص الثلاثة الذين ذكرناهم ورضا المحيل والمحتال معتبرٌ أمّا رضا المحيل؛ فإنما اعتبر؛ لأنه مالك الدين على المحال عليه فلا يُسْتَحَقُّ عليه ماله على المحال عليه دون رضاه وأمّا المحتال فحقه ثابت على المحيل فلا يتحول حقُّه دون رضاه والعبارة الجامعة لهما أنهما على مرتبة المعاوضِيْن فلا بد من رضاهما

Adapun dasar dalam hawalah adalah tiga orang yang telah kami sebutkan, dan kerelaan pihak muhil (yang memindahkan utang) dan muhtal (yang menerima pemindahan utang) dianggap sah. Adapun kerelaan muhil dipertimbangkan karena ia adalah pemilik piutang atas pihak muhal ‘alaih (yang menerima beban utang), sehingga tidak boleh diambil haknya atas muhal ‘alaih tanpa kerelaannya. Sedangkan muhtal, haknya tetap atas muhil, sehingga haknya tidak dapat dialihkan tanpa kerelaannya. Ungkapan yang mencakup keduanya adalah bahwa keduanya berada pada posisi dua pihak yang saling bertransaksi (‘iwadh), sehingga kerelaan keduanya menjadi syarat.

وأمّا المحال عليه فالمذهب أنه لا يشترط رضاه؛ لأنه متصرَّفٌ فيه؛ ورضا محل التصرف لا يشترط في المعاملات والمحيل والمحتال متصرفان وقال أبو حنيفة يعتبر رضا المحال عليه وهو اختيار الاصطخري من أصحابنا وهذا ضعيف لا اتجاه له

Adapun pihak yang dipindahkan kepadanya (muhāl ‘alaih), menurut mazhab, tidak disyaratkan kerelaannya; karena ia adalah pihak yang menjadi objek transaksi, dan kerelaan objek transaksi tidak disyaratkan dalam muamalah, sedangkan pemindah (muhīl) dan yang dipindahkan haknya (muhtāl) adalah pelaku transaksi. Abu Hanifah berpendapat bahwa kerelaan pihak yang dipindahkan kepadanya harus dipertimbangkan, dan ini juga merupakan pilihan al-Istikhrī dari kalangan ulama kami, namun pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar.

وممَّا نذكره في تأسيس الكتاب التفصيلُ فيما تجري الحوالة فيه قال

Salah satu hal yang kami sebutkan dalam landasan kitab ini adalah penjelasan rinci mengenai perkara-perkara yang dapat diberlakukan hawālah di dalamnya, sebagaimana dikatakan.

الأئمة يشترط فيما تجري الحوالة فيه أمران أحدهما التجانس بين الدَّيْنين

Para imam mensyaratkan dalam perkara yang dapat dilakukan hawālah terdapat dua hal; salah satunya adalah keseragaman antara dua utang.

والثاني استقرار الدين ولزومُه على ما نصفه

Kedua, penetapan utang dan kewajibannya sebagaimana akan kami jelaskan.

فأمَّا القول في التجانس فلا تصح إحالة الدراهم على الدنانير وإحالة الدنانير على الدراهم وكذلك لا يصح إحالة الصحاح على المكسر وإحالة المكسرة على الصحاح؛ فإن الحوالة إذا اشتملت على ما ذكرناه لم تخل عن عوضٍ للمحيل أو المحتال يستفاد مثله في المعاوضات المحضة وليس في الحوالة معاوضة محضة

Adapun mengenai keseragaman, maka tidak sah mengalihkan utang dalam bentuk dirham kepada dinar, dan mengalihkan utang dalam bentuk dinar kepada dirham. Demikian pula, tidak sah mengalihkan utang dalam bentuk uang logam yang utuh kepada uang logam yang pecahan, atau sebaliknya, mengalihkan utang dalam bentuk uang logam pecahan kepada uang logam yang utuh. Sebab, jika pengalihan utang (hawālah) mencakup hal-hal yang telah disebutkan, maka hal itu tidak lepas dari adanya kompensasi bagi pihak yang mengalihkan atau pihak yang menerima pengalihan, yang serupa dengan pertukaran murni (mu‘āwadah mahdhah), padahal dalam hawālah tidak terdapat pertukaran murni.

وكشْفُ ذلك أن الدين على المحيل إن كان صحاحاً فيستحيل أن يزول الاستحقاق عن صفة الصحة من غير قبضٍ حسِّي؛ فإنه لو قال أبرأتك عن الصحة لم يصح وكذلك عكس هذا فوعد المحتال لا يتحقق قبل القبض الحسي

Penjelasannya adalah bahwa utang atas orang yang mengalihkan (al-muḥīl) jika masih dalam keadaan sah (ṣaḥīḥ), maka mustahil hak untuk menagihnya hilang dari status sah tanpa adanya penerimaan secara nyata (qabḍ ḥissī); sebab jika seseorang berkata, “Aku membebaskanmu dari utang yang sah,” maka hal itu tidak sah, demikian pula sebaliknya, sehingga janji orang yang menerima pengalihan (al-muḥtāl) tidak dianggap sah sebelum adanya penerimaan secara nyata.

ولو كان ما على المحيل حالاً فالإحالة على مؤجل لم تجز؛ لما ذكرناه من الغرض المشعر بحقيقة المعاوضة ولو حكمنا بالصحة لكان معنى الكلام أن يلتزم المحتال تأخيراً لم يكن ولو أحال مؤجّلاً على حالّ المذهب أنه لا يصح؛ لغرض المحتال ومن أصحابنا من قال يجوز ذلك إذا غلّبنا معنى الاستيفاء على الحوالة؛ فإن الدين المؤجَّلَ لا يمتنع تعجيل توفيته فلتكن الإحالة على حالّ بمثابة تعجيل دين مؤجَّل وهذا إن كان يخرّج فعلى تغليب معنى الاستيفاء ولكن يلزم منه تصحيحُ إحالة الصحاح على المكسرة والمكسرة على الصحاح؛ فإن ذلك يجري في الاستيفاء أيضاًً مع الرضا من غير احتياج إلى اعتياض

Jika utang yang ada pada muhil (pihak yang mengalihkan utang) adalah utang yang sudah jatuh tempo, maka pengalihan utang kepada utang yang masih ditangguhkan tidak diperbolehkan; karena alasan yang telah kami sebutkan mengenai tujuan yang menunjukkan hakikat mu‘āwaḍah (pertukaran hak/kewajiban). Jika kami memutuskan keabsahannya, maka makna dari pernyataan tersebut adalah bahwa muḥtāl (penerima pengalihan utang) berkomitmen untuk menunda sesuatu yang sebenarnya tidak ada penundaan. Jika seseorang mengalihkan utang yang masih ditangguhkan kepada utang yang sudah jatuh tempo, menurut mazhab, hal itu tidak sah; karena tujuan muḥtāl. Namun, sebagian ulama kami berpendapat bahwa hal itu boleh jika kita lebih mengutamakan makna istifā’ (pelunasan) daripada ḥawālah (pengalihan utang); karena utang yang masih ditangguhkan tidak terlarang untuk dilunasi lebih awal, maka pengalihan utang kepada utang yang sudah jatuh tempo dianggap seperti mempercepat pelunasan utang yang masih ditangguhkan. Jika hal ini dijadikan dasar, maka atas dasar mengutamakan makna istifā’, namun konsekuensinya adalah membolehkan pengalihan utang yang sah kepada utang yang rusak (tidak sah), dan utang yang rusak kepada utang yang sah; karena hal itu juga berlaku dalam pelunasan dengan kerelaan kedua belah pihak tanpa perlu adanya penggantian.

وكان شيخي ربما يذكر وجهاًً ويقول كلّ ما لا يؤخذ في مقابلة الدين إلا معاوضة فلا تجوز الحوالة عليه وكل ما يؤخذ استيفاء من غير حاجةٍ إلى الرضا فيجوز إحالةُ الدين عليه إذا كان ديناً وكل ما يجوز استيفاؤه ولكن يشترط فيه الرضا ففي جواز الإحالة الخلافُ الذي ذكرناه والظّاهر المنع

Dan guruku terkadang menyebutkan suatu pendapat dan berkata: Segala sesuatu yang tidak diambil sebagai pengganti utang kecuali dengan akad mu‘āwaḍah, maka tidak boleh melakukan ḥawālah atasnya. Segala sesuatu yang diambil sebagai pelunasan tanpa memerlukan kerelaan, maka boleh melakukan ḥawālah utang atasnya jika ia merupakan utang. Segala sesuatu yang boleh diambil pelunasannya tetapi disyaratkan adanya kerelaan, maka dalam kebolehan melakukan ḥawālah atasnya terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan, dan pendapat yang lebih kuat adalah tidak membolehkannya.

وقال العراقيون كل ما هو من ذواتِ الأمثالِ يجوز أن يحال الدين فيه على مثله وما ليس من ذواتِ الأمثالِ إذا فرض دينان مع اتحاد الجنس والنوع فهل تصح الإحالة فيه فعلى وجهين ويمكن تصوير ثبوت العروض والحيوانات في الذمة في القرضِ على وجهٍ ظاهرٍ لا يحتاج إلى ردّ الأمر إلى الحوالة في السلَم

Orang-orang Irak berpendapat bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam kategori benda yang memiliki padanan (dzawāt al-amtsāl) boleh dijadikan objek pengalihan utang dengan benda sejenisnya. Adapun benda yang tidak termasuk dzawāt al-amtsāl, jika terdapat dua utang dengan jenis dan macam yang sama, maka apakah sah pengalihan utang di dalamnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Dapat dibayangkan adanya penetapan barang dagangan dan hewan dalam tanggungan (dzimmah) melalui akad pinjaman dengan cara yang jelas, tanpa perlu mengembalikan perkara tersebut kepada pengalihan dalam akad salam.

هذا قولنا في أحد الوصفين المعتبرين وهو التجانس

Inilah pendapat kami mengenai salah satu dari dua sifat yang dianggap penting, yaitu keserupaan (tajānus).

فأما الوصف الآخر وهو الاستقرار قال الأئمة لا تصح الحوالة على نجم الكتابة ولا بنجم الكتابة كما لا يصح ضمانه

Adapun sifat lainnya, yaitu istikrar (kepastian), para imam berpendapat bahwa tidak sah melakukan hawālah atas cicilan pembayaran kitabah maupun dengan cicilan pembayaran kitabah, sebagaimana tidak sah pula penjaminannya.

وحكى العراقيون وجهاً غريباً عن ابن سريج أنه صحح ضمانَ النجم والحوالةَ به وعليه وهذا يأتي مشروحاً في أول كتاب الضَّمان إن شاء الله

Orang-orang Irak meriwayatkan satu pendapat yang ganjil dari Ibnu Suraij, bahwa ia membenarkan penjaminan terhadap bintang dan pengalihan utang dengannya dan atasnya. Hal ini akan dijelaskan secara rinci di awal Kitab ad-Dhamān, insya Allah.

وقال العراقيون الحوالة على نجم الكتابة فاسدةٌ على ظاهر المذهب فأمَّا إذا أحال المكاتَبُ بالنجم على دينٍ ثابت فهو صحيح؛ لأنَّ الجائز لا يضر أن يكتسب نادراً والذي ذكره القاضي منعُ الحوالة بالنجم وعلى النجم؛ فإن وضع النجوم على الجواز

Orang-orang Irak berpendapat bahwa hawālah atas nashib (cicilan) dalam kitabah adalah tidak sah menurut pendapat mazhab yang zahir. Adapun jika seorang mukātab melakukan hawālah atas nashib kepada utang yang sudah tetap, maka itu sah; karena sesuatu yang boleh tidak mengapa jika terjadi secara jarang. Adapun yang disebutkan oleh al-Qāḍī adalah larangan hawālah atas nashib dan dengan nashib; maka jika penetapan nashib dianggap boleh…

وتحصيل القول في هذا عندنا أن المكاتب يُحيل بالنجم الأخير الذي يحصل العتق به وكذلك يحيل بجميع النجوم دفعة واحدة فأما الإحالة على المكاتب بالنجم الأخير لا يجوز؛ إذ لو قدر جوازُها لما عَتَقَ المكاتَب؛ إذ عتقه يوجب براءَته وإذا برىء فما الذي يؤديه إلى المحتال بخلافِ الحوالة بالنجم ؛ فإن الدين يبقى في ذمة المحال عليه ويعتِق

Penjelasan kami dalam hal ini adalah bahwa seorang mukatab boleh melakukan hawalah (pengalihan utang) dengan nishab (angsuran) terakhir yang menyebabkan ia merdeka, demikian pula ia boleh melakukan hawalah dengan seluruh nishab sekaligus. Adapun melakukan hawalah kepada mukatab dengan nishab terakhir tidak diperbolehkan; sebab jika hal itu dibolehkan, maka mukatab tidak akan merdeka, karena kemerdekaannya menyebabkan ia terbebas dari utang, dan jika ia telah bebas, maka apa yang akan ia bayarkan kepada pihak yang menerima hawalah? Berbeda halnya dengan hawalah pada nishab, karena utang tetap ada dalam tanggungan pihak yang menerima hawalah dan ia tetap merdeka.

