Kitab Ṣadāq (Mas Kawin)

الأصل فيه الكتاب والسنة والإجماع قال الله تعالى أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وقال تعالى وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً وقال صلى الله عليه وسلم أدوا العلائق قيل وما العلائق يا رسول الله قال ما تراضى به الأهلون

Dasar hukumnya adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘. Allah Ta‘ala berfirman: “Atau kamu telah menentukan bagi mereka mahar yang wajib.” Dan Allah Ta‘ala juga berfirman: “Berikanlah kepada para wanita mahar mereka sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Tunaikanlah al-‘alā’iq.” Ditanyakan: “Apakah al-‘alā’iq itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu sesuatu yang disepakati oleh kedua keluarga.”

وانعقد الإجماع على أن ما يصح جعله صداقاً يثبت بالتسمية الصحيحة ثم ورد في الشرع لما يسمى في عقد النكاح على معرض العوض أسماء الصدقة والمهر والصداق والأجر قال الله تعالى وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ وقال تعالى فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Telah terjadi ijmā‘ bahwa segala sesuatu yang sah dijadikan sebagai mahar dapat ditetapkan melalui penamaan yang benar, kemudian dalam syariat disebutkan bahwa apa yang dinamakan dalam akad nikah sebagai pengganti (imbal) memiliki beberapa nama, yaitu shadaqah, mahar, shadaq, dan ujrah. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan berikanlah kepada wanita-wanita itu mahar mereka,” dan Allah Ta‘ala juga berfirman: “Maka terhadap istri-istri yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah kepada mereka ujrah mereka.”

ثم الذي يجب تصدير الكتاب به أنَّ الصداق لم يثبت على قياس الأعواض فإنَّ حظها في الاستمتاع منه حظُّه في الاستمتاع منها وهما مشتركان في الاستمتاع ويصح أن يقال حظها أوفى لما صح من توفر شهوتها وعدم تأثير الاستمتاع فيها ولكن لما اقتضت الحكمة الشرعية استحقاق الرجال باستحقاق منفعتهن كما تقدم ذلك مقرراً اقتضى الترتيب بعد ذللك اختصاصهن باستحقاق ما يثبت في معرض العوض وضعف مُنَّتهنَّ وعجزهن عن التكسب وما طُلب منهن من التخدُّر وعدم الانتشار ولزوم الحِجال يقتضي ذلك

Kemudian, hal yang seharusnya menjadi pembuka dalam kitab ini adalah bahwa mahar tidak ditetapkan berdasarkan qiyās terhadap kompensasi-kompensasi lainnya. Sebab, hak perempuan dalam memperoleh kenikmatan dari suami sama dengan hak suami dalam memperoleh kenikmatan dari istri, dan keduanya sama-sama berbagi dalam kenikmatan tersebut. Bahkan bisa dikatakan bahwa hak perempuan lebih besar, karena syahwatnya lebih kuat dan kenikmatan tidak banyak berpengaruh padanya. Namun, ketika hikmah syariat menetapkan bahwa laki-laki berhak atas manfaat dari perempuan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka urutannya setelah itu adalah perempuan secara khusus berhak atas sesuatu yang ditetapkan sebagai kompensasi. Hal ini karena lemahnya kemampuan mereka untuk memberi, ketidakmampuan mereka untuk bekerja, serta tuntutan agar mereka menjaga kehormatan, tidak banyak keluar, dan tetap tinggal di rumah, semua itu menuntut adanya ketetapan tersebut.

ثم الصداق الثابت لها ليس يثبت ركناً في النكاح ثبوت الثمن في البيع والأُجرةِ في الإجارة ولكنه وإن قوبل باستحقاق المنفعة عليها لا يتمحض مقابلاً على حقيقة العِوضية ولذلك لا يفسد النكاح بفساد الصداق على المذهب الصحيح ولا يفسد أيضاً بترك ذكره وتعرية النكاح عنه وإذا رَدَّت المرأة الصداق لم يرتد النكاح كما يرتد المعوض برد العوض في المعاوضات وقال مالك فساد التسمية في الصداق يفسد النكاح وقيل هذا هو قول الشافعي في القديم فإنْ صح فهو في حكم المرجوع عنه ولا نعرف خلافاً أن ترك تسمية الصداق لا يفسد النكاح وكذلك لا خلاف أن النكاح لا يرتد برد الصداق والصداق لا يُنكر كونه عوضاً فإنه يثبت على صيغة العوضية وارتداده بالفسوخ الواردة على النكاح يُقيمه مقام الأعواض وحبسُها نفسَها إلى توفر الصداق عليها يُلحق الصداق بالأعواض فالوجه أن نقول الصداق عوض في النكاح ولكنه ليس ركناً من جهة أن العوضية ليست مقصودة في النكاح والمقصود الأظهر منه المستمتَع ويشهد لما ذكرنا قوله تعالى وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فسمى الصدقات نحلة وعطية ليُشعر بخروجه عن كونه مقصوداً

Kemudian, mahar yang tetap bagi perempuan tidaklah ditetapkan sebagai rukun dalam pernikahan sebagaimana harga dalam jual beli dan upah dalam ijarah, namun meskipun mahar itu sebagai imbalan atas hak memperoleh manfaat dari istri, ia tidak sepenuhnya menjadi pengganti dalam arti hakiki sebagai ‘iwadh (imbalan). Oleh karena itu, pernikahan tidak batal karena rusaknya mahar menurut mazhab yang benar, dan juga tidak batal karena tidak disebutkannya mahar atau pernikahan tanpa mahar. Jika perempuan mengembalikan mahar, pernikahan tidak menjadi batal sebagaimana batalnya akad mu‘āwadah (pertukaran) dengan pengembalian ‘iwadh dalam akad-akad pertukaran. Malik berpendapat bahwa rusaknya penamaan mahar membatalkan pernikahan, dan dikatakan bahwa ini adalah pendapat Syafi‘i dalam qaul qadim. Jika benar demikian, maka itu termasuk pendapat yang telah ditinggalkan. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa tidak disebutkannya mahar tidak membatalkan pernikahan, demikian pula tidak ada perbedaan bahwa pernikahan tidak batal dengan dikembalikannya mahar. Mahar tidak dapat diingkari sebagai ‘iwadh, karena ia ditetapkan dalam bentuk ‘iwadh dan pembatalannya melalui faskh yang terjadi pada pernikahan menempatkannya sebagai pengganti (‘iwadh). Istri yang menahan dirinya hingga mahar terpenuhi juga menjadikan mahar setara dengan ‘iwadh. Maka, yang tepat adalah kita katakan bahwa mahar adalah ‘iwadh dalam pernikahan, namun ia bukan rukun karena ‘iwadh bukanlah tujuan utama dalam pernikahan, dan tujuan utamanya adalah kenikmatan (hubungan suami istri). Hal ini ditegaskan oleh firman Allah Ta‘ala: “Dan berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” Maka Allah menamakan mahar sebagai pemberian dan hadiah untuk menunjukkan bahwa mahar bukanlah tujuan utama.

ومن المحققين من أئمتنا من قال ليس الصداق عوضاً حقيقياً وارتدادُه لزوال النكاح في بعض الأحوال سبيله سبيل التبعية فكما يثبت تبعاً غير مقصود فكذلك يزول بزوال النكاح على تفاصيلَ معروفة فحصل مسلكان أحدهما أنه عوض حقيقي ولكنه ليس رُكناً في النكاح

Sebagian ulama terkemuka dari kalangan imam kami berpendapat bahwa mahar bukanlah pengganti (iwadh) yang hakiki, dan kembalinya mahar karena hilangnya akad nikah dalam beberapa keadaan adalah bersifat mengikuti (tabi‘iyyah); sebagaimana sesuatu dapat ditetapkan secara ikut-ikutan tanpa menjadi tujuan utama, demikian pula ia dapat hilang dengan hilangnya akad nikah, sesuai dengan rincian yang telah dikenal. Maka terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa mahar adalah pengganti yang hakiki, namun bukan merupakan rukun dalam akad nikah.

والثاني أنه ليس بعوض على الحقيقة وإن أقيم مقامه ولا يكاد يظهر لهذا التردد مزيد أثر

Kedua, bahwa hal itu bukanlah sebagai pengganti yang sebenarnya, meskipun ditempatkan pada posisinya, dan keraguan ini hampir tidak menimbulkan pengaruh yang berarti.

وإذا زوّج الوليّ وليّته إجباراً بدون مهر مثلها فالمذهب الأصح صحة النكاح وثبوتُ مهر المثل جرياناً على ما قدمناه من أن الخلل في الصداق لا يؤثّر في النكاح

Jika wali menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya secara paksa tanpa mahar yang setara dengannya, maka mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa pernikahan tersebut tetap sah dan mahar yang setara tetap wajib, berdasarkan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya bahwa kekurangan pada mahar tidak berpengaruh terhadap keabsahan pernikahan.

وذكر أئمتنا قولاً آخر واختلفوا في كيفية نقله فقال قائلون القول الثاني إن النكاح لا يصح وإليه أشار القاضي ووجهه على بُعده أن النكاح بدون مهر المثل لا يكون معقوداً على حكم الغبطة والعقود إذا لم تتصف بالغبطة مردودة من الولي المجبِر

Para imam kami menyebutkan pendapat lain dan mereka berbeda pendapat tentang cara menyampaikannya. Sebagian ulama berkata, pendapat kedua adalah bahwa nikah tidak sah, dan inilah yang diisyaratkan oleh al-Qadhi. Alasannya, meskipun tampak lemah, adalah bahwa nikah tanpa mahar mitsil tidak dianggap sebagai akad yang didasarkan pada kemaslahatan, dan akad-akad yang tidak memenuhi unsur kemaslahatan dapat ditolak oleh wali mujbir.

وقال قائلون الأول في صحة النكاح والقول الثاني في صحة الصداق وإن كان قاصراً فإن الأب لا يتهم في حق طفله

Sebagian ulama berkata bahwa pendapat pertama berkaitan dengan keabsahan akad nikah, sedangkan pendapat kedua berkaitan dengan keabsahan mahar, meskipun jumlahnya sedikit, karena ayah tidak dianggap memiliki tendensi buruk terhadap hak anaknya.

ومن وجوه الرأي إذا كان الخاطب كفؤاً مرغوباً فيه احتمل وَكْسُه في المهر وهذا يخرج على قول الشافعي في أنَّ الذي بيدهِ عقدة النكاح هو الولي وقد يجوز على هذا القول عفوه عن المهر وإسقاطه

Di antara bentuk ra’yu adalah jika pelamar merupakan seorang yang sepadan dan diinginkan, maka kekurangan dalam mahar dapat ditoleransi. Hal ini didasarkan pada pendapat asy-Syafi‘i bahwa yang memegang akad nikah adalah wali, dan menurut pendapat ini, wali boleh memaafkan atau menggugurkan mahar.

وإذا جمعنا وجوه تزويج الأب قلنا إذا زوّجها من كفئها بمهر مثلها فقد نظر لها ولا معترض عليه ولو كان يطلبها كفء بأكثر من مهر مثلها فزوّجها الأب من كفء اَخر بمهر مثلها فلا معترض عليه

Jika kita mengumpulkan berbagai bentuk pernikahan yang dilakukan oleh ayah, maka dapat dikatakan: apabila ayah menikahkan putrinya dengan seorang yang sepadan (kufū’) dengan mahar yang setara dengannya, berarti ia telah memperhatikan kepentingan putrinya dan tidak ada pihak yang boleh memprotesnya. Dan jika ada seorang yang sepadan melamarnya dengan mahar yang lebih besar dari mahar yang setara dengannya, lalu ayah menikahkan putrinya dengan orang sepadan lain dengan mahar yang setara dengannya, maka tidak ada pihak yang boleh memprotesnya.

ولو طلبها كفء مماثل ورجل نبيه شريف القدر فزوّجها من مماثلها جاز ولا معترض وليس هذا كالتصرف في المال فإنه إذا طُلبت سلعةٌ للطفل بأكثر من قيمة المثل لم يسُغ بيعُها إلا بالأكثر والسبب في ذلك أن عقود المواصلات تنطوي على أسرارٍ خفية وأمور جِبِلِّيّة فالوجه إحالتها على الأب الشفيق وقد يرى المماثل أجدى عليها من الشريف الذي يسطو أو يستطيل بشرفه والنكاح دِقُّ

Dan jika seorang yang sepadan (kufū’) meminangnya, serta ada pula seorang laki-laki yang terpandang dan mulia kedudukannya, lalu sang wali menikahkannya dengan yang sepadan dengannya, maka itu boleh dan tidak ada yang berhak memprotes. Ini tidak sama dengan pengelolaan harta, sebab jika ada barang yang diminta untuk anak kecil dengan harga lebih tinggi dari harga pasar, maka tidak boleh menjualnya kecuali dengan harga yang lebih tinggi itu. Sebabnya adalah karena akad-akad hubungan (seperti pernikahan) mengandung rahasia-rahasia tersembunyi dan perkara-perkara yang bersifat naluriah, sehingga yang paling tepat adalah menyerahkannya kepada ayah yang penuh kasih sayang. Bisa jadi, yang sepadan itu lebih bermanfaat baginya daripada yang terpandang, yang mungkin akan berlaku sewenang-wenang atau menyombongkan diri dengan kemuliaannya, sedangkan pernikahan itu perkara yang sangat halus.

النظر في مراشده يدِق والأموال لا يُبغى منها إلاَّ المالية وعن هذا ينشأ كلام العلماء في تزويج الأب ابنته ممن لا يكافئها فالأصح أنَّ النكاح لا يصح إجباراً لما فيه من ظهور إلحاق العار بها

Memperhatikan tujuannya menjadi sangat teliti, dan harta tidak diinginkan darinya kecuali sifat kebendaan semata. Dari sini timbul pembahasan para ulama tentang ayah yang menikahkan putrinya dengan seseorang yang tidak sepadan dengannya; pendapat yang paling sahih adalah bahwa pernikahan tersebut tidak sah jika dipaksakan, karena di dalamnya terdapat kemungkinan nyata menimbulkan aib bagi sang putri.

وفي المسألة قول غريب حكيناه أن النكاح يصح ويلزم وفي تزويجها بدون مهر المثل من التردد ما ذكرناه فهذه مجامع القول في عقود الأب

Dalam masalah ini terdapat pendapat yang ganjil yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa pernikahan sah dan mengikat. Adapun menikahkan tanpa mahar mitsil, terdapat keraguan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Demikianlah rangkuman pendapat mengenai akad-akad yang dilakukan oleh ayah.

ثم إذا تمهّد ما قدمناه فالصداق لا يتقدر شرعاً عند الشافعي وكلُّ ما يجوز أن يكون ثمناً أو أجرة يجوز أن يكون صداقاً والمعتبر في هذا أن يكون الصداق متمولاً

Kemudian, setelah apa yang telah kami jelaskan sebelumnya menjadi jelas, maka mahar tidak ditentukan ukurannya secara syar‘i menurut Imam Syafi‘i. Segala sesuatu yang boleh menjadi harga atau upah, boleh pula dijadikan mahar. Yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah bahwa mahar tersebut harus berupa sesuatu yang bernilai (mutaqawwam).

وقد قدمت فيما يتموّل كلاما واضحاً وظني أني كررته في مواضع

Saya telah menyampaikan sebelumnya penjelasan yang jelas, dan saya kira saya telah mengulanginya di beberapa tempat.

وذهب أبو حنيفة ومالك وابن شُبرمة وطوائفُ من العلماء إلى تقدير الصداق بنصاب السرقة ثم مذاهب هؤلاء مختلفة في نصاب السرقة وقد نظر هؤلاء إلى تشبيه البضع المستباح باليد المقطوعة في السرقة

Abu Hanifah, Malik, Ibnu Syubrumah, dan sejumlah kelompok ulama berpendapat bahwa mahar ditetapkan sebesar nisab pencurian. Namun, pendapat mereka berbeda-beda mengenai besaran nisab pencurian tersebut. Mereka memandang hal ini dengan menganalogikan kebolehan hubungan badan dengan tangan yang dipotong akibat pencurian.

والشافعي رأى المهر ليتميّز النكاح عن البدل في السفاح وهذا المعنى يحصل بإثبات ما يجوز أن يكون عوضاً ثم نص الشافعي في مواضعَ من كتبه على استحباب العشرة وترْكِ النقص عنها وذلك للخروج من الخلاف

Syafi‘i berpendapat bahwa mahar ditetapkan agar pernikahan dapat dibedakan dari hubungan pengganti dalam perzinaan, dan makna ini terwujud dengan menetapkan sesuatu yang boleh dijadikan sebagai imbalan. Kemudian Syafi‘i menegaskan dalam beberapa tempat di kitab-kitabnya tentang anjuran memberikan sepuluh (dirham) dan tidak menguranginya, hal itu untuk keluar dari perbedaan pendapat (khilaf).

ثم قال السرف والمغالاة في المهر غير محبوب والقصد هو المستحسن ولو حصل التأسي برسول الله صلى الله عليه وسلم في زوجاته وبناته فنِعْم المتبع

Kemudian dikatakan bahwa berlebih-lebihan dan membebani mahar secara berlebihan tidaklah disukai, sedangkan sikap pertengahan adalah yang dianjurkan. Jika seseorang meneladani Rasulullah saw. dalam hal mahar untuk istri-istri dan putri-putri beliau, maka sungguh ia adalah seorang pengikut yang baik.

وقالت عائشة ما تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم واحدة من نسائه ولا زوّج واحدة من بناته بأكثر من اثنتي عشر أوقية ونَشٍّ أتدرون ما النَّش إنما هو

Aisyah berkata, “Rasulullah saw. tidak pernah menikahi seorang pun dari istri-istrinya dan tidak pernah menikahkan seorang pun dari putri-putrinya dengan mahar lebih dari dua belas uqiyah dan nasy. Tahukah kalian apa itu nasy? Sesungguhnya nasy itu adalah…”

نصف أوقية والأوقية أربعون درهماً فمجموع ما ذكَرَت من الأواقي والنش خمسمائة وقال عمر ألا لا تغالوا في مهور النساء فإنه لو كان فيه مكرمة عند الله وعند الناس لكان أحقكم بها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقامت امرأة سفعاء الخدين وقالت الله يعطينا ويمنعنا عمر فقال أين ذلك فقالت قال الله تعالى وَآَتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا فقال كلُ الناس أفقه من عمر رجل أخطأ وامرأة أصابت

Setengah uqiyah, dan satu uqiyah adalah empat puluh dirham, maka jumlah yang disebutkan dari uqiyah dan nash adalah lima ratus. Umar berkata, “Ingatlah, janganlah kalian berlebihan dalam mahar perempuan, karena jika di dalamnya terdapat kemuliaan di sisi Allah dan di sisi manusia, maka orang yang paling berhak atasnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka berdirilah seorang wanita yang pipinya hitam dan berkata, “Allah memberi kami dan mencegah kami, wahai Umar.” Umar berkata, “Di mana itu?” Wanita itu menjawab, “Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan kamu telah memberikan kepada salah seorang dari mereka harta yang banyak (qinthar), maka janganlah kamu mengambil kembali darinya sedikit pun.’” Maka Umar berkata, “Semua orang lebih paham daripada Umar; seorang laki-laki salah dan seorang wanita benar.”

ويتعلق بمتنهن أمران أحدهما أنَّ المغالاة ليست مكروهة وإنما ينهى عنها نهيَ استحباب وقد بان أن مراتب النهي ثلاثة تحريم وكراهة واستحباب ومما نذكره أنَّ النزول إلى المبلغ الذي ذكرناه في مهور نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما تخاطب به المرأة المالكة لأمر نفسها والسيد في تزويج أمته فأما الأب إذا كان يزوّج ابنته الصغيرة فليس له أن ينزل عن مهر مثلها وإن نزل ففيه الترتيب القديم

Terkait dengan isi teks-teks tersebut, ada dua hal: Pertama, bahwa berlebih-lebihan (dalam mahar) tidaklah makruh, melainkan hanya dianjurkan untuk ditinggalkan (makruh tanzih). Telah jelas bahwa tingkatan larangan ada tiga: haram, makruh, dan istihbab (anjuran untuk meninggalkan). Di antara hal yang perlu disebutkan adalah bahwa penurunan mahar hingga jumlah yang telah kami sebutkan dalam mahar istri-istri Rasulullah saw. hanya berlaku bagi perempuan yang memiliki hak penuh atas dirinya sendiri dan bagi tuan yang menikahkan budaknya. Adapun seorang ayah yang menikahkan putrinya yang masih kecil, maka ia tidak boleh menurunkan mahar dari kadar mahar yang sepadan dengannya. Jika ia tetap menurunkan, maka dalam hal ini berlaku pendapat lama (tarjīḥ qadīm).

Bab Ju‘al dan Ijārah

مقصود هذا الباب مقصورٌ على الكلام في منافع يجوز إثباتها صداقاً والقول الجامع فيها إنَّ كل منفعة يجوز الاستئجار عليها فيجوز فرضها على الجملة صداقاً

Tujuan bab ini terbatas pada pembahasan mengenai manfaat-manfaat yang boleh dijadikan sebagai mahar, dan kaidah umumnya adalah setiap manfaat yang boleh dijadikan objek sewa-menyewa, maka secara umum boleh pula ditetapkan sebagai mahar.

ثم القول في المنافع التي يجوز الاستئجار عليها مما أصلناه على هذا الكتاب من كتاب الإجارة وغيره والقول فيه منتشر وضبط النفي والإثبات فيه عَسِرٌ ولم يزد الأصحاب عن نقل مسائل مُرسلة وما اعتنوا في ذلك بضابط ولم يتشوف إلى الاهتمام به إلاَّ القاضي فإنه حوّم على أطرافه ولم يستوعب والقدر الذي ذكره أنَّ كل عمل معلوم يلحقُ العاملَ فيه كلفةٌ ويتطوع به الغيرُ عن الغير فالاستئجار عليه جائز وإذا صح الاستئجار صح إثباته صداقاً

Kemudian pembahasan mengenai manfaat-manfaat yang boleh disewakan, sebagaimana telah kami jelaskan dalam kitab ini dari Kitab Ijārah dan lainnya, pembahasannya sangat luas dan menetapkan batasan penafian dan penetapan di dalamnya sangat sulit. Para ulama tidak menambah selain hanya menyebutkan beberapa permasalahan secara terpisah, dan mereka tidak memberikan batasan yang jelas dalam hal ini. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya kecuali al-Qādī, yang hanya membahas sebagian aspeknya dan tidak merangkum semuanya. Batasan yang beliau sebutkan adalah bahwa setiap pekerjaan yang diketahui, yang menimbulkan beban bagi pelakunya, dan bisa dilakukan secara sukarela oleh orang lain untuk orang lain, maka menyewakan pekerjaan tersebut hukumnya boleh. Jika akad sewa-menyewa tersebut sah, maka boleh juga menjadikannya sebagai mahar.

وليس ما ذكره شافياً للغليل ونحن نرى أن نذكر مسائلَ مرسلةً ثم ننبه فيها على الغرض المطلوب وقد نذكر فنوناً وأقساماً

Apa yang telah disebutkan itu belum memuaskan dahaga keingintahuan, dan kami memandang perlu untuk menyebutkan beberapa permasalahan secara terpisah, lalu kami akan menunjukkan tujuan yang dimaksud di dalamnya, dan mungkin juga kami akan menyebutkan beberapa jenis dan bagian.

فالعبادات البدنية المفتقرة إلى النية إذا كانت النيابة لا تتطرق إليها فلا يتصور الاستئجار عليها فإنَّ مِنْ حُكْمِ الاستئجار وقوع فعل المستأجَر عن المستأجر وامتناع النيابة ينافي هذا والعبادة البدنية التي تجري النيابةُ فيها وهي الحج لا غير يجوز الاستئجار عليها كما تفصَّل في كتاب الحج وإذا قلنا غسل الميت يفتقر إلى النية فالاستئجار عليه جائز وإن كان قربة بدنية وذلك أنَّ النيابة جائزة فيه كما تجوز في الحج فاعلموا ترشُدوا

Ibadah-ibadah badaniyah yang memerlukan niat, jika tidak memungkinkan adanya perwakilan (niyābah) di dalamnya, maka tidak terbayangkan untuk disewakan (dilakukan dengan akad ijarah), karena salah satu ketentuan ijarah adalah bahwa perbuatan yang dilakukan oleh orang yang disewa dianggap sebagai perbuatan pihak yang menyewa, dan ketidakmungkinan adanya perwakilan bertentangan dengan hal ini. Adapun ibadah badaniyah yang memungkinkan adanya perwakilan di dalamnya, yaitu hanya haji, maka boleh dilakukan akad ijarah atasnya sebagaimana telah dirinci dalam Kitab Haji. Jika kita mengatakan bahwa memandikan jenazah membutuhkan niat, maka boleh juga dilakukan akad ijarah atasnya, meskipun ia merupakan ibadah badaniyah, karena perwakilan dibolehkan di dalamnya sebagaimana dibolehkan dalam haji. Maka ketahuilah, semoga kalian mendapat petunjuk.

ووراء ذلك أمر سننبّه عليه في أثناء الكلام إن شاء الله تعالى

Dan di balik itu ada suatu hal yang akan kami jelaskan pada pembahasan selanjutnya, insya Allah Ta‘ala.

هذا قولنا في العبادات البدنية المفتقرة إلى النيات

Inilah pendapat kami mengenai ibadah-ibadah badaniyah yang memerlukan niat.

ومما نذكره في الأقسام التي نحاولها أنَّ الأعمال التي لا تقع قربة ولكنها تتعلق بأمور في المعايش ومطرد العادات فما لا يجوز منه فلا يجوز الاستئجار عليه وما يجوز ولا ينهى عنه فيجوز الاستئجار عليه بحسب أن يكون معلوماً على ما يليق به ويشترط أن يكون له وقع في النفع والدفع حتى لو قل قدرُه وكان لا يقع مثله في إثارة نفعٍ أو دفعٍ موقعاً فلا يجوز الاستئجار عليه وهو في جنسه بمثابة الحبة من الحنطة في الأعيان

Di antara hal yang perlu kami sebutkan dalam pembagian-pembagian yang kami bahas adalah bahwa perbuatan-perbuatan yang bukan merupakan bentuk ibadah, tetapi berkaitan dengan urusan kehidupan dan kebiasaan yang berlaku, maka apa yang tidak boleh dilakukan, tidak boleh pula disewa untuk dikerjakan. Sedangkan apa yang boleh dan tidak dilarang, maka boleh disewa untuk dikerjakan, dengan syarat harus diketahui secara jelas sesuai dengan kelayakannya, dan disyaratkan pula bahwa perbuatan itu memiliki manfaat atau dapat mencegah mudarat. Sehingga, jika manfaatnya sangat kecil dan tidak memberikan dampak nyata dalam menghasilkan manfaat atau mencegah mudarat, maka tidak boleh disewa untuk itu. Dalam jenisnya, hal tersebut seperti sebutir gandum di antara benda-benda lainnya.

ومما نشترطه أن يكون النفع من العمل راجعاً إلى المستأجِر فلو كان يرجع النفع إلى الأجير فالإجارة فاسدة وذلك مثل أن يقول استأجرت دابتك لتركبها أنت ولا تترجل فهذا فاسد فإذا كان العمل مباحاً معلوماً متقوماً عرفاً وكان نفعه يرجع إلى المستأجِر فيصح الاستئجار ومن جملة ذلك الحمل والنقل وأعمال المحترفين وما في معناها وهذا بيان ما لا يقع قربة

Dan di antara syarat yang kami tetapkan adalah bahwa manfaat dari pekerjaan harus kembali kepada pihak penyewa (musta’jir). Jika manfaatnya kembali kepada pekerja (ajir), maka akad ijarah tersebut batal. Contohnya adalah jika seseorang berkata, “Aku menyewa hewan tungganganmu agar engkau sendiri yang menungganginya dan tidak berjalan kaki,” maka ini batal. Maka, jika pekerjaan itu mubah, jelas, memiliki nilai menurut ‘urf, dan manfaatnya kembali kepada penyewa, maka penyewaan itu sah. Termasuk dalam hal ini adalah jasa angkut, pengiriman, pekerjaan para profesional, dan hal-hal yang semakna dengannya. Inilah penjelasan tentang apa yang tidak termasuk dalam kategori ibadah (qurbah).

وأما ما يقع قربةً وإن لم نشترط فيه النية فمنها ما يقع فرضاً على الكفاية ومنها ما يكون شعاراً في الدين ولا يقع فرضاً فأما ما يقع فرضاً فإنه ينقسم في نفسه فمنه ما يخاطَب به المرءُ في ذاته إن اقتدر عليه وإن عجز عنه وجب على الغير كفايته ومنه ما لا يخاطب به المرء على الخصوص في نفسه لغرضٍ يخصه

Adapun perkara-perkara yang bernilai ibadah meskipun kita tidak mensyaratkan niat di dalamnya, di antaranya ada yang menjadi fardhu kifayah dan ada pula yang menjadi syiar dalam agama namun tidak menjadi fardhu. Adapun yang menjadi fardhu, maka ia terbagi lagi; di antaranya ada yang dituntut dari seseorang secara pribadi jika ia mampu, dan jika ia tidak mampu maka wajib atas orang lain untuk mencukupinya; dan di antaranya ada yang tidak dituntut dari seseorang secara khusus untuk suatu tujuan tertentu yang berkaitan dengannya.

فأمَّا القسم الأول فمنه حفر القبور ودفن الموتى وحمل الجنائز فهذه الأشياء مما يجوز الاستئجار عليها والسبب فيه أنَّ من مات فتجهيزه من المؤن الواجبة المختصة بتركته وهو مما يثبت في وضع الشرع على نعت الخصوص فإن عجز من خصّه الشرع ابتداءً فعلى الناس كفايته وحَمْلُ الجنازة وما في معناه مما ذكرناه ينزل منزلة شراء الكفن والتكفينُ من فرض الكفايات وكذلك يجب على الإنسان أن ينفق على نفسه إن وَجَد فإن فَقَد لم يجز تضييعه ثم لو اشترى في حالة الضرورة طعاماً صح ذلك منه تنزيلاً لهذا على كون ذلك خاصاً به في وضع الشرع فهذا مسلك في فرائض الكفايات ويلتحق بذلك تعليم القرآن فإنَّ على الإنسان أن يتعلم من القرآن ما لا يخفى فهذا مما يختص وجوبه فلا جرم جاز الاستئجار عليه وإن كان إشاعة القرآن ونشره وتعليمه فرضاً على الكفاية

Adapun bagian pertama, di antaranya adalah menggali kubur, menguburkan jenazah, dan membawa jenazah. Hal-hal ini diperbolehkan untuk diupahkan, karena orang yang meninggal, pengurusan jenazahnya merupakan kewajiban yang dibebankan secara khusus kepada harta peninggalannya, dan hal ini telah ditetapkan dalam syariat secara khusus. Jika orang yang secara khusus diwajibkan oleh syariat tidak mampu melaksanakannya sejak awal, maka kewajiban itu menjadi tanggungan masyarakat secara kolektif (fardhu kifayah). Membawa jenazah dan hal-hal serupa yang telah disebutkan, kedudukannya sama dengan membeli kain kafan, sedangkan mengafani jenazah termasuk fardhu kifayah. Demikian pula, seseorang wajib menafkahi dirinya sendiri jika mampu, dan jika tidak mampu, maka tidak boleh dibiarkan terlantar. Jika dalam keadaan darurat ia membeli makanan, maka hal itu sah baginya, karena hal itu merupakan kebutuhan khusus menurut ketentuan syariat. Inilah salah satu pendekatan dalam fardhu kifayah. Termasuk dalam hal ini adalah mengajarkan Al-Qur’an, karena seseorang wajib mempelajari Al-Qur’an sebatas yang tidak boleh diabaikan. Ini merupakan kewajiban khusus, sehingga boleh mengambil upah atasnya, meskipun penyebaran, pengajaran, dan penyiaran Al-Qur’an adalah fardhu kifayah.

والقسم الثاني ما يثبت في الأصل شائعاً ولا يختص افتراضه بشخص حتى يعد من مؤنه وواجباته الخاصة ولكن يثبت إقامةً لشعار أو ذباً عن البيضة وذلك مثل الجهاد فإنه أُثبت عاماً والمقصود به حماية الحوزة وحفظ البيضة فهذا القسم لا يجوز الاستئجار فيه إذا كان المستأجَر مندرجاً تحت الخطاب العام بالذب

Bagian kedua adalah sesuatu yang pada dasarnya ditetapkan secara umum dan tidak dikhususkan kewajibannya kepada seseorang sehingga dianggap sebagai kebutuhan dan kewajiban pribadinya, melainkan ditetapkan untuk menegakkan syiar atau membela komunitas. Contohnya adalah jihad, yang ditetapkan secara umum dan tujuannya adalah melindungi wilayah serta menjaga komunitas. Maka, bagian ini tidak boleh dijadikan objek sewa-menyewa jika orang yang disewa termasuk dalam cakupan seruan umum untuk membela.

ويخرج مما ذكرناه أهل الذمة فإنَّا لا نخاطبهم بالذب عن الملة فلا جَرَم جوز الشافعي للإمام أن يستأجر طائفةً من أهل الذمة على قتال جماعة من الكفار كما سيأتي شرح ذلك في كتاب السير إن شاء الله عز وجل

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dikecualikan ahludz-dzimmah, karena kami tidak membebani mereka untuk membela agama. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika asy-Syafi‘i membolehkan bagi imam untuk menyewa sekelompok ahludz-dzimmah guna memerangi sekelompok orang kafir, sebagaimana akan dijelaskan penjelasannya dalam Kitab as-Siyar, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وسبب منع الاستئجار أنَّ الخطاب إذا كان متعلقاً بالمسلمين على العموم فيكون الأجير فيه قائماً بإقامة ما خُوطب به ويستحيل أن يقع فعله عن غيره فهذا ما يقع فرضاً

Alasan pelarangan melakukan sewa-menyewa adalah karena jika suatu perintah ditujukan kepada seluruh kaum muslimin secara umum, maka orang yang disewa dalam hal ini menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya, dan mustahil perbuatannya itu dilakukan atas nama orang lain. Inilah yang berlaku sebagai kewajiban.

وأمَّا ما يقع شعاراً غيرَ مفروض فهو كالأذان في الرأي الأصح فهل يجوز الاستئجار عليه

Adapun perkara yang menjadi syiar namun tidak diwajibkan, seperti adzan menurut pendapat yang paling sahih, maka apakah boleh mengambil upah atasnya?

حاصل ما ذكره الأصحاب في الطرق ثلاثة أوجه أحدها أنه لا يجوز الاستئجار على الأذان أصلاً فإنه وإن كان لا يجب فهو راجعٌ إلى تعميم الشعار ولذلك لا يؤذن كل واحد ممن حضر الجماعة

Kesimpulan dari apa yang disebutkan para ulama dalam permasalahan ini ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa tidak boleh menyewa seseorang untuk melakukan adzan sama sekali, karena meskipun adzan itu tidak wajib, ia kembali kepada penyebaran syiar agama. Oleh karena itu, tidak setiap orang yang hadir dalam jamaah diperbolehkan untuk mengumandangkan adzan.

والوجه الثاني وهو الأصح أنَّ الاستئجار على الأذان جائز من الإمام ومن آحاد المسلمين فإنه ليس عبادة مفتقرة إلى النية ولا فرضاً يلابسه المكلف وإن كان يرجع نفعه إلى المسلمين فنفع القرآن كذلك يرجع إلى المسلمين

Pendapat kedua, yang lebih shahih, adalah bahwa menyewa seseorang untuk melakukan adzan hukumnya boleh, baik dilakukan oleh imam maupun oleh individu-individu muslim. Sebab, adzan bukanlah ibadah yang mensyaratkan niat, dan bukan pula kewajiban yang langsung melekat pada mukallaf, meskipun manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Demikian pula manfaat dari Al-Qur’an juga kembali kepada kaum muslimin.

والوجه الثالث أن الإمام ومن يتولى الأمر من جهته يجوز أن يستأجر المؤذن وليس يسوغ ذلك لآحاد الناس وكثيرٌ من العقود يختص جوازه بالوالي إذا كان متعلقاً بالمصالح العامة

Alasan ketiga adalah bahwa imam atau orang yang diberi wewenang olehnya boleh mengupah muazin, sedangkan hal itu tidak dibenarkan bagi individu masyarakat. Banyak akad yang kebolehan pelaksanaannya khusus bagi penguasa apabila berkaitan dengan kemaslahatan umum.

ثم إذا جوزنا الاستئجار على الأذان فقد ذكر شيخي وغيره خلافاً في أنَّ المؤذن على ماذا يأخذ الأجرة وحاصل المذكور ثلائة أوجه أحدها أنه يستحق الأجرة على رعاية المواقيت والثاني أنه يستحقها على رفع الصوت

Kemudian, jika kita membolehkan mengambil upah atas adzan, maka guruku dan yang lainnya telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang atas apa muadzin itu menerima upah. Kesimpulan yang disebutkan ada tiga pendapat: yang pertama, ia berhak menerima upah atas menjaga waktu-waktu (shalat); yang kedua, ia berhak menerimanya atas mengeraskan suara.

والثالث أنه يستحقها على الحيعلتين فإنهما ليسا من الأذكار وسبب هذا الاختلاف أنَّ الأذان أذكار لله تعالى يردّدها المؤذن فبعُد عند الأصحاب استحقاق الأجرة على أعيانها

Ketiga, ia berhak mendapat upah atas dua kalimat “hayya ‘ala”, karena keduanya bukan termasuk dzikir. Sebab perbedaan pendapat ini adalah bahwa adzan merupakan dzikir kepada Allah Ta’ala yang diucapkan oleh muadzin, sehingga menurut para ulama yang paling kuat, tidak layak mendapatkan upah atas dzikir itu sendiri.

والصحيح عند المحققين أنَّا إذا جوزنا الاستئجار على الأذان فالأُجرة مستحقة على جميع الأذان بما فيه ولا بُعدَ في استحقاق الأُجرة على ذكر الله تعالى كما لا بُعد في استحقاقها على تعليم القرآن وإن كان التعليم من ضرورته قراءة القرآن

Pendapat yang benar menurut para peneliti adalah bahwa jika kita membolehkan penyewaan untuk adzan, maka upah itu berhak diterima atas seluruh adzan beserta isinya, dan tidaklah mustahil mendapatkan upah atas dzikir kepada Allah Ta‘ala, sebagaimana tidak mustahil pula mendapatkannya atas pengajaran Al-Qur’an, meskipun dalam pengajaran itu secara otomatis terdapat pembacaan Al-Qur’an.

ومما نذكره الاستئجار على تعليم العلم وقد ذكر شيخي وغيره مَنع الاستئجار على التدريس وردد الشيخ أبو بكر الطوسي فيما نقله عنه أبو بكر المفيد جوابه في جواز الاستئجار على إعادة الدروس

Di antara hal yang perlu disebutkan adalah menyewa jasa untuk mengajarkan ilmu. Guruku dan yang lainnya telah menyebutkan larangan menyewa jasa untuk mengajar, dan Syekh Abu Bakar ath-Thusi, sebagaimana dinukil darinya oleh Abu Bakar al-Mufid, telah ragu-ragu dalam jawabannya mengenai kebolehan menyewa jasa untuk mengulangi pelajaran.

وهذا كلام ملتبس والتحقيق فيه أنَّ من استأجر شخصاً ليعلمه مسألةً أو مسائلَ من العلوم فهو جائز لا يجوز أن يكون فيه خلاف وهو بمثابة الاستئجار على تعليم القرآن وإن ظن أن ذلك يمتنع من قِبَل تفاوت الناس في الفهم والدرك فهم متفاوتون في الحفظ أيضاً قطعاً ثم لم يمنع الاستئجار في المحفوظات والحفظُ في معنى الفهم

Ini adalah pernyataan yang membingungkan, dan penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa siapa pun yang menyewa seseorang untuk mengajarinya satu atau beberapa masalah ilmu pengetahuan, maka hal itu diperbolehkan dan tidak boleh ada perbedaan pendapat di dalamnya. Ini serupa dengan menyewa seseorang untuk mengajarkan Al-Qur’an. Jika ada yang mengira hal itu tidak boleh karena perbedaan tingkat pemahaman dan penangkapan orang, maka mereka juga pasti berbeda dalam hal hafalan. Namun demikian, tidak ada larangan menyewa dalam hal hafalan, dan hafalan itu pada hakikatnya sama dengan pemahaman.

والذي ذكره الأصحاب من مَنْع الاستئجار على التدريس محمولٌ على ما إذا استأجر رجلٌ مدرساً حتى يتصدى للتدريس إقامةً لعلم الشريعة من غير أن يعيِّن له من يعلمه فهذا إن امتنع فسببه أنه تصدى للأمر العام المفروض على الكفاية فكان بمثابة الجهاد

Apa yang disebutkan oleh para ulama tentang larangan mengambil upah atas pengajaran (mengajar) dimaknai jika seseorang menyewa seorang guru agar ia bersedia mengajar demi menegakkan ilmu syariat tanpa menentukan siapa yang akan diajari; maka jika ini dilarang, sebabnya adalah karena ia telah mengambil peran dalam urusan umum yang hukumnya fardhu kifayah, sehingga posisinya serupa dengan jihad.

ولو فرضنا استئجار مقرىء على هذه الصورة لكان ممتنعاً كما يمتنع استئجار المدرس

Dan seandainya kita mengandaikan menyewa seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) dengan cara seperti ini, maka hal itu tidak diperbolehkan, sebagaimana tidak diperbolehkannya menyewa seorang guru.

ولكن جرى كلام الأصحاب في الدرس ومن يعلّم القرآن على العادة الغالبة في كل نوع فإنهم لم يصادفوا مستأجَراً على تعليم العلم في العادة والاستئجار على تعليم القرآن غالب

Namun, pembicaraan para ulama dalam kitab-kitab fiqh berkaitan dengan pengajaran dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an didasarkan pada kebiasaan yang berlaku dalam setiap jenisnya, karena mereka tidak menemukan adanya orang yang disewa untuk mengajarkan ilmu secara umum dalam kebiasaan, sedangkan penyewaan untuk mengajarkan Al-Qur’an adalah hal yang umum terjadi.

وفي النفس من الاستئجار على التدريس والتصدي له شيء من جهة أنه قد يشابه الأذان فإنَّ الغرض من كل واحد منهما نفعٌ راجع إلى الناس عموماً من غير تخصيص أشخاص وليس في امتياز الأذان عن التدريس بالفرضية في أحدهما فقه فإنَّ المعتمد في منع الاستئجار على الجهاد أنه نزل على أهل الاستمكان نزولاً عاماً ولا متعلق له إلاَّ الذب عن حريم الإسلام والتدريس و إن كان يعم من وجه فهو في جهة التعلّق بمن يتعلم خاص إذ على كل شخص أن يتعلم في نفسه كما على كل شخص أن يعتني بحفظ المواقيت في الصلوات والمؤذن يكفي الناس ذلك فليفهم الناظر ما يمر به من لطائف الفقه

Dalam hati terdapat keraguan mengenai kebolehan mengambil upah atas pengajaran dan keterlibatan di dalamnya, karena hal itu bisa menyerupai azan; sebab tujuan dari keduanya adalah memberikan manfaat yang kembali kepada masyarakat secara umum tanpa mengkhususkan individu tertentu. Tidak ada perbedaan antara azan dan pengajaran dari segi kewajiban pada salah satunya menurut fiqh. Adapun pendapat yang dipegang dalam pelarangan mengambil upah atas jihad adalah karena jihad diwajibkan secara umum kepada orang-orang yang mampu, dan tidak berkaitan kecuali dengan perlindungan terhadap kehormatan Islam. Sedangkan pengajaran, meskipun dalam satu sisi bersifat umum, namun dalam hal keterkaitannya dengan orang yang belajar adalah khusus, karena setiap individu wajib belajar untuk dirinya sendiri, sebagaimana setiap orang wajib memperhatikan waktu-waktu salat, sementara muazin mencukupi kebutuhan orang-orang dalam hal itu. Maka hendaknya orang yang menelaah memahami berbagai kehalusan fiqh yang terdapat dalam masalah ini.

ولكن إن صار صائر إلى تجويز الاستئجار على التدريس فلا بد فيه من إعلام على التحقيق فإن الأذان بيّن في نفسه والعلم عند الله تعالى

Namun, jika seseorang membolehkan praktik menyewa jasa untuk mengajar, maka harus ada penjelasan yang benar-benar jelas di dalamnya, karena adzan itu sendiri sudah jelas, dan ilmu itu hanya milik Allah Ta‘ala.

ومما نذكره أنَّ القضاة إذا تراصدوا للقضاء فلا معنى لاستئجارهم فإنهم إذا انتصبوا للفصل بين المتحاكمين تعلَّق أمر الخلق عموماً بهم ولا يتصور أيضاً أن تنضبط أعمالهم بوجه من الوجوه فهذا مجموع ما أردنا إيراده

Perlu kami sebutkan bahwa apabila para qadi telah bersiap untuk menjalankan tugas peradilan, maka tidak ada makna untuk menyewa mereka, karena ketika mereka telah ditunjuk untuk memutuskan perkara di antara para pihak yang bersengketa, urusan seluruh masyarakat secara umum bergantung kepada mereka. Juga tidak dapat dibayangkan bahwa pekerjaan mereka dapat diatur dengan cara apa pun. Inilah keseluruhan yang ingin kami sampaikan.

ثم جُوِّز استئجار القاضي على كتبة السجلّ وغيره مما يستدعيه الخصم ولا يوجبه الشرع مما يأتي موضحاً إن شاء الله عز وجل في كتاب أدب القضاء

Kemudian diperbolehkan bagi qadhi untuk menerima upah atas penulisan catatan (sijil) dan hal-hal lain yang diminta oleh pihak yang bersengketa namun tidak diwajibkan oleh syariat, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci, insya Allah ‘Azza wa Jalla, dalam Kitab Adab al-Qadha’.

ومن تأمَّل ما ذكرناه لم يخْف عليه ضوابط المذهب فيما يجوز الاستئجار عليه وفيما يمتنع ذلك فيه

Barang siapa yang memperhatikan apa yang telah kami sebutkan, niscaya tidak akan samar baginya kaidah-kaidah mazhab mengenai hal-hal yang boleh disewakan dan hal-hal yang tidak boleh disewakan.

ومما ذكره الأصحاب الكلام على الاستئجار في الإمامة في الصلاة فقالوا لا يجوز ذلك في الصلوات المفروضة وهل يجوز في النوافل كالاستئجار على الإمامة في صلاة التراويح فعلى وجهين

Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama adalah pembahasan tentang menyewa (mengupah) seseorang untuk menjadi imam dalam salat. Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak diperbolehkan dalam salat fardhu. Adapun apakah diperbolehkan dalam salat sunnah, seperti menyewa imam untuk salat tarawih, maka terdapat dua pendapat.

وهذا كلام ركيك فإنَّ الإمامة لا معنى لها ولا مزيّة على الإمام في قصد الإمامة وإنما يكفيه أن يصلي ويقتدي به من يريد وإن لم ينوِ الإمامة فصحة القدوة على نيَّته نعم قد يتوقف على نية الإمامة إحراز فضيلة الجماعة وهذا يخصه ولا يتعداه وقد ذكرنا أنه لا يجوز الاستئجار على عمل لا يتعدى نفعُهُ العاملَ

Ini adalah pernyataan yang lemah, karena imamah (menjadi imam) tidak memiliki makna khusus atau keutamaan atas imam dalam niat menjadi imam. Cukuplah baginya untuk shalat dan diikuti oleh siapa saja yang ingin mengikutinya, meskipun ia tidak berniat menjadi imam. Maka, keabsahan makmum tergantung pada niatnya sendiri. Memang, terkadang untuk memperoleh keutamaan shalat berjamaah diperlukan niat menjadi imam, dan ini khusus baginya serta tidak berlaku untuk selainnya. Telah kami sebutkan bahwa tidak boleh mengambil upah atas suatu pekerjaan yang manfaatnya tidak melampaui pelakunya sendiri.

فإذا تمهد ما ذكرناه فقد ذكر الشافعي في الباب أنَّ الزوج لو أصدق زوجته عملاً يعمله مما يجوز الاستئجار على مثله فالصداق صحيح ومنع أبو ْحنيفه ذلك عموماً في جميع الأعمال التي يعملها الزوج وكذلك منع أن يصدقها منفعة حر في جهة من الجهات وإن جاز الاستئجار وإن جوّز أن يصدقها منفعة عبد في خبطٍ له طويل

Setelah apa yang telah kami jelaskan menjadi jelas, maka asy-Syafi‘i menyebutkan dalam bab ini bahwa jika seorang suami menjadikan mahar kepada istrinya berupa suatu pekerjaan yang akan ia lakukan, yang mana pekerjaan tersebut boleh disewa orang lain untuk melakukannya, maka mahar tersebut sah. Namun, Abu Hanifah melarang hal itu secara umum pada semua pekerjaan yang dilakukan oleh suami. Demikian pula, ia melarang menjadikan mahar berupa manfaat dari seorang hamba sahaya merdeka dalam bentuk apa pun, meskipun boleh disewa, meskipun ia membolehkan menjadikan mahar berupa manfaat dari seorang budak, dalam hal ini ia memiliki penjelasan yang panjang.

ثم ذكر الشافعي في الباب ثلاثة فصول بعد ذلك أحدها في تعليم القرآن والثاني في رد العبد الآبق والثالث في خياطة الثوب فنذكر ما يتعلق بالاستئجار على تعليم القرآن

Kemudian Imam Syafi‘i menyebutkan dalam bab ini tiga bagian setelah itu: yang pertama tentang mengajarkan Al-Qur’an, yang kedua tentang mengembalikan budak yang melarikan diri, dan yang ketiga tentang menjahit pakaian. Maka kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penyewaan untuk mengajarkan Al-Qur’an.

ثم قد تمهد من قبلُ أنَّ ما يجوز الاستئجار عليه يجوز جعله صداقاً فإذا أراد استئجار شخص ليعلّمه أو يعلّم من يعينه القرآنَ فهو جائز فأول مرعيّ فيه الإعلام ثم إنه يحصل بوجهين أحدهما ذكر المقدار الذي يطلب تعليمه والثاني المدة فلو قال تعلِّمني سورة البقرة ولم يذكر المدة جاز ووقع الاكتفاء بإعلام المقدار ولو ذكر المدة فقال تشتغل بتعليمي شهراً جاز ثم إن ذكر المدة كفى وإن ذكر المقدار كفى ولو جمع بينهما فقال تعلّمني سورة البقرة في شهر ففيه وجهان مشهوران ذكرهما في مواضع من كتاب الإجارة وغيرها فمن قال بالجواز قال زيادة الإعلام غير ضائرة ومن منع وإليه ميل معظم المحققين قال المدة قد لا تفي وقد يفضل منها وذكرها مع المقدار يزيد جهالة ويجر عسراً

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sesuatu yang boleh dijadikan objek sewa-menyewa, boleh pula dijadikan mahar. Jika seseorang ingin menyewa orang lain untuk mengajarinya atau mengajari orang yang ditunjuknya Al-Qur’an, maka hal itu diperbolehkan. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah pemberitahuan (kejelasan) terlebih dahulu, kemudian hal itu dapat dilakukan dengan dua cara: yang pertama adalah menyebutkan jumlah (bagian) yang diminta untuk diajarkan, dan yang kedua adalah menyebutkan jangka waktunya. Jika ia berkata, “Ajarkan aku Surah Al-Baqarah,” tanpa menyebutkan jangka waktu, maka itu diperbolehkan dan cukup dengan memberitahukan jumlah (bagian) yang akan diajarkan. Jika ia menyebutkan jangka waktu, misalnya, “Ajarkan aku selama satu bulan,” maka itu juga diperbolehkan. Jadi, jika menyebutkan jangka waktu saja sudah cukup, dan jika menyebutkan jumlah (bagian) saja juga sudah cukup. Namun, jika ia menggabungkan keduanya, misalnya berkata, “Ajarkan aku Surah Al-Baqarah dalam waktu satu bulan,” maka terdapat dua pendapat yang masyhur yang disebutkan dalam beberapa bagian dari Kitab al-Ijārah dan kitab-kitab lainnya. Bagi yang membolehkan, mereka berpendapat bahwa tambahan kejelasan tidaklah bermasalah. Sedangkan yang melarang—dan inilah pendapat mayoritas para muhaqqiq—berpendapat bahwa jangka waktu tersebut bisa jadi tidak mencukupi atau bisa jadi masih tersisa, sehingga penyebutan jangka waktu bersamaan dengan jumlah (bagian) menambah ketidakjelasan dan menyebabkan kesulitan.

وكذلك لو استأجر من يَخيطُ ثوباً عيّنه في يوم فالأمر على الخلاف الذي حكيناه

Demikian pula, jika seseorang menyewa orang lain untuk menjahitkan sebuah pakaian yang telah ditentukan pada hari tertentu, maka perkaranya mengikuti perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.

ثم ذكر العراقيون خلافاً في أنه هل يجب تعيين القراءة التي يبغي التعليم بها مثل قراءة أبي عمرو أو غيرِه فذكروا في ذلك وجهين والوجه عندنا القطع بأنَّ ذلك لا يعتبر ولا ينتهي التضييق إلى هذا الحد

Kemudian, para ulama Irak menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang apakah wajib menentukan bacaan (qirā’ah) yang hendak digunakan untuk mengajar, seperti bacaan Abu ‘Amr atau yang lainnya. Mereka menyebutkan dalam hal ini dua pendapat, dan pendapat yang kami pegang adalah tegas bahwa hal itu tidak disyaratkan dan pembatasan tidak sampai pada tingkat seperti ini.

وقد صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في قصة الواهبة لذلك الأعرابي زوجتكها بما معك من القرآن ولم يقع للحرف والقراءة تعرُّضٌ

Telah sah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam kisah wanita yang menghadiahkan dirinya kepada seorang Arab Badui: “Aku menikahkanmu dengannya dengan mahar berupa apa yang ada padamu dari Al-Qur’an,” dan tidak ada penyebutan sama sekali mengenai huruf atau bacaan.

ومما يتعلق بذلك أنَّ الإجارة إذا أوردت على عين شخص فوقع الشرط على أن يكون هو المعلّم فلا يقيم غيرَه مقامه كما إذا استأجر الرجل داراً معينة ليسكنها فليس للمكري إقامةُ غير تلك الدار مقامها

Terkait dengan hal itu, apabila akad ijarah dilakukan atas suatu individu tertentu, lalu disyaratkan bahwa dialah yang menjadi pengajar, maka tidak boleh menggantikan orang lain sebagai penggantinya, sebagaimana jika seseorang menyewa rumah tertentu untuk ditempati, maka pemilik rumah tidak boleh menggantikan rumah tersebut dengan rumah lain.

ثم لو كان المعيَّن يحسن ما وقعت الإجارة عليه صح الاستئجار وإن كان لا يحسن ولكن كان يتأتى منه أن يتعلم ويعلِّم فقد ذكر العراقيون وجهين أحدهما أن الإجازة صحيحة فإنَّ تحصيل الغرض ممكن والتعليم لا يقع دفعة واحدة في وقت واحد فصار كما لو اشترى شيئاً بألف وهو لا يملك درهماً فالشراء صحيح وإن لم يكن في الحال في ملكه شيء من الثمن

Kemudian, jika orang yang ditentukan itu menguasai apa yang menjadi objek ijarah, maka sah melakukan sewa-menyewa dengannya. Namun, jika ia tidak menguasainya, tetapi memungkinkan baginya untuk belajar dan mengajarkan, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa akad ijarah tetap sah, karena pencapaian tujuan masih mungkin, dan proses belajar-mengajar tidak terjadi sekaligus dalam satu waktu. Hal ini menjadi seperti seseorang yang membeli sesuatu seharga seribu, padahal ia tidak memiliki satu dirham pun; maka jual belinya tetap sah meskipun pada saat itu ia belum memiliki sedikit pun dari harga tersebut.

والوجه الثاني أنَّ الإجارة فاسدة فإنها تضمنت استحقاق شيء وهو في وقت الاستحقاق غير ممكن وليس التعذر فيه إلى التسليم بل سبب الفساد أنَّ المنفعة في المسألة معدومة الجنس وهذا الاختلاف يشير عندنا إلى سرٍّ في الإجارة وهو أنَّ الإجارة إذا أُوردت على عينٍ ومنافعها فكأن منافعها مع تعلقها بالعين فيها معنى الالتزام وكأنَّ المستأجر التزم تحصيلها من العين المعيّنة فلا يمنع في الملتزَم أن يقع الاعتماد على إمكان التحصيل ومن أبى ذلك يعتمد التعيينَ ومنافاته لحكم الذمة والوجهان فيه إذا كان يُحسن مقداراً يشتغل بتعليمه في الحال أو كانت الإجارة مع تعلقها بالعين واردة على مدة تَسَعُ التعلّم والتعليم فأما إذا لم تكن مدة وكان لا يحسن شيئاً ألبتةَ والإجارة تقتضي استحقاق الاشتغال بالتعليم وتسليم المستحق على الفور فلا وجه إلاَّ القطع بإفساد الإجارة لتحقق العجز عن المستحَق في الحال

Adapun alasan kedua adalah bahwa akad ijarah tersebut batal, karena di dalamnya terdapat hak atas sesuatu yang pada saat hak itu seharusnya diberikan ternyata tidak mungkin untuk diberikan. Ketidakmungkinan ini bukan karena kendala dalam penyerahan, melainkan sebab batalnya adalah karena manfaat dalam permasalahan ini tidak ada jenisnya. Perbedaan ini menunjukkan kepada kita suatu rahasia dalam akad ijarah, yaitu bahwa jika ijarah dilakukan atas suatu objek dan manfaatnya, maka seolah-olah manfaat tersebut, dengan keterkaitannya pada objek, mengandung makna komitmen. Seolah-olah penyewa berkomitmen untuk memperoleh manfaat itu dari objek tertentu, sehingga dalam hal yang dikomitmenkan tidak mengapa jika bergantung pada kemungkinan memperoleh manfaat tersebut. Siapa yang menolak hal ini, ia akan bergantung pada penentuan objek dan pertentangannya dengan hukum dzimmah. Dua pendapat dalam hal ini berlaku jika seseorang menguasai suatu keahlian tertentu yang ia sibuk mengajarkannya saat itu juga, atau jika akad ijarah yang terkait dengan objek dilakukan untuk jangka waktu yang cukup untuk belajar dan mengajar. Adapun jika tidak ada jangka waktu dan orang tersebut sama sekali tidak menguasai apa pun, sementara akad ijarah menuntut hak untuk segera mengajarkan dan menyerahkan hak yang diperoleh, maka tidak ada alasan kecuali harus memutuskan batalnya akad ijarah karena terbukti ketidakmampuan untuk memenuhi hak tersebut saat itu juga.

وكل ما ذكرناه في الإجارة يجري حرفاً حرفاً في الصداق ونحن نرد باقي الصور إلى الصداق فنقول لو أصدق امرأته تعليم مقدار يقع التوافق عليه فقالت علِّم فلاناً أو فلانة ما التزمت تعليمي إياه ففي المسألة وجهان مشهوران ذكرهما العراقيون وغيرهم وأثبت أئمة العراق للمذهب حداً وضبطاً وقالوا الإجارة الواردة على العين تتعلق بمن يستوفي المنفعة وبما تستوفى المنفعة منه وبما تستوفى المنفعة به فأما المستوفي للمنفعة فيجوز أن يتبدل مع رعاية النصفة وبيانه من استأجر دابةً ليركبها فله أن يُرْكِبها غيرَه إذا كان في مثل جثته وثقله فهذا مثال تبدل المستوفي

Segala hal yang telah kami sebutkan dalam bab ijarah berlaku huruf demi huruf dalam masalah mahar (ṣadaq), dan kami mengembalikan sisa contoh-contoh kepada masalah mahar. Maka kami katakan: jika seseorang menjadikan mahar istrinya berupa mengajarkan sesuatu dengan kadar yang telah disepakati, lalu istrinya berkata, “Ajarkanlah kepada si Fulan atau si Fulana apa yang engkau wajib ajarkan kepadaku,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur, sebagaimana disebutkan oleh para ulama Irak dan lainnya. Para imam mazhab di Irak telah menetapkan batasan dan definisi untuk masalah ini, mereka berkata: ijarah yang berkaitan dengan suatu objek (ain) terkait dengan siapa yang mengambil manfaat, dari apa manfaat itu diambil, dan dengan apa manfaat itu diambil. Adapun orang yang mengambil manfaat, maka boleh diganti dengan tetap memperhatikan keadilan. Penjelasannya: jika seseorang menyewa seekor hewan untuk ditunggangi, maka ia boleh mempersilakan orang lain yang memiliki postur dan berat badan serupa untuk menungganginya. Ini adalah contoh pergantian orang yang mengambil manfaat.

وأما ما تستوفى المنفعة منه فهو العين التي وردت الإجارة على استحقاق منفعتها فلا سبيل إلى تعديلها وهذا مثل تعيين دابة للركوب لا يجد المكتري سبيلاً إلى إبدالها بحكم الإجارة المنعقدة ولو أتلفت الدابة المعينة انفسخت الإجارة وتعليل ذلك بيِّن فإنَ المنافع متعينة بتعيّن مورد العقد فإبدالها كإبدال المبيع المعيّن وتلفها قبل استيفاء المنفعة كتلف المبيع قبل القبض

Adapun sesuatu yang diambil manfaatnya adalah objek (‘ain) yang menjadi pokok akad ijarah untuk memperoleh manfaatnya, maka tidak ada jalan untuk mengubahnya. Contohnya adalah penetapan hewan tunggangan tertentu untuk dikendarai; penyewa tidak dapat menggantinya berdasarkan hukum ijarah yang telah terjadi. Jika hewan tunggangan yang telah ditentukan itu rusak, maka akad ijarah menjadi batal. Alasannya jelas, karena manfaat-manfaat itu telah ditentukan dengan penetapan objek akad, sehingga menggantinya sama dengan mengganti barang yang telah ditentukan dalam akad jual beli, dan kerusakannya sebelum manfaat diambil sama dengan kerusakan barang sebelum diterima.

وما ذكروه في تبدل المستوفي جارٍ على القياس فإنه استحق المنفعة وملكها والشرع سلَّطَهُ على إحلال غيره محل نفسه بالإعارة والإجارة ومن ضرورة ذلك تبدل المالك والمستوفي

Apa yang mereka sebutkan tentang pergantian mustawfī sesuai dengan qiyās, karena ia telah berhak atas manfaat dan memilikinya, dan syariat memberinya wewenang untuk menempatkan orang lain menggantikan dirinya melalui ‘āriyah (pinjam pakai) dan ijārah (sewa), dan dari hal itu secara otomatis terjadi pergantian pemilik dan mustawfī.

ثم قالوا ما يقع به الاستيفاء بمثابة الثوب يعيَّن للخياطة فيقول مالكه استأجرتك لتخيط هذا الثوب فاستيفاء المنفعة يقع بذلك الثوب فلو أراد مالك الثوب أن يأتي بثوب مثلِه فهل له ذلك فعلى وجهين أظهرهما أنَّ له ذلك

Kemudian mereka berkata, apa yang menjadi sarana pemanfaatan itu seperti kain yang ditentukan untuk dijahit, lalu pemiliknya berkata, “Aku menyewamu untuk menjahit kain ini,” maka pemanfaatan itu terjadi dengan kain tersebut. Jika pemilik kain ingin membawa kain lain yang sejenis, apakah ia boleh melakukannya? Dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih kuat adalah bahwa ia boleh melakukannya.

وتبديل الثوب كتبديل المستوفي فإنَّ المستحَق خياطةٌ للأجير ولا يختلف الغرض بتعدد الثياب مع تماثلها

Mengganti pakaian itu seperti mengganti barang yang diambil secara penuh, karena yang menjadi hak adalah jahitan bagi pekerja, dan tujuan tidak berbeda meskipun jumlah pakaian bertambah selama pakaian-pakaian itu serupa.

والوجه الثاني أنَّ ذلك الثوب يتعيَّن فإن العقد كما عيّن العاملَ حتى لا يجوز له أن يقيم غيرَه مقام نفسه وإن كان عملُ غيره بمثابة عمله أو أفضل من عمله فكذلك اقتضت الإجارة إيقاع عملٍ في عين فيجب تعيّنها حتى لا يقع إبدالها

Alasan kedua adalah bahwa kain tersebut harus ditentukan, karena akad sebagaimana telah menentukan pekerja sehingga tidak boleh baginya menggantikan orang lain sebagai pengganti dirinya, meskipun pekerjaan orang lain itu setara atau lebih baik dari pekerjaannya, demikian pula ijārah menuntut pelaksanaan pekerjaan pada suatu benda tertentu, maka benda itu harus ditentukan sehingga tidak boleh diganti dengan yang lain.

وهذا القائل يعسر عليه الفصل بين تبدل المستوفي الممثَّل براكب الدابة وبين تبدل الثوب والممكن فيه أن منفعة الدابة لا تقع بالراكب وإنما هو انتفاع من غير تأثر به والثوب يتأثر بالخياطة ويقع فيه وتبقى ما يبقى حتى اختلف قول الشافعي في أنها إجارة أو عين كما ذكرنا القولين في كتاب التفليس

Orang yang berpendapat demikian mengalami kesulitan dalam membedakan antara pergantian pihak yang memanfaatkan, yang diibaratkan dengan penunggang hewan tunggangan, dan pergantian kain, di mana dalam hal ini dapat dikatakan bahwa manfaat dari hewan tunggangan tidak terjadi pada penunggangnya, melainkan ia hanya mengambil manfaat tanpa memberikan pengaruh terhadap hewan tersebut. Adapun kain, ia terpengaruh oleh proses menjahit dan perubahan itu terjadi padanya serta tetap ada selama kain itu masih ada, sehingga Imam Syafi‘i berbeda pendapat apakah hal itu termasuk ijarah atau merupakan barang (‘ain), sebagaimana telah kami sebutkan dua pendapat tersebut dalam Kitab Taflis.

وهذا المعنى يجري في المتعلم المستأجِر فإنه يتأثر بالتعلم وإن كان من وجه مستوفياً للمنفعة فقد ساوى مكتري الدابة من حيث إنه يستوفي المنفعة المستحقة وهو في التحقيق كالثوب الذي تقع الخياطة به من جهة تأثره بالتعلم

Makna ini juga berlaku pada murid yang menyewa (guru), karena ia terpengaruh oleh proses belajar, meskipun dari satu sisi ia telah menerima manfaat secara penuh. Ia serupa dengan orang yang menyewa hewan tunggangan, dalam hal ia mengambil manfaat yang menjadi haknya. Namun, pada hakikatnya, ia seperti kain yang terkena jahitan, karena ia terpengaruh oleh proses belajar tersebut.

ثم حاصل ذلك يرجع إلى تعلق الأثر بهذه العين والأعيان لا يدخلها الإبدال في العقود الواردة على الأعيان فهذا مبلغ الإمكان في التوجيه والأصحُّ الأول

Kesimpulannya, hal itu kembali pada keterkaitan akibat hukum dengan benda tertentu, dan benda-benda tertentu tidak dapat diganti dalam akad-akad yang berkaitan dengan benda-benda tersebut. Inilah batas maksimal penjelasan yang mungkin, dan pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama.

ثم اختلف مسلك أئمتنا في تنزيل الوجهين فذهب العراقيون وطوائف من المراوزة إلى أنَّا لو منعنا الإبدال نمنعه مع التراضي أيضاً إلاَّ أن يُفرض عقد صحيح في الاعتياض من منفعة بمنفعة وهذا كما لو استأجر رجل داراً وقبضها ثم استأجر المستأجر بمنفعة تلك الدار دابةً فلا يمتنع هذا وهؤلاء يقولون لو تلف الثوب المعيّن انفسخت الإجارة كما تنفسخ بتلف الدابة المعينة وصار صائرون إلى أن الثوب لو أبدل بمثله باتفاقٍ منهما وتراضٍ جاز بلا خلاف

Kemudian, para imam kami berbeda pendapat dalam menerapkan dua pendapat tersebut. Golongan Irak dan sebagian kelompok Marwazah berpendapat bahwa jika kami melarang penggantian, maka kami juga melarangnya meskipun ada kerelaan kedua belah pihak, kecuali jika yang dimaksud adalah akad yang sah dalam pertukaran manfaat dengan manfaat. Ini seperti halnya jika seseorang menyewa sebuah rumah dan telah menerimanya, lalu penyewa tersebut menyewakan manfaat rumah itu untuk mendapatkan seekor hewan tunggangan; maka hal ini tidak dilarang. Mereka juga berpendapat bahwa jika kain tertentu yang disewa itu rusak, maka akad sewa-menyewa menjadi batal, sebagaimana batalnya akad sewa jika hewan tunggangan tertentu yang disewa itu rusak. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika kain itu diganti dengan kain sejenisnya atas kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak, maka hal itu boleh tanpa ada perbedaan pendapat.

وإنما الوجهان فيه إذا أراد مالك الثوب أن يُبدِل فأبى الخيّاط وهذه طريقة القاضي

Adapun dua pendapat dalam masalah ini muncul apabila pemilik kain ingin mengganti (kainnya), namun penjahit menolak, dan inilah pendapat yang dikemukakan oleh al-Qādī.

وبالجملة التفريع على منع الإبدال ضعيف في الطريقين

Secara keseluruhan, penalaran yang didasarkan pada pelarangan penggantian adalah lemah menurut kedua pendapat.

وكل ما ذكرناه فيه إذا ورد الإصداق والإجارة على عين المعلّم

Dan semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku apabila penetapan mahar dan akad ijarah dilakukan atas objek yang jelas dari pihak pengajar.

فأما إذا كانت الإجارة واردة على الذمة مثل أن يُصدقها الزوج تعليم سورة البقرة ولا يتعرض لتعليم نفسه فلا شك أنه لا يتعين عليه التعليم بنفسه وله أن يقيم غيره في ذلك مقام نفسه وهذا بيِّن في أحكام الإجارات

Adapun jika akad ijarah ditujukan kepada dzimmah, seperti seorang suami menjadikan mahar mengajarkan Surah Al-Baqarah tanpa menyebutkan bahwa ia sendiri yang harus mengajarkannya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidak wajib mengajarkan sendiri, dan ia boleh menunjuk orang lain untuk menggantikan dirinya dalam hal itu. Hal ini jelas dalam hukum-hukum ijarah.

ولا يمتنع والحالة هذه أن يكون المتلزم جاهلاً بما التزم التعليم فيه لأنه إذا كان لا يتعين للتعليم فلا معنى لاشتراط علمه

Dalam keadaan seperti ini, tidak mustahil bahwa orang yang berkomitmen (untuk mengajar) itu tidak mengetahui apa yang ia komitmenkan untuk diajarkan, karena jika tidak diwajibkan baginya untuk mengajar secara khusus, maka tidak ada makna untuk mensyaratkan pengetahuannya.

ومما يدور في الخلد أنَّا هل نشترط تعيين السورة والجزء الذي يقع التوافق على التعليم فيه هذا فيه تردُّدٌ ظاهر كلام المشايخ أنه لا بد من التعيين فيه فإنَّ السور مختلفة فمنها متشابهات ومنها ما يصعب حفظها والأمر في ذلك على تفاوت بيِّن

Hal yang terlintas dalam benak adalah apakah kita mensyaratkan penentuan surat dan juz yang disepakati untuk diajarkan; dalam hal ini terdapat keraguan. Pernyataan para ulama secara jelas menunjukkan bahwa penentuan itu wajib, karena surat-surat itu berbeda-beda: ada yang ayat-ayatnya mirip, ada pula yang sulit dihafal, dan perkara ini sangat bervariasi.

وكنت أود في هذا المنتهى ألاَّ يصح الإصداق للاستئجار على التعليم قبل أن يَخْبُر حفظ المتعلم كما لا يصح إجارة الدابة للركوب قبل أن يُعايَن الراكب

Dan aku ingin pada kesimpulan ini bahwa tidak sah memberikan upah untuk menyewa dalam mengajarkan sebelum mengetahui kemampuan hafalan murid, sebagaimana tidak sah menyewakan hewan tunggangan untuk dinaiki sebelum melihat penunggangnya.

ولأن تفاوت الحفظ والتوقف يدنو من تفاوت الجثث أو يزيد عليها

Karena perbedaan dalam hal hafalan dan keraguan itu mendekati bahkan bisa melebihi perbedaan pada jasad.

وظاهر كلام الأصحاب أن هذا لا يشترط وقد يتجه في عدم اشتراط هذا التعلقُ بحديث الأعرابي والواهبة فإنه صلى الله عليه وسلم لم يأمره بأن يخبُرَ حفظَها لمّا قال زوّجتكها بما معك من القرآن

Tampak dari perkataan para ulama bahwa hal ini tidak disyaratkan, dan mungkin dapat diarahkan pada tidak disyaratkannya hal tersebut dengan berpegang pada hadis tentang orang Arab Badui dan wanita yang menghadiahkan dirinya, karena Rasulullah ﷺ tidak memerintahkannya untuk memberitahukan hafalannya ketika beliau bersabda, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan apa yang ada padamu dari Al-Qur’an.”

وقد ينقدح أن يقال فيما قد كان أصدقها تعليم خَمس أو عَشر من أول سورة البقرة هكذا الحديث ولعل الأمر كان يقرب في هذا المقدار ولا يتفاوت تفاوتاً محسوساً

Mungkin terlintas anggapan bahwa yang paling benar adalah mengajarkan lima atau sepuluh ayat pertama dari Surah Al-Baqarah, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Barangkali memang jumlahnya sekitar itu dan tidak berbeda secara signifikan.

وليس يبعد أن يقال يجوز اكتراء دابة تركب من الدار إلى السوق من غير نظر إلى جثة الراكب فإن التفاوت لا يحس في هذا المقدار سيما إذا كانت الدابة قويّة

Tidaklah jauh untuk dikatakan bahwa diperbolehkan menyewa seekor hewan tunggangan untuk dinaiki dari rumah ke pasar tanpa memperhatikan berat badan penunggangnya, karena perbedaan itu tidak terasa dalam jarak sejauh ini, terutama jika hewan tunggangan tersebut kuat.

فرع

Cabang

إذا أسلمت امرأة فتزوجها رجل وتعين عليها تعلم الفاتحة ولا معلم بالحضرة غير الزوج فالمذهبُ الأصحُ أنه لو أصدقها تعلُّم الفاتحة صح وجبُن بعض أصحابنا فمنع هذا في هذه الصورة ومنع الاستئجار في مثلها أيضاً وصار إلى أنَّ تعليم الفاتحة متعيَّن على الرجل حقاً لله تعالى فلا يجوز أن يأخذ على مقابلةِ تأدية المستحَق عليه عوضاً

Jika seorang wanita masuk Islam lalu dinikahi oleh seorang laki-laki, dan ia wajib mempelajari surat Al-Fatihah, sementara tidak ada pengajar di tempat itu selain suaminya, maka pendapat mazhab yang paling sahih adalah jika suaminya menjadikan mahar pernikahan berupa mengajarkan Al-Fatihah kepadanya, maka hal itu sah. Namun sebagian ulama kami berpendapat lemah dan melarang hal ini dalam kasus seperti ini, serta melarang juga mengambil upah untuk hal serupa. Mereka berpendapat bahwa mengajarkan Al-Fatihah adalah kewajiban yang ditetapkan atas laki-laki sebagai hak Allah Ta‘ala, sehingga tidak boleh mengambil imbalan atas pelaksanaan kewajiban yang telah ditetapkan atas dirinya.

وهذا ليس بشيء فإنَّ الأصل وجوب التعلم عليها فإن تُصُوِّرت صورة تعين فيها تحصيل الغرض من شخص فالقاعدة هي المرعيّة وهذا بمثابة ما لو اضطر الرجل إلى تناول طعام غيره فليس لمالك الطعام أن يمنعه مع استغنائه عنه ثم تعيين بذل الطعام لا يمنعه بيعه منه والعبارة الفقهية في هذا أنَّا لا نطلق القول بتعيين بذل الطعام بل نقول يتعين على مالك الطعام بيع الطعام من المضطر وكذلك يتعين على الرجل تعليمها بالعوض

Ini tidaklah benar, karena pada dasarnya wajib untuk mempelajarinya. Jika dibayangkan ada suatu keadaan di mana tujuan hanya dapat dicapai dari seseorang tertentu, maka kaidah yang berlaku adalah yang harus diperhatikan. Ini seperti halnya jika seseorang terpaksa harus memakan makanan milik orang lain, maka pemilik makanan tidak boleh melarangnya selama ia tidak membutuhkannya. Kemudian, penetapan kewajiban memberikan makanan tidak menghalangi pemilik untuk menjualnya kepada orang yang membutuhkan. Ungkapan fiqh dalam hal ini adalah bahwa kami tidak menyatakan secara mutlak kewajiban memberikan makanan, melainkan kami mengatakan bahwa pemilik makanan wajib menjual makanannya kepada orang yang terpaksa, demikian pula seseorang wajib mengajarkannya dengan imbalan.

وقد يمتنع المضطر عن الابتياع فيتعين إذ ذاك على مالك الطعام إنجاده بالعوض على الرأي الأصح

Terkadang orang yang dalam keadaan darurat menolak untuk membeli, maka pada saat itu pemilik makanan wajib menolongnya dengan memberikan makanan tersebut sebagai ganti rugi, menurut pendapat yang paling kuat.

وفيه وجه آخر أنَّ العوض لا يلزم وسنأتي بغوائل هذا في كتاب الأطعمة إن شاء الله عز وجل

Ada pendapat lain bahwa kompensasi tidak wajib, dan kami akan membahas dampak-dampaknya dalam Kitab al-Ath‘imah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فرع

Cabang

المسلم إذا تزوج كافرةً على أن يعلِّمها شيئاً من القرآن فقد قال الأئمة إذا كان يرتجي بذلك أن تسلم إذا تعلمت فيجوز الإصداق وعليه يدل قوله تعالى وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ والاستماع والتعليم بمثابةٍ ثم لا قطع بالقبول فإنه تعالى قال ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ وإن كان لا يرتجي لها الإسلام بتعليم القرآن فقد قال الأصحاب لا يجوز أن تُعلَّم والحالة هذه

Seorang Muslim yang menikahi perempuan kafir dengan syarat mengajarinya sebagian dari Al-Qur’an, para imam berpendapat bahwa jika ia berharap dengan itu perempuan tersebut akan masuk Islam setelah belajar, maka boleh menjadikan pengajaran itu sebagai mahar, dan hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala: “Dan jika salah seorang dari orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia sampai ia mendengar kalam Allah.” Mendengar dan belajar di sini memiliki kedudukan yang sama. Namun, tidak ada kepastian bahwa ia akan menerima (Islam), karena Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian sampaikanlah dia ke tempat yang aman baginya.” Tetapi jika tidak ada harapan perempuan itu akan masuk Islam dengan diajari Al-Qur’an, para ulama berpendapat bahwa tidak boleh mengajarkannya dalam keadaan seperti ini.

وكذلك إذا أراد الرجل أن يعلِّم جاريته الكافرة القرآن وكان لا يأمل أن تسلم وإنما يبغي أن يثبت لها صفةً تزداد قيمتُها بسببها فلا يجوز ذلك فإنها قد تستخفّ بما تتلقف ونزَّل الأئمة هذا منزلة بيع المصحف من الكافر

Demikian pula, jika seorang laki-laki ingin mengajarkan Al-Qur’an kepada budak perempuannya yang kafir, sementara ia tidak berharap budak itu masuk Islam, melainkan hanya bermaksud memberinya suatu keahlian agar nilainya bertambah karena hal itu, maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Sebab, bisa jadi ia akan meremehkan apa yang diterimanya. Para imam memposisikan hal ini setara dengan menjual mushaf kepada orang kafir.

وهذا فيه نظر فإنه يلزم منه منع الكفار من التحويم على حِلَق القرآن فإنهم قد يتلقنون من تدارس القرّاء الآية والآيتين ولم ينته الأئمة إلى هذا ولا بد منه إذا طردنا قياسهم

Hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena konsekuensinya adalah melarang orang-orang kafir untuk berkeliling di sekitar majelis-majelis Al-Qur’an, padahal mereka mungkin saja mempelajari satu atau dua ayat dari diskusi para qari. Para imam pun tidak sampai pada pendapat seperti ini, dan hal itu pasti akan terjadi jika kita menerapkan qiyās mereka secara konsisten.

فرع

Cabang

إذا أصدق المرأة تعليمَ القرآن ثم علّمها الآية والآيات فنسيت فهل عليه إعادة ما نسيت تعلمها أم يخرج عن عهدة ذلك القدر ويعلّمها البقية وما التفصيل في ذلك وكيف الضبط وأين الموقف

Jika seorang suami menjadikan mahar istrinya berupa pengajaran Al-Qur’an, lalu ia telah mengajarkan satu atau beberapa ayat kepadanya, kemudian istrinya lupa, apakah suami wajib mengajarkan kembali ayat-ayat yang telah dilupakan istrinya, ataukah ia telah terbebas dari tanggung jawab untuk bagian tersebut dan cukup mengajarkan sisanya? Bagaimana rincian masalah ini, bagaimana ketentuannya, dan di mana batasannya?

قال العراقيون اختلف أصحابنا فمنهم من قال الحدُّ الذي إليه الموقف الآية فإذا حفّظها آية فقد خرج عن العهدة فإن نسيت بعد ذلك فليس عليه إعادة تلك الآية عليها وأن يعلِّمها البقية وإن علّمها دون آيةٍ فنسيت فيعيد عليها إلى استكمال آية

Para ulama Irak berkata, para sahabat kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka berpendapat bahwa batas yang menjadi patokan adalah ayat. Jika seseorang telah mengajarkan satu ayat kepadanya, maka ia telah lepas dari tanggung jawab. Jika setelah itu ia lupa, maka tidak wajib mengulangi ayat tersebut kepadanya, melainkan mengajarkan sisanya. Namun jika ia mengajarkan kurang dari satu ayat, lalu ia lupa, maka ia harus mengulanginya hingga sempurna satu ayat.

قالوا ومن أصحابنا من قال الحد المعتبر سورةٌ على حسبا ما ذكرناه في الآية

Mereka berkata, dan sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa batasan yang dianggap sah adalah satu surah, sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam ayat tersebut.

والوجهان عندي مدخولان أمَّا السورة فلا وجه للتقدير بها مع تفاوت السور وقد يُصْدِقُها بعضَ السورة وأمَّا التقدير بالآية فلا وجه له أيضاً ومن الآي قوله تعالى ثُمَّ نَظَرَ وآية المداينة فالوجه إذاً تحكيم العادة في هذا والمتلقن المتلقف يحفظ الكلمات كما يسمعها ثم ينتشر عليه الحفظ فيعيد عليه الملقن وقد يجري ذلك مراراً فلا يكون ما جرى أولاً من إعادة الملقن لتلك الكلمات متقناً فهذا بيّنٌ وفيه عُرفٌ يعرفه أهله

Menurut saya, kedua pendapat tersebut tidak tepat. Adapun penentuan dengan satu surat, tidak ada alasan untuk memperkirakannya demikian, karena surat-surat berbeda-beda panjangnya, dan kadang seseorang hanya membacakan sebagian surat saja. Sedangkan penentuan dengan satu ayat juga tidak ada alasan, karena di antara ayat-ayat ada yang seperti firman Allah Ta’ala: “Kemudian dia melihat” dan ayat tentang utang-piutang. Maka yang tepat adalah mengembalikan hal ini kepada kebiasaan (‘urf). Orang yang belajar dan menerima bacaan akan menghafal kata-kata sebagaimana yang didengarnya, lalu hafalannya menyebar dalam ingatannya, kemudian pengajar mengulanginya lagi, dan hal itu bisa terjadi berulang kali. Maka apa yang terjadi pertama kali dari pengulangan pengajar terhadap kata-kata tersebut belum tentu sudah benar-benar dikuasai. Ini jelas, dan dalam hal ini ada kebiasaan (‘urf) yang dikenal oleh para ahlinya.

وإذا تم التلقن فيبقى وراء ذلك نظر وهو أنَّ المتلقن مؤاخذ في العرف بأن يكرر ما تلقنه في نفسه فإذا لم يفعل عُدَّ ذلك تقصيراً منه فليقع البناء على هذا الذي ذكرناه ولا يقع التقدير بالمبالغ

Jika proses talqin telah dilakukan, maka masih ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa menurut kebiasaan, orang yang menerima talqin dianggap bertanggung jawab untuk mengulangi apa yang telah ia terima dalam dirinya. Jika ia tidak melakukannya, hal itu dianggap sebagai kelalaian darinya. Maka, hendaknya penetapan hukum didasarkan pada hal yang telah kami sebutkan ini, dan tidak didasarkan pada taksiran-taksiran yang berlebihan.

ولو قال قائل التلقين يقع في مقدار يحويه مجلس فإذا فرض القيام عنه والعود إلى مجلس آخر ثم ينسى المتلقن ما تقدم فهذا يحمل على تقصيره وقد يحتمل منه عثرات فيه

Jika ada yang berkata bahwa talqin terjadi dalam batasan yang mencakup satu majelis, maka apabila seseorang bangkit dari majelis tersebut lalu kembali ke majelis lain kemudian ia lupa apa yang telah diterimanya sebelumnya, hal ini disebabkan oleh kelalaiannya, namun masih dimungkinkan adanya kekeliruan darinya dalam hal itu.

والحكم المرجوع إليه العرف فيه وينشأ منه أنَّ المتلقن إذا كان يلهو أو يسهو ولا يُكِبّ لم يُحتمل هذا وفي كل واحد من التلقين والتلقن عُرفٌ متبع بين طرفي الإغفال ونهاية الإقبال

Hukum yang dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan) di dalamnya, dan darinya muncul bahwa seorang yang menerima pelajaran (mutalaqqin) jika ia sedang bermain-main atau lalai dan tidak bersungguh-sungguh, maka hal ini tidak dapat diterima. Dalam setiap proses mengajar (talqin) dan menerima pelajaran (talaqqi), terdapat ‘urf yang diikuti antara dua batas, yaitu antara kelalaian dan puncak kesungguhan.

فرع

Cabang

إذا أصدق امرأته تعليم الفُحش من الأشعار والخَنا في الحكايات فهذا الإصداق فاسد ولو أصدقها تعليم ما يجوز تعليمه جاز

Jika seorang suami menjadikan mahar istrinya berupa pengajaran syair-syair cabul atau kisah-kisah keji, maka mahar tersebut batal. Namun, jika ia menjadikan mahar berupa pengajaran sesuatu yang boleh diajarkan, maka itu diperbolehkan.

وإذا أصدق الذمي الذمية تعليم التوراة والإنجيل فهذا عندنا كما إذا أصدقها الخمر والخنزير فإنَّ تعليم التوراة وتعلّمَها غير سائغ وإنْ ترجمت التوراة بلسان نعرفها ولم يكن فيها ما ننكره فهو كسائر أنواع الكلام

Jika seorang dzimmi memberikan mahar kepada wanita dzimmi berupa pengajaran Taurat dan Injil, maka menurut kami hukumnya sama seperti jika ia memberikan mahar berupa khamar atau babi. Sebab, mengajarkan dan mempelajari Taurat tidak diperbolehkan. Namun, jika Taurat diterjemahkan ke dalam bahasa yang kita pahami dan tidak terdapat di dalamnya sesuatu yang kita ingkari, maka hukumnya seperti jenis-jenis pembicaraan lainnya.

وقد نجز القول في تعليمِ القرآن وأَصْدِقَتِه وما يتعلق به

Telah selesai pembahasan mengenai pengajaran Al-Qur’an, upahnya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

فأما القول في ردِّ الآبق فإن كان مكانُه مجهولاً فالاستئجار على رده باطل وتصح معاملة الجِعالة في رد الإباق والسبب في ذلك مسيس الحاجة ثم احتملت الجهالةُ في الجِعالة جوازَها وعورضت الجهالة بالتمكن من الفسخ متى شاء

Adapun pembahasan mengenai pengembalian budak yang melarikan diri, jika tempatnya tidak diketahui maka akad sewa untuk mengembalikannya batal, namun akad ju‘ālah untuk mengembalikan budak yang melarikan diri sah. Sebabnya adalah adanya kebutuhan yang mendesak, sehingga ketidakjelasan dalam ju‘ālah dapat ditoleransi dan ketidakjelasan tersebut diimbangi dengan adanya kemungkinan untuk membatalkan akad kapan saja diinginkan.

وإذا أثبت ردّ الآبق صداقاً فيجب أن يكون موضع العبد معلوماً بحيث يجوز الاستئجار على رده فإن رد الآبق لو أُثبت على الجهالة صداقاً لثبت لازماً فإنَّ الصداق لا يثبت جائزاً ولو ثبت على اللزوم بعُد عن قبول الجهالة لما نبهنا عليه من أنَّ سبب احتمال الجهالة في الجعالة ما ثبتت المعاملة عليه من الجواز فهذا هو الغرض من جعل رد الآبق صداقاً

Apabila penyerahan budak yang melarikan diri dijadikan sebagai mahar, maka tempat keberadaan budak tersebut harus diketahui secara jelas sehingga boleh menyewa seseorang untuk mengembalikannya. Sebab, jika pengembalian budak yang melarikan diri itu ditetapkan sebagai mahar dalam keadaan tidak diketahui (majhul), maka ia akan menjadi kewajiban yang tetap, padahal mahar tidak boleh ditetapkan secara tidak pasti. Jika ia ditetapkan sebagai kewajiban yang tetap, maka hal itu tidak dapat menerima ketidakjelasan, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa alasan diperbolehkannya ketidakjelasan dalam ju‘ālah adalah karena akad tersebut bersifat tidak mengikat (jaiz). Inilah tujuan dari menjadikan pengembalian budak yang melarikan diri sebagai mahar.

فأما جعل خياطة الثوب صداقاً فبيّن والوجه إثباتها بحيث يجوز الاستئجار عليها كما تمهد

Adapun menjadikan menjahit pakaian sebagai mahar, maka hal itu jelas, dan pendapat yang benar adalah membolehkannya selama pekerjaan tersebut boleh disewa sebagaimana telah dijelaskan.

ثم إنا نذكر بعد هذه الفصول الثلاثة في تعليم القرآن ورد الآبق وخياطة الثوب نوعين من الكلام أحدهما في توفية هذه المسميات على الكمال مع فرض الطلاق قبل المسيس

Kemudian, setelah tiga bagian ini tentang pengajaran Al-Qur’an, mengembalikan budak yang melarikan diri, dan menjahit pakaian, kami akan menyebutkan dua jenis pembahasan: yang pertama mengenai penyempurnaan hal-hal yang disebutkan ini secara sempurna dengan adanya kewajiban talak sebelum terjadi hubungan suami istri.

والثاني في طريان الطلاق قبل توفية هذه الحقوق ويَعترض في أثناء الكلام تأكدُ المهر وتقرره بالمسيس قبل توفية المسميات وإن أحببنا أفردناه بالذكر

Yang kedua adalah tentang terjadinya talak sebelum pelunasan hak-hak ini, dan dalam pembahasan akan disinggung tentang penegasan dan ketetapan mahar karena telah terjadi hubungan suami istri sebelum pelunasan mahar yang telah ditentukan. Jika diinginkan, hal ini dapat dibahas secara terpisah.

فأمَّا إذا أوفر ما سمّى فعلّم ما كان شَرَطَ أو ردّ الآبق أو خاط الثوب ثم طلقها قبل المسيس فسيأتي إن شاء الله تعالى في مسائل الصداق أنَّ الطلاق قبل المسيس مشطّرٌ

Adapun jika ia menyempurnakan apa yang telah disebutkan, seperti mengajarkan apa yang telah disyaratkan, atau mengembalikan budak yang melarikan diri, atau menjahitkan pakaian, kemudian menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka akan dijelaskan, insya Allah Ta‘ala, dalam pembahasan-pembahasan tentang mahar bahwa talak sebelum terjadi hubungan suami istri menyebabkan mahar menjadi setengah.

فإن كانت العين المصْدَقةُ باقيةً ارتد شَطْرها إلى الزوج فإن كانت فائتةً نُظر فإن كانت من ذوات الأمثال غرِمت للزوج مثلَ نصف ما قبضت وإن كانت من ذوات القيم غرِمت له نصف القيمة على ما سيأتي شرح ذلك إن شاء الله عز وجل

Jika barang yang dijadikan mahar masih ada, maka setengahnya dikembalikan kepada suami. Jika barang tersebut sudah tidak ada, maka dilihat lagi: jika termasuk barang yang memiliki padanan (mitsl), istri wajib mengganti kepada suami barang sepadan dengan setengah dari apa yang telah diterimanya. Jika termasuk barang yang bernilai (qīmah), istri wajib mengganti kepada suami setengah dari nilainya, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فنقول ليس التعليم ولا الرد ولا الخياطة مما يمكن فرض رجوع نصفه إلى الزوج فنَجعلُ هذه المسميات كالعين المقبوضة الفائتة وهي من ذوات القيم وقِيَمُ المنافع أجرتُها فيغرم الزوج إذا طلق قبل المسيس في جميع هذه المسائل نصف الأجرة وقد انفصل الغرض

Maka kami katakan, bahwa mengajar, membalas, maupun menjahit bukanlah hal-hal yang memungkinkan untuk mengembalikan setengahnya kepada suami, sehingga kami menjadikan hal-hal tersebut seperti barang yang telah diambil dan hilang, yang termasuk barang bernilai, dan nilai dari manfaatnya adalah upahnya. Maka suami wajib membayar setengah upah dalam semua permasalahan ini jika ia menceraikan sebelum terjadi hubungan badan, dan tujuan pun telah selesai.

وأما إذا طلقها قبل المسيس وما كان وفَّى شيئاً مما سمّى في الفصول الثلاثة فنقول أولاً رد العبيد لا يتبعض فإنَّ ردَّه إلى بعض الطريق ضائع

Adapun jika ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri dan ia belum memberikan sesuatu pun dari mahar yang telah disebutkan dalam tiga bab sebelumnya, maka pertama-tama kami katakan bahwa pengembalian budak tidak dapat dibagi-bagi, karena mengembalikannya di sebagian perjalanan adalah sia-sia.

وقال الأئمة الخياطة لا يتبعض أيضاً وألحقوا به التعليم وقطعوا في الطرق بأنه لا يتبعض وفائدة امتناع التبعض في هذه الأشياء أنَّا لا نُلزم الزوج توفيةَ الجميع على أن تغرم له نصفَ القيمة هذا لا سبيل إليه وقد اعتقدنا امتناع التبعيض

Para imam berpendapat bahwa menjahit juga tidak dapat dibagi-bagi, dan mereka menyamakan dengannya kegiatan mengajar, serta menegaskan dalam berbagai kitab bahwa hal itu tidak dapat dibagi-bagi. Manfaat dari tidak bolehnya pembagian dalam hal-hal ini adalah bahwa kita tidak mewajibkan suami untuk memenuhi semuanya, lalu istri harus membayar setengah nilainya kepadanya—hal seperti ini tidak mungkin dilakukan, karena kami meyakini tidak bolehnya pembagian.

فينتظم من ذلك كلِّه الحكمُ بتعذر توفية الصداق فصار كما لو أصدق امرأته عبداً وتلف في يده ثم طلقها قبل المسيس ولو جرى ذلك لكان فيما يلزمه في مقابلة نصف الصداق لزوجته قولان أحدهما أنه يلزمه نصف القيمة والثاني أنه يلزمه نصف مهر المثل وحقيقة هذين القولين سرُّ كتاب الصداق ومرجوعُ المسائل وسنصدّر الباب المعقود إثر هذا ببيان ذلك إن شاء الله تعالى

Maka dari semua itu tersusunlah hukum bahwa tidak mungkin memenuhi pembayaran mahar, sehingga keadaannya seperti seseorang yang menjadikan mahar istrinya seorang budak lalu budak itu hilang di tangannya, kemudian ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri. Jika hal itu terjadi, maka dalam hal kewajiban membayar setengah mahar kepada istrinya terdapat dua pendapat: salah satunya adalah ia wajib membayar setengah dari nilai budak tersebut, dan yang kedua adalah ia wajib membayar setengah dari mahar mitsil. Hakikat dari kedua pendapat ini merupakan inti dari pembahasan kitab mahar dan rujukan berbagai permasalahan, dan kami akan memulai bab yang disusun setelah ini dengan penjelasan tentang hal tersebut, insya Allah Ta‘ala.

والذي يبقى من المباحثة في الفصل تقدير التعذر في التبعيض فنقول إذا كان أصدقها تعليم سورة فالوصول إلى درك نصفها عسر وإن تكلف متكلف عدَّ الحرفِ وتنزيلَ الشَّطر عليه فماذا يصنع بنظم الكلام وهو على تفاوت بيِّن وفيه من اليسر والعُسر في التلقين والتلقن فيتعذر ضبطُ هذا ودركُ نصفه

Yang masih tersisa dari pembahasan dalam bab ini adalah memperkirakan kesulitan dalam melakukan sebagian (dari mahar). Maka kami katakan, jika mahar yang dijanjikan adalah mengajarkan satu surat (Al-Qur’an), maka mencapai setengahnya itu sulit. Meskipun ada yang berusaha keras menghitung huruf-hurufnya dan menetapkan setengahnya berdasarkan itu, lalu apa yang akan dilakukan terhadap susunan kalimat, padahal susunan tersebut sangat beragam dan di dalamnya terdapat kemudahan dan kesulitan dalam pengajaran dan pembelajaran. Maka sulit untuk memastikan hal ini dan mengetahui setengahnya.

وكذلك القول في خياطة بعض الثوب وردِّ العبد إلى بعض الطريق

Demikian pula halnya dengan menjahit sebagian pakaian dan mengembalikan budak ke sebagian jalan.

فلو فَرَض فارضٌ خياطة لا تعاريج فيها في دروزٍ مستقيمة ويقع الاكتفاء بشَطْرها بأن يشبكها كضِفّتي ملاءة تؤلفان فالتنصيف في هذا مُدرَك

Seandainya ada seseorang yang membayangkan jahitan tanpa lekukan pada lipatan-lipatan yang lurus, dan mencukupkan dengan setengahnya dengan cara menyambungkannya seperti dua sisi kain yang disatukan, maka pembagian setengah dalam hal ini dapat dipahami.

وقد ينتفع صاحب العبد برده إلى نصف الطريق وتسليمه إلى موثوق به من أصحابها

Dan pemilik budak mungkin mendapatkan manfaat dengan mengembalikannya di pertengahan jalan dan menyerahkannya kepada seseorang yang tepercaya dari kalangan pemiliknya.

وإذا فرض الفارض ذلك أو تعليمَ سورة سهلة المأخذ من المفصّل كسورة الرحمن وغيرها مما يتخيره الإنسان بعد وضوح الغرض فقد يقرب دَرْكُ التنصيف

Jika seseorang menetapkan hal itu, atau mengajarkan satu surah yang mudah dipelajari dari bagian mufassal seperti Surah ar-Rahman dan lainnya yang dapat dipilih seseorang setelah tujuan menjadi jelas, maka bisa jadi pencapaian pembagian menjadi lebih dekat.

وإذا أُضيف ما ذكرناه إلى تفاوت الناس في جودة الحفظ والبلادة كان هذا أقربَ محتملاً وأسهلَ مُدركاً مما ذكرناه

Dan apabila apa yang telah kami sebutkan itu ditambahkan dengan perbedaan manusia dalam kualitas hafalan dan kebodohan, maka hal ini menjadi lebih mungkin diterima dan lebih mudah dipahami daripada apa yang telah kami sebutkan.

ولم يتعرض الأصحاب لذلك كما تقدم وأطلقوا القول بأنَّ هذه الأشياء لا تقبل التنصيف والوجه عندنا حمل كلام الأصحاب على الغالب فإنَّ الخياطة يغلب فرضها في القمصان والجباب والأقبية وما في معانيها والتعليم يفرض في حزب من القرآن فإن تكلف متكلف الفرض في الصور التي ذكرناها لم يخف المصير إلى إمكان التشطير

Para ulama tidak membahas hal itu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan mereka mengemukakan pendapat secara umum bahwa hal-hal tersebut tidak dapat dibagi dua. Namun menurut kami, pendapat para ulama itu harus dipahami berdasarkan kebiasaan yang berlaku, karena pekerjaan menjahit umumnya dilakukan pada gamis, jubah, mantel, dan yang sejenisnya, sedangkan pengajaran biasanya diberikan pada satu bagian dari Al-Qur’an. Jika ada seseorang yang memaksakan pembagian dalam contoh-contoh yang telah kami sebutkan, maka tidak diragukan lagi bahwa pembagian itu mungkin dilakukan.

ثم القول في الرد بالخياطة إن اعتقدنا إمكان التشطير بيّن

Kemudian pembahasan mengenai pengembalian (barang) dengan alasan jahitan, jika kita meyakini kemungkinan pembagian (barang tersebut), adalah jelas.

والقول في تعليم النصف مما سَمَّى صداقاً يتعلق بأصلٍ آخر وهو أنَّ النكاح إذا تقيد بالمسيس وتقرر المسمى به وما كان علَّمها شيئا فإذا حَرُمَتْ عليه وكان لا يتأتى التعليم إلا مع التعرض للفتنة فهذا صداقٌ تعذر تسليمه وإن أمكن التعليم من وراء حجاب من غير تعرض للفتنة فالتسليم ممكن فيقع القول في الشطر على هذا النحو

Pembahasan tentang mengajarkan separuh dari apa yang telah disebutkan sebagai mahar berkaitan dengan pokok masalah lain, yaitu apabila pernikahan telah disertai dengan terjadinya hubungan suami istri dan mahar yang telah ditetapkan, serta suami belum mengajarkan sesuatu kepadanya. Jika kemudian istri menjadi haram baginya dan pengajaran itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan menimbulkan fitnah, maka mahar tersebut menjadi mahar yang sulit untuk diserahkan. Namun, jika pengajaran itu dapat dilakukan dari balik tabir tanpa menimbulkan fitnah, maka penyerahan mahar tersebut memungkinkan. Maka pembahasan tentang separuh mahar dilakukan dengan cara seperti ini.

وتمام البيان أنه إذا تعذَّر تعليمها فجاءت بغلام وأحلَّته محل نفسها ورضيت بأن يعلمه فهذا يتصل بما قدمناه من أنَّ ما به استيفاء المنفعة هل يُبْدَل وقد مضى موضحاً مُفَصَّلاً

Penjelasan yang sempurna adalah bahwa jika ia tidak mampu mengajarkannya, lalu ia mendatangkan seorang anak laki-laki dan menempatkannya pada posisinya sendiri serta rela agar anak itu yang mengajarkannya, maka hal ini berkaitan dengan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya tentang apakah sesuatu yang menjadi sarana pemanfaatan dapat digantikan, dan hal itu telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.

Bab Mahar: Apa yang Boleh Ditambah dan Dikurangi

قال الشافعي وكلّ ما أصدقها فملكته بالعقد وضمنته بالدفع فلها زيادته وعليها نقصانه إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: Segala sesuatu yang dijadikan mahar oleh suami, lalu istri memilikinya dengan akad dan menjaminnya dengan penerimaan, maka tambahan nilainya menjadi hak istri dan kekurangannya menjadi tanggung jawab istri, dan seterusnya.

مذهب الشافعي ومعظم العلماء أنَّ النكاح إذا انعقد مشتملاً على مسمًى صحيح فإنه يتضمن إثبات ملك جميع الصداق لها ولا يتوقف ملكُها الصداقَ على المسيس كما لا يتوقف ملكُ الزوج كلَّ البضع

Mazhab Syafi‘i dan mayoritas ulama berpendapat bahwa apabila akad nikah dilangsungkan dengan menyebutkan mahar yang sah, maka hal itu menetapkan kepemilikan seluruh mahar bagi istri, dan kepemilikan mahar tersebut tidak bergantung pada terjadinya hubungan suami istri, sebagaimana kepemilikan suami atas seluruh hak hubungan badan juga tidak bergantung pada hal itu.

ثم لو فرض الطلاق قبل الدخول تشطَّر من وقت الطلاق الصداقُ من غير إسناد ولا تبيُّن كما سيأتي ذلك مشروحاً إن شاء الله عز وجل

Kemudian, jika talak terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar menjadi setengah dari waktu talak, tanpa perlu penetapan atau penjelasan lebih lanjut, sebagaimana hal ini akan dijelaskan secara rinci nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وقال مالك لا تملك المرأة بالنكاح إلاَّ نصف المهر وتملك النصف الثاني بالدخول

Malik berkata, perempuan tidak berhak memiliki mahar secara penuh melalui akad nikah, melainkan hanya setengah mahar, dan ia berhak atas setengah sisanya setelah terjadi hubungan suami istri.

فإذا تمهد ما ذكرناه وقد أصدق الزوج امرأته عيناً من الأعيان ولم يُسلِّمها إليها فالصداق مضمون على الزوج قبل التسليم

Jika telah jelas apa yang telah kami sebutkan, dan seorang suami telah menetapkan mahar berupa suatu barang tertentu kepada istrinya namun belum menyerahkannya kepadanya, maka mahar tersebut tetap menjadi tanggungan suami sebelum diserahkan.

وفي كيفية الضمان قولان منصوصان في مسائل السواد أحدهما أنَّ الزوج يضمنه ضمان العقد لأنه عوض في معاوضة وكان مضموناً ضمان الأعواض كالثمن في البيع

Dalam hal cara penjaminan, terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit dalam masalah-masalah seputar mahar; salah satunya adalah bahwa suami menanggungnya dengan penjaminan akad karena ia merupakan kompensasi dalam suatu transaksi, sehingga wajib dijamin sebagaimana kompensasi lainnya, seperti harga dalam jual beli.

والقول الثاني أنَّ الزوج يضمنه ضمان اليد كالمستام والمستعير ونحوهما

Pendapat kedua menyatakan bahwa suami menanggungnya dengan tanggungan tangan, seperti orang yang menawar, peminjam, dan semisalnya.

توجيه القولين من قال إنه يَضمن الصداق ضمانَ الأعواض احتج بأنَّ الصداق عِوضٌ كما تقرر في صدر الكتاب ولم يُثبت مقتضى الضمان سوى العقدِ فيجب إثباتُ ضمان العقود

Penjelasan dua pendapat: Orang yang berpendapat bahwa mahar dijamin seperti jaminan atas pengganti, beralasan bahwa mahar adalah ‘iwadh (pengganti) sebagaimana telah dijelaskan di awal kitab, dan tidak ada yang menetapkan adanya tuntutan jaminan selain akad, maka wajib menetapkan jaminan karena adanya akad.

ومن قال إنه مضمون باليد احتج بأن قال الصداق إذا تلف في يد الزوج قبل تسليمه فالنكاح لا ينفسخ بتلف الصداق والبضع هو المعوَّض إن كان الصداق عوضاً ويبعد جريان الانفساخ في المعاوضات في أحد العوضين دون الآخر

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa mahar itu dijamin dengan tangan (tanggungan), ia berdalil dengan mengatakan: Jika mahar itu rusak di tangan suami sebelum diserahkan, maka akad nikah tidak batal karena rusaknya mahar, dan kemaluan (hak hubungan suami istri) adalah objek yang menjadi imbalan jika mahar itu merupakan imbalan. Sungguh jauh kemungkinan terjadinya pembatalan dalam akad pertukaran pada salah satu dari dua objek imbalan tanpa yang lainnya.

وحقيقة القولين ترجع إلى أنَّا إن قضينا بكون الصداق مضموناً ضمان العقود فعقد الصداق على هذا ينفسخ كما ينفسخ البيع بتلف المبيع قبل القبض

Hakikat dari kedua pendapat tersebut kembali kepada bahwa jika kita memutuskan bahwa mahar itu dijamin dengan jaminan akad, maka akad mahar dalam hal ini batal sebagaimana akad jual beli batal jika barang yang dijual rusak sebelum diterima.

ثم مِن حُكم انفساخِ البيعِ بهذه الجهة أنَّ الثمن إن أمكن استرداده يُسترد وإن كان فائتاً يُسترد بدلُه مثلاً إن كان من ذوات الأمثال أو قيمتُه إن كان من ذوات القيمة

Kemudian, di antara hukum batalnya jual beli karena sebab ini adalah bahwa harga (barang) jika masih mungkin untuk diambil kembali, maka diambil kembali; dan jika sudah tidak ada, maka diambil gantinya, berupa barang sejenis jika termasuk barang yang memiliki padanan, atau nilainya jika termasuk barang yang bernilai.

كذلك إذا حكمنا بانفساخ عقد الصداق فارتداد البضع غيرُ ممكن للإجماع على بقاء النكاح وإذا امتنع ارتداد البضع ثبت بدلُه وبدلُ البضع قيمته وهي مهر المثل

Demikian pula, jika kita memutuskan batalnya akad mahar, maka kembalinya hak atas tubuh istri tidak mungkin terjadi karena adanya ijmā‘ tentang tetapnya pernikahan. Jika kembalinya hak atas tubuh istri tidak mungkin, maka yang berlaku adalah penggantinya, dan pengganti hak atas tubuh istri adalah nilainya, yaitu mahar mitsil.

فهذا تحقيق هذا القول

Inilah penjelasan dari pendapat ini.

ومن قال الصداق لا يُضمن ضمانَ العقود فما يعضد جانبَه أنَّ الصداق والبضع لا يتقابلان تقابل الأعواض ولذلك لم يكن الصداق ركناً في النكاح ثم عقدُ الصداق لا ينفسخ عند هذا القائل كما ينفسخ النكاح بل يقال تسليم الصداق مستحَق على الزوج فإذا فات تسليم العين خَلَفتها القيمة ويجب تسليمها

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa mahar tidak dijamin dengan jaminan akad, maka yang menguatkan pendapatnya adalah bahwa mahar dan hak atas hubungan badan tidak saling berhadapan seperti pertukaran barang, oleh karena itu mahar bukanlah rukun dalam akad nikah. Kemudian, akad mahar menurut pendapat ini tidak batal sebagaimana akad nikah bisa batal, melainkan dikatakan bahwa penyerahan mahar adalah kewajiban suami. Jika penyerahan barang (mahar) tidak dapat dilakukan, maka nilainya menggantikannya dan wajib diserahkan.

ومما يتعلق به هذا القائل أنَّ البضع مملوك للزوج فيبعد أن يتقوّم عليه البضع الذي هو حقه وملكه فكان الرجوع إلى قيمة العوض أولى من الرجوع إلى قيمة الملك

Salah satu hal yang menjadi sandaran pendapat ini adalah bahwa hubungan badan (al-budh‘) dimiliki oleh suami, sehingga tidak masuk akal jika hubungan badan yang merupakan hak dan miliknya sendiri dinilai (dihargai) atas dirinya. Oleh karena itu, kembali kepada nilai kompensasi (al-‘iwadh) lebih utama daripada kembali kepada nilai kepemilikan.

وإنما تردد القول فيما ذكرناه من جهة أنَّ الصداق لا يخرُج عن الأعواض وليس هو على حقائقها ومست الحاجة عند فرض تلف الصداق إلى إثبات شيء على الزوج فاقتضى أحد القولين التشبيهَ بضمان العقود التي تنفسخ من الجانبين وإن كان النكاح لا ينفسخ واقتضى القول الثاني التشبيهَ بضمان ما ليس عوضاً وإن كان الصداق عوضاً ورجع إلى إثبات الأَوْلى من قيمة البضع أو قيمة الصداق وسنوضح هذا بأبلغ من ذلك في أثناء الفصل إن شاء الله عز وجل

Pendapat mengenai hal yang telah kami sebutkan itu diperselisihkan karena mahar tidak keluar dari kategori pengganti, namun ia juga bukan pengganti dalam hakikatnya. Ketika terjadi kebutuhan mendesak, misalnya mahar hilang, maka perlu ditetapkan sesuatu atas suami. Salah satu pendapat mengharuskan penyerupaan dengan jaminan pada akad-akad yang batal dari kedua belah pihak, meskipun akad nikah tidak batal. Pendapat kedua mengharuskan penyerupaan dengan jaminan atas sesuatu yang bukan pengganti, meskipun mahar itu sendiri adalah pengganti. Pada akhirnya, hal ini kembali pada penetapan mana yang lebih utama antara nilai kemaluan atau nilai mahar. Kami akan menjelaskan hal ini dengan lebih jelas lagi di bagian berikutnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والذي نراه الآن تعجيل مقدار من التفريع على القولين يتمهد به فهمهما فنقول إن حكمنا بأنَّ الصداق مضمون ضمان العقد فإذا تَلِف في يد الزوج انقلب إلى ملكه قُبيل التلف وقُضي بأنه باق على ملكه وإن كان عبداً فعليه مؤنة التجهيز وهذا بمثابة المبيع يتلف في يد البائع ونقضي بانفساخ البيع هذا ومما يتفرع على هذا القول أنَّ المرأة لو أرادت أن تتصرف في الصداق قبل القبض بالبيع لم يصح ذلك منها كما لا يصح بيع المبيع قبل القبض فإنَّ الصداق على هذا القول مضمون بالعقد ضمان الأعواض فلو باعته لضمنت ولأدّى إلى أن تكون العين الواحدة مضمونة لها وعليها وهذا يُفضي إلى توالي الضمانين وعليه مُنع بيع المبيع قبل التسليم

Yang kami pandang sekarang adalah mempercepat penjelasan sebagian cabang dari dua pendapat agar memudahkan pemahamannya. Maka kami katakan bahwa kami menetapkan bahwa mahar itu dijamin dengan jaminan akad, sehingga jika mahar tersebut rusak di tangan suami, maka mahar itu berubah menjadi miliknya sesaat sebelum rusak dan diputuskan bahwa mahar itu tetap menjadi miliknya. Jika mahar itu berupa budak, maka suami wajib menanggung biaya perlengkapannya. Hal ini serupa dengan barang jualan yang rusak di tangan penjual, sehingga kami memutuskan batalnya jual beli tersebut. Di antara cabang dari pendapat ini adalah bahwa jika seorang wanita ingin melakukan transaksi terhadap mahar sebelum menerima mahar itu, seperti menjualnya, maka hal itu tidak sah baginya, sebagaimana tidak sah menjual barang jualan sebelum diterima. Karena menurut pendapat ini, mahar dijamin dengan akad seperti jaminan pada pengganti (al-a‘wāḍ), sehingga jika ia menjualnya, ia harus menanggungnya, dan hal itu akan menyebabkan satu barang dijamin untuknya dan atasnya sekaligus. Ini akan menyebabkan terjadinya dua jaminan secara berurutan, dan karena itu dilarang menjual barang sebelum diserahkan.

