Sebuah artikel yang menghimpun beberapa bab tentang ilmu hisab yang sangat dibutuhkan dalam transaksi, keuntungan, gaji, penyesuaian harga dan barang yang dihargai, hasil sewa, pengumpulan zakat, serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

ليعلم الناظر في مجموعنا هذا أنا بعد نجاز القول في الدور والوصايا والأبواب الحسابيّة التي تخرجُ المجاهيلُ منها بالجبر والمقابلة ووجوه المعادلة رأينا ألا نخلي كتابنا هذا عن فصولٍ تتعلق بالمعاملات والغرضُ منها لا يُحوِج إلى الجبر والطريق المستنبطة منه ويقع الاكتفاء في معظمها بالضرب والقسمة ورأيت الحاجة أمسَّ ُ إليها منها إلى الدائرات الشاذّة من المفردات والمقترنات  ثم وجدت كلام الأستاذ أبي منصور البغدادي في كتابه المترجم بالتكملة في الحساب أحوى مجموع هذه الأبواب فرأيت نقلَ ما أريد من كتابه مع مزيد بسط في مواضع إيجازه  والله المستعان

Agar diketahui oleh para pembaca kumpulan kami ini, bahwa setelah selesai membahas tentang warisan, wasiat, dan bab-bab hisab yang di dalamnya persoalan-persoalan yang tidak diketahui dapat diselesaikan dengan metode al-jabr wa al-muqābalah serta berbagai bentuk persamaan, kami memandang perlu untuk tidak mengosongkan kitab ini dari beberapa bagian yang berkaitan dengan mu‘āmalāt. Tujuannya adalah agar tidak membutuhkan al-jabr dan metode-metode yang diambil darinya, karena pada umumnya cukup dengan perkalian dan pembagian saja. Saya melihat kebutuhan terhadap hal ini lebih mendesak daripada terhadap soal-soal lingkaran yang jarang, baik yang tunggal maupun yang berpasangan. Kemudian saya mendapati bahwa pembahasan dari guru kami, Abū Manṣūr al-Baghdādī, dalam kitabnya yang berjudul al-Takmīlah fī al-Ḥisāb telah mencakup seluruh bab ini. Maka saya memutuskan untuk menukil apa yang saya perlukan dari kitab beliau dengan tambahan penjelasan pada bagian-bagian yang beliau ringkas. Allah-lah tempat memohon pertolongan.

فصل في بيان وجوه الحساب في توزيع الأثمان والمثمنات

Bab tentang penjelasan berbagai metode perhitungan dalam pembagian harga dan barang yang diperjualbelikan.

هذا مما يحتاج الفقيه إليه إذا حاول تقسيط الأعواض على المعوَّضات في تفريق الصفقة أو الأجزاء

Ini adalah hal yang dibutuhkan oleh seorang faqih ketika berusaha membagi kompensasi atas objek-objek yang menjadi pengganti dalam kasus pemisahan akad atau bagian-bagiannya.

فنقول: إذا قال القائل: إذا كان عشرة أَمْناء بثلاثة دراهم فسبعة أَمْناء بكم فقد ذكر السائل الثمن والمثمّن معلومين في مقدارين ثم ذكر مقداراً من المثمن وسأل عما يخصّه من الثمن على النسبة التي ذكرها في المبلغين المعلومين

Maka kami katakan: Jika seseorang berkata, “Jika sepuluh uqiyah seharga tiga dirham, maka berapa harga tujuh uqiyah?” Maka penanya telah menyebutkan harga dan barang yang dihargai dalam dua ukuran yang diketahui, kemudian ia menyebutkan suatu ukuran dari barang yang dihargai dan menanyakan berapa bagian harga yang menjadi haknya berdasarkan perbandingan yang telah disebutkan pada dua jumlah yang diketahui itu.

فالوجه في هذا أن نأخذ جنسَ المثمَّن الذي وقع السؤال عن حصته من الثمن ونضربه في الذي هو من خلاف جنسه وهو الثمن المعلوم الذي سأل السائل عنه فسبعةُ أَمْناء مثمن وثلاثة دراهم ثمن فنضرب السبعة في الثلاثة فيبلغ أحداً وعشرين فنقسم هذا المبلغ على المثمّن المعلوم المقابَل بالثمن المعلوم وهو العشرة التي هي من جنس المثمَّن فيخرج من القسمة نصيبُ الواحد اثنان وعُشْر فهذا ثمن سبعة أمناء

Penjelasannya adalah bahwa kita mengambil jenis barang yang ditanyakan bagiannya dari harga, lalu kita kalikan dengan yang berbeda jenisnya, yaitu harga yang telah diketahui dan ditanyakan oleh penanya. Misalnya, tujuh amnā’ adalah barang, dan tiga dirham adalah harga. Maka kita kalikan tujuh dengan tiga, hasilnya dua puluh satu. Kemudian kita bagi hasil ini dengan jumlah barang yang diketahui yang sebanding dengan harga yang diketahui, yaitu sepuluh yang merupakan jenis barang tersebut. Dari pembagian ini, bagian satu orang adalah dua sepersepuluh. Maka inilah harga tujuh amnā’.

وإن قال السائل: عشرة أمناء بثلاثة دراهم كم يكون بخمسة دراهم فاضرب الخمسة وهي من جنس الثمن في العشرة التي هي خلاف جنسها فيردّ الضربُ خمسين فاقسمها على الثلاثة التي هي من جنس الثمن فيخرج نصيبُ الواحد ستةَ عشرَ وثلثان فهذا مقدار ما يُشترى بخمسة دراهم

Jika penanya berkata: Sepuluh uqiyah dengan tiga dirham, maka berapa jumlahnya dengan lima dirham? Maka kalikan lima, yang merupakan jenis harga, dengan sepuluh, yang berbeda jenisnya, maka hasil perkaliannya adalah lima puluh. Lalu bagilah dengan tiga, yang merupakan jenis harga, maka hasilnya bagian satu uqiyah adalah enam belas dan dua pertiga. Inilah jumlah yang dapat dibeli dengan lima dirham.

والأصل أن نضرب اللفظ الثالث الذي عنه السؤال فيما يخالفه في الجنس الذي تقدم ذكره ونقسم المبلغ على ما يوافقه في الجنس وقد تقدم ذكره فما خرج فهو المطلوب

Pada dasarnya, kita mengalikan lafaz ketiga yang menjadi objek pertanyaan dengan sesuatu yang berbeda jenisnya yang telah disebutkan sebelumnya, lalu membagi hasilnya dengan sesuatu yang sejenis dengannya yang juga telah disebutkan sebelumnya; maka hasilnya adalah yang dicari.

ومسائل هذا الفن كلها دائرةٌ على أربعة أعداد معنا نسبة الأول منها إلى الثاني كنسبة الثالث إلى الرابع وإذا كان واحد منها مجهولاً أمكن إخراجه بالمعلومات التي يعطيها السائل

Seluruh permasalahan dalam bidang ini berputar pada empat bilangan, di mana perbandingan bilangan pertama dengan yang kedua sama dengan perbandingan bilangan ketiga dengan yang keempat. Jika salah satu dari bilangan tersebut tidak diketahui, maka dapat ditemukan dengan menggunakan informasi yang diberikan oleh penanya.

وبيان ذلك أن السؤال يجري في المسائل التي ذكرناها وأمثالها في عددين معلومين لا إشكال على السائل فيهما  ثم يذكر السائل عدداً من أحد الجنسين ويسأل عما يقابل عدده من الجنس الثاني  فإنه يقول: إذا كانت العشرة بثلاثة فالخمسة بكم فالعشرة معلومة والثلاثة الواقعة بمثالها معلومة والخمسة مذكورة والمطلوب عددٌ رابع يناسبها مناسبة الثلاثة من العشرة

Penjelasannya adalah bahwa pertanyaan tersebut berlaku pada permasalahan-permasalahan yang telah kami sebutkan dan semisalnya, yaitu pada dua bilangan yang telah diketahui dan tidak ada keraguan bagi penanya terhadap keduanya. Kemudian penanya menyebutkan suatu bilangan dari salah satu jenis dan menanyakan berapa jumlah yang sepadan dari jenis kedua. Misalnya, ia berkata: Jika sepuluh sebanding dengan tiga, maka lima sebanding dengan berapa? Maka sepuluh diketahui, tiga yang menjadi perbandingan juga diketahui, lima disebutkan, dan yang diminta adalah bilangan keempat yang sepadan dengannya sebagaimana tiga terhadap sepuluh.

فهذا أصل هذه المسائل وبيانُ استخراجها بالضرب والقسمة

Inilah pokok permasalahan ini dan penjelasan cara mengeluarkannya dengan perkalian dan pembagian.

وقد تقع قسمةٌ مؤلفةٌ من نسب وذلك مثل أن يقول السائل: إذا كان خمسة وثمانون درهماً محمودية بمائة مسعودية ومائة وثلاثون درهماً ملكية بمائة وعشرة مسعودية فكم يقع من الملكية بثلاثةَ عشرَ درهماً محمودية فهذه صورة المسألة

Terkadang terjadi pembagian yang terdiri dari perbandingan, seperti ketika seseorang bertanya: Jika delapan puluh lima dirham Mahmudiyah setara dengan seratus dirham Mas‘udiyah, dan seratus tiga puluh dirham Malikiyah setara dengan seratus sepuluh dirham Mas‘udiyah, maka berapa dirham Malikiyah yang setara dengan tiga belas dirham Mahmudiyah? Inilah bentuk permasalahannya.

فانظر كم نصيب ثلاثةَ عشرَ محمودية من الدراهم المسعودية وهو أن تضرب ثلاثةَ عشرَ في مائة وتقسم ما بلغ على خمسة وثمانين  فيخرج خمسةَ عشرَ وخمسةُ أجزاء من سبعةَ عشرَ جزءاً من المسعودية

Maka perhatikanlah berapa bagian dari tiga belas mahmudiyyah dalam dirham mas’udiyyah, yaitu dengan cara mengalikan tiga belas dengan seratus, lalu membagi hasilnya dengan delapan puluh lima, maka hasilnya adalah lima belas dan lima bagian dari tujuh belas bagian dari mas’udiyyah.

فاضرب الآن ذلك في مائة وثلاثين واقسم ما بلغ على مائة وعشرة فما خرج فهو ما يصيب من الملكية بثلاثةَ عشرَ درهماً محمودية

Kalikan sekarang angka itu dengan seratus tiga puluh, lalu bagilah hasilnya dengan seratus sepuluh; maka hasil yang keluar adalah bagian kepemilikan yang didapatkan dengan tiga belas dirham mahmudi.

فإن قال قائل: ثلاثةَ عشر ذراعاً وشبرٌ في عرض أربعة أشبار بعشرة دراهم كم ثمن ثلاثةِ أشبارٍ في أربعة أشبار فحساب الباب أن نجعل الثلاثة عشر ذراعاً والشبرَ أشباراً فتكون سبعة وعشرين شبراً لأن كل ذراع شبران  ثم نضرب هذا المبلغ في العرض وهو أربعة فيبلغ مائةً وثمانيةً ثم نضرب ثلاثة أشبار التي عنها السؤال في عرضها وهو أربعة فتكون اثني عشر ورجع الأمر إلى قول القائل: إذا كان مائة وثمانية بعشرة دراهم فكم ثمن اثني عشر منها فنضرب الاثني عشر في العشرة فإن الاثني عشر المسؤول عنها مثمَّن والعشرة ثمن ونحن في الضرب نضرب المسؤول عنه فيما يخالفه ونقسم ما بلغ على مائة وثمانية فيخرج درهم وتسع درهم فهذا هو الثمن المطلوب

Jika ada yang bertanya: Tiga belas hasta dan satu jengkal dengan lebar empat jengkal seharga sepuluh dirham, berapakah harga tiga jengkal dengan lebar empat jengkal? Maka cara menghitungnya adalah kita ubah tiga belas hasta dan satu jengkal menjadi satuan jengkal, sehingga menjadi dua puluh tujuh jengkal, karena setiap hasta sama dengan dua jengkal. Kemudian kita kalikan jumlah ini dengan lebarnya, yaitu empat, sehingga hasilnya seratus delapan. Lalu kita kalikan tiga jengkal yang ditanyakan dengan lebarnya, yaitu empat, sehingga menjadi dua belas. Maka permasalahan kembali pada pertanyaan: Jika seratus delapan seharga sepuluh dirham, berapakah harga dua belas darinya? Maka kita kalikan dua belas dengan sepuluh, karena dua belas yang ditanyakan adalah yang dihargai, dan sepuluh adalah harganya. Dalam perkalian, kita kalikan yang ditanyakan dengan lawannya, lalu hasilnya kita bagi dengan seratus delapan, maka hasilnya adalah satu dirham dan sembilan persepuluh dirham. Inilah harga yang dimaksud.

فإن قال قائل : مائةُ شاةٍ خمسون منها كل ثلاث منها بدرهمين وخمسون منها كل اثنين منها بثلاثة دراهم كم ثمن كل خمسين

Jika ada yang berkata: Seratus ekor domba, lima puluh di antaranya setiap tiga ekor seharga dua dirham, dan lima puluh sisanya setiap dua ekor seharga tiga dirham, berapakah harga masing-masing lima puluh ekor itu?

فاضرب خمسين في اثنين واقسم المبلغ على ثلاثة فيخرج ثلاثة وثلاثون وثلث فهذا ثمن الخمسين التي كل ثلاثة منها بدرهمين

Kalikan lima puluh dengan dua, lalu bagi jumlahnya dengan tiga, maka hasilnya adalah tiga puluh tiga dan sepertiga. Inilah harga lima puluh barang yang setiap tiga di antaranya seharga dua dirham.

ثم اضرب الخمسين في ثلاثة واقسم المبلغ على اثنين فيخرج خمسة وسبعون فهذا ثمن الخمسين التي كل اثنين منها بثلاثة دراهم فاجمع المبلغين فيكون مائةً وثمانيةً وثلثَ درهم هي ثمن المائة شاة على اختلاف الثمنين

Kemudian kalikan lima puluh dengan tiga dan bagi jumlahnya dengan dua, maka hasilnya adalah tujuh puluh lima. Inilah harga lima puluh ekor kambing yang setiap dua ekornya seharga tiga dirham. Lalu jumlahkan kedua nilai tersebut, maka hasilnya seratus delapan dan sepertiga dirham. Itulah harga seratus ekor kambing dengan perbedaan dua harga tersebut.

فإن قيل: ثلاثةٌ اشتروا شاةً بتسعة دراهم على أن تكون الشاة بينهم على سبعة عشر سهماً: لواحدٍ منها تسعة وللثاني منها ستة أجزاء وللثالث منها جزآن كم على كل واحدٍ من ثمنها فاحفظ مخرج الأجزاء منها وهو سبعةَ عشرَ فتأخذ التسعة وتضربها في الثمن وهو تسعة وتقسم ما بلغ على السبعةَ عشرَ فيخرج أربعةُ دراهم وثلاثةَ عشرَ جزءاً من درهم

Jika dikatakan: Tiga orang membeli seekor kambing seharga sembilan dirham dengan ketentuan kambing tersebut dibagi di antara mereka menjadi tujuh belas bagian: salah satunya mendapat sembilan bagian, yang kedua mendapat enam bagian, dan yang ketiga mendapat dua bagian. Berapa bagian harga yang harus dibayar masing-masing? Maka ingatlah penyebut bagian-bagiannya, yaitu tujuh belas. Ambillah sembilan, lalu kalikan dengan harga kambing, yaitu sembilan, kemudian bagi hasilnya dengan tujuh belas. Maka hasilnya adalah empat dirham dan tiga belas bagian dari satu dirham.

فهذا مقدار الواجب من الثمن للذي له تسعةُ أجزاء من الشاة وتضرب الستة أجزاء في الثمن وهو تسعة وتقسم المبلغ على سبعةَ عشرَ فيخرج ثلاثة دراهم وثلاثة أجزاء من سبعةَ عشرَ جزءاً من درهم هذا على من له منها ستة وتضرب الجزأين في الثمن فيكون ثمانيةَ عشرَ وتقسمها على سبعة عشر فيخرج درهم وجزءٌ من سبعة عشر جزءاً من درهم  وهذا ما يجب من الثمن على من له جزءان من سبعةَ عشر من الشاة

Inilah jumlah kewajiban dari harga bagi orang yang memiliki sembilan bagian dari seekor kambing. Enam bagian dikalikan dengan harga, yaitu sembilan, lalu jumlah tersebut dibagi dengan tujuh belas, maka hasilnya adalah tiga dirham dan tiga bagian dari tujuh belas bagian dari satu dirham. Ini adalah kewajiban harga bagi orang yang memiliki enam bagian. Kemudian dua bagian dikalikan dengan harga, hasilnya delapan belas, lalu dibagi dengan tujuh belas, maka hasilnya satu dirham dan satu bagian dari tujuh belas bagian dari satu dirham. Inilah kewajiban harga bagi orang yang memiliki dua dari tujuh belas bagian dari seekor kambing.

ولو قال القائل: كيف تقسم عشرة دراهم بين ثلاثة أنفس على شرط أن يكون لواحدٍ النصفُ ولآخر الثلثان وللثالث ثلاثة أرباع على قياس العول في الفرائض فاطلب عدداً له نصف وثلث وربع وأقلُّه اثنا عشر فخذ نصفَه وثلثيه وثلاثة أرباع منه وذلك ثلاثة وعشرون فاحفظها فإنها المقسوم عليها ثم خذ نصف الأصل وهو ستة فاضربها في العشرة واقسم المبلغ على ثلاثةٍ وعشرين فيخرج درهمان وأربعةَ عشر جزءاً من ثلاثة وعشرين جزءاً من درهم فهذا نصيب صاحب النصف من العشرة

Jika seseorang bertanya: Bagaimana cara membagi sepuluh dirham kepada tiga orang dengan syarat satu orang mendapat setengah, yang lain mendapat dua pertiga, dan yang ketiga mendapat tiga perempat, menurut qiyās ‘aul dalam faraidh, maka carilah suatu bilangan yang memiliki setengah, sepertiga, dan seperempat, dan yang paling kecil adalah dua belas. Ambillah setengahnya, dua pertiganya, dan tiga perempatnya, maka jumlahnya dua puluh tiga. Ingatlah angka ini karena inilah yang akan menjadi pembagi. Kemudian ambil setengah dari pokok (yaitu enam), kalikan dengan sepuluh, lalu bagi hasilnya dengan dua puluh tiga, maka hasilnya adalah dua dirham dan empat belas bagian dari dua puluh tiga bagian dari satu dirham. Inilah bagian pemilik setengah dari sepuluh dirham tersebut.

ثم خذ ثلثي الأصل وهو ثمانية واضربها في العشرة واقسم المبلغ على الثلاثة والعشرين فيخرج ثلاثة دراهم وأحدَ عشر جزءاً من ثلاثةٍ وعشرين جزءاً من درهم فهذا نصيب صاحب الثلثين

Kemudian ambillah dua pertiga dari pokok, yaitu delapan, lalu kalikan dengan sepuluh dan bagilah hasilnya dengan dua puluh tiga, maka akan didapatkan tiga dirham dan sebelas bagian dari dua puluh tiga bagian dari satu dirham. Inilah bagian untuk pemilik dua pertiga.

ثم خذ ثلاثة أرباع الأصل وهو تسعة فاضربها في العشرة واقسم المبلغ وهو تسعون على الثلاثة والعشرين فيخرج ثلاثة دراهم وأحدٌ وعشرون جزءاً من ثلاثةٍ وعشرين جزءاً من درهم فهذا نصيب صاحب الثلاثة أرباع

Kemudian ambillah tiga perempat dari pokok, yaitu sembilan, lalu kalikan dengan sepuluh dan bagilah hasilnya, yaitu sembilan puluh, dengan dua puluh tiga, maka hasilnya adalah tiga dirham dan dua puluh satu bagian dari dua puluh tiga bagian dari satu dirham. Inilah bagian pemilik tiga perempat.

فإن قال القائل: بعت مائة شاةٍ: أوّلها بدرهم والثانية بدرهمين والثالثة بثلاثة وكذلك ثمن كل شاةٍ زائدٌ على ثمن الذي قبلها بدرهم كم ثمن المائة

Jika seseorang berkata: Aku telah menjual seratus ekor kambing; yang pertama seharga satu dirham, yang kedua seharga dua dirham, yang ketiga seharga tiga dirham, dan demikian pula harga setiap kambing bertambah satu dirham dari harga kambing sebelumnya, maka berapakah harga seratus ekor kambing itu?

فهذا كقول القائل: كم يبلغ العدد من واحد إلى مائة إذا جمع على التوالي وذلك خمسة آلاف وخمسون

Ini seperti perkataan seseorang: Berapa jumlah dari satu sampai seratus jika dijumlahkan secara berurutan? Itu adalah lima ribu lima puluh.

ووجه ذلك إذا سئلنا عن مبلغ عدد من مبتدأ إلى منتهى على الوِلاء مثل: أن يقول القائل: اجمعوا الأعدادَ المتواليةَ من واحد إلى عشرة على الوِلاء معناه واحد اثنان ثلاثة أربعة هكذا إلى العشرة والمعتبر الصحيح في ذلك أن نجمع الطرفين منهما و نضرب مجموعهما في نصف عدّة عدد الأعداد التي عنها السؤال فما بلغ فهو المراد

Penjelasannya adalah, jika kita ditanya tentang jumlah bilangan dari awal hingga akhir secara berurutan, misalnya seseorang berkata: jumlahkanlah bilangan-bilangan berurutan dari satu sampai sepuluh secara berurutan, maksudnya satu, dua, tiga, empat, demikian seterusnya hingga sepuluh. Cara yang benar dalam hal ini adalah kita jumlahkan kedua ujung bilangan tersebut, lalu hasil penjumlahannya dikalikan dengan setengah dari jumlah bilangan yang ditanyakan, maka hasilnya itulah yang dimaksud.

فإذا كان السؤال عن الجمع من واحد إلى عشرة فإنا نجمع بين الطرفين فكان أحدَ عشر فنصفه في نصف عدّة الأعداد من واحد إلى عشرة وذلك خمسة فصارت خمسة وخمسين فذلك هو المبلغ

Jika pertanyaannya adalah tentang penjumlahan dari satu sampai sepuluh, maka kita menjumlahkan antara kedua ujungnya sehingga menjadi sebelas, lalu kita kalikan dengan setengah dari jumlah bilangan dari satu sampai sepuluh, yaitu lima, sehingga menjadi lima puluh lima. Itulah hasilnya.

فإن قال السائل: اجمع من الخمسة إلى العشرة جمعنا الطرفين وهما الخمسة والعشرة فصار خمسة عشرَ فضربناها في ثلاثة لأنها نصف عدد الأعداد من خمسة إلى عشرة فإنها ستةُ أعداد ونصفها ثلاثة فصارت خمسة وأربعين فهي المبلغ المطلوب

Jika penanya berkata: Jumlahkan dari lima sampai sepuluh, maka kita jumlahkan kedua ujungnya, yaitu lima dan sepuluh, sehingga menjadi lima belas. Lalu kita kalikan dengan tiga karena itu adalah setengah dari jumlah bilangan dari lima sampai sepuluh, yaitu enam bilangan dan setengahnya adalah tiga. Maka hasilnya menjadi empat puluh lima, itulah jumlah yang dimaksud.

فإن قال السائل: مائة شاةٍ بعتُ أولاها بدرهم والثانية بثلاثة والثالثة بخمسة ثم كذلك على قياس الأفراد المتوالية من الواحد إلى أي فردٍ شئت فهذا من باب جمع الأفراد المتوالية من الواحد إلى أي فردٍ شئت

Jika penanya berkata: Seratus ekor domba, aku menjual yang pertama seharga satu dirham, yang kedua seharga tiga dirham, yang ketiga seharga lima dirham, kemudian demikian pula menurut qiyās pada bilangan-bilangan ganjil yang berurutan dari satu hingga bilangan mana pun yang kamu kehendaki, maka ini termasuk dalam kategori penjumlahan bilangan-bilangan ganjil yang berurutan dari satu hingga bilangan mana pun yang kamu kehendaki.

والطريق فيه أن نأخذ نصف الفرد الذي هو الغاية ونزيد عليه نصف درهم ونضرب ما يبلغ في نفسه فما بلغ فهو المقصود

Caranya adalah dengan mengambil setengah dari jumlah yang menjadi tujuan, lalu menambahkan setengah dirham, kemudian hasilnya dikalikan dengan dirinya sendiri, maka hasil yang didapat itulah yang dimaksud.

مثاله: أردنا أن نجمع الأفراد من واحد إلى تسعة فنأخذ نصف التسعة وذلك أربعةٌ ونصف زدنا عليه نصف درهم فكان خمسة فضربناه في مثله فصارت خمسةً وعشرين فهو مجموع الأفراد من واحد إلى تسعة

Contohnya: Kita ingin menjumlahkan bilangan ganjil dari satu sampai sembilan, maka kita ambil setengah dari sembilan, yaitu empat setengah, lalu kita tambahkan setengah dirham sehingga menjadi lima. Kemudian kita kalikan dengan bilangan yang sama sehingga menjadi dua puluh lima. Itulah jumlah bilangan ganjil dari satu sampai sembilan.

وإن قال السائل: بعت أولها باثنين والثانية بأربعة والثالثة بستة وهكذا على توالي الأزواج فطريقها طريقُ جمع الأزواج المتوالية من اثنين إلى أي زوج شئت فخذ نصف الزوج الذي هو الغاية واضربه في مثله فما بلغ فزد عليه نصف ذلك الزوج فما كان فهو المبلغ

Jika penanya berkata: Aku menjual yang pertama seharga dua, yang kedua seharga empat, yang ketiga seharga enam, dan seterusnya secara berurutan pada bilangan genap, maka caranya adalah dengan menjumlahkan bilangan genap yang berurutan dari dua hingga bilangan genap mana pun yang kamu kehendaki. Ambillah setengah dari bilangan genap yang menjadi batas akhir, lalu kalikan dengan dirinya sendiri. Hasilnya, tambahkan dengan setengah dari bilangan genap tersebut. Apa pun hasilnya, itulah jumlah yang dicapai.

مثاله: أردنا جمعَ الأزواج من اثنين إلى عشرة فنأخذ نصف العشرة وهو خمسة فنضربها في مثلها خمسة وعشرين فزدنا عليها الخمسة فصارت ثلاثين فهي مبلغ الأزواج من اثنين إلى عشرة

Contohnya: Kita ingin menjumlahkan bilangan genap dari dua hingga sepuluh, maka kita ambil setengah dari sepuluh yaitu lima, lalu kita kalikan dengan bilangan yang sama yaitu lima, hasilnya dua puluh lima. Kemudian kita tambahkan lima sehingga menjadi tiga puluh. Itulah jumlah bilangan genap dari dua hingga sepuluh.

وقد تركت من جميع الأعداد مسائِلَ لسنا نطوّل بذكرها وقد يُفرض جميعها في الأثمان وقد ذكرنا مقداراً يليق بهذا الباب

Saya telah meninggalkan dari seluruh bilangan beberapa permasalahan yang tidak saya uraikan secara panjang lebar, dan seluruhnya mungkin saja terjadi dalam hal harga-harga. Saya telah menyebutkan kadar yang sesuai untuk bab ini.

فصل في حساب الصرف في الدراهم والدنانير

Bagian tentang perhitungan sharf pada dirham dan dinar

المثقال وزن درهم وثلاثة أسباع درهم بوزن مكة  فإذا أردت تحويل الدراهم إلى المثاقيل فأسقط من أعداد الدراهم ثلاثة أعشارها فما بقي فهو وزن الدراهم بالمثاقيل

Mitsqal adalah seberat satu dirham dan tiga per tujuh dirham menurut timbangan Makkah. Jika kamu ingin mengonversi dirham ke mitsqal, kurangkan tiga per sepuluh dari jumlah dirham, maka sisanya adalah berat dirham dalam mitsqal.

وإن أردت تحويل المثاقيل إلى الدراهم فزد على عدد المثاقيل ثلاثة أسباعها فما بلغ فهو وزنه بأوزان الدراهم المعروفة بوزن مكة

Jika engkau ingin mengonversi mitsqal ke dalam dirham, tambahkan pada jumlah mitsqal tersebut tiga per tujuhnya; hasilnya adalah beratnya menurut timbangan dirham yang dikenal dengan timbangan Makkah.

مثاله: أردنا أن نعرف أن خمسة دراهم كم مثقالاً هي فأسقطنا من الخمسة ثلاثة أعشارها وذلك بأن ضربناها في ثلاثة وهو عدد الأعشار فبلغت خمسةَ عشرَ فقسمناها على مخرج الأعشار وهو عشرة فخرج درهم ونصف فأسقطناه من الخمسة فبقي ثلاثةٌ ونصف فهي وزن خمسة دراهم بالمثاقيل

Contohnya: Kita ingin mengetahui berapa mitsqal dari lima dirham, maka kita kurangi dari lima itu tiga persepuluhnya, yaitu dengan cara mengalikannya dengan tiga, yaitu jumlah persepuluh, sehingga hasilnya lima belas. Lalu kita bagi dengan penyebut persepuluh, yaitu sepuluh, maka hasilnya satu setengah dirham. Kemudian kita kurangi dari lima, sehingga tersisa tiga setengah; itulah berat lima dirham dalam mitsqal.

وإن أردنا أن نعرف أن خمسة مثاقيل كم هي بوزن الدراهم زدنا على الخمسة ثلاثة أسباعها وذلك بأن نضرب الخمسة في عدد الأسباع وهو ثلاثة ونقسم المبلغ على مخرج الأسباع وهو سبعة فيخرج اثنان وسبع فنزيد ذلك على الخمسة فيبلغ سبعةَ دراهم وسبعَ درهم فهو وزن خمسة مثاقيل بوزن الدرهم

Jika kita ingin mengetahui berapa berat lima mitsqal dalam timbangan dirham, kita tambahkan pada lima mitsqal itu tiga per tujuhnya, yaitu dengan cara mengalikan lima dengan jumlah per tujuh, yaitu tiga, lalu membagi hasilnya dengan penyebut tujuh, sehingga didapat dua dan seper tujuh. Kemudian kita tambahkan hasil itu pada lima, sehingga menjadi tujuh dirham dan seper tujuh dirham. Itulah berat lima mitsqal dalam timbangan dirham.

واعلم أن الذي يقابل أجزاء المثقال من أجزاء الدرهم مثلُ ما يقابل المثقال الواحد من الدرهم في العدد وذلك أنه إذا كان الدينار بعشرين درهماً فدانق من الذهب بعشرين دانق من الفضة وربع دينارٍ بعشرين ربع درهم والحبة من الذهب بعشرين حبة من الفضة وكذلك الباب كيف قدّر سعر الدينار

Ketahuilah bahwa bagian-bagian mitsqal yang berhadapan dengan bagian-bagian dirham adalah sama dengan jumlah mitsqal satu terhadap dirham, yaitu jika satu dinar sebanding dengan dua puluh dirham, maka satu daniq emas sebanding dengan dua puluh daniq perak, seperempat dinar sebanding dengan dua puluh seperempat dirham, dan satu habbah emas sebanding dengan dua puluh habbah perak. Demikian pula seterusnya, bagaimana pun harga dinar ditetapkan.

فإذا قيل الدينار بثلاثةٍ وعشرين درهماً  قلت الحبة من الدينار على هذا الصرف بثلاثةٍ وعشرين حبة من الفضة فكل ست حبات دانق وكل ستة دوانق درهم فيكون ثمنُ الحبة من الذهب على هذا الصرف نصفَ درهم وخمسَ حبات

Jika dikatakan satu dinar seharga dua puluh tiga dirham, maka saya katakan satu ḥabbah dari dinar menurut nilai tukar ini adalah dua puluh tiga ḥabbah dari perak. Setiap enam ḥabbah adalah satu dānaq, dan setiap enam dānaq adalah satu dirham. Maka harga satu ḥabbah dari emas menurut nilai tukar ini adalah setengah dirham dan lima ḥabbah.

وعلى هذا القياس يكون أثمان أجزاء الدينار من الدرهم إلا أن يقع السؤال عن وزن شعيرة من الذهب فإنه لا يقابله من الفضة مثلُ ما يقابل الدينار من الدرهم لأن الحبة من الفضة في بعض المواضع شعيرتان وليست الحبة من الذهب شعيرتين ولا ثلاث شعيرات بل هي شعيرتان وكسر فلا يستقيم في الشعيرات حساب سائر الأجزاء

Dengan qiyās seperti ini, maka nilai bagian-bagian dinar terhadap dirham juga demikian, kecuali jika muncul pertanyaan tentang berat satu butir gandum dari emas, maka tidak ada padanannya dari perak sebagaimana dinar terhadap dirham. Sebab satu habbah dari perak di beberapa tempat adalah dua butir gandum, sedangkan satu habbah dari emas bukanlah dua atau tiga butir gandum, melainkan dua butir gandum lebih sedikit. Maka, perhitungan bagian-bagian lainnya tidak dapat diterapkan secara tepat pada butir-butir gandum.

وفي هذا الباب طرق من البسط بالضرب والقسمة فنذكر على الاختصار ما يكفي منها:

Dalam bab ini terdapat beberapa metode perincian dengan perkalian dan pembagian, maka kami akan menyebutkan secara ringkas apa yang mencukupi darinya.

إذا قيل: مثقالُ ذهبٍ بعشرين درهماً كم ثمن دانقين ونصفٍ من الذهب فالمسلك المتقدم جارٍ هاهنا وإن أردت غيره فاضرب دانقين ونصفاً وهي خمسة أجزاء من اثني عشر جزءاً من دينار  إذا بُسطت بأنصاف الأسداس فنضرب خمسة أجزاء من اثني عشر جزءاً من واحد في الثمن وهو عشرون فيبلغ ثمانية وثلثا فاقسمها على الواحد وهو مقدار دينار  فتخرج ثمانية دراهم وثلث فإن معنى القسمة بيان نصيب الواحد فذلك ثمنُ دانقين ونصفٍ من الذهب

Jika dikatakan: Satu mitsqal emas seharga dua puluh dirham, berapakah harga dua daniq setengah emas? Maka metode yang telah dijelaskan sebelumnya berlaku juga di sini. Jika engkau menginginkan cara lain, kalikan dua daniq setengah, yaitu lima bagian dari dua belas bagian dari satu dinar—jika dirinci menjadi setengah-setengah dari asadus—maka kalikan lima bagian dari dua belas bagian dari satu dengan harga, yaitu dua puluh, maka hasilnya adalah delapan dan sepertiga. Lalu bagilah dengan satu, yaitu ukuran satu dinar, maka hasilnya delapan dirham dan sepertiga. Karena makna pembagian adalah untuk menjelaskan bagian dari satu, maka itulah harga dua daniq setengah emas.

فإن أردت أن تحسب على طريق النسبة قلت و قد علمنا أن دانقين ونصفاً من الدينار ربعه وسدسه: خُذ ربع الثمن وسدسه فربع العشرين خَمسة وسدسها ثلاثة وثلث فالمجموع ثمانية وثلث وهي الثمن المطلوب

Jika engkau ingin menghitungnya dengan cara perbandingan, katakanlah: kita telah mengetahui bahwa dua dan setengah daniq dari dinar adalah seperempat dan seperenamnya. Ambillah seperempat dari delapan dan seperenamnya; seperempat dari dua puluh adalah lima dan seperenamnya adalah tiga dan sepertiga, maka jumlahnya adalah delapan dan sepertiga, dan itulah nilai yang dicari.

وإن قيل: دينار بعشرين درهماً فأربعة دراهم بكم تكون من الذهب فاضرب الأربعة فيما يخالفه في الجنس وهو الدينار الواحد فيكون أربعة فاقسمها على العشرين التي هي من جنسها فيخرج خمساً واحداً فبان أنه يقابل أربعةُ دنانير خمسَ دينار

Jika dikatakan: satu dinar seharga dua puluh dirham, maka berapakah nilai empat dirham dalam emas? Maka kalikan empat dengan yang berbeda jenisnya, yaitu satu dinar, sehingga menjadi empat. Lalu bagilah dengan dua puluh yang merupakan dari jenisnya, maka hasilnya adalah seperlima. Maka jelaslah bahwa empat dirham setara dengan seperlima dinar.

وهذا على قياس فضّ الأثمان على المثمنات في الباب الأول

Dan ini berdasarkan qiyās pemisahan harga atas barang yang diperjualbelikan pada bab pertama.

و إذا اختلفت الأوزان بين الدراهم والدنانير وأردنا أن نتكلم في الصرف بأن يقول القائل: مثقال ذهب بعشرين درهماً كم ثمن دانقين ونصفٍ من الذهب بوزن الفضة من الدراهم

Dan jika terdapat perbedaan timbangan antara dirham dan dinar, lalu kita ingin membahas tentang sharf (pertukaran mata uang), misalnya seseorang berkata: satu mitsqal emas seharga dua puluh dirham, berapakah harga dua daniq setengah emas dengan berat perak dari dirham?

فاضرب سبعةً أبداً في الثمن في هذا الباب وهو عشرون تكون مائةً وأربعين فأخرج من كل عشرة منها دانقين ونصفاً يكون خمسة دراهم وخمسة دوانيق فهذا ثمن دانقين ونصفٍ بوزن الفضة من الذهب

Maka kalikan selalu tujuh dengan delapan pada bab ini, yaitu dua puluh, maka hasilnya seratus empat puluh. Keluarkan dari setiap sepuluh darinya dua setengah daniq, maka hasilnya lima dirham dan lima daniq. Inilah harga dua setengah daniq dengan timbangan perak dari emas.

فإن قيل: كم ثمن وزن درهم من الذهب بوزن الدراهم والصرفُ أربعة عشر فقد علمت أن المثقال يزيد على الدراهم بثلاثة أسباعه فذلك عشرة أسباع الدرهم فيصير الدرهم أسباعاً يكون سبعة فاضربها في الثمن يردّ ثمانيةً وتسعين فاقسمها على العشرة فتخرج تسعة دراهم وأربعة أخماس درهم فهي ثمن وزن درهم من الذهب

Jika ditanyakan: Berapa harga satu dirham emas dengan berat dirham, sedangkan kursnya adalah empat belas? Maka ketahuilah bahwa satu mitsqal lebih berat dari dirham sebanyak tiga per tujuhnya, sehingga menjadi sepuluh per tujuh dirham. Maka jadikanlah dirham itu menjadi tujuh bagian, sehingga menjadi tujuh. Kalikan jumlah itu dengan harga, hasilnya sembilan puluh delapan. Lalu bagilah dengan sepuluh, maka hasilnya adalah sembilan dirham dan empat per lima dirham. Itulah harga satu dirham emas dengan berat dirham.

وإذا قال القائل: الدينار بعشرين درهماً كم ثمن قطعة من الذهب مجهول وزنها بزنة الفضة فاضرب العشرين في سبعة يكون مائة وأربعين واقسمها على العشرة  وهي الأسباع التي ذكرناها تخرج أربعة عشر  فهي تقابل وزن جزء واحدٍ من الدينار: أي الذهب فتقابل تلك القطعة من الذهب بمثل وزنها من الفضة أربع عشرة مرة

Jika seseorang berkata: Satu dinar seharga dua puluh dirham, berapakah harga sebuah potongan emas yang tidak diketahui beratnya dengan berat perak? Maka kalikan dua puluh dengan tujuh, hasilnya seratus empat puluh, lalu bagilah dengan sepuluh, yaitu bilangan tujuh bagian yang telah kami sebutkan, maka hasilnya adalah empat belas. Maka ini setara dengan berat satu bagian dari dinar, yaitu emas. Maka potongan emas tersebut setara dengan empat belas kali beratnya dari perak.

فإن كان صرفُ الدينار بخمسةٍ وعشرين فاضرب الخمسة والعشرين في السبعة  تكون مائة وخمسة وسبعين فاقسمها على العشرة فيخرج سبعةَ عشرَ ونصف فخذ مثلَ وزن القطعة سبعةَ عشرَ مرة ونصف مرة

Jika penukaran dinar adalah dengan dua puluh lima, maka kalikan dua puluh lima dengan tujuh, hasilnya seratus tujuh puluh lima. Lalu bagilah dengan sepuluh, maka hasilnya tujuh belas setengah. Maka ambillah seberat potongan itu sebanyak tujuh belas kali dan setengah kali.

والأصل في هذا أن نضرب الثمن في سبعة ونقسم المبلغ على العشرة الأسباع  لأن كل سبعة مثاقيل وزن عشرة دراهم وقس على هذا نظائره

Dasar dari hal ini adalah kita mengalikan harga dengan tujuh lalu membagi jumlah tersebut dengan sepuluh per tujuh, karena setiap tujuh mitsqal setara dengan berat sepuluh dirham, dan demikian pula pada kasus-kasus serupa.

فإن كان مع المشتري من الفضة قطعةٌ لا نعرف وزنها وأراد أن يأخذ بها من الذهب فاعلم أن مستحَقه من الذهب مثلُ نصف سبع وزن الفضة إذا كان الصرفُ خمسةً وعشرين

Jika pembeli memiliki sebongkah perak yang tidak diketahui beratnya dan ia ingin menukarkannya dengan emas, maka ketahuilah bahwa haknya dari emas adalah sebesar setengah dari seper tujuh berat perak tersebut, jika nilai tukarnya adalah dua puluh lima.

ومن أحاط بنسبة الأسباع هان عليه استعمال هذه المسالك

Barang siapa yang memahami proporsi bagian tujuh, maka akan mudah baginya menggunakan metode-metode ini.

فإن قيل: إذا كان لك على رجل ثَلاثمائة درهم ممّا يكون في كل عشرة منها سبعة ونصف فضة فأعطاك من دراهم في كل عشرة منها ستة دراهم فضة كم تأخذ منه لتستوفي الفضة فاقسم السبعة والنصف على الستة  فيكون في كل عشرة من ا لفضل واحدٌ وربع فاضرب ثَلاثمائة في واحد وربع فيكون ثَلاثَمائة وخمسة وسبعين درهماً فهذا مقدار ما يأخذه وهذا حساب تراضٍ وإلا فأقوال الفقهاء لا تخفى في بيع المغشوشة بالمغشوشة مع اختلاف العيار

Jika dikatakan: Jika kamu memiliki piutang atas seseorang sebesar tiga ratus dirham, di mana pada setiap sepuluh dirham terdapat tujuh setengah bagian perak, lalu ia memberimu dirham yang pada setiap sepuluh dirhamnya terdapat enam bagian perak, berapa banyak yang harus kamu ambil darinya agar jumlah peraknya setara? Maka bagilah tujuh setengah dengan enam, sehingga pada setiap sepuluh dirham terdapat kelebihan satu seperempat. Kalikan tiga ratus dengan satu seperempat, maka hasilnya adalah tiga ratus tujuh puluh lima dirham. Inilah jumlah yang harus diambil. Ini adalah perhitungan berdasarkan kesepakatan, adapun pendapat para fuqaha tidaklah samar mengenai jual beli barang yang dicampur (maghsusy) dengan barang yang juga dicampur, dengan perbedaan kadar (‘iyār).

وإن كان الحق الواجب ثَلاثَمائة درهم من الدراهم التي في كل عشرة منها ستة فضة فأراد أن يردّ من الدراهم التي في كل عشرة منها سبعة ونصف فضة فاقسم الستة على السبعة والنصف فيكون أربعةَ أخماسها فخذ أربعة أخماس ثلاثمائة وهي مائتان وأربعون فهذا مقدار ما يدفع منها

Jika hak yang wajib adalah tiga ratus dirham dari dirham yang setiap sepuluhnya mengandung enam bagian perak, lalu seseorang ingin membayar dengan dirham yang setiap sepuluhnya mengandung tujuh setengah bagian perak, maka bagilah enam dengan tujuh setengah, hasilnya adalah empat per lima. Ambillah empat per lima dari tiga ratus, yaitu dua ratus empat puluh. Maka inilah jumlah yang harus dibayarkan dari jenis dirham tersebut.

مسألة: إن سئلت عن رجل دفع إلى الصائغ خمسين مثقالاً ذهباً وألقى عليه عشرين مثقالاً شَبَهاً  ثم قطع من الجملة قطعةً وزنها عشرون مثقالاً كم فيها من الذهب وكم فيها من الشبه

Masalah: Jika engkau ditanya tentang seorang laki-laki yang memberikan kepada tukang emas lima puluh mitsqal emas, lalu menambahkan kepadanya dua puluh mitsqal perak, kemudian ia memotong dari keseluruhan itu sebuah potongan yang beratnya dua puluh mitsqal, berapa kandungan emas di dalamnya dan berapa kandungan peraknya?

فاضرب المقطوع وهو عشرون في الشبه الملقى عليه وهو عشرون فبلغ أربعمائة فاقسمها على مجموع الذهب والشبه وذلك سبعون فيبلغ خمسةً وخمسةَ أسباع وذلك مقدار ما في القطعة من الشبه

Kalikan bagian yang terpotong, yaitu dua puluh, dengan kadar campuran yang dikenakan padanya, yaitu dua puluh, sehingga hasilnya empat ratus. Lalu bagilah dengan jumlah emas dan campuran tersebut, yaitu tujuh puluh, maka hasilnya adalah lima dan lima per tujuh. Itulah kadar campuran yang terdapat dalam potongan tersebut.

ثم اضرب الذهب في الأصل وهو خمسون في المقطوع وهو عشرون فبلغ ألفاً فاقسمها على السبعين فيخرج أربعة عشر مثقالاً وسبعي مثقال وذلك مقدار ما في القطعة من الذهب

Kemudian kalikan emas pada asalnya, yaitu lima puluh, dengan bagian yang terpotong, yaitu dua puluh, sehingga hasilnya seribu. Lalu bagilah seribu itu dengan tujuh puluh, maka hasilnya adalah empat belas mitsqal dan dua per tujuh mitsqal. Itulah kadar emas yang terdapat dalam potongan tersebut.

وإن أردت أخذته من الشبه فنقول: الجملة المخلوطة سبعون سبعاها شبه وخمسة أسباعها ذهب فكل قطعة تُقطع فسبعاها شبهٌ وخمسة أسباعها ذهب

Jika engkau ingin, ambillah dari perbandingan: keseluruhan campuran itu terdiri dari tujuh bagian, dua bagiannya adalah perak campuran (syabah) dan lima bagiannya adalah emas. Maka setiap potongan yang diambil, dua bagiannya adalah syabah dan lima bagiannya adalah emas.

فإن قيل: إناءٌ فيه من الذهب خمسةُ مثاقيل ومن الفضة تسعةُ مثاقيل ومن الرصاص خمسةُ مثاقيل ومن النحاس سبعةُ مثاقيل ومن الصُّفْر عشرة ومن جوهر آخر ثلاثةَ عشرَ مثقالاً ومن الشبه أحدَ عشرَ فقطعت منها قطعة وزنُها ثمانيةُ مثاقيل كم فيها من كل جوهر

Jika dikatakan: Sebuah wadah berisi emas sebanyak lima mitsqal, perak sembilan mitsqal, timah lima mitsqal, tembaga tujuh mitsqal, shufr sepuluh mitsqal, permata lain tiga belas mitsqal, dan syabah sebelas mitsqal. Lalu dipotong darinya sebuah bagian yang beratnya delapan mitsqal, berapa banyak dari setiap jenis permata yang terdapat dalam potongan tersebut?

فاجمع عدد مثاقيل الإناء وهي ستون وهي المقسومة عليها ثم اضرب مثاقيل كل جنسٍ في الثمانية التي هي وزن القطعة فما بلغ فاقسمه على الستين فما خرج فهو مقدار ما في تلك القطعة من ذلك الجنس

Jumlahkanlah berat (mitsqal) wadah, yaitu enam puluh, yang menjadi pembagi. Kemudian kalikan berat setiap jenis dengan delapan, yaitu berat satu keping. Hasilnya, bagilah dengan enam puluh. Apa yang keluar dari pembagian itu adalah kadar jenis tersebut yang terdapat dalam keping itu.

ونظير ما في هذه المسألة قول القائل: قارورة ملئت بالأدهان فكان فيها عشرون رطلاً: منها ثمانية أرطال دهن الزئبق وسبعةُ أرطال دُهن البنفسج وخمسةُ أرطال دهن الورد ملئت منها قارورة أخرى فوسعت تسعةَ أرطال كم فيها من الزئبق والبنفسج والورد فاجمع الأدهان في الأصل فتكون عشرين رطلاً فهي المقسوم عليها ثم اضرب أرطال الزئبق وهي ثمانية في التسعة المفروزة فتبلغ اثنين وسبعين فاقسمها على العشرين فيخرج ثلاثة أرطال وثلاثة أخماس رطل فهي مقدار ما فيها من الزئبق وهذا قياس غيره

Serupa dengan permasalahan ini adalah pernyataan seseorang: Sebuah botol diisi dengan minyak-minyak hingga berisi dua puluh rithl; di antaranya delapan rithl minyak za’faran, tujuh rithl minyak violet, dan lima rithl minyak mawar. Dari campuran ini diisi lagi ke dalam botol lain hingga muat sembilan rithl. Berapa banyak kandungan minyak za’faran, violet, dan mawar di dalamnya? Maka jumlahkan seluruh minyak dalam botol asal, yaitu dua puluh rithl, itulah pembaginya. Kemudian kalikan jumlah rithl minyak za’faran, yaitu delapan, dengan sembilan rithl yang diambil, hasilnya tujuh puluh dua. Lalu bagilah dengan dua puluh, hasilnya tiga rithl dan tiga per lima rithl; itulah kadar minyak za’faran yang ada di dalamnya. Demikian pula cara mengukur yang lainnya.

مسألة: إذا قيل: دينار بأربعةَ عشرَ ونصفٍ و دينارٌ بسبعةَ عشرَ ونصفٍ وقد أخذت بدينار واحد من الصرفين ستةَ عشرَ درهماً فبكم أخذت من الدينار الرخيص وبكم أخذت من الغالي

Masalah: Jika dikatakan: satu dinar seharga empat belas setengah dan satu dinar seharga tujuh belas setengah, dan engkau telah mengambil dari dua penukar uang dengan satu dinar sebanyak enam belas dirham, maka berapa banyak yang engkau ambil dari dinar yang murah dan berapa banyak yang engkau ambil dari dinar yang mahal?

فأسقط الضرب الأقلَّ وهو أربعة عشر ونصفٌ من الضرب الأكثر وهو سبعةَ عشرَ ونصفٌ تبقى ثلاثة فهي المقسوم عليها فاحفظها ثم أسقط أربعةَ عشر ونصفاً من الستةَ عشرَ يبقى واحدٌ ونصف فاقسمه على الثلاثة المحفوظة فيكون نصفها فتأخذ نصف دينار من الضرب الغالي ويبقى للصرف الرخيص نصفُ دينارٍ

Maka kurangkanlah jumlah yang lebih kecil, yaitu empat belas setengah, dari jumlah yang lebih besar, yaitu tujuh belas setengah, maka tersisa tiga; itulah angka yang menjadi pembagi, maka ingatlah itu. Kemudian kurangkan empat belas setengah dari enam belas, maka tersisa satu setengah; bagilah satu setengah itu dengan tiga yang telah diingat tadi, maka hasilnya adalah setengah. Maka ambillah setengah dinar dari jumlah yang lebih tinggi nilainya, dan sisanya, yaitu setengah dinar, menjadi milik jumlah yang lebih rendah nilainya.

فإن قيل: دينارٌ بثمانيةَ عشرَ درهماً مكسّرة ودينار بأربعةَ عشرَ صحاح أردت أن تأخذ من الصرفين خمسةَ عشرَ درهماً بدينار واحد فأسقط الصرف الأقلّ من الصرف الأكثر يبقى أربعةٌ فهي المقسوم عليها فاحفظها ثم انقص الأربعةَ عشرَ من المأخوذ وهي خمسةَ عشرَ يبقى واحدٌ فاقسمه على الأربعة المحفوظة فيخرج ربعٌ واحدٌ فخذ من الدينار الغالي الربعَ ومن الرخيص ثلاثة أرباع

Jika dikatakan: Satu dinar setara dengan delapan belas dirham yang pecahan dan satu dinar setara dengan empat belas dirham yang utuh. Engkau ingin mengambil dari kedua penukaran itu lima belas dirham dengan satu dinar. Maka kurangkan nilai tukar yang lebih rendah dari nilai tukar yang lebih tinggi, tersisa empat, itulah pembagi yang harus diingat. Kemudian kurangkan empat belas dari jumlah yang diambil, yaitu lima belas, tersisa satu. Bagilah satu itu dengan empat yang telah diingat, hasilnya adalah seperempat. Maka ambillah dari dinar yang mahal seperempat, dan dari dinar yang murah tiga perempat.

مسألة: إن قيل: مثقال بعشرة ومثقال بثمانية ومثقال بعشرة كيف نشتري من الجميع مثقالاً بثمانية فبابه أن نجمع الستة والثمانية والعشرة فيكون أربعةً وعشرين فاحفظها ثم انظر الستة من الأربعة والعشرين كم هي فنجدها ربعها فنقول: إذا كان المثقال بثمانية فربعه بكم فيكون بدرهمين وانظر إلى الثمانية وهي من أربعةٍ وعشرين فتجدها ثلثها فنقول: المثقال بثمانية فثُلثه بكم  فيكون بدرهمين وثلثي درهم

Masalah: Jika dikatakan: ada satu mitsqal seharga sepuluh, satu mitsqal seharga delapan, dan satu mitsqal seharga sepuluh, bagaimana kita membeli dari semuanya satu mitsqal seharga delapan? Caranya adalah dengan menjumlahkan enam, delapan, dan sepuluh sehingga menjadi dua puluh empat. Hafalkanlah itu, lalu lihatlah enam dari dua puluh empat, berapa bagiannya? Kita dapati itu seperempatnya. Maka kita katakan: jika satu mitsqal seharga delapan, maka seperempatnya berapa? Maka hasilnya adalah dua dirham. Lalu lihatlah delapan, yang merupakan bagian dari dua puluh empat, maka kita dapati itu sepertiganya. Maka kita katakan: satu mitsqal seharga delapan, maka sepertiganya berapa? Maka hasilnya adalah dua dirham dan dua pertiga dirham.

وانظر إلى العشرة كم هي من الأربعة والعشرين فتجدها ربعها وسدسها فنقول: المثقال بثمانية فبكم ربعه وسدسه فيكون بثلاثة وثلث وقد حصل المقصود فإنك إذا ألّفت أجزاء الدينار بلغت ديناراً وإذا ألفت أجزاء الدرهم بلغت ثمانية

Perhatikanlah sepuluh itu berapa dari dua puluh empat, maka kamu akan mendapati bahwa ia adalah seperempatnya dan seperenamnya. Maka kita katakan: satu mitsqal adalah delapan, lalu berapa seperempat dan seperenamnya? Maka hasilnya adalah tiga dan sepertiga. Dengan demikian, maksud yang diinginkan telah tercapai, sebab jika kamu menggabungkan bagian-bagian dinar, maka akan menjadi satu dinar, dan jika kamu menggabungkan bagian-bagian dirham, maka akan menjadi delapan.

مسألة: إذا قيل: دينارٌ بثلاثة دراهم وديناران بدرهم كيف نشتري منهما ديناراً واحداً بدرهم

Permasalahan: Jika dikatakan: satu dinar seharga tiga dirham dan dua dinar seharga satu dirham, bagaimana kita membeli satu dinar dari keduanya dengan satu dirham?

أو قال: منٌّ بثلاثة دراهم ومنوان بدرهم كيف يُشترى منهما منٌّ واحد بدرهم فاضرب ثلاثة دراهم في دينارين أو في المنوين تكون ستة فانقص منها واحداً أبداً تبقى خمسة فهي المقسوم عليها فاحفظها

Atau jika dikatakan: satu mann seharga tiga dirham dan dua mann seharga satu dirham, bagaimana cara membeli satu mann dari keduanya dengan satu dirham? Maka kalikan tiga dirham dengan dua dinar atau dengan dua mann, hasilnya enam. Kemudian kurangi selalu satu darinya, tersisa lima, itulah angka pembaginya, maka hafalkanlah.

ثم انقص من المنوان واحداً أو من الدينارين يبقى واحد فاقسمه على الخمسة فيخرج خُمس دينار فنشتري خمساً من الغالي ونشتري بدرهم أربعة أخماس من الرخيص

Kemudian kurangi dari satu manwan satu, atau dari dua dinar sisakan satu, lalu bagilah menjadi lima bagian, maka akan didapat seperlima dinar. Maka kita membeli seperlima dari barang yang mahal, dan dengan satu dirham kita membeli empat per lima dari barang yang murah.

فصل في بيان حساب الإجارات والغلات

Bagian tentang penjelasan perhitungan sewa dan hasil usaha

ومضمونه بيان معرفة مقادير الأجرة الموزعة على المعقود عليه من منافع دارٍ أو عمل عاملٍ ثم يلتحق بهذا المقصود نوادرُ في الحساب تفيد الدُّرْبة وا لمرون

Isi paragraf ini adalah penjelasan tentang cara mengetahui besaran upah yang dibagikan pada objek akad, baik berupa manfaat dari sebuah rumah atau pekerjaan seorang pekerja. Kemudian, tujuan ini diikuti dengan beberapa contoh langka dalam perhitungan yang bermanfaat untuk melatih keterampilan dan keluwesan.

فنقول: إذا كانت الأجرة في الشهر أو في السنة معلومةَ المقدار وكانت لا تختلف باختلاف الأزمان فأجزاء الأجرة تتوزع على أجزاء الزمان

Maka kami katakan: Jika upah dalam sebulan atau setahun telah diketahui kadarnya dan tidak berbeda-beda menurut perbedaan waktu, maka bagian-bagian upah itu terbagi pada bagian-bagian waktu.

والذي به الاستدلال أن نقول: إذا كانت الأجرة في الشهر ثلاثين  فأجرة خمسة أيام سدس الثلاثين لأن الخمسة سدس الثلاثين وهذا إذا كان الشهر ثلاثين يوماً

Yang dapat dijadikan dasar argumentasi adalah dengan mengatakan: Jika upah dalam sebulan adalah tiga puluh, maka upah untuk lima hari adalah seperenam dari tiga puluh, karena lima adalah seperenam dari tiga puluh, dan hal ini jika satu bulan terdiri dari tiga puluh hari.

ثم هو على قياس ما ذكرنا في الأثمان والمثمنات

Kemudian, hal itu mengikuti qiyās seperti yang telah kami sebutkan pada atsman dan matsmūnāt.

مسألة: أجيرٌ يكتسب في الشهر عشرة وإن تعطل غرِم خمسة فعمل وعَطَل وخرج رأسأ برأس كم عمل وكم بَطَل

Masalah: Seorang pekerja upahan memperoleh sepuluh (satuan) dalam sebulan, dan jika ia menganggur, ia menanggung kerugian lima (satuan). Ia telah bekerja dan menganggur, dan akhirnya modalnya kembali sama seperti semula. Berapa lama ia bekerja dan berapa lama ia menganggur?

نجمع الغرم والغنم: خمسةَ عشرَ فهو قدر عمله وغُرمه ثم نضرب الخمسة في أيام الشهر ونقسم على خمسةَ عشرَ فيخرج عشرة أيامٍ هي أيام عمله  وأجرته فيها ثلاثة وثلث

Kita jumlahkan antara kerugian dan keuntungan: lima belas, itulah kadar pekerjaannya dan kerugiannya. Kemudian kita kalikan lima dengan jumlah hari dalam sebulan dan kita bagi dengan lima belas, maka hasilnya adalah sepuluh hari, yaitu hari-hari kerjanya, dan upahnya dalam hari-hari itu adalah tiga dan sepertiga.

ثم نضرب عشرة في أيام الشهر ونقسم على خمسة عشرة فيخرج عشرون يوماً لبطالته وغُرْمه فيها ثلاثة وثلث فاستوى ماله و ما عليه

Kemudian kita mengalikan sepuluh dengan jumlah hari dalam sebulan dan membaginya dengan lima belas, maka hasilnya adalah dua puluh hari untuk masa penganggurannya, dan kerugiannya dalam masa itu adalah tiga dan sepertiga, sehingga harta yang dimilikinya seimbang dengan kewajibannya.

وإن كانت المسألة بحالها يعمل ويعطل وأخذ درهماً جُمع عمله وغُرمه فهي خمسة عشرَ ثم نزيد الدرهمَ الذي أخذه على ما عليه فيكون ستة فنضربها في أيام الشهر ونقسم على خمسةَ عشرَ  فيخرج اثنا عشر يوماً فهي أيام عمله والباقي إلى تمام الشهر أيام العطلة

Jika permasalahan tetap seperti semula, yaitu ia bekerja dan menganggur, serta menerima satu dirham yang dikumpulkan dari hasil kerjanya dan kerugiannya, maka jumlahnya lima belas. Kemudian kita tambahkan satu dirham yang ia terima pada apa yang menjadi tanggungannya, sehingga menjadi enam. Lalu kita kalikan dengan jumlah hari dalam sebulan dan kita bagi dengan lima belas, maka hasilnya dua belas hari; itulah hari-hari ia bekerja, dan sisanya hingga genap sebulan adalah hari-hari ia menganggur.

وإن قيل: في هذه المسألة: عمل و بطل وردَّ الأجير درهماً فالقسمة على خمسةَ عشرَ كما مضى فانقص ما عليه درهماً يبقى منه أربعة فاضربه في أيام الشهر واقسم المبلغ على خمسةَ عشرَ فيخرج ثمانية أيامٍ لعمله وما بقي إلى تمام الشهر عَطَلُه

Jika dikatakan: Dalam masalah ini, seseorang telah bekerja, kemudian batal, lalu pekerja mengembalikan satu dirham, maka pembagiannya menjadi lima belas seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kurangi dari tanggungannya satu dirham, sehingga tersisa empat, lalu kalikan dengan jumlah hari dalam sebulan dan bagilah hasilnya dengan lima belas, maka akan didapatkan delapan hari untuk pekerjaannya, dan sisanya hingga genap sebulan adalah masa tidak bekerja (‘aṭal).

مسألة: إذا قيل: أجير أجرته في الشهر اثنا عشر درهماً وخاتم عمل ثمانية أيام فأخذ باجرته الخاتَم كم قيمته

Masalah: Jika dikatakan: Seorang pekerja upahnya dalam sebulan adalah dua belas dirham, dan ia membuat sebuah cincin dalam delapan hari, lalu ia mengambil upahnya berupa cincin itu, berapakah nilai cincin tersebut?

فانقص أيام عمله من أيام الشهر تبقى اثنان وعشرون يوماً أجرة العمل فيها اثنا عشر فاضرب الاثني عشر في أيام العمل وهي ثمانية واقسم المبلغ على الاثنين والعشرين الباقية فتخرج أربعة دراهم وثمانية أجزاء من اثنين وعشرين جزءاً من درهم فذلك قيمة الخاتم

Kurangi hari kerjanya dari hari-hari dalam sebulan, maka tersisa dua puluh dua hari. Upah kerja dalam hari-hari itu adalah dua belas. Maka kalikan dua belas dengan hari kerja, yaitu delapan, lalu bagilah jumlah tersebut dengan dua puluh dua hari yang tersisa. Hasilnya adalah empat dirham dan delapan bagian dari dua puluh dua bagian dari satu dirham. Itulah nilai cincin tersebut.

مسألة: أجير عمل ثمانية أيام من الشهر وأخذ خُمسَ كرائه ودرهماً كم أصل كرائه

Masalah: Seorang pekerja upahan bekerja selama delapan hari dalam sebulan dan menerima seperlima dari upahnya serta satu dirham. Berapakah jumlah asal upahnya?

خذ خمس الشهر وهو ستة فانظر كم بينه وبين  ثمانية وهو

Ambil seperlima dari bulan, yaitu enam, lalu lihat berapa selisihnya dengan delapan.

اثنان فذاك هو المقسوم عليه فاحفظه ثم اضرب الدرهم في الثلاثين واقسم المبلغ على اثنين فيخرج خمسةَ عشرَ درهماً وهي كراه ويستحق في ثمانية أيام أربعة دراهم وهي مثل خمس كراه وزيادةُ درهم

Dua, maka itulah yang menjadi pembagi, maka hafalkanlah. Kemudian kalikan dirham dengan tiga puluh dan bagilah hasilnya dengan dua, maka akan keluar lima belas dirham, itulah satu kirāh. Dan dalam delapan hari berhak mendapatkan empat dirham, yaitu sepertiga dari satu kirāh ditambah satu dirham.

فإن قيل: عمل ثلاثةَ أيام فأخذ خُمس كراه إلا درهماً واحداً فخذ خمس الشهر وهو ستة فانظر كم بينها وبين الثلاثة التي عمل فيها فخذ الفضل وهو ثلاثة فهو المقسوم عليها ثم اضرب الدرهم في الثلاثين واقسم المبلغ على الثلاثة فيخرج عشرة فهو كراه في الشهر يستحق في ثلاثة أيام عُشر الكراء وهو درهم وذلك مثل خمس كرائه إلا درهماً

Jika dikatakan: Ia bekerja selama tiga hari lalu mengambil seperlima upah kecuali satu dirham, maka ambillah seperlima dari sebulan, yaitu enam. Lalu lihatlah selisih antara jumlah itu dengan tiga hari yang ia kerjakan, ambillah kelebihannya, yaitu tiga, maka itu yang menjadi pembaginya. Kemudian kalikan satu dirham dengan tiga puluh dan bagilah hasilnya dengan tiga, maka hasilnya sepuluh, itulah upah sebulan. Ia berhak atas sepersepuluh upah dalam tiga hari, yaitu satu dirham, dan itu sama dengan seperlima upahnya kecuali satu dirham.

مسألة: إن قيل: أجيرٌ أجره في الشهر شيء مقدر عمل من الأيام مثل عدد ثلاثة أمثال أجره فأصاب من الأجر فيما عمل أربعين درهماً كم أجرته في الشهر

Masalah: Jika dikatakan: Seorang pekerja upahannya dalam sebulan adalah sejumlah tertentu, ia bekerja selama beberapa hari sebanyak tiga kali lipat dari upahnya, lalu ia memperoleh upah sebesar empat puluh dirham dari pekerjaan yang telah dilakukan. Berapakah upahnya dalam sebulan?

فاقسم ما أصاب من أجره وهو أربعون على ثلاثة لأنه عمل مثل عدد ثلاثة أمثال أجره فيخرج ثلاثةَ عشرَ درهماً وثلثَ درهم فاضربها في عدد أيام الشهر وهي ثلاثون فيبلغ أربعَمائة فخذ جذرها وهو عشرون درهماً وذلك مقدار أَجْره في الشهر فإذا عمل مثل ثلاثة أمثال أجرته وهي ستون يوماً استحق أربعين درهماً

Bagilah hasil upah yang diperolehnya, yaitu empat puluh, menjadi tiga bagian karena ia bekerja sejumlah tiga kali lipat dari upahnya, sehingga hasilnya adalah tiga belas dirham dan sepertiga dirham. Kalikan jumlah itu dengan jumlah hari dalam sebulan, yaitu tiga puluh, maka hasilnya adalah empat ratus. Ambil akarnya, yaitu dua puluh dirham, itulah besaran upahnya dalam sebulan. Maka jika ia bekerja sebanyak tiga kali lipat dari upahnya, yaitu enam puluh hari, ia berhak mendapatkan empat puluh dirham.

مسألة: أجير أجرته في كل يوم خَمسُ دراهم وهو ينفق سُبعَ درهم كم يجتمع له في الشهر فاطلب مخرجاً له خُمس وسُبعٌ وذلك خمسة وثلاثون فخذ خُمسها وهو سبعة وسبعها وهو خمسة فاطرح الأقل من الأكثر يبقى اثنان فنضربه في أيام الشهر يكون ستين فاقسمها على الخمسة والثلاثين فيخرج درهم وخمسة أسباع درهم فهذا ما يجتمع له في الشهر الواحد بعد النفقة

Masalah: Seorang pekerja upah hariannya lima dirham, dan ia membelanjakan sepertujuh dirham setiap hari. Berapa yang terkumpul baginya dalam sebulan? Carilah angka yang dapat dibagi lima dan tujuh, yaitu tiga puluh lima. Ambil seperlimanya, yaitu tujuh, dan sepertujuhnya, yaitu lima. Kurangkan yang lebih kecil dari yang lebih besar, tersisa dua. Kalikan dengan jumlah hari dalam sebulan, hasilnya enam puluh. Bagilah dengan tiga puluh lima, hasilnya satu dirham dan lima per tujuh dirham. Inilah jumlah yang terkumpul baginya dalam satu bulan setelah pengeluaran.

فإن قيل: أجير أجره في كل يوم ثلثُ درهم فينفق سُبعَ درهم في كم يجتمع له درهم

Jika dikatakan: Seorang pekerja upahnya setiap hari sepertiga dirham, lalu ia membelanjakan tujuh per satu dirham, dalam berapa hari ia dapat mengumpulkan satu dirham?

فخذ مخرجاً له ثلث وسبع وأقله أحدٌ وعشرون ثم خذ ثُلثَه: سَبعة لأجل ما يأخذ وخذ سُبعَه: ثلاثة لأجل ما ينفق فألق الثلاثة من السبعة تبقى أربعة فهي المقسوم عليها

Maka ambillah jalan keluarnya, yaitu sepertiga dan seper tujuh, dan paling sedikitnya adalah dua puluh satu. Kemudian ambillah sepertiganya: tujuh, sebagai bagian yang diambil. Lalu ambillah seper tujuhnya: tiga, sebagai bagian yang dibelanjakan. Maka buanglah tiga dari tujuh, tersisa empat, itulah yang menjadi dasar pembagian.

ثم اضرب الدرهم الواحد في الأحد والعشرين واقسم ما بلغ على الأربعة فتخرج خمسة وربع ففي خمسة أيام وربع يجتمع له درهم

Kemudian kalikan satu dirham dengan dua puluh satu, lalu bagilah hasilnya dengan empat, maka akan didapatkan lima seperempat. Jadi, dalam lima hari seperempat akan terkumpul satu dirham.

فإن قيل: أجير أجره في كل خمسة أيام درهم فينفق في كل سبعة أيام درهماً في كم يوم يستفضل درهماً واحداً وقد علمت أنه يستفضل في كل سبعة أيام خمسي درهم فاضرب السبعة في اثنين ونصف يكون سبعةَ عشرَ يوماً ونصفَ يوم ففي مقدارها يستفضل درهماً واحداً

Jika dikatakan: Seorang pekerja upahnya setiap lima hari adalah satu dirham, lalu ia membelanjakan setiap tujuh hari satu dirham. Dalam berapa hari ia dapat menghemat satu dirham? Telah diketahui bahwa dalam setiap tujuh hari ia menghemat dua perlima dirham. Maka kalikan tujuh dengan dua setengah, hasilnya adalah tujuh belas setengah hari. Dalam waktu sebanyak itu ia dapat menghemat satu dirham.

وإن شئت فاضرب الخمسة في السبعة واقسم المبلغ على فَضْل ما بينهما فيخرج سبعةَ عشرَ ونصفٌ ففيها يستفضل درهماً واحداً

Jika kamu mau, kalikan lima dengan tujuh lalu bagilah hasilnya dengan selisih kelebihan di antara keduanya, maka akan keluar tujuh belas setengah; dalam hal ini, kelebihannya adalah satu dirham.

فصل في حساب الأرباح والخسرانات

Bagian tentang perhitungan keuntungan dan kerugian

ومضمون الفصل حساب الأرباح والخسرانات ومقادير رأس المال مع الربح أو مقداره بعد الخسران هذا هو الأصل المقصود ثم نلحق به نوادرَ إن شاء الله عز وجل

Isi bab ini adalah perhitungan keuntungan dan kerugian, serta jumlah modal bersama dengan keuntungan atau jumlahnya setelah mengalami kerugian. Inilah pokok yang dimaksud, kemudian akan kami tambahkan beberapa kasus langka, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فنقول: الوجه أن نقدم صوراً هيِّنةً قريبةَ المأخذ ليتمهد فيها أصل الباب فإذا تمهد ترقّينا إلى ما يكاد يخفى على من لا يحسن قياسَ الباب

Maka kami katakan: Cara yang tepat adalah dengan mengemukakan contoh-contoh yang mudah dan dekat untuk dipahami, agar pokok permasalahan dalam bab ini menjadi jelas. Setelah itu, barulah kita naik ke pembahasan yang mungkin samar bagi orang yang belum menguasai qiyās dalam bab ini.

فإذا قيل: ربح على رأس المال نصف مرة واحدة فاضرب رأس المال في ثلاثة واقسم المبلغ على اثنين فما خرج فهو رأس المال مع الربح

Jika dikatakan: Keuntungan atas modal pokok adalah setengah kali saja, maka kalikan modal pokok dengan tiga lalu bagilah jumlah tersebut dengan dua, maka hasilnya adalah modal pokok beserta keuntungannya.

وإن ربح على رأس المال مثل ثلثه فاضرب رأس المال في أربعة واقسمه على ثلاثة فما خرج فهو المال والربح وإنما ضربناه في أربعةٍ لأن المال إذا زدت عليه ثلثه كان المبلغ أربعة أثلاث فهذا هو القياس والضرب يقع في مخرج الجزء الزائد

Jika ia memperoleh keuntungan atas modal sebesar sepertiganya, maka kalikan modal dengan empat dan bagilah dengan tiga, hasilnya adalah jumlah modal beserta keuntungannya. Kami mengalikannya dengan empat karena jika modal ditambah sepertiganya, jumlahnya menjadi empat pertiga. Inilah qiyās, dan perkalian dilakukan dengan penyebut bagian yang ditambahkan.

وإن ربح على المال ربعه فاضرب المال في خمسة فإن المال إذا زيد عليه رُبعه كان مع الزائد خمسة أرباع والقسمةُ على مخرج الربع

Jika ia memperoleh keuntungan seperempat dari modal, maka kalikan modal dengan lima, karena apabila modal ditambah seperempatnya, maka jumlahnya bersama tambahan tersebut menjadi lima perempat, dan pembagian dilakukan dengan penyebut seperempat.

وبيان ما ذكرناه بالمثال: أن نقول: رأس المال عشرة وقد ربح مثل ثلثها فضربنا العشرة في أربعة فردّ أربعين فنقسمها على ثلاثة فيخرج نصيب الواحد ثلاثةَ عشرَ وثلث

Penjelasan dari apa yang telah kami sebutkan dengan contoh adalah sebagai berikut: Misalnya kita katakan modalnya sepuluh, dan telah memperoleh keuntungan sebesar sepertiganya. Maka kita kalikan sepuluh dengan empat sehingga menjadi empat puluh, lalu kita bagi empat puluh itu dengan tiga, maka hasil bagian masing-masing adalah tiga belas dan sepertiga.

وإن ربح على العشرة مثل ربعها ضربنا العشرة في خمسة فيرد خمسين فقسمناها على أربعة فيخرج نصيب الواحد اثني عشر ونصفاً وهو رأس المال والربح

Jika ia memperoleh keuntungan dari sepuluh seperti seperempatnya, maka kita kalikan sepuluh dengan lima sehingga menjadi lima puluh, lalu kita bagi dengan empat sehingga bagian masing-masing menjadi dua belas setengah, itulah modal dan keuntungannya.

وإن قيل: ربح على رأس المال ثلاثة أرباعه فاضرب رأس المال في سبعة فإن رأس المال مع ثلاثة أرباعه سبعةُ أرباع فقل عشرة في سبعة فالمردود سبعون فاقسم المبلغ على أربعة فالخارج نصيب الواحد  وهو رأس المال والربح

Jika dikatakan: Keuntungan atas modal pokok adalah tiga perempatnya, maka kalikan modal pokok dengan tujuh, karena modal pokok beserta tiga perempatnya adalah tujuh perempat. Maka katakan, sepuluh dikali tujuh hasilnya tujuh puluh. Lalu bagilah jumlah tersebut dengan empat, maka hasilnya adalah bagian satu orang, yaitu modal pokok dan keuntungannya.

وإن قال: ربح على المال سبعةَ أعشاره فاضرب المال في سبعةَ عشرَ واقسم المبلغ على العشرة فما خرج من القسمة فهو المبلغ المطلوب

Jika ia berkata: Keuntungan atas modal adalah tujuh per sepuluhnya, maka kalikan modal dengan tujuh belas dan bagilah hasilnya dengan sepuluh; apa yang keluar dari pembagian itu adalah jumlah yang dimaksud.

وإن خسر مثل ثلث المال فاضرب المال في اثنين فإن معنى خسران الثلث أنه لم يبق إلا الثلثان فاقسم المبلغ على ثلاثة

Jika ia mengalami kerugian sebesar sepertiga harta, maka kalikan harta tersebut dengan dua, karena makna kerugian sepertiga adalah yang tersisa hanya dua pertiga, maka bagilah jumlah tersebut dengan tiga.

وإن خسر مثلَ ربع المال فاضرب المال في ثلاثة واقسم المبلغ على أربعة

Jika ia mengalami kerugian sebesar seperempat dari harta, maka kalikan harta tersebut dengan tiga dan bagilah hasilnya dengan empat.

وإن خسر ثلاثة أسباع المال فاضرب المال في أربعة واقسم المبلغ على السبعة

Jika ia mengalami kerugian tiga per tujuh dari harta, maka kalikan harta tersebut dengan empat dan bagilah jumlahnya dengan tujuh.

وعلّةُ ذلك أن المال قبل الخسران سبعة أسباع فإذا نقص بالخسران ثلاثة بقي أربعةُ أسباع فلهذا يقع الضرب في الأربعة ثم القسمةُ أبداً على مخرج الجزء

Penyebabnya adalah bahwa harta sebelum mengalami kerugian terdiri dari tujuh bagian yang sama; jika berkurang karena kerugian sebanyak tiga bagian, maka yang tersisa adalah empat dari tujuh bagian. Oleh karena itu, perhitungan selalu dilakukan dengan mengalikan pada angka empat, kemudian selalu membaginya dengan penyebut bagian tersebut.

فإن ربح صاحب المال على المال مراراً كثيرة ربحاً واحداً على نسبةٍ واحدة في كل مرة مثل: ده يازده أَوْ دو ازده  أو أكثر من ذلك وأردت أن تعلم المبلغ بعد آخر ربح فاضرب العشرة في مثلها أو ما بلغ في العشرة ثم كذلك بعدد مرات الربح إلا مرةً واحدة واحفظ المبلغ ثم اضرب العشرة مع ربحها أولاً في مثله ثم ما بلغ في العشرة مع ربحها كذلك بعدد مرات الربح إلا مرةً واحدة واحفظ المبلغ ثم اضرب رأس المال في المبلغ الأكثر واقسم ما بلغ على المبلغ الأقل فما خرج فهو رأس المال بعد الأرباح

Jika pemilik modal memperoleh keuntungan dari modalnya berkali-kali dengan persentase yang sama setiap kali, seperti: sepuluh menjadi sebelas, atau dua menjadi sebelas, atau lebih dari itu, dan Anda ingin mengetahui jumlah setelah keuntungan terakhir, maka kalikan sepuluh dengan sepuluh, atau jumlah yang telah dicapai dengan sepuluh, lalu lakukan hal yang sama sebanyak jumlah kali keuntungan dikurangi satu kali, dan catat jumlahnya. Kemudian kalikan sepuluh beserta keuntungannya pertama kali dengan yang serupa, lalu jumlah yang telah dicapai dengan sepuluh beserta keuntungannya, lakukan hal yang sama sebanyak jumlah kali keuntungan dikurangi satu kali, dan catat jumlahnya. Kemudian kalikan modal pokok dengan jumlah yang lebih besar, lalu bagi hasilnya dengan jumlah yang lebih kecil; hasil pembagian itulah modal pokok setelah mendapat keuntungan.

مثاله: رأس المال خمسة وعشرون درهماً ربح عليها ده دو ازده ثلاث مرات فنضرب العشرة في العشرة فما بلغ في العشرة أقل من عدد الأرباح مرة فبلغ ألفاً فحفظناها ثم ضربنا العشرة مع ربحها وذلك اثنا عشر في الاثني عشر مرتين  فبلغ ألفاً وسَبعمائة وثمانيةً وعشرين فضربنا الآن رأس المال وهو خمسة وعشرون في هذا المبلغ أكثر وقسمنا المبلغ على الألف التي هي المبلغ الأقل فخرج ثلاثة وأربعون درهماً وخُمسُ درهم فذلك مبلغ المال بعد الأرباح الثلاث

Contohnya: Modalnya adalah dua puluh lima dirham, mendapatkan keuntungan atasnya sepuluh dua belas tiga kali. Maka kita kalikan sepuluh dengan sepuluh, lalu hasilnya dikalikan dengan sepuluh lagi, kurang dari jumlah keuntungan satu kali, maka hasilnya seribu. Kita simpan hasil ini, kemudian kita kalikan sepuluh dengan keuntungannya, yaitu dua belas, lalu dikalikan dua belas dua kali, maka hasilnya seribu tujuh ratus dua puluh delapan. Sekarang kita kalikan modal, yaitu dua puluh lima, dengan jumlah ini, lalu kita bagi hasilnya dengan seribu, yaitu jumlah yang lebih kecil, maka hasilnya empat puluh tiga dirham dan seperlima dirham. Itulah jumlah uang setelah tiga kali mendapatkan keuntungan.

ومما يجب التنبه له أنا نضرب العشرة في العمل الأول في نفسها ولا ننظر إلى رأس المال ثم نضرب العشرة وربحَها على الترتيب الذي قدرناه ولا نتعرض لمقدار رأس المال وإنما نتعرض لنسبة ده يازده وده دوازده ثم نضرب بعد هذين العملين رأسَ المال بالغاً ما بلغ في المبلغ الأكثر ولو كانت نسبة الربح غير مأخوذة من العشرة فيجب أن يكون العمل من النسبة المذكورة فافهم

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita mengalikan sepuluh pada pekerjaan pertama dengan dirinya sendiri dan tidak melihat kepada modal pokok, kemudian kita mengalikan sepuluh dan keuntungannya sesuai urutan yang telah kami tetapkan, dan kita tidak membahas jumlah modal pokok, melainkan kita memperhatikan nisbah “dah yazdah” dan “dah dwazdah”. Setelah kedua langkah ini, barulah kita mengalikan modal pokok, berapapun jumlahnya, pada jumlah yang paling besar. Jika nisbah keuntungan tidak diambil dari sepuluh, maka perhitungan harus berdasarkan nisbah yang disebutkan tersebut. Maka pahamilah.

وإن كان العمل في الخسران فاضرب العشرة في مثلها إذا كان الخسران ده يازده أو ده دوازده وتكرر مراراً فإذا ضربت العشرة في مثلها فما بلغ في العشرة ثم اضرب الثمانية إذا كان الخسران ده دوازده في مثلها ثم ما بلغ في الثمانية لأن الثمانية هي الباقية من العشرة ثم اضرب رأسَ المال في المبلغ الأقل واقسم ما بلغ على المبلغ الأكثر فما خرج فهو الباقي من المال بعد الخسرانات

Jika kerugian terjadi berulang kali, kalikan sepuluh dengan sepuluh jika kerugiannya sepuluh dari sebelas atau sepuluh dari dua belas, dan ulangi beberapa kali. Jika kamu mengalikan sepuluh dengan sepuluh, hasilnya adalah pada sepuluh, kemudian kalikan delapan—jika kerugiannya sepuluh dari dua belas—dengan delapan, lalu hasilnya pada delapan, karena delapan adalah sisa dari sepuluh. Kemudian kalikan modal dengan hasil yang lebih kecil dan bagi hasilnya dengan hasil yang lebih besar; apa yang keluar adalah sisa harta setelah kerugian-kerugian tersebut.

وبيانه في الخمسة والعشرين إذا خسر عليها ده دوازده ثلاث مرات: ضربنا العشرة في العشرة مرتين  كما ذكرناه في الأرباح فبلغ ألفاً فحفظناها ثم ضربنا الثمانية وهي الباقي من العشرة بعد نقصان الخسران منها في مثلها مرتين فيبلغ خمسَمائة واثني عشر ثم ضربنا رأس المال هو خمسةٌ وعشرون في المبلغ الأقل وهو خَمسُمائة واثنا عشر وقسمنا ما بلغ على المبلغ الأكثر وهو ألف يخرج من القسمة اثنا عشر درهماً وأربعةُ أخماس درهم فهذا هو الباقي من الخمسة والعشرين بعد أن خسر فيها ثلاث مرات ده دوازده فقس على هذا نظائره

Penjelasannya pada kasus dua puluh lima jika mengalami kerugian “dah dawazdah” sebanyak tiga kali: kita mengalikan sepuluh dengan sepuluh dua kali seperti yang telah kami sebutkan dalam pembahasan keuntungan, hasilnya seribu, lalu kita simpan hasil itu. Kemudian kita mengalikan delapan—yaitu sisa dari sepuluh setelah dikurangi kerugian—dengan delapan dua kali, hasilnya lima ratus dua belas. Setelah itu, kita mengalikan modal pokok, yaitu dua puluh lima, dengan jumlah yang lebih kecil, yaitu lima ratus dua belas, lalu kita bagi hasilnya dengan jumlah yang lebih besar, yaitu seribu. Hasil pembagian itu adalah dua belas dirham dan empat per lima dirham. Inilah sisa dari dua puluh lima setelah mengalami kerugian tiga kali “dah dawazdah”. Maka, ukurlah kasus-kasus serupa dengan cara ini.

وفيما يجري على الاعتبار في الأرباح ده يازده وده دوازده أما ده يازده فهو العشرة واحد فردّه على المبلغ عشرة وإن كان رأس المال درهماً بلغ درهماً وعُشْراً وإن كان رأس المال عشرة بلغ أحدَ عشرَ وإن كان المال أحد عشرَ بلغ اثني عشر درهماً وعشرَ درهم

Adapun yang diperhitungkan dalam keuntungan pada kasus “sepuluh sebelas” dan “sepuluh dua belas”, maka “sepuluh sebelas” adalah sepuluh satu, yaitu dikembalikan kepada jumlah sepuluh. Jika modalnya satu dirham, maka menjadi satu dirham dan sepersepuluh. Jika modalnya sepuluh, maka menjadi sebelas. Jika modalnya sebelas, maka menjadi dua belas dirham dan sepersepuluh dirham.

فأما خسران ده يازده فالحسّاب ينقصون العشرة واحداً كما يزيدون لربحِ ده يازده واحداً فالربح زيادة عُشْر والخسران نقصان عُشر

Adapun kerugian dalam sistem “deh yazdah”, maka para akuntan mengurangi sepuluh dengan satu, sebagaimana mereka menambahkan satu untuk keuntungan “deh yazdah”. Jadi, keuntungan adalah penambahan sepersepuluh, dan kerugian adalah pengurangan sepersepuluh.

وللفقهاء ترددٌ في الخسران يظهر أثره في عقدٍ استعمل فيه لفظ خسران ده يازده

Para fuqaha memiliki keraguan mengenai makna khusran (kerugian) yang tampak pengaruhnya dalam suatu akad yang di dalamnya digunakan lafaz khusran.

وذلك مثل أن يشتري عبداً بعشرة فإن باعه على ربح ده يازده فهذا بيعٌ بأحدَ عشرَ

Contohnya adalah seseorang membeli seorang budak seharga sepuluh, kemudian ia menjualnya dengan keuntungan satu dari sepuluh, maka ini berarti ia menjualnya seharga sebelas.

وإن باعه بخسران ده يازده فالذي ذهب إليه جمهور الفقهاء أن العشرة تجري أحدَ عشرَ ونحط منها جزءاً والذي رآه الحُسّاب أن لفظ خسران ده يازده معناه نقصان عُشْرٍ تامّ وهو نقيصة درهمٍ من عشرة

Jika ia menjualnya dengan kerugian “dah yazdah”, maka menurut mayoritas fuqaha, sepuluh berjalan menjadi sebelas dan kita kurangi darinya satu bagian. Sedangkan menurut para ahli hisab, lafaz “khusrān dah yazdah” berarti kekurangan sepersepuluh yang sempurna, yaitu kekurangan satu dirham dari sepuluh.

وما ذكره جماهير الفقهاء متجهٌ في اللفظ ولا دفع لهذا في الباب الذي نحن فيه فإن هذا البابَ ليس مُداراً على الألفاظ ومعانيها وإنما هو مُدارٌ على ما يقع  فإذا فرضوا نقصان العُشر حسبوا هذا الحساب وعلى هذا مجاري الخسران والربحُ على ما وصفناه  مع التباس في النقائص التي ذكرناها

Apa yang disebutkan oleh mayoritas fuqaha memang tepat secara lafaz, dan tidak ada penolakan terhadap hal ini dalam bab yang sedang kita bahas, karena bab ini tidak berputar pada lafaz dan maknanya, melainkan berputar pada apa yang terjadi secara nyata. Jika mereka menganggap adanya kekurangan sepersepuluh, maka perhitungan pun dilakukan berdasarkan hal itu. Demikian pula alur kerugian dan keuntungan sebagaimana telah kami jelaskan, meskipun terdapat kerancuan dalam kekurangan-kekurangan yang telah kami sebutkan.

Permasalahan-permasalahan yang termasuk keuntungan dan kerugian yang langka dimaksudkan pada dirinya sendiri, dan hal itu memperhalus (menyaring) ushul (prinsip-prinsip dasar).

فإن قيل: رجل ربح على رأس ماله ده دوازده للعشرة اثنين وكان رأس ماله ثمانيةً ونصفاً فكم المبلغ وكم حصل معه

Jika dikatakan: Seorang laki-laki memperoleh untung atas modalnya dua belas per sepuluh, yaitu dua untuk setiap sepuluh, dan modalnya adalah delapan setengah. Maka berapakah jumlah keuntungan dan berapa total yang ia peroleh?

فاضرب ثمانية ونصفاً باثني عشر واقسم ما بلغ على العشرة فتخرج عشرةُ دراهم وخُمس درهم فهي المبلغ المطلوب

Kalikan delapan setengah dengan dua belas, lalu bagi hasilnya dengan sepuluh, maka akan didapat sepuluh dirham dan seperlima dirham; itulah jumlah yang dimaksud.

وإن قيل: خسر على رأس ماله ده دوازده وكان رأس ماله ثمانية ونصفاً إلى كم يرجع رأس ماله

Jika dikatakan: Ia mengalami kerugian atas modal pokoknya sebesar dua belas per sepuluh, sedangkan modal pokoknya adalah delapan setengah, maka menjadi berapa sisa modal pokoknya?

فاضرب الثمانيةَ والنصفَ في ثمانيةٍ لأنها الباقي من العشرة على قاعدة الحساب بعد نقصان ده دوازده فيبلغ ثمانيةً وستين فاقسمها على العشرة فتخرج ستةُ دراهم وأربعةُ أخماس درهم فهذا هو الباقي المطلوب

Kalikan delapan setengah dengan delapan, karena itu adalah sisa dari sepuluh menurut kaidah hisab setelah dikurangi dua belas, maka hasilnya adalah enam puluh delapan. Bagilah dengan sepuluh, maka hasilnya adalah enam dirham dan empat per lima dirham. Inilah sisa yang dimaksud.

فإن قيل: اشترى متاعاً وباعه فربح ده سيزده  فبلغ ثمنُه أحدَ عشرَ درهماً كم كان رأس المال

Jika dikatakan: Seseorang membeli suatu barang dagangan lalu menjualnya dan memperoleh laba dua per tiga, sehingga harga jualnya menjadi sebelas dirham. Berapakah modal awalnya?

فاضرب الأحد عشر في عشرة واقسم ما بلغ على ثلاثةَ عثرَ فتخرج ثمانية دراهم وستة أجزاء من ثلاثةَ عشرَ جزءاً من درهم فهذا كان رأسَ ماله فإن قيل: اشترى متاعاً وباعه بخسران سيزده فرجع ماله إلى تسعة كم كان رأس ماله

Kalikan sebelas dengan sepuluh, lalu bagi hasilnya dengan tiga belas, maka akan didapat delapan dirham dan enam bagian dari tiga belas bagian dari satu dirham. Inilah modal awalnya. Jika ditanyakan: Ia membeli barang dagangan dan menjualnya dengan kerugian sepertujuh, sehingga modalnya kembali menjadi sembilan, berapakah modal awalnya?

فاضرب التسعة في ثلاثةَ عشرَ واقسم المبلغ على العشرة فيخرج أحدَ عشرَ درهماً وسبعة أعشار درهم فهذا كان رأسَ المال

Kalikan sembilan dengan tiga belas, lalu bagi hasilnya dengan sepuluh, maka akan keluar sebelas dirham dan tujuh per sepuluh dirham; inilah yang merupakan modal awal.

مسألة: إن قيل: رجل اشترى من اللؤلؤ خمسةً بدرهم وباع ثلاثةً بدرهم  وربح ثلاثين درهماً كم كان رأس ماله

Masalah: Jika dikatakan: Seorang laki-laki membeli lima butir mutiara seharga satu dirham, lalu ia menjual tiga butir seharga satu dirham dan memperoleh keuntungan tiga puluh dirham, berapakah modal awalnya?

فاضرب الربح وهو ثلاثون في عدد ما باع عليه اللؤلؤ وهو ثلاثة فيبلغ تسعين فاقسمها على ما فضل ما بين الذي باع والذي اشترى وهو اثنان فيخرج خمسة وأربعون فهذا رأس ماله

Maka kalikanlah keuntungan, yaitu tiga puluh, dengan jumlah mutiara yang telah dijual, yaitu tiga, sehingga hasilnya menjadi sembilan puluh. Lalu bagilah hasil tersebut dengan selisih antara harga jual dan harga beli, yaitu dua, maka hasilnya adalah empat puluh lima. Inilah modalnya.

وفيه طريق آخر وهو أن تعلم أن الذي اشتراه بدرهم باعه بمثل ما اشتراه به وبمثل ثلثي ثمنه فكأنه اشترى خمسةً بدرهم وباع الخمسة بدرهمٍ وثلثي درهم فربح على كل درهم مثلَ ثلثيه فكأنه ربح على رأس المال مثلَ ثلثيه فإذا كان الربح ثلثين فهي مثل ثلثي رأس المال فزد على الثلثين نصفَها تكون خمسةً وأربعين فهي رأس ماله

Ada cara lain, yaitu dengan mengetahui bahwa orang yang membeli barang itu seharga satu dirham, kemudian menjualnya dengan harga yang sama seperti saat ia membelinya, ditambah dua pertiga dari harganya. Seolah-olah ia membeli lima barang seharga satu dirham, lalu menjual kelima barang itu seharga satu dirham dan dua pertiga dirham. Maka, ia memperoleh keuntungan pada setiap satu dirham sebesar dua pertiganya. Seakan-akan ia memperoleh keuntungan atas modal sebesar dua pertiganya. Jika keuntungannya dua puluh, maka itu sama dengan dua pertiga dari modal. Tambahkan pada dua puluh sepertiganya, maka hasilnya empat puluh lima, itulah modalnya.

فإن قيل: اشترى خمسةً بدرهم وباع سبعةً بدرهم وخسر ثلاثين درهماً كم رأس ماله فاضرب مقدار الخسران وهو ثلاثون فيما باع وهو سبعة يكون مائتين وعشرة فاقسمها على فضل ما بين السعرين وهو اثنان فيخرج مائة وخمسة فهي رأس المال قبل الخسران

Jika dikatakan: Seseorang membeli lima barang seharga satu dirham dan menjual tujuh barang seharga satu dirham, lalu mengalami kerugian tiga puluh dirham, berapakah modal awalnya? Maka kalikan jumlah kerugian, yaitu tiga puluh, dengan jumlah barang yang dijual, yaitu tujuh, hasilnya dua ratus sepuluh. Kemudian bagilah dengan selisih antara kedua harga tersebut, yaitu dua, maka hasilnya seratus lima. Itulah modal sebelum mengalami kerugian.

ثم يتجه فيه قياس آخر وهو أن نقول: إذا اشترى خمسة بدرهم وباع سبعةً بدرهم فقد باع ما شراه بدرهم بخمسةِ أسباع درهم فخسر على كل درهم مثل سبعيه وعلم أنه خسر رأس ماله على هذه النسبة فهذا مالٌ سبعاه ثلاثون فسُبعه إذاً خمسة عشرَ فاضرب الخمسة عشرَ في سبعة يكون مائة وخمسة فهي رأس المال

Kemudian di situ terdapat qiyās lain, yaitu dengan mengatakan: Jika seseorang membeli lima (barang) seharga satu dirham dan menjual tujuh (barang) seharga satu dirham, berarti ia telah menjual apa yang ia beli seharga satu dirham dengan harga lima per tujuh dirham, sehingga ia mengalami kerugian pada setiap dirham sebesar dua per tujuhnya. Maka diketahui bahwa ia telah merugi dari modalnya sesuai dengan perbandingan ini. Jika ada harta yang dua per tujuhnya adalah tiga puluh, maka satu per tujuhnya adalah lima belas. Kalikan lima belas dengan tujuh, hasilnya seratus lima, itulah modalnya.

مسألة: إن قيل: ثلاثةٌ اشترَوْا سلعةً باثني عشرَ درهماً فأعطى أحدهم ثلاثةَ دراهم والثاني أربعةً والثالث خمسة ثم باعوا فربحوا عليها سبعة دراهم كم نصيب كل واحد منهم من الربح فالطريق أن نضرب نصيبَ كل واحد منهم من رأس المال في السبعة التي هي الربح ونقسم المبلغ على الاثني عشر التي هي مجموع الأنصباء من رأس المال  فما خرج فهو نصيب صاحب النصيب من الربح لأن كلّ شريك نصيبه من الربح على قدر نصيبه من رأس المال

Masalah: Jika dikatakan: Tiga orang membeli suatu barang seharga dua belas dirham, lalu salah satu dari mereka memberikan tiga dirham, yang kedua empat dirham, dan yang ketiga lima dirham. Kemudian mereka menjualnya dan memperoleh keuntungan tujuh dirham. Berapa bagian masing-masing dari mereka dari keuntungan tersebut? Cara menghitungnya adalah dengan mengalikan bagian masing-masing dari modal dengan tujuh, yaitu jumlah keuntungan, lalu membagi hasilnya dengan dua belas, yaitu total bagian dari modal. Apa yang didapat itulah bagian masing-masing dari keuntungan, karena setiap sekutu mendapatkan bagian keuntungan sesuai dengan bagian modal yang ia keluarkan.

وبيان ذلك أن نضرب ثلاثة من رأس المال وهي نصيب صاحب الثلاثة في السبعة التي هي الربح فيردّ الضربُ أحداً وعشرين ونقسم المبلغ على اثني عشر فيخرج من القسمة نصيب الواحد: درهم وثلاثة أرباع فنقول: هذا نصيب صاحب الثلاثة من الربح

Penjelasannya adalah sebagai berikut: kita mengalikan tiga dari modal pokok, yaitu bagian pemilik tiga dalam tujuh yang merupakan keuntungan, maka hasil perkalian menjadi dua puluh satu. Kemudian kita membagi jumlah tersebut dengan dua belas, sehingga hasil pembagian adalah bagian satu orang: satu dirham dan tiga perempat. Maka kita katakan: inilah bagian pemilik tiga dari keuntungan.

ثم نضرب أربعة في السبعة فترد ثمانيةً وعشرين ونقسم المبلغ على اثني عشر فيخرج نصيبُ الواحد درهمين وثلث فهذا نصيب صاحب الأربعة من الربح

Kemudian kita kalikan empat dengan tujuh sehingga menghasilkan dua puluh delapan, lalu kita bagi jumlah tersebut dengan dua belas, maka hasilnya bagian masing-masing adalah dua dirham dan sepertiga. Inilah bagian pemilik empat dari keuntungan.

ثم نضرب الخمسة في السبعة فترد خمسةً وثلاثين فنقسمها على اثني عشر فيخرج من القسمة ثلاثة غير نصف سدس فهذا نصيب صاحب الخمسة من الربح ومجموع ما يخرج من القسمة سبعة

Kemudian kita mengalikan lima dengan tujuh sehingga menghasilkan tiga puluh lima, lalu kita membaginya dengan dua belas, maka hasil pembagiannya adalah tiga ditambah setengah dari sepertiga, inilah bagian pemilik lima dari keuntungan, dan jumlah keseluruhan hasil pembagian adalah tujuh.

وقد تتجه طريقة أقرب مما ذكرنا وهي أن صاحب الثلاثة له ربع رأس المال فله ربع الربح وذلك درهم وثلاثة أرباع درهم وصاحب الأربعة له ثلث رأس المال فله من الربح ثُلثه وهو درهمان وثلث وصاحب الخمسة له من رأس المال ربعه وسدسه  فله من الربح ربعه وسدسه وذلك درهمان وخمسة دوانيق ونصف

Ada pula metode yang lebih mendekati dari yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa pemilik tiga bagian memiliki seperempat dari modal, maka ia berhak atas seperempat laba, yaitu satu dirham dan tiga perempat dirham. Pemilik empat bagian memiliki sepertiga dari modal, maka ia berhak atas sepertiga laba, yaitu dua dirham dan sepertiga. Pemilik lima bagian memiliki seperempat dan seperenam dari modal, maka ia berhak atas seperempat dan seperenam laba, yaitu dua dirham, lima daniq, dan setengah.

مسألة: إن قيل: رجل ربح على ماله الدرهم درهماً وتصدق بدرهم ثم ربح الدرهم درهماً وتصدّق بدرهمين ثم الدرهم درهماً وتصدق بثلاثة دراهم يعني رأسَ ماله كم كان رأس ماله

Masalah: Jika dikatakan: Seorang laki-laki memperoleh untung satu dirham atas modalnya satu dirham, lalu ia bersedekah satu dirham. Kemudian ia memperoleh untung satu dirham atas satu dirham, lalu ia bersedekah dua dirham. Lalu ia memperoleh untung satu dirham atas satu dirham, lalu ia bersedekah tiga dirham. Maksudnya, berapakah jumlah modal pokoknya?

فخذ واحداً وأضعِفْه ثلاث مرّات لأنه ربح ثلاث مرات تكون ثمانية فهي المقسوم عليها فاحفظها ثم خذ الصدقة الأولى وهي درهم فأضعفه وزد عليه الصدقة الثانية وهي درهمان تصير أربعة فأضعفها وزد عليها الصدقة الثالثة وهي ثلاثة فتكون أحدَ عشر فاقسمها على الثمانية المحفوظة فيخرج درهم وثلاثة أثمان درهم وهو رأس المال

Ambillah satu bagian lalu gandakan tiga kali karena itu adalah keuntungan tiga kali, sehingga menjadi delapan; itulah angka pembagi, maka hafalkanlah. Kemudian ambillah zakat pertama yaitu satu dirham, lalu gandakan dan tambahkan zakat kedua yaitu dua dirham, sehingga menjadi empat. Gandakan lagi dan tambahkan zakat ketiga yaitu tiga dirham, maka menjadi sebelas. Bagilah jumlah itu dengan delapan yang telah dihafal, maka hasilnya adalah satu dirham dan tiga per delapan dirham, itulah modalnya.

فإن قال: ربح للدرهم درهمين وتصدق بخمسة ثم ربح للدرهم درهماً وتصدق بعشرة دراهم ثم ربح للدرهم درهماً وتصدق بتسعة دراهم فبقي معه درهمان كم كان رأس المال

Jika seseorang berkata: Ia memperoleh laba dua dirham untuk setiap satu dirham lalu ia bersedekah lima dirham, kemudian ia memperoleh laba satu dirham untuk setiap satu dirham lalu ia bersedekah sepuluh dirham, kemudian ia memperoleh laba satu dirham untuk setiap satu dirham lalu ia bersedekah sembilan dirham, maka tersisa padanya dua dirham. Berapakah modal awalnya?

وقد ذكر الأستاذ في التكملة طريقةً في التضعيف والجمع قد تطول على الناظر ورأيت طريقة الجبر أقربَ منها وأحرى وهي أولى فكل مسألة مقصودها استخراج مجهولٍ فنقول: نجعل رأس المال شيئاً فلما ربح للدرهم درهمين صار ثلاثة أشياء فتصدق بخمسة دراهم فبقي ثلاثةُ أشياء ناقصةً بخمسة دراهم ثم لما ربح للدرهم درهماً كان معنى ذلك أن ما بقي معه بعد خمسة دراهم تضعّف فنقول: الآن معنا ستة أشياء ناقصةً بعشرة دراهم فيكون الزائد مثل المزيد عليه فتصدق بعشرة دراهم فحصل معنا ستة أشياء ناقصةً بعشرين درهماً فلما لربح للدرهم درهماً تضعّفت الأشياء الستة بما فيها من الاستثناء وكان معنا ستة أشياء ناقصةً بعشرين درهماً فالآن إذا ضعفناها صارت اثنا عشر شيئا ناقصةً بأربعين درهماً فتصدق منها بتسعة دراهم فحصل معنا اثنا عشر شيئاً ناقصةً بتسعةٍ وأربعين درهماً فهذه الأشياء مع الاستثناء تعدل درهمين فإن السائل قال: بقي معه درهمان فنجبر الأشياء بتسعةٍ وأربعين ونزيد على الدرهمين تسعةً وأربعين فتصير اثني عشر شيئاً كاملةً في معادلة أَحدٍ وخمسين فنقسم الدراهم على الاثني عشر شيئاً لمعرفة قيمة كل شيء فيخرج من القسمة أربعةٌ وربع فانضمَّ إليه مثلاه فصار المجموع اثنا عشر وثلاثة أرباع فتصدق منها بخمسة فبقي سبعة وثلاثة أرباع ثم تضعف هذا المبلغ فصار المجموع خمسةَ عشرَ ونصفاً فتصدق منها بعشرة فبقي خمسةٌ ونصف ثم تضعف هذا فصار أحدَ عشرَ ثم يتصدق بتسعة فبقي درهمان فهذا قياس الباب

Telah disebutkan oleh ustadz dalam kitab at-Takmila suatu metode dalam at-tad‘īf (penggandaan) dan al-jam‘ (pengumpulan) yang mungkin terasa panjang bagi pembaca. Aku melihat bahwa metode al-jabr (aljabar) lebih dekat dan lebih layak, sehingga lebih utama digunakan. Setiap masalah yang tujuannya adalah mencari sesuatu yang tidak diketahui, kita katakan: kita anggap modal sebagai “sesuatu”. Ketika mendapat untung dua dirham untuk setiap dirham, maka menjadi tiga “sesuatu”. Lalu ia bersedekah lima dirham, sehingga tersisa tiga “sesuatu” dikurangi lima dirham. Kemudian, ketika mendapat untung satu dirham untuk setiap dirham, maknanya adalah bahwa sisa yang ada setelah dikurangi lima dirham menjadi berlipat. Maka kita katakan: sekarang kita memiliki enam “sesuatu” dikurangi sepuluh dirham, sehingga kelebihan itu sama dengan tambahan yang diberikan. Lalu ia bersedekah sepuluh dirham, sehingga kita memiliki enam “sesuatu” dikurangi dua puluh dirham. Ketika mendapat untung satu dirham untuk setiap dirham, maka enam “sesuatu” itu, beserta pengecualian di dalamnya, menjadi berlipat. Kita memiliki enam “sesuatu” dikurangi dua puluh dirham, maka jika kita gandakan, menjadi dua belas “sesuatu” dikurangi empat puluh dirham. Lalu ia bersedekah sembilan dirham, sehingga kita memiliki dua belas “sesuatu” dikurangi empat puluh sembilan dirham. Maka “sesuatu” ini beserta pengecualiannya setara dengan dua dirham, karena penanya berkata: tersisa dua dirham. Maka kita tambahkan “sesuatu” dengan empat puluh sembilan dan menambahkan dua dirham dengan empat puluh sembilan, sehingga menjadi dua belas “sesuatu” utuh dalam persamaan dengan lima puluh satu. Kita bagi dirham dengan dua belas “sesuatu” untuk mengetahui nilai setiap “sesuatu”, hasilnya adalah empat seperempat. Lalu kita tambahkan dua kali lipatnya, sehingga jumlahnya menjadi dua belas tiga perempat. Lalu ia bersedekah lima, sehingga tersisa tujuh tiga perempat. Kemudian jumlah ini digandakan, sehingga menjadi lima belas setengah. Lalu ia bersedekah sepuluh, sehingga tersisa lima setengah. Kemudian jumlah ini digandakan, sehingga menjadi sebelas. Lalu ia bersedekah sembilan, sehingga tersisa dua dirham. Inilah qiyās (analogi) dalam bab ini.

وقد ذكر الأستاذ صوراً جميعها تخرج على هذا المسلك

Dan telah disebutkan oleh ustadz beberapa contoh yang semuanya dapat dijelaskan menurut pendekatan ini.

فصل في بيان حساب الزكوات

Bagian tentang penjelasan perhitungan zakat.

هذا الفصل يشتمل على مقصودين: أحدهما في تعجيل الزكاة قبل وجوبها بحولٍ أو أحوال

Bab ini mencakup dua tujuan: salah satunya tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum kewajibannya tiba, baik satu haul maupun beberapa haul.

والثاني في إخراج الزكاة عن المال لسنين ماضيةٍ

Yang kedua adalah tentang mengeluarkan zakat atas harta untuk tahun-tahun yang telah lalu.

فأما تعجيل الزكاة ففيه باب يحوي فقهه وهو من أغمض أبواب كتاب الزكاة وقدمناه على أحسن مساق والقدر المطلوب هاهنا من ذلك الباب يترتب على مسألةٍ نذكرها:

Adapun tentang percepatan pembayaran zakat, terdapat satu bab yang memuat fiqhnya, dan itu termasuk salah satu bab yang paling rumit dalam kitab zakat. Kami telah menyusunnya dengan urutan yang terbaik, dan bagian yang diperlukan di sini dari bab tersebut bergantung pada satu masalah yang akan kami sebutkan.

فإذا ملك الرجل أربعين من الغنم وانعقد الحول عليها فأراد أن يعجّل زكاتَها جاز ذلك عند الشافعي وإذا انقضى الحولُ وفي يد المعجِّل تسعةٌ وثلاثون فالشاة المعجلة وقعت محتومةً واجبةً عن الزكاة المفروضة وتحقيق مذهب الشافعي أن الزكاة المعجلةَ في حساب النصاب كالمبقّاة في يد المعجِّل فإذا حال الحول فالتقدير أن الشاة أخرجت الآن

Jika seorang laki-laki memiliki empat puluh ekor kambing dan telah berlalu satu tahun atasnya, lalu ia ingin menyegerakan pembayaran zakatnya, maka hal itu diperbolehkan menurut Imam Syafi‘i. Jika setelah satu tahun berlalu, di tangan orang yang telah menyegerakan zakat itu hanya tersisa tiga puluh sembilan ekor, maka kambing yang telah disegerakan itu tetap dianggap sebagai zakat yang wajib atas zakat yang telah ditetapkan. Penjelasan mazhab Syafi‘i adalah bahwa zakat yang disegerakan dalam perhitungan nisab sama kedudukannya dengan yang masih ada di tangan orang yang menyegerakan. Maka ketika genap satu tahun, seakan-akan kambing itu baru saja dikeluarkan sekarang.

وأبو حنيفة لا يجوِّز تعجيل الزكاة عن نصاب ويعتد بأن الشاة إذا قدّر إخراجها من الأربعين وانقضى باقي الحول على تسعةٍ وثلاثين فلا يصادف منقرضُ الحول نصاباً ولا تجب الزكاةُ وإذا لم تجب لم يقع الاعتداد بما قُدّم على قصد التعجيل وعلى هذا الخلاف تجري مسائِل التعجيل

Abu Hanifah tidak membolehkan pembayaran zakat secara dipercepat atas harta yang belum mencapai nisab, dan ia berpendapat bahwa jika seekor kambing diperkirakan akan dikeluarkan dari empat puluh ekor, lalu sisa tahun berjalan hanya tersisa tiga puluh sembilan ekor, maka ketika akhir haul tiba tidak ditemukan nisab, sehingga zakat tidak wajib. Jika zakat tidak wajib, maka apa yang telah dikeluarkan sebelumnya dengan maksud mempercepat tidak dianggap sah. Perselisihan ini juga berlaku pada berbagai permasalahan terkait percepatan pembayaran zakat.

فلو ملك مائة وعشرين شاة فعجل زكاتها شاة  ثم نُتجت منها شاة قبل الحول فحال الحول وفي يده مائة وعشرون شاة فعليه عند الشافعي شاةٌ ثانية فإن غنمه لو كانت مائة وأحداً وعشرين لكان واجبُها شاتين والمخرَج المعجل في حكم الباقي على ملك المعجِّل فيما يتعلق ببيان مقادير النصب  وإذا نحن قدّرنا ضمَّ الشاة المعجّلة إلى المال وقد زادت واحدة لكان يجب فيها شاتان

Jika seseorang memiliki seratus dua puluh ekor kambing, lalu ia menyegerakan zakatnya dengan mengeluarkan seekor kambing, kemudian sebelum haul berlalu kambing-kambing itu melahirkan seekor anak kambing sehingga ketika haul tiba ia memiliki seratus dua puluh ekor kambing, maka menurut Imam Syafi‘i ia wajib mengeluarkan kambing kedua. Sebab, jika kambingnya berjumlah seratus dua puluh satu ekor, maka yang wajib dikeluarkan adalah dua ekor kambing, dan kambing yang telah dikeluarkan lebih awal dianggap masih berada dalam kepemilikan orang yang menyegerakan zakatnya dalam hal penentuan kadar nishab. Jika kita menganggap kambing yang disegerakan itu digabungkan kembali ke dalam harta, maka karena jumlahnya bertambah satu ekor, wajib dikeluarkan dua ekor kambing.

وأبو حنيفة يقول: إذا عجل شاةً عن مائةٍ وعشرين ونتجت شاة وحال الحول والغنم مائةٌ وعشرون لم تجب شاةٌ أخرى نظراً إلى ما انقرض الحول عليه وهو مائةٌ وعشرون والمخرَج المعجَّلُ لا يقدّر ضمُّه إلى المال الباقي في يد المالك

Abu Hanifah berkata: Jika seseorang menyegerakan zakat seekor kambing dari seratus dua puluh ekor kambing, lalu kambing tersebut beranak seekor kambing, dan telah berlalu satu haul (satu tahun) sedangkan jumlah kambing tetap seratus dua puluh ekor, maka tidak wajib mengeluarkan seekor kambing lagi. Hal ini dilihat dari jumlah kambing yang telah berlalu haul atasnya, yaitu seratus dua puluh ekor, dan kambing yang telah dikeluarkan secara disegerakan tidak dianggap dapat digabungkan dengan harta yang masih ada di tangan pemilik.

فهذا القدر الذي أردنا التنبيه عليه من فقه باب التعجيل

Inilah kadar yang ingin kami tekankan dari fiqh bab penyegeraan.

ونفرض الآن قولنا في الدراهم والدنانير فإن زكاتها تجب بالجزئية على نسبةٍ واحدةٍ فمهما ملك الرجل نصاباً من أحد التبرين عجّل زكاته عندنا إن أراد ولم يعجلها عند أبي حنيفة فإن النصاب ينقص بالمخرَج فيحول الحول على مالٍ ناقصٍ عن النصاب فليقع الفرض فيه إذا ملك أكثر من النصاب وأراد التعجيل فيبين تفاوتٌ في النسبة بين مذهبنا ومذهب أبي حنيفة وذلك التفاوت بين الحساب هو مقصود الفصل فنقول: على مذهب الشافعي: مهما أراد تعجيلَ زكاةِ الذهب والورِق أخرج ربعَ عشره وعلى قولِ أهل الرأي يقسم ماله على أحدٍ وأربعين فما خرج من القسمة بسهم واحد فهو زكاته المعجَّلة وذلك أنه لا يرى ضم المخرَج إلى الباقي فينبغي أن يكون المخرج زائداً على الباقي بناء على الأصل الذي مهدناه وبيّناه بالمسألتين المذكورتين في الماشية

Sekarang kita asumsikan pembahasan kita mengenai dirham dan dinar. Zakat atas keduanya wajib dikeluarkan secara proporsional dengan satu kadar yang sama. Maka, kapan pun seseorang memiliki nisab dari salah satu dari dua logam tersebut, ia boleh menyegerakan zakatnya menurut pendapat kami jika ia menghendaki, namun tidak boleh menyegerakannya menurut Abu Hanifah. Sebab, nisab akan berkurang dengan adanya harta yang dikeluarkan, sehingga haul akan berlalu atas harta yang kurang dari nisab. Maka, pembahasan ini terjadi jika seseorang memiliki harta lebih dari nisab dan ingin menyegerakan zakatnya. Maka akan tampak perbedaan proporsi antara mazhab kami dan mazhab Abu Hanifah, dan perbedaan dalam perhitungan inilah yang menjadi tujuan pembahasan ini. Kami katakan: menurut mazhab Syafi‘i, kapan pun seseorang ingin menyegerakan zakat emas dan perak, ia mengeluarkan seperempat puluhnya. Sedangkan menurut Ahlur Ra’yi, ia membagi hartanya menjadi empat puluh satu bagian, lalu satu bagian dari hasil pembagian itu adalah zakat yang disegerakan. Hal ini karena mereka tidak menganggap bagian yang telah dikeluarkan digabungkan dengan sisa harta, sehingga bagian yang dikeluarkan harus lebih banyak dari sisa harta, berdasarkan prinsip yang telah kami jelaskan dalam dua masalah yang disebutkan pada pembahasan zakat ternak.

فإن أراد تعجيل نصفِ زكاته فمذهب الشافعي أنه يخرج جزءاً من ثمانين جزءاً من ماله فيقع ذلك ثُمن عُشر ماله وهو نصف الزكاة

Jika seseorang ingin menyegerakan setengah zakatnya, menurut mazhab Syafi‘i, ia mengeluarkan satu bagian dari delapan puluh bagian hartanya, sehingga itu menjadi seperdelapan dari sepersepuluh hartanya, yaitu setengah zakat.

وعلى مذهب أبي حنيفةَ إذا أراد تعجيلَ نصف الزكاة أخرج من أحدٍ وثمانين جزءاً من ماله جزءاً

Menurut mazhab Abu Hanifah, jika seseorang ingin menyegerakan pembayaran setengah zakat, maka ia mengeluarkan satu bagian dari delapan puluh satu bagian hartanya.

وإن أراد تعجيل ثلث زكاته فمذهب الشافعي أن ما عنده يقسم على مائةٍ وعشرين سهماً فما خرج قسمةً لسهم واحد يخرجه وقد عجل ثلث زكاته

Jika seseorang ingin menyegerakan sepertiga zakatnya, menurut mazhab Syafi‘i, harta yang dimilikinya dibagi menjadi seratus dua puluh bagian, lalu hasil pembagian untuk satu bagian dikeluarkan, maka ia telah menyegerakan sepertiga zakatnya.

وعند أبي حنيفة يقسم ماله على مائةٍ وأحدٍ وعشرين جزءاً فما خرج نصيب الواحد عجّله فهو يزيد أبداً جزءاً على ما يقدره الشافعي

Menurut Abu Hanifah, hartanya dibagi menjadi seratus dua puluh satu bagian; maka bagian yang menjadi hak satu orang segera diberikan, sehingga jumlahnya selalu satu bagian lebih banyak daripada yang ditetapkan oleh asy-Syafi‘i.

وإن أراد تعجيل ثلثي زكاته قسم ما عنده من ورِقٍ على مائةٍ وعشرين في قول الشافعي فما خرج عن القسمة نصيباً لواحد أخرج ضعفه  فإن نصيب الواحد من مائةٍ وعشرين ثلث فإن أراد الثلثين ضعّف

Jika seseorang ingin menyegerakan dua pertiga zakatnya, maka ia membagi harta peraknya yang ada pada dirinya menjadi seratus dua puluh bagian menurut pendapat asy-Syafi‘i. Apa yang menjadi bagian satu orang dari pembagian tersebut, ia keluarkan dua kali lipatnya. Karena bagian satu orang dari seratus dua puluh adalah sepertiga, maka jika ia menginginkan dua pertiga, ia melipatgandakannya.

وفي قول أهل العراق يقسّم مالَه على مائةٍ واثنين وعشرين فما خرج لسهمين عجله فتعتدل النسبةُ على رأيه هذا بيان هذا المقصود

Menurut pendapat ahli Irak, hartanya dibagi menjadi seratus dua puluh dua bagian; bagian yang keluar untuk dua saham disegerakan, sehingga perbandingannya menjadi seimbang menurut pendapatnya. Inilah penjelasan maksud tersebut.

فأما المقصود الثاني وهو بيان إخراج الزكاة لسنين ماضيةٍ ما كان اتفق الإخراج فيها والتفريع على أن تعلّق الزكاة بالعين يخرجه عن إمكان تعلق الزكاة به في السنة الأخرى على ما تمهد ذلك في فقه الفصل

Adapun maksud kedua, yaitu penjelasan tentang mengeluarkan zakat untuk tahun-tahun yang telah lalu di mana zakat belum sempat dikeluarkan pada tahun-tahun tersebut, serta penjabaran bahwa keterikatan zakat pada harta secara langsung mengeluarkannya dari kemungkinan terkena kewajiban zakat pada tahun berikutnya, sebagaimana telah dijelaskan dalam fiqh pada bagian ini.

فإذا أردت تدارك زكوات المال في السنين المنقضية والمال دراهمُ أو دنانيرُ فانظر إلى عدد السنين ثم ارجع فاضرب الأربعين في مثله فما بلغ فاضربه في الأربعين  وليكن عددُ الضرب على هذا النسق مثلَ عدد سني الزكاة إلا مرةً واحدة فما بلغ فاحفظه

Jika engkau ingin mengganti zakat harta untuk tahun-tahun yang telah berlalu, sedangkan hartanya berupa dirham atau dinar, maka perhatikan jumlah tahunnya, kemudian kembalilah dan kalikan empat puluh dengan jumlah tersebut. Apa pun hasilnya, kalikan lagi dengan empat puluh. Jumlah perkalian dengan cara seperti ini harus sebanyak jumlah tahun zakat, kecuali satu kali saja. Apa pun hasilnya, hafalkanlah.

ثم اضرب تسعةً وثلاثين في مثلها فما بلغ في تسعة وثلاثين بعدد سني الزكاة إلا مرةً واحدة ثم اضرب المالَ الذي تريد إخراجَ زكاتِه في الأقل فما بلغ فاقسمه على المبلغ الأكثر فما خرج من القسمة نصيب الواحد فهو مقدار الباقي من المال الذي أردت إخراج الزكاة منه لتلك السنين بعد إخراج الزكوات

Kemudian kalikan tiga puluh sembilan dengan bilangan yang sama, maka hasilnya pada tiga puluh sembilan sesuai dengan jumlah tahun zakat hanya satu kali saja. Lalu kalikan harta yang ingin kamu keluarkan zakatnya dengan bilangan yang lebih kecil, kemudian hasilnya bagilah dengan bilangan yang lebih besar. Apa yang keluar dari pembagian itu adalah bagian satu orang, yaitu jumlah sisa harta yang ingin kamu keluarkan zakatnya untuk tahun-tahun tersebut setelah zakat-zakatnya dikeluarkan.

فإن أردت مقدار ما أخرجت فقدّر ما يبقى بعد المال الذي وصفناه إلى قيمة القدر قبل إخراج الزكاة وهذا حساب الخسران فإن الزكاة تنقصُ المال على نسبةٍ واحدةٍ كما فرضنا في الخسرانات وقوعها على نسبةٍ واحدةٍ فتشابه مسلك

Jika engkau ingin mengetahui jumlah yang telah dikeluarkan, maka perkirakanlah sisa setelah harta yang telah kami jelaskan itu terhadap nilai kadar sebelum dikeluarkannya zakat. Inilah perhitungan kerugian, karena zakat mengurangi harta dengan proporsi yang sama, sebagaimana yang telah kami tetapkan dalam kerugian bahwa kejadiannya juga dengan proporsi yang sama, sehingga kedua cara tersebut serupa.

الحساب غير أن وجه النسبة في الأربعين هاهنا ووجه النسبة ثَمَّ يَجري في رأس مالٍ بقدره وينسب الربح إليه كتقديرنا العشرة والربح ده يازده والخسران ده يازده واقتضى قولنا: ده يازده رعايةَ نسبة العشرة

Perhitungan, hanya saja dasar perbandingan pada angka empat puluh di sini dan dasar perbandingan di sana berlaku pada modal pokok sesuai kadarnya, dan keuntungan dinisbatkan kepadanya seperti penetapan kita pada sepuluh dan keuntungannya adalah “dah yazdah” dan kerugiannya adalah “dah yazdah”, dan ucapan kita “dah yazdah” menuntut untuk memperhatikan perbandingan pada angka sepuluh.

فصل في حساب الجزية

Bagian tentang perhitungan jizyah

إذا قيل: ثلاثةٌ من العلوج جزية أحدهم ثمانية دنانير وجزية الآخر عشرة دنانير وجزية الثالث أربعةَ عشرَ ديناراً فزيدت عشرة على جزيتهم  فكم نصيب كل واحد منهم من تلك الزيادة فقياس الباب أن تجمع الثمانية والعشرة والأربعة عشر فتكون اثنين وثلاثين وهي المقسوم عليها فاحفظها

Jika dikatakan: Tiga orang ‘ajam, jizyah salah satu dari mereka delapan dinar, jizyah yang lain sepuluh dinar, dan jizyah yang ketiga empat belas dinar. Kemudian ditambahkan sepuluh dinar pada jizyah mereka, maka berapakah bagian masing-masing dari tambahan itu? Maka qiyās dalam masalah ini adalah dengan menjumlahkan delapan, sepuluh, dan empat belas sehingga menjadi tiga puluh dua, dan itulah yang dijadikan sebagai pembagi, maka hafalkanlah.

ثم اضرب نصيبَ كل واحد منهم من الاثنين والثلاثين في العشرة المزيدة  ثم اقسم المبلغ على الاثنين والثلاثين المحفوظة فما خرج من القسمة هو نصيبه من الزيادة وعلى هذا القياس يخرج نصيب صاحب الثمانية من الزيادة ديناران ونصف فنزيده على الثمانية التي هي أصل جزيته فتبلغ عشرة ونصفاً ونصيب صاحب العشرة من الزيادة ثلاثةٌ وثمن فتبلغ جزيتُه ثلاثةَ عشرَ ديناراً وثمن دينار ونصيب صاحب الأربعةَ عشرَ يجري منه على الترتيب المقدم في الضرب والقسمة فيخرج نصيبه أربعة دنانير وثلاثة أثمان دينار فتبلغ جزيته سبعةَ عشرَ ديناراً وثلاثةَ أثمان دينار

Kemudian kalikan bagian masing-masing dari mereka dari tiga puluh dua dengan sepuluh yang ditambahkan, lalu bagilah hasilnya dengan tiga puluh dua yang tetap, maka hasil dari pembagian itu adalah bagian mereka dari tambahan tersebut. Dengan qiyās seperti ini, bagian pemilik delapan dari tambahan adalah dua dinar setengah, maka kita tambahkan pada delapan yang merupakan asal bagiannya sehingga menjadi sepuluh setengah. Bagian pemilik sepuluh dari tambahan adalah tiga dan seperdelapan, sehingga bagiannya menjadi tiga belas dinar dan seperdelapan dinar. Bagian pemilik empat belas dihitung dengan urutan yang telah dijelaskan dalam perkalian dan pembagian, sehingga bagiannya adalah empat dinar dan tiga perdelapan dinar, maka bagiannya menjadi tujuh belas dinar dan tiga perdelapan dinar.

وهذا الحساب بعينه هو الحساب الذي ذكرناه في زيادة ربحٍ على رؤوس أموال مختلفة الأقدار فإن الجزية زيادةٌ نأخذها

Perhitungan ini sendiri adalah perhitungan yang telah kami sebutkan dalam pembagian keuntungan tambahan atas modal-modal yang berbeda jumlahnya, karena jizyah adalah tambahan yang kami ambil.

فإن كانت المسألة بحالها ونقصت من جزية الجميع عشرةَ دنانير فانقص من أصل جزية كل علج ما كنت تزيده عليه لو كانت الزيادة بدلاً عن النقصان فما بقي فهو جزيته الباقية وهذه الجملة تجري في الأخرجة على أصل من يراها إذا فرضت زيادة عليها أو نقصان منها

Jika permasalahan tetap seperti semula dan jumlah jizyah seluruhnya berkurang sepuluh dinar, maka kurangkan dari pokok jizyah setiap ‘ajam (non-Muslim) sebesar apa yang biasa kamu tambahkan kepadanya jika penambahan itu sebagai pengganti dari pengurangan. Maka apa yang tersisa itulah jizyah yang masih harus dibayarnya. Kaidah ini juga berlaku pada pungutan-pungutan lain menurut pendapat orang yang membolehkannya, jika terdapat penambahan atau pengurangan atasnya.

مسألة: فإن قيل: إذا مرّ حربي بعشّار يأخذ من كل أربعين درهماً درهماً ومع من مرّ به عشرةُ أثواب فأخذ العشار على هذا الحساب ثوباً ورد عليه درهماً كم ثمن كل ثوب

Masalah: Jika dikatakan: Apabila seorang harbi melewati seorang pemungut pajak (‘asshār) yang mengambil satu dirham dari setiap empat puluh dirham, dan orang yang melewatinya membawa sepuluh kain, lalu pemungut pajak itu mengambil satu kain berdasarkan perhitungan tersebut dan mengembalikan satu dirham kepadanya, berapakah harga setiap kain?

فطريق الباب أن نضرب الدرهمين في أربعين فترد ثمانين فاحفظها ثم اقسم عددَ الأثواب وهو عشرة على ما أخذه العشار وهو واحد فتكون عشرة فانقصها من الأربعين يبقى منها ثلاثون فاقسم عليها الثمانين المحفوظة فيخرج درهمان وثلثان فذلك قيمة كل ثوب

Jadi, cara untuk menyelesaikan soal ini adalah dengan mengalikan dua dirham dengan empat puluh sehingga menghasilkan delapan puluh, maka hafalkanlah angka ini. Kemudian, bagilah jumlah kain, yaitu sepuluh, dengan jumlah yang diambil oleh pemungut pajak, yaitu satu, sehingga hasilnya sepuluh. Kurangkan angka ini dari empat puluh, maka tersisa tiga puluh. Lalu, bagilah delapan puluh yang telah dihafal tadi dengan tiga puluh, maka hasilnya adalah dua dirham dan sepertiga. Itulah nilai setiap kain.

وإن أردت تقريباً بطريق النسبة قلت المسألة مفروضةٌ فيه إذا كانت الأثواب متساويةَ القيم لا محالة فكل ثوب عُشر الجملة فإذا اقتضى التعديل ردَّ درهمين والمستحق ربعُ العشر وكل ثوب عشر البضاعة والدرهمان المردودان ثلاثة أرباع الثوب فإذا تقدّر ثلاثةُ الأرباع بدرهمين فقيمة الربع ثُلثُ الدرهمين وهو ثلثا درهم فكل ثوب قيمته درهمان وثلثان وقيمة الثياب ستة وعشرون درهماً وثلثان وعشر هذا المبلغ درهمان وثلثان وربع الدرهمين والثلثين ثلثا درهم فقد أخذ الثوبَ وهو يستحق منه مقدار ثلثي درهم فيرد لذلك درهمين

Jika Anda menginginkan pendekatan dengan cara perbandingan, Anda dapat mengatakan bahwa masalah ini diasumsikan jika kain-kain tersebut memiliki nilai yang sama, maka setiap kain adalah sepersepuluh dari keseluruhan. Jika penyesuaian menuntut pengembalian dua dirham dan yang berhak mendapatkan seperempat dari sepersepuluh, maka setiap kain adalah sepersepuluh dari barang dagangan dan dua dirham yang dikembalikan adalah tiga perempat kain. Jika tiga perempat itu bernilai dua dirham, maka nilai seperempatnya adalah sepertiga dari dua dirham, yaitu dua pertiga dirham. Maka setiap kain bernilai dua dirham dan dua pertiga, dan nilai seluruh kain adalah dua puluh enam dirham dan dua pertiga. Sepersepuluh dari jumlah ini adalah dua dirham dan dua pertiga, dan seperempat dari dua dirham dan dua pertiga adalah dua pertiga dirham. Maka ia telah mengambil kain, padahal ia hanya berhak atas dua pertiga dirham darinya, sehingga ia harus mengembalikan dua dirham.

فإن أخذ منه العشّار ثوبين وردَّ عليه عشرين درهماً كم ثمن كل ثوب

Jika pemungut pajak mengambil darinya dua helai pakaian, lalu mengembalikan kepadanya dua puluh dirham, berapakah harga setiap helai pakaian?

فاضرب العشرين في الأربعين فالمردود في هذه المسألة ثمانمائة فاحفظها ثم اقسم الأثواب وهي عشرة على العدد الذي أخذه العشار من الأثواب وهو اثنان  فيخرج خمسة فانقصها من الأربعين يبقى منها خمسةٌ وثلاثون فاقسم عليها الثمانمائة المحفوظة فيخرج اثنان وعشرون درهماً وستُّ أسباع درهمٍ فذلك قيمة الثوبين المأخوذين ويكون قيمة كل ثوب أحدَ عشرَ درهماً وثلاثةُ أسباع درهم

Kalikan dua puluh dengan empat puluh, maka hasilnya dalam permasalahan ini adalah delapan ratus, hafalkanlah itu. Kemudian bagilah jumlah kain, yaitu sepuluh, dengan jumlah yang diambil oleh pemungut pajak, yaitu dua, maka hasilnya lima. Kurangkan lima dari empat puluh, maka sisanya tiga puluh lima. Bagilah delapan ratus yang telah dihafal tadi dengan tiga puluh lima, maka hasilnya dua puluh dua dirham dan enam per tujuh dirham. Itulah nilai dari dua kain yang diambil, sehingga nilai setiap kain adalah sebelas dirham dan tiga per tujuh dirham.

وطريقة النسبة أن كل ثوب عُشر البضاعة والثوبان خُمُسها

Dan cara perbandingan adalah bahwa setiap satu kain adalah sepersepuluh dari barang dagangan, dan dua kain adalah seperlima darinya.

وإن كان يأخذ من العشرة ربعها فيأخذ من الخمس ثمناً فالمستحق من الثوبين ثمنها والعشرون درهماً في مقابلة سبعة أثمانها فإذا كانت سبعة أثمان تساوي عشرين فأردنا قيمة الثمن الآخر زدنا على العشرين سُبعها وهي اثنان وستة أسباع فيخرج قيمةُ الثوبين كما خرج بالضرب والقسمة

Jika ia mengambil seperempat dari sepuluh, maka ia mengambil seperdelapan dari lima; maka yang berhak dari dua kain adalah seperdelapannya, dan dua puluh dirham sebagai imbalan dari tujuh perdelapan kain tersebut. Jika tujuh perdelapan sama dengan dua puluh, lalu kita ingin mengetahui nilai seperdelapan yang lain, maka kita tambahkan pada dua puluh sepertujuhnya, yaitu dua dan enam per tujuh, sehingga nilai dua kain itu akan didapatkan sebagaimana hasil dari perkalian dan pembagian.

ثم قيمةُ كل ثوب نصفُ ذلك أحدَ عشرَ وثلاثة أسباع

Kemudian nilai setiap pakaian adalah setengah dari itu, yaitu sebelas dan tiga per tujuh.

فإن أخذ من عشرة أثواب ثوباً ورد عليه مثل جذر ما أخذ كم ثمن كل ثوب

Jika seseorang mengambil satu kain dari sepuluh kain, lalu ia mengembalikan kepadanya sejumlah kain sebanyak akar dari jumlah yang diambil, berapakah harga setiap kain?

فقد علمت أن العشار إنما يطلب من عشرة أثوابٍ رُبعَ ثوب فإذا أخذ ثوباً لزمه أن يرد ثلاثة أرباع ثوب فاقسم واحداً على ثلاثة أرباع فيخرج واحد وثلث فهذا جذر ما أخذ فاضربه في مثله يكون واحداً وسبعةَ أتساع فهذا قيمة كل ثوب

Maka telah diketahui bahwa petugas ‘asyar hanya menuntut seperempat kain dari sepuluh kain. Jika ia mengambil satu kain, maka ia wajib mengembalikan tiga perempat kain. Maka bagilah satu dengan tiga perempat, hasilnya satu dan sepertiga. Inilah akar dari apa yang diambil. Kalikan dengan dirinya sendiri, hasilnya satu dan tujuh per sembilan. Inilah nilai setiap kain.

والحساب يعتدل إذا امتحنت

Perhitungan menjadi seimbang apabila diuji.

وإن شئت فاقسم العشرة على العدد الذي أخذه وهو واحد فتكون عشرة فانقصها من الأربعين تبقى ثلاثون واقسم الأربعين على هذه الثلاثين فيخرج واحد وثلث وهو جذر ثمن كل ثوب

Jika kamu mau, bagilah sepuluh dengan angka yang diambilnya, yaitu satu, maka hasilnya sepuluh. Kurangkan sepuluh itu dari empat puluh, maka sisanya tiga puluh. Lalu bagilah empat puluh dengan tiga puluh tersebut, maka hasilnya satu dan sepertiga, dan itulah akar dari seperdelapan setiap kain.

فإن أخذ منه ثوبين وردّ عليه جذرَ ما أخذ فانقص ربعَ ثوبٍ من ثوبين لأن له من عشرة أثواب ربعَ ثوب يبقى ثوبٌ وثلاثة أرباع وهو الذي يلزمه رده فاقسم الثوبين على واحدٍ وثلاثة أرباع فيخرج واحدٌ وسبع فهذا جذر ثمن الثوبين

Jika ia mengambil darinya dua helai pakaian dan mengembalikan kepadanya akar dari apa yang diambil, maka kurangi seperempat pakaian dari dua helai pakaian, karena dari sepuluh helai pakaian ia memiliki seperempat pakaian, sehingga tersisa satu helai pakaian dan tiga perempat, dan itulah yang wajib ia kembalikan. Maka bagilah dua helai pakaian dengan satu dan tiga perempat, hasilnya adalah satu dan seperdelapan. Inilah akar dari nilai dua helai pakaian.

وإن شئت فاقسم العشرة الأثواب على الثوبين فيخرج خمسة فانقص الخمسة من الأربعين تبقى خمسةٌ وثلاثون فاقسم الأربعين على الخمسة والثلاثين فيخرج واحد وسبع فهو جذر ثمن الثوبين

Jika engkau mau, bagilah sepuluh kain dengan dua kain, maka hasilnya lima. Kurangkan lima dari empat puluh, maka tersisa tiga puluh lima. Lalu bagilah empat puluh dengan tiga puluh lima, maka hasilnya satu dan seper tujuh. Itulah akar dari delapan kain.

فصل

Bab

مسألة: في حساب الأرزاق والجرايات تمس إليها حاجةُ الأمراء في إدرار الرزق على الجند المعقود

Masalah: Dalam perhitungan tunjangan dan gaji, para penguasa sangat membutuhkan hal ini untuk menyalurkan tunjangan kepada para tentara yang telah diangkat.

إن قيل: قائدٌ أعطى جنده أرزاقهم فأعطى أول رجل منهم درهماً والثاني درهمين والثالث ثلاثة وعلى هذا وقع التفاضل بدرهم درهم فلم يرضَوْا بذلك فاسترجع منهم الدراهمَ وقسمها بينهم بالسوية فأصاب كلَّ واحد منهم ثلاثون درهماً كم عدد الرجال وعددُ الدراهم

Jika dikatakan: Seorang pemimpin memberikan gaji kepada tentaranya, ia memberikan kepada orang pertama satu dirham, kepada orang kedua dua dirham, kepada orang ketiga tiga dirham, dan seterusnya sehingga terjadi perbedaan satu dirham demi satu dirham. Namun mereka tidak puas dengan itu, lalu pemimpin tersebut mengambil kembali dirham-dirham itu dari mereka dan membaginya secara rata sehingga masing-masing mendapat tiga puluh dirham. Berapakah jumlah orang dan jumlah dirhamnya?

فأضعف نصيبَ الواحد منهم عند التسوية وهو ثلاثون فيبلغ ستين فانقص منه واحداً أبداً يبقى تسعةٌ وخمسون وهي عدد الرجال فاضربها في ثلاثين فما بلغ فهو عدد الدراهم

Maka lemahkanlah bagian satu orang dari mereka ketika pembagian rata, yaitu tiga puluh, sehingga menjadi enam puluh. Kemudian kurangi selalu satu darinya, maka tersisa lima puluh sembilan, yaitu jumlah laki-laki. Kalikan jumlah itu dengan tiga puluh, maka hasilnya adalah jumlah dirham.

ونظير هذه المسألة من طرائف الحساب أن يقال: جواري دخلن بستاناً فتناولت الأولى رمانة والثانية اثنتين والثالثة ثلاثة وتفاوتن واحدةً واحدةً ثم اقتسمن بالسويّة فأصاب كلّ واحدة سبعُ رمانات فأضعف السبعة وانقص من الضعف واحداً تبقى ثلاثةَ عشرَ وهي عددهن ثم اضرب ذلك في سبعة فما بلغ فهو عدد الرمان

Dan contoh serupa dari masalah ini yang menarik dalam ilmu hisab adalah jika dikatakan: Ada beberapa perempuan masuk ke kebun, lalu yang pertama mengambil satu buah delima, yang kedua mengambil dua buah, yang ketiga mengambil tiga buah, dan seterusnya bertambah satu demi satu, kemudian mereka membaginya secara merata sehingga masing-masing mendapatkan tujuh buah delima. Maka, gandakanlah angka tujuh lalu kurangi satu dari hasil penggandaan itu, maka tersisa tiga belas, itulah jumlah mereka. Kemudian kalikan jumlah itu dengan tujuh, maka hasilnya adalah jumlah buah delima.

فإن قيل: جيش خرج ربعه من مدينة أصاب أولُهم درهماً والثاني درهمين والثالث ثلاثة دراهم ثم تفاضلوا بدرهم درهمٍ  فاقتسم الجيشُ كلّه فيما أصاب الربع منهم بينهم بالسوية فأصاب كل رجل منهم خمسة دراهم كم الجيش كلّه وكم الدراهم

Jika dikatakan: Ada sebuah pasukan, seperempatnya keluar dari kota. Orang pertama mendapatkan satu dirham, yang kedua dua dirham, yang ketiga tiga dirham, kemudian mereka saling melebihi satu sama lain dengan selisih satu dirham. Lalu seluruh pasukan membagi apa yang didapatkan oleh seperempat dari mereka itu secara merata, sehingga setiap orang dari mereka memperoleh lima dirham. Berapakah jumlah seluruh pasukan dan berapa jumlah dirhamnya?

قياس الباب أن نضرب أربعة لقوله ربع الجند  في اثنين أبداً وإذا كان التفاضل بدرهم درهم فيكون ثمانية ثم اضربها في الخمسة التي هي حصة كل واحد يكون أربعين أسقط منها واحداً أبداً تبقى تسعة وثلاثون فذلك ربع الجند وجميع الجند أربعة أمثاله وهو مائة وستة وخمسون فاضربها في خمسة فما بلغ فهو عدد الدراهم

Qiyās bab ini adalah kita mengalikan empat karena disebutkan seperempat pasukan, dengan dua, maka hasilnya selalu delapan. Jika perbedaan (tambahan) adalah satu dirham satu dirham, maka menjadi delapan, lalu kalikan dengan lima yang merupakan bagian masing-masing, hasilnya empat puluh. Kurangi satu darinya, maka tersisa tiga puluh sembilan, itulah seperempat pasukan, dan seluruh pasukan adalah empat kali lipatnya, yaitu seratus lima puluh enam. Kalikan jumlah itu dengan lima, maka hasilnya adalah jumlah dirham.

فإن قيل والمسألة بحالها: أصاب الأولُ درهماً والثاني ثلاثة والثالث خمسة ثم تفاضلوا كذلك بدرهمين درهمين ثم اقتسم كلُّ الجند ما حصَّل ربع الجند فأصاب كل واحد منهم خمسة فاضرب أربعة لقوله ربع الجند في خمسة لقوله أصاب كل واحد منهم خمسة فيكون عشرين ولا حاجة إلى التضعيف في هذه المسألة فإن التفاضل وقع بدرهمين درهمين فرُبع الجند عشرون ولا يخفى العمل بعدّة الضربات

Jika dikatakan, sementara permasalahan tetap seperti semula: yang pertama memperoleh satu dirham, yang kedua tiga dirham, dan yang ketiga lima dirham, kemudian mereka tetap berbeda kelebihan dengan selisih dua dirham dua dirham, lalu setiap anggota pasukan membagi apa yang didapat seperempat dari jumlah pasukan, sehingga masing-masing dari mereka memperoleh lima, maka kalikan empat (karena seperempat pasukan) dengan lima (karena masing-masing memperoleh lima), maka hasilnya dua puluh. Tidak perlu penggandaan dalam permasalahan ini karena perbedaan kelebihan terjadi dengan selisih dua dirham dua dirham, maka seperempat pasukan adalah dua puluh. Cara pengerjaannya dengan beberapa kali perkalian tidaklah tersembunyi.

فلو قال: أصاب كل واحد ثلاثة فضربت الأربعة في ثلاثة ولو تفاضلوا بثلاثة ثلاثة أو بأكثر لضربت الأربعة فيما تفاضلوا به وطردت المسائل على العمل المتقدم

Jika seseorang berkata: Setiap orang mendapat tiga bagian, maka aku mengalikan empat dengan tiga. Dan jika mereka berbeda-beda, masing-masing mendapat tiga atau lebih, maka aku mengalikan empat dengan selisih yang mereka peroleh, dan aku teruskan permasalahan sesuai dengan cara kerja yang telah dijelaskan sebelumnya.

فإن قيل: مائة درهم وقفيز حنطة وقفيز شعير وقفيز ذرة تقسم على عشرين مسكيناً بالسويّة والمرعيُّ الاستواء في الماليّة  فأصاب خمسة منهم الحنطة وأربعة منهم الشعير وثلاثة منهم الذرة  كم ثمن كل قفيزٍ وكم حصةُ كلِّ مسكينٍ قياس الباب أن نجمع عِدَّة القوم الذين أخذوا الأصناف وهم اثنا عشر فنقسم المائة على الثمانية  وتعلم حصة كل واحد من الدراهم فتعلم أن حصة كلِّ مَن أخذ صنفاً من الأصناف مثلُ ذلك المقدار ثم نجمع تلك الحصص ونستخرج قيمة كل صنف فإن أردت مسلك الحسّاب قلت : نقسم المائة على ثمانية فيخص كل واحد منهم اثنا عشر ونصفٌ فإذا أردت معرفة ثمن الحنطة فاضرب الاثني عشر والنصف في عدد الذين أخذوا الحنطة وهم خمسة فيكون اثنين وستين ونصفاً واضربها أيضاً في عدد الذين أخذوا الشعير وهم أربعة فيكون خمسين المبلغ الأول قيمة الحنطة وهذا قيمة الشعير فاضربه في عدد أصحاب الذرة وهم ثلاثة فيكون سبعة وثلاثين ونصفاً فذلك ثمن الذرة

Jika dikatakan: Seratus dirham, satu qafiz gandum, satu qafiz jelai, dan satu qafiz jagung dibagikan kepada dua puluh orang miskin secara merata, dan yang diperhatikan adalah kesetaraan dalam nilai harta. Maka, lima orang dari mereka mendapatkan gandum, empat orang mendapatkan jelai, dan tiga orang mendapatkan jagung. Berapakah harga setiap qafiz dan berapa bagian masing-masing orang miskin? Menurut qiyās dalam bab ini, kita jumlahkan orang-orang yang mengambil jenis-jenis tersebut, yaitu dua belas orang, lalu kita bagi seratus dirham kepada delapan orang, sehingga diketahui bagian masing-masing dari dirham. Maka, diketahui bahwa bagian setiap orang yang mengambil salah satu jenis tersebut adalah sebesar itu juga. Kemudian kita jumlahkan bagian-bagian tersebut dan kita peroleh nilai setiap jenis. Jika kamu ingin menggunakan metode para ahli hisab (matematika), katakanlah: kita bagi seratus kepada delapan, maka setiap orang mendapat dua belas setengah. Jika kamu ingin mengetahui harga gandum, kalikan dua belas setengah dengan jumlah orang yang mengambil gandum, yaitu lima orang, maka hasilnya enam puluh dua setengah. Kalikan juga dengan jumlah orang yang mengambil jelai, yaitu empat orang, maka hasilnya lima puluh; jumlah pertama adalah nilai gandum dan ini adalah nilai jelai. Kemudian kalikan dengan jumlah orang yang mengambil jagung, yaitu tiga orang, maka hasilnya tiga puluh tujuh setengah; itulah harga jagung.

فصل في حساب البرد والفيوج  تمس الحاجة إليه في جواسيس الجنود

Bagian tentang perhitungan al-bard dan al-fiyūj sangat dibutuhkan dalam tugas para mata-mata pasukan.

إذا قيل: بَرِيدان أرسلتهما إلى موضع وأمرت أحدَهما أن يسير كلّ يوم عشرين فرسخاً وأمرت الآخر أن يسير اليوم الأول فرسخاً واليوم الثاني فرسخين والثالث ثلاثةً ثم يزيد سيرَه في كل يوم فرسخاً ففي كم يوم يلحق الأول

Jika dikatakan: Ada dua kurir yang engkau kirim ke suatu tempat, lalu engkau perintahkan salah satunya untuk menempuh perjalanan setiap hari sejauh dua puluh farsakh, dan engkau perintahkan yang lainnya pada hari pertama menempuh satu farsakh, hari kedua dua farsakh, hari ketiga tiga farsakh, kemudian setiap hari menambah satu farsakh dalam perjalanannya, maka dalam berapa hari ia akan menyusul yang pertama?

قياس الباب أن نأخذ نصف الفضل الواقع في سير الثاني وذلك نصفٌ فإن سيره في كل يوم يفضل سيره في أمسه بواحدٍ فخذ نصفه وانقصه من مقدار سيره في اليوم الأول فيبقى نصفه فنلقيه من العشرين التي هي سير صاحب العشرين في كل يوم يبقى تسعةَ عشرَ ونصف فاقسمه على نصف التفاضل وهو نصف فيخرج تسعة وثلاثون فإن القسمة على الكسور معناها بيان حصة الواحد فإذا كان النصف تسعة عشر ونصف فالواحد تسعة وثلاثون فنقول يلحقه في تسعة وثلاثين يوماً

Qiyās pada permasalahan ini adalah kita mengambil setengah dari kelebihan yang terjadi pada perjalanan orang kedua, yaitu setengah. Karena perjalanannya setiap hari melebihi perjalanannya pada hari sebelumnya sebanyak satu, maka ambillah setengahnya dan kurangkan dari jumlah perjalanan pada hari pertama, sehingga tersisa setengahnya. Kemudian kita kurangkan dari dua puluh, yaitu jumlah perjalanan orang yang menempuh dua puluh setiap hari, maka tersisa sembilan belas setengah. Lalu bagilah dengan setengah kelebihan, yaitu setengah, maka hasilnya tiga puluh sembilan. Karena pembagian dengan pecahan berarti menunjukkan bagian satuan, maka jika setengahnya adalah sembilan belas setengah, maka satu penuhnya adalah tiga puluh sembilan. Maka kita katakan, ia akan menyusulnya dalam tiga puluh sembilan hari.

فإن كان الأول يسير كل يوم عشرين فرسخاً ويسير الآخر في اليوم الأول فرسخين وفي الثاني ثمانية وفي الثالث أربعة عشر فرسخاً فكان يزيد كل يوم ستة فراسخ فنصف التفاضل أكثر مقدار مسيره في اليوم الأول فإذا اتفق ذلك فانقُص سيرَه في اليوم الأول وهو اثنان من نصف التفاضل وهو ثلاثة يبقى واحد فزده على العشرين واقسم المبلغ على نصف التفاضل وهو ثلاثة فيخرج سبعة أيام ففي مقدارها يلحقه

Jika yang pertama menempuh perjalanan setiap hari sejauh dua puluh farsakh, sedangkan yang kedua pada hari pertama menempuh dua farsakh, pada hari kedua delapan farsakh, dan pada hari ketiga empat belas farsakh, sehingga setiap harinya bertambah enam farsakh, maka setengah selisih lebih besar dari jarak yang ditempuhnya pada hari pertama. Jika sudah sesuai demikian, kurangi perjalanan hari pertamanya, yaitu dua, dari setengah selisih, yaitu tiga, maka tersisa satu. Tambahkan satu itu pada dua puluh, lalu bagilah hasilnya dengan setengah selisih, yaitu tiga, maka hasilnya tujuh hari. Dalam waktu sebanyak itu ia akan menyusulnya.

فإن قيل: بريد أرسله بشرط أن يسير كل يوم خمسة فراسخ فسار عشرين يوماً ثم أرسلت آخر بعد العشرين وأمرته أن يسير كل يوم ثمانية فراسخ في كم يومٍ يلحق الأول

Jika dikatakan: Ada seorang kurir yang dikirim dengan syarat harus berjalan setiap hari sejauh lima farsakh, lalu ia berjalan selama dua puluh hari. Kemudian setelah dua puluh hari dikirim kurir lain dan diperintahkan untuk berjalan setiap hari sejauh delapan farsakh. Dalam berapa hari kurir kedua akan menyusul yang pertama?

فانقُص الخمسة التي هي سير الأول من الثمانية التي يسيرها الثاني يبقى ثلاثة وهي المقسوم عليها ثم اضرب أيام المسير وهي عشرون في مقدار مسير السابق في كل يوم وهو خمسة فيبلغ مائةً فاقسمها على الثلاثة المحفوظة فيخرج ثلاثة وثلاثون وثلث ففي مقدارها من الأيام يلحقه

Kurangi lima, yaitu jarak tempuh yang pertama, dari delapan, yaitu jarak tempuh yang kedua, maka tersisa tiga, dan itulah yang menjadi pembagi. Kemudian kalikan jumlah hari perjalanan, yaitu dua puluh, dengan jarak tempuh orang yang lebih dahulu setiap harinya, yaitu lima, maka hasilnya seratus. Lalu bagilah seratus itu dengan tiga yang telah ditetapkan, maka hasilnya tiga puluh tiga sepertiga. Maka dalam jumlah hari tersebut, ia akan menyusulnya.

فإن قيل: بريدان خرج أحدهما من بغداد إلى الكوفة يسير كلَّ يوم ثلث الطريق وخرج الآخر في تلك الساعة من الكوفة إلى بغداد يسير كل يوم ربع الطريق في كم من الزمان يلتقيان خذ مخرج الثلث والربع وهو اثنا عشر فاجمع ثلثها وربعها فتكون سبعة فهي أجزاء اليوم فاقسم الاثني عشر على السبعة فيخرج واحدٌ وخمسةُ أسباع يوم فيلتقيان في مقدار يوم وخمسة أسباع يوم

Jika dikatakan: Dua kurir berangkat, salah satunya dari Baghdad menuju Kufah berjalan setiap hari sepertiga jalan, dan yang lainnya pada waktu yang sama berangkat dari Kufah menuju Baghdad berjalan setiap hari seperempat jalan. Dalam berapa lama mereka akan bertemu? Ambillah kelipatan persekutuan dari sepertiga dan seperempat, yaitu dua belas. Jumlahkan sepertiga dan seperempatnya, maka hasilnya tujuh; itulah bagian-bagian hari. Bagilah dua belas dengan tujuh, maka hasilnya satu dan lima per tujuh hari. Maka mereka akan bertemu dalam waktu satu hari dan lima per tujuh hari.

فإن أردت أن تعرف ما قطعه كلُّ واحدٍ منهما فاضرب السبعةَ في الاثني عشر فيبلغ أربعةً وثمانين فهي أجزاء الطريق ثم أنت تعلم أن الذي يسير في كل يوم ثلثَ الطريق يسير في كل يوم وخمسة أسباع يوم ثمانيةً وأربعين جزءاً من أربعةٍ وثمانين والذي يسير في اليوم ربع الطريق يسير في يوم وخمسه أسباع يوم ستةً وثلاثين جزءاً من أربعةٍ وثمانين جزءاً فهذا مقدار مسيرهما ويلتقيان على أربعة أسباع الطريق مما يلي بغداد وثلاثة أسباعه مما يلي الكوفة

Jika kamu ingin mengetahui berapa jarak yang ditempuh masing-masing dari keduanya, kalikan tujuh dengan dua belas, maka hasilnya delapan puluh empat; itulah bagian-bagian jalan. Kemudian kamu ketahui bahwa orang yang berjalan setiap hari sepertiga jalan, dalam satu hari dan lima per tujuh hari, ia menempuh empat puluh delapan bagian dari delapan puluh empat. Sedangkan orang yang berjalan setiap hari seperempat jalan, dalam satu hari dan lima per tujuh hari, ia menempuh tiga puluh enam bagian dari delapan puluh empat bagian. Inilah jarak perjalanan mereka berdua, dan mereka akan bertemu di empat per tujuh jalan dari arah Baghdad dan tiga per tujuh dari arah Kufah.

فإن قيل: بريد وجهتَه من بغداد إلى الرَّي وأمرته أن يسير إليها في خمسة أيام وأمرت بريداً آخر أن يسير من الري إلى بغداد في سبعة أيام فخرجا في ساعةٍ واحدة يؤمّان مقصديهما في كم يلتقيان

Jika dikatakan: Seorang kurir aku tugaskan dari Baghdad menuju Rayy dan aku perintahkan agar ia menempuh perjalanan ke sana dalam lima hari, dan aku perintahkan kurir lain untuk berangkat dari Rayy menuju Baghdad dalam tujuh hari, lalu keduanya berangkat pada waktu yang sama menuju tujuan masing-masing, maka dalam berapa hari mereka akan saling bertemu?

الطريقُ أن نجمع الخمسة والسبعة فالمجموع اثنا عشر وهي المقسوم عليها ثم اضرب الخمسةَ في السبعة فتبلغ خمسةً وثلاثين فاقسمها على اثني عشر فيخرج يومان وأحدَ عشرَ جزءاً من اثني عشر جزءاً من يوم ففي مقدار ذلك يلتقيان

Caranya adalah dengan menjumlahkan lima dan tujuh, sehingga jumlahnya dua belas, yaitu angka yang akan digunakan sebagai pembagi. Kemudian kalikan lima dengan tujuh, hasilnya tiga puluh lima. Bagilah tiga puluh lima itu dengan dua belas, maka hasilnya adalah dua hari dan sebelas dari dua belas bagian dari satu hari. Dalam waktu sebanyak itu, keduanya akan saling bertemu.

فإن قيل: بريدٌ وجهته إلى موضعٍ وأمرته أن يسير كلّ يوم في قصده ثمانيةَ عشرَ فرسخاً وفي انصرافه كلَّ يوم اثني عشر فرسخاً فانطلق وعاد في أربعين يوماً في كم ذهب وفي كم انصرف فاجمع سيرَ الذهاب في كل يوم وسيرَ الانصراف في كل يوم فيبلغ ثلاثين فهي المقسوم عليها ثم اضرب سير الانصراف وهو اثنا عشر في الأربعين التي هي المدة فيبلغ أربعمائة وثمانين فاقسمها على ثلاثين فيخرج ستة عشرَ فذلك زمان انطلاقه ومن ستةَ عشرَ إلى تمام الأربعين زمان انصرافه

Jika dikatakan: Ada seorang kurir yang tujuannya ke suatu tempat, dan aku memerintahkannya untuk berjalan setiap hari menuju tujuannya sejauh delapan belas farsakh, dan dalam perjalanan pulangnya setiap hari sejauh dua belas farsakh. Lalu ia berangkat dan kembali dalam waktu empat puluh hari. Maka, berapa hari ia pergi dan berapa hari ia kembali? Jumlahkanlah jarak perjalanan pergi setiap hari dan jarak perjalanan pulang setiap hari, maka hasilnya tiga puluh; inilah angka pembaginya. Kemudian kalikanlah jarak perjalanan pulang, yaitu dua belas, dengan empat puluh, yaitu jumlah hari, maka hasilnya empat ratus delapan puluh. Bagilah hasil itu dengan tiga puluh, maka hasilnya enam belas; itulah waktu perjalanannya pergi. Dari enam belas hingga genap empat puluh adalah waktu perjalanannya pulang.

فإن أردت عدد الفراسخ فاضرب أيام الانطلاق في ثمانيةَ عشرَ وزمانَ الانصراف في اثني عشرَ فما بلغ فهو عدد الفراسخ

Jika engkau ingin mengetahui jumlah farsakh, maka kalikan hari keberangkatan dengan delapan belas dan waktu kepulangan dengan dua belas, maka hasilnya adalah jumlah farsakh.

فإن قيل: بريد سار من بلدٍ إلى مقصدٍ فكان يسير كلّ يوم خُمس الطريق ويرجع سُبع الطريق في كم يومٍ يقطع المسافة فهذا يناظر مسألة من طرائف الحساب وهو قول القائل حيّةٌ يخرج كل يوم خُمسها من جحرها ويدخل سُبعُها في كم يوم يتم خروجها فاطلب مخرج الخُمس والسبع وهو خمسة وثلاثون فخذ التفاضل بين الخمسة والسبعة وذلك اثنان فاقسم عليها الخمسة والثلاثين فيخرج سبعةَ عشرَ ونصف ففي مقدارها يتم قطعُ المسافة وخروج الحية وكذلك إذا قيل: رجل اكتسب كلَّ يوم خُمسَ درهم وأنفق سبع درهم في كم يوم اجتمع له درهمٌ فجوابه ما مضى

Jika dikatakan: Ada seorang kurir yang berjalan dari suatu kota menuju tujuan, setiap hari ia menempuh seperlima jarak dan kembali menempuh seperempat jarak, maka dalam berapa hari ia akan menempuh seluruh jarak tersebut? Ini serupa dengan salah satu persoalan menarik dalam ilmu hisab, yaitu pernyataan: Seekor ular keluar setiap hari seperlima bagiannya dari lubangnya dan masuk kembali seperempat bagiannya, dalam berapa hari seluruh tubuhnya keluar? Carilah kelipatan persekutuan terkecil dari lima dan tujuh, yaitu tiga puluh lima, lalu ambil selisih antara lima dan tujuh, yaitu dua, kemudian bagi tiga puluh lima dengan dua, hasilnya tujuh belas setengah. Dalam jumlah hari tersebut, jarak akan ditempuh seluruhnya dan ular akan keluar sepenuhnya. Demikian pula jika dikatakan: Seorang laki-laki memperoleh setiap hari seperlima dirham dan membelanjakan seperempat dirham, dalam berapa hari ia akan mengumpulkan satu dirham? Jawabannya seperti yang telah dijelaskan.

فصل في بيان حساب العصير المطبوخ

Bagian tentang penjelasan perhitungan jus yang dimasak

يحتاج إليه من ينتجون المثلث ويحتاج إليه من يحاول تثليث العصير في إصلاح العصر من غير أن يتخذ منه مسكراً وينبغي أن يكون القِدرُ الذي يُطبخ فيه قِدراً قاعدتها مسطحة لا تقعُّرَ فيها والجدار المحيط مستديراً في ارتفاعها على الاستقامة والاستواء من غير تخريط وعلى داخل القدر خطوطٌ تقسّمها ثلاثةَ أقسام ثم يطبخ العصير حتى ينتهي في سكونه إلى العلامة الأخيرة وهذا صناعةٌ

Dibutuhkan oleh mereka yang memproduksi muthallats dan juga oleh mereka yang mencoba membuat muthallats dari jus dalam memperbaiki proses pemerasan tanpa menjadikannya minuman memabukkan. Wadah (periuk) yang digunakan untuk memasak haruslah periuk yang dasarnya rata, tidak cekung, dan dinding sekelilingnya melingkar dengan ketinggian yang lurus dan rata tanpa lekukan. Pada bagian dalam periuk terdapat garis-garis yang membaginya menjadi tiga bagian. Kemudian jus tersebut dimasak hingga diamnya mencapai tanda terakhir. Ini adalah suatu teknik (industri).

وحظُّ الحساب من الفصل في مسائلَ منها أن يقول القائل: قدرٌ فيها ثلاثون دورقاً من العصير وذهب منها بالطبخ خمسةُ دواريق وعُرف ذلك بعلاماتٍ وخطوط كانت على جدار القِدْر ثم رفع من الباقي وهو خمسةٌ وعشرون دورقاً ثلاثةُ دواريق إلى كم يُردّ الباقي حتى يكون مثلثاً قياس الباب أن العدد الحلال على رأي من يُحله مِن اثنين وعشرين دورقاً كقدر عشرة دواريق وهي الثلث  من خمسةٍ وعشرين وهي خمساها فخذ خمسي الباقي الذي هو اثنان وعشرون وذلك ثمانية دواريق وأربعة أخماس دورق فإذا رجع الباقي إلى هذا المقدار حلّ عندهم

Bagian ilmu hisab dalam memutuskan masalah-masalah di antaranya adalah ketika seseorang berkata: dalam wadah itu terdapat tiga puluh kendi air anggur, lalu setelah dimasak berkurang lima kendi, dan hal itu diketahui melalui tanda-tanda dan garis-garis yang ada pada dinding periuk, kemudian dari sisa yang ada, yaitu dua puluh lima kendi, diambil lagi tiga kendi. Maka, sampai berapa banyak sisa yang harus dikembalikan agar menjadi sepertiga? Menurut qiyās dalam bab ini, jumlah yang halal menurut pendapat yang membolehkannya adalah dua puluh dua kendi, yaitu sebesar sepuluh kendi, yang merupakan sepertiga dari dua puluh lima, dan itu adalah dua perlima dari jumlah tersebut. Maka ambillah dua perlima dari sisa yang ada, yaitu dua puluh dua, hasilnya adalah delapan kendi dan empat perlima kendi. Jika sisa itu kembali ke jumlah tersebut, maka menurut mereka hukumnya menjadi halal.

وبيان ذلك أنه لما رجع العصير إلى خمسةٍ وعشرين كان يحل بأن يذهب منه خمسةَ عشرَ دورقاً وخمسةَ عشرَ ثلاثةُ أخماس الخمسة والعشرين فلما رفع من الخمسة والعشرين ثلاثةُ دواريق فيجب رعاية نسبة الأخماس في الاثنين والعشرين فليذهب منها ثلاثةُ أخماسها وإذا أسقطت ثلاثةَ أخماس اثنين وعشرين بقي ثمانيةُ دواريق وأربعةُ أخماس دورق كما ذكرنا ولو رفعت من الخمسة والعشرين عشرة أو عشرين  لرددت الباقي إلى خُمسيه ليحل

Penjelasannya adalah bahwa ketika air perasan anggur kembali menjadi dua puluh lima, maka ia menjadi halal jika yang hilang darinya adalah lima belas duraq dan lima belas itu adalah tiga per lima dari dua puluh lima. Ketika diambil tiga duraq dari dua puluh lima, maka harus memperhatikan proporsi kelima bagian pada dua puluh dua, sehingga harus dihilangkan tiga per lima darinya. Jika dikurangi tiga per lima dari dua puluh dua, maka yang tersisa adalah delapan duraq dan empat per lima duraq, sebagaimana telah kami sebutkan. Jika yang diambil dari dua puluh lima adalah sepuluh atau dua puluh, maka sisa yang ada harus dikembalikan ke dua perlima bagiannya agar menjadi halal.

هذا وجه رعاية النسبة

Inilah sisi perhatian terhadap nisbah.

ولو ذهب بالطبخ عشرةُ دواريق ورفعت من الباقي خمسةَ دواريق فالطريق أن نقول: لما رجع بالطبخ إلى عشرين دورقاً فكان يحل لو ذهب من الباقي عشرةٌ أخرى بالطبخ وهو مثل نصف الباقي فإذا رفعت خمسةً من العشرين فلا نبالي بما ارتفع واعتبرْ نسبةَ النصف من الباقي

Jika dengan proses memasak menguap sepuluh duraq dan dari sisa yang ada diangkat lima duraq, maka cara yang benar adalah dengan mengatakan: Ketika setelah dimasak tersisa dua puluh duraq, maka boleh saja jika dari sisa tersebut menguap sepuluh lagi melalui proses memasak, yang mana itu setara dengan setengah dari sisa tersebut. Maka jika diangkat lima dari dua puluh, kita tidak mempermasalahkan apa yang telah diangkat, dan perhatikanlah perbandingan setengah dari sisa yang ada.

فإذا ذهب من الخمسةَ عشرَ الباقية سبعةٌ ونصف يحلّ الباقي على رأي من يُحله

Jika dari lima belas yang tersisa hilang tujuh setengah, maka sisanya menjadi halal menurut pendapat yang membolehkannya.

وقس على هذا ما في معناه

Dan qiyaskanlah terhadap hal ini segala sesuatu yang maknanya serupa.

إن قيل: ثلاثون دورقاً ذهب بالطبخ منها خمسةُ دواريق ثم رفع منها شيء مجهول لا ندري مقدارَه وكان حلال الباقي ثمانية دواريق كم كان المرفوع منها فالطريق أن نقول: لما رجع بالطبخ إلى خمسةٍ وعشرين  كان يحل الباقي لو رجع إلى عشرة وذهب منها خمسةَ عشرَ فالخمسةَ عشرَ ثلاثة أخماس الخمسة والعشرين ونسبة الأخماس تقتضي أن يذهب من كل خمسة ثلاثة ويتحصل من كل خمسة دورقان فإذا كان الحلالُ ثمانيةً فنعلم أنها من عشرين دورقاً فالمرفوع إذاً خمسة ولو بقيت  لتحصّل منها دورقان وتمت العشرة فإذا أنقصت العشرة بدورقين تبين أن المرفوع خمسة

Jika dikatakan: Tiga puluh kendi, setelah dimasak hilang darinya lima kendi, kemudian diambil lagi sesuatu yang tidak diketahui jumlahnya, dan yang halal dari sisanya adalah delapan kendi. Berapa banyak yang diambil? Maka caranya adalah: Ketika setelah dimasak tersisa dua puluh lima kendi, maka yang halal dari sisanya seandainya kembali menjadi sepuluh dan hilang lima belas, maka lima belas itu adalah tiga per lima dari dua puluh lima. Perbandingan kelima bagian mengharuskan bahwa dari setiap lima diambil tiga dan tersisa dari setiap lima dua kendi. Jika yang halal adalah delapan, maka kita tahu itu berasal dari dua puluh kendi, maka yang diambil adalah lima. Seandainya masih tersisa, maka akan didapatkan dua kendi dan genap menjadi sepuluh. Jika sepuluh dikurangi dua kendi, maka jelaslah bahwa yang diambil adalah lima.

قال الحُسّاب في هذه المسألة: قدرُ المرفوع من خمسةٍ وعشرين كقدر النقصان الذي في الباقي الحلال من ثلث جميع العصير

Para ahli hisab dalam masalah ini berkata: Jumlah yang diangkat dari dua puluh lima itu sebanding dengan jumlah kekurangan yang terdapat pada sisa yang halal dari sepertiga seluruh perasan.

وبيانه أن الثمانية نقصت عن ثلث العصير بخُمس العشرة فبان أن المرفوع من خمسة وعشرين خمسُها

Penjelasannya adalah bahwa delapan itu kurang dari sepertiga air perasan sebanyak seperlima dari sepuluh, sehingga jelas bahwa yang diangkat dari dua puluh lima adalah seperlimanya.

فصل في مسائل تتعلق بالسؤالات عند التلاقي

Bagian tentang permasalahan yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan saat pertemuan

رجلان اجتمعا على ثوبٍ ينادَى عليه فقال أحدهما للآخر: إن أعطيتني ثلث ما معك فزدتُه على ما معي تَمَّ لي ثَمَنُ هذا وقال الآخر للأول: إن أعطيتني رُبع ما معك وزدتُه على ما معي تمَّ لي ثَمنُ الثوبِ كم الثمن وكم مع كل واحد منهما

Dua orang berkumpul untuk membeli sehelai kain yang sedang dilelang. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: “Jika kamu memberiku sepertiga dari apa yang kamu miliki lalu aku menambahkannya pada apa yang kumiliki, maka aku akan mendapatkan harga kain ini.” Dan yang lain berkata kepada yang pertama: “Jika kamu memberiku seperempat dari apa yang kamu miliki lalu aku menambahkannya pada apa yang kumiliki, maka aku akan mendapatkan harga kain itu.” Berapakah harga kain tersebut dan berapa jumlah uang yang dimiliki masing-masing dari mereka?

فنقول: نضرب مخرج الثلث وهو ثلاثة في مخرج الربع وهو أربعة فيبلغ اثني عشر فننقص منها واحداً أبداً يبقى أحدَ عشرَ فهو ثمنُ الثوب ثم نرجع إلى الاثني عشر ثم نعزل منه ثُلثَه وهو أربعة يبقى ثمانية فهي مع الأوّل ثم نعزل منه ربعَه يبقى تسعة فهي مع الثاني والمسألة صحيحةٌ على الامتحان ولكنها قليلة الفائدة فإن أقل عدد صحيح يُفرض منه هذا الذي ذكرنا فقد يتصور تضاعف الثمن على هذه النسبة وكأن الحُسَّاب نبهوا بأقلّ عددٍ صحيح يصح فيه السؤال

Maka kami katakan: kita kalikan penyebut sepertiga, yaitu tiga, dengan penyebut seperempat, yaitu empat, sehingga hasilnya dua belas. Lalu kita kurangi satu darinya, maka tersisa sebelas; itulah delapan per delapan dari kain. Kemudian kita kembali ke dua belas, lalu kita pisahkan sepertiganya, yaitu empat, sehingga tersisa delapan; itu bersama yang pertama. Lalu kita pisahkan seperempatnya, sehingga tersisa sembilan; itu bersama yang kedua. Permasalahan ini benar secara perhitungan, namun sedikit manfaatnya, karena bilangan bulat terkecil yang dapat digunakan untuk contoh yang kami sebutkan ini dapat dibayangkan kelipatan harga pada perbandingan ini. Seolah-olah para ahli hisab mengisyaratkan dengan bilangan bulat terkecil yang sah untuk pertanyaan ini.

فإن كانوا ثلاثة فطلب الأول من الثاني ثُلثَ ما معه وطلب الثاني من الثالث ربعَ ما معه وطلب الثالث من الأول خُمس ما معه ليتم لكل واحد منهم ثَمنَ الثوب فاضرب مخرجَ الثلث  وهو ثلاثة في مخرج الربع وهو أربعة ثم ما اجتمع في مخرج الخمس وهو خمسة فبلغ ستين فزد عليه واحداً أبداً إذا كان عددُ القوم فرداً وإن كان عدد القوم زوجاً فانقص من المبلغ واحداً فالمبلغ في هذه المسألة أحدٌ وستون فهذا ثمن الثوب فإن أردت أن تعلم الذي مع الأول فخذ مخرج الثلث وألقِ منه واحداً يبقى اثنان فاضربه في مخرج الربع فيبلغ ثمانية فزد عليها واحداً أبداً فيبلغ تسعةً فاضربها في مخرج الخُمس فيصير خمسةً وأربعين فهي مع الأول

Jika mereka bertiga, lalu yang pertama meminta dari yang kedua sepertiga dari apa yang dimilikinya, yang kedua meminta dari yang ketiga seperempat dari apa yang dimilikinya, dan yang ketiga meminta dari yang pertama seperlima dari apa yang dimilikinya, agar masing-masing dari mereka memperoleh seperdelapan dari harga kain, maka kalikan penyebut sepertiga, yaitu tiga, dengan penyebut seperempat, yaitu empat, kemudian hasilnya dengan penyebut seperlima, yaitu lima, sehingga menjadi enam puluh. Tambahkan satu selalu jika jumlah orangnya ganjil, dan jika jumlah orangnya genap, kurangi satu dari hasil tersebut. Maka hasil dalam permasalahan ini adalah enam puluh satu; inilah harga kain. Jika engkau ingin mengetahui berapa yang dimiliki oleh orang pertama, ambillah penyebut sepertiga dan kurangi satu darinya, tersisa dua, lalu kalikan dengan penyebut seperempat sehingga menjadi delapan. Tambahkan satu selalu sehingga menjadi sembilan, lalu kalikan dengan penyebut seperlima sehingga menjadi empat puluh lima; itulah yang dimiliki oleh orang pertama.

وإن أردت أن تعلم ما مع الثاني فاطرح ذلك من أحدٍ وستين يبقى ستةَ عشرَ فاضربها في ثلاثة تكون ثمانيةً وأربعين فهي ما مع الثاني ثم اطرح هذا المبلغ من أحدٍ وستين فيبقى ثلاثةَ عشرَ فاضربها في أربعةٍ فتصير اثنين وخمسين وهي ما مع الثالث والواحد الذي زدته على الستين إنما هو مضروب الثلث في الربع ثم في الخمس فإنك إذا ضربتَ الثلث في الربع كان نصف سدس وهو جزء من اثني عشر جزءاً فإذا ضربته في الخمس كان جزءاً من ستين جزءاً

Jika kamu ingin mengetahui berapa bagian yang dimiliki oleh orang kedua, kurangkanlah jumlah itu dari enam puluh satu, maka tersisa enam belas. Kalikan enam belas dengan tiga, hasilnya empat puluh delapan; itulah bagian yang dimiliki oleh orang kedua. Kemudian kurangkan jumlah ini dari enam puluh satu, maka tersisa tiga belas. Kalikan tiga belas dengan empat, hasilnya lima puluh dua; itulah bagian yang dimiliki oleh orang ketiga. Adapun satu yang kamu tambahkan pada enam puluh, itu sebenarnya adalah hasil perkalian sepertiga dengan seperempat lalu dengan seperlima. Jika kamu mengalikan sepertiga dengan seperempat, hasilnya adalah setengah dari seperenam, yaitu satu bagian dari dua belas bagian. Jika kamu mengalikannya lagi dengan seperlima, maka hasilnya adalah satu bagian dari enam puluh bagian.

وهذا غامض لا يحيط به إلا ماهرٌ في الحساب

Hal ini samar dan tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang mahir dalam ilmu hisab.

فعلى هذا إذا قال الأول للثاني: إن أعطيتني ثلاثةَ أخماس ما معك صار معي ثَمنُ هذا الثوب وطلب الثاني من الثالث أربعة أسباع ما معه وطلب الثالث من الأول خمسةَ أثمان ما معه

Maka berdasarkan hal ini, jika yang pertama berkata kepada yang kedua: “Jika kamu memberiku tiga per lima dari apa yang kamu miliki, maka aku akan memiliki delapan dari pakaian ini,” dan yang kedua meminta kepada yang ketiga empat per tujuh dari apa yang dimilikinya, dan yang ketiga meminta kepada yang pertama lima per delapan dari apa yang dimilikinya.

فاضرب المخارجَ بعضها في بعض فتكون مائتين وثمانين فنزيد عليها عدد الأخماس مضروباً في عدد الأسباع ثم ما بلغ في عدد الأثمان وذلك ستون فيبلغ ثَلاثمائة وأربعين  فهي ثمن الثوب

Kalikanlah penyebut-penyebut itu satu sama lain, maka hasilnya adalah dua ratus delapan puluh. Kemudian tambahkanlah padanya jumlah kelima dikalikan dengan jumlah ketujuh, lalu hasilnya dikalikan dengan jumlah kedelapan, yaitu enam puluh, sehingga jumlahnya menjadi tiga ratus empat puluh. Itulah seperdelapan dari kain tersebut.

ثم خذ مخرج الخُمس: خمسة فاعزل منها ثلاثةَ أخماسها يبقى اثنان فاضربهما في مخرج السبع فيبلغ أربعةَ عشرَ فزد عليها عددَ الأخماس مضروباً في عدد الأسباع وذلك اثنا عشر فيبلغ ستةً وعشرين فاضربها في مخرج الثمن فيكون مائتان وثمانية فهذا رأس مال الأول فنلقيه من ثمن الثوب فما بقي فهو ثلاثة أخماس مال الثاني فزد عليه ثلثيه  فما بلغ فهو مال الثاني فنلقيه من ثمن الثوب كلِّه فما بقي فهو أربعة أسباع مال الثالث فنضرب رُبعه في سَبعةٍ فما بلغ  فهو ماله

Kemudian ambillah penyebut dari khumus: lima, lalu sisihkan darinya tiga per lima, maka tersisa dua. Kalikan keduanya dengan penyebut dari sabu‘, maka hasilnya empat belas. Tambahkan padanya jumlah kelipatan lima dikalikan dengan jumlah kelipatan tujuh, yaitu dua belas, sehingga hasilnya menjadi dua puluh enam. Kalikan itu dengan penyebut dari tsumn, maka hasilnya dua ratus delapan. Inilah modal yang pertama, lalu kurangkan dari harga kain; sisa yang ada adalah tiga per lima dari modal yang kedua. Tambahkan padanya dua pertiganya, maka hasilnya adalah modal yang kedua. Kurangkan itu dari seluruh harga kain; sisa yang ada adalah empat per tujuh dari modal yang ketiga. Kalikan seperempatnya dengan tujuh, maka hasilnya adalah modalnya.

رجلان قال أحدهما لصاحبه: إن أعطيتني ثلث ما معك صار معي خمسةُ دراهم وقال الآخر للأول: إن أعطيتني ربع ما معك صار معي سبعةٌ

Dua orang laki-laki, salah satunya berkata kepada temannya: Jika kamu memberiku sepertiga dari apa yang kamu miliki, maka aku akan memiliki lima dirham. Dan yang lain berkata kepada yang pertama: Jika kamu memberiku seperempat dari apa yang kamu miliki, maka aku akan memiliki tujuh.

بيانه أن نلقي من ضرب مخرج الثلث في مخرج الربع واحداً فيبقى أحدَ عشرَ فهي المقسوم عليها فاحفظها لأنها مخرج أجزاء الدرهم الواحد في هذه المسألة ثم نلقي من الخمسة ثُلثَ السبعة يبقى اثنان وثلثان فاضربها في مخرج الثلث والربع فيبلغ اثنين وثلاثين فاقسمها على الأحد عشر فيخرج اثنان وعشرةُ أجزاء من أحدَ عشرَ جزءاً من درهم وهو الذي مع الأول

Penjelasannya adalah kita mengurangkan hasil kali penyebut sepertiga dengan penyebut seperempat, maka tersisa sebelas; inilah angka yang menjadi pembagi, maka hafalkanlah karena itu adalah penyebut bagian-bagian dari satu dirham dalam masalah ini. Kemudian kita kurangkan dari lima sepertiga dari tujuh, maka tersisa dua dan sepertiga. Kalikan hasil ini dengan penyebut sepertiga dan seperempat, maka hasilnya tiga puluh dua. Bagilah angka ini dengan sebelas, maka hasilnya dua dan sepuluh bagian dari sebelas bagian dari satu dirham, dan inilah yang bersama yang pertama.

ثم ألقِ من السبعة ربعَ الخمسة يبقى خمسة وثلاثة أرباع فاضربها في مخرج الثلث والربع وهو اثنا عشر فيبلغ تسعةً وستين فاقسمها على الأحدَ عشرَ فيخرج ستةٌ وثلاثةُ أجزاء من أحد عشر فهذا الذي مع الثاني

Kemudian ambil dari tujuh seperempat dari lima, maka tersisa lima tiga perempat. Kalikan jumlah ini dengan penyebut sepertiga dan seperempat, yaitu dua belas, maka hasilnya enam puluh sembilan. Bagilah hasil ini dengan sebelas, maka keluarlah enam dan tiga bagian dari sebelas. Inilah bagian yang menjadi milik yang kedua.

رجلان وجدا كيساً فيه دراهم فقال أحدهما: إن أخذته وضممته إلى ما معي صار معي خمسة أمثال ما معك

Dua orang laki-laki menemukan sebuah kantong berisi dirham, lalu salah satu dari mereka berkata: Jika aku mengambilnya dan menggabungkannya dengan apa yang kumiliki, maka aku akan memiliki lima kali lipat dari apa yang kamu miliki.

وقال الآخر: إن زدته على ما معي صار سبعةَ أمثال ما معك كم في الكيس وكم مع كل واحد منهما

Yang lain berkata: Jika aku tambahkan jumlah yang ada padaku dengan milikmu, maka jumlahnya menjadi tujuh kali lipat dari apa yang ada padamu. Berapakah isi kantong itu dan berapa yang dimiliki masing-masing dari mereka?

فاضرب عدد الأمثال في عدد الأمثال: خمسة في سبعة وانقص من المبلغ واحداً يبقى أربعةٌ وثلاثون فهي التي في الكيس

Kalikan jumlah perumpamaan dengan jumlah perumpamaan: lima dengan tujuh, lalu kurangi hasilnya satu, maka tersisa tiga puluh empat, itulah yang ada di dalam kantong.

ثم زد على الخمسة واحداً فتبلغ ستة فهي التي مع الأول وزد على السبعة واحداً فما بلغ فهو الذي مع الثاني

Kemudian tambahkan satu pada lima sehingga menjadi enam, itulah jumlah bersama yang pertama. Tambahkan satu pada tujuh, maka hasilnya adalah jumlah bersama yang kedua.

فإن كانوا ثلاثة ووجدوا الكيس فقال الأول للثاني: إن أخذتُه أنا صار معي ثلاثة أمثال ما معك وقال الثاني للثالث: إن أخذته أنا صار معي أربعة أمثال ما معك وقال الثالث للأول: إن أخذته أنا صار معي خمسة أمثال ما معك فاضرب مخرج الثلث في مخرج الربع ثم في مخرج الخمس فيبلغ ستين فانقص منه واحداً يبقى تسعةٌ وخمسون فهي التي في الكيس

Jika mereka bertiga dan menemukan kantong itu, lalu yang pertama berkata kepada yang kedua: Jika aku yang mengambilnya, maka aku akan memiliki tiga kali lipat dari apa yang kamu miliki. Dan yang kedua berkata kepada yang ketiga: Jika aku yang mengambilnya, maka aku akan memiliki empat kali lipat dari apa yang kamu miliki. Dan yang ketiga berkata kepada yang pertama: Jika aku yang mengambilnya, maka aku akan memiliki lima kali lipat dari apa yang kamu miliki. Maka kalikan penyebut sepertiga dengan penyebut seperempat lalu dengan penyebut seperlima, hasilnya adalah enam puluh. Kurangi satu darinya, maka tersisa lima puluh sembilan, itulah jumlah yang ada di dalam kantong.

فإن أردت معرفة ما مع الأول فخذ مخرج الأمثال التي ذكرناها وهو ثلاثة فزد عليها واحداً واضرب ما بلغ في مثله فيكون ستة عشر فهي ما مع الأول فزد ذلك على تسعة وخمسين فيبلغ خمسةً وسبعين فخذ ثلثَها: خمسةً وعشرين فذلك مع الثاني فزدها على تسعة وخمسين فيبلغ أربعةً وثمانين فخذ ربعه: أحداً وعشرين فهو ما مع الثالث

Jika kamu ingin mengetahui jumlah yang dimiliki oleh orang pertama, ambillah hasil dari contoh-contoh yang telah kami sebutkan, yaitu tiga, lalu tambahkan satu sehingga menjadi empat, kemudian kalikan hasilnya dengan dirinya sendiri sehingga menjadi enam belas; itulah jumlah yang dimiliki oleh orang pertama. Tambahkan jumlah itu ke lima puluh sembilan sehingga menjadi tujuh puluh lima, lalu ambil sepertiganya, yaitu dua puluh lima; itulah yang dimiliki oleh orang kedua. Tambahkan jumlah itu ke lima puluh sembilan sehingga menjadi delapan puluh empat, lalu ambil seperempatnya, yaitu dua puluh satu; itulah yang dimiliki oleh orang ketiga.

رجل معه كيس فيه دراهم فسأله رجل عن مقدارها فقال: ليتها لي ومثلَها ومثلَ نصفها ومثلَ ربعها حتى أزيدَها على درهم لي في بيتي فيتمَّ لي مائةُ درهم كم في الكيس

Seorang laki-laki membawa sebuah kantong berisi dirham, lalu seseorang bertanya kepadanya tentang jumlahnya. Ia menjawab: “Andai saja itu milikku, beserta yang seukuran dengannya, dan seukuran setengahnya, dan seukuran seperempatnya, hingga aku menambahkannya dengan satu dirham yang aku miliki di rumah, maka genaplah seratus dirham bagiku.” Berapakah jumlah dirham dalam kantong itu?

خذ مخرج النصف والربع لذكر النصف والربع وهو أربعة فخذها ومثلَها لقوله: ليتها لي ومثلها فيكون ثمانية فزد عليهما نصفَ الأربعة وربعها لذكره النصفَ والربعَ فيكون أحدَ عشرَ فهو المقسوم عليه فاحفظه ثم ألق من المائةِ واحداً يبقى تسعةٌ وتسعون فاضربها في مخرج النصف والربع وهو أربعة فيبلغ ثَلاثمائة وستةً وتسعين فاقسمها على الأحد عشر المحفوظة فيخرج ستة وثلاثون وهي عدد الدراهم التي في الكيس

Ambillah penyebut dari setengah dan seperempat untuk menyebut setengah dan seperempat, yaitu empat, maka ambillah itu dan yang semisalnya karena ucapannya: “Seandainya itu milikku dan yang semisalnya,” maka menjadi delapan. Lalu tambahkan pada keduanya setengah dari empat dan seperempatnya karena ia menyebut setengah dan seperempat, maka menjadi sebelas. Itulah angka yang menjadi pembagi, maka hafalkanlah. Kemudian kurangi dari seratus satu, tersisa sembilan puluh sembilan. Kalikan itu dengan penyebut setengah dan seperempat, yaitu empat, maka hasilnya tiga ratus sembilan puluh enam. Bagilah itu dengan sebelas yang telah dihafal, maka hasilnya tiga puluh enam, itulah jumlah dirham yang ada di dalam kantong.

فإن قيل: مالٌ عزلت منه ثُلثَه وربعَه فبقي منه ثلاثةُ دراهم فمأخذ هذا الفن أن نعلم أنَّ مخرج الثلث والربع إذا عزلا فالباقي ربع وسدس فإذا كان الربع والسدس ثلاثة لم يخف إخراج الباقي فإنه إذا بانت قيمةُ جزء بان قيمة جميع الأجزاء والسبيل المعروف أن نأخذ شيئاً له ثلث وربع وذلك اثنا عشر فنلقي منه ثلثه وربعه تبقى منه خمسة فهي المقسوم عليها ثم اضرب الباقي وهو ثلاثة في مخرج الثلث والربع وهو اثنا عشر وقسم المبلغ على الخمسة المحفوظة فيخرج سبعة وخمس فهو أصل المال

Jika dikatakan: Ada harta yang telah dipisahkan sepertiga dan seperempatnya, lalu sisanya tinggal tiga dirham. Cara memahami persoalan ini adalah kita harus mengetahui bahwa sisa setelah sepertiga dan seperempat dipisahkan adalah seperempat dan seperenam. Jika seperempat dan seperenam itu berjumlah tiga, maka tidak sulit untuk mengetahui sisa yang lain, sebab jika nilai satu bagian sudah diketahui, maka nilai seluruh bagian pun akan diketahui. Cara yang biasa dilakukan adalah kita mengambil suatu bilangan yang memiliki sepertiga dan seperempat, yaitu dua belas. Lalu kita kurangi sepertiga dan seperempatnya, maka sisanya adalah lima. Inilah yang menjadi pembagi. Kemudian kalikan sisa, yaitu tiga, dengan bilangan yang memiliki sepertiga dan seperempat, yaitu dua belas, lalu bagi hasilnya dengan lima yang telah ditentukan, maka hasilnya adalah tujuh dan seperlima. Itulah asal harta tersebut.

ومن هذا القبيل أن يقول القائل: قصبة ثلثها في الطين وربعها في الماء والخارج منها ثلاثة أذرع أو سمكة رأسها ربُعها وذنبها ثُلثُها والباقي منها ثلاثة أمناء كم وزن السمكة أو كيسٌ عزلت منه ثُلثَه وربعَه فبقي منه ثلاثة أقفزة كم مقدارُ الكيس وهذا الفن من الجليات لما ذكرناه في ابتدائه

Termasuk dalam kategori ini adalah ketika seseorang berkata: sebuah batang, sepertiganya berada di dalam tanah, seperempatnya di dalam air, dan bagian yang tersisa darinya sepanjang tiga hasta; atau seekor ikan, kepalanya seperempat, ekornya sepertiga, dan sisanya tiga uqiyah—berapa berat ikan itu? Atau sebuah kantong, telah diambil sepertiganya dan seperempatnya, lalu yang tersisa tiga qafiz—berapa ukuran kantong itu? Dan jenis permasalahan seperti ini termasuk perkara yang jelas, sebagaimana telah kami sebutkan di awal pembahasan.

فإن قيل: حوض له ثلاثة أنهار ويملؤه واحد في ثلاثة أيام والثاني في أربعة أيام والثالث في خمسة أيام فُتحت الأنهار إليه وأخذت في الانصباب في ساعةٍ واحدةٍ في كم يمتلىء  فخذ عدداً له ثلثٌ وربعٌ وخمسٌ لجريان الثلاثة والأربعة والخمسة وذلك ستون فخذ ثلثها وربعها وخمسها وذلك سبعةٌ وأربعون فهي المقسوم عليها ثم اقسم المخرج وهو ستون عليها فيخرج واحد وثلاثةَ عشرَ جزءاً من يوم ففي هذا المقدار يمتلىء الحوض

Jika dikatakan: Sebuah kolam memiliki tiga sungai; yang pertama mengisinya dalam tiga hari, yang kedua dalam empat hari, dan yang ketiga dalam lima hari. Ketika ketiga sungai itu dibuka dan mulai mengalir ke kolam secara bersamaan, dalam berapa lama kolam itu akan penuh? Maka ambillah sebuah bilangan yang dapat dibagi tiga, empat, dan lima, yaitu enam puluh. Ambil sepertiganya, seperempatnya, dan seperlimanya, yaitu empat puluh tujuh; inilah angka pembaginya. Kemudian bagi hasilnya, yaitu enam puluh, dengan angka tersebut, maka hasilnya adalah satu dan tiga belas bagian dari satu hari. Dalam waktu sebanyak ini, kolam itu akan penuh.

فإن قيل: نهر يملؤه في يوم والثاني في يومين والثالث في ثلاثة أيام أُرسلت كلُّها إليه في ساعة واحدة ففي كم يمتلىء  فخذ عدداً له نصفٌ وثلث لذكره يومين وثلاثة وذلك ستةٌ ثم خذ لليوم الواحد ستة و لليومين نصف ذلك وهو ثلاثة ولثلاثة أيام ثلث ذلك وهو اثنان فاجمع ذلك كلَّه فيكون أحدَ عشرَ ثم اقسم المبلغ عليها فيخرج ستة أجزاء من أحدَ عشرَ جزءاً من يوم ففي مقدارها يمتلىء الحوض

Jika dikatakan: Sebuah sungai yang dapat mengisinya dalam satu hari, yang kedua dalam dua hari, dan yang ketiga dalam tiga hari, semuanya dialirkan ke sana dalam satu waktu, maka dalam berapa lama kolam itu akan penuh? Ambillah sebuah bilangan yang memiliki setengah dan sepertiga, yaitu dua dan tiga, maka itu adalah enam. Kemudian untuk satu hari, ambillah enam; untuk dua hari, setengahnya, yaitu tiga; dan untuk tiga hari, sepertiganya, yaitu dua. Jumlahkan semuanya, maka hasilnya sebelas. Lalu bagilah jumlah tersebut dengan enam, maka hasilnya adalah enam per sebelas bagian dari satu hari. Dalam waktu sebanyak itu, kolam akan penuh.

فإن قيل: حوض طوله أربعون ذراعاً وعرضه عشرون ذراعاً وعمقه ثلاثة أذرع حفرنا إلى جنبه بئراً طولها ثلاثة أذرع في عرض ذراعين كم يجب أن يكون عمقها حتى يسع البئرُ ماءَ الحوض فاضرب طول الحوض في عرضه ثم ما بلغ في عمقه فيبلغ ألفين وأربعمائة فاحفظها ثم اضرب عرض البئر في طولها يكون ستة فاقسم عليها الألفين والأربعمائة فتخرج أربعمائة ذراع فهي عمق البئر

Jika dikatakan: Sebuah kolam dengan panjang empat puluh hasta, lebar dua puluh hasta, dan kedalaman tiga hasta, lalu kita menggali di sampingnya sebuah sumur dengan panjang tiga hasta dan lebar dua hasta, berapakah kedalaman sumur tersebut agar dapat menampung air kolam? Maka kalikan panjang kolam dengan lebarnya, lalu hasilnya dikalikan dengan kedalamannya, sehingga didapat dua ribu empat ratus. Ingatlah angka ini. Kemudian kalikan lebar sumur dengan panjangnya, hasilnya adalah enam. Bagilah dua ribu empat ratus dengan enam, maka hasilnya adalah empat ratus hasta. Itulah kedalaman sumur.

إن قيل: ثمانية أرغفة بين رجلين: لأحدهما ثلاثة وللآخر خمسة أتاهما ضيف فجعلوا الأرغفة أثلاثاً متساوية وأكلوها أكلاً متساويا ولم يأكل أحد الرجلين صاحبي الأرغفة من أرغفة صاحبه فأعطاهما الضيف ثمانية دنانير عوضاً عما أكله من رغفانهما كيف يقتسمان الدنانير

Jika dikatakan: Ada delapan roti di antara dua orang; salah satunya memiliki tiga roti dan yang lainnya lima roti. Kemudian datang seorang tamu kepada mereka, lalu mereka membagi roti-roti itu menjadi tiga bagian yang sama dan memakannya secara merata, dan tidak ada salah satu dari kedua pemilik roti itu yang memakan roti milik temannya. Setelah itu, tamu tersebut memberikan kepada mereka delapan dinar sebagai ganti dari roti yang telah ia makan dari milik mereka. Bagaimana cara mereka membagi dinar tersebut?

فالجواب أن لصاحب الثلاثة الأرغفة ديناراً واحداً والباقي وهو سبعة لصاحب الأرغفة الخمسة

Jawabannya adalah bahwa pemilik tiga roti mendapatkan satu dinar, dan sisanya, yaitu tujuh dinar, menjadi milik pemilik lima roti.

وذلك لأن الأرغفة لما جُعلت أثلاثاً صارت الخمسةُ منها خمسَ عشرةَ قطعة وصارت الثلاثةُ تسعَ قطع فذلك أربعٌ وعشرون قطعة فقد أكل كل واحد منهما ثمانِ قطع فصاحب الخمسة له خمسةَ عشرَ أكل منها ثمانية وأكل الضيف من نصيبه سبعة وصاحب الثلاثة له تسعُ قطع أكل منها ثمانية وأكل الضيفُ من نصيبه قطعةً فلذلك كان لصاحب الثلاثة دينارٌ ولصاحب الخمس سبعة دنانير

Hal itu karena ketika roti-roti tersebut dibagi menjadi tiga bagian, maka lima roti menjadi lima belas potong dan tiga roti menjadi sembilan potong, sehingga semuanya menjadi dua puluh empat potong. Maka masing-masing dari mereka memakan delapan potong. Pemilik lima roti memiliki lima belas potong, ia memakan delapan potong dan tamu memakan tujuh potong dari bagiannya. Pemilik tiga roti memiliki sembilan potong, ia memakan delapan potong dan tamu memakan satu potong dari bagiannya. Oleh karena itu, pemilik tiga roti mendapat satu dinar dan pemilik lima roti mendapat tujuh dinar.

إن سئلتَ عن عددٍ إذا قسم على اثنين زاد واحداً وإن قسم على ثلاثة زاد واحداً وكذلك إذا قسم على أربعة وعلى خمسة وعلى ستة وإن قسم على سبعة خرج سواء فبيانه أن نطلب أقل عدد يكون له هذه الأجزاء ما خلا السبع فنجده ستين فنزيد عليه واحداً يكون أحداً وستين فهذا إذا قسم على اثنين أو ثلاثة أو خمسة أو ستة يفضل واحدٌ وإن قسم على سبعة يفضل خمسة وإن قسمت ستين على سبعة يفضل أربعة فانظر في عدد نضربه في الستين ونزيد على مبلغه واحداً فنقسم ما بلغ على سبعة فنجده خمسةً فاضرب الخمسة في الستين وزد على المبلغ واحداً فيكون ثَلاثَمائةٍ وواحداً فهو المطلوب

Jika engkau ditanya tentang suatu bilangan yang jika dibagi dua bersisa satu, jika dibagi tiga bersisa satu, demikian pula jika dibagi empat, lima, dan enam, namun jika dibagi tujuh hasilnya tepat, maka penjelasannya adalah kita mencari bilangan terkecil yang memiliki bagian-bagian tersebut kecuali tujuh, maka kita dapati enam puluh. Lalu kita tambahkan satu sehingga menjadi enam puluh satu. Maka jika dibagi dua, tiga, lima, atau enam akan bersisa satu. Jika dibagi tujuh akan bersisa lima. Jika enam puluh dibagi tujuh akan bersisa empat. Maka perhatikan suatu bilangan yang kita kalikan dengan enam puluh lalu kita tambahkan satu, kemudian hasilnya kita bagi tujuh sehingga sisanya lima. Maka kalikan lima dengan enam puluh dan tambahkan satu pada hasilnya, maka menjadi tiga ratus satu. Itulah bilangan yang dimaksud.

فهذه جملٌ ترشد إلن قواعد الحساب في المعاملات لم نحب تخلية الكتاب عنها

Ini adalah beberapa ringkasan yang menunjukkan kaidah-kaidah hisab dalam muamalah yang kami tidak ingin mengosongkan kitab ini darinya.

ونحن نذكر الآن فصلاً في قواعد النِّسب يستغني به الحاسب ويتخذه أصلاً مرجوعاً إليه فإن أمَّ الحساب النسبة وجملة الطرق ملتقاة منها والنِّسب شيء لا تمس الحاجة إلى جميعها في المعاملات كالنسب التأليفية التي يستعملها أصحاب الألحان والنسب النَّظمية التي يستعملها أهل الهندسة في أضلاع المجسمات وهي مثل قول القائل: زيادة الستة على الاثنين كزيادة التسعة على الستة وكزيادة الأربعةَ عشرَ على العشرة

Sekarang kami akan menyebutkan satu bab tentang kaidah-kaidah nisbah yang dapat dijadikan acuan oleh para ahli hisab dan dijadikan sebagai dasar yang dapat dirujuk kembali. Sebab, inti dari hisab adalah nisbah, dan seluruh metode berpangkal darinya. Nisbah adalah sesuatu yang tidak selalu dibutuhkan seluruhnya dalam transaksi, seperti nisbah ta’līfiyyah yang digunakan oleh para ahli musik, dan nisbah nadhmiyyah yang digunakan oleh para ahli geometri dalam sisi-sisi bangun ruang. Contohnya adalah seperti ucapan seseorang: “Kelebihan enam atas dua seperti kelebihan sembilan atas enam, dan seperti kelebihan empat belas atas sepuluh.”

والنسبة التي تمس حاجتنا إليها وعليها تدور المعاملات في البيع والإجارة والأرباح والخسرانات وبها يخرج ما غمض من مسائل الدور والعين والدين والوصايا ومساحة الأشكال فنعتني بذكر هذه النسبة في فصل نعقده

Nisbah yang sangat kita butuhkan dan menjadi dasar dalam transaksi jual beli, ijarah, keuntungan dan kerugian, serta dengannya dapat dijelaskan berbagai masalah yang samar seperti masalah ad-daur, al-‘ayn, ad-dain, wasiat, dan pengukuran bentuk-bentuk (geometri), maka kami akan memberikan perhatian khusus untuk menyebutkan nisbah ini dalam sebuah bab yang akan kami susun.

فصل

Bab

النسبة المطلوبة في هذه الأبواب على ضربين نسبة متوالية ونسبة غير متوالية فالمتوالية أن تكون نسبة الأول إلى الثاني كنسبة الثاني إلى الثالث وكنسبة الثالث إلى الرابع وكنسبة الرابع إلى الخامس وكذلك ما زاد عليه من الأعداد المتناسبة على التوالي

Proporsi yang diperlukan dalam bab-bab ini terbagi menjadi dua jenis: proporsi berurutan dan proporsi tidak berurutan. Proporsi berurutan adalah apabila perbandingan antara yang pertama dengan yang kedua sama dengan perbandingan antara yang kedua dengan yang ketiga, sama dengan perbandingan antara yang ketiga dengan yang keempat, sama dengan perbandingan antara yang keempat dengan yang kelima, dan demikian pula seterusnya pada bilangan-bilangan yang saling berproporsi secara berurutan.

فأما النسبة التي هي غير متوالية فهي التي يكون نسبة الأول إلى الثاني كنسبة الثالث إلى الرابع ولا تكون نسبة الثاني منها إلى الثالث كنسبة الأول إلى الثاني

Adapun perbandingan yang tidak berurutan adalah perbandingan di mana perbandingan antara yang pertama dengan yang kedua sama dengan perbandingan antara yang ketiga dengan yang keempat, namun perbandingan antara yang kedua dengan yang ketiga tidak sama dengan perbandingan antara yang pertama dengan yang kedua.

ونقول: متى كان عدد الأعداد المتناسبة فرداً كانت نسبتها متوالية لا محالة ومتى كانت عِدّة الأعداد المناسبة زوجاً فربما كانت نسبتها متوالية وربما كانت غير متوالية فمثال المتوالية في أربعة أعداد أن يكون أولها اثنين والثاني أربعة والثالث ثمانية والرابع ستة عشر

Kami katakan: Apabila jumlah bilangan-bilangan yang berpadanan itu ganjil, maka perbandingannya pasti berurutan. Dan apabila jumlah bilangan-bilangan yang berpadanan itu genap, maka perbandingannya mungkin berurutan dan mungkin juga tidak berurutan. Contoh perbandingan yang berurutan pada empat bilangan adalah: bilangan pertama dua, yang kedua empat, yang ketiga delapan, dan yang keempat enam belas.

ومثال غير المتوالية في أربعة أعداد أن يكون أولها اثنين والثاني أربعة والثالث ثلاثة والرابع ستة ومعاملات المتعاملين في الشراء والبيع والإجارات تدور على النسبة التي ليست بمتوالية والنسبة المتوالية عليها تدور معظم أصول المساحة ومعظم أبواب المعادلات في الجبر والمقابلة وكذلك أبواب الربح والخسران وتعجيل الزكوات

Contoh dari deret yang tidak berurutan dalam empat bilangan adalah bilangan pertama dua, yang kedua empat, yang ketiga tiga, dan yang keempat enam. Transaksi para pelaku dalam jual beli dan sewa-menyewa berputar pada nisbah yang tidak berurutan, sedangkan nisbah yang berurutan menjadi dasar bagi sebagian besar prinsip ilmu ukur dan sebagian besar bab persamaan dalam ilmu al-jabr wa al-muqābalah, demikian pula dalam bab keuntungan dan kerugian serta percepatan pembayaran zakat.

وكل ثلاثة أعداد متناسبة يقال فيها: نسبة الأول إلى الثاني كنسبة الثاني إلى الثالث فإن نسبة الأول إلى الثالث كنسبته إلى الثاني  بالتكرير وهذا كالاثنين والأربعة والثمانية فالأول نصف الثاني والثاني نصف الثالث والأول إلى الثالث كالأول إلى الثاني على معنى التكرير فإن الأول إلى الثاني نصفه والأول إلى الثالث نصف نصفه

Setiap tiga bilangan yang berbanding dikatakan: perbandingan bilangan pertama terhadap yang kedua seperti perbandingan yang kedua terhadap yang ketiga, maka perbandingan bilangan pertama terhadap yang ketiga adalah seperti perbandingannya terhadap yang kedua dengan pengulangan. Contohnya seperti dua, empat, dan delapan; yang pertama setengah dari yang kedua, yang kedua setengah dari yang ketiga, dan yang pertama terhadap yang ketiga seperti yang pertama terhadap yang kedua dalam arti pengulangan, karena yang pertama terhadap yang kedua adalah setengahnya, dan yang pertama terhadap yang ketiga adalah setengah dari setengahnya.

وإذا كانت ثلاثةُ أعداد متناسبة وعلم اثنان منها أمكن استخراج الثالث فإن كان الأول مجهولاً ضرب الثاني في مثله وقسم المبلغ على الثالث فما خرج فهو الأول المجهول وبيانه أبداً

Jika terdapat tiga bilangan yang saling berbanding dan dua di antaranya diketahui, maka bilangan ketiga dapat ditemukan. Jika bilangan pertama yang tidak diketahui, kalikan bilangan kedua dengan dirinya sendiri lalu bagi hasilnya dengan bilangan ketiga; hasilnya adalah bilangan pertama yang tidak diketahui, dan penjelasannya selalu demikian.

ويمثّل كنسبة عددٍ إلى الأربعة كنسبة الأربعة إلى الثمانية ولم يذكر لك العدد الأول فاضرب الأربعة في نفسها واقسمها على الثمانية فالخارج من القسمة هو العدد الأول كأنه قيل: نسبة الاثنين إلى الأربعة كنسبة الأربعة إلى الثمانية

Ini seperti perbandingan suatu bilangan dengan empat, sebagaimana perbandingan empat dengan delapan, namun bilangan pertama tidak disebutkan. Maka kalikanlah empat dengan dirinya sendiri, lalu bagilah hasilnya dengan delapan. Hasil dari pembagian itu adalah bilangan pertama. Seolah-olah dikatakan: perbandingan dua dengan empat adalah seperti perbandingan empat dengan delapan.

فإن كان الثالث مجهولاً ضُرب الثاني في مثله وقسم المبلغ على الأول فما خرج فهو الثالث

Jika yang ketiga tidak diketahui, maka yang kedua dikalikan dengan yang sepadan dengannya, lalu jumlahnya dibagi dengan yang pertama; hasilnya adalah yang ketiga.

وإن كان الثاني مجهولاً ضرب الأول في الثالث وأُخذ جذرُ ما بلغ فما كان فهو الثاني كقول القائل نسبة الاثنين إلى عددٍ كنسبة ذلك العدد إلى الثمانية فنضرب الاثنين في الثمانية فيخرج ستةَ عشرَ فنأخذ جذرها أربعة فهي العدد الثاني

Jika yang kedua tidak diketahui, maka kalikan yang pertama dengan yang ketiga, lalu ambil akar dari hasilnya; itulah yang kedua. Seperti dalam pernyataan: perbandingan dua terhadap suatu bilangan sama dengan perbandingan bilangan itu terhadap delapan. Maka kita kalikan dua dengan delapan, hasilnya enam belas, lalu kita ambil akarnya, yaitu empat; itulah bilangan kedua.

والعلةُ في ذلك أن ضرب الأول في الثالث يكون مثلَ ضرب الثاني في مثله أبداً متى كانت متناسبة على التوالي وكل أربعة أعداد متناسبة متوالية أو غير متوالية فإن ضرب الأول في الرابع كضرب الثاني في الثالث ومتى ضرب الأول في الرابع وقسم المبلغ على الثاني خرج الثالث وإن قسم المبلغ على الثالث خرج الثاني ومتى ضرب الثاني في الثالث وقسم المبلغ على الأول خرج الرابع وإن قسم المبلغ على الرابع خرج الأول

Penyebabnya adalah bahwa perkalian bilangan pertama dengan bilangan ketiga akan selalu sama dengan perkalian bilangan kedua dengan bilangan yang sepadan dengannya, selama bilangan-bilangan tersebut berurutan dan proporsional. Setiap empat bilangan yang proporsional, baik berurutan maupun tidak, maka perkalian bilangan pertama dengan bilangan keempat akan sama dengan perkalian bilangan kedua dengan bilangan ketiga. Jika bilangan pertama dikalikan dengan bilangan keempat lalu hasilnya dibagi dengan bilangan kedua, maka akan diperoleh bilangan ketiga. Jika hasilnya dibagi dengan bilangan ketiga, maka akan diperoleh bilangan kedua. Jika bilangan kedua dikalikan dengan bilangan ketiga lalu hasilnya dibagi dengan bilangan pertama, maka akan diperoleh bilangan keempat. Jika hasilnya dibagi dengan bilangan keempat, maka akan diperoleh bilangan pertama.

وبذلك نستخرج المجهول منها

Dengan demikian, kita dapat memperoleh hal yang tidak diketahui darinya.

ومتى كانت أربعة أعداد متناسبة نسبةً متوالية وعلم اثنان منها أمكن أن يُعلم المجهولان فإن كانت الواسطتان مجهولتين ضربنا العدد الأول في مثله فما بلغ ضربناه في العدد الرابع وأخذنا كعب ما بلغ فما كان فهو العدد الثاني وإن ضربنا العدد الرابع في مثله  ضربنا مبلغه في العدد الأول وأخذنا كعب المبلغ فإن ذلك العددُ الثالث

Apabila terdapat empat bilangan yang berurutan secara proporsional dan diketahui dua di antaranya, maka dua bilangan yang tidak diketahui dapat diketahui. Jika dua bilangan di tengah yang tidak diketahui, kita kalikan bilangan pertama dengan dirinya sendiri, lalu hasilnya dikalikan dengan bilangan keempat, kemudian kita ambil akar kubik dari hasil tersebut; itulah bilangan kedua. Jika kita kalikan bilangan keempat dengan dirinya sendiri, lalu hasilnya dikalikan dengan bilangan pertama, kemudian kita ambil akar kubik dari hasil tersebut; itulah bilangan ketiga.

وإن كان الطرفان مجهولين ضربنا الواسطةَ الأولى في مثلها وقسّمنا المبلغ على الواسطة الثانية فما خرج فهو الأول وإن ضربنا الواسطة الثانية في مثلها وقسمنا المبلغ على الواسطة الأولى كان الخارج من القسمة مثلَ الطرف الرابع

Jika kedua sisi tidak diketahui, maka kita kalikan perantara pertama dengan yang sejenis, lalu kita bagi jumlahnya dengan perantara kedua; hasilnya adalah sisi pertama. Jika kita kalikan perantara kedua dengan yang sejenis, lalu kita bagi jumlahnya dengan perantara pertama, maka hasil pembagian itu seperti sisi keempat.

هذا إذا كانت نسبة الأعداد متوالية

Ini berlaku jika perbandingan bilangan-bilangan tersebut berurutan.

فإن كانت غيرَ متوالية لم يكن منها ما ذكرناه الآن

Jika tidak berurutan, maka tidak berlaku padanya apa yang telah kami sebutkan tadi.

وكل خمسة أعداد متناسبة فإنَّ ضرب الأول في الخامس مثلُ ضرب الثاني في الرابع ومثل ضرب الثالث في مثله

Setiap lima bilangan yang berurutan secara proporsional, maka hasil perkalian bilangan pertama dengan bilangan kelima sama dengan hasil perkalian bilangan kedua dengan bilangan keempat, dan sama pula dengan hasil perkalian bilangan ketiga dengan dirinya sendiri.

فإن كان الثالث مجهولاً ضربنا الأول في الخامس وأخذنا جذر المبلغ فهو الثالث

Jika yang ketiga tidak diketahui, kita kalikan yang pertama dengan yang kelima, lalu kita ambil akar dari jumlahnya, itulah yang ketiga.

وكذلك إن ضربنا الثاني في الرابع وأخذنا جذر ما بلغ كان ذلك الجذرُ مثلَ الثالث

Demikian pula, jika kita mengalikan angka kedua dengan angka keempat lalu mengambil akar dari hasilnya, maka akar tersebut sama dengan angka ketiga.

فإن كان الأول مجهولاً ضربنا الثالث في مثله وقسمنا المبلغ على الخامس فما خرج فهو الأول وكذلك إن ضربنا الثالث في مثله وقسمنا المبلغ على الخامس فما خرج فهو الأول وكذلك إن ضربنا الثالث في مثله وقسمنا مبلغه على الأول خرج الخامس وكذلك إن ضربنا الثالث في مثله وقسمنا المبلغ على الرابع خرج الثاني

Jika yang pertama tidak diketahui, kalikan yang ketiga dengan dirinya lalu bagilah hasilnya dengan yang kelima, maka hasilnya adalah yang pertama. Demikian pula, jika kita kalikan yang ketiga dengan dirinya lalu bagilah hasilnya dengan yang kelima, maka hasilnya adalah yang pertama. Begitu juga, jika kita kalikan yang ketiga dengan dirinya lalu bagilah hasilnya dengan yang pertama, maka yang keluar adalah yang kelima. Demikian pula, jika kita kalikan yang ketiga dengan dirinya lalu bagilah hasilnya dengan yang keempat, maka yang keluar adalah yang kedua.

وإن قسمناه على الثاني خرج الرابع

Jika kita membaginya dengan yang kedua, maka akan keluar yang keempat.

وعلى هذا فقس

Dan atas dasar ini, lakukanlah qiyās.

واعلم أن أم الطرق المُخرِجة للمجاهيل الجبرُ وما عداه فقبضةٌ منه وكل مسألة تطرّق إليها تعادلٌ على الإفراد من غير اقتران فسلِّط الجبر عليها وأخرج المقصود منها ومستنده التناسب الذي ذكرناه ومن اطلع على سرّ النسبة لم يحتج إلى الجبر وإنما يتأتى النفوذ في النسبة بطول المرون والدُّرْبة والجبرُ من النسبة كعلم العروض مع الذوق فمن تطيعت له النسبة في مجاريها أغنته عما عداها ومن تبلّد فيها اتخذ مدارج الجبر ذريعة إليها وإن نزّل المسألة واقتَرنت فيها المعادلات فلا يُتصور إجراء المسألة إلى المسائل الثلاث المقترنة إلا بالنسبة وهو أن يعرف تناسب نقصانين أو زيادتين فيقول: نقصان كذا من كذا كنقصان كذا من كذا وزيادة كذا على كذا كزيادة كذا على كذا ثم لا بد في معظم المقترنات من الضرب بعد تحصيل النسبة ويقع التردد بين أربعة متقابلات فيضرب الجزء من أحد الجانبين في الكل من الجانب الثاني ويفعل مثلَ ذلك في الطرف الآخر ثم يأخذ في الجبر والمقابلة فيقع لا محالة في أحد الطرفين نوعان وفي الطرف الثاني نوع واحد ثم يجري على المراسم التي ذكرناها وقد ينغلق الجواب فلا يتأتى فتحه فإنك قد تحتاج إلى إخراج جذر فتلقى ما يخرج جذره أصمّ فلا يتبقَّى طريقٌ في فتح الجواب وأقصى ما نقدر عليه أن نقول: ننقُص من كذا جذرَ كذا ولا يتأتى منك البَوحُ به

Ketahuilah bahwa metode utama untuk mengeluarkan hal-hal yang tidak diketahui adalah al-jabr, sedangkan selainnya hanyalah sebagian darinya. Setiap persoalan yang di dalamnya terdapat persamaan secara terpisah tanpa keterkaitan, maka terapkanlah al-jabr padanya dan keluarkanlah tujuan yang dimaksud darinya. Dasarnya adalah at-tanāsub (perbandingan) yang telah kami sebutkan. Barang siapa memahami rahasia perbandingan, ia tidak membutuhkan al-jabr. Namun, kemampuan menembus dalam perbandingan hanya dapat dicapai dengan banyak latihan dan pengalaman. Al-jabr terhadap perbandingan seperti ilmu ‘arudh (ilmu tentang timbangan syair) terhadap rasa bahasa; siapa yang telah menguasai perbandingan dalam jalurnya, maka ia tidak membutuhkan selainnya, dan siapa yang lamban dalam hal itu, ia menjadikan tahapan-tahapan al-jabr sebagai sarana untuk mencapainya. Jika suatu persoalan diuraikan dan di dalamnya terdapat persamaan-persamaan yang saling terkait, maka tidak mungkin menyelesaikan persoalan tersebut kecuali dengan perbandingan, yaitu dengan mengetahui perbandingan antara dua kekurangan atau dua kelebihan, lalu dikatakan: kekurangan sekian dari sekian seperti kekurangan sekian dari sekian, dan kelebihan sekian atas sekian seperti kelebihan sekian atas sekian. Kemudian, pada kebanyakan persoalan yang saling terkait, harus dilakukan perkalian setelah memperoleh perbandingan, dan terjadi perbandingan antara empat hal yang berlawanan, maka bagian dari salah satu sisi dikalikan dengan keseluruhan dari sisi kedua, dan dilakukan hal yang sama pada sisi lainnya. Kemudian, lakukan al-jabr dan al-muqābalah (penyamaan), sehingga pasti pada salah satu sisi terdapat dua jenis, dan pada sisi lain terdapat satu jenis, lalu jalankan sesuai prosedur yang telah kami sebutkan. Terkadang jawaban menjadi tertutup sehingga tidak mungkin membukanya, karena mungkin kamu perlu mengeluarkan akar (akar kuadrat), lalu yang keluar adalah bilangan irasional, sehingga tidak tersisa jalan untuk membuka jawaban tersebut. Paling jauh yang dapat kami lakukan adalah mengatakan: kita kurangi dari sekian akar sekian, dan kamu tidak dapat mengungkapkannya secara jelas.

فهذا منتهى القول في غوامض حساب الكتاب

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal-hal yang rumit dalam perhitungan kitab.

والآن نعود بتوفيق الله تعالى إلى ترتيب المختصر إن شاء الله عز وجل فقد يشتمل بعضُ فصول السواد على ما يخرج إلى طرفٍ من الحساب هينِ المأخذ سهلِ المُدرك مستندٍ إلى حساب الفرائض وتصحح الكسور والضرب والقسمة ومن أحكم ما قدمناه استقلَّ بإخراج ما ينيبه  والله الموفق للصواب

Sekarang, dengan taufik dari Allah Ta‘ala, kita kembali kepada penyusunan ringkasan ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Mungkin sebagian bab dari bagian utama memuat hal-hal yang berkaitan dengan cabang-cabang hisab yang mudah dipahami, mudah dikuasai, dan berlandaskan pada hisab faraidh, serta perbaikan pecahan, perkalian, dan pembagian. Barang siapa yang telah menguasai apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, maka ia akan mampu menyelesaikan apa yang menjadi bagiannya. Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

فصل قال الشافعي رضي الله عنه: ولو قال: ضعف ما يُصيب أحد ولدي أعطيته مثلَه مرتين إلى آخره

Bagian: Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Bagian yang didapat salah satu anakku, aku berikan kepadanya dua kali lipat dari itu,” dan seterusnya.

قد تقدم من صدر الكتاب القول في معنى الوصية بنصيب أحد الأولاد أو أحد الورثة وأوضحنا الفرقَ بين أن يقول: أوصيت لفلان بنصيب ولدي وبين أن يقول: أوصيت لفلان بمثل نصيب ولدي وبيّنا أن معظم أئمتنا لم يفصل بين اللفظين وإنما فصل بينهما مالك وذكرنا مذهباً شاذاً عن بعض المتأخرين لم نعتدّ به مذهباً وهذا الفصل يشتمل على بيان الوصية بالضعف

Telah dijelaskan pada awal kitab mengenai makna wasiat dengan bagian untuk salah satu anak atau salah satu ahli waris, dan kami telah memperjelas perbedaan antara ucapan: “Aku berwasiat kepada Fulan dengan bagian anakku” dan ucapan: “Aku berwasiat kepada Fulan dengan seperti bagian anakku.” Kami juga telah menjelaskan bahwa mayoritas imam kami tidak membedakan antara kedua lafaz tersebut, kecuali Malik yang membedakannya. Kami juga telah menyebutkan satu pendapat ganjil dari sebagian ulama belakangan yang tidak kami anggap sebagai mazhab. Bagian ini memuat penjelasan tentang wasiat dengan dua kali lipat bagian.

فإذا كان له ابنان فقال: أوصيتُ لفلان بمثل نصيب أحدهما زدنا على فريضة الميراث سهماً وقسمنا المال بين الموصَى له وبين الابنين أثلاثاً

Jika seseorang memiliki dua anak laki-laki lalu ia berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan bagian sebesar salah satu dari keduanya,” maka kita tambahkan satu bagian di atas ketentuan warisan, lalu kita bagi harta tersebut antara penerima wasiat dan kedua anak laki-laki itu menjadi tiga bagian yang sama.

فلو قال: أوصيت لفلان بضعف نصيب أحد ابني قدّرنا للوصية سهمين ولكل ابن سهماً إن أجازا ما زاد على الثلث وكان معنى الضعف المثلين وكأنه أوصى بمثلي نصيب أحد الابنين وهذا ظاهر

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan sebanyak dua kali lipat bagian salah satu dari kedua anakku,” maka kita menetapkan untuk wasiat itu dua bagian dan untuk masing-masing anak satu bagian, jika keduanya membolehkan kelebihan dari sepertiga. Makna “dua kali lipat” di sini adalah dua bagian, seakan-akan ia berwasiat dengan dua kali bagian salah satu dari kedua anak tersebut, dan hal ini jelas.

ولو أوصى بضعفي نصيب أحد ولديه قال الشافعي: للموصى له ثلاثة أمثال نصيب الولد فأثبت الضعف الأول مثلين ولم يثبت لمكان الضعف الثاني إلا مثلاً

Jika seseorang berwasiat dengan dua kali lipat bagian salah satu dari kedua anaknya, menurut pendapat asy-Syafi‘i: penerima wasiat mendapatkan tiga kali lipat bagian anak tersebut. Maka, untuk kelipatan pertama diberikan dua bagian, sedangkan untuk kelipatan kedua hanya diberikan satu bagian.

وقال على هذا القياس: لو أوصى لإنسان بثلاثة أضعاف النصيب كانت الوصية بأربعة أمثال النصيب ولو أوصى بأربعة أضعاف النصيب كانت وصيةً بخمسة أمثال النصيب فأثبت مثلين  للضعف الأول  وجعل أعداد الأضعاف بعده أمثالاً وهذا لم أحط به ولم أعقل معناه وقد تلقيتُه  وهو رضي الله عنه منفرد بمذهبه فيه

Dan berdasarkan qiyās ini: jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan tiga kali lipat bagian, maka wasiat itu menjadi empat kali lipat bagian; dan jika ia berwasiat dengan empat kali lipat bagian, maka wasiat itu menjadi lima kali lipat bagian. Ia menetapkan dua kali lipat untuk kelipatan pertama, dan menjadikan jumlah kelipatan setelahnya sebagai bilangan kelipatan. Hal ini tidak saya pahami sepenuhnya dan saya tidak mengerti maksudnya, namun saya menerimanya, dan beliau—semoga Allah meridhainya—memang memiliki pendapat tersendiri dalam hal ini.

قال الأستاذ أبو منصور: القياس أن يثبت للضعف الواحد مثلين ويثبت لكل ضعف مثلين فإنه إذا ثبت أن الضعف مثلان فالضعفان مثلان مرتين وحكى الأستاذ أن الموصي لو قال: ضعفوا لفلان ضعفَ نصيب أحد ولدي فالضعفان أربعة أمثال بلا خلاف وإنما قال الشافعي ما قال: إذا قال الموصي: أوصيت لفلان بضعفي نصيب ولدي أو أضعافِه فإذا صرح بتضعيف الضعف  كان كلُّ ضعفٍ مثلين

Kata al-Ustadz Abu Mansur: Secara qiyās, untuk setiap satu kelemahan (dhi‘f) ditetapkan dua kali lipat, dan untuk setiap kelemahan ditetapkan dua kali lipat pula. Sebab, jika telah tetap bahwa satu kelemahan adalah dua kali lipat, maka dua kelemahan adalah dua kali lipat sebanyak dua kali. Al-Ustadz juga meriwayatkan bahwa jika seseorang yang berwasiat berkata: “Gandakan untuk si Fulan dua kali lipat bagian salah satu anakku,” maka dua kelemahan itu adalah empat kali lipat tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun pendapat asy-Syafi‘i: jika orang yang berwasiat berkata, “Aku wasiatkan untuk si Fulan dua kali lipat bagian anakku atau beberapa kali lipatnya,” maka jika ia secara jelas menyebutkan penggandaan kelemahan, maka setiap kelemahan adalah dua kali lipat.

وهذا الذي قاله سديد لا يجوز غيرُه

Apa yang dikatakannya itu benar dan tidak boleh selainnya.

وإطلاق الشافعي لفظه قد يحوج المبتدىء إلى التأول والشافعي رضي الله عنه أطلقها للبيان والتمثيل وذلك أنه قال: إذا أوصى وقال أوصيت لفلان بضعفي ما يصيب أحد ولدِي فله ثلاثة أمثال ما لأحد أولاده فإن كان نصيب أحدهم درهماً  فله ثلاثة وإن كان نصيب الولد الذي عينه مائة أعطيته ثَلاثَمائة ولم يُرد رضي الله عنه أن حصة أحد البنين إن كان مائة درهم زدنا للوصية ثَلاثمائة لأن هذا يوجب أن يكون كل الزحام داخلاً على الورثة دون الوصية وليس كذلك بل العول يدخل عليهم كلِّهم والذي أطلقه الشافعي عبارةٌ عن السهام: أي إن كان نصيبُ أحدهم مائةَ سهم زدنا للموصى له ثَلاثمَائة سهم وقسمنا المال على ذلك فهذا هو المراد

Penggunaan lafaz oleh Imam Syafi‘i kadang-kadang membuat orang yang baru belajar membutuhkan penafsiran, sedangkan Imam Syafi‘i raḥimahullāh menggunakan lafaz tersebut untuk penjelasan dan sebagai contoh. Hal ini karena beliau berkata: Jika seseorang berwasiat dan berkata, “Aku berwasiat kepada si Fulan dua kali lipat dari apa yang didapatkan salah satu anakku,” maka untuknya tiga kali lipat dari bagian salah satu anaknya. Jika bagian salah satu anaknya satu dirham, maka untuknya tiga dirham. Dan jika bagian anak yang ditunjuk seratus, maka aku memberinya tiga ratus. Beliau raḥimahullāh tidak bermaksud bahwa jika bagian salah satu anak seratus dirham, maka untuk wasiat ditambahkan tiga ratus, karena hal ini mengharuskan seluruh kekurangan hanya menimpa para ahli waris, bukan penerima wasiat. Padahal tidak demikian, melainkan kekurangan (al-‘aul) menimpa semuanya. Apa yang diungkapkan oleh Imam Syafi‘i adalah berupa perhitungan saham: yaitu jika bagian salah satu anak seratus saham, maka untuk penerima wasiat ditambahkan tiga ratus saham, lalu harta dibagi berdasarkan itu. Inilah yang dimaksudkan.

فصل قال: ولو قال: أوصيت لفلان بنصيب أو حظ أو قليل أو كثير إلى آخره

Bab: Ia berkata: Jika seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan bagian, atau hak, atau sedikit, atau banyak, dan seterusnya.”

إذا قال: أوصيت لفلانٍ بسهمٍ أو نصيبٍ أو شيءٍ فهذه الألفاظ كلّها مبهمةٌ والرجوع في تفسيرها إلى الموصي

Jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan kepada si Fulan satu bagian, atau satu porsi, atau sesuatu,” maka semua ungkapan ini bersifat samar, dan penafsiran maknanya dikembalikan kepada orang yang berwasiat.

فإن مات قبل أن نتبين فالرجوع بعد موته إلى ورثته ثم مذهب الشافعي أنه لو فسَّر هذه الألفاظ مَنْ إليه التفسير بأقلِّ القليل قُبل وعلةُ المذهب أن هذه الألفاظ تضاف إلى أشياء مختلفة المبالغ فسهمٌ من العشرة ينتظم إطلاقه كما ينتظم إطلاقه من ألف فإذا كان كذلك ولا منتهى للمضاف إليه فلا تقدير لهذه الألفاظ

Jika ia meninggal sebelum kita dapat memastikan, maka setelah kematiannya rujukan kembali kepada ahli warisnya. Kemudian menurut mazhab Syafi‘i, jika orang yang berwenang menafsirkan istilah-istilah ini menafsirkannya dengan jumlah yang paling sedikit, maka tafsir tersebut diterima. Alasannya dalam mazhab ini adalah bahwa istilah-istilah tersebut dapat merujuk pada berbagai hal yang berbeda-beda nilainya; satu bagian dari sepuluh dapat digunakan sebagaimana satu bagian dari seribu juga dapat digunakan. Jika demikian halnya, dan tidak ada batas akhir bagi apa yang menjadi objek rujukan, maka tidak ada ketetapan pasti untuk istilah-istilah ini.

وأبو حنيفة وافقنا في جميع هذه الألفاظ خلا السهم فإنه حمل مطلَقَه على السدس وهذه الألفاظ في الوصايا بمثابتها إذا استعملت في الأقارير غيرَ أن الأقارير أخبارٌ والإيصاء إنشاءُ عطية يتنجز بالموت على الشرائط المرتبة في الوصايا

Abu Hanifah sependapat dengan kami dalam semua lafaz ini kecuali “saham”, karena ia memahami makna mutlaknya sebagai seperenam. Lafaz-lafaz ini dalam wasiat memiliki kedudukan yang sama jika digunakan dalam pengakuan, hanya saja pengakuan merupakan pemberitaan, sedangkan wasiat adalah penciptaan pemberian yang berlaku setelah kematian dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam wasiat.

وأورد الأستاذ أبو منصور ألفاظاً في بعضها غموض وإشكال على ما يأتي الشرح عليها إن شاء الله عز وجل

Dan Ustaz Abu Mansur menyebutkan beberapa ungkapan yang sebagian di antaranya mengandung kekaburan dan permasalahan, yang penjelasannya akan disampaikan setelah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فمما ذكره أن الموصي لو قال: أوصيت لفلان بثلث مالي إلا شيئاً قال: هو وصية بنصف الثلث وزيادة فان المستحَق لو كان أكثر من هذا لكان يقول: أوصيت لفلان بشيء أو بأقلَّ من نصف الثلث فلما ذكر الثلث والشيء بان أنها تستعمل مستثنىً إذا كان الباقي أكثرَ من النصف

Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seseorang yang berwasiat berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan sepertiga hartaku kecuali sesuatu,” maka itu adalah wasiat untuk setengah dari sepertiga dan sedikit lebih. Sebab, jika yang menjadi hak (penerima wasiat) lebih dari itu, tentu ia akan berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan sesuatu” atau “dengan kurang dari setengah sepertiga.” Maka, ketika ia menyebutkan sepertiga dan sesuatu, tampaklah bahwa “sesuatu” itu digunakan sebagai pengecualian jika sisa yang diberikan lebih dari setengah.