هذا ولم يذكر في شرط الحوالة ما لا خفاء به وهو أن تتعلق بدينين ولا يجوز فرضُ عَيْنٍ في أحد الشقين

Selain itu, dalam syarat hawālah tidak disebutkan sesuatu yang sudah jelas, yaitu bahwa hawālah harus berkaitan dengan dua utang dan tidak boleh menetapkan suatu barang (‘ayn) pada salah satu pihak.

ومما يتعلق بأصول الكتاب الحوالة على من لا دين عليه وقد ذكر ابن سريج فيها وجهين أحدهما أنها لا تصح والثاني أنها تصح وخرَّج هذا على تغليب المعاوضة أو الاستيفاء وقال إن قلنا إنها معاوضة لم يصح؛ إذ لا عوض في أحد الشقين وإن قلنا استيفاءٌ صح وكأنَّ من لا دين عليه وفّى الدين على مستحقه وذلك غير ممتنع

Termasuk hal yang berkaitan dengan pokok-pokok kitab ini adalah tentang hawalah (pengalihan utang) kepada orang yang tidak memiliki utang. Ibn Suraij menyebutkan dalam hal ini dua pendapat: yang pertama, hawalah tersebut tidak sah; yang kedua, hawalah tersebut sah. Ia mengaitkan hal ini dengan pertimbangan apakah yang lebih dominan adalah unsur mu‘āwaḍah (pertukaran) atau unsur istifā’ (pengambilan hak). Ia berkata, jika kita katakan bahwa hawalah adalah mu‘āwaḍah, maka tidak sah, karena tidak ada imbalan pada salah satu pihak. Namun jika kita katakan bahwa hawalah adalah istifā’, maka sah, seakan-akan orang yang tidak memiliki utang itu telah melunasi utang kepada yang berhak, dan hal itu tidaklah mustahil.

وهذا كلام مختلط والصحيح عندنا أن يخرّجَ هذا على أصلٍ سيأتي في الضمان وهو أن الأجنبي الذي لا دين عليه لو ضمن ديناً على إنسان على شرط براءة المضمون عنه ففي صحة ذلك وجهان سيأتي ذكرهما والذي نحن فيه بهذه المثابة؛ فإن المحال عليه لا دين عليه وإنما التزم على شرط أن يبرأ من أحال عليه وليس ما نحن فيه مأخوذاً من ذلك بل هو عينه

Ini adalah pernyataan yang bercampur, dan pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa masalah ini dikembalikan kepada suatu kaidah yang akan dijelaskan nanti dalam bab dhamān, yaitu bahwa seorang pihak ketiga yang tidak memiliki utang, jika ia menanggung utang seseorang dengan syarat pihak yang dijamin terbebas dari utang tersebut, maka dalam keabsahan hal itu terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti. Adapun permasalahan yang sedang kita bahas ini serupa dengan itu; karena orang yang dialihkan utangnya (muhāl ‘alayh) tidak memiliki utang, melainkan ia berkomitmen dengan syarat bahwa orang yang mengalihkan utang kepadanya terbebas dari utang tersebut. Permasalahan yang kita bahas ini bukan diambil dari kasus tersebut, melainkan memang sama persis dengannya.

ثم إن قلنا الحوالة على من لا دين عليه باطلةٌ فلا كلام

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa hawālah kepada orang yang tidak memiliki utang adalah batal, maka tidak ada pembahasan lagi.

وإن قلنا صحيحة فقد ذكر العراقيون وجهين في أنها جائزة أو لازمة

Dan jika kita mengatakan sah, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai apakah akad tersebut boleh (tidak mengikat) ataukah mengikat.

أحدهما أنها لازمة ولا يكاد يخفى معناها والثاني أنها جائزة وللمحال عليه الفسخ ولا يتوجه عليه المطالبةُ ولا يتم الأمر ما لم يُسلَّم الدينُ إلى المحال فإذا سلِّم لم يملك الاستردادَ

Pertama, bahwa ia bersifat mengikat dan maknanya hampir tidak samar. Kedua, bahwa ia bersifat boleh, dan pihak yang menerima pengalihan (muhāl ‘alayh) berhak membatalkan, serta tidak dapat dituntut, dan urusan belum sempurna sebelum utang diserahkan kepada pihak yang menerima pengalihan. Jika telah diserahkan, maka tidak berhak lagi untuk menarik kembali.

ووجه الجواز عندي باطل ملغىً لا أصل له؛ إذ لا أثر لقول القائل الحوالة صحيحة ولا مطالبةَ وقولُ هذا القائل إن الغرض يتم بالتوفية لا حاصل له مع العلم بأن أجنبياً لو وفَّى دينَ إنسان وقع الموقع

Menurut saya, alasan kebolehan itu batal dan tidak sah, tidak ada dasarnya; karena tidak ada pengaruh dari ucapan seseorang bahwa hawalah itu sah dan tidak ada tuntutan. Ucapan orang ini bahwa tujuan tercapai dengan pelunasan juga tidak ada maknanya, karena diketahui bahwa jika orang lain yang bukan pihak terkait melunasi utang seseorang, maka itu tetap dianggap sah.

ومما يتفرع على ذلك أن المحالَ عليه إذا لم يكن عليه دين وصححنا الحوالة وألزمناها فقد قطع العراقيون بأنه يملك مطالبة المُحيل بتحصيله قبل أن يغرَم للمحتال

Di antara cabang dari permasalahan tersebut adalah bahwa apabila pihak yang dialihkan (al-muḥāl ‘alayh) tidak memiliki utang, dan kita mengesahkan ḥawālah serta mewajibkannya, maka para ulama Irak secara tegas menyatakan bahwa ia berhak menuntut pihak pengalihan (al-muḥīl) untuk memperoleh (uangnya) sebelum ia membayar kepada pihak yang berhak (al-muḥtāl).

قال الشيخ أبو علي لم يذكر الأصحاب غيرَ ذلك وقطعوا أقوالهم به إلا القفالَ؛ فإنه ذكر لذلك وجهين أحدهما ما ذكرناه والثاني ليس له مطالبةُ المحيل بتحصيله ولكن إذا غرِم المحال عليه للمحتال فنقول إن تقبّلَ الحوالةَ على شرط الرجوع على المحيل فإذا غرم رجع عليه وإذا لم يشترط الرجوعَ فإذا غرِم فهل يرجع فعلى وجهين سيأتي نظيرهما في كتاب الضمان إن شاء الله تعالى

Syekh Abu Ali berkata: Para sahabat tidak menyebutkan selain itu dan mereka menegaskan pendapat mereka dengannya, kecuali al-Qaffal; karena ia menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya adalah apa yang telah kami sebutkan, dan yang kedua adalah bahwa tidak ada hak bagi pihak yang menerima hawalah untuk menuntut pihak yang memindahkan utang agar melunasinya. Namun, jika pihak yang dipindahkan utang kepadanya membayar kepada pihak yang menerima hawalah, maka kami katakan: Jika ia menerima hawalah dengan syarat dapat kembali menuntut kepada pihak yang memindahkan utang, maka jika ia membayar, ia boleh menuntut kembali. Namun jika tidak disyaratkan hak untuk menuntut kembali, maka jika ia membayar, apakah ia boleh menuntut kembali atau tidak, terdapat dua pendapat yang serupa yang akan disebutkan dalam Kitab Dhaman, insya Allah Ta‘ala.

وممّا ذكره العراقيون في تفريع ذلك أن المحال عليه الذي لا دين عليه إذا أبرأه المحتال عمّا التزمه قالوا لا يرجع على المحيل؛ لأنه لم يغرَم شيئاًً

Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama Irak dalam cabang masalah ini adalah bahwa apabila orang yang dipindahi utang (muhāl ‘alayh) yang tidak memiliki utang, kemudian orang yang memindahkan utang (muhtāl) membebaskannya dari kewajiban yang telah disepakati, mereka mengatakan bahwa ia tidak boleh kembali menuntut kepada orang yang memindahkan utang (muhīl); karena ia tidak menanggung kerugian apa pun.

ولو غرِم للمحتال ما التزمه بطريق الحوالة ثم إن المحتالَ وهب عين ما قبضه من المحال عليه فهل يملك المحالُ عليه الرجوع على المحيل فعلى قولين مأخوذين من أصلٍ في كتاب الصداق

Jika pihak yang ditipu telah membayar kepada penipu apa yang telah menjadi tanggungannya melalui akad hawālah, kemudian penipu tersebut memberikan secara hibah barang yang ia terima dari pihak yang dibebani pembayaran, maka apakah pihak yang dibebani pembayaran berhak untuk kembali menuntut kepada pihak yang mengalihkan tanggungan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diambil dari suatu prinsip dalam Kitab al-Shadaq.

وهو أن المرأة لو وهبت صداقها من زوجها ثم طلقها قبل المسيس فهل يرجع عليها بنصف قيمةِ الصّداق أو لا رجوع عليها فعلى قولين مشهورين قال شيخي إذا أصدق امرأته دَيْناً ثم إنها أبرأته فطلقها قبل المسيس وقلنا لو وهبت الصداق قبل الطلاق لم يملك الزوج الرجوع عند الطلاق بشَطر الصداق فإبراؤها بذلك أولى وإن قلنا لو وهبت الصداق قبل الطلاق ملك الزوج الرجوعَ ففي الإبراء قولان ثم قال إبراء المحال عليه الذي لا دين عليه كبراء المرأة زوجَها ورجوعُ المحال عليه على المحيل كرجوع الزوج بنصفِ الصَّداق عند الطلاق

Yaitu, apabila seorang wanita menghibahkan maharnya kepada suaminya, kemudian suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, apakah suami berhak menuntut kembali setengah nilai mahar atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Guru saya berkata: Jika seorang suami memberikan mahar berupa utang kepada istrinya, kemudian istrinya membebaskannya dari utang itu, lalu suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, dan kita berpendapat bahwa jika istri menghibahkan mahar sebelum perceraian maka suami tidak berhak menuntut kembali setengah mahar saat perceraian, maka membebaskan utang itu lebih utama (tidak berhak menuntut kembali). Namun, jika kita berpendapat bahwa jika istri menghibahkan mahar sebelum perceraian maka suami berhak menuntut kembali, maka dalam kasus pembebasan utang terdapat dua pendapat. Kemudian beliau berkata: Membebaskan orang yang dialihkan utangnya (muhāl ‘alayh) yang tidak memiliki utang, seperti istri membebaskan suaminya, dan hak orang yang dialihkan utangnya untuk menuntut kembali kepada pengalih utang (muhīl) adalah seperti hak suami menuntut kembali setengah mahar saat perceraian.

ومما يتعلق بأصولِ الحوالة أنها إذا تمت على شرطها ثم طرأ على المحال عليه إفلاسٌ أو جَحْدٌ للحق ولم يصادف المحتال بيّنةً يُقيمها فلا يرجع على المحيل أصلاً وليس إفلاسُ المحال عليه كإفلاس المشتري بالثمن وقد ذكرنا معتمدَ المذهب في القاعدتين في الأساليب

Termasuk hal yang berkaitan dengan ushul al-hawālah adalah bahwa jika hawālah telah terlaksana sesuai syaratnya, kemudian setelah itu terjadi kebangkrutan pada pihak yang dialihkan utang kepadanya (muhāl ‘alayh) atau ia mengingkari hak tersebut dan pihak yang menerima pengalihan (muhtāl) tidak memiliki bukti yang dapat diajukannya, maka ia sama sekali tidak dapat kembali menuntut kepada pihak yang mengalihkan (muhīl). Kebangkrutan pihak yang dialihkan utang kepadanya tidak sama dengan kebangkrutan pembeli dalam pembayaran harga. Kami telah menyebutkan pendapat yang dipegang oleh mazhab dalam kedua kaidah ini pada bagian sebelumnya.