وإن فرعنا على القول الثاني فإنَّ بيعها ينفذ في الصداق قبل التسليم كما ينفذ بيع المُعير في العين المستعارة فإنَّ ضمان اليد لا يجانس ضمان العقد فلا يفضي تنفيذ بيعها إلى توالي ضماني عقدين

Jika kita berlandaskan pada pendapat kedua, maka penjualan mahar tersebut sah sebelum penyerahan, sebagaimana sahnya penjualan oleh peminjam atas barang yang dipinjam, karena tanggungan (jaminan) tangan tidak sejenis dengan tanggungan akad, sehingga pelaksanaan penjualan mahar tidak menyebabkan terjadinya dua tanggungan akad secara berurutan.

وإذا تلف الصداق في يد الزوج فإنَّه يتلف ملكاً لها وإن كان عبداً فعليها التجهيز والقول في ذلك كالقول في العبد المستعار يتلف في يد المستعير

Jika mahar rusak di tangan suami, maka mahar tersebut rusak sebagai milik istri. Jika mahar itu berupa budak, maka istri wajib menyiapkan perlengkapannya. Hukum dalam hal ini sama seperti hukum budak yang dipinjamkan lalu rusak di tangan peminjam.

ثم إذا حكمنا بأنَّ الصداق مضمون ضمان اليد وقد تلف فإنْ كان من ذوات الأمثال فعلى الزوج مِثلُه لزوجته وإن كان من ذوات القيم فعليه قيمتُه

Kemudian, apabila kita memutuskan bahwa mahar dijamin dengan jaminan kepemilikan dan ternyata telah rusak, maka jika termasuk barang yang memiliki padanan, suami wajib memberikan barang sepadan kepada istrinya. Namun jika termasuk barang yang bernilai, maka suami wajib memberikan nilainya.

ثم اختلف قول الشافعي فذكر في مسائل الباب قولين في كيفية اعتبار القيمة أحدهما أنَّ الزوج يضمنه ضمان الغصوب فعليه أقصى القيمة من يوم الإصداق إلى يوم التلف قياساً على الغصب

Kemudian pendapat Imam Syafi‘i berbeda, beliau menyebutkan dalam beberapa permasalahan pada bab ini dua pendapat mengenai cara mempertimbangkan nilai (mahar). Salah satunya adalah bahwa suami menanggungnya seperti tanggungan atas barang yang dighasab, sehingga ia wajib membayar nilai tertinggi dari hari penetapan mahar hingga hari kerusakan, berdasarkan qiyās dengan kasus ghashab.

والقول الثاني إنه يضمن الصداق بقيمته يوم الإصداق ووراء ذلك سرٌّ عظيم هو مركز الفصل فليكن هذا على ذُكْر الناظر حتى ينتهي إليه

Pendapat kedua menyatakan bahwa mahar dijamin dengan nilainya pada hari akad, dan di balik itu terdapat rahasia besar yang menjadi inti pembahasan. Maka hendaklah hal ini selalu diingat oleh para penelaah hingga sampai pada pembahasannya.

وقد اختلف قول الشافعي في أنَّ العين المضمونة على المستام على أي وجه تضمن فقال في قول تضمن ضمان الغصوب وقال في قول إنها تضمن بقيمة يوم القبض ولا يُجري في المستام إلاَّ هذين القولين

Pendapat Imam Syafi’i berbeda mengenai barang yang dijamin atas musta’min, tentang bagaimana cara penjaminnya. Dalam salah satu pendapat, beliau mengatakan bahwa barang tersebut dijamin seperti jaminan barang yang dighasab. Dalam pendapat lain, beliau mengatakan bahwa barang tersebut dijamin dengan nilai pada hari penerimaan. Tidak berlaku pada musta’min kecuali dua pendapat ini.

وفي المستعير هذان القولان أيضاً وقولٌ ثالث وهو أنَ الاعتبار بقيمة يوم التلف إذا لم يجر فيه من المستعير عدوان وهذا القول يجري في المستعير من جهة أنَّا لو اعتبرنا قيمةَ يوم القبض والمستعارُ ثوب مثلاً فالأجزاء التي انسحقت بالبِلي إلى يوم التلف لا تكون مضمونة على الرأي الظاهر فلو اعتبرنا قيمةَ يوم القبضَ لأدخلنا تلك الأجزاء في الضمان وإن قلنا نعتبر قيمة الثوب منسحقاً يوم القبض عَسُر ذلك فتعين وقتُ التلف وقيمةُ الثوب على ما يصادَف عليه

Pada kasus peminjam, terdapat dua pendapat ini juga, serta pendapat ketiga, yaitu bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai barang pada hari rusaknya, jika tidak ada tindakan melampaui batas dari peminjam. Pendapat ini berlaku dalam kasus peminjam karena jika kita mengacu pada nilai barang pada hari penerimaan, misalnya barang yang dipinjam adalah pakaian, maka bagian-bagian yang aus karena pemakaian hingga hari rusaknya tidak menjadi tanggungan menurut pendapat yang kuat. Jika kita mengacu pada nilai barang pada hari penerimaan, maka bagian-bagian tersebut akan masuk dalam tanggungan. Dan jika kita mengatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai pakaian yang sudah aus pada hari penerimaan, maka hal itu menjadi sulit. Maka yang dipilih adalah waktu rusaknya barang dan nilai pakaian sebagaimana keadaannya saat itu.

وهذا ليس بمَرضيّ فإنَّا إن ألحقنا هذه الأيدي بيد الغاصب فهو قياس متجه من قِبل أنَّ العين موصوفة بالضمان في كل وقت فلا معنى لتخصيص وقت بالاعتبار وهذا يفضي إلى إلزام الأقصى ولا فرق بين الغاصب والمشبه به إلاَّ في المأثم

Ini tidak dapat diterima, sebab jika kita menyamakan tangan-tangan ini dengan tangan ghāṣib, maka itu adalah qiyās yang tepat, karena barang tersebut selalu berada dalam jaminan (dhamān) setiap waktu, sehingga tidak ada alasan untuk mengkhususkan waktu tertentu dalam pertimbangan. Hal ini akan berujung pada mewajibkan hukuman yang paling berat, dan tidak ada perbedaan antara ghāṣib dan yang diserupakan dengannya kecuali dalam hal dosa.

وتحقيق ذلك أن وجوب ضمان الرد يجمعهما فهذا وجه

Penjelasannya adalah bahwa kewajiban menanggung pengembalian menyatukan keduanya; inilah alasannya.

وإن لم نعتبر الأقصى في القول الثاني فلا وجه إلاَّ أن نقول كما تثبت اليد يثبت الضمان فنتمسك بأول معتبر حتى كأن القبض إتلاف

Dan jika kita tidak mempertimbangkan batas maksimal menurut pendapat kedua, maka tidak ada alasan kecuali kita mengatakan bahwa sebagaimana tangan dapat menetapkan tanggung jawab, demikian pula jaminan (dhamān) dapat ditetapkan. Maka kita berpegang pada hal pertama yang dianggap, sehingga seolah-olah penguasaan (qabdh) itu adalah perusakan (itlāf).

وإن قال قائل هلاَّ وجهتم اعتبار يوم التلف في الأيدي كلِّها لأنَّ رد العين بالتلف يفوت والقيمة تلوُ العين وبدلُها قلنا هذا يوجب نفي الضمان قبل التلف وقد أجمع المسلمون على أنَّ العين مضمونة قبل التلف على القابض فيستحيل قصر الضمان على وقت التلف ويستحيل تأخيرها عن أول وقت الحكم بالضمان وقد ذكرت قولاً بالغاً في هذا في كتاب العاريّة واستوعبت ما قاله الأصحاب وأتبعته بالبحث على العادة

Jika ada yang berkata, “Mengapa kalian tidak menetapkan penilaian pada hari kerusakan pada semua tangan (pihak yang memegang barang), karena pengembalian barang menjadi gugur akibat kerusakan, dan nilai barang adalah pengganti barang itu?” Maka kami katakan, hal ini akan menyebabkan tidak adanya kewajiban ganti rugi sebelum kerusakan terjadi, padahal kaum muslimin telah berijma‘ bahwa barang tersebut tetap menjadi tanggungan sebelum rusak pada pihak yang memegangnya. Maka, tidak mungkin membatasi kewajiban ganti rugi hanya pada waktu kerusakan, dan tidak mungkin pula menundanya dari awal waktu penetapan kewajiban ganti rugi. Aku telah menyebutkan pendapat yang mendalam tentang hal ini dalam Kitab al-‘Āriyah, menguraikan pendapat para sahabat (ulama), dan menambahkannya dengan pembahasan berdasarkan kebiasaan.

وغرضنا الآن في الصداق إجراء القولين في اعتبار القيمة أحدهما أنَّا نعتبر يوم الإصداق وفي هذا مزيد نظر يقتضي تعيين يوم الإصداق كما سنذكر الآية إن شاء الله عز وجل

Tujuan kami sekarang dalam pembahasan tentang mahar adalah menerapkan dua pendapat dalam mempertimbangkan nilai; salah satunya adalah bahwa kami mempertimbangkan nilai pada hari penetapan mahar. Dalam hal ini terdapat kajian lebih lanjut yang menuntut penetapan hari penetapan mahar, sebagaimana akan kami jelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم فرَّع الأصحاب على هذين القولين حكمَ الضمان في الزوائد التي تحدث في يد الزوج المتصلة منها والمنفصلة وقالوا إن حكمنا بأنَّ الصداق مضمون ضمان الغصوب فالزوائد بجملتها تدخل في ضمان الزوج قياساً على الغاصب مع ما يحدث في يده من الزوائد وإن قلنا لا يضمن الزوج ضمان الغصوب فالزوائد لا تكون مضمونة عليه وهي بمثابة الثوب تطيره الريح فتلقيه في دار إنسان

Kemudian para ulama mazhab merinci berdasarkan dua pendapat tersebut hukum tanggungan (dhamān) terhadap tambahan-tambahan (zawā’id) yang muncul di tangan suami, baik yang bersambung maupun yang terpisah. Mereka mengatakan: Jika kita memutuskan bahwa mahar (ṣadāq) ditanggung seperti tanggungan barang hasil ghasab (ghuṣūb), maka seluruh tambahan itu masuk dalam tanggungan suami, dengan qiyās kepada orang yang melakukan ghasab beserta tambahan-tambahan yang terjadi di tangannya. Namun jika kita mengatakan bahwa suami tidak menanggung seperti tanggungan ghasab, maka tambahan-tambahan itu tidak menjadi tanggungannya, dan keadaannya seperti kain yang diterbangkan angin lalu jatuh ke rumah seseorang.

ومما فرّعه الأصحاب أنَّ الزوج إذا انتفع بالصداق فإن قلنا إنه مضمون عليه ضمان اليد فيلزمه أجر المثل وعلى هذا القول لو لم يستعمله وطال مكثه في يده فالضمان يخرج على قولي الغصب ونفيه فإن أثبتنا ضمان الغصوب ضَمَّنّا الزوجَ المنافعَ كصنيعنا بالغاصب

Di antara cabang yang dijelaskan oleh para ulama adalah bahwa jika suami memanfaatkan mahar, maka jika kita berpendapat bahwa mahar itu menjadi tanggungannya dengan tanggungan yad (kepemilikan fisik), maka ia wajib membayar sewa yang sepadan. Berdasarkan pendapat ini, jika mahar tersebut tidak digunakan namun lama berada di tangannya, maka tanggung jawabnya mengikuti dua pendapat tentang ghashab (perampasan) dan penafianya. Jika kita menetapkan adanya tanggung jawab atas barang yang dighashab, maka kita juga mewajibkan suami untuk menanggung manfaatnya, sebagaimana yang kita lakukan terhadap pelaku ghashab.

وإن قلنا لا يضمن الزوج ضمان الغصوب فالمنافع التي تفوت من غير تفويته بمثابة الزوائد التي تحدث وتفوت

Jika kita mengatakan bahwa suami tidak menanggung ganti rugi seperti dalam kasus ghashab, maka manfaat-manfaat yang hilang tanpa perbuatannya dianggap seperti tambahan-tambahan yang muncul dan kemudian hilang.

وإن فرّعنا على أنَّ الصداق مضمون ضمان العقد فالمنافع التي تفوت لا تكون مضمونة على الزوج وكذلك ما يفوت من المنافع في يد البائع لا يكون مضموناً عليه وإن انتفع الزوج بالصداق على قولنا إنه مضمون ضمان العقد فهو كما لو انتفع البائع بالمبيع وإن اتفق ذلك ففي وجوب الأجر عليه جوابان مبنيان على أنَّ جناية البائع على المبيع بمنزلة آفة سماوية أو هي كجناية أجنبي وفيه قولان فإن جعلناها كالآفة لم يجب الأجر وإن جعلناها كالجناية وجب الأجر بسبب الاستعمال

Jika kita berpendapat bahwa mahar dijamin dengan jaminan akad, maka manfaat-manfaat yang hilang tidak menjadi tanggungan suami, demikian pula manfaat yang hilang di tangan penjual tidak menjadi tanggungannya. Dan jika suami memanfaatkan mahar menurut pendapat kita bahwa ia dijamin dengan jaminan akad, maka hal itu seperti halnya penjual memanfaatkan barang yang dijual. Jika hal itu terjadi, maka dalam kewajiban membayar upah atasnya terdapat dua jawaban yang dibangun di atas perbedaan pendapat apakah tindakan penjual terhadap barang yang dijual itu seperti bencana alam atau seperti tindakan orang lain (ajnabi) terhadap barang tersebut. Dalam hal ini terdapat dua pendapat: jika kita menganggapnya seperti bencana alam, maka tidak wajib membayar upah; namun jika kita menganggapnya seperti tindakan orang lain, maka wajib membayar upah karena pemanfaatan tersebut.

وهذا جوابنا في الزوج إذا قلنا ضمان الصداق ضمان العقود فهذا تأسيس القولين وبيانهما بالتفريع في عقد الباب

Inilah jawaban kami mengenai suami; jika kami mengatakan bahwa penjaminan mahar adalah penjaminan akad-akad, maka inilah dasar dari dua pendapat tersebut dan penjelasannya dengan perincian dalam pembahasan bab ini.

ومما أذكره وبه يحصل تمام البيان أنَّ الرجل إذا أصدق امرأته عبداً عيّنه فخرج مُسْتَحَقَّاً مغصوباً ففيما يجب مهراً قولان أحدهما أنَّ الواجب مهر المثل

Dan yang aku ingat, yang dengannya penjelasan menjadi sempurna, adalah bahwa jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istrinya berupa seorang budak yang telah ditentukan, lalu ternyata budak itu adalah milik orang lain atau dalam keadaan digasak, maka dalam hal apa yang wajib sebagai mahar terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa yang wajib adalah mahar mitsil (mahar sepadan).

والثاني أنَّ الواجب قيمة ذلك العبد المُصْدَقِ

Kedua, yang wajib adalah nilai dari budak yang dijadikan sebagai zakat.

وهذا الاختلاف متلقًى مما قدمناه من اختلاف القول في تلف الصداق

Perbedaan ini bersumber dari apa yang telah kami kemukakan sebelumnya mengenai perbedaan pendapat dalam hal hilangnya mahar.

وتحقيق القول فيه أنَّ الصداق إذا تلف وقلنا الواجب قيمته فقد أبقينا عقد الصداق كما أوضحنا فيما سبق وإن كانت العين فائتة فإذا استقل عقد الصداق دواما والعين فائتة نزولاً على قيمة العين وماليتها انعقد العقد على المالية ابتداءً وإن لم يعتمد عيناً مملوكة وآية ذلك وفيه السر الموعود في أنَّا نعتبر يوم الإصداق أنَّا نقدر أن العين لم تكن والإصداق ورد على القيمة والقيمة المسلَّمة هي الصداق على القول الذي نفرِّع عليه

Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa jika mahar hilang dan kita mengatakan bahwa yang wajib adalah nilainya, maka kita tetap mempertahankan akad mahar sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, meskipun barangnya telah tiada. Jika akad mahar tetap berlangsung secara terus-menerus sementara barangnya sudah tidak ada, maka berdasarkan pada nilai dan harga barang tersebut, akad itu dianggap sejak awal terjadi atas nilai barang, meskipun tidak didasarkan pada suatu barang tertentu yang dimiliki. Tanda dan rahasianya, sebagaimana telah dijanjikan, adalah bahwa kita mempertimbangkan pada hari penetapan mahar seolah-olah barang itu tidak ada dan penetapan mahar terjadi atas nilai barang, sehingga nilai yang diserahkan itulah yang menjadi mahar menurut pendapat yang kita jadikan dasar.

وإن حكمنا بأنَّ العقد ينفسخ بتلف الصداق فلا بقاء إذاً للعقد من غير ارتباطٍ بعين فلذلك يفسد الإصداقُ ابتداءً ويجب الرجوع إلى مهر المثل

Jika kita memutuskan bahwa akad batal karena mahar rusak atau hilang, maka tidak ada lagi keberlangsungan akad tanpa keterkaitan dengan suatu objek tertentu. Oleh karena itu, penetapan mahar sejak awal menjadi batal dan wajib kembali kepada mahar mitsil.

وكنت أود لو قصروا التلف على القولين كما مضى وقطعوا القول بأن الصداق إذا خرج مستحَقاً فالرجوع إلى مهر المثل فإنَّ صداق المغصوب فاسد من جهة أنه لا متعلق له وليس كما إذا ثبت الصداق ثم تلف فإنَّ التردد في الرجوع يُحمل على محاملَ ذكرناها

Saya berharap mereka membatasi perbedaan pendapat hanya pada dua pendapat sebagaimana telah disebutkan, dan menetapkan secara tegas bahwa apabila mahar yang diberikan ternyata merupakan hak orang lain, maka pengembaliannya adalah dengan mahar mitsil. Sebab, mahar yang dighasab itu batal karena tidak ada kaitannya, dan hal ini berbeda dengan kasus apabila mahar telah ditetapkan kemudian hilang, maka keraguan dalam pengembalian dapat diarahkan pada beberapa kemungkinan yang telah kami sebutkan.

ولكن أطبق الأصحاب على ما ذكرته من إجراء القولين في الابتداء والتصريح بأحدهما من التلف في الانتهاء

Namun, para ulama sepakat atas apa yang telah aku sebutkan, yaitu diberlakukannya dua pendapat dalam permulaan, dan dinyatakannya salah satu dari keduanya mengenai kerusakan di akhir.

وأنا أذكر الممكن وراء هذا فأقول النكاح لا يفسد بفساد الصداق كما لا ينفسخ بتلف الصداق فإذا فُرض في ابتداء النكاح تسمية متعلقة بمغصوب فقد اتفق العلماء على إثبات عوض والعين لم تثبت ولم يقصد المتعاقدان إثبات قيمة البضع وإنما جرّدوا قصدَهما إلى إثبات هذا العوض المسمّى فرجع حاصل الخلاف إلى أنَّ أحد القائلَيْن يقول إثبات بدل المسمى أقرب فإنهما رضيا به ماليةً وقدراً وعسر إثبات عينه ولو أثبتنا مهر المثل لكان إثباتَ ما لم يقصداه

Dan saya menyebutkan kemungkinan di balik hal ini, lalu saya katakan: pernikahan tidak batal karena rusaknya mahar, sebagaimana tidak batal karena mahar tersebut hilang. Jika pada awal akad nikah ditetapkan mahar yang terkait dengan barang yang digasak, para ulama sepakat untuk menetapkan pengganti, sementara barangnya sendiri tidak tetap, dan kedua pihak yang berakad tidak bermaksud menetapkan nilai kemaluan, melainkan mereka murni bermaksud menetapkan pengganti yang disebutkan itu. Maka inti dari perbedaan pendapat kembali pada bahwa salah satu pihak mengatakan penetapan pengganti dari yang disebutkan lebih dekat, karena keduanya telah rela dengan nilai dan kadarnya, dan sulit menetapkan barangnya. Jika kita menetapkan mahar mitsil, berarti kita menetapkan sesuatu yang tidak mereka maksudkan.

والقائل الثاني يقول نأخذ من تسميتهما قصدَ العوض وعدمَ الرضا بالتفويض ويفسد ما تعرضا له ونقول كأنَّ التسمية لم تكن واضطررنا إلى إثبات عوض وكان إثباتُ قيمة البضع أقربَ

Pendapat kedua mengatakan bahwa kita mengambil dari penamaan keduanya maksud adanya imbalan dan ketidaksediaan untuk menyerahkan sepenuhnya, sehingga apa yang mereka kemukakan menjadi batal. Kita katakan seolah-olah penamaan itu tidak pernah ada dan kita terpaksa menetapkan adanya imbalan, dan penetapan nilai bud‘ (bagian tubuh perempuan yang menjadi objek akad nikah) lebih mendekati.

وهذان القولان يجريان في الخُلع والمصالحة عن دم العمد فإنهما لا يفسدان بفساد العوض كالنكاح فإذا جرى ذكر عوض فاسد وامتنع إثباته ففي قولٍ يثبت بدل ذلك العوض ويُجعل ذكر العوض التزاماً وفي قولٍ يُرجع إلى قيمة المقصود إمَّا مهر المثل وإما الدية في المصالحة عن الدم

Kedua pendapat ini berlaku dalam kasus khulu‘ dan perdamaian atas darah pembunuhan sengaja, karena keduanya tidak batal akibat rusaknya ‘iwadh (tebusan), seperti halnya dalam pernikahan. Jika disebutkan ‘iwadh yang rusak dan tidak dapat ditetapkan, menurut satu pendapat, maka ditetapkan pengganti dari ‘iwadh tersebut dan penyebutan ‘iwadh dianggap sebagai suatu komitmen. Menurut pendapat lain, dikembalikan kepada nilai maksudnya, yaitu mahar mitsil dalam pernikahan atau diyat dalam perdamaian atas darah.

وكل ما ذكرناه فيه إذا عَيّنا عبداً فخرج مغصوباً فأما إذا خرج المعيّن حراً فقد أجمع الأئمة على تنزيل ذلك بمنزلة ما لو خرج عبداً مغصوباً وطردوا القولين فيما يجب أحدهما أنَّ الواجب مهر المثل والثاني أنَّ الواجب قيمة ذلك الشخص لو قُدّر رقيقاً

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya adalah jika yang ditentukan adalah seorang budak, lalu ternyata ia adalah budak yang digelapkan (maghshūb). Adapun jika yang ditentukan ternyata adalah orang merdeka, para imam telah berijma‘ bahwa hal itu diperlakukan seperti halnya jika yang keluar adalah budak yang digelapkan, dan mereka menurunkan dua pendapat mengenai apa yang wajib: salah satunya adalah bahwa yang wajib adalah mahar mitsil, dan yang kedua adalah bahwa yang wajib adalah nilai orang tersebut seandainya ia dianggap sebagai budak.

وهاهنا يجب أن يتثبّت الناظر

Di sini, seorang penelaah harus bersikap cermat.

قال الشيخ أبو بكر في مجموعه والقاضي في طريقته إنما نُجري القولين إذا لم تفسد العبارة فأما إذا فسدت فالرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً

Syekh Abu Bakar dalam kitab Majmū‘-nya dan al-Qāḍī dalam Ṭarīqah-nya mengatakan: Hanya saja dua pendapat itu dijalankan jika lafaz akad tidak rusak. Adapun jika lafaznya rusak, maka kembali kepada mahar mitsil menurut satu pendapat saja.

وبيان ذلك أنه لو قال أصدقتها هذا الحر فاللفظ فاسد والعقد لا ينعقد باللفظ الفاسد فالرجوع إلى مهر المثل وإنما محل القولين فيه إذا قال أصدقتكِ هذا العبد وهذا يُضعف القولين فيه إذا قال أصدقتكِ هذا العبد فإذا تبيّنا بالأَخَرَة أنَّ اللفظ فاسد إذا بان ذلك الشخص حراً ولا حكم للظنون بعد التبين وتسمية الحر عبداً فاسد ولم يَرِد العقد على عبد مرسل

Penjelasannya adalah bahwa jika seseorang berkata, “Aku menjadikan mahar untukmu orang merdeka ini,” maka lafaz tersebut rusak dan akad tidak sah dengan lafaz yang rusak, sehingga kembali kepada mahar mitsil. Adapun tempat adanya dua pendapat adalah jika ia berkata, “Aku menjadikan mahar untukmu budak ini.” Hal ini melemahkan kedua pendapat tersebut jika ia berkata, “Aku menjadikan mahar untukmu budak ini.” Maka, jika kemudian ternyata lafaz itu rusak karena ternyata orang tersebut adalah seorang yang merdeka, maka tidak ada ketentuan berdasarkan dugaan setelah jelas keadaannya, dan menyebut orang merdeka sebagai budak adalah rusak, serta akad tidak berlaku atas budak yang tidak jelas.

قال شيخي أبو محمد هذا له التفات على مخالفة اللفظ الإشارةَ في مثل قول القائل بعتك هذه الرَّمَكَة فإذا المشار إليه بقرة فإنَّ من أصحابنا من يغلِّب الإشارة ويُصحح البيع ومنهم من يغلّب العبارة ويفسدها فإذا قال أصدقتكِ هذا العبد فالعبارة صحيحة والمشار إليه فاسد غير صالح للعوضية

Guru saya, Abu Muhammad, berkata: Dalam hal ini terdapat perhatian terhadap pertentangan antara lafaz dan isyarat, seperti ucapan seseorang, “Aku menjual kepadamu kuda betina ini,” padahal yang ditunjuk adalah seekor sapi. Maka, di antara para ulama kami ada yang lebih menguatkan isyarat dan menganggap jual belinya sah, dan ada pula yang lebih menguatkan lafaz dan membatalkannya. Jika seseorang berkata, “Aku menikahkanmu dengan budak ini,” maka lafaznya sah, namun yang ditunjuk tidak sah dan tidak layak menjadi mahar.

وهذا الذي ذكره لا يشفي الغليل وذلك أنَّ المشار إليه إذا فسد فيجب تنزيل العبارة على حكم الفساد والخلاف الذي ذكره فيه إذا اقتضت الإشارة تصحيحاً لو فرض الاقتصار عليها والعبارة تخالف الإشارة فمن الأصحاب من يُحبِط العبارة ويغلِّب الإشارة

Apa yang disebutkannya itu tidak memuaskan dahaga penjelasan, karena jika yang ditunjuk itu rusak, maka harus menurunkan makna ungkapan pada hukum kerusakan tersebut. Adapun perbedaan pendapat yang disebutkannya terjadi jika isyarat mengandung makna sah seandainya hanya isyarat saja yang digunakan, sedangkan ungkapan bertentangan dengan isyarat. Di antara para sahabat (ulama mazhab) ada yang membatalkan ungkapan dan menguatkan isyarat.

وحاصل ما ذكره الأصحاب بعد ما ذكرناه من وجوه الإشكال أنه لو قال أصدقتكِ هذا الحر فالرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً

Kesimpulan dari apa yang disebutkan para ulama setelah penjelasan kami tentang berbagai sisi permasalahan adalah bahwa jika seseorang berkata, “Aku menjadikan mahar bagimu seorang laki-laki merdeka ini,” maka kembali kepada mahar mitsil adalah pendapat yang disepakati.

وإذا قال أصدقتكِ هذا العبدَ وهو حر فقولان هذا منتهى الإمكان

Jika seseorang berkata, “Aku menjadikan mahar untukmu budak ini,” padahal ia adalah orang merdeka, maka ada dua pendapat; inilah batas maksimal kemungkinan yang ada.

ولو قال أصدقتك هذا العصير فتبين أنه خمر أو قال أصدقتك هذه النعجة فإذا هي خنزير فقد اضطرب طرق الأئمة فالذي قطع به شيخي وطائفة من الأصحاب أنَّا نحكم بالرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً من غير تفصيل ولا ننظر إلى العبارة ما اشتملت عليه وذلك لأنَّ الخنزير لا يقبل التقويم وكذلك الخمر فلو قوّمناهما لاستحال ولو قدرناهما نعجة وعصيراً كان هذا تقريراً لتقدير الصفة الخِلْقية وليس كالرق نقدره في الحر فإنه حكم والتقدير أن يحتمل تقدير الحكم فأما أن يبنى على تغيير الخلق فهذا لا سبيل إليه فصار تعذر التقويم في الخمر والخنزير بمثابة تعذر التقويم في المجهول ولا خلاف أنَّ من أصدق امرأته مجهولاً فالرجوع إلى مهر المثل

Jika seseorang berkata, “Aku menikahkanmu dengan mahar berupa air perasan ini,” lalu ternyata itu adalah khamar (minuman keras), atau berkata, “Aku menikahkanmu dengan mahar berupa domba ini,” lalu ternyata itu adalah babi, maka pendapat para imam berbeda-beda. Namun, pendapat yang dipastikan oleh guruku dan sekelompok sahabat adalah bahwa kita kembali kepada mahar mitsil (mahar sepadan) secara mutlak tanpa perincian dan tanpa memperhatikan ungkapan yang digunakan. Hal ini karena babi tidak dapat dinilai harganya, demikian pula khamar. Jika kita menilainya, itu mustahil. Jika kita menganggapnya sebagai domba dan air perasan, maka itu hanya sekadar penetapan sifat fisik, dan ini tidak seperti budak yang kita perkirakan nilainya pada orang merdeka, karena itu adalah hukum, dan penetapan hukum memungkinkan adanya penilaian hukum. Adapun jika didasarkan pada perubahan ciptaan, maka itu tidak mungkin dilakukan. Maka, ketidakmungkinan penilaian harga pada khamar dan babi sama dengan ketidakmungkinan penilaian harga pada sesuatu yang tidak diketahui. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang menikahkan istrinya dengan mahar yang tidak diketahui, maka kembali kepada mahar mitsil.

وذهب القاضي والصيدلاني إلى إجراء القولين في الخمر والخنزير ثم بنى هؤلاء مسلكهم على العبارة فقالوا إذا قال أصدقتكِ العصير وهو من ذوات الأمثال فخرج خمراً ففي قولٍ نوجب مهر المثل وفي قولٍ نوجب مثل العصير

Qadhi dan Ash-Shaydalani berpendapat bahwa ada dua pendapat dalam masalah khamar dan babi, kemudian mereka membangun pendapat mereka berdasarkan lafaz. Mereka berkata: Jika seseorang berkata, “Aku menikahkanmu dengan mahar berupa jus anggur,” padahal jus anggur termasuk barang yang memiliki padanan, lalu jus itu berubah menjadi khamar, maka menurut satu pendapat kami mewajibkan mahar mitsil, dan menurut pendapat lain kami mewajibkan mahar berupa jus anggur.

وإن قال أصدقتكِ هذه الخمر فاللفظ فاسد على رأيهم والرجوع إلى مهر المثل وعند ذلك تتفق الطرق

Jika seseorang berkata, “Aku menikahkanmu dengan mahar berupa khamr,” maka lafal tersebut dianggap rusak menurut pendapat mereka, dan kembali kepada mahar mitsil. Dalam hal ini, seluruh pendapat menjadi sepakat.

ولست أدري ما يقوله هؤلاء فيه إذا قال أصدقتكِ هذا واللفظ لا فساد فيه ولم يجر فيه ما نعتمده في تقويمِ أو اعتبارِ مِثْلٍ والخمرة لا تتقوم فيظهر هاهنا أن ذلك ينزّل منزلة قوله أصدقتكِ هذا الخمر فإنا لو لم نقل به لم يمكننا أن نعتبر الخمر بالعصير ولو فعلنا توجَّه أن نعتبرها خلاً ولا ضبط

Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh mereka tentang hal ini jika seseorang berkata, “Aku menjadikan ini sebagai mahar untukmu,” sementara lafalnya tidak mengandung kerusakan dan tidak terjadi sesuatu yang biasa kami jadikan dasar dalam penilaian atau pertimbangan kesetaraan, sedangkan khamr tidak dapat dinilai. Maka tampak di sini bahwa hal itu disamakan dengan ucapannya, “Aku menjadikan khamr ini sebagai mahar untukmu.” Sebab, jika kita tidak mengatakan demikian, maka kita tidak dapat mempertimbangkan khamr dengan ‘ashir (minuman anggur), dan jika kita melakukannya, maka bisa jadi kita akan mempertimbangkannya dengan khall (cuka), dan tidak ada batasan yang jelas.

ويبعد أن تُعتبر قيمتها عند من يرى لها قيمة كما صار إليه بعض الأصحاب في أنكحة أهل الذمة إذا اتصلت بالإسلام وقد جرى القبض في بعض الخمور المجعولة صداقاً

Dan kecil kemungkinan untuk dianggap sah nilainya menurut pandangan orang yang menganggapnya bernilai, sebagaimana pendapat sebagian ulama mazhab dalam pernikahan ahli dzimmah apabila berlanjut hingga masuk Islam, dan telah terjadi penyerahan pada sebagian khamar yang dijadikan sebagai mahar.

وكل ذلك خبطٌ في هذا المقام والوجهُ القطع بالرجوع إلى مهر المثل في تسمية الخمر وفي الإشارة المطلقة وليس كالإشارة المطلقة إلى الحر فإنّه قد يتجه تنزيلها منزلة قوله أصدقتكِ هذا العبد فإنَّ تقويم الحر ممكن على حال

Semua itu merupakan kekeliruan dalam masalah ini, dan yang benar adalah memastikan kembali kepada mahar mitsil dalam penamaan khamr maupun dalam isyarat mutlak. Hal ini tidak sama dengan isyarat mutlak kepada seorang hamba merdeka, karena bisa diarahkan untuk disamakan dengan ucapan, “Aku menjadikan mahar untukmu hamba ini,” sebab penilaian terhadap orang merdeka masih mungkin dilakukan dalam keadaan tertentu.

ومن لطيف ما يجب التعرض له أنه إذا قال أصدقتكِ هذا العصير فإذا الخمرُ مشوبةٌ بالماء فنعتبر عصيراً على قدرها والجملة أنَّا نقدر تلك الشدة حلاوة إذ لو لم نفعل هذا فالعصير مجهول نص على ما ذكرتُه الصيدلاني

Salah satu hal menarik yang perlu dibahas adalah apabila seseorang berkata, “Aku menjadikan mahar untukmu cairan ini,” lalu ternyata khamar tersebut tercampur dengan air, maka kita memperhitungkan cairan sebanyak kadar campurannya. Secara umum, kita menganggap kekuatan (khamar) itu sebagai rasa manis; sebab jika tidak demikian, maka cairan tersebut menjadi tidak jelas. Hal ini telah ditegaskan oleh as-Saidalani sebagaimana yang telah aku sebutkan.

وعلى هذا قد لا يكون العصير من ذوات الأمثال فالرجوع إلى القيمة

Dengan demikian, bisa jadi jus tersebut bukan termasuk barang yang memiliki padanan, sehingga yang dijadikan acuan adalah nilai (harga).

ووراء هذا غائلة وهي أنه إن انقدح في الخمر والعصير ما ذكرناه فما وجهه في الشاة والخنزير وأنه شاةٌ ترعى وكيف التقريب بين الشاة والخنزير فإن فُهِم إبدال الشدة بالحلاوة في الخمر وتقدير العصير فكيف السبيل في الشاة والخنزير وهذا وضَّح أنَّ الوجه القطع بأنَّ الرجَوع إلى مهر المثل

Di balik ini terdapat bahaya, yaitu jika telah jelas pada khamar dan jus apa yang telah kami sebutkan, maka bagaimana halnya pada kambing dan babi, dan bahwa itu adalah kambing yang sedang merumput? Bagaimana mendekatkan (analogi) antara kambing dan babi? Jika dapat dipahami adanya penggantian sifat keras dengan manis pada khamar dan penetapan jus, maka bagaimana caranya pada kambing dan babi? Hal ini menjelaskan bahwa pendapat yang tepat adalah kembali kepada mahar mitsil (mahar sepadan).

فهذا منتهى ما أردنا أن نذكره في حقيقة القولين في أنَّ الصداق مضمون بالعقد أو باليد

Inilah akhir dari apa yang ingin kami sampaikan mengenai hakikat dua pendapat tentang apakah mahar menjadi tanggungan karena akad atau karena kepemilikan.

ورجع حاصل الكلام في الفوات الطارىء والفساد المقترن أنَّ التقويم إن أمكن فقولان أحدهما أنَّ الرجوع إلى مهر المثل

Kesimpulan pembahasan mengenai batalnya akad yang terjadi secara tiba-tiba dan kerusakan yang menyertainya adalah bahwa jika memungkinkan dilakukan penilaian (taqwīm), maka terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa pengembaliannya kepada mahar mitsil.

والثاني أنَّ الرجوع إلى القيمة والحر مما يمكن تقدير تقويمه والمجهول لا يمكن تقويمه فإذا اضطررنا إلى إثبات عوض فلا طريق إلاَّ الرجوع إلى مهر المثل

Kedua, kembali kepada nilai dan orang merdeka hanya berlaku pada sesuatu yang dapat ditaksir nilainya, sedangkan yang tidak diketahui tidak dapat ditaksir. Maka jika kita terpaksa harus menetapkan kompensasi, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada mahar mitsil.

وإن فرّعنا على أنَّ الصداق مضمون باليد ففي الخمر والخنزير التردد الذي حكيناه

Jika kita mengambil pendapat bahwa mahar menjadi tanggungan dengan sebab penyerahan (barang), maka dalam kasus khamar dan babi terdapat keraguan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ولا خلاف أنَّ الشقص إذا أُثبت صداقاً فالشفيع لا يأخذه بقيمته وإن رجعنا في التفاصيل التي ذكرناها إلى قيمة الصداق فإنَّ الشفيع أبداً يأخذ بعوض مقدر في مقابلة الشقص فبابه ينفصل عما نحن فيه وهو بيِّن عند التأمل

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika suatu bagian (syuqṣ) dijadikan sebagai mahar, maka syafī‘ tidak mengambilnya dengan nilainya. Meskipun dalam rincian yang telah kami sebutkan kita kembali kepada nilai mahar, namun syafī‘ selalu mengambil dengan imbalan yang telah ditentukan sebagai ganti dari bagian tersebut. Maka, permasalahannya berbeda dengan apa yang sedang kita bahas, dan hal ini jelas jika diperhatikan dengan saksama.

فصل

Bab

إذا تمهّد ما ذكرناه في تمهيد القولين جاز بعده أن نذكر ما يلحق الصداقَ في يد الزوج من ضروب التغايير فنذكر تقاسيمَ جامعةً ونوضح في كل قسم ما يليق به إن شاء الله عز وجل فنقول

Jika apa yang telah kami sebutkan dalam penjelasan dua pendapat telah dipahami, maka setelah itu boleh bagi kami untuk menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan mahar yang berada di tangan suami dari berbagai macam perubahan. Maka kami akan menyebutkan pembagian-pembagian yang mencakup semuanya dan menjelaskan pada setiap bagian apa yang sesuai dengannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

الصداق لا يخلو إما أن يبقى على صفته حتى يسلِّمه إليها أو يطرأ مُغيِّرٌ فإن بقي على هيئته حتى سلمه إليها فقد تخلص عن العهدة وإن تغير لم يخل إمَّا أن يتغير مع بقاء العين أو يتغير بالتلف

Mahar tidak lepas dari dua keadaan: bisa tetap dalam kondisinya sampai diserahkan kepadanya, atau terjadi perubahan. Jika tetap dalam keadaannya hingga diserahkan kepadanya, maka ia telah terbebas dari tanggungan. Namun jika berubah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: berubah sementara bendanya masih ada, atau berubah karena rusak/hilang.

فإن تغيّر مع بقاء العين لم يخل إمَّا أن تغير بالزيادة أو تغير بالنقصان فإن تغير بالزيادة فالصداق مع الزيادة مسلمة إليها سواء كانت متصلة أو منفصلة

Jika terjadi perubahan dengan tetapnya benda (barang) tersebut, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: perubahan itu terjadi dengan penambahan atau dengan pengurangan. Jika berubah dengan penambahan, maka mahar beserta tambahan tersebut menjadi hak istri, baik tambahan itu bersifat menyatu maupun terpisah.

وإن كان التغير بالنقصان فلا يخلو إما أن يتغير بنقصان جزء أو نقصان صفة فإن تغير بنقصان صفة فلا يخلو إمَّا أن ينتقص بآفة سماوية أو جناية فإن انتقص بآفة سماوية فعمِيَ أو عوِرَ أو سقطت إحدى يديه أو هُزِل وكان سميناً فهذا يتفرع على القولين في أنَّ الصداق مضمون بالعقد أم باليد فإن قلنا إنه مضمون بالعقد فلها الخيار بين الإجازة والفسخ فإن فسخت رجعت بمهر المثل كالمبيع يتعيّب في يد البائع فإنه يرده المشتري إن شاء ويسترد الثمن وإن أجازت رجعت بالصداق معيباً ولم ترجع بشيء كالمشتري يرضى بالعيب الحادث بالمبيع

Jika perubahan itu berupa pengurangan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: perubahan karena berkurangnya bagian atau berkurangnya sifat. Jika berubah karena berkurangnya sifat, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: berkurang karena cacat yang berasal dari alam (bencana) atau karena perbuatan (penganiayaan). Jika berkurang karena cacat yang berasal dari alam, seperti menjadi buta, atau rabun, atau salah satu tangannya terputus, atau menjadi kurus padahal sebelumnya gemuk, maka hal ini bercabang pada dua pendapat tentang apakah mahar itu menjadi tanggungan sejak akad atau sejak penyerahan. Jika kita katakan bahwa mahar menjadi tanggungan sejak akad, maka istri berhak memilih antara melanjutkan atau membatalkan akad. Jika ia membatalkan, maka ia berhak mendapatkan mahar mitsil, seperti halnya barang jualan yang cacat saat masih di tangan penjual; pembeli boleh mengembalikannya jika mau dan mengambil kembali uangnya. Jika ia menerima, maka ia mendapatkan mahar dalam keadaan cacat dan tidak berhak menuntut apa pun, seperti pembeli yang rela dengan cacat yang terjadi pada barang yang dibeli.

وإن قلنا هو مضمون باليد فيثبت الخيار للمرأة أيضا فإن فسخت رجعت بالقيمة وإن اختارت أَخْذ الصداق كان لها أن تغرّمه أرش العيب فإنَّ التفريع على أنَّ الصداق مضمون باليد وما كان مضموناً باليد فعيبه مضمون على صاحب اليد

Jika kita mengatakan bahwa mahar itu dijamin dengan tangan (tanggung jawab), maka hak khiyar juga tetap bagi perempuan. Jika ia membatalkan, ia berhak mengambil kembali nilai (mahar tersebut). Jika ia memilih untuk mengambil mahar itu, ia berhak menuntut ganti rugi atas cacatnya. Karena penjelasan ini didasarkan pada bahwa mahar itu dijamin dengan tangan, dan setiap sesuatu yang dijamin dengan tangan, maka cacatnya juga menjadi tanggungan pemegangnya.

ومما يتصل بهذا المنتهى أنَّ المرأة إذا اطلعت على عيب قديم وقلنا إنه مضمون باليد فإن فسخت رجعت إلى القيمة والاعتبار بقيمة العين وهي سالمة إذ هذا فائدة الفسخ

Terkait dengan batasan ini, apabila seorang perempuan mengetahui adanya cacat lama dan kita berpendapat bahwa cacat tersebut menjadi tanggungan pihak yang memegang (barang), maka jika ia membatalkan (akad), ia berhak kembali kepada nilai (barang) dan yang menjadi acuan adalah nilai barang tersebut ketika masih utuh, karena inilah manfaat dari pembatalan (akad).

فإن قيل هلاّ قلتم إنها إذا ردت الصداق بالعيب كان الرجوع إلى مهر المثل وإن فرعنا على ضمان اليد فإنَّ التعويل في ضمان اليد على أنَّ عقد الصداق قائم لا يرتفع بتلف المهر والرد يتضمن الفسخ على كل حال فكان يجب أن يقال إذا فسخت فرجوعها إلى مهر المثل

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa ketika istri mengembalikan mahar karena cacat, maka kembali kepada mahar mitsil? Dan jika kita membangun pendapat berdasarkan tanggungan tangan (ḍamān al-yad), maka sandaran dalam tanggungan tangan adalah bahwa akad mahar tetap berlaku dan tidak batal dengan hilangnya mahar, sedangkan pengembalian (mahar) mengandung pembatalan akad dalam segala keadaan. Maka seharusnya dikatakan bahwa jika ia membatalkan (akad), maka kembalinya kepada mahar mitsil.”

قلنا هذا وهم وغلط فإنا إذا أجرينا القولين في خروج المسمى مغصوباً وحراً مع العلم بأن الحرية والاستحقاق يخلفان المعيّن عن الإصداق فالرد آخراً لا يزيد على اقتران الاستحقاق والحرية بالعقد أوّلاً هذا إذا فسخت بالعيب القديم

Kami katakan bahwa ini adalah kekeliruan dan kesalahan, karena jika kami menerapkan dua pendapat mengenai keluarnya barang yang disebutkan dalam akad dalam keadaan tergadai dan merdeka, dengan pengetahuan bahwa kemerdekaan dan hak kepemilikan menggantikan barang tertentu dalam pelaksanaan akad, maka pengembalian di akhir tidak lebih dari sekadar bergabungnya hak kepemilikan dan kemerdekaan dengan akad sejak awal—ini jika pembatalan dilakukan karena cacat lama.

فأمَّا إذا أجازت فالمسألة محتملة في أنها هل ترجع بأرش العيب والتفريع على قول القيمة وقد تردد جواب القاضي فيه حتى لم ينقل عنه جواب باتٌّ وسبب الاحتمال أنا إذا جعلنا الإصداق مضموناً باليد فَيَدُ الزوج لم تثبت إلا على معيب من وقت الإصداق فتغريمه الأرش وقد قنِعت المرأة بالعين لا معنى له والأوجه في العقد أن تملك تغريمه فإنها رضيت بالعين أولاً على تقدير السلامة فكأنها استحقتها بالعقد فإن تخلفت كان ذلك كتخلف الرق عند بُدوّ الحرية في الشخص المسمى

Adapun jika ia merelakan (barang yang cacat tersebut), maka permasalahannya masih diperselisihkan, apakah ia berhak menuntut kompensasi atas cacat (arasy al-‘ayb) atau tidak, dan ini didasarkan pada pendapat tentang penilaian harga (qawl al-qīmah). Jawaban al-Qadhi pun masih ragu-ragu dalam hal ini, sehingga tidak dinukil darinya jawaban yang tegas. Sebab keraguannya adalah, jika kita menganggap mahar (ṣidāq) menjadi tanggungan dengan penyerahan (al-yad), maka tangan suami tidak memegang kecuali barang yang cacat sejak akad mahar, sehingga membebankan kompensasi cacat (arasy) kepadanya, padahal perempuan telah rela dengan barang tersebut, menjadi tidak bermakna. Pendapat yang lebih kuat dalam akad adalah bahwa ia (perempuan) berhak menuntut kompensasi, karena ia rela dengan barang tersebut pada awalnya dengan syarat barang itu selamat (tidak cacat), sehingga seakan-akan ia berhak atasnya karena akad. Jika ternyata syarat itu tidak terpenuhi, maka hal itu seperti kegagalan status budak ketika ternyata orang yang disebutkan itu adalah orang merdeka.

وكل ما ذكرناه فيه إذا انتقص الصداق بآفة سماوية

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila mahar berkurang karena musibah dari langit.

فأما إذا انتقص بجناية جانٍ فلا يخلو إمَّا أن ينتقص بجنايتها أو جناية غيرها

Adapun jika berkurang karena tindak pidana seseorang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah berkurang karena tindak pidananya sendiri atau karena tindak pidana orang lain.

فإن انتقص بجنايتها يسلِّم الزوجُ العينَ ناقصةً إليها وكانت بالجناية في تقدير القابضة لما نقص بالجناية

Jika terjadi pengurangan akibat jinayah (kerusakan) yang dilakukan, maka suami menyerahkan barang tersebut dalam keadaan kurang (cacat) kepada istri, dan dalam hal jinayah, penilaian kekurangan akibat jinayah itu berdasarkan taksiran pihak yang menerima (istri).

وإن انتقص بجناية غيرها فلا يخلو إمَّا أن ينتقص بجناية أجنبي أو بجناية الزوج

Jika kekurangan itu disebabkan oleh jinayah selainnya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah kekurangan itu disebabkan oleh jinayah orang lain (ajnabi) atau oleh jinayah suami.

فإن انتقص بجناية أجنبي فلها الخيار على القولين فإن أجازت وقلنا الصداق مضمون بالعقد رجعت بالأرش على الأجنبي فإنه جنى عليها ولا طَلِبة لها على الزوج وإن قلنا الصداق مضمون باليد وقد أجازت فهي بالخيار يعد الإجازة بين أن ترجع بالأرش على الأجنبي وبين أن ترجع به على الزوج وذلك أنَّ الصداق مضمون على الزوج ضمانَ اليد ثم إن غرمت الأجنبي فلا رجوع له على أحد وإن غرمت الزوج رجع بما يغرَمه على الجاني الأجنبي هذا إذا اختارت المرأة الإجازة وقدمنا الحكم على القولين فيه

Jika terjadi pengurangan (mahar) karena tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain, maka perempuan memiliki hak memilih menurut dua pendapat. Jika ia merelakan dan kita berpendapat bahwa mahar dijamin karena akad, maka ia dapat menuntut ganti rugi (arasy) kepada pelaku, karena pelaku telah berbuat jahat terhadapnya, dan ia tidak memiliki tuntutan terhadap suaminya. Namun jika kita berpendapat bahwa mahar dijamin karena kepemilikan (tangan), dan ia telah merelakan, maka setelah merelakan ia berhak memilih antara menuntut ganti rugi kepada pelaku atau kepada suaminya. Hal ini karena mahar dijamin atas suami dengan jaminan kepemilikan (jaminan tangan). Jika ia menuntut pelaku dan pelaku telah membayar, maka tidak ada tuntutan lagi kepada siapa pun. Namun jika ia menuntut suami dan suami telah membayar, maka suami berhak menuntut kembali kepada pelaku. Ini berlaku jika perempuan memilih untuk merelakan, dan kami telah menjelaskan hukum menurut dua pendapat di dalamnya.

فأمَّا إذا فسخت فإن قلنا إنه مضمون بالعقد رجعت بمهر المثل فحسب وردّت العبد ثم الزوج يرجع على الأجنبي بأرش الجناية

Adapun jika akad dibatalkan, maka jika kita mengatakan bahwa ia menjadi tanggungan karena akad, perempuan hanya berhak mendapatkan mahar mitsil dan mengembalikan budak tersebut, kemudian suami menuntut orang lain (yang menyebabkan cacat) untuk membayar ganti rugi atas luka/cacat yang terjadi.

وإن قلنا الصداق مضمون باليد فإذا فسخت رجعت على الزوج بالقيمة مع تقدير السلامة عن هذا العيب ثم يَتْبع الزوجُ الجانيَ بالأرش

Jika kita mengatakan bahwa mahar menjadi tanggungan dengan adanya penyerahan, maka apabila terjadi pembatalan, istri berhak menuntut kepada suami sejumlah nilai mahar dengan memperkirakan seandainya mahar itu selamat dari cacat ini, kemudian suami dapat menuntut pelaku cacat tersebut untuk membayar ganti rugi (arsh).

وإن انتقص الصداق بجناية الزوج فإن قلنا الصداق مضمون باليد فلها الخيار فإن أجازت أخذت العين ورجعت بالأرش وإن فسخت رجعت بالقيمة مع تقدير السلامة وإن قلنا الصداق مضمون بالعقد وقد جنى الزوج فهذا ينبني على أنَّ جناية البائع على المبيع يُنزَّل منزلة الآفة السماوية أو يُنَزَّل منزلة جناية الأجنبي وفيه قولان فإن قلنا حكمه حكم الانتقاص بالآفة السماوية فقد ذكرنا حكم ذلك وإن قلنا حكمه حكم الانتقاص بجناية الأجنبي فقد ذكرنا حكم ذلك أيضاً وكل ذلك فيه إذا كان التغيير بنقصان الصفة

Jika mahar berkurang karena tindakan melukai dari suami, maka jika kita berpendapat bahwa mahar itu dijamin karena berada dalam kekuasaan (tangan), maka istri memiliki hak memilih: jika ia menerima, ia mengambil barangnya dan menuntut ganti rugi (arasy); jika ia membatalkan, ia berhak atas nilai barang tersebut dengan memperkirakan keadaannya saat masih utuh. Namun jika kita berpendapat bahwa mahar dijamin karena akad, lalu suami melukainya, maka hal ini bergantung pada apakah tindakan melukai dari penjual terhadap barang yang dijual diperlakukan seperti bencana alam atau seperti tindakan melukai dari pihak ketiga, dan dalam hal ini ada dua pendapat. Jika kita berpendapat bahwa hukumnya sama dengan pengurangan karena bencana alam, maka telah disebutkan hukumnya. Jika kita berpendapat bahwa hukumnya sama dengan pengurangan karena tindakan melukai dari pihak ketiga, maka telah disebutkan juga hukumnya. Semua itu berlaku jika perubahan terjadi karena berkurangnya sifat (barang).

فأما إذا نقص جزءٌ من الصداق وذلك بأن يصدقها عبدين فيموت أحدهما أو قفيزين فتلف أحدهما فهذا يلتحق بفروع تفريق الصفقة وتخريجه على قواعد التفريق هيِّن وظاهر المذهب أنَّ العقد لا ينفسخ في القائم وينفسخ في التالف والظاهر أنها إن أجازت العقد في القائم أجازته بحصته من الصداق ولا يخفى التفريع على الآخر

Adapun jika sebagian dari mahar berkurang, misalnya seseorang menikahi seorang wanita dengan mahar dua budak lalu salah satunya meninggal, atau dengan dua takar gandum lalu salah satunya rusak, maka hal ini termasuk dalam cabang-cabang pembahasan tentang pemisahan akad, dan penerapannya menurut kaidah-kaidah pemisahan akad adalah mudah. Menurut pendapat yang masyhur, akad tidak batal pada bagian yang masih ada dan batal pada bagian yang telah rusak. Tampaknya, jika wanita tersebut menerima akad pada bagian yang masih ada, maka ia menerimanya sesuai dengan bagian mahar yang tersisa. Tidak tersembunyi pula cabang-cabang hukum yang berkaitan dengan hal ini.

فإن قلنا إنه مضمون بالعقد رجعت بحصة التالف من مهر المثل وإن قلنا مضمون باليد رجعت بقيمة التالف

Jika kita mengatakan bahwa ia dijamin karena akad, maka ia kembali dengan bagian yang rusak dari mahar mitsil; dan jika kita mengatakan dijamin karena kepemilikan (tangan), maka ia kembali dengan nilai barang yang rusak.

وقد أفضت بنا التقاسيم بعد نجاز القول في التغايير إلى الكلام في تلف الصداق في يد الزوج فنقول إن تلف بآفة سماوية فالقولان مشهوران وهما أُمُّ الباب وإن تلف الصداق بإتلاف مُتلِف فلا يخلو إمَّا أنْ يكون المتلِفُ هو المرأةُ أو غيرُها

Pembagian-pembagian yang telah kami lakukan setelah selesai membahas perubahan-perubahan membawa kita pada pembahasan tentang hilangnya mahar di tangan suami. Maka kami katakan, jika mahar itu hilang karena musibah alam, terdapat dua pendapat yang masyhur, dan keduanya merupakan pokok permasalahan. Jika mahar itu hilang karena dirusak oleh seseorang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: pelaku perusakan itu adalah istri sendiri atau orang lain.

فإن كانت هي المتلفة جعلناها قابضة للصداق وخرج الزوج عن العهدة

Jika pihak istri yang merusaknya, maka ia dianggap telah menerima mahar dan suami terbebas dari tanggungan.

وإن كان المتلف غيرَها لم يخل إمَّا أنْ يكون أجنبياً أو يتلفه الزوج فإن كان المتلف أجنبياَّ وفرّعنا على أنَّ الصداق مضمون بالعقد فالمرأة بالخيار فإن فسخت رجعت على الزوج بمهر المثل ثم الزوج يَتْبع المتلفَ بالقيمة وإن أجازت اتّبعت المتلفَ بالقيمة ولا طلبةَ لها على الزوج

Jika yang merusak bukan selainnya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi orang lain (asing) atau suaminya sendiri yang merusaknya. Jika yang merusak adalah orang lain dan kita berpendapat bahwa mahar menjadi tanggungan sejak akad, maka perempuan memiliki hak memilih: jika ia membatalkan, ia berhak menuntut suami dengan mahar mitsil, lalu suami menuntut orang yang merusak dengan nilai barang tersebut; namun jika ia merelakan, maka ia menuntut orang yang merusak dengan nilai barang tersebut dan ia tidak memiliki hak tuntutan apa pun kepada suami.

وإن قلنا الصداق مضمون باليد فإن فسخت رجعت على الزوج بالقيمة ثم الزوج يتبع المتلِف بها وإن أجازت فلها الخيار بين أن ترجع على الأجنبي المتلف بالقيمة وبين أن ترجع على الزوج ثم يرجع على المتلف بما يغرم

Jika kita mengatakan bahwa mahar dijamin dengan tangan (tanggungan), maka jika terjadi pembatalan, istri kembali menuntut suami dengan nilai (mahar tersebut), kemudian suami menuntut pelaku perusakan dengan nilai itu. Namun jika istri merelakan, maka ia memiliki pilihan antara menuntut pihak lain yang merusak dengan nilai (mahar), atau menuntut suami, lalu suami menuntut pelaku perusakan atas apa yang ia bayarkan.

وإن كان المتلف هو الزوج وقلنا الصداق مضمون بالعقد فهذا يبتني على القولين في إتلاف البائع فإن جعلناه كالتلف بآفة سماوية رجعت بمهر المثل وإن قلنا هو كإتلاف الأجنبي فقد سبق حكمه فإن فسخت رجعت بمهر المثل وإن أجازت رجعت بالقيمة

Jika yang merusak adalah suami dan kita berpendapat bahwa mahar menjadi tanggungan dengan akad, maka hal ini kembali kepada dua pendapat dalam kasus perusakan oleh penjual. Jika kita menganggapnya seperti kerusakan karena bencana alam, maka istri berhak mendapatkan mahar mitsil. Namun jika kita menganggapnya seperti perusakan oleh pihak asing, maka hukumnya telah dijelaskan sebelumnya: jika istri membatalkan akad, ia berhak atas mahar mitsil, dan jika ia merelakan, ia berhak atas nilai (barang yang rusak).

وإن قلنا الصداق مضمون باليد فهذا يتفرع على أنه على أي وجه يضمن فإن قلنا إنه يضمن ضمان الغصوب فلا فائدة لها في الفسخ بل لا معنى للفسخ فإنها كيف فرضت الأمر تُغَرِّم زوجها أقصى القيم وإن قلنا إنه يضمن باعتبار يوم الإصداق فإن كانت قيمة يوم الإصداق أكثر فلا فائدة في الفسخ أيضاً ولها قيمة ذلك اليوم إذا قلنا إتلاف البائع كالتلف بآفة سماوية

Dan jika kita mengatakan bahwa mahar dijamin dengan kepemilikan, maka hal ini bercabang pada bagaimana bentuk penjaminannya. Jika kita mengatakan bahwa ia dijamin dengan jaminan seperti barang yang dig usur (ghashb), maka tidak ada manfaatnya bagi istri dalam pembatalan (fasakh), bahkan tidak ada makna pembatalan, karena bagaimanapun keadaannya, ia membebankan kepada suaminya nilai tertinggi. Dan jika kita mengatakan bahwa ia dijamin berdasarkan nilai pada hari akad mahar (ishdaq), maka jika nilai pada hari akad lebih tinggi, tidak ada manfaat juga dalam pembatalan, dan ia berhak atas nilai pada hari itu jika kita mengatakan bahwa kerusakan yang dilakukan penjual sama seperti kerusakan karena bencana alam.

وإن قلنا إتلافه كإتلاف الأجنبي فلو لم تفسخ فليس لها إلا قيمته عند الإتلاف وإن فسخت غرّمت الزوجَ قيمةَ يوم الإصداق

Dan jika kita katakan bahwa perusakannya seperti perusakan oleh orang lain, maka jika ia (istri) tidak membatalkan (akad), maka ia hanya berhak atas nilainya pada saat perusakan. Namun jika ia membatalkan, maka ia membebankan kepada suami nilai pada hari penyerahan mahar.

وإن كانت القيمةُ يومَ الإصداقِ أقل وقلنا جناية البائع كالتلف بالآفة السماوية فلا فائدة في الفسخ فإنه ليس لها إلاَّ قيمة يوم الإصداق فإن جعلنا التلف بجناية البائع كالمتلَف بجناية الأجنبي فلسنا نرى لها أيضاً فائدة في الفسخ فإنها إن لم تفسخ غرَّمته قيمةَ يوم الإتلاف وهي أكثر وإن فسخت رجعت إلى قيمة يوم الإصداق وهي أقل فلا ينبغي أن نُثبت لها الفسخ إذ لا غرض فيه إلاَّ التنقيص والحط وليس كما لو اطلع المشتري على عيب المبيع وكانت قيمته أكثر من الثمن مع العيب فإنَّا نثبت حق الرد لاختلاف جنس الثمن والمبيع المعيب فقد يكون له غرض في رد المعيب فهذا ما رأيناه في ذلك

Jika nilai barang pada hari akad nikah lebih rendah, dan kita berpendapat bahwa kerusakan yang disebabkan oleh penjual sama dengan kerusakan karena bencana alam, maka tidak ada manfaat dalam pembatalan akad, karena perempuan hanya berhak atas nilai barang pada hari akad nikah. Namun, jika kita menganggap kerusakan akibat perbuatan penjual sama dengan kerusakan akibat perbuatan orang lain, maka kami juga tidak melihat adanya manfaat dalam pembatalan akad. Sebab, jika ia tidak membatalkan akad, penjual wajib mengganti nilai barang pada hari kerusakan, yang nilainya lebih tinggi. Namun jika ia membatalkan akad, ia hanya mendapatkan nilai barang pada hari akad nikah, yang nilainya lebih rendah. Maka, tidak sepatutnya kami menetapkan hak pembatalan akad baginya, karena tidak ada tujuan di dalamnya selain mengurangi dan menurunkan nilai. Hal ini berbeda dengan kasus ketika pembeli menemukan cacat pada barang yang dibeli, dan nilai barang tersebut lebih tinggi daripada harga dengan adanya cacat, maka kami menetapkan hak pengembalian barang karena perbedaan jenis antara harga dan barang yang cacat, sehingga mungkin ada tujuan bagi pembeli untuk mengembalikan barang cacat tersebut. Inilah yang kami pandang dalam masalah ini.

ومما يتعلق بتمام البيان في هذه الفصول أنَّ المرأة إذا طلبت الصداق فامتنع الزوج من تسليمه إليها حتى تلف فالامتناع ظلم منه وعدوان فإذا حصل التلف في يد عادية فينبغي أن نجعل ذلك كحصول التلف بإتلافه ونقول البائع لو منع المبيع فتلف في يده بعد ما وجب عليه تسليمُ المبيع فهو كما لو أتلفه فنذكر حكم المهر إذا فرض بعد العدوان بالامتناع ونفرّع هذا على القولين في أنَّ الصداق مضمون بالعقد أم باليد فإن جعلناه مضموناً بالعقد فلها الخيار فإن فسخت رجعت بمهر المثل وإن أجازت فبالقيمة إذا جعلنا إتلاف الزوج كإتلاف الأجنبي

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam bab-bab ini adalah bahwa apabila seorang wanita menuntut mahar dan suami menolak untuk menyerahkannya hingga mahar tersebut rusak, maka penolakan itu merupakan kezaliman dan tindakan melampaui batas dari pihak suami. Jika kerusakan terjadi di tangan pihak yang berbuat aniaya, maka seharusnya kita menganggap hal itu seperti kerusakan yang disebabkan oleh perusakan langsung olehnya. Kita katakan, penjual jika menahan barang yang dijual lalu barang itu rusak di tangannya setelah ia wajib menyerahkannya, maka hukumnya seperti jika ia sendiri yang merusaknya. Maka kita sebutkan hukum mahar jika terjadi setelah tindakan aniaya berupa penolakan, dan kita rincikan hal ini berdasarkan dua pendapat: apakah mahar itu menjadi tanggungan karena akad atau karena penguasaan tangan. Jika kita menganggapnya menjadi tanggungan karena akad, maka wanita berhak memilih; jika ia membatalkan, ia berhak mendapatkan mahar mitsil (sepadan), dan jika ia menerima, maka berdasarkan nilai (harga) mahar tersebut, jika kita menganggap perusakan oleh suami sama dengan perusakan oleh orang lain.

فإن جعلنا إتلافه كالتلَف بآفة سماوية فلا حاجة إلى الفسخ فإنَّ الصداق ينفسخ ولها مهر المثل

Jika kita menganggap kerusakan itu seperti kerusakan akibat bencana alam, maka tidak perlu dilakukan pembatalan, karena mahar menjadi batal dan ia berhak mendapatkan mahar mitsil.

وإن قلنا الصداق مضمون باليد وفرعنا على أنه يُضمن ضمان الغصوب فلا فائدة لترديد النظر في الفسخ والإجازة ولها طلب أقصى القيم

Dan jika kita mengatakan bahwa mahar dijamin dengan tangan dan kita menganggapnya sebagai cabang dari jaminan barang yang digusur (ghashb), maka tidak ada manfaatnya mempertimbangkan antara pembatalan (fasakh) dan pengesahan (ijazah), dan perempuan berhak menuntut nilai tertinggi.

وإن قلنا الصداق مضمون بقيمة يوم الإصداق وكانت قيمة يوم الإصداق أكثر فلا فائدة أيضاً ولها قيمة يوم الإصداق وإن كانت أقل ضمن أيضاً أكثر الأمرين من قيمة يوم الإصداق ومن قيمته من يوم المنع إلى يوم التلف لأنه متعدٍّ بالمنع فيضمن ضمان الغصب بعد المنع

Jika kita mengatakan bahwa mahar dijamin dengan nilai pada hari penetapan mahar, dan nilai pada hari penetapan mahar lebih tinggi, maka tidak ada manfaat juga, dan ia berhak mendapatkan nilai pada hari penetapan mahar. Namun jika nilainya lebih rendah, maka ia juga wajib menjamin yang lebih besar di antara dua hal: nilai pada hari penetapan mahar atau nilainya dari hari pencegahan hingga hari kerusakan, karena ia telah melampaui batas dengan melakukan pencegahan, sehingga ia wajib menanggung seperti tanggungan ghashab setelah pencegahan.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الصداق عيناً فأما إذا كان الصداق دَيناً فالذي يليق بهذا القسم الكلامُ في جواز الاستبدال فإن فرّعنا على أنَّ الصداق مضمون باليد كان كالقرض فإذا كان ديناً وقيمة المتلف فيجوز الاستبدال عنه قولاً واحداً فإنا إذا كنا نجعل العين المُصْدَقَة مضمونة باليد غير مضمونة بالعقد فنجعل الدين بمثابة ما يثبت لا على سبيل العوض

Semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika mahar berupa barang. Adapun jika mahar berupa utang, maka yang sesuai untuk bagian ini adalah pembahasan tentang kebolehan penggantian. Jika kami berpendapat bahwa mahar dijamin dengan penyerahan, maka hukumnya seperti pinjaman. Jika mahar berupa utang dan nilai barang yang rusak, maka boleh menggantinya menurut satu pendapat, karena jika kami menganggap barang mahar dijamin dengan penyerahan, bukan dijamin dengan akad, maka kami menganggap utang itu seperti sesuatu yang tetap bukan sebagai ganti rugi.

وإن حكمنا بأنَّ الصداق مضمون بالعقد ومنعنا بيعه قبل القبض عيناً فإذا كان ديناً كان كالثمن لا كالمسلَم فيه وقد ذكرنا اختلاف قول الشافعي في جواز الاستبدال عن الأثمان

Jika kita menetapkan bahwa mahar menjadi tanggungan dengan akad dan melarang penjualannya sebelum diterima secara tunai, maka apabila mahar itu berupa utang, hukumnya seperti harga (jual beli) dan bukan seperti muslam fīh (barang salam). Telah kami sebutkan perbedaan pendapat Imam Syafi’i mengenai kebolehan mengganti harga-harga tersebut.

وقد نجز الغرض من تقاسيم الفصل ونحن الآية نعقد فصلاً فيه إذا طلَّق الزوجُ زوجته قبل المسيس وبعده ونذكر حكم تشطر الصداق وما يلحقه من التشاطير في يده أو يدها

Tujuan dari pembagian bab ini telah tercapai, dan sekarang kami akan membuat satu bab khusus tentang apabila suami menceraikan istrinya sebelum atau sesudah terjadi hubungan suami istri, serta membahas hukum pembagian mahar dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembagian tersebut, baik mahar itu masih di tangan suami maupun di tangan istri.

فصل

Bab

إذا طلّق زوجته قبل الدخول فقد استقر لها ملك الصداق فإن كانت قَبَضَتْهُ على ما استحقته فلا كلام وإن كان في يد الزوج فعليه تسليمه فإن لحقه في يده تغيّر فقد تقدم القول فيه مستقصًى

Jika seorang suami menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka hak milik mahar telah tetap menjadi milik istri. Jika ia telah menerima mahar tersebut sesuai dengan haknya, maka tidak ada masalah. Namun jika mahar itu masih berada di tangan suami, maka suami wajib menyerahkannya. Jika mahar tersebut mengalami perubahan saat masih di tangan suami, maka penjelasan tentang hal ini telah disebutkan secara rinci sebelumnya.

وإن طلّقها قبل المسيس فلا يخلو الصداق إما أن يكون عيناً أو ديناً فإن كان عيناً فالمذهب الأصح أن نفس الطلاق يُشطِّر الصداق ويتضمن ارتداد نصفه إلى ملك الزوج سواء اختار ذلك أو لم يختره

Jika suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka mahar tidak lepas dari dua kemungkinan: berupa barang atau berupa utang. Jika berupa barang, maka pendapat mazhab yang paling sahih adalah bahwa perceraian itu sendiri membagi dua mahar, dan setengahnya kembali menjadi milik suami, baik suami memilihnya atau tidak.

وفي المسألة وجه مشهور بأنه لا يرجع النصف إلى الزوج ما لم يختر تملكه فإذا اختاره رجع إليه إذ ذاك

Dalam masalah ini terdapat pendapat yang masyhur bahwa setengah bagian tidak kembali kepada suami kecuali jika ia memilih untuk memilikinya; maka apabila ia memilihnya, barulah setengah bagian itu kembali kepadanya pada saat itu.

ووجه الوجه الأوّل ظاهرُ قوله تعالى فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ وهذا حكم من الله تعالى لا تعلُّقَ له بقصدِ الزوجِ واختيارهِ وأيضاً فإنَّ موجِب رجوع ما يرجع انبتاتُ النكاح قبل استيفاء المقصود حتى قيل بقاء النصف عليها غير منقاس وهذا المعنى يوجب حصول التشطر من غير قصد كالفسوخ التي تتضمن ارتداد جميع الصداق

Dasar pendapat pertama adalah jelas dari firman Allah Ta‘ala: “maka setengah dari mahar yang telah kalian tetapkan,” dan ini adalah hukum dari Allah Ta‘ala yang tidak berkaitan dengan niat atau pilihan suami. Selain itu, sebab kembalinya sesuatu yang kembali adalah terputusnya akad nikah sebelum tujuan (pernikahan) terpenuhi, sehingga dikatakan bahwa tetapnya setengah mahar atas istri tidak dapat diqiyās-kan. Makna ini mengharuskan terjadinya pembagian setengah tanpa adanya niat, seperti pembatalan-pembatalan yang menyebabkan seluruh mahar kembali.

ومن نصرَ الوجه الضعيف احتج بأنَّ الطلاق ليس فسخاً للنكاح ولكنه تصرفٌ فيه غير أن الشرع أثبت له مستدركاً في مقدارٍ من الصداق فليتعلق ذلك باختياره

Dan siapa yang mendukung pendapat lemah beralasan bahwa talak bukanlah pembatalan akad nikah, melainkan suatu tindakan di dalamnya, hanya saja syariat menetapkan adanya hak untuk menuntut kembali sebagian dari mahar, maka hal itu hendaknya dikaitkan dengan pilihannya.

التفريع على الوجهين

Pencabangan pada dua pendapat

إن حكمنا بأنَّ الصداق يتشطر بنفس الطلاق من غير إحداث سبب آخر فلو حدثت زيادة بعد الطلاق فهي متشطرة بين الزوج والزوجة لأنها حدثت على المِلكين وإن قضينا بأنَّ رجوع الشطر يتوقف على اختيار التملك فالزيادة الحادثة بعد الطلاق وقبل اختيار التملك خالصةٌ للزوجة والمعنيّ بالزيادة ما ينفصل

Jika kita memutuskan bahwa mahar terbagi dua secara otomatis karena perceraian tanpa adanya sebab lain, maka jika terjadi penambahan setelah perceraian, penambahan itu juga terbagi antara suami dan istri karena penambahan tersebut terjadi atas dua kepemilikan. Namun, jika kita memutuskan bahwa kembalinya setengah mahar bergantung pada pilihan untuk memiliki, maka penambahan yang terjadi setelah perceraian dan sebelum adanya pilihan untuk memiliki, sepenuhnya menjadi milik istri. Yang dimaksud dengan penambahan di sini adalah sesuatu yang terpisah.

ولو حدث بين الطلاق وبين اختيار التملك نقصانٌ راجع إلى الصفة نُظر فإن كان الصداق في يده فلا إشكال ولا تفريع وإن كان في يدها تفرع على الوجهين فإن قلنا الملك في الشطر لا يرجع إلى الزوج قبل اختيار التملك فما حدث من عيب بعد الطلاق وقبل الاختيار فهو بمثابة ما يحدث من العيب قبل الطلاق فإذا جرى ذلك في يدها فللزوج التخيُّر بهذا السبب كما سنصفه على الاتصال بهذا إن شاء الله تعالى

Jika terjadi kekurangan yang berkaitan dengan sifat antara terjadinya talak dan sebelum istri memilih untuk memiliki (mahar), maka perlu diperhatikan: jika mahar masih di tangan suami, maka tidak ada masalah dan tidak ada rincian lebih lanjut. Namun, jika mahar sudah di tangan istri, maka perinciannya mengikuti dua pendapat. Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan atas setengah mahar tidak kembali kepada suami sebelum istri memilih untuk memilikinya, maka cacat yang terjadi setelah talak dan sebelum pemilihan itu hukumnya sama dengan cacat yang terjadi sebelum talak. Jika cacat itu terjadi ketika mahar ada di tangan istri, maka suami berhak memilih (antara menerima atau menolak) karena sebab tersebut, sebagaimana akan kami jelaskan setelah ini, insya Allah Ta‘ala.

وإن حكمنا بأنَّ الملك بنفس الطلاق يتشطر فإذا كان الصداق في يدها فالذي ذهب إليه المحققون من أئمة المراوزة أن النصف الراجع إلى الزوج أمانة في يدها ولا يلحقها بسبب ما يطرأ من العيب بعد الطلاق من غير عدوانها عهدة وضمان

Jika kita menetapkan bahwa kepemilikan terbelah dengan terjadinya talak, maka apabila mahar masih berada di tangannya, para ulama terkemuka dari kalangan mazhab Marwazi berpendapat bahwa setengah mahar yang kembali kepada suami adalah titipan (amanah) di tangannya, dan ia tidak menanggung tanggungan atau jaminan atas kerusakan yang terjadi setelah talak tanpa adanya tindakan melampaui batas (kerusakan bukan karena kesalahannya).

ولو تلف الصداق في يدها بعد الطلاق ولم تنتسب إلى الاعتداء لم تضمن النصفَ الراجع إلى زوجها

Jika mahar itu rusak di tangannya setelah terjadi talak dan tidak dinisbatkan kepada tindakan melampaui batas, maka ia tidak wajib menanggung setengah mahar yang kembali kepada suaminya.

هذا ما ذكره القاضي والصيدلاني وجماعة المراوزة

Inilah yang disebutkan oleh al-Qadhi, ash-Shaydalani, dan sekelompok ulama Marw.

وقطع العراقيون قولهم بأنَّ النصف الراجع إلى الزوج مضمون عليها في يدها فلو تلف ضمنته من غير تقصير

Para ulama Irak memutuskan bahwa separuh bagian yang kembali kepada suami menjadi tanggungan istri selama masih berada di tangannya. Maka jika bagian itu rusak, ia wajib menggantinya selama tidak ada unsur kelalaian.

وشبهوا هذا النصف في يدها بما لو باع عبداًً بجارية ثم رُدت الجارية بالعيب ولزم رد العبد فما لم يرده على صاحبه يكون مضموناً عليه حتى لو تلف العبد في يده ضمنه فهذا مسلكهم وهو مخالف لطريق المراوزة وقد فرقوا بين النصف الراجع إلى الزوج وبين المسألة التي استشهد بها العراقيون من بيع الجارية بالعبد فقالوا العبد عوض الجارية المردودة فإذا رُدَّت فمن حكم المعاوضة إثبات الضمان في العوض حتى يُردَّ والنصف من الصداق لا يرتد في مقابلة عوض فإنَّ النكاح لا ينفسخ بالطلاق فالمسألة محتملة جداً فإنَّ رجوع نصف الصداق في مقابلة انقلاب منفعة البضع إليها من غير استيفاء ولولا هذا لكان يجب ألاَّ يرتد من الصداق شيء

Mereka mengibaratkan separuh mahar yang ada di tangan istri ini seperti seseorang yang menjual seorang budak laki-laki dengan seorang budak perempuan, kemudian budak perempuan tersebut dikembalikan karena cacat dan wajib mengembalikan budak laki-laki. Maka selama budak laki-laki itu belum dikembalikan kepada pemiliknya, ia tetap menjadi tanggung jawab pihak yang menerima, sehingga jika budak laki-laki itu rusak di tangannya, ia wajib menggantinya. Inilah pendapat mereka, namun berbeda dengan pendapat ulama Marw. Mereka membedakan antara separuh mahar yang kembali kepada suami dengan kasus yang dijadikan contoh oleh ulama Irak tentang jual beli budak perempuan dengan budak laki-laki. Mereka mengatakan bahwa budak laki-laki adalah pengganti dari budak perempuan yang dikembalikan, sehingga jika budak perempuan dikembalikan, maka berdasarkan hukum pertukaran, jaminan atas pengganti tetap berlaku sampai dikembalikan. Adapun separuh mahar tidak kembali sebagai pengganti sesuatu, karena akad nikah tidak batal dengan perceraian. Maka permasalahan ini sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat, sebab kembalinya separuh mahar itu sebagai konsekuensi beralihnya manfaat hubungan suami istri kepada istri tanpa adanya pemenuhan hak secara penuh. Kalau bukan karena hal ini, seharusnya tidak ada bagian mahar yang kembali sama sekali.

ولو كانت قبضت الصداق ثم فسخ الزوج النكاح بسببٍ يتضمن استرداد جميع الصداق فالذي يقتضيه قياس الطرق كلها أنَّ الصداق يكون مضموناً عليها حتى تردّه فإنه في هذا المقام يرتد ارتداد الأعواض في الفسوخ

Jika istri telah menerima mahar, kemudian suami membatalkan pernikahan karena sebab yang mengharuskan pengembalian seluruh mahar, maka menurut qiyās dari seluruh metode, mahar tersebut tetap menjadi tanggung jawab istri hingga ia mengembalikannya. Sebab, dalam keadaan ini, mahar kembali seperti kembalinya ganti rugi pada pembatalan akad.

وإذا ارتد الزوج قبل المسيس وحكمنا بأنَّ ردته بمنزلة الطلاق في تشطير الصداق فالعراقيون إذا ضمّنوها نصف الصداق عند الطلاق فلا شك أنهم يطردون مذهبهم في هذه الصورة

Jika suami murtad sebelum terjadi hubungan intim dan kami memutuskan bahwa kemurtadannya diposisikan seperti talak dalam hal pembagian mahar menjadi setengah, maka menurut para ulama Irak, jika mereka mewajibkan setengah mahar dalam kasus talak, tidak diragukan lagi bahwa mereka akan menerapkan pendapat mereka tersebut dalam kasus ini.

والذي يقتضيه قياس المراوزة أنَّ نصف الصداق لا يكون مضموناً على المرأة قياساً على نصفه وقد طُلِّقت قبل المسيس ولا نظر إلى الانفساخ فإنَّ الصداق في ذمة الزوج لا يرتد ارتداد الأعواض في الفسوخ إذ لو كان يرتد ارتدادها لارتد جميع الصداق

Menurut qiyās mazhab Marwazah, setengah mahar tidak menjadi tanggungan istri, sebagaimana setengah mahar yang menjadi hak istri ketika ia dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri. Tidak perlu memperhatikan pembatalan akad, karena mahar tetap menjadi tanggungan suami dan tidak kembali seperti kembalinya ‘iwadh (pengganti) dalam kasus pembatalan akad. Sebab, jika mahar itu kembali seperti kembalinya ‘iwadh, maka seluruh mahar akan kembali.

ومما يتعلق ببيان الوجهين أنَّا إن جعلنا الطلاق بنفسه مشطِّراً فلا خِيَرة

Dan berkaitan dengan penjelasan dua sisi tersebut, jika kita menganggap talak itu sendiri sebagai sesuatu yang membagi, maka tidak ada pilihan.

ولو قال الزوج طلقتك على أنَّ جميع الصداق متروك عليكِ فلا حكم للفظهِ وإن أراد ترك الصداق فليهب منها النصفَ المرتد إليه وإن حكمنا بأنَّ الارتداد يتوقف على اختيار التملك فسبيل اختيارِهِ كسبيل الرجوع في الهبة وسيأتي شرح ما يكون رجوعاً فيها إن شاء الله تعالى

Jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan syarat seluruh mahar menjadi tanggunganmu,” maka ucapan tersebut tidak memiliki ketetapan hukum. Jika ia bermaksud untuk meninggalkan mahar, hendaknya ia menghibahkan kepadanya setengah mahar yang kembali kepadanya. Jika kita memutuskan bahwa pengembalian (mahar) bergantung pada pilihan untuk memilikinya, maka cara memilihnya sama seperti cara rujuk dalam hibah, dan penjelasan tentang apa yang dianggap sebagai rujuk dalam hibah akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.

والذي ترددت فيه مرامز كلام الأئمة أنَّ المرأة بعد الطلاق هل تملك التصرف في النصف الذي يستحق الزوج تملكه قبل أن يختار التملك يجوز أن يُقال تملك التصرف فيه ملكَ المتهب أو كما تملك قبل الطلاق التصرفَ في جميع الصداق مع قدرة الزوج على أن يطلقها متى شاء وهذا هو القياس

Apa yang menjadi perbincangan dalam pernyataan para imam adalah apakah seorang wanita setelah perceraian berhak melakukan tindakan atas separuh mahar yang berhak dimiliki suami sebelum suami memilih untuk memilikinya. Boleh dikatakan bahwa ia berhak melakukan tindakan atas bagian tersebut seperti hak orang yang menerima hibah, atau sebagaimana sebelum perceraian ia berhak melakukan tindakan atas seluruh mahar sementara suami masih mampu menceraikannya kapan saja ia mau. Inilah yang sesuai dengan qiyās.

ويجوز أن يُقال لا تتصرف بخلاف المتهب فإنَّ الهبة معقودة للإفضاء إلى تمليك التصرف

Dan boleh dikatakan: “Janganlah engkau berbuat sesuatu yang bertentangan dengan orang yang menerima hibah, karena hibah itu diadakan untuk mengantarkan kepada kepemilikan hak bertindak (atas barang yang dihibahkan).”

وكذلك القول فيما قبل الطلاق إذا طلقها الزوج فالطلاق سبب متجدد يقتضي التسلط على تشطير الصداق فينبغي أنْ نُلْحقها بالملك في زمان الخيار

Demikian pula halnya dengan apa yang terjadi sebelum talak; jika suami menceraikan istrinya, maka talak merupakan sebab baru yang mengharuskan adanya hak untuk membagi mahar, sehingga seharusnya hal ini disamakan dengan kepemilikan pada masa khiyar.

ثم على هذا يطول النظر في العتق والبيع وما يقبل التعليق وما لا يقبله وقد مضى تفصيل ذلك في أول كتاب البيع والظاهر تنزيلها على اشتراط اختيار التملك منزلةَ المتهب ومنزلةَ المرأة قبل الطلاق حتى تتسلط على التصرف

Kemudian, berdasarkan hal ini, perlu penelaahan lebih lanjut mengenai masalah pembebasan budak, jual beli, apa saja yang dapat menerima ta‘liq (penangguhan) dan apa yang tidak dapat menerimanya. Rinciannya telah dijelaskan pada awal Kitab al-Bay‘ (Kitab Jual Beli). Tampaknya, hal ini dapat diposisikan seperti mensyaratkan hak memilih kepemilikan, sebagaimana kedudukan orang yang menerima hibah dan kedudukan seorang wanita sebelum talak, sehingga ia memiliki kekuasaan untuk melakukan tasharruf (tindakan hukum).

ولا حاصل لقول من يقول المتهب إذا تصرف في العين بإزالة الملك عنها لم يغرمْ للواهب شيئاً إذا رجع والمرأة إذا أتلفت الصداق قبل اختيار التملك ثم اختار الزوج الرجوع إلى نصف الصداق فإنه يرجع عليها بشطر القيمة وذلك أنَّ هذا المعنى يتحقق قبل الطلاق ثم تصرفها نافذ وإن كانت لو أخرجت العين رجع الزوج عليها بنصف قيمتها إذا طلقها

Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang menerima hibah, jika ia melakukan tindakan terhadap barang hibah dengan menghilangkan kepemilikan atasnya, maka ia tidak wajib mengganti apa pun kepada pemberi hibah jika pemberi hibah menarik kembali hibahnya; dan bahwa seorang wanita, jika ia merusak mahar sebelum memilih untuk memilikinya lalu suaminya memilih untuk kembali kepada setengah mahar, maka suami berhak menuntut setengah nilai barang tersebut darinya. Hal ini karena makna tersebut juga berlaku sebelum terjadi talak, dan tindakan wanita tersebut tetap sah, meskipun jika ia mengeluarkan barang tersebut, suami tetap berhak menuntut setengah nilainya jika ia menceraikannya.

ومن تمام القول في ذلك أن الزوج إذا طلق قبل المسيس ولم يصادف عين الصداق والتفريع على اختيار التمليك فهذا فيه عُسر في هذه الحالة ولكن وجهه أن يثبت له اختيار الرجوع إلى شطر الصداق فإذا اختاره رجع عليها بنصف القيمة ولا عود بعد ذلك إلى هذا الوجه الضعيف والتفريع على أنَّ الطلاق بنفسه يشطّر الصداق

Dan sebagai pelengkap penjelasan dalam hal ini, apabila suami menceraikan sebelum terjadi hubungan intim dan belum menerima barang mahar secara langsung, serta berdasarkan pendapat yang memilih hak kepemilikan, maka dalam keadaan ini terdapat kesulitan. Namun, maksudnya adalah suami berhak memilih untuk kembali kepada setengah mahar. Jika ia memilihnya, maka ia berhak menuntut setengah nilai mahar tersebut, dan setelah itu tidak boleh kembali lagi kepada pendapat yang lemah ini, serta berdasarkan bahwa talak itu sendiri membagi dua mahar.

وقد ذكر الشافعي في فصول السواد لفظةً أشكلت على المراوزة فنذكرها ونذكر ما قيل فيها

Imam Syafi‘i telah menyebutkan dalam bab-bab tentang “as-sawād” suatu lafaz yang membingungkan para ulama Marw, maka kami akan menyebutkannya dan menyebutkan apa yang telah dikatakan mengenai hal itu.

قال وهذا كله ما لم يقضِ له القاضي بنصفه فتكون ضامنةً لما أصابه في يدها إلخ فتقييد الشافعي الكلام بقضاء القاضي لا يليق بظاهر المذهب فإنَّا أوضحنا أنَّ الظاهر تشطير الصداق بنفس الطلاق

Ia berkata, “Semua ini berlaku selama hakim belum memutuskan setengahnya untuknya, maka ia (istri) bertanggung jawab atas apa yang telah diterimanya di tangannya, dan seterusnya. Maka pembatasan perkataan asy-Syafi‘i dengan keputusan hakim tidaklah sesuai dengan zahir mazhab, karena kami telah menjelaskan bahwa yang zahir adalah pembagian mahar menjadi dua bagian dengan terjadinya talak itu sendiri.”

فقال الأئمة معنى قوله هذا كله ما لم يقض له القاضي أي لم يدخل وقت يقضي القاضي فيه بارتداد شطر الصداق إلى الزوج وكأن المراد أنَّ ذلك إذا لم يطلق الزوج فإذا طلق فقد حان وقت القضاء للزوج بنصف الصداق إذا التمس ذلك من القاضي

Para imam berkata bahwa maksud dari perkataan ini semuanya adalah selama hakim belum memutuskan untuk mengembalikan setengah mahar kepada suami, yakni belum tiba waktu di mana hakim memutuskan bahwa setengah mahar kembali kepada suami. Seakan-akan yang dimaksud adalah hal itu berlaku jika suami belum menceraikan. Jika suami menceraikan, maka telah tiba waktunya hakim memutuskan bagi suami untuk mendapatkan setengah mahar jika ia memintanya dari hakim.

وقد ذكر شيخي في دروسه أنَّ من أصحابنا من قال يتوقف تشطّر الصداق على قضاء القاضي وكان لا يحكي اختيار التملك كما ذكره الأصحاب بل كان يذكر المذهب الظاهر في التشطر ثم يقول مِن أصحابنا من قال لا يتشطر حتى يقضي القاضي بالتماس الزوج

Guru saya menyebutkan dalam pelajarannya bahwa sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa pembagian setengah mahar tergantung pada keputusan hakim, dan beliau tidak menyebutkan pendapat memilih kepemilikan sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, melainkan beliau menyebutkan mazhab yang jelas dalam pembagian setengah, kemudian beliau berkata bahwa di antara ulama kami ada yang berpendapat bahwa mahar tidak dibagi dua kecuali setelah hakim memutuskan atas permintaan suami.

وهذا وإن كان يعتضد بظاهر النص فهو وهمٌ وغلطٌ لا شك فيه ولا يليقُ بمذهب الشافعي ألبتة

Meskipun hal ini didukung oleh zahir nash, namun itu adalah kekeliruan dan kesalahan yang tidak diragukan lagi, dan sama sekali tidak sesuai dengan mazhab Syafi‘i.

ومما أشكل على المراوزة من هذا اللفظ أنَّ الشافعي قال فتكون حينئذ ضامنة وهذا تصريح بأنَّ النصف الراجع إلى الزوج مضمون عليها في يدها وهذا يطابق مذهب العراقيين وقد ذكر المراوزة فيه تأويلاً مستكرهاً وقالوا هذا مفروض فيه إذا امتنعت من رد الشطر مع طلب الزوج فتصير متعدية

Salah satu hal yang membingungkan para ulama Marw dari ungkapan ini adalah bahwa asy-Syafi‘i berkata, “Maka pada saat itu ia menjadi penanggung,” dan ini adalah pernyataan tegas bahwa separuh yang kembali kepada suami menjadi tanggung jawabnya selama masih di tangannya. Hal ini sesuai dengan mazhab ulama Irak. Para ulama Marw menyebutkan takwil yang dipaksakan dalam hal ini dan mereka berkata, “Ini diasumsikan terjadi jika ia menolak mengembalikan separuh bagian itu padahal suami telah memintanya, sehingga ia menjadi orang yang melampaui batas.”

وهذا التأويل فيه بعد والممكن في التوجيه أنَّ الشافعي ذكر قضاء القاضي تحقيقاً للامتناع وتصويراً لمسيس الحاجة إلى الرفع إلى الحكام فإذ ذاك ذَكر الضمان وهذا يَقْوَى مع مصير الأصحاب إلى أنَّ قضاء القاضي لا أثر له فحصل بالحمل على ما ذكرناه من الامتناع صرفُ قضاء القاضي إلى الحاجة عند تقدير الحاجة

Takwil ini mengandung kelemahan, dan penjelasan yang mungkin adalah bahwa asy-Syafi‘i menyebutkan keputusan hakim sebagai bentuk penegasan atas larangan dan gambaran adanya kebutuhan mendesak untuk mengajukan perkara kepada para hakim. Maka pada saat itulah ia menyebutkan adanya kewajiban ganti rugi (dhamān). Hal ini menjadi kuat dengan pendapat para sahabat (ulama mazhab) bahwa keputusan hakim tidak berpengaruh. Maka dengan penafsiran sebagaimana yang kami sebutkan tentang larangan, keputusan hakim diarahkan pada kondisi adanya kebutuhan, jika memang kebutuhan itu terjadi.

فإذا تبين ذلك عدنا بعده إلى التفريع على ظاهر المذهب وهو أن الطلاق يُشطّر بنفسه فنقول الصداق لا يخلو إما أن يكون عيناً أو ديناً فإن كان عيناً فلا يخلو إما أن يكون قد تغير أو لم يتغير فإن لم يتغير فلا إشكال أنَّ الشطر راجع إلى الزوج وإن كان قد تغير فلا يخلو إمَّا أن تغير بالزيادة أو بالنقصان أو بما هو نقصان من وجه وزيادة من وجه

Jika hal itu telah jelas, maka setelahnya kita kembali kepada perincian menurut zahir mazhab, yaitu bahwa talak membagi dua dengan sendirinya. Maka kami katakan, mahar tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa berupa barang atau berupa utang. Jika berupa barang, maka tidak lepas dari dua keadaan: apakah barang itu telah berubah atau belum. Jika belum berubah, maka tidak ada masalah bahwa setengahnya kembali kepada suami. Namun jika telah berubah, maka tidak lepas dari tiga kemungkinan: berubah dengan bertambah, berkurang, atau berubah dengan sesuatu yang dari satu sisi merupakan kekurangan dan dari sisi lain merupakan kelebihan.

فإن تغير بالزيادة فالزيادة لا تخلو إمَّا أن تكون متصلة أو منفصلة فإن كانت منفصلة فهي خالصة لها إذا حصلت قبل الطلاق ويرجع الزوج في نصف العين سواء حصلت في يده أو يدها

Jika perubahan itu berupa penambahan, maka penambahan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi penambahan itu bersambung atau terpisah. Jika penambahan itu terpisah, maka penambahan itu sepenuhnya menjadi miliknya apabila terjadi sebelum talak, dan suami berhak kembali pada separuh benda pokok, baik benda itu berada di tangannya maupun di tangan istrinya.

وإن كانت الزيادة متصلة فالمرأة بالخيار بين أن تسمح بالزيادة على الزوج وإذا هي سمحت رجع الزوج في نصف العين زائداً وليس له أن يكلفها القيمة ذاهباً إلى الامتناع من قبول مِنّتهَا فإنَّ الزيادة المتصلة ليست مما يُفرد بمنْحه وهي تجري على أقضية التبعية

Jika tambahan itu bersifat melekat, maka perempuan memiliki pilihan antara mengizinkan tambahan tersebut kepada suami, dan jika ia mengizinkan, suami berhak mengambil kembali setengah dari barang itu beserta tambahannya. Namun, suami tidak berhak memaksanya untuk membayar nilai barang tersebut dengan alasan menolak menerima pemberian darinya, karena tambahan yang melekat bukanlah sesuatu yang dapat diberikan secara terpisah, dan hal itu mengikuti ketentuan hukum tentang hal-hal yang bersifat turunan.

ويتصل بهذا المكان أنها إذا رضيت كفى رضاها ولا حاجة إلى قبولٍ من جهة الزوج ولابد من تصريحها بالرضا ولا حاجة إلى منحةٍ وهبة في تلك الزيادة

Terkait dengan hal ini, apabila istri telah ridha, maka keridhaannya sudah cukup dan tidak diperlukan adanya penerimaan dari pihak suami. Harus ada pernyataan secara jelas dari istri mengenai keridhaannya, dan tidak diperlukan adanya pemberian atau hibah dalam tambahan tersebut.

وإن لم ترضَ رَدَّ نصفِ العين زائداً استمسكت بها وللزوج نصفُ قيمة العين وهاهنا نبحث عن وقت القيمة

Jika ia tidak rela mengembalikan setengah barang secara utuh, maka ia tetap memegang barang tersebut dan suami berhak atas setengah nilai barang itu. Di sini, kita membahas tentang waktu penetapan nilai.

قال الأئمة نعتبر أقل قيمة من يوم الإصداق إلى يوم التسليم إلى المرأة ولا نعتبر زيادة إن كانت بين الإصداق وبين التسليم ولا نعتبر زيادة بعد التسليم واعتل الأصحاب بأنَّ قيمة وقت الإصداق إن كانت أقل فما فرض من زيادة فهو في ملكها وحقها فلا تؤاخذ به وإن فرض نقصان القيمة بعد الإصداق وقبل التسليم فهذا من ضمان الزوج فلا تؤاخذ المرأة به

Para imam berpendapat bahwa yang dijadikan patokan adalah nilai terendah dari hari akad mahar hingga hari penyerahan kepada perempuan, dan tidak dipertimbangkan adanya kenaikan nilai jika terjadi antara akad mahar dan penyerahan, serta tidak dipertimbangkan pula kenaikan setelah penyerahan. Para sahabat beralasan bahwa jika nilai pada waktu akad mahar lebih rendah, maka tambahan nilai yang terjadi menjadi milik dan hak perempuan, sehingga ia tidak dibebani karenanya. Namun, jika terjadi penurunan nilai setelah akad mahar dan sebelum penyerahan, maka hal itu menjadi tanggungan suami, sehingga perempuan tidak dibebani karenanya.

وكنت أود لو قيل إذا لم يطرأ عيب وإنما وجد تفاوت القيمة بارتفاع السعر فالاعتبار بقيمة يوم الطلاق فإنَّ الشطر إنما يرتد إلى الزوج يومئذ والعين قائمة ولكنه لا تردها لمكان الزيادة فالوجه أن نقول ما قيمة هذه العين لو لم تكن زائدة فنعتبرها نعم لو تلفت العين قبل الطلاق فيتجه إذ ذاك اعتبار أقل قيمة من وقت الإصداق إلى وقت التسليم كما سنشرحها إن شاء الله عز وجل

Saya ingin seandainya dikatakan: jika tidak terjadi cacat, melainkan hanya terdapat perbedaan nilai karena kenaikan harga, maka yang menjadi acuan adalah nilai pada hari terjadinya talak, karena separuhnya baru kembali kepada suami pada saat itu dan barangnya masih ada, namun ia tidak mengembalikannya karena adanya kenaikan nilai. Maka yang tepat adalah kita mengatakan: berapa nilai barang ini seandainya tidak ada kenaikan tersebut, maka itulah yang dijadikan acuan. Ya, jika barang itu rusak sebelum talak, maka yang menjadi acuan adalah nilai terendah dari waktu akad mahar hingga waktu penyerahan, sebagaimana akan kami jelaskan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولو ازداد المبيع زيادة متصلة ففُلِّس المشتري قبل توفر الثمن فالبائع يرجع في المبيع وإن كان زائداً ولا تصير الزيادة سبباً لإبطال حق الرجوع في العين

Jika barang yang dijual mengalami pertambahan yang menyatu, lalu pembeli dinyatakan pailit sebelum harga dibayar lunas, maka penjual berhak mengambil kembali barang yang dijual tersebut, meskipun barang itu telah bertambah. Pertambahan tersebut tidak menjadi alasan untuk membatalkan hak penjual untuk mengambil kembali barang tersebut.

ولأصحابنا مسألتان في محاولة الفرق بين الصداق وبين المبيع في حق المفلس

Menurut para ulama mazhab kami, terdapat dua permasalahan dalam upaya membedakan antara mahar dan barang jualan dalam hal yang berkaitan dengan orang yang pailit.

فالذي حكاه العراقيون عن أبي إسحاق المروزي أنه قال في الفرق لو أبطلنا حق الرجوع للبائع في المبيع فهذا يُثبت للغرماء حق المضاربة وليس في قطع حق الزوج عن عين الصداق ما يُحبط حقه في المالية فإنه إن لم يرجع في نصف العين يرجع في نصف قيمة العين حتى لو فرض الطلاق وهي مفلسة والحجر مطّرد فللزوج الاستبداد بنصف الصداق وإن كان زائداً فإنه لو لم يرجع بالعين لضارب بالقيمة

Apa yang diriwayatkan oleh para ulama Irak dari Abu Ishaq al-Marwazi, bahwa beliau berkata dalam perbedaan: Jika kita meniadakan hak penjual untuk kembali pada barang yang dijual, maka hal ini menetapkan bagi para kreditur hak mudharabah, dan tidak ada dalam penghapusan hak suami atas barang mahar yang dapat membatalkan haknya dalam hal kepemilikan harta. Sebab, jika ia tidak dapat kembali pada setengah barang, maka ia dapat kembali pada setengah nilai barang tersebut. Sehingga, jika terjadi perceraian sementara istri dalam keadaan bangkrut dan sedang dalam status pailit, maka suami berhak secara penuh atas setengah mahar, meskipun nilainya lebih besar. Sebab, jika ia tidak dapat kembali pada barangnya, maka ia dapat bermudharabah dengan nilainya.

وهذه الطريقة غير مرضية والوجه أن يقال في الفرق البائع يرجع إلى المبيع بسبب فسخ البيع وهذا يستند إلى استحقاق متعلق بالعقد وإن كان الفسخ قطعاً للعقد في الحال وذلك أنَّ العوضية تقضي ألا يُسلَّمَ عوضٌ من أحد الجانبين ما لم يسلَّمْ مقابله في الجانب الثاني فلما كان حق فسخ البائع مستنداً إلى حالة العقد والزيادة حدثت بعد العقد يجوز أن يقال لا اعتبار بها وتقع تابعة

Cara ini tidak memuaskan, dan pendapat yang benar adalah bahwa perbedaan terletak pada: penjual kembali kepada barang yang dijual karena pembatalan akad jual beli, dan hal ini bersandar pada hak kepemilikan yang berkaitan dengan akad, meskipun pembatalan itu memutus akad pada saat itu juga. Hal ini karena prinsip adanya timbal balik (al-‘iwadhiyyah) mengharuskan tidak diserahkannya kompensasi dari salah satu pihak sebelum pihak lain menyerahkan kompensasi yang menjadi pasangannya. Maka, ketika hak penjual untuk membatalkan akad bersandar pada keadaan akad, dan tambahan (nilai) terjadi setelah akad, maka boleh dikatakan bahwa tambahan tersebut tidak dianggap dan tetap mengikuti (status) sebelumnya.

وأما رجوع نصف الصداق إلى الزوج بالطلاق فليس يستند إلى أصل العقد استنادَ استحقاق يوجبه مقتضى العقد وإنما هو أمر جديد لا ارتباط له بالاستحقاق السابق

Adapun kembalinya setengah mahar kepada suami karena perceraian, hal itu tidak bersandar pada dasar akad sebagai bentuk hak yang ditetapkan oleh konsekuensi akad, melainkan merupakan perkara baru yang tidak ada kaitannya dengan hak yang telah ada sebelumnya.

فعلى هذا إذا كانت المرأة محجوراً عليها نظر فإن تقدم الطلاق على الحجر فنصف الصداق قد ارتد إلى الزوج فطَرَيان الحجر لا يسقط ملك الزوج

Maka berdasarkan hal ini, jika seorang wanita dikenai status mahjur ‘alayha (dilarang mengelola hartanya), maka dilihat: jika talak terjadi sebelum status mahjur, maka setengah mahar telah kembali kepada suami, sehingga munculnya status mahjur tidak menggugurkan hak milik suami.

وإن جرى الحجر ثم طرأ الطلاق فظاهر كلام الأصحاب أنَّ الزوج لا يكون أولى بنصف الصداق فإنَّ سبب استحقاقه تَجَدَّدَ بعد تعلّق حقوق الغرماء بعين الصداق فهذا ما نقوله ولا زيادة

Jika terjadi penyitaan harta, kemudian setelah itu terjadi talak, maka menurut pendapat yang tampak dari para ulama, suami tidak lebih berhak atas setengah mahar, karena sebab yang menjadikan ia berhak baru muncul setelah hak-hak para kreditur terkait dengan mahar itu. Inilah yang kami sampaikan, tidak ada tambahan.

فحاصل المذهب إذاً أنَّ البائع يرجع بالعين المبيعة وإن زادت زيادةً متصلةً

Maka kesimpulan mazhab adalah bahwa penjual berhak mengambil kembali barang yang dijual, meskipun terdapat tambahan yang menyatu pada barang tersebut.

والزوج هل يرجع إذا جرى الطلاق بعد الحجر فيه ترددٌ ظاهر للأصحاب منهم من قال لا يرجع وإن لم تزد العين ومنهم من قال يرجع

Dan mengenai suami, apakah ia boleh menarik kembali (haknya) jika terjadi talak setelah adanya pemblokiran (harta), terdapat keraguan yang jelas di kalangan para ulama. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa suami tidak boleh menarik kembali meskipun barangnya tidak bertambah, dan sebagian lain berpendapat bahwa suami boleh menarik kembali.

ثم الذين أثبتوا حق الرجوع اختلفوا في أن الصداق لو كان زائداً زيادة متصلة والمرأةُ محجور عليها فهل يمتنع رجوعه بسبب الزيادة فيه اختلاف بين الأصحاب منهم من قال يمتنع رجوعه إلا أن ترضى ويرضى الغرماء ومنهم من قال لا يمتنع رجوعه بسبب الزيادة كما لا يمتنع رجوع البائع في البيع وإن كان زائداً

Kemudian, para ulama yang membolehkan hak untuk kembali (rujuk) berbeda pendapat mengenai jika mahar itu bertambah dengan tambahan yang menyatu, sedangkan perempuan tersebut berada dalam status yang dibatasi (haknya, seperti karena utang), apakah hal itu menghalangi suaminya untuk kembali karena adanya tambahan tersebut. Ada di antara para ulama yang berpendapat bahwa suami tidak boleh kembali kecuali jika perempuan tersebut dan para krediturnya rela. Ada pula yang berpendapat bahwa tambahan tersebut tidak menghalangi suami untuk kembali, sebagaimana tambahan pada barang jual beli tidak menghalangi penjual untuk kembali (menarik barang), meskipun ada tambahan.

ولو زاد الصداق في يد المرأة زيادة متصلة ففسخ الزوج النكاح بعيب بها فالزيادة في هذا المقام لا تمنع الرجوع إلى العين ولا أثر لها كما لا أثر لها في الرد بالعيب والرجوع بسبب الإفلاس إلى المبيع والسبب فيه أن فسخ النكاح يستند إلى استحقاق السلامة وهو مستند إلى أصل العقد

Jika mahar yang ada di tangan wanita bertambah dengan tambahan yang bersambung, lalu suami membatalkan pernikahan karena ada cacat pada dirinya (istri), maka tambahan tersebut dalam hal ini tidak menghalangi pengembalian kepada barang asal (mahar) dan tidak berpengaruh apa pun, sebagaimana tambahan itu juga tidak berpengaruh dalam pengembalian karena cacat dan pengembalian karena bangkrut kepada barang yang dijual. Sebabnya adalah karena pembatalan pernikahan didasarkan pada hak memperoleh keselamatan (dari cacat), yang mana hal itu bersandar pada akad asal.

ولو زاد الصداق في يدها فارتد فقد ذكرنا أن الارتداد يوجب تشطير الصداق كالطلاق فإذا كان كذلك فالزيادة المتصلة تُثبت للمرأة الخيار كما يثبت لها الخيار إذا كانت مطلقة

Jika mahar yang ada di tangan istri bertambah lalu ia murtad, maka telah kami sebutkan bahwa murtad menyebabkan pembagian mahar menjadi setengah, seperti halnya talak. Jika demikian, maka tambahan yang menyatu (dengan mahar) memberikan hak pilihan kepada perempuan, sebagaimana ia juga berhak memilih jika ia ditalak.

وإذا ارتدت المرأة فردتها قبل المسيس توجب سقوط جميع المهر بطريق الانفساخ وفي كلام العراقيين تردد في أن الزيادة المتصلة في هذه الصورة هل تمنع الزوج من الرجوع إلى العين والمسألة محتملة من حيث إن النكاح ينفسخ بالرّدّة ولكن هذا الانفساخ لا استناد له إلى العقد بخلاف الفسخ الذي يجري بتخلف السلامة المستحقة بالعقد فيجوز أن يقال الزيادة المتصلة تُثبت لها الخيار في الاستمساك بالعين كما تقدم ذكره في ردة الزوج ويجوز أن يقال لا خِيَرة لها فإنها منتسبة إلى ما يوجب قطع النكاح فنَبتُّ حقَّها عن التعلق بالزيادة كما بتتناه عن أصل الصداق والمسألة محتملة مما يليق بأسرار الفقه

Jika seorang wanita murtad lalu ia kembali kepada Islam sebelum terjadi hubungan suami istri, maka hal itu menyebabkan gugurnya seluruh mahar karena pernikahan terputus. Dalam pendapat para ulama Irak terdapat keraguan apakah tambahan yang menyatu (dengan mahar) dalam kasus ini menghalangi suami untuk mengambil kembali barang aslinya. Masalah ini masih diperdebatkan, karena pernikahan terputus akibat riddah, namun pemutusan ini tidak bersandar pada akad, berbeda dengan pembatalan yang terjadi karena tidak terpenuhinya keselamatan yang dijamin oleh akad. Maka, boleh dikatakan bahwa tambahan yang menyatu memberikan hak pilihan bagi istri untuk tetap memegang barang tersebut, sebagaimana telah disebutkan dalam kasus riddah suami. Namun, boleh juga dikatakan bahwa ia tidak memiliki hak pilihan, karena ia terkait dengan sesuatu yang menyebabkan terputusnya pernikahan, sehingga haknya terputus dari tambahan tersebut sebagaimana terputus dari pokok mahar. Masalah ini masih terbuka untuk dipertimbangkan sesuai dengan rahasia-rahasia fiqh.

ولا إيضاح لمقصود المسألة ما دام يختلج ما ذكرناه في الصدر وذلك أنا إذا أثبتنا الخِيَرة للمرأة فيمتنع ارتدادُ شطر الصداق ما دامت المرأة مستمرة على خِيَرَتها وبمثل هذا المعنى يعسر من الزوج مطالبتها بنصف القيمة فإن التخير من جانبها يوجب تفويض الأمر إلى رأيها ورأيُها ليس على الفور فكيف السبيل وما الوجه وبأي طريق ينفصل الفقه في هذه المسألة فنقول

Tidak ada penjelasan yang jelas mengenai maksud permasalahan ini selama apa yang telah kami sebutkan masih terlintas dalam benak. Sebab, jika kami menetapkan adanya hak khiyār bagi perempuan, maka tidak mungkin setengah mahar itu kembali selama perempuan tetap mempertahankan pilihannya. Dengan makna seperti ini, suami pun akan kesulitan menuntut setengah nilai mahar, karena hak memilih yang ada pada pihak perempuan berarti menyerahkan urusan kepada pendapatnya, dan pendapatnya itu tidak harus segera diputuskan. Lalu, bagaimana jalan keluarnya, apa solusinya, dan dengan cara apa fiqh dapat memberikan penyelesaian dalam masalah ini? Maka kami katakan…

إن أعرضا جميعاً عن الطلب والرد فالأمر موقوف في حق الزوج متردد بين القيمة وبين العين وإن وجّه الزوج الطَّلِبة فحق عليها أن ترد نصف العين مع الزيادة أو تغرَمَ نصفَ القيمة وليس لها التسويف والمدافعة فإن دافعت رُفعت إلى القاضي ثم لا يَجزم الزوج دعواه في القيمة ولا في العين فإن إثبات الخِيَرةِ لها يمنع الجزم في كل واحد من الوجهين والقاضي لا يقتضي منها على أن يحبسها لتبذل القيمة أو العين إذا كانت العين عتيدة فإنّ تعلُّق الزوج بالعين يزيد على تعلّق المرتهن بالرهن وتعلق الغرماء بالتركة التي أحاطت الديون بها فنقول لها إن كان شطر القيمة أقلَّ من نصف العين فيُصرف إلى الزوج نصف القيمة ويُدفع الفاضل إليها وإن كانت العين لا تزيد على القيمة ففي هذا احتمال يجوز أن يقال لا يسلّم القاضي نصف العين إلى الزوج بل يبيعُه رجاءَ أن يجد زَبوناً فيشتريه بما يساوي ويتجه في هذا أن يقال يسلم العين إليه إذا لم يكن فضل في القيمة لأن حق الزوج متأكد في مالية العين فالطلاق على المذهب الظاهر يملّكه شطر الصداق من غير اختيار

Jika keduanya sama-sama berpaling dari permintaan dan penolakan, maka perkara ini dalam hak suami masih tergantung antara nilai (mahar) dan barangnya (mahar itu sendiri). Jika suami mengajukan permintaan, maka istri wajib mengembalikan setengah barang beserta tambahannya, atau membayar setengah nilai (mahar). Ia tidak boleh menunda-nunda atau mengulur-ulur. Jika ia mengulur-ulur, maka perkara ini diajukan kepada hakim. Namun, suami tidak dapat memastikan tuntutannya pada nilai atau pada barang, karena penetapan hak memilih bagi istri menghalangi kepastian pada salah satu dari dua sisi tersebut. Hakim pun tidak memutuskan agar menahan istri sampai ia menyerahkan nilai atau barang jika barangnya ada. Keterkaitan suami dengan barang lebih kuat daripada keterkaitan pemegang gadai dengan barang gadai, dan keterkaitan para kreditur dengan harta warisan yang telah dikepung utang. Maka kami katakan kepada istri: jika setengah nilai lebih kecil dari setengah barang, maka diberikan kepada suami setengah nilai dan sisanya diserahkan kepada istri. Jika barang tidak lebih banyak dari nilainya, maka dalam hal ini ada kemungkinan: boleh jadi dikatakan bahwa hakim tidak menyerahkan setengah barang kepada suami, melainkan menjualnya dengan harapan mendapatkan pembeli yang mau membeli dengan harga yang sepadan. Dan dalam hal ini, dapat pula dikatakan bahwa barang diserahkan kepada suami jika tidak ada kelebihan dalam nilainya, karena hak suami lebih kuat dalam nilai barang tersebut. Maka talak menurut mazhab yang kuat menjadikan suami memiliki setengah mahar tanpa pilihan.

هذا منتهى القول فيه

Inilah akhir pembahasan mengenai hal ini.

ومن بدائع الأشياء اضطراب الأصحاب في معنى قول الشافعي وذلك كله ما لم يقض له القاضي وكلامه متصل بذكر زيادة الصداق ويتعين عندي حملُ كلام الشافعي في أن القضاء على امتناعها عن التسليم قد يقضي القاضي بتسليم العين في الصورة التي ذكرناها وظاهر كلام الشافعي دليل على أنه لا يسلم العين إلى الزوج مطلقاً فإنه جعلها ضامنة إذا تلفت العين

Di antara hal-hal yang menakjubkan adalah perbedaan pendapat para sahabat (ulama) mengenai makna perkataan Imam Syafi’i, yaitu “semua itu selama belum diputuskan oleh hakim untuknya.” Ucapan beliau ini berkaitan dengan pembahasan tentang tambahan mahar, dan menurut saya, perkataan Imam Syafi’i harus dipahami bahwa keputusan hakim atas penolakan istri untuk menyerahkan barang (mahar) dapat berupa perintah kepada istri untuk menyerahkan barang tersebut dalam situasi yang telah kami sebutkan. Namun, secara lahiriah, perkataan Imam Syafi’i menunjukkan bahwa barang tersebut tidak boleh diserahkan kepada suami secara mutlak, karena beliau menyatakan bahwa istri tetap menanggung risiko (menjadi penjamin) jika barang tersebut rusak.