وهذا لم أره لأئمة المذهب في كتبهم ولم أسمعه ممن تلقيتُ منه والذي يقتضيه المذهب عندي على قطعٍ أنه لو فسَّر ما يبقى من الثلث بعد الاستثناء بأقل القليل قُبل منه فإن لفظَ الشيء مبهمٌ صالحٌ للقليل والكثير واستثناءُ المعظم غيرُ ممتنع فإنه لو قال: أوصيت لفلان بعشرةٍ إلا تسعةً كان الموصى به درهماً ولو أقرّ كذلك صح استثناؤه فاللفظ المطلق في الوصية والإقرار محمولٌ على الأقل

Hal ini tidak pernah saya temukan pada para imam mazhab dalam kitab-kitab mereka, dan saya juga tidak pernah mendengarnya dari siapa pun yang saya ambil ilmu darinya. Menurut saya, yang dituntut oleh mazhab secara pasti adalah bahwa jika seseorang menafsirkan sisa sepertiga setelah pengecualian dengan jumlah yang sangat sedikit, maka itu diterima darinya. Sebab, lafaz “sesuatu” bersifat ambigu, dapat mencakup sedikit maupun banyak. Mengecualikan sebagian besar tidaklah terlarang, karena jika seseorang berkata: “Saya berwasiat kepada si Fulan sepuluh, kecuali sembilan,” maka yang diwasiatkan adalah satu dirham. Jika ia mengakui dengan cara demikian, pengecualiannya juga sah. Maka lafaz mutlak dalam wasiat dan pengakuan dibawa kepada makna yang paling sedikit.

فإن اتبع متبعٌ العرفَ لم يستقم له هذا على قياس الشافعي رضي الله عنه مع مصيره إلى أن الإقرار بالمال العظيم يجوز أن يحمل على الحبة والقيراط فما دونهما

Jika seseorang mengikuti ‘urf, maka hal ini tidak sejalan menurut qiyās Imam Syafi‘i ra., meskipun beliau berpendapat bahwa pengakuan terhadap harta yang besar boleh saja ditafsirkan kepada satu butir, satu qirath, atau yang lebih sedikit dari keduanya.

وقد رأيت لصاحب التقريب مسألةً حكاها في كتابه من جواب الشافعي مسائلَ وذلك أنه قال: قيل للشافعي: إذا أوصى رجل لرجل بأقلَّ من مائة دينار فالموصى به كم فقال الشافعي فيما حكاه عنه الموصى به تسعةٌ وتسعون ديناراً

Saya menemukan dalam kitab at-Taqrīb sebuah permasalahan yang dinukil dari jawaban-jawaban asy-Syafi‘i atas beberapa persoalan. Yaitu ketika dikatakan kepada asy-Syafi‘i: Jika seseorang berwasiat kepada orang lain dengan kurang dari seratus dinar, maka berapa jumlah yang diwasiatkan itu? Maka asy-Syafi‘i, sebagaimana dinukil darinya, menjawab: Yang diwasiatkan adalah sembilan puluh sembilan dinar.

وهذا مما لا أحيط به ولست أدري مأخذه من أصل الشافعي ولا اغترار بأن يقول قائل: ذكر المائةَ فيُلزمها ونطرح لقوله: أقلّ من مائةٍ ديناراً واحداً لأنه ذكر الدنانير فأقلُّ محطوطٍ مع لزوم الدنانير دينارٌ

Ini adalah sesuatu yang tidak saya ketahui secara menyeluruh dan saya tidak tahu dari mana asalnya dalam pendapat Imam Syafi‘i. Janganlah tertipu jika ada yang berkata: disebutkan seratus, maka itu menjadi ketentuan wajib, lalu kita abaikan ucapannya: kurang dari seratus dinar satu dinar, karena ia menyebut dinar-dinar, maka jumlah paling sedikit yang tetap wajib dari dinar-dinar adalah satu dinar.

والذي يقتضيه قياس الشافعي القطعُ بأنه موصٍ بأقلّ ما يتموّل فإنه يجوز أن يقال: القيراط أقلُّ من مائة دينار ولا يعارض هذا إلا قولُ القائل: هذا غيرُ مستعمل في العرف فقد أوضحنا أن العرف لا مبالاة به في هذا المقام هذا هو الذي يجب القطع به

Dan yang dituntut oleh qiyās menurut Syafi‘i adalah memastikan bahwa seseorang berwasiat dengan sesuatu yang paling sedikit yang masih bernilai harta, maka boleh dikatakan: satu qirath lebih sedikit dari seratus dinar, dan hal ini tidak dapat ditentang kecuali oleh orang yang berkata: “Ini tidak lazim digunakan dalam ‘urf.” Namun, kami telah menjelaskan bahwa ‘urf tidak perlu diperhatikan dalam masalah ini; inilah yang harus dipastikan.

ويتطرق إلى وضع الكلام فسادٌ آخر وهو حمل الموصى به على ما يقل عن مائة وينحط عنها بقيراط إذ هو أقلّ من مائة  والمصير إلى حط الدينار تحكُّمٌ لا أصل له

Terdapat kerusakan lain dalam pernyataan tersebut, yaitu menafsirkan barang yang diwasiatkan menjadi kurang dari seratus dan berkurang darinya sebesar satu qirath, karena itu lebih sedikit dari seratus. Sedangkan mengambil pendapat untuk mengurangi satu dinar adalah tindakan sewenang-wenang yang tidak memiliki dasar.

وفيما ذكره الأستاذ أنه لو قال: أوصيت لفلان بثلث مالي إلا كَسْراً أو إلا شيئاً كثيراً وأراد حمل ذلك على ما يزيد على نصف الثلث جاز لذكره الكثير ثم لا وقوف بعد مجاوزة النصف في الاستثناء ولا وجه إلا تجويزُ حمل الموصى به على أقل ما يتمول وهذا جارٍ على القياس لا نزاع فيه

Dalam penjelasan yang disampaikan oleh ustadz, jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan sepertiga hartaku kecuali sedikit” atau “kecuali sesuatu yang banyak,” lalu ia bermaksud membawa makna “banyak” itu pada sesuatu yang melebihi setengah dari sepertiga, maka hal itu diperbolehkan karena ia telah menyebutkan “banyak.” Setelah melewati setengah dalam pengecualian, tidak ada lagi batasan. Tidak ada alasan lain kecuali membolehkan membawa makna wasiat pada sesuatu yang paling sedikit yang masih bernilai harta, dan ini sesuai dengan qiyās serta tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.

وقال: لو قال: أوصيت لفلان بأكثرِ مالي فالوصية محمولة على ما يزيد على شَطر المال بأقل القليل فإن الأكثر يَقتضي الزيادة على النصف لا محالة ثم الزائد على الثلث موقوف على الإجازة

Ia berkata: Jika seseorang berkata, “Aku berwasiat untuk si Fulan dengan sebagian besar hartaku,” maka wasiat itu dianggap untuk bagian yang melebihi separuh harta dengan jumlah paling sedikit, karena istilah “sebagian besar” mengharuskan adanya tambahan atas separuh, tanpa diragukan lagi. Kemudian, bagian yang melebihi sepertiga tetap bergantung pada persetujuan ahli waris.

وقال: لو قال: أوصيت لفلان بأكثرِ مالي وبمثل نصفه كان ذلك محمولاً على الوصية بثلاثة أرباعٍ وزيادة وإن قلّ قدرُها وإذا ثبت حملُ الأكثر على ما يزيد على النصف فلا شك أن الجمع بينه وبين النصف يقتضي ما ذكره

Ia berkata: Jika seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan sebagian besar hartaku dan dengan sebanyak setengahnya,” maka hal itu dianggap sebagai wasiat dengan tiga perempat harta dan tambahan, meskipun jumlah tambahannya sedikit. Jika telah tetap bahwa “sebagian besar” itu berarti lebih dari setengah, maka tidak diragukan lagi bahwa menggabungkannya dengan setengah mengharuskan seperti yang telah disebutkan.

ولو قال: أوصيت لفلان بأكثرَ من مالي فهذه وصية منه بجملة المال ووصية بما يزيد عليه ووصيته في الزائد على ماله ملغاة فيبقى الوصية بالمال

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan lebih dari seluruh hartaku,” maka ini merupakan wasiat darinya atas seluruh hartanya dan juga wasiat atas kelebihan dari hartanya. Wasiatnya terhadap kelebihan dari hartanya dianggap batal, sehingga yang tersisa adalah wasiat atas hartanya.

ولو قال: لفلان علي أكثر من ألف درهم فيكون مقراً بألف وزيادة على هذا الموجب وليس لقائلٍ أن يقول: إذا كنا نحمل المالَ العظيم في الإقرار على أقل القليل ولا نُثبت بسبب الوصف بالعظم مزيداً فيجب أن يكون الوصف بالكثرة بمثابة الوصف بالعظم  فإن الوصف بالكثرة يعرض لتزايد القدر وذكر العظيم مشعر بعظم المرتبة كما تقدم تقريره في كتاب الأقارير

Dan jika seseorang berkata: “Untuk si Fulan, aku berutang lebih dari seribu dirham,” maka ia dianggap mengakui seribu dirham dan tambahan atas jumlah tersebut yang menjadi kewajibannya. Tidak boleh bagi seseorang untuk berkata: “Jika kita menafsirkan harta yang besar dalam pengakuan sebagai jumlah yang paling sedikit dan tidak menetapkan tambahan karena sifat kebesaran itu, maka seharusnya sifat ‘banyak’ diperlakukan seperti sifat ‘besar’.” Sebab, sifat ‘banyak’ berkaitan dengan bertambahnya jumlah, sedangkan penyebutan ‘besar’ menunjukkan tingginya kedudukan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab al-Aqārīr.

وهذا وإن كان لائحاً فقد يعترض عليه تجويز حمل الكثرة على العِظم في المرتبة ولكن لا يعوّل على هذا الذي يخطر فالأصل ما ذكرناه

Meskipun hal ini tampak jelas, mungkin ada yang mengajukan keberatan dengan membolehkan makna “banyak” diartikan sebagai “agung dalam derajatnya”. Namun, hal seperti ini tidak dapat dijadikan sandaran, karena yang menjadi pegangan adalah apa yang telah kami sebutkan.

فإن قيل: لو قال: لفلان عليَّ مال كثير فالمقر به كم قلنا: هو كقوله: لفلان عليّ مال عظيم أو كثير إذ لا ضبط للكثير وليس كما لو أضاف الكثرة إلى مقدار فيحمل على الزيادة عليه مثل أن يقول: لفلان علي أكثر من ألف درهم وهذا يجر اختباطاً في الفكر ولو قال: لفلان عليّ أعظمُ من ألف فالوجه القطع بجواز حمل هذا على أقل القليل فإن العظم ليس ناصاً على التعرض للمقدار والتفاوت به

Jika dikatakan: Jika seseorang berkata, “Saya memiliki banyak harta milik si Fulan,” maka berapa jumlah yang diakui? Kami katakan: Itu seperti ucapannya, “Saya memiliki harta yang agung atau banyak milik si Fulan,” karena tidak ada batasan pasti untuk kata “banyak”. Ini berbeda dengan jika ia menisbatkan kebanyakan itu pada suatu jumlah tertentu, maka itu diartikan sebagai lebih dari jumlah tersebut, seperti jika ia berkata, “Saya memiliki lebih dari seribu dirham milik si Fulan.” Hal ini dapat menimbulkan kebingungan dalam pemikiran. Jika ia berkata, “Saya memiliki harta yang lebih agung dari seribu,” maka pendapat yang kuat adalah boleh mengartikan hal itu dengan jumlah paling sedikit, karena keagungan tidak secara tegas menunjukkan pada penentuan jumlah dan perbedaannya.

فهذا ما وجدناه وألفيناه مَعْرِضاً لنظر الفطن فليتأمله المتأمل مستعيناً بالله جل وعز

Inilah yang kami temukan dan kami dapati sebagai bahan pertimbangan bagi orang yang cerdas, maka hendaklah orang yang ingin merenungkannya memperhatikannya dengan memohon pertolongan kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.

فصل قال الشافعي رضي الله عنه: ولو أوصى لرجل بثلث ماله ولآخر بربع ماله إلى آخره

Bagian: Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki sepertiga hartanya dan kepada orang lain seperempat hartanya, dan seterusnya.

مضمون هذا الفصل يتعلق بثلاثة أشياء: أحدها الوصايا بأجزاء بحيث لا تزيد كل وصية على ثلث المال

Isi bab ini berkaitan dengan tiga hal: salah satunya adalah wasiat terhadap bagian-bagian tertentu, dengan ketentuan bahwa setiap wasiat tidak melebihi sepertiga harta.

والآخر بيان الوصايا بأجزاء وبعضها يزيد على الثلث وهذان النوعان منه إذا لم تزد الوصايا على أجزاء المال

Yang lainnya adalah penjelasan tentang wasiat-wasiat berupa bagian-bagian, dan sebagian di antaranya melebihi sepertiga, dan kedua jenis ini termasuk di dalamnya apabila wasiat-wasiat tersebut tidak melebihi bagian-bagian harta.

ومن متضمنات الفصل وهو الثالث ذكر الوصايا الزائدة على مقدار المال

Di antara kandungan bab ini, yaitu bab ketiga, adalah pembahasan tentang wasiat yang melebihi jumlah harta.

فأما إذا لم تزد الوصايا على المال ولم تزد واحدةٌ منها على الثلث ولكنها بجملتها زائدة على الثلث فالوجه أن نذكر في مفتتح الكلام إجازةَ الوصايا بجملتها من جملة الورثة ثم نذكر ردّ الزائد من جميعها على الثلث من جملة الورثة ثم نخوض بعد ذلك في رد البعض للبعض مع إجازة البعض والقول في التبعيض ينقسم أقساماً سنشرحها إذا انتهينا إليها إن شاء الله عز وجل

Adapun jika wasiat-wasiat itu tidak melebihi harta dan tidak ada satu pun di antaranya yang melebihi sepertiga, tetapi seluruhnya jika digabungkan melebihi sepertiga, maka cara yang tepat adalah kita sebutkan di awal pembahasan tentang persetujuan para ahli waris terhadap seluruh wasiat tersebut, kemudian kita sebutkan pengembalian kelebihan dari seluruh wasiat itu kepada sepertiga harta dengan persetujuan para ahli waris, lalu setelah itu kita bahas tentang pengembalian sebagian kepada sebagian yang lain dengan persetujuan sebagian dan pembahasan tentang pemisahan ini terbagi menjadi beberapa bagian yang akan kami jelaskan ketika sampai pada pembahasannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإن أجازوا الوصايا كلَّها فالعمل فيها على ما تقدم في صدر الكتاب

Jika mereka membolehkan seluruh wasiat, maka pelaksanaannya mengikuti apa yang telah dijelaskan di awal kitab.

وهذا الذي ابتدأنا ينقسم إلى ما يستغرق المال وإلى ما ينقص عن الاستغراق ويزيد على الثلث فإن استغرق الوصايا المالَ وقد أجيزت فليس على الحاسب إلا أن يطلب مخرج أجزاء الوصايا ويقيم سهامها

Apa yang telah kami mulai ini terbagi menjadi dua: ada yang menghabiskan seluruh harta, dan ada yang kurang dari menghabiskan seluruhnya namun melebihi sepertiga. Jika wasiat-wasiat itu menghabiskan harta dan telah diizinkan, maka tidak ada kewajiban bagi orang yang menghitung kecuali mencari cara pembagian bagian-bagian wasiat dan menetapkan saham-sahamnya.

وإن قصُرت أجزاء الوصايا عن استغراق المال فالوجه وقد أجاز الورثة أن نطلب مخرج أجزاء الوصايا ونقيم سهامَ فريضة الورثة ونسلِّم إلى الموصى لهم وصاياهم ثم ننظر فإن انقسم ما فضل من فريضة الوصايا على فريضة الميراث قسمناه واكتفينا به وإن انكسر نُظر فإن لم يكن بين ما فضل من فريضة الوصايا وبين فريضة المواريث موافقة ضربنا مخرج الوصية في سهام الفريضة أو سهام الفريضة في سهام الوصية وصحت القسمة من هذا المبلغ لا محالة

Jika bagian-bagian wasiat kurang dari jumlah seluruh harta, maka caranya—dan para ahli waris telah mengizinkan—adalah kita mencari penyebut bersama bagian-bagian wasiat, lalu kita tetapkan bagian-bagian faraid untuk para ahli waris, kemudian kita serahkan kepada penerima wasiat bagian wasiat mereka. Setelah itu, kita lihat: jika sisa dari bagian faraid wasiat dapat dibagi rata menurut bagian faraid warisan, maka kita bagikan dan cukup dengan itu. Namun, jika tidak dapat dibagi rata, maka kita periksa: jika tidak ada kesesuaian antara sisa bagian faraid wasiat dan bagian faraid warisan, maka kita kalikan penyebut wasiat dengan bagian faraid, atau bagian faraid dengan bagian wasiat, dan pembagian menjadi sah dari hasil perkalian tersebut, tanpa keraguan.

فإن وافقت البقية سهام الميراث بجزء أخذنا جزء الموافقة من سهام الميراث وضربناه في مخرج الوصايا وصحت القسمة

Jika sisa bagian sesuai dengan bagian warisan dengan suatu bagian tertentu, maka kita ambil bagian yang sesuai dari bagian warisan, lalu kita kalikan dengan penyebut wasiat, dan pembagian pun menjadi sah.

وإن لم يُجز الورثة ما زاد على الثلث وردّوا بأجمعهم مقدارَ الزيادة من جميع الوصايا ردّاً شائعاً فالوجه أن نقسم الثلث بين أهل الوصايا على نسب أقدار وصاياهم لو أجيزت وأصل الحساب حينئذ أن نقيم سهام الميراث ثم نطلب عدداً يخرج منه أجزاء الوصية ثم نجمع أجزاء الوصية من ذلك العدد ونسميها سهام الوصية ثم نأخذ ثُلثَه أبداً للاحتياج إلى الثلث والثلثين ونقسم سهماً من الثلاثة على سهام الوصية وسهمين منها على سهام الميراث فتكون سهام الوصية في المعنى كصنف انكسر عليهم سهمٌ وكذلك تكون سهام الميراث كصنفٍ آخر انكسر عليهم سهمان فان كان السهمان يوافقان سهام الميراث بأن تكون سهام الميراث نصفاً ولا يتصور الوَفْق مع الاثنين إلا بهذا الجزء ضربنا وفق سهام الميراث في سهام الوصية فما بلغ فاضرب مبلغه في ثلاثة وتصح القسمتان من هذا المبلغ

Jika para ahli waris tidak mengizinkan wasiat yang melebihi sepertiga dan mereka semua mengembalikan kelebihan tersebut dari seluruh wasiat secara merata, maka cara yang tepat adalah membagi sepertiga harta di antara para penerima wasiat sesuai dengan proporsi besaran wasiat mereka seandainya diizinkan. Dasar perhitungannya adalah dengan menetapkan bagian-bagian warisan terlebih dahulu, kemudian mencari angka yang dapat membagi bagian-bagian wasiat. Setelah itu, jumlahkan bagian-bagian wasiat dari angka tersebut dan sebutlah sebagai bagian wasiat. Selanjutnya, ambil sepertiganya, karena kita membutuhkan sepertiga dan dua pertiga. Bagilah satu bagian dari tiga bagian kepada bagian-bagian wasiat, dan dua bagian lainnya kepada bagian-bagian warisan. Maka bagian-bagian wasiat dalam hal ini seperti satu kelompok yang mendapatkan satu bagian, dan bagian-bagian warisan seperti kelompok lain yang mendapatkan dua bagian. Jika dua bagian tersebut sesuai dengan bagian-bagian warisan, misalnya bagian-bagian warisan adalah setengah, dan kesesuaian dengan dua hanya bisa terjadi dengan bagian ini, maka kalikan kesesuaian bagian-bagian warisan dengan bagian-bagian wasiat. Hasilnya dikalikan dengan tiga, dan pembagian keduanya menjadi sah dari hasil tersebut.

وإن لم يكن بين السهمين وبين سهام الفريضة موافقة فإن لم يكن لسهام الميراث نصف ضربت جميع سهام الفريضة يعني الميراث في سهام الوصية فما بلغ ضربته في ثلاثة فما بلغ فمنه تصح القسمة

Jika tidak ada kesesuaian antara dua bagian dan bagian-bagian farā’iḍ, dan jika bagian-bagian warisan tidak memiliki setengah, maka kalikan seluruh bagian farā’iḍ, yaitu warisan, dengan bagian wasiat. Hasilnya dikalikan dengan tiga, dan hasil akhirnya itulah yang digunakan untuk membagi harta secara sah.

فإذا أردت وقد فرغت من الضرب أن تُبيّن ما يثبت لكل واحد من الموصى لهم أخذت العدَدَ الذي ضربته في ثلاثة فقسمته على سهام الوصية فما خرج نصيباً للواحد فهذا أصل الضرب فيه نصيب كل واحد من سهام الوصية فما بلغ فهو نصيبه

Jika engkau ingin, setelah selesai melakukan perhitungan, menjelaskan berapa bagian yang tetap untuk masing-masing penerima wasiat, ambillah angka yang telah engkau kalikan tadi, lalu bagilah dengan jumlah bagian wasiat; hasil pembagian untuk satu orang itulah dasar perhitungan, kemudian kalikan dengan bagian masing-masing dari bagian wasiat, maka hasilnya adalah bagian yang menjadi haknya.

فإن أردت أن تبيّن ما لكل واحدٍ من الورثة أخذت العددَ الذي ضربته في ثلاثة فضاعفته أبداً لمكان الثلثين وانحصار الوصايا في الثلث فما بلغ قسمته على سهام الورثة فما خرج نصيباً للسهم  فهو أصلٌ نضرب فيه نصيبَ كل واحد من الورثة فما بلغ فهو نصيبه

Jika engkau ingin menjelaskan bagian masing-masing ahli waris, ambillah angka yang telah engkau kalikan dengan tiga, lalu gandakan terus-menerus karena adanya dua pertiga dan pembatasan wasiat pada sepertiga. Apa pun hasilnya, bagilah dengan jumlah bagian para ahli waris. Apa yang diperoleh sebagai bagian untuk satu saham, itulah asal yang kita kalikan dengan bagian masing-masing ahli waris. Berapa pun hasilnya, itulah bagian mereka.

وهذا الذي ذكرناه في تعيين أقدار أنصباء الورثة هو الذي سميناه في الفرائض طريقَ العطاء هذا الذي ذكرناه هو الأصل في الحساب

Apa yang telah kami sebutkan mengenai penentuan kadar bagian para ahli waris inilah yang kami namakan dalam ilmu faraidh sebagai metode pemberian. Inilah yang kami sebutkan sebagai dasar dalam perhitungan.

وقد أجرى الأستاذ طرقاً مقتضبة من هذا الأصل لو وصفناها وصفاً كلياً لم تسلم عن إبطالٍ أو إبهام فرأينا تأخير ذكرها إلى الأمثلة وعندها يتضح مجموع الكلام

Profesor telah mengemukakan beberapa metode ringkas yang bersumber dari kaidah ini. Jika kita menjelaskannya secara global, penjelasan tersebut tidak akan lepas dari kekeliruan atau ketidakjelasan. Oleh karena itu, kami memilih untuk menunda penyebutannya sampai pada bagian contoh, agar keseluruhan pembahasan menjadi jelas pada saat itu.

مثال: ميت خلَّف ثلاثةَ بنين وأوصى لرجل بثلث ماله ولآخر بربع ماله فإن أجاز الورثةُ الوصيتين فسهام الورثة ثلاثة ومخرج الوصية اثنا عشر نُسقط منها الوصيتين فهما سبعة فالباقي خمسة لا ينقسم على سهام الورثة ولا يوافقها فنضرب سهام الورثة في مخرج الوصية فتبلغ ستةً وثلاثين منها تصح القسمة: كان للموصى له بالثلث أربعة وهي الآن مضروبة في ثلاثة يكون له اثنا عشر وكان للموصى له بالربع ثلاثة وهي مضروبة في ثلاثة فالمبلغ تسعة وقد ذهب بالوصيتين إحدى وعشرون سهماً يبقى خمسةَ عشرَ سهماً بين ثلاثة بنين كان لكل واحد منهم سهم وهو الآن مضروب في خمسة

Contoh: Seseorang meninggal dunia dan meninggalkan tiga orang anak laki-laki, serta berwasiat kepada seseorang sepertiga hartanya dan kepada orang lain seperempat hartanya. Jika para ahli waris menyetujui kedua wasiat tersebut, maka bagian ahli waris ada tiga, dan asal pembagian wasiat adalah dua belas. Jika kita kurangi dengan kedua wasiat, maka sisanya adalah tujuh. Sisa ini tidak dapat dibagi kepada bagian ahli waris dan juga tidak sesuai dengannya. Maka kita kalikan bagian ahli waris dengan asal pembagian wasiat sehingga menjadi tiga puluh enam, dari sinilah pembagian menjadi sah: yang berwasiat sepertiga mendapat empat, dan sekarang dikalikan tiga menjadi dua belas; yang berwasiat seperempat mendapat tiga, dan dikalikan tiga menjadi sembilan. Dengan kedua wasiat tersebut telah diambil dua puluh satu bagian, tersisa lima belas bagian untuk tiga anak laki-laki, yang masing-masing awalnya mendapat satu bagian, dan sekarang dikalikan lima.

فإن لم يجيزوا ما زاد على الثلث فسهام الوصية ثلاثة وتخرج الوصية من اثني عشر نجمع الوصيتين منها فتكون سبعة فنسميها سهام الوصية ثم نأخذ ثلاثة ونقسم منها سهماً واحداً على سهام الوصية فهي هذه السبعة فلا تصح ولا توافق ونقسم منها سهمين على سهام الورثة وهي ثلاثة فلا تصح ولا توافق فنضرب سهام الورثة في سهام الوصية فتبلغ أحداً وعشرين فنضربها في الثلاثة التي هي الأصل فتبلغ ثلاثة وستين  منها تصح القسمة فإذا أردنا أن نعرف نصيب كل موصىً له أخذنا العدد الذي ضربناه في ثلاثة وهو أحدٌ وعشرون فقسمناه على سهام الوصية وهي سبعة يخرج ثلاثة فضربنا كلّ وصية فيها وصاحب الثلث سهامه أربعة من الأصل فنضربها في هذه الثلاثة فتبلغ اثني عشر فهو نصيبه وضربنا نصيب الموصى له بالربع من سهام الوصية وهو ثلاثة في هذه الثلاثة الخارجة من القسمة فبلغ تسعة فهي نصيبه

Jika mereka tidak membolehkan wasiat melebihi sepertiga, maka bagian wasiat ada tiga, dan wasiat diambil dari dua belas. Kita jumlahkan kedua wasiat tersebut sehingga menjadi tujuh, dan ini dinamakan bagian wasiat. Kemudian kita ambil tiga dan membaginya: satu bagian dibagi kepada bagian wasiat, yaitu tujuh, maka tidak sah dan tidak cocok; dua bagian dibagi kepada bagian ahli waris, yaitu tiga, maka tidak sah dan tidak cocok. Maka kita kalikan bagian ahli waris dengan bagian wasiat sehingga menjadi dua puluh satu, lalu kita kalikan dengan tiga yang merupakan asalnya sehingga menjadi enam puluh tiga. Dari jumlah ini pembagian menjadi sah. Jika kita ingin mengetahui bagian masing-masing penerima wasiat, kita ambil angka yang kita kalikan dengan tiga, yaitu dua puluh satu, lalu kita bagi dengan bagian wasiat, yaitu tujuh, hasilnya tiga. Kemudian kita kalikan setiap wasiat dengan hasil ini. Pemilik sepertiga bagiannya empat dari asal, lalu kita kalikan dengan tiga sehingga menjadi dua belas, itulah bagiannya. Kemudian kita kalikan bagian penerima wasiat seperempat dari bagian wasiat, yaitu tiga, dengan tiga hasil pembagian tadi sehingga menjadi sembilan, itulah bagiannya.

وإن أردنا أن نبيّن حصة كل وارث أضعفنا العدد المضروب في ثلاثة وهو أحدٌ وعشرون فبلغ اثنين وأربعين فقسمناها على سهام الورثة وهي ثلاثة خرج أربعةَ عشرَ فهي الأصل الذي نضرب فيه نصيب كل واحد من الورثة ولكل ابن سهم وهو مضروب في أربعةَ عشرَ والمردود أربعةَ عشرَ فهو حصة كل ابن

Jika kita ingin menjelaskan bagian masing-masing ahli waris, kita gandakan jumlah yang telah dikalikan tiga, yaitu dua puluh satu, sehingga menjadi empat puluh dua. Lalu kita bagikan kepada bagian para ahli waris, yaitu tiga, maka hasilnya adalah empat belas. Inilah asal yang kita gunakan untuk mengalikan bagian masing-masing ahli waris. Setiap anak laki-laki mendapat satu bagian, yang dikalikan dengan empat belas, dan yang dikembalikan adalah empat belas, itulah bagian masing-masing anak laki-laki.

هذا مسلك الكلام على الأصل الذي إليه الرجوع وبه الامتحان

Ini adalah cara pembahasan mengenai pokok yang menjadi tempat kembali dan dengannya dilakukan pengujian.

صورة أخرى: إن ترك ثلاثةَ بنين وأوصى لرجل بثلث ماله ولآخر بسدسه فإن أجاز الورثة فسهام الورثة ثلاثة ومخرج الوصية ستة يسقط منها ثلثها وسدسها بالوصية فيبقى ثلاثة منقسمة على سهام الورثة

Contoh lain: Jika seseorang meninggalkan tiga anak laki-laki dan berwasiat kepada seorang laki-laki sepertiga hartanya dan kepada orang lain seperenamnya, maka jika para ahli waris mengizinkan, bagian ahli waris ada tiga dan asal pembagian wasiat adalah enam, yang darinya sepertiga dan seperenamnya gugur karena wasiat, sehingga tersisa tiga bagian yang dibagikan kepada ahli waris.

وإن لم يجيزوا أقمنا سهام الفريضة وهي ثلاثة ونأخذ سهام الوصيتين من ستة فنجمع ثلثها وسدسها فيكون ثلاثة فهي سهام الوصية ثم نأخذ ثلاثة فنقسم سَهْماً منها على سهام الوصية فلا يصحّ ولا يوافق ونقسم سهمين منها على الورثة فلا تصح ولا توافق ولا نحتاج أن نضرب سهام الورثة في سهام الوصية لأنهما متماثلتان فاكتفينا بإحداهما وضربناها في الثلاثة التي جعلناها أصلاً للوصية والميراث جميعاً فبلغ تسعة ومنها تصح القسمة: ثلثها ثلاثة للموصى لهما : لصاحب الثلث سهمان ولصاحب السدس سهم والباقي ستة للورثة: لكل واحد منهم سهمان

Jika mereka tidak membolehkannya, kita tetapkan bagian faraidh, yaitu tiga, dan kita ambil bagian dari dua wasiat dari enam, lalu kita jumlahkan sepertiganya dan seperenamnya, sehingga menjadi tiga; inilah bagian wasiat. Kemudian kita ambil tiga, lalu kita bagi satu bagiannya kepada bagian wasiat, ternyata tidak bisa dan tidak cocok. Lalu kita bagi dua bagiannya kepada ahli waris, ternyata juga tidak bisa dan tidak cocok. Kita tidak perlu mengalikan bagian ahli waris dengan bagian wasiat karena keduanya sama, maka cukup dengan salah satunya. Lalu kita kalikan dengan tiga yang kita jadikan sebagai asal untuk wasiat dan warisan sekaligus, sehingga menjadi sembilan, dan dari sinilah pembagian bisa dilakukan: sepertiganya, yaitu tiga, untuk dua penerima wasiat; untuk pemilik sepertiga mendapat dua bagian, dan pemilik seperenam mendapat satu bagian. Sisanya, yaitu enam, untuk ahli waris; masing-masing dari mereka mendapat dua bagian.

فإن ترك ثلاثةَ بنين وأوصى لرجل بربع ماله ولآخر بخُمس ماله فإن أجاز الورثة فسهام الورثة ثلاثة ومخرج الوصية عشرون فنسقط منها الوصية وهي تسعة والباقي أحدَ عشرَ لا ينقسم على سهام الورثة ولا يوافقها فنضرب سهام الورثة في مخرج الوصية وهو عشرون فيبلغ ستين فمنها تصح القسمة ولا حاجة إلى اعتبار السهام الثلاثة فإن الوصايا زائدة على الثلث وقد أجازها الورثة فلا حاجة إلى نسبة الثلث والثلثين ثم كان للموصى له بالربع خمسة أسهم من عشرين فنضربها في سهام الورثة وهي ثلاثة فيبلغ نصيبه خمسةَ عشرَ وكان للموصى له بالربع أربعة مضروبة في ثلاثة يكون اثني عشر هذا طريق العطاء في الإجازة لأنه يتضعف كل قسط بضرب سهام الورثة في العشرين وذهب بالوصيتين سبعةٌ وعشرون وبقي ثلاثةٌ وثلاثون وقد كان لكل ابن في سهام الفريضة سهم فاضربه فيما بقي من العشرين وهو أحدَ عشرَ فلكل ابن أحد عشر سهماً

Jika seseorang meninggalkan tiga anak laki-laki dan berwasiat kepada seorang laki-laki seperempat hartanya dan kepada orang lain seperlima hartanya, maka jika para ahli waris mengizinkan, bagian ahli waris ada tiga dan penyebut wasiat adalah dua puluh. Kita kurangi dari situ bagian wasiat, yaitu sembilan, dan sisanya sebelas, yang tidak dapat dibagi kepada bagian ahli waris dan tidak sesuai dengannya. Maka kita kalikan bagian ahli waris dengan penyebut wasiat, yaitu dua puluh, sehingga hasilnya enam puluh. Dari sini pembagian dapat dilakukan dan tidak perlu memperhitungkan tiga bagian itu, karena wasiat-wasiat tersebut melebihi sepertiga dan telah diizinkan oleh para ahli waris, sehingga tidak perlu memperhitungkan sepertiga dan dua pertiga. Kemudian, bagi penerima wasiat seperempat, ia mendapat lima bagian dari dua puluh, lalu kita kalikan dengan bagian ahli waris, yaitu tiga, sehingga hasilnya lima belas bagian. Sedangkan bagi penerima wasiat seperlima, ia mendapat empat bagian dikalikan tiga menjadi dua belas. Inilah cara pembagian dalam kasus izin, karena setiap bagian dikalikan dengan bagian ahli waris dalam dua puluh. Maka, kedua wasiat mengambil dua puluh tujuh bagian dan sisanya tiga puluh tiga. Setiap anak laki-laki pada bagian faraidh mendapat satu bagian, maka kalikan dengan sisa dari dua puluh, yaitu sebelas, sehingga setiap anak laki-laki mendapat sebelas bagian.

وإن لم يجيزوا فسهام الوصية كما ذكرنا تسعة وسهام الورثة ثلاثة ثم نعمد إلى ثلاثة للاحتياج إلى نسبة الثلث والثلثين فلا ينقسم سهمٌ على السبعة ولا سهمان على الثلاثة والثلاثة داخلة في التسعة فنضرب التسعة في ثلاثة فيرد سبعة وعشرين نميز ثلثها تسعة: للموصى له بالربع خمسة من تسعة وللموصى له بالخمس أربعة والباقي وهو ثمانيةَ عشرَ بين ثلاثة بنين: لكل واحد منهم ستة

Jika mereka tidak mengizinkan, maka bagian wasiat seperti yang telah kami sebutkan adalah sembilan, dan bagian ahli waris adalah tiga. Kemudian kita mengambil tiga karena diperlukan untuk membandingkan sepertiga dan dua pertiga. Tidak ada satu bagian pun yang dapat dibagi dengan tujuh, dan tidak ada dua bagian yang dapat dibagi dengan tiga, sedangkan tiga masuk ke dalam sembilan. Maka kita kalikan sembilan dengan tiga sehingga menjadi dua puluh tujuh. Kita pisahkan sepertiganya, yaitu sembilan: untuk penerima wasiat seperempat, lima dari sembilan; untuk penerima wasiat seperlima, empat; dan sisanya, yaitu delapan belas, dibagikan kepada tiga anak laki-laki: masing-masing mendapat enam.

فإن ترك ثلاثة بنين وأوصى لرجل بربع ماله ولآخر بخُمسه ولآخر بسدسه فإن أجاز الورثة فسهام الفريضة ثلاثة ونطلب عدداً تخرج منه أجزاء الوصية وهو ستون فنأخذ منها أجزاء الوصية ومجموعها سبعةٌ وثلاثون والباقي منها ثلاثة وعشرون ولا تصح على سهام الفريضة ولا توافقها فنضرب سهام الفريضة في مخرج الوصية فتبلغ مائة وثمانين فمنها تصح المسألة ثم نقول: كان للموصى له بالربع خمسةَ عشرَ نضربها في سهام الورثة فيكون له خمسة وأربعون وكان للموصى له بالخُمس اثنا عشر نضربها في ثلاثة فتردّ ستةً وثلاثين وكان للموصى له بالسدس عشرة نضربها في ثلاثة فيكون له ثلاثون وقد ذهب مائةٌ وأحدَ عشرَ بالوصايا وبقي من المال تسعة وستون للورثة وقد كان لكل واحد منهم سهم وهو مضروب في ثلاثة وعشرين الباقية من مخرج الوصية بعد إسقاط الوصايا فلكل واحد منهم ثلاثة وعشرون

Jika seseorang meninggalkan tiga anak laki-laki dan berwasiat kepada seseorang sebesar seperempat hartanya, kepada yang lain sebesar seperlima, dan kepada yang lain lagi sebesar seperenam, maka jika para ahli waris mengizinkan, bagian-bagian pokok warisan adalah tiga. Kita mencari angka yang dapat membagi bagian-bagian wasiat, yaitu enam puluh. Dari angka ini kita ambil bagian-bagian wasiat yang jumlahnya tiga puluh tujuh, dan sisanya dua puluh tiga. Jumlah ini tidak sesuai dengan bagian pokok warisan dan tidak sejalan dengannya, maka kita kalikan bagian pokok warisan dengan angka pembagi wasiat sehingga hasilnya seratus delapan puluh. Dari angka inilah permasalahan dapat diselesaikan. Kemudian kita katakan: untuk penerima wasiat seperempat, ia mendapat lima belas, dikalikan dengan bagian ahli waris sehingga menjadi empat puluh lima. Untuk penerima wasiat seperlima, ia mendapat dua belas, dikalikan dengan tiga sehingga menjadi tiga puluh enam. Untuk penerima wasiat seperenam, ia mendapat sepuluh, dikalikan dengan tiga sehingga menjadi tiga puluh. Maka jumlah yang diambil untuk wasiat adalah seratus sebelas, dan sisa harta adalah enam puluh sembilan untuk para ahli waris. Masing-masing dari mereka awalnya mendapat satu bagian, yang dikalikan dengan dua puluh tiga, yaitu sisa dari angka pembagi wasiat setelah dikurangi wasiat, sehingga masing-masing dari mereka mendapat dua puluh tiga.

فإن لم يجيزوا فأجزاء الوصية سبعةٌ وثلاثون كما قد ذكرنا وأجزاء الميراث ثلاثة فالوجه ما ذكرناه من قسمة ثلاثة على المبلغين فنقسم سهماً على سهام الوصايا فلا ينقسم ولا يوافق وكذلك القول في السهمين وسهام الورثة وليس بين الثلاثة : سهام الورثة وسهام الوصية وهي السبعة والثلاثون موافقة فنضرب ثلاثة في سبعة وثلاثين فتبلغ مائة وأحدَ عشرَ ثم نضرب هذا المبلغَ في ثلاثة التي بها تعديل الثلث والثلثين فيبلغ ثلاثمائة وثلاثة وثلاثين فمنها تصح القسمة ولا حاجة إلى الامتحان

Jika mereka tidak mengizinkan, maka bagian-bagian wasiat ada tiga puluh tujuh sebagaimana telah kami sebutkan, dan bagian-bagian warisan ada tiga. Maka cara yang benar adalah seperti yang telah kami jelaskan, yaitu membagi tiga kepada para penerima, lalu kami membagi satu bagian kepada bagian-bagian wasiat, namun tidak bisa terbagi dan tidak ada kesesuaian. Demikian pula halnya dengan dua bagian dan bagian-bagian ahli waris; tidak ada kesesuaian antara tiga bagian—bagian-bagian ahli waris—dan bagian-bagian wasiat yang berjumlah tiga puluh tujuh. Maka kami kalikan tiga dengan tiga puluh tujuh sehingga menjadi seratus sebelas, lalu kami kalikan jumlah ini dengan tiga yang digunakan untuk menyesuaikan sepertiga dan dua pertiga, sehingga menjadi tiga ratus tiga puluh tiga. Dari jumlah inilah pembagian bisa dilakukan tanpa perlu pengujian lagi.

هذا فيه إذا زادت الوصايا على الثلث فأجازها الورثة أو ردّوها  ولم يكن في آحاد الوصايا ما تزيد على الثلث

Hal ini berlaku apabila wasiat-wasiat melebihi sepertiga harta, lalu para ahli waris menyetujuinya atau menolaknya, dan tidak ada satu pun dari wasiat-wasiat tersebut yang melebihi sepertiga harta.

فإن كان في آحاد الوصايا ما يزيد على الثلث مثل أن يوصى بنصفٍ وثلثٍ  فالنصف زائد على الثلث فمذهب الشافعي رضي الله عنه أن سبيل تخريج هذا النوع من المسائل كسبيل تخريج ما تقدم فنفرض الإجازة من الورثة ونجري قياسَ حساب الإجازة ثم نفرض الردّ ونقسم الثلث بين أهل الوصايا على النسبة التي اقتسموا بها ما نالهم من المال عند الإجازة

Jika dalam satu-satu wasiat terdapat sesuatu yang melebihi sepertiga, seperti berwasiat setengah dan sepertiga, maka setengah itu melebihi sepertiga. Menurut mazhab Syafi‘i raḥimahullāh, cara menyelesaikan jenis masalah seperti ini sama dengan cara menyelesaikan yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu kita menganggap adanya persetujuan dari para ahli waris dan menjalankan qiyās perhitungan persetujuan tersebut. Kemudian kita menganggap adanya penolakan, lalu membagi sepertiga di antara para penerima wasiat sesuai dengan proporsi yang mereka terima dari harta ketika ada persetujuan.

وأبو حنيفة يقول: إذا ردّ الورثة فالموصى له بالنصف لا يضرب إلا بالثلث وإنما يتفاوت أصحاب الوصايا إذا كانت أجزاء وصاياهم متفاوتة بالثلث فما دونه ولم نُعد حساب هذا القسم لمّا وجدناه على الطَّرْز الأول من غير تفاوت

Abu Hanifah berkata: Jika para ahli waris menolak, maka penerima wasiat yang mendapat setengah tidak boleh mengambil kecuali sepertiga saja, dan perbedaan di antara para penerima wasiat hanya terjadi jika bagian wasiat mereka berbeda-beda pada sepertiga atau kurang darinya. Kami tidak mengulangi perhitungan bagian ini karena kami mendapati kasus ini sama dengan pola yang pertama tanpa ada perbedaan.

هذا كله إذا أجاز الورثة جميعَ الوصايا أو ردوا بأجمعهم ما زاد على الثلث

Semua ini berlaku jika para ahli waris menyetujui seluruh wasiat atau mereka bersama-sama menolak apa yang melebihi sepertiga.

فأما إن أجاز البعضُ بعض الوصايا ورد البعض أو أجاز بعضهم جميعَ الوصايا أو أجاز بعضهم بعضَ الوصايا وأجاز غيره غير تلك الوصايا  فالقياس فيه أن نصحح المسألتين إحداهما على تقدير الإجازة من الجميع للوصايا كلها والثانية على تقدير الرد من الجميع ثم ننظر إلى المسألتين فإن كانتا متباينتين ضربنا إحداهما في الأخرى وإن كانتا متوافقتين ضربنا وَفْق إحداهما في جميع الأخرى فما بلغ فمنه تصح القسمة

Adapun jika sebagian ahli waris mengizinkan sebagian wasiat dan menolak sebagian lainnya, atau sebagian dari mereka mengizinkan seluruh wasiat, atau sebagian mengizinkan sebagian wasiat dan yang lain mengizinkan wasiat yang berbeda, maka menurut qiyās, kita harus membuat dua perhitungan: yang pertama dengan asumsi semua ahli waris mengizinkan seluruh wasiat, dan yang kedua dengan asumsi semua menolak. Kemudian kita lihat kedua perhitungan tersebut; jika keduanya berbeda, kita kalikan salah satunya dengan yang lain, dan jika keduanya sama, kita kalikan kesamaan salah satunya dengan seluruh bagian yang lain. Hasil dari perhitungan tersebut menjadi dasar pembagian warisan.

وإن كانتا متداخلتين صحت القسمة من أكثرهما ولا يتصور أن يكونا متماثلتين

Jika keduanya saling tumpang tindih, maka pembagian sah dilakukan berdasarkan yang lebih besar di antara keduanya, dan tidak mungkin keduanya sama persis.

ثم كيفية القسمة على تقدير الإجازة والرد تنكشف مقترنة بضرب الأمثلة

Kemudian, cara pembagian dengan asumsi adanya izin (ijazah) dan penolakan (radd) akan menjadi jelas jika disertai dengan pemberian contoh-contoh.

مثال: ثلاثة بنين وقد أوصى لرجل بثلث ماله ولآخر بخُمسي ماله فإن أجازت الورثة فسهام الميراث ثلاثة ومخرج الوصية خمسةَ عشرَ فنلقي ثلثَها وخمسها وذلك أحدَ عشرَ والباقي أربعة لا يصح على سهام الميراث ولا يوافق فنضرب سهامَ الفريضة في مخرج الوصية فبلغ خمسةً وأربعين وكان للموصى له بالثلث خمسة مضروبة في ثلاثة فله خمسة عشر وكان للموصى له بالخُمسين ستة فهي له مضروبة في ثلاثة تكون ثمانيةَ عشرَ وقد ذهب بالوصيتين ثلاثة وثلاثون سهماً وبقي منه اثنا عشر وكان لكل ابن من سهام الفريضة سهم مضروب في الأربعة الباقية من مخرج الوصية فيأخذ كلُّ واحد منهم أربعة من اثني عشر

Contoh: Tiga orang anak laki-laki, dan seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki sepertiga hartanya, serta kepada orang lain dua perlima hartanya. Jika para ahli waris menyetujui, maka bagian warisan ada tiga, dan asal wasiat adalah lima belas. Kita ambil sepertiganya dan dua perlimanya, yaitu sebelas, dan sisanya empat. Ini tidak sesuai dengan bagian warisan dan tidak sejalan, maka kita kalikan bagian farā’iḍ dengan asal wasiat sehingga menjadi empat puluh lima. Maka bagi penerima wasiat sepertiga, lima dikali tiga menjadi lima belas. Bagi penerima wasiat dua perlima, enam dikali tiga menjadi delapan belas. Maka dua wasiat tersebut mengambil tiga puluh tiga bagian, dan sisanya dua belas. Setiap anak laki-laki dari bagian farā’iḍ mendapat satu bagian yang dikalikan dengan empat sisa dari asal wasiat, sehingga masing-masing mendapat empat dari dua belas.

وإن لم يجيزوا فالشافعي رضي الله عنه يقول: سهام الفريضة ثلاثة ومخرج الوصية خمسةَ عشرَ وسهام الوصية منها أحد عشر فإذا جرينا على العمل الذي رسمناه فقد: بلغ العدد تسعة وتسعين فمنها تصح القسمة  وبها يعتدل الثلث والثلثان هذا في إجازتهم جميعاً للجميع أو في ردهم جميعاً للزيادة في الجميع

Jika mereka tidak mengizinkan, maka asy-Syafi‘i raḥimahullāh berkata: bagian faraidh ada tiga, asal wasiat ada lima belas, dan bagian wasiat dari situ ada sebelas. Jika kita mengikuti cara kerja yang telah kami tetapkan, maka jumlahnya mencapai sembilan puluh sembilan; dari jumlah itu pembagian menjadi sah dan sepertiga serta dua pertiga menjadi seimbang. Ini berlaku jika mereka semua mengizinkan untuk semuanya, atau jika mereka semua menolak tambahan pada semuanya.

ونحن نذكر صوراً في رد البعض وإجازة البعض وإنما ذكرنا ما قدمناه الآن اخر  ومذهب الشافعي رضي الله عنه على مخالفة مذهب أبي حنيفة رحمة الله عليه

Kami menyebutkan beberapa contoh tentang penolakan sebagian dan pembolehan sebagian, dan apa yang telah kami sebutkan tadi hanyalah sebagian saja. Adapun mazhab asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berbeda dengan mazhab Abū Ḥanīfah raḥimahullāh.

صورةٌ: رجل أوصى لرجل بالثلث ولآخر بالربع وخلّف ابنين فإن أجازا فمخرج الوصية من اثني عشر نلقي ربعها وثلثها وذلك سبعة والباقي خمسة للابنين لا ينقسم ولا يوافق فنضرب اثنين في اثني عشر فيصير أربعة وعشرين يصح لصاحب الثلث ثمانية ولصاحب الربع ستة ولكل ابن خمسة

Contoh: Seorang laki-laki berwasiat kepada seseorang sepertiga, dan kepada orang lain seperempat, lalu ia meninggalkan dua orang anak laki-laki. Jika keduanya (anak) mengizinkan, maka asal pembagian wasiat adalah dari dua belas; kita ambil seperempatnya dan sepertiganya, yaitu tujuh, dan sisanya lima untuk kedua anak laki-laki. Ini tidak dapat dibagi dan tidak sepadan, maka kita kalikan dua dengan dua belas sehingga menjadi dua puluh empat. Maka, hak penerima sepertiga adalah delapan, hak penerima seperempat adalah enam, dan masing-masing anak laki-laki mendapat lima.

وإن لم يجيزوا فطريق العمل في الرد أن نقول: سهام الوصية سبعة وسهام الورثة اثنان فنقسم الثلاثة على صنفين ينكسر سهم على سهام الوصية ولا يوافق وينقسم السهمان على سهام الورثة فيعود الكلام إلى كسرٍ واحد وهو سبعة فنضربها في الثلاثة التي بها التعديل فيرد واحداً وعشرين فمنها تصح القسمة

Jika mereka tidak membolehkannya, maka cara bekerja dalam melakukan radd adalah dengan mengatakan: bagian wasiat ada tujuh dan bagian ahli waris ada dua. Maka kita membagi tiga pada dua kelompok, sehingga satu bagian tidak habis terbagi pada bagian wasiat dan tidak cocok, sedangkan dua bagian dapat terbagi pada bagian ahli waris. Maka permasalahan kembali pada satu pecahan, yaitu tujuh. Lalu kita kalikan dengan tiga yang digunakan untuk penyesuaian, sehingga menjadi dua puluh satu. Dari situlah pembagian menjadi sah.

وإن أجازا لصاحب الثلث جميع وصيته ولم يجيزا الزائد من وصيّة الربع فالربع ثلاثة أسباع الثلث ولصاحب الثلث تمام الثلث

Jika mereka berdua mengizinkan seluruh wasiat kepada pemilik sepertiga, namun tidak mengizinkan kelebihan dari wasiat seperempat, maka seperempat itu adalah tiga per tujuh dari sepertiga, dan pemilik sepertiga mendapatkan sepertiga secara penuh.

فطريق الكلام في هذه المسألة وفي المسائل التي تترتب عليها مشتملة على جهات التبعيضات في الرد والإجازة أن يعدّ الإنسان العددَ الأقصى الذي يخرج منه جملة التبعيضات المفروضة أولاً ثم نعلم أن المسائل تنقسم فمنها ما لا يصح إلا من العدد الأقصى ومنها ما يصح دونه بعدد قريب وليس من الوجه تخريج المسألة بعددٍ كثيرٍ مع صحتها بعددٍ دونه

Maka cara membahas masalah ini dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya, yang mengandung berbagai bentuk pemisahan dalam penolakan dan penerimaan, adalah dengan menghitung jumlah maksimal yang darinya seluruh bentuk pemisahan yang mungkin dapat dihasilkan terlebih dahulu. Kemudian kita ketahui bahwa masalah-masalah itu terbagi; di antaranya ada yang tidak sah kecuali dengan jumlah maksimal, dan di antaranya ada yang sah dengan jumlah yang lebih sedikit namun masih mendekati jumlah maksimal. Tidaklah tepat menguraikan masalah dengan jumlah yang banyak padahal masalah itu sah dengan jumlah yang lebih sedikit darinya.

والعدد الأقصى في هذه المسألة وأمثالها أن ننظر إلى الفريضة الجامعة للوصية والميراث في الرد العام من جميع الورثة في جميع الوصايا وتلك الفريضة في هذه المسألة أحدٌ وعشرون وننظر إلى فريضة الإجازة العامة من الجميع في الجميع وهي أربعة وعشرون في هذه المسألة فإن كان المبلغان متباينين ضربنا أحدَهما في الثاني كدأبنا في كَسْرين فإن كانا متوافقين ضربنا وَفْق أحدهما في جميع الثاني فهذا هو العدد الأقصى والمسائل كيف تصرفت في التبعيضات تخرج منه على الوجوه التي سنذكرها إن شاء الله

Jumlah maksimal dalam masalah ini dan yang semisalnya adalah dengan melihat pada bagian warisan yang mencakup wasiat dan warisan dalam bentuk radd (pengembalian) umum dari seluruh ahli waris dalam semua wasiat. Bagian warisan dalam masalah ini adalah dua puluh satu. Kemudian kita melihat pada bagian warisan dengan ijāzah (persetujuan) umum dari semua pihak dalam semua hal, yaitu dua puluh empat dalam masalah ini. Jika kedua jumlah tersebut berbeda, maka kita kalikan salah satunya dengan yang lain sebagaimana kebiasaan kita dalam dua pecahan. Jika keduanya sepadan, maka kita kalikan angka kesepadanan salah satunya dengan seluruh angka yang lain. Inilah jumlah maksimal, dan berbagai masalah yang terjadi dalam pembagian-pembagian akan keluar darinya sesuai dengan cara-cara yang akan kami sebutkan, insya Allah.

ولكن إذا جوزنا أن يخرج بعض المسائل بعددٍ أقل من العدد الأقصى فالوجه أن نتخذ فريضةَ الرد العام معتبراً ونقول: لو قسم الرد بالفريضة من أحدٍ وعشرين لكان لكل ابن سبعة وللوصايا سبعة: لصاحب الثلث أربعة منها ولصاحب الربع ثلاثة

Namun, jika kita membolehkan sebagian masalah keluar dengan jumlah yang lebih sedikit dari jumlah maksimal, maka sebaiknya kita menjadikan farīḍah ar-radd al-‘ām sebagai acuan dan mengatakan: Jika pembagian ar-radd dilakukan dengan farīḍah dari dua puluh satu, maka setiap anak laki-laki mendapat tujuh, dan untuk wasiat juga tujuh: bagi pemilik sepertiga mendapat empat di antaranya, dan bagi pemilik seperempat mendapat tiga.

فإذا أجازا الزائدَ في الوصية بالثلث ولم يجيزوا الزائد في الوصية بالربع أقررنا الوصية بالربع على ثلاثة أسباع الثلث وقد أخذ صاحب الثلث أربعة أسباع الثلث وله بحكم إجازتها ثلاثة أسباع إلى قيمة الثلث فنأخذ سُبعاً ونصفاً من كل ابن فيحصل له ثلثٌ كامل ولكن يبقى في يد كل ابن خمسةٌ ونصف فإذا أردنا إزالة الكسر ضربنا فريضة الرد في مخرج النصف فردَّ اثنين وأربعين ثم نعود فنقول: لصاحب الربع ثلاثة أسباع الثلث من هذا المبلغ فهو ستة ولصاحب الثلث تمام الثلث لمكان الإجازة وهو أربعة عشر  فيبقى اثنان وعشرون لكل ابن أحدَ عشرَ

Jika mereka membolehkan kelebihan dalam wasiat sepertiga, namun tidak membolehkan kelebihan dalam wasiat seperempat, maka kita tetapkan wasiat seperempat pada tiga per tujuh dari sepertiga, dan pemilik sepertiga telah mengambil empat per tujuh dari sepertiga. Dengan ketentuan pembolehan itu, ia berhak atas tiga per tujuh hingga mencapai nilai sepertiga. Maka kita ambil satu setengah tujuh dari setiap anak, sehingga ia memperoleh sepertiga penuh. Namun, setiap anak masih memiliki lima setengah. Jika kita ingin menghilangkan pecahan, kita kalikan penyebut pembagian dengan penyebut setengah, sehingga menjadi empat puluh dua. Kemudian kita kembali dan berkata: pemilik seperempat mendapat tiga per tujuh dari sepertiga dari jumlah ini, yaitu enam; dan pemilik sepertiga mendapat sisa sepertiga karena adanya pembolehan, yaitu empat belas; sehingga tersisa dua puluh dua, yang masing-masing anak mendapat sebelas.

وإن أجاز الابنان لصاحب الربع جميع وصيته ولم يجيزا لصاحب الثلث ما زاد على حقه من الثلث فالرجوع إلى فريضة الرد وهي أحدٌ وعشرون فلصاحب الثلث أربعة أسباع الثلث إذ لا إجازة في حقه ولصاحب الربع ثلاثة أسباع الثلث من غير حاجة إلى إجازة وله بحق إجازة الابنين تمامُ الربع وربع أحدٍ وعشرين خمسةٌ وربع وقد أخذ منها ثلاثة فيبقى سهمان وربع نأخذ نصفها من كل ابن وهو سهم وثمن فيبقى في يد كل ابن خمسة أسهم وسبعة أثمان فإذا أردنا رفع الكسر ضربنا فريضة الرد في مخرج الثمن وهو ثمانية فيرد مائةً وثمانيةً وستين وهذا هو العدد الأقصى فإنك إذا ضربت سبعة وهي الوَفق لفريضة الرد في تمام لفريضة الإجازة ردّ هذا المبلغ وهو مائة وثمانية وستون فنقول: لصاحب الثلث أربعة أسباع الثلث من هذا المبلغ وهو اثنان وثلاثون ولصاحب الربع الربعُ الكامل: اثنان وأربعون ولكل ابن سبعة وأربعون

Jika dua anak mengizinkan pemilik seperempat untuk menerima seluruh wasiatnya, namun tidak mengizinkan pemilik sepertiga untuk menerima kelebihan dari haknya atas sepertiga, maka kembali kepada perhitungan faraidh ar-radd, yaitu dua puluh satu. Maka, untuk pemilik sepertiga mendapat empat per tujuh dari sepertiga karena tidak ada izin pada haknya, dan untuk pemilik seperempat mendapat tiga per tujuh dari sepertiga tanpa perlu izin, serta berhak atas izin kedua anak untuk menerima seperempat penuh. Seperempat dari dua puluh satu adalah lima seperempat, dan ia telah mengambil tiga, sehingga tersisa dua seperempat. Kita ambil setengahnya dari masing-masing anak, yaitu satu dan seperdelapan, sehingga setiap anak masih memiliki lima saham dan tujuh perdelapan. Jika kita ingin menghilangkan pecahan, kita kalikan perhitungan faraidh ar-radd dengan penyebut perdelapan, yaitu delapan, sehingga menjadi seratus enam puluh delapan. Ini adalah jumlah maksimal, karena jika kamu kalikan tujuh—yaitu angka yang sesuai untuk faraidh ar-radd—dengan jumlah penuh untuk faraidh al-ijazah, akan menghasilkan jumlah ini, yaitu seratus enam puluh delapan. Maka kita katakan: untuk pemilik sepertiga, empat per tujuh dari sepertiga dari jumlah ini adalah tiga puluh dua; untuk pemilik seperempat, seperempat penuh adalah empat puluh dua; dan untuk masing-masing anak adalah empat puluh tujuh.

فإن أجاز أحد الابنين الوصيتين جميعاً ولم يجز الآخر واحدةً منهما  فنرجع إلى فريضة الرد ونقول: الثلث للوصيتين على سبعة أسهم من غير حاجة إلى فرض إجازة فإذا أجاز أحدهما فصاحب الثلث يأخذ من المجيز بعد أربعة الأسباع نصفَ تتمّة الثلث وهو سهم ونصف ويأخذ صاحبُ الربع من المجيز نصف تتمّة الربع وهو سهم وثمن فيكون الكسر بالنصف والثمن فنضرب فريضة الرد في مخرج الثمن فيرد العدد الأقصى مائة وثمانية وستين

Jika salah satu dari dua anak laki-laki membolehkan kedua wasiat tersebut seluruhnya, sedangkan yang lain tidak membolehkan salah satunya pun, maka kita kembali kepada perhitungan faraid dengan metode ar-radd dan kita katakan: sepertiga untuk kedua wasiat tersebut dibagi menjadi tujuh bagian tanpa perlu menetapkan adanya izin. Jika salah satu dari keduanya mengizinkan, maka pemilik sepertiga mengambil dari yang mengizinkan, setelah dikurangi empat dari tujuh bagian, setengah dari sisa sepertiga, yaitu satu setengah bagian. Dan pemilik seperempat mengambil dari yang mengizinkan setengah dari sisa seperempat, yaitu satu bagian dan seperdelapan. Maka pecahan yang ada adalah setengah dan seperdelapan. Maka kita kalikan perhitungan ar-radd dengan penyebut seperdelapan, sehingga jumlah terbesar menjadi seratus enam puluh delapan.

ثم نقول: ندفع إلى الذي أجاز سهامه من فريضة الإجازة فهي خمسة فنضربه في ثلث فريضة الرد  يكون خمسة وثلاثين فندفع إلى الذي لم يجز سهامه من فريضة الرد وهي سبعة مضروبة في ثلث فريضة الإجازة فيكون له ستة وخمسون وهي الثلث والباقي وهو سبعة وسبعون للموصى لهما لصاحب الثلث أربعة أسباعها أربعةٌ وأربعون ولصاحب الربع ثلاثة أسباعها

Kemudian kami katakan: Kami memberikan kepada orang yang mengizinkan bagiannya dari perhitungan ijāzah, yaitu lima, lalu kami kalikan dengan sepertiga dari perhitungan radd, sehingga menjadi tiga puluh lima. Lalu kami berikan kepada orang yang tidak mengizinkan bagiannya dari perhitungan radd, yaitu tujuh, dikalikan dengan sepertiga dari perhitungan ijāzah, sehingga ia memperoleh lima puluh enam, yaitu sepertiga dan sisanya, yaitu tujuh puluh tujuh, diberikan kepada yang diwasiatkan kepada keduanya. Untuk pemilik sepertiga, empat per tujuhnya adalah empat puluh empat, dan untuk pemilik seperempat, tiga per tujuhnya.

وإذا عرفت أن الفريضة تصح من المبلغ الأقصى فالمسلك الأيسر أن نقول: نُثلث هذا المبلغ ونصرف إلى كل ابن ثلثاً وهو ستةٌ وخمسون ونصرف إلى الوصية ثلثاً ثم نأخذ من المجيز من الابنين ما كان يخصه لو أجاز الابنان جميعاً وهو نصف تمام الثلث في حق صاحب الثلث ونصف تمام الربع في حق صاحب الربع فيبقى في يده خمسةٌ وثلاثون ولو أجاز صاحبُه لكان لا يبقى له إلا خمسة وثلاثون

Jika engkau telah mengetahui bahwa pembagian warisan sah dilakukan dari jumlah maksimum, maka cara yang paling mudah adalah dengan membagi jumlah tersebut menjadi tiga bagian, lalu memberikan sepertiga kepada setiap anak, yaitu masing-masing lima puluh enam, dan memberikan sepertiga kepada wasiat. Kemudian kita ambil dari anak yang mengizinkan bagian yang menjadi haknya seandainya kedua anak sama-sama mengizinkan, yaitu setengah dari sepertiga penuh bagi pemilik sepertiga, dan setengah dari seperempat penuh bagi pemilik seperempat, sehingga yang tersisa di tangannya adalah tiga puluh lima. Jika temannya juga mengizinkan, maka yang tersisa baginya hanyalah tiga puluh lima.

وإذا بان الغرض واتضح مسلك التصحيح فلا حرج على من يغير ويقدر

Jika tujuan telah jelas dan metode pensahihan telah terang, maka tidak mengapa bagi seseorang untuk mengubah dan mempertimbangkan.

وإن شئت قلت: هذه المسألة تخرج من فريضة الإجازة: أربعة وعشرين فنقسمها بين الاثنين ونقدر كأن لا وصية فلكل ابن اثنا عشر فخذ من الذي لم يُجز ثلثَ ما في يده أربعةَ أسهم لأن الثلث جائز عليه و هذا القدر في حقه مصروف إلى الوصيتين فيبقى معه ثمانية وخذ من الذي أجاز ثلث ما في يده وربع ما في يده فإنه أجاز الوصيتين وذلك سبعة فيبقى في يده خمسةُ أسهم

Jika kamu mau, kamu bisa mengatakan: Masalah ini termasuk dalam pembagian warisan dengan metode ijāzah: dua puluh empat bagian, lalu kita bagi antara dua orang dan kita anggap seolah-olah tidak ada wasiat, sehingga setiap anak laki-laki mendapat dua belas bagian. Ambillah dari yang tidak mengizinkan (ijazah) sepertiga dari bagian yang ia pegang, yaitu empat bagian, karena sepertiga itu berlaku atasnya, dan jumlah ini dalam haknya dialokasikan untuk dua wasiat, sehingga tersisa padanya delapan bagian. Dan ambillah dari yang mengizinkan sepertiga dari bagian yang ia pegang dan seperempat dari bagian yang ia pegang, karena ia mengizinkan dua wasiat, yaitu tujuh bagian, sehingga tersisa padanya lima bagian.

فيجتمع للموصى لهما أحدَ عشرَ سهماً يقسمانها على سبعة أسهم فلا تصح ولا توافق فاضرب أصل الفريضة وهو أربعة وعشرون في سبعة تكون مائة وثمانية وستين ثم سبيل تعيين الحصص أن تقول: للذي لم يُجز ثمانيةٌ من أصل الفريضة مضروبة في سبعة وذلك ستةٌ وخمسون وللذي أجاز خمسةٌ في سبعة وذلك خمسةٌ وثلاثون وكان للموصى لهما أحدَ عشرَ في سبعة والمردود سبعةٌ وسبعون أربعةُ أسباعها لصاحب الثلث وهو أربعة وأربعون وثلاثة أسباعها لصاحب الربع وهي ثلاثة وثلاثون

Maka bagian yang terkumpul untuk kedua penerima wasiat adalah sebelas saham yang harus dibagi kepada tujuh saham, sehingga tidak sah dan tidak ada kesesuaian. Maka kalikan asal pembagian warisan, yaitu dua puluh empat, dengan tujuh, sehingga menjadi seratus enam puluh delapan. Adapun cara menentukan bagian adalah: untuk yang tidak mengizinkan, delapan dari asal pembagian warisan dikalikan tujuh, yaitu lima puluh enam; dan untuk yang mengizinkan, lima dikalikan tujuh, yaitu tiga puluh lima. Maka bagian kedua penerima wasiat adalah sebelas dikali tujuh, dan bagian yang dikembalikan adalah tujuh puluh tujuh; empat per tujuhnya untuk pemilik sepertiga, yaitu empat puluh empat, dan tiga per tujuhnya untuk pemilik seperempat, yaitu tiga puluh tiga.

فإن أجاز أحدهما لصاحب الثلث وأجاز الآخر لهما فإن أحببتَ رجعت إلى فريضة الرد وقلت: للوصيتين سبعةٌ من أحدٍ وعشرين من غير حاجة إلى إجازة ثم يأخذ صاحب الثلث ممّن أجاز الوصيتين نصفَ تمام الثلث ويأخذ صاحب الربع منه نصفَ تمام الربع فيحصل لصاحب الثلث من جهته سهم ونصف ويحصل لصاحب الربع سهم وثمن فيبقى في يده أربعة وثلاثة أثمان ويأخذ صاحب الثلث ممّن أجاز الوصية بالثلث نصفَ تتمّة الثلث وهو سهم ونصف ولا يرجع إليه صاحب الربع بمزيد فيكمل الثلث لاجتماع الإجازتين في حقه

Jika salah satu dari mereka mengizinkan kepada pemilik sepertiga dan yang lain mengizinkan kepada keduanya, maka jika engkau menghendaki, kembalikanlah kepada perhitungan faraidh ar-radd dan katakan: untuk kedua wasiat tersebut ada tujuh dari dua puluh satu tanpa perlu adanya izin. Kemudian pemilik sepertiga mengambil dari orang yang mengizinkan kedua wasiat setengah dari sisa sepertiga, dan pemilik seperempat mengambil darinya setengah dari sisa seperempat, sehingga pemilik sepertiga dari pihaknya memperoleh satu setengah bagian, dan pemilik seperempat memperoleh satu bagian dan satu perdelapan, sehingga yang tersisa di tangannya adalah empat dan tiga perdelapan, dan pemilik sepertiga mengambil dari orang yang mengizinkan wasiat sepertiga setengah dari sisa sepertiga, yaitu satu setengah bagian, dan pemilik seperempat tidak kembali kepadanya dengan tambahan, sehingga sempurnalah sepertiga itu karena berkumpulnya dua izin atas haknya.

ويحصل لصاحب الربع أربعٌ وثمن وإذا كان الكسر بالثمن ضربنا فريضة الرد في ثمانية فرد المبلغَ الأقصى فهو مائة وثمانيةٌ وستون

Pemilik seperempat mendapatkan empat bagian dan seperdelapan. Jika bagian yang ada adalah seperdelapan, maka kita mengalikan farīdhah ar-radd dengan delapan, lalu mengembalikan jumlah maksimalnya, yaitu seratus enam puluh delapan.

وقد يؤدي إلى ذلك أن نأخذ العمل من فريضة الإجازة وهي أربعةٌ وعشرون فنقول: لو لم يكن وصية لأخذ كل ابن اثني عشر فخذ من الذي أجاز لهما ثلث ما في يده وربع ما في يده وذلك سبعة يبقى معه خمسة

Hal itu dapat terjadi jika kita mengambil tindakan berdasarkan kewajiban ijāzah, yang jumlahnya dua puluh empat. Maka kita katakan: jika tidak ada wasiat, setiap anak akan mengambil dua belas. Maka ambillah dari orang yang memberikan ijāzah kepada keduanya sepertiga dari apa yang ada di tangannya dan seperempat dari apa yang ada di tangannya, yaitu tujuh, sehingga tersisa padanya lima.

وخذ من الذي أجاز لصاحب الثلث ثلث ما في يده: أربعةً وثلاثة أسباعها: سهمٌ وخمسةُ أسباع والكسر سبعةٌ فاضرب سبعةً في أربعة وعشرين فيردّ المبلغَ الأقصى مائة وثمانية وستين لمن أجاز لهما من أصل الفريضة خمسة مضروبة في سبعة وذلك خمسة وثلاثون وللذي أجاز لصاحب الثلث هذه أربعةٌ وأربعون فإنه كان له بعد إخراج الثلث وثلاثة أسباع الثلث مما في يده ستة وسبعان فنضربها في السبعة فيردّ أربعة وأربعين

Ambillah dari orang yang membolehkan bagi pemilik sepertiga, sepertiga dari apa yang ada di tangannya: empat dan tiga per tujuhnya; satu bagian dan lima per tujuh, dan sisanya tujuh. Maka kalikan tujuh dengan dua puluh empat sehingga jumlah maksimalnya menjadi seratus enam puluh delapan bagi siapa yang membolehkan keduanya dari asal farīdhah, yaitu lima dikalikan tujuh, sehingga menjadi tiga puluh lima. Dan bagi yang membolehkan bagi pemilik sepertiga ini adalah empat puluh empat, karena setelah mengeluarkan sepertiga dan tiga per tujuh sepertiga dari apa yang ada di tangannya, tersisa enam dan dua per tujuh. Maka kalikan dengan tujuh sehingga menjadi empat puluh empat.

وإن أجاز أحدهما لصاحب الربع وحده وأجاز الآخر لهما فالفريضة من مائة وثمانية وستين على الترتيب الذي ذكرناه وأن ينظر المتصرف لطريق العمل أخذ المبلغ الأقصى وهو مائة وثمانية وستون وقَسْمها بين الاثنين كأنْ لا وصية فلكل ابن أربعةٌ وثمانون ثم يأخذ من الذي أجاز لهما ثلثَ ما في يده وربع ما في يده وذلك تسعة وأربعون يبقى معه خمسةٌ وثلاثون

Jika salah satu dari mereka mengizinkan hanya kepada pemilik seperempat, dan yang lain mengizinkan kepada keduanya, maka pembagian warisan adalah dari seratus enam puluh delapan, sesuai urutan yang telah kami sebutkan. Orang yang bertindak hendaknya memperhatikan cara pelaksanaan, yaitu mengambil jumlah maksimum, yaitu seratus enam puluh delapan, lalu membaginya antara dua orang seolah-olah tidak ada wasiat, sehingga masing-masing anak mendapat delapan puluh empat. Kemudian, dari yang mengizinkan kepada keduanya, diambil sepertiga dari yang ada di tangannya dan seperempat dari yang ada di tangannya, yaitu empat puluh sembilan, sehingga tersisa padanya tiga puluh lima.

وخذ من الذي أجاز لصاحب الربع ثلث ما في يده أولاً فإن هذا جائز من غير حاجة إلى الإجازة وهذا مصروف إلى الوصيتين على نسبة الأسباع فيبقى في يد هذا الابن ستة وخمسون فإن الثلث المأخوذ ثمانية وعشرون فيجتمع للموصى لهما سبعة وسبعون فيقسم هذا المبلغ بينهما أسباعاً: أربعةُ أسباعها وهي أربعة وأربعون لصاحب الثلث

Ambillah dari pendapat yang membolehkan bagi pemilik seperempat untuk mengambil sepertiga dari apa yang ada di tangannya terlebih dahulu, maka hal ini dibolehkan tanpa perlu adanya ijazah, dan ini diarahkan kepada dua wasiat berdasarkan perbandingan bagian asba‘ (tujuh bagian), sehingga yang tersisa di tangan anak ini adalah lima puluh enam, karena sepertiga yang diambil adalah dua puluh delapan, maka jumlah yang terkumpul untuk kedua penerima wasiat adalah tujuh puluh tujuh, lalu jumlah ini dibagi di antara keduanya berdasarkan asba‘: empat asba‘, yaitu empat puluh empat, untuk pemilik sepertiga.

وثلاثة أسباعها لصاحب الربع وهو ثلاثة وثلاثون وقد بقي لصاحب الربع إلى تمام الربع سبعةُ أسهم يأخذها من الذي أجاز له وحده فيبقى مع الذي أجاز له وحده سبعةٌ وأربعون

Tiga per tujuh bagian darinya menjadi milik pemilik seperempat, yaitu tiga puluh tiga. Masih tersisa bagi pemilik seperempat hingga genap seperempat sebanyak tujuh saham, yang diambilnya dari orang yang mengizinkan kepadanya saja, sehingga yang tersisa bersama orang yang mengizinkan kepadanya saja adalah empat puluh tujuh.

فإن أجاز أحدهما لصاحب الثلث وحده ولم يجز الآخر لهما ما زاد على الثلث فإن أحببت اتخذت فريضة الرد مرجوعَك والثلث بينهما على سبعةٍ من غير حاجةٍ إلى إجازة: لصاحب الربع ثلاثة أسباع الثلث ولصاحب الثلث أربعة ولكل ابن سبعة ثم يأخذ صاحب الثلث من المجيز منهما نصفَ تتمّة الثلث فهو سهم ونصف فيتطرق إلى المسألة الكسر بالنصف فاضرب فريضة الرد وهي أحدٌ وعشرون في اثنين فتردّ اثنين وأربعين فتصح القسمة من هذا المبلغ فتصح منها المسألة

Jika salah satu dari keduanya mengizinkan kepada pemilik sepertiga saja, sedangkan yang lain tidak mengizinkan kepada keduanya lebih dari sepertiga, maka jika engkau menghendaki, jadikanlah perhitungan rad (pengembalian) sebagai rujukanmu, dan sepertiga dibagi di antara mereka bertiga atas tujuh bagian tanpa perlu adanya izin: untuk pemilik seperempat tiga dari tujuh bagian sepertiga, untuk pemilik sepertiga empat bagian, dan untuk setiap anak tujuh bagian. Kemudian pemilik sepertiga mengambil dari yang mengizinkan di antara mereka berdua setengah dari sisa sepertiga, yaitu satu setengah bagian, sehingga dalam permasalahan ini muncul pecahan setengah. Maka kalikan perhitungan rad, yaitu dua puluh satu, dengan dua sehingga menjadi empat puluh dua, lalu pembagian menjadi sah dari jumlah ini, dan permasalahan pun menjadi sah darinya.

وإن أجاز أحدهما لصاحب الربع وحده ولم يجز الآخر لهما فنرجع إن أردنا إلى فريضة الرد فالثلث بينهما على سبعة من غير حاجة إلى إجازة على النسبة التي ذكرناها وقد بقي لصاحب الربع إلى تمام الربع درهمان وربع يأخذ نصفها من الذي أجاز له وذلك واحدٌ وثمن فاضرب أحداً وعشرين في ثمانية فترد العدَدَ الأقصى

Jika salah satu dari mereka mengizinkan kepada pemilik seperempat saja, sedangkan yang lain tidak mengizinkan kepada keduanya, maka jika kita ingin kembali kepada perhitungan faraidh dengan metode ar-radd, sepertiga dibagi di antara mereka berdua atas dasar tujuh bagian tanpa perlu adanya izin, sesuai dengan proporsi yang telah kami sebutkan. Masih tersisa bagi pemilik seperempat hingga genap seperempatnya dua dirham dan seperempat, ia mengambil setengahnya dari orang yang mengizinkan kepadanya, yaitu satu dan seperdelapan. Maka kalikan dua puluh satu dengan delapan, sehingga kamu mendapatkan jumlah terbesar.

ووجه العمل بيّن

Dan cara penerapannya sudah jelas.

وإن أجاز أحدهما لصاحب الثلث وحده وأجاز الآخر لصاحب الربع وحده فالثلث بينهما على سبعة ولكل ابنٍ سبعة ثم يأخذ صاحب الثلث من المجيز نصفَ تتمّة الثلث وهو سهم ونصف ويأخذ صاحب الربع من المجيز نصفَ قيمة الربع وهو سهم وثمن فإذا انتهى الكسر إلى الثمن فالمسألة تصح من العدد الأقصى بعدُ وصحّ التصرف في عموم الرد وعموم الإجازة وجهات التبعيض

Jika salah satu dari mereka mengizinkan hanya kepada pemilik sepertiga, dan yang lain mengizinkan hanya kepada pemilik seperempat, maka sepertiga dibagi di antara mereka berdua menjadi tujuh bagian, dan setiap anak mendapat tujuh bagian. Kemudian pemilik sepertiga mengambil dari yang mengizinkan setengah dari sisa sepertiga, yaitu satu setengah bagian, dan pemilik seperempat mengambil dari yang mengizinkan setengah dari nilai seperempat, yaitu satu bagian dan seperdelapan. Jika pecahan akhirnya sampai pada seperdelapan, maka permasalahan ini sah dari jumlah terbesar setelahnya, dan sah pula pelaksanaan dalam hal umum pengembalian, umum izin, dan sisi-sisi pembagian.

إذا ماتت امرأة وخلّفت زوجاً وأماً وأختاً من أب فاوصت لرجل بثلثي مالها فأجازت الأم الثلثين وأجاز الزوج النصفَ وردّ ما جاوز النصف ولم تُجز الأخت أكثر من الثلث

Jika seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami, ibu, serta saudara perempuan seayah, lalu ia berwasiat kepada seorang laki-laki sebanyak dua pertiga hartanya, maka sang ibu membolehkan dua pertiga tersebut, suami membolehkan setengah dan menolak apa yang melebihi setengah, dan saudara perempuan tidak membolehkan lebih dari sepertiga.

ففريضة الميراث من ثمانية أسهم أصلها ستة وقد عالت بثلثها: للزوج ثلاثة وقد أجاز النصف فخذ نصف ما في يده فيبقى معه سهم ونصف وللأم سهمان وقد أجازت الثُّلثين فخذ ثلثي ما في يدها وهو سهم وثلث بقي معها ثلثا سهم وللأخت ثلاثة فخذ ثلثَ ما في يدها وهو سهم بقي معها سهمان واجتمع للموصى له ثلاثة أسهم وخمسة أسداس سهم فاضرب الفريضة في ستة فترد ثمانية وأربعين: للموصى له ثلاثة وخمسة أسداس مضروبة في ستة فيجتمع له ثلاثة وعشرون سهماً وللزوج سهم ونصف في ستة وهو تسعة  وللأم ثلثا سهم في ستة يكون لها أربعة أسهم وللأخت سهمان في ستة فلها اثنا عشر

Kewajiban warisan terdiri dari delapan bagian, asalnya enam, dan telah bertambah sepertiganya: untuk suami tiga bagian, padahal ia hanya berhak atas setengah, maka ambillah setengah dari apa yang ada padanya, sehingga tersisa padanya satu setengah bagian; untuk ibu dua bagian, padahal ia hanya berhak atas sepertiga, maka ambillah sepertiga dari apa yang ada padanya, yaitu satu dan sepertiga bagian, sehingga tersisa padanya dua pertiga bagian; untuk saudari tiga bagian, maka ambillah sepertiga dari apa yang ada padanya, yaitu satu bagian, sehingga tersisa padanya dua bagian. Maka terkumpul untuk penerima wasiat tiga bagian dan lima per enam bagian. Kalikan kewajiban warisan dengan enam, sehingga menjadi empat puluh delapan: untuk penerima wasiat tiga dan lima per enam dikalikan enam menjadi dua puluh tiga bagian; untuk suami satu setengah dikalikan enam menjadi sembilan; untuk ibu dua pertiga dikalikan enam menjadi empat bagian; dan untuk saudari dua dikalikan enam menjadi dua belas.

ومن أحاط بما ذكرناه وصورناه لم يخف عليه طريق القياس واتسعت عليه المسالك في اعتبار طريق الرد والإجازة

Barang siapa yang memahami apa yang telah kami sebutkan dan gambarkan, maka tidak akan samar baginya jalan qiyās, dan akan terbuka luas baginya berbagai cara dalam mempertimbangkan jalan penolakan dan pembolehan.

وقد بقي علينا من التراجم التي ذكرناها نوع واحد وهو الوصية بجملة التركة مع الوصية بجزءٍ منها والذي قدمناه في الوصية بأجزاء لا تزيد على الثلث أو تزيد على الثلث ولا تستغرق المال ثم قسمنا هذا القسم إلى أقسام سبقت

Masih tersisa bagi kita satu jenis dari terjemahan-terjemahan yang telah kami sebutkan, yaitu wasiat atas seluruh harta warisan bersamaan dengan wasiat atas sebagian darinya. Apa yang telah kami kemukakan sebelumnya tentang wasiat atas bagian-bagian yang tidak melebihi sepertiga atau melebihi sepertiga namun tidak menghabiskan seluruh harta, kemudian kami membagi bagian ini ke dalam beberapa bagian yang telah disebutkan sebelumnya.

فلو أوصى بجميع ماله لإنسان وأوصى بثُلثه لآخر وأجاز الورثة الوصيتين فمذهب الشافعي رضي الله عنه أن المال يقسم بين الوصيّتين على حساب العول فجملة المال مستغرقة بصفة الوصية بالكل والموصى له بالثلث يزحم بالثلث فنأخذ مخرج الثلث وهو ثلاثة ونُعِيلُها بثلثها ونقسم المال كلَّه بين الموصى له بالجميع وبين الموصى له بالثلث أرباعاً هذا قياس الشافعي رضي الله عنه في الباب

Jika seseorang berwasiat seluruh hartanya kepada seseorang dan berwasiat sepertiga hartanya kepada orang lain, lalu para ahli waris membolehkan kedua wasiat tersebut, maka menurut mazhab Syafi‘i ra., harta tersebut dibagi antara kedua wasiat itu dengan perhitungan ‘aul. Seluruh harta telah tercakup oleh sifat wasiat untuk keseluruhan, dan penerima wasiat sepertiga turut mengambil bagian sepertiga. Maka kita mengambil penyebut sepertiga, yaitu tiga, lalu kita ‘aul-kan dengan menambah sepertiganya, dan seluruh harta dibagi antara penerima wasiat seluruhnya dan penerima wasiat sepertiga menjadi empat bagian. Inilah qiyās Imam Syafi‘i ra. dalam masalah ini.

ولو أوصى لرجلٍ بجميع ماله وأوصى لآخر بربع ماله جعلنا المال أربعة أسهم وأَعَلْناها بربعها فيصير المال خمسة أسهم للموصى له بالجميع أربعة أخماسها وللموصى له بالربع خمسها ولا يخفى طريق العوْل

Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki dengan seluruh hartanya dan berwasiat kepada orang lain dengan seperempat hartanya, maka kita membagi harta tersebut menjadi empat bagian, lalu kita naikkan jumlahnya dengan seperempatnya, sehingga harta itu menjadi lima bagian: bagi penerima wasiat seluruh harta mendapat empat perlimanya, dan bagi penerima wasiat seperempat harta mendapat sepertimanya. Cara perhitungan ‘aul ini tidaklah samar.

ولو ردَّ الورثة الوصيتين جميعاً قسمنا الثلث بينهما على نسبة قسمة الإجازة فإن كان أوصى بكل المال لإنسان وبثلثه لآخر فردّ الورثةُ الزائد فالثلث مقسوم بينهما أرباعاً: ثلاثة أرباعه للموصى له بالكل وربعه للموصى له بالثلث واعتبر أبو حنيفة في هذا النوع القيمة على الدعاوى فقال: إذا كانت إحدى الوصيتين بالكل والأخرى بالثلث فصاحب الكل يقول لصاحب الثلث: لا دعوى لك في الثلثين فأستبدُّ بهما والثلث الشائع بيننا أنت تدّعيه وأنا أدّعيه فنقسِّمه نصفين ويخلص لصاحب الوصية بالكل خمسة أسداس المال ولصاحب الوصية بالثلث سدسه وقال: إذا رد الورثة الزائد فالثلث مقسوم بينهما نصفين وهذا خارج على أصله المشهور في ردّ ما يزيد على الثلث فمن ردّ الوصيّةَ الزائدةَ على الثلث في مقدارها إذا فرضت رد مثل هذه الوصايا

Jika para ahli waris menolak kedua wasiat tersebut seluruhnya, maka sepertiga harta dibagi di antara keduanya sesuai dengan proporsi pembagian berdasarkan izin. Jika seseorang berwasiat seluruh hartanya kepada seseorang dan sepertiganya kepada orang lain, lalu para ahli waris menolak kelebihan wasiat tersebut, maka sepertiga harta dibagi di antara keduanya menjadi empat bagian: tiga perempatnya untuk penerima wasiat seluruh harta, dan seperempatnya untuk penerima wasiat sepertiga harta. Abu Hanifah dalam jenis kasus ini mempertimbangkan nilai berdasarkan klaim, beliau berkata: Jika salah satu wasiat untuk seluruh harta dan yang lain untuk sepertiganya, maka penerima seluruh harta berkata kepada penerima sepertiga: “Kamu tidak punya hak atas dua pertiga, maka aku berhak penuh atas keduanya, sedangkan sepertiga sisanya adalah hak bersama antara kita, kamu mengklaimnya dan aku juga mengklaimnya, maka kita bagi dua.” Dengan demikian, penerima wasiat seluruh harta memperoleh lima perenam harta, dan penerima wasiat sepertiga memperoleh seperenamnya. Beliau juga berkata: Jika para ahli waris menolak kelebihan wasiat, maka sepertiga harta dibagi di antara keduanya sama rata. Ini berbeda dengan pendapat beliau yang masyhur dalam hal penolakan wasiat yang melebihi sepertiga, yaitu bahwa siapa pun yang menolak wasiat yang melebihi sepertiga dalam jumlahnya, maka berlaku juga penolakan terhadap wasiat-wasiat seperti ini.

فإذا تمهد هذا الأصل بنينا عليه فصلاً مهمّاً متصلاً

Jika prinsip dasar ini telah dijelaskan, maka kita akan membangun di atasnya satu pembahasan penting yang berkaitan.

فصل

Bab

إذا أوصى لرجل بعبد قيمته مائة ولآخر بثلث ذلك العبد أو بثلث ماله ولا مال له غيرُ العبد فإن أجاز الورثةُ فالعبد بينهما على أربعةٍ: للموصى له بجميعه ثلاثة أرباعه ولصاحب الثلث رُبعُه

Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki dengan seorang budak yang nilainya seratus, dan kepada orang lain sepertiga dari budak tersebut atau sepertiga dari hartanya, sedangkan ia tidak memiliki harta selain budak itu, maka jika para ahli waris mengizinkan, budak itu dibagi di antara keduanya menjadi empat bagian: bagi penerima wasiat seluruhnya mendapat tiga perempatnya, dan bagi penerima sepertiga mendapat seperempatnya.

وإن لم يجز الورثة فلهما ثلث العبد بينهما على أربعة: لصاحب الكل ثلاثة أرباع الثلث ولصاحب الثلث ربع الثلث

Jika para ahli waris tidak mengizinkan, maka keduanya mendapatkan sepertiga budak tersebut di antara mereka berdua dengan pembagian sebagai berikut: pemilik seluruhnya mendapat tiga perempat dari sepertiga, dan pemilik sepertiga mendapat seperempat dari sepertiga.

وإن أجازوا نصفَ الوصيتين فسلِّم نصفَ العبد إليهما فيقسمانه على أربعة أسهم: لصاحب الكل ثلاثة أرباع النصف فهي ثلاثة أثمان العبد ولصاحب الثلث ربع النصف وهو ثمن العبد ولا يكاد يخفى ما لم نذكره قياساً على ما ذكرناه

Jika mereka membolehkan setengah dari kedua wasiat tersebut, maka serahkanlah setengah budak itu kepada keduanya, lalu mereka membaginya menjadi empat bagian: untuk pemilik seluruhnya tiga perempat dari setengah, yaitu tiga perdelapan budak, dan untuk pemilik sepertiga seperempat dari setengah, yaitu seperdelapan budak. Dan hampir tidak ada yang tersembunyi dari apa yang belum kami sebutkan, dengan qiyās terhadap apa yang telah kami jelaskan.

ولو ترك مائتي درهم والعبدَ وقيمته مائة وكان أوصى بجميع العبد لرجلٍ وأوصى بثلث ماله لرجل آخر وأجاز الورثةُ الوصيتين فللموصى له بالعبد ثلاثة أرباعه ولصاحب الثلث ربعُ العبد و ثلث الدراهم وذلك ستة وستون درهماً وثلثان

Jika seseorang meninggalkan dua ratus dirham dan seorang budak yang nilainya seratus, lalu ia berwasiat seluruh budak itu kepada seseorang dan berwasiat sepertiga hartanya kepada orang lain, serta para ahli waris membolehkan kedua wasiat tersebut, maka orang yang diberi wasiat budak mendapatkan tiga perempat budak, sedangkan pemilik sepertiga mendapatkan seperempat budak dan sepertiga dirham, yaitu enam puluh enam dirham dan dua pertiga.

ومما يجب التنبيه له أن الوصية بالعبد وصيةٌ بمقدار الثلث والوصية الأخرى واقعةٌ بالثلث فظاهر الأمر يشعر أن الوصيتين وصية بالثلثين وليس كذلك فإن الموصى له بالثلث يشيع حقه في العبد فيصير مزاحماً للموصى له فينقص حق الموصى له بالعبد بسبب زحمته ولا تزاحم للموصى له بالثلث في الدراهم فيأخذ ثلث الدراهم كَملاً عند فرض الإجازة فيأخذ من العبد ثلثاً عائلاً وهو ربع فيُجمَع للموصى له بالثلث من الدراهم ستة وستون وثلثان ومن رقبة العبد خمسةٌ وعشرون فالمجموع عنده أحدٌ وتسعون وثلثان وينقص من حقه بسبب الزحمة ثمانية وثلث

Perlu diperhatikan bahwa wasiat terhadap seorang budak adalah wasiat sebesar sepertiga, dan wasiat lainnya juga terjadi atas sepertiga. Secara lahiriah, hal ini menunjukkan bahwa kedua wasiat tersebut adalah wasiat atas dua pertiga, namun kenyataannya tidak demikian. Sebab, penerima wasiat atas sepertiga memiliki hak yang tersebar pada budak tersebut, sehingga ia menjadi pesaing bagi penerima wasiat lainnya, yang menyebabkan hak penerima wasiat atas budak tersebut berkurang karena adanya persaingan. Adapun penerima wasiat atas sepertiga dalam bentuk uang tidak mengalami persaingan, sehingga ia menerima sepertiga uang secara penuh jika diasumsikan adanya persetujuan. Ia menerima dari budak tersebut sepertiga yang mengalami pengurangan, yaitu seperempat. Maka, penerima wasiat atas sepertiga memperoleh dari uang sebanyak enam puluh enam dan dua pertiga, dan dari tubuh budak sebanyak dua puluh lima. Jumlah keseluruhannya adalah sembilan puluh satu dan dua pertiga, dan haknya berkurang karena adanya persaingan sebanyak delapan dan sepertiga.

والموصى له بالعبد يأخذ ثلاثة أرباع العبد وقيمتها خمسةٌ وسبعون فينقص من حقه خمسة وعشرون وهو مائة درهم قيمته  والسبب فيه أن حقه ينحصر في العبد وهو مزحوم فيه ويثبت للموصى له بالثلث ثلثُ الدراهم بلا زحمة والمزاحمة في العبد

Penerima wasiat atas budak itu mengambil tiga perempat bagian dari budak tersebut, dan nilainya adalah tujuh puluh lima, sehingga haknya berkurang dua puluh lima, yaitu seratus dirham nilainya. Sebabnya adalah karena haknya terbatas pada budak tersebut, dan di situ terjadi persaingan. Adapun bagi penerima wasiat sepertiga, maka sepertiga dirham itu menjadi haknya tanpa persaingan, sedangkan persaingan terjadi pada budak.

فإن لم يُجز الورثة ما زاد على الثلث رددنا الوصيتين إلى الثلث لا محالة والنظرُ الدقيق في كيفية قسمة الثلث بينهما وهذا مقصود الفصل وفيه وجوه من الإشكال: أحدها أن إحدى الوصيتين لا تعدو غيرَ العبد ولا تعترض للورثة في شتى الأعيان وإنما حقهم في الفوز بثلثي المال  فكيف يعتبر الثلث وما الوجه

Jika para ahli waris tidak mengizinkan wasiat yang melebihi sepertiga, maka kedua wasiat tersebut dikembalikan kepada sepertiga harta, tanpa keraguan. Permasalahan yang perlu diperhatikan secara cermat adalah bagaimana cara membagi sepertiga harta tersebut di antara keduanya, dan inilah inti dari pembahasan ini. Dalam hal ini terdapat beberapa sisi permasalahan: salah satunya adalah bahwa salah satu dari kedua wasiat itu hanya berkaitan dengan budak dan tidak berhubungan dengan ahli waris dalam berbagai jenis harta, sedangkan hak ahli waris hanyalah pada dua pertiga harta. Maka, bagaimana sepertiga itu dipertimbangkan dan apa solusinya?

قال الفقهاء الحسّاب ومنهم شيخنا أبو بكر الصيدلاني: نتأمل فريضة الإجازة فنعلم أنا نحتاج إلى تربيع العبد والعبد ثلث فإذا جعلنا ثلثا أربعة جعلنا كلّ ثلث أربعة ثم إذا أردنا استكمال الحساب وجعلنا كل ثلث مربعاً مثلَّثاً لإمكان تعرّض الرد إلى الثلث فنضع المسألة من اثني عشر أوّلاً نضربها في ثلاثة فترد علينا ستة وثلاثين العبدُ منها اثنا عشر فإذا أجاز الورثة الوصيتين قلنا: للموصى له بالعبد تسعةُ أسهم وهو ثلاثة أرباع العبد وللموصى له بالثلث ثلاثةُ أسهم من العبد وثلثٌ من المائتين وقد جعلنا كلَّ مائة اثني عشر أيضاً فتجمَّع لصاحب الثلث أحدَ عشرَ سهماً: ثلاثة من رقبة العبد وثمانية من المائتين فإذاً حصل لهما عشرون سهماً: تسعةٌ منها لصاحب العبد وأحدَ عشرَ سهماً لصاحب الثلث

Para ahli fiqh ahli hisab, di antaranya guru kami Abu Bakar As-Saidalani, berkata: Kita memperhatikan perhitungan ijazah (persetujuan ahli waris terhadap wasiat), maka kita mengetahui bahwa kita membutuhkan untuk mengkuadratkan budak, sedangkan budak itu sepertiga. Jika kita menjadikan sepertiga itu menjadi empat, maka setiap sepertiga menjadi empat. Kemudian jika kita ingin menyempurnakan perhitungan dan menjadikan setiap sepertiga sebagai kuadrat segitiga karena kemungkinan adanya radd (pengembalian sisa harta) kepada sepertiga, maka kita menetapkan masalah dari dua belas terlebih dahulu, lalu kita kalikan dengan tiga sehingga menjadi tiga puluh enam. Dari jumlah itu, bagian budak adalah dua belas. Jika para ahli waris menyetujui kedua wasiat tersebut, kita katakan: bagi penerima wasiat berupa budak mendapat sembilan bagian, yaitu tiga perempat dari budak, dan bagi penerima wasiat sepertiga mendapat tiga bagian dari budak dan sepertiga dari dua ratus. Kita juga telah menjadikan setiap seratus menjadi dua belas, sehingga terkumpul bagi pemilik sepertiga sebelas bagian: tiga dari tubuh budak dan delapan dari dua ratus. Maka, keduanya memperoleh dua puluh bagian: sembilan untuk pemilik budak dan sebelas bagian untuk pemilik sepertiga.

فإذا فرضنا ردّ الوصيتين إلى الثلث فالوجه أن نجعل الثلث عشرين  وإذا جعلنا الثلث عشرين جعلنا المال كلّه ستين فالعبد منها عشرون لصاحب الوصية بالعبد تسعةٌ منه لا غير وللآخر ثلاثة منه وبقي للورثة من العبد ثمانيةُ أسهم وللموصى له بالثلث ثمانية أسهم من أربعين سهماً من المائتين والباقي وهو اثنان وثلاثون سهماً من المائتين للورثة فيجتمع للورثة من المائتين والعبد أربعون سهماً وهي ضعف الوصيتين

Jika kita mengandaikan kedua wasiat itu dikembalikan kepada sepertiga, maka cara yang tepat adalah menjadikan sepertiga itu dua puluh. Jika sepertiga dijadikan dua puluh, maka seluruh harta menjadi enam puluh. Maka budak dari harta itu adalah dua puluh bagian; untuk penerima wasiat berupa budak, sembilan bagian darinya saja, tidak lebih, dan untuk yang lain tiga bagian darinya. Sisanya, yaitu delapan bagian dari budak, menjadi milik ahli waris. Adapun untuk penerima wasiat sepertiga, ia mendapat delapan bagian dari empat puluh bagian dari dua ratus, dan sisanya, yaitu tiga puluh dua bagian dari dua ratus, menjadi milik ahli waris. Maka terkumpullah bagi ahli waris dari dua ratus dan budak sebanyak empat puluh bagian, yaitu dua kali lipat dari kedua wasiat tersebut.

وهذا هو المسلك الحق المستند إلى القانون المعتبر المتفق عليه وهو قسمة الوصايا حالةَ الرد على نسبة قسمتها حالة الإجازة

Inilah metode yang benar yang didasarkan pada hukum yang diakui dan disepakati, yaitu membagi wasiat pada saat terjadi raddu (penolakan) sesuai dengan proporsi pembagiannya pada saat ijāzah (persetujuan).

وقد لاح وجهُ حصر صاحب حق العبد في العبد فإنا قدرنا سهامه من الثلث وهي تسعة من عشرين فحصرناها في العبد ثم أثبتنا حق صاحب الثلث على القياس الواضح

Telah jelas alasan pembatasan hak pemilik bagian budak pada budak itu sendiri, karena kami telah menentukan bagiannya dari sepertiga, yaitu sembilan dari dua puluh, lalu kami membatasinya pada budak tersebut, kemudian kami menetapkan hak pemilik sepertiga berdasarkan qiyās yang jelas.

وذكر الأستاذ أبو منصور هذه المسألة وجرى في حالة الإجازة على ما قدمنا فلا خلاف فيها فلما انتهى إلى الردّ مال مسلكُه عن مسالك فقهائنا ونحن نذكر ما ذكره على وجهه ونبيِّن ما تخيله

Ustaz Abu Mansur menyebutkan masalah ini dan dalam kasus ijāzah, ia mengikuti apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, sehingga tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Namun, ketika sampai pada masalah rad (penolakan), pendapatnya berbeda dari pendapat para fuqaha kita. Kami akan menyebutkan apa yang ia sampaikan secara utuh dan menjelaskan apa yang ia bayangkan.

قال رضي الله عنه: إذا رُدّت الوصيتان إلى الثلث فالثلث بين صاحب العبد وبين صاحب الثلث يقتسمانه بالسوية يضرب صاحب العبد بخمسين درهماً ويأخذها من العبد  ولصاحب الثلث خمسون درهماً يأخذ مقدار ثلثها من العبد وهو ستةَ عشرَ درهماً وثلثان هذا ثلث الخمسين وهو قيمة سدس العبد ويأخذ ثلثي وصيته وهو ثلاثة وثلاثون درهماً وثلثٌ من الدراهم  ويبقى للورثة ثلث العبد وثلثا الدراهم وهي مائة وستة وستون درهماً وثلثا درهم وجملة ذلك مائتا درهم وهي ضعف الوصيتين لأن الوصيتين جميعاً مائة درهم

Beliau ra. berkata: Jika kedua wasiat dikembalikan kepada sepertiga harta, maka sepertiga itu dibagi antara pemilik budak dan pemilik sepertiga secara merata; pemilik budak mendapat bagian lima puluh dirham dan mengambilnya dari budak, sedangkan pemilik sepertiga mendapat lima puluh dirham dan mengambil sepertiga dari budak, yaitu enam belas dirham dan sepertiga, ini adalah sepertiga dari lima puluh, yang merupakan nilai seperenam budak. Ia mengambil dua pertiga dari wasiatnya, yaitu tiga puluh tiga dirham dan sepertiga dirham. Sisanya untuk ahli waris adalah sepertiga budak dan dua pertiga dirham, yaitu seratus enam puluh enam dirham dan dua pertiga dirham. Jumlah keseluruhannya adalah dua ratus dirham, yaitu dua kali lipat dari kedua wasiat, karena jumlah kedua wasiat adalah seratus dirham.

قال رضي الله عنه: إن شئت نسبتَ الثلث إلى الوصيتين وخرّجت الجواب على النسبة ومبلغ الوصيتين مائتا درهم ومبلغ الثلث مائة فالثلث نصف الوصايا فنأخذ هذه النسبة ونقول: لكل واحد منهما نصفُ وصية فيكون لصاحب العبد نصف العبد فإنه أوصى له بالعبد ولصاحب الثلث نصف ثلث العبد فإنه أوصى له بثلث العبد ونصف الثلث سدس وله أيضاً نصف ثلث الدراهم وذلك سدس الدراهم فيجتمع له سدس العبد وسدس الدراهم وهذه النسبة تجري مطردة بلا مناقضة

Beliau ra. berkata: Jika engkau menghendaki, engkau dapat mengaitkan sepertiga harta dengan kedua wasiat tersebut dan mengeluarkan jawaban berdasarkan perbandingan itu. Jumlah kedua wasiat adalah dua ratus dirham dan jumlah sepertiga harta adalah seratus, maka sepertiga itu adalah setengah dari wasiat-wasiat. Maka kita ambil perbandingan ini dan kita katakan: masing-masing dari keduanya mendapat setengah wasiat. Maka pemilik budak mendapatkan setengah budak karena ia diwasiatkan budak, dan pemilik sepertiga mendapatkan setengah dari sepertiga budak karena ia diwasiatkan sepertiga budak, dan setengah dari sepertiga adalah seperenam. Ia juga mendapatkan setengah dari sepertiga dirham, yaitu seperenam dirham. Maka terkumpullah baginya seperenam budak dan seperenam dirham. Perbandingan ini berlaku secara konsisten tanpa pertentangan.

هذا كلام الأستاذ ولا يخفى على الناظر أنه خالف فيه المسلك الذي حكيناه عن الفقهاء فإن الفقهاء نظروا إلى القسمة حالة الإجازة فوجدوا الوصيتين قاصرتين عن الثلثين عند إجازة الورثة على تفاوتٍ فإنا قدرناها من عشرين ورأينا صاحب العبد يأخذ من العشرين تسعة وصاحب الثلث يأخذ أحدَ عشرَ فإذا كان اقتسامهما على التفاوت حالة الإجازة وجب أن يكون اقتسامهما الثلثَ على نسبة اقتسامهما حالة الإجازة والأستاذ رحمةُ الله عليه لم يرْعَ التفاوتَ حالة الرد وذهب إلى أن صاحب العبد يضرب مثل ما يضرب به صاحب الثلث وليس الأستاذ على علو قدره في دقائق الحساب ممّن يخفى عليه أن قسمة الرد على نسبة قسمة الإجازة وقد ذكر هو تفاوتَ حالِ الإجازة فلا بد وأن يكون لما ذكره غورٌ في مقتضى الحساب

Ini adalah pendapat dari sang guru, dan tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memperhatikan bahwa beliau berbeda pendapat dengan metode yang telah kami sebutkan dari para fuqaha. Para fuqaha memandang pembagian pada saat adanya izin (ijazah) dari ahli waris, lalu mereka mendapati bahwa kedua wasiat tersebut kurang dari dua pertiga ketika ahli waris mengizinkan, dengan perbedaan di antara keduanya. Jika kita misalkan dari dua puluh bagian, maka pemilik budak mendapat sembilan bagian dan pemilik sepertiga mendapat sebelas bagian. Jika pembagian keduanya berbeda pada saat adanya izin, maka seharusnya pembagian keduanya terhadap sepertiga harta juga mengikuti proporsi pembagian mereka pada saat izin. Namun sang guru, rahimahullah, tidak memperhatikan perbedaan ini pada saat penolakan (radd), dan berpendapat bahwa pemilik budak mendapat bagian yang sama dengan pemilik sepertiga. Padahal, sang guru, dengan kedudukan ilmunya yang tinggi dalam detail perhitungan, bukanlah orang yang tidak mengetahui bahwa pembagian pada saat penolakan harus mengikuti proporsi pembagian pada saat izin. Beliau sendiri telah menyebutkan adanya perbedaan pada saat izin, maka pasti ada makna mendalam dari apa yang beliau sebutkan dalam konsekuensi perhitungan.

والذي يلوح لنا منه أنه نقَصَ في حالة الإجازة حظَّ صاحب العبد من جهة كونه مزحوماً فيه إذ حقه منحصرٌ في العبد لا يتعداه وقد صادفه فيه مزاحم وانبسطت الزحمة على محل حقه بالثلث واستبد صاحب الثلث بأكثرِ حقه من غير مزاحمة والمزحوم عن حقه ليس بساقط الحق

Yang tampak bagi kami darinya adalah bahwa dalam kasus ijāzah, hak pemilik budak berkurang karena adanya pihak lain yang turut bersaing dalam hak tersebut, sebab haknya terbatas hanya pada budak itu dan tidak melampauinya. Namun, ia mendapati ada pihak lain yang bersaing dalam hak atas budak tersebut, dan persaingan itu meluas pada bagian haknya sebesar sepertiga. Sementara pemilik sepertiga memperoleh sebagian besar haknya tanpa ada persaingan, dan orang yang terdesak dari haknya bukan berarti haknya gugur.

وبيان ذلك بالمثال أن من قتل جماعة ترتيباً  فحق الاقتصاص لأولياء القتيل الأول وهذا حق تقديم وإلا فحق القصاص ثابت لأولياء القتيل الثاني  وآية ذلك أن ولي القتيل الأول لو عفا انتقل لولي القتيل الثاني حق القصاص ونظائر ذلك كثيرة في الشريعة فالعبد إذاً موصى به لصاحب العبد وآية ذلك أن صاحب الثلث لو ردّ الوصية بجملتها سُلِّم العبد إلى الموصى له به  ولو رد الموصى له بالعبد الوصية فالثلث من العبد ملكٌ للموصى له بالثلث فليست الوصية بالثلث رجوعاً عن الوصية بالعبد وإنما بينهما ازدحام فكان التفاوت حالة الإجازة لقيام الازدحام فإذا ردت الوصيتان إلى الثلث ففي العبد مضطرب ويبقى منه للورثة مع توفية حق الوصيتين حسماً من الثلث

Penjelasannya dengan contoh adalah, jika seseorang membunuh beberapa orang secara berurutan, maka hak qishash menjadi milik ahli waris korban pertama, dan ini adalah hak prioritas. Namun demikian, hak qishash juga tetap ada bagi ahli waris korban kedua. Buktinya, jika ahli waris korban pertama memaafkan, maka hak qishash berpindah kepada ahli waris korban kedua. Contoh-contoh seperti ini banyak terdapat dalam syariat. Maka, budak yang diwasiatkan menjadi hak penerima wasiat atas budak tersebut. Buktinya, jika pemilik sepertiga harta menolak seluruh wasiat, maka budak itu diserahkan kepada penerima wasiat atas budak tersebut. Namun, jika penerima wasiat atas budak menolak wasiat, maka sepertiga dari budak itu menjadi milik penerima wasiat atas sepertiga harta. Jadi, wasiat atas sepertiga harta bukanlah pembatalan wasiat atas budak, melainkan antara keduanya terjadi tumpang tindih. Maka, perbedaan itu terjadi ketika ada persetujuan karena adanya tumpang tindih. Jika kedua wasiat dikembalikan pada sepertiga harta, maka pada budak terjadi ketidakjelasan, dan sisanya menjadi milik ahli waris dengan tetap memenuhi hak kedua wasiat tersebut yang diambil dari sepertiga harta.

وإذا زالت الزحمة فالوصية بالعبد وصية بمائة والوصية بالثلث وصية بمائة ثم كما رُدّ صاحب العبد إلى نصف العبد ولم نردّه إلى نصف ثلاثة أرباعه كذلك رُد الموصى له بالثلث إلى نصف الثلث كاملاً وهو السدس فهذا المعنى أوجب الفرقان بين حالة الرد والإجازة فإن علة التفاوت حالة الإجازة زالت بالرد فصار كل واحد منهما ضارباً بما أُوصي له به لا بما يسلم له بالإجازة والذي قدمته عن الفقهاء وإن كان جليّاً فهذا أغوص  ولو قلت: هو الصحيح لم أكن مبعداً

Dan apabila keramaian (zihmah) telah hilang, maka wasiat untuk seorang budak adalah wasiat untuk seratus, dan wasiat sepertiga juga wasiat untuk seratus. Kemudian, sebagaimana penerima wasiat budak dikembalikan kepada setengah budak dan tidak dikembalikan kepada setengah dari tiga perempatnya, demikian pula penerima wasiat sepertiga dikembalikan kepada setengah dari sepertiga secara utuh, yaitu seperenam. Maka makna inilah yang mewajibkan adanya perbedaan antara keadaan ar-radd (pengembalian) dan al-ijāzah (persetujuan), karena sebab perbedaan dalam keadaan ijāzah telah hilang dengan adanya ar-radd. Maka masing-masing dari keduanya menjadi berhak atas apa yang diwasiatkan kepadanya, bukan atas apa yang tersisa baginya dengan ijāzah. Apa yang telah aku sampaikan dari para fuqahā’, meskipun jelas, namun pendapat ini lebih dalam. Bahkan jika aku katakan: inilah yang benar, aku tidaklah terlalu jauh.

ثم ذكر الأستاذ مسائل وأجرى فيها مسلكه هذا ونحن نأتي بها ونجريها مرسلة حتى ننتهي إلى محل خلاف الفقهاء فننبه حينئذ على وجه الخلاف

Kemudian, penulis menyebutkan beberapa permasalahan dan menerapkan metode ini padanya. Kami akan menyajikannya dan menjalankannya secara umum hingga sampai pada titik yang menjadi tempat perbedaan pendapat para fuqaha, lalu pada saat itu kami akan menunjukkan bentuk perbedaannya.

ولو أوصى لرجل بعبدٍ بعينه ولآخر بثلثه ولثالث بسدسه ولم يترك غيرَ العبد فإن أجاز الورثة جعلنا العبد ستة أسهم أخذاً من المخرَج الأقصى ثم نُعيل الستة بثلثها وسدسها فإن أردنا قلنا: نعيلها بنصفها  فنقسم العبد تسعة أسهم: للموصى له بجميعه ستة أسهم وللموصى له بثُلثه سهمان وللموصى بالسدس سهم فيرجع حق الموصى له بالعبد إلى ثلثيه ويرجع حق الموصى له بالثلث إلى تسعي العبد ويرجع حق الموصى له بالسدس إلى تسع العبد وترجع الحقوق على نسبةٍ واحدة

Jika seseorang berwasiat kepada seorang lelaki dengan seorang budak tertentu, kepada orang kedua sepertiga dari budak itu, dan kepada orang ketiga seperenamnya, sementara ia tidak meninggalkan harta selain budak tersebut, maka jika para ahli waris mengizinkan, kita jadikan budak itu menjadi enam bagian, diambil dari pembagian maksimal. Kemudian kita tambahkan enam bagian itu dengan sepertiganya dan seperenamnya. Jika kita mau, kita bisa menambahkannya dengan setengahnya, sehingga kita membagi budak itu menjadi sembilan bagian: bagi penerima wasiat seluruhnya mendapat enam bagian, bagi penerima wasiat sepertiga mendapat dua bagian, dan bagi penerima wasiat seperenam mendapat satu bagian. Maka hak penerima wasiat seluruh budak menjadi dua pertiga, hak penerima wasiat sepertiga menjadi dua per sembilan budak, dan hak penerima wasiat seperenam menjadi satu per sembilan budak. Dengan demikian, hak-hak tersebut kembali pada satu proporsi yang sama.

فإذا كان الموصى له بالكل راجعاً إلى ثلثي حقه والموصى له بالثلث أيضاً راجع إلى ثلثي الثلث فإن التسعين ثلثا الثلث فنعلم أن التسع الثابت لصاحب السدس ثلثا السدس

Jika bagian yang diterima oleh penerima wasiat seluruhnya kembali menjadi dua pertiga dari haknya, dan bagian yang diterima oleh penerima wasiat sepertiga juga kembali menjadi dua pertiga dari sepertiga, maka sepersembilan adalah sepertiga dari sepertiga. Maka kita mengetahui bahwa sepersembilan yang tetap bagi pemilik seperenam adalah dua pertiga dari seperenam.

هذا إذا أجاز الورثةُ الوصايا

Ini berlaku jika para ahli waris mengizinkan wasiat-wasiat tersebut.

فإن لم يجيزوا فالثلث بينهم على تسعة: لصاحب العبد ثلثا ثلثه ويُجعل العبد سبعة وعشرين ليكون ثلثُه تسعةً  ولصاحب الثلث تُسعا الثلث سهمان من تسعة أو سهمان من سبعةٍ وعشرين إذا نسبت إلى جميع المال ولصاحب السدس تُسعُ الثلث وهو سهم واحد من سبعةٍ وعشرين ولا خلاف بين الأصحاب في هذا المقام فإن الزحمة في ثلث العبد على نحو الزحمة في كله

Jika mereka tidak mengizinkan, maka sepertiga dibagi di antara mereka menjadi sembilan bagian: pemilik budak mendapatkan dua pertiga dari sepertiganya, dan budak dijadikan bernilai dua puluh tujuh agar sepertiganya menjadi sembilan; pemilik sepertiga mendapatkan dua per sembilan dari sepertiga, yaitu dua bagian dari sembilan, atau dua bagian dari dua puluh tujuh jika dibandingkan dengan seluruh harta; dan pemilik seperenam mendapatkan satu per sembilan dari sepertiga, yaitu satu bagian dari dua puluh tujuh. Tidak ada perbedaan pendapat di antara para sahabat dalam masalah ini, karena persaingan dalam sepertiga budak sama dengan persaingan dalam keseluruhannya.

وإن أحببت قلت: مبلغ وصاياهم مرسلة من غير زحمة مائة وخمسون فإن العبد مائة وقد عالت الوصايا في الإجازة بمثل نصفها والثلث ثلاثة وثلاثون وثلث وإذا نسبت الثلث إلى الوصايا كان مثلَ تُسعي الوصايا كلِّها

Jika engkau mau, engkau dapat mengatakan: Jumlah wasiat mereka yang dikirimkan tanpa kesulitan adalah seratus lima puluh, karena budak itu seratus, dan wasiat-wasiat itu telah melebihi batas dalam pemberian izin sebesar setengahnya, dan sepertiganya adalah tiga puluh tiga sepertiga. Jika engkau membandingkan sepertiga itu dengan seluruh wasiat, maka sepertiga itu seperti dua per sembilan dari seluruh wasiat.

فإذا ردت إلى الثلث فقل لكل واحد منهم تسعا وصيته  ولا تقل لكل واحد تُسعَا ما عُلم له في الإجازة فنقول: كان لصاحب العبد العبدُ كلُّه بالوصية المرسلة وله الآن تسعاه وإذا ردت الوصايا إلى الثلث فلصاحب الثلث ثلثا وصيته ووصيتُه ثلثُ العبد وثلثاه تسعا ثلث العبد فانسب كل جزء حالة الرد إلى الوصية المرسلة فصاحب العبد وصيته العبد فله تسعا العبد وصاحب الثلث له ثلث العبد بالوصية فله تسعا ثلثه عند الرد وصاحب السدس له بالوصية سدسه الكامل أخذاً من لفظة الوصية لا بما يسلّم عند الإجازة مع الزحمة فإذا كان له السدس بالوصية فله تسعا سدس العبد

Jika wasiat dikembalikan kepada sepertiga, maka katakanlah: setiap orang dari mereka mendapatkan sembilan bagian dari wasiatnya. Jangan katakan: setiap orang mendapatkan sepersembilan dari apa yang telah diketahui baginya dalam ijāzah. Maka kita katakan: pemilik budak, semula ia mendapatkan seluruh budak melalui wasiat mutlak, dan sekarang ia mendapatkan sembilan persembilan budak. Jika wasiat-wasiat dikembalikan kepada sepertiga, maka pemilik sepertiga mendapatkan dua pertiga dari wasiatnya, dan wasiatnya adalah sepertiga budak, sehingga dua pertiga dari sepertiga budak adalah sembilan persembilan dari sepertiga budak. Maka nisbahkan setiap bagian pada saat pengembalian kepada wasiat mutlak. Pemilik budak, wasiatnya adalah budak, maka ia mendapatkan sembilan persembilan budak. Pemilik sepertiga mendapatkan sepertiga budak melalui wasiat, maka ia mendapatkan sembilan persembilan dari sepertiga budak saat pengembalian. Pemilik seperenam, melalui wasiat ia mendapatkan seperenam penuh, berdasarkan lafaz wasiat, bukan berdasarkan apa yang disetujui dalam ijāzah ketika terjadi persaingan. Jika ia mendapatkan seperenam melalui wasiat, maka ia mendapatkan sembilan persembilan dari seperenam budak.

فإن ترك مائتي درهم سوى العبد وأوصى لرجل بالعبد وقيمتُه مائة وأوصى لآخر بثلث ماله وأوصى لآخر بسدس ماله فإن أجاز الورثةُ الوصايا فالعبد بين أهل الوصايا على تسعة أسهم: لصاحب العبد ثلثاه ستة ولصاحب الثلث تسعاه سهمان وله ثلث الدراهم أيضاً ولصاحب السدس تُسع العبد وسدس الدراهم

Jika seseorang meninggalkan dua ratus dirham selain seorang budak, lalu ia berwasiat kepada seseorang dengan budak tersebut yang nilainya seratus, dan berwasiat kepada orang lain sepertiga hartanya, serta berwasiat kepada orang lain seperenam hartanya, maka jika para ahli waris mengizinkan wasiat-wasiat tersebut, maka budak itu dibagi di antara para penerima wasiat menjadi sembilan bagian: untuk penerima wasiat budak dua pertiga, yaitu enam bagian; untuk penerima wasiat sepertiga harta, dua per sembilan, yaitu dua bagian, dan ia juga mendapatkan sepertiga dirham; untuk penerima wasiat seperenam, satu per sembilan budak dan seperenam dirham.

وهذه القسمة متفق عليها حالة الإجازة

Pembagian ini disepakati dalam keadaan adanya persetujuan.

وإن لم يُجز الورثة تضاربوا في الثلث بوصاياهم

Jika para ahli waris tidak mengizinkan, maka mereka saling bersaing dalam sepertiga harta dengan wasiat-wasiat mereka.

وعند ذلك يخالف جوابُ الأستاذ مسلكَ الفقهاء فإن الفقهاء يقسّمون الثلث على التفاوت الذي وقعت عليه قسمة الإجازة والأستاذ يقول: ذلك التفاوت كان نتيجة الزحمة وقد زالت فيضرب صاحب العبد في الثلث بكمال قيمته وهو مائة ويضرب صاحب الثلث بكمال ثلث المال وهو مائة ويضرب صاحب السدس بسدس المال على الكمال وهو خمسون فيصير الثلث بينهم على خمسة أسهم: لصاحب العبد خمسا الثلث ومبلغه أربعون درهماً يأخذها من العبد فإن حقه محصور فيه وذلك خمسا العبد

Pada saat itu, jawaban sang guru berbeda dengan metode para fuqaha, karena para fuqaha membagi sepertiga harta sesuai perbedaan yang terjadi dalam pembagian berdasarkan ijāzah, sedangkan sang guru berkata: perbedaan itu adalah akibat dari keramaian dan kini telah hilang, maka pemilik budak mendapatkan bagian dari sepertiga harta sesuai nilai penuh budaknya, yaitu seratus; pemilik sepertiga mendapatkan bagian dari sepertiga harta secara penuh, yaitu seratus; dan pemilik seperenam mendapatkan bagian dari seperenam harta secara penuh, yaitu lima puluh. Maka sepertiga harta itu dibagi di antara mereka menjadi lima bagian: untuk pemilik budak dua per lima dari sepertiga, jumlahnya empat puluh dirham yang diambil dari budak, karena haknya terbatas pada budak tersebut, yaitu dua per lima dari budak.

ولصاحب الثلث خمسا الثلث وهو أربعون درهماً يأخذ ثلث ذلك من العبد وهو ثلاثةَ عشرَ درهماً وثلث ويأخذ ثلثي وصيته وهو ستة وعشرون درهماً وثلثا درهم من الدراهم

Dan bagi pemilik sepertiga, seperlima dari sepertiga, yaitu empat puluh dirham; ia mengambil sepertiga dari itu dari budak, yaitu tiga belas dirham dan sepertiga, dan ia mengambil dua pertiga wasiatnya, yaitu dua puluh enam dirham dan dua pertiga dirham dari dirham-dirham tersebut.

ولصاحب السدس خُمس الثلث وهو عشرون درهماً يأخذ ثلث ذلك وهو ستةُ دراهم وثلثا درهم من العبد ويأخذ ثلثي العشرين من الدراهم لأن العبد ثلث مال الميت فكل من جرت له الوصية بجزءٍ شائع من المال فإنه يأخذ عند الرد ثلثَ ذلك الجزء من كل ثلث والعبد ثلث

Dan bagi pemilik bagian seperenam, ia mendapatkan seperlima dari sepertiga, yaitu dua puluh dirham. Ia mengambil sepertiga dari jumlah itu, yaitu enam dirham dan sepertiga dirham dari budak, dan ia mengambil dua pertiga dari dua puluh dirham, karena budak adalah sepertiga dari harta mayit. Maka setiap orang yang mendapatkan wasiat dengan bagian tertentu yang bersifat syuyu‘ (tidak ditentukan secara spesifik) dari harta, maka ketika terjadi pengurangan (rad), ia mengambil sepertiga dari bagian tersebut dari setiap sepertiga, dan budak adalah sepertiga.

وإن شئت قلت: مبلغ وصاياهم مائتان وخمسون والثلث مائة وهي قدر خمسي الوصايا فلكل واحد منهم خمسا ما أُوصي له به  فلصاحب العبد خمسا العبد ولصاحب الثلث خمسا ثلث العبد وخمسا ثلث الدراهم ولصاحب السدس خمسا سدس العبد وخمسا سدس الدراهم

Jika engkau mau, engkau bisa mengatakan: Jumlah wasiat mereka adalah dua ratus lima puluh, sedangkan sepertiganya adalah seratus, yang merupakan sebesar seperlima dari wasiat-wasiat tersebut. Maka, masing-masing dari mereka mendapatkan seperlima dari apa yang diwasiatkan kepadanya. Maka, pemilik budak mendapatkan seperlima budak, pemilik sepertiga mendapatkan seperlima dari sepertiga budak dan seperlima dari sepertiga dirham, dan pemilik seperenam mendapatkan seperlima dari seperenam budak dan seperlima dari seperenam dirham.

هذا طريقه المنقاس

Ini adalah metode yang diqiyaskan.

ومن اعتبر من فقهائنا حالة الرد بحالة الإجازة أو مع القسمة على التقاسم المعلوم حالة الإجازة قال في هذه الصورة: نجعل كل ثلث تسعة ثم لصاحب العبد ستة من تسعة ولصاحب الثلث سهمان من تسعة العبد وستة أسهم من المائتين فيحصل له ثمانية أسهم وللموصى له بالسدس سهم من تسعة من العبد وثلاثة من المائتين فلصاحب العبد ستة ولصاحب الثلث ثمانية ولصاحب السدس أربعة والمجموع ثمانيةَ عشرَ والمال سبعة وعشرون فإذا أردنا القسمة حال الرد نجعل الثلث ثمانية عشر فنجعل المالَ أربعةً وخمسين ونقسّم الثلث على التفاوت الذي ذكرناه في الإجازة

Dan di antara para fuqaha kita, siapa yang menyamakan keadaan radd dengan keadaan ijazah, atau dalam pembagian dengan pembagian yang diketahui pada keadaan ijazah, ia berkata dalam kasus ini: Kita jadikan setiap sepertiga menjadi sembilan, lalu untuk pemilik budak enam dari sembilan, untuk pemilik sepertiga dua saham dari sembilan budak dan enam saham dari dua ratus, sehingga ia memperoleh delapan saham, dan untuk penerima wasiat seperenam satu saham dari sembilan budak dan tiga dari dua ratus. Maka pemilik budak mendapat enam, pemilik sepertiga mendapat delapan, dan penerima wasiat seperenam mendapat empat, jumlahnya delapan belas, sedangkan harta ada dua puluh tujuh. Jika kita ingin membagi pada keadaan radd, kita jadikan sepertiga menjadi delapan belas, lalu kita jadikan harta menjadi lima puluh empat dan membagi sepertiga sesuai perbedaan yang telah kami sebutkan dalam ijazah.

ولو أوصى بعتق عبدٍ لا مال له غيره وأوصى لآخر بالثلث فأجاز الورثة ففي أئمتنا من يرى تقديم العتق على غيره من الوصايا على ما سيأتي ذلك إن شاء الله عز وجل مشروحاً في موضعه والأصح أنه لا يقدم فإن المسألة مفروضةٌ في الوصية بالعتق والوصايا لا يتفاوت ترتبها إذا لم يذكر الموصي تقديم بعضها

Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan seorang budak, sementara ia tidak memiliki harta selain budak itu, dan ia juga berwasiat kepada orang lain sepertiga harta, lalu para ahli waris menyetujui wasiat tersebut, maka di antara para imam kami ada yang berpendapat bahwa pembebasan budak didahulukan atas wasiat-wasiat lainnya, sebagaimana hal ini akan dijelaskan nanti, insya Allah, pada tempatnya. Namun pendapat yang lebih sahih adalah bahwa pembebasan budak tidak didahulukan, karena permasalahan ini berkaitan dengan wasiat untuk memerdekakan budak, dan wasiat-wasiat itu tidak memiliki urutan yang berbeda jika pewasiat tidak menyebutkan untuk mendahulukan sebagian wasiat atas yang lain.

فإذا فرّعنا على هذا وهو ظاهر المذهب فالعبد من جهة الوصية بالعتق ومن الموصى له بثلث العبد على حساب العَوْل ينعتق ثلاثة أرباعه  ويرِق ربعه: لصاحب الثلث

Maka jika kita membangun hukum di atas dasar ini, yang merupakan pendapat yang jelas dalam mazhab, maka seorang budak, jika dilihat dari wasiat pembebasan dan dari pihak penerima wasiat sepertiga budak berdasarkan perhitungan ‘aul, maka tiga perempatnya menjadi merdeka dan seperempatnya tetap sebagai budak, yaitu menjadi milik pemilik sepertiga.

فإن لم يُجز الورثةُ الزائد على الثلث أوقفنا ثلثي العبد لهم وقسّمنا ثُلثه بين جهة العتق وبين الموصى له بالثلث أرباعاً فيعتِق ثلاثةُ أرباع ثُلثه وذلك ربع العبد ويصرف إلى صاحب الثلث ربعُ ثُلثه وهو نصف السدس

Jika para ahli waris tidak mengizinkan kelebihan dari sepertiga, maka dua pertiga budak kami tahan untuk mereka, dan sepertiganya kami bagi antara pihak pembebasan (’itq) dan penerima wasiat sepertiga dengan perbandingan empat perempat. Maka yang merdeka adalah tiga perempat dari sepertiganya, yaitu seperempat budak, dan yang diberikan kepada penerima sepertiga adalah seperempat dari sepertiganya, yaitu setengah dari seperenam.

ولو ترك عبدين قيمةُ كل واحد منهما مائة وأوصى بعتق أحدهما وأوصى لآخر بثلث ماله فأجاز الورثة والتفريع على أنا لا نقدم الوصية بالعتق ينعتق ثلاثةُ أرباع العبد المعني بالعتق  ويرق ربعُه للموصى له بالثلث ويأخذ هو أيضاً ثلثَ العبد الآخر

Jika seseorang meninggalkan dua budak, masing-masing bernilai seratus, lalu ia berwasiat untuk memerdekakan salah satunya dan berwasiat kepada orang lain sepertiga hartanya, kemudian para ahli waris menyetujui wasiat tersebut, dan berdasarkan pendapat bahwa wasiat memerdekakan tidak didahulukan, maka tiga perempat dari budak yang dimaksud untuk dimerdekakan menjadi merdeka, sedangkan seperempatnya menjadi milik penerima wasiat sepertiga, dan ia juga memperoleh sepertiga dari budak yang lain.

وإن رأينا تقديم العتق أعتقنا العبد المعيّن بكماله وأبطلنا فيه حقَّ الموصى له بالثلث وللموصى له بالثلث ثلثُ العبد الآخر

Jika kami memandang bahwa pembebasan budak lebih didahulukan, maka kami membebaskan budak yang telah ditentukan secara keseluruhan dan membatalkan hak penerima wasiat atas sepertiga bagian pada budak tersebut, dan bagi penerima wasiat sepertiga bagian dari budak yang lain.

وإن لم يجز الورثة فمبلغ الوصيتين مائة وستةٌ وستون درهماً وثلثان وقيمة الثلث ستة وستون وثلثان فالثلث مثل خمسي الوصيتين فلكل واحد منهما خمسا ما أوصى له به فيعتق خمسا العبد وذلك أربعون ولصاحب الثلث خمسا ثلث كل عبد وقيمة ذلك ستة وعشرون وثلثان

Jika para ahli waris tidak mengizinkan, maka jumlah kedua wasiat adalah seratus enam puluh enam dirham dan dua pertiga, dan nilai sepertiganya adalah enam puluh enam dan dua pertiga. Maka sepertiga itu sama dengan dua perlima dari kedua wasiat, sehingga masing-masing dari keduanya mendapatkan dua perlima dari apa yang diwasiatkan kepadanya. Maka merdekalah dua perlima budak, yaitu empat puluh. Dan bagi pemilik sepertiga, dua perlima dari sepertiga setiap budak, dan nilainya adalah dua puluh enam dan dua pertiga.

وهذا أجراه الأستاذ على طريقته وليس يخفى التفريع على مذهب الفقهاء

Hal ini dilakukan oleh sang ustadz menurut metodenya, dan tidak tersembunyi cabang-cabangnya menurut mazhab para fuqaha.

ولو ترك ثلاثة أعبد قيمةُ كل واحد مائة وأوصى بعتق أحدهم وأوصى لآخر بثلث ماله فأجاز الورثة فمن لم يقدِّم العتقَ فقد عتق ثلاثة أرباع العبد الذي أوصى بعتقه ورقَّ ربعُه لصاحب الثلث وأخذ ذلك الإنسان أيضاً ثلث العبدين الآخرين

Jika seseorang meninggalkan tiga budak yang masing-masing bernilai seratus, lalu ia berwasiat untuk memerdekakan salah satu dari mereka dan berwasiat kepada orang lain sepertiga hartanya, kemudian para ahli waris menyetujui wasiat tersebut, maka bagi siapa yang tidak mendahulukan pembebasan budak, maka telah merdeka tiga perempat dari budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan dan seperempatnya menjadi milik penerima sepertiga, dan orang tersebut juga mendapatkan sepertiga dari dua budak lainnya.

وإن لم يُجيزوا فمبلغ الوصايا مائتان والمعنى موجَب الوصايا لا أنّا نسلِّم ذلك حالة الإجازة على ما نبهنا عليه فيما تقدم فمبلغ الوصيتين مائتان: عبدٌ قيمته مائة وثلث ثلاثة أعبد قيمة كلِّ واحد منهم مائة فالمجموع مائتان والثلث مائة وهي قدر نصف الوصايا فلكل واحد نصفُ وصيته يعتق نصفُ العبد ولصاحب الثلث نصف ثلث كل عبد على طريقة الأستاذ

Dan jika mereka tidak mengizinkan, maka jumlah wasiat adalah dua ratus, maksudnya adalah nilai wasiat-wasiat tersebut, bukan berarti kami menerima hal itu dalam keadaan diizinkan sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Maka jumlah kedua wasiat adalah dua ratus: seorang budak yang nilainya seratus dan sepertiga dari tiga budak yang masing-masing nilainya seratus, sehingga totalnya dua ratus dan sepertiganya adalah seratus, yaitu sebesar setengah dari wasiat-wasiat tersebut. Maka masing-masing mendapatkan setengah dari wasiatnya: setengah budak dimerdekakan, dan bagi pemilik sepertiga mendapatkan setengah dari sepertiga setiap budak menurut metode sang guru.

ومسلك الفقهاء واضح في تنزيل حالة الرد على التفاوت الذي ثبت حالة الإجازة

Pendekatan para fuqaha jelas dalam menerapkan keadaan penolakan (rad) pada perbedaan yang telah ditetapkan dalam keadaan persetujuan (ijazah).

ولو أوصى لرجل بثوبٍ قيمته مائة  وأوصى لآخر بنصف ماله ولآخر بسدس ماله وترك الثوبَ وخمسمائة درهم

Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki berupa sebuah pakaian yang nilainya seratus, dan berwasiat kepada orang lain setengah hartanya, serta kepada orang lain lagi sepertiga hartanya, lalu ia meninggalkan pakaian tersebut dan lima ratus dirham.

فإن أجاز الورثةُ قسَّمنا الثوب على عشرة أسهم على قياس العبد: بأن نجعلَ الثوبَ ستةً ونزيد عليها مثلَ نصفها وسدسها فيصير عشرةَ أسهم يضرب منه صاحب الثوب بجميع الثوب وهو ستة ويضرب منه صاحب النصف بنصف الثوب وهو ثلاثة يضرب منه صاحب السدس بالسدس وهو سهم فيكون الثوب بينهم على عشرة أسهم: لصاحب الثوب من الثوب ستةُ أعشاره ولصاحب النصف ثلاثة أعشاره ولصاحب السدس عُشرُه ثم يأخذ صاحب النصف نصفَ الدراهم ويأخذ صاحب السدس سدسَ الدراهم

Jika para ahli waris mengizinkan, maka kita membagi kain itu menjadi sepuluh bagian berdasarkan qiyās pada kasus budak: yaitu dengan menjadikan kain itu enam bagian, lalu menambahkan padanya setengahnya dan seperenamnya, sehingga menjadi sepuluh bagian. Pemilik kain mengambil seluruh kain, yaitu enam bagian; pemilik setengah mengambil setengah kain, yaitu tiga bagian; pemilik seperenam mengambil seperenam kain, yaitu satu bagian. Maka kain itu dibagi di antara mereka menjadi sepuluh bagian: pemilik kain mendapat enam persepuluh kain, pemilik setengah mendapat tiga persepuluh kain, dan pemilik seperenam mendapat sepersepuluh kain. Setelah itu, pemilik setengah mengambil setengah dirham, dan pemilik seperenam mengambil seperenam dirham.

وإن لم يجيزوا تضاربوا في الثلث بوصاياهم لا بأقدار حصصهم حالة الإجازة على طريقة الأستاذ فيضرب صاحب الثوب بقيمته وهو مائة ويضرب فيه صاحب النصف بنصف المال وهو ثَلاثُمائة ويضرب فيه صاحب السدس بسدس المال وهو مائة فيكون الثلث بينهم على خمسة: لصاحب الثوب خُمس الثلث وهو أربعون درهماً يأخذه من الثوب وهو خمساه  ولصاحب النصف ثلاثة أخماس الثلث وهو مائةٌ وعشرون فإن الثلث مائتان فأخذ سدس ذلك من الثوب وذلك عشرون درهماً وهو خُمس الثوب ويأخذ خمسةَ أسداس وصية من الدراهم وذلك مائةُ درهم فيكون قد أخذ من كل مائة خمسها فيجتمع له مائةٌ وعشرون وهي ثلاثة أخماس الثلث

Jika mereka tidak mengizinkan, maka mereka saling bersaing dalam sepertiga harta dengan wasiat mereka, bukan berdasarkan besaran bagian mereka sebagaimana dalam keadaan izin, menurut metode al-Ustadz. Maka pemilik kain bersaing dengan nilai kainnya, yaitu seratus, pemilik setengah bersaing dengan setengah harta, yaitu tiga ratus, dan pemilik seperenam bersaing dengan seperenam harta, yaitu seratus. Maka sepertiga harta dibagi di antara mereka berdasarkan lima bagian: untuk pemilik kain seperlima dari sepertiga, yaitu empat puluh dirham, yang diambil dari kain, yaitu dua perlima kain; untuk pemilik setengah, tiga perlima dari sepertiga, yaitu seratus dua puluh. Karena sepertiga itu dua ratus, maka ia mengambil seperenam dari kain, yaitu dua puluh dirham, yang merupakan seperlima kain, dan ia mengambil lima per enam wasiat dari dirham, yaitu seratus dirham. Maka ia telah mengambil seperlima dari setiap seratus, sehingga terkumpul baginya seratus dua puluh, yaitu tiga perlima dari sepertiga.

ولصاحب السدس خُمس الثلث وهو أربعون درهماً بفضِّها على المائتين والمالُ مع الثوب ستمائة فنأخذ سدس ذلك وهو ستة دراهم وثلثان من الثوب وذلك ثلثُ خمس الثوب ويأخذ خمسةَ أسداس وصيّة من الدراهم لأن الميت جعل وصية صاحب النصف وصاحب السدس مشاعاً في جميع التركة والثوبُ من التركة سدسها يأخذ كل واحد منهما سدسَ وصيته من الثوب وخمسةَ أسداسها من الدراهم لأن الدراهم خمسةُ أسداس التركة فنجعل الثوب خمسة عشر سهماً للموصى له به خمساه ستة أسهم ولصاحب النصف خُمس الثوب ثلاثة أسهم ومائة درهم ولصاحب السدس ثلث خمس الثوب سهم واحد وثلاث وثمانون درهماً وثلث درهم

Bagi pemilik bagian seperenam, ia mendapatkan seperlima dari sepertiga, yaitu empat puluh dirham, dengan membaginya dari dua ratus. Harta bersama kain adalah enam ratus, maka kita ambil seperenam dari itu, yaitu enam dirham dan dua pertiga dari kain, yang merupakan sepertiga dari seperlima kain. Ia mengambil lima perenam wasiat dari dirham, karena mayit menjadikan wasiat untuk pemilik setengah dan pemilik seperenam secara musya‘ (tidak ditentukan bagian tertentu) dalam seluruh harta peninggalan. Kain adalah seperenam dari harta, maka masing-masing dari keduanya mengambil seperenam dari wasiatnya berupa kain, dan lima perenamnya berupa dirham, karena dirham adalah lima perenam dari harta. Maka kita jadikan kain itu lima belas bagian; yang diwasiatkan kepadanya dua perlima, yaitu enam bagian; untuk pemilik setengah, seperlima kain, yaitu tiga bagian dan seratus dirham; untuk pemilik seperenam, sepertiga dari seperlima kain, yaitu satu bagian, dan delapan puluh tiga dirham serta sepertiga dirham.

وللورثة خمسة أسهم من الثوب وهو ثلث الثوب ولهم أيضاً ثلاثمائة وستة وستون درهماً وثلثا درهم

Para ahli waris memperoleh lima bagian dari kain, yaitu sepertiga kain, dan mereka juga mendapatkan tiga ratus enam puluh enam dirham dan dua pertiga dirham.

وإن شئت قلت على سبيل النسبة: مبلغ الوصايا خمسمائة: الثوب وقيمته مائةٌ ونصف المال وهو ثَلاثُمائة وسدسه وهو مائة والثلث مائتان وهي خمسا الوصايا فإذا رُدت الوصايا فلكل واحد خمسا وصية: لصاحب الثوب خمسا الثوب ولصاحب النصف خمسا النصف وهو مائة وعشرون فله خمس الثوب ثم له من كل مائة خمسها  أو خمسا نصف الثوب وخمسا نصف الدراهم

Dan jika engkau mau, engkau bisa mengatakan dengan cara perbandingan: jumlah wasiat adalah lima ratus; kain dan nilainya seratus, setengah harta yaitu tiga ratus, dan seperenamnya yaitu seratus, serta sepertiganya dua ratus, maka itu adalah lima wasiat. Jika wasiat-wasiat itu dikurangi (karena melebihi sepertiga harta), maka masing-masing mendapat seperlima dari wasiat: pemilik kain mendapat seperlima kain, pemilik setengah harta mendapat seperlima dari setengah harta yaitu seratus dua puluh, maka ia mendapat seperlima kain, lalu dari setiap seratus ia mendapat seperlimanya, atau seperlima dari setengah kain dan seperlima dari setengah dirham.

ولصاحب السدس خمسا سدس الثوب وخمسا سدس الدراهم

Dan bagi pemilik bagian seperenam, ia mendapatkan seperlima dari seperenam kain dan seperlima dari seperenam dirham.

ولو أوصى لرجل بعبدٍ قيمته مائة ولآخر بدارٍ قيمتها مائتان ولآخر بعَرْضٍ قيمته ثَلاثُمائة ولم يترك غير ذلك ولم يجز الورثة فلكل واحد منهم ثلث العين التي أوصى له بها ويدخل على كل واحد منهم من النقص بقدر ثلثي وصيته وهذا واضح

Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki berupa seorang budak yang nilainya seratus, kepada orang lain berupa sebuah rumah yang nilainya dua ratus, dan kepada orang lain lagi berupa barang dagangan yang nilainya tiga ratus, lalu ia tidak meninggalkan harta selain itu dan para ahli waris tidak mengizinkan (wasiat tersebut), maka masing-masing dari mereka mendapatkan sepertiga dari benda yang diwasiatkan kepadanya, dan pada masing-masing dari mereka berlaku pengurangan sebesar dua pertiga dari wasiatnya. Hal ini jelas.

ولو ترك معها ستمائة درهم فبلغ الثلث أربعمائة وهي ثلثا الوصايا فيأخذ كل واحد منهم ثلثي العين التي أوصى له بها

Dan jika ia meninggalkan bersama wasiat itu enam ratus dirham, maka sepertiganya adalah empat ratus, dan itu adalah dua pertiga dari wasiat-wasiat tersebut, maka masing-masing dari mereka mengambil dua pertiga dari barang yang diwasiatkan kepadanya.

وعلى هذه الطرق استخراج أمثال هذه المسائل والله الموفق للصواب

Dengan cara-cara inilah dapat dihasilkan contoh-contoh persoalan semacam ini, dan Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

فصل قال الشافعي رضي الله عنه: فإذا أوصى لوارث وأجنبي فلم يجيزوا إلى آخره

Bagian: Imam asy-Syafi‘i ra. berkata: Jika seseorang berwasiat kepada ahli waris dan orang luar, lalu para ahli waris tidak mengizinkan, dan seterusnya.

نذكر في مقدمة هذا الفصل تفصيلَ القول في الوصية للوارث على الكمال ونبين طريقه ونصل به فرعاً لابن الحداد ثم نعود إلى مضمون هذا الفصل إن شاء الله تعالى فنقول أولاً: إذا أوصى الرجل لأجنبي بأكثرَ من ثُلثه فالزائد على الثلث منوطٌ برأي الورثة فإن ردّوه ارتد وإن أجازوه نفذ

Kami sebutkan pada pendahuluan bab ini penjelasan rinci tentang wasiat kepada ahli waris secara lengkap dan kami jelaskan caranya, lalu kami hubungkan dengan cabang pendapat Ibn al-Haddad, kemudian kami kembali kepada isi bab ini, insya Allah Ta‘ala. Maka kami katakan pertama: Jika seseorang berwasiat kepada orang asing dengan lebih dari sepertiga hartanya, maka kelebihan dari sepertiga itu tergantung pada persetujuan para ahli waris; jika mereka menolaknya, maka wasiat itu batal, dan jika mereka mengizinkannya, maka wasiat itu berlaku.

ثم إجازتهم تنفيذ الوصية أم هي منهم ابتداء عطية فيه قولان ذكرناهما في صدر الوصايا هذا إذا كانت الوصية للأجنبي وهي زائدة على الثلث

Kemudian persetujuan mereka untuk melaksanakan wasiat, apakah itu dari mereka sejak awal sebagai pemberian, terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan di awal pembahasan wasiat. Ini berlaku jika wasiat tersebut ditujukan kepada orang luar dan melebihi sepertiga harta.

فأما إذا أوصى لأحد ورثته فالقول في ذلك ينقسم أقساماً قد يكون له وارث واحد فيوصي له أو يكون له ورثة فيوصي لواحد منهم أو يكون له ورثة فيوصي لجميعهم

Adapun jika seseorang berwasiat kepada salah satu ahli warisnya, maka pembicaraan tentang hal ini terbagi menjadi beberapa bagian: bisa jadi ia hanya memiliki satu ahli waris lalu ia berwasiat kepadanya, atau ia memiliki beberapa ahli waris lalu ia berwasiat kepada salah satu dari mereka, atau ia memiliki beberapa ahli waris lalu ia berwasiat kepada seluruhnya.

فإن كان له وارثان فأوصى لأحدهما بشيء فلا يخلو الوارث الثاني إما أن يجيز أو يرد فإن ردّ فلا شك في بطلان الوصية سواء كان الثلث يحمل تلك الوصية أو كان يضيق عليها

Jika seseorang memiliki dua ahli waris lalu ia berwasiat kepada salah satunya dengan sesuatu, maka ahli waris yang kedua tidak lepas dari dua kemungkinan: ia mengizinkan atau menolak. Jika ia menolak, maka tidak diragukan lagi bahwa wasiat tersebut batal, baik sepertiga harta cukup untuk menanggung wasiat itu maupun tidak mencukupinya.

فأما إذا أجاز الوارث الذي لم يوصَ له الوصيةَ فهذا ينبني على أن الإجازة ابتداء عطية أو تنفيذ وصية وفيه القولان

Adapun jika ahli waris yang tidak diberi wasiat memberikan persetujuan terhadap wasiat tersebut, maka hal ini bergantung pada apakah persetujuan itu dianggap sebagai pemberian baru (‘athiyah) atau sebagai pelaksanaan wasiat, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

فإن قلنا: الإجازة ابتداء عطية يصح ذلك كأنَّ الوارث وهب لصاحبه فتُراعى شرائطُ الهبات

Jika kita mengatakan bahwa ijazah pada awalnya adalah pemberian (hibah), maka hal itu sah, seolah-olah ahli waris memberikan hibah kepada sesamanya, sehingga syarat-syarat hibah harus diperhatikan.

وإن قلنا: إن الإجازة للوصية تنفيذ لها وليس بابتداء عطية فعلى هذا اختلف أصحابنا في الوصية للوارث: فمنهم من قال: تنفذ الوصية له فإن الوصية للوارث قلّت أو كثرت كالوصية الزائدة على الثلث في حق الأجنبي فالمرعيُّ حق الورثة فإذا رضي من له الحق وجب التنفيذ

Jika kita mengatakan bahwa izin terhadap wasiat merupakan pelaksanaan wasiat itu sendiri dan bukan pemberian baru, maka dalam hal ini para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang wasiat kepada ahli waris: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa wasiat tersebut sah baginya, karena wasiat kepada ahli waris, baik sedikit maupun banyak, hukumnya sama dengan wasiat yang melebihi sepertiga untuk orang luar; yang menjadi perhatian adalah hak para ahli waris, sehingga jika orang yang berhak telah merelakan, maka pelaksanaan wasiat menjadi wajib.

ومن أصحابنا من قال: لا تصح الوصية للوارث وإن أجازها الورثة وهذا القائل يتمسك بما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا وصية لوارث  وهذا القائل يزعم أن الوصية للوارث كالوصية للقاتل على قولنا بإبطال الوصية للقاتل وتلك المسألةُ عند إجازة الورثة مختلف فيها أيضاً ولكن الأصح أنه لا تنفذ بالإجازة فإنها مردودة شرعاً نازلةً منزلة أخذ القاتل الميراث وسيأتي ذلك مشروحاً إن شاء الله عز وجل

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: wasiat kepada ahli waris tidak sah, meskipun para ahli waris mengizinkannya. Pendapat ini berpegang pada riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” Mereka beranggapan bahwa wasiat kepada ahli waris sama seperti wasiat kepada pembunuh, menurut pendapat kami yang membatalkan wasiat kepada pembunuh. Permasalahan ini juga diperselisihkan ketika para ahli waris mengizinkannya. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah bahwa wasiat tersebut tidak berlaku meskipun diizinkan, karena wasiat itu tertolak secara syar‘i dan diposisikan seperti pembunuh yang mengambil warisan. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وهذا القائل يحتج من طريق المعنى بأن يقول: لو كانت الوصية للوارث تنفذ لجهة الإجازة لوجب الحكم بثبوتها في مقدار الثلث من غير حاجة إلى الإجازة فإن مقدار الثلث مستحقٌّ للميت يصرفه بالحق إلى الجهات التي يبغيها من التبرعات

Dan orang yang berpendapat demikian berdalil dari segi makna dengan mengatakan: Jika wasiat kepada ahli waris dapat dilaksanakan melalui persetujuan, maka seharusnya diputuskan bahwa wasiat tersebut sah pada sepertiga bagian tanpa memerlukan persetujuan, karena sepertiga bagian memang menjadi hak mayit untuk disalurkan secara sah kepada pihak-pihak yang ia kehendaki melalui pemberian sukarela.

هذا كله إذا كان له وارثان أو ورثة فأوصى لبعضهم

Semua ini berlaku jika seseorang memiliki dua ahli waris atau lebih, lalu ia berwasiat kepada sebagian dari mereka.

فأما إذا كان له وارث واحد مستغرِق لجميع ماله كالابن مثلاً فأوصى له فالقول في ذلك ينقسم: فإن أوصى له بملك شيء فهو لغوٌ لا معنى له فإنه يستحق للكل إرثاً فكيف يوصي له به

Adapun jika seseorang hanya memiliki satu ahli waris yang berhak atas seluruh hartanya, seperti anak misalnya, lalu ia berwasiat untuknya, maka pembicaraan tentang hal ini terbagi: jika ia berwasiat untuknya dengan memberikan kepemilikan suatu harta, maka wasiat itu sia-sia dan tidak bermakna, karena ia sudah berhak atas seluruh harta itu sebagai warisan, maka bagaimana mungkin ia diwasiati dengan sesuatu yang memang sudah menjadi haknya?

وإنما يظهر أثر ذلك في الوقف فلو وقف وله ابنٌ واحد داراً عليه وكانت مقدار الثلث فإن قلنا: لو كان له ابنان وأوصى لأحدهما بشيء وأجاز الثاني فالوصية مردود غيرُ نافذة  فعلى هذا يكون الوقف في الدار مردوداً إذا أوصى به أو أنشأه في مرض موته ولا معنى لإجازة الابن ذلك فإنه لا يجوز وصيةً تفريعاً على أن الوصية باطلة لا تنفذ بالإجازة  وإن جعلنا التنفيذ ابتداء أمرٍ  فالوقف باطل أيضاً فإن الإنسان لا يقف على نفسه على المذهب المعتبر  كما سبق تقريره في كتاب الوقف

Hal ini tampak pengaruhnya dalam masalah wakaf. Jika seseorang mewakafkan sebuah rumah kepada anaknya yang satu-satunya, dan rumah itu seukuran sepertiga harta, maka jika kita berpendapat: seandainya dia memiliki dua anak dan dia berwasiat kepada salah satu dari mereka dengan sesuatu, lalu anak yang lain menyetujuinya, maka wasiat itu tetap ditolak dan tidak sah. Berdasarkan pendapat ini, wakaf atas rumah tersebut juga ditolak jika diwasiatkan atau dibuat pada saat sakit menjelang kematian, dan tidak ada arti persetujuan anak terhadap hal itu, karena tidak boleh wasiat, berdasarkan cabang bahwa wasiat itu batal dan tidak sah dengan persetujuan. Jika kita menganggap pelaksanaan itu sebagai perkara baru sejak awal, maka wakaf itu juga batal, karena seseorang tidak boleh mewakafkan kepada dirinya sendiri menurut mazhab yang dianggap kuat, sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab wakaf.

وإن قلنا: إذا أوصى لأحد الابنين فأجاز الثاني تجوز الوصيةُ وتنفذ وصيتهُ فعلى هذا إذا وقف على ابنه الدارَ وهي قدر الثلث لزمت الوصية في حقه ولا حاجة إلى تنفيذه وإجازته ولو أراد ردّ الوقف لم يجد إليه سبيلاً فإن قيل: ألسنا في الوارثين نعتبر الرضا في قدر الثلث أيضاً فهلاّ اعتبرنا ذلك في حق الوارث الواحد حتى نقول: ما لم يرض لا ينفذ الوقف إذ في تنفيذ الوقف إزالة ملكه عن رقبة الدار قال الشيخ أبو علي: إنّا اعتبرنا الرضا في الوارثَيْن من الذي لم يوصَ له لأنه يقول: قد فضَّله عليّ بالوصية فله ردُّ التفضيل وإن كان في قدر الثلث وليس كذلك إذا كان الوارث واحداً فالوصية غير زائدةٍ على الثلث وليس فيها معنى التفضيل فالثلث مستحق للمورِّث  والتفريع على أن الوصية جائزة على الجملة للوارث فاقتضت هذه الأصول تنفيذَ الوصية على اللزوم في قدر الثلث هذا ما ذكره الشيخ

Jika kita mengatakan: Jika seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya, lalu anak yang kedua menyetujui, maka wasiat itu sah dan wasiatnya berlaku, maka berdasarkan hal ini, jika seseorang mewakafkan rumah kepada anaknya yang nilainya sepertiga harta, maka wasiat itu wajib baginya dan tidak perlu ada pelaksanaan atau persetujuan darinya. Bahkan jika ia ingin menolak wakaf tersebut, ia tidak akan bisa melakukannya. Jika dikatakan: Bukankah dalam hal para ahli waris kita juga mempertimbangkan kerelaan dalam batas sepertiga harta? Mengapa kita tidak mempertimbangkan hal itu pada satu ahli waris saja, sehingga kita katakan: selama ia belum rela, wakaf itu tidak sah, karena pelaksanaan wakaf berarti menghilangkan kepemilikannya atas rumah tersebut? Syaikh Abu Ali berkata: Kita mempertimbangkan kerelaan pada dua ahli waris dari pihak yang tidak menerima wasiat, karena ia bisa berkata: Ia telah mengutamakan saudaraku atas diriku dengan wasiat itu, maka aku berhak menolak keutamaan tersebut, meskipun nilainya hanya sepertiga. Namun tidak demikian halnya jika ahli waris hanya satu orang, maka wasiat itu tidak melebihi sepertiga dan tidak ada makna keutamaan di dalamnya. Sepertiga itu memang menjadi hak pewaris, dan penjelasan ini didasarkan pada bahwa wasiat pada dasarnya sah untuk ahli waris, sehingga prinsip-prinsip ini menuntut pelaksanaan wasiat secara wajib dalam batas sepertiga. Inilah yang disebutkan oleh Syaikh.

ولم أر في الطرق ما يخالفه وليس يخلو ما ذكره من احتمال فإنا إذا كنا نجوِّز عند تعدد الورثة ردَّ التصرف في الثلث للتفضيل  فلا يبعد أن نثبت للابن الواحد ردّ الوصية بالوقف لتبقى الدار مملوكةً له وقد ظهر من قول الأصحاب أن الوصية للوارث بالثلث كالوصية للأجنبي بالزائد على الثلث فيظهر في وجه القياس أن يقال: لا ينفُذ الوقف في حق الابن الواحد وصيةً ما لم يرض به وهذا ذكرناه احتمالاً

Saya tidak menemukan dalam jalur-jalur riwayat sesuatu yang bertentangan dengannya, namun apa yang disebutkan itu tidak lepas dari kemungkinan. Sebab, jika kita membolehkan, ketika ada banyak ahli waris, untuk menolak tindakan dalam sepertiga harta demi memberikan keutamaan, maka tidak mustahil kita menetapkan bagi satu orang anak hak untuk menolak wasiat berupa wakaf agar rumah tersebut tetap dimilikinya. Telah tampak dari pendapat para ulama bahwa wasiat kepada ahli waris sebesar sepertiga harta itu seperti wasiat kepada orang luar (bukan ahli waris) dengan jumlah yang melebihi sepertiga, sehingga menurut qiyās dapat dikatakan: wakaf sebagai wasiat untuk satu orang anak tidak sah kecuali dengan kerelaannya. Ini kami sebutkan sebagai sebuah kemungkinan.

والذي صح عندنا النقل فيه ما رويناه عن الشيخ فليقع التفريع على ما ذكره ثم تصوير هذه المسألة فيه إذا نجَّز الوقف في مرض موته وكان الابن إذ ذاك طفلاً فقبله له  ثم مات فحاول الابن الرد أو الإجازة

Pendapat yang shahih menurut kami dalam masalah ini adalah apa yang kami riwayatkan dari Syekh, maka pembahasan cabang hukum didasarkan pada apa yang beliau sebutkan. Adapun gambaran masalah ini adalah apabila seseorang menunaikan wakaf secara langsung ketika ia sedang sakit menjelang wafatnya, dan pada saat itu anaknya masih kecil, lalu ada yang menerima wakaf tersebut atas nama anak itu, kemudian orang tersebut meninggal dunia, lalu si anak mencoba untuk menolak atau menyetujuinya.

وإن كانت الدار زائدةً على قدر الثلث والابن واحدٌ فلا شك أن له ردَّ الوصية في الزائد على الثلث يعني الوقف فأما قدر الثلث فالكلام فيه على التفصيل الذي ذكرناه

Jika rumah itu melebihi sepertiga bagian dan anaknya hanya satu, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berhak menolak wasiat pada bagian yang melebihi sepertiga, yaitu wakaf. Adapun untuk bagian sepertiga, maka pembicaraannya merujuk pada perincian yang telah kami sebutkan.

فأما إذا كان له وارثان فأوصى لهما جميعاً ولم تزد الوصايا على الثلث فإن لم يفضِّل أحدَهما على الثاني فلا معنى لهذه الوصية إذا كانت تمليكاً فإنها عبارة عن استحقاقها على نسبةٍ يقتضيها الإرث

Adapun jika seseorang memiliki dua ahli waris lalu ia berwasiat kepada keduanya sekaligus dan wasiat tersebut tidak melebihi sepertiga harta, maka jika ia tidak mengutamakan salah satu dari keduanya atas yang lain, maka tidak ada makna dari wasiat ini jika berupa pemberian kepemilikan, karena hal itu pada hakikatnya adalah hak yang mereka peroleh sesuai dengan proporsi yang ditetapkan oleh warisan.

وإن فضّل أحدَهما في الثلث على الثاني فذلك الفضل هو الوصية في الحقيقة وهو كما لو أوصى لأحدهما بزيادةٍ دون الثاني وقد سبق الكلام فيه

Dan jika seseorang melebihkan salah satu dari keduanya dalam sepertiga harta atas yang lain, maka kelebihan itu pada hakikatnya adalah wasiat, dan hal itu seperti jika ia berwasiat kepada salah satu dari keduanya dengan tambahan dibandingkan yang lain, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

ولو وقف داراً عليهما والدار قدرُ الثلث فإن لم يفضّل أحدَهما على الثاني في قدر استحقاق الميراث فإن قلنا: لا وصية لوارث وهي مردودة شرعاً لم يصح الوقف وصيةً وإن صححنا الوصية والتفريع على ما ذكره الشيخ فيصح الوقف ويلزم فإنه في قدر الثلث ولا تفضيل فيه

Dan jika seseorang mewakafkan sebuah rumah kepada keduanya, dan rumah itu seukuran sepertiga harta, maka jika ia tidak mengutamakan salah satu dari keduanya atas yang lain dalam besaran hak waris, maka jika kita berpendapat: tidak ada wasiat bagi ahli waris dan wasiat itu tertolak secara syar‘i, maka wakaf tersebut tidak sah sebagai wasiat. Namun jika kita membolehkan wasiat dan mengikuti rincian yang disebutkan oleh Syekh, maka wakaf tersebut sah dan mengikat, karena berada dalam batas sepertiga harta dan tidak ada pengutamaan di dalamnya.

ولو خلّف ابناً وبنتاً ووقف في مرض الموت عليهما داراً وهي قدر الثلث وجعل الدار وقفاً عليهما نصفين فقد فضّل إذ من حق الابن أن يكون على ضعف البنت في الاستحقاق فإن فرعنا على ما انتهى إليه كلامُ الشيخ أبي علي آخراً فالابن لا يخلو إما أن يجيز الوصية على وجهها فتجوز وينفذ الوقف وإما ألا يجيزها: ويردّ الوقف فإن ردّ ذلك قال أصحابنا: للابن أن يقول: إذا كان النصف وقفاً عليّ فليكن الربع وقفاً على البنت فأرد الوقف في ربع الدار فيصير نصفها وقفاً عليّ وربعها وقفاً على البنت والربع الذي عاد ملكاً يقسم بيننا: للذكر مثل حظ الأنثيين

Jika seseorang meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, lalu dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematian ia mewakafkan sebuah rumah kepada keduanya, di mana rumah tersebut seukuran sepertiga harta, dan ia menjadikan rumah itu sebagai wakaf untuk keduanya dengan pembagian setengah-setengah, maka ia telah memprioritaskan (salah satu) karena seharusnya anak laki-laki berhak mendapatkan dua kali lipat dari anak perempuan dalam hal hak kepemilikan. Jika kita mengikuti pendapat terakhir yang disampaikan oleh Syekh Abu Ali, maka anak laki-laki memiliki dua pilihan: bisa saja ia menyetujui wasiat tersebut sebagaimana adanya, sehingga wakaf itu sah dan berlaku; atau ia tidak menyetujuinya, sehingga wakaf itu dibatalkan. Jika ia menolaknya, para ulama kami mengatakan: anak laki-laki dapat berkata, “Jika setengah rumah menjadi wakaf untukku, maka seperempatnya menjadi wakaf untuk anak perempuan.” Maka ia menolak wakaf pada seperempat rumah, sehingga setengah rumah menjadi wakaf untuknya, seperempatnya menjadi wakaf untuk anak perempuan, dan seperempat sisanya yang kembali menjadi milik dibagi di antara mereka berdua: laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dari perempuan.

قال الشيخ أبو علي: هذا هو الذي رأيته لمشايخ المذهب والذي عندي في ذلك أن الابن يقول: نصف الدار وقف عليّ على حكم شرط الواقف والنصف على حكم شرطه وقفٌ على البنت فأردّ الوقف في السدس وأضمُّه إلى نصف الدار فيحصل في يدي الثلثان: وقفاً وملكاً نصفها وقفط عليَّ وسدسها ملكٌ لي ولا ينتظم في تعليل الحساب غيره  فإنه لو أبطل الوقفَ في الربع كما ذكره الأصحاب فالربع مع النصف ثلاثة أرباع الدار وهذا زائد على حساب التضعيف

Syekh Abu Ali berkata: Inilah yang aku lihat dari para guru mazhab, dan menurut pendapatku dalam hal ini, anak laki-laki berkata: Setengah rumah adalah wakaf untukku sesuai dengan syarat wakif, dan setengahnya lagi sesuai dengan syaratnya adalah wakaf untuk anak perempuan. Maka aku batalkan wakaf pada sepertiga dan aku gabungkan dengan setengah rumah, sehingga aku memperoleh dua pertiga: sebagai wakaf dan milik. Setengahnya adalah wakaf untukku dan sepertiganya adalah milikku. Tidak ada penjelasan perhitungan yang lebih tepat dari ini, sebab jika wakaf pada seperempat dibatalkan sebagaimana disebutkan para sahabat, maka seperempat bersama setengah menjadi tiga perempat rumah, dan ini melebihi perhitungan penggandaan.

فإن قيل: الربع الذي رد الوقف فيه يقسم بينهما  فيقع مقدار الوقف ثلاثة أرباع  وإن كان كذلك فاحتكام الابن في نقض الوقف في الربع هو المستنكر فإنه يستبد بالوقف بالنصف ويحتكم في الربع فليقتصر استبداده و تحكمه على مقدار الثلثين وهذا يوجب أن ينقض الوقفَ في سدسٍ ويضمَّه إلى الوقف في النصف

Jika dikatakan: seperempat bagian yang dibatalkan wakafnya itu dibagi di antara keduanya, sehingga jumlah bagian wakaf menjadi tiga perempat. Jika demikian, maka keputusan anak dalam membatalkan wakaf pada seperempat bagian itulah yang dianggap ganjil, sebab ia berhak sepenuhnya atas wakaf pada setengah bagian dan berwenang atas seperempat bagian. Maka seharusnya kekuasaan penuh dan kewenangannya itu hanya terbatas pada dua pertiga bagian. Hal ini mengharuskan agar ia membatalkan wakaf pada seperenam bagian dan menggabungkannya dengan wakaf pada setengah bagian.

وهذا الذي ذكره الشيخ منقدحٌ حسن ولا يمكنه أن يقول: لا أنقض الوقف ولكن أردّ السدس إلى نصفي وقفاً حتى يكون ثلثا الدار وقفاً عليّ فإنه لو فعل ذلك كان مخالفاً لشرط الواقف والوقفُ وإن كان يُنقضُ بحقٍّ فلا سبيل إلى تبقيته مع مخالفة شرط الواقف والواقف لم يقف عليه إلا نصف الدار

Apa yang disebutkan oleh Syekh tersebut adalah pemikiran yang baik dan masuk akal, namun ia tidak dapat mengatakan: “Aku tidak membatalkan wakaf, tetapi aku mengembalikan sepertiga harta itu menjadi setengahnya sebagai wakaf, sehingga dua pertiga rumah menjadi wakaf atas namaku.” Sebab, jika ia melakukan hal itu, berarti ia telah menyelisihi syarat wakif, dan meskipun wakaf dapat dibatalkan karena suatu hak, tidak ada jalan untuk mempertahankannya jika bertentangan dengan syarat wakif, sedangkan wakif tidak mewakafkan kepadanya kecuali setengah rumah saja.

ثم قال الشيخ أبو علي: إذا كان السدس المضموم إلى نصفه ملكاً فربع ما في يده ملكٌ إذاً فللبنت أن تقول: أنا أجعل ربع ما في يدي ملكاً أيضاً حتى أساوي الابن  وهذا حسن بالغ فإنا لو منعنا البنت من هذا لكُنَّا مفضلين الابن عليها فإن الملك أكملُ من الوقف وقد ذكرنا أن الوصية للوارث إذا اقتضت تفضيلاً فيجوز لغير الموصَى له من الورثة ردُّها فإن كانت الوصيةُ في قدر الثلث فيخرج من ذلك أن للمرأة أن ترد الوقف في نصف سدس وللابن أن يرد الوقف في سدس فيعود الأمر إلى رد الوقف في الربع مع قسمة ذلك الربع بينهما: ثلثاً وثلثين ولكن لا يتم هذا إلا بهما

Kemudian Syaikh Abu Ali berkata: Jika sepertiga yang digabungkan dengan setengahnya adalah milik, maka seperempat dari apa yang ada di tangannya juga menjadi milik. Dengan demikian, perempuan (anak perempuan) dapat berkata: “Aku juga menjadikan seperempat dari apa yang ada di tanganku sebagai milik, agar aku setara dengan anak laki-laki.” Ini adalah pendapat yang sangat baik, sebab jika kita melarang anak perempuan dari hal ini, berarti kita telah mengutamakan anak laki-laki atas dirinya, karena kepemilikan itu lebih sempurna daripada wakaf. Telah kami sebutkan bahwa wasiat kepada ahli waris, jika mengandung unsur pengutamaan, maka ahli waris lain yang tidak menerima wasiat boleh menolaknya. Jika wasiat itu dalam batas sepertiga, maka dari situ dapat disimpulkan bahwa perempuan boleh menolak wakaf pada setengah dari sepertiga, dan anak laki-laki boleh menolak wakaf pada sepertiga. Maka urusannya kembali pada penolakan wakaf pada seperempat, dengan membagi seperempat itu di antara keduanya: sepertiga dan dua pertiga. Namun, hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan keduanya.

والذي ذكره المشايخ مقتضاهُ على ما نقله الشيخ أبو علي انفرادُ الابن بنقض الوقف في الربع وهذا لا وجه له وغالب ظني أن الأئمة أرادوا بنقض الوقف في الربع نقضَه إذا رضيا به وإن أرادوا نقضه فيه على معنى أن الابن يستبد به فهذا خطأ صريح فإن نقض الوقف عليها محال لا يصير إليه من يُعدّ من الفقهاء

Apa yang disebutkan oleh para masyaikh, sebagaimana yang dinukil oleh Syekh Abu Ali, mengandung makna bahwa anak secara sendiri dapat membatalkan wakaf pada seperempat bagian, dan ini tidak berdasar. Dugaan kuat saya, para imam bermaksud dengan pembatalan wakaf pada seperempat bagian adalah pembatalan jika keduanya (pihak-pihak terkait) sama-sama rela. Namun jika yang dimaksud adalah pembatalan oleh anak saja secara sepihak, maka ini adalah kesalahan yang nyata, karena membatalkan wakaf atasnya adalah hal yang mustahil dan tidak akan dilakukan oleh siapa pun yang dianggap sebagai ahli fiqh.

هذا بيان المقدمة في الوصية للوارث ووجه الخلاف فيما يصح وينفذ

Ini adalah penjelasan pendahuluan tentang wasiat kepada ahli waris dan sisi perbedaan pendapat mengenai apa yang sah dan dapat dilaksanakan.

ونحن الآن نعود إلى مقصود الفصل مستعينين بالله عز وجل فنقول: مضمون الفصل يدور على بيان وصية الأجنبي ووارث مع تقدير الرد والإجازة وهذا يستدعي مع ما قدمناه تمهيدَ أصلٍ آخر وهو أن الوصية للأجنبي إذا وقعت على قدر الثلث من غير مزيد فهي منفذةٌ له وتصرف وصية الوارث بمقدار  فالوارث لا يزاحم الأجنبي في قدر الثلث ومقدار الثلث مسلَّم للأجنبي لا يزحمه الوارث فيه هكذا ذكره الأستاذ أبو منصور حكايةً عن ابن سريج

Sekarang kita kembali kepada maksud bab ini dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka kami katakan: inti dari bab ini berkisar pada penjelasan wasiat kepada orang asing (bukan ahli waris) dan kepada ahli waris dengan mempertimbangkan kemungkinan penolakan dan persetujuan. Hal ini, bersamaan dengan apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, memerlukan penjelasan prinsip lain, yaitu bahwa wasiat kepada orang asing jika dilakukan sebesar sepertiga harta tanpa melebihi batas tersebut, maka wasiat itu sah untuknya. Adapun wasiat kepada ahli waris hanya berlaku sebatas itu pula. Ahli waris tidak dapat bersaing dengan orang asing dalam hal sepertiga harta, dan bagian sepertiga itu memang diberikan kepada orang asing tanpa dapat diganggu gugat oleh ahli waris. Demikianlah yang disebutkan oleh guru kami, Abu Mansur, mengutip dari Ibn Suraij.

فنقول على مساق ذلك: لو أوصى للأجنبي بثلث ماله وأوصى لواحد من الورثة بجميع ماله فأجاز الورثة الذين لم يوص لهم الوصية فالأجنبي يفوز بالثلث الكامل لا يزاحِم الموصى له من الورثة فيه وللوارث الموصى له الثلثان وتفريع هذا الفصل على تصحيح الوصية للوارث كما تفصَّل المذهب فيه

Maka kami katakan berdasarkan alur tersebut: Jika seseorang berwasiat kepada orang luar (bukan ahli waris) dengan sepertiga hartanya dan berwasiat kepada salah satu ahli waris dengan seluruh hartanya, lalu para ahli waris yang tidak menerima wasiat tersebut mengizinkan wasiat itu, maka orang luar tersebut mendapatkan sepertiga penuh tanpa ada persaingan dari ahli waris yang menerima wasiat dalam bagian itu, dan bagi ahli waris yang menerima wasiat adalah dua pertiga. Penjabaran bab ini didasarkan pada pendapat yang membolehkan wasiat kepada ahli waris sebagaimana dirinci dalam mazhab.

وإن لم يُجز الورثة ما جاوز الثلث فللأجنبي الثلث الكامل ولا شيء للوارث الموصى له من جهة الوصية وله حقه في الميراث

Jika para ahli waris tidak mengizinkan wasiat yang melebihi sepertiga, maka untuk orang luar (bukan ahli waris) diberikan sepertiga penuh, dan ahli waris yang diwasiati tidak mendapatkan apa pun dari sisi wasiat, namun ia tetap mendapatkan haknya dalam warisan.

ولو أوصى لأجنبي بنصف ماله  ولوارثٍ بجميع ماله فأجاز الورثةُ فللأجنبي الثلث لا يزاحَم فيه ويبقى له من وصيته السدس إلى تكملة النصف فالكلام في الثلثين  والوارث الموصى له يضرب فيهما بالجميع والأجنبي يضرب فيهما بسدس فنجمل الثلثين ونُثبت السدس للأجنبي عائلاً فنقسم الثلثين على سبعة أسهم للوارث ستة أسباعه وللأجنبي سبعُه

Jika seseorang berwasiat kepada orang asing dengan setengah hartanya dan kepada ahli waris dengan seluruh hartanya, lalu para ahli waris menyetujui wasiat tersebut, maka bagian untuk orang asing adalah sepertiga harta yang tidak boleh diganggu gugat, dan sisanya dari wasiatnya adalah seperenam hingga genap setengah. Maka pembahasan ada pada dua pertiga harta. Ahli waris yang menerima wasiat mengambil bagian dari keduanya secara penuh, sedangkan orang asing mengambil bagian dari keduanya sebesar seperenam. Maka kita jumlahkan dua pertiga harta, lalu kita tetapkan seperenam untuk orang asing secara ‘ā’il (proporsional), sehingga dua pertiga harta dibagi menjadi tujuh bagian: untuk ahli waris enam per tujuhnya, dan untuk orang asing satu per tujuhnya.

وتصح الفريضة من أحدٍ وعشرين سهماً للأجنبي الثلث أولاً وهو سبعة وله سبع الباقي وهو سهمان فيجتمع له تسعة أسهم وهي ثلاثة أسباع المال وللوارث الموصى له ستة أسباع الثلثين وهو أربعة أسباع المال وذلك اثنا عشر سهماً

Dan sah pembagian faraidh dari dua puluh satu bagian, bagi orang asing (bukan ahli waris) sepertiga terlebih dahulu, yaitu tujuh bagian, dan ia mendapatkan seper tujuh dari sisa, yaitu dua bagian, sehingga terkumpul baginya sembilan bagian, yaitu tiga per tujuh dari harta. Sedangkan untuk ahli waris yang diwasiati, enam per tujuh dari dua pertiga, yaitu empat per tujuh dari harta, dan itu adalah dua belas bagian.

ولو أوصى لأحد ابنيه بنصف ماله وأوصى لأجنبي بنصف ماله وأجاز الابنُ الذي لم يوص له الوصيتين ورضي الابن الموصى له بحكم الحال وموجَبِ القضية فهذه مسألة سئل القفال رضي الله عنه عنها ببخارى فابتدرها مجيباً وقال: للابن الموصى له النصف وللأجنبي النصف فروجع في المسألة وقيل له: المذهب خلاف ما ذكرته قال القفال يجيب عن المسألة: فوجدت جواب ابن سريج فيها مخالفاً لما أفتيت به فإن ابن سريج قال: للأجنبي النصف وللابن الموصى له السدس والربع وللابن المجيز نصفُ سدس يفوز به إرثاً

Jika seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan setengah hartanya, dan berwasiat kepada orang lain (bukan keluarga) dengan setengah hartanya, lalu anak yang tidak diberi wasiat menyetujui kedua wasiat tersebut, dan anak yang diberi wasiat ridha dengan keadaan dan konsekuensi hukum yang ada, maka ini adalah sebuah masalah yang pernah ditanyakan kepada al-Qaffal rahimahullah di Bukhara. Beliau segera menjawab: Anak yang diberi wasiat mendapatkan setengah, dan orang lain (bukan keluarga) juga mendapatkan setengah. Kemudian beliau ditanya kembali tentang masalah ini dan dikatakan kepadanya: Mazhab (pendapat yang dipegang) berbeda dengan apa yang Anda sebutkan. Maka al-Qaffal menjawab tentang masalah ini: Aku mendapati jawaban Ibn Surayj dalam masalah ini berbeda dengan fatwa yang aku berikan, karena Ibn Surayj berkata: Orang lain (bukan keluarga) mendapatkan setengah, anak yang diberi wasiat mendapatkan seperenam dan seperempat, dan anak yang menyetujui mendapatkan setengah dari seperenam sebagai warisan.

ثم قال القفال: أطلت كلامي في المسألة عن جواب ابن سريج وعنّ لي أن أخرّج المسألة على وجهين ذكرهما وبناهما على أصله

Kemudian al-Qaffāl berkata: Aku telah memanjangkan pembahasanku dalam masalah ini mengenai jawaban Ibn Suraij, dan terlintas dalam benakku untuk mengeluarkan masalah ini pada dua sisi yang telah ia sebutkan dan ia bangun di atas prinsip dasarnya.

ونحن نمهد ذلك الأصلَ ونقدمه ثم نبين تصرّفَ القفال فيه ونختتم المسألة بما عندنا

Kami akan mengawali dengan menjelaskan prinsip dasar tersebut dan mengemukakannya terlebih dahulu, kemudian menjelaskan bagaimana al-Qaffāl memperlakukan prinsip itu, dan menutup pembahasan masalah ini dengan pendapat kami.

فنقول: إذا كان لرجل ابنان فأوصى لأحدهما بنصف ماله وكل هذه المسائل خارجةٌ على تصحيح الوصية للوارث وعلى أن الإجازة تنفيذ  فإذا طال الكلام ورُمت مأخذه  فالوجه الاكتفاء بأصح الأقوال في الأصول فإذا وقعت الوصية بالنصف لأحد الابنين وأجاز الثاني فعند جميع أصحابنا في المنتهى الذي عليه نفرِّع أن النصف يفوز به الموصى له ويقسمان النصف الثاني شطرين وكأن النصفَ الموصى به مُخرجٌ من التركة غيرُ معتد به

Maka kami katakan: Jika seorang laki-laki memiliki dua orang anak laki-laki, lalu ia berwasiat kepada salah satu dari keduanya dengan setengah hartanya, maka seluruh permasalahan ini kembali kepada pembahasan tentang keabsahan wasiat kepada ahli waris dan bahwa izin (dari ahli waris lain) merupakan pelaksanaan wasiat. Jika pembahasan ini menjadi panjang dan Anda ingin mengetahui dasarnya, maka cukup berpegang pada pendapat yang paling sahih dalam ushul. Jika wasiat dilakukan dengan setengah harta kepada salah satu dari dua anak laki-laki, lalu anak yang kedua mengizinkan, maka menurut seluruh ulama mazhab kami pada kesimpulan yang menjadi dasar cabang-cabang hukum, setengah harta tersebut menjadi milik penerima wasiat, dan setengah sisanya dibagi dua antara keduanya. Seakan-akan setengah yang diwasiatkan itu dikeluarkan dari harta warisan dan tidak diperhitungkan dalam pembagian warisan.

ولو أوصى لأحد الابنين بمقدار زائد على النصف فقال: أوصيت لابني هذا بثلثَيْ مالي فالذي ذهب إليه المحققون الجريانُ على القياس الذي قدمناه وهو أنا نقدر الثلثين ونراهما وصيةً للموصى له ثم إنهما يقسمان الثلثَ الثاني شطرين

Jika seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan jumlah yang melebihi setengah, lalu ia berkata: “Aku berwasiat untuk anakku ini dua pertiga hartaku,” maka menurut para ahli yang teliti, yang dijalankan adalah sesuai dengan qiyās yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu kita memperkirakan dua pertiga itu dan menganggap keduanya sebagai wasiat untuk penerima wasiat, kemudian dua pertiga tersebut dibagi, dan sepertiga yang kedua dibagi menjadi dua bagian.

ومن أصحابنا من قال: إذا كان الموصى به أكثرَ من النصف فليس للموصى له إلا ذلك المقدار ويستبد الابن الذي لم يوص له بباقي المال لا يزاحمه فيه الموصى له

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: Jika harta yang diwasiatkan lebih dari setengah, maka penerima wasiat hanya berhak atas kadar tersebut, dan anak yang tidak diberi wasiat berhak sepenuhnya atas sisa harta, penerima wasiat tidak berhak bersaing dengannya dalam hal itu.

توجيه الوجهين : من قال: يفوز الموصى له بالموصى به ويشاطر أخاه في الباقي احتج بصيغة اللفظ أولاً فإن الموصي عبر عن الثلثين بالوصية فليقعا موصىً بهما فإذا وقعا موصىً بهما وأجيزت الوصية كانت الوصية لأحد الابنين بالثلثين كالوصية للأجنبي بالثلثين فما يفضل من المال بعد الوصية تركةٌ يستويان في استحقاقه إرثاً وقد اختص الموصى له بالقدر الموصى به ويستشهد هذا القائل بما إذا أوصى لأحد الابنين بنصف المال فإنه يفوز بالنصف ثم يقتسمان النصف الآخر شطرين

Penjelasan kedua pendapat: Siapa yang berpendapat bahwa penerima wasiat mendapatkan bagian yang diwasiatkan dan berbagi dengan saudaranya dalam sisa harta, berdalil pertama-tama dengan redaksi lafaz wasiat itu sendiri. Sebab, pewasiat telah menyebutkan dua pertiga harta dalam bentuk wasiat, maka dua pertiga itu menjadi harta wasiat. Jika dua pertiga itu menjadi harta wasiat dan wasiat tersebut disetujui, maka wasiat kepada salah satu anak atas dua pertiga harta sama seperti wasiat kepada orang lain (bukan ahli waris) atas dua pertiga harta. Maka, sisa harta setelah pelaksanaan wasiat menjadi warisan yang keduanya sama-sama berhak mendapatkannya sebagai warisan, sedangkan penerima wasiat mendapatkan bagian yang diwasiatkan secara khusus. Pendapat ini juga didukung dengan contoh apabila seseorang berwasiat kepada salah satu anaknya setengah dari hartanya, maka anak tersebut mendapatkan setengah harta, kemudian keduanya membagi setengah sisanya menjadi dua bagian.

ومن تمسك بالوجه الثاني فرّق أولاً بين الوصية بالنصف وبين الوصية بالزائد عليه فقال: يبعد أن يُحمل لفظُ الوصية بالنصف على أن ذلك القدر حقُّ الموصى له فحسب فإنه يستحق هذا القدرَ بالإرث فلو لم يثبت له إلا النصف لأبطلنا فائدة الوصية بالكلية فتبين لما ذكرناه حملُ الوصية بالنصف على حقيقة الوصية ثم يبقى بعدها التساوي إرثاً في الباقي

Dan orang yang berpegang pada pendapat kedua membedakan terlebih dahulu antara wasiat setengah dan wasiat lebih dari itu, lalu berkata: Sulit untuk memahami lafaz wasiat setengah sebagai bahwa kadar itu hanyalah hak penerima wasiat semata, karena ia sudah berhak atas kadar itu melalui warisan. Jika ia hanya mendapatkan setengah, maka manfaat wasiat akan hilang seluruhnya. Maka, berdasarkan penjelasan yang telah kami sebutkan, wasiat setengah harus dipahami sebagai hakikat wasiat, kemudian setelah itu sisanya dibagi secara waris secara setara.

فأما إذا أوصى لأحد الابنين بأكثرَ مما يستحقه إرثاً له لم يكن وصية فيحتمل أنه قصد بذلك تخصيصَه بمزيد الزيادة وتفضيلَه بها على أخيه فتقع الوصية في تلك الزيادة وإذا كان ذلك ممكناً فالوصايا المترددة بين كثيرٍ وقليلٍ محمولةٌ على القليل وليس كالوصية للأجنبي فإنه لا استحقاق له إلا من جهة الوصية والابن يستحق من جهة الإرث فاتجه حمل لفظ الوصية على التفضيل بالقدر الزائد

Adapun jika seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan bagian yang lebih banyak daripada yang menjadi haknya sebagai warisan, maka itu bukanlah wasiat (dalam arti biasa). Ada kemungkinan bahwa ia bermaksud dengan itu untuk mengkhususkan anak tersebut dengan tambahan lebih dan mengutamakannya atas saudaranya, sehingga wasiat itu berlaku pada kelebihan tersebut. Jika hal itu memungkinkan, maka wasiat-wasiat yang masih samar antara jumlah yang banyak dan sedikit, ditafsirkan pada jumlah yang sedikit. Ini berbeda dengan wasiat kepada orang luar (ajnabi), karena ia tidak memiliki hak kecuali dari sisi wasiat, sedangkan anak memiliki hak dari sisi warisan. Maka, tepatlah menafsirkan lafaz wasiat itu sebagai bentuk pengutamaan dengan tambahan yang diberikan.

هذا بيان هذا الوجه

Ini adalah penjelasan dari sisi ini.

ومما يجب الإحاطة به أنه إذا أوصى لأحد بنيه بنصف المال و أجاز الثاني فالذي يجب إطلاقه في عقد المذهب أن الابن المجيز الذي لم يوص له أبطل حق إرثه في ربع المال بإجازة الوصية والابن القابل للوصية أخذ النصف وصيةً وليس في ذلك النصف ميراث وكأنه استبرأ عن حقه في ذلك النصف من الميراث بالوصية  فكان في استبرائه مبطلاً حق إرث نفسه في ربعٍ بصرفه إياه إلى جهة الوصية وهو في هذا الفقه نازل منزلة الابن المجيز في قطع حق الميراث عن نصف التركة ويرجع الإرث إلى نصف الباقي

Hal yang juga perlu diketahui adalah bahwa jika seseorang berwasiat kepada salah satu anaknya dengan setengah harta, lalu anak yang kedua menyetujui wasiat tersebut, maka yang harus ditegaskan menurut mazhab adalah bahwa anak yang menyetujui—yang tidak menerima wasiat—telah menggugurkan hak warisnya atas seperempat harta dengan persetujuannya terhadap wasiat tersebut. Sedangkan anak yang menerima wasiat mengambil setengah harta sebagai wasiat, dan dalam setengah itu tidak ada bagian waris. Seolah-olah ia telah melepaskan haknya atas setengah bagian warisan itu melalui wasiat, sehingga dengan pelepasan tersebut ia membatalkan hak waris dirinya atas seperempat harta dengan mengalihkannya ke arah wasiat. Dalam fiqh, kedudukan anak yang menyetujui ini sama dengan anak yang memutuskan hak waris atas setengah harta peninggalan, dan hak waris kembali kepada setengah harta yang tersisa.

فإذا تبين هذا الأصلُ بان تصرف القفال بعده فخرَّج عليه المسألة التي ذكرناها وهي إذا أوصى لأحد ابنيه بالنصف وأوصى لأجنبي بالنصف ورأى فيها جوابين: أحدهما ما سبق إليه مبتدراً  إذ سئل عنها وهو أن النصف للأجنبي والنصف للابن

Jika prinsip ini telah jelas, maka setelah itu al-Qaffal mengembangkannya dan membahas masalah yang telah kami sebutkan, yaitu apabila seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan setengah (harta) dan berwasiat kepada orang lain (ajānib) dengan setengah (harta), maka ia melihat ada dua jawaban dalam masalah ini: salah satunya adalah jawaban yang langsung terlintas ketika ia ditanya tentangnya, yaitu setengah untuk orang lain (ajānib) dan setengah untuk anak.

والثاني ما حكاه عن ابن سريج وهو أن النصف للأجنبي والسدسُ والربع للابن الموصى له وللابن المجيز نصف السدس فقال رحمة الله عليه: هذان الوجهان يخرّجان على الوجهين اللذين حكيناهما عن الأصحاب فيه إذا أوصى لأحد الابنين بأكثر من النصف

Yang kedua adalah pendapat yang dinukil dari Ibnu Suraij, yaitu setengah bagian untuk orang asing, seperenam dan seperempat untuk anak yang diberi wasiat, dan untuk anak yang mengizinkan mendapat setengah dari seperenam. Beliau rahimahullah berkata: Kedua pendapat ini didasarkan pada dua pendapat yang telah kami sebutkan dari para ulama dalam hal apabila seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan bagian lebih dari setengah.

وأول ما نحتاج إلى تقريره بيان تصوير هذه المسألة على الصورة التي فيها خلاف الأصحاب فنقول: لما أوصى للأجنبي بالنصف فالثلث يستحق له لا يزاحمه فيه الابنان ولا حاجة فيه إلى الإجازة فإنه يُستحَق من غير إجازة فيبقى من المال الثلثان وقد أوصى لأحد الابنين بالنصف فإذا أقررنا الثلث للأجنبي بحكم الاستحقاق بقي الثلثان بين الابنين فإذا فرضنا الوصية للابن بالنصف كان النصف بالإضافة إلى الثلثين زائداً على القدر الذي يستحقه الموصى له بالإرث فإن الذي يستحقه بالإرث ثلثٌ ويستحق أخوه ثلثاً فإذا وقعت الوصية فقد صادف محل خلاف الأصحاب فإن قلنا: الموصى به إذا أجيز أوْ رُدّ اقتسم الابنان الباقي إرثاً فعلى هذا النصفُ للابن والنصف للأجنبي وذلك أنا إذا صرفنا إلى الابن النصفَ من الثلثين وبقي سدس فهو بين الموصى له وبين الابن الذي لا وصية له نصفين إرثاً فيحصل للابن الموصى له نصفٌ بالوصية ونصف سدس بالإرث ويحصل للابن المجيز نصف سدس بالإرث

Hal pertama yang perlu kita tetapkan adalah penjelasan gambaran masalah ini dalam bentuk yang diperselisihkan oleh para sahabat (ulama mazhab), maka kami katakan: Ketika seseorang berwasiat kepada orang asing (bukan ahli waris) setengah dari harta, maka sepertiga harta menjadi haknya dan tidak ada persaingan dari kedua anak dalam hal ini, serta tidak diperlukan persetujuan (ijazah), karena itu menjadi haknya tanpa persetujuan. Maka tersisa dua pertiga dari harta. Kemudian ia berwasiat kepada salah satu anaknya setengah dari harta. Jika kita tetapkan sepertiga untuk orang asing berdasarkan haknya, maka tersisa dua pertiga untuk kedua anak. Jika kita anggap wasiat kepada anak berupa setengah dari harta, maka setengah dari dua pertiga itu lebih banyak dari bagian yang seharusnya diterima anak tersebut sebagai ahli waris, karena bagian warisan yang menjadi haknya adalah sepertiga, dan saudaranya juga sepertiga. Ketika wasiat itu terjadi, maka inilah titik perbedaan pendapat para sahabat (ulama mazhab). Jika kita katakan: wasiat yang diberikan, jika disetujui atau ditolak, maka kedua anak membagi sisanya sebagai warisan. Berdasarkan pendapat ini, setengah untuk anak dan setengah untuk orang asing. Sebab, jika kita berikan kepada anak setengah dari dua pertiga, maka tersisa seperenam, yang dibagi antara penerima wasiat dan anak yang tidak menerima wasiat, masing-masing setengah sebagai warisan. Maka anak yang menerima wasiat memperoleh setengah dari wasiat dan setengah dari seperenam sebagai warisan, dan anak yang menyetujui memperoleh setengah dari seperenam sebagai warisan.

فإن أجازا للأجنبي تكملة النصف وقد أخذ الأجنبي الثلثَ فالموصى له يجيز نصف سدس والابن الذي لا وصية له يجيز نصف سدس فتمّ ملك النصف للأجنبي وقد فاز الموصى له بالنصف وصيةً فاستند الجواب الذي لم يقرره القفال على هذا الأصل تخريجاً على هذا الوجه وهو أصح الوجهين

Jika keduanya mengizinkan orang lain (asing) untuk melengkapi setengah bagian, dan orang asing tersebut telah mengambil sepertiga, maka penerima wasiat mengizinkan setengah dari seperenam, dan anak yang tidak mendapat wasiat juga mengizinkan setengah dari seperenam, sehingga sempurnalah kepemilikan setengah bagian bagi orang asing tersebut. Dengan demikian, penerima wasiat memperoleh setengah bagian sebagai wasiat. Maka jawaban yang tidak ditegaskan oleh al-Qaffal didasarkan pada prinsip ini, sebagai hasil istinbat dengan cara ini, dan inilah pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat.

فإن حكمنا بأن الموصى له بأكثر من حصته من الإرث لا حق له في الباقي فعلى هذا يبقى للابن الذي لا وصية له سدسٌ لا حظ فيه للابن الموصى له والأجنبي يحتاج إلى سدس إلى تمام النصف فإذا أجاز الموصى له هذه الزيادة في حق الأجنبي وأجازها الابن الذي لا وصية له فيُخرج كلُّ واحد منهما نصف سدس مما خلص له فينتقص نصف الموصى له بنصف سدس لإجازته الأجنبي ويُخرج الابنُ الذي لا وصية له نصفَ سدس فيتم النصفُ للأجنبي ويبقى للموصى له سدسٌ وربع والذي لا وصية له نصف سدس هذا وجه خروج جواب ابن سريج فانتظم وجهان مستندان إلى وجهي الأصحاب وقد انتهى كلامُ القفال تصرّفُه في هذه المسألة

Jika kita memutuskan bahwa penerima wasiat yang mendapatkan lebih dari bagiannya dalam warisan tidak berhak atas sisanya, maka dalam hal ini, anak yang tidak menerima wasiat tetap memiliki sepertiga warisan yang tidak boleh diambil oleh anak penerima wasiat. Sementara itu, pihak asing (bukan ahli waris) membutuhkan sepertiga lagi untuk melengkapi setengah bagian. Jika penerima wasiat mengizinkan tambahan ini untuk pihak asing, dan anak yang tidak menerima wasiat juga mengizinkannya, maka masing-masing dari mereka mengeluarkan setengah dari sepertiga bagian yang menjadi haknya. Dengan demikian, bagian penerima wasiat berkurang setengah sepertiga karena mengizinkan untuk pihak asing, dan anak yang tidak menerima wasiat juga mengeluarkan setengah sepertiga, sehingga genaplah setengah bagian untuk pihak asing. Maka, yang tersisa untuk penerima wasiat adalah sepertiga dan seperempat, dan untuk anak yang tidak menerima wasiat adalah setengah sepertiga. Inilah penjelasan keluarnya jawaban Ibn Suraij, sehingga terkumpul dua pendapat yang bersandar pada dua pendapat para ulama, dan dengan ini berakhirlah penjelasan al-Qaffal dalam pembahasannya tentang masalah ini.

ونحن نقول وراء ذلك: ليس ينقدح عندنا في المسألة جواب إلا صرف النصف إلى الابن الموصى له وصرف النصف إلى الأجنبي هذا هو المسلك القويم  وما عداه احتيالٌ لا حقيقة له

Dan kami mengatakan setelah itu: Tidak terlintas dalam benak kami dalam masalah ini jawaban selain membagi setengah kepada anak yang diwasiati dan setengah lagi kepada orang asing; inilah jalan yang lurus, adapun selain itu hanyalah rekayasa yang tidak ada hakikatnya.

والذي يقرّر الحقَّ في ذلك أنّا إن فرعنا على أن الموصى له من الابنين يفوز بالوصية ويشارك في الباقي فقد لاح أن للابن الموصى له النصفَ على هذا الوجه فلا حاجة إلى إجازته

Yang menetapkan kebenaran dalam hal ini adalah bahwa jika kita berasumsi bahwa anak laki-laki yang menerima wasiat memperoleh wasiat tersebut dan ikut serta dalam sisa harta, maka telah jelas bahwa anak laki-laki yang menerima wasiat mendapatkan setengah bagian dengan cara ini, sehingga tidak diperlukan persetujuannya.

وإذا فرعنا على الوجه الثاني فعليه خرّج القفال وجهَ ابن سريج كما بيّنه الآن ولا خروج له عندي فإنا على ذلك الوجه نقول: يفوز الابن الموصى له بالمقدار الموصى به فيبقى السدس حقاً للابن الذي لا وصية له فلا حاجة إلى إجازة الابن الموصى له وإنما ترتبط الإجازة في حق الأجنبي بالابن الذي لا وصية له ولا أثر لرد الموصَى له  فإنه لا يستحق من التركة إلا النصفَ الذي أخذه من جهة الوصية ولا إجازة من الوصية فإذا قال الابن الذي لا وصية له: أجزت وصية أبي كما قال فقد أسقط جميعَ حقه من المال فانصرف السدس إلى تكملة نصف الأجنبي على الخصوص ولا حاجة إلى إجازة الموصى له

Jika kita membangun pendapat berdasarkan wajah kedua, maka al-Qaffal mengeluarkan wajah Ibn Suraij sebagaimana telah dijelaskan sekarang, dan menurut saya tidak ada pengeluaran di sini. Sebab, pada wajah tersebut kita mengatakan: anak yang menerima wasiat mendapatkan bagian yang diwasiatkan kepadanya, sehingga sisa sepertiga menjadi hak anak yang tidak menerima wasiat. Maka, tidak diperlukan persetujuan dari anak yang menerima wasiat, dan persetujuan hanya terkait dengan hak orang asing terhadap anak yang tidak menerima wasiat. Penolakan dari penerima wasiat tidak berpengaruh, karena ia tidak berhak atas warisan kecuali setengah yang ia terima melalui wasiat, dan tidak ada persetujuan dari wasiat. Jika anak yang tidak menerima wasiat berkata, “Aku mengizinkan wasiat ayahku sebagaimana yang dikatakan,” maka ia telah menggugurkan seluruh haknya atas harta, sehingga sepertiga itu menjadi pelengkap setengah bagian orang asing secara khusus, dan tidak diperlukan persetujuan dari penerima wasiat.

وإذا نظر الناظر إلى وصيةٍ لشخصٍ مع طيب نفس من لا وصية له فخروجه من التركة في موافقة أبيه فكيف نطوّقه نصفَ سدس وهو لا يبغيه والوصيتان مستغرقتان للتركة فالوجه إذاً القطعُ بما أجاب به القفال أوَّلاً

Jika seseorang memperhatikan wasiat untuk seseorang dengan kerelaan hati dari orang yang tidak memiliki wasiat, maka pengeluaran wasiat itu dari harta warisan sesuai dengan pendapat ayahnya. Maka bagaimana kita membebankan kepadanya setengah dari sepertiga, padahal ia tidak menginginkannya, sedangkan kedua wasiat tersebut telah menghabiskan seluruh harta warisan? Maka yang tepat adalah memutuskan sebagaimana jawaban pertama yang diberikan oleh al-Qaffal.

ولو أوصى لأحد ابنيه بنصف ماله وأوصى لأجنبي بنصف ماله وأوصى لأجنبي آخر بثلث ماله فأجاز الابنان ورضيا

Jika seseorang berwasiat kepada salah satu dari dua anaknya dengan setengah hartanya, dan berwasiat kepada seorang asing dengan setengah hartanya, serta berwasiat kepada orang asing lain dengan sepertiga hartanya, lalu kedua anak tersebut membolehkannya dan rela,

موجبُ القضية في سبيل الجواب أن نقول:

Kesimpulan dari permasalahan ini sebagai jawaban adalah sebagai berikut:

نقدّر للأجنبيين الثلث ولا نتعرض معه لكيفية قسمته عليهما  حتى يستتم ما يحصل لهما

Kami menetapkan sepertiga bagian untuk dua orang asing tersebut dan tidak membahas bagaimana pembagiannya di antara keduanya sampai mereka memperoleh bagian yang menjadi hak mereka.

ونعود فنقول: قد خرج الثلث من غير حاجة إلى الإجازة ومجموع وصيتي الأجنبيين خمسةُ أسداس المال وقد خرج من غير حاجة إلى الإجازة الثلثُ فيبقى نصف المال موصى به بين الأجنبيين ولسنا نتعرض لكيفية وقوع ذلك النصف بينهما حتى نتبين الغرض آخراً  فقد بقي الثلثان من التركة والأجنبيَّان يضربان فيهما بالنصف والابن الموصى له بالنصف يضرب في الثلثين بالنصف فإذا استوى ما يضربان به جُزئيةً وقدراً اقتضى ذلك جعلَ الثلثين بين الابن الموصى له بالنصف وبين الأجنبيين نصفين فيقع الثلث للابن الموصى له ويصرف الثلث إلى جهة الأجنبيّين  فيحصل لهما ثلثان الثلث الأول من غير إجازة والثلث الثاني بالمضارَبة بعد وقوع الإجازة ثم نقول: يُقسَّمُ الثلثان بين الأجنبيّين أخماساً فإن وصية أحدهما النصف ووصية الثاني الثلث فالقسمة على هذه الجزئية توجب نسبة الأخماس فللموصى له بالنصف ثلاثة أخماس الثلثين وللموصى له بالثلث خمسا الثلثين

Kita kembali mengatakan: Sepertiga harta telah keluar tanpa memerlukan izin, dan jumlah wasiat untuk dua orang asing adalah lima per enam dari harta, di mana sepertiga telah keluar tanpa memerlukan izin. Maka, tersisa setengah harta yang diwasiatkan kepada dua orang asing tersebut. Kita tidak membahas bagaimana pembagian setengah itu di antara keduanya sampai kita menjelaskan maksudnya nanti. Maka, tersisa dua pertiga dari warisan, dan kedua orang asing tersebut mengambil bagian setengah dari dua pertiga itu, sedangkan anak yang diwasiati setengah juga mengambil bagian setengah dari dua pertiga itu. Jika bagian yang mereka ambil sama baik dari segi jumlah maupun kadar, maka hal itu mengharuskan dua pertiga tersebut dibagi antara anak yang diwasiati setengah dan kedua orang asing itu menjadi dua bagian yang sama, sehingga sepertiga jatuh kepada anak yang diwasiati, dan sepertiga lagi diberikan kepada kedua orang asing. Dengan demikian, keduanya memperoleh dua pertiga: sepertiga pertama tanpa izin, dan sepertiga kedua dengan cara musyarakah setelah adanya izin. Kemudian kita katakan: Dua pertiga itu dibagi antara kedua orang asing dalam bentuk kelima-kelima. Jika wasiat untuk salah satunya adalah setengah dan untuk yang lainnya sepertiga, maka pembagian pada bagian ini mengharuskan pembagian dalam bentuk kelima-kelima. Maka, yang diwasiati setengah mendapat tiga per lima dari dua pertiga, dan yang diwasiati sepertiga mendapat dua per lima dari dua pertiga.

وللابن الموصى له بالنصف الثلث وسبب نقصان حقه عن المبلغ الذي أخذه الأجنبي الموصى له بالنصف أنه استبد بأجزاء من الثلث الذي لا يزاحَم الأجنبي فيه  وانحصر حقُّ الابن الموصى له في الثلثين ثم اقتضى التضارب بينهم النصفَ له: نصفَ الثلثين

Bagi anak yang diwasiati setengah, ia mendapat sepertiga. Penyebab berkurangnya haknya dibandingkan jumlah yang diterima oleh orang asing yang diwasiati setengah adalah karena orang asing tersebut mengambil bagian dari sepertiga yang tidak ada yang menyainginya di dalamnya, sedangkan hak anak yang diwasiati terbatas pada dua pertiga, kemudian persaingan di antara mereka mengharuskan bagiannya menjadi setengah: setengah dari dua pertiga.

هذا هو الحق وليس يسوغ الالتفات على ما فرعنا عليه نقلاً عن القفال فإن ذلك الوجهَ لم ينتظم ولم نجد له فائدة فلا ينبغي أن يشغل الفقيه نفسه بالتعرض لمثله على أن ذلك إنما تخيله الحذاق من جهة أنه يبقى للابن المجيز شيء فتخيلوا معنى تفضيل الموصَى له واعتقدوا صرف الوصية إلى قدر التفضيل والابن المجيز في هذه المسألة لا يسلم له شيء فإن الوصايا عائلة زائدة على أجزاء المال

Inilah yang benar, dan tidak layak berpaling kepada apa yang telah kami cabang-cabangkan sebelumnya yang dinukil dari al-Qaffal, karena pendapat tersebut tidak tersusun dengan baik dan kami tidak menemukan manfaat darinya. Maka, tidak sepantasnya seorang faqih menyibukkan dirinya dengan membahas hal semacam itu. Selain itu, pendapat tersebut hanya dibayangkan oleh para ahli dari sisi bahwa masih ada bagian yang tersisa untuk anak yang mengizinkan, sehingga mereka membayangkan adanya makna keutamaan bagi penerima wasiat dan mengira bahwa wasiat itu diarahkan pada kadar keutamaan tersebut. Padahal, dalam masalah ini, anak yang mengizinkan tidak mendapatkan apa pun, karena wasiat-wasiat tersebut melebihi bagian-bagian harta.

هذا إذا أجاز الابنان للأجنبيين

Ini jika kedua anak laki-laki mengizinkan kepada dua orang asing.

فأما إذا قال الابن الذي لا وصية له: أجزت ما فعل أبي  وقال الابن الموصى له: رددتُ أنا ما يتعلق بي من الوصية الزائدة على الثلث للأجنبيين فقد قال الأستاذ: سبيل الجواب أن نقول: أما الثلث فإنه مصروف إلى الأجنبيين من غير احتياج إلى إجازة فيبقى الثلثان ونقسم المسألة من ستة ونقول فيها: لهما سهمان من ستة كما سنبين القسمة بينهما ثم نقدر سهمين في يد الموصى له وسهمين في يد المجيز ثم يفوز الموصى له بسهميه فيبقى السهمان في يد المجيز فيزدحم فيهما الابن الموصى له والأجنبيان على نسبةٍ واحدة فيصرف نصفه وهو سهم إلى الابن الموصى له ونصفه إلى الأجنبيين

Adapun jika anak yang tidak mendapat wasiat berkata: “Aku mengizinkan apa yang dilakukan ayahku,” dan anak yang mendapat wasiat berkata: “Aku menolak bagian yang berkaitan denganku dari wasiat yang melebihi sepertiga untuk dua orang asing,” maka menurut pendapat ustadz, cara menjawabnya adalah sebagai berikut: Adapun sepertiga harta, maka itu diberikan kepada dua orang asing tanpa memerlukan izin, sehingga tersisa dua pertiga. Kita membagi masalah ini dari enam bagian dan kita katakan: keduanya mendapat dua bagian dari enam, sebagaimana akan kami jelaskan pembagiannya di antara mereka. Kemudian kita anggap dua bagian di tangan penerima wasiat dan dua bagian di tangan yang mengizinkan, lalu penerima wasiat memperoleh dua bagiannya, sehingga tersisa dua bagian di tangan yang mengizinkan. Maka, pada dua bagian ini, anak penerima wasiat dan dua orang asing bersaing dengan porsi yang sama; setengahnya, yaitu satu bagian, diberikan kepada anak penerima wasiat, dan setengahnya lagi kepada dua orang asing.

وبيان ذلك أن الأجنبيين كانا يضربان بالنصف وهو سهم إلى الابن الموصى له والابنُ الموصى له والأجنبيان على نسبة واحدة فيصرف نصفه وهو سهم إلى الابن الموصى له ونصفه إلى الأجنبي

Penjelasannya adalah bahwa kedua orang asing itu masing-masing mendapat setengah bagian, yaitu satu saham, kepada anak yang menerima wasiat, dan anak penerima wasiat serta kedua orang asing itu berada pada perbandingan yang sama, sehingga setengahnya, yaitu satu saham, diberikan kepada anak penerima wasiat dan setengahnya lagi kepada orang asing.

وبيان ذلك أن الأجنبيين كانا يضربان بالنصف بعد إقرار الثلث وضربهما بسدس من كل واحد من الثلثين الباقيين ثم إن الابن الموصى له لما ردّ ما يتعلق به فقد رجع إلى حق الإرث في ثلث المال فكأنه قطع عن هذا الثلث ضربَ الأجنبي وقطع عنه أيضاً حكمَ الوصية في حق نفسه واكتفى في هذا الثلث بجهة الإرث فانقطع عن هذا الثلث حق الوصايا كلها وبقي الأجنبيان على نسبة النصف في الثلث الباقي وبقي الابن الموصى له على مثل تلك النسبة في ذلك الثلث فإن نصفي الجهتين ثبتا على قضية واحدة ثم انقطعت الجهتان عن أحد الثلثين على نسبة واحدة فبقي التضارب في الثلث الباقي على نسبة واحدة

Penjelasannya adalah bahwa kedua orang asing tersebut mendapatkan setengah bagian setelah menetapkan sepertiga, dan keduanya mengambil seperenam dari masing-masing dua pertiga sisanya. Kemudian, ketika anak yang menerima wasiat mengembalikan bagian yang berkaitan dengannya, ia kembali kepada hak waris atas sepertiga harta, sehingga seolah-olah ia terputus dari sepertiga ini dari bagian orang asing, dan juga terputus dari hukum wasiat atas dirinya sendiri, serta mencukupkan diri dalam sepertiga ini hanya dengan jalur waris. Maka, pada sepertiga ini, seluruh hak wasiat terputus, dan kedua orang asing tetap pada proporsi setengah di sepertiga yang tersisa, dan anak yang menerima wasiat juga tetap pada proporsi yang sama di sepertiga tersebut. Maka, kedua setengah dari kedua pihak tetap pada satu ketentuan, kemudian kedua pihak terputus dari salah satu sepertiga dengan proporsi yang sama, sehingga perbandingan di sepertiga yang tersisa tetap pada satu proporsi.

هذا بيان مسائل الباب وما مرت من مسائل الكتاب أعوصُ وأغمضُ منها وسبب ذلك عسر تصوير الوصية للوارث فإنه يستحق بجهة الإرث فإذا صححنا له الوصية أُحوجنا إلى الوصية لمالكٍ في بعض ما أُوصي له وحق الإرث قهري والوصية نحلة  فاعتاصت مسائل الباب لأنها استحدثت قضيةً في الوصايا لا عهد بها

Ini adalah penjelasan tentang masalah-masalah dalam bab ini, dan sesungguhnya masalah-masalah yang telah lalu dalam kitab ini lebih rumit dan lebih sulit daripada masalah-masalah dalam bab ini. Sebabnya adalah sulitnya membayangkan wasiat kepada ahli waris, karena ia berhak menerima harta dengan sebab warisan. Jika kita membolehkan wasiat untuknya, maka kita terpaksa membolehkan wasiat kepada pemilik dalam sebagian dari apa yang diwasiatkan kepadanya, sedangkan hak waris itu bersifat otomatis dan wasiat adalah pemberian sukarela. Maka masalah-masalah dalam bab ini menjadi rumit karena munculnya kasus baru dalam wasiat yang sebelumnya tidak dikenal.

ومما نختم الفصلَ به أنَّا حكينا عن الأصحاب أن الوصية للوارث والأجنبي إذا ثبتت فالأجنبي مقدّمٌ بحقه: مقدارِ الثلث والورثةُ لا يزاحِمون فيه فإن الثلث محل حق الأجانب وإنما تُفرض الزحمة من الوارث والأجنبي في الوصية الواقعة وراء الثلث هذا هو الأصل وعليه تفريع المسائل وتعليله واضح

Sebagai penutup bab ini, kami telah meriwayatkan dari para sahabat (ulama mazhab) bahwa wasiat kepada ahli waris dan orang luar, jika telah tetap, maka orang luar didahulukan haknya: yaitu sebesar sepertiga, dan para ahli waris tidak boleh bersaing dalam hal itu, karena sepertiga adalah tempat hak bagi orang-orang luar. Adapun persaingan antara ahli waris dan orang luar hanya terjadi pada wasiat yang melebihi sepertiga. Inilah kaidah dasarnya, dan seluruh cabang permasalahan dibangun di atasnya, serta alasannya pun jelas.

فلو أوصى بثلث ماله لأجنبي ووارث ثم ردّ الورثة الوصيةَ للوارث فالسدس للأجنبي فإن الموصي لم يوصِ له إلا بالسدس لمّا جعل الثلث بينه وبين الوارث

Jika seseorang berwasiat sepertiga hartanya kepada orang luar dan ahli waris, kemudian para ahli waris mengembalikan wasiat tersebut kepada ahli waris, maka sepertiga yang menjadi hak orang luar adalah seperenam. Sebab, orang yang berwasiat itu sebenarnya hanya mewasiatkan seperenam kepadanya ketika ia membagi sepertiga itu antara orang luar dan ahli waris.

ونُقل أن أبا حنيفة صرف الثلث بكماله إلى الأجنبي في هذه الصورة وهذا مذهب سخيف  من جهة أن صيغة الوصية في وضعها لم تقتضِ للأجنبي إلا نصفَ الثلث فلئن بطلت الوصية في حق الوارث في مقدارٍ من الثلث فإثبات الزيادة للأجنبي على ما يقتضيه لفظ الموصي بحاله

Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah memberikan sepertiga harta secara penuh kepada orang asing dalam kasus ini, dan ini adalah pendapat yang lemah, karena secara asalnya, redaksi wasiat tidak menetapkan bagi orang asing kecuali setengah dari sepertiga. Maka jika wasiat untuk ahli waris batal pada sebagian dari sepertiga, menetapkan tambahan bagi orang asing melebihi apa yang ditetapkan oleh lafaz pewasiat dalam kondisinya adalah tidak tepat.

ولو أوصى لأجنبي بثلث ماله وأوصى لأحد الورثة بثلث ماله ورد الورثةُ الوصيةَ للوارث فتبقَى الوصيةُ بالثلث في حق الأجنبي

Jika seseorang berwasiat kepada orang luar (bukan ahli waris) dengan sepertiga hartanya dan berwasiat kepada salah satu ahli waris dengan sepertiga hartanya, lalu para ahli waris menolak wasiat untuk ahli waris tersebut, maka wasiat sepertiga harta tetap berlaku bagi orang luar.

ولو كانت المسألة بحالها ببيان الورثة بردّ الوصيتين إلى الثلث ثم يبطل حق الوارث فيبقى للأجنبي السدس كان ذلك محالاً منهم لأن الوصية وقعت بالثلث للأجنبي فلا حطيطة في حقه من الثلث قط وأيضاً فإن الورثة إذا أرادوا ردّ وصية الوارث فكيف يقدرونه مزاحماً لا حق له

Jika permasalahan tetap seperti itu, dengan penjelasan tentang para ahli waris melalui pengembalian dua wasiat kepada sepertiga, kemudian hak ahli waris dibatalkan sehingga yang tersisa bagi orang asing adalah seperenam, maka hal itu merupakan kekeliruan dari mereka. Sebab, wasiat telah diberikan sepertiga kepada orang asing, sehingga tidak ada pengurangan haknya dari sepertiga sama sekali. Selain itu, jika para ahli waris ingin menolak wasiat untuk ahli waris, bagaimana mungkin mereka menganggapnya sebagai pihak yang bersaing padahal ia tidak memiliki hak?

ولو قالوا: نرد الوصيتين إلى الثلث فيكون الثلث بين الوارث وبين الأجنبي قيل: لا سبيل إلى ذلك فإن الأجنبي لا ينقص من الثلث فإن الوصية وقعت في حقه بالثلث

Jika mereka berkata: “Kita kembalikan kedua wasiat itu kepada sepertiga, sehingga sepertiga tersebut dibagi antara ahli waris dan orang luar,” maka dikatakan: Tidak boleh demikian, karena bagian orang luar tidak boleh dikurangi dari sepertiga, sebab wasiat itu telah ditetapkan untuknya sebesar sepertiga.

هذا قانون الباب

Ini adalah kaidah bab ini.

وقد حكى الصيدلانيُّ مسألةً وفيها وجهٌ عن القفال أخرت حكايته لأنه ليس معتداً به وهو من الهفوات ولولا الثقة بنقله وعلو قدر المنقول عنه لما استجزت نقلَه: فنذكر تلك المسألة قال: إذا أوصى لأجنبي بثلث ماله وأوصى لكل واحد من ابنيه بثلث ماله فأجاز كل واحد من الابنين لصاحبه ولم يجيزا للأجنبي

Ash-Shaykh Ash-Shaydalani telah meriwayatkan sebuah permasalahan, dan di dalamnya terdapat satu pendapat dari Al-Qaffal yang saya tunda penyebutannya karena tidak dianggap sebagai pendapat yang diakui dan termasuk kekeliruan. Kalau bukan karena kepercayaan terhadap periwayatannya dan tingginya kedudukan orang yang diriwayatkan darinya, niscaya saya tidak akan berani meriwayatkannya. Maka kami sebutkan permasalahan tersebut, beliau berkata: Jika seseorang berwasiat kepada orang asing dengan sepertiga hartanya, dan berwasiat kepada masing-masing dari dua anaknya dengan sepertiga hartanya, lalu masing-masing dari kedua anak tersebut mengizinkan bagian saudaranya namun tidak mengizinkan bagian untuk orang asing.

فالمذهب المبتوت أن الأجنبي يستحق ثلثَ المال ولا معنى لقولهما: لا نجيز للأجنبي فإن الثلث مستحق للأجنبي لا حاجة فيه إلى الإجازة ولا أثر فيه للرد كما قدمناه

Maka mazhab yang telah ditetapkan adalah bahwa orang asing berhak atas sepertiga harta, dan tidak ada makna dari ucapan keduanya: “Kami tidak mengizinkan untuk orang asing,” karena sepertiga itu memang menjadi hak orang asing, tidak membutuhkan izin, dan penolakan tidak berpengaruh padanya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

وحكى عن القفال وجهاً ثانياً أن للأجنبي ثلث أسهل الثلث فإن ثلثه كان شائعاً في أثلاث المال وإذا ردّ الابنان حقَّه عن ثلثيهما فقد سقط ثلثا الثلث وهذا ليس بشيء وهو خرمٌ للقاعدة التي أجمع الأصحاب عليها وإذا لم يكن للوارث أن ينقص حق الأجنبي في الثلث حيث لا وصية للوارث فكيف ينتظم من الابنين أن ينقصا ثلثه بأن فرضت لهما وصية ثم لا حاصل للوصية بمقدار الإرث إذْ لكل واحد من الابنين الثلث فالوصية بالثلث المستحق بالإرث لا حاصل له

Diriwayatkan dari al-Qaffal pendapat kedua bahwa bagi orang asing (bukan ahli waris) mendapatkan sepertiga dari sepertiga yang paling mudah, karena sepertiganya tersebar di antara tiga bagian harta. Jika kedua anak laki-laki mengembalikan haknya dari dua pertiga milik mereka, maka dua pertiga dari sepertiga itu gugur. Namun, pendapat ini tidak benar, karena bertentangan dengan kaidah yang telah disepakati para sahabat (ulama mazhab). Jika ahli waris tidak berhak mengurangi hak orang asing dalam sepertiga harta ketika tidak ada wasiat untuk ahli waris, maka bagaimana mungkin kedua anak itu dapat mengurangi sepertiganya dengan cara menetapkan wasiat untuk mereka berdua? Padahal, tidak ada hasil dari wasiat sebesar bagian warisan, sebab masing-masing anak laki-laki mendapat sepertiga, sehingga wasiat dengan sepertiga yang memang sudah menjadi hak waris tidak ada hasilnya.

هذا تمام المراد في ذلك

Inilah seluruh maksud yang dimaksudkan dalam hal itu.

فرع متعلق بالوصية للوارث:

Cabang yang berkaitan dengan wasiat kepada ahli waris:

إذا وقف الرجل داراً لا يملك غيرها على ابنه وابنته لا يرثه غيرُهما فقد مضى هذا في فرع ابن الحداد ولكنا رسمنا هذا الفرع لمزيد معنى  فلو ردّا الوقفَ في الزائد على الثلث ارتد الوقفُ بردهما في الثلثين وبقي الوقف في مقدار الثلث ثم الثلثان يقسمانها للذكر مثل حظ الأثثيين ويبقى الثلث موقوفاً بينهما والوقف لازمٌ فيه تفريعاً على الأصل الذي فرعنا عليه مسألةَ ابن الحداد

Jika seseorang mewakafkan sebuah rumah yang tidak memiliki harta lain selain itu kepada anak laki-laki dan anak perempuannya, dan tidak ada ahli waris lain selain keduanya, maka hal ini telah dibahas dalam cabang Ibn al-Haddad. Namun, kami menuliskan cabang ini untuk menambah makna. Jika keduanya menolak wakaf pada bagian yang melebihi sepertiga, maka wakaf tersebut batal pada dua pertiga bagian, dan wakaf tetap berlaku pada sepertiga bagian. Kemudian, dua pertiga bagian dibagi antara keduanya dengan perbandingan laki-laki mendapat dua bagian dan perempuan satu bagian. Adapun sepertiga bagian tetap menjadi wakaf di antara keduanya, dan wakaf tersebut bersifat mengikat berdasarkan cabang hukum yang telah kami uraikan pada masalah Ibn al-Haddad.

فإن قيل: إن كان الوقف في ثلث الدار بينهما نصفين فهذا خلاف ما يقتضيه وضع القسمة فإن حق الذكر ضعفُ حق الأنثيين فهذا الساري تفاضلٌ في الحقيقة بالإضافة إلى حق الذكر والأنثى في الميراث وقد ذكرنا أن الأب لو أراد أن يفضّل بعضَ ورثته على بعض في الثلث الذي هو محل تصرفه لم يكن له ذلك على المذهب

Jika dikatakan: Jika wakaf pada sepertiga rumah itu dibagi antara keduanya secara setengah-setengah, maka ini bertentangan dengan ketentuan pembagian, karena hak laki-laki adalah dua kali hak dua perempuan. Maka pembagian seperti ini pada hakikatnya merupakan pembedaan (tafāḍul) jika dibandingkan dengan hak laki-laki dan perempuan dalam warisan. Padahal telah kami sebutkan bahwa jika seorang ayah ingin mengutamakan sebagian ahli warisnya atas sebagian yang lain dalam sepertiga harta yang menjadi hak pengelolaannya, maka menurut mazhab, ia tidak diperbolehkan melakukan hal itu.

فإن قلنا: الوقف في الثلث بينهما على التفاوت كان ذلك على خلاف شرط الواقف فإن موجبَ شرطه التسويةُ بينهما فإن رُدَّ الوقف في مقدار لحق الورثة في الملك  فتغييّر شرط الواقف في المقدار الذي يصح الوقف فيه محال قلنا: الشرط أولاً أن الوقف على التفاوت ووجه الجواب عما ذكره القائل من خروج الوقف عن شرط الواقف أنا نقدّ الثلثين مثلاً في جانب الابن والثلث في جانبها ثم الابن نقضَ الوقف في ثلثي حصته ونفرض نقْضَ ثلثي حصتها فيبقى ثلث حصتها وهو تسع ويبقى ثلث حصته وهو تسعان

Jika kita katakan: penetapan wakaf pada sepertiga bagian di antara keduanya secara tidak merata, maka hal itu bertentangan dengan syarat yang ditetapkan oleh pewakaf, karena konsekuensi dari syaratnya adalah adanya kesetaraan di antara keduanya. Jika wakaf dikembalikan pada kadar yang menjadi hak ahli waris dalam kepemilikan, maka perubahan syarat pewakaf pada kadar yang sah untuk diwakafkan adalah mustahil. Kami katakan: syaratnya pada awalnya adalah wakaf secara tidak merata. Adapun jawaban atas apa yang dikatakan oleh orang yang berpendapat bahwa wakaf keluar dari syarat pewakaf adalah: kita menganggap dua pertiga, misalnya, berada di pihak anak laki-laki dan sepertiga di pihak perempuan. Kemudian anak laki-laki membatalkan wakaf pada dua pertiga bagiannya, dan kita anggap pembatalan dua pertiga bagiannya juga pada pihak perempuan, sehingga yang tersisa adalah sepertiga bagiannya, yaitu sepersembilan, dan yang tersisa dari bagian anak laki-laki adalah dua per sembilan.

وإن أحببت قلت: نقدر الدار في يد كل واحد منهما على حكم الوقف المرسل ثم الابن يسترد سدسها حتى يكون في يده ضعف ما في يدها ثم الذي يسترده لا يبقى وقفاً ثم يزداد في نقض الوقف حتى يرجع إلى ما ذكرناه

Jika engkau mau, engkau dapat mengatakan: Kita menganggap rumah itu berada di tangan masing-masing dari keduanya berdasarkan hukum waqaf mursal, kemudian anak laki-laki mengambil kembali seperenamnya sehingga di tangannya menjadi dua kali lipat dari yang ada di tangan perempuan, lalu bagian yang diambil kembali itu tidak lagi menjadi waqaf, kemudian pembatalan waqaf itu bertambah hingga kembali kepada apa yang telah kami sebutkan.

فرع:

Cabang:

إذا خلف رجل ورثةً وأعيانَ أموال فأوصى لكل واحد منهم بعينٍ من أعيان ماله وكانت قيمة تلك العين على قدر حصة ذلك الشخص الذي عيّن له تلك العين فلم يفضِّل في أقدار المالية وإنما خصص كلاً بعينٍ

Jika seseorang meninggalkan ahli waris dan harta benda tertentu, lalu ia berwasiat kepada masing-masing dari mereka dengan satu benda tertentu dari hartanya, dan nilai benda tersebut sesuai dengan bagian orang yang ditentukan baginya benda itu, sehingga ia tidak melebihkan dalam nilai harta, melainkan hanya mengkhususkan masing-masing dengan satu benda tertentu.

مثل أن يخلف بنين وأعبداً قيمهم متساوية وأوصى لكل واحد من بنيه بعبد معيّن

Misalnya, seseorang meninggalkan anak-anak laki-laki dan beberapa budak yang nilai mereka sama, lalu ia berwasiat agar masing-masing anaknya mendapatkan seorang budak tertentu.

فقد اختلف أئمتنا في ذلك على وجهين قال قائلون: ينفُذُ ذلك وليس لبعضهم أن يبطل التعيين على البعض فإن حقوقهم في المقادير لا في الأعيان بدليل أنه لو باع داراً منه في مرض موته بثمن مثلها لم يُنقض ذلك عليه ولم يكن تعيين الدار له بالبيع وصية

Para imam kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat. Sebagian mengatakan: hal itu sah dan tidak boleh bagi sebagian mereka membatalkan penetapan bagian untuk sebagian yang lain, karena hak mereka terletak pada kadar, bukan pada benda tertentu. Buktinya, jika seseorang menjual sebuah rumah miliknya saat sakit menjelang wafat dengan harga sepadan, maka penjualan itu tidak dibatalkan atasnya, dan penetapan rumah tersebut untuknya melalui penjualan bukanlah wasiat.

وذهب بعضهم إلى أن ذلك وصية وللبعض أن يبطل على البعض فإن للناس في الأعيان أغراضاً واضحة فلا يجوز إبطالها بطريق الشرع وليس كالبيع فإنه عقدٌ لازم فإذا خلا عن المحاباة نفذ البيع لوضعه في أصل الشرع

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu adalah wasiat, dan sebagian pihak dapat membatalkan terhadap sebagian yang lain, karena manusia memiliki tujuan-tujuan yang jelas terhadap benda-benda tertentu, sehingga tidak boleh dibatalkan melalui ketentuan syariat. Hal ini tidak seperti jual beli, karena jual beli adalah akad yang mengikat; maka jika terbebas dari unsur saling memberi kelebihan (muḥābāh), jual beli tersebut sah menurut ketentuan asal dalam syariat.

فصل قال: ويجوز الوصية لما في البطن وبما في البطن إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Boleh berwasiat untuk janin yang ada dalam kandungan dan untuk apa yang ada dalam kandungan hingga akhirnya.”

هذا الفصل مشتمل على مقصودين: أحدهما الوصية للحمل والثاني الوصية بالحمل

Bab ini mencakup dua tujuan: yang pertama adalah wasiat untuk janin, dan yang kedua adalah wasiat dengan janin.

فأما الوصية للحمل فإنها جائزٌ بشرطين: أحدهما أن ينفصل الحمل حيّاً ويكون بحيث تصح الوصية لمثله حالة الانفصال ولو انفصل ميتاً فلا وصية ولا يُقضَى بأنها صحت وبطلت بل نتبين أنها لم تصح ولا فرق بين أن ينفصل ميتاً بإجهاض من غير جناية وبين أن ينفصل بجناية جانٍ وإنما ذكرنا هذا على وضوحه  لأنا قد نقيم الولد المنفصل بالجناية مقام الولد المنفصل حياً في قاعدة الغرور فإن المغرور لا يغرم قيمة الولد إذا انفصل ميتاً ويغرَم قيمته إذا انفصل حياً وإذا انفصل بجناية يقوَّم ويرجع عليه  على تفصيلٍ طويل سيأتي إن شاء الله عز وجل في كتاب النكاح

Adapun wasiat untuk janin, hukumnya boleh dengan dua syarat: pertama, janin tersebut lahir dalam keadaan hidup dan pada saat lahir itu termasuk orang yang sah menerima wasiat; jika lahir dalam keadaan meninggal, maka tidak ada wasiat dan tidak diputuskan bahwa wasiat itu sah lalu batal, melainkan kita mengetahui bahwa wasiat itu memang tidak sah. Tidak ada perbedaan antara janin yang lahir meninggal karena keguguran tanpa ada tindak kejahatan, dengan janin yang lahir akibat tindakan kejahatan seseorang. Kami menyebutkan hal ini meskipun sudah jelas, karena terkadang anak yang lahir akibat kejahatan diperlakukan seperti anak yang lahir hidup dalam kaidah gharar, yaitu orang yang menipu tidak wajib membayar ganti rugi nilai anak jika anak itu lahir dalam keadaan meninggal, dan wajib membayar ganti rugi jika anak itu lahir hidup. Jika anak lahir akibat kejahatan, maka nilainya dihitung dan pelaku kejahatan harus menggantinya, dengan rincian yang panjang yang akan dijelaskan, insya Allah, dalam Kitab Nikah.

فأحببنا أن نقطع وهم من يظن أنا نفصل بين السقوط بالجناية وبين السقوط من غير جناية كصنعنا في الغرور فإن هذا الأصلَ وهو الوصية مداره على استيقان حياة الموصى له وهذا المعنى يفوت بانفصال الجنين ميتاً سواء انفصل بجناية أو غيرها

Maka kami ingin menghilangkan anggapan keliru bagi siapa saja yang menyangka bahwa kami membedakan antara gugurnya janin karena tindakan pidana dan gugurnya tanpa tindakan pidana, sebagaimana yang kami lakukan dalam kasus gharar. Sesungguhnya kaidah ini, yaitu wasiat, berporos pada keyakinan akan hidupnya penerima wasiat, dan makna ini hilang apabila janin terlahir dalam keadaan mati, baik kematiannya disebabkan oleh tindakan pidana maupun sebab lainnya.

هذا أحد الشرطين

Ini adalah salah satu dari dua syarat.

والشرط الثاني أن يكون العلوق بالولد الموصى له متحققاً حالة الوصية فإذا أوصى لحملٍ بشيء فأتت المرأة به لأقلَّ من ستة أشهر من وقت الوصية فقد استيقنا وجودَ الحمل حالة الوصية

Syarat kedua adalah keterkaitan dengan anak yang diwasiatkan harus benar-benar ada pada saat wasiat dibuat. Jika seseorang berwasiat untuk janin dengan sesuatu, lalu wanita tersebut melahirkan anak itu dalam waktu kurang dari enam bulan sejak wasiat dibuat, maka kita dapat memastikan bahwa janin tersebut memang sudah ada pada saat wasiat dibuat.

ولا ينبغي للفقيه أن يصرف فكره إلى اشتراط كون الحمل حياً حالة الوصية فإن هذا لا مطلع عليه والحملُ جنين فيكفي وجود العلوق حالة الوصية وتحقق الحياة حالة الانفصال

Seorang faqih tidak sepatutnya memusatkan pikirannya pada persyaratan bahwa janin harus hidup pada saat wasiat, karena hal itu tidak dapat diketahui, sedangkan janin masih berada dalam kandungan. Maka, cukup dengan adanya kehamilan pada saat wasiat dan terbuktinya kehidupan pada saat kelahiran.