ولو أحيل على من ظنه غنياً ثم تبين أنه كان عند الحوالة مفلساً فهل يثبت له حق الفسخ والإفلاسُ مقترنٌ بالحوالة فعلى أوجهٍ؛ جمعتها من الطرق أحدها أنه لا خيار؛ فإن الحوالة في وضعها إذا صحت لم تحتمل الفسخ؛ إذ هي قاطعةٌ للعلائق بالكلية والوجه الثاني أنه يَفسخ تداركاً لما لحقه وما كان مطلعاً عليه وليس كالإفلاس الطَّارىء؛ فإنا قد نجعل الحوالة في نفسها بمثابة قبض الحق والطريانُ بعد القبض لا يُثبت الفسخ

Jika seseorang dialihkan piutangnya kepada orang yang ia sangka kaya, lalu ternyata setelah itu diketahui bahwa pada saat pengalihan tersebut orang itu sebenarnya bangkrut, maka apakah ia berhak membatalkan pengalihan itu, sementara kebangkrutan tersebut bersamaan dengan pengalihan? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak ada hak untuk memilih (membatalkan); karena pengalihan (ḥawālah) pada dasarnya, jika telah sah, tidak memungkinkan adanya pembatalan, sebab pengalihan itu memutuskan seluruh hubungan secara total. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia boleh membatalkan untuk mengatasi kerugian yang menimpanya dan yang sebelumnya tidak ia ketahui, dan ini berbeda dengan kebangkrutan yang terjadi setelah pengalihan; karena kita bisa menganggap pengalihan itu sendiri seperti menerima hak, dan kejadian setelah penerimaan tidak menetapkan hak pembatalan.

فأما إذا اطّلع القابض على عيب قديم فالذي تمهد في الشرع ثبوت الفسخ ومن أصحابنا من قال إذا كانت الحوالة مُطلقة فلا خيار وإن جرى فيها شرطُ مَلاءة المحال عليه ثم اختلف الشرط فيثبت الفسخ إذ ذاك؛ فإن الحوالة أُنشئت على اقتضاء الدين فيجب الوفاءُ بموجبها فإن قيل هل صار إلى نفي الخيار مع الشرط وإخلافه أحدٌ من الأصحاب قلنا نعم ذهب إليه ذاهبون فصاروا إلى حسم الفسخ وإلغاء الشرط حكاه العراقيون

Adapun jika penerima mengetahui adanya cacat lama, maka yang telah ditetapkan dalam syariat adalah tetapnya hak fasakh (pembatalan). Di antara ulama mazhab kami ada yang berpendapat bahwa jika hawalah (pengalihan utang) dilakukan secara mutlak, maka tidak ada hak memilih (khiyar). Namun, jika dalam hawalah tersebut disyaratkan adanya kecukupan (malā’ah) pada pihak yang dialihkan utangnya, lalu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka hak fasakh menjadi tetap pada saat itu; karena hawalah dibuat untuk menagih utang, maka wajib dipenuhi sesuai ketentuannya. Jika ada yang bertanya, “Apakah ada di antara ulama mazhab yang meniadakan hak memilih meskipun ada syarat dan syarat tersebut tidak terpenuhi?” Kami katakan, “Ya, ada sebagian yang berpendapat demikian, sehingga mereka menutup kemungkinan fasakh dan mengabaikan syarat tersebut.” Hal ini diriwayatkan oleh para ulama Irak.

وتردُّدُ الأصحابِ في قبول الحوالة الفسخَ عند الاطلاع على فلس المحال عليه يقرب من ترددهم في أن الحوالة هل يلحقها خيار المجلس والشرط وفيه خلافٌ قدمته في أول البيع مبنيٌّ على أن حكم المعاوضة أغلبُ على الحوالة أم حكم الاستيفاء وفيه الخلاف الذي مهدناه الآن

Keraguan para ulama dalam menerima pembatalan hawalah ketika diketahui bahwa pihak yang dialihkan hutangnya bangkrut, hampir sama dengan keraguan mereka tentang apakah hawalah dapat dikenai khiyar majelis dan khiyar syarat. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya kemukakan di awal pembahasan jual beli, yang didasarkan pada apakah hukum mu‘awadhah (pertukaran) lebih dominan pada hawalah atau hukum istifa’ (pengambilan hak), dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami jelaskan sekarang.

فرع

Cabang

إذا كان الدين على المحيل مؤجَّلاً وكذلك على المحال عليه واستوى الأجلان في مقدارهما صحت الحوالة فلو مات المحيل فلا يَحِل الدين بموته؛ فإنه قد تحول الدَّين عن ذمته ولو مات المحال عليه فيحل الدين حينئذ؛ س فإنه المديون الآن ذكره العراقيُّون وغيرُهم ولا خفاء به ولكني أحببتُ نقله منصوصاً

Jika utang pada pihak yang mengalihkan (al-muḥīl) bersifat tangguhan, demikian pula pada pihak yang dialihkan kepadanya (al-muḥāl ‘alayh), dan kedua tenggat waktu tersebut sama lamanya, maka pengalihan utang (ḥawālah) itu sah. Jika pihak yang mengalihkan (al-muḥīl) meninggal dunia, maka utang tidak menjadi jatuh tempo karena kematiannya; sebab utang itu telah berpindah dari tanggungannya. Namun, jika pihak yang dialihkan kepadanya (al-muḥāl ‘alayh) meninggal dunia, maka utang menjadi jatuh tempo saat itu juga; karena dialah yang kini menjadi pihak yang berutang. Hal ini disebutkan oleh para ulama Irak dan lainnya, dan tidak ada keraguan di dalamnya, namun aku ingin menukilkannya secara tekstual.

بابٌ في مَسائِلَ

Bab tentang beberapa masalah

قال المزني تحريتُ فيها معنى قول الشافعي رضي الله عنه فمن ذلك لو اشترى عبداً بألف درهم إلى آخره

Al-Muzani berkata, “Aku berusaha mencari makna dari perkataan asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu dalam masalah ini. Di antaranya adalah, jika seseorang membeli seorang budak dengan harga seribu dirham, dan seterusnya.”

صورة المسألة أنه إذا باع عبداً من رجل بألفِ درهم وأحال المشتري البائعَ على رجلٍ بالثمن ثم اطلع على عيبٍ قديم بالعبد فرده فالذي نص عليه المزني هاهنا أن الحوالة ترتد وتبطل ونص في المختصر الكبير أنها لا تبطل ومنصوصات المزني في مجال التحرِّي معدودةٌ من مَتْن المذهب وهي عند المصنفين كنصوص الشافعي فالذي ذهب إليه الجمهور تخريجُ المسألة على قولين مخرّجين مبنيين على أن الغلبةَ للمعاوضة أو للاستيفاء فإن جعلناها معاوضة لم نبطلها كما لو اعتاض البائع عن الثمن ثوباًً اعتياضاً صحيحاً ثم وجد المشتري بالعبد المشترَى عيباً فردّه فلا يرتد ما جرى من الاعتياض عن الثمن فلتكن الحوالة كذلك بل الحَوالة أولى بألا تنفسِخ؛ فإنها بعيدةٌ عن قبولِ الفسخ

Gambaran masalahnya adalah apabila seseorang menjual seorang budak kepada orang lain seharga seribu dirham, lalu pembeli mengalihkan penjual kepada seseorang untuk menerima pembayaran harga tersebut, kemudian diketahui adanya cacat lama pada budak itu sehingga budak tersebut dikembalikan, maka menurut pendapat yang dinyatakan oleh al-Muzani di sini, pengalihan (hawālah) itu batal dan gugur. Namun, dalam al-Mukhtashar al-Kabir dinyatakan bahwa pengalihan itu tidak batal. Pendapat-pendapat al-Muzani dalam bidang penelitian dianggap sebagai bagian dari inti mazhab, dan di kalangan para penulis dianggap seperti pendapat-pendapat Imam Syafi‘i. Maka, pendapat mayoritas ulama adalah membangun masalah ini atas dua pendapat yang diturunkan, yang didasarkan pada apakah yang lebih dominan adalah aspek pertukaran (mu‘āwadah) atau aspek pelunasan (istifā’). Jika kita menganggapnya sebagai pertukaran, maka kita tidak membatalkannya, sebagaimana jika penjual menerima barang lain sebagai pengganti harga secara sah, kemudian pembeli menemukan cacat pada budak yang dibelinya dan mengembalikannya, maka apa yang telah terjadi dari pertukaran harga tidak kembali, demikian pula pengalihan (hawālah) seharusnya demikian. Bahkan, pengalihan (hawālah) lebih utama untuk tidak dibatalkan, karena ia jauh dari kemungkinan untuk dibatalkan.

وإن جعلنا الحوالة استيفاءً بطلت؛ لأنها نوعُ رِفقٍ في الاستيفاء فإذا بطل الأصلُ بطل الرِّفْق الذي كان تبعاً له كما لو باع بألفٍ مكسرٍ فقضاه المشتري صِحاحاً ثم رد المبيعَ بالعيب فإنه يسترد الصحاح وليس للبائع أن يقول أغرَم المكسرَ ليسلم لي ما سمحتَ به من الصحة؛ لما ذكرناه في التبعية ولو اشترى بالصحاح أولاً ثم رضي البائع بالمكسر فإذا ردّ المشتري بالعيبِ فلا يرجع إلا بالمكسر

Jika kita menganggap hawālah sebagai pelunasan, maka hawālah menjadi batal; karena ia merupakan bentuk keringanan dalam pelunasan, sehingga apabila pokoknya batal, maka keringanan yang mengikutinya juga batal, sebagaimana jika seseorang menjual dengan harga seribu dalam bentuk uang pecahan, lalu pembeli melunasinya dengan uang utuh, kemudian barang yang dijual dikembalikan karena cacat, maka penjual harus mengembalikan uang utuh tersebut, dan penjual tidak boleh berkata, “Aku menanggung uang pecahan agar aku bisa mendapatkan kelebihan dari uang utuh yang engkau berikan,” karena hal itu mengikuti pokoknya. Dan jika sejak awal pembelian dilakukan dengan uang utuh, lalu penjual rela menerima uang pecahan, kemudian pembeli mengembalikan barang karena cacat, maka penjual hanya berhak menerima uang pecahan.

ومن أصحابنا من قال إن جرى فسخُ البيع قبل قبض المبيع ارتفعت الحوالة فإن جرى الفسخ بعد القبض لم ترتفع وهذا القائل يفصل بين الحالتين بتعرض البيع لقبول الفسخ قبل القبض وهذا مزيفٌ والأصل إطلاق القولين قبل القبض وبعده

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jika pembatalan jual beli terjadi sebelum penerimaan barang, maka hawālah menjadi batal; namun jika pembatalan terjadi setelah penerimaan barang, maka hawālah tidak batal. Pendapat ini membedakan antara dua keadaan dengan alasan bahwa jual beli masih dapat dibatalkan sebelum penerimaan barang. Namun, pendapat ini dianggap lemah, dan yang menjadi dasar adalah bahwa kedua pendapat tersebut berlaku baik sebelum maupun setelah penerimaan barang.

وكان شيخي يقول في التفريع على هذه القاعدة ولو أحال المشتري البائعَ بالثمن على إنسانٍ في زمن الخيار الثابت في البيع فالأصح صحةُ الحوالة وإن كان العقد جائزاً بخلاف الحوالة في تجويز الكتابة؛ فإن عقد البيع وما فيه من عوضٍ لا يلتحق بالأعواض الجائزة التي لا ثبات لها والخيار طارىء فيه فإذا أفضى في العاقبة إلى اللزوم كان الحكم على موجب اللزوم

Guru saya biasa mengatakan dalam penjabaran kaidah ini: Seandainya pembeli mengalihkan penjual kepada seseorang untuk menerima pembayaran harga barang pada masa khiyār yang masih berlaku dalam jual beli, maka pendapat yang paling sahih adalah bahwa hawālah (pengalihan utang) tersebut tetap sah, meskipun akad jual belinya masih bersifat jaiz (boleh dibatalkan). Hal ini berbeda dengan hawālah dalam akad kitābah (pembebasan budak dengan pembayaran bertahap), karena akad jual beli dan kompensasi di dalamnya tidak dapat disamakan dengan kompensasi yang sifatnya jaiz dan tidak tetap. Khiyār itu sendiri adalah sesuatu yang datang kemudian (bukan bagian pokok akad), sehingga jika pada akhirnya akad tersebut menjadi lazim (mengikat), maka hukum yang berlaku adalah hukum sesuai dengan kelaziman tersebut.

ومن أصحابنا من منع الحوالة في زمان الخيار مَنْعَ ضمان النجوم ثم قال إذا صححنا الحوالة في زمان الخيار ففُسخ البيعُ بالخيار ارتدّت الحوالة بلا خلاف؛ فإنها إنما صحت على تقدير إفضاء البيع إلى اللزوم فإذا لم يُفضِ إليه فلا سبيل إلى التزام الحوالة في الثمن وقطع الخيار في المبيع

Sebagian ulama dari kalangan kami melarang hawalah (pengalihan utang) pada masa khiyar, sebagaimana larangan terhadap penjaminan an-nujūm (pembayaran bertahap). Kemudian mereka berkata: Jika kami membolehkan hawalah pada masa khiyar, lalu akad jual beli dibatalkan karena khiyar, maka hawalah tersebut otomatis batal tanpa ada perbedaan pendapat; sebab hawalah itu hanya sah dengan syarat jual beli berakhir pada status wajib (lazim). Jika tidak berakhir pada status tersebut, maka tidak ada jalan untuk menetapkan kewajiban hawalah atas harga (tsaman) dan memutuskan hak khiyar atas barang yang dijual (mabi‘).