هذا كله تفصيل القول فيه إذا تغير الصداق بالزيادة

Semua ini merupakan perincian pembahasan mengenai hal tersebut apabila mahar mengalami perubahan dengan adanya penambahan.

فأما إذا تغير بالنقصان فلا يخلو إما أن يكون في يده أو يدها فإن اتفق تعيب الصداق في يده ثم طلقها فحق الزوج في نصف العين فإن النقصان محسوب عليه وقد حدث في ضمانه لها والحق ردُّ العين كما فصلناه في تغير الصداق في يد الزوج بالتعيب

Adapun jika terjadi perubahan berupa pengurangan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah mahar itu berada di tangan suami atau di tangan istri. Jika cacat pada mahar itu terjadi ketika masih di tangan suami, kemudian ia menceraikannya, maka hak suami adalah pada separuh barang tersebut, karena pengurangan itu menjadi tanggungannya dan terjadi dalam jaminannya terhadap istri. Haknya adalah mengembalikan barang tersebut, sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan perubahan mahar di tangan suami karena cacat.

ومما يتصل بهذا أن الصداق لو تعيب في يد الزوج بسبب جناية أجنبي فغرّمت الأجنبي الأرشَ ثم طلقها الزوج قبل المسيس فلو كان هذا التعيب بآفة سماوية لم يكن للزوج إلا نصف الصداق وهو معيب والآية العيب الكائن بالصداق على صورة العيب بالآفة السماوية ولكنها فازت بالأرش وغرّمت الأجنبي فهل يرجع إلى الزوج نصف ذلك الأرش

Terkait dengan hal ini, jika mahar mengalami cacat di tangan suami karena perbuatan melanggar hukum oleh orang lain, lalu orang tersebut diwajibkan membayar ganti rugi (arsh), kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka jika cacat tersebut disebabkan oleh musibah alam, suami hanya berhak atas setengah mahar dalam keadaan cacat. Dalam kasus ini, cacat yang terjadi pada mahar serupa dengan cacat akibat musibah alam, namun istri telah memperoleh ganti rugi (arsh) dan orang yang menyebabkan cacat telah membayar ganti rugi. Maka timbul pertanyaan, apakah suami berhak mendapatkan setengah dari ganti rugi (arsh) tersebut?

هذا مما روجع القاضي فيه فلم يُحر جواباً جازماً ووجه التردد في المسألة نبهنا عليه في أن هذا العيب جرى والصداق في ضمان الزوج وهي أخذت الأرش بحق ملكها كما تأخذ الزوائد والرأي الظاهر أن الزوج يرجع بنصفٍ من ذلك الأرش فإن النقصان استخلف الأرش وقيمة الشيء في الماليات تنزل منزلته فكأن العيب لم يقع فهذا إذا حدث العيب في يد الزوج

Ini adalah perkara yang telah dikonsultasikan kepada qadhi, namun tidak didapatkan jawaban yang tegas. Alasan keraguan dalam masalah ini telah kami isyaratkan, yaitu bahwa cacat ini terjadi sementara mahar masih dalam tanggungan suami, dan istri mengambil kompensasi (arsh) itu berdasarkan hak kepemilikannya, sebagaimana ia mengambil tambahan-tambahan lainnya. Pendapat yang tampak kuat adalah bahwa suami berhak kembali atas setengah dari kompensasi (arsh) tersebut, karena kekurangan itu digantikan oleh kompensasi, dan nilai suatu barang dalam harta benda diposisikan seperti barang itu sendiri, sehingga seakan-akan cacat itu tidak terjadi. Ini berlaku jika cacat itu terjadi ketika barang masih di tangan suami.

وإن حدث النقصان في يدها ثم طلّقها الزوج فهو بالخيار بين أن يرضى بنصف العين ناقصاً ويرجع فيها مع النقصان ولا يغرّمها الأرش وبين أن يترك عين الصداق عليها لمكان العيب ويغرّمها نصف القيمة وهذا بناه المراوزة على أن ما يرتدّ إلى الزوج أمانة في يدها فلا تؤاخذ بأرش النقص

Jika terjadi kekurangan (cacat) pada barang mahar saat masih di tangannya, kemudian suami menceraikannya, maka suami memiliki pilihan antara menerima setengah barang mahar dalam keadaan cacat dan mengambilnya beserta cacatnya tanpa menuntut ganti rugi (arsh) darinya, atau meninggalkan barang mahar tersebut karena adanya cacat dan menuntut setengah nilai barang tersebut. Hal ini didasarkan oleh para ulama Marw (al-marawizah) pada pendapat bahwa apa yang kembali kepada suami adalah amanah di tangan istri, sehingga ia tidak dibebani ganti rugi atas kekurangan tersebut.

ويجوز أن يقال وإن حكمنا بأنها مؤاخذة بالتعيب والتلف بعد الطلاق في نصيب الزوج فلا يلزمها أرشٌ أيضاً فإن التعيب قد جرى والصداق مِلكها وليس كما إذا قلنا الصداق مضمون باليد ثم عاب في يد الزوج فإنا نثبت للمرأة تغريم الزوج الأرشَ والفرق أن الزوج ممسكٌ ملكَها بيدٍ ضامنةٍ على القول الذي نفرع عليه وموجب ذلك أن يغرَم لها أرش النقصان كما يغرَم المستعير والآخذُ على سبيل السوم والمرأة ليست حافظة للزوج ملكاً قبل الطلاق

Dan boleh dikatakan, meskipun kami memutuskan bahwa istri bertanggung jawab atas cacat dan kerusakan setelah perceraian pada bagian suami, maka ia juga tidak wajib membayar ganti rugi (‘arsh), karena cacat itu telah terjadi dan mahar adalah miliknya. Ini tidak seperti jika kami mengatakan bahwa mahar dijamin dengan tangan, lalu cacat terjadi saat masih di tangan suami, maka kami menetapkan bahwa istri berhak menuntut suami membayar ganti rugi (‘arsh). Perbedaannya adalah, suami memegang milik istri dengan tangan yang menjamin (tangan dhaman) menurut pendapat yang kami jadikan dasar, dan konsekuensinya adalah ia wajib membayar ganti rugi (‘arsh) atas kekurangan tersebut, sebagaimana wajib bagi peminjam (musta‘ir) dan orang yang mengambil barang untuk dicoba (sā’im). Sedangkan istri tidaklah menjaga milik suami sebelum terjadi perceraian.

فهذا ما ذكره الأئمة وفيه على حالٍ احتمال من جهة أن الصداق لو تلف قبل الطلاق لغرمت له نصفَ القيمة ومن يغرم القيمة بجهةٍ لا يبعد أن يغرَم أرشَ النقص بتلك الجهة

Inilah yang disebutkan oleh para imam, dan dalam hal ini terdapat kemungkinan, yaitu jika mahar itu rusak sebelum terjadinya talak, maka ia wajib mengganti setengah dari nilainya. Dan siapa yang wajib mengganti nilai dengan sebab tertentu, tidaklah jauh kemungkinan ia juga wajib mengganti kompensasi atas kekurangan dengan sebab yang sama.

وإذا اشترى الرجل عبداً بجاريةٍ وجرى التقابض ثم وجد قابض العبد بالعبد عيباً فرده فإذا الجارية قد عابت عيباً حادثاً في يد قابضها فقد جرى العيب في دوام ملك قابض الجارية كما جرى العيب في الصداق في دوام ملك المرأة ثم إذا رَدَّ قابضُ العبدِ العبدَ فقد ظهر مصير الأصحاب إلى أنه يسترد الجارية مع أرش العيب الحادث فإنها لو تلفت لرد العبد واسترد قيمتها وهذا قد ذكرته في أحكام العيوب في البيع وذكرت مضطرب الأصحاب فيه

Jika seseorang membeli seorang budak dengan menukarnya dengan seorang budak perempuan, lalu terjadi serah terima, kemudian orang yang menerima budak laki-laki menemukan cacat pada budak tersebut dan mengembalikannya, ternyata budak perempuan telah mengalami cacat baru di tangan penerimanya, maka cacat tersebut terjadi selama budak perempuan itu masih dalam kepemilikan penerimanya, sebagaimana cacat pada mahar yang terjadi selama masih dalam kepemilikan perempuan. Kemudian, apabila penerima budak laki-laki mengembalikan budak tersebut, maka tampak bahwa para ulama berpendapat bahwa ia berhak mengambil kembali budak perempuan beserta kompensasi atas cacat yang terjadi, karena jika budak perempuan itu telah rusak, ia akan mengembalikan budak laki-laki dan mengambil nilai budak perempuan tersebut. Hal ini telah saya sebutkan dalam pembahasan hukum cacat dalam jual beli, dan saya juga telah menyebutkan perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini.

ويجوز أن يقال ليس الصداق كالمسألة التي استشهدنا بها من قِبل أن من ردّ العبد إنما ردّه لتخلّف سلامةٍ استحقَّها بالعقد فعهدةُ التقابل في العوضين بيّنةٌ وهذا لا يتحقق في الصداق

Dan boleh dikatakan bahwa mahar tidaklah sama dengan permasalahan yang kami jadikan contoh sebelumnya, karena orang yang mengembalikan budak melakukannya disebabkan tidak terpenuhinya keselamatan yang telah menjadi haknya berdasarkan akad, sehingga tanggung jawab timbal balik atas kedua objek tukar-menukar itu jelas, dan hal ini tidak terwujud pada mahar.

فقد تحصل مما ذكرنا أن الذي ذكره الأصحاب في الطرق أن الزوج بالخيار إن شاء رضي بالنصف من غير أرش وإن شاء طالب بنصف القيمة وهذا بمثابة تعيّب المبيع في يد البائع من وجه فإنا نقول إن شاء المشتري ردّ المبيع بالعيب وفسخ البيع واسترد الثمن وإن شاء رضي به معيباً

Dari apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat para ulama, dalam hal ini suami memiliki pilihan: jika ia mau, ia rela menerima setengah tanpa tambahan kompensasi (arsh), dan jika ia mau, ia menuntut setengah dari nilai (qimah). Ini serupa dengan kasus cacatnya barang dagangan di tangan penjual dari satu sisi, yaitu kami katakan bahwa jika pembeli mau, ia dapat mengembalikan barang karena cacat tersebut, membatalkan jual beli, dan mengambil kembali uangnya, dan jika ia mau, ia rela dengan barang tersebut dalam keadaan cacat.

فهذا ما رأيته للأصحاب ولم أر غيره وقد أومأت إلى وجه الاحتمال والظاهر ما ذكره الأصحاب في المعنى أيضاً هذا منتهى القول في تغير الصداق بالزيادة وتغيره بالنقصان

Inilah yang aku dapati dari para sahabat (ulama mazhab), dan aku tidak menemukan pendapat lain. Aku juga telah mengisyaratkan kemungkinan yang ada, namun yang tampak kuat adalah apa yang disebutkan oleh para sahabat dalam makna tersebut. Demikianlah akhir pembahasan mengenai perubahan mahar dengan penambahan maupun perubahannya dengan pengurangan.

فأما إذا تغير بما يكون زيادة من وجه ونقصاناً من وجه وذلك مثل أن يكون العبد المصدَقُ صغيراً فكبر وازدادت قوته التي هي مادة العمل وسببُ تكثير المنفعة وانتقص من حيث القيمة لمجاوزته نضارةَ المراهقة وقد يفرض في هذا القسم زيادةٌ محضة ليست في عينها نقصان مع عيب ليس فيه زيادة مثل أن يتعلم العبد المصدَقُ صنعة ولكن اعورّت عينه فقد اجتمع فيه النقص والزيادة

Adapun jika terjadi perubahan yang merupakan penambahan dari satu sisi dan pengurangan dari sisi lain, misalnya budak yang dijadikan objek sedekah masih kecil kemudian tumbuh dewasa dan bertambah kekuatannya yang menjadi modal kerja dan sebab bertambahnya manfaat, namun nilainya berkurang karena telah melewati masa muda yang segar; dan bisa juga dalam bagian ini terdapat penambahan murni yang tidak ada pengurangannya pada zatnya, bersamaan dengan cacat yang tidak mengandung penambahan, seperti budak yang dijadikan objek sedekah mempelajari suatu keahlian tetapi matanya menjadi buta sebelah, maka pada dirinya terkumpul kekurangan dan kelebihan.

ومن صور هذا القسم أن يصدقها أشجاراً فتصير قِحاماً وتُرقل فكِبرُها زيادة ولكن يقلّ ثمرها

Salah satu bentuk dari bagian ini adalah ketika seseorang memberikan mahar kepada istrinya berupa pohon-pohon, lalu pohon-pohon itu menjadi tua dan besar, sehingga pertambahannya hanya pada ukuran pohon, namun buahnya menjadi sedikit.

والحكم في هذا القسم أن الخيار يثبت من الجانبين جميعاً فإن رضيت المرأة برد النصف فللزوج أن يأبى لمكان النقصان وإن طلب الزوج العين فللمرأة أن تأبى لمكان الزيادة

Hukum pada bagian ini adalah bahwa hak memilih (khiyār) tetap berlaku bagi kedua belah pihak. Jika perempuan rela mengembalikan setengahnya, maka suami berhak menolak karena adanya kekurangan. Dan jika suami meminta barangnya secara utuh, maka perempuan berhak menolak karena adanya kelebihan.

وليس لنا أن نقول إذا لم ترد القيمة لمكان النقص ولم تُنْتَقَص القيمة لمكان ترقل أرقل الشجر طال القاموس والمعجم والمصباح

Kita tidak boleh mengatakan: jika nilai tidak diberikan karena adanya kekurangan, dan nilai tidak dikurangi karena adanya pertumbuhan atau perkembangan pohon, maka… (sebagaimana disebutkan dalam al-Qāmūs, al-Mu‘jam, dan al-Miṣbāḥ).

الزيادة فيجعل كأن لا زيادة ولا نقصان هذا لا سبيل إليه ولا قائل به فإن الزيادة قد تُعنى لعينها وإن فرض نقصان فالنقصان قد يُجتنب وإن كانت زيادة فلا طريق إلا إثبات الخيار من الجانبين لوجود العلتين فالنقص علّة خيار الزوج والزيادة علةُ خيار المرأة فإن اتفقا على الرجوع في نصف العين فذاك وإن أبى أحدهما فالرجوع إلى نصف القيمة ثم لا تكفي الزيادة في صورتها فإن الزيادة التي لا تُطلب ليست زيادة كالسِّلْعة تطلع واللحية تنبت

Penambahan itu dianggap seolah-olah tidak ada penambahan maupun pengurangan; hal ini tidak mungkin dilakukan dan tidak ada yang berpendapat demikian. Sebab, penambahan bisa dimaksudkan pada zatnya sendiri, dan jika diasumsikan adanya pengurangan, maka pengurangan itu bisa dihindari. Jika memang ada penambahan, maka tidak ada jalan lain kecuali menetapkan hak khiyār bagi kedua belah pihak karena adanya dua ‘illat: pengurangan adalah ‘illat khiyār bagi suami, dan penambahan adalah ‘illat khiyār bagi istri. Jika keduanya sepakat untuk kembali pada setengah dari barang pokok, maka itu boleh; namun jika salah satu menolak, maka kembali pada setengah dari nilai barang. Selanjutnya, penambahan dalam bentuknya saja tidaklah cukup, karena penambahan yang tidak diinginkan bukanlah penambahan, seperti barang dagangan yang naik sendiri atau jenggot yang tumbuh.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الصداق عيناً فإن كان ديناً فإذا طلقها فلا يخلو إما أن كان سلم الصداق إليها أو لم يسلم فإن لم يسلم الصداق إليها وطلقها قبل المسيس فتبرأ ذمته عن نصف الصداق وهو مطالب من جهتها بالنصف الباقي وإذا فرّعنا على الوجه الضعيف في أن رجوع الشطر إلى الزوج موقوف على اختياره فيجب طرد هذا في الدين أيضاً حتى يتوقف سقوط النصف عن ذمته على اختياره والعلم عند الله تعالى

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika mahar berupa barang. Jika mahar berupa utang, lalu ia menceraikannya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia telah menyerahkan mahar itu kepadanya atau belum. Jika ia belum menyerahkan mahar itu kepadanya dan menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia terbebas dari setengah mahar, dan ia tetap dituntut oleh pihak istri untuk membayar setengah sisanya. Jika kita mengikuti pendapat yang lemah bahwa kembalinya setengah mahar kepada suami tergantung pada pilihannya, maka hal ini juga harus diterapkan pada mahar yang berupa utang, sehingga gugurnya setengah mahar dari tanggungannya juga bergantung pada pilihannya. Dan ilmu itu hanya milik Allah Ta‘ala.

ولو أصدقها ديناً كما صورناه وسلم إليها ما التزم لها على الصفة المذكورة فإن طلقها قبل المسيس فله الرجوع بالنصف فإن كانت تلك الأعيان المقبوضة فائتة غرِمت للزوج نصف البدل وإن كانت تيك الأعيان باقية فهل يتعين حق الزوج في المقبوض أم لها أن تغرم حقّ الزوج من مال آخر فعلى وجهين أحدهما لا يتعين حقه لأن العقد لم يتعلق بهذه العين ابتداءً وإنما اعتمد الوصف

Jika suami memberikan mahar dalam bentuk utang sebagaimana telah digambarkan, lalu ia menyerahkan kepada istri apa yang telah ia janjikan dengan sifat yang telah disebutkan, kemudian ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan badan, maka suami berhak mengambil kembali setengahnya. Jika barang-barang yang telah diterima itu sudah tidak ada, maka istri wajib mengganti kepada suami setengah dari nilai penggantiannya. Jika barang-barang tersebut masih ada, timbul pertanyaan: apakah hak suami menjadi tetap pada barang yang telah diterima, ataukah istri boleh mengganti hak suami dari harta lain? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, hak suami tidak menjadi tetap pada barang tersebut, karena akad tidak sejak awal berkaitan dengan barang itu, melainkan hanya berdasarkan sifatnya.

والثاني أن حقّه يتعيّن لأنه تعين بالقبض وهذا يكون سبيل كل دين يوفَّى على مستحقه

Kedua, haknya menjadi tertentu karena telah menjadi tertentu dengan penerimaan, dan demikianlah halnya setiap utang yang telah dilunasi kepada yang berhak menerimanya.

وكان شيخي يطرد هذين الوجهين في الثمن الواقع في الذمة إذا وُفِّر ووُفّي ثم طرأ فسخ يوجب استرداد الثمن ورأيته مرة يطلب الفرق بين ما ذكرناه في الصداق وبين ما أشرنا إليه في الفسوخ ويقول الفسخ وإن كان قطعاً في الحال فهو مستأصل للعقد بخلاف ما يقتضيه الطلاق من التشطير وقد أجرينا في أجزاء الكلام ما يشير إلى قريب من هذا فيما نفيناه وأثبتناه

Dan guruku selalu menolak dua pendapat ini dalam hal harga yang menjadi tanggungan (utang) apabila telah dilunasi dan dibayarkan, kemudian terjadi pembatalan yang mengharuskan pengembalian harga tersebut. Aku pernah melihatnya suatu kali mencari perbedaan antara apa yang telah kami sebutkan dalam masalah mahar dan apa yang kami singgung dalam kasus-kasus pembatalan (fasakh), dan ia berkata bahwa fasakh meskipun merupakan pemutusan secara langsung, namun ia benar-benar mencabut akad dari akarnya, berbeda dengan apa yang ditimbulkan oleh talak berupa pembagian setengah. Kami telah membahas dalam beberapa bagian pembicaraan hal yang mendekati ini, baik dalam hal yang kami tiadakan maupun yang kami tetapkan.

فرع

Cabang

إذا أصدق الرجل امرأته جارية فبقيت في يد الزوج وعلقت بولد حادث وولدته ثم ماتت الجارية قبل القبض وطلقها قبل المسيس قال العراقيون هذا يُخرّج على القولين في أن الصداق مضمون بالعقد أم باليد وأنه بماذا يرجع فإن قلنا إنه يرجع بنصف القيمة فالولد بتمامه لها فإنه حدث في ملكها وجرى الطلاق بعد انفصاله واستقلاله ونحن على قول القيمة لا نحكم بانفساخ الصداق بالتلف بل نقضي ببقاء العقد قالوا وإن قلنا الصداق مضمون بالعقد وهي ترجع عليه بنصف مهر المثل نقلوا عن الشافعي أنه قال الولد للزوج ولا حظ لها فيه فإنا إذا أوجبنا نصف مهر المثل فقد أوجبناه قبل العقد ونقضْنا الملك استئصالاً

Jika seorang laki-laki menjadikan seorang budak perempuan sebagai mahar untuk istrinya, lalu budak itu tetap berada di tangan suami dan hamil dari anak yang baru lahir, kemudian ia melahirkan anak tersebut, lalu budak itu meninggal sebelum diterima (oleh istri) dan suami menceraikannya sebelum berhubungan, maka menurut ulama Irak, kasus ini dikembalikan kepada dua pendapat mengenai apakah mahar itu menjadi tanggungan karena akad atau karena penyerahan, dan dengan apa istri berhak kembali (mengambil haknya). Jika kita katakan bahwa ia berhak kembali dengan setengah nilai (budak), maka anak itu sepenuhnya menjadi milik istri, karena anak itu lahir dalam kepemilikannya dan perceraian terjadi setelah anak itu terpisah dan berdiri sendiri. Dan menurut pendapat nilai, kita tidak memutuskan batalnya mahar karena kerusakan (budak), melainkan tetap menetapkan keberlangsungan akad. Mereka juga berkata, jika kita katakan mahar menjadi tanggungan karena akad dan istri berhak kembali dengan setengah mahar mitsil, maka mereka menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: anak itu milik suami dan istri tidak memiliki hak apapun atasnya. Karena jika kita mewajibkan setengah mahar mitsil, maka kita mewajibkannya sebelum akad dan membatalkan kepemilikan secara keseluruhan.

وفي المسألة قول مخرّج على أن الولد يكون لها فإن الفسخ والانفساخ لا يستند إلى زمان متقدم بل يقطع الملك في الحال وقد تقدم حصول المولود على سبب الانفساخ وقد ذكرنا مثل هذا الاختلاف فيه إذا اشترى الرجل جارية فولدت أولاداً في يد البائع ثم ماتت في يده وحكمنا بانفساخ العقد فالأولاد للبائع أو للمشتري فيه خلاف قدمته وقياس المذهب أن الأولاد للمشتري لما نبهنا عليه

Dalam masalah ini terdapat pendapat yang diturunkan bahwa anak itu menjadi miliknya, karena pembatalan atau batalnya akad tidak berlaku surut ke waktu sebelumnya, melainkan memutuskan kepemilikan pada saat itu juga. Sementara kelahiran anak telah terjadi sebelum sebab batalnya akad. Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat serupa dalam hal apabila seorang laki-laki membeli seorang budak perempuan, lalu ia melahirkan anak-anak saat masih di tangan penjual, kemudian budak itu meninggal di tangan penjual dan kami memutuskan batalnya akad; maka terdapat perbedaan pendapat apakah anak-anak itu milik penjual atau pembeli, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Qiyās mazhab menunjukkan bahwa anak-anak itu milik pembeli, sebagaimana telah kami isyaratkan.

فرع

Cabang

قال العراقيون إذا أصدق الرجل جاريةً حبلى ثم ولدت وقلنا إن الولد يثبت في حكم المعاوضة ولو كان في البيع لقوبل بقسط من الثمن فإذا ولدت وطلقها قبل المسيس ورضيت برد عين الصداق فهل للزوج حظُّ في الولد وما حكمه ذكروا فيه وجهين أحدهما له حظ فيه ولكن زاد الولد بعد الولادة فتغرم له قيمة نصف الولد يوم الولادة ووجه هذا بيّن في القياس

Orang-orang Irak berkata: Jika seorang laki-laki memberikan mahar seorang budak perempuan yang sedang hamil, lalu ia melahirkan, dan kita mengatakan bahwa anak tersebut tetap dihukumi sebagai bagian dari akad pertukaran, maka jika ini terjadi dalam jual beli, anak itu akan dihargai dengan bagian dari harga. Maka, jika budak itu melahirkan dan suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, dan ia (perempuan) rela mengembalikan mahar secara utuh, apakah suami memiliki hak atas anak tersebut dan bagaimana hukumnya? Mereka menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya: suami memiliki hak atas anak itu, tetapi anak tersebut bertambah setelah kelahiran, sehingga istri harus mengganti nilai setengah anak pada hari kelahiran. Pendapat ini jelas menurut qiyās.

والوجه الثاني أنه لا حظّ للزوج في الولد فإنه كان حملاً يوم العقد ولا يمكن معرفة قيمته وهو حمل ولما انفصل فهو زيادة في ملكها بعد الإصداق ولا يمكننا أن نضبط ما بين الحمل والولادة ولا طريق إلا أن يسقط حظ الزوج من الولد بالكلّية

Alasan kedua adalah bahwa suami tidak memiliki hak atas anak tersebut, karena anak itu masih berupa janin pada saat akad dan tidak mungkin diketahui nilainya ketika masih janin. Ketika anak itu lahir, maka itu merupakan tambahan dalam kepemilikan istri setelah akad mahar, dan kita tidak dapat menentukan secara pasti antara masa kehamilan dan kelahiran, sehingga tidak ada jalan lain kecuali hak suami atas anak tersebut gugur seluruhnya.

وإن فرّعنا على أنه مقابَلٌ بقسطٍ من العوض فإن الصداق ليس يتمحض عوضاً

Dan jika kita menganggap bahwa hal itu sebanding dengan sebagian dari imbalan, maka mahar tidak sepenuhnya menjadi imbalan.

وهذا الذي ذكروه فيه اضطراب وحاصله أن الزيادة المتصلة لا حكم لها في البيع فإذا قلنا الولد يقابله قسط من الثمن فانفصل لم تُغير تلك الزيادة التي حصلت بالولادة حكمَه والزيادة المتصلة لها حكم في الصداق ثم عَسُر اعتبارها بين احتساب الحمل وبين انفصاله فكان ترددهم لذلك

Apa yang mereka sebutkan di sini terdapat kerancuan, dan intinya adalah bahwa tambahan yang melekat (al-ziyādah al-muttaṣilah) tidak memiliki pengaruh dalam jual beli. Maka jika kita katakan bahwa anak (yang lahir) sebanding dengan bagian dari harga, kemudian ia terpisah, maka tambahan yang terjadi karena kelahiran itu tidak mengubah hukumnya. Tambahan yang melekat memiliki pengaruh dalam masalah mahar (ṣadaq), kemudian menjadi sulit untuk mempertimbangkannya antara menghitung saat masih berupa janin dan setelah terpisah, sehingga mereka pun ragu karena hal itu.

وإذا قلنا الحمل لا يقابله قسط من الثمن فالوجه القطع بأنه لا حظّ للزوج في الولد وهو بمثابة ما لو حدث العلوق به بعد العقد

Dan jika kita mengatakan bahwa kehamilan tidak memiliki bagian dari harga, maka pendapat yang tepat adalah bahwa suami tidak memiliki hak sedikit pun atas anak tersebut, dan hal ini sama seperti jika kehamilan itu terjadi setelah akad.

فصل قال الشافعي والنخل مُطْلِعة الفصل

Bagian: Imam Syafi‘i berkata, pohon kurma termasuk yang berbuah pada musim ini.

ذكر الشافعي تفصيل القول فيه إذا أصدق امرأته نخيلاً فأطلعت ثم طلقها قبل المسيس وهذه المسألة كثيرة الأقسام منتشرة الأحكام والرأيُ أن نمهد في أولها ما يدخل تحت التمهيد ثم نرسل المسائل ونذكر في كل مسألة ما يليق بها ونطلب الاستيعاب جهدنا ثم نتُبع المسائل بما يضبطها والله ولي التوفيق

Imam Syafi‘i menyebutkan rincian pendapat dalam masalah ini, yaitu apabila seseorang memberikan mahar kepada istrinya berupa kebun kurma, lalu kebun itu berbuah, kemudian ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri. Masalah ini memiliki banyak cabang dan hukum yang beragam. Pendapat kami adalah memulai dengan penjelasan awal tentang hal-hal yang termasuk dalam pengantar, kemudian kami akan menguraikan permasalahan-permasalahan secara terpisah, menyebutkan pada setiap masalah apa yang sesuai dengannya, dan berusaha membahasnya secara menyeluruh semampu kami. Setelah itu, kami akan menambahkan hal-hal yang dapat merangkum permasalahan tersebut. Allah adalah pemilik taufik.

فنقول أولاً الطلع قبل التأبير زيادةٌ محضة لا نقصان فيها وحمل الجارية زيادة من وجه نقصان من وجه لما فيه من الإفضاء إلى الغرر والحمل في البهائم فيه وجهان ذكرهما العراقيون أحدهما زيادة من كل وجه فإنه لا يفضي إلى الخطر في غالب الأمر

Maka kami katakan pertama-tama bahwa bunga kurma sebelum penyerbukan adalah tambahan murni yang tidak mengandung kekurangan apa pun, sedangkan kehamilan pada budak perempuan merupakan tambahan dari satu sisi dan kekurangan dari sisi lain karena di dalamnya terdapat kemungkinan terjadinya gharar. Adapun kehamilan pada hewan ternak, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak; salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan tambahan dari segala sisi karena umumnya tidak menimbulkan risiko.

والثاني أنه زيادة ونقصان كما ذكرنا في الحبالى فإن كل حامل تلد فلا بد من أن يدخلها نقص في البنية

Kedua, bahwa itu adalah penambahan dan pengurangan, sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus wanita hamil, karena setiap wanita hamil yang melahirkan pasti akan mengalami kekurangan pada fisiknya.

فهذه مقدمة ذكرناها ونعود بعدها إلى رسم المسائل على أقرب ترتيب فنقول إذا أصدقها نخيلاً فأطلعت وأُبّرت ثمّ طلقها فالثمار بعد التأبير في حكم زيادة منفصلة فلو أراد الزوج أن يكلّف المرأة قطع الثمار لم يكن له ذلك فإنها ظهرت والملكُ ملكها فلا سبيل إلى إجبارها على قطع ثمارها ولو قال أرجع في نصف النخيل ونصف الثمار لم يكن له ذلك فإن جميع الثمار لها من أجل أنها ظهرت وملكُها كامل في الصداق

Ini adalah sebuah pendahuluan yang telah kami sebutkan, dan setelahnya kami akan kembali menyusun permasalahan dengan urutan yang paling mendekati. Kami katakan: Jika seorang suami memberikan mahar berupa pohon kurma, lalu pohon itu berbuah dan telah dibuahi, kemudian ia menceraikannya, maka buah yang muncul setelah proses pembungaan dianggap sebagai tambahan yang terpisah. Jika suami ingin memaksa istri untuk memotong buah tersebut, ia tidak berhak melakukannya, karena buah itu telah muncul dan kepemilikannya adalah milik istri, sehingga tidak ada jalan untuk memaksanya memotong buah miliknya. Jika suami berkata, “Saya ingin mengambil kembali setengah pohon kurma dan setengah buahnya,” maka ia tidak berhak melakukannya, karena seluruh buah itu milik istri, sebab buah tersebut telah muncul dan kepemilikan istri atas mahar itu sudah sempurna.

ولو قال الزوج أرجع في نصف النخيل وأترك ثمارك إلى الجداد فلا ينفصل الأمر بهذا المقدار فإنها تحتاج إلى تتمة ثمارها بالسقي ثم فائدة السقي لا تنحصر على الثمار بل يرجع الحظ الأوفر إلى النخيل فلا سبيل إلى تكليفها السقي وفائدته ترجع إلى ما يُقدّر راجعاً إلى الزوج بحكم التشطر

Jika suami berkata, “Aku menarik kembali setengah dari pohon kurma dan membiarkan buahnya untukmu hingga masa panen,” maka perkara ini tidak dapat dipisahkan hanya dengan kadar tersebut, karena buahnya masih membutuhkan penyempurnaan dengan penyiraman. Selain itu, manfaat dari penyiraman tidak hanya terbatas pada buah, melainkan bagian terbesar manfaatnya kembali kepada pohon kurma itu sendiri. Maka, tidak ada jalan untuk membebankan kepadanya (istri) kewajiban menyiram, sementara manfaatnya diperkirakan kembali kepada suami berdasarkan ketentuan pembagian setengah.

ولو قالت المرأة للزوج المطلق اصبر حتى آخذ ثماري ثم ارجع لم يكن لها أن تكلف الزوج ذلك فإن فيه إلزامَه تأخير حقه وهذا لا سبيل إليه

Jika seorang wanita berkata kepada suami yang menceraikannya, “Bersabarlah sampai aku mengambil hasil kebunku, lalu aku akan kembali,” maka ia tidak berhak memaksa suaminya untuk melakukan hal itu, karena hal tersebut berarti mewajibkan suami menunda haknya, dan itu tidak dibenarkan.

ولو قالت ارجع في نصف النخيل وبقِّ ثماري إلى الجِداد واسق ما رجع إليك لم يكن لها ذلك فإن سقيه يرجع فائدته إلى ثمارها فتكليف الرجل تنمية ثمارها لا وجه له

Dan jika ia berkata, “Kembalikan setengah pohon kurma dan biarkan buahnya tetap milikku hingga masa panen, lalu siramilah bagian yang kembali kepadamu,” maka ia tidak berhak atas hal itu. Sebab, penyiraman tersebut manfaatnya kembali kepada buahnya, sehingga membebani laki-laki untuk mengembangkan buahnya tidaklah beralasan.

فهذه مسائل اتفق الأصحاب عليها وعلى الناظر في المسألة أن يفهمها ويودعها حفظه مفصلة

Inilah beberapa permasalahan yang telah disepakati oleh para sahabat (ulama mazhab), dan bagi orang yang menelaah masalah ini hendaknya memahaminya serta menghafalnya secara terperinci.

ولو قالت ارجِع في نصف النخيل وقد تركتُ عليك نصف الثمار نُظر فإن كانت الثمار مؤبّرة فهل يلزم الزوج ذلك فعلى وجهين مشهورين أحدهما لا يلزمه قبول الثمار فإنها زوائد في حكم المنفصلة فإلزامه قبولها وتقلُّد مِنَّتِها بعيدٌ

Jika seorang wanita berkata, “Aku rujuk pada separuh pohon kurma dan aku tinggalkan untukmu separuh buahnya,” maka hal itu perlu diteliti. Jika buahnya sudah dibuahi, apakah suami wajib menerima hal tersebut? Ada dua pendapat yang masyhur; salah satunya adalah suami tidak wajib menerima buahnya, karena buah tersebut merupakan tambahan yang hukumnya seperti bagian yang terpisah, sehingga mewajibkan suami untuk menerimanya dan menanggung kebaikannya adalah hal yang jauh (tidak tepat).

والثاني يلزمه فإن الثمار وإن كان لها حكم الانفصال فهي كالمتصلة في هذه المسائل لعسر الأمر وتعذر إمضائه مع رعاية الجانبين فصار تعذر الأمر بمثابة تعذر فصل الزوائد المتصلة

Yang kedua, ia wajib menanggungnya, sebab meskipun buah-buahan memiliki hukum terpisah, dalam masalah-masalah ini ia diperlakukan seperti masih melekat karena sulitnya perkara dan tidak mungkin melaksanakannya dengan tetap memperhatikan kedua belah pihak. Maka, kesulitan dalam perkara ini dianggap seperti kesulitan memisahkan tambahan yang masih melekat.

وإن كانت الثمار بعد طلعها غيرَ مؤبّرة فالذي ذهب إليه جماهير الأصحاب أنها قبل التأبير بمثابة السِّمن وسائر الزوائد المتصلة حتى لو تركت على زوجها نصف الطلع لزمه قبوله

Jika buah-buahan setelah munculnya bakal buah belum diserbuki, maka menurut mayoritas ulama mazhab, sebelum proses penyerbukan, buah-buahan tersebut diperlakukan seperti lemak dan tambahan-tambahan lain yang masih melekat, sehingga jika istri meninggalkan setengah bakal buah kepada suaminya, maka suami wajib menerimanya.

وذكر العراقيون وصاحب التقريب طريقة أخرى من تنزيل الثمار قبل التأبير منزلتها إذا هي أُبِّرت حتى تُخرَّجَ المسألةُ على وجهين في أن الزوج هل يُجبر على قبولها إذا سمحت بها وسبب ذلك أن الثمار قبل التأبير تقبل الإفراد بالبيع على رأيٍ ظاهر خلاف السِّمَنِ وغيرِه من الزوائد المتصلة

Orang-orang Irak dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan cara lain dalam memperlakukan buah-buahan sebelum penyerbukan, yaitu diperlakukan seperti buah-buahan setelah penyerbukan, sehingga permasalahan ini dapat dikembangkan menjadi dua pendapat mengenai apakah suami dapat dipaksa untuk menerima jika istri memberikannya secara sukarela. Sebabnya adalah karena buah-buahan sebelum penyerbukan dapat dijual secara terpisah menurut pendapat yang jelas, berbeda dengan lemak dan tambahan-tambahan lain yang menyatu.

ومما يتعلق بذلك أن الزوج لو قال أرجع في نصف النخيل وألتزم السقي فهل يجاب إلى ذلك فعلى وجهين أحدهما يجاب فإنه كفاها مؤونة السقي وهذا هو الذي كنا نحاذره في إلزامها بسقي نخيل الغير والثاني لا يلزمها إجابته فإنه لا يجد بداً من مداخلة البستان في سقي النخيل وتعهدها وقد لا ترضى المرأة به فإن لم نوجب إجابته إلى ما يلتمس من ذلك فلا كلام وإن أوجبنا إجابته فالتزامه السقي وعْدٌ منه إن وفى به استقر الأمر وإن بدا له فلا معترض ولكن يبين أن رجوعه في نصف النخيل باطل

Terkait dengan hal itu, jika suami berkata, “Aku menarik kembali pada separuh pohon kurma dan aku berkomitmen untuk menyiraminya,” apakah permintaannya itu dikabulkan? Maka ada dua pendapat: pertama, dikabulkan, karena ia telah mencukupi istrinya dari beban menyiram, dan inilah yang kami khawatirkan jika mewajibkan istri untuk menyiram pohon kurma milik orang lain. Kedua, tidak wajib mengabulkan permintaannya, karena ia tidak bisa tidak harus masuk ke kebun untuk menyiram dan merawat pohon kurma tersebut, dan bisa jadi wanita tidak rela dengan hal itu. Jika kita tidak mewajibkan mengabulkan permintaannya, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita mewajibkan mengabulkannya, maka komitmennya untuk menyiram adalah janji darinya; jika ia menunaikannya, maka urusan tetap berjalan, dan jika ia berubah pikiran, maka tidak ada yang bisa memprotesnya. Namun, perlu dijelaskan bahwa penarikannya kembali pada separuh pohon kurma adalah batal.

فتبين مما ذكرناه أن هذا الرجوعَ في حكم الموقوف على ما يتبين من الوفاء بالسقي أو الإخلاف في الموعد

Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, jelaslah bahwa kembali kepada hukum mūqūf itu tergantung pada apa yang tampak dari pemenuhan janji dalam penyiraman atau pelanggaran terhadap waktu yang telah dijanjikan.

وألحق الأئمة بهذه الصورة ما لو أصدقها جارية فولدت في يدها ولداً مملوكاً واقتضى الحكم أن يكون الولد لها فقال الزوج أرجع بالجارية وأمنعها من إرضاع المولود فليس له ذلك فإن فيه إضراراً عَظيماً بالولد و لو قال أرجع في نصف الجارية وأرضى أن تُرضع الولد فهل يجب إسعافه فعلى الوجهين المذكورين في النخيل والتزام سقيها ونصُّ الشافعي في مسألة الولد يدل على أن الرجل لا يجاب بما يعد فإنه لا يلزمه الوفاء بالموعود

Para imam juga mengaitkan kasus ini dengan situasi di mana seorang suami memberikan seorang budak perempuan sebagai mahar kepada istrinya, lalu budak tersebut melahirkan seorang anak di tangan sang istri, dan hukum menetapkan bahwa anak itu menjadi milik istri. Jika kemudian suami berkata, “Saya ingin mengambil kembali budak perempuan itu dan melarang istri menyusui anak tersebut,” maka ia tidak berhak melakukan hal itu, karena tindakan tersebut akan sangat merugikan anak. Jika suami berkata, “Saya ingin mengambil kembali setengah dari budak itu dan rela jika istri menyusui anak tersebut,” maka apakah permintaannya harus dipenuhi? Dalam hal ini terdapat dua pendapat sebagaimana dalam kasus pohon kurma dan kewajiban menyiramnya. Pendapat Imam Syafi‘i dalam masalah anak menunjukkan bahwa suami tidak dikabulkan permintaannya, karena ia tidak wajib menepati janji yang telah diucapkannya.

ومما نذكره مرسلاً أن الزوج والزوجة لو تراضيا في النخيل على أن يؤخر الزوج حقَّه ولا يتعرض له إلى أوان الجِداد ثم إذ ذاك يطلب حقه من نصف النخيل فإذا وقع التراضي على هذا الوجه لم نعترض عليهما ولم نتعرض لهما ولكن ليس يلزمهما الوفاء بما تراضيا عليه فإن الزوج رضي بتأخر حقه وتأجيل ما لا يلزم فيه الأجل فله الرجوع عما قال

Perlu kami sebutkan secara mursal bahwa jika suami dan istri saling sepakat mengenai pohon kurma, bahwa suami menunda haknya dan tidak menuntutnya hingga waktu panen, kemudian setelah itu ia menuntut haknya atas setengah pohon kurma, maka jika kesepakatan terjadi dengan cara seperti ini, kami tidak mempersoalkan dan tidak mencampuri urusan mereka. Namun, mereka tidak wajib memenuhi apa yang telah mereka sepakati, karena suami rela menunda haknya dan menangguhkan sesuatu yang sebenarnya tidak wajib ditangguhkan, maka ia berhak untuk menarik kembali ucapannya.

ولو أصر الرجل على موعده فأرادت المرأة الرجوع كان لها ذلك لأنها تحتاج إلى السقي والتعهد ثم يرجع النفع إلى النخيل ومآل الأمر مصير نصف النخيل إلى الزوج فلها أن ترجع عن رضاها بذلك فإنهما لم يُذكر بينهما في الصورة التي ذكرناها إلا تواعداً على تأخير الحق غيرَ لازم كما ذكرنا

Jika seorang laki-laki tetap bersikeras pada janjinya, lalu perempuan ingin menarik kembali persetujuannya, maka ia berhak melakukannya. Sebab, perempuan membutuhkan penyiraman dan perawatan, kemudian manfaatnya kembali kepada pohon kurma, dan pada akhirnya setengah pohon kurma itu akan menjadi milik suami. Maka, perempuan berhak menarik kembali kerelaannya atas hal itu, karena yang terjadi di antara keduanya dalam gambaran yang telah kami sebutkan hanyalah saling berjanji untuk menunda hak yang tidak mengikat, sebagaimana telah kami jelaskan.

ولو تراضيا على أن يرجع الزوج إلى الملك في نصف النخيل عاجلاً ويترك الثمار لها إلى وقت الجِداد فإذا ثبت تراضيهما على هذا الوجه لزم الوفاء به فإن بدا للزوج وقال أحتاج إلى سقي النخيل والنفعُ يرجع إلى ثمارها قلنا قد رضيت فإن شئت فاترك السقي ونحن حملنا رضاك على التزام الضرر إن كان ضرر

Jika kedua belah pihak telah sepakat bahwa suami akan kembali memiliki setengah dari pohon kurma secara langsung dan membiarkan buahnya tetap menjadi milik istri hingga waktu panen, maka apabila telah terbukti adanya kesepakatan di antara keduanya dengan cara seperti ini, wajib untuk menepatinya. Jika kemudian suami berubah pikiran dan berkata, “Aku membutuhkan untuk menyirami pohon kurma, sedangkan manfaatnya kembali kepada buahnya,” maka kami katakan, “Engkau telah rela. Jika engkau mau, tinggalkanlah penyiraman, dan kami menganggap kerelaanmu sebagai bentuk menerima kerugian jika memang ada kerugian.”

ولو قالت المرأة رجعت عن رضاي فإني أحتاج إلى السقي لأجل الثمار

Jika seorang wanita berkata, “Aku telah menarik kembali kerelaanku karena aku membutuhkan air untuk menyirami tanaman,”

والنفع يرجع إلى النخيل قلنا اتركي السقي فإن كان يلحقك ضرر فقد رضيتِ به

Dan manfaatnya kembali kepada pohon kurma, kami katakan: tinggalkanlah penyiraman itu, maka jika engkau tertimpa mudarat, berarti engkau telah rela dengannya.

ويخرج منه أن كل واحد منهما لا يرجع عما رضي به ولا يجب على واحد منهما السقي فمن أراده لم يمنع منه

Dari situ dapat dipahami bahwa masing-masing dari keduanya tidak boleh menarik kembali apa yang telah disepakatinya, dan tidak wajib bagi salah satu dari mereka untuk memberi minum; maka siapa pun yang menginginkannya tidak boleh dilarang darinya.

فهذا بيان هذه المسائل المرسلة ولم نذكر بعدُ عند تنازعهما ما نحملهما عليه لأن ذلك يبين آخراً

Berikut adalah penjelasan mengenai masalah-masalah mursal ini, dan kami belum menyebutkan, ketika terjadi perselisihan antara keduanya, apa yang akan kami tetapkan atas keduanya, karena hal itu akan dijelaskan nanti.

ونحن نذكر نوعاً من الضبط ثم نختم المسألة بما فيه تمام البيان إن شاء الله عز وجل

Kami akan menyebutkan satu jenis penjelasan, kemudian kami akan menutup pembahasan ini dengan penjelasan yang sempurna, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فنقول هذه المسائل تجرى على ثلاثة أصناف أحدها مفروض فيما يقوله الرجل والمرأة تأباه

Maka kami katakan bahwa masalah-masalah ini terbagi menjadi tiga jenis; yang pertama adalah yang berkaitan dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki, namun ditolak oleh perempuan.

والثاني فيما تقوله المرأة والرجل يأباه

Yang kedua adalah mengenai apa yang dikatakan oleh perempuan namun ditolak oleh laki-laki.

والثالث فيما يتراضيان عليه

Dan yang ketiga adalah mengenai apa yang disepakati oleh kedua belah pihak.

فأما ما يقوله فمنه أن يقول اقطعي الثمار فلا يجاب ومنه أن يقول أرجع إلى نصف النخيل مع نصف الثمار فلا يجاب ومنه أن يقول أرجع إلى نصف النخيل ولا ألتزم السقي والتعهد ففي المسألة وجهان أظهرهما أنه لا يجاب إلى ذلك ولا تكلف المرأة الرضا به لما قدمنا ذكره من تضررها بمداخلته فهذا بيان ما يذكره الزوج مبتدئاً

Adapun apa yang dikatakannya, di antaranya adalah jika ia berkata, “Potonglah buah-buahan itu,” maka permintaannya tidak dikabulkan. Atau jika ia berkata, “Saya kembali kepada setengah pohon kurma beserta setengah buahnya,” maka permintaannya juga tidak dikabulkan. Atau jika ia berkata, “Saya kembali kepada setengah pohon kurma tanpa berkomitmen untuk menyiram dan merawatnya,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; yang lebih kuat adalah bahwa permintaannya tidak dikabulkan dan wanita tidak diwajibkan untuk menerima hal itu, karena sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, hal itu akan merugikan wanita akibat campur tangan suaminya. Demikianlah penjelasan mengenai apa yang diucapkan oleh suami sebagai permulaan.

فأما ما تذكره المرأة والزوج يأباه فمن ذلك أن تقول أخِّر حقك إلى الجِداد فلا تجاب فإن حقَّ الزوج معجّل ولو قالت ارجِعْ في نصف الشجر وثمرتي تبقى فالرجل لا يجيبها إلى مرادها فإن الثمار تمتص من رطوبات الأشجار إن لم تُسق فإن سُقيت فالنفع يرجع بعضَ الرجوع إلى الثمار ولو أنها ابتدرت وجدَّت الثمرة عاجلاً فحق الزوج يثبت في نصف العين إذا لم تُنْتَقَص الأشجار بالثمار ولم تُكسر سَعفها وأغصانها

Adapun apa yang dikatakan oleh perempuan namun ditolak oleh suaminya, di antaranya adalah jika ia berkata, “Tangguhkan hakmu sampai musim panen,” maka permintaannya tidak dikabulkan, karena hak suami itu segera (harus dipenuhi). Jika ia berkata, “Kembalikanlah pada setengah pohon, dan buahnya tetap milikku,” maka suami tidak perlu memenuhi keinginannya, karena buah-buahan itu menyerap kelembapan dari pohon-pohon jika tidak disiram, dan jika disiram maka sebagian manfaatnya kembali kepada buah-buahan. Jika perempuan itu segera memetik dan mengambil buahnya lebih awal, maka hak suami tetap berlaku atas setengah dari benda (pohon) tersebut, selama pohon-pohon itu tidak berkurang karena buahnya dan tidak patah pelepah atau rantingnya.

ولو قالت خذ نصف النخيل ونصف الثمار فهل يجبر الزوج على قبول ذلك فيه وجهان وذكر تفصيل في المؤبرة وغير المؤبرة فهذا بيان قسمين

Jika istri berkata, “Ambillah separuh pohon kurma dan separuh buahnya,” apakah suami diwajibkan menerima hal itu? Ada dua pendapat dalam hal ini, dan disebutkan perincian antara pohon kurma yang sudah dibuahi dan yang belum dibuahi. Maka ini adalah penjelasan dua bagian tersebut.

القسم الثالث فيما يتراضيان عليه وفيه مسالتان إحداهما أن يتراضيا على أن يسقي الزوج حتى تُجدّ الثمرة فهذا تواعد ولا يجب على واحد منهما الوفاء بما وعد والمسالة الثانية أن يتراضيا على أن يختار الزوج نصف النخيل في الحال وتبقى الثمرة إلى الجداد فعلى كل واحد منهما ضرار من وجه وقد بيّنا ابتداء كل واحد منهما بذكر هذا القسم وأوضحنا أنه لا يُجاب إلى مُلْتَمَسِه فإذا وقع التراضي منهما فقد رضي كل واحد بما يناله من الضرر في هذا القسم وليس ما وقع التراضي به تواعداً على تأخير حق ولكن مضمون ما تراضيا عليه تعجيل حق لزم

Bagian ketiga membahas tentang apa yang disepakati bersama oleh kedua belah pihak, dan di dalamnya terdapat dua permasalahan. Pertama, jika keduanya sepakat bahwa suami akan menyirami (tanaman) hingga buahnya matang, maka ini hanya merupakan janji dan tidak wajib bagi salah satu dari mereka untuk menepati janji tersebut. Permasalahan kedua, jika keduanya sepakat bahwa suami memilih setengah dari pohon kurma saat ini dan buahnya tetap dibiarkan hingga masa panen, maka masing-masing dari mereka akan mengalami kerugian dari satu sisi. Kami telah menjelaskan permulaan dari masing-masing pihak dengan menyebutkan bagian ini dan telah memperjelas bahwa permintaan tersebut tidak dikabulkan. Jika keduanya telah sepakat, berarti masing-masing telah rela menerima kerugian yang didapatkan dalam bagian ini. Apa yang telah disepakati bersama bukanlah janji untuk menunda hak, melainkan inti dari apa yang mereka sepakati adalah percepatan hak yang telah menjadi kewajiban.

فهذا بيان تزاحم الأقسام

Inilah penjelasan tentang terjadinya pertentangan antara berbagai macam kategori.

وليعلم الناظر أنا لم نغادر من البيان شيئاً ولكن طباع هذا الفصل تقتضي أن يكرره الناظر مراراً

Dan hendaklah diketahui oleh pembaca bahwa kami tidak meninggalkan sedikit pun dari penjelasan, namun sifat bahasan pada bab ini menuntut agar pembaca mengulanginya berkali-kali.

ثم وراء ذلك المقصودُ فإنا ذكرنا ابتداء كل واحد منهما وأوضحنا ما يُجاب إليه وما لا يُجاب ثم ذكرنا تراضيهما

Kemudian setelah maksud tersebut, kami telah menyebutkan permulaan masing-masing dari keduanya dan kami telah menjelaskan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima, kemudian kami menyebutkan kerelaan keduanya.

والمقصود الأظهر أن نبيّن ما يجب تحصيله إذا ارتفعا إلى مجلس الحكم متنازِعَين فلم تسمح تيك بالثمار وروجعنا في حق الزوج فنقول حقه الناجز نصف القيمة فإن في الرجوع إلى العين من العُسر ما نبّهنا عليه ولا سبيل إلى تأخير حق الزوج وإن عادت فرضيت ببدل المهر ففيه الكلام السابق وإن رضيت بمداخلته ففيه اضطراب السقي وإن قال الزوج رضيت بتأخير حقي ففيه اضطراب السقي وإن تراضيا وقعنا في قسم التراضي والتزام نصف القيمة هذا هو اللائق بمحل التنازع لا غير

Maksud utama yang paling jelas adalah kami ingin menjelaskan apa yang wajib diperoleh apabila keduanya naik ke majelis hukum dalam keadaan bersengketa, sementara pihak istri tidak rela dengan hasil buah-buahan tersebut dan kami diminta pendapat mengenai hak suami. Maka kami katakan bahwa hak suami yang langsung adalah setengah dari nilai (mahar), karena kembali kepada barangnya (mahar) itu sendiri mengandung kesulitan sebagaimana telah kami jelaskan, dan tidak ada jalan untuk menunda hak suami. Jika kemudian istri rela dengan pengganti mahar, maka pembahasannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika ia rela suami ikut serta (dalam hasil), maka akan terjadi kekacauan dalam pengairan. Jika suami berkata, “Saya rela menunda hak saya,” maka juga akan terjadi kekacauan dalam pengairan. Jika keduanya saling merelakan, maka kita masuk dalam kategori saling merelakan dan berkomitmen pada setengah nilai (mahar). Inilah yang paling sesuai dalam kasus sengketa, tidak ada yang lain.

ثم وراء نجاز هذا أمور مرسلة يجب التنبه لها منها أنا وإن كنا نفرّع على أن نفس الطلاق يشطر الصداق من غير احتياج إلى اختيار التملك فذاك فيه إذا لم يعترض مانعٌ ما أما إذا اعترض في الصداق أمثالُ ما ذكرناه من فرض لحوق الضرر بالجانبين فجريان الملك في عين الصداق أو الرجوع إلى القيمة يتوقف على ما سبق التواطؤ عليه أو يُفرض الإرهاقُ إليه عند التنازع وهذا وإن كان بيِّناً فلا يضير التنبيه له

Kemudian, setelah penyelesaian masalah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya: meskipun kita menetapkan bahwa talak itu sendiri membagi mahar tanpa perlu adanya pilihan untuk memiliki, hal itu berlaku jika tidak ada penghalang apa pun. Namun, jika terdapat hal-hal yang menghalangi dalam mahar, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang kemungkinan timbulnya mudarat bagi kedua belah pihak, maka berlakunya kepemilikan atas mahar secara langsung atau kembali kepada nilai mahar bergantung pada kesepakatan sebelumnya atau diperkirakan adanya keterpaksaan dalam hal terjadi perselisihan. Meskipun hal ini sudah jelas, tidak ada salahnya untuk mengingatkannya.

ومما نرى ذكره أنا أجرينا ذكر الثمار وهي طلعٌ حالة الطلاق ولم تؤبّر وأدرنا فيه التفاصيل والأقسام وقد ذكرنا في كتاب التفليس أن النخيل إذا أطلعت في يد المشتري ثم استمر الحجر والثمار غير مؤبرة فقد نرى رجوعها إلى البائع إذا آثر فسخ البيع وقد يجرى مثل هذا في الحمل أيضاً إذا حدث وكان الحمل قائماً وقت الرجوع

Perlu kami sebutkan bahwa kami telah membahas tentang buah-buahan, yaitu ketika mayang kurma muncul pada saat perceraian dan belum dibuahi, serta kami telah menguraikan rincian dan pembagiannya. Kami juga telah menyebutkan dalam Kitab Taflis bahwa jika pohon kurma telah berbuah di tangan pembeli kemudian terjadi penyitaan, dan buahnya belum dibuahi, maka kami memandang buah itu kembali kepada penjual jika ia memilih membatalkan jual beli. Hal yang serupa juga dapat terjadi pada janin jika kejadiannya demikian dan janin itu masih ada pada saat pembatalan.

وهذا لا يجري في الصداق والسبب فيه أن الطلع والحمل لا ينحطان عن زيادة متصلة وقد ذكرنا أن الزيادة المتصلة تُثبت للمرأة حق الاستسماك بعين الصداق والزيادة المتصلة لا أثر لها في المبيع الذي يرجع فيه البائع فإنا جعلنا الطلع والحمل كزيادة متصلة تعلق بهما رجوع البائع ولا يتحقق مثل هذا في حق الزوج

Hal ini tidak berlaku pada mahar, dan sebabnya adalah karena buah yang masih muda dan kandungan tidak mengurangi adanya tambahan yang menyatu. Telah kami sebutkan bahwa tambahan yang menyatu memberikan hak bagi perempuan untuk tetap mempertahankan mahar beserta tambahannya. Tambahan yang menyatu tidak berpengaruh pada barang jualan yang dikembalikan oleh penjual, karena kami menganggap buah yang masih muda dan kandungan sebagai tambahan yang menyatu yang terkait dengan hak penjual untuk kembali, dan hal seperti ini tidak dapat diterapkan pada hak suami.

ومما نذكره في اختتام الفصل أنه لو أصدق امراته نوعاً آخر من الأشجار سوى النخيل فانعقد نَوْرُها في يدها فظهور النَّوْر ينزل منزلة بدوّ الطلع وانعقادُ الثمار مع تناثر النَّور ينزل منزلة التأبير

Perlu kami sebutkan di akhir bab ini bahwa jika seseorang memberikan mahar kepada istrinya berupa jenis pohon lain selain pohon kurma, lalu bunganya mulai bermunculan saat pohon itu sudah berada di tangan istrinya, maka kemunculan bunga tersebut diperlakukan seperti kemunculan mayang pada pohon kurma. Sedangkan terbentuknya buah setelah bunga-bunga itu gugur diperlakukan seperti proses penyerbukan.

وقد بان الغرضُ في كل واحد من الأصلين وهذا نجاز الفصل

Tujuan dari masing-masing dari kedua pokok tersebut telah menjadi jelas, dan dengan ini selesailah pembahasan bab ini.

فصل قال الشافعي وكذلك الأرض تزرعها أو تغرسها أو تحرثها إلى آخره

Bagian: Imam Syafi’i berkata, demikian pula tanah; engkau menanaminya, menanaminya dengan pohon, atau mengolahnya, dan seterusnya.

رأى المزني هذه الأمور مجتمعة في كلام الشافعي ونقله على إثر مسألة الطلع وظن أن الشافعي يُجري الغراس والزرع والحراثة مجرى الطلع في كل تفصيل وأخذ يعترض ويبيّن أن الزراعة في الأرض نقصٌ من جميع الوجوه في كلام طويل له وكلامه في بيان تفاوت الزرع والغراس والحراثة صحيح ولكن ظنّه أن الشافعي أجراها مجرى الطلع خطأ وفي نظم كلام الشافعي تعقيدٌ لا يطلع عليه إلا من جمع إلى فهمه أوفر حظ من اللغة والشافعي ذكر فيما تقدم من المسائل ما يكون نقصاً محضاً وذكر ما يكون زيادةً من كل وجه وأبان الحكم فيما يكون زيادة من وجهٍ ونقصاناً من وجه ثم ذكر الزراعة والغراسة والحراثة عطفاً على الأقسام المختلفة ولم يعطفها على الطلع خاصة ونحن نذكر الآن التفصيل في المسائل التي جمعها المزني في الفصل

Al-Muzani melihat hal-hal ini terkumpul dalam perkataan asy-Syafi‘i dan menukilkannya setelah pembahasan masalah thala‘, lalu ia mengira bahwa asy-Syafi‘i memperlakukan tanaman, tumbuhan, dan pengolahan tanah sama seperti thala‘ dalam setiap rincian, sehingga ia mulai mengkritik dan menjelaskan bahwa pertanian di atas tanah merupakan kekurangan dari segala sisi dalam penjelasan panjang lebar darinya. Penjelasannya tentang perbedaan antara tanaman, tumbuhan, dan pengolahan tanah memang benar, namun anggapannya bahwa asy-Syafi‘i memperlakukan semuanya seperti thala‘ adalah keliru. Dalam susunan perkataan asy-Syafi‘i memang terdapat kerumitan yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang selain memahami fiqh juga memiliki penguasaan bahasa yang memadai. Asy-Syafi‘i telah menyebutkan dalam pembahasan sebelumnya tentang hal-hal yang merupakan kekurangan murni, dan menyebutkan hal-hal yang merupakan tambahan dari segala sisi, serta menjelaskan hukum terhadap sesuatu yang merupakan tambahan dari satu sisi dan kekurangan dari sisi lain. Kemudian ia menyebutkan pertanian, penanaman, dan pengolahan tanah sebagai tambahan dari berbagai kategori, dan tidak mengaitkannya hanya pada thala‘ saja. Sekarang kami akan menjelaskan secara rinci masalah-masalah yang telah dikumpulkan oleh al-Muzani dalam bab ini.

أما الزرع فنقصانٌ في الأرض من كل وجه فلا نكلف الزوج الرضا بنصف الأرض مزروعة وله نصف القيمة والأرض بيضاء فإن رضي بها مزروعة لزم إجابته وليس كما قدمناه في الثمار من جهة أن الزوج إذا رضي بنصف النخيل وتَبْقِيَةِ الثمار للمرأة فالسقي الذي يُنمِّي الثمار يزيد في الأشجار والسقي الذي ينمي الزرع لا ينفع الأرض فإذا رضي الزوج بنصف الأرض وجبت إجابته فإن الأرض لا تزداد بتعهد الزرع

Adapun tanaman, maka itu merupakan kekurangan pada tanah dari segala sisi, sehingga kita tidak membebani suami untuk menerima setengah tanah dalam keadaan sudah ditanami, sementara ia hanya mendapatkan setengah nilai dan tanah dalam keadaan kosong. Jika ia rela dengan tanah yang sudah ditanami, maka permintaannya wajib dipenuhi. Ini berbeda dengan yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai buah-buahan, karena jika suami rela dengan setengah pohon kurma dan buahnya tetap menjadi milik istri, maka penyiraman yang menumbuhkan buah akan menambah kualitas pohon, sedangkan penyiraman yang menumbuhkan tanaman tidak memberikan manfaat pada tanah. Maka jika suami rela dengan setengah tanah, permintaannya wajib dipenuhi, karena tanah tidak bertambah nilainya dengan perawatan tanaman.

فعلى هذا لو تبرعت على الزوج بنصف الزرع إذا كان لا يرضى بنصف الأرض لمكان الزرع فقد ذكرنا وجهين في أنها لو تبرعت بنصف الثمار المؤبّرة في مسألة النخيل فهل يُجبر الزوج على قبوله والزرع في حكم الثمار المؤبرة فتخرج المسألة على وجهين في إجبار الزوج على القبول

Dengan demikian, jika istri memberikan secara sukarela kepada suami setengah hasil tanaman, sementara suami tidak rela menerima setengah tanah karena adanya tanaman tersebut, maka telah kami sebutkan dua pendapat dalam masalah apabila istri memberikan secara sukarela setengah buah kurma yang telah dibuahi pada kasus pohon kurma: apakah suami dipaksa untuk menerimanya atau tidak. Hasil tanaman dipersamakan dengan buah kurma yang telah dibuahi, sehingga permasalahan ini keluar pada dua pendapat mengenai apakah suami dipaksa untuk menerima atau tidak.

وهذا الذي ذكره صاحب التقريب غلط مأخوذ عليه من جهة أن الثمار زيادة لا تنقص النخيل والزرعُ وإن كان زيادة فالأرض منتقِصةٌ به وقد ذكرنا أنه إذا اجتمعت زيادةٌ ونقصانٌ لم يملك واحد منهما إجبار صاحبه

Apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb adalah kekeliruan yang dapat dicatat darinya, karena buah-buahan merupakan tambahan yang tidak mengurangi pohon kurma, sedangkan tanaman meskipun merupakan tambahan, tanah menjadi berkurang karenanya. Telah kami sebutkan bahwa jika terdapat tambahan dan pengurangan secara bersamaan, maka salah satu dari keduanya tidak berhak memaksa pemilik yang lain.

ومما يتعلق بالزرع أن الزوج إذا طلّقها فابتدرت واقتلعت الزرع فالغالب أن النقص يبقى في الأرض إلى مدة فإن الأرض فيما ذكره الحرّاثون تضعف بالزراعة ولذلك يعسُر موالاة الزراعة في كل سنة فإن فرض زرع لا يُعقب نقصاً في الأرض فإذا ابتدرت وقلعت الزرع فحق الزوج انحَصَر في نصف الأرض فإن أعقب الزرعُ نقصاناً فالزوج على خِيَرته فإن رضي بقبول نصف الأرض مزروعة فعليه أن يُبقي الزرع فيها بالأجرة لأنها زرعت لما زرعت ملكَها الخالص هذا قولنا في الزرع

Terkait dengan tanaman, apabila suami menceraikannya lalu istri segera mencabut tanaman tersebut, umumnya kerusakan akan tetap ada di tanah untuk beberapa waktu, karena menurut para petani, tanah menjadi lemah akibat penanaman. Oleh karena itu, sulit untuk menanam terus-menerus setiap tahun. Jika diasumsikan ada tanaman yang tidak menimbulkan kerusakan pada tanah, maka jika istri segera mencabut tanaman tersebut, hak suami terbatas pada setengah tanah. Namun, jika tanaman tersebut menyebabkan kerusakan, maka suami memiliki pilihan: jika ia rela menerima setengah tanah yang sudah ditanami, maka ia wajib membiarkan tanaman itu tetap di sana dengan membayar sewa, karena tanaman itu ditanam ketika tanah tersebut masih menjadi milik penuh istri. Inilah pendapat kami mengenai tanaman.

أما الغراس فإنه بمثابة الزرع في جميع ما ذكرنا فإن الأرض مفردةً ناقصةُ القيمة والغرس لا يزيدها شيئاً فإن بذلت نصف الغراس فهو كما لو بذلت نصف الزرع فلا معنى للإعادة فهو كالزرع في كل وجه

Adapun tanaman yang ditanam, maka hukumnya seperti tanaman yang tumbuh dari benih dalam semua hal yang telah kami sebutkan. Tanah secara sendiri nilainya kurang, dan tanaman yang ditanam tidak menambah nilainya sedikit pun. Jika diberikan setengah dari tanaman yang ditanam, maka hukumnya seperti memberikan setengah dari tanaman yang tumbuh dari benih, sehingga tidak ada makna untuk mengulangi (pembagian), dan hukumnya sama dengan tanaman dari benih dalam segala hal.

وأما الحرث فإن كانت الأرض معدّة للزراعة فهو زيادة متصلة من كل وجه ثم لا يخفى حكم الزيادة وإن كانت مهيّأة للبناء فهو نقصان لأنه لا يتأتى البناء على الأرض المحروثة إلا ببذل مؤونة في تنضيدها ولا معنى للإطناب بعد وضوح المقصد

Adapun bercocok tanam, jika tanah tersebut memang disiapkan untuk pertanian, maka itu merupakan tambahan yang menyatu dari segala sisi, sehingga hukum tambahan tersebut pun tidak samar. Namun jika tanah tersebut dipersiapkan untuk pembangunan, maka itu dianggap sebagai pengurangan, karena pembangunan tidak dapat dilakukan di atas tanah yang telah dicangkul kecuali dengan mengeluarkan biaya untuk meratakannya kembali. Tidak ada gunanya memperpanjang penjelasan setelah maksudnya telah jelas.

فصل

Bab

قال ولو ولدت الأمة في يديه أو نُتجت الماشية إلى آخره

Ia berkata: “Dan jika budak perempuan itu melahirkan di tangannya, atau ternak itu beranak, dan seterusnya.”

إذا أصدق الرجل امرأته جاريةً حاملاً أو شاة ماخضاً فهذا يبنى على أن الحمل هل يقابله قسط من العوض في البيع وفيه اختلاف مذكور في موضعه فإن قلنا للحمل قسط فهو كما لو أصدقها عَيْنَين فإذا طلقها قبل الدخول يرجع في نصف الأم ولا يخلص الولد لها

Jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istrinya berupa seorang budak perempuan yang sedang hamil atau seekor domba yang sedang bunting, maka hal ini bergantung pada apakah kehamilan itu memiliki bagian tersendiri dari nilai dalam jual beli, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan pada tempatnya. Jika kita katakan bahwa kehamilan memiliki bagian nilai, maka hukumnya seperti jika ia memberikan dua barang sebagai mahar. Jika ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia berhak mengambil kembali setengah dari induknya dan anak yang dikandung tidak sepenuhnya menjadi milik istrinya.

ثم يتصل بذلك أن الولد إذا انفصل فهذا في حكم زيادة متصلة والجارية قد تُعيّبها الولادة فيقع التفصيل في عيبٍ بأحد العينين وزيادة العين الثانية وقد تمهّد التفصيل في القاعدتين

Kemudian berkaitan dengan itu, apabila anak telah lahir, maka hal ini dianggap sebagai tambahan yang bersambung, dan seorang budak perempuan bisa saja cacat karena melahirkan, sehingga terdapat perincian antara cacat pada salah satu mata dan tambahan pada mata yang kedua, dan perincian ini telah dijelaskan dalam dua kaidah tersebut.

والذي نزيده الآية أن من أصحابنا من جعل نفس انفصال الولد زيادة فإنه كذلك إذ التفاوت بين الجنين وبين الولد المنفصل أكثر من التفاوت بين العبد السمين والهزيل وهذا في ظاهره إخالة وإشعار بالفقه ولكنه يغمض بالتفريع فإنا إذا جعلنا الولادة زيادة فيثبت للمرأة حق الاستمساك بالولد ثم بناؤنا على أن الزوج يرجع في قسط من الولد فكيف يقدّر رجوعه في نصف قيمة الولد وهو مجتنٌّ والجنين لا يتقوَّمُ في البطن فأول إمكان تقويمه إذا انفصل وإذا أثبتنا للزوج نصفَ قيمته منفصلاً ففيه نَقْضُ المصير إلى أن الولد زيادة وإذا جاز أن تغرَمَ له نصف قيمة المولود حالة الانفصال فينبغي أن نُسلِّم إليه نصف المولود وإن قال هذا القائل تُقوم الجارية حاملاً ونصرف إليه نصفَ قيمتها وإذا فعلنا ذلك فقد أشركناه في الحمل فهذا محال فإن التفريع على أن الحمل يقابله قسط من العوض كما يقابل أحدَ العبدين قسط من الثمن إذا اشتمل العقد على عبدين

Tambahan yang diberikan oleh ayat ini adalah bahwa sebagian ulama dari kalangan kami menganggap bahwa kelahiran anak itu sendiri merupakan tambahan, karena memang demikian adanya; sebab perbedaan antara janin dan anak yang telah lahir lebih besar daripada perbedaan antara budak yang gemuk dan yang kurus. Secara lahiriah, hal ini tampak sebagai suatu kemungkinan dan memberi kesan adanya fiqh, namun hal ini menjadi samar ketika diterapkan pada cabang-cabang masalah. Sebab, jika kita menganggap kelahiran sebagai tambahan, maka istri berhak mempertahankan anak tersebut. Namun, kita juga berpegang pada pendapat bahwa suami berhak kembali pada bagian dari anak itu. Lalu, bagaimana mungkin ia bisa kembali pada setengah nilai anak, padahal anak itu masih berupa janin dan janin tidak dapat dinilai selama masih dalam kandungan? Penilaian pertama kali mungkin dilakukan ketika anak telah lahir. Jika kita menetapkan bagi suami setengah nilai anak setelah lahir, maka ini bertentangan dengan pendapat bahwa anak adalah tambahan. Jika boleh bagi istri untuk membayar kepada suami setengah nilai anak pada saat kelahiran, maka seharusnya ia juga menyerahkan setengah anak itu kepada suami. Jika ada yang berpendapat bahwa budak perempuan dinilai ketika sedang hamil dan diberikan setengah nilainya kepada suami, maka dengan melakukan hal itu berarti kita telah melibatkan suami dalam kehamilan, dan ini tidak masuk akal. Sebab, penerapan cabang masalah ini adalah bahwa kehamilan itu memiliki bagian dari kompensasi, sebagaimana salah satu dari dua budak memiliki bagian dari harga jika akad mencakup dua budak.

والذي يوضح ذلك أنا إذا ألزمنا المغرور بحرية زوجته قيمة الولد اعتبرنا حالة الانفصال وإن كان تفويت الرق مستنداً إلى حالة الاختيار فالصحيح إذاً أن الولد إذا انفصل وجرى الطلاق بعد انفصاله والتفريع على أنه يُقابَل بقسطٍ من العوض فالزوج يرجع في نصف الولد نعم إذا مضت أيام من الانفصال والصبيّ ينمو فيها لا محالة فيتصل الكلام بالزيادة

Yang menjelaskan hal itu adalah bahwa apabila kita mewajibkan orang yang tertipu karena mengira istrinya merdeka untuk membayar nilai anak, maka kita mempertimbangkan keadaan setelah terjadinya pemisahan, meskipun hilangnya status budak itu bersumber dari keadaan pilihan. Maka pendapat yang benar adalah bahwa jika anak telah lahir dan terjadi talak setelah kelahirannya, dan berdasarkan cabang hukum bahwa anak itu dinilai dengan sejumlah kompensasi, maka suami berhak kembali atas separuh anak tersebut. Namun, jika telah berlalu beberapa hari sejak kelahiran dan anak itu tumbuh selama waktu tersebut, maka pembahasan berlanjut pada tambahan nilai (yang terjadi karena pertumbuhan anak).

وكل ما ذكرناه فيه إذا قلنا للولد قسط

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila kami mengatakan bahwa anak memiliki bagian.

وإن قلنا لا قسط له من العوض فإذا ولدت ثم طَلّق الزوج فحكمها حكم ما لو كانت حائلاً يوم الإصداق فحبلت في يد الزوج وولدت فلا حظ للزوج في الولد ويقع النظر في الأم وقد انتقصت بالولادة

Dan jika kita mengatakan bahwa ia tidak memiliki bagian dari kompensasi, maka apabila ia melahirkan kemudian suami menceraikannya, hukumnya sama seperti jika ia tidak hamil pada hari akad mahar lalu hamil di tangan suami dan melahirkan, maka suami tidak memiliki hak atas anak tersebut dan yang menjadi perhatian adalah ibu, karena ia telah berkurang (nilainya) akibat melahirkan.

ثم الفرق بين أن يجري ذلك في يده أو يدها قد مضى مستقصًى ونحن بنينا كتابنا هذا على رفض المعادات جهدنا سيّما إذا قرب العهد ونعيد البسط لمواقع الإشكال

Kemudian perbedaan antara apakah hal itu terjadi di tangannya atau di tangannya (perempuan) telah dijelaskan secara rinci sebelumnya, dan kami membangun kitab ini atas dasar menolak permusuhan semampu kami, terutama jika waktunya masih dekat, dan kami akan mengulangi penjelasan secara luas pada tempat-tempat yang masih menimbulkan kesulitan.

وقد يتصل بما انتهينا إليه أن نقصان الولادة في يد الزوج مضمون عليه كما بيّنا أثر ذلك وما يحصل من النقص في يدها يُثبت للزوج حق الخيار في الرجوع من العين إلى القيمة

Terkait dengan apa yang telah kami jelaskan, kerusakan yang terjadi pada barang akibat tindakan suami menjadi tanggung jawabnya, sebagaimana telah kami jelaskan dampaknya. Adapun kerusakan yang terjadi akibat tindakan istri, hal itu memberikan hak kepada suami untuk memilih antara mengambil barang tersebut atau beralih kepada nilai (harga) barang.

فلو كانت حاملاً في يد الزوج ثم ولدت في يد الزوجة وانتقصت بالولادة فهذا نقصان حدث في يدها ولكنه مترتب على سبب كان في يد الزوج فإن لكل جنين اتصال ولكل حاملةٍ تمام فيجب بناء هذا على المبيع إذا جُرح في يد البائع ثم سرت الجراحة في يد المشتري فقد ظهر الاختلاف في ذلك من أصحابنا من جعل السراية من ضمان البائع لأن سببها الجراحة فعلى هذا نقصان الولادة من ضمان الزوج وإن حدث في يدها لأن الحمل كان موجوداً في يده

Jika seekor hewan sedang hamil saat berada dalam penguasaan suami, lalu melahirkan ketika berada dalam penguasaan istri dan mengalami kekurangan akibat proses melahirkan, maka kekurangan itu terjadi saat berada dalam penguasaan istri, namun hal itu merupakan akibat dari sebab yang terjadi saat berada dalam penguasaan suami. Sebab, setiap janin memiliki keterkaitan dan setiap hewan hamil memiliki kesempurnaan, sehingga hal ini harus dianalogikan dengan kasus barang yang terluka saat masih di tangan penjual, lalu luka tersebut menyebar ketika barang sudah di tangan pembeli. Dalam hal ini, para ulama kami berbeda pendapat: sebagian dari mereka berpendapat bahwa penyebaran luka menjadi tanggungan penjual karena penyebabnya adalah luka tersebut. Berdasarkan pendapat ini, kekurangan akibat melahirkan menjadi tanggungan suami meskipun terjadi saat berada dalam penguasaan istri, karena kehamilan sudah ada saat masih di tangannya.

ومن أصحابنا من قال نقصان السراية من ضمان المشتري لأنه حدث في يده فعلى هذا نقصان الولادة من ضمانها

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa kerugian akibat sariah (penyebaran luka) menjadi tanggungan pembeli karena hal itu terjadi di tangannya; berdasarkan pendapat ini, maka kerugian akibat kelahiran juga menjadi tanggungannya.

وقد بان حكم ضمانه وضمانها وإبراءُ كل واحد من الضمانين

Telah jelas hukum penjaminan olehnya dan olehnya (laki-laki dan perempuan), serta pembebasan masing-masing dari kedua penjaminan tersebut.

ثم إن المزني اختار من القول في كيفية الضمان أن الصداق مضمون بالعقد واحتج بنصوص الشافعي في مسائلَ وأخذ يُعدّدها ونحن نتبع ما أورد ونذكر في كل مسألة ما يليق بها مع اجتناب التكرير جهدَنا

Kemudian al-Muzani memilih pendapat mengenai cara penjaminan bahwa mahar dijamin dengan akad, dan ia berdalil dengan nash-nash asy-Syafi‘i dalam beberapa permasalahan serta mulai merincinya satu per satu. Kami akan mengikuti apa yang ia sebutkan dan menyebutkan dalam setiap permasalahan apa yang sesuai dengannya, dengan berusaha menghindari pengulangan semampu kami.

فمما استشهد به مسألة من مسائل الصداق ذكرها الشافعي في كتاب الخلع وهي أن الزوج إذا أصدق امرأته داراً فاحترقت قال الشافعي في جواب المسألة المرأةُ بالخيار بين أن تفسخ وترجع بمهر المثل وبين أن ترضى بالعَرْصَة وتجيزَها بحصتها من المهر

Salah satu contoh yang dijadikan sandaran adalah sebuah permasalahan tentang mahar yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i dalam Kitab al-Khul‘, yaitu apabila seorang suami memberikan mahar kepada istrinya berupa sebuah rumah, lalu rumah tersebut terbakar. Imam Syafi‘i dalam menjawab permasalahan ini mengatakan bahwa sang istri memiliki pilihan antara membatalkan akad dan kembali kepada mahar yang sepadan, atau menerima tanah kosongnya dan menyetujuinya sebagai bagian dari mahar.

وهذه المسألة لها مقدمة مذكورة في الكتب ونحن نذكر منها قدر الحاجة ثم نرمز إلى تخريج المسألة على الأصول وتنزيلها عليها فنقول إذا اشترى الرجل عبدين فتلف أحدهما في يد البائع فالقول الأصح أن العقد لا ينفسخ في القائم وينفسخ في التالف والقاعدةُ أن العقد إذا ورد على ما يقبل العقد وعلى ما لا يقبله وبطل فيما لا يقبله ففي بطلانه فيما يقبله القولان المعروفان ثم إن صححنا العقد فالخيار معروف فإن اختار المشتري الإجازة فإنه يجيز العقد فيما قَبِل العقدُ بجميع الثمن أو بقسطه فعلى قولين

Masalah ini memiliki pendahuluan yang disebutkan dalam kitab-kitab, dan kami akan menyebutkan secukupnya sesuai kebutuhan, kemudian kami akan mengisyaratkan cara mengaitkan masalah ini dengan kaidah ushul dan penerapannya. Maka kami katakan: Jika seseorang membeli dua budak, lalu salah satunya rusak di tangan penjual, pendapat yang paling sahih adalah akad tidak batal pada budak yang masih ada dan batal pada yang rusak. Kaidahnya adalah: jika akad terjadi atas sesuatu yang dapat dan tidak dapat menjadi objek akad, lalu batal pada yang tidak dapat menjadi objek akad, maka dalam hal batalnya pada yang dapat menjadi objek akad terdapat dua pendapat yang masyhur. Kemudian, jika kita menganggap akadnya sah, maka hak khiyar sudah dikenal; jika pembeli memilih untuk melanjutkan, maka ia membolehkan akad atas yang dapat menjadi objek akad dengan seluruh harga atau dengan bagian harganya, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وإذا تلف أحد العبدين فالأظهر أن الانفساخ في التالف لا يوجب الانفساخ في القائم فإن العقد قد ورد عليهما وكان سبب ارتفاعه في التالف تلفَه ثم إذا فُرضت الإجازة فالمذهب أن العقد يجاز في الباقي بقسطٍ بخلاف ما ذكرناه في أول العقد والفرق أن الثمن في أول العقد لم يقابل أحدهما وقد قابل الثمن العبدين ويستحيل إذا تلف أحدهما أن يقابل بتمامه الثاني على مناقضة المقابلة التي جرت وهذا مذكور في تفريق الصفقة فهذا أصلٌ جدّدنا العهد به

Jika salah satu dari dua budak tersebut rusak (hilang), maka pendapat yang lebih kuat adalah bahwa pembatalan pada yang rusak tidak menyebabkan pembatalan pada yang masih ada. Sebab akad telah berlaku atas keduanya, dan sebab hilangnya akad pada yang rusak adalah karena kerusakannya. Kemudian, jika diasumsikan adanya persetujuan (ijazah), maka menurut mazhab, akad dapat disetujui pada yang tersisa secara proporsional, berbeda dengan yang telah kami sebutkan pada awal akad. Perbedaannya adalah bahwa pada awal akad, harga tidak diperuntukkan bagi salah satu dari keduanya, sedangkan harga telah diperuntukkan bagi kedua budak tersebut. Tidak mungkin jika salah satu dari keduanya rusak, harga sepenuhnya diperuntukkan bagi yang kedua, karena hal itu bertentangan dengan pembagian yang telah terjadi. Hal ini disebutkan dalam pembahasan tentang pemisahan transaksi. Maka ini adalah prinsip yang kami perbarui pemahamannya.

ومن الأصول أن أطراف العبد أوصافٌ ولا يثبت لها حكم الانفراد في المقابلة بالعوض وإذا اشترى الرجل داراً فانهدمت نظر فإن كان النقضُ قائماً فالذي فات أوصافٌ لا تقابل بقسطٍ من العوض وإن فات النقضُ باحتراق أو جرف سيل وبقيت العَرْصَةُ بيضاءَ فقد ظهر اختلاف أصحابنا في أعيان النقض فمنهم من أجراها مجرى أطراف العبد حتى تقدّر أوصافَ العبد ومنهم من أجراها مجرى عبدٍ مع عبدٍ إذا فرض التلف في أحدهما وقد تقدم تمهيد ذلك في المعاملات

Di antara kaidah dasar adalah bahwa anggota tubuh budak merupakan sifat-sifat yang tidak berdiri sendiri dalam hal kompensasi. Jika seseorang membeli sebuah rumah lalu rumah itu runtuh, maka perlu dilihat: jika reruntuhannya masih ada, maka yang hilang hanyalah sifat-sifat yang tidak dapat dinilai dengan bagian dari kompensasi. Namun, jika reruntuhan itu hilang karena terbakar atau terseret banjir dan yang tersisa hanya tanah kosong, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami mengenai benda-benda reruntuhan tersebut. Sebagian dari mereka memperlakukannya seperti anggota tubuh budak, sehingga dianggap sebagai sifat-sifat budak. Sebagian lain memperlakukannya seperti dua budak, jika salah satunya dianggap rusak. Penjelasan tentang hal ini telah disampaikan sebelumnya dalam pembahasan mu‘āmalāt.

ونحن نرجع بعد هذا إلى غرض المسألة فإذا أصدق الرجل امرأته داراً فانهدمت نُظر فإن فات النظم والتآلف والنقضُ قائم فلها الخيار إذا جرى ذلك في يد الزوج ثم القول في الفسخ والإجازة وما يقع الرجوع به من مهر المثل والقيمة على ما تفصّل في نقصان الصداق بالآفة السماوية

Setelah ini, kita kembali kepada tujuan permasalahan. Jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istrinya berupa sebuah rumah, lalu rumah itu runtuh, maka perlu dilihat: jika susunan dan keterpaduan rumah itu hilang sementara puing-puingnya masih ada, maka istri berhak memilih jika hal itu terjadi di tangan suami. Kemudian pembahasan mengenai pembatalan, persetujuan, dan apa yang dapat dijadikan dasar untuk kembali kepada mahar yang sepadan atau nilai rumah, semuanya dijelaskan secara rinci dalam pembahasan tentang berkurangnya mahar karena sebab musibah.

وإن فات عين النقض خرج هذا على أن النقض صفةٌ أو عين مقصودة فهو كما إذا أصدقها عبداً فسقطت أطرافه

Jika bentuk pembatalan itu terlewatkan, maka hal ini kembali pada apakah pembatalan itu merupakan sifat atau sesuatu yang dimaksudkan secara langsung; maka keadaannya seperti ketika seseorang menjadikan seorang budak sebagai mahar, lalu anggota tubuh budak itu terputus.

ومحل تعلق المزني أنه نقل عن الشافعي رجوعها إلى مهر المثل وطريق الجواب في مثل هذا بيّن

Pokok permasalahan yang dikemukakan oleh al-Muzani adalah bahwa ia meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa perkara tersebut kembali kepada mahar mitsil, dan cara menjawab persoalan seperti ini sudah jelas.

فصل قال ولو جعل ثمر النخل في قواريرَ وجعل عليها صَقَراً من صقَر نخلها إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Seandainya buah kurma diletakkan dalam botol-botol, lalu diletakkan di atasnya pelepah dari pelepah pohon kurmanya hingga selesai.”

الصَّقَر قُطارة الرطب من غير أن يعرض على النار فإن عُرض على النار فهو دِبْس وإنما صور الشافعي هذه المسألة على عادة الحجازيين فإنهم يجتنون الرطب ويتركونه في قوارير ويصبّون عليه من القَطْر استبقاءً لرطوبة الرطب وقد يسمونه كذلك

As-saqr adalah cairan yang menetes dari buah kurma basah tanpa dipanaskan dengan api. Jika dipanaskan dengan api, maka disebut dibs. Imam Syafi‘i membahas masalah ini berdasarkan kebiasaan penduduk Hijaz, yaitu mereka memanen kurma basah lalu meletakkannya dalam wadah-wadah dan menuangkan cairan yang menetes darinya untuk menjaga kelembapan kurma tersebut, dan terkadang mereka juga menyebutnya demikian.

فصورة المسألة أنه إذا أصدقها نخلة فجعل على رطبها صقراً ويفضي الأمر إلى التفصيل في انتهاء التغير إلى التعيّب وفي نقيض ذلك

Gambaran masalahnya adalah apabila seseorang menjadikan pohon kurma sebagai mahar untuk istrinya, lalu ia meletakkan seekor elang pada buah kurma yang masih basah tersebut, maka perkara ini akan berujung pada perincian ketika perubahan itu sampai pada tahap cacat, dan juga pada kebalikannya.

واختلف أصحابنا في وضع المسألة وتصويرها فمنهم من قال صورتها إذا كانت الثمرة صداقاً وكانت كائنةً حالة الإصداق فإن أصدقها نخلة عليها ثمرةٌ مؤبرة أو غير مؤبرة ثم فعل بالثمرة وصقْرها ما وصفناه وإنما حمل هؤلاء النصَّ على هذه الصورة لأن الشافعي أثبت لها الخيارَ لما يلحق الثمرةَ وعصيرها من التغير

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam menetapkan dan menggambarkan masalah ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa gambaran masalahnya adalah ketika buah menjadi mahar dan buah tersebut sudah ada saat akad mahar dilakukan. Jika seseorang menjadikan pohon kurma sebagai mahar yang di atasnya terdapat buah, baik yang telah dibuahi maupun yang belum, lalu terhadap buah tersebut dilakukan tindakan seperti yang telah kami jelaskan, maka mereka menafsirkan nash pada gambaran ini. Hal ini karena Imam Syafi‘i menetapkan adanya hak khiyar bagi istri disebabkan adanya perubahan yang mungkin terjadi pada buah dan sarinya.

وهذا يتضمن كونها صداقاً فتفريع هذه المسألة عند هذا القائل أن يقول إذا كانت الثمرة وصقرها موجودةً حالة العقد ووقعت صداقاً فلا يخلو إما ألا ينتقص الرطب والصقر فإن كان ذلك فلا خيار لها والزوج كفاها شغل الاجتناء وتحمل المؤنة وإن انتقص فلا يخلو إما أن يكون ذلك انتقاص صفةٍ أو انتقاص عَيْن فإن كان نقصانَ صفةٍ وذلك بأن كان العصير يساوي ثلاثة دراهم فعاد إلى درهمين والمكيلة بحالها لم تنتقص فلها الخيار فإن فسخت لم يخفَ تفريعُها على اختلاف الأحوال فالمسألة مفروضة في نقصٍ ثبت بسبب فعلٍ من الزوج وهو بمثابة عيب لحق المبيع بجناية البائع ولسنا لإعادة تلك الفصول فإن أجازت العقد فتخريج أرش النقصان على قولي اليد والعقد كما مضى

Ini mencakup statusnya sebagai mahar. Maka, rincian masalah ini menurut pendapat ini adalah sebagai berikut: jika buah dan pohonnya ada saat akad dan dijadikan sebagai mahar, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: pertama, jika buah basah dan pohonnya tidak berkurang, maka tidak ada hak khiyar (pilihan) bagi istri, dan suami telah mencukupinya dengan pekerjaan memetik dan menanggung biaya. Kedua, jika terjadi pengurangan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah itu pengurangan sifat atau pengurangan zat. Jika pengurangan sifat, misalnya sari buah yang semula seharga tiga dirham menjadi dua dirham sementara takarannya tetap, maka istri memiliki hak khiyar. Jika ia membatalkan, rincian hukumnya mengikuti perbedaan keadaan. Masalah ini diasumsikan terjadi karena adanya kekurangan yang disebabkan oleh perbuatan suami, yang serupa dengan cacat yang menimpa barang jualan akibat perbuatan penjual. Kami tidak akan mengulangi pembahasan tersebut. Jika ia menyetujui akad, maka penetapan ganti rugi atas kekurangan mengikuti dua pendapat tentang kepemilikan dan akad, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وإن كان النقصان نقصانَ عين مثل أن كان أخذ من الصقر مكيلتين فشربت الأرطاب مكيلةً وبقي مكيلةٌ فحكم ذلك حكمُ ما لو أصدقها عبدين ثم أتلف الزوجُ أحدَهما ولا يخفى تفريع ذلك

Jika kekurangan itu berupa kekurangan zat, misalnya dari dua takaran kurma basah yang diambil dari burung elang, lalu kurma basah itu diminum satu takaran dan tersisa satu takaran, maka hukumnya sama seperti jika seseorang menjadikan dua budak sebagai mahar, kemudian suami membinasakan salah satunya. Tidak samar cabang-cabang hukum yang berkaitan dengan hal itu.

ثم يتصل الكلام إذا رأينا على قول اليد لها الرجوع إلى بدل الفائت لا إلى بدل البضع فالنظر في المِثْل والقيمة والقول في أن الرطب هل هو من ذوات الأمثال وكذلك الصقر إذا طبخ ومازجه ماء أو كان صِرْفاً كل ذلك مما تقدم

Kemudian pembahasan berlanjut, jika kita berpendapat bahwa tangan berhak mendapatkan ganti atas yang hilang, bukan ganti atas bagian tubuh, maka perlu diperhatikan mengenai pengganti sepadan (mitsl) dan nilai (qimah), serta pembahasan apakah kurma basah (ruthab) termasuk barang yang memiliki padanan (dzawat al-amtsal), demikian pula burung elang (shaqr) jika dimasak dan bercampur dengan air atau dalam keadaan murni, semua itu telah dibahas sebelumnya.

وهذه المسألة وأمثالها يطولها المتكلّفون بإعادة الأصول ثم لا يعتنون بالغوص على جليّات المسائل فضلاً عن مُعوصاتها

Masalah ini dan yang semisalnya sering diperpanjang oleh orang-orang yang suka bertele-tele dengan mengulang-ulang pembahasan ushul, namun mereka tidak memperhatikan pendalaman terhadap masalah-masalah yang jelas, apalagi terhadap masalah-masalah yang rumit.

وقد يطرأ في أمثال هذه المسألة ما يجب التنبه له فقد تزلّ عنه القريحة وذلك أن الرطب إذا تشرب بعض الصقر وصار مستهلكاً فيه وزناً ولكن ازدادت قيمةُ الرطب فما نقص من مكيلة الصقر مضمون وإن ازدادت قيمة الرطب بسبب ما تشرب من الصقر وهذا بمثابة ما لو أصدق امرأته قضيماً ودابة ثم عُلفت الدابةُ القضيمَ فانتفعت الدابّة وسمنت فتلك الزيادة حق المرأة والقضيم مضمون على الزوج

Dalam persoalan seperti ini, terkadang muncul hal-hal yang perlu diperhatikan karena bisa saja luput dari pemikiran. Misalnya, jika kurma basah menyerap sebagian gula hingga habis secara berat, namun nilai kurma basah tersebut justru bertambah, maka kekurangan takaran gula tetap menjadi tanggungan, meskipun nilai kurma basah bertambah akibat menyerap gula tersebut. Ini serupa dengan kasus seseorang memberikan mahar kepada istrinya berupa dedak kering dan seekor hewan, lalu hewan itu diberi makan dedak kering tersebut sehingga hewan itu mendapat manfaat dan menjadi gemuk. Maka, pertambahan berat badan hewan itu menjadi hak istri, sedangkan dedak kering tetap menjadi tanggungan suami.

ومن أصحابنا من قال صورة المسألة فيه إذا لم تكن للمرأة صداقاً وما كانت موجودة حالة العقد بل كان أصدقها نخلة ثم أثمرت في يده فالثمرة تحدث ملكاً لها وليست من جملة الصداق ونص الشافعي مصرِّحٌ بهذا في الكبير

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa gambaran masalah ini adalah jika perempuan tidak memiliki mahar dan barang tersebut tidak ada saat akad, melainkan ia dijadikan mahar berupa pohon kurma, lalu pohon itu berbuah di tangan suami. Maka buah tersebut menjadi milik istri secara baru dan bukan termasuk bagian dari mahar. Pendapat ini dinyatakan secara tegas oleh Imam Syafi‘i dalam kitab al-Kabīr.

فإذا كانت الصورة مفروضة على هذا الوجه فليست المسألة من مسائل الصداق ولكنها من مسائل الغصوب فهو كما لو غصب رجل رطباً وعصيراً وصب العصير على الرطب فالقول في ذلك ينقسم وينفصل وقد يتعفن الرطب تعفناً سارياً غير متناهي العفن وقد مضى ذلك مستقصًى في كتاب الغصوب فلا معنى للخوض فيه

Jika gambaran kasusnya seperti ini, maka permasalahan ini bukan termasuk masalah mahar, melainkan termasuk masalah ghashab. Hal ini seperti seseorang yang menggashab kurma basah dan jus, lalu menuangkan jus tersebut ke atas kurma basah. Pembahasan tentang hal ini terbagi dan terperinci; bisa jadi kurma basah tersebut membusuk dengan pembusukan yang menyebar dan tidak terbatas. Hal ini telah dijelaskan secara rinci dalam Kitab Ghashab, sehingga tidak ada gunanya membahasnya lebih lanjut di sini.

وقد يقع الفرْضُ فيه إذا صب على التمر الذي ليس بصداق صقْراً من عند نفسه فيكون كنظائره في الغصوب مثل أن يغصب ثوباً فيصبغه بصبغ من عند نفسه وهو من أصول الغصوب ولست أوثر أن أذكر في هذه المسائل إلا مراسمها ولا ينقطع ترتيب فصول السواد وإلا فلا معنى لإعادة الأصول وقد تمس الحاجة إلى إعادة أطرافٍ منها والمقصودُ غيرُها أما إعادتها بأعيانها فلا يليق بغرضنا

Terkadang kewajiban bisa terjadi dalam hal ini jika seseorang menuangkan pewarna pada kurma yang bukan merupakan mahar, dengan pewarna dari dirinya sendiri, maka hukumnya seperti kasus-kasus serupa dalam masalah barang yang digasb (dirampas), misalnya seseorang merampas kain lalu mewarnainya dengan pewarna miliknya sendiri, dan ini termasuk pokok-pokok masalah barang rampasan. Saya tidak ingin menyebutkan dalam masalah-masalah ini kecuali garis besarnya saja, dan urutan pembahasan utama tidak akan terputus, sebab tidak ada gunanya mengulang pokok-pokok masalah. Namun, terkadang diperlukan untuk mengulang sebagian bagiannya, sedangkan yang dimaksudkan adalah selain itu. Adapun mengulanginya secara keseluruhan tidaklah sesuai dengan tujuan kita.

ومما ذكره الأصحاب أن الثمرة لو كانت صداقاً فصب عليها الزوج من صقْر نفسه وجعلها في قارورة فإن لم تنتقص فلا خيار لها فالزوج ينزع صقره وإن انتقص الثمرة فهذه مسألة نقصان الصداق بجناية الزوج وقد مضى تفصيله وإن كانت الثمرة تنتقص لو نزع الصقْر منها ولا نقص مع الصقر أو كانت تنتقص لو أزيلت مع الصقر عن القوارير فقال الزوج تركت صقري والقوارير على الزوجة فهذا بمثابة مسألة النَّعل وفيها التفصيل المفرد في البيع والظاهر أن المرأة تجبر على القبول وكذلك القول في مسألة النّعل ثم لو فُرّغت القارورة وزايل النعلُ فهل يستردهما من كان مالكهما فيه وجهان والخلاف راجع إلى أن

Di antara hal yang disebutkan oleh para ulama adalah jika buah-buahan dijadikan sebagai mahar, lalu suami menuangkan minyak dari miliknya sendiri ke atas buah tersebut dan menaruhnya dalam botol, maka jika buah itu tidak berkurang, istri tidak memiliki hak memilih (antara menerima atau menolak), dan suami dapat mengambil kembali minyaknya. Namun, jika buah tersebut berkurang karena perbuatan suami, maka ini adalah masalah berkurangnya mahar akibat tindakan suami, dan rinciannya telah dijelaskan sebelumnya. Jika buah itu akan berkurang apabila minyak diambil darinya, namun tidak berkurang jika minyak tetap ada, atau jika buah itu akan berkurang jika diangkat bersama minyak dari botol, lalu suami berkata, “Aku tinggalkan minyak dan botol untuk istri,” maka ini serupa dengan masalah sandal, yang memiliki rincian tersendiri dalam bab jual beli. Tampaknya, istri dipaksa untuk menerima, demikian pula dalam masalah sandal. Kemudian, jika botol telah dikosongkan dan sandal telah dipisahkan, apakah pemiliknya dapat mengambil kembali keduanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan perbedaan pendapat ini kembali pada…

التَّرك تمليكٌ أو ليس بتمليك ويمكن أن يقال إن لم نجعله تمليكاً فلا يمتنع الإجبار عليه وإن جعلناه تمليكاً فعلى وجهين أحدهما أنا نُجبرها عليه لأنه تبعٌ ولا مِنّةَ فيه إذ للزوج غرض ظاهر سوى الامتنان والوجه الثاني أنا لا نجبرها لأن الإجبار على التمليك وهي مطلقة بعيد

Tark (meninggalkan) adalah suatu bentuk tamlik (pemilikan) atau bukan pemilikan. Dapat dikatakan, jika kita tidak menganggapnya sebagai tamlik, maka tidak terlarang untuk memaksanya. Namun, jika kita menganggapnya sebagai tamlik, maka ada dua pendapat: pertama, kita memaksanya karena hal itu bersifat mengikuti (taba‘) dan tidak ada unsur pemberian (minnah) di dalamnya, sebab suami memiliki tujuan yang jelas selain dari sekadar memberi; kedua, kita tidak memaksanya karena pemaksaan terhadap tamlik, sedangkan ia dalam keadaan bebas (mutlaqah), adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat).

فصل قال وكل ما أصيب في يده بفعله أو فعل غيره إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Segala sesuatu yang terkena di tangannya, baik karena perbuatannya sendiri maupun perbuatan orang lain, hingga selesai.”

نصُّ الشافعي في هذا الفصل يدل على أن الصداق مضمون ضمان المغصوب فإنه قال فهو كالغاصب ثم استثنى مسألة وهي إذا كان الصداق أَمةً فوطئها وادعى الجهالة وقال كنت أظن أنها لا تَملِك قبل الدخول إلا النصف فيُصدّق في دعوى الجهالة وكيف لا وقد صار إلى ذلك مالك ثم لا يخفى حكم ثبوت النسب أو فرض علوق وحكم الحرية ولا تثبت أُميَّة الولد في الحال ولو ملكها يوماً من الدهر ففي ثبوت أمومة الولد قولان مشهوران

Teks Imam Syafi‘i dalam bagian ini menunjukkan bahwa mahar dijamin seperti jaminan atas barang yang digasap, karena beliau berkata: “Maka hukumnya seperti orang yang menggasap,” kemudian beliau mengecualikan satu masalah, yaitu jika mahar itu berupa seorang budak perempuan, lalu suami menyetubuhinya dan mengaku tidak tahu, serta berkata, “Saya mengira bahwa sebelum terjadi hubungan suami istri, istri hanya memiliki setengahnya saja,” maka pengakuan ketidaktahuan itu diterima. Bagaimana tidak, padahal Imam Malik juga berpendapat demikian. Selanjutnya, tidak samar hukum penetapan nasab atau kewajiban membayar fidyah jika terjadi kehamilan, serta hukum kemerdekaan budak tersebut. Status keibuan anak tidak langsung ditetapkan saat itu juga. Jika suami pernah memiliki budak itu walau hanya sehari dalam hidupnya, maka dalam penetapan status keibuan anak terdapat dua pendapat yang masyhur.

ومن غصب جارية وأصابها وادّعى الجهالة لم يصدق وقد سبق صدرٌ صالح في دعوى الجهالة حيث تُحتمل وحيث يبعد احتمالها فلا حاجة إلى شيء مما ذكرناه

Barang siapa yang merampas seorang budak perempuan lalu menyetubuhinya, kemudian mengaku tidak tahu (hukumnya), maka pengakuannya tidak diterima. Telah dijelaskan sebelumnya tentang pengakuan tidak tahu, yaitu pada situasi yang masih mungkin untuk tidak tahu, dan pada situasi yang kecil kemungkinannya untuk tidak tahu maka tidak perlu lagi penjelasan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

فصل قال ولو أصدقها شقصاً من دارٍ ففيه الشفعة إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Jika seseorang menjadikan mahar istrinya berupa bagian (syuqṣ) dari sebuah rumah, maka dalam hal ini berlaku hak syuf‘ah,” dan seterusnya.

هذا من أصول الشفعة فالشقص المذكور صداقاً أو بدلاً في الخلع أو في المصالحة عن دم العمد مستحَقٌ بالشفعة فيأخذه الشفيع بمهر المثل في النكاح والخلع وببدل الدم من الصلح عن الدم

Ini termasuk dalam pokok-pokok hukum syuf‘ah, yaitu bagian (tanah atau harta) yang disebutkan sebagai mahar atau sebagai pengganti dalam khulu‘, atau dalam perdamaian atas darah pembunuhan sengaja, tetap berhak diambil melalui syuf‘ah. Maka, syafī‘ (pemilik hak syuf‘ah) mengambilnya dengan mahar yang sepadan dalam pernikahan dan khulu‘, serta dengan pengganti darah dalam perdamaian atas darah.

وإذا ذُكر الشقص صداقاً وفُرض الطلاق ففي المسألة ثلاث صور إحداها أن يأخذ الشفيع ثم يُفرض الطلاق فهو كما لو باعت الشقص ثم طلقها الزوج فالرجوع بنصف القيمة

Jika bagian (syiqsh) disebutkan sebagai mahar dan kemudian terjadi perceraian, maka dalam masalah ini terdapat tiga keadaan. Pertama, jika syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) mengambil bagian tersebut, lalu terjadi perceraian, maka hukumnya seperti jika bagian itu dijual kemudian suaminya menceraikannya; maka pengembaliannya adalah setengah dari nilai (bagian tersebut).

وإن طلق الزوج واتصل به طلب الشفيع فحضرا معاً فهذه المسألة المعروفة بين المروزي وابن الحداد تعارضها مسألة الإفلاس وتردد الشقص بين رجوع البائع وأخذ الشفيع فلتطلب هذه المسألة في موضعها

Jika suami menceraikan dan permintaan syafī‘ (hak pre-emptive) sampai kepadanya, lalu keduanya hadir bersama, maka permasalahan ini yang dikenal antara al-Marwazī dan Ibn al-Haddād bertentangan dengan permasalahan iflās (kebangkrutan) dan keraguan antara kembalinya penjual dan pengambilan syafī‘, maka hendaknya permasalahan ini dicari pada tempatnya.

والمسألة الثالثة أن يجرى الطلاق والشفيع غائب ثم يحضر ويبتدىء الطلب فإن قدمنا الزوج في المسألة الأولى على الشفيع فلا شك في تقدمه في الأخيرة وإن قدمنا الشفيع إذا جاء والزوج معاً ووقع الطلاق وطلب الشفعة على اجتماع فإذا تقدم الطلاق على طلب الشفيع ففي المسألة وجهان

Permasalahan ketiga adalah apabila talak terjadi sementara syafii‘ (pemilik hak syuf‘ah) sedang tidak hadir, kemudian ia datang dan mulai mengajukan permintaan. Jika dalam permasalahan pertama kita mendahulukan suami atas syafii‘, maka tidak diragukan lagi bahwa suami juga didahulukan dalam permasalahan terakhir ini. Namun jika kita mendahulukan syafii‘ ketika ia datang bersamaan dengan suami, lalu terjadi talak dan permintaan syuf‘ah secara bersamaan, maka apabila talak terjadi sebelum permintaan syafii‘, dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat.

وفصَل بعض أصحابنا بين أن يأخذ الزوج ثم يجيء الشفيع وبين ألا يأخذ وقال إذا أخذه لم ينقض عليه

Sebagian ulama kami membedakan antara kasus ketika suami telah mengambil (hak) kemudian datang syafī‘, dengan kasus ketika suami belum mengambil. Mereka mengatakan, jika suami telah mengambilnya, maka hak syuf‘ah tidak dapat membatalkannya.

فانتظم في المسألة الأخيرة ثلاثة أوجه بعد الترتيب على الثانية

Maka dalam masalah terakhir ini terkumpul tiga pendapat setelah diurutkan berdasarkan pendapat kedua.

والفصلُ بين أن يأخذه قبل مجيء الشفيع وبين ألا يأخذ التفاتٌ على أصلٍ في الشفعة وهو أن الشفيع إذا لم يشعر بالشفعة حتى باع الشقص الذي هو شريك به ففي بطلان حقه من الشفعة قولان والفرق بين أن يأخذ وبين ألا يأخذ لا حاصل له

Perbedaan antara mengambilnya sebelum datangnya syafii‘ dan tidak mengambilnya adalah kembali pada satu prinsip dalam syuf‘ah, yaitu apabila syafii‘ tidak mengetahui adanya hak syuf‘ah hingga ia menjual bagian yang ia miliki sebagai sekutu, maka terdapat dua pendapat mengenai gugurnya hak syuf‘ahnya. Perbedaan antara mengambil dan tidak mengambil pada dasarnya tidak memiliki makna yang signifikan.

إذا كان التفريع على الظاهر في أن نفس الطلاق يشطّر الصداق فإن كان وجه الفصل تفريعاً على أن ملك الزوج يتوقف على اختيار التملك فقد يتجه ذلك

Jika penetapan hukum didasarkan pada pendapat yang tampak bahwa talak itu sendiri membagi dua mahar, maka jika alasan pembedaan didasarkan pada bahwa kepemilikan suami bergantung pada pilihan untuk memiliki, hal itu mungkin dapat diterima.

فصل قال المزني اختلف قوله في الرجل يتزوجها بعبد يساوي ألفاً على إن زادته ألفاً إلى آخره

Bagian: Al-Muzani berkata, pendapat Imam Syafi’i berbeda mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan dengan mahar berupa seorang budak yang nilainya seribu, dengan syarat perempuan itu menambah seribu lagi, dan seterusnya.

إذا جمع بين النكاح والبيع مثل أن يقول زوجتك ابنتي هذه وبعت منك هذا العبد بألف درهم وقيمة العبد ألف فقال تزوجتها واشتريت العبد على هذا أو قال قبلت النكاح والعقدَ في العبد والغرض ألا يُغفلا لفظ النكاح والتزويج وقد يكون العبد من جانب الزوج فيقول تزوجت ابنتك على هذا العبد على أن تعطيني ألفاً ومهر المثل ألف وقيمة العبد ألف فنصف العبد المبيعُ والنصف صداق فهذه صفقة جمعت عقدين مختلفي الحكم وللشافعي قولان أظهرهما الصحة والقول الثاني أن الصفقة لا تصح

Jika seseorang menggabungkan antara akad nikah dan jual beli, misalnya dengan mengatakan, “Aku nikahkan engkau dengan putriku ini dan aku jual kepadamu budak ini seharga seribu dirham,” sedangkan nilai budak itu memang seribu, lalu pihak kedua berkata, “Aku menikahinya dan membeli budak itu dengan harga tersebut,” atau ia berkata, “Aku menerima nikah dan akad atas budak itu,” dengan maksud agar lafaz nikah dan pernikahan tidak diabaikan. Kadang budak itu berasal dari pihak suami, lalu ia berkata, “Aku menikahi putrimu dengan budak ini dengan syarat engkau memberiku seribu dirham,” sementara mahar mitsil seribu dan nilai budak itu juga seribu, maka setengah budak itu menjadi barang yang dijual dan setengahnya menjadi mahar. Maka ini adalah satu transaksi yang menggabungkan dua akad dengan hukum yang berbeda. Menurut Imam Syafi‘i terdapat dua pendapat; yang paling kuat adalah akad tersebut sah, dan pendapat kedua menyatakan bahwa transaksi tersebut tidak sah.

وقد ذكرنا هذا في ترتيب تفريق الصفقة فنذكر ما يليق من هذا الأصل بالنكاح والصداق

Kami telah menyebutkan hal ini dalam pembahasan tentang tata cara pemisahan akad, maka di sini kami akan menyebutkan hal-hal yang relevan dari kaidah ini terkait dengan pernikahan dan mahar.

فإن قلنا الصفقة صحيحة فلا يخلو إما أن يكون العبد من جانبه وردُّ الألف من جانبها أو يكون الألف من جانبه والعبد من جانبها فإن كان العبد من جانبه فالنصف منه صداق والنصف مبيع بالألف فلو اطلعت على عيب به وفسخت استردت الألف الذي كان ثمناً لنصف العبد وترجع بسبب الصداق بمهر المثل في قول وبنصف قيمة العبد في قول كما سبق ولو أرادت أن ترد النصف بالعبد إما المبيع وإما الصداق ففي المسألة قولان كالقولين في العبدين إذا اشتراهما ووجد بأحدهما عيباً فأراد ردَّه وإمساكَ الآخر ووجه الشبه أن العقد هناك وإن اتحد

Jika kita katakan akadnya sah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi budak berasal dari pihak laki-laki dan seribu (dirham) dari pihak perempuan, atau seribu dari pihak laki-laki dan budak dari pihak perempuan. Jika budak berasal dari pihak laki-laki, maka setengahnya menjadi mahar dan setengahnya dijual dengan seribu. Jika perempuan menemukan cacat pada budak tersebut dan membatalkan akad, maka ia berhak mengambil kembali seribu yang merupakan harga dari setengah budak, dan ia berhak menuntut mahar mitsil menurut satu pendapat, atau setengah nilai budak menurut pendapat lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika ia ingin mengembalikan setengah budak, baik yang dijual maupun yang dijadikan mahar, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam kasus dua budak yang dibeli lalu ditemukan cacat pada salah satunya dan ia ingin mengembalikannya serta menahan yang lain. Kesamaannya adalah bahwa akad di sana meskipun satu…

فقد تعدد المعقود عليه وهاهنا اتحد العبد وتعددت الجهة والعقد

Telah terjadi keberagaman pada objek akad, dan di sini budak itu satu, namun terdapat perbedaan pada sisi dan akadnya.

ولو جرى فسخ قبل المسيس يوجب رد الصداق يرتد نصف العبد إلى الزوج فإنه كل الصداق والفرض في فسخٍ يوجب رد جميع الصداق ويبقى النصف الآخر من العبد بحكم الشراء

Jika terjadi pembatalan sebelum terjadi hubungan suami istri yang mewajibkan pengembalian mahar, maka setengah budak kembali kepada suami, karena seluruh mahar dan kewajiban dalam pembatalan yang mewajibkan pengembalian seluruh mahar, dan setengah budak yang lain tetap menjadi milik istri berdasarkan hukum jual beli.

ولو طلقها قبل الدخول رجع ربع العبد إلى الزوج وبقي ثلاثة أرباعه الربع منه بحكم الصداق والنصف بحكم الشراء ولو فرض التفريق على الوجه الآخر لم يخف تفريع المسألة وقصاراها التَّدْوارُ على التفريع وما ترجع المرأة به

Jika suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan, seperempat budak kembali kepada suami dan tiga perempatnya tetap menjadi milik istri; seperempatnya berdasarkan hukum mahar dan setengahnya berdasarkan hukum pembelian. Jika diasumsikan pemisahan dengan cara lain, rincian masalahnya tidaklah samar, dan intinya adalah berputar pada rincian serta apa yang dapat kembali kepada istri.