ولو أتت المرأة بالولد لأكثر من أربع سنين من وقت الوصية فلا شك في بطلان الوصية فإنه أوصى للحمل الكائن وقد تحقق أنه لم يكن حالة الوصية حملٌ

Jika seorang wanita melahirkan anak lebih dari empat tahun setelah waktu wasiat, maka tidak diragukan lagi bahwa wasiat tersebut batal, karena wasiat itu diberikan untuk janin yang ada, dan telah dipastikan bahwa pada saat wasiat dibuat tidak ada janin.

ولو أتت بالولد لأقلَّ من أربع سنين وأكثر من ستة أشهر نُظر: فإن كانت المرأة تحت زوج يُظن أنه يغشاها فلا تصح الوصية لجواز أنها علقت بعد الوصية بوطء الزوج إياها

Jika seorang wanita melahirkan anak dalam waktu kurang dari empat tahun dan lebih dari enam bulan, maka perlu diteliti: apabila wanita tersebut masih menjadi istri seorang suami yang diduga masih menggaulinya, maka wasiat itu tidak sah, karena dimungkinkan ia hamil setelah wasiat dibuat akibat hubungan suami-istri.

ولو لم تكن ذات زوج فأتت بولدٍ لأكثرَ من ستة أشهر فهل تصح الوصية له

Jika seorang perempuan yang tidak bersuami melahirkan seorang anak setelah lebih dari enam bulan, apakah wasiat untuk anak tersebut sah?

فعلى وجهين مشهورين: أحدهما أن الوصية لا تصح لجواز حدوث العلوق بعد الوصية بوطء شبهة أو سفاح

Ada dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa wasiat tidak sah karena dimungkinkan terjadinya hubungan nasab setelah wasiat, baik melalui hubungan syubhat maupun zina.

والوجه الثاني أن الوصية تصح إذ لا سبب يستند إليه تجدد الوطء وتقدير وطء الشبهة والزنا بعيد ودوام الحمل أكثر من ستة أشهر غالبٌ غيرُ نادر فإن الوضع على الستة والسبعة من النوادر التي تذكر

Alasan kedua adalah bahwa wasiat itu sah karena tidak ada sebab yang dapat dijadikan sandaran untuk terjadinya hubungan suami istri yang baru, dan menganggap adanya hubungan syubhat atau zina adalah sesuatu yang jauh, sedangkan kehamilan yang berlangsung lebih dari enam bulan adalah hal yang umum dan bukan sesuatu yang langka, karena kelahiran pada usia enam atau tujuh bulan adalah kejadian langka yang hanya disebut-sebut saja.

هذا تأسيس الكلام

Ini adalah dasar pembahasan.

ولو قال للحامل: أوصيت لحملك من فلانٍ بكذا فأتت به لأقلَّ من ستة أشهر من وقت الوصية ولمدة يقتضي الشرع التحاقه بمن نسبه إليه استحق الوصية إذا انفصل حياً حتى لو كان طلقها فأتت به لأقلَّ من ستة أشهر من وقت الوصية ولأكثر من ستة أشهر من وقت الطلاق وأقلّ من أربع سنين فالولد يلحق والوصية تثبت

Jika seseorang berkata kepada wanita hamil: “Aku mewasiatkan kepada janinmu dari Fulan dengan sekian,” lalu ia melahirkan anaknya dalam waktu kurang dari enam bulan sejak wasiat itu dibuat, dan dalam jangka waktu yang menurut syariat anak tersebut dapat dinisbatkan kepada orang yang menasabkannya, maka wasiat itu berhak diterima jika anak itu lahir dalam keadaan hidup. Bahkan jika ia telah menceraikannya, lalu wanita itu melahirkan anaknya dalam waktu kurang dari enam bulan sejak wasiat dibuat, dan lebih dari enam bulan sejak perceraian, serta kurang dari empat tahun, maka anak itu tetap dinisbatkan kepadanya dan wasiat tersebut tetap berlaku.

فإن قيل: ذكرتم أن الوصية لا تثبت ما لم تستند إلى تعيين وثبوت النسب

Jika dikatakan: Kalian telah menyebutkan bahwa wasiat tidak berlaku kecuali jika didasarkan pada penetapan dan ketetapan nasab.

وثبوتُ النسب في الصورة التي ذكرتموها ليس مستيقناً

Penetapan nasab dalam kasus yang kalian sebutkan itu tidaklah meyakinkan.

قلنا: أولاً تحقق الوجود فلا طريق لثبوت النسب إلا ظاهرُ الإمكان مع تقدم الفراش فيحمل قوله في النسب على الممكن فيه

Kami katakan: Pertama, terjadinya keberadaan (anak) telah terbukti, maka tidak ada jalan untuk menetapkan nasab kecuali dengan kemungkinan lahiriah disertai adanya pernikahan (firas) sebelumnya, sehingga perkataannya tentang nasab diarahkan pada kasus yang memungkinkan.

ولو أتت بالولد لأقلَّ من ستة أشهر من وقت الفراق لما كان النسب مقطوعاً به حسّاً  فإن كون الحمل من رجل معين غيبٌ لا اطلاع عليه ولكن يكفي ويكون النسب محكوماً به نعم لو أتت بالحمل لأكثر من ستة أشهر من وقت الوصية ولأكثرَ من وقت الطلاق حيّاً  ولأقل من أربع سنين من الوصية والطلاق فالنسب يثبت والوصية لا تثبت فإن ثبوت النسب يعتمد الإمكان و قد تحقق وثبوت الوصية يستدعي استيقان الوجود حالة العقد وهذا المعنى لم يتحقق

Jika seorang wanita melahirkan anak dalam waktu kurang dari enam bulan sejak perpisahan, maka nasabnya tidak dapat dipastikan secara inderawi, karena keberadaan janin dari seorang laki-laki tertentu adalah perkara gaib yang tidak dapat diketahui. Namun, cukup dan nasabnya tetap dihukumi sah. Ya, jika ia mengandung lebih dari enam bulan sejak wasiat atau lebih dari waktu talak dalam keadaan anak itu hidup, dan kurang dari empat tahun sejak wasiat atau talak, maka nasabnya tetap dan wasiatnya tidak tetap. Sebab, penetapan nasab bergantung pada kemungkinan, dan hal itu telah terbukti, sedangkan penetapan wasiat memerlukan keyakinan akan keberadaan (anak) pada saat akad, dan makna ini belum terwujud.

هذا أصح الوجهين

Ini adalah pendapat yang lebih shahih di antara dua pendapat.

ومن أئمتنا من أثبت الوصية إذا لم تكن ذات زوج ولم يبنِ الأمرَ على تقدير وطء شبهة أو سفاح على ما قدمنا ذكره

Di antara para imam kami ada yang menetapkan adanya wasiat jika perempuan tersebut tidak bersuami, dan tidak mendasarkan perkara ini pada anggapan terjadinya hubungan (seksual) karena syubhat atau zina, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

ثم ذكر صاحب التقريب مسائل فيه

Kemudian penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan beberapa permasalahan di dalamnya.

Permasalahan tentang wasiat untuk janin

منها: أنه لو قال الموصي: أوصيت لحمل فلانة بكذا فخرج اثنان حيان فالوصية لهما جميعاً

Di antaranya: jika seorang yang berwasiat berkata, “Aku berwasiat untuk janin si fulanah dengan sekian,” lalu ternyata lahir dua anak dalam keadaan hidup, maka wasiat tersebut berlaku untuk keduanya.

ولو خرج أحدهما حيّاً والآخر ميتاً فجميع الوصية للحي ويجعل كأن الميت لم يكن ولا نقول: إن الوصية تتقسط على الولدين ثم تبطل حصة الميت وليس كما لو أوصى لحي وميت ابتداء فإنا قد نسقط قسطاً من الوصية على ما سيأتي ذلك مشروحاً من بعدُ إن شاء الله عز وجل

Jika salah satu dari keduanya keluar dalam keadaan hidup dan yang lainnya dalam keadaan meninggal, maka seluruh wasiat diberikan kepada yang hidup, dan dianggap seolah-olah yang meninggal itu tidak pernah ada. Kami tidak mengatakan bahwa wasiat itu dibagi rata kepada dua anak, lalu bagian yang meninggal menjadi batal. Hal ini berbeda dengan jika seseorang berwasiat kepada orang yang hidup dan yang meninggal sejak awal, maka kami memang menggugurkan sebagian dari wasiat tersebut, sebagaimana hal itu akan dijelaskan kemudian, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

هذا ما ذكره صاحب التقريب ووجهه أن الميت غيرُ معتد به في الحمل وكأنه عَلقَة أو مُضغة ولا حمل إلا الحي وليس يخلو ما ذكره عن كلام  فإنه لو أوصى لحمل امرأة فانفصل ميتاً فقيل: الوصية باطلة كما إذا ابتدأ فأوصى لميت والميت حمل فلا تصح الوصية له فلا يبعد عن القياس أن نقول: لو نيطت الوصية بالحمل وهو حي وميت فليبطل قسطٌ منها يقابل الميت

Inilah yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb, dan alasannya adalah bahwa janin yang telah meninggal tidak dianggap sebagai “hamil”, seolah-olah ia hanyalah segumpal darah atau segumpal daging, dan yang disebut “hamil” hanyalah janin yang hidup. Namun, apa yang disebutkan itu tidak lepas dari pembahasan, sebab jika seseorang berwasiat untuk janin seorang wanita, lalu janin itu lahir dalam keadaan mati, ada pendapat yang mengatakan: wasiat tersebut batal, sebagaimana jika seseorang langsung berwasiat kepada orang yang sudah mati, dan janin yang mati itu juga termasuk yang tidak sah menerima wasiat. Maka, tidak jauh dari qiyās jika kita mengatakan: jika wasiat itu dikaitkan dengan janin, baik yang hidup maupun yang mati, maka hendaknya bagian wasiat yang ditujukan untuk janin yang mati itu dibatalkan.

ومما ذكره صاحب التقريب أنه لو قال: إن كان حملك غلاماً فقد أوصيت له بألف فأتت بغلامين فلا شيء لواحد منهما فإن حملها عبارة عن جميع ما يحتوي عليه رحمها فقد بان أن حملها لم يكن غلاماً بل كان غلامين وكذلك لو أتت بغلام وجارية

Di antara yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb adalah bahwa jika seseorang berkata: “Jika kandunganmu adalah seorang anak laki-laki, maka aku mewasiatkan seribu untuknya,” lalu ternyata ia melahirkan dua anak laki-laki, maka tidak ada bagian untuk salah satu dari keduanya. Sebab, kandungannya adalah ungkapan untuk seluruh yang ada dalam rahimnya, sehingga telah jelas bahwa kandungannya bukanlah seorang anak laki-laki, melainkan dua anak laki-laki. Demikian pula jika ia melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.

ومثله لو قال: إن كان في بطنك غلام فقد أوصيت له بألف فخرج غلام وجارية صح الألف للغلام فإنه كان في بطنها غلام ومثله لو خرج غلامان فالوصية ثابتة ثم ذكر قولين بعد الحكم بثبوت الوصية: أحدهما أن الخيرة في ذلك إلى الوارث يصرف الألف إلى أي الغلامين شاء ولا سبيل إلى التشريك فإنه ما أوصى لجميع الحمل بل أوصى لغلام في البطن والوارث ينزل منزلة الموروث في التعيين

Demikian pula jika seseorang berkata: “Jika dalam kandunganmu ada seorang anak laki-laki, maka aku mewasiatkan seribu untuknya,” lalu ternyata lahir seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka seribu itu sah menjadi milik anak laki-laki, karena memang dalam kandungannya ada anak laki-laki. Demikian pula jika lahir dua anak laki-laki, maka wasiat itu tetap berlaku. Kemudian disebutkan dua pendapat setelah diputuskan bahwa wasiat itu sah: salah satunya adalah bahwa hak memilih dalam hal ini ada pada ahli waris, ia boleh memberikan seribu itu kepada salah satu dari dua anak laki-laki yang ia kehendaki, dan tidak ada jalan untuk membaginya, karena wasiat itu tidak ditujukan untuk seluruh janin, melainkan untuk seorang anak laki-laki dalam kandungan, dan ahli waris menempati posisi pewaris dalam hal penentuan.

هذا قولٌ

Ini adalah sebuah pendapat.

والقول الثاني أنه لا خيار للورثة في ذلك ثم على هذا القول قولان: أحدهما أن الموصى به مقسوم على الغلامين نصفين إذ ليس أحدهما أولى من الثاني واسم الغلام يتناول كلَّ واحد منهما وقد ثبتت الوصية والقول الثاني أنه مالٌ مشاعٌ بينهما يدّعيه كل واحد منهما فهو موقوف إلى أن يصطلحا

Pendapat kedua menyatakan bahwa para ahli waris tidak memiliki hak memilih dalam hal ini. Kemudian, menurut pendapat ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa harta wasiat tersebut dibagi kepada dua anak laki-laki itu secara setengah-setengah, karena tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih berhak dari yang lain, dan istilah “anak laki-laki” mencakup keduanya, serta wasiat telah tetap berlaku. Pendapat kedua menyatakan bahwa harta tersebut adalah milik bersama di antara keduanya yang masing-masing mengklaimnya, sehingga statusnya ditangguhkan sampai keduanya mencapai kesepakatan.

وهذا يضاهي مسألة ستأتي في نكاح المشركات وهي أن الكافر لو أسلم عن ثمانٍ وأسلمن معه ولم يتفق أن يختار أربعاً منهن فإذا مات قبل الاختيار فظاهر المذهب أنه يوقف بينهن ميراث زوجة إلى أن يصطلحن

Hal ini serupa dengan permasalahan yang akan dibahas dalam bab nikah dengan perempuan musyrik, yaitu apabila seorang kafir masuk Islam dengan delapan istri dan mereka semua juga masuk Islam bersamanya, namun ia tidak sempat memilih empat di antara mereka. Jika ia meninggal sebelum melakukan pilihan, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, warisan istri ditangguhkan di antara mereka sampai mereka mencapai kesepakatan.

وفي المسألة قولٌ آخر حكاه صاحب التقريب: أن الميراث مفضوضٌ عليهن بالسوية إذ ليس إحداهن أولى به من صواحباتها وليس هذا كالطلاق المبهم على ما سيأتي مشروحاً إن شاء الله عز وجل

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain yang dinukil oleh penulis kitab at-Taqrīb: bahwa warisan dibagikan kepada mereka secara merata, karena tidak ada satu pun dari mereka yang lebih berhak atas warisan tersebut dibandingkan yang lainnya. Hal ini tidak sama dengan talak mubham, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولو قال الرجل: أوصيت لأحد هذين الرجلين بألفٍ وأشار إلى زيد وعمرو ثم توفي قبل التعيين

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada salah satu dari dua orang ini sebesar seribu,” lalu ia menunjuk kepada Zaid dan Amr, kemudian ia wafat sebelum menentukan kepada siapa wasiat itu diberikan.

قال صاحب التقريب: هذه المسألة كمسألة الحمل وقد قال: إن كان في بطنك غلام فقد أوصيت له بألف فانفصل غلامان ووجه التشبيه بيّن  وقد ينقدح للفقيه فرقٌ بينهما فإن قوله: أوصيت لأحدكما تنصيصٌ منه على تخصيص أحدهما بالاستحقاق وحرمان الثاني فيبعد قول الاشتراك في هذه المسألة ويجرى قولُ تعيين الوارث وقول الوقف بينهما

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Masalah ini serupa dengan masalah kehamilan, sebagaimana ia berkata: “Jika di dalam perutmu ada seorang anak laki-laki, maka aku mewasiatkan kepadanya seribu.” Lalu ternyata lahir dua anak laki-laki. Sisi keserupaan antara keduanya jelas. Namun, seorang faqih mungkin dapat membedakan antara keduanya, karena ucapannya: “Aku mewasiatkan kepada salah satu dari kalian berdua,” merupakan penegasan darinya untuk mengkhususkan salah satu dari keduanya dalam hal hak menerima wasiat dan menghalangi yang kedua, sehingga pendapat tentang kebersamaan dalam hak menerima wasiat dalam masalah ini menjadi jauh, dan berlaku pendapat tentang penetapan ahli waris serta pendapat tentang penangguhan (waqf) di antara keduanya.

وإذا قال: إذا كان في بطنك غلام أمكن أن يُتخيّل من لفظه صرف الوصية إلى جنس الغلامين إذ ليس في لفظه نفيٌ وإثبات بين غلامين ومسألة نكاح المشركات بالوصية لأحد الرجلين أشبه فإن الزوجية لا يفرض شيوعها في ثمانٍ على ما سنصف ذلك في موضعه إن شاء الله عز وجل

Dan jika ia berkata: Jika dalam perutmu ada seorang anak laki-laki, maka memungkinkan untuk dibayangkan dari lafaznya bahwa wasiat itu diarahkan kepada jenis dua anak laki-laki, karena dalam lafaznya tidak terdapat penafian dan penetapan antara dua anak laki-laki. Masalah pernikahan wanita musyrik dengan wasiat kepada salah satu dari dua laki-laki lebih mirip, karena status pernikahan tidak dapat diasumsikan berlaku umum pada delapan orang, sebagaimana akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولو أوصى بشيء لحمل امرأة من زيد فأتت به لأقلَّ من ستة أشهر من وقت الوصية فظاهر الإمكان يلتحق فيه بزيد  لكن زيداً نفاه باللعان فقد حكى العراقيون والشيخ أبو علي في ذلك وجهين: أحدهما أن الوصية لا تثبت فإن النسب من زيد قد انتفى وشرط ثبوت الوصية ثبوتُ النسب من زيد

Jika seseorang berwasiat sesuatu untuk janin yang dikandung seorang wanita dari Zaid, lalu wanita itu melahirkan anak tersebut dalam waktu kurang dari enam bulan sejak wasiat dibuat, maka secara lahiriah kemungkinan anak itu tetap dinisbatkan kepada Zaid. Namun, jika Zaid menafikan anak itu melalui li‘ān, para ulama Irak dan Syekh Abu Ali meriwayatkan dua pendapat dalam hal ini: Pertama, wasiat tersebut tidak berlaku karena nasab dari Zaid telah terputus, sedangkan syarat sahnya wasiat adalah tetapnya nasab dari Zaid.

والوجه الثاني حكاه العراقيون عن أبي إسحاق المروزي: إن الوصية تثبت وإن انتفى النسب باللعان فإنه يثبت ظاهراً للإمكان  وهو يعتمد للنسب فإن نفينا النسب لضرورةٍ داعية باللعان فلا ينقطع الإمكان المعتبر في باب الوصية حكَوْا ذلك وزيفوه وعدّوه من غلطاته

Pendapat kedua yang diriwayatkan oleh para ulama Irak dari Abu Ishaq al-Marwazi: wasiat tetap berlaku meskipun nasab terputus karena li‘an, karena nasab itu secara lahiriah masih mungkin terjadi, dan kemungkinan ini dijadikan sandaran dalam masalah nasab. Jika kita meniadakan nasab karena adanya kebutuhan mendesak melalui li‘an, maka kemungkinan yang dianggap dalam bab wasiat itu tidak terputus. Mereka meriwayatkan pendapat ini, namun melemahkannya dan menganggapnya sebagai kekeliruan beliau.

ولم يتناه الشيخ في تزييف ذلك وبنى عليه مسألة أخرى تتعلق بأحكام النسب فقال: لو أتت امرأةُ الرجل بولدين توأمين من بطن واحدٍ فنفاهما الزوج باللعان فلا شك أنهما يتوارثان بقرابة الأم فإنهما يُنسبان إلى الأم وإن كانت زانيةً فهما إذاً أخوان من الأم وهل يثبت بينهما أخوة الأب حتى يقال: إنهما أخوان من أبٍ وأمٍّ

Syekh tidak berhenti pada pembatalan pendapat tersebut, bahkan beliau membangun masalah lain yang berkaitan dengan hukum nasab. Beliau berkata: Jika seorang istri melahirkan dua anak kembar dari satu kandungan, lalu suaminya menafikan keduanya melalui li‘ān, maka tidak diragukan bahwa keduanya saling mewarisi melalui hubungan ibu, karena keduanya dinisbatkan kepada ibu, meskipun sang ibu adalah pezina. Maka keduanya adalah saudara seibu. Lalu, apakah tetap berlaku hubungan persaudaraan dari pihak ayah sehingga dikatakan bahwa keduanya adalah saudara seayah dan seibu?

ذكر الشيخ وجهين مأخوذين من المأخذ الذي ذكرناه في الوصية: أحدهما – أن الأخوّة من الأب لا تثبت بينهما لأن الأبوة لم تثبت بل انتفت والأخوة من الأب متفرعة على الأبوة

Syekh menyebutkan dua pendapat yang diambil dari sumber yang telah kami sebutkan dalam masalah wasiat: Pertama, bahwa hubungan persaudaraan dari pihak ayah tidak terjalin di antara keduanya karena hubungan keayahan tidak terbukti, bahkan telah hilang, sedangkan persaudaraan dari pihak ayah merupakan cabang dari hubungan keayahan.

والوجه الثاني أنه تثبت بينهما أخوة الأب تعويلاً على الإمكان وقيام الفراش وكأن هذا القائل يزعم أن أثر اللعان في النفي يختص بالملاعِن فإن اللعان حجةُ خصوص

Pendapat kedua adalah bahwa antara keduanya tetap berlaku hubungan saudara seayah, berdasarkan kemungkinan dan keberadaan hubungan pernikahan (firaash). Seolah-olah orang yang berpendapat demikian menganggap bahwa akibat li‘ān dalam penafian hanya khusus berlaku bagi pihak yang melakukan li‘ān, karena li‘ān merupakan hujjah yang bersifat khusus.

وهذا لا حاصل له وهو من خيالات الاحتجاج

Ini tidak memiliki substansi apa pun dan hanyalah khayalan dalam berargumen.

فإن قيل: هلا تردد الأصحاب في أن الرجل إذا قذف امرأته بأجنبي  والْتعن فلا يندفع عنه الحد  من جهة أن اللعان يختص بالنكاح ولا يتعلق بالأجنبي  قلنا: هذا مما يتوجه به أحد الوجهين ثم الأصحاب عدّوا ذكر الأجنبي من الضرورة  على ما قررناه في مسائل اللعان

Jika dikatakan: Mengapa para ulama berbeda pendapat tentang seorang laki-laki yang menuduh istrinya berzina dengan laki-laki lain (ajnabi), lalu melakukan li‘ān, apakah hal itu dapat menggugurkan had baginya, karena li‘ān itu khusus untuk kasus pernikahan dan tidak berkaitan dengan ajnabi? Kami katakan: Inilah yang menjadi salah satu sisi pendapat, kemudian para ulama menganggap penyebutan ajnabi sebagai suatu keharusan, sebagaimana telah kami jelaskan dalam masalah-masalah li‘ān.

ومما ذكره الشيخ أبو علي رحمة الله عليه في شرح الفروع أنه لو أوصى لحمل امرأة فأتت بولد لدون ستة أشهر من وقت الوصية ثم أتت بولدٍ آخر لأكثر من ستة أشهر من وقت الوصية ولأقل من ستة أشهر من الولادة فالوصية مصروفةٌ إلى الولدين جميعاً فإنا تبيّنا أنهما حملٌ واحد تحققنا الوجود بانفصال الولد الأول دون ستة أشهر وتحققنا من وجود الثاني لانفصاله بعد الأول لدون ستة أشهر فانتظم من مجموع ذلك أنا استيقنا وجودهما جميعاً حال الوصية

Di antara yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali rahimahullah dalam Syarh al-Furū‘ adalah bahwa jika seseorang berwasiat untuk janin seorang wanita, lalu wanita itu melahirkan seorang anak kurang dari enam bulan sejak waktu wasiat, kemudian melahirkan anak lain lebih dari enam bulan sejak waktu wasiat namun kurang dari enam bulan sejak kelahiran pertama, maka wasiat tersebut berlaku untuk kedua anak tersebut. Sebab, telah jelas bagi kita bahwa keduanya adalah satu kehamilan; kita memastikan keberadaan anak pertama dengan kelahirannya kurang dari enam bulan, dan memastikan keberadaan anak kedua dengan kelahirannya setelah anak pertama kurang dari enam bulan. Maka, dari keseluruhan itu, kita meyakini bahwa keduanya memang sudah ada pada saat wasiat dibuat.

وهذا ظاهر لا إشكال فيه

Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

وقد انتهى تفصيل القول في الوصية للحمل

Telah selesai penjelasan rinci mengenai wasiat untuk janin.

ونحن الآن نذكر الوصية بالحمل فنقول: الوصية بالحمل جائزة إذا تحقق وجوده حالة الوصية بان تأتي الأم به لأقلّ من ستة أشهر من وقت الوصية

Sekarang kami akan membahas wasiat untuk janin, maka kami katakan: wasiat untuk janin diperbolehkan jika keberadaannya telah dipastikan pada saat wasiat dibuat, yaitu apabila sang ibu melahirkan janin tersebut dalam waktu kurang dari enam bulan sejak wasiat itu dibuat.

فإن كانت الوصية بحمل بهيمة  فالرجوع فيها إلى أهل الخبرة فإن زعموا أنه لم يحدث علوق بعد الوصية فالحمل موصىً به إذا انفصل

Jika wasiat itu berkaitan dengan kandungan hewan ternak, maka penentuannya dikembalikan kepada para ahli. Jika mereka menyatakan bahwa belum terjadi kehamilan setelah wasiat dibuat, maka kandungan tersebut tetap termasuk yang diwasiatkan apabila telah lahir.

وليس عندنا في حمل البهائم ضبط في الأوقات يُرجَع إليه على حسب ما ذكرناه في بنات آدم فإن العلماء اعتنَوْا بتتبع أوقات الحمل في النسوة وأحاطوا بالأكثر والأقل وحكَّموا الوجودَ في ذلك تحكيمهم إياه في أقل الحيض وأكثره وأوقاتُ الحمل في البهائم تختلف باختلاف أجناسها فليقع الرجوع إلى أهل الخبرة فإن قطعوا بطريان الحمل فلا وصية وإن قطعوا بوجوده أثبتنا الوصية

Tidak ada ketentuan pasti mengenai masa kehamilan hewan ternak yang dapat dijadikan acuan sebagaimana yang telah kami sebutkan pada perempuan dari kalangan Bani Adam, karena para ulama telah menaruh perhatian dalam meneliti masa kehamilan pada wanita, mengetahui batas maksimal dan minimalnya, serta menjadikan kenyataan sebagai dasar hukum sebagaimana mereka melakukannya dalam menentukan masa haid terpendek dan terpanjang. Adapun masa kehamilan pada hewan ternak berbeda-beda sesuai dengan jenisnya, maka hendaknya merujuk kepada para ahli. Jika para ahli memastikan tidak adanya kehamilan, maka tidak ada wasiat. Namun jika mereka memastikan adanya kehamilan, maka wasiat ditetapkan.

فإن كان قَرُبَ الزمان فترددوا فلم يُبعدوا طريان الحمل بعد الوصية أبطلناها

Jika waktu (antara wasiat dan kehamilan) berdekatan lalu mereka ragu sehingga tidak menganggap mustahil terjadinya kehamilan setelah wasiat, maka kami membatalkan wasiat tersebut.

ومما يختص بهذا الطرف أنه لو أوصى لإنسان بحمل جارية منكوحة فلو انفصل الحمل ميتاً فلا أثر للوصية ولو انفصل بجناية جانٍ وألزمناه ما يلزم في الأجنة المملوكة فالوصية ثابتة وما أُلزمه الجاني مصروف إلى الموصى له وليس كما إذا كان الحمل موصىً له ثم انفصل ميتاً بجناية جانٍ فإنا لم نصادف للموصى له حياة فوقعت الوصية لمن لم نعلم حياته والحمل لا يمتنع تعلّقُ الحكم به حملاً وإذا انفصل بجناية جانٍ قام الغرم على الجاني مقام حياة الجنين لو انفصل حياً فإن المالية دامت بالتزام الجاني بدل الجنين

Salah satu kekhususan dalam masalah ini adalah apabila seseorang berwasiat kepada seseorang lain untuk mendapatkan janin dari seorang budak perempuan yang dinikahi, lalu jika janin itu lahir dalam keadaan mati, maka wasiat tersebut tidak berpengaruh. Namun, jika janin itu lahir akibat tindakan kriminal seseorang dan kita mewajibkan pelaku membayar denda yang berlaku untuk janin yang dimiliki, maka wasiat tersebut tetap berlaku dan apa yang dibayarkan oleh pelaku diberikan kepada penerima wasiat. Hal ini berbeda dengan kasus apabila janin itu sendiri yang menjadi penerima wasiat, lalu ia lahir mati akibat tindakan kriminal seseorang, maka kita tidak menemukan adanya kehidupan pada penerima wasiat, sehingga wasiat jatuh kepada pihak yang tidak diketahui kehidupannya. Namun, tidak mustahil hukum tetap terkait dengan janin selama masih dalam kandungan. Jika janin lahir mati akibat tindakan kriminal seseorang, maka ganti rugi yang dibebankan kepada pelaku menggantikan kehidupan janin seandainya ia lahir hidup, karena nilai harta tetap ada dengan adanya kewajiban pelaku membayar ganti rugi atas janin tersebut.

وهذا واضح

Dan ini jelas.

ولو أوصى بالحمل كما ذكرنا فانفصل حياً ومات فمؤونة تجهيزه على الموصى له ولو انفصل ميتاً فالذي أراه أن الموصى له لا يلتزم مؤنة تجهيزه من جهة أن الوصية تعتمد ثبوت المالية أو ثبوت كون الموصى به منتفعاً به ولم يتحقق واحد منهما إذا انفصل الحمل ميتاً فالوجه أن يتبع الحمل الجارية فيقوم بتجهيزه من يقوم بمؤونة الجارية

Jika seseorang berwasiat untuk janin sebagaimana telah disebutkan, lalu janin itu lahir dalam keadaan hidup kemudian meninggal, maka biaya pemakamannya menjadi tanggungan penerima wasiat. Namun jika janin itu lahir dalam keadaan meninggal, menurut pendapat saya, penerima wasiat tidak berkewajiban menanggung biaya pemakamannya, karena wasiat itu bergantung pada adanya nilai harta atau adanya manfaat dari sesuatu yang diwasiatkan, dan tidak terwujud salah satu dari keduanya jika janin lahir dalam keadaan meninggal. Maka yang tepat adalah janin tersebut mengikuti status budak perempuan, sehingga yang menanggung biaya pemakamannya adalah pihak yang menanggung biaya budak perempuan tersebut.

ومما يتعلق الفصل به أنا إذا جوّزنا الوصية بالحمل فيجوز استثناء الحمل من الوصية بالجارية وذلك بأن يوصي لإنسان بجاريةٍ حاملٍ دون ولدها وهذا على خلاف حُكمنا في البيع فإنه لما لم يجز إفراد الحمل بالبيع لم يجز استثناء الحمل عن بيع الجارية على ما فصلتُ المذهبَ فيه في كتاب البيع

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah bahwa jika kita membolehkan wasiat untuk janin, maka boleh mengecualikan janin dari wasiat atas seorang budak perempuan, yaitu dengan seseorang berwasiat kepada orang lain atas seorang budak perempuan yang sedang hamil tanpa anaknya. Ini berbeda dengan hukum kami dalam jual beli, karena ketika tidak diperbolehkan menjual janin secara terpisah, maka tidak boleh pula mengecualikan janin dari penjualan budak perempuan, sebagaimana telah aku jelaskan mazhab dalam hal ini di Kitab al-Bay‘.

ولا خلاف أنه لو أوصى بجاريةٍ لشخصٍ وبحَمْلها لآخر صح ولو أطلق الوصية بالجارية الحامل ولم يتعرض لحملها بنفي ولا إثبات ففي اشتمال الوصية على الحمل احتمال ظاهر مستنده إلى تردد العلماء في أن الحمل هل يحل محل أجزاء الأم في تناوله الاسم المطلق الواقع على الأم ولهذا التفات على قواعد يكفي التنبيه عليها

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang berwasiat memberikan seorang budak perempuan kepada seseorang dan kandungannya kepada orang lain, maka wasiat itu sah. Namun, jika wasiat itu hanya disebutkan untuk budak perempuan yang sedang hamil tanpa menyebutkan kandungannya, baik menafikan maupun menetapkan, maka terdapat kemungkinan yang jelas mengenai apakah wasiat tersebut mencakup kandungannya. Hal ini didasarkan pada perbedaan pendapat para ulama tentang apakah kandungan dapat menggantikan bagian-bagian dari ibu sehingga nama umum yang disandarkan pada ibu juga mencakup kandungannya. Masalah ini berkaitan dengan beberapa kaidah yang cukup untuk sekadar disinggung di sini.

ثم إن قلنا: لا يدخل تحت الوصية بالجارية فإنه يبقى ملكاً للموصي ثم يخلُفه الورثةُ فيه

Kemudian, jika kita mengatakan: tidak termasuk dalam wasiat dengan budak perempuan, maka ia tetap menjadi milik orang yang berwasiat, lalu para ahli waris menggantikannya dalam kepemilikan itu.

صيان قلنا: تتناوله الوصيةُ فإذا انفصل قبل موت الموصي وقد كان موجوداً حالة الوصية فهو يوصي به

Kami katakan: Wasiat mencakupnya, maka jika terpisah sebelum wafatnya orang yang berwasiat dan ia telah ada pada saat wasiat dibuat, maka ia diwasiatkan.

فإن أوصى بالجارية مطلقاً وقضينا باشتمال الوصية على الحمل فلو أوصى بعد ذلك بحملها لآخر فإن رجع عن الوصية الأولى ثبت الرجوع واختص الموصى له الثاني بالحمل وإن لم يرجع عن الوصية الأولى ازدحمت وصيتان على الحمل وكان هذا كما لو أوصى بعبدٍ لزيد ثم أوصى به لعمرو فالعبد بينهما نصفان

Jika seseorang berwasiat tentang seorang budak perempuan secara mutlak dan kami memutuskan bahwa wasiat tersebut mencakup juga janin yang dikandungnya, lalu setelah itu ia berwasiat tentang janin budak perempuan tersebut kepada orang lain, maka jika ia mencabut wasiat pertama, pencabutan itu berlaku dan hak atas janin menjadi khusus bagi penerima wasiat kedua. Namun jika ia tidak mencabut wasiat pertama, maka kedua wasiat tersebut bersaing atas janin tersebut, dan hal ini seperti jika seseorang berwasiat tentang seorang budak kepada Zaid, kemudian ia berwasiat tentang budak itu kepada Amr, maka budak tersebut menjadi milik bersama antara keduanya, masing-masing setengah.

وحساب المسألة يقام على قاعدة العول  فهذه مسألة عالت بكلها ويقتضي ذلك التنصيف

Perhitungan masalah ini didasarkan pada kaidah ‘aul, maka ini adalah masalah yang seluruhnya mengalami ‘aul, dan hal itu mengharuskan pembagian secara proporsional.

ومما يتعلق بهذا المقصود أنه لو أوصى بحمل جاريةٍ ثم تحققنا أنه لم يكن حالة الوصية حملٌ ولكن الجارية علقت بعد الوصية فليس الحمل الحادث موصىً به

Terkait dengan maksud ini, jika seseorang berwasiat untuk janin dari seorang budak perempuan, lalu kita memastikan bahwa pada saat wasiat dibuat tidak ada kehamilan, namun budak perempuan tersebut hamil setelah wasiat, maka janin yang terjadi setelah wasiat itu tidak termasuk yang diwasiatkan.

وإن تردد الأمر فهو على القياس المقدّم في الوصية للحمل

Dan jika perkara tersebut masih diragukan, maka ia mengikuti qiyās yang telah dikemukakan dalam wasiat untuk janin.

ولو قال الموصي: أوصيت لك بما ستحمل هذه في المستقبل أو أَوْصى بنتاجٍ اعتاده في المستقبل

Jika seseorang yang berwasiat berkata: “Aku berwasiat untukmu dengan apa yang akan dikandung oleh perempuan ini di masa mendatang,” atau ia berwasiat dengan hasil yang biasa didapatkan di masa mendatang.

ضبطُ المذهب في ذلك أن الوصية بمنافع الدار وغيرها في المستقبل جائزة وفاقاً على ما سنعقد في ذلك فصلاً على أثر هذا إن شاء الله عز وجل وإن كانت المنافع معدومة في الحال لأن الشرع ألحق توقّعَ الوجود منها حالاً على حال بتحقق الوجود في الأعيان ولذلك صحت الإجارة ومقصودُها المنافع التي ستكون

Penetapan mazhab dalam hal ini adalah bahwa wasiat atas manfaat rumah dan selainnya di masa mendatang adalah boleh, sesuai kesepakatan, sebagaimana akan kami bahas dalam satu bab setelah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla, meskipun manfaat tersebut belum ada saat ini. Sebab, syariat menyamakan antara harapan akan adanya manfaat di masa mendatang dengan keberadaan manfaat secara nyata pada benda, dan karena itu akad ijarah (sewa-menyewa) menjadi sah, padahal tujuannya adalah manfaat yang akan ada.

فأما إذا أوصى بما سيكون من حمل أو نتاجٍ ففي صحة الوصية وجهان مشهوران: أحدهما أنها تصح قياساً على المنافع

Adapun jika seseorang berwasiat atas sesuatu yang akan ada, seperti janin atau hasil ternak, maka dalam keabsahan wasiat tersebut terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa wasiat tersebut sah berdasarkan qiyās dengan manfaat.

والثاني لا تصح فإن ارتقاب وجود المنافع تباعاً ووِلاء في الاعتياد ملتحق بالحاصل الكائن والنتاج والولد أعيان لا يستند التوقع فيهما إلى ثبت واطراد في الاعتياد

Yang kedua, tidak sah, karena menantikan adanya manfaat secara berturut-turut dan berkesinambungan menurut kebiasaan dianggap sama dengan manfaat yang sudah ada, sedangkan hasil dan anak adalah benda-benda yang tidak didasarkan pada harapan yang pasti dan tidak pula pada keteraturan dalam kebiasaan.

ولو أوصى لإنسان بالثمار التي ستكون في مستقبل الزمان فلأئمتنا طريقان: منهم من ألحق هذه الوصية بالوصية بالنتاج المنتظر والحمل المتوقع من جهة أن الثمار إذا وجدت كانت أعياناً كالنتاج والولد وليست كالمنافع فإن المنافع في وجودها لا تبقى فلا تعويل على وجودها إذ لا ننالها بعد الوجود ولو لم يكن التصرف متقدماً على وجودها لم يُتصوّر فيها التصرف والأعيان إذا وجدت بقيت فأمكن ارتقاب وجودها حتى يعتمدَ التصرفُ الوجودَ المستمر

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan buah-buahan yang akan ada di masa mendatang, maka menurut para imam kami terdapat dua pendapat: sebagian dari mereka menyamakan wasiat ini dengan wasiat atas hasil ternak yang akan datang dan janin yang diharapkan lahir, karena buah-buahan jika telah ada maka ia menjadi benda nyata seperti hasil ternak dan anak, dan tidak seperti manfaat, sebab manfaat ketika ada tidak tetap, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran atas keberadaannya karena kita tidak dapat memperolehnya setelah ia ada, kecuali jika pemanfaatan dilakukan sebelum keberadaannya, maka tidak terbayangkan adanya pemanfaatan tersebut. Adapun benda nyata, jika telah ada maka ia tetap, sehingga memungkinkan untuk menantikan keberadaannya hingga pemanfaatan dapat bergantung pada keberadaan yang terus-menerus.

ومن أئمتنا من ألحق الثمار بالمنافع فقطع بجواز الوصية بها واستدل هؤلاء بأن قالوا: وجدنا في قبيل الثمار تصرفاً لازماً وارداً على الثمار المتوقعة وهي المساقاة فالتحقت الثمار لذلك بالمنافع وليس في قبيل المعاملات ما يلزم على الحمل والنتاج في الاستقبال

Sebagian dari imam kami mengaitkan buah-buahan dengan manfaat, sehingga mereka menetapkan bolehnya wasiat atas buah-buahan. Mereka berdalil dengan mengatakan: Kami mendapati dalam kelompok buah-buahan terdapat transaksi yang bersifat mengikat dan berkaitan dengan buah-buahan yang masih diharapkan, yaitu musāqah, sehingga buah-buahan disamakan dengan manfaat. Tidak terdapat dalam kelompok transaksi apa pun yang mewajibkan atas janin dan hasil kelahiran di masa mendatang.

وإن التفت ملتفتٌ إلى السّلم في الحيوان فهو منقطع عما نحن فيه فإن معتمد السلم الذَّيْن الواقع في الذمة معلوماً بالوصف مقدوراً عليه عند توجه الطلب وعلى الفقيه تكلف في الحكم بأن المسلم المتعين بالتسليم هو المسلَم فيه ولولا أن سبيل تأدية الديون هذا لقلنا: ليس المقبوض مسلماً فيه والوصايا إذا أضيفت إلى نتاج أغنام بأعيانها فهي بعيدةٌ عن وضع السَّلَم فإن التعيين والسلم يتنافيان

Jika ada yang membandingkan akad salam pada hewan dengan masalah ini, maka hal itu terputus dari pembahasan kita, karena dasar akad salam adalah adanya utang yang pasti dalam tanggungan, diketahui dengan sifatnya, dan mampu diserahkan ketika diminta. Seorang ahli fiqh harus berusaha dalam menetapkan hukum bahwa barang yang diserahkan secara khusus adalah barang yang menjadi objek akad salam. Seandainya bukan karena cara pelunasan utang memang demikian, tentu kita akan mengatakan: barang yang diterima itu bukanlah barang yang menjadi objek akad salam. Adapun wasiat yang dikaitkan dengan hasil ternak tertentu secara spesifik, maka hal itu jauh dari konsep akad salam, karena penentuan secara spesifik dan akad salam saling bertentangan.

ومما يتصل بتمام القول في ذلك أنا إن منعنا الوصيةَ بما سيكون من حمل أو أجزناها ففي الوصية للحمل الذي سيكون تردد ظاهرٌ للأصحاب :

Dan yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan dalam hal ini adalah bahwa jika kita melarang wasiat untuk janin yang akan ada atau membolehkannya, maka dalam wasiat untuk janin yang akan ada terdapat keraguan yang jelas di kalangan para ulama.

قال العراقيون: المذهب في ذلك المنع فإن حق الوصية أن ترتبط بالموجود وتصح الوصية له حال الإنشاء والعدمُ يضاد الإثبات  ولا تصح الوصية لكل ثابت فكيف تصح لمن لا ثبوت له

Orang-orang Irak berkata: Mazhab dalam hal ini adalah larangan, karena hak wasiat adalah harus terkait dengan sesuatu yang ada, dan wasiat itu sah untuk sesuatu yang ada pada saat penetapan. Sedangkan ketiadaan bertentangan dengan penetapan, dan wasiat tidak sah untuk setiap sesuatu yang tetap, maka bagaimana bisa sah untuk sesuatu yang tidak memiliki keberadaan?

وحكَوْا عن أبي إسحاق المروزي أنه أجاز الوصية لمن سيكون وزيفوا مذهبه في ذلك

Mereka meriwayatkan dari Abu Ishaq al-Marwazi bahwa ia membolehkan wasiat kepada orang yang akan ada (di masa depan), namun mereka menganggap pendapatnya dalam hal itu tidak sahih.

وليس ما قاله أبو إسحاق بعيداً عندنا من جهة أن الوقف يصح على من سيكون إذا وَجَد الوقفُ مورداً في الحال وهذا سبيل وقف الرجل على أولاده وأولاد أولاده ما توالدوا ولو كان الوقف منقطع الأول وكان وروده على متوقع  ففيه اختلاف قدمته في كتاب الوقف والوقف من التصرفات الناجزة اللازمة فإذا تطرق إليها خلافٌ في صورةٍ فاللائق بالوصية القطعُ بصحتها فيها فإن مبنى الوصية على التوقع وإذا كان يستأخر القبول فيها عن الإيجاب فليس الاستئخار بعيداً في وضعها

Apa yang dikatakan oleh Abu Ishaq tidaklah jauh dari pendapat kami, karena wakaf dapat sah atas orang yang akan ada di masa depan jika wakaf tersebut memiliki penerima manfaat pada saat ini. Inilah seperti wakaf seseorang untuk anak-anaknya dan cucu-cucunya selama mereka masih ada keturunan. Namun, jika wakaf itu terputus pada awalnya dan penerimanya masih bersifat dugaan, maka terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan dalam Kitab Wakaf. Wakaf termasuk dalam tindakan hukum yang bersifat langsung dan mengikat. Jika terdapat perbedaan pendapat dalam suatu kasus, maka yang lebih layak pada wasiat adalah memastikan keabsahannya dalam kasus tersebut, karena dasar wasiat adalah pada sesuatu yang masih diharapkan (akan terjadi). Jika penerimaan wasiat dapat ditunda dari ijab, maka penundaan itu tidaklah jauh dari ketentuan wasiat itu sendiri.

وهذا نجاز القول في الوصية للحمل والوصية بالحمل

Demikianlah selesai pembahasan mengenai wasiat untuk janin dan wasiat dengan janin.

فصل

Bab

قال: ولو أوصى بخدمة عبده أو بغَلّة داره أو بثمرة بستانه والثلث يحتمله جاز ذلك إلى آخره

Ia berkata: Dan jika seseorang berwasiat agar budaknya digunakan untuk melayani, atau agar hasil sewa rumahnya, atau agar buah kebunnya diberikan (kepada seseorang), dan sepertiga harta peninggalannya mencukupi untuk itu, maka hal itu boleh dilakukan hingga habis (masa wasiatnya).

اتفق الأئمة على صحة الوصية بمنافع الدور وغيرِها من العقار والعبيد والدواب وكلُّ منفعة يثبت استحقاقها بطريق الإجارة يصح الوصية بها ثم أصل القول فيها أنها ليست إعارةً على قاعدتنا ولذلك تلزم الوصية بها إذا اتصفت بالقبول والعواري لا تلزم

Para imam sepakat atas sahnya wasiat terhadap manfaat rumah-rumah dan selainnya dari properti, budak, hewan tunggangan, dan setiap manfaat yang dapat dimiliki melalui akad ijarah, maka sah berwasiat dengannya. Kemudian, pokok pendapat dalam hal ini adalah bahwa wasiat tersebut bukanlah pinjaman menurut kaidah kami, oleh karena itu wasiat tersebut menjadi wajib jika telah diterima, sedangkan pinjaman tidaklah wajib.

وأبو حنيفة رحمه الله زعم أن الوصية بالمنافع في معنى الإعارة ولكنها من حيث إنها تقع بعد موت المبيح تلزم فإن الرجوع في العاريّة يثبت للمعير وتنقطع العاريّة بموته وابتداء الوصية يقع بعد موت الموصي فكان لزومها لذلك

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa wasiat atas manfaat itu serupa dengan ‘ariyah (pinjam pakai), namun karena wasiat tersebut berlaku setelah wafatnya pemberi izin, maka wasiat itu menjadi wajib. Sebab, hak untuk menarik kembali ‘ariyah tetap dimiliki oleh peminjamkan, dan ‘ariyah terputus dengan kematian pemberi pinjaman, sedangkan pelaksanaan wasiat dimulai setelah wafatnya orang yang berwasiat, sehingga wasiat itu menjadi wajib karena alasan tersebut.

وليس الأمر على هذا الوجه عندنا ولكن الإعارة لم تلزم من جهة أنها نِحْلةٌ وهبة وركنُ لزوم الهبات القبض والقبض لا يلزم في المنافع من حيث إنه لا يتحقق وجودها والوصية منيحة ولكنها لا تستدعي في تمامها الإقباضَ فإنها تلزم بالقبول إذا وسعها الثلث في الأعيان من غير جريان القبض فيها

Menurut kami, persoalannya tidaklah demikian, melainkan pinjaman (al-‘āriyah) tidak menjadi wajib karena ia merupakan pemberian dan hibah, sedangkan rukun wajibnya hibah adalah penyerahan (qabḍ), dan penyerahan tidak wajib dalam hal manfaat karena manfaat itu sendiri belum benar-benar ada wujudnya. Wasiat juga merupakan pemberian, namun tidak mensyaratkan penyerahan untuk sempurnanya, karena wasiat menjadi wajib dengan adanya penerimaan jika nilainya tidak melebihi sepertiga harta dalam hal benda, tanpa harus terjadi penyerahan padanya.

وحقيقة المذهب في المنافع الموصى بها أنها تصير ملكَ الموصَى له كما أن الأعيان تصير ملكاً للموصى له وآية ذلك أنه ينفذ تصرفه في المنافع بالإجارة والمستعيرُ لا يصح منه إجارة المستعار والمنافع لا يستوفيها ملكاً وإنما يستوفيها على حكم الإباحة وهي قريبة الشبه من إباحة الطعام للضيفان

Hakikat mazhab mengenai manfaat yang diwasiatkan adalah bahwa manfaat tersebut menjadi milik penerima wasiat, sebagaimana benda (ain) juga menjadi milik penerima wasiat. Tanda hal itu adalah bahwa penerima wasiat dapat melakukan tindakan hukum atas manfaat tersebut dengan akad ijarah (sewa-menyewa), sedangkan peminjam (musta‘īr) tidak sah melakukan akad ijarah atas barang pinjaman. Manfaat itu sendiri tidak dinikmati sebagai milik, melainkan dinikmati berdasarkan hukum ibāhah (kebolehan), yang keadaannya mirip dengan kebolehan makan bagi para tamu.

ولهذا المعنى لم تكن العين الموصى بمنفعتها مضمونةً على الموصى له بخلاف العين المستعارة فإن المستعير لا يثبت له استحقاق في المنافع والموصى له يستحق لها على ما قدرنا مسالك الجمع والفرق في مسألة العارية

Oleh karena itu, barang yang dihibahkan manfaatnya tidak menjadi tanggungan bagi penerima wasiat, berbeda dengan barang yang dipinjamkan, karena peminjam tidak memperoleh hak atas manfaatnya, sedangkan penerima wasiat berhak atas manfaat tersebut sebagaimana telah kami jelaskan jalan penggabungan dan pembedaan dalam masalah pinjaman.

فهذا بيان حقيقة الوصية بالمنفعة

Inilah penjelasan tentang hakikat wasiat berupa manfaat.

ثم إنا نذكر بعد هذا أصولاً في هذه القاعدة ونذكر في كل أصل ما يتصل به فإن شذت مسائل رسمناها فروعاً على دأبنا في أصول المذهب

Setelah itu, kami akan menyebutkan beberapa pokok dalam kaidah ini dan pada setiap pokok kami akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengannya. Jika terdapat permasalahan yang menyimpang, kami akan menuliskannya sebagai cabang, sebagaimana kebiasaan kami dalam membahas ushul madzhab.

فممّا نرى تقديمَه القولُ في بيع العين الموصى بمنفعتها فإن كانت المنفعة الموصى بها مُقدّرةً مضبوطة بأمدٍ مضروبٍ فالقول في جواز بيع العين الموصَى بمنفعتها كالقول في بيع الدار المستأجرة فإن الاستحقاق في المنفعة والاستيلاء على العين بسببها ثابتٌ في الموضعين والاستحقاق مؤقت

Maka di antara hal yang perlu didahulukan pembahasannya adalah mengenai penjualan barang yang manfaatnya diwasiatkan. Jika manfaat yang diwasiatkan itu telah ditentukan dan dibatasi dengan jangka waktu tertentu, maka pembahasan tentang bolehnya menjual barang yang manfaatnya diwasiatkan adalah seperti pembahasan tentang penjualan rumah yang disewakan. Sebab, hak atas manfaat dan penguasaan atas barang karena manfaat tersebut tetap berlaku pada kedua keadaan itu, dan hak tersebut bersifat sementara.

وإن أوصى الموصي بمنفعة عينٍ أبداً فالوصية صحيحة لم يختلف في صحتها علماؤنا وإن قال قائل: إنها مجهولة فالجهل لا ينافي صحة الوصية وإنما يراعَى الإعلام في الأعواض والمعوّضات في عقود المعاوضة  ثم العين الموصى بمنفعتها أبداً لا يصح بيعها إذا لزمت الوصية وتمت بالقبول وفي الثلث

Jika seseorang yang berwasiat mewasiatkan manfaat suatu benda untuk selamanya, maka wasiat tersebut sah; para ulama kami tidak berbeda pendapat tentang kesahihannya. Jika ada yang berkata bahwa manfaat tersebut tidak jelas, maka ketidakjelasan itu tidak bertentangan dengan kesahihan wasiat, karena kejelasan hanya diperhatikan pada imbalan dan barang yang dipertukarkan dalam akad mu‘āwadah (pertukaran). Kemudian, benda yang manfaatnya diwasiatkan untuk selamanya tidak sah untuk dijual jika wasiat tersebut telah mengikat dan diterima, serta masih dalam sepertiga harta.

هذا هو المذهب الظاهر

Inilah mazhab Zhahiri.

وذكر العراقيون من طريق التنبيه وجهاً عن بعض الأصحاب في تخريج بيع العين الموصى بمنفعتها أبداً على القولين وصرح بنقل هذا الوجه الشيخ أبو علي في الشرح وهذا بعيد فإن العين مسلوبةُ المنفعة

Orang-orang Irak menyebutkan melalui kitab at-Tanbīh satu pendapat dari sebagian sahabat (ulama) dalam men-takhrīj jual beli barang yang manfaatnya diwasiatkan untuk selamanya menurut dua pendapat, dan Syaikh Abū ‘Alī secara tegas menukil pendapat ini dalam kitab Syarh. Namun, hal ini jauh (dari kebenaran), karena barang tersebut telah hilang manfaatnya.

ووجهُه على بعده أن الملك في الرقبة لا يَنقُص بها  وامتناع الانتفاع ينزل منزلة امتناعه بزمانة العبد ولم يختلف علماؤنا في جواز بيع العبد الزَّمِن الذي لا انتفاع فيه

Penjelasannya, meskipun ada perbedaan pendapat, kepemilikan atas objek (raqabah) tidak berkurang karenanya, dan ketidakmampuan untuk mengambil manfaat diposisikan seperti ketidakmampuan karena cacat pada budak. Para ulama kami tidak berbeda pendapat tentang bolehnya menjual budak yang cacat dan tidak dapat diambil manfaat darinya.

وهذا ملتبس من جهة أن المعتمد في منع البيع ثبوتُ يد مستحق المنفعة وامتناعُ إزالتها وهذا لا يتحقق في الزَّمِن

Hal ini membingungkan karena dasar pelarangan jual beli adalah adanya penguasaan dari pihak yang berhak atas manfaat dan tidak mungkin menghilangkannya, sedangkan hal ini tidak terwujud pada kasus orang yang lumpuh.

والتعلق بالنكاح في توجيه الوجه البعيد أمثلُ فإن النكاح معقود على التأبيد ثم لا يمتنع به البيع في الرقبة

Kaitan dengan nikah dalam mengarahkan makna yang jauh lebih tepat, karena nikah diakadkan untuk selamanya, namun tidak menghalangi adanya jual beli pada budak.

وإذا جرينا على المسلك الأصح وهو المنصوص عليه للشافعي وصححنا الوصية بالثمار التي ستكون في المستقبل كتصحيحنا الوصيةَ بالمنافع فتفصيل القول في بيع الأشجار الموصى بثمارها كتفصيل القول في بيع العين الموصى بمنفعتها فالمقدّر من الثمار كالمقدّر من المنافع والاستحقاق على التأبيد في الثمار يضاهي المنفعة المؤبدة في ترتيب المذهب في بيع الأعيان

Jika kita mengikuti pendapat yang paling sahih, yaitu yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i, dan kita menganggap sah wasiat atas buah-buahan yang akan ada di masa depan sebagaimana kita menganggap sah wasiat atas manfaat, maka rincian pembahasan tentang penjualan pohon yang diwasiatkan buahnya adalah seperti rincian pembahasan tentang penjualan barang yang diwasiatkan manfaatnya. Buah-buahan yang ditentukan kadarnya itu seperti manfaat yang ditentukan kadarnya, dan hak atas buah-buahan secara terus-menerus menyerupai manfaat yang terus-menerus dalam penataan mazhab mengenai penjualan barang.

وكان شيخي أبو محمد يقطع القول بأن الوصية بأولاد الأمة في مستقبل الزمان لا تمنع بيعها قولاً واحداً فإن منافعها باقية وولدُها ليس مما يؤثِّر ويقدح في تمام الملك في الرقبة وكان يتردّد في بيع المواشي الموصى بنتاجها وصغْوُه الأظهر إلى صحة بيعها

Syekh saya, Abu Muhammad, secara tegas berpendapat bahwa wasiat mengenai anak-anak budak perempuan di masa yang akan datang tidak menghalangi penjualannya menurut satu pendapat saja, karena manfaatnya tetap ada dan anaknya bukanlah sesuatu yang memengaruhi atau merusak kesempurnaan kepemilikan atas budak tersebut. Beliau masih ragu dalam hal penjualan hewan ternak yang diwasiatkan anak atau hasil keturunannya, namun pendapat yang lebih kuat menurut beliau adalah sahnya penjualan hewan tersebut.

ويتجه عندي تصحيح بيع الأشجار الموصى بثمارها فإن الذي يتجه اعتماده في منع بيع العين الموصى بمنفعتها استيلاء المنتفع بها وإدامة اليد عليها لا سقوطُ المنفعة فإنا لو اعتمدنا سقوطَ المنفعة لترددنا في بيع المعضوب الزَّمِن ولا تكاد تثبت اليدُ على الأشجار للموصى له بثمارها فإنه يبغي ثمارها إذا برزت الثمار ولا تطّرد يده اطراد يد الموصى له بالمنفعة والمستأجر وهذا بمثابة النكاح فإن الزوج وإن كان يستحق الاستخلاء بزوجته الأَمة لقضاء الوطر منها فليست يده يد استيلاء ويد السيد أغلب وأعلى من يده

Menurut pendapat saya, jual beli pohon yang buahnya diwasiatkan dapat dibenarkan, karena alasan utama yang dijadikan dasar untuk melarang penjualan benda yang manfaatnya diwasiatkan adalah penguasaan penerima manfaat atas benda tersebut dan keberlangsungan kepemilikannya, bukan karena manfaatnya hilang. Sebab, jika yang dijadikan dasar adalah hilangnya manfaat, maka kita akan ragu dalam menjual orang yang sudah sangat tua dan lemah. Kepemilikan atas pohon bagi penerima wasiat buahnya pun hampir tidak pernah benar-benar terjadi, karena ia hanya menginginkan buahnya ketika buah itu telah muncul, dan penguasaannya tidak berlangsung terus-menerus seperti penguasaan penerima wasiat manfaat atau penyewa. Hal ini serupa dengan pernikahan, di mana suami meskipun berhak berduaan dengan istri budaknya untuk memenuhi kebutuhannya, namun penguasaannya bukanlah penguasaan penuh, dan penguasaan tuan budak lebih kuat dan lebih tinggi daripada penguasaannya.

فانتظم مما ذكرناه تردّدُ الأصحاب في المنافع كما تفصل المذهب فيها والقطعُ بأن الوصية بولد الجارية لا تمنع بيعها وفي المواشي الموصى بنتاجها تردّدٌ للأصحاب ونزَّلوا الأشجار الموصى بثمارها منزلة الأعيان الموصى بمنافعها وفي ذلك شيء نبهت عليه

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama mazhab) mengenai masalah manfaat, sebagaimana telah dirinci dalam mazhab, dan adanya ketegasan bahwa wasiat terhadap anak budak perempuan tidak menghalangi penjualannya. Adapun pada hewan ternak yang diwasiatkan anaknya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sahabat. Mereka juga menyamakan pohon yang diwasiatkan buahnya dengan benda yang diwasiatkan manfaatnya, dan dalam hal ini terdapat sesuatu yang telah saya isyaratkan.

ومما يتعلق بهذا الأصل أن ابن الحداد قال: إذا أوصى رجل لرجل بدرهم من غلّة داره  وكانت أجرة الدار مائة درهم فإذا كانت الوصية مؤبّدة  امتنع البيع في جميع رقبة الدار جرياً على الأصح في أن التأبيد يمنع البيع وغرضه بذكر هذه الصورة أن يبيّن أن البيع ينحسم في جميع الدار وليس للقائل أن يقول: ينبغي ألا يمتنع البيع إلا فيما يُدرّ مقدارَ الدرهم من الدار فإن الدار قد ترجع غلتها إلى مقدار درهم وهذا من قول ابن الحداد دليل على امتناع بيع الأشجار الموصى بثمارها فإنه فرض مسألته في الوصية بالولد ولم يفرضها في إثبات حق الانتفاع الذي يستدعي استيلاء يده على رقبة الدار

Terkait dengan prinsip ini, Ibn al-Haddad berkata: Jika seseorang berwasiat kepada orang lain satu dirham dari hasil sewa rumahnya, sementara sewa rumah itu seratus dirham, maka jika wasiat tersebut bersifat abadi, maka penjualan seluruh rumah menjadi terhalang, berdasarkan pendapat yang lebih kuat bahwa keabadian (wasiat) mencegah penjualan. Tujuannya menyebutkan contoh ini adalah untuk menjelaskan bahwa penjualan terhenti pada seluruh rumah, dan tidak boleh ada yang berkata: “Seyogianya penjualan hanya terhalang pada bagian rumah yang menghasilkan satu dirham,” karena hasil rumah bisa saja turun menjadi hanya satu dirham. Pendapat Ibn al-Haddad ini juga menjadi dalil atas larangan menjual pohon yang diwasiatkan buahnya, karena ia mengandaikan kasusnya pada wasiat terhadap anak (hasil), bukan pada penetapan hak pemanfaatan yang menuntut penguasaan atas kepemilikan rumah.

هذا تمام الغرض في هذا الركن

Ini adalah akhir dari pembahasan pada rukun ini.

ومن أركان الفصل القولُ في كيفية اعتبار خروج المنفعة الموصى بها من الثلث فنقول: هذه الوصية معتبرةٌ من الثلث اعتبار غيرها فالموصي وإن كان خلّف على ورثته تركته فالمنافع التي ستوجد بعد وفاته ملحقة في اعتبار الوصية بها من الثلث باعتبار التركة فلينتبه الناظر عند ذلك

Di antara rukun pembahasan ini adalah penjelasan tentang bagaimana mempertimbangkan keluarnya manfaat yang diwasiatkan dari sepertiga harta. Maka kami katakan: wasiat ini dihitung dari sepertiga harta sebagaimana wasiat lainnya. Meskipun orang yang berwasiat meninggalkan hartanya kepada ahli warisnya, manfaat-manfaat yang akan ada setelah wafatnya tetap dihitung dalam wasiat dari sepertiga harta berdasarkan pertimbangan harta peninggalan. Maka hendaknya orang yang meneliti perkara ini memperhatikan hal tersebut.

وقد نقول: منافع أعيان التركة ليست من التركة حتى لا يتعلق بها قضاء الديون وتنفيذ الوصايا ولعلنا نذكر تحقيق ذلك في أثناء الكتاب إن شاء الله عز وجل

Bisa jadi kita mengatakan: manfaat dari benda-benda peninggalan bukanlah bagian dari tirkah, sehingga tidak terkait dengan pelunasan utang dan pelaksanaan wasiat. Mungkin kita akan membahas penjelasan hal ini di sepanjang kitab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وسبب هذا أن الوصية بالمنافع تنقُص قيمةَ الأعيان وتؤثر فيها أثراً بيّناً

Penyebabnya adalah karena wasiat atas manfaat-manfaat mengurangi nilai benda-benda dan memberikan pengaruh yang nyata terhadapnya.

فهذا وجه عدّ الشرع المنافع من الثلث وأيضاً فإن ما أدخله من المنافع في تصرفه صار كالناجز المحصل فإذا أوصى بها فكأنها حصلت

Inilah alasan syariat memasukkan manfaat ke dalam sepertiga harta. Selain itu, apa yang dimasukkan seseorang berupa manfaat dalam transaksi atau perbuatannya menjadi seperti sesuatu yang telah nyata dan diperoleh. Maka jika ia mewasiatkannya, seakan-akan manfaat itu telah diperoleh.

فإذا وضح بالتنبيه الذي ذكرناه الأصلَ المجمعَ عليه وهو اعتبار الوصية بالمنافع من الثلث فالكلام بعد هذا في بيان ما يحسب من الثلث والوجه أن نقسم القول فنقول:

Jika telah jelas dengan penjelasan yang telah kami sebutkan mengenai pokok yang telah disepakati, yaitu bahwa wasiat atas manfaat diperhitungkan dari sepertiga harta, maka pembahasan selanjutnya adalah penjelasan tentang apa saja yang dihitung dari sepertiga tersebut. Cara yang tepat adalah dengan membagi pembahasan dan mengatakan:

الوصية لا تخلو إما أن تقع على التأبيد وإما أن تقع على التأقيت فإن وقعت على التأبيد والتفريعُ على الأصح الذي هو الأصل في أن الوصية بالمنفعة على التأبيد إذا لزمت امتنع منها بيع العين

Wasiat tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa berlaku untuk selamanya atau untuk waktu tertentu. Jika wasiat itu berlaku untuk selamanya—dan menurut pendapat yang paling sahih, yang menjadi dasar adalah bahwa wasiat atas manfaat untuk selamanya, apabila sudah tetap, maka tidak boleh menjual benda pokoknya.

فإذا فرعنا على هذا فقد اختلف أئمتنا فيما يعتبر خروجه من الثلث فمنهم من قال: المعتبر خروجُ قيمة العين من الثلث فإنها مسلوبة المنفعة في جهة الوصية والتصرفات ممتنعة على الورثة بحيلولةٍ دائمةٍ وكأن العين مستهلكة من حقوقهم وكأن الوصيةَ واقعةٌ بالرقبة

Jika kita membangun pendapat berdasarkan hal ini, para imam kita berbeda pendapat mengenai apa yang dijadikan acuan dalam keluarnya dari sepertiga harta. Sebagian dari mereka berpendapat: yang dijadikan acuan adalah keluarnya nilai barang dari sepertiga harta, karena barang tersebut telah hilang manfaatnya dalam kaitannya dengan wasiat dan para ahli waris tidak dapat melakukan tindakan apa pun terhadapnya secara permanen, seolah-olah barang itu telah lenyap dari hak mereka dan seakan-akan wasiat itu terjadi atas kepemilikan barang tersebut.

ومن أصحابنا من قال: تعتبر قيمةُ المنافع وخروجُها من الثلث فإنها الموصى بها والسبيل في اعتبارها أن نقول: هذا العبد كم يساوي مع وفور المنفعة فيقال: مائة فنقول: كم قيمته وهو مستحق المنافع فيقال: عشرة فنتبين أن قيمة المنفعة تسعون

Sebagian dari ulama kami berpendapat: yang diperhitungkan adalah nilai manfaat dan keluarnya dari sepertiga harta, karena itulah yang diwasiatkan. Cara memperhitungkannya adalah dengan mengatakan: Berapa nilai budak ini ketika manfaatnya masih utuh? Dijawab: seratus. Lalu kita tanyakan: Berapa nilainya ketika manfaatnya telah menjadi hak orang lain? Dijawab: sepuluh. Maka kita mengetahui bahwa nilai manfaatnya adalah sembilan puluh.

فهذا وجهُ الوصول إلى معرفة قيمة المنفعة ومعنى اعتبارها من الثلث

Inilah cara untuk mengetahui nilai manfaat dan makna memperhitungkannya dari sepertiga.

التفريع على الوجهين:

Penjabaran berdasarkan dua pendapat:

إن اعتبرنا خروج الرقبة من الثلث فلا كلام ومعنى اعتبار الرقبة اعتبار خروج قيمتها موفورةَ المنافع

Jika kita menganggap pembebasan budak dihitung dari sepertiga harta, maka tidak ada masalah. Maksud dari memperhitungkan budak adalah memperhitungkan keluarnya nilai budak tersebut dalam keadaan manfaatnya masih utuh.

فإن قلنا: الاعتبار بخروج قيمة المنفعة من الثلث على ما أوضحنا معنى ذلك فالمقدار الذي يُفرض قيمةَ الرقبة وهي مسلوبة المنفعة هل يحسب على الورثة من التركة أم لا يحسب عليهم فعلى وجهين ذكرهما العراقيون: أحدهما أنها محسوبة على الورثة من التركة فإنها حقهم وملكهم استحقوها إرثاً

Jika kita mengatakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keluarnya nilai manfaat dari sepertiga harta, sebagaimana telah kami jelaskan maknanya, maka besaran yang ditetapkan sebagai nilai budak (raqabah) yang telah hilang manfaatnya, apakah dihitung sebagai bagian warisan bagi ahli waris dari harta peninggalan atau tidak dihitung atas mereka? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak: salah satunya adalah bahwa nilai tersebut dihitung sebagai bagian ahli waris dari harta peninggalan, karena itu adalah hak dan milik mereka yang mereka peroleh melalui warisan.

والوجه الثاني أنها لا تحتسب من مقدار الوصية فإن الموصى بها المنفعة ولا تحسب على الورثة لوقوع الحيلولة المؤبدة بينهم وبينها

Pendapat kedua adalah bahwa ia tidak dihitung sebagai bagian dari jumlah wasiat, karena yang diwasiatkan adalah manfaatnya, dan tidak dibebankan kepada para ahli waris karena adanya penghalang abadi antara mereka dan manfaat tersebut.

هذا أصل القول فيما يحتسب من الثلث إذا كانت المنافع مؤبدة في مقتضى الوصية

Ini adalah pokok pembahasan mengenai apa yang dihitung dari sepertiga harta jika manfaatnya bersifat abadi menurut ketentuan wasiat.

وعلينا في ذلك بقية سنذكرها إن شاء الله عز وجل إذا تكلمنا في الوصية المؤقتة فنقول:

Masih ada pembahasan lain terkait hal ini yang akan kami sebutkan, insya Allah ‘Azza wa Jalla, ketika kami membahas tentang wasiat yang bersifat sementara. Maka kami katakan:

قدمنا التفصيل في أن الموصى بمنفعته على التأقيت هل يجوز بيعه فإن قضينا بجواز بيعه فلا خلاف أن المحتسب من الثلث أجرة المنافع لا غير

Kami telah menjelaskan secara rinci bahwa barang yang diwasiatkan manfaatnya secara terbatas waktunya, apakah boleh dijual. Jika kami memutuskan bolehnya penjualan tersebut, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang dihitung dari sepertiga harta hanyalah upah dari manfaatnya saja, tidak yang lain.

وقد يعترض في هذا المنتهى إشكال فإن المنافع ليست بتركةٍ على الحقيقة كما نبهنا عليه فكان يجب أن نجعل الموصي بالمنافع في حكم من لم يتصرف في التركة وهذا غير سديد فإنه لو كان كذلك لانتفت الوصية بالمنفعة رأساً فإنها تصرفٌ في حق الورثة فإذا نفذنا الوصية دلّ ذلك على أن المنافع ملحقةٌ بالتركة في هذه القضية وأيضاً إن الوصية بالمنفعة تؤثر في قيمة العين وتقلل الرغبة فيها هذا إذا قلنا: الوصية المؤقتة لا تمنع البيع

Mungkin muncul keberatan pada titik ini, yaitu bahwa manfaat (manfa‘ah) sebenarnya bukanlah bagian dari harta warisan sebagaimana telah kami jelaskan, sehingga seharusnya orang yang berwasiat dengan manfaat diperlakukan seperti orang yang tidak melakukan tindakan apa pun terhadap harta warisan. Namun, hal ini tidaklah tepat, sebab jika demikian, wasiat atas manfaat akan gugur sama sekali, padahal wasiat tersebut merupakan tindakan terhadap hak para ahli waris. Maka, jika kita melaksanakan wasiat tersebut, hal itu menunjukkan bahwa manfaat dianggap sebagai bagian dari harta warisan dalam kasus ini. Selain itu, wasiat atas manfaat juga memengaruhi nilai benda (‘ain) dan mengurangi minat terhadapnya, ini jika kita berpendapat bahwa wasiat yang bersifat sementara tidak menghalangi penjualan.

فأما إذا قلنا: الوصية المؤقتة تمنع بيعَ العين ما دامت فلأئمتنا طريقان: منهم من قطع بأن المحتسَب من الثلث قيمة المنافع ومنهم من خرّج المسألة على وجهين كالوجهين المقدّمين في الوصية بالمنفعة على التأبيد

Adapun jika kita mengatakan: wasiat yang dibatasi waktu mencegah penjualan barang selama masa tersebut, maka menurut para imam kita terdapat dua pendapat: sebagian mereka secara tegas menyatakan bahwa yang dihitung dari sepertiga adalah nilai manfaatnya, dan sebagian lagi mengeluarkan masalah ini dalam dua wajah, seperti dua wajah yang telah disebutkan dalam wasiat manfaat secara terus-menerus.

أحدهما أنا نعتبر خروج قيمة الرقبة لمكان الحيلولة الواقعة في الحال ولا ننظر إلى توقع انقضاء الحيلولة بانقضاء المدة المضروبة

Pertama, kami mempertimbangkan keluarnya nilai budak karena adanya penghalang yang terjadi saat ini, dan kami tidak memperhatikan kemungkinan berakhirnya penghalang tersebut dengan berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan.

والوجه الثاني أن الذي يعتبر خروجُه المنافعُ ولا مبالاة بالحيلولة الناجزة في العين إذا كانت عرضة الزوال

Pendapat kedua adalah bahwa yang dijadikan pertimbangan adalah keluarnya manfaat, dan tidak masalah dengan adanya penghalang langsung terhadap barang jika barang tersebut memang berpotensi hilang.

فإن قيل: هلا جعلتم الحيلولة الواقعة في العين بمنزلة الحيلولة الحاصلة في الثمن بالأجل المضروب فيه  حتى تسلكوا بهذا مسلك البيع بالثمن المؤجل قلنا: هذه الحيلولة مع حصول العين وتوقع الزوال لا مبالاة بها فإنا لا نعرف خلافاً في أن المريض إذا أجّر داره بأجرة مثلها والتفريع على أن الدار المستأجرة لا تباع فلا نقول: إذا مات المكري في أثناء المدة نبيع عقاره بالنقص فإن الإجارة من عقود الغبطة وكان أوقع حيلولةً بعوض

Jika dikatakan: Mengapa kalian tidak menyamakan halangan yang terjadi pada barang (ain) dengan halangan yang terjadi pada harga (tsaman) karena adanya tempo yang telah ditetapkan, sehingga kalian memperlakukan hal ini seperti jual beli dengan harga yang ditangguhkan? Kami katakan: Halangan ini, selama barangnya masih ada dan masih ada kemungkinan untuk hilang, tidak perlu diperhatikan. Sebab, kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika orang sakit menyewakan rumahnya dengan upah sepadan, dan berdasarkan pendapat bahwa rumah yang disewakan tidak boleh dijual, maka kami tidak mengatakan: Jika pemilik rumah meninggal di tengah masa sewa, kita menjual propertinya dengan harga yang lebih rendah. Karena sewa-menyewa termasuk akad yang menguntungkan, dan itu pun telah menimbulkan halangan dengan adanya kompensasi.

ولو باع عَيْنَه بعوض لنفذ فيه فلا فرق إذاً بين الإجارة وبين الوصية بالمنفعة إلا أن الإجارةَ معاوضة والوصية تبرّع ثم حق ما كان تبرعاً أن يحتسب من الثلث فإنّ الثلث يستحق للمريض لا يعترض عليه فيما يوقعه فيه

Jika seseorang menjual barang miliknya dengan imbalan yang berlaku atasnya, maka tidak ada perbedaan antara ijarah dan wasiat atas manfaat, kecuali bahwa ijarah adalah akad mu‘āwadah (pertukaran) sedangkan wasiat merupakan tabarru‘ (pemberian cuma-cuma). Kemudian, sesuatu yang merupakan tabarru‘ seharusnya diperhitungkan dari sepertiga harta, karena sepertiga harta menjadi hak bagi orang yang sakit (dalam wasiat) dan tidak boleh ada keberatan atas apa yang ia lakukan terhadap sepertiga itu.

هذا بيان أصل المذهب في أنَّ المحتسب من الثلث ماذا قيمة المنفعة أو قيمة العين في الوصية المؤقتة والمؤبدة

Ini adalah penjelasan tentang pokok mazhab mengenai apakah yang dijadikan patokan dalam sepertiga harta adalah nilai manfaat atau nilai benda dalam wasiat yang bersifat sementara maupun yang bersifat terus-menerus.

ومما نستكمل به بيان هذا الفصل أن الثلث إذا ضاق عن احتمال الوصية بالمنفعة واقتضت الحالُ رَدَّ الوصية إلى الثلث ففي كيفية ردها كلام نحن نفصّله فنقول:

Dan sebagai pelengkap penjelasan bab ini, apabila sepertiga harta tidak mencukupi untuk menampung wasiat berupa manfaat dan keadaan menuntut agar wasiat dikembalikan kepada sepertiga, maka dalam cara pengembalian wasiat tersebut terdapat pembahasan yang akan kami rinci sebagai berikut:

إن كانت الوصية بالمنفعة مؤقتةً كأن أوصى بخدمة عبده عشر سنين فقد ذكرنا أن الاعتبار بخروج المنافع من الثلث فعلى هذا إذا كان العبد يساوي مائة وما كان خلّف سواه شيئاً فنقول: منافعه عشرَ سنين كم تساوي فإن قيل: إنها تساوي ثُلُث المائة والعبد الآن دون منافعه في العَشْر يساوي ثلثي المائة فالوصية منفّذة فإنها خارجة في الثلث والثلث وافٍ بها

Jika wasiat berupa manfaat itu bersifat sementara, misalnya seseorang berwasiat agar budaknya melayani selama sepuluh tahun, maka telah kami sebutkan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keluarnya manfaat dari sepertiga harta. Berdasarkan hal ini, jika nilai budak tersebut seratus dan ia tidak meninggalkan harta selain itu, maka kita katakan: berapa nilai manfaat budak itu selama sepuluh tahun? Jika dikatakan: nilainya sepertiga dari seratus, dan budak tersebut tanpa manfaatnya selama sepuluh tahun bernilai dua pertiga dari seratus, maka wasiat tersebut dapat dilaksanakan karena manfaat itu keluar dari sepertiga harta, dan sepertiga itu mencukupi untuknya.

وإن كانت المنافع في عشر سنين تساوي خمسين والعبد مع استحقاق منافعه في العشر يساوي في الحال خمسين فلا بد من ردّ الوصية إلى الثلث وقد اختلف أصحابنا في كيفية ردها فمنهم من قال: ننقص من المدة ونردها إلى قدر الثلث ويكون جميع العبد مستحَق المنفعة في أقلَّ من المدة التي ضربها على ما يقتضيه الحساب

Jika manfaat dalam sepuluh tahun bernilai lima puluh, dan budak beserta hak atas manfaatnya selama sepuluh tahun saat ini juga bernilai lima puluh, maka wasiat tersebut harus dikembalikan kepada sepertiga. Para ulama kami berbeda pendapat tentang cara mengembalikannya; sebagian dari mereka berpendapat: kita mengurangi jangka waktunya dan mengembalikannya sesuai kadar sepertiga, sehingga seluruh budak menjadi hak manfaatnya dalam waktu yang lebih singkat dari jangka waktu yang ditetapkan, sesuai dengan perhitungan yang berlaku.

والوجه الثاني أنا لا ننقص من المدة ولكن ننقص من الرقبة فنقول: إذا كان الثلث لا يفي باستحقاق جميع منفعة العبد عشرَ سنين وكان يفي باستحقاق منفعة ثلثي العبد أو ما يتفق عشْرَ سنين فنرد الأجرة إلى بعض الرقبة في تمام المدة ولا ننقص من المدة شيئاً

Adapun cara kedua, kami tidak mengurangi dari sisi waktu, tetapi kami mengurangi dari sisi budak. Maka kami katakan: jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk memperoleh seluruh manfaat budak selama sepuluh tahun, namun mencukupi untuk memperoleh manfaat dua pertiga budak atau sesuai yang disepakati selama sepuluh tahun, maka kami kembalikan upah itu kepada sebagian budak untuk keseluruhan waktu, dan kami tidak mengurangi sedikit pun dari waktu tersebut.

وارتضى الشيخ أبو علي هذا الوجهَ وذلك أن المدة قد تختلف أجرتها فلو نقصنا من المدة وقعنا في جهالة يتعذر ضبطها

Syekh Abu Ali menerima pendapat ini, karena masa sewa bisa berbeda-beda upahnya. Jika kita mengurangi dari masa sewa tersebut, maka akan terjadi ketidakjelasan yang sulit untuk dikendalikan.

ويمكن أن يقال: هذان الوجهان متعلّقان بأن البيع هل يُمنع في الرقبة لمكان الوصية فإن قلنا: إن البيع لا يمتنع في الرقبة فينقدح خروج الوجهين لما ذكرناه في الوجه الثاني الذي اختاره الشيخ وإن قلنا: البيع يمتنع في الرقبة فالظاهر ردّ الأجرة وأن ننقص الرقبة حتى ترتفع الحيلولة عن بعضها  وينطلق فيه تصرف الورثة وكل ذلك على أن المعتبر خروج المنفعة من الثلث فإذا اعتبرنا خروجَ الرقبة فلا يخفى أنا نرفع الحيلولة عن ثلثي الرقبة إذا لم يخلِّف غيرَها

Dapat dikatakan: Kedua pendapat ini berkaitan dengan apakah penjualan di atas objek wasiat (raqabah) dilarang karena adanya wasiat. Jika kita katakan bahwa penjualan tidak dilarang atas raqabah, maka kedua pendapat tersebut gugur sebagaimana yang telah kami sebutkan pada pendapat kedua yang dipilih oleh Syekh. Namun jika kita katakan bahwa penjualan dilarang atas raqabah, maka yang tampak adalah mengembalikan uang sewa dan mengurangi bagian raqabah hingga penghalang (hiylah) atas sebagian raqabah hilang, sehingga para ahli waris dapat melakukan tindakan atasnya. Semua itu didasarkan pada pertimbangan bahwa yang diperhitungkan adalah keluarnya manfaat dari sepertiga harta. Jika yang diperhitungkan adalah keluarnya raqabah, maka jelaslah bahwa kita menghilangkan penghalang atas dua pertiga raqabah jika pewaris tidak meninggalkan harta selainnya.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت الوصية بالمنفعة مؤقتة

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika wasiat atas manfaat tersebut bersifat sementara.

فأما إذا كانت الوصية بالمنفعة مؤبدة والتفريع على الأصح وهو امتناع البيع في الرقبة فلا يتجه في هذا القسم إذا طلبنا ردّ بعض الوصية إلا تبعيضَ الأمر في الرقبة فإنا إن اعتبرنا خروج الرقبة من الثلث لم يخف ذلك وإن اعتبرنا خروج المنفعة فالمنفعةُ مؤبدة لا نهاية فيها ولا ضبط لها ولا يمكن التصرف فيها بالتبعيض ولا وجه إلا تبعيض الوصية على الرقبة حتى تثبت على التأبيد في بعض الرقبة على ما يقتضيه الحساب

Adapun jika wasiat atas manfaat itu bersifat abadi, dan menurut pendapat yang lebih sahih yaitu tidak bolehnya menjual pokok (harta), maka dalam bagian ini, jika kita ingin membatalkan sebagian wasiat, tidak ada jalan lain kecuali membagi perkara pada pokok harta. Sebab, jika kita menganggap pokok harta keluar dari sepertiga (harta peninggalan), hal itu sudah jelas. Namun jika kita menganggap manfaat yang keluar, maka manfaat itu bersifat abadi, tidak ada batas akhirnya, tidak dapat diukur, dan tidak mungkin diperlakukan dengan pembagian. Maka tidak ada jalan lain kecuali membagi wasiat pada pokok harta, sehingga wasiat itu tetap berlaku secara abadi pada sebagian pokok harta sesuai dengan perhitungan yang diperlukan.

هذا تمام البيان في معنى احتساب هذه الوصية من الثلث ونحن نختتمه بذكر سؤالٍ على وجه ضعيف وجواب عنه فنقول:

Inilah penjelasan lengkap mengenai makna perhitungan wasiat ini dari sepertiga, dan kami akan menutupnya dengan menyebutkan sebuah pertanyaan menurut pendapat yang lemah beserta jawabannya, maka kami katakan:

إذا فرعنا على الوجه الضعيف في أن الوصية بالمنفعة على التأقيت توجب احتساب الرقبة من الثلث فإذا كان أوصى بمنفعة عبده سنةً ولم يكن له مالٌ غيرُ العبد فالذي يقتضيه التفريع على الوجه الضعيف ردُّ الوصية إلى ثلث العبد ورجعها عن الثلثين

Jika kita membangun pendapat berdasarkan wajah yang lemah bahwa wasiat atas manfaat secara terbatas waktu mewajibkan perhitungan budak dari sepertiga harta, maka jika seseorang berwasiat atas manfaat budaknya selama satu tahun dan ia tidak memiliki harta selain budak tersebut, maka yang dituntut oleh pembahasan berdasarkan wajah yang lemah adalah mengembalikan wasiat itu kepada sepertiga budak dan menarik kembali dari dua pertiganya.

فإن قيل: إذا انقضت المدة انطلق الحجر عن جميع الرقبة واستمكن الورثة من جميع الرقبة فلا تقع الوصية ثلثاً وليس كان ينقدح ذلك في الوصية المؤبدة من حيث إن الوصية المردودة إلى الثلث مردودة إلى ثلث العبد متأبداً وتنزل منزلةَ وقف جزء من العبد وتحبيسه وهذا لا اتجاه له والوصيةُ مؤقتة

Jika dikatakan: Apabila masa (wasiat) telah berakhir, maka larangan (hak) atas seluruh budak pun terangkat dan para ahli waris dapat menguasai seluruh budak tersebut, sehingga wasiat itu tidak lagi menjadi sepertiga (dari harta), dan hal ini tidak mungkin terjadi pada wasiat yang bersifat abadi. Sebab, wasiat yang dikembalikan kepada sepertiga (harta) berarti dikembalikan kepada sepertiga budak secara abadi, dan ini sama dengan mewakafkan sebagian dari budak dan menahannya, padahal hal ini tidak dapat diterima, sedangkan wasiat itu bersifat sementara.

قلنا: هذا يُضعف هذا الوجهَ ويبين سقوطه

Kami katakan: Hal ini melemahkan pendapat ini dan menunjukkan kelemahannya.

ثم الممكن في توجيه هذا الوجه أن الوصية بالمنفعة المؤقتة مقصودُها تمكّن الموصى له من المنفعة مدة معلومة ثم اقتضى وقوع الحيلولة ردّ الاعتبار إلى الرقبة فإذا انقضت المدة التي ضربها الموصي فقد انقضى ثلث مقصوده وكأن هذا القائل لا ينظر إلى القيمة وإنما يثلّث المنحة في نفسها بفضِّها على أجزاء العبد فلئن انطلق الحجر عن العبد فهذا انطلاق على حسب مقتضى الوصية

Kemungkinan penjelasan dari pendapat ini adalah bahwa wasiat atas manfaat yang bersifat sementara dimaksudkan agar penerima wasiat dapat memanfaatkan manfaat tersebut dalam jangka waktu tertentu, kemudian ketika terjadi penghalangan, maka hak atas kepemilikan kembali kepada pemilik asal. Jika masa yang ditetapkan oleh pewasiat telah berakhir, maka sepertiga dari maksud wasiatnya pun telah selesai. Seolah-olah orang yang berpendapat demikian tidak melihat pada nilai (harta), melainkan membagi sepertiga pemberian itu sendiri dengan membaginya atas bagian-bagian budak. Maka jika budak tersebut terbebas dari statusnya, hal itu terjadi sesuai dengan maksud wasiat.

والذي ذكرناه لا ثبات له فإن الوصايا تعتبر من الثلث على قياس القيم وأقدارها وهذا النوع من التثليث لا ينتظم فيه اعتبار القيمة أصلاً فإنا اعتبرنا قيمة الرقبة وثبتنا التثليث عليها ثم الثلث المصروف إلى الوصية استرددناه ورددناه إلى الورثة

Apa yang telah kami sebutkan itu tidak memiliki ketetapan, karena wasiat-wasiat dihitung dari sepertiga menurut qiyās nilai dan ukurannya. Namun, jenis pembagian sepertiga seperti ini sama sekali tidak dapat dijadikan dasar dalam penilaian nilai. Sebab, kami telah memperhitungkan nilai budak dan menetapkan pembagian sepertiga atasnya, kemudian sepertiga yang dialokasikan untuk wasiat itu kami tarik kembali dan kami kembalikan kepada para ahli waris.

وقد نجز المقصود

Dan maksud yang dimaksud telah tercapai.

ومما يعد من أركان الفصل القول في نفقة العبد الموصى بمنفعته

Termasuk di antara rukun pembahasan ini adalah penjelasan mengenai nafkah bagi budak yang manfaatnya diwasiatkan.

حاصل ما ذكره الأصحاب أوجه: أصحها أن نفقة العبد تجب على الورثة فإن ملك الرقبة لهم والنفقة تتبع ملك الرقبة إذا لم تثبت عوضاً في عقد وهذا احتراز عن نفقة النكاح فإنها بنيت على مضاهاة الأعواض ولا ينظر إلى خروجها عن الضبط فإنها تعارض معوضاً خارجاً عن الضبط وهو منفعة البضع

Kesimpulan dari apa yang disebutkan para ulama ada beberapa pendapat: yang paling sahih adalah bahwa nafkah budak menjadi kewajiban para ahli waris, karena kepemilikan atas tubuh budak ada pada mereka, dan nafkah mengikuti kepemilikan tubuh budak jika tidak ada pengganti dalam akad. Ini sebagai pengecualian dari nafkah pernikahan, karena nafkah tersebut didasarkan pada kesetaraan pengganti, dan tidak dipertimbangkan keluar dari ketentuan baku, sebab ia berhadapan dengan sesuatu yang diganti yang juga keluar dari ketentuan baku, yaitu manfaat hubungan badan.

هذا ظاهر المذهب في نفقة العبد الموصى بمنفعته

Ini adalah pendapat yang jelas dalam mazhab mengenai nafkah budak yang manfaatnya diwasiatkan.

ومن أصحابنا من قال: النفقةُ على الموصى له بالمنفعة وهذا الوجه حكاه صاحب التقريب ووجهه تشبيه استحقاقه المنفعة باستحقاق الزوج منفعة البضع

Sebagian ulama kami berpendapat: nafkah menjadi tanggungan penerima wasiat manfaat. Pendapat ini dinukil oleh penulis kitab at-Taqrīb, dan alasannya adalah karena kepemilikan manfaat oleh penerima wasiat diserupakan dengan kepemilikan manfaat hubungan suami istri oleh seorang suami.

وهذا رديء لا اتجاه له والذي أرى القطعَ به تخصيصُ حكاية هذا الوجه بالوصية المؤبدة فإنها إذا كانت مؤقتة كان العبد الموصى بخدمته بمثابة العبد المستأجر ثم نفقة العبد المستأجر على المالك ثم بنى صاحب التقريب فِطرة العبد على الخلاف في النفقة فإن الفطرة تتبع النفقة فإن أوجبنا نفقةَ العبد على الورثة فعليهم زكاة فطره وإن أوجبناها على الموصى له فعليه زكاة فطره

Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak memiliki arah yang jelas. Menurut saya, yang dapat dipastikan adalah bahwa pendapat ini khusus berlaku untuk wasiat yang bersifat abadi. Sebab, jika wasiat tersebut bersifat sementara, maka budak yang diwasiatkan untuk dilayani itu posisinya seperti budak yang disewa, dan nafkah budak yang disewa menjadi tanggungan pemiliknya. Kemudian, penulis kitab at-Taqrīb membangun hukum zakat fitrah budak berdasarkan perbedaan pendapat dalam masalah nafkah, karena zakat fitrah mengikuti nafkah. Jika kita mewajibkan nafkah budak kepada ahli waris, maka merekalah yang wajib menunaikan zakat fitrahnya. Namun jika kita mewajibkannya kepada penerima wasiat, maka dialah yang wajib menunaikan zakat fitrahnya.

وذكر العراقيون وجهاً ثالثاً في النفقة فقالوا: نفقة العبد تتعلق بكسبه وحق الموصى له وراء عمل العبد في تحصيل مؤنته  ثم قالوا: إن عجز العبد عن الكسب فصاحب هذا الوجه لا يوجب نفقته على الورثة ولا على الموصى له بل يوجبها في بيت المال

Orang-orang Irak menyebutkan pendapat ketiga dalam masalah nafkah, mereka berkata: nafkah budak bergantung pada hasil kerjanya, dan hak penerima wasiat berada di belakang usaha budak dalam memenuhi kebutuhannya. Kemudian mereka berkata: jika budak tidak mampu bekerja, maka menurut pendapat ini, nafkahnya tidak diwajibkan atas ahli waris maupun atas penerima wasiat, melainkan diwajibkan dari baitul mal.

وهذا فيه ضعف من جهة أن صرف نفقة المملوك على بيت المال مع استظهار المالك وبقائه بعيدٌ وكان لا يبعد في قياس هذا الوجه أن يقال: النفقة تتعلق بالكسب فإن لم يكن انقلب وجوبُها إلى الوارث أو إلى الموصى له

Hal ini mengandung kelemahan dari sisi bahwa pengalihan nafkah budak kepada baitul mal sementara pemiliknya masih mampu dan tetap ada adalah sesuatu yang jauh (dari kebenaran). Tidaklah jauh menurut qiyās dalam pendapat ini untuk dikatakan: nafkah itu terkait dengan penghasilan, maka jika tidak ada penghasilan, kewajiban nafkah itu beralih kepada ahli waris atau kepada penerima wasiat.

فإن قيل: لم تذكروا متعلق الوجه الذي حكاه صاحب التقريب سوى التحكم بالتشبيه بالنكاح قلنا: ذاك وجهٌ بعيد لا يتوجه ثم الذي يظهر التعلّقُ به أنا لو صرفنا المنفعة إلى الموصى له أبدأ وصرفنا كلّ العبد ومؤونته على الوارث لثقل وقع ذلك وانضمّ إلى الحيلولة غُرم النفقة وليس هذا كنفقة العبد المستأجر فإن المكري اعتاض عوضاً من المنفعة وعوض المنفعة في موجب العادة يقابل احتمال النفقة وقد يظهر مع هذا التنبيه طردُ ذلك الوجه الضعيف في الوصية المؤقتة بالمنفعة

Jika dikatakan: Kalian tidak menyebutkan dasar pendapat yang dikemukakan oleh penulis at-Taqrīb selain sekadar penetapan berdasarkan penyamaan dengan akad nikah, maka kami katakan: Itu adalah alasan yang lemah dan tidak dapat diterima. Adapun yang tampak sebagai dasar pendapat tersebut adalah, jika kita memberikan manfaat kepada penerima wasiat sejak awal dan membebankan seluruh budak beserta biaya pemeliharaannya kepada ahli waris, maka hal itu akan terasa berat, karena selain terhalang dari manfaat, ahli waris juga harus menanggung biaya nafkah. Ini berbeda dengan nafkah budak yang disewakan, karena pemilik sewa telah menerima kompensasi atas manfaat tersebut, dan kompensasi manfaat itu dalam kebiasaan memang sepadan dengan kemungkinan menanggung nafkah. Dengan penjelasan ini, dapat terlihat bahwa alasan yang lemah tersebut mungkin berlaku juga pada wasiat manfaat yang bersifat sementara.

ثم ما ذكرناه في النفقة يطّرد في الكسوة وفي جملة المؤن الواجبة على المالك في مملوكه

Kemudian, apa yang telah kami sebutkan mengenai nafkah berlaku pula pada pakaian dan seluruh kebutuhan wajib yang harus dipenuhi oleh pemilik terhadap miliknya.

ومما يُعد من أركان الفصل الكلام في الجناية على هذا العبد وفي جنايته

Termasuk rukun pembahasan ini adalah pembicaraan mengenai tindak kejahatan terhadap budak ini dan tindak kejahatan yang dilakukan olehnya.

ونحن نبدأ بالجناية عليه والقول فيه ينقسم إلى الكلام في قتله  وإلى الكلام في الجناية على أطرافه

Kita memulai dengan pembahasan tentang tindak pidana terhadapnya, dan pembahasan ini terbagi menjadi dua: pembahasan tentang pembunuhannya dan pembahasan tentang tindak pidana terhadap anggota tubuhnya.

فإن قتله قاتل قتلاً يوجب المالَ التزم قيمتَه وفيمن تصرف إليه القيمة اضطرابٌ للأصحاب:

Jika seseorang membunuhnya dengan pembunuhan yang mewajibkan pembayaran diyat, maka ia wajib membayar nilainya. Namun, mengenai kepada siapa nilai tersebut diserahkan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

فذهب ذاهبون منهم إلى أن القيمة مصروفةٌ إلى الورثة وقد بطلت الوصية وانقطعت فإن الموصى له كان يستحق منفعته ما دام حياً فإذ قتل فقد انتهت الوصاية به نهايتها كما ينتهي النكاح بموت الزوجة وقتلها فالقيمة تسلم إلى مالك الرقبة وهو الوارث

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa nilai (barang tersebut) diberikan kepada para ahli waris dan wasiat menjadi batal serta terputus, karena penerima wasiat hanya berhak atas manfaatnya selama ia masih hidup. Maka, ketika ia terbunuh, wasiat itu berakhir sebagaimana pernikahan berakhir dengan wafatnya atau terbunuhnya istri. Oleh karena itu, nilai (barang tersebut) diserahkan kepada pemilik asalnya, yaitu ahli waris.

ومن أصحابنا من قال: نصرف تلك القيمة إلى شراء عبدٍ ونقيمه خادماً للموصى له بالخدمة حتى نكون مقيمين لحق مالك الرقبة ولحق مالك المنفعة

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: Nilai tersebut dialihkan untuk membeli seorang budak, lalu kami menjadikannya sebagai pelayan bagi penerima wasiat berupa pelayanan, sehingga hak pemilik raqabah dan hak pemilik manfaat tetap terpenuhi.

وأبعد بعض أصحابنا فزعم أن القيمة مصروفةٌ إلى الموصى له بالمنفعة وزعم هذا القائل أن هذا الوجه يخرّج على اعتبار خروج قيمة الرقبة من الثلث فإذا كنا نعتقد ذلك فكأنا اعتقدنا كونَ العبد مستوعباً بحق الموصى له فإذا قُتل صرفنا القيمة إلى من اعتبرنا خروج القيمة من الثلث في حقه ولا شك أن هذا الوجه إن صح النقلُ فيه إنما يجري إذا كان العبد موصىً بمنفعته أبداً

Sebagian ulama kami berpendapat jauh berbeda, mereka beranggapan bahwa nilai (harta) diberikan kepada penerima wasiat atas manfaat (yang diwasiatkan). Pendapat ini menyatakan bahwa pandangan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa nilai budak keluar dari sepertiga harta. Jika kita meyakini hal itu, maka seolah-olah kita menganggap budak tersebut sepenuhnya menjadi hak penerima wasiat. Maka jika budak itu terbunuh, kita memberikan nilai (budak) kepada orang yang kita anggap nilai tersebut keluar dari sepertiga harta untuknya. Tidak diragukan lagi, jika pendapat ini benar menurut riwayat, maka pendapat ini hanya berlaku jika budak tersebut diwasiatkan manfaatnya untuk selamanya.

والوجه الثاني المذكور قبل هذا يجري مع تأقت الوصية فإن صاحب ذلك الوجه يرى شراء عبد بتلك القيمة ثم إذا مرّت المنفعة وانقضت المدة خلصت الرقبةُ ومنفعتها للوارث

Pendapat kedua yang telah disebutkan sebelumnya berlaku jika wasiat tersebut dibatasi waktu, karena orang yang berpendapat demikian melihat bahwa hamba dibeli dengan nilai tersebut, kemudian apabila manfaatnya telah berlalu dan masa yang ditentukan telah habis, maka kepemilikan penuh dan manfaatnya menjadi milik ahli waris.

فإن قيل: أليس العبد المستأجر إذا قتل في أثناء المدة ارتفعت الإجارة في بقية المدة فما الفرق بين الإجارة وبين الوصية المؤقتة

Jika dikatakan: Bukankah seorang hamba yang disewa apabila ia terbunuh di tengah masa sewa, maka akad ijarah menjadi batal untuk sisa masa sewa tersebut? Lalu apa perbedaan antara ijarah dan wasiat yang bersifat sementara?

قلنا: الإجارة عقد معاوضة وإذا لم يَسْلَم فيه المعقود عليه إن تملكه  فحكم المعاوضة الانفساخ ثم إنه يرجع بقسط من العوض ولا تبعض في الوصية فلو قطعناها لكان ذلك إحباطاً لحق الموصى له

Kami katakan: Ijārah adalah akad pertukaran, dan apabila objek akad tersebut tidak dapat diserahkan atau dimiliki, maka hukum pertukaran tersebut menjadi batal. Setelah itu, pihak yang dirugikan berhak mendapatkan bagian dari imbalan, namun dalam wasiat tidak berlaku pembagian seperti itu. Jika kita memotongnya, maka hal itu berarti menggugurkan hak penerima wasiat.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً رابعاً من أصل المسألة وقال: القيمة تُفضُّ على المنفعة به وعلى الرقبة وهي مسلوبة المنفعة  فينصرف ما يخص المنفعة إلى الموصى له وما يخص الرقبة إلى الوارث وسبيل تقويم المنفعة إن كانت مستحقة على التأبيد أن يقال: منفعة هذا العبد كم تساوي والعبد مسلوب المنفعة كم يساوي فإن قيل: كيف يتأتى تقويم المنفعة وهي مجهولةُ المقدار قلنا: سبيل تقويم المنفعة سبيل تقويم الرقبة فإن قيمة الرقبة تتعلق برجاء البقاء ولو علم طالب الرقبة أنها فائتةٌ على القرب لم يرغب فيها ثم القيمة معلومةٌ مع تردد في طرفي البقاء فكذلك القول في المنفعة

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat keempat dalam pokok permasalahan ini dan berkata: Nilai (harta) dibagi atas manfaat dari budak tersebut dan atas kepemilikan (raqabah) yang tidak memiliki manfaat, sehingga bagian yang berkaitan dengan manfaat diberikan kepada penerima wasiat, sedangkan bagian yang berkaitan dengan kepemilikan diberikan kepada ahli waris. Cara menilai manfaat, jika manfaat tersebut dimiliki secara abadi, adalah dengan mengatakan: Berapa nilai manfaat budak ini, dan berapa nilai budak yang tidak memiliki manfaat? Jika ada yang bertanya: Bagaimana mungkin menilai manfaat padahal kadarnya tidak diketahui? Kami katakan: Cara menilai manfaat sama dengan cara menilai kepemilikan, karena nilai kepemilikan berkaitan dengan harapan akan keberlangsungan hidup. Jika orang yang menginginkan kepemilikan tahu bahwa budak itu akan segera hilang, tentu ia tidak akan berminat. Maka nilai kepemilikan itu diketahui meskipun ada keraguan dalam hal keberlangsungan hidup, demikian pula halnya dengan manfaat.

ويتأتى تقويم المنفعة على وجهٍ آخر قدمنا ذكره في فصل الخروج من الثلث فنقدر العبد منتفعاً به فنضبط قيمته ثم نقومه مسلوب المنفعة فالقدر الذي ينحط مع تقدير الانتفاع قيمةُ المنفعة

Penilaian manfaat dapat dilakukan dengan cara lain yang telah kami sebutkan pada bab tentang keluar dari sepertiga, yaitu dengan memperkirakan budak dalam keadaan dapat diambil manfaatnya, lalu kami tetapkan nilainya, kemudian kami menilainya dalam keadaan manfaatnya dicabut; maka selisih nilai yang berkurang ketika manfaat diperhitungkan itulah nilai manfaat tersebut.

وما ذكرناه فيه إذا قُتل العبد قتلاً يوجب المال

Apa yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika seorang budak dibunuh dengan pembunuhan yang mewajibkan pembayaran diyat.

فإن قتل قَتْلَ قصاص فقد أجمع أئمتنا على أن المالك وهو الوارث يثبت له حق طلب القصاص وإذا اقتص من القاتل سقطت الوصية وصار كما لو مات العبد الموصى بمنفعته حتف أنفه

Jika pembunuhan itu adalah pembunuhan qishāsh, maka para imam kami telah sepakat bahwa pemilik, yaitu ahli waris, berhak menuntut qishāsh. Jika qishāsh telah dilaksanakan terhadap pembunuh, maka wasiat tersebut gugur dan keadaannya menjadi seperti jika budak yang manfaatnya diwasiatkan itu meninggal dunia secara alami.

وأبعد بعض أصحابنا فأثبت للموصى له حقَّ طلب القصاص وهذا غلطٌ غيرُ معتد به فإن طلب القصاص والقتيل مملوك من خواص أحكام ملك الرقبة وإنما غلِط هذا القائل من مصير بعض الأصحاب إلى صرف القيمة بكمالها إلى الموصى له بالمنفعة وهذا لا متعلَّقَ به  فإن القيمة قد تصرف إلى حق من لا يطلب القصاص كالمرتهن إذا قتل العبد المرهون في يده

Sebagian ulama kami berpendapat secara ekstrem dengan menetapkan hak bagi penerima wasiat untuk menuntut qishāsh, dan ini adalah kesalahan yang tidak dapat dianggap. Sebab, permintaan qishāsh atas orang yang terbunuh yang merupakan milik adalah termasuk kekhususan hukum kepemilikan penuh (milk ar-raqabah). Kesalahan pendapat ini berasal dari sebagian ulama yang berpendapat bahwa nilai penuh diberikan kepada penerima wasiat atas manfaat, dan ini tidak relevan. Sebab, nilai tersebut bisa saja diberikan kepada pihak yang tidak berhak menuntut qishāsh, seperti pemegang gadai jika budak yang digadaikan dibunuh saat berada di tangannya.

هذا كله إذا كانت الجناية على نفسه

Semua ini berlaku jika pelanggaran tersebut dilakukan terhadap dirinya sendiri.

فأما إذا قطع الجاني يدَ العبد فقد ظهر اختلاف أصحابنا في مصرف الأرش فقال قائلون: الأرش مصروف إلى الوارث فإنه بدل الطرف الفائت والطرف ملكُ مَن الرقبة ملكه

Adapun jika pelaku memotong tangan seorang budak, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai ke mana arsy harus diberikan. Sebagian berpendapat: arsy diberikan kepada ahli waris, karena arsy merupakan pengganti anggota tubuh yang hilang, dan anggota tubuh itu adalah milik orang yang memiliki kepemilikan atas tubuh budak tersebut.

وحكى صاحب التقريب وجهاً آخر: وهو أنا ننظر إلى ما انتقص من المنفعة وإلى ما انتقص من قيمة الرقبة فنفضّ الأرش عليهما ونصرف ما يجبر نقصانَ الرقبة إلى الوارث وما يخص نقصان المنفعة إلى الموصى له بالمنفعة وإذا اعتبرنا نقصان القيمة نظرنا إلى قيمة عبد مسلوب المنفعة ونسبنا النقصان إليه وهذا الوجه هو الذي حكيناه في الجناية على النفس

Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan pendapat lain, yaitu: kita melihat pada apa yang berkurang dari sisi manfaat dan apa yang berkurang dari sisi nilai budak, lalu kita membagi diyat (ganti rugi) di antara keduanya. Bagian yang digunakan untuk menutupi kekurangan nilai budak diberikan kepada ahli waris, sedangkan bagian yang khusus untuk kekurangan manfaat diberikan kepada penerima wasiat manfaat. Jika kita mempertimbangkan kekurangan nilai, maka kita melihat pada nilai seorang budak yang telah hilang manfaatnya, lalu kita nisbahkan kekurangan itu kepadanya. Pendapat ini pula yang kami riwayatkan dalam kasus jinayah (penganiayaan) terhadap jiwa.

وصار صائرون إلى أن ما يقابل المنفعة من القيمة مصروف إلى الموصى له بالمنفعة وما يقابل الرقبة منها مصروف إلى الوارث

Sebagian ulama berpendapat bahwa bagian dari nilai yang sepadan dengan manfaat diberikan kepada penerima wasiat atas manfaat tersebut, sedangkan bagian yang sepadan dengan kepemilikan (raqabah) diberikan kepada ahli waris.

ولم يصر أحد إلى صرف تمام الأرش إلى الموصى له بالمنفعة وإن ذُكر في القيمةِ والجنايةُ على النفس

Tidak ada seorang pun yang berpendapat untuk memberikan seluruh sisa kompensasi (arsh) kepada penerima wasiat manfaat, meskipun hal itu disebutkan dalam penilaian nilai dan tindak pidana terhadap jiwa.

ولم ير أحدٌ صرف الأرش إلى عبدٍ أو شقصٍ من عبد حتى يستحقه الموصى له بالمنفعة

Dan tidak seorang pun berpendapat bahwa arsy (ganti rugi) diberikan kepada seorang budak atau bagian dari seorang budak, sampai orang yang diwasiati manfaatnya benar-benar berhak menerimanya.

هذا قولنا في الجناية على العبد الموصى بمنفعته

Inilah pendapat kami mengenai tindak pidana terhadap budak yang manfaatnya diwasiatkan.

فأما التفصيل في جناية العبد الموصى بمنفعته فنقول: إذا كان هو الجاني وجنى جناية مذهبها المال فالأرش يتعلق برقبته وحق الموصى له لا يمنع من ذلك كما أن ملكَ المالك وحقَّ المرتهن لا يمنع من تعلق الأرش بالرقبة ثم إن فداه الوارث وتخلّصت الرقبة فحق الموصى له بالمنفعة قائم كما كان وإن امتنع الوارث من فدائه لم يلزم الفداء ولكن يباع العبد إن مست الحاجة إلى بيع جميعه

Adapun perincian mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh budak yang manfaatnya diwasiatkan, maka kami katakan: Jika budak tersebutlah yang melakukan tindak pidana dan tindak pidananya berkaitan dengan harta, maka diyat (ganti rugi) terkait dengan lehernya (yaitu dirinya sebagai budak), dan hak penerima wasiat tidak menghalangi hal tersebut, sebagaimana kepemilikan pemilik dan hak pemegang gadai juga tidak menghalangi keterkaitan diyat dengan leher budak. Kemudian, jika ahli waris menebusnya dan leher budak itu terbebas, maka hak penerima wasiat atas manfaat tetap berlaku sebagaimana sebelumnya. Namun jika ahli waris enggan menebusnya, maka tidak wajib menebus, tetapi budak tersebut dijual jika memang ada kebutuhan untuk menjual seluruh dirinya.

فإن قيل: هلا قلتم يمتنع بيعُه لأنه مسلوب المنفعة قلنا: حق الأرش مقدّم على حق الموصى له وهذا كما أن المرهون لا يباع دون إذن المرتهن وإذا جنى بيع وأُبطل حق المرتهن

Jika dikatakan: Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa penjualannya tidak boleh karena tidak memiliki manfaat? Kami jawab: Hak arsy lebih didahulukan daripada hak penerima wasiat, dan ini sebagaimana barang yang digadaikan tidak boleh dijual tanpa izin pemegang gadai, namun jika barang tersebut melakukan jinayah maka barang itu dijual dan hak pemegang gadai dibatalkan.

فإن قال الموصى له عند امتناع الوارث من الفداء: أنا أفديه فإن قبل المجني عليه الفداء فلا كلام فإن الأجنبي لو فدى العبد الجاني وقبله المجني عليه انفلت من الجناية وإن قال المجني عليه: لست أقبل الفداء فقد ذكر الأصحاب وجهين في أنه هل يجبر على قبول الفداء أحدهما لا يجبر كالأجنبي فإنه لا حق له في الرقبة والأرش يتعلق بالرقبة

Jika orang yang menerima wasiat berkata ketika ahli waris menolak untuk membayar diyat: “Saya akan membayarnya,” lalu pihak korban menerima pembayaran tersebut, maka tidak ada masalah. Sebab, jika orang lain (bukan ahli waris) membayar diyat budak yang melakukan kejahatan dan korban menerimanya, maka budak itu terbebas dari kejahatan tersebut. Namun, jika korban berkata: “Saya tidak mau menerima pembayaran diyat,” para ulama menyebutkan dua pendapat mengenai apakah korban dapat dipaksa menerima pembayaran diyat atau tidak. Salah satunya adalah tidak boleh dipaksa, seperti halnya orang lain (bukan ahli waris), karena ia tidak memiliki hak atas budak tersebut, dan diyat itu berkaitan dengan budak.

والوجه الثاني يجب قبول الفداء فيه فإن في فداء العبد فداء حقه  وفي بيعه انقطاع حقه

Pendapat kedua menyatakan bahwa wajib menerima tebusan dalam hal ini, karena dalam menebus budak terdapat penebusan haknya, sedangkan dalam menjualnya berarti terputusnya haknya.

وقد أجرى الأصحاب هذين الوجهين في العبد المرهون إذا جنى وامتنع الراهن من فدائه وأراد المرتهن أن يفديه حتى لا ينفك حق استيثاقه  ففيه الوجهان اللذان ذكرناهما في الموصى له ولعل تصحيح الفداء من المرتهن أوْجَهُ لأن حقه متعلق بالعين ولهذا تصرف قيمة المرهون إذا أُتلف إليه من غير تردد وفي قيمة العبد الموصى بمنفعته إذا قُتل ما ذكرناه

Para ulama madzhab telah menerapkan dua pendapat ini pada kasus budak yang digadaikan apabila ia melakukan tindak pidana dan pihak yang menggadaikan (rahin) enggan menebusnya, sementara pihak penerima gadai (murtahin) ingin menebusnya agar hak jaminannya tidak hilang. Dalam hal ini terdapat dua pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan pada kasus orang yang menerima wasiat. Barangkali pendapat yang membolehkan penebusan oleh murtahin lebih kuat, karena haknya terkait langsung dengan barang gadai tersebut. Oleh sebab itu, nilai barang gadai jika rusak akan diberikan kepadanya tanpa ada keraguan. Adapun mengenai nilai budak yang manfaatnya diwasiatkan apabila ia terbunuh, maka hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ومما يعدّ من قواعد الفصل التفصيلُ فيما يملكه الموصى له بالمنفعة وفي تصرفاته بمنافع البدن فلا شك أنه يملكها وبنى الأصحاب عليه أنه لو احتطب أو احتش أو صاد فهذا الاكتسابُ للموصى له بالمنفعة ولو كان محترفاً فأجر أعماله له

Termasuk kaidah pemisahan adalah perincian mengenai apa yang dimiliki oleh penerima wasiat atas manfaat dan tindakannya terhadap manfaat badan. Tidak diragukan bahwa ia memilikinya, dan para ulama membangun pendapat atas hal ini, bahwa jika ia mengambil kayu bakar, memotong rumput, atau berburu, maka hasil usaha tersebut menjadi milik penerima wasiat atas manfaat. Jika ia seorang pekerja profesional, maka upah dari pekerjaannya juga menjadi miliknya.

فإن اكتسب كسباً نادراً مثل أن يهب منه إنسان شيئاً فيتّهبه ففي هذا الفن وجهان مشهوران: أحدهما أنه لا يستحقه الموصى له وإنما يستحقه الوارث بحق ملك الرقبة

Jika ia memperoleh penghasilan yang jarang terjadi, seperti ada seseorang yang memberinya sesuatu sebagai hadiah lalu ia menerimanya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa yang berhak atasnya bukanlah penerima wasiat, melainkan ahli waris karena mereka memiliki hak kepemilikan atas pokok harta.

والثاني أنه يستحقه الموصى له بالمنفعة

Kedua, bahwa hak tersebut menjadi milik penerima wasiat atas manfaatnya.

هكذا أطلق الأصحاب الخلاف وهو يحتاج إلى فضل بيان فالاتهاب ليس مما يتعلق بعمل العبد فالوجه في تنزيل الخلاف والوفاق أن نقول: كل كسب يحصّله عملٌ فهو للموصى له بالمنفعة وكل كسب لا يحصله ما يعدّ من الأعمال كذلك العبد الذي اتهب  ففيه خلاف: من أصحابنا من قال: هذا لا يعاوضه عمل ولا يقتضيه نوعٌ من المنفعة بل التغليب فيه لهبة الواهب فيجب صرفه إلى مالك الرقبة

Demikianlah para ulama menyebutkan adanya khilaf, namun hal ini memerlukan penjelasan lebih lanjut. Sebab, hibah bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan hamba. Maka, cara memahami adanya khilaf dan kesepakatan adalah dengan mengatakan: setiap keuntungan yang diperoleh melalui suatu perbuatan, maka itu menjadi hak orang yang menerima wasiat manfaat. Adapun setiap keuntungan yang tidak diperoleh melalui sesuatu yang dianggap sebagai perbuatan, seperti juga budak yang dihibahkan, maka dalam hal ini terdapat khilaf: sebagian ulama kami berpendapat bahwa hal ini tidak dihasilkan oleh suatu perbuatan dan tidak pula dituntut oleh suatu bentuk manfaat, melainkan yang dominan di sini adalah hibah dari pemberi hibah, sehingga harus diserahkan kepada pemilik asal (malik ar-raqabah).

فإن أردنا في ذلك ضبطاً فكل ما يمتنع على العبد من أعماله حتى يراجع مولاه فهو المنفعة التي يتعلق بها الاستحقاق فأما قوله وحكمه فمما لا يحتاج العبد في إطلاقها إلى مراجعة مولاه

Jika kita ingin menetapkan suatu ketentuan dalam hal ini, maka segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh seorang hamba dari perbuatannya hingga ia meminta izin kepada tuannya, itulah manfaat yang berkaitan dengan hak kepemilikan. Adapun ucapan dan keputusannya, maka seorang hamba tidak perlu meminta izin kepada tuannya untuk mengucapkannya.

هذا قاعدة المذهب

Ini adalah kaidah mazhab.

ثم الذي ذكره العراقيون أن منفعة البضع تدخل تحت مطلق الوصية بالمنفعة وبنَوْا عليه أن الجارية الموصى بمنفعتها لو وطئت بشبهة فالمهر للموصى له بالمنفعة هذا هو المعتدّ به ولا شك أن قياس المراوزة يخالف هذا فإن منفعة البضع مما لا يصح الوصية به فلا يتعلق الاستحقاق بمنفعة البضع بنحلةٍ وهبةٍ إذا بقي الملك في الرقبة للواهب المتبرع فيجب ألا يدخل تحت الوصية بالمنفعة إلا المنفعةُ التي تستباح بالإعارة وتستحَق بالإجارة

Kemudian, yang disebutkan oleh para ulama Irak adalah bahwa manfaat hubungan badan termasuk dalam cakupan wasiat secara mutlak atas manfaat, dan mereka berpendapat bahwa apabila seorang budak perempuan yang manfaatnya diwasiatkan kemudian digauli karena syubhat, maka mahar diberikan kepada penerima wasiat atas manfaat tersebut. Inilah pendapat yang dianggap kuat. Tidak diragukan lagi bahwa qiyās menurut ulama Marw berbeda dengan ini, karena manfaat hubungan badan adalah sesuatu yang tidak sah diwasiatkan, sehingga hak atas manfaat hubungan badan tidak dapat diperoleh melalui hibah atau pemberian jika kepemilikan atas budak tersebut masih tetap pada pemberi hibah. Oleh karena itu, yang termasuk dalam wasiat atas manfaat hanyalah manfaat yang boleh digunakan melalui peminjaman dan dapat diperoleh melalui sewa.

ثم ترقى بعض الأصحاب من منفعة البضع إلى الكلام في الولد فذكروا وجهين في أن الجارية الموصى بمنفعتها لو أتت بولد رقيقٍ فالملك فيه للوارث أو للموصى له

Kemudian sebagian sahabat naik dari pembahasan manfaat hubungan badan kepada pembahasan tentang anak, sehingga mereka menyebutkan dua pendapat mengenai budak perempuan yang diwasiatkan manfaatnya: jika ia melahirkan anak yang juga berstatus budak, maka kepemilikan atas anak tersebut apakah menjadi milik ahli waris atau milik penerima wasiat.

وهذا خرّجوه على أن استفادة الولد فيها كاستفادة الأكساب واشتمال الرحم على المولود كاشتمال الشبكة على الصيد

Hal ini mereka analogikan bahwa manfaat yang diperoleh dari anak itu seperti manfaat yang diperoleh dari hasil usaha, dan kandungan rahim yang memuat janin itu seperti jaring yang memuat hasil tangkapan.

وهذا في نهاية البعد فإن الولد يعد في وضع الشرع جزءاً من الأم لا يملكه إلا من ملك الأمَّ إلا أن تفرض الوصية ناصّةً على الأولاد فيخرّج القول حينئذٍ على الاختلاف في الوصية بالأولاد في الاستقبال والوصية بالثمار

Ini adalah dalam tingkat paling jauh, karena anak dalam pandangan syariat dianggap sebagai bagian dari ibu, sehingga tidak ada yang memiliki anak kecuali orang yang memiliki ibu, kecuali jika wasiat secara tegas menyebutkan anak-anak, maka pendapat saat itu dikembalikan pada perbedaan pendapat mengenai wasiat untuk anak-anak di masa mendatang dan wasiat untuk buah-buahan.

وذكر بعض أصحابنا الولدَ على وجهٍ آخر فقالوا: الولد المملوك ملكُ الوارث ولكن هل يصير الموصى له بالمنفعة مستحِقاً لمنفعة الولد كما أنه مستحق لمنفعة الأم فعلى وجهين: وهذا أبعد من الخلاف المحكي في صرف ملك الولد إلى الموصى له بالمنفعة فإن ذلك على بعده محمول على التشبيه بالعبد والخلاف في منفعة الولد مع تسليم الملك فيه للوارث لا اتجاه له على مذهب الشافعي رضي الله عنه فإنه لا يُتبع الولدَ الأمَّ في هذه الأشياء ولذلك لم يحكم بتعدِّي الرهن من الأم إلى الولد وقد سبق استقصاء القول فيما نُتبع الولدَ فيه الأصلَ وفيما لا نتبع وفيما يُختلف فيه

Sebagian ulama kami menyebutkan tentang anak dengan cara yang berbeda, mereka berkata: Anak yang berstatus budak menjadi milik ahli waris, tetapi apakah penerima wasiat manfaat (al-mushā lahū bi al-manfa‘ah) berhak atas manfaat anak sebagaimana ia berhak atas manfaat ibu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Namun, perbedaan pendapat ini lebih jauh dari perbedaan yang disebutkan mengenai pengalihan kepemilikan anak kepada penerima wasiat manfaat, karena hal itu, meskipun jauh, diqiyaskan dengan budak. Adapun perbedaan pendapat tentang manfaat anak, sementara kepemilikan anak telah diserahkan kepada ahli waris, tidak memiliki dasar menurut mazhab asy-Syafi‘i ra., karena anak tidak mengikuti ibu dalam hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, tidak diputuskan bahwa gadai berpindah dari ibu kepada anak. Telah dijelaskan sebelumnya secara rinci tentang hal-hal di mana anak mengikuti asalnya, hal-hal yang tidak mengikutinya, dan hal-hal yang diperselisihkan dalam masalah ini.

ومما يتعلق بتمام القول في هذا الفصل الكلامُ في وطء الجارية الموصى بمنفعتها فالذي ذكره الأئمة المعتبرون في نقل المذهب أن وطأها محرم على الوارث من جهة أن الوطء يسبب العلوقَ والعلوقُ يُفضي إلى الطَّلْق  وهو من أسباب الهلاك والحملُ ناجزاً يؤثِّر في تنقيص المنفعة

Adapun hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan dalam bab ini adalah pembicaraan tentang menyetubuhi budak perempuan yang manfaatnya diwasiatkan; maka para imam yang dianggap otoritatif dalam meriwayatkan mazhab menyebutkan bahwa menyetubuhinya haram bagi ahli waris, karena persetubuhan dapat menyebabkan kehamilan, dan kehamilan dapat berujung pada persalinan, yang merupakan salah satu sebab kematian, serta kehamilan yang terjadi secara langsung dapat mengurangi manfaat (yang diwasiatkan).

ولم يختلف علماؤنا في تحريم وطئها على الموصى له ومَنْ ذهب إلى أن عُقرها إذا وُطئت بشبهة مصروف إلى الموصى له لم يخالف في تحريم وطئها عليه وهذا أصدق آيةٍ على فساد صرف استحقاق منفعة البضع إلى الموصى له

Para ulama kita tidak berselisih pendapat tentang haramnya menggauli budak perempuan tersebut bagi penerima wasiat. Dan siapa pun yang berpendapat bahwa mahar budak perempuan itu, jika digauli karena syubhat, diberikan kepada penerima wasiat, juga tidak berbeda pendapat tentang haramnya menggauli budak perempuan itu baginya. Ini adalah bukti paling nyata atas rusaknya pendapat yang mengalihkan hak manfaat hubungan badan kepada penerima wasiat.

وحكى الصيدلاني في مجموعٍ له في الخلاف وجهين عن الشيخ الإمام سهل في أن الوارث هل يستبيح وطء الجارية الموصى بخدمتها تعويلاً على الملك وهذا بعيد

Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh

فإن صح النقل فيهما فالوجه تنزيلهما على وطء الراهن الجاريةَ المرهونة إذا كانت صغيرة لا يتوقع علوقها وقد قدمنا في الرهن أن الوطء مع إمكان الإعلاق محرم وإذا كان الإعلاق مأموناً ففي تحريم الوطء وجهان : فينبغي أن يخرّج وطء الوارث الجارية على هذا القياس

Jika riwayat dalam kedua kasus tersebut sahih, maka sebaiknya ditakwilkan pada kasus pemilik gadai yang menggauli budak perempuan yang digadaikan apabila ia masih kecil sehingga tidak dikhawatirkan terjadi kehamilan. Telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang rahn bahwa menggauli budak dengan kemungkinan terjadinya kehamilan adalah haram. Namun jika kehamilan tidak dikhawatirkan, maka terdapat dua pendapat mengenai keharaman menggaulinya. Oleh karena itu, seharusnya kasus ahli waris yang menggauli budak perempuan dianalogikan (qiyās) dengan permasalahan ini.

فإذا فرعنا على الظاهر وهو أن الوطء محرّم فلا شك أن الوارث إذا وطىء لم يستوجب الحد لمكان ملكه في الرقبة وهل يلتزم المهرَ هذا يخرّج على ما قدمنا من أن مهر مثل الجاربة إذا وطئت بشبهة هل ينصرف إلى الموصى له فإن صرفناه إليه فعلى الوارث مهرُ المثل وإن لم نجعل المهر مصروفاً إليه فهو للوارث

Jika kita membangun pendapat berdasarkan zahir (teks eksplisit) bahwa hubungan badan itu haram, maka tidak diragukan lagi bahwa ahli waris jika melakukan hubungan badan tidak dikenai had karena ia memiliki hak kepemilikan atas budak tersebut. Apakah ia wajib membayar mahar? Hal ini dikembalikan pada apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu apakah mahar mitsil (mahar sepadan) budak perempuan yang digauli karena syubhat itu diberikan kepada orang yang menerima wasiat. Jika kita mengarahkannya kepada penerima wasiat, maka ahli waris wajib membayar mahar mitsil. Namun jika kita tidak menjadikan mahar itu untuk penerima wasiat, maka mahar tersebut menjadi milik ahli waris.

فعلى هذا إذا وطىء الوارث لم يستوجب بالوطء مهراً

Dengan demikian, jika ahli waris melakukan hubungan suami istri, maka ia tidak berhak mendapatkan mahar karena hubungan tersebut.

وأما الموصى له فلا خلاف في تحريم وطء الجارية عليه فإن وطئها وقلنا: منفعة البضع مصروفةٌ إليه استحقاقاً وإن امتنع عليه استيفاؤها فلا حد عليه إذا وطىء فإن قلنا: منفعة البضع لا تصرف إليه فيلتزم بالوطء على الشبهة المهرَ للوارث وإن لم يكن شبهة فقد قطع العراقيون بانتفاء الحد

Adapun orang yang menerima wasiat, tidak ada perbedaan pendapat mengenai haramnya menyetubuhi budak perempuan baginya. Jika ia menyetubuhinya, dan menurut pendapat bahwa manfaat hubungan badan dialihkan kepadanya sebagai hak, meskipun ia tidak boleh menikmatinya, maka tidak dikenakan had jika ia menyetubuhinya. Namun jika dikatakan bahwa manfaat hubungan badan tidak dialihkan kepadanya, maka dengan persetubuhan karena syubhat, ia wajib membayar mahar kepada ahli waris. Dan jika tidak ada syubhat, para ulama Irak secara tegas menyatakan tidak dikenakan had.

ولا يمتنع عندي أن يجب عليه الحد كما يجب على المرتهن إذا وطىء الجارية المرهونة

Menurut saya, tidak mustahil baginya untuk dikenai hukuman had, sebagaimana hukuman had juga wajib atas orang yang menerima gadai jika ia menyetubuhi budak perempuan yang digadaikan.

والعراقيون بنَوْا ما قالوه على مصيرهم إلى أن المهر للموصى له فقد ذكرنا أن القياس الظاهر عندنا أن منفعة البضع لا تُصرف إلى الموصى له ولست أدري ماذا يقول العراقيون فيه إذا أوصى بمنفعة بُضع جاريةٍ لإنسان دون منفعة بدنها فإن قضَوْا بانصراف الاستحقاق إليه فهذا سخف خارج عن قاعدة الشريعة وإن أبطلوا ذلك كان إقراراً بإثبات الاستحقاق فيه تبعاً مع أن منفعة البضع لا تفهم مندرجة تحت الوصية بالمنافع

Orang-orang Irak membangun pendapat mereka berdasarkan kesimpulan bahwa mahar menjadi milik penerima wasiat. Telah kami sebutkan bahwa qiyās yang jelas menurut kami adalah bahwa manfaat hubungan badan tidak diberikan kepada penerima wasiat. Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh orang-orang Irak jika seseorang berwasiat tentang manfaat hubungan badan seorang budak perempuan kepada seseorang, tanpa manfaat tubuhnya secara keseluruhan. Jika mereka memutuskan bahwa hak itu berpindah kepada penerima wasiat, maka ini adalah kekeliruan yang keluar dari kaidah syariat. Namun jika mereka membatalkannya, berarti mereka mengakui bahwa hak itu hanya bisa ditetapkan secara turunan, padahal manfaat hubungan badan tidak dapat dipahami termasuk dalam wasiat atas manfaat-manfaat.

فهذا تمام القول فيما يندرج تحت الوصية بالمنفعة

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai hal-hal yang termasuk dalam wasiat berupa manfaat.

فأمّا تصرّف الموصى له في المنفعة فإنه يتصرف فيها انتفاعاً وله إباحة المنافع بالإعارة وله إيراد عقد الإجارة عليها ومن حقوقه إثبات اليد على العين الموصى بمنفعتها فاختلفت الأئمة في أنه هل يملك المسافرة بالعبد الموصى بمنفعته: فذهب بعضهم إلى أنه يملك ذلك لأن ملكه ثبت في جميع جهات الانتفاع المسوَّغة للملاك

Adapun tindakan penerima wasiat terhadap manfaat, maka ia dapat memanfaatkannya, boleh baginya membolehkan manfaat tersebut dengan cara meminjamkannya, dan boleh pula mengadakan akad sewa atas manfaat itu. Di antara hak-haknya adalah menetapkan penguasaan atas barang yang manfaatnya diwasiatkan. Para imam berbeda pendapat mengenai apakah ia berhak membawa bepergian budak yang manfaatnya diwasiatkan: sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia berhak melakukan hal itu karena kepemilikannya telah tetap dalam seluruh aspek pemanfaatan yang dibolehkan bagi para pemilik.

ومن أئمتنا من منع المسافرة لحق الملك في الرقبة واستدل بأن زوج الحرة يسافر بها حيث شاء وزوج الأمة لا يسافر بها

Di antara para imam kami ada yang melarang bepergian karena adanya hak kepemilikan atas diri budak perempuan, dan mereka berdalil bahwa suami dari perempuan merdeka boleh bepergian dengannya ke mana saja ia mau, sedangkan suami dari budak perempuan tidak boleh bepergian dengannya.

ولكنْ بين النكاح وبين استحقاق المنفعة فرقٌ فإن للمولى أن يسافر بالجارية الزوجة ولا يمنعه من المسافرة حقُّ الزوج

Namun, antara pernikahan dan hak atas manfaat terdapat perbedaan, karena tuan (pemilik) boleh bepergian bersama budak perempuan yang menjadi istri, dan hak suami tidak menghalangi tuan untuk bepergian dengannya.

والوارث لو أراد المسافرةَ بالعبد الموصى بمنفعته لم يكن له ذلك قطعاً والضابط لتصرفاته حكمنا بالملك الحقيقي له في المنفعة ولأجل هذا قطع من يعوَّل على نقله من الأئمة بأن الموصى له بالمنفعة إذا مات انتقل الاستحقاق إلى وارثه

Dan ahli waris, jika ingin bepergian dengan budak yang manfaatnya diwasiatkan, maka ia sama sekali tidak berhak melakukannya. Tolok ukur dalam tindakannya adalah penilaian kita terhadap kepemilikan manfaat yang sebenarnya baginya. Oleh karena itu, para imam yang pendapatnya dijadikan sandaran menegaskan bahwa jika penerima wasiat manfaat meninggal dunia, maka hak atas manfaat tersebut berpindah kepada ahli warisnya.

وأبعد بعضُ الأصحاب فذهب إلى انقطاع الحق الموهوب للموصى له وعَوْدِ الاستحقاق إلى وارث الموصي إذا بقي بعده وهذا ساقطٌ غيرُ معتد به

Sebagian ulama berpendapat jauh berbeda, yaitu bahwa hak yang dihibahkan kepada penerima wasiat terputus dan hak kepemilikan kembali kepada ahli waris pewasiat jika penerima wasiat masih hidup setelah pewasiat wafat. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan.

ولو وطىء الوارث الجارية الموصى بمنفعتها وأولدها صارت أم ولدٍ له بمصادفة العلوق الملكَ

Jika ahli waris menggauli budak perempuan yang diwasiyatkan manfaatnya dan menghamilinya, maka budak tersebut menjadi umm walad baginya karena kehamilan itu terjadi bersamaan dengan kepemilikan.

ولا خلاف أن الموصى له إذا وطىء وأعلق لم يثبت الاستيلاد وإن درأنا الحدَّ ولم نُلزمه المهر وصرفنا إليه القيمة عند القتل فلا سبيل مع هذه الأصول إلى الحكم بالاستيلاد لأن وطأه لم يصادف ملك الرقبة نعم إن حكمنا بأن الولد لو حدث رقيقاً لكان له فالولد حر فإنه لا يعلق مولوده ملكاً له ثم إذا كان المُولدُ الوارثَ فالوصية بالمنفعة تبقى مع ثبوت الاستيلاد

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika orang yang menerima wasiat melakukan hubungan suami istri dan menyebabkan kehamilan, maka status istilad (anak yang dilahirkan menjadi milik ayahnya) tidaklah tetap, meskipun kita menggugurkan hukuman had, tidak mewajibkan mahar, dan memberikan nilai ganti rugi kepadanya jika terjadi pembunuhan. Maka, berdasarkan prinsip-prinsip ini, tidak mungkin menetapkan hukum istilad, karena hubungan tersebut tidak terjadi dalam kepemilikan penuh atas budak. Namun, jika kita memutuskan bahwa jika anak itu lahir dalam keadaan budak, maka anak itu menjadi miliknya, maka anak itu merdeka, sehingga anak yang dilahirkan tidak menjadi miliknya. Selanjutnya, jika yang melahirkan adalah ahli waris, maka wasiat atas manfaat tetap berlaku bersamaan dengan tetapnya hukum istilad.

ومما يتصل بهذا المنتهى أن العبد الموصى بخدمته لا ينكح إلا بإذن المالك والموصى له بالمنفعة: أما المالك فلا بد من استئذانه فإن التزوج تسلط على الاستمتاع وذلك يؤثر في الملك ولا بد من استئذان الموصى له بالمنفعة فإن ذلك يؤثر في استيفاء المنفعة

Terkait dengan batasan ini, hamba yang diwasiatkan untuk dilayani tidak boleh menikah kecuali dengan izin pemilik dan orang yang menerima wasiat manfaatnya. Adapun pemilik, maka harus meminta izinnya karena pernikahan merupakan bentuk penguasaan atas kenikmatan, dan hal itu berpengaruh terhadap kepemilikan. Demikian pula harus meminta izin kepada orang yang menerima wasiat manfaatnya, karena hal itu berpengaruh terhadap pemanfaatan manfaat tersebut.

وذهب بعض الأصحاب إلى أن إذن الموصى له بالمنفعة كافٍ وهذا القائل يقول: إنما يفتقر نكاح العبد الخالص لمولاه إلى إذنه لتعلق المهر والنفقة بالكسب ولا معنى للنظر إلى ما في الوطء من إنهاك القوى فإن ذلك بعيد غيرُ مدرك بالحس

Sebagian ulama berpendapat bahwa izin kepada penerima wasiat manfaat sudah cukup, dan pendapat ini mengatakan: Sesungguhnya pernikahan budak murni membutuhkan izin tuannya karena mahar dan nafkah berkaitan dengan penghasilan, dan tidak ada alasan untuk mempertimbangkan dampak hubungan badan terhadap melemahnya kekuatan, karena hal itu jauh dan tidak dapat dirasakan secara inderawi.

والدليل عليه أنه لو صح نكاحه لم يكن للسيد أن يحجر عليه ويكلّفه الاقتصادَ  والحكمُ في ذلك مَيْلَ النفس والنظر في الضارّ منه خوضٌ في التطبيب الذي لا ينتهي إليه نظر الفقيه وهذا يقرب من المأكل فإن معظم الاعتلال من الإكثار أو الإقلال في المطعم ولا حجر على العبد فيه فالعهدة إذاً في افتقار النكاح إلى الإذن أنه إذا صح تعلقت حقوقه بالكسب والكسب مستحق للمولى

Dalilnya adalah bahwa jika pernikahan budak itu sah, maka tuannya tidak berhak membatasi dan memaksanya untuk berhemat. Adapun penilaian dalam hal ini adalah kecenderungan jiwa, dan meneliti mana yang membahayakan termasuk dalam ranah pengobatan yang tidak sampai pada kajian seorang faqih. Ini mirip dengan urusan makanan, karena kebanyakan penyakit berasal dari berlebihan atau kekurangan dalam makanan, namun tidak ada pembatasan terhadap budak dalam hal itu. Maka, tanggung jawab dalam kebutuhan pernikahan terhadap izin adalah karena jika pernikahan itu sah, maka hak-haknya berkaitan dengan penghasilan, sedangkan penghasilan itu menjadi hak milik tuan.

فإذا تبين ذلك فالمنافع والاكساب للموصى له فليقع الاكتفاء بإذنه في النكاح

Jika demikian, maka manfaat dan penghasilan adalah milik penerima wasiat, sehingga cukup dengan izinnya dalam pernikahan.

فإن كان الموصى بخدمته جارية فلا بد في تزويجها من إذنهما جميعاً وفاقاً فإن التزويج ينقُص من القيمة وما ينقص من القيمة يؤثر في الملك لا محالة ثم قال فقهاؤنا: الولي في التزويج الوارثُ ولكن لا بد من رضا الموصى له وهذا حسن ظاهر

Jika yang diwasiatkan untuk dilayani adalah seorang budak perempuan, maka dalam menikahkannya harus dengan izin keduanya, menurut kesepakatan, karena pernikahan akan mengurangi nilai (budak tersebut), dan apa yang mengurangi nilai pasti berpengaruh terhadap kepemilikan. Kemudian para fuqaha kami berkata: wali dalam pernikahan adalah ahli waris, namun tetap harus ada kerelaan dari penerima wasiat, dan ini jelas merupakan hal yang baik.

ومما ألحقه الأصحاب بالقواعد المقدمة القولُ في بيع الوارث العبدَ الموصَى بخدمته وقد اختلف أصحابنا في ذلك على ما تقدم الشرح فيه

Di antara hal yang disamakan oleh para ulama dengan kaidah-kaidah yang telah disebutkan sebelumnya adalah pembahasan tentang penjualan oleh ahli waris terhadap budak yang diwasiatkan untuk memberikan pelayanan, dan para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فإن ملّكنا الوارثَ البيعَ فلا شك في نفوذ إعتاقه

Jika kita memberikan hak kepada ahli waris untuk menjual, maka tidak diragukan lagi bahwa pembebasan budak yang dilakukannya pun sah.

فإن قلنا: لا ينفذ بيعه فالذي قطع به معظم الأصحاب أن إعتاقه ينفذ ثم بنَوْا عليه أن العتق إذا نفذ بقيت المنفعة مستحقةً للموصى له

Jika kami mengatakan: jual belinya tidak sah, maka mayoritas ulama mazhab menegaskan bahwa pembebasan budaknya (‘itāq) tetap sah. Kemudian mereka menyimpulkan dari hal itu bahwa jika pembebasan budak tersebut sah, maka manfaatnya tetap menjadi hak penerima wasiat.

وقد ذكر شيخي وطوائف من الأئمة أن العبد المستأجر إذا عَتَق في أثناء مدة الإجارة هل يملك فسخ الإجارة فعلى وجهين فالرأي في الإجارة القطعُ بأنه لا يملك الفسخ

Syekh saya dan sejumlah kelompok dari para imam telah menyebutkan bahwa apabila seorang hamba yang disewa dimerdekakan di tengah masa sewa, apakah ia berhak membatalkan akad sewa, maka terdapat dua pendapat. Namun pendapat yang kuat dalam masalah sewa adalah bahwa ia tidak berhak membatalkan akad tersebut.

فأما إذا كانت الوصية بالمنفعة فهذه منيحة  ويتجه في ذلك ترددٌ لمثابة الاستحقاق والظاهر أنْ لا خيار في أن الاستحقاق يهدم كما إذا أُعتقت الأمة تحت زوجها الحر فإن النكاح مؤبد عليها وهو رق كما قال المصطفى صلى الله عليه وإنما ثبت الخيار للمعتَقة تحت العبد للخبر

Adapun jika wasiat itu berupa manfaat, maka ini adalah hibah, dan dalam hal ini terdapat keraguan mengenai kedudukan hak kepemilikan. Yang tampak adalah tidak ada pilihan bahwa hak kepemilikan itu batal, sebagaimana jika seorang budak perempuan dimerdekakan sementara ia masih menjadi istri seorang laki-laki merdeka, maka pernikahan tetap berlaku atasnya dan ia masih dalam status budak, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. Pilihan (khiyar) hanya diberikan kepada budak perempuan yang dimerdekakan sementara suaminya adalah seorang budak, berdasarkan hadis.

ويجوز أن يقال: إذا أُعتق العبد الموصى له بخدمته أبداً يُخيّر كالأمة تُعتَق تحت العبد فإنها لو عتقت تحت حر لرجع إليها حظ ظاهر في الاستمتاع  فلا ضرار إلا استمرار حكم النكاح ولو أثبتنا حق الانتفاع للموصى له بعد الحرية لكان دوام هذا الاستحقاق كالاسترقاق وهذا يزيد على ما ينال المعتقة من الضرار تحت العبد

Boleh juga dikatakan: Jika seorang budak yang diwasiatkan untuk dilayani olehnya selamanya dimerdekakan, maka ia diberi pilihan, sebagaimana seorang perempuan merdeka yang dimerdekakan saat masih menjadi istri budak; sebab jika ia dimerdekakan saat menjadi istri orang merdeka, maka ia mendapatkan kembali hak yang nyata dalam menikmati hubungan, sehingga tidak ada mudarat kecuali berlanjutnya status pernikahan. Jika kita menetapkan hak pemanfaatan bagi penerima wasiat setelah budak itu merdeka, maka kelangsungan hak ini seperti perbudakan, dan ini menambah mudarat yang diterima perempuan merdeka yang tetap menjadi istri budak.

فإن قيل: إذا أثبتم الخيار فهل يحتمل أن يقال: تنقطع الوصية من غير حاجة إلى خيار قلنا: لم يصر إلى ذلك أحد من الأصحاب وإذا كنا نثبت الوصية بالمنفعة على التأبيد والملك في الرقبة بعدُ للموصي  فلا يبعد أن تبقى المنفعةُ مستحقةً بعد زوال الملك ولكن الخيار يعتمد الضرار كما قدمناه

Jika dikatakan: Apabila kalian menetapkan adanya khiyar, apakah mungkin dikatakan bahwa wasiat terputus tanpa perlu adanya khiyar? Kami katakan: Tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang berpendapat demikian. Dan jika kami menetapkan wasiat atas manfaat secara terus-menerus, sementara kepemilikan atas pokok benda masih tetap milik orang yang berwasiat, maka tidak mustahil bahwa manfaat tersebut tetap menjadi hak setelah kepemilikan atas pokok benda hilang. Namun, khiyar itu bergantung pada adanya mudarat, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

فهذا منتهى الكلام في ذلك

Demikianlah akhir pembahasan mengenai hal itu.

ثم من قالى : نفقة الموصَى بمنفعته على المالك فإذا أعتقه يتخلص من النفقة وإن قلنا: النفقة على الموصى له فالاستحقاق دائم عليه فإن سبب الاستحقاق عليه ثبوت المنفعة له على التأبيد وهذا المعنى دائم مع حصول الخدمة

Kemudian, menurut pendapat yang mengatakan: nafkah orang yang diberikan wasiat manfaatnya menjadi tanggungan pemilik, maka jika pemilik memerdekakannya, ia terbebas dari kewajiban nafkah. Namun jika kita mengatakan: nafkah menjadi tanggungan penerima wasiat, maka kewajiban itu tetap berlaku atasnya, karena sebab kewajiban tersebut adalah tetapnya manfaat bagi penerima wasiat secara terus-menerus, dan makna ini akan selalu ada selama pelayanan itu masih berlangsung.

فرع:

Cabang:

الصحيح من المذهب أنه لا يجوز إعتاق الموصى بمنفعته عن الكفارة لعجزه عن الكسب لنفسه فأشبه ذلك عجزه عن الكسب بالزمانة

Pendapat yang benar dalam mazhab adalah bahwa tidak boleh memerdekakan hamba yang diwasiatkan manfaatnya untuk membayar kafarat karena ia tidak mampu mencari nafkah untuk dirinya sendiri, sehingga hal itu serupa dengan ketidakmampuannya mencari nafkah karena uzur fisik.

ومن أصحابنا من قال: يصح إعتاقه عن الكفارة لكمال الرق والأطراف فليقع النظر في ذاته وصفاته لا في مصرف منافعه

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: sah memerdekakannya untuk membayar kafarat karena status perbudakan dan anggota tubuhnya sempurna, maka yang menjadi perhatian adalah pada zat dan sifat-sifatnya, bukan pada pemanfaatan hasil kerjanya.

فرع:

Cabang:

ذهب طوائف من أئمتنا إلى أن مكاتبة العبد الموصى بخدمته غيرُ صحيحة  فإنه ليس قادراً على أكساب نفسه لنفسه وقال هؤلاء: يجوز كتابة العبد المؤاجَر في مدة الإجارة

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa mukātabah terhadap budak yang diwasiatkan untuk melayani tidak sah, karena ia tidak mampu mencari penghasilan untuk dirinya sendiri. Mereka juga mengatakan: boleh melakukan mukātabah terhadap budak yang disewakan selama masa sewa.

ومن أصحابنا من صحح الكتابة تعويلاً على صرف الصدقات إليه ويجب أن يكون في مكاتبة العبد الزمن هذا التردد

Sebagian ulama kami membolehkan penulisan akad tersebut dengan bersandar pada penyaluran sedekah kepadanya, dan wajib dalam akad mukatabah seorang budak yang sakit menahun terdapat keraguan ini.

ومن منع كتابة العبد الموصى بمنفعته رأى هذين التصرفين متناقضين فعلى هذا من أوصى بالمنفعة ثم كاتب  كانت الكتابة من الموصي رجوعاً عن الوصية بالخدمة والذي قدمناه من منع الكتابة مفروض في الوارث إذا أراد مكاتبة العبد بعد استقرار الوصية بالمنفعة

Orang yang melarang penulisan akad mukatab bagi budak yang manfaatnya diwasiatkan, memandang bahwa kedua tindakan tersebut saling bertentangan. Oleh karena itu, jika seseorang mewasiatkan manfaat, lalu melakukan akad mukatab, maka akad mukatab dari pihak pewasiat dianggap sebagai pencabutan wasiat atas pelayanan. Apa yang telah kami kemukakan tentang larangan akad mukatab itu berlaku bagi ahli waris jika ia ingin melakukan akad mukatab terhadap budak setelah wasiat manfaat itu tetap berlaku.

فرع:

Cabang:

إذا غصب رجلٌ العبد الموصى بمنفعته أياماً وعطل منافعه على مستحقها فإنه يغرَم له أجرة المثل من جهة أنه أتلف عليه المنافعَ المملوكة له

Jika seseorang merampas budak yang manfaatnya diwasiatkan kepada seseorang selama beberapa hari dan menghalangi manfaat tersebut dari pihak yang berhak, maka ia wajib membayar ganti rugi berupa upah sewa yang sepadan, karena ia telah merusak manfaat yang dimiliki oleh pihak tersebut.

ولو غصب غاصب العبد المستأجَر في أثناء المدة وضيّع منافعه على المستأجر فقد ذكرنا أن المذهب الصحيح أنه لا يغرَم شيئاً للمستأجِر وإنما يغرَم أجر المثل للمالك المكري ويحط عن المستأجِر قسطاً من الأجرة المسماة

Jika seorang pengambil paksa (ghāṣib) mengambil paksa budak yang disewa di tengah masa sewa dan menyebabkan manfaatnya hilang bagi penyewa, maka telah kami sebutkan bahwa pendapat yang benar menurut mazhab adalah bahwa ia tidak menanggung ganti rugi apa pun kepada penyewa, melainkan ia wajib membayar upah sepadan (ujrah al-mitsl) kepada pemilik yang menyewakan, dan bagi penyewa dikurangi bagian dari upah yang telah disepakati.

والفرق بين الموضعين أن المنافع إذا لم تتلف في يد المستأجِر فليست مضمونة عليه بل هي محسوبةٌ على المكري ثم عهدة العقد توجب ما ذكرناه وليس في الوصية بالمنفعة عوضٌ يفرض سقوطه في مقابلة تضييع المنفعة على الموصى له فلا وجه إلا تغريم الغاصب قيمة ما يتلفه من المنفعة لمستحقها ومالكها ومستحقُّها الموصى له

Perbedaan antara kedua keadaan tersebut adalah bahwa manfaat, jika tidak rusak di tangan penyewa, maka tidak menjadi tanggungannya, melainkan tetap menjadi tanggungan pemilik. Kemudian, tanggung jawab akad mengharuskan apa yang telah kami sebutkan. Sedangkan dalam wasiat berupa manfaat, tidak ada kompensasi yang dapat dianggap hilang sebagai imbalan atas penyia-nyiaan manfaat oleh penerima wasiat, sehingga tidak ada alasan selain mewajibkan ghashib (perampas) untuk mengganti nilai manfaat yang dirusaknya kepada pihak yang berhak dan pemiliknya, yaitu penerima wasiat.

فرع:

Cabang:

/م إذا ذكَر للمنفعة وقتاً لم يخف حكم التأقيت وقد بان حكم التأبيد أيضاً

Jika seseorang menyebutkan waktu tertentu untuk suatu manfaat, maka hukum pembatasan waktu (ta’qīt) tidaklah samar, dan hukum penetapan selamanya (ta’bīd) pun telah jelas.

فلو أوصى لإنسانٍ بمنفعة عبد ولم يتعرض لتأقيتها ولا لتأبيدها فالذي ذكره الشيخ أبو علي في الشرح القطعُ بحمل ذلك على التأبيد فإن العقود المطلقة القابلة للتأبيد محمولةٌ على التأبيد

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang lain berupa manfaat dari seorang budak, tanpa menyebutkan batas waktu tertentu maupun keabadiannya, maka sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abu Ali dalam syarahnya, hal itu dipastikan dibawa kepada makna keabadian. Sebab, akad-akad yang bersifat mutlak dan memungkinkan untuk dijadikan abadi, maka dipahami sebagai abadi.

هذا ما ذكره ولم أر في الطرق ما يخالف ذلك

Inilah yang telah disebutkan, dan aku tidak melihat dalam jalur-jalur riwayat sesuatu yang menyelisihi hal itu.

فصل

Bab

قال: فإن كان أكثرَ من الثلث فأجازه الورثة في حياته لم يجز ذلك إلا أن يجيزوه بعد موته إلى آخره

Ia berkata: Jika (wasiat itu) melebihi sepertiga, lalu para ahli waris menyetujuinya saat ia masih hidup, maka hal itu tidak sah kecuali mereka menyetujuinya kembali setelah ia wafat, dan seterusnya.

الوصية إذا كانت زائدةً على الثلث فلو أجاز الوارث الزيادة قبل موت الموصي فإجازته ملغاة لا أصل لها فإنها حدثت عنه قبل أن يثبت له حق الإرث فكذلك لو استأذن الموصي ورثته فأوصى وزاد فتلك الزيادة لا تنفذ

Wasiat jika melebihi sepertiga harta, maka jika ahli waris menyetujui kelebihan tersebut sebelum wafatnya orang yang berwasiat, persetujuannya dianggap batal dan tidak memiliki dasar, karena persetujuan itu terjadi sebelum hak waris ditetapkan baginya. Demikian pula jika orang yang berwasiat meminta izin kepada ahli warisnya lalu ia berwasiat dan melebihi sepertiga, maka kelebihan tersebut tidak berlaku.

وهذا بمثابة ما لو أذن الشفيع لشريكه في بيع الشقص وإذا باع نثبت الشفعة ولا أثر للإذن المتقدم

Ini serupa dengan kasus ketika seorang syafī‘ memberikan izin kepada rekannya untuk menjual bagian (saham) miliknya; jika rekannya itu menjualnya, maka hak syuf‘ah tetap berlaku dan izin yang telah diberikan sebelumnya tidak berpengaruh.

وكذلك إذا قبل الموصى له الوصية في حياة الموصي فقبوله مردود فإنه لا يدخل وقتُ القبول ما لم يمت الموصي فهو على خِيرَته بعد موته وإن قبل في حياته فكذلك إن رد الوصية فلا حكم لرده في الحياة ولو كان يؤثر قبوله ورده في حياة الموصي لاشتُرط اتصالُ القبول بالإيصاء وسيكون لنا إلى هذا عودة في أثناء الكتاب إن شاء الله عز وجل

Demikian pula, jika penerima wasiat menerima wasiat tersebut saat pewasiat masih hidup, maka penerimaannya tidak dianggap sah, karena waktu penerimaan belum masuk kecuali setelah pewasiat wafat. Maka, ia tetap memiliki pilihan setelah wafatnya pewasiat. Jika ia menerima wasiat saat pewasiat masih hidup, demikian pula jika ia menolak wasiat, maka penolakannya tidak memiliki konsekuensi hukum selama pewasiat masih hidup. Seandainya penerimaan atau penolakan itu berpengaruh saat pewasiat masih hidup, tentu akan disyaratkan adanya keterkaitan antara penerimaan dengan pemberian wasiat. Kita akan kembali membahas hal ini di bagian lain dalam kitab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

أورده صاحب التقريب مضمونه يشابه الوصيةَ بالمنفعة على التأبيد وله تعلق بالثلث ومقدارِه وتفصيل الإجازة

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkannya dengan makna yang mirip dengan wasiat atas manfaat secara abadi, dan hal itu berkaitan dengan sepertiga harta, kadarnya, serta rincian tentang persetujuan.

قال رضي الله عنه: إذا أوصى لإنسان بدينارٍ كلَّ سنة ولم يذكر مقدارَ الدنانير ومنتهى السنين قال: تصح الوصية بالدينار الواحد في السنة الأولى فإنه مضبوط لا شك فيه

Beliau ra. berkata: Jika seseorang berwasiat kepada seseorang lain dengan satu dinar setiap tahun, tanpa menyebutkan jumlah dinar maupun batas akhir tahun-tahunnya, maka wasiat tersebut sah untuk satu dinar pada tahun pertama, karena hal itu jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

فأما بقية الدنانير في السنين المستقبلة فقد ذكر صاحب التقريب فيها قولين: أحدهما أن الوصية باطلة فيها فإن ضبطها غير ممكن ولا ندري كم مبلغها لنقدر خروجها من الثلث وقد يتفق معها وصايا فلا يتحقق مبلغ حصة هذه الوصية في المضاربة ولو صححناها لبقينا في موجَبها أبداً

Adapun sisa dinar pada tahun-tahun mendatang, penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat mengenainya: salah satunya adalah bahwa wasiat tersebut batal untuk tahun-tahun itu, karena tidak mungkin untuk menetapkannya secara pasti dan kita tidak mengetahui berapa jumlahnya sehingga dapat diperkirakan keluar dari sepertiga harta. Bisa jadi juga terdapat wasiat-wasiat lain bersamaan dengannya, sehingga tidak dapat dipastikan berapa bagian wasiat ini dalam mudhārabah. Jika kita membolehkannya, maka kita akan terus-menerus berada dalam konsekuensinya.

هذا أحد القولين

Ini adalah salah satu dari dua pendapat.

والقول الثاني أنه لا تبطل الوصية في باقي السنين فإن الجهالة لا تتضمن بطلان الوصايا كالوصية بالمنفعة

Pendapat kedua menyatakan bahwa wasiat tidak batal untuk tahun-tahun berikutnya, karena ketidakjelasan tidak menyebabkan batalnya wasiat, sebagaimana wasiat atas manfaat.

ومن قال بالقول الأول نفصل عن الوصية بالمنفعة بأن قال: الوصية بالمنفعة على التأبيد غايتها أن تقتضي احتساب العبد من الثلث ولتقويم المنفعة جهةٌ أوضحناها أما إخراج دينار في كل سنة من غير ذكر نهاية فهو مشكل جداً

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat pertama membedakan wasiat berupa manfaat dengan mengatakan: wasiat berupa manfaat secara terus-menerus pada akhirnya hanya menyebabkan perhitungan budak dari sepertiga harta, dan penilaian manfaat memiliki sisi tertentu yang telah kami jelaskan. Adapun mengeluarkan satu dinar setiap tahun tanpa menyebutkan batas akhirnya, maka hal itu sangat bermasalah.

ثم اختار من القولين تصحيحَ الوصية وقال مفرعاً على هذا:

Kemudian ia memilih pendapat yang membenarkan wasiat, dan berkata dengan merinci berdasarkan hal ini:

إذا ثبتت هذه الوصية فلا يخلو: إما أن يكون في التركة وصايا سواها أو لا يكون في التركة وصيةٌ غيرُها

Jika wasiat ini telah ditetapkan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah dalam harta warisan tersebut terdapat wasiat-wasiat lain selainnya, atau tidak ada wasiat lain selain wasiat itu.

فإن لم يكن في التركة وصيةٌ غيرها فلا شك أن الورثة لهم أن يتصرفوا في ثلثي التركة إذ لهم رد الوصية في الثلثين فأما الثلث فهل ينفذ تصرفهم فيه فعلى وجهين ذكرهما: أحدهما ينفذ تصرفهم فيه بعد إخراج الدينار الواحد فإن مِلْكه متحقق ولا يُدرى هل يستحق الموصى له في مستقبل الأعوام أم لا

Jika dalam harta warisan tidak ada wasiat lain selain wasiat tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa para ahli waris berhak untuk mengelola dua pertiga harta warisan, karena mereka berhak menolak wasiat pada dua pertiga bagian tersebut. Adapun sepertiga sisanya, apakah tindakan mereka sah atau tidak, terdapat dua pendapat yang disebutkan: salah satunya, tindakan mereka sah setelah mengeluarkan satu dinar, karena kepemilikannya telah pasti, sedangkan tidak diketahui apakah penerima wasiat akan berhak atasnya di tahun-tahun mendatang atau tidak.

والوجه الثاني أن الثلث يوقف فإن الموصى له إذا قبل الوصية فقد ثبتت ولا نهاية لها فلا وجه إلا وقفُ الثلث فإن رأينا الوقفَ فلا كلام فإذا بقي من له الحق على مر السنين حتى استوعب بالدنانير الثلث فذاك

Pendapat kedua adalah bahwa sepertiga harta harus ditahan, karena apabila penerima wasiat telah menerima wasiat tersebut, maka wasiat itu telah tetap dan tidak ada batas akhirnya. Maka tidak ada jalan lain kecuali menahan sepertiga harta. Jika kita memandang perlu untuk menahan, maka tidak ada masalah. Jika orang yang berhak masih ada selama bertahun-tahun hingga nilai sepertiga harta itu habis oleh dinar-dinar, maka demikianlah adanya.

فإن مات قبل ذلك فبقية الثلث مردودةٌ على الورثة

Jika ia meninggal sebelum itu, maka sisa sepertiga dikembalikan kepada para ahli waris.

وهذا الذي ذكره فيه نظر فإن الوصية بالدنانير إلى غير نهاية كالوصية بثمار الأشجار من غير نهاية فإذا صححنا الوصية بثمار الأشجار ثم مات الموصى له بها فالوجه إقامة وارثه في الاستحقاق مقامه

Apa yang disebutkan di sini masih perlu ditinjau kembali, karena wasiat berupa dinar tanpa batas sama seperti wasiat berupa buah-buahan dari pohon tanpa batas. Jika kita membenarkan wasiat berupa buah-buahan dari pohon, lalu penerima wasiat tersebut meninggal dunia, maka yang tepat adalah ahli warisnya menggantikan posisinya dalam hak menerima wasiat tersebut.

والغرض في ذلك يبين بفرض ثلاث مسائل: إحداها الوصية بالمنفعة فالمذهب الظاهر أن الموصى له إذا مات قام وارثه مقامَه وخلفه في الاستحقاق

Tujuan dalam hal ini dijelaskan dengan mengandaikan tiga permasalahan: Pertama, wasiat atas manfaat; mazhab yang paling jelas menyatakan bahwa jika penerima wasiat meninggal dunia, maka ahli warisnya menggantikan posisinya dan mewarisi hak atas manfaat tersebut.

وفيه وجهٌ بعيد ذكرناه

Di dalamnya terdapat pendapat yang lemah yang telah kami sebutkan.

وإذا أوصى بثمار الأشجار فتخصيص الاستحقاق به وقطعه عن الورثة يظهر بعض الظهور فإنّ في الوصية بالثمار احتمالاً في أصلها

Jika seseorang berwasiat tentang buah-buahan dari pohon, maka pembatasan hak hanya pada buah-buahan tersebut dan memisahkannya dari ahli waris tampak cukup jelas, karena dalam wasiat mengenai buah-buahan itu sendiri terdapat kemungkinan dalam pokoknya.

وإذا أوصى بأن يُصرفَ إلى إنسان كلَّ سنة دينار فمات ذلك الشخص فيظهر في هذه الصورة جداً انقطاعُ الوصية بموته ويتجه أيضاً إذا صححنا الوصية أن يدوم الاستحقاق لورثته ولهذا الإشكال في التفريع خرج قولٌ في إبطال الوصية

Jika seseorang berwasiat agar setiap tahun diberikan satu dinar kepada seseorang, lalu orang tersebut meninggal dunia, maka dalam kasus ini tampak jelas bahwa wasiat itu terputus dengan kematiannya. Namun, jika kita menganggap wasiat itu sah, maka ada juga pendapat bahwa hak tersebut tetap berlanjut kepada ahli warisnya. Karena adanya permasalahan dalam cabang ini, muncul pula pendapat yang membatalkan wasiat tersebut.

ولو قيدَ الكلامَ بصرف دينار إليه كل سنة ما بقي فلا شك في أن ذلك ينقطع بموته

Jika pembicaraan itu dibatasi dengan memberikan satu dinar kepadanya setiap tahun selama ia masih hidup, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu terputus dengan kematiannya.

فإن صورنا المسألة في هذه الصورة أو فرعنا على ما قطع به صاحب التقريب من حمل الوصية على الدنانير التي تكون على سني عمر الموصى له فنقول: نصرف الثلث على وجه الوقف ونصرف إلى الموصى له ديناراً ديناراً فإن استغرق الثلثَ في حياته فذاك  وإن مات وقد بقي من الثلث بقية رددناها على الورثة

Jika kita gambarkan masalah ini dalam bentuk seperti ini, atau kita cabangkan berdasarkan pendapat tegas dari penulis at-Taqrīb yang menafsirkan wasiat pada dinar-dinar yang diberikan sesuai tahun-tahun umur penerima wasiat, maka kita katakan: sepertiga harta dialokasikan dalam bentuk wakaf, lalu diberikan kepada penerima wasiat satu dinar demi satu dinar. Jika sepertiga harta itu habis selama hidupnya, maka demikianlah. Namun jika ia meninggal dunia sementara masih tersisa bagian dari sepertiga harta tersebut, maka sisanya dikembalikan kepada para ahli waris.

فإن قلنا: لا يُوقف الثلث فالورثة يتصرفون فيه ومهما استحق عند انقضاء سنة ديناراً طالب الورثةَ به وكان ذلك بمثابة ما لو اقتسم الورثةُ التركة ثم ظهرت وصية

Jika kita mengatakan: sepertiga harta tidak ditahan, maka para ahli waris dapat mengelolanya, dan kapan pun setelah berlalu satu tahun ada yang berhak atas satu dinar, maka ia dapat menuntut ahli waris untuk memberikannya. Hal ini seperti halnya jika para ahli waris telah membagi warisan, kemudian setelah itu muncul wasiat.

وهذا فيه نظر فإنه إذا ظهرت وصية تتبَّعْنا تصرَّفَ الورثة في الثلث بالنقض  فإن كان الأمر كذلك في مسألتنا فلا فرق وظاهر كلام صاحب التقريب أن تصرّفهم في الثلث ينفذ ولا يُتْبَع بنقض

Hal ini masih perlu ditinjau kembali, sebab apabila muncul wasiat, kita menelusuri tindakan para ahli waris terhadap sepertiga harta dengan kemungkinan pembatalan. Jika keadaannya demikian dalam permasalahan kita, maka tidak ada perbedaan. Namun, tampak dari perkataan penulis kitab at-Taqrīb bahwa tindakan mereka terhadap sepertiga harta tetap sah dan tidak diikuti dengan pembatalan.

وهذا فيه إشكال واحتمالٌ ظاهر وبين المسألة التي نحن فيها وبين ظهور الوصية فرقٌ من جهة أن الدنانير تنقسم على أواخر السنين في هذه المسألة وتثبت ديناراً ديناراً وليس كالذي يبين أنه كان ثابتاً ولم نعلمهوجميع ما ذكرناه فيه إذا تجردت تلك الوصية ولم يكن معها وصايا

Hal ini mengandung permasalahan dan kemungkinan yang jelas, dan antara masalah yang sedang kita bahas dengan munculnya wasiat terdapat perbedaan, yaitu bahwa dinar-dinar dalam masalah ini dibagi pada akhir-akhir tahun dan ditetapkan satu per satu, tidak seperti sesuatu yang ternyata telah tetap namun kita tidak mengetahuinya. Semua yang telah kami sebutkan berlaku jika wasiat tersebut berdiri sendiri dan tidak ada wasiat-wasiat lain bersamanya.

فأما إذا أوصى بوصايا ومن جملتها الوصيةُ التي ذكرناها  فإن جعل الوصية التي ذكرناها معلّقةً بعُمر الموصى له فقد قطع صاحب التقريب بأن الثلث يُفضّ على مستحقي الوصايا في الحال ولا نؤخر حقوقهم فإنا لا نضبط مبلغ الوصية الأخرى فلا وقف في حقوقهم وإنما الاختلاف في وقف الثلث في حق الورثة إذا تجردت الوصية التي نحن فيها  والفرق أن الثلث إن وقفناه فهو حق المتوفَّى ومحل تبرعاته فلا بُعد لو حُلْنا بين الورثة وبينه فأما إذا ثبتت وصايا ناجزة فالثلث محلُّ حقوقهم فيبعد أن نقف الثلث إلى أن نتبين منتهى هذه الوصية المجهولة فإذا فضضنا الثلث على الدينار الذي انتجز من هذه الوصية في هذه السنة وعلى سائر الوصايا فإذا انقضت سنة أخرى استحق الموصى له ديناراً وضارب به أربابَ الوصايا واسترد منهم ما يقتضيه التقسيط في ذلك القدر ثم لا يزال يفعل ذلك في كل ما يستحقه حتى تنتهي الوصية

Adapun jika seseorang berwasiat dengan beberapa wasiat dan di antaranya terdapat wasiat yang telah kami sebutkan, maka jika wasiat yang kami sebutkan itu digantungkan pada umur penerima wasiat, pemilik kitab at-Taqrib menegaskan bahwa sepertiga harta dibagikan kepada para penerima wasiat saat itu juga dan hak mereka tidak ditunda, karena kita tidak dapat memastikan jumlah wasiat yang lain, sehingga tidak ada penangguhan atas hak mereka. Perbedaan pendapat hanya terjadi dalam hal penangguhan sepertiga harta bagi para ahli waris jika hanya ada wasiat yang sedang kita bahas ini saja. Perbedaannya adalah, jika sepertiga harta itu kita tunda, maka itu adalah hak si mayit dan tempat dia berderma, sehingga tidak mengapa jika kita menghalangi ahli waris darinya. Namun, jika terdapat wasiat-wasiat yang telah pasti, maka sepertiga harta adalah tempat hak-hak mereka, sehingga tidak layak menunda pembagian sepertiga harta sampai jelas batas akhir wasiat yang tidak diketahui ini. Maka, sepertiga harta dibagikan sesuai dengan bagian dinar yang telah jatuh tempo dari wasiat ini pada tahun tersebut dan juga kepada seluruh wasiat lainnya. Jika telah berlalu satu tahun lagi, penerima wasiat berhak atas satu dinar dan ia membaginya bersama para penerima wasiat lainnya serta mengambil kembali dari mereka sesuai dengan perhitungan pembagian pada jumlah tersebut. Hal ini terus dilakukan pada setiap hak yang diterima hingga wasiat tersebut selesai.

وهذا الذي ذكره بيّنٌ إذا كانت الوصية مقيّدة بحياة الموصى له فأما إذا لم تتقيّد بحياته ورأينا أن نقيم ورثته مقامه فهذا مشكلٌ لا يُهتدى إليه وحاصله مضاربةُ أقوام حقوقُهم مقدرة بما لا نهاية له

Apa yang disebutkan di atas jelas jika wasiat itu dibatasi dengan kehidupan penerima wasiat. Adapun jika tidak dibatasi dengan kehidupannya dan kita ingin menempatkan para ahli warisnya sebagai penggantinya, maka hal ini menjadi masalah yang sulit dan tidak dapat ditemukan solusinya. Intinya adalah mudharabah antara sekelompok orang yang hak-hak mereka ditentukan dengan sesuatu yang tidak terbatas.

ولو قيل: إنه لا يضارب إلا بمقدار الثلث ويبطل ما وراءه لانتفاء النهاية عنه لم يبعُد وهذا الإشكال في مضاربة الوصايا فإن الورثة إذا ردّوا الوصية إلى الثلث انحصرت فيه والغموض في مضاربة ما لا نهاية له أقداراً متناهية فيجوز أن تبطل الوصية في الزائد على الثلث ويكون هذا في هذه المسألة مناظراً لمذهب أبي حنيفة في رده ما يزيد من الأجزاء على الثلث إذا رُدّت الوصايا إلى الثلث وهذه مناظرة لفظية وإلا فما ذكره أبو حنيفة باطل فإنه أبطل السدس من الوصية بالنصف وهو مقدّر  وإنما الغموض في هذه المسألة من جهة انتفاء النهاية عن الوصية

Dan jika dikatakan: Sesungguhnya tidak boleh dilakukan mudārabah kecuali sebatas sepertiga, dan batal apa yang melebihi itu karena tidak adanya batas akhirnya, maka hal itu tidaklah jauh (dari kebenaran). Inilah permasalahan dalam mudārabah wasiat, sebab jika para ahli waris mengembalikan wasiat kepada sepertiga, maka wasiat itu terbatas pada sepertiga tersebut. Sedangkan yang samar adalah pada mudārabah terhadap sesuatu yang tidak memiliki batas akhir, padahal nilainya terbatas. Maka boleh jadi wasiat pada kelebihan dari sepertiga itu batal, dan hal ini dalam masalah ini serupa dengan pendapat Abu Hanifah yang menolak bagian yang melebihi sepertiga jika wasiat-wasiat dikembalikan kepada sepertiga. Ini adalah perbandingan secara lafaz, adapun apa yang disebutkan oleh Abu Hanifah adalah batil, karena ia membatalkan seperenam dari wasiat setengah, padahal itu sudah ditentukan. Sesungguhnya yang samar dalam masalah ini adalah dari sisi tidak adanya batas akhir pada wasiat.

وينقدح أن يقال: يضارب بمقدار المال كله حتى كأنه أوصى له بكل المال ثم ردت الوصايا إلى الثلث فإنا نثبت المضاربة بالزائد على الثلث

Mungkin dapat dikatakan: ia melakukan mudharabah dengan seluruh jumlah harta, seolah-olah ia mewasiatkan seluruh harta itu kepadanya, kemudian wasiat-wasiat tersebut dikembalikan kepada sepertiga, maka kami menetapkan mudharabah atas kelebihan dari sepertiga.

ومنتهى الأمر تقدير الوصية بجميع المال ثم هذا التضارب يقع شيئاً شيئاً

Pada akhirnya, wasiat itu dianggap meliputi seluruh harta, kemudian pertentangan ini terjadi secara bertahap.

كذلك قال صاحب التقريب

Demikian pula yang dikatakan oleh penulis kitab at-Taqrīb.

ويجوز أن يقال: يوقف له القدر الذي ذكرناه إما في تقدير الثلث وإما في تقدير الكل بحكم المضاربة

Dan boleh dikatakan: ditetapkan baginya kadar yang telah kami sebutkan, baik dalam takaran sepertiga maupun dalam takaran seluruhnya, berdasarkan hukum mudhārabah.

وقد قال صاحب التقريب: إذا قال: ادفعوا إلى فلان في انقضاء كل سنة ديناراً إلى عشرين سنة فهل نقف هذا القدر له في معارضة الوصايا فعلى وجهين

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang berkata, “Berikanlah kepada si Fulan satu dinar setiap akhir tahun selama dua puluh tahun,” maka apakah kita menetapkan jumlah ini untuknya dalam hal pertentangan wasiat? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

فليتأمل المتأمل أطراف هذه المسألة ولْيقْضِ العجبَ منها وفي اختباط تفاريعها يظهر للإنسان بطلان الوصية وليت شعري ما قول الأصحاب فيه إذا قال: أوصيت لفلان بما لا نهاية له من الدنانير هذا فيه تردد فينقدح إبطال الوصية فإنها وقعت بغير ممكن ويجوز أن يقال: هي وصية بالمال كله والعلم عند الله عز وجل

Maka hendaklah orang yang memperhatikan merenungkan sisi-sisi permasalahan ini dan mengagumi keanehannya. Dalam kekacauan cabang-cabangnya, tampak bagi seseorang kebatilan wasiat tersebut. Aku ingin tahu, apa pendapat para ulama jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan dinar yang tak terbatas jumlahnya?” Dalam hal ini terdapat keraguan, sehingga muncul pendapat bahwa wasiat itu batal karena tidak mungkin dilaksanakan. Namun, boleh juga dikatakan: itu adalah wasiat atas seluruh harta, dan ilmu yang pasti hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو قال أعطوه رأساً من رقيقي إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Berikanlah satu kepala dari budakku,” dan seterusnya.

إذا قال الموصي: أعطوا فلاناً رأساً من رقيقي فمضمون هذا اللفظ الوصيةُ له بمملوك من جملة مماليك ومقصود الفصل بيانُ مقتضى هذا اللفظ وإيضاحُ المعنى الذي يكون وفاء في المطلوب منه فإذا كان للموصي عبيد وإماء فأعطى الوارثُ الموصى له عبداً أوْ أمةً من جملة رقيقه فقد خرج عن موجَب الوصية ومقتضى لفظها فإن الرقيق يتناول الذكر والأنثى

Jika seorang yang berwasiat berkata: “Berikan kepada si Fulan satu kepala dari budakku,” maka makna dari ungkapan ini adalah wasiat kepadanya berupa seorang hamba dari sekian banyak budak miliknya. Tujuan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan konsekuensi dari ungkapan tersebut dan memperjelas makna yang dianggap sebagai pemenuhan dari permintaan itu. Jika pewasiat memiliki budak laki-laki dan perempuan, lalu ahli waris memberikan kepada penerima wasiat seorang budak laki-laki atau perempuan dari sekian banyak budaknya, maka ia telah melaksanakan isi wasiat dan memenuhi makna dari ungkapan tersebut, karena istilah “budak” mencakup laki-laki maupun perempuan.

ولو كان في رقيقه خنثى فالمذهب الصحيح أنه مجزىء وبذلُه كافٍ فإن اسم الرقيق يتناوله

Jika di antara budaknya terdapat khuntsa, maka mazhab yang shahih menyatakan bahwa itu sah dan penyerahannya sudah cukup, karena nama “raqiq” (budak) mencakupnya.

وذكر صاحب التقريب وجهاً آخر أنه لا يجزىء ولا يكون بذله وفاءً باللفظ فإن هذا الاسم يتناول ما يفهم منه في العرف والخنثى يندر اتفاق وجوده فلا يتناوله الاسم العام

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain bahwa hal itu tidak mencukupi dan pemberiannya tidak dianggap memenuhi lafaz, karena nama tersebut mencakup apa yang dipahami darinya menurut kebiasaan, sedangkan khuntsa (orang dengan kelamin ganda) sangat jarang ditemukan secara bersamaan, sehingga nama umum tersebut tidak mencakupnya.

وهذا عريّ عن التحصيل لا اعتداد به فإن الاسم العام وهو رأس من الرقيق يتناول الخنثى تناوله للذكر والأنثى ولو قال الرجل: مماليكي أو أرقائي أحرار دخل الخنثى بحيث يعتِق  فإن منع صاحب التقريب ذلك  كان في نهاية البعد وإن سلّمه وفرّق بأن المماليك إذا تناولت الجميع عموماً لم يبعد اشتمال اللفظ على الخنثى مع جريانها على مقتضى عمومها فإن اللفظ المُجرى على حقيقة عمومه يتناول النادر مع تناوله لغيره وإذا قال: رأساً من رقيقي فحمل على النادر الذي لا يخطر بالبال دون غيره كان بعيداً فهذا الفرق لا حاصل له فإن قوله: رأساً من رقيقي وإن كان مقتضاه بذلَ واحدٍ فهو مضاف إلى لفظ جامع شامل على أصل فهذا الوجه

Ini sama sekali tidak bernilai dan tidak dapat dianggap, karena nama umum, yaitu “ra’s” dari budak, mencakup khuntsa sebagaimana mencakup laki-laki dan perempuan. Jika seseorang berkata: “Para budakku” atau “hamba-hambaku adalah merdeka,” maka khuntsa termasuk di dalamnya sehingga ia menjadi merdeka. Jika penulis kitab at-Taqrib melarang hal itu, maka itu sangat jauh (dari kebenaran). Jika ia membolehkannya namun membedakan bahwa kata “para budak” jika mencakup semuanya secara umum, tidaklah jauh bahwa lafaz tersebut juga mencakup khuntsa sesuai dengan keumumannya, karena lafaz yang digunakan dalam makna umum mencakup yang langka sebagaimana mencakup selainnya. Jika seseorang berkata: “Satu kepala dari budakku,” lalu diartikan hanya kepada yang langka yang tidak terlintas dalam pikiran dan tidak kepada selainnya, maka itu jauh (dari kebenaran). Maka perbedaan ini tidak ada nilainya, karena ucapannya “satu kepala dari budakku” meskipun maksudnya adalah membebaskan satu orang, namun ia disandarkan pada lafaz yang umum dan mencakup secara asal. Maka inilah penjelasannya.

ولو قال: أوصيت لفلان برأسٍ من رقيقي ولم يكن له رقيق حالة الإيصاء  ولم يمت عن رقيق أيضاً فالوصية باطلة فإنه أضاف الموصى به إلى أرقائه فإذا لم يكن له مماليك فلا أصل ولا مستند للفظه

Jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan kepada si Fulan satu budak dari budak-budakku,” sementara pada saat berwasiat ia tidak memiliki budak, dan ia pun tidak meninggal dengan meninggalkan budak, maka wasiat tersebut batal. Sebab, ia telah mengaitkan benda yang diwasiatkan dengan budak-budaknya, sehingga jika ia tidak memiliki budak, maka tidak ada asal dan sandaran bagi ucapannya itu.

ولو قال: أوصيت لفلان برأس من رقيقي ولم يكن له حالة الإيصاء رقيق ثم ملك مماليك ومات عنهم فالمذهب أن الوصية تنفذ في واحد منهم

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat untuk si Fulan dengan satu budak dari budak-budakku,” padahal ketika berwasiat ia tidak memiliki budak, lalu setelah itu ia memiliki beberapa budak dan meninggal dunia sementara budak-budak itu masih ada, maka menurut mazhab, wasiat tersebut dilaksanakan untuk salah satu dari mereka.

ومن أصحابنا من قال: الوصية مردودة فإن لفظه حالة الإيصاء لم يجد متعلقاً فلغَى وبطل ثم لا أثر لوجود الأرقاء بعد ذلك وهذا يضاهي ما لو قال: أوصيت لفلان بثلث مالي وكان لا يملك إذ ذاك شيئاً أصلاً ثم تموّل ومات عن مال فالأصح أن ثُلث ماله مصروفٌ إلى وصيته

Sebagian ulama kami berpendapat: wasiat tersebut tertolak, karena lafaznya pada saat berwasiat tidak menemukan objek yang dapat dijadikan sasaran, sehingga menjadi sia-sia dan batal. Setelah itu, keberadaan budak-budak tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Ini serupa dengan kasus apabila seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan sepertiga hartaku,” padahal saat itu ia sama sekali tidak memiliki harta, lalu kemudian ia memperoleh harta dan meninggal dunia dengan meninggalkan harta. Maka pendapat yang paling sahih adalah sepertiga hartanya diberikan sesuai dengan wasiatnya.

ومن أصحابنا من قال: الوصية مردودة لأنها لم تتناول مورداً ولم تثبت بمتعلَّقٍ حالة الإنشاء

Sebagian dari ulama kami berpendapat: wasiat tersebut ditolak karena tidak mencakup objek (yang diwasiatkan) dan tidak tetap terkait dengan sesuatu pada saat pengucapannya.

ولم يختلف أصحابنا أنه لو كان يملك درهماً فقال: أوصيت لفلان بثلث مالي فخوله الله تعالى مالاً جماً ومات فثلث جميع ما خلف مصروف إلى وصيته

Para ulama kami tidak berselisih pendapat bahwa jika seseorang hanya memiliki satu dirham lalu berkata, “Aku berwasiat kepada si fulan sepertiga hartaku,” kemudian Allah Ta‘ala memberinya harta yang banyak dan ia meninggal dunia, maka sepertiga dari seluruh harta yang ia tinggalkan diberikan sesuai wasiatnya.

هكذا ذكر الشيخ أبو علي في صورة الوفاق والخلاف في شرح التلخيص

Demikianlah yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali dalam kasus kesepakatan dan perbedaan pendapat dalam Syarh at-Talkhīṣ.

فعلى هذا لو كان قال أعطوه رأساً من رقيقي وكان يملك إذ ذاك أرقاء ثم ملك غيرهم ومات فللوارث أن يسلّم رأساً من الذين استفادهم بعد الإيصاء

Maka berdasarkan hal ini, jika seseorang berkata, “Berikanlah satu budak dari budak-budakku,” sementara saat itu ia memang memiliki beberapa budak, kemudian setelah itu ia memperoleh budak-budak lain dan meninggal dunia, maka ahli waris boleh menyerahkan satu budak dari budak-budak yang diperoleh setelah wasiat tersebut.

ولو قال: أعطوه رأساً من مماليكي وكان لا يملك إلا مملوكاً واحداً ومات على ذلك ولم يخلّف غيرَه من المماليك فهذا اللفظ فيه خبلٌ واضطراب من جهة أنه أضاف المملوك الموصى به إلى مماليكه وليس له جمع من المماليك يصح إضافة المملوك الموصى به إليهم ولكن الذي يقتضيه المذهب القطع بتنزيل وصيته على ذلك المملوك الواحد وإن لم نجد في ملكه جمعاً من المماليك يضيف ذلك العبدَ إليهم فإنا وجدنا متعلقاً لوصيته فاستقلت به ولا مبالاة بأن يختل بعد هذا المتعلق لفظهُ

Jika seseorang berkata: “Berikan satu budak dari para budakku,” padahal ia hanya memiliki satu budak saja, lalu ia meninggal dalam keadaan demikian dan tidak meninggalkan budak lain selain itu, maka ungkapan ini mengandung kekeliruan dan kerancuan, karena ia menisbatkan budak yang diwasiatkan kepada para budaknya, sementara ia tidak memiliki sejumlah budak yang memungkinkan budak yang diwasiatkan itu dinisbatkan kepada mereka. Namun, menurut mazhab, yang seharusnya dilakukan adalah memastikan bahwa wasiatnya berlaku atas budak satu-satunya itu, meskipun kita tidak menemukan dalam kepemilikannya sejumlah budak yang bisa dijadikan sandaran untuk menisbatkan budak tersebut kepada mereka. Sebab, kita telah menemukan sesuatu yang menjadi sandaran wasiatnya, sehingga wasiat itu berlaku atasnya, dan tidak perlu mempermasalahkan jika setelah adanya sandaran tersebut, redaksi ucapannya menjadi tidak tepat.

ولم يختلف أصحابنا في أنه إذا أوصى برأسٍ من رقيقه وكان له جمع من الأرقاء فماتوا إلا واحداً منها نزلت الوصية عليه

Para ulama mazhab kami tidak berselisih pendapat bahwa jika seseorang berwasiat dengan seorang budak dari budak-budaknya, lalu seluruh budak itu meninggal kecuali satu, maka wasiat tersebut berlaku atas budak yang tersisa itu.

ومما يتصل بمقصود الفصل وهو المعتبر فيه وعلى المنتهي إلى هذا الموضع من هذا الفصل أن يتامل ما نلقيه إليه أنَّ هذه الوصية مفروضةٌ فيه إذا أطلق الموصي لفظه وأرسل وصيته وحاول أن تنفذ فيما ينطلق عليه لفظُه ولم يضمر إرادةَ تعيينٍ من رقيقه فمسائل الفصل مدارةٌ على هذه القاعدة والغرض بيان مقتضى هذه الصيغة عند الإطلاق

Terkait dengan tujuan bab ini, yang menjadi pertimbangan di dalamnya, dan bagi siapa saja yang sampai pada bagian ini dari bab ini, hendaknya memperhatikan apa yang kami sampaikan kepadanya, bahwa wasiat ini diasumsikan dalam kasus ketika orang yang berwasiat mengucapkan lafaznya secara umum dan melepaskan wasiatnya tanpa batasan, serta berupaya agar wasiat itu berlaku pada apa saja yang tercakup oleh lafaznya, tanpa menyimpan maksud untuk menentukan salah satu dari budaknya. Maka, permasalahan dalam bab ini berputar pada kaidah tersebut, dan tujuannya adalah untuk menjelaskan konsekuensi dari redaksi ini ketika digunakan secara umum.

وعلى هذا قال الأئمة: لو أوصى برأسٍ من رقيقه وكان له جمع من المماليك فانتحى الوارث معيَّناً منهم واعتمد أحسنهم قدراً أجزأ ما يُخرجه عن الوصية فإن اسم رأسٍ من رقيق يتناوله وهذا متفق عليه بين الأصحاب

Atas dasar ini, para imam berkata: Jika seseorang berwasiat dengan seorang budak dari budak-budaknya, sementara ia memiliki sejumlah budak, lalu ahli waris memilih salah satu dari mereka secara khusus dan mengambil yang paling baik kedudukannya, maka apa yang dikeluarkan itu sudah mencukupi untuk melaksanakan wasiat, karena sebutan “seorang budak” mencakupnya. Hal ini telah disepakati di antara para sahabat (ulama).

فإن قال الموصى له: لم يُرد الموصي هذا لم يردّه على أن نُفهمه معنى عموم اللفظ وشمول الصيغة ونبين له أن المسألة مفروضةٌ فيه إذا لم يعيّن الموصي بلفظه أحداً من مماليكه وإنما أراد أيَّ واحدٍ كان من أرقائه

Jika penerima wasiat berkata: “Pewasiat tidak menghendaki hal ini,” maka kita tidak menolaknya kecuali setelah kita menjelaskan kepadanya makna keumuman lafaz dan keluasan redaksi, serta menerangkan bahwa permasalahan ini dimaksudkan jika pewasiat tidak menyebutkan secara spesifik dengan ucapannya salah satu dari budaknya, melainkan ia menghendaki siapa saja di antara para hambanya.

ولو قال الموصى له: إنه أضمر واحداً منهم وإن أبهم لفظه فليس يبعد أن يضمر مع الإطلاق وإن كان لفظه عاماً فإن سيد المماليك لو قال: واحد منهم حُرٌّ ثم زعم أنه عنى عند اللفظ متعيناً منهم تبيّنا نزول العتق عليه

Jika orang yang menerima wasiat berkata: “Sesungguhnya ia telah menyembunyikan maksud salah satu dari mereka,” dan jika ia mengaburkan ucapannya, maka tidak mustahil ia menyembunyikan maksud tertentu meskipun ucapannya bersifat umum. Sebab, jika seorang tuan budak berkata: “Salah satu dari mereka merdeka,” kemudian ia mengaku bahwa ketika mengucapkan itu ia memang telah menentukan salah satu dari mereka, maka jelaslah bahwa kemerdekaan itu berlaku atas orang yang telah ditentukan tersebut.

وكذلك إذا قال الزوج: واحدةٌ من نسائي طالق وأضمر عند إطلاق هذا اللفظ واحدةً متعينة منهم في نفسه فهي المطلقة

Demikian pula, jika seorang suami berkata: “Salah satu dari istriku tertalak,” dan dalam hatinya ia meniatkan secara spesifik salah satu dari mereka ketika mengucapkan lafaz tersebut, maka dialah yang tertalak.

وإن أطلق إبهام العتاق والطلاق ولم يضمر معيناً خوطب بإيجاب التعيين عليه على ما ستأتي هذه المسائل مشروحةً في كتاب الطلاق إن شاء الله عز وجل

Dan jika seseorang mengucapkan lafaz pembebasan budak atau talak secara umum tanpa menyebutkan siapa yang dimaksud, serta tidak meniatkan orang tertentu, maka ia diwajibkan untuk menentukan siapa yang dimaksud, sebagaimana masalah-masalah ini akan dijelaskan pada Kitab Talak, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإذا وقع التنبيه لها فنقول: الموصى له غير بعيد عن الاحتمال ولكن لا نقبل دعواه ما لم يعيّن عبداً وما لم يقل هذا مَعْنِيُّه ومرادُه فإن الدعوى المبهمة مردودة ممّن يبغي مالاً

Jika telah diberikan penjelasan tentang hal ini, maka kami katakan: penerima wasiat tidak jauh dari kemungkinan, namun kami tidak menerima pengakuannya selama ia belum menentukan seorang budak dan belum mengatakan bahwa inilah yang dimaksud dan dikehendaki olehnya, karena klaim yang samar ditolak dari orang yang menginginkan harta.

ثم إن عين فالقول قول الورثة فإن قالوا: لم يعيّن ولم يُضمر تعييناً أصلاً وإنما أبهم اللفظ ليُجرى على مقتضى عمومه فالرجوع إلى أقوالهم

Kemudian, jika ia telah menentukan, maka perkataan para ahli warislah yang diterima. Jika mereka berkata: “Ia tidak menentukan dan sama sekali tidak bermaksud menentukan, melainkan hanya mengungkapkan lafaz secara umum agar berjalan sesuai dengan keumumannya,” maka kembali kepada perkataan mereka.

وإن فرض عرْضُ يمين فالقول في صيغتها يأتي في سياق الكتاب فليس تفصيلها من غرضنا الآن

Jika andaikan sumpah harus diucapkan, maka pembahasan tentang redaksi sumpah tersebut akan dijelaskan dalam bagian lain dari kitab ini, karena perinciannya bukan tujuan pembahasan kita saat ini.

ولو قال: اشتروا عبداً من مالي وسلموه إلى فلان فاشترى الورثة عبداً معيناً وسلموه إلى الموصى له وقع الاكتفاء به في قول أصحابنا المعتبرين تعلّقاً بما ذكرناه من مقتضىً وتشبيهاً لهذا بما لو قال: أعطوه رأساً من رقيقي وكان فيهم معيب فقصدوه وأخرجوه إلى جهة الوصية

Jika seseorang berkata: “Belilah seorang budak dari hartaku dan serahkanlah kepada si Fulan,” lalu para ahli waris membeli seorang budak tertentu dan menyerahkannya kepada penerima wasiat, maka hal itu dianggap cukup menurut pendapat para ulama kami yang terkemuka, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan mengenai konsekuensinya dan dengan menganalogikan hal ini dengan kasus jika seseorang berkata: “Berikanlah satu orang dari budak-budakku,” lalu di antara mereka ada yang cacat, kemudian mereka memilihnya dan menyerahkannya untuk tujuan wasiat.

وذهب بعض أصحابنا إلى أن الوصية إذا كانت متقيّدة بالشراء فلا يقبل فيها معيب فإن الشراء يقتضي سلامة المشترَى ولذلك يثبت الرد بالعيب

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa jika wasiat itu dibatasi dengan pembelian, maka tidak diterima barang yang cacat di dalamnya, karena pembelian menuntut keselamatan barang yang dibeli, oleh karena itu hak untuk mengembalikan barang karena cacat tetap berlaku.

فإذا قال: اشتروا عبداً أو مملوكاً وسلموه إلى فلان فقد أوصيت له به  فربْطُه المملوكَ الموصى به بجهةٍ مقتضاها طلب السلامة يقتضي السلامة

Jika seseorang berkata: Belilah seorang budak atau hamba sahaya dan serahkanlah kepada si Fulan, maka sungguh aku telah mewasiatkan budak itu untuknya, maka mengaitkan budak yang diwasiatkan tersebut dengan suatu tujuan yang mengandung makna permintaan keselamatan, hal itu menuntut adanya keselamatan.

وهذا لا أصل له فإن الوصية تستقل بموجب اللفظ واللفظ عام كما سبق تقريره فلئن كان مقتضى العهدة في البيع ثبوت خيار الرد فلا تعلق لهذا بوضع الوصية والدليل عليه أن الرجل إذا وكل وكيلاً ليشتري له مملوكاً وأطلق التوكيل ولم يقيّده بالسلامة فاشترى الوكيل عبداً ثم اطلع على عيب به وكان العبد مع ذلك العيب يساوي الثمن المذكور فالبيع يصح عن الموكل حملاً على مقتضى الاسم المطلق ثم عهدة العقد تقتضي ثبوتَ الخِيَرة في الرد فلزم تنزيل الوصية على العبد المشترى وإن كان معيباً ثم لا عهدة في الوصية حتى نفرض رد العبد فيها

Hal ini tidak memiliki dasar, karena wasiat berdiri sendiri berdasarkan ketentuan lafaz, dan lafaz tersebut bersifat umum sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika konsekuensi tanggungan dalam jual beli adalah adanya hak khiyar untuk mengembalikan barang, maka hal ini tidak ada kaitannya dengan ketentuan wasiat. Buktinya, apabila seseorang mewakilkan kepada seorang wakil untuk membelikan budak baginya dan ia memberikan kuasa secara mutlak tanpa membatasinya dengan syarat keselamatan (dari cacat), lalu wakil tersebut membeli seorang budak, kemudian diketahui ada cacat pada budak itu, namun budak tersebut dengan cacatnya masih sepadan dengan harga yang disebutkan, maka jual beli itu sah atas nama pemberi kuasa berdasarkan makna umum dari istilah yang digunakan. Kemudian, tanggungan akad menuntut adanya hak memilih untuk mengembalikan barang, sehingga wasiat harus diberlakukan pada budak yang dibeli, meskipun ia cacat. Namun, tidak ada tanggungan dalam wasiat sehingga tidak perlu menganggap adanya pengembalian budak dalam wasiat tersebut.

ومما يتعلق بتحقيق الفصل أنه إذا قال: أوصيت لفلان برأسٍ من رقيقي وكان له مماليك فماتوا قبل موت هذا الموصي انقطعت الوصية

Terkait dengan penegasan bab ini, apabila seseorang berkata: “Aku berwasiat untuk si Fulan dengan satu budak dari budak-budakku,” lalu ia memiliki beberapa budak, namun mereka semua meninggal sebelum wafatnya orang yang berwasiat tersebut, maka wasiat itu terputus.

وكذلك لو ماتوا بعد موت الموصي وقَبْل قبول الموصى له فلا فائدة للحكم ببقاء الوصية فإنها لو ثبتت لكانت متعلقة بعبد من العبيد الذين خلّفهم الموصي فإذا ماتوا موتاً لا يُعقب ضماناً على آخر فقد فاتت الوصية في أعيان العبيد ولم يُعقب موتُهم أَبْدَالاً وعَسُر الوفاء ونزل هذا منزلة ما لو ماتوا قبل وفاة الموصي

Demikian pula, jika mereka meninggal setelah wafatnya pewasiat dan sebelum penerimaan dari pihak yang diberi wasiat, maka tidak ada manfaat dari penetapan keberlakuan wasiat tersebut. Sebab, jika wasiat itu tetap berlaku, ia akan terkait dengan salah satu budak yang ditinggalkan oleh pewasiat. Jika para budak itu meninggal dunia tanpa ada jaminan tanggungan kepada pihak lain, maka wasiat tersebut menjadi gugur atas budak-budak yang bersangkutan dan kematian mereka tidak menghasilkan pengganti. Hal ini menyulitkan pelaksanaan wasiat dan kedudukannya sama seperti jika mereka meninggal sebelum wafatnya pewasiat.

ولو أوصى برأس من رقيقه فقُتِل أرقاؤه في حياته قتلَ ضمان فاتت الوصية فإنّ نَفَذ الوصية ما بعد الموت وقد مات ولا رقيق له

Jika seseorang berwasiat dengan “seorang budak” dari budak-budaknya, lalu budak-budaknya terbunuh pada masa hidupnya karena pembunuhan yang mengharuskan ganti rugi, maka wasiat tersebut batal, karena pelaksanaan wasiat itu terjadi setelah kematian, sedangkan ia telah meninggal dunia dan tidak memiliki budak lagi.

ولو قتلوا بعد موته وقبل قبول الموصى له نزلت قيم العبيد القتلى منزلة العبيد بأنفسهم فيعيّن الوارث قيمة من شاء من المماليك وعلى الناظر تأملٌ في هذا فإن الأقوال مختلفة في أن الملك في الموصى به متى يحصل للموصى له ففي قولٍ يحصل الملك بنفس موت الموصي ويستقر بالقبول

Jika para budak tersebut dibunuh setelah wafatnya pewasiat dan sebelum penerima wasiat menerima wasiat tersebut, maka nilai para budak yang terbunuh itu diperlakukan seperti budak itu sendiri. Ahli waris boleh menentukan nilai budak mana saja yang diinginkan dari para budak tersebut. Namun, bagi pihak yang mengawasi (nadhir) perlu memperhatikan hal ini, karena terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan kepemilikan atas barang yang diwasiatkan itu berpindah kepada penerima wasiat. Dalam satu pendapat, kepemilikan itu terjadi dengan wafatnya pewasiat dan menjadi tetap dengan adanya penerimaan dari penerima wasiat.

وفي قولٍ يقف الأمر على القبول فإن قُبل تبيَّنا استنادَ الملك إلى موت الموصي وإن ردّ الموصى له الوصية تبيّنا انتفاء الملك أصلاً ومسألتنا مفروضة فيه إذا قُتل العبيد وقَبِل الموصى له الوصية بعد قتلهم فيستدّ على القولين المذكورين صرفُ قيمة عبد إلى حقه فإنا نتبيّن على الوقف أو نحكم على تحقق أن عبداً من العبيد قُتل ملكاً للموصى له

Menurut salah satu pendapat, perkara ini bergantung pada penerimaan; jika diterima, maka jelaslah bahwa kepemilikan itu bersandar pada wafatnya orang yang berwasiat. Namun jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut, maka jelaslah bahwa kepemilikan itu sama sekali tidak ada. Permasalahan kita diasumsikan terjadi ketika para budak dibunuh dan penerima wasiat menerima wasiat tersebut setelah mereka dibunuh. Maka, menurut kedua pendapat yang telah disebutkan, nilai seorang budak dialihkan kepada haknya; sebab kita dapat memastikan berdasarkan penangguhan atau menetapkan bahwa salah satu budak yang terbunuh itu adalah milik penerima wasiat.

وفي أصل المسألة قولٌ ثالث وهو أن الملك يحصل للموصى له بالقبول فعلى هذا يقع قبوله بعد فوات رقاب المماليك والوصية بواحدٍ منهم فقد يُشْكل ورود الملك على قيمة عبد ابتداء ولكن أطلق الأصحاب ما حكيته والممكن منه أنا وإن حكمنا بأن الملك يحصل بالقبول فللموصى له حق في الموصى به قبل القبول

Dalam pokok permasalahan ini terdapat pendapat ketiga, yaitu bahwa kepemilikan diperoleh oleh penerima wasiat dengan adanya penerimaan. Berdasarkan pendapat ini, penerimaan terjadi setelah para budak yang dimaksud telah tiada, dan jika wasiat itu ditujukan kepada salah satu dari mereka, maka mungkin timbul kesulitan mengenai masuknya kepemilikan atas nilai seorang budak sejak awal. Namun para ulama telah menyatakan secara umum sebagaimana yang telah saya sebutkan, dan yang mungkin dari hal ini adalah bahwa meskipun kita memutuskan bahwa kepemilikan diperoleh dengan penerimaan, penerima wasiat tetap memiliki hak atas barang yang diwasiatkan sebelum adanya penerimaan.

وآية ذلك أنه يستبد بتملكه ولا يقدر أحد على إبطال هذا الحق عليه وليس كحق القبول في البيع والهبة بعد الإيجاب من الموجِب فإن الموجِب لو أراد بعد التلفظ بالإيجاب أن يُبطل إمكان القبول تُصوِّر ذلك منه ولا يتصور من الورثة قطع حق القبول فخرج منه أنا وإن حكمنا بأن القبول يستعقب الملك فلسنا ننكر ثبوت حق الموصى له قبل القبول فالحقوق اللازمة الماليّة إذا تعلقت بأعيانٍ  لم يمتنع انتقالُها من الأعيان إلى أبدالها كحق الموصى له  فهذا هو الممكن

Buktinya adalah bahwa ia berhak secara penuh atas kepemilikannya dan tidak ada seorang pun yang dapat membatalkan hak ini darinya. Hal ini berbeda dengan hak menerima dalam jual beli atau hibah setelah adanya ijab dari pihak yang menawarkan, karena jika pihak yang menawarkan ingin membatalkan kemungkinan penerimaan setelah mengucapkan ijab, hal itu masih dapat dilakukan olehnya. Namun, para ahli waris tidak dapat memutuskan hak penerimaan tersebut. Oleh karena itu, meskipun kami menetapkan bahwa penerimaan menyebabkan kepemilikan, kami tidak menolak adanya hak bagi penerima wasiat sebelum ia menerima. Hak-hak keuangan yang bersifat wajib, jika terkait dengan suatu benda tertentu, tidak terhalang untuk berpindah dari benda tersebut kepada penggantinya, seperti hak penerima wasiat. Inilah yang mungkin terjadi.

ولا يبعد عن القياس أن يقال: إذا حكمنا بأن القبول يستعقب الملك تسقط الوصية و تفوت بفوات الأعيان قبل القبول وهذا ابتداء احتمال من طريق النظر ولم يصر إليه أحد من الأصحاب فلا اعتداد به

Tidak jauh dari qiyās jika dikatakan: apabila kita memutuskan bahwa penerimaan menyebabkan kepemilikan, maka wasiat gugur dan batal dengan hilangnya barang sebelum penerimaan. Ini hanyalah kemungkinan awal dari segi penalaran, dan tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang berpendapat demikian, maka tidak dianggap.

ولو قتل العبيد بعد موت الموصي وقبل القبول إلا واحداً منهم فالذي ذكره أئمتنا في الطرق أن للورثة أن يصرفوا الوصية إلى قيمة قتيلٍ  كما لو قتلوا بأجمعهم ولهم إخراج العبد الباقي

Jika para budak itu dibunuh setelah wafatnya orang yang berwasiat dan sebelum penerimaan wasiat kecuali satu dari mereka, maka yang disebutkan oleh para imam kami dalam berbagai referensi adalah bahwa para ahli waris boleh mengalihkan wasiat tersebut kepada nilai budak yang terbunuh, sebagaimana jika semuanya terbunuh, dan mereka juga berhak mengeluarkan budak yang masih tersisa.

ووجه ما قالوه أن القتلى بمثابة الأحياء في بقاء الوصية إذ لو قتلوا لكانت الوصية قائمة فبقيت خِيرَةُ الورثة ولا فرق بين الحي الباقي وبين القتلى

Dasar pendapat mereka adalah bahwa orang-orang yang terbunuh dipandang seperti orang-orang yang masih hidup dalam hal tetapnya wasiat; sebab jika mereka terbunuh, wasiat itu tetap berlaku, sehingga pilihan tetap berada di tangan para ahli waris, dan tidak ada perbedaan antara yang masih hidup dan yang terbunuh.

وقطع العراقيون قولهم بأنه يتعين على الوارث تسليم العبد الباقي وإن كان لو قتلوا جميعاً لعيَّنُوا أيَّةَ قيمةٍ شاؤوا واعتلّوا بأن قالوا: الأصل في الوصية إخراج رأسٍ من الرقيق فما دام ذلك ممكناً فالوفاء بحق الوصية إخراج رقيق فإن فاتوا من عند آخرهم أقمنا الأبدال لتعلق الوصية بالأعيان مقام الأعيان

Para ulama Irak menegaskan pendapat mereka bahwa ahli waris wajib menyerahkan budak yang masih ada, meskipun jika semua budak itu telah mati, mereka boleh menentukan nilai mana saja yang mereka kehendaki. Mereka beralasan dengan mengatakan: pada dasarnya wasiat itu adalah mengeluarkan satu kepala dari budak, maka selama hal itu masih memungkinkan, pemenuhan hak wasiat adalah dengan mengeluarkan budak. Jika semua budak telah tiada, maka pengganti didatangkan karena wasiat itu berkaitan dengan benda tertentu, sehingga pengganti menempati posisi benda tersebut.

وهذا الذي ذكروه فقيه متجه وما ذكره أصحابنا المراوزة ممكن غيرُ بعيد

Apa yang mereka sebutkan adalah pendapat fiqh yang dapat diterima, dan apa yang disebutkan oleh para ulama kami dari Marw juga memungkinkan dan tidak jauh dari kebenaran.

ولو أوصى بعبد معيَّنٍ لإنسانٍ فقُتل ذلك العبد قبل موت الموصي قَتْلَ ضمان فقد فاتت الوصية بفوات العبد ولا تعويل على القيمة فإنه لم يوص بالقيمة ولما قتل العبد لم يقع مثلُه في وقتٍ ثبت فيه ملكُ الموصى له أو حق تملكه

Jika seseorang berwasiatkan seorang budak tertentu kepada seseorang, lalu budak tersebut terbunuh sebelum wafatnya orang yang berwasiat, terbunuh dengan pembunuhan yang mengharuskan ganti rugi, maka wasiat tersebut batal karena budak itu telah tiada. Tidak dapat dijadikan sandaran pada nilai (ganti rugi) karena ia tidak berwasiat atas nilai tersebut. Ketika budak itu terbunuh, tidak ada yang serupa dengannya pada waktu di mana kepemilikan penerima wasiat atau hak untuk memilikinya telah tetap.

فلو قتل بعد موت الموصي وقبل القبول فإذا قبل الموصى له كانت القيمة له وهذا خارج على ما قدمناه من قول الأصحاب

Jika ia membunuh setelah wafatnya orang yang berwasiat dan sebelum penerimaan wasiat, maka apabila penerima wasiat menerima wasiat tersebut, nilai (harta) itu menjadi miliknya. Ini merupakan pengecualian dari pendapat para ulama yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وقد نجز الغرض في الفصل المفروض فيه إذا قال: أعطوه رأساً من رقيقي وتبين أن شرط هذه الوصية أن يخلّف أرقاء أو رقيقاً كما بينا ذلك مفصلاً

Tujuan dalam bab yang dimaksud telah tercapai apabila ia berkata: “Berikanlah satu budak dari budak-budakku,” dan telah jelas bahwa syarat wasiat ini adalah ia harus meninggalkan budak-budak atau seorang budak, sebagaimana telah kami jelaskan secara rinci.

فلو قال: أوصيت لفلان بعبد من مالي أو قال: أعطوا فلاناً رقيقاً من مالي فلا يشترط في صحة هذه الوصية أن يخلف مملوكاً ولكن لو لم يخلف مملوكاً أصلاً اشترينا من الثلث مملوكاً وصرفناه إلى جهة الوصية

Jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan untuk si Fulan seorang budak dari hartaku” atau berkata: “Berikanlah kepada si Fulan seorang budak dari hartaku,” maka tidak disyaratkan untuk sahnya wasiat ini bahwa ia harus meninggalkan budak sebagai warisan. Namun, jika ia sama sekali tidak meninggalkan budak, maka kita membeli seorang budak dari sepertiga harta peninggalannya dan memberikannya sesuai dengan tujuan wasiat tersebut.

ولو خلف مملوكاً أو مماليك ولفظ وصيته: أعطوا فلاناً عبداً من مالي فلو أراد الورثة أن يشتروا عبداً ويسلموه إلى الموصى له فالذي صار إليه المحققون أن لهم ذلك ولا يتعين عليهم إخراج عبد من عبيد التركة فإنهم لو لم يكونوا لاستقلت الوصية في مكان تحصيل العبد من المال فلا أثر لوجود العبيد ولعدمهم

Jika seseorang meninggalkan seorang budak atau beberapa budak, dan redaksi wasiatnya adalah: “Berikanlah kepada si Fulan seorang budak dari hartaku,” lalu para ahli waris ingin membeli seorang budak dan menyerahkannya kepada penerima wasiat, maka menurut para ahli yang meneliti masalah ini, mereka boleh melakukan hal itu dan tidak wajib bagi mereka untuk memberikan salah satu budak dari budak-budak warisan. Sebab, jika memang tidak ada budak, wasiat tersebut tetap berlaku dengan cara memperoleh budak dari harta peninggalan, sehingga keberadaan atau ketiadaan budak tidak berpengaruh.

ورأيت في بعض التصانيف رمزاً إلى أنه يتعين تسليم عبد من الموجودين إذا كانوا في التركة فإن لم يكونوا فتحمل الوصية حينئذ على تحصيل العبد من التركة

Saya melihat dalam beberapa karya tulis ada isyarat bahwa wajib menyerahkan seorang budak dari budak-budak yang ada jika mereka termasuk dalam harta warisan; jika tidak ada, maka wasiat tersebut harus ditafsirkan sebagai kewajiban memperoleh budak dari harta warisan.

وهذا غير معتد به ولا سبيل إلى عد مثله من المذهب

Hal ini tidak dapat diperhitungkan dan tidak mungkin dianggap sebagai bagian dari mazhab.

فصل

Bab

قال: ولو قال: شاةً من مالي إلى آخره

Ia berkata: Dan jika seseorang berkata: “Seekor kambing dari hartaku,” dan seterusnya.

إذا أوصى بشاةٍ من ماله فالمذهب الذي عليه التعويل أن اسم الشاة ينطلق على الذكر والأنثى فلو أخرج كبشاً أو تيساً أجزأه فإن الهاء في الشاة ليست هاء التأنيث وإنما هي هاء التوحيد فيما يتميز الواحد فيه عن الجمع بالهاء على قياس التمر والتمرة والجوز والجوزة فقولك شاة أصله شاهة ويتبين ذلك بقولك في التصغير شويهة والتصغير يرد المحذوف إلى أصله

Jika seseorang berwasiat seekor kambing dari hartanya, maka mazhab yang dijadikan sandaran adalah bahwa nama “syāh” mencakup jantan dan betina. Maka jika ia mengeluarkan seekor domba jantan atau kambing jantan, itu sudah mencukupi. Sebab huruf “h” pada kata “syāh” bukanlah huruf ta’ marbūṭah yang menunjukkan perempuan, melainkan huruf yang menunjukkan satuan, sebagaimana pada kata “tamr” dan “tamrah”, “jauz” dan “jauzah”. Maka ucapanmu “syāh” asalnya adalah “syāhah”, dan hal ini tampak jelas ketika kata itu dikecilkan menjadi “syuwaihah”, karena bentuk tashghīr (pengecilan) mengembalikan huruf yang dihilangkan ke asalnya.

هذا هو المذهب

Inilah mazhabnya.

وأبعد بعض أصحابنا فحمل الشاة على الأنثى ثم لا خلاف أن الضانية والماعزة مندرجان تحت الشاة فيجوز للوارث أن يخرج من أي نوع شاء ولو أخرج سخلة فظاهر النص أنها تجزئه وهو الذي قطع به صاحب التقريب وأئمة العراق ومعظم المراوزة

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat berbeda, mereka mengkhususkan kata “syāh” pada betina. Kemudian tidak ada perbedaan pendapat bahwa dho’n (domba betina) dan ma‘izah (kambing betina) termasuk dalam cakupan “syāh”, sehingga pewaris boleh mengeluarkan dari jenis mana saja yang dia kehendaki. Jika dia mengeluarkan anak kambing, maka menurut zahir nash, itu sudah mencukupi, dan inilah yang ditegaskan oleh penulis at-Taqrīb, para imam Irak, dan mayoritas ulama Marw.

وذكر الشيخ أبو بكر في مجموعه في طريقة القفال في روايةٍ أن السخلة لا تجزىء فإن اسم الشاة لا يتناولها كما أن اسم الرجل والمرأة لا يتناولان الطفل

Syekh Abu Bakar menyebutkan dalam kitab Majmū‘-nya, dalam metode al-Qaffāl pada suatu riwayat, bahwa anak kambing tidak mencukupi (untuk kurban), karena nama “domba” (syāh) tidak mencakupnya, sebagaimana nama “laki-laki” dan “perempuan” tidak mencakup anak kecil.

ثم قال الشافعي رضي الله عنه في الوصية بالشاة: لو أخرج الوارث صغيرة أجزأت فحمل الشيخ أبو بكر الصغيرة على جذعةٍ من الضأن صغيرة الجثة وهذا الذي ذكره وإن كان له اتجاه على حالٍ فهو خلاف ما صرح به الأصحاب أجمعون في طريقهم فإنهم متفقون على إجزاء السخلة وذلك أن اسم الشاة يتناول في اللسان ما يعد من جنس الغنم والسخالُ من جنس الغنم ويكمل بها نصاب الجذاع والثنايا في الزكاة فلا اغترار بما ذكره الصيدلاني والتعويل على الجنس كما ذكرناه  ثم إن جرى جارٍ على ما رآه اعتُرِض له بالجذعة من المعز فإنها غيرُ مجزئة في الضحايا والظاهر أنها مقبولة في الوصية بالشاة فإنها منزلة على مرتبة السخال والجذاع والله أعلم

Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata dalam masalah wasiat dengan seekor kambing: Jika ahli waris mengeluarkan kambing yang masih kecil, maka itu sudah mencukupi. Syaikh Abu Bakar menafsirkan kambing kecil itu sebagai kambing domba muda yang kecil tubuhnya. Apa yang beliau sebutkan ini, meskipun ada arah pendapatnya dalam suatu keadaan, namun bertentangan dengan apa yang telah ditegaskan oleh seluruh para sahabat (ulama Syafi‘iyah) dalam kitab-kitab mereka, karena mereka sepakat bahwa anak kambing (sakhla) sudah mencukupi. Hal ini karena istilah “kambing” dalam bahasa mencakup semua yang termasuk jenis domba, dan anak kambing termasuk jenis domba, serta dengannya genaplah nisab jaza‘ dan tsaniyya dalam zakat. Maka, tidak perlu terpengaruh dengan apa yang disebutkan oleh As-Saidalani, dan yang dijadikan pegangan adalah jenisnya sebagaimana telah kami sebutkan. Kemudian, jika ada yang mengikuti pendapat Syaikh Abu Bakar, maka akan dihadapkan pada masalah kambing kacang (jadz‘ah) dari jenis kambing biasa, karena itu tidak mencukupi dalam hewan kurban, namun tampaknya diterima dalam wasiat dengan seekor kambing, karena ia setara dengan anak kambing dan kambing muda. Allah Maha Mengetahui.

والكلام في الفرق بين أن يقول: شاة من غنمي أو شاة من مالي والكلام في موت الشياه وقتلها والفرق بين قتل جميعها وبقاء بعضها كما ذكرناه في الأرقاء فلا معنى لإعادة ما تقدم وإنما نذكر في كل فصل ما يتجدد فيه والقول في المعيبة والسليمة كما سبق

Pembahasan mengenai perbedaan antara ucapan: seekor kambing dari kambingku atau seekor kambing dari hartaku, serta pembahasan tentang kematian kambing-kambing tersebut dan pembunuhannya, juga perbedaan antara membunuh semuanya dan menyisakan sebagian sebagaimana telah kami sebutkan pada pembahasan tentang budak, maka tidak ada gunanya mengulangi apa yang telah lalu, melainkan kami hanya akan menyebutkan pada setiap bagian apa yang ada pembaruan di dalamnya, dan pembahasan tentang kambing yang cacat dan yang sehat sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو أوصى لإنسان ببعيرٍ فالنص أنه محمول على الذكر لا تجزىء الناقة فيه

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan seekor unta, maka menurut nash wasiat tersebut dianggap berlaku untuk unta jantan, dan unta betina tidak dapat menggantikannya.

وقد ذهب طوائف من أئمتنا إلى أن الناقة مقبولةٌ فكان هذا منهم قولاً مخرَّجاً وهو موافقٌ للغة فإن من كلام أئمة اللسان أن البعير من الإبل كالإنسان يتناول الذكر والأنثى والجمل كالرجل والناقة كالمرأة هذا وضع اللسان

Sebagian kelompok dari para imam kami berpendapat bahwa kata “nāqah” dapat diterima, sehingga pendapat ini merupakan pendapat yang diistimbatkan, dan hal ini sesuai dengan bahasa, karena menurut para ahli bahasa, kata “ba‘īr” dari unta itu seperti kata “insān” yang mencakup laki-laki dan perempuan, sedangkan “jamal” seperti laki-laki dan “nāqah” seperti perempuan; demikianlah ketentuan dalam bahasa.

وما ذكره الشيخ أبو بكر في أن السخلة لا تجزىء عن الشاة الموصى بها على الإطلاق يظهر في البعير فإنه قد يبعد حمله على فصيلٍ وحُوارٍ ومن قبل السخال في الغنم طرَدَ مذهبَه في الفُصلان ولم يُناقَض

Apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Bakar bahwa anak kambing tidak mencukupi sebagai pengganti kambing yang diwasiatkan secara mutlak, tampak jelas pada unta, karena mungkin jauh jika unta itu digantikan dengan anak unta atau huwar. Dan sebagaimana beliau menerima anak kambing pada kambing, beliau juga menerapkan pendapatnya pada anak unta, dan tidak terjadi kontradiksi.

ثم قد ذكرنا أن مذهب جماهير الأصحاب أن الشاة مترددة بين الذكر والأنثى والهاء للتوحيد وما يخالف هذا بعيدٌ

Kemudian telah kami sebutkan bahwa pendapat mayoritas para sahabat adalah bahwa kambing itu bisa jantan maupun betina, dan huruf “hā’” digunakan untuk penyeragaman, sedangkan pendapat yang berbeda dari ini adalah pendapat yang lemah.

واشتهر خلاف الأصحاب في الوصية بالبقرة والبغلة فذهب بعضهم إلى أن البقرة محمولة على الأنثى وكذلك البغلة وذهب آخرون إلى أنها مترددة بين الذكر والأنثى تردد الشاة ورأيت الطرق متفقةً على أن الكلب محمولٌ على الذكر من جنسه لا غير

Terkenal adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai wasiat dengan menyebutkan sapi betina dan bagal. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa sapi betina dimaknai sebagai hewan betina, demikian pula bagal. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa keduanya bisa berarti jantan maupun betina, sebagaimana halnya kambing. Aku melihat bahwa pendapat-pendapat tersebut sepakat bahwa anjing dimaknai sebagai jantan dari jenisnya saja, tidak yang lain.

وهذه الفصول المتداخلة تقتضي ترتيباً فنقول:

Bab-bab yang saling berkaitan ini memerlukan suatu penataan, maka kami katakan:

ما لا يتخيل فيه التأنيث ويجري في قبيله تمييز الواحد عن الجمع بالهاء فالمذكور بالهاء واحدٌ من الجنس وهذا كالجوزة والتمرة واللوزة والشجرة والنخلة ولا تعويل على ما يُذْكر في النخيل من الذكور والإناث والجنس الذي تتحقق فيه الذكورة والأنوثة من جهة الخلقة ينقسم فمنه ما يتميز فيه الذكر عن الأنثى بالهاء مع اتحاد البناء وهذا بمثابة الكلب والكلبة والحمار والحمارة فالاسم المذكور مع الهاء الأنثى ومن غير هاءٍ للذكور وعليه يخرّج قول الأصحاب في حمل الوصية بالكلب على الذكر وإن خطر لإنسانٍ فيه إشكال فسببه ردّ الاسم إلى العجمية وليس في لغة العجم فرق بين الذكر والأنثى

Apa yang tidak terbayangkan adanya bentuk feminin padanya, dan dalam kelompok katanya pembedaan antara tunggal dan jamak dilakukan dengan huruf “hā’”, maka yang disebut dengan “hā’” adalah satu dari jenis tersebut. Contohnya seperti jōzah (biji kenari), tamrah (kurma), lawzah (kacang almond), syajarah (pohon), dan nakhlah (pohon kurma). Tidak perlu memperhatikan apa yang disebutkan pada nakhil (kumpulan pohon kurma) tentang jantan dan betina. Adapun jenis yang secara penciptaan memang terdapat sifat jantan dan betina, maka terbagi: di antaranya ada yang pembedaan antara jantan dan betina dilakukan dengan huruf “hā’” dengan bentuk kata yang sama, seperti kalb (anjing jantan) dan kalbah (anjing betina), ḥimār (keledai jantan) dan ḥimārah (keledai betina). Maka nama yang disebut dengan “hā’” adalah untuk betina, dan tanpa “hā’” untuk jantan. Berdasarkan hal ini, pendapat para ulama dalam membawa wasiat tentang “kalb” kepada yang jantan dapat dijelaskan. Jika seseorang merasa ada kerancuan dalam hal ini, sebabnya adalah karena mengembalikan nama tersebut kepada bahasa asing, sedangkan dalam bahasa asing tidak ada perbedaan antara jantan dan betina.

فأما ما لم يثبت في اللسان فيه فرق بين الذكر والأنثى بالهاء ثبوتاً متحققاً منقولاً ففيه اختلاف الأصحاب وهذا ينقسم: فمنه ما غلب منه إرادة التوحيد حتى لا يكاد العرب تفهم منه التأنيث وهو كالشاة وفيه ما لا يبعد فهم التأنيث منه وهو كالبقرة والبغلة فظهر الخلاف في البقرة والبغلة للتردد بين التوحيد والأنوثة وبُعد الخلاف في الشاة

Adapun untuk kata-kata yang dalam bahasa Arab tidak terbukti secara pasti dan riwayat ada perbedaan antara bentuk laki-laki dan perempuan dengan tambahan huruf “hā’”, maka para ulama berbeda pendapat. Hal ini terbagi menjadi dua: di antaranya ada kata yang lebih dominan makna tunggalnya sehingga hampir-hampir orang Arab tidak memahami makna perempuan darinya, seperti kata “syāh” (domba), dan ada pula kata yang tidak jauh kemungkinan dipahami sebagai perempuan, seperti “baqarah” (sapi betina) dan “baghlah” (bagal betina). Maka tampaklah perbedaan pendapat pada kata “baqarah” dan “baghlah” karena adanya keraguan antara makna tunggal dan makna perempuan, sedangkan perbedaan pendapat pada kata “syāh” sangat kecil kemungkinannya.

فهذا ما يجب ضبطه في هذه المسائل

Inilah hal-hal yang wajib diperhatikan dalam masalah-masalah ini.

ولو أوصى لإنسانٍ بدابةٍ فاسم الدابة في اللسان ينطبق على ثلاثة أجناس: الخيل والبغال والحمير ولا يندرج تحتها الإبل وإن كانت مركوبة  وهذا متفق عليه ومعناه في اللسان واضحٌ لا إشكال فيه

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan seekor dābbah, maka istilah dābbah dalam bahasa mencakup tiga jenis: kuda, bagal, dan keledai, dan tidak termasuk unta meskipun unta juga bisa ditunggangi. Hal ini telah menjadi kesepakatan dan maknanya dalam bahasa jelas tanpa ada keraguan di dalamnya.

ثم تردد أئمتنا في لفظ الدابة إذا جرت في مصر وقد قيل: إن أهلها لا يفهمون منه إلا الحمار فلو فرضت بلدة لا يفهم أهلها من الدابة إلا الفَرَس نفرض الكلامَ على ما يتحمل اللفظ على موجب اللسان ليتردّد بين الأجناس الثلاثة : الخيل والبغال والحمير أو يُحمل اللفظ على موجب عرف المكان فيه تردد للأصحاب: فمنهم من لم يبال بالعرف لظهور معنى اللسان ومنهم من حمل اللفظ على موجب عرف المكان فإن العرف قرينة الألفاظ

Kemudian para imam kami berselisih pendapat mengenai lafaz “dabbah” (hewan tunggangan) jika digunakan di suatu kota. Telah dikatakan bahwa penduduknya tidak memahami makna lafaz itu kecuali sebagai keledai. Jika kita andaikan ada suatu negeri yang penduduknya tidak memahami makna “dabbah” kecuali sebagai kuda, maka kita mengandaikan makna pembicaraan sesuai dengan apa yang dapat ditanggung oleh lafaz itu menurut bahasa, sehingga maknanya bisa mencakup tiga jenis hewan: kuda, bagal, dan keledai. Atau lafaz itu dibawa kepada makna menurut kebiasaan (‘urf) setempat. Dalam hal ini, para sahabat (ulama) berbeda pendapat: di antara mereka ada yang tidak memperhatikan ‘urf karena jelasnya makna menurut bahasa, dan di antara mereka ada yang membawa lafaz itu kepada makna menurut ‘urf setempat, karena ‘urf merupakan penjelas bagi makna lafaz.

ويتصل بهذا الفصل أن ألفاظ العقود في النقود قد تحمل على الدراهم المغشوشة إذا كانت بيّنة العيار جاريةً في المعاملات وقد ذكرنا أن الإقرار بالدراهم محمول على المطبوع من النقرة وذكرت وجه ذلك على ما ينبغي ولم أر للأصحاب في الوصية بالدراهم شيئاً ووجدت صَغْوَهم الأظهرَ إلى تنزيل ألفاظ الوصايا منزلة ألفاظ المقرّين  ولكن لا يبعد عن الاحتمال عندي صرف الوصية بالدراهم إلى الدراهم الجارية في المعاملات والظاهر إجراء الوصية مجرى الإقرار والعلم عند الله تعالى

Terkait dengan bab ini, bahwa lafaz-lafaz akad dalam hal uang dapat dimaknai sebagai dirham yang bercampur jika telah jelas kadar campurannya dan telah berlaku dalam transaksi. Kami telah menyebutkan bahwa pengakuan atas dirham dimaknai sebagai dirham yang dicetak dari logam murni, dan telah aku jelaskan alasannya sebagaimana mestinya. Aku tidak menemukan pendapat para ulama mengenai wasiat dengan dirham, namun aku dapati kecenderungan mereka yang lebih kuat adalah menyamakan lafaz-lafaz wasiat dengan lafaz-lafaz orang yang mengakui (hutang). Namun menurutku, tidak mustahil kemungkinan wasiat dengan dirham diarahkan kepada dirham yang berlaku dalam transaksi. Yang tampak, wasiat diperlakukan seperti pengakuan, dan ilmu yang sebenarnya hanya milik Allah Ta‘ala.

وتمام القول في حمل الألفاظ على العرف يأتي في كتاب الأَيمان إن شاء الله عز وجل

Pembahasan lengkap mengenai penggunaan lafaz berdasarkan ‘urf akan dijelaskan dalam Kitab al-Aiman, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

قال: ولو قال: أعطوه كلباً من كلابي إلى آخره

Ia berkata: Dan jika ia berkata, “Berikanlah seekor anjing dari anjing-anjingku,” dan seterusnya.

الوصية بالكلب الذي يجوز اقتناؤه صحيحة والكلب الذي لا يُقتنى لا تصح الوصية به وقد فصلنا في كتاب البيع ما يصح اقتناؤه وما لا يحل اقتناؤه وذكرنا تفصيلاً في الجرو الذي ينتفع به إذا كبر

Wasiat terhadap anjing yang boleh dipelihara adalah sah, sedangkan anjing yang tidak boleh dipelihara maka wasiat terhadapnya tidak sah. Kami telah merinci dalam Kitab al-Bay‘ apa saja yang boleh dipelihara dan apa saja yang tidak boleh dipelihara, serta kami telah menyebutkan secara rinci tentang anak anjing yang dapat diambil manfaatnya ketika sudah besar.

والقدر الذي يُكتفى به هاهنا ما ذكرناه من الرجوع إلى جواز الاقتناء وعماد جواز الاقتناء الانتفاع المشروع ثم البيع وإن كان ممتنعاً فالوصية جائزة فإن البيع يستدعي الملكَ المطلقَ التامّ والوصية لا تقتضي ذلك بل أقرب معتبر فيها الوراثة فكل ما يتعلق به حقُّ الإرث تتعلق الوصية به إذا انتفع الموصى له انتفاع الوارث

Dan kadar yang cukup di sini adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu kembali kepada kebolehan memiliki, dan dasar kebolehan memiliki adalah pemanfaatan yang dibenarkan secara syar‘i. Kemudian, meskipun penjualan tidak diperbolehkan, wasiat tetap sah, karena penjualan mensyaratkan kepemilikan yang mutlak dan sempurna, sedangkan wasiat tidak menuntut hal itu. Bahkan, yang paling dekat dijadikan pertimbangan dalam wasiat adalah warisan. Maka, segala sesuatu yang berkaitan dengan hak waris, wasiat pun berkaitan dengannya jika penerima wasiat dapat mengambil manfaat sebagaimana ahli waris.

وهذا فيه احتراز عن القصاص وحدّ القذف  فإن الوارث ينتفع به من جهة شفاء الغليل وهذا لا يحصل للموصى له والوارث يخلف الموروث في الانتفاع بالكلب المنتفع به والموصى له بمثابة الوارث وهذا يجري مطرداً في الأعيان النجسة التي يجوز الانتفاع بها كالزبل والخمرة المحترمة والجلدِ القابلِ للدباغ قبل الدباغ فالوصية جائزة بهذه الأشياء تعويلاً على تعلق استحقاق الوراثة بها مع التقييد الذي قدمناه

Hal ini merupakan bentuk kehati-hatian terhadap kasus qishāsh dan had qazaf, karena ahli waris mendapatkan manfaat darinya berupa terobatinya rasa sakit hati, sedangkan penerima wasiat tidak mendapatkan hal itu. Ahli waris menggantikan posisi pewaris dalam memanfaatkan anjing yang boleh dimanfaatkan, dan penerima wasiat diperlakukan seperti ahli waris. Hal ini berlaku secara konsisten pada benda-benda najis yang boleh dimanfaatkan, seperti pupuk kandang, khamr yang dihormati, dan kulit yang dapat disamak sebelum disamak. Maka wasiat dengan benda-benda tersebut dibolehkan, berdasarkan keterkaitan hak waris terhadapnya, dengan pembatasan yang telah kami sebutkan sebelumnya.

ثم إن قال: أوصيت لفلان بكلب من كلابي وله كلاب فالوصية نافذة

Kemudian jika ia berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan seekor anjing dari anjing-anjingku,” sementara ia memiliki beberapa anjing, maka wasiat tersebut tetap berlaku.

ولو قال: أوصيت لفلان بكلبٍ من مالي ولم يكن له كلاب فالوصية باطلة فإن سبيل تقدير صحة الوصية ابتياع كلبٍ وتسليمه إلى الموصى له وهذا لا سبيل إليه فبطلت الوصية

Jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan seekor anjing dari hartaku untuk si Fulan,” padahal ia tidak memiliki anjing, maka wasiat tersebut batal. Sebab, cara untuk memperkirakan sahnya wasiat adalah dengan membeli seekor anjing dan menyerahkannya kepada penerima wasiat, dan hal ini tidak mungkin dilakukan, maka wasiat tersebut batal.

ومما يتعلق بمقصود الفصل كيفية اعتبار خروج الكلب من الثلث: قال الأئمة: إن كان له مال سوى الكلب فالكلب خارج وإن كان لا يملك إلا دانقاً ولم يخلف على ورثته غيرَ ذلك الدانق  وعللوا بأن ما خلّفه من المال وإن قل قدرُه فهو أعلى قدراً من الكلاب فإنها لو قُتلت لم تُضمن ولا يصح بيعها

Terkait dengan maksud dari bab ini adalah bagaimana memperhitungkan keluarnya anjing dari sepertiga harta: Para imam berkata, jika seseorang memiliki harta selain anjing, maka anjing tersebut tidak termasuk dalam sepertiga harta. Namun jika ia tidak memiliki apa-apa selain satu dirham kecil (danq) dan tidak meninggalkan apa pun kepada ahli warisnya selain danq tersebut, mereka beralasan bahwa harta yang ditinggalkan, meskipun sedikit nilainya, tetap lebih tinggi derajatnya daripada anjing. Sebab, jika anjing itu dibunuh, tidak ada kewajiban ganti rugi, dan penjualannya pun tidak sah.