التفريع على القولين في صورة الرد بالعيب

Penjabaran berdasarkan dua pendapat dalam kasus pengembalian barang karena cacat

فإن قلنا لا تبطل الحوالة فالمشتري هل يرجع على البائع بما أحاله نُظر إن كان البائع قبضه فلا شك أنه يرجع عليه ولا يتعين عينُ ما قبضه فإن أحبّ أتى ببدلٍ عنه وتعليله بيّن

Jika kita mengatakan bahwa hawalah tidak batal, maka apakah pembeli dapat menuntut kembali kepada penjual atas apa yang telah dialihkan kepadanya? Hal ini perlu diteliti: jika penjual telah menerima (pembayaran tersebut), maka tidak diragukan lagi bahwa pembeli dapat menuntut kembali kepadanya, dan tidak harus berupa barang yang sama persis dengan yang telah diterimanya; jika ia mau, ia dapat menggantinya dengan yang lain, dan alasannya jelas.

وان لم يكن قبض البائع من المحال عليه فهل يرجع المشتري على البائع فعلى وجهين أقيسهما أنه يرجع؛ لأن الحوالة أقيمت مقام الإقباض في وضعها بل هي أقوى من الإقباض؛ فإن القبض قد يُنقض والحوالةُ بعيدةٌ عن قبول النقض

Dan jika penjual belum menerima pembayaran dari pihak yang dialihkan kepadanya (muhāl ‘alayh), maka apakah pembeli dapat kembali menuntut penjual? Ada dua pendapat dalam hal ini, dan yang lebih sesuai dengan qiyās adalah bahwa pembeli boleh kembali menuntut penjual; karena hawālah (pengalihan utang) ditempatkan sebagai pengganti penyerahan pembayaran dalam ketentuannya, bahkan hawālah lebih kuat daripada penyerahan pembayaran; sebab penyerahan pembayaran masih mungkin dibatalkan, sedangkan hawālah jauh dari kemungkinan pembatalan.

والثاني لا يرجع عليه؛ لأن الاسترداد على حسب الإقباض وهو لم يقبضه حساً فكيف يسترد منه حساً بل سبيل الاسترداد أن يقع إذا حصل القبض الحقيقي

Yang kedua, tidak dapat diminta kembali darinya; karena pengembalian itu mengikuti penyerahan, sedangkan ia belum menerimanya secara nyata, maka bagaimana mungkin diminta kembali secara nyata darinya? Bahkan, cara pengembalian itu hanya terjadi apabila telah terjadi penerimaan yang sebenarnya.

ثم إن قلنا الحوالة باقية فلا شك أن البائع يطالب المحال عليه بتوفية مال الحوالة فلو أبرأه على هذا فيضمن حينئذ للمشتري الثمنَ؛ فإنَّ إبراءه بمثابة استيفائه

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa hawālah tetap berlaku, maka tidak diragukan lagi bahwa penjual menuntut pihak yang dialihkan (muhāl ‘alayh) untuk melunasi uang hawālah. Maka jika penjual membebaskannya (muhāl ‘alayh) dari kewajiban tersebut, pada saat itu penjual wajib menjamin harga (barang) kepada pembeli; karena membebaskannya itu sama dengan telah menerima pembayaran.

وممّا ينشأ من ذلك أنا إذا قلنا لا يرجع المشتري على البائع قبل قبض مال الحوالة فهل يملك مُطالبتَه بمُطالبة المحال عليه أم لا من أصحابنا من قال يملك مُطالبتَه على النحو الذي ذكره؛ لأن البائع مالكٌ لمطالبة المحال عليه فيبعد أن يمتلك البائع ذلك من جهة المشتري ولا يثبت للمشتري أصلُ توجيهِ المطالبةِ ومن أصحابنا من قال لا يملك المشتري الرجوعَ بالثمن ولا المطالبةَ بتحصيله وهذا بعيدٌ جداً

Di antara hal yang timbul dari permasalahan ini adalah, apabila kita mengatakan bahwa pembeli tidak dapat menuntut penjual sebelum menerima uang hawalah, maka apakah pembeli berhak menuntut penjual dengan menuntut pihak yang dialihkan (muhāl ‘alayh) atau tidak? Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa pembeli berhak menuntutnya sebagaimana telah disebutkan; karena penjual adalah pemilik hak untuk menuntut pihak yang dialihkan, sehingga tidak masuk akal jika penjual memiliki hak tersebut dari pihak pembeli, namun pembeli sendiri tidak memiliki dasar untuk mengajukan tuntutan. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami juga berpendapat bahwa pembeli tidak berhak menuntut kembali harga (barang) maupun menuntut penagihannya, dan pendapat ini sangatlah jauh (dari kebenaran).

وإن حكمنا بأن الحوالة تنتقض برد المبيع فإنْ كان قبض المال قبل الرد فهل نحكم بأنتقاض الحوالة الآن وفائدةُ ذلك أن يتعين على البائع ردُّ عين ما قبضه أم نحكم بأن الحوالة لا تقبل النقضَ بعد قبض المال من المحال عليه فعلى وجهين وفائدة قولنا لا تنتقض أن البائع لو أراد أن يأتي ببدَلٍ عما قبضه ولا يردّ عينَه كان له ذلك ولو لم يقبض البائع المالَ من المحال عليه حتى حكمنا بارتفاع الحوالة فلا شك أن المطالبة تنقطع عن البائع وينقلب الدّينُ في ذمة المحال عليه بعد الحكم بانفساخ الحوالة فلا شك أنه لا يقع قبضُه لنفسه ولكن هل يقع عن المشتري

Jika kita memutuskan bahwa hawālah (pengalihan utang) batal karena adanya pengembalian barang yang dijual, maka jika uang telah diterima sebelum pengembalian tersebut, apakah kita memutuskan bahwa hawālah batal saat ini? Manfaat dari keputusan ini adalah bahwa penjual wajib mengembalikan barang yang sama persis dengan yang telah diterimanya. Ataukah kita memutuskan bahwa hawālah tidak dapat dibatalkan setelah uang diterima dari pihak yang dialihkan utangnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Manfaat dari pendapat yang menyatakan hawālah tidak batal adalah bahwa jika penjual ingin mengganti barang yang telah diterimanya dengan barang lain dan tidak mengembalikan barang yang sama, maka ia boleh melakukannya. Namun, jika penjual belum menerima uang dari pihak yang dialihkan utangnya hingga kita memutuskan bahwa hawālah telah gugur, maka tidak diragukan lagi bahwa tuntutan terhadap penjual terputus dan utang beralih menjadi tanggungan pihak yang dialihkan utangnya setelah diputuskan hawālah batal. Maka tidak diragukan lagi bahwa penerimaan uang tersebut bukan untuk dirinya sendiri, tetapi apakah penerimaan itu dianggap untuk pembeli?

فعلى وجهين ذكرهما شيخي أحدهما وهو الذي لا يتجه غيرُه أنه لا يصح قبضُه للمشتري؛ فإن الحوالة لم تقع للمشتري وإنما وقعت للبائع فإذا انفسخت وزالت لم يبق لها أثر ويستحيل أن تنعكس الحوالة وكالةً بالاستيفاء

Ada dua pendapat yang disebutkan oleh guruku; salah satunya—dan tidak ada pendapat lain yang lebih tepat selain ini—adalah bahwa pembeli tidak sah melakukan qabd (pengambilan) atasnya, karena hawalah (pengalihan utang) tidak terjadi untuk pembeli, melainkan terjadi untuk penjual. Maka jika hawalah itu batal dan hilang, tidak ada lagi pengaruhnya, dan mustahil hawalah itu berubah menjadi wakalah (perwakilan) dalam penagihan.

والوجه الثاني أن قبضه يصح عن المشتري؛ فإنه جرى الأمر بالقبض على جهةٍ فإن بطلت تلك الجهة بقي الأمر المطلق وهذا بعيد

Pendapat kedua adalah bahwa penyerahan itu sah atas nama pembeli; sebab perintah untuk melakukan penyerahan telah dilakukan atas suatu dasar tertentu, maka jika dasar tersebut batal, yang tersisa adalah perintah secara mutlak, dan hal ini dianggap jauh (tidak kuat).

وكان شيخي أبو محمد يقرّب هذا الاختلاف من أصلٍ بعيد عن وضع المعاملاتِ وهو أن من تحرّم بصلاة الظهر قبل الزوال وحكمنا بأن صلاته لم تنعقد فرضاً فهل يُقضى بأنعقادها نفلاً فعلى قولين أجريناهما في هذه المسألة وفي نظائرَ لها

Dan guruku, Abu Muhammad, mendekatkan perbedaan pendapat ini dengan suatu asal yang jauh dari konteks muamalah, yaitu: barang siapa yang melakukan ihram untuk shalat Zuhur sebelum waktu zawal, lalu kami memutuskan bahwa shalatnya tidak sah sebagai shalat fardhu, maka apakah diputuskan bahwa shalatnya sah sebagai shalat sunnah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang kami terapkan juga dalam masalah ini dan dalam permasalahan-permasalahan serupa lainnya.

ولو أصدق الرجل امرأته ديناً ثم أحالها زوجها بصداقها على إنسان وطلقها قبل المسيس فهذا في نصف الصداق يناظر ما لو أحال المشتري البائعَ بالثمن فهل يُحكم ببُطلان الحوالة في نصف الصَّداق اختلف أصحابنا على طريقين منهم من أجراه على القولين المذكورين في البيع ومنهم من قطع القول بأنّ الحوالة لا تبطل؛ وذاك لأن الطلاق ليس بفسخٍ في الحقيقة بل هو تصرف في الملك وليس كذلك الرد بالعيب والصداق في الجملة أثبت من غيره ولهذا قلنا إن الصداق إذا زاد في يد الزوجة زيادةً متصلة منعت تلك الزيادةُ ارتدادَ النصف عند الطلاق قبل المسيس ولا تمنع الزيادةُ نفوذَ شيء من الفسوخ ولو كان الصّداق يرتد إلى الزوج بسبب فسخ من الفسوخ فالقول في الحوالة كالقول في العقد الذي يطرأ عليه الرد بالعيب ولا فرق وإنما التردد في الطلاق

Jika seorang laki-laki menjadikan mahar istrinya sebagai utang, kemudian suaminya mengalihkan istrinya untuk menagih mahar tersebut kepada seseorang, lalu ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka dalam setengah mahar, kasus ini serupa dengan jika pembeli mengalihkan penjual kepada pihak lain untuk menagih harga barang. Apakah pengalihan (ḥawālah) dianggap batal pada setengah mahar? Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam dua pendapat: sebagian dari mereka mengaitkannya dengan dua pendapat yang telah disebutkan dalam masalah jual beli, dan sebagian lagi secara tegas berpendapat bahwa pengalihan tidak batal. Hal ini karena talak pada hakikatnya bukanlah pembatalan (fasakh), melainkan tindakan terhadap kepemilikan, berbeda dengan pengembalian barang karena cacat. Secara umum, mahar lebih kuat kedudukannya dibandingkan yang lain. Oleh karena itu, kami mengatakan bahwa jika mahar bertambah di tangan istri dengan tambahan yang menyatu, maka tambahan tersebut mencegah kembalinya setengah mahar saat talak sebelum terjadi hubungan suami istri, dan tambahan itu tidak mencegah berlakunya salah satu bentuk pembatalan (fasakh). Seandainya mahar kembali kepada suami karena salah satu bentuk pembatalan, maka hukum pengalihan sama dengan hukum akad yang kemudian terjadi pengembalian karena cacat, tidak ada perbedaan. Hanya saja, keraguan itu terjadi pada kasus talak.

ولو باع الرجل عبداً بألفٍ ثم أحال البائع رجلاً له عليه مثلُ الثمن فأحاله على المشتري ثم وجد المشتري بالعبد عيباً فرده فالأظهر في هذه الصورة أن الحوالة لا تنفسخ؛ لأنها تعلقت بثالثٍ؛ إذْ تحقق تعلقُها بغير المتعاقدَيْن

Jika seseorang menjual seorang budak seharga seribu, kemudian penjual mengalihkan (piutang) seseorang yang memiliki utang sebesar harga tersebut kepadanya, lalu ia mengalihkan orang itu kepada pembeli, kemudian pembeli menemukan cacat pada budak tersebut dan mengembalikannya, maka pendapat yang lebih kuat dalam kasus ini adalah bahwa hawālah (pengalihan utang) tidak batal; karena hawālah tersebut berkaitan dengan pihak ketiga, yaitu benar-benar terkait dengan selain kedua pihak yang berakad.