فصل قال ولو أصدقها عبداً فدبّرته إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Seandainya ia memberikan mahar kepada istrinya berupa seorang budak, lalu ia menjadikan budak itu mudabbar (yaitu budak yang dimerdekakan setelah tuannya wafat), dan seterusnya.”

إذا دبّرت المرأة عبد الصداق وطلقها زوجها قبل المسيس فالذي نقله المزني أنه لا يرتد إلى الزوج نصف العبد وأن رجوعه إلى نصف القيمة فاقتضى النص كونَ التدبير مانعاً من الرجوع إلى الزوج واختار المزني أن النصف من العبد يرتد إلى الزوج وينتقض الترتيب فيه

Jika seorang wanita menjadikan budak sebagai mahar dengan cara tadbir, lalu suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka menurut riwayat yang disampaikan oleh al-Muzani, setengah budak itu tidak kembali kepada suami, melainkan yang kembali adalah setengah dari nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa nash tersebut menjadikan tadbir sebagai penghalang kembalinya budak kepada suami. Namun, al-Muzani memilih pendapat bahwa setengah dari budak itu kembali kepada suami dan urutan tadbirnya menjadi batal pada bagian tersebut.

وفي المسألة طرق للأصحاب منهم من قال القول في ذلك على قول الشافعي إن التدبير وصية أو تعليق عتق بصفة فإن قلنا التدبير وصية يُشَطَّر الملك في العبد بالطلاق كما لو أوصت بأن يعتق ذلك العبد عنها بعد الموت ثم طلقها الزوج فالوصية تنتقض في النصف ويرتد إلى الزوج ملكاً وإن قلنا التدبير تعليق فالتعليق لا يقبل الرجوع بخلاف الوصية فكان مانعاً من الارتداد إلى الزوج بلزومه

Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat di kalangan para ulama mazhab. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa pendapat dalam hal ini mengikuti pendapat asy-Syafi‘i, yaitu bahwa tadbīr adalah wasiat atau penggantungan pembebasan budak dengan suatu sifat. Jika kita katakan tadbīr adalah wasiat, maka kepemilikan atas budak tersebut terbagi dua karena talak, sebagaimana jika seorang istri berwasiat agar budak itu dimerdekakan setelah kematiannya, lalu suaminya menceraikannya, maka wasiat itu batal pada setengah bagian dan kepemilikan kembali kepada suami. Namun jika kita katakan tadbīr adalah penggantungan, maka penggantungan tidak menerima penarikan kembali, berbeda dengan wasiat, sehingga hal itu menjadi penghalang kembalinya kepemilikan kepada suami karena sifatnya yang mengikat.

وهذا غير سديد من قبل أن التعليق بالصفة لا يمنع إزالة الملك وللمعلِّق أن يبيع العبد الذي علق عتقه بالصفة كما له أن يبيع العبد الموصى بعتقه فافتراق التعليق والوصية في أنه يتصور الرجوع عن الوصية صريحاً ولا يصح الرجوع عن التعليق صريحاً لا يوجب فرقاً بينهما في جواز البيع والهبة وغيرهما من جهات التصرفات التي تستدعي الملك التام

Ini tidak tepat, karena pengaitan dengan sifat (syarat) tidak menghalangi hilangnya kepemilikan, dan orang yang mengaitkan (pembebasan budak) dengan sifat berhak menjual budak yang pembebasannya dikaitkan dengan sifat tersebut, sebagaimana ia juga berhak menjual budak yang diwasiatkan untuk dimerdekakan. Perbedaan antara pengaitan (ta‘liq) dan wasiat terletak pada bahwa wasiat dapat ditarik kembali secara tegas, sedangkan pengaitan tidak dapat ditarik kembali secara tegas; namun hal ini tidak menyebabkan adanya perbedaan antara keduanya dalam hal kebolehan menjual, menghibahkan, dan bentuk-bentuk disposisi lain yang memerlukan kepemilikan penuh.

ومن أصحابنا من قال التدبير في عبد الصداق يمنع الارتداد إلى الملك التام

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa at-tadbīr pada budak yang dijadikan sebagai mahar mencegah kembalinya kepemilikan secara penuh.

ومن أصحابنا من قال التدبير في عبد الصداق يمنع الارتداد إلى الزوج قولاً واحداً سواء حكمنا بأن التدبير وصية أو قلنا إنه تعليق عتق بصفة وذلك لأنها إذا دبّرت وقد قصدت التصرف بعقد عتاقة وعلّقت ذلك العقدَ بالعبد فينبغي ألا ينتقض قصدها فإنا إذا كنا نمنع الزوج من الرجوع إلى نصف الصداق إذا زاد أدنى زيادة مع علمنا بأن الزيادة المتصلة لا أثر لها في الفسوخ والعقود والردود فتعلُّقُ غرضها بعقد العَتاقة لا ينقص عن الزيادة المتصلة

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa tadbīr pada budak sebagai mahar mencegah kembalinya budak tersebut kepada suami, menurut satu pendapat, baik kita menganggap tadbīr itu sebagai wasiat maupun sebagai penangguhan pembebasan budak dengan suatu sifat. Hal ini karena jika seorang istri telah melakukan tadbīr, berarti ia telah bermaksud melakukan tindakan dengan akad pembebasan budak dan menggantungkan akad itu pada budak tersebut, maka seharusnya maksudnya itu tidak batal. Sebab, jika kita melarang suami untuk mengambil kembali setengah mahar apabila ada sedikit saja tambahan, padahal kita tahu bahwa tambahan yang menyatu tidak berpengaruh dalam pembatalan, akad, maupun pengembalian, maka keterkaitan maksud istri dengan akad pembebasan budak tidaklah kurang dari tambahan yang menyatu tersebut.

ثم من سلك هذه الطريقة إذا قيل لهم لو لم تدبره ولكنها صرحت بالوصية بعتقه أو علقت عتق عبد الصداق بصفةٍ فماذا تقولون فقد اختلف جواب هؤلاء فقال قائلون التصريح بالوصية وتعليق العتق يمنعان مع التدبير وقال آخرون المنع يختص بالتدبير فإنا وإن أحللناه محل الوصية أو محل التعليق فلسنا ننكر أن التدبير عقدُ عتاقة في الشرع وبه يتحقق تجرّد القصد إلى التقرّب

Kemudian, bagi siapa yang menempuh metode ini, jika dikatakan kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalian jika tidak dengan tadbīr, tetapi dengan wasiat yang secara tegas memerdekakan, atau menggantungkan kemerdekaan budak mahar pada suatu sifat, apa pendapat kalian?” Maka jawaban mereka berbeda-beda. Sebagian mengatakan bahwa pernyataan wasiat secara tegas dan penggantungan kemerdekaan mencegah (kemerdekaan) bersama tadbīr. Sementara yang lain mengatakan bahwa pencegahan itu khusus pada tadbīr. Sebab, meskipun kami menyamakannya dengan wasiat atau penggantungan, kami tidak mengingkari bahwa tadbīr adalah akad pemerdekaan dalam syariat, dan dengannya terwujud kemurnian niat untuk mendekatkan diri (kepada Allah).

وأما التعليق بالصفات فإنه من أحكام المعاملات والوصية لا يُقْدم عليها الموصي إلا وهو يثبت لنفسه مستدركَ الرجوع

Adapun pengaitan dengan sifat-sifat, maka hal itu termasuk hukum-hukum mu‘āmalah dan wasiat, yang mana seseorang yang berwasiat tidak melakukannya kecuali dengan menetapkan bagi dirinya kemungkinan untuk menarik kembali wasiat tersebut.

فإن قيل فالتدبير مع ذلك يقبل الرجوعَ في قولٍ والإبطالَ بإزالة الملك في قول قلنا إنما يَقْبله ممن أنشأه فأما إبطاله عليها لحق الزوج فهو بعيد

Jika dikatakan bahwa at-tadbīr meskipun demikian masih dapat dibatalkan menurut satu pendapat, dan dapat dibatalkan dengan hilangnya kepemilikan menurut pendapat lain, maka kami katakan: hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang menetapkannya. Adapun pembatalannya atas istri demi hak suami, maka itu adalah hal yang jauh (tidak dapat diterima).

ومن اشترى عبداً بثوب وقبض العبد ودبّره ثم ردّ صاحبه الثوب عليه بعيب قديم فالمذهب الأصح أن العبد يرتد والتدبير ينتقض قولاً واحداً لقوة الفسخ واستيلاء سلطانه ولذلك لا تؤثر الزيادة المتصلة في منع الارتداد بالفسخ

Barang siapa membeli seorang budak dengan menukarnya dengan sehelai pakaian, lalu ia telah menerima budak tersebut dan kemudian membebaskannya secara taklik (tadbir), kemudian pemilik pakaian mengembalikan pakaian itu kepadanya karena terdapat cacat lama, maka mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa budak tersebut kembali (kepada pemilik semula) dan pembebasan secara taklik (tadbir) menjadi batal secara mutlak, karena kuatnya pembatalan (fasakh) dan dominannya kekuasaan pembatalan tersebut. Oleh karena itu, tambahan yang menyatu (dengan budak) tidak berpengaruh dalam mencegah kembalinya (budak) akibat pembatalan (fasakh).

بخلاف الارتداد إلى الزوج بحكم الطلاق أو بما يحل محل الطلاق مما يوجب التشطير قبل المسيس

Berbeda halnya dengan kembalinya istri kepada suami karena talak atau dengan sesuatu yang menggantikan talak yang mewajibkan pembagian setengah sebelum terjadi hubungan suami istri.

وأبعد بعض الأصحاب فجعل التدبير مانعاً من الارتداد بالفسخ كما يكون مانعاً من التشطير بالطلاق وهذا بعيد غير معتد به

Sebagian ulama berpendapat secara jauh bahwa tadbīr menjadi penghalang dari pembatalan karena riddah, sebagaimana ia menjadi penghalang dari pembagian karena talak. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dianggap.

ومن أصحابنا من قطع بأن التدبير في عبد الصداق لا يمنع تشطيره وهذا هو القياس الظاهر ولكنه مخالف للنص ويقبح ترك النص الصريح والوجه إثباته قطعا أو قولاً وتوجيهه بما يمكن والله أعلم

Sebagian ulama kami berpendapat tegas bahwa at-tadbīr pada budak yang menjadi mahar tidak menghalangi pembagiannya menjadi dua, dan inilah qiyās yang jelas. Namun, pendapat ini bertentangan dengan nash, dan tidak pantas meninggalkan nash yang tegas. Pendapat yang tepat adalah menetapkannya secara pasti atau sebagai satu pendapat, lalu mencari alasan yang memungkinkan untuk itu. Allah Maha Mengetahui.

والذي جرى في المسالة بعد طرق الأصحاب سببان أحدهما التردد في أن التصريح بالوصية والتعليق هل ينزل منزلة التدبير والثاني أن التدبير إذا رأيناه مانعاً من التشطير فقد يمنع من الارتداد في الفسوخ ومن الرجوع في الهبة فيه الوجهان المذكوران فمن أصحابنا من عمّم المنع في هذه الأبواب وجعل التدبير بمثابة زوال الملك في جميعها ومنهم من خصص المنع بالتشطير لما ذكرناه من تنزيل التدبير منزلة الزيادة المتصلة فاختص بباب التشطر في الصداق فهذا حاصل القول في المسألة

Yang terjadi dalam masalah ini setelah menelusuri pendapat para ulama adalah adanya dua sebab: pertama, keraguan apakah pernyataan wasiat secara tegas dan pengaitan (syarat) dapat disamakan dengan tadbīr; kedua, jika tadbīr dianggap sebagai penghalang pembagian (taqshīr), maka bisa jadi ia juga menghalangi terjadinya rujuk dalam pembatalan dan penarikan kembali hibah—dalam hal ini terdapat dua pendapat yang telah disebutkan. Sebagian ulama kami menggeneralisasi larangan dalam semua bab ini dan menjadikan tadbīr seperti hilangnya kepemilikan dalam seluruhnya. Sebagian yang lain mengkhususkan larangan hanya pada pembagian (taqshīr), sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang penyerupaan tadbīr dengan tambahan yang menyatu, sehingga larangan itu khusus pada bab pembagian mahar. Inilah inti pembahasan dalam masalah ini.

ثم إن جعلنا التدبير مانعاً من التشطير فلو دبرت عبد الصداق ثم أبطلت التدبير بالرجوع في التدبير صريحاً فهل يكون هذا بمثابة ما إذا زال ملكها عن عبد الصداق ثم عاد إليها ملكاً ثم طلقها الزوج قبل المسيس فعلى وجهين من أصحابنا من جعل طريان التدبير وزواله بمثابة طريان زوال الملك وعوده قبل الطلاق

Kemudian, jika kita menjadikan tadbīr sebagai penghalang dari tasytīr, maka apabila seorang istri melakukan tadbīr terhadap budak yang menjadi mahar, lalu ia membatalkan tadbīr tersebut dengan secara tegas menarik kembali tadbīr, apakah hal ini sama seperti ketika kepemilikannya atas budak mahar tersebut hilang lalu kembali lagi kepadanya, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri? Maka terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami; sebagian dari mereka menyamakan terjadinya tadbīr dan hilangnya tadbīr dengan terjadinya hilangnya kepemilikan dan kembalinya sebelum terjadinya talak.

ومنهم من قال ليس كزوال الملك وإن جعلناه مانعاً من التشطير إذا كان ثابتاً عند الطلاق قياساً على الزيادة المتصلة فإنها وإن كانت مانعة في ثبوتها عند الطلاق فلو طرأت وزالت وعاد الصداق إلى ما كان عليه حالة العقد فما تقدم من الطريان والزوال لا أثر له في منع التشطير

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak seperti hilangnya kepemilikan, dan jika kita menganggapnya sebagai penghalang pembagian setengah (mahar) apabila hal itu tetap ada saat terjadinya talak, maka hal itu dianalogikan (qiyās) dengan tambahan yang menyatu. Sebab, tambahan yang menyatu, meskipun menjadi penghalang jika tetap ada saat talak, namun jika tambahan itu muncul lalu hilang dan mahar kembali seperti semula saat akad, maka apa yang telah terjadi berupa muncul dan hilangnya tambahan tersebut tidak berpengaruh dalam mencegah pembagian setengah mahar.

وهذا نجاز المسألة وسيأتي القول في حقيقة التدبير في كتابه إن شاء الله تعالى

Inilah penyelesaian masalah ini, dan pembahasan tentang hakikat tadbīr akan dibahas dalam kitabnya, insya Allah Ta‘ala.

ثم تكلم الأصحاب في زوال ملك المرأة عن الصداق وعوده إلى ملكها وهذا مما تكرر في كتاب التفليس والرد بالعيب والضابط للأبواب أن الملك الزائل فالعائد بمثابة الملك الذي لم يعد أم بمثابة الملك الذي لم يزُل فيه قولان ثم ينفصل كل باب على حسب ما يليق به

Kemudian para ulama membahas tentang hilangnya kepemilikan wanita atas mahar dan kembalinya mahar tersebut ke dalam kepemilikannya. Hal ini sering dibahas dalam Kitab Taflis dan Bab Pengembalian karena cacat. Kaidah dalam pembahasan ini adalah bahwa kepemilikan yang telah hilang lalu kembali, apakah statusnya seperti kepemilikan yang tidak pernah hilang, ataukah seperti kepemilikan yang telah hilang; dalam hal ini terdapat dua pendapat. Kemudian setiap bab dijelaskan secara terpisah sesuai dengan apa yang layak baginya.

والقدر الذي يتعلق بهذا الكتاب طرد الخلاف في الشطر من غير فرق بين جهةٍ في العود وجهةٍ وإنما تختلف التفاصيل في المبيع إذا خرج ثم عاد ببيع ثم فرض الاطلاع على العيب فهذا يضطرب الرأي فيه لإمكان الرد في البيع الجديد وتحمله في البيع القديم على ما مضى مستقصًى في موضعه

Bagian yang berkaitan dengan kitab ini adalah menolak adanya perbedaan pendapat dalam setengah perkara tanpa membedakan antara satu sisi dalam pengembalian dan sisi lainnya. Perbedaan hanya terjadi pada rincian dalam hal objek jual beli jika telah keluar lalu kembali melalui jual beli, kemudian diasumsikan ditemukan cacat. Dalam hal ini, pendapat menjadi tidak menentu karena dimungkinkan untuk mengembalikan pada jual beli yang baru dan menanggungnya pada jual beli yang lama, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci pada tempatnya.

أما في الصداق فإذا تحقق الزوال والعود فلا نظر إلى تفاصيل الجهات وبالجملة زوال الملك أظهرُ أثراً في منع التشطر منه في منع الفسوخ لما مهدناه من ضعف التشطر والشاهد فيه منع الزيادة المتصلة له وإثبات الخِيَرة لها ثم حيث جعلنا زوال الملك مؤثراً في المنع فهو فيه إذا زال زوالاً لازماً فإن كان الزوال على نعت الجواز مثل أن يبيع بشرط الخيار والتفريع على زوال الملك فإذا انتقض البيع وارتد الصداق إليها ثم طلقت ففي هذا النوع من الزوال وجهان وطريان الرهن وزواله لا يؤثر

Adapun dalam hal mahar, jika benar-benar terjadi hilangnya kepemilikan dan kembalinya, maka tidak perlu memperhatikan rincian-rincian sebabnya. Secara umum, hilangnya kepemilikan lebih jelas pengaruhnya dalam mencegah pembagian setengah mahar dan dalam mencegah pembatalan akad, sebagaimana telah kami jelaskan tentang lemahnya pembagian setengah mahar. Bukti dalam hal ini adalah larangan adanya tambahan yang berkelanjutan untuknya dan penetapan hak memilih (khiyār) bagi perempuan. Kemudian, ketika kami menetapkan bahwa hilangnya kepemilikan berpengaruh dalam pencegahan, maka hal itu berlaku jika kepemilikan hilang secara tetap. Namun jika hilangnya kepemilikan bersifat boleh, seperti menjual dengan syarat khiyār, maka hal ini merupakan cabang dari hilangnya kepemilikan. Jika kemudian jual beli itu batal dan mahar kembali kepada perempuan, lalu ia dicerai, maka dalam jenis hilangnya kepemilikan seperti ini terdapat dua pendapat. Adapun terjadinya gadai dan hilangnya gadai tidak berpengaruh.

وإذا كاتبت عبدَ الصداق ثم عجَّز المكاتبُ نفسَه وانقلب رقيقاً فهذا أجراه القاضي مجرى زوال الملك على اللزوم وطرد الخلاف على ما ذكرناه وهو مرتب عندنا على زوال الملك فإنّ المكاتب مِلْكُ المولى إلى العتاقة وإن تضمنت الكتابة حيلولة فالرهن يتضمنه أيضاً ثم لا يؤثر طريان الرهن

Jika seorang budak yang merupakan mahar telah melakukan mukātabah, kemudian si muktātab (budak yang melakukan mukātabah) menyatakan dirinya tidak mampu dan kembali menjadi budak, maka hakim memperlakukan hal ini seperti hilangnya kepemilikan secara tetap, dan mengikuti perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan. Hal ini, menurut kami, terkait dengan hilangnya kepemilikan, karena muktātab tetap menjadi milik tuannya sampai ia merdeka, meskipun akad mukātabah mengandung unsur penghalang (antara budak dan tuannya). Begitu pula rahn (gadai) juga mengandung unsur tersebut, namun munculnya rahn tidak berpengaruh.

ثم قال الشافعي ولو تزوجها على عبد فَوُجِد حراً فعليه قيمته إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: “Seandainya seseorang menikahi seorang wanita dengan mahar seorang budak, lalu ternyata budak itu adalah orang merdeka, maka ia wajib membayar nilai budaknya,” dan seterusnya.

وهذا نص من الشافعي على الرجوع إلى القيمة في اقتران الفساد بالصداق وقد فصلنا هذا في تمهيد القواعد على أحسن الوجوه فلا حاجة إلى إعادتها

Ini adalah pernyataan dari Imam Syafi’i tentang kembali kepada nilai (qimah) apabila terjadi kerusakan yang berkaitan dengan mahar, dan kami telah menjelaskan hal ini dalam kitab Tamhīd al-Qawā‘id dengan penjelasan yang terbaik, sehingga tidak perlu mengulanginya kembali.

فصل قال إذا شاهد الزوجُ الوليَّ والمرأةَ أن المهر كذا إلى آخره

Bagian: Ia berkata, apabila suami menyaksikan wali dan perempuan bahwa maharnya sekian, dan seterusnya.

صورة المسألة إذا تواطآ على مقدار من المهر سراً واتفقا على أن يُظهرا أكثر فإذا جرى العقد علانية بالمبلغ الكثير بعد تقدم التواطؤ قال المزني اختلف قوله في ذلك فقال في موضعٍ السرّ وقال في موضع العلانية ثم قال هذا عندي أولى لأنه إنما ينظر إلى العقود وما قبلها وعدٌ هذا نقل المزني واختياره

Gambaran masalahnya adalah apabila kedua belah pihak sepakat secara rahasia atas sejumlah mahar tertentu dan mereka berdua sepakat untuk menampakkan jumlah yang lebih besar, lalu akad dilakukan secara terbuka dengan jumlah yang banyak setelah sebelumnya ada kesepakatan rahasia tersebut. Al-Muzani berkata, pendapat Imam Syafi’i berbeda dalam hal ini: di satu tempat beliau memilih yang rahasia, dan di tempat lain beliau memilih yang tampak. Kemudian Al-Muzani berkata, menurutku yang lebih utama adalah yang tampak, karena yang menjadi perhatian adalah akad dan apa yang mendahuluinya hanyalah janji. Inilah yang dinukil dan dipilih oleh Al-Muzani.

وقد اختلف أصحابنا على طريقين فمنهم من قطع بأن الاعتبار بمهر العلانية وما جرى من التواطؤ في السرّ لا حكم له فهو وعدٌ كما قاله المزني والمعوّل على ما جرى العقد به لا غير وهؤلاء يحملون نص الشافعي على فرض إجراء عقد في السر بالمبلغ الذي وقع التراضي عليه ويشهد لذلك قوله إذا شاهد الزوج الولي فذكر الولي يشعر بجريان العقد وهذا وإن كان قياساً فهو مخالف للنص

Para ulama kami berbeda pendapat dalam dua pendirian. Sebagian dari mereka berpendapat tegas bahwa yang dijadikan acuan adalah mahar yang diumumkan secara terbuka, sedangkan kesepakatan rahasia yang terjadi secara diam-diam tidak memiliki kekuatan hukum; itu hanyalah janji, sebagaimana dikatakan oleh al-Muzani. Yang dijadikan sandaran hanyalah apa yang terjadi dalam akad, tidak selainnya. Mereka ini menafsirkan teks Imam Syafi‘i sebagai pengandaian adanya akad yang dilakukan secara diam-diam dengan jumlah yang telah disepakati bersama, dan hal ini didukung oleh pernyataannya: “Jika suami menyaksikan wali,” di mana penyebutan wali menunjukkan adanya akad. Dan meskipun ini merupakan qiyās, namun bertentangan dengan nash.

ومن أصحابنا من أجرى القولين كما نقله المزني ثم هؤلاء اختلفوا على طريقين فمنهم من قال القولان مفروضان فيه إذا قالا المهر ألف وقد تواضعنا بيننا على أن نجعل ذكر الألفين علانيةً عبارة عن الألف الذي وقع التراضي به فإذا جرى ذلك كذلك ففي المسألة قولان أحدهما أن الاعتبار بمهر السرّ فإنهما جعلا الألفين عبارة عن الألف واللغات اصطلاحات وليس يبعد عن القياس تحريفها فإنها لا معنى لأعيانها وإنما المقصود معانيها وما يقع التفاهم به فيها

Sebagian dari ulama kami mengemukakan dua pendapat sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani. Kemudian, mereka yang berpendapat demikian terbagi menjadi dua kelompok. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dua pendapat itu berlaku dalam kasus ketika kedua belah pihak menyepakati mahar seribu, namun mereka berdua secara diam-diam sepakat di antara mereka untuk menjadikan penyebutan dua ribu secara terang-terangan sebagai ungkapan dari seribu yang sebenarnya telah disepakati. Jika hal itu terjadi demikian, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa yang dianggap adalah mahar yang disepakati secara rahasia, karena keduanya menjadikan dua ribu sebagai ungkapan dari seribu, sedangkan bahasa adalah hasil kesepakatan, dan tidaklah jauh dari qiyās untuk mengubahnya, sebab tidak ada makna khusus pada kata-kata itu sendiri, yang terpenting adalah maknanya dan apa yang menjadi kesepakatan dalam penggunaannya.

والقول الثاني أن الواجب مهر العلانية فإنهما أجريا لفظاً صريحاً في العقد والصرائح لا تحال ولا تُزال عن حقائقها بما يفرض من تواطؤ وتواضع وهؤلاء يقولون لو وقع التراضي سراً على خلاف هذا الوجه وقالا المهر مهر السر ولم يتعرضا لتعيين اللغة كما نصصنا عليه فالذي تقدم وعد والتعويل على المذكور في العقد كما ذكره المزني

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang wajib adalah mahar yang diumumkan secara terang-terangan, karena keduanya telah mengucapkan lafaz yang jelas dalam akad, dan lafaz yang jelas tidak dapat dialihkan atau dihilangkan dari makna hakikinya hanya karena adanya kesepakatan atau kebiasaan yang tersembunyi. Mereka yang berpendapat demikian mengatakan, jika terjadi kesepakatan secara diam-diam yang bertentangan dengan hal ini, lalu keduanya mengatakan bahwa mahar adalah mahar rahasia dan tidak menyebutkan secara jelas lafaznya sebagaimana telah kami jelaskan, maka yang terdahulu hanyalah janji, dan yang dijadikan pegangan adalah apa yang disebutkan dalam akad, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Muzani.

ومن أصحابنا من طرد القولين وإن لم يجر تعرض لتغيير اللغة بطريق المواضعة والاصطلاح وذلك أنه وإن لم يقع لتغيير اللغة تعرض فالمراد آيلٌ إلى ذلك

Sebagian dari ulama kami tetap mempertahankan dua pendapat, meskipun tidak ada pembahasan mengenai perubahan bahasa melalui kesepakatan dan istilah. Hal ini karena, meskipun tidak terjadi pembahasan tentang perubahan bahasa, maksudnya pada akhirnya akan kembali kepada hal tersebut.

ثم بنى الأئمة على هذه القاعدة جملةَ الأحكام المتلقاة من الألفاظ فإذا قال الزوج لزجته إذا دخلت أنت طالق ثلاثاً لم أرد به الطلاق وإنما غرضي أن تقومي أو تقعدي أو غرضي بالثلاث الواحدة فظاهر المذهب أن ذلك لا يقبل منه

Kemudian para imam membangun sejumlah hukum yang diambil dari kaidah ini terkait lafaz-lafaz. Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk, kamu tertalak tiga,” lalu ia berkata, “Aku tidak bermaksud talak, melainkan maksudku agar kamu berdiri atau duduk, atau maksudku dengan tiga itu hanya satu,” maka menurut pendapat yang zahir dari mazhab, hal itu tidak diterima darinya.

وفي هذه المسألة الوجه البعيد الذي ذكرناه في مهر السر والعلانية وسنبسط القول في هذا في مسائل الطلاق عند اعتنائي بذكر الصرائح والكنايات والأمور الظاهرة والباطنة ومسائل التدبير

Dalam masalah ini terdapat pendapat yang lemah yang telah kami sebutkan mengenai mahar sirr dan mahar ‘alāniyyah. Kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang hal ini dalam pembahasan masalah talak ketika saya membahas tentang lafaz sharih dan kinayah, perkara-perkara yang tampak maupun tersembunyi, serta masalah tadbir.

فصل قال وإن عقد عليها النكاح بعشرين يوم الخميس إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Jika akad nikah dilakukan atasnya dengan mahar dua puluh pada hari Kamis hingga akhirnya.”

إذا ادعت المرأة أنه نكحها يوم الخميس بعشرين ويوم الجمعة بثلاثين وطلبت المهرين فدعواها مسموعة فإن ثبت العقدان بإقراره وبالبينة أو نكل عن اليمين فرُدّت اليمين عليها فحلفت ثبت المهران

Jika seorang wanita mengaku bahwa ia dinikahi pada hari Kamis dengan mahar dua puluh dan pada hari Jumat dengan mahar tiga puluh, lalu ia menuntut kedua mahar tersebut, maka pengakuannya dapat didengar. Jika kedua akad tersebut terbukti dengan pengakuan, dengan bukti, atau jika pihak lawan menolak bersumpah lalu sumpah dikembalikan kepadanya dan ia bersumpah, maka kedua mahar tersebut menjadi tetap baginya.

فإن ادعى الزوج بعد ثبوت النكاحين أنه لم يصب في النكاح الأول فالقول في هذا قوله مع يمينه بناءً على الأصول التي مهدناها إذ قلنا إذا اجتمع النفي والإثبات في تداعي الزوجين في الإصابة فالقول قول النافي إلا في المسائل التي استثناها

Jika suami mengaku, setelah terbuktinya dua akad nikah, bahwa ia tidak melakukan hubungan suami istri dalam pernikahan pertama, maka dalam hal ini perkataan suami diterima dengan sumpahnya, berdasarkan kaidah-kaidah yang telah kami tetapkan, yaitu bahwa jika terdapat pertentangan antara penafian dan penetapan dalam perselisihan suami istri mengenai terjadinya hubungan suami istri, maka yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menafikan, kecuali pada masalah-masalah yang dikecualikan.

ثم ما ذكره الأصحاب أن الزوج لو لم يتعرض لنفي الإصابة في النكاح الأول

Kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, jika suami tidak menyebutkan penafian telah melakukan hubungan (jima‘) dalam pernikahan pertama…

فللمرأة طلب المهرين على الكمال ولا حاجة بها إلى إثبات المسيس في النكاح الأول وإن كان المهر لا يتقرر إلا به ونفس النكاح الثاني يدل على ارتفاع النكاح الأول فكأن النكاح الأول ثبت وارتفع ولم يثبت فيه المسيس وطلب جميع المهر من غير مسيس على استمرار النكاح ممكن فأما إذا ارتفع النكاح فلا يمكنها طلب المهر على قياس استمرار النكاح والأصل عدم المسيس ولكن يعارض هذا أن المهر ثبت بالنكاح على الكمال فعلى من يدعي سقوط شطر منه أن يتعرض له ولكن يتطرق إلى هذا أن الزوج لو ادعى نفي الإصابة صُدِّق مع يمين ولم يطالَب بأمر آخر

Maka perempuan berhak menuntut kedua mahar secara penuh dan ia tidak perlu membuktikan terjadinya hubungan suami istri pada pernikahan pertama, meskipun mahar itu tidak menjadi tetap kecuali dengan adanya hubungan tersebut. Pernikahan kedua sendiri menunjukkan bahwa pernikahan pertama telah berakhir, sehingga seolah-olah pernikahan pertama telah terjadi dan kemudian berakhir, namun tidak terbukti adanya hubungan suami istri di dalamnya. Menuntut seluruh mahar tanpa adanya hubungan suami istri selama pernikahan masih berlangsung adalah mungkin, tetapi jika pernikahan telah berakhir, maka ia tidak dapat menuntut mahar berdasarkan qiyās kelangsungan pernikahan. Hukum asalnya adalah tidak adanya hubungan suami istri, namun hal ini dihadapkan pada kenyataan bahwa mahar telah ditetapkan secara penuh melalui akad nikah, sehingga siapa pun yang mengklaim gugurnya setengah mahar harus membuktikannya. Namun, dalam hal ini, jika suami mengaku tidak pernah melakukan hubungan suami istri, ia dipercaya dengan sumpah dan tidak dituntut hal lain.

فليتأمل الناظر هذا وليفهم لطفَ مأخذه فالأصل ثبوت المهر وهذا يستمر في سكوت من عليه المهر

Maka hendaklah orang yang memperhatikan hal ini merenungkannya dan memahami kelembutan dasar pengambilannya, karena hukum asalnya adalah tetapnya mahar, dan hal ini terus berlaku selama orang yang berkewajiban membayar mahar diam (tidak mengingkari).

فإن ادعى عدمَ المسيس صُدِّق مع يمينه وإن لم يدّع طولب بتمام المهر بناء على ثبوته فإذاً على الزوج إثبات مقتضى التشطر بيمينه

Jika suami mengaku belum melakukan hubungan (persetubuhan), maka pengakuannya diterima dengan sumpahnya. Namun jika ia tidak mengaku, maka ia dituntut untuk membayar seluruh mahar berdasarkan telah tetapnya kewajiban tersebut. Maka, suami harus membuktikan alasan pembagian mahar dengan sumpahnya.

وحجج الخصومات منقسمة وهذا كما أن المودَع مطالَب بالوديعة محبوس إذا سكت فإن ادعى تلفاً أو رداً صُدّق

Dalil-dalil dalam perselisihan itu beragam, sebagaimana halnya orang yang menerima titipan (muwadda‘) dituntut untuk mempertanggungjawabkan titipan tersebut dan tetap ditahan jika ia diam; namun jika ia mengaku bahwa titipan itu telah rusak atau telah dikembalikan, maka pengakuannya dipercaya.

ولو قال الزوج كان النكاح الثاني تجديداً للإشهاد ولم يكن عقداً جديداً فلا ينفعه هذا القول بل إذا قال ذلك استغنت المرأة عن إقامة البينة وكان ما صدر منه إقراراً بالعقدين أما الأول فقد اعترف به وأما الثاني فقد اعترف بصورته وادعى فيه الإعادة وهذا يُشبه إذا ادعى رجل على رجل عيناً وقال المدعى عليه للمدعي بعها مني فالاستباعة تتضمن إقراراً للمدعي بالملك وليس للمدعى عليه أن يقول طلبت منه صورة البيع ولم أعترف بصحة بيعه فإنَّ طلبَ البيع محمول على البيع الصحيح وكذلك كل من اعترف بعقد فاعترافه المطلق محمول على الاعتراف بالعقد الصحيح

Jika suami berkata bahwa pernikahan kedua hanyalah pembaruan untuk penyaksian dan bukan akad baru, maka perkataan ini tidak bermanfaat baginya. Bahkan, jika ia mengatakan demikian, istri tidak perlu lagi menghadirkan bukti, dan apa yang diucapkan suami dianggap sebagai pengakuan atas kedua akad tersebut. Adapun akad pertama, ia telah mengakuinya, dan terhadap akad kedua, ia mengakui bentuknya dan mengklaim bahwa itu adalah pengulangan. Hal ini serupa dengan kasus ketika seseorang menuntut orang lain atas suatu barang, lalu tergugat berkata kepada penuntut, “Jualkan barang itu kepadaku.” Permintaan untuk dijualkan itu mengandung pengakuan atas kepemilikan penuntut, dan tergugat tidak bisa berkata, “Aku hanya meminta bentuk jual beli, bukan mengakui keabsahan jual belinya,” karena permintaan jual beli dianggap sebagai permintaan jual beli yang sah. Demikian pula, setiap orang yang mengakui suatu akad, maka pengakuan mutlaknya dianggap sebagai pengakuan atas akad yang sah.

فصل قال ولو أصدق أربع نسوة ألفاً إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Seandainya seseorang memberikan mahar kepada empat orang wanita sebesar seribu (dirham) dan seterusnya.”

اختلفت نصوص الشافعي في مسائل متناظرة ونحن ننقل أجوبته فيها ثم نذكر طرق الأصحاب

Teks-teks Imam Syafi‘i berbeda pendapat dalam beberapa permasalahan yang serupa, dan kami akan menyampaikan jawaban-jawaban beliau dalam masalah-masalah tersebut, kemudian kami sebutkan pendapat-pendapat para sahabat (ulama pengikut mazhab).

قال إذا نكح نسوة في عقدة واحدة وأصدقهن مالاً واحداً سمّاه فلا شك في صحة النكاح وفي صحة الصداق قولان نص عليهما

Ia berkata: Jika seseorang menikahi beberapa wanita dalam satu akad dan memberikan kepada mereka satu mahar yang telah disebutkan, maka tidak diragukan lagi tentang sahnya pernikahan tersebut. Adapun tentang sahnya mahar, terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit.

ونص أيضاً على مثل هذين القولين إذا خالع امرأته أو نسوة بعوض واحد فالخلع واقع والبينونة حاصلة وفي فساد العوض قولان

Ia juga menyatakan hal yang serupa mengenai dua pendapat ini apabila seseorang melakukan khulu‘ terhadap istrinya atau beberapa wanita dengan satu kompensasi, maka khulu‘ tersebut sah dan terjadilah perpisahan, sedangkan mengenai keabsahan kompensasi terdapat dua pendapat.

ولو ملك أشخاصٌ عبيداً فملك كل واحد عبداً أو أكثر فباعوا عبيدهم بمال يقع التراضي عليه من رجل فقد نص الشافعي على فساد البيع وقطع قولَه به

Jika beberapa orang memiliki budak, lalu masing-masing dari mereka memiliki satu atau lebih budak, kemudian mereka menjual budak-budak mereka kepada seorang laki-laki dengan harga yang disepakati bersama, maka asy-Syafi‘i telah menegaskan batalnya jual beli tersebut dan secara tegas menyatakan pendapatnya demikian.

ولو كاتب عبيداً على عوض واحد نجَّمه عليهم فقد نص على صحة الكتابة وقطع قولَه بها

Jika seseorang melakukan mukatabah terhadap beberapa budak dengan satu kompensasi yang dibagi secara bertahap kepada mereka, maka ia telah secara tegas menyatakan keabsahan mukatabah tersebut dan menegaskan pendapatnya tentang hal itu.

فاختلف أصحابنا على طرق فمنهم من ضرب بعض هذه النصوص ببعض وجعل في المسائل كلِّها قولين أحدهما أن العقد باطل لجهالة العوض فإن كل واحد ليس يدري ما ثبت له بالعقد ولكل واحد حكمٌ في نفسه وانضمام غيره إليه لا يغيّر من أمره شيئاً فلا أثر لكون جملة المسمى معلومة إذا كان كل واحد منهم جاهلاً بما يطالب به وهذا بمثابة ما لو قال الرجل بعتك داري هذه بما باع به فلان عبده فالبيع باطل وإن كان الوصول إلى ما باع به فلان عبده ممكناً وما نحن فيه أولى بالبطلان فإن درك ثمن ذلك العبد ممكن على يقين وسبيل درك العوض في حق كل واحد بالتقويم والفضِّ وهذا مظنون لا يتوصل إلى مسلك التعيين فيه وما يجري في النكاح والخلع والبيع والكتابة على نسق واحد فإن هذه العقود وإن اختلفت أحكامها فهي متساوية في اشتراط الإعلام في عوضها

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam hal ini dengan beberapa cara. Sebagian dari mereka membenturkan sebagian dalil dengan dalil lain, dan menyimpulkan bahwa dalam seluruh permasalahan ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa akad tersebut batal karena ketidakjelasan imbalan, sebab masing-masing pihak tidak mengetahui apa yang menjadi haknya dari akad tersebut. Setiap orang memiliki hukum tersendiri, dan bergabungnya pihak lain tidak mengubah apa pun dari urusannya. Maka, tidak ada pengaruh dari pengetahuan terhadap jumlah keseluruhan yang disebutkan jika masing-masing dari mereka tidak mengetahui apa yang menjadi tuntutannya. Ini seperti halnya jika seseorang berkata, “Aku jual rumahku ini kepadamu dengan harga yang digunakan si Fulan menjual budaknya,” maka jual beli itu batal, meskipun mengetahui harga budak yang dijual si Fulan itu memungkinkan. Dalam kasus yang sedang kita bahas ini, kebatalannya lebih utama, karena mengetahui harga budak tersebut dapat dipastikan, sedangkan mengetahui imbalan bagi masing-masing pihak hanya dapat dilakukan dengan penilaian dan pembagian, yang sifatnya masih dugaan dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini berlaku dalam akad nikah, khulu‘, jual beli, dan kitabah dengan pola yang sama, karena meskipun hukum-hukum akad tersebut berbeda, semuanya sama dalam mensyaratkan kejelasan imbalan.

والقول الثاني أن العقود بجملتها صحيحة فإن المقدار المسمى معلوم وقد قوبل بمعلومات فاشتملت الصفقة على مقابلة معلوم بمعلوم ثم الاجتهاد وراء ذلك في القسمة والنص يخصص القول الأول هذه طريقة

Pendapat kedua menyatakan bahwa seluruh akad tersebut sah, karena jumlah yang disebutkan telah diketahui dan telah dipertukarkan dengan hal-hal yang juga diketahui, sehingga transaksi tersebut mencakup pertukaran sesuatu yang diketahui dengan sesuatu yang diketahui pula. Selanjutnya, ijtihad dilakukan dalam pembagian, dan nash membatasi pendapat pertama. Inilah metodenya.

ومن أصحابنا من أقرّ النصوص قرارها وطرد القولين في بدل الخلع والصداق وقطع بالفساد في البيع وبالصحة في الكتابة وهؤلاء يحتاجون إلى فرقين أحدهما بين البيع والخلع وبين الكتابة أما الفرق بين البيع وغيره فهو أن العوض ركن في البيع وحكم فساد الركن فساد العقد ثم موجب فساد البيع إلغاؤه والبدل ليس ركناً في الخلع والنكاح وفقه ذلك أنا لا نفسد النكاح والخلع بفساد العوض وإذا لم نفسدهما فلا بد من إثبات عوض وذلك العوض هو مهر المثل الذي نريد توزيع المسمى عليه وإذا كنا لا نجد بداً لإثبات مهر المثل فلا يمتنع توزيع المسمى عليه ومثل هذا لا يتحقق في البيع

Sebagian dari ulama mazhab kami menetapkan teks-teks syariat sebagaimana adanya dan menerapkan dua pendapat dalam masalah pengganti khulu‘ dan mahar, serta memutuskan batalnya akad pada jual beli, namun sah pada akad kitābah. Mereka ini membutuhkan dua pembedaan: pertama, antara jual beli dan khulu‘, serta antara jual beli dan kitābah. Adapun perbedaan antara jual beli dengan selainnya adalah bahwa imbalan (harga) merupakan rukun dalam jual beli, dan jika rukunnya rusak maka akadnya pun rusak. Konsekuensi rusaknya jual beli adalah pembatalannya. Sedangkan pengganti (imbalan) bukanlah rukun dalam khulu‘ dan nikah. Pemahaman fiqhnya adalah bahwa kami tidak membatalkan akad nikah dan khulu‘ karena rusaknya imbalan. Jika kami tidak membatalkan keduanya, maka harus ada penetapan imbalan, dan imbalan itu adalah mahar mitsil yang ingin kami distribusikan atas mahar yang telah disebutkan. Jika kami tidak bisa tidak harus menetapkan mahar mitsil, maka tidak terlarang untuk mendistribusikan mahar yang telah disebutkan atasnya. Hal seperti ini tidak dapat diterapkan dalam jual beli.

وأما الكتابة فهي أقل احتمالاً لأمثال هذه الأمور فإن عوضها أُجمل على صيغة تَفْسُد عليها الأعواض في العقود فإنها مقابلة الملك بالملك ثم كان سبب احتماله تشوف الشرع إلى تحصيل العتاقة فإذا أمكننا أن نقدر وجهاً في الصحة لم يَلِقْ بوضع الكتابة أن تفسُد لتخيير السيد ومن فهم ما ذكرناه لم يفسد عليه الكلام العام في اشتراط الإعلام في أعواض هذه العقود

Adapun kitabah, maka ia lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami hal-hal semacam ini, karena kompensasinya diringkas dalam bentuk yang dapat membatalkan kompensasi dalam akad-akad, sebab ia merupakan pertukaran kepemilikan dengan kepemilikan. Namun, alasan kemungkinannya adalah karena syariat sangat menganjurkan terwujudnya kemerdekaan budak. Maka jika kita dapat memperkirakan suatu sisi keabsahan, tidaklah sesuai dengan tujuan kitabah untuk menjadi batal hanya karena adanya hak memilih bagi tuan. Barang siapa memahami apa yang kami sebutkan, tidak akan rancu baginya pembicaraan umum tentang syarat pemberitahuan dalam kompensasi akad-akad ini.

ومن أصحابنا من ألحق البيع بالنكاح والخلع وخصص الكتابة بقطع القول فيها بالصحة والسبيل ما قدمناه ولا يمتنع عكس هذه الطريقة على من يحاول فإن الكتابة مضمونها العتق وهو على النفوذ كالطلاق والبيع يختص من بين هذه العقود بمزايا وتأكيدات في رعاية صفات الأعواض

Sebagian dari ulama kami mengqiyaskan jual beli dengan nikah dan khulu‘, serta mengkhususkan masalah kitabah dengan menetapkan keabsahannya secara pasti, dan cara yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya. Tidak mustahil pula membalik metode ini bagi siapa yang mencoba, sebab kitabah pada hakikatnya mengandung unsur pembebasan budak, dan ia berlaku seperti talak, sedangkan jual beli memiliki keistimewaan dan penegasan tersendiri dalam menjaga sifat-sifat imbalan di antara akad-akad ini.

فأما القول في الصداق فإن أفسدناه رجعنا إلى مهور أمثال النسوة فإن كل فساد يرجع إلى الجهالة فالرجوع إلى مهر المثل وهذا مقطوع به

Adapun pembahasan mengenai mahar, jika kita menganggapnya rusak, maka kita kembali kepada mahar wanita-wanita yang sepadan, karena setiap kerusakan itu kembali kepada ketidakjelasan, maka solusinya adalah kembali kepada mahar yang sepadan, dan hal ini sudah menjadi ketetapan.

ووراء ما ذكرناه غائلة فإنا على قول القيمة وضمان اليد نقدر للخمر قيمة ونقدر الخمر عصيراً ومساق هذا يقتضي ألا نصير إلى مهر المثل إلا في المجهول الذي لا يمكن تقويمه وإذا كان النص على مهر المثل ممكناً فليس هذا بأبعدَ من تقدير قيمة الحر

Di balik apa yang telah kami sebutkan, terdapat bahaya, yaitu menurut pendapat tentang penilaian harga dan jaminan kepemilikan, kita memperkirakan nilai khamar dan memperkirakan khamar sebagai ‘asir (jus anggur), dan alur pemikiran ini mengharuskan kita untuk tidak berpegang pada mahar mitsil kecuali pada sesuatu yang tidak diketahui dan tidak mungkin dinilai. Jika penetapan mahar mitsil secara nash memungkinkan, maka hal ini tidak lebih jauh daripada memperkirakan nilai seorang hamba yang merdeka.

فإن وفّينا حق هذا الأصل قلنا إذا رأينا الرجوع إلى القيمة في قاعدة الصداق عند طريان التلف أو اقتران الفساد فالوجه تصحيح الصداق وإن لم نر ذلك جرى القولان وهذا تكلّف منا والأصحاب طردوا القولين على القولين

Jika kita menunaikan hak prinsip ini, kita katakan: apabila kita melihat perlunya kembali kepada nilai (qīmah) dalam kaidah mahar ketika terjadi kerusakan atau terdapat unsur cacat, maka yang tepat adalah mengesahkan mahar tersebut. Namun jika kita tidak melihat hal itu, maka dua pendapat tetap berlaku. Ini adalah upaya penjelasan dari kami, sedangkan para ulama (ash-hāb) tetap menjalankan dua pendapat tersebut sesuai dengan dua pendapat yang ada.

وحق من يريد الاعتناء بالمذهب أن يفهم ما قيل ويتثبت في النقل ثم يحيط بالمشكلات ويستمسك بها في نصرة قول على قول

Hak bagi siapa saja yang ingin memperhatikan mazhab adalah memahami apa yang telah dikatakan, memastikan kebenaran dalam meriwayatkan, kemudian menguasai permasalahan-permasalahan yang sulit dan berpegang teguh padanya dalam membela satu pendapat atas pendapat yang lain.

وإن حكمنا بصحة الصداق فلا وجه إلا فضّ المسمّى على أقدار مهور أمثال النسوة فإن استوين في مهور الأمثال استوت حصصهن وإن تفاوتن في المهور تفاوتت الحصص

Jika kita memutuskan keabsahan mahar tersebut, maka tidak ada jalan lain kecuali membagi mahar yang telah disebutkan menurut kadar mahar wanita-wanita yang sepadan. Jika mahar-mahar wanita sepadan itu sama, maka bagian mereka pun sama; dan jika mahar-mahar itu berbeda, maka bagian mereka pun berbeda sesuai perbedaan tersebut.

وفي طريقة القاضي قول غريب أن المسمى مفضوضٌ على رؤوسهن من غير نظر إلى تفاوت المهور وهذا وهم غير معدود من المذهب لا يُحتمل إلا من رجل له قدرٌ وقدمُ صدق في المذهب وما ذكرناه من التفريع في النكاح يجري مثله في بدل الخلع حرفاً بحرف

Dalam metode al-Qadhi terdapat pendapat yang ganjil bahwa mahar yang telah disebutkan dibagi rata di antara mereka tanpa memperhatikan perbedaan mahar, dan ini adalah kekeliruan yang tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab, tidak mungkin diucapkan kecuali oleh seseorang yang memiliki kedudukan dan reputasi yang kuat dalam mazhab. Apa yang telah kami sebutkan tentang rincian dalam masalah nikah, berlaku pula secara persis dalam hal pengganti khulu‘, huruf demi huruf.

وأما البيع إن أفسدناه لم يخف حكم فساده والسبب فيه جهالة العوض كما قررناه في التوجيه ثم نقول لو كان بين أربعة أشخاص أربعة أعبد لكل واحد منهم ربع الجميع فإذا باعوا الأعبد من شخص بثمن واحد صح بلا خلاف فإن لكل واحد ربع الثمن ولا جهالة وإنما الحكم بالفساد أو ترديد القول حيث ينفرد كل واحد بعبد أو عبيد بحيث تمس الحاجة إلى فضّ المسمى على أقدار القيم

Adapun jual beli, jika kami menganggapnya fasad (rusak), maka hukum kerusakannya tidak samar, dan sebabnya adalah ketidakjelasan imbalan sebagaimana telah kami jelaskan dalam penjelasan sebelumnya. Kemudian kami katakan, jika ada empat orang yang memiliki empat budak, masing-masing memiliki seperempat dari keseluruhan, lalu mereka menjual para budak tersebut kepada satu orang dengan satu harga, maka jual beli itu sah tanpa ada perbedaan pendapat, karena masing-masing mendapat seperempat dari harga tersebut dan tidak ada ketidakjelasan. Adapun hukum fasad atau perbedaan pendapat terjadi ketika masing-masing orang memiliki satu atau beberapa budak secara terpisah sehingga diperlukan pembagian harga sesuai dengan nilai masing-masing.

ومما نفرعه أن الرجل لو قال اشتريت عبدك بما يخص العبد من الألف لو وزع عليه وعلى عبد زيد ولم يجر عقد مع زيد فالبيع فاسد على هذا الوجه وإن كان لو فرض عقد مشتمل على عبديهما بمقدار من المسمى لخرجت المسألة على قولين والسبب فيه أن معتمد الصحة النظر إلى صيغة الصفقة المشتملة على معلومين من الجانبين على الجملة مع رد الجهالة إلى القسمة

Di antara cabang permasalahan dari hal ini adalah jika seseorang berkata, “Aku membeli budakmu dengan bagian dari seribu (dirham) yang menjadi bagian budak itu, jika dibagi antara dia dan budak Zaid,” padahal tidak terjadi akad dengan Zaid, maka jual beli ini rusak menurut bentuk ini. Meskipun jika diasumsikan terjadi akad yang mencakup kedua budak mereka dengan sejumlah tertentu dari harga yang disebutkan, maka permasalahan ini menjadi dua pendapat. Sebabnya adalah bahwa dasar keabsahan (akad) adalah memperhatikan lafaz transaksi yang mencakup dua hal yang diketahui dari kedua belah pihak secara global, dengan mengembalikan ketidakjelasan kepada pembagian.

ومما يتفرع على البيع أيضاً أنا إذا صححناه فلا وجه إلا فَضُّ المسمى على قيم العبيد وذلك القول البعيد الذي حكيناه في النكاح والخلع وهو الفض على الرؤوس لا يتأتى في العبيد فإنهم أموال قوبلوا بأموال في عقد يقصد منه المالية وحقائق المالية لا تجري في الأبضاع وهذا تكلفٌ منا فإن ذلك القولَ فاسدٌ حيث ذكروا ما للعبد في الكتابة فلا بد من فض العوض عليهم بما ذكرناه في البيوع نص الشافعي عليه في الكتابة وأجمع عليه الأصحاب وهذا نجاز الفصل

Salah satu cabang dari pembahasan jual beli juga adalah bahwa jika kita menganggapnya sah, maka tidak ada cara lain kecuali membagi harga yang telah disepakati berdasarkan nilai para budak. Adapun pendapat yang jauh yang telah kami sebutkan dalam masalah nikah dan khulu‘, yaitu pembagian berdasarkan jumlah kepala, tidak dapat diterapkan pada budak, karena mereka adalah harta yang dipertukarkan dengan harta dalam akad yang memang bertujuan untuk aspek finansial, sedangkan hakikat finansial tidak berlaku pada kemaluan. Ini adalah bentuk pemaksaan dari pihak kami, sebab pendapat tersebut rusak, sebagaimana disebutkan tentang hak budak dalam masalah kitabah, sehingga harus membagi kompensasi kepada mereka sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam jual beli. Imam Syafi‘i telah menegaskan hal ini dalam masalah kitabah dan para sahabatnya telah bersepakat atas hal itu. Dengan ini, selesailah pembahasan bab ini.

فصل قال ولو أصدق عن ابنه ودفع الصداق من ماله إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Seandainya seseorang memberikan mahar atas nama anaknya dan menyerahkan mahar tersebut dari hartanya sendiri kepada orang lain hingga selesai.”

قد ذكرنا في كتاب النكاح صيغة قبول النكاح للأطفال وصيغة التزويج منهم وغرضنا من عقد هذا الفصل أمور تتعلق بالمهر

Kami telah menjelaskan dalam kitab nikah tentang lafaz penerimaan nikah untuk anak-anak dan lafaz pernikahan dari mereka, dan tujuan kami menyusun bab ini adalah untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan mahar.

منها أن الأب لو أصدق امرأة ابنه الطفل شيئاً من أعيان ملك نفسه عند قبول النكاح فهذا جائز والعين المذكورة تثبت صداقاً والتقدير فيها أن يفرض دخولها تحت ملك الطفل ثم ملك زوجته يترتب على ملكه فتلحق العين بأموال الطفل ويجب الإصداق من ملك الطفل وهذا متفق عليه

Di antaranya adalah apabila seorang ayah memberikan mahar kepada istri anaknya yang masih kecil berupa sesuatu dari harta miliknya sendiri pada saat akad nikah diterima, maka hal itu diperbolehkan dan benda tersebut menjadi mahar. Dalam hal ini, dianggap seolah-olah benda itu terlebih dahulu masuk ke dalam kepemilikan anak, kemudian berpindah ke istrinya sebagai akibat dari kepemilikan anak tersebut. Maka, benda itu termasuk ke dalam harta anak dan kewajiban memberikan mahar berasal dari harta anak. Hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘) para ulama.

ثم إذا بلغ الغلام وطلّق زوجته قبل الدخول والعين باقية في يدها تشطّرت ورجع نصفها إلى الزوج وهو الابن فإنا قدّرنا دخول العين في ملكه وأوضحنا ترتّب ملك المرأة على ملكه فيرجع الشطر إلى الجهة التي منها الخروج

Kemudian, apabila seorang anak laki-laki telah baligh dan menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan suami istri, sementara barang (mahar) masih berada di tangan istrinya, maka barang itu terbagi dua dan setengahnya kembali kepada suami, yaitu si anak. Sebab, kita menganggap barang tersebut telah masuk ke dalam kepemilikannya dan telah kami jelaskan bahwa kepemilikan istri bergantung pada kepemilikannya, sehingga setengahnya kembali kepada pihak asal keluarnya.

ثم الأب إن قال قصدت هبةً فالأمر منزّل على قصده وإن قال قصدت إقراضاً فالظاهر عندنا أن قصده متبع لاحتمال الأمر وفي كلام الأصحاب ما يدل على أن مطلق إصداقه يتضمن الهبة لا محالة وصرحوا أنه إذا قال لم أنو شيئاً كان محمولاً على الهبة ثم إذا حملناه على الهبة ثم فُرض رجوع شطر تلك العين إلى الابن فهل يملك الأب الرجوع فيما رجع إلى الابن فعلى الخلاف المعروف في أن ملك المتهب إذا زال وعاد فهل يثبت للأب حق الرجوع فيه

Kemudian, jika seorang ayah mengatakan bahwa ia bermaksud memberikan hibah, maka perkara tersebut disesuaikan dengan maksudnya. Jika ia mengatakan bermaksud memberikan pinjaman, maka menurut pendapat yang kuat di kalangan kami, maksudnya diikuti karena adanya kemungkinan dalam perkara tersebut. Dalam perkataan para ulama juga terdapat penjelasan bahwa pernyataan pemberian mahar secara mutlak mengandung makna hibah secara pasti. Mereka juga menegaskan bahwa jika ia mengatakan tidak berniat apa-apa, maka hal itu dianggap sebagai hibah. Kemudian, jika kita menganggapnya sebagai hibah, lalu separuh dari benda tersebut kembali kepada anak, maka apakah ayah berhak menarik kembali bagian yang telah kembali kepada anak? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dikenal, yaitu apakah kepemilikan penerima hibah jika telah hilang lalu kembali lagi, maka apakah ayah berhak menarik kembali hibah tersebut atau tidak.

ولو ارتدت المرأة أو جرت حالةٌ غيرُ الردة مقتضاها رجوع جميع الصداق إلى الزوج فالجميع يرجع إلى الابن رجوعَ النصف عند فرض الطلاق قبل الدخول ثم القول في رجوع الأب على ما ذُكر

Jika seorang wanita murtad atau terjadi suatu keadaan selain murtad yang mengakibatkan seluruh mahar kembali kepada suami, maka seluruhnya kembali kepada anak laki-laki sebagaimana kembalinya setengah mahar ketika terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri. Kemudian pembahasan mengenai kembalinya kepada ayah adalah sebagaimana yang telah disebutkan.

وذكر الأصحاب مسألة عدّوها من اللغز والمغالطة فنذكرها على صورتها فقالوا إذا قبل الأب النكاح لابنه الصغير وأصدقها أمّ الصغير فكانت في ملكه ثم بلغ الغلام وطلقها فإلى من تعود الأم أو بعضها وكيف الطريق بهذا اللغز لأن الأم لو دخلت في ملك الابن لعَتَقَتْ فإذا عتقت لم يصح الإصداق وإذا لم يصح الإصداق لم يحصل العتق فيلتحق هذا بالمسائل الدائرة فهذا ما ذكره الأئمة

Para ulama menyebutkan sebuah permasalahan yang mereka anggap sebagai teka-teki dan tipu muslihat, maka kami sebutkan sesuai bentuknya. Mereka berkata: Jika seorang ayah menerima akad nikah untuk anaknya yang masih kecil dan menjadikan mahar pernikahannya adalah ibu si anak kecil, yang saat itu berada dalam kepemilikannya, kemudian anak laki-laki itu dewasa dan menceraikannya, maka kepada siapa ibu itu kembali, seluruhnya atau sebagian, dan bagaimana jalan keluar dari teka-teki ini? Sebab, jika ibu itu masuk dalam kepemilikan anak, maka ia akan merdeka. Jika ia merdeka, maka mahar pernikahan tidak sah. Jika mahar tidak sah, maka kemerdekaan pun tidak terjadi. Maka, permasalahan ini termasuk dalam lingkup permasalahan yang berputar-putar. Inilah yang disebutkan oleh para imam.

وينشأ من هذا سؤال وهو أن الأب لو قبل لابنه الصغير نكاح امرأة مهرُ مثلها مائة فأصدقها من خالص ماله ألفاً فكيف يكون الرأي وهل يكون هذا كما لو أصدقها من مال الطفل ألفاً مع العلم بأنه لو فعل ذلك من مال الطفل لكان متبرعاً من ماله والتبرع من مال الطفل مردود وهذه المسألة في نهاية الحسن

Dari sini timbul sebuah pertanyaan, yaitu apabila seorang ayah menikahkan anak kecilnya dengan seorang wanita yang mahar sepadannya seratus, lalu ia memberikan mahar kepada wanita itu dari hartanya sendiri sebanyak seribu, bagaimana pendapat yang tepat? Apakah hal ini sama seperti jika ia memberikan mahar kepada wanita itu dari harta anak tersebut sebanyak seribu, padahal diketahui bahwa jika ia melakukan hal itu dari harta anak, maka ia berarti telah menyumbangkan harta anak, dan menyumbangkan harta anak adalah perbuatan yang ditolak? Masalah ini sangat menarik untuk dibahas.

وأول ما يجب قطعه أن يظن ظان أن الملك يثبت للطفل ويبطل الإصداق فإن سبيل ثبوت الملك له الإصداق وإذا كان بقصد الإصداق كيف يصح التمليك فوجه الكلام أن يقال يحتمل أن يصح الإصداق فإن كان مع تقرير ملك الطفل فإن هذا تبرع حصل بتبرع الأب بمال نفسه ولم يثبت للطفل ملك متأثل حتى يفرض منع التبرع فيه

Hal pertama yang harus ditegaskan adalah jangan sampai ada yang mengira bahwa kepemilikan itu tetap bagi anak kecil dan batalnya pemberian mahar, sebab cara kepemilikan itu tetap baginya adalah melalui pemberian mahar. Jika pemberian mahar itu dimaksudkan, bagaimana mungkin pemberian kepemilikan itu sah? Maka penjelasan masalah ini adalah, bisa jadi pemberian mahar itu sah. Jika disertai dengan penetapan kepemilikan anak kecil, maka ini adalah hibah yang terjadi karena ayah memberikan hartanya sendiri, dan anak kecil itu belum memiliki kepemilikan yang mapan sehingga bisa dianggap ada larangan hibah di dalamnya.

ويجوز أن يقال يفسد الصداق رأساً لأن في تصحيحه تثبيتٌ لملك الطفل مع التبرع به وما وجدناه منصوصاً للأصحاب من منع إصداق الأم يشهد لإفساد هذا الإصداق فإن انقدح لفقيهٍ نظرٌ في الفرق فلا حرج عليه ولا يَطْمَعَن في تخريج في العتق فلا وجه فيه غير ما ذكره الأصحاب

Dan boleh dikatakan bahwa mahar menjadi batal secara langsung karena dalam membolehkannya terdapat penetapan kepemilikan anak kecil beserta pemberiannya secara cuma-cuma. Apa yang kami temukan sebagai pendapat yang dinyatakan oleh para ulama tentang larangan menjadikan ibu sebagai mahar, menjadi bukti bagi pembatalan mahar ini. Jika seorang ahli fiqh menemukan alasan yang membedakan, maka tidak mengapa baginya. Namun, janganlah berharap ada penjelasan (takhrīj) dalam masalah pembebasan budak, karena tidak ada pendapat di dalamnya selain apa yang telah disebutkan oleh para ulama.

فإن قيل قد حكيتم عن أبي إسحاق أنه قال من يشتري من يعتِق عليه حصل الملك والعتق معاً فقياسه أن يحصل ملك الطفل في الصداق وملك المرأة معاً ثم حصول ملكها يمنع حصول العتق فهل يخرّج على هذا جواز إصداق الأم قلنا ليس ما قاله أبو إسحاق مما يحل التفريع عليه سيما في هذه المضائق وحق كل ناظر في مضيق أن يقطع فكره عن الأصول البعيدة

Jika dikatakan: Kalian telah meriwayatkan dari Abu Ishaq bahwa ia berkata, “Barang siapa membeli seseorang yang akan menjadi merdeka karena kepemilikannya, maka kepemilikan dan kemerdekaan terjadi bersamaan.” Maka qiyās-nya adalah bahwa kepemilikan anak kecil atas mahar dan kepemilikan perempuan terjadi bersamaan, kemudian terjadinya kepemilikan perempuan mencegah terjadinya kemerdekaan. Apakah berdasarkan hal ini boleh menjadikan ibu sebagai mahar? Kami katakan: Apa yang dikatakan Abu Ishaq bukanlah sesuatu yang dapat dijadikan dasar untuk cabang-cabang hukum, terutama dalam permasalahan yang rumit seperti ini. Sudah sepatutnya bagi setiap orang yang menghadapi permasalahan rumit untuk memutuskan pikirannya dari prinsip-prinsip yang jauh.

فهذا منتهى ما ذكرناه في ذلك

Inilah akhir dari apa yang telah kami sebutkan dalam hal ini.

ومما يتصل بهذا أن الرجل إذا نكح امرأة و أصدقها ألفاً وجاء أجنبي وأدّى الألف من غير رضا الزوج وطلقها قبل المسيس فحكم الطلاق تشطير الصداق ويبعد كل البعد أن نقدّر للزوج ملكاً فيما أدّاه الأجنبي فإنه لا يملك الأجنبيُّ تمليكَ الزوج شيئا قهراً وهو ما يليه أما التشطير فلا شك فيه وحكى شيخي وجهين فيمن ينقلب الشطر إليه أحد الوجهين أنه يرجع إلى الأجنبي فإنه من ملكه خرج ولا وجه عندنا غيره وإن استبعد مستبعد رجوع نصف الصداق إلى غير الزوج فسببه أداء الصداق من غير الزوج

Terkait dengan hal ini, jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dan menetapkan mahar seribu, lalu ada orang lain (bukan suami atau istri) yang membayar seribu tersebut tanpa persetujuan suami, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka hukum talak tersebut adalah membagi dua mahar. Sangat tidak masuk akal jika kita menganggap suami memiliki hak atas apa yang telah dibayarkan oleh orang lain, karena orang lain tidak berhak memaksa memberikan sesuatu kepada suami. Adapun pembagian dua mahar, tidak ada keraguan di dalamnya. Guruku meriwayatkan dua pendapat mengenai kepada siapa setengah mahar itu kembali; salah satu pendapat mengatakan bahwa setengahnya kembali kepada orang lain (yang membayar mahar), karena mahar itu berasal dari miliknya. Menurut kami, tidak ada pendapat lain selain ini, meskipun ada yang menganggap aneh jika setengah mahar kembali kepada selain suami, sebab hal itu terjadi karena pembayaran mahar dilakukan oleh selain suami.

والوجه الثاني أنه يرجع إلى الزوج وهذا القائل يضطر إلى أن يقول يدخل في ملك الزوج تقديراً أولاً وقد يتفق مثل هذا

Pendapat kedua adalah bahwa hal itu kembali kepada suami, dan orang yang berpendapat demikian terpaksa harus mengatakan bahwa hal itu masuk ke dalam kepemilikan suami secara takdir terlebih dahulu, dan terkadang hal seperti ini bisa terjadi.

وقد ذكرنا أن العبد إذا خالع زوجته على مال فالعوض يدخل في ملك السيد ولم يجر الخلع بإذنه ولم يخرج البضع عن استحقاقه والقياس يقتضي أن يكون عوض البضع عن استحقاقه والقياس يقتضي أن يكون عوض البضع لمن يخرج البضع عن حقه ومن الأصول الخفية أن محض القياس قد يضيق فيدِق النظر وهو يمشي مشي المُقَيَّد ثم قد يقف ويضطر الفقيه إلى حكم فيصرفه إلى أقرب الوجوه إليه من غير قياس إذا امتنع تعطيل الحكم وهذا تكلف وليس العبد كالأجنبي المتبرع فإن ما يكتسبه العبد إنما يكتسبه للسيد

Kami telah menyebutkan bahwa apabila seorang budak melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan memberikan sejumlah harta, maka kompensasi tersebut masuk ke dalam kepemilikan tuannya. Khulu‘ itu tidak dilakukan dengan izinnya, dan hak hubungan suami istri belum keluar dari hak tuannya. Qiyās mengharuskan bahwa kompensasi hubungan suami istri itu diberikan kepada pihak yang melepaskan haknya atas hubungan tersebut. Di antara prinsip-prinsip tersembunyi adalah bahwa qiyās murni terkadang menjadi sempit sehingga membutuhkan ketelitian dalam memandangnya; ia berjalan seperti sesuatu yang terikat, lalu bisa saja berhenti dan memaksa seorang faqih untuk menetapkan suatu hukum, sehingga ia mengalihkannya kepada pendapat yang paling dekat tanpa menggunakan qiyās apabila tidak mungkin meniadakan hukum tersebut. Ini adalah suatu bentuk rekayasa (takalluf), dan budak tidaklah sama dengan orang asing yang memberikan secara sukarela, karena apa pun yang diperoleh budak, sesungguhnya ia peroleh untuk tuannya.

وكل ما ذكرناه فيه إذا أصدق الأب زوجة ابنه من مال نفسه

Dan semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku apabila seorang ayah memberikan mahar kepada istri anaknya dari hartanya sendiri.

فأما إذا أصدقها من مال الابن فإن كان قدر مهر مثل المرأة أو أقل صح النكاح وثبتت التسمية وإن كان أكثر من مهر المثل ففي المسألة قولان أحدهما أن النكاح لا ينعقد والثاني أنه ينعقد ويُرد إلى مهر المثل

Adapun jika ia memberikan mahar kepada istrinya dari harta anaknya, maka jika jumlahnya sebesar atau kurang dari mahar mitsil wanita tersebut, maka akad nikah sah dan penamaan mahar tersebut tetap berlaku. Namun jika jumlahnya melebihi mahar mitsil, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: yang pertama, akad nikah tidak sah; dan yang kedua, akad nikah sah namun dikembalikan kepada mahar mitsil.

وأصل هذين القولين أن فساد المهر وإن كان في قاعدة المذهب لا يؤدي إلى إفساد النكاح فالمهر ثبت في الصورة التي ذكرناها في حكم الشرط وكأن المرأة لم ترض بالنكاح إلا به فلا ينبغي أن يؤخذ هذا من فساد المهر مطلقاً إذ لو قلنا يلزمها النكاح بمهر المثل لكان هذا تجنّياً ظاهراً واحتكاماً عليها وتغييراً لموجب إذنها وليس كما لو كان الصداق خمراً فإنه لا حكم لرضاها بالخمر وطلبها أكثر من مهر المثل يسوغ في الشرع فليفهم الناظر هذه الدقيقة فإنا رأينا المتعمقين يرون قول فساد النكاح قولاً فاسداً في المذهب لا يرون له اتجاهاً إلا على قول بعيد في أن فساد المهر يؤدي إلى فساد النكاح وليس الأمر كذلك فإن الشافعي في مساق نصوصه على أن النكاح لا يفسد بفساد الصداق ينص على هذين القولين

Dasar dari dua pendapat ini adalah bahwa rusaknya mahar, meskipun menurut kaidah mazhab tidak menyebabkan rusaknya akad nikah, namun mahar yang telah ditetapkan dalam kasus yang telah kami sebutkan tadi berada dalam hukum syarat. Seolah-olah perempuan tidak rela menikah kecuali dengan mahar tersebut, maka tidak sepantasnya hal ini diambil dari kerusakan mahar secara mutlak. Sebab, jika kita mengatakan bahwa ia wajib menerima akad nikah dengan mahar mitsil, maka itu merupakan tindakan yang jelas-jelas memaksa dan memutuskan sesuatu atas dirinya, serta mengubah konsekuensi dari izinnya. Hal ini berbeda dengan kasus jika mahar berupa khamr, karena kerelaannya terhadap khamr tidak dianggap, dan permintaannya atas mahar yang lebih besar dari mahar mitsil dibenarkan dalam syariat. Maka hendaknya orang yang menelaah memahami hal yang sangat halus ini, karena kami melihat sebagian orang yang terlalu mendalam dalam berpikir menganggap pendapat tentang rusaknya akad nikah sebagai pendapat yang rusak dalam mazhab, dan mereka tidak melihat adanya landasan kecuali pada pendapat yang jauh bahwa kerusakan mahar menyebabkan rusaknya akad nikah. Padahal kenyataannya tidak demikian, karena asy-Syafi‘i dalam rangkaian nash-nashnya menegaskan bahwa akad nikah tidak rusak karena rusaknya mahar, dan beliau menegaskan dua pendapat ini.

ولو زوّج ابنته بأقل من مهر المثل ففي انعقاد النكاح قولان أحدهما لا ينعقد

Jika seseorang menikahkan putrinya dengan mahar yang lebih rendah dari mahar mitsil, maka dalam keabsahan akad nikah terdapat dua pendapat; salah satunya menyatakan bahwa akad tersebut tidak sah.

والثاني ينعقد بمهر المثل وتوجيه القول في الإفساد مأخوذ مما ذكرناه وهو أن الرجل لم يرض بأن يُلزِمَ النكاح بأكثر مما ذُكر ْ وقد سبق تقرير هذا

Yang kedua, akad nikahnya sah dengan mahar mitsil, dan penjelasan mengenai pendapat tentang pembatalan diambil dari apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa laki-laki tidak rela jika pernikahan dibebankan kepadanya dengan mahar yang lebih besar dari yang telah disebutkan, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وهذا الذي نبهنا عليه من شرائف الكلام ولست أذكر أمثال هذا تصلّفاً ولكني أقصد أن يكون للمنتهي إليه فضل تأمل

Hal yang telah kami tunjukkan ini termasuk dari ungkapan-ungkapan yang mulia, dan aku tidak menyebutkan hal-hal semacam ini sekadar untuk memperindah kata-kata, tetapi aku bermaksud agar orang yang sampai pada pemahaman ini memiliki keutamaan dalam merenung.

ثم إذا أصدق الرجل امرأة ابنه لا من مال نفسه فلا يخلو إما أن يصدقها من عين مال الطفل وإما أن يصدقها ديناً فإن كان عيناً مَلَكتها والكلام في كونه على قدر مهر المثل أو أكثر منه وقد سبق ذلك

Kemudian, jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istri anaknya bukan dari hartanya sendiri, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memberikannya dari harta anak yang masih kecil secara tunai, atau ia memberikannya dalam bentuk utang. Jika diberikan secara tunai, maka istri tersebut memilikinya, dan pembahasan selanjutnya adalah apakah jumlahnya sesuai dengan mahar mitsil atau lebih dari itu, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وإن ذكر في قبول النكاح لطفله دَيناً مطلقا فالمنصوص عليه في الجديد أن المهر لا يثبت في ذمة الأب والمال على الابن نعم إن كان للابن مال فالابن مطالب بتأديته من ماله وقال في القديم يكون الأب ضامناً للمهر شرعاً وقد ذكرت القولين وتوجيهَهما

Jika dalam penerimaan akad nikah untuk anak kecil disebutkan mahar sebagai utang secara mutlak, maka menurut pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru, mahar tidak menjadi tanggungan ayah dan harta itu menjadi milik anak. Namun, jika anak memiliki harta, maka anaklah yang dituntut untuk membayarnya dari hartanya. Sedangkan dalam pendapat lama dinyatakan bahwa ayah secara syar‘i menjadi penanggung mahar. Kedua pendapat beserta argumentasinya telah saya sebutkan.

وكذلك لو أذن المولى لعبده في النكاح فالقول الجديد أن ذمة السيد خلية عن المهر والمهر والنفقة يتعلقان بكسب العبد وقال في القديم يصير السيد ضامناً وذمة العبد مشغولة أيضاً وهو في رتبة الأصيل والسيد في مقام الكفيل

Demikian pula, jika tuan mengizinkan budaknya untuk menikah, menurut pendapat baru, tanggungan tuan bebas dari mahar, dan mahar serta nafkah berkaitan dengan penghasilan budak. Sedangkan menurut pendapat lama, tuan menjadi penjamin dan tanggungan budak juga tetap ada; dalam hal ini, budak berada pada posisi pihak asli, sedangkan tuan berada pada posisi penjamin (kafīl).

وإذا أذن لعبده في التمتع بالعمرة إلى الحج فالقول الجديد أن العبد يصوم لا غير وليس على السيد بذلُ مال

Jika seorang tuan mengizinkan hambanya untuk melakukan tamattu‘ dari umrah ke haji, menurut pendapat baru, maka sang hamba hanya diwajibkan berpuasa saja dan tidak ada kewajiban bagi tuan untuk mengeluarkan harta.

والقول الثاني أن السيد يُريق دمَ المتعةِ عن عبده

Pendapat kedua menyatakan bahwa tuanlah yang menyembelih hewan dam tamattu‘ atas nama hambanya.

فإن قلنا ذمة الأب عريّة عن المال فإن كان للابن مال فالمرأة تطالب الأب المتصرف بأداء المهر من مال الابن ولو صرّح الأب بضمان المهر شرطاً والتفريع على الجديد فيصير حينئذ ضامناً والمرأة بالخيار فإن شاءت طالبت الابن إذا بلغ أو طالبت الأب بالأداء من ماله وإن شاءت طالبت الضامن ويظهر أثر هذا مُتّضحاً فيه إذا لم يكن للابن مال ثم الأب إذا ضمن حيث انتهى التفريع إليه فإن غرم فهل يرجع على الابن قد ذكرنا في كتاب الضمان أن من ضمن بالإذن وشرط الرجوع وغرم كذلك فإنه يرجع فإذا لم يفرض الإذن ففيه تفصيل

Jika kita katakan bahwa tanggungan (dzimmah) ayah bebas dari harta, maka jika anak memiliki harta, perempuan (istri) menuntut ayah yang bertindak untuk membayar mahar dari harta anak. Namun, jika ayah secara tegas menyatakan menjamin mahar sebagai syarat, dan ini berdasarkan pendapat baru (al-jadid), maka saat itu ia menjadi penjamin, dan perempuan memiliki hak memilih: jika ia mau, ia dapat menuntut anak ketika sudah baligh, atau menuntut ayah untuk membayar dari hartanya, atau jika ia mau, menuntut penjamin. Dampak dari hal ini tampak jelas jika anak tidak memiliki harta, kemudian ayah menjadi penjamin sebagaimana hasil dari rincian tersebut. Jika ayah menanggung kerugian (membayar), apakah ia boleh menuntut kembali kepada anak? Telah kami sebutkan dalam Kitab al-Dhaman bahwa siapa yang menjamin dengan izin dan mensyaratkan hak untuk menuntut kembali, lalu ia menanggung kerugian, maka ia boleh menuntut kembali. Namun, jika tidak ada izin, maka ada rincian dalam masalah ini.

وحظ هذه المسألة من ذلك الأصل الذي أشرنا إليه أن الأب لا يحتاج إلى تصريحٍ بشرطٍ حتى يرجع ولكن يكفي قصده فنضع قصدَه موضع الإذن وشرطِ الرجوع ثم نطبق الخلاف على الخلاف والوفاق على الوفاق

Bagian dari permasalahan ini yang berkaitan dengan prinsip yang telah kami singgung adalah bahwa seorang ayah tidak memerlukan pernyataan eksplisit berupa syarat untuk dapat menarik kembali (pemberian), melainkan cukup dengan niatnya saja. Maka, kami menempatkan niatnya sebagai pengganti izin dan syarat penarikan kembali, kemudian kami menerapkan perbedaan pendapat pada perbedaan pendapat, dan kesepakatan pada kesepakatan.

وإذا ضمن وأدى في هذا المنتهى ثم طلق الزوج فنصف المهر يرجع إليه ثم الكلام بعد ذلك في أن الأب هل يرجع أم لا فإن ما يصدر من الأب في مثل ذلك يتضمن تمليكاً فإنه يَمْلِكُ تمليكَ الطفل كما سبق تفصيله وإذا كان تبرعه من مال نفسه يتضمن تمليكه فما يؤديه بعد الضمان والالتزام يقتضي ذلك لا محالة وفائدة ما ذكرناه أن تشطير الصداق إذا رجع حيث يثبت للأب حق الرجوع فلا نقول ينحصر حق الأب فيما رجع بل يلتحق ما رجع بسائر أملاك الطفل ثم الأب يتصرف فيه فيما يرجع به تصرفه في سائر أملاكه

Jika seseorang telah menjamin dan membayar pada batas akhir ini, kemudian suami menceraikan istrinya, maka setengah mahar kembali kepadanya. Setelah itu, pembahasan selanjutnya adalah apakah ayah dapat mengambil kembali atau tidak. Apa yang dilakukan oleh ayah dalam kasus seperti ini mengandung unsur pemberian hak milik, karena ia berhak memberikan kepemilikan kepada anak sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya secara rinci. Jika pemberian dari hartanya sendiri mengandung unsur pemberian hak milik, maka apa yang ia bayarkan setelah menjamin dan berkomitmen pasti juga mengandung hal tersebut. Manfaat dari penjelasan ini adalah bahwa pembagian mahar ketika dikembalikan, di mana ayah memiliki hak untuk mengambil kembali, maka kita tidak mengatakan bahwa hak ayah terbatas hanya pada apa yang dikembalikan, melainkan apa yang dikembalikan itu menjadi bagian dari seluruh harta milik anak. Kemudian ayah dapat memperlakukan apa yang ia ambil kembali itu sebagaimana ia memperlakukan seluruh harta milik anak lainnya.

وهذا كله تفريعٌ على القول الجديد في أن التبرع لا يُلزم الأب ضماناً بحكم العقد ثم صورنا فيه إذا لم يصرح بالضمان أو صرح به

Semua ini merupakan cabang dari pendapat baru bahwa pemberian secara cuma-cuma tidak mewajibkan ayah untuk menanggung jaminan berdasarkan hukum akad, kemudian kami menguraikan hal ini baik jika tidak disebutkan secara tegas tentang jaminan maupun jika disebutkan secara tegas.

فأما إذا فرعنا على القديم وقضينا بأن التبرع يُلزم الأبَ الضمان قال القاضي إذا غرم الأب على القول القديم ما ضمّنه الشرع فلا يجد به مرجعاً على مال الطفل ويكون هذا كضمان العاقلة دية الخطأ فإنهم إذا تحملوا العقل وأدَّوْا ما حمّلهم الشرع لم يرجعوا بما بذلوه على القاتل

Adapun jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat lama dan memutuskan bahwa hibah mewajibkan ayah untuk menanggung jaminan, maka menurut pendapat al-Qadhi, jika ayah telah membayar sesuai dengan ketentuan syariat, maka ia tidak memiliki hak untuk kembali menuntut harta anak. Hal ini seperti jaminan ‘āqilah atas diyat kesalahan; apabila mereka telah menanggung diyat dan membayar apa yang telah dibebankan syariat kepada mereka, maka mereka tidak dapat menuntut kembali apa yang telah mereka keluarkan dari si pembunuh.

ثم قال فلو شرط الأب صح النكاح فإن النكاح لا يفسد بأمثال ذلك وقيل له لو ضمن الصداق بشرط براءة الابن فكيف الوجه فقال لو ضمن الضامن دَيْناً على شرط براءة الأصيل فلابن سريج في ذلك وجهان ذكرناهما أحدهما يجوز والثاني لا يجوز هذا معروف في غير ما نحن فيه

Kemudian ia berkata: Jika ayah yang mensyaratkan, maka akad nikah tetap sah, karena nikah tidak batal dengan syarat-syarat semacam itu. Lalu ditanyakan kepadanya: Jika seseorang menjamin mahar dengan syarat membebaskan anak, bagaimana hukumnya? Ia menjawab: Jika penjamin menjamin utang dengan syarat membebaskan pihak asli, maka menurut Ibn Suraij ada dua pendapat yang telah kami sebutkan: yang pertama membolehkan, dan yang kedua tidak membolehkan. Ini sudah dikenal dalam kasus selain yang sedang kita bahas.

فإذا فرضنا شرط الضمان على هذا الوجه والتفريع على القول الجديد وهو أن الضمان لا يلزم شرعاً فيحتمل وجهين أحدهما أن الضمان لا يصح ويفسد بالشرط ثم يلتحق هذا بشرط ضمان فاسدٍ في العقد وقد اختلف القول في أن شرط الضمان الفاسد والرهن الفاسد في العقد هل يتضمن فساد العقد وقد ذكرنا في ذلك قولين في كتاب الرهون هذا وجهٌ

Jika kita menetapkan syarat jaminan (dhamān) dengan cara seperti ini dan mengaitkannya dengan pendapat baru, yaitu bahwa dhamān tidak wajib secara syar‘i, maka ada dua kemungkinan. Pertama, dhamān tersebut tidak sah dan batal karena syarat tersebut, sehingga hal ini termasuk dalam kategori syarat dhamān yang rusak (fasid) dalam akad. Terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah syarat dhamān yang rusak dan rahn (gadai) yang rusak dalam akad menyebabkan rusaknya akad itu sendiri. Kami telah menyebutkan dua pendapat dalam hal ini di Kitab ar-Ruhun. Inilah satu sisi pendapat.

وإن قلنا يصح الضمان عن دين مستقر بشرط براءة الأصيل فشرْطُ هذا في صلب العقد يجب أن يكون فاسداً فإن العقد يستدعي ثبوت العوض في ذمة العاقد والخلاف الذي ذكرناه عن ابن سريج في ضمانٍ يرد على دين مستقر لا يبعد سقوطه

Jika kita mengatakan bahwa penjaminan atas utang yang sudah tetap sah dengan syarat terbebasnya pihak asli, maka syarat ini jika dicantumkan dalam inti akad harus dianggap rusak, karena akad menuntut adanya kewajiban imbalan di dalam tanggungan pihak yang berakad. Adapun perbedaan pendapat yang kami sebutkan dari Ibn Suraij mengenai penjaminan yang berlaku atas utang yang sudah tetap, tidaklah jauh kemungkinan gugurnya.

وإذا تبين أن الضمان لا يتضمن إبراء الذمة إذا وقع شرطاً في العقد فالشرط إذاً فاسد وإذا فسد الشرط فهل يفسد الضمان فيه وجهان ذكرناهما توجيهاً وتفريعاً في كتاب الضمان هذا كله إذا فرعنا على القول الجديد وهو أن الشرع لا يُلزم ذمةَ الأب ضماناً

Jika telah jelas bahwa dhamān (jaminan) tidak mencakup pembebasan tanggungan apabila dijadikan syarat dalam akad, maka syarat tersebut batal. Jika syaratnya batal, apakah dhamān juga menjadi batal? Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan penjelasan dan rincian hukumnya dalam Kitab Dhamān. Semua ini berlaku jika kita mengikuti pendapat baru, yaitu bahwa syariat tidak mewajibkan tanggungan ayah untuk memberikan dhamān.

فأما إذا فرعنا على أن الشرع يُلزم ذمة الأب الضمان فَذِكْرُه الضمان لا معنى له وهو نطق منه لموجب العقد فإن ذكر شرط البراءة أعني براءة الابن فهذا هو الشرط وهو فاسد فإذا اقترن بالصداق يجوز أن يقال يفسد الصداق به كما سيأتي تقرير ذلك في بابٍ بعد هذا إن شاء الله تعالى ويجوز أن يقال يفسد الشرط ولا يفسد الصداق

Adapun jika kita berpendapat bahwa syariat mewajibkan tanggungan jaminan kepada ayah, maka penyebutan jaminan oleh ayah tidak ada maknanya, dan itu hanyalah ucapan yang mengikuti konsekuensi akad. Jika ayah menyebutkan syarat pelepasan tanggungan, maksudnya pelepasan tanggungan anak, maka inilah syaratnya, dan syarat ini batal. Jika syarat tersebut disertakan dengan mahar, boleh dikatakan bahwa mahar menjadi batal karenanya, sebagaimana akan dijelaskan pada bab setelah ini, insya Allah Ta‘ala. Dan boleh juga dikatakan bahwa syaratnya yang batal, namun maharnya tidak batal.

وفيما ذكرناه حكاية عن القاضي وَقْفةٌ عظيمة فإنه حكم بأن الأب لا يرجع على القول القديم بما يغرمه عن جهة الضمان الشرعي وهذا مما لا سبيل إلى القول به فإن الشرع أثبت للأب نظراً في طلب غبطة الابن لكمال شفقته فإذا نظر له واستد نظره فانتصاب ذلك سبباً لتضمينه وإلزامِه المغارم الثقيلة محالٌ ولا شك أن الابن مطالَبٌ بالمهر إذا بلغ وكذلك هو مطالب بالنفقات وسائر مؤن النكاح وليس كالقاتل خطأً فإنه لا يطالَب بالعقل مع إمكان مطالبة العاقلة وبالجملة لا يُشبِّه المغارمَ التي تتعلق بالمعاملات النظرية المنوطة بشفقة الأب بالجنايات وضرب أروشها

Dalam apa yang telah kami sebutkan, terdapat catatan penting terhadap pendapat al-Qadhi, karena ia berpendapat bahwa ayah tidak dapat menuntut kembali (dari anaknya) menurut pendapat lama atas apa yang ia bayarkan dalam rangka jaminan syar‘i. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima, karena syariat memberikan hak kepada ayah untuk mempertimbangkan kemaslahatan anak demi kesempurnaan kasih sayangnya. Maka, jika ayah telah mempertimbangkan dan menimbang dengan baik, menjadikan hal itu sebagai sebab untuk membebankan dan mewajibkannya menanggung beban berat adalah hal yang mustahil. Tidak diragukan lagi bahwa anak tetap dituntut membayar mahar ketika telah baligh, demikian pula ia dituntut untuk menanggung nafkah dan seluruh kebutuhan pernikahan lainnya. Hal ini berbeda dengan pembunuh karena kesalahan, karena ia tidak dituntut membayar diyat selama masih memungkinkan untuk menuntut dari ‘aqilah. Secara umum, tidak dapat disamakan antara beban-beban yang berkaitan dengan transaksi yang bersifat ijtihadi dan didasarkan pada kasih sayang ayah, dengan tindak pidana dan ketentuan diyatnya.

على العاقلة إلا غافلٌ عن القولين وضرب العقل على العاقلة مُعْتَبَرُ الأحكام التي لا تعلل

Kewajiban diyat atas ‘āqilah kecuali bagi orang yang lalai terhadap dua pendapat, dan penetapan diyat atas ‘āqilah termasuk hukum-hukum yang tidak didasarkan pada ‘illat.

وينشأ من هذا المنتهى نظرٌ في فنٍّ وهو أن البنت إذا خطبها كفء غلب على الظن أن تزويجها موافق لأقصى الغبطة المطلوبة فهل يجب على الأب أن يزوّجها أو لا يجب عليه أو يجوز له أو يُستحبّ هذا محل النظر

Dari titik akhir ini muncul suatu kajian dalam satu bidang, yaitu apabila seorang laki-laki yang sekufu melamar seorang anak perempuan, dan kuat dugaan bahwa menikahkannya akan membawa pada kebahagiaan yang paling diharapkan, maka apakah wajib bagi ayahnya untuk menikahkan putrinya, ataukah tidak wajib, ataukah boleh baginya, ataukah dianjurkan? Inilah yang menjadi bahan kajian.

ونحن نرى تقديم أصل على ذلك فنقول تصرف الأب في مال الطفل ينقسم فمنه محتوم ولا يشك العاقل في رعايته وهو حفظ ماله وصونه عن الضَّياع ويتصل بذلك تنميتُه بما يقيمه حتى لا يأكل مؤنُ الحفظ المالَ وعلى هذا يحتمل قول عائشة اتجروا في أموال اليتامى لا تأكلها الصدقة فأما التناهي في الاستنماء والنزوحُ في البر والبحر والتطوّح في النّجود لاستنماء مال الطفل فهذا لا يجب وضبط هذا القسم ما ينتهي إليه إلى الإجهاد والإكداد والشغل عن المهمات التي تخص الولي وبين مأمور فيها بإحسان النظر وهل يجب ذلك الظاهر أنه يجب فلو سنحت غبطة كزبون يطلب شيئاً بأكثر من ثمنه فيجب تحصيل ذلك للطفل وكذلك إذا كان يُعرض شيء مما يُريد وكان يباع بأقلَّ من ثمنه ولكن هذا فيه نظر فإن الأب لو أراد أن يشتريه لنفسه جاز ولا يلزمه أن يشتريه لطفله

Kami memandang perlu mendahulukan suatu pokok bahasan sebelum itu, yaitu: tindakan ayah terhadap harta anak terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya ada yang wajib dan tidak diragukan oleh orang berakal tentang keharusannya, yaitu menjaga harta anak dan melindunginya dari kerusakan. Termasuk di dalamnya adalah mengembangkan harta tersebut dengan cara yang dapat memeliharanya, agar biaya pemeliharaan tidak menghabiskan harta itu. Dalam hal ini, bisa dipahami ucapan ‘Aisyah: “Berusahalah dalam harta anak yatim agar tidak dimakan oleh sedekah.” Adapun berlebihan dalam mengembangkan harta, seperti bepergian jauh ke darat dan laut, atau menempuh perjalanan ke daerah-daerah tinggi demi mengembangkan harta anak, maka hal itu tidak wajib. Batasan bagian ini adalah sampai pada titik yang menyebabkan kelelahan, kesulitan, dan menyibukkan diri dari urusan penting yang menjadi tanggung jawab wali. Ada pula bagian yang diperintahkan, yaitu memperhatikan dengan baik. Apakah hal itu wajib? Tampaknya memang wajib. Jika ada kesempatan yang menguntungkan, seperti ada pembeli yang ingin membeli sesuatu dengan harga lebih tinggi dari biasanya, maka wajib mengambil keuntungan itu untuk anak. Demikian pula jika ada barang yang dibutuhkan dan dijual dengan harga lebih murah dari biasanya, maka wajib membelinya untuk anak. Namun, dalam hal ini ada pertimbangan: jika ayah ingin membelinya untuk dirinya sendiri, itu boleh dan tidak wajib membelinya untuk anaknya.

وأما بيع مال الطفل وهو مطلوب على غبطة فمحتوم هذا نظرنا في المال

Adapun penjualan harta anak kecil yang dilakukan demi kemaslahatan, maka hal itu wajib; inilah pandangan kami mengenai harta tersebut.

ووراء ذلك مزيد وهو أن الأب لو تبرم بالتصرف في مال طفله وأراد دفع الأمر إلى القاضي لينصب فيه قيّماً بأجرٍ فلست أرى هذا محظوراً على الأب وكذلك لو نصب هو بنفسه ناظراً ولو طلب من السلطان أن يُثبت له أجراً على عمله فالسلطان يرى رأيه فإن وجد متبرعاً بالعمل فالأظهر أنه لا يجعل له جعلاً وليس كما لو طلبت الأم أجرة على الإرضاع ووجد الأب متبرعة به فإنا في قول قد نقول الأم أولى بالإرضاع إذا اقتصرت على أجر المثل والسبب فيه التفاوت اللائح بين إرضاعها وإرضاع الأجنبية وإن لم يجد السلطان متبرعاً فالظاهر أنه لا يُثبت للأب أجراً ويجوز أن يقال يثبته إذ للأب أن يستأجر عاملاً في مال الطفل فإذا لم يمتنع منه بَذْلُ الأجر على العمل لم يمتنع أَخْذُ الأجر على العمل فهذه أمور معترضة نبهنا عليها

Selain itu, ada tambahan penjelasan, yaitu apabila seorang ayah merasa keberatan untuk mengelola harta anaknya dan ingin menyerahkan urusan tersebut kepada hakim agar hakim mengangkat seorang pengelola (qayyim) dengan upah, menurut saya hal ini tidak dilarang bagi ayah. Demikian pula, jika ayah sendiri mengangkat seorang pengawas (nāẓir), atau jika ia meminta kepada penguasa agar ditetapkan upah atas pekerjaannya, maka penguasa dapat mempertimbangkan pendapatnya. Jika penguasa menemukan seseorang yang bersedia bekerja secara sukarela, maka yang lebih kuat adalah tidak menetapkan imbalan baginya. Hal ini berbeda dengan kasus apabila seorang ibu meminta upah atas penyusuan, sementara ayah menemukan wanita lain yang bersedia menyusui secara sukarela. Dalam salah satu pendapat, kita bisa mengatakan bahwa ibu lebih berhak untuk menyusui jika ia hanya meminta upah yang wajar, karena terdapat perbedaan yang jelas antara penyusuan oleh ibu dan penyusuan oleh wanita lain. Jika penguasa tidak menemukan orang yang bersedia secara sukarela, maka yang tampak adalah tidak menetapkan upah bagi ayah, namun boleh juga dikatakan bahwa upah itu ditetapkan, sebab ayah boleh saja menyewa pekerja untuk mengelola harta anak. Jika tidak dilarang memberikan upah atas pekerjaan tersebut, maka tidak dilarang pula menerima upah atas pekerjaan itu. Inilah beberapa hal yang kami isyaratkan sebagai catatan.

وتزويج الأب ابنته مع ظهور الغبطة وغلبة الظن في اتجاهها لا يبعد أن يجب وقد قال الرسول صلى الله عليه وسلم لعلي لا تؤخر أربعاً وذكر من جملتها البكر إذا وُجد لها كفء ولا يبعد أن يرى الأب تأخير التزويج لتعلقه بالجبلة وكون المقصد الأظهر فيه الإعفاف والإمتاع ويعارض ذلك أن هذا الكلام لو وفّر عليه حقه لكان مقتضاه منع التزويج ووجوب التأخر

Pernikahan yang dilakukan oleh ayah terhadap putrinya, apabila tampak adanya maslahat dan didominasi oleh dugaan kuat bahwa putrinya condong (kepada pernikahan tersebut), tidaklah mustahil menjadi suatu kewajiban. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali: “Janganlah engkau menunda empat perkara,” dan di antaranya disebutkan, “gadis apabila telah ditemukan pasangan yang sekufu.” Tidak mustahil pula jika ayah memandang penundaan pernikahan karena hal itu berkaitan dengan tabiat manusia dan tujuan yang paling tampak dari pernikahan adalah menjaga kehormatan dan memberikan kenikmatan. Namun, hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa jika ucapan tersebut memberikan hak penuh kepada ayah, maka konsekuensinya adalah melarang pernikahan dan mewajibkan penundaan.

فأما المجنونة إذا تشوفت فيجب تزويجها إذا كانت بالغةً لظهور الحاجة فأما التزويج من الطفل فأبعد من الوجوب والأظهر أنه لا يجب لما يلزمه من المؤن ولا حاجة في الحال وإذا كان مجنونا فالتزويج منه عند مسيس الحاجة حتمٌ

Adapun perempuan yang gila, jika ia menunjukkan keinginan menikah maka wajib menikahkannya jika ia sudah baligh karena kebutuhan yang jelas. Adapun menikahkan anak kecil, maka itu lebih jauh dari kewajiban dan yang lebih kuat adalah bahwa itu tidak wajib karena adanya beban nafkah dan tidak ada kebutuhan saat ini. Jika yang gila itu laki-laki, maka menikahkannya ketika ada kebutuhan yang mendesak adalah wajib.

هذا منتهى النظر في هذا الفن

Inilah akhir dari pembahasan dalam bidang ini.

وإن كان القاضي يقول الأب إذا زوّج من ابنه المجنون حيث يلزمه التزويج منه يضمن المهر على القديم وإذا غرِم لم يرجع فهذا خروج عن الضبط ومصيرٌ إلى إيجاب إعفاف الابن على الأب والمرجع الذي نفاه القاضي لا يفصل فيه بين اليسر والعسر من الطفل وإن كان يفصل بين التزويج الواجب وبين التزويج الجائز ويقول إنما يفسد المرجع في التزويج الجائز فهذا إثبات نظرٍ على غرر والآباء لا يورطون أنفسهم في هذه المغارم بما لا يجب عليهم والتزام الغرر إنما يليق بمن يطلب حقَّ نفسه كالذي يؤدب زوجته أو كالذي ينتسب إلى مجاوزة الحد لا محالة كالذي يؤدب ولده فإنه إذا أفضى إلى الهلاك تبيّنّا مجاوزةَ الأب حدّ الأدب وانتهاءه إلى مبلغ من الضرر لا يجوز الانتهاء إليه فهذا تمام المراد في ذلك

Jika seorang qadi berpendapat bahwa ayah, ketika menikahkan anak laki-lakinya yang gila dalam kondisi ia wajib menikahkannya, maka ia menanggung mahar menurut pendapat lama, dan jika ia telah membayar, ia tidak boleh meminta kembali, maka ini merupakan penyimpangan dari aturan yang baku dan berujung pada mewajibkan ayah untuk menjaga kemaslahatan anaknya. Adapun alasan yang dibantah oleh qadi, ia tidak membedakan antara keadaan anak yang mampu dan yang tidak mampu, meskipun ia membedakan antara pernikahan yang wajib dan pernikahan yang boleh, dan ia mengatakan bahwa yang rusak hanyalah alasan dalam pernikahan yang boleh. Maka ini adalah penetapan pendapat yang mengandung risiko, sementara para ayah tidak akan menjerumuskan diri mereka pada beban-beban yang tidak wajib atas mereka. Komitmen terhadap risiko hanya layak bagi orang yang menuntut hak untuk dirinya sendiri, seperti orang yang mendidik istrinya, atau seperti orang yang pasti melampaui batas, seperti orang yang mendidik anaknya; jika hal itu berujung pada kebinasaan, maka jelaslah bahwa ayah telah melampaui batas dalam mendidik dan sampai pada tingkat bahaya yang tidak boleh dicapai. Maka inilah penjelasan yang dimaksud dalam masalah ini.

ثم ذكر الشافعي في آخر الباب تزوج المحجور المبذّر والإذنَ له وهذا قد أجريناه مستقصًى في النكاح على أحسن وجه وأبلغه في البيان

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan di akhir bab tentang pernikahan orang yang berada di bawah perwalian karena pemborosan dan pemberian izin kepadanya, dan hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam pembahasan nikah dengan cara yang terbaik dan penjelasan yang paling sempurna.

Bab Tafwīḍ

نصدّر الباب بذكر التفويض الصحيح المتضمن تعريةَ النكاح عن المهر وعلى الطالب أن يتأنّق في صدر الباب أولاً فنقول المالكة لأمر نفسها وهي الحرة العاقلة البالغة الرشيدة إذا أذنت لوليها في أن يزوّجها بلا مهر وقالت زوّجني بلا صداق فزوّجها وليها وصرّح بنفي المهر على حسب إذنها فهذا النكاح هو الذي يسمى نكاح التفويض والمرأةُ تسمى مفوِّضة ومفوَّضة ومأخذ اللفظين بيّن وتسمية تعرية النكاح عن المهر تفويضاً ليس على حقيقة اللسان فإن التفويض معناه التخيير والإحالة على رأى الغير في النفي والإثبات فالذي ينطبق على هذا اللفظ أن تقول لوليها إن شئت زوّجني بلا مهر وإن شئت زوِّجني بالمهر ولو صرحت بنفي المهر فزوّجها الولي ولم يتعرض لذكر المهر فهذا بمثابة ما لو نفى المهر اتفق الأصحاب عليه

Kita memulai pembahasan ini dengan menyebutkan tentang tafwīḍ yang benar, yaitu yang mengosongkan akad nikah dari mahar. Bagi penuntut ilmu, hendaknya memperhatikan bagian awal pembahasan ini terlebih dahulu. Kami katakan: seorang perempuan yang memiliki hak atas dirinya sendiri, yaitu perempuan merdeka, berakal, baligh, dan dewasa, jika ia mengizinkan walinya untuk menikahkannya tanpa mahar dan berkata, “Nikahkan aku tanpa ṣadaq (mahar),” lalu walinya menikahkannya dan secara jelas meniadakan mahar sesuai izinnya, maka nikah ini disebut nikah tafwīḍ, dan perempuan tersebut disebut mufawwiḍah atau mufawwaḍah. Asal kedua istilah ini jelas. Penamaan pengosongan akad nikah dari mahar dengan istilah tafwīḍ sebenarnya tidak sesuai dengan makna bahasa aslinya, karena tafwīḍ berarti memberikan pilihan dan menyerahkan keputusan kepada orang lain dalam hal meniadakan atau menetapkan sesuatu. Yang sesuai dengan istilah ini adalah jika ia berkata kepada walinya, “Jika engkau mau, nikahkan aku tanpa mahar, dan jika engkau mau, nikahkan aku dengan mahar.” Namun, jika ia secara tegas meniadakan mahar, lalu walinya menikahkannya tanpa menyebutkan mahar, maka hal itu sama saja dengan meniadakan mahar, dan para ulama sepakat atas hal ini.

ولو زوّج السيد أمته من أجنبي ولم يذكر مهراً كان هذا تفويضاً منه ولو أذنت المرأة في التزويج وأطلقت إذنها ولم تذكر المهر نافية ولا مثبتة فإذنها المطلق محمول على طلب المهر وفاقاً وهو بمثابة إذن مالك المتاع في بيع متاعه

Jika seorang tuan menikahkan budak perempuannya dengan orang lain tanpa menyebutkan mahar, maka hal itu dianggap sebagai pendelegasian darinya. Jika perempuan tersebut memberi izin untuk dinikahkan dan izinnya bersifat umum tanpa menyebutkan mahar, baik meniadakan maupun menetapkan, maka izin yang bersifat umum itu dianggap sebagai permintaan mahar, sesuai kesepakatan. Hal ini serupa dengan izin pemilik barang dalam menjual barang miliknya.

ثم إذا أذنت في النكاح مطلقاً أو طلبت المهر فزوّجها الولي فإنا نقدم على هذا فصولاً في الوكيل والولي المجبر ثم نرجع إلى الولي المزوِّج بالإذن

Kemudian, apabila ia telah memberi izin untuk menikah secara mutlak atau meminta mahar, lalu wali menikahkannya, maka kami akan mendahulukan beberapa pembahasan tentang wakil dan wali mujbir, kemudian kami akan kembali membahas wali yang menikahkan dengan izin.

فإن سمّى الوكيل مقداراً من المهر فخالف نُظِر فإن زاد فقد زاد خيراً وكان كما لو قال الوكيل لوكيله بع عبدي هذا بألف فباعه بألفين فالبيع لازم والعوض المسمى ثابت وإن خالف الوكيل في النكاح فنقص عن المقدار الذي سُمي له لم ينعقد العقد لأن تزويج الوكيل مبناه على الإذن فإذا خالف الإذن مزوِّجاً بغير إذنٍ فالتزويج بغير الإذن مردود وهو كما لو قالت زوّجني من زيد فزوّجها من عمرو

Jika wakil menyebutkan sejumlah mahar lalu menyelisihinya, maka dilihat: jika ia menambah, berarti ia menambah kebaikan, dan hukumnya seperti jika seseorang berkata kepada wakilnya, “Jual budakku ini seharga seribu,” lalu ia menjualnya seharga dua ribu, maka jual belinya sah dan imbalan yang disebutkan tetap berlaku. Namun, jika wakil dalam pernikahan menyelisihi dengan mengurangi dari jumlah yang telah disebutkan, maka akadnya tidak sah, karena pernikahan yang dilakukan oleh wakil dasarnya adalah izin. Jika ia menyelisihi izin, berarti ia menikahkan tanpa izin, dan pernikahan tanpa izin itu batal, sebagaimana jika seorang wanita berkata, “Nikahkan aku dengan Zaid,” lalu ia menikahkannya dengan Amr.

ولو نَصب الوكيلَ في التزويج ولم يَذكر له مقداراً من المهر فلو زوّج بدون مهر المثل أو زوّج مع نفي المهر فقد ذكر بعض الأصحاب قولين في انعقاد النكاح وهذا بعيد والوجه القطع بأن النكاح لا يصح فإن تصرّف الوكيل مما يتقيد بموجب الاذن فكذلك يتقيد بالعرف المقترن بالإذن ومقتضى العرف رعاية الغبطة ولهذا قلنا الوكيل بالبيع مطلقاً إذا باع بغبن لم يصح بيعه

Jika seseorang menunjuk wakil untuk melakukan pernikahan dan tidak menyebutkan jumlah mahar kepadanya, lalu sang wakil menikahkan tanpa mahar mitsil atau menikahkan dengan meniadakan mahar, sebagian ulama menyebutkan ada dua pendapat mengenai sah atau tidaknya akad nikah tersebut. Namun, pendapat ini jauh (dari kebenaran), dan yang benar adalah bahwa nikah tersebut tidak sah. Sebab, tindakan wakil harus dibatasi dengan izin yang diberikan, demikian pula harus dibatasi dengan kebiasaan yang menyertai izin tersebut, dan konsekuensi dari kebiasaan adalah menjaga kemaslahatan. Oleh karena itu, kami katakan bahwa wakil dalam jual beli secara mutlak, jika ia menjual dengan kerugian (ghabn), maka jual belinya tidak sah.

ومما يتصل بهذا المقام أنا إذا كنا لا نصحح من الوكيل المطلق التزويجَ بأقلَّ من مهر المثل فلو زوج مطلقاً فعلى ماذا يُحمل الإطلاق هذا فيه تردد ظاهر يجوز أن يقال هو محمول على تعرية النكاح حتى لا يصح من الوكيل العقد ويظهر جداً أن يُحمل على ثبوت مهر المثل فإن الشرع يقتضي إثبات المهر إذا لم يجرِ تصريح بالنفي فيكون إطلاق النكاح بمثابة ذكر مهر المثل

Terkait dengan hal ini, apabila kita tidak membenarkan seorang wakil yang diberi kuasa mutlak untuk menikahkan dengan mahar kurang dari mahar mitsil, maka jika ia menikahkan secara mutlak, atas dasar apa kemutlakan itu dipahami? Dalam hal ini terdapat keraguan yang jelas. Bisa saja dikatakan bahwa kemutlakan itu diartikan sebagai peniadaan mahar sehingga akad dari wakil tidak sah. Namun sangat tampak bahwa kemutlakan itu diarahkan pada penetapan mahar mitsil, karena syariat menetapkan adanya mahar jika tidak ada penegasan penafian, sehingga kemutlakan dalam pernikahan dianggap sama dengan penyebutan mahar mitsil.

ويخرّج على هذا التردد أن الوكيل المطلق لو زوج بخمر فالرجوع إلى مهر المثل في مثل ذلك فكيف السبيل والأظهر في هذه الصورة الفساد فإنه أتى بصورة المخالفة فهذا ما أردنا ذكره في الوكيل

Berdasarkan keraguan ini, jika seorang wakil mutlak menikahkan (mewakilkan pernikahan) dengan mahar berupa khamar, maka kembali kepada mahar mitsil dalam kasus seperti itu. Namun, bagaimana jalannya? Yang lebih kuat dalam kasus ini adalah akadnya rusak (tidak sah), karena ia telah melakukan bentuk pelanggaran. Inilah yang ingin kami sebutkan mengenai wakil.

فأما الولي إذا زوّج وليته فلا يخلو إما أن يكون مجبِراً فزوج بمهر المثل صح وإن زوج الصغيرة أو البالغةَ البكرَ بدون مهر المثل أو نكاحَ تفويضٍ ففي انعقاد النكاح قولان قدمنا تحقيقهما فإن قلنا إنه ينعقد فيثبت مهر المثل أجمع الأصحاب عليه ولم يَصر أحدٌ إلى انعقاد النكاح بالمقدار الذي سمّاه

Adapun wali, apabila ia menikahkan perempuan yang berada di bawah perwaliannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia adalah wali mujbir, lalu menikahkan dengan mahar mitsil, maka pernikahannya sah. Namun jika ia menikahkan anak perempuan yang masih kecil atau perempuan dewasa yang masih perawan dengan mahar di bawah mahar mitsil, atau dalam pernikahan tafwidh, maka dalam keabsahan akad nikah terdapat dua pendapat yang telah kami jelaskan sebelumnya. Jika kita berpendapat bahwa akad nikahnya sah, maka mahar mitsil tetap berlaku—dan seluruh ulama sepakat atas hal ini—serta tidak ada seorang pun yang berpendapat bahwa akad nikah sah dengan mahar sejumlah yang telah disebutkan saja.

وقال أبو حنيفة ينعقد النكاح بذلك المقدار

Abu Hanifah berkata, akad nikah sah dengan kadar tersebut.

فأما إذا كان الولي مزوِّجاً بالإذن فإن سمّت المرأة مقداراً فزوّج الوليّ بدونه فهو كالوكيل فإن تزويجه موقوف على الإذن فإذا ظهرت المخالَفَةُ كان كما لو زوّجها بغير إذن

Adapun jika wali menikahkan dengan izin, lalu perempuan tersebut telah menentukan mahar tertentu, kemudian wali menikahkan tanpa mahar tersebut, maka hukumnya seperti wakil; pernikahan yang dilakukan wali tersebut bergantung pada izin. Jika ternyata terjadi penyimpangan, maka hukumnya seperti menikahkan tanpa izin.

وإن لم تسم مقداراً من المهر فزوّجها الولي بمهر المثل صح وإن زوّجها بأقلَّ من مهر المثل فللأصحاب طريقان أقيسهما القطع بأن النكاح لا يصح فإنّ إذنها المطلق محمول على موجب العرف فكأنها قيّدت إذنها بما يليق بالعرف من المهر ولو كان كذلك فخالفها لم ينعقد النكاح ومن أصحابنا من قال في تزويج الولي بدون مهر المثل أو على حكم التفويض وإذنها مطلق قولان أحدهما إن النكاح يبطل والثاني إنه يصح وينعقد بمهر المثل كما ذكرناه في الوليّ المجبِر وهذا القائل يزعم أن الإذن المطلق يُلحِق الولي بمرتبة المجبِر ويُخرجه عن مرتبة الوكلاء الذين لا معتمد لهم إلا الإذن

Jika tidak disebutkan jumlah mahar, lalu wali menikahkannya dengan mahar mitsil, maka pernikahan itu sah. Namun jika wali menikahkannya dengan mahar yang kurang dari mahar mitsil, para ulama memiliki dua pendapat; pendapat yang lebih kuat adalah bahwa akad nikahnya tidak sah, karena izin yang diberikan secara mutlak itu dianggap mengikuti kebiasaan (‘urf), sehingga seolah-olah ia membatasi izinnya pada mahar yang sesuai dengan kebiasaan. Jika demikian, lalu wali menyelisihinya, maka akad nikah tidak terjadi. Sebagian ulama kami berpendapat, dalam kasus wali menikahkan dengan mahar di bawah mahar mitsil atau berdasarkan hukum tafwidh dengan izin yang mutlak, ada dua pendapat: pertama, akad nikahnya batal; kedua, akad nikahnya sah dan berlaku dengan mahar mitsil, sebagaimana telah disebutkan dalam kasus wali mujbir. Pendapat kedua ini beranggapan bahwa izin mutlak menempatkan wali pada derajat wali mujbir dan mengeluarkannya dari derajat wakil yang hanya bergantung pada izin.

فهذا بيان تصوير التفويض

Berikut ini adalah penjelasan mengenai gambaran tafwīḍ.