وعلى هذا لو أوصى بكلابه وخلف درهماً أو أقلَّ فالكلاب بجملتها مسلمةٌ والوصية بها نافذةٌ

Dengan demikian, jika seseorang berwasiat untuk seluruh anjingnya dan meninggalkan satu dirham atau kurang, maka seluruh anjing itu diserahkan, dan wasiat tersebut sah berlaku.

وذكر العراقيون هذا المسلك وحكَوْا وجهاً آخر معه وهو أنه لا أثر لوجود المال وعدمه في الوصية بالكلاب حتى لو كان في يده كلب وخفف مالاً جمّاً وقد أوصى بذلك الكلب فالوصية تقع بثلث الكلب وذلك أن الكلب ليس من قبيل الأموال وليست الأموال من جنس الكلاب  والثلث المعتبر من ثلاثة أجزاء فإذا لم يكن الكلب من جنس المال فعدُّه جزءاً من المال محال فلا أثر إذاً للمال كان أو لم يكن

Orang-orang Irak menyebutkan metode ini dan meriwayatkan pendapat lain bersamanya, yaitu bahwa keberadaan atau ketiadaan harta tidak berpengaruh dalam wasiat terhadap anjing. Bahkan jika seseorang memiliki seekor anjing dan memiliki harta yang sangat banyak, lalu ia mewasiatkan anjing tersebut, maka wasiat itu berlaku atas sepertiga anjing tersebut. Hal ini karena anjing bukan termasuk kategori harta, dan harta bukan dari jenis anjing. Sepertiga yang dimaksud adalah dari tiga bagian, maka jika anjing bukan dari jenis harta, menghitungnya sebagai bagian dari harta adalah mustahil. Maka tidak ada pengaruh apakah ada harta atau tidak.

وهذا الذي ذكروه بعيد لا أصل له

Apa yang mereka sebutkan itu jauh dari kebenaran dan tidak memiliki dasar.

وكل ما ذكرناه فيه إذا أوصى بكلب أو كلاب ومعه شيء من المال فأما إذا لم يكن له إلا الكلاب فأوصى بكلب منها فللأصحاب في المعتبر الذي إليه الرجوع في الخروج من الثلث أوجه: أحدها أن الاعتبار بالعدد لا غير إذ لا قيم لها فتعتبر

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika seseorang berwasiat tentang seekor anjing atau beberapa ekor anjing dan bersamanya ada sejumlah harta. Adapun jika ia tidak memiliki apa pun selain anjing-anjing, lalu ia berwasiat tentang salah satu anjing tersebut, maka para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai hal yang dijadikan acuan dalam menentukan bagian sepertiga yang boleh dikeluarkan: salah satunya adalah bahwa yang dijadikan acuan hanyalah jumlah (anjing) saja, karena anjing-anjing itu tidak memiliki nilai (harga), maka yang dipertimbangkan adalah jumlahnya.

ومن أصحابنا من قال: تعتبر قيمتها عند من يرى لها قيمة ومبنى الثلث على هذا التقدير

Sebagian dari ulama kami berpendapat: yang dijadikan acuan adalah nilai barang tersebut menurut orang yang memandangnya bernilai, dan dasar penetapan sepertiga didasarkan pada taksiran ini.

ومن أصحابنا من قال: مبنى الثلث على اعتبار منافعها وهذا قريب من اعتبار قيمتها فإن قيمتها لمكان منافعها

Sebagian ulama kami berpendapat: dasar penetapan sepertiga itu didasarkan pada pertimbangan manfaatnya, dan ini hampir sama dengan mempertimbangkan nilainya, karena nilai suatu barang itu ada karena manfaatnya.

هذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.

ومن تمامه أنه لو أوصى لإنسان بكلب أو خمر محترمة وأُهب لم تدبغ بعدُ فلا يمكننا اعتبار العدد في ذلك ولا يتجه إلا قيمتها لو كانت لها قيمة فإن منافعها لا تتجانس فتعتبر

Dan sebagai penyempurnaannya, jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan seekor anjing atau khamar yang masih dihormati, atau kulit yang belum disamak, maka kita tidak dapat mempertimbangkan jumlahnya dalam hal itu, dan yang dapat dipertimbangkan hanyalah nilainya jika memang memiliki nilai, karena manfaat-manfaatnya tidak sejenis sehingga dapat dipertimbangkan.

ومن أصحابنا من يقول: إذا أخلف كلاباً وأزقةً من الخمر المحترمة فتعتبر الأعداد وهذا بعيد

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Jika seseorang mewariskan anjing-anjing dan bejana-bejana yang berisi khamar yang dihormati, maka yang dipertimbangkan adalah jumlahnya. Namun, pendapat ini jauh (dari kebenaran).

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو قال: طبلاً من طبولي إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berkata, “Satu tabuh dari tabuh-tabuhku hingga selesai.”

الطبل له ثلاثة محامل: أحدها طبل العطارين  والثاني طبل الحرب وفي معناه طبل الحجيج والثالث طبل اللهو وهو الذي يضربه النسوة والمخنثون وهو المسمى الكوبة

Genderang memiliki tiga jenis: yang pertama adalah genderang para penjual minyak wangi, yang kedua adalah genderang perang dan dalam maknanya termasuk genderang para jamaah haji, dan yang ketiga adalah genderang hiburan, yaitu yang dimainkan oleh para wanita dan banci, yang disebut juga dengan kubah.

فأما طبل الحرب وطبل الحجيج وطبل العطارين فيجوز بيعها وتصح الوصية بها

Adapun genderang perang, genderang para jamaah haji, dan genderang para penjual minyak wangi, maka boleh diperjualbelikan dan sah diwasiatkan.

وأما طبل اللهو وهو الكوبة فمن آلات الملاهي وسبيله سبيل المعازف ثم الضبط فيها أنه إذا وجب تغييرها إلى حدٍّ يُسقط عنها الاسمَ المذكور فالبيع باطل فيها وفاقاً

Adapun rebana untuk hiburan, yaitu al-kubah, termasuk alat-alat hiburan dan hukumnya sama dengan alat-alat musik lainnya. Kemudian, ketentuannya adalah apabila perubahan yang dilakukan terhadapnya sampai pada batas yang menghilangkan nama tersebut darinya, maka jual belinya batal menurut kesepakatan.

فإن قيل: هلا صححتم البيع ونزلتموه على الأجزاء التي تبقى بعد التغيير فإن آلات المعازف لا تبطل بالكلّية ولكنها تغير وتفسد فيها الصيغة التي تتهيّأ لهو لأجلها ويبقى أجزاؤها ورُضَاضها وقد ذكرنا في الغصوب طرق الأصحاب في المنتهى الذي لا يتجاوز في الكسر والتغيير

Jika dikatakan: Mengapa kalian tidak mensahihkan jual beli tersebut dan menafsirkannya pada bagian-bagian yang masih tersisa setelah terjadi perubahan? Sebab alat-alat musik tidaklah rusak secara keseluruhan, melainkan hanya berubah dan rusak bentuknya yang semula dipersiapkan untuk hiburan, sedangkan bagian-bagiannya dan serpihannya masih tetap ada. Kami telah menyebutkan dalam pembahasan tentang barang-barang yang digasb (diambil secara paksa) pendapat-pendapat para ulama mengenai batas akhir yang tidak boleh dilampaui dalam hal pemecahan dan perubahan.

قلنا : البيع وإن كان سائغاً في الرضاض فلا يصح إيراده على آلة اللهو قبل الترضيض وهذا متفق عليه

Kami katakan: Jual beli memang diperbolehkan pada benda yang sudah menjadi radhādh (pecahan logam), namun tidak sah diterapkan pada alat-alat hiburan sebelum dihancurkan menjadi radhādh, dan hal ini telah menjadi kesepakatan.

والسبب فيه استحثاث الناس على الانكفاف عن التصرف في آلات الملاهي ولو جوزنا بيعها ثم حملناه على الأجزاء التي تبقى لكان هذا تنجيزَ تصرف فيما أمرنا باجتنابه والتباعدِ عن التصرف فيه  فنخرّج عليه أنه لو قال: بعتك هذا وأشار إلى كوبة أو بَرْبَط فالبيع باطل وإن لم يسم فإن تعليل البطلان ما ذكرناه من الانكفاف عن التصرف فيه رأساً

Penyebabnya adalah untuk mendorong orang agar menahan diri dari bertransaksi dengan alat-alat musik, meskipun kita membolehkan penjualannya kemudian kita batasi pada bagian-bagian yang masih tersisa, maka hal itu tetap merupakan pelaksanaan transaksi terhadap sesuatu yang kita diperintahkan untuk menjauhinya dan menghindari bertransaksi dengannya. Maka, dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berkata: “Aku jual kepadamu ini,” sambil menunjuk kepada sebuah gendang atau barbat, maka jual belinya batal, meskipun tidak disebutkan namanya. Sebab pembatalan tersebut adalah karena alasan yang telah kami sebutkan, yaitu menahan diri secara total dari bertransaksi dengannya.

ثم إذا بان فساد البيع فيها فالوصية بالآت الملاهي فاسدة أيضاً

Kemudian, jika telah jelas rusaknya akad jual beli pada barang-barang tersebut, maka wasiat dengan alat-alat permainan yang melalaikan juga batal.

فإن قيل: قد صححتم الوصية بالكلب وإن منعتم بيعه فهلا صححتم الوصية بآلات الملاهي حملاً على رُضاضها فإن الوصية تحتمل ما لا يحتمله البيع ولذلك صححنا الوصية بالكلب وإن لم نصحح بيعه

Jika dikatakan: Kalian telah membenarkan wasiat terhadap anjing meskipun kalian melarang penjualannya, maka mengapa kalian tidak membenarkan wasiat terhadap alat-alat musik dengan alasan dapat dimanfaatkan pecahannya? Sebab wasiat dapat mencakup hal-hal yang tidak dapat dicakup oleh jual beli, dan karena itulah kami membenarkan wasiat terhadap anjing meskipun kami tidak membenarkan penjualannya.

قلنا: حق من يبغي دَرْك حقائق المذهب ألا يتبع الألفاظ ويضرب عن المعاني فالمعنى الذي لأجله رددنا البيعَ هو المنع من تعاطي هذه الأشياء والجريان على شعار الدين في الانكفاف عن التصرف في هذه الأشياء وهذا المعنى يجري في الوصية جريانَه في البيع والدليل عليه أنا أخذنا الوصية من الوراثة وقلنا: ما يستحقه الوارث لا يمتنع الوصيةُ به ثم طبل اللهو لا يبقى في يد الوارث فإذا كان لا يبقى في يد الورثة فلا يصح الوصية به غيرَ أن الوارث لا يستحقه طبلاً ولو رُضّض  لكان الرضاض ملكَه إرثاً

Kami katakan: Sudah sepantasnya bagi siapa pun yang ingin memahami hakikat mazhab agar tidak hanya mengikuti lafaz semata dan mengabaikan makna. Makna yang menjadi alasan kami menolak jual beli adalah larangan untuk memperlakukan benda-benda tersebut dan berpegang pada syiar agama dalam menjauhi transaksi terhadap benda-benda itu. Makna ini berlaku pada wasiat sebagaimana berlakunya pada jual beli. Dalilnya adalah bahwa kami mengambil hukum wasiat dari warisan, dan kami katakan: Apa yang berhak didapatkan oleh ahli waris, maka tidak terlarang diwasiatkan dengannya. Namun, alat musik (seperti genderang untuk hiburan) tidak akan tetap berada di tangan ahli waris. Jika memang tidak akan tetap di tangan ahli waris, maka tidak sah diwasiatkan dengannya. Hanya saja, ahli waris tidak berhak memilikinya sebagai alat musik, namun jika alat itu dihancurkan, maka serpihannya menjadi milik ahli waris sebagai warisan.

وإذا أبطلنا الوصية بطبل اللهو لم نثبت للموصى له حقاً في رضاض الطبل ومُكَسَّره  فإن الوصية من العقود فإذا أُبطلت قُدّر كأنها لم تكن والإرث خلافة ضرورية ووضعُها يقتضي أن يكون الوارث كالموروث وقد كان الطبل مقرّاً على الموروث وملكُه مستمر في المكسّر المغيّر

Dan apabila kami membatalkan wasiat untuk bedug yang digunakan dalam hiburan, maka kami tidak menetapkan hak apa pun bagi penerima wasiat atas pecahan dan bagian-bagian bedug tersebut. Sebab, wasiat termasuk akad, sehingga jika dibatalkan, dianggap seolah-olah tidak pernah ada. Adapun warisan adalah penggantian yang bersifat niscaya, dan ketentuannya mengharuskan bahwa ahli waris menempati posisi pewaris. Bedug itu sebelumnya berada dalam penguasaan pewaris, dan kepemilikannya tetap berlaku atas bagian-bagian bedug yang telah pecah dan berubah bentuk.

ولو أوصى لإنسان بطبل لهو وكان يخرج عن صلاحية اللهو بتغييرٍ كما فصلناه في كتاب الغصوب واسم الطبل يبقى مع انتهاء التغيير المستحق نهايته فقد قال العلماء: تصح الوصية بالطبل على هذا الوجه فإن الاسم الذي اعتمد به الوصية يمكن تقريره وتنزيلُ الوصية عليه فصحت الوصية على هذا النسق واتفقت الطرق عليه

Dan jika seseorang berwasiat kepada orang lain dengan sebuah genderang yang biasa digunakan untuk hiburan, lalu genderang itu berubah sehingga tidak lagi layak digunakan untuk hiburan sebagaimana telah kami jelaskan dalam Kitab al-Ghushub, dan nama genderang itu tetap ada meskipun perubahan yang seharusnya terjadi telah selesai, maka para ulama berkata: Wasiat dengan genderang dalam kondisi seperti ini adalah sah, karena nama yang dijadikan dasar dalam wasiat itu masih dapat dipertahankan dan wasiat dapat diberlakukan atasnya, sehingga wasiat tersebut sah menurut pola ini dan seluruh pendapat sejalan dengannya.

ويجب على مقتضى ذلك القطع بتصحيح الوصية بمكسّر الطبل أو رُضاض العود فإنه جَعل موردَ العقد لفظاً مشعراً بمملوك محترم وكأنه قال: رضضوه وسلموا إليه رضاضه والوصية تقبل التعليق

Oleh karena itu, wajib memastikan keabsahan wasiat dengan pecahan rebana atau serpihan kayu, karena ia menjadikan objek akad secara lafaz sebagai sesuatu yang dimiliki dan dihormati. Seakan-akan ia berkata: “Pecahkanlah dan serahkan kepadanya serpihannya,” dan wasiat dapat menerima penggantungan.

ولو قال صاحب البَرْبَط : بعت منك رُضاض هذا لم يصح البيع فإن البيعَ لا يحتمل التعليق فقوله: بعتك رضاضه تقديره: إذا رُضّض فقد بعتك رُضاضه ثم ليس للترضيض منتهى يوقف عنده على ضبط

Jika pemilik barbat berkata: “Aku menjual kepadamu serpihan alat musik ini,” maka jual beli tersebut tidak sah, karena jual beli tidak dapat menerima penangguhan. Ucapannya, “Aku menjual kepadamu serpihannya,” maksudnya adalah: “Jika sudah menjadi serpihan, maka aku menjual serpihannya kepadamu.” Selain itu, proses penghancuran (menjadi serpihan) tidak memiliki batas akhir yang dapat dijadikan patokan secara pasti.

فإن قلنا: يكفي في تغيير البَرْبط نزعُ الأوتار منه فقال: بعتك هذا دون وتره أو محلولاً الوتر

Jika kita mengatakan: cukup dalam mengubah barbat dengan mencabut senarnya, lalu seseorang berkata: Aku menjual kepadamu alat ini tanpa senarnya atau dalam keadaan senarnya telah dilepas.

فهذا يقرب من بيع ذراعٍ من خشبة تُعنى للحطب والعلم عند الله

Ini hampir sama dengan menjual satu hasta dari sebatang kayu yang dimaksudkan untuk dijadikan kayu bakar, dan Allah-lah yang lebih mengetahui.

ولو باع إناء من فضة وكان اتخذ آلة من آلات الملاهي من الفضة فإذا باعه فهذا محتمل عندي فإن الصنعة وإن لم تكن محترمة في آلة اللهو وفرعنا على منع استصناع الآنية من التبرين فالمقصود الأعظم نفاسة الجوهر والصنعة تابعة وليس كذلك الآلات المتخذة من الجواهر الخسيسة كالخشب وغيرها فإن المقصود الأظهرَ منها الصنعةُ والرضاضُ بعد التكسير تابع غير مقصود فيجوز أن يكون النظر إلى المقصود في النوعين حتى يصحّ بيع الإناء وآلات الملاهي من التبرين

Jika seseorang menjual sebuah wadah dari perak, dan ia telah membuat alat dari alat-alat hiburan dari perak, maka jika ia menjualnya, hal ini menurut saya masih mungkin. Sebab, meskipun kerajinan tersebut tidak dihormati dalam alat hiburan dan kita berpendapat melarang pembuatan wadah dari dua batangan perak, tujuan utamanya adalah karena nilai tinggi dari bahan dasarnya, sedangkan kerajinan hanyalah sesuatu yang mengikuti. Tidak demikian halnya dengan alat-alat yang dibuat dari bahan-bahan yang tidak berharga seperti kayu dan selainnya, karena tujuan utamanya dari alat-alat tersebut adalah kerajinannya, sedangkan serpihan setelah dihancurkan hanyalah sesuatu yang mengikuti dan tidak menjadi tujuan. Maka boleh jadi yang menjadi pertimbangan adalah tujuan utama pada kedua jenis tersebut, sehingga sah menjual wadah dan alat-alat hiburan yang terbuat dari dua batangan perak.

ولا يجوز بيع آلات الملاهي من الخشب فإن عماد المقصود فيها الصنعة وهي مستحقة التغيير

Tidak diperbolehkan menjual alat-alat musik dari kayu, karena tujuan utamanya terletak pada pembuatannya, dan hal itu seharusnya diubah.

ويجوز أن يقال: لا يصح البيع في النوعين نظراً إلى الصنعة فإن ما يبقى من آلة الخشب متموّل وإن قل قدره

Boleh juga dikatakan: Jual beli pada dua jenis tersebut tidak sah jika dilihat dari segi pengerjaannya, karena sisa dari alat kayu masih bernilai harta meskipun jumlahnya sedikit.

فإذا ثبت ما ذكرناه قلنا بعده:

Jika telah tetap apa yang telah kami sebutkan, maka kami katakan setelahnya:

إذا أوصى بطبلٍ من طبوله وله طبولُ حرب وطبول لهوٍ فالوصيةُ محمولةٌ على طبل الحرب ثم للوارث أن يعيّن من طبول الحرب ما شاء

Jika seseorang berwasiat dengan salah satu dari genderangnya, sedangkan ia memiliki genderang perang dan genderang hiburan, maka wasiat tersebut diarahkan kepada genderang perang. Setelah itu, ahli waris berhak menentukan genderang perang mana yang dikehendaki.

ولو قال الوارث: لفظُ الطبل يتناول طبلَ اللهو وطبلَ الحرب والطبول موجودة في تركته فلست أحمل لفظه على طبول الحرب ليصحّ بل أحمله على طبل اللهو ليفسد فنقول له: إذا أوصى فقد أثبت والتزم فلا بد من إثبات وصيته ما وجدنا إلى الإثبات سبيلاً

Jika ahli waris berkata: “Lafaz ‘gendang’ mencakup gendang untuk hiburan dan gendang perang, dan gendang-gendang itu ada dalam harta peninggalannya. Maka aku tidak akan memaknai ucapannya sebagai gendang perang agar wasiatnya sah, tetapi aku memaknainya sebagai gendang hiburan agar wasiatnya batal.” Maka kami katakan kepadanya: Jika seseorang berwasiat, berarti ia telah menetapkan dan berkomitmen, maka wajib menetapkan wasiatnya selama kami menemukan jalan untuk menetapkannya.

فانتظم من هذا أن اللفظ إذا تردد بين محملين يصح في أحدهما ويفسد في الثاني فهو محمول على الوجه الذي يصح فيه  فإن الموصي أثبت للوصية لفظاً وقصد إثباته فلاح لنا من لفظه وقصده الإثبات فمِلنا إليه

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa apabila suatu lafaz memiliki kemungkinan makna antara dua penafsiran, yang salah satunya sah dan yang lainnya batal, maka lafaz tersebut dibawa kepada makna yang sah. Sebab, orang yang berwasiat telah menetapkan wasiat itu dengan lafaz dan bermaksud menetapkannya, sehingga dari lafaz dan maksudnya tampak keinginan untuk menetapkan, maka kita condong kepada makna tersebut.

ولو تردد لفظُ الموصي بين الكثرة والقلة حملناه على القلة فإن اللفظ مع القلة مستقل والوصية ثابتة ونحن على تردد في الزائد على حد القلة فلا يثبت ما ترددنا فيه

Jika lafaz wasiat yang diucapkan oleh pewasiat mengandung kemungkinan makna banyak atau sedikit, maka kita mengambil makna sedikit. Sebab, lafaz tersebut dengan makna sedikit sudah mencukupi dan wasiatnya tetap berlaku. Sementara itu, kita masih ragu terhadap kelebihan dari batas sedikit tersebut, sehingga apa yang masih kita ragukan tidak dapat ditetapkan.

هذا أصل المذهب

Ini adalah pokok ajaran mazhab.

وقال الأئمة: لو أوصى بعودٍ من عيدانه فاسم العود ينطلق على البَرْبط وعلى العود الذي هو خشب كالعصا وغيرها فاللفظ يحمل على العود الذي تصح الوصية به لتناول اللفظ للنوعين قياساً على ما ذكرناه في طبل اللهو والحرب

Para imam berkata: Jika seseorang berwasiat dengan ‘ūd dari ‘iydān-nya, maka nama ‘ūd itu mencakup barbat dan juga ‘ūd yang berupa kayu seperti tongkat dan lainnya. Maka lafaz tersebut dibawa kepada ‘ūd yang sah untuk diwasiatkan, karena lafaz tersebut mencakup kedua jenis itu, dengan qiyās terhadap apa yang telah kami sebutkan mengenai genderang untuk hiburan dan genderang perang.

وممّا ذكره الشافعي رضي الله عنه الوصية بالقسيّ  فنقول: إذا أوصى بقوسٍ من قسيه أو من ماله اندرج تحت لفظه قسيُّ العجم وقسيُّ العرب وقسي الحُسبان والحُسبان سهام صغار ترمى على قسيِّ العجم  وهي المسماة نازك  ولا يدخل تحت اسم القوس قوسُ النَّدْف ولا قوس الجُلاهق وهو قوس البنادق فإن قسيّ النَّدْف مشبهة في الصورة بالقسي لمكان أوتارها فكان تسميتها قوساً بحق التشبيه لا بوضع الاسم وكذلك قوس الجُلاهق هكذا ذكره الشافعي وأطبق الأئمة عليه

Di antara yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i ra. adalah wasiat mengenai busur. Maka kami katakan: Jika seseorang berwasiat dengan satu busur dari busur-busurnya atau dari hartanya, maka yang termasuk dalam lafaz tersebut adalah busur ‘ajam, busur Arab, dan busur hasban. Hasban adalah anak panah kecil yang dilemparkan dengan busur ‘ajam, yang disebut juga nazak. Tidak termasuk dalam nama busur adalah busur nadf dan busur julahq, yaitu busur senapan, karena busur nadf menyerupai busur dalam bentuknya karena adanya tali, sehingga penamaannya sebagai busur adalah karena kemiripan, bukan karena penetapan nama. Demikian pula busur julahq. Demikianlah yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i dan disepakati oleh para imam.

ولو جرت الوصية في ناحية لا يعرف فيها إلا نوعٌ من هذه الأنواع فهذا يخرّج على التردد الذي ذكرناه في الوصية بالدابة في القطر الذي لا يفهم منها إلا صنفاً واحداً

Jika wasiat dilakukan di suatu daerah yang tidak dikenal di dalamnya kecuali satu jenis dari jenis-jenis ini, maka hal ini dikembalikan kepada keraguan yang telah kami sebutkan mengenai wasiat dengan hewan tunggangan di daerah yang tidak dipahami darinya kecuali satu golongan saja.

وهذه المسألة وتيك تخرّجان على أن المتبع موجب اللسان في إطلاق اللفظ أو ما يفهم منه في طرد العرف

Masalah ini dan yang itu didasarkan pada apakah yang diikuti adalah makna lahiriah lafaz dalam pengucapan kata, atau makna yang dipahami darinya menurut kebiasaan (‘urf) yang berlaku.

ولو أوصى بقوس معيَّنٍ وكان عليه وترٌ فقد ذكر العراقيون وجهين في دخول الوتر في الوصية: أقيسهما عندنا أنه لا يدخل الوتر لأنه ليس جزءاً من القوس متصلاً به اتصال صيغة

Jika seseorang berwasiat dengan sebuah busur tertentu dan pada busur itu terdapat tali, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai apakah tali tersebut termasuk dalam wasiat atau tidak: pendapat yang lebih sesuai dengan qiyās menurut kami adalah bahwa tali tidak termasuk, karena tali bukanlah bagian dari busur yang menyatu dengannya secara hakiki.

والآخر لا اتجاه له وإن ذكره العراقيون ولعلهم إنما يقولون هذا في القوس المعيّن أو في قوسٍ من قِسيٍّ كلها موترة فأما إذا لم يكن على القسيّ أوتار وقال: اشتروا قوساً وسلموه إلى فلان فلا يجوز أن يُتخيلَ خلافٌ في أنه لا يجب ضمُّ وترٍ إلى القوس الموصى بها

Pendapat yang lain tidak memiliki arah tertentu, meskipun disebutkan oleh para ulama Irak, dan barangkali mereka hanya mengatakan hal ini dalam kasus busur tertentu atau pada salah satu dari beberapa busur yang semuanya telah dipasangi tali. Adapun jika pada busur-busur tersebut tidak ada tali, lalu seseorang berkata: “Belilah sebuah busur dan serahkan kepada si Fulan,” maka tidak boleh dibayangkan adanya perbedaan pendapat bahwa tidak wajib menambahkan tali pada busur yang diwasiatkan itu.

وما ذكروه من الخلاف في دخول الوتر تحت الوصية بالقوس يجب طرده في بيع القوس الموتر فإن ما يؤخذ من الألفاظ ولا يختلف فيه موجب الوصيةِ والبيعِ يجب طَرْدُ البابين فيه على قضية واحدة

Apa yang mereka sebutkan tentang perbedaan pendapat mengenai masuknya tali busur (al-watar) dalam wasiat dengan busur (al-qaws), seharusnya juga diterapkan dalam jual beli busur yang sudah terpasang talinya. Sebab, apa yang diambil dari lafaz dan tidak ada perbedaan dalam konsekuensi wasiat dan jual beli, maka kedua bab tersebut harus diberlakukan dengan ketentuan yang sama.

ومن تمام القول في هذا أنه إذا كان عند الرجل قسيُّ ندْفٍ أو قسي جُلاهق فقال: أوصيت لفلان بقوسٍ من قسيَّي فالوصية تُصرف إلى قوسٍ من قسيّ الندف فانه ليس يملك غيرَها فإضافته القوس إلى ما يملك تصريحٌ منه بقوس الندف وهو كما لو قال: أوصيت لفلان بقوس ندف

Dan sebagai penyempurna penjelasan dalam hal ini, jika seseorang memiliki busur naddaf atau busur julahq, lalu ia berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan sebuah busur dari busur-busurku,” maka wasiat tersebut diarahkan kepada sebuah busur dari busur naddaf, karena ia tidak memiliki selain itu. Penyandaran busur kepada apa yang ia miliki merupakan penegasan darinya bahwa yang dimaksud adalah busur naddaf, sebagaimana jika ia berkata: “Aku berwasiat kepada si Fulan dengan busur naddaf.”

ولو كان له قسيُّ ندفٍ فقال: أوصيت لفلان بقوسٍ أو قال: أعطوه قوساً لم يصرف ما أوصى به إلى ما عنده فالقوس محمولة على قوس الرمي لا غير وإن كان يظن الظان أنه يريد بالقوس ما عنده

Jika seseorang memiliki busur untuk memintal kapas, lalu ia berkata: “Aku berwasiat untuk si Fulan dengan sebuah busur,” atau ia berkata: “Berikanlah kepadanya sebuah busur,” maka apa yang diwasiatkan itu tidak diarahkan kepada apa yang ia miliki, melainkan kata “busur” dipahami sebagai busur panah saja, tidak yang lain, meskipun ada orang yang menyangka bahwa yang dimaksud dengan busur adalah apa yang ia miliki.

ولو قال: أعطوه عوداً من القسي فقوس العرب يُتخذ من نبعة واحدة وليست القوس غيرَها فالوصية تحمل على عودٍ مهيىءٍ لقوس العرب فأما قسيُّ العجم فهي مركبة من أجناس شتى  وقد يكون الخشب أقلها فلا ينتظم لفظ العود فيها فيتعين الصرف إلى أعواد قسي العرب وأمثال هذا سهلة مع إحكام الأصول

Jika seseorang berkata: “Berikanlah kepadanya satu batang kayu busur,” maka busur Arab dibuat dari satu jenis kayu saja dan tidak ada busur selain itu. Maka wasiat tersebut diarahkan kepada sebatang kayu yang telah disiapkan untuk busur Arab. Adapun busur non-Arab, ia terdiri dari berbagai jenis bahan, dan kayu bisa jadi adalah bagian terkecilnya, sehingga istilah ‘batang kayu’ tidak mencakupnya. Maka, penafsiran diarahkan kepada batang-batang kayu busur Arab. Hal-hal seperti ini mudah selama kaidah-kaidah dasar telah dikuasai.

فصل

Bab

قال: ويجعل وصيته في الرقاب والمكاتبين إلى آخره

Ia berkata: Dan hendaknya ia menjadikan wasiatnya untuk (membebaskan) budak-budak dan para mukatab hingga seterusnya.

إذا قال: اجعلوا ثلث مالي في الرقاب فهو موضوع في المكاتبين عندنا وعند أبي حنيفة رحمه الله وقال مالك : يُشترى بثلث ماله عبيد يعتقون

Jika seseorang berkata: “Jadikan sepertiga hartaku untuk pembebasan budak,” maka menurut kami dan menurut Abu Hanifah rahimahullah, itu diperuntukkan bagi para mukatab. Sedangkan menurut Malik, sepertiga hartanya digunakan untuk membeli budak yang kemudian dimerdekakan.

واتفق العلماء على أن الرقاب في صيغة الوصية محمولة على ما يُحمل عليه قول الله تعالى في آية الصدقات: {وَفِي الرِّقَابِ غيرَ أنا حملنا الرقاب في آية الصدقات على المكاتبين وحملها مالكٌ على صرف قسط الصدقات إلى شراء عبيد ليعتقوا

Para ulama sepakat bahwa istilah “riqab” dalam redaksi wasiat dimaknai sebagaimana makna “riqab” dalam ayat sedekah: {wa fi al-riqab}, hanya saja kami memaknai “riqab” dalam ayat sedekah sebagai para mukatab, sedangkan Malik memaknainya sebagai penyaluran bagian sedekah untuk membeli budak agar dimerdekakan.

فإن قيل: اسم الرقاب يتناول المكاتبين والأرقاء فلِمَ يتعين في الوصية الحمل على المكاتبين قلنا: رأى العلماءُ لفظَ الرقاب لفظاً عاماً في اللغة خاصاً في عرف الشريعة فغلّبوا اللفظ الشرعي كما غلبوا لفظ الصوم والصلاة والحج فإنها إذا جرت في وصيةٍ أو نذر أو يمين كانت محمولةً على عرف الشرع فكذلك القول في الرقاب

Jika dikatakan: Istilah “riqab” mencakup para mukatab dan budak, lalu mengapa dalam wasiat harus ditafsirkan khusus pada para mukatab? Kami katakan: Para ulama memandang bahwa lafaz “riqab” adalah lafaz umum dalam bahasa, namun khusus dalam istilah syariat, sehingga mereka lebih mengutamakan makna syar‘i sebagaimana pada istilah shaum, shalat, dan haji; jika istilah-istilah tersebut disebutkan dalam wasiat, nazar, atau sumpah, maka ditafsirkan menurut pengertian syariat. Demikian pula halnya dengan istilah “riqab”.

ثم إذا قال: ضعوا ثلث مالي في الرقاب فلا بد من وضعه في ثلاثة من المكاتبين فصاعداً والاقتصار على الثلاثة جائز والزيادة حسنة جائزة والنقصان ممتنع وكذلك الوصية للفقراء والمساكين وما في معانيهم

Kemudian, jika ia berkata: “Letakkan sepertiga hartaku untuk membebaskan budak,” maka wajib meletakkannya pada tiga orang mukatab atau lebih; membatasi pada tiga orang diperbolehkan, menambah jumlahnya adalah baik dan boleh, sedangkan menguranginya tidak diperbolehkan. Demikian pula wasiat untuk orang-orang fakir dan miskin serta yang semakna dengan mereka.

والقول الضابط فيه أنه إذا أوصى لأشخاصٍ تعيّن استيعابهم ثم إذا كانت الوصية مطلقةً يجب صرف الموصى به إلى جميعهم بالسوية من غير تفصيل وإذا أوصى بشيء لموصوفين لا حصر لهم وكانت الصفات فيهم عوارض لا تلزم كالفقر والمسكنة والغُرم والكتابة فهذه الوصية مستقلّة بأقلّ الجمع ولا نقصان من الأقل وأقل الجمع في وضع الشرع ثلاثة ويجوز الازدياد على الأقل إلى غير نهاية والأمر مفوض إلى رأي الوصي إذا كانت الوصية مطلقة وفي حكم هذا القسم جواز تفضيل البعض على البعض حتى لو رأى الصرف إلى ثلاثة فصرف المعظم إلى واحد منهم وصرف إلى كل واحد من الباقين مقداراً نزراً جاز ذلك على ما سيأتي تقرير هذا في قَسْم الصدقات إن شاء الله عز وجل

Ketentuan yang menjadi patokan dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang berwasiat kepada orang-orang tertentu yang telah ditentukan, maka harus mencakup mereka semua. Kemudian, jika wasiat itu bersifat mutlak, maka harta yang diwasiatkan harus dibagikan kepada mereka semua secara merata tanpa perincian. Jika seseorang berwasiat dengan sesuatu kepada orang-orang yang memiliki sifat tertentu yang jumlahnya tidak terbatas, dan sifat-sifat tersebut bersifat sementara serta tidak tetap, seperti kefakiran, kemiskinan, terlilit utang, dan status budak mukatab, maka wasiat ini cukup diberikan kepada jumlah paling sedikit dari kelompok tersebut, dan tidak boleh kurang dari jumlah paling sedikit itu. Jumlah paling sedikit menurut ketentuan syariat adalah tiga orang. Boleh menambah dari jumlah paling sedikit itu hingga tak terbatas, dan hal ini diserahkan kepada pertimbangan washi jika wasiatnya bersifat mutlak. Dalam ketentuan bagian ini juga dibolehkan mengutamakan sebagian dari yang lain, sehingga jika washi memutuskan untuk membagikan kepada tiga orang, lalu memberikan bagian terbesar kepada salah satu dari mereka dan memberikan bagian yang sedikit kepada masing-masing dari dua orang lainnya, maka hal itu dibolehkan, sebagaimana akan dijelaskan dalam bab sedekah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولو أوصى لأقوامٍ يبعد عن الإمكان حصرهم وكانوا موصوفين بصفات ملازمة لهم لا تحل محل العوارض التي يفرض طريانُها وزوالُها وهذا بمثابة الوصية للعلويّة فأنسابهم في حكم الصفات اللازمة وحصرهم غير ممكن ففي صحة الوصية لهم قولان فإن الصفات إذا لزمتهم تضمن ذلك كونَهم مقصودين بأعيانهم وليسوا كالموصوفين بما يعرِض ويزول فإن الأشخاص ليسوا معينين فإنما العَرَضُ يتبع الصفة التي يقع التعرض لها في جمعٍ وسيأتي تفصيل القول في الوصية للعلوية وغيرهم وإنما اعترض ذكرهم لاستيعاب أقسام الكلام والغرض الآن أن الاقتصار على ثلاثة في الوصية للرقاب سائغ كما يسوغ الاقتصار على ثلاثة في صرف سهام الرقاب من الزكاة إليهم ثم الوصي إن صرف الموصى به إلى ثلاثة من المكاتبين فقد وفَّى وإن صرف الموصى به إلى اثنين وفات الأمرُ فإنه يغرَم حصة ثالث وفي القدر الذي يغرَمه خلاف مشهور

Jika seseorang berwasiat kepada sekelompok orang yang mustahil untuk dibatasi jumlahnya, dan mereka memiliki sifat-sifat yang melekat pada diri mereka yang tidak dapat digantikan oleh sifat-sifat insidental yang mungkin muncul dan hilang, maka hal ini seperti wasiat kepada kaum Alawiyin, karena nasab mereka dianggap sebagai sifat yang melekat dan tidak mungkin dibatasi jumlahnya. Dalam hal keabsahan wasiat kepada mereka terdapat dua pendapat. Jika sifat-sifat itu memang melekat pada mereka, maka hal itu menunjukkan bahwa mereka memang dimaksudkan secara khusus, dan mereka tidak seperti orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat yang bisa datang dan pergi, karena individu-individu tersebut tidak ditentukan secara spesifik; yang menjadi perhatian hanyalah sifat yang melekat pada kelompok tertentu. Penjelasan lebih rinci tentang wasiat kepada kaum Alawiyin dan selain mereka akan dibahas kemudian, dan penyebutan mereka di sini hanya untuk melengkapi pembahasan. Tujuan saat ini adalah bahwa membatasi wasiat untuk tiga orang dalam wasiat kepada budak yang ingin memerdekakan diri adalah diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan membatasi tiga orang dalam penyaluran bagian zakat untuk memerdekakan budak kepada mereka. Kemudian, jika pelaksana wasiat menyalurkan harta wasiat kepada tiga orang mukatab (budak yang ingin memerdekakan diri dengan membayar tebusan), maka ia telah melaksanakan wasiat dengan sempurna. Namun jika ia menyalurkannya hanya kepada dua orang dan tidak memenuhi jumlah yang ditentukan, maka ia wajib mengganti bagian untuk orang ketiga, dan dalam jumlah yang harus diganti terdapat perbedaan pendapat yang masyhur.

ومن أصحابنا من قال: يغرَم له أقلَّ ما يتموّل فإنه لو صرف إليه ذلك القدر ابتداء لكان خارجاً عن العهدة وافياً بموجب الوصية فخرج عن عهدة الغرم بما كان يخرج به عن عهدة الوصية ابتداء

Sebagian dari ulama mazhab kami berkata: ia wajib mengganti dengan nilai paling sedikit yang masih dianggap sebagai harta, karena jika sejak awal diberikan kepadanya sejumlah itu, maka ia sudah terbebas dari tanggungan dan telah memenuhi ketentuan wasiat. Maka, ia terbebas dari tanggungan ganti rugi dengan sesuatu yang sejak awal dapat membebaskannya dari tanggungan wasiat.

ومن أصحابنا من قال: يلزم لمكاتب ثلث الموصى به فإنه غرم واحداً من ثلاثة وانتسب إلى المخالفة الملزمة للغرامة فيجب أن يكون مطالباً بمقدارٍ منضبط وأقرب الأمر الفَضُّ على رؤوسٍ ثلاثة وسنشرح هذا أيضاً في قَسْم الصدقات إن شاء الله عز وجل فاكتفينا بذكر مراسمَ في التقاسيم

Sebagian dari ulama kami berpendapat: bagi seorang mukatab wajib sepertiga dari harta yang diwasiatkan, karena ia menanggung satu dari tiga bagian dan termasuk dalam kategori yang mewajibkan tanggungan, sehingga ia harus diminta pertanggungjawaban atas jumlah yang terukur. Cara yang paling mendekati adalah membaginya menjadi tiga bagian, dan kami akan menjelaskan hal ini juga pada bagian sedekah, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, kami cukup menyebutkan garis besarnya dalam pembagian ini.

فإن قيل: إذا صححتم الوصية للعلوية فهل توجبون استيعابهم قلنا: إيجاب ما لا يستطاع محال فالوصية إذا صحت لهم فهم نازلون منزلة الفقراء فيجوز الاكتفاء بثلاثة منهم ثم لا يجب التسوية بل يجوز تفضيل البعض على البعض كما ذكرناه في الفقراء ثم إذا أوجبنا على الوصي أن يغرم لمكاتبٍ ثالث شيئاً فقد قال القفال فيما حكاه الصيدلاني: ليس لهذا الوصي أن يدفع بنفسه ما لم يلزمه إلى مكاتبٍ فإنه إنما يسلم إلى المكاتَبَيْن ما يسلِّم بحكم الوصية وكونه وصياً وهو الآن غارم وليس وصيّاً فيما يغرمه ولا مؤتمناً فيتعين عليه أن يسلم ما يلزمه إلى حاكمٍ ليقبضه منه ثم لو ائتمنه ذلك الحاكم فأمره بصرفه إلى مكاتب جاز له ذلك امتثالاً لأمر الحاكم وهذا حسن ظاهر

Jika dikatakan: Apabila kalian membenarkan wasiat untuk para keturunan ‘Alawiyah, apakah kalian mewajibkan untuk mencakup seluruhnya? Kami katakan: Mewajibkan sesuatu yang tidak mampu dilakukan adalah mustahil. Maka, jika wasiat itu sah untuk mereka, mereka diposisikan seperti para fakir miskin, sehingga boleh mencukupkan dengan tiga orang dari mereka, dan tidak wajib menyamakan pembagian, bahkan boleh mengutamakan sebagian atas sebagian yang lain sebagaimana telah kami sebutkan pada para fakir miskin. Kemudian, jika kami mewajibkan kepada wasi untuk membayar sesuatu kepada seorang mukatab ketiga, maka al-Qaffal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh as-Saidalani, berkata: Wasi tersebut tidak boleh menyerahkan sendiri apa yang belum menjadi kewajibannya kepada seorang mukatab, karena ia hanya menyerahkan kepada dua orang mukatab apa yang diserahkan berdasarkan hukum wasiat dan karena ia adalah wasi. Namun, sekarang ia adalah penanggung (gharim) dan bukan lagi wasi dalam hal yang ia tanggung, juga bukan orang yang dipercaya, sehingga ia wajib menyerahkan apa yang menjadi kewajibannya kepada seorang hakim agar hakim tersebut yang menerimanya darinya. Kemudian, jika hakim tersebut mempercayainya dan memerintahkannya untuk menyalurkannya kepada seorang mukatab, maka ia boleh melakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada perintah hakim, dan ini adalah hal yang jelas baiknya.

فصل

Bab

قال: فإن لم يبلغ ثلاث رقاب وبلغ أقل من رقبتين الفصل

Dia berkata: Jika tidak mencapai tiga budak, dan hanya mencapai kurang dari dua budak, maka ada perincian.

ذكر المزني هذا الفصلَ معطوفاً على الوصية للرقاب وفي العطف إخلالٌ فإن مضمون هذا الفصل الكلامُ في صرف ثلث المال إلى عبيد يشترَوْن ويعتقون ومضمون الفصل الأول في صرف طائفة من المال إلى جمعٍ من المكاتبين فإذا قال بعد نجاز الكلام في المكاتبين: فإن لم يبلغ ثلاث رقاب وبلغ أقل من رقبتين لم ينتظم مبتدأ هذا الكلام مع مختتم الفصل الأول وكان الوجه أن يبتدىء فيقول: لو أوصى بصرف شيء من ماله إلى شراء عبيدٍ فلم يبلغ ثلاث رقاب فحكمه كذا

Al-Muzani menyebutkan bagian ini sebagai lanjutan dari wasiat untuk pembebasan budak, namun dalam penyambungan ini terdapat kekurangan, karena isi bagian ini membahas penyaluran sepertiga harta kepada budak-budak yang dibeli lalu dimerdekakan, sedangkan isi bagian pertama membahas penyaluran sebagian harta kepada sekelompok mukatab. Maka jika ia berkata setelah selesai membahas mukatab: “Jika tidak mencapai tiga budak dan hanya mencapai kurang dari dua budak,” maka permulaan pembahasan ini tidak selaras dengan penutup bagian pertama. Yang seharusnya dilakukan adalah memulai dengan mengatakan: “Jika seseorang berwasiat untuk menyalurkan sebagian hartanya guna membeli budak, namun tidak mencapai tiga budak, maka hukumnya demikian.”

نعود إلى مقصود الفصل وفقهه ونقول:

Kita kembali kepada maksud bab ini dan pemahamannya, dan kami katakan:

إذا أوصى بصرف ثلث ماله إلى شراء عبيد ليعتقوا فلا بد من صرفه إلى ثلاثة من العبيد لأن اللفظ لفظ الجمع فإن لم يوجد بثُلثِه ثلاثةُ أعبد فقد قالت الأئمة المعتبرون من المراوزة: نصرف الثلثَ إلى عبدين نفيسين  فإن لم يتأت إلا صرفُه إلى عبدين وفضل فضلٌ لم نجد به رقبة ولم نجد عبدين يستوعب ثمنهما الثلثَ فالفاضل مردود على الورثة والوصية باطلةٌ فيه ولا يجب صرف ذلك الفضل إلى شقصٍ من عبد وعللوا هذا بأنه ذكر العبيد واسم العبد لا ينطلق على شقص من عبد

Jika seseorang berwasiat agar sepertiga hartanya digunakan untuk membeli budak-budak yang kemudian dimerdekakan, maka wajib digunakan untuk membeli tiga orang budak karena lafaznya berbentuk jamak. Jika dengan sepertiga harta tersebut tidak didapatkan tiga orang budak, para imam yang dianggap otoritatif dari kalangan Marwazi berpendapat: sepertiga harta itu digunakan untuk membeli dua orang budak yang bernilai tinggi. Jika hanya memungkinkan untuk membeli dua orang budak dan masih ada sisa yang tidak cukup untuk membeli satu budak lagi, serta tidak ditemukan dua budak yang harga keduanya menghabiskan sepertiga harta, maka sisa tersebut dikembalikan kepada ahli waris dan wasiat menjadi batal atas sisa itu. Tidak wajib menggunakan sisa tersebut untuk membeli bagian (syuqsh) dari seorang budak, karena alasan mereka adalah bahwa yang disebutkan dalam wasiat adalah “budak-budak”, sedangkan istilah “budak” tidak berlaku untuk bagian dari seorang budak.

هذا مسلك أئمتنا المراوزة

Ini adalah metode para imam kami dari Marw.

وأخذ العراقيون مأخذاً آخر وقالوا: لا يرتدّ الفاضل إلى الورثة بل يجب صرفه إلى شقصٍ من عبد فإن غرض الموصي أن يصرف الثلث إلى جهة العتق فإن تمكنا من الوصول إلى تحصيل العتق في أشخاصٍ فعلنا ذلك وإن لم نقدر على تحصيل العتق في جمعٍ من الأشخاص حصلناه في شخصٍ أو شخصين فإن فضل فضلٌ فصرفه إلى شقصٍ أقربُ إلى مقصودِ الموصي من رده إلى الورثة

Orang-orang Irak mengambil pendapat lain dan berkata: kelebihan (harta wasiat) tidak dikembalikan kepada para ahli waris, melainkan harus digunakan untuk membeli bagian (syuqs) dari seorang budak. Sebab, tujuan orang yang berwasiat adalah agar sepertiga hartanya digunakan untuk memerdekakan budak. Jika memungkinkan untuk memerdekakan beberapa orang, maka itu yang dilakukan. Namun jika tidak memungkinkan memerdekakan banyak orang, maka dilakukan pada satu atau dua orang saja. Jika masih ada kelebihan, maka menggunakannya untuk membeli bagian budak lebih dekat kepada maksud pewasiat daripada mengembalikannya kepada para ahli waris.

ثم قالوا: إن أمكن صرف الثلث إلى عبدين نفيسين يستوعب ثمنهما الثلث وأمكن صرفه إلى عبدين دونهما مع صرف الفاضل إلى شقص ففي المسألة وجهان: أحدهما أنه يجب أن نشتري العبدين النفيسين حتى لا يؤدي إلى التبعيض وهذا المسلك حتمٌ قالوا: وهو اختيار ابن سريج

Kemudian mereka berkata: Jika memungkinkan untuk membelanjakan sepertiga harta pada dua budak yang bernilai tinggi sehingga harga keduanya menghabiskan sepertiga harta, dan juga memungkinkan untuk membelanjakannya pada dua budak yang nilainya di bawah itu dengan membelanjakan kelebihan harta pada bagian (syuqs), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa wajib membeli dua budak yang bernilai tinggi agar tidak terjadi pembagian (pada warisan), dan pendapat ini bersifat pasti. Mereka berkata: Inilah pilihan Ibnu Suraij.

والوجه الثاني وهو اختيار أبي إسحاق فيما حَكَوْه أنه يجب أن نشتري عبدين ونُفْضل ونشتري بالفضل جزءاً من ثالثٍ فإن هذا أقربُ إلى مقصود الموصي إذ من مقصوده ربطُ العتق بجمع

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Ishaq sebagaimana yang mereka riwayatkan, adalah bahwa kita harus membeli dua budak, lalu menyisakan kelebihan harta, dan dengan kelebihan itu kita membeli sebagian dari budak ketiga. Sebab, cara ini lebih mendekati maksud orang yang berwasiat, karena di antara maksudnya adalah mengaitkan pembebasan budak dengan jumlah yang lebih banyak.

وطريق العراقيين بعيدةٌ عن طريق المراوزة فإنهم لم يرَوا لشراء الشقص وإعتاقه وجهاً وإذا فرض  لم يقع عن جهة الوصية عندهم

Pendekatan para ulama Irak berbeda dengan pendekatan para ulama Marw, karena mereka tidak melihat adanya alasan untuk membeli bagian (syuqs) dan memerdekakannya, dan jika hal itu terjadi, menurut mereka tidak dianggap berasal dari wasiat.

فالخارج من أقوال الأئمة أن الصرف إلى ثلاثة من غير تشقيص إن أمكن تعيّن ولو في أخسّاء من المماليك

Kesimpulan dari pendapat para imam adalah bahwa penyaluran (zakat) kepada tiga orang tanpa menentukan bagian tertentu jika memungkinkan menjadi suatu keharusan, meskipun kepada budak-budak yang paling rendah.

وإن لم نجد ثلاثة ووجدنا عبدين وشقصاً فالمراوزة قاطعون بردّ الفضل إلى الورثة والعراقيون قاطعون بوجوب صرفه إلى شقصٍ

Jika kita tidak menemukan tiga orang, tetapi menemukan dua budak dan sebagian (syuqs), maka para ulama Marw berpendapat tegas bahwa kelebihan tersebut dikembalikan kepada para ahli waris, sedangkan para ulama Irak berpendapat tegas bahwa kelebihan itu harus diberikan kepada bagian (syuqs).

وإن تصدّى لنا شراء نفيسين وشراء عبدين دونهما مع شراء شقصٍ في ثالث فقد ذكر العراقيون وجهين كما قدمنا وقطع المراوزة بما حَكوه من اختيار ابن سُريج

Jika dihadapkan kepada kita pilihan antara membeli dua barang berharga dan membeli dua budak yang nilainya di bawah keduanya, bersamaan dengan membeli bagian (syuqs) dalam barang ketiga, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, dan para ulama Marw menegaskan pendapat yang mereka riwayatkan sebagai pilihan Ibn Surayj.

ثم قال العراقيون: إذا قال المريض: اشتروا عبداً وأعتقوه عنِّي فاشترى الوارث عبداً وأعتقه ثم ظهر دينٌ مستغرق للتركة نُظر: فإن كان اشترى من عين التركة فقد بان بطلان البيع إذ لا وصية مع الدين ولا ينفذ صرف شيء من التركة إلى ثمن العبد المشترى لمكان الدَّين المستغرِق للتركة فالعبد مردود على بائعه والعتق فاسدٌ وثمن العبد يُسترد ويصرف إلى الدين وإن كان اشترى العبد في الذمة وأعتقه نفذ البيع والعتقُ فإن البيع اعتمد الذمة فصح للوارث  ثم يَسْري العتقُ منه مطلقاً في ملكه فلا مرد له وهذا واضح لا خفاء به

Kemudian orang-orang Irak berkata: Jika seorang yang sakit berkata, “Belilah seorang budak dan merdekakanlah dia untukku,” lalu ahli waris membeli seorang budak dan memerdekakannya, kemudian diketahui ada utang yang menghabiskan seluruh harta peninggalan, maka hal ini perlu diteliti: Jika budak itu dibeli dari harta peninggalan, maka jelas batal jual belinya, karena tidak ada wasiat jika ada utang, dan tidak sah mengalihkan apa pun dari harta peninggalan untuk membayar harga budak yang dibeli karena adanya utang yang menghabiskan harta peninggalan. Maka budak itu dikembalikan kepada penjualnya, kemerdekaannya tidak sah, dan harga budak dikembalikan serta digunakan untuk membayar utang. Namun jika budak itu dibeli dengan tanggungan (bukan dari harta peninggalan) dan kemudian dimerdekakan, maka jual beli dan kemerdekaannya sah, karena jual beli itu bergantung pada tanggungan sehingga sah bagi ahli waris, lalu kemerdekaan itu berlaku mutlak dalam kepemilikannya, sehingga tidak ada pengembalian. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

فصل

Bab

قال: ولو أوصى أن يحج عنه ولم يكن حج حجةَ الإسلام الفصل

Dia berkata: Dan jika seseorang berwasiat agar dilakukan haji untuknya, padahal ia belum menunaikan haji Islam, maka ada perincian.

ذكرنا صدراً صالحاً في الاستئجار على الحج المفروض والمتطوّع به في كتاب الحج وقد يتكرر في أثناء الكلام بعضُ تلك القواعد

Kami telah menyebutkan pendapat para ulama terdahulu yang saleh tentang hukum menyewa orang untuk melaksanakan haji wajib dan haji sunnah dalam Kitab Haji, dan sebagian kaidah tersebut mungkin akan diulang kembali dalam pembahasan ini.

فإذا استجمع الكامل شرائط الاستطاعة والتزم حجةَ الإسلام ومات فتحصيل الحج دين من رأس التركة أوصى به أو لم يوصِ وقال أبو حنيفة : إذا مات ولم يوص لم يحج عنه وطرد هذا في الزكوات المستقرة في حالة الحياة فقال: إذا مات من تجمعت عليه الزكاة ولم يوصِ بأدائها لم تُخرج من ماله وإن لقي الله عاصياً وإن أوصى بإخراجها أُخرجت من ثُلثه إن وفّى بها

Apabila seseorang yang telah memenuhi seluruh syarat istitha‘ah (kemampuan) dan telah mewajibkan atas dirinya haji Islam, kemudian ia meninggal dunia, maka pelaksanaan haji menjadi utang yang harus diambil dari harta peninggalannya, baik ia berwasiat maupun tidak. Abu Hanifah berpendapat: jika seseorang meninggal dunia tanpa berwasiat agar dihajikan, maka tidak dihajikan atas namanya. Pendapat ini juga berlaku pada zakat-zakat yang telah menjadi kewajiban semasa hidupnya. Ia berkata: jika seseorang meninggal dunia dan zakat telah terkumpul atas dirinya, namun ia tidak berwasiat untuk menunaikannya, maka zakat tersebut tidak dikeluarkan dari hartanya, meskipun ia bertemu Allah dalam keadaan berdosa. Namun jika ia berwasiat untuk mengeluarkannya, maka zakat itu dikeluarkan dari sepertiga hartanya jika mencukupi.

وكان شيخنا أبو محمد رحمة الله عليه يحكي هذا قولاً قديماً للشافعي رضي الله عنه ولم يتعرض لحكاية هذا أحد من الأئمة الذين يبعد أن يشذ عنهم قريب وبعيد

Guru kami, Abu Muhammad rahimahullah, meriwayatkan bahwa ini adalah pendapat lama dari Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, dan tidak ada seorang pun dari para imam—yang sangat kecil kemungkinan ada sesuatu yang luput dari pengetahuan mereka, baik yang dekat maupun yang jauh—yang meriwayatkan hal ini.

ثم معتمد أبي حنيفة رحمة الله عليه افتقارُ الزكاة إلى النية ثم إن صدرت النية من ملتزم الزكاة فذاك وإلا قامت نية من يستنيبه مقامَ نيته فإذا مات فقد فات صدَرُ النية منه ولم يوص فتقوم نية وصيِّه ومأموره مقام نيته

Kemudian, menurut pendapat yang dipegang oleh Abu Hanifah rahimahullah, zakat memerlukan niat. Jika niat itu muncul dari orang yang wajib zakat, maka itu sudah cukup. Namun, jika tidak, maka niat orang yang mewakilinya dapat menggantikan niatnya. Jika ia meninggal dunia sehingga tidak sempat berniat dan juga tidak berwasiat, maka niat wasinya atau orang yang diperintahkannya dapat menggantikan niatnya.

وهذا لا يستقيم على أصلنا مع مصيرنا إلى أن السلطان يأخذ زكوات الممتنعين كما صح ذلك في سيرة الصديق رضي الله عنه وإنما تردد أصحابنا في أن السلطان إذا أخذ الزكاة قهراً وسقطت طَلِبتُه فهل تسقط الزكاة عمن عليه باطناً بينه وبين الله تعالى فيه اختلاف ذكرناه في موضعه من الزكاة ثم كنا نقول في مراجعة شيخنا أبي محمد: القياس إن لم يكن من هذا القول بُدّ أن يقال: إذا أوصى فالزكاة محسوبة من رأس المال فإن متعلق هذا المذهب تعذّرُ النية وسقوطُ الزكاة بتعذرها فإذا جرت الوصاية فقد أمكنت النية على طريق النيابة فليؤدِّ الزكاة ديناً فكان يأبى هذا ويقول: القول القديم مثلُ مذهب أبي حنيفة فالزكاة تسقط إذا لم تجر وصية فإن جرت فهي من الثلث وهذا لا أعرف له وجهاً أصلاً

Hal ini tidak sejalan dengan prinsip kami, sementara kami berpendapat bahwa penguasa boleh mengambil zakat dari orang-orang yang enggan membayarnya, sebagaimana telah sah dalam riwayat tentang Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Namun, para ulama mazhab kami masih berselisih pendapat mengenai apakah jika penguasa mengambil zakat secara paksa dan gugur tuntutannya, zakat itu juga gugur secara batin antara dia dan Allah Ta‘ala; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan pada tempatnya dalam pembahasan zakat. Kemudian, ketika kami bermusyawarah dengan guru kami, Abu Muhammad, qiyās-nya—jika memang harus mengikuti pendapat ini—adalah: jika seseorang berwasiat, maka zakat dihitung dari harta pokok, karena alasan pendapat ini adalah karena tidak adanya niat dan gugurnya zakat karena ketiadaan niat. Maka jika wasiat telah dilakukan, niat pun memungkinkan melalui perwakilan, sehingga zakat harus dibayarkan sebagai utang. Namun beliau menolak hal ini dan berkata: pendapat lama seperti mazhab Abu Hanifah, yaitu zakat gugur jika tidak ada wasiat, dan jika ada wasiat maka diambil dari sepertiga harta. Aku sama sekali tidak mengetahui dasar pendapat ini.

رجع بنا الكلامُ إلى التفريع على أصل المذهب فنقول:

Pembicaraan kita kembali kepada penjabaran berdasarkan pokok mazhab, maka kami katakan:

إذا استقر الحج في ذمته ومات فحجة الإسلام الواقعة ركناً ميقاتية هذا هو الركن فيستأجر من الميقات أجيراً بأجرة قريبة ويتأدى حج الإسلام به

Jika kewajiban haji telah tetap dalam tanggungannya lalu ia meninggal dunia, maka haji Islam yang merupakan rukun dan dilakukan dari miqat inilah yang menjadi rukun. Maka, hendaknya disewa seseorang dari miqat dengan upah yang wajar, dan dengan itu kewajiban haji Islamnya telah tertunaikan.

ولو كان نذر حجاً في صحته لزمه الوفاء به إن استطاع إلى الحج سبيلاً فلو مات قبل الوفاء ففي الحجة المنذورة قولان: أحدهما أنها دَيْنٌ كحجة الإسلام من رأس المال  ووجهه أنه وجب في الصحة فاستقر في الذمة فكان ديناً لله تعالى كحجة الإسلام

Jika seseorang bernazar untuk menunaikan haji saat ia sehat, maka ia wajib menunaikannya jika mampu menuju haji. Jika ia meninggal sebelum menunaikannya, terdapat dua pendapat mengenai haji yang dinazarkan: salah satunya adalah bahwa haji tersebut merupakan utang seperti haji Islam yang diambil dari harta peninggalan. Alasannya adalah karena kewajiban itu telah ditetapkan saat ia sehat sehingga menjadi tanggungan dalam dirinya, maka ia menjadi utang kepada Allah Ta‘ala seperti haji Islam.

والقول الثاني أنها لا تكون من رأس التركة فإن الناذر أدخل الوجوبَ على نفسه فيجوز أن يقال: يُلزمه الشرع الوفاء به في تمكنه فأما أن يصير ما أدخله على نفسه مزاحماً لحقوق الورثة فلا

Pendapat kedua menyatakan bahwa nazar itu tidak diambil dari harta warisan pokok, karena orang yang bernazar telah mewajibkan sesuatu atas dirinya sendiri. Maka boleh dikatakan: syariat mewajibkan ia menunaikannya selama ia mampu, namun apa yang ia wajibkan atas dirinya sendiri tidak boleh menjadi pesaing bagi hak-hak para ahli waris.

وهذا التوجيه فيه مخيلةٌ من الفقه وهو معنى قول بعض الأصحاب: إن هذين القولين مبنيان على أن المنذور هل يثبت له حكم الواجب شرعاً أم لا وهذا فيه لبس وتعقيد فإن الذي ذُكر من التردّد في أن الواجب بالنذر هل يأخذ حكم الواجب شرعاً معناه أن من نذر لله تعالى صلاةً ثم صلى قاعداً مع القدرة على القيام فهل يخرج عن موجَب نذره فهذا ومثله يخرّج على القولين في أن الواجب بالنذر هل يتقيد بالشرائط المرعية في الواجب شرعاً ففي قولٍ نحمل النذر على ما يسمى صلاة اتباعاً للفظ وفي قول نحمله على مضاهاة الواجب شرعاً تقريباً وتشبيهاً فهذا مأخذ ذلك

Penjelasan ini mengandung unsur fiqh, dan inilah maksud dari sebagian pendapat para ulama: bahwa dua pendapat tersebut didasarkan pada pertanyaan apakah sesuatu yang dinazarkan itu memiliki hukum wajib secara syariat atau tidak. Namun, hal ini mengandung kerancuan dan kerumitan, sebab keraguan yang disebutkan mengenai apakah sesuatu yang diwajibkan karena nazar itu mendapatkan hukum wajib secara syariat, maksudnya adalah jika seseorang bernazar kepada Allah untuk melakukan salat, lalu ia melakukannya sambil duduk padahal mampu berdiri, apakah itu sudah memenuhi tuntutan nazarnya? Kasus ini dan yang semisalnya dikembalikan pada dua pendapat tentang apakah sesuatu yang diwajibkan karena nazar harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku pada kewajiban syariat. Dalam satu pendapat, nazar dianggap sah selama masih disebut salat, mengikuti lafaznya. Dalam pendapat lain, nazar harus menyerupai kewajiban syariat sedekat mungkin dan menirunya. Inilah dasar dari perbedaan pendapat tersebut.

فأما القول في أن المنذور هل يكون من رأس التركة يبعد أخذه مما ذكره هؤلاء

Adapun pembahasan mengenai apakah nadzar itu diambil dari harta pokok warisan, hal itu sulit disimpulkan dari apa yang telah disebutkan oleh mereka.

والخلاف في احتساب الكفارة من رأس التركة وقد لزمت الكفارة في الصحة كالخلاف في الملتزم بالنذر فإن الكفارات دخلت عليه بتسبُّبِه إلى التزامها وليست من وظائف الشرع فنزلت منزلة المنذور

Perbedaan pendapat mengenai penghitungan kafarat dari harta warisan, padahal kafarat itu telah wajib ketika masih sehat, adalah seperti perbedaan pendapat tentang orang yang terikat dengan nazar. Sebab, kafarat itu menjadi tanggungan seseorang karena ia sendiri yang menyebabkan dirinya terikat dengannya, dan kafarat bukanlah termasuk kewajiban syariat secara langsung, sehingga kedudukannya disamakan dengan nazar.

وهذا فيما يجري في الصحة

Dan ini berlaku dalam keadaan sehat.

والنذرُ الذي يصدر من المريض في مرضه المخوف من الثلث لا خلاف فيه وكذلك الكفارات التي تجري أسبابها في المرض

Nazar yang diucapkan oleh orang sakit dalam kondisi sakit yang membahayakan, diambil dari sepertiga harta, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Demikian pula kafarat yang sebab-sebabnya terjadi saat sakit.

ونقول وراء ذلك: نذر الصحة إن جعلناه ديناً فلا كلام وإن لم نجعله ديناً فالذي أشعر به كلام الأئمة أنه لا بد من الوصية فيه فإن لم تكن  سقط بالكلية

Kami katakan setelah itu: nazar kesehatan, jika kami menganggapnya sebagai utang, maka tidak ada masalah. Namun jika tidak kami anggap sebagai utang, maka yang saya pahami dari perkataan para imam adalah bahwa harus ada wasiat dalam hal ini. Jika tidak ada wasiat, maka gugur sepenuhnya.

وفي بعض كلام المحققين ما يدل على أنها تخرج من الثلث وإن لم يكن وصية فهي مستحقة من الثلث ونفسُ جريان النذر في حكم الوصية به وكذلك القول في الكفارات وأسبابها

Dalam sebagian pendapat para ulama yang teliti terdapat penjelasan bahwa hal itu diambil dari sepertiga harta, meskipun bukan wasiat, karena ia berhak diambil dari sepertiga harta. Demikian pula hukum nadzar berlaku seperti wasiat atasnya, begitu juga halnya dengan kafarat dan sebab-sebabnya.

وهذا فقيهٌ حسن

Dan ini adalah seorang faqih yang baik.

ومما نذكره في قاعدة الفصل أن الوصية بحج التطوع هل تصح فعلى قولين مشهورين ذكرناهما في المناسك والأصح في الفتوى الصحة وهو الذي تشهد له الآثار والأقيسُ أنها لا تصح فإن الحج عبادةٌ بدنية وإجراء النيابة في المفروض منه في حكم الضرورة المتبوعة بطريق الرخصة والوصيةُ بالتطوع مستغنى عنها

Di antara hal yang perlu disebutkan dalam kaidah pemisahan adalah apakah wasiat untuk haji tathawwu‘ (haji sunnah) itu sah atau tidak. Dalam hal ini terdapat dua pendapat masyhur yang telah kami sebutkan dalam bab manasik, dan pendapat yang lebih sahih dalam fatwa adalah sah, dan inilah yang didukung oleh atsar. Namun menurut qiyās, wasiat tersebut tidak sah, karena haji adalah ibadah badaniyah, dan pelaksanaan perwakilan dalam haji yang wajib itu hanya dibolehkan dalam kondisi darurat yang diikuti dengan rukhshah (keringanan), sedangkan wasiat untuk haji tathawwu‘ tidak diperlukan.

ثم ذكر طوائف من أئمتنا أنا إذا صححنا الوصية بالحج تطوعاً فهل تقدم على سائر الوصايا أم هي مساوية لها في المرتبة فعلى قولين: أحدهما أنها مقدَّمة والثاني أنها مساوية وهذا ترددٌ وذكر اختلاف قول لستُ أعرف وجهه فإن الوصية بالحج ليست على مرتبة من التأكيد تقتضي تقديمَها وكيف يُدّعى ذلك وفي أصل صحتها قولان: أحدهما عدمُ الثبوت والمشهورُ اختلاف القول في تقديم الوصية بالعتق على ما سواه من الوصايا وذلك لسلطان العتق في نفوذه كما سيأتي شرح ذلك في مسائل الوصايا بالعتق

Kemudian beliau menyebutkan kelompok-kelompok dari para imam kita bahwa apabila kita mensahihkan wasiat untuk haji tathawwu‘ (sunnah), apakah wasiat tersebut didahulukan atas wasiat-wasiat lainnya ataukah setara dalam derajatnya? Maka terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa wasiat tersebut didahulukan, dan yang kedua bahwa wasiat tersebut setara. Ini adalah keraguan, dan beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang aku sendiri tidak mengetahui alasannya, karena wasiat untuk haji tidak berada pada tingkat penegasan yang mengharuskan untuk didahulukan. Bagaimana mungkin hal itu diklaim, padahal dalam asal keabsahannya saja terdapat dua pendapat: salah satunya tidak sah, dan yang masyhur adalah perbedaan pendapat mengenai didahulukannya wasiat untuk memerdekakan budak atas wasiat-wasiat lainnya, karena adanya kekuatan (otoritas) pada ‘itq (pembebasan budak) dalam pelaksanaannya, sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan masalah wasiat untuk memerdekakan budak.

وذكر الشيخ أبو علي طريقة ناصة على الحقيقة تشفي الغليل وعليها التعويل عندي: قال رضي الله عنه: الوصية بحج التطوع لا تقدم على غيرها من الوصايا إلا أن ينص الموصي على تقديمها فتقدم حينئذ بحكم الإيصاء كما سنصف ذلك أثناء الفصل إن شاء الله عز وجل

Syekh Abu Ali menyebutkan suatu metode yang benar-benar menunjukkan hakikatnya, yang dapat memuaskan dahaga ilmu dan menjadi sandaran menurutku. Beliau berkata, semoga Allah meridhainya: Wasiat untuk melaksanakan haji tathawwu‘ (haji sunnah) tidak didahulukan atas wasiat-wasiat lain kecuali jika pewasiat secara tegas menyatakan agar didahulukan, maka pada saat itu wasiat tersebut didahulukan berdasarkan ketentuan pewasiat, sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والحجة المنذورة في الصحة إذا قلنا: إنها محسوبة من الثلث قال رضي الله عنه: هل تقدم على سائر الوصايا فعلى قولين: أحدهما لا تقدم لأن محلها الثلث

Dan nadzar yang menjadi hujjah dalam keabsahan, jika kita katakan bahwa ia dihitung dari sepertiga harta, maka menurut beliau rahimahullah: Apakah ia didahulukan atas wasiat-wasiat lainnya? Ada dua pendapat: salah satunya, tidak didahulukan karena tempatnya adalah sepertiga harta.

والثاني أنها مقدمة لتأكد لزومها في حالة الصحة وهذا في نهاية الحسن

Kedua, bahwa hal itu merupakan pendahuluan untuk menegaskan kewajibannya dalam keadaan sehat, dan ini sangat baik.

ثم قال رضي الله عنه: نُجري في الوصية بالحج والوصية لزيد وعمرو بشيءٍ الاختلافَ في أنه إذا ازدحم على المال المتضايق حق الله تعالى وحق الآدميين فالمقدم أيُّهما وفيه أقوال ستأتي إن شاء الله تعالى

Kemudian beliau ra. berkata: Kita menerapkan dalam wasiat untuk haji dan wasiat kepada Zaid dan Amr dengan sesuatu, perbedaan pendapat tentang jika hak Allah Ta‘ala dan hak manusia saling bersaing atas harta yang terbatas, maka yang didahulukan di antara keduanya, dan dalam hal ini terdapat beberapa pendapat yang akan disebutkan nanti, insya Allah Ta‘ala.

فإن قلنا: المقدَّم حقُّ الله تعالى اتجه عليه تقديمُ الحج على الوصية للآدميين وإن لم نَرَ ذلك فقد نقدم حقَّ الآدمي في قول وقد نُسوِّي

Jika kita mengatakan bahwa yang didahulukan adalah hak Allah Ta‘ala, maka wajib mendahulukan pelaksanaan haji atas wasiat untuk manusia. Namun jika kita tidak berpendapat demikian, maka dalam satu pendapat kita bisa saja mendahulukan hak manusia, dan dalam pendapat lain kita bisa menyamakan keduanya.

فأما الوصية بالحج والوصية بالصدقة إذا اجتمعا فلا وجه لتقديم الوصية بالحج

Adapun wasiat untuk haji dan wasiat untuk sedekah, apabila keduanya berkumpul, maka tidak ada alasan untuk mendahulukan wasiat untuk haji.

وكل ما ذكرناه في حكم المقدِّمة لمقصود الفصل

Segala sesuatu yang telah kami sebutkan mengenai hukum muqaddimah adalah untuk maksud pembahasan ini.

ونحن الآن نعود إلى غرض الفصل ونقول:

Sekarang kita kembali kepada tujuan bab ini dan berkata:

قد بينا أن حجة الإسلام إذا قرّت في الذمة فهي دين فلو كان أوصى الرجل بوصايا ثم قال: أحِجوا عني حجةَ الإسلام من ثلثي فقوله هذا محمول على مزاحمة الحج للوصايا حتى إذا زاحمها وقلت الوصايا بمزاحمته إياها فإن تحصّل ما يتأدى الحج به من المضاربة فهو المراد وإن لم يتحصل من مزاحمة الوصايا ما يتم به الحج أكملناه من رأس المال

Kami telah menjelaskan bahwa Haji Islam, jika telah tetap sebagai kewajiban dalam tanggungan, maka ia adalah utang. Jika seseorang berwasiat dengan beberapa wasiat, kemudian berkata: “Laksanakanlah haji Islam untukku dari sepertiga hartaku,” maka ucapannya ini dimaknai bahwa haji tersebut bersaing dengan wasiat-wasiat lainnya. Sehingga, jika haji tersebut bersaing dan jumlah wasiat menjadi sedikit karena persaingan itu, lalu didapatkan dana yang cukup untuk melaksanakan haji dari hasil persaingan tersebut, maka itulah yang dimaksud. Namun, jika dari persaingan dengan wasiat-wasiat itu tidak didapatkan dana yang cukup untuk melaksanakan haji, maka kekurangannya disempurnakan dari harta pokok.

هذا إذا صرح الوصي بالإحجاج عنه من ثُلثه وكان عليه حجةُ الإسلام وقد استكمل الاستطاعة في حياته

Ini berlaku jika washi (orang yang berwasiat) secara tegas menyatakan bahwa haji dilakukan atas namanya dari sepertiga hartanya, dan ia memang belum melaksanakan haji Islam padahal telah memenuhi syarat istitha‘ah (kemampuan) selama hidupnya.

ولو قال: أوصيت إليكم أن تُحجوا عني إنساناً ولم يتعرض للثلث ولاعتبار الحج منه ولكنه ذكر لفظ الوصية فقد اختلف أصحابنا في ذلك على ما حكاه العراقيون فذهب بعضهم إلى أن هذا ينزل منزلة تصريحه بالإحجاج عنه من ثلثه حتى يقتضي مزاحمةَ الوصايا فإن الوصية لفظةٌ مشهورةٌ فيما يحسب من الثلث فجرى مجرى التصريح بالحَسْب من الثلث

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada kalian agar kalian menghajikan seseorang untukku,” dan ia tidak menyebutkan sepertiga harta maupun memperhitungkan haji itu dari bagiannya, namun ia menyebutkan lafaz wasiat, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh para ulama Irak. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal ini diposisikan seperti ia secara tegas mewasiatkan agar dihajikan dari sepertiga hartanya, sehingga hal itu menuntut adanya persaingan dengan wasiat-wasiat lain, karena lafaz wasiat adalah istilah yang sudah dikenal dalam hal yang diperhitungkan dari sepertiga harta, sehingga hal itu dianggap seperti pernyataan tegas bahwa haji tersebut diambil dari sepertiga harta.

وذهب آخرون إلى أن الحج لا يزاحم الوصايا إذا لم ينصّ الموصي على اعتباره من الثلث فإن الإيصاء بمثابة الأمر ولو قال: أحجوا عني إنساناً لم يتضمن مجردُ الأمر مزاحمةَ الحج للوصايا ثم ذكروا صورةً أخرى ورتبوا فيها الخلاف على ما ذكرناه وقالوا: إذا قال: أوصيت إليكم أن تُحجوا عني وأن تصدقوا بكذا وتعتقوا رقبة فذكر لفظ الوصية في الحج وقَرَنه بما هو محسوب من الثلث فهل يتضمن هذا في الحج مزاحمة الوصايا به فعلى وجهين مرتبين على الوجهين فيه إذا أطلق الوصية بالحج ولم يقرنه بتبرعٍ محسوبٍ من الثلث وهذه الصورة الأخيرة أولى بحَسْب الحج فيها من الثلث فإنه انضم إلى لفظ الوصية ذكرُ الحج مع تبرعٍ يحسب من الثلث في قَرَنٍ والإقران في الذكر من ضروب البيان

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ibadah haji tidak bersaing dengan wasiat-wasiat lain jika pewasiat tidak secara tegas menyatakan bahwa haji itu dihitung dari sepertiga harta, karena perintah untuk melaksanakan haji dianggap seperti perintah biasa. Jika seseorang berkata, “Hajikanlah aku oleh seseorang,” maka sekadar perintah tersebut tidak berarti bahwa pelaksanaan haji bersaing dengan wasiat-wasiat lain. Kemudian mereka menyebutkan contoh lain dan menetapkan adanya perbedaan pendapat sebagaimana telah dijelaskan, yaitu jika seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada kalian agar kalian menghajikan aku, bersedekah sekian, dan memerdekakan seorang budak,” maka ia menyebutkan lafaz wasiat dalam haji dan menggabungkannya dengan sesuatu yang dihitung dari sepertiga harta. Apakah hal ini berarti pelaksanaan haji bersaing dengan wasiat-wasiat lain? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yang mengikuti dua pendapat dalam kasus ketika wasiat haji disebutkan secara mutlak tanpa digabungkan dengan sedekah yang dihitung dari sepertiga harta. Contoh terakhir ini lebih layak untuk dihitungnya haji dari sepertiga harta, karena dalam lafaz wasiat tersebut disebutkan haji bersama dengan sedekah yang dihitung dari sepertiga harta secara bersamaan, dan penggabungan dalam penyebutan merupakan salah satu bentuk penjelasan.

ولو أمر بالإحجاج عنه وقرن الحجَّ بتبرعٍ ولم يَجْر لفظُ الوصية ففي مزاحمة الوصايا بالحج خلاف والأظهر أنا لا نزاحم به إذا لم يجْرِ لفظُ الوصية فإن مجرد الاقتران لا يستقل بنفسه تبييناً ولكن إذا جرى لفظٌ له مقتضىً فالاقتران يؤكده

Jika seseorang diperintahkan untuk menghajikan dirinya dan mengaitkan ibadah haji dengan sedekah, namun tidak ada lafaz wasiat yang diucapkan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah ibadah haji tersebut dapat bersaing dengan wasiat-wasiat lain. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kita tidak menganggapnya bersaing jika tidak ada lafaz wasiat yang diucapkan, karena sekadar pengaitan saja tidak cukup sebagai penjelasan yang berdiri sendiri. Namun, jika ada lafaz yang memiliki konsekuensi tertentu, maka pengaitan tersebut akan menguatkannya.

هذا مجموع القول في ذكر الحج أمراً وإيصاء وتصريحاً بالحَسْب من الثلث وذكْرِ غيره معه

Inilah keseluruhan uraian mengenai penyebutan haji, baik dalam bentuk perintah, anjuran, maupun penegasan, yang cukup dari sepertiga (harta) serta penyebutan selainnya bersamaan dengannya.

وما ذكرناه في الحج وهو دين يحتسب من رأس المال يجري في جملة الحقوق التي سبيلها أن تكون من رأس المال

Apa yang telah kami sebutkan mengenai haji, yaitu bahwa ia adalah utang yang diperhitungkan dari pokok modal, berlaku juga pada seluruh hak-hak lain yang seharusnya berasal dari pokok modal.

فإذا نصّ مَنْ عليه الحق على حَسْبه من الثلث إذا أطلق لفظَ الإيصاء أو قرنه بتبرعٍ فالتفصيل في المزاحمة على ما ذكرناه في الحج وفاقاً وخلافاً

Jika orang yang memiliki kewajiban secara tegas menyatakan bahwa hak tersebut diambil dari sepertiga harta, baik dengan menggunakan lafaz wasiat secara mutlak maupun mengaitkannya dengan pemberian sukarela, maka rincian tentang persaingan (antara hak-hak tersebut) mengikuti apa yang telah kami sebutkan dalam masalah haji, baik menurut pendapat yang sepakat maupun yang berbeda.

ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أنا إذا فرعنا على تقديم الوصية بحجّ التطوع على الوصايا فإذا أوصى من عليه حجةُ الإسلام فإن تحصل الحجة من ثُلثه فالذي دلّ عليه فحوى كلام الأئمة أنا على تقديم الحج على الوصايا نقدم حجة الإسلام على الوصايا جُمَع فلا مزاحمة حتى إن لم يفضل من الثلث شيء بطلت الوصايا وإذا فضل عن تمام الحج شيءٌ صرف الفضلُ إلى الوصايا وفُض عليها فتثبت المزاحمة في الثلث بحج الإسلام على حسب المزاحمة من حج التطوع والوصايا

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam masalah ini adalah bahwa jika kita berpendapat mendahulukan wasiat untuk haji tathawwu‘ atas wasiat-wasiat lain, maka apabila seseorang yang masih memiliki kewajiban haji Islam berwasiat, jika biaya haji tersebut dapat diambil dari sepertiga hartanya, maka berdasarkan makna yang terkandung dalam perkataan para imam, ketika kita mendahulukan haji atas wasiat-wasiat lain, kita juga mendahulukan haji Islam atas seluruh wasiat, sehingga tidak ada persaingan (antara haji dan wasiat lain), bahkan jika tidak tersisa apa pun dari sepertiga harta setelah digunakan untuk haji, maka wasiat-wasiat lainnya menjadi batal. Namun jika masih ada kelebihan dari biaya haji, maka kelebihan tersebut dialokasikan untuk wasiat-wasiat lain dan didahulukan atasnya, sehingga terjadilah persaingan dalam sepertiga harta antara haji Islam dengan wasiat-wasiat lain, sebagaimana terjadi persaingan antara haji tathawwu‘ dan wasiat-wasiat lain.

ومن أصحابنا من قال: نحن وإن قدمنا حجة التطوع على الوصايا فإذا أوصى أن يوقع حجة الإسلام في الثلث لم نقدمها وذلك أنا نتلقى الاحتساب في الثلث من قوله المشعر بإرادة المزاحمة وإلا فحجة الإسلام حقُّها أن تُقدَّمَ على الثلث فإن أثّر تقديمُها في تقليل الثلث فلا بد من ذلك فأما مزاحمة الوصايا في محل الوصايا فمتلقى من قصد الموصي لا من مقتضى حجة الإسلام

Sebagian dari ulama kami berkata: Meskipun kami mendahulukan haji sunnah atas wasiat, jika seseorang berwasiat agar haji Islam dilaksanakan dari sepertiga hartanya, maka kami tidak mendahulukannya. Hal ini karena kami memahami perhitungan dalam sepertiga harta itu dari ucapannya yang menunjukkan keinginan untuk bersaing (antara haji dan wasiat), jika tidak demikian maka haji Islam seharusnya didahulukan atas sepertiga harta. Jika mendahulukannya berpengaruh pada pengurangan sepertiga harta, maka itu harus dilakukan. Adapun persaingan antara wasiat-wasiat dalam bagian wasiat, itu diambil dari maksud pewasiat, bukan dari konsekuensi haji Islam.

نعم إن قال: قدموا حجِّي في ثلثي على الوصايا فيقدّم حينئذٍ عليها اتّباعاً للفظه

Ya, jika ia berkata: Dahulukan haji saya dari sepertiga hartaku atas wasiat-wasiat, maka pada saat itu haji didahulukan atas wasiat-wasiat tersebut, mengikuti lafaz yang diucapkannya.

ومما نذكره في استكمال هذا أنا إذا صححنا الوصية بحجة التطوع فإذا أطلق الوصية بها فقد ذكر العراقيون وجهين في أن الوصية المطلقة بالحجة محمولةٌ على حجة ميقاتية  أم هي محمولة على حجة ينتهض لها قاصداً من دويرة الموصي أحدهما أنها محمولة على ميقاتية ولعل هذا هو الظاهر فإن ألفاظ الموصي محمولة على أقل المعاني فلذلك تحمل الوصية بالمال على أقل ما يتموّل كما يحمل الأقرار عليه واسم الحج ينطلق على الحج الميقاتي فليقع الاكتفاء به

Dan termasuk yang perlu kami sebutkan dalam penyempurnaan pembahasan ini adalah bahwa apabila kami membenarkan wasiat untuk haji tathawwu‘ (sunnah), maka apabila wasiat tersebut disebutkan secara mutlak, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai apakah wasiat mutlak untuk haji itu dimaknai sebagai haji miqati (dari miqat) ataukah dimaknai sebagai haji yang dilakukan dengan sengaja berangkat dari tempat tinggal pewasiat. Salah satu pendapat menyatakan bahwa wasiat tersebut dimaknai sebagai haji miqati, dan barangkali inilah yang lebih tampak, karena lafaz pewasiat dibawa pada makna yang paling minimal. Oleh karena itu, wasiat dengan harta dibawa pada nilai paling sedikit yang dapat dianggap sebagai harta, sebagaimana pengakuan juga dibawa pada makna tersebut, dan nama haji itu sendiri berlaku untuk haji miqati, maka cukuplah dengan itu.

والوجه الثاني أن الوصية المطلقة محمولة على إحجاج قاصدٍ من دويرة الموصي إذ هذا هو العرف الغالب وهو المفهوم من الحج المطلق فإذا أراد مريدٌ الحجَّ الميقاتي قيده بذلك والعرف إذا اقترن باللفظ كان اللفظ محمولاً على موجب العرف فإذا تبين ذلك فلو قال في حجة الإسلام: أحجوا عني رجلاً من ثلثي فالحج من الميقات مردودٌ إلى الثلث لغرض المزاحمة وهل يتضمن الأمر بالإحجاج ترشيحَ قاصدٍ من دويرة الموصي اختلف أصحابنا في ذلك أخذاً من الوصية المطلقة بحج التطوع فمنهم من قال: لا يُحَج عنه إلا من الميقات والمزاحمة تقع بالحجة الميقاتية ومنهم من قال: ذكْر الحج في محل الوصايا يتضمن أن نرشح عنه قاصداً من دويرته

Pendapat kedua adalah bahwa wasiat yang bersifat mutlak dipahami sebagai perintah untuk memberangkatkan seseorang yang berniat haji dari tempat tinggal pemberi wasiat, karena inilah kebiasaan yang umum dan inilah yang dipahami dari haji yang disebutkan secara mutlak. Jika seseorang menginginkan haji dari miqat, maka ia harus menyebutkannya secara khusus, dan apabila kebiasaan telah menyatu dengan lafaz, maka lafaz tersebut dipahami sesuai dengan kebiasaan tersebut. Jika hal ini telah jelas, maka jika seseorang berkata dalam konteks haji Islam: “Hajikanlah seseorang untukku dari sepertiga hartaku,” maka haji dari miqat dikembalikan kepada sepertiga harta karena adanya persaingan (antara kebutuhan). Apakah perintah untuk menghajikan itu mencakup penunjukan seseorang yang berniat haji dari tempat tinggal pemberi wasiat? Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini, berdasarkan analogi dari wasiat mutlak untuk haji sunnah. Sebagian dari mereka berpendapat: Tidak boleh dihajikan kecuali dari miqat, dan persaingan terjadi pada haji dari miqat. Sebagian yang lain berpendapat: Penyebutan haji dalam konteks wasiat mengandung makna bahwa kita harus menunjuk seseorang yang berniat haji dari tempat tinggal pemberi wasiat.

وكان شيخي يقول: الأمر المطلق بالحج والحج ركنٌ لا يتضمن الإحجاج من دويرته والأمر على ما قال

Guru saya biasa berkata: Perintah mutlak untuk melaksanakan haji, sedangkan haji adalah rukun, tidak mengandung kewajiban untuk menghajikan seseorang dari lingkarannya, dan perintah itu sebagaimana yang beliau katakan.

وقال الأصحاب كافة: إذا فرعنا على أن حج التطوع مقدم على الوصايا فهذا فيه إذا كان المبذول للأجير مقدارَ أجر مثله فإن كان بذل له الموصي أكثرَ من أجر مثله فتلك الزيادة الموصى بها لا تقدم على الوصايا قولاً واحداً فإن سبب التقديم في الحج قوةُ الحج أو شرفه أو ما يرى  وهذا يختص بالحج فإذا فرضتَ نِحْلة ومزيداً في الأجرة فذلك الزائد كالوصايا

Para ulama dari semua mazhab berkata: Jika kita berpendapat bahwa haji sunnah didahulukan atas wasiat-wasiat, maka hal itu berlaku jika jumlah yang diberikan kepada pekerja (orang yang dihajikan) sebesar upah yang semestinya. Namun, jika orang yang berwasiat memberikan kepada pekerja lebih dari upah yang semestinya, maka kelebihan yang diwasiatkan itu tidak didahulukan atas wasiat-wasiat lain menurut satu pendapat. Sebab alasan pendahuluan dalam haji adalah karena kekuatan atau keutamaan haji, atau hal lain yang dianggap, dan ini khusus pada haji. Maka jika diberikan tambahan atau kelebihan dalam upah, maka kelebihan itu diperlakukan seperti wasiat-wasiat lainnya.

وذكر شيخي أبو محمد أن من أصحابنا من رأى تقديم الزائد على أجر المثل في الحج على الوصايا إذا وقع التفريع على تقديم الحج فإن ما يثبت عوضاً في الحج يتبعه في مقتضاه ويكتسب حكمه وهذا بعيدٌ لم أره إلا له

Syekh saya, Abu Muhammad, menyebutkan bahwa sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat mendahulukan kelebihan atas upah sepadan (ujrah mitsl) dalam ibadah haji dibandingkan wasiat-wasiat, jika pembahasan didasarkan pada pendahuluan haji. Maka, apa yang ditetapkan sebagai pengganti (iwadh) dalam haji akan mengikutinya dalam konsekuensinya dan memperoleh hukumnya. Namun, pendapat ini jauh (dari kebenaran), dan aku tidak pernah melihatnya kecuali darinya.

ثم إن ابن الحداد ذكر مسألة وأخرى معها ثم شعّبهما الأصحاب بالتفريع

Kemudian Ibnu al-Haddad menyebutkan suatu permasalahan beserta satu permasalahan lain, lalu para ulama mengembangkannya dengan membuat cabang-cabang hukum.

قال ابن الحداد: إذا كان على الإنسان حجةُ الإسلام وقد وضح أنها ميقاتية

Ibnu al-Haddad berkata: Jika seseorang memiliki kewajiban haji Islam, dan telah jelas bahwa haji tersebut adalah haji miqat.

فإذا قال: أخرجوا حجة الإسلام من ثلثي وأخرجوا أجرته إلى فلان وسمى زيداً مثلاً وقرر الأجرة وقال مائة وكان مقدار أجرته أجرة المثل وأوصى لعمرٍو بما يبقى من ثلثه بعد الحج وأوصى لبكرٍ بثلث ماله وخلّف تسعمائة فإن أجاز الورثة الوصايا صرفنا ثلثاً كاملاً وهو ثلاثمائة إلى الموصى له بالثلث وصرفنا من ثلثٍ آخر مائة إلى الحج وصرفنا الباقي من هذا الثلث وهو مائتان إلى عمرو وهذا ترتيب القسمة حال الإجازة

Jika seseorang berkata: Keluarkanlah haji Islam dari dua pertiga hartaku dan berikanlah upahnya kepada si Fulan, lalu ia menyebutkan nama Zaid, menetapkan upahnya, dan mengatakan seratus, sementara besarnya upah tersebut sesuai dengan upah yang lazim, kemudian ia berwasiat kepada ‘Amr dengan sisa dari sepertiga hartanya setelah haji, dan ia berwasiat kepada Bakr dengan sepertiga hartanya, serta ia meninggalkan harta sebanyak sembilan ratus, maka jika para ahli waris menyetujui wasiat-wasiat tersebut, kita alokasikan satu sepertiga penuh, yaitu tiga ratus, kepada penerima wasiat sepertiga, lalu kita alokasikan dari sepertiga yang lain seratus untuk haji, dan sisanya dari sepertiga tersebut, yaitu dua ratus, untuk ‘Amr. Inilah urutan pembagian dalam keadaan wasiat-wasiat tersebut disetujui.

ولو رد الورثة الوصايا إلى الثلث وأبطلوا الزائد عليه والثلث ثلاثمائة في هذه الصورة فحاصل ما ذكره الأئمة في كيفية القسمة بين الوصايا ثلاثة أوجه: أحدها غلطٌ على المذهب

Jika para ahli waris mengembalikan wasiat-wasiat itu kepada sepertiga harta dan membatalkan kelebihan dari sepertiga tersebut, dan sepertiga dalam kasus ini adalah tiga ratus, maka kesimpulan dari apa yang disebutkan para imam mengenai cara pembagian di antara wasiat-wasiat itu ada tiga pendapat: salah satunya adalah pendapat yang keliru menurut mazhab.

والثاني مزيّفٌ

Dan yang kedua adalah palsu.

والثالث المذهب

Dan yang ketiga adalah mazhab.

أما الغلط فجواب ابن الحداد قال: يصرف مائة إلى الحج ويقسم باقي الثلث وهو مائتان بين عمرو الموصى له بباقي الثلث بعد الحج وبين بكر الموصى له بالثلث واعتلّ ابنُ الحداد بأن قال: لو ثبت الوصية بالحج مع الوصية بالباقي بعد الحج والمسألة كما صورناها لقلنا: للحجّ مائة والباقي للموصى له بما يبقى من الحج ولو فرضنا الوصية بالحج مع الوصية بالثلث لقلنا مع ردّ الورثة الزائدَ على الثلث: نصرف إلى الحج مائة ونصرف إلى الموصى له بالثلث مائتين فإذا كان كل واحد من الرجلين في الوصية بالباقي والوصية بالثلث

Adapun kesalahan, maka jawaban Ibn al-Haddad adalah: seratus (dinar) diberikan untuk haji dan sisa sepertiga, yaitu dua ratus (dinar), dibagi antara ‘Amr yang menerima wasiat atas sisa sepertiga setelah haji dan Bakr yang menerima wasiat atas sepertiga. Ibn al-Haddad beralasan dengan mengatakan: Jika wasiat untuk haji bersama wasiat untuk sisa setelah haji itu tetap berlaku, dan permasalahan sebagaimana yang kami gambarkan, maka kami katakan: untuk haji seratus (dinar) dan sisanya diberikan kepada penerima wasiat atas sisa dari haji. Dan jika kita anggap wasiat untuk haji bersama wasiat untuk sepertiga, maka kami katakan—dengan ahli waris menolak kelebihan atas sepertiga—: kami berikan untuk haji seratus (dinar) dan kami berikan kepada penerima wasiat atas sepertiga dua ratus (dinar). Maka jika masing-masing dari kedua orang tersebut dalam wasiat atas sisa dan wasiat atas sepertiga…

يستحق مائتين فإذا اجتمعا مع الحج وقد بان مساواة ما يستحقه كل واحدٍ لما يستحقه صاحبه فإذا اجتمعا استويا فهذا إذاً مصير منه إلى تقديم الحج

Ia berhak mendapatkan dua ratus. Jika keduanya berkumpul dengan haji, maka tampaklah bahwa apa yang menjadi hak masing-masing sama dengan apa yang menjadi hak yang lain. Jika keduanya berkumpul, keduanya setara. Maka ini berarti ia cenderung untuk mendahulukan haji.

ثم فرع بعد هذا على مذهب أبي حنيفة فإنه يُقدّر في قسمة الرد بين الذين لهم الوصية حالةَ انفراد كل واحد منهم ولهذا يقول: الموصى له بالنصف يساوي الموصى له بالثلث عند رد الوصيتين إلى الثلث لأن الورثة إذا ردوا الزائد وفرض انفراد الموصى له بالثلث فليس له إلا الثلث ولو فرض عند ردهم انفراد الموصى له بالنصف فليس له إلا الثلث فإذا اجتمعا في المسألة اشتركا على استواء في الثلث

Kemudian setelah itu dijelaskan cabang menurut mazhab Abu Hanifah, yaitu bahwa dalam pembagian radd (pengembalian) di antara orang-orang yang menerima wasiat, dihitung seolah-olah masing-masing dari mereka berdiri sendiri. Oleh karena itu, beliau mengatakan: orang yang menerima wasiat setengah sama kedudukannya dengan orang yang menerima wasiat sepertiga ketika kedua wasiat tersebut dikembalikan kepada sepertiga. Sebab, jika para ahli waris menolak kelebihan (dari sepertiga) dan diasumsikan bahwa hanya penerima wasiat sepertiga yang ada, maka ia hanya mendapatkan sepertiga. Begitu pula, jika diasumsikan hanya penerima wasiat setengah yang ada ketika para ahli waris menolak, maka ia juga hanya mendapatkan sepertiga. Maka, jika keduanya berkumpul dalam satu kasus, keduanya berbagi secara setara dalam sepertiga tersebut.

هذا مذهب أبي حنيفة

Ini adalah mazhab Abu Hanifah.

ونحن نقول: الاعتبار في حالة الرد بنسبة القيمة حالة الإجازة والموصى له بالنصف يفضُل الموصى له بالثلث حالة الإجازة فيتفاضلان في الثلث حالة الرد على نسبة التفاضل حالة الإجازة كذلك نقول في مسألة ابن الحداد: لو أجيزت الوصايا فالحج مائة وللموصى له بالباقي مائتان وللموصى له بالثلث ثَلاثُمائة فإذا رُدّت الوصايا إلى الثلث ورأينا تقديم الحج يجب أن تكون القسمة بين صاحب الثلث والباقي على التفاضل  كما سنصفه عند ذكرنا الوجه الثالث إن شاء الله

Kami katakan: Pertimbangan dalam keadaan penolakan adalah dengan membandingkan nilai pada saat diizinkan, dan penerima wasiat setengah lebih utama daripada penerima wasiat sepertiga ketika diizinkan, maka keduanya juga berbeda dalam sepertiga pada saat penolakan sesuai dengan perbedaan pada saat diizinkan. Demikian pula yang kami katakan dalam masalah Ibn al-Haddad: Jika wasiat-wasiat diizinkan, maka untuk haji seratus, untuk penerima wasiat sisanya dua ratus, dan untuk penerima wasiat sepertiga tiga ratus. Jika wasiat-wasiat dikembalikan kepada sepertiga dan kita melihat bahwa haji harus didahulukan, maka pembagian antara pemilik sepertiga dan sisanya harus berdasarkan perbedaan sebagaimana akan kami jelaskan pada pembahasan ketiga, insya Allah.

هذا جواب ابن الحداد وبيان خطئه

Ini adalah jawaban Ibn al-Haddad dan penjelasan tentang kesalahannya.

وهذا الجواب وإن صدر عن رجل عظيم القدر فليس معدوداً من المذهب فإنه غلطٌ لا يستراب فيه

Jawaban ini, meskipun keluar dari seorang yang agung kedudukannya, tidaklah dianggap sebagai bagian dari mazhab, karena itu adalah kesalahan yang tidak diragukan lagi.

والوجه الثاني وهو المزيّف الضعيف مذهب ابن خَيْران قال: وجدنا الثلثين حالة الإجازة على ستة أسهم بين الوصايا والحج: للحج منها سهم وللموصى له بالباقي سهمان وللموصى له بالثلث ثلاثة أسهم فنتخذ هذه النسبة أصلاً في الرد ونقول: للموصى له بالثلث ثلاثةُ أسهم من ثلاثمائة وهو مائة وخمسون وللموصى له بالباقي سهمان وهو مائة ولجهة الحج خمسون

Pendapat kedua, yang lemah dan tidak kuat, adalah mazhab Ibnu Khairan. Ia berkata: Kami mendapati dua pertiga dalam kasus izin (ijazah) terbagi atas enam bagian antara wasiat dan haji: untuk haji satu bagian, untuk penerima wasiat sisanya dua bagian, dan untuk penerima wasiat sepertiga tiga bagian. Maka kami jadikan perbandingan ini sebagai dasar dalam pembagian kembali (ar-raad), dan kami katakan: untuk penerima wasiat sepertiga mendapat tiga bagian dari tiga ratus, yaitu seratus lima puluh; untuk penerima wasiat sisanya mendapat dua bagian, yaitu seratus; dan untuk pihak haji mendapat lima puluh.

والثلاثمائة كذلك تنقسم إذا قسمت أسداساً

Tiga ratus juga demikian, terbagi jika dibagi menjadi enam bagian.

وهذا الذي ذكره ركيك بالغٌ في الرداءة فإن الموصى له بالباقي مؤخر عن تقدير تمام الحج فالتبعيض من الحج ساقط رديء وقد وافق ابن خَيْران في أن الموصي لو صرح بتقديم الحج فقال: قدموا الحج بمائة وما فضل فهو إلى تمام الثلث لعمرو فلا يدخل النقص إذا كان كذلك على الحج وقوله ما فضل من الحج تصريحٌ بتقديم الحج ونظره إلى سهام الإجازة نظرٌ من حيث الظاهر لا غوْصَ فيه فإن الباقي من الحج وقع سهمين فإذا ردّت الوصايا فينبغي أن نعتبر الباقي من الحج ثم ننظر كم يقع

Apa yang disebutkan itu sangat lemah dan sangat buruk, karena penerima wasiat atas sisa (harta) ditempatkan setelah penetapan sempurnanya haji. Maka pembagian sebagian dari haji adalah pendapat yang lemah dan buruk. Ibn Khairan pun sepakat bahwa jika orang yang berwasiat secara tegas mendahulukan haji, misalnya ia berkata: Dahulukan haji dengan seratus, dan apa yang tersisa hingga sepertiga (harta) adalah untuk ‘Amr, maka kekurangan tidak akan mengurangi bagian haji jika memang demikian. Ucapannya “apa yang tersisa dari haji” adalah pernyataan tegas tentang mendahulukan haji, dan pandangannya terhadap bagian-bagian izin (dari ahli waris) hanya dilihat secara lahiriah, tanpa pendalaman. Karena sisa dari haji menjadi dua bagian, maka jika wasiat-wasiat itu dikurangi, seharusnya kita memperhitungkan sisa dari haji, lalu kita lihat berapa yang didapat.

فقد بطل هذا المذهب

Maka telah batal mazhab ini.

وما ذكره ابنُ الحداد وإن لم يخرّج على مذهب الشافعي رضي الله عنه فهو خارج على مذهب أبي حنيفة

Apa yang disebutkan oleh Ibnu al-Haddad, meskipun tidak ditetapkan menurut mazhab asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu, namun itu merupakan pendapat yang sesuai dengan mazhab Abū Ḥanīfah.

والمذهب الصحيح أنا إذا رأينا تقديمَ الحج أخرجنا للحج مائة وقسمنا الباقي بين الموصى له بالثلث وبين الموصى له بالفضل من الحج أخماساً فإن الوصية بالثلث والوصية بالباقي على هذه النسبة وقعتا حالة الإجازة إذا صرفنا إلى الحج مائة وإلى الموصى له بالثلث ثلاثمائة وإلى الموصى له بالباقي مائتين فنرعى هذه النسبة في الوصيتين بعد تقديم الحج فإنا على تقديمه نفرع

Pendapat yang benar adalah bahwa jika kita melihat perlunya mendahulukan haji, maka kita keluarkan seratus untuk haji, lalu sisanya kita bagi antara penerima wasiat sepertiga dan penerima wasiat kelebihan dari haji menjadi lima bagian. Sebab, wasiat sepertiga dan wasiat sisanya berdasarkan proporsi ini terjadi pada saat persetujuan, yaitu jika kita alokasikan seratus untuk haji, tiga ratus untuk penerima wasiat sepertiga, dan dua ratus untuk penerima wasiat sisanya. Maka kita perhatikan proporsi ini dalam kedua wasiat setelah mendahulukan haji, karena kita membangun pembagian ini di atas dasar mendahulukan haji.

فإن لم نر تقديمَ الحج فالوجه أن نقول: كنا صرفنا حالة الإجازة ثلثاً إلى الحج والفاضل منه كان مصروفاً إلى من له الباقي وصرفنا ثلثاً إلى الموصى له بالثلث فنجمع الحج والوصية بالباقي بعد الحج ونصرف إليهما نصف الثلث ونصرف إلى الموصى له بالثلث نصف الثلث ثم الحج من نصف الثلث وهو مائة وخمسون مائةٌ كاملة والباقي وهو خمسون للموصى له بالباقي ونصرف نصف الثلث وهو مائة وخمسون إلى الموصى له بالثلث

Jika kita tidak memandang perlu mendahulukan pelaksanaan haji, maka pendapat yang tepat adalah: pada saat pemberian izin, sepertiga harta dialokasikan untuk haji, dan sisanya diberikan kepada pihak yang berhak atas sisanya. Kemudian, sepertiga lainnya diberikan kepada penerima wasiat sepertiga. Maka, kita menggabungkan antara haji dan wasiat atas sisa harta setelah haji, lalu membagi kepada keduanya setengah dari sepertiga, dan memberikan kepada penerima wasiat sepertiga setengah dari sepertiga. Selanjutnya, haji diambil dari setengah sepertiga, yaitu seratus lima puluh (dari tiga ratus), dan sisanya, yaitu lima puluh, diberikan kepada penerima wasiat atas sisa harta. Kemudian, setengah sepertiga, yaitu seratus lima puluh, diberikan kepada penerima wasiat sepertiga.

هذا هو الوجه الصحيح الذي لا يسوغ غيرُه فرّعناه على تقديم الحج على الوصايا كلّها ثم فرعناه آخراً على تقديم الحج على إحدى الوصيتين وهي الوصية بالباقي

Inilah pendapat yang benar dan tidak dibenarkan pendapat selainnya; kami telah menguraikannya berdasarkan pendahuluan bahwa haji didahulukan atas seluruh wasiat, kemudian kami uraikan lagi bahwa haji didahulukan atas salah satu dari dua wasiat, yaitu wasiat terhadap sisa harta.

صورة أخرى: إذا جرت الوصايا على ما ذكرنا ثم رد الورثة الزائد على الثلث وكان الثلث مائة وخمسين ورأينا أنه لا نقدم الحج على جميع الوصايا وهو الأصح فعلى هذا نجعل الثلث نصفين وسبيله أن نقول: صاحب الحج وصاحب الباقي بعد الحج نجعلهما حزباً وصاحب الحج يقول للموصى له بالثلث : أنا والموصى له بالباقي نأخذ مثل ما تأخذ فأَعُدُّ الموصى له بالباقي عليك حتى أشاطرك فاني وصاحبي مضافان إلى الثلث ثم أفوز بنصف المائة والخمسين ولا أدفع إلى صاحبي شيئاً وأُعَادِكَ به كفعل الأخ من الأب والأم مع الأخ من الأب والجد  فإن الأخ من الأب وإن كان محجوباً بالأخ من الأب والأم فإنه يعدُّه على الجد  ونقدر الأخ من الأب ضارباً في ثلثي التركة حتى لا يخص الجدَّ إلا ثلث ثم ما يقدّر للأخ من الأب يفوز به الأخ من الأب والأم كذلك صاحب الحج يشاطر صاحب الثلث بضم صاحب الباقي إلى نفسه ثم يفوز بجميع الشَّطر فإنه أقلُّ من المائة التي يستحقها فلا يفضل منه شيء

Gambaran lain: Jika wasiat-wasiat telah dilakukan sebagaimana yang telah kami sebutkan, kemudian para ahli waris mengembalikan kelebihan dari sepertiga, dan sepertiga itu sebesar seratus lima puluh, serta kami berpendapat bahwa ibadah haji tidak didahulukan atas seluruh wasiat—dan ini adalah pendapat yang paling sahih—maka dalam hal ini kita membagi sepertiga itu menjadi dua bagian. Caranya adalah dengan mengatakan: pihak yang berhak atas haji dan pihak yang berhak atas sisa setelah haji kita jadikan satu kelompok. Pihak yang berhak atas haji berkata kepada penerima wasiat sepertiga: “Aku dan penerima wasiat atas sisa setelah haji mengambil bagian seperti yang kamu ambil, maka aku menghitung penerima wasiat atas sisa itu sebagai bagianmu agar aku bisa berbagi denganmu. Aku dan temanku sama-sama ditambahkan ke dalam sepertiga, kemudian aku memperoleh setengah dari seratus lima puluh dan tidak memberikan apa pun kepada temanku, serta aku mengulangi hal itu kepadamu sebagaimana yang dilakukan saudara seayah dan seibu terhadap saudara seayah dan kakek. Sebab, saudara seayah, meskipun terhalang oleh saudara seayah dan seibu, ia tetap dihitung terhadap kakek, dan kita menganggap saudara seayah mengambil bagian dari dua pertiga harta warisan sehingga kakek hanya mendapat sepertiga. Kemudian bagian yang diperhitungkan untuk saudara seayah itu dimenangkan oleh saudara seayah dan seibu. Demikian pula, pihak yang berhak atas haji berbagi dengan penerima sepertiga dengan menggabungkan penerima sisa ke pihaknya, lalu ia memperoleh seluruh bagian setengahnya, karena itu lebih sedikit dari seratus yang menjadi haknya, sehingga tidak ada kelebihan apa pun darinya.

هكذا ذكره أئمة العراق وصاحب التقريب وكلُّ معتبرٍ في المذهب فلا فرق بين المعادّة في الفرائض وبين ما ذكرناه هاهنا ومن قبيل المعادَّة ردُّنا الأمَّ إلى السدس في فريضة فيها أبٌ وأخوان وأم فإن الأخوين وإن سقطا بالأب فهما معدودان على الأم والأب يقول: أنا حاجبهما فهما محسوبان عليك

Demikianlah yang disebutkan oleh para imam Irak, penulis kitab at-Taqrīb, dan setiap ulama yang diakui dalam mazhab ini, bahwa tidak ada perbedaan antara pengulangan (al-mu‘ādah) dalam masalah faraidh dengan apa yang kami sebutkan di sini. Termasuk dalam kategori pengulangan adalah pengembalian bagian ibu menjadi sepertiga dalam kasus warisan yang terdapat ayah, dua saudara, dan ibu. Meskipun kedua saudara tersebut gugur karena keberadaan ayah, keduanya tetap dihitung terhadap ibu, sedangkan ayah berkata: “Aku yang menghalangi keduanya,” maka keduanya tetap diperhitungkan terhadapmu.

وقال ابن خَيْران: اعتبرْ حالة الإجازة فإذا كان الثلث مائةً وخمسين فالثلثان ثلاثمائة فلو أجاز الورثة الوصايا فعلمنا للموصى له بالثلث مائة وخمسون وللحج مائة والباقي من الثلث الثاني وهو خمسون للموصى له بالباقي بعد الحج فقد وقعت القسمة في الإجازة في هذه الصورة أسداساً ولكن وقع للحج سهمان في الإجازة وللباقي سهم وللثلث ثلاثة أسهم فإذا ردّت الوصايا إلى مائة وخمسين قسمناها على ستة أسهم: لصاحب الثلث منها ثلاثة أسهم وهو خمسة وسبعون ولصاحب الحج سهمان وهو خمسون ولصاحب الباقي سهم وهو خمسة وعشرون

Ibnu Khairan berkata: Perhatikanlah keadaan ketika ada izin (ijazah). Jika sepertiga (harta) adalah seratus lima puluh, maka dua pertiganya adalah tiga ratus. Jika para ahli waris mengizinkan wasiat-wasiat tersebut, maka kita mengetahui bahwa untuk penerima wasiat sepertiga adalah seratus lima puluh, untuk haji seratus, dan sisanya dari sepertiga kedua, yaitu lima puluh, diberikan kepada penerima wasiat yang mendapatkan sisa setelah haji. Maka pembagian dalam kasus ijazah ini menjadi enam bagian. Namun, untuk haji mendapatkan dua bagian dalam ijazah, untuk sisa mendapatkan satu bagian, dan untuk sepertiga mendapatkan tiga bagian. Jika wasiat-wasiat dikembalikan menjadi seratus lima puluh, maka kita membaginya menjadi enam bagian: untuk penerima sepertiga mendapat tiga bagian, yaitu tujuh puluh lima; untuk penerima haji mendapat dua bagian, yaitu lima puluh; dan untuk penerima sisa mendapat satu bagian, yaitu dua puluh lima.

وهذا ظاهر السقوط وتبيّن بقوله في هذه الصورة ضعفُ مذهبه وإن جرى على قياس واحد لأن ما ذكره لو كان نسبة حقيقية بالجزئية لكانت لا تختلف بقلة المال وكثرته وقد خص صاحب الباقي في المسألة الأولى مائتان وخص الحجَّ مائة والسبب فيه أن الباقي هو المعتبر وقد اختلف قدر الباقي ولا باقي في مسألتنا عن الحج بل ليس ما بقي معنا بمقدار الحج فيظهر بطلان مذهبه واتضح أن المسلك الحق ما ذكرناه

Hal ini jelas merupakan kekeliruan, dan tampak dari ucapannya dalam kasus ini lemahnya mazhabnya, meskipun ia mengikuti satu qiyās, karena apa yang ia sebutkan, jika itu merupakan nisbah yang hakiki secara parsial, maka tidak akan berbeda antara sedikit atau banyaknya harta. Padahal, dalam masalah pertama, pemilik pendapat tentang sisa (al-bāqī) mengkhususkan dua ratus, dan untuk haji mengkhususkan seratus. Sebabnya adalah bahwa yang dianggap adalah sisa, dan kadar sisa itu berbeda-beda. Sedangkan dalam masalah kita tentang haji, tidak ada sisa, bahkan apa yang tersisa pada kita tidak sebanding dengan biaya haji. Maka tampaklah kebatilan mazhabnya, dan jelaslah bahwa jalan yang benar adalah apa yang telah kami sebutkan.

وفي نفسي من المعادّة شيء من جهة أن صاحب الباقي مترتب على الحج  فكيف يعادّ به صاحبُ الحج صاحبَ الثلث والأخ من الأب يزاحم الجد مزاحمة الأشخاص وكذلك الإخوة في فريضة فيها أبٌ وأم وإذا لم نعتبر المعادّة ولم نعتبر الحج قلنا فريضة فيها حج بمائة ووصية بثلث وهما محصوران في الثلث والثلث مائة وخمسون فيجب أن نصرف للحج سهمين ولصاحب الثلث ثلاثة أسهم وهذا احتمال  والأصل ما ذكره الأصحاب من المعادّة

Dalam hati saya masih ada keraguan mengenai mu‘ādah, karena pemilik bagian sisa (bāqī) itu bergantung pada hajj, maka bagaimana mungkin pemilik hajj dapat mempersaingi pemilik sepertiga, dan saudara seayah dapat menyaingi kakek sebagaimana persaingan antar individu, demikian pula para saudara dalam suatu kewajiban yang di dalamnya terdapat ayah dan ibu. Jika kita tidak mempertimbangkan mu‘ādah dan tidak mempertimbangkan hajj, maka kita katakan: suatu kewajiban yang di dalamnya terdapat hajj sebesar seratus dan wasiat sepertiga, keduanya terbatas pada sepertiga, dan sepertiga itu seratus lima puluh, maka harus kita berikan kepada hajj dua bagian dan kepada pemilik sepertiga tiga bagian. Ini adalah suatu kemungkinan, namun yang menjadi dasar adalah apa yang telah disebutkan oleh para ulama mengenai mu‘ādah.

صورة أخرى: إذا كان ترتيب الوصايا على ما صورنا والثلث مائةٌ وقد جرت الوصية بالثلث وأجرةُ الحج مائةٌ

Gambaran lain: Jika urutan wasiat seperti yang telah kami gambarkan dan sepertiga harta adalah seratus, lalu wasiat dilakukan untuk sepertiga harta dan biaya haji adalah seratus.

فنقول: أما الوصية بما تبقى بعد أجرة الحج إلى الثلث فباطلةٌ في هذه الصورة فإن الأجرة مستغرقة للثلث فليس يفضل منها شيء والمعادّة التي ذكرها الأئمة في الصورة المتقدمة لا معنى لها في هذه الصورَة فإن المعادّة إنما تجري بين ثلاثة أشخاص فصاعداً إذا كان الذي يقع المعادة به يُفرضُ استحقاقُه مع واحد من الثلاثة إذا لم يكن الثالث كالجد والأخ من الأب والأم والأخ من الأب فالمعادّة تقع بالأخ من الأب من جهة أنه لو كان مع الجد وليس معهما أخ من أب وأم يقاسم الجدَّ فيعدّه الأخُ من الأب والأم على الجد

Maka kami katakan: Adapun wasiat atas sisa setelah biaya haji hingga sepertiga, maka hukumnya batal dalam kasus ini, karena biaya tersebut telah menghabiskan sepertiga harta, sehingga tidak ada sisa darinya. Adapun pengulangan (al-mu‘ādah) yang disebutkan oleh para imam dalam kasus sebelumnya, tidak ada maknanya dalam kasus ini. Sebab, pengulangan itu hanya berlaku di antara tiga orang atau lebih, yaitu ketika yang menjadi objek pengulangan itu dapat diasumsikan berhak bersama salah satu dari tiga orang tersebut jika yang ketiga tidak ada, seperti kakek, saudara seayah-seibu, dan saudara seayah. Maka pengulangan itu terjadi pada saudara seayah dari sisi bahwa jika ia bersama kakek dan tidak ada saudara seayah-seibu bersama mereka, maka ia membagi warisan dengan kakek, sehingga saudara seayah-seibu menghitung saudara seayah sebagai bagian kakek.

وإذا كان من يُفرض المعادّة به لا يرث مع أحدٍ في الفريضة فلا معنى للمعادّة به وهذا كالأخ من الأم مع الجد والأخِ من الأب والأم

Jika seseorang yang seharusnya dijadikan sebagai pihak yang dimu‘addah-kan (dijadikan sekutu dalam pembagian warisan) tidak mewarisi bersama siapa pun dalam pembagian farā’iḍ, maka tidak ada makna untuk melakukan mu‘addah dengannya. Contohnya adalah saudara seibu bersama kakek dan saudara seayah-seibu.

والوصيةُ بالباقي إذا كلان الثلث زائداً على المائة التي هي قدر الثلث يقدّر ثبوتُها لو تفردت الوصية بالحج فيجوز أن يقع بتلك الوصية معادّة مع الموصى له بالثلث فأما إذا كان الثلث على مقدار أجرة الحج فلا يتصور للوصية بالباقي ثبات  ثم إن رأينا تقديمَ الوصية بالحج فالوصية بالثلث ساقطة كما سقطت الوصية بالباقي والثلث مستغرَق بأجرة الحج وهو مصروف إليها وإن لم نر تقديم الحج فالثلث بين الحج وبين الموصى له بالثلث فإن الحاج يضرب بمائة والموصى له بالثلث يضرب بالثلث وهو مائة فيما نطلقه في أول المسألة إلى أن تظهر غائلتها

Dan wasiat dengan sisa harta, jika sepertiga harta melebihi seratus—yang merupakan jumlah sepertiga—maka keberlakuannya diperkirakan seandainya wasiat untuk haji itu berdiri sendiri. Maka, boleh jadi wasiat tersebut terjadi bersamaan dengan wasiat kepada penerima sepertiga. Adapun jika sepertiga harta hanya sebesar ongkos haji, maka tidak mungkin wasiat dengan sisa harta itu berlaku. Selanjutnya, jika kita memandang wasiat untuk haji didahulukan, maka wasiat untuk sepertiga gugur, sebagaimana gugur pula wasiat dengan sisa harta, dan sepertiga harta habis untuk ongkos haji serta dialokasikan untuk itu. Namun, jika kita tidak memandang wasiat haji didahulukan, maka sepertiga harta dibagi antara haji dan penerima wasiat sepertiga. Maka, orang yang berhaji mendapat bagian seratus, dan penerima wasiat sepertiga mendapat bagian sepertiga, yaitu seratus, sebagaimana yang kami sebutkan di awal permasalahan ini, hingga tampak akibatnya.

ثم المسألة تدور لا محالة فإنها مفروضة في الوصية بحجة الإسلام والثلث في الصورة التي ذكرناها لا يفي بمقدار الحج فلا بد من استكمال أجرة الحج من رأس المال وإذا أخذنا من رأس المال مقداراً نقص الثلث وقلّ ما يحصل المضاربة به ويزداد المأخوذ من رأس المال ولا ننفصل إلا بالحساب ومهما لم تف حصة الحج بأجرة الحج وهو حجة الإسلام دارت المسألة للاحتياج إلى أخذ التكملة والقيمة من رأس المال

Kemudian permasalahan ini pasti akan berputar, karena ia diasumsikan dalam wasiat untuk haji Islam, dan sepertiga harta dalam gambaran yang telah kami sebutkan tidak mencukupi biaya haji. Maka harus disempurnakan biaya haji dari harta pokok. Jika kita mengambil sebagian dari harta pokok, maka sepertiga harta akan berkurang dan jumlah yang dapat digunakan untuk mudharabah menjadi sedikit, sementara jumlah yang diambil dari harta pokok semakin banyak. Permasalahan ini tidak dapat diselesaikan kecuali dengan perhitungan. Selama bagian haji tidak mencukupi biaya haji, padahal itu adalah haji Islam, maka permasalahan ini akan terus berputar karena kebutuhan untuk mengambil pelengkap dan nilainya dari harta pokok.

ثم قال الأصحاب: وجه الدور في هذه المسألة أن يقال: نأخذ من رأس المال شيئاً مجهولاً فيبقى مال ناقص شيئاً فثلثه وهو مائة ناقص بثلث شيء فنقسم ذلك بين الحج وبين الموصى له بالثلث نصفين يخص كلَّ واحد منهما خمسون ناقصاً بسدس شيء فإن الثلث مائة ناقصة بثلث شيء وفي يد الحاج شيء وخمسون درهماً ناقصاً بسدس شيء فنجبر الخمسين بسدس شيء من هذا الشيء الذي أخذناه فصار خمسين وخمسة أسداس شيء وذلك يعدل مائة فيذهب الخمسون بالخمسين ويبقى خمسة أسداس شيء تعدل خمسين فالشيء يعدل ستين  فنعود ونقول: الشيء المأخوذ من رأس المال ستون يبقى مائتان وأربعون ثلثها ثمانون أربعون منها لعمرو الموصى له بالثلث وأربعون للحج وإذا ضم إلى ستين  كملت المائة

Kemudian para ulama berkata: Penjelasan tentang perputaran dalam masalah ini adalah sebagai berikut: Dikatakan, kita mengambil dari pokok harta sejumlah yang tidak diketahui, sehingga tersisa harta yang berkurang sejumlah itu, maka sepertiganya adalah seratus dikurangi sepertiga sesuatu. Lalu kita membagi itu antara haji dan penerima wasiat sepertiga, masing-masing mendapatkan lima puluh dikurangi seperenam sesuatu. Karena sepertiganya adalah seratus dikurangi sepertiga sesuatu, dan di tangan orang yang berhaji ada sesuatu dan lima puluh dirham dikurangi seperenam sesuatu, maka kita tambahkan lima puluh dengan seperenam sesuatu dari sesuatu yang telah kita ambil, sehingga menjadi lima puluh dan lima perenam sesuatu. Itu setara dengan seratus, maka lima puluh dikurangi lima puluh, tersisa lima perenam sesuatu yang setara dengan lima puluh, sehingga sesuatu itu setara dengan enam puluh. Maka kita kembali dan mengatakan: sesuatu yang diambil dari pokok harta adalah enam puluh, sehingga tersisa dua ratus empat puluh, sepertiganya delapan puluh, empat puluh di antaranya untuk ‘Amr penerima wasiat sepertiga, dan empat puluh untuk haji. Jika ditambahkan enam puluh, maka genaplah seratus.

قال الشيخ القفال: هكذا عَمَلُ أصحابنا وهو غلط عندي لأنا إذا أخذنا الستين من رأس المال وكان الثلث بعد الستين ثمانين فالموصى له بالثلث يجب أن يضرب بثمانين فإن الثلث إنما يقام ويعدّل بعد أخذ الديون من رأس المال والحاج يضارب بالمائة التامة بحكم الوصية

Syekh al-Qaffal berkata: Demikianlah praktik para sahabat kami, namun menurutku itu keliru, karena jika kita mengambil enam puluh dari modal, dan sepertiga setelah enam puluh adalah delapan puluh, maka orang yang diwasiati sepertiga harus mengambil bagian dari delapan puluh, sebab sepertiga itu baru ditegakkan dan disesuaikan setelah utang-utang diambil dari modal, sedangkan orang yang berhaji mengambil bagian dari seratus penuh berdasarkan ketentuan wasiat.

فالمسلك الحق في الفقه لو صحت هذه الصورة أن يضرب الحاج بعشرة أسهم ويضرب الموصى له بالثلث بثمانية أسهم وإذا جرى التضارب كذلك ازداد نصيب الحج واختلف الحُسَّاب في المأخوذ من رأس المال وعلى عبارة الجبر يضارب الحاج بمائةٍ كاملة ويضارب الموصى له بالثلث بمائة ناقصة ثلث شيء فالتضارب في مائة ناقصة ثلث شيء وصاحب الحج يضرب بمائة تامة هذا كلام القفال  ويجب بحسبه في الصورة التي ذكرناها أن يكون المأخوذ من رأس المال أقلَّ من ستين فإنا لو أخذنا الستين وأثبتنا المضاربة بالمائة لزاد ما يحصل على مائة

Jadi, metode yang benar dalam fiqh, jika gambaran ini benar, adalah bahwa orang yang berhaji mendapat bagian sepuluh saham, dan orang yang menerima wasiat sepertiga mendapat delapan saham. Jika terjadi pertentangan seperti itu, maka bagian haji akan bertambah, dan para ahli hisab berbeda pendapat tentang jumlah yang diambil dari modal pokok. Menurut ungkapan al-jabr, orang yang berhaji bersaing dengan seratus penuh, sedangkan orang yang menerima wasiat sepertiga bersaing dengan seratus dikurangi sepertiga sesuatu. Maka, persaingan terjadi pada seratus dikurangi sepertiga sesuatu, dan pemilik haji bersaing dengan seratus penuh. Demikianlah penjelasan al-Qaffal. Maka, menurut penjelasan tersebut dalam gambaran yang telah kami sebutkan, jumlah yang diambil dari modal pokok harus kurang dari enam puluh, karena jika kita mengambil enam puluh dan menetapkan persaingan pada seratus, maka hasilnya akan melebihi seratus.

ونحن نقول: ما ذكره القفال من تغليط الأصحاب صحيح لا مراء فيه ووجهه ما أبديناه من كلامه

Kami mengatakan: Apa yang disebutkan oleh al-Qaffāl tentang kekeliruan para sahabat memang benar dan tidak diragukan lagi, dan alasannya adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan dari ucapannya.

هذا القدر من كلام الشيخ الإمام أبي نصر القشيري رحمة الله عليه  ثم لم يذكر رضي الله عنه وجه الصواب في الحساب

Inilah kutipan dari perkataan Syekh Imam Abu Nashr al-Qusyairi rahimahullah. Kemudian beliau, semoga Allah meridhainya, tidak menyebutkan sisi kebenaran dalam perhitungan tersebut.

ونحن إن وفق الله تعالى نذكر ما يحضرنا في هذه المسألة إن شاء الله عز وجل فنقول وقد نجزت مسائل الحج بما فيها: قد ذكر أئمة العراق في مسألة ابن الحداد وهي الوصية بالحج وبما بقي إلى تمام الثلث مع الوصية بثلث لثالثٍ شرطاً لم أره إلا لهم وذلك أنهم قالوا: إذا تقدمت الوصية بالحج وبما بقي من الثلث ثم جرت الوصية بثلث بعد ذلك فالأجوبة كما قدمناها في أطراف المسألة

Jika Allah Ta‘ala memberi taufik, kami akan menyebutkan apa yang terlintas dalam masalah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kami katakan bahwa masalah-masalah haji beserta isinya telah selesai dibahas. Para imam Irak telah menyebutkan dalam masalah Ibn al-Haddad, yaitu wasiat untuk haji dan apa yang tersisa hingga genap sepertiga, bersamaan dengan wasiat sepertiga untuk pihak ketiga, suatu syarat yang tidak aku temukan kecuali pada mereka. Mereka mengatakan: Jika wasiat untuk haji dan apa yang tersisa dari sepertiga didahulukan, kemudian setelah itu wasiat sepertiga dilakukan, maka jawabannya sebagaimana yang telah kami sebutkan pada bagian-bagian masalah ini.

فأما إذا تقدمت الوصية بالثلث ثم جرى بعدها الوصية بالحج وبما يبقى بعد الحج إلى الثلث فالوصية بالباقي إلى تمام الثلث باطلة فإنه قد تقدم ذكر الثلث كاملاً فالوصية بما يبقى بعد الثلث فاسدة في اللفظ

Adapun jika wasiat sepertiga telah didahulukan, kemudian setelah itu ada wasiat untuk haji dan untuk apa yang tersisa setelah haji hingga sepertiga, maka wasiat untuk sisa hingga genap sepertiga adalah batal, karena sebelumnya telah disebutkan sepertiga secara penuh, sehingga wasiat untuk apa yang tersisa setelah sepertiga adalah rusak secara lafaz.

وهذا الذي ذكروه لا أصل له فإنه و إن جرى ذكر الثلث فالوصية بالباقي بعد الثلث من الحج مقدرة من ثلثٍ آخر ولا يمتنع تقدير فضلٍ من الحج إذا قُدّر ثلث آخر فإن ذلك الباقي مضاف إلى الحج وما تبقى منه إلى تمام ثُلثٍ

Apa yang mereka sebutkan itu tidak memiliki dasar, karena meskipun disebutkan sepertiga, wasiat dengan sisa setelah sepertiga dari haji itu dihitung dari sepertiga yang lain, dan tidaklah terlarang untuk memperkirakan kelebihan dari haji jika ditetapkan sepertiga yang lain, sebab sisa tersebut disandarkan kepada haji dan apa yang tersisa darinya hingga genap sepertiga.

ومما كان يذكره شيخنا أبو محمد رضي الله عنه أن الوصية بالحج إذا تقيدت بترشيح رجل من بلدةِ الموصي فإن وجدنا وفاء نفذناه وإن لم نجد وفاءً رَدَدْنا الحجة إلى الميقات وإن كان يفي ما ظفرنا به ببعض الطريق قبل الانتهاء إلى الميقات فإنا نُحجّ شخصاً من نصف الطريق وكلما طالت مسافة القصد كان الحج أفضل وبالله التوفيق

Di antara hal yang pernah disebutkan oleh guru kami, Abu Muhammad rahimahullah, adalah bahwa wasiat untuk berhaji jika dibatasi dengan penunjukan seorang laki-laki dari daerah asal orang yang berwasiat, maka jika kami mendapatkan dana yang cukup, kami laksanakan wasiat tersebut. Namun jika tidak mendapatkan dana yang cukup, kami kembalikan pelaksanaan haji itu ke miqat. Jika dana yang kami peroleh hanya cukup untuk menempuh sebagian perjalanan sebelum sampai ke miqat, maka kami memberangkatkan seseorang untuk berhaji dari pertengahan perjalanan. Semakin jauh jarak keberangkatan, maka haji itu lebih utama. Hanya kepada Allah-lah taufik diberikan.

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو أوصى بأمةٍ لزوجها وهو حُرّ إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seandainya seseorang berwasiat memberikan seorang budak perempuan kepada suaminya, sedangkan suaminya adalah seorang yang merdeka, dan seterusnya.

هذا الفصل وفصول بعده يستند إلى الملك متى يحصل للموصى له في الموصى به ونحن نمهد قاعدة المذهب في هذا أولاً ونوضح ما فيه أصلاً وتفريعاً ثم نعود إلى تتبع الفصول المذكورة في المختصر على وِلائها فنقول أولاً: الإيجاب في الوصية لا بد منه وهو لفظةٌ دالةٌ على التمليك نصّاً صادرةٌ من الموصِي وذلك مثل أن يقول: أوصيت لفلان بكذا أو ملكته كذا أو أعطوه كذا أو سلموا إليه من مالي كذا فهذه الألفاظ وما في معانيها إيجابٌ من الموصي

Bab ini dan bab-bab setelahnya didasarkan pada pembahasan tentang kapan kepemilikan atas harta wasiat berpindah kepada penerima wasiat. Kami akan memaparkan terlebih dahulu kaidah mazhab dalam hal ini, kemudian menjelaskan pokok dan rincian permasalahannya, lalu kembali menelusuri bab-bab yang disebutkan dalam mukhtashar sesuai urutannya. Maka kami katakan terlebih dahulu: ijab dalam wasiat adalah suatu keharusan, yaitu berupa ungkapan yang menunjukkan pemberian kepemilikan secara tegas yang keluar dari pihak yang berwasiat. Contohnya adalah ucapan: “Aku berwasiat untuk si Fulan dengan ini,” atau “Aku telah menjadikannya milik si Fulan,” atau “Berikan ini kepadanya,” atau “Serahkan dari hartaku ini kepadanya.” Maka ungkapan-ungkapan ini dan yang semakna dengannya merupakan ijab dari pihak yang berwasiat.

وتردد أئمتنا فيه إذا قال: وهبت لفلان كذا ورام الإيصاء لا تنجيز الهبة : فمنهم من قال: هذا إيصاء كقوله: ملكت فلاناً ومنهم من قال: لا تصح الوصية بهذه اللفظة فإنها صريح في الهبة المنجزة فإذا لم يترتب عليها مقتضاها في تنجيز الهبة بطلت

Para imam kami berbeda pendapat dalam masalah ini apabila seseorang berkata: “Aku telah memberikan sesuatu kepada si Fulan” namun ia bermaksud wasiat, bukan menghibahkan secara langsung. Sebagian dari mereka berpendapat: Ini adalah wasiat, sebagaimana jika ia berkata: “Aku telah menjadikan si Fulan sebagai pemilik.” Sebagian lain berpendapat: Wasiat tidak sah dengan lafaz ini, karena lafaz tersebut secara tegas menunjukkan hibah yang langsung. Maka jika tidak terjadi akibat hukum berupa penyerahan hibah secara langsung, hukumnya batal.

فهذا بيان ما يكون إيجاباً

Berikut ini adalah penjelasan mengenai apa yang termasuk sebagai ijab.

فإذا ذكر صيغةً صريحة في الإقرار فهي إقرار وليست إيصاءً  وذلك كقوله: هذا العبد لفلان حتى لو أراد حملَ ذلك على الإيصاء لم يُقبل منه ولو قرن باللفظ ما يخرجه عن كونه إقرار مثل أن يقول: هذا العبد من مالي لفلان فالإقرار على هذه الصيغة باطل وهل يكون هذا إيصاءً مع عُروّه عن إنشاء تمليك فيه تردّدٌ واحتمال  ولو قال: جعلت هذا العبدَ لفلان فهذا إيصاء لتصريحه بإثبات الملك له ولو قال: عيّنتُ هذا العبدَ لفلان فما أرى ذلك إيصاء  فإن التعيين له يتردد بين معانٍ: أحدها وعْدٌ بالإيصاء كأنه قال: عينته له لأوصي له به  ويجوز أن يريد بلفظه تعينه للوصية بالمنافع وإذا تقابلت جهات الإمكان فلا نجعل اللفظ إيجاباً في الإيصاء فإن زعم من يُقرّ أنه أراد إيصاء فالظاهر عندي صحةُ الإيصاء بالكنايات إذا اقترنت بالقصود والنيات وقد ذكرت تردداً في انعقاد البياعات بالكنايات والسبب فيه استدعاء البيع جواباً ناجزاً من المخاطب به وذلك يستدعي إفهاماً وهو عَسِرٌ بالكناية وسأجمع في ذلك قولاً جامعاً في كتاب الخلع إن شاء الله تعالى والإيصاء لا يستدعي في الحال جواباً ولذلك قَبِل التعليقَ بالأغرار والأخطار

Jika seseorang mengucapkan lafaz yang jelas sebagai pengakuan, maka itu adalah pengakuan dan bukan wasiat. Misalnya, jika ia berkata: “Budak ini milik Fulan,” maka meskipun ia bermaksud menjadikannya sebagai wasiat, hal itu tidak diterima darinya. Namun, jika ia mengiringi lafaz tersebut dengan sesuatu yang mengeluarkannya dari status sebagai pengakuan, seperti mengatakan: “Budak ini dari hartaku untuk Fulan,” maka pengakuan dengan lafaz seperti ini batal. Apakah ini dianggap sebagai wasiat, padahal tidak ada penciptaan kepemilikan di dalamnya, masih terdapat keraguan dan kemungkinan. Jika ia berkata: “Aku jadikan budak ini untuk Fulan,” maka ini adalah wasiat karena ia secara tegas menetapkan kepemilikan untuknya. Namun, jika ia berkata: “Aku tunjuk budak ini untuk Fulan,” menurutku itu bukan wasiat, karena penunjukan tersebut masih mengandung beberapa kemungkinan makna: salah satunya adalah janji untuk berwasiat, seolah-olah ia berkata: “Aku tunjuk dia untukku wasiatkan kepadanya.” Bisa juga ia bermaksud dengan ucapannya itu penunjukan untuk wasiat atas manfaatnya. Jika terdapat beberapa kemungkinan makna, maka kita tidak menetapkan lafaz itu sebagai ijab dalam wasiat. Jika orang yang mengaku itu mengklaim bahwa ia bermaksud wasiat, maka menurut pendapatku, wasiat dengan kinayah sah jika disertai dengan maksud dan niat. Aku telah menyebutkan adanya keraguan dalam terjadinya jual beli dengan kinayah, dan sebabnya adalah karena jual beli membutuhkan jawaban langsung dari pihak yang diajak, yang menuntut adanya pemahaman, dan hal itu sulit dilakukan dengan kinayah. Aku akan mengumpulkan pendapat yang komprehensif tentang hal ini dalam Kitab Khulu‘, insya Allah Ta‘ala. Adapun wasiat tidak membutuhkan jawaban langsung pada saat itu, oleh karena itu wasiat menerima penggantungan pada hal-hal yang belum pasti dan kemungkinan-kemungkinan.

فهذا بيان ما يقع إيصاء ثم لا خلاف أن الوصية لا تستدعي جواباً من الموصى له في الحال بل أجمع أئمتنا على أنه لو قبل لم يكن لقبوله في حياة الموصي حكم ولو أراد الردّ بعد موت الموصي لكان على خِيَرته فيه وكذلك لو ردّ الوصيةَ في حياة الموصي لم يكن لرده حكم وهو على خِيرَته في القبول بعد موت الموصي ثم لا خلاف أن القبول لا بد منه كما سنصفه ولا يشترط مبادرة القبول من الموصى له كما بلغه موت الموصي ولكن الخيار إليه في التأخير والتعجيل

Berikut adalah penjelasan tentang apa yang terjadi dalam wasiat. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa wasiat tidak memerlukan jawaban langsung dari penerima wasiat pada saat itu juga. Para imam kami telah sepakat bahwa jika penerima wasiat menerima wasiat tersebut semasa hidup orang yang berwasiat, maka penerimaannya itu tidak memiliki konsekuensi hukum. Jika ia ingin menolak setelah wafatnya orang yang berwasiat, maka ia tetap memiliki hak memilih. Demikian pula, jika ia menolak wasiat itu semasa hidup orang yang berwasiat, penolakannya itu tidak memiliki konsekuensi hukum, dan ia tetap memiliki hak memilih untuk menerima setelah wafatnya orang yang berwasiat. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa penerimaan wasiat tetap harus dilakukan sebagaimana akan dijelaskan, namun tidak disyaratkan penerimaan segera dari penerima wasiat ketika ia mengetahui wafatnya orang yang berwasiat, melainkan ia memiliki pilihan untuk menunda atau mempercepat penerimaan tersebut.

فإذا تبين ما ذكرناه افتتحنا بعده غرضنا في أن الملك متى يحصل للموصى له في الموصى به وقد اختلفت النصوص وحاصل الأقوال في ذلك ثلاثةٌ: أحدها أن الملك يحصل بموت الموصي من قَبْل القبول ولكن لزومه منوط بالقبول فإن قبل الموصى له لزم الملك واستقرّ إذا وفّى الثلث وإن ردّ انقطع الملك بعد ثبوته

Setelah jelas apa yang telah kami sebutkan, kami akan memulai pembahasan tujuan kami mengenai kapan kepemilikan atas harta wasiat diperoleh oleh penerima wasiat. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dalam nash, dan inti dari pendapat-pendapat tersebut ada tiga: Pertama, kepemilikan diperoleh dengan wafatnya orang yang berwasiat sebelum adanya penerimaan, namun keberlakuannya tergantung pada penerimaan. Jika penerima wasiat menerima, maka kepemilikan menjadi tetap dan pasti apabila tidak melebihi sepertiga harta. Namun jika ia menolak, maka kepemilikan terputus setelah sebelumnya sempat ada.

والقول الثاني وهو أعدل الأقوال وأمثلها أن الملك موقوف مراعى فإن قبل الموصى له تبيّنا أن الملك حصل بموت الموصي إسناداً إليه وإن تأخر القبول عنه بمدة مديدة وإن ردّ تبينا أن الملك لم يحصل

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat paling adil dan paling moderat, adalah bahwa kepemilikan itu bersifat tergantung dan diperhatikan; jika penerima wasiat menerima, maka menjadi jelas bahwa kepemilikan terjadi sejak wafatnya orang yang berwasiat, dan hal itu disandarkan kepadanya, meskipun penerimaan itu terjadi setelah waktu yang lama; dan jika ia menolak, maka menjadi jelas bahwa kepemilikan tidak terjadi.

والقول الثالث أن الملك يحصل للموصى له في الموصى به عند تمام قبول الموصى له فالقبول يستعقب الملك على هذا القول

Pendapat ketiga menyatakan bahwa kepemilikan bagi penerima wasiat atas harta yang diwasiatkan terjadi ketika penerima wasiat telah menyelesaikan penerimaan wasiat tersebut; maka penerimaan wasiat itu langsung diikuti dengan terjadinya kepemilikan menurut pendapat ini.

التوجيه: من قال: الملك يحصل بموت الموصي احتج بأن هذا ملكٌ يقتضيه الموت مع تقدم الإيصاء فشابه الملك الذي يقتضيه التوريث غير أنا نسلّط الموصى له على الزد إن أراده حتى لا يدخل على اللزوم في ملكه ما لا يريده ولو كان القبول يستعقب الملك في المقبول لوجب اشتراط اتصال القبول بالإيجاب فلما لم يكن كذلك بل كان القبول المتصلُ بالإيصاء في حياة الموصي مردوداً ساقطَ الأثر دلّ أن عماد الملك الموتُ بعد الإيصاء

Penjelasan: Barang siapa yang berpendapat bahwa kepemilikan terjadi karena wafatnya orang yang berwasiat, beralasan bahwa ini adalah kepemilikan yang ditetapkan oleh kematian dengan adanya wasiat sebelumnya, sehingga menyerupai kepemilikan yang ditetapkan oleh warisan. Namun, kami memberikan hak kepada penerima wasiat untuk menolak jika ia menghendaki, agar tidak masuk ke dalam kepemilikannya secara mengikat sesuatu yang tidak ia inginkan. Seandainya penerimaan (qabul) langsung menyebabkan kepemilikan atas apa yang diterima, maka seharusnya disyaratkan adanya keterkaitan antara penerimaan dan ijab. Namun, kenyataannya tidak demikian, bahkan penerimaan yang dilakukan pada saat masih hidupnya orang yang berwasiat, yang bersambung dengan wasiat, dianggap batal dan tidak berpengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa dasar kepemilikan adalah kematian setelah adanya wasiat.

ومن قال: الملك يحصل عقيب القبول احتج بأن قال: القبول معتبر بالاتفاق إنما الكلام في أثره وفائدته وكل تمليك اعتبر القبول فيه وجب أن يكون القبول مؤثراً في تحصيل الملك حتى لا يتقدم حصول الملك عليه وأيضاً فإن إدخال الأشياء في أملاك الناس قَهْراً من غير ولاية بعيدٌ عن قاعدة الشريعة وإن ثبتت لهم الخيرة في الرد وسيتضح وقع هذا في التفريع

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa kepemilikan terjadi setelah adanya kabul, ia berdalil dengan mengatakan: kabul itu dianggap sah menurut kesepakatan, hanya saja pembicaraan terletak pada pengaruh dan manfaatnya. Setiap bentuk pemindahan kepemilikan yang mensyaratkan kabul, maka kabul tersebut haruslah berpengaruh dalam mewujudkan kepemilikan, sehingga kepemilikan tidak boleh terjadi sebelum kabul. Selain itu, memasukkan sesuatu ke dalam kepemilikan seseorang secara paksa tanpa adanya wewenang adalah sesuatu yang jauh dari prinsip-prinsip syariat, meskipun mereka tetap diberikan hak untuk memilih menolak, dan hal ini akan semakin jelas dalam pembahasan cabang-cabangnya.

وأما وجه قول الوقف فواضح وفيه الجمع بين نكت الأقوال فإن القبول لا بد منه وليس هو على قياس القبول في سائر العقود وللموت أثر بيّن في اقتضاء تحصيل الملك فالوجه ربط الملك بالقبول في معرض التبيّن والإسناد

Adapun alasan pendapat waqf (penangguhan) itu jelas, dan di dalamnya terdapat penggabungan antara inti-inti pendapat. Sebab, penerimaan (qabūl) itu harus ada, namun penerimaan di sini tidaklah seperti penerimaan pada akad-akad lainnya. Kematian memiliki pengaruh yang nyata dalam menuntut terjadinya kepemilikan, maka yang tepat adalah mengaitkan kepemilikan dengan penerimaan dalam konteks penjelasan dan penegasan.

فإذا ظهرت الأقوال نقلاً وتوجيهاً فأظهرها في نصوص الشافعي قولُ الوقف وأبعدها في النقل قولُ استعقاب القبول الملك ويلي قولَ الوقف في الظهور قولُ حصول الملك بموت الموصي

Jika pendapat-pendapat telah tampak baik dari sisi periwayatan maupun argumentasi, maka pendapat yang paling jelas dalam nash-nash Imam Syafi‘i adalah pendapat tentang waqaf, dan yang paling lemah dalam periwayatan adalah pendapat tentang terjadinya kepemilikan setelah adanya penerimaan. Setelah pendapat waqaf dalam hal kejelasan, diikuti oleh pendapat tentang terjadinya kepemilikan dengan wafatnya orang yang berwasiat.

وأول ما نذكره في تأسيس الأقوال قبل الخوض في تفصيل التفريع عليها أنا إن حكمنا بوقوع الملك بالموت فالرد نقضٌ للملك وإن حكمنا بالوقف فمعناه لائح وإن حكمنا باستعقاب القبول الملكَ فالملك في الموصى به بعد موت الموصي إلى قبول الموصى له لمَنْ فيه وجهان مشهوران: أحدهما أن الملك للوارث فيه

Hal pertama yang kami sebutkan dalam membangun pendapat-pendapat sebelum membahas rincian turunannya adalah: jika kita memutuskan bahwa kepemilikan terjadi karena kematian, maka ar-radd (penolakan wasiat) berarti membatalkan kepemilikan. Jika kita memutuskan bahwa wasiat itu terhenti (mu‘allaq), maka maknanya sudah jelas. Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan baru terjadi setelah adanya penerimaan, maka kepemilikan atas harta yang diwasiatkan setelah wafatnya pewasiat hingga penerimaan dari pihak yang diberi wasiat, terdapat dua pendapat masyhur: salah satunya adalah bahwa kepemilikan berada pada ahli waris.

والثاني أن الملك يبقى للميت فإذا فرض القبول فإذ ذاك يملك الموصى له

Kedua, kepemilikan tetap berada pada si mayit, sehingga apabila penerimaan wasiat dianggap terjadi, barulah penerima wasiat memiliki hak atasnya.

توجيه الوجهين:

Penjelasan kedua pendapat:

من قال: الملك للوارث احتج بأن الموصى به مملوك وليس يحتمل مذهب الشافعي إثباتَ مملوك لا مالك له ويستحيل بقاء الملك للميت فإن الموت مقطعةٌ للأملاك ومِن أدنى آثاره أن يخرج الميت عن كونه مالكاً فيتيعن إسناد الملك إلى الوارث

Siapa yang berpendapat bahwa kepemilikan berpindah kepada ahli waris, beralasan bahwa harta wasiat itu adalah milik, dan mazhab Syafi‘i tidak membenarkan adanya sesuatu yang dimiliki tanpa pemilik. Tidak mungkin pula kepemilikan tetap pada mayit, karena kematian adalah pemutus kepemilikan, dan salah satu akibat terendahnya adalah mayit keluar dari status sebagai pemilik, sehingga kepemilikan harus disandarkan kepada ahli waris.

ومن قال بالوجه الثاني احتج بأن الملك لو وقع بالموت للوارث لكان الموصى له متملّكاً عنه وهذا بعيد عن وضع الوصية مع أن الموصي مملِّك والموصى له يتملك عنه ولا يبعد تقدير بقاء الملك له إلى اتفاق التملك بالقبول حتى يكون ملكُ الموصى له مترتباً على ملك الموصي وإن كان لا يبعد بقاء الدّين على الميت تحقيقاً فكذلك لا يبعد بقاء الملك له وقد صار صائرون من أئمتنا إلى أن الأكفان على ملك الميت كما سيأتي شرح ذلك إن شاء الله تعالى

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa jika kepemilikan terjadi karena kematian kepada ahli waris, maka orang yang menerima wasiat akan menjadi pemilik atas nama ahli waris, dan ini jauh dari maksud wasiat. Padahal, orang yang berwasiat adalah pihak yang memberikan kepemilikan, dan penerima wasiat memperoleh kepemilikan darinya. Tidaklah mustahil menganggap bahwa kepemilikan tetap berada pada orang yang berwasiat hingga terjadi kesepakatan kepemilikan melalui penerimaan, sehingga kepemilikan penerima wasiat bergantung pada kepemilikan orang yang berwasiat. Jika tidak mustahil utang tetap menjadi tanggungan mayit secara hakiki, maka demikian pula tidak mustahil kepemilikan tetap berada padanya. Sebagian imam dari kalangan kami berpendapat bahwa kain kafan tetap menjadi milik mayit, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala.

فإذا ثبتت الأقوال تأصيلاً افتتحنا التفريع عليها حتى إذا استكملنا ما أراد الله من التفريع خرَّجنا على مجاري التفريعات فصولَ السواد  إن شاء الله

Jika pendapat-pendapat telah ditetapkan secara ushul, maka kita mulai melakukan tafri‘ (perincian) atasnya, hingga apabila kita telah menyempurnakan tafri‘ sesuai kehendak Allah, kita akan mengeluarkan bab-bab utama berdasarkan alur tafri‘ tersebut, insya Allah.

فإن قلنا: الملك في الموصى به يحصل بموت الموصي فيتفرع على ذلك القولُ في الزوائد والمغارم وانقطاع النكاح إن كان أوصى مالكُ الجارية برقبتها لزوجها يتفرع أيضاً عتقُ الموصى به على الموصى له إن كان ابنه أو أباه أو غيرهما من الأصول والفصول فهذه الأحكام لا بد من تفريعها

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan atas barang yang diwasiatkan terjadi saat wafatnya orang yang berwasiat, maka dari pendapat ini bercabang pembahasan mengenai tambahan-tambahan, beban-beban, dan putusnya pernikahan apabila pemilik budak perempuan mewasiatkan kepemilikan budak tersebut kepada suaminya. Juga bercabang pembahasan mengenai pembebasan budak yang diwasiatkan kepada penerima wasiat, baik ia adalah anaknya, ayahnya, atau selain keduanya dari kalangan asal-usul dan keturunan. Maka hukum-hukum ini harus dirinci cabang-cabangnya.

فأما القول في الفوائد كالأكساب والنتاج الحادث والثمار وما في معانيهما من الفوائد المنفصلة فالقول الوجيز فيها أن الوصية إذا اتصلت بالقبول والتفريع على أن الملك يحصل بالموت فتلك الزوائد تساق بجملتها إلى الموصى له ولو أتلف بعضَها متلفٌ قبل القبول غرِم البدلَ للموصى له فإنه اجتمع أمران: أحدهما حصول الزوائد في وقت ملكه على القول الذي عليه التفريع والثاني استقرار الملك عليه آخراً بالقبول هذا إذا قبل

Adapun pembahasan mengenai manfaat seperti penghasilan, hasil ternak, buah-buahan, dan manfaat-manfaat lain yang serupa yang terpisah, maka penjelasan ringkasnya adalah bahwa jika wasiat telah disertai dengan penerimaan (oleh penerima wasiat) dan berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan terjadi setelah kematian (pewasiat), maka seluruh tambahan manfaat tersebut menjadi hak penerima wasiat. Jika sebagian manfaat itu dirusak oleh seseorang sebelum penerimaan, maka ia wajib mengganti kerugian kepada penerima wasiat, karena terdapat dua hal: pertama, tambahan manfaat itu muncul pada waktu kepemilikan penerima wasiat menurut pendapat yang dijadikan dasar, dan kedua, kepemilikan itu menjadi tetap baginya setelah penerimaan. Hal ini berlaku jika ia menerima (wasiat tersebut).

فإن ردّ الوصية ارتد الملكُ وانقلب إلى الورثة وكان تركةً يؤدى منه الديون وتنفّذ منه الوصايا الثابتة وفي تلك الزوائد وجهان مشهوران: أحدهما أنها تنقلب إلى الورثة وتتبع الأصل في انقلابها

Jika wasiat ditolak, maka kepemilikan berbalik dan kembali kepada para ahli waris, serta menjadi harta peninggalan yang darinya dibayarkan utang-utang dan dilaksanakan wasiat-wasiat yang sah. Dalam kelebihan-kelebihan tersebut terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa kelebihan itu berbalik kepada para ahli waris dan mengikuti asalnya dalam pembalikan tersebut.

والوجه الثاني أن الملك يرتد في الموصى به وتبقى الزوائد في ملك الموصى له ملكاً لازماً لا يملك رده

Pendapat kedua adalah bahwa kepemilikan berbalik pada harta yang diwasiatkan, sedangkan tambahan-tambahannya tetap menjadi milik penerima wasiat sebagai kepemilikan yang mengikat dan tidak dapat dikembalikan olehnya.

توجيه الوجهين: من قال: إنها تبقى على اللزوم احتج بحصولها في الملك مع اختصاص الرد بمحل الوصية ولو أراد الموصى له ردّ الزوائد لم يملكه كما لو حدثت زوائد على العين المشتراة في يد المشتري ثم إذا ردّ المشتري بعيب اطلع عليه فالزوائد تبقى له ولا ترتد بردّه وهذا مما نقله الشيخ أبو بكر في أثناء كلامه

Penjelasan kedua pendapat: Barang siapa yang berpendapat bahwa tambahan-tambahan itu tetap menjadi milik penerima wasiat secara mengikat, berdalil dengan terjadinya tambahan tersebut dalam kepemilikan, sementara hak untuk menolak hanya terbatas pada objek wasiat. Jika penerima wasiat ingin mengembalikan tambahan-tambahan itu, ia tidak berhak melakukannya, sebagaimana jika terjadi tambahan pada barang yang dibeli di tangan pembeli, kemudian jika pembeli mengembalikan barang tersebut karena cacat yang diketahuinya, maka tambahan-tambahan itu tetap menjadi miliknya dan tidak ikut kembali bersama barang yang dikembalikan. Hal ini termasuk yang dinukil oleh Syaikh Abu Bakar dalam penjelasannya.

ووجه الوجه الثاني أن الزوائد ترتدُّ تابعةً إذ لو قضينا ببقائها على ملك الموصى له لكان ذلك تسبباً إلى إدخال شيء في ملكه قهراً وهو مطلق لا حجر عليه وهذا بعيد عن القواعد وينضم إليه أن الملك قبل حصول القبول ضعيف فيليق بارتداده استتباع الزوائد وقد ذكرنا في التفريع على أقوال الخيار في البيع أنه إذا حدثت زوائد في زمان الخيار ثم أفضى العقد إلى الفسخ والتفريع على أن الملك في زمان الخيار للمشتري فإذا ارتد ملكه في المبيع فهل يرتد الزوائد فعلى خلافٍ مشهور وبقاء الملك للمشتري في الزوائد مع ردّ الأصل أوجه من بقاء الملك في الزوائد في الوصية فإن عقد البيع جرى بإيجابه وقبوله على حسب اختيار المشتري على حالٍ فإن بقّينا له زوائدَ صادفنا في ذلك مستنداً من اختيار المشتري ولم يجْرِ في الوصية قبل القبول اختيارٌ فيبعد عن القواعد إلزام الموصى له الملكَ في الزوائد على وجهٍ لا يملك نقضَه وردَّه

Penjelasan dari sisi kedua adalah bahwa tambahan-tambahan (zaidah) akan kembali mengikuti (hukum asal), karena jika kita memutuskan bahwa tambahan-tambahan itu tetap menjadi milik penerima wasiat (al-mushā lahu), maka hal itu berarti memasukkan sesuatu ke dalam kepemilikannya secara paksa, padahal ia adalah orang yang bebas dan tidak berada dalam perwalian, dan ini jauh dari kaidah-kaidah. Ditambah lagi, kepemilikan sebelum adanya penerimaan (qabūl) masih lemah, sehingga wajar jika kembalinya tambahan-tambahan itu mengikuti kembalinya (hukum asal). Kami telah sebutkan dalam penjabaran tentang pendapat-pendapat mengenai khiyār dalam jual beli, bahwa jika terjadi tambahan-tambahan pada masa khiyār, kemudian akad itu berujung pada pembatalan, dan jika dijabarkan bahwa kepemilikan pada masa khiyār adalah milik pembeli, maka jika kepemilikannya atas barang yang dijual itu batal, apakah tambahan-tambahan itu juga batal? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur. Tetapnya kepemilikan pembeli atas tambahan-tambahan dengan dikembalikannya barang pokok lebih kuat dibandingkan dengan tetapnya kepemilikan atas tambahan-tambahan dalam wasiat, karena akad jual beli terjadi dengan ijab dan qabūl sesuai pilihan pembeli dalam suatu keadaan, sehingga jika kita tetap memberikan tambahan-tambahan itu kepadanya, kita menemukan dasar dari pilihan pembeli. Sementara dalam wasiat, sebelum adanya penerimaan, tidak terjadi pilihan, sehingga jauh dari kaidah-kaidah untuk mewajibkan penerima wasiat memiliki tambahan-tambahan dengan cara yang ia tidak bisa membatalkan atau menolaknya.

ولا شك أنه يلتحق بالزوائد العُقر الذي يجب على الواطىء بالشبهة بين موت الموصي والقبول وهو مندرج تحت ما أطلقناه من قيم الفوائد فإن منافع البضع من الفوائد التي تجري بين موت الموصي وقبول الموصى له والعُقر قيمةُ ما أتلفه الواطىء من منافع البضع

Tidak diragukan lagi bahwa yang termasuk dalam tambahan-tambahan adalah ‘uqr yang wajib dibayar oleh orang yang melakukan hubungan suami istri karena syubhat antara wafatnya pemberi wasiat dan diterimanya wasiat oleh penerima wasiat, dan hal ini termasuk dalam apa yang kami sebutkan secara umum tentang nilai manfaat, karena manfaat hubungan badan adalah bagian dari manfaat-manfaat yang berlangsung antara wafatnya pemberi wasiat dan diterimanya wasiat oleh penerima, dan ‘uqr adalah nilai dari manfaat hubungan badan yang telah dirusak oleh pelaku.

وكذلك القول في أجرة المنافع إذا وجبت على الغاصب للعين الموصى بها

Demikian pula halnya dengan upah atas manfaat jika menjadi kewajiban bagi pihak yang merampas barang yang diwasiatkan.

هذا منتهى قولنا في الزوائد عند فرض القبول والردّ تفريعاً على أن الملك يحصل بالموت

Inilah akhir pembahasan kami tentang tambahan-tambahan dalam hal menerima dan menolak, dengan penjabaran berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan terjadi karena kematian.

فأما ترتيبُ القول في المغارم التي من جملتها زكاة الفطر فإذا فرض استهلال هلال شوال بين موت الموصي وقبول الموصى له فزكاة الفطر تجب على الموصى له إن قبل الوصية على ظاهر المذهب فان الملك كان في الرقبة حالة الاستهلال للموصى له ثم أفضى إلى القرار بالقبول وقد ذكرت هذا بما فيه مستقصىً في كتاب الزكاة وأتيتُ في ترتيبه وتوصيفه بالعجائب والآيات فليتأمّله مَنْ يريده في موضعه  ولْيَجمع بين ما ذكرتُه ثَمَّ وبين ما جمعتُه ها هنا لتتم القواعد جُمَع

Adapun urutan pembahasan mengenai kewajiban-kewajiban harta, yang di antaranya adalah zakat fitri, maka jika terjadi terlihatnya hilal Syawal di antara wafatnya orang yang berwasiat dan diterimanya wasiat oleh penerima wasiat, maka zakat fitri wajib atas penerima wasiat jika ia menerima wasiat tersebut menurut pendapat yang masyhur. Sebab, kepemilikan atas harta berada pada penerima wasiat saat terlihatnya hilal, kemudian kepemilikan itu menjadi tetap dengan penerimaan wasiat. Hal ini telah saya jelaskan secara rinci dalam Kitab Zakat, dan saya telah mengatur serta mendeskripsikannya dengan keajaiban dan tanda-tanda, maka hendaknya siapa yang menginginkannya menelaah pada tempatnya. Hendaknya ia menggabungkan antara apa yang saya sebutkan di sana dengan apa yang saya kumpulkan di sini agar kaidah-kaidahnya menjadi sempurna secara keseluruhan.

والقول في النفقات والمؤن بين الوفاة والقبول يخرج على هذا القانون فإن أفضى الملك إلى القرار فالمؤن بجملتها على الموصى له وإن رد الموصى له الوصيةَ فلا أحد من الأصحاب يستجيز إلزام الموصى له بالمؤن بين الموت والرد فإن هذا إن قيل به هجومٌ عظيم على القواعد وليس هذا كإلزامه ملكَ الزوائد حتى لا يمكن ردّها نعم وفي إلزامه الزوائد إلزامُه مؤن الزوائد وهذا والحق أحق ما قيل فيه بعيدٌ ولكنه متعلق بملك يقرّ في الزوائد فكان يقرب بعض القرب وإنما الأمر الذي لا يحتمل إلزام المؤنة مع ارتداد الملك في الأصل

Pembahasan mengenai nafkah dan biaya antara wafatnya pewaris dan penerimaan wasiat didasarkan pada kaidah ini: jika kepemilikan berujung pada ketetapan (penerimaan wasiat), maka seluruh biaya menjadi tanggungan penerima wasiat. Namun, jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut, tidak ada satu pun dari para ulama yang membolehkan mewajibkan penerima wasiat menanggung biaya antara kematian dan penolakan, karena jika hal ini dikatakan, itu merupakan pelanggaran besar terhadap kaidah-kaidah. Hal ini tidak sama dengan mewajibkannya memiliki tambahan harta sehingga ia tidak dapat menolaknya. Benar, dalam mewajibkan tambahan harta juga terkandung kewajiban menanggung biaya tambahan tersebut, dan pendapat yang benar tentang hal ini adalah bahwa itu jauh (dari kebenaran), namun hal itu berkaitan dengan kepemilikan yang tetap pada tambahan harta, sehingga masih ada sedikit kemungkinan. Adapun perkara yang tidak dapat diterima adalah mewajibkan biaya sementara kepemilikan pokoknya telah kembali (kepada asalnya).

وقد يعترض وراء ما ذكرناه إشكال وهو أن الموصى له إذا كان يؤخر القبولَ والنفقاتُ التي تسد الحاجات جاريةٌ لا تقف فمن المطالب بها

Mungkin muncul keberatan setelah apa yang telah kami sebutkan, yaitu apabila penerima wasiat menunda penerimaan, sementara nafkah yang memenuhi kebutuhan terus berjalan dan tidak terhenti, maka siapakah yang bertanggung jawab atas nafkah tersebut?

الوجه أن نقول للموصى له : هل لك في تعجيل القبول أو الرد ولا نُلزمه واحداً منهما  فإن قبل لم يخف حكم القبول ولزوم النفقات وإن ردّ لم يخف حكم الردّ وانقلابُ المؤن إلى الورثة وإن قال: لست أقبل الآن ولست أردّ وليس لكم حملٌ على أحد هذين فيتجه جداً إن قال ذلك أن يُطوَّقَ النفقةَ ونلزمه إياها بناء على حصول الملك وهو مقتدر على صرف المؤن عن نفسه بالرّدّ ولو لم نقل هذا والنفقاتُ لا تقف وإلزامُ الورثة ولا ملك لهم محال والإنفاق من التركة محالٌ وردُّ المؤن إلى بيت المال بعيد لم نجد للمقال مساغاً ثم لا نعدَم للإلزام مثالاً فإن من طلق على الإبهام إحدى امرأتيه طلاقاً مبيناً وامتنع عن بيان المطلقة منهما فعليه التزام نفقتهما جميعاً كما سيأتي ذلك مشروحاً إن شاء الله عز وجل وإن كانت إحداهما بائنة وكذلك القول في النسوة الزائدات على منتهى العدد إذا أسلم عليهن زوجُهن وأسلمن ثم امتنع الزوج عن اختيار أربع منهن فنفقتهن واجبة عليه في زمان التوقف وليس ينقدح مسلك آخر سوى ما ذكرناه

Pendapat yang benar adalah kita berkata kepada penerima wasiat: “Apakah engkau ingin segera menerima atau menolak?” Namun, kita tidak mewajibkan salah satu dari keduanya kepadanya. Jika ia menerima, maka tidak diragukan lagi berlaku hukum penerimaan dan kewajiban menanggung nafkah. Jika ia menolak, maka tidak diragukan lagi berlaku hukum penolakan dan beban nafkah beralih kepada para ahli waris. Namun, jika ia berkata: “Saya belum menerima sekarang dan saya juga belum menolak, dan kalian tidak berhak memaksa saya untuk memilih salah satu dari keduanya,” maka sangat mungkin dalam keadaan seperti ini kita membebankan nafkah kepadanya dan mewajibkannya, berdasarkan telah terjadinya kepemilikan, sementara ia mampu menghindari beban nafkah atas dirinya dengan menolak. Jika kita tidak mengatakan demikian, padahal nafkah tidak bisa ditangguhkan, dan mewajibkan ahli waris menanggungnya padahal mereka belum memiliki harta itu adalah hal yang mustahil, serta membiayai dari harta warisan juga tidak mungkin, dan mengembalikan beban nafkah kepada baitul mal adalah sesuatu yang jauh dari logika, maka kita tidak menemukan jalan keluar lain. Kemudian, kita juga tidak kekurangan contoh kewajiban seperti ini. Misalnya, seseorang yang menjatuhkan talak secara tidak jelas kepada salah satu dari dua istrinya dengan talak bain, lalu ia menolak untuk menjelaskan siapa yang dicerai di antara keduanya, maka ia wajib menanggung nafkah keduanya, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah ‘Azza wa Jalla, meskipun salah satunya telah menjadi perempuan yang tidak lagi berstatus istri. Demikian pula halnya dengan para istri yang jumlahnya melebihi batas maksimal, jika suami mereka masuk Islam dan mereka juga masuk Islam, lalu suami menolak memilih empat di antara mereka, maka nafkah mereka tetap wajib ditanggung oleh suami selama masa penantian, dan tidak ada jalan lain selain apa yang telah kami sebutkan.

فإن قيل: إذا مضت مدة الخيار على ما وصفناه  ثم اختار الموصى له الردّ قلنا: النفقة المقتضاة منه جاريةٌ لا استدراك لها ولا تراجع فيها فإنه أُتي من قِبَل نفسه ولم يختلف أصحابنا في أن الزوج إذا توقف عن البيان زماناً وألزمناه النفقةَ ثم بيّن فما ألزمناه من النفقة لا يرجع به هذا والمطلقةُ بائنة لا اعتصام لها في النفقة إلا تأخر البيان  والملك على القول الذي عليه نفرع ثابت للموصى له وقد انضم إليه توقُّفُه مع القدرة على التنجيز

Jika dikatakan: Apabila masa khiyār telah berlalu sebagaimana yang telah kami jelaskan, kemudian penerima wasiat memilih untuk menolak, maka kami katakan: nafkah yang telah dikeluarkan darinya tetap berlaku, tidak dapat ditarik kembali dan tidak ada pengembalian atasnya, karena hal itu terjadi atas kehendaknya sendiri. Para ulama kami tidak berselisih pendapat bahwa jika suami menunda penjelasan selama suatu waktu dan kami mewajibkannya membayar nafkah, kemudian ia menjelaskan (keadaan sebenarnya), maka nafkah yang telah kami wajibkan tidak dapat diminta kembali. Demikian pula, wanita yang dicerai secara ba’in tidak memiliki hak nafkah kecuali karena penundaan penjelasan. Kepemilikan, menurut pendapat yang kami jadikan dasar, tetap menjadi milik penerima wasiat, dan telah bergabung padanya penundaan dari pihaknya padahal ia mampu untuk menegaskan (keputusan).

فلو فرضنا الموصى له غائباً وعسر الوصول إليه وتعذرت مراجعته فنفقة العبد الموصى به ممن تؤخذ في الحال الوجه أن يقال: إن أمكن استكساب العبد فعلنا ذلك فإن كان لا يكسب ولا يستقل به فلسنا نرى في الحال مأخذاً إلا بيتَ المال إذ لا ملك للورثة فيطالبوا وإنما يطالب بالنفقة مالكُ الرقبة ولا سبيل إلى التعطيل فلا وجه إلا ما ذكرناه

Jika kita mengandaikan bahwa penerima wasiat sedang tidak ada di tempat dan sulit untuk menghubunginya serta mustahil untuk mengonfirmasinya, maka nafkah bagi budak yang diwasiatkan itu dari mana harus diambil pada saat itu? Pendapat yang tepat adalah: jika memungkinkan untuk membuat budak tersebut bekerja dan menghasilkan, maka lakukanlah itu. Jika budak tersebut tidak bisa bekerja dan tidak mampu mencukupi dirinya sendiri, maka pada saat itu kami tidak melihat sumber lain kecuali dari baitul mal, karena para ahli waris tidak memiliki hak kepemilikan sehingga mereka bisa diminta menanggungnya, dan yang berhak diminta menanggung nafkah adalah pemilik budak, sedangkan tidak mungkin membiarkan budak tersebut tanpa nafkah. Maka tidak ada jalan lain kecuali seperti yang telah kami sebutkan.

ثم إذا قبل الموصى له الوصية فالرجوع عليه بما أخرجناه من بيت المال منقدحٌ وقد استقر الملك عليه آخراً ويثبت للسلطان هذا النوع من التسلط وهو بمثابة ما لو أنفق على عبيدِ غائب لمسيس الحاجة إلى الإنفاق عليهم فإذا رجع المالكُ رجع السلطان عليه وإن ردّ الموصى له الوصية لمّا بلغه خبرها ففي الرجوع عليه بالنفقة بُعدٌ  من جهة أن في ذلك إلزامَه مؤنةً من غير اختيارٍ منه ومن غير تردّد مع العرض عليه ولا سبيل أصلاً إلى الرجوع على التركة والورثة فإن الملك لم يكن لهم والنفقة تتبع الملك كما رآه الناظر

Kemudian, jika penerima wasiat menerima wasiat tersebut, maka kemungkinan untuk menagih kembali dari penerima wasiat atas apa yang telah kami keluarkan dari Baitul Mal itu terbuka, karena kepemilikan telah tetap padanya pada akhirnya, dan penguasa memiliki hak semacam ini, sebagaimana halnya jika penguasa menafkahi budak milik orang yang sedang tidak ada karena kebutuhan mendesak untuk menafkahi mereka. Jika pemiliknya kembali, maka penguasa menagih kembali darinya. Namun, jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut ketika ia mendengar beritanya, maka menagih kembali nafkah darinya sangat jauh kemungkinannya, karena hal itu berarti membebankan biaya kepadanya tanpa pilihannya dan tanpa ada keraguan setelah penawaran kepadanya. Tidak ada jalan sama sekali untuk menagih kembali dari harta peninggalan atau para ahli waris, karena kepemilikan tidak pernah menjadi milik mereka, dan nafkah mengikuti kepemilikan sebagaimana pendapat pengawas.

ولا يبعد أن يقال: إذا كنا نرى ارتداد الزوائد إلى الورثة إذا رُدّت الوصية فينقلب عليهم الرجوع بالنفقات التي جرت ونقول بحسبه: إذا كنا نُبقي الزوائد للموصى له مع ردّه الأصلَ فلا يبعد أن يرجع السلطان عليه بالمؤنة  هذا مسلكٌ في الاحتمال والفرق أظهر فيه فإن إثبات الملك للغير أقرب إلى الأصول من إلزامه مؤنةً من غير اختياره ومن غير تسببه إلى التوقف وانقلاب الزوائد على الورثة على مذهب الاتباع من وقت ارتداد الملك وليس ذلك على الإسناد إلى ما تقدم فينتظم من مجموع ذلك ألا يكون لبيت المال مرجع

Tidak jauh kemungkinan untuk dikatakan: Jika kita berpendapat bahwa kelebihan (harta) kembali kepada para ahli waris ketika wasiat ditolak, maka pengembalian biaya yang telah dikeluarkan pun berbalik kepada mereka, dan kita katakan sesuai dengan hal itu: Jika kita membiarkan kelebihan (harta) tetap menjadi milik penerima wasiat meskipun pokok wasiatnya ditolak, maka tidak mustahil penguasa dapat menuntutnya untuk menanggung biaya tersebut. Ini adalah salah satu pendekatan dalam kemungkinan, namun perbedaannya lebih jelas di sini, karena menetapkan kepemilikan bagi orang lain lebih dekat kepada prinsip-prinsip dasar (ushul) daripada mewajibkan seseorang menanggung biaya tanpa pilihannya dan tanpa sebab darinya hingga terjadi penundaan dan kelebihan itu berbalik kepada ahli waris menurut mazhab ittiba‘ sejak saat kepemilikan berbalik, dan hal itu tidak dikaitkan dengan apa yang telah lalu, sehingga dari keseluruhan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Baitul Mal tidak memiliki hak untuk menuntut kembali.

هذا منتهى القول في الزوائد والمؤن والمغارم تفريعاً على أن الملك يحصل بموت الموصي

Inilah akhir pembahasan tentang kelebihan, biaya, dan beban, sebagai cabang dari pendapat bahwa kepemilikan diperoleh dengan wafatnya orang yang berwasiat.

فأما القول في انفساخ النكاح إذا فرضنا الوصية بزوجة الموصى له والتفريع على أن الملك يحصل بموت الموصي فالنكاح ينفسخ بنفس موت الموصي وذلك أن الملك ينافي النكاح منافاة المضادة ويستحيل أن تكون زوجة الإنسان مملوكته وكل ما يتلقى من التضاد فلا فرق فيه بين الضعيف وبين القوي

Adapun pembahasan tentang batalnya pernikahan apabila kita mengandaikan adanya wasiat kepada istri untuk menjadi milik penerima wasiat, dan berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan wafatnya orang yang berwasiat, maka pernikahan batal dengan sendirinya saat wafatnya orang yang berwasiat. Hal ini karena kepemilikan bertentangan dengan pernikahan secara kontradiktif, dan mustahil seorang istri menjadi milik suaminya. Segala sesuatu yang bersifat kontradiktif, tidak ada perbedaan antara yang lemah maupun yang kuat.

وإن فصل فاصل بين الملك الضعيف والقوي في إفادة الزوائد واقتضاء المغارم فلا معنى لذلك فيما ينافي الشيءَ منافاة الضد فخرج من ذلك أن الوصية إذا كانت بزوجة الموصى له فالنكاح ينفسخ سواء قَبِل الوصيةَ أو ردَّها فإن الرد على هذا القول لا يبيّن لنا أن الملك لم يكن ولكنه يقطع ملكاً حاصلاً

Jika ada yang membedakan antara kepemilikan yang lemah dan yang kuat dalam hal memberikan tambahan manfaat dan menuntut beban, maka tidak ada makna untuk hal itu dalam perkara yang bertentangan secara mutlak, seperti pertentangan antara dua hal yang saling meniadakan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika wasiat diberikan berupa istri kepada penerima wasiat, maka pernikahan menjadi batal, baik ia menerima wasiat tersebut maupun menolaknya. Sebab, penolakan dalam pendapat ini tidak menunjukkan bahwa kepemilikan itu tidak pernah ada, melainkan ia memutuskan kepemilikan yang telah terjadi.

فأما القول في حصول العتق فإذا كان الموصى به ابنَ الموصى له فإذا قبل الوصية عتق عليه ابنُه

Adapun pembahasan mengenai terjadinya pembebasan budak, maka apabila yang diwasiatkan adalah anak dari orang yang menerima wasiat, apabila ia menerima wasiat tersebut, maka anaknya menjadi merdeka baginya.

وهل يحكم بحصول العتق قبل القبول حتى نقول: لو ردّ لم ينفذ الرد هذا محل التردد والاختلاف وللمسألة التفاتٌ على قواعد نشير إليها منها: أن المشتري إذا أعتق العبد المشترى في زمان الخيار والتفريع على أن الملك له مع الفرض في ثبوت الخيار للبائع أيضاً مع ثبوته للمشتري فقد اختلف أصحابنا في نفوذ العتق

Apakah dihukumi terjadinya pembebasan budak sebelum adanya penerimaan, sehingga kita katakan: jika ditolak maka penolakan itu tidak berlaku? Inilah letak keraguan dan perbedaan pendapat. Masalah ini berkaitan dengan beberapa kaidah yang akan kami singgung, di antaranya: jika pembeli membebaskan budak yang dibelinya pada masa khiyar, dan berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan berada padanya, dengan asumsi khiyar juga tetap bagi penjual sebagaimana tetap bagi pembeli, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang keabsahan pembebasan budak tersebut.

وبين مسألتنا وبين ما ذكرناه فرق ظاهر من قِبَل أنا لو نفّذنا العتق في الصورة التي ذكرناها لأفضى ذلك إلى إبطال خيار البائع وإبرام العقد على الاستبداد والحق في القبول للموصى له وليس لأحدٍ معه حق فيجوز أن يقال: نظير الوصية من البيع ما لو كان المشتري منفرداً بالخيار والملك له ولو كان كذلك فعتقه ينفذ باتفاق الأصحاب

Antara permasalahan kita dengan apa yang telah kami sebutkan terdapat perbedaan yang jelas, karena jika kita melaksanakan pembebasan budak dalam gambaran yang telah kami sebutkan, hal itu akan mengakibatkan pembatalan hak khiyar bagi penjual dan penetapan akad secara sepihak, serta hak menerima hanya ada pada penerima wasiat, dan tidak ada seorang pun yang memiliki hak bersamanya. Maka boleh dikatakan: yang serupa dengan wasiat dari sisi jual beli adalah apabila pembeli secara tunggal memiliki hak khiyar dan kepemilikan ada padanya; dan jika demikian, maka pembebasan budaknya berlaku menurut kesepakatan para ulama.

وبين هذه المسألة الأخيرة من البيع وبين الوصية فرق فإن المشتري اختار التملك وأثبت لنفسه مستدركاً فإذا ضم إليه الإعتاق كان ذلك منه قطعاً للخيار والموصى له لم يوجد منه اختيار للوصية ولو حكمنا بحصول العتق لكان هذا إثباتَ ملك له على اللزوم قهراً من غير اختيار من جهته فإن العتق لا يترتب إلا على ملك ثم العتق يستعقب الولاءَ ومن حكم نفوذ العتق عليه لزوم الولاء له فقد تبين بما ذكرناه تردد الرأي في المسألة

Antara masalah terakhir dalam jual beli dan wasiat terdapat perbedaan. Dalam jual beli, pembeli memilih untuk memiliki dan menetapkan hak miliknya secara tegas; jika ia kemudian menambahkan pembebasan budak (i‘tiq), maka hal itu berarti ia telah memutuskan pilihannya. Adapun penerima wasiat, ia tidak menunjukkan adanya pilihan terhadap wasiat tersebut. Jika kita memutuskan terjadinya pembebasan budak, berarti kita menetapkan kepemilikan secara mengikat baginya secara paksa tanpa adanya pilihan dari pihaknya, karena pembebasan budak hanya berlaku atas kepemilikan. Selanjutnya, pembebasan budak menyebabkan timbulnya hak wala’, dan di antara hukum berlakunya pembebasan budak atasnya adalah wajibnya hak wala’ baginya. Dengan penjelasan ini, tampaklah adanya keraguan pendapat dalam masalah ini.

وحاصل ما ذكره الأئمة أنه إن ردّ الوصية ففي الحكم بنفوذ العتق متقدماً على ردّه وفيه ردُّ ردِّه  وجهان: أحدهما أنه يحصل لسلطان العتق ونفوذه وسقوط حق غير الموصى له

Kesimpulan dari apa yang disebutkan para imam adalah bahwa jika wasiat ditolak, maka dalam hal penetapan sahnya pembebasan budak yang didahulukan sebelum penolakan wasiat, dan dalam hal penolakan terhadap penolakan tersebut, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa pembebasan budak menjadi sah dan berlaku, serta hak orang selain penerima wasiat menjadi gugur.

والثاني أنه لا ينفذ لبعد إثبات الولاء له على قهرٍ  وهو مطلق لا اعتراض عليه

Kedua, bahwa hal itu tidak berlaku karena penetapan wala’ baginya dilakukan secara paksa, dan ini bersifat mutlak tanpa ada sanggahan terhadapnya.

هذا إذا رد الوصية

Ini berlaku jika wasiat itu ditolak.

فإن قبلها فالعتق هل ينفذ مع الموت متقدماً على القبول فعلى وجهين

Jika ia menerimanya, maka apakah pembebasan budak itu berlaku bersamaan dengan kematian, mendahului penerimaan, terdapat dua pendapat.

وظن بعض الأصحاب أن هذه الصورة تترتب على الأولى وهي أولى بنفوذ العتق منها من جهة إفضاء الوصية إلى القبول

Sebagian sahabat berpendapat bahwa kasus ini merupakan kelanjutan dari kasus pertama, dan kasus ini lebih utama untuk sahnya pembebasan budak dibandingkan kasus pertama, dari segi wasiat yang berujung pada penerimaan.

وهذا كلامٌ قليل الجدوى والفحوى  فإنا لسنا نفرع على قول الوقف حتى نتبين بالقبول استناد قوة إلى الملك السابق

Ini adalah perkataan yang sedikit manfaat dan maknanya, karena sesungguhnya kita tidak membangun cabang hukum berdasarkan pendapat tentang waqaf sampai kita memastikan penerimaannya dengan bersandar pada kekuatan kepemilikan sebelumnya.

وإذا حكمنا بنفوذ العتق فلا أثر للقبول ولا معنى للترتيب وحاصل المذهب حصول الخلاف قبل القبول فُرض الردُّ أو القبول

Jika kita memutuskan sahnya pembebasan budak, maka tidak ada pengaruh dari penerimaan maupun makna dari urutan, dan inti dari mazhab adalah terjadinya perbedaan pendapat sebelum adanya penerimaan, baik terjadi penolakan maupun penerimaan.

وقد نجز ما أردناه من تفريع الأحكام الأربعة على قولٍ واحد

Apa yang kami maksudkan berupa penjabaran hukum-hukum yang empat berdasarkan satu pendapat telah selesai kami lakukan.

فأما إذا فرعنا على الوقف فالكلام الوجيز فيه أن الموصى له إن قبل ثبتت هذه الأحكام على قضية الملك اللازم فلا نقول: نتبين إسنادَ الملك إلى حالة الموت على جوازٍ حتى نتردد في الزوائد وحصولِ العتق ترددنا في الملك قبل القبول على قولنا يحصل الملك بنفس الموت وذلك لأن ذلك الملك وإن حكمنا به فهو جائز وإذا أسندنا الملك على قول الوقف نُسنده تاماً ولسنا نقول: نسند ملكاً على الضعف فلنثبت أحكام الملك التام وهذا واضح

Adapun jika kita membangun pendapat berdasarkan teori waqaf, maka penjelasan ringkasnya adalah bahwa jika penerima wasiat telah menerima, maka hukum-hukum ini berlaku berdasarkan prinsip kepemilikan yang tetap. Maka kita tidak mengatakan: kita menisbatkan kepemilikan pada saat kematian secara tidak pasti sehingga kita ragu terhadap tambahan-tambahan dan terjadinya pembebasan budak sebagaimana kita ragu terhadap kepemilikan sebelum penerimaan menurut pendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan sendirinya saat kematian. Hal ini karena kepemilikan tersebut, meskipun kita tetapkan, tetap bersifat tidak pasti. Namun jika kita menisbatkan kepemilikan menurut pendapat waqaf, maka kita menisbatkannya secara sempurna, dan kita tidak mengatakan: kita menisbatkan kepemilikan secara lemah. Maka kita tetapkan hukum-hukum kepemilikan yang sempurna, dan hal ini jelas.

وإن فرضنا الرد لم يثبت في حق الموصى له حكمٌ من الأحكام المترتبة على الملك فإنا نتبين أنْ لا ملك أصلاً ولكن يعترض في هذه الحالة فقهٌ يناظر ما ذكرناه من حال الإجازة وهو أن تلك الأحكام بجملتها للورثة فإن القبول كما يُبيّن استنادَ الملك التام إلى ما تقدم فالردّ يبين تقرر الملك التام للمالك

Dan jika kita mengandaikan adanya penolakan, maka tidak tetap bagi penerima wasiat suatu hukum pun dari hukum-hukum yang bergantung pada kepemilikan, sehingga kita dapat memastikan bahwa sama sekali tidak ada kepemilikan. Namun, dalam keadaan ini terdapat fiqh yang sepadan dengan apa yang telah kami sebutkan dalam keadaan penerimaan, yaitu bahwa seluruh hukum tersebut menjadi milik para ahli waris. Sebagaimana penerimaan menunjukkan bahwa kepemilikan yang sempurna bersandar pada apa yang telah lalu, maka penolakan menunjukkan tetapnya kepemilikan yang sempurna bagi pemilik.

فليفهم الناظر ما ذكرناه من أمثال ذلك وإن كان من الجليّات فمعظم الزلل ينشأ من الغفلة عن الجليّات

Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami apa yang telah kami sebutkan dari hal-hal semacam itu, meskipun termasuk perkara yang jelas, karena kebanyakan kesalahan berasal dari kelalaian terhadap hal-hal yang jelas.

فأما إذا حكمنا بأن الملك يحصل بالقبول ولا يتقدم عليه تحققاً ولا تبيّنا فنفرّع الأحكام الأربعة ونقول: أما الزوائد الحاصلة بعد موت الموصي وقبل قبول الوصية فسبيل الكلام فيها أن نقول: لا يخلو الموصى له إما أن يقبل الوصية وإما أن يردّها فإن ردّها فلا شك أنه لا حظ له في الزوائد ثم هي تابعة للملك وقد ذكرنا وجهين في أن الموصى به بعد الموت وقبل القبول ملك مَن فإن قلنا: إنه ملك الميت فالزوائد تحدث على هذا التقدير ثم تكون إرثاً وحكمه حكم التركة يقضى منه الديون وتنفّذ منه الوصايا

Adapun jika kita menetapkan bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya penerimaan dan tidak ada yang mendahuluinya secara pasti maupun jelas, maka kita akan merinci empat hukum dan berkata: Adapun tambahan-tambahan (harta) yang diperoleh setelah wafatnya pemberi wasiat dan sebelum penerimaan wasiat, maka cara pembahasannya adalah sebagai berikut: Penerima wasiat tidak lepas dari dua kemungkinan, yaitu menerima wasiat atau menolaknya. Jika ia menolaknya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidak memiliki hak atas tambahan-tambahan tersebut. Kemudian tambahan-tambahan itu mengikuti kepemilikan. Kami telah menyebutkan dua pendapat tentang siapa yang memiliki harta wasiat setelah kematian (pemberi wasiat) dan sebelum penerimaan. Jika kita mengatakan bahwa harta tersebut milik si mayit, maka tambahan-tambahan itu terjadi atas dasar ini, lalu menjadi warisan, dan hukumnya sama dengan harta peninggalan, yaitu digunakan untuk membayar utang dan melaksanakan wasiat darinya.

وإن قلنا: الموصى به بين الموت والقبول ملكُ الوارث فالزوائد حيث انتهى الكلام بمثابة الزوائد المستفادة من التركة والظاهر من المذهب أن زوائد التركة لا تقضى منها الديون فإن التركة مرتهنة بالديون وهي مملوكة للورثة فلا يتعدى حقوق مستحق الديون إلى الزوائد والفوائد

Jika kita mengatakan: harta wasiat antara kematian dan penerimaan adalah milik ahli waris, maka tambahan-tambahan yang terjadi pada harta tersebut, sebagaimana yang telah dijelaskan, diperlakukan seperti tambahan yang diperoleh dari harta warisan. Pendapat yang tampak dari mazhab adalah bahwa tambahan-tambahan dari harta warisan tidak digunakan untuk membayar utang, karena harta warisan itu tergadai oleh utang dan dimiliki oleh ahli waris, sehingga hak-hak para pemilik utang tidak melampaui kepada tambahan dan keuntungan tersebut.

ومن أصحابنا من يثبت لزوائد التركة حكمَ التركة وهذا لا خروج له إلا على قول من يقول: التركة لا يملكها الورثة إذا كانت مستغرقة بالديون فانتظم إذاً وجهان في أن الزوائد تركة أم هي خالصُ حق الورثة

Sebagian dari ulama mazhab kami menetapkan bahwa tambahan harta peninggalan (zawā’id al-tarika) memiliki hukum yang sama dengan harta warisan (tarika). Pendapat ini hanya berlaku menurut mereka yang berpendapat bahwa harta warisan tidak dimiliki oleh para ahli waris jika masih habis untuk membayar utang. Maka, terdapat dua pendapat: apakah tambahan tersebut termasuk harta warisan ataukah merupakan hak murni para ahli waris.

هذا كله إذا ردّ الموصى له الوصيةَ

Semua ini berlaku jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut.

فأما إذا قبلها ففي الزوائد الحاصلة بعد الموت وقبل القبول وجهان: أحدهما أنها للموصى له نظراً إلى قرار الملك

Adapun jika ia telah menerima wasiat tersebut, maka mengenai tambahan-tambahan yang terjadi setelah kematian dan sebelum penerimaan, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa tambahan tersebut menjadi milik penerima wasiat, dengan pertimbangan bahwa kepemilikan telah tetap baginya.

والثاني أنها مجراةٌ على القياس الذي قدمناه فيه إذا ردّ الوصية فإنا لسنا نفرعّ على قول الإسناد فوجود طريان الملك بعد الزوائد وعدمه بمثابة واحدة وقد قدمنا في كتاب البيع أنه إذا حدثت زوائد في زمان الخيار والتفريع على أن الملك للبائع ثم أفضى العقد إلى اللزوم فالزوائد مختلف فيها: من أصحابنا من جعلها للبائع فحدوثها في حالة ثبوت الملك له ومنهم من جعلها للمشتري نظراً إلى قرار الملك في الأصل

Kedua, bahwa hal ini didasarkan pada qiyās yang telah kami sebutkan sebelumnya; jika wasiat ditolak, maka kami tidak membangun pendapat berdasarkan sanad. Maka, adanya kepemilikan yang muncul setelah adanya tambahan (zaid) atau tidak, kedudukannya sama saja. Telah kami jelaskan dalam Kitab al-Bay‘ bahwa jika terjadi tambahan (zaid) pada masa khiyār, dan jika penjelasan dibangun atas dasar bahwa kepemilikan masih pada penjual, lalu akad menjadi lazim, maka mengenai tambahan tersebut terdapat perbedaan pendapat: sebagian ulama kami berpendapat bahwa tambahan itu milik penjual karena terjadinya tambahan itu pada saat kepemilikan masih di tangannya, dan sebagian lagi berpendapat bahwa tambahan itu milik pembeli dengan mempertimbangkan bahwa kepemilikan pada dasarnya akan tetap pada pembeli.

والضابطُ فيما هذا سبيله أنه إذا ثبت حقُّ الملك لجهة ثم استقر على تلك الجهة فالزوائد لتلك الجهة فإنه اجتمع كونُ الملك حالة حصول الزوائد والقرارُ من الآخر

Patokan dalam hal seperti ini adalah bahwa apabila hak kepemilikan telah tetap bagi suatu pihak, kemudian kepemilikan itu telah mantap pada pihak tersebut, maka tambahan-tambahan (manfaat atau hasil) menjadi milik pihak itu pula. Sebab, pada saat tambahan-tambahan itu muncul, kepemilikan berada pada pihak tersebut dan kepemilikan itu telah mantap padanya.

فإن كان الملك لجهةٍ والقرارُ على أخرى ففي الزوائد وجهان: أحدهما أنها تتبع جهة الملك حالة حصول الزوائد والثاني أنها تتبع جهة القرار ثم إن جعلنا الزوائد للموصى له فلا كلام وإن لم نجعلها له فهي على التفصيل الذي ذكرناه فيه إذا رد الموصى له الوصية

Jika kepemilikan berada pada satu pihak dan hak menetap (qarār) pada pihak lain, maka dalam hal tambahan (zawā’id) terdapat dua pendapat: pertama, tambahan tersebut mengikuti pihak yang memiliki pada saat tambahan itu terjadi; kedua, tambahan tersebut mengikuti pihak yang memiliki hak menetap. Kemudian, jika tambahan itu kami tetapkan untuk penerima wasiat (al-mūṣā lahu), maka tidak ada masalah. Namun, jika kami tidak menetapkannya untuk penerima wasiat, maka perinciannya seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya ketika penerima wasiat menolak wasiat tersebut.

فأما القول في المغارم فلم أر أحداً من أصحابنا يتبعها قرارَ الملك مع تردّدهم في الزوائد وكان لا يبعد عن القياس تنزيلُ الغرم منزلة الغُنم ولكن تتبع الملك الناجز

Adapun pembahasan tentang kerugian (al-maghārim), aku tidak melihat seorang pun dari kalangan sahabat kami yang mengikuti keberlangsungan kepemilikan padanya, meskipun mereka masih ragu dalam hal tambahan-tambahan. Sebenarnya, tidaklah jauh dari qiyās untuk menyamakan kerugian dengan keuntungan (al-ghunm), namun yang diikuti adalah kepemilikan yang telah nyata.

ثم يعرض في ذلك أنه ملكٌ ضعيف وفي تعلق زكاة الفطر بالملك الضعيف خلاف قدّمته في كتاب الزكاة على أبلغ وجهٍ في البيان

Kemudian dijelaskan dalam hal ini bahwa itu adalah kepemilikan yang lemah, dan mengenai keterkaitan zakat fitri dengan kepemilikan yang lemah terdapat perbedaan pendapat yang telah saya kemukakan dalam Kitab Zakat dengan penjelasan yang paling lengkap.

فأما القول في انفساخ النكاح فنقول: إذا كان حصول الملك للموصى له يقف على القبول ثم يحصل معه ولا يستند إلى ما تقدم تبيّناً فلا يخفى حكم الموصى له في النكاح فإذا قبل الوصية في زوجته المملوكة انفسخ النكاح ولا خفاء ببقاء النكاح قبل القبول

Adapun pembahasan tentang batalnya pernikahan, maka kami katakan: Jika kepemilikan bagi penerima wasiat bergantung pada penerimaan, lalu kepemilikan itu terjadi bersamaan dengan penerimaan tersebut dan tidak berlaku surut ke waktu sebelumnya, maka tidak samar hukum penerima wasiat dalam pernikahan. Jika ia menerima wasiat atas istrinya yang merupakan budak miliknya, maka pernikahan pun batal. Tidak ada keraguan bahwa pernikahan tetap berlaku sebelum adanya penerimaan.

هذا حكمه

Inilah hukumnya.

فأما إذا كانت الجارية الموصى بها زوجة الوارث والتفريع على أن الملك لا يحصل للموصى له إلا مع القبول فقد ذكرنا خلافاً في أن الملك في الموصى به ما بين موت الموصي إلى قبول الموصى له لمَنْ من أصحابنا من قال: إنه للميت فعلى هذا لا ينفسخ نكاح الوارث فإنه لا يحصل الملك له

Adapun jika budak perempuan yang diwasiatkan itu adalah istri dari ahli waris, dan berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan tidak terjadi bagi penerima wasiat kecuali setelah adanya penerimaan, maka telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat di antara ulama kami mengenai kepemilikan atas barang yang diwasiatkan antara waktu wafatnya pewasiat hingga penerimaan dari penerima wasiat, menurut sebagian dari mereka: kepemilikan itu tetap milik orang yang telah wafat. Berdasarkan pendapat ini, maka pernikahan ahli waris tidak batal, karena kepemilikan belum berpindah kepadanya.

ومن أصحابنا من قال: إن الملك للوارث إلى اتفاق القبول فعلى هذا هل يحكم بانفساخ نكاح الوارث اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: ينفسخ نكاحه بحصول الملك له في زوجته وقد أوضحنا أن الملك والزوجية يجريان مجرى الضدين وإذا كان انتفاء الزوجية بالملك على مضاهاة اعتقاب الضدين فلا نظر إلى الضعف والقوة في الملك قياساً على ملك المشتري في زمان الخيار فإن من اشترى زوجته على شرط الخيار وفرّعنا على أن الملك للمشتري انفسخ النكاح بالملك الجائز

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Sesungguhnya kepemilikan berpindah kepada ahli waris hingga terjadi kesepakatan penerimaan. Berdasarkan pendapat ini, apakah diputuskan batalnya pernikahan ahli waris? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa pernikahannya batal dengan terjadinya kepemilikan atas istrinya. Kami telah menjelaskan bahwa kepemilikan dan status sebagai suami istri berjalan seperti dua hal yang saling bertentangan. Jika hilangnya status suami istri karena kepemilikan itu menyerupai pergantian dua hal yang bertentangan, maka tidak perlu memperhatikan lemah atau kuatnya kepemilikan, sebagaimana qiyās terhadap kepemilikan pembeli pada masa khiyar. Sebab, jika seseorang membeli istrinya dengan syarat khiyar, dan kami menganggap bahwa kepemilikan ada pada pembeli, maka pernikahan batal dengan adanya kepemilikan yang boleh dibatalkan.

ومن أصحابنا من قال: لا ينفسخ نكاح الوارث فإن هذا الملك تقديرٌ اضطررنا إليه من جهة أنا لا نرى إثبات ملك لا مالك له فوضْعُ هذا إذا فرض القبول من الموصى له لا يفضي إلى مقاصد الأملاك وحقائقها وليس ذلك كملك المشتري في زمان الخيار فإنه ملك واقع في سبيل جلب الملك فأثبت منّا قضاءً ولو رد الموصى له الوصية فقد تقرر ملك الوارث فمن قال بانفساخ نكاح الوارث إذا قبل الموصى له الوصية فلا شك أنه يقول بانفساخه إذا ردّ

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: akad nikah ahli waris tidak batal, karena kepemilikan ini adalah sesuatu yang bersifat takdir yang kami perlukan, sebab kami tidak menganggap sah adanya kepemilikan tanpa pemilik. Maka, penetapan kepemilikan ini, jika diasumsikan adanya penerimaan dari pihak yang diberi wasiat, tidak mengantarkan pada tujuan dan hakikat kepemilikan. Hal ini tidak sama dengan kepemilikan pembeli pada masa khiyar, karena kepemilikan tersebut terjadi dalam rangka memperoleh kepemilikan, sehingga kami tetapkan secara hukum. Jika pihak yang diberi wasiat menolak wasiat tersebut, maka kepemilikan ahli waris telah tetap. Maka, siapa yang berpendapat batalnya akad nikah ahli waris jika pihak yang diberi wasiat menerima wasiat, tidak diragukan lagi bahwa ia juga berpendapat batalnya akad nikah tersebut jika wasiat itu ditolak.

ومن قال: إذا قبل الموصى له لم ينفسخ نكاح الوارث لأن ملكه في زوجته الموصى بها تقدير فالأظهر أنا نحكم الآن باستناد الانفساخ إلى وقت موت الموصي وهذا لطيفٌ فإن حكم الإسناد يليق بقول الوقف وقد اتجه في هذا الطرف والتفريعُ على أن الملك يحصل بالقبول وسببُ اتجاهه أنا لم نحكم بانفساخ النكاح إذا فرض القبول من الموصى له من حيث إن ذلك الملك كان مقدّراً والآن إذا رُدّت الوصية واستمر ملك الوارث صار التقدير تحقيقاً وهذا يتضمن الانعطافَ على ما تقدم

Dan barang siapa yang berkata: Jika penerima wasiat menerima, maka pernikahan ahli waris tidak batal karena kepemilikannya atas istrinya yang diwasiatkan masih bersifat taksiran, maka pendapat yang lebih kuat adalah kita sekarang menetapkan bahwa pembatalan itu dikaitkan dengan waktu wafatnya orang yang berwasiat. Ini adalah perkara yang halus, sebab hukum pengaitan ini sesuai dengan pendapat tentang waqaf, dan hal ini juga berlaku dalam masalah ini, serta cabang dari pendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya penerimaan. Alasan kecenderungan pendapat ini adalah karena kita tidak menetapkan batalnya pernikahan jika penerima wasiat menerima, sebab kepemilikan itu masih bersifat taksiran. Namun sekarang, jika wasiat itu ditolak dan kepemilikan ahli waris tetap berlangsung, maka taksiran itu menjadi kenyataan. Hal ini mengandung makna kembali pada apa yang telah lalu.

وقيل : لا نحكم بانفساخ نكاح الوارث قبل الرد وإنما نحكم بانفساخه إذا ردّ الموصى له فإنَّ التحقيق يثبت من وقت الردّ وهذا متجه والأول ألطفُ وأغوص في الفقه

Dikatakan: Kita tidak memutuskan batalnya pernikahan ahli waris sebelum adanya penolakan, melainkan kita memutuskan batalnya pernikahan jika penerima wasiat menolak, karena ketetapan yang sebenarnya berlaku sejak waktu penolakan. Pendapat ini masuk akal, namun pendapat pertama lebih halus dan lebih mendalam dalam fiqh.

فأما القول في بيان من يعتِق على الوارث أو على الموصى له فإن كانت الوصية بمن يعتق على الموصى له فحصول العتق يتوقف على القبول فإن الملك به يحصل على القول الذي نفرع عليه ثم إذا حصل استقرّ فلا يُتصور للموصى له على هذا القول ملك جائز في الوصية الصحيحة التي يحتملها الثلث

Adapun pembahasan mengenai siapa yang merdeka atas ahli waris atau atas penerima wasiat, maka jika wasiat tersebut berupa memerdekakan seseorang atas penerima wasiat, terjadinya kemerdekaan itu bergantung pada penerimaan, karena kepemilikan terjadi dengan penerimaan menurut pendapat yang kami jadikan dasar. Kemudian, jika kepemilikan itu telah terjadi, maka ia menjadi tetap, sehingga menurut pendapat ini, tidak mungkin bagi penerima wasiat untuk memiliki kepemilikan yang dapat dibatalkan dalam wasiat yang sah yang masih dalam batas sepertiga harta.

فأما إذا كان الموصى به ممن يعتق على الوارث فإن قلنا: الملك للميت ما بين الموت إلى القبول فلا إشكال وإن قلنا: الملك للوارث فهذا ملكُ تقدير وقد اتفق الأئمة على أنه لا يعتِق على الوارث فإن الملك تقديرٌ كما ذكرناه وفي الحكم بنفوذ العتق إبطالُ الوصية وهذا محال وليس هذا العتقُ لو حكم به موجباً غُرماً على الوارث فإن الغرم إنما يثبت في سرايات العتق إذا ترتبت على أسباب اختيارية  ولا سبيل إلى إبطال الوصية فليفهم الناظر مواقع الكلام ومأخذ الأحكام وليقض العجب من محاسن الشريعة نعم لو رد الموصى له الوصية لم يبعد أن يستند نفوذ العتق إلى ما تقدم إن كان العتق ينفذ في الملك الضعيف

Adapun jika yang diwasiatkan adalah seseorang yang akan merdeka jika dimiliki oleh ahli waris, maka jika kita katakan kepemilikan berada pada mayit antara kematian hingga penerimaan wasiat, tidak ada masalah. Namun jika kita katakan kepemilikan berada pada ahli waris, maka ini adalah kepemilikan secara takdir. Para imam telah sepakat bahwa tidak terjadi pemerdekaan atas ahli waris, karena kepemilikan itu hanyalah secara takdir sebagaimana telah kami sebutkan. Dan menetapkan berlakunya pemerdekaan berarti membatalkan wasiat, dan ini mustahil. Pemerdekaan ini, jika diputuskan berlaku, tidak menimbulkan beban ganti rugi bagi ahli waris, karena beban itu hanya timbul pada kasus pemerdekaan yang menimbulkan dampak akibat sebab-sebab yang bersifat pilihan, dan tidak ada jalan untuk membatalkan wasiat. Maka hendaklah orang yang menelaah memahami letak pembicaraan dan sumber pengambilan hukum, dan hendaklah ia mengagumi keindahan syariat. Namun, jika penerima wasiat menolak wasiat tersebut, tidak mustahil berlakunya pemerdekaan dikaitkan dengan apa yang telah lalu, jika pemerdekaan itu berlaku pada kepemilikan yang lemah.

وقد انتهى تفريع الأحكام على الأقوال الثلاثة

Telah selesai penjabaran hukum-hukum berdasarkan tiga pendapat tersebut.

ومما يتعلق بتمام القول في هذا الأصل بيانُ المذهب في موت الموصى له بعد موت الموصي وقبل القبول والرَّد فإذا مات الموصي ولم يتفق من الموصى له قبول ولا رَدٌّ حتى مات فمذهب الشافعي رضي الله عنه أن وارث الموصى له بالخيار: إن شاء قبل الوصية وإن شاء ردّها

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan dalam kaidah ini adalah penjelasan tentang pendapat mazhab mengenai wafatnya penerima wasiat setelah wafatnya orang yang berwasiat dan sebelum adanya penerimaan atau penolakan. Jika orang yang berwasiat telah wafat, dan penerima wasiat belum sempat menerima atau menolak hingga ia pun wafat, maka menurut mazhab Syafi‘i rahimahullah, ahli waris penerima wasiat diberi pilihan: jika mereka menghendaki, mereka dapat menerima wasiat tersebut, dan jika menghendaki, mereka dapat menolaknya.

وقال أبو حنيفة تلزم الوصية بموت الموصى له وهذا في نهاية الضعف فإنه إلزامٌ يتضمنه عقدٌ مع أقوامٍ مطلقين وكان ينقدح في القياس القضاء ببطلان الوصية لو كان مذهباً لذي مذهب من جهة أن الموصى له قد مات ففرضُ القبول من غيره وليس القابل موصًى له بعيدٌ  ولم يصر إلى هذا أحدٌ نعلمه من العلماء فإذا لم يصح هذا مذهباً وبطل لزوم الوصية من غير قبول لم يبق بين هذين الطرفين إلا إحلالُ الوارث محل الموروث

Abu Hanifah berpendapat bahwa wasiat menjadi wajib dengan wafatnya orang yang diwasiati. Namun, pendapat ini sangat lemah, karena hal itu merupakan kewajiban yang terkandung dalam suatu akad dengan orang-orang yang tidak tertentu. Dalam qiyās, seharusnya wasiat itu batal jika memang ada mazhab yang berpendapat demikian, karena orang yang diwasiati telah meninggal, sehingga penerimaan wasiat dilakukan oleh selain dirinya, dan penerima tersebut bukanlah orang yang diwasiati, sehingga hal itu sangat jauh (dari kebenaran). Tidak ada seorang pun dari para ulama yang kami ketahui yang berpendapat demikian. Maka, jika pendapat ini tidak sah sebagai mazhab dan batalnya kewajiban wasiat tanpa adanya penerimaan, maka tidak tersisa antara dua kemungkinan ini kecuali menempatkan ahli waris pada posisi orang yang mewariskan.

وهذا المنتهى يشعر بدقيقة وهي أن قبول الوصية ليس على حقائق قبول العقود ولهذا استأخر عن الإيجاب مع إمكان فرضه متصلاً بالإيجاب ولكن الإيصاء يُثبت عند الموت للموصى له حقَّ التملك بالقبول ولا يبعد أن يجري الإرث في حق التملك كالشفعة على مذهبنا ثم أبو حنيفة أبطل الشفعة بموت الشفيع وألزم الوصيةَ بموت الموصى له

Batas akhir ini menunjukkan suatu hal yang halus, yaitu bahwa penerimaan wasiat tidak sama dengan hakikat penerimaan akad-akad. Oleh karena itu, penerimaan wasiat bisa tertunda dari ijab meskipun memungkinkan untuk membayangkan penerimaannya bersamaan dengan ijab. Namun, wasiat menetapkan bagi penerima wasiat hak kepemilikan dengan penerimaan pada saat wafat. Tidak mustahil bahwa warisan dalam hal hak kepemilikan bisa berjalan seperti syuf‘ah menurut mazhab kami. Kemudian, Abu Hanifah membatalkan syuf‘ah dengan wafatnya orang yang berhak syuf‘ah, namun mewajibkan wasiat dengan wafatnya penerima wasiat.

فإذا ثبت أن وارث الموصى له بالخيار في القبول والرد فإن فرعنا على قول الوقف لم يكن بين قبول الوارث وردّه وبين قبول الموصى له وردّه فرقٌ فإن قبل الوارثُ الوصية تبيّنا أن الملك كان حصل بموت الموصي للموصى له ثم خلفه إرثاً على ورثته وننُزلُ قبولَ الوارث منزلة قبول الموصى له في حياته

Jika telah tetap bahwa ahli waris dari penerima wasiat memiliki pilihan untuk menerima atau menolak, maka jika kita mengikuti pendapat yang menyamakan dengan wakaf, tidak ada perbedaan antara penerimaan atau penolakan ahli waris dengan penerimaan atau penolakan penerima wasiat itu sendiri. Jika ahli waris menerima wasiat, maka menjadi jelas bahwa kepemilikan telah terjadi sejak wafatnya orang yang berwasiat kepada penerima wasiat, kemudian berpindah sebagai warisan kepada para ahli warisnya, dan penerimaan ahli waris diposisikan seperti penerimaan penerima wasiat ketika masih hidup.

وإن رد الوراثُ الوصيةَ تبيّنَّا أن الملك لم يحصل أصلاً ونُنزل ردّ الوارث منزلةَ ردّ الموروث نفسه

Jika ahli waris menolak wasiat, maka jelaslah bahwa kepemilikan (atas harta wasiat) tidak terjadi sama sekali, dan penolakan ahli waris diposisikan seperti penolakan pewaris itu sendiri.

وإن قلنا: الملك يحصل للموصى له بموت الموصي وقبولُه للوصية تقريرٌ للملك وردُّه قطعٌ لملكٍ حاصل من غير تبيّنٍ وإسناد فقبول الوارث وردُّه بمثابة قبول الموصى له وردّه ولا يظهر على هذا القول أيضاً مزيد حكمٍ

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan diperoleh oleh penerima wasiat dengan wafatnya orang yang berwasiat, dan penerimaan wasiat olehnya merupakan penetapan atas kepemilikan tersebut, sedangkan penolakannya adalah pemutusan kepemilikan yang telah ada tanpa ada penjelasan dan sandaran, maka penerimaan dan penolakan oleh ahli waris sama kedudukannya dengan penerimaan dan penolakan oleh penerima wasiat. Berdasarkan pendapat ini juga, tidak tampak adanya hukum tambahan.

فأما إذا قلنا: الملك في الموصى به يحصل بالقبول فقد يعتاص الكلام بعض الاعتياص في قبول الوارث أما ردّه فلا إشكال فيه فإنه يستأصل الوصية ويقطع أثرها

Adapun jika kita mengatakan bahwa kepemilikan atas harta wasiat terjadi dengan adanya penerimaan, maka pembahasan mengenai penerimaan oleh ahli waris bisa menjadi agak rumit. Adapun penolakan, tidak ada masalah di dalamnya, karena penolakan tersebut menghapuskan wasiat dan memutuskan akibatnya.

فأما إذا قبل الوارث والتفريع على قول القبول فقد اختلف أصحابنا على وجهين حكاهما صاحب التقريب: فذهب بعضهم إلى أن الوارث إذا قبل تقدّم الملكُ في الموصى به إلى ألْطف لحظة قبل موت الموصى له

Adapun jika ahli waris menerima, dan berdasarkan pendapat yang membolehkan penerimaan, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib: sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika ahli waris menerima, maka kepemilikan atas harta wasiat tersebut didahulukan kepada momen paling singkat sebelum wafatnya orang yang menerima wasiat.

ومن أصحابنا من قال: يحصل الملك مع قبول الوارث من غير تقدم

Sebagian dari ulama kami berpendapat: kepemilikan (harta warisan) terjadi dengan adanya penerimaan dari ahli waris tanpa harus ada pendahuluan sebelumnya.

توجيه الوجهين: من قال بتقدم الملك احتج بأن الموصى له هو المقصود بالوصية فيستحيل أن نثبت الوصية من غير أن يثبت للموصى له ملكٌ في الموصى به فاضطررنا إلى الإسناد على الحد الذي ذكرناه وإن كنا لا نفرع على قول الإسناد والوقف

Penjelasan kedua pendapat: Orang yang berpendapat bahwa kepemilikan didahulukan beralasan bahwa penerima wasiat adalah pihak yang menjadi tujuan dari wasiat itu, sehingga mustahil menetapkan wasiat tanpa menetapkan kepemilikan bagi penerima wasiat atas harta yang diwasiatkan. Maka, kita pun terpaksa melakukan isnad (penyandaran) sebagaimana batasan yang telah kami sebutkan, meskipun kami tidak membangun cabang hukum atas pendapat isnad dan waqf.

ومن قال بالوجه الثاني احتج بأنّ التفريع إذا كان على قولٍ فلا يجوز أن يترك أصله في تفصيله وأصل قول القبول استعقاب القبول للملك فيبعد أن يتقدم عليه

Dan siapa yang berpendapat dengan pendapat kedua, berdalil bahwa jika suatu cabang didasarkan pada suatu pendapat, maka tidak boleh meninggalkan pokoknya dalam perinciannya. Pokok dari pendapat tentang penerimaan adalah bahwa penerimaan itu menyusul kepemilikan, sehingga tidak mungkin penerimaan itu mendahuluinya.

التفريع على هذين الوجهين:

Penjabaran berdasarkan dua pendapat ini:

إن حكمنا بأن الملك يتقدم على موت الموصى له فالموصى به تركة الموصى له ولا غموض

Jika kita menetapkan bahwa kepemilikan mendahului wafatnya penerima wasiat, maka harta yang diwasiatkan menjadi bagian dari warisan penerima wasiat, dan tidak ada kerancuan dalam hal ini.

وإن حكمنا بأن الملك يحصل مع قبول الوارث فعلى هذا الوجه وجهان:

Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya penerimaan dari ahli waris, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

أحدهما أن الملك يحصل للميت ثم ينتقل إلى القابل إرثاً

Pertama, kepemilikan itu terjadi pada mayit terlebih dahulu, kemudian berpindah kepada ahli waris sebagai warisan.

والثاني أن الملك يحصل ابتداء للوارث

Yang kedua, kepemilikan itu terjadi sejak awal bagi ahli waris.

توجيه الوجهين: من قال: يحصل الملك للميت والموصى به تركة يُقضى منها ديون الموصى له وتنفّذ منه وصاياه احتج بأن الوصية للمتوفى لا لوارثه فيستحيل أن تستقر الوصية من غير أن يستند الملك إلى الموصى له

Penjelasan kedua pendapat: Orang yang mengatakan bahwa kepemilikan diperoleh oleh orang yang telah meninggal dan harta wasiat menjadi bagian dari tirkah yang darinya dibayarkan utang-utang penerima wasiat dan dilaksanakan wasiat-wasiatnya, beralasan bahwa wasiat itu ditujukan kepada orang yang telah wafat, bukan kepada ahli warisnya, sehingga mustahil wasiat itu menjadi tetap tanpa adanya kepemilikan yang disandarkan kepada penerima wasiat.

ومن قال: الملك يحصل للوارث احتج بأن الميت يستحيل أن يثبت له ملكٌ على الابتداء فيثبت الملك لمن خلفه وحلّ محله وهذا القائل يقول: استحق وارث الموصى له حق التملك وهذا هو الموروث وهو بمثابة إجراء الإرث في حق الشفعة فإذا أقمنا الوارث في الشفعة مقام الموروث فالملك يحصل في الشقص المشفوع للوارث ابتداء وإن كان تلقي الملك مترتباً على حقّ موروث ومال اختيار صاحب التقريب إلى هذا الوجه

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa kepemilikan diperoleh oleh ahli waris, berdalil bahwa mayit mustahil dapat memiliki sesuatu sejak awal, maka kepemilikan itu ditetapkan bagi orang yang menggantikannya dan menempati posisinya. Orang yang berpendapat demikian mengatakan: ahli waris dari penerima wasiat berhak memperoleh hak kepemilikan, dan inilah yang diwariskan. Hal ini serupa dengan pelaksanaan warisan dalam hak syuf‘ah. Jika kita menempatkan ahli waris dalam syuf‘ah pada posisi orang yang mewariskan, maka kepemilikan atas bagian yang diambil melalui syuf‘ah diperoleh oleh ahli waris sejak awal, meskipun perolehan kepemilikan itu bergantung pada hak yang diwariskan. Dan pendapat pemilik kitab at-Taqrīb condong kepada pandangan ini.

التفريع:

Pencabangan:

إن حكمنا بأن الملك يستند إلى حياة الموصى له فلو كان الموصى به ممن يعتِق على الموصى له تبيّناً فإنه يعتق عليه على ما سيأتي التفصيل في أن القريب كيف يعتِق على القريب في مرض موته والمقدار الذي ننجزه أن المريض إذا ورث قريبه عتق عليه من رأس المال وتقدير الملك للموصى له لا اختيار فيه فكان كالإرث على ما سيأتي ذلك مشروحاً إن شاء الله تعالى

Jika kita menetapkan bahwa kepemilikan bergantung pada kehidupan penerima wasiat, maka jika barang yang diwasiatkan termasuk yang dapat menyebabkan pembebasan budak bagi penerima wasiat secara jelas, maka budak tersebut menjadi merdeka baginya, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci tentang bagaimana kerabat dapat memerdekakan kerabatnya dalam keadaan sakit menjelang wafat, dan kadar yang dapat kami simpulkan adalah bahwa jika orang yang sakit mewarisi kerabatnya, maka budak tersebut merdeka atas harta pokok. Penetapan kepemilikan bagi penerima wasiat ini tidak ada pilihan di dalamnya, sehingga hukumnya seperti warisan, sebagaimana hal ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala.

وإن قلنا: الملك يحصل مع قبول الوارث للميت فإذا كان الموصى به ممن يعتِق على الموصى له فإنه لا يعتِق على الموصى له فإنا قدّرنا الملك بعد موته ولا ينفذ العتق على الميت على ما سنبين ذلك في مسائل نجمعها في العتق في هذا الكتاب

Dan jika kita mengatakan: kepemilikan terjadi dengan diterimanya oleh ahli waris dari mayit, maka jika barang yang diwasiatkan termasuk yang dapat menyebabkan pembebasan budak bagi penerima wasiat, maka budak tersebut tidak menjadi merdeka bagi penerima wasiat. Sebab, kita menganggap kepemilikan terjadi setelah kematian, dan pembebasan budak tidak berlaku bagi mayit, sebagaimana akan kami jelaskan dalam beberapa permasalahan yang akan kami kumpulkan tentang pembebasan budak dalam kitab ini.

وإن قلنا: الملك يحصل للوارث وكان الموصى به ممن يعتق على الموروث في حياته ولا يعتق على الوارث بأن كان ابنَ الموصى له وأخَ الوارث القابل

Dan jika kita mengatakan: kepemilikan berpindah kepada ahli waris, sedangkan yang diwasiatkan adalah seseorang yang akan merdeka jika dimiliki oleh pewaris semasa hidupnya, namun tidak merdeka jika dimiliki oleh ahli waris, yaitu apabila ia adalah anak dari orang yang menerima wasiat dan saudara dari ahli waris yang menerima,

نعم تردد أئمتنا على هذا الوجه في شيءٍ وهو أن الوارث إذا ملك الموصى به فهل يجعل هذا في حكم تركة الموصى له حتى يقضى منه ديونه اختلف أصحابنا: فمنهم من قال: ليس ذلك تركته فإنه لم يدخل في ملكه فصار كالشقص المأخوذ بالشفعة

Ya, para imam kami memang ragu dalam hal ini, yaitu apabila ahli waris memiliki harta yang diwasiatkan, apakah harta tersebut dianggap sebagai bagian dari harta peninggalan penerima wasiat sehingga dapat digunakan untuk melunasi utangnya? Para ulama kami berbeda pendapat: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa itu bukanlah harta peninggalannya, karena belum masuk ke dalam kepemilikannya, sehingga kedudukannya seperti bagian harta yang diambil melalui hak syuf‘ah.

ومنهم من قال: هو في حكم تركة الموصى له لأن الوارث ملكه بسببه وليس كالمبيع المشفوع فإنه مملوك بعوضه لا بالإرث وإنما الموروث حق تملكه والموصى به في مسألتنا مملوكٌ بالوصية للميت فشابه ذلك ما لو كان نصب شبكة في حياته وتعقّل بها صيدٌ بعد موته فالمذهب الظاهر أن الصيد يثبت له حكم تركة الميت لترتب الملك على سبب وجد منه في حياته والملك المستفاد مشبه في مأخذه بالغُرم اللاحق ولو كان حفر بئراً في محل عدوان وتردى فيها بعد موته متردٍّ مضمونٌ صار الضمان وإن طرأ بعد الموت كالدين الذي التزمه الميت في حياته

Sebagian dari mereka berkata: Harta tersebut dalam hukum adalah seperti harta peninggalan yang diwasiatkan kepada penerima wasiat, karena ahli waris memilikinya disebabkan oleh wasiat tersebut, dan tidak seperti barang yang dijual yang masih memiliki hak syuf‘ah, karena barang itu dimiliki dengan adanya imbalan, bukan melalui warisan. Adapun yang diwariskan adalah hak untuk memilikinya. Harta yang diwasiatkan dalam permasalahan kita ini dimiliki melalui wasiat untuk mayit, sehingga hal itu serupa dengan seseorang yang memasang jaring dalam hidupnya, lalu setelah ia meninggal, ada hewan buruan yang terperangkap di dalamnya. Maka pendapat yang kuat adalah bahwa hewan buruan itu dihukumi sebagai harta peninggalan mayit, karena kepemilikan itu terjadi akibat sebab yang berasal darinya ketika masih hidup, dan kepemilikan yang diperoleh itu serupa dalam sebabnya dengan kerugian yang timbul kemudian. Jika seseorang menggali sumur di tempat yang bukan haknya, lalu setelah ia meninggal ada orang yang jatuh ke dalamnya dan ia wajib menanggung ganti rugi, maka kewajiban ganti rugi itu tetap ada meskipun terjadi setelah kematiannya, sebagaimana utang yang ia tanggung ketika masih hidup.

ومن أصحابنا من لم يجعل الصيد المتعقل بالشبكة تركةً كما ذكرناه في الموصى به إذا قبله الوارث ويبعد أن يقال: الصيد يدخل في ملك الميت ثم ينتقل عنه وإن ذكرنا هذا وجهاً في الموصى به وذلك أنا اضطررنا إلى هذا في الوصية لعلمنا أن الموصى له هو المقصود بالوصية المملكة

Sebagian dari ulama mazhab kami tidak menganggap hewan buruan yang terperangkap dalam jaring sebagai harta warisan, sebagaimana yang telah kami sebutkan mengenai barang yang diwasiatkan apabila diterima oleh ahli waris. Tidak tepat jika dikatakan bahwa hewan buruan itu masuk ke dalam kepemilikan mayit lalu berpindah darinya, meskipun kami telah menyebutkan pendapat ini dalam masalah barang yang diwasiatkan. Hal ini karena dalam wasiat, kita terpaksa menerima pendapat tersebut, sebab kita mengetahui bahwa penerima wasiatlah yang menjadi tujuan dari wasiat yang menyebabkan kepemilikan.

هذا منتهى الكلام في حصول الملك في الموصى به إذا قبله الموصى له أو قبله وارثه

Inilah akhir pembahasan mengenai terjadinya kepemilikan atas harta wasiat apabila wasiat tersebut diterima oleh penerima wasiat atau diterima oleh ahli warisnya.

وقد ذكرنا طرفاً من هذا في كتاب الزكاة ولكنا أوجزناه وحق من ينتهي إلى هذا الفصلِ من كتاب الزكاة أن يحيل الناظر إلى هذا الكتاب

Kami telah menyebutkan sebagian dari hal ini dalam Kitab Zakat, namun kami ringkas. Sudah sepantasnya bagi siapa pun yang sampai pada bagian ini dari Kitab Zakat untuk merujuk pembaca kepada kitab ini.

ونحن نذكر بعد هذا إن شاء الله تعالى أصولاً نقلها المزني عن الشافعي رضي الله عنهما ونذكر في كل فصل ما يليق به ونحرص ألا نعيد ما أوضحناه من أحكام الرّدّ والقبول

Setelah ini, insya Allah Ta‘ala, kami akan menyebutkan beberapa pokok yang dinukil oleh al-Muzani dari asy-Syafi‘i—semoga Allah meridai keduanya—dan kami akan menyebutkan dalam setiap bab hal-hal yang sesuai dengannya, serta berusaha untuk tidak mengulangi penjelasan yang telah kami sampaikan mengenai hukum penolakan dan penerimaan.

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو أوصى بأمةٍ لزوجها وهو حر فلم يعلم حتى وضعت له بعد موت سيدها أولاداً إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Seandainya seseorang berwasiat memberikan seorang budak perempuan kepada suaminya, sementara suaminya adalah orang merdeka, lalu suaminya tidak mengetahui hal itu hingga budak perempuan tersebut melahirkan anak-anak untuknya setelah wafat tuannya, dan seterusnya.

صورة المسألة أن السيد إذا أوصى بأمةٍ لزوجها الحر ومات الموصي وتأخر القبول حتى وضعت أولاداً ثم قبل الزوج الوصية قال الشافعي رضي الله عنه: عَتَق الأولاد ولم تكن أمهم أمَّ ولد له حتى تلد بعد القبول بستة أشهر فأكثر لأن الوطء قبل القبول وطء نكاح والوطء بعد القبول وطء ملك

Gambaran masalahnya adalah apabila seorang tuan berwasiat memberikan seorang budak perempuan kepada suaminya yang merdeka, lalu si pewasiat meninggal dunia dan penerimaan wasiat itu tertunda hingga budak perempuan tersebut melahirkan anak-anak, kemudian suaminya menerima wasiat tersebut, maka menurut pendapat Imam Syafi‘i ra., anak-anak tersebut menjadi merdeka dan ibu mereka belum menjadi umm walad baginya sampai ia melahirkan setelah penerimaan wasiat selama enam bulan atau lebih, karena hubungan suami istri sebelum penerimaan wasiat adalah hubungan dalam pernikahan, sedangkan setelah penerimaan wasiat adalah hubungan dalam kepemilikan.

وهذا النص مشكلٌ وفي ظاهره تناقضٌ كما سنوضحه في معرض السؤال ثم نذكر الممكن والواجب

Teks ini bermasalah dan secara lahiriah tampak terdapat kontradiksi, sebagaimana akan kami jelaskan dalam pembahasan pertanyaan, kemudian kami akan menyebutkan hal yang mungkin dan yang wajib.

فإن قيل: الأولاد إنما يعتقون عليه إذا حكمنا بأن الملك يحصل بموت الموصي فيحدث الأولاد مملوكين لمن الأم مملوكة له وإذا وقع التفريع على هذا فيجب على موجبه أن يكون النكاح منفسخاً مع الموت ثم يثبت الاستيلاد لمصادفة الإعلاق ملكَه وإن كان الملك الضعيف لا يستقرّ فيه الاستيلاد على رأيٍ فهو وجهٌ وقد ذكرته ولكن موجَبه أن الملك الضعيف لا يفيد الملك في الأولاد

Jika dikatakan: Anak-anak itu baru menjadi merdeka baginya apabila kita berpendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan wafatnya orang yang berwasiat, sehingga anak-anak itu menjadi milik orang yang ibunya adalah budak miliknya. Jika penjelasan ini dijadikan dasar, maka seharusnya menurut konsekuensinya, pernikahan menjadi batal dengan kematian, kemudian status sebagai anak dari budak (istilād) ditetapkan karena pertemuan antara kelahiran dan kepemilikan. Namun, meskipun kepemilikan yang lemah tidak menetapkan istilād menurut satu pendapat, hal itu merupakan satu kemungkinan dan telah saya sebutkan. Akan tetapi, konsekuensinya adalah bahwa kepemilikan yang lemah tidak memberikan hak kepemilikan atas anak-anak.

وإن قيل: يحصل الملك في الأولاد إذا بان استقرار الملك فيلزم أن يثبت الاستيلاد إذا بان استقرار الملك فنفْيُ الاسيتلاد مع إثبات الملك في الأولاد والقضاءُ بعتقهم عليه مشكل جداً

Jika dikatakan: kepemilikan atas anak-anak terjadi apabila telah jelas tetapnya kepemilikan, maka seharusnya status istīlād juga ditetapkan apabila telah jelas tetapnya kepemilikan. Maka meniadakan istīlād bersamaan dengan menetapkan kepemilikan atas anak-anak dan memutuskan mereka merdeka atasnya adalah sangat problematis.

ومن أراد فقه هذا الفصل فقد قدمنا قواعد المذهب وتفاريعها وإنما غرضنا الآن الكلام على النص

Dan barang siapa yang ingin memahami fiqh pada bagian ini, maka kami telah mengemukakan kaidah-kaidah mazhab beserta rincian-rinciannya. Adapun tujuan kami sekarang adalah membahas tentang nash.

فمن أصحابنا من غلّط المزني في النقل  ونسبه إلى نقل جوابين للشافعي مفرعين على قولين

Sebagian dari ulama kami menganggap al-Muzani keliru dalam meriwayatkan dan menisbatkannya kepada dua jawaban Imam asy-Syafi‘i yang dibangun di atas dua qaul.

ومن أصحابنا من قال فَرْض الكلام فيه إذا علق الولد بوطءٍ قبل موت الموصي فإن الاستيلاد لا يثبت به لا شك فيه من قِبَل أن الوطء إذا فرضناه قبل موت الموصي فهو جارٍ في وقت لا ملك فيه للواطىء ولكن فرضنا الولادة بعد موت الموصي وأتبعنا الولدَ الأمَّ في الملك تفريعاً على أن الحمل يتبع الأم في الوصية المطلقة على ما أوضحنا ذلك فيما سبق وهذا لا بأس به

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa kewajiban pembahasan dalam hal ini adalah jika anak tersebut terkait dengan hubungan seksual yang terjadi sebelum wafatnya orang yang berwasiat, maka istibra’ (penetapan status anak) tidak dapat ditetapkan dengannya, dan hal ini tidak diragukan lagi karena hubungan seksual yang diasumsikan terjadi sebelum wafatnya orang yang berwasiat berlangsung pada waktu di mana pelaku hubungan tersebut tidak memiliki hak kepemilikan. Namun, jika kita asumsikan kelahiran terjadi setelah wafatnya orang yang berwasiat dan kita mengikuti status kepemilikan anak kepada ibunya, maka hal ini merupakan cabang dari kaidah bahwa janin mengikuti ibunya dalam wasiat mutlak, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dan hal ini tidak mengapa.

ولكن في نص الشافعي ما يدرأ هذا فإن الشافعي رضي الله عنه لما منع الاستيلاد علّل فقال: لم تصر أم ولد لأن الوطء متقدم على قبول الوصية فاعتبر تقدم الوطء على القبول لا على موت الموصي

Namun, dalam teks Imam Syafi‘i terdapat penjelasan yang menolak hal ini, karena Imam Syafi‘i ra. ketika melarang istīlād, beliau memberikan alasan dengan berkata: “Ia tidak menjadi umm walad karena hubungan suami istri terjadi sebelum penerimaan wasiat.” Maka, yang diperhitungkan adalah terjadinya hubungan suami istri sebelum penerimaan, bukan sebelum wafatnya orang yang berwasiat.

وليس يتجه عندنا للنص تأويلٌ إلا من وجهٍ واحد وهو أن نقول: لعلّه فرّع على أن الملك يحصل بالقبول فلا ملك في الجارية إذاً قبل القبول ولكنا قد نقول على قول القبول: إذا حدثت زوائد قبل القبول ثم استقرت الوصية بالقبول فالزوائد تكون للموصى له نظراً إلى قرار الوصية لا إلى الحالة التي حدثت فيها الزوائد ولكن الاستيلاد لا يتقدم ثبوته على الوقت الذي يثبت الملك فيه وهذا وإن كان منتظماً يبعد أن يفرِّع الشافعي عليه

Menurut kami, tidak ada penafsiran terhadap nash kecuali dari satu sisi, yaitu dengan mengatakan: barangkali hal itu didasarkan pada pendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya kabul, sehingga tidak ada kepemilikan atas budak perempuan sebelum kabul. Namun, kami juga dapat mengatakan menurut pendapat yang menyatakan kabul sebagai syarat: jika terjadi tambahan-tambahan sebelum kabul, kemudian wasiat itu menjadi tetap dengan kabul, maka tambahan-tambahan itu menjadi milik penerima wasiat, dengan mempertimbangkan ketetapan wasiat, bukan keadaan saat tambahan itu terjadi. Akan tetapi, status anak yang dilahirkan dari budak perempuan (istilad) tidak dapat ditetapkan sebelum waktu kepemilikan itu sendiri ditetapkan. Meskipun hal ini tampak teratur, kecil kemungkinan Imam Syafi‘i mendasarkan pendapatnya pada hal tersebut.