ومن أصحابنا من أعاد ذكرَ الخلاف في هذه الصورة وجعل الحوالة على المشتري كإحالة المشتري البائع على إنسان وعلل بأن الحوالة وإن تعلقت باستحقاق ثالثِ؛ فإنها تبعٌ للبيع والتبعية لا تزول وهذا وإن كان منقاساً فهو غريب حكاه العراقيون والقاضي وغيرُهم

Sebagian dari ulama kami mengulang penyebutan perbedaan pendapat dalam kasus ini dan menyamakan hawalah atas pembeli dengan pembeli yang mengalihkan penjual kepada seseorang, serta beralasan bahwa meskipun hawalah terkait dengan hak pihak ketiga, ia tetap merupakan turunan dari jual beli dan sifat turunan tersebut tidak hilang. Pendapat ini, meskipun sesuai dengan qiyās, namun merupakan pendapat yang asing yang diriwayatkan oleh para ulama Irak, al-Qadhi, dan selain mereka.

وإذا وقع التفريع على الأصح وهو أن الحوالة تبقى ولا تنفخس فإذا فسخ المشتري العقدَ بالرد وكان غرِم للمحتال فلا شك أنه يرجع على البائع وإن لم يكن غرِم فعلى وجهين أحدهما أنه لا يرجع عليه؛ فإنه لم يغرَم بعدُ شيئاًً والثاني أنه يرجع عليه فإنَّ الاستحقاق قد تأكد عليه وحسابه مع المحتال لا يتعلق به حكم العقد؛ إذ لو كان تتعلق الحوالة بالعقد لارتفعت بارتفاع العقد

Jika dilakukan penjabaran berdasarkan pendapat yang paling sahih, yaitu bahwa hawalah tetap berlaku dan tidak batal, maka apabila pembeli membatalkan akad dengan pengembalian (barang), dan ia telah membayar kepada pihak yang menerima hawalah, tidak diragukan lagi bahwa ia berhak kembali kepada penjual. Namun, jika ia belum membayar, terdapat dua pendapat: pertama, ia tidak berhak kembali kepada penjual karena ia belum menanggung kerugian apa pun; kedua, ia berhak kembali kepada penjual karena hak kepemilikan telah dipastikan atas dirinya, dan perhitungannya dengan pihak yang menerima hawalah tidak berkaitan dengan hukum akad; sebab, jika hawalah berkaitan dengan akad, maka ia akan gugur seiring gugurnya akad.

فصل

Bab

قال المزني ولو أحال رجل على رجلٍ بألفِ درهم وضمنها ثم اختلفَا إلى آخره

Al-Muzani berkata: “Seandainya seseorang mengalihkan piutang kepada orang lain sebesar seribu dirham dan ia menjaminnya, kemudian keduanya berselisih, dan seterusnya.”

إذا كان لرجل على رجلٍ دينٌ وكان للمديون دينٌ على آخر يماثل الدينَ الأول فأمر المديونُ مستحقَّ الدين بقبض ذلك الدين ثم اختلفا فادّعى أحدهما أن الذي جرى حوالة وادّعى الآخر أنه لم يجر إلا وَكالة نُظر فإن قال الآمر قد قلت لك وكلتُك بقبض ما لي على فُلان أو قلت اقبض ما لي عليه ونويتُ الوَكالة وقال المأمور لا بل قلتَ لي أحلتك أو قلت اقبض ما عليه ونويتَ الحوالة فالقول قَولُ الآمر؛ لأن الأصلَ أنْ لا حوالة وأنّ ملكَه باقٍ في ذمّة ذلك الثالث

Jika seseorang memiliki utang pada orang lain, dan orang yang berutang tersebut juga memiliki piutang pada orang ketiga yang nilainya sama dengan utang pertama, lalu orang yang berutang memerintahkan pihak yang berhak menerima utang untuk mengambil piutangnya itu, kemudian keduanya berselisih—salah satu dari mereka mengklaim bahwa yang terjadi adalah hawālah, sementara yang lain mengklaim bahwa yang terjadi hanyalah wakālah—maka hal ini perlu diteliti. Jika pihak yang memerintah berkata, “Aku telah mengatakan kepadamu: Aku mewakilkanmu untuk mengambil piutangku dari si Fulan,” atau berkata, “Ambillah piutangku darinya,” dan ia berniat melakukan wakālah, sedangkan pihak yang diperintah berkata, “Tidak, justru engkau mengatakan kepadaku: Aku mengalihkan utang itu kepadamu,” atau berkata, “Ambillah piutang darinya,” dan ia berniat melakukan hawālah, maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang memerintah. Sebab, pada dasarnya tidak ada hawālah, dan hak miliknya tetap berada pada tanggungan orang ketiga tersebut.

وإنما يثور هذا الخلاف إذا كان المحال عليه موسراً وكان استيفاءُ الدين منه أيسر

Perbedaan pendapat ini baru muncul apabila pihak yang dialihkan utangnya (muhāl ‘alayh) adalah orang yang mampu, dan penagihan utang darinya lebih mudah.

فإن جرى النزاعُ كما ذكرناه فالقولُ قول الآمر كما وصفناه ثم إن صدقنا الآمر فلا يخلو إمّا إنْ قبض المأمور أو لم يقبض فإن لم يكن قبض قبَّضه الآمر وإن كان قبض نُظر فإن كان قائماً استردّه من المأمور إن كان حقُّه مُؤجَّلاً وإن كان حقُّ المأمور حالاً فقد ظفر بجنس حقه وإن عسر عليه استيفاء جنس حقه منَ الآمر فازَ بما قبضه وإن لم يعسر ردّ عليه ما قبضه وطالبه بحقه

Jika terjadi perselisihan sebagaimana telah kami sebutkan, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang memberi perintah sebagaimana telah kami jelaskan. Kemudian, jika kita membenarkan pihak yang memberi perintah, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah pihak yang diperintah telah menerima (barang) atau belum. Jika belum menerima, maka pihak yang memberi perintah menyerahkan (barang) tersebut kepadanya. Jika sudah menerima, maka dilihat lagi: jika barang tersebut masih ada, maka barang itu diambil kembali dari pihak yang diperintah jika haknya masih ditangguhkan. Namun jika hak pihak yang diperintah sudah jatuh tempo, maka ia telah mendapatkan barang sejenis dengan haknya. Jika ia kesulitan mendapatkan barang sejenis haknya dari pihak yang memberi perintah, maka ia berhak atas apa yang telah diterimanya. Namun jika tidak ada kesulitan, maka ia harus mengembalikan apa yang telah diterimanya dan menuntut haknya.

ولو كان قبض وتلف في يده فالآمر لا يُطالبُه بالضّمان؛ من قِبَل أنه اعترف بكونه وكيلاً قابضاً له على حكم الوكالة ولم ينسبه إلى تفريطٍ مضمِّن والتجاحُد جرى بعد التلف فلا يتضمن عكس الضّمان على ما تقدم والمأمور لا يطالب الآمرَ بحقه؛ فإنه اعترف بسقوط حقه بالحوالة فتنقطع الطَّلبة من الجانبين بسببين

Jika barang telah diterima dan kemudian rusak di tangannya, maka pihak yang memerintah tidak dapat menuntutnya untuk mengganti kerugian; karena ia telah mengakui bahwa dirinya hanyalah wakil yang menerima barang tersebut berdasarkan hukum wakalah dan tidak menisbatkan kerusakan itu pada kelalaian yang mewajibkan ganti rugi, serta pengingkaran terjadi setelah kerusakan sehingga tidak mengandung kewajiban ganti rugi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Sementara pihak yang diperintah juga tidak dapat menuntut haknya kepada pihak yang memerintah; karena ia telah mengakui bahwa haknya gugur karena adanya hawalah, sehingga tuntutan dari kedua belah pihak terputus karena dua sebab tersebut.

ولو اختلفا وما كان قبض فالقول قول الآمر في نفي الحوالة؛ كما ذكرناه والمأمور لما ادّعى الحوالة فقوله يتضمن الانعزالَ عن الوَكالة والوكيل إذا ذكر ما يوجب عزلَه لم يكن له أن يقبض

Jika keduanya berselisih dan belum terjadi penyerahan (qabḍ), maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang memberi perintah (āmir) dalam menafikan adanya ḥawālah, sebagaimana telah kami sebutkan. Adapun pihak yang diperintah (ma’mūr), ketika ia mengklaim adanya ḥawālah, maka pernyataannya itu mengandung makna pemutusan dari status wakālah. Seorang wakil (wakīl), apabila menyebut sesuatu yang menyebabkan ia diberhentikan, maka ia tidak berhak menerima (qabḍ).

فإذا تعذر على المأمور استيفاءُ حقه من المحال عليه لما ذكرناه فهل له مُطالبة المحيل الآمر فعلى وجهين في طريقة العراقيين أحدهما ليس له ذلك؛ فإن المأمور يُقرّ بأن ذمة الآمِر قد برئت وتحوّل دينُه والوجه الثاني له المطالبة؛ فإنه تعذّر على المأمور حقُّه من جهة المحيل الآمِر؛ فهو الذي عسَّر عليه الحوالة وهو معترفٌ

Jika orang yang diperintah (mā’mūr) mengalami kesulitan untuk memperoleh haknya dari pihak yang dialihkan kepadanya (muhāl ‘alayh) karena alasan yang telah disebutkan, maka apakah ia berhak menuntut pihak yang mengalihkan (muhīl/āmir)? Dalam metode ulama Irak, terdapat dua pendapat: Pertama, ia tidak berhak menuntut; karena orang yang diperintah mengakui bahwa tanggungan pihak yang memerintah telah bebas dan utangnya telah berpindah. Pendapat kedua, ia berhak menuntut; karena orang yang diperintah mengalami kesulitan memperoleh haknya dari pihak yang mengalihkan (āmir), sehingga pihak inilah yang menyebabkan kesulitan dalam pelaksanaan hawālah, dan ia pun mengakuinya.

ولو كان الاختلاف على العكس فقال الآمر أحلتك وقال المأمور بل وكلتني فالقول في نفي الحوالة قولُ المأمورِ؛ فإنّ الآمرَ يبغي بما ذكره سُقوطَ حقِّ المأمور عن ذمته والأصل بقاءُ حقه وهذا في الغَالب يتفق حيث يكون المحال عليه معسراً والآمر يطلب نفيَ الطَّلِبة عن نفسه

Jika perbedaannya sebaliknya, yaitu pihak yang memerintah berkata, “Aku telah mengalihkan (hakmu),” sedangkan pihak yang diperintah berkata, “Justru engkau telah mewakilkan kepadaku,” maka dalam menafikan terjadinya hawālah, yang dipegang adalah pernyataan pihak yang diperintah; karena pihak yang memerintah dengan ucapannya tersebut menginginkan gugurnya hak pihak yang diperintah dari tanggungannya, sedangkan pada dasarnya hak itu tetap ada. Hal ini umumnya terjadi ketika pihak yang dialihkan (hutangnya) dalam keadaan sulit, dan pihak yang memerintah ingin meniadakan tuntutan dari dirinya sendiri.

ثم إذا جعلنا القولَ قولَ المأمور فلا يخلو إمّا إن كان قبض أو لم يكن قبض فإن لم يكن قبض المأمورُ فلا يقبضه؛ لأن قول الموكل ما وكلتُك يتضمن عزْلَه لو كان وكيلاً أو كان قبض فإن كان قائماً في يده فالآمرُ يزعم أن المقبوضَ حقُّ المأمور وملكه ولا حق له عليه والمأمور يزعم أن المقبوضَ ملكُ الآمر وحقُّه باقٍ في ذمته وقد ذكرنا أن القول قولُ المأمور في بقاء حقِّه في ذمة الآمر فإن عسر عليه استيفاءُ حقه فالوجه أن يتملك المقبوضَ ؛ لأنه جنس حقه وإن تيسر استيفاء حقِّه منه فقد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال يطالِبُ الآمرَ بحقه وما قبضه موقوفٌ ومنهم من قال ما قبضَه يكتفي به ولا يطالِبُ

Kemudian, jika kita menjadikan pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang diperintah (mā’mūr), maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia telah menerima (harta) atau belum. Jika mā’mūr belum menerima, maka ia tidak boleh menerimanya; karena pernyataan muwakkil “Aku tidak mewakilkanmu” mengandung makna pencabutan (wakalah) jika ia memang seorang wakil. Atau jika ia telah menerima, maka jika barang itu masih ada di tangannya, pihak yang memerintah (āmir) mengklaim bahwa barang yang diterima itu adalah hak dan milik mā’mūr, dan ia tidak memiliki hak atasnya, sedangkan mā’mūr mengklaim bahwa barang yang diterima itu adalah milik āmir dan haknya masih tetap menjadi tanggungan āmir. Telah kami sebutkan bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat mā’mūr dalam hal tetapnya haknya di tanggungan āmir. Jika sulit baginya untuk memperoleh haknya, maka yang tepat adalah ia boleh memiliki barang yang diterima itu; karena barang itu sejenis dengan haknya. Namun jika mudah baginya untuk memperoleh haknya dari āmir, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia menuntut haknya dari āmir dan barang yang telah diterima itu statusnya ditangguhkan. Sebagian lagi berpendapat bahwa apa yang telah diterimanya itu sudah cukup baginya dan ia tidak menuntut lagi.