فيعود بنا الكلام بعده إلى القول في حكم التفويض المحقَّق المتضمِّن تعريةَ النكاح عن المهر فإذا جرى هذا فالنكاح ينعقد والمهر يجب عند الدخول وهل يجب بنفس العقد المهرُ

Setelah itu, pembicaraan kita kembali pada pembahasan tentang hukum tafwīḍ yang sebenarnya, yaitu yang mengosongkan akad nikah dari mahar. Jika hal ini terjadi, maka akad nikah tetap sah dan mahar menjadi wajib ketika terjadi hubungan suami istri. Namun, apakah mahar itu wajib hanya dengan akad saja?

ما قطع به العراقيون أنه لا يجب المهر بالعقد ولم يعرفوا غيرَ هذا وإنما ذكروا القولين في محلٍّ سينتهي البيان إليه إن شاء الله تعالى

Pendapat yang diyakini secara pasti oleh para ulama Irak adalah bahwa mahar tidak wajib karena akad, dan mereka tidak mengetahui pendapat lain selain ini. Adapun dua pendapat yang disebutkan, itu berada pada tempat yang penjelasannya akan disampaikan nanti, insya Allah Ta‘ala.

وقال المراوزة في المسألة قولان أظهرهما أنه لا يجب بنفس العقد شيء من المهر ويجب بالدخول وقالوا هذا هو المنصوص والقول الثاني إنه يجب لها المهر بنفس العقد وكان شيخي يحكيه حكايةَ من يعتقده منصوصاً وقال القاضي هو مخرّج والصحيح ما قاله

Para ulama Marwazi memiliki dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa mahar tidak wajib hanya dengan akad, tetapi menjadi wajib dengan terjadinya hubungan suami istri. Mereka mengatakan bahwa inilah pendapat yang dinyatakan secara eksplisit (manshush). Pendapat kedua menyatakan bahwa mahar menjadi wajib bagi istri sejak terjadinya akad. Guru saya meriwayatkan pendapat ini sebagai pendapat orang yang meyakininya sebagai pendapat yang eksplisit. Sedangkan Qadhi mengatakan bahwa pendapat ini merupakan hasil istinbat, dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah disebutkan.

ثم إن حكمنا بأن المهر لا يجب بالعقد فأول ما نفرّعه على هذا القول أنها إذا وُطئت فالمهر يجب عند الدخولِ والوطءِ لا محالة فإن وجوب المهر في هذا المقام ليس خالياً عن تعبد الشرع ولا يبعد إضافته إلى حق الله تعالى حتى يمتاز النكاح عن السفاح وبدل البضع وقيل يجب أن يمتاز نكاحنا عن نكاح رسول الله صلى الله عليه وسلم فإن الله عز وجل جعل خلو النكاح عن المهر من خصائص النبي صلى الله عليه وسلم إذ قال خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ولا يتصور أن يخلُوَ عن المهر وطء في غير ملك اليمين مع كونه محترماً إذا أمكن تقدير المهر

Kemudian, setelah kita menetapkan bahwa mahar tidak wajib karena akad, maka hal pertama yang dapat kita cabangkan dari pendapat ini adalah bahwa jika istri telah digauli, maka mahar wajib pada saat terjadinya hubungan suami istri dan persetubuhan, tanpa diragukan lagi. Sebab, kewajiban mahar dalam konteks ini tidak lepas dari ketentuan syariat, dan tidak mustahil jika hal itu dikaitkan dengan hak Allah Ta‘ala agar pernikahan dapat dibedakan dari perzinaan dan sebagai pengganti hubungan badan. Ada pula yang mengatakan bahwa pernikahan kita harus dibedakan dari pernikahan Rasulullah ﷺ, karena Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan pernikahan tanpa mahar sebagai kekhususan bagi Nabi ﷺ, sebagaimana firman-Nya: “Khusus untukmu, bukan untuk orang-orang mukmin.” Tidak terbayangkan adanya hubungan badan tanpa mahar pada selain milik tangan kanan (budak), selama hubungan itu terhormat dan memungkinkan untuk ditetapkan mahar.

والذمية إذا نكحت في الشرك على التفويض وكانوا يرَوْن سقوط المهر عند المسيس أيضاً فقد ينزل النكاح على موجب عقدهم إذا اتصل الإسلام كما سبق تقريره

Wanita dzimmi jika menikah dalam keadaan syirik dengan akad tafwidh, dan mereka (kaum dzimmi) berpendapat bahwa mahar gugur juga ketika terjadi hubungan badan, maka akad nikah tersebut dapat diberlakukan sesuai ketentuan akad mereka apabila kemudian masuk Islam, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والسيد إذا زوّج أمته من عبده فلا يثبت المهر أصلاً فإن إثباته غير ممكن وما حكيناه من مذهب بعض الأصحاب في أن المهر يثبت بأصل النكاح ويسقط لا تحصيل فيه ولا تحقيق وراءه

Dan apabila seorang tuan menikahkan budak perempuannya dengan budak laki-lakinya, maka mahar sama sekali tidak ditetapkan, karena penetapannya tidak mungkin dilakukan. Adapun pendapat sebagian ulama yang kami sebutkan, bahwa mahar ditetapkan karena akad nikah lalu gugur, tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak ada penjelasan lebih lanjut di baliknya.

فأما في غير هاتين المسألتين فلا يتصوّر خلو مسيسٍ في نكاحٍ من مهر هذا ما اتفق عليه الأصحاب قاطبة في طرقهم

Adapun dalam selain dua permasalahan ini, maka tidak terbayangkan adanya hubungan suami istri dalam pernikahan tanpa mahar; inilah yang telah disepakati oleh seluruh para ulama dalam mazhab mereka.

وقال القاضي إذا قالت له زوجته وهي مفوضة طأني ولا مهر عليك فلا يمتنع أن نقول إذا وطئها في نكاح التفويض على الوجه الذي صورناه إن المهر لا يجب فإنها صاحبة الحق وقد سلّطته مع الرضا بانتفاء المهر وخرّج عن هذا قولَ الشافعي في كتاب الرهون إذا قال الراهن للمرتهن أذنت لك في جماع هذه الجارية المرهونة فإذا واقعها ظانّاً أن الوطء يحلّ له بإذن الراهن ففي وجوب المهر قولان للشافعي ذكرناهما في الرهون قال ووجه قوله لا يجب المهر أن مالك البضع ومن يثبت له المهر لو ثبت رَضيَ بالوطء فكان ذلك إسقاطَ حقه منه

Dan Qadhi berkata: Jika seorang istri yang memiliki hak tafwidh berkata kepada suaminya, “Campurilah aku dan tidak ada mahar atasmu,” maka tidak mustahil untuk mengatakan bahwa jika suami mencampurinya dalam pernikahan tafwidh sebagaimana yang telah kami gambarkan, maka mahar tidak wajib. Sebab, ia adalah pemilik hak tersebut dan telah memberinya izin dengan kerelaan atas tiadanya mahar. Hal ini dianalogikan dengan pendapat asy-Syafi‘i dalam Kitab ar-Ruhun: jika orang yang menggadaikan berkata kepada penerima gadai, “Aku mengizinkanmu untuk menggauli budak perempuan yang digadaikan ini,” lalu penerima gadai menggaulinya dengan sangkaan bahwa hubungan tersebut menjadi halal baginya dengan izin dari orang yang menggadaikan, maka dalam hal kewajiban mahar terdapat dua pendapat dari asy-Syafi‘i yang telah kami sebutkan dalam Kitab ar-Ruhun. Ia berkata: alasan pendapat yang menyatakan mahar tidak wajib adalah bahwa pemilik kemaluan (buddak perempuan) dan orang yang berhak atas mahar, jika memang mahar itu tetap, telah rela atas hubungan tersebut, sehingga hal itu merupakan pengguguran haknya atas mahar.

ومن الأقيسة الجلية الكليّة في قاعدة الشرع أن من يملك إسقاط العوض بعد ثبوته له إذا سلّطه على إتلاف العوض كان تسليطُه عليه متضمناً إسقاط العوض ولذلك نقول إذا قال مالك العبد لإنسان اقتله فقتله لم يلتزم القاتل بالإذن للمالك الآذن عوضاً وكذلك إذا قال للجاني اقطع يدي فإذا قطعها لم يلتزم عوضاً هذا وجه التخريج

Di antara qiyās yang jelas dan bersifat universal dalam kaidah syariat adalah bahwa siapa pun yang memiliki hak untuk menggugurkan kompensasi setelah hak itu menjadi miliknya, maka jika ia memberi wewenang kepada orang lain untuk merusak kompensasi tersebut, pemberian wewenang itu berarti menggugurkan kompensasi tersebut. Oleh karena itu, kami katakan: jika pemilik budak berkata kepada seseorang, “Bunuhlah dia,” lalu orang itu membunuhnya, maka si pembunuh tidak berkewajiban memberikan kompensasi kepada pemilik yang memberi izin. Demikian pula, jika seseorang berkata kepada pelaku kejahatan, “Potonglah tanganku,” lalu ia memotongnya, maka ia tidak berkewajiban memberikan kompensasi. Inilah sisi penjelasannya.

وما ذكره لَستُ أُعدّه من المذهب وأظن أنه لم يذكره ليلحقه بأصل المذهب وإنما ذكره ليوضح جهة الاحتمال وتطرقه إليه فإن ما قاله مسبوق بالإجماع من نقلة المذهب في الطرق المختلفة

Apa yang disebutkannya itu tidak aku anggap sebagai bagian dari mazhab, dan aku kira ia tidak menyebutkannya untuk memasukkannya ke dalam pokok mazhab, melainkan ia menyebutkannya untuk menjelaskan sisi kemungkinan dan adanya celah ke arah itu. Sebab, apa yang dikatakannya telah didahului oleh ijmā‘ para perawi mazhab dalam berbagai jalur yang berbeda.

ثم إنما كان ينتفع المناظِر بما خرّجه لو صحّ أنه كان يطلقه فيه إذا جرى التفويض في النكاح مطلقاً وقضينا بعروّ العقد عن المهر فكان يجب أن يقال إذا وطىء الزوج وقد صَحّ التفويض في أصل العقد لا يجب المهر بناء على ما تقدم فإن الزوج بعد صحة التفويض يتصرف في ملك نفسه ومن انتفع بملك نفسه وقد ثبت ملكه خلياً عن العوض فيبعد أن يستوجب العوض بسبب تصرفه الجائز في ملكه الثابت العريّ عن العوض و القاضي لا يسمح بتخريجه في هذه الصورة بل نَقَل عنه من يُعْتَمَد أن سقوط المهر مع جريان المسيس إنما يُقدّر إذا جدّدت تسليطاً على الوطء من غير مهر وصرّحت بنفي المهر

Kemudian, seorang yang berdebat (dalam masalah ini) hanya akan mendapatkan manfaat dari apa yang ia simpulkan, seandainya memang benar bahwa ia membolehkannya dalam kasus ini, jika memang terjadi tafwīḍ (penyerahan urusan mahar kepada istri) secara mutlak dalam pernikahan dan kita memutuskan bahwa akad tersebut bebas dari mahar. Maka, seharusnya dikatakan bahwa jika suami telah menggauli istrinya dan tafwīḍ dalam akad telah sah, maka mahar tidak wajib, berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebab, setelah tafwīḍ sah, suami berhak bertindak atas miliknya sendiri, dan siapa pun yang mengambil manfaat dari miliknya sendiri, sementara kepemilikannya telah tetap tanpa adanya kompensasi, maka tidak layak baginya untuk menuntut kompensasi atas tindakan yang sah terhadap miliknya yang memang bebas dari kompensasi. Namun, qāḍī tidak membolehkan kesimpulan seperti ini dalam kasus ini, bahkan orang yang dapat dipercaya meriwayatkan darinya bahwa gugurnya mahar meskipun telah terjadi hubungan suami istri hanya dapat diperkirakan jika istri benar-benar memberikan izin baru untuk melakukan hubungan tanpa mahar dan secara tegas menyatakan tidak adanya mahar.

والمهر في ذلك متردد عندي فإني رأيت في بعض مجموعاته ما يدلّ على طرده التخريج فيه إذا جرى تفويض تام على الصحة من غير احتياج إلى تجديد إذن في الوطء فإن لم يكن من هذا التخريج بد فلا بد من طرده على هذا الوجه الذي ذكرناه وذلك أن إذنها المتجدد لا يصادف حقها من جهة أن الزوج هو المستحق للبضع وقد ثبت استحقاقه الأول عرِيّاً عن العوض فلا معنى لاشتراط تسليط من المرأة فيما استقر فيه حق الزوج

Mengenai mahar dalam hal ini, menurut saya masih terdapat keraguan, karena saya menemukan dalam sebagian kumpulan pendapatnya sesuatu yang menunjukkan diterapkannya takhrīj di dalamnya apabila terjadi pendelegasian penuh atas keabsahan tanpa perlu memperbarui izin untuk melakukan hubungan suami istri. Jika takhrīj seperti ini memang harus dilakukan, maka harus diterapkan dengan cara yang telah kami sebutkan. Hal ini karena izin yang diperbarui dari pihak istri tidak berkaitan dengan haknya, sebab suami adalah pihak yang berhak atas hubungan badan, dan hak suami yang pertama telah tetap tanpa adanya imbalan, sehingga tidak ada makna mensyaratkan penyerahan dari pihak istri dalam hal di mana hak suami telah tetap.

وقد يتجه مع هذا فرق ظاهر بين مسألة التفويض ومسألة إذن الراهن وذلك أن إذن الراهن متعلقٌ بوطءٍ في غير نكاح ولايبعد أن يخلو وطءٌ في غير نكاح عن المهر والدليل على الفرق أن مجرد إذن الراهن على أحد القولين يتضمن سقوط المهر من غير تعرض لإسقاط المهر ولو عقد النكاح خالياً عن المهر ذاكراً لثبت المهر إذا لم يتعرض لنفي المهر كما قدمنا ذلك في تصوير التفويض فقد اجتمع مما حُكي عنه ومما رأيته كلامٌ مختلط وأنا أحصّله وآتي به مضبوطاً

Mungkin terdapat perbedaan yang jelas antara masalah tafwīḍ dan masalah izin dari pihak yang menggadaikan, yaitu bahwa izin dari pihak yang menggadaikan berkaitan dengan hubungan suami istri di luar pernikahan, dan tidak mustahil bahwa hubungan di luar pernikahan itu tidak disertai mahar. Bukti adanya perbedaan adalah bahwa sekadar izin dari pihak yang menggadaikan, menurut salah satu pendapat, sudah mencakup gugurnya mahar tanpa ada penyebutan khusus tentang pengguguran mahar. Jika akad nikah dilakukan tanpa mahar dan disebutkan secara eksplisit, maka mahar tetap berlaku selama tidak ada penafian mahar, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam gambaran tafwīḍ. Maka, dari apa yang dinukil darinya dan dari apa yang saya lihat, terdapat pembahasan yang bercampur, dan saya akan merangkumnya serta menyajikannya secara teratur.

فأقول

Maka saya berkata

إذا جرى التفويض على الصحة والتفريع على أنها لا تستحق بنفس العقد

Jika pendelegasian dilakukan atas dasar keabsahan dan diturunkan dari ketentuan bahwa ia tidak berhak (mendapatkan sesuatu) hanya dengan akad itu sendiri.

مهراً فالمذهب المشهور أنها إذا وطئها زوجها ثبت مهر مثلها بالمسيس سواء

Mahar, menurut mazhab yang masyhur, apabila suaminya telah menggaulinya, maka mahar mitsil menjadi tetap baginya karena telah terjadi hubungan badan, baik…

سَلَّطت بعد التفويض على الوطء من غير مهر أو تمادت على ما سبق ولم تُجدِّد تسليطاً وذكر القاضي تخريجاً وفيه وجهان أحدهما أن المهر لا يجب بالوطء وإن لم تجدد تسليطاً بناء على ما تقدم من التفويض

Setelah adanya tafwīḍ, ia memberikan izin untuk melakukan hubungan suami istri tanpa mahar, atau ia tetap melanjutkan pada apa yang telah lalu tanpa memperbarui izin, dan al-Qāḍī menyebutkan sebuah takhrīj, di dalamnya terdapat dua pendapat: salah satunya adalah mahar tidak wajib karena hubungan suami istri, meskipun ia tidak memperbarui izin, berdasarkan apa yang telah dijelaskan sebelumnya tentang tafwīḍ.

والوجه الثاني أنها إن لم تجدد تسليطاً حتى مسّها الزوج وجب لها مهر المثل ولا تخريج وإن جدّدت تسليطاً وقيّدته بنفي المهر فإذ ذاك يخرّج وجهٌ في سقوط المهر

Pendapat kedua adalah bahwa jika tidak ada penyerahan kekuasaan baru hingga suami menyentuhnya, maka ia berhak mendapatkan mahar mitsil dan tidak ada takhrij. Namun, jika ia memperbarui penyerahan kekuasaan dan membatasinya dengan penafian mahar, maka pada saat itu ada satu pendapat yang ditakhrij mengenai gugurnya mahar.

ووجه الأول في تنزيل التخريج بيّن لا حاجة فيه إلى تكلف إيضاح ووجه الوجه الثاني أن النكاح له تميزٌ عن المسيس ويتعلق بالمسيس تقرير المهر فلا يبعد أن يحمل التفويض حالة العقد على الرضا بسقوط حق العقد حتى لو طُلِّقت قبل المسيس لم تستحق نصف مهر في مقابلة العقد فكان اشتراط تجديد التسليط مع نفي المهر كما ذكرناه

Penjelasan pendapat pertama dalam penerapan takhrīj sudah jelas dan tidak memerlukan penjelasan tambahan. Adapun penjelasan pendapat kedua adalah bahwa nikah memiliki kekhususan yang membedakannya dari persetubuhan, dan penetapan mahar berkaitan dengan terjadinya persetubuhan. Maka tidak mustahil jika pendelegasian (tafwīḍ) pada saat akad dianggap sebagai kerelaan untuk menggugurkan hak yang timbul dari akad, sehingga jika ia dicerai sebelum terjadi persetubuhan, ia tidak berhak atas setengah mahar sebagai kompensasi dari akad. Oleh karena itu, disyaratkan adanya pembaruan izin (taslīṭ) bersamaan dengan tiadanya mahar, sebagaimana telah kami sebutkan.

ثم إن جرينا على الوجه الثاني في تنزيل تخريجه فلا شك أنها تملك المطالبة بالفرض قبل الدخول كما سنذكره إن شاء الله تعالى

Kemudian, jika kita mengikuti pendapat kedua dalam menurunkan hasil istinbatnya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berhak menuntut bagian yang telah ditetapkan sebelum terjadi hubungan suami istri, sebagaimana akan kami jelaskan, insya Allah Ta‘ala.

وإن جرينا في التخريج على أن المهر لا يجب وإن لم تجدد تسليطاً ففي ملكها المطالبةَ بالفرض قبل المسيس احتمال ظاهر يجوز أن يقال إنها تملكه ويجوز أن يقال إذا لزم النكاح عارياً عن العوض فلسنا نتوقع ثبوت المهر عند المسيس على هذا الوجه فلا تملك المطالبة بالفرض وهذا هو القياس لو أمكن طرده

Jika kita mengikuti pendapat dalam takhrij bahwa mahar tidak wajib meskipun tidak ada penyerahan kembali (taṣlīṭ) yang baru, maka dalam hal kepemilikan istri atas hak menuntut penetapan mahar sebelum terjadi hubungan intim terdapat kemungkinan yang jelas; boleh dikatakan bahwa ia memilikinya, dan boleh juga dikatakan bahwa jika akad nikah telah sah tanpa adanya imbalan (mahar), maka kita tidak mengharapkan mahar menjadi tetap pada saat terjadinya hubungan intim menurut pendapat ini, sehingga istri tidak berhak menuntut penetapan mahar. Inilah qiyās jika memungkinkan untuk diterapkan secara konsisten.

فهذا منتهى ما أردناه في ثبوت المهر وسقوطه عند جريان المسيس تخريجاً على أن عقد التفويض خالٍ عن استحقاق المهر

Inilah batas akhir dari apa yang kami maksudkan mengenai penetapan mahar dan gugurnya mahar ketika terjadi hubungan suami istri, berdasarkan penjelasan bahwa akad tafwīḍ tidak mengandung hak atas mahar.

وإن فرعنا على القول الثاني وهو أنها تستحق المهر بالعقد فالذي قطع به الأئمة أنه إذا طلقها زوجها قبل المسيس سقط المهر ولم تستحق شطره وليس لها إلا المتعة

Jika kita berpegang pada pendapat kedua, yaitu bahwa perempuan berhak atas mahar karena akad, maka para imam secara tegas menyatakan bahwa apabila suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka mahar gugur dan ia tidak berhak atas setengahnya, melainkan hanya berhak atas mut‘ah.

وكان شيخي أبو محمد يكرر في دروسه أن الطلاق قبل المسيس يشطر مهر المثل على قولنا تستحق المفوضة المهر بالنكاح وكان يشبه هذا بما لو ذُكر في النكاح مهر وجُحد ووقع الحكم بالرجوع إلى مهر المثل فإذا وقع الطلاق قبل المسيس في مثل هذا النكاح فمذهب الشافعي أن مهر المثل يتشطر تشطّر الصداق المسمى على الصحة

Syekh saya, Abu Muhammad, sering mengulang-ulang dalam pelajarannya bahwa talak sebelum terjadi hubungan suami istri membagi dua mahar mitsil menurut pendapat kami bahwa perempuan yang tidak disebutkan maharnya (al-mufawwaḍah) berhak mendapatkan mahar karena akad nikah. Beliau juga menyerupakan hal ini dengan kasus apabila dalam akad nikah disebutkan mahar, lalu diingkari, dan diputuskan untuk kembali kepada mahar mitsil. Maka jika terjadi talak sebelum hubungan suami istri dalam akad nikah seperti ini, menurut mazhab Syafi‘i, mahar mitsil dibagi dua sebagaimana mahar yang disebutkan secara jelas dibagi dua menurut pendapat yang sahih.

وهذا الذي ذكره قياسٌ جلي لا ندفعه ولكنه خالف ما عليه كافة الأصحاب فإنهم لم يختلفوا في سقوط جميع المهر إذا جرى التفويضُ والطلاقُ قبل المسيس فكان ما ذكره غيرَ معتد به ولا يلتحق بالوجوه الضعيفة المعدودة من المذهب وإنما ذكرته لأنبّه على أنه كذلك فإنه يُلفَى في كثير من التعاليق عن ذلك الشيخ فليعلم الناظر ما ذكرناه فيه

Apa yang disebutkan tersebut adalah qiyās yang jelas dan tidak dapat kami tolak, namun hal itu bertentangan dengan pendapat seluruh para sahabat (ulama mazhab), karena mereka tidak berselisih pendapat tentang gugurnya seluruh mahar jika terjadi tafwīḍ dan talak sebelum terjadi hubungan suami istri. Maka apa yang disebutkan itu tidak dianggap dan tidak termasuk dalam pendapat-pendapat lemah yang tercatat dalam mazhab. Saya menyebutkannya hanya untuk memberi peringatan bahwa memang demikian adanya, karena hal itu sering dijumpai dalam banyak catatan yang dinisbatkan kepada Syekh tersebut. Maka hendaknya para pembaca mengetahui apa yang telah kami sebutkan tentang hal itu.

ومما ذكره أنا إذا فرّعنا على أن المفوضة تستحق بالعقد المهر فلا يثبت لها حق المطالبة بالفرض على هذا القول كما لو جرى في النكاح تسميةُ خمرٍ أو خنزير أو مهرٍ مجهول فإنا إذا قضينا بثبوت مهر المثل في هذه المسائل فلا تملك المرأة المطالبةَ بالفرض وإن طلبته وطالبت به قيل لها حقك مهر مثلك فاطلبيه ولا تطلبي فرضه وهو ثابت مستحَق

Dan di antara yang disebutkan adalah bahwa jika kita berpendapat bahwa perempuan yang perwaliannya diserahkan (al-mufawwaḍah) berhak mendapatkan mahar karena akad, maka ia tidak berhak menuntut penetapan mahar menurut pendapat ini, sebagaimana jika dalam akad nikah disebutkan mahar berupa khamar, babi, atau mahar yang tidak jelas. Jika kita memutuskan bahwa dalam kasus-kasus ini berlaku Mahar Mitsil, maka perempuan tidak berhak menuntut penetapan mahar, dan jika ia memintanya dan menuntutnya, dikatakan kepadanya: “Hakmu adalah Mahar Mitsil, maka mintalah itu dan jangan menuntut penetapannya, karena itu sudah tetap dan menjadi hakmu.”

وقد أجمع الأصحاب على أنها تملك المطالبة بالفرض

Para ulama sepakat bahwa istri berhak menuntut bagian yang telah ditetapkan.

وإن فرّعنا على أنها تستحق بالعقد المهرَ فيما ذكره شيخي بناءً على أن مهر المفوضة يتشطر بالطلاق وما ذكره الأصحاب مبني على أنها لو طُلقت سقط جميع مهرها فملّكوها طلبَ الفرض لتتوصّل به إلى تقرُّر شطر المهر

Dan jika kita menganggap bahwa perempuan berhak atas mahar dengan akad, sebagaimana disebutkan oleh guruku, berdasarkan pendapat bahwa mahar bagi perempuan yang belum ditentukan maharnya (mufawwidah) menjadi separuh karena talak, sedangkan apa yang disebutkan oleh para ulama didasarkan pada pendapat bahwa jika ia ditalak maka seluruh maharnya gugur, maka mereka memberikan hak kepada perempuan untuk meminta penetapan mahar agar ia dapat memperoleh separuh mahar tersebut.

فإن قيل ما ذكرتموه في التفريع لا يثمر إلا الخبطَ والاضطراب فعلى ماذا تقررون المهر

Jika dikatakan bahwa apa yang kalian sebutkan dalam penjabaran hanya menghasilkan kekacauan dan ketidakjelasan, maka berdasarkan apa kalian menetapkan mahar?

قلنا سنذكر الغرض في ذلك بعد تقديم أصل آخر وهو أنه إذا جرى تفويضٌ صحيح ولم يجر مسيس ولا طلاق حتى مات أحد الزوجين ففي ثبوت مهر المثل قولان للشافعي وتردّدٌ بيّنٌ وذِكْره يستدعي تقديمَ خبر وهو ما روي أن عبد الله بن مسعود سئل عن المفوِّضة إذا مات عنها زوجها قبل الدخول فكان يردد السائل ويعدُ حتى تردد شهراً ثم قال إن أصبتُ فمن الله وإن أخطأتُ فمني ومن الشيطان أرى لها مهر نسائها والميراثَ فقام مَعْقِل بن سِنان وقال أشهد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قضى في بِرْوع بنت واشق الأشجعية بمثل قضائك هذا فَسُرّ ابنُ مسعود سروراً لم يُسَرّ مثله وحمد الله عز وجل على ذلك

Kami katakan, kami akan menyebutkan maksud dari hal itu setelah mengemukakan satu prinsip lain, yaitu bahwa apabila telah terjadi pendelegasian (tafwīḍ) yang sah dan belum terjadi persetubuhan maupun talak hingga salah satu dari pasangan suami istri meninggal dunia, maka dalam penetapan mahar mitsil terdapat dua pendapat dari Imam Syafi‘i dan terdapat keraguan yang jelas. Penyebutannya memerlukan pengajuan sebuah riwayat, yaitu bahwa diriwayatkan Abdullah bin Mas‘ud pernah ditanya tentang perempuan yang didelegasikan (al-mufawwaḍah) jika suaminya meninggal sebelum terjadi hubungan badan. Ia terus menunda-nunda penanya dan menghitung-hitung hingga berlalu satu bulan, kemudian ia berkata, “Jika aku benar maka itu dari Allah, dan jika aku salah maka itu dariku dan dari setan. Aku berpendapat ia berhak mendapatkan mahar seperti perempuan-perempuan sejenisnya dan juga warisan.” Maka berdirilah Ma‘qil bin Sinan dan berkata, “Aku bersaksi bahwa Rasulullah saw. telah memutuskan dalam perkara Barwa‘ binti Washiq al-Asyja‘iyyah sebagaimana keputusanmu ini.” Maka Ibnu Mas‘ud sangat bergembira dengan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan ia memuji Allah ‘azza wa jalla atas hal itu.

فهذا الحديث يقع أيضاً في تصوير موت أحد الزوجين ولكن تردَّدَ الشافعيُّ في الحديث وحكم باضطرابه إذ قد قيل قال معقل بن يسار وقيل معقل بن سنان وقيل ناسٌ من أشجع وقد بلغ الحديثُ على الوجه الذي رويناه عليَّ بن أبي طالب فلم ير قبول رواية معقل وقال لا نقبل في ديننا قول أعرابي بوال على عقبيه فردد الشافعيُّ المسألة لأن الحديث لم يقع على شرطه في الصحة فيبقى مجرد مذهب ابن مسعود ويعارضه مذهب علي فإنه كان لا يرى للمفوضة عند موت أحد الزوجين مهراً وقد خلا النكاح عن المسيس

Hadis ini juga membahas tentang gambaran kematian salah satu dari pasangan suami istri, namun Imam Syafi‘i ragu terhadap hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis yang mudtarib, karena ada yang mengatakan bahwa perawi hadis itu adalah Ma‘qil bin Yasar, ada pula yang mengatakan Ma‘qil bin Sinan, dan ada juga yang mengatakan sekelompok orang dari Asyja‘. Hadis ini telah sampai kepada ‘Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang kami riwayatkan, namun ia tidak menerima riwayat Ma‘qil dan berkata, “Kami tidak menerima dalam agama kami ucapan seorang Arab badui yang kencing di atas tumitnya.” Maka Imam Syafi‘i pun ragu dalam masalah ini karena hadis tersebut tidak memenuhi syarat keabsahan menurutnya, sehingga yang tersisa hanyalah pendapat Ibnu Mas‘ud, yang bertentangan dengan pendapat ‘Ali, karena ‘Ali berpendapat bahwa bagi wanita yang dinikahi dengan akad tafwīḍ, jika salah satu pasangan meninggal sebelum terjadi hubungan suami istri, maka tidak ada mahar, karena pernikahan tersebut belum terjadi persetubuhan.

وقد حان أن نذكر الترتيب في المذهب فنقول أما العراقيون فقد استدُّوا وجَرَوْا على المسلك المرتضى وقَضَوْا بأن المفوضة لا تستحق بالعقد مهراً إذا لم يعرفوا قولاً آخر وقطعوا بأنها تستحق المهر إذا مسها الزوج وذكروا قولين فيه إذا مات أحد الزوجين مع قطعهم بأنها لا تستحق بأصل العقد مهراً ووجّهوا القولين فقالوا من أوجب المهر في موت أحد الزوجين احتج بأن الموت نازل منزلة الوطء في تقرير المهر بدليل أنه يتقرر المهر المسمى بالموت قبل المسيس كما يتقرر بالمسيس نفسه ومن قال لا يثبت المهر بالموت احتج بأنها ما استحقت بالعقد مهراً ولا جرى مسيس حتى يقال لو لم يثبت المهر لكان الوطء في حكم المبذول عرياً عن العوض

Kini saatnya kami menyebutkan urutan dalam mazhab, maka kami katakan: Adapun para ulama Irak, mereka berpegang teguh dan mengikuti jalan yang diridhai, serta memutuskan bahwa wanita yang diserahkan urusan maharnya (al-mufawwaḍah) tidak berhak atas mahar dengan akad jika mereka tidak mengetahui pendapat lain, dan mereka menegaskan bahwa ia berhak atas mahar jika telah digauli oleh suaminya. Mereka menyebutkan dua pendapat dalam hal jika salah satu dari kedua pasangan meninggal dunia, dengan tetap menegaskan bahwa ia tidak berhak atas mahar hanya dengan akad. Mereka pun memberikan penjelasan atas dua pendapat tersebut: mereka yang mewajibkan mahar jika salah satu pasangan meninggal beralasan bahwa kematian diposisikan setara dengan hubungan badan dalam penetapan mahar, dengan dalil bahwa mahar yang telah disebutkan dalam akad menjadi tetap karena kematian sebelum terjadinya hubungan badan, sebagaimana ia menjadi tetap dengan terjadinya hubungan badan itu sendiri. Sedangkan mereka yang berpendapat mahar tidak menjadi tetap karena kematian beralasan bahwa wanita tersebut tidak berhak atas mahar dengan akad, dan belum terjadi hubungan badan sehingga dapat dikatakan bahwa jika mahar tidak menjadi tetap, maka hubungan badan dianggap sebagai sesuatu yang diberikan tanpa imbalan.

وسرّ هذا القول أن النكاح إذا اشتمل على مسمى صحيح ثم فرض طلاق قبل المسيس يسقط نصف المسمى ويبقى نصفه في مقابلة العقد وإن جرى مسيس تقرر المهر وإن فرض موت من غير مسيس تقرر المسمى بانتهاء النكاح نهايته

Inti dari pendapat ini adalah bahwa jika akad nikah mencantumkan mahar yang sah, kemudian terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri, maka setengah dari mahar yang disebutkan gugur dan setengahnya lagi tetap sebagai imbalan atas akad. Jika terjadi hubungan suami istri, maka mahar menjadi tetap seluruhnya. Jika terjadi kematian tanpa adanya hubungan suami istri, maka mahar yang disebutkan menjadi tetap dengan berakhirnya akad nikah secara sempurna.

وإذا عُقِد النكاحُ على التفويض ثم فُرض الطلاق قبل المسيس فلا يثبت من المهر شيء فتمثل القول من هذا المنتهى فرأى الشافعي بعد التردد في حديث معقل في قول حكمَ المهر عند الموت ولا مسيس كحكم نصف المهر عند الطلاق قبل الدخول فإن نصف المسمى كان ثبت عند الطلاق والآية لم يثبت منه شيء فكان تشبيه ما يقتضيه الموت من التقرير بما يتقرر من المسمى عند الطلاق قبل المسيس أولى من تشبيهه بما إذا جرى المسيس فهذا أحد القولين وهو فقه حسن

Apabila akad nikah dilakukan dengan tafwīḍ (penyerahan urusan mahar), kemudian terjadi perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri, maka tidak ada bagian mahar yang ditetapkan. Dari titik inilah pendapat diambil; Imam Syafi’i, setelah menimbang-nimbang hadis Ma’qil, berpendapat bahwa hukum mahar ketika terjadi kematian dan belum terjadi hubungan suami istri adalah seperti hukum setengah mahar ketika terjadi perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri. Sebab, setengah mahar yang telah disebutkan menjadi tetap saat terjadi perceraian, sedangkan dalam ayat tidak ada bagian yang ditetapkan. Maka, menyamakan apa yang ditetapkan oleh kematian dengan apa yang ditetapkan dari mahar yang disebutkan saat perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri lebih utama daripada menyamakannya dengan apa yang terjadi jika sudah terjadi hubungan suami istri. Inilah salah satu pendapat, dan ini adalah fiqh yang baik.

والقول الثاني أن الموت في اقتضائه التقريرَ نازل منزلة الوطء فإنه إذا انقضى العمر على النكاح وبلغ بانقضائه النكاحُ غايتَه فقد اتصل بالمقصود وهو الدوام إلى آخر العمر فيجب ألا يكون عريّاً عن المهر

Pendapat kedua menyatakan bahwa kematian dalam hal menetapkan mahar itu setara dengan hubungan suami istri; sebab jika usia berakhir dalam keadaan masih terikat pernikahan dan pernikahan itu mencapai tujuannya dengan berakhirnya usia, maka telah tercapai maksudnya, yaitu keberlangsungan hingga akhir hayat, sehingga tidak sepatutnya pernikahan itu tanpa mahar.

والقول الأول أفقه والثاني معتضد بقصة ابن مسعود فإن حديث معقل إن رده عليٌّ عمل به ابن مسعود ومن قواعد الأصول الترجيح بالحديث الذي لا يقطع بسقوطه فإنه لا ينحط عن أقوى مسلك في الترجيحات هذا كله بيان طريقة واحدة وهي ما اختاره العراقيون

Pendapat pertama lebih sesuai dengan fiqh, sedangkan pendapat kedua didukung oleh kisah Ibnu Mas‘ud. Sebab, jika hadis Ma‘qil ditolak oleh ‘Ali, maka Ibnu Mas‘ud tetap mengamalkannya. Di antara kaidah ushul adalah mengutamakan hadis yang tidak dapat dipastikan gugur, karena hadis tersebut tidak turun dari derajat jalur terkuat dalam tarjih. Semua ini merupakan penjelasan dari satu metode, yaitu yang dipilih oleh para ulama Irak.

طريقة أخرى للمراوزة وهي طرد القولين في أن المفوِّضة هل تستحق بأصل العقد مهراً وفيه على ما ذكروه قولان أحدهما وهو الأصح عندهم أنها لا تستحق بأصل العقد مهراً وهذا الذي قطع به العراقيون ولم يعرفوا غيره

Cara lain dalam melakukan marāwazah adalah dengan menolak dua pendapat mengenai apakah perempuan yang diserahkan urusan maharnya (mufawwiḍah) berhak mendapatkan mahar dengan akad itu sendiri. Dalam hal ini, menurut apa yang mereka sebutkan, terdapat dua pendapat. Salah satunya, yang merupakan pendapat paling sahih menurut mereka, adalah bahwa perempuan tersebut tidak berhak mendapatkan mahar hanya dengan akad. Inilah pendapat yang diputuskan oleh para ulama Irak dan mereka tidak mengetahui pendapat lain selain itu.

والقول الثاني أنها تستحق بأصل العقد المهرَ ورأْيُ المراوزة في ذلك مختلف قال معظمهم هذا قول مخرج وقال قائلون هو مأخوذ من نص الشافعي في أن المفوِّضة إذا ماتت أو مات زوجها قبل المسيس فلها المهر كاملاً هذا منصوص وهو دالّ على أنها استحقت بأصل العقد المهر فإنه لا يتقرر بالموت مهر ما لم يثبت بالنكاح

Pendapat kedua menyatakan bahwa perempuan berhak mendapatkan mahar berdasarkan akad itu sendiri. Pendapat para ulama Marwazi dalam hal ini berbeda-beda; mayoritas mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang dihasilkan (dari qiyas), sementara sebagian lain mengatakan bahwa ini diambil dari nash Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa perempuan yang tidak disebutkan mahar dalam akad (al-mufawwidah), jika ia meninggal dunia atau suaminya meninggal sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia berhak mendapatkan mahar secara penuh. Ini adalah nash yang jelas dan menunjukkan bahwa ia berhak atas mahar berdasarkan akad itu sendiri, karena mahar tidak dapat ditetapkan karena kematian kecuali jika telah ditetapkan melalui pernikahan.

توجيه القولين في الأصل من قال لا يثبت المهر بالعقد احتج بأن المهر حقها وحق المولى من أمته فإذا وقع الرضا بإسقاطه لم يثبت وآية ذلك أنه لا يتشطر بالطلاق قبل المسيس ومن قال إنها تستحق بالعقد احتج بثبوت المهر حالة المسيس مع العلم بأن تصرف المالك على الوجه المستباح في ملكه لا يلزمه عوض ملكه فإذا لزم دلّ على أن اللزوم كان بالعقد هذا وضع القولين تأصيلاً وتوجيهاً

Penjelasan dua pendapat dalam masalah ini: Pendapat pertama, yang mengatakan bahwa mahar tidak menjadi tetap dengan akad, beralasan bahwa mahar adalah hak perempuan dan hak tuan atas budaknya. Maka jika terjadi kerelaan untuk menggugurkannya, mahar itu tidak menjadi tetap. Tanda dari hal ini adalah bahwa mahar tidak menjadi separuhnya karena talak sebelum terjadi hubungan suami istri. Sedangkan pendapat kedua, yang mengatakan bahwa perempuan berhak atas mahar dengan akad, beralasan dengan tetapnya mahar pada saat terjadi hubungan suami istri, padahal diketahui bahwa tindakan pemilik terhadap miliknya dengan cara yang dibolehkan tidak mewajibkan adanya kompensasi atas miliknya. Maka jika kompensasi itu menjadi wajib, hal itu menunjukkan bahwa kewajiban tersebut telah tetap dengan akad. Inilah penjelasan dua pendapat tersebut secara prinsip dan argumentasinya.

فإن حكمنا بأنها لا تستحق بالعقد شيئاً فوراء ذلك تخريج القاضي في المسيس كما قدمته وليس هو من المذهب وإذا أنكرناه بشيء من هذا المنتهى فإنه يتحقق هذا القول فنبديه في معرض سؤال وجواب عنه

Jika kita memutuskan bahwa ia tidak berhak mendapatkan apa pun karena akad, maka di balik itu terdapat pendapat qādī mengenai hubungan suami istri sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, dan itu bukan bagian dari mazhab. Jika kita menolaknya dengan alasan apa pun hingga batas akhir ini, maka pendapat ini menjadi jelas, sehingga kami kemukakan dalam bentuk tanya jawab mengenainya.

فإن قيل ما وجه إيجاب المهر حالة الوطء مع عروّ العقد عن المهر قلنا الجواب عن ذلك يستدعي تقديم أصلٍ في المذهب هو مقصود في نفسه وبه يبين غرضُنا في المنتهى الذي انتهينا إليه وذلك أن المفوضة إذا وطئها الزوج ووقع الحكم بوجوب المهر فقد اختلف أئمتنا في أن الاعتبار في مهر المثل بحالة الوطء أم بحالة العقد وفيه وجهان مشهوران ينبني عليهما أنا إذا اعتبرنا حالة المسيس فكأنا افتتحنا إيجاب المهر بالمسيس نخرّجه على أنا وإن احتملنا إسقاط المهر حالة العقد فلا نحتمل إسقاطه في مقابلة المسيس

Jika dikatakan, “Apa alasan mewajibkan mahar pada saat jima‘ padahal akadnya tidak menyebutkan mahar?” Kami menjawab bahwa penjelasan mengenai hal ini memerlukan pemaparan suatu prinsip dalam mazhab yang memang menjadi tujuan tersendiri, dan dengan itu akan jelas maksud kami pada kesimpulan yang telah kami capai. Yaitu, bahwa jika seorang perempuan yang diserahkan urusan maharnya (mufawwidah) digauli oleh suaminya dan telah diputuskan wajibnya mahar, maka para imam kami berbeda pendapat mengenai apakah yang dijadikan acuan dalam mahar mitsil adalah keadaan saat jima‘ atau keadaan saat akad. Dalam hal ini terdapat dua pendapat masyhur yang berkonsekuensi bahwa jika kita menjadikan keadaan saat jima‘ sebagai acuan, maka seolah-olah kita memulai kewajiban mahar dengan terjadinya jima‘, dan ini berarti bahwa meskipun kita masih mungkin menggugurkan mahar pada saat akad, kita tidak mungkin menggugurkannya sebagai imbalan dari terjadinya jima‘.

وفي تقرير ذلك إشكال بيّن فإن المهر ليس ركناً في النكاح وإنما يتميز النكاح عن السفاح بصحته وإفضائه إلى استحقاق المنفعة على موجب الشرع وذلك لا يستدعي عوضاً ولذلك لم يبعد في الشرع نكاح يصح من غير مهر كتزويج السيد أمته من عبده

Dalam hal ini terdapat permasalahan yang jelas, karena mahar bukanlah rukun dalam pernikahan. Pernikahan dibedakan dari perzinaan dengan keabsahannya dan karena pernikahan mengantarkan pada hak memperoleh manfaat sesuai ketentuan syariat, dan hal itu tidak mensyaratkan adanya imbalan. Oleh karena itu, syariat tidak menganggap aneh adanya pernikahan yang sah tanpa mahar, seperti pernikahan seorang tuan yang menikahkan budaknya perempuan dengan budaknya laki-laki.

ونهاية الإمكان في ذلك أن نقول النكاح في وضعه يقتضي كالبيع الصحيح عوضاً والذي ذُكر من أن المهر ليس ركناً في النكاح فالمراد به أنه ليس يثبت على حقيقة العوضية ركناً كما يكون الثمن أحد ركني البيع فأما المصير إلى أنه لا يثبت شرعاً إقامةٌ لمنصب النكاح وما يقتضيه الشرع فلا فهو ركنٌ شرعاً وليس ركناً عوضاً وهو بمثابة عوض الخلع فإن البينونة من غير عوض ولا استيفاءِ عدد الطلقات في الممسوسة غيرُ ممكن ولكن يفسد العوض ويثبت الرجوع إلى مهر المثل أو قيمةِ العوض كما تقدم في الصداق

Batas kemampuan dalam hal ini adalah bahwa kita dapat mengatakan bahwa pernikahan pada dasarnya, seperti jual beli yang sah, menuntut adanya imbalan. Adapun yang disebutkan bahwa mahar bukanlah rukun dalam pernikahan, yang dimaksud adalah bahwa mahar tidak menjadi rukun dalam arti hakiki sebagai imbalan, sebagaimana harga menjadi salah satu rukun dalam jual beli. Namun, jika dikatakan bahwa mahar tidak ditetapkan secara syar‘i sebagai bagian dari kedudukan pernikahan dan apa yang dituntut oleh syariat, maka itu tidak benar. Mahar adalah rukun secara syar‘i, namun bukan rukun sebagai imbalan. Kedudukannya seperti imbalan dalam khulu‘, karena terjadinya perpisahan tanpa imbalan dan tanpa menyempurnakan jumlah talak pada istri yang telah digauli tidaklah mungkin. Akan tetapi, jika imbalan tersebut rusak, maka kembali kepada mahar mitsil atau nilai imbalan tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang mahar.

ثم إنما يعظم الأمر في تعرية الوطء عن العوض الشرعي ولا يبعد عروّ النكاح وهذا القائل يقول في تزويج الرجل أمتَه من عبده إنا نحكم بثبوت المهر وسقوطه وهو محمول على مذهب الضرورة فإن العبد لا يملك ولا يستبيح الوطء بطريق التسري فأُثبت في حقه النكاح كما ذكرناه

Kemudian, sesungguhnya perkara ini menjadi besar ketika hubungan suami istri dilakukan tanpa adanya imbalan yang sah secara syar‘i, dan tidak mustahil jika pernikahan juga tanpa imbalan. Orang yang berpendapat demikian mengatakan dalam kasus seorang laki-laki menikahkan budaknya perempuan dengan budaknya laki-laki: kita menetapkan adanya mahar namun juga menggugurkannya. Hal ini didasarkan pada mazhab darurat, karena budak laki-laki tidak memiliki (harta) dan tidak berhak melakukan hubungan suami istri melalui jalan tasarri, maka pernikahan ditetapkan baginya sebagaimana telah kami sebutkan.

وقد ينقدح فيه أن يقال كان يجب بطلان تزويج الأمة من العبد إذا كان مولاهما واحداً إذ لا يتصور أنه نكاح مشتمل على المهر فهذا منتهى الإشكال

Mungkin terlintas pemikiran bahwa seharusnya batal pernikahan seorang budak perempuan dengan seorang budak laki-laki apabila tuan mereka berdua adalah satu orang, karena tidak terbayangkan adanya pernikahan yang mengandung mahar dalam kondisi seperti itu; inilah puncak permasalahannya.

ومن قال الاعتبار في مهر المثل بصفتها حالة النكاح احتمل ذلك مسلكين أحدهما أنا نتبين إذا جرى المسيس أن المهر وجب بنفس العقد فيخرج من ذلك أن الأمر موقوف فإن انقضى النكاح من غير مسيس تبينا آخراً أن المهر لم يجب بأصل العقد وإن جرى في النكاح مسيس تبيّنّا أن المهر وجب بأصل العقد هذا مسلك

Dan barang siapa yang mengatakan bahwa tolok ukur dalam mahar mitsil adalah dengan sifat-sifatnya saat akad nikah, maka hal itu memungkinkan dua pendekatan. Pertama, kita mengetahui jika telah terjadi hubungan suami istri bahwa mahar telah wajib dengan sendirinya sejak akad, sehingga dari situ dapat disimpulkan bahwa perkara ini bersifat tergantung; jika pernikahan berakhir tanpa adanya hubungan suami istri, maka kita kemudian mengetahui bahwa mahar tidak wajib sejak akad itu sendiri. Namun jika dalam pernikahan terjadi hubungan suami istri, maka kita mengetahui bahwa mahar wajib sejak akad. Inilah salah satu pendekatan.

والثاني أن المهر يجب بالمسيس وإن اعتبرنا صفة المرأة حالة النكاح فعلى هذا نقطع القول بعرو العقد عن المهر ويكون الاختلاف في أن الاعتبار في صفتها إذا أوجبنا مهر المثل حالةَ النكاح مأخوذاً من أصل اختلف فيه الأصحاب وهو أن الرجل لو جنى على أمة حاملٍ بولد رقيق ثم أَجْهضت وأوجبنا على الجاني عُشر قيمة الأم فنعتبر قيمتها يوم الانفصال أم نعتبر قيمتها يوم الجناية المنصوص عليه للشافعي أن الاعتبار بقيمتها يوم الجناية وقال المزني وأبو الطيب بنُ سلمة نعتبر قيمتها يوم الإلقاء وفي هذا التشبيه نظر ولكنه على حالٍ تقريبٌ في سرّ مسألة الجناية يأتي في كتاب الجنايات إن شاء الله عز وجل

Kedua, mahar menjadi wajib karena adanya hubungan suami istri, meskipun kita mempertimbangkan keadaan wanita pada saat akad nikah. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa akad nikah itu sendiri tidak terkait dengan mahar, dan perbedaan pendapat terletak pada apakah yang dijadikan acuan dalam sifat wanita jika kita mewajibkan mahar mitsil pada saat akad nikah. Hal ini diambil dari dasar yang diperselisihkan oleh para sahabat, yaitu jika seorang laki-laki melakukan kejahatan terhadap seorang budak perempuan yang sedang hamil dari anak budak, lalu ia mengalami keguguran dan kita mewajibkan kepada pelaku kejahatan untuk membayar sepersepuluh nilai ibu, maka apakah yang dijadikan acuan adalah nilai ibu pada hari perpisahan atau nilai ibu pada hari terjadinya kejahatan? Pendapat yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i adalah bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai ibu pada hari terjadinya kejahatan. Sedangkan menurut al-Muzani dan Abu Thayyib bin Salamah, yang dijadikan acuan adalah nilai ibu pada hari keguguran. Dalam analogi ini terdapat perbedaan pendapat, namun bagaimanapun juga, ini merupakan pendekatan dalam inti permasalahan jinayah yang akan dibahas dalam Kitab Jinayah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والأوجه في المعنى أنّا إن اعتبرنا حالة العقد فنتبين استناد الوجوب إلى تلك الحالة ونبني الأمر على الوقف الذي ذكرناه إذ لا وجه لاعتبار صفة في حالةٍ لا يجب المهر فيها ثم إذا قلنا لا يجب المهر بالنكاح فلا شك أن الطلاق إذا جرى قبل المسيس فلا يجب شيء إلا المتعة

Pendapat yang lebih kuat dalam makna adalah bahwa jika kita mempertimbangkan keadaan saat akad, maka kita akan mengetahui bahwa kewajiban (mahar) bersandar pada keadaan tersebut, dan kita membangun perkara ini berdasarkan penjelasan tentang waqf yang telah kami sebutkan. Sebab, tidak ada alasan untuk mempertimbangkan suatu sifat pada keadaan di mana mahar belum wajib. Kemudian, jika kita mengatakan bahwa mahar tidak wajib karena akad nikah, maka tidak diragukan lagi bahwa jika terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri, maka tidak ada sesuatu pun yang wajib kecuali mut‘ah.

وقد ربط المحققون ذلك بقوله تعالى وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ ثم قال عزّ من قائل وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ وقد اتفق المفسرون أن الآيات مسوقة في المفوِّضة وأنها إذا طلقت قبل المسيس فلها المتعة كما سيأتي شرحها في بابها إن شاء الله تعالى

Para peneliti mengaitkan hal itu dengan firman Allah Ta‘ala: “Berikanlah kepada mereka mut‘ah menurut kemampuan orang yang mampu dan menurut kemampuan orang yang kurang mampu, pemberian dengan cara yang patut, sebagai suatu kewajiban atas orang-orang yang berbuat kebaikan.” Kemudian Allah yang Maha Mulia berfirman: “Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka, padahal kamu telah menentukan mahar untuk mereka, maka setengah dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” Para mufassir sepakat bahwa ayat-ayat ini ditujukan kepada kasus al-mufawwaḍah, dan bahwa jika ia diceraikan sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia berhak mendapatkan mut‘ah, sebagaimana akan dijelaskan pada babnya, insya Allah Ta‘ala.

ثم قالوا لو فرض لها شيء قبل المسيس فطُلقت فلها نصف المفروض ولا متعة

Kemudian mereka berkata, jika telah ditetapkan suatu mahar untuknya sebelum terjadi hubungan suami istri lalu ia dicerai, maka ia berhak atas setengah dari mahar yang telah ditetapkan dan tidak berhak atas mut‘ah.

ثم يبقى بعد ما ذكرناه القولُ في طلب الفرض تفريعاً على أنها لا تستحق بالعقد المهرَ فنقول إذا جرينا على ما قطع به الأئمة من وجوب المهر عند المسيس فهؤلاء أجمعوا على أنها تملك المطالبة بالفرض حتى لا يقع الإقدام على الوطء إلا على مفروض ثابت

Kemudian, setelah penjelasan yang telah disebutkan, masih tersisa pembahasan mengenai permintaan penetapan mahar sebagai cabang dari pendapat bahwa perempuan tidak berhak mendapatkan mahar hanya dengan akad. Maka kami katakan, jika kita mengikuti pendapat yang telah ditegaskan oleh para imam tentang wajibnya mahar ketika terjadi hubungan suami istri, maka mereka semua sepakat bahwa perempuan berhak menuntut penetapan mahar, sehingga tidak boleh melakukan hubungan suami istri kecuali setelah mahar tersebut ditetapkan secara pasti.

وإن فرعنا على أن المهر لا يثبت بالمسيس أيضاً وقلنا لو مسها فلا مهر وإن لم يجر تسليط على الوطء فيتجه جداً أن نقول لا تملك المطالبةَ بالفرض أصلاً وقد لزم النكاح عريّاً عن المهر كيف تَصَرَّفَ الحال وقد يلزم على هذا القياس أن يقال لا يثبت المهر وإن قُدّر فرضٌ لأن الانعقاد ولزومه على حكم العقد ينافي في ثبوت المهر جرياً على امتناع إلحاق الزوائد بالعقود وبُعْد لزومها وهذا مشهور من مذهب الشافعي

Jika kita berpendapat bahwa mahar juga tidak menjadi hak hanya karena telah terjadi persetubuhan, dan kita mengatakan bahwa jika ia menyetubuhinya maka tidak ada mahar, selama tidak ada penyerahan izin untuk berhubungan, maka sangat mungkin untuk mengatakan bahwa perempuan sama sekali tidak berhak menuntut penetapan mahar, dan akad nikah tetap sah tanpa mahar, bagaimanapun keadaannya. Berdasarkan qiyās ini, bisa juga dikatakan bahwa mahar tidak menjadi hak meskipun telah ditetapkan, karena terjadinya akad dan keharusannya sesuai dengan hukum akad bertentangan dengan penetapan mahar, sesuai dengan prinsip tidak bolehnya menambahkan unsur baru pada akad dan jauhnya kewajiban tambahan tersebut. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi‘i.

وما ذكرناه أقيسةٌ واحتمالات والرأي القطع بما قطع به الأصحاب

Apa yang telah kami sebutkan adalah qiyās, kemungkinan-kemungkinan, dan pendapat; sedangkan keputusan yang pasti adalah apa yang telah dipastikan oleh para ashḥāb.

ثم في مصير الأئمة إلى أن المهر يجب عند المسيس إشكالٌ في الفرض والمطالبة من جهة أنه كان يجوز أن يقال هي على ثقة من ثبوت المهر إذا جرى المسيس فلا معنى لطلبها الفرض ولكن المرأة تقول إذا كان الزوج يتسلّط على الوطء ولي المهر ثم الشرع أثبت لي حق الامتناع عن الوطء في النكاح المشتمل على المسمى الصحيح فطلبي الفرض في مقابلة طلبي المهر المسمى في النكاح المشتمل عليه

Kemudian, mengenai pendapat para imam bahwa mahar menjadi wajib ketika terjadi hubungan intim, terdapat permasalahan dalam hal penetapan dan penuntutan, karena bisa saja dikatakan bahwa perempuan yakin akan tetapnya mahar jika telah terjadi hubungan intim, sehingga tidak ada makna untuk menuntut penetapan mahar. Namun, perempuan dapat berkata: “Jika suami berhak melakukan hubungan intim, maka aku berhak atas mahar. Kemudian syariat telah menetapkan hak bagiku untuk menolak hubungan intim dalam pernikahan yang di dalamnya terdapat mahar yang sah. Maka, tuntutanku atas penetapan mahar adalah sebagai imbalan dari tuntutanku atas mahar yang telah disebutkan dalam pernikahan yang mengandungnya.”

فهذا منتهى القول في هذا وهو غاية البيان

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal ini, dan inilah penjelasan yang paling jelas.

ومن طمع أن يلحق ما وَضْعُه على الإشكال وتقابلِ الاحتمال بما هو بيّنٌ في وضعه فإنما يطلب مستحيلاً مُعْوِزاً والمطلع على الحقائق فيعرف كل شيء على ما هو عليه هو الله عز وجل

Barang siapa yang berharap dapat menyamakan sesuatu yang secara asalnya bersifat samar dan memiliki kemungkinan yang saling berlawanan dengan sesuatu yang jelas dalam asal penetapannya, maka sesungguhnya ia menginginkan sesuatu yang mustahil dan sulit didapat. Adapun yang mengetahui hakikat segala sesuatu dan mengenal setiap hal sebagaimana adanya hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla.

وكل ما ذكرناه تفريع على أن المفوضة لا تستحق بالعقد شيئاً

Semua yang telah kami sebutkan merupakan rincian dari ketentuan bahwa perempuan yang perwaliannya diserahkan (al-mufawwaḍah) tidak berhak mendapatkan apa pun melalui akad.

فإن قلنا إنها تستحق المهر بالعقد ففي التفريع على هذا القول بقية البيان

Jika kita mengatakan bahwa ia berhak atas mahar karena akad, maka dalam penjabaran atas pendapat ini masih ada penjelasan lanjutan.

قال الأئمة إذا طُلِّقت قبل المسيس لم تستحق من المهر شيئاً وإن قضينا بأنه وجب بأصل العقد فهذا هو المذهب وعليه التعويل والشاهد له من القرآن قوله تعالى وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فخصص استحقاق نصف المهر بأن نفرض فدلّ مفهومُ الخطاب دلالة ظاهرة على أنها لا تستحق شيئاً من المهر إذا لم يجر فرضٌ

Para imam berkata, jika seorang wanita ditalak sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia tidak berhak mendapatkan apa pun dari mahar, meskipun kami memutuskan bahwa mahar itu telah wajib sejak akad. Inilah mazhab yang dipegang dan menjadi sandaran, dan dalilnya dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh kalian telah menentukan mahar bagi mereka sebagai kewajiban.” Maka Allah mengkhususkan hak atas setengah mahar dengan syarat telah ditentukan mahar tersebut, sehingga mafhum dari ayat ini dengan penunjukan yang jelas adalah bahwa wanita tidak berhak atas apa pun dari mahar jika mahar itu belum ditentukan.

وكان شيخي يقطع إذا فرعّ على هذا القول بأن المرأة تستحق نصف مهر المثل إذا طلقت قبل المسيس قياساً على ما إذا أصدقها زوجها خمراً أو خنزيراً أو مجهولاً وهذا غير معتد به

Dan guruku menegaskan, ketika membangun cabang hukum atas pendapat ini, bahwa perempuan berhak mendapatkan setengah mahar mitsil jika ia dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, dengan melakukan qiyās terhadap kasus ketika suami memberikan mahar berupa khamar, babi, atau sesuatu yang tidak diketahui, dan ini tidak dapat dijadikan pegangan.

وسرّ مذهب الأصحاب يتبين بذكر مرتبتين فنقول إن اشتمل النكاح على مهر مسمَّى ثم فُرض الطلاق قبل الدخول فالشرع قابَل العقدَ بنصف المهر وليست هذه المقابلة على نهاية التأكد والدليل عليه أنه قد يفرض سقوط جميع المسمى بجريان فسخ قبل المسيس والمختار أنه لا يسقط المسمى بجريان الفسوخ بعد المسيس لما كان المهر على نهاية التقرر فهذه مرتبة

Rahasia mazhab para ulama terjelaskan dengan menyebutkan dua tingkatan. Kami katakan, jika akad nikah mengandung mahar yang telah disebutkan, lalu terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri, maka syariat menetapkan setengah mahar sebagai konsekuensi akad. Penetapan ini bukanlah penetapan yang bersifat pasti sepenuhnya. Buktinya, terkadang seluruh mahar yang telah disebutkan bisa gugur jika terjadi pembatalan akad sebelum terjadi hubungan suami istri. Pendapat yang terpilih adalah bahwa mahar tidak gugur jika pembatalan akad terjadi setelah hubungan suami istri, karena pada saat itu mahar telah benar-benar tetap. Inilah tingkatan pertama.

فإذا رضيت المرأة بتعرية النكاح عن المهر فالمهر ضعيف وإن حكمنا بأنه يثبت بالعقد فتكون جملة المهر في هذه المنزلة بمثابة شطر المسمى إذا جرت تسمية فإن حكمنا بسقوط جميع المهر في حقِّ المفوضة فليس حكمنا منافياً للقضاء بوجوب المهر بأصل العقد

Jika seorang wanita rela pernikahan dilangsungkan tanpa mahar, maka mahar menjadi lemah meskipun kami memutuskan bahwa mahar itu tetap sah dengan akad. Maka, keseluruhan mahar dalam keadaan ini setara dengan separuh mahar yang disebutkan jika memang ada penyebutan mahar. Jika kami memutuskan bahwa seluruh mahar gugur bagi wanita yang menyerahkan urusan mahar, maka keputusan kami itu tidak bertentangan dengan ketetapan kewajiban mahar berdasarkan akad.

فهذا بيان مسلك الأصحاب وهو الحق الذي لا مراء فيه

Inilah penjelasan metode para sahabat, dan itulah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

ثم ينبني على ذلك أمر الفرض والمطالبة أما على طريق الإمام والدي فليس لها طلب الفرض فإن مهر المثل عنده ثبت ثبوت المهر المسمى فيتشطّر بالطلاق ويتقرر بالمسيس فلا معنى لطلب الفرض فإن الفرض لا يفيد مزيداً وسبيل طلبه في هذا المقام كسبيل طلبه إذا جرى في النكاح مسمّىً فاسدٌ وكسبيل طلبه إذا جرى المسيس واستقر به مهر المثل ولا خلاف أنه لا معنى لطلب الفرض بعد المسيس ولكن هذا المذهب وهو المصير إلى أن المهر يتشطر بالطلاق قبل المسيس والفرضِ ليس معتداً به ولا معدوداً من المذهب

Kemudian, berkaitan dengan masalah penetapan mahar dan tuntutan terhadapnya, menurut pendapat Imam dan ayahku, perempuan tidak berhak menuntut penetapan mahar, karena mahar mitsil menurut beliau telah tetap sebagaimana mahar yang disebutkan secara eksplisit, sehingga akan terbagi dua jika terjadi talak dan akan menjadi hak penuh jika telah terjadi hubungan suami istri. Maka, tidak ada makna untuk menuntut penetapan mahar, karena penetapan tersebut tidak memberikan tambahan manfaat apa pun. Cara menuntutnya dalam konteks ini sama seperti menuntut penetapan mahar jika dalam akad nikah disebutkan mahar yang rusak (tidak sah), atau seperti menuntut penetapan mahar setelah terjadi hubungan suami istri dan mahar mitsil telah menjadi hak penuh. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa tidak ada makna menuntut penetapan mahar setelah terjadi hubungan suami istri. Namun, pendapat ini—yaitu bahwa mahar terbagi dua karena talak sebelum terjadi hubungan suami istri dan penetapan mahar tidak dianggap—bukanlah pendapat yang diakui atau termasuk dalam mazhab.

فالمرأة إذاً تملك طلب الفرض وغرضها أن تتوصَّلَ إلى تقرير نصف المهر لو فرض طلاق قبل المسيس

Maka perempuan memiliki hak untuk meminta penetapan mahar, dan tujuannya adalah agar ia dapat memperoleh setengah mahar jika terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri.

وحقيقةُ القول في الفرض نذكره على الاتصال بنجاز هذا الكلام في فصل معقود

Hakikat pembahasan tentang fardhu akan kami sebutkan secara tersambung setelah penyelesaian pembahasan ini dalam suatu bab tersendiri.

فصل في الفرض ومعناه وما يتعلق به من التفاصيل

Bab tentang fardhu, maknanya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya secara rinci.

فنقول إذا حكمنا بأن المفوِّضة لا تستحق شيئاً بالعقد فقد ذكرنا أنها تملك طلب الفرض وأوضحنا ما فيه من ترددٍ واحتمالٍ على ما عليه الأصحاب وعلى التخريج الذي ذكره القاضي

Maka kami katakan, apabila kami memutuskan bahwa seorang wanita yang akadnya tanpa penentuan mahar (mufawwidah) tidak berhak atas apa pun berdasarkan akad, maka telah kami sebutkan bahwa ia berhak menuntut penetapan mahar, dan telah kami jelaskan adanya keraguan dan kemungkinan dalam hal itu menurut pendapat para ulama dan menurut penjelasan yang disebutkan oleh al-Qadhi.

والأصل المعتمد أنها تملك طلب الفرض إذا فرعنا على أنها تستحق المهر بالعقد فالذي ذكره الأئمة مع ذلك أنها تستحق طلب الفرض وقد أوضحنا ذلك على طريقة الأصحاب وذكرنا طريقة شيخنا أبي محمد

Prinsip yang dijadikan pegangan adalah bahwa ia berhak menuntut penetapan mahar jika kita berpendapat bahwa ia berhak atas mahar karena akad. Para imam juga menyebutkan bahwa ia berhak menuntut penetapan mahar, dan kami telah menjelaskan hal itu menurut metode para sahabat, serta menyebutkan metode guru kami, Abu Muhammad.

ونحن الآن نرفع تفرّق الفكر بالتخريج وطريق شيخنا ونرد النظر إلى ما عليه الأصحاب من أنها تملك طلبَ الفرض وهذا متجه على قولنا إنها لا تستحق بالعقد مهراً فالفرض يفيدها لا محالة استحقاق المفروض وإن قضينا بأنها تستحق بالعقد فالفرض يفيدها تقرير نصف المهر بناء على أنها إذا طُلقت قبل المسيس لم تستحق شيئاً ويسقط المهر كله

Sekarang, kami menghilangkan perbedaan pendapat melalui takhrīj dan metode guru kami, serta mengembalikan perhatian pada pendapat para sahabat mazhab bahwa perempuan berhak menuntut penetapan mahar. Hal ini sesuai dengan pendapat kami bahwa ia tidak berhak mendapatkan mahar hanya dengan akad, sehingga penetapan mahar pasti memberinya hak atas mahar yang telah ditetapkan. Namun, jika kami memutuskan bahwa ia berhak atas mahar dengan akad, maka penetapan mahar hanya menetapkan setengah mahar baginya, berdasarkan bahwa jika ia dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, ia tidak berhak mendapatkan apa pun dan seluruh mahar gugur.

ووراء ذلك كلام للأصحاب وذلك أنهم قالوا لو أرادت أن تطلب من المهر شيئاً وإن قل لم تملكه ولم تجد إليه سبيلاً وإنما لها طلب الفرض فحسب وهذا الآن مشكل جداً مناقضٌ لقولنا إنها تستحق بالعقد المهرَ وكان الوجه أن يقال تملك طلب المهر وتملك طلب الفرض أما طلب المهر فمعلل بثبوت المهر وأما طلب الفرض فسببه تقرير نصف المهر وهذا له التفات على مطالبتها بوطأة واحدة ليتقرر بذلك مهرها ولكن ذلك مختلَفٌ فيه وطلب الفرض على رأي الأصحاب متفق عليه والسبب فيه أن الزوج قادر على الفرض متى شاء والوطء أمر جِبِلِّيٌّ قد لا تساعد الطبيعةُ على المواتاة فيه ولا عجز بالزوج أيضاً ولكن وقته لا يتعين فبعُد تمليك المرأة الطلبَ فيه في أي وقت تشاء وما ذكره الأصحاب تصريح بإفساد القول بأنها تستحق بالعقد شيئاً وأن هذا القول لا ثبات له ولذلك لم يعرفه العراقيون ولم يعرِّضوا بذكره أصلاً

Di balik itu terdapat pendapat para ulama mazhab, yaitu bahwa mereka berkata: Jika seorang wanita ingin menuntut sesuatu dari mahar, meskipun sedikit, ia tidak memilikinya dan tidak menemukan jalan untuk itu, melainkan ia hanya berhak menuntut penetapan (mahar) saja. Hal ini sekarang sangat problematis, bertentangan dengan pendapat kami bahwa ia berhak atas mahar dengan akad. Yang seharusnya dikatakan adalah bahwa ia berhak menuntut mahar dan berhak menuntut penetapan (mahar). Adapun tuntutan mahar, alasannya adalah karena mahar telah ditetapkan; sedangkan tuntutan penetapan (mahar) sebabnya adalah untuk menetapkan setengah mahar. Hal ini berkaitan dengan tuntutannya untuk satu kali jima‘ agar maharnya menjadi tetap, namun hal ini diperselisihkan. Adapun tuntutan penetapan (mahar) menurut pendapat para ulama mazhab telah disepakati, dan sebabnya adalah karena suami mampu menetapkan (mahar) kapan saja ia mau, sedangkan jima‘ adalah perkara fitrah yang mungkin saja tabiat tidak mendukung untuk melakukannya, dan bukan berarti suami tidak mampu, tetapi waktunya tidak dapat ditentukan, sehingga tidak layak memberikan hak kepada istri untuk menuntutnya kapan saja ia mau. Apa yang disebutkan para ulama mazhab adalah penegasan bahwa pendapat yang mengatakan istri berhak atas sesuatu dengan akad adalah pendapat yang rusak dan tidak memiliki dasar, oleh karena itu pendapat ini tidak dikenal oleh para ulama Irak dan mereka sama sekali tidak menyinggungnya.

فإذا تمهّد أصل الفرض فيما رسمناه فنخوض بعد ذلك في تفصيل القول ونقول الفرض يقع من الزوج فإذا وقع التراضي بمبلغ فَفَرضه الزوجُ ثبت ويجوز أن يكون عينا معيّنة نقداً أو عَرْضاً ويجوز أن يكون ديناً ملتزماً في الذمة

Jika dasar kewajiban telah dijelaskan sebagaimana yang telah kami uraikan, maka setelah itu kami akan membahas rincian pembahasan dan mengatakan bahwa kewajiban (mahar) itu berasal dari suami. Apabila telah terjadi kesepakatan atas suatu jumlah, lalu suami menetapkannya, maka hal itu menjadi tetap. Mahar tersebut boleh berupa barang tertentu, baik berupa uang tunai maupun barang, dan boleh juga berupa utang yang menjadi tanggungan dalam kewajiban (dzimmah).

والمذهب الأصح أن الفرض إذا كان يجري من الزوج فلا يشترط علمُه وعلمُ الزوجة بمقدار مهر المثل وإنما التعويل على رضا المرأة وفَرْضِ الزوج

Pendapat yang paling sahih adalah bahwa jika penetapan mahar berasal dari pihak suami, maka tidak disyaratkan pengetahuan suami dan istri tentang kadar mahar mitsil, melainkan yang menjadi acuan adalah kerelaan istri dan penetapan mahar oleh suami.

ومن أصحابنا من قال لا يصح الفرض من الزوج ما لم يكونا عالمين بمقدار مهر المثل وهذا الوجه ضعيف لا معوّل عليه ولكنه مشهور في الحكاية

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa kewajiban dari suami tidak sah selama keduanya belum mengetahui kadar mahar mitsil. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran, meskipun terkenal dalam riwayat.

وقد قال بعض المحققين إن حكمنا بأن المفوضة لا تستحق بالعقد مهراً فلا حاجة إلى معرفة هذا المِثْل فإن الفرض ابتداءُ إيجابٍ على هذا القول وإن حكمنا بأن المفوضة تستحق المهر بالعقد فهو مهر المثل فلا بد من علمها بمهر المثل

Sebagian ulama yang teliti mengatakan bahwa jika kita memutuskan bahwa seorang wanita yang akadnya tanpa penetapan mahar (mufawwaḍah) tidak berhak mendapatkan mahar karena akad, maka tidak perlu mengetahui mahar mitsil; sebab kewajiban mahar itu baru timbul kemudian menurut pendapat ini. Namun, jika kita memutuskan bahwa wanita mufawwaḍah berhak mendapatkan mahar karena akad, maka yang dimaksud adalah mahar mitsil, sehingga ia harus mengetahui besaran mahar mitsil tersebut.

والذي نراه في ذلك رأياً وهو حقيقة الأمر أنا إن فرّعنا على الأصح وهو أن المفوِّضة لا تستحق بالعقد شيئاً فإذا فَرَضَ الزوجُ فالظاهر أنه لا حاجة إلى العلم بمبلغ المهر ولكن ينقدح معه اشتراط العلم فإنا لو قدرنا الفرض ابتداء إيجاب كان ذلك خارجاً عن القانون فإن العوض إنما يثبت بالعقد وشرطه إيجاب وقبول والقبول ليس معتبراً في الفرض اتفاقاً ولو اعتُبر فالمرأة ليست قابلة في عقد النكاح والنكاح لا يمكن إعادته ما لم يُنقض فمن ضرورة الفرض أن يكون له التفاتٌ على ما يجب بالوطء والواجب به إن لم يجر فرضٌ مهرُ المثل وبالجملة الفرض لا يضاهي قاعدة من قواعد الأعواض على رأي الشافعي فمَن اشترط العلم بالمهر على هذا القول فصدَرُه مما نبهنا عليه الآن

Pendapat yang kami anggap benar dalam hal ini, dan inilah hakikat perkaranya, adalah bahwa jika kita membangun pendapat berdasarkan yang lebih sahih, yaitu bahwa wanita yang diserahkan urusan maharnya (mufawwidah) tidak berhak mendapatkan apa pun hanya dengan akad, maka jika suami menetapkan mahar, tampaknya tidak perlu diketahui jumlah mahar tersebut. Namun, tetap muncul kemungkinan disyaratkannya pengetahuan tentang jumlah mahar, karena jika kita menganggap penetapan mahar itu sejak awal sebagai suatu ijab, maka hal itu keluar dari kaidah, sebab imbalan (mahar) hanya menjadi tetap dengan akad, dan syaratnya adalah adanya ijab dan qabul, sedangkan qabul tidak dianggap dalam penetapan mahar menurut kesepakatan. Andaipun dianggap, perempuan tidak melakukan qabul dalam akad nikah, dan akad nikah tidak dapat diulangi kecuali dibatalkan terlebih dahulu. Maka, dari keharusan penetapan mahar itu, harus ada perhatian terhadap apa yang wajib karena terjadinya hubungan suami istri, dan yang wajib karenanya—jika tidak ada penetapan mahar—adalah mahar mitsil. Secara umum, penetapan mahar tidak sejalan dengan salah satu kaidah imbalan menurut pendapat Imam Syafi‘i. Maka, siapa yang mensyaratkan pengetahuan tentang mahar menurut pendapat ini, dasarnya adalah apa yang baru saja kami isyaratkan.

ويتصل بهذا المنتهى أن المفروض لو كان أقل من مهر المثل جاز على هذا القول وكذلك لو كان عَرْضاً من العروض مع العلم بأن مهر المثل لا يكون إلا نقداً والسر فيه أن الشرعَ كما أثبت للمرأة طلب الفرض وَسَّع الأمرَ عند التراضي حتى يستفيد الرجل البراءة عن مهر المثل قبل وجوبه بالمسيس إذا رضيت فإن المهر المسمى في النكاح على التراضي فكان الفرض دائراً على الرضا ولكن إن رضيت فالأمر على ما وصفنا

Terkait dengan batasan ini, jika mahar yang ditetapkan kurang dari mahar mitsil, maka hal itu diperbolehkan menurut pendapat ini. Demikian pula jika berupa barang, padahal diketahui bahwa mahar mitsil hanya berupa uang tunai. Rahasianya adalah bahwa syariat, sebagaimana memberikan hak kepada perempuan untuk menuntut mahar yang ditetapkan, juga memberikan kelonggaran dalam hal kerelaan, sehingga laki-laki dapat terbebas dari kewajiban membayar mahar mitsil sebelum kewajiban itu muncul karena terjadinya hubungan suami istri, jika perempuan rela. Sebab mahar yang disebutkan dalam akad nikah didasarkan pada kerelaan kedua belah pihak, sehingga penetapan mahar bergantung pada kerelaan. Namun, jika perempuan rela, maka ketentuannya sebagaimana telah dijelaskan.

وإن لم ترض إلا مهر المثل فالوجه أن يقال إن ساعدها فذاك وإلا رفعت الأمر إلى القاضي وهو القسم الثاني في الفرض كما سنصفه الآن إن شاء الله عز وجل

Dan jika ia tidak rela kecuali dengan mahar mitsil, maka yang tepat dikatakan adalah: jika suaminya setuju, maka itu yang berlaku; jika tidak, ia dapat mengadukan perkara tersebut kepada qadhi, dan ini termasuk bagian kedua dalam pembahasan yang akan kami jelaskan sekarang, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ومما يتعلق بذلك أن الزوج لو أراد أن يفرض لها من غير أن تطلب الفرض فإن فرض لها أقل من مهر المثل لم يثبت وإن فرض لها مهر المثل من غير طلبها وتعرضها فهذا محتمل جداً يجوز أن يقال يثبت فإن الفرض ليس عقداً ويظهر أن يقال لا يثبت ما لم تطلب فإن طلبها ينزل منزلة القبول في العقود

Terkait dengan hal itu, jika seorang suami ingin menetapkan mahar untuk istrinya tanpa adanya permintaan dari pihak istri, maka jika ia menetapkan mahar kurang dari mahar mitsil, penetapan itu tidak sah. Namun, jika ia menetapkan mahar mitsil tanpa adanya permintaan atau permohonan dari istrinya, hal ini sangat mungkin untuk dikatakan sah. Sebab, penetapan mahar bukanlah sebuah akad. Namun, tampaknya lebih tepat untuk dikatakan bahwa penetapan tersebut tidak sah kecuali jika ada permintaan dari pihak istri, karena permintaan dari istri itu diposisikan seperti kabul dalam akad-akad.

ولو وقع التراضي على أكثر من مهر المثل فيظهر على هذا القول أن يثبت فإن المهر غير ثابت حالة الفرض ويحتمل ألا يثبت الزائد إذا كان من جنس النقد الذي إليه الرجوع فإنا على كل حال نلتفت إلى مهر المثل فكأنه وإن لم يثبت بعدُ فهو مستحق الثبوت وهذا يشابه مسألة ستأتي إن شاء الله عز وجل في الجنايات وهي أن من صالَح على دم العمد على أكثر من دية ففي ثبوت العوض كلام مأخوذ من التفريع على موجب العمد أنه ماذا وسيأتي مشروحاً إن شاء الله تعالى

Jika terjadi kesepakatan atas mahar yang lebih besar dari mahar mitsil, maka menurut pendapat ini tampak bahwa hal itu dapat ditetapkan, karena mahar tersebut belum tetap dalam kondisi yang dimaksudkan. Namun, ada kemungkinan bahwa kelebihan tersebut tidak ditetapkan jika berupa jenis mata uang yang menjadi acuan, sebab dalam segala hal kita tetap merujuk pada mahar mitsil. Maka seolah-olah, meskipun belum ditetapkan, ia berhak untuk ditetapkan. Hal ini mirip dengan permasalahan yang akan datang, insya Allah, dalam bab jinayat, yaitu jika seseorang berdamai atas darah pembunuhan sengaja dengan jumlah lebih dari diyat, maka dalam penetapan kompensasi terdapat pembahasan yang diambil dari cabang hukum atas akibat pembunuhan sengaja itu, dan hal ini akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala.

وإذا كان يثبت المشروط وهو أقل فيثبت أيضاً وهو أكثر ولولا اعتراض شيء في الفكر لما أوردنا القول في ذلك ولكن لو ثبتت الزيادة لما ثبتت إلا عوضاً وكيف يتصور ثبوت العوض من غير التفات إلى ما سيستحق من غير صيغة عقد

Jika sesuatu yang disyaratkan dapat tetap berlaku dalam jumlah yang lebih sedikit, maka ia juga dapat tetap berlaku dalam jumlah yang lebih banyak. Seandainya tidak ada keraguan dalam pemikiran, kami tidak akan membahas hal ini. Namun, jika tambahan itu memang tetap berlaku, maka ia tidak akan tetap berlaku kecuali sebagai kompensasi. Bagaimana mungkin kompensasi dapat dianggap sah tanpa memperhatikan apa yang akan menjadi hak seseorang tanpa adanya lafaz akad?

ومما يتم به الغرض أن المرأة لو قالت أسقطت حقي من طلب الفرض فكيف الوجه فيه فنقول قد ظهر الاختلاف في أن الإبراء عما لم يجب وظهر سبب وجوبه هل يصح وعليه خُرِّج إبراء المرأة عن نفقة عدتها فعلى هذا لو قالت أبرأت عما سيجب لي من المهر عند الوطء فالظاهر خروج ذلك على الخلاف الذي ذكرناه الآن

Dan termasuk hal yang menyempurnakan tujuan adalah jika seorang wanita berkata, “Aku telah menggugurkan hakku untuk menuntut kewajiban (nafkah),” maka bagaimana hukumnya? Kami katakan, telah tampak perbedaan pendapat mengenai apakah pengguguran (ibra’) terhadap sesuatu yang belum menjadi kewajiban namun telah tampak sebab yang mewajibkannya itu sah atau tidak. Berdasarkan hal ini, dikeluarkan hukum tentang pengguguran wanita terhadap nafkah masa iddahnya. Maka, jika ia berkata, “Aku telah menggugurkan apa yang akan menjadi hakku dari mahar ketika terjadi hubungan suami istri,” maka yang tampak, hal itu mengikuti perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan tadi.

فإن قيل ثبوت المهر يتعلق بتعبد الشرع فكيف يسقط بإسقاطها قلنا الإبراء في الأعواض نازل منزلة الاستيفاء وليس هذا الذي ذكرناه بمثابة ما ذكره القاضي من تسليطها إياه على الوطء من غير مهر فإن معناه أن ترضى بانعدام المهر وإجراء الوطء على حكم التعرية والإبراءُ الذي ذكرناه معناه تقدير ثبوت المهر مع إسقاطه بعد ثبوته

Jika dikatakan bahwa penetapan mahar berkaitan dengan ketentuan syariat, lalu bagaimana bisa gugur dengan pengguguran dari pihak istri, maka kami katakan: pembebasan (ibra’) dalam hal ganti rugi (al-a‘wāḍ) diposisikan seperti pelunasan. Apa yang kami sebutkan ini tidak sama dengan apa yang disebutkan oleh al-Qadhi tentang istri yang membolehkan suaminya melakukan hubungan tanpa mahar, karena maksudnya adalah ia rela tidak adanya mahar dan membiarkan hubungan itu berlangsung tanpa mahar. Sedangkan ibra’ yang kami maksud adalah menganggap mahar itu telah tetap, kemudian menggugurkannya setelah ia tetap.

فإذا تقرر هذا عدنا إلى القول في إسقاطها حقَّ طلب الفرض فنقول هذا لغو لا حاصل له فإنها إذا لم تُسقط المهر على التقدير الذي ذكرناه فلا يسقط حق الطلب كما يسقط حق طلب المرأة التي آلى عنها زوجها في أمثلة لذلك معروفة

Jika hal ini telah dipastikan, kita kembali pada pembahasan mengenai pengguguran haknya untuk menuntut mahar. Kami katakan bahwa hal ini adalah sia-sia dan tidak ada hasilnya, karena jika ia tidak menggugurkan mahar sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka hak untuk menuntut tidaklah gugur, sebagaimana hak menuntut perempuan yang suaminya melakukan ila’ terhadapnya juga tidak gugur, dalam beberapa contoh yang telah dikenal.

وكل ما ذكرناه تفريع على أن المفوِّضة لا تستحق بالعقد شيئاً

Semua yang telah kami sebutkan merupakan rincian dari ketentuan bahwa wanita yang akadnya tanpa penentuan mahar (mufawwidah) tidak berhak mendapatkan apa pun hanya dengan akad.

فأما إذا فرّعنا على أنها تستحق بالعقد المهرَ فلو وقع التراضي على مقدار مهر المثل فلا كلام وإن وقع التراضي على أكثر من مهر المثل فالذي أراه امتناع هذا كما إذا صالح عن دم العمد بأكثر من الدية والتفريع على أن الموجَب الدية أو القَوَد أوْ أحدُهما لا بعينه فإن وقع التراضي على أقل من مهر المثل فالذي قطع به الأصحاب أن ذلك يصح وخروج ذلك على حمل الاقتصار على هذا المقدار على إسقاط ما يتمم به مهر المثل وعلى هذا خُرِّج جواز الفرض بما دون مهر المثل

Adapun jika kita berpendapat bahwa mahar menjadi hak istri karena akad, maka jika terjadi kesepakatan atas jumlah mahar yang setara dengan mahar mitsil, tidak ada masalah. Namun, jika terjadi kesepakatan atas jumlah yang lebih besar dari mahar mitsil, menurut pendapat saya hal itu tidak diperbolehkan, sebagaimana tidak diperbolehkan berdamai atas darah pembunuhan sengaja dengan jumlah yang lebih besar dari diyat. Dan ini didasarkan pada pendapat bahwa yang menjadi kewajiban adalah diyat, qisas, atau salah satu dari keduanya secara tidak tertentu. Jika terjadi kesepakatan atas jumlah yang lebih kecil dari mahar mitsil, para ulama yang paling kuat pendapatnya telah memastikan bahwa hal itu sah, dan hal ini dikembalikan pada anggapan bahwa pembatasan pada jumlah tersebut berarti menggugurkan sisa yang melengkapi mahar mitsil. Atas dasar ini pula dibolehkan penetapan mahar dengan jumlah di bawah mahar mitsil.

فإذا تقرر ما ذكرناه فالذي جرّ هذا الكلام كلَّه القولُ في أنا هل نشترط علم الزوجين وقد فرعنا ذلك على القول الأول وتفريعه على هذا القول أن المفروض إن كان دون مهر المثل قطعاً فلا حاجة إلى العلم بمقدار مهر المثل وإن أمكن أن يكون المفروض أكثر من مهر المثل ولم يكن من جنس مهر المثل فالوجه ألا نشترط العلم بالمهر وإن كان المفروض من جنس مهر المثل ويمكن أن يكون أكثر فيتجه اشتراط العلم

Jika telah dipastikan apa yang telah kami sebutkan, maka yang mendorong seluruh pembahasan ini adalah pertanyaan apakah kita mensyaratkan pengetahuan kedua mempelai, dan kami telah menguraikan hal itu berdasarkan pendapat pertama. Adapun uraian berdasarkan pendapat ini adalah: jika mahar yang ditetapkan jelas-jelas kurang dari mahar mitsil, maka tidak perlu mengetahui kadar mahar mitsil. Namun, jika mahar yang ditetapkan mungkin lebih besar dari mahar mitsil dan bukan dari jenis mahar mitsil, maka yang tepat adalah tidak disyaratkan pengetahuan tentang mahar tersebut. Tetapi jika mahar yang ditetapkan dari jenis mahar mitsil dan mungkin lebih besar, maka tampaknya disyaratkan adanya pengetahuan.

فهذا تمام البيان في ذلك و الأصحاب أطلقوا وجهين

Inilah penjelasan lengkap mengenai hal itu, dan para ulama (ash-hab) telah menyebutkan dua pendapat.

ومما نذكره الآية القول في تأجيل المفروض وقد ذكر معظم الأئمة أن المفروض يقبل التأجيل وفي بعض التصانيف ذكر الوجهين والتحقيق فيه أنا إن فرعنا على أن المفوِّضة لا تستحق بالعقد شيئاً فالظاهر ثبوت الأجل إذا وقع التراضي به فإن المفروض على هذا القول واجبٌ مبتدأٌ وإن كان له التفات على موجب العقد

Di antara hal yang perlu disebutkan di sini adalah pembahasan tentang penundaan kewajiban yang telah ditetapkan. Mayoritas imam berpendapat bahwa kewajiban yang telah ditetapkan dapat ditunda. Dalam beberapa kitab, disebutkan dua pendapat mengenai hal ini. Penjelasan yang tepat adalah, jika kita berpegang pada pendapat bahwa pihak yang menyerahkan hak (al-mufawwidah) tidak berhak mendapatkan apa pun hanya dengan akad, maka yang tampak adalah penetapan waktu penundaan itu sah apabila kedua belah pihak saling merelakannya. Sebab, menurut pendapat ini, kewajiban yang telah ditetapkan adalah kewajiban yang baru muncul, meskipun ada kaitannya dengan konsekuensi akad.

ويحتمل أن يقال لا يثبت الأجل فيه فإن الفرض ليس عقداً تاماً وأشبه شيء به الفرض ثم لا يثبت الأجل فيه

Dan mungkin dapat dikatakan bahwa tenggat waktu tidak ditetapkan di dalamnya, karena fardhu bukanlah akad yang sempurna, dan hal yang paling mirip dengannya adalah fardhu, namun tenggat waktu juga tidak ditetapkan di dalamnya.

وإن فرّعنا على أن المفوضة تستحق بالعقد المهر فهل يقبل الأجل وكيف وجهه فنقول الأجل على هذا القول بعيدٌ ولكن ليس ينحسم الاحتمال فيه مع جواز الاقتصار على أقل من مهر المثل وجواز العدول عن جنس مهر المثل

Jika kita berpendapat bahwa perempuan yang statusnya mufawwaḍah berhak mendapatkan mahar karena akad, maka apakah boleh menetapkan tempo (penundaan pembayaran) dan bagaimana penjelasannya? Kami katakan, penetapan tempo menurut pendapat ini adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat), namun kemungkinan itu tidak sepenuhnya tertutup, mengingat diperbolehkannya menetapkan mahar kurang dari mahar mitsil dan diperbolehkannya mengganti jenis mahar mitsil.

وكنت أود لو كان الفرض على هذا القول اعتياضاً عن المهر الواجب بالعقد ثم كان يترتب عليه ما يليق به ومن أوائله اشتراط الإيجاب والقبول قياساً على الاعتياض عن جميع الأعواض أو كان يخرّج على الاعتياض عن الثمن في الذمة ولكن أطبق الأصحاب على إجراء الفرض على نسق واحد على القولين وهو محمول عندي على كف الفكر عن الغوامض والمغاصات ونحن لم نأل جهداً نقلاً وتنبيهاً وتخريجاً على الأصول

Saya berharap seandainya kewajiban (al-fardh) menurut pendapat ini dianggap sebagai pengganti mahar yang wajib karena akad, kemudian setelah itu berlaku konsekuensi yang sesuai dengannya, dan di antaranya adalah disyaratkannya ijab dan qabul dengan qiyās kepada penggantian atas seluruh kompensasi, atau bisa juga dianalogikan dengan penggantian atas harga dalam tanggungan (dzimmah). Namun, para ulama sepakat untuk menjalankan kewajiban ini dengan pola yang sama pada kedua pendapat, dan menurut saya hal ini disebabkan karena menahan pikiran dari hal-hal yang rumit dan mendalam. Kami pun telah berusaha semaksimal mungkin dalam menukil, memberikan penjelasan, dan melakukan takhrīj berdasarkan prinsip-prinsip (al-uṣūl).

ومما يتصل بهذا المنتهى أن الزوج لو فرض لها خمراً برضاها فالذي ذكره الأئمة يقتضي أن ذلك لغو وكأن لا فرض ولا نجعل تسميةَ الخمر في مقام الفرض بمثابة تسميته الخمر مهراً فإن قيل إذا جوزتم تأجيل المفروض فهلا جعلتم تسميته بمثابة تسميتها في الإصداق قلنا لا سواء فإن الخمر إذا سميت في النكاح فقد قصد العوض فلم نجد بُداً من إثبات المهر فأثبتناه

Terkait dengan pembahasan ini, jika seorang suami menetapkan khamar sebagai nafkah untuk istrinya dengan kerelaannya, maka menurut pendapat para imam, hal itu dianggap sia-sia, seolah-olah tidak ada penetapan sama sekali. Kita tidak menyamakan penamaan khamar dalam konteks nafkah dengan penamaan khamar sebagai mahar. Jika ada yang bertanya, “Jika kalian membolehkan penundaan pemberian nafkah yang telah ditetapkan, mengapa kalian tidak menyamakan penamaan khamar dalam nafkah dengan penamaannya dalam akad mahar?” Kami jawab: Keduanya tidaklah sama. Sebab, jika khamar disebutkan dalam akad nikah, maka yang dimaksud adalah sebagai imbalan (iwadh), sehingga kami tidak punya pilihan selain menetapkan mahar, maka kami pun menetapkannya.

وأما الفرض فليس ينحسم بابُه فإذا فسد فرضٌ لغا وابتُدِىء فرضٌ صحيح هذا هو الذي لا يجوز غيره

Adapun fardhu, maka pintunya tidak tertutup; jika suatu fardhu rusak, maka ia batal dan dimulai fardhu yang sah, inilah yang tidak boleh selainnya.

وكل ما ذكرناه فيه إذا جرى الفرض على التراضي

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila akad dilakukan atas dasar saling rela.

فأما القول في فرض القاضي فإنما تمس الحاجة إلى ذلك إذا طلبت وأبى الزوجُ أو تنازعا في مقدار المفروض فأما إذا كانا يتراضيان فلا فائدة في الارتفاع إلى القاضي

Adapun pembahasan tentang penetapan hakim, maka hal itu diperlukan apabila istri meminta dan suami menolak, atau keduanya berselisih mengenai besaran yang harus ditetapkan. Adapun jika keduanya saling rela, maka tidak ada manfaatnya membawa perkara tersebut ke hakim.

فإذا ثبت ذلك فلو تنازعا وكانت المرأة لا ترضى إلا بأقصى حقها فلا يصح الفرض من القاضي ما لم يكن عالماً بمقدار مهر المثل إذ إليه الرجوع وهو منتهى حقها فإن تراضيا في مجلس القاضي بدون مهر المثل فالقاضي ليس بفارض وإنما الفارض الزوجُ برضاها فإن فوّضا إلى القاضي فهو في حكم المستناب عن الزوج وإذا كان النزاع دائماً فَفَرْضُ القاضي ثابت أيضاً ولكنه نيابةٌ قهرية يُجْريها القاضي استيفاءً لحقٍّ من الممتنع عنه

Jika telah tetap demikian, maka jika terjadi perselisihan dan perempuan tidak rela kecuali dengan haknya yang paling tinggi, maka penetapan (mahar) oleh hakim tidak sah kecuali jika hakim mengetahui kadar mahar mitsil, karena kepadanya rujukan dan itulah batas akhir haknya. Jika keduanya sepakat di majelis hakim dengan mahar di bawah mahar mitsil, maka hakim bukanlah yang menetapkan, melainkan yang menetapkan adalah suami dengan kerelaan istri. Jika keduanya menyerahkan urusan kepada hakim, maka hakim berperan sebagai wakil dari suami. Namun jika perselisihan terus berlangsung, maka penetapan hakim juga tetap berlaku, tetapi itu merupakan perwakilan secara paksa yang dilakukan hakim untuk memenuhi hak yang ditolak oleh pihak yang enggan memberikannya.

ولو امتنع الزوج من الفرض فرضيت المرأة بدون مهر المثل أو رضيت بأن يكون المفروض مؤجلاً والتفريع على أن الفرض يقبل التأجيل فنقول أما إذا رضيت بالتأجيل والزوج على إبائه وامتناعه وكان القاضي يفرض عليه قهراً فقد قال المحققون ليس للقاضي أن يفرضه مؤجلاً وإن كان الفرض قابلاً للأجل لو صدر من الزوج على الرأي الأصح والسبب فيه أن منصب القاضي يقتضي منه إلزامَ الزوج مالاً حاقّاً انتجزت الطَّلِبة به فأما إثباته على أجلٍ ومهل فلا يليق بمنصب الولاة وليس كما لو كان الفارض الزوج فإن ذلك يجري مجرى العقود والتراضي على ما يتفق به الرضا به والسلطان قد يبيع مال الطفل بأجل لأن بيعه منوط بالنظر فإذا رأى الغبطة في التأجيل أجّل على شرائط ذكرناها في كتاب الرهون وفرضه عن زوج ممتنعٍ استيفاءُ حقٍّ منه ولا يتحقق استيفاء الحق لأجل الامتناع إلا فيما يتَّصف بالحلول وأيضاً فالأجل إذا ثبت فهو حق لمن عليه الحق وإثبات الحق لناظرٍ لنفسه حاضرٍ لا وجه له فخرج من مجموع ما ذكرناه أن الأجل لا يثبت إلا برضا الزوجة وفي ثبوته برضاها التردد الذي ذكرناه

Jika suami menolak untuk menentukan mahar, lalu istri rela tanpa mahar mitsil atau rela jika mahar yang ditentukan itu ditangguhkan, dan pembahasan ini didasarkan pada pendapat bahwa penentuan mahar boleh ditangguhkan, maka kami katakan: apabila istri rela dengan penangguhan tetapi suami tetap menolak dan enggan, dan hakim hendak memaksakan penentuan mahar kepadanya, para ulama terkemuka mengatakan bahwa hakim tidak boleh menetapkan mahar itu secara ditangguhkan, meskipun penentuan mahar itu sendiri boleh ditangguhkan jika berasal dari suami menurut pendapat yang lebih kuat. Alasannya adalah karena kedudukan hakim mengharuskannya mewajibkan suami untuk membayar harta yang menjadi hak istri dan harus segera dipenuhi. Adapun menetapkan mahar secara ditangguhkan dan memberi tenggang waktu, itu tidak sesuai dengan kedudukan para penguasa. Hal ini berbeda jika yang menentukan mahar adalah suami, karena itu termasuk dalam akad dan kerelaan kedua belah pihak atas apa yang mereka sepakati. Penguasa boleh menjual harta anak kecil secara ditangguhkan karena penjualan itu terkait dengan kemaslahatan, sehingga jika ia melihat adanya keuntungan dalam penangguhan, ia boleh menangguhkan dengan syarat-syarat yang telah kami sebutkan dalam Kitab Rahn. Sedangkan penetapan mahar oleh hakim terhadap suami yang enggan adalah dalam rangka menunaikan hak istri, dan penunaian hak karena adanya penolakan hanya dapat terwujud pada sesuatu yang bersifat segera. Selain itu, jika penangguhan itu ditetapkan, maka itu menjadi hak bagi pihak yang berkewajiban, dan menetapkan hak bagi orang yang berwenang untuk dirinya sendiri yang hadir tidak ada dasarnya. Maka, dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa penangguhan mahar tidak dapat ditetapkan kecuali dengan kerelaan istri, dan dalam penetapan penangguhan dengan kerelaan istri terdapat keraguan sebagaimana telah kami sebutkan.

فهذا منتهى القول في ذلك

Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.

ثم قال الأصحاب إذا كانت المرأة لا ترضى إلا بنهاية حقها فيتعين على القاضي أن يفرض لها مهرَ مثلها ثم قالوا لو زاد شيئاً أو نقص لم يجز إلا القدر اليسير الذي لا يؤبه له ويسوغ الاجتهاد فيه ولم يُرد الأصحاب بذلك زيادة محققة أو نقصاناً محققاً وإنما أرادوا ما يقع التغابن في مثله ولا يثبت به القول فيه زيادة ولا نقصان وهذا على التحقيق إيجاب مهر المثل فإن مبلغه مظنون كما سيأتي في الباب المعقود على أثر هذا الباب إن شاء الله عز وجل

Kemudian para ulama mazhab berkata, jika seorang wanita tidak rela kecuali dengan mendapatkan seluruh haknya, maka wajib bagi hakim untuk menetapkan mahar mitsil baginya. Lalu mereka berkata, jika hakim menambah atau mengurangi sedikit dari mahar tersebut, maka tidak diperbolehkan kecuali dalam kadar yang sangat kecil yang tidak dianggap penting dan masih dibenarkan dalam ijtihad. Para ulama mazhab tidak bermaksud adanya penambahan atau pengurangan yang nyata, melainkan yang mereka maksud adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam transaksi yang mengandung unsur saling menipu ringan, dan tidak dianggap sebagai penambahan atau pengurangan yang sah secara hukum. Hal ini, secara teliti, merupakan penetapan mahar mitsil, karena nilainya bersifat dugaan, sebagaimana akan dijelaskan pada bab setelah bab ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فرع

Cabang

الأجنبي إذا فرض للمفوضة شيئاً برضاها وجرى ذلك بينه وبينها فهل يصح الفرض من الأجنبي ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنه يصح كما يصح من الأجنبي أداءُ الدين وإن لم يصدر عن إذن الزوج فكذلك يصح منه الفرض برضاها وهذا المفروض يكون على الأجنبي فإنه لم يُلزم الزوجَ شيئاً

Jika seorang pihak luar (ajnabi) menetapkan sejumlah mahar untuk wanita yang belum ditentukan maharnya (mufawwadah) dengan persetujuannya, dan hal itu terjadi antara pihak luar dan wanita tersebut, apakah sah penetapan mahar oleh pihak luar? Ulama Irak menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah sah, sebagaimana sahnya pembayaran utang oleh pihak luar meskipun tanpa izin suami, maka demikian pula sah penetapan mahar oleh pihak luar dengan persetujuan wanita tersebut. Mahar yang ditetapkan itu menjadi tanggungan pihak luar, karena ia tidak membebani suami dengan sesuatu.

والوجه الثاني وهو الأصح عندهم أنه لا يصح لأنه تصرفٌّ في العقد وتغيير لصفته

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat paling sahih menurut mereka, adalah bahwa hal itu tidak sah karena merupakan tindakan terhadap akad dan perubahan terhadap sifatnya.

فإن قلنا لا يصح لغا ما كان ولها مطالبة الزوج بالفرض وإن صححنا الفرض سقطت طلبتها عن الزوج وطالبت الأجنبي بما التزمه

Jika kami mengatakan tidak sah, maka apa yang terjadi menjadi batal, dan istri berhak menuntut suami untuk memberikan mahar yang telah ditetapkan. Namun jika kami menganggap penetapan mahar itu sah, maka gugurlah tuntutan istri terhadap suami, dan ia menuntut orang lain (bukan suami) atas apa yang telah ia janjikan.

ثم إذا طلقها الزوج قبل المسيس فإلى من يرتد النصف المفروض فعلى الوجهين المذكورين إذا تبرع الأجنبي بأداء الصداق ثم فرض الطلاق

Kemudian, apabila suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka kepada siapa setengah mahar yang telah ditetapkan itu kembali? Maka, menurut dua pendapat yang telah disebutkan, jika seorang pihak ketiga membayarkan mahar tersebut secara sukarela, lalu terjadi perceraian.

فصل قال الأئمة ما ذكرناه قولنا في التفويض الصحيح وقد تقدم تصويره والحكمُ فيه على وجه لم يدخل في إمكاننا أشفُّ وأفضل منه وهذا الفصل معقود في التفويض الفاسد

Para imam berkata: Apa yang telah kami sebutkan adalah pendapat kami tentang tafwidh yang benar, dan sebelumnya telah dijelaskan bentuknya serta hukum terkaitnya dengan cara yang menurut kemampuan kami tidak ada yang lebih jelas dan lebih baik darinya. Adapun bagian ini dikhususkan untuk membahas tafwidh yang rusak.

وفساد التفويض في الغالب يصدر ممن لا يملك التفويض فإذا كانت المرأة سفيهة فرضيت أن تزوَّج بلا مهر فلا حكم للرضا بترك المهر فإذا زوجها وليّها بغير مهر كان كما لو ابتدأ تزويج ابنته بغير مهر فإذا جرى ذلك ففي انعقاد النكاح القولان السابقان

Kerusakan dalam pendelegasian (tafwīḍ) pada umumnya terjadi dari orang yang tidak memiliki hak untuk mendelegasikan. Jika seorang perempuan adalah orang yang lemah akal (safīhah) lalu ia rela dinikahkan tanpa mahar, maka kerelaannya untuk meninggalkan mahar tidak dianggap. Jika walinya menikahkannya tanpa mahar, maka hal itu seperti halnya seseorang yang menikahkan putrinya tanpa mahar sejak awal. Jika hal itu terjadi, maka dalam keabsahan akad nikah terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.

ومما يجب التنبه له في هذا المقام أنها لو أذنت في أن تُزوَّج بلا مهر وكان النكاح يتوقف على إذنها فإذا زوّجها الوليّ بالمهر وظن الفقيه أن النكاح لم يقع على حسب الإذن فيجب أن لا ينعقد فقال يظهر تنزيل هذا منزلة ما لو أذنت في أن تزوج بألف فزُوِّجت بألفين ولو جرى ذلك لانعقد النكاح وثبت المسمى فيحمل على رضاها فنزل المهر على طلب النكاح كيف كان

Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah jika seorang perempuan mengizinkan untuk dinikahkan tanpa mahar, sementara pernikahan tersebut bergantung pada izinnya, lalu walinya menikahkannya dengan mahar, dan seorang ahli fiqh mengira bahwa pernikahan itu tidak terjadi sesuai dengan izin yang diberikan sehingga dianggap tidak sah, maka yang tampak adalah hal ini serupa dengan kasus ketika ia mengizinkan untuk dinikahkan dengan mahar seribu, namun ia dinikahkan dengan dua ribu. Jika hal itu terjadi, maka pernikahan tetap sah dan mahar yang disebutkan menjadi haknya, sehingga hal ini dianggap sebagai tanda kerelaannya. Maka, mahar disesuaikan dengan permintaan pernikahan, bagaimanapun keadaannya.

وإن هي صرحت باشتراط نفي المهر وذكرت ما يتضمن خروج النكاح عن موجب إذنها لو زُوِّجت بالمهر فهذا بمثابة ما لو قال المالك بع عبدي هذا بألف ولا تبعه بأكثر منه فتخالف إذني وقد ذكرنا في كتاب الوكالة فأوضحنا تردد الأصحاب فيه

Dan jika ia secara tegas mensyaratkan penafian mahar dan menyebutkan sesuatu yang mengandung makna bahwa akad nikah keluar dari konsekuensi izinnya jika ia dinikahkan dengan mahar, maka hal ini serupa dengan kasus ketika seorang pemilik berkata, “Jual budakku ini seharga seribu dan jangan jual dengan harga lebih dari itu,” lalu terjadi penyimpangan dari izinnya. Kami telah menyebutkan hal ini dalam Kitab al-Wakālah dan telah kami jelaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai hal tersebut.

وإذا قال هب هذا العبد من فلان فباعه منه لم يجز لأنه انتقال من صنف من العقود إلى صنف والنكاح بالمهر والعَرِيُّ منه عن المهر صنفٌ واحد فكان مشبهاً بما ذكرناه في البيع بأكثر من المقدار الذي سماه الموكِّل

Jika seseorang berkata, “Berikanlah budak ini kepada si Fulan,” lalu ia menjualnya kepadanya, maka hal itu tidak sah, karena ini merupakan perpindahan dari satu jenis akad ke jenis akad yang lain. Sedangkan nikah dengan mahar dan nikah tanpa mahar adalah satu jenis, sehingga hal itu serupa dengan apa yang telah kami sebutkan dalam jual beli dengan harga lebih dari jumlah yang telah ditentukan oleh pihak yang memberi kuasa.

ومما ذكره الأئمة أن المرأة المطْلقَة في مالها المالكة للتبرع به لو قالت لوليها زوّجني بما شئت أو بما أراد الخاطب فإن جرى العقد على هذه الصيغة فقال الولي زوجتُ فُلانة منك أيها الخاطب بما شئت فهذا معقود بمهر مجهول فالرجوع إلى مهر المثل ولو وقف الولي على المبلغ الذي شاءه الخاطب ثم أنشأ العقد به فيجب القطع بصحة التسمية وذُكر عن القاضي أن هذا مجهول

Para imam (ulama) juga menyebutkan bahwa seorang wanita yang telah dicerai dan memiliki hak penuh atas hartanya serta berwenang untuk memberikannya secara sukarela, jika ia berkata kepada walinya, “Nikahkanlah aku dengan mahar sesuai kehendakmu” atau “dengan mahar sesuai keinginan pelamar,” lalu akad nikah dilakukan dengan redaksi seperti ini, misalnya wali berkata, “Aku nikahkan Fulanah denganmu, wahai pelamar, dengan mahar sesuai kehendakmu,” maka akad tersebut terjadi dengan mahar yang tidak jelas (majhūl), sehingga harus kembali kepada mahar mitsil (mahar yang lazim menurut kebiasaan). Namun, jika wali mengetahui jumlah mahar yang dikehendaki pelamar, lalu ia melangsungkan akad dengan jumlah tersebut, maka harus dipastikan keabsahan penamaan mahar itu. Diriwayatkan dari al-Qāḍī bahwa hal ini dianggap sebagai mahar yang tidak jelas (majhūl).

وتعلَّق بأن لفظ الإذن على صيغة الجهالة

Dan dikaitkan bahwa lafaz izin itu dalam bentuk yang tidak jelas.

وهذا وهم عظيم فإنها فوّضت إلى الولي أن يعقد بما يقدره الخاطب و ليس من غرضها أن تُعاد صيغة لفظها في العقد فسبيل التفصيل إذاً ما ذكرناه

Ini adalah kekeliruan besar, karena perempuan telah menyerahkan kepada wali untuk menikahkannya dengan mahar yang ditentukan oleh calon suami, dan bukan maksudnya agar lafal ijabnya diulang dalam akad. Maka, cara merinci masalah ini adalah seperti yang telah kami sebutkan.

وقد يتجه أن يقال بعد فهم ما ذكرناه من كلامها إذا عقد النكاح وأعيدت صيغة لفظها فقال الولي زوجتكها بما شئت فالنكاح مختلٌّ لأن الولي خالف موجب إذنها فكان كما لو قالت زوجني فزوجها بأقل من مهر مثلها

Mungkin dapat dikatakan, setelah memahami apa yang telah kami sebutkan dari perkataannya, bahwa jika akad nikah telah dilakukan dan kemudian diulangi lafaz akadnya, lalu wali berkata, “Aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar sesuai kehendakmu,” maka akad nikah tersebut menjadi cacat karena wali telah menyelisihi ketentuan izinnya, sehingga keadaannya seperti ketika seorang wanita berkata, “Nikahkan aku,” lalu walinya menikahkannya dengan mahar yang lebih rendah dari mahar mitsilnya.

فلو قالت زوجني فزوجها بخمر فالواجب مهر المثل لو قدر انعقاد النكاح ولكان ما جاء به موجَبَ الإذن المحمول على العرف فليتأمل الناظر ذلك

Jika seorang wanita berkata, “Nikahkan aku,” lalu ia dinikahkan dengan mahar berupa khamr, maka yang wajib adalah mahar mitsil seandainya akad nikah itu sah. Apa yang terjadi di sini adalah konsekuensi dari izin yang didasarkan pada kebiasaan (‘urf), maka hendaknya orang yang menelaah hal ini memperhatikannya.

ولا ينبغي أن نسرف في الفرض أيضاً وإذا اتضحت الأصول لم يخف على الفقيه مُدرك المقصود منها

Kita juga tidak sepatutnya berlebihan dalam menetapkan kewajiban, dan apabila prinsip-prinsip dasar telah jelas, maka seorang faqih tidak akan kesulitan memahami tujuan yang dimaksud darinya.

ثم قال الأئمة إذا انعقد النكاح بمهر المثل عند اتفاق تسمية فاسدة فإذا طُلِّقت قبل المسيس تشطّر مهر المثل كما يتشطّر المسمى الصحيح خلافاً لأبي حنيفة

Kemudian para imam berkata, jika akad nikah terjadi dengan mahar mitsil karena adanya penamaan mahar yang rusak, maka apabila istri dicerai sebelum terjadi hubungan intim, mahar mitsil itu dibagi dua sebagaimana mahar yang sah juga dibagi dua, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.

وإذا جرى في نكاح التفويض فرضٌ ثم طلقت قبل المسيس تشطر المفروض وخالف أبو حنيفة في ذلك أيضاً واجترأ على ظاهر النص في قوله تعالى وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ وقد ذكرنا إطباق المفسرين على حمل هذه الآي على المفوضة وإذا خلا نكاح التفويض عن الفرض ثم فُرض الطلاق قبل المسيس فلا يثبت وإن فرعنا على أن المهر يثبت بالنكاح مع اشتماله على التفويض مما ذكره شيخنا أبو محمد غير ملحَق بالمذهب كما تقدم شرحه والله أعلم

Jika dalam nikah tafwīḍ telah ditetapkan mahar, kemudian istri dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar yang telah ditetapkan itu dibagi dua. Abu Hanifah berbeda pendapat dalam hal ini dan berani menyalahi makna lahiriah dari firman Allah Ta‘ala: “Dan jika kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka setengah dari mahar yang telah kalian tentukan.” Telah kami sebutkan bahwa para mufassir sepakat menafsirkan ayat ini berkaitan dengan perempuan yang dinikahi dengan akad tafwīḍ. Jika nikah tafwīḍ tidak disertai penetapan mahar, lalu terjadi perceraian sebelum hubungan suami istri, maka tidak ada mahar yang ditetapkan. Meskipun jika kita berpendapat bahwa mahar tetap ditetapkan dengan akad nikah yang mengandung tafwīḍ, sebagaimana yang disebutkan oleh guru kami Abu Muhammad, hal itu tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Allah Maha Mengetahui.

Bab Penjelasan Mahar Mitsil

مهر المثل يكثر تَدْوَارُه في الكلام فيجب في النكاح الصحيح عند فساد التسمية وقد يجب في نكاح التفويض ويجب في وطء الشبهة وقد يجب في بدل الخلع وتمس الحاجة إلى معرفته في توزيع المسمى على مهور الأمثال إذا نكح الرجل نسوة في عُقدة وفرّعنا على تصحيح الصداق وتمس الحاجة فيه إذا كان الصداق شقصاً مشفوعاً فإن الشفيع يأخذ شقصاً من مهر المثل وهذا الباب معقود في بيان مهر المثل والطرق التي توصل إلى معرفتها

Mahr al-mitsl sering disebutkan dalam pembahasan, dan ia menjadi wajib dalam pernikahan yang sah ketika penamaan mahar rusak, juga bisa menjadi wajib dalam nikah tafwidh, dan wajib dalam kasus hubungan intim karena syubhat, serta bisa menjadi wajib sebagai pengganti khulu‘. Pengetahuan tentang mahr al-mitsl sangat diperlukan dalam pembagian mahar yang telah disebutkan kepada mahar-mahar yang sepadan jika seorang laki-laki menikahi beberapa wanita dalam satu akad dan kita membahas tentang keabsahan mahar. Pengetahuan ini juga dibutuhkan jika mahar berupa bagian dari harta yang memiliki hak syuf‘ah, karena pemilik hak syuf‘ah akan mengambil bagian dari mahr al-mitsl. Bab ini membahas penjelasan tentang mahr al-mitsl dan cara-cara untuk mengetahuinya.