ومهما نعرض لقول القبول فإن الملك يحصل به ابتدره فريق  وقال: هذا قولٌ ينكسر عندنا ثم ما ذكرناه في استحقاق الزوائد التي تقدمت على وقت ملك الأصل وجهٌ ضعيف على قولٍ ضعيف فحَمْلُ نص الشافعي عليه استكراهٌ بيّن وميلٌ عن مجاري كلام الشافعي فلا وجه إلا نسبة المزني إلى الإخلال بالنقل فَشَرْطُنا في كتابنا هذا ألا نتعدى قدرَ الحاجة في التنبيه على الغرض فيما يتعلق بنص سواد المختصر  وبعد كمال البيان للفقه والمعنى فقد أوضحنا فقه الفصل فيما تقدم

Dan kapan pun kita membahas tentang pendapat penerimaan, maka kepemilikan terjadi dengannya. Sebagian kelompok segera berkata: “Ini adalah pendapat yang menurut kami lemah.” Kemudian, apa yang telah kami sebutkan tentang hak atas tambahan-tambahan yang muncul sebelum waktu kepemilikan pokok adalah pendapat yang lemah menurut pendapat yang juga lemah. Maka, menisbatkan nash Imam Syafi’i kepada pendapat tersebut adalah pemaksaan yang nyata dan penyimpangan dari alur pembicaraan Imam Syafi’i. Maka, tidak ada alasan kecuali menisbatkan al-Muzani kepada kekurangan dalam meriwayatkan. Syarat kami dalam kitab ini adalah tidak melampaui batas kebutuhan dalam memberikan penjelasan terhadap maksud yang berkaitan dengan nash inti ringkasan. Setelah penjelasan yang sempurna tentang fiqh dan maknanya, kami telah menjelaskan fiqh bab ini pada bagian sebelumnya.

ثم قال الشافعي رضي الله عنه: فإن مات قبل أن يقبل أو يرد قام ورثته مقامه إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika ia meninggal sebelum menerima atau menolak, maka para ahli warisnya menggantikan posisinya hingga selesai.

ذكر الشافعي رضي الله عنه قبولَ ورثة الموصى له بعد موت الموصَى له من غير قبول ولا ردّ ثم فرض هذه المسألة في الصورة الأولى حيث يفرض حصول أولادٍ للجارية الموصى بها قبل موت الموصى له

Imam Syafi‘i raḥimahullāh menyebutkan bahwa para ahli waris penerima wasiat dapat menerima wasiat setelah wafatnya penerima wasiat, meskipun sebelumnya tidak ada penerimaan maupun penolakan. Kemudian beliau mengandaikan masalah ini pada gambaran pertama, yaitu ketika terdapat anak-anak dari budak perempuan yang diwasiatkan sebelum wafatnya penerima wasiat.

ثم قال: إذا قبل ورثةُ الموصى له الوصيةَ عَتَق الأولاد  وهذا فرّعه على أن الأولاد تدخل في ملك الموصى له ثم يعتِقون عليه بتقدير ثبوت الملك فيه وهذا ينقدح على قول الوقف ويجري منقاساً حسناً وكذلك يجري تفريعه متجهاً على قولنا: إن الملك يحصل بموت الموصي ويتفرع أيضاً على قولنا: الملك يحصل بالقبول ولكن يتقدم على موت الموصى له ويُجعل كأنه قبل ثم مات

Kemudian ia berkata: Jika para ahli waris dari penerima wasiat menerima wasiat tersebut, maka anak-anak itu menjadi merdeka. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa anak-anak tersebut masuk ke dalam kepemilikan penerima wasiat, lalu mereka menjadi merdeka baginya jika kepemilikan itu benar-benar terjadi. Ini sejalan dengan pendapat tentang wakaf dan merupakan qiyās yang baik. Demikian pula, cabang hukumnya dapat diarahkan menurut pendapat kami bahwa kepemilikan terjadi setelah wafatnya orang yang berwasiat, dan juga dapat bercabang pada pendapat kami bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya penerimaan, namun hal itu didahulukan sebelum wafatnya penerima wasiat dan dianggap seolah-olah ia telah menerima lalu kemudian wafat.

وهذا أبعد المحامل لكلام الشافعي فإنه لا يكاد يفرّع على قول القبول وإن جرى منه ذكر هذا القول لم يزد على تزييفه ثم إن المزني ذكر مسألة الوارث ونبّه بعد ذكرها لما في الكلام من الاختلاف في المسألة الأولى حيث حكم الشافعي بعتق الأولاد ولم يحكم بثبوت الاستيلاد وقد مضى القول فيه

Ini adalah penafsiran yang paling jauh dari maksud perkataan asy-Syafi‘i, karena beliau hampir tidak pernah membangun cabang hukum atas pendapat penerimaan itu. Jika pun beliau menyebutkan pendapat tersebut, tidak lebih dari sekadar melemahkannya. Kemudian al-Muzani menyebutkan masalah ahli waris dan setelahnya menyinggung adanya perbedaan pendapat dalam masalah pertama, di mana asy-Syafi‘i memutuskan merdekanya anak-anak, tetapi tidak menetapkan terjadinya istilad, dan penjelasan tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya.

ثم تكلم الأصحاب في مسألة قبول الورثة فقالوا: إذا مات الموصى له بولده مثلاً فقام وارثه مقامه في القبول وحكمنا بأن الولد يعتِق فهل يرث أباه مع الوارث القابل للوصية قالوا: هذا مما ينظر فيه إن كان يؤدي توريثه إلى حرمان القابل وإخراجِه عن أن يكون وارثاً فلا يرث الولد المقبول وإن حكمنا بنفوذ العتق وصحة القبول وذلك مثل أن يخلّف الموصى له أخاً فقبل الأخ له ولده  فلو ورّثنا الولد يخرج الأخ من أن يرث فإن الابن يحجب الأخ عن الميراث والمسألة فيه إذا كان الولد ابناً ثم إذا قدرنا حرمان الأخ وخروجَه عن كونه وارثاً لم يصح قبوله وإذا لم يصح القبول لم يعتِق الابن وإذا لم يعتِق لم يرث ففي توريثه إبطالُ توريثه وهذا من الدوائر الفقهية وسنجمع منها مسائلَ في كتاب النكاح نبيّن بها قواعدَ الدوائر الفقيهة إن شاء الله عز وجل وهذه المسألة منها

Kemudian para ulama membahas masalah penerimaan wasiat oleh ahli waris, mereka berkata: Jika orang yang diwasiati, misalnya dengan anaknya, meninggal dunia, lalu ahli warisnya menggantikan posisinya dalam menerima wasiat, dan kita memutuskan bahwa anak tersebut merdeka, maka apakah anak itu mewarisi ayahnya bersama ahli waris yang menerima wasiat? Mereka berkata: Hal ini perlu diteliti; jika pewarisan anak tersebut menyebabkan ahli waris penerima wasiat terhalangi dan tidak lagi menjadi ahli waris, maka anak yang diterima wasiatnya tidak mewarisi, meskipun kita memutuskan sahnya pembebasan dan penerimaan wasiat. Contohnya, jika orang yang diwasiati meninggalkan seorang saudara, lalu saudara itu menerima wasiat untuk anaknya, maka jika kita mewariskan kepada anak tersebut, saudara itu tidak lagi mendapat warisan, karena anak akan menutup hak saudara dalam warisan, dan masalah ini terjadi jika anak itu adalah seorang anak laki-laki. Maka jika kita menganggap saudara itu terhalangi dan tidak lagi menjadi ahli waris, maka penerimaannya tidak sah, dan jika penerimaannya tidak sah, anak itu tidak merdeka, dan jika anak itu tidak merdeka, ia tidak mewarisi. Maka dalam hal mewariskannya terdapat pembatalan terhadap pewarisannya, dan ini termasuk lingkaran fiqh. Kami akan mengumpulkan beberapa masalah seperti ini dalam Kitab Nikah untuk menjelaskan kaidah-kaidah lingkaran fiqh, insya Allah Azza wa Jalla, dan masalah ini termasuk di dalamnya.

وإن كان القابل لا يخرج عن كونه وارثاً بتقدير توريث الابن المقبول وذلك مثل أن يخلف الموصى له ابناً حُرّاً فقبل الوصيةَ بالابن المملوك فإذا عتِق فللأصحاب وجهان في أنه هل يرث: أحدهما أنه يرث لأن القابل لا يخرج عن كونه وارثاً بتوريث هذا الابن

Dan jika penerima wasiat tidak keluar dari statusnya sebagai ahli waris dengan anggapan bahwa anak yang diterima itu mewarisi, seperti seseorang yang mewariskan kepada anaknya yang merdeka, lalu ia menerima wasiat untuk anaknya yang masih berstatus budak. Jika kemudian anak itu dimerdekakan, maka menurut para ulama terdapat dua pendapat mengenai apakah ia berhak mewarisi: salah satunya adalah bahwa ia berhak mewarisi, karena penerima wasiat tidak keluar dari statusnya sebagai ahli waris dengan mewariskan anak tersebut.

والوجه الثاني وهو اختيار القفال رحمه الله أن الابن المقبول لا يرث أيضاً في هذه الصورة لأن القابل بتوريث هذا المقبول يخرج عن أن يرث جميع المال من جهة مشاركة المقبول في استحقاق الميراث لو ورّثناه فلو كان كذلك فلا يصح القبول في كل الوصية إذ لا يصح القبول في كل الوصية إلا ممن يرث كلَّ المال ومن يرث البعض يقبل البعض ولا سبيل إلى أن يقبل هذا الابن الذي كان رقيقاً بنفسه ليعتِق فإن ورّثناه لم يصح قبولُ أخيه له إلا في البعض وإذا كان كذلك لم يعتِق منه إلا البعض والمعتَق بعضُه لا يرث ففي توريثه إبطال توريثه من جهة التبعيض وقد لاح أن هذا المقبول لا يتعاطى قبول الوصية فإن الوصية لأبيه فكيف يقدر الرقيق على قبوله فليس يتجه إذاً إلا ما ذكره القفال رضي الله عنه واختاره

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan al-Qaffal rahimahullah, adalah bahwa anak yang diterima (sebagai ahli waris) juga tidak mewarisi dalam kasus ini. Sebab, orang yang menerima pewarisan anak tersebut berarti tidak lagi mewarisi seluruh harta, karena anak yang diterima itu akan ikut serta dalam hak waris jika kita mewariskannya. Jika demikian, maka tidak sah menerima seluruh wasiat, karena hanya orang yang mewarisi seluruh harta saja yang sah menerima seluruh wasiat. Sedangkan orang yang mewarisi sebagian, hanya boleh menerima sebagian wasiat. Tidak mungkin anak yang sebelumnya adalah budak itu sendiri menerima wasiat agar ia merdeka. Jika kita mewariskannya, maka tidak sah bagi saudaranya untuk menerima wasiat itu kecuali sebagian saja. Jika demikian, maka yang merdeka dari wasiat itu hanya sebagian, dan budak yang hanya sebagian dirinya merdeka tidak berhak mewarisi. Maka, mewariskannya justru membatalkan hak warisnya karena adanya pembagian (tab‘īḍ). Telah jelas pula bahwa anak yang diterima ini tidak dapat melakukan penerimaan wasiat, karena wasiat itu untuk ayahnya. Bagaimana mungkin seorang budak dapat menerima wasiat itu? Maka, tidak ada pendapat yang layak diikuti kecuali apa yang disebutkan dan dipilih oleh al-Qaffal raḍiyallāhu ‘anhu.

ثم قال الأئمة: من ورَّث الابنَ المقبول فينبغي أن يخرّج توريثه على قول الوقف أو على قولنا يحصل الملك بموت الموصي فيقتضي هذا أن يحصل العتق سابقاً على موت الموصى له وهذا وإن صورناه كذلك ففيه الإشكال الذي ذكره القفال فإنا لو ورثنا ذلك الابنَ لاحتجنا إلى فرض القبول منه ويستحيل أن يتقدم حصول العتق فيه على وقت قبوله فإنه لو أقدم على القبول رقيقاً فقبوله باطل ولو أقدم على القبول حراً فقد حصل العتق دون قبوله

Kemudian para imam berkata: Barang siapa yang mewariskan kepada anak yang diterima (penerima wasiat), maka seharusnya pewarisan itu ditafsirkan menurut pendapat waqf atau menurut pendapat kami bahwa kepemilikan terjadi dengan wafatnya orang yang berwasiat. Ini mengharuskan bahwa pembebasan budak (’itq) terjadi sebelum wafatnya penerima wasiat. Meskipun kita membayangkan hal itu demikian, tetap terdapat permasalahan yang disebutkan oleh al-Qaffal, yaitu jika kita mewariskan kepada anak tersebut, kita membutuhkan anggapan adanya penerimaan (qabul) darinya. Tidak mungkin pembebasan budak terjadi sebelum waktu penerimaannya, sebab jika ia menerima wasiat dalam keadaan masih budak, maka penerimaannya batal. Namun jika ia menerima wasiat dalam keadaan sudah merdeka, maka pembebasan budak telah terjadi sebelum penerimaannya.

وهذا كلام مضطرب وسنأتي فيه وفي أمثاله بما يشفي الغليل في الدوائر الفقهية من كتاب النكاح إن شاء الله تعالى

Ini adalah pernyataan yang rancu, dan kami akan membahasnya beserta contoh-contohnya secara memuaskan dalam lingkup fiqh pada Kitab Nikah, insya Allah Ta‘ala.

ثم قال الشافعي رضي الله عنه: ولو أوصى بجاريةٍ ومات ثم وهب للجارية مائة دينار إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Seandainya seseorang berwasiat dengan seorang budak perempuan lalu ia meninggal, kemudian diberikan hadiah kepada budak perempuan itu seratus dinar, dan seterusnya.

غرضُ هذا الفصل الكلامُ في أن الزوائد التي تحصل من الموصى به بين موت الموصي وقبول الموصى له أو قبول ورثته فتلك الزوائد لمن والمائة الموهوبة كسبٌ متجدد في الحالة التي ذكرناها

Tujuan bab ini adalah membahas tentang tambahan-tambahan yang terjadi pada harta yang diwasiatkan antara wafatnya orang yang berwasiat dan diterimanya wasiat itu oleh penerima wasiat atau oleh ahli warisnya; maka tambahan-tambahan itu menjadi milik siapa, dan seratus yang dihibahkan merupakan hasil yang baru dalam keadaan yang telah kami sebutkan.

وقد ذكرنا بيان الأكساب والزوائد وإيضاح من يملكها على أحسن وجه في الترتيب وأوقع نظامٍ في التفريع فلا حاجة إلى إعادته

Kami telah menjelaskan tentang penghasilan dan tambahan, serta memperjelas siapa yang memilikinya dengan cara yang paling baik dalam penyusunan dan sistematika yang paling tepat dalam penjabaran, sehingga tidak perlu mengulanginya kembali.

وقد نجز الكلامَ في أقوال الملك في الموصى به وأنه متى يحصل وكيف يتشعب المذهب في تفريعاته وتخريجات الأحكام الأربعة التي هي المعتبر وإليه الرجوع والله ولي التوفيق وهو بإسعاف راجيه حقيق

Telah selesai pembahasan mengenai pendapat Imam Malik tentang harta yang diwasiatkan, kapan harta tersebut menjadi hak, serta bagaimana mazhab ini bercabang dalam rincian-rincian dan penetapan empat hukum yang menjadi acuan dan tempat kembali. Allah adalah pemilik taufik, dan Dia layak untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya yang berharap.

فصل

Bab

قال: ولو أوصى له بثلث شيء بعينه فاستُحِق ثلثاه إلى آخره

Dia berkata: Dan jika seseorang berwasiat kepadanya sepertiga dari suatu benda tertentu, lalu dua pertiganya hilang haknya hingga hanya tersisa sepertiganya.

إذا أوصى لإنسان بثلثٍ من عبدٍ أوْ دارٍ أو غيرهما من الأعيان وكنا نقدّر أن العبد بكماله ملكُ الموصي وأنه خصّصَ بوصيةٍ ثلثَه ثم تبين استحقاق ثلثيه وأن الموصي كان لا يملك منه إلا الثلث فإن لم يخلف سوى ذلك الثلث وردّ الورثةُ الوصيةَ في الزائد على الثلث فالوصية ترجع إلى ثلث الثلث لا محالة

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang lain sepertiga dari seorang budak, atau rumah, atau selain keduanya dari benda-benda, dan kita mengira bahwa budak tersebut seluruhnya adalah milik pewasiat dan bahwa ia telah mengkhususkan sepertiganya dengan wasiat, kemudian ternyata dua pertiganya adalah milik orang lain dan pewasiat hanya memiliki sepertiga darinya, maka jika ia tidak meninggalkan harta selain sepertiga itu dan para ahli waris menolak wasiat atas kelebihan dari sepertiga, maka wasiat itu kembali kepada sepertiga dari sepertiga, tanpa keraguan.

وإن خلف من الأموال ما يفي ثلثُها بتمام الثلث الموصى به فالمنصوص عليه للشافعي رضي الله عنه القطعُ بأن جميع الثلث موصًى به

Jika ia meninggalkan harta yang sepertiganya mencukupi untuk memenuhi seluruh sepertiga yang diwasiatkan, maka pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i rahimahullah adalah memastikan bahwa seluruh sepertiga itu adalah bagian yang diwasiatkan.

وذهب بعض السلف إلى أن الوصية لا تنفذ إلا في ثلث الثلث فإنّ ذكر الثلث جرى شائعاً فكأنه أوصى بثلثٍ من كل ثلث فإذا ثبت الاستحقاق في الثلثين بطلت الوصية بثلثي الثلث وهذا مذهب أبي ثور وزفر والذي يستقيم على قياس الشافعي تنفيذ الوصية في جميع الثلث الموصى به

Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa wasiat tidak dapat dilaksanakan kecuali pada sepertiga dari sepertiga, karena penyebutan sepertiga telah menjadi hal yang umum, seolah-olah seseorang berwasiat dengan sepertiga dari setiap sepertiga. Maka jika hak kepemilikan telah tetap pada dua pertiga, wasiat untuk dua pertiga dari sepertiga menjadi batal. Ini adalah pendapat Abu Tsaur dan Zufar. Adapun pendapat yang sesuai dengan qiyās menurut Imam Syafi‘i adalah melaksanakan wasiat pada seluruh sepertiga yang diwasiatkan.

وترتيب المذهب في هذه المسألة وغيرها من هذه الأجناس أن مَنْ كان يملك الشقص من دارٍ فباعه ولم يضفه إلى نفسه مثل أن يقول: بعتك نصف هذه الدار وكان مالكاً لنصفها ولم يقل: بعتك النصف الذي أملكه فهل نحمل بيعَه المطلق على ما يملكه أم نشُيعه في جميع الدار حتى نجعلَه جامعاً بين بيع النصف من نصفه وبين بيع النصف من النصف الذي له  فيه اختلاف

Urutan mazhab dalam masalah ini dan masalah-masalah lain yang sejenis adalah bahwa siapa saja yang memiliki bagian (syiqsh) dari sebuah rumah lalu ia menjualnya tanpa menisbahkannya kepada dirinya sendiri, misalnya ia berkata: “Aku jual kepadamu setengah rumah ini,” padahal ia hanya memiliki setengahnya, dan ia tidak mengatakan: “Aku jual kepadamu setengah yang aku miliki,” maka apakah kita menganggap jual beli mutlaknya itu atas apa yang ia miliki saja, ataukah kita menyebarkannya pada seluruh rumah sehingga kita menganggapnya mencakup antara menjual setengah dari setengahnya dan menjual setengah dari setengah yang ia miliki? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat.

والأوجه عندنا تصحيح البيع في النصف الذي يملكه فإنه باع النصفَ وله النصفُ والشيوع ينافي التميز  فلا حاصل لقول القائل: باع بعضَ ماله وبعضَ ما لشريكه

Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah membenarkan jual beli pada setengah bagian yang dimilikinya, karena ia menjual setengah bagian dan ia memang memiliki setengah bagian tersebut, sedangkan kepemilikan bersama bertentangan dengan pemilikan yang terpisah. Maka, tidak ada makna dari ucapan seseorang: ia menjual sebagian miliknya dan sebagian milik rekannya.

وقد ذكرنا هذا في كتاب البيع

Hal ini telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘.

فإذا أوصى بجزءٍ يستحقه من عبد أوْ دارٍ ولم يضفه إلى ملك نفسه فإذا صححنا البيع في جميع حصته فلا إشكال في نفوذ الوصية أيضاً في جميعها وإن جعلناه في البيع بائعاً بعضَ ما يملك فالوجه حمل الوصية على جميع ما يملك من جهة أن وضع الوصية حملُها على الصحة إذا ترددت بينها وبين الفساد ولهذا قال الأئمة إذا أحضر الإنسان طبلين طبلَ حرب وطبلَ لهو وقال: بعتك أحدَهما فالبيع لا يُحمل على طبل الحرب ولكن يُقضى بفساده لما في لفظه من التردّد وإذا أوصى بطبل من طبوله وله طبل لهو وطبل حربٍ فالوصية محمولةٌ على طبل الحرب لتصح فيجب على هذا المقتضى صرفُ الوصيةِ إلى تمام حصة الموصِي

Jika seseorang berwasiat dengan bagian yang menjadi haknya dari seorang budak atau rumah, dan ia tidak menisbahkannya kepada miliknya sendiri, maka jika kita mengesahkan penjualan atas seluruh bagiannya, tidak ada masalah juga dalam berlakunya wasiat atas seluruhnya. Namun, jika dalam penjualan itu kita menganggapnya sebagai penjual sebagian dari apa yang ia miliki, maka pendapat yang tepat adalah membawa wasiat itu kepada seluruh apa yang ia miliki, karena pada dasarnya wasiat itu diarahkan kepada keabsahan jika terdapat keraguan antara keabsahan dan kebatalan. Oleh karena itu, para imam berkata: Jika seseorang membawa dua genderang, satu genderang perang dan satu genderang hiburan, lalu ia berkata, “Aku jual kepadamu salah satunya,” maka penjualan itu tidak diarahkan kepada genderang perang, melainkan diputuskan batal karena adanya keraguan dalam ucapannya. Namun, jika ia berwasiat dengan satu genderang dari genderang-genderangnya, sementara ia memiliki genderang hiburan dan genderang perang, maka wasiat itu diarahkan kepada genderang perang agar sah. Maka, berdasarkan ketentuan ini, wajib mengarahkan wasiat kepada seluruh bagian milik pewasiat.

وذهب ابن سريج من أصحابنا إلى أن الوصية تصح في جزءٍ من حصته وينفصل عن البيع من حيث إن البيع قد يفسد كله لتفرق الصفقة والوصية لا تبطل لتفرق الصفقة في المقدار الذي تصح منه لو أُفرد بالوصية

Ibnu Suraij dari kalangan ulama kami berpendapat bahwa wasiat sah pada sebagian dari bagiannya, dan berbeda dengan jual beli, karena jual beli bisa batal seluruhnya akibat terpisahnya akad, sedangkan wasiat tidak batal karena terpisahnya akad pada bagian yang sah jika dipisahkan dengan wasiat.

ثم حاول ابن سريج فرقاً بين مسألة الطبل وبين مسألة الشيوع فقال: إذا أوصى بطبل من طبوله ففي حمل وصيته على طبل اللهو إبطالُها بالكلية مع ظهور قصد الموصي في تصحيحها وقبولها للتردّد والورود على المجاهيل وإذا صححنا الوصية على مذهب الإشاعة في جزءٍ من الحصة التي أطلقها الموصي فقد وجدت الوصية متشبثاً مع استمرار قياس الإشاعة فانفصل بذلك عن مسألة الطبل

Kemudian Ibnu Suraij mencoba membedakan antara masalah rebana dan masalah syuyu‘, lalu ia berkata: Jika seseorang berwasiat dengan sebuah rebana dari rebana-rebananya, maka menafsirkan wasiatnya pada rebana yang digunakan untuk hiburan berarti membatalkannya secara keseluruhan, padahal jelas maksud pewasiat untuk mensahihkan wasiat tersebut dan menerima adanya keraguan serta kemungkinan mengenai hal-hal yang tidak diketahui. Jika kita mensahihkan wasiat itu menurut mazhab isyā‘ah pada sebagian dari bagian yang dinyatakan oleh pewasiat, maka wasiat itu tetap berlaku dengan tetap berlakunya qiyās isyā‘ah, sehingga hal ini berbeda dengan masalah rebana.

هذا منتهى الغرض في المسألة

Ini adalah batas akhir pembahasan dalam masalah ini.

فصل

Bab

قال: ولو قال: ثلث ما لي للمساكين قُسم ثلثُه في ذلك البلد إلى آخره

Dia berkata: Jika seseorang berkata, “Sepertiga hartaku untuk para miskin,” maka sepertiga harta tersebut dibagikan kepada para miskin di negeri itu hingga habis.

قد مضى في كتاب الزكاة صدرٌ من الكلام في نقل الصدقات وسنذكره مستقصى إن شاء الله تعالى في قَسْم الصدقات وغرض هذا الفصل أنا إن جوّزنا نقلَ الصدقات فالوصية للمساكين لا تختص بمساكين البقعة التي جرت الوصية فيها وإن منعنا نقلَ الصدقات الشرعية فالوصايا المطلقة المضافة إلى موصوفين لا ينحصرون هل يجوز نقلها أم تتقيد بقيد الصدقات الشرعية

Telah disebutkan dalam Kitab Zakat sebagian pembahasan tentang pemindahan sedekah, dan kami akan menyebutkannya secara rinci, insya Allah Ta‘ala, pada bagian sedekah. Tujuan dari bab ini adalah: jika kita membolehkan pemindahan sedekah, maka wasiat untuk orang-orang miskin tidak terbatas pada orang-orang miskin di daerah tempat wasiat itu dibuat. Namun, jika kita melarang pemindahan sedekah syar‘i, maka wasiat-wasiat yang bersifat mutlak dan ditujukan kepada kelompok yang tidak terbatas, apakah boleh dipindahkan ataukah harus dibatasi dengan ketentuan sedekah syar‘i?

اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: يجب تنزيل الوصية المطلقة على موجب الزكاة وهذا ما إليه صغوُ معظم الأصحاب

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini: sebagian dari mereka berpendapat bahwa wasiat yang bersifat mutlak harus ditetapkan sesuai dengan ketentuan zakat, dan inilah pendapat yang lebih condong diikuti oleh mayoritas para ulama mazhab.

وقد يوجّه بأن الألفاظ التي أجريت عن مستحقي الزكاة إذا جرت في ألفاظ الموصين فهي محمولة على معانيها في الزكوات الشرعية وهذا كذكر أبناء السبيل والرقاب وغيرها فإذا كانت ألفاظ الموصين محمولة على معاني ألفاظ الكتاب والسنة في أصناف الزكاة فالألفاظ المطلقة في الوصايا ينبغي أن تتقيد بما تتقيد به الألفاظ المطلقة في الكتاب والسنة ثم المساكين وإن أطلقوا في الزكاة محمولون على مساكين البلدة التي بها أمال الزكاة فكذلك إذا قال الموصي: أوصيت بثلثي للمساكين وجب حملهم على مساكين بلده

Mungkin dapat dijelaskan bahwa lafaz-lafaz yang digunakan untuk menyebut para penerima zakat, apabila digunakan dalam lafaz-lafaz wasiat, maka maknanya disesuaikan dengan makna dalam zakat secara syar‘i. Contohnya seperti penyebutan ibn as-sabil, riqab, dan lainnya. Jika lafaz-lafaz wasiat disesuaikan dengan makna lafaz dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengenai golongan penerima zakat, maka lafaz-lafaz umum dalam wasiat seharusnya dibatasi sebagaimana lafaz-lafaz umum dalam Al-Qur’an dan Sunnah juga dibatasi. Selanjutnya, meskipun istilah “masakin” (orang-orang miskin) dalam zakat digunakan secara umum, namun maksudnya adalah orang-orang miskin di daerah tempat harta zakat itu berada. Maka demikian pula, jika seseorang yang berwasiat berkata, “Aku mewasiatkan sepertiga hartaku untuk orang-orang miskin,” maka harus dipahami bahwa yang dimaksud adalah orang-orang miskin di daerahnya.

ومن أصحابنا من قال: لا يجب ذلك في الوصايا فإنا إنما منعنا النقل في الزكوات لأخبارٍ وآثار وأقضية مصلحية تجري في وظائف الزكوات فأما الوصية فليس فيها ما يوجب منعَ النقل والدليل عليه أنه يصح للموصي أن يصرف وصاياه قصداً إلى غير مساكين بلده فاتباع موجَب لفظ الموصي أولى من حمله على الزكاة

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Hal itu tidak wajib dalam wasiat, karena sesungguhnya kami hanya melarang pemindahan (harta) dalam zakat disebabkan adanya hadis, atsar, dan keputusan-keputusan yang bersifat maslahat yang berlaku dalam pelaksanaan zakat. Adapun wasiat, tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang mewajibkan larangan pemindahan. Dalilnya adalah bahwa sah bagi orang yang berwasiat untuk secara sengaja menyalurkan wasiatnya kepada selain fakir miskin di negerinya. Maka, mengikuti makna lafaz orang yang berwasiat lebih utama daripada menyerupakan wasiat dengan zakat.

فصل

Bab

قال: ولو أوصى له بدارٍ كانت له وما يثبت فيها إلى آخره

Dia berkata: Dan jika seseorang berwasiat kepadanya sebuah rumah yang dimilikinya beserta segala sesuatu yang tetap melekat padanya hingga akhirnya.

أراد أن الوصية بالدار بمثابة بيع الدار فكل ما يدخل تحت إطلاق اسم الدار في البيع فهو داخل تحت مطلق تسمية الدار في الوصية

Yang dimaksud adalah bahwa wasiat atas rumah itu seperti halnya penjualan rumah, maka segala sesuatu yang termasuk dalam cakupan nama “rumah” dalam jual beli, juga termasuk dalam cakupan penyebutan “rumah” dalam wasiat.

وقد ذكرنا في كتاب البيع ما يندرج تحت البيع إذا سميت الدار وأوضحنا موضع الخلاف والوفاق وهذا لا إشكال فيه ولكن نتكلم في مسألة وراء هذا ونحن نذكرها ونذكر نقيضها

Kami telah menjelaskan dalam Kitab al-Bay‘ hal-hal yang termasuk dalam jual beli apabila rumah disebutkan secara spesifik, dan kami telah memperjelas letak perbedaan dan kesepakatan pendapat. Hal ini tidak ada masalah di dalamnya, namun sekarang kami akan membahas suatu permasalahan di luar itu, dan kami akan menyebutkannya beserta lawannya.

فإذا أوصى بدارٍ لإنسان فانهدمت في حياة الموصي أو انهدم بعضُها فذلك النقض مختلفٌ فيه: فمن أصحابنا من قال: إنه يخرج عن الوصية فإن اسم الدار لا يتناول النقض ولا يُستحق بالوصية إلا ما يبقى تحت اسم الدار عند قرار الوصية كما سنوضح المعنى بقرارها

Apabila seseorang berwasiat memberikan sebuah rumah kepada seseorang, lalu rumah itu runtuh pada masa hidup orang yang berwasiat atau sebagian dari rumah itu runtuh, maka kerusakan tersebut diperselisihkan hukumnya. Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa rumah itu keluar dari wasiat, karena nama “rumah” tidak mencakup bangunan yang telah runtuh, dan yang berhak diperoleh melalui wasiat hanyalah apa yang masih tetap disebut “rumah” pada saat wasiat itu menjadi pasti, sebagaimana akan kami jelaskan maknanya ketika wasiat itu menjadi pasti.

ومن أصحابنا من قال: النقضُ موصى به اعتباراً بحالة الإيصاء واسم الدار كان متناولاً لهذه الأجزاء التي تحطمت بالانهدام فيبقى تحت قضية اللفظ وإنما يتغير قرار الوصية فيما يتعلق بتغاير الأملاك أو فيما يشعر بالرجوع عن الوصية في حق الموصي فإنه لو أوصى بحنطة ثم طحنها فقد يكون هذا رجوعاً منه عن الوصية من جهة إشعار طحنه باستعمال الطحين وصرفه عن الاعتياد والإبقاء للموصى له فأما انهدام الدار فليس من هذا القبيل وليس من الفقه تشبيه هذا بالنقض في حق الشفيع  فإن المبيع إذا انهدم قبل ثبوت ملك الشفيع فيه ففي أخذه النقضَ خلافٌ قدمناه في كتاب الشفعة وذلك الأصل ينفصل عما نحن فيه فإنه لا يؤخذ من الألفاظ والإطلاقات وإنما يرتبط بأصلٍ حُكمي  وهو أن الشفعة لا تتعلق إلا بالثوابت

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: pembongkaran itu termasuk yang diwasiatkan, dengan mempertimbangkan keadaan saat wasiat dibuat, dan nama rumah mencakup bagian-bagian yang hancur akibat runtuh, sehingga tetap berada dalam cakupan lafaz wasiat. Perubahan hanya terjadi pada ketetapan wasiat jika berkaitan dengan perbedaan kepemilikan atau jika ada indikasi pencabutan wasiat oleh orang yang berwasiat. Misalnya, jika seseorang berwasiat tentang gandum lalu ia menggilingnya, maka hal itu bisa dianggap sebagai pencabutan wasiat karena penggilingan tersebut menunjukkan keinginan untuk menggunakan tepungnya dan mengalihkannya dari kebiasaan menyimpannya untuk penerima wasiat. Adapun runtuhnya rumah, itu bukan termasuk dalam kategori ini. Tidak termasuk dalam fiqh jika menyamakan hal ini dengan pembongkaran dalam hak syuf‘ah, karena jika barang yang dijual runtuh sebelum hak milik syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) ditetapkan atasnya, maka dalam pengambilannya terdapat perbedaan pendapat tentang pembongkaran, sebagaimana telah kami sebutkan dalam Kitab Syuf‘ah. Dasar hukum tersebut berbeda dengan yang sedang kita bahas, karena hal itu tidak diambil dari lafaz dan ungkapan, melainkan terkait dengan dasar hukum, yaitu bahwa syuf‘ah hanya berlaku pada barang yang tetap (tidak bergerak).

ثم إن قلنا: نقضُ الدار يبقى تحت مقتضى الوصية إذا انهدمت الدار قبل موت الموصي فلو انهدمت بعد موته فإن قلنا: الملك على الوقف أو يحصل بالموت فالنقض للموصى له إذا قبل الوصية

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa pembatalan rumah tetap berada di bawah konsekuensi wasiat apabila rumah tersebut runtuh sebelum wafatnya orang yang berwasiat, maka jika rumah itu runtuh setelah wafatnya, jika kita mengatakan bahwa kepemilikan berdasarkan waqaf atau terjadi karena kematian, maka pembatalan menjadi hak penerima wasiat jika ia menerima wasiat tersebut.

وإن قلنا: يحصل الملك بالقبول ففي النقض خلاف مرتب على ما إذا انهدمت الدار قبل موت الموصي وهذه الصورة أوْلى باستحقاق النقض فيها من جهة أن الموصي إذا مات فقد دخل وقت إمكان القبول وهذا الآن على مضاهاة الشفعة مع بُعد الوصية عن قياس الشفعة

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya kabul, maka dalam hal pembatalan terdapat perbedaan pendapat yang bergantung pada kasus ketika rumah tersebut runtuh sebelum wafatnya orang yang berwasiat. Dalam kasus ini, lebih utama untuk berhak melakukan pembatalan, karena ketika orang yang berwasiat telah wafat, maka telah masuk waktu dimungkinkannya kabul. Keadaan ini serupa dengan syuf‘ah, meskipun wasiat itu sendiri jauh dari qiyās syuf‘ah.

هذا بيان انهدام الدار

Ini adalah penjelasan tentang runtuhnya rumah.

فأما نقيض ذلك فلو أوصى بدارٍ ثم زاد في بنائها فتغييراته بها لا تكون رجوعاً عن الوصية بخلاف طحن الحنطة فإن الحنطة تُطحن لتؤكل والتغايير في الدار لا تشعر بمناقضة الوصية

Adapun kebalikan dari itu, jika seseorang berwasiat dengan sebuah rumah lalu ia menambah bangunan pada rumah tersebut, maka perubahan-perubahan yang dilakukannya pada rumah itu tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat, berbeda dengan menggiling gandum, karena gandum digiling untuk dimakan, sedangkan perubahan pada rumah tidak menunjukkan adanya penentangan terhadap wasiat.

إذا أحدث زوائد في البناء فقد ظهر اختلاف أصحابنا في أن تلك الزوائد هل تدخل في الوصية وهذا الاختلاف يبتني على أن أجزاء الدار من الدار تنزل منزلةَ أطراف العبد من العبد أم يثبت لأجزاء البناء حكم الاستقلال وفيه خلاف ذكرناه في البيع وأعدناه في أثناء الكتب ونحن نحصّل القول فيه الآن مجموعاً فنقول:

Jika seseorang menambahkan bangunan tambahan, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang apakah tambahan-tambahan tersebut termasuk dalam wasiat atau tidak. Perbedaan ini didasarkan pada pertanyaan apakah bagian-bagian rumah dianggap sebagai bagian dari rumah sebagaimana anggota tubuh budak dianggap sebagai bagian dari budak, ataukah bagian-bagian bangunan memiliki status independen. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam pembahasan jual beli dan kami ulangi di beberapa bagian kitab. Sekarang kami akan merangkum pendapat tersebut secara keseluruhan sebagai berikut:

إذا باع رجل داراً فاحترق سقفها فمن أصحابنا من يقول: احرّاق السقف من الدار بمثابة تعيّب العبد المبيع فإن سقطت يدُه أو تناله آفةٌ أخرى فللمشتري الخيار فإن فسخ استرد الثمن وإن أجاز أجاز بجميع الثمن

Jika seseorang menjual sebuah rumah lalu atapnya terbakar, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: terbakarnya atap rumah itu sama dengan cacat pada budak yang dijual; jika tangannya terputus atau terkena cacat lain, maka pembeli memiliki hak khiyar. Jika ia membatalkan, ia berhak mengambil kembali harga yang telah dibayarkan, dan jika ia menerima, maka ia menerima dengan harga penuh.

ومن أصحابنا من قال: احتراق السقف بمثابة تلف مبيعٍ مضمومٍ إلى مبيعٍ مع اتحاد الصفقة واشتمالها عليهما فهو كما لو اشترى الرجل عبدين فتلف أحدهما فالبيع ينفسخ فيه

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: Terbakarnya atap itu serupa dengan rusaknya barang yang dijual yang digabungkan dengan barang lain dalam satu transaksi dan keduanya termasuk di dalamnya. Maka hal itu seperti seseorang membeli dua budak, lalu salah satunya rusak, maka jual beli itu batal pada bagian yang rusak.

والرأي الظاهر أنه يسقط قسطٌ من الثمن كما ذكرناه في تفريق الصفقة

Pendapat yang kuat adalah bahwa sebagian dari harga menjadi gugur, sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan tafriq ash-shafqah.

ثم عبّر الفقهاء عن هذا فقالوا: أجزاء الدار في وجهٍ كالصِفة للمبيع وفي وجهٍ هي مبيعة في أنفسها وكل جزء متقوّم من الدار مبيع في نفسه

Kemudian para fuqaha’ mengungkapkan hal ini dengan mengatakan: Bagian-bagian rumah dalam satu sisi seperti sifat (tambahan) pada barang yang dijual, dan dalam sisi lain merupakan barang yang dijual itu sendiri. Setiap bagian rumah yang memiliki nilai adalah barang yang dijual secara tersendiri.

فبنى الأئمةُ زيادةَ العمارة في الدار على هذه القاعدة فقالوا: إن جعلنا أجزاء الدار كالصفات فزيادةُ الأعيان في العمارة الجديدة بمثابة كبر الغلام الموصى به ونموّ الفسيل الموصى به وجملة الزيادات المتصلة

Maka para imam membangun hukum penambahan bangunan dalam rumah berdasarkan kaidah ini, lalu mereka berkata: Jika kita menganggap bagian-bagian rumah seperti shuffah, maka penambahan benda-benda baru dalam bangunan yang baru itu serupa dengan bertambah besarnya anak laki-laki yang diwasiatkan, tumbuhnya bibit kurma yang diwasiatkan, dan seluruh tambahan yang bersifat menyatu.

وإن قلنا: لكل جزء من الدار حكمُ الاستقلال فلا تدخل الزيادة المحدثة في الدار تحت الوصية

Dan jika kita mengatakan: setiap bagian dari rumah memiliki hukum tersendiri yang berdiri sendiri, maka tambahan baru yang diadakan tidak termasuk dalam wasiat atas rumah tersebut.

وهذا كلام مختلط عندي والوجه القطع بأن زيادة الأعيان لا تدخل تحت الوصية فإنا لو فتحنا هذا الباب وأقمنا الزيادة صفةً حقيقةً  لزمنا منه ما صار إليه أبو حنيفة من أن الغاصب إذا استعمل الأعيان المغصوبة في دارٍ ابتناها على عرصته المملوكة صارت الأعيانُ المغصوبة صفة لملك الغاصب حتى لا تنتزع ويُلزم بدلها لأنه فوّتها على مالكها ثم أبو حنيفة وإن طرد هذا في الغصب لم يجره في الدار المشفوعة إذا زاد المشتري من أعيان ماله في بنائها ولم يَقُل: الشفيع يأخذه لأن ما زاده انقلب صفة للرَّبع المشفوع فلا سبيل إلى اعتقاد حقيقة الصفة في الأعيان التي تزاد ومن انتسب إلى التحقيق من أصحاب أبي حنيفة لم يعتمد في مسألة غصب الساجة إلا محاذرة إلحاق الضرار بالغاصب

Ini adalah pernyataan yang menurut saya bercampur-aduk, dan pendapat yang benar adalah memastikan bahwa penambahan benda-benda (a‘yan) tidak termasuk dalam wasiat. Sebab, jika kita membuka pintu ini dan menjadikan penambahan tersebut sebagai sifat yang hakiki, maka kita akan sampai pada pendapat Abu Hanifah, yaitu bahwa jika seorang perampas (ghāṣib) menggunakan benda-benda rampasan di rumah yang ia bangun di atas tanah miliknya, maka benda-benda rampasan itu menjadi sifat dari kepemilikan perampas sehingga tidak dapat diambil kembali dan ia wajib mengganti nilainya, karena ia telah menghilangkannya dari pemilik aslinya. Kemudian, meskipun Abu Hanifah konsisten dalam hal ini pada kasus perampasan, ia tidak menerapkannya pada rumah yang dijual secara hak syuf‘ah, jika pembeli menambahkan benda-benda miliknya dalam pembangunannya. Ia tidak mengatakan bahwa pihak yang berhak syuf‘ah mengambilnya karena apa yang ditambahkan telah berubah menjadi sifat bagi rumah yang dijual secara syuf‘ah. Maka, tidak mungkin meyakini hakikat sifat pada benda-benda yang ditambahkan. Dan siapa pun yang mengaku sebagai peneliti dari kalangan pengikut Abu Hanifah, dalam masalah perampasan kayu (sājah), tidak berpegang kecuali pada pertimbangan untuk menghindari mudarat terhadap perampas.

ورأى وجه النظر من الجانبين ألاّ نهدم بناء الغاصب ونغرّمه قيمة الأعيان المغصوبة

Dan pendapat yang dipilih dari kedua sisi adalah bahwa kita tidak merobohkan bangunan yang didirikan oleh pihak yang merampas, dan kita membebankan kepadanya ganti rugi senilai barang-barang yang dirampas.

ولئن تخبط أصحاب أبي حنيفة لا يليق بمذهب الشافعي مثلُ هذا

Dan jika para pengikut Abu Hanifah mengalami kebingungan, maka hal seperti ini tidaklah pantas terjadi pada mazhab asy-Syafi‘i.

نعم اشتهر الخلاف في تلف أجزاء الدار في يد البائع وليس ذاك من جهة التردّد في أن أجزاء الدار صفاتٌ ولكن سبب الاختلاف أن الدار بيعت جملةً واحدةً فوقع البيع في غرض المتعاقدين على صيغة مقتضاها ألا تُفردَ الأجزاء بالثمن وليست أجزاء الدار في حكم قصد المتبايعين مع عرصة الدار بمثابة عبد مضمومٍ إلى عبد في البيع  ولست أعرف خلافاً أن البائع لو زاد في الدار المبيعة من أعيان ملكه قبل القبض فالمشتري ينزعها أو يكلف البائع نزعها

Memang, perselisihan yang masyhur terjadi mengenai kerusakan bagian-bagian rumah ketika masih di tangan penjual, namun hal itu bukan karena adanya keraguan apakah bagian-bagian rumah itu merupakan sifat-sifat (dari rumah) atau bukan. Akan tetapi, sebab perbedaan pendapat adalah karena rumah dijual secara keseluruhan dalam satu transaksi, sehingga akad jual beli tersebut didasarkan pada maksud kedua belah pihak dengan redaksi yang mengharuskan bagian-bagian rumah itu tidak dipisahkan dengan harga tersendiri. Bagian-bagian rumah dalam pandangan maksud para pihak yang bertransaksi, bersama dengan tanah rumah, tidaklah sama kedudukannya seperti seorang budak yang digabungkan dengan budak lain dalam jual beli. Dan aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jika penjual menambahkan sesuatu dari miliknya ke dalam rumah yang dijual sebelum serah terima, maka pembeli berhak mengambilnya atau meminta penjual untuk mengambilnya kembali.

وإذا كان كذلك فلا يتجه أصلاً تخيّل الخلاف في أن الأعيان التي زادها الموصي تدخل تحت الوصية ولكن ذكرتُ ما ذكره الأصحاب وقد حكاه الصيدلاني أيضاً ثم نبهنا على تحقيق القول فيه  ولم يختلف أصحابنا في أنه لو باع سقفَ داره أو خشبةً من السقف وسهل رفعها  وتسليمها من غير تغير ظاهر في الأعيان التي اتصلت الخشبة بها أن البيع جائز وما جاز إفراده بالبيع كيف ينتظم فيه كونُه صفةً على التحقيق

Jika demikian, maka sama sekali tidak tepat membayangkan adanya perbedaan pendapat bahwa benda-benda tambahan yang ditambahkan oleh orang yang berwasiat termasuk dalam wasiat tersebut. Namun, saya sebutkan apa yang disebutkan oleh para ulama, dan hal ini juga dinukil oleh As-Saidalani, kemudian kami memberikan penjelasan tentang pendapat yang benar dalam masalah ini. Para ulama kami tidak berbeda pendapat bahwa jika seseorang menjual atap rumahnya atau sebuah kayu dari atap tersebut, dan mudah untuk mengangkat serta menyerahkannya tanpa ada perubahan yang nyata pada benda-benda yang berhubungan dengan kayu tersebut, maka jual beli itu sah. Sesuatu yang boleh dijual secara terpisah, bagaimana mungkin secara pasti ia dianggap sebagai sifat (bukan benda tersendiri)?

هذا منتهى القول في هذا الفصل

Inilah akhir pembahasan pada bab ini.

Berbagai persoalan

ثم ذكر ابن الحداد وغيره مسائلَ في الوصايا مختلفة ومتجانسة وأنا أرى وضعَها هاهنا فنرسم مسائل ونضمّن كلَّ مسألة ما يليق بها

Kemudian Ibn al-Haddad dan yang lainnya menyebutkan beberapa permasalahan dalam wasiat yang beragam dan serupa, dan aku memandang baik untuk meletakkannya di sini, maka kami akan menyusun beberapa permasalahan dan mencantumkan pada setiap permasalahan hal-hal yang sesuai dengannya.

مسألة: إذا أوصى لرجل بعشرة دراهم وأوصى لآخر بعشرة وأوصى لثالثٍ بخمسة وشرط أن نقدم صاحب الخمسة على أحدهما وضاق الثلث عن احتمال الوصايا بجملتها مثل أن يوصي لزيد بعشرة ولعمرٍو بعشرة وخالدٍ بخمسة وشرط تقدّمَ خالدٍ على عمرٍو بخمسته والثلث عشرون

Masalah: Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki dengan sepuluh dirham, dan berwasiat kepada orang lain dengan sepuluh dirham, serta berwasiat kepada orang ketiga dengan lima dirham, lalu ia mensyaratkan agar pemilik lima dirham didahulukan atas salah satu dari keduanya, sementara sepertiga harta tidak cukup untuk menampung seluruh wasiat tersebut—misalnya ia berwasiat kepada Zaid dengan sepuluh, kepada Amr dengan sepuluh, dan kepada Khalid dengan lima, serta mensyaratkan agar Khalid didahulukan atas Amr dalam menerima lima dirhamnya, sedangkan sepertiga harta hanya dua puluh.

فالوجه أن نضع المسألة عريّةً عن شرط التقديم ثم نذكر موجَب التقديم فإذا لم يقدم أحداً من هؤلاء الثلاثة ولم يتسع الثلث لجميع الوصايا فينقدح في تخريج المسألة مسلكان قريبان تقدّما في المسائل أو تقدم أمثالُهما: أحدهما أن نضبط مبلغ الثلث ومبلغ الوصايا ثم نضيف الثلاثة بالنسبة إلى الوصايا وننفذ من كل وصية مثلَ تلك النسبة

Maka cara yang tepat adalah kita meletakkan permasalahan ini tanpa syarat mendahulukan, kemudian kita sebutkan konsekuensi dari mendahulukan. Jika tidak ada satu pun dari tiga orang tersebut yang didahulukan dan sepertiga harta tidak cukup untuk memenuhi semua wasiat, maka dalam menguraikan permasalahan ini terdapat dua metode yang mirip yang telah disebutkan sebelumnya dalam permasalahan lain atau yang serupa dengannya: Pertama, kita menentukan jumlah sepertiga harta dan jumlah wasiat, kemudian kita menambahkan ketiganya sesuai dengan proporsi wasiat, lalu kita laksanakan dari setiap wasiat sesuai dengan proporsi tersebut.

وبيان ذلك أن الثلث عشرون وجملة الوصايا خمسة وعشرون فإذا أضفت عشرين إلى خمسة وعشرين كانت العشرون أربعة أخماس الوصايا  فلكل واحد من مستحقي الوصية أربعةُ أخماس وصيته: لصاحب العشرة أربعة أخماسها ولصاحب الخمسة كذلك فيكون لصاحب كل عشرة ثمانية ولصاحب الخمسة أربعة

Penjelasannya adalah bahwa sepertiga itu dua puluh, dan jumlah wasiat adalah dua puluh lima. Jika kamu menambahkan dua puluh ke dua puluh lima, maka dua puluh itu adalah empat per lima dari wasiat. Maka, setiap penerima wasiat mendapatkan empat per lima dari bagian wasiatnya: bagi yang berhak atas sepuluh, ia mendapat empat per lima dari sepuluh; bagi yang berhak atas lima, demikian pula. Maka, yang berhak atas sepuluh mendapat delapan, dan yang berhak atas lima mendapat empat.

ويتجه مسلكٌ آخر وهو مسلك التضارب وذلك بأن ننسب الوصايا بعضها إلى بعض ونقدرها سهاماً على أقل ما معنا : لصاحب الخمسة على سهمٍ وصاحب كل عشرة على سهمين  فيضربون بخمسة أسهم في عشرين سهماً ونجري العشرين خمسة أسهم يأخذ صاحب كل عشرة جزأين من العشرين أو خُمسين من العشرين ويأخذ صاحب الخمسة جزءاً وإن أحببت قلت: خُمساً فيؤدي إلى ما ذكرناه فإذا قدرنا قسمة العشرين بين هذه الوصايا من غير تقديم فنبيّن على هذا التقديمَ  فنقول : يأخذ صاحب الخمسة أربعةً من غير تقديم  ويأخذ كل واحد من صاحبيه ثمانية فنقدر لزيدٍ ثمانية ولعمرٍو ثمانية ولخالدٍ أربعة ثم يأخذ خالدٌ من عمرٍو ما يكْمُل له به الخمسةُ وهو سهمٌ فيبقى في يد عمرٍو سبعة وفي يد زيد ثمانية ويكمل لخالد خمسة ولا خفاء بهذا ولكنه أوّل مسألة ذكرها ابن الحداد في هذا الكتاب

Ada pendekatan lain yang disebut pendekatan pertentangan, yaitu dengan mengaitkan wasiat-wasiat satu sama lain dan memperkirakan bagian-bagiannya berdasarkan jumlah terkecil yang ada: pemilik lima bagian mendapat satu bagian, dan pemilik setiap sepuluh bagian mendapat dua bagian. Maka mereka mengalikan lima bagian dengan dua puluh bagian, lalu membagi dua puluh itu menjadi lima bagian; setiap pemilik sepuluh mendapat dua bagian dari dua puluh, atau dua per lima dari dua puluh, dan pemilik lima mendapat satu bagian. Jika engkau mau, katakan: seperlima. Ini akan menghasilkan apa yang telah kami sebutkan. Jika kita memperkirakan pembagian dua puluh di antara wasiat-wasiat ini tanpa mendahulukan salah satunya, maka kita jelaskan berdasarkan pendahuluan tersebut, dan kita katakan: pemilik lima mendapat empat tanpa ada pendahuluan, dan masing-masing dari dua pemilik lainnya mendapat delapan. Maka kita perkirakan untuk Zaid delapan, untuk Amr delapan, dan untuk Khalid empat. Kemudian Khalid mengambil dari Amr apa yang melengkapi baginya menjadi lima, yaitu satu bagian, sehingga yang tersisa pada Amr adalah tujuh, pada Zaid delapan, dan Khalid menjadi lengkap lima. Hal ini tidak samar, namun ini adalah masalah pertama yang disebutkan oleh Ibnu al-Haddad dalam kitab ini.

مسألة: تشتمل على تفصيل القول فيمن يعتق على المريض في مرض موته فنقول: جهات الملك في مرض الموت ثلاثة في غرض المسألة: إحداها الإرث فإذا ورث المريض من يعتِق عليه يثبت الملك إرثاً ويترتب عليه حصول العتق من رأس المال هذا متفق عليه فإنه ملك قهري حصل من غير عوض ووقع حصوله مستحَقاً بجهة العتاقة فلا احتساب من الثلث

Masalah: Paragraf ini memuat penjelasan rinci tentang orang yang menjadi budak yang dimerdekakan oleh seseorang yang sedang sakit dalam sakit yang menyebabkan kematiannya. Kami katakan: Ada tiga aspek kepemilikan dalam sakit menjelang kematian terkait dengan masalah ini. Pertama adalah warisan. Jika orang yang sakit mewarisi seseorang yang menjadi budak yang wajib ia merdekakan, maka kepemilikan itu terjadi melalui warisan dan akibatnya pembebasan budak itu berlaku dari seluruh harta peninggalan. Hal ini telah menjadi kesepakatan, karena kepemilikan tersebut terjadi secara otomatis tanpa adanya imbalan dan terjadinya kepemilikan itu memang berhak melalui jalur pembebasan budak, sehingga tidak diperhitungkan dari sepertiga harta.

ولو اشترى المريض من يعتق عليه واحتمل الثلثُ العتقَ عَتَق عليه وإن لم يسع الثلثُ تمامَ القيمة عَتَق منه القدرُ الذي يسعه الثلث ورق باقيه وهذا متفق عليه

Jika seorang yang sakit membeli budak yang akan menjadi merdeka karena kepemilikannya, lalu sepertiga hartanya cukup untuk memerdekakan budak tersebut, maka budak itu menjadi merdeka seluruhnya. Namun jika sepertiga hartanya tidak cukup untuk menutupi seluruh nilai budak itu, maka yang merdeka hanyalah bagian yang sepadan dengan sepertiga harta, sedangkan sisanya tetap menjadi budak. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.

والعتق ملحقٌ بالتبرعات إذا كان الملك متلقَّى من جهة الشراء والابتياع ولو اتهب من يعتق عليه أو كان أُوصي له به ومات الموصي وجاز قبول الوصية فقبلها في مرضه فهل يجب العتق من ثُلثه أم ينفذ من رأس المال فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أبو علي رضي الله عنه: أحدهما أنه من رأس المال من جهة أن الملك لم يحصل بعوضٍ فصار كالملك المستفاد إرثاً

Dan pembebasan budak (al-‘itq) disamakan dengan hibah jika kepemilikan (budak) tersebut diperoleh melalui pembelian dan jual beli. Namun, jika budak itu dihibahkan kepada orang yang berhak memerdekakannya, atau diwasiatkan kepadanya, lalu pewasiat meninggal dunia dan penerimaan wasiat itu sah, kemudian ia menerimanya saat sedang sakit, maka timbul pertanyaan: Apakah pembebasan budak itu harus diambil dari sepertiga harta (tsuluts) ataukah berlaku atas seluruh harta? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abu ‘Ali rahimahullah: Salah satunya adalah bahwa pembebasan itu berlaku atas seluruh harta, karena kepemilikan tersebut tidak diperoleh dengan imbalan, sehingga sama seperti kepemilikan yang didapat melalui warisan.

والثاني أنه محسوب من الثلث فإنه تملّكٌ على اختيارٍ فإذا حصل في ملكه باختياره ثم قُدِّر العتق كان كما لو اتهب عبداً ثم أنشأ إعتاقه

Kedua, bahwa hal itu dihitung dari sepertiga, karena merupakan kepemilikan yang terjadi atas dasar pilihan. Maka apabila sesuatu masuk ke dalam kepemilikannya atas pilihannya, kemudian terjadi pembebasan budak, maka hukumnya seperti seseorang yang menerima hadiah seorang budak, lalu setelah itu ia memerdekakannya.

وهذا الوجه ركيكٌ لا اتجاه له والاستشهادُ بالاتهاب والإعتاق باطلٌ فإنه لو ورث عبداً ثم أعتقه كان العتق محسوباً من ثلثه فلا تعويل إذاً إلا على كون العتق مستحقاً مع أنه لم يبذل عوضاً في تحصيله حتى يعدّ بذله نقصاناً وخسراناً في المال وإذا كان العتق مستحقاً فلا أثر لاختيار الملك وإنما يؤثر اختيار العتق لو كان متعلقا بالاختيار

Pendapat ini lemah dan tidak memiliki arah yang jelas, serta penggunaan analogi dengan warisan dan pembebasan budak adalah tidak sah. Sebab, jika seseorang mewarisi seorang budak lalu membebaskannya, maka pembebasan itu dihitung dari sepertiga hartanya. Maka, tidak ada alasan untuk dijadikan sandaran kecuali jika pembebasan budak itu memang wajib, padahal ia tidak mengeluarkan imbalan apa pun untuk memperolehnya sehingga pengeluaran itu tidak dapat dianggap sebagai kerugian atau kekurangan dalam harta. Jika pembebasan budak itu memang wajib, maka tidak ada pengaruh dari pilihan kepemilikan, dan pilihan untuk membebaskan budak hanya berpengaruh jika hal itu memang bergantung pada pilihan.

ثم إن اشترى من يعتِق عليه بمثل قيمته فالوجه أن يحسب من الثلث حتى لو فرض دينٌ مستغرِقٌ فالعتق بجملته مردودٌ  على ما سنبين شرحَه في أثناء المسألة إن شاء الله تعالى

Kemudian, jika seseorang membeli budak yang akan merdeka karena hubungan kekerabatan dengannya dengan harga senilai budak tersebut, maka pendapat yang kuat adalah bahwa pembelian itu dihitung dari sepertiga harta. Sehingga, jika diasumsikan ada utang yang menghabiskan seluruh harta, maka pembebasan budak itu secara keseluruhan menjadi gugur, sebagaimana akan dijelaskan penjelasannya dalam pembahasan masalah ini, insya Allah Ta‘ala.

وإن اشترى من يعتِق عليه بأقلَّ من ثمن مثله فإن قلت: العتق فيما يتهبه من الثلث فلا إشكال في هذه المسألة

Dan jika seseorang membeli budak yang akan merdeka karena hubungan kekerabatan dengannya dengan harga yang lebih rendah dari harga pasaran budaknya, maka jika kamu berkata: pembebasan budak itu diambil dari sepertiga harta yang boleh dihibahkan, maka tidak ada masalah dalam persoalan ini.

وإن فرعت على المسلك الحق وهو أن العتق فيما يتهب من رأس المال فيجب أن يقال: إذا اشترى ابنَه وقيمتُه ألفٌ بخمسمائة فنقدّر المحاباة بمثابة المستفاد على حكم الاتهاب وإنما يتحقق التبرع في المقدار المبذول من العوض من جهة أنه بذل العوض ولم يستبدل عنه ما يبقى ملكاً

Jika kita merinci berdasarkan metode yang benar, yaitu bahwa pembebasan budak (’itq) berlaku pada sesuatu yang dihibahkan dari pokok harta, maka harus dikatakan: Jika seseorang membeli anaknya dan nilai anak tersebut seribu, namun ia membelinya dengan harga lima ratus, maka kita menganggap kelebihan harga tersebut seperti sesuatu yang diperoleh berdasarkan hukum hibah. Sumbangan (tabarru‘) benar-benar terjadi pada jumlah yang diberikan sebagai ganti, karena ia telah memberikan ganti tersebut tanpa menukarnya dengan sesuatu yang tetap menjadi miliknya.

وتمام البيان في هذا الفصل أنا حيث نقول: يعتِق على المريض ابنُه أو أبوه بجهةٍ  فلا كلام وحيث لا يحكم بحصول العتق فيه مثل أن اشترى ابنه بمثل قيمته وعليه دينٌ مستغرق فالمذهب أن الشراء يصح والابن لا يعتِق ويسلَّم إلى جهة الديون رقيقاً

Penyempurnaan penjelasan dalam bab ini adalah bahwa ketika kami mengatakan: Seorang anak atau ayah merdeka atas orang yang sakit karena suatu sebab, maka tidak ada perdebatan. Namun, apabila tidak diputuskan terjadinya pembebasan budak, seperti seseorang membeli anaknya dengan harga yang sama dengan nilainya, sedangkan ia memiliki utang yang meliputi seluruh hartanya, maka menurut mazhab, pembelian itu sah, anak tersebut tidak merdeka, dan diserahkan kepada pihak yang berhak atas utang dalam keadaan tetap sebagai budak.

ومن أصحابنا من قال: إذا كانت العقبى تقتضي ردَّ العتق فلا يصح الابتياع في أصله حتى لا يُفضي إلى أن يتصرف في ابنه الواقعِ في ملكه حسب التصرف في الأرقاء والعبيد والأظهر الأصح تصحيح الابتياع والمصير إلى أنه يباع في الديون

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: Jika akibatnya menuntut pembatalan pembebasan budak, maka jual beli pada dasarnya tidak sah, agar tidak sampai seseorang memperlakukan anaknya yang berada dalam kepemilikannya seperti memperlakukan budak dan hamba sahaya. Namun pendapat yang lebih kuat dan lebih sahih adalah membolehkan jual beli tersebut dan berpegang pada pendapat bahwa ia boleh dijual untuk melunasi utang.

ومما يلتحق بهذه القضايا أنا حيث نحسب العتق من الثلث ثم وسع الثلث القيمة ولا مزاحمة من دَيْن فإنه يعتِق ولا يرث لأنه لو ورث وعتقه محسوب من الثلث لكان العتق مصروفاً إلى حطه وصية له والوصية للوارث مردودة وإذا رددناها  فلا إرث  ففي توريثه منع توريثه وهذا ملتحق بالدوائر الفقهية

Termasuk dalam permasalahan ini adalah ketika kita menghitung pembebasan budak (‘itq) dari sepertiga harta, lalu sepertiga tersebut cukup untuk menutupi nilainya dan tidak ada persaingan dari utang, maka budak itu merdeka namun tidak mewarisi. Sebab, jika ia mewarisi sementara pembebasannya dihitung dari sepertiga harta, maka pembebasan itu menjadi semacam wasiat untuknya, dan wasiat kepada ahli waris adalah tertolak. Jika wasiat itu ditolak, maka tidak ada warisan baginya. Dalam hal mewariskannya terdapat larangan untuk mewariskannya, dan ini termasuk dalam lingkup permasalahan fiqh.

وحيث نحكم بأن العتق ينفذ من رأس المال فإذا عتِق مَن ملكه عتقاً مستحقاً محسوباً من رأس المال فقد ذكر الشيخ أبو علي وجهين في أنه هل يرث: أحدهما وهو الصحيح أنه يرث لأنه لا مانع من توريثه فإن عتقه لم يقع في حكم الوصايا فهو بمثابة ما لو عتَقَ في حالة الصحة

Ketika kita menetapkan bahwa pembebasan budak berlaku dari harta pokok, maka jika seseorang yang dimilikinya menjadi merdeka dengan pembebasan yang sah dan diperhitungkan dari harta pokok, Syaikh Abu Ali menyebutkan dua pendapat mengenai apakah ia berhak mewarisi: salah satunya, dan ini yang benar, adalah bahwa ia berhak mewarisi karena tidak ada halangan untuk mewariskannya, sebab pembebasannya tidak termasuk dalam hukum wasiat, sehingga posisinya sama seperti jika ia dimerdekakan pada saat pemiliknya masih sehat.

والوجه الثاني أنه لا يرث وهو اختيار الإصطخري ولست أعرف هذا وجهاً ولكنّ الشيخ أبا علي استدلّ له بأن قال: العتق حصل وفيما نحتسب جنسَ العتق فيه من الثلث فلا نظر إلى خروج هذا العتق عن القياس

Pendapat kedua adalah bahwa ia tidak mewarisi, dan ini adalah pilihan al-Istakhri. Saya sendiri tidak mengetahui pendapat ini sebagai suatu pendapat, namun Syaikh Abu Ali memberikan dalil untuknya dengan mengatakan: pembebasan budak telah terjadi, dan dalam hal kita memperhitungkan jenis pembebasan budak ini dari sepertiga harta, maka tidak perlu memperhatikan bahwa pembebasan budak ini keluar dari qiyās.

ولا ثبات لمثل هذا الكلام فإن العتق لاسمِه ولقبِه لا يعتبر من الثلث وهو منقسم: فمنه ما يحسب من الثلث ومنه ما لا يحتسب فلا حاصل تحت ما قال

Tidak ada ketetapan untuk perkataan seperti ini, karena pembebasan budak berdasarkan nama dan julukannya tidak dianggap sebagai bagian dari sepertiga harta, dan hal ini terbagi: di antaranya ada yang dihitung sebagai bagian dari sepertiga, dan di antaranya ada yang tidak dihitung, sehingga tidak ada hasil dari apa yang dikatakan tersebut.

واستشهد بمسألة فقال : إذا نكحت المرأة في مرضها بدون مهر مثلها فيصح ذلك منها ولا يحسب من الثلث فإنها حابت في عوض البضع وليس البضع ممّا يبقى للورثة قال: فهذا فيه إذا كان الزوج بحيث لا يرثها مثل أن يكون رقيقاً أو مسلماً وهي كافرة  فأما إذا كان الزوج يرثها فيلزمه مهرُ مثلها كَمَلاً فكأنا قدرنا ذلك وصيةً في حق الزوج الوارث وإن لم نقدره وصيةً في حق غيره

Ia mengemukakan sebuah permasalahan sebagai contoh, lalu berkata: Jika seorang wanita menikah dalam keadaan sakit tanpa mahar yang sepadan dengannya, maka hal itu sah darinya dan tidak dihitung sebagai bagian dari sepertiga harta, karena ia telah memberikan bagian tubuhnya sebagai ganti, dan bagian tubuh bukanlah sesuatu yang diwariskan kepada ahli waris. Ia berkata: Hal ini berlaku jika suaminya adalah orang yang tidak dapat mewarisinya, seperti suami yang berstatus budak atau seorang Muslim sementara istrinya kafir. Adapun jika suaminya dapat mewarisinya, maka wajib baginya membayar mahar yang sepadan secara penuh, seolah-olah kita menganggapnya sebagai wasiat untuk suami yang berhak mewarisi, meskipun kita tidak menganggapnya sebagai wasiat untuk selainnya.

هكذا ذكره الشيخ وأطلق جوابه في الفرق بين من يرث وبين من لا يرث

Demikianlah yang disebutkan oleh Syekh, dan beliau memberikan jawabannya secara mutlak dalam perbedaan antara orang yang mewarisi dan orang yang tidak mewarisi.

وكان شيخي رضي الله عنه لا يفصل ويقول: المحاباة بمهر المثل في النكاح من المريضة صحيحة مع الوارث وغير الوارث وهذا متجهٌ حسن  وسيأتي كلام في نكاح المريضة ونكاح المريض إن شاء الله عز وجل هذا منتهى المسألة

Dan guruku, semoga Allah meridhainya, tidak membedakan dan berkata: Memberikan mahar setara dalam pernikahan oleh wanita yang sedang sakit adalah sah, baik kepada ahli waris maupun non-ahli waris, dan ini adalah pendapat yang baik dan kuat. Akan ada pembahasan tentang pernikahan wanita sakit dan pernikahan laki-laki sakit, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah akhir dari pembahasan masalah ini.

مسألة: مشتملة على تفصيل القول في الوصية لمن نصفه حر ونصفه رقيق والغرض يتعلق بصورتين : إحداهما أن يوصي لشخص نصفه حرٌ ونصفه رقيق لغير وارثه

Masalah: Berisi penjelasan terperinci mengenai wasiat kepada seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak, dan pembahasan ini berkaitan dengan dua gambaran: Pertama, seseorang berwasiat kepada orang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak, yang bukan merupakan ahli warisnya.

والصورة الثانية أن يكون النصف الرقيق ملكاً لوارث الموصي

Dan bentuk kedua adalah apabila setengah bagian budak tersebut dimiliki oleh ahli waris orang yang berwasiat.

فأما إذا كان الرقيق منه ملكاً لمن لا يرث الموصي فممَّا نجدد العهدَ به قبل الغوص في المسألة أن من وهب شيئاً لعبد غيره فإن قبل العبدُ الهبة بإذن مولاه صحت الهبة ووقعت للمولى وكذلك إن أوصى لعبدٍ بشيء فقبِل الوصية بإذن السيد فالوصية تصح ويقع الملك في الموصى به للسيد

Adapun jika budak tersebut adalah milik seseorang yang bukan ahli waris dari orang yang berwasiat, maka hal yang perlu kami tegaskan kembali sebelum membahas masalah ini adalah bahwa apabila seseorang memberikan hibah kepada budak milik orang lain, lalu budak tersebut menerima hibah itu dengan izin tuannya, maka hibah itu sah dan menjadi milik tuannya. Demikian pula jika seseorang berwasiat kepada seorang budak, lalu budak itu menerima wasiat tersebut dengan izin tuannya, maka wasiat itu sah dan kepemilikan terhadap harta yang diwasiatkan menjadi milik tuannya.

فإن قبل الهبة والوصيةَ من غير إذن السيد ففي المسألة وجهان قدمناهما في مواضع: أحدهما أن القبول باطل ولا تصح الوصية ولا الهبة فإنهما لو صحتا لثبت الملك للمولى قهراً والعبد محجورٌ عليه على حالٍ فلا يصح منه أن يُكسب مولاه مالاً بعقدٍ من غير إذنه

Jika seorang budak menerima hibah dan wasiat tanpa izin tuannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan di beberapa tempat: salah satunya adalah bahwa penerimaan tersebut batal dan wasiat maupun hibah tidak sah. Sebab, jika keduanya sah, maka kepemilikan akan tetap menjadi milik tuan secara paksa, sedangkan budak itu dalam keadaan dibatasi haknya, sehingga tidak sah baginya untuk memberikan harta kepada tuannya melalui suatu akad tanpa izinnya.

والوجه الثاني أن القبول يصح ويثبت الملك للمولى إن لم يردّه كما لو احتش العبد أو احتطب وكما لو خالع زوجته على مالٍ فإن عوض الخلع يدخل في ملك المولى قهراً

Pendapat kedua adalah bahwa penerimaan itu sah dan kepemilikan harta menjadi milik tuan jika tuan tidak menolaknya, sebagaimana jika seorang budak memungut rumput atau kayu bakar, dan sebagaimana jika seorang istri melakukan khulu‘ terhadap suaminya dengan memberikan harta, maka kompensasi khulu‘ itu otomatis masuk ke dalam kepemilikan tuan.

فإذا تجدد العهد بما ذكرناه عُدنا إلى تفصيل المسألة:

Jika pemahaman terhadap apa yang telah kami sebutkan tadi telah diperbarui, maka kita kembali pada perincian masalah ini:

فإذا أوصى الرجل لشخص نصفه حر ونصفه مملوك لأجنبي فقبل الموصى له الوصية دون إذن المالك ففي صحة القبول على مقابلة الرق وجهان كالوجهين فيه إذا كان عبداً قِنّاً: فإن قلنا: يصح قبول المملوك دون إذن المالك فقد ثبتت الوصية ولا كلام

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya lagi adalah budak milik orang lain, lalu penerima wasiat menerima wasiat tersebut tanpa izin pemilik budak, maka dalam keabsahan penerimaan wasiat terhadap bagian yang masih berstatus budak terdapat dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam kasus jika ia adalah budak murni (qinn): Jika kita katakan bahwa penerimaan wasiat oleh budak tanpa izin pemiliknya sah, maka wasiat tersebut telah tetap dan tidak ada pembicaraan lagi.

وإن قلنا: لا يصح قبوله فيما يخص الرقيق منه فقد بطل القبول في نصف الوصية

Dan jika kita mengatakan: tidak sah menerima wasiat pada bagian yang khusus berkaitan dengan budak, maka batal pula penerimaan pada setengah wasiat tersebut.

وهل يصح في النصف الآخر فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أبو علي: أحدهما أنه يصح فإنه لو كان عليه معترَضٌ في مقدار الرق منه فلا يعترض في مقدار الحرية

Apakah sah pada separuh yang lain? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali: salah satunya adalah sah, karena jika ada keberatan pada bagian budaknya, maka tidak ada keberatan pada bagian kemerdekaannya.

والوجه الثاني أنه لا يصح القبول في شيء فإنا لو صححنا القبول وأثبتنا ذلك القدرَ المقبولَ لمقدار الحرية منه لم يصح ذلك من قِبل أنّ كل ما يستفيده فحقه أن ينقسم على شطريه واختصاصُ بعضه بالتملك على وجهٍ لا يَشيع محالٌ  فإن حصرنا بطل الحصر وإن أشعنا وأثبتنا البعضَ الذي صححنا القبولَ منه بينه وبين مالك رقّه انعكس الأمر إلى إدخال شيءٍ في ملك المالك من غير إذنه وهذا لا ينتظم قط فيجب القضاء ببطلان أصل الوصية

Adapun alasan kedua adalah bahwa penerimaan (wasiyat) tidak sah dalam hal ini. Sebab, jika kita membenarkan adanya penerimaan dan menetapkan bagian yang diterima itu sesuai kadar kebebasan yang dimiliki, maka hal itu tetap tidak sah. Karena, segala sesuatu yang diperoleh seharusnya terbagi antara dua bagian dirinya, dan pengkhususan sebagian darinya untuk dimiliki secara eksklusif tanpa tersebar adalah mustahil. Jika kita membatasi, maka batal pembatasan itu; dan jika kita membiarkan serta menetapkan sebagian yang kita benarkan penerimaannya antara dia dan pemilik status budaknya, maka perkara ini berbalik menjadi memasukkan sesuatu ke dalam kepemilikan sang pemilik tanpa seizinnya, dan hal ini sama sekali tidak dapat diterima. Maka wajib diputuskan bahwa pokok wasiat tersebut batal.

ولو وَهَبَ ممّن نصفه حرّ ونصفه رقيق وأبطلنا الهبة في نصيب المالك فهل تصح الهبة في حصة الحرية فعلى الخلاف الذي ذكرناه في الوصية غير أن الهبة تنفصل عن الوصية في قضيةٍ ظاهرة وهي أن القبول في الهبة إذا أبطلناه لأنه لم يصدر عن إذن المولى فلو أذن المولى بعد تخلل الفصل وانقطاع الرابطة المرعية بين الإيجاب والقبول فلو أذن السيد من بعدُ فلا يصح القبول إلا أن يجدّد الواهب الهبة

Jika seseorang memberikan hibah dari seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak, lalu kita membatalkan hibah pada bagian milik pemilik budak, maka apakah hibah pada bagian kemerdekaan sah? Hal ini kembali kepada perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam masalah wasiat, hanya saja hibah berbeda dari wasiat dalam satu hal yang jelas, yaitu bahwa penerimaan dalam hibah, jika kami batalkan karena tidak berasal dari izin tuan, lalu jika tuan memberi izin setelah terjadinya jeda dan terputusnya hubungan yang diperhatikan antara ijab dan kabul, maka jika tuan memberi izin setelah itu, maka kabul tidak sah kecuali pemberi hibah memperbarui hibahnya.

وإذا أبطلنا القبول في الوصية لعدم الإذن ثم أذن المولى فجدّد العبدُ قبولاً فيصح القبول الآن ويحصل كأن القبول الأول لم يكن وهذا ظاهر والغرض أمرٌ وراء هذا وهو أن السيد لو ردّ الوصية فهل يفسد بردّه سبيلُ القبول من بعدُ حتى لو بدا له أن يأذن في القبول وقد ندم على ما قدّم من الردّ فلا ينفذ إذنه بعد الردّ أم كيف السبيل فيه هذا مما يتعين الاعتناء به والاهتمام بفهمه

Jika kami membatalkan penerimaan wasiat karena tidak ada izin, kemudian tuan memberikan izin dan budak memperbarui penerimaannya, maka penerimaan itu sah saat ini dan dianggap seolah-olah penerimaan yang pertama tidak pernah terjadi. Hal ini jelas. Namun, maksud pembahasan ini adalah perkara lain, yaitu: jika tuan menolak wasiat tersebut, apakah penolakannya itu membatalkan kemungkinan penerimaan setelahnya, sehingga jika kemudian ia berubah pikiran dan mengizinkan penerimaan karena menyesal atas penolakan sebelumnya, maka izinnya setelah penolakan itu tidak berlaku? Atau bagaimana ketentuannya dalam hal ini? Inilah perkara yang sangat penting untuk diperhatikan dan dipahami.

فنقول: الهبة إذا قبلها العبد بإذن المولى فالملك فيها يقع للمولى من غير واسطة ولهذا قطع الأصحاب بأن الوصية لعبدِ الوارث وصيةٌ للوارث والهبة من عبده في مرض الموت تبرع على الوارث ومع هذا لو قبل السيد الهبةَ والمخاطب عبده  لم تنعقد الهبة بقبول السيد وإن كان الملك واقعاً له لأنا نرعى في القبول نظماً يقتضيه الإيجاب ليكون جواباً عنه والسيد لم يخاطَب به فلا يقع جوابه لو وقع ولو ردّ السيد وكان حاضراً لما وَهَب من عبده فإن شرطنا في قبول العبد إذنَ السيد وأبطلناه بعدم الإذن فالردّ أبلغ من عدم الإذن وإن صححنا قبول العبد من غير إذن المولى فلو زجره عن القبول فالظاهر عندي أن الهبة تصح ويقع الملك للمولى ويكون كما لو نهاه السيد عن مخالعة امرأته على مالٍ فخالف سيدَه وخالعها فعوض الخلع يقع في ملك السيد قهراً وإن نهى عن الخلع زجراً فكأن العبد في قبول الهبة على هذا القول الذي فرعنا عليه ليس محجوراً عليه والقبول يعتمد صحة لفظه

Maka kami katakan: jika seorang budak menerima hibah dengan izin tuannya, maka kepemilikan atas hibah tersebut jatuh kepada tuan tanpa perantara. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa wasiat kepada budak ahli waris adalah wasiat kepada ahli waris itu sendiri, dan hibah dari budaknya pada saat sakit menjelang kematian merupakan pemberian kepada ahli waris. Namun demikian, jika tuan menerima hibah sementara yang diajak bicara adalah budaknya, maka hibah tersebut tidak sah dengan penerimaan tuan, meskipun kepemilikan jatuh kepadanya. Hal ini karena dalam penerimaan, kami memperhatikan adanya keteraturan yang dituntut oleh ijab agar menjadi jawaban atasnya, dan tuan tidak diajak bicara dalam hal ini, sehingga jawabannya tidak dianggap jika terjadi. Jika tuan menolak hibah tersebut dan hadir pada saat hibah diberikan kepada budaknya, maka jika kami mensyaratkan izin tuan dalam penerimaan budak dan membatalkannya karena tidak ada izin, maka penolakan lebih kuat daripada tidak adanya izin. Namun jika kami membenarkan penerimaan budak tanpa izin tuan, lalu tuan melarangnya menerima, maka menurut pendapat saya yang tampak, hibah itu tetap sah dan kepemilikan jatuh kepada tuan. Keadaannya seperti jika tuan melarang budaknya melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan imbalan harta, lalu budak itu melanggar larangan tuannya dan melakukan khulu‘, maka imbalan khulu‘ jatuh ke dalam kepemilikan tuan secara paksa, meskipun tuan melarang khulu‘ sebagai bentuk pencegahan. Maka seakan-akan, menurut pendapat yang kami cabangkan ini, budak dalam menerima hibah tidak berada dalam status mahjur ‘alaih (terhalang haknya), dan penerimaan itu bergantung pada keabsahan lafalnya.

هذا قولنا في الهبة

Inilah pendapat kami tentang hibah.

فأما في الوصية فلو قبل سيدُ العبد الوصية بعد موت الموصي بناءً على أن الملك يحصل له فكأنه الموصى له على التحقيق فهذا فيه احتمال ظاهر عندي يجوز أن يقال: لا تثبت الوصية بقبول المولى قياساً على الهبة ويجوز أن يقال: تثبت الوصية بقبول المولى فإن قبول الوصية يخالف في وضعه القبول في العقود ولهذا ينفصل عن الإيصاء  ويقع بعد خروج الموصي عن أن يكون من أهل التصرفات ويموتُ الموصى له فيخلفه الوارث وهذا ينص على الغرض : فإذا كان الوارث يقبل وليس موصىً له فلا يبعد أن يقبل السيد وإن لم يسمَّ في الوصية نظراً إلى مصير الملك إليه

Adapun dalam wasiat, jika tuan dari seorang budak menerima wasiat setelah wafatnya orang yang berwasiat, dengan dasar bahwa kepemilikan berpindah kepadanya, maka seolah-olah dialah yang benar-benar menjadi penerima wasiat. Dalam hal ini, menurut saya terdapat kemungkinan yang jelas: boleh jadi dikatakan bahwa wasiat tidak sah dengan penerimaan dari tuan, dengan qiyās kepada hibah; dan boleh jadi dikatakan bahwa wasiat sah dengan penerimaan dari tuan, karena penerimaan wasiat berbeda dalam ketentuannya dengan penerimaan pada akad-akad lain. Oleh sebab itu, penerimaan wasiat terpisah dari proses pemberian wasiat, dan dapat terjadi setelah orang yang berwasiat tidak lagi termasuk orang yang berhak melakukan tindakan hukum, bahkan penerima wasiat pun bisa wafat lalu digantikan oleh ahli warisnya. Ini menegaskan maksudnya: jika ahli waris dapat menerima wasiat padahal ia bukan penerima wasiat yang disebutkan, maka tidak mustahil tuan dapat menerimanya meskipun tidak disebutkan dalam wasiat, dengan pertimbangan bahwa kepemilikan akan berpindah kepadanya.

ثم ينبني على هذا أنا إن صححنا قبولَ السيد فيجب أن يبطل ردُّ العبد لو ردّ

Kemudian, berdasarkan hal ini, jika kita membenarkan diterimanya (persaksian) tuan, maka wajib untuk membatalkan penolakan (persaksian) budak jika ia menolak.

ولا ينبغي أن يغتر الفقيه بصورة يعارَض بها إذا قيل له: نحن وإن أقمنا الوارث مقام الموروث في قبول الوصية فلو كان الموروث ردّ الوصية لبطلت  وإذا مات لم يصح قبول وارثه فهلا قلتم: قبول السيد يصح ولو ردّ العبد لارتدت الوصية فإن الموروث لو قبل لكان الملك له فهو الأصل في الوصية فترتد الوصية بردّه بخلاف العبد وهذا واضحٌ لا غموض فيه

Tidak sepantasnya seorang faqih tertipu oleh gambaran yang dijadikan sanggahan ketika dikatakan kepadanya: “Meskipun kami menempatkan ahli waris pada posisi pewaris dalam hal menerima wasiat, namun jika pewaris menolak wasiat maka wasiat itu batal, dan jika ia meninggal dunia maka tidak sah penerimaan wasiat oleh ahli warisnya. Maka mengapa kalian tidak mengatakan: penerimaan wasiat oleh tuan sah, meskipun budak menolaknya, sehingga wasiat itu batal? Sebab jika pewaris menerima wasiat, maka kepemilikan menjadi miliknya, sehingga ia adalah asal dalam wasiat, maka wasiat batal dengan penolakannya, berbeda dengan budak. Dan hal ini jelas, tidak ada keraguan di dalamnya.”

وكل ما ذكرناه فيه إذا لم يكن بين مالك نصفه وبينه مهايأة وكانت أعماله وأكسابه تقع مشتركة

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila tidak ada muhayā’ah antara pemilik setengahnya dan dirinya, dan segala aktivitas serta penghasilannya terjadi secara bersama.

فأما إذا جرى بينه وبين مالك رِقِّه مهايأة ووقع التواضع بينهما على أن يعمل ويكتسب في مدةٍ تواضعا عليها لمالك رقه ويكتسب في مدةٍ لنفسه فالأكساب المعتادة كالاحتشاش والاحتطاب واستحقاق أجرة العمل إذا كان الشخص صانعاً فهذه الأكساب تدخل تحت قضية المهايأة وفاقاً وأثر دخولها تحتها أن صاحب كلِّ مدَّة يختص بما يقع فيها من كسب فإذا كانت النوبة للشخص اختص بأكسابه فيها اختصاص الأحرار وإذا كانت النوبة لمالك الرق اختص بالأكساب فيها اختصاص المالك بأكساب عبده الخالص

Adapun jika terjadi antara dia dan pemilik budaknya suatu perjanjian pembagian waktu (muhayā’ah), dan keduanya sepakat bahwa dia akan bekerja dan memperoleh penghasilan dalam jangka waktu tertentu untuk pemilik budaknya, dan dalam jangka waktu tertentu lainnya untuk dirinya sendiri, maka penghasilan-penghasilan yang biasa seperti mengumpulkan rumput, mengumpulkan kayu bakar, dan memperoleh upah kerja jika orang tersebut adalah seorang pekerja, maka penghasilan-penghasilan ini termasuk dalam ketentuan perjanjian pembagian waktu tersebut menurut kesepakatan. Dampak dari masuknya penghasilan-penghasilan tersebut ke dalam perjanjian ini adalah bahwa pemilik setiap jangka waktu berhak atas penghasilan yang terjadi di dalamnya. Jika giliran itu untuk orang tersebut, maka dia berhak atas penghasilannya dalam jangka waktu itu sebagaimana hak orang merdeka. Dan jika giliran itu untuk pemilik budak, maka dia berhak atas penghasilan dalam jangka waktu itu sebagaimana hak pemilik atas penghasilan budaknya secara penuh.

وظهر اختلاف أصحابنا في أن الاكساب النادرة هل تدخل تحت المهايأة وعدّوا من جملتها قبول الوصايا والهبات وهذا الاختلاف ذكره المصنفون ولم يوضحوا مأخذه وأنا أتحيل لهذا الخلاف وجهين ومسلكين: أحدهما أن قبول الهبة والوصية ليس مما يحتاج فيه إلى إعمال منفعته  وإنما هو لفظةٌ لا تحول بين العبد وبين جميع الأعمال التي يلابسها والمهايأة ترد على المنافع حتى كأنها قسمة فيها وتصير المنفعة في كل نوبة حقَّ صاحب النوبة كما يصير حق منفعة الشبكة لمن يستأجرها وإذا اصطاد بها والمنفعة له فالصيد ملكه فالأكساب إذاً تبعُ المنافع وقبول الهبة والوصية لا يتعلق ببذل منفعة فلم يدخل في المهايأة التي وضعت لاقتسام المنافع وإذا كان كذلك تعيّن قسمة الموهوب على الرق والحريّة سواء جرت المهايأة أو لم تجر

Tampak adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab kami mengenai apakah penghasilan yang jarang terjadi termasuk dalam cakupan muhayā’ah. Mereka memasukkan dalam kategori ini penerimaan wasiat dan hibah. Perbedaan ini disebutkan oleh para penulis kitab, namun mereka tidak menjelaskan asal-usulnya. Saya mencoba menelusuri perbedaan ini melalui dua sisi dan dua pendekatan: Pertama, bahwa menerima hibah dan wasiat bukanlah sesuatu yang memerlukan pemanfaatan manfaat, melainkan hanya berupa ucapan yang tidak menghalangi seseorang dari seluruh aktivitas yang dilakukannya. Muhayā’ah berkaitan dengan manfaat, seolah-olah ia adalah pembagian manfaat, sehingga manfaat pada setiap giliran menjadi hak pemilik giliran tersebut, sebagaimana hak manfaat jaring bagi orang yang menyewanya; jika ia menangkap ikan dengan jaring itu, maka manfaatnya untuknya, dan hasil tangkapannya menjadi miliknya. Maka penghasilan adalah turunan dari manfaat, sedangkan menerima hibah dan wasiat tidak berkaitan dengan pemberian manfaat, sehingga tidak termasuk dalam muhayā’ah yang memang ditetapkan untuk pembagian manfaat. Jika demikian, maka pembagian barang yang dihibahkan harus dilakukan antara budak dan orang merdeka, baik muhayā’ah telah dilakukan maupun belum.

هذا بيان مسلك الخلاف

Ini adalah penjelasan tentang metode perbedaan pendapat.

ويجب أن نقول بحسبه: لو كانت الهبات غالبة في قُطرٍ  وكانت لا تعد من النوادر فهي خارجة على الخلاف أيضاً تلقِّياً مما ذكرناه في المنافع واختصاص أثر المهايأة بها

Kita harus mengatakan sesuai dengan hal itu: jika hibah-hibah memang dominan di suatu wilayah dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang langka, maka hal itu juga keluar dari ranah khilaf, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan tentang manfaat dan kekhususan pengaruh muhayā’ah padanya.

ويجوز أن يقال: مأخذ الخلاف الندور والعموم كما أطلقه الأصحاب ووجهه أن المهايأة المطلقة ترد على ما يجري في العرف فلا يمتنع أن يقول المولى أو الشخص: إنما أوردنا المهايأة على ما يجري العرف به وما يندر يبقى على حكم التقسّط والتوزّع فعلى هذا إذا عمت الهبات في قُطرٍ دخلت تحت المهايأة وإنما الخلاف فيه إذا كانت الهبات والوصايا نادرة

Boleh dikatakan bahwa sumber perbedaan pendapat adalah karena jarangnya (kejadian) dan keumuman, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama. Alasannya adalah bahwa mūhāya’ah (pembagian manfaat) yang bersifat mutlak mengikuti apa yang berlaku dalam adat kebiasaan, sehingga tidak mustahil jika seorang pemilik atau seseorang berkata: “Kami menetapkan mūhāya’ah sesuai dengan apa yang berlaku dalam adat, dan apa yang jarang terjadi tetap mengikuti hukum pembagian dan distribusi.” Berdasarkan hal ini, jika hibah-hibah telah merata di suatu wilayah, maka hibah tersebut termasuk dalam mūhāya’ah. Adapun perbedaan pendapat terjadi jika hibah dan wasiat itu jarang terjadi.

ويجري على هذه الطريقة تفصيلٌ آخر وهو أنهما لو صرحا بإدراج الأكساب النادرة تحت المهايأة لدخلت تحتها فإن الخلاف في هذا المسلك محمول على أنهما وضعا المهايأة على ما يجري العرف الغالب به فإذا وقع التصريح بإدراج الأكساب النادرة اندرجت

Ada rincian lain yang berlaku pada metode ini, yaitu jika kedua belah pihak secara tegas memasukkan penghasilan yang langka ke dalam perjanjian muhayā’ah, maka penghasilan tersebut termasuk di dalamnya. Sebab, perbedaan pendapat dalam pendekatan ini didasarkan pada anggapan bahwa muhayā’ah ditetapkan atas apa yang lazim menurut kebiasaan umum. Maka jika secara tegas disebutkan penghasilan yang langka, maka penghasilan itu pun termasuk di dalamnya.

وإن سلكنا المسلك الأول في اتباع المنافع وتنزيل المهايأة عليها فلا أثر للتصريح بإدخال الهبات ولو وقع التصريح كذلك لما دخلت

Jika kita menempuh pendekatan pertama dalam mengikuti manfaat dan menetapkan mūhāya’ah (pembagian waktu pemanfaatan) berdasarkan manfaat tersebut, maka tidak ada pengaruh dari pernyataan eksplisit untuk memasukkan hibah, dan sekalipun ada pernyataan eksplisit demikian, hibah tetap tidak termasuk.

التفريع:

Penjabaran:

إن قلنا: قبول الهبات والوصايا لا تدخل تحت المهايأة فقد مضى التفريع فيه إذا لم يكن مهايأة فنقول: وإن جرت المهايأة فلا أثر لجريانها في قبول الهبات والوصايا

Jika kita mengatakan bahwa menerima hibah dan wasiat tidak termasuk dalam muhayā’ah, maka telah dijelaskan cabang hukumnya ketika tidak ada muhayā’ah. Maka kami katakan: meskipun muhayā’ah telah terjadi, tidak ada pengaruh terjadinya muhayā’ah dalam hal menerima hibah dan wasiat.

وإن قلنا: إنها تندرج تحت المهايأة فالنظر إلى النوبة: فإن وقع ما يعتبر كما سنشرحه إن شاء الله في نوبة الشخص فيخلص له الموهوب والموصى به وإن وقع في نوبة المولى يخلص له ما وقع في نوبته ثم الاعتبار بالإيصاء أم بقبول الوصية وهذا الذي أبهمناه الآن

Dan jika kita katakan: bahwa hal itu termasuk dalam kategori muhayā’ah, maka yang menjadi perhatian adalah giliran. Jika terjadi sesuatu yang dianggap sah, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah pada giliran seseorang, maka harta yang dihibahkan dan diwasiatkan menjadi miliknya secara khusus. Jika terjadi pada giliran pihak lain, maka yang menjadi miliknya adalah apa yang terjadi pada gilirannya. Setelah itu, yang menjadi pertimbangan adalah apakah dengan wasiat atau dengan penerimaan wasiat, dan inilah yang masih kami sembunyikan penjelasannya saat ini.

اختلف أصحابنا في المسألة: منهم من قال: الاعتبار بالإيصاء فإنه ابتداء العقد وهو الأصل وعليه يترتب القبول

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang menjadi tolok ukur adalah saat wasiat itu diucapkan, karena itu merupakan permulaan akad dan merupakan asalnya, serta di atasnya lah penerimaan (qabul) didasarkan.

ومنهم من قال: الاعتبار بالموت وما بعده كما سنشرحه إن شاء الله تعالى فإن أوان قرار الوصية يدخل بالموت والقائل الأول يحتج في اعتبار الإيصاء بالالتقاط فإنا إذا جعلنا العبد من أهل الالتقاط وأدرجناه تحت المهايأة فالاعتبار بيوم الالتقاط لا بيوم انقضاء الحول

Sebagian dari mereka berkata: yang menjadi pertimbangan adalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah Ta‘ala, karena waktu tetapnya wasiat dimulai dengan kematian. Sedangkan pendapat pertama berargumen dalam mempertimbangkan wasiat pada kasus pengambilan barang temuan, yaitu jika kita menganggap seorang budak termasuk orang yang berhak atas barang temuan dan memasukkannya dalam pembagian bergiliran, maka yang menjadi pertimbangan adalah hari pengambilan barang temuan, bukan hari berakhirnya satu tahun.

فإن قلنا: الاعتبار بيوم الإيصاء فلا كلام

Jika kita mengatakan: yang dijadikan acuan adalah hari wasiat, maka tidak ada pembicaraan lagi.

وإن قلنا: الاعتبار بالموت وما بعده فهذا يتفرع على أن الملك في الموصى به متى يحصل فإن قلنا: إنه يحصل بالموت إما تحقيقاً وإما تبيُّناً فالنظر إلى اليوم الذي يقع الموت فيه

Dan jika kita mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah kematian dan setelahnya, maka hal ini bergantung pada kapan kepemilikan terhadap harta wasiat itu terjadi. Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan itu terjadi pada saat kematian, baik secara nyata maupun secara penetapan, maka yang menjadi perhatian adalah hari terjadinya kematian itu.

وإن قلنا: يحصل الملك في الموصى به بالقبول فعلى هذا القول وجهان: أحدهما أن العبرة بالقبول فإنه يستعقب الملك والثاني أن العبرة بالموت وإن فرعنا على قول القبول فإن الأصل في الباب الموت وهو الذي يُثبت حقَّ القبول ويمكِّن الموصى له منه فليكن الاعتبار به قال الشيخ أبو علي: يتصل بذلك أنه لو وهب لمن نصفه حرّ ونصفه عبد في يوم سيده وقبض في يوم نفسه فالهبة في يوم من فعلى وجهين: أحدهما أن الموهوب يصرف إلى من وقعت الهبة في يومه فإن الهبة هي الأصل وعليها يترتب الإقباض قال الشيخ: وهذا الاختلاف ينبني على أن عقد الهبة هل يقتضي الملك مع ثبوت الخيار للواهب في الرجوع ثم القبض يلزمه ويُتمُّه أم نقول القبض يستعقب الملك ويقتضيه وعقد الهبة لا يقتضيه فيه اختلاف قولٍ قدمناه في كتاب الهبات فإن حكمنا بأن عقد الهبة يُثبت الملك قبل الإقباض فالاعتبار باليوم الذي وقع العقد فيه وإن قلنا: الملك يحصل بالقبض ففي المسألة وجهان كالوجهين المفرعين على قولنا: إن الملك في الموصى به يقع بالقبول

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan terhadap barang yang diwasiatkan terjadi dengan adanya penerimaan (qabūl), maka menurut pendapat ini terdapat dua pandangan: pertama, yang dijadikan acuan adalah penerimaan, karena penerimaan itu menyebabkan terjadinya kepemilikan; kedua, yang dijadikan acuan adalah kematian (pewasiat), meskipun kita mendasarkan pada pendapat bahwa kepemilikan terjadi dengan penerimaan, karena asal dalam masalah ini adalah kematian, dan kematianlah yang menetapkan hak untuk menerima dan memungkinkan penerima wasiat untuk menerimanya, maka seharusnya yang dijadikan acuan adalah kematian. Syekh Abu Ali berkata: berkaitan dengan hal ini, jika seseorang memberikan hibah kepada orang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak, lalu hibah itu diberikan pada hari tuannya dan diterima pada hari dirinya sendiri (hari di mana ia merdeka), maka hibah itu berlaku pada hari siapa? Dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, barang yang dihibahkan diberikan kepada siapa yang hibahnya terjadi pada harinya, karena hibah adalah asal dan penerimaan (qabḍ) mengikuti hibah. Syekh berkata: perbedaan ini bergantung pada apakah akad hibah itu sendiri sudah menyebabkan kepemilikan meskipun pemberi hibah masih memiliki hak untuk menarik kembali, lalu penerimaan (qabḍ) menguatkan dan menyempurnakannya, ataukah kita mengatakan bahwa penerimaanlah yang menyebabkan dan mensyaratkan terjadinya kepemilikan, sedangkan akad hibah itu sendiri tidak menyebabkannya. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam Kitab Hibah. Jika kita memutuskan bahwa akad hibah sudah menetapkan kepemilikan sebelum penerimaan, maka yang dijadikan acuan adalah hari terjadinya akad. Namun jika kita mengatakan bahwa kepemilikan terjadi dengan penerimaan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat sebagaimana dua pendapat yang bercabang dari pendapat bahwa kepemilikan terhadap barang wasiat terjadi dengan penerimaan.

وجميع ما ذكرناه فيه إذا وقعت الوصية لمن نصفه حر ونصفه رقيق لأجنبي

Dan semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku apabila wasiat diberikan kepada seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya lagi budak, yang bukan kerabat.

فأما إذا أوصى لمن نصفه حر ونصفه مملوك لوارثه  فالكلام في المهايأة جرت أو لم تجر وفي أن قبول الوصايا هل يدخل تحت المهايأة قد تقدم

Adapun jika seseorang berwasiat kepada orang yang setengahnya merdeka dan setengahnya lagi adalah budak milik ahli warisnya, maka pembahasan mengenai apakah telah terjadi muhayā’ah atau belum, dan apakah penerimaan wasiat termasuk dalam muhayā’ah, telah dijelaskan sebelumnya.

ونحن نقول الآن: إن تصورت المسألة بصورةٍ لو فرضت فرْضَ المالك الأجنبي لكان الملك بكماله للمالك فالوصية في مثل تلك الصورة مردودة في مسألتنا فإنا لو صححناها لكانت للوارث والوصية للوارث مردودة

Sekarang kami katakan: Jika suatu masalah dibayangkan dalam bentuk bahwa seandainya kepemilikan itu adalah milik penuh seorang pemilik asing, maka seluruh hak milik itu menjadi milik pemilik tersebut. Wasiat dalam gambaran seperti itu tertolak dalam permasalahan kita, karena jika kita membolehkannya, maka wasiat itu akan jatuh kepada ahli waris, padahal wasiat kepada ahli waris adalah tertolak.

وإن تصوّرت المسألة بصورة لو فرضت والمالك فيها أجنبي لكانت الوصية تقع للشخص المنقسم فالوصية تصح بجملتها لهذا الشخص في مسألتنا

Jika suatu permasalahan dibayangkan dalam bentuk bahwa, seandainya pemiliknya adalah orang lain (bukan pewasiat), maka wasiat itu akan jatuh kepada orang yang terbagi tersebut, maka wasiat itu sah seluruhnya bagi orang tersebut dalam permasalahan kita.

فإن اقتضى التفريع في الأجنبي قسمة الموصى به على السيد والشخص فقد قال الشيخ أبو علي: إن انتهينا إلى ذلك أبطلنا الوصية أيضاً فإن البعض منها ينصرف إلى مالك الرق وصرفه في مسألتنا إلى الوارث غيرُ جائز فتبطل الوصية رأساً واستشهد في ذلك بالإرث فإن مذهب الشافعي رضي الله عنه أن من نصفه حر ونصفه عبد لا يرث فإن التوريث بنصفه الرقيق ممتنع فإن فسد التوريث بالبعض من جهة أنا لو ورّثناه بنصفه الرقيق لصرفنا ذلك القدرَ إلى مالك الرقيق وهذا يؤدي إلى توريث أجنبي من حميمه  ثم كما أبطلنا الإرث أبطلناه رأساً

Jika dalam perincian pada orang asing mengharuskan pembagian harta wasiat kepada tuan dan orang tersebut, maka Syekh Abu Ali berkata: Jika kita sampai pada hal itu, kita juga membatalkan wasiat tersebut, karena sebagian dari wasiat itu jatuh kepada pemilik budak, dan menyalurkannya dalam kasus kita kepada ahli waris tidaklah diperbolehkan, sehingga wasiat itu batal seluruhnya. Ia mencontohkan hal ini dengan warisan, karena menurut mazhab Syafi‘i ra., seseorang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak tidak mendapatkan warisan, sebab mewariskan pada bagian yang budak tidak diperbolehkan. Jika pewarisan pada sebagian batal, karena jika kita mewariskan pada bagian yang budak, berarti kita menyalurkan bagian itu kepada pemilik budak, dan ini akan menyebabkan orang asing mewarisi dari kerabatnya. Maka sebagaimana kami membatalkan warisan, kami juga membatalkan wasiat itu seluruhnya.

وهذا الذي قاله فيه نظر أما الإرث فمذهب الشافعي رضي الله عنه فيه ما ذَكَر فإن الانقسام فيه متعذر وأما الوصية فلا يمتنع أن يقال فيها: تبطل الوصية في حصة الوارث وتصح في حصة الشخص  فإن التبعيض ليس بدعاً في الوصايا فإن الوصية الزائدة على الثلث تتبعض عند ردّ الورثة فهذا ما أردناه

Apa yang dikatakannya masih perlu ditinjau kembali. Adapun mengenai warisan, maka mazhab Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu memang sebagaimana yang telah disebutkan, karena pembagian di dalamnya memang sulit dilakukan. Adapun wasiat, tidak mustahil untuk dikatakan bahwa wasiat batal pada bagian ahli waris dan sah pada bagian orang lain, karena pembagian seperti ini bukanlah hal yang asing dalam wasiat. Wasiat yang melebihi sepertiga harta pun terbagi ketika ahli waris menolak. Inilah yang kami maksudkan.

ويتفرع على هذا المنتهى شيء  وهو أن من أوصى لإنسان بوصية خارجة من الثلث فقبل الموصى له بعضَها وردّ بعضها فيجوز أن يقال: يصح ذلك ويجوز أن يقال: لا يصح ووجه المنع تشبيه قبول الوصية بالقبول في الهبة ولو قبل الموهوب له الهبة في بعض ما وهب منه لم يصح القبول في شيء ومن فرق تمسك بما أشرنا إليه من الفرق بين قبول الوصايا وبين القبول في الهبة وغيرها من العقود وسنذكر أن الموصى له إذا مات قبل القبول وخلّف ذرية فقبل بعضهم وردّ بعضهم فالقبول قد يثبت في حق من قبل وإن تضمن تبعيضاً في الوصية

Dari pembahasan ini muncul cabang hukum, yaitu jika seseorang berwasiat kepada orang lain dengan wasiat yang melebihi sepertiga harta, lalu penerima wasiat menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya, maka ada dua pendapat: boleh jadi hal itu sah, dan boleh jadi tidak sah. Alasan pelarangan adalah karena penyerupaan penerimaan wasiat dengan penerimaan hibah; jika penerima hibah hanya menerima sebagian dari apa yang dihibahkan, maka penerimaan itu tidak sah untuk sebagian pun. Sedangkan yang membedakan berpegang pada apa yang telah kami isyaratkan tentang perbedaan antara penerimaan wasiat dan penerimaan hibah serta akad-akad lainnya. Kami juga akan sebutkan bahwa jika penerima wasiat meninggal sebelum menerima wasiat dan meninggalkan keturunan, lalu sebagian dari mereka menerima dan sebagian lainnya menolak, maka penerimaan itu bisa berlaku bagi yang menerima, meskipun hal itu mengakibatkan pembagian dalam wasiat.

ومما ذكره الشيخ أبو علي في خاتمة المسألة أن الرجل لو قال لمن نصفه حر ونصفه عبد: أوصيت لنصفك الحر فكيف السبيل في ذلك قال: قال القفال: هذه الوصية باطلة في كل مسلك فإن الإيجاب لا يجوز توجيهه على نصف الشخص

Di antara yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali pada penutup masalah ini adalah bahwa jika seseorang berkata kepada orang yang setengahnya merdeka dan setengahnya budak: “Aku mewasiatkan untuk setengahmu yang merdeka,” maka bagaimana jalan keluarnya dalam hal ini? Ia berkata: Al-Qaffal berkata, wasiat ini batal menurut semua pendapat, karena tidak boleh menetapkan kewajiban pada setengah dari seseorang.

وذكر الشيخ أبو علي وجهاً أن الوصية تصح وإن توجهت على بعض الشخص وطرد هذا الوجهَ في الهبة أيضاً إذا وُجّهت على البعض

Syekh Abu Ali menyebutkan satu pendapat bahwa wasiat itu sah meskipun ditujukan kepada sebagian orang saja, dan beliau juga menerapkan pendapat ini dalam hibah jika hibah itu ditujukan kepada sebagian orang.

وكشْفُ القول في هذا أن نقول: إن حكمنا بأن الهبة والوصية لا تدخل تحت المهايأة وأنهما يقعان على الاشتراك لا محالة وإن جرت مهايأة فتخصيص الوصية والهبة بالبعض الحر على خلاف موجَب التبرّع  فتبطل وإن لم يتعد وقوع التبرّع بالوصية والهبة لهذا الشخص بحكم المهايأة

Penjelasan dalam hal ini adalah sebagai berikut: Sesungguhnya, penetapan kami bahwa hibah dan wasiat tidak termasuk dalam mūhāya’ah, dan bahwa keduanya pasti terjadi atas dasar kepemilikan bersama meskipun telah terjadi mūhāya’ah, maka pengkhususan wasiat dan hibah pada sebagian bagian yang bebas bertentangan dengan konsekuensi tabarru‘, sehingga batal. Dan jika pelaksanaan tabarru‘ berupa wasiat dan hibah kepada orang ini tidak melampaui batas yang ditetapkan oleh mūhāya’ah.

فإذا وقع التوجيه على النصف الحر نظر: فإن لم يكن مهايأة بطلت أيضاً فإن مقتضى الحال ألا تختص الهبة والوصية

Maka jika pengalihan diarahkan pada separuh bagian yang bebas, perlu dilihat: jika tidak ada muhayā’ah, maka batal juga, karena konsekuensi keadaan menuntut agar hibah dan wasiat tidak dikhususkan.

وإن كان ثَمَّ مهايأة فإن وقع ذلك في نوبة السيد بطلت أيضاً فإن هذا على مناقضة الواجب وإن وقع هذا في نوبة العبد والتفريع على أن التبرع يقع له لو خُوطب به كله فإذا خوطب به نصفه الحر ففي صحة ذلك وجهان: أحدهما الفساد لاختلال اللفظ والمعنى أما اللفظ فبيّنٌ وأما المعنى فلا يتصور أن يتّهب نصفٌ وهذا الشخص في نوبته يتهب بنصفيه ولكن نصفه الرقيق في نوبته عوضٌ عن نصفه الحر في يوم سيده

Jika terdapat muhayā’ah (pembagian waktu pemanfaatan antara dua pihak), lalu hal itu terjadi pada giliran tuan, maka batal juga, karena hal ini bertentangan dengan kewajiban. Namun jika hal itu terjadi pada giliran budak, dan berdasarkan cabang pendapat bahwa hibah dapat berlaku baginya jika ia diminta untuk seluruhnya, maka jika hanya setengahnya yang diminta pada bagian yang merdeka, terdapat dua pendapat mengenai keabsahannya: salah satunya adalah batal karena cacat pada lafaz dan makna. Adapun cacat pada lafaz, itu jelas; dan pada makna, tidak terbayangkan bahwa setengahnya dihibahkan, sementara orang ini pada gilirannya menghibahkan dengan kedua bagiannya, namun setengahnya yang berstatus budak pada gilirannya menjadi pengganti dari setengahnya yang merdeka pada hari milik tuannya.

والوجه الثاني أن الهبة تصح فإن قرار الملك بالحرية وهي متبعضة بمخاطبة الجزء الحُرّ منه مخاطبة للمالك فإنّ النصف الرقيق منه لا يملك لنفسه

Pendapat kedua menyatakan bahwa hibah tersebut sah, karena penetapan kepemilikan didasarkan pada kebebasan, sementara ia masih berstatus sebagian merdeka, sehingga bagian yang merdeka darinya dapat diperlakukan sebagai pemilik. Adapun setengah yang masih berstatus budak, ia tidak memiliki hak kepemilikan untuk dirinya sendiri.

وللمسألة الآن التفاتٌ في الوصية على ما إذا قبل الموصى له بعضَ الوصية وليست المسألة كتلك  فإن ما ذكرناه يجري في الوصية والهبة وتبعيض القبول يختص بالوصية فإن من قال لشخص : وهبت منك هذا العبد فقال المخاطب: قبلتُ الهبةَ في نصفه لم يصح وفاقاً

Sekarang, permasalahan ini berkaitan dengan wasiat, yaitu apabila penerima wasiat menerima sebagian dari wasiat tersebut. Namun, permasalahan ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena apa yang telah kami sebutkan berlaku pada wasiat dan hibah, tetapi pembagian penerimaan hanya khusus pada wasiat. Sebab, jika seseorang berkata kepada orang lain: “Aku hibahkan kepadamu budak ini,” lalu orang yang diajak bicara berkata: “Aku menerima hibah untuk setengahnya,” maka hibah tersebut tidak sah menurut kesepakatan.

وقد نجزت المسألة ولم نغادر ما تمس الحاجة إلى ذكره إن شاء الله تعالى

Permasalahan ini telah selesai dibahas dan kami tidak meninggalkan sesuatu pun yang masih dibutuhkan untuk disebutkan, insya Allah Ta‘ala.

مسألة: السيد إذا أوصى لعبده القنِّ بثلث ماله فإن نص على إدخال ثلث رقبته في الوصية دخل فيها وإذا قبل الوصية عَتَق ثلثُه ولا يسري العتق وهذا أصلٌ جارٍ في العتق الوارد على بعض العبد بعدَ موت الموصي بالعتق فإن العتق إنما يسري على موسرٍ والميت معسر وإن خلَّف وَفْراً كثيراً ومالاً جمّاً ولا يجوز صرف الثلث إلى رقبته بالكلية وإن وفّى الثلث بقيمته وزاد لأنه أوصى له بثلث ماله فيستحق الثلث في كل صنف على مقتضى الوصية ولا يجوز صرف حصتِه من جميع الأصناف إلى رقبته فإن ذلك لو قدرناه لكان مخالفاً لصيغة الوصية فيعتِق إذاً منه ثلثه وتبقى الوصية له وبعضه حر وبعضه رقيق للورثة فما يقابل الرقيق منه تبطل الوصية فيه

Masalah: Jika seorang tuan berwasiat kepada budaknya yang murni (bukan budak mukatab) dengan sepertiga hartanya, lalu ia secara tegas menyebutkan bahwa sepertiga dari tubuh budak itu termasuk dalam wasiat, maka bagian tersebut masuk dalam wasiat. Jika budak menerima wasiat itu, maka sepertiga dirinya menjadi merdeka dan kemerdekaan itu tidak berlaku secara menyeluruh (tidak menular ke seluruh tubuhnya). Ini adalah kaidah yang berlaku dalam masalah pembebasan sebagian budak setelah wafatnya orang yang berwasiat membebaskan budak, karena kemerdekaan hanya berlaku bagi orang yang mampu, sedangkan orang yang telah meninggal dianggap tidak mampu, meskipun ia meninggalkan harta yang banyak dan melimpah. Tidak boleh mengalokasikan seluruh sepertiga harta untuk membebaskan seluruh tubuh budak, meskipun sepertiga harta itu cukup untuk menutupi nilainya bahkan lebih, karena ia hanya berwasiat dengan sepertiga hartanya, sehingga budak hanya berhak atas sepertiga dari setiap jenis harta sesuai dengan isi wasiat. Tidak boleh pula mengalokasikan seluruh bagian budak dari semua jenis harta hanya untuk membebaskan tubuhnya, sebab jika hal itu dilakukan, maka bertentangan dengan redaksi wasiat. Maka yang merdeka dari budak itu hanyalah sepertiganya, dan wasiat tetap berlaku untuknya, sehingga sebagian dirinya merdeka dan sebagian lagi tetap menjadi milik ahli waris. Adapun bagian yang masih menjadi budak, maka wasiat untuk bagian itu batal.

وفي بطلان الوصية فيما يقابل الجزء الحر منه ما قدمناه في المسألة المتقدمة على هذه  واختيار الشيخ القطعُ ببطلان الوصية فيما يقابل الحرية تخريجاً لذلك على منع توريث من بعضه حر وقد أوضحنا وجه الاحتمال وطريقَ الفرق بين الميراث وبين الوصية

Dalam hal batalnya wasiat terhadap bagian yang sepadan dengan bagian merdeka darinya, berlaku apa yang telah kami kemukakan pada masalah sebelumnya. Pilihan asy-Syaikh adalah memastikan batalnya wasiat terhadap bagian yang sepadan dengan kemerdekaan, dengan mendasarkan hal itu pada larangan mewariskan kepada orang yang sebagian dirinya merdeka. Kami telah menjelaskan alasan kemungkinan tersebut dan cara membedakan antara warisan dan wasiat.

ومما يتعلق بما نحن فيه أن من أوصى بأن يُعتَق عبدٌ عينه من عبيده ووفَّى الثلث به فالوصية تنفذ ولا حاجة إلى قبول العبد فإن الغالب في العتق حق الله تعالى والعبد المعين لا يملك إبطال حق الله فلا حاجة إلى قبوله إذ لا ترتدّ الوصية بردّه

Terkait dengan pembahasan kita, jika seseorang berwasiat agar seorang budak tertentu dari budak-budaknya dimerdekakan dan sepertiga harta cukup untuk melaksanakannya, maka wasiat tersebut berlaku dan tidak memerlukan persetujuan dari budak tersebut. Sebab, pada umumnya dalam masalah pembebasan budak terdapat hak Allah Ta‘ala, dan budak yang ditunjuk tidak memiliki hak untuk membatalkan hak Allah, sehingga tidak diperlukan persetujuannya, karena wasiat tersebut tidak batal meskipun ia menolaknya.

ولو قال: أوصيت لعبدي هذا برقبته فمآل هذه الوصية أن يَعتِق  فهل يُشترط قبول العبد فإنّ سبيل حصول العتق في هذه الجهة أن يملك العبد رقبته ويعتِق هذا فيه تردّد تلقيتُه من فحوى كلام الأئمة فيظهر أن نقول: لا حاجة إلى قبوله لما ذكرناه من أن مقصود هذه الوصية إعتاقُه فصار كما لو أوصى بأن يُعتق

Jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan budakku ini dengan kemerdekaannya,” maka akibat dari wasiat ini adalah budak tersebut akan merdeka. Apakah disyaratkan adanya penerimaan dari budak tersebut? Cara terjadinya kemerdekaan dalam hal ini adalah budak itu memiliki dirinya sendiri, lalu ia merdeka. Dalam hal ini terdapat keraguan yang aku dapatkan dari makna ucapan para imam. Maka tampak bagi kami untuk mengatakan: Tidak perlu adanya penerimaan dari budak, karena sebagaimana telah kami sebutkan, maksud dari wasiat ini adalah memerdekakannya, sehingga hukumnya seperti jika seseorang berwasiat agar budaknya dimerdekakan.

ولا يمتنع أن يقال: الوصية تتوقف على قبوله وهذا الوجه أفقه ووجهه أنه لم يوصِ بتحصيلِ العتق ولكنه أوصى لعبده بملك رقبته فليس العتق في مقصود الوصية مطلوباً للموصي على جزمٍ وكأنه قال: إن اختار عبدي قبولَ الوصية عَتَقَ بالوصية وإن لم يقيّد باختيار القابل فهي في وضعها مقيدةٌ بذلك شرعاً

Tidak terlarang untuk dikatakan: wasiat bergantung pada penerimaan (penerima), dan pendapat ini lebih sesuai dengan fiqh. Alasannya adalah karena pemberi wasiat tidak mewasiatkan untuk memperoleh pembebasan budak, melainkan ia mewasiatkan kepada budaknya berupa kepemilikan atas dirinya sendiri. Maka, pembebasan budak bukanlah tujuan pasti dari wasiat tersebut bagi pewasiat, seolah-olah ia berkata: Jika budakku memilih menerima wasiat itu, maka ia merdeka karena wasiat tersebut. Dan jika tidak dikaitkan dengan pilihan penerima, maka pada hakikatnya wasiat itu secara syariat memang terikat dengan hal tersebut.

وهذا التردد الذي ذكرته يجري في الوصية للعبد بثلث المال مع التصريح بإدخال رقبته في الوصية فيجوز أن نقول: يعتق ثُلثه من غير قبول فإن الوصية في رقبته عتاقةٌ محضة ويجوز أن نقول: لا بد من قبوله وإن ردّ الوصيةَ ارتدت وكان رقيقاً للورثة

Keraguan yang saya sebutkan ini juga berlaku dalam wasiat kepada seorang budak dengan sepertiga harta, disertai pernyataan tegas bahwa tubuhnya termasuk dalam wasiat tersebut. Maka boleh jadi kita katakan: sepertiganya menjadi merdeka tanpa perlu adanya penerimaan, karena wasiat atas tubuhnya adalah pembebasan murni. Dan boleh juga kita katakan: harus ada penerimaannya, dan jika ia menolak wasiat tersebut, maka wasiat itu batal dan ia tetap menjadi budak milik para ahli waris.

وكل ما ذكرناه فيه إذا أوصى لعبده بثلث ماله وصرح بإدخال ثلث رقبته في الوصية

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika seseorang berwasiat kepada hambanya dengan sepertiga hartanya dan secara tegas memasukkan sepertiga bagian tubuh hambanya itu ke dalam wasiat.

فأما إذا أطلق الوصية له بثلث ماله ولم يتعرض لإدراج رقبته تحت مقتضى وصيته فقد اختلف أصحابنا في المسألة فذهب بعضهم إلى أن ثلث رقبته يدخل في الوصية وهذا اختيار ابن الحداد ووجهه أن اسم المال يتناول رقبة العبد فإنه من ماله فأشبه ما لو صرّح بإدخال رقبته في الوصية وقد تقدم بيان المذهب فيه

Adapun jika wasiat diberikan kepadanya secara mutlak dengan sepertiga hartanya dan tidak disebutkan secara khusus memasukkan kepemilikan dirinya ke dalam isi wasiat tersebut, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa sepertiga kepemilikan dirinya termasuk dalam wasiat, dan ini adalah pilihan Ibn al-Haddad. Alasannya adalah bahwa istilah “harta” mencakup kepemilikan budak, karena budak termasuk hartanya, sehingga hal itu serupa dengan jika ia secara tegas memasukkan kepemilikan dirinya dalam wasiat, dan penjelasan mengenai mazhab dalam hal ini telah disebutkan sebelumnya.

ومن أصحابنا من قال: لا تدخل رقبته في الوصية فإن المخاطب لا يدخل فيما هذا سبيله تحت الخطاب فإذا قال: أوصيت لك  اقتضى ذلك أن يكون الموصى به غيرَ الموصى له وهذا في إطلاقه يمنع دخوله تحت الموصى به وهو كما لو قال لوصيّه: اصرف ثلث مالي إلى الفقراء فلو كان الوصي فقيراً لم يجز له أن يأخذ من الثلث شيئاً

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Tidak termasuk lehernya (budak) dalam wasiat, karena orang yang diajak bicara tidak termasuk dalam hal yang seperti ini di bawah cakupan pembicaraan. Maka jika seseorang berkata: “Aku berwasiat untukmu,” hal itu mengharuskan bahwa yang diwasiatkan bukanlah untuk orang yang menerima wasiat. Dan dalam pengertian mutlaknya, ini mencegah masuknya penerima wasiat ke dalam apa yang diwasiatkan. Hal ini seperti jika seseorang berkata kepada walinya: “Salurkan sepertiga hartaku kepada orang-orang fakir,” maka jika wali tersebut adalah orang fakir, tidak boleh baginya mengambil sesuatu pun dari sepertiga harta itu.

ومن نصر الوجهَ الأول انفصل عن هذه المسألة بأن قال: الصرف يقتضي إقباضاً من الوصيّ  وقبضاً من الآخذ وذلك لا يتأتى من الوصي في حق نفسه والوصية بالملك لا تقتضي قبضاً وإقباضاً

Dan siapa yang mendukung pendapat pertama, membedakan masalah ini dengan mengatakan: sharf (pertukaran) menuntut adanya penyerahan dari pihak wasi dan penerimaan dari pihak penerima, dan hal itu tidak mungkin dilakukan oleh wasi terhadap dirinya sendiri, sedangkan wasiat berupa kepemilikan tidak menuntut adanya penyerahan dan penerimaan.

فإن قلنا: يدخل ثلث العبد تحت الوصية المطلقة عَتَقَ الثلث منه فكان الكلام في باقي العبد على ما تقدم

Jika kita mengatakan: sepertiga budak termasuk dalam wasiat mutlak, maka sepertiga dari budak itu menjadi merdeka, sehingga pembahasan mengenai sisa budak kembali kepada penjelasan yang telah lalu.

وإن قلنا: لا يدخل ثلثه في الوصية فلا يعتِق شيء منه وإذا لم يعتق وقعت الوصية بكمالها للورثة فبطلت

Dan jika kita mengatakan: sepertiganya tidak termasuk dalam wasiat, maka tidak ada bagian darinya yang merdeka. Dan apabila tidak ada yang dimerdekakan, maka wasiat itu sepenuhnya menjadi milik para ahli waris, sehingga wasiat tersebut batal.

مسألة: إذا كان بين رجلين عبدان مشتركان لكل واحدٍ منهما النصفُ من كل عبد وقيمة كل عبدٍ ألفُ درهم فأعتق أحد الشريكين في مرضه نصيبه من العبدين وكان ثلث مال هذا المريض ألفا وخَمسَمائة فقد استوفى بالإعتاق من ثلثه ألفاً وبقي إلى تمام الثلث خَمسمائة ومحل تصرفه ثلثُه وهو في مقدار ثلثه موسرٌ في تبرعاته فلا بدّ من تسرية عتقه في مقدار خمسمائة ولا مزيد فإنه فيما وراء الثلث معسرٌ وعتْق المعسر لا يسري فإذا ثبت ذلك فكيف يسري هذا المقدار أنفضُّه على العبدين أم نُقرع بينهما ويحصل تمام العتق لأحدهما

Masalah: Jika ada dua orang laki-laki yang memiliki dua budak secara bersama-sama, masing-masing dari mereka memiliki setengah bagian dari setiap budak, dan nilai setiap budak adalah seribu dirham, lalu salah satu dari kedua orang tersebut dalam keadaan sakit membebaskan bagiannya dari kedua budak itu, sedangkan sepertiga harta orang yang sakit ini adalah seribu lima ratus dirham, maka ia telah menggunakan dari sepertiganya seribu dirham untuk membebaskan, dan masih tersisa lima ratus dirham untuk menyempurnakan sepertiga tersebut. Tempat ia boleh bertindak adalah sepertiga hartanya, dan dalam batas sepertiga itu ia mampu untuk melakukan hibah, sehingga wajib menyempurnakan pembebasan budaknya pada batas lima ratus dirham, dan tidak lebih dari itu, karena untuk selebihnya dari sepertiga ia tidak mampu, dan pembebasan budak bagi orang yang tidak mampu tidak berlaku secara penuh. Jika demikian, bagaimana cara menyempurnakan pembebasan pada jumlah ini? Apakah dibagi rata pada kedua budak, ataukah diundi di antara keduanya sehingga pembebasan sempurna terjadi pada salah satu dari mereka?

قال ابن الحداد: نَفُضّ العتق على العبدين ولا نقرع

Ibnu al-Haddad berkata: Kita membagi pembebasan budak pada dua budak tersebut dan tidak melakukan undian.

وقال في مسألةٍ تُداني هذه بالإقراع

Dan ia berkata dalam suatu permasalahan yang serupa dengan ini mengenai pengundian.

وصورتها كما ذكرناها غيرَ أنه لم ينجز الإعتاق في مرضه بل أوصى بإعتاق نصيبه من العبدين بعد موته وأوصى بتكميل العتق فيهما وردّ الورثة الزائد على الثلث فيعتِق نصيبه ويسري مقدارُ خمسمائة ثم قال في هذه الصورة: نقرع بينهما فمن خرجت له القرعة نكمل العتق فيه وقد تم الثلث فيعتق عبدٌ كامل ويعتق النصف تنجيزاً من الثاني

Dan bentuk kasusnya seperti yang telah kami sebutkan, hanya saja ia tidak menunaikan pembebasan budak saat sakitnya, melainkan ia berwasiat untuk membebaskan bagiannya dari dua budak itu setelah kematiannya, dan ia juga berwasiat untuk menyempurnakan pembebasan pada keduanya, serta para ahli waris mengembalikan kelebihan dari sepertiga (harta warisan). Maka, bagiannya menjadi merdeka dan berlaku pembebasan sebesar lima ratus. Kemudian dalam kasus ini dikatakan: kita mengundi di antara keduanya, siapa yang keluar undiannya maka kita sempurnakan pembebasan padanya, dan sepertiga harta telah terpenuhi, sehingga satu budak menjadi merdeka sepenuhnya dan setengahnya lagi dimerdekakan secara langsung dari budak yang kedua.

فاختلف أصحابنا في المسألتين: فمنهم من قال: لا فرق بينهما وفيهما جميعاً وجهان: أحدهما أنا نفضُّ السراية إلى تمام الثلث عليهما لأن المقتضي للسراية قد تحقق فيهما جميعاً فليس أحدهما أولى بسراية العتق فيه من الثاني

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam dua permasalahan ini: sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya, dan dalam kedua kasus tersebut terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa kami menetapkan berlanjutnya saráyah hingga sepertiga penuh pada keduanya, karena sebab yang menuntut terjadinya saráyah telah terpenuhi pada keduanya, sehingga tidak ada salah satu di antara keduanya yang lebih berhak atas saráyah ‘itq dibandingkan yang lain.

والثاني أنا نقرع بينهما فإن مذهب الشافعي رضي الله عنه جميعُ العتق بالقرعة وسراية العتق لا تزيد على إنشاء العتق ولو أعتق ثلاثة أعبدٍ لا مال له غيرهم فإنا نردّ بالقرعة العتقَ إلى واحدٍ إذا استوت قيمتهم ونعتق واحداً ونرق اثنين وإن كان ذلك مخالفاً لقصده وقد أثبت لكل واحد منهم حقّاً في العتاقة  فلم نعتبر قصدَه وحكّمنا القرعة فلتكن السراية بهذه المثابة

Kedua, kami melakukan undian (qur‘ah) di antara mereka, karena menurut mazhab Syafi‘i rahimahullah, seluruh pembebasan budak (‘itq) dilakukan dengan undian, dan dampak pembebasan (sarāyah) tidak melebihi dari pembebasan yang dilakukan secara langsung. Jika seseorang membebaskan tiga budak dan ia tidak memiliki harta lain selain mereka, maka kami kembalikan pembebasan itu kepada satu orang melalui undian jika nilai mereka sama, sehingga satu orang dimerdekakan dan dua orang tetap menjadi budak, meskipun hal itu bertentangan dengan maksudnya. Meskipun ia telah menetapkan hak pembebasan bagi masing-masing dari mereka, kami tidak memperhatikan maksudnya dan menetapkan undian, maka demikian pula sarāyah berlaku seperti ini.

ومن أصحابنا من أجرى المسألتين على جوابي ابن الحداد فيهما فقال في إنشاء العتق في النصيبين: نفضّ السراية إلى تمام الثلث على العبدين ونقرع في مسألة الوصية بالإعتاق والتكميل والفرق عند هذا القائل بين المسألتين أنه إذا أعتق نصيبه من العبدين فليس له في تكميل العتاقة قصدٌ وإنما السراية حكمٌ ينفذ عليه وإن لم يُردْه فليس أحدُ العبدين أوْلى به من الثاني وإذا أوصى بإعتاق نصيبه من العبدين وأوصى بالتكميل فقد ظهر قصدُه في تكميل العتاقة ولم يمكن ذلك في العبدين إذا ردّ الورثة الزائد على الثلث فكان التكميل في أحدهما قريباً من مقصوده ولم يوجد من المعتِق في المرض ذلك القصد

Sebagian dari ulama mazhab kami ada yang menerapkan kedua permasalahan tersebut sesuai dengan dua jawaban Ibn al-Haddad di dalamnya. Ia berkata tentang pembebasan budak pada dua bagian: kita jalankan hukum sarayah hingga sempurna sepertiga pada kedua budak tersebut, dan kita lakukan undian dalam masalah wasiat untuk memerdekakan dan menyempurnakan (pembebasan). Perbedaan menurut pendapat ini antara kedua permasalahan tersebut adalah bahwa jika seseorang memerdekakan bagiannya dari dua budak, maka ia tidak memiliki maksud untuk menyempurnakan pembebasan, melainkan sarayah adalah hukum yang berlaku atasnya meskipun ia tidak menginginkannya, sehingga tidak ada salah satu dari kedua budak yang lebih berhak atasnya dibandingkan yang lain. Namun jika ia berwasiat untuk memerdekakan bagiannya dari dua budak dan berwasiat untuk menyempurnakan pembebasan, maka telah tampak maksudnya untuk menyempurnakan pembebasan, dan hal itu tidak mungkin dilakukan pada kedua budak jika ahli waris menolak kelebihan dari sepertiga, sehingga penyempurnaan pada salah satu dari keduanya lebih dekat kepada maksudnya. Sedangkan pada orang yang memerdekakan dalam keadaan sakit, tidak terdapat maksud tersebut.

وهذا ضعيفٌ لا ثبات له ولا يتجه على مذهب الشافعي رضي الله عنه إلا التوصل إلى إكمال العتق في أحدهما بطريق القرعة في الصورتين جميعاً

Ini adalah pendapat yang lemah, tidak memiliki dasar yang kuat, dan tidak sesuai menurut mazhab Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu kecuali dengan menempuh cara untuk menyempurnakan pembebasan budak pada salah satu dari keduanya melalui jalan undian (qur‘ah) dalam kedua kasus tersebut.

قال الشيخ رضي الله عنه: لو قال المريض في الصورة التي صورناها: أعتقت العبدين وعبر عن إعتاقهما جميعاً فالوجه تنزيل هذه المسألة على حكم مسألة الوصية فإنه لما أعتقهما ظهر قصدُه في طلب كمال الحرية فكانت هذه الصورة بمثابة ما لو أوصى بتكميل العتق فيهما ولو كان ثلثه بحيث لا يفي بتكميل العتق في أحد العبدين

Syekh raḥimahullāh berkata: Jika orang sakit dalam situasi yang telah kami gambarkan berkata, “Aku memerdekakan dua budak ini,” dan ia mengungkapkan pemerdekaan keduanya secara bersamaan, maka pendapat yang tepat adalah memposisikan masalah ini sesuai dengan hukum wasiat. Sebab, ketika ia memerdekakan keduanya, tampak maksudnya untuk menginginkan kesempurnaan kemerdekaan. Maka, situasi ini serupa dengan seseorang yang berwasiat untuk menyempurnakan kemerdekaan pada keduanya, meskipun sepertiga hartanya tidak cukup untuk menyempurnakan kemerdekaan salah satu dari kedua budak tersebut.

ولو صرفنا تمام ثلثه إلى أحدهما لم يكمل عتقه فيجوز أن يقال: إذا تصورت مسألة الوصية بهذه الصورة فالعتق إلى تمام الثلث مفضوضٌ على العبدين فإنا لا نستفيد بتخصيص العتق بأحدهما إكمالَ إعتاقه

Jika kami mengalokasikan seluruh sepertiga harta itu kepada salah satu dari keduanya, maka tidak sempurna pembebasannya. Maka boleh dikatakan: Jika permasalahan wasiat ini dibayangkan dalam bentuk seperti ini, maka pembebasan budak hingga sepertiga harta itu terbagi pada kedua budak tersebut, karena kami tidak memperoleh manfaat dengan mengkhususkan pembebasan kepada salah satu dari keduanya berupa penyempurnaan pembebasannya.

هذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.

ومن تمام البيان فيه أنا لما صوّرنا المسألة في الوصية وأردنا تصوير السراية لم نجد إليها سبيلاً فإن العتق الوارد بعد الموت على بعض العبد لا يسري على الميت قط لما حكمنا به من أن الميت بمثابة الحي المعسر

Dan sebagai penyempurna penjelasan dalam hal ini, ketika kami telah menggambarkan permasalahan dalam wasiat dan ingin menggambarkan hukum saryah (penyebaran hukum) padanya, kami tidak menemukan jalan ke sana. Sebab, pembebasan budak yang berlaku setelah kematian atas sebagian budak tidak akan menyebar kepada yang telah meninggal sama sekali, karena kami telah menetapkan bahwa orang yang telah meninggal itu kedudukannya seperti orang hidup yang tidak mampu.

ومن لطيف القول في ذلك أن الثلث محلّ تصرف الميت في مرضه وبعد موته وقد يتخيل الفطن تسرية العتق إلى تمام ثُلثه وليس الأمر كذلك فإنه لو لم يوصِ ولم يتبرع لكان ثُلثه لورثته فإنما يكون الثلث محلاً لتبرعاته إذا أنشأها فإذا لم يوجد منه إنشاء تبرع فباقي ثلثه ملكُ ورثته

Salah satu ungkapan yang menarik dalam hal ini adalah bahwa sepertiga harta merupakan bagian yang boleh digunakan oleh orang yang sakit menjelang wafatnya dan setelah kematiannya. Mungkin ada orang cerdas yang membayangkan bahwa pembebasan budak dapat berlaku hingga mencapai sepertiga hartanya, namun kenyataannya tidak demikian. Sebab, jika ia tidak berwasiat dan tidak memberikan hibah, maka sepertiga hartanya menjadi milik ahli warisnya. Jadi, sepertiga harta itu hanya menjadi tempat untuk hibah-hibahnya jika ia benar-benar melakukannya. Jika ia tidak melakukan hibah, maka sisa sepertiga hartanya tetap menjadi milik ahli warisnya.

وهذا حسنٌ بالغ

Ini sangat baik.

مسألة: إذا ملك ثلاثة أعبد قيمة كل واحد ألف ولا مال له سواهم ْوقال: أعتقوا بعد موتي من كل عبد نصفَه فقد زادت الوصية على الثلث فإن أجازها الورثة نفذت وإن ردّوها رُدّت الوصية إلى مقدار نصفي عبدين ويتميز ذلك بالقرعة فنقرع بينهم كما سيأتي تفصيل القرعة في كتاب العتق إن شاء الله عز وجل فإذا خرجت قرعة الحرية على واحدٍ عتق نصفه ورق باقيه فإذا خرجت قرعةٌ أخرى على عبد آخر عَتَق نصفُه ورق باقيه ورق العبد الثالث بكماله

Masalah: Jika seseorang memiliki tiga budak, masing-masing bernilai seribu, dan ia tidak memiliki harta lain selain mereka, lalu ia berkata: “Merdekakanlah setelah kematianku setengah dari setiap budak,” maka wasiat tersebut melebihi sepertiga harta. Jika para ahli waris mengizinkannya, maka wasiat itu dilaksanakan. Namun jika mereka menolaknya, maka wasiat itu dikembalikan sesuai kadar setengah dari dua budak. Penentuan hal ini dilakukan dengan undian (qur‘ah), sebagaimana akan dijelaskan secara rinci tentang undian dalam Kitab Al-‘Itq, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Jika undian kebebasan jatuh pada salah satu budak, maka setengahnya merdeka dan setengahnya lagi tetap sebagai budak. Jika undian berikutnya jatuh pada budak lain, maka setengahnya merdeka dan setengahnya lagi tetap sebagai budak, sedangkan budak ketiga tetap seluruhnya sebagai budak.

وهذا الذي ذكرناه يستند إلى أصلين: أحدهما أن العتق الوارد على بعض العبد لا يسري على الميت هذا أصلٌ متفق عليه كما تكرر تقريره وتعليله

Hal yang telah kami sebutkan ini didasarkan pada dua prinsip: yang pertama adalah bahwa pembebasan budak (‘itq) yang berlaku pada sebagian budak tidak berlaku bagi yang telah meninggal dunia. Ini adalah prinsip yang telah disepakati sebagaimana telah berulang kali dijelaskan dan dijelaskan alasannya.

والأصل الثاني أنا لا نجمع نصفي عبد من عبد حتى نعتق عبداً كاملاً ونرق عبدين والسبب فيه أنه لم يتعرض لطلب إكمال العتق حتى يتوصل إلى ذلك ولو في عبد واحد وليس كما إذا قال: أعتقوا العبيد الثلاثة فإنا نعتق واحداً ونرق اثنين إذا استوت قيمتهم

Prinsip kedua adalah bahwa kita tidak menggabungkan setengah budak dari satu budak dengan setengah budak dari budak lain hingga kita memerdekakan satu budak secara penuh dan memperbudak dua budak. Sebabnya adalah karena tidak ada permintaan untuk menyempurnakan pembebasan hingga dapat dicapai, meskipun hanya pada satu budak. Hal ini berbeda dengan jika ia berkata: “Merdekakanlah tiga budak itu,” maka kita memerdekakan satu dan memperbudak dua jika nilai mereka sama.

ولو أعتق في مرض موته أنصاف هؤلاء العبيد الثلاثة ثم مات من مرضه لا مال له غيرُهم قال الأئمة: نقرع بينهم بسهم حرية وسهمي رِقّ فنُعتق منه عبداً كاملاً ونرق عبدين ولا نظر إلى ذكره الأنصاف  فإن المالك إذا ذكر العتق في البعض كان كما لو وجه العتق على كمال العبد

Jika seseorang memerdekakan separuh dari ketiga budaknya saat sakit yang menyebabkan kematiannya, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki harta selain mereka, para imam berkata: Kita melakukan undian di antara mereka dengan satu undian untuk kemerdekaan dan dua undian untuk perbudakan. Maka, satu budak dimerdekakan secara penuh dan dua budak tetap menjadi budak. Tidak perlu memperhatikan penyebutan separuh, karena jika pemilik menyebutkan pemerdekaan pada sebagian, hukumnya seperti jika ia menetapkan pemerdekaan pada keseluruhan budak.

ولو أعتق العبيد الثلاثة تنجيزاً ورُدت الوصايا إلى الثلث فإنا نعتق واحداً ونرق اثنين وليس كذلك إذا أوصى بإعتاق أنصاف العبيد بعد موته فإن الإعتاق في الأنصاف مضاف إلى وقت لا يتصور سريان العتق فيه ولا يتعدّى ما وراء الثلث إلى ملك من يقع العتق عنه

Jika seseorang memerdekakan tiga budak secara langsung dan wasiat-wasiat dikembalikan kepada sepertiga harta, maka kami memerdekakan satu orang dan memperbudak dua orang. Tidak demikian halnya jika ia berwasiat untuk memerdekakan separuh budak setelah wafatnya, karena pemerdekaan pada separuh tersebut dikaitkan dengan waktu yang tidak mungkin pemerdekaan itu berlaku padanya, dan tidak melampaui sepertiga harta kepada kepemilikan orang yang atas namanya pemerdekaan itu dilakukan.

والقول الوجيز فيه: أن إنشاء العتق من المريض في البعض بمثابة تنجيز العتق في الكل هكذا ذكره الشيخ وهو متَّضح ولم أر فيما ذكره خلافاً للأصحاب

Penjelasan ringkas mengenai hal ini adalah bahwa menetapkan pembebasan budak oleh orang yang sakit untuk sebagian budaknya, hukumnya seperti menegaskan pembebasan untuk seluruh budaknya. Demikian disebutkan oleh Syekh, dan hal ini jelas. Aku tidak menemukan adanya perbedaan pendapat dari para sahabat (ulama) mengenai apa yang beliau sebutkan.

ولو كان له عبدان لا مال له سواهما فقال: أعتقوا من هذا نصفه ومن هذا ثلثه بعد موتي وقيمة كل عبد ألف فقد زاد على الثلث فنقرع بين العبدين فإن خرجت القرعة على صاحب النصف عتق نصفه وعتق من الآخر سدسه وقد تم الثلث

Jika seseorang memiliki dua budak dan tidak memiliki harta selain keduanya, lalu ia berkata: “Merdekakanlah setengah dari budak ini dan sepertiga dari budak itu setelah aku wafat,” sedangkan nilai masing-masing budak adalah seribu, maka ia telah melebihi sepertiga harta. Maka dilakukan undian di antara kedua budak tersebut; jika undian jatuh pada pemilik setengah, maka setengahnya dimerdekakan dan dari budak yang lain dimerdekakan seperenamnya, sehingga genap sepertiga harta.

وإن خرجت القرعة على صاحب الثلث عتق ثلثه وعتق من صاحب النصف ثلثه وقد تم الثلث

Jika undian jatuh pada pemilik sepertiga, maka sepertiganya merdeka, dan dari pemilik setengah juga sepertiganya merdeka, sehingga genaplah sepertiga.

ولو قال في مرض موته: أعتقت من هذا نصفه ومن هذا ثلثه فهو كما لو قال: أعتقتكما فإن العبارة عن الثلث في حق المريض بمثابة توجيه العتق على الجميع ولو قال: أعتقتكما أقرعنا سهماً فمن خرجت قرعته عتق فيه ثلثاه ورق ثلثه ورقّ العبد الآخر بكماله

Jika seseorang dalam keadaan sakit menjelang wafatnya berkata: “Aku memerdekakan setengah dari budak ini dan sepertiga dari budak itu,” maka hukumnya seperti jika ia berkata: “Aku memerdekakan kalian berdua,” karena ungkapan tentang sepertiga dalam hak orang sakit sama dengan mengarahkan pembebasan kepada semuanya. Jika ia berkata: “Aku memerdekakan kalian berdua,” maka kami mengundi satu bagian; siapa yang keluar undiannya, ia merdeka dua pertiga dan sepertiganya tetap sebagai budak, sedangkan budak yang lain tetap sepenuhnya sebagai budak.

مسألة: إذا أوصى لرجل ببعض عبدٍ والعبدُ ممن لا يعتق على الموصى له ولكن كان بحيث يعتِق على وارثه فلو مات الموصي ثم مات الموصى له قبل قبول الوصية فالوارث بالخيار إن شاء قبل الوصية وإن شاء ردّها فإن قبلها عَتَقَ عليه ذلك الجزء الموصى به وهل يسري العتق إلى الباقي إذا كان الوارث القابل موسراً هذا يستند إلى أصلٍ سيأتي استقصاؤه في كتاب العتق إن شاء الله تعالى وهو أن من ورث في صحته نصفاً من ابنه وعتَقَ عليه لم يسر العتق إلى الباقي وإن كان الوارث موسراً لأنه لم يتسبَّب إلى تحصيل الملك في المقدار الذي عتق عليه فيبعد أن يلزمَه غرمٌ في الباقي وإذا بعُد تغريمه امتنعت السراية فإنها من غير غُرم محال

Masalah: Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki sebagian dari seorang budak, dan budak tersebut termasuk yang tidak otomatis merdeka bagi penerima wasiat, tetapi jika diwariskan kepada ahli warisnya maka budak itu akan merdeka, lalu pewasiat meninggal dunia kemudian penerima wasiat juga meninggal sebelum menerima wasiat tersebut, maka ahli waris memiliki pilihan: jika mau, ia dapat menerima wasiat itu, dan jika mau, ia dapat menolaknya. Jika ia menerimanya, maka bagian budak yang diwasiatkan itu menjadi merdeka baginya. Apakah kemerdekaan itu juga berlaku untuk sisa bagian budak jika ahli waris yang menerima wasiat itu adalah orang yang mampu? Hal ini kembali kepada prinsip yang akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab ‘Itq (pembebasan budak), insya Allah Ta‘ala, yaitu bahwa siapa pun yang mewarisi setengah dari anaknya dalam keadaan sehat, lalu bagian itu menjadi merdeka baginya, maka kemerdekaan itu tidak berlaku untuk sisa bagian budak, meskipun ahli warisnya mampu, karena ia tidak menyebabkan kepemilikan atas bagian yang telah merdeka itu, sehingga tidak pantas baginya untuk menanggung beban (ganti rugi) atas sisa bagian budak. Jika ia tidak dibebani ganti rugi, maka kemerdekaan tidak berlaku pada sisa bagian budak, karena kemerdekaan tanpa adanya ganti rugi adalah hal yang mustahil.

ولو اشترى النصفَ ممن يعتق عليه وجرى القضاء بنفوذ العتق فيه فالعتق يسري إلى باقيه إن كان المشتري ذا وفاءٍ بقيمة الباقي والسبب فيه أنه أقدم على تحصيل الملك قصداً بمسلك وُضِعَ لجلب الملك مباشرة من غير تخلل واسطة

Jika seseorang membeli separuh dari budak yang akan merdeka karena hubungan kekerabatan dengannya, lalu pengadilan memutuskan bahwa pembebasan budak itu sah pada bagian tersebut, maka kemerdekaan itu berlaku juga pada sisanya, jika pembeli tersebut mampu membayar nilai sisanya. Sebabnya adalah karena ia telah berupaya memperoleh kepemilikan secara langsung melalui cara yang memang ditetapkan untuk memperoleh kepemilikan tanpa perantara.

ولو اشترى المكاتب ابنَ سيده ثم عجز عن أداء النجوم فردّه مولاه إلى الرق فلا شك أن ابن السيد يعتِق عليه لدخوله في ملكه فلو كان اشترى المكاتَب نصفَ ابن سيده ثم جرى التعجيز والإرقاق وعَتَق عليه ذلك النصف فهل يسري العتق إلى باقيه فعلى وجهين: أحدهما يسري لأن سبب الملك إرقاق المكاتب ورده قِنّاً وذلك جرى باختيار السيد فأشبه ما لو اشترى النصف من ابنه

Jika seorang mukatab membeli anak tuannya, kemudian ia tidak mampu membayar cicilan (nujuum) sehingga tuannya mengembalikannya menjadi budak, maka tidak diragukan lagi bahwa anak tuan tersebut menjadi merdeka karena telah masuk ke dalam kepemilikannya. Jika ia membeli separuh dari anak tuannya yang berstatus mukatab, kemudian terjadi ketidakmampuan membayar dan pengembalian ke status budak, lalu separuh tersebut menjadi merdeka, maka apakah kemerdekaan itu berlaku juga pada separuh lainnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, kemerdekaan itu berlaku juga (menyebar) karena sebab kepemilikan adalah pengembalian mukatab ke status budak dan hal itu terjadi atas pilihan tuan, sehingga serupa dengan kasus jika ia membeli separuh dari anaknya.

والوجه الثاني أن العتق لا يسري فإن الملك في بعض الولد ليس مقصوداً في عينه وإنما جرى القصد في الإرقاق ثم ترتب عليه انقلاب أكساب المكاتب إليه ولهذا نظائر ستأتي مشروحة إن شاء الله فيما نذكره  وهو مسألة ابن الحداد: من أوصى لإنسان بنصف عبد وكان ذلك العبد ممن يعتِق على وارث الموصى له فمات الموصي ومات الموصى له وقَبِل الوارثُ الوصية فهذا يخرّج على أن وارث الموصى له إذا قبل الوصية فالملك يحصل للموصى له ثم ينتقل إرثاً إلى الوارث أم يحصل الملك للوارث ابتداء وقد ذكرنا تقرير ذلك على أبلغ وجه في البيان

Pendapat kedua adalah bahwa pembebasan budak tidak berlaku, karena kepemilikan atas sebagian anak tidak dimaksudkan secara khusus, melainkan niatnya terjadi pada perbudakan, kemudian setelah itu berakibat pada beralihnya hasil usaha budak mukatab kepadanya. Hal ini memiliki beberapa analogi yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah, dalam pembahasan yang akan kami sebutkan, yaitu masalah Ibn al-Haddad: seseorang berwasiat kepada orang lain dengan setengah dari seorang budak, dan budak tersebut termasuk yang akan merdeka jika dimiliki oleh ahli waris penerima wasiat. Lalu pewasiat meninggal dunia, penerima wasiat juga meninggal dunia, dan ahli warisnya menerima wasiat tersebut. Maka, permasalahan ini dikembalikan pada pertanyaan: apakah kepemilikan itu terjadi terlebih dahulu pada penerima wasiat, lalu berpindah sebagai warisan kepada ahli waris, ataukah kepemilikan itu langsung terjadi pada ahli waris sejak awal? Kami telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang paling jelas.

فإن فرعنا على الأصح وهو أن الملك يحصل للموصى له ثم ينتقل إرثاً إلى الوارث فإذا نفذ العتق في ذلك المقدار الموصى به فهل يسري فعلى الوجهين المقدمين فإنه قد قصد واختار ولكن لم يقع الملك له من غير واسطة بل تضمّن قبولُه تحصيلَ الملك للموصى له ثم ترتب عليه انتقالُ الملك إليه فالتحق هذا بمسألة المكاتب وما في معناها

Jika kita membangun pendapat berdasarkan yang paling sahih, yaitu bahwa kepemilikan diperoleh oleh penerima wasiat, kemudian berpindah sebagai warisan kepada ahli waris, maka apabila pembebasan budak (‘itq) berlaku pada bagian yang diwasiatkan tersebut, apakah pembebasan itu berlaku juga pada bagian lainnya? Hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah dikemukakan, karena ia memang bermaksud dan memilihnya, namun kepemilikan itu tidak terjadi langsung untuknya tanpa perantara, melainkan penerimaannya mengandung perolehan kepemilikan bagi penerima wasiat terlebih dahulu, kemudian setelah itu kepemilikan berpindah kepadanya. Maka kasus ini serupa dengan masalah al-mukātab dan hal-hal yang sejenis dengannya.

وهذه المسائل تدار على ثلاث صور: إحداها ألا يكون لمن يعتِق عليه اختيار أصلاً فإذا جرى مثل هذا في البعض وعتِق لم يسر

Permasalahan-permasalahan ini berputar pada tiga bentuk: Pertama, apabila orang yang wajib memerdekakan budak tidak memiliki pilihan sama sekali, maka jika hal seperti ini terjadi pada sebagian budak dan ia merdeka, kemerdekaannya tidak berlaku pada yang lain.

والصورة الثانية أن يختار مباشرة التملك كما إذا ابتاع البعضَ من ولده أو اتهب فإذا عتِق عليه سرى إذا كان موسراً

Gambaran kedua adalah seseorang memilih langsung untuk memiliki, seperti ketika ia membeli sebagian dari anaknya atau menerima hibahnya. Maka jika anak itu merdeka karena orang tuanya, kemerdekaannya berlaku menyeluruh apabila orang tuanya mampu.

والصورة الثالثة أن يختار سبباً يُفضي إلى حصول الملك بواسطة فإذا حصل العتق ففي السريان وجهان

Gambaran ketiga adalah seseorang memilih suatu sebab yang mengantarkan kepada terjadinya kepemilikan melalui perantara. Jika pembebasan budak terjadi, maka dalam hal berlakunya hukum terdapat dua pendapat.

وإن قلنا: وارث الموصى له يملك الموصى به من غير تقدير إرث فهذا يلتحق بما إذا اتهب البعض من ولده أو اشتراه

Dan jika kita mengatakan: ahli waris penerima wasiat memiliki harta wasiat tanpa memperhitungkan bagian waris, maka hal ini serupa dengan keadaan ketika seseorang menghadiahkan sebagian hartanya kepada anaknya atau membelinya.

مسألة: إذا قال: أعتقوا فلانة بعد موتي أو قال: إذا مت فهي حرة وكانت حاملاً ولم يستثنِ حملَها ولا تعرض له فإذا أعتقت الجارية بعد موته والحملُ جنين قال الشيخ أبو علي: يسري العتق إلى الحمل إذا وسع الثلث

Masalah: Jika seseorang berkata, “Merdekakanlah si Fulanah setelah kematianku,” atau berkata, “Jika aku mati, maka ia merdeka,” dan ia dalam keadaan hamil, serta tidak mengecualikan kandungannya dan tidak menyinggungnya, maka apabila budak perempuan itu dimerdekakan setelah kematiannya sementara kandungannya masih janin, Syekh Abu Ali berkata: Kemerdekaan itu berlaku juga pada janin jika sepertiga harta mencukupi.

فإن قيل: لو أوصى بإعتاق قسط من عبده نفذ العتق فيه ولم يسر مع أن وضع العتق على السريان ولو أعتق أحدُ الشريكين نصيبَه من عبدٍ مشترك وكان موسراً نفذ العتق إلى نصيب صاحبه ولو كانت الجارية الحامل ملكاً لزيد وكان حملها ملكاً لآخر فإن فرضت الوصية بالجارية لزيد وبحملها لعمرٍو فإن أعتق مالك الجاريةِ الجاريةَ لم يسر العتقُ إلى الولد فإذا كان لا يسري العتق في البعض في حق الميت إلى باقي العبد مع أن العتق يسري إلى ملك الغير فكيف يسري العتق من الأم إلى الحمل مع أن عتق الأم لا يسري إلى الولد المجتنّ في البطن أجاب الشيخ عن هذا بأن قال: العتق لا ينفذ في الحمل على مذهب السريان ولكن اسم الجارية يتناول التي سماها مع جنينها ولهذا يشتمل البيع الوارد على الأم الحامل على حملها

Jika dikatakan: Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan sebagian dari budaknya, maka kemerdekaan itu berlaku pada bagian tersebut dan tidak berlaku pada seluruhnya, padahal hukum asal kemerdekaan adalah berlaku pada keseluruhan. Jika salah satu dari dua orang yang memiliki budak bersama-sama memerdekakan bagiannya dari budak tersebut dan ia mampu, maka kemerdekaan itu berlaku juga pada bagian milik rekannya. Jika seorang budak perempuan yang sedang hamil dimiliki oleh Zaid dan janin yang dikandungnya dimiliki oleh orang lain, lalu wasiat diberikan untuk budak perempuan itu kepada Zaid dan untuk janinnya kepada Amr, kemudian pemilik budak perempuan itu memerdekakannya, maka kemerdekaan itu tidak berlaku pada anak yang dikandungnya. Maka, jika kemerdekaan tidak berlaku pada sebagian dalam hak orang yang telah meninggal terhadap sisa budak, padahal kemerdekaan bisa berlaku pada milik orang lain, bagaimana mungkin kemerdekaan itu berlaku dari ibu kepada janin, padahal kemerdekaan ibu tidak berlaku pada anak yang masih dalam kandungan? Syaikh menjawab hal ini dengan mengatakan: Kemerdekaan tidak berlaku pada janin menurut mazhab sirkulasi (siryān), tetapi nama budak perempuan mencakup yang disebutkan beserta janinnya. Oleh karena itu, jual beli yang dilakukan terhadap ibu yang sedang hamil juga mencakup janin yang dikandungnya.

هذا قول الشيخ وقد قدمت لبعض الأصحاب أن الوصية بالجارية مطلقاً لا تتضمن الوصية بحملها  وإذا كان كذلك فيخرج من هذا أن الوصية بإعتاق الجارية يجوز ألا يتناول ولدَها وقد بطل السريان على الميت فينتظم منه أن العتق لا يتعدى إلى الحمل وهذا متجه وإن قطع الشيخ بما ذكرناه

Ini adalah pendapat Syekh, dan aku telah sampaikan kepada sebagian sahabat bahwa wasiat terhadap budak perempuan secara mutlak tidak mencakup wasiat terhadap kandungannya. Jika demikian, maka dapat disimpulkan dari hal ini bahwa wasiat untuk memerdekakan budak perempuan boleh jadi tidak mencakup anaknya. Dan telah gugur keberlakuan (hukum) atas orang yang telah meninggal, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemerdekaan tidak berlaku bagi kandungan. Ini adalah pendapat yang kuat, meskipun Syekh telah menegaskan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ولو كانت الجارية حاملاً وقال: أعتقوا عيْنَ هذه دون حملها فاستثنى الحملَ مصرحاً ناصّاً فإذا أعتقت الجارية فهل يعتِق ولدُها ذكر الشيخ أبو علي وجهين في هذه الصورة: أحدهما أنه لا يعتِق ولدُها وهو المذهب المبتوت الذي يبعد عن القياس غيرُه فإنا إن قلنا في صورة الإطلاق: يعتِق الولدُ لاشتمال الاسم على الحمل فهذا لا يتحقق مع التصريح باستثناء الحمل وقد ذكرنا أن السريان لا سبيل إلى الحكم به في حق الميت

Jika seorang budak perempuan sedang hamil, lalu seseorang berkata: “Merdekakanlah budak ini saja, tanpa anak yang dikandungnya,” maka ia secara tegas mengecualikan kandungannya. Jika budak perempuan itu dimerdekakan, apakah anaknya juga menjadi merdeka? Syaikh Abu Ali menyebutkan dua pendapat dalam kasus ini: salah satunya adalah bahwa anaknya tidak menjadi merdeka, dan inilah mazhab yang diputuskan, yang tidak ada pendapat lain yang lebih dekat dengan qiyās. Sebab, jika kita mengatakan dalam kasus yang umum bahwa anaknya ikut merdeka karena nama (budak) mencakup kandungannya, maka hal itu tidak berlaku jika secara tegas kandungannya dikecualikan. Dan telah kami sebutkan bahwa tidak mungkin menetapkan hukum sirkulasi (kemerdekaan) ini pada hak orang yang telah meninggal.

والوجه الثاني أن الولد يعتِق وإن استثناه إذا اتسع الثلث كما سنصف التفصيل فيه إن شاء الله ووجهه أن الحمل بمثابة عضو من الأم في قواعدَ أَوْلاها بذلك العتقُ لما له من السلطان فاستثناؤه ينزل منزلة استثناء عضو منها بعد توجيه العتق عليها مثل أن يقول: أعتقت هذه إلا يدها

Pendapat kedua adalah bahwa anak tetap merdeka meskipun dikecualikan, jika sepertiga harta mencukupi, sebagaimana akan kami jelaskan rinciannya, insya Allah. Alasannya adalah bahwa janin dianggap seperti anggota tubuh ibu menurut kaidah-kaidah yang lebih utama untuk diberlakukan pembebasan budak karena adanya kekuasaan atasnya. Maka pengecualian terhadapnya diposisikan seperti pengecualian terhadap salah satu anggota tubuh ibu setelah pembebasan budak ditujukan kepadanya, misalnya seseorang berkata: “Aku membebaskan budak ini kecuali tangannya.”

ولو قال لجاريته الحامل بولد رقيق في مرض موته: أنت أو حملُك حر فردّد العتقَ بين الأم وبين الولد قال الأئمة: نقرع بعد موته بين الحمل وبين الأم فإن خرجت القرعة على الحمل عتَق واقتصر العتق عليه فإن المذهب الأصح الذي نقله المعتبرون أن العتق لا يسري من الحمل إلى الأم بخلاف الأعضاء فإن المالك لو وجه العتقَ على عضو من مملوكه عتق المملوك كما سيأتي مشروحاً في كتاب الطلاق إن شاء الله تعالى فإن خرجت القرعة على الأم عَتَقت

Jika seseorang berkata kepada budak perempuannya yang sedang hamil dari anak budak dalam keadaan sakit menjelang wafatnya: “Engkau atau kandunganmu merdeka,” lalu ia menggantungkan pembebasan antara ibu dan anak, para imam berkata: Setelah ia wafat, kita melakukan undian antara kandungan dan ibu. Jika undian jatuh pada kandungan, maka kandungan itu merdeka dan pembebasan hanya berlaku padanya. Karena pendapat mazhab yang paling sahih yang dinukil oleh para ulama terkemuka adalah bahwa pembebasan tidak menular dari kandungan kepada ibu, berbeda halnya dengan anggota tubuh. Jika pemilik mengarahkan pembebasan pada salah satu anggota tubuh budaknya, maka seluruh budak itu menjadi merdeka, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab Thalaq, insya Allah Ta‘ala. Jika undian jatuh pada ibu, maka ibunya yang merdeka.

والمسألة مفروضة فيه إذا كان الثلث يسع الأم والولدَ جميعاً معاً فإذا عتقت والثلث يتسع  فهل يعتق الحمل فعلى الوجهين اللذين ذكرناهما فيه إذا أوصى بإعتاق الأم واستثنى الولد وذلك أن ترديد العتق بين الأم والولد يتضمن ألا يجمع العتق فيهما فإن قلنا: الحمل لا يعتق فوجهه اتباع قول المريض وإن قلنا: إنه يعتق فوجهه تنزيله منزلة عضوٍ من الأم في العتق الغالب وهذا يقتضي أن يسري العتق من الحمل إذا وجه عليه إلى الأم كما ينفذ العتق الموجه على طرف من أطراف المملوك ولم يصر أحدٌ من أئمة المذهب إلى ذلك إلا الشيخ أبو بكر الطوسي

Permasalahan ini diasumsikan terjadi apabila sepertiga harta cukup untuk membebaskan ibu dan anak sekaligus. Jika ibu dimerdekakan dan sepertiga harta mencukupi, maka apakah janin juga dimerdekakan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan ibu dan mengecualikan anak. Hal ini karena pembagian pembebasan antara ibu dan anak mengandung makna bahwa pembebasan tidak dilakukan pada keduanya sekaligus. Jika dikatakan bahwa janin tidak dimerdekakan, alasannya adalah mengikuti ucapan orang yang sakit (yang berwasiat). Namun jika dikatakan bahwa janin dimerdekakan, alasannya adalah memposisikan janin seperti anggota tubuh ibu dalam pembebasan yang umum. Ini mengandung konsekuensi bahwa pembebasan dari janin, jika diarahkan kepadanya, juga berlaku pada ibu, sebagaimana pembebasan yang diarahkan pada salah satu anggota tubuh budak berlaku pada seluruh tubuhnya. Namun, tidak ada satu pun imam mazhab yang berpendapat demikian kecuali Syaikh Abu Bakar ath-Thusi.

رحمه الله فإنه قال: يسري العتق من الحمل إلى الأم وهذا فيه ضعفٌ فإن انفراد الحمل بالحرية ليس بدعاً والأمَةُ الرقيقة قد تَعْلق بولدٍ حر وإنما يجب الحكم بنفوذ العتق إذا وُجّه على طرفٍ لأنه لا يتصف بالعتق ففي ترك التسرية تعطيل العتق والحمل يعتق وليس جزءاً شائعاً من الأصل

Rahimahullah berkata: Kemerdekaan (’itq) dapat berpindah dari janin kepada ibu, namun pendapat ini lemah, karena janin yang merdeka secara sendiri bukanlah sesuatu yang aneh, dan seorang budak perempuan bisa saja memiliki anak yang merdeka. Kewajiban menetapkan hukum berlakunya kemerdekaan hanya berlaku jika kemerdekaan itu diarahkan kepada salah satu pihak, karena janin tidak dapat disifati dengan kemerdekaan. Maka, jika tidak ada perpindahan kemerdekaan, berarti ada pengabaian terhadap kemerdekaan itu sendiri, sedangkan janin menjadi merdeka dan ia bukan bagian yang tersebar dari asal (ibunya).

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الثلث يسع الأمَّ والحمل

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika sepertiga harta mencukupi untuk ibu dan janin.

فأما إذا خرجت القرعة على الأم واحتملها الثلث وحدها ولم يحتمل حَمْلها فإن قلنا: إن الحمل لا يعتِق إذا اتسع الثلث واحتملها فلا إشكال فيقتصر العتق على الأم وإن قلنا: العتق يسري إلى الولد إذا اتّسع الثلث وإن استثناه صريحاً ففي هذه الصورة وقد ضاق الثلث وجهان: أحدهما أنا نعتق من الجارية مع الحمل ما يسعه الثلث فيعتق منها مقدارٌ ومن حملها مقدار بحيث لا يزيد المقداران على الثلث وذلك بأن نقوّمها حاملاً ثم نرِق منها ومن ولدها ما يزيد على الثلث

Adapun jika undian jatuh pada ibu dan sepertiga harta cukup untuk membebaskannya saja namun tidak cukup untuk membebaskan anak yang dikandungnya, maka jika kita berpendapat bahwa anak yang dikandung tidak menjadi merdeka apabila sepertiga harta cukup untuk membebaskan ibunya saja, maka tidak ada masalah: kemerdekaan hanya berlaku untuk sang ibu. Namun jika kita berpendapat bahwa kemerdekaan juga berlaku pada anak yang dikandung apabila sepertiga harta cukup, meskipun anak itu dikecualikan secara tegas, maka dalam kasus ini—ketika sepertiga harta tidak mencukupi—terdapat dua pendapat: salah satunya, kita memerdekakan dari budak perempuan beserta anak yang dikandungnya sesuai kadar yang dapat ditanggung oleh sepertiga harta, sehingga yang merdeka dari mereka berdua adalah sejumlah bagian yang tidak melebihi sepertiga harta, yaitu dengan menaksir nilai budak perempuan dalam keadaan hamil, lalu kita jadikan budak dari ibu dan anaknya bagian yang melebihi sepertiga harta.

والوجه الثاني أن الأم تعتق دون الحمل وإن كنا نرى التسرية إلى الحمل فنضطر هاهنا إلى ترك التسرية فإن الحمل يقع وراء الثلث ولا يتعدى تبرع المريض إلى ما يقع وراء الثلث فالحمل إذاً بمثابة الحمل الحر ولو كانت حاملاً بولدٍ حُرٍّ لنفذ العتق فيها ولا معنى لنفوذه في حملها وهو حر الأصل

Pendapat kedua adalah bahwa ibu dimerdekakan tanpa janin, meskipun kami memandang adanya tasyri’ (pemberlakuan hukum) terhadap janin, namun dalam hal ini kami terpaksa meninggalkan tasyri’ tersebut. Sebab, janin berada di luar sepertiga harta, dan hibah orang sakit tidak boleh melampaui sepertiga harta, sehingga janin dalam hal ini diposisikan seperti janin yang merdeka. Seandainya ia mengandung anak yang merdeka, maka pembebasan budak berlaku atas dirinya (ibu), dan tidak ada alasan untuk memberlakukan pembebasan pada janinnya yang memang sudah merdeka sejak asalnya.

وقد نجز الغرض من المسألة

Tujuan dari permasalahan ini telah tercapai.

مسألة: الرجل إذا كانت له جاريةٌ مملوكة ولتلك الجارية ابنان حرّان: أحدُهما من سيدها وكانت علقت به حراً من السيد قبل أن ملكها بأن نفرض وطء شبهة أو وطئاً في نكاح على حكم الغرور والولد الثاني كان من غير السيد وتصويره سهل فلو أوصى بهذه الجارية للابن الذي ليس منه ومات الموصي وخلّف ابنه منها وارثاً فإن كان الثلث يحمل الجارية فلا يخلو إما أن يقبل الموصى له الوصية وإما أن يردّها فإن قبلها عتِقت عليه فإنها أمه دخلت في ملكه وإن ردّ الوصية عتقت أيضاً على ابنها من سيدها

Masalah: Seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan, dan budak perempuan tersebut memiliki dua anak laki-laki yang merdeka: salah satunya adalah anak dari tuannya, di mana ia mengandung anak tersebut dari tuannya sebelum ia dimiliki, baik karena hubungan syubhat atau hubungan dalam pernikahan berdasarkan hukum ghurur, dan anak kedua berasal dari selain tuannya, yang gambaran kasusnya mudah. Jika laki-laki tersebut berwasiat agar budak perempuan itu diberikan kepada anak yang bukan dari dirinya, lalu pewasiat itu meninggal dunia dan meninggalkan anaknya dari budak perempuan itu sebagai ahli waris, maka jika sepertiga harta cukup untuk menutupi budak perempuan itu, ada dua kemungkinan: penerima wasiat menerima wasiat tersebut atau menolaknya. Jika ia menerima, maka budak perempuan itu menjadi merdeka baginya karena ia adalah ibunya dan telah masuk dalam kepemilikannya. Jika ia menolak wasiat tersebut, maka budak perempuan itu juga menjadi merdeka bagi anaknya dari tuannya.

ولو كان الثلث لا يحتمل خروجها فالابن الوارث لا يخلو إما أن يجيز الزائد على الثلث وإما أن يردّ الزيادة: فإن ردّ الزيادة على الثلث وقبل الموصى له القدرَ الخارج من الثلث فيعتق على الموصى له القدرُ الذي صحت الوصية فيه ويعتِق على ابن السيد منها باقيها

Jika sepertiga harta tidak mencukupi untuk menutupi wasiat tersebut, maka anak pewaris tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia mengizinkan kelebihan atas sepertiga itu atau menolaknya. Jika ia menolak kelebihan atas sepertiga dan penerima wasiat menerima bagian yang keluar dari sepertiga, maka bagian yang sah wasiatnya akan merdeka untuk penerima wasiat, dan sisanya akan merdeka untuk anak tuan tersebut.

هذا إن أراد الوارث ردَّ الزائد على الثلث

Ini jika ahli waris ingin mengembalikan kelebihan dari sepertiga.

وإن أراد أن يجيز الوصية بكمالها فقد قال الشيخ أبو علي رضي الله عنه: هذا يخرّج على أن الإجازة ابتداء عطية من المجيز أم تنفيذ وصية وفيه قولان فإن قلنا: إنها ابتداء عطية فلا يجد الابن الوارث إلى إجازة الوصية في الزيادة سبيلاً لأن حقيقة هذا القول أن الزائد على الثلث دخل في ملكه قطعاً وإذا دخل عتق  فلا يتأتى ابتداء العطية فيما ملكه وعَتَق عليه

Jika seseorang ingin mengizinkan wasiat secara keseluruhan, maka Syaikh Abu Ali rahimahullah berkata: Hal ini dikembalikan pada persoalan apakah izin tersebut merupakan pemberian baru dari pihak yang mengizinkan ataukah pelaksanaan wasiat, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat. Jika kita katakan bahwa izin tersebut adalah pemberian baru, maka anak yang menjadi ahli waris tidak memiliki jalan untuk mengizinkan wasiat pada kelebihan (melebihi sepertiga harta), karena hakikat pendapat ini adalah bahwa kelebihan dari sepertiga harta telah benar-benar masuk ke dalam kepemilikannya. Jika sudah masuk dan budak tersebut telah merdeka, maka tidak mungkin memulai pemberian baru atas sesuatu yang telah dimilikinya dan telah merdeka atasnya.

وإن قلنا: الإجازة تنفيذ وصية فإذا أجاز الابن الوارثُ صحت الوصية ونفذت بكمالها على الابن الموصى له إذا قبل الوصية وتعتِق عليه لا محالة

Jika kita mengatakan bahwa ijazah adalah pelaksanaan wasiat, maka apabila anak sebagai ahli waris memberikan persetujuan, wasiat tersebut menjadi sah dan terlaksana sepenuhnya kepada anak yang diwasiati apabila ia menerima wasiat tersebut, dan budak itu pasti merdeka atas dirinya.

وهذا فيه سرٌّ يجب التنبّه له وهو أن قائلاً لو قال: إذا منعنا ثبوت الخيار في شراء من يعتق على المشتري فكأنا حسمنا مسلك ردّ الملك والعتق وهذا القياس يقتضي أن نقول: لا يتخير الابن الوارث في إجازة الوصية بل يعتِق عليه بعضُها وتنقطع الخِيَرةُ وهذا إن قيل به فليس ببعيد ولكن سرّ الفقه ما ذكره الشيخ وهو أن الإجازة تنفذ على قولنا: إنها تنفيذ وصية فإن معنى هذا القول أنّا عند الإجازة نتبيّن أن الوصية بكمالها نفذت من الموصي إلا أن ذلك القدر الزائد يدخل في ملك المجيز ثم يخرج بالإجازة وسبيل تخيّره في الإجازة كسبيل تخير الإنسان في اتّهاب من يعتق عليه إذا وهب منه

Dalam hal ini terdapat rahasia yang harus diperhatikan, yaitu jika ada yang berkata: Jika kita melarang adanya hak khiyar dalam pembelian budak yang akan merdeka bagi pembeli, maka seolah-olah kita telah menutup jalan untuk mengembalikan kepemilikan dan kemerdekaan. Qiyās ini menuntut kita untuk mengatakan: Seorang anak yang mewarisi tidak memiliki pilihan dalam mengizinkan wasiat, melainkan sebagian dari wasiat itu langsung menyebabkan kemerdekaan baginya dan hak memilih pun terputus. Jika pendapat ini dipegang, maka hal itu tidaklah jauh (dari kebenaran). Namun, inti dari fiqh adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh, yaitu bahwa izin (ijazah) berlaku menurut pendapat kami bahwa izin itu adalah pelaksanaan wasiat. Makna dari pendapat ini adalah bahwa ketika izin diberikan, kita menjadi tahu bahwa wasiat itu secara sempurna telah dilaksanakan oleh orang yang berwasiat, hanya saja bagian yang melebihi batas masuk ke dalam kepemilikan orang yang mengizinkan, lalu keluar lagi dengan adanya izin tersebut. Cara seseorang memilih dalam memberikan izin sama seperti cara seseorang memilih untuk menerima hibah dari orang yang jika ia menerima hibah itu, maka budak tersebut akan merdeka baginya.

هذا تمام البيان في ذلك

Inilah penjelasan yang lengkap mengenai hal itu.

ولو كان للرجل جاريةٌ ولها ابن حرٌّ من غيره وللسيد أخٌ أو وارثٌ غيرُه بحيث لا تعتِق الجاريةُ عليه فإذا أوصى بالجارية لابنها فلو لم تخرج الجارية من الثلث فاعتق الوارث القدر الذي لم يخرج من الثلث من الجارية وقبل الموصى له الوصية قال ابن الحداد: نفذ العتق على الموصى له ولم يسْرِ العتق في حق واحدٍ منهما بل ينفذ إعتاق الوارث في الزائد على الثلث إنشاءً ويعتِق على الموصى له ما قَبِل الوصية فيه هكذا قاله الشيخ أبو علي

Jika seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang memiliki anak laki-laki merdeka dari selainnya, dan tuan tersebut memiliki saudara atau ahli waris lain sehingga budak perempuan itu tidak otomatis merdeka karena anaknya, lalu ia berwasiat agar budak perempuan itu diberikan kepada anaknya. Jika budak perempuan itu tidak seluruhnya dapat dikeluarkan dari sepertiga harta (yang boleh diwasiatkan), kemudian ahli waris memerdekakan bagian budak yang tidak tercakup dalam sepertiga harta, dan penerima wasiat menerima wasiat tersebut, maka menurut Ibn al-Haddad: pembebasan budak berlaku bagi penerima wasiat dan tidak berlaku bagi salah satu dari keduanya secara menyeluruh, melainkan pembebasan budak oleh ahli waris berlaku pada bagian yang melebihi sepertiga harta sebagai tindakan baru, dan budak itu menjadi merdeka bagi penerima wasiat pada bagian yang ia terima wasiatnya. Demikianlah yang dikatakan oleh Syaikh Abu Ali.

قال الأصحاب: ما ذكره من نفي السراية من الجانبين مطلقاً غيرُ سديد والوجه تخريج المسألة على القولين في أن الملك في الموصى به متى يحصل  فإن قلنا: يحصل مستنداً إلى موت الموصي فعلى هذا يعتق على الموصى له قدرُ الوصية ويسري عتقه إلى نصيب الورثة فإن وقوع العتق تبيناً يتقدم على إعتاق الوارث والمسألة مفروضةٌ في بيان الموصى له والوارث جميعاً

Para ulama mazhab berkata: Apa yang disebutkan mengenai tiadanya penyebaran (sarayah) dari kedua sisi secara mutlak tidaklah tepat. Pendapat yang benar adalah membahas masalah ini berdasarkan dua pendapat tentang kapan kepemilikan atas barang yang diwasiatkan itu terjadi. Jika kita katakan bahwa kepemilikan itu terjadi sejak wafatnya orang yang berwasiat, maka dalam hal ini, hamba yang diwasiatkan akan merdeka sesuai kadar wasiatnya dan kemerdekaannya akan menyebar (sarayah) ke bagian ahli waris. Sebab, terjadinya kemerdekaan secara penjelasan (tabayyun) itu mendahului pemerdekaan oleh ahli waris, dan masalah ini diasumsikan dalam keadaan di mana penerima wasiat dan ahli waris keduanya jelas.

وإن قلنا: إن الملك يحصل عقيب القبول فينفذ عتق الوارث في قدر الزيادة ويسري عتقه إلى نصيب الوصية إذْ لم يثبت في الوصية حق العتق بعد فإذاً تثبت السراية على القولين على خلاف ما قاله ابن الحداد ولكن يختلف المذهب فيمن يسري عتقه كما اقتضاه التفريع

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan terjadi setelah adanya penerimaan, maka pembebasan budak oleh ahli waris berlaku pada bagian kelebihan dan pembebasannya merambat ke bagian wasiat, karena pada wasiat belum tetap hak pembebasan budak setelahnya. Maka, dengan demikian, saraaiah (perambatan pembebasan budak) tetap berlaku menurut kedua pendapat, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ibn al-Haddad. Namun, mazhab berbeda pendapat mengenai siapa yang terkena saraaiah pembebasan budak tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan oleh rincian masalah ini.

ثم إذا سرّينا عِتْقَ الوارث فإنه يغرم للابن قيمة مقدار الوصية وهذا يقع بدْعاً فإن قيمةَ الأم غُرمت له ولم تعتق عليه والسبب فيه أن قبوله صادف الغُرْم والقيمةُ لا تقبل العتق

Kemudian, jika kita memperluas pembebasan budak yang dilakukan oleh ahli waris, maka ia wajib membayar kepada anak sejumlah nilai yang sepadan dengan wasiat tersebut. Hal ini terjadi secara tidak lazim, karena nilai ibu telah dibayarkan kepadanya namun ibu tersebut tidak menjadi merdeka baginya. Penyebabnya adalah karena penerimaannya bertepatan dengan kewajiban membayar, dan nilai tersebut tidak dapat menyebabkan kemerdekaan.

ثم ذكر ابن الحداد على الاتصال بهذا مسألةً وأجاب فيها بجواب يخالف جوابه في هذه المسألة فقال: لو أْوصى بعبدٍ لمن يعتِق عليه ولأجنبي لكلِّ واحدٍ منهما النصفُ فإن قبلا معاً عتق نصيب الابن وسرى عتقُه إلى الذي هو للأجنبي إذا كان الابن موسراً وكذلك إن قبل الابن نصيبه أولاً فيعتِق نصيبه ويسري العتق إلى نصيب الأجنبي ثم إن قبل الأجنبي الوصيةَ فعلى الابن قيمةُ نصيبه وإن ردّ الأجنبي الوصيةَ ارتد نصيبه إلى الوارث فيغرَم للوارث قيمةَ نصف العبد

Kemudian Ibn al-Haddad menyebutkan setelah itu suatu masalah dan memberikan jawaban yang berbeda dengan jawabannya pada masalah ini. Ia berkata: Jika seseorang berwasiat memberikan seorang budak kepada orang yang jika budak itu jatuh kepadanya maka budak itu menjadi merdeka (yaitu ahli waris yang memiliki hubungan nasab) dan kepada orang asing, masing-masing setengah bagian, maka jika keduanya menerima wasiat tersebut bersama-sama, bagian anak akan merdeka dan kemerdekaannya akan menular kepada bagian yang diberikan kepada orang asing jika anak tersebut mampu membayar (mampu secara finansial). Demikian pula jika anak menerima bagiannya terlebih dahulu, maka bagiannya menjadi merdeka dan kemerdekaan itu menular ke bagian orang asing. Kemudian jika orang asing menerima wasiat tersebut, maka anak wajib membayar nilai bagiannya. Namun jika orang asing menolak wasiat tersebut, maka bagiannya kembali kepada ahli waris dan anak harus membayar kepada ahli waris nilai setengah budak tersebut.

قال: ولو قبل الأجنبي أولاً نصيبه وأعتقه إنشاء ثم قبل الابن نصيبه فهذا يخرّج على القولين في أن الملك متى يحصل للموصى له فإن قلنا: إنه يحصل له الملك عقيب القبول فقد نفذ إعتاق الأجنبي في نصيبه وسرى إلى نصيب الابن ويغرَم للابن قيمةَ نصيبه

Ia berkata: Jika orang asing terlebih dahulu menerima bagiannya dan memerdekakannya secara langsung, kemudian anak menerima bagiannya, maka hal ini dikembalikan kepada dua pendapat mengenai kapan kepemilikan itu terjadi bagi penerima wasiat. Jika kita katakan bahwa kepemilikan itu terjadi segera setelah penerimaan, maka pemerdekaan yang dilakukan oleh orang asing pada bagiannya sah dan berlaku juga pada bagian anak, dan orang asing wajib mengganti nilai bagian anak.

وإن قلنا: إن الملك يستند إلى مَوْت الموصي فعلى هذا إذا قبل الابن بان أنه عتَق نصيبه بعد الموت وسرى العتق إلى نصيب الأجنبي

Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan itu bergantung pada wafatnya orang yang berwasiat, maka dalam hal ini, apabila anak menerima bahwa bagiannya telah merdeka setelah kematian, maka kemerdekaan itu berlaku pada bagiannya dan merambat kepada bagian orang lain (bukan ahli waris).

هذا تفريع ابن الحداد على القولين أجراه على السداد ولم يتعرض له في المسألة السابقة وهذا زلل غريب فإنه أغفل أصلاً ثم ذكره وفرّع عليه على الاتصال ولم يستدرك ولم يُسَبِّب بفرقٍ وكيف نقدر الفرق في تفريعِ أصلٍ واحد!!

Ini adalah cabang pendapat Ibn al-Haddad berdasarkan dua pendapat, yang ia jalankan secara tepat, namun ia tidak membahasnya dalam permasalahan sebelumnya. Ini adalah kekeliruan yang aneh, karena ia telah mengabaikan satu pokok, kemudian menyebutkannya dan membangun cabang di atasnya secara langsung, tanpa mengoreksi dan tanpa memberikan alasan perbedaan. Bagaimana mungkin kita dapat membedakan dalam cabang dari satu pokok yang sama!

مسألة: إذا أوصى بعبدٍ لأبيه الحرّ أو لابنه ومات الموصي ثم مات الموصى له قبل قبوله الوصية وخلّف ابنين

Masalah: Jika seseorang berwasiat dengan seorang budak kepada ayahnya yang merdeka atau kepada anaknya, lalu pewasiat meninggal dunia, kemudian penerima wasiat meninggal sebelum menerima wasiat tersebut dan meninggalkan dua orang anak.

فإن ردّا الوصية فلا كلام

Jika mereka menolak wasiat tersebut, maka tidak ada pembicaraan lagi.

وإن قبلا فظاهر المذهب أن الملك يحصل للمتوفى الموصى له فعلى هذا يعتِق العبد على المتوفى لأنه يدخل في ملك من يعتِق عليه هذا هو المذهب

Dan jika diterima, maka pendapat yang jelas dalam mazhab adalah bahwa kepemilikan berpindah kepada orang yang diwasiati yang telah wafat. Dengan demikian, budak tersebut menjadi merdeka atas nama orang yang telah wafat, karena ia masuk dalam kepemilikan orang yang jika memiliki budak tersebut, maka budak itu menjadi merdeka baginya. Inilah pendapat mazhab.

قال الشيخ: قد ذكر بعض أصحابنا: أنه لا يصح قبولهما ولا قبولُ أحدهما فإنا لو صححنا القبول لحكمنا بالعتق على الموصى له ولو عتق عليه لثبت له الولاء ولكان الورثة قد أَلْزَموه الولاء من غير اختيارٍ فرطَ منه في حياته وهذا الوجه ضعيف

Syekh berkata: Sebagian ulama kami menyebutkan bahwa tidak sah menerima keduanya maupun menerima salah satunya, karena jika kami membenarkan penerimaan tersebut, maka kami akan memutuskan kemerdekaan bagi orang yang diwasiati. Jika ia merdeka, maka baginya hak wala’, dan para ahli waris telah mewajibkan hak wala’ kepadanya tanpa pilihannya sendiri yang dilakukan semasa hidupnya. Pendapat ini lemah.

هذا إذا قبلاه أو ردّاه

Ini jika keduanya menerima atau menolaknya.

فأما إذا قبل أحدهما الوصيةَ وردّ الثاني فالذي ذكره الأصحاب أن القدر الذي قبله يعتِق على الميت ثم إن كان في يد القابل من التركة ما يفي بالسراية سرى العتق فيه وبذل القابل القيمة مما في يده وينفذ العتق على الميت في هذه الصورة ابتداءً وسرايةً هكذا ذكره الأصحاب ولو لم يكن في يده من التركة شيء أصلاً فلا يسري العتق

Adapun jika salah satu dari keduanya menerima wasiat dan yang lainnya menolaknya, maka menurut keterangan para ulama, bagian yang diterima itu menjadi merdeka atas nama si mayit. Kemudian, jika di tangan penerima terdapat harta peninggalan yang cukup untuk menutupi syarat syarāyah, maka kemerdekaan itu berlaku padanya, dan penerima memberikan nilai (tebusan) dari apa yang ada di tangannya. Dengan demikian, kemerdekaan itu berlaku atas nama si mayit baik secara langsung maupun melalui syarāyah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Namun, jika di tangannya sama sekali tidak ada harta peninggalan, maka kemerdekaan itu tidak berlaku secara syarāyah.

ثم قالوا: يعتبر في ذلك ما في يد القابل من التركة ولا يعتبر ما في يد صاحبه فإنه ردّ الوصية ولم يختر قبولَها

Kemudian mereka berkata: Yang diperhitungkan dalam hal ini adalah apa yang ada di tangan penerima wasiat dari harta peninggalan, dan tidak diperhitungkan apa yang ada di tangan pihak lain, karena ia telah menolak wasiat tersebut dan tidak memilih untuk menerimanya.

قال الشيخ: الذي عندي فيه أنه إذا قبل أحدُهما وردّ الثاني فيعتق القدر الذي قبله ولا يسري أصلاً فإنه لو سرى لسرى على الميت وقد ذكرنا أن العتق لا يسري على الميت لأن حكمه حكم المعسرين

Syekh berkata: Menurut pendapat saya dalam masalah ini, jika salah satu dari keduanya menerima dan yang kedua menolak, maka yang merdeka hanyalah bagian yang diterima, dan tidak berlaku sama sekali hukum merambat (sariyah), karena jika hukum merambat berlaku, maka akan berlaku juga atas orang yang sudah meninggal. Padahal telah kami sebutkan bahwa hukum memerdekakan tidak berlaku atas orang yang sudah meninggal, karena hukumnya sama dengan orang yang tidak mampu.

ولا وجه إلا ما ذكره الشيخ وما سواه غلط في القياس

Tidak ada pendapat yang benar kecuali apa yang disebutkan oleh Syekh, dan selain itu adalah kesalahan dalam qiyās.

ثم قال رضي الله عنه: إذا قبل أحدهما وعتق ما قبله أو قلنا بالسراية على رأي الأصحاب فسرى إلى التمام فالولاء للميت ويرث به الابن القابل وهل يرث به الابن الذي لم يقبل ذكر فيه وجهين: أحدهما أنه يرث به إذ الولاء يثبت للموروث في الأصل فاستوى فيه الورثة وهذا هو الصحيح

Kemudian beliau ra. berkata: Jika salah satu dari keduanya menerima dan yang diterima itu merdeka, atau kita mengatakan adanya penyebaran (sarayah) menurut pendapat para sahabat, lalu penyebaran itu terjadi secara sempurna, maka wala’ menjadi milik orang yang telah wafat dan anak yang menerima mewarisinya. Adapun apakah anak yang tidak menerima juga mewarisinya, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia juga mewarisinya, karena wala’ pada asalnya tetap menjadi milik pewaris, sehingga para ahli waris sama kedudukannya dalam hal ini, dan inilah pendapat yang shahih.

والثاني أنه يختص بالإرث بالولاء من تسبب إلى جَلْبه وهذا ضعيفٌ فإن الولاء ليس يورث بل يورث به وإذا ثبت الولاء للموروث وجب توريث كافة الورثة به

Kedua, bahwa hal itu khusus berlaku pada warisan dengan sebab wala’ bagi orang yang menyebabkan datangnya wala’, dan pendapat ini lemah, karena wala’ itu sendiri tidak diwariskan, melainkan diwarisi dengannya. Jika wala’ telah tetap bagi pewaris, maka wajib mewariskan kepada seluruh ahli waris dengannya.

مسألة: إذا قال: إذا مت فعبدي حر أو قال: إذا مت فاصرفوا إلى فلان كذا

Masalah: Jika seseorang berkata, “Jika aku mati maka hambaku merdeka,” atau berkata, “Jika aku mati maka berikanlah kepada si Fulan sekian,”

فإذا قُتل فهو كما لو مات حتف أنفه فإن كلّ قتيلٍ ميت  ويجب طرد هذا في عاقبتي اليمين حنثاً وبرّاً

Maka jika ia terbunuh, hukumnya seperti orang yang mati secara alami, karena setiap orang yang terbunuh adalah orang mati, dan ketentuan ini harus diberlakukan pula pada akibat sumpah, baik ketika melanggar maupun menepatinya.

ولو قال: إن مت من مرضي هذا فعبدي حر فبرأ واستبلّ  ثم مرض ومات فلا يعتِق عبدُه فإنه علّق وصيتَه على هذا الوجه بموته من ذلك المرض فلم تثبت الوصية

Jika seseorang berkata: “Jika aku mati karena penyakit ini, maka hambaku merdeka,” lalu ia sembuh dan pulih, kemudian sakit lagi dan meninggal, maka hambanya tidak menjadi merdeka. Sebab, ia menggantungkan wasiatnya pada kematian karena penyakit tersebut, sehingga wasiat itu tidak berlaku.

ولو مات فاختلف الموصى له والوارث فزعم الوارث أنه مات من مرضٍ آخر وزعم الموصى له أنه مات من ذلك المرض بعينه قال ابن الحداد: القول قول الوارث فإن ما قاله محتمل والأصل عدم ثبوت الوصية

Jika seseorang meninggal dunia lalu terjadi perselisihan antara penerima wasiat dan ahli waris, di mana ahli waris mengklaim bahwa ia meninggal karena penyakit lain, sedangkan penerima wasiat mengklaim bahwa ia meninggal karena penyakit yang sama, Ibn al-Haddad berkata: yang dijadikan pegangan adalah pernyataan ahli waris, karena apa yang dikatakannya masih mungkin terjadi dan pada dasarnya wasiat itu belum terbukti.

قال الشيخ: هذا هو المشهور ومن أصحابنا من قال: القول قول الموصى له فإنه قد ثبت موتُه والأصل بقاء ذلك المرض والوارث يدّعي زوالَه وارتفاعَ وصيةٍ ثبت أصلُها وابن الحداد يقول: الوصية إنما تثبت إذا ثبت الموت من ذلك المرض

Syekh berkata: Inilah pendapat yang masyhur, dan sebagian dari ulama kami berpendapat: yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menerima wasiat, karena telah terbukti kematiannya dan pada dasarnya penyakit itu masih ada, sedangkan ahli waris mengklaim bahwa penyakit itu telah hilang dan wasiat yang asalnya telah tetap menjadi gugur. Ibnu al-Haddad berpendapat: wasiat itu hanya menjadi tetap jika kematian dari penyakit tersebut telah terbukti.

والصحيح ما قاله ابن الحداد

Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Ibn al-Haddad.

مسألة: إذا قبل الموصى له الوصية ثبت ملكه في الموصى به ولم يتوقف حصوله على القبض والتسليم بخلاف الهبات

Masalah: Jika penerima wasiat menerima wasiat tersebut, maka kepemilikan atas harta yang diwasiatkan menjadi tetap miliknya dan tidak tergantung pada penerimaan dan penyerahan, berbeda halnya dengan hibah.

ثم الذي قطع به المراوزة أن الموصى له لو حاول ردّ الوصية بعد قبولها وقبْل القبض لم يكن له ردُّها ولو ردّها لم ترتد فإن المنح والتبرعات إذا أفضت إلى تحصيل الملك لم تَقبل الفسخ والنقضَ والرجوعُ الذي أثبته الشرع في الهبات في حق بعض الناس في حكم تملك جديد أثبته الشرع

Kemudian, para ulama Marwazi menegaskan bahwa jika penerima wasiat berusaha menolak wasiat setelah menerimanya namun sebelum menerima barangnya, ia tidak berhak menolaknya, dan jika ia menolaknya pun, penolakan itu tidak berlaku. Sebab, pemberian dan hibah apabila telah berujung pada perolehan kepemilikan, tidak dapat dibatalkan, dibatalkan, atau ditarik kembali. Adapun hak untuk menarik kembali hibah yang ditetapkan syariat bagi sebagian orang, itu merupakan ketetapan syariat yang dianggap sebagai kepemilikan baru.

وذكر العراقيون هذا وارتضَوْه وحكَوا معه وجهاً آخر وهو أن الموصى له بالخيار في الردّ وإن قبل ما لم يقبض فإذا قبض  لم يصح منه الرد بعد القبض والقبول وهذا ضعيف لا مستند له من أثرٍ ولا معنى فلست أعتد به

Orang-orang Irak menyebutkan hal ini dan mereka menerimanya, serta meriwayatkan pendapat lain bersamanya, yaitu bahwa penerima wasiat memiliki pilihan untuk menolak meskipun telah menerima, selama belum mengambil (harta wasiat tersebut). Namun, jika ia telah mengambilnya, maka tidak sah baginya untuk menolak setelah pengambilan dan penerimaan. Pendapat ini lemah, tidak memiliki dasar baik dari atsar maupun makna, maka aku tidak menganggapnya.

Bab Pernikahan Orang Sakit

إذا نكح المريض امرأة صح النكاح وفاقاً والمنكوحة ترث الزوجَ خلافاً لمالك رحمه الله وإياه قصد الشافعي رضي الله عنه بالرد وقد أسرف مالك رضي الله عنه في طرفي نقيض فقال: المنكوحة في المرض لا ترث والمبتوتة في المرض ترث وإن انقضت عدتُها قبل موت الزوج وذكر الأستاذ أبو منصور مذاهب للسلف مختلفة في نكاح المريض لسنا لها

Jika seorang yang sedang sakit menikahi seorang wanita, maka akad nikahnya sah menurut kesepakatan, dan wanita yang dinikahi tersebut berhak mewarisi suaminya—berbeda dengan pendapat Malik rahimahullah. Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu bermaksud membantah pendapat tersebut. Malik raḍiyallāhu ‘anhu telah berlebihan dalam dua hal yang bertentangan, yaitu: wanita yang dinikahi saat suami sakit tidak berhak mewarisi, sedangkan wanita yang ditalak ba‘in saat suami sakit justru berhak mewarisi, meskipun masa ‘iddahnya telah selesai sebelum suaminya wafat. Al-Ustadz Abu Mansur menyebutkan adanya berbagai pendapat berbeda dari para salaf mengenai pernikahan orang sakit, namun kami tidak membahasnya di sini.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ويلحق الميتَ من فعل غيره وعمله ثلاث إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Tiga perkara yang dapat sampai kepada mayit dari perbuatan dan amal orang lain, dan seterusnya.

روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا مات ابنُ آدم انقطع عنه عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية وعلم ينتفع به وولد صالح يدعو له  وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله تصدق عليكم بثلث أموالكم في آخر أعماركم زيادةً في أعمالكم  وقال عليه السلام: تصدَّق وأنت شحيح بخيل ولا تؤخر حتى إذا بلغت الحلقوم قلت: لفلان كذا ولفلان كذا ألا وقد صار لفلان

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan sedekah kepada kalian sepertiga dari harta kalian di akhir umur kalian sebagai tambahan bagi amal kalian.” Beliau juga bersabda: “Bersedekahlah kamu saat kamu masih sehat dan kikir, dan jangan menunda hingga ketika nyawa sudah sampai di tenggorokan, lalu kamu berkata: ‘Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian,’ padahal harta itu memang sudah menjadi milik si fulan.”

ومضمون هذا الفصل تفصيل القول فيما يقع عن الموتى وقد أطلق الأئمة رضي الله عنهم في الطرق أن من تصدق عن ميت بصدقة وقعت الصدقةُ عن الميت ولا فرق بين أن يكون المتصدق وارثاً أو غير وارث وقرنوا الصدقة بالدعاء وقالوا: بركة الدعاء يُرجى التحاقها بالميت من غير فصلٍ بين داعٍ وداعٍ فكذلك صدقة التطوع واحتجوا عليه بما روي أن سعد بن عبادة قال لرسول الله عليه السلام: إن أمي أُصمتت ولو نطقت لتصدّقت أفينفعها أن أتصدق عنها قال: نعم

Isi dari bab ini adalah penjelasan rinci mengenai apa yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Para imam rahimahumullah secara umum menyatakan dalam berbagai riwayat bahwa siapa pun yang bersedekah atas nama orang yang telah meninggal, maka sedekah itu sampai kepada si mayit, tanpa membedakan apakah yang bersedekah itu ahli waris atau bukan. Mereka juga mengaitkan sedekah dengan doa, dan mengatakan: keberkahan doa diharapkan dapat sampai kepada si mayit tanpa membedakan siapa yang mendoakan, maka demikian pula dengan sedekah sunnah. Mereka berdalil dengan riwayat bahwa Sa‘d bin ‘Ubādah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, dan seandainya ia sempat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah bermanfaat jika aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya.”

هذا ما ذكره الأئمة في الطرق ووجدت في بعض التصنيفات رمزاً إلى شيء يدور في خَلَد الفقيه وذلك أن الصدقة نرجو لحوق بركتها الميت فأما أن تقع عن الميت وصَدَرُها من غير وارث وهي متطوع بها  فهذا بعيد عن القياس

Inilah yang disebutkan para imam dalam pembahasan metode, dan aku menemukan dalam sebagian karya adanya isyarat terhadap sesuatu yang terlintas dalam benak seorang faqih, yaitu bahwa sedekah diharapkan keberkahannya sampai kepada mayit. Adapun jika sedekah itu dilakukan atas nama mayit dan berasal dari selain ahli waris serta merupakan sedekah sunnah, maka hal ini jauh dari qiyās.

وقد ذكر الصيدلاني وغيره أنها تقع عن الميت ومعنى وقوع التطوع عن الشخص أن يلتحق بأعماله وكيف يُفرض هذا ولم يعمله ولم يأمر به نعم إن تصدق الرجل وقصد شخصاً كان ذلك في معنى الدعاء له فلا يبعد أن يخفف الله على المتصدَّق عنه وتنزل الصدقة وهي واقعة عن المتصدِّق منزلةَ الدعاء فإن الدعاء يقع عبادة عن الداعي وينال بركتَه الميت

Telah disebutkan oleh As-Saidalani dan yang lainnya bahwa amalan sunnah dapat dilakukan untuk orang yang telah meninggal dunia. Maksud dari amalan sunnah yang dilakukan untuk seseorang adalah amalan itu dianggap sebagai bagian dari amal perbuatannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi padahal dia sendiri tidak melakukannya dan tidak memerintahkannya? Memang, jika seseorang bersedekah dan meniatkannya untuk seseorang, maka hal itu serupa dengan mendoakannya. Maka tidak mustahil Allah meringankan beban orang yang disedekahkan atas namanya, dan sedekah itu, meskipun dilakukan oleh orang yang bersedekah, kedudukannya seperti doa. Sebab, doa adalah ibadah yang dilakukan oleh orang yang berdoa, dan keberkahannya dapat diraih oleh orang yang telah meninggal.

وفي حديث سعد تأملٌ للناظر فإنه وارث وللخلافة والوراثة أثر سنبيّنه في أثناء الفصل إن شاء الله تعالى

Dalam hadis Sa‘d terdapat bahan renungan bagi yang memperhatikan, karena ia adalah seorang ahli waris, dan bagi khilāfah serta waris memiliki pengaruh yang akan kami jelaskan di tengah-tengah pembahasan ini, insya Allah Ta‘ala.

وأيضاً فإنه لم يسأل عن وقوع الصدقة عن أمه وإنما قال: أينفعها ذلك فقال رسول الله عليه السلام: نعم وليس يبعد عندي أن الأصحاب الأولين أرادوا هذا

Selain itu, ia tidak bertanya tentang terjadinya sedekah atas nama ibunya, melainkan ia berkata: “Apakah itu bermanfaat baginya?” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Ya.” Dan menurut saya, tidaklah jauh kemungkinan bahwa para sahabat terdahulu menginginkan hal ini.

ولكن صرح المتأخرون بوقوع الصدقة عن الميت وكان شيخي أبو محمد يبوح بهذا ويعلله بأن النفوس متشوقة إلى إتباع الموتى الصدقاتِ ومقتضى الشرع الحث على الصدقات بالجهات فلا يمتنع أن يقع الحكم بوقوع الصدقة عن الميت وهذا يعضده الزكاة فإنها ركن الدين وقوامها النية ثم قد تقع معتداً بها من غير نية

Namun, para ulama muta’akhkhirīn telah menyatakan bahwa sedekah atas nama orang yang telah meninggal itu sah. Guru saya, Abu Muhammad, juga menyampaikan hal ini dan menjelaskannya bahwa jiwa manusia sangat terdorong untuk mengikuti para mayit dengan bersedekah. Sementara itu, syariat menganjurkan untuk memperbanyak sedekah dalam berbagai bentuk, sehingga tidak mustahil jika hukum memperbolehkan sedekah atas nama orang yang telah meninggal. Hal ini juga didukung oleh zakat, yang merupakan rukun agama dan pokoknya adalah niat, namun dalam praktiknya zakat terkadang tetap sah meskipun tanpa niat.

فإذا تمهدت هذه المقدمة أتبعناها باتفاق الأصحاب بأن من أعتق مملوكاً عن ميت متبرِّعاً ولم يكن على الميت عتق فالعتق لا يقع عن الميت سواء كان المعتِق وارثاً أو غيرَ وارث

Setelah penjelasan pendahuluan ini, kami lanjutkan dengan kesepakatan para ulama bahwa siapa pun yang memerdekakan seorang budak atas nama orang yang telah meninggal dunia secara sukarela, padahal si mayit tidak memiliki kewajiban memerdekakan budak, maka pemerdekaan tersebut tidak berlaku atas nama mayit, baik yang memerdekakan itu adalah ahli waris maupun bukan ahli waris.

وفرّق من أجاز التصدق عن الميت بين العتق والصدقة بأن قال: العتق يُعقب ولاءً وإثبات الولاء يتضمن صدر العتق عن ملك من له الولاء بعد العتق وتمليك الميت بعيد بخلاف الصدقة

Dan orang yang membolehkan bersedekah atas nama mayit membedakan antara pembebasan budak dan sedekah dengan mengatakan: pembebasan budak menimbulkan hubungan wala’, dan penetapan wala’ mengandung bahwa pembebasan budak itu berasal dari kepemilikan orang yang berhak atas wala’ setelah pembebasan, sedangkan memberikan kepemilikan kepada mayit adalah sesuatu yang jauh berbeda dengan sedekah.

وهذا كلام لا غَوْصَ له فإن الصدقة عن الغير تقتضي صدرها عن ملكه بَيْد أن الصدقة تفارق العتق بالولاء وافتراقها في ذلك لا يوجب فرقاً في افتقار كل واحد منهما إلى الصدور عن الملك

Ini adalah pernyataan yang tidak mendalam, karena sedekah atas nama orang lain mensyaratkan bahwa sedekah itu berasal dari kepemilikannya. Namun, sedekah berbeda dengan pembebasan budak terkait wala’, dan perbedaan di antara keduanya dalam hal ini tidak menuntut adanya perbedaan bahwa masing-masing dari keduanya memerlukan asal dari kepemilikan.

ولو مات وعليه كفارة فقد قدمنا في الكفارات والمنذورات وإن جرى التزامها في الصحة قولين في أنها ديونٌ من رأس المال أم سبيلها سبيل الوصايا

Jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban kafarat, maka telah kami sebutkan dalam pembahasan kafarat dan nazar—baik kewajiban itu ditetapkan saat sehat—ada dua pendapat: apakah kafarat tersebut dianggap sebagai utang yang diambil dari harta pokok, ataukah statusnya seperti wasiat.

فإن جعلناها ديوناً وهو الأصح وعليه تفريع الفصل كما سنذكره الآن إن شاء الله عز وجل وإن جعلناها بمثابة الوصايا فهي بمنزلتها في الاحتساب من الثلث وهل تسقط بالموت إذا لم يَجْر إيصاءٌ بها أم لا حاجة إلى الإيصاء فيه تردد مقتضبٌ من كلام الأصحاب: يجوز أن يقال: إنها تسقط على هذا القول فإنها إذا حلّت محل الوصايا فلا بد من تقدير ذكرها والإيصاء بها

Jika kita menganggapnya sebagai utang, inilah pendapat yang paling sahih dan pembahasan bab ini akan didasarkan padanya sebagaimana akan kami jelaskan sekarang, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Namun jika kita menganggapnya setara dengan wasiat, maka hukumnya sama dengan wasiat dalam hal perhitungan dari sepertiga harta. Apakah gugur dengan kematian jika tidak ada wasiat yang dilakukan, ataukah tidak perlu adanya wasiat? Terdapat keraguan yang diambil dari perkataan para ulama: boleh jadi dikatakan bahwa ia gugur menurut pendapat ini, karena jika ia menempati kedudukan wasiat, maka harus diperkirakan adanya penyebutan dan wasiat atasnya.

والظاهر عندي أنه لا حاجة إلى ذكرها وجريانُ أسبابها كافٍ ولكنها قصرت عن الديون من حيث أدخلها المرء على نفسه وليست واجبة شرعاً ابتداء

Menurut pendapat saya yang tampak, tidak perlu untuk menyebutkannya dan berlangsungnya sebab-sebabnya sudah cukup, namun ia kurang dibandingkan dengan utang karena seseorang memasukkannya atas dirinya sendiri dan ia tidak wajib secara syar‘i sejak awal.

ونحن نعود بعد ذلك إلى التفريع على الأصح وهو أنها ديون ولا حاجة إلى فرض الإيصاء بها فنقول: إن كان التكفير الواجب بإخراج طعامٍ أو كسوة فلا خلاف أن الوارث لو أخرجه وقع الموقع ولا فرق بين أن يخرجه من تركته وبين أن يخرجه من مال نفسه إذا لم يخلّف الميت تركة هذا متفق عليه

Kemudian kita kembali pada rincian menurut pendapat yang paling sahih, yaitu bahwa hal itu adalah utang, dan tidak perlu menganggap adanya wasiat untuknya. Maka kami katakan: Jika kafarat yang wajib berupa mengeluarkan makanan atau pakaian, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ahli waris jika mengeluarkannya, maka itu sudah mencukupi. Tidak ada perbedaan apakah ia mengeluarkannya dari harta peninggalan mayit atau dari hartanya sendiri jika mayit tidak meninggalkan harta warisan; hal ini telah disepakati.

ولو أخرج أجنبيٌ عنه ما وصفناه فالذي ذهب إليه معظمُ الأصحاب أنه يقع الموقع كما لو أخرجه الوارث ووجهه أن وجوب الكفارة متحقق بعد الوفاة وقد فاتت النية ممن عليه الكفارة وفات تقدير الإنابة فصار ما يخرج في حكم دَيْن محض لا يفتقر إلى النية ويصح من الأجنبي أن يؤدي ديْنَ الغير من جهة أنه لا يفتقر إلى النية ويمتنع في حالة الحياة من الأجنبي تأدية الكفارة والزكاة عن الغير من جهة أن نية من عليه ممكنة واستنابته متوقعة  والآن إن مات  فقد فاتت النية وتوقعها وانحسم مسلك الاستنابة

Jika ada orang lain (bukan ahli waris) yang mengeluarkan (kafarat) sebagaimana telah kami sebutkan, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu sah sebagaimana jika dikeluarkan oleh ahli waris. Alasannya adalah bahwa kewajiban kafarat telah tetap setelah wafat, sementara niat dari orang yang wajib membayar kafarat sudah tidak mungkin lagi, begitu pula kemungkinan mewakilkan sudah tidak ada. Maka apa yang dikeluarkan itu dianggap sebagai pelunasan utang murni yang tidak memerlukan niat, dan sah bagi orang lain untuk membayar utang orang lain karena tidak membutuhkan niat. Adapun pada saat masih hidup, orang lain tidak boleh membayarkan kafarat dan zakat atas nama orang lain karena niat dari orang yang bersangkutan masih memungkinkan dan kemungkinan mewakilkan masih ada. Namun sekarang, jika ia telah wafat, maka niat dan kemungkinan mewakilkan sudah tidak ada, dan jalan untuk mewakilkan pun telah tertutup.

ومن أصحابنا من قال: ليس للأجنبي أن يطعم عنه أو يكسو  وإنما ذلك للوارث فإن للوراثة خلافة لا تنكر فلا يبعد أن نقيم الوارث مقام الموروث وتخصيص ذلك بمن يخلف في الوراثة

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Orang asing tidak boleh memberi makan atau pakaian sebagai pengganti (si mayit), melainkan hal itu hanya boleh dilakukan oleh ahli waris. Sebab, dalam warisan terdapat unsur pengganti yang tidak dapat disangkal, sehingga tidaklah jauh jika kita menempatkan ahli waris pada posisi orang yang diwarisi, dan hal itu dikhususkan bagi siapa saja yang menjadi pengganti dalam warisan.

ثم إذا كان للميت ورثة واشترطنا صدور الإطعام عن الوارث فلا خلاف أن بعضهم لو استبدّ بالإطعام جاز وإن لم يخلّف الميت شيئاً وهذا يؤكد تصحيح الإطعام من الأجنبي فإن ما يُشترط فيه خلافةُ الوراثةِ يُشترط فيه صَدَره من جميع الورثة كالإقرار بالنسب

Kemudian, jika si mayit memiliki ahli waris dan kita mensyaratkan bahwa pelaksanaan pemberian makan (ith‘ām) harus berasal dari ahli waris, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika sebagian dari mereka melakukannya sendiri, itu tetap sah, meskipun si mayit tidak meninggalkan harta apa pun. Hal ini juga menguatkan pendapat yang membolehkan pemberian makan dari orang luar (ajnabi), karena sesuatu yang disyaratkan adanya perwakilan ahli waris di dalamnya, maka harus berasal dari seluruh ahli waris, seperti pengakuan nasab.

ولو لزمته كفارة فيها إعتاق لم يخل العتق من أن يكون متعيّناً في ثبوته أو يكون مع غيره على قضية التخير كالعتق في كفارة اليمين

Jika seseorang wajib membayar kafarat yang di dalamnya terdapat kewajiban memerdekakan budak, maka kewajiban memerdekakan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi memerdekakan budak tersebut merupakan satu-satunya pilihan yang ditetapkan, atau bisa juga ia menjadi salah satu dari beberapa pilihan berdasarkan ketentuan takhyir, seperti memerdekakan budak dalam kafarat sumpah.

فإن كان العتق متعيناً في وضعه كالعتق في كفارة القتل والظهار والوقاع في نهار رمضان فإذا أخرج الوارث رقبةً وأعتقها عن المتوفَّى فلا شك أنه إن أخرجه من تركته أو من مال نفسه وخلَّص التركة لنفسه فذلك حق يخرجه ودين يؤدّيه والتفريع على أن الكفارات الواجبة في الصحة ديون بعد الموت

Jika pembebasan budak telah ditentukan dalam ketentuannya, seperti pembebasan budak dalam kafarat pembunuhan, zhihar, dan hubungan suami istri di siang hari Ramadan, maka apabila ahli waris mengeluarkan seorang budak dan membebaskannya atas nama orang yang telah wafat, tidak diragukan lagi bahwa jika ia mengeluarkannya dari harta peninggalan atau dari hartanya sendiri dan membebaskan harta warisan untuk dirinya sendiri, maka itu adalah hak yang harus ia tunaikan dan utang yang harus ia bayarkan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa kafarat yang wajib ketika masih hidup menjadi utang setelah kematian.

وإن لم يخّلف الميت شيئاً وأعتق عنه وارثه من خاص ماله عبداً صرفه إلى كفارته وقع العتق عن المتوفى ومن آثار وقوعه عنه أن الولاء له

Jika seseorang yang meninggal tidak meninggalkan apa pun, lalu salah satu ahli warisnya membebaskan seorang budak dari harta pribadinya dengan maksud untuk menunaikan kafaratnya, maka pembebasan budak tersebut dianggap sah atas nama orang yang telah wafat. Di antara konsekuensi dari pembebasan tersebut adalah bahwa hak wala’ menjadi milik orang yang telah wafat.

ولو أعتق أجنبي عنه عبداً والعتق متعيَّن ففي المسألة وجهان مرتبان على الوجهين في الإطعام والعتقُ أولى بألا يصح لاستعقابه الولاءَ وهذا في رأي العلماء يقتضي تعلقاً بملك أو خلافة ولذلك لم يصحح التطوعَ بالإعتاق من الأجنبي عن الميت من يصحح منه التصدقَ عن الميت تطوعاً فقال: إذا أعتق الأجنبي عن الميت تبرعاً وقع العتق عن المعتِق وانصرف إليه الولاء ولغا قصدُه الميتَ

Jika seorang asing memerdekakan budak atas nama orang lain, sedangkan pembebasan budak itu telah ditentukan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam masalah memberi makan, dan pembebasan budak lebih utama untuk tidak dianggap sah karena menyebabkan adanya hak wala’ (hubungan loyalitas) bagi orang yang memerdekakan. Menurut pandangan para ulama, hal ini mensyaratkan adanya keterkaitan dengan kepemilikan atau perwakilan. Oleh karena itu, orang yang membolehkan sedekah sukarela dari orang asing atas nama mayit tidak membolehkan pembebasan budak secara sukarela dari orang asing atas nama mayit. Ia berkata: Jika seorang asing memerdekakan budak atas nama mayit sebagai bentuk sukarela, maka pembebasan budak itu berlaku atas nama orang yang memerdekakan, dan hak wala’ kembali kepadanya, sedangkan niatnya untuk mayit menjadi tidak berlaku.

هذا إذا كان العتق متعيَّناً في الكفارة

Ini berlaku jika pembebasan budak telah ditentukan dalam kafarat.

فإذا ثبت على قضية التخير كالعتق في كفارة اليمين فإذا لم نجد من الميت إيصاء فإن أطعم الوارث أو كسا وقع الموقع وإن أعتق عنه عبداً ففي المسألة وجهان: أحدهما أن العتق لا يقع الموقع فإنه غير معيّن  وهو من هذا الوجه مُضاهٍ للعتق المتطوع به وقد ذكرنا أن الوارث لو أعتق عن الموروث متبرعاً لم يقع عنه

Jika telah ditetapkan adanya pilihan, seperti pembebasan budak dalam kafarat sumpah, maka jika tidak ditemukan wasiat dari mayit, apabila ahli waris memberi makan atau memberi pakaian, itu sudah mencukupi. Namun jika ia membebaskan seorang budak atas nama mayit, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa pembebasan budak tidak dianggap sah, karena tidak ditentukan secara spesifik, dan dari sisi ini serupa dengan pembebasan budak secara sukarela. Telah disebutkan bahwa jika ahli waris membebaskan budak atas nama pewaris secara sukarela, maka itu tidak sah atas nama pewaris.

والوجه الثاني أن العتق يقع عن الميت فإن العتق مع الإطعام والكسوة على قضيةٍ واحدة والتخيّر يتعلق بجميعها وما اتفق إخراجه منها يقع واجباً ويلتحق في وقوعه بما يتعين وقد ذكرنا أن العتق المتعيّن إذا صدر عن الوارث وقع عن الميت موقع الإجزاء

Pendapat kedua adalah bahwa pembebasan budak dapat dilakukan untuk orang yang telah meninggal dunia, karena pembebasan budak, memberi makan, dan memberi pakaian berada dalam satu ketentuan, dan pilihan berlaku untuk semuanya. Apa pun yang dipilih untuk dikeluarkan dari ketiganya menjadi wajib, dan dalam pelaksanaannya disamakan dengan yang telah ditentukan. Telah kami sebutkan bahwa pembebasan budak yang telah ditentukan, apabila dilakukan oleh ahli waris, maka itu berlaku untuk orang yang telah meninggal dan dianggap sah sebagai pelaksanaan kewajiban.

هذا إذا أطعم الوارث أو أعتق

Ini berlaku jika ahli waris memberi makan atau memerdekakan.

فأما إذا أطعم الأجنبي فظاهر المذهب أنه يجزىء عن الميت إذا نواه وقصده وفيه وجهٌ آخر ذكرناه

Adapun jika orang lain (bukan keluarga) memberi makan, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, hal itu sah sebagai pengganti untuk si mayit jika ia meniatkannya dan memaksudkannya. Namun, ada pendapat lain yang telah kami sebutkan.

فإن أعتق الأجنبي عن الميت في كفارة اليمين ففي المسألة وجهان إن أحببنا رتبناهما على الوجهين في الوارث وهو أولى بألا يقع الموقع من الأجنبي والفرق انتفاء الخلافة وثبوتها وإن أحببنا رتبنا الوجهين على الخلاف المذكور في إطعام الأجنبي

Jika seorang asing memerdekakan budak sebagai kafarat sumpah untuk orang yang telah meninggal dunia, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Jika kita menghendaki, kita dapat mengaitkannya dengan dua pendapat dalam kasus ahli waris, dan ini lebih utama, yaitu bahwa perbuatan tersebut tidak dianggap sah jika dilakukan oleh orang asing, karena perbedaannya adalah tidak adanya hubungan pewarisan pada orang asing, sedangkan pada ahli waris ada. Jika kita menghendaki, kita dapat mengaitkan dua pendapat tersebut dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan dalam hal memberi makan oleh orang asing.

هذا كله إذا لم يوص من عليه الكفارة

Semua ini berlaku jika orang yang wajib membayar kafarat tidak berwasiat.

فأما إذا لزمته كفارة يمين فأوصى بأن يعتق عنه فإن وفى ثلثه فذاك وإن قصر الثلث والتفريع على أن الكفارة ديْنٌ فقد كان شيخي يقول: يجب الإعتاق عنه من رأس ماله

Adapun jika seseorang wajib membayar kafarat sumpah lalu ia berwasiat agar membebaskan budak atas namanya, maka jika sepertiga hartanya mencukupi, itulah yang dilakukan. Namun jika sepertiga hartanya kurang, dan berdasarkan cabang hukum bahwa kafarat adalah utang, guru saya berkata: wajib membebaskan budak atas namanya dari seluruh hartanya.

وهذا ما أراه كذلك بل ما دل عليه فحوى كلام الأئمة أن تعيين العتق في حكم الوصية

Inilah yang juga saya pandang demikian, bahkan inilah yang ditunjukkan oleh makna perkataan para imam, bahwa penetapan pembebasan budak itu hukumnya seperti wasiat.

وإن فرعنا على أن الكفارة دين فإنه غير متعين وفي إخراجه مغرم بيّن وشيخنا كان يقول: ما حكيته بناء على أن العتق في الكفارة أحد الواجبات الثلاثة فإذا عينه تعين

Jika kita berpendapat bahwa kafarat adalah utang, maka ia tidaklah tertentu, dan dalam mengeluarkannya terdapat beban yang jelas. Guru kami pernah berkata: Apa yang aku sebutkan ini didasarkan pada bahwa memerdekakan budak dalam kafarat adalah salah satu dari tiga kewajiban, maka jika seseorang menentukannya, ia menjadi wajib tertentu.

وهذا عري عن مساق الفقه وتعيين العتق وفي غيره كفايةٌ عنه مندوحةٌ بمثابة تعيين عبد شريف للإعتاق وفي عبد قليل القيمة مَقنعٌ واستجماعٌ لشرائط الإجزاء

Ini tidak termasuk dalam konteks fiqh dan penetapan pembebasan budak, dan dalam hal lain sudah cukup dan ada alternatif darinya, seperti penetapan pembebasan budak yang mulia, padahal pada budak yang bernilai rendah sudah memadai dan telah memenuhi syarat-syarat keabsahan.

وسيكون لنا إلى هذا الفصل عودة في كتاب الأيمان إن شاء الله عز وجل

Kita akan kembali membahas bab ini dalam Kitab al-Aiman, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

قال: ولو أوصى له ولمن لا يحصى فالقياس أنه كأحدهم إلى آخره

Ia berkata: Jika seseorang berwasiat untuknya dan untuk orang yang tidak dapat dihitung jumlahnya, maka menurut qiyās, ia seperti salah satu dari mereka, dan seterusnya.

إذا أوصى لزيدٍ وللفقراء بثلث ماله فقد ذكر الشيخ أبو علي ثلاثة أقوال في المسألة ولم يذكر شيخنا والصيدلاني إلا قولين منها: أحدهما أن لزيد نصفَ الموصى به فإنه معنى في شخصه والفقر معنى في نفسه فكان إضافة الثلث إليه وإلى الفقراء بمثابة إضافة الثلث إلى شخصين ولو قال: يصرف ثلثي إلى زيد وعمرو فهو بينهما نصفان

Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada fakir miskin dengan sepertiga hartanya, maka Syaikh Abu Ali menyebutkan tiga pendapat dalam masalah ini, sedangkan guru kami dan As-Saidalani hanya menyebutkan dua pendapat di antaranya: salah satunya adalah bahwa Zaid mendapatkan setengah dari harta yang diwasiatkan, karena Zaid adalah makna yang merujuk pada pribadi tertentu, sedangkan kefakiran adalah makna yang berdiri sendiri, sehingga penambahan sepertiga harta kepadanya dan kepada fakir miskin seperti menambahkan sepertiga harta kepada dua orang. Jika ia berkata: “Sepertiga hartaku diberikan kepada Zaid dan Amr,” maka harta itu dibagi dua sama rata di antara mereka.

والقول الثاني أن زيداً كواحد من الفقراء

Pendapat kedua menyatakan bahwa Zaid sama seperti salah satu dari orang-orang fakir.

ثم لو أوصى للفقراء فأراد الوصيّ صرفَ الموصى به إلى ثلاثة منهم فله أن يصرف إلى واحد أقلَّ القليل وكذلك الثاني ثم يخصص الثالث بتتمة الموصى به فزيد إذا ضم إلى الفقراء بمثابة واحد منهم إذا أوصى لهم دون غيرهم

Kemudian, jika seseorang berwasiat untuk para fakir miskin, lalu pelaksana wasiat ingin membagikan harta wasiat tersebut kepada tiga orang dari mereka, maka ia boleh memberikan kepada satu orang dengan jumlah paling sedikit, demikian pula kepada yang kedua, lalu ia mengkhususkan yang ketiga dengan sisa harta wasiat tersebut. Maka Zaid, jika digabungkan dengan para fakir miskin, posisinya sama seperti salah satu dari mereka apabila wasiat itu ditujukan kepada mereka dan bukan kepada selain mereka.

وحكى الشيخ أبو علي قولاً ثالثاً هو أن زيداً المضموم إلى الفقراء يستحق ربع الموصى به فإنه لا بدّ من رعاية الجمع في الفقراء وأقل الجمع ثلاثة فيكون زيد رابعَهم ثم هو مقصود في نفسه فتصير الوصية في حقه بمثابة وصية أضيفت إلى أربعة فلا ينحط حقه عن الربع وليس كالواحد من الفقراء فإنه لا حصر لهم

Syekh Abu Ali meriwayatkan pendapat ketiga, yaitu bahwa Zaid yang digabungkan kepada para fakir berhak atas seperempat dari wasiat yang diberikan, karena harus memperhatikan adanya jamaah dalam kelompok fakir, dan jumlah jamaah paling sedikit adalah tiga orang, sehingga Zaid menjadi orang keempat dari mereka. Selain itu, Zaid juga merupakan tujuan tersendiri, sehingga wasiat untuknya menjadi seperti wasiat yang diberikan kepada empat orang, maka haknya tidak kurang dari seperempat. Hal ini berbeda dengan satu orang fakir, karena jumlah mereka tidak terbatas.

وذكر الشيخ أبو علي طريقة أخرى فقال: من أصحابنا من قال: إنْ تعرض الموصي لفقر زيد فقال: أوصيت لزيد الفقير وللفقراء وكان زيد فقيراً فتخرج المسألة على ثلاثة أقاويل: أحدها أن له نصيبَ فقيبر فأما إذا لم يصف زيداً بالفقر الذي هو وصف المضمومين إليه في الوصية ولكنه قال: أوصيت لزيد وللفقراء قالوا: فلا يخرج في هذه الصورة إلا قولان: أحدهما له النصف

Syekh Abu Ali menyebutkan cara lain, beliau berkata: Di antara para sahabat kami ada yang berpendapat: Jika pewasiat menyebutkan kemiskinan Zaid lalu berkata, “Aku berwasiat untuk Zaid yang fakir dan untuk orang-orang fakir,” sedangkan Zaid memang fakir, maka masalah ini terbagi menjadi tiga pendapat: salah satunya adalah bahwa Zaid mendapat bagian orang fakir. Adapun jika pewasiat tidak menyifati Zaid dengan kefakiran, yaitu sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang digabungkan bersamanya dalam wasiat, tetapi hanya berkata, “Aku berwasiat untuk Zaid dan untuk orang-orang fakir,” maka mereka mengatakan: dalam kasus ini hanya ada dua pendapat; salah satunya adalah Zaid mendapat setengah bagian.

والثاني له الربع فأما القول الثالث فلا يخرج

Yang kedua mendapat seperempat, adapun pendapat ketiga tidak berlaku.

وهذه الطريقة ضعيفة

Dan metode ini lemah.

ثم قال الشيخ: إذا قلنا لزيد مثل نصيب فقير فقد اختلف أصحابنا في معنى ذلك: منهم من قال: معناه أنه لو أُعطي أقل ما يتمول أجزأ ذلك وهذا هو السديد ومنهم من قال: ينظر إلى عدد الفقراء الذين يتفق التسليم إليهم فإن أعطى ثلاثة من الفقراء وأراد الاقتصار فلزيد ربعُ الوصية لا ننقص من الربع وإن كان ينقص آحادَ الفقراء ويزيد لبعضهم

Kemudian Syaikh berkata: Jika kita mengatakan kepada Zaid, “Bagimu bagian seperti bagian seorang fakir,” maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai makna hal itu: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah jika ia diberi jumlah paling sedikit yang masih bernilai harta, maka itu sudah mencukupi, dan inilah pendapat yang paling tepat. Ada juga yang berpendapat: dilihat jumlah fakir miskin yang penyerahan (harta) kepada mereka memungkinkan untuk dilakukan; jika diberikan kepada tiga orang fakir dan ingin dibatasi pada itu saja, maka Zaid mendapat seperempat wasiat, tidak boleh dikurangi dari seperempat, meskipun itu mengurangi bagian sebagian fakir dan menambah bagian sebagian yang lain.

وإن أعطى خمسةً من الفقراء فيعطيه السدسَ وإن أعطى عشرة فيعطيه من الوصية جزءاً من أحدَ عشرَ جزءاً من الوصية

Jika ia memberikan kepada lima orang fakir, maka masing-masing diberi seperenam; dan jika ia memberikan kepada sepuluh orang, maka masing-masing diberi bagian dari wasiat sebanyak sepersebelas dari wasiat.

وهذا ضعيف جداً هذا كله إذا ذكر في الوصية زيداً وأقواماً موصوفين غيرَ منحصرين بصفةٍ لا تلزم

Ini sangat lemah. Semua ini berlaku jika dalam wasiat disebutkan Zaid dan sekelompok orang yang disebutkan dengan sifat tertentu yang tidak terbatas pada sifat yang tidak wajib.

فأما إذا قال: أوصيت لزيد وللبكريّة والعلويّة فقد اختلف قول الشافعي في أن الوصية للعلوية والبكرية ومن في معناهم وهم أقوام لا ينحصرون وليسوا على صفة يتوقّع تحولهم عنها فأحد القولين الوصيةُ لهم باطلة

Adapun jika ia berkata: “Aku berwasiat untuk Zaid, untuk kelompok Bani Bakr, dan untuk kelompok Alawi,” maka pendapat asy-Syafi‘i berbeda mengenai wasiat kepada kelompok Alawi, Bani Bakr, dan yang semisal dengan mereka, yaitu kelompok yang jumlahnya tidak terbatas dan tidak berada dalam keadaan yang diperkirakan akan berubah darinya. Salah satu dari dua pendapat adalah bahwa wasiat kepada mereka batal.

والثاني أنها صحيحة وقد أشرنا إلى توجيه القولين فيما تقدم

Kedua, bahwa ia sah, dan kami telah mengisyaratkan penjelasan kedua pendapat tersebut pada bagian sebelumnya.

فإن صححنا الوصية فهو كما لو أوصى لزيد وللفقراء وقد تبين التفصيل فيه وإن لم نصحح الوصيةَ للعلوية فالمذهب أن الوصية تصح لزيد ثم في قدر ما يستحقه الأقوالُ والتفصيلُ الذي قدمناه

Jika kita mengesahkan wasiat tersebut, maka keadaannya seperti jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada orang-orang fakir, dan rincian masalah ini telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika kita tidak mengesahkan wasiat kepada orang-orang Alawiyah, maka menurut mazhab, wasiat itu sah untuk Zaid, kemudian mengenai besaran yang menjadi haknya terdapat beberapa pendapat dan rincian yang telah kami sebutkan sebelumnya.

ومن أصحابنا من قال: إذا أبطلنا الوصية للعلوية فتبطل الوصية لزيد المسمى وهذا يخرّج على القول الذي يقول: إنه يستحق ما يستحقه أحد الفقراء على معنى أنهم إن اتفقوا ثلاثة فله الربع وإن اتفقوا أربعة فله الخمس فإذا بطلت الوصية للعلوية فلم يُعطَ واحدٌ منهم شيئاً لنعتبر نصيبَ زيد به فالوصية لزيد لا تثبت

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: Jika kami membatalkan wasiat untuk kaum ‘Alawiyyin, maka wasiat untuk Zaid yang disebutkan namanya juga batal. Ini didasarkan pada pendapat yang mengatakan bahwa ia (Zaid) berhak mendapatkan apa yang menjadi hak salah satu dari orang-orang fakir, dalam arti jika mereka berjumlah tiga orang maka ia mendapat seperempat, dan jika mereka berjumlah empat orang maka ia mendapat seperlima. Maka jika wasiat untuk kaum ‘Alawiyyin batal sehingga tidak seorang pun dari mereka menerima apa pun, maka bagian Zaid tidak dapat diukur dengan itu, sehingga wasiat untuk Zaid pun tidak sah.

وهذا وإن كان فيه تخييل فالأصل الذي عليه التفريع فاسد

Meskipun di dalamnya terdapat unsur khayalan, namun dasar yang menjadi landasan bagi penjabaran tersebut adalah rusak.

ولو أوصى لزيد والملائكة بثلث ماله فالوصية للملائكة باطلة والتفريع بعد هذا كالتفريع على ما لو أوصى لزيد والعلوية وحكمنا ببطلان الوصية للعلوية

Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan para malaikat dengan sepertiga hartanya, maka wasiat kepada para malaikat adalah batal, dan rincian hukum setelah ini sama seperti rincian hukum pada kasus jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan al-‘Alawiyyah lalu kita memutuskan bahwa wasiat kepada al-‘Alawiyyah batal.