والخلاف مخصوص به إذا لم يكن قبض فإذا كان قبض فاعترافُ الآمر بأنه حقُّه كافٍ نازلٌ منزلة تمليكه إيَّاه الآن

Perbedaan pendapat khusus terjadi apabila belum ada qabd (penyerahan fisik). Namun, jika sudah ada qabd, maka pengakuan orang yang memerintah bahwa itu adalah haknya sudah cukup dan dianggap setara dengan pemberian kepemilikan kepadanya saat ini.

ولا خلافَ أن الآمرَ لو قال للمأمور لمْ تصدقني وزعمتَ أن ما قبضتَه حقي فقد وَفَّيْتُكَ إياه فيجتمع لك من قولي الأخير وقولي الأول الملكُ في المقبوض فقد تمس الحاجة إلى تصوير القبض كما قدمناه في كتاب البيع والرهن في إقباض الإنسان شيئاً لحقه وهو في يده

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang yang memerintah berkata kepada orang yang diperintah, “Engkau tidak mempercayaiku dan engkau mengira bahwa apa yang telah engkau terima itu adalah hakku, padahal aku telah melunasi hakmu itu,” maka dari perkataanku yang terakhir dan perkataanku yang pertama, kepemilikan atas barang yang diterima itu berkumpul padamu. Maka, terkadang diperlukan untuk menggambarkan proses penerimaan barang sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam Kitab Jual Beli dan Gadai, yaitu ketika seseorang menyerahkan sesuatu untuk hak orang lain, sementara barang itu masih berada di tangannya.

فهذا كله فيه إذا قبض والعين قائمةٌ في يده

Semua ini berlaku apabila ia telah menerima barang tersebut dan barangnya masih tetap ada di tangannya.

فأمّا إذا قبض وتلف فهل يكون التالف مضموناًً عليه فعلى وجهين ذكرهما الإمام وصاحب التقريب أحدهما أنه يكون مضموناً على المأمور

Adapun jika barang telah diterima lalu rusak, apakah kerusakan tersebut menjadi tanggung jawabnya? Maka terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh Imam dan penulis at-Taqrīb; salah satunya adalah bahwa kerusakan tersebut menjadi tanggung jawab orang yang diperintah.

والثاني لا يكون مضموناًً عليه

Dan yang kedua tidak menjadi tanggungannya.

توجيه الوجهين

Penjelasan kedua sisi

من قال إنه لا يضمنه قال لأنا جعلنا القول قولَهُ في نفي الحوالة فإذا انتفت الحوالة ثبتت الوكالة والمالك ليس يدعي إلا جهةَ الحوالة فإذا انتفت لم يبق على زعمه ما يقتضي الضّمان

Siapa yang mengatakan bahwa ia tidak menanggungnya beralasan: karena kami menjadikan pernyataannya diterima dalam menafikan hawālah, maka ketika hawālah itu tidak ada, yang tetap adalah wakālah, dan pemilik tidak menuntut kecuali dari sisi hawālah; maka ketika hawālah itu tidak ada, menurut anggapannya tidak ada lagi yang mewajibkan tanggungan.

ومن قال إنه يكون مضموناًً عليه قال إنا إنما نجعل القولَ قولَ المأمور؛ لأن الأصل بقاءُ طَلِبته على الآمر وهو يدّعي انتفاءَه فإذا آل الأمرُ إلى الغرامة فالأصل أن ماله لا يكون أمانةً إلا أن يُقرّ بها ومن تلف في يده ملكُ غيره فالأصل أن يكون مضموناًً عليه

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa ia menjadi tanggungan atasnya, berkata: Sesungguhnya kami menjadikan pernyataan itu adalah pernyataan pihak yang diperintah, karena pada dasarnya tuntutan tetap berada pada pihak yang memerintah, sedangkan ia mengklaim telah bebas darinya. Maka apabila perkara itu berujung pada kewajiban mengganti kerugian, maka pada dasarnya harta seseorang tidak dianggap sebagai amanah kecuali jika ia mengakuinya, dan apabila harta milik orang lain rusak di tangannya, maka pada dasarnya ia wajib menanggungnya.

ولهذا نظائر منها أن المشتري والبائع إذا اختلفا في عيبٍ فزعم المشتري أنه قديم وزعم البائعُ أنه حادث فالقول قول البائع كما ذكرناه في البيع فإذا صدقناه وحلفناه وجرى القضاء به ثم اختلف هو والمشتري في قدر الثمن وتحالفا وأوجب ذلك ترادّاً فلو قال البائع غرمُوا المشتري أرشَ العيب؛ فإنه ثبت بيميني أن العيب حادثٌ في يده فلا يلزمه أرشُ العيب وقد مهدنا ذلك في مواضِع

Demikian pula terdapat beberapa kasus serupa, di antaranya jika pembeli dan penjual berselisih tentang cacat pada barang, lalu pembeli mengklaim bahwa cacat itu sudah lama ada, sedangkan penjual mengklaim bahwa cacat itu baru terjadi, maka pendapat penjual yang dipegang sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab jual beli. Jika kita membenarkan penjual, menyuruhnya bersumpah, dan keputusan hukum telah dijatuhkan berdasarkan hal itu, kemudian penjual dan pembeli berselisih tentang jumlah harga dan keduanya saling bersumpah sehingga menyebabkan terjadinya pengembalian barang, lalu penjual berkata, “Bebankan kepada pembeli untuk membayar ganti rugi cacat,” maka tidak wajib atas pembeli membayar ganti rugi cacat, karena telah tetap dengan sumpahku bahwa cacat itu baru terjadi di tangannya. Hal ini telah kami jelaskan di beberapa tempat.

وقد يتطرق إلى وجه إثباتِ الضّمان سؤالٌ وهو أن الآمر معترف بأن ما قبضه المأمور ليس ملكاً للآمر فلا يجري ما ذكرنا في هذا الوجه من أن الأصل أن ملك الغير مضمونٌ ولكن يتجه أن نقول قولُ الآمر يتضمن قبضاً على حُكم الضّمان ولكنه ضمانُ مقابلةٍ والتعويل على نفيه الأمانة والأصل عدمُها

Mungkin muncul pertanyaan terkait cara penetapan tanggung jawab (dhamān), yaitu bahwa pihak yang memerintah (āmir) mengakui bahwa apa yang diterima oleh pihak yang diperintah (ma’mūr) bukanlah milik pihak yang memerintah, sehingga penjelasan yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa pada dasarnya kepemilikan orang lain itu dijamin, tidak berlaku di sini. Namun, dapat dikatakan bahwa pernyataan pihak yang memerintah mengandung makna penerimaan (harta) dengan ketentuan tanggung jawab (dhamān), tetapi ini adalah tanggung jawab karena adanya perlawanan (muqābalah), dan yang dijadikan sandaran adalah penafian sifat amanah, sedangkan pada dasarnya sifat amanah itu tidak ada.

وكل ما ذكرناه فيه إذا لم يجر بين الآمر والمأمور لفظُ الحوالة فأمّا إذا جرى بينهما لفظُ الحوالة فقال الآمر أحلتك بكذا على فلانٍ ثم يُفرض الخلاف مع جريان لفظ الحوالة من وجهين أحدهما أن يقول الآمر ذكرتُ لفظَ الحوالة ولكن أردتُ به الوكالة وقال المأمور بل أردتَ الحوالة فالذي يدل عليه ظاهر لفظ المزني في المسائل التي يُجريها أن القول قولُ الآمر؛ فإنه ذكر الإحالةَ والحوالةَ ثم فرض الخلاف ثم قضى بأن القولَ قولُ الآمر ولو كان يختلف الأمر باللفظ لتعرض له؛ فإن التصوير لا يتم إلا باللّفظ إذا كان الحكم متعلقاً به؛ فإذاً ظاهرُ قوله إن القول قولُ الآمر

Semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika antara pihak yang memerintah dan yang diperintah tidak terjadi pengucapan lafaz hawālah. Adapun jika di antara mereka terjadi pengucapan lafaz hawālah, misalnya pihak yang memerintah berkata, “Aku telah mengalihkanmu dengan ini kepada si Fulan,” kemudian terjadi perbedaan pendapat setelah adanya pengucapan lafaz hawālah, maka perbedaan itu dapat terjadi dari dua sisi. Pertama, pihak yang memerintah berkata, “Aku memang mengucapkan lafaz hawālah, tetapi yang aku maksud adalah wakālah,” sedangkan pihak yang diperintah berkata, “Justru yang engkau maksud adalah hawālah.” Maka, yang ditunjukkan oleh zahir lafaz al-Muzani dalam masalah-masalah yang ia bahas adalah bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang memerintah; sebab ia menyebutkan istilah ihālah dan hawālah, kemudian membayangkan adanya perbedaan pendapat, lalu memutuskan bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang memerintah. Seandainya perkara itu berbeda-beda tergantung lafaz, tentu ia akan membahasnya; sebab gambaran masalah tidak akan sempurna kecuali dengan lafaz jika hukum bergantung padanya. Maka, zahir ucapannya menunjukkan bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang memerintah.

قال صاحب التقريب قد ذكر ابنُ سريج في المسألة قولاً آخر إن القول قول المأمور الذي يدّعي حقيقةَ الحوالة؛ فإن لفظ الحوالة موضوعٌ لمقصودٍ وضعاً صريحاً فمن أراد حملها على خلاف معناها لم يقبل منه كما إذا ذكر لفظاً من صرائح الطلاق ثم حمله على خلاف ظاهره فلا يقبل ذلك منه

Penulis kitab at-Taqrīb mengatakan, Ibnu Suraij telah menyebutkan pendapat lain dalam masalah ini, yaitu bahwa yang dipegang adalah pernyataan pihak yang diperintah yang mengklaim hakikat hawālah; sebab lafaz hawālah memang secara tegas ditetapkan untuk maksud tertentu, sehingga siapa pun yang ingin memaknai lafaz tersebut dengan makna yang berbeda dari makna aslinya, tidak dapat diterima, sebagaimana jika seseorang mengucapkan lafaz yang jelas-jelas merupakan lafaz talak, lalu ia menafsirkannya dengan makna yang berbeda dari makna lahiriahnya, maka penafsiran itu tidak diterima darinya.

وحاصل القولين راجعٌ إلى أنَّا على قول المزني لا ننظر إلى لفظِ الحوالة ولكن ننظر إلى قياس الاختلاف وقياسه يقتضي أن المأمورَ إذا ادعى حوالةً والآمر ينفيها فالقول قول الآمر وعلى القول الثاني يُعتبر صريحُ الحوالةِ ولا يقبل قول من يحيدُ عن ظاهر معناها مع الاتفاق على صدور لفظها من الآمر

Kesimpulan dari kedua pendapat tersebut kembali pada bahwa menurut pendapat al-Muzani, kita tidak melihat pada lafaz hawālah, tetapi kita melihat pada qiyās perbedaan pendapat, dan qiyās tersebut mengharuskan bahwa jika pihak yang diperintah mengklaim adanya hawālah dan pihak yang memerintah menolaknya, maka yang dipegang adalah ucapan pihak yang memerintah. Sedangkan menurut pendapat kedua, yang dianggap adalah lafaz hawālah yang jelas, dan tidak diterima ucapan orang yang menyimpang dari makna lahiriahnya, selama telah disepakati bahwa lafaz tersebut benar-benar diucapkan oleh pihak yang memerintah.