ونحن نقول على الجملة مهر المثل قيمة البضع والسبيل فيه كالسبيل في قيم المتقوّمات ثم إذا أشبهت قيمة الثوب فالوجه اعتبار ذلك الثوب بأمثاله والنظر إلى ما عهدت أمثال هذا الثوب رائجة به وذلك يختلف بكثرة الرغبات وقلتها فهذا مسلك مهر المثل

Secara umum, kami mengatakan bahwa mahar mitsil adalah nilai kemaluan, dan cara menentukannya sama seperti cara dalam menilai barang-barang yang dapat dinilai. Kemudian, jika nilainya menyerupai nilai kain, maka yang tepat adalah membandingkan kain tersebut dengan kain-kain sejenisnya dan melihat harga yang biasa berlaku untuk kain sejenis itu. Hal ini berbeda-beda tergantung banyak atau sedikitnya minat terhadapnya. Inilah metode penentuan mahar mitsil.

وخاصية الباب الإحاطه بأمثال التي نريد أن نعرف مهرها فقال الأصحاب يعتبر مهر المرأة بنساء العصبات

Keistimewaan bab ini adalah mencakup contoh-contoh perempuan yang ingin kita ketahui maharnya. Para ulama berpendapat bahwa mahar seorang perempuan diukur dengan mahar perempuan-perempuan dari keluarga ‘ashabah-nya.

والقول الضابط فيه أنا نعتبر النسوة اللاتي ترجع أنسابهن إلى من يرجع نسب المستحقة إليه وبيان ذلك بالمثال أنا نعتبر الأخوات من الأب والأم لانتسابهن إلى من تنسب هذه إليه وكذلك تعتبر العمات فإنهن منتسبات إلى الجد وهو على عمود النسب وتعتبر بنات الإخوة من الأب وبنات الأعمام ولا تعتبر بنات الأخوات فإنهن لا ينسبن إلى أمهاتهن وإنما ينسبن إلى أزواج الأخوات ولا يعتبر مهر المرأة بمهور البنات والأمهات فإنهن لا ينسبن إلى من تنسب هذه المرأة إليه ولذلك لا تعتبر الأخوات من الأم وبناتهن والأخوال والخالات وبناتهم لما ذكرناه

Patokan yang digunakan dalam hal ini adalah kita mempertimbangkan perempuan-perempuan yang nasabnya kembali kepada orang yang menjadi rujukan nasab perempuan yang berhak (menerima). Penjelasannya dengan contoh: kita mempertimbangkan saudari-saudari seayah dan seibu karena mereka nasabnya kembali kepada orang yang menjadi rujukan nasab perempuan tersebut. Demikian pula, bibi-bibi dari pihak ayah dipertimbangkan karena mereka nasabnya kembali kepada kakek, yang merupakan jalur utama nasab. Juga dipertimbangkan adalah anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dan anak-anak laki-laki dari paman-paman dari pihak ayah. Namun, anak-anak perempuan dari saudari-saudari tidak dipertimbangkan karena mereka tidak dinasabkan kepada ibu-ibu mereka, melainkan dinasabkan kepada suami-suami dari saudari-saudari tersebut. Mahar seorang perempuan juga tidak diukur dengan mahar anak-anak perempuan atau ibu-ibunya, karena mereka tidak dinasabkan kepada orang yang menjadi rujukan nasab perempuan tersebut. Oleh karena itu, saudari-saudari seibu dan anak-anak perempuan mereka, serta paman-paman dan bibi-bibi dari pihak ibu beserta anak-anak perempuan mereka, tidak dipertimbangkan sebagaimana telah dijelaskan.

فإذا لاحت النسوة المعتبرات والخارجات عن الاعتبار فالطَّلِبة وراء ذلك بتعليل هذا فنقول الصفة الغالبة في العرف الجاري في مقدار المهر النسبُ فإن المنتسبات إلى شجرة واحدة يجرين على مقدار من المهر وإن فرض النقص منه عُدّ حطيطةً ووكيسة والأبضاع لا تتقوم تقوم الأموال وإنما يُرجع فيها إلى أمثال هذه الخصال التي ذكرناها

Apabila telah tampak para perempuan yang dianggap layak dan yang tidak dianggap layak, maka pencarian selanjutnya adalah dengan memberikan alasan mengenai hal ini. Maka kami katakan, sifat yang dominan dalam kebiasaan yang berlaku mengenai besaran mahar adalah nasab, karena perempuan-perempuan yang memiliki nasab dari satu garis keturunan biasanya memiliki besaran mahar yang sama. Jika terjadi pengurangan dari jumlah tersebut, maka dianggap sebagai pengurangan dan kerugian. Kehormatan perempuan tidak dapat diukur seperti harta benda, melainkan dikembalikan pada sifat-sifat seperti yang telah kami sebutkan.

ثم قال الأئمة إن كانت هذه المرأة التي تبغي مقدار مهرها مساوية لنساء العصبات فذاك وإن كانت مخالفة لهن في بعض الخصال الحميدة أو الذميمة فقد يزيد وينقص على ما تقتضيه الصفات فلو اختصت بصراحةٍ في النسب وصباحة في الوجه وسلامة في الخَلْق وعفة ويسارٍ ومزية في العقل ومَسْحةٍ من الجمال ظاهرةٍ فيزاد لها بهذه الصفات فكأن القطب الذي عليه المدار النسبُ ثم الاقتصار عليه

Kemudian para imam berkata, jika perempuan yang menuntut mahar ini setara dengan perempuan-perempuan dari keluarga ‘ashabah dalam hal mahar, maka itu sudah cukup. Namun, jika ia berbeda dari mereka dalam beberapa sifat baik atau buruk, maka mahar bisa bertambah atau berkurang sesuai dengan sifat-sifat tersebut. Jika ia memiliki keistimewaan seperti kemurnian nasab, kecantikan wajah, kesempurnaan fisik, kehormatan, kekayaan, kelebihan akal, dan pesona kecantikan yang tampak, maka mahar untuknya bisa ditambah karena sifat-sifat tersebut. Seakan-akan poros utama yang menjadi patokan adalah nasab, kemudian cukup berpegang pada hal itu.

ومن لطيف القول في هذا أن الجمال غير معتبر في الكفاءة والنسب مرعي فيه وهو الأصل والجمال مرعي في مهر المثل باتفاق الأصحاب وذلك لأنا وإن اعتبرنا النسب في الباب فطلب مهر المثل طلب قيمة والقيم ترتبط بالرغبات والرغبات تتفاوت بهذه الصفات والكفاءة ليست من هذا القبيل والمجتنب ثَمَّ العارُ كما بينا قاعدة الكفاءة فإذا لم يكن ضرار ولا عار فالكفاءة كافية وهذا مبني على الرغبات

Salah satu ungkapan yang menarik dalam hal ini adalah bahwa kecantikan tidak diperhitungkan dalam kriteria kafa’ah, sedangkan nasab diperhatikan di dalamnya, dan itu adalah asalnya. Adapun kecantikan diperhatikan dalam mahar mitsil menurut kesepakatan para ulama, karena meskipun kita memperhitungkan nasab dalam masalah ini, permintaan mahar mitsil adalah permintaan nilai, dan nilai itu berkaitan dengan keinginan, sedangkan keinginan berbeda-beda menurut sifat-sifat ini. Kafa’ah bukanlah termasuk dalam kategori ini, dan yang dihindari di sana adalah aib, sebagaimana telah kami jelaskan dalam kaidah kafa’ah. Maka jika tidak ada mudarat atau aib, kafa’ah sudah cukup, dan hal ini didasarkan pada keinginan.

وقطع أئمتنا باعتبار اليسار في مهر المثل وإن لم يكن اليسار صفتَها ولا حق للزوج في مالها ولكن يسارها يستجر الرغبات إليها وقد ذكرنا أن التعويل في قيم المتقومات على الرغبات

Para imam kami menegaskan bahwa keadaan kaya diperhitungkan dalam mahar mitsil, meskipun kekayaan itu bukan sifatnya dan suami tidak memiliki hak atas hartanya, namun kekayaannya menarik keinginan orang-orang kepadanya. Kami telah menyebutkan bahwa penilaian terhadap barang-barang yang dapat dinilai didasarkan pada keinginan orang-orang terhadapnya.

ثم مهر المثل حيث ثبت ويُقضى به يكون من النقد الغالب فإنه قيمة والقيم تناط بالنقد الغالب ولو فرض نقدان عامان فلا يختلف التقويم بهما وليس هذا كتقويمنا عروض التجارة فإن الغرض قد يختلف بسبب انتقاص النصاب وهذا لا يعقل في المتقومات

Kemudian mahar mitsil, apabila telah tetap dan diputuskan dengannya, maka ditetapkan dari mata uang yang paling umum digunakan, karena ia merupakan nilai, dan penilaian itu dikaitkan dengan mata uang yang paling umum. Jika diasumsikan terdapat dua mata uang yang sama-sama umum, maka penilaian tidak berbeda dengan keduanya. Ini tidak seperti penilaian barang dagangan, karena tujuan bisa berbeda akibat berkurangnya nisab, dan hal ini tidak masuk akal dalam hal-hal yang bernilai.

ولو سامحت واحدة من نساء العشيرة بحيث تعد بذلك ندْرة محمولة على مسامحة فلا اعتبار بها في حق هذه التي تطلب كمال مهر مثلها وإن عمّ ذلك في نساء العشيرة بعد أن لم يكن حُمل هذا على انحطاط السعر واستبان انتقاص الرغبات فيهن فكانت المعتبرة محمولةً على هذا التخفيف

Jika salah satu perempuan dari kabilah tersebut bersikap toleran sehingga hal itu dianggap sebagai sesuatu yang jarang terjadi dan dapat dimaklumi, maka hal itu tidak diperhitungkan terhadap perempuan lain yang menuntut mahar sempurna seperti mahar perempuan sejenisnya. Namun, jika hal itu telah menjadi kebiasaan umum di kalangan perempuan kabilah tersebut, selama tidak dianggap sebagai penurunan harga dan tidak tampak adanya penurunan minat terhadap mereka, maka yang dijadikan acuan adalah kebiasaan yang didasarkan pada keringanan tersebut.

ولكل صورة من الصور التي نذكرها نظير في القيم لا يخفى مُدركه ولو جرت عادتهن من المهر ولكن كن يؤجّلنه فإثبات مهر المثل مؤجلاً محال فإنه قيمة في مقابلة إتلاف أو فيما يحل محل الإتلاف والقيم لا تتأجل ولكن إذا كان مهر العشيرة ألفاً مؤجلاً إلى سنة فيثبت حالاًّ ما يساوي ألفاً مؤجلاً فيُحَطّ من المقدار ويُقضى بالحلول ولو قالت أوجبوا الجميع وأنا أمهله لم يلتفت إليها فإن الأجل إذا كان لا يلزم فلا حكم لوعدها

Setiap bentuk dari bentuk-bentuk yang kami sebutkan memiliki padanan dalam bentuk nilai yang tidak samar alasannya, meskipun kebiasaan mereka adalah menerima mahar, namun mereka menundanya. Maka penetapan mahar mitsil secara ditunda adalah mustahil, karena ia merupakan nilai sebagai ganti dari kerusakan atau sesuatu yang menempati posisi kerusakan, dan nilai tidak dapat ditunda. Namun, jika mahar suatu kabilah adalah seribu yang ditunda hingga satu tahun, maka yang ditetapkan secara tunai adalah sejumlah yang setara dengan seribu yang ditunda, sehingga jumlahnya dikurangi dan diputuskan untuk dibayarkan secara tunai. Jika ia berkata, “Tetapkan seluruhnya dan aku akan menundanya,” maka tidak dihiraukan, karena jika penundaan itu tidak wajib, maka janji darinya tidak memiliki kekuatan hukum.

ومما ذكره الأئمة أنه لو جرت عادة العشيرة بحط شيء من المهر إذا كان الخاطب منهم وطلب مزيد إذا كان الخاطب أجنبياً قالوا إذا كان المطالَب واحداً من العشيرة فيعتبر في حقه تلك الحطيطة وكان شيخي أبو محمد يأبى هذا ويقطع بخلافه فإن قيم المتلفات لا تختلف باختلاف المُتْلِفين

Para imam juga menyebutkan bahwa jika telah menjadi kebiasaan suatu kabilah untuk mengurangi sebagian mahar apabila calon suami berasal dari kabilah mereka, dan meminta tambahan apabila calon suami adalah orang luar, mereka mengatakan: jika yang diminta adalah salah satu dari kabilah tersebut, maka pengurangan itu berlaku baginya. Namun guru saya, Abu Muhammad, menolak hal ini dan secara tegas berpendapat sebaliknya, karena nilai barang yang rusak tidak berbeda-beda hanya karena perbedaan pelakunya.

وفي هذا فضل نظر عندنا فيجوز أن يقال إن كنا نعتبر مهراً في نكاح فتلك الحطيطة مرعية فإن مسامحة العشيرة سببها طلب التداني في التواصل وذلك في حكم العرف الغالب يستحث على الحطّ

Dalam hal ini terdapat keutamaan untuk diperhatikan menurut kami, sehingga boleh dikatakan bahwa jika kita mensyaratkan mahar dalam pernikahan, maka pengurangan tersebut tetap diperhitungkan. Sebab, kemurahan dari pihak keluarga biasanya bertujuan untuk mendekatkan hubungan dan saling berkomunikasi, dan hal itu menurut kebiasaan yang berlaku mendorong terjadinya pengurangan.

وأما إذا جرى وطء بشبهة فيجب أن لا يفرق بين القريب والبعيد فإن الحطيطة التي ذكرناها تُحْتَمَلُ في النكاح رغبة في المواصلة مع تداني القرابة

Adapun jika terjadi hubungan suami istri karena syubhat, maka tidak boleh dibedakan antara kerabat dekat dan jauh, karena keringanan yang telah kami sebutkan itu dapat diterima dalam pernikahan karena adanya keinginan untuk melanjutkan hubungan dengan adanya kedekatan kekerabatan.

والذي عليه الفقه في الباب أن لا نقطع نظره عن قصد المواصلات ولا نظر إلى الأبعاض تتمحض أموالاً

Pendapat yang dipegang dalam fiqh pada masalah ini adalah bahwa kita tidak memutuskan pandangan dari tujuan untuk melakukan hubungan, dan tidak memandang bagian-bagian tertentu sebagai harta yang murni.

وعندنا أنا أوضحنا قاعدة الباب ولم نُبق كلاًّ على الطالب

Menurut kami, kami telah menjelaskan kaidah pokok dalam bab ini dan tidak menyisakan sesuatu pun yang perlu dicari oleh penuntut ilmu.

ولو أُحوجنا إلى معرفة مهر امرأة لا نعرف لها عشيرة فليس إلا رد النظر إلى الرغبة المحضة في أمثالها على ما هي عليها وإنما لم نقتصر على هذا في النسيبة لأن الخاطب قد يجهل نسبها فنذكرها له وما ذكرناه جار فالرجوع إلى الرغبة في النسيبة وغير النسيبة وإنما خُص هذا الباب بالعقد لبُعْد الأبضاع عن المالية المحضة مع أنها منزّلة على قيم الأموال غير أنها تمتاز عن الأموال بالصفات المرعية فيها اللائقة بها فالأموال قد تختلف أسباب الرغبات فيها وإن شملتها المالية والله أعلم

Jika kita perlu mengetahui mahar seorang wanita yang tidak kita ketahui asal-usul keluarganya, maka tidak ada cara lain selain kembali melihat keinginan murni terhadap wanita-wanita sepertinya sesuai dengan keadaannya. Adapun mengapa kita tidak cukup dengan hal ini pada wanita yang memiliki nasab, karena pelamar bisa saja tidak mengetahui nasabnya, maka kita sebutkan nasab itu kepadanya. Apa yang telah kami sebutkan berlaku, yaitu kembali kepada keinginan terhadap wanita yang memiliki nasab maupun yang tidak memiliki nasab. Hanya saja, bab ini dikhususkan pada akad karena urusan kemaluan (pernikahan) lebih jauh dari aspek finansial murni, meskipun ia disamakan dengan nilai harta benda. Namun, ia tetap berbeda dari harta benda karena adanya sifat-sifat khusus yang diperhatikan padanya dan sesuai dengannya. Harta benda bisa saja berbeda-beda sebab keinginan terhadapnya, meskipun semuanya termasuk dalam kategori harta. Allah Maha Mengetahui.

Bab Perselisihan tentang Mahar

إذا اختلف الزوجان في المقدار المسمى في النكاح فقال الزوج نكحتك بألف فقالت بل بألفين أو اختلف في جنس الصداق أو في صفته كما صورنا ذلك في اختلاف المتبايعين فالزوجان يتحالفان ثم تحالفهما لا يفضي إلى انفساخ النكاح ولكن التسمية ترتد وتزول والرجوع إلى مهر المثل فإنه إذا عسر المسمى بسبب جهالةٍ فلا وجه إلا الرجوع إلى مهر المثل والجهالة متحققة ثابتة بالتحالف

Jika suami istri berselisih tentang jumlah mahar yang disebutkan dalam akad nikah, misalnya suami berkata, “Aku menikahimu dengan seribu,” sedangkan istri berkata, “Bahkan dengan dua ribu,” atau mereka berselisih tentang jenis mahar atau sifatnya, sebagaimana telah kami gambarkan dalam perselisihan antara penjual dan pembeli, maka suami istri tersebut saling bersumpah. Namun, sumpah mereka tidak menyebabkan batalnya akad nikah, melainkan penamaan mahar tersebut gugur dan hilang, sehingga kembali kepada mahar mitsil. Sebab, jika mahar yang disebutkan sulit ditetapkan karena adanya ketidakjelasan, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada mahar mitsil, dan ketidakjelasan itu benar-benar terjadi dan tetap dengan adanya sumpah.

ثم الذي ذهب إليه الأصحاب بأجمعهم أنا لا ننظر إلى المقدار الذي ادعته منسوباً إلى مهر المثل ولا نفرق بين أن يكون مثلَه أو أقلَّ أو أكثر

Kemudian, pendapat yang dipegang oleh seluruh para sahabat adalah bahwa kita tidak memandang jumlah yang dia klaim itu dibandingkan dengan mahar mitsil, dan kita tidak membedakan apakah jumlah itu sama, kurang, atau lebih dari mahar mitsil.

وحكى العراقيون بعد اختيارهم ما ذكرناه وجها بعيداً عن ابن خَيْران أنه كان يقول إن كان ما ادعته أقلَّ من مهر المثل فليس لها إلا ما ادعته مثل أن يقول الزوج نكحتك بخمسمائة وتقول الزوجة بل نكحتني بألف وكان مهر مثلها ألفاً وخمسمائة فالذي ذهب إليه الأصحاب أنا نوجب لها ألفاً وخمسمائة وقال ابن خَيْران ليس لها إلا الألفُ فإنها لم تدّع أكثر منه

Orang-orang Irak meriwayatkan, setelah mereka memilih pendapat yang telah kami sebutkan, sebuah pendapat yang jauh dari Ibn Khairan, bahwa ia berpendapat: jika apa yang diklaim oleh istri lebih sedikit dari mahar mitsil, maka ia hanya berhak atas apa yang ia klaim. Misalnya, suami berkata, “Aku menikahimu dengan lima ratus,” sedangkan istri berkata, “Bahkan, engkau menikahiku dengan seribu,” dan mahar mitsil untuknya adalah seribu lima ratus. Maka pendapat yang dipegang oleh para sahabat kami adalah kami mewajibkan baginya seribu lima ratus. Namun Ibn Khairan berkata, “Ia hanya berhak atas seribu, karena ia tidak mengklaim lebih dari itu.”

وهذا ضعيف مزيف فإنها ادعت الألف عن جهة التسمية وقد حكمنا بانقطاع التسمية ورددناها إلى مهر المثل عن جهة أخرى لم تدع منها شيئاً ثم يقال له إذا اختلف المتبايعان في مقدار الثمن فادعى البائع أكثر مما اعترف به المشتري ولكن كان ما ادعاه البائع أقل من قيمة المبيع فماذا تقول فإن قال يرجع البائع إلى قيمة المبيع التالف في يد المشتري فكيف يفرق بين هذا وبين ما ذكره في المهر وإن طرد خلافه في مسألة البيع كان على نهاية البعد

Ini adalah pendapat yang lemah dan rusak, karena ia mengklaim seribu (dirham) dari sisi penamaan, padahal kami telah memutuskan bahwa penamaan itu terputus dan kami kembalikan kepada mahar mitsil dari sisi lain yang tidak ia klaim sama sekali. Kemudian dikatakan kepadanya: Jika dua orang yang berjual beli berselisih tentang jumlah harga, lalu penjual mengklaim lebih banyak daripada yang diakui pembeli, tetapi klaim penjual itu lebih sedikit dari nilai barang yang dijual, maka apa pendapatmu? Jika ia berkata: Penjual dikembalikan kepada nilai barang yang rusak di tangan pembeli, maka bagaimana membedakan antara kasus ini dengan apa yang disebutkan dalam masalah mahar? Jika ia konsisten dengan pendapatnya dalam masalah jual beli, maka itu sangat jauh (dari kebenaran).

ثم قال ابن خَيْران إذا أصدق امرأته ألفاً ولم يختلفا فيه ولكن فسد الصداق بشرطٍ ولزم الرجوعُ إلى مهر المثل وكان الألف أقلَّ من مهر المثل فليس لها إلا الألف من جهة رضاها به كما ذكره في التحالف وهذا قول فاسد لم يرتضه أحد من الأصحاب

Kemudian Ibn Khairan berkata: Jika seseorang memberikan mahar seribu kepada istrinya dan keduanya tidak berselisih tentangnya, namun mahar tersebut rusak karena suatu syarat sehingga harus kembali kepada mahar mitsil, dan seribu itu lebih sedikit dari mahar mitsil, maka istrinya hanya berhak atas seribu karena ia telah rela menerimanya, sebagaimana disebutkan dalam masalah sumpah. Namun, pendapat ini adalah pendapat yang rusak dan tidak ada seorang pun dari para sahabat yang meridhainya.

ولو فرض الاختلاف بين الزوجين بعد ارتفاع النكاح فهو كما لو فرض في حالة قيام النكاح إذا كان المتداعي بالمهر قائماً وبيان ذلك أنه إذا طلقها بعد المسيس وما كان أقبضها المهر فاختلفا بعد البينونة يتحالفان والرجوعُ إلى مهر المثل

Jika terjadi perselisihan antara suami istri setelah berakhirnya akad nikah, maka hukumnya sama seperti jika terjadi perselisihan saat akad nikah masih berlangsung, selama pihak yang menuntut mahar masih ada. Penjelasannya adalah, apabila suami menceraikannya setelah terjadi hubungan suami istri dan ia belum menyerahkan mahar kepadanya, lalu mereka berselisih setelah terjadinya perpisahan, maka keduanya saling bersumpah, dan penyelesaiannya kembali kepada mahar mitsil.

وإذا كان الطلاق قبل المسيس فيتحالفان والرجوع إلى نصف مهر المثل

Jika talak terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri, maka keduanya saling bersumpah, dan kembali kepada setengah mahar mitsil.

وذكر الأصحاب صورة في الاختلاف نحكيها ونذكر ما فيها فإذا ادعت المرأة أن الزوج أصدقها ألفَ درهم وقال الزوج جرى النكاح خالياً عن ذكر المهر ولم يدّع التفويض وقد ذكرنا فى صورة التفويض وبيان ما ليس منها أن المرأة إذا لم تصرح بالرضا بترك المهر واتفق جريان العقد من الولي خالياً عن ذكر المهر فالرجوع إلى مهر المثل

Para ulama menyebutkan suatu kasus perbedaan pendapat yang akan kami ceritakan dan uraikan isinya: Jika seorang wanita mengklaim bahwa suaminya telah memberinya mahar seribu dirham, sedangkan suaminya mengatakan bahwa akad nikah berlangsung tanpa menyebutkan mahar dan ia tidak mengaku adanya tafwidh (penyerahan penentuan mahar kepada istri), maka sebagaimana telah kami jelaskan dalam kasus tafwidh dan penjelasan tentang apa yang bukan termasuk tafwidh, apabila wanita tidak secara tegas menyatakan ridha tanpa mahar dan akad dilakukan oleh wali tanpa menyebutkan mahar, maka yang menjadi acuan adalah mahar mitsil (mahar yang sepadan menurut kebiasaan).

فإذا تبين هذا فكأن الزوج ادعى مهر المثل وادعت المرأة ألفاً من جهة التسمية وإنما يحسن وقع هذه المسألة إذا كان الألف أكثرَ من مهر المثل قال القاضي يتحالفان وينزل هذا منزلةَ ما لو ادعت المرأة ألفاً وادعى الزوج ثمانمائة من جهة التسمية

Jika hal ini telah jelas, maka seolah-olah suami mengklaim mahar mitsil dan istri mengklaim seribu dari sisi penamaan. Permasalahan ini menjadi relevan jika seribu itu lebih besar dari mahar mitsil. Al-Qadhi berkata: Keduanya saling bersumpah, dan hal ini diposisikan seperti kasus ketika istri mengklaim seribu dan suami mengklaim delapan ratus dari sisi penamaan.

وهذه المسألة محتملة تردد فيها المحققون ووجه الاحتمال فيها يظهر بالتوجيه أما وجه ما ذكره القاضي فبيّنٌ فإن الزوج ادعى صيغةً في العقد متضمنها إثباتُ مهر المثل وهو دون ما ادعت المرأة هذا وجه ويجوز أن يقال هذا اختلافٌ راجع إلى النفي والإثبات فالمرأة ادعت التسمية والزوج أباها أصلاً فيتجه أن نقول القول قول النافي مع يمينه فإذا ثبت النفي ولم تحلف الزوجة رجعنا إلى مهر المثل وفائدة هذا ألا يجري التحالف من الجانبين

Masalah ini masih diperdebatkan dan para ahli telah berbeda pendapat mengenainya. Alasan kemungkinan perbedaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Adapun alasan yang dikemukakan oleh Qadhi adalah jelas, karena suami mengklaim adanya suatu lafaz dalam akad yang mengandung penetapan mahar mitsil, yang nilainya lebih rendah dari yang diklaim oleh istri. Ini adalah satu sisi. Bisa juga dikatakan bahwa perbedaan ini kembali pada masalah penafian dan penetapan; istri mengklaim adanya penamaan mahar, sedangkan suami sama sekali menafikannya. Maka, yang lebih tepat adalah pendapat yang menafikan dengan sumpahnya. Jika penafian telah terbukti dan istri tidak bersumpah, maka kita kembali kepada mahar mitsil. Manfaat dari hal ini adalah agar tidak terjadi saling bersumpah dari kedua belah pihak.

ثم قال الشافعي في تحالف الزوجين أبدأ في الزوج بالتحليف وقال في البيع أبدأ بجانب البائع والزوجُ في مقام المشتري فالنصان مختلفان والتصرف فيهما نقلاً وتخريجاً وفرقاً جرى مستقصى في باب التحالف من كتاب البيع

Kemudian asy-Syafi‘i berkata dalam kasus sumpah antara suami istri, aku memulai dengan menyuruh suami bersumpah, dan ia berkata dalam jual beli, aku memulai dari pihak penjual, sedangkan suami dalam posisi pembeli. Maka kedua nash tersebut berbeda, dan penetapan hukum pada keduanya, baik dalam periwayatan, penarikan hukum, maupun perbedaannya, telah dijelaskan secara rinci dalam bab tahaluf dari Kitab al-Buyu‘.

ولو اختلف الزوجان بعد انفساخ النكاح بسبب يقتضي ارتداد جملة الصداق فلا يتصور التحالف فإن فائدة التحالف التنازع في مقدارٍ من المهر وقد ارتد كله وهذا إذا تفاسخا وما كان أقبضها الزوج الصداق

Jika suami istri berselisih setelah terputusnya akad nikah karena sebab yang mengharuskan kembalinya seluruh mahar, maka tidak terbayangkan adanya sumpah saling menegaskan (tahāluf), karena manfaat tahāluf adalah adanya perselisihan mengenai jumlah mahar, sedangkan seluruh mahar telah kembali. Ini berlaku jika keduanya saling membatalkan akad, dan mahar yang telah diterima istri dari suami.

فلو تنازعا في المقدار فقال الزوج أصدقتك ألفين وسقتهما إليك فردَدتِ ألفاً لمّا انفسخ النكاح قبل المسيس وقالت المرأة ما أصدقتني إلا ألفاً فقبضتُه ورددتُه فهذا ليس من الاختلاف الذي نحن فيه فإن الاختلاف بين الزوجين إنما يفضي إلى التحالف إذا كنا نرجع إلى مهر المثل ونترك التسمية وهذا المعنى لا يتحقق في هذه المسألة وقد سبق انفساخ النكاح وحاصل قول الزوج يرجع إلى إقباضها ألفين وهي تنكره فالقول قولها ولو كان الاختلاف على هذا الوجه مذكوراً في النكاح لما كان اختلافاً يوجب التحالف فإن الزوج ادّعى إلزام أكثر مما تدعيه المرأة

Jika keduanya berselisih tentang jumlah mahar, lalu suami berkata, “Aku telah memberimu dua ribu dan telah menyerahkannya kepadamu, kemudian engkau mengembalikan seribu ketika pernikahan batal sebelum terjadi hubungan suami istri,” sedangkan istri berkata, “Engkau hanya memberiku seribu, aku telah menerimanya dan mengembalikannya,” maka ini bukan termasuk perselisihan yang sedang kita bahas. Sebab, perselisihan antara suami istri hanya mengakibatkan sumpah (tahalluf) jika kita kembali kepada mahar mitsil dan meninggalkan penamaan mahar, dan makna ini tidak terwujud dalam masalah ini, karena pernikahan sudah lebih dulu batal. Inti dari ucapan suami adalah bahwa ia telah menyerahkan dua ribu kepadanya, sedangkan istri mengingkarinya, maka yang dipegang adalah ucapan istri. Seandainya perselisihan seperti ini disebutkan dalam masalah pernikahan, maka itu bukanlah perselisihan yang mewajibkan sumpah, karena suami mengklaim adanya kewajiban lebih banyak daripada yang diklaim oleh istri.

هذا بيان القول في التحالف

Ini adalah penjelasan mengenai pendapat tentang tahāluf.

فصل قال وهكذا الزوج وأبو الصبية البكر إلى آخره

Bagian: Ia berkata, demikian pula suami dan ayah dari seorang gadis perawan, dan seterusnya.

ذكر الشافعي اختلاف الزوجين وتحالفهما ثم عطف عليه اختلاف الزوج مع أبي الصبية فاقتضى ترتيبُ الكلام تنزيلَ الأب مع الزوج منزلةَ الزوجة مع الزوج في التحالف وموجبَ ذلك تحليفُ الأب فنذكر ترتيب المذهب وطريق الأصحاب ثم نرجع إلى السواد

Asy-Syafi‘i menyebutkan perbedaan pendapat antara suami istri dan saling bersumpahnya keduanya, kemudian beliau menyambungkannya dengan perbedaan pendapat antara suami dan ayah si gadis kecil, sehingga urutan pembahasan menunjukkan bahwa ayah diposisikan seperti istri terhadap suami dalam hal saling bersumpah, dan konsekuensinya adalah ayah juga disumpah. Maka kami akan menyebutkan urutan mazhab dan metode para sahabat (ulama), kemudian kami akan kembali ke pembahasan utama.

فمن أصحابنا من ذكر وجهين في أن الأب هل يحلف عن طفله الموليِّ عليه فيما يتعلق بتصرف الولاية

Di antara ulama mazhab kami, ada yang menyebutkan dua pendapat mengenai apakah ayah boleh bersumpah atas nama anak kecil yang berada dalam perwaliannya dalam hal-hal yang berkaitan dengan tindakan wali.

ثم حاصل ما ذكره الأئمة ينحصر في مسلكين أحدهما طرْد الوجهين في كل ما يتعلق بحظ الطفل ويندرج تحت ولاية الولي من غير فرق بين أن تكون الخصومة متعلقة بتصرف أنشأه الولي وبين ألاّ تكون كذلك

Kemudian, inti dari apa yang disebutkan oleh para imam terbatas pada dua metode: salah satunya adalah menerapkan kedua sisi pada segala hal yang berkaitan dengan kepentingan anak dan termasuk dalam wilayah kekuasaan wali, tanpa membedakan apakah perselisihan itu berkaitan dengan tindakan yang dilakukan oleh wali atau tidak.

وبيان القسمين أن من أتلف مالاً من أموال الطفل ثم أنكر فللولي أن يحلّفه إن لم يجد بيِّنةً فإن نكل عن اليمين ففي رد اليمين على الأب وجهان وكذلك القول في كل ما يضاهي ذلك

Penjelasan mengenai kedua bagian tersebut adalah bahwa siapa pun yang merusak harta anak kecil kemudian mengingkarinya, maka wali anak tersebut berhak meminta orang itu bersumpah jika tidak ada bukti. Jika orang itu menolak bersumpah, maka mengenai pengalihan sumpah kepada ayah terdapat dua pendapat. Demikian pula halnya dalam setiap kasus yang serupa dengan itu.

وسبب طَرْد الخلاف يتبين بالتوجيه فمن أبى ذلك احتج بأن الأيْمان لا يتطرق إليها إمكان النيابة وسبب ذلك أن الحالف متعرض للحِنث والمأثم لو كذب ولا يليق بمناصب النيابة قيامُ الغير مقام الغير في التعرض للحرج بل حكمة الشرع في اختصاص صاحب الواقعة بهذا المأثم وهذا في مسلكه يضاهي العبادات البدنية فإنها امتحان الأبدان بالمشاق حتى تتهذب وتتعرض لثوابها ولهذا لم يُحلَّف الوكيل بالخصومة وإذا انتهت الخصومة إلى توجيه اليمين عليه رُد الأمر إلى تحليف الموكِّل

Penyebab berlanjutnya perbedaan pendapat dapat dipahami melalui penjelasan berikut: siapa yang menolak hal itu beralasan bahwa sumpah tidak dapat diwakilkan, dan sebabnya adalah karena orang yang bersumpah berpotensi melanggar sumpah dan berdosa jika berbohong. Tidaklah pantas dalam posisi perwakilan, seseorang menggantikan orang lain dalam menghadapi kesulitan seperti ini. Justru, hikmah syariat adalah agar dosa tersebut khusus bagi pelaku peristiwa itu sendiri. Dalam hal ini, keadaannya mirip dengan ibadah-ibadah badaniyah, karena ibadah tersebut merupakan ujian bagi tubuh dengan berbagai kesulitan agar dapat terlatih dan memperoleh pahala. Oleh karena itu, seorang wakil dalam perkara hukum tidak diminta bersumpah, dan jika perkara hukum itu sampai pada tahap sumpah, maka urusan dikembalikan kepada pemberi kuasa untuk bersumpah.

ومن جوّز للأب أن يحلف احتج بأنه في تصرفه مستبدٌّ غيرُ مستناب فهو في حكم المالك المتصرف في حكم نفسه وهذا فيه بعد فإن الأب مستناب شرعاً وإن كانت استنابته لا تتعلق بإذنٍ من آذن وإذا كان يتصرف لغيره فقد اتجه الفقه الذي ذكرناه في منع الحلف

Dan siapa yang membolehkan ayah untuk bersumpah beralasan bahwa dalam tindakannya, ayah adalah orang yang mandiri, bukan wakil, sehingga ia dalam posisi seperti pemilik yang bertindak atas dirinya sendiri. Namun, pendapat ini lemah, karena ayah sebenarnya adalah wakil secara syar‘i, meskipun kewakilannya tidak bergantung pada izin dari pihak yang memberi izin. Dan jika ia bertindak atas nama orang lain, maka pendapat fiqh yang telah kami sebutkan tentang larangan bersumpah menjadi relevan.

التفريع على الوجهين

Pengembangan hukum berdasarkan dua pendapat.

إن حكمنا بأن الأب لا يحلف وهو القياس فالوجه وقف الخصومة إلى أن يبلغ الصبي فيتعرضَ لليمين حينئذ وكان شيخي يقول على هذا لا معنى لعرض اليمين على الخصم فإن منتهى الخصومة قد يفضي إلى نكوله ثم لا يُقضَى بنكوله وذهب كثير من أئمتنا إلى أنه يحلّف الخصم فإنه إذا رغب في اليمين فلا امتناع في القضاء بيمينِ مَنْ خصمُه طفل وإنما الامتناع في تحليفِ أو في إنابةِ غيره منابه وهذا هو الذي لا يجوز غيره

Jika kita memutuskan bahwa ayah tidak disumpah, dan ini adalah berdasarkan qiyās, maka yang tepat adalah menangguhkan perselisihan hingga anak kecil tersebut dewasa, lalu ia dapat diminta bersumpah saat itu. Guru saya berkata, dalam hal ini tidak ada gunanya menawarkan sumpah kepada pihak lawan, karena akhir dari perselisihan bisa saja berujung pada penolakannya untuk bersumpah, namun tidak dapat diputuskan berdasarkan penolakannya itu. Banyak dari ulama kami berpendapat bahwa pihak lawan boleh disumpah, karena jika ia bersedia bersumpah, tidak ada halangan untuk memutuskan perkara dengan sumpah terhadap lawan yang masih anak-anak. Yang tidak diperbolehkan hanyalah menyuruh orang lain bersumpah menggantikan anak tersebut atau mewakilkannya, dan inilah yang tidak boleh dilakukan selainnya.

فإن حلف فذاك وإن نكل عن اليمين توقفنا حينئذ

Jika ia bersumpah, maka itu sudah cukup, dan jika ia enggan bersumpah, maka saat itu kita menahan diri (tidak memutuskan).

وإن قلنا يحلف الأب فإن نكل الخصم رددنا اليمين على الأب فإن حلف ثبت حق الطفل وإن نكل ففي المسألة وجهان أصحهما أنا نقف الأمر إلى أن يبلغ الصبي ولعله يحلف ثم إن حلف استحق

Dan jika kita mengatakan bahwa ayah bersumpah, maka jika lawan menolak bersumpah, kita kembalikan sumpah kepada ayah. Jika ayah bersumpah, maka hak anak menjadi tetap. Namun jika ayah menolak bersumpah, dalam masalah ini terdapat dua pendapat, yang paling sahih adalah kita menunda perkara ini sampai anak tersebut baligh, barangkali ia mau bersumpah. Jika kemudian ia bersumpah, maka ia berhak.

ومنهم من قال تنفصل الخصومة بنكول الأب عن يمين الرد فإنا لم نقمه في مقام الحالفين إلا على تقدير تنزيله منزلةَ من هو صاحب الواقعة حتى كأنه المالك وإليه الانتهاء ولهذا نظير من طريق اللفظ وهو أن الوارث إذا لم يحلف مع الشاهد الواحد في ادعاء دَيْنٍ أو عينٍ للمتوفى فلو كان للميت غريم فأراد أن يحلف إذا نكل الوارث ففيه قولان وترتيبٌ سيأتي مستقصى في كتاب القسامة إن شاء الله عز وجل

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa sengketa berakhir dengan penolakan ayah untuk bersumpah sebagai tanggapan, karena kami tidak menempatkannya pada posisi orang-orang yang bersumpah kecuali dengan anggapan bahwa ia diposisikan seperti orang yang memiliki perkara itu, seolah-olah ia adalah pemiliknya dan perkara itu berakhir padanya. Ada pula analogi dari segi lafaz, yaitu jika ahli waris tidak bersumpah bersama satu orang saksi dalam pengakuan utang atau barang milik si mayit, lalu jika si mayit memiliki orang yang berutang kepadanya dan orang itu ingin bersumpah ketika ahli waris menolak, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat dan urutan yang akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab Qasāmah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولكن ليس ما نحن فيه مثلَ ما أردناه فإن الوارث مالك التركة على الحقيقة فلا يمتنع أن يؤثر نكولُه والغريم له حق التعلّق بالتركة لو ثبتت وفي مسألتنا الملك على الحقيقة للطفل

Namun, apa yang sedang kita bahas ini tidaklah sama dengan apa yang kita maksudkan, karena ahli waris benar-benar memiliki harta warisan secara hakiki, sehingga tidak mustahil jika penolakannya berpengaruh, dan kreditur memiliki hak untuk mengaitkan (piutangnya) dengan harta warisan jika memang terbukti. Adapun dalam permasalahan kita, kepemilikan secara hakiki adalah milik anak kecil.

فإن قيل كيف يجري تحليف الأب لطفله وشهادته له مردودة قلنا اليمين لا تؤخذ من مأخذ الشهادة فإن الإنسان لا يشهد لنفسه ويحلف فيما يتعلق به جلْباً ودفعاً وهذا كله بيان طريقة واحدة

Jika dikatakan, bagaimana mungkin ayah disuruh bersumpah untuk anaknya padahal kesaksiannya untuk anaknya sendiri ditolak? Kami jawab, sumpah tidak diambil dari sisi kesaksian, karena seseorang tidak boleh bersaksi untuk dirinya sendiri, namun ia boleh bersumpah dalam perkara yang berkaitan dengannya, baik untuk memperoleh sesuatu maupun menolak sesuatu. Semua ini merupakan penjelasan dari satu metode saja.

ومن أصحابنا من قال إن كانت الخصومة متعلقةً بشيء ما أنشأه الوليُّ فلا يحلف فيه الولي أصلاً وإن تعلق بما أنشاه الولي ففي تحليفه وجهان

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat, jika perselisihan berkaitan dengan sesuatu yang tidak dibuat oleh wali, maka wali sama sekali tidak disumpah. Namun jika berkaitan dengan sesuatu yang dibuat oleh wali, maka dalam hal disumpahnya wali terdapat dua pendapat.

وهذا بمثابة ما لو باع الولي مال الطفل أو زوّج الصغيرة ثم وقع النزاع في صفة العقد فيجري الخلاف في ذلك فإن العقد وإن كان متعلقاً بحق الطفل فمتعلق الدعوى من الأب أنه قيل له عقدت على الوجه المخصوص وهذا صادر منه فترتبط الخصومة به من هذا الوجه فينفي أو يثبت ويتجه التحليف في هذا المقام

Ini serupa dengan kasus ketika wali menjual harta anak atau menikahkan anak perempuan yang masih kecil, kemudian terjadi perselisihan mengenai sifat akadnya. Maka, dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat, sebab meskipun akad tersebut berkaitan dengan hak anak, namun inti dari gugatan adalah bahwa kepada ayah dikatakan: “Engkau telah melakukan akad dengan cara tertentu,” dan hal ini berasal darinya. Maka, perselisihan pun terkait dengannya dari sisi ini, sehingga ia dapat menolak atau membenarkan, dan sumpah dapat diarahkan dalam situasi ini.

وقد ذهب كثير من الأئمة أئمة العراق إلى القطع بأنه يحلف ومجرى التحالف بينه وبين الخصم فيما يتعلق بإنشاء الولي ولم يذكروا في ذلك خلافاً ووجه الطريقة أن الأب لو أقر بعقدٍ عقده في استمرار الولاية قُبِل إقرارُه وإذا كان مقبول الإقرار لم يبعد أن يُحلَّف فإن الحلف على الإنكار حريٌّ بالقبول ممن يُقبل منه الإقرار

Banyak imam, khususnya para imam Irak, berpendapat tegas bahwa wali harus bersumpah, dan proses saling bersumpah antara wali dan pihak lawan berlaku dalam hal yang berkaitan dengan akad yang dibuat oleh wali. Mereka tidak menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Penjelasan metodenya adalah, jika seorang ayah mengakui akad yang ia lakukan selama masa kewaliannya, maka pengakuannya diterima. Jika pengakuannya diterima, maka tidaklah jauh kemungkinan ia juga diminta bersumpah, karena sumpah atas penolakan lebih layak diterima dari orang yang diterima pula pengakuannya.

ثم هؤلاء طردوا الطريقة في القيّم والوصيّ والوكيلِ بالعقد فإن كل واحد من هؤلاء لو أقر بأنه أنشأ العقد قُبِل إقراره إذا كان إقراره في وقتٍ لو أنشأ ما أقرّ به نفذ وقد ذكرنا أن الإنكار يعاقب الإقرار

Kemudian mereka menerapkan metode ini pada pengelola, washi, dan wakil dalam akad. Maka, setiap orang dari mereka, jika mengakui bahwa ia telah melakukan akad, pengakuannya diterima apabila pengakuan itu dilakukan pada waktu yang seandainya ia melakukan apa yang diakuinya, maka akad tersebut sah. Dan telah kami sebutkan bahwa pengingkaran dapat dibatalkan oleh pengakuan.

فإذا كان من أهل الإقرار وجب أن يكون إقراره ثابتاً حتى يتعلق به ما يتعلق بالإنكار الصحيح

Jika seseorang termasuk golongan yang sah melakukan pengakuan, maka pengakuannya harus tetap (diakui keabsahannya) sehingga dapat diberlakukan padanya hukum-hukum yang berlaku pada pengingkaran yang sah.

والوكيل بالخصومة لا يحلف من جهة أنه لو حلف لكانت يمينه راجعة إلى حق غيره وليس يُثبت أو ينفي شيئاً مضافاً إلى إنشائه ولو تعلقت الدعوى بالوكيل فيما هو مطالب به بالعهدة فلا شك أنه يحلف من جهة أنه فيما يطالَب به مجيب عما يتعلق بخاصته

Wakil dalam perkara tidak disumpah karena jika ia disumpah, sumpahnya akan kembali kepada hak orang lain, dan ia tidak menetapkan atau meniadakan sesuatu yang berkaitan dengan perbuatannya sendiri. Namun, jika gugatan ditujukan kepada wakil dalam hal yang ia sendiri bertanggung jawab atasnya berdasarkan perjanjian, maka tidak diragukan lagi bahwa ia disumpah karena dalam hal yang ia dituntut, ia bertanggung jawab atas apa yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

فاعتماد هؤلاء في هذه الطريقة على ما ذكرناه من رجوع النزاع إلى ما ينشئه الولي واعتماد الأولين في الطريقة الأولى على ما يتعلق بتصرف الولي واستبداده

Maka, sandaran mereka dalam metode ini adalah pada apa yang telah kami sebutkan, yaitu kembalinya perselisihan kepada apa yang ditetapkan oleh wali, sedangkan sandaran kelompok pertama dalam metode pertama adalah pada hal-hal yang berkaitan dengan tindakan wali dan kekuasaannya secara mandiri.

والطريقتان متباينتان

Kedua metode tersebut berbeda.

وذكر شيخي أخرى وهي أن الأبَ لا يُحلّف في شيء مما يتعلق بحق طفله ولا فرق بين ما ينشئه الأب وبين ما لا يتعلق بإنشائه

Syekh saya juga menyebutkan hal lain, yaitu bahwa ayah tidak disumpah dalam perkara apa pun yang berkaitan dengan hak anaknya, dan tidak ada perbedaan antara perkara yang diciptakan oleh ayah maupun yang tidak berkaitan dengan penciptaannya.

وإنما تردد الأصحاب في تحليفه في النكاح خاصة واختلافهم مبنيٌّ على أنه هل يملك إسقاطَ المهر والعفو عنه فإن قلنا إنه يملك العفوَ فاليمين معروضة عليه فإنه على رتبة المالكين و إن لم ننفّذ عفوه فلا نحلفه هذا بيان طرق الأصحاب

Para ulama berbeda pendapat mengenai pensumpahan dalam masalah pernikahan secara khusus, dan perbedaan mereka didasarkan pada apakah suami berhak menggugurkan mahar dan memaafkannya. Jika kita mengatakan bahwa ia berhak memaafkan, maka sumpah itu diarahkan kepadanya, karena ia berada pada kedudukan orang-orang yang memiliki hak. Namun jika kita tidak mengesahkan pemaafannya, maka kita tidak menyumpahkannya. Inilah penjelasan metode para ulama.

ثم إن قلنا الأب لا يحلف فيما له الإنشاء فيه فيقف الأمر حتى تبلغ الصبية ثم نُدير النزاع بينها وبين الزوج ونفرض الكلام في التنازع في مقدار المهر فإذا قال الزوج نكحتك بألف والزوجة تزعم أن أباها زوّجها بألفين فالتحالف يجري الآية بين الزوج والزوجة ثم المرأة تحلف يميناً تشتمل على الجزم ونفي العلم إذا رأينا الاقتصار على يمين واحدة كما تقدم تفصيل ذلك في كتاب البيع فتحلف إذاً بالله لا تعلم أن أباها زوّجها بألف ولقد زوّجها بألفين ثم يمين نفي العلم إنما تتوجه إذا ادّعى العلم عليها

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa ayah tidak bersumpah dalam perkara yang ia memiliki hak untuk melakukan akad, maka perkara tersebut ditangguhkan hingga si perempuan mencapai usia baligh, lalu perselisihan dialihkan antara dia dan suaminya. Kita misalkan permasalahan pada perselisihan mengenai jumlah mahar. Jika suami berkata, “Aku menikahimu dengan mahar seribu,” sedangkan istri mengklaim bahwa ayahnya menikahkannya dengan mahar dua ribu, maka saling bersumpah (tahāluf) terjadi antara suami dan istri. Kemudian, perempuan bersumpah dengan sumpah yang mencakup penegasan dan penafian pengetahuan, jika kita memandang cukup dengan satu sumpah saja, sebagaimana telah dirinci sebelumnya dalam Kitab al-Bay‘. Maka, ia bersumpah dengan mengatakan, “Demi Allah, aku tidak tahu bahwa ayahku menikahkanku dengan mahar seribu, sungguh ia menikahkanku dengan mahar dua ribu.” Adapun sumpah penafian pengetahuan hanya berlaku jika ada tuduhan bahwa ia mengetahui.

ولو مات الزوج والزوجة ووقع الاختلاف بين ورثة الزوجين بعد موتهما أو وقع الاختلاف بين ورثة أحدهما مع الآخر فالتحالف يجري على الصورة التي ذكرناها بين الزوج والزوجة فوارث الزوج يحلف لقد نكحها بألف ولا أعلم أنه نكحها بألفين ووارث المرأة يحلف لقد نكحتْه بألفين ولا أعلمها رضيت بألف فقد اشتمل حلف كل واحد منهما على إثبات أمر من الغير ونفي أمر منه

Jika suami dan istri meninggal dunia, lalu terjadi perselisihan antara para ahli waris keduanya setelah kematian mereka, atau terjadi perselisihan antara ahli waris salah satu dari keduanya dengan ahli waris yang lain, maka sumpah dilakukan sebagaimana yang telah kami sebutkan antara suami dan istri. Maka ahli waris suami bersumpah: “Sungguh, ia menikahinya dengan mahar seribu dan aku tidak mengetahui bahwa ia menikahinya dengan dua ribu.” Dan ahli waris istri bersumpah: “Sungguh, ia menikah dengannya dengan mahar dua ribu dan aku tidak mengetahui bahwa ia rela dengan seribu.” Maka sumpah masing-masing dari mereka mencakup penetapan suatu perkara dari pihak lain dan penafian suatu perkara dari pihaknya sendiri.

والقاعدة التي إليها الرجوع في أمثال هذا وعليها تدور المسائل أن كل يمين كان مقصودها الإثبات فهي على البتّ سواء أثبت الحالف من نفسه أو أثبت من غيره واليمين على النفي تتفرّع فإن تضمنت نفيَ شيء من الحالف فهي على البت وإن تضمنت نفيَ أمر من الغير فهي على العلم

Kaidah yang menjadi rujukan dalam masalah-masalah seperti ini dan yang menjadi poros pembahasan adalah bahwa setiap sumpah yang tujuannya untuk penetapan, maka hukumnya pasti, baik orang yang bersumpah menetapkan sesuatu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Adapun sumpah untuk penafian, maka terbagi: jika mengandung penafian sesuatu dari orang yang bersumpah, maka hukumnya pasti; namun jika mengandung penafian perkara dari orang lain, maka hukumnya berdasarkan pengetahuan.

والسبب الكلي فيه أن الإثبات لا يعسر الاطلاع عليه سواء كان من الحالف أو من غيره ولا يعسر الاطلاع على النفي الراجع على الحالف فإن الإنسان يعلم ما ينفي عنه كما يعلم ما يُثبت في حقه فأما النفي عن الغير فالاطلاع عليه بعيد والالتزام من غير ثَبَت لا وجه له

Penyebab umumnya adalah bahwa pembuktian tidak sulit untuk diketahui, baik berasal dari pihak yang bersumpah maupun dari selainnya, dan tidak sulit pula mengetahui penafian yang kembali kepada pihak yang bersumpah, karena seseorang mengetahui apa yang ia nafikan dari dirinya sebagaimana ia mengetahui apa yang ia tetapkan untuk dirinya. Adapun penafian terhadap orang lain, maka mengetahuinya sangatlah sulit, dan menerima suatu penafian tanpa adanya bukti tidaklah memiliki dasar.

وإذا حصلت اليمين على نفي العلم ووقع الاكتفاء بها في قطع الخصومة فإن هذا غاية الوسع والإمكان وللخصومات وقفات في بعض الأطراف دون اليقين المطلوب في غيرها ولكن إذا اضطررنا اكتفينا باستفراغ الوسع

Jika sumpah telah dilakukan untuk menafikan pengetahuan dan hal itu dianggap cukup untuk mengakhiri perselisihan, maka ini adalah batas maksimal kemampuan dan kemungkinan. Dalam perkara-perkara perselisihan, terkadang ada titik-titik berhenti pada sebagian sisi tanpa mencapai keyakinan yang diharapkan pada sisi lainnya. Namun, jika kita terpaksa, maka kita cukup dengan mengerahkan segala kemampuan.

وعلى هذا لو ادعى رجل ديناً على الميت والوارث ابنه فالقول قول الوارث يحلف على نفي العلم لا يعلم أباه أتلف ما ادعاه أو استقرضَ على حسب اتفاق الدعوى في تعيين هذه الجهات فيكتفى منه بالحلف على نفي العلم وإن نكل ردت اليمين على المدّعي يحلف على البت بأنه متلف

Oleh karena itu, jika seseorang menuntut adanya utang kepada orang yang telah meninggal dunia dan ahli warisnya adalah anaknya, maka pernyataan ahli waris diterima dengan ia bersumpah atas dasar tidak mengetahui, yaitu ia tidak mengetahui apakah ayahnya telah membelanjakan apa yang dituntut itu atau meminjamnya, sesuai dengan kesesuaian tuntutan dalam penetapan hal-hal tersebut. Maka cukup baginya bersumpah atas dasar tidak mengetahui. Jika ia enggan bersumpah, maka sumpah dialihkan kepada penuntut, yang bersumpah secara pasti bahwa harta tersebut telah dibelanjakan.

ولست أضمن الآن تفصيل ذلك وتحصيلَ ما فيه فإنه من أقطاب الدعاوى وسننتهي إليها فنشرحها إن شاء الله عز وجل

Saat ini saya belum dapat merinci hal itu dan memperoleh apa yang ada di dalamnya, karena hal tersebut merupakan pokok-pokok utama dari berbagai klaim, dan kita akan sampai padanya lalu menjelaskannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإن قال قائل كيف يتحالف ورثة الزوجين وقد انتهى النكاح نهايته قلنا أثر التحالف يظهر في الصداق وما ينتهي نهايته فإنه في حكم عقدٍ منقطعٍ عن عقد النكاح وتتصور فيه الردود بجهاتها بعد الموت

Jika ada yang bertanya, bagaimana para ahli waris suami istri dapat saling bersumpah padahal pernikahan telah benar-benar berakhir, kami katakan bahwa dampak saling bersumpah itu tampak pada mahar dan segala sesuatu yang berakhir bersamaan dengan berakhirnya pernikahan, karena hal itu dianggap sebagai akad yang terpisah dari akad nikah, dan kemungkinan adanya pengembalian dari berbagai pihak tetap dapat dibayangkan setelah kematian.

فإذا نجز بيان المذهب عدنا بعد ذلك إلى الكلام على النص ظاهر ما قاله الشافعي أن أب الصبية يحلف كما تحلف الزوجة إذا استقلّت والخلافُ مفروض في مقدار الصداق وذلك أنه رضي الله عنه ذكر اختلاف الزوجين وتحالفهما ثم قال وهكذا الزوج وأبو الصبية فمن قال نُحلّف الأبَ استمسك بظاهر النص ومن قال لا نحلّف قال لم يعطف أبَ الصبية على الزوجة المستقلة لنحلفه وإنما عطف ليبين أن الاختلاف ممكن ويتعلق به إقامة البينة كما تُصوِّر ذلك في الزوجين

Setelah penjelasan mazhab selesai, kita kembali membahas tentang nash. Secara lahiriah, pendapat yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i adalah bahwa ayah dari seorang gadis (yang belum dewasa) bersumpah sebagaimana istri bersumpah jika ia sudah mandiri, dan perbedaan pendapat ini terjadi dalam hal besaran mahar. Hal ini karena beliau—semoga Allah meridhainya—menyebutkan adanya perbedaan antara suami istri dan keduanya saling bersumpah, kemudian beliau berkata: demikian pula suami dan ayah dari gadis tersebut. Maka, siapa yang berpendapat bahwa ayah harus disumpah, ia berpegang pada lahiriah nash. Sedangkan yang berpendapat ayah tidak perlu disumpah mengatakan bahwa Imam Syafi’i tidak menyamakan ayah gadis dengan istri yang mandiri sehingga harus disumpah, melainkan hanya menyebutkan untuk menjelaskan bahwa perbedaan pendapat itu mungkin terjadi dan terkait dengan pembuktian melalui saksi, sebagaimana hal itu dapat dibayangkan pada kasus suami istri.

فصل قال فالقول قول المرأة ما قبضت مهرها إلى آخره

Bagian: Ia berkata, maka yang dipegang adalah perkataan perempuan mengenai apakah ia telah menerima maharnya atau belum, dan seterusnya.

إذا اختلف الزوجان في أصل القبض فقال الزوج أقبضتكِ وأنكرت المرأة فالقول قولها فإن الأصل عدم القبض ودوام إشغال الذمة بالمهر فإن اتفقا على القبض واختلفا في صفته فقالت المرأة دفعتَ ما دفعتَ هديةً ومنحةً وقال الزوج بل سلّمتُه مهراً فالقول قول الزوج مع يمينه

Jika suami istri berselisih tentang pokok penyerahan (mahar), lalu suami berkata, “Aku telah menyerahkannya kepadamu,” sedangkan istri mengingkarinya, maka yang dipegang adalah perkataan istri, karena asalnya adalah belum terjadi penyerahan dan tanggungan mahar masih tetap ada. Jika keduanya sepakat bahwa penyerahan telah terjadi namun berselisih tentang sifatnya, misalnya istri berkata, “Apa yang engkau berikan itu adalah hadiah dan pemberian,” sedangkan suami berkata, “Aku memberikannya sebagai mahar,” maka yang dipegang adalah perkataan suami dengan sumpahnya.

وهذا الأصل مطّرد في كل موضع يقع الاختلاف فيه في جهة القبض والرجوع فيه إلى الدافع إذ الغرض في ذلك يختلف بالقصد ولا اطلاع على القصد إلا من جهة القاصد وقد ذكرنا هذا وما يتعلق به في المعاملات وأوضحنا مثل هذا الاختلاف في دَيْنين وقد اتفق أداء شيء وثار النزاع في أنه مقبوض من أية جهة وبيّنا القولَ فيه إذا قال الدافع لم أقصد شيئاً

Prinsip ini berlaku secara konsisten dalam setiap kasus yang terjadi perbedaan pendapat mengenai cara penyerahan (qabḍ) dan pengembaliannya dikembalikan kepada pihak yang memberikan, karena tujuan dalam hal ini berbeda-beda sesuai dengan niat, dan tidak ada yang mengetahui niat kecuali dari pihak yang berniat. Kami telah menjelaskan hal ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya dalam bab mu‘āmalāt, serta telah kami perjelas perbedaan seperti ini dalam dua utang, ketika terjadi pelunasan suatu hal dan kemudian timbul perselisihan mengenai dari sisi mana hal itu dianggap telah diterima, dan kami telah menjelaskan pendapat dalam hal ini apabila pihak yang memberikan mengatakan, “Saya tidak meniatkan apa pun.”

ومما يتعلق بما نحن فيه الكلامُ في أن الأب هل يقبض مهر ابنته فنقول إن كانت صغيرة قبض الأب مهرها فإنّ قبضَ المهر تصرّفٌ في مالٍ وهي مولّىً عليها من جهة أبيها فعلى هذا لو كانت الصغيرة ثيباً فالأب يقبض مهرها فإن الثيابة لا تؤثر في ولاية المال وإنما تؤثر في ولاية النكاح وقد ذكرنا أن الأب يزوّج ابنته البالغةَ البكرَ إجباراً فلو كانت سفيهة قبض مهرها أيضاً فإن الحجر مطرد مع السفه على المال

Terkait dengan pembahasan kita, ada persoalan tentang apakah ayah berhak menerima mahar putrinya. Kami katakan, jika putrinya masih kecil, maka ayah berhak menerima maharnya, karena menerima mahar adalah tindakan terhadap harta, sedangkan anak perempuan tersebut berada di bawah perwalian ayahnya dalam urusan harta. Berdasarkan hal ini, jika anak perempuan yang masih kecil itu sudah pernah menikah (janda), maka ayah tetap berhak menerima maharnya, karena status janda tidak berpengaruh pada perwalian harta, melainkan hanya berpengaruh pada perwalian nikah. Telah kami sebutkan bahwa ayah boleh menikahkan putrinya yang masih perawan dan sudah baligh secara paksa. Jika putrinya bodoh dalam mengelola harta (safīhah), maka ayah juga berhak menerima maharnya, karena status tidak cakap (hajr) akibat kebodohan dalam mengelola harta berlaku dalam urusan harta.

فأما إذا كانت رشيدة فهل يقبض الأب مهرها فيه طريقان من أصحابنا من

Adapun jika ia telah baligh dan berakal (rashidah), maka apakah ayahnya berhak menerima maharnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat di kalangan para ulama kami.

قال في المسألة قولان أحدهما أنه يقبض مهرها كما يجبرها على النكاح

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ia berhak menerima maharnya sebagaimana ia dapat dipaksa untuk menikah.

فعلى هذا يكون الصداق مستثنًى عن سائر أموالها لمكان اتصاله له بما هي مجبرة

Dengan demikian, mahar dikecualikan dari seluruh harta lainnya karena adanya keterkaitan khusus dengannya yang membuatnya bersifat wajib.

فيه

Di dalamnya.

والقول الثاني وهو الأصح أنه لا يقبض مهرها لما أظهرناه من أن هذا تصرفٌ في المال والأب لا يلي مال الرشيدة البالغة وهذان القولان بناهما المحققون على القولين في أن الأب هل يملك الإبراء عن صداق البكر البالغة وفيه اختلاف سيأتي مرتباً في بابٍ بعد هذا إن شاء الله عز وجل فهذه طريقة

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang lebih shahih, adalah bahwa ia tidak berhak menerima maharnya, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa ini merupakan tindakan terhadap harta, sedangkan ayah tidak berwenang atas harta perempuan dewasa yang sudah baligh. Kedua pendapat ini dibangun oleh para muhaqqiq berdasarkan dua pendapat dalam masalah apakah ayah memiliki hak untuk membebaskan mahar perempuan perawan yang sudah baligh, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan secara berurutan pada bab setelah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah metodenya.

ومن أصحابنا من قال لا يملك قبض صداقها وجهاً واحداً من غير إذنها كما لو كانت ثيّباً وهذا هو القياس ثم إن قلنا لا بد من إذنها فلا يكفي العرْضُ عليها مع سكوتها ولا اكتفاء بصُماتها وإن قلنا قد يكتفى بصمات البكر إذا كان زوّجها من لا يجبرها كالأخ وغيره

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa ia tidak berhak menerima mahar istrinya sama sekali tanpa izinnya, sebagaimana jika ia adalah seorang janda, dan inilah yang sesuai dengan qiyās. Kemudian, jika kami katakan bahwa harus ada izinnya, maka tidak cukup hanya dengan menawarkan kepadanya lalu ia diam, dan tidak cukup pula dengan diamnya. Namun, jika kami katakan bahwa diamnya seorang gadis bisa dianggap cukup, itu berlaku jika yang menikahkannya adalah wali yang tidak berhak memaksanya, seperti saudara laki-laki dan selainnya.

فصل

Bab

يجمع قواعدَ في تداعي الزوجين واختلافهما وعلى الناظر صرفُ الاهتمام إلى دَرْكه

Menghimpun kaidah-kaidah dalam perselisihan dan perbedaan antara suami istri, dan bagi pihak yang berwenang hendaknya memusatkan perhatian untuk memahaminya.

فنقول أولاً إذا أحضرتْ رجلاً مجلس الحكم وادعت عليه ألف درهم من جهة الصداق فالقول قوله فيحلف لا يلزمه تسليمه إليها فإذا لم تعلّق المرأة دعواها قصداً على الزوجية وإنما تعرضت للصداق فليس على الزوج التعرض للزوجية ويقع الاكتفاء منه بنفي ما ادعته من المال ولا يعرضُ القاضي للسؤال على الزوجية من غير أن تطلب المرأة ذلك فهذا فضول منه وللزوج ألا يجيبه

Maka kami katakan pertama-tama, jika seorang wanita menghadirkan seorang laki-laki ke majelis pengadilan dan menuntutnya seribu dirham atas dasar mahar, maka perkataan laki-laki itulah yang dipegang; ia bersumpah bahwa ia tidak wajib menyerahkan uang itu kepadanya. Jika wanita tersebut tidak mengaitkan tuntutannya secara sengaja pada status pernikahan, melainkan hanya menyebutkan mahar, maka suami tidak wajib menyinggung soal pernikahan, dan cukup baginya untuk menolak apa yang dituduhkan berupa harta. Hakim pun tidak perlu menanyakan tentang status pernikahan kepada suami kecuali jika wanita itu sendiri yang memintanya; jika tidak, maka itu adalah tindakan berlebihan dari hakim, dan suami berhak untuk tidak menjawabnya.

ولو سألت المرأة القاضيَ واستدعت منه أن يسأل الرجل عن النكاح حتى إن اعترف هو به لزمه حكم النكاح وإن أنكر تعلَّق بإنكاره حكمُ إنكار النكاح فيجب على القاضي أن يبحث

Jika seorang wanita meminta kepada qadhi dan memintanya untuk menanyakan kepada laki-laki tentang pernikahan, sehingga jika laki-laki itu mengakuinya maka berlaku atasnya hukum pernikahan, dan jika ia mengingkari maka terkait dengan pengingkarannya berlaku hukum pengingkaran pernikahan, maka wajib bagi qadhi untuk meneliti.

ثم قال قائلون إن ادّعت الصداق وسألت القاضي أن يسأله عن النكاح سأله ولزمته إجابته وقال طائفة من المحققين لا يسأله ولا تلزمه الإجابة إن سأله حتى تدعي الزوجةُ الزوجية فإن ادعتها فحينئذ يراجع القاضي الزوجَ وإن لم تدع الزوجية لم يجب على القاضي أن يتعرض لها كما لو قال رجل وقد رفع رجلاً إلى مجلس الحكم اسأله أيها القاضي هل لي عليه ألف فهذا ليس بدعوى ولا مبالاة به وإنما ذكرنا من وجوب مراجعتها ما ذكرناه لجزمها دعواها في الصداق ثم إذا جزمت دعوى الزوجية فقد ذكرنا تفصيل دعوى الزوجية في فروع ابن الحداد في آخر النكاح

Kemudian ada yang berpendapat: Jika seorang perempuan mengaku telah menerima mahar dan meminta hakim untuk menanyai suaminya tentang pernikahan, maka hakim akan menanyainya dan suaminya wajib menjawab. Namun, sekelompok ulama yang teliti berpendapat bahwa hakim tidak perlu menanyainya dan suaminya tidak wajib menjawab jika hakim bertanya, kecuali jika istri mengaku sebagai istri (mengaku adanya hubungan pernikahan). Jika ia mengakuinya, maka saat itulah hakim menanyakan kepada suami. Namun jika ia tidak mengaku sebagai istri, maka hakim tidak wajib menanyakannya, sebagaimana jika seseorang membawa orang lain ke pengadilan dan berkata: “Wahai hakim, tanyakan kepadanya apakah ia berutang seribu kepadaku,” maka ini bukanlah suatu gugatan dan tidak perlu diperhatikan. Kami hanya menyebutkan kewajiban menanyakannya karena adanya kepastian dalam pengakuan tentang mahar. Kemudian, jika ia telah memastikan pengakuan tentang pernikahan, maka kami telah menjelaskan rincian gugatan tentang pernikahan dalam cabang-cabang Ibn al-Haddad di akhir pembahasan nikah.

وقد ذكر القاضي أموراً تتعلق بدعوى الزوجية نذكرها وننظر ما فيها فإذا ادعت المرأة الزوجية فاعترف الزوج بها وأنكر المهر فقد قال ثبت لها مهر المثل ولو أراد الزوج أن يحلف لم يكن له ذلك والحاكم يقول لا فائدة لك في الحلف فإن النكاح العري عن المهر يثبت فيه مهر المثل

Qadi telah menyebutkan beberapa hal yang berkaitan dengan gugatan pernikahan, yang akan kami sebutkan dan tinjau isinya. Jika seorang perempuan mengaku telah menikah, lalu suaminya mengakui pernikahan tersebut namun mengingkari mahar, maka menurut Qadi, perempuan tersebut berhak mendapatkan mahar mitsil. Jika suami ingin bersumpah, ia tidak berhak melakukannya, dan hakim akan mengatakan, “Tidak ada manfaat bagimu untuk bersumpah, karena pernikahan tanpa mahar tetap menetapkan mahar mitsil.”

وهذا أمر ملتبسٌ لابد فيه من التفصيل فنقول إن قال الزوج جرى النكاح عرياً عن المهر ولم يدع تفويضاً محققاً على حكم التصريح بإسقاط المهر فموجب ما ذكره ثبوت مهر المثل وإن نفى المهر ولم يصف العقد بالعرو عن ذكره ولكن قال لا مهر لها فالذي ذكره القاضي أن قول الزوجة مقبول في دعوى مهر المثل

Ini adalah perkara yang membingungkan dan memerlukan perincian. Maka kami katakan: jika suami berkata bahwa akad nikah berlangsung tanpa mahar dan tidak mengklaim adanya pendelegasian yang pasti, maka hukumnya sama dengan pernyataan tegas menggugurkan mahar, sehingga yang berlaku adalah mahar mitsil. Namun jika ia menafikan adanya mahar tanpa menyebutkan bahwa akad tersebut tanpa penyebutan mahar, melainkan hanya berkata, “Ia tidak memiliki mahar,” maka menurut pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi, perkataan istri diterima dalam klaim mahar mitsil.

وهذا مشكل جداً من قِبل أن النكاح يفرض عقده بأقلّ ما يتمول وليس شرط انعقاد النكاح أن يكون فيه مهرُ المثل فكيف الوجه في ذلك وما علة الحكم بثبوت مهر المثل فنقول وجه ما ذكره أن النكاح في نفسه إذا لم يثبت فيه مسمى صحيح بمثابة الوطء المحرم فإن الوطء المحرم يتعلق به مهر المثل فصورة النكاح إذا لم يثبت فيه صداق مسمى تتضمن مهر المثل والتسمية وإن كانت ممكنة فإذا لم تثبت فالمرأة مستمسكة بما أصله التزام مهر المثل هذا تعليل ما ذكره

Hal ini sangat problematis, karena akad nikah dapat dilangsungkan dengan mahar paling sedikit yang bernilai, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah harus ada mahar mitsil. Lalu bagaimana penjelasannya dan apa alasan penetapan hukum dengan adanya mahar mitsil? Kami katakan, penjelasan dari apa yang disebutkan adalah bahwa nikah itu sendiri, jika tidak disebutkan mahar yang sah di dalamnya, maka kedudukannya seperti hubungan seksual yang diharamkan, di mana pada hubungan seksual yang diharamkan itu berlaku mahar mitsil. Maka, bentuk nikah yang tidak disebutkan mahar tertentu di dalamnya mengandung mahar mitsil, meskipun penamaan mahar itu memungkinkan. Jika tidak disebutkan, maka perempuan tetap berhak atas sesuatu yang pada dasarnya adalah kewajiban mahar mitsil. Inilah alasan dari apa yang telah disebutkan.

وتتمة الكلام فيه أن مهر المثل لا يثبت ما لم تحلف أنها لم ترض بأقل من مهر المثل ويكفيها أن يغلِّب جانبَها ويحلّفَها فإنا إذا كنا لا نبعد جريان التسمية فلا سبيل إلى إثبات مهر المثل بمجرد الاعتراف بالنكاح

Dan kelanjutan pembahasan dalam hal ini adalah bahwa mahar mitsil tidak dapat ditetapkan kecuali setelah ia bersumpah bahwa ia tidak rela dengan mahar yang lebih sedikit dari mahar mitsil, dan cukup baginya untuk menguatkan posisinya dan bersumpah. Sebab, jika kita tidak menafikan kemungkinan adanya penamaan mahar, maka tidak ada jalan untuk menetapkan mahar mitsil hanya dengan pengakuan adanya akad nikah.

ووراء ما ذكرناه غائلة صعبة سنذكرها بعد نجاز المسائل المترتبة على هذا النسق

Di balik apa yang telah kami sebutkan, terdapat bahaya besar yang akan kami jelaskan setelah menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang tersusun menurut urutan ini.

فلو حكمنا مثلاً بمهر المثل فقال الزوج ما أصبتها وطلّقها فلها نصف مهر المثل فإن قيل هلا حملتم الأمر على التفويض حتى لا يجب لها شيء قلنا التفويض أمر نادر فلا يحمل الصداق عليه وقد بيّنّا أن التفويض لا يثبت ما لم تصرح المرأة بالإسقاط والرضا وبنفي المهر

Misalnya, jika kita memutuskan dengan mahar mitsil, lalu suami berkata, “Aku belum menggaulinya,” dan menceraikannya, maka ia berhak atas setengah mahar mitsil. Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menganggap perkara ini sebagai tafwidh sehingga tidak wajib baginya apa pun?” Kami katakan, tafwidh adalah perkara yang jarang terjadi, sehingga mahar tidak dapat didasarkan padanya. Kami juga telah menjelaskan bahwa tafwidh tidak dapat ditetapkan kecuali jika perempuan secara tegas menyatakan pelepasan, kerelaan, dan meniadakan mahar.

ولو ادعت امرأة على وارث الميت أن أباه نكحها وأقامت بينة على النكاح قال يثبت لها مهر المثل إن ادعته وحلفت بأنها لم ترض بمسمّىً دون مهر المثل وإن لم تكن لها بينة على النكاح وكان الوارث صغيراً فنقف الخصومةَ إلى أن يبلغ فإن بلغ وأقر بالنكاح عاد الأمر إلى ما ذكرناه في المسألة الأولى وإن ادعى الوارث قدراً من الصداق دون مهر المثل فإن أقام بينة على ذلك المقدار لم يكن لها أكثرُ منه هذا ما ذكره

Jika seorang perempuan mengaku kepada ahli waris si mayit bahwa ayahnya telah menikahinya dan ia mendatangkan bukti atas akad nikah tersebut, maka ditetapkan baginya mahar mitsil jika ia menuntutnya dan bersumpah bahwa ia tidak rela dengan mahar yang disebutkan selain mahar mitsil. Jika ia tidak memiliki bukti atas akad nikah dan ahli waris masih kecil, maka perselisihan ditangguhkan hingga ia dewasa. Jika ia telah dewasa dan mengakui adanya akad nikah, maka perkara kembali kepada apa yang telah disebutkan dalam masalah pertama. Jika ahli waris mengaku jumlah mahar tertentu yang kurang dari mahar mitsil, lalu ia mendatangkan bukti atas jumlah tersebut, maka perempuan itu tidak berhak mendapatkan lebih dari jumlah itu; inilah yang disebutkan.

وقد حان أن ننبّه على الإشكال الذي أشرنا إليه فنقول إذا ادعت امرأة زوجية على رجل فاعترف بها وسكت عن ذكر مقدار المهر أو قال لست أدري كم أصدقتها وزعمت المرأة أنه أصدقها ألفَ درهم وهو مقدار مهر مثلها فالذي قطع به الأصحاب أولاً أنها إذا ذكرت مقدار مهر مثلها وادعت أنه المسمى وادعى الزوج مسمى دون ذلك فإنهما يتحالفان كما قدمناه في صدر الباب

Sudah saatnya kami menyoroti permasalahan yang telah kami singgung sebelumnya, yaitu: apabila seorang wanita mengaku sebagai istri seorang laki-laki, lalu laki-laki itu mengakuinya namun diam mengenai besaran mahar atau berkata, “Saya tidak tahu berapa mahar yang saya berikan kepadanya,” sementara wanita tersebut mengklaim bahwa ia telah diberikan mahar seribu dirham, yang merupakan besaran mahar sepadan dengannya, maka pendapat yang ditegaskan oleh para ulama adalah: jika wanita tersebut menyebutkan besaran mahar sepadan dengannya dan mengaku bahwa itulah mahar yang disepakati, sedangkan suami mengaku bahwa mahar yang disepakati kurang dari itu, maka keduanya saling bersumpah, sebagaimana telah kami jelaskan di awal bab.

وقال أبو حنيفة القول قولها في مهر المثل فإن ادعت زيادة على مهر المثل فالقول قول الزوج في نفيها ولو ادعت المرأة زوجية ومسمًّى مساوياً لمهر مثلها وأنكر الزوج التسمية أصلاً وذكر أن النكاح جرى عرياً عن المهر فهو معترِف بما ادعت ثبوتاً وإن أنكر التسمية فإن موجَبَ إطلاق العقد من غير تفويض ثبوتُ مهر المثل

Abu Hanifah berkata, pendapat yang dipegang adalah pendapat istri dalam hal mahar mitsil. Jika istri mengklaim adanya tambahan atas mahar mitsil, maka pendapat suami yang dipegang dalam menafikannya. Jika seorang wanita mengaku telah menikah dan menyebutkan mahar yang sama dengan mahar mitsilnya, lalu suami mengingkari adanya penamaan mahar sama sekali dan menyatakan bahwa akad nikah berlangsung tanpa mahar, maka ia mengakui apa yang diklaim istri dalam hal keberadaan pernikahan, meskipun ia mengingkari penamaan mahar. Sebab, konsekuensi dari akad yang dilakukan tanpa penetapan mahar adalah tetapnya mahar mitsil.

وإن ادعت المرأة ما ذكرناه فلم يعارضها الرجل بدعوى تسميةٍ أخرى ولكنه قال لست أدري أو توقف وصمت فظاهر ما ذكره القاضي أن القول قولها مع يمينها لما ذكرناه من أن النكاح مطلقُه يُثبت مهر المثل وهذا موضع الإشكال وهو على الحقيقة مصيرٌ إلى مذهب أبي حنيفة في النظر إلى مهر المثل والذي يقتضيه قياس مذهبنا أن دعواها موجهةٌ بالمقدار الذي ادعته على الزوج فإن تردد لم تمنع منه بتردده وحلّفناه فإن نكل عن اليمين المعروضة رددنا اليمين عليها فتحلف يمين الرد

Jika seorang wanita mengklaim apa yang telah kami sebutkan, lalu laki-laki tidak menentangnya dengan mengajukan klaim penamaan mahar lain, melainkan berkata, “Saya tidak tahu,” atau ragu-ragu dan diam, maka menurut pendapat yang dikemukakan oleh al-Qadhi, pernyataan wanita diterima dengan sumpahnya. Hal ini karena, seperti yang telah kami sebutkan, akad nikah secara mutlak menetapkan mahar mitsil. Namun, ini adalah titik permasalahan, dan pada hakikatnya merupakan kecenderungan kepada mazhab Abu Hanifah dalam memandang mahar mitsil. Adapun yang dituntut oleh qiyās mazhab kami adalah bahwa klaim wanita terkait jumlah mahar yang dia sebutkan diarahkan kepada suami. Jika suami ragu-ragu, maka keraguannya tidak menghalangi hak wanita, dan kami meminta suami bersumpah. Jika ia menolak sumpah yang diajukan kepadanya, maka kami kembalikan sumpah itu kepada wanita, sehingga ia bersumpah dengan sumpah balasan.

وإن كانت المسألة مفروضة في المرأة ووارث الزوج فالوارث لا يطالَب إلا باليمين على نفي العلم فإذا ادعت تسميةَ ألف وهو بمقدار مهر مثلها فأنكر الوارث العلم به وحلف على نفي العلم فمذهب القاضي ما ذكرناه وهو على قياس قولنا مشكلٌ والذي يقتضيه القياس الحكمُ بانقطاع الخصومة والقدر الثابت على قطعٍ هو أقل ما يُتموّل وفيه من التردد ما أجريناه في مسائلَ جمّةٍ وهذا منتهى ما أوردناه في ذلك

Jika masalah ini terjadi pada seorang wanita dan ahli waris suami, maka ahli waris tidak diminta kecuali bersumpah atas tidak mengetahui. Jika wanita tersebut mengklaim telah disebutkan mahar seribu, dan jumlah itu sesuai dengan mahar wanita sepertinya, lalu ahli waris mengingkari pengetahuan tentang hal itu dan bersumpah atas tidak mengetahui, maka menurut pendapat al-Qadhi adalah seperti yang telah kami sebutkan, dan menurut qiyās pendapat kami, hal ini masih bermasalah. Adapun yang dituntut oleh qiyās adalah memutuskan bahwa perselisihan telah berakhir dan jumlah yang pasti adalah yang paling sedikit yang dianggap bernilai. Dalam hal ini terdapat keraguan sebagaimana yang kami uraikan dalam banyak masalah, dan inilah batas akhir dari apa yang kami sampaikan dalam hal ini.

ومما ذكره القاضي متصلاً أن الرجل إذا أشار إلى مولود وقال هذا ولدي ولم يقل هذا ولدي من هذه فالتي تزعم أنها والدته لا تستحق المهر بهذا المقدار وإن قال هذا ولدي منها قُضي لها بمهر المثل لأن النسب إنما يلحق في نكاح أو وطء شبهة وأيُّ ذلك كان وجب مهر المثل

Dan di antara yang disebutkan oleh qadhi secara berkesinambungan adalah bahwa jika seorang laki-laki menunjuk kepada seorang bayi dan berkata, “Ini anakku,” namun tidak mengatakan, “Ini anakku dari perempuan ini,” maka perempuan yang mengaku sebagai ibunya tidak berhak atas mahar sebesar itu. Namun jika ia berkata, “Ini anakku darinya,” maka diputuskan baginya mahar mitsil, karena nasab hanya dapat ditetapkan melalui pernikahan atau wath’i syubhat, dan pada kedua keadaan itu wajib diberikan mahar mitsil.

وهذا بناه على أن النكاح المطلق محمول على اقتضاء مهر المثل وقد ذكرنا ما فيه فإنَّ التسمية ممكنة دون مهر المثل وإنما يجري هذا لو كان الزوجان لا يتحالفان إذا ادَّعى الزوج تسمية ما هو أقل من مهر المثل

Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa akad nikah secara mutlak mengandung tuntutan mahar mitsil, dan kami telah menjelaskan permasalahan di dalamnya. Sesungguhnya penamaan mahar itu memungkinkan tanpa harus mahar mitsil, dan hal ini hanya berlaku jika kedua mempelai tidak saling bersumpah ketika suami mengklaim telah menyebutkan mahar yang nilainya lebih rendah dari mahar mitsil.

ثم قال القاضي لا يحمل استلحاق النسب على استدخالها ماء الزوج فإنَّ ذلك نادر والعلوق منه أندر منه فلا يحمل الأمر عليه وقد انجلى الفصل مع التنبيه على كل مُشكل

Kemudian sang qadhi berkata, tidak dapat disandarkan pengakuan nasab pada kemungkinan masuknya air mani suami ke dalam rahim istri, karena hal itu sangat jarang terjadi dan kehamilan yang terjadi darinya lebih jarang lagi, sehingga tidak dapat dijadikan dasar dalam perkara ini. Dengan demikian, permasalahan ini telah jelas setelah diberikan penjelasan terhadap setiap hal yang masih samar.

Bab Syarat dalam Mahar

نقل المزني عن الشافعي مسألتين متشاكلتين في الصورة وأجاب فيهما بجوابين مختلفين ونحن ننقل لفظيهما قال قال الشافعي وإذا عقدَ النكاحَ بألف على أن لأبيها ألفاً فالمهر فاسد لأن الألفَ ليس بمهرٍ لها ولا بحقٍّ له باشتراطه إياه

Al-Muzani meriwayatkan dari asy-Syafi‘i dua permasalahan yang serupa dalam bentuknya, namun beliau menjawab keduanya dengan dua jawaban yang berbeda. Kami akan menukilkan lafaz keduanya. Ia berkata, asy-Syafi‘i berkata: “Jika akad nikah dilakukan dengan mahar seribu, dengan syarat bahwa ayahnya mendapat seribu, maka maharnya rusak, karena seribu itu bukan mahar untuknya dan bukan pula hak bagi ayahnya dengan mensyaratkannya.”

ولو نكحَ امرأةً على ألف وعلى أن يُعطي أباها ألفاً كان جائزاً ولها منعه وأخذها منه لأنها هبةٌ لم تقبض أو وكالة

Jika seseorang menikahi seorang wanita dengan mahar seribu dan dengan syarat akan memberikan seribu kepada ayahnya, maka hal itu diperbolehkan. Namun, wanita tersebut berhak mencegahnya dan mengambil seribu itu dari ayahnya, karena itu merupakan hibah yang belum diterima atau merupakan bentuk wakalah.

هذا لفظ السواد وليس يخفى تشاكل المسألتين في التصوير وجوابه في الأُولى إنَّ المهرَ فاسدٌ وجوابه في الثانية إنَّ ذلك جائزٌ وقد اختلف أصحابنا مذهباً فنذكر اضطرابَهم في المذهبِ أولاً ثم نرجع إلى السواد

Ini adalah lafaz as-sawād, dan tidak tersembunyi adanya kemiripan antara kedua permasalahan tersebut dalam gambaran kasusnya. Jawaban pada masalah pertama adalah bahwa mahar tersebut fasid, sedangkan jawaban pada masalah kedua adalah bahwa hal itu diperbolehkan. Para ulama kami berbeda pendapat dalam mazhab mengenai hal ini, maka kami akan menyebutkan perbedaan pendapat mereka dalam mazhab terlebih dahulu, kemudian kami akan kembali kepada as-sawād.

فمن أصحابنا من قال إذا عقد النكاح بألف على أنَّ لأبيها ألفاً فالمهر فاسد كما نَصَّ عليه َ والمسألة مفروضة فيه إذا كان عقدُ النكاح على اللفظ الذي صورناه

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jika akad nikah dilakukan dengan mahar seribu, dengan syarat ayah mempelai perempuan mendapat seribu, maka mahar tersebut rusak sebagaimana telah dinyatakan, dan masalah ini dimaksudkan jika akad nikah dilakukan dengan lafaz seperti yang telah kami gambarkan.

ولو قال نكحتُها على ألفٍ وعلى أن أُعطي أباها ألفاً فالمهر فاسدٌ أيضاً إذ لا فرق أن يقول على أنَّ لأبيها ألفاً وبين أن يقول على أن أعطي أباها ألفاً

Jika seseorang berkata, “Aku menikahinya dengan mahar seribu dan dengan syarat aku akan memberi ayahnya seribu,” maka maharnya juga rusak, karena tidak ada perbedaan antara mengatakan “atas dasar bahwa ayahnya mendapat seribu” dan mengatakan “atas dasar aku akan memberi ayahnya seribu.”

فأما إذا قال نكحتها على ألفين على أنْ أُعطي أباها ألفاً فهذا فيه نظر فإنْ قال ذلك بأمرها وإذنها فلا يبعدُ تصحيحُ المهرِ فكأنه أصدقَها مِقْداراً صحيحاً وضم إليه التزام عملٍ لها قريب المأخذ

Adapun jika seseorang berkata, “Aku menikahinya dengan mahar dua ribu, dengan syarat aku memberikan seribu kepada ayahnya,” maka hal ini perlu diteliti. Jika ia mengucapkan hal tersebut atas perintah dan izin dari wanita itu, maka tidak jauh kemungkinan mahar tersebut dianggap sah, seakan-akan ia memberikan mahar dengan jumlah yang benar dan menambahkan kepadanya suatu kewajiban pekerjaan untuk wanita itu yang mudah dipenuhi.

ثم هي كما قال الشافعي واهبةٌ أو واعدة أو موكِّلة بالهبة والنظر في ذلك مجتمِع غيرُ منتشر

Kemudian, sebagaimana dikatakan oleh asy-Syafi‘i, ia adalah pemberi hibah, atau orang yang berjanji, atau yang mewakilkan dalam hibah, dan dalam hal ini pandangan para ulama bersatu, tidak berselisih.

ولو شرط الزوجُ عليها أن تهب من أبيها ألفاً فهذا فاسد مفسد فإنه ملَّكَها وحَجَر عليها ثم ما ذكره هذا القائل لا يختص بألف من ألفين يذكرهما بل لو أصدقها ألفاً على أن تسلمه إلى أبيها على التأويل الذي ذكرناه فالجواب كما ذكرناه

Jika suami mensyaratkan kepada istri agar ia memberikan seribu dari ayahnya, maka syarat ini batal dan merusak akad, karena ia telah memberikan kepemilikan kepada istri lalu membatasi haknya. Apa yang disebutkan oleh orang yang berpendapat demikian tidak khusus pada seribu dari dua ribu yang disebutkan, bahkan jika ia memberikan mahar seribu dengan syarat istri menyerahkannya kepada ayahnya, menurut penafsiran yang telah kami sebutkan, maka jawabannya tetap seperti yang telah kami jelaskan.

هذه طريقة

Ini adalah sebuah metode.

ومن أصحابنا من قال في المسألة قولان وقد نقلهما المزني في مسألتين متشاكلتين بين لفظيهما أدنى تفاوت وقد مضت صورةُ المسألتين فأحد القولين إنَّ المهرَ يفسدُ وتوجيهه بَيِّنٌ فإنه شَرَطَ شيئاً في العِوض لغير المستحِق في العقد فكان كما لو اشترى شيئاً وشَرَطَ شيئاً في معرض الثمن لغير البائع والقول الثاني وهو المنصوص عليه في القديم إنَّ المهرَ يصحُّ وتستحق المرأةُ الألفين وهذا القائل يقول ذَكَر الزوجُ الألفين في لفظين وأثبتهما لأجلها وكانا حقَّها وإن أضاف أحدَهما إلى أبيها وهذا بعيد جداً لا اتجاه له في وجه من الرأي

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa dalam masalah ini terdapat dua pendapat, dan keduanya telah dinukil oleh al-Muzani dalam dua permasalahan yang serupa, dengan perbedaan lafaz yang sangat sedikit. Kedua bentuk permasalahan tersebut telah dijelaskan sebelumnya. Salah satu pendapat menyatakan bahwa mahar menjadi batal, dan alasannya jelas, yaitu karena ia mensyaratkan sesuatu dalam kompensasi (iwadh) untuk selain pihak yang berhak dalam akad, sehingga keadaannya seperti seseorang yang membeli sesuatu lalu mensyaratkan sesuatu dari harga untuk selain penjual. Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang dinyatakan dalam qaul qadim, menyatakan bahwa mahar sah dan wanita berhak mendapatkan dua ribu (dirham). Pendukung pendapat ini mengatakan bahwa suami menyebutkan dua ribu dalam dua lafaz dan menetapkannya untuk istri, dan keduanya adalah hak istri, meskipun salah satunya dinisbatkan kepada ayahnya. Namun, pendapat ini sangat jauh dan tidak memiliki dasar dari segi pertimbangan.

فإذا ثبت ترتيب المذهب فالذي ذكره المزني مشكلٌ في المسلكين أما على الطريقة الأولى فلا شك في اضطراب المسألة الثانية فإنه لم يقل فيها أصدقتك ألفين بل أضاف إليها ألفاً وأضاف الألف الآخر إلى أبيها ولا فرق بين أن يضيفه بقوله على أن أعطي أباها ألفاًً وبين قوله على أن لأبيها ألفاً

Jika urutan mazhab telah ditetapkan, maka apa yang disebutkan oleh al-Muzani menjadi problematis dalam kedua metode. Adapun menurut metode pertama, tidak diragukan lagi bahwa masalah kedua mengalami kekacauan, karena ia tidak mengatakan, “Aku memberimu mahar dua ribu,” melainkan ia menambahkan seribu kepadanya dan menambahkan seribu lainnya kepada ayahnya. Tidak ada perbedaan antara ia menambahkannya dengan ucapannya, “dengan syarat aku memberi ayahnya seribu,” dan ucapannya, “dengan syarat ayahnya mendapat seribu.”

والنصان أيضاً على الطريقة الثانية مضطربان فإنه لم ينبه فيهما على القولين وأعجب من ذلك كله أنه لم يتعرض للكلام على النصين ولو استرسل في الاعتراض بخيال يتخيله على بعد

Kedua nash tersebut juga, menurut cara kedua, mengandung kegoncangan, karena di dalamnya tidak disebutkan dua pendapat. Yang lebih mengherankan dari itu semua adalah bahwa tidak dibahas mengenai kedua nash tersebut, bahkan jika ia terus-menerus mengajukan keberatan dengan bayangan yang ia khayalkan dari kejauhan.

وأما الطريقة الثالثة طريقة القولين فمسلك التصحيح على غاية البسط لأن الزوج لا يضيف إلى أبيها ما يضيف إلاَّ تشبيهاً وهذا يتضمن إثبات الألفين جميعاً لأجلها فكان هذا بمثابة إضافة الألفين إليها وهذا القياس يقتضي أن نُجري القولين في البيع لو تصور بالصورة التي ذكرناها في النكاح

Adapun metode ketiga, yaitu metode dua pendapat, maka jalur tashih (pembenaran) sangatlah luas, karena suami tidak menisbatkan kepada ayahnya kecuali dengan cara penyerupaan saja, dan ini mengandung penetapan dua alasan sekaligus karena dirinya. Maka hal ini seakan-akan menisbatkan dua alasan tersebut kepadanya. Qiyās ini mengharuskan kita menerapkan dua pendapat dalam jual beli jika dapat dibayangkan dalam bentuk yang telah kami sebutkan dalam masalah nikah.

وسمعت شيخي يحاول تقرير المسألتين ويتكلف الفرق بينهما ويقول لفظ العقد في المسألة الأولى أن يقول نكحتها بألف على أنَّ لأبيها ألفاًً يتضمن تمليك الأب الألف في وضع العقد فكان ذلك فاسداً وإذا قال أصدقتكِ ألفاً على أن أُعطي أباكِ ألفاًً فمن حمل الإعطاء على التسليمْ والملك في المعطَى للمرأة فليس لفظ العقد تمليكَ الألف للأب

Aku mendengar guruku berusaha menjelaskan kedua permasalahan tersebut dan berupaya membedakan antara keduanya. Beliau berkata, lafaz akad pada permasalahan pertama, yaitu seseorang berkata, “Aku menikahinya dengan mahar seribu, dengan syarat ayahnya mendapat seribu,” mengandung makna memberikan kepemilikan seribu itu kepada sang ayah dalam konteks akad, sehingga hal itu menjadi batal. Namun jika seseorang berkata, “Aku memberimu mahar seribu dengan syarat aku akan memberikan seribu kepada ayahmu,” maka jika pemberian itu dimaknai sebagai penyerahan dan kepemilikan atas yang diberikan adalah untuk perempuan (istri), maka lafaz akad tersebut tidak bermakna memberikan kepemilikan seribu itu kepada ayah.

وهذا تكلف لا نتحصل منه على طائل فإنَّ الألف الثاني إذا لم يضف إليها فقد تخبط اللفظ فيه ثم أُعطي المقرون بـ على للتمليك وستأتي إن شاء الله تعالى مسائلُ الخلع شاهدة على ذلك

Ini adalah upaya yang dipaksakan yang tidak menghasilkan manfaat apa pun, karena alif kedua jika tidak ditambahkan kepadanya maka lafaznya menjadi rancu, kemudian lafaz yang disertai dengan ‘alā diberikan untuk kepemilikan, dan insya Allah akan datang beberapa masalah tentang khulu‘ yang menjadi bukti atas hal itu.

ولو قال اشتريت منك هذا العبد على أن أعطيكَ ألفاًً كان ذلك بمثابة ما لو قال اشتريت منك هذا العبد بالألف

Jika seseorang berkata, “Aku membeli budak ini darimu dengan syarat aku akan memberimu seribu,” maka hal itu sama saja seperti jika ia berkata, “Aku membeli budak ini darimu dengan harga seribu.”

فلا وجه عندنا إلا الجري على الطريقة الأولى وحمل الخلل على النقل فإنه على كل وجه مختل

Maka menurut kami, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti metode pertama dan mengaitkan kekeliruan pada proses periwayatan, karena bagaimanapun juga, hal itu pasti mengandung kekeliruan.

فصل قال ولو أصدقها ألفاًً على أنَّ لها أن تخرج أو على ألاَّ يخرجها من بلدها إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Seandainya ia memberikan mahar seribu (dirham) dengan syarat bahwa ia (istri) boleh keluar, atau dengan syarat bahwa ia (suami) tidak akan membawanya keluar dari negerinya ke negeri lain, maka…”

قال الأئمة الشرائطُ في النكاح قسمان شرطٌ يقتضيه مُطلقُ العقدِ وذلك أن يتزوجَها على أن يُنفقَ عليها أو يَقْسمَ لها أو ما أشبهَ ذلك فالذي ذكره صحيح والشرطُ متضمّنُ العقد

Para imam berkata, syarat-syarat dalam pernikahan terbagi menjadi dua: syarat yang dituntut oleh akad secara mutlak, yaitu ketika seseorang menikahi seorang wanita dengan syarat akan menafkahinya, membaginya (waktu atau giliran), atau yang semisal dengan itu. Apa yang disebutkan tersebut adalah benar, dan syarat itu sudah termasuk dalam akad.

فأما إذا كان الشرطُ بحيث لا يقتضيه العقد فإنْ أثَّرَ في مقصودِ النكاحِ أثراً بيِّناً أفسد النكاح وذلك مثل أنْ يؤقِّت النكاح أو يشترطَ ألاَّ يطأها وإن اشترط أن يطلقها فالمذهب فساد النكاح لتأثير الشرط في مقصود العقد وذكر بعضُ أصحابنا قولاً أن الشرطَ يَفْسُد والنكاح يصح وهذا غير مُعتدّ به

Adapun jika syarat tersebut bukan termasuk yang dituntut oleh akad, maka jika syarat itu berpengaruh nyata terhadap tujuan pernikahan, maka pernikahan menjadi batal. Contohnya adalah jika pernikahan dibatasi waktunya atau disyaratkan agar suami tidak menggaulinya. Jika disyaratkan agar suami menceraikannya, maka menurut mazhab, pernikahan menjadi batal karena syarat tersebut mempengaruhi tujuan akad. Sebagian ulama kami berpendapat bahwa syaratnya yang batal sedangkan pernikahannya sah, namun pendapat ini tidak dianggap.

فلو شرط شرطاً فاسداً لا يعظم أثرُه في مقصود النكاح مثل أن يشترط ألاَّ يتزوج ولا يتسرى عليها وأنها تخرج من الدار متى شاءت وأنه لا يطلقها فهذه الشرائط تفيدها فوائدَ وهي فاسدة

Maka jika seseorang menetapkan suatu syarat yang rusak (fasad) yang tidak besar pengaruhnya terhadap tujuan pernikahan, seperti mensyaratkan agar suami tidak menikah lagi dan tidak mengambil budak perempuan, atau bahwa istri boleh keluar dari rumah kapan saja ia mau, atau bahwa suami tidak akan menceraikannya, maka syarat-syarat ini memberikan manfaat tertentu bagi istri, namun syarat-syarat tersebut tetap dianggap fasad (rusak).

وقد تكون الشرائطُ عليها مثل أن يشترطَ ألاَّ ينفق عليها ولا يَقْسم لها ويجمعَ بينها وبين ضرَّاتها في مسكن واحد

Dan syarat-syarat itu bisa saja dikenakan atasnya, seperti mensyaratkan untuk tidak memberi nafkah kepadanya, tidak membagi giliran untuknya, dan mengumpulkan dia bersama madunya dalam satu tempat tinggal.

فهذه الشرائطُ لا تُفسد النكاح ولكنها تُفسد الصداقَ فإنَّ الصداقَ يَفسُدُ بما تفسد به أعواضُ العقودِ من جهةِ أنَّ العِوضَ إذا لم يتجرّد وانضمَّ إليه شرطٌ صار عوضاً وشيئاً مجهولاً ومساق ذلك يتضمن إفساد الصداق ثم الفساد من جهةِ الجهالة يوجبُ الرجوعَ إلى مهر المثل كما مهدناه

Maka syarat-syarat ini tidak membatalkan akad nikah, tetapi membatalkan mahar, karena mahar menjadi batal sebagaimana batalnya imbalan dalam akad-akad lain, yaitu apabila imbalan itu tidak murni dan disertai dengan suatu syarat, maka imbalan tersebut menjadi tidak jelas dan mengandung unsur ketidakpastian. Hal ini menyebabkan batalnya mahar, kemudian kerusakan (fasad) yang disebabkan oleh ketidakjelasan mengharuskan kembali kepada mahar mitsil, sebagaimana telah kami jelaskan.

وقال محمد بنُ الحسن إن زاد المسمى على مهر المثل وزادها بالشرط لغا الشرطُ وصحت التسمية وإن نقص عن مهر المثل وكان الشرطُ ينقُصُها فيلغو الشرطُ وتصحُ التسمية أيضاًً وإن زاد في المهر ونقص في الشرط أو زاد في الشرط ونقص في المهر فسدت التسمية لأنه زاد في المهر زيادة هي في مقابلة الشرط فجَعَل الباقي مجهولاً وإذا نقص المهرُ وزاد في الشرط جعل الشرط في مقابلة ما نقص من المهر فصار المهرُ مجهولاً

Muhammad bin al-Hasan berkata: Jika mahar yang disebutkan melebihi mahar mitsil dan kelebihan itu karena adanya syarat, maka syarat tersebut batal dan penamaan mahar tetap sah. Jika mahar yang disebutkan kurang dari mahar mitsil dan syaratnya menyebabkan kekurangan tersebut, maka syarat itu juga batal dan penamaan mahar tetap sah. Jika terjadi penambahan pada mahar dan pengurangan pada syarat, atau penambahan pada syarat dan pengurangan pada mahar, maka penamaan mahar menjadi batal, karena penambahan pada mahar itu sebagai imbalan dari syarat, sehingga sisanya menjadi tidak jelas. Jika mahar dikurangi dan syaratnya ditambah, maka syarat itu menjadi pengganti dari kekurangan mahar, sehingga mahar menjadi tidak jelas.

وهذا الذي ذكره غيرُ بعيد عن مسلك الفقه وكنا نَوَدُّ لو كان مذهباً لبعض الأصحاب حتى كنا نقول الشرط الزائد مع المهر الزائد أو المنطبق على قدر مهر المثل ليس يعكس جهالةً على المهر ولكن المعتمد عند الأصحاب أن المشروطَ فاسدٌ مضمومٌ إلى الصداق والعوض يفسد تارةً بما ينعكس عليه من الجهالة وتارةً باقترانه بفاسد

Apa yang disebutkan ini tidak jauh dari pendekatan fiqh, dan kami berharap seandainya hal itu menjadi mazhab sebagian sahabat, sehingga kami bisa mengatakan bahwa syarat tambahan bersama mahar yang lebih atau yang sesuai dengan mahar mitsil tidak menimbulkan unsur ketidakjelasan pada mahar. Namun, pendapat yang dipegang oleh para sahabat adalah bahwa syarat yang rusak itu digabungkan dengan mahar, dan kompensasi menjadi rusak kadang karena adanya unsur ketidakjelasan yang timbul padanya, dan kadang karena bergabungnya dengan sesuatu yang rusak.

وهذا يتطرق إليه كلام هو منتهى النظر في المسألة وهو أنَّ ما ذكره محمد من أنَّ المهر الزائد أو المنطبق على القدر لا يصير مجهولاً بالشرط الزائد فلو كان صحيحاً لكان يجبُ أن يُقال إنْ زاد المهرُ ونقصَ الشرط فالرجوع إلى مهر المثل وكذلك إن نقص المهرُ وزاد الشرط أو زادا ونقصا فسد المهرُ بالاقتران ولكن لا يقطع القول بأن الرجوع إلى مهر المثل ويجوز أن يقال لو أثبت العوض دراهم وشرطاً وذلك الشرطُ مجهولُ الأثر وهما جميعاً مهر فكان الرجوعُ إلى مهر المثل لذلك

Hal ini berkaitan dengan pembahasan yang merupakan puncak dari kajian dalam masalah ini, yaitu bahwa apa yang disebutkan oleh Muhammad bahwa mahar yang melebihi atau sesuai dengan kadar tidak menjadi tidak diketahui (majhūl) karena adanya syarat tambahan. Jika pendapat tersebut benar, maka seharusnya dikatakan bahwa jika mahar bertambah dan syarat berkurang, maka kembali kepada mahar mitsil (mahar yang sepadan). Demikian pula jika mahar berkurang dan syarat bertambah, atau keduanya bertambah dan berkurang, maka mahar menjadi rusak (tidak sah) karena adanya keterkaitan. Namun, tidak dapat dipastikan bahwa kembali kepada mahar mitsil, dan boleh jadi dikatakan bahwa jika kompensasi ditetapkan berupa dirham dan syarat, sementara syarat tersebut tidak jelas pengaruhnya, dan keduanya merupakan mahar, maka kembali kepada mahar mitsil karena hal itu.

فهذا منتهى البحث وقد ناقض محمد ما قاله في الصداقِ في البيع فقال لو باع ما يساوي ألفاًً بألفين وزقِّ خمر وقبض المبيع وتلف في يده فإنه يغرم القيمة وليس للبائعِ أن يقول اطرحْ الزقَّ من ألفين ليصح العقدُ بالألفين

Inilah akhir dari pembahasan, dan Muhammad telah bertentangan dengan apa yang ia katakan tentang mahar dalam masalah jual beli. Ia berkata, jika seseorang menjual sesuatu yang nilainya seribu dengan harga dua ribu dan satu kantong khamar, lalu pembeli menerima barang tersebut dan barang itu rusak di tangannya, maka ia wajib mengganti nilainya. Penjual tidak boleh berkata, “Kurangi kantong itu dari dua ribu agar akad menjadi sah dengan dua ribu.”

فصل قال ولو أصدقها داراً فاشترط له أو لها أو لهما الخيار إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Jika seseorang menjadikan mahar kepada istrinya berupa sebuah rumah, lalu ia mensyaratkan hak khiyar (pilihan untuk membatalkan atau melanjutkan akad) bagi dirinya, istrinya, atau bagi keduanya hingga waktu tertentu, …”

نصّ الشافعي هاهنا على أن شرطَ الخيارِ يُفسدُ الصداقَ ولا يُفسدُ النكاحَ

Syafi‘i menegaskan di sini bahwa syarat khiyār membatalkan mahar, namun tidak membatalkan akad nikah.

ونصَّ في القديم على أنَّ شرط الخيار في الصداق يُفسد النكاح

Dan Imam Syafi‘i dalam pendapat lama beliau menegaskan bahwa mensyaratkan khiyār dalam mahar dapat merusak akad nikah.

فمن أصحابنا من حمل ما قاله في القديمِ على ما إذا شرط الخيار في النكاح نفسِه حتى يثبت التخيير في رفعه على حكم الرؤية فأما إذا خصَّص الصداق بالخيار فلا يفسد النكاح قولاً واحداً

Sebagian dari ulama kami menafsirkan pendapat Imam Syafi’i dalam qaul qadim bahwa jika syarat khiyar diletakkan pada akad nikah itu sendiri, maka berlaku hak memilih untuk membatalkan akad seperti dalam kasus khiyar ru’yah. Adapun jika khiyar hanya dikhususkan pada mahar, maka akad nikah tidak batal menurut satu pendapat.

ومن أصحابنا من قال إذا خصّص الصداق بالخيار ففي المسألة قولان أحدهما إنه يبطلُ النكاحُ به كما لو شرط في النكاح والثاني لا يبطل كسائر الشروط الفاسدة في الصداق

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat: jika mahar ditentukan dengan syarat khiyar, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, akad nikah menjadi batal karenanya, sebagaimana jika syarat tersebut diletakkan dalam akad nikah itu sendiri. Pendapat kedua, akad nikah tidak batal, sebagaimana syarat-syarat fasid lainnya dalam mahar.

ثم إن قلنا يبطل النكاحُ بشرط الخيار في الصداق اختلف أصحابنا فمنهم من عدّى هذا إلى كل شرطٍ فاسدٍ في الصداق فطرد قولاً مثلَ مذهب مالك في النكاح يفسد بفساد الصداق ولا خلاف أن النكاح لا يفسد بالتعرية عن العوض ولا خلاف أن النكاح لا يرتد برد الصداقِ بالعيب

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa akad nikah batal karena syarat khiyar dalam mahar, para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka memperluas hal ini pada setiap syarat yang rusak dalam mahar, sehingga mereka menjalankan pendapat seperti mazhab Malik bahwa nikah menjadi batal karena rusaknya mahar. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa nikah tidak batal jika tidak ada imbalan (mahar), dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa nikah tidak menjadi batal karena mahar dikembalikan akibat cacat.

ومن أصحابنا من خصَّص القولين بفساد الصداقِ بجهة الخيار وفرّق بأن الخيار في صيغته وإن خُصّ بالصداق يتضمن الارتباط بالعقد الذي الصداق عوضٌ فيه وشَرْطُ الخيار في أحد العوضين في البيع يتعدى إلى العوض الثاني فإن كان الخيارُ في وضعه قابلاً للتخصيص إذ لو خصّ بأحد المتعاقدين لاختصّ به فمع هذا لم يختص بأحد العوضين

Sebagian dari ulama mazhab kami mengkhususkan dua pendapat tersebut pada kasus batalnya mahar karena adanya syarat khiyar, dan membedakan bahwa khiyar dalam redaksinya, meskipun dikhususkan pada mahar, tetap mengandung keterkaitan dengan akad yang di dalamnya mahar menjadi imbalan. Syarat khiyar pada salah satu dari dua objek tukar-menukar dalam jual beli akan berimbas pada objek yang kedua. Jika khiyar pada dasarnya memungkinkan untuk dikhususkan—sebab jika dikhususkan pada salah satu dari dua pihak yang berakad, maka akan khusus padanya—namun demikian, khiyar tersebut tidak khusus pada salah satu dari dua objek tukar-menukar.

ووراء ما ذكرناه طريقة أخرى مبنية مناسبة ذكرها الصيدلاني في كتاب البيع وهو أنَّ شرط الخيار صحيح في الصداق وفي خيار المجلس في ذلك قولان ووجه خروج ذلك على القياس أن الصداقَ يتطرقُ إليه الردود والنكاحُ قائم بحاله

Selain apa yang telah kami sebutkan, ada cara lain yang dibangun secara sesuai, yang disebutkan oleh As-Saidalani dalam kitab al-Bay‘, yaitu bahwa syarat khiyar itu sah dalam mahar, dan dalam khiyar majelis dalam hal ini terdapat dua pendapat. Adapun alasan keluarnya hal itu dari qiyās adalah karena mahar dapat terkena pengembalian sementara akad nikah tetap berlangsung sebagaimana adanya.

فإذا تمهَّد ما ذكرناه انتظمَ بعد ذلك الترتيبُ فنقول في صحة الخيار في الصداق قولان ولا خلاف أنَّ الخيارَ في النكاحِ نفسِهِ يُفسده فإن صحَّحنا الخيارَ في الصداق فلا كلام وأثر الرد والإجازة يختص بالصداق

Setelah apa yang telah kami jelaskan menjadi jelas, maka setelah itu urutan pembahasan menjadi teratur. Kami katakan bahwa dalam hal keabsahan khiyār pada mahar terdapat dua pendapat, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa khiyār dalam akad nikah itu sendiri membatalkannya. Jika kita membenarkan adanya khiyār pada mahar, maka tidak ada masalah, dan dampak dari penolakan atau penerimaan hanya terbatas pada mahar.

وإن أفسدنا الخيارَ في الصداق فهل يفسد النكاحُ به فعلى قولين أصحهما إنه لا يفسد وإن أفسدنا النكاح به فهل يفسد النكاحُ بسائر وجوه فساد الصداق سوى الخيار فعلى وجهين

Jika kita menganggap pilihan (khiyār) dalam mahar itu rusak, maka apakah pernikahan menjadi batal karenanya? Ada dua pendapat, yang paling sahih adalah bahwa pernikahan tidak batal. Dan jika kita menganggap pernikahan menjadi batal karenanya, maka apakah pernikahan juga batal dengan sebab-sebab lain dari kerusakan mahar selain khiyār? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

ثم قال الشافعي ولو ضمن أبُ الزوجِ نفقتَهَا عشر سنين إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Seandainya ayah suami menjamin nafkahnya selama sepuluh tahun dan seterusnya…”

فرض الشافعي المسألة في ضمان الأب ولا اختصاص به فلو فُرِض الضمانُ

Imam Syafi‘i mengemukakan permasalahan ini dalam konteks penjaminan oleh ayah, namun tidak dikhususkan hanya padanya. Maka, jika penjaminan itu diasumsikan…

على هذا الوجه من أجنبي لكان كذلك

Dengan cara seperti ini dari orang asing pun akan tetap demikian.

وعرض المسألة أنَّ من ضمن النفقةَ في أيامٍ معدودة في الاستقبال وأعلَمَها فهذا ضمان ما لم يجب بعدُ ووُجد سببُ وجوبه وفيه الخلاف المعروف والترتيب في الجديد والقديم وقد ذكرناه في أول كتاب الضمان وفي معناه إبراؤها عن نفقة أيام معدودة ولسنا لإعادةِ تلك الفصول وقد جرت على أكمل وجه في البيان في موضعها

Penjelasan masalahnya adalah bahwa jika seseorang menanggung nafkah untuk beberapa hari yang akan datang dan memberitahukannya, maka ini adalah penjaminan terhadap sesuatu yang belum wajib, meskipun sebab kewajibannya telah ada. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dikenal, serta urutan pendapat dalam mazhab baru dan lama, yang telah kami sebutkan di awal Kitab ad-Dhamān. Dalam maknanya juga termasuk membebaskan seseorang dari kewajiban nafkah untuk beberapa hari tertentu. Kami tidak akan mengulangi pembahasan tersebut di sini, karena telah dijelaskan secara sempurna pada tempatnya.