وفي هذا المنتهى أمرٌ لا بد من التنبيه إليه وهو أنه إذا أوصى لزيدٍ وللفقراء وقلنا: يستحق زيدٌ الأقلّ مثلاً وهو أن تقليل نصيبه وتكثيره إلى الوصي  ولا اختيار للوارث فيه بحق الإرث

Dalam hal ini terdapat satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu apabila seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada para fuqara, lalu kita katakan: Zaid berhak mendapatkan bagian yang lebih sedikit, misalnya, maka pengurangan atau penambahan bagiannya adalah wewenang washi, dan ahli waris tidak memiliki hak memilih dalam hal ini berdasarkan hak waris.

فأما إذا أوصى لزيد والملائكة وقلنا: لزيد الأقل في أوضاع هذه المسائل فقد ذكر صاحب التلخيص في ذلك قولين: أحدهما أن اختيار الأقل فيه إلى الوصي الذي ننصبه فيصرف إليه ما شاء من المسمى ويرتدّ الباقي ميراثاً حتى لو استوعب معظمَ ما وقع الوصية به جاز

Adapun jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan para malaikat, dan kita mengatakan: kepada Zaid yang paling sedikit dalam situasi-situasi masalah ini, maka penulis kitab at-Talkhīṣ menyebutkan dua pendapat dalam hal ini: salah satunya adalah bahwa pemilihan yang paling sedikit itu diserahkan kepada wasi yang kita tunjuk, sehingga ia dapat memberikan kepada siapa yang ia kehendaki dari yang disebutkan dalam wasiat, dan sisanya kembali menjadi warisan, bahkan jika ia mengambil sebagian besar dari apa yang diwasiatkan, maka hal itu tetap sah.

والقول الثاني أن الخيار في هذه الصورة إلى الوارث فلو قالوا : لا تدفع إليه إلا درهماً أو أقل مثلاً وقال الوصي : ندفع إليه ألفَ درهم فنتبع الورثة

Pendapat kedua menyatakan bahwa hak memilih dalam kasus ini berada pada ahli waris. Maka jika mereka berkata, “Jangan serahkan kepadanya kecuali satu dirham atau kurang, misalnya,” sedangkan washi berkata, “Kami akan menyerahkan kepadanya seribu dirham,” maka yang diikuti adalah keputusan ahli waris.

قال الشيخ: لعل هذا هو الأصح لأنه إذا أوصى لزيد والفقراء بثلثه فكل  الثلث يُستحق بالوصية فتعيين القدر إلى من يُنصبُ وصياً في ذلك

Syekh berkata: Barangkali inilah yang paling benar, karena jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada orang-orang fakir dengan sepertiga hartanya, maka seluruh sepertiga itu menjadi hak berdasarkan wasiat, sehingga penentuan jumlahnya diserahkan kepada siapa yang diangkat sebagai wasi dalam hal itu.

وفي هذه المسألة بطل بعض الوصية وآل التنازع إلى القدر المستحق في الوصية فالقول قول الورثة والعبرة بمرضاتهم

Dalam masalah ini, sebagian wasiat menjadi batal dan perselisihan berujung pada bagian yang berhak dalam wasiat, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat para ahli waris dan yang menjadi acuan adalah kerelaan mereka.

وإذا أوصى لزيد والبكرية وأبطلناها في حق البكرية فهو كما لو أوصى لزيد والملائكة

Dan jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan al-Bakriyyah, lalu kami membatalkannya terhadap al-Bakriyyah, maka hukumnya seperti jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan para malaikat.

قال: ولو أوصى لزيد ولجبرائيل عليه السلام فالوصية لجبريل باطلة وتصح في حق زيد المضموم معه ولا يخرج في هذه المسألة قولُ الفساد في حق زيد إذا ذكر مع الملائكة ووجهه بيّن فإن الفساد أتى من الجهل بعدد الملائكة وجبريلُ واحدٌ في نفسه

Dia berkata: Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada Jibril ‘alaihis salam, maka wasiat kepada Jibril batal dan sah untuk Zaid yang digabungkan bersamanya. Dalam masalah ini tidak berlaku pendapat tentang batalnya wasiat untuk Zaid jika disebutkan bersama para malaikat, dan alasannya jelas, karena kebatalan itu muncul dari ketidaktahuan terhadap jumlah para malaikat, sedangkan Jibril adalah satu pribadi.

ولو أوصى لزيد وللرياح بثلث ماله فقد اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: كل الوصية مصروف إلى زيد فإن الرياح ليست من الأشخاص التي يتوهم إضافة العقود إليها وليست كجبريل عليه السلام فإنه من الأشخاص التي يتوهم ذلك فيه

Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan kepada angin dengan sepertiga hartanya, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa seluruh wasiat itu diberikan kepada Zaid, karena angin bukanlah termasuk makhluk yang dapat dibayangkan sebagai pihak yang dapat menerima akad, dan tidak seperti Jibril ‘alaihis salam, karena ia termasuk makhluk yang masih mungkin dibayangkan demikian.

والوجه الثاني وهو الصحيح أنه يستحق نصف المسمى كالمسألة الأولى ولا نعتقد الرياحَ أعداداً

Pendapat kedua, dan inilah yang benar, adalah bahwa ia berhak atas setengah dari mahar yang telah disebutkan, sebagaimana pada permasalahan pertama, dan kita tidak menganggap angin sebagai bilangan.

ولو أوصى لزيد والجدار أو غيره من الجمادات  فهو كما لو أوصى لزيد والرياح

Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan tembok atau benda mati lainnya, maka hukumnya sama seperti jika ia berwasiat kepada Zaid dan angin.

ولو أوصى لزيد ودابّةٍ لعمرو فلزيد النصف وفي الوصية لدابة عمرو تفصيل سنذكره مفصلاً بهذا إن شاء الله

Jika seseorang berwasiat kepada Zaid dan seekor hewan kepada Amr, maka Zaid mendapatkan setengahnya. Adapun wasiat untuk hewan milik Amr, terdapat rincian yang akan kami jelaskan secara terperinci setelah ini, insya Allah.

فصل

Bab

مشتمل على ذكر من تصح الوصية له و من لا تصح له

Berisi penjelasan tentang siapa saja yang sah menerima wasiat dan siapa yang tidak sah menerimanya.

فنعرض لما يكاد يغمض أو يتطرق إليه خلاف

Maka kami akan membahas hal-hal yang hampir tidak tampak jelas atau yang masih terdapat perbedaan pendapat mengenainya.

أما الوصية للوارث فقد سبق القول فيه وذكر صاحب التلخيص بعدها الوصيةَ للقاتل وفيها قولان مشهوران: أحد القولين أنها تصح وهو القياس

Adapun wasiat kepada ahli waris, telah dijelaskan sebelumnya, dan penulis kitab at-Talkhīṣ setelah itu menyebutkan wasiat kepada pembunuh. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satu pendapat menyatakan bahwa wasiat tersebut sah, dan inilah yang sesuai dengan qiyās.

والقول الثاني أنها لا تصح لما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا وصية لقاتل  وهذا الحديث ليس على الرتبة العالية في الصحة والصحيح لا وصية لوارث

Pendapat kedua menyatakan bahwa wasiat tersebut tidak sah, berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada wasiat bagi pembunuh.” Namun, hadis ini tidak mencapai derajat tinggi dalam kesahihan, dan yang sahih adalah: “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

ثم سلك بعض الفقهاء مسلك التوجيه بطريق التشبيه بالإرث فإن استحقاق الوصية يتعلق بالموت كالميراث ثم زجر الوارث عن القتل حتى لا يستعجل الميراث به فحُرم ما يستعجله وهذا يتحقق في الوصية تحققه في الميراث

Kemudian sebagian fuqaha menempuh pendekatan penjelasan dengan cara menyerupakan (qiyās) dengan warisan, karena hak atas wasiat berkaitan dengan kematian sebagaimana warisan. Lalu ahli waris dilarang membunuh agar tidak mempercepat perolehan warisan dengan cara itu, sehingga diharamkan baginya apa yang ia percepat. Hal ini berlaku pada wasiat sebagaimana berlakunya pada warisan.

ثم اختلف أصحابنا في محل القولين على طرق:

Kemudian para ulama kami berbeda pendapat mengenai tempat diterapkannya dua pendapat tersebut menurut beberapa cara.

فمنهم من قال: القولان فيه إذا تقدمت الوصية ثم قتل الموصى له الموصي فإنه في هذه الصورة ينسب إلى الاستعجال فأما إذا جرح رجلاً ثم إن المجروح أوصى للجارح فالوصية صحيحة إذا مات المجروح بالجرح السابق على الوصية قولاً واحداً

Sebagian dari mereka berkata: Dua pendapat dalam masalah ini berlaku jika wasiat didahulukan, kemudian penerima wasiat membunuh orang yang berwasiat; dalam kasus ini, perbuatan tersebut dianggap sebagai tindakan tergesa-gesa. Adapun jika seseorang melukai orang lain, kemudian orang yang terluka itu berwasiat kepada pelukanya, maka wasiat tersebut sah jika orang yang terluka meninggal karena luka yang terjadi sebelum wasiat, menurut satu pendapat.

ومن أئمتنا من قال: إن وقع القتل بعد الوصية بطلت الوصية كما سنصف بطلانها في التفريع وإن تقدم الجرح وتأخرت الوصية ووقع الموت بالجرح المتقدم ففي المسألة قولان

Di antara para imam kami ada yang berpendapat: Jika pembunuhan terjadi setelah wasiat, maka wasiat tersebut batal sebagaimana akan kami jelaskan tentang batalnya wasiat dalam rincian nanti. Namun, jika luka terjadi lebih dahulu, kemudian wasiat baru dibuat, lalu kematian terjadi akibat luka yang telah lebih dahulu itu, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

ووجه هذه الطريقة بناء الأمر على العمل بالخبر ثم هو نصٌّ فيمن تأخر قتله عن الوصية له

Dasar dari metode ini adalah membangun ketetapan berdasarkan pengamalan terhadap hadis, kemudian hadis tersebut merupakan nash bagi orang yang pembunuhannya ditunda setelah adanya wasiat untuknya.

وفي التعلق بالخبر نظرٌ إذا تقدم الجرح وتأخرت الوصية من جهة أنا نفهم من حرمان القاتل حكم معاقبته بمنع مقصوده وإن كان اللفظ ظاهراً

Terdapat pertimbangan dalam berpegang pada hadis apabila jarh (penilaian negatif) lebih dahulu dan wasiat datang belakangan, karena kita memahami dari larangan bagi pembunuh (untuk menerima warisan) adalah sebagai bentuk hukuman dengan mencegah tujuan pelaku, meskipun secara lahiriah lafaznya demikian.

وهذا يناظر تردّدَ الأصحاب في حرمان من يقتُل بحق لخروجه عن محل المعاقبة إذ المعاقبة على ترك التحفظ عند وقوع الخطأ مع عموم قول رسول الله عليه السلام: ليس للقاتل من الميراث شيء

Hal ini serupa dengan keraguan para ulama mengenai penghalangan warisan bagi orang yang membunuh dengan hak, karena ia keluar dari kategori orang yang layak dihukum, sebab hukuman itu diberikan atas kelalaian dalam menjaga diri ketika terjadi kesalahan, sementara terdapat sabda Rasulullah saw.: “Pembunuh tidak mendapatkan bagian warisan sedikit pun.”

ثم حيث نقضي بصحة الوصية فلا خِيرةَ للورثة وحيث لا نقضي بنفوذها اختلف أصحابنا فمنهم من قال: إذا أجازها الورثة جازت ومنهم من قال: لا تنفذ بإجازتهم وهذا الاختلاف مفرّعٌّ على قولنا: إن إجازة الورثة تنفيذ وصية فأما إن جعلنا إجازته عند وجوب مراجعته ابتداء عطية فابتداء وصية الوارث لقاتل الموروث نافذ لا شك فيه

Kemudian, apabila kami memutuskan sahnya wasiat, maka para ahli waris tidak memiliki pilihan. Namun, apabila kami tidak memutuskan berlakunya wasiat tersebut, para ulama kami berbeda pendapat: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa jika para ahli waris mengizinkannya, maka wasiat itu menjadi sah; dan ada pula yang berpendapat bahwa wasiat itu tidak berlaku dengan izin mereka. Perbedaan ini didasarkan pada pendapat kami: apakah izin para ahli waris itu merupakan pelaksanaan wasiat. Adapun jika kami menganggap izinnya, ketika memang harus meminta persetujuan mereka, sebagai pemberian baru, maka permulaan wasiat ahli waris kepada pembunuh pewaris adalah sah tanpa keraguan.

ثم قال صاحب التلخيص: وإن منعنا الوصيةَ للقاتل فلو قتلت أمُّ الولد سيدها عتَقَت فإن عتقها محسوب من رأس المال لا يسلك به مسلك الوصايا

Kemudian penulis kitab at-Talkhīṣ berkata: Jika kita melarang wasiat kepada pembunuh, maka jika seorang ummu walad membunuh tuannya, ia menjadi merdeka, karena kemerdekaannya dihitung dari harta pokok, tidak diperlakukan seperti wasiat.

فأما المدبّر إذا قتل سيدَه والتفريع على أن الوصية للقاتل مردودة فقد اختلف أصحابنا: فمنهم من قال: القول فيه يخرّج على أن التدبير وصية أم تعليق عتق بصفةٍ  فإن جعلناه تعليقاً نفذ العتق ولم يؤثر القتل

Adapun mudabbir yang membunuh tuannya, dan penjelasan atas dasar bahwa wasiat kepada pembunuh itu tertolak, maka para ulama kami berbeda pendapat: di antara mereka ada yang berkata, permasalahan ini dikembalikan pada apakah tadbir itu merupakan wasiat atau penangguhan pembebasan budak dengan suatu sifat. Jika kita menganggapnya sebagai penangguhan, maka pembebasan budak itu tetap berlaku dan pembunuhan tidak berpengaruh.

وإن جعلناه وصيةً لم يعتِق على منع الوصية للقاتل

Dan jika kami menjadikannya sebagai wasiat, maka tidak akan merdeka (budak tersebut) karena adanya larangan wasiat bagi pembunuh.

ومن أصحابنا من قال: سواء قلنا: إن التدبير تعليق أو وصية فتخرّج المسألة على أن العتق لا ينفذ إذا منعنا الوصية للقاتل وذلك أن العتق على القولين محسوب من الثلث وفاقاً وكل تبرع يكون محسوباً من الثلث فهو في الحكم الذي نتكلم فيه وصية

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: baik kita katakan bahwa tadbīr itu adalah ta‘liq (penangguhan) atau wasiat, maka permasalahan ini dikembalikan pada ketentuan bahwa pembebasan budak (‘itq) tidak berlaku jika kita melarang wasiat bagi pembunuh. Hal ini karena pembebasan budak menurut kedua pendapat tersebut dihitung dari sepertiga harta, dan setiap pemberian yang dihitung dari sepertiga harta, maka dalam hukum yang sedang kita bicarakan, ia dianggap sebagai wasiat.

وأثر القولين في أن التدبير تعليق أو وصية يرجع إلى جواز الرجوع عن التدبير فإن جعلناه تعليقاً لم يجز الرجوع صريحاً

Dampak dari dua pendapat mengenai apakah tadbīr itu ta‘liq (penangguhan) atau wasiat kembali kepada kebolehan untuk menarik kembali tadbīr tersebut. Jika kita menganggapnya sebagai ta‘liq, maka tidak boleh secara tegas menarik kembali tadbīr itu.

وذكر صاحب التلخيص فيمن لا تصح له الوصية: الحربي وكلامه يقتضي أن الوصية له باطلة واعتلّ في ذلك بانقطاع الموالاة بيننا وبينهم قال الشيخ: هذا لم يقله أحدٌ من الأصحاب بل قطعوا بأن الوصية للحربي جائزة إذا لم يكن الموصى به سلاحاً فإن أوصى له بسلاح فهو كما لو باع منه سلاحاً  وقد مضى تفصيل ذلك في كتاب البيع وما ذكر صاحب التلخيص من التعرض للموالاة فإنه كلام عريٌّ عن التحصيل فإن الوصية لا تقتضي الموالاة ولا تعتمدها ولست أدري ماذا كان يقول في الهبة من الحربي وظاهر قياسه أنها كالوصية

Dan disebutkan oleh penulis at-Talkhīṣ tentang orang yang tidak sah menerima wasiat: yaitu orang harbi, dan perkataannya menunjukkan bahwa wasiat kepadanya batal. Ia beralasan dengan terputusnya hubungan loyalitas antara kita dan mereka. Syekh berkata: Hal ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab), bahkan mereka sepakat bahwa wasiat kepada orang harbi itu boleh selama yang diwasiatkan bukan senjata. Jika ia mewasiatkan senjata kepadanya, maka hukumnya seperti menjual senjata kepadanya. Rincian tentang hal ini telah dijelaskan dalam Kitab al-Bay‘. Adapun apa yang disebutkan oleh penulis at-Talkhīṣ tentang pembahasan loyalitas, maka itu adalah perkataan yang tidak berdasar, karena wasiat tidak mensyaratkan adanya loyalitas dan tidak bergantung padanya. Aku juga tidak tahu apa yang akan ia katakan tentang hibah kepada orang harbi, dan menurut qiyās yang tampak, hukumnya sama seperti wasiat.

والوصية للذمي منفذة فإنهم في عوننا ونصرتنا ويتعين علينا الذب عنهم فالوصية حمل على إعانتهم بطائفة من المال فإن المال أهون من تعريض النفوس للهلاك بسبب الذب عنهم

Wasiat kepada dzimmi tetap dilaksanakan, karena mereka membantu dan menolong kita, serta kita wajib melindungi mereka. Maka wasiat itu dianggap sebagai bentuk bantuan kepada mereka dengan sejumlah harta, sebab harta itu lebih ringan nilainya dibandingkan mempertaruhkan jiwa demi melindungi mereka.

ومما تعرض له صاحب التلخيص والشارحون القولُ في الوصية للعبد والوصية للدابة فلتقع البداية بالوصية للعبد: أجمع الأصحاب على أن الوصية للعبد صحيحة ثم بان لنا من حقيقة ترتّبهم أن الوصية تقع للعبد في نفسه ولكن إن كان من أهل الملك حالة القبول وقعت الوصية له وإن لم يكن من أهل الملكِ حالة القبول وقعت الوصية لمالكه

Di antara hal yang dibahas oleh penulis kitab at-Talkhīṣ dan para pensyarahnya adalah pembahasan tentang wasiat kepada budak dan wasiat kepada hewan, maka pembahasan dimulai dengan wasiat kepada budak: Para ulama sepakat bahwa wasiat kepada budak adalah sah. Kemudian, dari penjelasan mereka, diketahui bahwa wasiat itu diberikan kepada budak itu sendiri. Namun, jika budak tersebut termasuk orang yang berhak memiliki (harta) pada saat menerima wasiat, maka wasiat itu menjadi miliknya. Jika ia bukan termasuk orang yang berhak memiliki pada saat menerima wasiat, maka wasiat itu menjadi milik tuannya.

وبيان ذلك أنه إذا أوصى لعبدِ إنسانٍ بمالٍ ثم عتق ذلك العبد في حياة الموصي ثم مات الموصي فإذا قبل هذا المعتَقُ الوصيةَ صح قبوله ووقع الملك في الموصى به له ولو بقي مملوكاً حتى قَبِل الوصية بعد موت الموصي فالملك في الموصى به يقع لمالكه

Penjelasannya adalah bahwa jika seseorang berwasiat memberikan harta kepada seorang budak milik orang lain, lalu budak tersebut dimerdekakan saat pewasiat masih hidup, kemudian pewasiat meninggal dunia, maka jika budak yang telah merdeka itu menerima wasiat tersebut, penerimaannya sah dan kepemilikan atas harta yang diwasiatkan menjadi miliknya. Namun, jika ia tetap berstatus sebagai budak hingga menerima wasiat setelah pewasiat meninggal, maka kepemilikan atas harta yang diwasiatkan jatuh kepada tuannya.

ولو مات الموصي والعبد بعدُ مملوك لوارث الموصي فأعتق الوارث العبدَ قبل قبول الوصية قال الشيخ: هذه المسألة تخرّج على القولين في أن الملك في الموصى به متى يحصل للموصى له فإن فرعنا على قول الوقف وقلنا: إذا جرى القبول استند الملك تبيّناً إلى موت الموصي فعلى هذا لا تصح الوصية فإنها لو صحت لاستند الملك إلى حالة الموت وهو إذْ ذاك رقيقٌ للوارث فلو قدّرنا فيه ملكاً لكان للسيد

Jika pewasiat meninggal dunia dan budak tersebut masih menjadi milik ahli waris pewasiat, lalu ahli waris memerdekakan budak itu sebelum wasiat diterima, Syekh berkata: Masalah ini dikembalikan kepada dua pendapat tentang kapan kepemilikan atas barang yang diwasiatkan terjadi pada penerima wasiat. Jika kita mengikuti pendapat bahwa kepemilikan itu tertahan (waqf) dan mengatakan bahwa jika penerimaan wasiat telah terjadi, maka kepemilikan itu berlaku surut sejak kematian pewasiat, maka menurut pendapat ini wasiat tersebut tidak sah. Sebab, jika wasiat itu sah, kepemilikan akan berlaku sejak saat kematian, padahal pada saat itu budak tersebut adalah milik ahli waris. Jika kita menganggap ada kepemilikan pada saat itu, maka kepemilikan itu adalah milik tuan budak.

وإن قلنا: يحصل الملك بالقبول فيقع الملك للعتيق دون الوارث

Dan jika kita mengatakan: kepemilikan terjadi dengan adanya kabul, maka kepemilikan itu menjadi milik orang yang dimerdekakan, bukan milik ahli waris.

هكذا قال رضي الله عنه

Demikianlah yang beliau katakan, semoga Allah meridhainya.

وقال في هذه المسألة: لو باع الوارث العبدَ قبل قبول الوصية ثم إنه قبلها في ملك المشتري فإن فرّعنا على قول الوقف والإسناد فلا يصح القبول إذ لو صح لا نصرف الملك إلى الوارث لأنه كان مالك رقِّه حالة موت الموصي

Dan ia berkata dalam masalah ini: Jika ahli waris menjual budak sebelum menerima wasiat, kemudian ia menerima wasiat itu ketika budak tersebut sudah menjadi milik pembeli, maka jika kita mengikuti pendapat waqf dan isnad, penerimaan wasiat itu tidak sah. Sebab, jika sah, maka kepemilikan akan kembali kepada ahli waris, karena ia adalah pemilik budak tersebut pada saat wafatnya orang yang berwasiat.

وإن قلنا يحصل الملك بالقبول فيصح القبول ويقع الملك للسيد الثاني

Dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan terjadi dengan adanya kabul, maka kabul tersebut sah dan kepemilikan berpindah kepada tuan yang kedua.

فانتظم ممّا ذكره الأصحاب أن الوصية للعبد تتعلق بالعبد على ترقّب ما يكون فإن عتَقَ قبل الموت وقَبِل الوصيةَ بعد موت الموصي انصرفت الوصية إليه

Maka, dari apa yang disebutkan oleh para ulama, dapat disimpulkan bahwa wasiat kepada seorang budak bergantung pada keadaan budak tersebut di masa mendatang. Jika budak itu dimerdekakan sebelum wafatnya pewasiat dan ia menerima wasiat tersebut setelah wafatnya pewasiat, maka wasiat itu menjadi haknya.

ثم الأصحاب مع قطعهم بهذا أطلقوا القول بأن من لا تصح الوصية له لا تصح الوصية لعبده  فأرادوا إذا بقي رقيقاً إلى القبول وهذا قد يتطرّق إليه من طريق المعنى احتمال لأن الموصى له هو العبد وليس وارثاً  ولكن لم يصر إلى هذا أحدٌ من الأصحاب أعرفه

Kemudian para ulama mazhab, meskipun mereka telah sepakat mengenai hal ini, mereka juga mengemukakan pendapat secara umum bahwa siapa saja yang tidak sah menerima wasiat, maka tidak sah pula wasiat untuk budaknya. Maksud mereka adalah jika budak tersebut tetap dalam status budak hingga saat penerimaan wasiat. Namun, dari sisi makna, hal ini masih mengandung kemungkinan, karena yang menerima wasiat adalah budak itu sendiri dan ia bukanlah ahli waris. Akan tetapi, tidak ada seorang pun dari para ulama mazhab yang aku ketahui yang berpegang pada pendapat ini.

ثم على قول القبول يحصل الملك لمن يكون مالك رقّ القابل وقت القبول وهذا يدل على أن المالك ليس معنيّاً بالملك وإنما متعلق الوصية العبدُ ثم إن اتفق كونه حراً على التفصيل المقدم فالملك له وإن تبدّل الرق والملك فالملك لمالكه ولسنا نذكر هذا التخريج وجهاً  فإن المذهب ما نقلناه وما ذكرناه نبنيه على طريق المعنى

Kemudian, menurut pendapat bahwa kepemilikan terjadi bagi siapa saja yang menjadi pemilik budak penerima wasiat pada saat penerimaan, hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan pemilik bukanlah orang yang memiliki hak milik, melainkan yang terkait dengan wasiat adalah budak tersebut. Lalu, jika ternyata budak itu merdeka sesuai dengan rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kepemilikan menjadi miliknya. Namun jika status perbudakan dan kepemilikan berubah, maka kepemilikan menjadi milik tuannya. Kami tidak menyebutkan penjelasan ini sebagai salah satu pendapat, karena mazhab yang kami riwayatkan adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan apa yang kami uraikan ini kami bangun di atas pendekatan makna.

ومما يخطر للفقيه في ذلك التعرضُ لاشتراط إذن المالك وقد فرعناه فيما تقدم ووصلنا به القول في أن السيد لو قبل وردّ العبدُ فكيف يكون أمره وإن كنا ذكرناه لم يضر أن نرمز إلى إعادته فإن لم نشترط إذنَ السيد في القبول فلا أثر لردّه وقبوله وإن شرطنا إذن السيد في القبول ففي صحة قبول السيد في أوان القبول مع إعراض العبد أو مع ردّه وجهان

Hal yang juga terlintas bagi seorang faqih dalam hal ini adalah pembahasan tentang syarat izin pemilik, yang telah kami uraikan sebelumnya. Kami juga telah membahas mengenai keadaan jika tuan menerima (akad) lalu budak menolaknya, bagaimana statusnya. Meskipun hal ini telah kami sebutkan, tidak mengapa jika kami isyaratkan kembali. Jika kita tidak mensyaratkan izin tuan dalam penerimaan (akad), maka penolakan dan penerimaan budak tidak berpengaruh. Namun, jika kita mensyaratkan izin tuan dalam penerimaan, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan penerimaan tuan pada saat penerimaan, baik ketika budak berpaling atau menolaknya.

ومن تأمل هذه الأصول لم يخف عليه من طرق الاحتمال شيء مع التزام المنقولات عن الأئمة

Barang siapa yang memperhatikan prinsip-prinsip ini, niscaya tidak akan ada satu pun jalan kemungkinan yang tersembunyi darinya, selama tetap berpegang pada riwayat-riwayat yang dinukilkan dari para imam.

ومما يتعلق بهذا الفصل أنه إذا أوصى لدابة زيد بشيء فأول ما فيه أنا نستفصل الموصي في حياته فنقول: ما الذي أردتَ بذلك  فإن قال: أردت بذلك تمليكَ الدابة فتبطل وفاقاً فإنه قصد بما أطلقه محالاً

Terkait dengan bab ini, apabila seseorang berwasiat untuk hewan milik Zaid dengan sesuatu, maka hal pertama yang dilakukan adalah menanyakan maksud pewasiat semasa hidupnya. Kita bertanya: Apa yang Anda maksudkan dengan hal itu? Jika ia menjawab: Saya bermaksud memberikan kepemilikan kepada hewan tersebut, maka wasiat itu batal menurut kesepakatan, karena maksud yang diungkapkannya adalah sesuatu yang mustahil.

وإن قال: قصدت بذلك صرفَ الموصى به إلى حاجة الدابة في علفها وسقيها قال الأصحاب: صحت الوصية على تفصيلٍ نذكره

Dan jika ia berkata: “Aku bermaksud dengan itu untuk mengalokasikan barang yang diwasiatkan kepada kebutuhan hewan tunggangan dalam hal pakan dan minumnya,” para ulama berkata: Wasiat tersebut sah dengan rincian yang akan kami sebutkan.

وإن قال: لم أنوِ شيئاً أصلاً قال الشيخ: تبطل الوصية فإن ظاهرها تمليك الدابة فلم تصح

Jika ia berkata: “Aku sama sekali tidak meniatkan apa pun,” Syekh berkata: Wasiatnya batal, karena zahirnya adalah pemilikan hewan tunggangan, maka wasiat tersebut tidak sah.

فإذا نوى الصرفَ إلى العلف كما قلناه أو صرح به ومات الموصي قال صاحب التلخيص: إن قبل مالك الدابة الوصيةَ ثبتت وإن ردّها بطلت ورُدَّت  فإن هذه الوصية تتعلق به من حيث إنها تتعلق بمصلحة ملكه ويستحيل أن نلزمه هذه الوصية حتى نتصرف في دابته بالعلف والسقي

Jika pewasiat berniat mengalihkan (harta) untuk pakan seperti yang telah kami sebutkan, atau ia menyatakannya secara jelas, lalu pewasiat meninggal dunia, maka menurut penulis kitab at-Talkhīṣ: Jika pemilik hewan menerima wasiat tersebut, maka wasiat itu berlaku, dan jika ia menolaknya, maka wasiat itu batal dan dikembalikan. Sebab, wasiat ini berkaitan dengannya karena berhubungan dengan kemaslahatan miliknya, dan tidak mungkin kami mewajibkan wasiat ini kepadanya sehingga kami memperlakukan hewannya dengan memberi pakan dan minum.

قال الشيخ: رأيت للشيخ أبي زيد أنه قال: تثبت الوصية وإن لم يقبلها مالك الدابة فإن الموصي قصد بذلك علفَ الدابة وذلك حسبةٌ وفي كل ذات كبدٍ حرّى أجر

Syekh berkata: Aku melihat bahwa Syekh Abu Zaid mengatakan: Wasiat tetap sah meskipun pemilik hewan tidak menerimanya, karena orang yang berwasiat itu bermaksud memberikan pakan kepada hewan tersebut, dan itu termasuk amal kebajikan. Pada setiap makhluk yang memiliki hati (makhluk hidup), terdapat pahala.

قال الشيخ: وهذا ضعيفٌ جداً  ويلزم من مساقه تجويز الوقف والتحبيس على عبيد الإنسان ودوابّه

Syekh berkata: Ini sangat lemah, dan konsekuensi dari pendapat tersebut adalah membolehkan wakaf dan hibah untuk budak-budak seseorang dan hewan-hewan tunggangannya.

ثم قال صاحب التلخيص: فإذا قبل صاحب الدابة الوصية فإن كان للموصي وصيٌّ فلا يسلِّم الوصيُّ ذلك الموصى به إلى صاحب الدابة ولكن يخرجه بنفسه إلى علف الدابة على حسب الحاجة

Kemudian penulis at-Talkhīṣ berkata: Jika pemilik hewan menerima wasiat tersebut, maka apabila pewasiat memiliki seorang wasi, maka wasi tersebut tidak menyerahkan barang yang diwasiatkan itu kepada pemilik hewan, melainkan ia sendiri yang mengeluarkannya untuk memberi makan hewan itu sesuai kebutuhan.

قال الشيخ القفال: عندي أنه إذا قبل الوصية قبض الموصى به ولم يتركه في يد الوصي  ثم قال: عندي أنه لا يتعين عليه صرف ما قبضه بعينه إلى الدابة ولكنه لو أراد صَرْف غيره إلى علفها وتملّكَ ما قبضه فله ذلك وحقيقة هذا الاختلاف ترجع إلى أنه هل يملك صاحب الدابة عينَ ما أوصى به أَوْ لا فالقائل الأول لا يثبت فيه ملكاً حقيقياً ولكنه يصرفه إلى الدابة والقفال يثبت الموصى به ملكاً لمالك الدابة ومن هذا المنتهى ينعكس كلام على الوصية للعبد فإن الملك الحاصل في الموصى به للعبد تَسْميةً وإطلاقاً لسيده

Syekh al-Qaffal berkata: Menurut pendapat saya, jika penerima wasiat telah menerima barang yang diwasiatkan dan tidak meninggalkannya di tangan wasi, maka menurut saya, ia tidak wajib menggunakan barang yang telah diterimanya itu secara spesifik untuk keperluan hewan (yang dimaksud dalam wasiat). Namun, jika ia ingin menggunakan barang lain untuk memberi makan hewan tersebut dan memiliki barang yang telah diterimanya, maka itu diperbolehkan baginya. Hakikat perbedaan pendapat ini kembali kepada pertanyaan: apakah pemilik hewan benar-benar memiliki barang yang diwasiatkan itu atau tidak? Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak ada kepemilikan hakiki atas barang tersebut, tetapi barang itu digunakan untuk keperluan hewan. Sedangkan al-Qaffal menetapkan bahwa barang yang diwasiatkan itu menjadi milik pemilik hewan. Dari titik inilah, pembahasan tentang wasiat kepada budak menjadi berkebalikan, karena kepemilikan yang terjadi atas barang yang diwasiatkan kepada budak, baik secara penamaan maupun secara mutlak, kembali kepada tuannya.

ثم لم يختلف أئمتنا في أنه لا يجب على السيد صرفُ الموصى به إلى مصلحة العبد كما لم يختلفوا في أن الملك فيه يحصل للمولى

Kemudian para imam kami tidak berbeda pendapat bahwa tuan tidak wajib membelanjakan wasiat tersebut untuk kepentingan budak, sebagaimana mereka juga tidak berbeda pendapat bahwa kepemilikan atas wasiat itu menjadi milik sang tuan.

وفي تعليل ذلك والفرق بين تعيين العبد في الوصية وتعيين الدابة سرٌّ لطيف وهو أنّا من وجه نقدّر العبد موصى له حتى كان الموصى به واقعٌ له  ثم لا حرج على الموصى له في الموصى به غير أنه ليس من أهل الملك فيثبت الملك لسيده ثم لا حرج على السيد فإنه بمثابة العبد حتى كأنه نابَ عنه في الملك وخرج العبد من الوسط و لا يتصور فرض هذا من الدابة ولا بد من تعليق الوصية بالدابة إذا علقت بها فإذا لم تتعلق بها لتقبل أو لتردّ انصراف الوصية إليها عند حالة تطرأ  ولا بد من ربطٍ وفاءً بالوصية فرأى الأصحاب صرْفَ الموصى به إلى مصلحتها ثم لما كانت مملوكة لم يتأت التصرف فيها دون المالك فَشُرِط قبول المالك على شرط الوفاء بتخصيص الموصى به بالدابة

Dalam penjelasan mengenai hal ini dan perbedaan antara penetapan budak dalam wasiat dan penetapan hewan tunggangan terdapat rahasia yang halus, yaitu bahwa dari satu sisi kita menganggap budak sebagai penerima wasiat, seakan-akan harta yang diwasiatkan itu jatuh kepadanya. Namun, tidak ada keberatan bagi penerima wasiat atas harta yang diwasiatkan, hanya saja ia bukanlah orang yang berhak memiliki, sehingga kepemilikan tetap bagi tuannya. Kemudian, tidak ada keberatan bagi tuan, karena ia dalam posisi seperti budak, seakan-akan ia mewakilinya dalam kepemilikan, dan budak keluar dari perantara. Hal ini tidak dapat dibayangkan pada hewan tunggangan, sehingga wasiat harus dikaitkan dengan hewan tersebut jika memang dikaitkan dengannya. Jika tidak dikaitkan, baik untuk diterima maupun ditolak, maka wasiat akan kembali kepadanya ketika ada keadaan baru yang muncul. Maka, harus ada keterikatan sebagai bentuk pemenuhan terhadap wasiat. Para ulama berpendapat agar harta yang diwasiatkan diarahkan untuk kemaslahatan hewan tersebut. Namun, karena hewan itu adalah milik seseorang, maka tidak mungkin melakukan tindakan terhadapnya tanpa izin pemiliknya. Oleh karena itu, disyaratkan persetujuan pemilik dengan syarat pemenuhan wasiat dengan mengkhususkan harta wasiat untuk hewan tersebut.

والقفال رضي الله عنه جعل الوصية للدابة وصيةً لربّها وهذا وإن كان يخلِّص مما ذكرناه فإنه يورّط في غائلة عائصة لأن اتباع الوصية لا بد منها فإن أضيفت إضافة صحيحة وجب الوفاء بها وإلا وجب إفسادها

Al-Qaffal rahimahullah menjadikan wasiat kepada hewan sebagai wasiat kepada pemiliknya. Meskipun hal ini dapat menghindarkan dari permasalahan yang telah kami sebutkan, namun hal itu justru menjerumuskan ke dalam kesulitan yang rumit, karena pelaksanaan wasiat itu harus dilakukan. Jika wasiat tersebut dinisbatkan dengan nisbat yang benar, maka wajib menunaikannya, dan jika tidak, maka wajib membatalkannya.

ثم ذكر القفال في تحقيق مذهبه مسألةً مستشهداً بها  وهي أنه لو مات رجل فدفع إنسان إلى وارثه ثوباً ليكفنه به فإن له أن يستأثر به ويكفنه في ثوب من عنده وهذا خرجه على المذهب الصحيح في وضع الكفن فإنه ملك الوارث ولكنه مستغرَقٌ بحاجة الميت هذا أصح الوجوه فكأنه رضي الله عنه رأى بذل الثوب من الباذل إحلالاً منه الثوبَ محل الكفن

Kemudian al-Qaffal menyebutkan dalam penjelasan mazhabnya suatu permasalahan sebagai contoh, yaitu apabila seseorang meninggal dunia lalu ada seseorang yang memberikan kain kepada ahli warisnya untuk digunakan sebagai kain kafan, maka ahli waris berhak untuk mengambil kain itu dan mengafani mayit dengan kain lain miliknya sendiri. Hal ini didasarkan pada mazhab yang benar mengenai status kain kafan, yaitu bahwa kepemilikan kain kafan berada pada ahli waris, namun kain tersebut sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan mayit. Inilah pendapat yang paling kuat. Seakan-akan beliau—semoga Allah meridhainya—menganggap pemberian kain dari si pemberi sebagai penempatan kain itu pada posisi kain kafan.

قال الشيخ: وهذا الذي ذكره في الثوب أبعد منه في الدابة وهو كما قال فإن باذل الثوب لم يملّكه أحداً وإنما بذله ليدرج فيه الميت فإما أن يرتسم رسمه وإما أن يرد عليه

Sang Syekh berkata: Apa yang disebutkannya tentang kain lebih jauh lagi berlaku pada hewan tunggangan, dan memang demikianlah sebagaimana yang ia katakan. Sebab, orang yang memberikan kain tidak menjadikannya milik siapa pun, melainkan ia memberikannya agar kain itu digunakan untuk membungkus jenazah; maka bisa jadi kain itu akan terpakai dan membekas bentuk jenazah, atau kain itu akan dikembalikan kepadanya.

ثم قال الشيخ: إن حكمنا بما ذكره القفال فربُّ الدابة يملك الموصى به ويقبض ولا يعترض

Kemudian Syaikh berkata: Jika kita memutuskan sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qaffāl, maka pemilik hewan berhak atas barang yang diwasiatkan dan dapat mengambilnya tanpa ada keberatan.

وإن قلنا: إنه لا يملكها فإن كان ثمَّ وصيٌّ فهو ينفقه على الدابة وإن لم يكن فقد تردد فيه كلام الأصحاب فالظاهر من كلامهم أنه إذا لم يكن وصي صرف المال إلى مالك الدابة ثم ليس له إبدالُه بل ينفقه على حسب الإمكان

Dan jika kita mengatakan bahwa ia tidak memilikinya, maka jika ada seorang wasi, ia membelanjakan harta itu untuk hewan tersebut. Namun jika tidak ada, para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Pendapat yang tampak dari ucapan mereka adalah bahwa jika tidak ada wasi, maka harta tersebut diserahkan kepada pemilik hewan, dan pemilik tidak boleh menggantinya, melainkan membelanjakannya sesuai kemampuan.

وقال قائلون: ينصب القاضي في ذلك قيّماً حتى يقوم بتنفيذ الوصية

Dan sebagian orang berkata: Hakim mengangkat seorang pengelola dalam hal itu agar melaksanakan wasiat tersebut.

ومن فقه هذه المسألة أن الموصي إذا وصى للدابة ومات قبل البيان نرجع إلى الورثة فإن قالوا: نوى الصرفَ إلى العلف صحت وإن قالوا: نوى تمليك الدابة بطلت ولمالك الدابة تحليفهم وإن قالوا: لا نعلم فيحلفون على نفي العلم وتبطل الوصية وتصير كما لو قال الموصي: لم يكن لي نيّة

Di antara pemahaman fiqh dalam masalah ini adalah bahwa jika seseorang berwasiat untuk seekor hewan dan ia meninggal sebelum menjelaskan maksudnya, maka kita kembali kepada para ahli waris. Jika mereka berkata: ia bermaksud untuk digunakan sebagai pakan, maka wasiat itu sah. Jika mereka berkata: ia bermaksud memberikan kepemilikan hewan tersebut, maka wasiat itu batal, dan pemilik hewan berhak meminta mereka bersumpah. Jika mereka berkata: kami tidak tahu, maka mereka bersumpah atas ketidaktahuan mereka, dan wasiat itu batal serta menjadi seperti seolah-olah pewasiat berkata: aku tidak memiliki niat.

ثم ألحق الشيخ أبو علي بآخرِ هذا الكلام مسألةً وهي أن رجلاً لو وقف شيئاً على مسجد واقتصر عليه وقال: ينبغي أن نفصل القول في ذلك على الواقف فإن قال: نويت تمليك المسجد منافع الوقف فالوقف باطل وكذلك إن قال: لم تكن لي نية بل أطلقت الوقف ولو قال: قصدت صرف رَيْع الوقف إلى مصالح المساجد فالوقف يصح حينئذ وأجرى إضافةَ الوقف إلى المسجد مجرى إضافة الوصية إلى الدابة

Kemudian Syaikh Abu Ali menambahkan di akhir pembahasan ini sebuah permasalahan, yaitu jika seseorang mewakafkan sesuatu untuk masjid dan membatasinya hanya untuk masjid tersebut, beliau berkata: Kita perlu merinci pendapat dalam hal ini berdasarkan niat pewakaf. Jika ia berkata: “Saya berniat memberikan kepemilikan manfaat wakaf kepada masjid,” maka wakafnya batal. Demikian pula jika ia berkata: “Saya tidak memiliki niat tertentu, saya hanya melepaskan wakaf begitu saja.” Namun jika ia berkata: “Saya bermaksud menyalurkan hasil wakaf untuk kemaslahatan masjid-masjid,” maka wakafnya sah pada saat itu. Beliau menganggap penyandaran wakaf kepada masjid seperti penyandaran wasiat kepada hewan.

وهذا الذي ذكره فيه نظر فإنه شبه الوقف على المسجد بالوصية للدابة وبينهما فرق واضح فإن الوصية للدابة نادرةٌ شاذة إذا ذُكرت لأهل العرف استنكروها  فتعينت مراجعة صاحب اللفظ وأما الوقف على المسجد فقد عم استعماله في إرادة مصالح المسجد عموماً ظاهراً فينبغي أن يحمل مطلقُه على ما يقصد منه في عموم الاستعمال والله أعلم

Apa yang disebutkan tersebut masih perlu ditinjau kembali, karena ia menyamakan wakaf untuk masjid dengan wasiat untuk hewan tunggangan, padahal antara keduanya terdapat perbedaan yang jelas. Wasiat untuk hewan tunggangan adalah hal yang langka dan tidak lazim; jika disebutkan kepada orang-orang yang memahami kebiasaan, mereka akan mengingkarinya, sehingga perlu merujuk kembali kepada maksud orang yang mengucapkannya. Adapun wakaf untuk masjid, telah umum digunakan dalam pengertian untuk kemaslahatan masjid secara umum dan jelas, maka seharusnya lafaz yang mutlak diarahkan pada maksud yang umum digunakan tersebut. Allah lebih mengetahui.

هذا منتهى القول في الوصية للعبد والدابة

Inilah akhir pembahasan mengenai wasiat kepada budak dan hewan.

ومما ذكره صاحب التلخيص في أطراف الكلام في ذكر من تصح الوصية له ومن لا تصح الوصية له قال: إذا جوزنا الوصية للقاتل ومنعنا الوصية للوارث فلو أوصى لوارثه بشيء ثم إن الوارث قتل موروثه فحكم التفريع على منع الوصية للوارث وتصحيحها للقاتل أن تصح الوصية وهذا ظاهرٌ من قِبَل أن القاتل خرج عن كونه وارثاً بالقتل

Di antara yang disebutkan oleh penulis kitab at-Talkhīṣ dalam pembahasan tentang siapa saja yang sah menerima wasiat dan siapa yang tidak sah menerima wasiat, ia berkata: Jika kita membolehkan wasiat untuk pembunuh dan melarang wasiat untuk ahli waris, maka apabila seseorang berwasiat kepada ahli warisnya dengan sesuatu, kemudian ahli waris tersebut membunuh orang yang mewariskannya, maka berdasarkan kaidah larangan wasiat untuk ahli waris dan membolehkannya untuk pembunuh, wasiat tersebut menjadi sah. Hal ini jelas, karena pembunuh telah keluar dari status sebagai ahli waris akibat perbuatannya membunuh.

وإنما أوردت هذه المسألة على ظهورها لاقتضاء الكلام إلى حالةٍ يصير القتل فيها سبباً لتصحيح الوصية

Saya membahas masalah ini secara jelas karena pembahasan mengharuskan adanya suatu keadaan di mana pembunuhan menjadi sebab sahnya wasiat.

ثم ممّا أجراه أن عبداً لو جرح رجلاً فأوصى له المجروح فالوصية تصح وإن منعنا الوصيةَ للقاتل فإن هذه الوصية ترجع فائدتها إلى السيد فليتأمل الناظر التفات هذا الفصل ومصير الوصية للعبد تارةً إلى أن العبد هو الموصى له وتارةً إلى أن الموصى له مولاه والقتل الحاصل منه أن ما يتعلق بنسبة الموصى له إلى الاستعجال  فالعبد فيه لا يكون موصىً له فإنه لا يتحصل على طائل فينسب إلى استعجاله

Kemudian, di antara hal yang dijelaskan adalah bahwa jika seorang budak melukai seseorang lalu orang yang terluka tersebut berwasiat untuk budak itu, maka wasiat tersebut sah, meskipun kita melarang wasiat kepada pembunuh. Sebab, manfaat dari wasiat ini kembali kepada tuan budak tersebut. Maka hendaknya orang yang menelaah memperhatikan perbedaan bab ini, di mana kadang wasiat kepada budak berarti budak itu sendiri yang menjadi penerima wasiat, dan kadang berarti penerima wasiat adalah tuannya. Adapun pembunuhan yang terjadi dari budak itu, terkait dengan hubungan penerima wasiat dengan sikap tergesa-gesa, maka budak dalam hal ini tidak dianggap sebagai penerima wasiat, karena ia tidak memperoleh manfaat apa pun sehingga tidak bisa dikaitkan dengan sikap tergesa-gesanya.

وإذا كان العبد لوارث الموصي فنقدّر كأن الوصية للوارث فإن الموصي ممنوع عن تفضيل الورثة فلو صححنا الوصية لعبد الوارث كان هذا مسلكاً اختياريّاً في تفضيل الورثة وما يرجع إلى القبول وحكمه فالنظر فيه إلى العبد وإنما يمتحن حذق المهرة في الفقه إذا اشتملت المسألة على معانٍ متعارضة تكاد أن تتناقض حيث صححنا الوصية للعبد القاتل ولم نصححها لعبد القاتل وأفسدناها لعبد الوارث نظراً منا في ذلك كله إلى من إليه تصير الفائدة فذلك فيه إذا بقي رقيقاً لذلك الشخص فلو عتَق في حياة الموصي فقد تبين رجوع الفائدة إليه وهو القابل أيضاً نقدره موصى له قطعاً وانظر هل فيه ما يمنع صحة الوصية من قتل أو غيره واجْرِ فيه على القياس مستعيناً بالله عز وجل

Jika seorang budak adalah milik ahli waris pewasiat, maka kita menganggap seolah-olah wasiat itu ditujukan kepada ahli waris, karena pewasiat dilarang untuk mengutamakan ahli waris. Jika kita membenarkan wasiat kepada budak milik ahli waris, maka ini merupakan cara tidak langsung untuk mengutamakan ahli waris. Adapun yang berkaitan dengan penerimaan dan hukumnya, maka hal itu kembali kepada budak tersebut. Keahlian para pakar fiqh diuji ketika suatu permasalahan mengandung makna-makna yang saling bertentangan dan hampir bertolak belakang, seperti ketika kita membenarkan wasiat kepada budak pembunuh, namun tidak membenarkannya kepada budak milik pembunuh, dan membatalkannya kepada budak milik ahli waris, karena dalam semua itu kita mempertimbangkan kepada siapa manfaat wasiat itu akan kembali. Hal itu berlaku jika budak tersebut tetap menjadi milik orang tersebut. Namun, jika budak itu merdeka pada masa hidup pewasiat, maka jelaslah bahwa manfaat wasiat itu kembali kepadanya, dan ia juga yang menerima wasiat tersebut. Dalam hal ini, kita pastikan bahwa ia adalah penerima wasiat secara pasti. Selanjutnya, perhatikanlah apakah ada hal yang menghalangi keabsahan wasiat, seperti pembunuhan atau lainnya, dan terapkanlah qiyās dalam hal ini dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

و مما أجراه الشارحون الوصية للمرتد قالوا: هي بمثابة الوصية للحربي فإنه لا عاصم للمرتد من سيف الإسلام كما لا عاصم للحربي وقد ذكرنا أن الوصية للحربي جائزة في ظاهر القياس وقد حكى صاحب التلخيص منع الوصية للحربي من نص الشافعي ووافقه في النقل من يوثق بنقله

Di antara hal yang dijelaskan oleh para pensyarah adalah wasiat kepada murtad. Mereka mengatakan: wasiat kepada murtad itu sama seperti wasiat kepada orang harbi, karena tidak ada pelindung bagi murtad dari pedang Islam sebagaimana tidak ada pelindung bagi orang harbi. Kami telah sebutkan bahwa wasiat kepada orang harbi diperbolehkan menurut zhahir qiyās. Namun, penulis kitab at-Talkhīṣ meriwayatkan larangan wasiat kepada orang harbi berdasarkan nash dari Imam Syafi‘i, dan pendapat ini juga dinukil oleh orang yang terpercaya dalam periwayatannya.

والذي صار إليه فقهاء الأصحاب تصحيحُ الوصية للحربي بكل ما يجوز بيعه منه فأما الوصية للمرتد فأولى بالصحة لأنه في عصام الإسلام وقتلنا إياه ليس حدّاً مقاماً عليه وإنما نجدّد له الإسلام بالبرهان الظاهر فإن عاند فبالسيف الباتر ومذهب الشافعي أنه يحكم له وعليه بما يحكم به على المسلمين ويجوز أن يقال: إذا حكمنا بأن الردّة تزيل ملكه فالوصية ضعيفة حريِّة بالفساد

Pendapat yang dipegang oleh para fuqaha dari kalangan mazhab adalah membenarkan wasiat kepada orang harbi (non-Muslim yang memusuhi Islam) dengan segala sesuatu yang boleh dijual kepadanya. Adapun wasiat kepada orang murtad, maka lebih utama untuk dianggap sah, karena ia masih berada dalam perlindungan Islam, dan pembunuhan terhadapnya bukanlah hukuman yang langsung dijatuhkan kepadanya, melainkan kita memperbarui ajakan kepada Islam dengan bukti yang nyata. Jika ia tetap membangkang, barulah dengan pedang yang memutuskan. Menurut mazhab Syafi‘i, ia diperlakukan dalam hal hak dan kewajiban sebagaimana diperlakukan terhadap kaum Muslimin. Namun, boleh juga dikatakan: jika kita memutuskan bahwa riddah (kemurtadan) menghilangkan kepemilikannya, maka wasiat tersebut menjadi lemah dan layak untuk dianggap batal.

وأحكام المرتدين ستأتي مستقصاة في آخر كتاب قتال أهل البغي إن شاء الله عز وجل

Hukum-hukum tentang orang-orang murtad akan dibahas secara rinci pada akhir kitab Qitāl Ahl al-Baghī, insya Allah ‘azza wa jalla.

فصل

Bab

في بيان من تصح منه الوصية

Penjelasan tentang siapa yang sah membuat wasiat

البالغ العاقل الحر المسلم تصح وصيته ووصية الذمي نافذة إذا وافقت شرط الشرع

Seorang yang baligh, berakal, merdeka, dan muslim sah wasiatnya, dan wasiat seorang dzimmi berlaku jika sesuai dengan syarat-syarat syariat.

وهي على أقسام منها أن يوصي لشخص وقد سبق التفصيل فيمن تصح الوصية له فالقول فيمن يوصي الذميُّ له كالقول فيمن يوصي المسلم له

Wasiat terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah wasiat kepada seseorang, dan telah dijelaskan secara rinci tentang siapa saja yang sah menerima wasiat. Adapun pembahasan mengenai orang yang menerima wasiat dari seorang dzimmi, maka hukumnya sama dengan pembahasan mengenai orang yang menerima wasiat dari seorang muslim.

ومن الأقسام أن يوصي بما يكون قربة عندنا وعندهم فإذا رفعت إلينا وصيته والثلث متسع أجزناها ونفذناها كالوصية بعمارة المسجد الأقصى

Di antara pembagian-pembagian wasiat adalah wasiat untuk sesuatu yang dianggap sebagai bentuk pendekatan diri (ibadah) menurut kami maupun menurut mereka. Maka apabila wasiat tersebut diajukan kepada kami dan sepertiga harta mencukupi, kami membolehkannya dan melaksanakannya, seperti wasiat untuk memperbaiki Masjid Al-Aqsha.

وألحق الشافعي بذلك عمارة قبور الأنبياء عليهم السلام وهذا حسن فإن قبورهم مشاهد قوم وعمارتها قُربة وكان شيخي يميل إلى ذلك في قبور مشائخ الإسلام وعلماء الدين بناءً على ما ذكرناه والضابط فيه أن كلَّ قبرٍ يزار تقرباً فعمارة نعشه لإدامة الزيارة قُربةٌ

Syafi‘i juga memasukkan dalam hal ini pemeliharaan kubur para nabi ‘alaihimussalām, dan ini adalah hal yang baik, karena kubur mereka menjadi tempat yang diziarahi oleh banyak orang dan pemeliharaannya merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah. Guru saya juga cenderung kepada pendapat ini dalam hal kubur para masyaikh Islam dan ulama agama, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan. Kaidahnya adalah setiap kubur yang diziarahi sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, maka pemeliharaan makamnya untuk menjaga keberlangsungan ziarah merupakan suatu bentuk pendekatan diri (qurbah).

وكذلك إذا أوصى الذمي للفقراء أو لجهة من جهات الخير ولو أوصى بما هو قربة عندنا وليس قربةً عندهم مثل أن يوصي بعمارة مساجدنا فالوصية نافذة على شرطها في محلها

Demikian pula, jika seorang dzimmi berwasiat kepada fakir miskin atau kepada salah satu bidang kebaikan, bahkan jika ia berwasiat dengan sesuatu yang dianggap sebagai bentuk taqarrub menurut kami namun tidak dianggap taqarrub menurut mereka, seperti berwasiat untuk pembangunan masjid-masjid kami, maka wasiat tersebut tetap berlaku sesuai syaratnya pada tempatnya.

ولو أوصى بما يكون قربةً عندهم معصيةً عندنا كعمارة الكنائس والبيع وبيت النيران فالوصية إذا رفعت إلينا أبطلناها

Jika seseorang berwasiat dengan sesuatu yang dianggap sebagai bentuk pendekatan diri kepada Tuhan menurut keyakinan mereka, namun merupakan kemaksiatan menurut kami, seperti membangun gereja, sinagoga, dan rumah api, maka jika wasiat tersebut diajukan kepada kami, kami membatalkannya.

هذا مذهب الشافعي رضي الله عنه وقال أبو حنيفة وأبو يوسف تجاز هذه الوصية وكذلك أجازوا الوصية بالخمر والخنزير من ذمي لذمي

Ini adalah mazhab asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu. Abu Hanifah dan Abu Yusuf berpendapat bahwa wasiat seperti ini dibolehkan, demikian pula mereka membolehkan wasiat berupa khamar dan babi dari seorang dzimmi kepada dzimmi lainnya.

ومما يتعلق بالفصل وصية الصبي المميز وفيها قولان للشافعي رضي الله عنه: أحدهما أن وصيته جائزة وكذلك تدبيره وهو مذهب طوائف من العلماء وقد عُزي هذا القول بتصحيحها إلى عمر بن الخطاب رضي الله عنه وروي أيضاً عن عثمان وابن عمر رضي الله عنهما

Terkait dengan bab ini adalah wasiat anak yang sudah mumayyiz, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat menurut Imam Syafi‘i ra.: salah satunya adalah bahwa wasiatnya sah, begitu pula tadbirnya, dan ini adalah mazhab sekelompok ulama. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Umar bin Khattab ra. yang membolehkannya, dan juga diriwayatkan dari Utsman dan Ibnu Umar ra.

ورمز الشافعي رضي الله عنه إلى طرفٍ من المعنى فقال: الوصية لا تنجِّز حجراً ولا تمنع تصرفاً فإذا كانت لا تفوّت مقصوداً مالياً فإن بقي فالمال عتيد وإن مات كانت الوصية ذُخراً

Imam Syafi‘i raḥimahullāh memberikan isyarat kepada sebagian makna dengan berkata: Wasiat tidak menetapkan larangan (hajr) dan tidak mencegah seseorang untuk berbuat (tasarruf). Maka jika wasiat itu tidak menghilangkan tujuan harta, jika orangnya masih hidup maka harta itu tetap ada, dan jika ia meninggal dunia maka wasiat itu menjadi simpanan (pahala) baginya.

والتعويل على الآثار أولى مع مصير الشافعي رضي الله عنه إلى أن الصبي لا عبارة له في العقود الواردة على الأموال

Mengandalkan atsar lebih utama, mengingat Imam Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berpendapat bahwa anak kecil tidak memiliki kapasitas hukum dalam akad-akad yang berkaitan dengan harta.

هذا أحد القولين

Ini adalah salah satu dari dua pendapat.

وقال الشافعي رضي الله عنه في موضع آخر: لا تجوز وصيته ولا تدبيره وهو مذهب ابن عباس واختيار المزني

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata di tempat lain: Tidak sah wasiatnya dan tidak sah tadbīr-nya, dan ini adalah mazhab Ibnu ‘Abbās serta pilihan al-Muzanī.

ثم قطع الأصحاب أقوالهم بتصحيح الوصية والتدبير من السفيه المبذر فإن عبارته صحيحة ولذلك كان من أهل الطلاق والإقرار بالجناية الموجبة للقصاص واستلحاق الولد ونفيه باللعان

Kemudian para ulama mazhab menegaskan pendapat mereka dengan menyatakan sahnya wasiat dan tadbir dari orang safih yang boros, karena ucapannya dianggap sah. Oleh karena itu, ia termasuk orang yang sah melakukan talak, pengakuan terhadap tindak pidana yang mewajibkan qishash, pengakuan anak, dan penafian anak melalui li‘an.

ولو أوصى مملوك أو مكاتب فالوصية لا يقع تصحيحها في الحال فلو ماتا على الرّق تبينّا فساد الوصية  وإن عتقا وتموّلا وماتا فقد اختلف أصحابنا في المسألة: فمن أصحابنا من قال: تصح الوصية نظراً إلى صحة العبارة ابتداء وإلى الحرية انتهاءً

Jika seorang budak atau mukatab berwasiat, maka wasiat tersebut tidak dapat dibenarkan pada saat itu juga. Jika keduanya meninggal dalam keadaan masih sebagai budak, maka jelaslah bahwa wasiat tersebut batal. Namun jika keduanya dimerdekakan, kemudian memiliki harta, lalu meninggal, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini: sebagian dari mereka berpendapat bahwa wasiat tersebut sah, dengan mempertimbangkan keabsahan lafaz wasiat pada awalnya dan status kemerdekaan pada akhirnya.

ومن أصحابنا من قال: لا تصح الوصية فإنها جرت والرق مستمر فإن أراد تصحيحها فليُنشئها بعد الحرية

Sebagian dari ulama kami berpendapat: wasiat tersebut tidak sah karena dilakukan saat status budak masih tetap. Jika ingin mensahkannya, maka hendaklah ia membuat wasiat itu setelah merdeka.

باب الوصية للقرابة

Bab Wasiat untuk Kerabat

قال: ولو قال: ثلثي لقرابتي أو لذوي رحمي أو لأرحامي إلى آخره

Dia berkata: Dan jika seseorang berkata, “Sepertiga hartaku untuk kerabatku” atau “untuk keluarga dekatku” atau “untuk para kerabatku” dan seterusnya.

هذه الألفاظ إذا استعمل الموصي واحدةً منها لم يختلف حكمها فقوله: أوصيت لقرابتي أو لذي رحمي أو لأرحامي عباراتٌ عن معبَّر واحد

Kata-kata ini, jika digunakan oleh orang yang berwasiat salah satunya, maka hukumnya tidak berbeda. Ucapannya: “Aku berwasiat untuk kerabatku,” atau “untuk dzī rahmiku,” atau “untuk arhamku,” semuanya merupakan ungkapan untuk makna yang sama.

والعلماء مضطربون في الوصية للقرابة ومذهب الشافعي رضي الله عنه أنه إذا قال: أوصيت لقرابتي أو لأقاربي بثلث مالي فإنا لا نفضِّل الأدنى والأقرب على البعيد إذا كان البعيد قريباً ولا فصْل بين المحرم وغير المحرم ولا فرق بين الغني والفقير والذكر والأنثى والموصى به مفضوضٌ عليهم بالسويّة

Para ulama berbeda pendapat mengenai wasiat untuk kerabat. Mazhab Syafi‘i, rahimahullah, berpendapat bahwa jika seseorang berkata: “Aku berwasiat untuk kerabatku” atau “untuk para kerabatku dengan sepertiga hartaku”, maka kita tidak mengutamakan yang lebih dekat dan lebih dekat lagi atas yang lebih jauh, selama yang jauh itu masih termasuk kerabat. Tidak ada perbedaan antara yang mahram dan yang bukan mahram, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, laki-laki dan perempuan, dan harta yang diwasiatkan dibagikan kepada mereka secara merata.

وتعليل ما ذكرناه بيّن ومقتضى اللفظ شاهدٌ عليه

Penjelasan atas apa yang telah kami sebutkan itu jelas, dan makna lafaznya menjadi saksi atasnya.

والذي يغمض في هذا الفصل من طريق الانتشار المحوج إلى الضبط أن المدلين بالأجداد العالية من بين الأعمام قد يكثرون وينتشرون انتشاراً عظيماً وللعلماء اضطرابٌ في طلب موقف ينتهون إليه ولا يتعدَّوْن فقال أبو يوسف : ننتهي إلى أعلى أبٍ له في الإسلام ولا نتعدى إلى آباء الشرك ونصرف الوصية إلى المنتسبين من ذلك الأب العالي فمن دونه

Hal yang samar dalam bab ini, yang disebabkan oleh banyaknya cabang keturunan sehingga memerlukan penjelasan, adalah bahwa orang-orang yang mengaku sebagai ahli waris melalui kakek-kakek yang tinggi derajatnya di antara para paman bisa sangat banyak dan menyebar luas. Para ulama pun mengalami kebingungan dalam mencari batasan yang harus dijadikan pegangan dan tidak boleh dilampaui. Abu Yusuf berkata: Kita berhenti pada ayah tertinggi yang memeluk Islam dan tidak melampaui ke ayah-ayah yang masih dalam kekafiran, lalu kita salurkan wasiat kepada para keturunan yang berasal dari ayah tertinggi itu dan yang di bawahnya.

ونحن لا نصير إلى هذا فإنه خارج عن الضبط وإذا لم نرتضِ هذا فأين الموقف مع عموم لفظ القرابة المعتمدُ في هذا مأخوذ من كلام الشافعي رضي الله عنه ولم يقصر الشيخُ أبو بكر في التعبير عن مراد الشافعي رضي الله عنه: الوصيةُ تصرف إلى البطن الأدنى الذي ينتمي إليه ويعرف به دون الأباعد واستشهد فقال: إذا كانت الوصية للقرابة والرجل من بني شافع فالوصية مصروفة إلى بني شافع دون سائر بني المطَّلب أو سائر بني عبد مناف أو سائر قريش فإن الشافعي وإن كان مطّلبياً مَنَافياً قُرشياً فإنما يشهر بشافع

Kami tidak mengikuti pendapat ini karena hal itu di luar batasan yang jelas. Jika kita tidak menerima pendapat ini, lalu di mana posisi kita terkait keumuman lafaz “kerabat”? Yang dijadikan pegangan dalam hal ini diambil dari perkataan Imam Syafi‘i ra., dan Syaikh Abu Bakar tidak kurang dalam mengungkapkan maksud Imam Syafi‘i ra.: wasiat diberikan kepada generasi terdekat yang menjadi sandaran nasab dan dikenal dengannya, bukan kepada kerabat yang lebih jauh. Ia memberikan contoh: jika wasiat ditujukan kepada kerabat, dan seseorang berasal dari Bani Syafi‘, maka wasiat itu diberikan kepada Bani Syafi‘ saja, bukan kepada seluruh Bani Muththalib, atau seluruh Bani ‘Abd Manaf, atau seluruh Quraisy. Sebab, meskipun Imam Syafi‘i adalah seorang Muththalibi, Manafī, dan Quraisy, namun ia dikenal dengan Syafi‘.

فهذا هو الضبط التام في ذلك ولا ينتهي رهط الرجل إلى الخروج عن الضبط حتى تكون وصيته لقرابته كوصيته للعلوية فإنهم إذا انتشروا هذا الانتشار وكثروا هذه الكثرة اشتملوا على شُعب والموصي من شعبةٍ هو يشهر بها

Inilah pengaturan yang sempurna dalam hal ini, dan keluarga seorang laki-laki tidak akan keluar dari pengaturan tersebut sampai wasiatnya kepada kerabatnya sama dengan wasiatnya kepada orang dari kabilah ‘Alawiyyah. Sebab, jika mereka telah menyebar luas dan jumlah mereka sangat banyak, mereka akan mencakup berbagai cabang, dan orang yang berwasiat dari salah satu cabang itu dikenal melalui cabang tersebut.

ثم قال أئمتنا: ما ذكره الشافعي رضي الله عنه في حمل الوصية للقرابة من الرجل الشافعي على بني شافع محمول على عهده القريب بأرومة شافع وجُرثومته والآن فقد انتشروا ولكل موصٍ ينتمي إلى الأب العالي الشافعي بطن يخصّه وهم فصيلته التي تؤويه ولا يخفى على الفطن بعد ذلك حقيقة المراد ثم كل من نصرف إليه من الوصية للقرابة شيئاً فهو يُدلي إلى الميت بأسلوب من أساليب القرابة لا محالة

Kemudian para imam kami berkata: Apa yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i raḥimahullāh tentang membawa wasiat untuk kerabat dari seorang laki-laki Syafi‘i kepada Bani Syafi‘, itu berlaku pada masa beliau yang dekat dengan asal-usul dan pokok Syafi‘. Namun sekarang mereka telah menyebar, dan setiap orang yang berwasiat yang nasabnya sampai kepada leluhur tertinggi Syafi‘i memiliki kelompok khusus yang merupakan keluarga dekatnya yang melindunginya. Tidaklah samar bagi orang yang cerdas setelah itu tentang maksud yang sebenarnya. Kemudian, setiap orang yang kami berikan bagian dari wasiat untuk kerabat, pasti ia memiliki hubungan kekerabatan dengan mayit melalui salah satu bentuk hubungan kerabat, tidak diragukan lagi.

وقال الأئمة: إن كان الموصي من العجم دخلت تحت اسم قرابته القرابةُ من قِبَل الأب والقرابةُ من قِبل الأم وهذا الذي ذكره الأصحاب واضح فإن اسم القرابة في وضع اللسان شامل للقرابة من جهتي الوالدين

Para imam berkata: Jika orang yang berwasiat berasal dari kalangan non-Arab, maka yang termasuk dalam istilah kerabat adalah kerabat dari pihak ayah dan kerabat dari pihak ibu. Apa yang disebutkan oleh para sahabat ini jelas, karena istilah kerabat dalam penggunaan bahasa mencakup kerabat dari kedua pihak orang tua.

قال الشيخ أبو بكر وجمهور الأصحاب: إن كان الموصي من العرب وقد أوصى لقرابته فالوصية لقرابته من قبل أبيه لا غير وزعم الأصحاب أن العرب لا تفهم من القرابة في عرف لسانها إلا الذين يدلون به من قبل آبائه

Syekh Abu Bakar dan mayoritas para sahabat berpendapat: Jika orang yang berwasiat berasal dari kalangan Arab dan ia berwasiat untuk kerabatnya, maka wasiat tersebut berlaku untuk kerabatnya dari pihak ayah saja, tidak yang lain. Para sahabat berpendapat bahwa orang Arab tidak memahami makna kerabat dalam kebiasaan bahasa mereka kecuali yang memiliki hubungan kekerabatan melalui ayah-ayah mereka.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً أنه لا فرق بين العربي والعجمي وقرابة الأم داخلون تحت إطلاق اسم القرابة كما ذكرنا في العجم وهذا وإن استبعده الأئمة متجهٌ جداً موافق للغة ومن موجب اللسان ولا مستمسك لحمل القرابة في حق العربي على الذين يدلون من قبل الأب إلا من جهة ادعاء عرفٍ غالب في العرب وهذا لم أتحققه من عرفهم على أني أكثرت مخالطتهم وأصل اللسان يشمل الجانبين والقرابة إن عُرضت على الاشتقاق فهي من القُرب وإن كان مختصاً بقرب النسب

Sebagian ulama kami menyebutkan satu pendapat bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non-Arab, dan kerabat dari pihak ibu termasuk dalam cakupan istilah kerabat sebagaimana telah kami sebutkan pada non-Arab. Meskipun para imam menganggap pendapat ini jauh, namun pendapat ini sangat relevan, sesuai dengan bahasa, dan merupakan konsekuensi dari penggunaan lisan. Tidak ada alasan kuat untuk membatasi makna kerabat bagi orang Arab hanya pada mereka yang memiliki hubungan dari pihak ayah, kecuali dengan mengklaim adanya kebiasaan yang dominan di kalangan Arab, dan aku sendiri tidak menemukan kebiasaan tersebut meskipun aku banyak bergaul dengan mereka. Asal-usul kata dalam bahasa mencakup kedua sisi, dan jika istilah kerabat dikaitkan dengan asal-usul katanya, maka ia berasal dari kata “qarabah” yang berarti kedekatan, meskipun secara khusus digunakan untuk kedekatan nasab.

ومما يتعلق بهذا الفصل أنه إذا أطلق الوصية للقرابة فهذا الاسم يتناول الورثة ومن ليس وارثاً ثم قال الصيدلاني: إذا أبطلنا الوصية للوارث فهي مصروفة بجملتها إلى الذين لا يرثون من القرابة وقال غيره: نجعل الوصية مضافة إلى من تصح الوصية له وإلى من لا تصح الوصية له وظاهر القياس في مثل هذا الموضوع تقدير التقسيط على الكل ثم المصير إلى إبطال ما يقابل الورثة وتصحيح ما يقابل من ليس بوارث

Termasuk hal yang berkaitan dengan bab ini adalah bahwa jika wasiat diberikan secara mutlak kepada kerabat, maka istilah ini mencakup ahli waris maupun yang bukan ahli waris. Kemudian, menurut As-Saidalani: jika kita membatalkan wasiat untuk ahli waris, maka seluruhnya dialihkan kepada kerabat yang bukan ahli waris. Sedangkan menurut ulama lain: kita menjadikan wasiat itu ditujukan kepada orang yang sah menerima wasiat dan kepada orang yang tidak sah menerima wasiat. Menurut zhahir qiyās dalam masalah seperti ini, seharusnya dilakukan pembagian kepada semuanya, kemudian bagian untuk ahli waris dibatalkan dan bagian untuk yang bukan ahli waris disahkan.

وذكر طوائف من أصحابنا أنه إذا أوصى للقرابة فالأولاد والأبوان لا يدخلون في الوصية وذهب آخرون إلى أنهم يدخلون تحت اسم القرابة وإذا دخلوا أمكن فرضهم بحيث لا يرثون لاختلاف دين

Beberapa kelompok dari kalangan mazhab kami menyebutkan bahwa jika seseorang berwasiat kepada kerabat, maka anak-anak dan kedua orang tua tidak termasuk dalam wasiat tersebut. Sementara kelompok lain berpendapat bahwa mereka termasuk dalam istilah kerabat. Jika mereka termasuk, maka memungkinkan untuk menetapkan bagian mereka selama mereka tidak mewarisi karena perbedaan agama.

وقد يوصي الرجل لقرابة زيدٍ فتمس الحاجة إلى التعرض لدخول أولاده وأبويه ومن أدخل هؤلاء تمسك بموجب اللسان ومن لم يدخلهم تمسك بموجب العرف فإن الأصول لا يسمَّوْن قرابة في إطلاق اللسان ومن سمى أباه وابنه وأمه قرابته كان ذلك في العرف تعقيداً وإلغازاً

Terkadang seseorang berwasiat kepada kerabat Zaid, sehingga sangat diperlukan untuk membahas apakah anak-anak dan kedua orang tua Zaid termasuk di dalamnya. Orang yang memasukkan mereka berpegang pada makna harfiah lafaz, sedangkan yang tidak memasukkan mereka berpegang pada kebiasaan (‘urf), karena dalam penggunaan bahasa, orang tua tidak disebut sebagai kerabat. Jika seseorang menyebut ayah, anak, dan ibunya sebagai kerabatnya, maka dalam kebiasaan (‘urf) hal itu dianggap rumit dan membingungkan.

ثم الذين لم يدخلوا الأبوين اختلفوا في الأجداد والجدات وأولاد الأولاد فمنهم من أدخلهم ومنهم من لم يدخل واحداً من الأصول ولا واحداً من الفصول وإن بعُدوا وخصّص القرابة بالذين يقعون على جانب من عمود النسب

Kemudian, mereka yang tidak memasukkan kedua orang tua berbeda pendapat mengenai kakek-nenek dan cucu-cucu; sebagian dari mereka memasukkan kakek-nenek dan cucu-cucu, sementara sebagian yang lain tidak memasukkan satu pun dari asal-usul maupun keturunan, meskipun mereka jauh, dan mereka membatasi kerabat hanya pada yang berada di satu sisi dari garis keturunan.

ولو أوصى للأقرب فقال: أوصيت بثلثي لأقربهم بي رحماً فقد قال الأئمة: تسلم الوصية إلى أقربهم بأبيه وأمه فإنه ذكر الرحم وهذا يتناول جانبَ الأب والأم جميعاً ويستوي في ذلك العربي والعجمي

Jika seseorang berwasiat kepada kerabat terdekatnya dengan mengatakan: “Aku mewasiatkan sepertiga hartaku kepada kerabatku yang paling dekat hubungan darahnya denganku,” para imam berpendapat bahwa wasiat tersebut diberikan kepada kerabat yang paling dekat melalui ayah dan ibunya, karena ia menyebutkan hubungan darah (raḥim), dan ini mencakup jalur ayah maupun ibu secara bersamaan, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab.

قال الصيدلاني: ظاهر كلامه دليل على أن اعتبار جانب الأم في حق العربي سببُه ذكرُ الرحم والقربُ به فإن لفظ الموصي على ما صور : أوصيت لأقربهم بي رحماً وهذا يقتضي أنه إذا قال: أوصيت لذوي رحمي والموصي عربي دخل تحته المدلون بالأم وكذلك إذا قال: أوصيت لأرحامي وإنما يحمل لفظ العربي على المدلين بجانب الأب إذا ذكر القرابة ولم يتعرض للرحم فعلى هذا إذا قال: أوصيت لأقرب قرابتي ولم يتعرض للرحم والموصي عربي فيجب على مساق ما حكاه الصيدلاني ألا نعتبر جانب الأم فإن الذي ذكره الموصي القرابة مع صيغة تشعر بالأدنى

Ash-Shaydalani berkata: Lafal ucapannya secara lahir menunjukkan bahwa mempertimbangkan pihak ibu dalam hak orang Arab disebabkan oleh penyebutan rahim dan kedekatan dengannya. Sebab, lafal wasiat yang digambarkan adalah: “Aku berwasiat kepada kerabatku yang paling dekat hubungan rahim denganku.” Ini mengharuskan bahwa jika ia berkata: “Aku berwasiat kepada dzawī rahmī (kerabat rahimku)” dan pewasiatnya adalah orang Arab, maka yang termasuk di dalamnya adalah kerabat dari pihak ibu. Demikian pula jika ia berkata: “Aku berwasiat kepada arḥāmī (kerabat-kerabat rahimku).” Adapun lafal orang Arab hanya mencakup kerabat dari pihak ayah jika yang disebutkan adalah kekerabatan dan tidak menyebutkan rahim. Maka berdasarkan hal ini, jika ia berkata: “Aku berwasiat kepada kerabatku yang paling dekat” dan tidak menyebutkan rahim, sedangkan pewasiatnya adalah orang Arab, maka menurut apa yang dinukil oleh Ash-Shaydalani, kita tidak perlu mempertimbangkan pihak ibu, karena yang disebutkan oleh pewasiat adalah kekerabatan dengan redaksi yang menunjukkan makna kerabat terdekat.

ثم أجمع الأصحاب على أن الأقرب يتناول الأبوين والولد وإنما التردد فيه إذا ذكر لفظ القرابة ولم يتعرض للأقرب وتعليل ذلك بيّن فإن الإنسان إذا أشار إلى شخص وقال: هذا قرابتي وكان أباه أو ولدَه فلفظه تعقيد وإذا قال: هذا أقرب قرابتي ثم فسره بالأب والولد قبل منه ولم يعدّ ذلك تعقيداً

Kemudian para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan “yang terdekat” mencakup kedua orang tua dan anak. Adapun keraguan muncul apabila disebutkan lafaz “kerabat” tanpa menyebutkan “yang terdekat”. Alasannya jelas, yaitu apabila seseorang menunjuk kepada seseorang dan berkata, “Ini kerabatku,” padahal itu adalah ayah atau anaknya, maka ucapannya dianggap rumit. Namun jika ia berkata, “Ini adalah kerabatku yang terdekat,” lalu ia menjelaskannya dengan maksud ayah atau anak, maka hal itu diterima darinya dan tidak dianggap sebagai ucapan yang rumit.

فإذا تبين أصل الكلام في هذا عدنا بعده إلى من تصرف إليه الوصية للأقرب على شرط التحرز من صرف الوصية إلى وارثٍ كما قدمناه وإذا أردنا أن نتوسع في تصوير الأقرب مع تصحيح الوصية له فرضنا الكلام في وصية الرجل لأقرب قرابات زيد فتجري لنا جميع الصور فنقول أولاً: لسنا نتبع الميراث في هذه القاعدة فإنا نرى قريباً مدلياً بالعصبة لا يرث كابن البنت ويرث أولاد عمومة الجد مع وقوعهم حاشية على البعد والوصايا تنفذ على مقتضى الألفاظ فلسنا نحكم إذاً فيما ننفي ونثبت الميراث ولكنا نتبع لفظ الأقرب فإن ظهر لنا معناه في مسألة تبيّنا الجواب قطعاً وإن ترددنا أنشأنا ترددنا عن إشكال في معنى اللفظ ونحن نعلم أن الأقرب يشير إلى قرب الدرجة ويشير أيضاً إلى قوة القرابة هذا معلوم من معنى اللفظ وما يفهم منه في مجرى العرف

Jika telah jelas pokok pembahasan dalam hal ini, maka setelahnya kita kembali kepada siapa yang menjadi penerima wasiat kepada kerabat terdekat, dengan syarat menghindari penyerahan wasiat kepada ahli waris sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Jika kita ingin memperluas gambaran tentang kerabat terdekat dengan mengesahkan wasiat kepadanya, maka kita anggap pembahasan ini pada wasiat seseorang kepada kerabat terdekat Zaid, sehingga semua kemungkinan dapat terjadi. Maka pertama-tama kami katakan: kita tidak mengikuti aturan warisan dalam kaidah ini, karena kita melihat ada kerabat yang memiliki hubungan melalui ‘ashabah namun tidak mewarisi, seperti anak perempuan, sementara anak-anak paman dari pihak kakek dapat mewarisi meskipun hubungan mereka jauh. Wasiat dijalankan sesuai dengan makna lafaznya, sehingga kita tidak menetapkan atau menafikan warisan dalam hal ini, melainkan mengikuti lafaz “kerabat terdekat”. Jika maknanya jelas bagi kita dalam suatu kasus, maka kita dapat memberikan jawaban secara pasti. Namun jika kita ragu, maka keraguan itu timbul karena adanya kesamaran dalam makna lafaz tersebut. Kita mengetahui bahwa “kerabat terdekat” mengacu pada kedekatan derajat dan juga pada kuatnya hubungan kekerabatan; hal ini diketahui dari makna lafaz dan apa yang dipahami darinya dalam kebiasaan masyarakat.

ومما نمهده قبل المسائل أن الأقرب يتعلّق بجانب الأب والأم جميعاً والمُدْلي بالجهتين نقدمه على المختص بإحداهما على الترتيب الذي سنذكره إن شاء الله عز وجل

Hal yang perlu kami jelaskan sebelum membahas masalah-masalah adalah bahwa kerabat terdekat itu berkaitan dengan pihak ayah dan ibu sekaligus, dan orang yang memiliki hubungan dari kedua jalur tersebut didahulukan daripada yang hanya memiliki hubungan dari salah satu jalur saja, sesuai urutan yang akan kami sebutkan, insya Allah عز وجل.

ومن أهم ما يجب الاعتناء به أنه إذا قال: أوصيت لأقربهم لي رحماً فقد يظن الفقيه أن لفظ الرحم يختص بجانب الأم وليس الأمر كذلك فإن الرحم المطلق في القرابة لا يعنى به مقرّ الولد وإنما شاع هذا اللفظ في القرابة واللفظ إذا شاع على وجهٍ لم يلتفت إلى اشتقاقه كالدابة فإنها في الأحكام اللفظية محمولة على حيوان مخصوص وإن كانت مشتقة من الدبيب

Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan adalah bahwa jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada kerabatku yang paling dekat,” seorang faqih mungkin mengira bahwa lafaz “rahim” hanya khusus untuk pihak ibu, padahal tidak demikian. Sesungguhnya “rahim” yang mutlak dalam kekerabatan tidak dimaksudkan hanya sebagai tempat lahir anak, melainkan istilah ini telah umum digunakan untuk makna kekerabatan. Jika suatu lafaz telah umum digunakan dalam satu makna, maka tidak lagi diperhatikan asal-usul katanya, seperti kata “dabbah” yang dalam hukum-hukum lafaz digunakan untuk hewan tertentu, meskipun secara etimologi berasal dari kata “dabb” (merayap).

فإذا تمهدت هذه الأصول افتتحنا بعدها المسائل وخرّجناها على مقتضاها فلفظ الأقرب يتناول الأب والأم على وجهٍ واحد والموصى به بينهما بالسوية والابن والأب في قياس الطرق مستويان وذكر العراقيون وجهين: أحدهما ما ذكرناه وهو الذي صححوه

Jika prinsip-prinsip dasar ini telah dijelaskan, maka setelahnya kita akan memulai pembahasan masalah-masalah dan mengembangkannya sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Maka lafaz “yang terdekat” mencakup ayah dan ibu secara setara, dan harta wasiat dibagi rata di antara keduanya. Anak dan ayah dalam qiyās menurut metode-metode yang ada adalah setara, dan para ulama Irak menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan, dan itulah yang mereka anggap sahih.

والثاني أن الابن أولى وهذا على بعده قد يتجه فيه كلام له غوصٌ في الفقه فإن الوصية إذا وقعت لأقرب الناس بفلان فقد يعتقد أن لفظ القرب في الولد أحرى منه في الأب فإن ولد الرجل قريب منه وقد لا ينساغ هذا في الأب انسياغه في الولد فإن الولد قريبٌ من والده وولده قريب منه فهذا تخيل يؤول إلى معنى اللفظ لا اتجاه له على بعدٍ والأصح التسوية فإن القرب من أسماء الإضافة وما قرب من شيء قرب ذلك الشيء منه وإنما يختلف النسب والأسماء فالولد قريب من أبيه من جهة كونه بعضه والأب قريب من الولد من جهة كونه أصله فلا وجه إلا التسوية

Kedua, bahwa anak lebih utama, dan pendapat ini meskipun tampak jauh, bisa jadi memiliki argumentasi yang mendalam dalam fiqh. Sebab, jika wasiat diberikan kepada orang yang paling dekat dengan si Fulan, mungkin saja dipahami bahwa lafaz “yang paling dekat” pada anak lebih layak daripada pada ayah. Sebab, anak seseorang adalah orang yang dekat dengannya, dan hal ini mungkin tidak berlaku pada ayah sebagaimana pada anak. Anak itu dekat dengan ayahnya, dan anak dari anak itu juga dekat dengannya. Maka ini hanyalah dugaan yang kembali pada makna lafaz, namun tidak memiliki arah yang kuat jika diteliti lebih jauh. Pendapat yang lebih sahih adalah menyamakan keduanya, karena “kedekatan” adalah salah satu istilah relasi, dan apa yang dekat dengan sesuatu, maka sesuatu itu juga dekat dengannya. Yang berbeda hanyalah nasab dan penamaannya. Anak dekat dengan ayahnya karena ia adalah bagian darinya, dan ayah dekat dengan anaknya karena ia adalah asal-usulnya. Maka tidak ada alasan kecuali menyamakan keduanya.

ولا يخفى أنه إذا اجتمع أولاد الدِّنْية والأحفاد فالأقربون أولادُ الدِّنْية وهكذا البطون إذا اجتمعوا والوصية للأدنَيْن : أولاد الدِّنية

Tidak tersembunyi bahwa apabila anak-anak dari garis dekat dan cucu-cucu berkumpul, maka yang lebih dekat adalah anak-anak dari garis dekat. Demikian pula halnya dengan tingkatan-tingkatan apabila mereka berkumpul, dan wasiat diberikan kepada yang lebih dekat, yaitu anak-anak dari garis dekat.

ولو كان في الدرجة الأولى من الأحفاد أولادُ البنات وكان أسفل بنو بني البنين فالوصية لأولاد البنات  فإنهم الأقربون ولا نظر إلى الميراث ولا فرق بين الذكور والإناث

Jika pada derajat pertama dari cucu terdapat anak-anak perempuan (cucu dari anak perempuan), sedangkan di bawahnya terdapat anak-anak dari anak laki-laki (cicit dari anak laki-laki), maka wasiat diberikan kepada anak-anak perempuan tersebut, karena merekalah yang lebih dekat. Tidak dilihat dari sisi warisan, dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

قال شيخي: لو اجتمع أسباطٌ متسفلون وإخوة فالأسباط مقدمون في الاستحقاق وإن بعدت درجتهم لأنهم ينتمون بالتعصبة فقرابتهم أقوى وإن بعدوا ولسنا نعلل هذا من طريق المعنى ولكنا نرعى أن هؤلاء وإن بعدوا فهم المفهومون من الأقربين إذا اجتمعوا مع الإخوة وهذا متجةٌ ظاهر

Guru saya berkata: Jika berkumpul beberapa cucu laki-laki dari garis bawah dan saudara-saudara laki-laki, maka cucu-cucu tersebut didahulukan dalam hal hak waris meskipun derajat mereka lebih jauh, karena mereka termasuk dalam kelompok keluarga besar (ta‘ṣub), sehingga kekerabatan mereka lebih kuat walaupun mereka jauh. Kami tidak mendasarkan hal ini pada alasan makna, tetapi kami memperhatikan bahwa mereka ini, meskipun jauh, tetap termasuk yang dimaksud dari kerabat dekat apabila mereka berkumpul bersama saudara-saudara laki-laki, dan ini adalah pendapat yang jelas dan dapat diterima.

وإذا اجتمع الأخ من الأب والأم والأخ من الأب فالأخ من الأب والأم أولى لأنه جمع القرابة من الجهتين وهو مقدم أيضاً على الأخ من الأم لما ذكرناه

Jika berkumpul saudara laki-laki seayah seibu dan saudara laki-laki seayah, maka saudara laki-laki seayah seibu lebih didahulukan karena ia mengumpulkan kekerabatan dari dua sisi, dan ia juga didahulukan atas saudara laki-laki seibu sebagaimana telah kami sebutkan.

ثم الأخت من الأب والأم مقدمة على الإخوة من الأب لما ذكرناه من اجتماع القرابتين فلا التفات إلى الذكورة والأنوثة ومسالك التوريث

Kemudian, saudari seayah dan seibu didahulukan daripada saudara laki-laki seayah, karena sebagaimana telah disebutkan, terdapat dua hubungan kekerabatan yang berkumpul padanya. Maka, tidak perlu memperhatikan faktor laki-laki atau perempuan serta cara-cara pewarisan.

وابن الأخ وبنت الأخ بمثابةٍ واحدة في الاستحقاق وإن اختص بالإرث ابنُ الاخ

Anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan laki-laki) dan anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan perempuan) memiliki kedudukan yang sama dalam hal hak, meskipun dalam hal warisan hanya anak laki-laki dari saudara laki-laki yang berhak mewarisi.

والأخ من الأب مع الأخ من الأم مستويان وكل واحد منهما على قرابة واحدة

Saudara laki-laki seayah dan saudara laki-laki seibu kedudukannya setara, dan masing-masing dari mereka memiliki hubungan kekerabatan yang sama.

فالضابط في هذا الفن استعمال الدرجة والقوة

Patokan dalam bidang ini adalah penggunaan tingkatan dan kekuatan.

وابن الأخ من الأب يتقدم على ابن ابن الأخ من الأب والأم لأن قرب الدرجة في هذا المقام أولى بالاندراج تحت الأقرب من الاختصاص بمزية قرب مع البعد في الدرجة

Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah lebih didahulukan daripada anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah-seibu, karena kedekatan derajat dalam hal ini lebih utama untuk dimasukkan ke dalam kategori yang lebih dekat, dibandingkan dengan kekhususan keutamaan kedekatan dengan adanya jarak dalam derajat.

وذكر الصيدلاني وغيره من أئمة المذهب قولين في الجد والأخ من الأب والأم أو من الأب: أحد القولين أن الأخ مقدم على الجد لأن إدلاءه بالابن وإدلاء الجد بالأب وإدلاؤه بالبنوة والإدلاء من جهة البنوة أقوى

Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh Ash-Shaykh

والقول الثاني أنهما سواء  وقد ذكرنا إجراء هذين القولين في عصبات الولاء

Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya sama saja, dan kami telah menyebutkan penerapan kedua pendapat ini dalam masalah ‘ashabah al-walā’.

وينشأ من هذا إشكال يحيك في صدر الفقيه وذلك أن سبب اختلاف القول في الولاء أن التعويل في التوريث بالولاء على قوة العصوبة والبنوةُ أجلب للعصوبة من الأبوة ولمَّا رأينا في التوريث بالقرابة التسويةَ بين الجد والأخ ولم نردّد القولَ كان السبب فيه أن التوريث بالقرابة لا يقتصر على طريق العصوبة

Dari sini timbul suatu permasalahan yang menggelisahkan hati seorang faqih, yaitu bahwa sebab perbedaan pendapat dalam masalah warisan karena wala’ adalah penekanan dalam pewarisan dengan wala’ pada kekuatan ‘ashabah, sedangkan hubungan anak lebih kuat dalam ‘ashabah dibandingkan hubungan ayah. Ketika kita melihat dalam pewarisan karena kekerabatan terdapat penyamaan antara kakek dan saudara, dan kita tidak mengulang-ulang pendapat, maka sebabnya adalah bahwa pewarisan karena kekerabatan tidak terbatas hanya pada jalur ‘ashabah.

فهذا نظر كلي في التوريث بالقرابة والولاء ومن لا يُجري القولين في الجد والأخ يقول: في الجد وابن الأخ قولان: أحدهما أن الجد أولى ويسقط ابن الأخ

Ini adalah tinjauan secara umum mengenai pewarisan karena hubungan kekerabatan dan wala’. Adapun siapa yang tidak menjalankan dua pendapat dalam kasus kakek dan saudara laki-laki, ia berkata: dalam kasus kakek dan anak saudara laki-laki terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa kakek lebih berhak dan anak saudara laki-laki gugur.

والثاني أن ابن الأخ أولى لقوة قرابته ولا مزيد في الضعف على هذا  فإن تقديم ابن الأخ وإن تسفل في الوصية للأقرب في نهاية السقوط وإنما اتجه هذا في الولاء لاتباع العصوبة فأما صرف الوصية إلى الأقرب فمأخذه موجب اللفظ وقد ذكرنا أن هذه المسألة لفظية ثم أوضحنا أن من كان على عمود النسب أصلاً وفصلاً فهو في حكم العرف وفهمِ الخطاب أولى باسم الأقرب ثم حكينا عن شيخنا أن الأحفاد وإن سفلوا مقدمون على الأخ القريب

Kedua, bahwa anak laki-laki dari saudara laki-laki lebih didahulukan karena kuatnya hubungan kekerabatan, dan tidak ada tambahan kelemahan dalam hal ini. Maka, mendahulukan anak laki-laki dari saudara laki-laki, meskipun lebih jauh tingkatannya, dalam wasiat adalah karena yang lebih dekat tetap didahulukan meskipun pada tingkat yang paling rendah. Hal ini hanya berlaku dalam masalah wala’ karena mengikuti prinsip ‘ashabah. Adapun mengalihkan wasiat kepada yang lebih dekat, dasarnya adalah makna lafaz. Kami telah menyebutkan bahwa masalah ini bersifat lafaz, kemudian kami jelaskan bahwa siapa pun yang berada pada garis keturunan langsung, baik sebagai asal maupun cabang, menurut kebiasaan dan pemahaman pembicaraan, lebih layak disebut sebagai yang paling dekat. Kemudian kami meriwayatkan dari guru kami bahwa cucu-cucu, meskipun lebih jauh tingkatannya, tetap didahulukan atas saudara yang lebih dekat.

ومَنْ ضبط ما قدمناه وأحاط بما نبهنا عليه الآن لم ينقدح له وجه من الرأي إلا تقديم الجد على الأخ فإن تَحَامَل يسوي بينهما أما تقديم الأخ فبعيدٌ عن مأخذ الكلام في المسألة ولست أذكر مثل هذا لأغيّر المذهب فإن التعويل على النقل فيه ولكن لا بد من تنبيه

Siapa yang telah memahami apa yang telah kami sampaikan dan menguasai apa yang baru saja kami tunjukkan, maka tidak akan terlintas baginya pendapat lain kecuali mendahulukan kakek atas saudara laki-laki. Adapun jika ia memaksakan untuk menyamakan keduanya, sedangkan mendahulukan saudara laki-laki sangat jauh dari dasar pembahasan masalah ini. Aku tidak menyebutkan hal seperti ini untuk mengubah mazhab, karena yang dijadikan sandaran adalah riwayat di dalamnya, namun tetap perlu adanya penjelasan.

ولا شك في تقديم بني الإخوة على الأعمام وإن بعدوا وكذلك يقدّمون على بني الأعمام والسبب فيه تعلقهم بقوة قرابة الأخوّة فهذه قوةٌ مقدمة على قرب الدرجة وليس كقوة ابن ابن الأخ من الأب والأم مع قرب ابن الأخ من الأب فإن القرب مقدم على هذا القدر من القوة فإن الأخوّة جامعة وقرب الدرجة أجلب لاقتضاء اسم الأقرب من الاختصاص بأخوّة مع البعد في الدرجة

Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak saudara laki-laki lebih didahulukan daripada paman, meskipun paman itu jauh hubungannya, demikian pula mereka didahulukan atas anak-anak paman. Sebabnya adalah karena mereka memiliki keterikatan dengan kekuatan hubungan persaudaraan, sehingga ini merupakan kekuatan yang didahulukan atas kedekatan derajat. Namun, tidak seperti kekuatan anak dari saudara laki-laki seayah-seibu dibandingkan dengan kedekatan anak saudara laki-laki seayah, karena kedekatan lebih didahulukan atas kadar kekuatan seperti ini. Sebab, persaudaraan itu bersifat menyeluruh, dan kedekatan derajat lebih kuat dalam menuntut sebutan “yang lebih dekat” daripada kekhususan persaudaraan dengan jarak derajat yang lebih jauh.

ولم يختلفوا أن الجد مقدم على الأخ من الأم وقالوا: في أب الأم وأخ الأم قولان فإن أبا الأم أصلٌ وأخ الأم يدلي إلى الأم بالبنوة ولا نظر إلى الميراث

Para ulama sepakat bahwa kakek (ayah dari ayah) didahulukan daripada saudara laki-laki seibu. Mereka berkata: mengenai ayah dari ibu dan saudara laki-laki seibu, terdapat dua pendapat. Sebab, ayah dari ibu adalah asal (garis keturunan), sedangkan saudara laki-laki seibu sampai kepada ibu melalui hubungan anak, dan tidak dilihat dari sisi warisan.

قال الصيدلاني: أبو الأم بمثابة أبي الأب وأخو الأم بمثابة الأخ من الأب فيجري قولان: أحدهما أن الأخ من الأم مقدم والثاني أنهما سواء وهذا خبط لا ينساغ للفقيه

Al-Shaydalani berkata: Ibu dari ibu itu kedudukannya seperti ayah dari ayah, dan saudara laki-laki dari ibu itu kedudukannya seperti saudara laki-laki dari ayah. Maka terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa saudara dari ibu didahulukan, dan yang kedua bahwa keduanya setara. Ini adalah kekacauan yang tidak dapat diterima oleh seorang faqih.

فإن قيل: إخوة متفرقون وأخوات مفترقات قلنا: الوصية لأولاد الأب والأم من الذكور والإناث بالسوية

Jika dikatakan: saudara-saudara laki-laki yang terpisah dan saudari-saudari perempuan yang terpencar, kami katakan: wasiat diberikan kepada anak-anak laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu secara merata.

فإن قيل: بنو إخوة مفترقون وبنات إخوة مفترقات قلنا: الوصية لبني الإخوة وبنات الإخوة من الأب والأم بالسوية

Jika dikatakan: anak-anak laki-laki saudara terpisah dan anak-anak perempuan saudara terpisah, kami katakan: wasiat untuk anak-anak laki-laki saudara dan anak-anak perempuan saudara dari pihak ayah dan ibu diberikan secara merata.

والأعمام والعمات يشتركون في الاستحقاق وإن اختلفوا في الإرث ويجب القضاء بالتسوية بين الأخوال والأعمام للاستواء في الدرجة وقرابة الأم كقرابة الأب

Para paman dan bibi bersama-sama mendapatkan hak, meskipun mereka berbeda dalam hal warisan, dan wajib memutuskan dengan memperlakukan sama antara paman dari pihak ibu dan paman dari pihak ayah karena mereka setara dalam derajat, dan kekerabatan dari pihak ibu sama dengan kekerabatan dari pihak ayah.

فهذا بيان معنى الأقرب مهّدنا أصوله ثم هذبنا الأصول بالصور ونصصنا على محل الإشكال وهو الجدّ والإخوة فلم يبق مالا يخرج على الأصول التي ذكرناها

Inilah penjelasan makna “yang lebih dekat”; kami telah menguraikan pokok-pokoknya, kemudian kami memperjelas pokok-pokok tersebut dengan contoh-contoh, dan kami sebutkan secara khusus tempat terjadinya permasalahan, yaitu antara kakek dan saudara-saudara, sehingga tidak ada lagi sesuatu yang tidak dapat dikembalikan kepada pokok-pokok yang telah kami sebutkan.

ثم يتشعب من هذه الأصول مسائل ذكرها العراقيون وغيرهم من أئمة المذهب منها: أنه إذا أوصى لأقرب الناس به رحماً فإذا كان أقرب الناس به وارثاً ورددنا الوصية للوارث قالوا: فالوصية تبطل في هذه الصورة فإن الأقربين خرجوا عن استحقاق الوصية وامتنع تصيير الوصية إلى الأبعدين لمكانهم وهذا قياس الطرق

Kemudian dari kaidah-kaidah ini bercabang beberapa permasalahan yang disebutkan oleh para ulama Irak dan selain mereka dari para imam mazhab, di antaranya: apabila seseorang berwasiat kepada kerabat terdekatnya, lalu ternyata kerabat terdekat tersebut adalah ahli waris, dan kita menolak wasiat kepada ahli waris, mereka berkata: maka wasiat tersebut batal dalam kasus ini, karena kerabat terdekat telah keluar dari hak menerima wasiat, dan tidak mungkin wasiat itu diberikan kepada kerabat yang lebih jauh karena kedudukan mereka, dan inilah qiyās menurut metode yang ada.

ومما ذكروه أنه إذا أوصى لجماعة من الأقربين لزيد  وذكر في هذا لفظاً يقتضي الجمعَ فلو كان لزيد ثلاثة من البنين وجمعٌ من بني البنين فلا شك أن الوصية مصروفة إلى البنين دون بنيهم

Di antara hal yang mereka sebutkan adalah bahwa jika seseorang berwasiat kepada sekelompok kerabat Zaid dan dalam hal ini disebutkan lafaz yang menunjukkan makna jamak, maka jika Zaid memiliki tiga orang anak laki-laki dan sekelompok cucu laki-laki dari anak-anak laki-lakinya, tidak diragukan lagi bahwa wasiat tersebut ditujukan kepada anak-anak laki-laki, bukan kepada cucu-cucu mereka.

قالوا: فلو كان له ابن واحد وابنا ابن فللابن الثلث والباقي لابني الابن

Mereka berkata: Jika seseorang hanya memiliki satu anak laki-laki dan dua cucu laki-laki (anak dari anak laki-lakinya), maka sepertiga bagian menjadi milik anak laki-laki, dan sisanya menjadi milik kedua cucu laki-laki tersebut.

وكذلك لو كانوا ثلاثة  فللابن الثلث والباقي بينهم يعني بين البنين

Demikian pula, jika mereka bertiga, maka bagi anak laki-laki mendapat sepertiga, dan sisanya dibagi di antara mereka, yaitu di antara anak-anak laki-laki.

وزعموا أن ضبط المذهب في ذلك أنا إن وجدنا من الأقربين ثلاثة صرفنا الكلَّ إليهم وإن لم نجد منهم ثلاثة فنصرف إلى من وجدنا ما يخصه لو كانوا ثلاثة فإن كان واحداً فالثلث ثم نصرف الباقي إلى الذين في الدرجة الثانية

Mereka berpendapat bahwa ketentuan mazhab dalam hal ini adalah: jika kami menemukan tiga orang dari kerabat terdekat, maka seluruh harta diberikan kepada mereka; jika tidak menemukan tiga orang dari mereka, maka diberikan kepada siapa pun yang ada di antara mereka sesuai bagian yang menjadi haknya seandainya mereka berjumlah tiga orang; jika hanya ada satu orang, maka sepertiga bagian diberikan kepadanya, kemudian sisanya diberikan kepada mereka yang berada pada derajat kedua.

وليس ذلك كما لو أوصى الرجل لأقرب الناس به رحماً فإنا نبطل الوصية للورثة إذا كانوا هم الأقربين ولا نقول: إذا لم نجعلهم مستحقين نرتفع إلى غيرهم وذلك أنهم وجدوا ولم يستحقوا فهو كما لو ردّوا الوصية فبطلت الوصية بردهم وليس كذلك إذا ذكر لفظ الجمع ثم لم نجد من الأقربين إلا واحداً أو اثنين وهذا ذكره على هذا الوجه صاحب التقريب موافقةً للعراقيين حرفاً حرفاً والكلام في هذا المقام لطيفٌ جداً

Hal itu tidaklah sama seperti jika seseorang berwasiat kepada kerabat terdekatnya, karena kami membatalkan wasiat kepada para ahli waris jika merekalah yang paling dekat, dan kami tidak mengatakan: jika kami tidak menjadikan mereka berhak, maka kami naikkan kepada selain mereka. Sebab mereka telah ada namun tidak berhak, maka hal itu seperti jika mereka menolak wasiat tersebut, sehingga wasiat itu batal karena penolakan mereka. Tidak demikian halnya jika disebutkan lafaz jamak lalu tidak kami temukan dari kerabat terdekat kecuali satu atau dua orang saja. Inilah yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib dengan cara seperti ini, sesuai dengan pendapat ulama Irak secara persis, dan pembahasan dalam masalah ini sangatlah halus.

فإذا قال: أوصيت لأقرب الناس لي فكان أقرب الناس به وارثاً محجوباً عن الوصية فوجوده يحجب من بعُد وإذا ذكر لفظ الجمع ثم لم يوجد في الدرجة الأولى جمع فكيف يثبت الحجب ولم يتحقق جمع ثم إذا لم يثبت الحجب دخل في الاستحقاق من بَعُد ولكن لمن قرب اختصاصٌ فاستحق الثلث فهذا جواب متركب من قواعد حسنة ينجح بمثلها الفقيه

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada kerabat terdekatku,” lalu ternyata kerabat terdekat tersebut adalah ahli waris yang terhalang dari menerima wasiat, maka keberadaannya menghalangi yang lebih jauh. Jika ia menyebutkan lafaz jamak, kemudian pada tingkatan pertama tidak ditemukan kelompok (kerabat) yang dimaksud, bagaimana mungkin berlaku penghalangan sementara kelompok itu sendiri tidak terwujud? Kemudian, jika penghalangan tidak terbukti, maka yang lebih jauh pun berhak menerima, namun yang lebih dekat memiliki kekhususan sehingga ia berhak atas sepertiga. Ini adalah jawaban yang tersusun dari kaidah-kaidah yang baik, yang dengan kaidah-kaidah semacam ini seorang faqih akan berhasil.

وتمام هذا الفصل في مسائل نذكرها للشافعي وللأصحاب تتعلق برعاية الجمع قال الشافعي رضي الله عنه: إذا أوصى لقرابة فلان أو لأقربائه فسواء كان له قريب واحد أو اثنان أو ثلاثة فالوصية لهم والأقرباء صيغة جمع إن كان في القرابة نظر

Penyempurnaan pembahasan ini terdapat pada beberapa permasalahan yang akan kami sebutkan menurut pendapat Imam Syafi‘i dan para ulama mazhab yang berkaitan dengan memperhatikan penggunaan bentuk jamak. Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang berwasiat kepada kerabat si Fulan atau kepada para kerabatnya, maka baik ia memiliki satu kerabat, dua, atau tiga, wasiat itu berlaku untuk mereka. Kata “kerabat” dalam bentuk jamak, jika dalam hubungan kekerabatan terdapat pertimbangan.

ووجه ما ذكره الشافعي رضي الله عنه أن لفظ الجمع في هذا المقام لا يعني الجمع  وإنما الغرض الصرف إلى جهة القرابة فإن جرت لفظة الجمع فالغرض أن يستوعب قرابة ذلك الرجل ثم يذكر الذاكر الجمع وهو يبغي الجهة والصنف وقد يحمله على ذكر الجمع استيعاب جمعٍ إن كانوا وليس من غرضه قصرُ الوصية إذا لم يبلغوا جمعاً

Adapun maksud dari apa yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i rahimahullah adalah bahwa lafaz jamak dalam konteks ini tidak bermakna jamak secara hakiki, melainkan tujuannya adalah mengarahkan kepada pihak kerabat. Jika disebutkan lafaz jamak, maka tujuannya adalah mencakup seluruh kerabat orang tersebut. Kemudian, orang yang menyebutkan jamak itu bermaksud pada pihak dan golongan tertentu, dan terkadang ia menyebutkan jamak untuk mencakup kelompok jika memang ada kelompok tersebut, dan bukan maksudnya membatasi wasiat apabila mereka tidak mencapai jumlah jamak.

وذهب بعض أصحابنا إلى أنه إذا ذكر لفظ الأقرباء فلم يكن له إلا قريب واحد فليس له إلا ثلث الوصية وهذا يتيسر توجيهه وما ذكره الشافعي أفقه وأليق بمعنى الكلام

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jika disebutkan lafaz “kerabat” dan ternyata ia hanya memiliki satu orang kerabat saja, maka kerabat tersebut hanya berhak atas sepertiga wasiat. Pendapat ini mudah untuk diarahkan, namun pendapat yang dikemukakan oleh asy-Syafi‘i lebih fiqh dan lebih sesuai dengan makna perkataan tersebut.

فإن أوصى لذي قرابته وله قريب واحد فلا خلاف أن الوصية مصروفةٌ إليه بكمالها والذي أطلقه الأصحاب أن الوصية للقرابة لا تتضمن جمعاً فإن القرابة ليست من أبنية الجمع وإذا قيل: قرابة فلان فمعناه ذو قرابته وإذا قال: أوصيت لذوي قرابة فلان وقريبُه واحد فهل يكون له جميع الوصية فهذا لفظ مشعر بالجمْع وهو بمثابة قوله: أوصيت لأقرباء فلان ظاهر النص أن الوصية مصروفة إلى قريب واحد إذا لم يكن غيره

Jika seseorang berwasiat kepada kerabatnya dan ia hanya memiliki satu kerabat, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa seluruh wasiat diberikan kepadanya. Para ulama menyatakan bahwa wasiat kepada “kerabat” tidak menunjukkan makna jamak, karena kata “qarābah” bukan bentuk jamak. Jika dikatakan “qarābat Fulan” maka maksudnya adalah orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Jika seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada kerabat Fulan” dan kerabatnya hanya satu orang, apakah seluruh wasiat diberikan kepadanya? Ungkapan ini mengandung makna jamak, sebagaimana ucapan, “Aku berwasiat kepada para kerabat Fulan.” Namun, pendapat yang jelas dalam nash adalah bahwa wasiat diberikan kepada satu kerabat jika tidak ada selainnya.

ومن أصحابنا من قال: لا تصرف جميع الوصية إلى ذلك الواحد ثم هؤلاء يفضّون الوصية على تقدير جمع وأقل الجمع في هذه المسائل ثلاثة

Sebagian dari ulama kami berpendapat: Tidak boleh seluruh wasiat diberikan kepada satu orang saja. Kemudian, mereka membagi wasiat tersebut berdasarkan anggapan adanya jama‘ (kelompok), dan jumlah paling sedikit dari jama‘ dalam masalah-masalah ini adalah tiga orang.

وإذا تبين ما ذكرناه فلو أوصى للأقربين كان كما لو أوصى للأقارب في أنه هل يُحمل هذا على اقتضاء الجمع لا محالة أو تصرف الوصية بكمالها إلى واحد إن لم نجد من الأقربين غيره

Jika telah jelas apa yang telah kami sebutkan, maka jika seseorang berwasiat kepada al-aqrabīn, hukumnya seperti jika ia berwasiat kepada al-aqārib, yaitu apakah hal ini harus dipahami sebagai mencakup semuanya tanpa kecuali, ataukah seluruh wasiat itu diberikan kepada satu orang saja jika tidak ditemukan selain dia dari kalangan al-aqrabīn.

وقد ذكرنا مسألةً في الأقربين وفرضنا ابناً وأحفاداً وتلك المسألة تخرّج على وجوب رعاية الجمع فإن فرعت على النص وأردت تخريج تلك المسألة فنصوّر في صيغة الوصية تقييداً بلفظةٍ تقتضي جمعاً لا محالة مثل أن يقول: أوصيت لجماعة من أقرباء فلان ثم تتفرع تلك المسألة وتنساق على حسب ما قدمناه

Kami telah menyebutkan suatu permasalahan tentang kerabat dekat dan kami menetapkan adanya anak serta cucu, dan permasalahan tersebut dibangun di atas kewajiban memperhatikan penggabungan. Jika kamu membangun permasalahan tersebut berdasarkan nash dan ingin mengembangkan permasalahan itu, maka gambarkanlah dalam bentuk wasiat dengan membatasi pada suatu lafaz yang pasti mengandung makna penggabungan, seperti seseorang berkata: “Aku berwasiat kepada sekelompok kerabat si Fulan.” Kemudian permasalahan itu bercabang dan berjalan sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya.

وقد نجز القول في الوصية للقرابة والأقربين ونحن نذكر ألفاظاً نفرض إجراءها في الوصايا ونذكر معانيها فقد كثر اختباط الفقهاء فيها وقد نذكر في بعضها مذاهب بعض السلف لأغراضٍ لنا صحيحة

Telah selesai pembahasan mengenai wasiat kepada kerabat dan orang-orang terdekat, dan sekarang kami akan menyebutkan beberapa ungkapan yang kami asumsikan penggunaannya dalam wasiat, serta menjelaskan maknanya, karena banyak terjadi kekeliruan di kalangan para fuqaha dalam hal ini. Kami juga akan menyebutkan dalam sebagian pembahasan pendapat-pendapat sebagian ulama salaf untuk tujuan-tujuan tertentu yang benar menurut kami.

فإذا قال: أوصيت لآل رسول الله صلى الله عليه وسلم فمذهب الشافعي رضي الله عنه أن آل رسول الله كل من يحرم عليهم الصدقة وهم بنو هاشم وبنو المطلب واعتمد الشافعي في هذا هذا الأصلَ وهو تحريم الصدقة فإنهم أقيموا في هذه القاعدة مقام رسول الله عليه السلام وهذا حسن

Jika seseorang berkata: “Aku berwasiat untuk keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” maka menurut mazhab Syafi‘i rahimahullah, keluarga Rasulullah adalah semua orang yang diharamkan menerima sedekah, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Syafi‘i mendasarkan pendapat ini pada prinsip dasar, yaitu pengharaman sedekah bagi mereka, karena mereka ditempatkan dalam kedudukan Rasulullah ‘alaihis salam dalam kaidah ini. Dan ini adalah pendapat yang baik.

وقال مالك: آل رسول الله صلى الله عليه وسلم أصحابه وقيل: آل رسول الله صلى الله عليه وسلم أُمّتُه وهذه اللفظة فيها استبهام واشتقاق اللفظ إن لم يُقدّر فيه قلبٌ وإبدال من قولك آل يؤول فكل من آل إليك أمره فهو من آلك وقوله تعالى: {أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ أراد به الذين ضلّوا بسببه وآل ضلالُهم إليه

Malik berkata: Keluarga Rasulullah saw. adalah para sahabatnya, dan ada yang mengatakan: Keluarga Rasulullah saw. adalah umatnya. Lafaz ini mengandung makna yang samar, dan akar katanya, jika tidak dianggap adanya perubahan dan penggantian huruf, berasal dari kata “āla-ya’ūlu”, sehingga setiap orang yang urusannya kembali kepadamu, maka ia termasuk keluargamu. Firman Allah Ta’ala: “Masukkanlah keluarga Fir’aun ke dalam azab yang sangat keras,” yang dimaksud adalah orang-orang yang sesat karena sebabnya, dan kesesatan mereka kembali kepadanya.

ومن الناس من يقول أصل الآل الأهل فأبدلت الهاء همزة فصار أَأْلاً ثم استثقلوا اجتماع الهمزتين فأبدلوا الثانية ألفاً فصار آلاً واللفظة على حالٍ فيها تردد

Sebagian orang berpendapat bahwa asal kata “āl” adalah “ahl”, kemudian huruf hā’ diganti menjadi hamzah sehingga menjadi “a’lan”, lalu karena merasa berat dengan bertemunya dua hamzah, maka hamzah yang kedua diganti menjadi alif sehingga menjadi “āl”, dan kata ini sendiri masih berada dalam kondisi yang diperdebatkan.

ثم الشافعي رضي الله عنه قطع جوابه في آل الرسول صلى الله عليه وسلم للأصل الذي وجده فيهم من تحريم الصدقة ونزّل ذلك منزلة القرينة المشاعة في العرف ورأى تقييد هذا اللفظ المتردّد بها

Kemudian, Imam Syafi‘i ra. menetapkan jawabannya mengenai keluarga Rasulullah saw. berdasarkan dalil asal yang beliau temukan pada mereka, yaitu pengharaman sedekah, dan beliau menempatkan hal itu pada posisi seperti qarinah yang sudah dikenal dalam ‘urf, serta memandang perlu membatasi lafaz yang masih samar tersebut dengan dalil itu.

فلو أوصى رجل لآل زيد وعمرو ولم نتبين معنى لفظه فمن أصحابنا من أبطل الوصية لاستبهام اللفظ وتردده بين القرابة وأهل الدِّين وأصحاب الموالاة وغيرها من الجهات

Jika seseorang berwasiat kepada keluarga Zaid dan Amr, namun makna lafaznya tidak jelas bagi kita, maka sebagian ulama dari kalangan kami membatalkan wasiat tersebut karena lafaznya samar dan masih diperselisihkan antara makna kerabat, orang-orang yang seagama, sahabat setia, dan makna-makna lainnya.

ومن أصحابنا من صحح الوصية فإن الاحتكام بإبطال الوصية لا معنى له

Sebagian ulama mazhab kami ada yang membenarkan wasiat tersebut, karena permintaan penyelesaian sengketa (ihtikām) dengan membatalkan wasiat itu tidak ada maknanya.

وهذه المسألة قطبٌ يقاس به كل وصية تشتمل على لفظ مجمل متردد بين جهات من الاحتمالات يعسر جمعُها  ويعسر الاحتكام بتعيين بعضها ثم من صحح الوصية اختلفوا: فمنهم من قال: الوصية للآل كالوصية للقرابة ومنهم من قال: نصحح الوصية ونفوضها إلى اجتهاد الحاكم ثم سبيل الحاكم أن يرعى الأصلح في جهات الاحتمال فإن أدى اجتهاده في معنى اللفظ إلى جهة اتبع رأيه فيها ولو كان نصب وصياً فقد قال هؤلاء نتبع رأي الوصي أيضاً وهذا فيه نظر لأنه ليس مسلّطاً على أن يفعل ما يشاء وليس مجتهداً يرجع إلى اجتهاده فينتظم مع الوصي وجهان: أحدهما أن الرجوع إلى رأي الحاكم والثاني أنه يجوز الرجوع إلى رأي الوصي

Masalah ini merupakan poros yang dijadikan tolok ukur bagi setiap wasiat yang mengandung lafaz umum yang ambigu di antara beberapa kemungkinan yang sulit untuk dikumpulkan dan sulit untuk diputuskan dengan menentukan sebagian di antaranya. Kemudian, di antara mereka yang membenarkan wasiat tersebut, terdapat perbedaan pendapat: sebagian mengatakan bahwa wasiat kepada “āl” (keluarga) sama dengan wasiat kepada kerabat, dan sebagian lagi mengatakan bahwa wasiat tersebut sah dan diserahkan kepada ijtihad hakim. Selanjutnya, hakim hendaknya mempertimbangkan mana yang lebih maslahat di antara berbagai kemungkinan tersebut. Jika ijtihadnya terhadap makna lafaz itu mengarah pada satu sisi, maka ia mengikuti pendapatnya dalam hal itu. Jika telah ditunjuk seorang wasi (pelaksana wasiat), maka menurut mereka, pendapat wasi juga diikuti. Namun, hal ini masih perlu ditinjau, karena wasi tidak diberi wewenang untuk berbuat sesuka hatinya dan ia bukanlah seorang mujtahid yang dapat dijadikan rujukan ijtihadnya. Maka, terkait dengan wasi, terdapat dua pendapat: pertama, kembali kepada pendapat hakim; kedua, boleh kembali kepada pendapat wasi.

فلو أوصى لأهل بيت رجل فقد اختلف أصحاب الشافعي في ذلك فذهب بعضهم إلى أن الوصية لأهل البيت كالوصية للآل ومنهم من زاد على معنى الآل الزوجة فإنها أصلٌ في معنى لفظ أهل البيت

Jika seseorang berwasiat kepada keluarga (ahl) rumah seseorang, para pengikut Imam Syafi’i berbeda pendapat mengenai hal itu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa wasiat kepada ahl al-bait sama seperti wasiat kepada al-āl. Di antara mereka ada yang menambahkan bahwa makna al-āl mencakup istri, karena istri merupakan pokok dalam makna lafaz ahl al-bait.

ولو أوصى لأهل رجل ولم يقل: أوصيت لأهل بيته فقد قال بعض الأصحاب: هذه الوصية تختص بالزوجة وقال بعض أصحابنا: تعم كلَّ من يلزمه نفقته والوجه الأول مذهب أبي حنيفة  والوجه الثاني مذهب أبي يوسف ومحمد

Jika seseorang berwasiat kepada keluarga seorang laki-laki tanpa mengatakan: “Aku berwasiat kepada ahli bait-nya,” maka sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa wasiat ini khusus untuk istrinya saja. Sementara sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa wasiat tersebut mencakup setiap orang yang wajib ia nafkahi. Pendapat pertama adalah mazhab Abu Hanifah, sedangkan pendapat kedua adalah mazhab Abu Yusuf dan Muhammad.

ولو أوصى لأهل امرأة فهذا يخرّج على الخلاف المقدم فمن قال: الأهل معناه الزوجة فالوصية باطلة ومن حمل الأهلَ على من تلزم نفقته صَرَفَ الوصيةَ إلى من يلزمها نفقتهم

Jika seseorang berwasiat kepada “ahl” (keluarga) seorang wanita, maka hal ini dikembalikan kepada perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Barang siapa yang berpendapat bahwa makna “ahl” adalah istri, maka wasiat tersebut batal. Sedangkan barang siapa yang memahami “ahl” sebagai orang-orang yang wajib dinafkahi, maka wasiat itu diberikan kepada mereka yang wajib dinafkahi olehnya.

ولو أوصى لأختانه فقد قال أبو حنيفة : يدخل فيها زوج كل ذات رحم محرم منه ويدخل أيضاً كلُّ ذي رحم محرم من ذلك الزوج

Jika seseorang berwasiat untuk ipar-iparnya, menurut Abu Hanifah: yang termasuk di dalamnya adalah suami dari setiap perempuan yang merupakan mahram baginya, dan juga termasuk setiap orang yang merupakan mahram dari suami tersebut.

وقال أصحاب الشافعي رضي الله عنه وأرضاه: الوصية للختن وصيةٌ لزوج البنت واختلفوا في أزواج الأخوات ولم يتعدَّوا هذا الحدّ  وقطعوا القول بأنه لا يدخل أزواج العمات والخالات وغيرهم من المحارم والأصحُّ التخصيص بأزواج البنات

Para ulama mazhab Syafi‘i rahimahullah berkata: wasiat kepada khatan adalah wasiat kepada suami anak perempuan, dan mereka berbeda pendapat mengenai suami-suami saudari, serta tidak melampaui batas ini. Mereka menegaskan bahwa suami-suami dari bibi dari pihak ayah dan ibu serta selain mereka dari mahram tidak termasuk, dan pendapat yang paling sahih adalah dikhususkan hanya untuk suami-suami anak perempuan.

ثم سنذكر خلافاً في أن الأحفاد في الوصية للأولاد هل يدخلون تحت اسم الأولاد فمن أدخلهم تحت الوصية للأولاد أدخل أزواج الإناث من الأحفاد تحت الوصية للأَخْتان فلو أوصى للأَخْتان وكانوا قد طَلَّقوا البنات طلاقاً يقطع الزوجية وصادفنا البناتِ غيرَ ذواتِ أزواج يوم موت الموصي فلا وصية للذين كانوا أزواجاً فإنهم لم يكونوا أختاناً عند الموت وقد يتجه فيه قول أنّا نعتبر حالة الإيصاء وهذا يخرّج على أنا إذا ردَدْنا الإقرار للوارث فيعبتر كونه وارثاً يوم الإقرار أو يُعتبر ذلك يوم الموت

Kemudian kami akan menyebutkan perbedaan pendapat mengenai apakah cucu-cucu termasuk dalam wasiat untuk anak-anak; barang siapa yang memasukkan mereka ke dalam wasiat untuk anak-anak, maka ia juga memasukkan suami-suami dari cucu perempuan ke dalam wasiat untuk ipar laki-laki. Maka jika seseorang berwasiat untuk ipar laki-laki, sementara mereka telah menceraikan putri-putrinya dengan talak yang memutuskan hubungan pernikahan, dan kami mendapati putri-putrinya tidak bersuami pada hari wafatnya orang yang berwasiat, maka tidak ada wasiat bagi mereka yang pernah menjadi suami, karena mereka tidak lagi menjadi ipar pada saat kematian. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah keadaan saat berwasiat. Hal ini serupa dengan permasalahan apakah pengakuan untuk ahli waris itu dianggap berdasarkan statusnya sebagai ahli waris pada saat pengakuan atau pada saat kematian.

وكان شيخي أبو محمد يقول: هذا التردّد في الاقرار للوارث على قول ردّ الإقرار فإنا قد نعلّل ردَّ الإقرار بالتهمة فأما الوصايا فالاعتبار فيها بحالة موت الموصي فإنها ليست مبنية على التهمة ومقرّ الوصايا يوم الموت فعلى هذا لو أوصى لأَختان بناته وما كن مزوّجات ثم تزوجن وكن في حِبالة أزواجهن يوم موت الموصي فالوصية مصروفة إلى أزواجهن ولو كن متزوجات يوم الموت فقبل الأزواج الوصية ثم أبانوا البنات فالوصية قد استقرّت لهم ولو طلقوا ثم قبلوا فإن وقع التفريع على أن الملك بالموت أو هو موقوف فالوصية تثبت لهم وإن قبلوها بعد البينونة فإن حكمنا بأن الملك يحصل في الوصية بالقبول ففي المسألة وجهان: أحدهما  أن الوصية تبطل إذا تقدمت البينونة على القبول فإن التعويل في هذا القول على القبول وما كانوا أزواجاً يومئذ

Dan guruku, Abu Muhammad, berkata: Keraguan ini dalam pengakuan kepada ahli waris menurut pendapat yang menolak pengakuan, karena kita dapat beralasan bahwa penolakan pengakuan itu disebabkan adanya tuduhan (kecurigaan). Adapun wasiat, yang menjadi pertimbangan adalah keadaan saat wafatnya orang yang berwasiat, karena wasiat tidak didasarkan pada tuduhan. Orang yang berhak menerima wasiat adalah mereka yang berstatus pada hari wafatnya pewasiat. Berdasarkan hal ini, jika seseorang berwasiat kepada para suami dari putri-putrinya, sementara mereka belum menikah, lalu kemudian mereka menikah dan pada hari wafatnya pewasiat mereka masih dalam ikatan pernikahan, maka wasiat itu diberikan kepada suami-suami mereka. Namun, jika mereka sudah menikah pada hari wafatnya pewasiat, lalu para suami menerima wasiat tersebut, kemudian mereka menceraikan putri-putri itu, maka wasiat tetap menjadi hak mereka (para suami). Jika para suami menceraikan putri-putri itu terlebih dahulu, lalu menerima wasiat setelah perceraian, maka jika permasalahan ini dirinci berdasarkan apakah kepemilikan wasiat terjadi saat kematian atau masih tergantung, maka wasiat tetap sah bagi mereka jika mereka menerimanya setelah perceraian. Jika kita berpendapat bahwa kepemilikan wasiat terjadi dengan penerimaan, maka dalam masalah ini ada dua pendapat: salah satunya, wasiat menjadi batal jika perceraian terjadi sebelum penerimaan, karena dalam pendapat ini yang menjadi dasar adalah penerimaan, dan pada saat itu mereka bukan lagi suami.

والوجه الثاني أن الوصية تثبت فإن القبول إن استعقب الملك فالاعتبار في صفة الموصى له بيوم الموت والمسألة محتملة

Pendapat kedua menyatakan bahwa wasiat menjadi tetap, karena jika penerimaan wasiat itu diikuti dengan kepemilikan, maka yang menjadi pertimbangan dalam status penerima wasiat adalah pada hari wafatnya (pewasiat), dan masalah ini masih memungkinkan untuk diperdebatkan.

ولو تزوجن بعد موت الموصي فهذا فيه تردّد أيضاً مأخوذ مما ذكرناه فإن اعتبرنا يوم الموت أو فرّعنا على الوقف لم نصرف الوصية إليهم وإن فرعنا على قول القبول ففيه تردد مأخوذٌ ممّا قدمناه في تقديم البينونة على القبول وإن طلق الزوج طلاقاً رجعياً فهو زوج ووجهه بيّن

Jika mereka menikah lagi setelah wafatnya orang yang berwasiat, maka dalam hal ini juga terdapat keraguan yang diambil dari apa yang telah kami sebutkan. Jika kita mempertimbangkan hari kematian atau membangun pendapat berdasarkan penahanan, maka wasiat tidak diberikan kepada mereka. Namun jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat penerimaan, maka dalam hal ini juga terdapat keraguan yang diambil dari apa yang telah kami jelaskan sebelumnya tentang mendahulukan perpisahan atas penerimaan. Dan jika suami menceraikan dengan talak raj‘i, maka ia masih dianggap sebagai suami dan alasannya jelas.

ولو أوصى لأصهاره فقد قال أصحاب الشافعي رضي الله عنه: الوصية للأصهار وصيةٌ لأبوي المرأة فإن أوصى لأصهار نفسه دخل تحت الوصية أبو زوجته وأمها وإن كانت له زوجات دخل تحت الوصية آباء الزوجات وأمهاتهن فحسب ولم يدخل تحتها أبوا امرأة ابنه ولا أبو امرأة أبيه  وإذا خرج هؤلاء فما الظن بسائر القرابات

Jika seseorang berwasiat kepada para iparnya, para ulama Syafi‘i rahimahullah berkata: Wasiat kepada ipar adalah wasiat untuk kedua orang tua perempuan (istri). Jika seseorang berwasiat kepada ipar dirinya, maka yang termasuk dalam wasiat itu adalah ayah dan ibu istrinya. Jika ia memiliki beberapa istri, maka yang termasuk dalam wasiat adalah ayah dan ibu dari masing-masing istri saja, dan tidak termasuk di dalamnya ayah istri anaknya maupun ayah istri ayahnya. Jika mereka saja tidak termasuk, apalagi kerabat-kerabat lainnya.

والوصية للأحماء كالوصية للأصهار

Wasiat kepada keluarga mertua hukumnya sama dengan wasiat kepada keluarga ipar.

ثم إذا جعلنا الوصيةَ للأصهار وصيةً لأبوي الزوجة ففي أجدادها وجداتها تردد بين الأصحاب سيأتي له نظائر إن شاء الله عز وجل

Kemudian, apabila kami menjadikan wasiat kepada para besan sebagai wasiat kepada kedua orang tua istri, maka dalam hal kakek dan neneknya terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat (ulama), yang akan disebutkan padanannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولو أوصى لأمهاتٍ رجل فالجداتُ من قبل الأم يدخلن لا محالة فإنه لما ذكر الأمهات على صيغة الجمع عرفنا أنه لم يُردْ قصرَ الوصية على الوالدة وفي دخول الجدات من قبل الأب تردُّدٌ والأظهر أنهن لا يدخلن

Jika seseorang berwasiat untuk para ibu dari seorang laki-laki, maka para nenek dari pihak ibu pasti termasuk di dalamnya, karena ketika ia menyebutkan “para ibu” dalam bentuk jamak, kita mengetahui bahwa ia tidak bermaksud membatasi wasiat hanya untuk ibu kandung saja. Adapun mengenai masuknya para nenek dari pihak ayah, terdapat perbedaan pendapat, dan yang lebih kuat adalah bahwa mereka tidak termasuk.

وإن أوصى لآبائه دخل تحت ذلك الأجداد من قبل الأب وهل يدخل الأجداد من قبل الأم فعلى اختلافٍ وتردُّدٍ بين الأصحاب

Jika seseorang berwasiat untuk ayah-ayahnya, maka yang termasuk di dalamnya adalah kakek-kakek dari pihak ayah. Adapun apakah kakek-kakek dari pihak ibu juga termasuk, maka terdapat perbedaan dan keraguan di antara para ulama.

ولو أوصى لأجداده دخل الأجداد من الجهتين بلا خلاف

Jika seseorang berwasiat untuk kakek-neneknya, maka kakek-nenek dari kedua jalur (ayah dan ibu) termasuk di dalamnya tanpa ada perbedaan pendapat.

وكذلك إذا أوصى لجدّاته دخلت الجدات من الجهتين بلا خلاف الوارثات منهن والساقطات عن الإرث بمثابةٍ في استحقاق الوصية

Demikian pula, jika seseorang berwasiat kepada nenek-neneknya, maka nenek-nenek dari kedua pihak masuk tanpa ada perbedaan pendapat, baik yang berhak mewarisi maupun yang terhalang dari warisan, semuanya sama dalam berhak menerima wasiat.

ولو أوصى لبني فلان نُظر: فإن كانوا محصورين وقد عزاهم إلى أب معلوم وكان له بنون وبنات فظاهر المذهب أنه يختص بالوصية الذكورُ من أولاده

Jika seseorang berwasiat kepada anak-anak si Fulan, maka dilihat: jika mereka terbatas jumlahnya dan ia menisbatkan mereka kepada ayah yang jelas diketahui, serta orang tersebut memiliki anak laki-laki dan perempuan, maka pendapat yang masyhur dalam mazhab adalah bahwa wasiat itu khusus bagi anak laki-laki dari keturunannya.

ومن أصحابنا من قال: يدخل جميع أولاده الذكور منهم والإناث وهذا بعيدٌ لا اعتبار به

Sebagian dari ulama kami berpendapat: semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk di dalamnya. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan.

ولو أوصى لبني فلان وذكر قبيلة مثل أن يوصي لبني شافع فقد اتفق الأصحاب على أن اللفظ لا يخصص بالذكور فإن القبائل يعبر عنها على هذا الوجه ولكن يتعرض للتفصيل إمكانُ حصرهم فإن كان الحصر ممكناً فالوصية صحيحة وإن لم يكن الحصر ممكناً ففي المسألة القولان المذكوران في الوصية للعلوية ومن في معناهم

Jika seseorang berwasiat kepada Bani Fulan dan menyebutkan suatu kabilah, seperti berwasiat kepada Bani Syafi‘, para ulama sepakat bahwa lafaz tersebut tidak dikhususkan hanya untuk laki-laki, karena kabilah-kabilah biasa diungkapkan dengan cara seperti ini. Namun, perlu dirinci apakah memungkinkan untuk membatasi jumlah mereka. Jika pembatasan itu memungkinkan, maka wasiat tersebut sah. Jika tidak memungkinkan untuk membatasi jumlah mereka, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat sebagaimana yang disebutkan dalam wasiat kepada orang-orang Alawiyin dan yang semakna dengan mereka.

ولو أوصى لأولاد رجل يتناول الذكور والإناث وهل يختص بأولاد الدِّنية  أو يتناول الأحفاد فيها خلاف مشهور وظاهر النص أنه يختص بأولاد الصلب فإن جعلنا اللفظ شاملاً لأولاد الصلب والأحفاد فلا كلام وإن خصصنا الوصية بأولاد الصلب عند وجودهم فلو قال: أوصيت لأولاد فلان ولم يكن له أولاد صلب إذْ ذاك وكان له أولاد أولاد ففي المسألة خلاف

Jika seseorang berwasiat kepada anak-anak seorang laki-laki, maka itu mencakup anak laki-laki dan perempuan. Apakah wasiat itu khusus untuk anak-anak dari hubungan sah atau juga mencakup cucu, terdapat perbedaan pendapat yang masyhur. Teks yang jelas menunjukkan bahwa wasiat itu khusus untuk anak kandung. Jika lafaznya kita anggap mencakup anak kandung dan cucu, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita khususkan wasiat itu hanya untuk anak kandung ketika mereka ada, lalu seseorang berkata: “Aku berwasiat untuk anak-anak Fulan,” sementara saat itu Fulan tidak memiliki anak kandung, tetapi memiliki cucu, maka dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat.

ثم إن قلنا: إنهم يدخلون فيدخل أولاد بنيه وهل يدخل أولاد بناته على هذا الوجه وجهان وسبب التردّد أن انتساب أولاد بنيه إليه بوسائط البنين  وانتساب أولاد بناته إلى أزواجهن وهذا معنى قول القائل:

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa mereka termasuk, maka anak-anak dari putra-putranya juga termasuk. Adapun apakah anak-anak dari putri-putrinya juga termasuk dalam hal ini, terdapat dua pendapat. Sebab keraguan ini adalah karena hubungan nasab anak-anak dari putra-putranya kepadanya melalui perantara para putra, sedangkan hubungan nasab anak-anak dari putri-putrinya adalah kepada suami-suami mereka. Inilah makna dari ucapan seseorang:

بنونا بنو أبنائنا وبناتنا بنوهن أبناء الرجال الأباعد

Anak laki-laki kita adalah anak laki-laki dari anak laki-laki kita, dan anak perempuan kita, anak-anak mereka adalah anak-anak laki-laki dari laki-laki lain yang jauh hubungan kekerabatannya.

وإن أوصى لإخوة فلان فقد قال أبو حنيفة والشافعي: إن كانوا ذكوراً استحقوا الوصية وإن كن إناثاً لم تصرف الوصية إليهن وإن كانوا ذكوراً وإناثاً إخوة وأخوات فمذهب أبي حنيفة وظاهر نص الشافعي أنه يختص بالوصية الإخوة دون الأخوات وقال أبو يوسف ومحمد: هو لجميعهن

Jika seseorang berwasiat kepada saudara-saudara si Fulan, maka menurut pendapat Abu Hanifah dan asy-Syafi‘i: jika mereka laki-laki, maka merekalah yang berhak menerima wasiat tersebut; jika mereka perempuan, maka wasiat itu tidak diberikan kepada mereka; dan jika mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, yakni saudara-saudara laki-laki dan saudara-saudara perempuan, maka menurut mazhab Abu Hanifah dan pendapat zahir dari an-Nash asy-Syafi‘i, wasiat itu khusus untuk saudara-saudara laki-laki saja, tidak untuk saudara-saudara perempuan. Namun, menurut Abu Yusuf dan Muhammad, wasiat itu berlaku untuk semuanya.

ولو أوصى لمولاه فاسم المولى يتناول المعتِق وهو المولى الأعلى وقد يتناول المعتَق وهو المولى الأسفل قال مالك : الوصية للمولى مصروفة إلى الأسفل وقال أبو حنيفة : إن لم يبين فالوصية باطلة وقال أبو ثور: يقرع بين الأعلى والأسفل وحكى البويطي عن الشافعي قولين: أحدهما أنه يوقف بينهم حتى يصطلحوا

Jika seseorang berwasiat kepada “maulā”-nya, maka istilah “maulā” mencakup orang yang memerdekakan (maulā al-a‘lā) dan terkadang juga mencakup orang yang dimerdekakan (maulā al-asfal). Malik berpendapat: wasiat kepada maulā diarahkan kepada maulā al-asfal. Abu Hanifah berpendapat: jika tidak dijelaskan, maka wasiat tersebut batal. Abu Tsaur berpendapat: diundi antara maulā al-a‘lā dan maulā al-asfal. Al-Buwaiti meriwayatkan dari Syafi‘i dua pendapat: salah satunya adalah wasiat tersebut ditangguhkan di antara mereka hingga mereka berdamai.

والثاني أنه يقسم بين الأعلى والأسفل

Yang kedua adalah bahwa ia membagi antara yang di atas dan yang di bawah.

وهذا إذا وُجد الموليان فإن كان لا يوجد إلا أحدهما صرفت الوصية إلى ذلك الصنف فإن اقتضى الحال صَرْفَ الوصية إلى المعتَقين فكل من يثبت له الولاء عليه داخلٌ تحت الاستحقاق سواء كان متبرعاً بالعتق أو مؤدياً فرضاً كالذي يعتق عن كفارة أو وفاء نذر  وهل يدخل تحت الوصية أمهات الأولاد والمدبّرون الذين يعتِقون عند الموت اختلف أصحاب الشافعي في ذلك فمنهم من قال: لا يدخل هؤلاء وبه قال محمد بن الحسن وهو إحدى الروايتين عن أبي يوسف

Hal ini berlaku jika kedua pihak yang memiliki hak wala’ ada. Namun, jika hanya salah satu yang ada, wasiat dialihkan kepada golongan tersebut. Jika situasinya mengharuskan wasiat diberikan kepada para ma‘taq (orang yang dimerdekakan), maka setiap orang yang memiliki hak wala’ termasuk dalam golongan yang berhak menerima, baik ia memerdekakan secara sukarela maupun melaksanakan kewajiban, seperti orang yang memerdekakan budak untuk membayar kafarat atau menunaikan nazar. Adapun apakah ibu-ibu dari anak-anak (ummuhāt al-awlād) dan budak mudabbar yang dimerdekakan saat tuannya wafat termasuk dalam cakupan wasiat, para ulama Syafi‘i berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa mereka tidak termasuk, dan pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin al-Hasan serta merupakan salah satu riwayat dari Abu Yusuf.

ومنهم من قال: يدخلون وهو الرواية الثانية عن أبي يوسف وليس ذلك بعيداً عن القياس ومولى الموالاة والمحالفة ليس من الموالي عند الشافعي رضي الله عنه

Sebagian dari mereka berpendapat: mereka termasuk (ke dalam golongan tersebut), dan ini adalah riwayat kedua dari Abu Yusuf. Hal itu tidaklah jauh dari qiyās. Adapun maulā al-muwālāh dan al-muḥālafah, menurut Imam Syafi‘i raḥimahullāh, bukan termasuk golongan mawālī.

فصل

Bagian

إذا أوصى لجيرانه فقد قال الزهري : حدُّ الجوار أربعون داراً من كل ناحية وهذا هو الذي ذكره العراقيون مذهباً لنا ولم يعرفوا غيره واستدلوا فيه بمذهب عائشة رضي الله عنها والظن بها أنها لا تحتكم بذلك إلا عن ثبت عندها

Jika seseorang berwasiat kepada para tetangganya, az-Zuhri berkata: batasan bertetangga adalah empat puluh rumah dari setiap arah. Inilah yang disebutkan oleh para ulama Irak sebagai mazhab kami, dan mereka tidak mengetahui pendapat lain. Mereka berdalil dalam hal ini dengan mazhab ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan diyakini bahwa beliau tidak menetapkan hal itu kecuali berdasarkan sesuatu yang telah pasti baginya.

وللعلماء في ذلك مذاهب مختلفة والظاهر من مذهب أصحاب الشافعي أن الجار هو الملاصق من الجوانب لا غير وهذا مذهب أبي حنيفة  وهو القياس لأن الجار من المجاورة ومعناها الظاهر الملاصقة فإن حُملت على مزيدٍ فلا منتهى له يوقف عنده فيجب الاقتصار على القدر المعلوم

Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam hal ini. Pendapat yang tampak dari mazhab para pengikut Syafi‘i adalah bahwa tetangga adalah yang bersebelahan langsung dari sisi-sisinya saja, tidak lebih. Ini juga merupakan mazhab Abu Hanifah dan inilah yang sesuai dengan qiyās, karena tetangga berasal dari kata al-mujāwarah yang makna lahiriahnya adalah bersebelahan langsung. Jika makna ini diperluas, maka tidak ada batasan yang bisa dijadikan pegangan, sehingga harus dibatasi pada kadar yang sudah diketahui.

واختلف أصحابنا في الذين يجمعهم زقاق غير نافذ فهل نجعلهم جميعاً جيرانا فيه اختلاف ومحل الخلاف في الذين لا يلاصقون

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai orang-orang yang tinggal di gang buntu, apakah mereka semua dianggap sebagai tetangga; terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, dan letak perbedaannya adalah pada orang-orang yang rumahnya tidak saling berdekatan.

وكذلك اختلف الأصحاب في الجار المحاذي وإن كانت السكة نافذة وسبب الاختلاف أنه يسمى في العرف جاراً وقد يقال: في تقسيم الجيران: جار ملاصق وجار مقابل

Demikian pula para ulama berbeda pendapat mengenai tetangga yang sejajar, meskipun terdapat jalan yang tembus di antara mereka. Sebab perbedaan pendapat ini adalah karena dalam kebiasaan, ia tetap disebut sebagai tetangga, dan terkadang dalam pembagian tetangga dikatakan: tetangga yang berdempetan dan tetangga yang berhadapan.

ثم من رأى إدخال الجار المحاذي فلا يشترط الحذاء المحقق على معنى المسامتة ولكن لو زال عن الحذاء قليلاً فهو كالمحاذي والضبط في هذا الفن أن يكون داره من دار الموصي بحيث يتوقع منها ضرار الاطلاع وفي مثل ذلك نذكر ضرار الجار ونقيضه وهذا نبينه على تفصيلٍ في اتساع الطريق وضيقها فإن الشارع إذا اتسع فلا يكون المحاذي من الجانب الآخر جاراً

Kemudian, menurut pendapat yang membolehkan memasukkan tetangga yang sejajar, tidak disyaratkan harus benar-benar sejajar dalam arti persis berhadapan, tetapi jika bergeser sedikit dari posisi sejajar, maka ia tetap dianggap sebagai tetangga yang sejajar. Patokan dalam masalah ini adalah bahwa rumahnya terhadap rumah orang yang berwasiat sedemikian rupa sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan mudarat berupa saling mengintip. Dalam kasus seperti ini, kita membahas tentang mudarat tetangga dan lawannya. Hal ini akan kami jelaskan secara rinci terkait dengan lebar dan sempitnya jalan, sebab jika jalan itu lebar, maka tetangga yang berada di sisi lain jalan tidak dianggap sebagai tetangga.

وإذا ضممنا إلى ما ذكرنا ما ذكره العراقيون ورأوه مذهباً انتظم منه أوجهٌ لا يخفى تعدادها فهذا اقصى الإمكان في ضبط معاني هذه الألفاظ المشكلة

Jika kita menambahkan apa yang telah disebutkan oleh para ulama Irak dan mereka anggap sebagai mazhab, yang darinya tersusun beberapa pendapat yang tidak samar jumlahnya, maka inilah batas maksimal dalam membatasi makna-makna dari istilah-istilah yang problematis ini.

وإنما ذكرنا في بعضها مذاهب العلماء إشعاراً بإشكالها حتى يأخذ الفقيه في نظره فيها حِذْرَه ويتثبت في الفتوى جهده فقد بلغنا في بعض مسموعاتنا أن المسألة الجلية كانت تُعرض في جمع من علماء أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وكانوا يتفادَوْن في الجواب ويحيل البعض على البعض فربما يخرج السائل ولا جواب معه

Kami menyebutkan dalam sebagian pembahasan pendapat-pendapat para ulama sebagai isyarat atas kerumitan masalah tersebut, agar seorang faqih berhati-hati dalam meninjaunya dan bersungguh-sungguh dalam memastikan kebenaran fatwa. Telah sampai kepada kami dalam sebagian riwayat bahwa suatu permasalahan yang jelas pernah diajukan di hadapan sekelompok ulama dari para sahabat Rasulullah ﷺ, namun mereka saling menghindar untuk menjawabnya dan sebagian dari mereka menyerahkan kepada yang lain, sehingga terkadang si penanya pergi tanpa mendapatkan jawaban.

ومما يتعلق بالألفاظ المذكورة في الوصايا أنه إذا أضاف الوصيةَ إلى صنفٍ من أصناف الزكاة فسيأتي بيان أوصافهم في قَسْم الصدقات

Hal yang berkaitan dengan lafaz-lafaz yang disebutkan dalam wasiat adalah bahwa apabila seseorang menisbatkan wasiat kepada salah satu golongan dari golongan-golongan zakat, maka akan dijelaskan sifat-sifat mereka pada bagian sedekah.

والقدر الذي نذكره هاهنا أن الفقراء يتميزون عن المساكين والفقير أشد حالاً من المسكين فإن وقعت الوصية للفقراء والمساكين جميعاً فرَّقنا بينهما بما سنذكره في الصدقات وإن أوصى للفقراء فهذا الاسم في الانفراد يصلح للفقراء والمساكين جميعاً لم يختلف علماؤنا فيه وكذلك إذا أوصى للمساكين فهو يتناول الفقراء وأهل المسكنة وكأن اللفظين لا يستقل واحد منهما بمزيّة حتى يجتمعا فنتحقق عند اجتماعهما فرقاً

Yang perlu kami sebutkan di sini adalah bahwa orang-orang fakir berbeda dengan orang-orang miskin, dan fakir keadaannya lebih parah daripada miskin. Jika wasiat diberikan kepada fakir dan miskin sekaligus, maka kami membedakan antara keduanya sebagaimana akan kami jelaskan dalam bab sedekah. Jika seseorang berwasiat untuk fakir saja, maka istilah ini secara sendiri mencakup baik fakir maupun miskin, dan para ulama kami tidak berbeda pendapat dalam hal ini. Demikian pula jika seseorang berwasiat untuk miskin, maka itu juga mencakup fakir dan orang-orang yang dalam keadaan miskin. Seolah-olah kedua istilah tersebut tidak memiliki keistimewaan tersendiri kecuali jika digabungkan, sehingga ketika keduanya disebut bersama, barulah kami memastikan adanya perbedaan di antara keduanya.

فصل

Bagian

إذا أوصى لأرامل بني فلان فقد قال الشعبي : هذا يقع على الرجال والنساء وبه قال إسحاق بن راهويه واستدلوا بقول جرير :

Jika seseorang berwasiat kepada para janda dari Bani Fulan, maka asy-Sya‘bi berkata: Ini mencakup laki-laki dan perempuan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ishaq bin Rahawaih, dan mereka berdalil dengan perkataan Jarir:

هذي الأرامل قد قضيت حاجتَها فمن لحاجة هذا الأرمل الذكر

Para janda ini telah dipenuhi kebutuhannya, lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan duda laki-laki ini?

وقال الشافعي رضي الله عنه: الأرامل هن اللواتي مات عنهن أزواجهن أو بِنَّ عنهم بسبب من الأسباب

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Para janda adalah perempuan-perempuan yang suaminya telah meninggal dunia atau yang berpisah dari suaminya karena suatu sebab.

ثم اختلف أصحابنا في أنا هل نشترط مع ذلك فقرهن ليدخلن تحت الوصية للأرامل وظاهر النص يشير إلى اشتراط الحاجة والخِلة ثم إن كن محصورات صحت الوصية وإن لم يكنّ محصورات صحت الوصية أيضاً ويحمل على أقل الجمع

Kemudian para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah kami mensyaratkan kemiskinan mereka agar mereka termasuk dalam wasiat untuk para janda, dan zahir nash menunjukkan adanya syarat kebutuhan dan kefakiran. Lalu, jika mereka terbatas jumlahnya, wasiat itu sah, dan jika mereka tidak terbatas jumlahnya, wasiat itu juga sah dan dibawa pada makna jumlah paling sedikit dari suatu kelompok.

وليست الوصية لهن كالوصية للعلوية فإن ما وصفن به لا يلزمهن أيضاً كما لا يلزم الفقر والمسكنة

Dan wasiat kepada mereka tidaklah sama dengan wasiat kepada perempuan dari kalangan ‘Alawiyyah, karena sifat-sifat yang disebutkan tentang mereka juga tidak wajib bagi mereka, sebagaimana kefakiran dan kemiskinan juga tidak wajib bagi mereka.

ولو أوصى لأيامى بني فلان كانت الوصية مصروفة إلى غير ذوات الأزواج والفرق بين الأيامى والأرامل أن الأرملة هي التي كان لها زوج والأيم هي التي ليست ذاتَ زوج في الحال ولا فرق بين أن يتقدم لها زوج أوْ لا تكون نكحت قط ثم لا فرق عندنا بين الأبكار والثُّيب  فاسم الأيامى يشملهن وفي اشتراط الفقر

Jika seseorang berwasiat untuk para ayāmā dari Bani Fulan, maka wasiat tersebut diberikan kepada perempuan-perempuan yang tidak bersuami. Perbedaan antara ayāmā dan armalah adalah bahwa armalah adalah perempuan yang pernah memiliki suami, sedangkan ayāmā adalah perempuan yang saat ini tidak bersuami, baik pernah menikah sebelumnya maupun belum pernah menikah sama sekali. Menurut kami, tidak ada perbedaan antara perempuan perawan (abkār) dan janda (tsayyib), sehingga istilah ayāmā mencakup keduanya. Adapun mengenai syarat fakir…

والوصيةُ للأيامى تردّد كما ذكرنا في الأرامل فإن كلّ واحد من اللفظين يشعر بعدم الكافل وذلك يشير إلى الحاجة

Dan wasiat untuk para ayama juga diperselisihkan sebagaimana telah kami sebutkan pada para janda, karena masing-masing dari kedua lafaz tersebut menunjukkan tidak adanya penanggung, dan hal itu mengisyaratkan adanya kebutuhan.

ولو أوصى لكل ثيب من بني بكر فالذي ذهب إليه أكثر أصحابنا أن الوصية للنساء دون الرجال وهو مذهب أبي حنيفة

Jika seseorang berwasiat untuk setiap wanita yang pernah menikah dari Bani Bakr, maka pendapat mayoritas ulama mazhab kami adalah bahwa wasiat tersebut ditujukan kepada para wanita saja, tidak kepada laki-laki, dan ini juga merupakan mazhab Abu Hanifah.

ومن أصحابنا من قال: يدخل الرجال الذين جامعوا تحت اسم الثيب

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: laki-laki yang telah melakukan hubungan suami istri termasuk dalam kategori tsayyib.

وكذلك لو أوصى لكل بِكرٍ من بني فلان ففي المسألة وجهان في دخول الرجال

Demikian pula, jika seseorang berwasiat untuk setiap bikr dari Bani Fulan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat mengenai masuk atau tidaknya laki-laki.

وإنما صار إلى الوجه الضعيف من صار إليه لقول رسول الله عليه السلام: البكر بالبكر جلد مائةٍ وتغريب عام والثيب بالثيب جلد مائةٍ والرجم

Adapun orang yang memilih pendapat yang lemah, mereka melakukannya karena sabda Rasulullah saw.: “Perawan dengan perawan (yang berzina) dihukum seratus cambukan dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan yang sudah menikah dengan yang sudah menikah (yang berzina) dihukum seratus cambukan dan dirajam.”

ومن الألفاظ التي تستعمل في الوصايا الغلمان والشيوخ والكهول والأطفال والصبيان والفتيان قال الشافعي وأبو يوسف ومحمد : الغلام من لم يحتلم ولم يبلغ خمس عشرة سنة وكذلك القول في الطفل والصبي وكذلك الذراري

Di antara lafaz yang digunakan dalam wasiat adalah ghulām, syuyūkh, kuhūl, athfāl, shibyān, dan fityān. Imam Syafi‘i, Abu Yusuf, dan Muhammad berkata: Ghulām adalah anak laki-laki yang belum bermimpi (baligh) dan belum mencapai usia lima belas tahun. Demikian pula halnya dengan istilah thifl, shabī, dan dzarārī.

وفي طريق العراقيين ما يدل على أنا لا نشترط في الذراري الصِّغر وهم النسل والأولاد كيف كانوا ومن خالف في أن اسم الولد هل يتناول الحافد ذهبوا إلى أن الذرية يتناول الأولاد والأحفاد فقال أبو يوسف: يكون الإنسان بعد البلوغ فتًى إلى ثلاثين سنة ثم كهلاً إلى خمسين سنة ثم يكون بعدها شيخاً إلى آخر عمره

Dalam riwayat orang-orang Irak terdapat petunjuk bahwa kami tidak mensyaratkan pada keturunan itu harus kecil; mereka adalah keturunan dan anak-anak, bagaimanapun keadaan mereka. Adapun yang berbeda pendapat tentang apakah istilah “anak” mencakup cucu, mereka berpendapat bahwa “dzurriyyah” mencakup anak-anak dan cucu-cucu. Abu Yusuf berkata: Seseorang setelah baligh disebut pemuda hingga usia tiga puluh tahun, kemudian disebut dewasa hingga usia lima puluh tahun, lalu setelah itu disebut tua hingga akhir usianya.

وقال محمد بن الحسن: هو بعد البلوغ فتى إلى أربعين سنة ويسمى شاباً في هذه المدة ثم يكون كهلاً إلى خمسين ثم شيخاً إلى آخر عمره وهذه الألفاظ معانيها مشكلة في الإطلاق ولكنا نعلم أن الطفولية إلى تهيؤ الجبلّة لثبوت مادة الزرع فيها

Muhammad bin al-Hasan berkata: Setelah baligh, seseorang disebut pemuda hingga usia empat puluh tahun dan dalam rentang waktu ini ia disebut syab (anak muda), kemudian menjadi kahil (paruh baya) hingga lima puluh tahun, lalu menjadi syaikh (orang tua) hingga akhir usianya. Namun, makna-makna istilah ini sulit untuk diterapkan secara mutlak, tetapi kita mengetahui bahwa masa kanak-kanak berlangsung hingga kesiapan tabiat untuk menetapkan potensi yang ada di dalamnya.

ثم من هذا الوقت في كل جبلّة نموٌّ وازدياد في الجسم والقوى ثم إذا انتهى النمو ظننا وقوفاً في مدة فإذا انتهى ابتدأ النقص

Kemudian, sejak waktu itu, pada setiap generasi terjadi pertumbuhan dan peningkatan pada tubuh dan kekuatan, lalu apabila pertumbuhan itu mencapai puncaknya, kita mengira ada keadaan tetap dalam suatu masa, kemudian apabila masa itu berakhir, mulailah terjadi penurunan.

والشباب من كمال الجبلّة وتهيئها لأن تولد مادة تصلح لمثلها ومن هذا الوقت شباب إلى منقرض وقت النمو ووقتُ الوقوف كهولة

Masa muda merupakan puncak kesiapan tabiat manusia dan persiapannya untuk menghasilkan materi yang layak bagi yang sejenis dengannya. Dari waktu inilah masa muda dimulai hingga berakhirnya masa pertumbuhan, dan masa stabilitas disebut masa dewasa (kahulah).

فإذا ابتدأ النقصان الجبليِّ فهو شيخوخة إلى منقرض العمر

Jika penurunan alami telah dimulai, maka itu adalah masa tua hingga akhir hayat.

ثم هذه الأطوار لا تنضبط بمددٍ معلومة في جميع الجبلات فإنها مختلفة في البنية والقوى وورد في الشرع ضبطٌ زماني في البلوغ إن استأخر الحكم فلو ورد مثلُه في هذه الأطوار لاتبعناه هذا إلى اختلال الأبنية بالاعتلال والعوارض فكيف السبيل والذي أطلقه الأصحاب الرجوع إلى العرف وإلى ما يفهم منه في الجبلات المختلفة

Kemudian, tahapan-tahapan ini tidak dapat ditetapkan dengan jangka waktu tertentu pada semua tabiat, karena berbeda-beda dalam struktur dan kekuatan. Dalam syariat terdapat penetapan waktu tertentu dalam hal baligh jika penetapan hukum terlambat, maka jika ada penetapan serupa dalam tahapan-tahapan ini, tentu kita akan mengikutinya. Selain itu, struktur tubuh juga dapat terganggu oleh penyakit dan berbagai kondisi, lalu bagaimana caranya? Pendapat yang dipilih oleh para ulama adalah kembali kepada ‘urf (kebiasaan) dan apa yang dipahami darinya pada tabiat-tabiat yang berbeda.

ولست أرى في ذلك متمسكاً شرعياً أو جبليّاً والقدر الذي ورد الشرع به ذكْر الأربعين فإنها الأشُدّ في التفسير الظاهر وقد شهد بذلك نصّ القرآن قال الله تعالى: {حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وإذا غمض المدرك في شيء واستبهم الأمر اكتفى الفطن بالمتعلق الذي لا يتعلق بمثله إذا اتسع المجال

Saya tidak melihat adanya pegangan syar‘i atau fitrah dalam hal itu, dan kadar yang disebutkan oleh syariat adalah menyebut usia empat puluh tahun, karena itu adalah usia paling matang menurut tafsir yang zahir. Hal ini ditegaskan oleh nash Al-Qur’an, Allah Ta‘ala berfirman: “Hingga apabila dia telah mencapai kedewasaannya dan mencapai usia empat puluh tahun.” Dan apabila pemahaman terhadap suatu perkara menjadi samar dan urusan menjadi tidak jelas, maka orang yang cerdas cukup berpegang pada hal yang memang layak dijadikan pegangan, yang tidak akan dijadikan pegangan pada selain kondisi seperti itu jika ruangnya lebih luas.

هذا ولا نصَّ لصاحب المذهب وليس ما نُجريه من الأمور الوجودية كأدوار الحيض وسن الاحتلام ومدة الحمل في الأقل والأكثر

Adapun dalam hal ini, tidak terdapat nash dari pemilik mazhab, dan apa yang kami tetapkan bukanlah perkara-perkara yang bersifat empiris seperti masa haid, usia baligh, dan lamanya kehamilan dalam batas minimal maupun maksimal.

ولست أنكر مع ذلك الالتفاتَ إلى شيئين: أحدهما الضعف الذي لا يحمل على الأعراض والأمراض ووخط المشيب الذي لا يحمل على الندور مع أنه قد يُمتَّع بالسواد الشيخ ويبادر الشابَّ الشيبُ هذا إلى الاستمساك بما المرء فيه إلى ظهور الزوال على أني ذكرت من مذهب السلف ما يضطرب ذو الرأي فيه

Namun demikian, aku tidak mengingkari adanya perhatian terhadap dua hal: yang pertama adalah kelemahan yang tidak disebabkan oleh gangguan atau penyakit, dan yang kedua adalah tumbuhnya uban yang tidak disebabkan oleh kelangkaan, meskipun terkadang seorang tua masih dapat menikmati rambut hitam, sementara uban bisa lebih dulu muncul pada seorang pemuda. Ini semua berkaitan dengan upaya seseorang untuk tetap bertahan pada keadaannya hingga tampak tanda-tanda perubahan. Padahal, aku telah menyebutkan pendapat salaf yang membuat orang berakal pun menjadi bimbang di dalamnya.

ولو أوصى ليتامى بني فلان فيستوي في ذلك الذكور والإناث وهم الذين لا آباء لهم ولا يتم بعد البلوغ اتفق عليه أصحابنا ونطق به الخبر الصحيح  وهل يشترط الفقر واسم الأيتام مطلق فعلى وجهين وهذا الخلاف يجري في كل صفة تذكر في الوصية مشعرة بعجزٍ في النفس أو انقطاعٍ كامل كالوصية للعميان والزمنَى والأرامل واليتامى والأيامى

Jika seseorang berwasiat kepada anak-anak yatim dari Bani Fulan, maka laki-laki dan perempuan diperlakukan sama dalam hal ini. Mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki ayah, dan status yatim tidak berlaku setelah baligh; hal ini telah disepakati oleh para ulama mazhab kami dan ditegaskan dalam hadis yang sahih. Apakah disyaratkan harus fakir, sedangkan istilah “yatim” disebutkan secara mutlak, terdapat dua pendapat. Perbedaan pendapat ini juga berlaku pada setiap sifat yang disebutkan dalam wasiat yang menunjukkan adanya kekurangan pada diri atau keterputusan yang sempurna, seperti wasiat untuk orang buta, orang cacat, para janda, anak yatim, dan para wanita yang tidak bersuami.

فأما الوصية للصبيان فلا تقتضي فقراً وفاقاً وكذلك الوصية للشيوخ

Adapun wasiat kepada anak-anak tidak mensyaratkan adanya kemiskinan, demikian pula wasiat kepada orang-orang tua.

ولا يخفى على المتأمل الفرق

Tidaklah samar bagi orang yang memperhatikan adanya perbedaan.

ثم يجري في جميع المسائل انحصار الموصى لهم وخروجهم عن الحصر وترتيب المذهب على ما تقدم في بيان محل الوفاق والخلاف

Kemudian, dalam seluruh permasalahan, berlaku pembahasan mengenai terbatasnya para penerima wasiat dan keluarnya mereka dari batasan tersebut, serta penataan mazhab sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya dalam penjelasan tempat terjadinya kesepakatan (ijmā‘) dan perbedaan pendapat (khilāf).

ولو أوصى لعقب فلان يتناول ذلك الأولادَ والأحفادَ وإن سفلوا ولا فرق بين الذكور والإناث

Jika seseorang berwasiat untuk keturunan Fulan, maka wasiat tersebut mencakup anak-anak dan cucu-cucunya, meskipun mereka berada pada tingkatan yang lebih bawah, dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

وذكر بعض الأصحاب أنه إذا كان لمن أوصى لعقبه أولادُ صُلبٍ وأولاد أولادٍ فالوصية مصروفةٌ إلى الأَدْنَيْن فإن لم يكن له أولاد صلب  فإلى الأقرب فالأقرب من الأحفاد

Sebagian ulama menyebutkan bahwa jika orang yang diwasiati untuk keturunannya memiliki anak kandung dan cucu, maka wasiat tersebut diberikan kepada yang paling dekat (yaitu anak kandung). Jika ia tidak memiliki anak kandung, maka diberikan kepada cucu yang paling dekat hubungannya, lalu yang lebih dekat berikutnya.

وهذا غير صحيح عندي فإن اسم العقب في وضعه يتناول الأولاد وأولاد الأولاد وإن سفلوا فلا معنى لتخصيص هذا اللفظ المطلق بالأدنَيْن ولعل الذين رأَوْا ذلك أخذوه من الخلافة فإن أولاد الدِّنْية يعقبون من الموروث خلافة  فإن لم يكونوا فأولاد الأولاد يعقبونه وهكذا على ترتيب البطون

Menurut saya, hal ini tidak benar, karena istilah ‘aqib’ dalam penggunaannya mencakup anak-anak dan cucu-cucu, meskipun mereka berada di tingkat yang lebih bawah, sehingga tidak ada alasan untuk membatasi istilah umum ini hanya pada anak-anak terdekat saja. Mungkin mereka yang berpendapat demikian mengambilnya dari konsep khilāfah, di mana anak-anak dari garis terdekat mewarisi dari pewaris secara khilāfah; jika mereka tidak ada, maka cucu-cucu yang mewarisinya, dan demikian seterusnya sesuai urutan garis keturunan.

ولو أوصى لعقب فلانٍ ومات الموصي والمذكورُ عقبه حيٌّ بعدُ قال جماهير الأصحاب: بطلت الوصية فإنه ما دام حيّاً فليس يعقبه أحد وهذا جارٍ على قياس تقديم الأقرب فالأقرب فإنا إذا كنا نفهم من العقب من يعقب فالحي لا يعقبه أحدٌ وهو حي ومعنى العقب عند هذا الإنسان من تقدّم العقب غيرُه

Dan jika seseorang berwasiat kepada keturunan Fulan, lalu pewasiat meninggal dunia sementara orang yang disebutkan itu masih memiliki keturunan yang hidup, maka mayoritas ulama berpendapat: wasiat tersebut batal, karena selama ia masih hidup, tidak ada seorang pun yang menjadi keturunannya (sepeninggalnya). Hal ini sejalan dengan qiyās mendahulukan yang terdekat, karena jika kita memahami makna “keturunan” adalah orang yang datang setelahnya, maka orang yang masih hidup tidak memiliki keturunan yang menggantikannya selama ia masih hidup. Dan makna “keturunan” di sini adalah orang yang mendahului keturunan lainnya.

والظاهر عندنا أن الوصية تصح إذا كان له أولادٌ فإنهم يسمون أعقاباً في حياة الإنسان

Pendapat yang tampak menurut kami adalah bahwa wasiat itu sah apabila seseorang memiliki anak-anak, karena mereka disebut sebagai a‘qāb selama orang tersebut masih hidup.

ولو أوصى لورثة إنسان فالوصية لكل مَنْ ورثه من ذكر أو أنثى بنسب أو بسبب غير أن الموصى به في الإطلاق موزّع عليهم بالسوية وإن اختلفت حصصهم في الاستحقاق بالميراث

Jika seseorang berwasiat kepada para ahli waris seseorang, maka wasiat itu berlaku untuk setiap orang yang mewarisinya, baik laki-laki maupun perempuan, baik melalui hubungan nasab maupun sebab lainnya. Namun, harta yang diwasiatkan secara mutlak dibagikan kepada mereka secara merata, meskipun bagian mereka dalam warisan berbeda-beda.

ولو أوصى لورثة فلان ومات الموصي ومن يُنسب الورثةُ إليه حي فقد قال الأصحاب: تبطل الوصية وقولهم في هذا أظهر فإن الوراثة لا تتبين في حياة الإنسان فإن كان يتطرق إليه احتمال فيشترط فيه الوقوف إلى أن يموت ونتبين من يرثه من الموجودين عند موت الموصي

Jika seseorang berwasiat kepada para ahli waris si Fulan, lalu pewasiat meninggal dunia sementara orang yang dinisbatkan sebagai ahli waris tersebut masih hidup, para ulama berpendapat: wasiat tersebut batal, dan pendapat mereka dalam hal ini lebih kuat. Sebab, status kewarisan tidak dapat dipastikan selama seseorang masih hidup. Jika masih ada kemungkinan, maka disyaratkan untuk menunggu hingga ia meninggal dunia agar dapat diketahui siapa saja yang menjadi ahli warisnya dari orang-orang yang masih ada saat pewasiat meninggal.

وإذا قلنا: تصرف الوصية إلى عقبه وهو حي فقد يحتمل أيضاً أن نتوقف حتى نتبين من يعقبه

Dan jika kita mengatakan: wasiat itu dialihkan kepada keturunannya sementara ia masih hidup, maka bisa juga kita menahan diri (untuk memutuskan) hingga jelas siapa yang menjadi keturunannya.

ومن هذا التنبيه يتبيّن ظهور كلام الأصحاب

Dari penjelasan ini, tampak jelas pendapat para ulama.

ولو أوصى لورثة زيد ثم مات ولم يكن له وارث خاص فالوصية باطلة ولا نقول: كأنه أوصى للمسلمين لأنهم يرثونه فإن الوراثة في هذه المنزلة حكم لا يتلقى مثله من موجب الألفاظ

Dan jika seseorang berwasiat kepada para ahli waris Zaid, kemudian ia meninggal dunia dan Zaid tidak memiliki ahli waris khusus, maka wasiat tersebut batal. Kami tidak mengatakan: seolah-olah ia berwasiat kepada kaum muslimin karena mereka mewarisinya, sebab pewarisan dalam kasus seperti ini adalah hukum yang tidak diambil dari konsekuensi lafaz.

ولو أوصى لورثة فلان فمات فلان وخلفته بنتٌ واحدة فقد اختلف أصحابنا في المسألة على وجهين: منهم من قال: يصرف إليها جميع الوصية وإن لم نقل بمذهب الردّ

Jika seseorang berwasiat kepada para ahli waris Fulan, lalu Fulan meninggal dunia dan hanya meninggalkan satu orang anak perempuan, maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai masalah ini menjadi dua pendapat: di antara mereka ada yang berpendapat bahwa seluruh wasiat diberikan kepadanya, meskipun kita tidak mengikuti mazhab ar-radd.

ومنهم من قال: نصرف إليها نصفَ الوصية ويبطل النصف منها

Sebagian dari mereka berkata: Kita alihkan kepada penerima tersebut setengah dari wasiat, dan setengahnya lagi batal.

ثم قال الأصحاب: إن أوصى لعصبة فلان فمات الموصي وفلان حيّ فالوصية تصح لعصبته ولا يشترط موته في استحقاق الوصية عند موت الموصي وليس كالورثة فإن هذا اللفظ يشعر بالوراثة ولا وراثة في الحياة وليس كالعقب فإنه يشعر بالخلافة ولا خلافة في الحياة وهذا حسن متجه

Kemudian para ulama berpendapat: Jika seseorang berwasiat kepada ‘ashabah (kelompok ahli waris laki-laki) dari si Fulan, lalu pewasiat meninggal dunia sementara Fulan masih hidup, maka wasiat itu sah untuk ‘ashabah-nya, dan tidak disyaratkan kematian Fulan untuk berhak menerima wasiat tersebut pada saat pewasiat wafat. Hal ini berbeda dengan para ahli waris, karena lafaz ini menunjukkan makna warisan, sedangkan tidak ada warisan selama seseorang masih hidup. Demikian pula berbeda dengan lafaz “al-‘aqib” (keturunan penerus), karena lafaz ini menunjukkan makna pengganti, sedangkan tidak ada penggantian selama seseorang masih hidup. Dan ini adalah pendapat yang baik dan dapat diterima.

ثم قال الأصحاب في الوصية للعصبة: أولاهم بالوصية أولاهم بالعصوبة وهذا مستقيم لا يسوغ غيرُه فإن حكم العصوبة يثبت للأقربين

Kemudian para ulama berpendapat dalam hal wasiat kepada ‘ashabah: yang paling berhak menerima wasiat adalah yang paling berhak dalam urusan ‘ashabah, dan ini adalah pendapat yang lurus, tidak boleh selainnya, karena hukum ‘ashabah itu ditetapkan bagi kerabat terdekat.

هذا منتهى ما بلغنا من الكلام في هذه الألفاظ المدارة في الوصايا

Inilah akhir dari apa yang kami capai dalam pembahasan mengenai istilah-istilah yang sering digunakan dalam wasiat.

ولو أوصى لعترته قال العراقيون: قال ثعلب وابن الأعرابي : العترة هم الذرية وقال القُتبي : العترة هم العشيرة وعشيرة الرجل قرابته وردّد العراقيون قولَهم لتردد أئمة اللغة والله أعلم

Jika seseorang berwasiat untuk ‘itranya, para ulama Irak berkata: Ts‘lab dan Ibnu al-A‘rabi mengatakan bahwa ‘itrah adalah keturunan. Al-Qutbi berkata: ‘itrah adalah keluarga besar (‘asyirah), dan ‘asyirah seseorang adalah kerabatnya. Para ulama Irak pun mengulang-ulang pendapat mereka karena para imam bahasa berbeda pendapat. Allah Maha Mengetahui.

Bab tentang hal-hal yang dianggap sebagai penarikan kembali wasiat

العطايا المحتسبة من الثلث تنقسم فمنها: ما ينجزها المريض في حياته ويتممها في ظاهر أمره فما كان كذلك لم يملك هو في نفسه استدراكه وإن كنا قد نردّ ما يزيد منهما على الثلث إذا مات من مرضه الذي يتبرع فيه وهذا كالعتق المنجز والهبات المبرمة بالقبض والصدقات والإبراء المنجّز والمحاباة في البيع والشراء

Hibah-hibah yang diperhitungkan dari sepertiga harta terbagi; di antaranya: apa yang diselesaikan oleh orang sakit dalam hidupnya dan telah sempurna secara lahiriah, maka jika demikian, ia sendiri tidak berhak menarik kembali hibah tersebut. Namun, kita tetap mengembalikan kelebihan dari sepertiga jika ia meninggal karena sakit yang menjadi sebab ia berderma. Contohnya adalah pembebasan budak yang langsung berlaku, hibah yang telah sempurna dengan penyerahan, sedekah, pembebasan utang yang langsung berlaku, serta pemberian kelebihan dalam jual beli.

وأما الأعطية التي يُضيفها إلى حالة الموت فهي محسوبة من الثلث فجملتها وصايا والموصي بها يملك الرجوع في جميعها إلا التدبير ففيه قولان: أحدهما أنه بمثابة الوصايا وفائدة ذلك تمليك المدبِّر الرجوع عن التدبير لفظاً مع إدامة الملك على الرقبة

Adapun pemberian yang dikaitkan dengan keadaan kematian, maka itu dihitung dari sepertiga harta, sehingga seluruhnya termasuk wasiat, dan orang yang berwasiat berhak menarik kembali seluruhnya kecuali dalam masalah tadbir, di mana terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa tadbir itu seperti wasiat, dan manfaatnya adalah memberikan hak kepada orang yang menetapkan tadbir untuk menarik kembali tadbir tersebut secara lisan, sementara kepemilikan atas budak tetap berlangsung.

والقول الثاني أنه تعليق عتق وفائدة ذلك أنه لا يملك الرجوع عن التدبير لفظاً وسيأتي إيضاح ذلك في كتاب التدبير إن شاء الله تعالى

Pendapat kedua adalah bahwa itu merupakan penggantungan pembebasan budak, dan manfaatnya adalah bahwa ia tidak memiliki hak untuk menarik kembali pernyataan tadbīr secara lisan. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan dijelaskan dalam Kitab Tadbīr, insya Allah Ta‘ala.

وحظ هذا الباب منه ما يتعلق بحكم الرجوع هذا تمهيد قاعدة الباب

Dan bagian dari bab ini yang menjadi pembahasannya adalah hal-hal yang berkaitan dengan hukum rujuk; inilah penjelasan kaidah bab ini.

ثم التبرعات الجارية في مرض الوفاة إذا تمت تصرف المتبرَّعُ عليه تصرف مثله لو جرى التبرع في الصحة من المتبرّع وإن كنا في الزائد على الثلث ننعطف نتعقب تلك التصرفات بالنقص تبيّناً من غير إنشاء نقض وقد نتبين بطلان جميعها إذا ركب المريضَ دينٌ مستغرق المال

Kemudian, hibah-hibah yang dilakukan saat sakit menjelang wafat, apabila penerima hibah telah melakukan tindakan atas hibah tersebut sebagaimana lazimnya jika hibah itu dilakukan saat si pemberi dalam keadaan sehat, maka pada bagian yang melebihi sepertiga harta, kita meninjau kembali tindakan-tindakan tersebut untuk dikurangi, sebagai penjelasan tanpa membuat pembatalan baru. Dan terkadang kita dapat mengetahui bahwa seluruh hibah tersebut batal apabila si sakit memiliki utang yang menghabiskan seluruh hartanya.

ومما يفارق التبرعاتُ فيه الوصايا المضافةَ إلى الموت أن الوصايا تقع محسوبة من الثلث وإن وقع الإيصاء بها في الصحة نظراً إلى حالة الموت والتبرعات الواقعة في الصحة لا تحتسب من الثلث ولو جرى تعليق في الصحة في عتقٍ ووجد الصفة في مرض الموت المعلق فللأصحاب وجهان مشهوران في أن الاعتبار بحالة التعليق أم بحالة وقوع العتق وسيأتي شرح ذلك في موضعه من كتاب العتق إن شاء الله تعالى

Salah satu perbedaan antara hibah dengan wasiat yang dikaitkan dengan kematian adalah bahwa wasiat dihitung dari sepertiga harta, meskipun wasiat itu dibuat saat sehat, karena mempertimbangkan keadaan saat kematian. Sedangkan hibah yang dilakukan saat sehat tidak dihitung dari sepertiga harta. Jika ada penangguhan (ta‘liq) saat sehat dalam pembebasan budak, lalu syaratnya terpenuhi saat sakit yang menyebabkan kematian, maka para ulama memiliki dua pendapat masyhur: apakah yang dijadikan acuan adalah keadaan saat penangguhan atau saat terjadinya pembebasan budak. Penjelasan tentang hal ini akan dijelaskan pada tempatnya dalam Kitab al-‘Itq, insya Allah Ta‘ala.

وقد تمهد أن الرجوع في الوصايا سائغ والباب معقود لبيان ما يكون رجوعاً عن الوصية وما لا يكون رجوعاً عنها فنقول: ما يقع به الرجوع ينقسم إلى ما هو صريحٌ في الرجوع وإلى ما يتضمن الرجوع

Telah dijelaskan bahwa menarik kembali wasiat itu diperbolehkan, dan pembahasan ini ditujukan untuk menjelaskan apa saja yang dianggap sebagai penarikan kembali wasiat dan apa saja yang tidak dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Maka kami katakan: hal-hal yang menyebabkan penarikan kembali wasiat terbagi menjadi dua, yaitu yang secara jelas merupakan penarikan kembali, dan yang mengandung makna penarikan kembali.

فأما التصريح في الرجوع فإذا قال: رجعت عن هذه الوصية أو قطعتُها أو رفعتها أو أبطلتها أو نسختها فهذه الألفاظ وما في معناها رجوعٌ

Adapun pernyataan secara jelas dalam penarikan kembali wasiat, yaitu apabila seseorang berkata: “Aku telah menarik kembali wasiat ini,” atau “Aku telah membatalkannya,” atau “Aku telah mencabutnya,” atau “Aku telah menghapusnya,” atau “Aku telah menasakhnya,” maka ungkapan-ungkapan ini dan yang semakna dengannya merupakan bentuk penarikan kembali.

ولو قال: حرمت هذه العين على فلان وكان قد أوصى له بها فظاهر المذهب أن هذا يكون رجوعاً عن الوصية فإنا نكتفي في ثبوت الرجوع بمخايل وعلامات في الأقوال والأفعال سنشرحها في الباب ولفظ التحريم أوضح منها وأولى بإفادة الرجوع

Jika seseorang berkata: “Aku haramkan benda ini atas si Fulan,” padahal ia telah berwasiat benda itu kepadanya, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, hal ini dianggap sebagai pencabutan wasiat. Sebab, dalam menetapkan pencabutan, kami cukup dengan tanda-tanda dan indikasi baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang akan kami jelaskan dalam bab ini. Lafaz pengharaman lebih jelas dan lebih utama dalam menunjukkan pencabutan wasiat.

ولو قيل له: أوصيتَ لفلان فأنكر وقال: ما أوصيتُ فالذي ذهب إليه الأصحاب وهو ظاهر النص أن هذا يكون رجوعاً وقد يتجه في هذا نوعٌ من الاحتمال من جهة أنه قد ينسى الوصيةَ فينكرها والإنكار إخبار وليس بإنشاء قطع

Jika seseorang dikatakan kepadanya: “Engkau telah berwasiat kepada si Fulan,” lalu ia mengingkari dan berkata: “Aku tidak berwasiat,” maka pendapat yang dipegang oleh para sahabat (ulama) dan yang tampak dari nash adalah bahwa hal ini dianggap sebagai pencabutan wasiat. Namun, dalam hal ini terdapat kemungkinan lain, yaitu bisa jadi seseorang lupa terhadap wasiatnya lalu mengingkarinya, sedangkan pengingkaran itu adalah pemberitahuan (ikbār), bukan suatu tindakan pencabutan (inqiṭā‘) secara pasti.

ولو قيل له: أوصيتَ لفلان فقال: لا أدري فهذا لا يكون رجوعاً عند الشافعي رضي الله عنه إذا كان أوصى خلافاً لأبي حنيفة

Jika seseorang ditanya: “Apakah engkau telah berwasiat kepada si Fulan?” lalu ia menjawab: “Aku tidak tahu,” maka menurut Imam asy-Syafi‘i rahimahullah, ini tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat jika sebelumnya ia memang telah berwasiat, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.

فهذا ما يكون رجوعاً تصريحاً أو تلويحاً بقولٍ مقصودٍ في إظهار الرجوع

Inilah yang disebut sebagai rujuk, baik secara eksplisit maupun implisit, dengan ucapan yang dimaksudkan untuk menunjukkan rujuk.

وانتظم منه أن النص في الرجوع يقطع الوصية واللفظ الظاهر كالتحريم فيه تردّدٌ والتصريح بالإنكار ملتحق بالظاهر عندي والنص قول الأصحاب فيه ما ذكرته وهذا كلامٌ في قسمٍ واحدٍ

Dari sini dapat disimpulkan bahwa nash tentang penarikan kembali membatalkan wasiat, sedangkan lafaz yang zhahir seperti pengharaman, dalam hal ini terdapat keraguan; dan pernyataan penolakan secara tegas menurut saya sama kedudukannya dengan lafaz zhahir. Adapun nash, pendapat para ashhab di dalamnya adalah seperti yang telah saya sebutkan. Ini adalah pembahasan pada satu bagian saja.

فأما القسم الثاني فهو ما لا يكون رجوعاً صريحاً ولكنه يتضمنه وذلك ينقسم إلى تصرفاتٍ بالأقوال وإلى تصرفاتٍ بالأفعال

Adapun bagian kedua adalah sesuatu yang bukan merupakan rujuk secara eksplisit, namun mengandung makna rujuk di dalamnya. Hal ini terbagi menjadi tindakan melalui ucapan dan tindakan melalui perbuatan.

فأما الأقوال فما يتضمن بتَّ الملك فلا شك أنه يقتضي رجوعاً مثل أن يوصي بعبد لإنسان ثم يبيعه بيعاً لازماً فهذه التصرفات تنفذ متضمنةً رجوعاً

Adapun pernyataan-pernyataan, maka apa yang mengandung pemutusan kepemilikan secara pasti, tidak diragukan lagi bahwa hal itu mengharuskan adanya penarikan kembali, seperti seseorang berwasiatkan seorang budak kepada seseorang, kemudian ia menjualnya dengan penjualan yang mengikat. Maka tindakan-tindakan seperti ini berlaku dengan mengandung penarikan kembali.

فأما ما لا يتصف باللزوم ولكنه يشعر بقصد الرجوع فقاعدة المذهب أنه يتضمن الرجوع فإن كان من تردّدٍ في بعض المسائل فهو لاعتقاد من يتردد في بُعد المسألة عن القاعدة

Adapun sesuatu yang tidak bersifat wajib namun menunjukkan adanya maksud untuk kembali, maka kaidah mazhab menyatakan bahwa hal itu mengandung makna kembali. Jika terdapat keraguan dalam sebagian permasalahan, maka hal itu disebabkan keyakinan orang yang ragu terhadap jauhnya permasalahan tersebut dari kaidah.

قال الأئمة: لو عرض العينَ الموصى بها على البيع كان ذلك رجوعاً منه وإن لم يبعها وكذلك قالوا: لو وكل ببيعها كان ذلك بمثابة العرض على البيع فلعله أظهر في الدلالة على قصد الرجوع

Para imam berkata: Jika seseorang menawarkan barang yang diwasiatkan untuk dijual, maka hal itu dianggap sebagai bentuk penarikan kembali wasiat, meskipun barang tersebut belum terjual. Demikian pula, mereka berkata: Jika ia mewakilkan penjualan barang tersebut, maka hal itu sama dengan menawarkan untuk dijual, bahkan mungkin lebih jelas dalam menunjukkan maksud untuk menarik kembali wasiat.

ولو رهن ففي المسألة وجهان: أحدهما أنه يكون رجوعاً فإن مقصود الرهن بيعُ المرهون في الدين فلا ينحط الرهن عن العرض على البيع

Jika barang itu dijadikan rahn (gadai), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hal itu dianggap sebagai rujuk, karena tujuan dari rahn adalah menjual barang yang digadaikan untuk melunasi utang, sehingga rahn tidak menggugurkan kewajiban menawarkan barang tersebut untuk dijual.

والوجه الثاني أن الرهن لا يكون رجوعاً فإن الذي يُضمر إبقاء الوصية قد يرهن الموصى به لحاجة باديةٍ مع إبرامه العزم على فك الرهن فليس الرهن إذاً من علامات الرجوع وليس كذلك العرض على البيع فإنه تحكُّمٌ خاص في الدلالة على البيع القاطع للوصية

Pendapat kedua adalah bahwa rahn (gadai) tidak dianggap sebagai bentuk penarikan kembali wasiat, sebab orang yang dalam hatinya berniat mempertahankan wasiat bisa saja menggadaikan barang yang diwasiatkan karena kebutuhan mendesak, dengan tekad yang kuat untuk menebus kembali barang tersebut. Maka, rahn bukanlah tanda penarikan kembali wasiat. Berbeda halnya dengan menawarkan barang untuk dijual, karena itu merupakan tindakan khusus yang secara tegas menunjukkan niat menjual yang membatalkan wasiat.

ولست أرى في الرهن فرقاً بين أن يتصل بالإقباض وبين ألا يتصل به فإنه إنما يكون رجوعاً إذا كان لدلالته على القصد وهذا لا يختلف بوجود الإقباض وعدمه

Saya tidak melihat adanya perbedaan dalam rahn antara disertai penyerahan barang atau tidak disertai penyerahan barang, karena hal itu baru dianggap sebagai penarikan kembali apabila menunjukkan adanya maksud (untuk menarik kembali), dan hal ini tidak berbeda baik dengan adanya penyerahan barang maupun tanpa penyerahan barang.

ولو وهب العين الموصى بها يجب القطع بكون ذلك رجوعاً فإن الهبة عقد تمليك وظهور القصد كافٍ ثم لا يتوقف حصول الرجوع على الإقباض وذكر بعض الناقلين خلافاً في الهبة قبل القبض وهذا مما لا نستجيز عدَّه من المذهب

Jika barang yang diwasiatkan dihibahkan, maka harus dipastikan bahwa hal itu merupakan bentuk pencabutan wasiat, karena hibah adalah akad pemilikan dan tampaknya maksud (untuk mencabut) sudah cukup. Selanjutnya, terjadinya pencabutan tidak bergantung pada penyerahan barang. Sebagian ulama yang meriwayatkan pendapat menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang hibah sebelum penyerahan, namun kami tidak membenarkan hal itu sebagai bagian dari mazhab.

وإذا رأينا العرض على البيع رجوعاً فإذا جرى البيع على شرط الخيار لم يسترب الفقيه في كونه رجوعاً وإن فسخ العقد وسرُّ هذا الفصل أن مبنى الوصية على تقدّم الإيصاء على القبول بزمانٍ متطاولٍ والعقود التي ينبني انعقادها على الإيجاب والقبول المتصلين لو تخلل بينهما قاطع لقضينا بانقطاع الإيجاب عن القبول ولا يشترط في الوصية وقبولها تواصلٌ زماني ولكن إذا جرى من الموصي عَلَمٌ ظاهر في الرجوع كان ذلك خَرْماً للإيصاء وقطعاً له

Jika kita memandang penawaran untuk menjual sebagai bentuk penarikan kembali, maka apabila terjadi jual beli dengan syarat khiyār, seorang faqih tidak akan ragu bahwa hal itu merupakan penarikan kembali, meskipun akadnya dibatalkan. Rahasia dari perbedaan ini adalah bahwa dasar wasiat terletak pada adanya jeda waktu yang cukup lama antara pemberian wasiat dan penerimaannya, sedangkan akad-akad yang keabsahannya bergantung pada ijab dan qabul yang bersambung, jika di antara keduanya terdapat pemutus, maka kita akan memutuskan bahwa ijab terputus dari qabul. Namun, dalam wasiat dan penerimaannya tidak disyaratkan adanya kesinambungan waktu. Akan tetapi, jika dari pihak pemberi wasiat terdapat tanda yang jelas berupa penarikan kembali, maka hal itu menjadi cacat bagi wasiat dan memutusnya.

وهذا يتضح بذكر أصولٍ يفرض في مثلها رجوع والغرض بذكرها امتيازها عما نحن فيه فالراجع في هبته بعد الإقباض وإن ملك الاستبداد بالرجوع لا يصح رجوعه بالمخايل والعلامات فإن رجوعه في حكم تملك جديد حتى نقول: لو أعتق العبدَ الموهوبَ المسلَّمَ  لم ينفذ عتقه عند بعض الأصحاب ما لم يقدِّم على العتق رجوعاً ولو باع فالبيع أولى بالرّد من العتق

Hal ini menjadi jelas dengan menyebutkan beberapa pokok yang dalam kasus serupa mengharuskan adanya rujukan kembali, dan tujuan penyebutannya adalah untuk membedakannya dari permasalahan yang sedang kita bahas. Maka, seseorang yang menarik kembali hibahnya setelah penyerahan, meskipun ia memiliki hak penuh untuk menarik kembali, tidak sah penarikannya hanya dengan isyarat atau tanda-tanda saja. Sebab, penarikan kembali itu dianggap sebagai kepemilikan baru, sehingga jika ia memerdekakan budak yang telah dihibahkan dan telah diserahkan, maka menurut sebagian ulama, pemerdekaannya tidak sah kecuali jika sebelumnya ia telah menarik kembali hibah tersebut, meskipun hanya dengan ucapan. Jika ia menjualnya, maka penjualan itu lebih utama untuk dianggap batal daripada pemerdekaan.

ومن باع عبداً بشرط الخيار ثم عرضه على البيع فلسنا نرى العرض على البيع فسخاً منه بخلاف الوصية

Dan apabila seseorang menjual seorang budak dengan syarat khiyār, kemudian ia menawarkan budak tersebut untuk dijual, maka menurut kami, menawarkan untuk dijual itu tidak dianggap sebagai pembatalan (akad) darinya, berbeda halnya dengan wasiat.

والغرضُ في ذلك يتبيّن بنظم ترتيبٍ: أما الرجوع في الهبة بعد التمام فيليق به التصريح بالرجوع فإن الهبة بعد التمام أفادت تمام نقل الملك وليس ملك الرجوع في الهبة خياراً في عقدٍ وإنما هو تسلط على ملك الغير شرعيٌّ

Tujuan dalam hal ini menjadi jelas dengan penataan urutan: Adapun penarikan kembali hibah setelah sempurna, maka yang sesuai adalah pernyataan secara tegas tentang penarikan kembali tersebut, karena hibah setelah sempurna telah memberikan pemindahan kepemilikan secara penuh, dan hak untuk menarik kembali hibah bukanlah pilihan dalam suatu akad, melainkan merupakan penguasaan atas milik orang lain yang tidak sah menurut syariat.

والرتبة الثانية في الفسخ الفسخُ من البائع في زمان الخيار فهذا يصادف جوازاً من العقد ولكن العقد ثَمَّ يسعه  فإن لم يصرح الفاسخ بالفسخ فلا بد من أحد أمرين: إما أن يتصرف تصرفاً يستدعي نفوذُه الفسخَ كالإعتاق والبيع وإما أن يأتي بعلامة في نهاية الظهور كالوطء

Tingkatan kedua dalam pembatalan adalah pembatalan yang dilakukan oleh penjual pada masa khiyar. Dalam hal ini, pembatalan tersebut bertepatan dengan kebolehan dari akad, namun akad itu sendiri masih tetap berlaku. Jika pihak yang membatalkan tidak secara tegas menyatakan pembatalan, maka harus ada salah satu dari dua hal: pertama, melakukan suatu tindakan yang menuntut berlakunya pembatalan seperti memerdekakan (budak) atau menjual, atau kedua, melakukan suatu tanda yang sangat jelas seperti melakukan hubungan suami istri.

ولسنا نلتزم الآن ذكرَ تلك التفاصيل فإنا استقصيناها في أول البيع وإنما غرضنا التنبيه على المراتب لنفصل البعض منها عن البعض

Kami tidak berkewajiban sekarang untuk menyebutkan rincian-rincian tersebut, karena kami telah membahasnya secara tuntas pada awal pembahasan tentang jual beli. Tujuan kami di sini hanyalah untuk menunjukkan tingkatan-tingkatan agar kami dapat membedakan sebagian dari yang lain.

ثم الذي نستقصيه الآن ما يتعلق بالوصية فالوصية إذاً مستأخرة عن المرتبتين من جهة أنه لم يثبت إلا أحد شقيها فلا هي أفضت إلى إثبات حق ولا أدّت إلى انعقاد عقد فوقع الاكتفاء بعلامةٍ تخرم الإيصاء

Selanjutnya, yang kami teliti sekarang adalah hal-hal yang berkaitan dengan wasiat. Maka wasiat itu berada setelah dua tingkatan tersebut, karena yang terbukti darinya hanyalah salah satu bagiannya saja; sehingga ia tidak sampai pada penetapan hak, dan tidak pula menghasilkan terjadinya akad. Maka cukuplah dengan adanya suatu tanda yang menunjukkan adanya kekurangan dalam pelaksanaan wasiat.

والذي يدور في الخَلَد عند ذلك أنه لو عَرَضَ الموصى به على البيع ثم قال: كنت نسيت الإيصاء به أفنقول: انبتّت الوصية ظاهراً وباطناً أم نقول: الوصية بحالها هذا فيه تردد والظاهر انقطاع الوصية ظاهراً وباطناً فإنه اختل الإيصاء في هذه العين بما جرى وانقطع الإيصاء عن القبول وفي المسألة احتمال

Yang terlintas dalam benak pada saat itu adalah, jika barang yang diwasiatkan ditawarkan untuk dijual, lalu ia berkata: “Aku lupa telah mewasiatkannya,” apakah kita katakan wasiat itu batal secara lahir dan batin, ataukah kita katakan wasiat itu tetap berlaku? Dalam hal ini terdapat keraguan, namun yang tampak adalah wasiat itu terputus secara lahir dan batin, karena proses pewasiatan pada barang tersebut telah rusak dengan apa yang terjadi, dan pewasiatan itu terputus dari penerimaan. Namun dalam masalah ini masih ada kemungkinan lain.

ومما يتعلق بهذا القسم أنه لو أوصى لإنسانٍ بعبد ثم إنه دبره فهذا يستدعي تقديم مسألةٍ مقصودة في نفسها وبها يحصل الغرض فيما ذكرناه: أجمع الأصحاب في الطرق على أن من أوصى بعبدٍ معين لزيد ثم لم يتعرض لتلك الوصية وأنشأ إيصاءً بذلك العبد لعمرو قال فقهاؤنا: العبد مشترك بين الرجلين إذا تمت الوصية فإن كل واحد منهما موصًى له فيصيران فيه بمثابةٍ  وإذا ازدحم شخصان على هذه النسبة على عينٍ اقتضى ذلك تشطيرها بينهما وقد ذكرنا في ذلك قواعد ومسائل في الوصية بالكل والجزء ثم نبهنا في هذا على دقيقة وقلنا: الاقتسام يقع على حكم الازدحام من غير فرض رجوع عن الوصية الأولى حتى لو لم يقبل الموصى له الثاني ورَدَّ فالعبد بكماله مصروف إلى الأول وهكذا يكون سبيل القسمة التي تقتضيها الزحمة

Terkait dengan bagian ini, apabila seseorang berwasiat kepada seseorang dengan memberikan seorang budak, kemudian ia memerdekakannya secara tadbir, maka hal ini memerlukan pembahasan khusus yang tersendiri dan dengan itu tujuan dari apa yang telah kami sebutkan dapat tercapai: Para sahabat kami sepakat dalam berbagai jalur bahwa jika seseorang berwasiat dengan seorang budak tertentu kepada Zaid, kemudian ia tidak membatalkan wasiat tersebut dan membuat wasiat baru dengan budak yang sama kepada Amr, maka para fuqaha kami berkata: budak tersebut menjadi milik bersama antara kedua orang tersebut jika wasiat itu sempurna, karena masing-masing dari mereka adalah penerima wasiat sehingga keduanya berada pada kedudukan yang sama. Jika dua orang bersaing dalam hak yang sama atas suatu benda, maka hal itu mengharuskan pembagiannya di antara mereka. Kami telah menyebutkan kaidah dan permasalahan terkait wasiat atas keseluruhan dan sebagian, kemudian kami menyinggung hal yang lebih rinci dan mengatakan: pembagian dilakukan berdasarkan aturan persaingan tanpa menganggap adanya pencabutan wasiat pertama, sehingga jika penerima wasiat kedua tidak menerima dan menolaknya, maka budak tersebut sepenuhnya menjadi milik penerima wasiat pertama. Demikianlah cara pembagian yang dihasilkan dari adanya persaingan tersebut.

ومن لم يعتقد هذه المسألة حسيكة في باب الرجوع فليس من الفقه على حظّ فإنا إذا كنا نرى ارتفاع الوصية بالعلامات القريبة فالوصية بكمال الموصى به لغير الموصى له الأول في نهاية الظهور في قصد الرجوع عن الوصية الأولى

Barang siapa yang tidak meyakini masalah ini secara mendalam dalam bab rujuk (pencabutan wasiat), maka ia tidak memiliki bagian dalam fiqh. Sebab, jika kita menganggap wasiat batal dengan adanya tanda-tanda yang jelas, maka wasiat dengan memberikan seluruh harta yang diwasiatkan kepada selain penerima wasiat pertama adalah bukti yang sangat nyata atas maksud untuk mencabut wasiat yang pertama.

وقد قال الأئمة: إن ذكر في الوصية الثانية لفظةً تدل على الرجوع عن الأولى كان رجوعاً عنها وذلك أن يقول: العبد الذي أوصيت به لفلان قد جعلته لفلان أو العبد الذي أوصيت به لفلان هو لفلان أو العبد الذي أوصيت به لفلان قد أوصيت به لفلان وقالوا: هذه القرائن تتضمن الرجوع عن الوصية الأولى وإنما يحمل الأمر على ازدحام الوصيتين إذا جرت الوصية الثانية مطلقةً من غير تعرضٍ للوصية الأولى وما ذكروه الآن من أن الرجوع يثبت في الوصية الأولى جارٍ على قياس الباب وإنما الإشكال في أن الوصية كيف لم تكن رجوعاً عن الوصية السابقة فهذا لا وجه في تعليله إلا أن الوصايا يثبت فيها أصل الازدحام وصار ذلك قانوناً متبعاً وأصلاً في حكم المتفق عليه فالوصايا تزدحم على الثلث إذا زادت عليه ورُدّت إليه  فكل ما ظهر حمله على الزحمة ولم يقترن به أمر زائد على اقتضاء الزحمة فهو محمول عليها

Para imam (ulama) berkata: Jika dalam wasiat kedua disebutkan suatu lafaz yang menunjukkan pencabutan dari wasiat pertama, maka itu dianggap sebagai pencabutan terhadap wasiat pertama. Misalnya dengan mengatakan: “Budak yang telah aku wasiatkan kepada si Fulan, kini aku berikan kepada si Fulan,” atau “Budak yang telah aku wasiatkan kepada si Fulan, sekarang menjadi milik si Fulan,” atau “Budak yang telah aku wasiatkan kepada si Fulan, kini aku wasiatkan kepada si Fulan.” Mereka mengatakan: indikasi-indikasi ini mengandung makna pencabutan dari wasiat pertama. Suatu perkara hanya dianggap sebagai tumpang tindih antara dua wasiat jika wasiat kedua dibuat secara mutlak tanpa menyinggung wasiat pertama. Apa yang mereka sebutkan sekarang, bahwa pencabutan berlaku pada wasiat pertama, sesuai dengan qiyās dalam bab ini. Adapun permasalahannya adalah mengapa wasiat kedua tidak dianggap sebagai pencabutan terhadap wasiat sebelumnya, maka tidak ada alasan lain kecuali bahwa dalam wasiat-wasiat terdapat prinsip dasar terjadinya tumpang tindih, dan hal itu telah menjadi kaidah yang diikuti serta menjadi dasar dalam hukum yang telah disepakati. Maka wasiat-wasiat akan saling bertumpuk pada sepertiga harta jika melebihi batas tersebut dan dikembalikan kepadanya. Maka setiap hal yang tampak dapat dibawa pada makna tumpang tindih dan tidak disertai hal lain selain tuntutan tumpang tindih, maka ia dibawa pada makna tersebut.

فأما إذا انضم إلى ذلك مزيدٌ في التعرض للوصية الأولى فإذ ذاك يقع الحكم بالرجوع فهذا هو الممكن في ذلك

Adapun jika disertai dengan tambahan dalam menyinggung wasiat yang pertama, maka pada saat itulah ditetapkan hukum telah terjadi pencabutan. Inilah yang mungkin dalam hal tersebut.

رجعنا إلى ما ذكرناه من تدبير العبد الموصى به قال الأئمة رضي الله عنهم: إذا أوصى الرجل بعبده لإنسان ثم إنه دبّر ذلك العبدَ ولم يتعرض للوصية الأولى كان التدبير رجوعاً عن الوصية وليس كما لو أوصى لزيدٍ بذلك العبد ثم أوصى به لعمرو وأطلق الوصية الثانية فإن الوصيتين تزدحمان على العبد وذكروا مسلكين في طلب الفرق: أحدهما أن مقصود التدبير العتقُ وهو مخالف لمقصود الوصية بملك الرقبة فإن اختلف المقصودان ظهر بالثاني قصد الرجوع عن الأول

Kita kembali kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tadbir (pembebasan bertahap) terhadap budak yang diwasiatkan. Para imam rahimahumullah berkata: Jika seseorang mewasiatkan budaknya kepada seseorang, kemudian ia melakukan tadbir terhadap budak tersebut tanpa menyinggung wasiat yang pertama, maka tadbir itu dianggap sebagai pencabutan wasiat. Hal ini berbeda dengan kasus jika ia mewasiatkan budak itu kepada Zaid, lalu mewasiatkannya lagi kepada Amr dengan wasiat kedua yang bersifat umum, maka kedua wasiat tersebut saling bertentangan atas budak itu. Mereka (para ulama) menyebutkan dua pendekatan untuk mencari perbedaan: Pertama, tujuan tadbir adalah memerdekakan, yang berbeda dengan tujuan wasiat berupa kepemilikan budak. Jika kedua tujuan itu berbeda, maka dengan tindakan kedua tampaklah maksud untuk mencabut yang pertama.

هذا وجه

Ini adalah satu sisi.

والثاني أن العتق يحصل إذا وسعه الثلث في المدبر بالموت والقبول يقع بعده فيتقدم نفوذ مقصود التدبير على قبول الموصى له الأول هذا ما ذكره الأئمة

Kedua, bahwa pembebasan budak (‘itq) terjadi jika sepertiga harta cukup untuknya pada budak mudabbar saat wafat, dan penerimaan (hibah) terjadi setelahnya, sehingga maksud dari tadbir berlaku lebih dahulu daripada penerimaan orang yang diwasiati pertama kali; inilah yang disebutkan oleh para imam.

قال صاحب التقريب: إن حكمنا بأن التدبير تعليقُ عتق بصفةٍ فإنه يكون رجوعاً عن الوصية في مقصودها ووضعها والعتق المعلق عند وجود الصفة كالعتق المنجز عند التعليق

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Sesungguhnya penetapan kami bahwa tadbīr adalah penggantungan pembebasan budak pada suatu sifat, maka hal itu merupakan pencabutan wasiat dalam maksud dan ketentuannya, dan pembebasan budak yang digantungkan pada adanya sifat itu seperti pembebasan budak yang langsung terjadi pada saat penggantungan.

فأما إذا حكمنا بأن التدبير وصيةٌ بالعتق فإذا أوصى بعبد لإنسان ثم دبره فقد ذكر فيه وجهين: أحدهما أن ذلك يكون رجوعاً عن الوصية الأولى فيثبت التدبير في جميع العبد وهذا ما قطع به الأصحاب

Adapun jika kita memutuskan bahwa tadbīr adalah wasiat untuk memerdekakan, maka apabila seseorang berwasiat tentang seorang budak kepada seseorang, kemudian ia mentadbīrkan budak tersebut, terdapat dua pendapat dalam hal ini: salah satunya adalah bahwa hal itu dianggap sebagai pencabutan dari wasiat yang pertama, sehingga tadbīr berlaku atas seluruh budak tersebut, dan inilah pendapat yang ditegaskan oleh para ashḥāb.

والوجه الثاني أن ذلك لا يكون رجوعاً عن الوصية الأولى ولكن يثبت حق التدبير على الزحمة في جميع العبد ويبقى حق الوصية الأولى كذلك في جميع العبد كما لو أوصى لزيد بعبد ثم أوصى لعمرٍو بذلك العبد ثم حكم الازدحام يقتضي التنصيف كما ذكرناه فيعتِق نصفه بحكم التدبير ويبقى نصفه موصىً وهذا الذي ذكره صاحب التقريب وإن كان متجهاً في القياس فهو مخالف لما ذكره أئمة المذهب فلو دبّره ثم أوصى به لرجل فإذا قلنا: التدبير وصية فالذي ذهب إليه الأصحاب أن الوصية برقبة العبد رجوعٌ عن التدبير فإن الوصية مع التدبير متناقضان ولا شك أن صاحب التقريب يطرد وجهين في هذه الصورة: أحدهما أن الوصية رجوع عن التدبير والثاني أن التدبير والوصية يزدحمان

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat pertama, melainkan hak tadbir tetap berlaku secara bersamaan atas seluruh budak, dan hak wasiat pertama juga tetap berlaku atas seluruh budak. Sebagaimana jika seseorang berwasiat kepada Zaid dengan seorang budak, lalu ia berwasiat lagi kepada Amr dengan budak yang sama, maka hukum terjadinya tumpang tindih (al-izdihām) mengharuskan pembagian setengah-setengah sebagaimana telah kami sebutkan, sehingga setengah budak itu merdeka berdasarkan hukum tadbir dan setengahnya lagi menjadi wasiat. Inilah yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb, meskipun secara qiyās dapat diterima, namun bertentangan dengan pendapat para imam mazhab. Jika seseorang mentadbir budaknya lalu mewasiatkannya kepada seseorang, maka jika kita mengatakan bahwa tadbir adalah wasiat, pendapat yang dianut oleh para sahabat adalah bahwa wasiat atas kepemilikan budak merupakan pencabutan atas tadbir, karena wasiat dan tadbir saling bertentangan. Tidak diragukan lagi bahwa penulis at-Taqrīb mengemukakan dua pendapat dalam kasus ini: pertama, bahwa wasiat merupakan pencabutan atas tadbir; kedua, bahwa tadbir dan wasiat saling bertumpang tindih.

وإن قلنا: إن التدبير تعليق عتقٍ بصفة وقد تقدم واستأخرت الوصية فالوصية ساقطة فإن التدبير لا يزول بالرجوع عنه والوصية لا تنجز حقاً بخلاف تنجيز الإعتاق وبخلاف البيع والهبة مع الإقباض فإذا امتنع الرجوع نفذ العتق المعلق بالموت معه ولا أثر للوصية

Jika kita mengatakan bahwa tadbīr adalah menggantungkan pembebasan budak pada suatu sifat, dan tadbīr telah didahulukan sementara wasiat datang belakangan, maka wasiat menjadi gugur. Sebab, tadbīr tidak batal dengan penarikan kembali, sedangkan wasiat tidak langsung memberikan hak, berbeda dengan pembebasan budak yang ditegaskan secara langsung, juga berbeda dengan jual beli dan hibah yang disertai penyerahan. Maka, jika penarikan kembali tidak diperbolehkan, pembebasan budak yang digantungkan pada kematian menjadi sah bersamanya, dan wasiat tidak berpengaruh.

ومما يتعلق بهذا القسم أنه لو أوصى بعبدٍ لزيد ثم قال: بيعوه بعد موتي وتصدقوا بثمنه فالأمر بذلك رجوع عن الوصية فإن الأمر بالبيع يناقض استبقاء الرقبة حتى يفرض الازدحام فيها

Termasuk hal yang berkaitan dengan bagian ini adalah jika seseorang berwasiat memberikan seorang budak kepada Zaid, kemudian ia berkata: “Juallah budak itu setelah kematianku dan sedekahkan harganya,” maka perintah untuk menjual tersebut merupakan pencabutan dari wasiat, karena perintah untuk menjual bertentangan dengan tetapnya kepemilikan budak hingga terjadi tumpang tindih dalam hal ini.

ولو أوصى بأن يباع العبد بعد موته ويصرف ثمنه إلى الفقراء ثم أوصى بأن يصرف ثمنه في الرقاب فهذا يقتضي الازدحام فيتضمن تشطير الثمن بين الجهتين

Jika seseorang berwasiat agar budaknya dijual setelah ia meninggal dan hasil penjualannya diberikan kepada fakir miskin, kemudian ia berwasiat lagi agar hasil penjualan tersebut digunakan untuk membebaskan budak (fi sabil ar-riqāb), maka hal ini menunjukkan adanya pertentangan kepentingan, sehingga hasil penjualan tersebut dibagi dua antara kedua pihak tersebut.

وقد نجز الغرض في ذكر الأقوال التي تتضمن الرجوع عن الوصية

Tujuan telah tercapai dalam menyebutkan pendapat-pendapat yang memuat tentang pencabutan wasiat.

فأما الأفعال فإنا نعدّد منها جملاً ذكرها الأصحاب ونشير إلى ما اعتمدوه في قياسها ثم نذكر المسلك المرتضى عندنا

Adapun perbuatan-perbuatan, maka kami akan menyebutkan sejumlah poin yang telah disebutkan oleh para ulama, dan kami akan menunjukkan apa yang mereka jadikan sandaran dalam qiyās-nya, kemudian kami akan menyebutkan metode yang kami anggap paling tepat menurut kami.

قال أئمتنا: إذا أوصى لإنسان بحنطة معيّنة ثم طحنها الموصي فيكون الطحن رجوعاً عن الوصية وكذلك لو أوصى بالدقيق ثم عجنه وخبزه

Para imam kami berkata: Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan gandum tertentu, kemudian pewasiat tersebut menggilingnya, maka penggilingan itu dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Demikian pula jika ia berwasiat dengan tepung, lalu ia mengadoni dan memanggangnya.

وقالوا أيضاً: لو أوصى بشاةٍ لإنسان ثم ذبحها كان الذبح رجوعاً عن الوصية وكذلك لو أوصى بثوبٍ ثم قطعه وفصله فالقطع والتفصيل رجوع

Mereka juga berkata: Jika seseorang berwasiat seekor kambing kepada seseorang, kemudian ia menyembelihnya, maka penyembelihan itu dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Demikian pula, jika ia berwasiat sebuah pakaian lalu ia memotong dan menjahitnya, maka pemotongan dan penjahitan itu dianggap sebagai penarikan kembali.

وتعلق الأصحاب في تعليل ثبوت الرجوع في هذه المسائل بزوال الاسم فقالوا: هذه التصرفات تزيل الأسماء التي تعلقت الوصية بها فتحولت وزالت وحدثت أسماء أخرى فكان الموصى به في حكم التالف المعدوم وهذا الذي ذكروه من التعليل غيرُ مرضيّ عندنا بل المعتمد أن نقول: لما أوصى بالحنطة فبقاؤها إلى نفوذ القبول فيها مظنون ممكن فإذا اختار طحنها استبان بهذه العلامة أنه يبغي استعمال الدقيق وكذلك إذا خبز الدقيق فقد صرفه به عن جهة البقاء الممكن له إلى جهةِ هو فيها متشوف إلى الاستعمال وكذلك القول في الشاة والذبح والثوب والقطع والتفصيل

Para ulama berpendapat dalam memberikan alasan atas tetapnya hak untuk menarik kembali wasiat dalam masalah-masalah ini dengan hilangnya nama (benda yang diwasiatkan). Mereka berkata: Tindakan-tindakan ini menghilangkan nama-nama yang terkait dengan wasiat tersebut, sehingga berubah dan hilang, lalu muncul nama-nama lain. Maka, benda yang diwasiatkan itu dalam hukum dianggap seperti barang yang rusak dan tidak ada. Namun, alasan yang mereka sebutkan ini tidak dapat diterima menurut kami. Yang menjadi pegangan adalah bahwa ketika seseorang berwasiat dengan gandum, maka keberadaan gandum itu hingga diterimanya wasiat masih mungkin dan diduga tetap ada. Jika ia memilih untuk menggilingnya, maka dengan tanda ini jelas bahwa ia ingin menggunakan tepungnya. Demikian pula, jika ia membuat roti dari tepung itu, berarti ia telah mengalihkannya dari kemungkinan tetap ada menjadi sesuatu yang ia ingin segera gunakan. Begitu pula halnya dengan kambing yang disembelih, kain yang dipotong, dan kain yang dijahit.

ولو أوصى لإنسانِ بلحمٍ ثم شواه فمن يرعى زوال الاسم فالاسم لم يزل فلا يبعد أن تبقى الوصية ومن راعى ظهور علامة الاستعجال والاستعمال فقد ظهر هذا المعنى

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan daging, lalu ia memanggangnya, maka menurut pendapat yang memperhatikan hilangnya nama (daging), nama itu belum hilang sehingga tidak jauh kemungkinan wasiat itu tetap berlaku. Namun, menurut pendapat yang memperhatikan munculnya tanda-tanda percepatan penggunaan dan pemanfaatan, maka makna tersebut telah tampak.

وذكر العراقيون وجهين فيه إذا أوصى بخبز ثم دقّه واتخذه فتيتاً: أحدهما أن ذلك رجوع بمثابة طحن الحنطة الموصى بها

Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat dalam masalah ini apabila seseorang berwasiat dengan roti, kemudian ia menumbuknya dan menjadikannya fatiit: salah satunya adalah bahwa hal itu dianggap sebagai bentuk pencabutan wasiat, seperti halnya menggiling gandum yang diwasiatkan.

والثاني أنه ليس برجوع فإن الدق لم يسلبه اسمَ الخبز فلا تنقطع الوصية بهذا القدر من التغيير

Kedua, hal itu bukanlah termasuk perubahan (rujū‘), karena penumbukan tidak menghilangkan nama roti darinya, sehingga wasiat tidak batal hanya karena perubahan sebesar ini.

ولو أوصى لإنسان بجاريةٍ ثم كان يستخدمها لم يكن الاستخدام رجوعاً فإنه ليس علامة في قطع الوصية إذ الإنسان يوصي بعبده ثم لا يعطل منافعه

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang lain dengan memberikan seorang budak perempuan, kemudian ia tetap menggunakan budak tersebut, maka penggunaan itu tidak dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Sebab, penggunaan tersebut bukanlah tanda pembatalan wasiat, karena seseorang bisa saja berwasiat dengan budaknya namun tetap memanfaatkan manfaatnya.

وكذلك لو أوصى بجارية لإنسان ثم زوّجها فأما إذا أوصى بها ثم وطئها فالطريقة المشهورة أنه إن عزل عنها لم يكن ذلك رجوعاً وكان الوطء كالاستخدام وإن لم يعزل عنها فيكون ذلك رجوعاً حينئذ فإن ذلك يدل على استبقائه إياها لنفسه والتسري بها

Demikian pula jika seseorang berwasiatkan seorang budak perempuan kepada seseorang, kemudian ia menikahkannya. Adapun jika ia berwasiatkan budak perempuan itu lalu menggaulinya, maka menurut metode yang masyhur, jika ia memisahkan diri darinya, hal itu tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat, dan hubungan badan tersebut dianggap seperti pemanfaatan biasa. Namun jika ia tidak memisahkan diri darinya, maka hal itu dianggap sebagai pencabutan wasiat, karena hal itu menunjukkan bahwa ia tetap mempertahankannya untuk dirinya sendiri dan menjadikannya sebagai selir.

ومن أصحابنا من قال: الوطء رجوعٌ كيف فرض ومنهم من قال: إنه ليس برجوع كيف فرض  وهذا أضعف الوجوه

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa hubungan suami istri merupakan bentuk rujuk dalam keadaan apa pun. Namun, sebagian lain berpendapat bahwa itu bukanlah rujuk dalam keadaan apa pun, dan pendapat ini adalah yang paling lemah.

وقد أجرى الأصحاب في أثناء الكلام في هذه المسألة مسألةً من اليمين وهي أن مالك الجارية إذا قال: والله لا أتسرى بها فمتى يحنث ذكروا في ذلك ثلاثة أوجه: أحدها أن التسري يحصل بالوطء نفسه

Para ulama dalam pembahasan masalah ini juga membahas satu permasalahan terkait sumpah, yaitu apabila pemilik budak perempuan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan melakukan tasarrī dengannya,” maka kapan ia dianggap melanggar sumpah? Dalam hal ini mereka menyebutkan tiga pendapat: yang pertama, tasarrī terjadi dengan melakukan hubungan badan itu sendiri.

والوجه الثاني أن التسري إنما يحصل إذا لم يعزل فأما إذا عزل لم يكن الوطء تسرياً ولم يحنث في يمينه

Pendapat kedua adalah bahwa tasarri hanya terjadi jika tidak melakukan ‘azl, adapun jika melakukan ‘azl maka hubungan tersebut tidak dianggap sebagai tasarri dan ia tidak dianggap melanggar sumpahnya.

وذكر بعض أصحابنا وجهاً ثالثاً وهو أنه إذا أفرزها عن خادمات المهنة وحصّنها وظهر من قصده إرادة الاستئثار بها  كان ذلك تسرياً وإن لم يجر وطء وهذا وجه ضعيف لا استناد له إلى ثبت

Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga, yaitu apabila seseorang memisahkan budak perempuan tersebut dari para pelayan pekerjaan, menempatkannya di tempat yang terjaga, dan tampak dari maksudnya keinginan untuk mengkhususkan diri dengannya, maka hal itu dianggap sebagai tasarrī meskipun belum terjadi hubungan badan. Namun, pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar yang kuat.

ومما يتعلق بهذا القسم أن يوصي بعينٍ ثم يُحدث فيها زيادةً من غير أن يسقط اسمُها وذلك مثل أن يوصي بدارٍ ثم يزيد في بنائها مع بقائها تحت اسم الدار فهذه الزيادة لا تكون رجوعاً عن الوصية فإنها لا تشعر باستئثاره بالدار ومن راعى زوال الاسم فالاسم غير زائل وقد ذكرت تفصيل المذهب في أن تلك الأعيان التي زادها هل تدخل تحت الوصية

Terkait dengan bagian ini adalah apabila seseorang berwasiat atas suatu benda, kemudian ia menambah sesuatu pada benda tersebut tanpa menghilangkan nama bendanya. Misalnya, seseorang berwasiat atas sebuah rumah, lalu ia menambah bangunan pada rumah itu sementara rumah tersebut tetap disebut rumah. Penambahan ini tidak dianggap sebagai penarikan kembali wasiat, karena hal itu tidak menunjukkan bahwa ia ingin menguasai rumah tersebut untuk dirinya sendiri. Bagi yang mempertimbangkan perubahan nama, maka nama bendanya tidak berubah. Saya telah menjelaskan secara rinci dalam mazhab mengenai apakah tambahan-tambahan pada benda tersebut termasuk dalam wasiat atau tidak.

وإن أوصى لإنسان بدار عينها ثم غيرها واتخذ منها خاناً فالذين ذهبوا إلى زوال الاسم وبقائه حكموا ببطلان الوصية ورأوا هذا التغيير رجوعاً عن الوصية لأن اسم الدار قد زال وهذا فيه احتمال عندي لأنه ليس فيما فعله ردُّ العرصة إلى حكم نفسه باستعمالٍ وصرفٍ عن الجهة الأولى وإنما هذه عمارة رآها وأجراها وقد ذكرت أن التعويل على الاسم ليس بالقويّ

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan sebuah rumah tertentu, kemudian ia mengubahnya dan menjadikannya sebagai penginapan, maka mereka yang berpendapat bahwa nama (rumah) telah hilang namun hukumnya tetap, memutuskan bahwa wasiat tersebut batal dan menganggap perubahan ini sebagai penarikan kembali wasiat, karena nama rumah telah hilang. Namun menurut saya, hal ini masih mengandung kemungkinan, karena apa yang dilakukannya bukanlah mengembalikan tanah tersebut kepada status asalnya melalui penggunaan atau pengalihan dari tujuan semula, melainkan hanya pembangunan yang ia lihat dan lakukan. Saya juga telah menyebutkan bahwa bersandar pada nama (semata) tidaklah kuat.

ولو أوصى بثوب مفصل غير مخيط ثم إنه خاطه فقد قال الشافعي وأبو يوسف: لا يكون ذلك رجوعاً وتعليله بين فإن الاسم لم يتغير على مذهب من يراعي الاسم والطريقة التي ذكرناها لا تجرى في هذه المسألة وقال أبو حنيفة ومحمد : يكون ذلك رجوعاً

Jika seseorang berwasiat kain yang sudah dipotong namun belum dijahit, lalu kemudian ia menjahitnya, maka menurut pendapat asy-Syafi‘i dan Abu Yusuf: hal itu tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat, dan alasannya jelas, karena nama (kain tersebut) tidak berubah menurut mazhab yang memperhatikan nama, dan metode yang telah kami sebutkan sebelumnya tidak berlaku dalam masalah ini. Sedangkan menurut Abu Hanifah dan Muhammad: hal itu dianggap sebagai pencabutan wasiat.

ولو أوصى لإنسان بقطن ثم حشا به جُبة فقد قال من يعوّل على بقاء الاسم وزواله من أصحابنا: تبقى الوصية فإن اسم القطن باقٍ والصحيح عندي أن ذلك رجوع عن الوصية فإن القطن إذا حشا به الجبة فهو إلى الفساد والاتساخ وسقوط القيمة والخروج عن معظم المقاصد المتعلقة بالقطن وهذا يشعر بصرفه عن جهة الوصية إلى جهة الاستئثار والاستعمال

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan memberikan kapas, lalu ia mengisi jubah dengan kapas tersebut, maka menurut pendapat sebagian ulama kami yang berpegang pada keberlangsungan atau hilangnya nama (kapas), wasiat tersebut tetap berlaku karena nama kapas masih ada. Namun, pendapat yang benar menurut saya adalah bahwa hal itu merupakan penarikan kembali wasiat, karena jika kapas digunakan untuk mengisi jubah, maka kapas tersebut cenderung menjadi rusak, kotor, kehilangan nilai, dan keluar dari tujuan utama yang berkaitan dengan kapas. Hal ini menunjukkan bahwa kapas tersebut telah dialihkan dari tujuan wasiat kepada tujuan kepemilikan pribadi dan pemakaian sendiri.

ومما يتعلق بهذا القسم أنه لو أوصى لإنسانٍ بحنطة معينة ثم إنه خلطها بحنطة أخرى من عنده فهذا يكون رجوعاً عن الوصية  فإنّ فعله يُعسِّر تسليمَ الحنطة المعينة فيتضمن هذا رجوعاً عن موجب الوصية وهذا ظاهر متفق عليه

Terkait dengan bagian ini, jika seseorang berwasiat kepada orang lain dengan gandum tertentu, kemudian ia mencampurkannya dengan gandum lain miliknya, maka hal itu dianggap sebagai pencabutan wasiat. Sebab, perbuatannya tersebut menyulitkan penyerahan gandum yang telah ditentukan, sehingga hal ini mengandung makna pencabutan terhadap isi wasiat, dan hal ini jelas serta disepakati.

ولو أوصى لإنسان بمقدارٍ من الحنطة من جملة حنطة كثيرة مثل أن يقول: أوصيت لزيد بصاعٍ من حنطة هذا البيت فلو أنه خلط بحنطة البيت حنطةً أخرى فقد قال صاحب التقريب: إنْ خلط حنطة البيت بمثلها فلا يكون ذلك رجوعاً وإن خلطها بأجود منها كان رجوعاً وإن خلطها بأردأ منها فعلى وجهين

Jika seseorang berwasiat kepada seseorang dengan sejumlah gandum dari sekian banyak gandum, misalnya ia berkata: “Aku berwasiat kepada Zaid satu sha‘ gandum dari gandum di rumah ini,” lalu ia mencampurkan gandum di rumah itu dengan gandum lain, maka menurut penulis kitab at-Taqrīb: Jika ia mencampur gandum di rumah itu dengan gandum yang sejenis, maka hal itu tidak dianggap sebagai pencabutan wasiat. Namun jika ia mencampurnya dengan gandum yang kualitasnya lebih baik, maka itu dianggap sebagai pencabutan wasiat. Dan jika ia mencampurnya dengan gandum yang kualitasnya lebih rendah, maka ada dua pendapat.

أما ما ذكره من الخلط بالمثل فقد اتفق الأصحاب عليه من جهة أنه في وصيته لم يعتمد تعيين مقدار من الحنطة فلا يكون الخلط مخالفاً لمقصوده فأما إذا خلط بالأجود فقد لا يسمح بالتسليم لمكان الجودة وإن خلط بأردأ فيتعارض فيه معنيان: أحدهما أنه إذا سمح بالحنطة الأولى فإنه يسمح بالأردأ أيضاً وهذا يعارضه أنه قد لا يرضى للموصى له بالأردأ فلهذا خرَّج صاحب التقريب المسألة على وجهين

Adapun mengenai apa yang disebutkan tentang pencampuran dengan yang sejenis, para ulama sepakat bahwa dalam wasiatnya ia tidak menetapkan takaran tertentu dari gandum, sehingga pencampuran tersebut tidak bertentangan dengan maksudnya. Namun, jika dicampur dengan yang lebih baik mutunya, mungkin ia tidak rela menyerahkannya karena kualitasnya yang lebih baik. Dan jika dicampur dengan yang lebih rendah mutunya, maka terdapat dua pertimbangan yang saling bertentangan: yang pertama, jika ia rela dengan gandum yang pertama, maka ia juga rela dengan yang lebih rendah; namun, di sisi lain, bisa jadi ia tidak rela jika yang diberikan kepada penerima wasiat adalah yang lebih rendah. Oleh karena itu, penulis kitab at-Taqrīb mengemukakan permasalahan ini dalam dua kemungkinan.

وينقدح عندنا من طريق الاحتمال كون الخلط رجوعاً في الأقسام كلّها فإنه يتعذر به التسليم من تلك الحنطة الأولى والوصية ضعيفة يتسرع البطلان إليها

Menurut kami, ada kemungkinan bahwa pencampuran itu merupakan bentuk kembali pada semua kategori, karena dengan pencampuran tersebut mustahil untuk memisahkan gandum yang pertama itu, dan wasiatnya menjadi lemah serta mudah batal karenanya.

ولو قال: بعتك صاعاً من هذه الصُّبرة ثم خلطها بمثلها أو أجود أو أردأ منها فإنه يتعذر تسليم المبيع وكل ما يتعذر بسببه تسليم المبيع فبالحري أن يقدر رجوعاً عن الوصية في هذا الفن

Jika seseorang berkata: “Aku menjual kepadamu satu sha‘ dari tumpukan ini,” kemudian ia mencampurnya dengan yang sejenis, atau dengan yang lebih baik, atau yang lebih buruk darinya, maka penyerahan barang yang dijual menjadi sulit dilakukan. Setiap hal yang menyebabkan sulitnya penyerahan barang yang dijual, maka sudah sepatutnya dianggap sebagai penarikan kembali wasiat dalam masalah ini.

هذا تمام البيان فيما يكون رجوعاً عن الوصية

Inilah penjelasan lengkap mengenai hal-hal yang dianggap sebagai pencabutan wasiat.

واتسق من مضمون الباب أن التبرعات المنفذة في المرض لا يملك المتبرع الرجوع فيها والوصايا المحضة يملك الرجوع فيها صريحاً وضمناً والتدبير لا ينزل منزلة التبرع المنفذ من جهة أن السيد له بيعُ المدبّر وتنجيز إعتاقه والتصرف فيه بجميع الجهات التي ينصرف بها في المملوك القنّ فالتدبير من هذه الوجوه مباين للتبرعات المنجزة ولكن في نزوله منزلة التبرعات المحضة حتى يجوز التصريح بالرجوع فيه قولان كما ذكرنا

Dari isi bab ini dapat disimpulkan bahwa hibah yang telah dilaksanakan pada masa sakit tidak dapat ditarik kembali oleh pemberi hibah, sedangkan wasiat murni dapat ditarik kembali baik secara tegas maupun tersirat. Adapun tadbir (pembebasan budak secara bertahap) tidak disamakan dengan hibah yang telah dilaksanakan, karena tuan masih memiliki hak untuk menjual budak yang ditadbir, mempercepat pembebasannya, dan melakukan berbagai tindakan terhadapnya sebagaimana terhadap budak murni. Maka dari sisi ini, tadbir berbeda dengan hibah yang telah dilaksanakan. Namun, mengenai apakah tadbir disamakan dengan hibah murni sehingga boleh secara tegas menarik kembali tadbir, terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan.

Bab tentang penyakit yang diperbolehkan untuk memberikan hibah dan yang tidak diperbolehkan.

مقصود هذا الباب متعلق بتنجيز التبرعات فإن الوصايا المعلقة بالموت محسوبة من الثلث سواء فرض إنشاؤها في الصحة أو في المرض والتدبير في هذا المعنى نازل منزلة الوصايا ومن هذا ظهر إلحاقه بالوصايا فإنّ عِتق المدبر من الثلث وإن جرى تدبيره في الصحة فإنما تفترق الحال إذاً بين أن يكون الموصي صحيحاً أو مريضاً مرض الموت في التبرعات المنفذة كالعتق والهبة والمحاباة وما في معناها

Maksud dari bab ini berkaitan dengan penegasan pelaksanaan hibah, karena wasiat yang digantungkan pada kematian dihitung dari sepertiga harta, baik wasiat itu dibuat saat sehat maupun saat sakit. At-tadbīr dalam hal ini diposisikan seperti wasiat, dan dari sini tampak bahwa at-tadbīr disamakan dengan wasiat. Maka, pembebasan budak melalui at-tadbīr juga diambil dari sepertiga harta, meskipun at-tadbīr itu dilakukan saat sehat. Perbedaan keadaan hanya terjadi antara wasiat yang dibuat oleh orang yang sehat dan orang yang sakit menjelang kematian, yaitu dalam hibah yang langsung dilaksanakan seperti pembebasan budak, pemberian hadiah, pemberian dengan imbalan, dan hal-hal yang serupa dengannya.

فإن كان المرض مخوفاً وأفضى إلى الموت فهي من الثلث وإن جرت وانتهت في الصحة أو في مرض غيرِ مخوف فمن رأس المال

Jika penyakitnya berbahaya dan berujung pada kematian, maka (hibah atau wasiat itu) dihitung dari sepertiga harta. Namun jika hibah atau wasiat itu dilakukan dan diselesaikan saat sehat atau dalam keadaan sakit yang tidak berbahaya, maka (hibah atau wasiat itu) diambil dari seluruh harta (dari pokok harta).