وذكر بعض المحققين وجهاًً ثالثاً فقال إن قال أحلتُك بالألف الذي لي على فلان ولم يقل بالألف الذي لك عليَّ على الألف الذي لي على فلانٍ فيجوزُ أن يقال القول قولُ من يدعي الوَكالة؛ لأنه لم يقل بالألف الذي لك عليّ

Sebagian ulama muhaqqiqin menyebutkan pendapat ketiga, yaitu jika seseorang berkata, “Aku mengalihkanmu dengan seribu yang menjadi hakku pada Fulan,” dan tidak mengatakan, “dengan seribu yang menjadi hakmu atasku atas seribu yang menjadi hakku pada Fulan,” maka boleh dikatakan bahwa yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang mengaku sebagai wakil; karena ia tidak mengatakan, “dengan seribu yang menjadi hakmu atasku.”

ولو قال أحلتك بالألف الذي لك عليّ على الألف الذي لي على فلان ثم ادّعى الآمرُ الوكالة فلا يقبل ذلك منه

Jika seseorang berkata, “Aku telah mengalihkan kepadamu seribu (dinar/dirham) yang menjadi hakmu atasku kepada seribu yang menjadi hakku atas si Fulan,” kemudian pihak yang memerintahkan (pengalihan) mengaku bahwa ia hanyalah wakil, maka pengakuan itu tidak diterima darinya.

وهذا التفصيل لا ينتهض عندي وجهاًً ثالثاً؛ إذ لا يجوز أن يقدّر خلافٌ فيه إذا قال أحلتك بالألف الذي لك عليّ على فلانٍ بالألف الذي لي عليه فادعاء الوكالة بعد هذا الامتناع لا وجه له فالوجه أن نقول إن صرح كما صورناه آخراً فلا وجه إلا القطعُ بتصديق المأمور وإن أطلق الحوالةَ ولم يقيدها بهذه القيود الصريحة فإذْ ذاك ينقدح ذكر القولين

Penjelasan ini menurut saya tidak dapat dijadikan alasan ketiga; sebab tidak boleh dianggap ada perbedaan pendapat dalam hal ini jika seseorang berkata, “Aku mengalihkan kepadamu seribu yang menjadi hakmu atasku kepada Fulan dengan seribu yang menjadi hakku padanya,” maka klaim adanya perwakilan setelah penolakan ini tidak beralasan. Maka pendapat yang tepat adalah, jika ia menyatakan secara jelas seperti yang telah kami gambarkan terakhir, maka tidak ada alasan kecuali memastikan kebenaran pihak yang diperintah. Namun jika ia mengucapkan hawālah secara umum tanpa membatasinya dengan syarat-syarat yang jelas ini, maka saat itulah muncul dua pendapat.

التفريع

Pengembangan cabang hukum (at-tafrī‘)

إن قلنا القول قولُ المأمور في ثبوت الحوالة فلا كلام وإن قلنا القولُ قول الآمر في نفي الحوالة فإذا نفاها فقد اختلف أصحابنا فيما رتبه صاحب التقريب فمنهم من قال إذا نفى الحوالةَ انقطعت علائقها بالكلية وهذا هو القياس على هذا القول والوجه الثاني أنه يكون بمثابة حوالة فاسدةٍ فلا يُرفع حكم الحوالة من كل وجه؛ للفظ الحوالة وهذا كما يثبتُ الضّمان في البيع الفاسدِ ويثبت في الكتابة الفاسدة بعضُ أحكام الكتابة الصحيحة

Jika kita mengatakan bahwa yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang menerima perintah dalam penetapan hawalah, maka tidak ada masalah. Namun jika kita mengatakan bahwa yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang memberi perintah dalam menafikan hawalah, maka apabila ia menafikannya, para ulama kami berbeda pendapat sebagaimana yang diurutkan oleh penulis at-Taqrib. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika hawalah dinafikan, maka seluruh keterkaitannya terputus secara total, dan inilah qiyās menurut pendapat ini. Pendapat kedua, hawalah tersebut dianggap seperti hawalah yang fasid (rusak), sehingga hukum hawalah tidak sepenuhnya dihapuskan karena adanya lafaz hawalah. Ini sebagaimana jaminan tetap berlaku dalam jual beli yang fasid, dan sebagian hukum kitabah yang sah juga tetap berlaku dalam kitabah yang fasid.

فإن قلنا إن سبيله سبيلُ الحوالة الفاسدة فإذا كان المحال عليه سلَّم المال إلى المحتال فهل يبرأ بالتسليم إليه ممّا عليه فعلى وجهين ذكرهما أحدهما أنه يبرأ بالدفع إليه والآمر يُطالب المحتالَ والثاني لا يبرأ بالدفع إلى المحتال؛ فإنه لم يكن سبيلُه سبيلَ الوكالة المحضة ولم تصح الحوالةُ أيضاًً؛ فعلى هذا يطالِبُ الآمرُ المحَالَ عليه بحقه ثم المحالُ عليه يسترد من المحتال ما سلمه إليه

Jika kita katakan bahwa hukumnya seperti hawalah yang fasidah, maka apabila pihak yang menjadi tempat pengalihan (muhāl ‘alayh) menyerahkan uang kepada pihak yang menerima pengalihan (muhtāl), apakah ia terbebas dari kewajibannya dengan penyerahan tersebut? Ada dua pendapat yang disebutkan: salah satunya, ia terbebas dengan penyerahan itu dan pihak yang memerintah (āmir) menuntut kepada muhtāl; pendapat kedua, ia tidak terbebas dengan penyerahan kepada muhtāl, karena hukumnya tidak seperti wakalah murni dan hawalah juga tidak sah. Maka menurut pendapat ini, āmir menuntut haknya kepada muhāl ‘alayh, kemudian muhāl ‘alayh mengambil kembali dari muhtāl apa yang telah diserahkannya.

وهذا عندي بُعدٌ بحقه والوجه أن نقول إذا نفينا الحوالةَ ثبتت قضية الوَكالةِ؛ فإن الأمر بقبض المال من المحال عليه متفق عليه والنزاع في وجهه وقد ذكر المتداعيان وجهين فإذا انتفت الحوالة وصدقنا الآمر فالوَجْه ثبوتُ الوَكالةِ وعلى هذا يبرأ المحالُ عليه بما دفعه إلى المأمور

Menurut saya, ini adalah pandangan yang jauh dari kebenaran. Pendapat yang benar adalah, jika kita menafikan adanya hawālah, maka yang berlaku adalah kasus wakālah; sebab perintah untuk menerima uang dari pihak yang ditunjuk (muhāl ‘alayh) telah disepakati, dan perbedaan pendapat hanya pada alasannya. Kedua pihak yang bersengketa telah menyebutkan dua alasan. Jika hawālah tidak ada dan kita membenarkan pihak yang memberi perintah, maka yang berlaku adalah wakālah. Dengan demikian, pihak yang ditunjuk (muhāl ‘alayh) terbebas dari tanggung jawab setelah menyerahkan uang kepada orang yang diperintahkan.

وما ذكرناه صورةٌ واحدةٌ في الاختلافِ مع جريان لفظ الحَوالة

Apa yang telah kami sebutkan adalah satu gambaran dalam perbedaan pendapat meskipun lafaz hawālah digunakan.

فلو كان النزاع على العكس فقال الآمر أردتُ لفظَ الحوالة وقال المأمور ما قبلتُ الحوالة وإنما قبلت الوَكالة قال الأصحاب قياسُ المزني أن القول قولُ المأمور فإنّ الأصل بقاءُ طَلِبته على الآمر وعلى قياس ابن سريج القول قولُ من يُثبت الحوالةَ كما ذكرناه تمسكاً باللفظ فإن قيل قَصْدُ الآمر فيما زعم مُطابقٌ للفظه الصريح فهلاَّ قطعتم بتصديقه قلنا الأمرُ كذلك ولا تتم الحوالة إلا بقبول المحتال وقد زعم أنه نوى قبولَ الوكالة فعاد التردُّدُ في أن الاعتبارَ بالقصد أوْ بظاهر اللفظ

Jika perselisihan terjadi sebaliknya, yaitu pihak yang memerintah berkata, “Aku menginginkan lafaz al-hawālah,” sedangkan pihak yang diperintah berkata, “Aku tidak menerima al-hawālah, aku hanya menerima al-wakālah,” para ulama berkata: menurut qiyās al-Muzanī, pendapat yang diterima adalah pendapat pihak yang diperintah, karena asalnya tuntutan tetap pada pihak yang memerintah. Sedangkan menurut qiyās Ibn Surayj, pendapat yang diterima adalah pendapat orang yang menetapkan al-hawālah, sebagaimana telah kami sebutkan, dengan berpegang pada lafaz. Jika dikatakan, “Niat pihak yang memerintah sesuai dengan lafaz yang jelas, maka mengapa kalian tidak memastikan kebenarannya?” Kami katakan, memang demikian, dan al-hawālah tidak sah kecuali dengan penerimaan dari pihak yang menerima, sedangkan ia mengaku bahwa ia meniatkan menerima al-wakālah. Maka kembali lagi keraguan, apakah yang menjadi tolok ukur adalah niat ataukah lafaz yang tampak.

فصل

Bab

ذكر المزني صوراً ظاهرةً في الحوالة نذكرها على وجهها قاك لو أحال زيدٌ عمراً على بكرٍ بما له عليه من الحق ثم أحال بكرٌ عمراً على خالدٍ ثم أحاله خالدٌ على جعفرَ فذلك جائز ولو أحال زيدٌ عمراً على بكرٍ ثم عمرو أحال خالداً على بكرٍ ثم خالدٌ أحال عبدَ الله على بكرٍ فهذا جائز وقد تعدد المحتال في هذه الصورة والمحال عليه واحد وفي الصورة الأولى تعدد المحال عليه والمحتال واحد

Al-Muzani menyebutkan beberapa contoh yang jelas dalam masalah hawalah (pengalihan utang) yang akan kami sebutkan sebagaimana adanya. Ia berkata: Jika Zaid mengalihkan utang Amr kepada Bakr atas hak yang dimiliki Amr atas Bakr, kemudian Bakr mengalihkan Amr kepada Khalid, lalu Khalid mengalihkan Amr kepada Ja‘far, maka hal itu diperbolehkan. Jika Zaid mengalihkan utang Amr kepada Bakr, lalu Amr mengalihkan Khalid kepada Bakr, kemudian Khalid mengalihkan ‘Abdullah kepada Bakr, maka ini juga diperbolehkan. Dalam contoh ini, pihak yang dihawalahkan (muḥtāl) lebih dari satu, sedangkan pihak yang menerima pengalihan (muḥāl ‘alayh) hanya satu. Sedangkan pada contoh pertama, pihak yang menerima pengalihan lebih dari satu, sedangkan pihak yang dihawalahkan hanya satu.

فرع

Cabang

إذا جنى على إنسانٍ؛ والتزم الأرشَ وجُني عليه فاستحقَّ الأرشَ فإن كان الأرشان دراهم أو دنانير جازت الحوالة وإن كان الأرشُ إبلاً من الجانبين فهذا ينبني على ما قدمناه من أن الحوالة هل تجري في غير ذواتِ الأمثالِ فإن قلنا إنها تختص بذواتِ الأمثال فالحوالة فاسدة في مسألتنا هذه وإن قلنا

Jika seseorang melakukan jinayah terhadap orang lain, lalu ia berkewajiban membayar arsy, kemudian ia sendiri menjadi korban jinayah dan berhak menerima arsy, maka jika kedua arsy tersebut berupa dirham atau dinar, maka hawalah (pengalihan utang) diperbolehkan. Namun jika arsy dari kedua belah pihak berupa unta, maka hal ini bergantung pada apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu apakah hawalah berlaku pada selain barang-barang yang memiliki padanan (dzawat al-amtsal). Jika kita mengatakan bahwa hawalah hanya khusus untuk dzawat al-amtsal, maka hawalah dalam kasus ini tidak sah. Namun jika kita mengatakan…

إنها تجري في كل موصوفٍ مستقرٍّ في الذمة فهل تجري في إبل الدية فعلى وجهين مَبْنِيَّيْنِ على أن الاعتياض عن إبل الدية هل يجوز وفيه قولان سبق ذكرهما

Qiyās berlaku pada setiap sesuatu yang memiliki sifat tertentu dan tetap menjadi tanggungan. Lalu, apakah qiyās berlaku pada unta diyat? Ada dua pendapat yang dibangun di atas permasalahan apakah boleh mengganti unta diyat dengan sesuatu yang lain; dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

وسيأتي استقصاؤهما في الديات إن شاء الله تعالى

Keduanya akan dibahas secara rinci dalam bab diyat, insya Allah Ta‘ala.