Bab Penghapusan Mahar

وقد تقدم أنَّ الزوجَ إذا طلق امرأتَه قبل المسيس وقد جرى مُسمًّى صحيح فإنه يتشطر والمعتمد في ذلك قوله تعالى مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ وقد تكلموا في قوله تعالى فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ فإنها استحقت الجميع بالعقد ثم عاد النصف بالطلاق قيل التقدير فنصف ما فرضتم لهن ثم إذا اختص الاستحقاقُ في جانبها بالنصف ارتدّ النصفُ الآخرُ إلى الزوج

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa apabila seorang suami menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan suami istri dan telah disebutkan mahar yang sah, maka mahar tersebut dibagi dua. Dasar yang dijadikan pegangan dalam hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “sebelum kamu menyentuh mereka, padahal kamu telah menentukan mahar untuk mereka, maka setengah dari mahar yang telah kamu tentukan.” Para ulama telah membahas mengenai firman Allah Ta‘ala: “maka setengah dari mahar yang telah kamu tentukan,” bahwa istri sebenarnya berhak atas seluruh mahar karena akad, kemudian setengahnya kembali kepada suami karena perceraian. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah: setengah dari mahar yang telah kamu tetapkan untuk mereka, kemudian jika hak kepemilikan mahar di pihak istri hanya setengahnya, maka setengah yang lain kembali kepada suami.

وقيل المذكور النصف لكن بغرض التثنية على النصفين والمعنى فنصف ما فرضتم لكم والنصف لهن

Dan dikatakan bahwa yang dimaksud adalah setengah, namun dengan tujuan untuk membagi menjadi dua bagian, dan maksudnya adalah setengah dari apa yang kalian tetapkan untuk kalian, dan setengahnya lagi untuk mereka.

ثم قال تعالى إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أراد به الزوجاتِ يعفون عن المهر فيخلص الكل للأزواج أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ وقد اختلف القولُ في الذي بيده عُقدة النكاح فقال في القديم هو الولي وبه قال ابنُ عباس ورجَّح الشافعي هذا القولَ في القديم من أوجه أحدها أنَّ قول ابنِ عباس مقدم في التفسير لأنه ترجمان القرآن وقد قال صلى الله عليه وسلم وهو يمسحُ رأسَهُ بيده وكان إذ ذاكَ صبياً اللهم فَقِّههُ في الدين وعَلمهُ التأويل

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali jika mereka memaafkan,” yang dimaksud adalah para istri yang memaafkan mahar, sehingga seluruhnya menjadi milik para suami. Atau “yang memaafkan adalah orang yang memegang ikatan nikah.” Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa yang memegang ikatan nikah; dalam pendapat lama, Imam Syafi’i mengatakan bahwa yang dimaksud adalah wali, dan demikian pula pendapat Ibnu Abbas. Imam Syafi’i menguatkan pendapat ini dalam pendapat lamanya dari beberapa sisi, salah satunya bahwa pendapat Ibnu Abbas lebih diutamakan dalam tafsir karena ia adalah penerjemah Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap kepalanya dengan tangan beliau, padahal saat itu Ibnu Abbas masih kecil, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, fahamkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia tafsir.”

ومما ذَكَرهُ أنه تعالى قال إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ فكان ذلك راجعاً إلى عفو يخلص به الصداق للزوج ليكون المعفوّ واحداً وأيضاًً فإنَّ قوله تعالى أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ فإنَّ ذِكْرَ الزوج جرى على صيغةِ المخاطبة وقوله أَوْ يَعْفُوَ على صيغة المُغايبة ولا يحسن عطفُ المغيابة على المخاطبة في حق شخص واحد

Di antara yang disebutkan adalah bahwa Allah Ta’ala berfirman “kecuali jika mereka (para istri) memaafkan,” maka hal itu kembali kepada pemaafan yang dengannya mahar menjadi milik suami, sehingga yang dimaafkan itu satu. Juga, firman-Nya Ta’ala “atau orang yang memegang ikatan nikah itu memaafkan,” sesungguhnya penyebutan suami menggunakan bentuk kata ganti orang kedua, sedangkan firman-Nya “atau orang yang memegang ikatan nikah itu memaafkan” menggunakan bentuk kata ganti orang ketiga. Tidaklah baik menggabungkan bentuk kata ganti orang ketiga dengan orang kedua untuk satu orang yang sama.

والقول الثاني وهو المنصوص عليه في الجديد إنَّ الذي بيده عقدة النكاح هو الزوج وروى الشافعي هذا عن علي وابنِ جريج وابنِ المسيب وغيرهم

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang dinyatakan dalam pendapat baru, adalah bahwa yang memegang akad nikah adalah suami. Imam Syafi‘i meriwayatkan hal ini dari Ali, Ibnu Juraij, Ibnu al-Musayyab, dan yang lainnya.

وأيضاًً فإنَّ الله تعالى ذَكَرَ خلوص الصداق له بعفوها ثم عطف هذا عليه فظهر أنَّ المرادَ عفوٌ يخلصُ به الصداق لها

Selain itu, Allah Ta‘ala juga menyebutkan bahwa mahar menjadi milik suami secara penuh karena istri memaafkannya, kemudian Allah menyambung hal ini dengan pernyataan berikutnya, sehingga jelas bahwa yang dimaksud adalah pemaafan yang menyebabkan mahar menjadi milik istri secara penuh.

اشتملت الآية على ذكر الخلوص من الجانبين وذكر التشطر والانقسام على الجانبين وقد قال تعالى وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى والأقرب للتقوى عفوُ الزوجِ فأما عفوُ الأب عن حقِّ ضعيفةٍ فلا يتَّصف بهذه الصفة وقوله تعالى وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ خطاب لهما

Ayat ini memuat penyebutan keikhlasan dari kedua belah pihak serta penyebutan pembagian dan pemisahan pada kedua belah pihak. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan jika kalian saling memaafkan, itu lebih dekat kepada takwa,” dan yang lebih dekat kepada takwa adalah pemaafan dari pihak suami. Adapun pemaafan dari pihak ayah atas hak seorang perempuan yang lemah, maka hal itu tidak dapat disifati dengan sifat ini. Firman Allah Ta‘ala, “Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian,” adalah seruan kepada keduanya.

فهذا ذكرٌ للقولين على صيغة التردد في التفسير وثمرتهما اختلافُ القول في أنَّ الولي هل يملك الإبراء عن صداقِ ولِيَّتِهِ وفيه قولان الجديد إنه لا يَملك وهو مذهب أبي حنيفة ووجهه في القياس لائح فإن الصداقَ مالٌ من أموالها فلم يملك الأبُ إسقاطَه كسائرِ أموالِها

Ini adalah penyebutan dua pendapat dalam bentuk keraguan dalam tafsir, dan akibat dari keduanya adalah perbedaan pendapat tentang apakah wali memiliki hak untuk membebaskan mahar milik perempuan yang berada di bawah perwaliannya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pendapat baru menyatakan bahwa wali tidak memiliki hak tersebut, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah. Dalilnya dalam qiyās sangat jelas, karena mahar adalah harta milik perempuan tersebut, sehingga ayah tidak berhak menggugurkannya sebagaimana harta-harta lainnya.

والقول القديم إنه يملك الإسقاط لأنه أكسبها هذا المال في مقابلة البضع ثم رجع البضعُ إليها وهو على كمالٍ من الشفقة ولا يُنكَر في جهات الاستصواب إسقاط المهر فإذا صدر ممن كملت شفقته كان محالاً على النظر

Pendapat lama menyatakan bahwa suami berhak menggugurkan mahar karena dialah yang memberikan harta itu sebagai imbalan atas hubungan pernikahan, kemudian hubungan itu kembali kepada istri, sementara kasih sayangnya tetap sempurna. Tidak diingkari dalam beberapa pendapat yang dianggap benar bahwa mahar bisa digugurkan. Maka, jika hal itu dilakukan oleh orang yang kasih sayangnya telah sempurna, hal tersebut dikembalikan pada pertimbangan (ijtihad).

التفريع

Pencabangan

إنْ منعنا العفوَ فلا كلام وإنْ جوزناه فنفوذه مشروط بخمسة أشياء أحدها أن يكونَ الولي أباً أو جَدَّاً إذْ لا مُجبر غيرهما

Jika kita melarang adanya pemaafan, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita membolehkannya, maka berlakunya pemaafan itu disyaratkan dengan lima hal. Pertama, wali tersebut haruslah ayah atau kakek, karena tidak ada yang dapat memaksa selain keduanya.

والثاني أن يفرض العفوُ قبل الدخول فإنَّ المهر إذا تأكد بالدخول فقد تحقق فواتُ البضع ولأجله استقر العوض فإنْ كُنا نتلقى إسقاطَ المهرِ من حملِ قوله تعالى أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ على الولي فالعفوُ واردٌ في شطرِ الصداق إذا فُرض وقوع الطلاق قبل الدخول

Kedua, jika penghapusan mahar ditetapkan sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar itu menjadi pasti setelah terjadi hubungan tersebut, karena telah nyata hilangnya hak atas hubungan badan, dan karena itu pula imbalan (mahar) menjadi tetap. Jika kita memahami pengguguran mahar dari makna firman Allah Ta‘ala “atau orang yang memegang ikatan nikah itu memaafkan” sebagai merujuk kepada wali, maka penghapusan itu berlaku pada separuh mahar jika terjadi perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri.

والشرط الثالث أن يكون العفوُ بعد الطلاق أو يقعُ الاختلاعُ به والسبب فيه اختصاص الآية أولاً بما بعد الطلاق ومعتمد هذا القول الاتباع وأيضاًً فإنها تبقى في أسر النكاح فلو سقط مهرُها وهي باقية في الزوجية والزوج ربما يستمتع بها فيفوت بضعها مجاناً

Syarat ketiga adalah bahwa pengguguran mahar itu terjadi setelah talak atau terjadinya khulu‘ dengan sebab itu, dan alasannya adalah karena ayat tersebut secara khusus membahas apa yang terjadi setelah talak, dan dasar pendapat ini adalah mengikuti (dalil). Selain itu, perempuan tersebut masih berada dalam ikatan pernikahan, sehingga jika maharnya gugur sementara ia masih menjadi istri, suami mungkin tetap dapat menikmati dirinya sehingga kemaluannya menjadi hilang secara cuma-cuma.

والشرط الرابع أن يكون الصداقُ دَيناً فلو كانَ عيناً لم يجز للولي هبته من الزوج هذا ما صار إليه معظم أئمة المذهب وتمسكوا بظاهر العفو فإنه مُشعِرٌ بالإبراء وأيضاًً فإنَّ الملكَ لا يستقر في الدين استقراره في العين وكان شيخي أبو محمد يرى للولي على هذا القولِ هبةَ العين اعتباراً بالإبراء عن الدين وهو متجهٌ لا بأس به وكان يُجَوِّزُ الاختلاعَ على عين الصداق اعتباراً بالدين والصحيحُ ما صار إليه الجماهير

Syarat keempat adalah bahwa mahar harus berupa utang. Jika berupa barang (benda tertentu), maka wali tidak boleh memberikannya sebagai hibah kepada suami. Inilah pendapat mayoritas imam mazhab, dan mereka berpegang pada makna lahir dari kata “pemaafan”, karena itu menunjukkan pembebasan (ibra’). Selain itu, kepemilikan atas utang tidak sekuat kepemilikan atas barang. Guru saya, Abu Muhammad, berpendapat bahwa menurut pendapat ini, wali boleh menghibahkan barang tersebut, dengan mempertimbangkan analogi pembebasan utang, dan ini adalah pendapat yang dapat diterima. Ia juga membolehkan khulu‘ dengan barang mahar, dengan mempertimbangkan analogi dengan utang. Namun pendapat yang benar adalah sebagaimana yang dipegang oleh mayoritas ulama.

والشرط الخامس أن تكون صغيرةً عاقلةً بحيث يُرْغَبُ في مثلها فإن كانت مجنونةً فحكمها حكم الصغيرة العاقلة وقالت المراوزةُ لا ينفذ الإبراء عن مهر المجنونة لأنه لا يُرغب فيها وكأنَّا إنما نُجوّز اختلاعَ الصغيرة بمهرها والإبراءَ بعد الطلاق حتى يُرغب فيها وهذا المعنى مفقود في المجنونة التي لا يتشَوَّفُ الخُطَّابُ إليها

Syarat kelima adalah bahwa perempuan tersebut harus masih kecil dan berakal, sehingga masih ada keinginan untuk menikahinya. Jika ia gila, maka hukumnya sama dengan anak kecil yang berakal. Para ulama dari kalangan Marwazi berpendapat bahwa pembebasan dari mahar bagi perempuan gila tidak sah, karena tidak ada keinginan untuk menikahinya. Seakan-akan kami hanya membolehkan khulu‘ bagi anak kecil dengan maharnya dan pembebasan mahar setelah talak agar masih ada keinginan untuk menikahinya. Makna ini tidak terdapat pada perempuan gila yang tidak diinginkan oleh para pelamar.

ولو كانت ثَيِّبا بالغةً فلا شك أن الأب لا يبرىء عن مهرها

Jika perempuan itu adalah seorang janda yang sudah baligh, maka tidak diragukan lagi bahwa ayahnya tidak dapat membebaskan mahar atas namanya.

وإنْ كانت بكراً بالغة والتفريع على تنفيذ إبراء الولي هل ينفذ إبراؤه عن مهر البكر العاقلة فعلى قولين أحدهما ينفذ لملكه عُقدةَ النكاح فإنه يملك إجبار البكر بالغة

Jika perempuan itu adalah seorang perawan yang telah baligh, dan pembahasan ini berkaitan dengan pelaksanaan pembebasan oleh wali, apakah pembebasan wali terhadap mahar perawan yang berakal itu sah atau tidak, maka terdapat dua pendapat. Salah satunya menyatakan sah, karena wali memiliki kekuasaan atas akad nikah, sebab ia berhak memaksa perawan yang telah baligh.

والثاني لا ينفذ إبراؤه فإنَّ الولاية إن كانت مستمرة على البضع فلا ولايةَ للأب على مالها وصداقُها من مالها

Dan yang kedua, pembebasannya tidak sah, karena jika perwalian masih tetap atas tubuh (badan) perempuan tersebut, maka ayah tidak memiliki wewenang atas hartanya, dan mahar itu adalah bagian dari hartanya.

وهذا يقرب مما قدمناه قبلُ من أن الأب هل يملك الانفراد بقبض مهر البكر البالغة السفيهة كالبكر الصغيرة لثبوت الولايتين عليها

Hal ini mendekati apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, yaitu apakah ayah berhak secara mandiri menerima mahar dari perempuan perawan yang sudah baligh namun safihah (tidak cakap mengelola harta), sebagaimana ia berhak menerima mahar dari perempuan perawan yang masih kecil, karena adanya dua bentuk wilayah atas dirinya.

والصغيرةُ إذا ثابت بوطء شبهة وإنما صورنا وطء الشبهة حتى لا يتقرر المهر بفرض المسيس من الزوج فإذا ثابت الصغيرة تحت زوجها كما ذكرناه فقد صارت إلى حالة لا يملك الأبُ تزويجَها فيها قهراً حتى تبلغ فتأذن

Anak perempuan yang masih kecil jika telah terjadi hubungan karena syubhat, dan kami membahas kemungkinan terjadinya hubungan syubhat agar mahar tidak ditetapkan hanya karena adanya persetubuhan dari suami, maka jika anak perempuan yang masih kecil itu tetap berada di bawah perwalian suaminya sebagaimana telah kami sebutkan, ia telah berada dalam keadaan di mana ayahnya tidak lagi berhak menikahkannya secara paksa sampai ia dewasa dan memberikan izin.

فقال أئمةُ المذهب إذا كانت كذلك لم يملك الولي إسقاطَ مهرها فإنه لا يملك إجبارَها وليس بيده عقدةُ نكاحها وأبعدَ بعضُ أصحابنا بأن جوّز للأبِ أو الجدِّ العفوَ عند الطلاق أو بعده إذا كانت صغيرةً نظراً إلى نفاذ ولايته في مالها وهذا ضعيف غيرُ معدود من المذهب فإن ولايةَ المالِ لا تسلِّط على العفو والإسقاط وإنما المتبع ما يُشعر به ظاهرُ القرآن وهو يشير إلى ملك عقدة النكاح والثيب الصغيرة في حق الأب بمثابة الثيب البالغة في التزويج

Para imam mazhab berkata, jika keadaannya demikian, wali tidak berhak menggugurkan mahar perempuan tersebut, karena ia tidak berhak memaksanya dan tidak memegang akad nikahnya. Sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh dengan membolehkan ayah atau kakek untuk memaafkan (menggugurkan mahar) saat atau setelah perceraian jika perempuan itu masih kecil, dengan pertimbangan bahwa wali tersebut berwenang atas hartanya. Namun, pendapat ini lemah dan tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab, karena kewenangan atas harta tidak memberikan hak untuk memaafkan atau menggugurkan (mahar). Yang menjadi pegangan adalah apa yang ditunjukkan oleh lahiriah Al-Qur’an, yaitu yang menunjukkan kepemilikan akad nikah, dan bahwa perempuan kecil yang sudah pernah menikah (tsayyib) dalam hak ayahnya sama kedudukannya dengan perempuan dewasa yang sudah pernah menikah dalam hal pernikahan.

فصل قال وأي الزوجين عفا عما في يده فله الرجوع إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Dan siapa pun dari kedua suami istri yang memaafkan (mengikhlaskan) apa yang ada di tangannya, maka ia berhak untuk kembali (menuntut) pada akhirnya.”

هذا الفصل وفصول بعده تشتمل على مُكرَّرات ونحن نوفّر لها جهدَنا والتنبيهَ عليها من غير بسط

Bab ini dan bab-bab setelahnya memuat pengulangan-pengulangan, dan kami akan mencurahkan upaya kami serta memberikan penjelasan tentangnya tanpa uraian panjang.

وهذا الفصل مفروض في وقوع الطلاق قبل المسيس وتشطّرِ الصداق ثم إذا تشطر الصداق عيناً كان أو ديناً يترتب عليه حكم الهبة والإبراء فإن كان عيناً فالنصف له والنصف لها فإن وهبت ما هو لها من زوجها لم يخف تفريعُ الهبات فإن كان في يدها سلَّمَته وإن كان في يده نُفرّع فيه ما إذا وهب مالكُ الوديعة من المودَع وعاد التفصيل وإعادة القبض وفيه اختلافُ قولٍ وتفصيلٌ طويلٌ تقصَّيناه في موضعه

Bab ini membahas tentang terjadinya talak sebelum terjadi hubungan suami istri dan pembagian mahar menjadi setengah. Kemudian, jika mahar itu terbagi, baik berupa barang maupun utang, maka akan timbul hukum hibah dan pembebasan utang. Jika berupa barang, maka setengahnya menjadi milik suami dan setengahnya menjadi milik istri. Jika istri menghibahkan bagian yang menjadi haknya kepada suaminya, maka cabang-cabang hukum hibah tidaklah samar. Jika barang itu ada di tangan istri, maka ia menyerahkannya. Jika barang itu ada di tangan suami, maka akan dibahas sebagaimana jika pemilik titipan menghibahkan barang titipan kepada yang dititipi, dan kembali pada rincian serta penyerahan ulang barang tersebut. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dan rincian yang panjang yang telah kami jelaskan pada tempatnya.

وإن وهب الزوجُ ما ارتدّ إليه منها فالأمر كذلك

Dan jika suami mewakafkan apa yang telah kembali kepadanya dari mahar tersebut, maka hukumnya tetap sama.

وإن كان الصداقُ ديناً وسقط شطرُه وبقي لها الشطرُ فأبرأت فلا يخفى حكم الإبراء والظاهر أنه لا يفتقر إلى القبول وفيه وجه بعيد ذكرناه

Jika mahar itu berupa utang, lalu setengahnya gugur dan sisanya tetap menjadi hak istri, kemudian istri tersebut membebaskan (mengikhlaskan) sisanya, maka hukum pembebasan itu sudah jelas. Yang tampak, pembebasan tersebut tidak memerlukan penerimaan (dari pihak suami), meskipun ada pendapat lain yang lemah yang telah kami sebutkan.

والذي نذكره في هذا الفصل أنَّ الهبةَ مستعملة في الأعيان ولفظ الإبراء لا يستعمل في تمليك الأعيان والعفو مختلف فيه فالذي ذكره معظم المحققين أن الهبة في الأعيان لا تصح بلفظ العفو فإنه في معنى الإبراء

Yang kami sebutkan dalam bab ini adalah bahwa hibah digunakan untuk benda-benda (‘ayn), sedangkan lafaz ibrā’ tidak digunakan untuk pemilikan benda (‘ayn), dan lafaz ‘afw diperselisihkan penggunaannya. Mayoritas para muhaqqiq menyebutkan bahwa hibah atas benda (‘ayn) tidak sah dengan lafaz ‘afw, karena maknanya sama dengan ibrā’.

وذكر القاضي أن العفو يجوز استعماله في الهبة وظاهر قوله فيما نقل عنه يدل على أن استعمال العفو في الهبة يختص بالصداق فيما يدور بين الزوج والزوجة أو يصدرُ من الولي على أحد القولين فاستدلّ في هذا بظاهر قوله تعالى إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ فذكر الله تعالى لفظ العفو مع انقسام الصداق إلى العين والدين والألفاظ قد يأخذ بها صاحبُ المذهب من الشرع وعليه بناء صرائح الطلاق

Qadhi menyebutkan bahwa ‘afw (penghapusan hak) boleh digunakan dalam hibah, dan zahir perkataannya sebagaimana yang dinukil darinya menunjukkan bahwa penggunaan ‘afw dalam hibah khusus berlaku pada mahar yang terjadi antara suami dan istri, atau yang dilakukan oleh wali menurut salah satu pendapat. Ia berdalil dalam hal ini dengan zahir firman Allah Ta’ala: “kecuali jika para istri itu memaafkan, atau orang yang memegang ikatan nikah itu memaafkan.” Allah Ta’ala menyebutkan lafaz ‘afw (penghapusan hak) bersamaan dengan pembagian mahar menjadi barang dan utang, dan lafaz-lafaz tersebut bisa dijadikan pegangan oleh penganut mazhab dari syariat, dan atas dasar itu pula dibangun lafaz-lafaz sharih dalam talak.

وهذا الذي ذكره لم يرتضه غيره وقالوا ليس المرادُ بذكر العفو في القرآن التنبيه على اللفظ الذي يستعمله الزوجان وإنما المراد أنْ يتركَ كلُّ واحد منهما حقَّه ثم طريق الترك فيه موكول إلى بيان الشرع ثم لو صح ما ذكره في الصداق للزم طرده في سائر الهبات

Apa yang disebutkan olehnya itu tidak disetujui oleh selainnya. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penyebutan ‘afw dalam Al-Qur’an bukanlah untuk menunjukkan lafaz yang digunakan oleh kedua pasangan, melainkan maksudnya adalah agar masing-masing dari keduanya meninggalkan haknya. Adapun cara meninggalkannya diserahkan kepada penjelasan syariat. Kemudian, jika apa yang ia sebutkan tentang mahar itu benar, maka hal itu harus diterapkan pula pada seluruh hibah.

ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أنا إذا لم نر الإبراء والعفو من ألفاظ الهبات في الأعيان فهل يلتحقان بالكنايات

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam masalah ini adalah bahwa apabila kita tidak menganggap lafaz “pembebasan” (ibrā’) dan “pemaafan” (‘afw) sebagai bagian dari lafaz hibah atas benda-benda (‘ayn), maka apakah keduanya dapat disamakan dengan kinayah?

وقد قدمنا تفصيلاً في أنَّ عقودَ التمليك هل تنعقدُ بالكنايات إذا كانت مفتقرة إلى الإيجاب والقبول

Kami telah menjelaskan secara rinci mengenai apakah akad-akad pemindahan kepemilikan dapat terjadi dengan menggunakan kināyah apabila akad tersebut memerlukan ijāb dan qabūl.

قال شيخي الإبراء ليس كنايةً أيضاًً في هبة الأعيان فإنه لا يتضمن تمليك الغير وإنما معناه إسقاط المُبرِىء في حقَّ نفسه وعماد الهبة تمليك المتّهب وهذا متجه حسنٌ لا يجوز غيره وفي كلام القاضي ما يدل عليه أيضاًً

Guru saya berkata, ibra’ (pembebasan) juga bukanlah kinayah dalam hibah atas benda-benda, karena ibra’ tidak mengandung makna memberikan kepemilikan kepada orang lain, melainkan maknanya adalah pengguguran hak oleh orang yang membebaskan untuk dirinya sendiri. Padahal inti dari hibah adalah memberikan kepemilikan kepada orang yang menerima hibah. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat dan tidak boleh mengambil selainnya. Dalam perkataan al-Qadhi juga terdapat petunjuk yang mendukung hal ini.

وإذا كان الصداق ديناً فاستعمل الإبراءَ فهل يشترط القبول في الإبراء وهل يشترط القبول إذا جرى الإبراءُ بلفظ الهبة ففي المسألة وجهان وهذا منتهى المراد في هذا الفصل

Jika mahar itu berupa utang lalu digunakan akad pembebasan (ibrā’), apakah disyaratkan adanya penerimaan (qabūl) dalam pembebasan tersebut? Dan apakah disyaratkan adanya penerimaan jika pembebasan itu dilakukan dengan lafaz hibah? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Inilah batas akhir pembahasan dalam bab ini.

فصل قال ولو وهبت له صداقَهَا ثم طلقها قبل أن يمسّها ففيها قولان إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang istri menghadiahkan mahar kepada suaminya, kemudian suami menceraikannya sebelum menyentuhnya, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan seterusnya.”

إذا أصدقَ الرجلُ امرأته عيناً من الأعيان وسلّمها ثم إنها وهبت عين الصداق من الزوج وسلّمته إليه ثم طلقها الزوج قبل المسيس والصداق قد عاد إليه بهبتها فهل يرجع عليها بنصف قيمة الصداق فعلى قولين منصوصين أحدهما يرجع عليها لأن الصداق عاد إليه بتمليكٍ منها فصار كما لو باعته منه ثم طلقها

Jika seorang laki-laki memberikan mahar berupa suatu barang kepada istrinya dan telah menyerahkannya, kemudian sang istri menghadiahkan barang mahar tersebut kepada suaminya dan telah menyerahkannya kembali kepadanya, lalu suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, dan mahar itu telah kembali kepadanya karena hibah dari istrinya, maka apakah suami berhak menuntut setengah nilai mahar dari istrinya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara eksplisit; salah satunya adalah bahwa suami berhak menuntutnya, karena mahar itu telah kembali kepadanya melalui kepemilikan dari istrinya, sehingga keadaannya seperti jika ia membeli mahar itu dari istrinya, lalu menceraikannya.

والثاني لا يرجع عليها لأنها عجّلت ما كان يستحقه عليها مؤجَّلاً بالطلاق والمستحَق في المال إذا عُجّل لم يبعد وقوعه الموقعَ عند دخول وقت الاستحقاق كالزكاة إذا عُجّلت

Yang kedua, tidak boleh kembali kepadanya karena ia telah menyegerakan sesuatu yang sebenarnya baru menjadi haknya secara tertunda akibat perceraian, dan sesuatu yang menjadi hak dalam harta apabila disegerakan, tidaklah jauh untuk dianggap telah ditempatkan pada posisinya ketika waktu hak itu tiba, seperti zakat yang disegerakan pembayarannya.

والأقْيس القول الأول فإن العَوْد إلى الزوج لم يكن عن جهة تعجيل حق الزوج في الشطر

Pendapat pertama lebih kuat, karena kembalinya kepada suami bukanlah dalam rangka mempercepat hak suami atas setengah bagian.

ولو قدمت إليه الصداق زاعمة أنَّ نصفَه هبةٌ ونصفَه تعجُّلٌ لما يجب للزوج عند الطلاق فلا يصح من الزوج التصرف في الشطر المعجل ولا يصح التمليك فيه فإنه على الحقيقة تعليق تمليك بما سيكون ولا يقبل التمليكُ التعليقَ على أمرٍ منتظر

Jika mahar diberikan kepadanya dengan mengklaim bahwa setengahnya adalah hibah dan setengahnya adalah percepatan dari apa yang menjadi hak suami saat terjadi talak, maka suami tidak sah melakukan tindakan apa pun terhadap bagian yang dipercepat itu, dan tidak sah pula kepemilikan atasnya. Sebab, pada hakikatnya, hal itu merupakan penangguhan kepemilikan atas sesuatu yang akan terjadi, sedangkan kepemilikan tidak menerima penangguhan atas perkara yang masih ditunggu kejadiannya.

وإذا رجع الصداقُ إلى الزوج ببيعِ محاباة فإنه يرجع عليها بنصف قيمة الصداق عند الطلاق فإنّ المحاباة في معنى الهبة في كونها تبرعاً على ما كان يذكره شيخنا ولم أرَ في الطرق ما يخالفه والسبب فيه أنا وإن كنا نعد بيع المحاباة من التبرعات فالمبيع مقابَلٌ بالثمن وإن قلّ وإذا كان مقابلاً به استحال انصرافه إلى جهة استحقاق الزوج شطر الصداق عند الطلاق

Jika mahar kembali kepada suami melalui jual beli dengan harga murah (jual beli muhabāh), maka suami berhak menuntut istri untuk membayar setengah nilai mahar saat terjadi talak. Sebab, jual beli muhabāh pada hakikatnya sama dengan hibah karena merupakan pemberian secara cuma-cuma, sebagaimana yang sering disebutkan oleh guru kami, dan aku tidak menemukan pendapat lain yang menyelisihinya. Alasannya, meskipun kita menganggap jual beli muhabāh sebagai bentuk pemberian, barang yang dijual tetap ada gantinya, meskipun sedikit. Dan selama ada gantinya, maka tidak mungkin suami berhak atas setengah mahar saat terjadi talak.

ثم قال الأئمة ما ذكرناه من القولين لا يختصان بالطلاق بل إذا وهبت الصداق ثم جرى ما يوجب ارتداد جميع الصداق إلى الزوج كالردة ففي رجوع الزوج عليها بتمام القيمة القولان

Kemudian para imam berkata bahwa dua pendapat yang telah kami sebutkan itu tidak khusus berlaku pada kasus talak saja, tetapi jika seorang istri menghibahkan mahar, lalu terjadi sesuatu yang menyebabkan seluruh mahar kembali kepada suami, seperti murtad, maka dalam hal suami menuntut kembali seluruh nilai mahar darinya terdapat dua pendapat.

فلو باع رجلٌ عبداً بجارية ثم وهب قابضُ الجاريةِ الجاريةَ من قابض العبد ثم اطلع قابض العبد على عيب قديم به فردَّه فهل يرجع على بائع العبد بقيمة الجارية فعلى القولين والمسائل متناظرة في جريان القولين فيها

Jika seseorang menjual seorang budak laki-laki dengan seorang budak perempuan, kemudian penerima budak perempuan menghadiahkan budak perempuan itu kepada penerima budak laki-laki, lalu penerima budak laki-laki mengetahui adanya cacat lama pada budak tersebut sehingga ia mengembalikannya, maka apakah ia berhak menuntut kepada penjual budak laki-laki sebesar nilai budak perempuan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan permasalahan-permasalahan serupa juga mengikuti dua pendapat tersebut.

ثم رأيت في مرامز كلام الأصحاب تردداً لطيفاً في أنَّا إذا قلنا لا يملك رادّ العبد الرجوعَ بقيمة الجارية فهل يملك رده وإن ردّ فهل ينفذ ردُّه أم لا وهذا محتمل حسن وهذا من جهة أن الغرض من الرد استرداد العوض فإذا لم يثبت له حقُ الاسترداد ففي رده بُعْدٌ وليس هذا كالطلاق فإنه لا مرد له والفسوخ التي أُثبتت في النكاح ليس مقصودُها استردادَ الصداق فما ذكرناه من التردد في الرد بالعيب في المبيع

Kemudian aku melihat dalam ungkapan para ulama terdapat keraguan yang halus mengenai jika kita mengatakan bahwa orang yang mengembalikan budak tidak berhak menuntut kembali nilai budak perempuan, maka apakah ia berhak mengembalikannya, dan jika ia mengembalikan, apakah pengembaliannya sah atau tidak? Ini adalah kemungkinan yang baik. Hal ini dari sisi bahwa tujuan pengembalian adalah untuk mendapatkan kembali kompensasi. Jika ia tidak memiliki hak untuk menuntut kembali, maka pengembaliannya menjadi jauh (tidak relevan). Ini tidak seperti talak, karena talak tidak dapat ditarik kembali, dan pembatalan-pembatalan (fasakh) yang ditetapkan dalam pernikahan bukanlah bertujuan untuk mengembalikan mahar. Maka apa yang kami sebutkan tentang keraguan dalam pengembalian karena cacat pada barang yang dijual.

وما ذكرناه فيه إذا كان الصداق عيناً أما إذا كان الصداق ديناً فأبرأت زوجها ثم طلقها الزوج قبل المسيس فهل يرجع عليها بنصف الصداق

Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika mahar itu berupa barang. Adapun jika mahar itu berupa utang, lalu istri membebaskan suaminya, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka apakah suami berhak menuntut kembali setengah mahar darinya?

في المسألة طريقان من أئمتنا من جعل فيها قولين كما في العين ومنهم من منع الرجوع عليها عند الطلاق قولاً واحداً وفرَّق بين العين والدين بأنها إذا أبرأت لم تستوف الصداق ولم يستقر ملكها فيه بل أسقطته وفي العين استقر ملكها وكان شيخنا يقرب الطريقين في القطع وطرد القولين من اختلاف الأصحاب في أنَّ الإبراء هل يفتقر إلى القبول أم لا

Dalam masalah ini terdapat dua pendapat dari para imam kami: sebagian menjadikannya dua pendapat sebagaimana pada kasus barang (ain), dan sebagian melarang untuk kembali (menuntut) atasnya ketika terjadi talak dengan satu pendapat saja. Mereka membedakan antara barang (ain) dan utang (dain), yaitu jika istri membebaskan (mengikhlaskan) maka ia belum menerima mahar dan kepemilikannya atas mahar itu belum tetap, melainkan ia telah menggugurkannya. Adapun pada barang (ain), kepemilikannya telah tetap. Guru kami mendekatkan kedua jalan tersebut dalam hal pemutusan, dan menelusuri dua pendapat itu dari perbedaan para sahabat dalam hal apakah pembebasan (ibrā’) membutuhkan penerimaan (qabul) atau tidak.

ولو كان الصداق ديناً فأبرأت زوجها بلفظ الهبة وحكمنا بأنه يفتقر إلى القبول فهذا مرتب على الإبراء والفرق اقتضاء الهبةِ التمليكَ فكأنها ملّكت زوجها ما عليه

Jika mahar itu berupa utang, lalu istri membebaskan suaminya dengan lafaz hibah, dan kami memutuskan bahwa hal itu membutuhkan penerimaan, maka hal ini berkaitan dengan hukum pembebasan utang. Perbedaannya adalah hibah mengandung makna pemilikan, sehingga seolah-olah istri memberikan kepada suaminya apa yang menjadi tanggungannya.

فإنْ قيل كيف سبيل الهبة في الدين وركن الهبة القبض وأين القبض في الديون قلنا إذا وهب مستحقُّ الدين الدينَ ممن عليه فلا حاجة إلى تقدير القبض في هذه الحالة ونحن قد نُبرم هبات من طريق آخر كتقديرٍ من غير إجراء قبضٍ حسي وكما أن القبض ركن التمليك في الهبة فإنه يتعلق به حكم نقل الضمان ثم إذا كان لرجل على رجل دين فاعتاض عنه عيناً فحكم الدين أن يسقط ويكون كالعوض المقبوض المتلف في يد مستحقه

Jika dikatakan, bagaimana cara hibah dalam utang, sedangkan rukun hibah adalah qabdhu (penyerahan), dan di mana letak qabdhu dalam utang? Kami katakan, jika orang yang berhak menerima utang menghibahkan utang tersebut kepada orang yang berutang, maka dalam keadaan ini tidak diperlukan adanya penyerahan secara nyata. Kami pun menetapkan hibah melalui cara lain, yaitu dengan anggapan tanpa melakukan penyerahan secara fisik. Sebagaimana qabdhu merupakan rukun pemilikan dalam hibah, maka padanya juga terkait hukum perpindahan tanggungan. Kemudian, jika seseorang memiliki utang pada orang lain lalu ia menerima barang sebagai pengganti utang tersebut, maka hukum utangnya gugur dan dianggap seperti barang pengganti yang telah diterima lalu rusak di tangan penerimanya.

ولو أصدق الرجل امرأته ديناً ثم نقد ووفّى فلما قبضت وهبت من زوجها ثم طلقها قبل المسيس ففي هذه المسألة طريقان على العكس إحداهما القطع بأن الزوج يرجع عليها والأخرى طرد القولين

Jika seorang laki-laki menjadikan mahar istrinya berupa utang, kemudian ia membayarnya dan melunasinya, lalu setelah istri menerima pembayaran tersebut, ia menghadiahkannya kepada suaminya, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang saling berlawanan: salah satunya adalah pendapat tegas bahwa suami berhak mengambil kembali dari istrinya, dan yang lainnya adalah mengikuti dua pendapat yang ada.

فيترتب مما ذكرناه ثلاثة أحوال إحداها فيه إذا كان الصداق عيناً فجرت الهبة ثم الطلاق وفيها القولان

Maka, dari apa yang telah kami sebutkan, terdapat tiga keadaan. Salah satunya adalah apabila mahar berupa barang tertentu, kemudian terjadi hibah, lalu terjadi talak. Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

والثانية أن يكون الصداق ديناً فتبرىءَ عنه ثم يجري الطلاق قبل المسيس وفيها طريقان إحداهما القطع بأنه لا رجوع عليها

Kedua, apabila mahar itu berupa utang, lalu ia membebaskan suaminya dari utang tersebut, kemudian terjadi talak sebelum terjadi hubungan badan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama adalah keputusan tegas bahwa ia tidak dapat meminta kembali apa yang telah dibebaskan.

والحالة الثالثة أن يكون الصداق ديناً فيوفرَه الزوج ثم إنها تهب ما تقبض ففي المسألة طريقان أحدهما القطع بأنه يرجع عليها إذا طلقها

Keadaan ketiga adalah apabila mahar itu berupa utang, lalu suami melunasinya, kemudian istri menghibahkan apa yang diterimanya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah pendapat tegas bahwa suami berhak menuntut kembali dari istri jika ia menceraikannya.

ثم إذا كان الصداق في الذمة ففُرض النقدُ والهبة والطلاق فلا فرق بين أن يكون من ذوات الأمثال وبين أن يكون من ذوات القيم هذا كله إذا عاد جميع الصداق إلى يد الزوج ثم فرض الطلاق قبل المسيس

Kemudian, jika mahar menjadi tanggungan (kewajiban) dalam tanggungan (dzimmah), lalu ditetapkan berupa uang tunai, hibah, atau terjadi talak, maka tidak ada perbedaan antara mahar yang termasuk barang sejenis (dzawat al-amtsal) dengan yang termasuk barang bernilai (dzawat al-qiyam). Semua ini berlaku jika seluruh mahar telah kembali ke tangan suami, kemudian terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri.

فأما إذا أصدقها عيناً وسلّم إليها ثم إنها وهبت نصف ذلك الصداق من زوجها ثم طلقها قبل المسيس فهذا يترتب على ما إذا عاد جميعُ الصداق إليه ثم طلقها

Adapun jika suami memberikan mahar berupa barang tertentu kepada istrinya dan telah menyerahkannya, kemudian istri tersebut menghadiahkan setengah dari mahar itu kepada suaminya, lalu suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka hal ini bergantung pada hukum jika seluruh mahar telah kembali kepada suami lalu ia menceraikannya.

فإنْ قلنا إذا رجع الجميع إليه فإنه يرجع عليها بنصف القيمة إذا طلقها فهاهنا نُثبت له حقَّ الرجوع في النصف لا محالة

Jika kita mengatakan bahwa apabila semuanya kembali kepadanya, maka ia berhak menuntut setengah nilai darinya jika ia menceraikannya, maka di sini kita menetapkan baginya hak untuk kembali pada setengah bagian itu tanpa keraguan.

ثم في كيفية الرجوع أقوال أحدها إن حق الزوج ينحصر في النصف الباقي في يدها ويتعين الموهوب من حقها وهذا كما قال الشافعي في الزكاة إذا أصدقها أربعين شاة وأخذ الساعي منها واحدة ثم طلقها قبل المسيس رجع عليها بمقدار عشرين شاة مما بقيت في يدها ويتعين ما أخرجته من حقها وكما قال في التفليس إذا اشترى عبدين بمائتين وقضى مائةً وتلف أحد العبدين ثم فُلّس وكانت قيمتاهما متساويتين فإذا رجع البائع انحصر حقه في العبد القائم وهذا القول يعرف بقول الحصر

Kemudian, mengenai cara melakukan pengembalian (rujukan), terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa hak suami terbatas pada setengah yang tersisa di tangan istri, dan bagian yang dihibahkan menjadi hak istri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi‘i dalam masalah zakat: jika seorang suami memberikan mahar empat puluh ekor kambing kepada istrinya, lalu petugas zakat mengambil satu ekor darinya, kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka suami berhak mengambil kembali sebanyak dua puluh ekor kambing dari yang masih tersisa di tangan istri, dan kambing yang telah dikeluarkan untuk zakat menjadi hak istri. Demikian pula, sebagaimana pendapat beliau dalam masalah taflis (pailit): jika seseorang membeli dua budak seharga dua ratus, lalu membayar seratus dan salah satu budak tersebut rusak, kemudian pembeli dinyatakan pailit, sementara nilai kedua budak tersebut sama, maka ketika penjual mengambil kembali, haknya terbatas pada budak yang masih ada. Pendapat ini dikenal dengan istilah qaul al-hashr (pendapat pembatasan).

والقول الثاني إنه يرجع في نصف الباقي وربع قيمة الجملة فيشيع ما أخرجته وما أثبتته فيحصل للزوج مقدار النصف عيناً وقيمةً و هذا القول يُشْهر بقول الشيوع

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia kembali pada setengah dari sisa dan seperempat dari nilai keseluruhan, sehingga terjadi percampuran antara apa yang dikeluarkan dan apa yang ditetapkan, sehingga suami memperoleh bagian setengah baik secara fisik maupun nilainya. Pendapat ini dikenal dengan istilah qawl al-syuyu‘ (pendapat percampuran).

والقول الثالث إنه بالخيار بين ما ذكرناه في القول الثاني وبين أن يرجع في نصف العين كلها

Pendapat ketiga menyatakan bahwa ia memiliki pilihan antara apa yang telah kami sebutkan dalam pendapat kedua dan antara kembali pada separuh dari seluruh barang.

وقد نصَّ الشافعي على القولين الآخرين في مسألةٍ في الصداق وهي إذا أصدقها إناءين فكسرت أحدَهما ثم طلقها نص على قولين أحدهما إنه يرجع في نصف الإناء الصحيح ونصف قيمة المنكسر والثاني إنه بالخيار بين هذا وبين أن يرجع في نصف قيمة الإناءين والقولان المذكوران في مسألة الإناءين إذا انكسر أحدهما يمكن بناؤهما على تفريق الصفقة في الرد بالعيب إذا اشتملت الصفقة على عينين ثم اطلع على عيب بأحدهما ثم الأقوال الثلاثة تجري في مسألة إصداق أربعين شاة وفي كل ما يناظر ذلك وفي المسألة بحث سنذكره عند نجاز المنقول

Imam Syafi‘i telah menegaskan dua pendapat lain dalam suatu permasalahan tentang mahar, yaitu apabila seseorang menjadikan dua bejana sebagai mahar, lalu salah satunya dipecahkan oleh istri, kemudian ia menceraikannya, maka beliau menegaskan dua pendapat: salah satunya, ia berhak kembali pada setengah bejana yang masih utuh dan setengah nilai bejana yang pecah; pendapat kedua, ia diberi pilihan antara ini atau kembali pada setengah nilai kedua bejana. Kedua pendapat yang disebutkan dalam permasalahan dua bejana jika salah satunya pecah ini dapat dibangun di atas perbedaan akad dalam pengembalian karena cacat, apabila akad mencakup dua barang lalu ditemukan cacat pada salah satunya. Kemudian, tiga pendapat tersebut juga berlaku dalam permasalahan mahar empat puluh ekor kambing dan pada semua kasus yang serupa. Dalam permasalahan ini terdapat pembahasan yang akan kami sebutkan ketika menyelesaikan penukilan.

قال الأئمة لو وهبت المرأةُ النصفَ من أجنبي ثم طلقها الزوج قبل المسيس فإنه يرجع في النصف ثم في كيفية التوزيع والحصر والشيوع والتخيير الأقوال الثلاثة

Para imam berkata: Jika seorang wanita memberikan setengah (mahar) kepada orang asing, kemudian suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan (seksual), maka ia (suami) berhak kembali pada setengahnya. Kemudian, dalam hal cara pembagian, pembatasan, kepemilikan bersama, dan pilihan, terdapat tiga pendapat.

وكل ما ذكرناه تفريع على قولنا جميع الصداق إذا عاد إليه ثم طلقها فإنه يرجع عليها بالنصف

Semua yang telah kami sebutkan merupakan rincian dari pendapat kami bahwa seluruh mahar, jika kembali kepadanya lalu ia menceraikannya, maka ia berhak kembali mengambil setengahnya darinya.

فأما إذا قلنا لو رجع جميع الصداق إلى الزوج من جهتها لم يرجع عليها عند الطلاق بشيء فإذا وهبت منه النصف ثم طلقها ففي المسألة جوابان على الحصر والشيوع أحدهما إنه لا يرجع فكأنها عجلت يوم الهبة جميع ما كان يستحقه يوم الطلاق

Adapun jika kita mengatakan bahwa jika seluruh mahar kembali kepada suami dari pihak istri, maka suami tidak dapat menuntut apa pun darinya saat terjadi talak. Jika istri telah menghibahkan setengahnya kepada suami, lalu suami menceraikannya, maka dalam masalah ini terdapat dua jawaban menurut pendapat tentang pembagian tertentu dan pembagian umum. Salah satunya adalah bahwa suami tidak dapat menuntut kembali, seolah-olah istri telah menyerahkan pada hari hibah seluruh apa yang seharusnya menjadi hak suami pada hari talak.

والوجه الثاني إنه يملك الرجوع ثم في قدر ما يرجع فيه جوابان أحدهما إنه يرجع في نصف ما بقي في يديها وهو ربع الجملة ونجعل الفائت بالهبة من الحقين النصف من حقه والنصفُ من حقها وكأنها عجلت نصف ما كان يستحق عليها لأن الحق شائع وهذا اختيار المزني

Adapun pendapat kedua, ia berhak untuk menarik kembali, kemudian mengenai kadar yang dapat ia tarik kembali terdapat dua jawaban. Pertama, ia menarik kembali setengah dari sisa yang masih ada di tangannya, yaitu seperempat dari keseluruhan. Kita anggap bahwa yang hilang karena hibah itu berasal dari dua hak: setengah dari haknya dan setengah dari hak istrinya. Seolah-olah ia telah mempercepat setengah dari apa yang seharusnya menjadi hak istrinya, karena hak itu bersifat syuyu‘ (tidak terbagi). Inilah pendapat yang dipilih oleh al-Muzani.

والثاني إنه يرجع في تمام النصف ويتعين حقها فيما وهبت فتحصَّل أجوبةٌ أحدها إنه لا يرجع بشيء وما قبضه من النصف هبة محسوب عليه

Kedua, ia kembali pada penyempurnaan setengahnya dan haknya menjadi pasti pada apa yang telah dihibahkan, sehingga terdapat beberapa jawaban; salah satunya adalah bahwa ia tidak kembali pada apa pun, dan apa yang telah diterimanya dari setengah itu dianggap sebagai hibah yang menjadi tanggung jawabnya.

والثاني إنه يرجع بنصف الباقي فحسب وهذا على الإشاعة

Kedua, ia hanya kembali dengan setengah dari sisa, dan ini menurut pendapat al-isyā‘ah.

والثالث إنه يرجع بتمام النصف وهذا على الحصر

Dan yang ketiga, ia kembali dengan setengah penuh, dan ini bersifat terbatas.

وتحقيق ذلك أنَّا في قولٍ نحصر حق الزوج فيما قبض وفي قولٍ نحصر حقها فيما وهبت وفي قول نُشيع فاستكمال الحصر من وجهين يقتضي جوابين أحدهما إنه لا يرجع بشيء والثاني إنه يرجع بتمام حقه والإشاعة توجب التبعيض لا محالة

Penjelasannya adalah bahwa dalam satu pendapat, kita membatasi hak suami pada apa yang telah diterimanya, dalam pendapat lain kita membatasi hak istri pada apa yang telah dihibahkannya, dan dalam pendapat lain kita menyebarkan (hak) tersebut. Maka, penyempurnaan pembatasan dari dua sisi menuntut dua jawaban: yang pertama, suami tidak berhak kembali atas apa pun; dan yang kedua, suami berhak kembali atas seluruh haknya. Sedangkan penyebaran (hak) tersebut pasti mengharuskan adanya pembagian.

ثم إذا قلنا إنه يرجع بتمام حقه ففي كيفية الرجوع الأقوال الثلاثة التي قدمناها أحدها إنه يرجع في النصف الباقي والثاني إنه يرجع في نصف الباقي وربع قيمة الكل والثالث إنه يتخيّر

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa ia berhak kembali dengan seluruh haknya, maka dalam cara pengembaliannya terdapat tiga pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya: yang pertama, ia kembali pada separuh yang tersisa; yang kedua, ia kembali pada separuh dari yang tersisa dan seperempat dari nilai keseluruhan; dan yang ketiga, ia boleh memilih.

هكذا ذكر الأصحاب

Demikianlah yang disebutkan oleh para ashhab.

وهذا فيه وهمٌ من جهة أنَّا نفرّع على منع الرجوع لو وهبت الكل وعلى هذا إذا وهبت النصف لم ينقدح الرجوع بتمام الحق عند الطلاق إلا على الحصر وقول الحصر يوجب حصرَ حقه فيما بقي فإعادة الأقوال الثلاثة لا معنى له

Dalam hal ini terdapat kekeliruan, karena kita membangun cabang hukum atas dasar larangan untuk kembali (menarik kembali hibah) jika seseorang menghibahkan seluruhnya. Berdasarkan hal ini, jika seseorang menghibahkan setengahnya, maka hak untuk kembali (menarik hibah) tidak muncul secara penuh pada saat terjadi talak kecuali menurut pendapat yang membatasi (al-ḥaṣr). Pendapat al-ḥaṣr mengharuskan pembatasan haknya pada apa yang tersisa, sehingga mengulang tiga pendapat tidak ada maknanya.

هذا ما ذكره الأئمة نقلناه على وجهه

Inilah yang telah disebutkan oleh para imam, kami menukilkannya sebagaimana adanya.

ونحن نقول بعد ذلك إذا وهبت المرأة جميع الصداق من الزوج ثم طلقها فقد مضى أصل القولين فيه

Setelah itu, kami katakan bahwa jika seorang wanita telah menghibahkan seluruh mahar kepada suaminya, kemudian suaminya menceraikannya, maka pokok dari dua pendapat dalam masalah ini telah dijelaskan.

فإذا وهبت النصف فقد ذكرنا ثلاثة أقوال وكلها بينة فإن حصرنا حق الزوج فيما بقي فلا كلام وإن أثبتنا له الرجوع إلى نصف ما بقي وإلى ربع قيمة الكل فإنَّ أكثر أصحابنا لم يذكروا على هذا القول تخيراً وإن تبعض الحق عليه وذكروا التخير في القول الثالث

Jika ia mewakafkan setengahnya, maka telah kami sebutkan tiga pendapat dan semuanya jelas. Jika hak suami dibatasi pada sisa yang ada, maka tidak ada masalah. Namun, jika kami menetapkan baginya hak untuk kembali pada setengah dari sisa dan seperempat nilai keseluruhan, maka mayoritas ulama kami tidak menyebutkan adanya pilihan (takhyīr) dalam pendapat ini, meskipun haknya terbagi. Mereka menyebutkan adanya pilihan dalam pendapat yang ketiga.

وهذا فيه غموض من جهة أن التبعيض يُثبت الخيار في أمثال هذه المسائل فكان يجب أن نقطع بالخيار وهذا فيه وقفة على الناظر من قِبَل أنَّا قطعنا بإثبات الخيار ففي المسألة قولان إذاً أحدهما إنه ينحصر حقه في النصف الباقي فيخلص له العبد هبة ورجوعاً والثاني إنه بالخيار إن شاء رجع إلى نصف ما بقي وإلى ربع قيمة الكل وإن شاء رجع إلى نصف قيمة الكل وإن أثبتنا التبعيض بلا خيار كان ذلك مناقضاً لأصلٍ بَيِّنٍ في المعاملات وهو أن التبعيض عيب

Hal ini mengandung kerancuan dari sisi bahwa adanya pembagian (at-tabyīdh) menetapkan adanya hak memilih (khiyār) dalam masalah-masalah semacam ini, sehingga seharusnya kita menetapkan secara pasti adanya hak memilih. Namun, hal ini memerlukan pertimbangan bagi penelaah, karena kita telah menetapkan adanya hak memilih. Maka, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa haknya terbatas pada separuh yang tersisa, sehingga budak itu menjadi miliknya secara hibah dan pengembalian; dan pendapat kedua adalah bahwa ia memiliki hak memilih, jika ia mau, ia dapat kembali pada separuh yang tersisa dan seperempat nilai keseluruhan, dan jika ia mau, ia dapat kembali pada separuh nilai keseluruhan. Jika kita menetapkan adanya pembagian tanpa hak memilih, maka hal itu bertentangan dengan prinsip yang jelas dalam muamalah, yaitu bahwa pembagian (at-tabyīdh) merupakan cacat (aib).

وإذا طلق الرج امرأته فصادف الصداق معيباً في يدها بعيب حادث

Jika seorang suami menceraikan istrinya, lalu ternyata mahar yang ada di tangan istrinya itu cacat karena cacat yang baru terjadi.

قبل الطلاق فللزوج الخيار إن شاء رضي بشطر الصداق معيباً وإن شاء رجع

Sebelum terjadi talak, suami memiliki pilihan: jika ia menghendaki, ia dapat menerima setengah mahar dalam keadaan cacat, dan jika ia menghendaki, ia dapat mengambil kembali.

بنصف القيمة سليماً فإذا كان التبعيض عيباً وحُكم العيب في الصداق تخيير

Dengan setengah nilai secara utuh; maka jika pengurangan itu merupakan cacat, dan hukum cacat dalam mahar adalah memberikan pilihan.

الزوج فرفْعُ التخيير بعيدٌ جداً

Suami, maka pencabutan pilihan (takhyīr) sangatlah jauh (tidak mungkin terjadi).

فإن قال قائل مبنى الصداق على التبعيض إذا فرض الطلاق واحتمل ذلك على قول من الأقوال لم يكن لهذا الكلام تحصيل فإن الطلاق يقتضي التشطير وهذا تربيعٌ وإذا قلّ الجزء قلّت القيمة على قدره فإذا كانت الجملة تساوي ألفين وكان نصفها عند فرض الإفراد يساوي أربعمائة فالربع قد يساوي مائة وخمسين فإن الرغبة في الجزء الكثير أكثر من الرغبة في الجزء القليل

Jika ada yang berkata bahwa mahar itu dasarnya bisa dibagi-bagi jika terjadi talak, dan hal itu mungkin menurut salah satu pendapat, maka pernyataan ini tidak memiliki makna yang dapat diambil. Sebab, talak mengharuskan pembagian menjadi dua, sedangkan ini adalah pembagian menjadi empat. Jika bagian itu semakin kecil, nilainya pun semakin berkurang sesuai kadarnya. Jika keseluruhan mahar bernilai dua ribu, dan setengahnya dalam kasus terpisah bernilai empat ratus, maka seperempatnya bisa saja hanya bernilai seratus lima puluh. Sebab, keinginan terhadap bagian yang besar lebih besar daripada keinginan terhadap bagian yang kecil.

فإن قال قائل إذا رجع النصف إلى الزوج بالهبة ثم فرض الرجوع في ربع آخر إليه فلا تبعيض في حقه قيل هذا أيضاًً لا حاصل له من قِبَل أن الهبة غيرُ محسوبةٍ عليه فينبغي أن يكون النظر محصوراً على هذا النصف الآخر وقد تحقق التبعيض فيه كما ذكرناه فهذا منتهى البحث سؤالاً وجواباً

Jika ada yang berkata, “Jika separuh kembali kepada suami karena hibah, kemudian diasumsikan ada pengembalian seperempat lainnya kepadanya, maka tidak ada pembagian dalam haknya,” maka dikatakan: Ini juga tidak memiliki makna, karena hibah itu tidak diperhitungkan atasnya, sehingga seharusnya perhatian hanya tertuju pada separuh lainnya ini, dan telah terbukti adanya pembagian di dalamnya sebagaimana telah kami sebutkan. Inilah akhir dari pembahasan berupa pertanyaan dan jawaban.

والحق المستقيم على القياس ردُّ الخلاف إلى قولين ووجه قول من لا يُثبت الخيار على بعده أن التبرع على قول الإشاعة مَلَّك الزوجَ ربعَ العين وربعَ القيمة مع أن في يدها النصف الكامل و إذا ملَّك الشرعُ الزوجَ المُطَلّق شيئاً فإثباتُ الخيارِ مع أن الشرعَ ملّكه كذلك بعيدٌ فإذاً وجه نفي الخيار أن الإشاعة تقتضي التمليك على هذا الوجه ولا خيار فيما اقتضاه الشرع هذا هو الممكن والوجه ما قدمناه فهذه مباحثة في هذه الطرق

Kebenaran yang lurus menurut qiyās adalah mengembalikan perbedaan pendapat menjadi dua pendapat. Adapun alasan pendapat yang tidak menetapkan adanya khiyār, meskipun tampak jauh, adalah bahwa hibah menurut pendapat penyebaran (isyā‘ah) telah menjadikan suami memiliki seperempat bagian dari barang dan seperempat nilai barang, padahal di tangan istri terdapat setengah bagian secara utuh. Jika syariat telah menjadikan suami yang telah mentalak memiliki sesuatu, maka penetapan khiyār padahal syariat telah memberikannya juga adalah hal yang jauh (tidak tepat). Maka, alasan meniadakan khiyār adalah bahwa isyā‘ah menuntut terjadinya kepemilikan dengan cara seperti ini, dan tidak ada khiyār dalam hal yang telah ditetapkan oleh syariat. Inilah yang mungkin, dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya. Maka, ini adalah pembahasan dalam permasalahan ini.

مباحثة أخرى إذا طلق الرجلُ امرأته وصادف الصداقَ معيباً في يدها فقد ذكرنا أنه إن أراد رجع بنصف القيمة وكذلك لو تلف الصداقُ في يدها ثم طلقها

Pembahasan lain: Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya dan ternyata mahar yang ada di tangan istrinya itu cacat, maka telah kami sebutkan bahwa jika ia menghendaki, ia dapat mengambil kembali setengah dari nilai mahar tersebut. Demikian pula jika mahar itu rusak di tangan istrinya, kemudian ia menceraikannya.

وهذا كلام أطلقه الفقهاء وتساهلوا في إطلاقه والغرض منه يبين بسؤال

Ini adalah ungkapan yang dilontarkan oleh para fuqaha dan mereka bersikap longgar dalam penggunaannya, sedangkan maksud dari ungkapan tersebut akan menjadi jelas dengan sebuah pertanyaan.

فإن قال قائل يرجع الزوج بنصف قيمة الكل أو بقيمة نصف الكل وبينهما تفاوت قلنا يرجع بقيمة نصف الكل فإنه لم يفته إلاَّ نصف الكل وهذا مما يجب إجراؤه في المسألة التي نحن فيها فإنا أطلقنا ربع قيمة الكل والمراد قيمة ربع الكل

Jika ada yang berkata: Apakah suami berhak kembali atas setengah nilai seluruhnya atau atas nilai setengah dari seluruhnya, padahal di antara keduanya terdapat perbedaan? Maka kami katakan: Suami berhak kembali atas nilai setengah dari seluruhnya, karena yang luput darinya hanyalah setengah dari seluruhnya. Hal ini juga harus diterapkan dalam permasalahan yang sedang kita bahas, karena kami telah menyebutkan seperempat nilai seluruhnya, yang dimaksud adalah nilai seperempat dari seluruhnya.

ومن المباحثات في المسألة التعرض لانكسار أحد الإناءين وفي معناه لو أصدقها عبدين فعاب أحدهما وقد حكينا قولين أحدهما إن الزوج يرجع بنصف الإناء الصحيح ونصف قيمة المنكسر والثاني إنه يتخير بين ما ذكرناه وبين الرجوع بنصف قيمة الإناءين وقد ذكرنا أن هذا يخرج على تفريق الصفقة في الرد بالعيب

Di antara pembahasan dalam masalah ini adalah jika salah satu dari dua bejana itu pecah, dan dalam makna yang sama jika seseorang menjadikan dua budak sebagai mahar lalu salah satunya cacat. Telah kami sebutkan dua pendapat: yang pertama, suami berhak kembali pada setengah dari bejana yang masih utuh dan setengah dari nilai bejana yang pecah; pendapat kedua, ia boleh memilih antara apa yang telah kami sebutkan atau kembali pada setengah nilai kedua bejana. Telah kami jelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan perbedaan akad dalam pengembalian karena cacat.

وتصوير ذلك في التفريق أن من اشترى عبدين فوجد بأحدهما عيباً فأراد ردّ المعيب منهما وإمساكَ الصحيح ففيه قولان وإن أراد ردَّهما كما تقرر هذا في كتاب البيع

Gambaran mengenai perbedaan tersebut adalah bahwa seseorang yang membeli dua budak, lalu menemukan cacat pada salah satunya, kemudian ia ingin mengembalikan yang cacat dan menahan yang sehat, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Namun jika ia ingin mengembalikan keduanya, sebagaimana telah dijelaskan dalam Kitab al-Bay‘.

وهذا فيه نظر فإنَّا في مسألة الإناءين ألزمناه في أحد القولين الرجوعَ إلى نصف الصحيح ونصف قيمة المنكسر وفي القول الثاني خيرناه فكيف ينطبق هذا الذي ذكرناه على ما جئنا به مثلاً في شراء العبدين مع الاطلاع على عيب بأحدهما وصورة القولين ثَمَّ أنه يرد المعيب في قولٍ ولا يرده وحده في قول بل يردهما ويسترد الثمن ثم على هذا القول طريق استدراكه للظُّلامة ردُّ الصحيح والمعيب فإن لم يرد ذلك فليقنع بالمعيب وليمسكه مع الصحيح

Hal ini masih perlu ditinjau, sebab dalam masalah dua bejana, menurut salah satu pendapat, kami mewajibkan untuk kembali kepada setengah dari harga yang benar dan setengah dari nilai bejana yang rusak, dan menurut pendapat kedua, kami memberikan pilihan. Lalu bagaimana hal yang telah kami sebutkan ini bisa diterapkan pada contoh pembelian dua budak dengan ditemukannya cacat pada salah satunya? Adapun bentuk dua pendapat di sana adalah: pada salah satu pendapat, ia mengembalikan yang cacat, dan pada pendapat lain, ia tidak hanya mengembalikan yang cacat saja, melainkan mengembalikan keduanya dan mengambil kembali harga yang telah dibayarkan. Kemudian, menurut pendapat ini, cara untuk menuntut keadilan adalah dengan mengembalikan yang sehat dan yang cacat. Jika ia tidak mengembalikan keduanya, maka hendaknya ia rela dengan yang cacat dan tetap memilikinya bersama yang sehat.

ونظير هذا من الصداق لو قلنا طريق استدراكه أن يرد الإناءين ويطالبها بقيمة نصفهما فإن أبى ذلك فليقنع بنصف الإناء المنكسر مع نصف الإناء الصحيح وليس الأمر كذلك فإنَّا نقول في مسألة الإناءين في أحد القولين يتعين إمساك نصف الصحيح وطلب نصف قيمة المنكسر وهذا في التحقيق إلزام التبعيض إذا أراد الاستدراك

Hal yang serupa dengan ini dalam masalah mahar, jika kita mengatakan cara untuk menutupi kekurangannya adalah dengan mengembalikan kedua bejana dan menuntutnya dengan nilai setengah dari keduanya, maka jika ia menolak hal itu, hendaknya ia puas dengan setengah bejana yang pecah bersama setengah bejana yang utuh. Namun, kenyataannya tidak demikian. Sebab, dalam masalah dua bejana, menurut salah satu pendapat, yang wajib adalah memegang setengah dari bejana yang utuh dan menuntut setengah nilai dari bejana yang pecah. Ini pada hakikatnya adalah mewajibkan pembagian jika ia ingin menutupi kekurangan.

وفي القول الثاني نخيّره بين التبعيض وهو الأصل وبين ردهما وكان الأصل في البيع ردّهما وإذا جوّزنا التبعيض فهو دخيل والأصل هاهنا التبعيض وإذا أراد ردهما فهو دخيل

Menurut pendapat kedua, kita memberi pilihan kepadanya antara melakukan pemisahan, yang merupakan hukum asal, dan mengembalikan keduanya. Hukum asal dalam jual beli adalah mengembalikan keduanya, namun jika kita membolehkan pemisahan maka itu merupakan pengecualian, sedangkan hukum asal di sini adalah pemisahan. Jika ia ingin mengembalikan keduanya, maka itu merupakan pengecualian.

ولن يحيط الناظر بحقيقة هذا ما لم يفهم فرقاً كلياً بين القاعدتين وهو أن البيع مفسوخ بالرد وهو متَّحد لا يتعدد بتعدد المعقود فبعُد عند بعض العلماء إيراد الفسخ على بعضه فينشأ منه منع التفريق وأما رجوع الصداق إلى الزوج فليس في حكم عقد يعقد ولكنه رجوع قهري شرعي غير أنا قد لا نرد إليه ما في رده إليه إضرار به وينتظم من هذا أن استمساكه بنصف الصحيح على القاعدة فإنه لا ضرار فيه بقي طريقٌ للاستدراك في نصف المنكسر فله الرجوع إلى نصف قيمته فهذا بَتٌّ لا كلام فيه فإن أراد رد الصحيح مع المنكسر فهذا خروج منه عن قاعدة الصداق فإنَّ من اشترى عبدين فوجد بأحدهما عيباً فإنه يردهما باتحاد العقد وهذا المعنى لا يتحقق هاهنا

Seorang penelaah tidak akan memahami hakikat masalah ini kecuali jika ia memahami perbedaan mendasar antara dua kaidah, yaitu bahwa jual beli menjadi batal dengan adanya pengembalian (barang), dan ini merupakan satu kesatuan yang tidak berbilang sesuai dengan jumlah objek akad, sehingga sebagian ulama menganggap tidak sahnya pembatalan hanya pada sebagian objek, yang kemudian menimbulkan larangan memisahkan (pengembalian sebagian). Adapun kembalinya mahar kepada suami, itu bukan dalam hukum akad yang diadakan, melainkan merupakan pengembalian secara paksa menurut syariat. Namun, terkadang kita tidak mengembalikan sesuatu kepadanya jika pengembalian itu akan menimbulkan mudarat baginya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tetapnya suami pada setengah mahar yang utuh adalah sesuai dengan kaidah, karena tidak ada mudarat di dalamnya. Masih ada jalan untuk menyempurnakan pada setengah mahar yang rusak, yaitu suami berhak kembali pada setengah nilainya. Ini adalah keputusan yang tidak ada perdebatan di dalamnya. Jika ia ingin mengembalikan yang utuh bersama yang rusak, maka ini keluar dari kaidah mahar. Sebab, jika seseorang membeli dua budak lalu menemukan cacat pada salah satunya, maka ia mengembalikan keduanya karena akadnya satu, dan makna ini tidak berlaku dalam masalah ini.

فقال قائلون لا سبيل إلى ردهما في الصداق لافتراق الأصلين وتباعد القاعدتين ونظر ناظرون نظراً ظاهراً من غير بحث عن تباعد القاعدتين وقالوا يملك الزوج ردهما ولم يترك هذا القائل التمسك بجواز التبعيض وكذا وقع لهذا الإنسان هذا من حيث ظن أنَّ إفراد العين مشابه للعيب وأن المشتري إنما يرد العبدين لذلك ثم قد وجد في الصداق الردّ بالعيب مع إمكان دفع الضرر دونه فإنَّ الزوج إذا صادف الصداق معيباً في يدها رجع إلى نصف القيمة ولو قالت أجبرُ النقصَ لم يُبالَ بها وهذا وهم فإنَّ تميّز أحد العبدين عن الثاني ليس عيباً وإنما سببه ما ذكرناه من اتحاد العقد

Maka sebagian orang berkata bahwa tidak ada jalan untuk mengembalikan keduanya dalam masalah mahar karena asal-usulnya berbeda dan kaidah dasarnya berjauhan. Sementara sebagian lain memandang secara lahiriah tanpa meneliti perbedaan kaidah dasarnya, lalu berkata bahwa suami berhak mengembalikan keduanya. Orang yang berpendapat demikian tetap berpegang pada bolehnya melakukan pemisahan (tab‘īḍ). Demikian pula, orang ini beranggapan demikian karena menyangka bahwa memisahkan barang (‘ayn) serupa dengan cacat (‘ayb), dan bahwa pembeli mengembalikan dua budak karena alasan itu. Kemudian, dalam masalah mahar, ditemukan adanya pengembalian karena cacat meskipun memungkinkan untuk menolak kerugian tanpa itu. Jika suami mendapati mahar dalam keadaan cacat di tangan istrinya, maka ia berhak kembali pada setengah nilai. Dan jika istri berkata, “Aku akan menutupi kekurangan itu,” maka tidak dihiraukan. Ini adalah kekeliruan, karena perbedaan antara salah satu dari dua budak dengan yang lain bukanlah cacat, melainkan sebabnya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu karena akadnya satu.

بان تحقيق القول في الأصلين وانتظم منه أنَّا في البيع نقول في قول يجمع ولا يُفرِّق وفي قول إن شاء فرَّق وإن شاء جمع فإن أراد الزوج ألا يستدرك الظلامة استمسك بنصف الصحيح ونصف المنكسر وتلك المناقشات فيه إذا كان يبغي استدراك الظلامة

Bahwa penjelasan mengenai kedua pokok tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa dalam jual beli, terkadang kita mengambil pendapat yang menggabungkan dan tidak membedakan, dan dalam pendapat lain, jika mau bisa membedakan dan jika mau bisa menggabungkan. Jika suami ingin tidak menuntut pengembalian kerugian, maka ia berpegang pada setengah bagian yang sah dan setengah bagian yang rusak. Dan perdebatan-perdebatan tersebut terjadi apabila ia ingin menuntut pengembalian kerugian.

فهذا تمام المباحثة في الانعطاف على أطراف الكلام في المسألة وقد انتظم قبلها النقلُ على وجهه

Inilah akhir dari pembahasan mengenai peninjauan kembali pada bagian-bagian pembicaraan dalam masalah ini, dan sebelumnya telah disampaikan pemaparan secara utuh.

فصل قال الشافعي ولو خالعته بشيء مما عليه من المهر فما بقي فعليه نصفه إلى آخره

Bab: Imam Syafi’i berkata, “Seandainya seorang istri melakukan khulu‘ dengan sesuatu dari mahar yang masih menjadi tanggungannya, maka sisanya tetap menjadi kewajiban suami sebanyak setengahnya hingga selesai.”

أورده المزني من الخلع وغرضه إنما هو الاستشهاد بنص الشافعي على ما يدل على قول الشيوع فإنا لما ذكرنا الهبة في بعض الصداق أجرينا نصوصاً للشافعي دالَّةً على الحصر فاختار المزني قولَ الشيوع وهو الأصح والأَقْيَسُ

Mazani mengutipnya dari masalah khulu‘, dan tujuannya adalah untuk mengambil dalil dari teks Imam Syafi‘i yang menunjukkan pendapat syuyu‘. Karena ketika kami membahas hibah pada sebagian mahar, kami telah mengemukakan beberapa teks Imam Syafi‘i yang menunjukkan pembatasan, maka Mazani memilih pendapat syuyu‘, dan itulah yang paling sahih dan paling sesuai dengan qiyās.

وتمسك بنص الشافعي في المسألة التى سنذكرها وهي قليلة النَّزَل ومدارها على أصول سابقة ومن معه رشد من الفقه يُخرّج المسألة ونحن نذكرها ولا نغادر شيئاً منها فنحرص على الاختصار جُهدنا

Ia berpegang pada teks Imam Syafi‘i dalam permasalahan yang akan kami sebutkan, yaitu sedikit terjadi dan berputar pada beberapa kaidah sebelumnya. Siapa yang memiliki pemahaman fiqh yang baik dapat menguraikan permasalahan ini. Kami akan menyebutkannya dan tidak meninggalkan sedikit pun darinya, serta berusaha sekuat tenaga untuk meringkasnya.

فنقول إذا اختلعت المرأة نفسها من زوجها نُظر فإن كان بعد الدخول فلا يخلو إما أن كان إلى غير جنس الصداق أو على جنس الصداق فإن كان على غير جنس الصداق مَلَك الزوج عليها العوض ثم الخلع مفروض قبل المسيس فيتشطر الصداق فله عليها عوض الخلع ولها عليه نصف الصداق

Maka kami katakan, apabila seorang wanita melakukan khulu‘ terhadap dirinya dari suaminya, maka dilihat dahulu: jika terjadi setelah terjadi hubungan suami istri, maka tidak lepas dari dua kemungkinan, yaitu apakah khulu‘ itu dengan selain jenis mahar atau dengan jenis mahar. Jika dengan selain jenis mahar, maka suami berhak atas kompensasi darinya. Kemudian, jika khulu‘ itu terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar menjadi setengah. Maka suami berhak atas kompensasi khulu‘ darinya, dan wanita berhak atas setengah mahar darinya.

فإن خالعها على ما هو جنس الصداق صح الخلع فإنه لم يورده على الصداق ثم يتشطر الصداق إن كان الخلع قبل المسيس ويجب المسمى بكماله إن كان بعد المسيس ثم تجري أقوالٌ في التقاصّ في قدر التساوي على ما ستأتي مشروحة إن شاء الله عز وجل

Jika suami melakukan khulu‘ dengan sesuatu yang sejenis dengan mahar, maka khulu‘ tersebut sah, karena ia tidak menjadikannya sebagai mahar. Kemudian, mahar dibagi dua jika khulu‘ terjadi sebelum terjadi hubungan suami istri, dan mahar yang telah disebutkan wajib dibayar penuh jika khulu‘ terjadi setelah hubungan suami istri. Setelah itu, terdapat beberapa pendapat mengenai kompensasi (taqāṣṣ) dalam kadar yang seimbang, sebagaimana akan dijelaskan kemudian, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وإن خلعت نفسها بصداقها وكانت مدخولاً بها صح الخلع وبرىء الزوج عن الصداق الذي كان استقر عليه بالمسيس

Jika seorang istri melakukan khulu‘ dengan menebus dirinya menggunakan mahar yang telah diberikan kepadanya, sementara ia sudah pernah digauli, maka khulu‘ tersebut sah dan suami terbebas dari kewajiban mahar yang telah menjadi hak istri karena telah terjadi hubungan suami istri.

وإن خلعت نفسها قبل المسيس بالصداق لم تخل إمَّا أن تخلع بتمام المسمى وإما أن تختلع بنصف المسمى فإن اختلعت بتمام المسمى قبل الدخول فحكم الخلع تشطير الصداق فإذا كان الصداق ألفاًً وقد جرى منها الاختلاع عليه فنصف العوض المذكور حقُّ الزوج فالعوض متبعِّض إذاً بعضه مستحَق وبعضه ثابت على ما تقتضيه المعاملة

Jika seorang istri melakukan khulu‘ terhadap dirinya sebelum terjadi hubungan suami istri dengan mahar, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia melakukan khulu‘ dengan seluruh mahar yang telah disepakati, atau ia melakukan khulu‘ dengan setengah dari mahar yang telah disepakati. Jika ia melakukan khulu‘ dengan seluruh mahar sebelum terjadi hubungan suami istri, maka hukum khulu‘ adalah membagi dua mahar tersebut. Jadi, jika maharnya seribu dan ia telah melakukan khulu‘ dengan jumlah tersebut, maka setengah dari kompensasi yang disebutkan menjadi hak suami. Dengan demikian, kompensasi tersebut terbagi dua: sebagian menjadi hak suami dan sebagian lagi tetap sebagaimana yang ditetapkan dalam akad.

فيخرج في هذا المقام قَوْلا تفريق الصفقة فإن أفسدنا الصداق بالتفريق جرى القولان في أن الصداق إذا فسد فالرجوع إلى مهر المثل أو إلى بدل العوض المسمى فإن قلنا الرجوع إلى مهر المثل فالزوج يستحق عليها مهرَ مثلها وقد سقط نصف المسمى وهي تستحق نصفَ المسمى فإن تجانسَ المالان جرى أقوال التقاصّ

Dalam hal ini, muncul dua pendapat tentang pemisahan akad. Jika mahar menjadi rusak karena adanya pemisahan, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah ketika mahar rusak, harus kembali kepada mahar mitsil atau kepada pengganti nilai yang telah disebutkan. Jika kita berpendapat bahwa kembali kepada mahar mitsil, maka suami berhak atas mahar mitsil dari istrinya, dan setengah dari mahar yang telah disebutkan gugur, sedangkan istri berhak atas setengah dari mahar yang telah disebutkan. Jika kedua harta tersebut sejenis, maka berlaku pendapat-pendapat tentang taqashsh (kompensasi).

وإن رجعنا عند فساد المسمى إلى بدله فالمسمى دراهم وبدلها دراهم فإنها من ذوات الأمثال فيستحق الزوج عليها ألفَ درهم وهي تستحق على زوجها خمسمائة ولا يخفى التقاصّ هذا إذا فرعنا على أن التفريق مفسدٌ

Dan jika kita kembali, ketika terjadi kerusakan pada mahar yang disebutkan, kepada penggantinya, maka mahar yang disebutkan adalah dirham dan penggantinya juga dirham. Karena itu termasuk benda yang sejenis, maka suami berhak atas seribu dirham dan istri berhak atas lima ratus dirham dari suaminya, dan tidak tersembunyi adanya saling hapus (kompensasi) di antara keduanya. Ini jika kita berpendapat bahwa perceraian itu membatalkan (akad).

فأما إذا قلنا التفريق لا يُفسد فيصح نصف المسمى وهو نصيبها من المهر

Adapun jika kita mengatakan bahwa pemisahan tidak membatalkan, maka yang sah adalah setengah dari mahar yang telah disebutkan, yaitu bagian yang menjadi haknya dari mahar.

ويجري الآن القول في أن للزوج الخيار فإن فسخ عاد القولان إلى أن الرجوع إلى مهر المثل أو إلى مثل جميع المسمى ففي قولٍ يستحق عليها مهرَ مثلها وفي قولٍ يستحق عليها مثلَ ما سمى وهو ألف درهم وإن اختار الإجازة جرى الخلاف في أنه يجبُر بالكل أو بقسطٍ فإن قلنا إنه يجبر بالكل فيجبر الخلع بمقدار حصتها من المهر وهو خمسمائة فيسقط الشطر بالتشطير ويسقط الباقي بالعوضية وإن قلنا يجبر بالقسط فيرجع فيما هو مستحق بنصف مهر المثل أو بنصف البدل والبدل مثلٌ فعلى القولين

Sekarang pembahasan berlanjut pada bahwa suami memiliki hak memilih; jika ia memilih fasakh, maka kembali pada dua pendapat: apakah rujukannya kepada mahar mitsil atau kepada seluruh mahar yang telah disebutkan. Dalam satu pendapat, ia berhak atas mahar mitsil dari istrinya, dan dalam pendapat lain, ia berhak atas mahar yang telah disebutkan, yaitu seribu dirham. Jika ia memilih untuk mengizinkan (pernikahan), maka terjadi perbedaan pendapat apakah ia mendapatkan seluruhnya atau sebagian. Jika dikatakan ia mendapatkan seluruhnya, maka ia mendapatkan bagian khulu‘ sesuai dengan bagiannya dari mahar, yaitu lima ratus, sehingga setengahnya gugur karena pembagian dua, dan sisanya gugur karena adanya penggantian. Jika dikatakan ia mendapatkan sebagian, maka ia kembali pada apa yang menjadi haknya, yaitu setengah mahar mitsil atau setengah pengganti, dan pengganti itu sama, maka menurut kedua pendapat tersebut.

ولا يخفى أن ما ذكرناه من الخيار فيه إذا كان الزوج جاهلاً بحقيقة الحال في الشطر والتفرق

Tidaklah tersembunyi bahwa apa yang telah kami sebutkan mengenai adanya hak khiyār itu berlaku apabila suami tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya terkait pembagian dan perpisahan.

هذا كله إذا كان الصداق ألفاًً فاختلعت نفسها بالألف الذي هو صداق ولو اختلعت نفسها بألف مطلَقٍ فلا يكون صداقاً ويصح الخلع واستحق الزوج عليها الألف وهي تستحق الخمسمائة

Semua ini berlaku jika mahar itu seribu, lalu ia menebus dirinya dengan seribu yang merupakan mahar. Namun, jika ia menebus dirinya dengan seribu secara mutlak, maka itu tidak menjadi mahar, dan khulu‘ tetap sah, suami berhak atas seribu darinya, dan ia berhak atas lima ratus.

ولو أنها اختلعت نفسها عن زوجها بنصف مهرها وهو خمسمائة وهي غير ممسوسة فهذا يصوّر على أوجه أحدها أن تقول اختلعت نفسي بالخمسمائة التي تبقى لي فإذا قالت ذلك صح الخلع بتنصيصها على تخصيص المقدار الخالص لها ثم لا يخفى أن موجب ذلك سقوط جميع المهر النصف منه بحكم التشطر والنصف بحكم المعاوضة

Jika seorang istri menebus dirinya dari suaminya dengan setengah maharnya, yaitu lima ratus, sementara ia belum disentuh (belum digauli), maka hal ini dapat digambarkan dalam beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah ia berkata, “Aku menebus diriku dengan lima ratus yang menjadi hakku.” Jika ia mengucapkan demikian, maka khulu‘ sah karena ia telah menegaskan penetapan jumlah yang murni menjadi miliknya. Selanjutnya, tidak tersembunyi bahwa konsekuensi dari hal tersebut adalah gugurnya seluruh mahar: setengahnya karena hukum pembagian dua, dan setengahnya lagi karena hukum mu‘āwadah (tukar-menukar).

والصورة الثانية أن تقول اختلعت نفسي بخمسمائة شائعة من مهري وصرَّحَت بما ينافي الاختصاص فهذا تفريق فإن النصف مما ذكرته مستحَق للزوج والنصف لها فيعود التفريع كما مضى ولكن تختلف الأقدار أما النصف من الألف فيسقط بحكم التشطر ويقع الكلام في النصف الثاني

Dan bentuk kedua adalah ketika ia berkata, “Aku menebus diriku dengan lima ratus dari maharku yang telah tersebar,” dan ia secara jelas menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan kekhususan. Maka ini adalah talak, karena separuh dari apa yang ia sebutkan menjadi hak suami dan separuhnya lagi menjadi miliknya. Maka rincian hukumnya kembali seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hanya saja jumlahnya berbeda. Adapun separuh dari seribu itu gugur karena pembagian dua, dan pembahasan terjadi pada separuh yang kedua.

فإن أفسدنا العوض بالتفريق فيرجع الزوج في قولٍ إلى تمام مهر مثلها وفي قول إلى خمسمائة وإن لم نُفسد واختار الزوج الفسخ فالجواب كذلك فإن اختار الإجازة وقلنا يجبر بالتمام كان بدل الخلع مائتين وخمسين والحكم أن الزوج يبرأ عن سبعمائة وخمسين بحكم التشطير والعوض ويبقى لها بقية المهر وإن قلنا يجبر بالبعض ففيما يرجع به قولان أحدهما إنه يرجع بنصف مهر المثل فله عليها نصفُ مهرها ويسقط من مهرها سبعمائة وخمسون ولها عليه مائتان وخمسون

Jika kami membatalkan kompensasi dengan pemisahan, maka menurut satu pendapat suami berhak kembali pada jumlah penuh mahar mitsilnya, dan menurut pendapat lain pada lima ratus. Jika kami tidak membatalkan dan suami memilih untuk membatalkan akad, maka jawabannya juga demikian. Jika ia memilih untuk melanjutkan dan kami katakan ia diwajibkan membayar penuh, maka kompensasi khulu‘ adalah dua ratus lima puluh, dan ketentuannya adalah suami bebas dari tujuh ratus lima puluh berdasarkan hukum pembagian setengah dan kompensasi, dan sisanya dari mahar tetap menjadi hak istri. Jika kami katakan ia diwajibkan membayar sebagian, maka dalam hal apa yang dapat diambil kembali terdapat dua pendapat: salah satunya, ia berhak kembali pada setengah mahar mitsil, sehingga ia berhak atas setengah maharnya, dan dari maharnya gugur tujuh ratus lima puluh, dan ia masih berhak atas dua ratus lima puluh.

الصورة الثالثة أن تقول اختلعت نفسي بخمسمائة من المهر ولم تصرح بالإشاعة ولا بما يختص بها ولكنها أطلقت الاختلاع كذلك فنقدم عليه تجديد العهد بما إذا قال الشريك في الدار بالنصف بعت نصفي فإن قال ذلك صح وإن قال بعت النصف من هذه الدار فمن أصحابنا من حمل ذلك على ملكه ومنهم من حمله على الإشاعة فمن حمل على النصف الذي له صحح وإن حمل على الإشاعة فإن النصف مما باعه له والنصف لشريكه فتتفرق الصفقة

Gambaran ketiga adalah ketika seorang wanita berkata, “Aku menebus diriku sendiri dengan lima ratus dari mahar,” tanpa menyebutkan secara jelas tentang isyā‘ah (kepemilikan bersama) atau sesuatu yang khusus baginya, melainkan ia mengucapkan khulu‘ secara umum. Maka, dalam hal ini, kita mendahulukan pembaruan akad sebagaimana jika seorang rekan dalam kepemilikan rumah berkata, “Aku menjual setengah bagianku.” Jika ia mengatakannya demikian, maka sah. Namun jika ia berkata, “Aku menjual setengah dari rumah ini,” maka sebagian ulama kami menafsirkannya sebagai bagian miliknya, dan sebagian lagi menafsirkannya sebagai isyā‘ah. Barang siapa yang menafsirkannya sebagai setengah yang dimilikinya, maka jual beli itu sah. Namun jika ditafsirkan sebagai isyā‘ah, maka setengah dari apa yang dijual adalah miliknya, dan setengahnya lagi milik rekannya, sehingga akad jual belinya terpisah.

نعود إلى مسألتنا ونقول إذا اختلعت المرأة بخمسمائة على الإطلاق فقد اختلف أصحابنا على طريقين فمنهم من خَرَّجَ هذا على بيع نصف الدار مطلقاً ممن يملك نصفها ففي وجه نقول اختلاعها بالخمسمائة محمول على اختلاعها بحقها الخالص وهذا يلتفت على الحصر وفي وجه نقول اختلاعها واقع بحقها وحق الزوج ثم تسترسل التفاريع على قوانينها هذه طريقة

Kita kembali kepada permasalahan kita dan mengatakan: jika seorang wanita melakukan khulu‘ dengan imbalan lima ratus secara mutlak, maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam dua cara. Sebagian dari mereka menganalogikan hal ini dengan penjualan setengah rumah secara mutlak oleh seseorang yang memiliki setengahnya. Maka dalam satu pendapat dikatakan bahwa khulu‘ dengan lima ratus itu dianggap sebagai khulu‘ atas haknya yang murni, dan ini berkaitan dengan pembatasan. Dalam pendapat lain dikatakan bahwa khulu‘ itu terjadi atas haknya dan hak suami, kemudian rincian-rincian hukum mengikuti kaidah-kaidahnya. Inilah salah satu cara penjelasannya.

ومن أصحابنا من قطع بأن الخمسمائة محمولة على الإشاعة والفرق بين هذه الصورة وبين بيع نصف الدار أن من يبيع نصفَ الدار مالكٌ لنصفها دون غيره يُحمَلُ تصرفُه على ما يملك وإذا اختلعت بالخمسمائة في مسألتنا فقد أنشأت الاختلاع والمهر غير متشطر وإنما يقع التشطر مع اختلاعها فهذا موجَب القطع بالحمل على الإشاعة

Sebagian dari ulama kami menegaskan bahwa lima ratus (dinar) itu dimaknai sebagai bagian yang tidak ditentukan (musya‘), dan perbedaan antara kasus ini dengan menjual setengah rumah adalah bahwa orang yang menjual setengah rumah adalah pemilik setengahnya tanpa ada pihak lain, sehingga tindakannya dianggap atas apa yang ia miliki. Jika seorang istri menebus dirinya (khulu‘) dengan lima ratus dalam masalah kita, maka ia telah memulai proses khulu‘, dan mahar tidak terbagi dua; pembagian hanya terjadi jika ia melakukan khulu‘ dengan bagian tertentu. Inilah alasan penegasan untuk memaknai (lima ratus) sebagai bagian yang tidak ditentukan (musya‘).

وقد يرد على ذلك أنها إذا خصصت بما يبقي لها فهذا تعليق بما سيبقى إذاً فهذا منتهى الكلام في هذا

Mungkin ada yang mengemukakan bahwa jika ia dikhususkan dengan sesuatu yang masih tersisa padanya, maka itu berarti menggantungkan (hukum) pada sesuatu yang akan tetap ada. Dengan demikian, inilah akhir dari pembahasan dalam hal ini.

ثم تعلق المزني بنص الشافعي في الحمل على الإشاعة في هذه المسألة التي نقلها واستدل بنصه في مسألة هبة بعض الصداق وقال ينبغي أن تحمل هبة البعض على الشيوع كما نقله في مسألة الاختلاع ببعض المهر

Kemudian al-Muzani berpegang pada teks asy-Syafi‘i mengenai penerapan asas syu‘ū‘ (penyatuan hak) dalam masalah ini yang ia riwayatkan, dan ia berdalil dengan teks asy-Syafi‘i dalam masalah hibah sebagian mahar, serta mengatakan bahwa hibah sebagian mahar seharusnya diterapkan secara syu‘ū‘, sebagaimana yang ia riwayatkan dalam masalah khulu‘ dengan sebagian mahar.

فاختلف أصحابنا في الجواب فقال بعضهم جرى الشافعي فيما نقله على قول الشيوع وهذا النوع متداول بينه وبين الأصحاب

Para ulama kami berbeda pendapat dalam memberikan jawaban. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa pendapat yang dinukil dari Imam Syafi‘i didasarkan pada qaul al-syuyu‘, dan jenis pendapat ini sering digunakan oleh beliau dan para sahabatnya.

وقال قائلون نفرق بين مسألة الخلع وبين مسألة الهبة ونقول في مسألة الخلع اقترن سببُ استحقاق الزوج بتصرفها فنفوذ التصرف واستحقافُ الزوج يلتقيان ويقربان فكل ما وقع التصرف فيه يجعله عوضاً محسوباً من الحقين حق الزوج وحقها وليس كذلك مسألة الهبة لأنها وهبت النصف في حالةٍ لم يكن للزوج فيها استحقاقٌ في عين الصداق ولا سببٌ للاستحقاق فكان تصرفها محمولاً على خالص حقها وإذا حمل تصرفها على حقها الخالص تعين صرف ما بقي إلى خالص حق الزوج وقال هؤلاء نظير مسألة الخلع أن يطلقها والصداق بعدُ في يدها بكماله فلو تصرفت في النصف فلا يكون تصرفها في خالص حقها بل يجعل شائعاً في الحقين

Sebagian orang berkata, “Kita membedakan antara masalah khulu‘ dan masalah hibah. Dalam masalah khulu‘, sebab suami berhak atas sesuatu berkaitan dengan tindakan istri, sehingga berlakunya tindakan dan hak suami bertemu dan saling mendekat. Maka, segala sesuatu yang menjadi objek tindakan tersebut dijadikan sebagai kompensasi yang diperhitungkan dari dua hak: hak suami dan hak istri. Tidak demikian halnya dengan masalah hibah, karena ia memberikan setengahnya pada saat suami belum memiliki hak atas bagian tertentu dari mahar, dan juga belum ada sebab yang menjadikan suami berhak atasnya. Maka, tindakannya dianggap murni atas haknya sendiri. Jika tindakannya dianggap atas haknya sendiri, maka sisa yang ada harus diberikan sepenuhnya kepada hak suami. Mereka juga berkata, “Yang serupa dengan masalah khulu‘ adalah jika suami menceraikannya sementara mahar masih sepenuhnya di tangan istri. Jika istri bertindak atas setengahnya, maka tindakannya itu bukan sepenuhnya atas haknya sendiri, melainkan dianggap sebagai bagian bersama dari kedua hak tersebut.”

فصل قال فأما في الصداق غيرِ المسمى أو الفاسد فالبراءة في ذلك باطلة لأنها أبرأته مما لا تعلم إلى آخره

Bagian: Ia berkata, adapun dalam hal mahar yang tidak disebutkan atau mahar yang rusak, maka pembebasan (barā’ah) dalam hal itu batal, karena ia telah membebaskannya dari sesuatu yang tidak diketahui, dan seterusnya.

إذا نكح المرأة نكاحَ تفويض فقد ذكرنا أن لها حقَّ طلب الفرض فلو قالت أسقطت حقي عن طلب الفرض لم يسقط حقها فلو أكبّت على الطلب فبادر وطلقها فقد كُفي الرجل أمر الطلب وليس لها إلا المتعةُ قبل الدخول

Jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dengan akad tafwīḍ, sebagaimana telah kami sebutkan bahwa perempuan tersebut berhak meminta penetapan mahar. Jika ia berkata, “Aku telah menggugurkan hakku untuk meminta penetapan mahar,” maka haknya tidak gugur. Jika kemudian ia tetap meminta penetapan mahar, lalu suaminya segera menceraikannya, maka laki-laki tersebut telah terbebas dari urusan permintaan penetapan mahar, dan perempuan itu tidak berhak apa pun kecuali mut‘ah sebelum terjadi hubungan suami istri.

وإذا طلق الرجل امرأته في نكاح مشتمل على التسمية قبل المسيس وحكمنا بأن شطر المهر لا يرجع إلى الزوج إلا باختيار التملك فلو قال أبطلت حقي في التملك بطل حقه ولا حاجة في ذلك إلى قبول المرأة وإن فرعنا على أن صحة الإبراء تقف على القبول وسبب هذا أن ثبوت حق التملك يضاهي ثبوتَ حق الشفعة ثم حق الشفيع يبطل بالإبطال من غير قبول فإن من يشترط القبولَ في الإبراء يحمله على التمليك وهذا المعنى لا يتحقق فيما نحن فيه

Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya dalam pernikahan yang disertai penamaan mahar sebelum terjadi hubungan suami istri, dan kami memutuskan bahwa setengah mahar tidak kembali kepada suami kecuali dengan memilih untuk memilikinya, maka jika suami berkata, “Aku membatalkan hakku untuk memiliki,” gugurlah haknya itu dan tidak perlu ada penerimaan dari pihak istri. Meskipun kami berpendapat bahwa sahnya pembebasan utang (ibrā’) bergantung pada penerimaan, sebabnya adalah bahwa penetapan hak kepemilikan ini serupa dengan penetapan hak syuf‘ah. Hak syuf‘ah juga gugur dengan pembatalan tanpa perlu adanya penerimaan. Barang siapa yang mensyaratkan adanya penerimaan dalam pembebasan utang, ia menganggapnya sebagai pemindahan kepemilikan, dan makna ini tidak terwujud dalam permasalahan yang sedang kita bahas.

هذا قول القاضي فيما نقله عنه من يوثق بنقله ويظهر عندي ألا نحكم ببطلان حقه من التملك إذا فرعنا على الوجه الضعيف وينزل إبطالُ حق التملك منزلةَ إبطال الواهب حقَّه في الرجوع في الهبة فإنه لو قال أبطلت حقي في الرجوع لم يبطل حقه ولغا ما جاء به

Ini adalah pendapat qadhi sebagaimana dinukil oleh orang yang tepercaya dalam periwayatannya, dan menurut saya tampak bahwa kita tidak seharusnya memutuskan batalnya hak kepemilikannya jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat yang lemah. Pembatalan hak kepemilikan itu diposisikan seperti pembatalan hak pemberi hibah untuk menarik kembali hibahnya; sebab jika seseorang berkata, “Aku membatalkan hakku untuk menarik kembali hibah,” maka haknya tidak batal dan ucapannya itu menjadi tidak berlaku.

فإن قيل هلا شبهتم ذلك بالغانم يُبطل حقه عن المغنم فإنه يَبطُل حقُّه من أجل أنه لم يملك المغنم بل ملك أن يتملك قلنا لا بأس بهذا السؤال ولكن الواهب يملك نقضَ ملكٍ قام للمتهب والغانم يُبطل حقَّ تملّكٍ وليس تملّكه نقضاً لملك تام فهذا تشبيه من طريق الظاهر والتشبيه بالرجوع في الهبة أعوص وذلك أن ملكها تم بالإصداق وقد تلقّته من قِبل الزوج وإذا أراد الزوج استراداد النصف فإنما يسترجع ملكاً تاماً فكان تشبيهاً بالرجوع في الهبة

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menyerupakan hal itu dengan orang yang memperoleh harta rampasan perang (ghanim) yang gugur haknya atas harta rampasan tersebut, karena ia tidak memiliki harta rampasan itu, melainkan hanya memiliki hak untuk memilikinya?” Kami katakan, “Tidak masalah dengan pertanyaan ini. Namun, pemberi hibah (wahib) memiliki hak untuk membatalkan kepemilikan yang telah ada pada penerima hibah (muhab), sedangkan orang yang memperoleh harta rampasan hanya menggugurkan hak untuk memiliki, dan kepemilikannya bukanlah pembatalan atas kepemilikan yang sempurna. Maka, ini adalah penyerupaan dari sisi lahiriah saja. Penyerupaan dengan penarikan kembali hibah (ruju‘ dalam hibah) lebih rumit, karena kepemilikan mahar telah sempurna dengan akad nikah dan telah diterima oleh istri dari pihak suami. Jika suami ingin mengambil kembali setengahnya, maka ia hanya mengambil kembali kepemilikan yang sempurna. Maka, hal ini lebih menyerupai penarikan kembali hibah.”

وهو بعيد عن حق الشفعة من قِبَل أنه دَفْعُ ضرار كالرد بالعيب والشفيع داخل على ملك المشتري فكان أصلُ حقه نازحاً عن القياس ربطه الشرعُ بدفع الغرر فإذا وقع الرضا به لم يبعد سقوطه ولهذا كان طلبُ الشفعة على الفور على الأصح واختيار الزوج التملك ليس بهذه المثابة والمسألة على حالٍ محتملة

Hal ini jauh dari hak syuf‘ah karena syuf‘ah merupakan upaya menolak mudarat, seperti pengembalian barang karena cacat, dan syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) masuk ke dalam kepemilikan pembeli. Maka asal haknya memang jauh dari qiyās, karena syariat mengaitkannya dengan pencegahan gharar (ketidakjelasan/kerugian). Jika telah terjadi kerelaan terhadapnya, maka tidaklah aneh jika hak tersebut gugur. Oleh karena itu, menurut pendapat yang lebih kuat, permintaan syuf‘ah harus segera dilakukan. Adapun pilihan suami untuk memiliki (barang) tidaklah seperti itu, dan masalah ini masih dalam ranah yang memungkinkan (diperdebatkan).

وقد قدمنا في صدر الكتاب تشبيه تملك الزوج بالرجوع في الهبة فكان ذلك جرياناً على أحد الوجهين في الاحتمال

Kami telah mengemukakan di awal kitab ini perumpamaan kepemilikan suami dengan penarikan kembali hibah, sehingga hal itu berjalan sesuai dengan salah satu sisi kemungkinan.

وإذا كان النكاح نكاحَ تفويض فإن قلنا لا تستحق المرأة بالعقد شيئاً فلو أبرأت عن المهر لم يصح ذلك منها فإنه إبراء قبل الوجوب وإذا فرعنا على أنها تستحق المهرَ بالعقد نُظِر فإن كانت عالمة بمهر مثلها صح إبراؤها وإن كانت جاهلة بمبلغ مهر المثل فلا يصح إبراؤها فيما جهلته وهل يصح إبراؤها في المقدار المستيقن فعلى قولين

Jika akad nikah adalah nikah tafwīḍ, maka jika kita berpendapat bahwa perempuan tidak berhak mendapatkan apa pun dengan akad tersebut, maka jika ia membebaskan (menggugurkan) mahar, hal itu tidak sah darinya karena itu merupakan pembebasan sebelum kewajiban mahar ditetapkan. Namun jika kita berpendapat bahwa ia berhak atas mahar dengan akad, maka perlu dilihat: jika ia mengetahui besaran mahar mitsil (mahar yang lazim bagi perempuan sepertinya), maka sah baginya membebaskan mahar tersebut. Namun jika ia tidak mengetahui jumlah mahar mitsil, maka tidak sah baginya membebaskan apa yang tidak diketahuinya. Adapun apakah sah baginya membebaskan pada kadar yang diyakini (pasti), maka terdapat dua pendapat.

وبيان ذلك أنها لو استيقنت أن مهرها لا ينقص عن ألف وجوّزت أن يبلغ ألفين فإذا أبرأت عن مهر مثلها لم يصح إبراؤها عما هي مترددة فيه وهل يصح إبراؤها عن الألف المستيقن فعلى ما ذكرناه

Penjelasannya adalah bahwa jika seorang perempuan yakin maharnya tidak kurang dari seribu, namun memungkinkan baginya bahwa jumlahnya bisa mencapai dua ribu, maka apabila ia membebaskan (menggugurkan) mahar yang sepadan dengannya, pembebasan tersebut tidak sah atas apa yang masih ia ragukan. Adapun apakah sah pembebasannya atas seribu yang sudah diyakini, maka hal itu sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan.

فإن قيل إذا فرعتم على أن المفوضة لا تستحق بالعقد شيئاً فهلا جعلتم إبراءها عن مهر المثل إذا علمته بمثابة الإبراء عما لم يجب ووُجد سببُ وجوبه و في مثل هذا قولان قلنا ليس هذا بمثابة إبراء المرأة عن نفقة غدها فإن النفقة وإن لم تكن واجبة في الحال فالنكاحُ يفضي إلى وجوبها من غير سببٍ آخر فاستمر القولان في مثل ذلك ومهر المفوضة على قولنا إنها لا تستحق شيئاً بالعقد لا يثبت إلا بسبب سيحدث يتعلق إنشاؤه بالاختيار كالفرض والمسيس وقد ذكرت قولاً جامعاً في ضمان ما لم يجب في ترتيب القديم والجديد والإبراءُ عما لم يجب بمثابة ضمان ما لم يجب

Jika dikatakan: Jika kalian telah menetapkan bahwa perempuan yang tidak disebutkan mahar (al-mufawwaḍah) tidak berhak mendapatkan apa pun dengan akad, maka mengapa kalian tidak menganggap pembebasan (ibra’) darinya atas mahar mitsil ketika ia telah mengetahuinya sama dengan pembebasan atas sesuatu yang belum wajib, padahal sebab kewajibannya telah ada, dan dalam kasus seperti ini terdapat dua pendapat? Kami katakan: Ini tidak sama dengan pembebasan perempuan atas nafkah hari esoknya, karena nafkah meskipun belum wajib saat ini, namun pernikahan akan mengantarkan pada kewajibannya tanpa sebab lain, sehingga dua pendapat tetap berlaku dalam kasus seperti itu. Adapun mahar perempuan yang tidak disebutkan mahar (al-mufawwaḍah), menurut pendapat kami bahwa ia tidak berhak mendapatkan apa pun dengan akad, maka mahar itu tidak akan tetap kecuali dengan sebab yang akan terjadi kemudian yang terkait dengan pilihan, seperti penetapan mahar (al-farḍ) atau hubungan badan (al-masīs). Aku telah menyebutkan satu pendapat yang mencakup tentang jaminan atas sesuatu yang belum wajib dalam penataan pendapat lama dan baru, dan pembebasan atas sesuatu yang belum wajib itu sama dengan jaminan atas sesuatu yang belum wajib.

ومما يجب التنبه له أن نص الشافعي في كتبه يشير إلى أن المفوضة لا تستحق بالعقد شيئاً وفي هذا الفصل من نص الشافعي ما يدل على أنها تستحق بنفس العقد المهر فإنه قال فأما في الصداق غير المسمى أو الفاسد فالبراءة في ذلك باطلة لأنها أبرأته مما لم تعلم فقوله الصداق غير المسمى يشير إلى صورة التفويض ثم أبطل الشافعي الإبراء وعلل إبطاله بأنها أبرأت عما لم تعلم

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa teks Imam Syafi‘i dalam kitab-kitabnya menunjukkan bahwa wanita yang perwaliannya diserahkan (mufawwaḍah) tidak berhak mendapatkan apa pun hanya dengan akad. Namun, dalam bagian ini terdapat teks Imam Syafi‘i yang menunjukkan bahwa ia berhak mendapatkan mahar dengan sendirinya melalui akad, karena beliau berkata: “Adapun dalam hal mahar yang tidak disebutkan atau mahar yang rusak, maka pembebasan dari kewajiban tersebut batal, karena ia membebaskannya dari sesuatu yang tidak ia ketahui.” Ucapan beliau “mahar yang tidak disebutkan” mengacu pada kasus tafwīḍ, kemudian Imam Syafi‘i membatalkan pembebasan tersebut dan menjelaskan alasannya, yaitu karena ia membebaskan dari sesuatu yang tidak ia ketahui.

ولو كان الصداق غير واجب بالعقد لكان تعليل إبطال الإبراء بعدم الوجوب فإن ما لا يجب لا يعلل إبطال إسقاطه بكونه مجهولاً إذ المجهول ثابت على الجهالة وهذا حسن

Jika mahar tidak wajib karena akad, maka alasan pembatalan pembebasan (ibra’) adalah karena tidak adanya kewajiban. Sebab, sesuatu yang tidak wajib tidak dapat dijadikan alasan pembatalan penggugurannya dengan alasan ketidakjelasan, karena sesuatu yang tidak jelas tetap berada dalam ketidakjelasan, dan ini adalah hal yang baik.

ولكن يتطرق إليه حمل النص على تعرية النكاح عن ذكر المهر من غير إذن صريح من المرأة في التعرية وقد ذكرنا أن هذا يقتضي ثبوتَ المهر وليس من صور التفويض وإنما يلتحق النكاح بالتفويض التام إذا صرَّحت المرأة بالرضا بإسقاط المهر

Namun, terdapat kemungkinan bahwa teks tersebut dimaknai sebagai meniadakan penyebutan mahar dalam akad nikah tanpa adanya izin tegas dari perempuan untuk meniadakan mahar, dan telah kami sebutkan bahwa hal ini mengharuskan tetap adanya mahar dan bukan termasuk dalam bentuk tafwīḍ. Nikah baru dapat disamakan dengan tafwīḍ yang sempurna apabila perempuan secara tegas menyatakan kerelaannya untuk menggugurkan mahar.

والمفوضة لو أبرأت عن المتعة قبل الطلاق لم يصح إبراؤها لأن ذلك إسقاط ما لم يجب بعدُ ولا يخرج على القولين المشهورين في أنَّ ما لم يجب ووُجد سبب وجوبه هل يصح الإبراء عنه فإن وجوب المتعة محال على الطلاق الذي سيقع فليس النكاح سبباً خاصاً في إيجاب المتعة وقد ذكرنا هذا في إبرائها عن المهر إذا قلنا إنها لا تستحق المهر بأصل العقد

Adapun wanita yang akad nikahnya tanpa penentuan mahar (al-mufawwaḍah), jika ia membebaskan (menggugurkan haknya) atas mut‘ah sebelum terjadi talak, maka pembebasan itu tidak sah, karena hal itu berarti menggugurkan sesuatu yang belum menjadi kewajiban, dan hal ini tidak termasuk dalam dua pendapat masyhur mengenai apakah sesuatu yang belum wajib namun sebab kewajibannya telah ada, boleh digugurkan atau tidak. Sebab, kewajiban mut‘ah itu bergantung pada talak yang akan terjadi, sehingga pernikahan bukanlah sebab khusus yang mewajibkan mut‘ah. Hal ini telah kami sebutkan pula dalam pembahasan tentang pembebasan mahar, jika kita berpendapat bahwa ia tidak berhak atas mahar hanya dengan akad nikah saja.

Bab tentang hukum masuk, menutup pintu, dan menurunkan tirai

قال الشافعي وليس له الدخول بها حتى يعطيَها المال إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata, “Dan tidak halal baginya untuk menggaulinya hingga ia memberikan mahar kepadanya.”

للمرأة حبسُ نفسها عن زوجها حتى يتوفر الصداقُ عليها كَملاً وقد ذكرنا في البيع نصوصاً وأقوالاً في أن البداية بالتسليم على من تجب من البائع والمشتري فكان الحاصل أربعةَ أقوال أحدها إنه يجب على البائع البداية بتسليم المبيع أولاً

Seorang wanita berhak menahan dirinya dari suaminya sampai mahar diberikan kepadanya secara penuh. Kami telah menyebutkan dalam bab jual beli beberapa nash dan pendapat mengenai siapa yang wajib memulai penyerahan antara penjual dan pembeli, sehingga terdapat empat pendapat; salah satunya adalah bahwa penjual wajib memulai dengan menyerahkan barang yang dijual terlebih dahulu.

والثاني إن البداية تجب على المشتري

Kedua, bahwa permulaan (pembayaran) wajib dilakukan oleh pembeli.

والثالث إنهما يُجبَران معاً

Dan yang ketiga, keduanya dipaksa bersama-sama.

والرابع إنهما لا يُجبران ولكن من بدأ منهما بتسليم ما عليه أُجبر صاحبه على التسليم حينئذ

Keempat, keduanya tidak dipaksa, tetapi jika salah satu dari mereka memulai dengan menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya, maka pasangannya dipaksa untuk menyerahkan pada saat itu juga.

والزوج في النكاح في مقام المشتري والمرأة في مقام البائع وتجري بينهما ثلاثة أقوال أحدها إنهما يجبران جميعاً إذا تنازعا البداية

Suami dalam pernikahan berada pada posisi pembeli, sedangkan istri berada pada posisi penjual, dan di antara keduanya terdapat tiga pendapat; salah satunya adalah bahwa keduanya dapat dipaksa (untuk melaksanakan akad) jika terjadi perselisihan mengenai siapa yang memulai.

والثاني إنهما لا يجبران ولكن من بدأ منهما أُجبر صاحبه على تسليم ما عليه فإن بدأت المرأة بتسليم نفسها وجب على الزوج بعد تسليمها أن يسوق إليها صداقَها فإن بدأ الزوج بتسليم الصداق وجب عليها أن تسلم نفسها إذا لم يكن بها عذر كما سنصف المعاذير من بعدُ

Kedua, keduanya tidak dipaksa, tetapi jika salah satu dari mereka memulai, maka pasangannya dipaksa untuk menyerahkan apa yang menjadi kewajibannya. Jika istri memulai dengan menyerahkan dirinya, maka suami wajib setelah itu memberikan mahar kepadanya. Jika suami memulai dengan menyerahkan mahar, maka istri wajib menyerahkan dirinya jika tidak ada uzur, sebagaimana nanti akan dijelaskan mengenai alasan-alasan uzur.

والقول الثالث إنه يجب على الزوج البداية بتسليم الصداق ولا يخرّج قولٌ إنه يجب عليها البداية بتسليم النفس وإن كنا ذكرنا قولاً في إيجاب البداية على البائع فهي في مقام البائع ومحلِّه والفارق أن المرأة إذا بدأت فسَلَّمت نفسها كان في تسليمها تفويتُ منفعة البضع على وجهٍ لا يُفرض الرجوع إليها وليس كذلك البائع فإنه إذا سلَّم فلم يَفِ المشتري بتسليم الثمن أمكن فرضُ رجوعه إلى المبيع فإنه لا يفوت عنه بالتسليم

Pendapat ketiga menyatakan bahwa suami wajib memulai dengan menyerahkan mahar, dan tidak ada pendapat yang menyatakan bahwa istri wajib memulai dengan menyerahkan diri. Meskipun kami telah menyebutkan suatu pendapat tentang kewajiban memulai pada pihak penjual, dalam hal ini istri berada pada posisi dan kedudukan penjual. Perbedaannya adalah jika perempuan memulai dengan menyerahkan dirinya, maka dalam penyerahan itu terdapat hilangnya manfaat hubungan badan dengan cara yang tidak memungkinkan untuk kembali kepadanya. Tidak demikian halnya dengan penjual; jika ia telah menyerahkan barang namun pembeli tidak memenuhi penyerahan harga, masih mungkin untuk mengembalikan barang tersebut karena barang itu tidak hilang darinya dengan penyerahan tersebut.

ثم إذا لم نوجب على واحد منهما البداية فَمِنْ حُكْمِ هذا القول أن المرأةَ لا تطالِبُ زوجها بالمهر ولا يثبت لها حقُ المطالبةِ به ما لم تُسَلِّم نفسَها فإنْ سلَّمت نفسَها ووطئها الزوج استقر المهر وحقت الطَّلبة وإن مكّنت فامتنع الزوجُ توجهت الطَّلبةُ بالمهر وإنْ لم يتقرر المهرُ فيكفيها تسليطُها على الطلب وإن لم يقرر المهر

Kemudian, jika kita tidak mewajibkan salah satu dari keduanya untuk memulai, maka menurut pendapat ini, perempuan tidak boleh menuntut suaminya untuk membayar mahar dan tidak berhak menuntutnya selama ia belum menyerahkan dirinya. Jika ia telah menyerahkan dirinya dan suaminya telah menggaulinya, maka mahar menjadi tetap dan ia berhak menuntutnya. Jika ia telah memberi kesempatan namun suaminya menolak, maka hak menuntut mahar berpindah kepadanya. Jika mahar belum ditetapkan, maka cukup baginya untuk berhak menuntut, meskipun mahar belum ditetapkan.

ومن لطيف الكلام أنها لو مكنت ثم امتنعت وأخذت تطلب لم يكن لها الطلب فإنها عادت إلى منع البداية والذي جرى منها لم يكن بداية تامة فبين التقريرِ واستقرارِ الطلب بالمسيس وبين تفويت حق الطلب مرتبةٌ يفهمها الفطن ثم هذه المرتبةُ شرطُها أن تستمر المرأةُ على التمكين منها ولا تُبدي إباءً

Di antara hal yang menarik adalah bahwa jika seorang istri telah memberikan izin (untuk digauli), lalu kemudian menolak dan mulai meminta (nafkah atau hak-haknya), maka ia tidak berhak untuk menuntut, karena ia telah kembali kepada penolakan sejak awal. Apa yang terjadi darinya sebelumnya bukanlah permulaan yang sempurna. Maka, antara penetapan dan ketetapan hak menuntut dengan terjadinya hubungan suami istri, dan antara hilangnya hak menuntut, terdapat satu tingkatan yang hanya dipahami oleh orang yang cerdas. Tingkatan ini syaratnya adalah wanita terus-menerus memberikan izin (untuk digauli) dan tidak menunjukkan penolakan.