ثم لا مطمع في الاطلاع على تقاسيم الأمراض والمَيْز بين المخوف منها وغير المخوف فإن العلم بذلك ليس بالهيّن وهو يتعلق بفنٍّ معروف قد يستوعب طالبُ الكمالِ فيه العمرَ  ثم لا ينال مطلوبَه والعجب أن الفقهاء خاضوا في عدّ المخوف من الأمراض وغير المخوف منها ولست أرى التزام ذلك و إن اعتلقتُ طرفاً صالحاً منه ولكن الوفاء به غير ممكن فالوجه أن نقول: ليس المرض المخوف هو الذي تندرُ النجاةُ منه وُيؤئِس المعالجَ فإن البرْسام معدودٌ من الأمراض المخوفة والنجاة منه ليست بالنادر فلا ينبغي أن يظن الفقيه أن المخوف هو الذي يغلب الهلاك منه حتى يعد الاستبلال والبرء منه في حكم النادر ولكن يكفي ألا يكون الهلاك منه في حكم النادر فليتثبت الناظر في هذا العقد فإليه الرجوع فإنا إذا كنا نرعى الخوفَ كفى فيه ظهور توقع الموت وإن لم يغلب عليه يلتحق ببقية النوادر

Kemudian, tidak mungkin berharap dapat mengetahui secara rinci pembagian penyakit dan membedakan antara yang berbahaya dan yang tidak berbahaya, karena pengetahuan tentang hal itu tidaklah mudah dan berkaitan dengan suatu bidang ilmu yang dikenal, yang mana seorang pencari kesempurnaan dalam bidang itu bisa menghabiskan seluruh umurnya namun tetap tidak mencapai apa yang diinginkan. Yang mengherankan, para ahli fiqh telah membahas tentang pengelompokan penyakit yang berbahaya dan yang tidak berbahaya, padahal saya sendiri tidak melihat perlunya berpegang teguh pada hal itu, meskipun saya mengambil sebagian yang baik darinya, namun memenuhi seluruhnya adalah hal yang tidak mungkin. Maka, yang sepatutnya dikatakan adalah: penyakit yang berbahaya bukanlah penyakit yang sangat jarang dapat disembuhkan dan membuat para dokter putus asa, sebab penyakit radang selaput otak (barsam) termasuk penyakit berbahaya, namun kesembuhan darinya tidaklah langka. Maka, tidak sepantasnya seorang ahli fiqh mengira bahwa penyakit berbahaya adalah yang hampir pasti menyebabkan kematian, sehingga menganggap kesembuhan darinya sebagai sesuatu yang sangat jarang. Namun, cukup jika kematian akibat penyakit itu tidak tergolong sangat jarang. Maka, hendaknya orang yang meneliti masalah ini benar-benar memperhatikannya, karena kepadanya lah rujukan dalam hal ini. Sebab, jika kita memperhatikan adanya kekhawatiran, maka cukup dengan adanya kemungkinan munculnya kematian, meskipun tidak dominan, sehingga ia dapat disamakan dengan kasus-kasus langka lainnya.

والمرض الذي ليس بمخوف هو الذي يندر ترتب الموت عليه لأجل ذلك لا يكون توقع الموت منه في حكم المظنون

Penyakit yang tidak berbahaya adalah penyakit yang jarang menyebabkan kematian, oleh karena itu kemungkinan terjadinya kematian akibat penyakit tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang diduga kuat.

فلو كان المرض مخوفاً وجرت فيه تبرعات ثم اتفق البرء منه فجملة التبرعات منفَّذة نازلة منزلة ما يقع في الصحة وهذا لا شك فيه فإن الخوف المعتبر إنما يظهر أثره إذا أفضى إلى الموت

Jika penyakitnya menakutkan dan dalam keadaan itu dilakukan berbagai hibah, kemudian ternyata ia sembuh dari penyakit tersebut, maka seluruh hibah yang telah diberikan tetap berlaku dan diperlakukan seperti hibah yang terjadi saat sehat. Hal ini tidak diragukan lagi, karena rasa takut yang dianggap sah hanya berpengaruh apabila berujung pada kematian.

وإن كان ذلك المرض بحيث لا يعد مخوفاً ولكن اتفق ترتب الموت عليه فهذا لا يخلو من أحد أمرين: إما أن يتفق الموت من سبب عارض سوى ما كنا نعرفه وإما أن يتفق غلطٌ ممن رجعنا إليه في نفي الخوف والغلط يفرض من وجهين: أحدهما ألا يكون ذلك المرض من الجنس الذي ظنه مَنْ إليه الرجوع وإما أن يكون من ذلك الجنس ولكنه لم ينسبه إلى قوّة المريض النسبة الصحيحة فإن القوة إذا انحطت فالمرض الذي لا يكون مخوفاً من القوي مخوف في حق الضعيف إذ القوةُ حمالةُ الأمراض وعلى قدرها الخوفُ وظنُّ البرء

Jika penyakit itu tidak dianggap berbahaya, namun ternyata menyebabkan kematian, maka hal ini tidak lepas dari dua kemungkinan: pertama, kematian terjadi karena sebab lain yang tidak kita ketahui; kedua, terjadi kesalahan dari orang yang kita rujuk dalam menafikan adanya bahaya, dan kesalahan ini bisa terjadi dalam dua bentuk: pertama, penyakit itu bukan dari jenis yang diperkirakan oleh orang yang kita rujuk; kedua, penyakit itu memang dari jenis tersebut, tetapi ia tidak menisbatkannya kepada kekuatan pasien secara tepat. Sebab, jika kekuatan tubuh menurun, maka penyakit yang tidak berbahaya bagi orang yang kuat bisa menjadi berbahaya bagi orang yang lemah, karena kekuatan tubuh adalah penanggung penyakit, dan tingkat bahaya serta harapan sembuh bergantung pada kekuatan tersebut.

فإن ثبت طريان سبب آخرَ مخوفٍ فالموت محال عليه والتبرع الذي جرى في المرض الأول بمثابة التبرع في الصحة

Jika ternyata muncul sebab lain yang membahayakan, maka kematian dikaitkan dengan sebab tersebut, dan hibah yang dilakukan pada sakit pertama dianggap seperti hibah yang dilakukan pada saat sehat.

وإن بان أن سبب الموت ذلك المرضُ بعينه ولكنه أفضى إلى الموت لضعف المريض وعجزه عن الاستقلال فقد بان أنّا ظنناه غير مخوف وكان مخوفاً

Dan jika ternyata bahwa sebab kematian adalah penyakit itu sendiri, namun penyakit tersebut menyebabkan kematian karena kelemahan dan ketidakmampuan pasien untuk bertahan sendiri, maka jelaslah bahwa kita sebelumnya mengira penyakit itu tidak berbahaya, padahal sebenarnya berbahaya.

فإن قال قائل: لو لم يكن ضعفٌ ولم يتجدد سبب آخر واتفق الموت قلنا: هذا ما لايكون في مستقر العادة وعليه الكلام

Jika ada yang berkata: Seandainya tidak ada kelemahan dan tidak muncul sebab lain, lalu kematian terjadi secara tiba-tiba, kami katakan: Hal ini tidak terjadi dalam kebiasaan yang lazim, dan pembicaraan didasarkan atas hal itu.

ومما يعترض في ذلك أنه إذا اتفق مرضٌ غيرُ مخوف في ظاهر الظن وترتب الموت عليه وقال أهل البصر: لا بد من تجدّد سببٍ باطن في الأعضاء الرئيسية فالتبرع المتقدم على ذلك تبرع في الصحة

Salah satu hal yang menjadi keberatan dalam hal ini adalah apabila terjadi suatu penyakit yang secara lahiriah tidak dikhawatirkan (tidak berbahaya) dan kemudian kematian terjadi karenanya, lalu para ahli mengatakan: pasti ada sebab lain yang tersembunyi pada organ-organ utama, maka hibah yang diberikan sebelum itu dianggap sebagai hibah pada saat sehat.

وإن جوز من إليه الرجوع تجدّدَ سببٍ وجوز أن يكون الموت من ذلك المرض بسبب ضعف القوة وأنه لم يتأمل مقدار المرض والقوة فالظاهر إذا كان كذلك وعسُر الاطلاع على الحقيقة إلحاقُ المرض بالأمراض المخوفة وفيه احتمالٌ من جهة أنا نستصحب حكم الصحة إلى تحقق نقيضه وقد يطرأ مثل هذا في إفضاء الجرح إلى الموت مع اعتراض هذه الاحتمالات وحاجتنا تمس إلى دَرْك ذلك لإيجاب القصاص ونفيه وسيأتي ذلك مستقصىً في كتاب الجراح إن شاء الله تعالى

Jika orang yang menjadi rujukan membolehkan adanya sebab baru, dan membolehkan bahwa kematian itu terjadi karena penyakit tersebut akibat lemahnya kekuatan, serta ia tidak mempertimbangkan kadar penyakit dan kekuatan, maka yang tampak jika demikian dan sulit mengetahui hakikatnya adalah menyamakan penyakit itu dengan penyakit-penyakit yang menakutkan. Namun, ada kemungkinan dari sisi bahwa kita tetap mempertahankan hukum sehat sampai terbukti kebalikannya. Hal seperti ini bisa saja terjadi pada kasus luka yang berujung pada kematian, dengan adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut, sementara kita sangat membutuhkan pemahaman tentang hal itu untuk menetapkan atau menafikan kewajiban qishāsh. Hal ini akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab al-Jarāḥ, insya Allah Ta‘ala.

ومما يجب الاعتناء بدركه أن العليل إذا كان لا يعدّ في مرض مخوفٍ ونشأت علة أخرى فإن قال أهل البصر: العلة الأولى تُفضي إلى هذه العلة إفضاءً مظنوناً مخوفاً فالعلة الأولى إذاً مخوفة وإن قالوا: يندر إفضاؤها إلى هذه العلة فالأولى ليست مخوفة وما يجري فيها من تبرع ملتحق بتبرع الصحة

Hal yang juga harus diperhatikan dengan saksama adalah bahwa seorang yang sakit, jika penyakitnya tidak tergolong penyakit yang membahayakan, lalu muncul penyakit lain, maka jika para ahli mengatakan bahwa penyakit pertama sangat mungkin menyebabkan timbulnya penyakit kedua dengan kemungkinan yang membahayakan, maka penyakit pertama itu dianggap membahayakan. Namun jika mereka mengatakan bahwa sangat jarang penyakit pertama menyebabkan penyakit kedua, maka penyakit pertama tidak dianggap membahayakan, dan segala bentuk hibah yang dilakukan dalam keadaan tersebut dihukumi seperti hibah dalam keadaan sehat.

ولو لم تتجدد علّة ولكن تزايدت والعلة واحدة فهكذا سبيل إفضاء

Dan jika tidak muncul ‘illat baru, tetapi ‘illat tersebut bertambah kuat sementara ‘illatnya tetap satu, maka demikianlah cara terjadinya akibat.

العلل إلى الموت فإنها مقسومة إلى التزايد والانتهاء والانحطاط والقوى يقسّمها مهرةُ الأطباء على هذه الأطوار فيبنون على ذلك ظنَّ البرء والهلاك فإذا جرى التبرع في ابتداء حمّى وقد لا يطّلع الطبيب على جنس الحمى وهي منقسمة إلى المخوف وغير المخوف فإذا ظهرت أعراضها وبان للطبيب أنها مخوفة فابتداؤها بحكم التبين مخوفٌ ولكنه عرفه الآن وليس ما يتجدد من اطلاعه تجرّد علةٍ

Penyebab-penyebab kematian terbagi menjadi peningkatan, puncak, dan penurunan; para ahli pengobatan membagi kekuatan tubuh berdasarkan tahapan-tahapan ini, lalu mereka membangun dugaan tentang kesembuhan atau kematian berdasarkan hal tersebut. Jika terjadi gejala awal pada permulaan demam, bisa jadi dokter belum mengetahui jenis demamnya, padahal demam itu sendiri terbagi menjadi yang berbahaya dan yang tidak berbahaya. Ketika gejalanya muncul dan dokter mengetahui bahwa itu berbahaya, maka permulaannya, menurut pengetahuan yang didapat, memang berbahaya. Namun, hal itu baru diketahui dokter sekarang, dan apa yang baru diketahui dari pengamatannya bukanlah sebab yang berdiri sendiri.

هذا هو الذي لا بد من بناء الباب عليه

Inilah yang harus dijadikan dasar dalam membahas bab ini.

ثم ما ظهر كونه مخوفاً لم يخف حكمه إذا أفضى إلى الموت وما لم يكن مخوفاً لم يخف حكمه وما أشكل الأمر فيه فالرجوع إلى أهل البصر ثم إن فرض نزاع لم يثبت كون المرض مخوفاً إلا بشهادة مسلمَيْن عَدْلين من أهل العدالة ولا يقبل فيه رجل وامرأتان وإن كان مقصود الشهادة التعرضَ للمال فإن المشهودَ به المرض وصفتُه وهو ليس بمالٍ وليس موجِبَ مالٍ بنفسه بل هو ينفصل عن الأحكام المالية فإن كانت الشهادة على علةٍ بامرأة على وجهٍ لا يطلع الرجال عليها غالباً فإن تلك العلة تثبت بشهادة أربع نسوة وإذا ثبت بِشهادتهن تثبت أيضاً بشهادة رجلين وشهادة رجل وامرأتين

Kemudian, sesuatu yang tampak berbahaya tidak dianggap ringan hukumnya jika berujung pada kematian, dan sesuatu yang tidak berbahaya tidak dianggap berat hukumnya. Jika perkara tersebut masih samar, maka dikembalikan kepada para ahli yang berpengalaman. Selanjutnya, jika terjadi perselisihan, maka tidak dapat ditetapkan bahwa penyakit itu berbahaya kecuali dengan kesaksian dua orang Muslim yang adil dari kalangan orang-orang yang terpercaya. Tidak diterima dalam hal ini kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan, meskipun tujuan kesaksian tersebut berkaitan dengan harta, karena yang disaksikan adalah penyakit dan sifatnya, yang bukan merupakan harta dan tidak secara langsung mewajibkan adanya harta, melainkan terpisah dari hukum-hukum yang berkaitan dengan harta. Jika kesaksian atas suatu penyakit diberikan oleh seorang perempuan terhadap sesuatu yang umumnya tidak dapat diketahui oleh laki-laki, maka penyakit tersebut dapat ditetapkan dengan kesaksian empat orang perempuan. Jika telah ditetapkan dengan kesaksian mereka, maka dapat pula ditetapkan dengan kesaksian dua orang laki-laki atau kesaksian satu laki-laki dan dua perempuan.

وإن أشكل الأمر على الذين راجعناهم كما صورتُ الإشكال في صدر الباب وذلك بأن يفرض مرضٌ ليس مخوفاً في صنفه ويتقدّر الموت ثم يتردّد الظن في أن الموت كان لعلّةٍ طارئةٍ أو هو محمول على ذلك المرض بعينه مع اعتقاد إفضائه إلى الهلاك بسبب ضعف قوة المريض هذا فيه تردّدٌ وقد قدمته والشهادة تمس الحاجة إليها عند ادّعاء علةٍ وإنكارها فأما إذا ثبتت علةٌ ووقع الاتفاق على صنفها وآل الكلام إلى أنها مخوفة أم لا ورجع النزاع إلى نسبة قوة المريض إلى العلة وهذا يختص بدركه الماهرون من علماء الطب فلا بد مع الإشكال من مراجعة خبير موثوقٍ به

Jika perkara tersebut masih samar bagi orang-orang yang kami mintai pendapatnya, sebagaimana telah saya gambarkan kesamaran itu di awal bab ini, yaitu dengan memisalkan adanya penyakit yang pada jenisnya tidak membahayakan namun kematian tetap mungkin terjadi, lalu timbul keraguan apakah kematian itu disebabkan oleh sebab lain yang datang secara tiba-tiba ataukah memang karena penyakit itu sendiri, dengan keyakinan bahwa penyakit tersebut dapat menyebabkan kematian karena lemahnya kekuatan pasien—maka dalam hal ini memang terdapat keraguan, dan saya telah mengemukakannya sebelumnya. Kesaksian sangat dibutuhkan ketika ada klaim tentang suatu penyakit dan ada yang mengingkarinya. Adapun jika suatu penyakit telah terbukti dan telah disepakati jenisnya, lalu pembicaraan berlanjut pada apakah penyakit itu membahayakan atau tidak, dan perselisihan kembali pada sejauh mana kekuatan pasien terhadap penyakit tersebut, maka hal ini hanya dapat dipahami oleh para ahli yang mahir dari kalangan dokter. Maka, jika terjadi kesamaran, haruslah merujuk kepada seorang ahli yang terpercaya.

ثم الذي أراه أن ذلك لا يلحق بمراتب الشهادات من كل الوجوه بل يلحق بالتقويم وتعديل الأقساط في القسمة حتى يختلف الرأي في اشتراط العدد ولفظ الشهادة هذا منتهى حظ الفقه من الباب

Kemudian, menurut pendapat saya, hal itu tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan tingkatan-tingkatan kesaksian dari segala sisi, melainkan lebih dekat kepada penilaian (taqwīm) dan penyesuaian bagian-bagian dalam pembagian, sehingga para ulama berbeda pendapat mengenai syarat jumlah dan lafaz kesaksian. Inilah batas maksimal yang dicapai fiqh dalam permasalahan ini.

ولو ذهبت أتبع ما ذكره الفقهاء من تقاسيم العلل التي عدُّوها وأنّى لهم بها لأتيتُ بكلام سخيفٍ  ولو ستمددتُ مما حَظِيتُ به من هذه الصناعة لأتيت بكلام كثير في غير موضعه وهو لا يثمر فائدةً

Jika aku mengikuti apa yang disebutkan para fuqaha tentang pembagian-pembagian ‘illat yang mereka sebutkan—padahal dari mana mereka mendapatkannya—niscaya aku akan menyampaikan pembicaraan yang tidak bermutu. Dan jika aku memperluas dari apa yang aku peroleh dari bidang ini, niscaya aku akan menyampaikan banyak pembicaraan yang tidak pada tempatnya, yang tidak menghasilkan manfaat.

وهذا يضاهي محاولة إغراق الكلام في أدلة القبلة في بابها

Ini serupa dengan upaya menenggelamkan pembahasan dalam dalil-dalil tentang kiblat pada babnya.

ومما أجراه المزني أن قال: السل ليس بمخوف وهذا كلام مدخولٌ لا يرتضيه أرباب البصائر وإن كان يرى أن العلل المزمنة التي ليست بالحادة ليست مخوفة كالدِّق والاستسقاء وما في معناهما من الأعلال التي يظهر الخوف فيها وليست سريعة الانقلاب إلى البرء أو الهلاك فهذا بعيد مع تحقق الخوف

Di antara yang dikemukakan oleh al-Muzani adalah ucapannya: “Penyakit tuberkulosis (as-sil) tidak menakutkan.” Ini adalah pernyataan yang lemah dan tidak dapat diterima oleh para pemilik pandangan yang tajam. Meskipun ia berpendapat bahwa penyakit kronis yang tidak akut tidak menakutkan, seperti penyakit kurus (ad-diqq), penyakit busung air (al-istisqā’), dan penyakit-penyakit lain yang sejenis, di mana tampak adanya kekhawatiran pada penyakit-penyakit tersebut, namun penyakit-penyakit itu tidak cepat berubah menjadi sembuh atau kematian, maka pendapat ini jauh dari kebenaran jika kekhawatiran itu benar-benar ada.

فليتأمل الناظر ما يمر به

Maka hendaklah orang yang memperhatikan merenungkan apa yang dilaluinya.

والهرَم في الشيخ الكبير ليس يلتحق بالأمراض المزمنة فافهموا ترشدوا

Kepikunan pada orang tua yang sangat lanjut usia tidak termasuk ke dalam kategori penyakit kronis, maka pahamilah agar kalian mendapatkan petunjuk.

وإنما يتطرق الكلام إلى الأمراض المزمنة من وجهين: أحدهما أن الأئمة قالوا: الحامل ليست في حالة خوف وإنما تُعدّ في حالة الخوف إذا طُلقت  وإن كنا نعلم أن كل حاملة تضع أو تجهض وإلى أي المصيرين صارت فإلى الخوف مصيرها ثم لم تجعل في حالة خوف قبل الطّلْق  هكذا ولكن المرض المزمن ينفصل عنه من جهة أن صاحبه مريض في الحالة الراهنة وذات الحمل على أحوال الصحة إلى أن تُطْلَق ويتطرق إلى الأمراض المزمنة أنها إذا لم تكن حادّة فقد تمكّن من العلاج في طول المدة وهذا مما يجب التنبه له

Pembahasan mengenai penyakit kronis hanya muncul dari dua sisi: Pertama, para imam berkata bahwa wanita hamil tidak berada dalam keadaan khawatir, melainkan dianggap dalam keadaan khawatir jika sudah mengalami kontraksi persalinan. Padahal kita mengetahui bahwa setiap wanita hamil pasti akan melahirkan atau mengalami keguguran, dan ke mana pun akhirnya, ia akan menghadapi risiko. Namun, ia tidak dianggap dalam keadaan khawatir sebelum mengalami kontraksi persalinan, demikianlah ketentuannya. Adapun penyakit kronis berbeda, karena penderitanya memang sedang sakit pada saat itu, sedangkan wanita hamil masih dalam keadaan sehat hingga mengalami kontraksi persalinan. Selain itu, penyakit kronis, jika tidak bersifat akut, masih memungkinkan untuk diobati dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini perlu menjadi perhatian.

والذي يتحصل عندنا في ذلك أن نمزج إمكان العلاج وطول المدة بقوة المريض  وتقع القضية على حسب ذلك فإن قال أهل البصر مع ما ذكرناه: الخوف غالبٌ فالمرض مرض الموت إذا أفضى إليه ولا نظر إلى طول المدّة وقصرها والله أعلم

Kesimpulan yang kami peroleh dalam hal ini adalah bahwa kita menggabungkan kemungkinan pengobatan dan lamanya waktu dengan kekuatan pasien, dan perkara ini terjadi sesuai dengan hal tersebut. Jika para ahli yang berkompeten, dengan mempertimbangkan apa yang telah kami sebutkan, mengatakan bahwa kemungkinan besar ada kekhawatiran (akan kematian), maka penyakit itu adalah penyakit maut jika berujung pada kematian, tanpa memandang lama atau singkatnya waktu. Allah Maha Mengetahui.

وقد ذكرنا في أثناء الكلام مسألةَ الحامل وهي مقصودة فلتعرف كما وصفناها

Kami telah menyebutkan dalam pembahasan sebelumnya mengenai masalah wanita hamil, dan hal itu memang dimaksudkan, maka ketahuilah sebagaimana telah kami jelaskan.

فصل

Bab

نص الشافعي رضي الله عنه على أن الرجل إذا كان في قُطرِ وقع فيه الطاعون الغالب وعم طريانه فأمر المقيم في ذلك القطر مخوفٌ وإن لم يطعن بعدُ

Imam Syafi‘i raḥimahullāh menegaskan bahwa apabila seseorang berada di suatu wilayah yang sedang terjadi wabah ṭā‘ūn yang umumnya menular dan penyebarannya meluas, maka tetap dikhawatirkan bagi orang yang menetap di wilayah tersebut, meskipun ia belum tertular.

وكذلك من كان في التحام القتال بعد التفاف الصفين وازدحام القسي فأمره مخوف وإن لم يجرح بعدُ

Demikian pula, siapa saja yang berada dalam pertempuran sengit setelah kedua barisan saling berhadapan dan busur-busur saling berdesakan, maka keadaannya membahayakan meskipun ia belum terluka.

وقال في أهل السفينة إذا هاج البحر والتطمت الأمواج وانتهَوْا إلى حالة مخوفة: هم في حالة خوف وإن لم تنكسر السفينة بعدُ هذه نصوص الشافعي رضي الله عنه ثم نقل عن الشافعي رضي الله عنه أنه قال: من قُدّم ليقتص منه غيرُ مخوف ما لم يجرح  فمن أصحابنا من جعل في هذه المسائل كلها قولين وكذا في أسيرِ في يد طائفة من الكفار يقتلون الأسارى وهذا اختيار المزني فإنه لم ير فرقاً في هذه المسائل من جهة أنا إن نظرنا إلى الشخص فهو صحيح في بدنه وإن نظرنا في توقّع إلمام الخوف به فهذا المعنى حاصل

Ia berkata tentang para penumpang kapal jika laut bergelora dan ombak menghantam, lalu mereka sampai pada keadaan yang menakutkan: mereka berada dalam keadaan takut meskipun kapal belum pecah. Ini adalah nash dari Imam Syafi‘i ra. Kemudian ia menukil dari Imam Syafi‘i ra. bahwa beliau berkata: “Barang siapa yang dihadapkan untuk diqishas darinya, tidak dianggap dalam keadaan takut selama belum terluka.” Sebagian ulama kami menjadikan dalam semua permasalahan ini ada dua pendapat, demikian pula tentang tawanan yang berada di tangan sekelompok orang kafir yang membunuh para tawanan. Ini adalah pilihan al-Muzani, karena ia tidak melihat adanya perbedaan dalam permasalahan-permasalahan ini dari sisi bahwa jika kita melihat pada orangnya, ia sehat secara fisik, dan jika kita melihat pada kemungkinan datangnya rasa takut kepadanya, maka makna ini telah terwujud.

ومن أصحابنا من فرق بين مسألة القصاص فأجراها على النص وبَيْن غيرها من المسائل وقال: يغلب من المسلم أن يرحم إذا ملك واقتدر وقد يرغب في المال فيعفو وهذا لا يتحقق في سائر المسائل وهذا الفرق لا يكاد يتضح

Sebagian ulama kami membedakan antara masalah qishāsh, sehingga mereka menjalankannya berdasarkan nash, dan antara masalah-masalah lainnya. Mereka berkata: Umumnya seorang Muslim akan cenderung berbelas kasih jika ia memiliki kekuasaan dan kemampuan, dan bisa jadi ia menginginkan harta sehingga ia memaafkan. Hal ini tidak terwujud pada masalah-masalah lainnya. Namun, perbedaan ini hampir tidak tampak jelas.

والذي يعترض في نفس الفقيه أنا إذا حكمنا بالخوف في هذه المسائل فالحامل وإن لم تُطلَق بعد لا يمتنع أن تلحق بالمسائل التي ذكرناها وهذا احتمال أبديناه والذي ذكره الأصحاب أنها ما لم تطلق لا يثبت مقتضى الخوف في حقها

Yang menjadi keberatan dalam diri seorang faqih adalah, apabila kita menetapkan hukum berdasarkan kekhawatiran dalam masalah-masalah ini, maka wanita hamil, meskipun belum ditalak, tidak mustahil disamakan dengan masalah-masalah yang telah kami sebutkan. Ini adalah kemungkinan yang kami kemukakan. Namun, yang disebutkan oleh para ashhab adalah bahwa selama ia belum ditalak, maka konsekuensi kekhawatiran tersebut tidak berlaku baginya.

ثم قال : ومن أنفذته الجراح فمخوف قال الأصحاب: صاحب الجائفة مخوف وكذا صاحب الجراحة الواصلة إلى العظم وكذلك إذا انتهت إلى مجتمع اللحم

Kemudian beliau berkata: Dan orang yang lukanya menembus hingga membahayakan, para sahabat (ulama) berkata: Orang yang mengalami luka tusuk yang menembus (jā’ifah) dianggap membahayakan, demikian pula orang yang mengalami luka yang sampai ke tulang, begitu juga jika luka tersebut mencapai tempat berkumpulnya daging.

والذي عندنا في هذا أن نذكر للفقيه ما ذكره الأئمة في الجراح التي توجب القصاص على ما سيأتي القول فيها مشروحاً إن شاء الله

Menurut pendapat kami dalam hal ini adalah menyampaikan kepada seorang faqih apa yang telah disebutkan oleh para imam mengenai luka-luka yang mewajibkan qishāsh, sebagaimana akan dijelaskan penjelasannya nanti, insya Allah.

وقد قالوا: من قطع إصبع إنسان أو أنملة من أنامله فالجرح جرحُ قصاص وردّدوا الخلاف في الإبرة تغرز في غير مقتل فإن كانوا يجرون حكم الخوف في الوصايا ذلك المجرى فقد اتسق القياس في البابين

Mereka berkata: Barang siapa memotong satu jari seseorang atau satu ruas dari ruas-ruas jarinya, maka lukanya adalah luka qishāsh. Mereka juga mengulang-ulang perbedaan pendapat tentang jarum yang ditusukkan ke selain anggota tubuh yang mematikan. Jika mereka menerapkan hukum kekhawatiran dalam wasiat sebagaimana itu, maka qiyās dalam kedua bab tersebut menjadi konsisten.

وإن كان أئمة المذهب يَفْصلون بين البابين ويخصصون الخوف بالجوائف والجراحات المنتهية إلى مجتمع اللحم وقد تبين أنهم لم يرعَوْا هذا في وجوب القصاص كان هذا من مشكلات المذهب والممكن إن كان الأمر كذلك أن يقال: الجراح الموجبة للقصاص نيط القصاص بهما وإن كانت لا تؤدي إلى القتل غالباً محافظة على صون الأرواح فإن أغوار الجراح لا تنضبط ولا يُدرى كيف وصولها إلى التجاويف والتلافيف فعلِّق القصاص بقبيلها حسماً للباب وردعاً للجناة فأما القضاء بالخوف فينبغي أن يتبع وقوع الخوف وظاهر كلام الأئمة الفرق بين البابين

Meskipun para imam mazhab membedakan antara dua permasalahan ini dan mengkhususkan kekhawatiran (khauf) pada luka dalam dan luka yang sampai ke bagian tubuh yang berisi daging, ternyata mereka tidak konsisten dalam hal ini terkait kewajiban qishāsh. Hal ini menjadi salah satu permasalahan sulit dalam mazhab. Kemungkinan, jika memang demikian keadaannya, dapat dikatakan: pada luka-luka yang mewajibkan qishāsh, pelaksanaan qishāsh dikaitkan dengan keduanya (yaitu luka dalam dan luka yang sampai ke bagian tubuh yang berisi daging), meskipun biasanya tidak menyebabkan kematian, demi menjaga keselamatan jiwa. Sebab, kedalaman luka tidak dapat diukur secara pasti dan tidak diketahui bagaimana luka itu bisa sampai ke rongga-rongga dan lipatan-lipatan tubuh. Maka, qishāsh dikaitkan dengan jenis luka tersebut untuk menutup pintu (kerusakan) dan mencegah para pelaku kejahatan. Adapun dalam hal penetapan hukum berdasarkan kekhawatiran (khauf), seharusnya mengikuti terjadinya kekhawatiran itu sendiri. Dan dari penjelasan para imam, tampak adanya perbedaan antara dua permasalahan ini.

وقد نجز مقصود الباب

Dan tujuan dari bab ini pun telah tercapai.

وذكر صاحب التلخيص مسائل وأقوالاً غريبة تتعلق بأحكام الأمراض ونحن نذكر الزوائد منها وإن كان لا يليق بعضها بهذا الكتاب فمما ذكره اختلاف قول الشافعي رضي الله عنه في إقرار المريض للوارث وفيه قولان مشهوران ذكرناهما في كتاب الأقارير والذي زاده صاحب التلخيص أنه حكى قولاً أن إقرار المريض للأجنبي في مرضه بمنزلة تبرعه عليه  من جهة أنا لا نأمن اتخاذ الإقرار ذريعة إلى صرف طائفةٍ من ماله إلى الأجنبي إذا علم أن التبرعات الزائدة على الثلث مردودة وهذا القول بعيد جداً قال الشيخ: لم يحكه أحد غيره

Penulis kitab at-Talkhīṣ menyebutkan beberapa masalah dan pendapat yang aneh terkait hukum-hukum penyakit, dan kami akan menyebutkan tambahan-tambahan darinya, meskipun sebagian tidak sesuai dengan kitab ini. Di antara yang disebutkannya adalah perbedaan pendapat Imam asy-Syāfi‘ī raḍiyallāhu ‘anhu tentang pengakuan orang sakit kepada ahli waris, yang di dalamnya terdapat dua pendapat masyhur yang telah kami sebutkan dalam Kitab al-Aqārīr. Tambahan yang disebutkan oleh penulis at-Talkhīṣ adalah bahwa ia meriwayatkan satu pendapat bahwa pengakuan orang sakit kepada orang asing dalam masa sakitnya itu seperti hibah kepadanya, karena kita tidak dapat memastikan bahwa pengakuan itu bukanlah siasat untuk mengalihkan sebagian hartanya kepada orang asing, jika diketahui bahwa hibah yang melebihi sepertiga harta akan ditolak. Pendapat ini sangat jauh (lemah). Syaikh berkata: Tidak ada seorang pun yang meriwayatkannya selain dia.

ومما حكاه أن الجنون يُسقط الصلاة أداءً وقضاءً والإغماء إذا استغرق وقت الصلاة ينزل منزلة الجنون فتسقط به الصلاة أداء وقضاء وأما الصوم فالمنصوص أن الجنون يسقطه فلو مرت أيام من رمضان في الجنون ثم أفاق المجنون فلا قضاء ولو مرت أيام في الإغماء فيجب قضاء الصوم والذي زاده صاحب التلخيص أن من أصحابنا من جعل المسألة على قولين في الجنون والإغماء نقلاً وتخريجاً: أحدهما لا يسقط الصوم بواحد منهما ويجب القضاء فيهما عند زوال العذر والثاني لا يجب القضاء في أحدٍ من العذرين وهذا لم أره لأحد من أصحابنا غيره

Di antara hal yang diriwayatkan adalah bahwa kegilaan menggugurkan kewajiban salat, baik secara langsung maupun qadha. Sedangkan pingsan, jika berlangsung sepanjang waktu salat, maka hukumnya disamakan dengan kegilaan, sehingga salat gugur karenanya, baik secara langsung maupun qadha. Adapun puasa, pendapat yang ditegaskan adalah bahwa kegilaan menggugurkan kewajiban puasa. Jika ada beberapa hari di bulan Ramadan yang dilewati dalam keadaan gila, lalu orang tersebut sembuh, maka tidak ada kewajiban qadha. Namun jika beberapa hari dilewati dalam keadaan pingsan, maka wajib mengqadha puasa tersebut. Penulis kitab at-Talkhish menambahkan bahwa sebagian ulama kami menjadikan masalah ini pada dua pendapat dalam kasus kegilaan dan pingsan, baik berdasarkan riwayat maupun istinbat: pertama, puasa tidak gugur karena keduanya dan wajib qadha setelah hilangnya uzur; kedua, tidak wajib qadha pada salah satu dari kedua uzur tersebut. Pendapat kedua ini tidak aku temukan dari ulama kami selain beliau.

ومما ذكره متعلقاً بأحكام الأمراض: أن الصائم إذا مرض في رمضان وخشي زيادة الأوجاع فله أن يفطر وقد ذكرت في كتاب الصيام تقريب القول في الأمر المرعي في المرض الذي يبيح الفطر

Di antara hal yang disebutkan terkait dengan hukum-hukum penyakit adalah bahwa orang yang berpuasa apabila sakit di bulan Ramadan dan khawatir penyakitnya bertambah parah, maka ia boleh berbuka. Saya telah menyebutkan dalam kitab Puasa penjelasan ringkas mengenai perkara yang diperhatikan dalam penyakit yang membolehkan berbuka.

قال الشيخ متصلاً بهذا: ما يجوّز للصائم في رمضان أن يُفطر قد يجوّز لمن لزمته كفارة الظهار أن يترك به صومَ الشهرين فيتحول إلى الإطعام وإن كانت الكفارة تقبل التأخير هذا ما ذكره الشيخ وقطع به وفيه تأمل على الناظر نعم لا يشترط أن يكون المرض مزمناً لا يرجى زواله حتى يجوز التحول ولكن إن قلنا: الاعتبار في الكفارات بوقت الوجوب وكان مريضاً إذ ذاك فيجوز التحول إلى الإطعام وإن قلنا الاعتبار بوقت الأداء ففي هذا أدنى نظر يجوز أن يقال: إذا أطعم وهو مريض أجزأه الإطعام كما قال الشيخ ويجوز أن يقال: إذا دام المرض شهرين فالأمر على ما قال وإن انقطع دون الشهرين ففيه تردد والأظهر ما ذكره الشيخ

Syekh berkata terkait hal ini: Apa yang membolehkan orang yang berpuasa di bulan Ramadan untuk berbuka, juga dapat membolehkan bagi orang yang wajib atasnya kafarat zhihar untuk meninggalkan puasa dua bulan berturut-turut dan beralih kepada memberi makan, meskipun kafarat tersebut boleh ditunda pelaksanaannya. Inilah yang disebutkan oleh Syekh dan beliau menegaskannya, namun hal ini masih perlu ditelaah lebih lanjut. Ya, tidak disyaratkan bahwa penyakitnya harus kronis yang tidak diharapkan kesembuhannya agar boleh beralih (ke memberi makan). Namun, jika kita mengatakan bahwa yang menjadi patokan dalam kafarat adalah waktu kewajiban, dan saat itu ia sedang sakit, maka boleh beralih kepada memberi makan. Tetapi jika kita mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah waktu pelaksanaan, maka dalam hal ini ada sedikit pertimbangan. Boleh dikatakan: jika ia memberi makan saat sedang sakit, maka itu sah sebagaimana pendapat Syekh. Dan boleh juga dikatakan: jika sakitnya berlangsung selama dua bulan, maka urusannya seperti yang dikatakan (Syekh), namun jika sakitnya berhenti sebelum dua bulan, maka dalam hal ini ada keraguan. Dan yang lebih kuat adalah apa yang disebutkan oleh Syekh.

Bab Para Wasi

قال الشافعي رضي الله عنه: ولا يجوز الوصية إلا إلى بالغٍ حر عدلٍ إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Tidak sah wasiat kecuali kepada orang yang baligh, merdeka, dan adil, dan seterusnya.

نَصْبُ الأوصياء جائز وجوازه متفق عليه وقد صار أبو حنيفة وأصحابه إلى أن الوصاية تنزل منزلة الولاية وليس الأمر كذلك فإنها نيابة غيرَ أنا نشترط في الأوصياء كثيراً من صفات الولاة من جهة أن الوصاية أُثبتت مصلحةً ولو رُدّ الأمر فيها إلى ظاهر القياس لما صحت فإن قياس النيابة أن تنقطع بموت المستنيب من جهة أن النائب فرعُ المستنيب فيبعد أن يتصرف بعد خروج أصله من التصرف ولكن أثبت الشرع الوصاية نظراً للأطفال وقياماً بالوصايا وهي في النيابات تنزل منزلة الوصايا في التصرفات فإن التصرفات حقها أن تنقطع بانقضاء العمر ثم نفذت الوصايا بعد منقرض العمر كذلك نفذت الوِصاية غير أنها أثبتت خارجة عن قياس وضع النيابة لمسيس الحاجة إليها فاشترط لذلك اتصاف المنصوب بالصفات التي تطابق المصلحة فظن أبو حنيفة أن اشتراط هذه الصفات ألحق الأوصياء بالأولياء ثم ناقض هذا فجوّز للإنسان أن ينصب عبدَه وصيّاً على أطفاله  ولم يجوّز أن يوصي إلى عبدٍ لأجنبي ونحن لا نجوّز الوصاية إلى عبدٍ

Pengangkatan para washi (pelaksana wasiat) adalah sesuatu yang diperbolehkan, dan kebolehannya telah menjadi kesepakatan. Abu Hanifah dan para pengikutnya berpendapat bahwa washi memiliki kedudukan seperti wali, namun sebenarnya tidaklah demikian, karena washi adalah seorang wakil. Hanya saja, kami mensyaratkan pada para washi banyak sifat yang juga disyaratkan pada para wali, karena washi ditetapkan demi kemaslahatan. Jika perkara ini dikembalikan kepada qiyās yang lahiriah, maka wasiat tidak akan sah, sebab menurut qiyās perwakilan, perwakilan itu terputus dengan wafatnya pihak yang mewakilkan, karena wakil adalah cabang dari yang mewakilkan, sehingga tidak masuk akal jika ia bertindak setelah asalnya tidak lagi dapat bertindak. Namun, syariat menetapkan wasiat dengan mempertimbangkan anak-anak dan pelaksanaan wasiat. Dalam hal perwakilan, washi menempati kedudukan seperti wasiat dalam tindakan hukum, di mana tindakan hukum seharusnya terputus dengan berakhirnya umur, namun wasiat tetap berlaku setelah kematian, demikian pula washi tetap berlaku, meskipun ia ditetapkan di luar qiyās perwakilan karena kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu, disyaratkan agar orang yang diangkat memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan kemaslahatan. Abu Hanifah mengira bahwa persyaratan sifat-sifat ini menjadikan washi seperti wali, namun ia bertentangan dengan pendapatnya sendiri dengan membolehkan seseorang mengangkat budaknya sebagai washi bagi anak-anaknya, tetapi tidak membolehkan mewasiatkan kepada budak orang lain. Sedangkan kami tidak membolehkan wasiat kepada seorang budak.

والصفاتُ المرعية في الأوصياء خمسٌ: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والعدالة ذكر الأصحاب هذه الصفات والرشدُ لا بد منه فإن من لا يستقل وإن كان عدلاً لا يصلح للقيام على الأطفال وتنفيذِ الوصايا وإنما اشترطنا العدالة في الوصاية ولم نشترطها في الوكالة من جهة أن من يوكل وكيلاً من أهل التصرف فإنما يوكله في حق نفسه ويُحل تصرفَه محل تصرف نفسه فلا معترض عليه والوصي يتصرف في حق غير الموصي فيجب أن يُرعى فيه استجماع الصفات التي ذكرناها

Sifat-sifat yang diperhatikan pada para washi (pelaksana wasiat) ada lima: Islam, baligh, berakal, merdeka, dan adil. Para ulama menyebutkan sifat-sifat ini, dan kecakapan (rushd) juga harus ada, karena seseorang yang tidak mandiri, meskipun ia adil, tidak layak untuk mengurus anak-anak dan melaksanakan wasiat. Kami mensyaratkan keadilan dalam washi, namun tidak mensyaratkannya dalam wakil (agen), karena seseorang yang menunjuk wakil dari kalangan orang yang cakap, ia menunjuknya untuk kepentingan dirinya sendiri dan menganggap tindakan wakilnya sama dengan tindakannya sendiri, sehingga tidak ada yang berkeberatan atasnya. Adapun washi bertindak untuk kepentingan selain orang yang berwasiat, maka wajib diperhatikan terpenuhinya sifat-sifat yang telah kami sebutkan.

فقد قال علماؤنا: إذا وكل الرجل وكيلاً ثم قال له موكله: وكِّل فيما فوضت إليك وكيلاً فليس لذلك الوكيل أن يوكِّل فاسقاً فإنه إنما يوكّل على غيره فيجب أن يرعى المصلحة فيه فلا يوكِّل إلا موثوقاً به صالحاً

Para ulama kita telah berkata: Jika seseorang mewakilkan kepada seorang wakil, kemudian sang pemberi kuasa berkata kepada wakilnya, “Wakilkanlah kepada orang lain apa yang telah aku serahkan kepadamu,” maka tidak boleh bagi wakil tersebut untuk mewakilkan kepada orang yang fasik. Sebab, ia hanya mewakilkan kepada orang lain, sehingga wajib memperhatikan kemaslahatan dalam hal itu; maka ia tidak boleh mewakilkan kecuali kepada orang yang terpercaya dan saleh.

وكذلك لمالك المال أن يودعه عند فاسق والمودَع في نفسه إذا احتاج إلى المسافرة وجوزنا له أن يودع الوديعة التي عنده فيتعين عليه أن يودعها عند عدلٍ موثوق به

Demikian pula, pemilik harta boleh menitipkannya kepada orang fasik dan orang yang menerima titipan itu sendiri, apabila ia perlu bepergian dan kita membolehkannya untuk menitipkan barang titipan yang ada padanya, maka wajib baginya untuk menitipkannya kepada orang yang adil dan terpercaya.

ثم اشتراط التكليف بيِّنٌ فإلب التصرف لا يصح إلا من مكلّف واشتراط العدالة معلَّلٌ بما ذكرناه واشتراط الحرية سببه أن العبد لا يستقل بنفسه ولذلك لم يكن من أهل الولايات

Kemudian, syarat taklif itu jelas, sebab pada dasarnya suatu tindakan hukum tidak sah kecuali dari seorang yang mukallaf. Syarat keadilan telah dijelaskan alasannya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun syarat kemerdekaan, sebabnya adalah karena seorang budak tidak mandiri dalam tindakannya, oleh karena itu ia tidak termasuk golongan yang berhak memegang jabatan kekuasaan.

ثم مذهب الشافعي رضي الله عنه أن المكاتب لا يجوز أن يكون وصياً كالقِنّ فإنه وإن كان مستبداً بنفسه في تصرفاته وأكسابه فلا يستقلّ استقلالاً تاماً ولذلك يمتنع عليه كثير من التصرفات وعند أبي حنيفة يجوز أن يكون المكاتب وصياً وهذا أيضاً يناقض قول أصحابه : إن الوصي بمثابة الولي

Kemudian, mazhab asy-Syafi‘i raḍiyallāhu ‘anhu berpendapat bahwa seorang mukatab tidak boleh menjadi washi (wali wasiat), sebagaimana seorang qin (budak murni), karena meskipun ia memiliki kebebasan dalam tindakan dan penghasilannya, ia tidak sepenuhnya mandiri secara mutlak. Oleh karena itu, banyak tindakan yang tetap tidak boleh ia lakukan. Sedangkan menurut Abu Hanifah, mukatab boleh menjadi washi. Ini juga bertentangan dengan pendapat para sahabatnya: bahwa washi itu kedudukannya seperti wali.

وأما اشتراط الإسلام فسببه أنا لا نثق بكافر  فإن أوصى مسلم إلى كافرٍ لم يصح وإن أوصى كافر إلى مسلم صحت الوصاية وإن كان يتصرف في حقوق أطفالٍ من الكفار وهذا يوضح أن الوصاية ليست ولاية

Adapun syarat Islam, sebabnya adalah karena kita tidak dapat mempercayai orang kafir. Jika seorang Muslim berwasiat kepada orang kafir, maka wasiat tersebut tidak sah. Namun, jika seorang kafir berwasiat kepada seorang Muslim, maka wasiat itu sah, meskipun berkaitan dengan pengelolaan hak-hak anak-anak dari kalangan orang kafir. Hal ini menunjukkan bahwa wasiat (washiyyah) bukanlah wilayah (wilāyah).

ولو نصب كافرٌ كافراً وصياً ورفعت الوصاية إلينا فهل ننفذها وهل نقضي بها فعلى وجهين ذكرهما العراقيون وهذا يقرب من التردّد في أنا هل نحكم بولاية الكافر على ابنته الكافرة وإذا كان الظاهر أن ولي الكافرة كافر فالظاهر أيضاً تنفيذ وصاية الكافر إلى الكافر وهذا إذا كانت الوصاية لا تتعلق بحقوق المسلمين مثل أن ينصب كافر كافراً في حقوق أطفاله الكفار فأما إذا كان أوصى للمسلمين بوصايا ونصب وصياً في تنفيذها فيبعد تصحيح الوصاية إلى كافر في مثل هذا

Jika seorang kafir mengangkat orang kafir lain sebagai washi (pelaksana wasiat), lalu urusan wasiat itu diajukan kepada kami, apakah kami melaksanakannya dan memutuskan berdasarkan itu? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Hal ini hampir sama dengan keraguan kita tentang apakah kita menetapkan kewalian orang kafir atas anak perempuannya yang juga kafir. Jika yang tampak adalah bahwa wali bagi perempuan kafir adalah orang kafir, maka yang tampak pula adalah pelaksanaan wasiat dari orang kafir kepada orang kafir. Ini berlaku jika wasiat tersebut tidak berkaitan dengan hak-hak kaum muslimin, seperti jika seorang kafir mengangkat orang kafir lain untuk mengurus hak-hak anak-anaknya yang juga kafir. Namun, jika ia berwasiat kepada kaum muslimin dan mengangkat washi untuk melaksanakan wasiat tersebut, maka sulit untuk membenarkan wasiat itu kepada orang kafir dalam kasus seperti ini.

ثم قال أئمتنا العراقيون: هذه الأوصاف التي شرطناها في الوصي في أيةِ حالةٍ تراعى وتعتبر فعلى ثلاثة أوجه: أحدها أنها تعتبر يوم الموت فإذا تحققت يومئذ نفذت الوصاية مع القبول ولا يضر اختلالها قبل ذلك وهذا أصح الوجوه وهو الذي قطع به المراوزة فإنا نعتبر في أركان الوصية حالة الموت فكذلك في الوصاية

Kemudian para imam kami dari Irak berkata: Sifat-sifat yang kami syaratkan pada washi (orang yang menerima wasiat) ini, dalam keadaan apa saja harus diperhatikan dan dipertimbangkan, ada tiga cara: Pertama, sifat-sifat itu dipertimbangkan pada hari kematian. Jika sifat-sifat itu terpenuhi pada hari itu, maka wasiat berlaku dengan adanya penerimaan, dan tidak mengapa jika sebelumnya tidak terpenuhi. Inilah pendapat yang paling shahih dan yang dipastikan oleh para ulama Marw, karena kami mempertimbangkan rukun-rukun wasiat pada saat kematian, maka demikian pula dalam hal washi.

والوجه الثاني أنا نعتبر حصول هذه الشرائط في وقتين: أحدهما وقت عقد الوصاية من الموصي والثاني حالة الموت ولا يضر اختلالها بين هاتين الحالتين

Adapun sisi yang kedua, kami mempertimbangkan terpenuhinya syarat-syarat ini pada dua waktu: yang pertama adalah saat akad wasiat dilakukan oleh orang yang berwasiat, dan yang kedua adalah pada saat kematian. Tidaklah mengapa jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi di antara kedua waktu tersebut.

والوجه الثالث أنه يشترط تحققها في الوقتين ويشترط دوامها بينهما حتى لو اختل شيء منها ما بين الوصاية والموت بطلت الوصاية

Alasan ketiga adalah disyaratkan terwujudnya (syarat-syarat) tersebut pada kedua waktu (yaitu saat wasiat dan saat wafat), serta disyaratkan keberlanjutannya di antara keduanya, sehingga jika salah satu syarat tersebut hilang di antara waktu wasiat dan kematian, maka wasiat menjadi batal.

وهذا ضعيفٌ لا أصل له

Ini lemah dan tidak memiliki dasar.

ثم إنهم لما ذكروا هذه الأوجه بنَوْا عليها حكمَ القبول فقالوا: إن لم نعتبر الأوصافَ في حياة الموصي فلا حكم على هذا القول لقبول الوصي ورده في حالة الحياة كما لا حكم لقبول الموصى له ورده في حياة الموصي

Kemudian, setelah mereka menyebutkan berbagai pendapat tersebut, mereka membangun hukum penerimaan berdasarkan pendapat itu, lalu mereka berkata: Jika kita tidak mempertimbangkan sifat-sifat (syarat-syarat) pada masa hidup orang yang berwasiat, maka menurut pendapat ini tidak ada hukum atas penerimaan atau penolakan wasiat oleh penerima wasiat pada masa hidup orang yang berwasiat, sebagaimana juga tidak ada hukum atas penerimaan atau penolakan oleh orang yang diwasiati pada masa hidup orang yang berwasiat.

وإن قلنا: إنا نعتبر الأوصاف في حياة الموصي فلا خلاف أنا لا نشترط قبول الوصي متصلاً بالإيصاء فإن الوصي قد يكون غائباً  ولكن لو قبل الوصي المستجمع للأوصاف في حياة الموصي فهل يثبت قبوله ولو رد الوصاية هل يلزم رده فعلى وجهين ذكروهما: أحدهما يلزم ردّه ويثبت قبوله فيكونان كالرد والقبول بعد موت الموصي والثاني لا حكم لهما أصلاً

Dan jika kita mengatakan bahwa kita mempertimbangkan sifat-sifat (syarat-syarat) pada masa hidup orang yang berwasiat, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa kita tidak mensyaratkan penerimaan wasiat oleh wasi harus langsung bersamaan dengan pemberian wasiat, karena bisa jadi wasi itu sedang tidak hadir. Namun, jika wasi yang memenuhi syarat menerima wasiat pada masa hidup orang yang berwasiat, apakah penerimaannya sah, dan jika ia menolak wasiat, apakah penolakannya itu mengikat? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama: pertama, penolakannya mengikat dan penerimaannya sah, sehingga keduanya seperti penolakan dan penerimaan setelah wafatnya orang yang berwasiat; kedua, keduanya tidak memiliki konsekuensi hukum sama sekali.

وهذا هو الصحيح الذي لم يعرف المراوزة غيرَه

Inilah pendapat yang benar yang tidak dikenal oleh orang Marw selain itu.

ومما ذكره العراقيون في الأوصياء خلافُ الأصحاب في أن الأعمى هل يجوز أن يكون وصياً وهذا فيه احتمال

Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama Irak tentang para washi (orang yang diberi wasiat) adalah adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama) mengenai apakah orang buta boleh menjadi washi, dan dalam hal ini terdapat kemungkinan (perbedaan pendapat).

ومما يتعلق بتمام القول في هذا الفصل تغير الوصي عن الصفات المشروطة في الوصاية بعد قبول الوصاية واستقرارها: أما ما يُصيِّره مَوْليّاً عليه كالجنون فلا شك أنه يُخرجه عن كونه وصياً ثم إذا عقل لم يعد وصياً بعد الانعزال

Termasuk hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan dalam bab ini adalah perubahan sifat-sifat yang disyaratkan dalam wasiat pada diri seorang wasi setelah ia menerima dan menetapkan wasiat tersebut: Adapun sifat yang menjadikannya sebagai orang yang berada di bawah perwalian, seperti gila, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu mengeluarkannya dari status sebagai wasi, dan jika ia telah sembuh (kembali berakal), maka ia tidak kembali menjadi wasi setelah diberhentikan.

فأما إذا فسق الوصي فالذي دلّ عليه ظاهر كلام الأصحاب أنه ينعزل ولا ينفذ بعد فسقه تصرفهُ بالوصاية

Adapun jika washi (wali penerima wasiat) berbuat fasik, maka yang ditunjukkan oleh zahir perkataan para ulama adalah bahwa ia diberhentikan, dan setelah ia berbuat fasik, tindakannya dalam perwasiatan tidak lagi berlaku.

وقد ظهر اختلافٌ بين الأصوليين في أن الإمام الأعظم لو فسق هل ينخلع بفسقه أو يخلع

Telah muncul perbedaan pendapat di antara para ahli ushul mengenai apakah imam agung (imām a‘zam) jika berbuat fasik, maka otomatis ia terlepas dari jabatannya karena kefasikannya, ataukah ia harus diberhentikan.

وذكر الفقهاء قريباً من هذا الخلاف في فسق القضاة والولاة الذين تلقَّوا الولاية من تولية الإمام والقدر الذي نذكره هاهنا أن فسق الأئمة مختلفٌ فيه ولو قلنا: الظاهر أنهم لا ينعزلون بنفس الفسق لكان ذلك مستقيماً والسبب فيه أن استمرار العصمة بعيد والمصير إلى انخلاع الإمام بالفسق يخرم ثقة الخلق بالإمامة والزعامة وليس وراء الإمام ناظر فالوجه ألا يطلق القول بانعزاله

Para fuqaha juga menyebutkan perbedaan pendapat yang serupa mengenai kefasikan para qadhi dan para penguasa yang menerima jabatan dari pengangkatan imam. Hal yang dapat kami sebutkan di sini adalah bahwa kefasikan para imam masih diperselisihkan. Andaikan kita mengatakan bahwa yang tampak adalah mereka tidak otomatis diberhentikan hanya karena kefasikan, maka itu adalah pendapat yang tepat. Sebab, kesinambungan sifat ‘ishmah (terjaga dari dosa) itu sulit, dan jika pemberhentian imam karena kefasikan dijadikan ketentuan, maka hal itu akan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi imamah dan kepemimpinan. Selain itu, tidak ada pihak lain yang mengawasi imam. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dikatakan secara mutlak bahwa imam diberhentikan karena kefasikan.

وأما القضاة فللخلاف فيهم مجال من جهة أن نظر الإمام محيطٌ بهم فإن حكمنا بانعزالهم لم يجرّ ذلك خللاً  فإن الإمام مستقل بالاستبدال عنهم من غير إفضاء الأمر إلى انتشار الرأي

Adapun para qadhi, maka terdapat ruang perbedaan pendapat mengenai mereka dari sisi bahwa pengawasan imam mencakup mereka. Jika kita memutuskan bahwa mereka diberhentikan, hal itu tidak menimbulkan kekacauan, karena imam berwenang secara mandiri untuk mengganti mereka tanpa menyebabkan tersebarnya perbedaan pendapat.

فأما الوصي فإنه ليس ولياً والعدالة مشروطة في منصبه اشتراط العقل وهو من العقود الجائزة فطريان الفسق عليه كطريان الجنون

Adapun washi (pelaksana wasiat), maka ia bukanlah wali, dan keadilan disyaratkan dalam jabatannya sebagaimana disyaratkan akal. Jabatan ini termasuk akad yang boleh (tidak mengikat), sehingga apabila kefasikan menimpanya, maka hukumnya sama seperti jika ia terkena kegilaan.

ثم الوصاية لا تثبت إلا بالقبول على الرأي الظاهر ومن أصحابنا من أحلّها محل الوكالة وخرّجها على الخلاف المذكور في أنا هل نشترط القبول من المستناب ثم إذا قبل الوصاية لم يلزمه الوفاء بها وله أن يعزل نفسه كما للوكيل أن يعزل نفسه

Kemudian wasiat tidak menjadi sah kecuali dengan penerimaan menurut pendapat yang kuat. Sebagian ulama mazhab kami menyamakannya dengan wakalah dan mengaitkannya dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan mengenai apakah kita mensyaratkan penerimaan dari orang yang diberi tugas. Setelah menerima wasiat, ia tidak wajib melaksanakannya, dan ia berhak mengundurkan diri sebagaimana wakil juga berhak mengundurkan diri.

وخالف أبو حنيفة في هذا فأوجب على الوصي الوفاء بالوصاية إذا قبلها

Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini, ia mewajibkan washi untuk melaksanakan wasiat jika ia telah menerimanya.

ومما يتصل بهذا الفصل أن الوصي إذا خرج عن كونه وصياً تعين على السلطان أن ينصب قيّماً ويقيمه مقامه حتى لا تتعطل أمور الأطفال وتنفذ الوصايا المنوطة بالأوصياء

Terkait dengan bab ini, apabila seorang washi keluar dari posisinya sebagai washi, maka wajib bagi penguasa untuk mengangkat seorang qayyim dan menempatkannya pada posisinya, agar urusan anak-anak tidak terbengkalai dan wasiat-wasiat yang dibebankan kepada para washi tetap dapat dilaksanakan.

هذا إذا خرج الوصي عن كونه وصياً فأما إذا لم يخرج عن كونه وصيّاً  ولكن عظمت أشغاله وكان وحده لا يستقل بها فالسلطان يضم إليه من يعينه حتى لا يتطرق الاختلال إلى مقصود الوصاية

Ini berlaku jika washi sudah tidak lagi menjadi washi. Namun, jika ia masih tetap sebagai washi, tetapi pekerjaannya sangat banyak dan ia sendiri tidak mampu menanganinya, maka penguasa dapat menambahkan orang yang membantunya agar tujuan wasiat tidak mengalami kekacauan.

ولو لم يكن على الأطفال وصي فحقٌ على القاضي أن يقيم عليهم قيِّماً على الشرائط التي ذكرناها في الإيصاء فإذا نصب قيماً ولم يستقلّ ذلك القيم بجميع الأشغال فالقاضي إن أراد صرفه وأقام مستقلاً بالأمر وإن أراد أن يضمّ إليه مضموماً فعل

Jika anak-anak tidak memiliki washi (wali yang diwasiatkan), maka menjadi kewajiban bagi qadhi untuk mengangkat seorang pengelola (qayyim) bagi mereka dengan syarat-syarat yang telah kami sebutkan dalam wasiat. Jika qadhi telah mengangkat seorang qayyim namun qayyim tersebut tidak mampu menjalankan seluruh tugas secara mandiri, maka qadhi boleh memberhentikannya dan mengangkat orang lain yang mampu menjalankan tugas secara mandiri, atau jika qadhi ingin menambahkan seseorang untuk membantu qayyim tersebut, maka ia boleh melakukannya.

ووصيُّ المتوفَّى إذا لم ينعزل ولكنه لم يستقل فليس للسلطان أن يعزله فإنه ما تلقَّى الوصاية من جهته وإنما للسلطان بل عليه أن يضم إليه من يدرأ الخلل حتى يحصل الاستقلال بهما فأما القيم فأمره إلى الوالي إن أراد صَرْفَه من غير سببٍ لم يُعترض عليه

Wasi dari orang yang wafat, jika belum diberhentikan namun belum mandiri, maka penguasa tidak berhak memberhentikannya, karena ia tidak menerima wasiat dari pihak penguasa. Justru penguasa wajib menambahkan orang lain bersamanya untuk menutupi kekurangan hingga keduanya dapat mandiri. Adapun pengelola (qayyim), urusannya berada di tangan wali; jika wali ingin memberhentikannya tanpa sebab, maka tidak ada yang berhak memprotesnya.

هذا منتهى القول في الأوصياء وصفاتهم المرعية وبيان ما يطرأ عليهم وتفصيل القول في القبول والردّ

Inilah akhir pembahasan mengenai para washi (orang yang diberi wasiat), sifat-sifat mereka yang harus diperhatikan, penjelasan tentang hal-hal yang mungkin terjadi pada mereka, serta uraian rinci tentang penerimaan dan penolakan.

ونحن نذكر الآن ما يتعلق بالأوصياء فنقول: إن كان في الورثة أطفالٌ أو مجانين وكان المتوفى يليهم لو كان حيّاً فله أن ينصب وصياً عليهم حتى يرعاهم وإن كان الأطفال إخوةَ الميت فهو لا يليهم حياً فلا يصحّ أن ينصب عليهم وصياً بل أمرهم مفوّض إلى السلطان وهذا بيّن

Sekarang kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan para washi (pelaksana wasiat), maka kami katakan: Jika di antara para ahli waris terdapat anak-anak atau orang gila, dan si mayit adalah wali mereka seandainya ia masih hidup, maka ia boleh mengangkat seorang washi untuk mereka agar menjaga mereka. Namun, jika anak-anak tersebut adalah saudara-saudara si mayit, maka ia bukan wali mereka ketika masih hidup, sehingga tidak sah baginya mengangkat washi atas mereka, melainkan urusan mereka diserahkan kepada pihak penguasa, dan hal ini jelas.

ولو لم يكن في الورثة مَوْليٌّ عليه فلا معنى لنصب وصي على الورثة ولكن إن أوصى بوصايا وفوض تنفيذها إلى الوصي فهي إليه ثم الوصايا قد تكون لجهاتٍ عامة كالوصية للفقراء أو لبناء المساجد أو لعمارة الثغور وغيرها من وجوه الخير فإن فوض تفصيلها إلى رأي الوصي فلا معترض عليه ما وافق الشرع وإن أوصى لمعيّنين ونفذت الوصايا باتّساع الثلث وقبول الموصى لهم فلا يكاد يظهر للوصي أثر سيّما إذا كانت الوصية بأعيانٍ فإن الذين لهم الوصية يأخذونها ولا يراجعون الأوصياء

Jika di antara para ahli waris tidak ada yang berada di bawah perwalian, maka tidak ada makna untuk mengangkat washi (pelaksana wasiat) atas para ahli waris. Namun, jika seseorang berwasiat dan menyerahkan pelaksanaan wasiat tersebut kepada washi, maka pelaksanaannya menjadi tanggung jawabnya. Wasiat-wasiat tersebut bisa saja ditujukan untuk kepentingan umum, seperti wasiat untuk fakir miskin, pembangunan masjid, pemeliharaan perbatasan, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Jika perinciannya diserahkan kepada pertimbangan washi, maka tidak ada yang berhak memprotesnya selama sesuai dengan syariat. Jika wasiat itu ditujukan kepada orang-orang tertentu dan wasiat tersebut dapat dilaksanakan karena sepertiga harta mencukupi dan penerima wasiat menerimanya, maka peran washi hampir tidak tampak, terutama jika wasiat itu berupa barang tertentu, karena mereka yang berhak atas wasiat tersebut akan langsung mengambilnya tanpa perlu berurusan dengan para washi.

وإن أوصى بإعتاق عبد معين فإنشاء الإعتاق إلى الوصي وإن كان لا يملك العدول عن العبد المعين والدليل عليه أن ذلك العبد المعين لا يعتِق ما لم يُعتق

Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan seorang budak tertentu, maka pelaksanaan pemerdekaan itu diserahkan kepada wasi, meskipun wasi tidak berhak mengganti budak yang telah ditentukan tersebut. Dalilnya adalah bahwa budak tertentu itu tidak akan merdeka kecuali jika benar-benar dimerdekakan.

وأما قضاء الديون فلا يتعلق منه أمرٌ بالوصي فإن الورثة لو أرادوا قضاء الديون من أموالهم واستبقاء أعيان التركة لأنفسهم كان لهم ذلك فإن أبَوْا أن يؤدوها من أموالهم وأرادوا وهم أهل رشدٍ لا يولّى عليهم أن يتعاطَوْا بيعَ التركة وصرفَ الثمن إلى الغرماء وكان المتوفى فوّض ذلك إلى الوصي فهذا فيه تردّدٌ من جهة أن الوصي نائب عن الموصي فلا يبعد أن يقال: إذا لم يؤدِّ الورثةُ الديون من أموالهم فله أن يتولى البيع ويحتاط ولا يعترض عليه

Adapun pelunasan utang, tidak ada urusan khusus yang berkaitan dengan wasiat bagi wasiat, karena jika para ahli waris ingin melunasi utang dari harta mereka sendiri dan mempertahankan barang peninggalan untuk diri mereka, maka mereka berhak melakukannya. Namun, jika mereka enggan membayarnya dari harta mereka dan mereka adalah orang-orang yang dewasa dan tidak berada di bawah perwalian, lalu mereka ingin melakukan penjualan barang peninggalan dan menggunakan hasil penjualannya untuk membayar para kreditur, sementara si mayit telah menyerahkan urusan itu kepada wasiat, maka dalam hal ini terdapat keraguan. Sebab, wasiat adalah wakil dari orang yang berwasiat, sehingga tidak mustahil untuk dikatakan: jika para ahli waris tidak melunasi utang dari harta mereka, maka wasiat berhak melakukan penjualan dan mengambil langkah kehati-hatian, dan tidak boleh ada yang menghalanginya.

ويجوز أن يقال: التعويل على الورثة في ذلك فليتأمل الناظر هذا الموضع

Boleh juga dikatakan: penekanan dalam hal ini diserahkan kepada para ahli waris, maka hendaklah orang yang menelaah memperhatikan masalah ini.

فأما تجهيز الميت إذا لم يجْر فيه وصيةٌ منه في تعيين ثوب أو مالط فهو بمثابة الديون وقد قدّمنا فيها تفصيل المذهب ومحلَّ الوفاق وموضعَ التردّد

Adapun mengenai perlengkapan jenazah, jika tidak ada wasiat darinya dalam penentuan kain kafan atau harta tertentu, maka hukumnya seperti utang. Kami telah mengemukakan sebelumnya rincian mazhab, titik kesepakatan, dan tempat adanya keraguan dalam masalah ini.

وأما ردُّ الغصوب والودائع فليس يتعلق بالأوصياء فإن مُلاك الأعيان يأخذونها نعم مؤنة ردّ الغصوب من التركة وسبيل تلك المؤنة كسبيل الديون

Adapun pengembalian barang-barang yang dighasab dan titipan, maka hal itu tidak berkaitan dengan para washi, karena para pemilik barang dapat mengambilnya. Namun, biaya pengembalian barang yang dighasab diambil dari harta warisan, dan cara penanganan biaya tersebut sama seperti penanganan utang.

والمرأة إذا خلفت أولاداً ونصبت عليهم وصياً فهذا يخرّج على الخلاف المشهور في أن المرأة في نفسها هل تلي أطفالها إذا لم يكن لهم أب كافل  فإن قلنا: إنها تليهم فلها أن توصي إلى إنسان وتنصب وصياً عليهم وإن قلنا: إنها لا تلي في حياتها فلا يصح منها نصبُ الوصي على أطفالها

Jika seorang perempuan meninggalkan anak-anak dan menunjuk seorang washi (wali) untuk mereka, maka hal ini kembali kepada perbedaan pendapat yang masyhur mengenai apakah perempuan itu sendiri berhak menjadi wali bagi anak-anaknya jika mereka tidak memiliki ayah sebagai penanggung jawab. Jika kita berpendapat bahwa ia berhak menjadi wali, maka ia boleh berwasiat kepada seseorang dan menunjuk washi untuk anak-anaknya. Namun jika kita berpendapat bahwa ia tidak berhak menjadi wali selama hidupnya, maka tidak sah baginya untuk menunjuk washi bagi anak-anaknya.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو أوصى إلى رجلين فمات أحدهما أو تغيّر إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seseorang berwasiat kepada dua orang, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia atau berubah (keadaannya), maka (hukum) kembali kepada yang lain.

إذا نصب الرجل وصيين في أمورِ أطفاله وتنفيذ وصاياه لم يخل من ثلاثة أقسام: أحدها أن يجوِّز لكلٍّ منهما أن يستقل بالتصرف

Jika seseorang mengangkat dua orang sebagai wasi dalam urusan anak-anaknya dan pelaksanaan wasiatnya, maka hal itu tidak lepas dari tiga keadaan: Pertama, ia membolehkan masing-masing dari keduanya untuk bertindak secara mandiri.

والثاني أن يشترط عليهما أن يجتمعا في الأمور ولا ينفرد واحدٌ منهما بنفسه

Kedua, disyaratkan atas keduanya agar bermusyawarah dalam segala urusan dan tidak boleh salah satu dari mereka bertindak sendiri tanpa yang lain.

الثالث أن يطلق الإيصاء ولا يتعرض لإثبات استقلال كل واحد منهما ولا لنقيضه

Ketiga, apabila wasiat itu diucapkan secara mutlak tanpa menyebutkan penetapan kemandirian masing-masing dari keduanya maupun kebalikannya.

فأما إذا أثبت لكل واحد منهما أن يستقل فلا إشكال ولكن لو كان أوصى بصرف طائفةٍ من ماله إلى المساكين مثلاً وكل واحد منهما مستقل بنفسه فلو أراد أحدهما أن يصرف الموصى به إلى أقوام من المساكين بعينهم وأراد الثاني أن يصرفه إلى آخرين معينين عنده فنقول أولاً: إن اتفق سبقُ أحدهما إلى التنفيذ فلا معترض لما نفذه على موجب الشرع وقول الموصي

Adapun jika telah ditetapkan bagi masing-masing dari keduanya untuk bertindak secara mandiri, maka tidak ada masalah. Namun, jika seseorang berwasiat untuk menyalurkan sebagian hartanya kepada para miskin, misalnya, dan masing-masing dari keduanya bertindak secara independen, lalu salah satu dari mereka ingin menyalurkan harta wasiat itu kepada sekelompok orang miskin tertentu, sedangkan yang kedua ingin menyalurkannya kepada kelompok lain yang juga telah ditentukan olehnya, maka pertama-tama kami katakan: jika salah satu dari mereka lebih dahulu melaksanakan penyaluran tersebut, maka tidak ada yang dapat menentang apa yang telah dilaksanakannya sesuai dengan ketentuan syariat dan ucapan pewasiat.

وإن اجتمعا وتنازعا فمن أصحابنا من قال: الحاكم يقرع بينهما وهذا فيه بعدٌ فإنّ استعمال القرعة من غير ثبتٍ شرعي في كل موضع لا سبيل إليه ولم يرد في مثل هذا استعمال القرعة

Jika keduanya berkumpul dan berselisih, sebagian ulama kami berpendapat: hakim melakukan undian di antara mereka. Namun, pendapat ini lemah, karena menggunakan undian tanpa dasar syar‘i dalam setiap perkara tidak diperbolehkan, dan tidak ada dalil yang membolehkan penggunaan undian dalam kasus seperti ini.

ومن أصحابنا من قال: السلطان يضع ذلك المال فيمن يراه على وَفْق الوصية والشرع ويتركهما يتنازعان هذا إذا كان فوّض إلى كل واحد منهما أن يستقلّ فأما إذا شرط اجتماعهما  واعتضاد كل واحد منهما بالآخر أو أطلق الإيصاء إليهما فعندنا أن إطلاق الإيصاء يقتضي ألا ينفرد كلُّ واحد منهما كما لو قيّد الإيصاء بالاجتماع فإن غرضه من جمعهما صدور الأمر عن رأي اثنين

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: Sultan menempatkan harta tersebut kepada siapa yang dipandang layak menurut wasiat dan syariat, dan membiarkan keduanya berselisih. Ini berlaku jika masing-masing dari keduanya diberi wewenang untuk bertindak sendiri-sendiri. Adapun jika disyaratkan agar keduanya harus bersama-sama dan saling mendukung, atau jika wasiat itu diberikan kepada keduanya tanpa penjelasan, maka menurut kami, pemberian wasiat secara mutlak kepada keduanya mengandung makna bahwa masing-masing tidak boleh bertindak sendiri, sebagaimana jika wasiat itu dipersyaratkan harus dilakukan bersama. Sebab, tujuan mengumpulkan keduanya adalah agar keputusan diambil berdasarkan pertimbangan dua orang.

وهذا من الأغراض الظاهرة والمقاصد البينة ثم كل ما أوضحنا أنه لا يتعلق بالوصاية فلا معنى لربطه باجتماعهما وهذا كردّ الودائع والغصوب وكتسليم الأعيان الموصى بها إلى الموصى لهم فإن هذه الأشياء لا وصية بها ولا أثر للوصاية فيها

Ini termasuk tujuan yang jelas dan maksud yang terang, kemudian segala sesuatu yang telah kami jelaskan bahwa tidak berkaitan dengan wasiat, maka tidak ada makna mengaitkannya dengan pertemuan keduanya. Hal ini seperti pengembalian titipan dan barang yang digasap, serta penyerahan barang yang diwasiatkan kepada penerima wasiat, karena hal-hal ini tidak termasuk wasiat dan tidak ada pengaruh wasiat di dalamnya.

فأما ما يتعلق بالوصاية فلا يستقل واحدٌ منهما بنفسه

Adapun yang berkaitan dengan wasiat, maka tidak boleh salah satu dari keduanya bertindak sendiri.

هذا مذهب الشافعي وأصحابه وأبو حنيفة يرى لكل واحد منهما أن يستقلّ وهذا بناه فيما زعم أصحابه على أن الوصاية ولاية في خبطٍ لهم طويل لسنا له الآن

Ini adalah mazhab Syafi‘i dan para pengikutnya, sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa masing-masing dari keduanya boleh bertindak secara mandiri. Hal ini, menurut klaim para pengikutnya, didasarkan pada anggapan bahwa wasiat adalah suatu bentuk wilayah, dalam perdebatan panjang mereka yang tidak sedang kita bahas sekarang.

ولو كان أوصى بعتق عبد معين فلا بد من اجتماعهما ولا ينفرد بإعتاق ذلك العبد المعين أحدُهما فإن الشرط اقترانهما في كل تصرف لا بد من إنشائه وإعتاق ذلك العبد المعين بهذه المثابة

Jika seseorang berwasiat untuk memerdekakan seorang budak tertentu, maka keduanya (para penerima wasiat) harus berkumpul bersama dan tidak boleh salah satu dari mereka secara sendiri-sendiri memerdekakan budak tertentu tersebut. Sebab syaratnya adalah keduanya harus bersama dalam setiap tindakan yang memerlukan pelaksanaan, dan memerdekakan budak tertentu itu termasuk dalam ketentuan ini.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: وإن اختلفا قُسّم بينهما ما كان ينقسم إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika keduanya berselisih, maka dibagi di antara mereka apa yang dapat dibagi hingga selesai.

أراد رضي الله عنه بذلك أن الوصيين إذا تنازعا في حفظ المال فإن كان يجمعهما مسكن واحد فإنهما يشتركان في مراقبة المال وصونه بالحفظ الممكن المعتاد وإن كانا يسكنان مسكنين قال الشافعي رضي الله عنه: إن كان المال قابلاً للقسمة قسم بينهما واستقل كل واحد منهما بحفظ حصته

Beliau raḍiyallāhu ‘anhu bermaksud bahwa jika dua orang washi (pelaksana wasiat) berselisih dalam menjaga harta, maka jika keduanya tinggal dalam satu rumah, mereka bersama-sama mengawasi dan menjaga harta tersebut dengan penjagaan yang mungkin dan lazim. Namun jika keduanya tinggal di dua rumah yang berbeda, menurut pendapat asy-Syāfi‘ī raḍiyallāhu ‘anhu: jika harta tersebut dapat dibagi, maka dibagi di antara keduanya dan masing-masing bertanggung jawab menjaga bagiannya sendiri.

وإن كان المال مما لا ينقسم وتعذر اشتراكهما في الحفظ فإن اتفقا على رجل موثوق به واستحفظاه فجائز وإن لم يتفقا وتنازعا انتزعه الحاكم من أيديهما ووضعه على يدي عدل رضاً

Jika harta tersebut termasuk harta yang tidak dapat dibagi dan keduanya tidak memungkinkan untuk bersama-sama menjaganya, maka jika keduanya sepakat menunjuk seorang laki-laki yang terpercaya dan menitipkannya kepadanya, hal itu diperbolehkan. Namun jika keduanya tidak sepakat dan berselisih, maka hakim mengambil harta itu dari tangan mereka berdua dan meletakkannya di tangan seorang yang adil dan terpercaya.

هذا ما ذكره الشافعي رضي الله عنه وهو من مشكلات الباب وسؤالاته

Inilah yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i raḥimahullāh, dan hal ini termasuk permasalahan yang pelik dan pertanyaan-pertanyaan dalam bab ini.

فإن قيل: التفويض المطلق عند الشافعي إلى الوصيين يقتضي أن يشتركا في وجوه الاستصلاح ولا ينفرد واحد منهما بوجه من الوجوه دون صاحبه فإذا اقتسما المالَ فكل واحد منفرد بحفظ مقدار والاشتراك في الحفظ يزيد في الاحتياط فليس المحفوظ في كلاءتين والملحوظ بعينين  كالمحفوظ بعينِ واحدٍ كما أن التصرفات الصادرة عن رأيين مختصة بمزيد احتياط فإذا اشترطنا صدور التصرفات عن نظرهما فلمَ نجوز اختصاص كل واحد منهما بحفظ مقدار من المال لا يشاركه فيه صاحبه

Jika dikatakan: pelimpahan wewenang secara mutlak menurut Imam Syafi‘i kepada dua orang wasi mengharuskan keduanya bekerja sama dalam segala bentuk kemaslahatan dan tidak boleh salah satu dari mereka bertindak sendiri dalam suatu urusan tanpa yang lain. Maka, jika mereka membagi harta, masing-masing dari mereka bertanggung jawab sendiri dalam menjaga bagian tertentu, padahal penjagaan secara bersama-sama lebih meningkatkan kehati-hatian. Sesuatu yang dijaga oleh dua orang dan diawasi oleh dua pasang mata tidaklah sama dengan yang dijaga oleh satu orang saja, sebagaimana tindakan yang dilakukan berdasarkan dua pendapat lebih terjamin kehati-hatiannya. Jika kita mensyaratkan bahwa tindakan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan keduanya, lalu mengapa kita membolehkan masing-masing dari mereka menjaga bagian harta tertentu tanpa disertai oleh yang lain?

قلنا: معظم هذه الأحكام المتلقاة من الألفاظ راجعٌ إلى حكم العرف فإذا فوض الرجل تصرفاً إلى اثنين اقتضى ذلك أن يشتركا فيه هذا موجب اللفظ ومعناه في فهم أهل العرف وهو لائق أيضاً بالمقاصد فرأى الشافعي رضي الله عنه أن نسبة تفويض التصرف بالوصاية إلى اثنين بمثابة توكيل رجلين ببيع أو غيره من التصرفات فأما الاشتراك في الحفظ فمّما يعسر تكليفه ولا يُفهم من تفويض الوصاية إلى رجلين أن يتخذا مسكناً واحداً ويشتركا في حفظه فاقترن موجب العرف باللفظ واحتكم عليه وأما إصدار التصرفات عن نظرين فمعتاد

Kami katakan: Sebagian besar hukum-hukum yang diambil dari lafaz-lafaz itu kembali kepada ketentuan ‘urf (kebiasaan masyarakat). Maka, jika seseorang menyerahkan suatu urusan kepada dua orang, hal itu menuntut agar keduanya bersama-sama dalam urusan tersebut—ini adalah konsekuensi lafaz dan maknanya menurut pemahaman masyarakat, dan juga sesuai dengan tujuan-tujuan (syariat). Imam Syafi‘i ra. berpendapat bahwa penyerahan wewenang dalam wasiat kepada dua orang itu sama seperti mewakilkan dua orang dalam jual beli atau urusan lainnya. Adapun kerja sama dalam penjagaan adalah sesuatu yang sulit dibebankan, dan tidak dipahami dari penyerahan wasiat kepada dua orang bahwa keduanya harus tinggal di satu tempat dan bersama-sama menjaga harta tersebut. Maka, konsekuensi ‘urf telah bergabung dengan lafaz dan menjadi dasar hukum atasnya. Adapun pelaksanaan urusan berdasarkan pertimbangan dua orang adalah hal yang biasa.

هذا ما يتوجه به النص وما ذهب إليه جمهور الأصحاب

Inilah yang ditunjukkan oleh nash dan merupakan pendapat mayoritas para ulama.

وذهب صاحب التقريب إلى طريقة خالف بها الأصحاب وذلك أنه قال: إن فوض الوصاية إليهما على أن يستقل كل واحد منهما فلا شك أنه لا يمتنع على هذا المقتضى استقلالُ كل واحد بحفظ مقدار من المال

Pemilik kitab at-Taqrīb berpendapat dengan cara yang berbeda dari para sahabatnya, yaitu ia berkata: Jika wasiat diserahkan kepada keduanya dengan syarat masing-masing bertindak secara mandiri, maka tidak diragukan lagi bahwa menurut ketentuan ini, tidak terlarang bagi masing-masing untuk secara mandiri menjaga sejumlah harta.

وإن كانت إضافة الوصاية إليهما تقتضي أن يشتركا في التصرفات ولا ينفرد بها واحد فإن اقتسما المال بينهما على ما ذكرناه لينفرد كلُّ واحد منهما بحفظ مقدار ففي المسألة وجهان: أحدهما أن ذلك لا يسوغ  فإن الاشتراك فيه ممكن وموجب التفويض الاشتراك كما ذكرناه في التصرفات

Jika penambahan wasiat kepada keduanya mengharuskan mereka bekerja sama dalam tindakan dan tidak boleh salah satu dari mereka bertindak sendiri, maka jika mereka membagi harta di antara mereka sebagaimana telah kami sebutkan agar masing-masing dari mereka dapat secara mandiri menjaga bagiannya, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hal itu tidak diperbolehkan, karena kerja sama dalam hal tersebut memungkinkan, dan pendelegasian itu mengharuskan adanya kerja sama sebagaimana telah kami sebutkan dalam tindakan.

وهذا قياسٌ بيّنٌ

Ini adalah qiyās yang jelas.

والوجه الثاني أن ذلك سائغ وتوجيهه ما ذكرناه

Adapun sisi yang kedua adalah bahwa hal itu diperbolehkan, dan penjelasannya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ثم فرع على الوجهين وقال: إن فرعنا على ظاهر النص  فإذا تنازعا قسم المال بينهما إن كان مما ينقسم وإن فرّعنا على الوجه الثاني قيل لهما: إما أن تشتركا في الحفظ وفاءً بموجب التفويض المطلق المقتضي للاشتراك وإما أن تمتنعا من ذلك فيرى القاضي في حفظ المال رأيه

Kemudian ia membuat cabang berdasarkan dua pendapat tersebut dan berkata: Jika kita bercabang pada makna lahiriah nash, maka apabila keduanya berselisih, harta dibagi di antara mereka berdua jika harta tersebut dapat dibagi. Dan jika kita bercabang pada pendapat kedua, maka dikatakan kepada keduanya: kalian boleh bekerja sama dalam menjaga harta sebagai pemenuhan konsekuensi dari pendelegasian mutlak yang menuntut adanya kerja sama, atau kalian boleh menolak hal itu, maka hakim akan memutuskan menurut pendapatnya dalam menjaga harta tersebut.

ثم إن أخرج الإمام أو القاضي المال من أيديهما عند امتناعهما من الاشتراك في الحفظ فهل للقاضي أن يستحفظ فيه رجلاً واحداً أم يستحفظ فيه رجلين فعلى وجهين: أصحهما أنه لو أراد أن يستحفظ رجلاً واحداً جاز فإن اشتراكهما كان متلقّىً على الوجه الذي عليه التفريع من لفظه الموجِب لذلك وكان لفظه مختصاً بهما

Kemudian, jika imam atau qadhi mengeluarkan harta dari tangan keduanya ketika keduanya menolak untuk bersama-sama menjaga, maka apakah qadhi boleh mempercayakan penjagaan harta itu kepada satu orang laki-laki saja atau harus kepada dua orang laki-laki? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pendapat yang lebih sahih adalah jika qadhi ingin mempercayakan kepada satu orang laki-laki saja, maka itu diperbolehkan. Sebab, keterlibatan keduanya dalam penjagaan sebelumnya didasarkan pada bentuk yang menjadi dasar cabang permasalahan ini, yaitu dari lafaz yang mewajibkan hal tersebut, dan lafaz itu memang dikhususkan untuk keduanya.

فإذا امتنعا انقطعت قضية الوصاية وصار كأنه لم يوصِ أصلاً ولو خلّف رجلٌ ذريةً ولم يوصِ فالقاضي بحكم نظره ينصب عليهم قيماً كذلك في هذه المسألة

Jika keduanya menolak, maka urusan wasiat terputus dan seolah-olah tidak ada wasiat sama sekali. Jika seseorang meninggalkan keturunan tanpa berwasiat, maka qadhi berdasarkan pertimbangannya akan mengangkat seorang pengelola (qayyim) bagi mereka; demikian pula dalam masalah ini.

والوجه الثاني أنه يستحفظ رجلين فإن الوفاء بذلك ممكن وهو من مقاصد الموصي وهذا ضعيفٌ لا شيء

Pendapat kedua adalah bahwa dua orang laki-laki dijadikan penjaga, karena memenuhi hal itu memungkinkan dan termasuk tujuan orang yang berwasiat. Namun, pendapat ini lemah dan tidak ada nilainya.

قال صاحب التقريب: هذا إذا كان المال مما ينقسم فإن كان مما لا ينقسم ففي المسألة وجهان على موجب النظر فإن قلنا في المال المنقسم: إنه لا يقسم بينهما بل ينتزعه القاضي منهما فهذا متحقق في المال الذي لا ينقسم ثم التفريع فيه ما تقدم وإن قلنا: يقسم القاضي المال بينهما فإن كان مما لا ينقسم قال: في المسألة وجهان أحدهما أنه ينتزعه منهما إذ لا سبيل إلى القسمة وقد امتنعا من الاشتراك في الحفظ

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Hal ini berlaku jika harta tersebut termasuk harta yang dapat dibagi. Namun, jika harta tersebut termasuk harta yang tidak dapat dibagi, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat menurut hasil kajian. Jika kita berpendapat bahwa pada harta yang dapat dibagi: harta itu tidak dibagi di antara keduanya, melainkan hakim mengambilnya dari mereka berdua, maka hal ini juga berlaku pada harta yang tidak dapat dibagi, kemudian rincian hukumnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika kita berpendapat bahwa hakim membagi harta di antara mereka, maka jika harta tersebut tidak dapat dibagi, disebutkan dalam masalah ini ada dua pendapat: salah satunya adalah hakim mengambil harta itu dari mereka berdua karena tidak ada jalan untuk membaginya, sementara mereka berdua menolak untuk berbagi dalam penjagaan.

والوجه الثاني أن الوالي يقرع بينهما فمن خرجت قرعته سلّم إليه المال

Pendapat kedua adalah bahwa penguasa melakukan undian di antara keduanya, lalu siapa yang keluar namanya dalam undian tersebut, maka harta itu diserahkan kepadanya.

هذا تفصيل القول في حفظهما وتنازعهما فيه

Ini adalah penjelasan rinci mengenai penjagaan keduanya dan perselisihan mereka di dalamnya.

ومما يجب الإحاطة به أنا أطلقنا وجوب الاشتراك في التصرفات وليس المعنى به أن يتلفظا بإيجاب البيع وقبول الشراء ولكن الغرض أن يجري كل تصرف صادر عن نظرهما ورأيهما فإذا حضرا العقد ونظرا ثم قال أحدهما لصاحبه: اشتر هذا بكذا أو بعه ووافق العقدُ رأيهما فذلك جائز وفاقاً وكذلك إذا وكلا من يبيع ويشتري بحضرتهما فهو جائز لصدور العقد عن رأيهما

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa ketika kami menyatakan wajibnya keterlibatan bersama dalam tindakan-tindakan (muamalah), yang dimaksud bukanlah keduanya harus mengucapkan ijab jual dan kabul beli, melainkan maksudnya adalah setiap tindakan yang dilakukan harus berdasarkan pertimbangan dan pendapat mereka berdua. Maka jika keduanya hadir saat akad, memperhatikan, lalu salah satu berkata kepada yang lain: “Belilah ini dengan harga sekian” atau “Juallah ini”, dan akad tersebut sesuai dengan pendapat mereka berdua, maka hal itu diperbolehkan menurut kesepakatan. Demikian pula jika mereka berdua mewakilkan kepada seseorang untuk menjual atau membeli di hadapan mereka, maka itu juga diperbolehkan karena akad tersebut dilakukan berdasarkan pendapat mereka berdua.

ولو وكلا من يشتري على ما يرى أو يبيع كذلك من غير أن يراجعهما لم يجز ذلك

Dan jika keduanya mewakilkan kepada seseorang untuk membeli sesuai apa yang ia lihat, atau menjual demikian pula tanpa berkonsultasi dengan mereka berdua, maka hal itu tidak diperbolehkan.

فإن قيل: إذا ارتضيا ذلك فقد جرى التوكيل عن رأيهما قلنا: هذا رأيٌ يتضمنه إثبات الاستقلال لشخص وهو مخالف لرأي الموصي وموجب لفظه المقتضي للاشتراك كما تقدم ذكره

Jika dikatakan: Jika keduanya telah merelakan hal itu, maka telah terjadi perwakilan berdasarkan pendapat mereka berdua. Kami katakan: Ini adalah pendapat yang mengandung penetapan kemandirian bagi seseorang, padahal hal itu bertentangan dengan pendapat orang yang berwasiat dan bertentangan dengan lafaznya yang mengharuskan adanya kebersamaan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

فإن قيل: قد تكلفتم تعليل انفراد أحد الوصيين بحفظ مقدار بالعرف فهلا قلتم: إذا ارتضى أحدهما بحفظ الثاني وأمانته وفوّض إليه الحفظ جاز  كما لو فوض إليه إنشاء عقد قلنا: إنه يرى أولاً رأيه في العقد ثم يفوّضه بمرأى منه أو على غيبةٍ قريبة لا يختلف في مثلها وجوه الرأي فأما الحفظ فالمنفرد مستقل به ولَحْظُ صاحبه منقطع عنه وهو بمثابة ما لو فوض أحدهما إلى الثاني النظرَ في التصرفات وجوز له أن ينفرد بها من غير مراجعة صاحبه في تفاصيل العقود ولو فعل ذلك لم يجز فهذا منتهى الغرض

Jika dikatakan: Kalian telah berusaha keras memberikan alasan mengapa salah satu dari dua washi hanya boleh sendiri dalam menjaga sebagian harta berdasarkan ‘urf (kebiasaan), maka mengapa kalian tidak mengatakan: Jika salah satunya rela dengan penjagaan yang lain dan mempercayakan kepadanya penjagaan tersebut, maka hal itu boleh, sebagaimana jika ia mempercayakan kepadanya untuk membuat akad? Kami jawab: Dalam hal akad, ia terlebih dahulu mempertimbangkan pendapatnya, lalu ia mempercayakan pelaksanaan akad itu kepada yang lain dengan sepengetahuannya atau dalam keadaan tidak hadir namun masih dalam jarak dekat yang tidak menyebabkan perbedaan pendapat yang signifikan. Adapun dalam hal penjagaan, yang melakukannya secara mandiri benar-benar berdiri sendiri, dan pengawasan rekannya terputus darinya. Ini serupa dengan kasus jika salah satu dari keduanya mempercayakan kepada yang lain untuk menangani tindakan-tindakan tasharruf dan membolehkannya untuk bertindak sendiri tanpa berkonsultasi dengan rekannya dalam rincian akad-akad. Jika hal itu dilakukan, maka tidak boleh. Inilah batas akhir dari maksud pembahasan ini.

فصل

Bab

قال: وليس للوصيّ أن يوصي إلى آخره

Ia berkata: Dan tidak boleh bagi seorang wasi untuk mewasiatkan kepada orang lain setelahnya.

إذا نصب وصيّاً ولم يجعل إليه أن يوصي بتلك الوصاية إلى وصيٍّ عند موته فليس له أن ينصب وصياً فإن الوصاية تقتضي تفويضَ التصرف المذكور إلى الوصي فأما إقامته غيرَه مقام نفسه عند انقطاع تصرفه فليس من مقتضيات الوصاية ولا مما يقتضيه العرف حتى يُعتقَد تقيّد اللفظ به

Jika seseorang mengangkat seorang washi (wali wasiat) dan tidak memberinya wewenang untuk mewasiatkan wasiat tersebut kepada washi lain ketika ia meninggal, maka washi tersebut tidak berhak mengangkat washi lain. Sebab, wasiat hanya berarti memberikan wewenang untuk melakukan tindakan yang disebutkan kepada washi itu sendiri. Adapun mengangkat orang lain sebagai pengganti dirinya ketika ia sudah tidak dapat lagi bertindak, hal itu bukan termasuk konsekuensi dari wasiat dan juga tidak diakui oleh kebiasaan (‘urf) sehingga dianggap bahwa lafaz wasiat itu mencakupnya.

نعم إذا وكّل الوصي المطلقُ في حياته وكيلاً صالحاً موثوقاً به فهو جائز فإنّ العرف يقتضي اقتضاءً ظاهراً تجويز ذلك وهذا كما أن العامل في القراض يوكّل ويستنيب في تفاصيل تصرفاته ولا ينصب مقارضاً

Ya, jika seorang wasi yang memiliki wewenang mutlak pada masa hidupnya menunjuk seorang wakil yang saleh dan dapat dipercaya, maka hal itu diperbolehkan, karena ‘urf secara jelas mengharuskan kebolehan tersebut. Ini sebagaimana seorang ‘āmil dalam akad qirādh dapat mewakilkan dan menunjuk pengganti dalam rincian tindakannya tanpa harus mengangkat seorang muqāriḍ.

فأما إذا قال: أوصيت إليك بكذا فقُمْ فيه وأوْصِ إذا حضرتك الوفاة بهذه الوصاية إلى وصيّك ففعل ممتثلاً لإذنه ففي جواز ذلك قولان: أحدهما أنه يجوز لأن الموصي الأول أذن في ذلك ورضي به

Adapun jika seseorang berkata: “Aku mewasiatkan kepadamu tentang ini, maka laksanakanlah dan wasiatkanlah ketika ajal menjemputmu wasiat ini kepada wasimu,” lalu ia melakukannya sebagai bentuk ketaatan terhadap izinnya, maka dalam kebolehan hal tersebut terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hal itu boleh karena pewasiat pertama telah mengizinkan dan meridhainya.

والقول الثاني لا يجوز لأن الوصاية المتعلّقة بموته المتصلة به جائزة شرعاً جوازاً خارجاً عن القياس كما سبق التنبيه عليه في صدر الباب

Pendapat kedua menyatakan tidak boleh, karena wasiat yang berkaitan dengan kematian seseorang dan berhubungan langsung dengannya dibolehkan secara syar‘i sebagai pengecualian dari qiyās, sebagaimana telah dijelaskan pada awal bab.

فأما إثبات أوصياء متعاقبين يخلف البعض منهم البعض فلا توقيف فيه والأصل مفتقر إلى التوقيف

Adapun penetapan para washi (pelaksana wasiat) secara berurutan, di mana sebagian dari mereka menggantikan sebagian yang lain, maka tidak ada ketentuan yang membatasinya, dan asalnya memerlukan adanya ketentuan.

ولو قال للأول: أنت وصيي في كذا وكذا فإذا متَّ وأوصيتَ إلى رجل فهو وصيي فيما أنت وصيي فيه ففي المسألة طريقان: من أصحابنا من قطع بأن من يعيّنه الوصي الأول إذا حضرته الوفاة يصير وصياً للموصي الأول فإنه هو الذي نصبه وصياً نصباً معلقاً  والتعليق غير ممتنع في نصب الأوصياء إذ لو قال: أنت وصيي إلى أن يبلغ هذا الصبي رشيداً ثم هو وصيي أو قال: أنت وصيي فإذا قدم فلان فهو وصيي فهذا جائز

Jika seseorang berkata kepada orang pertama: “Engkau adalah washi (pelaksana wasiat)ku dalam urusan ini dan itu. Jika aku meninggal dan engkau mewasiatkan kepada seseorang, maka dia adalah washi-ku dalam hal yang engkau menjadi washi-ku di dalamnya,” maka dalam masalah ini ada dua pendapat. Sebagian ulama kami berpendapat tegas bahwa orang yang ditunjuk oleh washi pertama ketika ajal menjemputnya, maka ia menjadi washi bagi orang yang pertama berwasiat, karena dialah yang mengangkatnya sebagai washi dengan pengangkatan yang bersifat mu‘allaq (tergantung syarat), dan penggantungan syarat tidak terlarang dalam pengangkatan para washi. Sebab, jika seseorang berkata: “Engkau adalah washi-ku sampai anak kecil ini mencapai usia dewasa, kemudian dia adalah washi-ku,” atau berkata: “Engkau adalah washi-ku, lalu jika si Fulan datang, maka dia adalah washi-ku,” maka hal itu diperbolehkan.

ومن أصحابنا من جعل المسألة على قولين في الصورة التي ذكرناها وفرق بأنه إذا عيّن شخصاً وعلّق الوصية إليه بمقدمه فهو جائز قولاً واحداً لأنه عالم به وإذا قال: من أوصيتَ إليه فهو وصيِّ فهذه جهالة تقطع نظر الموصي عن الوصي الثاني ولا يصح نصب الوصي كيف كان بل لا بد من رعاية صفات فيمن ينصب وصياً فإذا كانت رعايتها إلى الوصي الأول فهو المتخير إذاً والصور التي ذكرناها في تعليق الوصاية مفروضة في معيّنين

Sebagian dari ulama mazhab kami menjadikan masalah ini memiliki dua pendapat dalam kasus yang telah kami sebutkan, dan membedakan bahwa jika seseorang telah menentukan seseorang secara spesifik dan menggantungkan wasiat kepadanya dengan kedatangannya, maka itu diperbolehkan menurut satu pendapat, karena ia mengetahui orang tersebut. Namun jika ia berkata: “Siapa pun yang aku wasiatkan kepadanya, maka dialah wasi,” maka ini adalah ketidakjelasan yang memutus pandangan pewasiat terhadap wasi kedua, dan tidak sah mengangkat wasi dengan cara apa pun, bahkan harus memperhatikan sifat-sifat tertentu pada orang yang diangkat sebagai wasi. Jika memperhatikan sifat-sifat itu diserahkan kepada wasi pertama, maka dialah yang berhak memilih. Adapun contoh-contoh yang telah kami sebutkan dalam menggantungkan wasiat, semuanya berlaku pada orang-orang yang telah ditentukan secara spesifik.

والصحيح قطعُ القول بانتصاب الوصي الثاني وصيّاً بنصب الوصي الأول ولا حاصل في الجهالة التي ذكرناها حتى ذهب ذاهبون من الأصحاب إلى تغليط المزني في نقل القولين في الصورة التي قطعنا القول فيها وقد ذكر قولين في هذه الصورة

Pendapat yang benar adalah memastikan bahwa washi kedua sah menjadi washi berdasarkan penunjukan washi pertama, dan tidak ada makna dalam ketidakjelasan yang telah kami sebutkan, sehingga sebagian ulama dari kalangan sahabat berpendapat bahwa al-Muzani keliru dalam menukil adanya dua pendapat dalam kasus yang telah kami pastikan keputusannya, padahal ia telah menyebutkan dua pendapat dalam kasus ini.

فرع:

Cabang:

إذا نصب وصيين وجعل إليهما التصرف جمعاً فقد ذكرنا أنه لا ينفرد أحدهما بالتصرف فلو فسق أحدهما أو مات فيقيم القاضي مقامه آخر فلو أدى اجتهاد القاضي إلى تفويض الأمر إلى الثاني  ورآه مستقلاً كافياً ليكون منصوباً من جهته ووصياً من جهة الميت فهل يجوز ذلك فعلى وجهين ذكرهما العراقيون: أحدهما لا يجوز فإن الميت لم يرض إلا بشخصين فلا بد من ارتسام رسمه

Jika seseorang mengangkat dua washi (pelaksana wasiat) dan memberikan kepada keduanya hak untuk bertindak bersama, maka telah kami sebutkan bahwa salah satu dari keduanya tidak boleh bertindak sendiri. Jika salah satu dari keduanya fasik atau meninggal dunia, maka hakim dapat mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Jika ijtihad hakim mengarah pada penyerahan urusan kepada yang kedua dan ia melihatnya cukup mandiri untuk diangkat sebagai pelaksana dari pihak hakim dan sebagai washi dari pihak si mayit, maka apakah hal itu boleh? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak: salah satunya tidak boleh, karena si mayit tidak meridhai kecuali dengan dua orang, sehingga harus mengikuti ketentuannya.

والثاني يجوز فإن رسمه إنما يمتثل ما بقي الوصيان فإذا خرج أحدهما عن الوصاية تعذَّر اتباع أمره وفات رعاية اجتماعهما ثم القاضي يرى رأيه

Kedua, hal itu diperbolehkan, karena pelaksanaannya hanya mengikuti selama kedua washi masih ada. Jika salah satu dari mereka keluar dari tugas wasiat, maka tidak mungkin lagi mengikuti perintahnya dan terlewatlah kemaslahatan berkumpulnya keduanya. Setelah itu, hakim akan mempertimbangkan pendapatnya sendiri.

قالوا: كذلك إذا ماتا جميعاً أو فسقا فهل يتعين على القاضي نصبُ شخصين أم يجوز أن ينصب شخصاً واحداً فعلى وجهين وذكر الخلاف في هذه الصورة بعيد فإنه إذا بقي أحدهما فهو متعلّق الوصاية فلا يبعد اشتراط ضمِّ شخص آخر إليه فإذا خرجا جميعاً بالفسق عن الوصاية أو ماتا فقد زالت الوصاية بالكلية فصار كما لو لم يوصِ أصلاً

Mereka berkata: Demikian pula jika keduanya meninggal dunia atau keduanya menjadi fasiq, apakah wajib bagi hakim untuk mengangkat dua orang atau boleh mengangkat satu orang saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam kasus ini dianggap jauh, karena jika salah satu dari keduanya masih ada, maka masih terkait dengan wasiat, sehingga tidak mustahil disyaratkan untuk menambahkan orang lain bersamanya. Namun, jika keduanya telah keluar dari wasiat karena kefasiqan atau keduanya telah meninggal, maka wasiat telah hilang seluruhnya, sehingga keadaannya seperti orang yang sama sekali tidak berwasiat.

فصل

Bab

إذا نصب وصيّاً  وعيّن له شغلاً لم يكن له أن يتصرف في غير ذلك الشغل المعيّن خلافاً لأبي حنيفة  وسرّ المذهب على ما بنينا الباب عليه من أن الوصاية نيابة مترتبةٌ على الاستنابة فلا تعدو محلّ الإذن كالوكالة

Jika seseorang mengangkat seorang washi (wali) dan menetapkan tugas tertentu baginya, maka washi tersebut tidak berhak bertindak di luar tugas yang telah ditetapkan itu, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Dasar mazhab ini, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam bab ini, adalah bahwa wasiat merupakan bentuk perwakilan yang bergantung pada pemberian kuasa, sehingga tidak boleh melampaui batas izin yang diberikan, sebagaimana dalam kasus wakalah (perwakilan).

فرع:

Cabang:

الجد أب الأب أوْلى عند عدم الأب فلو أوصى الأب في أمور أطفاله إلى أجنبي فقد ظهر اختلاف أصحابنا في أن الوصي هل يتصرف بالوصاية منهم من قال: الوصاية باطلة مع الجد أب الأب إذا كان مستجمعاً لشرائط الولاة فإن الوصاية إنما أثبتت لعدم الولي الخاص وولاية الجد أقوى وهو بالتصرف والنظر أولى من الوصي الأجنبي

Kakek dari pihak ayah lebih berhak ketika ayah tidak ada. Jika ayah berwasiat mengenai urusan anak-anaknya kepada orang lain (asing), maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami tentang apakah wasiat tersebut dapat dijalankan oleh penerima wasiat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa wasiat tersebut batal jika ada kakek dari pihak ayah yang memenuhi syarat sebagai wali, karena wasiat hanya ditetapkan ketika tidak ada wali khusus, sedangkan kewalian kakek lebih kuat dan ia lebih berhak dalam mengurus dan memperhatikan (anak-anak) daripada penerima wasiat yang asing.

ومن أصحابنا من قال: الوصي أولى لأنه بمثابة الأب بعد وفاته فكان مقدّماً على الجد كما يتقدم وكيل الأب على الجد في حياة الأب وهذا التردد في ولاية الأطفال

Sebagian ulama kami berpendapat: washi (wali yang ditunjuk dalam wasiat) lebih berhak karena ia kedudukannya seperti ayah setelah wafatnya, sehingga didahulukan atas kakek sebagaimana wakil ayah didahulukan atas kakek ketika ayah masih hidup. Inilah keraguan dalam masalah perwalian anak-anak.

فأما إذا وصى إلى أجنبي صرف صدقةٍ أو غيرِها من جهات التبرعات فهو أولى من الجد لا خلاف فيه

Adapun jika seseorang berwasiat kepada orang lain (bukan keluarga) untuk menyalurkan sedekah atau bentuk-bentuk tabarru‘ (sumbangan) lainnya, maka orang tersebut lebih berhak daripada kakek, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat.

ثم عقد المزني باباً في تصرف الوصي في مال اليتيم وقد أتينا به على أحسن مساق في كتاب البيع وذكر فصولاً من الفروع: أولها أن الوصي لا يملك التزويج بالوصاية وهذا وما يتصل به سيأتي في كتاب النكاح إن شاء الله عز وجل

Kemudian al-Muzani membuat satu bab tentang tindakan wali wasiat dalam mengelola harta anak yatim, dan kami telah membahasnya dengan penjelasan terbaik dalam Kitab al-Bay‘. Ia juga menyebutkan beberapa bagian dari cabang-cabang hukum: yang pertama adalah bahwa wali wasiat tidak berhak menikahkan anak yatim hanya berdasarkan wasiat, dan hal ini beserta hal-hal yang berkaitan dengannya akan dibahas dalam Kitab an-Nikāḥ, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وقد نجزت المنصوصات من كتاب الوصايا ونحن نرسم مسائل انسلّت عن ضبط الأبواب ونأتي بها على غير نظام ترتيب وبنجازها نجازُ الوصايا إن شاء الله عز وجل منها: إن المريض في مرضه المخوف لو قدّم بعضَ الغرماء بتمام حقه وكانت التركة تضيق عن جملة الديون ولو قسمت لنقص حق كل واحد منهم فإذا توفي والمسألة كما صورناها فهل نسترد من الذي قدمه المقدار الذي يزيد على حصته عند المضاربة فعلى وجهين حكاهما صاحب التقريب عن ابن سُريج: أحدهما لا نسترد شيئاً ونُمضي ما فعله فإن ما صدر منه لا يسمّى تبرعاً أصلاً

Teks-teks yang telah disebutkan dari Kitab Wasiat telah selesai, dan sekarang kami akan menguraikan beberapa permasalahan yang terlepas dari pengaturan bab-bab, dan kami akan menyampaikannya tanpa mengikuti urutan tertentu. Dengan selesainya pembahasan ini, maka selesailah pembahasan tentang wasiat, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Di antaranya: Jika seseorang yang sedang sakit dalam sakit yang dikhawatirkan (membawa kematian) telah mendahulukan sebagian kreditur dengan memberikan haknya secara penuh, sementara harta peninggalan tidak mencukupi untuk melunasi seluruh utang, dan jika dibagi maka hak masing-masing kreditur akan berkurang, lalu orang tersebut meninggal dunia dalam keadaan seperti yang digambarkan, maka apakah kita mengambil kembali dari kreditur yang didahulukan itu sejumlah kelebihan dari bagiannya menurut perhitungan mudharabah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dinukil oleh penulis at-Taqrib dari Ibn Surayj: salah satunya adalah kita tidak mengambil kembali apa pun dan membiarkan apa yang telah dilakukan, karena apa yang dilakukan oleh orang tersebut tidak disebut sebagai hibah sama sekali.

والوجه الثاني أنا نسترد فإن ما يفعل في المرض بمثابة ما يوصي به ولو أوصى بتقديم بعض الغرماء لم نقدمه

Adapun alasan kedua, kami katakan bahwa apa yang dilakukan seseorang ketika sakit itu posisinya seperti wasiat yang ia buat; dan seandainya ia berwasiat untuk mendahulukan sebagian kreditur, kita tidak akan mendahulukannya.

ومنها أنه لو ضمن عن وارثه في مرضه لأجنبي قال الأصحاب: لا يصح ذلك فإنها وصية لوارث أو نازلة منزلة الوصية إذْ لو أدى لأدى عن وارثه ولو ضمن في مرض موته ديناً عن أجنبي لوارثه ففي المسألة وجهان ذكرهما صاحب التقريب: أحدهما لا يصح كالصورة الأولى لتعلّق الضمان بوارثه

Di antaranya adalah jika seseorang menanggung (menjamin) utang ahli warisnya kepada orang lain (bukan ahli waris) saat ia sedang sakit, para ulama berpendapat: hal itu tidak sah, karena hal tersebut merupakan wasiat kepada ahli waris atau setara dengan wasiat, sebab jika ia membayar, maka ia membayar untuk ahli warisnya. Dan jika ia menanggung utang orang lain kepada ahli warisnya saat ia sakit menjelang wafat, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib: salah satunya adalah tidak sah seperti pada kasus pertama, karena jaminan itu berkaitan dengan ahli warisnya.

والوجه الثاني أنه يصح فإنه لم يزد الوارث على حقه المستحق شيئاً وهذا فيما إذا ضمن ضماناً يثبت له الرجوع على المضمون عنه وليس يتضح بين المسألتين في الضمان الأولى وهذه فرقٌ سديد

Adapun sisi kedua, sesungguhnya hal itu sah karena ahli waris tidak menambah sesuatu pun di atas haknya yang memang menjadi haknya. Ini berlaku apabila ia menanggung suatu tanggungan yang membuatnya berhak untuk kembali menuntut kepada pihak yang ditanggung. Tidak tampak adanya perbedaan antara dua permasalahan dalam hal penjaminan yang pertama, dan ini adalah perbedaan yang tepat.

ومنها لو قال لإنسان: ضع ثلثي فيمن شئت وأين شئت فلو أراد الوصي أن يضعه في نفسه فيكون مستحقه قال صاحب التقريب: ليس له ذلك وفيه احتمال عندنا على بُعد

Di antaranya, jika seseorang berkata kepada orang lain: “Letakkan sepertiga hartaku pada siapa pun yang kamu kehendaki dan di mana pun kamu kehendaki,” lalu washi (orang yang diberi wasiat) ingin meletakkannya untuk dirinya sendiri sebagai orang yang berhak, maka menurut penulis at-Taqrīb: ia tidak boleh melakukan itu, namun menurut pendapat kami ada kemungkinan (boleh), meskipun kemungkinannya kecil.

قال: ولا يضعه أيضاً في وارث الموصي  فإنه وإن لم يقصد وارثه فإذا رددنا الوصية للوارث فلا ينبغي أن يصل شيء من الوصية إلى الوارث سواء قصد بها أو أطلقنا الوصية ولم نقصد بها فلا يدفع إليه شيء في الحالتين

Ia berkata: Tidak boleh pula meletakkannya pada ahli waris orang yang berwasiat. Meskipun ia tidak bermaksud kepada ahli warisnya, jika kita mengembalikan wasiat kepada ahli waris, maka tidak sepantasnya sedikit pun dari wasiat itu sampai kepada ahli waris, baik wasiat itu memang ditujukan kepada mereka maupun wasiat itu bersifat umum tanpa maksud khusus kepada mereka. Maka, tidak diberikan apa pun kepada ahli waris dalam kedua keadaan tersebut.

ثم قال: فلو دفع قسطاً مثلاً من الثلث في هذه المسألة إلى الوارث على سبيل الوصية فما الحكم فيما دفعه إليه فذكر فيه وجهين: أحدهما أنه يُسترد ويردّ إلى الوصي ليضعه حيث شاء

Kemudian ia berkata: Jika diberikan, misalnya, sebagian dari sepertiga harta dalam masalah ini kepada ahli waris sebagai wasiat, maka bagaimana hukum terhadap apa yang telah diberikan kepadanya? Dalam hal ini disebutkan dua pendapat: salah satunya adalah bahwa harta tersebut diambil kembali dan dikembalikan kepada wasi agar ia menempatkannya di mana pun ia kehendaki.

والثاني أنه ينقلب ذلك القدر ميراثاً فإنه وضعه حيث شاء فانتهى تصرفه في ذلك القدر ولكن لما بطل رُدَّ ميراثاً وهذا ليس بشيء

Kedua, bahwa bagian tersebut berubah menjadi warisan, karena ia telah meletakkannya di tempat yang ia kehendaki, sehingga berakhirlah hak tasharruf-nya atas bagian itu. Namun, ketika batal, bagian itu dikembalikan sebagai warisan. Pendapat ini tidaklah benar.

منها لو قال المريض وقد نصب وصياً: قد أوصيت بثلثي لرجل سميته لوصي هذا فإذا مت وجاء فذكره وسماه فصدقوه فيما يقول وسلموه إلى من يسميه فإنه صادق فإذا سمى ذلك الوصي رجلاً وكذبه الوارث فله تكذيبه فإنه يجوز أن يكذب وقد كلف ورثته بتصديقه فيما يجوز كذبه فيه

Di antaranya, jika seorang yang sakit berkata setelah menunjuk seorang wasi: “Aku telah mewasiatkan sepertiga hartaku kepada seorang laki-laki yang aku sebutkan namanya kepada wasi ini. Maka jika aku wafat dan ia datang, lalu ia menyebutkan namanya dan menyampaikannya, serta mereka membenarkannya dalam apa yang ia katakan, maka serahkanlah kepada orang yang ia sebutkan, karena ia benar.” Maka jika wasi tersebut menyebutkan nama seseorang, namun ahli waris mendustakannya, maka ahli waris berhak mendustakannya, karena bisa jadi ia berdusta. Dan ia (si sakit) telah membebankan kepada ahli warisnya untuk membenarkannya dalam perkara yang memungkinkan adanya kedustaan di dalamnya.

نعم لو شهد الوصي لذلك الرجل وحلف مع شاهده ثبت المقصود

Ya, jika washi (pelaksana wasiat) memberikan kesaksian untuk laki-laki itu dan bersumpah bersama saksinya, maka maksud yang dimaksudkan menjadi tetap (terbukti).

ومنها أنه إذا كان للمريض دين على وارثه وقد ضمن عن الوارث أجنبي فأقر في مرض موته أنه استوفى الدين من الوارث فقد اختلف قول الشافعي في أن الإقرار للوارث هل يقبل فإن قلنا: لا يقبل إقراره للوارث فيبقى الدين على الوارث ولا يبرأ عنه بإقرار المريض فأما الأجنبي فهل يبرأ عن الضمان فعلى وجهين: أحدهما أنه يبرأ عن الضمان فإن الإقرار وإن رُدّ في حق الوارث وجب قبوله فيما يتعلق بحق الأجنبي

Di antaranya adalah jika seorang yang sakit memiliki piutang pada ahli warisnya, lalu ada orang lain (bukan ahli waris) yang menjamin ahli waris tersebut, kemudian si sakit dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematiannya mengakui bahwa ia telah menerima pelunasan utang dari ahli waris, maka terdapat perbedaan pendapat dari Imam Syafi’i mengenai apakah pengakuan tersebut diterima untuk ahli waris. Jika kita mengatakan: pengakuannya kepada ahli waris tidak diterima, maka utang tetap menjadi tanggungan ahli waris dan ia tidak terbebas darinya hanya dengan pengakuan orang yang sakit. Adapun orang lain (penjamin), apakah ia terbebas dari jaminannya? Maka ada dua pendapat: salah satunya, ia terbebas dari jaminan tersebut, karena pengakuan itu, meskipun ditolak dalam hal hak ahli waris, wajib diterima dalam hal yang berkaitan dengan hak orang lain (penjamin).

والثاني أنه لا يبرأ فإن أصل إقراره مردُودٌ في حق الوارث وبراءة الكفيل تبعٌ لبراءة الأصيل في مثل هذه الصورة

Kedua, bahwa ia tidak terbebas, karena pada dasarnya pengakuannya tertolak terhadap ahli waris, dan kebebasan penjamin mengikuti kebebasan pihak asli dalam kasus seperti ini.

وبمثله لو كان له دين على أجنبي والوارث ضامنٌ به فأقر بأني قبضتُ ذلك من الأصيل يقبل إقراره في حق الأصيل وهل يبرأ الضامن الوارث فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب: أحدهما لا يبرأ لأن الإقرار في حق الوارث مردود

Demikian pula, jika seseorang memiliki piutang pada pihak lain dan ahli warisnya menjadi penjamin atas piutang tersebut, lalu ia mengakui bahwa ia telah menerima piutang itu dari pihak asli, maka pengakuannya diterima dalam hak pihak asli. Adapun apakah penjamin yang merupakan ahli waris menjadi bebas dari tanggungan, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb: salah satunya adalah bahwa penjamin tidak bebas, karena pengakuan dalam hak ahli waris itu ditolak.

والثاني يبرأ فإن الإقرار إذا قبل في الأصل فبراءة الوارث تقع تبعاً ثم ذكر صاحب التقريب مسلكاً ثالثاً فقال: إن رددنا الإقرار في حق الوارث لم يبعد أن نردّه في حق الأجنبي من جهة أن الإقرار لا يتبغض في هذا المقام فإذا وجب ردّه فالوجه تعميم ذلك إذ يستحيل مطالبة الضامن مع الحكم ببراءة الأصيل

Dan yang kedua, ia terbebas, karena jika pengakuan diterima pada asalnya, maka kebebasan ahli waris terjadi sebagai konsekuensinya. Kemudian, penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan jalan ketiga, ia berkata: Jika kita menolak pengakuan dalam hak ahli waris, tidak mustahil kita juga menolaknya dalam hak orang asing, dari sisi bahwa pengakuan tidak dibenci dalam konteks ini. Maka jika wajib menolaknya, yang tepat adalah men-generalisasi penolakan itu, karena mustahil menuntut penjamin sementara telah diputuskan kebebasan pihak asal.

ومنها مسألة فرّعها صاحب التقريب على قولنا: إن الوصية للقاتل باطلة فقال: لو أوصى لزيد بألف ولعمرو بألفٍ وخلّف ابنين فأقام أحدهما بيّنة أن زيداً قتله وأقام الثاني بينةً أن عمراً قتله فقد ذكر أقوالاً متشعّبة من أصول مشهورة في الدعاوى: أحدهما أن البيّنتين تتهاتران وتسقطان جميعاً مقرراً وصيتهما

Di antaranya adalah sebuah permasalahan yang diturunkan oleh penulis kitab at-Taqrīb berdasarkan pendapat kami bahwa wasiat kepada pembunuh adalah batal. Ia berkata: Jika seseorang berwasiat kepada Zaid sejumlah seribu dan kepada Amr sejumlah seribu, lalu meninggalkan dua orang anak laki-laki, kemudian salah satu dari keduanya mendatangkan bukti bahwa Zaid telah membunuhnya, dan yang lain mendatangkan bukti bahwa Amr telah membunuhnya, maka telah disebutkan beberapa pendapat yang bercabang dari kaidah-kaidah terkenal dalam perkara sengketa: salah satunya adalah bahwa kedua bukti tersebut saling meniadakan dan keduanya gugur seluruhnya, sehingga wasiat kepada keduanya tetap berlaku.

والقول الثاني أن كل واحد من الابنين يستحق نصفَ الدية على الذي ادعى أنه قتل أباه ويبرأ عن حصته من الوصية ويكون نصف وصيته على الابن الذي لم يدّع أنه قتله

Pendapat kedua menyatakan bahwa masing-masing dari kedua anak itu berhak atas setengah diyat dari orang yang mengaku telah membunuh ayahnya, dan ia terbebas dari bagiannya dalam wasiat, sedangkan setengah wasiat menjadi tanggungan anak yang tidak mengaku telah membunuh ayahnya.

والقول الثالث أنه يجعل كما لو قتلاه اشتراكاً فتسقط الوصيتان ويشتركان في الدية وهذا قول بعيد لا أصل له

Pendapat ketiga adalah bahwa kasus ini diperlakukan seolah-olah keduanya membunuhnya secara bersama-sama, sehingga kedua wasiat gugur dan keduanya berbagi dalam diyat. Ini adalah pendapat yang lemah dan tidak memiliki dasar.

ومنها أنه لو وقف ذمِّيٌّ على كنيسة شيئاً فرفع إلينا فلا ننفذ وقفه  ومثله لو كان نفذه قاضيهم ثم رفعوه إلينا قال: فيجوز ألا ننقضه ونجعل إبرام قاضيهم بمثابة ما لو اشترى واحد منهم خمراً وقبضه فإنا لا ننقض عهدهم

Di antaranya adalah jika seorang dzimmi mewakafkan sesuatu untuk gereja, lalu perkara itu diajukan kepada kita, maka kita tidak mengesahkan wakafnya. Demikian pula jika wakaf itu telah disahkan oleh hakim mereka, kemudian mereka mengajukannya kepada kita, dikatakan: boleh jadi kita tidak membatalkannya dan menganggap pengesahan hakim mereka seperti halnya jika salah satu dari mereka membeli khamar dan telah menerimanya, maka kita tidak membatalkan perjanjian mereka.

والصحيح أنه لا أثر للقضاء في ذلك بل لا وقع لأحكام قاضيهم

Pendapat yang benar adalah bahwa keputusan qadhā’ tidak berpengaruh dalam hal itu, bahkan tidak ada nilai bagi putusan hakim mereka.

ومنها أنه لو قال لأمته: إذا مت فأنت حرة على ألا تتزوجي فإذا مات فإن قبلت ذلك عَتَقَت قال : ولا بد من قبولها وإن كان لا يلزمها الامتناع من التزوج ولكن قال: لا بد من القبول لتعتِق كما لو أعتق الرجل أمته على خمرٍ فإنها لا تعتِق ما لم تقبل وسيأتي أصل ذلك في النكاح والخلع إن شاء الله عز وجل ثم ينبغي أن يقع قبولها بعد الموت هكذا قال

Di antaranya adalah jika seseorang berkata kepada budaknya perempuan: “Jika aku mati, maka engkau merdeka dengan syarat engkau tidak menikah.” Jika ia (tuannya) meninggal dunia dan budak perempuan itu menerima syarat tersebut, maka ia merdeka. Ia (ulama) berkata: Penerimaan dari budak perempuan itu memang diperlukan, meskipun ia tidak wajib menahan diri dari menikah. Namun, ia berkata: Penerimaan itu tetap diperlukan agar ia merdeka, sebagaimana jika seseorang memerdekakan budaknya perempuan dengan imbalan khamr, maka ia tidak merdeka kecuali jika ia menerima. Dasar hukum ini akan dijelaskan pada pembahasan nikah dan khulu‘, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian, seharusnya penerimaan dari budak perempuan itu terjadi setelah kematian (tuannya), demikianlah yang dikatakan.

ثم قال: ولو قال لأمته المسلمة: إذا مت فأنت حرة إن بقيتِ على الإسلام فلا تَعتِق بالموت ما لم تقبل

Kemudian ia berkata: Jika seseorang berkata kepada budak perempuannya yang muslimah, “Jika aku mati, maka engkau merdeka jika engkau tetap dalam Islam,” maka ia tidak merdeka dengan kematian tuannya selama ia belum menerima (syarat tersebut).

ثم قال: إذا قبلتْ عَتَقت ويلزمها قيمتُها كذلك القيمة تلزم إذا التزمت أن لا تتزوج

Kemudian ia berkata: Jika ia menerima, maka ia merdeka dan ia wajib membayar nilainya; demikian pula, nilai itu wajib dibayar jika ia berkomitmen untuk tidak menikah.

وهذا الذي ذكره صاحب التقريب في الإسلام بعيد  فإن الإصرار على الإسلام ليس مما يتخيل مقابلته بمال بخلاف الامتناع عن التزوج فإنها في امتناعها معطِّلة على نفسها حقَّها من الاستمتاع  فالوجه أن نجعل التعليق بالإصرار على الإسلام تعليقاً محضاً

Apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb tentang Islam itu jauh dari kebenaran, karena keteguhan pada Islam bukanlah sesuatu yang dapat dibayangkan untuk ditukar dengan harta, berbeda dengan penolakan untuk menikah, karena dalam penolakannya itu ia telah menahan hak dirinya sendiri untuk mendapatkan kenikmatan. Maka yang tepat adalah menjadikan pengaitan dengan keteguhan pada Islam sebagai pengaitan yang murni.

ثم في النفس شيء من الحكم بعتقها في الحال فإن عنى بقوله: إن بقيت مسلمة بقاءها على الإسلام إلى وقت موته فلا إشكال وإن عَنَى بقاءها على الإسلام إلى موتها فالحكم بالعتق ولم يتحقق ما يكون منها فيه نظر إذا أخرجنا التزام ذلك على قياس المعاوضات ولا يتبين حقيقة الأمر ما لم تمت على الإسلام في ظاهر الأمر ثم يستند الحكم

Kemudian, masih ada keraguan dalam hati mengenai penetapan pembebasan budak tersebut secara langsung. Jika yang dimaksud dengan ucapannya, “Jika ia tetap Muslimah,” adalah tetapnya ia dalam Islam sampai waktu kematian tuannya, maka tidak ada masalah. Namun jika yang dimaksud adalah tetapnya ia dalam Islam sampai kematiannya sendiri, maka penetapan pembebasan budak sebelum terwujudnya syarat tersebut masih perlu dipertimbangkan, jika kita mengeluarkan komitmen itu berdasarkan qiyās pada akad-akad mu‘āwadah (pertukaran). Hakikat perkara ini pun tidak akan jelas kecuali jika ia benar-benar wafat dalam keadaan Islam secara lahiriah, kemudian barulah hukum itu berlaku surut.

ولفظ صاحب التقريب في المسألة أنه قال: إذا متُّ فانت حرة إن بقيتِ على الإسلام وهذا تعليقٌ في صيغته

Penulis kitab at-Taqrīb dalam permasalahan ini mengatakan: Jika aku meninggal, maka engkau merdeka jika tetap berada dalam Islam, dan ini merupakan suatu ta‘liq (penggantungan) dalam redaksinya.

ولا يبعد أن يقال: لو قال لها: إذا مت فأنت حرة إن لم تتزوجي فذكر امتناعها على صيغة التعليق لا على صيغة الإلزام المقتضي للقبول فلا نحكم بحصول العتق في الحال ما لم ينقضِ عمرها

Tidaklah jauh untuk dikatakan: jika ia berkata kepada istrinya, “Jika aku meninggal, maka engkau merdeka jika engkau tidak menikah lagi,” lalu ia menyebutkan larangan itu dalam bentuk ta‘liq (penggantungan) dan bukan dalam bentuk ilzām (kewajiban) yang menuntut penerimaan, maka kita tidak menetapkan terjadinya pembebasan budak saat itu juga sebelum usianya berakhir.

ثم يعترض في هذا إشكال وهي أنها إن تزوجت فقد خالفت وإن استقلت  فهذا فاسد والفاسد لا حكم له وإن زوجها الوارث فإذ ذاك نتبين أنها ما عتقت وسيأتي دقائق العتق والتدبير والتعليقات إن شاء الله عز وجل

Kemudian muncul dalam hal ini suatu permasalahan, yaitu jika ia menikah maka ia telah menyelisihi, dan jika ia bertindak sendiri maka itu batal, dan yang batal tidak memiliki hukum. Jika yang menikahkannya adalah ahli waris, maka saat itu kita mengetahui bahwa ia belum merdeka. Rincian tentang pembebasan budak, tadbir, dan berbagai komentar akan dijelaskan kemudian, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فرع :

Cabang:

لو أوصى بجاريةٍ لإنسان ومات الموصي فعلقت بعد الموت بمولودٍ وانفصل قبل القبول قالوا: الولد إما أن يكون للورثة على قولٍ أو للموصى له ولا يكون محسوباً من التركة حتى يُقضى منه الدين وطرد العراقيون هذا في جميع زوائد التركة إذا فرضت قبل اتفاق صرف التركة إلى الديون هذا ما ذكره العراقيون ثم قالوا: من ذهب مذهب الإصطخري فقال: إذا كان في التركة دين فلا يملك الورثةُ التركةَ فعلى هذا ما حصل من زيادة فيكون حكمها حكم التركة

Jika seseorang berwasiat memberikan seorang budak perempuan kepada seseorang, lalu pewasiat meninggal dunia, kemudian budak tersebut hamil setelah kematian pewasiat dan melahirkan sebelum wasiat diterima, para ulama mengatakan: Anak tersebut bisa menjadi milik ahli waris menurut satu pendapat, atau menjadi milik penerima wasiat, dan anak itu tidak dianggap sebagai bagian dari harta warisan sampai utang pewasiat dilunasi. Ulama Irak menerapkan hal ini pada seluruh tambahan harta warisan jika tambahan itu terjadi sebelum disepakati bahwa harta warisan digunakan untuk membayar utang. Inilah yang disebutkan oleh ulama Irak. Kemudian mereka berkata: Barang siapa mengikuti pendapat al-Ishthakhri, ia mengatakan: Jika dalam harta warisan terdapat utang, maka ahli waris tidak memiliki harta warisan tersebut. Oleh karena itu, segala tambahan yang terjadi, hukumnya sama seperti harta warisan.

ومما ذكره العراقيون أنه إذا أوصى بعبدٍ قيمته مائة وخلف مائتي درهم وكانتا غائبتين وتعذر الوصول إليهما في الحال فلا يسلم جملة العبد إلى الموصى له في الحال فإنا لا ندري تَسْلمُ الدراهم للورثة أم لا تسلم ولكن نصرف ثلث العبد إلى جهة الوصية ونرقب العاقبة

Di antara yang disebutkan oleh para ulama Irak adalah bahwa jika seseorang berwasiat dengan seorang budak yang nilainya seratus, sementara ia meninggalkan dua ratus dirham yang keduanya tidak ada di tempat dan sulit untuk segera didapatkan, maka seluruh budak tersebut tidak langsung diserahkan kepada penerima wasiat pada saat itu juga. Sebab, kita tidak tahu apakah dirham tersebut akan sampai kepada para ahli waris atau tidak. Namun, sepertiga dari budak itu dialihkan kepada pihak wasiat, dan kita menunggu bagaimana hasil akhirnya.

ثم قال العراقيون إذا صرفنا ثلث العبد إلى الوصية فلا نقول: إن تصرف الورثة ينفذ في بقية العبد فإنا نقدّر وصولَ المال إليهم ولو وصلت الدراهم يسلم تمامُ العبد

Kemudian orang-orang Irak berkata: Jika kami mengalokasikan sepertiga budak untuk wasiat, maka kami tidak mengatakan bahwa tindakan para ahli waris berlaku pada sisa budak tersebut, karena kami memperkirakan harta itu sampai kepada mereka; dan jika uang itu sampai, maka seluruh budak itu menjadi milik mereka.

ثم إذا منعناهم من التصرف في ثلثي العبد فهل ينفذ تصرفات الموصى له في الثلث الذي صرفناه إليه في الحال فعلى وجهين: أحدهما أنه ينفذ تصرفه فيه فإنه يسلم له ثلث العبد على كل حال فلا شيء يتوقع مما ينقص هذا الثلث وليس كذلك الورثة فإنا إنما منعناهم عن ثلثي العبد حتى تصل إليهم التركة

Kemudian, jika kita melarang mereka untuk melakukan tindakan pada dua pertiga budak, apakah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh penerima wasiat pada sepertiga yang telah kami serahkan kepadanya saat itu juga menjadi sah? Ada dua pendapat: salah satunya adalah bahwa tindakannya sah pada bagian tersebut, karena sepertiga budak itu pasti akan menjadi miliknya dalam keadaan apa pun, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dikhawatirkan akan mengurangi sepertiga tersebut. Tidak demikian halnya dengan para ahli waris, karena kami hanya melarang mereka atas dua pertiga budak sampai harta warisan itu sampai kepada mereka.

والوجه الثاني أنه لا ينفذ تصرف الموصى له في الثلث رعاية للتسوية بين الورثة وبين الموصى له إذ يبعد أن لا يسلم للورثة شيء ولا ينفذ تصرفهم وينفذ تصرف الموصى له

Alasan kedua adalah bahwa tindakan hukum penerima wasiat atas sepertiga harta tidak berlaku, demi menjaga keadilan antara para ahli waris dan penerima wasiat, karena tidak masuk akal jika para ahli waris tidak mendapatkan apa-apa dan tindakan hukum mereka tidak berlaku, sementara tindakan hukum penerima wasiat justru berlaku.

وناصر الوجه الأول يقول: إذا كان لا يطمع الورثة في ثبوت حق لهم في الثلث فلا معنى للحجر على الموصى له فيه وهو يتعين لاستحقاقه لا محالة ثم إن لم يتصرف الورثة فسببه بيّن وعلته ظاهرة والضرورة في أطراف المسائل تؤدي إلى أمثال هذا

Pendukung pendapat pertama mengatakan: Jika para ahli waris tidak berharap adanya hak bagi mereka dalam sepertiga harta, maka tidak ada makna untuk melarang penerima wasiat atas bagian tersebut, karena ia pasti berhak menerimanya. Kemudian, jika para ahli waris tidak melakukan tindakan, maka sebabnya jelas dan alasannya nyata, dan kebutuhan mendesak dalam berbagai permasalahan akan mengantarkan pada hal-hal semacam ini.

وهذا الفصل لا يشفي ما لم نفصل القول في الغيبة: فإن كان المال الغائب بحيث يعسر الوصول إليه لخوفٍ أو لسبب من أسباب الحيلولة فيظهر فرض المسألة التي ذكرناها هاهنا ولا يجوز بيع مثل هذا المال فإنه غير مقدور عليه إلا أن يفرض بيعُه ممن يقدر عليه

Bab ini belum memadai kecuali jika kita merinci pembahasan tentang harta yang ghaib: Jika harta yang ghaib itu sedemikian rupa sehingga sulit untuk dijangkau karena adanya rasa takut atau sebab-sebab lain yang menghalangi, maka tampaklah kewajiban dalam permasalahan yang telah kami sebutkan di sini, dan tidak boleh menjual harta semacam ini karena ia tidak dapat dikuasai, kecuali jika dijual kepada orang yang mampu menguasainya.

فأما إذا كان المال غائباً والطرق آمنة وكان الوصول إليه في العرف يُعدّ متيسراً  وقد جرت الوصية بالعبد الحاضر فقد رأيت في كلام الأئمة تردّداً في أن هذه الغيبة هل تعد حيلولة مع إمكان التصرف في المال أم لا وبنَوْا على هذا التردّد اختلافاً في أنه هل يجب إخراج الزكاة عنه مع وجوبها فيه وهذا القدر لا يُلحق المال بالمجحود والمغصوب حتى يَخْرجَ في أصل وجوب الزكاة قولان ولكن إذا وجبت هل يجب تنجيز الإخراج فيه الخلاف الذي أشرنا إليه فإن أوجبنا إخراج الزكاة في الحال فلا أثر لهذه الغيبة وإن لم نوجب إخراج الزكاة في الحال فيجوز أن نقول: لا يسلم إلى الوصية إلا ثلث العبد ولكن يجب القطع بنفوذ تصرف الموصى له لأن تصرفات الورثة نافذة في المال الغائب

Adapun jika harta itu berada di tempat yang jauh sementara jalan-jalan aman dan menurut kebiasaan dapat dijangkau dengan mudah, serta wasiat telah dilakukan terhadap budak yang hadir, maka saya melihat dalam pendapat para imam terdapat keraguan apakah keterjauhan ini dianggap sebagai penghalang meskipun masih memungkinkan untuk melakukan transaksi terhadap harta tersebut atau tidak. Mereka membangun perbedaan pendapat atas keraguan ini mengenai apakah wajib mengeluarkan zakat atas harta tersebut padahal zakatnya wajib. Dalam hal ini, harta tersebut tidak dapat disamakan dengan harta yang diingkari atau dirampas sehingga dalam pokok kewajiban zakat terdapat dua pendapat. Namun, jika zakatnya telah wajib, apakah harus segera dikeluarkan, di sinilah letak perbedaan pendapat yang telah kami isyaratkan. Jika kita mewajibkan zakat dikeluarkan saat itu juga, maka keterjauhan ini tidak berpengaruh. Namun jika kita tidak mewajibkan zakat dikeluarkan saat itu juga, maka boleh jadi kita mengatakan: tidak diserahkan kepada wasiat kecuali sepertiga dari budak tersebut. Akan tetapi, harus dipastikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh penerima wasiat tetap sah, karena tindakan para ahli waris sah terhadap harta yang jauh.

هذا تمام ما أردناه

Inilah seluruh yang kami maksudkan.

فصل

Bab

إذا أوصى أن يحج عنه فلان بمائة ففي المسألة أحوال: أحدها أن يكون الحج فرضاً وكانت المائة أجرَ المثل فلا شك أنها من رأس المال فإن حج ذلك المسمى فذاك وإن لم يحج أحججنا عنه غيرَه

Jika seseorang berwasiat agar fulan menunaikan haji untuknya dengan seratus (dinar/dirham), maka dalam masalah ini terdapat beberapa keadaan: Pertama, jika haji tersebut adalah haji fardhu dan seratus itu adalah upah yang sepadan, maka tidak diragukan lagi bahwa itu diambil dari harta pokok. Jika orang yang disebutkan itu melaksanakan haji, maka itu sudah cukup. Namun jika ia tidak melaksanakan haji, maka kami akan menyuruh orang lain untuk berhaji menggantikannya.

فإن وجدنا من يحج بأقلّ من مائة أحججنا عنه ذلك الإنسان فلو قال ذلك المعين : قدِّروا هذا وصيةً لي فأحجوني بالمائة وإن قدرتم المائة تبرعاً فالثلث وافٍ قلنا: ما ذهب إليه معظم الأصحاب أنا لا نجيبه إلى ذلك فإنه ليس متبرَّعاً عليه والوصية إنما تنفذ بالتبرع وهو بمثابة ما لو قال: لا تبيعوا تركتي في صرفها إلى ديوني إلا من فلان فهذه الوصية باطلةٌ لا معنى لها

Jika kami menemukan seseorang yang dapat berhaji dengan biaya kurang dari seratus, maka kami akan menghajikan orang itu untuknya. Jika orang yang ditentukan itu berkata: “Anggaplah ini sebagai wasiat dariku, maka hajikanlah aku dengan seratus. Jika kalian bisa mendapatkan seratus secara sukarela, maka sepertiganya cukup,” kami katakan: Pendapat mayoritas ulama adalah kami tidak mengabulkan permintaannya itu, karena ia bukan penerima hibah, sedangkan wasiat hanya berlaku dengan pemberian sukarela. Ini seperti jika ia berkata: “Jangan jual harta warisanku untuk membayar utang-utangku kecuali kepada si Fulan,” maka wasiat seperti ini batal dan tidak ada artinya.

ولو كانت المائة أكثر من أجر المثل فالزيادة على أجر المثل وصية فإن لم يكن المعيّن وارثاً ووفى الثلث وجب إحجاج ذلك المعيّن فإن لم يحج ذلك المعيّن أحججنا آخر بأجر المثل أو أقل إن وجدنا من يسامح

Jika seratus (dinar) itu lebih banyak daripada upah sepadan, maka kelebihan dari upah sepadan tersebut dianggap sebagai wasiat. Jika orang yang ditunjuk bukanlah ahli waris dan sepertiga harta mencukupi, maka wajib memberangkatkan haji orang yang ditunjuk itu. Jika orang yang ditunjuk tersebut tidak melaksanakan haji, maka kami memberangkatkan orang lain dengan upah sepadan atau kurang jika kami menemukan orang yang bersedia menerima lebih sedikit.

ولو كان الحج تطوعاً وجوزنا النيابة فيه  فالأجرة بكمالها من الثلث وإن لم يحج الشخص الذي عينه الموصي فهل نستأجر غيره ليحج فعلى وجهين: أحدهما لا نستأجر غيره فتبطل الوصية كما لو قال: اشتروا عبد فلان فأعتقوه فلم يبع فلان العبد فإنا لا نشتري عبداً آخر

Jika haji itu sunnah dan kami membolehkan perwakilan di dalamnya, maka upahnya seluruhnya diambil dari sepertiga harta. Jika orang yang telah ditunjuk oleh pewasiat tidak melaksanakan haji, apakah kami menyewa orang lain untuk berhaji? Ada dua pendapat: salah satunya, kami tidak menyewa orang lain sehingga wasiatnya batal, sebagaimana jika seseorang berkata, “Belilah budak si Fulan lalu merdekakanlah,” kemudian si Fulan tidak menjual budaknya, maka kami tidak membeli budak lain.

والوجه الثاني أنا نستأجر غيره  فإن المقصود الظاهر الحج فلا نعطل المقصود الظاهر بتعذّر تحصيله من جهة شخص معين وليس كما لو عين العبدَ فإن مقصودَه الظاهر تحصيل العتق لذلك العبد

Adapun pendapat kedua, kita menyewa orang lain, karena tujuan yang tampak adalah pelaksanaan haji, maka janganlah kita menelantarkan tujuan yang tampak itu hanya karena tidak dapat memperolehnya dari orang tertentu. Hal ini berbeda dengan jika seseorang menentukan seorang budak, karena tujuan yang tampak adalah memperoleh kemerdekaan bagi budak tersebut.

ولو عين لحج التطوع وارثاً وسمى له أكثر من أجر المثل فالزيادة وصية والوصية للوارث باطلة فإن حج الوارث عنه بأجر المثل فذاك وإن أبى أحججنا عنه غيرَه بأجر المثل

Jika seseorang menentukan seorang ahli waris untuk melaksanakan haji tathawwu‘ (haji sunnah) baginya dan menyebutkan upah lebih dari upah yang lazim, maka kelebihan tersebut dianggap sebagai wasiat, dan wasiat kepada ahli waris adalah batal. Jika ahli waris tersebut melaksanakan haji untuknya dengan upah yang lazim, maka itu sah. Namun jika ia menolak, maka kami akan menyuruh orang lain untuk berhaji atas namanya dengan upah yang lazim.

ولو قال: أحجوا عني رجلاً بألف درهم وكان الألف زائداً على أجر مثل كل من يحج ولم يعيّن أحداً فمن أصحابنا من قال: هذه الزيادة باطلة فإنه لم يعيّن لاستحقاقها رجلاً وليس صرف هذه الزيادة من جهات الخير  فلا معنى له فنُحِج عنه بأجر المثل

Jika seseorang berkata: “Berhajikanlah untukku seorang laki-laki dengan seribu dirham,” padahal seribu dirham itu melebihi upah standar setiap orang yang berhaji dan ia tidak menentukan siapa orangnya, maka sebagian ulama mazhab kami berpendapat: tambahan ini batal, karena ia tidak menentukan seseorang yang berhak menerima tambahan itu, dan tambahan tersebut juga tidak dialokasikan untuk kebaikan apa pun, sehingga tidak ada maknanya. Maka, orang yang dihajikan untuknya cukup diberi upah sesuai standar.

ومن أصحابنا من قال: الوصية صحيحةٌ ويجب تنفيذها والتعيين إلى الوصي

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: wasiat tersebut sah dan wajib dilaksanakan, serta penetapannya diserahkan kepada wasi.

وهذا تمام مسائل الوصايا

Dan inilah akhir dari pembahasan masalah-masalah wasiat.

Kitab al-Wadi‘ah

قال الله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ  وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: علامة المنافق ثلاث: إذا قال كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان وقاعدة الوديعة متفق عليها وتردد فقهاؤنا في تسميته عقداً

Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanat.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanat ia berkhianat.” Kaidah tentang wadi‘ah telah disepakati, namun para fuqaha kita berbeda pendapat dalam menyebutnya sebagai akad.

وهذا الاختلاف سببه أن القبول ليس شرطاً من المودعَ وفاقاً وإنما اختلف الأصحاب في التوكيل بالعقود وما في معناها والأصح أنه لا يشترط القبول في الوكالة على أي وجهٍ فرضت وقد سبق تفصيل هذا في كتاب الوكالة وليس للاختلاف في أن الإيداع عقدٌ فائدة فقهية

Perbedaan ini disebabkan karena penerimaan (qabūl) bukanlah syarat dari pihak yang menerima titipan (mūda‘) menurut kesepakatan, hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam hal perwakilan (tawkil) dalam akad-akad dan hal-hal yang sejenis dengannya. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa penerimaan tidak disyaratkan dalam perwakilan dalam bentuk apa pun, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab Wakalah. Adapun perbedaan pendapat mengenai apakah penitipan (wadī‘ah) merupakan akad, tidak memiliki manfaat fiqh yang signifikan.

ثم الأمانة تثبت تبعاً لمقاصد في عقود وتثبت مقصودةً في الإيداع فأما حصولها تبعاً  فمثل ثبوت حكم الأمانة في الرهن والإجارة والقراض ورقاب الأشجار في المساقاة وكل ما يقبض مستحق المنفعة سبيلها ما ذكرناه

Kemudian, amanah dapat ditetapkan sebagai konsekuensi dari maqāṣid dalam akad-akad tertentu, dan dapat pula ditetapkan sebagai tujuan utama dalam akad wadiah. Adapun penetapannya sebagai konsekuensi, contohnya adalah penetapan hukum amanah dalam akad rahn, ijarah, qiradh, hak atas batang pohon dalam akad musāqah, dan setiap barang yang diterima oleh pihak yang berhak atas manfaatnya, maka hukumnya sebagaimana yang telah disebutkan.

ومعنى قول الفقهاء: الائتمان مقصود في الإيداع أن نفس الإيداع حكمٌ من المودِع بائتمان المودَع فإنه أحله محل من يؤتمن فكان مؤاخذاً بوضع الإيداع ومقتضى الائتمان وإلا فمقصود الإيداع حفظ الوديعة ولا حظ للمودَع من الوديعة أصلاً

Maksud perkataan para fuqaha: kepercayaan adalah tujuan dalam penitipan, yaitu bahwa tindakan penitipan itu sendiri merupakan penetapan dari pihak yang menitipkan untuk mempercayai pihak yang dititipi, karena ia menempatkannya pada posisi orang yang dipercaya. Maka, ia terikat dengan ketentuan penitipan dan konsekuensi kepercayaan tersebut. Adapun tujuan penitipan adalah menjaga titipan, dan pihak yang dititipi sama sekali tidak memiliki hak atas titipan tersebut.

ثم قال الشافعي رضي الله عنه: إذا أودع رجل وديعة فلم يثق بأحدٍ يجعلها عنده فسافر بها بحراً وبراً ضمن إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i ra. berkata: Jika seseorang menerima titipan, lalu ia tidak mempercayai siapa pun untuk menitipkannya, kemudian ia bepergian dengannya melalui laut dan darat, maka ia bertanggung jawab atas titipan tersebut hingga selesai.

مضمون هذا الفصل أن المودع إذا طرأت عليه حالة حملته على المسافرة أو أراد أن يسافر مختاراً من غير إرهاق واضطرار فماذا يصنع بالوديعة أيسافر بها أو يودعها قال الأئمة: إذا أراد المودع المسافرة وكان صاحب الوديعة حاضراً فيتعين عليه ردُّها كما سنصف معنى رد الوديعة إن شاء الله وإن لم يكن حاضراً وكان وكيله بقبض الودائع والحقوق حاضراً فانه يسلمه إليه ولا طريق غيره ولو لم يجد مالكَ الوديعة ولا وكيلاً من جهته فإن كان في الموضع حاكم راجعه وسلّم الوديعة إليه ثم الحاكم إن قبضها بنفسه فذاك وإلا أقام في حفظها موثوقاً به فينزل ذلك القائم منزلةَ الحاكم

Isi bab ini adalah bahwa apabila orang yang menerima titipan (mudi‘) mengalami keadaan yang mendorongnya untuk bepergian atau ia ingin bepergian secara sukarela tanpa paksaan dan keterpaksaan, maka apa yang harus dilakukan terhadap barang titipan tersebut? Apakah ia membawanya bepergian atau menitipkannya kepada orang lain? Para imam berkata: Jika orang yang menerima titipan ingin bepergian dan pemilik titipan hadir, maka wajib baginya mengembalikan titipan tersebut, sebagaimana akan kami jelaskan makna pengembalian titipan insya Allah. Jika pemilik titipan tidak hadir, namun wakilnya yang berwenang menerima titipan dan hak-hak hadir, maka ia menyerahkannya kepada wakil tersebut dan tidak ada jalan lain. Jika ia tidak menemukan pemilik titipan maupun wakilnya, maka jika di tempat itu ada hakim, ia menghadapinya dan menyerahkan titipan tersebut kepadanya. Kemudian, jika hakim menerimanya sendiri, maka itu sudah cukup. Jika tidak, hakim menunjuk seseorang yang terpercaya untuk menjaganya, dan orang yang ditunjuk itu kedudukannya seperti hakim.

ولو أراد أن يسافر بالوديعة أو يودعها عند إنسان مع القدرة على مراجعة الحاكم لم يكن له ذلك ولو فعل ضمن

Jika seseorang ingin bepergian dengan membawa barang titipan, atau menitipkannya kepada orang lain, padahal ia mampu untuk meminta izin kepada hakim, maka ia tidak diperbolehkan melakukan hal itu. Jika ia tetap melakukannya, maka ia bertanggung jawab atas barang titipan tersebut.

فأما إذا خلا المكان عن حاكم يراجَع ولم يكن في الموضع صاحب الوديعة ولا وكيله فلو أراد المودع أن يودع الوديعة عند أمينٍ فظاهر النص هاهنا أن له ذلك

Adapun jika suatu tempat tidak terdapat hakim yang dapat dimintai pendapat, dan di tempat itu tidak ada pemilik barang titipan maupun wakilnya, maka jika orang yang menerima titipan ingin menitipkan barang titipan tersebut kepada orang yang terpercaya, maka menurut zahir nash di sini, ia diperbolehkan melakukan hal itu.

وقال الشافعي في كتاب الرهون: العدل الذي عدّل الرهن عنده لو أراد سفراً فأودع ما عنده عند أمين ضمن وإنما قال ذلك في شغور المكان عن الحاكم فلم ير علماؤنا بين المسألتين فرقاً وجعلوا المسألتين على قولين: أحدهما أنه يضمن لأنه المودَع والمستحفظ والحفظ أمرٌ خاص وليس للمأمور في الشغل الخاص أن يقيم غيرَه مقام نفسه فإذا فعله كان مخالفاً لموجب الإيداع مجاوزاً لما يتضمنه أمر المالك

Imam Syafi’i berkata dalam Kitab ar-Ruhun: Seorang adil yang telah dititipi barang gadai, jika ia ingin bepergian lalu menitipkan barang yang ada padanya kepada orang yang dipercaya, maka ia bertanggung jawab (menanggung risiko). Ia mengatakan demikian dalam kondisi tempat tersebut kosong dari hakim. Para ulama kami tidak melihat adanya perbedaan antara kedua permasalahan tersebut, dan mereka menjadikan keduanya dalam dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia bertanggung jawab karena ia adalah orang yang dititipi dan dipercaya untuk menjaga, sedangkan penjagaan adalah urusan khusus. Tidak boleh bagi orang yang diperintah dalam urusan khusus untuk menggantikan dirinya dengan orang lain. Jika ia melakukannya, berarti ia telah menyelisihi konsekuensi dari penitipan dan melampaui apa yang menjadi ketentuan pemilik.

والقول الثاني أنه لا يضمن فإنا لو ضمناه وقد تمس الحاجة إلى المسافرة لكان ذلك ضربَ حجر عليه وفي هذا خرمُ أصل الإيداع فإن المودَع متبرع ولهذا صُدِّق فيما يدعيه من ممكنٍ من الرد والتلف إذ لو لم يصدَّق لما رغب في الحفظ متبرعٌ كذلك لو اقتضت الوديعة حجراً لجر ذلك امتناعَ الناس عن حفظ الودائع وحق ما يتفرع من الأصول أن يرد إليها ويجري على حسب أصولها

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak menanggung ganti rugi, karena jika kita mewajibkannya menanggung ganti rugi padahal terkadang ada kebutuhan untuk bepergian, maka hal itu sama saja dengan membatasi kebebasannya. Ini akan merusak prinsip dasar penitipan, sebab orang yang menerima titipan (muda‘) adalah seorang yang berbuat secara sukarela. Oleh karena itu, ia dipercaya atas apa yang ia klaim terkait kemungkinan pengembalian atau kerusakan barang titipan; sebab jika ia tidak dipercaya, maka tidak akan ada orang yang mau menjaga titipan secara sukarela. Demikian pula, jika penitipan menyebabkan pembatasan kebebasan, maka hal itu akan membuat orang enggan menjaga barang titipan. Sudah sepatutnya, segala cabang hukum dikembalikan kepada prinsip dasarnya dan berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah asalnya.

ومما يذكر أنه لو سافر بالوديعة حيث لا حاكم ولا مالك ولا وكيل فإن كانت الطرق مخوفة فلا شك في امتناع المسافرة بالوديعة فإن كانت الطرق آمنةً آهلة والمعنيُّ بالأمن فيها غلبة الظن في السلامة من غير قيام سبب من الخوف معلوم أو مظنون ومن حكم تصوير الأمن قيام أسبابه: من إيالة ضابطة ويدٍ من الوالي العدل بطَّاشة وترتب من الناس في الأطراف حتى لو لم يعلم بسبب الأمن فالمسافرة غرر وإن لم يكن سبب الخوف بهذا القدر لا بد من الإحاطة به في بيان معنى الأمن

Perlu disebutkan bahwa jika seseorang bepergian membawa titipan ke tempat yang tidak ada hakim, pemilik, atau wakil, maka jika jalan-jalan tersebut berbahaya, tidak diragukan lagi bahwa bepergian dengan titipan itu dilarang. Namun, jika jalan-jalan tersebut aman dan ramai—yang dimaksud dengan aman di sini adalah adanya dugaan kuat akan keselamatan tanpa adanya sebab yang jelas atau diduga menimbulkan rasa takut—dan di antara tanda-tanda adanya keamanan adalah adanya faktor-faktor pendukung seperti pemerintahan yang tertib, kekuasaan penguasa yang adil dan tegas, serta keberadaan masyarakat di sepanjang jalan. Maka, jika tidak diketahui adanya sebab keamanan, bepergian menjadi tindakan yang berisiko. Namun, jika sebab-sebab ketakutan tidak sampai pada tingkat tersebut, maka harus dipastikan terlebih dahulu dalam menjelaskan makna keamanan.

فإذا كانت الطريق آمنة على ما فسّرنا فالذي أطلقه الأصحاب منع المسافرة وحكَوْا فيه خلاف أبي حنيفة  وأقاموا المسألة خلافية وهذا ظاهر المذهب

Jika jalan tersebut aman sebagaimana telah kami jelaskan, maka pendapat yang dikemukakan oleh para ulama adalah melarang perempuan melakukan perjalanan (musāfarah), dan mereka menyebutkan adanya perbedaan pendapat dari Abū Ḥanīfah serta menjadikan masalah ini sebagai masalah khilafiyah, dan inilah pendapat yang tampak dalam mazhab.

وذكر صاحب التقريب وجهين: أحدهما ما ذكرناه وهو الذي صححه ورآه أصل المذهب

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat: yang pertama adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan inilah yang dianggap shahih serta dipandang sebagai dasar mazhab.

والوجه الثاني أن المسافرة بالوديعة جائزة وهذا الوجه يوافق مذهب أبي حنيفة ووجهه على بعده أن يده مستدامة والمسافرة مع الأمن بمثابة الإقامة والأموال المضنون بها كأموال الأطفال يسوغ المسافرة بها

Pendapat kedua adalah bahwa bepergian dengan membawa barang titipan (wadi‘ah) diperbolehkan, dan pendapat ini sesuai dengan mazhab Abu Hanifah. Alasannya, meskipun tampak jauh, adalah karena kepemilikan atas barang tersebut tetap berlanjut, dan bepergian dalam keadaan aman itu serupa dengan tinggal di tempat, serta harta yang dijaga dengan ketat seperti harta anak-anak diperbolehkan untuk dibawa bepergian.

فهذه مسائل أوردها الأصحاب في الطرق فجمعناها مرسلة ونحن الآن ننعطف عليها ونذكر رباطها والفقه المعتبر فيها

Inilah beberapa permasalahan yang dikemukakan oleh para ulama dalam pembahasan tentang thuruq, yang telah kami kumpulkan secara terpisah. Sekarang kami akan kembali membahasnya, menyebutkan kaitannya, serta fiqh yang dianggap penting di dalamnya.

فأما تعين مراجعة المالك ووكيله والحاكم فلا إشكال فيه إلا أن المودع إن سافر مضطراً أو محتاجاً فيتعين على الحاكم أن يقبل الوديعة منه إما بنفسه أو بإقامة صالح للحفظ

Adapun keharusan untuk mengembalikan barang titipan kepada pemilik, wakilnya, atau hakim, maka tidak ada keraguan di dalamnya. Namun, jika orang yang menitipkan bepergian karena terpaksa atau karena kebutuhan, maka wajib bagi hakim untuk menerima titipan itu darinya, baik secara langsung maupun dengan menunjuk orang yang layak untuk menjaga titipan tersebut.

فأما إذا كان سفرُ المودع عن اختيار من غير حاجة حاقّة ولا ضرورة مرهقة فإذا راجع الحاكم فإن أسعفه الحاكم فلا إشكال وهل يجب على الحاكم أن يسعفه

Adapun jika safar orang yang menerima titipan itu atas pilihannya sendiri tanpa ada kebutuhan yang mendesak atau keadaan darurat yang memaksa, maka apabila ia mengadukan perkara tersebut kepada hakim dan hakim membantunya, maka tidak ada masalah. Namun, apakah wajib bagi hakim untuk membantunya?

هذا مما اختلف فيه العلماء المتكلمون في أحكام الإيالات والشريعة بحاجة إليها وليس للفقهاء اعتناء بها فمنهم من قال: يجب على الحاكم ذلك على أصل وجوب الإعانة وهو من أقطاب الإيالة

Ini adalah salah satu hal yang diperselisihkan oleh para ulama yang membahas hukum-hukum pemerintahan, padahal syariat sangat membutuhkannya, namun para fuqaha tidak terlalu memperhatikannya. Di antara mereka ada yang berpendapat: hal itu wajib atas penguasa berdasarkan prinsip wajibnya saling membantu, dan ini termasuk pilar-pilar pemerintahan.

والثاني لا يجب ذلك إذ لا حاجة والقيام بمآرب الخلق غيرُ ممكن

Yang kedua, hal itu tidak wajib karena tidak ada kebutuhan, dan memenuhi keperluan manusia tidaklah mungkin.

ولا خلاف أن المودع لو أراد رفعَ اليد عن الوديعة وتسليمَها إلى الحاكم لم يجب على الحاكم قبولها منه مع استدامة الإقامة هذا القدر كافٍ ولا نتعداه فنقع في دقائق أحكام الإيالة

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika orang yang menerima titipan (mudi‘) ingin melepaskan tangannya dari barang titipan dan menyerahkannya kepada hakim, maka hakim tidak wajib menerimanya dari dia selama ia masih tetap tinggal (di tempat tersebut). Penjelasan sampai di sini sudah cukup dan kita tidak akan melampauinya agar tidak terjerumus ke dalam rincian hukum pemerintahan.

فأما ما ذكرناه عند شغور الناحية عن الحاكم من التردد في جواز الإيداع وجواز المسافرة ففي هذا المقام نظرٌ من وجوه: من أصحابنا من لم ير المسافرة أصلاً إذا لم يكن ضرورة وسأصف الضرورة في أثناء الفصل إن شاء الله

Adapun apa yang telah kami sebutkan mengenai keraguan dalam kebolehan menitipkan (barang) dan kebolehan bepergian ketika suatu wilayah kosong dari hakim, maka dalam hal ini terdapat beberapa sudut pandang: sebagian ulama kami berpendapat bahwa bepergian sama sekali tidak diperbolehkan kecuali jika ada kebutuhan mendesak, dan aku akan menjelaskan kebutuhan mendesak tersebut di tengah pembahasan ini, insya Allah.

فهؤلاء يقولون: في الإيداع قولان وعليهم تفصيلٌ لا بد منه فإن وقعت ضرورة أرهقت المودع إلى الخروج وقد منعناه من المسافرة بالوديعة فالذي أراه هاهنا القطعُ بأنه إذا أودع لم يضمن فإنا لو ضمّناه لصار الإيداع متضمناً عهدةً وهذا يخالف وضعَ الوديعة

Mereka ini berpendapat: dalam masalah penitipan (al-wadī‘ah) terdapat dua pendapat, dan mereka memiliki rincian yang harus diperhatikan. Jika terjadi keadaan darurat yang memaksa pihak yang dititipi untuk keluar, sementara kita telah melarangnya bepergian dengan barang titipan, maka menurut pendapat saya di sini, dapat dipastikan bahwa jika seseorang menitipkan barang, ia tidak menanggung ganti rugi. Sebab, jika kita membebankan tanggung jawab kepadanya, maka penitipan akan mengandung unsur tanggungan, dan ini bertentangan dengan hakikat al-wadī‘ah.

وبيان ذلك أن الأحوال المتقلبة قد تُفضي إلى الضرورات المزعجة الحاملة على الخروج فإن قلنا: لو أودع والحالةُ هذه يضمن فلا سبيل إلى المسافرة إذا كان يجر ذلك ما ذكرناه من إفضاء الإيداع في بعض الأحوال إلى ضمانٍ لا محالة وتحقيقه أن الضرورة المزعجة تسوّغ له الخروج إن لم توجبه فإن قلنا: يمتنع الإيداع والمسافرةُ بالوديعة ممتنعةٌ فهذا جمع النقيضين

Penjelasannya adalah bahwa keadaan-keadaan yang berubah-ubah bisa saja mengantarkan pada situasi darurat yang memaksa seseorang untuk bepergian. Jika kita mengatakan: apabila seseorang menitipkan barang dalam keadaan seperti ini maka ia menanggung risiko (dhamān), maka tidak ada jalan untuk bepergian jika hal itu menyebabkan apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa penitipan barang dalam sebagian keadaan pasti akan berujung pada tanggungan. Penjelasan lebih lanjutnya adalah bahwa keadaan darurat yang mendesak membolehkan seseorang untuk bepergian, meskipun tidak mewajibkannya. Jika kita mengatakan: penitipan barang tidak diperbolehkan dan bepergian dengan membawa titipan juga tidak diperbolehkan, maka ini berarti menggabungkan dua hal yang saling bertentangan.

وإن قلنا: يجوز له الإيداع على شرط الضمان كان هذا خروجاً عن وضع الوديعة بالكلية فإن وضع الوديعة على أن كل ما يسوغ لا يضمن

Dan jika kita mengatakan: boleh baginya menitipkan (barang) dengan syarat adanya tanggungan (jaminan), maka ini berarti keluar sepenuhnya dari ketentuan asal wadi‘ah, karena ketentuan wadi‘ah adalah bahwa setiap sesuatu yang dibolehkan, tidak ada tanggungan (jaminan) atasnya.

وإذا لم تكن ضرورة ففي هذا نظر دقيق في أنا نحرّم عليه الخروج لمكان الوديعة أم نقول: له الخروج ولا يسافر بالوديعة ويودع على شرط الضمان

Jika tidak ada kebutuhan mendesak, maka dalam hal ini terdapat kajian yang mendalam: apakah kita mengharamkan baginya untuk keluar karena adanya barang titipan, ataukah kita mengatakan: ia boleh keluar tetapi tidak boleh bepergian dengan barang titipan tersebut, dan ia menitipkannya dengan syarat adanya tanggungan (jaminan).

وهذا فيه احتمال عظيم فإنا إن حجرنا عليه لمكان الوديعة كان عظيماً وأدنى ما فيه امتناعُ الناس عن قبول الودائع وليس هذا هيناً في الوديعة فإنا بنيناها على مخالفة الأصول لتحقيق مقصودها فصدَّقنا المودع وهو في مقام المدَّعين وآية ذلك أنه يقيم البينة فتسمع ثم نقبل قوله ويحلف لو اتهم ولا يقال: هلا أشهدت على الرد الذي ادعيت وليس من الكلام الرضي أن يقول القائل في دفع هذا الإيداعُ هو الذي تضمَّن ذلك فإن المودع لم يضمن تصديق المودع في كل ما يقول بل فقه الباب مصلحة كلية وهي ما أشرنا إليه من سقوط حظ المودع في حفظ الوديعة وإذا سقط حظ الإنسان في شيء لم يرغب في التعرض لعهدته فلو تضمن الإيداع حجراً لكان هذا أدعى إلى امتناع الناس من قبول الوديعة هذا وجهٌ

Hal ini mengandung kemungkinan besar, sebab jika kita memberlakukan pembatasan terhadapnya karena alasan titipan (wadi‘ah), maka itu sangat berat. Paling ringan akibatnya adalah orang-orang akan enggan menerima titipan, dan ini bukan perkara sepele dalam masalah wadi‘ah. Sebab, kita telah membangun hukum wadi‘ah dengan menyelisihi kaidah-kaidah pokok demi mewujudkan tujuannya. Kita membenarkan ucapan orang yang dititipi (muwadda‘) padahal ia berada pada posisi orang yang mengklaim. Buktinya, ia boleh menghadirkan bukti dan didengarkan, lalu kita menerima pengakuannya dan ia bersumpah jika dituduh, dan tidak dikatakan kepadanya: “Mengapa kamu tidak menghadirkan saksi atas pengembalian yang kamu klaim?” Bukanlah ucapan yang baik jika seseorang berkata dalam menolak titipan: “Titipan itu sendiri sudah mengandung jaminan.” Sebab, orang yang dititipi tidak menjamin kebenaran semua ucapan orang yang menitipkan. Justru fiqh dalam bab ini adalah demi kemaslahatan umum, yaitu sebagaimana yang telah kami isyaratkan, bahwa hilangnya hak orang yang dititipi dalam menjaga titipan. Jika hak seseorang dalam suatu hal hilang, maka ia tidak akan berminat untuk menanggung risikonya. Jika titipan itu mengandung pembatasan, maka hal itu justru lebih mendorong orang-orang untuk menolak menerima titipan. Inilah penjelasannya.

وليس يمتنع أن يقال: الوديعة تقيّده كما يلزمه في الإيداع الحفظ إلى أن يجد ربَّها

Tidaklah mustahil untuk dikatakan: titipan itu membatasinya sebagaimana ia wajib menjaga titipan tersebut sampai ia menemukan pemiliknya.

هذا فن من النظر

Ini adalah salah satu cabang dari kajian.

ويجوز أن يقال: لا يتقيد ويودع ولكن هل يضمن عاقبة الأمر فيه القولان المذكوران

Boleh dikatakan: tidak dibatasi dan tidak dititipkan, namun apakah ia bertanggung jawab atas akibat akhirnya, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan.

وأما ما ذكرناه من المسافرة فإن منعناها فلا كلام ولكن إن جرت ضرورة لو لم نفرض معها المسافرة بالوديعة لضاعت  وذلك بأن يُقدَّر في البلد نهبٌ أو ينجلي أهلُه فالمسافرة بالوديعة سائغة هاهنا إذا كانت الطرق آمنة وسأصف تعليل ذلك في ضابطٍ أذكره في آخر الفصل إن شاء الله عز وجل

Adapun apa yang telah kami sebutkan mengenai bepergian, jika kami melarangnya maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun, jika terjadi suatu keadaan darurat di mana apabila kita tidak memperbolehkan bepergian dengan titipan (wadi‘ah) maka titipan itu akan hilang, seperti jika di suatu negeri terjadi penjarahan atau penduduknya mengungsi, maka bepergian dengan membawa titipan diperbolehkan dalam kondisi ini selama jalan-jalan aman. Saya akan menjelaskan alasannya dalam kaidah yang akan saya sebutkan di akhir bab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وإن لم نرجح المسافرة بالوديعة إلى حفظها وصونها عن الضياع فهي ممتنعة على هذه الطريقة

Dan jika kita tidak mengunggulkan membawa titipan (wadi‘ah) bepergian demi menjaga dan melindunginya dari kehilangan, maka hal itu tidak diperbolehkan dengan cara seperti ini.

فأما من جوز السفر ففيه تردّدٌ عندي في أنه هل يجوّز صاحب هذا المذهب الإيداع أم كيف السبيل فيه يجوز أن يقال: يمتنع الإيداع عنده فإن فيه رفع اليد عن الوديعة وإقامة يد المودعَ مقام يد المأمور بها وهذا تصرّفٌ يليق بالولاية لا يقتضيه الأمر الخاص في الشغل الخاص والمسافرة بالوديعة تُديم يده عليها والسفر من أطواره

Adapun orang yang membolehkan safar, maka menurut saya terdapat keraguan apakah penganut mazhab ini membolehkan penitipan (al-wadī‘ah) atau bagaimana caranya. Bisa jadi dikatakan: penitipan tidak diperbolehkan menurutnya, karena di dalamnya terdapat pelepasan tangan dari barang titipan dan penempatan tangan penerima titipan menggantikan tangan orang yang diperintahkan menjaganya. Ini adalah tindakan yang sesuai dengan kewenangan (wilāyah), bukan konsekuensi dari perintah khusus dalam urusan khusus. Adapun bepergian dengan barang titipan, maka hal itu tetap menjadikan tangannya berada di atas barang tersebut, dan safar hanyalah salah satu keadaannya.

ويجوز أن يقال: إنما يجوز المسافرة إذا لم يجد المودعَ أميناً يضع الوديعة عنده وهذا ظاهر كلام الصيدلاني في مجموعه فإنه قال: فإن لم يكن حاكم فحينئذ يودعها أميناً فإن لم يجد أميناً فله أن يسافر بها حينئذ ولا يضمن هذا لفظه ووجه ذلك أن السفر عُدَّ عذراً في باب الوديعة والإيداع عند الأمناء أوثق وأوفق لمقصود الأمانة من التعرض لغرر السفر

Boleh dikatakan: sesungguhnya safar (bepergian) hanya diperbolehkan jika si penerima titipan tidak menemukan seorang yang terpercaya untuk menitipkan barang titipan tersebut kepadanya. Hal ini tampak dari perkataan As-Saidalani dalam kitab himpunannya, yaitu: “Jika tidak ada hakim, maka saat itu ia menitipkannya kepada orang yang terpercaya. Jika tidak menemukan orang yang terpercaya, maka ia boleh bepergian dengan membawa barang titipan itu, dan ia tidak menanggung risiko (tidak wajib ganti rugi).” Demikianlah redaksinya. Alasannya adalah karena safar dianggap sebagai uzur dalam bab titipan (wadi‘ah), dan menitipkan kepada orang-orang terpercaya lebih kuat dan lebih sesuai dengan tujuan amanah daripada menghadapi risiko safar.

ثم قال العلماء: المنع من المسافرة فيما إذا لم يكن الإيداع في سفر فإن كان الإيداع في السفر فإن المودعَ يتمادى على وجهه في سفره ولا نقول: الوديعة تثبطه ولا نقول أيضاً : إذا انتهى إلى موضع يتأتى الإقامة فيه نُلزمه أن يقيم بل يتمادى إلى منتهى مقصوده ولا حجر ولا نقول إذا انتهى إلى مقصود سفره: نثبّطه عنده بل يؤوب إلى وطنه ولا يخفى على الفقيه هذا نعم إذا عاد إلى وطنه ثم أراد أن يسافر مرة أخرى فهل له المسافرة بالوديعة بعد هذا فيه احتمال ظاهر يجوز أن يقال: له ذلك فإن المودِع قنع به مسافراً فلا منافاة بين السفر وبين مقصود المودع

Kemudian para ulama berkata: larangan bepergian berlaku jika penitipan (barang) tidak terjadi dalam perjalanan. Namun, jika penitipan dilakukan saat dalam perjalanan, maka orang yang dititipi tetap melanjutkan perjalanannya dan kita tidak mengatakan bahwa titipan itu menghalanginya. Kita juga tidak mengatakan: jika ia sampai di suatu tempat yang memungkinkan untuk menetap, maka kita wajibkan ia untuk menetap, melainkan ia tetap melanjutkan perjalanan hingga mencapai tujuannya, dan tidak ada larangan baginya. Kita juga tidak mengatakan: jika ia telah sampai pada tujuan perjalanannya, maka kita tahan ia di sana, melainkan ia boleh kembali ke negerinya. Hal ini tidak samar bagi seorang faqih. Ya, jika ia telah kembali ke negerinya lalu ingin bepergian lagi, apakah ia boleh bepergian dengan membawa titipan tersebut setelah itu? Dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas: boleh jadi dikatakan bahwa ia boleh melakukannya, karena orang yang menitipkan telah rela ia bepergian, sehingga tidak ada pertentangan antara perjalanan dan maksud orang yang menitipkan.

ويجوز أن يقال: إنما قنع المودعُ بسفره لعلمه بأنه إلى القرار مصيره وليس في حاله ومقاله ما يتضمن الرضا بسفره أبداً

Boleh saja dikatakan: Sesungguhnya penerima titipan merasa cukup dengan kepergian orang yang menitipkan karena ia mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan kembali menetap, dan dalam keadaan serta ucapannya tidak terdapat sesuatu yang menunjukkan kerelaan atas kepergiannya untuk selamanya.

فهذا ما أردنا أن نذكره في تتبع المسائل التي أطلقناها وتنزيلها على حقائقها

Inilah yang ingin kami sampaikan dalam menelusuri permasalahan-permasalahan yang telah kami kemukakan dan menerapkannya pada realitasnya.

فصل

Bab

ونحن نذكر الآن فصلاً عليه التعويل فنقول : الأوامر وإن كانت مطلقة فإذا قيدتها الأحوال ومجاري العرف تقيدت بها وعلى هذا بنينا بطلان بيع الوكيل المطلق بما عزَّ وهان وهذا أصلٌ قد عرفه من ينتهي نظره إلى هذا المحل من هذا الكتاب  فإذا أودع رجل وجوّز للمودَع المسافرة فهذا كلام مقيد وإن أطلق قلنا: تمنع المسافرة على الرأي الأصح من جهة التغرير إذ لو صح هذا لامتنعت المسافرة بأموال اليتامى ولكن قرينة الحال تقتضي تثبيت الوديعة في محل الإيداع فإن الغالب أن الإنسان يودع ويسافر بنفسه فكأن الإيداع يقترن به من العرف ما يقتضي منعَ المسافرة به ولهذا خلّفه المودِع وسافر فالمتبع العرف إذاً

Sekarang kami akan menyebutkan satu pembahasan yang menjadi sandaran utama, yaitu: perintah-perintah meskipun bersifat mutlak, jika dibatasi oleh keadaan dan kebiasaan yang berlaku, maka ia pun menjadi terbatas olehnya. Atas dasar inilah kami membangun pendapat tentang batalnya jual beli oleh wakil yang diberi kuasa secara mutlak terhadap barang yang langka maupun yang murah. Ini adalah prinsip yang telah diketahui oleh siapa saja yang telah sampai penelitiannya pada bagian ini dari kitab ini. Jika seseorang menitipkan barang dan mengizinkan penerima titipan untuk bepergian, maka ini adalah pernyataan yang bersifat terbatas. Namun jika ia mengucapkan secara mutlak, kami katakan: bepergian dilarang menurut pendapat yang lebih kuat karena mengandung unsur risiko. Sebab, jika hal ini dibenarkan, maka bepergian dengan membawa harta anak yatim pun akan dilarang. Namun, indikasi keadaan menuntut agar titipan tetap berada di tempat penitipan, karena umumnya seseorang menitipkan barang ketika ia sendiri akan bepergian. Seolah-olah penitipan itu disertai kebiasaan yang menuntut larangan bepergian dengan barang titipan tersebut. Oleh karena itu, sang penitip meninggalkan barangnya dan bepergian. Maka yang menjadi pegangan adalah kebiasaan (‘urf).

فأما الإيداع عند أمين فليس يضيق العرف عن احتمال ضيعة المسافرة فإن المودِع قد يقدّر مسيس حاجة المودَع إلى المسافرة ثم يبغي منه أن يحتاط في الوديعة جهده فهذا ما لا بد من مراعاته ومن لم يمزِج العرف في المعاملات بفقهها  لم يكن على حظ كامل فيها

Adapun penitipan barang kepada orang yang terpercaya, maka kebiasaan tidak membatasi kemungkinan barang titipan itu dibawa bepergian, karena pihak yang menitipkan mungkin memperkirakan adanya kebutuhan mendesak pihak yang dititipi untuk bepergian, kemudian ia mengharapkan agar pihak yang dititipi berhati-hati terhadap barang titipan tersebut semampunya. Inilah hal yang harus diperhatikan, dan siapa yang tidak memadukan kebiasaan dalam muamalah dengan fiqhnya, maka ia tidak akan memperoleh pemahaman yang sempurna di dalamnya.

وقد نجز مقصود الفصل

Tujuan pembahasan ini telah selesai.

ونحن نلحق به مسائل خرجت عن يد الضبط تتمةً للغرض

Kami juga memasukkan ke dalamnya permasalahan-permasalahan yang telah keluar dari batas penguasaan sebagai pelengkap tujuan.

منها أن المودَع إذا أراد أن يدفن الوديعة وُيغَيِّب نُظر: فإن دفنها في مضيعة فلا شك في الضمان بالخروج عن مقتضى الائتمان

Di antaranya adalah bahwa jika orang yang menerima titipan ingin mengubur barang titipan dan menyembunyikannya, maka perlu dilihat: jika ia menguburnya di tempat yang rawan hilang, maka tidak diragukan lagi ia wajib menanggung kerugian karena telah keluar dari ketentuan amanah.

وإن دفنها في موضع حريز قال الأصحاب: إن لم يُطلع على مدفنها أحداً صار ضامناً وهذا يستقيم على الأصل فإن كل مال يفرض محرزاً فحقيقة الحرز فيه تستدعي مراقبةً من عين كالئةٍ على ما سنذكر تقدير ذلك في صفات الأحراز من كتاب السرقة إن شاء الله تعالى

Dan jika ia menguburkannya di tempat yang aman, para ulama mengatakan: Jika ia tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang tempat penguburannya, maka ia menjadi penanggung. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar, karena setiap harta yang dianggap aman, hakikat keamanannya menuntut adanya pengawasan dari mata yang selalu menjaga, sebagaimana akan kami jelaskan takarannya dalam sifat-sifat tempat penyimpanan pada Kitab Pencurian, insya Allah Ta‘ala.

ثم قال الأصحاب: إن أطلع عليه أميناً وأعلم بمكانها جاز ذلك

Kemudian para ulama mazhab berkata: Jika seseorang memberitahukan tempatnya kepada seorang yang dipercaya dan menunjukkan lokasinya, maka hal itu diperbolehkan.

وهذا فيه فضل نظر على المتأمل  فإن بعض الأئمة أطلق الإطلاع مع كون الموضع حريزاً وشرط إطلاع أمينٍ على المدفن المحرز وقال أئمة العراق: لا يكفي إطلاع أمين حتى يكون المدفن تحت يد ذلك الأمين وهذا الذي قالوه حسن متجه ولست أرى في ذلك خلافاً بين الطرق والإطلاع الذي ذكره عن العراقيين محمول على ما ذكره العراقيون ولكنهم بيّنوه وفصّلوه والذي يوضح ذلك أن موضع الإطلاع إذا لم يكن تحت يد المُطْلَع فلا يكون محفوظاً برعايته حتى لو فرض الدفن في دار وفيها سكان والمطلَع لا يداخلهم فلا أثر لإطلاعه في الحفظ المقصود وإن كانت الدار خالية والمطلَع لا يدخلها ولكنه يرعاها من فوق رعاية الحارس أو من الجوانب فلا يكاد يصل إلى الغرض وإن أحاطت بالدار حياطتُه وعمها من الجوانب رعايتُه فهذه هي اليد التي تليق بالوديعة وهي التي عناها العراقيون ويكون المدفن الآن في حكم بيت مرعيٍّ من جوانبه على العادة في مثله والبيت مغلقٌ فهذا ما يجب الاتفاق عليه

Hal ini menunjukkan keutamaan bagi yang memperhatikannya. Sebab, sebagian imam membolehkan adanya pengawasan meskipun tempat tersebut terlindungi, dan mensyaratkan adanya pengawasan oleh seorang yang terpercaya terhadap kuburan yang terjaga. Para imam Irak berkata: tidak cukup hanya pengawasan seorang yang terpercaya sampai kuburan itu berada di bawah pengawasan langsung orang terpercaya tersebut. Apa yang mereka katakan itu baik dan tepat, dan saya tidak melihat adanya perbedaan pendapat dalam hal ini di antara para ulama. Pengawasan yang disebutkan dari kalangan ulama Irak dimaknai sebagaimana yang mereka jelaskan dan rinci. Penjelasannya, bahwa tempat yang diawasi jika tidak berada di bawah kendali langsung orang yang mengawasi, maka tidak dianggap terjaga dengan pengawasannya. Seandainya kuburan itu berada di dalam rumah yang berpenghuni, namun pengawas tidak berinteraksi dengan mereka, maka pengawasannya tidak berpengaruh terhadap penjagaan yang dimaksud. Jika rumah itu kosong dan pengawas tidak memasukinya, tetapi mengawasinya dari atas seperti penjaga atau dari sisi-sisinya, maka hampir tidak tercapai tujuan penjagaan. Jika pengawasannya meliputi seluruh sisi rumah dan dia menjaga dari segala sisi, maka inilah bentuk pengawasan yang layak terhadap titipan, dan inilah yang dimaksud oleh para ulama Irak. Dengan demikian, kuburan itu sekarang dianggap seperti rumah yang dijaga dari segala sisinya sebagaimana kebiasaan dalam hal semacam ini, dan rumah itu tertutup. Inilah yang seharusnya menjadi kesepakatan.

ثم يبتني على ذلك أن التعويل على يد هذا المُطلَع لا على الدفن وإذا كان على هذا الوجه فقد غاب المودعَ واستودع أميناً فيلتحق بالتفصيل المقدم في أن المودعَ هل يودع وقد مضى الخلاف فيه وتنزيله على الترتيب الواضح الحق

Kemudian, berdasarkan hal itu, penekanan diberikan pada tangan orang yang mengetahui ini, bukan pada penguburan. Jika keadaannya seperti ini, maka barang titipan telah hilang dari pandangan pemiliknya dan dititipkan kepada seorang yang dipercaya, sehingga hal ini mengikuti rincian yang telah disebutkan sebelumnya tentang apakah pemilik barang boleh menitipkan barangnya, dan telah disebutkan perbedaan pendapat dalam hal ini serta penjelasannya menurut urutan yang jelas dan benar.

وفي كلام صاحب التقريب ما يدل على أن تقرير الوديعة في موضعها وتفويض الرعاية إلى أمينٍ أوْلى أن ينتفي الضمان فيه من نقل الوديعة بالكلية إلى يد مودعَ ولم ينكر تخريجَ الخلاف مع ما ذكره من الترجيح وهذا الذي أشار إليه لست أرى له وقعاً في اقتضاء الترتيب فإن التعويل على يد هذا المطلَع لا غير وقد تبدلت اليد فلا أثر لاتحاد مكان الوديعة

Dalam pernyataan penulis kitab at-Taqrīb terdapat indikasi bahwa menetapkan barang titipan (wadi‘ah) di tempatnya dan menyerahkan penjagaannya kepada orang yang terpercaya lebih utama untuk meniadakan tanggungan (dhamān) dibandingkan memindahkan barang titipan sepenuhnya ke tangan orang yang dititipi baru. Namun, ia tidak mengingkari adanya perbedaan pendapat (ikhtilāf) sebagaimana yang ia sebutkan tentang pendapat yang lebih kuat. Adapun isyarat yang ia tunjukkan itu, menurut pendapat saya, tidak memiliki pengaruh dalam penetapan urutan hukum, karena yang menjadi sandaran adalah tangan (kekuasaan) orang yang mengetahui keadaan barang titipan tersebut, tidak yang lain. Jika tangan (kekuasaan) telah berganti, maka tidak ada pengaruh bagi kesamaan tempat barang titipan.

هذا منتهى البيان في ذلك

Inilah akhir dari penjelasan dalam hal ini.

ومما يتصل بهذا الفصل أن صاحب التقريب قال: إذا أودع رجلٌ وديعةً عند إنسان في قريةٍ خربة ثم بدا للمودَع أن ينتقل منها إلى قرية حصينة آهلة فإن لم يكن بين القريتين من المسافة إلا ما يقع بين محِلّتين للبلد والأمن مطّرد فلا بأس بالانتقال بالوديعة والحالة هذه فأما إذا كان بين القريتين مسافة تزيد على الحد الذي ذكرناه وكانت القرية الخربة موضعَ حفظٍ على حالٍ ولكن القرية التي إليها الانتقال أحرز وأحصن فإن كانت المسافة بين القريتين مسافةَ القصر فصاعداً فالانتقال بالوديعة مسافرةٌ بها وقد استقصينا القولَ في المسافرة بالوديعة مع إمكان الإقامة

Terkait dengan bab ini, penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang menitipkan barang titipan kepada seseorang di sebuah desa yang sepi, lalu orang yang dititipi itu berniat pindah ke desa lain yang lebih aman dan ramai, maka jika jarak antara kedua desa itu tidak lebih jauh dari jarak antara dua tempat di dalam satu kota dan keamanannya tetap terjaga, tidak mengapa memindahkan barang titipan tersebut dalam keadaan seperti ini. Namun, jika jarak antara kedua desa melebihi batas yang telah disebutkan, dan desa yang sepi itu sebenarnya sudah cukup aman, tetapi desa tujuan lebih aman dan lebih terjaga, maka jika jarak antara kedua desa itu sudah mencapai jarak safar atau lebih, maka memindahkan barang titipan itu berarti melakukan perjalanan dengannya. Kami telah membahas secara rinci hukum bepergian dengan barang titipan padahal masih memungkinkan untuk tetap tinggal.

وإن كانت المسافة قاصرة عن مسافة القصر فإن جوّزنا الانتقال والمسافة مسافة القصر فلا شك في جوازها إذا قصرت المسافة وإن منعنا المسافرة عند بعد المسافة قال: ففي الصورة التي تقرب المسافة فيها وجهان

Jika jarak perjalanan kurang dari jarak safar (yang membolehkan qashar), maka jika kita membolehkan bepergian ketika jaraknya adalah jarak safar, tentu tidak diragukan lagi kebolehannya jika jaraknya lebih pendek. Namun, jika kita melarang bepergian ketika jaraknya jauh, maka dalam kasus ketika jaraknya lebih dekat terdapat dua pendapat.

ومقصود صاحب التقريب يتضح بذكر مراتب: فالمسافرة مع بعد المسافة وإمكان الإقامة على وجهين والمسافرة مع قرب المسافة واستواء قرية الإيداع والقرية التي إليها الانتقال على وجهين مرتبين على الصورة الأولى وإن قصرت المسافة وكانت قرية الإيداع خربة والقرية التي إليها الانتقال حصينة ففي المسألة وجهان وهذه الصورة أولى بالجواز من التي تليها وهي مع تصوير الخراب في قرية الإيداع مفروضة فيه إذا كان الحفظ في القرية الخربة ممكناً ولا يعد تقرير الوديعة فيها تضييعاً

Tujuan penulis kitab at-Taqrīb menjadi jelas dengan menyebutkan beberapa tingkatan: bepergian dengan jarak yang jauh dan kemungkinan untuk menetap ada dua keadaan; bepergian dengan jarak yang dekat serta kesetaraan antara desa tempat penitipan dan desa tujuan juga ada dua keadaan yang mengikuti gambaran pertama. Jika jaraknya pendek dan desa tempat penitipan dalam keadaan rusak sementara desa tujuan dalam keadaan kokoh, maka dalam masalah ini ada dua pendapat. Gambaran ini lebih utama untuk dibolehkan dibandingkan dengan gambaran setelahnya, yaitu jika kerusakan pada desa tempat penitipan memang terjadi, dengan syarat penjagaan di desa yang rusak tersebut masih memungkinkan dan penitipan barang di sana tidak dianggap sebagai bentuk penyia-nyiaan.

هذا منتهى المراد في ذلك

Inilah batas akhir yang dimaksud dalam hal itu.

فصل

Bab

قال: وإن تعدّى في الوديعة ثم ردها إلى مكانها إلى آخره

Dia berkata: Dan jika seseorang melampaui batas dalam menjaga titipan (wadi‘ah), kemudian ia mengembalikannya ke tempatnya semula, dan seterusnya.

مضمون هذا الفصل بيان ما يصير به المودعَ ضامناً وقد مهدنا ثبوت الأمانة في حق المودَع مقصودة ونحن نوضح الآن ما يُخرجه عن الائتمان ويثبت عليه الضمان فنقول: الأسباب المضمّنة في الوديعة شتَّى: منها التضييع فإذا وُجد من المودَع ما يعد تضييعاً وتركاً للاحتياط المعتاد في الحفظ فإنه يصير ضامناً ولا حاجة إلى تفصيل التضييع فإن فيما ذكرناه وسنذكره من وجوب رعاية جهات الحفظ ما يوضح أن ما يخالفها يكون مضيعاً هذا وجهٌ في اقتضاء الضمان

Isi bab ini adalah penjelasan tentang hal-hal yang menyebabkan pihak yang menerima titipan (muwadda‘) menjadi penanggung (dhamin). Sebelumnya telah kami jelaskan bahwa amanah telah tetap pada pihak yang menerima titipan sebagai tujuan utama, dan sekarang kami akan menjelaskan hal-hal yang mengeluarkannya dari status kepercayaan dan menetapkan kewajiban tanggungan atasnya. Kami katakan: sebab-sebab yang mewajibkan tanggungan dalam perkara titipan itu bermacam-macam; di antaranya adalah tindakan menyia-nyiakan. Jika dari pihak yang menerima titipan terdapat sesuatu yang dianggap sebagai penyia-nyiaan dan meninggalkan kehati-hatian yang lazim dalam menjaga titipan, maka ia menjadi penanggung. Tidak perlu merinci bentuk-bentuk penyia-nyiaan, karena apa yang telah kami sebutkan dan akan kami sebutkan tentang kewajiban menjaga aspek-aspek pemeliharaan sudah cukup menjelaskan bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengannya dianggap sebagai penyia-nyiaan. Inilah salah satu sisi yang menyebabkan timbulnya kewajiban tanggungan.

والوجه الثاني الانتفاع بالوديعة فإذا كانت الوديعة ثوباً فلبسه أو دابة فركبها من غير حاجةٍ ماسة في الحفظ إلى الركوب ضمنها فإنه في حالة انتفاعه يتعدّى ويده يد عدوان ولو كان ينتفع بالإذن فيضمن لكونه مستعيراً فما الظن بما إذا انفرد بالانتفاع

Adapun bentuk kedua adalah memanfaatkan barang titipan. Jika barang titipan itu berupa pakaian lalu ia memakainya, atau berupa hewan tunggangan lalu ia menungganginya tanpa ada kebutuhan mendesak dalam menjaga yang mengharuskannya menunggangi, maka ia wajib menggantinya. Sebab, dalam keadaan ia memanfaatkannya, ia telah melampaui batas dan tangannya menjadi tangan pelaku pelanggaran. Bahkan jika ia memanfaatkannya dengan izin, ia tetap wajib mengganti karena statusnya menjadi seperti peminjam. Maka bagaimana lagi jika ia memanfaatkannya sendirian tanpa izin?

ومن الوجوه المقتضية للضمان مخالفة المودَع في أمره وهذا أصلٌ يجب الاعتناء بفهمه فقد ثبت على الجملة أن المخالفة إذا تحققت كانت مقتضيةً للضمان وهذه الجملة تستدعي تفصيلاً

Di antara sebab yang mewajibkan adanya tanggungan (dhamān) adalah pelanggaran yang dilakukan oleh orang yang menerima titipan (muwadda‘) terhadap perintahnya. Ini adalah prinsip yang harus diperhatikan pemahamannya, karena telah tetap secara umum bahwa apabila pelanggaran benar-benar terjadi, maka hal itu mewajibkan adanya tanggungan (dhamān). Pernyataan umum ini memerlukan penjelasan secara rinci.

فنقول: إذا قال مالك الوديعة للأمين: احفظ هذه الوديعة في هذا البيت تعيّن موضعَ الحفظ و إن لم يصرح بالنهي عن النقل عنه فلو نقل المودَع الوديعة إلى بيت مساوٍ للبيت المعيّن في الإحراز أو إلى بيت أحرز من المعين فهذا النقل غيرُ ممتنع ولا يخفى أن النقل من بيت إلى بيت ومن دارٍ إلى دار ومن محِلّة إلى محِلة وكل ذلك في بلدة واحدة لا امتناع فيه وليس ينزل منزلة المسافرة بالوديعة هذا متفق عليه

Maka kami katakan: Jika pemilik barang titipan berkata kepada orang yang diberi amanah, “Jagalah titipan ini di rumah ini,” maka tempat penyimpanan telah ditentukan, meskipun tidak secara tegas melarang pemindahan dari tempat tersebut. Jika orang yang diberi amanah memindahkan titipan itu ke rumah lain yang setara dengan rumah yang telah ditentukan dalam hal keamanan, atau ke rumah yang lebih aman dari yang telah ditentukan, maka pemindahan tersebut tidak terlarang. Tidak samar lagi bahwa pemindahan dari satu rumah ke rumah lain, dari satu tempat ke tempat lain, dan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, selama semuanya masih dalam satu kota, tidak ada larangan di dalamnya, dan hal itu tidak dianggap seperti bepergian dengan barang titipan. Ini adalah kesepakatan para ulama.

والذي زدناه أن التعيين لا يؤثر في المنع منه إذا كان على الصورة التي وصفناها فإنّ قول المالك: احفظ هذه الوديعة في هذا البيت غيرُ محمولٍ على الحجر على الأمين  وإنما يحمل على الأمر بصَوْن الوديعة في هذا البيت أو فيما يحل محله في الإحراز وإذا لم ينتقض غرض المالك في الإحراز فلا أرب له في أعيان البيوت

Tambahan yang kami sampaikan adalah bahwa penentuan tempat tidak berpengaruh dalam larangan jika keadaannya seperti yang telah kami jelaskan. Sebab, ucapan pemilik: “Simpanlah titipan ini di rumah ini,” tidak dapat dipahami sebagai pembatasan terhadap orang yang dipercaya, melainkan dipahami sebagai perintah untuk menjaga titipan itu di rumah ini atau di tempat lain yang setara dalam hal keamanan. Jika tujuan pemilik dalam menjaga keamanan tidak batal, maka ia tidak memiliki kepentingan khusus terhadap rumah tertentu.

وإن نقل المودَع الوديعةَ إلى بيت خرب في نفسه كان يجوز للمودَع حفظ الوديعة فيه لو كان الإيداع مطلقاً ولكنه كان دون البيت المعيّن في الإحراز فالنقل ممتنع على هذا الوجه فإن فيه مخالفة لغرض المودع في الإحراز والمخالفة على هذا الوجه تؤثر في اقتضاء الضمان

Jika penerima titipan memindahkan barang titipan ke rumah yang secara zatnya rusak, padahal sebenarnya penerima titipan boleh menyimpan barang titipan di sana jika penitipan dilakukan secara mutlak, namun tempat itu lebih rendah tingkat keamanannya dibandingkan rumah yang telah ditentukan, maka pemindahan seperti ini tidak diperbolehkan. Sebab, di dalamnya terdapat penyimpangan dari tujuan penitip dalam hal penjagaan, dan penyimpangan seperti ini berpengaruh terhadap tuntutan jaminan.

هذا إذا أمره بحفظ الوديعة في بيت ذكره ولم ينهه عن نقلها منه إلى غيره فأما إذا قال: احفظ الوديعة في هذا البيت أو في هذه الدار أو في هذه المحلة ولا تنقلها إلى موضع آخر فإذا عين ونص على النهي عن النقل فنقل المودعَ لم يخلُ إما أن يلجئه إلى النقل ضرورة أو لم يكن ضرورة فإن ظهرت ضرورة تقتضي النقل مثل أن يظهر في المحل المعيّن حريق أو غيره من الآفات فإذا نقل والصورة هذه لم يضمن أصلاً

Ini berlaku jika ia memerintahkannya untuk menjaga titipan di rumah yang disebutkan dan tidak melarangnya memindahkan titipan itu ke tempat lain. Adapun jika ia berkata: “Jagalah titipan di rumah ini, atau di tempat ini, atau di lingkungan ini, dan jangan pindahkan ke tempat lain,” maka jika ia menentukan dan menegaskan larangan untuk memindahkan, lalu si penerima titipan memindahkannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia terpaksa memindahkannya karena darurat, atau tidak ada keadaan darurat. Jika ternyata ada keadaan darurat yang mengharuskan pemindahan, seperti munculnya kebakaran atau bencana lain di tempat yang telah ditentukan, maka jika ia memindahkannya dalam kondisi seperti ini, ia sama sekali tidak menanggung tanggung jawab.

وزاد العراقيون في صورة الضرورة تفصيلاً فقالوا: لو ترك الوديعة في البيت المعين ولم ينقلها مع القدرة على النقل حتى تلفت فهل يضمنها فعلى وجهين ذكروهما: أحدهما أنه يضمن لأنه عرضها للتلف

Orang-orang Irak menambahkan rincian dalam kasus darurat dengan mengatakan: Jika seseorang meninggalkan barang titipan di rumah yang telah ditentukan dan tidak memindahkannya padahal ia mampu memindahkannya hingga barang tersebut rusak, maka apakah ia bertanggung jawab atas kerusakannya? Dalam hal ini mereka menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia bertanggung jawab karena ia telah membiarkan barang tersebut dalam keadaan yang rawan rusak.

والثاني لا يضمن فإنه راعى فيه إذْن المودع وقد نهاه عن النقل صريحاً

Yang kedua tidak wajib menanggung ganti rugi, karena ia telah memperhatikan izin dari pemilik titipan, dan pemilik titipan telah melarangnya secara tegas untuk memindahkan titipan tersebut.

ولو قال: لا تنقلها وإن خفت عليها أو أيقنت بتلفها فلو تركها لم يضمنها وفاقاً ولو نقلها والحالة هذه قالوا: لا يضمن أيضاً وإن خالف صريح قوله فإن قوله إنما يراعى فيما فيه تحفظ وإحاطة فأما ما يخالف ذلك فقوله فيه ساقط الأثر

Dan jika ia berkata: “Jangan pindahkan barang itu, meskipun kamu khawatir atasnya atau yakin barang itu akan rusak,” maka jika ia meninggalkannya, ia tidak menanggung ganti rugi, sesuai kesepakatan. Dan jika ia memindahkannya dalam keadaan seperti ini, para ulama mengatakan: ia juga tidak menanggung ganti rugi, meskipun bertentangan dengan pernyataan tegas pemilik. Sebab, pernyataan pemilik hanya diperhatikan dalam hal yang mengandung penjagaan dan kehati-hatian. Adapun dalam hal yang bertentangan dengan itu, maka pernyataannya tidak memiliki pengaruh.

وهذا الذي ذكروه آخراً محتمل

Dan apa yang mereka sebutkan terakhir ini masih memungkinkan.

ويظهر عندنا مع التصريح بالنهي عن النقل عند خوف التلف وجوب الضمان على الناقل وسنبين بعد عدّ المسائل ما يوضح فقهها ويربط نظامها وإذ ذاك نعود إلى هذا التردد إن شاء الله

Tampak bagi kami bahwa dengan adanya pernyataan larangan memindahkan barang ketika dikhawatirkan akan rusak, maka wajib bagi pihak yang memindahkan untuk menanggung ganti rugi. Kami akan menjelaskan setelah menyebutkan permasalahan-permasalahan yang ada, penjelasan tentang fiqh-nya dan kaitan sistematikanya, dan setelah itu kami akan kembali pada keraguan ini, insya Allah.

هذا كله إذا عين ونهى عن النقل وطرأت ضرورةٌ تقتضي النقلَ فأما إذا لم تكن ضرورة في النقل والمسألة مفروضة فيه إذا عين موضعَ الحفظ ونهى عن النقل عنه فإذا نقل فلا يخلو إما أن ينقلها إلى بيتٍ دون البيت المعين في الإحراز فإن كان كذلك ضمن فإنّ تجرُّد التعيين من غير نهي عن النقل يوجب الضمان في هذه الصورة فلا يخفى ثبوت الضمان مع النهي عن النقل

Semua ini berlaku jika tempat penyimpanan telah ditentukan dan dilarang untuk memindahkan, kemudian muncul suatu kebutuhan mendesak yang mengharuskan pemindahan. Adapun jika tidak ada kebutuhan mendesak untuk memindahkan, dan permasalahan ini diasumsikan terjadi ketika tempat penyimpanan telah ditentukan dan dilarang untuk memindahkan darinya, maka jika barang tersebut dipindahkan, tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi dipindahkan ke rumah lain selain rumah yang telah ditentukan untuk penyimpanan. Jika demikian, maka ia wajib mengganti (menanggung kerugian), karena penetapan tempat secara khusus tanpa larangan memindahkan saja sudah mewajibkan adanya tanggungan dalam kasus ini, maka tidak diragukan lagi kewajiban menanggung kerugian jika disertai larangan memindahkan.

وإن نقلها الأمين إلى بيت مثلِ البيت المعين أو إلى بيت أحرزَ منه فقد ذكر صاحب التقريب والعراقيون وجهين: أحدهما أنه يضمن  لأنه خالف صريحَ قول المودِع من غير ضرورة

Jika orang yang dipercaya memindahkan titipan ke rumah yang setara dengan rumah yang telah ditentukan, atau ke rumah yang lebih aman darinya, maka menurut penjelasan penulis kitab at-Taqrīb dan para ulama Irak terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia wajib menanggung ganti rugi karena ia telah menyelisihi pernyataan tegas dari pihak yang menitipkan tanpa adanya kebutuhan mendesak.

والثاني لا يضمن أصلاً كما لو كان اقتصر المالك على تعيين البيت ولم ينه عن النقل فالنقل لا يُضمِّن في هذه الصورة وإن كان فحوى التعيين وموجبه من طريق اللفظ ينبىء عن ترك النقل فليكن الحكم كذلك مع التصريح بالنهي عن النقل

Yang kedua, tidak ada tanggungan sama sekali, seperti jika pemilik hanya membatasi pada penunjukan rumah dan tidak melarang pemindahan, maka pemindahan dalam kasus ini tidak menimbulkan tanggungan. Meskipun makna penunjukan dan implikasinya dari sisi lafaz menunjukkan larangan pemindahan, maka hendaknya hukumnya tetap demikian meskipun ada pernyataan tegas melarang pemindahan.

وفي كلام صاحب التقريب ما يدل على وجه ثالث وهو أنه إن نقل إلى مثله ضمن فإنه لم يزد احتياطاً وخالف وإن نقل إلى أحرز منه لم يضمن وتصير زيادة الحرز مقابلة للمخالفة

Dalam penjelasan penulis kitab at-Taqrīb terdapat isyarat pada pendapat ketiga, yaitu apabila dipindahkan ke tempat yang sejenis dengannya, maka ia wajib menanggung (tanggung jawab), karena ia tidak menambah kehati-hatian, namun tetap melakukan pelanggaran. Namun jika dipindahkan ke tempat yang lebih aman darinya, maka ia tidak wajib menanggung, dan tambahan keamanan tersebut menjadi penyeimbang bagi pelanggaran yang dilakukan.

فهذا ذكر المسائل في هذا المقصود وتحقيق المعنى يستدعي اطلاعاً على معنيين: أحدهما الاعتناء بفهم العرف وليعلم الناظر أن كل حكم يُتلقَّى من لفظٍ في تعامل الخلق وللناس في ذلك القبيل من التعامل عُرفٌ فلن يحيط بسرّ ذلك الحكم من لم يحط بمجاري العرف فإن الألفاظ المطلقة في كل صنف من المعاملة محمولة من أهلها على العرف فيها فإذاً إذا قال: احفظ الوديعة في هذا البيت ولا تنقله منه فالعرف يقتضي حملَ هذا القول من المالك على تعيين مقدار الإحراز بالبيت المعيّن فإن فرضت ضرورة فهي خارجة عرفاً عن موجب القول فإن العاقل لا يحتكم على المستحفَظ المتبرع بما يؤدي إلى إتلاف ملكه فهذه التقييدات لا يفهم منها في الإيداع تعريض الوديعة للتلف وكذلك لو كانت الضرورة في نفس المؤتمن فلا يفهم أرباب العقول من قول المالك التماسه من المودعَ تعريض نفسه للهلاك أو ما في معناه لمكان وديعته  فقد خرجت الضرورة الراجعة إلى الوديعة والضرورة الراجعة إلى المودَع عن حكم التقييد والتعيين ولا يتمارى في هذا ذُو لُبٍّ

Berikut adalah penyebutan masalah-masalah dalam maksud ini, dan penjelasan maknanya memerlukan pemahaman terhadap dua hal: yang pertama adalah perhatian dalam memahami ‘urf. Hendaknya orang yang menelaah mengetahui bahwa setiap hukum yang diambil dari suatu lafaz dalam interaksi manusia, dan manusia dalam jenis interaksi tersebut memiliki ‘urf, maka tidak akan memahami rahasia hukum itu orang yang tidak memahami alur ‘urf. Sebab, lafaz-lafaz yang bersifat umum dalam setiap jenis muamalah, oleh para pelakunya dibawa kepada ‘urf yang berlaku di dalamnya. Maka, jika seseorang berkata: “Jagalah titipan ini di rumah ini dan jangan pindahkan darinya,” maka ‘urf menuntut agar ucapan pemilik ini dipahami sebagai penetapan tingkat penjagaan dengan rumah yang telah ditentukan itu. Jika terjadi suatu keadaan darurat, maka secara ‘urf hal itu keluar dari konsekuensi ucapan tersebut, karena orang yang berakal tidak akan menetapkan kepada penjaga titipan yang sukarela sesuatu yang dapat menyebabkan kerusakan atas miliknya. Maka, pembatasan-pembatasan seperti ini tidak dipahami dalam penitipan sebagai membahayakan titipan. Demikian pula jika keadaan darurat itu menimpa orang yang dipercaya, maka orang-orang berakal tidak memahami dari ucapan pemilik bahwa ia meminta kepada penerima titipan untuk membahayakan dirinya atau sesuatu yang sejenis demi titipannya. Maka, keadaan darurat yang berkaitan dengan titipan dan keadaan darurat yang berkaitan dengan penerima titipan keluar dari hukum pembatasan dan penetapan, dan tidak ada orang yang berakal yang meragukan hal ini.

فأما إذا لم تكن ضرورة وقد جرى التعيين والنهيُ عن النقل تعارضَ في هذا المقام وجوهُ الرأي فيجوز أن يقع الاعتماد على قدر الإحراز بناء على ما نبهنا عليه ويجوز حمل تقيد المودِع على حسم باب النقل من غير ضرورة فإن النظر قد ينقسم في المنقول إليه فيحاول المالك حسمَ النقل ويعد هذا من الأغراض الواضحة في هذا الصنف ونظائرها في الشرعيات والحسيات كثيرة لسنا نطوّل بذكرها

Adapun jika tidak ada kebutuhan mendesak dan telah terjadi penetapan serta larangan untuk memindahkan, maka dalam hal ini terdapat pertentangan antara berbagai pendapat. Maka boleh saja bersandar pada tingkat kepastian yang telah dijelaskan sebelumnya, dan boleh juga memahami pembatasan yang dilakukan oleh pihak yang menitipkan sebagai upaya menutup pintu pemindahan tanpa adanya kebutuhan mendesak. Sebab, pandangan bisa berbeda-beda terkait pihak yang menerima titipan, sehingga pemilik berusaha menutup kemungkinan pemindahan, dan hal ini termasuk tujuan yang jelas dalam jenis kasus ini. Contoh-contoh serupa dalam masalah syar‘iyyah maupun hal-hal yang bersifat indrawi sangat banyak, yang tidak perlu kami uraikan secara panjang lebar di sini.

وهذا أصلٌ رأينا التنبيه عليه

Ini adalah prinsip yang kami anggap perlu untuk diberi penekanan.

والمعنى الثاني أن التحكم على المودَع بأمورٍ لا تليق بمصلحة الحفظ في الوديعة ممنوع عند المحققين وهو في حكم القول الملغى الذي لا مبالاة به وقد قربه هؤلاء من الشرط الفاسد الذي لا يتعلق بمقصود العقد كقول القائل: بعتك هذا العبد على شرط ألا تطعمَه إلا ألذ الأطعمة فهذا وما في معناه لغوٌ مُطَّرح

Makna kedua adalah bahwa memaksakan kehendak kepada pihak yang menerima titipan (muwadda‘) dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kemaslahatan penjagaan dalam titipan (wadi‘ah) adalah terlarang menurut para ahli. Hal itu dianggap seperti ucapan yang diabaikan dan tidak perlu diperhatikan. Para ahli mendekatkannya dengan syarat fasid yang tidak berkaitan dengan tujuan akad, seperti ucapan seseorang: “Aku jual budak ini kepadamu dengan syarat engkau tidak memberinya makan kecuali makanan yang paling lezat.” Maka hal ini dan yang semisalnya adalah ucapan sia-sia yang ditolak.

ومن الأصحاب من لا يرى مخالفة اللفظ الصريح وإن لم يتعلق بمصلحة الوديعة بناء على أصلٍ وهو أن الحفظ مربوط بإذن المالك ولا حق للمودَع فيه فيجب تنزيله على حكم نصِّه الصريح وينشأ من هذا التردد ما ذكرته في حالة الضرورة فإذا كان قال: لا تنقله وإن أشفى على الهلاك وأيقنت بتلفه فما ذكره العراقيون إحباطٌ منهم لتعيينه من غير غرض صحيح يرجع إلى مصلحة الحِفظ وما ذكرناه يرجع إلى اتباع إذنه إذْ نصَّ وصرح فإذا قال: احفظه في هذا البيت ولا تنقله فحالة الضرورة مستثناة بحكم العرف والاحتمال تطرق إلى اللفظ إذا اقترن العرف به ويجري اللفظ إذا لم يُرد التقييد على ما ذكرناه مجرى اللفظ العام والعرفُ المقترن به في حكم المخصص وهذا بمثابة ذكر الدراهم في العقود مع تعيين العرف لنقدٍ من النقود

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak boleh menyelisihi lafaz yang tegas, meskipun tidak berkaitan dengan kemaslahatan titipan, berdasarkan suatu prinsip bahwa penjagaan itu terkait dengan izin pemilik dan pihak yang dititipi tidak memiliki hak di dalamnya, sehingga harus mengikuti ketentuan dari nash yang tegas tersebut. Dari keraguan ini timbul apa yang telah saya sebutkan dalam keadaan darurat. Jika pemilik berkata: “Jangan pindahkan barang ini, meskipun hampir binasa dan kamu yakin barang itu akan rusak,” maka pendapat ulama Irak merupakan pembatalan terhadap penetapan pemilik tanpa tujuan yang benar yang kembali pada kemaslahatan penjagaan. Sedangkan apa yang kami sebutkan kembali pada mengikuti izinnya, karena ia telah menegaskan dan menyatakannya secara jelas. Jika ia berkata: “Jaga barang ini di rumah ini dan jangan pindahkan,” maka keadaan darurat dikecualikan berdasarkan hukum ‘urf, dan kemungkinan dapat masuk ke dalam lafaz jika ‘urf menyertainya. Lafaz tersebut berlaku, jika tidak dimaksudkan pembatasan, sebagaimana yang telah kami sebutkan, seperti lafaz umum, dan ‘urf yang menyertainya berfungsi sebagai pengkhusus. Ini seperti penyebutan dirham dalam akad, sementara ‘urf telah menentukan jenis mata uang tertentu.

فإن قال: لا تنقل وإن خفت الهلاك أو أيقنت به فهذا قطعٌ للعرف الآن ويعود النظر إلى احتكامه بما لا غرض فيه كما ذكرناه هذا مدار هذه المسائل

Jika ia berkata: “Jangan dipindahkan meskipun engkau khawatir akan binasa atau yakin akan binasa,” maka ini adalah pemutusan terhadap kebiasaan yang berlaku saat ini, dan kembali pada penilaiannya yang tidak didasari kepentingan, sebagaimana telah kami sebutkan. Inilah inti dari permasalahan-permasalahan ini.

ومما يتعلق بغرض هذا الفصل وفيه استكماله أن الرجل إذا أودع عند إنسان دابَّةً وكان لا يليق بمنصب المودعَ القيامُ بحفظها وسياستها وإنما يُقيم مثلُ هذا المودَع في حفظ الدابة عبداً أو أجيراً مأموناً فمطلَق الإيداع لا يُلزم المودَعَ تولِّي الحفظ وهذا مما يقضي العرف به قطعاً من غير تحيّل ولا تردد

Terkait dengan tujuan bab ini dan sebagai penyempurnaannya, apabila seseorang menitipkan seekor hewan tunggangan kepada seseorang, sedangkan menjaga dan merawat hewan tersebut tidaklah sesuai dengan kedudukan orang yang menerima titipan, dan biasanya yang bertugas menjaga hewan seperti itu adalah seorang budak atau pekerja yang terpercaya, maka penyerahan titipan secara mutlak tidak mewajibkan penerima titipan untuk langsung menangani penjagaannya. Hal ini merupakan ketetapan yang pasti menurut ‘urf (kebiasaan masyarakat) tanpa adanya rekayasa atau keraguan.

ومما يتعلق بذلك أن دار المودَع إذ كانت لا تتهيأ لمرابط الدواب لعزتها أو لضيق مضطربها فحكم العرف يقتضي حفظ الدابة في الإصطبل القريب من الدار وإن بعُد واطّرد العرفُ في احتمال مثله في مثل هذه الدابة فلا يمتنع حفظها في ذلك الموضع

Terkait dengan hal itu, apabila rumah tempat titipan tidak tersedia kandang untuk hewan tunggangan karena kelangkaannya atau karena sempitnya tempat, maka hukum ‘urf mengharuskan menjaga hewan tersebut di kandang yang dekat dengan rumah, meskipun agak jauh, dan apabila ‘urf telah berlaku umum dalam menoleransi hal semacam ini untuk hewan seperti itu, maka tidak terlarang menjaga hewan tersebut di tempat tersebut.

وإن كان لا يمتنع في العرف ربطُ الدابة في دار المودَع فإذا أراد أن يربطها في حرم الدار وهي منه بمرأيً ومسمع فقد ذكر العراقيون في ذلك وجهين وهما محمولان على صورة يتردد النظر في العرف فيها

Jika dalam kebiasaan tidak terlarang mengikat hewan tunggangan di rumah orang yang menerima titipan, lalu jika ia ingin mengikatnya di halaman rumah yang masih dalam pengawasannya dan pendengarannya, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat dalam hal ini, dan kedua pendapat tersebut berlaku pada situasi yang masih diperdebatkan dalam kebiasaan masyarakat.

ومن أحاط بالأصل الذي مهدناه هان عليه دَرْك محل الوفاق والخلاف

Siapa yang memahami dengan baik prinsip yang telah kami jelaskan, akan mudah baginya mengetahui letak kesepakatan dan perbedaan pendapat.

ومما يتعلق بتتمة المقصود وهو مما يجب الاعتناء به أن المودَع لو وكل حفظ الوديعة إلى عبده المأمون عنده أو إلى زوجته أو ولده أو من يأتمنهم من دونه  فكيف السبيل فيه

Adapun hal yang berkaitan dengan penyempurnaan maksud, yang wajib diperhatikan adalah apabila orang yang menerima titipan (muwadda‘) mewakilkan penjagaan barang titipan kepada budaknya yang ia percayai, atau kepada istrinya, anaknya, atau orang lain yang ia percayai selain dirinya, maka bagaimana hukumnya dalam hal ini?

هذا فيه التباس مترتب على التباس العرف ونحن نأتي فيه بالواضحة إن شاء الله عز وجل فإذا كان الموكول إلى العبد ومن في معناه النقلُ وإغلاقُ الباب والحراسة ومحل الفعل مرعي بنظر المودَع فهذا لا منع فيه فإن الوديعة في يد المودَع

Hal ini mengandung kerancuan yang disebabkan oleh kerancuan ‘urf, dan kami akan menjelaskannya dengan terang, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Jika yang dibebankan kepada hamba atau yang semisal dengannya adalah memindahkan, menutup pintu, dan menjaga, serta tempat pelaksanaan perbuatan itu berada dalam pengawasan pihak yang menerima titipan, maka tidak ada larangan dalam hal ini, karena barang titipan itu berada di tangan pihak yang menerima titipan.

وإن سلم الوديعة إلى من يستبدّ بيده ولكن رآه أهلاً لذاك وربما يضع عنده ذخائره فإذا أراد التسليم إليه بالكلية فهذا ممنوع فإنه إيداع من المودَع من غير سفرٍ ولا ضرورة والذي يقتضيه عرف الإيداع خلاف هذا قطعاً ولا ينبغي أن ينظر الفقيه إلى أن المودَع يفعل بالوديعة ما يفعله بملك نفسه في الاحتياط المعتبر في الحفظ فإن هذا لا يجوز اعتقاده مع تبدل اليد على التحقيق فإنما المودَع هذا الشخص المعين فقد خرج هذا أيضاً ومهما ارتكبت المسائل وشملها السؤال على إبهام فالرأي التقليل من المسائل وإخراج الواضحات من محل النظر ليستدَّ النظر في محل الإشكال فقد آل النظر إذاً إلى أمر المودَع عبده بردّ الوديعة إلى مَحْرَز والسيد لا يلحظ المَحْرَز بل يكتفي فيه بنظر العبد وحراسته هذا محل النظر

Jika seseorang menyerahkan titipan kepada orang yang dapat bertindak sendiri atas barang itu, namun ia melihat orang tersebut layak untuk itu dan mungkin saja ia sendiri menyimpan harta bendanya pada orang itu, maka jika ia ingin menyerahkan titipan itu sepenuhnya kepadanya, hal ini dilarang. Sebab, ini berarti menitipkan barang kepada orang yang menerima titipan tanpa ada perjalanan atau kebutuhan mendesak, dan kebiasaan dalam urusan penitipan jelas tidak membenarkan hal ini. Seorang ahli fikih tidak seharusnya memandang bahwa orang yang menerima titipan boleh memperlakukan titipan sebagaimana ia memperlakukan miliknya sendiri dalam hal kehati-hatian yang dianggap dalam penjagaan, karena keyakinan seperti ini tidak boleh dipegang jika terjadi pergantian tangan atas barang titipan secara nyata. Maka, yang menjadi penerima titipan adalah orang tertentu ini, sehingga hal ini juga tidak dibenarkan. Apabila berbagai permasalahan dikumpulkan dan pertanyaan diajukan secara umum, maka pendapat yang tepat adalah mengurangi permasalahan dan mengeluarkan hal-hal yang sudah jelas dari ruang pembahasan, agar perhatian tertuju pada hal-hal yang masih samar. Dengan demikian, pembahasan berujung pada persoalan apakah seorang tuan memerintahkan hambanya untuk mengembalikan titipan ke tempat penyimpanan, sementara sang tuan tidak memperhatikan tempat penyimpanan itu, melainkan cukup dengan pengawasan dan penjagaan dari sang hamba; inilah yang menjadi titik perhatian pembahasan.

فالذي يشعر به فحوى كلام الأئمة تجويز هذا وفي بعض التصانيف التصريح بمنع ذلك إذا لم يكن الشيء مرعيّاً من جهة المودَع أما وجه هذا المذكور آخراً وهو أن التسليم إلى العبد إزالةٌ لليد ولحفظ المودَع المؤتمن فكان في معنى تسليم الوديعة إلى صديق مأمون موثوق به  وهذا له إيضاح في القياس ووجه ما دل عليه قول الأئمة حملُ الأمر على العرف فإن الإنسان إذا أودع وديعةً عند بعض أماثل الناس فيبعد أن يكلفه تولِّي الحرز ومراقبة الحرز والانقطاع عن الانتشار في الحاجات والمآرب فإذا كان ذلك بعيداً في العرف ولا طريق مع مفارقة المنزل إلا استحفاظٌ عند موثوق به أو استحفاظُ متصلٍ بالإنسان كالزوجة ومَنْ في معناها

Apa yang dapat dipahami dari makna perkataan para imam adalah membolehkan hal ini. Dalam beberapa kitab disebutkan secara tegas larangan jika sesuatu itu tidak diperhatikan dari sisi orang yang menerima titipan. Adapun alasan yang disebutkan terakhir adalah bahwa menyerahkan kepada budak berarti menghilangkan kekuasaan dan penjagaan dari orang yang menerima titipan yang dipercaya, sehingga hal itu serupa dengan menyerahkan titipan kepada seorang teman yang amanah dan dapat dipercaya. Hal ini memiliki penjelasan dalam qiyās. Adapun alasan yang ditunjukkan oleh perkataan para imam adalah mengaitkan perkara ini dengan kebiasaan (‘urf), karena jika seseorang menitipkan barang kepada salah satu orang terhormat, maka tidak wajar jika ia membebani orang tersebut untuk selalu menjaga dan mengawasi barang titipan itu serta meninggalkan aktivitas dan kebutuhannya. Jika hal itu dianggap jauh dari kebiasaan, dan tidak ada cara lain ketika meninggalkan rumah kecuali menitipkan kepada orang yang dipercaya atau menitipkan kepada orang yang masih terhubung dengan dirinya seperti istri dan yang semisalnya.

فهذا مسلك عندنا يجب القطع به فإن حمْل المودَع على خلاف ما ذكرناه يخالف العرف المطّرد وقد أوضحت أن الألفاظ في المعاملات محمولة على موجب العرف المطرد

Ini adalah pendekatan yang menurut kami harus diyakini secara pasti, karena menafsirkan pihak yang menerima titipan (muwadda‘) dengan cara yang berbeda dari apa yang telah kami sebutkan bertentangan dengan ‘urf yang berlaku umum. Dan aku telah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz dalam mu‘āmalāt itu harus ditafsirkan sesuai dengan tuntutan ‘urf yang berlaku umum.

فإذا قيل: هذا في حكم إبدالِ يدٍ بيد قلنا: ليكن كذلك والمحكّم العرف وليس كإيداع أجنبي ليس من المتصلين بالمودَع

Jika dikatakan: ini dalam hukum mengganti tangan dengan tangan, kami katakan: biarlah demikian dan yang dijadikan acuan adalah ‘urf, dan ini tidak seperti menitipkan kepada orang asing yang bukan termasuk orang yang terhubung dengan yang dititipi.

والجملة الضابطة في ذلك اتباعُ العرف المستمر على نسق فإن لم نجده اتبعنا صيغة اللفظ وقولُ المودِع: أودعتك متضمنهُ اختصاصه باليد وما أخرجه العرف خرج وما لم يقيّده العرف فاللفظ فيه مُجرىً على فحواه وهذا بمثابة حملنا التوكيلَ بالبيع المطلق على بيعٍ بالنقد عريٍّ عن الغبن وإن كان البيع في وضع اللسان متناولاً للبيع بالغبطة والغبن

Kaidah yang mengatur dalam hal ini adalah mengikuti ‘urf (kebiasaan) yang terus-menerus berlaku secara konsisten; jika tidak ditemukan, maka kita mengikuti redaksi lafaz. Ucapan orang yang menitipkan: “Aku titipkan kepadamu” mengandung makna bahwa ia secara khusus memberikan hak penguasaan (atas barang titipan) kepadanya. Apa yang dikecualikan oleh ‘urf, maka dikecualikan; dan apa yang tidak dibatasi oleh ‘urf, maka lafaznya dijalankan sesuai maknanya. Hal ini serupa dengan pemahaman kita terhadap akad wakalah (perwakilan) untuk jual beli secara mutlak, yang dipahami sebagai jual beli secara tunai tanpa unsur penipuan, meskipun dalam bahasa, jual beli mencakup juga jual beli dengan keuntungan maupun kerugian.

فخرج من مجموع ما ذكرناه أن الإيداع المطلق يتقيد عرفاً بالاستعانة بالمختصين وإن كان يقتضي ما يعرض من الأحوال زوالَ اليد

Dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa penitipan secara mutlak secara ‘urf dibatasi dengan keharusan meminta bantuan kepada pihak yang ahli, meskipun keadaan yang terjadi menuntut hilangnya kekuasaan atas barang titipan.

ومما يتعلق بذلك أنه لو سلم الوديعة إلى عبده وكان لا يطالع المَحْرَز في الأحايين فهذا فيه بعض التردد من جهة أنه لا يمكن الحكم على العرف فيه بالاطراد

Terkait dengan hal itu, jika seseorang menyerahkan barang titipan kepada budaknya, sedangkan budak tersebut tidak selalu memeriksa tempat penyimpanan barang itu dari waktu ke waktu, maka dalam hal ini terdapat keraguan, karena tidak mungkin menetapkan kebiasaan (‘urf) secara konsisten dalam masalah ini.

وحاصل الكلام في ذلك يوضحه ذكرُ صور: إحداها أنه لو أودع مطلقاًَ فأراد المودع الخروجَ لحاجاته واستحفاظَ من يثق به من متصليه وكان يطالع المحرَز في عوداته فهذا هو الذي رأينا القطعَ بحمل الإيداع المطلق على تجويزه وهو الذي اقتضاه كلام الأئمة في الطرق

Kesimpulan pembahasan dalam hal ini dapat dijelaskan dengan menyebutkan beberapa gambaran: salah satunya adalah jika seseorang menitipkan barang secara mutlak, kemudian orang yang dititipi ingin keluar untuk keperluannya dan menitipkan penjagaan barang tersebut kepada orang yang ia percayai dari kerabatnya, sementara ia tetap memantau tempat penyimpanan barang itu setiap kali kembali, maka inilah yang kami lihat sebagai ketetapan bahwa penitipan secara mutlak mencakup kebolehan tindakan tersebut, dan inilah yang ditunjukkan oleh perkataan para imam dalam berbagai referensi.

وفي هذه الصورة ذكر بعضُ المصنفين امتناعَ ذلك إلا بإذن المودِع وهذا غير معتد به

Dalam kasus ini, sebagian penulis menyebutkan bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan kecuali dengan izin dari pihak yang menitipkan, namun pendapat ini tidak dianggap.

والصورة الأخرى أن يفوّض الحفظ إلى بعض المتصلين به من عبد أو زوجةٍ أو ولدٍ أو أجيرٍ وكان لا يلاحظ الوديعة أصلاً فهذا موضع التردد

Adapun bentuk lainnya adalah ketika seseorang menyerahkan penjagaan barang titipan kepada salah satu orang yang terhubung dengannya, seperti budak, istri, anak, atau pekerja, sementara ia sama sekali tidak mengawasi barang titipan tersebut; inilah yang menjadi titik keraguan.

والصورة الأخرى أن يكون الحِرز خارجاً عن دار المودَع ومسكنه الذي يأوي إليه وكان لا يطالعه المودع فالظاهر هاهنا المنعُ وتضمين المودع

Adapun bentuk lainnya adalah jika tempat penyimpanan (ḥirz) berada di luar rumah orang yang dititipi (al-mūda‘) dan tempat tinggalnya yang ia tempati, serta orang yang dititipi tidak mengawasinya, maka yang tampak di sini adalah larangan dan mewajibkan tanggungan (dhamān) atas orang yang dititipi.

فأما إذا سلم الوديعة إلى من ليس متصلاً به واستحفظه فيها فهذا ممتنع قطعاً مخالف للفظ وللعرف هذا منتهى المراد في مخالفة المودَع وموافقته في طريق الحفظ

Adapun jika ia menyerahkan barang titipan kepada seseorang yang tidak ada hubungan dengannya dan memintanya untuk menjaga barang tersebut, maka hal ini jelas-jelas dilarang, bertentangan dengan lafaz (akad) dan kebiasaan. Inilah batas akhir maksud dari perbedaan antara tindakan penerima titipan yang menyelisihi atau sesuai dalam cara menjaga titipan.

ومما يضمّن المودَع جَحدُه لأصل الإيداع فإذا جحد المودَع الإيداع كاذباً والوديعة في يده فإنه يصير بالجحد غاصباً ولو تلفت الوديعة في يده بعد الجحد كانت مضمونة عليه

Di antara hal yang menyebabkan pihak yang menerima titipan (muwadda‘) wajib menanggung adalah jika ia mengingkari adanya penitipan. Jika pihak yang menerima titipan mengingkari penitipan secara dusta, padahal barang titipan masih ada di tangannya, maka dengan pengingkaran tersebut ia menjadi seorang perampas (ghāṣib). Jika barang titipan itu kemudian rusak di tangannya setelah pengingkaran, maka ia wajib menanggungnya.

فإن قيل: لو جحدها غالطاً ثم لما ثبتت له حقيقة الحال اعترف فكيف السبيل قلنا: حكم الجحد في الظاهر اقتضى تضمينه ودعوى الغلط منه مردودة فإذا ثبت حكم الغصب بالإنكار لم تعد الأمانة بالإقرار

Jika dikatakan: Bagaimana jika seseorang mengingkarinya karena keliru, kemudian setelah jelas baginya keadaan yang sebenarnya, ia mengakuinya? Kami katakan: Hukum pengingkaran secara lahiriah mengharuskan ia bertanggung jawab, dan klaim kekeliruan darinya ditolak. Maka jika hukum ghasab telah ditetapkan karena pengingkaran, amanah tidak kembali hanya dengan pengakuan.

ولو ادعى الغلط ثم أقر فصدقه مالك الوديعة في دعوى الغلط فالذي نراه أن الضمان لا يجب مع تصادقهما

Jika seseorang mengaku telah melakukan kesalahan lalu ia mengakui (sesuatu), kemudian pemilik barang titipan membenarkannya dalam pengakuan kesalahan tersebut, maka menurut pendapat yang kami anggap benar, tidak ada kewajiban untuk menanggung (ganti rugi) jika keduanya saling membenarkan.

وقد ذكرنا أن الانتفاع بالوديعة مضمِّن فلو لبس الثوبَ المودَعَ ظاناً أنه ثوبُه ثم كما استبان انكفّ فالذي نراه القطعُ بأنه لا يضمن كما ذكرناه في الجحد ولو انتفع وادعى ما ذكرناه من الغلط لم يصدق في ذلك فإن ظاهر الانتفاع مضمِّن

Kami telah menyebutkan bahwa pemanfaatan barang titipan mengakibatkan tanggungan. Maka jika seseorang memakai pakaian titipan dengan mengira bahwa itu adalah pakaiannya sendiri, lalu ketika ia sadar, ia segera berhenti, maka menurut pendapat kami, secara tegas ia tidak menanggung ganti rugi, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus pengingkaran. Namun, jika ia memanfaatkan barang tersebut dan mengaku seperti yang telah kami sebutkan tentang kekeliruan, ia tidak dapat dipercaya dalam hal itu, karena secara lahiriah pemanfaatan barang titipan mengakibatkan tanggungan.

ولو ألقى الوديعةَ في مضْيعة ضمن  فلو كان ذلك عن جهل فلا شك أنها لو ضاعت ضمنها ولو لم تضع وتذكر المودعُ فردَّها إلى المحرَز  فهذا فيه نظر فإن التضييع من أسباب التلف وكل ما كان من أسباب التلف لا يفصل في اقتضائه الضمانَ بين أن يقع عمداً أو خطأً ووجه تطرّق الاحتمال إلى ذلك أنه إذا استدرك خرج ما جرى عن كونه سببَ التلف

Jika seseorang meletakkan barang titipan di tempat yang rawan hilang, maka ia bertanggung jawab atasnya. Jika hal itu dilakukan karena ketidaktahuan, tidak diragukan lagi bahwa jika barang itu hilang, ia wajib menggantinya. Namun, jika barang itu belum hilang dan orang yang menitipkan mengingatkannya, lalu ia mengembalikan barang itu ke tempat yang aman, maka hal ini masih perlu dipertimbangkan. Sebab, menelantarkan barang adalah salah satu sebab kerusakan, dan segala sesuatu yang menjadi sebab kerusakan tidak dibedakan dalam menimbulkan kewajiban ganti rugi, baik terjadi secara sengaja maupun karena kesalahan. Adapun alasan adanya kemungkinan pengecualian dalam hal ini adalah bahwa jika ia segera memperbaiki kesalahannya, maka perbuatannya tidak lagi dianggap sebagai sebab kerusakan.

نعود إلى الجحد فنقول: إذا جحد المودَع الإيداع وكانت الوديعة تلفت قبل جحده مع استمرار الأمانة فإن تحقق ذلك فلا ضمان على الجاحد فإن جَحْده لم يجر إلا بعد تلف الوديعة على حكم الأمانة وكل عين تلفت على حكم لم ينقلب ذلك الحكم بطارىء يطرأ وظهور التلف قد يكون باعتراف من المالك فلو أراد الجاحد أن يحلف بعد الجحد على التلف قَبْلُ لم يقبل يمينه من جهة أن جحد الإيداع في الأصل مناقضٌ دعوى التلف فإن من ضرورة التلف تحت يده جريان الإيداع

Kita kembali pada pembahasan pengingkaran, maka kami katakan: Jika orang yang menerima titipan (muwadda‘) mengingkari adanya penitipan, dan barang titipan tersebut telah rusak sebelum ia mengingkari, sementara sifat amanah masih tetap ada, maka jika hal itu benar-benar terjadi, tidak ada tanggungan (dhaman) atas orang yang mengingkari tersebut. Sebab, pengingkarannya baru terjadi setelah barang titipan rusak dalam status sebagai amanah, dan setiap barang yang rusak dalam status tertentu, status tersebut tidak berubah hanya karena adanya sesuatu yang datang kemudian. Terkadang, kerusakan itu diketahui berdasarkan pengakuan dari pemilik barang. Jika orang yang mengingkari ingin bersumpah setelah pengingkaran bahwa kerusakan terjadi sebelumnya, sumpahnya tidak diterima, karena pengingkaran terhadap penitipan pada dasarnya bertentangan dengan klaim kerusakan. Sebab, kerusakan di bawah tangannya mengharuskan adanya penitipan.