فرع

Cabang

إذا ضمن مالاً بإذن المضمون عنه وأحال المضمونَ له بذلك المال الذي ضمنه على واحد رجع على المضمون عنه كما لو أدّاه ولو ضمن رجلان ألفاً عن واحدٍ كل واحد منهما ضمن نصفَه ثم ضمن كل واحد من الضّامنين عن صاحبه فلو أحال أحدهما المضمونَ له بالألفِ على واحدٍ فإنه يرجع بخمسمائةٍ على المضمون عنه وبخمسمائةٍ على صاحبه الضامن وهذا لا إشكالَ فيه

Jika seseorang menjamin suatu harta dengan izin dari pihak yang dijamin, lalu ia mengalihkan hak penerima jaminan atas harta yang dijaminnya itu kepada seseorang, maka ia berhak kembali menuntut kepada pihak yang dijamin, sebagaimana jika ia telah membayarnya. Jika dua orang menjamin seribu atas nama satu orang, masing-masing menjamin setengahnya, kemudian masing-masing dari kedua penjamin itu menjamin bagian temannya, lalu salah satu dari mereka mengalihkan hak penerima jaminan atas seribu itu kepada seseorang, maka ia berhak menuntut lima ratus dari pihak yang dijamin dan lima ratus dari temannya sesama penjamin. Hal ini tidak ada keraguan di dalamnya.

فرع

Cabang

قال المزني وإذا باع رجل عبداً من رجل بألف درهم فأحال البائع رَجُلاً له عليه ألف على المشتري ثم تصادق البائع والمشتري على أن المبيع كان حُرّاً ينقطع العقد بينهما ولا يُحكم ببطلان الحوالةِ في حق ذلك الثالث إلا أن يصدِّقَهما فإن لم يصدقْهما فلا يُقبل قولُهما عليه وليس كما لو رد المشتري العبدَ بعيبٍ قديم؛ فإنا قد نقول في وجهٍ غريب إن الحوالةَ ترتفع والفرق أن الرد واقعٌ لا سبيل إلى إنكاره وهو أمرٌ منشأ والمتبايعان فيما نحن فيه أخبرا عن حرية المبيع والخبر يتردَّد بين الصدق والكذبِ فلو صدقهما المحتال قطعنا ببطلان الحوالةِ والمسألة في هذا الطرفِ تنفصل عن الرد بالعيب أيضاًً؛ فإن الأصح بقاء الحوالة وإن جرى الرد؛ فإنا نقدر الحوالة معاوضة برأسها متعلقة بحق ثالث فلا يمتنع تقدير بقائها وإن ارتفع العقد؛ فإنَّا لا نتبين بالرّد أن الثمن لم يكن قبل الرد وإذا تصادقوا على حرية المبيع تبينا أن أصل الثمن لم يثبت فلا نتصور ثبوتَ الحَوالة؛ فإن بقاء الشيء فرْعٌ على ثبوتِ أصله وهذا واضح

Al-Muzani berkata: Jika seseorang menjual seorang budak kepada orang lain seharga seribu dirham, lalu penjual mengalihkan piutang seorang laki-laki yang berutang seribu kepadanya kepada pembeli, kemudian penjual dan pembeli sepakat bahwa barang yang dijual ternyata adalah orang merdeka, maka akad antara keduanya batal, namun pengalihan piutang (ḥawālah) terhadap pihak ketiga tersebut tidak otomatis batal kecuali jika ia membenarkan keduanya. Jika ia tidak membenarkan, maka ucapan mereka berdua tidak diterima atasnya. Ini berbeda dengan kasus jika pembeli mengembalikan budak karena cacat lama; dalam satu pendapat yang asing, kami mengatakan bahwa pengalihan piutang menjadi gugur. Perbedaannya adalah bahwa pengembalian (karena cacat) benar-benar terjadi dan tidak mungkin diingkari, serta merupakan perkara yang nyata, sedangkan dalam kasus yang sedang kita bahas, kedua pihak yang berakad hanya mengabarkan tentang status kemerdekaan barang yang dijual, dan kabar itu masih mungkin benar atau salah. Jika pihak yang dialihkan piutang membenarkan keduanya, maka kami pastikan pengalihan piutang batal. Permasalahan ini juga berbeda dengan pengembalian karena cacat; karena pendapat yang paling kuat adalah pengalihan piutang tetap berlaku meskipun terjadi pengembalian, sebab kami menganggap pengalihan piutang sebagai akad tersendiri yang berkaitan dengan hak pihak ketiga, sehingga tidak mustahil untuk tetap menganggapnya ada meskipun akad jual beli batal. Sebab, dengan pengembalian barang, kita tidak dapat memastikan bahwa harga belum ada sebelum pengembalian. Namun, jika mereka sepakat bahwa barang yang dijual adalah orang merdeka, maka kita mengetahui bahwa pokok harga tidak pernah ada, sehingga tidak mungkin ada pengalihan piutang. Sebab, keberadaan sesuatu adalah cabang dari keberadaan asalnya, dan hal ini jelas.

فرع

Cabang

قال صاحب التقريب إذا أحال الرجل غريمَه على رجلٍ ثم بان المحال عليه عبداً فلا يخلو إما أن يبين أنه عبد لأجنبي أو يبين أنه عبد للمحيل فإن بان أنّه عبد لأجنبي وكان لهذا المحيل على هذا العبد دينٌ في عنقه يتبعه به إذا عَتَق قال صاحبُ التقريب الحوالة صحيحة وهي بمثابة الحوالة على معسرٍ في ذمته دين ثم المحتال يطالبُ العبدَ بعد عتقه

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang mengalihkan piutangnya kepada orang lain, lalu ternyata orang yang dijadikan tempat pengalihan itu adalah seorang budak, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ternyata ia adalah budak milik orang lain, atau ternyata ia adalah budak milik orang yang mengalihkan. Jika ternyata ia adalah budak milik orang lain, dan orang yang mengalihkan itu memiliki piutang atas budak tersebut yang akan ditagih setelah budak itu merdeka, maka penulis at-Taqrīb berkata: pengalihan (hawālah) tersebut sah, dan hukumnya seperti pengalihan kepada orang yang tidak mampu yang memiliki utang dalam tanggungannya, kemudian orang yang menerima pengalihan dapat menagih utangnya kepada budak itu setelah ia merdeka.

فلو لم يعلم كونَه عبداً ثم علم فهذا يترتب على الفصل المقدم في أن المحتال إذا اطلع على إعسار المحال عليه وما كان عالماً بإعساره عند الحوالة فإن قلنا للمطّلع على إعسار المحال عليه الخيارُ فلأن يثبت الخيار هاهنا أولى وإن قلنا لا خيار للمطلع على الإعسار ففي هذه الصورة وجهان؛ إذ طريان العتق ليس ممَّا يُعدّ من ميسور الأمور واليسار والإعسار متعاقبان

Jika seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seorang budak, lalu kemudian ia mengetahuinya, maka hal ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya tentang orang yang melakukan hiyal (rekayasa hukum) ketika ia mengetahui bahwa pihak yang dialihkan hutangnya (muhāl ‘alayh) dalam keadaan tidak mampu, padahal sebelumnya ia tidak mengetahui ketidakmampuan tersebut pada saat pengalihan hutang (hawālah). Jika kita berpendapat bahwa orang yang mengetahui ketidakmampuan muhāl ‘alayh memiliki hak memilih (khiyār), maka menetapkan hak memilih dalam kasus ini lebih utama. Namun jika kita berpendapat bahwa tidak ada hak memilih bagi orang yang mengetahui ketidakmampuan tersebut, maka dalam kasus ini terdapat dua pendapat; karena terjadinya kemerdekaan (’itq) bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari kemudahan (yusur), sedangkan keadaan mampu dan tidak mampu (yusur dan ‘usr) silih berganti.

وما ذكرناه فيه إذا كان العبدُ لأجنبي فأمّا إذا كان العبد للمُحيل قال صاحب التقريب إن كان كسوباً ينبغي أن يتعلق الدين بكسبه وإن كان غير كسوبٍ كان متعلِّقاً بذمتهِ

Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika budak tersebut milik orang lain (bukan pihak yang mengalihkan hutang). Adapun jika budak itu milik pihak yang mengalihkan hutang (muhīl), menurut penulis at-Taqrīb, jika budak itu mampu bekerja dan menghasilkan (kasūb), maka hutang seharusnya terkait dengan penghasilannya. Namun jika ia bukan budak yang mampu bekerja, maka hutang tersebut terkait dengan tanggungannya (dzimmah)-nya.

وهذا كلام مختلط لا أصل له والوجه أن نقول لا يتصوّر أن يكون للسيد على عبده دينٌ يتعلق بذمته أو في كسبه إلا في صورةٍ واحدةٍ سنشير إليها آخراً وإذا كان كذلك فحوالة السيد على مملوكه باطلة إلا أن تجوز الحوالة على من لا دين عليه وقد ذكرنا أن تحقيق ذلك يرجع إلى الضمان وكأن العبد ضمن عن سيده وسيأتي شرح ذلك في كتاب الضمان إن شاء الله

Ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak memiliki dasar. Pendapat yang benar adalah bahwa tidak terbayangkan seorang tuan memiliki utang atas budaknya yang berkaitan dengan tanggungan atau hasil usahanya, kecuali dalam satu keadaan yang akan kami singgung di akhir. Jika demikian, maka hawālah (pengalihan utang) dari tuan kepada budaknya adalah batal, kecuali jika dibolehkan melakukan hawālah kepada orang yang tidak memiliki utang. Kami telah menyebutkan bahwa penjelasan hal ini kembali kepada masalah ḍamān (penjaminan), seolah-olah budak tersebut menjamin utang tuannya. Penjelasan tentang hal ini akan datang dalam Kitab Ḍamān, insya Allah.

ثم إذا صحَّ نُظر فإن كان الضمان بإذن السَّيد تعلق بكسب العبد إن كان له كسب وإن لم يكن فبذمته ومن ضرورة كل ما يتعلق بالكسب أن يتعلق بالذمة

Kemudian, apabila telah sah, maka dilihat: jika penjaminan itu dengan izin tuan, maka penjaminan tersebut terkait dengan penghasilan budak jika budak itu memiliki penghasilan, dan jika tidak ada, maka menjadi tanggungan dalam jiwanya (budak tersebut). Dan merupakan suatu keniscayaan bahwa setiap hal yang terkait dengan penghasilan, pasti juga terkait dengan tanggungan dalam jiwa.

ويتصور للسيد على عبده دينٌ يتعلق بذمته على أحد الوجهين وذلك أن من ثبت له دين على عبد الغير ثم ملكه ففي وجهٍ يقسط الدين عن ذمته بالملك الطَّارىء وفي وجهٍ يبقى عليهِ يتبعه به إذا عَتَق فعلى هذا يمكن تقدير حوالة السيد على عبده

Dapat dibayangkan bahwa seorang tuan memiliki piutang atas budaknya dalam salah satu dari dua pendapat. Yaitu, apabila seseorang memiliki piutang atas budak milik orang lain, kemudian ia menjadi pemilik budak tersebut, maka menurut satu pendapat, piutang itu gugur dari tanggungan budak karena kepemilikan yang baru terjadi. Namun menurut pendapat lain, piutang itu tetap menjadi tanggungannya dan akan ditagih darinya jika ia dimerdekakan. Berdasarkan pendapat ini, memungkinkan untuk memperkirakan adanya hawālah (pengalihan utang) dari tuan kepada budaknya.

فرع

Cabang

إذا أحال رجلاً له عليه ألفُ درهم على رجلين على كل واحد منهما خمسمائة درهم وشرط في الحوالة أن يكون كل واحد منهما كفيلاً ضامناً عن صاحبه

Jika seseorang yang memiliki utang seribu dirham kepada orang lain mengalihkan utangnya itu kepada dua orang, masing-masing lima ratus dirham, dan disyaratkan dalam akad hawālah bahwa masing-masing dari keduanya menjadi penjamin (kafīl) yang menanggung utang rekannya,

قال ابن سريج في صحة هذه الحوالة وجهان مبنيان على أن المعاوضة مغلّبة على الحوالة أو معنى الاستِيفاء فإن غلّبنا المعاوضة لم يمتنع شرطُ الوثيقة فيها وإن غلبنا الاستيفاء امتنع ذلك فإن الضمان إنما يشترط في المعاوضات وهذا التردّد يلتفت على أنه هل يثبت في الحوالة خيار المجلس والشرط

Ibnu Surayj mengatakan bahwa dalam keabsahan hawalah ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada apakah unsur mu‘āwadah (pertukaran) lebih dominan dalam hawalah atau makna istifā’ (pengambilan hak). Jika kita menguatkan unsur mu‘āwadah, maka tidak terlarang mensyaratkan adanya dokumen jaminan di dalamnya. Namun jika kita menguatkan makna istifā’, maka hal itu tidak diperbolehkan, karena dhamān (jaminan) hanya disyaratkan dalam mu‘āwadah. Keraguan ini juga berkaitan dengan apakah dalam hawalah berlaku khiyār majlis dan syarat.