ولو أراد أن يقيم بينة على تلف الوديعة قبل الجحد فقد ذكر العراقيون وجهين: أحدهما أن البينة لا تسمع فإن شرط سماعها ترتيبها على دعوى صحيحة ودعواه التلف تناقض جحدَه الإيداع وإذا بطلت دعواه لم تصادف البينةُ مستنداً صحيحاً

Jika seseorang ingin mengajukan bukti atas rusaknya barang titipan sebelum terjadi pengingkaran, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah bahwa bukti tersebut tidak dapat diterima, karena syarat diterimanya bukti adalah harus didasarkan pada gugatan yang sah, sedangkan pengakuannya tentang kerusakan barang bertentangan dengan pengingkarannya terhadap penitipan. Jika gugatan tersebut batal, maka bukti yang diajukan tidak memiliki dasar yang sah.

والوجه الثاني أن البينة مسموعة فإنه رجع عن جحده وكذّب نفسَه فيه وأنشأ الآن قولاً ممكناً والدعوى قولٌ ممكن فإذا اعتضدت بالبينة  ثبت المقصود بها وإنما لا تقبل البينة إذا كان قول مقيمها عند إقامتها يناقضها

Pendapat kedua adalah bahwa bukti dapat diterima, karena ia telah menarik kembali penolakannya dan telah mendustakan dirinya sendiri dalam hal itu, serta sekarang mengemukakan pernyataan yang mungkin terjadi, dan gugatan adalah pernyataan yang mungkin terjadi. Maka jika didukung oleh bukti, tujuan dari bukti tersebut menjadi terbukti. Bukti tidak diterima hanya jika pernyataan orang yang mengajukannya pada saat pengajuan bukti bertentangan dengan bukti itu sendiri.

والضبط في ذلك أن قول المقيم إن ناقض البينة لدى الإقامة والبينةُ مفتقرة إلى الدعوى فهي غير مسموعة وإن سبق قولٌ يناقض ورجع عنه القائل وكذب نفسه فيه وأقام على وَفق القول الثاني بينةً ففي قبول البينة خلاف وتردد

Patokan dalam hal ini adalah bahwa pernyataan orang yang menetap bahwa ia membatalkan kesaksian saat menetap, sedangkan kesaksian membutuhkan adanya gugatan, maka kesaksian tersebut tidak dapat diterima. Jika sebelumnya ada pernyataan yang bertentangan, lalu orang tersebut menarik kembali pernyataannya dan mendustakan dirinya sendiri dalam pernyataan pertama, kemudian ia menghadirkan kesaksian yang sesuai dengan pernyataan kedua, maka dalam hal diterimanya kesaksian tersebut terdapat perbedaan pendapat dan keraguan.

وهذا يقرب من أصلٍ نشير إليه ونفرضه متصلاً بما نحن فيه فنقول: إذا جحد الإيداع ثم ادعى التلف قبل الجحد ولم يجد بينة ولم نحلِّفه بجحده السابق فلو قال لمالك الوديعة: احلف بالله لا تعلم تلف الوديعة قبل جحدي فهل له أن يحلّفه فيه تردد للأصحاب وظاهر المذهب أنه يحلِّفه  ولو أقام بينة قبل منه ولو ادعى ردَّ الوديعة قبل الجحد فهو كما لو ادعى تلفها ولو جحد ثم اعترف وقال: تلفت الوديعة بعد جحدي فالضمان ثابت عليه فإنه صار بالجحد غاصباً وانقلبت الوديعة مضمونة فلو تحقق التلف لكان على حكم الضمان

Hal ini mendekati suatu prinsip yang perlu kami singgung dan kami anggap berkaitan dengan pembahasan kita, yaitu: Jika seseorang mengingkari telah menerima titipan (wadi‘ah), kemudian mengaku bahwa titipan itu telah rusak sebelum pengingkaran, namun ia tidak memiliki bukti dan kita tidak menyuruhnya bersumpah atas pengingkaran sebelumnya, lalu ia berkata kepada pemilik titipan: “Bersumpahlah demi Allah bahwa engkau tidak mengetahui kerusakan titipan sebelum aku mengingkari,” maka apakah pemilik titipan berhak menyuruhnya bersumpah? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama, dan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab adalah bahwa ia boleh menyuruhnya bersumpah. Jika ia mendatangkan bukti, maka bukti itu diterima darinya. Jika ia mengaku telah mengembalikan titipan sebelum pengingkaran, maka hukumnya sama seperti jika ia mengaku titipan itu telah rusak. Jika ia mengingkari lalu mengakui dan berkata, “Titipan itu rusak setelah aku mengingkari,” maka ia tetap wajib menanggungnya, karena dengan pengingkaran itu ia telah menjadi seorang ghashib (perampas), dan titipan itu berubah menjadi harta yang wajib dijamin. Maka jika benar-benar terjadi kerusakan, maka berlaku hukum tanggungan.

ولو ادعى الرجل على رجل وديعة فقال المدّعى عليه: مالكَ عندي شيء ثم أقر بالإيداع أو قامت البينة عليه فادعى بعد ذلك تلفاً أو ردّاً فقوله مقبول فإنه لم ينكر الإيداع وإنما قال: ليس عندي لك شيء فدعوى التلف توافق ذلك الكلام لأن من تلفت الوديعة عنده فهو صادق في قوله لمالكها: مالك عندي شيء أو لا يلزمني دفع شيء إليك

Jika seseorang mengklaim kepada orang lain tentang adanya titipan (wadi‘ah), lalu orang yang dituduh berkata, “Kamu tidak memiliki apa-apa padaku,” kemudian ia mengakui adanya titipan tersebut atau ada bukti yang menegaskannya, lalu setelah itu ia mengaku bahwa titipan itu telah rusak (hilang) atau telah dikembalikan, maka pengakuannya diterima. Sebab, ia tidak mengingkari adanya titipan, melainkan hanya berkata, “Kamu tidak memiliki apa-apa padaku.” Maka, pengakuan tentang kerusakan (telf) sesuai dengan ucapannya itu, karena orang yang titipannya telah rusak di tangannya, ia benar ketika berkata kepada pemiliknya, “Kamu tidak memiliki apa-apa padaku,” atau “Aku tidak wajib menyerahkan apa pun kepadamu.”

هذا بيان الجحد واقتضائه سقوطَ حكم الأمانة مع ما يتعلق به من جهات التداعي

Ini adalah penjelasan tentang penolakan dan konsekuensinya berupa gugurnya hukum amanah beserta hal-hal yang berkaitan dengannya dalam aspek-aspek persengketaan.

ومما يتضمن التضمين في الوديعة وهي من أصول الكتاب تركُ الإيصاء

Termasuk dalam ketentuan tanggung jawab (tadhammun) dalam perkara titipan (wadi‘ah), yang merupakan salah satu pokok dalam kitab ini, adalah meninggalkan wasiat.

وبيان ذلك: أن من كانت عنده وديعة وهو في حال الصحة واستمرار السلامة فلو مات فجأة أو قتل غيلة ولم يتمكن من الإيصاء فلا ضمان فإنه لا ينسب إلى التقصير ما استمر في السلامة وإن كان أدب الدين يقتضي ألا يبيت المسلم ليلةً إلا ووصيته مكتوبة عنده هكذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن ترك الأولى في هذا لا يوجب الضمان

Penjelasannya adalah: Barang siapa yang memiliki titipan saat ia dalam keadaan sehat dan terus-menerus dalam keselamatan, lalu ia tiba-tiba meninggal atau dibunuh secara diam-diam dan tidak sempat berwasiat, maka tidak ada tanggungan baginya. Sebab, ia tidak dianggap lalai selama ia terus berada dalam keadaan selamat. Meskipun adab agama menuntut agar seorang Muslim tidak melewati satu malam pun kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya—sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ—namun meninggalkan yang utama dalam hal ini tidak mewajibkan adanya tanggungan.

ولو مرض الرجل وتمييزه قائم فلم يُوصِ أو حبس ليقتل واستمكن من الإيصاء فتركُ الإيصاء يتضمن الضمان كما سنفصله الآن إن شاء الله تعالى

Jika seseorang sakit sementara daya pikirnya masih ada, lalu ia tidak berwasiat, atau ia dipenjara untuk dihukum mati dan memungkinkan baginya untuk berwasiat namun ia meninggalkannya, maka meninggalkan wasiat tersebut mengandung unsur tanggungan (kewajiban untuk mengganti kerugian), sebagaimana akan kami jelaskan sekarang, insya Allah Ta‘ala.

والمرض الذي أطلقناه هو المرض المخوف الذي يحسب التبرع فيه من الثلث إن لم يبلغ المرض هذا المبلغ فهو ملتحق بالصحة والهرمُ من غير مرض ملتحق بالصحة في تنفيذ التبرع من رأس المال وفيما نحن فيه من أمر الإيصاء فإذا ترك الشيخ الإيصاء ثم فاجأته المنية بغتةً فلا ضمان فإذا تحقق التقصير بترك الإيصاء أو أوصى إلى فاسق غيرِ موثوق به فإذا تلفت الوديعة بعد موته وجب الضمان في تركته من جهة أنه بإعراضه وتركه الدّلالة على الوديعة مع ظهور النُّذُر وشواهد الموت يُعدّ مضيعاً للوديعة والتضييع من أسباب الضمان كما تقدّم ذكره

Penyakit yang kami maksud adalah penyakit yang menakutkan, di mana hibah yang diberikan dalam keadaan tersebut dihitung dari sepertiga harta. Jika penyakit itu tidak mencapai tingkat tersebut, maka ia dianggap seperti dalam keadaan sehat. Sedangkan usia tua tanpa penyakit juga dianggap seperti dalam keadaan sehat dalam pelaksanaan hibah dari seluruh harta, dan dalam hal yang sedang kita bahas terkait wasiat. Jika seorang tua tidak membuat wasiat, lalu tiba-tiba ia meninggal secara mendadak, maka tidak ada kewajiban tanggungan. Namun, jika terbukti adanya kelalaian karena tidak membuat wasiat, atau ia berwasiat kepada orang fasik yang tidak dapat dipercaya, lalu barang titipan itu hilang setelah kematiannya, maka wajib ada tanggungan dari hartanya. Hal ini karena dengan sikapnya yang berpaling dan tidak menunjukkan keberadaan barang titipan, padahal tanda-tanda kematian sudah tampak, ia dianggap telah menyia-nyiakan barang titipan tersebut, dan penyia-nyiaan merupakan salah satu sebab adanya tanggungan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

ولو كانت الوديعة تلفت في حياته على حكم الأمانة فترْكُ الإيصاء لا يثبت ضماناً فإن فائدة الإيصاء الدلالة على الوديعة الباقية حتى لا تضيع

Jika barang titipan itu rusak pada masa hidupnya sesuai dengan hukum amanah, maka tidak meninggalkan wasiat tidak menetapkan adanya tanggungan. Sebab, manfaat dari wasiat adalah sebagai penunjuk terhadap barang titipan yang masih ada agar tidak hilang.

ولو أوصى إلى عدلٍ وذكر له الوديعة فإن عيّنها فذاك وإن وصفها وكان في تركته من جنسها فإذا جحدها الورثة ولم يعرفوها وما كان عيّن الموصي فالضمان واجب من جهة أنه لو عين وميّز لما كان يلتبس الأمر فترْكُه التعيين وفي تركته أمثال الوديعة بمثابة تركه الإيصاء أصلاً

Jika seseorang berwasiat kepada seorang yang adil dan menyebutkan tentang titipan (wadi‘ah) kepadanya, maka jika ia telah menentukan (menyebutkan secara spesifik) titipan tersebut, maka itulah yang berlaku. Namun jika ia hanya menyebutkan sifatnya, sementara dalam harta peninggalannya terdapat barang-barang sejenis titipan itu, lalu para ahli waris mengingkarinya dan mereka tidak mengetahuinya, dan pewasiat tidak menentukan secara spesifik, maka kewajiban ganti rugi tetap berlaku. Hal ini karena jika pewasiat menentukan dan membedakan, tentu perkara tidak akan rancu. Maka, meninggalkan penentuan secara spesifik, sementara dalam harta peninggalannya terdapat barang-barang sejenis titipan, sama saja dengan tidak berwasiat sama sekali.

ولو لم يكن في تركته من جنس تلك الوديعة التي وصفها ولكنا لم نجد تلك الوديعة الموصوفة في التركة فقد اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال: لا ضمان فإن من الممكن أن الوديعة تلفت بعد موته قبل تمكن الورثة من الرد ولو اتفق ذلك فلا ضمان فيجب حمل الأمر على وجهٍ لا يقلب الأمانة عن حقيقتها وهذا اختيار أبي إسحاق المروزي

Jika dalam harta peninggalannya tidak terdapat barang sejenis dengan barang titipan yang telah ia sebutkan sifat-sifatnya, dan kita tidak menemukan barang titipan yang telah disebutkan sifat-sifatnya itu dalam harta peninggalan, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat: tidak ada kewajiban ganti rugi, karena mungkin saja barang titipan itu rusak setelah kematiannya sebelum para ahli waris sempat mengembalikannya. Jika memang demikian kejadiannya, maka tidak ada kewajiban ganti rugi, sehingga perkara ini harus diarahkan pada kemungkinan yang tidak mengubah hakikat amanah. Inilah pendapat yang dipilih oleh Abu Ishaq al-Marwazi.

ومن أصحابنا من قال: يجب الضمان إلا أن يقيم الورثة بيّنةً على تلف الوديعة قبل موت المودَع المؤتمن أو بعد موته وقبل التمكن من الرد فإن الوديعة ثبتت والظاهر أنها لو تلفت لتمكن الورثة من بيان تلفها وإذا مات وهو المؤتمن فحق الوديعة ثابت في التركة إلى أن تقوم بيّنة تتضمن نفيَ الضمان

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: wajib ada tanggungan kecuali jika ahli waris dapat menghadirkan bukti bahwa barang titipan tersebut telah rusak sebelum wafatnya orang yang dititipi dan dipercaya, atau setelah wafatnya dan sebelum mereka mampu mengembalikannya. Sebab, barang titipan itu tetap ada, dan secara lahiriah, jika barang itu rusak, maka ahli waris akan mampu menjelaskan kerusakannya. Jika orang yang dipercaya itu wafat, maka hak atas barang titipan tetap ada dalam harta warisan sampai ada bukti yang meniadakan tanggungan tersebut.

ولو مات ولم يوصِ فجاء مالك الوديعة وادعاها ونسب الميت إلى التقصير بترك الإيصاء فيها فقال الورثة: لعله لم يوصِ لتلف الوديعة على حكم الأمانة في يده فاعترفوا بأصل الإيداع أو قامت البينة عليه وادعَوْا ما ذكرناه فهذه المسألة مترددة في الضمان فإذا كان أبو إسحاق يرى نفي الضمان حيث لم تصادَف الوديعة في التركة بعد الإقرار بها والإيصاء فلا شك أنه يبقى الضمان في الصورة التي ذكرناها آخراً وهي ادعاء التلف قبل الموت وحَمْلُ ترك الإيصاء عليه ومن أوجب الضمان وخالف أبا إسحاق فقد يوجب الضمان في هذه الصورة ونفيُ الضمان في هذه الصورة أولى

Jika seseorang meninggal dunia tanpa berwasiat, lalu pemilik titipan datang dan mengklaim barang titipannya serta menuduh si mayit lalai karena tidak berwasiat tentang titipan tersebut, sementara para ahli waris berkata: “Mungkin ia tidak berwasiat karena titipan itu telah rusak sesuai hukum amanah di tangannya,” maka mereka mengakui adanya penitipan atau ada bukti atasnya, dan mereka mengklaim seperti yang telah kami sebutkan, maka masalah ini masih diperselisihkan dalam hal tanggung jawab (jaminan). Jika Abu Ishaq berpendapat tidak ada tanggungan ketika titipan itu tidak ditemukan dalam harta warisan setelah diakui dan diwasiatkan, maka tidak diragukan lagi bahwa tanggungan tetap ada dalam kasus yang terakhir kami sebutkan, yaitu klaim kerusakan sebelum kematian dan mengaitkan tidak adanya wasiat dengan hal itu. Barang siapa yang mewajibkan tanggungan dan menyelisihi Abu Ishaq, bisa jadi ia mewajibkan tanggungan dalam kasus ini, dan meniadakan tanggungan dalam kasus ini lebih utama.

ثم إن ادعى الورثة التلفَ فالأمر على ما ذكرناه وإن قالوا: عرفنا الإيداع ولكن لم ندر كيف كان الأمر ونحن نجوّز أن الوديعة تلفت على حكم الأمانة فلم يوص لأجل ذلك  ولا ثَبتَ  ففي ذلك قولان: فإن ضمّناهم حيث يجزمون دعوى التلف فلأن نُضمِّن هاهنا أولى وإن لم نضمنهم في هذه الصورة الأولى ففي هذه وجهان: أحدهما أن الضمان يجب لأنهم لم يذكروا مُسقطاً ولم يدّعوه

Kemudian, jika para ahli waris mengaku bahwa barang titipan telah rusak, maka perkara ini seperti yang telah kami sebutkan. Namun jika mereka berkata, “Kami mengetahui adanya penitipan, tetapi kami tidak tahu bagaimana kejadiannya. Kami memperkirakan bahwa barang titipan itu rusak dalam status amanah, sehingga tidak diwasiatkan karenanya dan tidak ada yang tetap,” maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Jika kita membebankan tanggung jawab kepada mereka ketika mereka secara tegas mengklaim kerusakan, maka lebih utama lagi untuk membebankan tanggung jawab di sini. Namun jika kita tidak membebankan tanggung jawab kepada mereka dalam gambaran pertama, maka dalam hal ini ada dua pendapat: salah satunya adalah bahwa tanggung jawab harus dibebankan karena mereka tidak menyebutkan alasan yang menggugurkan tanggung jawab dan tidak mengklainkannya.

والوجه الثاني أن الضمان لا يجب لأن أصل الوديعة على الأمانة والأمر متردد كما ذكره الورثة فعلى من يدعي الضمانَ إثباتُه والأصح الوجه الأول في هذه الصورة الأخيرة

Pendapat kedua menyatakan bahwa kewajiban ganti rugi tidak berlaku karena pada dasarnya titipan (wadi‘ah) didasarkan pada prinsip amanah, dan perkara ini masih diperdebatkan sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli waris. Maka, pihak yang mengklaim adanya kewajiban ganti rugi harus membuktikannya. Namun, pendapat yang lebih sahih dalam kasus terakhir ini adalah pendapat pertama.

ويتصل بهذا الفصل كلام يتعلق بالورثة في الدعوى وسنذكره في فصول الكتاب إن شاء الله تعالى فإن غرضنا الآن عدُّ ما يوجب الضمان في الوديعة والقدرُ الذي ذكرناه في الإيصاء وتركه كافٍ في غرضنا

Terkait dengan bab ini, terdapat pembahasan mengenai para ahli waris dalam perkara gugatan yang akan kami sebutkan pada bab-bab berikutnya dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala. Karena tujuan kami saat ini adalah menyebutkan hal-hal yang mewajibkan tanggung jawab (dhamān) dalam masalah titipan (wadī‘ah), dan penjelasan yang telah kami sebutkan dalam wasiat maupun yang kami tinggalkan sudah cukup untuk tujuan kami.

ومما نذكره في المضمِّنات أن المودَع لو نقل الوديعة نقلاً مسوَّغاً كما تفصَّل ذلك فيما تقدم ونوى عند النقل تغييب الوديعة والاستبدادَ بها فإنه يصير ضامناً لأن هذا فعلٌ مبتدأ منه اقترن به قصد العدوان ولو لم يجدّد نقلاً ولم يُحدث فعلاً ولكنه نوى التغييب والاستبداد فالذي ذهب إليه معظم الأئمة أن مجرد النية لا يتضمن تضمين المودَع

Di antara hal yang perlu disebutkan dalam pembahasan tentang pihak yang bertanggung jawab atas ganti rugi adalah bahwa apabila orang yang menerima titipan memindahkan barang titipan dengan pemindahan yang dibenarkan sebagaimana telah dirinci sebelumnya, lalu ia berniat saat memindahkan itu untuk menyembunyikan barang titipan dan menguasainya untuk dirinya sendiri, maka ia menjadi penanggung ganti rugi, karena ini merupakan perbuatan baru darinya yang disertai dengan niat melakukan pelanggaran. Namun, jika ia tidak melakukan pemindahan baru dan tidak melakukan perbuatan apa pun, tetapi hanya berniat untuk menyembunyikan dan menguasai barang titipan, maka pendapat mayoritas imam adalah bahwa niat semata tidak menyebabkan pihak yang menerima titipan menjadi penanggung ganti rugi.

وحكى العراقيون والشيخ أبو علي وجهاً غريباً أن مجرد النية يتضمن التضمين كما أن مجرد نية الاقتناء تقطع حول التجارة

Orang-orang Irak dan Syekh Abu Ali meriwayatkan satu pendapat yang ganjil bahwa sekadar niat saja sudah mencakup kewajiban ganti rugi, sebagaimana sekadar niat untuk memiliki memutuskan haul dalam perdagangan.

ولو طرح المالك الوديعةَ في يد المودَع فنوى المودَع مع الأخذ الخيانةَ فظاهر المذهب أنه يضمن لاقتران النية بأول الأخذ وهذا بمثابة ما لو التقط الملتقط وقرن بالالتقاط قصد التغييب وما عدا ذلك غيرُ معتد به

Jika pemilik menitipkan barang titipan kepada orang yang dititipi, lalu orang yang dititipi tersebut berniat berkhianat saat menerima barang itu, maka menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, ia wajib menanggung kerugian karena niat tersebut bersamaan dengan awal penerimaan barang. Hal ini serupa dengan seseorang yang menemukan barang temuan lalu sejak awal berniat menyembunyikannya. Adapun selain itu, tidak dianggap.

والمذهب المبتوت ما ذكرناه

Pendapat yang telah diputuskan adalah apa yang telah kami sebutkan.

وقد نجز القول فيما يتضمن تضمين المودَع وآل حاصلها إلى التضييع والانتفاع ومخالفةِ المالك والجحْدِ وتركِ الإيصاء وهو من أسباب التضييع

Telah selesai pembahasan mengenai hal-hal yang menyebabkan tanggung jawab atas barang titipan, yang kesemuanya kembali kepada unsur kelalaian, pemanfaatan, pelanggaran terhadap kehendak pemilik, pengingkaran, dan tidak memberikan wasiat, yang semuanya merupakan sebab-sebab terjadinya kelalaian.

وقد تبين القول في نية الخيانة ووضح محل الخلاف والوفاق ثم النية التي ذكرناها تجريد القصد فأما ما يخطر من الهواجس من ضروب الوساوس وداعيةُ الدين يدافعها فلا حكم لها

Telah dijelaskan pembahasan tentang niat berkhianat dan telah terang tempat terjadinya perbedaan dan kesepakatan, kemudian niat yang telah kami sebutkan adalah murni kehendak. Adapun lintasan-lintasan hati berupa berbagai waswas yang muncul, sementara dorongan agama menolaknya, maka tidak ada hukumnya.

وإن تردد الرأيُ ولم يجزم قصداً فالظاهر عندنا أن هذا لا حكم له حتى يجرّد قصده في العدوان

Dan jika pendapat itu masih ragu dan belum menetapkan niat secara pasti, maka yang tampak menurut kami adalah bahwa hal ini tidak memiliki hukum apa pun sampai ia benar-benar memurnikan niatnya dalam melakukan pelanggaran.

فإذا نجز بيان العدوان فإذا اعتدى المودَع وضمن فترك سببَ العدوان وإن لم يعُد أميناً عند الشافعي رضي الله عنه وكان طريان العدوان في قطع الوديعة وحكم الأمانة بمثابة طريان الجنون على الوكيل ثم إذا جن الوكيل وحكمنا بانعزاله فلو أفاق لم يعُد وكيلاً والمسألة من طيول مسائل الخلاف

Apabila penjelasan tentang tindakan melampaui batas telah selesai, maka jika orang yang menerima titipan (muda‘) melakukan pelanggaran dan menjadi penanggung jawab, ia telah meninggalkan sebab pelanggaran tersebut. Namun, menurut Imam Syafi‘i ra., ia tidak kembali menjadi orang yang dipercaya (amin), dan terjadinya pelanggaran dalam bentuk memutuskan hubungan dengan barang titipan serta hukum amanah itu serupa dengan terjadinya kegilaan pada seorang wakil. Kemudian, jika wakil tersebut menjadi gila dan kita memutuskan bahwa ia telah diberhentikan, maka jika ia sembuh, ia tidak kembali menjadi wakil. Permasalahan ini termasuk salah satu dari permasalahan khilafiyah.

فلو قال المالك: ائتمنتك فيما تعدّيتَ ابتداء ولم يبدّل يده ففي زوال الضمان مع استمرار اليد الأولى وجهان مشهوران ذكرناهما في مواضعَ من كتاب الرهن وغيره فلو قال المالك : أبرأتك عن الضمان ففي زوال الضمان وجهان مبنيان على أن الإبراء عما لم يجب ووجد سببُ وجوبه هل يصح أم لا

Jika pemilik berkata: “Aku telah mempercayakanmu dalam hal pelanggaran yang kamu lakukan sejak awal dan kamu tidak mengganti tangan (kepemilikan),” maka dalam hal gugurnya tanggungan (dhamān) dengan tetapnya tangan yang pertama terdapat dua pendapat yang masyhur, yang telah kami sebutkan di beberapa tempat dalam Kitab Rahn dan lainnya. Jika pemilik berkata: “Aku membebaskanmu dari tanggungan (dhamān),” maka dalam gugurnya tanggungan terdapat dua pendapat yang dibangun di atas permasalahan: apakah pembebasan (ibrā’) dari sesuatu yang belum wajib, namun sebab kewajibannya telah ada, itu sah atau tidak.

وبيان ذلك أن الضمان في الأعيان المضمونة إنما يجب عند تحقق التلف ولكن العدوان قبل التلف سببٌ في الضمان فإذا أبرأ من له الحق عن الضمان قبل التلف كان ذلك إبراء عما وجد سببه ولم يجب بعدُ

Penjelasannya adalah bahwa kewajiban ganti rugi atas barang-barang yang dijamin itu baru wajib ketika terjadi kerusakan, namun tindakan melampaui batas sebelum terjadinya kerusakan merupakan sebab timbulnya kewajiban ganti rugi. Maka jika pihak yang berhak membebaskan dari kewajiban ganti rugi sebelum terjadinya kerusakan, hal itu merupakan pembebasan atas sesuatu yang telah ada sebabnya namun belum menjadi kewajiban.

وفي هذا أدنى نظر فإن الإبراء لو كان يوجد من هذا المأخذ للزم على مقتضاه أن نقول: إذا أتلف العين بعد الإبراء لا يضمن قيمتها وهذا بعيد لم يسمح به الأصحاب

Dalam hal ini terdapat kelemahan dalam penalaran, sebab jika ibra’ (pembebasan utang) berasal dari sudut pandang ini, maka konsekuensinya kita harus mengatakan: jika barang tersebut rusak setelah dilakukan ibra’, maka pelaku tidak wajib mengganti nilainya. Padahal, hal ini jauh dari kebenaran dan tidak dibenarkan oleh para ulama.

ولو قال قائل: إنما أبرئه بشرط ألا يجدد عدواناً فهذا إبراء مشروط والإبراء على هذا الوجه يفسد فالوجه إذاً في إجراء الوجهين ردُّهما إلى أن الضمان هل يسقط بإسقاط المالك حتى تعود العين أمانة فعلى وجهين فيكون الإبراء إذاً في معنى ائتمان جديد كما قدمناه

Jika ada yang berkata: “Aku membebaskannya dengan syarat ia tidak mengulangi pelanggaran,” maka ini adalah pembebasan bersyarat, dan pembebasan dengan cara seperti ini menjadi batal. Maka, permasalahannya dikembalikan pada pertanyaan: Apakah tanggungan gugur dengan pengguguran oleh pemilik sehingga barang kembali menjadi amanah? Maka ada dua pendapat dalam hal ini. Dengan demikian, pembebasan di sini bermakna seperti pemberian amanah yang baru, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

وهذا نجاز الفصل بما فيه

Demikianlah selesainya bab ini beserta isinya.

فصل

Bab

نقل المزني مسائل متفرقة في أحكام الأمانة إذا دامت وفيما يصدَّق المؤتمن فيه وأنا أرى جمعَها تحت ضوابط حتى تُلفَى أحكامُ الأمانة مجموعةً متصلةً بذكر أسباب العدوان المناقضة للائتمان

Al-Muzani meriwayatkan berbagai permasalahan terkait hukum amanah apabila berlangsung terus-menerus dan dalam hal apa orang yang diberi amanah dapat dipercaya. Saya memandang perlu mengumpulkannya di bawah kaidah-kaidah agar hukum-hukum amanah dapat ditemukan secara terhimpun dan berkesinambungan, disertai penyebutan sebab-sebab pelanggaran yang bertentangan dengan kepercayaan.

فنقول: إذا ثبتت الأمانة وانتفت أسباب العدوان فلو فرض تلف الوديعة فلا ضمان

Maka kami katakan: Jika amanah telah terbukti dan sebab-sebab kecurangan tidak ada, maka jika terjadi kerusakan pada barang titipan, tidak ada kewajiban ganti rugi.

وإذا لم تكن الوديعةُ مضمونةَ العين فليست مضمونة الرد

Jika barang titipan (wadī‘ah) tidak dijamin keberadaannya, maka ia tidak dijamin pengembaliannya.

وقد أجمع علماؤنا على أنه لا يجب على المودَع ردّها بنفسه ولا يلزمه مؤنةٌ بسبب الرد وإنما الذي عليه أن يخلّي بين المودِع المالك وبين الوديعة حتى يأخذها بنفسه فأما تولّي الرد وتعاطيه بالنفس أو بالغير فمما لا يجب على المودَع وفاقاً

Para ulama kita telah sepakat bahwa tidak wajib bagi orang yang menerima titipan (muda‘) untuk mengembalikan barang titipan itu sendiri, dan ia tidak dibebani biaya apa pun karena pengembalian tersebut. Yang menjadi kewajibannya hanyalah membiarkan pemilik titipan (mudi‘) mengambil sendiri barang titipannya. Adapun mengurus pengembalian atau menyerahkannya secara langsung, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain, maka hal itu tidak wajib atas orang yang menerima titipan, menurut kesepakatan (ijmā‘).

ثم من أحكام الأمانة تصديق المودَع وفي ذلك تفصيلٌ وهو مقصود الفصل و تصديقه يتعلق بشيئين: أحدهما دعوى التلف

Kemudian, di antara hukum-hukum amanah adalah mempercayai orang yang diberi titipan, dan dalam hal ini terdapat perincian yang menjadi tujuan pembahasan ini. Mempercayainya berkaitan dengan dua hal: yang pertama adalah pengakuan tentang barang titipan yang rusak.

والثاني دعوى الردّ

Yang kedua adalah klaim penolakan.

فأما القول في دعوى التلف فإن ادعى المودَعُ التلفَ بسبب خفي ممكن ليس يجب في حكم العرف ظهوره إذا وقع فالمودَع مصدق فيه مع يمينه فإن حلف انقطعت الطَلِبةُ عنه وإن نكل عن اليمين رُدت اليمين على المالك ثم إنه يحلف على نفي العلم إذ لا يمكنه أن يثبت اليمين في نفي التلف وبقاء العين فتكون يمينه في نفي التلف كيمينه على نفي فعل الغير هذا هو المذهب المعتمد

Adapun pembahasan mengenai klaim kerusakan (talf), jika pihak yang menerima titipan (muwadda‘) mengaku bahwa kerusakan terjadi karena sebab yang tersembunyi dan mungkin terjadi, serta menurut kebiasaan tidak harus tampak jika memang terjadi, maka pihak penerima titipan dibenarkan dalam pengakuannya dengan sumpahnya. Jika ia bersumpah, maka gugurlah tuntutan terhadapnya. Namun jika ia enggan bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada pemilik barang. Kemudian, pemilik bersumpah atas dasar tidak mengetahui, karena tidak mungkin baginya untuk menetapkan sumpah atas tidak terjadinya kerusakan dan keberadaan barang titipan. Maka sumpahnya dalam menafikan kerusakan seperti sumpahnya dalam menafikan perbuatan orang lain. Inilah pendapat yang dipegangi.

ومن أصحابنا من يكلّفه جزمَ اليمين من جهة أنه من الممكن أن يطّلع على بقاء العين في الوقت الذي ادعى المودَع تلفها فيه وإذا كان هذا ممكناً فجزمُ اليمين ممكنٌ أيضاً وسيأتي تفريع هذا وأصله في الدعاوى والبينات

Sebagian dari ulama kami mewajibkan sumpah secara tegas atasnya, dengan alasan bahwa mungkin saja ia mengetahui keberadaan barang titipan pada waktu ketika pihak yang dititipi mengaku barang tersebut telah rusak. Jika hal ini memungkinkan, maka sumpah secara tegas juga memungkinkan. Penjelasan lebih lanjut mengenai cabang dan asal masalah ini akan dibahas pada bab gugatan dan alat bukti.

ثم إن العراقيين ذكروا ترتيباً حسناً في ادعاء الأمين التلف فنسوقه على وجهه ثم نذكر مسالك المراوزة

Kemudian, para ulama Irak menyebutkan suatu urutan yang baik dalam klaim al-amīn mengenai kerusakan, maka kami akan menyampaikannya sebagaimana adanya, lalu kami akan menyebutkan metode-metode para ulama Marw.

قال العراقيون: إن ذكر المودَع سبباً في التلف ممكناً وكان مثله لا يظهر في العادة فيتعذر إقامة البينة عليه فالقول قوله مع يمينه

Orang-orang Irak berkata: Jika pihak yang menerima titipan menyebutkan suatu sebab kerusakan yang mungkin terjadi, dan sebab seperti itu biasanya tidak tampak secara lahiriah sehingga sulit untuk menghadirkan bukti atasnya, maka perkataannya diterima dengan sumpahnya.

وإن ذكر سبباً يظهر مثله في العادة ويتيسر إقامة البينة عليه مثل أن يدعي هلاك الوديعة بحريق في الدار ظاهرٍ وغيرِه مما شأنه أن يظهر كالنهب العظيم وسيلٍ جارف ينقلب على السكة أو المحِلة قالوا: إذا ادّعى المودَع التلف بجهة من هذه الجهات فلا بد من إقامة البينة ولا يُقبل قولُ المودعَ ويمينه وشبهوا ذلك في طرده وعكسه بقول القائل لامرأته: إذا حضت فأنت طالق فإذا ذكرت أنها حاضت قُبل قولُها وإن اتهمت حلفت وإن قال لها إذا ولدت ولداً أو دخلت الدار فأنت طالق فإذا ادّعت أنها ولدت أو دخلت لم يحكم بوقوع الطلاق حتى تقوم البينة على وجود الصفة التي تعلّق الطلاق بها أو يعترف الزوج بها

Jika seseorang menyebutkan sebab yang secara kebiasaan dapat diketahui dan memungkinkan untuk didatangkan bukti atasnya, seperti mengklaim bahwa titipan rusak karena kebakaran di rumah yang nyata, atau sebab lain yang biasanya tampak seperti penjarahan besar-besaran, banjir besar yang melanda jalan atau lingkungan, para ulama mengatakan: Jika orang yang diberi titipan mengaku barang titipan rusak karena salah satu sebab tersebut, maka wajib mendatangkan bukti, dan tidak diterima pengakuan serta sumpahnya saja. Mereka mengqiyaskan hal ini, baik dalam penerapan maupun kebalikannya, dengan ucapan seseorang kepada istrinya: “Jika kamu haid, maka kamu tertalak.” Jika istrinya mengaku telah haid, maka pengakuannya diterima, dan jika dicurigai maka ia harus bersumpah. Namun jika ia berkata: “Jika kamu melahirkan anak atau masuk ke rumah, maka kamu tertalak,” lalu istrinya mengaku telah melahirkan atau masuk rumah, maka tidak diputuskan jatuhnya talak sampai ada bukti yang menunjukkan adanya sifat yang menjadi syarat jatuhnya talak, atau suami mengakuinya.

هذه طريقة العراقيين

Ini adalah metode (cara) para ulama Irak.

وقال صاحب التقريب: إذا ادعى الأمين تلف الوديعة بحريقٍ في المحلة أو غير الحريق مما شأنه أن يظهر في العرف إذا وقع فإذا ادعى المودَع ذلك ولم يشتهر في الناس ما ادعاه وحكمُ العرف أن يشتهر فلا يُصدق الأمين في دعوى ذلك فإن الحالة مكذبة له ومن ادعى أمراً تكذبه المشاهدة فيه فقوله غير مقبول

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seorang amin (orang yang dipercaya) mengaku bahwa titipan telah rusak karena kebakaran di tempat tersebut atau sebab lain yang menurut kebiasaan akan tampak jika benar-benar terjadi, maka jika orang yang dititipi itu mengaku demikian namun kejadian yang diakuinya itu tidak menjadi perbincangan di masyarakat padahal menurut kebiasaan seharusnya menjadi perbincangan, maka pengakuan amin tersebut tidak dapat diterima dalam pengakuannya itu, karena situasinya justru mendustakannya. Barang siapa mengaku suatu perkara yang kenyataannya bertentangan dengan pengakuannya, maka ucapannya tidak dapat diterima.

ثم قال: ولو رام الأمين تحليفَ المودِع على نفي الحريق في هذه الصورة فهل له ذلك

Kemudian ia berkata: Jika pihak yang dipercaya (al-amīn) ingin meminta sumpah dari pihak yang menitipkan (al-mūdi‘) untuk menafikan terjadinya kebakaran dalam kasus ini, apakah ia berhak melakukan hal itu?

فعلى وجهين: أحدهما ليس له تحليفه فإن المشاهدة كذّبته في ذلك إذ الحريق الظاهر لا يخفى وتتوفر الدواعي على نقله فإذا لم ينقل بان الكذب ولولا ظهور الكذب لصدّقنا المودَع وحلفناه

Ada dua sisi: Pertama, tidak boleh meminta sumpahnya, karena kesaksian langsung telah mendustakannya dalam hal itu, sebab kebakaran yang tampak tidak mungkin tersembunyi dan banyak dorongan untuk menyebarkan beritanya. Maka jika tidak ada berita yang tersebar, jelaslah kebohongannya. Seandainya kebohongan itu tidak tampak, tentu kita akan membenarkan orang yang diberi titipan dan memintanya bersumpah.

والوجه الثاني أن له تحليفَ مالك الوديعة فإنه لم ينحسم إمكان صدق المودَع بالكلية وذلك بأن يُفرضَ حريق وانطفاء مع ذهول الناس أو مع اشتغالهم بما ألهاهم عن التعرض لهذا الحريق ولا يمتنع فرض مواطأة في ليلةٍ حتى يخفوا ذكر الحريق

Dan alasan kedua adalah bahwa pemilik barang titipan berhak meminta sumpah dari orang yang dititipi, karena kemungkinan kebenaran pengakuan orang yang dititipi belum sepenuhnya tertutup. Hal ini dapat terjadi, misalnya, jika terjadi kebakaran dan api padam sementara orang-orang lalai atau sibuk dengan sesuatu yang membuat mereka tidak memperhatikan kebakaran tersebut, dan tidak mustahil juga jika terjadi kesepakatan pada suatu malam sehingga mereka menyembunyikan kabar tentang kebakaran itu.

وهذا محالٌ عظيم وفيه تلبيساتٌ لا يستقلّ بفكِّها إلا المتبحرون في الأصول

Ini adalah sesuatu yang sangat mustahil, dan di dalamnya terdapat berbagai tipu daya yang hanya dapat diurai oleh para ahli ushul yang benar-benar mendalam ilmunya.

وحظ الفقه منه أنا في توجيه هذا الوجه إن قدَّرنا الإمكانَ لزمنا تصديقُ المودَع وإن لم نصدقه لظهور كذبه لم ينتظم لنا تصوّرُ إمكان صدقه ولكن يجب أن نعتقد أنا وإن بنينا الوديعة على تصديق المودَع فلا يمتنع أن نشترط في ذلك ألا يعارِض قولَه أمرٌ في نهاية الوضوح وإذا لم يظهر ما يناقض قولَه فإذ ذاك نصدّقه

Adapun bagian fiqh dari hal ini adalah bahwa dalam mengarahkan sisi ini, jika kita menganggap kemungkinan, maka kita wajib membenarkan orang yang diberi titipan. Namun jika kita tidak membenarkannya karena jelas kebohongannya, maka tidak mungkin bagi kita untuk membayangkan kemungkinan kebenarannya. Akan tetapi, kita harus meyakini bahwa meskipun kita mendasarkan titipan pada pembenaran terhadap orang yang diberi titipan, tidaklah mustahil untuk mensyaratkan bahwa dalam hal itu tidak ada sesuatu yang sangat jelas yang bertentangan dengan ucapannya. Dan jika tidak tampak sesuatu yang bertentangan dengan ucapannya, maka saat itulah kita membenarkannya.

وهذا يناظر النزاع بين الزوجين في الوطء حيث نجعل القولَ قول الزوج في إثبات الوطء نظراً إلى استبقاء النكاح

Hal ini serupa dengan perselisihan antara suami istri mengenai hubungan suami istri, di mana pendapat suami dijadikan pegangan dalam menetapkan terjadinya hubungan tersebut, dengan pertimbangan untuk mempertahankan pernikahan.

وهذا الأصل في هذه القاعدة ينزل منزلة أصل الائتمان في الوديعة فإن الشرع اقتضى تصديق الزوج في الوطء مع أن الأصل عدمه لاستبقاء النكاح كما جعل القولَ قول المودَع في دعوى التلف مع أن الأصل عدمه لتحقيق معنى الأمانة

Prinsip dasar dalam kaidah ini menempati kedudukan seperti prinsip kepercayaan dalam masalah titipan (wadi‘ah), karena syariat menetapkan untuk mempercayai pengakuan suami dalam hal hubungan suami istri, meskipun pada dasarnya dianggap tidak terjadi, demi menjaga keberlangsungan pernikahan. Sebagaimana syariat juga menetapkan bahwa pernyataan orang yang dititipi (muwadda‘) diterima dalam klaim kerusakan barang titipan, meskipun pada dasarnya dianggap tidak rusak, untuk mewujudkan makna amanah.

ثم لو ادعت المرأة أنها عذراء وشهد بعذرتها نسوة ثقات فلا يصدق الزوج في دعوى الوطء لظهور كذبه ولكن من حيث إنا نجوز عوْد العُذرة على بعد نجوّز للزوج وإن لم يصدّق أن يحلّف المرأة فلا يمتنع أن يجري في الوديعة حالةٌ ظاهرة لا يصدّق معها الموع ولكن من حيث لا يزول أصل الإمكان على استيقان لا يمتنع تحليفُ المودَع مالكَ الوديعة

Kemudian, jika seorang wanita mengaku masih perawan dan ada sekelompok wanita tepercaya yang bersaksi atas keperawanannya, maka suami tidak dapat dipercaya dalam klaim telah melakukan hubungan badan karena jelas kebohongannya. Namun, karena kami membolehkan kemungkinan kembalinya keperawanan meskipun jarang terjadi, kami membolehkan suami, meskipun tidak dipercaya, untuk meminta sumpah kepada istrinya. Maka tidak mustahil dalam kasus titipan (wadi‘ah) terdapat keadaan yang jelas sehingga orang yang dititipi tidak dipercaya, tetapi selama kemungkinan dasarnya belum hilang secara pasti, tidak terhalang bagi pemilik titipan untuk meminta sumpah kepada orang yang dititipi.

فإن قيل: فلم كانت مسألة العُذْرة متفقاً عليها قلنا: لأن عَوْد العُذرة ليس متعلّقاً بمطّرد العادة بل هو أمر يرتبط بالجبلة وأما الحريق فخفاؤه يكاد يخرم العادة فاقتضى ذلك تردداً

Jika dikatakan: Mengapa masalah ‘udzrah (selaput dara) menjadi perkara yang disepakati? Kami jawab: Karena kembalinya ‘udzrah tidak berkaitan dengan kebiasaan yang umum berlaku, melainkan merupakan sesuatu yang berhubungan dengan tabiat dasar. Adapun luka bakar, ketidakjelasannya hampir-hampir merusak kebiasaan, sehingga hal itu menimbulkan keraguan.

هذا منتهى ما ذكره الأئمة نقلاً

Inilah batas akhir dari apa yang disebutkan oleh para imam berdasarkan riwayat.

وقد تحصّل من مجموع ما ذكروه ثلاث طرق: أما العراقيون فإنهم قالوا: إذا ادعى شيئاً في التلف يهون إثباته بالشهادة لم يصدّق ولم نقنع بيمينه وإنما نقنع بيمينه إذا ادعى سبباً خفياً وألحقوا دعوى الرد بالأسباب الخفية لأن العادة جارية بإخفاء الودائع بأخذها

Dari keseluruhan yang mereka sebutkan, terdapat tiga metode: Adapun para ulama Irak, mereka berkata: Jika seseorang mengklaim sesuatu dalam hal kerusakan yang mudah dibuktikan dengan kesaksian, maka ia tidak dibenarkan dan kami tidak cukup dengan sumpahnya, melainkan kami cukup dengan sumpahnya jika ia mengklaim sebab yang tersembunyi. Mereka juga mengaitkan klaim pengembalian dengan sebab-sebab tersembunyi karena kebiasaan yang berlaku adalah menyembunyikan barang titipan ketika mengambilnya.

وأما المراوزة فإنهم رأوا تصديقَ المودع وإن ظهرت مخايل كذبه  ويكتفون بإمكان صدقه قرُب أو بعُد  ويفصّلون القول في الحريق ويقولون: إن كان ليليّاً بحيث يتوقع انطفاؤه من غير اطلاع وفرض في طرفٍ من البلدة فخفاؤه نادر ولكنه ممكن فالمودع يصدق مع يمينه فإن كان الحريق نهاراً بحيث نستيقن أنه لو كان لما خفي فلا سبيل إلى التصديق ولا يبقى تنازع

Adapun para ulama Marw, mereka berpendapat untuk membenarkan ucapan orang yang menerima titipan (mudi‘) meskipun tampak tanda-tanda dustanya, dan mereka cukup dengan kemungkinan kebenarannya, baik kemungkinan itu dekat maupun jauh. Mereka merinci pendapat dalam kasus kebakaran dan berkata: Jika kebakaran itu terjadi pada malam hari sehingga dimungkinkan apinya padam tanpa diketahui orang dan terjadi di salah satu sudut kota, maka tersembunyinya adalah hal yang jarang tetapi mungkin saja terjadi, maka orang yang menerima titipan dibenarkan dengan sumpahnya. Namun jika kebakaran itu terjadi pada siang hari sehingga kita yakin bahwa jika memang terjadi pasti tidak akan tersembunyi, maka tidak ada jalan untuk membenarkannya dan tidak ada lagi perdebatan.

وأما صاحب التقريب فإنه أثبت منزلةً يظهر فيها الكذب ولا ينقطع الإمكان كما صورناه وقضى فيها بأن المؤتمن لا يصدق لظهور الكذب ثم ردّد الجواب في تحليف المالك

Adapun penulis kitab at-Taqrīb, ia menetapkan adanya suatu tingkatan di mana kebohongan tampak jelas namun kemungkinan (kebenaran) belum terputus, sebagaimana telah kami gambarkan, dan ia memutuskan bahwa orang yang diberi amanah tidak dapat dipercaya karena kebohongan telah tampak, kemudian ia mengulang-ulang jawaban mengenai sumpah yang harus diucapkan oleh pemilik.

وطريقُه ينفصل عن طريقة العراقيين من جهة أنهم يقولون: علامة الكذب وإن لم يظهر إذا كان إثبات سبب التلف ممكناً بالشهادة فلا يحلف المودع

Dan metodenya berbeda dengan metode para ulama Irak dalam hal bahwa mereka berpendapat: tanda dusta, meskipun tidak tampak, jika penetapan sebab kerusakan memungkinkan dengan kesaksian, maka pihak yang menerima titipan tidak disumpah.

فهذا بيان الطرق

Inilah penjelasan tentang metode-metodenya.

فقد خرج مما ذكرناه أن المودع مصدَّق في ردّ الوديعة يحلف عليه وهو مصدق في دعوى التلف أيضاً وهذا الأصل متفق عليه وإنما تردد الأصحاب في التفاصيل

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, maka jelas bahwa pihak yang menerima titipan (mūda‘) dapat dipercaya dalam pengembalian titipan dan ia bersumpah atas hal itu, serta ia juga dapat dipercaya dalam mengklaim bahwa titipan tersebut telah rusak (hilang). Prinsip ini telah disepakati, hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam rincian-rinciannya.

ومما يتعلق بأحكام الائتمان أن المودَع لو ادعى الرد على رسول المودِع فأنكر الرسول القبض وأنكر المالك وصولَ الوديعة إلى يده فالقول في هذا المحل قولُ المالك وقول الرسول إن ارتبطت الدعوى به والسبب في ذلك أن المؤتمن لم يدع رد الوديعة على من ائتمنه وإنما ادعى ردها على الرسول وهو لم يأتمنه

Termasuk dalam hukum-hukum titipan adalah bahwa jika orang yang dititipi mengaku telah mengembalikan barang titipan kepada utusan pemilik titipan, lalu utusan tersebut menyangkal telah menerima barang itu, dan pemilik barang juga menyangkal bahwa titipan tersebut telah sampai ke tangannya, maka dalam kasus ini yang dipegang adalah pernyataan pemilik barang, dan juga pernyataan utusan jika gugatan berkaitan dengannya. Sebabnya adalah karena orang yang dititipi tidak mengaku telah mengembalikan titipan kepada orang yang menitipkannya, melainkan ia mengaku telah mengembalikannya kepada utusan, padahal ia tidak diberi amanah oleh utusan tersebut.

ومن قواعد الشريعة أن الأمين إذا ادعى الرد على من لم يأتمنه لم يقبل قوله مع يمينه ولهذا نقول: إذا ادعى الوصي ردّ مال الطفل عليه بعد بلوغه لم نكتف بقول الوصي ويمينه فإنه وإن كان أميناً فقد ادعى الرد على من لم يأتمنه وهو الطفل الذي بلغ وقد شهد بذلك نص القرآن فإنه عز من قائل قال: {فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ والأمر بالتأكيد بالشهود يشعر بأن الراد لا يصدق في المردود عند تقدير الجحود وهذا يعضد التلويح الذي ذكرناه في أن المودِع لما أحل المودَع محل المؤتمنين فقد التزم تصديقَه وهذا يختص بما يدور بينه وبين المؤتمن فأما من لم يأتمنه فليس ملتزماً بتصديقه فإذا اعتضد الحكم بظاهر القرآن وطرفٍ من المعنى اللائق بالموضوع الذي فيه الكلام وجب الاكتفاء به

Di antara kaidah syariat adalah bahwa seorang yang diberi amanah (al-amīn) jika mengaku telah mengembalikan barang kepada orang yang tidak memberinya amanah, maka pengakuannya tidak diterima meskipun disertai sumpahnya. Oleh karena itu, kami katakan: jika seorang washi (wali) mengaku telah mengembalikan harta anak setelah anak itu baligh, maka kami tidak cukup dengan ucapan dan sumpah washi tersebut. Sebab, meskipun ia adalah seorang yang dipercaya, ia telah mengaku telah mengembalikan kepada orang yang tidak memberinya amanah, yaitu anak yang telah baligh. Hal ini telah ditegaskan oleh nash Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Maka apabila kamu menyerahkan harta mereka kepada mereka, hendaklah kamu adakan saksi-saksi atas mereka.” (QS. An-Nisa: 6). Perintah untuk menegaskan dengan saksi-saksi menunjukkan bahwa orang yang mengembalikan (barang) tidak dapat dipercaya dalam pengakuannya jika terjadi pengingkaran. Ini menguatkan isyarat yang telah kami sebutkan, bahwa ketika seorang penitip (mūdi‘) menempatkan orang yang dititipi (mūda‘) pada posisi orang-orang yang dipercaya, maka ia telah berkomitmen untuk mempercayainya. Hal ini khusus berlaku pada urusan antara dia dan orang yang mempercayainya. Adapun terhadap orang yang tidak mempercayainya, maka ia tidak berkewajiban untuk mempercayainya. Jika hukum ini didukung oleh zhahir Al-Qur’an dan sebagian makna yang sesuai dengan konteks pembahasan, maka cukuplah dengan itu.

وعلى هذا الأصل لو ادعى الأب الردَّ على ولده بعد بلوغه ورشده لم يقبل قوله لما ذكرناه

Berdasarkan prinsip ini, jika seorang ayah mengklaim telah mengembalikan (harta) kepada anaknya setelah anak tersebut baligh dan berakal, maka pernyataannya tidak diterima sebagaimana telah kami sebutkan.

ولو أراد المودَع سفراً وجوزنا له أن يودِع الوديعةَ عند أمين فإذا فعل ثم ادعى المودَع الثاني الردّ على المالك وأنكر المالك لم يصدَّق المودَع على المالك لأن المالك لم يأتمنه وإنما يُصدّق المودَع في الرد إذا ادعى على من أحلّه محل الأمناء

Jika orang yang menerima titipan (muda‘) ingin bepergian dan kami membolehkannya menitipkan barang titipan tersebut kepada orang yang terpercaya, lalu ia melakukannya, kemudian orang kedua yang menerima titipan mengaku telah mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya, namun pemiliknya mengingkari, maka orang kedua yang menerima titipan tidak dibenarkan atas pengakuannya terhadap pemilik, karena pemilik tidak mempercayainya. Orang yang menerima titipan hanya dibenarkan dalam pengakuan pengembalian jika ia mengaku kepada orang yang telah menempatkannya pada posisi orang-orang terpercaya.

وينشأ من هذا المنتهى أصل وهو أنا إذا جوزنا للهامّ بالسفر أن يودع الوديعة عند أمينٍ فلو فعل وانطلق ثم عاد فأراد الاسترداد من المودع الثاني وردّ الوديعة إلى يده فهذا فيه احتمال ظاهر من جهة أن يده زالت عن الوديعة بالكلية فلو جوزنا له أن يسترد الوديعة لكان هذا في حكم ائتمان جديد وهذا يبعد على أصل الشافعي

Dari pembahasan ini muncul satu pokok permasalahan, yaitu apabila kita membolehkan seseorang yang berniat bepergian untuk menitipkan barang titipan kepada seorang yang terpercaya, lalu ia benar-benar menitipkan dan pergi, kemudian kembali dan ingin mengambil kembali titipannya dari orang kedua tersebut serta mengembalikan barang titipan itu ke tangannya, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas. Hal ini karena tangannya telah benar-benar terlepas dari barang titipan tersebut. Jika kita membolehkannya untuk mengambil kembali barang titipan itu, maka hal ini dianggap sebagai pemberian kepercayaan yang baru, dan ini sulit diterima menurut prinsip Imam Syafi‘i.

ويمكن أن يقال: له رد الوديعة إلى يده لأنه الذي أزال اليدَ على حكم الأمانة وفعل ما له أن يفعله فكان له العود إلى ما كان عليه وهذا يشبه تردّدَ الأصحاب في أن وكيل الوكيل هل هو وكيل الوكيل حتى ينعزل بعزله وجنونه أم هو وكيل الموكِّل فالمودَع من المودَع على هذا الخلاف يخرّج: فإن جعلنا المودع الثاني في حكم المودع من المالك فعلى هذا كأن المودع الأول خرج من البين  ولكنا مع هذا لا نصدقه إذا ادّعى الرد على المالك من جهة أنه لم يصدر منه ائتمان له

Dapat dikatakan: Ia berhak mengembalikan titipan itu ke tangannya sendiri karena dialah yang menghilangkan kekuasaan atas titipan itu berdasarkan hukum amanah dan telah melakukan apa yang menjadi haknya, maka ia berhak kembali kepada keadaan semula. Hal ini mirip dengan perbedaan pendapat para sahabat mengenai apakah wakil dari seorang wakil itu tetap menjadi wakil dari wakil sehingga ia diberhentikan atau menjadi gila, ataukah ia adalah wakil dari pemberi kuasa (muwakkil). Maka, orang yang menerima titipan dari penerima titipan juga mengikuti perbedaan pendapat ini: jika kita menganggap penerima titipan kedua dalam kedudukan penerima titipan dari pemilik, maka dalam hal ini seolah-olah penerima titipan pertama keluar dari urusan tersebut. Namun demikian, kita tetap tidak membenarkannya jika ia mengaku telah mengembalikan titipan kepada pemilik, karena dari pihak pemilik tidak pernah ada tindakan memberikan kepercayaan kepadanya.

وعلى هذا يخرّج حكمٌ كثر فيه اضطراب الأصحاب وهو أن الرجل إذا غصب وديعةً من يد المودَع فهل للمودَع الدعوى عليه واسترداد العين المغصوبة من يده فيه اختلاف بين الأصحاب: منهم من جوز له ذلك من جهة أنه مستحفَظٌ في الوديعة باستحفاظ المالك مأمور بالذب عن الوديعة ومن تمام الذب عنها استردادُها من غاصبها فالإيداع المسلِّط على الحفظ يُسلّط على الاسترداد ورد العين إلى الحفظ

Berdasarkan hal ini, dapat diturunkan hukum pada kasus yang sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, yaitu apabila seseorang merampas barang titipan dari tangan orang yang dititipi, apakah orang yang dititipi tersebut berhak mengajukan gugatan terhadap perampas itu dan mengambil kembali barang yang dirampas dari tangannya? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat: sebagian dari mereka membolehkan hal itu bagi orang yang dititipi, karena ia adalah pihak yang dipercaya untuk menjaga titipan atas permintaan pemiliknya, dan ia diperintahkan untuk melindungi titipan tersebut. Salah satu bentuk perlindungan terhadap titipan adalah mengambil kembali barang tersebut dari perampasnya. Maka, penyerahan titipan yang memberikan wewenang untuk menjaga, juga memberikan wewenang untuk mengambil kembali dan mengembalikan barang tersebut ke dalam penjagaan.

ومن تمام البيان في الفصل الذي خضنا فيه أنّا إذا جوّزنا للمودَع أن يستحفظ عبده وزوجته إما في ساعات من الليل والنهار وإما على العموم فلو أراد صرف زوجته وولده عن القيام بالحفظ ورد الوديعة إلى يده على حكم الاستبداد فهذا مسوّغ لا خلاف فيه وذلك أن استحفاظَه هؤلاء في حكم الاستعانة بهم وهو الأصل في الوديعة فإن أراد أن يخرجهم من البين  كان له ذلك فإنهم وقعوا أتباعاً وكانت يده باقية وإن قام بالحفظ غيرُه

Sebagai pelengkap penjelasan dalam pembahasan yang sedang kita bahas, apabila kita membolehkan bagi orang yang menerima titipan (muda‘) untuk meminta bantuan budaknya dan istrinya dalam menjaga titipan, baik pada waktu-waktu tertentu di siang atau malam hari maupun secara umum, maka jika ia ingin memberhentikan istrinya dan anaknya dari tugas menjaga dan mengembalikan titipan itu ke tangannya sendiri secara penuh, hal ini dibolehkan tanpa ada perbedaan pendapat. Sebab, meminta bantuan mereka dalam menjaga titipan itu pada hakikatnya adalah bentuk meminta pertolongan, sedangkan asal hukum dalam titipan adalah tanggung jawab pribadi. Maka jika ia ingin mengeluarkan mereka dari urusan ini, ia berhak melakukannya, karena mereka hanyalah sebagai pembantu, dan tanggung jawab tetap berada di tangannya meskipun ada orang lain yang melakukan penjagaan.

هذا تمام البيان في هذا الأصل

Inilah penjelasan lengkap mengenai pokok bahasan ini.

ولو قال المودع: رددت الوديعة إلى مأمورك ووكيلِك باستردادها وهو فلان فقال مالك الوديعة: ما وكلته قط فالقول قول المالك ولو قال: كنت وكلته بقبض الوديعة ولكنك لم تسلم إليه الوديعة فالقول في ذلك قول المالك فإنه الآمر ومنه صَدَرُ الأمر والمودَع لم يدّع الرد على المودِع نفسه

Jika seorang penerima titipan berkata: “Saya telah mengembalikan titipan kepada orang yang engkau tugaskan dan wakilkan untuk mengambilnya, yaitu si Fulan,” lalu pemilik titipan berkata: “Saya tidak pernah mewakilkannya sama sekali,” maka yang dipegang adalah pernyataan pemilik titipan. Namun jika ia berkata: “Saya memang pernah mewakilkannya untuk menerima titipan, tetapi engkau tidak menyerahkan titipan itu kepadanya,” maka dalam hal ini yang dipegang adalah pernyataan pemilik titipan, karena dialah yang memberi perintah dan darinya perintah itu berasal, sedangkan penerima titipan tidak mengaku telah mengembalikan kepada pemilik titipan itu sendiri.

ولو قال الوكيل: قد استوفيتُ الوديعةَ وصُدّق من المودَع في ادعاء تسليمها إليه وأنكر الموكِّل هذا وقال: تواطأتما عليّ فلا أنت استرددت ولا هو ردّ فالقول أيضاً قول الموكِّل لم يختلف الأصحاب فيه

Jika sang wakil berkata, “Aku telah mengambil kembali titipan itu,” lalu pihak yang dititipi membenarkan pengakuan penyerahan titipan kepadanya, sedangkan pemberi kuasa mengingkari hal ini dan berkata, “Kalian berdua telah bersekongkol terhadapku; engkau tidak mengambil kembali dan dia pun tidak mengembalikan,” maka yang dijadikan pegangan tetaplah pernyataan pemberi kuasa; para ulama tidak berselisih pendapat dalam hal ini.

فإن قيل: إن لم تُصدقوا المودَع لأنه ادّعى الرد على غير من ائتمنه فالوكيل بالقبض إذا قال: قبضتُ يجب أن يكون مصدّقاً

Jika dikatakan: Jika kalian tidak membenarkan orang yang diberi titipan karena ia mengaku telah mengembalikan kepada selain orang yang menitipkan, maka wakil penerima titipan ketika berkata, “Saya telah menerima,” seharusnya juga dibenarkan.

وهذا أصلٌ عظيم في الوديعة وبه نتبين سرّ الكتاب  فنقول: لا شك أن من ادعى قبضاً فالأصل عدم قبضه ومن ادعى رداً فالأصل عدمُ رده ولكن ورد الشرع بتصديق المودَع إذا دار النزاع بينه وبين المالك حتى لا يضمَّن المودَع فتخرج الأمانة عن حقيقتها فالمقصود الأظهر في تصديق المودَع تحقيقُ حكم الأمانة ونفي موجَب الخيانة والوكيل إذا قال: قبضتُ ولم يصدقه الموكل فلا ضمان عليه ولا تبعة فلا معنى لإلزام الموكِّل بتصديقه

Ini adalah prinsip agung dalam masalah titipan (wadi‘ah), dan dengannya kita dapat memahami rahasia kitab ini. Kami katakan: Tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang mengaku telah menerima barang titipan, maka pada dasarnya ia belum menerimanya; dan siapa pun yang mengaku telah mengembalikannya, maka pada dasarnya ia belum mengembalikannya. Namun, syariat datang dengan ketentuan membenarkan pihak yang dititipi (muwadda‘) apabila terjadi perselisihan antara dia dan pemilik barang, agar pihak yang dititipi tidak dibebani tanggungan sehingga amanah tidak keluar dari hakikatnya. Tujuan utama dari membenarkan pihak yang dititipi adalah untuk menegakkan hukum amanah dan menafikan konsekuensi pengkhianatan. Adapun wakil (wakil) jika berkata, “Saya telah menerima,” namun tidak dibenarkan oleh pihak yang mewakilkan (muwakkil), maka tidak ada tanggungan dan tidak ada akibat baginya. Maka tidak ada alasan untuk mewajibkan pihak yang mewakilkan untuk membenarkannya.

ولو صدق الموكل المودَع في تسليم الوديعة إلى الوكيل وأنكر الوكيل قَبْض الوديعة وجحده فالموكل هل يضمِّن المودَع من جهة أنه قصّر  حيث ردّ ولم يُشهد

Jika muwakkil membenarkan pernyataan orang yang dititipi (muwadda‘) bahwa ia telah menyerahkan barang titipan kepada wakil, namun wakil mengingkari telah menerima barang titipan tersebut dan menolaknya, maka apakah muwakkil dapat menuntut tanggung jawab kepada orang yang dititipi karena ia dianggap telah lalai, yaitu menyerahkan barang tanpa menghadirkan saksi?

فيه اختلاف مشهور: من أصحابنا من قال: له تضمينه لأنه ضيع الوديعة حيث سلمها ولم يستوثق بالإشهاد

Terdapat perbedaan pendapat yang masyhur dalam hal ini: sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia boleh diminta untuk mengganti kerugian karena ia telah menyia-nyiakan titipan tersebut dengan menyerahkannya tanpa memastikan adanya saksi.

ومنهم من قال: لا ضمان فإنه اعترف بأنه سلّم الوديعة ممتثلاً أمره وما كان شرط المالك الإشهاد في تسليم الوديعة

Sebagian dari mereka berpendapat: tidak ada kewajiban ganti rugi, karena ia telah mengakui bahwa ia menyerahkan titipan tersebut dengan menaati perintahnya, dan pemilik tidak mensyaratkan adanya saksi dalam penyerahan titipan.

وأطراف الكلام في الأمانات تدور على التصديق من غير إحواج إلى إقامة بينة وقد ذكرنا لهذا نظائرَ في الوكالة وغيرها من الكتب من أقربها أن الرجل إذا وكل باستيفاء دين له على رجل فقال الوكيل: قد استوفيتُ ودفعت إليك فقال الموكل: ما استوفيتَه فالقول قول الآمر إذ لو ثبت على الوكيل أنه لم يستوف لم يكن متعدياً ولا ضامناً وإذا كان لا يلزمه من تكذيبه ضمان فالخصومة ترد إلى أصلها وهو أن الأصل عدم الاستيفاء

Pokok-pokok pembahasan tentang amanat berputar pada kepercayaan tanpa perlu mendatangkan bukti. Kami telah menyebutkan beberapa contoh serupa dalam bab wakalah dan kitab-kitab lainnya. Di antara contoh terdekatnya adalah jika seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menagih utang dari seseorang, lalu sang wakil berkata, “Saya telah menagih dan menyerahkannya kepadamu,” namun sang pemberi kuasa berkata, “Kamu belum menagihnya.” Maka, yang dipegang adalah ucapan pemberi kuasa. Sebab, jika terbukti bahwa sang wakil memang belum menagih, ia tidak dianggap melampaui batas dan tidak pula menjadi penanggung. Dan jika dari pengingkarannya itu tidak menimbulkan kewajiban tanggungan, maka perselisihan dikembalikan pada asalnya, yaitu bahwa pada dasarnya penagihan belum terjadi.

وبمثله لو قال: بع هذه السلعة واقبض الثمن فباعه بثمن حالٍّ ثم اختلفا فقال: قبضتُ الثمن وتلف عندي أو دفعته إليك وقال الموكل: لم تقبض بل سلمت المتاع قبل قبض الثمن فالقول في هذا المقام قولُ الوكيل لأن الموكل يدعي عليه تعدّياً وضماناً فإن تسليم المبيع قبل قبض الثمن عدوانٌ موجِب للضمان ونحن لا نورِّط الوكيل في الضمان بقول الموكل فاستبان أن الدَّوران على ثبوت الضمان على الوكيل وانتفائه عنه فإذا لم يكن في تكذيبه ما يوجب تضمينه فلا يبعد أن لا يصدق إذا تعلقت الخصومة بثالث

Demikian pula, jika seseorang berkata: “Jual barang ini dan terima uangnya,” lalu ia menjualnya dengan harga tunai, kemudian keduanya berselisih. Si agen berkata: “Saya sudah menerima uangnya dan barang itu rusak di tangan saya atau sudah saya serahkan kepadamu,” sedangkan si pemberi kuasa berkata: “Kamu belum menerima uangnya, melainkan menyerahkan barang sebelum menerima uang,” maka dalam hal ini, yang dipegang adalah pernyataan si agen. Sebab, si pemberi kuasa menuduhnya melakukan pelanggaran dan menuntut tanggung jawab, karena menyerahkan barang sebelum menerima uang adalah pelanggaran yang mewajibkan tanggung jawab. Kita tidak membebani si agen dengan tanggung jawab hanya berdasarkan ucapan si pemberi kuasa. Maka jelaslah bahwa persoalannya berputar pada terbukti atau tidaknya tanggung jawab pada si agen. Jika dalam bantahannya tidak ada yang mewajibkan ia menanggung, maka tidaklah jauh kemungkinan ia tidak dipercaya jika perselisihan itu melibatkan pihak ketiga.

وقد استقصينا هذا الفصل من أحكام الوكالة في كتابها وذكرنا أنا في هذه المسألة الأخيرة إذا صدقنا الوكيل حتى لا ننسبه إلى عدوان فهل ينفذ هذا التصديق في حق المشتري حتى نحكم بسقوط الثمن عنه إذ هذا مقتضى تصديق الوكيل في قبضه فإذا صدق الوكيل في قبض الثمن تضمن ذلك براءةَ المشتري

Kami telah membahas bab ini tentang hukum-hukum wakalah dalam kitabnya, dan kami telah menyebutkan bahwa dalam masalah terakhir ini, jika kita membenarkan ucapan wakil sehingga kita tidak menuduhnya berbuat zalim, maka apakah pembenaran ini berlaku juga bagi pembeli sehingga kita memutuskan gugurnya kewajiban membayar harga darinya, karena inilah konsekuensi dari membenarkan wakil dalam menerima pembayaran. Maka jika wakil dibenarkan dalam menerima harga, hal itu mengandung makna bahwa pembeli telah bebas dari tanggung jawab.

و اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من حكم ببراءة المشتري لِما ذكرناه ومنهم من لم يحكم ببراءته وصار إلى أن فائدة تصديق الوكيل تبرئتُه عن الضمان حتى لا ينسب إلى العدوان بسبب رفع اليد عن المبيع قبل تسليم الثمن

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini: sebagian dari mereka memutuskan bahwa pembeli bebas dari tanggungan sebagaimana telah kami sebutkan, dan sebagian lain tidak memutuskan kebebasannya, serta berpendapat bahwa manfaat dari membenarkan ucapan wakil adalah membebaskannya dari tanggungan, agar ia tidak dianggap melakukan tindakan melampaui batas karena melepaskan tangan dari barang yang dijual sebelum penyerahan harga.

وقد استقصينا الكلام في جوانب هذه المسألة وأوضحنا الإشهاد ومعناه وموتَ الشهود فلا معنى لإعادته

Kami telah membahas secara mendalam berbagai sisi permasalahan ini dan telah menjelaskan tentang penyaksian beserta maknanya serta wafatnya para saksi, sehingga tidak ada gunanya untuk mengulanginya kembali.

وقدرُ غرضنا من مساق هذا الفصل أن المودَع إنما يُصدّق مع مؤتمِنه ومودِعه فإذا تعلق النزاع بمن لم يأتمنه فلا يصدقه من لم يأتمنه فهذا منتهى ما أردنا أن نذكره في حكم الأمانة

Tujuan utama kami dalam pembahasan bab ini adalah bahwa orang yang menerima titipan hanya dapat dipercaya oleh orang yang mempercayakan titipan kepadanya. Jika perselisihan terjadi dengan orang yang tidak mempercayakan titipan kepadanya, maka orang yang tidak mempercayakan titipan tersebut tidak wajib mempercayainya. Inilah batas akhir dari apa yang ingin kami sampaikan mengenai hukum amanah.

وبقية الفصل أن المودَع ذا فعل شيئاً يقتضي تضمينه في حالة الاختيار ولا يقتضيه في حالة الاضطرار كنقل الوديعة أو المسافرة بها على التفاصيل المقدمة فإذا تلفت الوديعة فادعى المودَع اضطراراً يخرج به فعلُه عن كونه مضمّناً وأنكر المودِع ما ادّعاه من الاضطرار فالقول قول المؤتمَن المودَع وكل نزاع يدور بين المالك وبين المودَع من هذا الفن فكأن المالك يدعي سببَ تضمينٍ والمودَع ينفيه أو كأن المودعَ يدعي سبباً يدرأ الضمان وكأن المالك ينفيه فالقول قول المودَع في جميع ذلك ثم هذا يُعرَض على تفاصيل الطرق التي أوضحناها في خفاء الأسباب وظهورها

Sisa pembahasan bab ini adalah bahwa jika orang yang menerima titipan (muda‘) melakukan sesuatu yang dalam keadaan biasa mengharuskannya untuk menanggung ganti rugi, namun tidak demikian halnya dalam keadaan terpaksa—seperti memindahkan barang titipan atau bepergian dengannya sesuai rincian yang telah dijelaskan sebelumnya—lalu barang titipan itu rusak, kemudian orang yang menerima titipan mengaku bahwa ia terpaksa sehingga perbuatannya tidak mewajibkan ganti rugi, sedangkan pemilik barang (mudi‘) mengingkari adanya keterpaksaan yang diakuinya, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang menerima titipan (mu’taman/muda‘). Setiap perselisihan yang terjadi antara pemilik barang dan orang yang menerima titipan dalam masalah seperti ini, seolah-olah pemilik barang mengklaim adanya sebab yang mewajibkan ganti rugi, sedangkan orang yang menerima titipan menafikannya; atau seolah-olah orang yang menerima titipan mengklaim adanya sebab yang menggugurkan kewajiban ganti rugi, dan pemilik barang menafikannya; maka dalam semua itu, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang menerima titipan. Selanjutnya, hal ini dikembalikan kepada rincian cara-cara yang telah kami jelaskan mengenai samar atau jelasnya sebab-sebab tersebut.

وقد نجز ما حاولنا في معاقد أحكام الأمانة وجرى هذا مع الفصول المقدمة تمهيداً لأصول الكتاب

Apa yang kami upayakan dalam pembahasan pokok-pokok hukum amanah telah selesai, dan hal ini berjalan seiring dengan bab-bab pendahuluan sebagai pengantar bagi pokok-pokok kitab ini.

فصل

Bab

قال: ولو أودعه دابّةً وأمر بعلفها وسقيها إلى آخره

Ia berkata: Dan jika seseorang titipkan seekor hewan kepadanya dan memerintahkannya untuk memberi makan dan minum hewan itu, dan seterusnya.

إذا أودع عند إنسان دابة ولم يتعرض لعلفها وسقيها وغاب فليس للمودَع أن يعطلها ويقطعَ عنها ما تحتاج إليه خلافاً لأبي حنيفة  ومعتمدُ المذهب أن قبول الوديعة يتضمن القيام بحفظها واستدامتها وليس من استدامتها أن تعطل حتى تهلك وهذا يعتضد بالعرف أيضاً فإن الدّواب لا تُقْبل لتقتل وتترك حتى تموت وتهلك ضياعاً وجوعاً

Jika seseorang menitipkan seekor hewan kepada orang lain dan tidak menyebutkan tentang pemberian makan dan minumnya, lalu ia pergi, maka orang yang dititipi tidak boleh membiarkan hewan itu tanpa makanan dan minuman yang dibutuhkannya. Ini berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Pendapat yang dipegang dalam mazhab adalah bahwa menerima titipan (wadi‘ah) mengandung kewajiban menjaga dan memeliharanya. Membiarkan hewan itu hingga binasa bukanlah bagian dari pemeliharaan. Hal ini juga didukung oleh ‘urf (kebiasaan), karena hewan tidaklah dititipkan untuk dibunuh atau dibiarkan hingga mati sia-sia dan kelaparan.

ثم للمودَع أن يرفع الأمر إلى القاضي ليستقرض على المالك إن رأى ذلك أو يبيع الدابة إن رأى بيعها ولسنا نطوّق المودَع الإنفاق من عند نفسه شاء أم أبى مع التمكن من الجهة التي ذكرناها فإن إلزام الإنفاق من غير سبب في الالتزام لا وجه له وإن لم يجد المودَعُ الحاكمَ فأنفق وأشهد واقتصد فهل يرجع على مالك الدابة اختلف أئمتنا في ذلك على طريقين: فمنهم من خرجه على قولين ذكرناهما فيه إذا هرب الجمّال ومست حاجة المكتري إلى استئجار من يقوم بتعهد الدّواب ولم يجد حاكماً يراجعه فإذا استأجر من مال نفسه لمسيس الحاجة ففي ثبوت الرجوع على الجمّال قولان

Kemudian, pihak yang menerima titipan dapat mengajukan perkara ini kepada hakim agar hakim meminjamkan atas nama pemilik jika ia memandang hal itu perlu, atau menjual hewan tersebut jika ia memandang perlu menjualnya. Kami tidak mewajibkan pihak penerima titipan untuk mengeluarkan biaya dari dirinya sendiri, baik ia rela maupun tidak, selama masih memungkinkan menempuh cara yang telah kami sebutkan. Sebab, mewajibkan pengeluaran biaya tanpa adanya sebab yang mewajibkan tidaklah dibenarkan. Jika pihak penerima titipan tidak menemukan hakim, lalu ia mengeluarkan biaya, menghadirkan saksi, dan bersikap hemat, apakah ia berhak menuntut penggantian dari pemilik hewan tersebut? Para imam kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat: di antara mereka ada yang mengaitkannya dengan dua pendapat yang telah kami sebutkan dalam kasus jika pengemudi unta melarikan diri dan penyewa sangat membutuhkan untuk menyewa orang lain yang akan merawat hewan-hewan tersebut, namun ia tidak menemukan hakim untuk dimintai keputusan. Jika ia menyewa dengan uangnya sendiri karena kebutuhan mendesak, maka dalam hal boleh tidaknya menuntut penggantian dari pengemudi unta terdapat dua pendapat.

فقال قائلون المودع إذا أنفق في مثل هذه الصورة كان على ما ذكرناه من

Maka sebagian orang berkata, orang yang menerima titipan (muwadda‘) apabila membelanjakan (titipan) dalam keadaan seperti ini, maka hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

الخلاف

Perselisihan

ومن أصحابنا من قال: لا يرجع المودَع قولاً واحداً والفرق أن المكتري يستحق على الجمال القيام بتعهد الجمال لتتهيأ لحمل الأثقال فإذا هرب الجمال فاستأجر المكتري كان ذلك تسبباً منه إلى استيفاء حقٍّ مستحَقّ وهذا المعنى لا يتحقق في حق المودَع فإنه المقصّر لمّا قبل الدوابَّ من غير تعرضٍ لعلفها وسقيها

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat: pihak yang menerima titipan (muda‘) tidak boleh kembali (menarik diri) menurut satu pendapat, dan perbedaannya adalah bahwa penyewa (muktari) berhak menuntut kepada pemilik hewan (jamāl) untuk merawat hewan tersebut agar siap digunakan mengangkut barang-barang. Jika pemilik hewan melarikan diri lalu penyewa menyewa orang lain, maka itu merupakan upaya dari penyewa untuk memperoleh haknya yang memang menjadi haknya. Makna ini tidak berlaku pada hak pihak yang menerima titipan, karena dialah yang lalai ketika menerima hewan-hewan itu tanpa memperhatikan pemberian makan dan minumnya.

ولو أذن القاضي للمودَع أن ينفق ليرجع بما ينفقه فقد ذكر أصحابنا في ذلك خلافاً وقد أوضحنا مثلَ هذا الخلاف في مثل هذه الصورة من مسألة الجمّال

Jika hakim mengizinkan pihak yang menerima titipan untuk membelanjakan (harta titipan) agar ia dapat menuntut kembali apa yang telah dibelanjakannya, para ulama mazhab kami menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Kami telah menjelaskan perbedaan pendapat serupa pada kasus yang mirip dalam permasalahan jammāl (pengangkut barang).

وهذا الخلاف لا يُتلقى مما قدمناه فيه إذا لم يجد الحاكم فأنفق فإن الحاكم إذا رأى الاستقراض على ربّ الدواب أو رأى بيعَ دوابه كان له ذلك والمودَع مع الحاكم لا يستبد فإذا كان أراد الحاكم أن يأذن له لينفق ويرجع فوجه الامتناع فيه عند من يمنع أنه في حكم المقرض القابض وهذا يبعد اجتماعه في حق الشخص الواحد ومهما تعلق أمرٌ بالحاكم وردَّدنا فيه رأياً لم نعنِ به أن الحاكم لو أدى اجتهاده والمسألة مجتهد فيها لم نتبع اجتهادَه فإن اجتهاد القضاة متبع بلا خلاف وإنما الذي نمهده مسلك النظر حتى يرى القاضي فيه رأيه فإن استقرّ رأيه على شيء اتبع

Perbedaan pendapat ini tidak diambil dari apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu jika hakim tidak menemukan (jalan keluar) lalu ia membelanjakan (harta tersebut), karena jika hakim memandang perlu untuk meminjam atas nama pemilik hewan atau memandang perlu menjual hewan-hewan tersebut, maka ia berhak melakukannya, sedangkan orang yang dititipi bersama hakim tidak berhak bertindak sendiri. Jika hakim bermaksud memberi izin kepadanya untuk membelanjakan dan kemudian menuntut kembali (biaya tersebut), maka alasan penolakan menurut pihak yang melarang adalah karena ia dalam posisi seperti pemberi pinjaman yang telah menerima (barang), dan ini sulit untuk digabungkan pada satu orang. Setiap kali suatu perkara berkaitan dengan hakim dan kami mengemukakan pendapat di dalamnya, bukan berarti jika hakim telah berijtihad dan masalah tersebut memang termasuk masalah ijtihad, maka kami tidak mengikuti ijtihadnya; sebab ijtihad para hakim itu diikuti tanpa ada perbedaan pendapat. Yang kami jelaskan hanyalah metode pertimbangan agar hakim dapat melihat dan mempertimbangkan pendapatnya; jika pendapatnya telah mantap pada suatu hal, maka itulah yang diikuti.

ثم إذا أوجبنا على المودَع أن ينفق على الدابة فالقدر الذي يجب إنفاقه مما يتعين إنعام النظر فيه فنقول: أما المقدار الذي يقيها الهلاك فلا بد منه وكذلك إذا كانت تتعيّب  وإن كانت لا تهلك فيجب أن يصونها عما يعيّبها فإن التعيب في معنى التلف

Kemudian, apabila kami mewajibkan kepada orang yang menerima titipan (muwadda‘) untuk memberi nafkah kepada hewan titipan, maka kadar nafkah yang wajib diberikan perlu diperhatikan dengan seksama. Kami katakan: Adapun kadar yang dapat mencegah hewan itu dari kebinasaan, maka hal itu wajib diberikan. Demikian pula, jika hewan itu akan menjadi cacat meskipun tidak sampai binasa, maka wajib pula menjaga hewan itu dari hal-hal yang dapat mencacatkannya, karena cacat itu pada hakikatnya sama dengan kebinasaan.

ولا نكلف المودع أن يستفرغ الوسع في تسمينها والذي يضطرب الرأي فيه أنها إذا كانت على حالةٍ وحدٍّ من السمن عند الإيداع فهل يشترط أن يعلفها علفاً يبقيها على حدِّها أم نقول: لو انحطت عن ذلك الحد قليلاً لم يضر إذا لم ينته النقصان إلى حدّ العيب هذا فيه نظر واحتمال  ولعل الأوجه أنها إذا كانت على غايةٍ من السمن لا يشترط استبقاؤها على ما كانت عليه وإن كانت على اقتصاد فيتردد الرأي والاحتمال متطرق إلى جميع أطراف المسألة

Kami tidak mewajibkan kepada penerima titipan (mudi‘) untuk mengerahkan seluruh upaya dalam menggemukkan hewan titipan. Adapun yang masih menjadi perdebatan adalah, jika hewan tersebut saat dititipkan berada pada kondisi dan tingkat kegemukan tertentu, apakah disyaratkan untuk memberinya pakan yang dapat mempertahankan kondisinya tersebut, ataukah kita mengatakan: jika berat badannya turun sedikit dari tingkat semula, hal itu tidak mengapa selama penurunan tersebut tidak sampai pada batas cacat? Dalam hal ini terdapat ruang untuk dipertimbangkan dan ada kemungkinan perbedaan pendapat. Barangkali pendapat yang lebih kuat adalah, jika hewan tersebut pada awalnya sangat gemuk, maka tidak disyaratkan untuk mempertahankannya tetap seperti itu. Namun, jika kondisinya sedang-sedang saja, maka pendapat masih bisa dipertimbangkan, dan kemungkinan tetap terbuka untuk semua sisi permasalahan ini.

ومما يتعلق بهذا أن المودع لو حبس الدابة ولم يعلفها حتى هلكت فإن لم تكن جائعةً لمّا ثبت يده عليها ثم حبسها فهلكت جوعاً لزمه الضمان ولو كانت عند الإيداع على حدٍّ من الجوع فحبسها وازداد الجوع وتمادى فنفقت الدابة وكان نفوقها بسبب الجوع السابق وما انضم إليه فهذا يستدعي تقديم مسألة ستأتي مشروحة في الجراح إن شاء الله تعالى وهي أن الرجل إذا حبس إنساناً وأغلق عليه باباً حتى مات جوعاً وكان على حدٍّ من الجوع لما حُبس فانضم ما زاد إلى ما كان ففي المسألة وجهان مشهوران: أحدهما أنه لا يجب الضمان فإن الحابس لو حبسه في مثل الزمان الذي جرى الحبس فيه ولم يكن جائعاً عند ابتداء الحبس فهذا القدر كان لا يهلكه ولم يوجد منه إلا الحبس في هذا القدر فلا يؤاخذ بتلفٍ ترتب على الجوع السابق هذا وجه

Terkait dengan hal ini, jika seseorang yang menerima titipan menahan hewan tunggangan dan tidak memberinya makan hingga hewan itu mati, maka jika hewan tersebut tidak dalam keadaan lapar ketika pertama kali dititipkan kepadanya, lalu ia menahannya hingga mati karena kelaparan, maka ia wajib menanggung ganti rugi. Namun, jika ketika dititipkan hewan itu sudah dalam keadaan agak lapar, lalu ia menahannya sehingga rasa lapar itu bertambah dan berlanjut hingga hewan itu mati, dan kematiannya disebabkan oleh rasa lapar yang sudah ada sebelumnya ditambah dengan rasa lapar yang baru, maka hal ini membutuhkan penjelasan yang akan dibahas dalam bab luka (al-jirāḥ) insya Allah Ta‘ala. Yaitu, jika seseorang menahan orang lain dan mengurungnya dalam sebuah ruangan hingga ia mati kelaparan, sementara ketika dikurung ia sudah dalam keadaan agak lapar, lalu rasa lapar itu bertambah, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya adalah bahwa tidak wajib ganti rugi, sebab jika si penahan mengurungnya dalam waktu yang sama namun orang tersebut tidak dalam keadaan lapar saat mulai dikurung, maka waktu tersebut tidak akan menyebabkan kematian. Maka, si penahan tidak dibebani tanggung jawab atas kematian yang diakibatkan oleh rasa lapar yang sudah ada sebelumnya; inilah salah satu pendapat.

والوجه الثاني أن الضمان يجب فإن حبسه صادف موصوفاً بالجوع فكان مهلكاً لمصادفته جائعاً وهذا ينزل منزلة ما لو ضرب رجلاً مريضاً مُدْنفاً سياطاً لا يهلك الصحيح بها ويقصد بها قتل المريض فإذا مات كان الضرب موجباً للقصاص فإن المريض يُقصد قتله بهذه الضربات فقال الأئمة إذا حبس المودَعُ الدابة وكانت جائعة فتمادى الجوع إلى الموت ففي وجوب الضمان وجهان مرتبان على الوجهين في حبس الآدمي وجعلوا الصورة التي ذكرناها في الوديعة أولى بسقوط الضمان فيها من قبل أن المودعَ له أن يحبس الدابة على الجملة وليس يجوز لمن حبس آدميا أصلُ الحبس

Alasan kedua adalah bahwa kewajiban ganti rugi tetap berlaku, maka jika ia menahan hewan titipan dalam keadaan lapar, sehingga kelaparan itu menyebabkan kematian, maka hal itu dianggap membinasakan karena menahan hewan yang sedang lapar. Ini serupa dengan kasus seseorang memukul orang sakit parah dengan cambukan yang tidak membunuh orang sehat, namun bertujuan membunuh orang sakit tersebut. Jika orang sakit itu mati, maka pukulan tersebut mewajibkan qishāsh, karena memang dimaksudkan untuk membunuhnya dengan pukulan-pukulan itu. Para imam berkata: jika penerima titipan menahan hewan titipan dan hewan itu dalam keadaan lapar, lalu kelaparan itu berlanjut hingga menyebabkan kematian, maka dalam hal kewajiban ganti rugi terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam kasus menahan manusia. Mereka menganggap kasus yang kami sebutkan dalam masalah titipan lebih utama untuk menggugurkan kewajiban ganti rugi, karena penerima titipan memang berhak menahan hewan secara umum, sedangkan menahan manusia sama sekali tidak diperbolehkan.

وسنذكر في كتاب الجراح إن شاء الله وجهاً ثالثاً في أن الضمان يتقسط فيسقط بعضه ويجب بعضه ولا طريق إلا التنصيف فإنّ وقْع الجوع في الباطن يختلف أولاً وآخراً وهذا وجه لا بأس به وإذا خرج في حبس الآدمي خرج في حبس الدابة من غير علف أيضاً

Kami akan menyebutkan dalam Kitab al-Jarāḥ, insya Allah, pendapat ketiga bahwa tanggungan (dhamān) dapat dibagi-bagi, sehingga sebagian gugur dan sebagian lagi tetap wajib, dan tidak ada cara lain kecuali dengan pembagian setengah-setengah. Sebab, terjadinya rasa lapar di dalam tubuh berbeda antara awal dan akhir. Ini adalah pendapat yang tidak mengapa diikuti. Jika pendapat ini berlaku dalam penahanan manusia, maka berlaku pula dalam penahanan hewan tanpa diberi makan.

ولو قال مودِع الدابة: أودعتها عندك فلا تعلفها ولا تسقها ولا عليك لو ماتت فلو حبسها حتى هلكت فلا شك أنه يأثم ويأثم مالكُها والذي قطع به الأصحاب انتفاء الضمان فإن الضمان حق مالك الدابة وقد أباح التسبب إلى إهلاكها وحكى العراقيون وجهاً عن الإصطخري أن الضمان يجب على المودَع ولست أدري لهذا وجهاً فإنه إن قال ذلك من جهة تحريم ترك العلف فيلزمه على مساقه أن يقول: إذا قال مالك العبد لإنسان: اقتل عبدي هذا فقتله يلزمه الضمان فإن طَرَد مذهبَه في هذه الصورة فقد استجرأ على مخالفة الإجماع وإن رام فرقاً لم يجده ولست أعد مثل هذا من متن المذهب ولكني لا أجد بدّاً من حكايته

Jika pemilik titipan hewan berkata: “Aku titipkan hewan ini kepadamu, jangan kau beri makan dan jangan kau beri minum, dan tidak ada tanggungan bagimu jika ia mati,” lalu si penerima titipan menahan hewan itu hingga mati, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berdosa, dan pemilik hewan pun berdosa. Pendapat yang dipastikan oleh para sahabat adalah tidak adanya kewajiban ganti rugi, karena kewajiban ganti rugi adalah hak pemilik hewan, dan ia telah mengizinkan perbuatan yang menyebabkan kematian hewan tersebut. Ulama Irak meriwayatkan satu pendapat dari al-Ishthakhri bahwa kewajiban ganti rugi tetap berlaku atas penerima titipan. Namun aku tidak mengetahui alasan pendapat ini, sebab jika alasan itu karena haramnya meninggalkan pemberian makan, maka seharusnya ia juga mengatakan: jika pemilik budak berkata kepada seseorang, “Bunuhlah budakku ini,” lalu orang itu membunuhnya, maka ia wajib mengganti rugi. Jika ia konsisten dengan pendapatnya dalam kasus ini, berarti ia berani menyalahi ijmā‘. Jika ia mencari perbedaan, maka ia tidak akan menemukannya. Aku tidak menganggap pendapat seperti ini sebagai bagian dari inti mazhab, tetapi aku tidak bisa tidak menyebutkannya.

ومما يتعلق بالفصل أن المودِع لا يكلفه القيام على الدابة بنفسه وتعاطي سقيها وهذا يخرّج على ما مهدته في استعانة المودَع بعبده والمتصلين به ولو كانت الدابة تخرج للسقي فإن أخرجها عبدٌ أو أجير  فلا بأس وذلك مع اطراد الأمن واعتدال الحالة فإن طرأت حالة في البلدة تقتضي أن ألا تسلّم الدابة إلى مملوك أو سايس فيجب على المودَع أن يرعى في كل حالة ما يليق بالعرف فيها والتعويل في التفاصيل على العرف وأعرف الناس به أعرفهم بفقه المعاملات

Terkait dengan pembahasan ini, pemegang titipan (muda‘) tidak diwajibkan untuk secara langsung mengurus hewan tunggangan atau memberi minumannya sendiri. Hal ini didasarkan pada apa yang telah saya jelaskan mengenai bolehnya pemegang titipan meminta bantuan budaknya atau orang-orang yang terhubung dengannya. Jika hewan tersebut dikeluarkan untuk diberi minum oleh seorang budak atau pekerja, maka tidak mengapa, selama keamanan tetap terjaga dan situasi berjalan normal. Namun, jika muncul keadaan di kota yang mengharuskan agar hewan tersebut tidak diserahkan kepada budak atau pengurus, maka pemegang titipan wajib menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku pada setiap situasi. Rincian dalam hal ini dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan masyarakat), dan orang yang paling mengetahui tentang ‘urf adalah mereka yang paling memahami fiqh mu‘āmalāt.

فصل

Bab

قال: فلو حوّلها من خريطة إلى أحرز منها إلى آخره

Dia berkata: Jika ia memindahkannya dari tempat terbuka ke tempat yang lebih aman darinya, hingga seterusnya.

نصوِّر هذا الفصل بفض الختم والشدّ فنقول: إذا كانت الوديعة في خريطة وعليها ختم المودِع فإن فض المودَعُ الختم فالذي ذهب إليه جماهير الأصحاب في الطرق أن المودَع يصير ضامناً للوديعة بفض الختام

Kita gambarkan permasalahan ini dengan membuka segel dan ikatan, lalu kita katakan: Jika titipan itu berada dalam sebuah kantong dan di atasnya terdapat segel dari orang yang menitipkan, kemudian orang yang dititipi membuka segel tersebut, maka menurut pendapat mayoritas para sahabat dalam berbagai riwayat, orang yang dititipi menjadi penanggung jawab atas titipan tersebut karena telah membuka segel.

وذكر الشيخ أبو علي في شرح التلخيص وجهاً أن فض الختم لا يوجب الضمان وهذا غريب جداً ووجهه على بعده أن فض الختم ليس من الأسباب المضمّنة التي ذكرناها في صدر الكتاب ولو كان منها لكان يلتحق بالتضييع وليس فض الختم تضييعاً  فإن الختم لا يزيد في الصون والإحراز وهذا متجه في القياس ولكن ظاهر المذهب ما قدمناه

Syekh Abu Ali menyebutkan dalam Syarh at-Talkhish sebuah pendapat bahwa membuka segel tidak mewajibkan adanya tanggungan (ganti rugi), dan ini sangatlah aneh. Alasannya, meskipun jauh, adalah bahwa membuka segel bukan termasuk sebab-sebab yang mewajibkan tanggungan sebagaimana yang telah kami sebutkan di awal kitab. Jika termasuk, maka akan disamakan dengan tindakan menyia-nyiakan, padahal membuka segel bukanlah suatu bentuk penyia-nyiaan, karena segel itu sendiri tidak menambah perlindungan dan penjagaan. Pendapat ini sejalan dengan qiyās, namun pendapat yang tampak dalam mazhab adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.

فإن قيل: فما وجه ظاهر المذهب قلنا: فض الختم فعلٌ يشعرُ بخيانة المؤتمن وإذا ظهرت مخيلة الخيانة ارتفعت الأمانة وهذا يتقوى بالعرف فإن الناس يعدّون من فض الختم خواناً وقد ذكرنا أن مبنى الكتاب على العرف

Jika dikatakan: Lalu apa alasan pendapat yang tampak dalam mazhab? Kami katakan: Membuka segel adalah perbuatan yang menunjukkan adanya khianat dari orang yang diberi amanah. Jika muncul tanda-tanda kemungkinan khianat, maka amanah itu menjadi batal. Hal ini juga dikuatkan oleh ‘urf, karena masyarakat menganggap orang yang membuka segel sebagai pengkhianat. Kami telah menyebutkan bahwa dasar dalam kitab ini adalah ‘urf.

والذي يشهد له أن المودع إذا انتفع بالوديعة ضمنها وليس انتفاعه تضييعاً ولكن يستبين به مخايل الخيانة ومجاوزة حدود الأمناء

Hal yang menjadi bukti atas hal ini adalah bahwa apabila orang yang menerima titipan (mudi‘) mengambil manfaat dari barang titipan, maka ia wajib menanggungnya. Pengambilan manfaat tersebut bukanlah suatu bentuk penyia-nyiaan, namun dari situ dapat terlihat tanda-tanda pengkhianatan dan melampaui batas-batas yang seharusnya dijaga oleh orang-orang yang dipercaya.

هذا قولنا في فض الختم

Inilah pendapat kami mengenai membuka segel.

وألحق الأئمة بذلك حلَّ الشداد عن الكيس إذا كان مشدوداً وهذا فيه تفصيلٌ عندي فإن كان الشدّ على وجهِ يقصدُ وقد يكون إعلاماً حتى يستدل ببقائه على بقاء الكيس على ما كان فهذا كالختم فإن كان الشد قريباً بحيث لا يقصد مثلُه في صوان أو إعلام فما أراه مما يُبالَى به والاحتمال يتطرق إليه على حال

Para imam juga mengaitkan dengan hal itu kebolehan membuka ikatan pada kantong jika kantong tersebut terikat. Namun, menurut saya, hal ini memiliki rincian: jika ikatan tersebut dilakukan dengan maksud tertentu, misalnya sebagai penanda agar dengan tetap terikatnya diketahui bahwa isi kantong masih utuh seperti semula, maka hukumnya seperti segel. Tetapi jika ikatan tersebut sederhana dan tidak dimaksudkan sebagai penjagaan atau penanda, maka saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan, meskipun kemungkinan tetap ada dalam kondisi apa pun.

ومما يتصل بذلك وهو مقصودٌ في نفسه أن المودَع إذا فض الختم وضمّناه الوديعة فلا كلام وإن لم يكن الكيس مختوماً ولا مشدوداً شدّاً معتبراً فلو أخذ المودَعُ من جملة الدراهم درهماً و استنفقه  ضمنه ولا يضمن غيره وإن ردّ بدلَه من مِلكه إلى الكيس فالمردود إلى الكيس ملكُه ولا يتأدى به ما عليه فإن الدين لا يتأدى إلا بمُقبضٍ وقابض وهذا غير متحقق فيما نحن فيه فالدرهم إذاً مُقَرٌّ على ملكه ثم إنا ننظر وراء ذلك ونقول: إن كان درهمه يتميز عن دراهم الكيس فلا تصير الدراهم مضمونة عليه وإن اختلط درهمه بدراهم الكيس على وجه لا يتميز فيصير ضامناً لجميع دراهم الكيس وكلُّ من خلط مال نفسه بمال غيره متعدياً صار ضامناً لجميع مال الغير وإن قل قدر ماله والسبب فيه انبساط أثر الخلط على جميع المال

Terkait dengan hal tersebut, yang juga merupakan tujuan tersendiri, apabila orang yang menerima titipan (muwadda‘) membuka segel dan kami membebankan tanggung jawab atas barang titipan kepadanya, maka tidak ada perdebatan. Namun, jika kantong tersebut tidak tersegel atau tidak diikat dengan ikatan yang dianggap sah, lalu orang yang menerima titipan mengambil satu dirham dari sejumlah dirham dan membelanjakannya, maka ia wajib mengganti dirham tersebut dan tidak wajib mengganti yang lainnya. Jika ia mengembalikan penggantinya dari hartanya sendiri ke dalam kantong, maka yang dikembalikan ke dalam kantong itu tetap menjadi miliknya dan tidak dapat digunakan untuk melunasi kewajibannya, karena utang tidak dapat dilunasi kecuali dengan adanya penyerahan dan penerimaan, sedangkan hal ini tidak terwujud dalam kasus ini. Maka dirham tersebut tetap menjadi miliknya. Selanjutnya, kita perlu melihat lebih jauh dan mengatakan: jika dirham miliknya dapat dibedakan dari dirham-dirham dalam kantong, maka ia tidak wajib menanggung seluruh dirham dalam kantong. Namun, jika dirham miliknya bercampur dengan dirham dalam kantong sehingga tidak dapat dibedakan, maka ia wajib menanggung seluruh dirham dalam kantong. Setiap orang yang mencampurkan hartanya sendiri dengan harta orang lain secara melampaui batas, maka ia wajib menanggung seluruh harta orang lain, meskipun jumlah hartanya sendiri sedikit. Sebabnya adalah karena pengaruh pencampuran itu meluas ke seluruh harta.

هذا إذا أخذ درهماً واستنفقه ثم رد بدله

Ini jika seseorang mengambil satu dirham, lalu membelanjakannya, kemudian mengembalikan gantinya.

فأما إذا أخذ الدرهم من الكيس ولم يفض ختماً ولا حل شداداً ثم رد ذلك الدرهم بعينه إلى الكيس نُظر: فإن كان ذلك الدرهم متميزاً عن سائر الدراهم فالضمان لا يعدوه إلى سائر الدراهم وإن اختلط ذلك المضمون بسائر الدراهم ففي المسألة وجهان: أحدهما أنه يضمن جميعَ الدراهم فإن الدرهم المردود إلى الكيس مضمون بناء على أن المودع إذا ضمن عيناً من أعيان الوديعة لم يعد أميناً فيها بردها إلى الصون المطلوب منه فالدرهم إذاً وإن رُدّ مضمونٌ وإذا تحقق الاختلاط فلا درهم يشار إليه إلا ويجوز أن يكون ذلك الدرهم فانبسط الضمان على الجميع وصار كما لو خلط درهماً من دراهمه بتلك الدراهم

Adapun jika seseorang mengambil satu dirham dari kantong tanpa membuka segel atau melepaskan ikatan, lalu mengembalikan dirham yang sama ke dalam kantong, maka hal ini perlu diteliti: jika dirham tersebut dapat dibedakan dari dirham-dirham lainnya, maka tanggungan (jaminan) tidak meluas kepada seluruh dirham lainnya. Namun, jika dirham yang menjadi tanggungan itu bercampur dengan dirham-dirham lainnya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa ia menanggung seluruh dirham, karena dirham yang dikembalikan ke dalam kantong adalah dirham yang menjadi tanggungan, berdasarkan prinsip bahwa jika seorang penerima titipan telah menanggung satu barang tertentu dari titipan, maka ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang dipercaya dalam menjaga barang tersebut hanya dengan mengembalikannya kepada penjagaan yang diminta darinya. Maka, dirham itu, meskipun telah dikembalikan, tetap menjadi tanggungan. Jika pencampuran benar-benar terjadi, maka tidak ada satu dirham pun yang dapat ditunjuk kecuali mungkin itu adalah dirham yang menjadi tanggungan, sehingga tanggungan meluas kepada semuanya, dan keadaannya menjadi seperti jika seseorang mencampurkan satu dirham miliknya dengan dirham-dirham tersebut.

والوجه الثاني أنه لا يضمن إلا درهماً فإنه لم يتعدّ إلا في درهمٍ ولمّا رده فهو مال صاحب الوديعة فلا عدوان في الخلط

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia hanya wajib mengganti satu dirham, karena ia tidak melampaui batas kecuali pada satu dirham saja, dan ketika ia telah mengembalikannya, maka itu adalah harta milik pemilik titipan, sehingga tidak ada pelanggaran dalam pencampuran tersebut.

ومما يليق بهذا المنتهى أنه إذا وضع وديعة عند إنسان والتمس منه أن يجعلها في ظرفٍ من ظروفه فإذا فعل المودَع ذلك ثم أراد إخراج الوديعة من ذلك الظرف وردَّها إلى ظرفٍ آخر فلا بأس إذا لم يكن في النقل من الظرف المعيّن إلى ظرفٍ آخر إخلال بالإحراز وحطٌّ عن حدّ الحرز الأول وأعظم منازل الظروف إن كان لها أثر في الإحراز أن تكون كالبيوت ولو قال المالك احفظ هذه الوديعة في هذا البيت فنقله إلى بيت آخر لم يضرّ ذلك إذا اقتصر على التعيين ولم ينه عن النقل فإن نهى عن النقل فقد مضى تفصيل المذهب فيه

Hal yang patut disebutkan di sini adalah bahwa jika seseorang menitipkan barang kepada orang lain dan memintanya untuk meletakkan barang titipan itu dalam salah satu tempat penyimpanannya, lalu orang yang dititipi melakukan hal tersebut, kemudian ia ingin mengeluarkan barang titipan itu dari tempat tersebut dan memindahkannya ke tempat lain, maka hal itu tidak mengapa selama pemindahan dari tempat yang ditentukan ke tempat lain tidak mengurangi tingkat keamanan dan tidak menurunkan standar perlindungan dari tempat semula. Tempat penyimpanan yang paling utama, jika memang berpengaruh terhadap keamanan, adalah seperti rumah-rumah. Jika pemilik barang berkata, “Simpanlah titipan ini di rumah ini,” lalu barang itu dipindahkan ke rumah lain, maka hal itu tidak membahayakan selama penunjukan hanya sebatas penentuan tempat dan tidak melarang pemindahan. Namun, jika pemilik melarang pemindahan, maka telah dijelaskan rincian madzhab dalam hal ini.

فإن كان الظرف يؤثر في الإحراز بأن يعسر قرضه وقطعه فهو بمثابة البيوت إذا عينت هذا إذا كان الظرف للأمين

Jika wadah tersebut berpengaruh dalam menjaga barang sehingga sulit untuk merobek atau memotongnya, maka hukumnya seperti rumah-rumah yang telah ditentukan; ini berlaku jika wadah tersebut berada pada orang yang dipercaya (amīn).

فأما إذا كان الظرف لصاحب الوديعة فأخرج المودَع الوديعة من ذلك الظرف وحفظها دونه فقد ذكر العراقيون في ذلك وجهين: أحدهما أن هذا يضمّنه الوديعة وينزل منزلة فض الختم وحل العِفاص والوِكاء فإن التعرض لإخراج الوديعة من ظرفها تفتيش والتفتيش عن الودائع من شيم الخوّان

Adapun jika wadah tersebut milik pemilik titipan, lalu orang yang dititipi mengeluarkan barang titipan dari wadah tersebut dan menyimpannya tanpa wadah itu, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat dalam hal ini: salah satunya adalah bahwa perbuatan ini membuat orang yang dititipi bertanggung jawab atas barang titipan tersebut dan dipersamakan dengan membuka segel, membuka ikatan, dan tali pengikat, karena mengeluarkan barang titipan dari wadahnya merupakan bentuk pemeriksaan, dan memeriksa barang titipan adalah kebiasaan orang yang berkhianat.

والوجه الثاني أن ذلك لا يضر وليس هو في معنى الفض والحل فإنهما يشعران بطلب الاطلاع على أقدار الودائع وهذا هو المحذور فإذا كان الكيس مفتوحاً فليس في تمييزه من الدراهم طلبُ اطلاع والكيس مع الدراهم في حكم وديعتين فإذا أراد المودَع أن يحفظ وديعتين في بيتين فلا حرج عليه

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu tidak membahayakan dan tidak termasuk dalam makna membuka dan melepaskan, karena keduanya mengandung makna keinginan untuk mengetahui jumlah titipan, dan inilah yang dilarang. Jika kantong itu terbuka, maka membedakan antara dirham di dalamnya tidak termasuk keinginan untuk mengetahui jumlah titipan. Kantong dan dirham di dalamnya dianggap sebagai dua titipan yang berbeda. Jika orang yang dititipi ingin menyimpan dua titipan di dua tempat yang berbeda, maka tidak ada masalah baginya.

هذا منتهى القول فيما يتعلق بالختم والحل والشدّ

Inilah akhir pembahasan yang berkaitan dengan penyegelan, pembukaan, dan pengikatan.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو شرط ألا يرقد على صندوق إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Dan jika disyaratkan agar tidak tidur di atas peti sampai selesai,

ثم قال: ولو شرط أن يربطها في كمه فأمسكها في يده إلى آخر الفصول

Kemudian ia berkata: Dan jika disyaratkan agar ia mengikatnya di lengan bajunya, lalu ia memegangnya di tangannya hingga akhir bab.

جمع الشافعي رضي الله عنه بين مسائل وضابطُها واحد وجامعها من طريق التصوير أن يذكر مالكُ الوديعة في حفظها جهةً مخصوصة في الكيفية ثم إن المودَع يخالف تلك الجهة إلى أخرى وذلك مثل أن يدفع دنانير إلى إنسان ويقول له: اربطها على كمك فاحتوى عليها المؤتَمن بكفه فهذا احتياطٌ من وجه وإن كان مخالفةً لما ذكره المودِع وقد اختلف طرق الأصحاب في ذلك

Imam Syafi‘i raḥimahullāh telah mengumpulkan beberapa permasalahan yang kaidahnya satu dan penghubungnya dari segi ilustrasi adalah bahwa pemilik titipan menyebutkan kepada penerima titipan cara tertentu dalam menjaga titipan tersebut, kemudian penerima titipan menyelisihi cara tersebut dengan cara lain. Contohnya adalah seseorang menyerahkan dinar kepada orang lain dan berkata kepadanya: “Ikatlah di lengan bajumu,” namun orang yang dipercaya itu justru menggenggamnya dengan telapak tangannya. Ini merupakan bentuk kehati-hatian dari satu sisi, meskipun bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh pemilik titipan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini.

فالطريقة المشهورة نأتي بها على وجهها ثم نلحق بها غيرَها فنقول: إن لم يَجْرِ من صاحب الوديعة تنصيصٌ على كيفية الحفظ فلا معترض على المودَع: ربطَ الوديعة في كمه أو أمسكها في كفه فإن هاتين الجهتين في الحفظ بمثابة بَيْتين في الدار وكل واحد منهما يتصف بكونه حرزاً معتاداً في مثل الوديعة المفروضة فالمؤتمن يتخير في حفظ الوديعة في أي بيت شاء

Maka cara yang masyhur adalah kita melakukannya sebagaimana mestinya, kemudian kita tambahkan selainnya, lalu kita katakan: Jika pemilik titipan tidak menyebutkan secara spesifik cara penjagaannya, maka tidak ada keberatan terhadap orang yang dititipi; apakah ia mengikatkan titipan itu di lengan bajunya atau memegangnya di telapak tangannya, karena kedua cara ini dalam menjaga titipan seperti dua kamar dalam sebuah rumah, dan masing-masing dari keduanya dapat disebut sebagai tempat penyimpanan yang lazim untuk titipan sebagaimana yang dimaksudkan. Maka orang yang dipercaya bebas memilih untuk menyimpan titipan di kamar mana saja yang ia kehendaki.

فأما إذا عين صاحبُ الوديعة نوعاً من الحفظ مثل أن يقول: اربطها في كمك فاحتوى عليها بكفه فالربط على الكم يختص بنوعٍ من الاحتياط في بعض الأحوال فإنه لو غفل أو غلبته عيناه فالمربوط على الكم لا ينسلّ ولا يتبتّر  فلو كانت الوديعة في كفه وغلبته عيناه لاسترخت أنامله وانسلت الوديعة

Adapun jika pemilik titipan menentukan jenis penjagaan tertentu, seperti mengatakan: “Ikatlah di lengan bajumu,” lalu ia justru menggenggamnya dengan telapak tangannya, maka mengikat di lengan baju itu memiliki kekhususan dalam hal kehati-hatian pada sebagian keadaan. Sebab, jika ia lengah atau tertidur, maka barang yang diikat di lengan baju tidak akan terjatuh atau hilang. Namun, jika titipan itu berada di telapak tangannya lalu ia tertidur, maka jari-jarinya akan mengendur dan titipan itu akan terlepas.

والضبط في الكف قد يكون أحرز في بعض الأحوال فإن غاصباً لو أراد سلب الوديعة من حافظها فكونها في الكف أحوط وأضبط من كونها مربوطة على الكُم وكذلك الطَّرار قد يهون عليه حلّ الكُمّ واستخراج ما فيه ولا يعصم عنه الربط ولا يتوصل الطرار إلى ما يحتوي المرء عليه بكفه

Pengawasan dengan menggenggam (kaf) terkadang lebih terjaga dalam beberapa keadaan. Misalnya, jika seorang perampas ingin merampas barang titipan dari penjaganya, maka barang itu berada dalam genggaman tangan lebih aman dan lebih terjaga dibandingkan jika diikatkan pada lengan baju. Demikian pula, bagi pencopet, membuka lengan baju dan mengambil barang di dalamnya bisa jadi lebih mudah, dan pengikatan tidak dapat sepenuhnya melindungi dari pencopetan. Sementara pencopet tidak dapat dengan mudah mengambil barang yang digenggam erat oleh seseorang di tangannya.

فإذا لاح ذلك ابتنى عليه ما ذكره الأصحاب قالوا: إن عيّن مالك الوديعة الربطَ على الكم فضبط المودَعُ في الكف فضاعت الوديعة نظر: فإن جاء الضياع من جهة الانتشار والانسلال عند النوم والغفلة وجب الضمان فإن الضياع جاء من الجهة المحذورة التي يكون الربط فيها أحوط من الاحتواء بالكف وإن جاء الضياع من جهة سلب ونهبٍ فمانعَ المودَعُ الوديعة جهده ثم غُلب فلا ضمان فإن الاحتواء بالكف أحوط في مثل هذه الحالة

Jika hal itu telah jelas, maka berdasarkan hal tersebut para ulama menyebutkan: Jika pemilik titipan menentukan agar titipan diikat pada lengan baju, namun orang yang dititipi justru menggenggamnya dengan tangan, lalu titipan itu hilang, maka perlu dilihat: Jika hilangnya titipan itu disebabkan oleh terlepas atau tergelincir saat tidur atau lalai, maka wajib mengganti kerugian, karena hilangnya terjadi dari sisi yang dikhawatirkan, di mana mengikat pada lengan baju lebih aman daripada menggenggam dengan tangan. Namun jika hilangnya titipan itu disebabkan oleh perampasan atau pencurian, sementara orang yang dititipi telah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan titipan itu namun tetap kalah, maka tidak ada kewajiban mengganti, karena menggenggam dengan tangan lebih aman dalam kondisi seperti ini.

وحكى الأصحاب نصاً على هذا الوجه عن الشافعي وذلك أنه قال: إذا سلم مالكُ الوديعة ماله إلى المؤتمن وقال: احفظه في هذا البيت ولا تُدخل عليه زيداً فخالف المودَع وأدخل ذلك الشخص الذي نهاه المالك عن إدخاله فضاعت الوديعة نظر: فإن جاء الضياع من جهة دخول ذلك الشخص واطّلاعه على الوديعة بأن سرق هو أو دلّ سارقاً وجب الضمان وإن جاء الضياع من جهةِ غير هذا الداخل فلا ضمان وبنى الأصحاب على ذلك تعيينَ البيت في مثل قول المودع: احفظ الوديعةَ في هذا البيت فنقله إلى بيت آخر وكان في كل واحد من البيتين نوعٌ من الاحتياط ليس في الثاني فإذا ضاعت الوديعة نظر: فإن تحقق الضياع من جهة قصور البيت المنقول إليه عن البيت المعيّن وجب الضمان وإن لم يأت الضياع من جهة القصور لم يجب الضمان وذلك مثل أن يكون البيت المنقول إليه أقوى جداراً وأطولَ سَمْكاً  وأمتن أساساً ولكنه كان يتاخم شارعاً والبيت الآخر أضعف من المنقول إليه ولكنه لا يتاخم الشارع فإن أتى الضياع من جهة النقب والبيت المنقول إليه أمنع للنقب فلا ضمان ولا يخفى تصوّر نقيض ذلك في الجهة المحذورة وهذه الطريقةُ المشهورة

Para ulama mazhab menukil secara tekstual pendapat ini dari Imam Syafi’i, yaitu bahwa beliau berkata: Jika pemilik titipan menyerahkan hartanya kepada orang yang dipercaya dan berkata, “Jagalah ini di rumah ini dan jangan masukkan Zaid ke dalamnya,” lalu orang yang dititipi melanggar dan memasukkan orang yang dilarang oleh pemilik, kemudian titipan itu hilang, maka perlu dilihat: Jika hilangnya titipan itu disebabkan oleh masuknya orang tersebut dan ia mengetahui keberadaan titipan itu, misalnya ia sendiri yang mencuri atau menunjukkan kepada pencuri, maka wajib ganti rugi. Namun, jika hilangnya titipan bukan karena orang yang masuk itu, maka tidak ada kewajiban ganti rugi. Para ulama juga membahas tentang penentuan rumah, seperti dalam ucapan orang yang menitipkan, “Jagalah titipan ini di rumah ini,” lalu dipindahkan ke rumah lain, padahal masing-masing rumah memiliki jenis penjagaan tertentu yang tidak dimiliki rumah lainnya. Jika titipan itu hilang, maka perlu dilihat: Jika terbukti hilangnya titipan itu karena kekurangan rumah yang dipindahkan dibandingkan dengan rumah yang ditentukan, maka wajib ganti rugi. Namun, jika hilangnya titipan bukan karena kekurangan tersebut, maka tidak wajib ganti rugi. Contohnya, rumah yang dipindahkan lebih kuat dindingnya, lebih tinggi bangunannya, dan lebih kokoh pondasinya, tetapi bersebelahan dengan jalan, sedangkan rumah yang lain lebih lemah namun tidak bersebelahan dengan jalan. Jika hilangnya titipan karena pembobolan, dan rumah yang dipindahkan lebih aman dari pembobolan, maka tidak ada kewajiban ganti rugi. Tidak tersembunyi pula kemungkinan sebaliknya pada sisi yang dikhawatirkan. Inilah metode yang masyhur.

قال صاحب التقريب لما استاق هذا الترتيب على وجهه: هذا هو المشهور من المذهب ويحتمل عندي أنه إذا خالف في جهة الحفظ التي عيّنها مالك الوديعة فضبط في كفه وقد أمره بالربط أو ربط وقد أمره بالحفظ في اليد أنه يضمن في الحالتين سواء جاء الضياع من الجهة المحذورة أو من جهة أخرى واعتلّ بأن قال: إذا كان الضمان ممكناً في جهة المخالفة على وجهه فقد حصل من المودَع تعرض للضمان على الجملة فإذا تعرض للضمان في بعض الأحوال لأجل المخالفة وجب أن يصير ضامناً بسبب المخالفة كيف فرض الضياع

Penulis kitab at-Taqrīb berkata ketika menyusun urutan ini sebagaimana mestinya: Inilah pendapat yang masyhur dalam mazhab, dan menurutku ada kemungkinan bahwa jika seseorang menyelisihi cara penjagaan yang telah ditentukan oleh Malik terhadap barang titipan—misalnya ia menyimpannya di telapak tangannya padahal ia diperintahkan untuk mengikatnya, atau ia mengikatnya padahal diperintahkan untuk menjaganya di tangan—maka ia tetap wajib menanggung (menjamin) dalam kedua keadaan tersebut, baik kerusakan itu terjadi dari sisi yang dikhawatirkan maupun dari sisi lain. Ia beralasan dengan mengatakan: Jika penjaminan itu mungkin terjadi karena penyelisihan pada sisi tertentu, maka orang yang diberi titipan telah menjerumuskan dirinya pada kewajiban menanggung secara umum. Maka jika ia telah menanggung dalam sebagian keadaan karena penyelisihan, wajib baginya menjadi penanggung akibat penyelisihan tersebut, bagaimanapun bentuk kerusakannya.

وهذا وإن كان له اتجاه في المعنى فهو غريب ويلزم على مساقه أنه إذا نقل الوديعة من البيت المعيّن إلى غيره وكان بين البيتين تفاوت في جهتي الحفظ أنه يجب الضمان وفي كلام صاحب التقريب ما يتضمن ذلك

Meskipun pendapat ini memiliki arah dalam maknanya, namun ia tetap dianggap ganjil. Konsekuensi dari pendapat tersebut adalah, jika seseorang memindahkan barang titipan dari rumah yang telah ditentukan ke rumah lain, dan terdapat perbedaan antara kedua rumah tersebut dalam hal keamanan penyimpanan, maka wajib baginya untuk menanggung ganti rugi. Dalam penjelasan penulis kitab at-Taqrīb terdapat hal yang mengandung makna demikian.

فأما إذا استوى البيتان في جهات الحفظ فإذ ذاك إذا نقل فلا ضمان وإن عين المالك أحد البيتين إذا لم يصرح بالنهي عن النقل عنه

Adapun jika kedua tempat penyimpanan itu sama dalam segi keamanan, maka ketika barang dipindahkan, tidak ada kewajiban ganti rugi. Dan jika pemilik menentukan salah satu dari kedua tempat itu, selama ia tidak secara tegas melarang pemindahan dari tempat tersebut.

وذكر العراقيون مسلكاً آخر ولم يتعرضوا لشيء من هذه التفاصيل التي ذكرناها فقالوا: إذا أمره بأن يضبطه ربطاً على الكم فحفظه في كفه فقد اختلف نص الشافعي في أنه إذا ضاع هل يضمن أم لا ولم يذكروا في اختلاف النص التفصيل الذي حكيناه في طريقنا

Orang-orang Irak menyebutkan metode lain dan mereka tidak membahas rincian-rincian yang telah kami sebutkan. Mereka berkata: Jika seseorang memerintahkannya untuk menjaga barang itu dengan mengikatnya pada lengan baju, lalu ia menjaganya di telapak tangannya, maka terdapat perbedaan pendapat dalam nash Imam Syafi‘i tentang apakah jika barang itu hilang ia wajib menanggung ganti rugi atau tidak. Mereka tidak menyebutkan dalam perbedaan nash tersebut rincian yang telah kami ceritakan dalam metode kami.

ثم قالوا: اختلف أصحابنا فمنهم من قال: في المسألة قولان: أحدهما أن الضبط في الكف أولى وأحرز ومنهم من قال: لا بل الربط على الكم أحرز وأولى

Kemudian mereka berkata: Para ulama kami berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa mengikat di pergelangan tangan lebih utama dan lebih terjaga, dan di antara mereka ada yang berpendapat: tidak, justru mengikat pada lengan baju lebih terjaga dan lebih utama.

فإن قلنا: الكف أحرز فإذا أمره بالربط فضبط في كفه لم يضمن ويكون كما لو قال: احفظه في هذا البيت فنقله إلى أحرزَ منه وإن قلنا: الربط في الكم أحرز من الضبط في الكف فإنه يضمن إذا احتوى عليه بكفه لأنه ترك الأحوط في مخالفته فكان كما لو عين له بيتاً ليحفظ الوديعة فيه فنقلها إلى بيت دونه في الحِرز فلم يتعرض العراقيون لما ذكره أئمتنا المراوزة من اتفاق الفوت بالجهة المحذورة عند فرض المخالفة وإنما مهدوا أولاً تردُّداً في الأحوط ثم بنَوْا عليه حكمَ الضمان إذا فرضت المخالفة

Jika kita katakan: menyimpan di dalam lengan baju lebih aman, maka jika ia memerintahkannya untuk mengikat (barang titipan) lalu ia menjaga dengan menggenggamnya di telapak tangan, ia tidak menanggung ganti rugi, dan hal itu seperti jika ia berkata: “Jagalah di rumah ini,” lalu ia memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Namun jika kita katakan: mengikat di dalam lengan baju lebih aman daripada menjaga di telapak tangan, maka ia wajib menanggung ganti rugi jika ia hanya menggenggamnya di telapak tangan, karena ia telah meninggalkan yang lebih hati-hati dengan menyelisihi perintah, sehingga hal itu seperti jika ia menentukan sebuah rumah untuk menjaga titipan di dalamnya, lalu ia memindahkannya ke rumah yang tingkat keamanannya lebih rendah. Para ulama Irak tidak membahas apa yang disebutkan oleh para imam kami dari Marw mengenai terjadinya kehilangan pada tempat yang dikhawatirkan jika terjadi pelanggaran, melainkan mereka hanya memulai dengan keraguan tentang mana yang lebih hati-hati, kemudian mereka membangun hukum tanggung jawab atas dasar jika terjadi pelanggaran.

ومن تمام طريقهم أن المسألة عندهم مصوّرة فيه إذا نص على جهة وخصصها بالذكر ولم ينه عن الانتقال عنها ونزّلوا هذا منزلة ما لو عين بيتاً وقال: احفظ الوديعة فيه ولم يصرح بالنهي عنه إلى غيره

Dan bagian dari metode mereka yang sempurna adalah bahwa suatu permasalahan menurut mereka telah tergambar di dalamnya apabila seseorang menegaskan pada satu sisi dan menyebutkannya secara khusus, serta tidak melarang untuk berpindah darinya. Mereka menganggap hal ini seperti seseorang yang menentukan sebuah rumah dan berkata: “Simpanlah titipan di dalamnya,” tanpa secara tegas melarang untuk memindahkannya ke tempat lain.

فلو نص على جهة في الحفظ وصرح بالنهي عن غيرها مثل أن يقول: اربطها على كمك ولا تترك الربط ولا تعدل عنه إلى الحفظ في الكف فإن كان كذلك فهو بمثابة ما لو قال: احفظ الوديعة في هذا البيت ولا تنقلها إلى غيره وقد ذكرنا أنه إذا نقل إلى بيتٍ أحرزَ مما عين أو مثلِه ففي المسألة وجهان كذلك يجري هذا الاختلاف في هذه الصورة

Jika penitip telah menentukan secara tegas suatu cara dalam menjaga titipan dan melarang secara jelas cara selain itu, misalnya ia berkata: “Ikatlah di lengan bajumu dan jangan lepaskan ikatan itu, serta jangan beralih dari cara itu ke cara menjaga di telapak tangan,” maka keadaannya sama seperti jika ia berkata: “Simpanlah titipan ini di rumah ini dan jangan pindahkan ke tempat lain.” Telah kami sebutkan bahwa jika titipan dipindahkan ke rumah lain yang lebih aman daripada tempat yang telah ditentukan atau yang sepadan dengannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Demikian pula perbedaan pendapat ini berlaku pada kasus yang sedang dibahas.

ومما يرد على طريقهم أن قائلاً لو قال في تأسيس الكلام: الربط والضبط متساويان أو في كل واحد منهما نوعٌ من الاحتياط ليس في الثاني والأحوال التي تُحوج إلى خاصة كل واحدة من الجهتين متعارضة الإمكان ونتيجة هذا الحكمُ بالتساوي

Di antara hal yang menjadi sanggahan terhadap metode mereka adalah jika seseorang berkata dalam mendasari pembicaraan: pengaitan (rabṭ) dan penetapan (ḍabṭ) itu setara, atau pada masing-masing dari keduanya terdapat suatu bentuk kehati-hatian yang tidak terdapat pada yang lain, dan keadaan-keadaan yang menuntut kekhususan masing-masing dari kedua sisi itu sama-sama mungkin terjadi, maka hasil dari hal ini adalah keputusan bahwa keduanya setara.

ومهما ذكر العلماء في شيئين ترجيحين وذهب كل فريق إلى تغليب الجهة التي رآها فيتجه عند الناظر إذا استدّ نظره استواء الجهتين لما نبهنا عليه

Dan kapan pun para ulama menyebutkan dua sisi yang sama-sama memiliki keunggulan, lalu setiap kelompok cenderung menguatkan sisi yang mereka pandang lebih kuat, maka bagi seorang penelaah, apabila penelaahannya sudah matang, akan tampak bahwa kedua sisi tersebut seimbang, sebagaimana yang telah kami isyaratkan.

هذا منتهى طريق العراقيين

Ini adalah ujung jalan kaum Irak.

فقد انتظم من مجموع ما ذكرناه ثلاث طرق: إحداها للمراوزة وهي تدور على النظر إلى وجه الهلاك بعد تبين ما يخص كل جهة به من الاحتياط ونقيضه فإن اتفق الفوات من الوجه المحذور من الجهة المنتقل إليها وجب الضمان وإن اتفق الهلاك من غير الوجه المحذور في الجهة المنتقل إليها فلا ضمان

Maka, dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, terkumpul tiga metode: salah satunya adalah metode para ulama Marw, yang berfokus pada memperhatikan sebab kebinasaan setelah mengetahui secara khusus apa yang berkaitan dengan setiap sisi, baik dari segi kehati-hatian maupun lawannya. Jika kerugian terjadi dari sisi yang dikhawatirkan pada pihak yang dialihkan kepadanya, maka wajib ada tanggungan (jaminan). Namun, jika kebinasaan terjadi bukan dari sisi yang dikhawatirkan pada pihak yang dialihkan kepadanya, maka tidak ada tanggungan (jaminan).

والطريقة الثانية لصاحب التقريب وهي أنا نوجب الضمان إذا فرض الانتقال من الجهة المعيّنة إلى الجهة الأخرى سواء كان الفوات بما يحذر في تلك الجهة أو بغيره

Cara kedua menurut penulis at-Taqrīb adalah bahwa kami mewajibkan ganti rugi jika terjadi perpindahan dari arah yang telah ditentukan ke arah lain, baik kerugian itu terjadi karena sesuatu yang dikhawatirkan di arah tersebut maupun karena sebab lain.

والطريقة الثالثة للعراقيين وقد تفصلت على وجهها

Metode ketiga adalah metode para ulama Irak, dan metode ini telah dijelaskan secara rinci menurut bentuknya.

ويُجري الفطن في أثناء ما ذكرناه في الجهتين تفصيل القول في تعيين البيت والنقل منه إلى آخر والتفطّن لما يختص به كل بيت من احتياط في الحفظ ونقيضٍ له حتى إن كانا كذلك فهما كجهتي الحفظ فإن استويا لم يخف تفريعهما

Orang yang cerdas akan merinci pembahasan dalam dua sisi yang telah kami sebutkan, yaitu dalam menentukan rumah dan memindahkan dari satu rumah ke rumah lain, serta memperhatikan hal-hal khusus yang berkaitan dengan setiap rumah, baik dalam hal kehati-hatian dalam menjaga maupun kebalikannya. Sehingga, jika keduanya demikian, maka kedudukannya seperti dua sisi penjagaan. Jika keduanya seimbang, maka tidak sulit untuk merinci cabang-cabangnya.

وقد نجز تمام المراد في ذلك

Dan telah sempurna seluruh maksud dalam hal itu.

فصل

Bab

قال الشافعي رضي الله عنه: ولو شرط ألا يرقد على صندوق إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: “Dan jika disyaratkan agar tidak tidur di atas peti, dan seterusnya.”

هذا متصل بما تقدم في تعيين طريق الحفظ والنهي عنه وقصد الشافعي بهذا الردَّ على مالك  فإنه سلك مسلكاً لم يرتضه الشافعي فقال: إذا نهاه عن الرقود على الصندوق فرقد عليه كان برقوده عليه دالاً اللصوص على مكان الوديعة والدلالة على الوديعة سببُ الضمان فرد الشافعي عليه ذلك ولم يجعل ما تخيّله معتبراً فإن كلّ محوط برعاية كالىءٍ فيه هذا المعنى وقد أوضحنا أن الدُّور لا تكون أحرازاً بأنفسها ما لم تكن ملحوظة بعينٍ كالئة نعم إن فرض غرض في الرقود أمام الصندوق مثل أن كانت الوديعة تؤتى من أمامها فإذا فرض الرقود أمام الصندوق فقد يعسر على من يبغي الصندوق إتيانه من جهة قدّام ولو فرض الرقود على الصندوق تهيّأ إمكان الإتيان من الجهة المحذورة فيلتحق هذا بما إذا عيّن جهة في الحفظ كالربط على الكم والضبط في الكف فتركَ الجهة المعينة واختار أخرى وقد مضى تفصيل ذلك فلا حاجة إلى إعادته

Ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya mengenai penetapan cara menjaga (barang titipan) dan larangan terhadapnya. Maksud Imam Syafi‘i dengan penjelasan ini adalah untuk membantah pendapat Imam Malik, karena Malik menempuh jalan yang tidak disetujui oleh Syafi‘i. Malik berkata: Jika seseorang dilarang tidur di atas peti (tempat penyimpanan barang titipan), lalu ia tetap tidur di atasnya, maka tidurnya itu menunjukkan kepada para pencuri letak barang titipan tersebut, dan menunjukkan tempat titipan adalah sebab timbulnya tanggungan (jaminan). Syafi‘i membantah pendapat tersebut dan tidak menganggap apa yang dibayangkan oleh Malik itu sebagai sesuatu yang diperhitungkan. Sebab, setiap tempat yang dijaga oleh seorang penjaga memiliki makna seperti itu. Kami juga telah menjelaskan bahwa rumah-rumah tidak menjadi tempat penyimpanan yang aman dengan sendirinya kecuali jika diawasi oleh mata yang waspada. Namun, jika ada tujuan tertentu dalam tidur di depan peti, misalnya barang titipan itu biasa diambil dari bagian depannya, maka jika tidur di depan peti, akan menyulitkan orang yang ingin mengambil peti itu dari arah depan. Tetapi jika tidur di atas peti, maka memungkinkan orang untuk mengambilnya dari arah yang dikhawatirkan. Maka hal ini serupa dengan jika seseorang menentukan arah tertentu dalam menjaga, seperti mengikat pada lengan baju atau menggenggam di tangan, lalu ia meninggalkan arah yang telah ditentukan dan memilih arah lain. Penjelasan rinci tentang hal ini telah disebutkan sebelumnya, sehingga tidak perlu diulang kembali.

فصل

Bab

إذا مات المودَع وخلف الوديعة وأوصى بها ولم ينسب إلى تقصير فتلفت الوديعة في يد الوارث فإن كان تلفها على القرب قبل التمكن من الرد فلا ضمان أصلاً فإن المودَع لم يقصر ومن خلفه بالوراثة لم يقصر أيضاً ولو مر زمان إمكان رد الوديعة ثم تلفت في يد الوارث فهذا فيه تردد يتعين الاعتناء بفهمه

Jika orang yang menerima titipan (mūda‘) meninggal dunia dan meninggalkan barang titipan serta telah berwasiat tentangnya, dan ia tidak disandarkan kepada kelalaian, lalu barang titipan itu rusak di tangan ahli waris, maka jika kerusakannya terjadi segera sebelum ada kesempatan untuk mengembalikannya, maka sama sekali tidak ada tanggungan (ganti rugi), karena orang yang menerima titipan tidak lalai, dan orang yang mewarisinya juga tidak lalai. Namun, jika telah berlalu waktu yang memungkinkan untuk mengembalikan barang titipan, lalu barang itu rusak di tangan ahli waris, maka dalam hal ini terdapat keraguan yang perlu diperhatikan dan dipahami dengan saksama.

فليعلم الناظر أن الوارث ليس مودَعاً من جهة المالك وموت المودَع لا يورِّثه حقَّ الحفظ في الوديعة كما أن موت الوكيل لا يورث وارثه حقَّ التصرف الذي كان مفوضاً إلى الوكيل فخرج منه أن الوارث فيما في يده بمثابة من يطيّر الريحُ ثوباً إلى يده فليس له حكم المعتدين وليس أيضاً أميناً من جهة المالك

Maka hendaklah diketahui oleh orang yang menelaah bahwa ahli waris bukanlah penerima titipan (mudi‘) dari pihak pemilik, dan kematian penerima titipan tidak mewariskan hak penjagaan atas barang titipan tersebut kepadanya, sebagaimana kematian wakil tidak mewariskan kepada ahli warisnya hak untuk melakukan tindakan yang sebelumnya telah didelegasikan kepada wakil. Dari sini dapat dipahami bahwa posisi ahli waris terhadap barang yang ada di tangannya adalah seperti seseorang yang kainnya diterbangkan angin ke tangannya; ia tidak memiliki status sebagai orang yang melampaui batas, namun juga bukan seorang yang dipercaya (amin) dari pihak pemilik.

وقال الأئمة: إن لم يطلع على صاحب الثوب لم يكن عليه طَلِبَة وهذا فيه بعض النظر عندي فالقول فيه يبنى على أن الثوب الذي وصفناه في حق من وقع في يده هل ينزل منزلة اللقطة أم لا وفيه خلاف ذكرته في فصل الركاز من كتاب الزكاة فإن جعلناه لقطة لم يخفَ حكم اللقطة فيما يجب ويجوز فيها وإن لم نجعله لقطة فهو أمانة وفي وجوب الإشعار بها تردد والظاهر أنه لا يجب طلب مالكه فإن وجوب التعريف في معارضة تسليط الملتقط على التملك فإذا سددنا باب التملك لم نكلف من وقع الثوب بيده القيام بالتعريف وما ذكرناه يتضح بسقوط اختيار صاحب اليد

Para imam berkata: Jika pemilik kain tidak diketahui, maka tidak ada tuntutan atasnya. Namun, menurut saya, hal ini masih perlu ditinjau lebih lanjut. Pembahasan ini didasarkan pada apakah kain yang telah kami sebutkan, ketika berada di tangan seseorang, diperlakukan seperti luqathah (barang temuan) atau tidak. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan pada bab rikāz dalam Kitab Zakat. Jika kita menganggapnya sebagai luqathah, maka hukum-hukum luqathah yang berkaitan dengan kewajiban dan kebolehannya pun berlaku. Namun jika tidak dianggap sebagai luqathah, maka ia adalah amanah, dan ada keraguan mengenai kewajiban untuk mengumumkannya. Yang tampak, tidak wajib mencari pemiliknya, karena kewajiban mengumumkan itu bertentangan dengan hak kepemilikan yang diberikan kepada orang yang menemukan. Jika kita menutup pintu kepemilikan, maka kita tidak membebani orang yang menemukan kain tersebut untuk melakukan pengumuman. Apa yang telah kami sebutkan akan menjadi jelas dengan gugurnya hak pilihan bagi orang yang memegang barang tersebut.

وذهب بعض أصحابنا إلى وجوب الإشعار به  ثم القول فيه يختلف على تردد واحتمال فيجوز أن يجب الإشعار أبداً ويجوز أن يكتفى بإشهاره والإشهار به إلى حدٍّ يغلِّب على الظن شيوع خبره ثم لا يجب غيره أما تقييد التعريف بالسنة على قياس اللقطة فليس بالمتجه مع أن انقضاء السنة لا يُعقِب حقَّ التملك وليس يُبعد فقيهٌ المصير إلى ذلك من حيث إنه تعريف شرعي

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa wajib mengumumkannya, kemudian pendapat mengenai hal ini berbeda-beda antara keraguan dan kemungkinan. Bisa jadi pengumuman itu wajib dilakukan terus-menerus, dan bisa juga cukup dengan mengumumkannya sampai pada batas yang membuat kuat dugaan bahwa beritanya telah tersebar luas, kemudian setelah itu tidak wajib lagi. Adapun membatasi pengumuman selama satu tahun dengan qiyās terhadap barang temuan (luqathah), maka hal itu tidak tepat, meskipun berakhirnya satu tahun tidak serta-merta memberikan hak kepemilikan. Namun, tidaklah aneh jika seorang faqih berpendapat demikian, karena hal itu merupakan ketentuan syar‘i.

ولو اطلع صاحب اليد في الثوب على مالكه يجب عليه إعلامه وإن لم نوجب التعريف عند التباس المالك فكذلك على الوارث في مسألتنا أن يُعلم صاحب الوديعة فإن قصر في إعلامه بها صار ضامناً

Jika orang yang memegang pakaian mengetahui siapa pemiliknya, maka ia wajib memberitahukannya, meskipun kami tidak mewajibkan pengumuman ketika pemiliknya tidak diketahui secara pasti. Demikian pula, dalam permasalahan kita, ahli waris wajib memberitahu pemilik titipan. Jika ia lalai dalam memberitahukannya, maka ia menjadi penanggung jawab.

هذا معنى قول الأصحاب: إن تلفت الوديعة قبل الإمكان لم يضمن وإن تلفت بعد إمكان الرد ضمنها والمراد إن تمكن من الإعلام فلم يُعلم ولم يُرد الأصحابُ أن الوارث يلزمه تعاطي الرَّد بنفسه حتى إن كانت مؤنةٌ في الرد وجب عليه التزامها هذا ما لا قائل به من الأصحاب

Inilah maksud perkataan para ulama mazhab: Jika barang titipan (wadi‘ah) rusak sebelum ada kesempatan mengembalikannya, maka tidak wajib menggantinya. Namun jika rusak setelah ada kesempatan untuk mengembalikannya, maka wajib menggantinya. Yang dimaksud adalah jika ia sudah mampu memberitahukan (kepada pemilik), namun tidak memberitahukannya. Para ulama mazhab tidak bermaksud bahwa ahli waris wajib secara langsung menyerahkan barang titipan itu sendiri, sehingga jika ada biaya dalam pengembalian, ia wajib menanggungnya; hal ini tidak ada satu pun dari para ulama mazhab yang berpendapat demikian.

ولو ادعى الوارث الرد على المودَع لم يقبل قوله والسبب فيه ما مهدناه قبلُ من أنه ليس مؤتمناً من جهة المالك وإنما تُقبل دعوى الرد من المؤتمن على من ائتمنه وحكم الأمانة إن ثبت في حق الوارث فلم تثبت الأمانة مقصودة والتصديق في دعوى الرد موقوف على ثبوت الأمانة قصداً

Jika ahli waris mengaku telah mengembalikan barang titipan kepada orang yang dititipi, maka pengakuannya tidak diterima. Sebabnya adalah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ia bukanlah orang yang dipercaya oleh pemilik barang. Pengakuan pengembalian hanya diterima dari orang yang dipercaya kepada pihak yang mempercayainya. Hukum amanah, jika berlaku pada ahli waris, maka amanah tersebut tidaklah dimaksudkan secara khusus, dan pembenaran terhadap pengakuan pengembalian bergantung pada adanya amanah yang dimaksudkan secara khusus.

ولو ادعى الوارث التلفَ فكذبه المودِع فالوجه عندنا القطع بتصديقه لأنه ليس معتدياً ويده يد أمانة

Jika ahli waris mengaku bahwa barang titipan telah rusak, namun pihak yang dititipi mendustakannya, maka menurut kami yang benar adalah memastikan kebenaran pihak yang dititipi, karena ia bukanlah pelaku pelanggaran dan tangannya adalah tangan amanah.

وينقدح عندي هاهنا طريقةُ العراقيين في إيجاب الإشهاد إن كان السبب مما يمكن الإشهاد عليه وكان الإشهاد ممكناً ولهذا لم نصدقه في الرد فإن الإشهاد على الرد ممكن

Menurut pendapat saya di sini, metode para ulama Irak dalam mewajibkan adanya penyaksian (isyhād) jika sebabnya memungkinkan untuk disaksikan dan penyaksian itu memungkinkan, adalah tepat. Oleh karena itu, kami tidak membenarkannya dalam hal pengembalian (al-radd), karena penyaksian atas pengembalian itu memungkinkan.

هذا منتهى النظر في ذلك

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.

ولو ذكر المودَع أن الوديعة تلفت في يده ومات قبل أن يحلف فالأمر محمول على ذلك ولمالك الوديعة أن يحلّف الوارث ثم قال الأصحاب: إن تحقق الوارث تلف الوديعة حلف عليه بناء على علمه وإن لم يتحقق ذلك وكان ظنه غالباً في صدق أبيه فله أن يحلف على البت بناء على ظنه بصدق أبيه

Jika orang yang menerima titipan (muwadda‘) menyebutkan bahwa barang titipan telah rusak di tangannya lalu ia meninggal sebelum sempat bersumpah, maka perkara tersebut dianggap sebagaimana yang ia sebutkan, dan pemilik titipan berhak meminta sumpah kepada ahli warisnya. Para ulama (ash-hab) berkata: Jika ahli waris benar-benar mengetahui bahwa barang titipan telah rusak, maka ia bersumpah atas dasar pengetahuannya. Namun jika ia tidak mengetahui secara pasti, tetapi ia sangat yakin akan kebenaran ucapan ayahnya, maka ia boleh bersumpah secara tegas berdasarkan keyakinannya terhadap kebenaran ayahnya.

وهذا قطب من أحكام الأيْمان سيأتي مشروحاً إن شاء الله عز وجل في كتاب الدعاوى

Ini adalah pokok dari hukum-hukum sumpah yang akan dijelaskan, insya Allah ‘Azza wa Jalla, dalam Kitab ad-Da‘āwā.

وإن غلب على ظنه كذب أبيه لم يكن له أن يحلف

Dan jika ia lebih yakin bahwa ayahnya berdusta, maka ia tidak boleh bersumpah.

وإن أمكن فرض استواء الأمرين في الاعتقاد من غير تصوير ظنٍّ غالب ففي جواز الاعتماد على قول الأب خلاف سببه اعتضاد اليمين ببراءة ذمة الوارث وسلامة التركة له

Jika memungkinkan untuk mengandaikan kesetaraan antara dua perkara dalam keyakinan tanpa membayangkan adanya dugaan kuat, maka dalam kebolehan bersandar pada ucapan ayah terdapat perbedaan pendapat, yang sebabnya adalah penguatan sumpah dengan terbebasnya tanggungan ahli waris dan terjaganya harta warisan untuknya.

ومن منعه من اليمين اعتل بأن اليمين لا مستند لها من يقين ولا ظن والأصل بقاء الوديعة

Dan orang yang melarang sumpah beralasan bahwa sumpah tersebut tidak memiliki dasar dari keyakinan maupun dugaan, sedangkan hukum asalnya adalah tetapnya status titipan (wadi‘ah).

فهذه جملةٌ في أحكام الورثة كنا وعدنا ذكرها وقد نجز الغرض منها وإذا ضمت إلى ما ذكرناه في الإيصاء وترك الإيصاء كان المجموع كلاماً بالغاً في ذلك

Inilah ringkasan mengenai hukum-hukum para ahli waris yang telah kami janjikan untuk disebutkan, dan kini tujuan darinya telah tercapai. Jika digabungkan dengan apa yang telah kami sebutkan tentang wasiat dan meninggalkan wasiat, maka keseluruhannya menjadi pembahasan yang lengkap dalam hal tersebut.

فصل

Bab

قال: ولو ادعى رجلان وديعة فقال المودَع: هو لأحدكما ولا أدري لأيكما هو الفصل

Ia berkata: Jika dua orang mengaku memiliki barang titipan, lalu orang yang dititipi berkata: “Barang ini milik salah satu dari kalian, tetapi aku tidak tahu milik siapa di antara kalian berdua,” maka ada penjelasannya.

إذا ادّعى رجلان وديعةً فقال المودَع: لا أدري لأيكما هو وقد علمت أنه لأحدكما فإن لم يدعيا علمه فلا كلام لهما معه فإنه ليس متعدياً باتفاقهما ونسيانُه لا يلحقه بالمتعدين وفاقاً فليُحط الناظرُ بذلك فهو قاعدة الفصل فإذا لم يكن ضامناً ولم يُدَّع عليه علمٌ انقطعت الطَّلِبةُ عنه هذا ما ذكره الأصحاب

Jika dua orang laki-laki mengaku memiliki suatu titipan, lalu orang yang dititipi berkata: “Aku tidak tahu milik siapa di antara kalian berdua, namun aku tahu bahwa titipan itu milik salah satu dari kalian,” maka jika keduanya tidak mengaku bahwa ia mengetahui pemiliknya, maka mereka tidak berhak menuntut apa pun darinya. Sebab, ia tidak dianggap melakukan pelanggaran menurut kesepakatan mereka, dan lupa tidak menjadikannya sebagai pelaku pelanggaran menurut kesepakatan. Maka hendaknya hakim memperhatikan hal ini, karena ini adalah kaidah dalam bab ini. Jika ia tidak menjadi penanggung (dhamin) dan tidak ada tuduhan bahwa ia mengetahui pemiliknya, maka gugurlah tuntutan terhadapnya. Inilah yang disebutkan oleh para ulama.

قال صاحب التقريب: هل للقاضي أن يحلّفه على نفي العلم وإن لم يدّع الخصمان العلم فعلى وجهين ثم قال: إن قلنا: لا يحلّفه القاضي وهو الأصح فلا كلام ووجهه أن هذا يتعلق بحقهما وهما لا يدعيانه قال: وإن قلنا: يحلفه القاضي فهو استحبابٌ وليس باستحقاق قطعَ جوابَه بهذا

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Apakah hakim boleh menyuruh seseorang bersumpah untuk menafikan pengetahuan, meskipun kedua pihak yang bersengketa tidak menuntut pengetahuan tersebut? Ada dua pendapat dalam hal ini. Kemudian beliau berkata: Jika kita katakan bahwa hakim tidak boleh menyuruhnya bersumpah—dan inilah pendapat yang lebih shahih—maka tidak ada pembahasan lagi, dan alasannya adalah karena hal ini berkaitan dengan hak kedua pihak, sedangkan keduanya tidak menuntutnya. Beliau berkata: Jika kita katakan bahwa hakim boleh menyuruhnya bersumpah, maka itu hanya bersifat anjuran (istihbāb) dan bukan suatu hak yang pasti, dan beliau menegaskan jawabannya dalam hal ini.

وهذا عندي كلامٌ مضطرب فإن التحليف في حق الله من الزكوات إذا قضينا بأنه مستحب لغوٌ من الكلام كما نبهت عليه في كتاب الزكاة والحق في الزكاة لله ويليق بحقوق الله تعالى احتياط القضاة فأما إثبات التحليف في حق الآدميين من غير دعوى مع الحكم بأنه استحبابٌ فكلامٌ في نهاية السقوط والركاكة ولكن صاحب التقريب كرر هذا في كتابه فلم أوثر إخلاء هذا المجموع عنه ولا يمكن حمل كلامه على تنبيه القاضي الخصمين على دعوى العلم فإنه لم يُرد ذلك ولم يتعرض له ورأى التحليف إذا قيل به من مراسم القضاة وسيكون لنا إلى هذا الفصل عودة في إيضاح تداعيهما في الوديعة وقطعهما الدعوى عن المودع إذا استفرغنا مقصودَ الفصل

Menurut pendapat saya, ini adalah pernyataan yang rancu, karena pengambilan sumpah dalam hak Allah terkait zakat, jika kita memutuskan bahwa hal itu hanya sunnah, maka itu adalah perkataan yang sia-sia sebagaimana telah saya singgung dalam Kitab Zakat. Hak dalam zakat adalah milik Allah, dan kehati-hatian para hakim lebih layak diterapkan dalam hak-hak Allah Ta‘ala. Adapun menetapkan pengambilan sumpah dalam hak manusia tanpa adanya gugatan, sementara diputuskan bahwa hal itu hanya sunnah, maka itu adalah pernyataan yang sangat lemah dan tidak bermutu. Namun, penulis at-Taqrīb mengulang hal ini dalam kitabnya, sehingga saya tidak ingin menghilangkan hal tersebut dari kumpulan ini. Tidak mungkin pula menafsirkan perkataannya sebagai anjuran bagi hakim untuk mengingatkan kedua pihak agar mengklaim pengetahuan, karena ia tidak bermaksud demikian dan tidak membahasnya. Ia memandang pengambilan sumpah, jika dikatakan demikian, sebagai bagian dari prosedur para hakim. Kami akan kembali membahas bab ini untuk menjelaskan kaitannya dalam masalah titipan dan terputusnya gugatan dari pihak yang dititipi, setelah kami menuntaskan maksud dari bab ini.

ولو ادعى كل واحد منهما علمَه فقال هذا: أنت تعلم أني مالك الوديعة وقال الآخر مثلَه فيحلف المودع بالله لا يعلم

Jika masing-masing dari keduanya mengaku mengetahui, lalu yang satu berkata: “Kamu tahu bahwa aku adalah pemilik titipan ini,” dan yang lain mengatakan hal yang serupa, maka orang yang dititipi bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui.

وذكر أئمتنا في طرقهم إن اليمين الواحدة تكفيه في حقهما وقال أبو حنيفة : لا بد وأن يحلف لكل واحد منهما يميناً وهذا عندي محتمل في القياس فإن خصومة كلِّ واحد منهما منفصلة عن خصومة الثاني وهذا احتمالٌ والمذهب ما نقلته

Para imam kami menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa satu kali sumpah sudah cukup untuk keduanya. Namun, Abu Hanifah berpendapat: harus bersumpah untuk masing-masing dari keduanya satu sumpah. Menurut saya, hal ini memungkinkan dalam qiyās, karena perselisihan masing-masing dari keduanya terpisah dari perselisihan yang lain. Ini adalah kemungkinan, dan madzhab yang dipegang adalah sebagaimana yang telah saya sebutkan.

ولو فرضنا حضورَ أحدهما وادعاءه العلمَ فأنكر المدعى عليه العلم وحلف عليه فإذا حضر الخصم الآخر فهل يقع الاكتفاء باليمين السابقة وليقع الفرض فيه إذا تعرض المودَع للتردد بينهما فقال لما توجهت عليه الدعوى من الأول: لست أدري أودعتَ أم أودع صاحبُك فلان فإذا جرى الحلف مع الأول فهل يحلّفه الثاني هذا لا نقل فيه وفي المسألة احتمال ولا يبعد أن يثبت للثاني أن يحلِّفه وتخصيص اتحاد اليمين بشهودهما حال قيام الخصومة وهذا فيه إذا وقع التعرض في جواب الأول للرجلين

Seandainya salah satu dari keduanya hadir dan mengaku mengetahui, lalu pihak yang dituduh menyangkal pengetahuan tersebut dan bersumpah atasnya, kemudian jika lawan yang lain hadir, apakah cukup dengan sumpah yang telah diucapkan sebelumnya? Hal ini terjadi jika orang yang dititipi barang ragu di antara keduanya, lalu ketika tuntutan dari yang pertama diarahkan kepadanya, ia berkata: “Saya tidak tahu, apakah kamu yang menitipkan atau temanmu si Fulan.” Jika sumpah telah dilakukan bersama yang pertama, apakah yang kedua juga boleh menyuruhnya bersumpah? Tidak ada riwayat yang jelas tentang hal ini, dan dalam masalah ini terdapat kemungkinan. Tidak mustahil bahwa yang kedua berhak menyuruhnya bersumpah, dan pengkhususan penyatuan sumpah hanya berlaku jika keduanya hadir saat persengketaan berlangsung. Hal ini berlaku jika dalam jawaban kepada yang pertama, telah disebutkan kedua orang tersebut.

فأما إذا ادعى الأول فكان من جواب المدعى عليه: إنك أودعتني أو رجل آخر لم يسمِّه ولست أدري فإذا حلف لا يدري أن المدعي أودع عنده فلا بد من تجديد اليمين إذا حضر الثاني

Adapun jika yang pertama mengklaim, lalu jawaban dari tergugat adalah: “Engkau menitipkan kepadaku atau kepada orang lain yang tidak ia sebutkan namanya, dan aku tidak tahu,” maka jika ia bersumpah bahwa ia tidak tahu apakah penggugat telah menitipkan kepadanya, maka harus ada pembaruan sumpah jika orang kedua hadir.

ثم إذا حضرا وادعيا  وعُرضت يمين العلم فلا يخلو إما أن يحلف بالله لا يعلم مَن المودِع المستحِق منهما أو ينكل عن اليمين فإن حلف: لا يدري من المستحِق منهما قال صاحب التقريب: لا يخلو الخصمان إما أن يحلفا بينهما أو ينكلا عن التحالف أو يحلف أحدهما وينكل الثاني

Kemudian, apabila keduanya hadir dan saling mengklaim, lalu sumpah pengetahuan diajukan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui siapa di antara keduanya yang berhak menerima titipan, atau ia menolak bersumpah. Jika ia bersumpah bahwa ia tidak tahu siapa yang berhak di antara keduanya, menurut penulis at-Taqrīb, maka tidak lepas dari dua kemungkinan bagi kedua pihak yang bersengketa: apakah keduanya saling bersumpah di antara mereka, atau keduanya menolak untuk saling bersumpah, atau salah satu dari mereka bersumpah dan yang lainnya menolak.

فإن نكلا جميعاً ولم يحلف واحد منهما قال: فلا يدفع المال إليهما ولا يقسم بينهما إذ لم يُقم واحد منهما حجة ولا يدَ أيضاً لواحدٍ منهما فلا يقتسمانه ولكن يوقف المال بينهما كما يوقف كل مالٍ بين جماعة أشكل مستحقه منهم

Jika keduanya enggan bersumpah dan tidak ada satu pun dari mereka yang bersumpah, maka harta tersebut tidak diserahkan kepada keduanya dan tidak dibagi di antara mereka, karena tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menegakkan hujjah, dan juga tidak ada hak kepemilikan bagi salah satu dari mereka. Oleh karena itu, mereka tidak membaginya, melainkan harta tersebut ditahan di antara mereka sebagaimana setiap harta yang diperselisihkan kepemilikannya di antara sekelompok orang yang tidak jelas siapa yang berhak atasnya.

ثم إن أقام واحد منهما بينة قضي بها وإن اصطلحا وتراضيا فهو إليهم ولعلنا نذكر في ذلك قولاً ضابطاً في نكاح المشركات إن شاء الله عز وجل يحوي أطراف الكلام في أمثال هذا الإشكال

Kemudian, jika salah satu dari keduanya mendatangkan bukti, maka diputuskan berdasarkan bukti tersebut. Jika keduanya berdamai dan saling merelakan, maka urusan itu diserahkan kepada mereka. Barangkali kami akan menyebutkan suatu kaidah dalam masalah pernikahan dengan perempuan musyrik, insya Allah ‘Azza wa Jalla, yang mencakup berbagai sisi pembahasan dalam permasalahan yang serupa dengan ini.

فخرج منه أنا على رأي صاحب التقريب لا نقسم الوديعة بينهما وجوباً ولكنا نقف على التراضي أو البيان

Maka dari itu, menurut pendapat pemilik kitab at-Taqrīb, kita tidak membagi barang titipan (wadī‘ah) di antara keduanya secara wajib, melainkan kita menunggu adanya kerelaan atau penjelasan.

وقال طوائف من أئمتنا وهو مذكور في بعض المصنفات إذا لم يحلفا قُسّمت الوديعة بينهما قَهْراً وسبيلهما كسبيل رجلين في أيديهما دارٌ وكل واحد يدعي الدار بكمالها لنفسه فحكم الدار أن تقرر في أيديهما ويُقضى بظاهر الملك لكل واحد منهما في نصف الدار

Sebagian kelompok dari para imam kami, sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab, berpendapat bahwa jika keduanya tidak bersumpah, maka barang titipan tersebut dibagi paksa di antara mereka berdua. Keadaan mereka seperti dua orang yang masing-masing memegang sebuah rumah dan masing-masing mengaku bahwa seluruh rumah itu miliknya. Maka hukum rumah tersebut adalah tetap berada di tangan mereka berdua, dan diputuskan secara lahiriah bahwa masing-masing dari mereka memiliki setengah rumah itu.

وهذا يمكن توجيهه بأن المودَع في إقراره لهما سوّى بينهما ولم يعيّن واحداً وأبهم الأمرَ واعترف بأن يده مستعارة فصار كما لو ثبتت أيديهما على الوديعة

Hal ini dapat dijelaskan bahwa orang yang menerima titipan, dalam pengakuannya kepada keduanya, telah menyamakan kedudukan mereka dan tidak menentukan salah satu dari mereka, serta membiarkan perkara itu samar, dan ia mengakui bahwa barang itu berada di tangannya hanya sebagai pinjaman, sehingga keadaannya menjadi seperti ketika keduanya sama-sama memegang barang titipan tersebut.

وهذا وإن كان يتجه فالأموال المشكلة تَرد على ذلك فإن من أسلم على ثمان نسوة وأسلمن فإضافة الربع أو الثمن إليهن على قضيةٍ واحدة ليس بعضهن أولى به من البعض

Meskipun pendapat ini dapat diterima, namun harta yang bercampur menjadi sanggahan terhadapnya. Sebab, jika seseorang melakukan akad salam atas delapan orang perempuan, lalu mereka semua masuk Islam, maka penetapan seperempat atau seperdelapan bagian kepada mereka dalam satu perkara yang sama tidak menjadikan sebagian dari mereka lebih berhak atas bagian tersebut dibandingkan yang lain.

ثم لم يُطلق جماهير الأصحاب القولَ بوجوب قسمة الربع أو الثمن بينهن على أنهم لم يُخلو ذلك الفصلَ عن المصير إلى قسمة ذلك بينهن وجوباً على ما سيأتي

Kemudian mayoritas para ulama tidak secara mutlak menyatakan wajibnya pembagian seperempat atau seperdelapan di antara mereka, meskipun mereka tidak mengosongkan pembahasan tersebut dari kesimpulan bahwa pembagian itu wajib dilakukan di antara mereka, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

وقياس ظاهر المذهب ما ذكره صاحب التقريب

Qiyās menurut pendapat yang tampak dari mazhab adalah seperti yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb.

ثم قال: إذا قلنا: يوقف المال فهل تبقى تلك الوديعة في يد المودَع أم تخرج من يده فعلى قولين وهذان القولان جاريان في نظائر ذلك: أحدهما أنها تخرج من يده فإنه أقر بأنه ليس بمستحق له وثبت طلب الاسترداد من كل واحد من الخصمين فيسلم القاضي الوديعة إلى عدل أو يحفظها بنفسه

Kemudian beliau berkata: Jika kita mengatakan bahwa harta tersebut ditahan, maka apakah titipan itu tetap berada di tangan penerima titipan ataukah dikeluarkan dari tangannya? Ada dua pendapat dalam hal ini, dan kedua pendapat ini juga berlaku pada kasus-kasus serupa: salah satunya adalah bahwa titipan itu dikeluarkan dari tangannya, karena ia telah mengakui bahwa ia tidak berhak atasnya dan telah terbukti adanya permintaan pengembalian dari masing-masing pihak yang bersengketa, maka hakim menyerahkan titipan tersebut kepada pihak yang adil atau menyimpannya sendiri.

والقول الثاني أنه يتعين تقريرها في يد المودَع فإنه لو استخرجها من يده لوضعها عند مثله فاستدامةُ يده إلى البيان أولى

Pendapat kedua menyatakan bahwa barang titipan harus tetap berada di tangan orang yang dititipi, karena jika barang itu diambil dari tangannya untuk diletakkan pada orang yang sepadan dengannya, maka tetap berada di tangannya sampai ada penjelasan lebih utama.

وإن قلنا: للقاضي أن يُخرج الوديعة من يده فلو رأى أن يستحفظه من تلقاء نفسه لم يمتنع ذلك ولكن لا بد منه

Jika kita mengatakan: Hakim boleh mengeluarkan barang titipan dari tangannya, maka jika ia melihat bahwa ia perlu mempercayakan barang itu kepada seseorang atas inisiatifnya sendiri, hal itu tidak terlarang, namun hal tersebut memang diperlukan.

هذا إذا حلف المودَع ونكل الخصمان عن التحالف بينهما

Ini berlaku jika pihak yang menerima titipan bersumpah, dan kedua pihak yang bersengketa enggan untuk saling bersumpah di antara mereka.

فأما إذا حلفا جميعاً: هذا حلف أنه المستحِق دون صاحبه وكذلك صاحبه قال صاحب التقريب: في المسألة وجهان حينئذ: أحدهما أن الوديعة تقسم بينهما ويكون كما لو تنازعا داراً في أيديهما وتحالفا فلكل واحد منهما نصفها كذلك هاهنا

Adapun jika keduanya sama-sama bersumpah: yang satu bersumpah bahwa dialah yang berhak, bukan temannya, demikian pula temannya, maka menurut penulis at-Taqrīb, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa barang titipan tersebut dibagi di antara keduanya, dan hal ini seperti jika keduanya memperebutkan sebuah rumah yang ada di tangan mereka berdua lalu mereka saling bersumpah, maka masing-masing dari mereka mendapatkan setengahnya, demikian pula dalam kasus ini.

والوجه الثاني أنه لا يجب قسمة الوديعة بينهما فإن يمينهما تعارضتا وتضادّتا فلتسقطا  ويلتحق الخصمان بما إذا نكلا ثم لا شك أن من يقسم الوديعة بينهما في نكولهما يجري هذا الحكم في حلفهما  ثم قال: إذا لم تقسم الوديعة لم تثبت أيديهما وكانت الوديعة موقوفة وقد مضى تفصيل القول في الوقف

Pendapat kedua adalah bahwa tidak wajib membagi barang titipan di antara keduanya, karena sumpah mereka saling bertentangan dan berlawanan, maka keduanya gugur, dan kedua pihak diperlakukan seperti ketika keduanya menolak bersumpah. Tidak diragukan lagi bahwa siapa yang membagi barang titipan di antara keduanya ketika keduanya menolak bersumpah, maka hukum ini juga berlaku ketika keduanya bersumpah. Kemudian ia berkata: Jika barang titipan tidak dibagi, maka keduanya tidak berhak memegangnya, dan barang titipan itu menjadi tertahan (mauquf), dan rincian pembahasan tentang status tertahan ini telah dijelaskan sebelumnya.

وكلُّ ما ذكرناه فيه إذا عرضنا اليمين على المودَع فحلف بالله لا يعلم

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila kami meminta sumpah kepada orang yang menerima titipan, lalu ia bersumpah demi Allah bahwa ia tidak mengetahui.

فأما إذا عرضنا اليمين عليه في نفي العلم فنكل عن اليمين قال صاحب التقريب في كيفية ردّ اليمين على المدّعين وجهان: أحدهما أن القاضي يبدأ بمن شاء منهما إذ ليس أحدهما أولى من الثاني فيحلف كل واحد منهما والبداية موكولة إلى القاضي

Adapun jika kami mengajukan sumpah kepadanya untuk menafikan pengetahuan, lalu ia enggan bersumpah, maka menurut penulis kitab at-Taqrīb, dalam tata cara pengalihan sumpah kepada para penggugat terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hakim memulai dari siapa saja yang ia kehendaki di antara mereka, karena tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih berhak daripada yang lain, sehingga masing-masing dari mereka bersumpah, dan permulaan diserahkan kepada hakim.

والوجه الثاني أنه يُقرع بينهما فمن خرجت عليه القرعة يحلف أولاً ثم الثاني بعده

Cara kedua adalah dilakukan undian di antara keduanya; siapa yang keluar namanya dalam undian, ia bersumpah terlebih dahulu, kemudian yang kedua bersumpah setelahnya.

التفريع على الوجهين: إن قلنا: إنه يحلِّفهما بلا قرعة فإذا حلفا فقد ذكر صاحب التقريب ثلاثة أوجه على هذا الوجه أحدها أنه يسلّم إلى كل واحد منهما نصف العين ويغرِّمه كلُّ واحد منهما نصفَ قيمة العين وتعليل ذلك أن كل واحد منهما يقول: أثبتُّ بيميني استحقاقي للوديعة وأنت بترك الإقرار حُلْت بيني وبين نصف الوديعة ولما نكلتَ عن اليمين لم تُعذَر  ولم تصدَّق على دعوى النسيان فيتحصل من ذلك أن كل واحد منهما ينسبه إلى تفويت نصف الوديعة عليه وموجب ذلك ما ذكرناه من تغريم كل واحد منهما إياه نصفَ قيمة الوديعة وهذا الوجه لا يتضح إلا بذكر صفة اليمينين فيحلف كل واحد منهما على استحقاقه وعلى علم المودَع باستحقاقه فإنه بحلفه على علمه يُثبت تفويتَه ولو لم يحلف على علمه لم يستحق عليه شيئاً من القيمة

Penjabaran berdasarkan dua pendapat: Jika kita mengatakan bahwa hakim menyuruh keduanya bersumpah tanpa undian, maka setelah keduanya bersumpah, penulis kitab at-Taqrib menyebutkan tiga pendapat dalam masalah ini. Salah satunya adalah bahwa masing-masing dari mereka diberikan setengah barang titipan, dan masing-masing dari mereka diwajibkan membayar setengah nilai barang titipan tersebut. Alasannya adalah karena masing-masing dari mereka berkata: “Dengan sumpahku, aku telah menetapkan hakku atas titipan itu, dan engkau, dengan tidak mengakui, telah menghalangi aku dari setengah titipan itu. Dan ketika engkau enggan bersumpah, engkau tidak dimaafkan dan tidak dibenarkan atas alasan lupa.” Maka dari situ, masing-masing menuduh yang lain telah menyebabkan hilangnya setengah titipan darinya, dan konsekuensinya adalah seperti yang telah disebutkan, yaitu mewajibkan masing-masing membayar setengah nilai titipan kepada yang lain. Pendapat ini tidak akan jelas kecuali dengan menyebutkan tata cara dua sumpah tersebut, yaitu masing-masing bersumpah atas haknya dan atas pengetahuan pihak yang dititipi tentang haknya. Sebab, dengan sumpah atas pengetahuan tersebut, ia menetapkan bahwa pihak lain telah menyebabkan kehilangan haknya. Jika ia tidak bersumpah atas pengetahuan itu, maka ia tidak berhak menuntut apa pun dari nilai barang titipan.

هذا أحد الوجوه

Ini adalah salah satu pendapat.

و الوجه الثاني أن العين تقسم بينهما وليس لواحد منهما عليه شيء من القيمة

Adapun pendapat kedua, barang (yang disengketakan) dibagi antara keduanya, dan tidak ada kewajiban nilai apa pun atas salah satu dari mereka terhadap yang lain.

وهذا الوجه يخرج خروجاً صحيحاً على قولنا: الشاهد على الملك إذا رجع عن شهادته بعد نفوذ القضاء لم يغرم للمشهود عليه قيمةَ المشهود به وكذلك إذا قال: غصبتُ هذا العبدَ من فلان لا بل من فلان فالعبد مسلّم إلى الأول المقرّ له أولاً  وهل يغرم للمقر له الثاني قيمةَ المقرّ به من جهة انتسابه إلى التفويت عليه بالإقرار الأول فيه قولان

Pendapat ini dapat dijelaskan secara benar menurut pendapat kami: seorang saksi atas kepemilikan, jika ia menarik kembali kesaksiannya setelah putusan pengadilan telah dijalankan, maka ia tidak wajib mengganti kepada pihak yang disaksikan nilainya barang yang menjadi objek kesaksian. Demikian pula, jika seseorang berkata: “Aku telah merampas budak ini dari si Fulan, tidak, tetapi dari si Fulan,” maka budak tersebut diserahkan kepada orang pertama yang diakui kepadanya pada awalnya. Adapun apakah ia wajib mengganti kepada orang kedua yang diakui nilainya barang yang diakui karena dianggap telah menyebabkan kerugian kepadanya melalui pengakuan pertama, terdapat dua pendapat.

فالوجه الأول والثاني إذاً مأخوذان من هذين القولين

Jadi, pendapat pertama dan kedua diambil dari dua pendapat ini.

وذكر صاحب التقريب وجهاً ثالثاً وهو أن العين لا تسلم إليهما بل توقف بينهما وهذا الوجه خارج على ما مهده من الخلاف في حلفهما بناء على تعارض اليمينين فالذي يقتضيه الترتيب إذاً ذكر خلاف في أن العين هل تسلم إليهما أم لا فإن قلنا: لا تسلم إليهما وقد حلف كل واحد منهما على علمه فهل يغرَم القيمة للتفويت فعلى وجهين مبنيين على ما ذكرناه من أن التفويت هل يوجب الغُرم فإن قلنا: لا يوجبه فالعين موقوفة ولا غرم وإن قلنا: التفويت يوجب الغرم فالعين توقف والغرم يجب ثم يغرَم المودع لكل واحد منهما تمام القيمة فإنه ينسب في حق كل واحد منهما إلى الحيلولة في العين

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat ketiga, yaitu bahwa barang tersebut tidak diserahkan kepada keduanya, melainkan ditahan di antara mereka. Pendapat ini didasarkan pada apa yang telah dijelaskan mengenai perbedaan pendapat dalam sumpah keduanya, berdasarkan pertentangan dua sumpah. Maka, urutan yang logis adalah menyebutkan perbedaan pendapat tentang apakah barang tersebut diserahkan kepada keduanya atau tidak. Jika kita katakan: barang tersebut tidak diserahkan kepada keduanya dan masing-masing telah bersumpah atas pengetahuannya, maka apakah wajib membayar ganti rugi atas hilangnya barang tersebut? Ada dua pendapat yang didasarkan pada apa yang telah kami sebutkan, yaitu apakah hilangnya barang mewajibkan pembayaran ganti rugi atau tidak. Jika kita katakan: tidak mewajibkan, maka barang tersebut tetap ditahan dan tidak ada ganti rugi. Namun jika kita katakan: hilangnya barang mewajibkan ganti rugi, maka barang tersebut tetap ditahan dan ganti rugi tetap wajib, kemudian pihak yang dititipi membayar kepada masing-masing dari mereka nilai barang tersebut secara penuh, karena dalam pandangan masing-masing dari mereka, ia dianggap telah menghalangi barang tersebut.

وفي كلام صاحب التقريب دقيقة على وجه الوقف وهو أنه قال: إذا أوقفنا العين فيغرَم المودَعُ لكل واحد منهما نصفَ القيمة قولاً واحداً لتنجيز الحيلولة في العين الموقوفة وهل يغرم تمام القيمة أم النصف الثاني من القيمة في حق كل واحد على التردد المتلقى من القولين في الشهادة والإقرار وهذا حسن

Dalam penjelasan penulis at-Taqrīb terdapat rincian terkait kasus waqaf, yaitu beliau berkata: Jika kita mewaqafkan barang, maka pihak yang menerima titipan wajib mengganti kepada masing-masing dari keduanya setengah dari nilai barang tersebut, menurut satu pendapat, karena terjadinya penghalangan secara langsung pada barang yang diwaqafkan. Adapun apakah ia wajib mengganti seluruh nilai barang atau hanya setengah nilai sisanya kepada masing-masing, maka hal ini masih diperselisihkan, sebagaimana perbedaan pendapat dalam kasus kesaksian dan pengakuan, dan ini adalah pendapat yang baik.

وكل ذلك تفريع على وقف العين

Semua itu merupakan cabang dari waqaf atas benda (‘ain).

فإن قلنا: العين تقسم بينهما ففي تغريم المودَع لكل واحد منهما نصف القيمة الوجهان المقدمان

Jika kita mengatakan: barang titipan dibagi antara keduanya, maka dalam hal mewajibkan ganti rugi kepada orang yang dititipi untuk masing-masing dari mereka sebesar setengah nilai barang, terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya.

هذا كله إذا نكل المدعى عليه وحلف الخصمان

Semua ini berlaku jika tergugat menolak bersumpah dan kedua pihak yang bersengketa telah bersumpah.

ولو نكلا كان كما لو حلف المدعى عليه على نفي العلم ونكلا فإن نكولهما أقام حكم يمين الخصم وثبتت خاصية نكولهما فالتحق هذا بما تقدم فيه إذا حلف ونكلا

Jika keduanya enggan bersumpah, maka keadaannya seperti ketika tergugat bersumpah untuk menafikan pengetahuan lalu ia enggan bersumpah; maka keengganan keduanya menegakkan hukum sumpah lawan, dan tetaplah kekhususan keengganan keduanya, sehingga hal ini disamakan dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya ketika salah satu bersumpah dan yang lain enggan.

ولو حلف أحدهما ونكل الثاني فاز الحالف بالعين وخاب الناكل فإن نكوله كما يحرمه العين يحرمه الرجوع في القيمة

Jika salah satu dari keduanya bersumpah dan yang kedua enggan bersumpah, maka yang bersumpah berhak atas barang tersebut dan yang enggan bersumpah kehilangan haknya. Karena keengganannya bersumpah sebagaimana menghalanginya dari mendapatkan barang, juga menghalanginya dari menuntut nilai barang tersebut.

وكل ذلك تفريع على أحد الوجهين وهو أنا لا نقرع بينهما

Semua itu merupakan cabang dari salah satu pendapat, yaitu bahwa kita tidak melakukan undian di antara keduanya.

فأما إذا قلنا: نقرع بينهما  فمن خرجت لها القرعة حلّفناه  فإن حلف فكيف السبيل فيه ذكر صاحب التقريب وجهاً ظاهراً ورمز بالثاني فالذي أظهره أن الحالف يفوز بملك العين وهذا فائدة القرعة فلو قال الثاني: فأنا أحلف حتى يشترك في العين لم نُجبه إلى ذلك ومن آثار القرعة إعتاق عبد وإرقاق عبد والخصمان هاهنا يدعي كل واحد منهما تمامَ الاستحقاق والمدَّعى عليه معترفٌ بالاستحقاق لأحدهما لا بعينه فلا يمتنع أن تؤثر القرعة في تعيين أحدهما وقد قال الشافعي في أحد أقواله: إذا تعارضت بينتان ورأينا استعمالهما فإنا نقرع بين الخصمين فمن خرجت له القرعة فاز بالملك وخاب صاحبه

Adapun jika kita mengatakan: kita melakukan undian di antara keduanya, maka siapa yang keluar namanya dalam undian, kita suruh ia bersumpah. Jika ia bersumpah, bagaimana caranya? Penulis kitab at-Taqrib menyebutkan satu pendapat yang jelas dan memberi isyarat pada pendapat kedua. Pendapat yang ia kuatkan adalah bahwa orang yang bersumpah berhak mendapatkan kepemilikan atas barang tersebut, dan inilah manfaat dari undian. Jika pihak kedua berkata: “Kalau begitu, aku juga akan bersumpah agar kami berdua bisa berbagi kepemilikan atas barang itu,” maka kami tidak mengabulkan permintaannya. Di antara dampak undian adalah memerdekakan seorang budak dan memperbudak budak yang lain. Dalam kasus ini, kedua pihak sama-sama mengklaim hak penuh atas barang tersebut, sementara pihak yang dituduh mengakui hak salah satu dari mereka, namun tidak secara spesifik. Maka tidak mustahil undian dapat berpengaruh dalam menentukan salah satu dari mereka. Imam Syafi‘i dalam salah satu pendapatnya berkata: Jika ada dua bukti yang saling bertentangan dan kita ingin menggunakan keduanya, maka kita lakukan undian di antara kedua pihak. Siapa yang keluar namanya dalam undian, dialah yang berhak atas kepemilikan, dan pihak satunya tidak mendapatkannya.

وإنما ذكرنا هذا حتى لا يستبعد الناظر اقتضاءَ القرعة اختصاص أحدهما بملك العين  هذا وجه ظاهر

Kami menyebutkan hal ini agar orang yang menelaahnya tidak menganggap mustahil bahwa undian (qur‘ah) dapat menyebabkan salah satu dari keduanya menjadi pemilik barang tersebut. Inilah alasan yang jelas.

ثم فرع عليه وقال: إذا فاز من خرجت له القرعة وحلف بملك العين فهل يغرم المودَع للثاني إذا حلف فعلى وجهين وهما الوجهان المذكوران في أن إيقاع الحيلولة هل يتضمن تغريم القيمة فإن قلنا: لا يغرم للثاني شيئاً فلا يحلِّفه أصلاً ويحلّف من خرجت له القرعة لا محالة وإن قلنا: الحيلولة توجب الغرامة فيحلف الثاني فإن حلف استحق تمام القيمة

Kemudian beliau menguraikan lebih lanjut dan berkata: Jika orang yang keluar namanya dalam undian menang dan ia bersumpah atas kepemilikan barang, maka apakah pihak yang menerima titipan wajib mengganti kerugian kepada pihak kedua jika ia juga bersumpah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yaitu dua pendapat yang disebutkan dalam masalah apakah terjadinya ḥīlūlah (penghalangan) mengharuskan penggantian nilai barang. Jika kita katakan: tidak wajib mengganti kerugian apa pun kepada pihak kedua, maka ia sama sekali tidak diminta bersumpah, dan yang bersumpah hanyalah orang yang keluar namanya dalam undian, tanpa diragukan lagi. Namun jika kita katakan: ḥīlūlah mewajibkan penggantian kerugian, maka pihak kedua pun diminta bersumpah; jika ia bersumpah, maka ia berhak atas seluruh nilai barang tersebut.

هذا كله بيان الوجه الذي أظهره وهو اقتضاء خروج القرعة تخصيصَ من خرجت له القرعة باستحقاق العين

Semua ini merupakan penjelasan tentang sisi yang aku tampakkan, yaitu bahwa keluarnya undian (qur‘ah) menuntut adanya pengkhususan bagi orang yang keluar undiannya dengan berhak atas barang tersebut.

وأشار إلى وجهٍ آخر وهو أن القرعة لا تفيد ذلك ولا تقتضيه ولكن فائدة القرعة بدايةٌ محضة باليمين فإن خرجت القرعة لأحدهما وحلف حلّفنا الثاني ثم يعود التفريع إلى أن القاضي يحلّف من شاء منهما وقد مضى تفصيل القول في ذلك

Ia juga menunjuk pada sisi lain, yaitu bahwa undian (qur‘ah) tidak memberikan hal tersebut dan tidak menuntutnya, tetapi manfaat undian hanyalah sebagai permulaan murni dengan sumpah. Jika undian jatuh pada salah satu dari keduanya dan ia bersumpah, maka yang kedua juga kita suruh bersumpah, kemudian cabang permasalahan kembali pada bahwa hakim boleh menyuruh bersumpah siapa saja dari keduanya yang ia kehendaki, dan rincian pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

ثم إذا كانا يحلفان فسبيل حلفهما فيما يتعلق بالعين ما نصفه فنقول: من تقع البداية به إن حلف فيحلف أنه لا حق لصاحبه في العين ثم إن نكل صاحبه فعلى الذي حلف أولاً أن يحلف مرة أخرى على الإثبات فيثبت له الاستحقاق بيمين النفي والإثبات ولا يجمع في الابتداء بين النفي والإثبات وإن نكل من بدأنا به فحينئذ يجمع صاحبه إن أراد أن يحلف بين النفي والإثبات

Kemudian, apabila keduanya saling bersumpah, maka tata cara sumpah mereka terkait dengan objek (sengketa) sebagaimana yang kami jelaskan. Kami katakan: siapa yang memulai lebih dahulu, jika ia bersumpah, maka ia bersumpah bahwa tidak ada hak bagi lawannya atas objek tersebut. Kemudian, jika lawannya enggan bersumpah, maka orang yang pertama kali bersumpah harus bersumpah sekali lagi untuk menetapkan haknya, sehingga hak kepemilikan ditetapkan baginya dengan sumpah penafian dan penetapan. Tidak boleh menggabungkan antara penafian dan penetapan dalam sumpah pada awalnya. Namun, jika orang yang kami mulai dengannya enggan bersumpah, maka pada saat itu lawannya, jika ia ingin bersumpah, boleh menggabungkan antara penafian dan penetapan.

وتمام البيان في هذا يأتي في الدعاوى عند ذكرنا اختلاف رجلين في أيديهما دارٌ وكل يدعي تمامها لنفسه  فيدُ كلِّ واحد ثابتة في نصف الدار وهو فيه مدَّعىً عليه وهو مدعٍ في النصف الذي في يد صاحبه وحكم يمين المدعى عليه أن يكون على النفي ويمين الردّ يكون على الإثبات ولا يثبت يمين الرد إلا عند نكول الخصم

Penjelasan lengkap mengenai hal ini akan dijelaskan dalam pembahasan tentang gugatan, ketika kami menyebutkan perbedaan antara dua orang yang masing-masing memegang sebuah rumah, dan masing-masing mengklaim seluruh rumah itu untuk dirinya sendiri. Maka, tangan masing-masing dari keduanya dianggap berkuasa atas setengah rumah, dan pada bagian itu ia menjadi pihak yang tergugat, sedangkan ia menjadi penggugat atas setengah yang berada di tangan lawannya. Hukum sumpah bagi tergugat adalah untuk penolakan, dan sumpah balasan adalah untuk penetapan, dan sumpah balasan tidak dapat ditegakkan kecuali jika lawan menolak bersumpah.

وقد نجز تفصيل القول في مسألة الوديعة وذكر الأئمة صورةً أخرى تتعلق بالغصب تناظر صورة الوديعة وهي أن من في يده العين لو قال: غصبت هذه العين من أحدكما ولا أدري ممن غصبت فلا يكتفى منه بيمين واحدة على نفي العلم  بل كل واحد منهما يكلفه أن يحلف على البت: ما غصبتُ هذه العينَ منك فإن أبى كان ناكلاً عن اليمين والفرق بين البابين أن المودَع غيرُ ضامن وقد ذكرنا في صدر الفصل أن نسيانه لا يُثبت له حكمَ العدوان فاكتفينا منه بنفي العلم فإنه إذا انتفى العلم عنه انتفى الضمان وانتفاء العلم في الغصب لا يدرأ الضمان ولا يقطع الطَّلِبةَ عن الغاصب فلاح الفرق

Telah selesai penjelasan rinci mengenai masalah wadi‘ah, dan para imam menyebutkan satu gambaran lain yang berkaitan dengan ghasab yang serupa dengan kasus wadi‘ah, yaitu apabila seseorang yang memegang suatu barang berkata: “Aku telah mengambil barang ini secara paksa dari salah satu dari kalian berdua, tetapi aku tidak tahu dari siapa aku mengambilnya,” maka tidak cukup baginya hanya bersumpah satu kali untuk menafikan pengetahuan, melainkan masing-masing dari keduanya berhak memintanya bersumpah secara tegas: “Aku tidak mengambil barang ini darimu.” Jika ia menolak, maka ia dianggap menolak sumpah. Perbedaan antara kedua bab ini adalah bahwa orang yang menerima titipan (muda‘) tidak menanggung tanggungan (tidak bertanggung jawab), dan telah kami sebutkan di awal pembahasan bahwa lupa tidak menetapkan hukum pelanggaran baginya, sehingga cukup baginya menafikan pengetahuan. Jika pengetahuan itu tidak ada padanya, maka tidak ada tanggungan. Sedangkan tidak adanya pengetahuan dalam kasus ghasab tidak menggugurkan tanggungan dan tidak memutus tuntutan terhadap pelaku ghasab. Maka jelaslah perbedaannya.

ولو ادّعى أحدهما عليه الغصبَ وكان سبق منه دعوى التردّد وقال للذي وجه الدعوى عليه ما غصبت العين منك  فإنه يصير مقرّاً للآخر لأنه اعترف أولاً بأن الغصب كان من أحدهما فإذا جزم نفي الغصب في حق أحدهما تعين الثاني لثبوت الغصب في حقه فيسلّم العين إلى الثاني

Jika salah satu dari mereka menuduhnya telah melakukan ghashab (perampasan), sementara sebelumnya ia telah mengaku ragu, lalu ia berkata kepada orang yang menuduhnya, “Aku tidak melakukan ghashab terhadap barang itu darimu,” maka ia menjadi mengakui terhadap yang lain. Sebab, ia telah mengakui sebelumnya bahwa ghashab dilakukan oleh salah satu dari mereka berdua. Maka, ketika ia secara tegas menafikan ghashab terhadap salah satunya, yang lain pun menjadi pasti sebagai pelaku ghashab, sehingga barang tersebut diserahkan kepada yang kedua.

ثم هل يغرم للذي ادعى عليه فأنكر الغصب في حقه شيئاً وكيف السبيل فيه لا شك أنه بمجرد الإنكار في حقه لا يغرم فإنه لم يأت أولاً بما يقتضي ثبوتَ حق له حتى ينتسب إلى إيقاع الحيلولة آخراً نعم لو أنكر دعوى الأول وجعلنا ذلك إقراراً للآخر فلو أقر للأول بعد ما أنكر فهل يغرم للأول شيئاً فعلى قولين وعلى هذين القولين يبتني أن الأول الذي أنكر حقَّه هل يملك تحليفه فإن قلنا: لو أقر له بعد الإنكار غرِم له فيملك الأول تحليفَه لتوقع أن ينكل فيحلف المدعي

Kemudian, apakah ia wajib membayar ganti rugi kepada orang yang mengajukan klaim terhadapnya, lalu ia mengingkari adanya ghasab atas hak orang tersebut? Bagaimana ketentuannya? Tidak diragukan lagi bahwa dengan sekadar pengingkaran terhadap hak tersebut, ia tidak wajib membayar ganti rugi, karena pada awalnya tidak ada sesuatu yang menetapkan adanya hak baginya sehingga bisa dikaitkan dengan terjadinya penghalangan di akhir. Namun, jika ia mengingkari klaim orang pertama dan kita anggap itu sebagai pengakuan terhadap orang kedua, lalu setelah mengingkari ia mengakui kepada orang pertama, apakah ia wajib membayar ganti rugi kepada orang pertama? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Berdasarkan dua pendapat ini, timbul pertanyaan: apakah orang pertama yang diingkari haknya berhak meminta sumpah? Jika kita katakan bahwa jika ia mengakui setelah mengingkari maka ia wajib membayar ganti rugi, maka orang pertama berhak meminta sumpah, dengan harapan bahwa yang dituduh akan menolak bersumpah sehingga si penggugat yang bersumpah.

وإن قلنا لو عاد فأقر للأول لم يغرم له شيئاً فليس للأول أن يحلّفه فإن تحليفه إياه لا يفيد غُرماً وقد استقر الإقرار المتلقَّى من الإنكار للثاني وذاك لا مستدرك له فلا معنى للتحليف

Dan jika kita mengatakan bahwa apabila ia kembali lalu mengakui kepada yang pertama, maka ia tidak wajib membayar apa pun kepadanya, maka yang pertama tidak berhak meminta sumpah darinya. Sebab, permintaan sumpah tersebut tidak memberikan konsekuensi kewajiban membayar, dan pengakuan yang diambil dari penolakan telah tetap menjadi hak bagi yang kedua, dan hal itu tidak dapat ditarik kembali, sehingga tidak ada makna untuk meminta sumpah.

وقد هذى بعضُ الأصحاب بشيء لا فائدة فيه ومثله يشوش المذهب ويفسد القواعد وذلك أن بعض من لا يحيط بسر الفقه صار إلى أن الأول لو حلف يمين الرد لا يستحق العين المغصوبة بناء على أن يمين الرد ينزل منزلة البينة المقامة ولا ينزل منزلة إقرار الخصم ثم لو أقام الأول بيّنة قضي له بها وهذا ليس بشيء وهو بإجماع أئمة المذهب غلطٌ وسنذكره على الاستقصاء في كتاب النكاح وفي كتاب الدعاوى إن شاء الله عز وجل

Sebagian sahabat telah berpendapat dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya, dan pendapat semacam itu justru mengacaukan mazhab dan merusak kaidah-kaidah. Hal ini karena sebagian orang yang tidak memahami rahasia fiqh berpendapat bahwa jika pihak pertama bersumpah dengan sumpah rad (sumpah penolakan), maka ia tidak berhak atas barang yang digasak, dengan alasan bahwa sumpah rad diposisikan seperti bukti yang diajukan, dan tidak diposisikan seperti pengakuan lawan. Kemudian, jika pihak pertama menghadirkan bukti, maka diputuskan untuknya berdasarkan bukti tersebut. Pendapat ini tidak benar, dan menurut ijmā‘ para imam mazhab, hal itu adalah kesalahan. Kami akan menjelaskannya secara rinci dalam Kitab Nikah dan dalam Kitab Gugatan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل

Bab

ذكر الأئمة رضي الله عنهم أن الصبي ليس من أهل أن يؤتمن  ويده لا تصلح لحفظ الودائع ثم ذكر الأصحاب التفصيلَ في إتلافه الوديعة وقد ساق العراقيون طريقةً جامعة في أحواله فقالوا: إن ثبتت يد الصبي على مال إنسان وجرى من مالك المال ما يتضمّن تسليطَ الصبي على إتلافه فإذا حصل بهذا الطريق مالٌ في يد الصبي وأتلفه فلا ضمان عليه وهذا كما لو باع شيئاً من صبي وسلّمه إليه فالبيع فاسد ولو أتلف الصبي ما قبضه لم يضمنه  فإن مالك ذلك المتاع سلّط الصبي على ذلك ولا نظر إلى قول من يقول: إنما سلطه بعوض فإن ذلك العوض ساقط والتسليط على الإتلاف كائن والساعي في تضييع المال هو المالك ثم إذا لم يضمن في صباه لم يلزمه الضمان بعد بلوغه والضمان منفي عنه في الحال والمآل ظاهراً وباطناً

Para imam rahimahumullah menyebutkan bahwa anak kecil bukanlah orang yang layak untuk diberi amanah dan tangannya tidak layak untuk menjaga titipan. Kemudian para sahabat (ulama) menyebutkan rincian tentang kerusakan yang dilakukan anak kecil terhadap barang titipan. Ulama Irak menyusun satu metode yang mencakup berbagai keadaannya, mereka berkata: Jika tangan anak kecil terbukti memegang harta seseorang dan dari pemilik harta itu terjadi sesuatu yang mengandung makna memberi wewenang kepada anak kecil untuk merusaknya, maka jika dengan cara ini ada harta di tangan anak kecil lalu ia merusaknya, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya. Ini seperti jika seseorang menjual sesuatu kepada anak kecil dan menyerahkannya kepadanya, maka jual belinya batal, dan jika anak kecil merusak barang yang diterimanya, ia tidak wajib menggantinya. Sebab pemilik barang itu telah memberi wewenang kepada anak kecil atas barang tersebut, dan tidak perlu memperhatikan pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya memberi wewenang dengan imbalan, karena imbalan itu gugur dan pemberian wewenang untuk merusak tetap ada, dan yang berusaha menyia-nyiakan harta adalah pemiliknya sendiri. Kemudian, jika anak kecil tidak wajib mengganti kerusakan saat masih kecil, maka ia juga tidak wajib menggantinya setelah dewasa, dan kewajiban ganti rugi tidak berlaku baginya baik sekarang maupun di masa mendatang, secara lahir maupun batin.

ومن أحوال الصبي في الإتلاف أن يتلف مالاً ابتداءً من غير صدور سبب من المالك فإذا جرى ذلك على هذا الوجه وجب الضمان في مال الصبي يخرج منه في صباه ولا ينتظر بلوغه وإن اتفق استئخار الطلب إلى ما بعد البلوغ طولب بعد استقلاله

Di antara keadaan anak kecil dalam hal perusakan adalah ketika ia merusak harta orang lain secara langsung tanpa ada sebab dari pemilik harta tersebut. Jika hal itu terjadi dengan cara seperti ini, maka wajib ada ganti rugi yang diambil dari harta anak kecil tersebut pada masa kecilnya, dan tidak perlu menunggu sampai ia baligh. Namun, jika penuntutan ganti rugi itu ditunda hingga setelah ia baligh, maka ia tetap dituntut setelah ia dewasa.

ومن أحواله في الإتلاف أن يُثبت المالك له يداً مقصِّراً مغرِّراً بمال نفسه من غير أن يسلطه على التصرف فيه وهذا بمثابة ما لو أودع مالَه عند صبي ففي الإيداع إثبات يدٍ له ولكن ليس فيه تسليطهُ على التصرف فإذا أتلف الصبي الوديعةَ ففي وجوب الضمان وجهان: أحدهما يجب الضمان في مال الطفل كما لو أتلف مالاً ابتداء

Di antara keadaan dalam hal perusakan adalah ketika pemilik memberikan kekuasaan kepada seseorang yang lalai dan membahayakan hartanya sendiri, tanpa memberinya wewenang untuk bertindak atas harta tersebut. Ini seperti seseorang yang menitipkan hartanya kepada seorang anak kecil; dalam penitipan tersebut, memang ada penetapan kekuasaan atas harta itu, tetapi tidak ada pemberian wewenang untuk bertindak atasnya. Jika anak kecil tersebut merusak barang titipan, maka dalam hal kewajiban ganti rugi terdapat dua pendapat: salah satunya adalah wajib mengganti rugi dari harta anak kecil tersebut, sebagaimana jika ia merusak harta orang lain sejak awal.

والثاني لا يجب فإن مالك المال هو المغرِّر المقصر

Dan yang kedua tidak wajib, karena pemilik harta adalah pihak yang menjerumuskan dan lalai.

والأول يقول: المالك لم يسلِّطه على الإتلاف وإنما استحفظه في المال

Pendapat pertama mengatakan: Pemilik tidak memberinya wewenang untuk merusak, melainkan hanya menitipkan harta itu kepadanya agar dijaga.

وهذه الأحوال الثلاث تجري في حق العبد فإن باع المالك منه شيئاً فالبيع مردود على المذهب فلو أتلفه العبد لم يتعلق الضمان برقبته ولكنه يطالب بالقيمة إذا عتق

Ketiga keadaan ini berlaku bagi seorang budak. Jika pemiliknya menjual sesuatu kepadanya, maka jual beli tersebut batal menurut mazhab. Jika budak itu merusaknya, maka tidak ada tanggungan jaminan pada dirinya, tetapi ia akan diminta mengganti nilai barang tersebut jika ia telah merdeka.

ولو أودع عند عبدٍ من غير إذن المولى فأتلف العبد الوديعة ففي تعلق الضمان برقبته وجهان والعبد يفارق الصبي من حيث إن ما لا يضمنه الصبي من مال في صباه لا يضمنه قط وإذا أسقطنا تعلق الأرش برقبة العبد وفاقاً ثم عَتَق طولب بقيمة المتلَف بعد زوال الرق والسبب فيه أن المرعي في نفي الضمان عن الصبي حقه وحقُّه مرعيٌّ في الحال والمآل والمرعي في نفي تعلق الأرش بالرقبة حقُّ المالك وحقه يزول بالعتق

Jika seseorang menitipkan barang kepada seorang budak tanpa izin tuannya, lalu budak tersebut merusak barang titipan itu, maka ada dua pendapat mengenai apakah jaminan (tanggung jawab) itu terkait dengan leher (tubuh) budak tersebut. Budak berbeda dengan anak kecil, karena apa yang tidak menjadi tanggungan anak kecil dari hartanya saat masih kecil, tidak akan pernah menjadi tanggungannya. Jika kita meniadakan keterkaitan diyat (arasy) dengan leher budak—dan ini merupakan kesepakatan—lalu budak itu dimerdekakan, maka ia dituntut untuk membayar nilai barang yang dirusak setelah status budaknya hilang. Sebabnya adalah bahwa yang menjadi pertimbangan dalam meniadakan jaminan dari anak kecil adalah hak anak itu sendiri, dan haknya dipertimbangkan baik saat ini maupun di masa mendatang. Sedangkan yang menjadi pertimbangan dalam meniadakan keterkaitan diyat dengan leher budak adalah hak pemilik, dan hak itu hilang dengan dimerdekakannya budak.

فلو جرى ما وصفناه من مملوك صغير فإن كان ذلك لو صدر من صبي حر لما وجب الضمان في الحال والمآل فكذلك لا يتعلق الضمان بالصبي المملوك فإنه كالصبي الحر غيرَ أن الصبي الحر لم يتعلق به استحقاقٌ لغيره بخلاف المملوك

Jika terjadi apa yang telah kami gambarkan dari seorang budak yang masih kecil, maka jika perbuatan itu, apabila dilakukan oleh anak kecil yang merdeka, tidak mewajibkan adanya tanggungan ganti rugi baik saat itu maupun di kemudian hari, maka demikian pula tidak ada tanggungan ganti rugi yang dibebankan kepada anak kecil yang berstatus budak, karena ia sama dengan anak kecil yang merdeka. Hanya saja, anak kecil yang merdeka tidak ada hak kepemilikan orang lain atas dirinya, berbeda dengan budak.

وحيث قلنا: يجب الضمان في مال الصبي الحر فإذا صدر ذلك السبب من الصبي المملوك تعلق الأرش برقبته

Dan ketika kami katakan: wajib ada ganti rugi pada harta anak kecil yang merdeka, maka jika sebab tersebut berasal dari anak kecil yang berstatus budak, maka diyat (ganti rugi) itu terkait pada dirinya (yakni budak tersebut).

وقد نجز تمام المراد في ذلك ونجز بنجازه مسائل الوديعة والله الموفق بالصواب

Telah sempurna seluruh maksud dalam hal itu, dan dengan selesainya hal tersebut, selesailah pembahasan mengenai masalah-masalah wadi‘ah. Allah-lah yang memberi taufik kepada kebenaran.

Kitab tentang Pembagian Fai’ dan Ghanimah

قال الشافعي رضي الله عنه: أصل ما يقوم به الولاة من المال ثلاثة وجوه إلى آخره

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Dasar harta yang digunakan oleh para penguasa ada tiga macam hingga seterusnya.

نقل المزني عن الشافعي رضي الله عنه حصراً في أقسام الأموال التي يأخذها الولاة ويرعَوْنها وجعلها ثلاثة أقسام: الصدقات والفيء والغنيمة فقال الأئمة: الأموال العامة التي يقوم الوالي بجمعها وجبايتها تنقسم إلى الأقسام التي ذكرها وللإمام التصرف في أموال الملاك المتعينين وتلك الجهات زائدة على الأقسام التي نقل المزني حصرها عن الشافعي وتصرف الوالي في المال الذي له مالك متعين يقع على ثلاثة أوجه: أحدها التصرف بالولاية وهو تصرفه في مال الصبيان والمجانين والذين لم يُؤنس رشدُهم فإذا لم يكن لهؤلاء أولياء فالإمام وليهم أو من يقوم مقامه من ولاة الإمام

Al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafi‘i ra. pembagian secara terbatas mengenai jenis-jenis harta yang diambil dan dikelola oleh para penguasa, dan beliau membaginya menjadi tiga jenis: sedekah, fai’, dan ghanimah. Para imam berkata: harta-harta umum yang dikumpulkan dan dipungut oleh penguasa terbagi sesuai dengan pembagian yang disebutkan itu. Adapun imam juga memiliki kewenangan untuk mengelola harta milik individu tertentu, dan hal-hal tersebut merupakan tambahan dari pembagian yang diriwayatkan secara terbatas oleh al-Muzani dari asy-Syafi‘i. Pengelolaan penguasa terhadap harta yang memiliki pemilik tertentu terjadi dalam tiga bentuk: pertama, pengelolaan dengan kewenangan, yaitu pengelolaan terhadap harta anak-anak, orang gila, dan orang yang belum tampak kecerdasannya. Jika mereka tidak memiliki wali, maka imam menjadi wali mereka, atau orang yang mewakili imam dari kalangan para penguasa.

والوجه الثاني من تصرفه أنه يأخذ الأموال من الممتنعين ويوفرها على مستحقها

Aspek kedua dari tindakannya adalah bahwa ia mengambil harta dari orang-orang yang enggan membayar dan menyalurkannya kepada pihak yang berhak menerimanya.

والوجه الثالث تصرفه في أموال الغُيّب وعلى الناظر توقفٌ في هذا القسم فالمالك المطلق يفعل بماله ما يشاء على وفق الشرع ولا يلزمه عمارة أملاكه وحفظ أمواله وله تعريضها للضياع وإنما يحجر الشرع عليه في ذوات الأرواح لحرمتها لا لحق المالية منها والوالي يتصرف بالولاية في مال الموْليّ عليه على حكم النظر والغبطة كما تفصل ذلك في الكتب والسلطان لا يتصرف في أموال الغيّب بالغبطة المحضة وإنما يتسلط على التصرف فيها بشيئين: أحدهما إذا أشرفت على الضَّياع والثاني إذا مست الحاجة إليها في استيداء حقوق ثبتت على الغائب وهذا وإن ذكره أصحاب الإيالة فهو ملتحق باستيفاء الحقوق من الممتنعين ثم هذا مندرج تحت الولاية فإن الغرض الأظهر منها درءُ الضرار وكف الأذى والانتصاف للمظلومين ثم في الضياع على المتأمل تفصيلٌ فإن ظهر وامتدت الغيبة وعسرت المراجعة قبل وقوع الضياع فيسوغ التصرف كما سنفصله

Adapun aspek ketiga adalah tindakan seseorang terhadap harta orang-orang yang tidak hadir (ghuyyab). Menurut para pengawas (nadhir), terdapat keraguan dalam bagian ini. Pemilik mutlak dapat memperlakukan hartanya sesuai keinginannya selama sesuai dengan syariat, dan ia tidak wajib memelihara atau menjaga hartanya, bahkan boleh saja ia membiarkan hartanya terancam hilang. Syariat hanya membatasi tindakannya terhadap makhluk bernyawa karena kehormatan jiwa, bukan karena nilai harta. Adapun wali, ia bertindak atas dasar perwalian terhadap harta orang yang berada di bawah perwaliannya dengan prinsip kehati-hatian dan kemaslahatan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh. Sementara itu, penguasa (sulthan) tidak bertindak atas harta orang yang tidak hadir semata-mata demi kemaslahatan, melainkan ia berwenang bertindak dalam dua hal: pertama, jika harta tersebut hampir hilang; kedua, jika ada kebutuhan mendesak untuk menagih hak-hak yang telah ditetapkan atas orang yang tidak hadir. Meskipun hal ini disebutkan oleh para ahli pemerintahan, pada hakikatnya hal tersebut berkaitan dengan penagihan hak dari orang yang menolak membayar. Selanjutnya, hal ini termasuk dalam wilayah perwalian, karena tujuan utamanya adalah mencegah bahaya, menahan gangguan, dan menegakkan keadilan bagi yang teraniaya. Dalam hal harta yang terancam hilang, bagi yang memperhatikan, terdapat rincian: jika keadaan bahaya sudah jelas, masa ketidakhadiran berlangsung lama, dan sulit untuk menghubungi sebelum terjadi kerugian, maka tindakan terhadap harta tersebut diperbolehkan, sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut.

وإن أمكنت المراجعة ولم ينقطع الخبر انقطاعاً يغلِّب على الظن اليأسَ من العَوْد قبل المستدرك فلا يسوغ التصرف مطلقاً أما التصرف عند ظهور الضياع واليأس من قرب العوْد فيحوج إلى بيان الضَّياع وذكرِ تفصيل التصرف

Jika masih memungkinkan untuk menghubungi dan belum terputus kabar secara total yang menyebabkan kuatnya dugaan akan putus harapan untuk kembali sebelum adanya upaya pencarian, maka tidak dibenarkan melakukan tindakan apa pun secara mutlak. Adapun tindakan ketika telah tampak hilang dan putus harapan akan segera kembali, maka hal itu memerlukan penjelasan tentang hilangnya dan penyebutan rincian tindakan yang diambil.

فأما الضياع فيقسّم إلى الهلاك بالكلية وإلى الاختلال فأما الهلاك إذا خيف فهو الضياع وأما الاختلال فإن كان لا يتراقى إلى تلف المعظم ولم يكن سارياً فلم يعدّه معظم العلماء ضَياعاً فإنه لو بيع مال الغائب لخيفة الاختلال لالْتحق ذلك بابتناء البيع في مال الغائب على النظر المحض والمصلحة وهذا ما لا يسوغ المصير إليه

Adapun kerugian (ḍiyā‘) terbagi menjadi kehancuran total dan kerusakan. Adapun kehancuran, jika dikhawatirkan terjadi, maka itulah yang disebut kerugian (ḍiyā‘). Sedangkan kerusakan, jika tidak sampai menyebabkan rusaknya sebagian besar harta dan tidak menyebar, maka mayoritas ulama tidak menganggapnya sebagai kerugian (ḍiyā‘). Sebab, jika harta orang yang tidak hadir dijual hanya karena dikhawatirkan terjadi kerusakan, maka hal itu sama saja dengan mendasarkan penjualan harta orang yang tidak hadir semata-mata pada pertimbangan maslahat, dan ini adalah sesuatu yang tidak dibenarkan untuk dijadikan dasar.

وإن كان يتلف معظم المال فقد أُحلّ المعظم في هذا محل الكل

Dan jika yang rusak adalah sebagian besar harta, maka hukum sebagian besar dalam hal ini disamakan dengan hukum keseluruhan.

وما ذكرناه في غير الحيوان فأما الحيوان فإنه يباع بتطرّق الاختلال إليه لحرمة الروح وأيضاً فإن ذلك يتداعى إلى الهلاك والحيوان يباع على مالكه في حضرته إذا كان لا يستقل بالإنفاق عليه

Apa yang telah kami sebutkan berlaku pada selain hewan, adapun hewan maka ia boleh dijual karena adanya kemungkinan kerusakan padanya disebabkan kehormatan jiwa. Selain itu, hal tersebut dapat menyebabkan kematian, dan hewan boleh dijual atas pemiliknya di hadapannya jika ia tidak mampu menafkahinya sendiri.

هذا قولنا في الضياع

Inilah pendapat kami tentang hilangnya (barang).

فأما التصرف فإن أمكن تدارك الضَّياع بالإجارة اكتفى القاضي بها ولم يبع وإن كان لا ينسدّ الضياع بالإجارة فله أن يبيع على الشرائط التي قدمناها فإن قيل: لِمَ يتسلط الوالي على بيع مال الغائب عند إشرافه على الضياع والغائب ليس موليّاً عليه ولا حق عليه فيتأدّى من ماله الحاضر قلنا: لا محمل لهذا من طريق المعنى إلا حملُ الأمر على العرف فيه فإن الغُيَّب بقرائن أحوالهم لا يأبَوْن أن يَرعى حقوقَهم من يلي المسلمين وينتصب وزَراً لهم حتى لو فرض من المرء عند الغيبة نهيٌ عن البيع وانتهى الأمر إلى الضَّياع فلسنا نرى البيع جائزاً والحالة هذه

Adapun dalam hal pengelolaan, jika kerugian dapat dicegah dengan cara menyewakan, maka hakim cukup melakukannya tanpa menjual. Namun jika kerugian tidak dapat diatasi dengan penyewaan, maka hakim boleh menjual dengan syarat-syarat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Jika ada yang bertanya: Mengapa penguasa berwenang menjual harta orang yang sedang tidak hadir ketika harta tersebut terancam kerugian, padahal orang yang tidak hadir itu bukan orang yang berada di bawah perwalian dan tidak ada hak atasnya yang dapat diambil dari hartanya yang ada? Kami jawab: Tidak ada alasan dari segi makna kecuali mengembalikan perkara ini pada kebiasaan yang berlaku, yaitu bahwa orang-orang yang sedang tidak hadir, berdasarkan indikasi keadaan mereka, tidak keberatan jika hak-hak mereka dijaga oleh pihak yang mengurus urusan kaum muslimin dan bertanggung jawab atas mereka. Namun, jika seseorang yang sedang tidak hadir secara tegas melarang penjualan dan akhirnya terjadi kerugian, maka menurut kami penjualan dalam keadaan seperti ini tidak diperbolehkan.

وبالجملة ليس يخلو بيع الوالي من غير استحقاق حق على الغائب فيما لا يجوز بيعه عليه بحضرته عن خلاف العلماء الناظرين في الإيالات ولم أر للفقهاء اعتناء بتفصيل ذلك والمسألة على الاحتمال والظاهر جواز البيع على الشرط الذي ذكرناه وإجارة القاضي لأملاك الغُيّب في معنى بيع الأعيان المشرفة على الضّياع فإن المنافع متعرضة للضياع على ممر الزمان ولم يجترىء على إطلاق إجازة الإجارة في حق من لم تبعد غيبته أحد من العلماء فيما بلغنا

Secara keseluruhan, penjualan yang dilakukan oleh wali tanpa adanya hak atas orang yang tidak hadir dalam hal-hal yang tidak boleh dijual kepadanya saat ia hadir, merupakan perkara yang diperselisihkan oleh para ulama yang mengkaji urusan pemerintahan. Saya tidak menemukan perhatian khusus dari para fuqaha dalam merinci masalah ini, dan persoalannya berada pada ranah kemungkinan. Yang tampak adalah bolehnya penjualan dengan syarat yang telah kami sebutkan. Adapun penyewaan yang dilakukan oleh qadhi terhadap harta milik orang-orang yang tidak hadir, hukumnya serupa dengan penjualan barang yang terancam rusak, karena manfaatnya berpotensi hilang seiring berjalannya waktu. Namun, tidak ada seorang pun dari para ulama, sejauh yang kami ketahui, yang berani secara mutlak membolehkan penyewaan atas hak orang yang ketidakhadirannya tidak terlalu lama.

ومما يتعلق بهذا القسم ملكٌ لا يتعين مالكه ويدُ الوالي تمتد إليه حفظاً ولو أراد صرفه إلى جهة المصلحة وقد تحقق وظهر اليأس من الاطلاع على مالكه فهذا مما أطلق العلماء القولَ بجوازه من غير اشتراط إشراف المال على الضياع ونحن نجد نظير ذلك في اللقطة وإن كان التعريف مشروطاً في تملكها وذلك أنه لا يظهر اليأس من العثور على مالكها إلا بالتعريف والذي ذكرناه في مالٍ ظهر اليأس من الاطلاع على مالكه

Termasuk dalam bagian ini adalah kepemilikan atas harta yang pemiliknya tidak diketahui secara pasti, dan tangan penguasa (wali) berwenang mengelolanya demi menjaga (harta tersebut). Jika penguasa ingin menyalurkannya untuk kepentingan maslahat, dan telah benar-benar terbukti serta jelas mustahil untuk menemukan pemiliknya, maka para ulama membolehkan hal ini secara mutlak tanpa mensyaratkan bahwa harta tersebut hampir musnah. Kita juga menemukan hal serupa pada kasus luqathah (barang temuan), meskipun dalam hal ini pengumuman (ta‘rīf) menjadi syarat untuk memilikinya, karena mustahilnya menemukan pemilik luqathah tidak akan tampak kecuali setelah dilakukan pengumuman. Adapun yang kami sebutkan di sini adalah harta yang telah jelas mustahil untuk mengetahui siapa pemiliknya.

فهذه جملٌ انتهت إليها تقاسيم الكلام في الأموال التي يتصرف الولاة فيها

Maka inilah rangkuman yang menjadi kesimpulan dari pembagian-pembagian pembahasan mengenai harta-harta yang dikelola oleh para penguasa.

وعاد بنا الكلام إلى مقصود الكتاب وهو القول في قسمة الفيء والغنيمة فنقول أولاً:

Pembicaraan kita kembali kepada tujuan kitab ini, yaitu pembahasan tentang pembagian fai’ dan ghanimah. Maka, pertama-tama kami katakan:

اسم الفيء ينطلق في اللغة ووضع اللسان على الغنيمة انطلاقه على ما نظفر به من أموال الكفار من غير قتالٍ غيرَ أن الفقهاء اصطلحوا على تمييز ما نصيب من أموالهم بالقتال عما نصيبه منها من غير قتال فسمَّوْا ما نصيبه بالقتال غنيمة وما نصيبه من غير قتال فيئاً

Kata “fai’” dalam bahasa dan penggunaan lisan berarti harta rampasan, sebagaimana digunakan untuk menyebut harta yang diperoleh dari orang-orang kafir tanpa peperangan. Namun, para ahli fiqh telah sepakat untuk membedakan antara harta yang diperoleh dari mereka melalui peperangan dan yang diperoleh tanpa peperangan. Mereka menamakan harta yang diperoleh melalui peperangan sebagai “ghanimah”, sedangkan harta yang diperoleh tanpa peperangan disebut “fai’”.

وهذا الباب مضمونه ذكر تراجم في مصارف الغنيمة والفيء على الجملة ثم القول في تفاصيلها وأوصاف المستحقين وأقدار ما يستحقون يأتي مفصلاً في أبوابٍ

Bab ini berisi penjelasan tentang pembagian harta rampasan perang (ghanimah) dan fai’ secara umum, kemudian pembahasan rinci mengenai perinciannya, sifat-sifat orang yang berhak menerimanya, serta kadar yang berhak mereka terima, yang akan dijelaskan secara terperinci dalam beberapa bab.

فأما الغنيمة فأربعة أخماسها للغانمين إذا أرادوها وطلبوها ولم يُعرضوا عنها والخمس منها يقسّم على خمسة أسهم بالسوية: سهم للمصالح العامة وسهم لذوي القربى من رسول الله صلى الله عليه وسلم وسهم للمساكين وسهمٌ لليتامى وسهم لأبناء السبيل

Adapun ghanimah, maka empat perlima dari ghanimah itu diberikan kepada para pejuang yang menginginkannya dan mencarinya serta tidak berpaling darinya. Sedangkan seperlimanya dibagi menjadi lima bagian secara merata: satu bagian untuk kemaslahatan umum, satu bagian untuk kerabat Rasulullah ﷺ, satu bagian untuk orang-orang miskin, satu bagian untuk anak-anak yatim, dan satu bagian untuk ibnu sabil.

فأما الفيء فليقع الكلام أولاً في صفته التي يتميز بها عن الغنيمة قال جماهير الأصحاب: كل مالٍ أصبناه من كافر من غير قتال وإيجاف خيل وركاب فهو فيء ويدخل تحت ذلك ما يتخلى الكفار عنه مرعوبين لاستشعارهم الخوف من غير أن نقيم عليهم قتالاً

Adapun fai’, maka pembahasan pertama adalah mengenai sifatnya yang membedakannya dari ghanimah. Mayoritas para ulama berpendapat: setiap harta yang kita peroleh dari orang kafir tanpa adanya peperangan dan tanpa pengerahan kuda maupun kendaraan, maka itu adalah fai’. Termasuk dalam hal ini adalah harta yang ditinggalkan oleh orang-orang kafir karena mereka merasa takut, tanpa kita melakukan peperangan terhadap mereka.

ومن جملة الفيء ما يخلِّفه ذمّي وليس له وارث خاص

Termasuk dalam kategori fai’ adalah harta peninggalan seorang dzimmi yang tidak memiliki ahli waris khusus.

ومنه الجزية والخراج المضروب على حكم الجزية ومنه مال المرتد إذا مات أو قتل مرتداً هذا هو المذهب المشهور

Di antaranya adalah jizyah dan kharaj yang ditetapkan berdasarkan hukum jizyah, serta harta orang murtad jika ia meninggal atau dibunuh dalam keadaan murtad; inilah mazhab yang masyhur.

وذكر الشيخ أبو علي تفصيلاً نأتي به على وجهه فقال: إذا همّ المسلمون بجرّ جيشٍ إلى بلاد الكفار فتقاذف الخبر إليهم فانجلَوْا وخلّوا أموالهم فعثرنا عليها من غير قتال قال: إن انجلوا قبل تجهيز الجيش وبروزه في صوب بلدتهم فالذي تركوه وانكشفوا عنه فيء

Syekh Abu Ali menyebutkan rincian yang akan kami sampaikan sebagaimana mestinya. Beliau berkata: Jika kaum muslimin berniat mengerahkan pasukan ke negeri orang kafir, lalu berita itu tersebar kepada mereka sehingga mereka pergi meninggalkan harta benda mereka, kemudian kami menemukannya tanpa ada pertempuran, maka jika mereka pergi sebelum pasukan dipersiapkan dan keluar menuju arah negeri mereka, maka apa yang mereka tinggalkan dan mereka tinggalkan terbuka adalah fai’.

وإن تجهز الخيل وضربوا معسكرهم وبرزوا في تلقاء أولئك الكفار فانجلَوْا بعد ذلك ففي المسألة وجهان: أحدهما أن ذلك المال مغنوم وهو كما لو التقى الصفان فولَّوْنا ظهورهم ومنحونا أكتافهم من غير شهر سلاح فما خلفوه إذا ولَّوْا منهزمين مغنوم كذلك ما انجَلَوْا عنه بعد تجهيز الجيش كما وصفناه مغنوم

Jika pasukan kuda telah dipersiapkan, mereka mendirikan perkemahan dan keluar menghadapi kaum kafir itu, lalu setelah itu mereka mundur, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa harta tersebut termasuk harta rampasan perang (ghanimah), yaitu sebagaimana jika dua barisan pasukan telah saling berhadapan, lalu mereka (musuh) membalikkan punggungnya kepada kita dan melarikan diri tanpa menghunuskan senjata, maka apa yang mereka tinggalkan ketika mereka mundur dalam keadaan kalah adalah harta rampasan perang; demikian pula apa yang mereka tinggalkan setelah pasukan dipersiapkan sebagaimana telah kami jelaskan, juga termasuk harta rampasan perang.

وهذا وجه بعيد لا يوافق قاعدةَ المذهب فالأصح إذاً أن الذي انجلَوْا عنه فيء لأنا لم ننصب قتالاً وقصْدُ القتال ليس بقتال ولو فتحنا الباب الذي أشرنا إليه لزمنا منه موافقة أبي حنيفة في أصولٍ اتفق الأصحاب على مخالفته فيها: أحدها أنه لو نفق فرسُ الغازي قبل أن يلقى قتالاً عليه فمذهب أبي حنيفة أنه إن كان وطىء بلادَ الحرب فله سهم فرسه وإن نفق ونحن لا نرى ذلك أصلاً ثم ما حكاه من الوجه البعيد لم يعتبر فيه أن ينجلي الكفار بعد دخول جند الإسلام دارَ الحرب ولكن اكتفى بالتأهب والتجهيز والحصول في المعسكر المضروب في تلقاء الكفار وحمل هذا على ما يلقاه الظاهرون من المؤن في تجهزهم وهذا الوجه في نهاية الضعف وإن قيل به فالاقتصار على مجرد الظهور فيه بعدٌ أيضاً ثم لا ضبط بعد ذلك ولا وجه إلا إبطال هذا الوجه

Pendapat ini adalah pendapat yang lemah dan tidak sesuai dengan kaidah mazhab. Maka yang paling sahih adalah bahwa harta yang ditinggalkan oleh mereka yang melarikan diri adalah fai’, karena kita tidak menetapkan adanya pertempuran, dan maksud untuk berperang bukanlah pertempuran itu sendiri. Jika kita membuka pintu yang telah kami isyaratkan tadi, maka kita akan terpaksa menyetujui pendapat Abu Hanifah dalam beberapa pokok yang para sahabat mazhab sepakat untuk menentangnya. Salah satunya adalah, jika kuda seorang mujahid mati sebelum ia menghadapi pertempuran dengannya, menurut mazhab Abu Hanifah, jika ia telah menginjakkan kaki di wilayah musuh, maka ia berhak mendapatkan bagian untuk kudanya, meskipun kudanya telah mati. Sementara kami sama sekali tidak berpendapat demikian. Kemudian, pendapat yang disebutkan sebagai pendapat yang lemah itu tidak mensyaratkan agar orang-orang kafir melarikan diri setelah pasukan Islam memasuki wilayah perang, tetapi cukup dengan persiapan, perlengkapan, dan keberadaan di perkemahan yang didirikan di hadapan orang-orang kafir, serta membebankan hal ini pada biaya yang dikeluarkan oleh pasukan yang tampak dalam persiapan mereka. Pendapat ini sangat lemah, dan sekalipun ada yang berpendapat demikian, membatasi hanya pada sekadar kemunculan saja juga merupakan hal yang jauh (dari kebenaran). Setelah itu, tidak ada batasan yang jelas, dan tidak ada pendapat yang benar kecuali menolak pendapat yang lemah ini.

وقد ذكر صاحب التقريب هذا الخلاف أيضاً

Penulis kitab at-Taqrīb juga telah menyebutkan perbedaan pendapat ini.

فهذا تصوير الفيء

Inilah gambaran tentang fai’.

ثم اختلف الأقوال في أربعة أخماس الفيء فقال الشافعي في قول: إنها للمرتزقة خاصة وهم الجنود المرتّبون للذب عن حَوْزة الدين وهم أصحاب الديوان كما سيأتي وصْفُهم إن شاء الله تعالى وهذا القائل يقول: كانت أربعة أخماس الفيء لرسول الله صلى الله عليه وسلم في حياته فلما استأثر الله به وكان صلى الله عليه وسلم وَزَراً للمسلمين خَلَفَه شوكةُ الإسلام وجندُه

Kemudian terdapat perbedaan pendapat mengenai empat per lima bagian dari fai’. Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya mengatakan: bagian itu khusus untuk para tentara yang digaji, yaitu pasukan yang ditugaskan untuk menjaga wilayah agama, dan mereka adalah para anggota diwan sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta’ala. Pendapat ini menyatakan: empat per lima bagian dari fai’ itu dahulu menjadi milik Rasulullah saw. semasa hidup beliau. Ketika Allah memanggil beliau, dan beliau saw. merupakan pelindung bagi kaum muslimin, maka setelah beliau wafat, kekuatan Islam dan pasukannya menjadi pengganti beliau.

هذا قولٌ ظاهر

Ini adalah pendapat yang jelas.

والقول الثاني أن أربعة أخماس الفيء مصروف إلى المصالح العامة ولكن الإمام يبدأ بالأصلح فالأصلح والأهم فالأهم وأهمُّ المصالح إقامة أمور المرتزقة وكفاية مؤنهم وتفريغ قلوبهم وهذا موضع التوطئة والشرحُ بين أيدينا إن شاء الله تعالى

Pendapat kedua menyatakan bahwa empat perlima dari fai’ dialokasikan untuk kemaslahatan umum, namun imam memulai dari yang paling maslahat, kemudian yang lebih maslahat, dan yang paling penting, lalu yang lebih penting. Kemaslahatan yang paling utama adalah menegakkan urusan para tentara yang mendapat gaji, mencukupi kebutuhan mereka, dan menenangkan hati mereka. Ini adalah tempat pengantar, dan penjelasannya akan kami uraikan di hadapan kita, insya Allah Ta‘ala.

والقول الثالث للشافعي نص عليه في القديم أنا نجعل الفيء خمسةَ أسهم: سهم منها للمصالح والبداية بالأهم كما وصفناه وأربعة أسهم لذي القربى واليتامى والمساكين وأبناء السبيل فتحصّل إذاً ثلاثة أقوال كما سردناها

Pendapat ketiga dari Imam Syafi‘i, yang beliau nyatakan dalam pendapat lama, adalah bahwa kita membagi fai’ menjadi lima bagian: satu bagian di antaranya untuk kemaslahatan umum dan dimulai dari yang paling penting sebagaimana telah kami jelaskan, dan empat bagian untuk kerabat Nabi, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil. Maka, dengan demikian terdapat tiga pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.

ثم المذهب الظاهر أن الفيء يخمّس ومصروف خُمسه ما أشرنا إليه وفي أربعة الأخماس قولان: أحدهما أنها ملك المرتزقة والثاني أنها للمصالح والقول القديم مهجور مرجوع عنه

Kemudian, mazhab yang zahir menyatakan bahwa fai’ dibagi menjadi lima bagian, dan penggunaan seperlimanya adalah sebagaimana yang telah kami isyaratkan. Adapun mengenai empat perlima sisanya, terdapat dua pendapat: pertama, bahwa itu menjadi milik para tentara yang mendapat gaji; kedua, bahwa itu untuk kemaslahatan umum. Pendapat yang lama telah ditinggalkan dan tidak lagi diikuti.

ثم إذا صححنا تخميس الفيء طردنا هذا في كل ما يستفاد من كافرٍ من غير قتال ويدخل تحته ما خلّفه الذِّمي الذي ليس له قريب خاص ومال المرتد والجزية والخراج المأخوذ من أهل الجزية

Kemudian, apabila kita membenarkan pembagian seperlima dari fai’, maka hal ini berlaku pula pada setiap harta yang diperoleh dari orang kafir tanpa peperangan. Termasuk di dalamnya adalah harta peninggalan dzimmi yang tidak memiliki kerabat dekat, harta orang murtad, serta jizyah dan kharaj yang diambil dari ahlu jizyah.

وذكر صاحب التقريب قولاً آخر: أن ما أخذناه من الفيء بإرعاب الكفار من غير لُقْيان قتال فهو الفيء المخمّس وما أصبناه من كافر من غير قتال ولا إرعاب فلا يخمس أصلاً ثم ظاهر ما ذكره أنا لا نخرِّج فيه تمليك المرتزقة على القول الظاهر فإنهم أهل الإرعاب فيكون الحاصل من غير إرعاب على هذا القول مصروفاً إلى ما يصرف إليه خمس الفيء الحاصل بالإرعاب

Dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat lain: bahwa apa yang kita peroleh dari fai’ dengan menakut-nakuti orang kafir tanpa terjadi pertemuan pertempuran, maka itu adalah fai’ yang dikenai khumus (seperlima), dan apa yang kita peroleh dari orang kafir tanpa pertempuran dan tanpa menakut-nakuti, maka tidak dikenai khumus sama sekali. Kemudian, dari apa yang disebutkan tampak bahwa kita tidak menetapkan kepemilikan bagi para tentara yang digaji (al-murtaziqah) menurut pendapat yang kuat, karena mereka adalah orang-orang yang melakukan penakut-nakutan. Maka, hasil yang diperoleh tanpa penakut-nakutan menurut pendapat ini dialokasikan kepada pos-pos yang menjadi tempat penyaluran khumus dari fai’ yang diperoleh dengan penakut-nakutan.

هذا ظاهر كلام صاحب التقريب في تفريع هذا القول البعيد

Ini adalah makna yang tampak dari perkataan penulis kitab at-Taqrīb dalam menguraikan pendapat yang lemah ini.

وذكر الشيخ أبو علي هذا القولَ وذكره العراقيون أيضاً ثم إذا فرعنا على ذلك ففي الطرق تردد في الجزية من جهة أن الكفار وإن كانوا يبذلونها على طوعٍ فسبب بذلهم لها استيلاءُ يد الإسلام عليهم واستعلاء كلمة الله فكانت الجزية حريةً أن تلتحق بالفيء الحاصل بالرعب

Syekh Abu Ali menyebutkan pendapat ini, demikian pula para ulama Irak juga menyebutkannya. Kemudian, jika kita membangun cabang hukum di atas pendapat tersebut, terdapat keraguan dalam masalah jizyah, karena meskipun orang-orang kafir menyerahkannya secara sukarela, sebab mereka menyerahkannya adalah karena kekuasaan Islam atas mereka dan tingginya kalimat Allah. Maka, jizyah itu lebih layak disamakan dengan fai’ yang diperoleh melalui rasa takut.

هذا بيان الجمل التي أردنا تصدير الكتاب بها لتحل محل التوطئة والتراجم مع العلم بأن التفاصيل محالةٌ على الأبواب الآتية إن شاء الله عز وجل

Ini adalah penjelasan tentang kalimat-kalimat yang kami maksudkan untuk mengawali kitab ini, sebagai pengganti mukadimah dan judul-judul bab, dengan catatan bahwa rincian lebih lanjut akan dijelaskan pada bab-bab berikutnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ومما يذكر أيضاً أن الله تعالى قال في محكم كتابه: {وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ  فقال فقهاؤنا: ما كان مضافاً إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو في يومنا هذا سهم المصالح ولا فرق بين سهم الله وسهم رسول الله صلى الله عليه وسلم وهما يرجعان إلى سهم واحدٍ

Perlu juga disebutkan bahwa Allah Ta‘ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan ketahuilah bahwa apa saja yang kalian peroleh sebagai rampasan, maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.” Maka para fuqaha kami berkata: Apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada masa kita sekarang ini merupakan bagian untuk kemaslahatan umum, dan tidak ada perbedaan antara bagian Allah dan bagian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya kembali kepada satu bagian.

هذا مذهب الشافعي

Ini adalah mazhab Syafi‘i.

وذهب بعض العلماء إلى أن ما كان لرسول الله صلى الله عليه وسلم في حياته فهو مصروف إلى الإمام الأعظم فإنه خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيخلفه فيما كان يأخذه صلى الله عليه وسلم

Sebagian ulama berpendapat bahwa apa yang menjadi hak Rasulullah saw. pada masa hidupnya, dialihkan kepada imam agung (khalifah), karena ia adalah pengganti Rasulullah saw., sehingga ia menggantikan beliau dalam hal-hal yang dahulu diambil oleh Rasulullah saw.

والشافعي حكى هذا المذهب عن بعض السلف وردّ عليه ولم يصح أن الخلفاء الراشدين كانوا يأخذون سهمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم

Syafi‘i meriwayatkan pendapat ini dari sebagian salaf dan membantahnya, serta tidak sahih bahwa para khalifah Rasyidin mengambil bagian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ومما يتعلق بالقرآن أن ظاهره يدل في الفيء على القول البعيد المنصوص عليه في القديم وهو أن جملة الفيء مخمّس ولكن هذا الظاهر مزالٌ باتفاق المعتبرين من العلماء كما أن ظاهر القرآن أن الغانمين لا يختصون بالمغانم فإنه عز من قائل قال: {يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ  ولكن قوله تعالى: {وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ يدل على أن أربعة أخماس الغنيم للغانمين فإنه ما استثنى من الغنيمة إلا الخمس وأضاف الباقي إلى الغانمين إذْ قال عز وجلّ: {غَنِمْتُمْ

Salah satu hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an adalah bahwa zahirnya menunjukkan dalam masalah fai’ pada pendapat yang lemah yang dinyatakan secara eksplisit dalam pendapat lama, yaitu bahwa seluruh fai’ dibagi menjadi lima bagian. Namun, zahir ini telah dihilangkan berdasarkan kesepakatan para ulama yang dianggap otoritatif. Sebagaimana zahir Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa para tentara yang memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) tidak dikhususkan dalam mendapatkan harta rampasan tersebut, karena Allah Yang Maha Mulia berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang anfal. Katakanlah: anfal itu milik Allah dan Rasul-Nya.” Namun, firman Allah Ta’ala: “Dan ketahuilah bahwa apa saja yang kalian peroleh sebagai ghanimah…” menunjukkan bahwa empat per lima dari ghanimah adalah untuk para tentara yang memperoleh rampasan perang, karena yang dikecualikan dari ghanimah hanyalah seperlima, dan sisanya dinisbatkan kepada para tentara tersebut, sebagaimana firman-Nya Yang Maha Mulia: “kalian memperoleh (ghanimtum)…”