وإذا قلنا إنهما يجبران فتصوير ذلك أن يؤخذ الصداقُ من الزوج ويوضعَ على يديْ عدل ثم تُجبرُ هي على تسليم نفسِها فإذا سلَّمت نفسها سُلِّمَ الصداقُ إليها

Jika kita mengatakan bahwa keduanya dapat dipaksa, maka gambaran kasusnya adalah mahar diambil dari suami dan diletakkan di tangan seorang yang adil, kemudian istri dipaksa untuk menyerahkan dirinya. Jika ia telah menyerahkan dirinya, maka mahar itu diserahkan kepadanya.

والذي نراه في ذلك أنها إذا سلمت فلم يأتها الزوج فعلى العدل تسليم الصداق إليها على القاعدة المقدمة ولو قدّرنا تسليم الصداق إليها في هذا المنتهى فَهَمَّ الزوجُ بوطئها فامتنعت فالوجه استرداد الصداق منها

Menurut pendapat kami dalam hal ini, apabila istri telah diserahkan namun suami tidak mendatanginya, maka pihak yang adil wajib menyerahkan mahar kepadanya sesuai kaidah yang telah dijelaskan. Namun, jika kita mengandaikan mahar telah diserahkan kepadanya pada tahap ini, lalu suami berniat menggaulinya namun ia menolak, maka yang tepat adalah mahar tersebut diambil kembali darinya.

وإذا قلنا الزوج يجبر على البداية بتسليم الصداق وتملك المرأةُ الابتداءَ بطلب الصداق فذلك إذا كان يتأتى منها التمكين فأما إذا كانت على حالةٍ لا يتأتى من الزوج قِربانها فلا تملك مطالبةَ الزوج بالمهر فإن تسليم الصداق يجب أن يكون واجباً حيث يتأتى منها استيفاءُ ما يقابل الصداق

Dan apabila kami katakan bahwa suami diwajibkan untuk memulai dengan menyerahkan mahar dan istri berhak memulai dengan menuntut mahar, maka hal itu berlaku jika memungkinkan baginya (istri) untuk memberikan kesempatan (kepada suami). Adapun jika istri berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan bagi suami untuk mendekatinya, maka ia tidak berhak menuntut suami untuk membayar mahar. Sebab, penyerahan mahar wajib dilakukan ketika memungkinkan bagi istri untuk menerima apa yang menjadi imbalan dari mahar tersebut.

وإذا قلنا في البيع يبدأ المشتري بتسليم الثمن فإنما يجب ذلك إذا كان البائع قادراً على تسليم المبيع فلو كان أبِق العبد بعد البيع فالمشتري لا يطالَب بالثمن فإن الثمن لا يجب وجوبَ قِيم المتلفات وإنما يجب عوضاً ووضع العوض يقتضي وإن وقع البداية به أن يقابل معوّضه

Dan apabila kami katakan dalam jual beli bahwa pembeli memulai dengan menyerahkan harga, maka hal itu wajib dilakukan jika penjual mampu menyerahkan barang yang dijual. Namun, jika budak tersebut melarikan diri setelah akad jual beli, maka pembeli tidak dituntut untuk membayar harga, karena harga tidak wajib seperti kewajiban membayar ganti rugi barang yang rusak, melainkan wajib sebagai pengganti. Dan penetapan pengganti, meskipun dimulai dengan penyerahannya, mengharuskan adanya barang yang digantikan.

ولو وفّر الزوج الصداق على المرأة فالقول في ذلك ينقسم فإن أوجبنا عليه البداية فذلك حيث يتصور منها التمكين فإذا امتنعت استرد ما سَلَّم

Jika suami telah memberikan mahar kepada istri, maka dalam hal ini terdapat dua kemungkinan: jika kami mewajibkan suami untuk memulai (memberikan mahar terlebih dahulu), maka hal itu berlaku ketika istri memungkinkan untuk memberikan penyerahan diri (tamkin). Namun, jika istri menolak, maka suami berhak mengambil kembali apa yang telah ia serahkan.

وإن لم نوجب عليه البداية فتبرع وبدأ فامتنعت عن التمكين لم يسترد الزوج بل أُجْبرت على التمكين وإن تبرع بتسليم الصداق وهي معذورة ثم بدا له في الاسترداد فهل له أن يسترد ذكر القاضي وجهين أحدهما له الرجوع لأنه سلَّمَ في وقت لا يلزمه التسليمُ فيه والامتناع قائم وهذا وجه ضعيف والأصح أنه لا ينتزع ما سلم إليها لأنه تبرع بالتسليم فالرجوع بعد التبرع لا وجه له

Jika kami tidak mewajibkan suami untuk memulai, lalu ia berinisiatif dan memulai, kemudian istri menolak untuk memberikan izin (berhubungan), maka suami tidak dapat menarik kembali (mahar) yang telah diberikan, melainkan istri dipaksa untuk memberikan izin. Jika suami berinisiatif menyerahkan mahar sementara istri memiliki uzur, lalu kemudian suami ingin menarik kembali, apakah ia boleh menariknya? Qadhi menyebutkan dua pendapat: salah satunya, ia boleh menarik kembali karena ia telah menyerahkan mahar pada waktu yang belum wajib baginya untuk menyerahkan dan penolakan (dari istri) masih ada. Namun, pendapat ini lemah. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ia tidak boleh menarik kembali apa yang telah diserahkan kepada istri, karena ia telah berinisiatif menyerahkan, sehingga tidak ada alasan untuk menarik kembali setelah berinisiatif.

وإذا كان يذكر وجهين في المعذورة فيتجه ذكرهما أيضاًً في التي لا علة بها بل تلك أَوْلى من جهة أن تسليم الزوج يحمل على توقع تمكينها وإن كان متبرعاً وإذا سلم وهي معذورة فهذا أبعدُ من الانتزاع فإن التسليم جرى مع توطين النفس على امتناع الوطء

Jika dalam kasus perempuan yang memiliki uzur disebutkan dua pendapat, maka kedua pendapat itu juga relevan disebutkan pada perempuan yang tidak memiliki uzur, bahkan kasus yang kedua lebih utama dari satu sisi, yaitu bahwa penyerahan istri oleh suami dapat dianggap sebagai harapan akan adanya kemungkinan istri dapat memenuhi kewajiban, meskipun suami melakukannya secara sukarela. Jika suami menyerahkan istri sementara istri dalam keadaan uzur, maka ini lebih jauh dari kemungkinan penarikan kembali, karena penyerahan itu dilakukan dengan kesadaran bahwa hubungan suami istri tidak mungkin dilakukan.

ولو نظم ناظمٌ هذا على العكس لاتجه فيقول إن كانت معذورة فسَلَّمَ مع العلم بعذرها لم يرجع وإن لم تكن معذورة وأراد الرجوع فوجهان وكل هذا خبط

Jika seseorang menyusun hal ini secara terbalik, maka hal itu dapat diterima, yaitu: jika ia memiliki uzur lalu ia memberi salam dengan mengetahui uzurnya, maka ia tidak perlu mengulangi salatnya; namun jika ia tidak memiliki uzur dan ingin mengulangi salatnya, terdapat dua pendapat. Semua ini adalah pendapat yang tidak jelas.

والوجه القطع بأنَّ المتبرع بالتسليم لا يرجع فهذا تمام البيان في هذا الفن

Dan pendapat yang benar adalah bahwa orang yang secara sukarela menyerahkan (barang) tidak berhak menuntut kembali. Demikianlah penjelasan lengkap dalam bidang ini.

ثم إذا ساق الزوج الصداق فعليها التسليم فإذا استَمْهَلَت أُمْهِلَت ريثما تستعد وتتهيأ ثم ذكر الأصحاب أن منتهى المَهَل ثلاثة أيام فإن الاستعداد ممكن في هذا القدر من الزمان وهذا الذي ذكروه تقديرٌ ولا سبيل إلى التقدير من غير توقيف

Kemudian, apabila suami telah menyerahkan mahar, maka istri wajib menyerahkan diri. Jika istri meminta penundaan, maka ia diberi waktu hingga ia siap dan mempersiapkan diri. Para ulama menyebutkan bahwa batas maksimal penundaan adalah tiga hari, karena persiapan memungkinkan dilakukan dalam rentang waktu tersebut. Apa yang mereka sebutkan ini adalah suatu taksiran, dan tidak ada jalan untuk menetapkan taksiran tanpa adanya dalil yang jelas.

والذي يجب التثبت فيه أن معظم ما يعتقده الناس استعداداً لا حاجة إليه وإنما المعنيّ بالاستعداد في الشرع أن تهيىّء بدنَها بتنظف لا يكاد يخفى وما عداه لا اكتراث به فعلى هذا يقرب الزمان ويختلف ذلك باختلاف الأحوال والأشخاص

Hal yang harus dipastikan adalah bahwa sebagian besar hal yang diyakini orang sebagai persiapan sebenarnya tidak diperlukan, dan yang dimaksud dengan persiapan dalam syariat adalah menyiapkan tubuhnya dengan membersihkan diri yang tidak sulit diketahui, sedangkan selain itu tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, waktunya menjadi dekat dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan individu masing-masing.

ثم ذكر الشافعي أن الصغيرة التي لا تطيق الجماع لا تسلّم إلى زوجها وكذلك لو كانت مريضة مرضاً يضرُّ بها الوقاعُ ضرراً بيّناً فالأمر على ما ذكرناه

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan bahwa anak perempuan yang masih kecil dan belum mampu melakukan hubungan suami istri tidak diserahkan kepada suaminya, demikian pula jika ia sedang sakit dengan penyakit yang jelas-jelas akan membahayakannya jika melakukan hubungan tersebut, maka ketentuannya adalah seperti yang telah kami sebutkan.

وإن كان لا يضرّ بها الوقاع وجب تسليمها إلى الزوج ولو قال الزوج سلموها إليَّ وإن كان بها مانع وأنا أنكفّ عنها لم تسلم إليه وإن كان موثوقاً به فإنَّ نزقات النفس ونزغات الشيطان لا تؤمن ولذلك حرم الله تعالى استخلاء الرجل بأجنبية وإن كان أعدلَ البريّة وأتقاهم

Jika hubungan badan tidak membahayakannya, maka wajib menyerahkannya kepada suami, meskipun suami berkata, “Serahkan dia kepadaku.” Namun, jika ada halangan pada dirinya dan suami berkata, “Aku akan menahan diri darinya,” maka ia tidak boleh diserahkan kepadanya, meskipun suami itu dapat dipercaya. Sebab, dorongan nafsu dan godaan setan tidak dapat dihindari. Karena itulah Allah Ta‘ala mengharamkan seorang laki-laki berduaan dengan perempuan asing, meskipun ia adalah orang yang paling adil dan paling bertakwa di antara manusia.

وإن كانت حائضاً وجب تسليمها فإنه ينتفع بها على وجوه ولا خلاف أن الزوج إذا حاول من زوجته الحائض الاجتماع معها في شعار وطلب ضمّاً والتزاماً فليس لها أن تمتنع ولو جاز لها أن تمتنع لوجب على الزوج أن يمتنع وهذا على ظهوره ليس بالهين ويعارضه القول في المريضة فإن الزوج قد يستمتع بها من وجوه وقد يهوى لقاءها ثم لا يؤتمن عليها

Jika istri sedang haid, maka wajib menyerahkannya kepada suami, karena ia tetap dapat diambil manfaatnya dalam beberapa hal. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika suami ingin berkumpul dengan istrinya yang sedang haid dalam satu selimut, atau meminta pelukan dan dekapan, maka istri tidak boleh menolak. Jika ia diperbolehkan menolak, maka seharusnya suami juga wajib menahan diri, dan hal ini secara jelas bukan perkara yang ringan. Namun, pendapat ini bertentangan dengan kasus istri yang sedang sakit, karena suami masih dapat menikmati istrinya dalam beberapa hal dan mungkin juga merindukan pertemuan dengannya, tetapi ia tidak dapat dipercaya untuk menjaga istrinya.

وعن عائشة أنها قالت كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في الخميلة فحضت فانسللت فقال مالكِ أَنُفستِ قلت بلى يا رسول الله قال خذي ثياب حيضتكِ وعودي إلى مضجعك ونال مني ما ينال الرجل من امرأته إلا ما تحت الإزار وقد يدور في الخلد أن هذا كان من رسول الله صلى الله عليه وسلم بمثابة تقبيله نساءه وهو صائم قالت عائشة كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُقَبِّل إحدانا وهو صائم وكان أملككم لأرْبِه بأبي هو وأمي ولكن لا ينبغي أن يتمارى الفقيه في جواز استخلاء الزوج بزوجته وهي حائض

Dari Aisyah, ia berkata: Aku pernah bersama Rasulullah saw. di dalam kemah, lalu aku haid, maka aku pun menyingkir. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu? Apakah kamu sedang haid?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Ambillah pakaian haidmu dan kembalilah ke tempat tidurmu.” Maka beliau melakukan kepadaku apa yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya, kecuali apa yang berada di bawah kain penutup. Mungkin terlintas dalam benak bahwa hal ini dari Rasulullah saw. serupa dengan mencium istri-istrinya saat beliau sedang berpuasa. Aisyah berkata, “Rasulullah saw. biasa mencium salah satu dari kami saat beliau sedang berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu menahan nafsunya, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusannya.” Namun, tidak sepantasnya seorang faqih meragukan kebolehan seorang suami berduaan dengan istrinya yang sedang haid.

فإن قيل ما الفرق بين الحائض والمريضة قلنا المرعيُّ في حق المريضة خيفةُ الإضرار بها فلها أن تمتنع ولولي الصغيرة أن يمنعها وتحريم وقاع الحائض يتعلق بحق الله تعالى والوازع من الهجوم على المحرمات الوعيد فإذا كان الحِلّ قائماً بالنكاح وكان الوطء محرماً وقع الاكتفاء بإيضاح التحريم

Jika ditanyakan, apa perbedaan antara perempuan haid dan perempuan sakit? Kami katakan, yang menjadi pertimbangan pada perempuan sakit adalah kekhawatiran akan membahayakan dirinya, maka ia boleh menolak, dan wali anak kecil juga boleh mencegahnya. Adapun keharaman berhubungan dengan perempuan haid berkaitan dengan hak Allah Ta‘ala, dan yang mencegah seseorang untuk melakukan hal yang diharamkan adalah ancaman (dari Allah). Maka, selama kehalalan (hubungan) tetap ada karena pernikahan, namun hubungan badan itu diharamkan, cukuplah dengan penjelasan tentang keharamannya.

ولو رضيت المريضة بأن يخلو بها زوجها لم يحرم عليه أن يستمتع بها استمتاعاً لا يضر ولو عرفت المرأة أن الزوج يغشاها في الحيض ولا يراقب الله تعالى فيها لو استخلى بها فهل لها أن تمتنع هذا فيه تردد وليس يبعد تجويز ذلك لها أو إيجاب ذلك عليها والعلم عند الله تعالى

Jika seorang istri yang sedang sakit rela untuk ditinggali sendirian oleh suaminya, maka tidak haram bagi suaminya untuk menikmati istrinya dengan cara yang tidak membahayakan. Namun, jika seorang istri mengetahui bahwa suaminya akan menggaulinya saat haid dan tidak takut kepada Allah Ta’ala ketika berduaan dengannya, maka apakah ia boleh menolak? Dalam hal ini terdapat keraguan, dan tidak mustahil dibolehkan baginya untuk menolak, atau bahkan diwajibkan atasnya untuk menolak. Dan ilmu yang pasti hanya milik Allah Ta’ala.

ثم إذا ثبت أن للمرأة أن تمتنع عن الوطء حتى يتوفر عليها صداقها فلو مكَّنت فأتاها الزوج ثم أرادت بعد جريان الوطء أن تمتنع حتى يتوفر عليها الصداق لم يكن لها ذلك فإنَّ الوطأة الواحدة بمثابة وَطْآت العمر في تقرير الصداق فليس لها بعدها امتناع خلافاً لأبي حنيفة فإنه جوَّز لها الامتناع بعد الوطأة الأولى

Kemudian, jika telah tetap bahwa perempuan berhak menolak hubungan suami istri sampai mahar diberikan kepadanya, maka apabila ia telah mengizinkan dan suaminya telah menggaulinya, lalu setelah terjadinya hubungan tersebut ia ingin menolak lagi sampai mahar diberikan kepadanya, maka ia tidak berhak melakukan itu. Sebab, satu kali hubungan suami istri dianggap setara dengan seluruh hubungan selama hidup dalam hal penetapan mahar, sehingga setelah itu ia tidak boleh menolak lagi. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang membolehkan perempuan menolak setelah hubungan pertama.

ولو وطىء الزوج قهراً من غير مطاوعة فمهرها يتقرر فلو أرادت الامتناع ففي المسألة وجهان أحدهما لها ذلك فإنها لم تطاوع والامتناع ممكن

Jika suami menggauli istri secara paksa tanpa kerelaan, maka mahar menjadi tetap. Jika istri ingin menolak (berhubungan), dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, ia berhak menolak karena ia tidak rela dan penolakan masih memungkinkan.

والثاني ليس لها ذلك لأن مهرها قد تقرر وانتهى إلى حالة لا يتعرض بعدها للسقوط فصار كما لو طاوعت واسترجاع ما جرى غير ممكن وليس كما لو اغتصب المشتري المبيع على قولنا للبائع حق الحبس فإن المبيع إن أمكن استردادُه استرد ورُدّ إلى يد البائع حتى يتوفر الثمن عليه

Dan pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak berhak melakukan itu karena maharnya telah ditetapkan dan telah sampai pada keadaan yang tidak lagi dapat gugur setelahnya, sehingga keadaannya seperti ketika ia telah rela, dan pengembalian terhadap apa yang telah terjadi tidak mungkin dilakukan. Ini berbeda dengan kasus ketika pembeli merampas barang yang dibeli, menurut pendapat kami bahwa penjual memiliki hak menahan, maka jika barang tersebut masih mungkin untuk diambil kembali, barang itu diambil dan dikembalikan ke tangan penjual hingga harga barang tersebut dilunasi kepadanya.

ثم ذكر الشافعي بعد ذلك فصلين من كتابين أحدهما النفقة فإذا قالت المرأة لزوجها مهما سقت إليَّ صداقي مكَّنتُكَ ثبتت نفقتها ولو سكتت ولم تتعرض لذلك ففي ثبوت النفقة قولان

Kemudian setelah itu, asy-Syafi‘i menyebutkan dua bagian dari dua kitab, salah satunya tentang nafkah. Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Kapan pun aku menyerahkan maharku kepadamu, aku akan membiarkanmu (menggauliku),” maka nafkahnya tetap wajib. Namun jika ia diam dan tidak membicarakan hal itu, maka dalam penetapan nafkah terdapat dua pendapat.

ثم تعرض لاختلاف القول في نفقة الصغيرة وكل ذلك يأتي على الاستقصاء في كتاب النفقات إن شاء الله عز وجل

Kemudian beliau membahas perbedaan pendapat mengenai nafkah untuk anak perempuan yang masih kecil, dan semua itu akan dijelaskan secara rinci dalam Kitab Nafkah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والفصل الثاني في الإفضاء فإذا أتى الزوج زوجته فأفضاها فالقول في تصوير الإفضاء وفي موجبه يأتي في كتاب الديات إن شاء الله عز وجل وحظّ هذا الباب منه أن الزوج لا يُمَكَّن من غشيانها بعد ذلك ما لم يندمل مارِنُها فإن زعمت أنها لم تستبلّ بعدُ فلا رجوع إلا إليها وإن طال الزمان فلا وجه إلا تصديقها مع يمينها إلا أن يفرض إمكان الاطلاع فإن كان كذلك فللزوج أن يأمر أربعاً من النسوة الثقات حتى يطّلعن ويخبرن بحقيقة الحال فإذا أخبرن بأنها قد بَرَأَت مُكِّن الزوج من وطئها

Bagian kedua membahas tentang ifdā’. Jika seorang suami berhubungan dengan istrinya lalu menyebabkan ifdā’ padanya, maka penjelasan tentang gambaran ifdā’ dan akibat hukumnya akan dibahas dalam Kitab Diyat, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun bagian yang berkaitan dengan bab ini adalah bahwa suami tidak diperbolehkan menggaulinya kembali sebelum bagian yang terluka (marin) sembuh. Jika istri mengaku bahwa ia belum sembuh, maka tidak ada rujukan kecuali kepada pengakuannya, meskipun waktu telah lama berlalu; tidak ada jalan lain kecuali membenarkannya dengan sumpahnya, kecuali jika memungkinkan untuk memastikan secara langsung. Jika demikian, maka suami boleh meminta empat wanita tepercaya untuk memeriksa dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Jika mereka memberitakan bahwa ia telah sembuh, maka suami diperbolehkan menggaulinya kembali.

فصل قال وإن دخلت عليه فلم يمسها حتى طلقها إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Dan jika ia telah masuk kepada istrinya namun belum menyentuhnya hingga menceraikannya, dan seterusnya.”

المقصود بالكلام خَلوة الرجل بامرأته وأنها هل تقرر الصداق من غير مسيس وهل توجب العدة فالمنصوص عليه للشافعي في الجديد أن الخَلوة لا تقرر ولا توجب العدة ولا يتعلق بها حكم

Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah khalwat seorang laki-laki dengan istrinya, apakah hal itu menetapkan mahar tanpa adanya hubungan suami istri dan apakah mewajibkan masa iddah. Pendapat yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i dalam pendapat barunya adalah bahwa khalwat tidak menetapkan mahar, tidak mewajibkan masa iddah, dan tidak ada hukum yang terkait dengannya.

وقال في القديم الخَلوة تقرر المهر وتوجب العدّة ثم اختلف الأئمة في تنزيل القول القديم فقال قائلون الخلوة في القديم تنزل منزلة الوطء في تقرير المهر وإيجاب العدة وتوجيه القولين مذكور في طيول المسائل

Dan dalam pendapat lama, khalwat menetapkan mahar dan mewajibkan ‘iddah. Kemudian para imam berbeda pendapat dalam menafsirkan pendapat lama tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa dalam pendapat lama, khalwat diposisikan seperti jima‘ dalam hal penetapan mahar dan kewajiban ‘iddah. Penjelasan kedua pendapat ini disebutkan dalam rincian masalah.

وكنت أود أن يختص جريان القولين بتقرير المهر من قِبل أنَّ تمكُّن المستحق من حقه في المعاوضات إن كان ينزل منزلة استيفاء ذلك الإنسان حقَّه فلا وجه مع هذا لإحلال الخَلْوة محل الوطء في إيجاب العدة المتعلقة بما يشغل الرَّحِم ولكن لم يصر إلى هذا أحد من الأصحاب بل من أجرى القولين أجراهما في التقرير وإيجاب العدة جميعاً

Saya sebenarnya ingin agar penerapan dua pendapat itu hanya terbatas pada penetapan mahar, karena kemampuan pihak yang berhak untuk memperoleh haknya dalam transaksi, jika dianggap setara dengan orang tersebut telah menerima haknya, maka tidak ada alasan untuk menyamakan khalwat dengan hubungan badan dalam mewajibkan iddah yang berkaitan dengan kemungkinan terisinya rahim. Namun, tidak ada seorang pun dari para ulama kami yang berpendapat demikian; bahkan siapa pun yang menerapkan dua pendapat itu, ia menerapkannya baik dalam penetapan mahar maupun dalam mewajibkan iddah sekaligus.

ولما قال أبو حنيفة الخَلوة تقرر المهر قضى بأنها توجب العدة غيرَ أنه قال إذا فرض طلاق بعد الخَلوة واستقبلت المرأة العدة فليس للزوج حقُّ الرجعة وقطع أئمتنا بثبوت الرجعة تفريعاً على القديم فإن الرجعة عندنا لا تنقطع إلا باستيفاء العدة أو استيفاء العدد أو وقوع الفراق على عوض

Ketika Abu Hanifah berpendapat bahwa khalwat menetapkan mahar, ia memutuskan bahwa hal itu juga mewajibkan ‘iddah, hanya saja ia berkata: Jika terjadi talak setelah khalwat dan perempuan mulai menjalani ‘iddah, maka suami tidak memiliki hak ruju‘. Para imam kami menegaskan adanya hak ruju‘ berdasarkan pendapat lama, karena menurut kami hak ruju‘ tidak terputus kecuali dengan selesainya masa ‘iddah, terpenuhinya jumlah talak, atau terjadinya perpisahan dengan kompensasi.

ثم قال أبو حنيفة الخَلوة إنما تقرر المهر إذا لم يكن في المرأة مانع من الوطء شرعاً كالحيض والنفاس والإحرام وصوم الفرض واختلفت الرواية في صوم التطوع

Kemudian Abu Hanifah berkata, khalwah hanya menetapkan mahar jika pada diri perempuan tidak terdapat halangan secara syar‘i untuk melakukan hubungan badan, seperti haid, nifas, ihram, dan puasa wajib. Adapun mengenai puasa sunnah, terdapat perbedaan riwayat.

ثم قالوا الخَلوة بالرتقاء والقرناء تقرر المهر وإن كان الوطء ممتنعاً طبعاً بحيث لا يتصور وقوعه فهذا بيان اضطراب مذهبه

Kemudian mereka berkata bahwa khalwat dengan wanita yang mengalami ratq atau qarīnā’ menetapkan mahar, meskipun hubungan seksual secara tabiat tidak mungkin terjadi sehingga tidak terbayangkan kejadiannya. Ini menunjukkan ketidakkonsistenan mazhabnya.

وقد ذهب المحققون من أئمتنا إلى أن الخَلوة بالرتقاء لا تقرر المهر فإنه لا معنى لها فإن الخَلوة إن نزلت منزلة الوطء من حيث إنها تشتمل على التمكين من الوطء فهذا غير ممكن في الخَلوة بالرتقاء ولا أثر للخَلوة بها والكَوْنُ معها في الملأ كالكون معها في الاستخلاء فأما الخَلوة بالحائض والنفساء فمال القفال إلى مساعدة أصحاب أبي حنيفة في أن الخَلوة لا تقرر مع هذه الموانع الشرعية وإن كان الوطء ممكناً هذه طريقة الأئمة في الخَلوة

Para ulama terkemuka dari kalangan kami berpendapat bahwa khalwat dengan perempuan yang mengalami ritaq (tertutupnya jalan kemaluan) tidak menetapkan mahar, karena tidak ada maknanya. Jika khalwat disamakan dengan jima‘ dari sisi memberikan kesempatan untuk melakukan jima‘, maka hal itu tidak mungkin terjadi dalam khalwat dengan perempuan ritaq, sehingga tidak ada pengaruh dari khalwat tersebut. Berada bersamanya di tempat umum sama saja dengan berada bersamanya dalam keadaan berdua saja. Adapun khalwat dengan perempuan haid atau nifas, maka al-Qaffal cenderung mengikuti pendapat para pengikut Abu Hanifah bahwa khalwat tidak menetapkan mahar dalam kondisi adanya halangan-halangan syar‘i ini, meskipun jima‘ sebenarnya masih mungkin dilakukan. Inilah metode para imam dalam masalah khalwat.

ومن أصحابنا من قطع بأن الخلوةَ لا تقرر المهر ولا توجب العدة وزعم أن الشافعي تردد قوله في القديم في أن الخَلوة إذا جرت وادعت المرأة الوطء فيها وأنكر الزوج فمن المصدَّق فعلى قولين أحدهما أن المصدَّق الزوج فإن الأصل عدم الوطء والثاني القول قول المرأة مع يمينها فإن الظاهر جريان الوطء في الخَلوة فإن أنكر منكر هذا قلنا له الخَلوة في ادعاء الوطء كاليد في ادعاء الملك والعلم عند الله تعالى

Sebagian dari ulama kami menegaskan bahwa khalwat tidak menetapkan mahar dan tidak mewajibkan ‘iddah. Mereka berpendapat bahwa Imam Syafi‘i ragu dalam pendapat lamanya mengenai jika telah terjadi khalwat dan istri mengaku telah terjadi hubungan suami istri di dalamnya, sementara suami mengingkarinya, maka siapa yang ucapannya diterima? Ada dua pendapat: pertama, yang diterima adalah ucapan suami karena pada asalnya tidak terjadi hubungan; kedua, ucapan istri diterima dengan sumpahnya, karena secara lahiriah kemungkinan besar telah terjadi hubungan dalam khalwat. Jika ada yang mengingkari hal ini, kami katakan kepadanya: khalwat dalam pengakuan terjadinya hubungan seperti tangan dalam pengakuan kepemilikan. Dan ilmu hanyalah milik Allah Ta‘ala.

Bab Mut‘ah

قال الشافعي جعل الله عز وجل المتعةَ للمطلقات إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan pemberian mut‘ah bagi para perempuan yang dicerai, dan seterusnya.

المتعةُ اسم لمقدارٍ من المال يسلمه الزوج إلى زوجته إذا طلقها وقد يسمَّى المتاع وأمتع الحسنُ زوجةً طلقها اثني عشر ألف درهم فقالت متاع قليل من حبيب مفارق والأصل في الباب قوله تعالى وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ وقال تعالى وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ وشهدت الأخبار وأجمعت الأمة على المتعة

Mut‘ah adalah nama untuk sejumlah harta yang diberikan suami kepada istrinya apabila ia menceraikannya, dan kadang disebut juga dengan al-matā‘. Al-Hasan pernah memberikan mut‘ah kepada istrinya yang ia ceraikan sebesar dua belas ribu dirham, lalu sang istri berkata, “Pemberian yang sedikit dari kekasih yang berpisah.” Dasar hukum dalam hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Berikanlah kepada mereka mut‘ah menurut kemampuan orang yang lapang dan menurut kemampuan orang yang terbatas,” dan firman Allah Ta‘ala: “Bagi perempuan-perempuan yang dicerai ada mut‘ah.” Hadis-hadis juga menjadi saksi, dan umat telah berijma‘ atas adanya mut‘ah.

والكلام في ثلاثة فصول

Pembahasan ini terdiri dari tiga bagian.

الفصل الأول في تفصيل المطلقات وهن ثلاثة أقسام مطلقة لم يفرض لها ولم يتّفق الدخول بها فهي تستحق المتعة ونصُّ القرآن شاهد فيه قال تعالى مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وَمَتِّعُوهُنَّ والإجماع منعقد على استحقاقها للمتعة في هذه الحالة

Bab pertama membahas rincian tentang perempuan-perempuan yang dicerai, dan mereka terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, perempuan yang dicerai tanpa telah ditetapkan mahar untuknya dan belum terjadi hubungan suami istri; maka ia berhak mendapatkan mut‘ah, dan nash Al-Qur’an menjadi bukti dalam hal ini, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Selama kamu belum menyentuh mereka atau belum menentukan mahar untuk mereka, maka berilah mereka mut‘ah.” Ijmā‘ juga telah sepakat bahwa dalam keadaan seperti ini, ia berhak mendapatkan mut‘ah.

والمطلقة الأخرى هي التي فرض لها الصداق وطلقت قبل المسيس فلها نصف المفروض أو نصف المسمى في أصل العقد ولا متعة لها في ظاهر المذهب

Wanita yang dicerai lainnya adalah yang telah ditetapkan mahar untuknya dan dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, maka ia berhak atas setengah dari mahar yang telah ditetapkan atau setengah dari mahar yang disebutkan dalam akad, dan menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, ia tidak berhak atas mut‘ah.

وتقسيم القرآن أصدق شاهد فيه فإنه تعالى لما ذكر المتعة في حق التي لم تُمس ولم يفرض لها قال في الآيات التي تلي هذه وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ فدل فحوى الخطاب على أنَّ المتعة ونصف المفروض يتعاقبان على التبادل

Pembagian dalam Al-Qur’an adalah bukti paling jujur dalam hal ini, karena Allah Ta’ala, ketika menyebutkan tentang mut‘ah bagi perempuan yang belum disentuh dan belum ditetapkan maharnya, kemudian pada ayat-ayat setelahnya berfirman: “Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu menyentuh mereka, padahal kamu telah menentukan mahar untuk mereka, maka setengah dari mahar yang telah kamu tentukan itu wajib diberikan.” Maka, makna yang tersirat dari ayat ini menunjukkan bahwa antara mut‘ah dan setengah dari mahar yang telah ditetapkan itu saling bergantian secara bergiliran.

والمطلقة الثالثة هي التي استقر لها مهر بالمسيس ثم طلقها زوجها ففي وجوب المتعة لها قولان أحدهما إنها لا تستحق المتعة وهو المنصوص عليه في القديم وبه قال أبو حنيفة ووجهه أنه قد سلم لها المهر ولا متعة مع المهر

Perempuan yang ditalak untuk ketiga kalinya adalah yang telah tetap baginya mahar karena telah terjadi hubungan suami istri, kemudian suaminya menceraikannya. Dalam hal kewajiban pemberian mut‘ah (pemberian hibah setelah perceraian) kepadanya terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa ia tidak berhak mendapatkan mut‘ah, dan ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama (qaul qadīm), serta merupakan pendapat Abu Hanifah. Alasannya adalah karena mahar telah diberikan kepadanya, dan tidak ada mut‘ah bersama dengan mahar.

ونصف المسمى في مقابلة العقد كتمام المسمى أو كتمام مهر المثل بعد المسيس فإذا كانت المتعة تَسقُط بسبب وجوب نصف المسمى أو المفروض قبل المسيس فلأن تسقط إذا وجب جميع المهر على الاستقرار أولى

Setengah dari mahar yang telah disebutkan sebagai kompensasi atas akad itu diperlakukan seperti mahar yang sempurna atau seperti mahar mitsil yang sempurna setelah terjadi hubungan suami istri. Maka, jika mut‘ah gugur karena wajibnya setengah mahar yang telah disebutkan atau yang telah ditetapkan sebelum terjadi hubungan suami istri, maka lebih utama lagi mut‘ah itu gugur jika seluruh mahar telah menjadi wajib secara pasti.

والقول الثاني وهو المنصوص عليه في الجديد إنها تستحق المتعة لأن ما سلّم لها من المهر في مقابلة منفعة البضع لا في مقابلة العقد والطلاق

Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru, menyatakan bahwa perempuan berhak mendapatkan mut‘ah karena mahar yang telah diserahkan kepadanya adalah sebagai imbalan atas manfaat hubungan badan, bukan sebagai imbalan atas akad dan talak.

وإذا جمعنا المطلقات وأردنا نظم الأقوال فيهن انتظمت ثلاثة أقوال أحدها إنه لا متعة إلا للتي طُلِّقت قبل المسيس ولم يفرض لها وهي المفوّضة

Jika kita mengumpulkan para perempuan yang dicerai dan ingin merangkum pendapat-pendapat tentang mereka, maka terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa tidak ada mut‘ah kecuali bagi perempuan yang dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri dan belum ditetapkan mahar untuknya, yaitu perempuan yang disebut al-mufawwaḍah.

والقول الثاني إن لكل مطلقة متعة إلا التي فرض لها ولم تُمس فاستحقت نصف المهر عند الطلاق

Pendapat kedua menyatakan bahwa setiap perempuan yang dicerai berhak mendapatkan mut‘ah, kecuali perempuan yang telah ditetapkan mahar untuknya namun belum digauli, sehingga ia berhak atas setengah mahar ketika dicerai.

والقول الثالث إن لكل مطلقة متعة من غير استثناء وهذا القائل يلتزم إثبات المتعة للمطلقة قبل المسيس وإن فرض لها واستحقت نصف المفروض وهذا بعيد مخالف لظاهر التقسيم في المتعة والفرض

Pendapat ketiga menyatakan bahwa setiap perempuan yang dicerai berhak mendapatkan mut‘ah tanpa pengecualian. Pendapat ini berkonsekuensi menetapkan mut‘ah bagi perempuan yang dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, meskipun telah ditetapkan mahar untuknya dan ia berhak atas setengah dari mahar yang telah ditetapkan. Namun, pendapat ini jauh dan bertentangan dengan makna lahir dari pembagian dalam masalah mut‘ah dan mahar.

الفصل الثاني يشتمل على الكلام فيما يوجب المتعة وما لا يوجبها من أقسام الفُرَق فنقول أما الفُرقة الحاصلة بالموت فإنها لا توجب المتعة وفاقاً والميراث كافٍ وكأنَّ المتعة أُثبتت لمستوحشةٍ بالطلاق والتي مات عنها زوجها متفجعةٌ غيرُ مستوحشةٍ

Bab kedua mencakup pembahasan tentang hal-hal yang mewajibkan mut‘ah dan yang tidak mewajibkannya dari berbagai jenis perpisahan. Kami katakan, adapun perpisahan yang terjadi karena kematian, maka itu tidak mewajibkan mut‘ah menurut kesepakatan, dan warisan sudah mencukupi. Seolah-olah mut‘ah itu ditetapkan bagi perempuan yang merasa kesepian karena talak, sedangkan perempuan yang ditinggal mati suaminya sedang berduka, bukan merasa kesepian.

فأما ما يجري من الفراق في الحياة فقد قال الأئمة كل فُرقة تصدر عن جهتها إمَّا بأن تُنشئَها أو يصدرَ منها سببٌ يتعلق به ارتفاعُ النكاح فلا تناط به المتعة

Adapun perpisahan yang terjadi selama kehidupan, para imam berpendapat bahwa setiap perpisahan yang berasal dari pihak istri, baik karena ia yang memulai perpisahan tersebut atau karena muncul darinya suatu sebab yang menyebabkan berakhirnya pernikahan, maka tidak berhak baginya mendapatkan mut‘ah.

وما يصدر من الزوج لمعنًى فيها كالفسخ بالعيوب فإنه لا يتعلق به المتعة

Apa yang berasal dari suami karena suatu alasan yang ada pada istri, seperti pembatalan nikah karena cacat, maka tidak ada hak mut‘ah baginya.

وأما ما ينفرد به الزوج لا لمعنى فيها فيتعلق به استحقاق المتعة ومن جملة ذلك الطلاق ومنها ارتداد الزوج وإسلامه

Adapun hal-hal yang menjadi kekhususan suami, bukan karena suatu sebab pada istri, maka hal itu berkaitan dengan hak mendapatkan mut‘ah. Di antara hal-hal tersebut adalah talak, termasuk juga murtadnya suami dan masuk Islamnya suami.

وقد نص الشافعي على أن الإسلام من الزوج يوجب المتعةَ ذَكَرهُ في آخر كتاب المشركات والخلعُ وإن كان يتعلق بها فالأصل فيه الزوج وإذا فوض الطلاقَ إليها فهو كما لو طلقها بنفسه فإن عبارتَها مستعارة وكأنَّ الزوج هو المعبِّر فالفراق المنوط باللعان يثبت المتعة فإنه مما ينفرد الزوج به ولا يتوقف حصول الفراق على لعانها

Syafi‘i telah menegaskan bahwa keislaman suami mewajibkan pemberian mut‘ah; hal ini disebutkannya di akhir Kitab al-Musyrikāt. Adapun khulu‘, meskipun berkaitan dengan istri, pada dasarnya berasal dari suami. Jika suami menyerahkan hak talak kepada istri, maka hal itu sama seperti jika ia sendiri yang menjatuhkan talak, karena ungkapan istri hanyalah pinjaman, seakan-akan suami sendirilah yang mengucapkannya. Maka perceraian yang terkait dengan li‘ān juga menetapkan adanya mut‘ah, karena hal itu merupakan perkara yang menjadi hak khusus suami dan terjadinya perceraian tidak bergantung pada li‘ān dari pihak istri.

وإذا وقع الفراق بفعل من غير الزوجين مثل أن ترضع امرأتُه الزّوجةَ الرضيعة إرضاعاً مفسداً فهذا يوجب المتعة

Apabila terjadi perceraian karena perbuatan selain dari kedua suami istri, seperti ketika istri menyusui seorang bayi perempuan yang kemudian menjadi istri, dengan penyusuan yang menyebabkan hubungan mahram, maka hal ini mewajibkan pemberian mut‘ah.

والضبط الجامعُ أن كل ما لو جرى قبل المسيس لم يسقط به المهر المسمى بل تَشَطَّر فهو من موجبات المتعة وكل ما يتضمن سقوطَ جميع المسمى لو جرى قبل المسيس فلا تتعلق المتعة به ثم إذا تعلقت المتعة بفُرقةٍ من الفُرق فتجري فيها الأقسام الثلاثة المذكورة في الطلاق لا محالة وعلينا في هذا القسم أن نُلحق كل فرقة من الفُرق بالطلاق ثم فيها الأقسام الثلاثة والأقوال الثلاثة

Ketentuan yang mencakup semuanya adalah bahwa segala sesuatu yang jika terjadi sebelum persetubuhan tidak menggugurkan seluruh mahar yang telah ditetapkan, melainkan membaginya menjadi dua, maka hal itu termasuk penyebab wajibnya mut‘ah. Adapun segala sesuatu yang menyebabkan gugurnya seluruh mahar jika terjadi sebelum persetubuhan, maka mut‘ah tidak berkaitan dengannya. Kemudian, apabila mut‘ah diwajibkan karena suatu perpisahan dari berbagai macam perpisahan, maka berlaku padanya tiga pembagian yang telah disebutkan dalam kasus talak, tanpa diragukan lagi. Dalam bagian ini, kita harus menyamakan setiap jenis perpisahan dengan talak, kemudian berlaku padanya tiga pembagian dan tiga pendapat.

وما قطعناه عن مضاهاة الفُرق فإنا نحكم فيه بأنه لا تتعلق المتعة به كيف فُرض وصُوِّر وعلى أيةِ حاله قُدِّر

Apa yang kami putuskan tidak menyerupai bagian-bagian lain, maka kami menetapkan bahwa tidak ada kenikmatan yang berkaitan dengannya, bagaimanapun bentuk dan gambaran yang diasumsikan, serta dalam keadaan apa pun ia ditetapkan.

ولا استثناء في شيء مما ذكرناه إلا في مسألة واحدة وهي إذا اشترى الزوج زوجته فالمذهب أن هذه الفُرقة تُشطِّر الصداق ولا تتعلق بها المتعة فإنَّ المتعة لو وجبت لوجبت مع الفراق لمنْ يحصل الفراق في ملكه فإذا اشترى زوجته فقد ملك رقبتها فلو وجبت المتعة لوجبت له ويستحيل أن يجب له على نفسه شيء

Tidak ada pengecualian dalam hal-hal yang telah kami sebutkan kecuali dalam satu masalah, yaitu apabila seorang suami membeli istrinya. Menurut mazhab, perpisahan (firaq) ini membagi dua mahar dan tidak berkaitan dengan hak mut‘ah. Sebab, jika mut‘ah itu wajib, maka kewajiban itu muncul karena perpisahan bagi siapa yang perpisahan itu terjadi dalam kepemilikannya. Jika seorang suami membeli istrinya, maka ia telah memiliki dirinya (istri) secara penuh. Maka, jika mut‘ah itu wajib, berarti wajib baginya, dan mustahil seseorang mewajibkan sesuatu atas dirinya sendiri.

ونقول على الاتصال بهذا المتعة تجب بالفراق ولا يتقدم وجوبها عليه فلو زوّج السيدُ أَمَةً مفوِّضة ثم باعها فطُلقت في ملك المشتري فالمتعة للمشتري لأنَّ الطلاق هو الموجب للمتعة وقد جرى في ملك المشتري فهذا قاعدة المذهب في الفُرق التي تقتضي المتعة والتي لا تقتضيها

Kami katakan sehubungan dengan hal ini bahwa mut‘ah (pemberian hibah perpisahan) menjadi wajib karena perpisahan, dan kewajibannya tidak mendahului perpisahan itu sendiri. Maka jika seorang tuan menikahkan budak perempuannya yang belum ditentukan maharnya (mufawwidah), kemudian ia menjualnya, lalu budak itu dicerai saat berada dalam kepemilikan pembeli, maka mut‘ah menjadi hak pembeli, karena perceraianlah yang mewajibkan mut‘ah dan itu terjadi dalam kepemilikan pembeli. Inilah kaidah mazhab mengenai perpisahan-perpisahan yang mewajibkan mut‘ah dan yang tidak mewajibkannya.

وقد نقل المزني أنها إذا فسخت النكاح بعيب العُنَّة لها المتعة وقد أجمع الأصحابُ على تغليطه وصادفوا هذه المسألةَ منصوصةً للشافعي على العكس مما نقل

Al-Muzani telah meriwayatkan bahwa jika seorang istri membatalkan pernikahan karena cacat impoten, maka ia berhak mendapatkan mut‘ah. Namun, para sahabat sependapat bahwa pendapat tersebut keliru, dan mereka mendapati masalah ini telah dinyatakan secara tegas oleh asy-Syafi‘i dengan kebalikan dari apa yang diriwayatkan.

وغلط بعضُ المصنفين فقال لا متعة في الخلع لتعلق الفراق بها وهذا خطأ بدليل أن الخلع يشطّر الصداق ونَقَل عن الأصحاب تردّدَهم فيه إذا ارتد الزوجان معاً وتردَّدَهم فيما إذا اشترت الزوجة زوجَها المملوك نعم إن جعلنا الخلع فسخاً فمن أصحابنا من تمارى في التشطير فيليق بهذا القول ترديدُ الوجه في المتعة

Sebagian penulis telah keliru dengan mengatakan bahwa tidak ada mut‘ah dalam khulu‘ karena perpisahan terkait dengannya, dan ini adalah kesalahan dengan dalil bahwa khulu‘ membagi dua mahar. Ia juga menukil dari para sahabat (ulama mazhab) adanya keraguan mereka dalam hal ini jika kedua suami istri murtad bersama-sama, dan keraguan mereka dalam hal jika istri membeli suaminya yang merupakan budak. Ya, jika kita menganggap khulu‘ sebagai fasakh, maka sebagian dari ulama kami ada yang meragukan pembagian mahar, sehingga sesuai dengan pendapat ini, keraguan mengenai mut‘ah pun patut dipertimbangkan.

وغَلِطَ طوائفُ من الأصحاب في شراء الزوج زوجته فحكَوْا أن المتعة تجب للبائع على المشتري وقد رمز إليه الصيدلاني وهذا عندي ليس من غلط الفقه بل هو خللٌ في الفكر فإن من صار إلى هذا بين أمرين كلاهما محال إن قال تجب المتعة قبل الفراق كان رادّاً للإجماع وإن قال تجب مع الفراق والفراق يحصل مع الملك ثم المتعة تجب للبائع فهذا مستحيل وإن وجبت متعة على نفسه لنفسه كان هذا كلاماً متناقضاً فهذه غلطات نبهنا عليها بعد طرد المذهب على السداد

Beberapa kelompok dari para sahabat (ulama mazhab) telah keliru dalam masalah suami membeli istrinya, mereka menyebutkan bahwa hak mut‘ah wajib diberikan oleh pembeli kepada penjual, dan hal ini juga disinggung oleh As-Saidalani. Menurut saya, ini bukan sekadar kesalahan dalam fiqh, melainkan kekeliruan dalam berpikir. Sebab, siapa pun yang berpendapat demikian dihadapkan pada dua pilihan yang keduanya mustahil: jika ia mengatakan bahwa mut‘ah wajib sebelum perpisahan, maka itu berarti menolak ijmā‘; dan jika ia mengatakan bahwa mut‘ah wajib setelah perpisahan, sementara perpisahan terjadi bersamaan dengan kepemilikan, lalu mut‘ah wajib bagi penjual, maka ini juga mustahil. Jika mut‘ah itu wajib atas dirinya sendiri untuk dirinya sendiri, maka ini adalah pernyataan yang kontradiktif. Inilah kekeliruan-kekeliruan yang kami tunjukkan setelah menelusuri mazhab secara cermat.

الفصل الثالث في قدر المتعة

Bab Ketiga tentang Besaran Mut‘ah

ولا قدر عندنا لأقلها ولا لأكثرها وهي موكولة إلى اجتهاد الحاكم ثم هي تختلف باختلاف الأحوال على ما سنصفه ونذكر ما بلغنا من قول الأصحاب نقلاً ثم نرجع فنبحث

Menurut kami, tidak ada batasan minimal maupun maksimal untuk hal tersebut; semuanya diserahkan kepada ijtihad hakim. Selanjutnya, hal ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan, sebagaimana akan kami jelaskan. Kami akan menyebutkan pendapat para sahabat yang sampai kepada kami secara riwayat, kemudian kami akan kembali untuk membahasnya.

ذكر العراقيون وجهين في تقدير المتعة أحدهما أن أقل المتعة ما يتمول فلو أمتعها الزوج بأقل ما يتمول فقد خرج عما عليه

Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat dalam menentukan kadar mut‘ah; salah satunya adalah bahwa kadar mut‘ah paling sedikit adalah sesuatu yang bernilai harta. Maka jika suami memberikan mut‘ah kepada istrinya dengan sesuatu yang kurang dari nilai harta, berarti ia belum memenuhi kewajibannya.

وهذا القائل يقول ما صح أن يكون صداقاً صح أن يكون متعة في كل صورة

Dan orang yang berpendapat demikian mengatakan: Apa saja yang sah menjadi mahar, maka sah pula menjadi imā’ dalam setiap bentuk.

والوجه الثاني وهو الصحيح أن تقديرها إلى الحاكم واجتهاده وليس كالصداق فإنَّ الصداق على التراضي فكان كالأثمان والمتعة أمر معتبر يفرض ثبوته في وقت التنازع فيجب أن يكون له أصل يفرضُ الرجوع إليه ونصُّ القرآن شاهد فيه فإنه عز من قائل قال عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ

Pendapat kedua, dan inilah yang benar, adalah bahwa penetapan (besaran mut‘ah) dikembalikan kepada hakim dan ijtihadnya, dan tidak seperti mahar, karena mahar didasarkan pada kerelaan kedua belah pihak sehingga seperti harga-harga (barang), sedangkan mut‘ah adalah perkara yang harus dipertimbangkan dan ditetapkan keberadaannya pada saat terjadi perselisihan, sehingga harus ada dasar yang dapat dijadikan rujukan. Teks Al-Qur’an menjadi bukti dalam hal ini, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Bagi yang mampu menurut kemampuannya, dan bagi yang kurang mampu menurut kemampuannya.”

ثم فرعوا على الوجهين فقالوا إن اكتفينا بأقلِّ ما يتموّل فلا كلام وإن أحلناه على اجتهاد الحاكم فالحاكم يَعتبر ماذا فعلى وجهين أحدهما أنه يعتبر حالَ الزوج لا غيرَ في اليسار والإعسار ولا ينظر إلى حالها فيقول زوجٌ في حالِ زيدٍ ويسارِه كم يكون أقل متعة منه في العادة فيبني الأمرَ على هذا قالوا وهذا اختيار أبي إسحاق المروزي

Kemudian mereka merinci berdasarkan dua pendapat tersebut, lalu mereka berkata: Jika kita cukupkan dengan kadar paling sedikit yang dianggap bernilai, maka tidak ada perdebatan. Namun jika kita serahkan kepada ijtihad hakim, maka hakim mempertimbangkan apa yang seharusnya dipertimbangkan. Maka ada dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hakim hanya mempertimbangkan keadaan suami saja, baik dalam hal mampu maupun tidak mampu, dan tidak melihat keadaan istri. Maka dikatakan: Seorang suami dalam keadaan seperti Zaid dan kemampuannya, berapa kadar mut‘ah paling sedikit yang biasa diberikan darinya menurut kebiasaan, lalu perkara itu dibangun atas dasar ini. Mereka berkata: Inilah pendapat yang dipilih oleh Abu Ishaq al-Marwazi.

والوجه الثاني أنه يعتبر حالها فيقول امرأة في مثل حال هذه بكم تُمَتَّع في العادة في أقل ما يُفرض ولا يعتبر حال الرجل وهذا الوجه مخالف لظاهر القرآن فإنَّه تعالى قال وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ وقال الإمام والدي يعتبر في ذلك حالهما جميعاً فيقال مثل هذا الرجل ما أقلُّ ما يمتِّع به مثلَ هذه المرأة

Pendapat kedua adalah bahwa yang diperhatikan adalah keadaan wanita, sehingga dikatakan: “Seorang wanita dalam keadaan seperti ini, berapa biasanya ia diberikan mut‘ah dalam kebiasaan, pada kadar paling sedikit yang diwajibkan,” dan tidak memperhatikan keadaan laki-laki. Pendapat ini bertentangan dengan zahir Al-Qur’an, karena Allah Ta‘ala berfirman: “Berikanlah kepada mereka mut‘ah menurut kemampuan orang yang lapang dan menurut kemampuan orang yang terbatas.” Imam (ayahku) berpendapat bahwa yang diperhatikan adalah keadaan keduanya, sehingga dikatakan: “Seorang laki-laki seperti ini, berapa paling sedikit mut‘ah yang diberikan kepada wanita seperti ini.”

هذا تردُّدُ الأصحاب وليس فيما ذكروه تحويمٌ على المقصود فضلاً عن الإخلال وذلك أنه ما لم يبِنْ موقعُ المتعة ومنزلتُها لا يمكن أن يعتبرَ فيها ما ذكره الأئمة فإنَّ الإنسان يختلف ما يبذله إذا اختلف جهاتُ المبذول فما لم يَبِنْ محلُّ المتعة أعِوضٌ هي أم مِنْحة لا يظهر وقد اتفق المحققون على أن المتعة لا يبلِّغها القاضي نصفَ المهر وسبب هذا بينٌ فإنها تجب حيث لا يجب نصف المهر وكأنا نقنع بما يقلّ عن شَطر المهر إذا لم يحتمل الحالُ شَطْر المهر فليتخذ الناظر هذا أصلَه

Inilah keraguan para sahabat, dan dalam apa yang mereka sebutkan tidak ada sedikit pun mendekati maksud, apalagi sampai mengabaikan. Sebab, selama belum jelas kedudukan dan posisi mut‘ah, tidak mungkin mempertimbangkan padanya apa yang disebutkan para imam. Karena seseorang akan berbeda dalam memberikan sesuatu jika berbeda pula sisi yang diberikan. Maka selama belum jelas apakah mut‘ah itu sebagai pengganti (‘iwadh) atau sebagai pemberian (minhah), hal itu tidak akan tampak. Para muhaqqiq sepakat bahwa mut‘ah tidak dapat ditetapkan oleh hakim sebesar setengah mahar, dan sebabnya jelas, karena mut‘ah diwajibkan pada kondisi di mana setengah mahar tidak wajib. Seolah-olah kita cukup dengan sesuatu yang kurang dari setengah mahar jika keadaan tidak memungkinkan setengah mahar. Maka hendaknya orang yang meneliti menjadikan hal ini sebagai prinsipnya.

قال القفال لا تبلغ المتعةُ نصفَ المهر كما لا يبلغ التعزيرُ الحدَّ والرضخُ السهمَ والحكومةُ الدِّيةَ

Al-Qaffal berkata, “Mut‘ah tidak mencapai setengah mahar, sebagaimana ta‘zīr tidak mencapai had, raḍkh tidak mencapai satu bagian, dan ḥukūmah tidak mencapai diyat.”

وقال الشافعي في القديم أستحب المتعةَ قدر ثلاثين درهماً وإنما استحب ذلك لأثر ورد عن ابن عمر وقال الشافعي في بعض كتبه ينبغي أن يفرض القاضي فيها مِقْنعةً أو ثوباً أو خاتماً وقال القاضي أي شيء فرضه بعد ما كان متمولاً جاز

Syafi‘i dalam pendapat lamanya berkata, “Aku menganjurkan pemberian mut‘ah sebesar tiga puluh dirham.” Ia menganjurkan hal itu karena ada riwayat dari Ibnu Umar. Syafi‘i juga berkata dalam sebagian kitabnya, “Seyogianya hakim menetapkan mut‘ah berupa kerudung, pakaian, atau cincin.” Sedangkan menurut hakim, apa pun yang ditetapkan selama bernilai harta, maka itu boleh.

هذا ما بلغنا من كلام الأئمة

Inilah yang sampai kepada kami dari perkataan para imam.

والذي يلوح لنا فيه بعد بناء الأمر على حطّ المتعة عن نصف المهر أن المتعة كاسمها إمتاعٌ وإتحافٌ يسدّ ممّا تداخلها من الفراق مسداً وليس في الإمتاع عادةٌ مطردةٌ في الناس حتى نرجعَ إليها من غير قاضٍ رجوعَنا إلى العادات في القبوض والأَحراز وأمور في المعاملات فهذا يتعلق بنظر القاضي حتى يَفْرِض قدراً يراه لائقاً ثم يختلف هذا بالإعسار واليسار ثم لا ضبط للتقدير في التعزير فإن التقدير يختلف باختلاف أحوال الناس في عرامتهم وشراستهم فرب صاحبِ عَبْرة يكفيه تبكيتٌ ورب عَرمٍ خبيث لا يردعه إلا الكثير من التعزير ثم الحد مردٌّ لاعتبار التعزيزات فإنها توقيفات الشرع

Yang tampak bagi kami dalam hal ini, setelah membangun perkara atas pengurangan mut‘ah dari setengah mahar, adalah bahwa mut‘ah sesuai namanya merupakan pemberian kenikmatan dan hadiah yang menutupi apa yang timbul akibat perpisahan. Tidak ada kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat dalam hal pemberian mut‘ah sehingga kita dapat kembali kepadanya tanpa keputusan hakim, sebagaimana kita kembali kepada kebiasaan dalam hal penerimaan, penjagaan, dan urusan-urusan dalam mu‘āmalah. Maka hal ini bergantung pada pandangan hakim hingga ia menetapkan kadar yang dipandangnya layak. Kemudian, hal ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan miskin atau kayanya seseorang. Tidak ada batasan pasti dalam penetapan ta‘zīr, karena penetapan itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan manusia, baik dalam hal kelembutan maupun kekerasan mereka. Ada orang yang cukup dengan teguran saja sudah membuatnya menangis, dan ada pula orang yang keras dan buruk yang tidak dapat dicegah kecuali dengan banyak ta‘zīr. Adapun ḥadd dikembalikan kepada pertimbangan ta‘zīr, karena ta‘zīr merupakan ketetapan syariat.

فإن قال قائل إذا كان المقصود من التعزير التأديب والردع فمن وصفتموه لا يرتدع قلنا إن لم يرتدع فسيعود وإن عاد عُدنا والإمام أقدر على معاقبته ويدُه على الرقاب وهو تحت ضبط الإمام

Jika ada yang berkata, “Jika tujuan dari ta‘zīr adalah mendidik dan mencegah, maka orang yang kalian sebutkan itu tidak akan jera,” kami katakan: Jika ia tidak jera, maka ia akan mengulangi perbuatannya, dan jika ia mengulangi, kami pun akan mengulangi (hukuman ta‘zīr). Imam lebih mampu untuk menghukumnya, kekuasaannya berada di atas kepala-kepala mereka, dan ia berada di bawah kendali imam.

وما ذكره العراقيون من أن الزوج لو أمتعها بأقلِّ ما يتمول جاز خارجٌ عن القانون وما ذكره القاضي من ذكر أقل ما يتمول مضافاً إلى اجتهاد الحاكم محمول عندي على ما إذا كان حال الزوج تقتضي هذا فلا نظن به على علو قدره أن يجوّز إثباتَ أقلِّ ما يتمول من غير رجوع إلى مستند ثم يربط ذلك باجتهاد الحاكم

Apa yang disebutkan oleh para ulama Irak bahwa jika suami memberikan kenikmatan kepada istrinya dengan sesuatu yang nilainya kurang dari batas minimal harta yang dianggap berharga maka itu dibolehkan, adalah pendapat yang keluar dari kaidah hukum. Adapun apa yang disebutkan oleh al-Qadhi mengenai batas minimal harta yang dianggap berharga yang dikaitkan dengan ijtihad hakim, menurut saya hal itu berlaku apabila kondisi suami memang mengharuskan demikian. Kami tidak berprasangka buruk terhadap beliau, dengan kedudukan ilmunya yang tinggi, bahwa beliau membolehkan penetapan batas minimal harta yang dianggap berharga tanpa merujuk pada dasar yang kuat, lalu mengaitkannya dengan ijtihad hakim.

هذا ما عندنا في ذلك وقد مهدنا المطالب والرأي فوضى

Inilah yang kami miliki dalam hal itu, dan kami telah menjelaskan pokok-pokok permasalahan serta pendapat secara terbuka.

ومما أجريناه في الكلام نصفُ المهر وهو المعتمدُ الفقيه فإن لم يكن في النكاح مسمى فالمعتبر نصف مهر المثل وإن كان في النكاح مسمى وفرّعنا على أن المدخول بها تستحق المتعة فننظر في المتعة ونصفِ مهر المثل أو ننظر في المتعة وهو نصف المسمى هذا محتملٌ يجوز أن يكون الرجوع إلى نصف مهر المثل فإن المسمى متعلقه التراضي والأصل الذي لا تعلق له بالتراضي هو مهر المثل ويكون رضاها بأقلَّ من مهر المثل عن مسامحة هذا هو الأشبه والعلم عند الله تعالى

Di antara hal yang kami bahas dalam pembicaraan ini adalah setengah mahar, dan inilah pendapat fiqh yang dipegang. Jika dalam akad nikah tidak disebutkan mahar, maka yang dianggap adalah setengah mahar mitsil. Jika dalam akad nikah disebutkan mahar dan kami telah menguraikan bahwa perempuan yang telah digauli berhak mendapatkan mut‘ah, maka kita melihat pada mut‘ah dan setengah mahar mitsil, atau kita melihat pada mut‘ah yang merupakan setengah dari mahar yang disebutkan. Hal ini masih mungkin terjadi; bisa jadi yang dijadikan acuan adalah setengah mahar mitsil, karena mahar yang disebutkan itu terkait dengan kerelaan kedua belah pihak, sedangkan yang menjadi dasar dan tidak terkait dengan kerelaan adalah mahar mitsil. Kerelaan perempuan untuk menerima kurang dari mahar mitsil adalah bentuk kelapangan hati. Inilah yang lebih mendekati kebenaran, dan ilmu hanya milik Allah Ta‘ala.

Bab Walimah dan Natsr

قال الشافعي والوليمة التي تعرف وليمة العُرس إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata, walīmah yang dikenal adalah walīmah pernikahan, dan seterusnya.

أبان أن الوليمة تنطلق على كل مأدبة في إملاكٍ أو نفاسٍ أو خِتان أو حادثِ سرور ولكنها شُهرت بما يتخذ في العرس وقد روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ما ترك الوليمة في حضر ولا سفر وروي أنه أولم على صفية بسويق وتمر في السفر ودخل عليه عبدُ الرحمن بنُ عوف وعلى ثوبه أثر الصفرة فقال مَهْيَم وهذه كلمة تستعمل في الاستفهام رآها البصريون من الأصوات كصه ومه وحيهلا وهيهات وقال الكوفيون معناه ما هذا فإنه يستعمل في السؤال فقال عبد الرحمن تزوجتُ امرأة من الأنصار وكانوا يتضمخون بالزعفران في العُرسِ قال صلى الله عليه وسلم أولِمْ ولو بشاة

Dijelaskan bahwa walimah berlaku untuk setiap jamuan makan dalam pernikahan, kelahiran, khitan, atau peristiwa bahagia lainnya, namun istilah ini menjadi terkenal untuk jamuan yang diadakan dalam pernikahan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkan walimah baik ketika bermukim maupun dalam perjalanan. Diriwayatkan pula bahwa beliau mengadakan walimah untuk Shafiyyah dengan sajian syaqiq dan kurma saat dalam perjalanan. Pernah Abdul Rahman bin Auf datang kepada beliau dengan bekas warna kuning di pakaiannya, maka beliau bertanya, “Mahyam?”—kata ini digunakan untuk bertanya, menurut ulama Basrah termasuk dalam kategori suara seperti “shh”, “mah”, “hayhala”, dan “haihat”, sedangkan ulama Kufah berpendapat maknanya “apa ini?”, karena digunakan untuk bertanya. Abdul Rahman menjawab, “Aku telah menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar, dan mereka biasa memakai za’faran pada acara pernikahan.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Adakanlah walimah, meskipun hanya dengan seekor kambing.”

ثم كما يأمر بالوليمة يأمر بإجابة الداعي على تفاصيلَ سنذكرها

Kemudian, sebagaimana ia memerintahkan untuk mengadakan walimah, ia juga memerintahkan untuk memenuhi undangan, dengan rincian yang akan kami sebutkan.

والشافعي جعل وليمة العرس أَوْلى الدعوات وغيرَها أخفَّ منها ثم قال ومن تركها لم يَبِنْ لي أنه عاصٍ كما تبين لي في وليمة العرس فكان هذا ترديد جواب منه في وليمة العرس فمن أصحابنا من جعل في وليمة العرس وأنها هل تجب قولين وتمسك بظواهر الأوامر ولم يردد الجواب في وجوب غيرها

Asy-Syafi‘i menjadikan walimah pernikahan sebagai undangan yang paling utama, sedangkan undangan selainnya lebih ringan darinya. Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang meninggalkannya, belum jelas bagiku bahwa ia berdosa sebagaimana telah jelas bagiku pada walimah pernikahan.” Maka ini merupakan keraguan jawaban dari beliau dalam hal walimah pernikahan. Di antara para ulama mazhab kami ada yang menetapkan dalam walimah pernikahan terdapat dua pendapat mengenai kewajibannya, dan mereka berpegang pada zahir perintah-perintah tersebut, serta tidak meragukan jawaban dalam kewajiban undangan selainnya.

وذهب المحققون إلى أن الوليمة لا تجب قولاً واحداً وإنما التردد في وجوب إجابة الداعي فإن لفظ التعصية نُقل في ذلك قال صلى الله عليه وسلم من لم يجب الداعي فقد عصى أبا القاسم ومن لم يوجب الإجابةَ حمل لفظ العصيان على المخالفة وتركِ التأسّي وهذا غير بعيد على مذهب الاتساع في الكلام وقد يقول القائل أشرت على فلان برأيى فعصاني

Para ulama yang meneliti secara mendalam berpendapat bahwa walimah tidaklah wajib secara mutlak, melainkan yang diperselisihkan adalah kewajiban memenuhi undangan. Sebab, lafaz “maksiat” telah digunakan dalam hal ini, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim.” Namun, bagi yang tidak mewajibkan untuk memenuhi undangan, mereka menafsirkan lafaz “maksiat” sebagai bentuk penentangan dan meninggalkan keteladanan, dan ini tidaklah jauh menurut mazhab yang memberi keluasan dalam penggunaan bahasa. Seseorang bisa saja berkata, “Aku telah memberi saran kepada si Fulan, lalu ia menentangku.”

وقال صلى الله عليه وسلم لو أُهدي إليَّ ذراع لقبلت ولو دُعيت إلى كُراع لأجبت والمراد كُراع شاة وقال بعض المتكلفين أراد بالكراع كراع الغميم وهي قرية من المدينة على فراسخ فيكون المعنى لو دُعيت إلى مسافة بعيدة لأجبت وهذا غير مستقيم والكُراع مقرون بالذراع

Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya dihadiahkan kepadaku sepotong lengan (daging), niscaya aku akan menerimanya, dan seandainya aku diundang untuk makan kikil, niscaya aku akan memenuhinya.” Yang dimaksud adalah kikil kambing. Sebagian orang yang berlebihan menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “kikil” adalah Kura‘ al-Ghamim, yaitu sebuah desa di dekat Madinah yang berjarak beberapa farsakh, sehingga maknanya menjadi: “Seandainya aku diundang ke tempat yang jauh, niscaya aku akan memenuhinya.” Namun, penafsiran ini tidak tepat, karena kata “kikil” disebutkan bersamaan dengan “lengan”.

ثم من حمل التردد في الوجوب على إجابة الداعي لم يَفْصِل بين دعوة ودعوة ومن ردد الجواب في وجوب اتخاذ الدعوة خصص تردده بوليمة العرس

Kemudian, siapa yang mengaitkan keraguan dalam kewajiban dengan memenuhi undangan, ia tidak membedakan antara satu undangan dengan undangan yang lain. Sedangkan siapa yang membatasi keraguan dalam kewajiban memenuhi undangan hanya pada walimah pernikahan, maka ia mengkhususkan keraguannya pada walimah al-‘urs.

ووصف أبو سعيد الخدري أخلاق رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكر فيما وصف كان صلى الله عليه وسلم يخصف النعل ويرقع الثوب ويعلف الناضح ويحلب الشاة ويركب الأتان ويطحن مع الخادم وكان لا يحمله الحياء على ألا يحمل البضاعة من السوق إلى أهله وكان يسلم مبتدئاً ويصافح الغني والفقير ويجيب إذا دُعي ولو إلى حَشَف التمر وكان هين المؤونة جميل المعاشرة بسَّاماً من غير ضحك محزوناً من غير عبوسة جواداً من غير سرف رحيماً رقيق القلب ما تجشَّأ عن شِبع قط ولا مدَّ يده إلى طمع بأبي هو وأمي

Abu Sa‘id al-Khudri menggambarkan akhlak Rasulullah saw., ia menyebutkan dalam keterangannya bahwa Rasulullah saw. biasa menambal sandal, menjahit pakaian, memberi makan unta, memerah susu kambing, menunggang keledai, dan menggiling bersama pembantu. Rasa malu beliau tidak menghalangi untuk membawa barang dagangan dari pasar ke keluarganya. Beliau selalu memulai salam, berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan memenuhi undangan meskipun hanya untuk makan kurma yang jelek. Beliau ringan dalam urusan, indah dalam pergaulan, selalu tersenyum tanpa tertawa terbahak, bersedih tanpa bermuka masam, dermawan tanpa berlebihan, penyayang, lembut hati, tidak pernah bersendawa karena kekenyangan, dan tidak pernah mengulurkan tangan karena tamak. Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusannya.

وعلينا بعد ذلك أن نفصِّل الدعوةَ والإجابةَ فنقول إذا بعث واحداً وقال له ادعُ من لقيتَه فدعا واحداً فلا عليه لو تخلف فإنه غيرُ معيّنٍ بالدعوة وإذا لم يتجرد قصدٌ إلى مدعو فيجب أن لا يثقلَ التخلفُ على الداعي ولو دُعي وعلم المدعوُّ أن في دار الداعي أقواماً لا يلائمون المدعوَّ والتفريع على وجوب إجابة الداعي فهذا فيه ترددٌ للأصحاب وهو أن يدعوَ رجلاً شريفاً مع طائفة من السُّفل والأراذل

Setelah itu, kita harus merinci tentang undangan dan jawaban terhadapnya. Kami katakan: jika seseorang mengutus orang lain dan berkata kepadanya, “Undanglah siapa saja yang kamu temui,” lalu ia mengundang seseorang dan orang itu tidak datang, maka tidak mengapa jika ia tidak hadir, karena ia tidak ditentukan secara khusus dalam undangan tersebut. Jika tidak ada maksud khusus kepada orang yang diundang, maka seharusnya ketidakhadiran tidak memberatkan pihak yang mengundang. Jika seseorang diundang dan ia mengetahui bahwa di rumah orang yang mengundang ada orang-orang yang tidak cocok dengannya, dan dikaitkan dengan kewajiban memenuhi undangan, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yaitu jika seseorang mengundang seorang yang terpandang bersama sekelompok orang yang rendah derajatnya dan hina.

وإن كان المدعوُّ صائماً لم يتخلف أيضاًً بل يجيب ويحضر ثم إن كان صومه فرضاً بَرَّكَ ودعا وأبدى عُذرَهُ وإن كان صومه تطوعاً وعلم أنه لا يعز على المضيف تركُ الأكل لم يفطر وإن علم أنه يشق عليه تركُ الأكل فالأولى أن يفطر ويصومَ يوماَّ مَكانه وإن علم المدعو في الأصل أنه لا يعز على الداعي امتناعُه والتفريع على وجوب إجابة الداعي فهذا فيه احتمال وقد روي أن ابن عمر دُعي إلى دعوة مع جماعة فمد يده إلى الطعام ثم قال خذوا بسم الله وأمسك وقال إني صائم

Jika orang yang diundang sedang berpuasa, ia juga tidak boleh absen, melainkan tetap menjawab undangan dan hadir. Jika puasanya adalah puasa wajib, ia memberi berkah, mendoakan, dan menyampaikan alasannya. Jika puasanya adalah puasa sunnah dan ia tahu bahwa tuan rumah tidak keberatan jika ia tidak makan, maka ia tidak perlu membatalkan puasanya. Namun, jika ia tahu bahwa tuan rumah akan merasa berat jika ia tidak makan, maka yang lebih utama adalah ia membatalkan puasanya dan menggantinya di hari lain. Jika orang yang diundang sejak awal tahu bahwa tuan rumah tidak keberatan jika ia menolak, dan dikaitkan dengan kewajiban memenuhi undangan, maka hal ini masih diperselisihkan. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah diundang bersama sekelompok orang, lalu ia mengulurkan tangannya ke makanan dan berkata, “Silakan makan, bismillah,” kemudian ia menahan diri dan berkata, “Aku sedang berpuasa.”

وإن كان في مكان الدعوة منكراتٌ كالمعازف نُظر فإن علم أنه لو حضر لنُحِّيت ورُفعت تعظيماً له فينبغي أن يحضر ويكونُ حضورُه من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فإن لم ينزجروا ولم يكن له بمنعهم يدان لم يُقِمْ وخرجَ ولا يُقيم فيما بينهم ما بقي له اختيار

Jika di tempat undangan terdapat kemungkaran seperti alat-alat musik, maka perlu dilihat: jika diketahui bahwa apabila ia hadir, kemungkaran tersebut akan disingkirkan dan dihilangkan sebagai bentuk penghormatan kepadanya, maka sebaiknya ia hadir, dan kehadirannya termasuk dalam amar ma‘ruf nahi munkar. Namun jika mereka tidak mau meninggalkan kemungkaran tersebut dan ia tidak memiliki kekuasaan untuk mencegahnya, maka ia tidak boleh tetap tinggal dan hendaknya ia keluar; ia tidak boleh tetap berada di tengah-tengah mereka selama masih memiliki pilihan.

وإن كان في البيت صور فإنا نتكلم فيها أولاً ونقول الصور الشاخصة والمستوية على السقوف والجدرات والأُزر المرتفعة والسجوف المعلقة ممنوعة ويحرم الأمر بها وتعاطيها وقد روي أنه دخل رجل على ابن عباس فاستخبره ابنُ عباس عن حرفته فقال إني أنقش هذه الصور فقال ابن عباس سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يُحشر المصورون يوم القيامة ويقال لهم انفخوا الروح فيما خلقتم فما هم بنافخين ولا يخفف عنهم العذاب فقال الرجل ما لي حرفة سواها قال فإن كنتَ فاعلاً فعليك بصور الأشجار وعن عائشةَ أنها قالت كانت لنا سَهوةٌ علقتُ فيها سُترة وعليها صورة فدخل النبي صلى الله عليه وسلم وكان يدنو منه وينصرف فعل مراراً ثم قال صلى الله عليه ومسلم حُطِّيها واتخذي منها نمارق

Jika di dalam rumah terdapat gambar-gambar, maka kita akan membahasnya terlebih dahulu dan mengatakan bahwa gambar-gambar yang berbentuk (memiliki bayangan) dan gambar-gambar yang terlukis di langit-langit, dinding, pakaian yang tinggi, serta tirai yang digantung adalah terlarang, dan haram memerintahkannya serta membuatnya. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas lalu Ibnu Abbas menanyakan pekerjaannya. Ia menjawab, “Aku membuat gambar-gambar ini.” Maka Ibnu Abbas berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Para pembuat gambar akan dikumpulkan pada hari kiamat, lalu dikatakan kepada mereka: tiupkanlah ruh pada apa yang kalian ciptakan.’ Maka mereka tidak akan mampu meniupkannya dan tidak akan diringankan azab dari mereka.” Laki-laki itu berkata, “Aku tidak punya pekerjaan selain itu.” Ibnu Abbas berkata, “Jika engkau tetap melakukannya, maka buatlah gambar pepohonan.” Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Kami memiliki sebuah loteng kecil, aku menggantungkan tirai di sana dan di atasnya terdapat gambar. Nabi ﷺ masuk, beliau mendekatinya lalu berpaling darinya, dan beliau melakukan itu berulang kali. Kemudian beliau ﷺ bersabda, ‘Turunkanlah tirai itu dan jadikanlah sebagai bantal.’”

ففهم العلماء من ذلك أن المحظور صور الحيوانات فأما تشكيل الأشجار فلا بأس به

Para ulama memahami dari hal itu bahwa yang dilarang adalah gambar makhluk bernyawa, adapun membentuk gambar pohon-pohon maka tidak mengapa.

ولو صور المصور حيواناً إلا وجهه ففيه تردد فمن أصحابنا من جوز ذلك وجعل ما عدا الوجه خطوطاً وتشكيلاً كالأشجار ومنع مانعون ذلك فإنَّ سائر أعضاء الحيوان يُشعر بالحياة إشعار الوجه

Jika seorang pelukis menggambar makhluk hidup kecuali wajahnya, terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama dari kalangan kami membolehkannya dan menganggap selain wajah hanyalah berupa garis-garis dan bentuk seperti pohon-pohon. Namun, ada juga yang melarangnya, karena anggota tubuh makhluk hidup selain wajah juga menunjukkan adanya kehidupan sebagaimana wajah.

ثم فيما رويناه ما يدل على الفرق بين الصور المرفوعة وبين المحطوطة التي توطأ على الفرش والنمارق ولعل السبب فيها أنها إذا كانت مرفوعة ضاهت الأصنام وإذا كانت موطوءةً مفترشة تحت الأقدام فليست كذلك وأيضاًً فإنها إذا كانت مرفوعة كانت مُهيّأةً للنظر إليها والمخادّ الكبار التي لا تتوسدُ وإنما تهيأُ مرتفعةً شاخصة في معنى الستور

Kemudian, dalam riwayat yang kami terima terdapat petunjuk tentang perbedaan antara gambar-gambar yang diletakkan di tempat tinggi dengan gambar-gambar yang diletakkan di bawah, seperti di atas kasur dan bantal. Barangkali sebabnya adalah karena jika gambar itu diletakkan di tempat tinggi, maka ia menyerupai berhala, sedangkan jika diletakkan di bawah, dibentangkan di bawah kaki, maka tidak demikian. Selain itu, jika gambar itu diletakkan di tempat tinggi, maka ia disiapkan untuk dilihat, dan bantal-bantal besar yang tidak digunakan untuk bersandar, melainkan diletakkan tinggi dan menonjol, hukumnya sama seperti tirai.

ولبس الثياب المصورة كان يمنعه شيخي ولعله أولى بالمنع من رفع الصور على الستور المعلّقة وكان يقول استعمال الثياب المصورة لا يحرم فإنها تصلح للفرش كما يتأتى تعليقها ولبسها وإذا كان لها وجه في الاستعمال حمل الاستعمال عليه وعندي أن الذي يتعاطى التصوير هو الآثم بكل حال وفي المسألة احتمال

Memakai pakaian bergambar pernah dilarang oleh guruku, dan mungkin larangan ini lebih utama daripada larangan menggantung gambar pada tirai yang digantung. Ia biasa berkata bahwa menggunakan pakaian bergambar tidaklah haram, karena pakaian tersebut dapat digunakan sebagai alas sebagaimana bisa juga digantung atau dipakai. Jika suatu benda memiliki kemungkinan penggunaan yang dibolehkan, maka penggunaannya diarahkan kepada kemungkinan tersebut. Menurutku, orang yang membuat gambar itulah yang berdosa dalam segala keadaan, dan dalam masalah ini masih terdapat kemungkinan pendapat lain.

وإذا صادف الناهي عن المنكر سترةً معلقة وصورة لم يفسدها بل حفظها لتفرش ثم في الحديث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تدخل الملائكة بيتاً فيه صورة فيكره على موجَب الحديث دخولُ بيت فيه صورة ممنوعة كما ذكرناه ولا ينتهي الأمر إلى التحريم عند كثير من أصحابنا

Apabila seseorang yang melakukan nahi munkar mendapati kain penutup yang digantung dan terdapat gambar padanya, maka ia tidak merusaknya, melainkan menyimpannya untuk digunakan sebagai alas. Kemudian dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar.” Maka, berdasarkan hadits ini, dimakruhkan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar yang terlarang, sebagaimana telah kami sebutkan. Namun, menurut banyak ulama dari kalangan kami, perkara ini tidak sampai pada derajat haram.

وكان شيخي يُلحق هذا بالمحظورات ويُلزم الخروج من البيت والأصح الاقتصار على الكراهية

Guru saya menggolongkan hal ini ke dalam perkara-perkara yang terlarang dan mewajibkan keluar dari rumah, namun pendapat yang lebih sahih adalah cukup dianggap makruh.

فصل وقال في نثر السكر واللوز والجوز في العرس لو تُرك كان أحبَّ إليَّ إلى آخره

Bagian: Ia berkata tentang menaburkan gula, kacang almond, dan kenari pada acara pernikahan, “Jika hal itu ditinggalkan, maka itu lebih aku sukai,” dan seterusnya.

أراد الشافعي كراهةَ الالتقاط لأنه أُخذ بخُلسةٍ ونُهبة وفيه خروج عن المروءة وربما يخطِر للناثر أن يُؤْثر بعض الملتقطين ولا يبعد أن يحمل ما ذكره الأصحاب على النثر أيضاً فإنه سببُ الحَمل على الالتقاط وعندي أن الأمر في ذلك لا ينتهي إلى الكراهة

Imam Syafi‘i menginginkan makruh-nya mengambil sesuatu yang tercecer karena diambil secara sembunyi-sembunyi dan seperti rampasan, serta hal itu keluar dari sikap beradab. Mungkin saja terlintas dalam benak orang yang menebar (sesuatu) untuk lebih mengutamakan sebagian orang yang memungutnya. Tidak mustahil pula apa yang disebutkan oleh para ulama juga berlaku pada menebar (sesuatu), karena hal itu menjadi sebab orang lain terdorong untuk memungutnya. Menurut saya, perkara ini tidak sampai pada derajat makruh.

ومن لم يكن ذا حظ من الأصول قد لا يفصل بين نفي الاستحباب وإثبات الكراهية وليس كذلك ولفظ الشافعي مشعر بالتهيب وحط الأمر عن رتبة الكراهية فإنه قال لو تُرك كان أحبَّ إليّ ثم قد ينتهي الأمر في هذا إلى الإباحة إذا كان الناثر لا يؤثر أحداً وكان المتطلعون عنده بمثابةٍ

Orang yang tidak memiliki pemahaman dalam ushul mungkin tidak dapat membedakan antara menafikan anjuran (istihbab) dan menetapkan makruh, padahal keduanya berbeda. Ungkapan Imam Syafi‘i menunjukkan sikap hati-hati dan menurunkan perkara ini dari derajat makruh, karena beliau berkata, “Jika ditinggalkan, itu lebih aku sukai.” Kemudian, perkara ini bisa sampai pada hukum mubah jika orang yang membagikan (harta) tidak mengutamakan siapa pun, dan orang-orang yang mengharapkan (pembagian) di sisinya berada dalam kedudukan yang sama.

وقد روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حضر إملاكاً فقال أين أطباقكم فأُتي بأطباق عليها جوز ولوز وتمر فنُثرت قال جابر بن عبد الله راوي الحديث فقبضنا أيدينا فقال صلى الله عليه وسلم ما لكم لا تأخذون قلنا لأنك نهيتنا عن النُّهبى فقال إنما نهيتكم عن نهبى العساكر خذوا على اسم الله فجاذَبَنا وجاذبناه فثبت الأصل بالخبر الصحيح

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menghadiri sebuah acara pernikahan, lalu beliau bersabda, “Di mana hidangan kalian?” Maka dibawakanlah hidangan yang berisi kacang kenari, kacang almond, dan kurma, lalu hidangan itu ditebarkan. Jabir bin Abdullah, perawi hadis ini, berkata: Kami pun menahan tangan kami (tidak mengambil hidangan itu). Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Mengapa kalian tidak mengambilnya?” Kami menjawab, “Karena engkau telah melarang kami dari an-nuhba (mengambil barang rampasan tanpa izin).” Beliau bersabda, “Aku hanya melarang kalian dari nuhba pasukan. Ambillah dengan menyebut nama Allah.” Maka kami pun saling berebut dan beliau juga ikut bersama kami. Maka ketetapan hukum ini didasarkan pada hadis yang sahih.

ثم ما وقع على الأرض فالحاضرون فيه شرَعٌ يملكه من يبتدره وإذا ثبتت يد إنسان على شيء منه لم يُسلب منه ولو غالبه مغالب فهو غاصب وإن وقع شيء في حِجر إنسان فإن كان بسط حجره لذلك لم يؤخذ منه وكان احتواء الحِجر المبسوط لذلك بمثابة الأخذ باليد وإن لم يكن قصد هذا ببسط حِجره فهل يجوز الأخذ من حجره قيل لو كان لا يرغب فيه جاز وإن عُلم أنه يرغب فيه وإن لم يقصد بسطَ حِجره لهذا ففي المسألة وجهان مبنيان على الطائر إذا فرخ في دار إنسان فصاحب الدار أحق بالفرخ ولكن لو ابتدره غيره فأخذه فهل يملكه فعلى وجهين

Kemudian, apa yang jatuh ke tanah, maka orang-orang yang hadir di situ secara syar‘i boleh memilikinya siapa saja yang lebih dahulu mengambilnya. Jika seseorang telah memegang sesuatu dari barang itu, maka tidak boleh dirampas darinya, dan jika ada orang lain yang memaksanya, maka ia dianggap sebagai perampas (ghāṣib). Jika sesuatu jatuh ke pangkuan seseorang, maka jika ia memang sengaja membentangkan pangkuannya untuk itu, maka tidak boleh diambil darinya, dan penguasaan pangkuan yang sengaja dibentangkan untuk itu sama kedudukannya dengan mengambil dengan tangan. Namun jika ia tidak bermaksud membentangkan pangkuannya untuk itu, apakah boleh diambil dari pangkuannya? Ada pendapat: jika ia tidak menginginkannya, maka boleh diambil; dan jika diketahui bahwa ia menginginkannya, meskipun ia tidak sengaja membentangkan pangkuannya untuk itu, maka dalam masalah ini ada dua pendapat yang didasarkan pada kasus burung yang bertelur di rumah seseorang, maka pemilik rumah lebih berhak atas anak burung itu. Namun jika ada orang lain yang lebih dahulu mengambilnya, apakah ia memilikinya? Maka dalam hal ini ada dua pendapat.

من تحجر أرضاً ليحييها فابتدرها غيره وأحياها فالأصح أنه لا يملكها وفي المسألة وجه على بعد ولو نشر ذيله فوقع فيه شيء كان نشْرُ الحِجر مملّكاً بخلاف المحجِّر فإن الملك يحصل بمجرد إثبات اليد في المنثور وما يحصل في الحِجْر على الصورة التي ذكرناها يُعد في يد صاحب الحِجر ويُعدُّ إحرازاً لما احتوى عليه حِجْره ومجرد إثبات اليد لا يملّك الموات حتى يُحيىَ كما ذكرناه

Barang siapa yang memagari sebidang tanah mati untuk menghidupkannya, lalu orang lain mendahuluinya dan menghidupkan tanah itu, maka pendapat yang paling sahih adalah bahwa ia (yang memagari) tidak memilikinya. Dalam masalah ini ada satu pendapat lain, meskipun lemah. Jika seseorang menghamparkan kainnya, lalu ada sesuatu yang jatuh di atasnya, maka menghamparkan kain itu menjadikan kepemilikan, berbeda dengan orang yang hanya memagari. Sebab, kepemilikan terjadi hanya dengan meletakkan tangan pada sesuatu yang berserakan, dan apa yang berada di atas kain yang dihamparkan seperti yang telah kami sebutkan, dianggap berada dalam genggaman pemilik kain dan dianggap sebagai penguasaan atas apa yang ada di dalam kainnya. Adapun sekadar meletakkan tangan tidak menjadikan kepemilikan atas tanah mati sampai tanah itu dihidupkan, sebagaimana telah kami sebutkan.

ولو سقط من حجره ما وقع فيه نُظر فإن لم ينشره بقصد الأخذ فإذا سَقَطَ مَلَكَهُ من يبتدره وإن كان من وقع في حِجْره راغباً فيه وهو بمثابة ما لو عشش طائر في دار ثم طار الفرخ فلا اختصاص لصاحب الدار بعد مفارقته دارَه ولو نشر ذيله أوآلة كانت معه فوقع فيه شيء ثم سقط منه فهذا فيه احتمال والظاهر أنه يملكه ثم لا يزول ملكه بالسقوط كما لو اعتُقِلَ صيد بشبكةٍ نُصبت على مدارج الصيود وانضبط بها ثم حدث حادث فأفلت فالظاهر أنه مِلك ناصب الشبكة

Jika sesuatu jatuh dari pangkuannya ke suatu tempat, maka dilihat keadaannya: jika ia tidak membentangkan sesuatu dengan maksud untuk mengambilnya, maka ketika benda itu jatuh, yang berhak memilikinya adalah siapa saja yang segera mengambilnya. Namun, jika orang yang benda itu jatuh ke pangkuannya memang menginginkannya, maka keadaannya seperti burung yang membuat sarang di sebuah rumah, lalu anak burung itu terbang; maka pemilik rumah tidak lagi memiliki kekhususan atas burung itu setelah burung tersebut meninggalkan rumahnya. Jika ia membentangkan kain atau alat yang dibawanya, lalu sesuatu jatuh ke atasnya kemudian jatuh lagi darinya, maka dalam hal ini ada kemungkinan (perbedaan pendapat), namun pendapat yang lebih kuat adalah ia tetap memilikinya dan kepemilikannya tidak hilang hanya karena benda itu jatuh, sebagaimana jika seekor hewan buruan terperangkap dalam jaring yang dipasang di jalur perburuan dan benar-benar terperangkap di dalamnya, lalu terjadi sesuatu sehingga hewan itu lepas, maka pendapat yang lebih kuat adalah hewan itu tetap menjadi milik orang yang memasang jaring tersebut.

وفي الصيد وآلة اللقط وجه آخر فإن العادة هي المرعية في هذه الأبواب

Dalam masalah perburuan dan alat untuk memungut barang temuan, terdapat pendapat lain, yaitu bahwa kebiasaanlah yang dijadikan acuan dalam permasalahan-permasalahan ini.

وما تحتوي عليه الشبكة لا يوثق به أو يؤخذ نعم لو أخذه آخذ لم يملكه وكذلك القول لو أخذ آخذٌ ما وقع في آلة الملاقط لم يملكه وإنما الكلام فيه إذا سقط بنفسه

Apa yang terdapat dalam jaring tidak dapat dipercaya atau diambil; benar, jika seseorang mengambilnya, ia tidak memilikinya. Demikian pula, jika seseorang mengambil sesuatu yang jatuh ke dalam alat penjepit, ia tidak memilikinya. Adapun pembahasan adalah jika sesuatu itu jatuh dengan sendirinya.

فصل في أحكام الضيافة وما يتعلق بها

Bagian tentang hukum-hukum jamuan (dhiyāfah) dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

إذا قَدَّم المُضيف الطعام فالمذهب الظاهر أنه لا حاجة إلى لفظٍ من المضيف بل تكفي قرائن الأحوال في إفادة الإباحة وأبعدَ بعضُ أصحابنا فقال لابد من لفطٍ منه فليقل كلوا بارك الله فيكم أو ليأتِ بلفظ يفيد هذا الغرضَ

Jika tuan rumah telah menyajikan makanan, maka mazhab yang zahir menyatakan bahwa tidak diperlukan ucapan dari tuan rumah, melainkan cukup dengan tanda-tanda keadaan yang menunjukkan kebolehan. Namun sebagian ulama kami berpendapat secara berbeda, mereka mengatakan bahwa harus ada ucapan dari tuan rumah, misalnya dengan mengatakan, “Silakan makan, semoga Allah memberkahi kalian,” atau menggunakan ungkapan lain yang memiliki maksud serupa.

وليس بشيء

Itu tidak benar.

ثم الضيف هل يملك ما يأكله اختلف أصحابُنا في المسألة فمنهم من قال لا يملكه أصلاً وإنما يأكله على ملك المُضيف مباحاً وهذا ما حُكي عن اختيار القفال

Kemudian, mengenai tamu, apakah ia memiliki apa yang dimakannya, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tamu sama sekali tidak memilikinya, melainkan ia memakannya atas kepemilikan tuan rumah secara mubah (diperbolehkan), dan inilah pendapat yang dinukil sebagai pilihan al-Qaffal.

ومن أصحابنا من قال إنه لا يملك حتى يضعَها في فيه ومنهم من قال لا يملكها حتى يمضغها بعضَ المضغ ومنهم من قال لا يملكها حتى يزدردها فإذا ازدردها تبيّنا أنه ملكها مع الازدراد

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa seseorang belum memiliki (makanan itu) sampai ia meletakkannya di mulutnya. Ada juga yang berpendapat bahwa ia belum memilikinya sampai mengunyahnya sebagian kunyahan. Dan ada pula yang berpendapat bahwa ia belum memilikinya sampai menelannya. Maka apabila ia telah menelannya, jelaslah bahwa ia memilikinya bersamaan dengan proses menelan tersebut.

وفائدة هذا التردد ظاهر في إثبات الملك ونفيه

Manfaat dari keragu-raguan ini jelas dalam menetapkan atau menafikan kepemilikan.

وكان شيخي يصحح أن الضيف لا يملك ويذكر هذه الوجوهَ في أن الإباحة هل تلزم حتى لو رجع المضيف لم يكن له الرجوع وهذا لا بأس به ولكن الأصح أن الإباحة لا تنتهي إلى اللزوم قط ما لم يَفُت المستباحُ وليس في الشرع إباحة تُفضي إلى اللزوم إلا في النكاح فإنا قد نختار أن المعقود عليه في النكاح ليس مملوكاً وإنما هو مستباح مستحق

Dan guruku membenarkan bahwa tamu tidak memiliki (hak kepemilikan) dan menyebutkan beberapa alasan terkait apakah ibāhah (pembolehan) itu mengikat, sehingga jika tuan rumah menarik kembali (pemberian izin), ia tidak berhak menariknya kembali. Ini tidak masalah, namun pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ibāhah tidak pernah sampai pada tingkat mengikat selama objek yang dibolehkan itu belum hilang (belum digunakan). Tidak ada dalam syariat ibāhah yang berujung pada keharusan kecuali dalam nikah, karena kami memilih pendapat bahwa objek akad dalam nikah bukanlah sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang dibolehkan dan berhak untuk dinikmati.

ومن قال لا بد من لفظٍ في إباحة الطعام يشترط من الناثر لفظاً أيضاً ثم لا يشترط تمليكاً وإيجاباً وقبولاً بل يكتفي بأن يقول خذوا أو بأي لفظ في معناه

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa harus ada lafaz dalam membolehkan makanan, maka ia juga mensyaratkan adanya lafaz dari orang yang menabur makanan. Namun, tidak disyaratkan adanya pemilikan, ijab, dan qabul, melainkan cukup dengan ucapan “ambillah” atau dengan lafaz lain yang semakna.

ومما يتعلق بما نحن فيه أنَّا إذا رأينا إجابةَ الداعي حتماً فلو دُعي جمعٌ فأجاب بعضهم هل تسقط الفرضية عمّن لم يجب سقوطَ فرض الكفاية في مثل هذه الصورة ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنه يُنحَى بذلك نحو فروض الكفايات وأقرب الأمثلة إلينا ردُّ جواب السلام على جمعٍ فإنه إذا أجابه واحد منهم سقط فرض الجواب عن الباقين

Terkait dengan pembahasan kita, apabila kita memandang bahwa memenuhi panggilan itu wajib, maka jika sekelompok orang dipanggil dan sebagian dari mereka memenuhi panggilan tersebut, apakah kewajiban itu gugur dari yang tidak memenuhi sebagaimana gugurnya fardhu kifayah dalam kasus seperti ini? Para ulama Irak menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa hal ini dikiaskan kepada fardhu kifayah. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah menjawab salam kepada sekelompok orang; jika salah satu dari mereka menjawab, maka kewajiban menjawab gugur dari yang lainnya.

وعندي أن ما ذكروه فيه إذا وُجِّهت دعوةٌ على جمع ولم يُخَصَّص كلُّ واحد منهم بالتنقير فإن خصص كل واحد بالدعوة والتفريع على وجوب الإجابة فلا يسقط الفرض أصلاً عن البعض بحضور البعض وعلى هذا القياسُ يجري في السلام لو خُصِّصَ كلُّ واحد بتسليمة

Menurut pendapat saya, apa yang mereka sebutkan itu berlaku jika undangan ditujukan kepada suatu kelompok tanpa mengkhususkan setiap individu di antara mereka secara terperinci. Namun, jika setiap orang diundang secara khusus dan didasarkan pada kewajiban untuk memenuhi undangan tersebut, maka kewajiban tidak gugur dari sebagian orang hanya karena sebagian lainnya hadir. Berdasarkan qiyās ini pula berlaku dalam hal salam, jika setiap orang diberikan salam secara khusus.

ولو حضر الدعوة ولم يكن عذر يمنعه من الأكل وكان يشق على المُضيف امتناعه فقد ذكر العراقيون وجهين في وجوب الأكل بناءً على وجوب الإجابة وهذا بعيد إن قيل به فيكفي ما ينطبق عليه الاسم في التعاطي

Jika seseorang menghadiri undangan dan tidak ada uzur yang menghalanginya untuk makan, sementara penolakan makannya itu memberatkan tuan rumah, maka para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai kewajiban makan, berdasarkan pada kewajiban memenuhi undangan. Namun, hal ini dianggap jauh (lemah) jika dikatakan wajib, sehingga cukup dengan melakukan sesuatu yang sudah dapat disebut makan menurut kebiasaan.

فإن لم تكن دعوة فالأكل والتطفل حرام وفي الحديث من دخل دار غيره بغير إذنه دخل عاصياً وأكل حراماً وإنما يفرض هذا والدعوة نَقَرى فأما إذا كانت الدعوة جَفَلَى وفتحت الباب ليدخل من شاء فلا تطفل والحالة هذه وقد نجزت المسائل المنصوصة في السواد ونحن نرسم بعدها فروعاً لابن الحداد وغيره

Jika tidak ada undangan, maka makan dan menumpang makan adalah haram. Dalam hadis disebutkan: “Barang siapa masuk ke rumah orang lain tanpa izinnya, maka ia masuk dalam keadaan maksiat dan memakan makanan haram.” Hal ini hanya berlaku jika undangan bersifat naqra (khusus untuk orang tertentu). Adapun jika undangan bersifat jafalā (umum) dan pintu dibuka agar siapa saja boleh masuk, maka dalam keadaan seperti ini tidak dianggap menumpang makan. Permasalahan-permasalahan yang dinyatakan secara eksplisit dalam kitab as-Sawād telah selesai kami bahas, dan setelah ini kami akan menyusun cabang-cabang masalah dari Ibn al-Haddād dan lainnya.

فرع

Cabang

إذا قال السيد لعبده انكح فلانة الحرّة وأجعلُ رقبتك صداقها فالإذن فاسد فإن النكاح على هذا الوجه لا يصح إذ المرأة لو ملكت رقبة زوجها في دوام النكاح لانْفسخ النكاح فكيف يفرض انعقاده ابتداءً مع تقدير حصول الملك في رقبة الزوج ولو تعاطى السيد التزويج بنفسه على هذه الصفة فزوجَ من عبده الصغير أو الكبير على قول الإجبار حرةً وجعل رقبة الزوج صداقاً فالذي قطع به الأصحاب بطلانُ النكاح

Jika seorang tuan berkata kepada hambanya, “Nikahilah fulanah yang merdeka dan aku jadikan lehermu (dirimu) sebagai maharnya,” maka izin tersebut batal, karena pernikahan dengan cara seperti ini tidak sah. Sebab, jika seorang wanita memiliki leher (diri) suaminya selama masa pernikahan, maka pernikahan itu akan batal. Maka bagaimana mungkin pernikahan itu dianggap sah sejak awal dengan memperkirakan terjadinya kepemilikan atas diri suami? Jika tuan tersebut sendiri melakukan akad nikah dengan cara seperti ini, lalu menikahkan hamba kecil atau besar (menurut pendapat bolehnya pemaksaan) dengan wanita merdeka dan menjadikan leher suami sebagai maharnya, maka pendapat yang dipastikan oleh para ulama adalah batalnya pernikahan tersebut.

وكنت أود لو ذهب ذاهب إلى صحة النكاح وفساد الصداق ثم كان الرجوع إلى مهر المثل أو إلى القيمة ولكن ما يصير إلى هذا صائر والتعويل في المذهب على النقل

Aku sebenarnya ingin seandainya ada yang berpendapat tentang sahnya akad nikah dan rusaknya mahar, lalu kemudian kembali kepada mahar mitsil atau kepada nilai (mahar tersebut), namun tidak ada yang berpendapat demikian, dan yang dijadikan pegangan dalam mazhab adalah berdasarkan riwayat.

وتعليل ما ذكره الأصحاب أن من نكح امرأة وأصدقها خمراً فإنا نفرض الصداق منفصلاً عن النكاح حتى كأنه ليس عوضاً وليست تسميةُ الخمر قادحةً في مقصود النكاح وقد ذكرنا أن الشرائط التي لا تؤثر في مقصود النكاح لا تُفسده وأما جعل رقبة الزوج صداقاً فنوعٌ من إفساد يقدح في مقصود النكاح كما تقدم

Penjelasan para ulama adalah bahwa jika seseorang menikahi seorang wanita dan menjadikan mahar berupa khamar, maka kami memisahkan mahar dari akad nikah, seolah-olah mahar itu bukan sebagai imbalan, dan penyebutan khamar sebagai mahar tidak merusak tujuan utama pernikahan. Telah kami sebutkan bahwa syarat-syarat yang tidak memengaruhi tujuan utama pernikahan tidak membatalkannya. Adapun menjadikan diri suami sebagai mahar, itu merupakan bentuk kerusakan yang merusak tujuan utama pernikahan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو أَذِنَ لعبده في أن ينكِحَ أَمَةَ الغير ويجعل رقبته صداقها فهذا جائز فإنه لا يصير مملوكاً للزوجة إذ مالك الصداق سيد الأَمَةِ ولا يمنع أن يجتمع الزوج والزوجة في ملك مالك فإن للسيد أن يزوِّجَ أَمَتَهُ من عبده

Jika seseorang mengizinkan budaknya untuk menikahi budak perempuan milik orang lain dan menjadikan dirinya sendiri sebagai mahar bagi budak perempuan itu, maka hal ini diperbolehkan. Sebab, ia tidak menjadi milik istri, karena pemilik mahar adalah tuan dari budak perempuan tersebut. Tidak ada larangan jika suami dan istri berada dalam kepemilikan satu orang, karena tuan berhak menikahkan budak perempuannya dengan budaknya sendiri.

فإذا تبين ذلك فلو انعقد النكاح على هذا الوجه ثم طلق زوجته قبل المسيس فحكم الطلاق لعيل التشطير

Jika telah jelas demikian, maka apabila akad nikah terjadi dengan cara seperti ini kemudian suami menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan intim, maka hukum talaknya adalah wajib pembagian setengah.

وقد اختلف أصحابنا في هذه المسألة فمنهم من قال يرتد نصف الرقبة إلى السيد الأول فإن الرقبة خرجت من ملك السيد الأول ونصف الصداق يرتد إلى من يخرج الصداق من ملكه وليس هذا كما لو أصدق الأب عيناً من أعيان ماله زوجةَ طفْلِهِ فإنا نقول إذا بلغ وطلق رجع نصفُ الصداق إلى الزوج فإنَّا نقدر إصداق الأب عنه تمليكاً ثم نحكم بأنه ثبت صداقاً عن ملك الطفل ولا يتأتي في هذه المسألة مثل هذا وليس بين كون العبد ملكاً للأول وبين وقوعه صداقاً مرتبة

Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa setengah budak kembali kepada tuan pertama, karena budak tersebut telah keluar dari kepemilikan tuan pertama, dan setengah mahar kembali kepada pihak yang mengeluarkan mahar dari kepemilikannya. Hal ini tidak sama seperti jika seorang ayah menjadikan suatu barang miliknya sebagai mahar bagi istri anak kecilnya; sebab, jika anak itu telah dewasa dan menceraikan istrinya, maka setengah mahar kembali kepada suami. Kami berpendapat bahwa pemberian mahar oleh ayah atas nama anaknya dianggap sebagai pemilikan, kemudian kami menetapkan bahwa mahar itu menjadi hak anak tersebut. Namun, dalam masalah ini, hal semacam itu tidak dapat diterapkan. Tidak ada hubungan antara status budak sebagai milik tuan pertama dengan statusnya sebagai mahar.

ومن أصحابنا من قال لا يرتد نصف العبد إلى السيد الأول لأن الطلاق هو المشطّر وهو يقع والعبد في ملك الثاني

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa setengah budak tidak kembali kepada tuan pertama, karena talaklah yang menyebabkan pembagian itu, dan talak tersebut terjadi ketika budak masih berada dalam kepemilikan tuan kedua.

وهذا الوجه عندي في حكم الوهم والغلط الذي لا يعوّل عليه وذلك أن العبد هو الصداق فلو فرضنا الصداق غيرَه وصورنا طلاقاً لنظرنا على وجهٍ في حالة الطلاق فأما إذا كان هو الصداق فلا وجه إلا النظر إلى من خرج العبد عن ملكه

Menurut saya, pendapat ini termasuk dalam kategori waham dan kesalahan yang tidak dapat dijadikan sandaran, karena sesungguhnya budak itu adalah mahar. Jika kita mengandaikan mahar itu selain budak dan membayangkan terjadinya talak, maka kita akan melihatnya dari satu sisi dalam keadaan talak. Adapun jika budak itu sendiri yang menjadi mahar, maka tidak ada jalan lain kecuali memperhatikan kepada siapa budak itu keluar dari kepemilikannya.

وذكر الشيخ أبو علي وجهين في أن العبد إذا نكح بإذن مولاه والتزم المهرَ في الذمة وأدَّاه من كسبه ثم باع مالكُ العبد العبدَ وطلق قبل المسيس فالصداق إلى من يرتد فعلى وجهين أحدهما أنه يرتد نصف الصداق إلى المالك الأول وهو الوجه

Syekh Abu Ali menyebutkan dua pendapat mengenai seorang budak yang menikah dengan izin tuannya, lalu ia berkomitmen membayar mahar dari tanggungannya dan telah membayarnya dari hasil kerjanya. Kemudian, pemilik budak tersebut menjual budaknya, lalu budak itu menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan suami istri. Maka, mengenai mahar yang harus dikembalikan, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah setengah mahar dikembalikan kepada pemilik pertama, dan inilah pendapat yang ada.

والثاني أنه يرتد إلى الثاني نظراً إلى حالة الطلاق

Kedua, ia kembali kepada yang kedua dengan mempertimbangkan keadaan talak.

فهذا على هذا الوجه بعيد والترتيب الصحيح أنه إذا أدَّى المهر مما اكتسبه في ملك الأول ثم فرض الطلاق في ملك الثاني فالنصف يرتد إلى الأول لأن الأكساب كانت ملكَ الأول ومِن ملكِهِ خرجت إلى الزوجة فأما إذا جرى النكاح في ملك الأول ثم باعه مولاه فاكتسب في ملك الثاني ووفَّر الصداقَ ثم طلق قبل المسيس فالنصف يرتد إلى الأول أو إلى الثاني فعلى وجهين

Dengan demikian, menurut penjelasan ini, pendapat tersebut kurang tepat. Urutan yang benar adalah jika mahar dibayarkan dari hasil usaha yang diperoleh saat masih dalam kepemilikan tuan yang pertama, kemudian terjadi perceraian saat budak sudah menjadi milik tuan yang kedua, maka setengah mahar kembali kepada tuan yang pertama, karena hasil usaha tersebut adalah milik tuan yang pertama dan dari kepemilikannya berpindah kepada istri. Adapun jika akad nikah terjadi saat budak masih dalam kepemilikan tuan yang pertama, lalu ia dijual oleh tuannya dan kemudian budak tersebut memperoleh hasil usaha saat sudah menjadi milik tuan yang kedua dan dari hasil itu ia membayar mahar, lalu terjadi perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri, maka setengah mahar kembali kepada tuan yang pertama atau kepada tuan yang kedua, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وإذا ضممنا ما ذكره الشيخ أبو علي إلى ما رتَّبه الأصحاب انتظم من مجموعه في الصورتين ثلاثة أوجه أحدها أن نصف الصداق يرتد أبداً إلى من جرى النكاح في ملكه

Jika kita menggabungkan apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali dengan apa yang disusun oleh para sahabat, maka secara keseluruhan dalam dua situasi tersebut terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa setengah mahar selalu kembali kepada orang yang akad nikah terjadi dalam kepemilikannya.

والثاني أنه يرتد أبداً إلى من يجري الطلاق في ملكه

Yang kedua adalah bahwa talak itu selalu kembali kepada orang yang memiliki hak kepemilikan atas talak tersebut.

والثالث أنه يفصل فإن اكتسب في ملك الأول وأدّى رجع الشطر إلى الأول وإن اكتسب في ملك الثاني وأدّى رجع الشطر إلى الثاني

Ketiga, bahwa hal itu dirinci: jika ia memperoleh (penghasilan) saat masih dalam kepemilikan yang pertama dan telah membayar (hutang), maka setengahnya kembali kepada yang pertama; dan jika ia memperoleh (penghasilan) saat sudah dalam kepemilikan yang kedua dan telah membayar (hutang), maka setengahnya kembali kepada yang kedua.

ثم فرع الأصحاب مسألة إصداق العبد رقبة نفسه فقالوا إن حكمنا بأن شَطرَ الرقبة يرتد إلى الأول فلا كلام وإن حكمنا بأن الشطر يرتد إلى الثاني فلا معنى للتشطر على الحقيقة فإنه لو تشطر لرجع إليه فلا معنى لتقدير خروج الشطر عن ملكه وعوده إليه إذ ليس يفهم الخروج إلا مع الدخول وهذا غير معقول في هذه المسألة فرجع فائدة الوجه إلى أنَّ صَرْفَنا حقَ التشطرِ إلى الثاني يوجب بقاء ملكه فيما كان يرجع لو كان مستحقُ التشطيرِ غيرَه

Kemudian para ulama membahas cabang masalah tentang seorang budak yang menjadikan dirinya sendiri sebagai mahar, lalu mereka berkata: Jika kita memutuskan bahwa separuh budak itu kembali kepada pihak pertama, maka tidak ada masalah. Namun jika kita memutuskan bahwa separuhnya kembali kepada pihak kedua, maka tidak ada makna pembagian secara hakiki; sebab jika benar-benar terbagi, maka akan kembali kepadanya juga. Maka tidak ada makna memperkirakan keluarnya separuh dari kepemilikannya lalu kembali lagi kepadanya, karena tidak dapat dipahami adanya keluar kecuali dengan masuk, dan ini tidak masuk akal dalam masalah ini. Maka manfaat dari pendapat ini kembali pada bahwa penetapan hak pembagian kepada pihak kedua menyebabkan tetapnya kepemilikan pada apa yang akan kembali kepadanya, seandainya yang berhak atas pembagian itu adalah selain dirinya.

ثم كل ما ذكرناه في باب شطر الصداق يتحقق في جميعه إذا جرى ما يوجب رد جميع الصداق فإذا اطلع العبد على عيب بامرأته يُثبت مثلُه الفسخَ ففسخ النكاح فهذا يوجب ارتداد جميع الصداق فإن قلنا يرتد إلى السيد الأول فيعود العبد ملكاً له وإن قلنا يرتد إلى ملك السيد الثاني فحكم هذا ألا يخرج العبد عن ملكه فإنه لو خرج منه لعاد إليه

Segala hal yang telah kami sebutkan dalam bab separuh mahar juga berlaku pada seluruh mahar apabila terjadi sesuatu yang mewajibkan pengembalian seluruh mahar. Jika seorang budak mengetahui adanya cacat pada istrinya yang menurut kebiasaan cacat tersebut membolehkan pembatalan, lalu ia membatalkan akad nikah, maka hal ini mewajibkan pengembalian seluruh mahar. Jika kita katakan bahwa mahar itu kembali kepada tuan pertama, maka budak tersebut kembali menjadi miliknya. Namun jika kita katakan bahwa mahar itu kembali menjadi milik tuan kedua, maka ketentuannya adalah budak tersebut tidak keluar dari kepemilikannya, sebab jika ia keluar dari kepemilikannya, maka ia akan kembali kepadanya.

ومما يتصل بذلك أن العبد لو عَتَقَ في هذه المسألة وكان أعتقه السيد الثاني وهو مالك الأمة فلو طلقها قبل المسيس وبعد نفوذ العتق فهذا يُفَرَّعُ على ما تقدم فإن جرينا على المذهب الصحيح وقلنا نصف الصداق يرجع إلى السيد الأول فالسيد الثاني المعتِق يغرم نصف قيمته للسيد الأولط وإن فرّعنا على الوجه الثاني وهو اعتبار يوم الطلاق فمستحق الشَّطر هذا المعتَق فإنه استقل بنفسه لما عتق فرجع بقيمة نصف نفسه على سيده الثاني في الذي أعتقه وكل ما يتفرع في نصف الصداق يتفرع في جميعه إذا جرى ما يوجب ارتدادَ جميع الصداق

Terkait dengan hal ini, jika seorang budak laki-laki dimerdekakan dalam permasalahan ini, dan yang memerdekakannya adalah tuan kedua yang merupakan pemilik budak perempuan tersebut, lalu ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri dan setelah merdekanya sah, maka hal ini bercabang dari penjelasan sebelumnya. Jika kita mengikuti mazhab yang benar dan mengatakan bahwa setengah mahar kembali kepada tuan pertama, maka tuan kedua yang memerdekakan wajib mengganti setengah nilainya kepada tuan pertama. Namun jika kita mengikuti pendapat kedua, yaitu memperhitungkan hari terjadinya talak, maka yang berhak atas setengah mahar adalah budak yang telah merdeka itu, karena ia telah berdiri sendiri setelah dimerdekakan, sehingga ia menuntut nilai setengah dirinya kepada tuan keduanya yang telah memerdekakannya. Segala hal yang bercabang pada setengah mahar juga berlaku pada seluruh mahar jika terjadi sesuatu yang menyebabkan seluruh mahar gugur.

فرع

Cabang

إذا أصدق ذمي امرأته الذمية خمراً وقبضت الخمر في الشرك ثم أسلما فقد ذكرنا أنه ليس لها مهر المثل بعد ما انبرمت الحالة بالقبض في الشرك فلو استحالت الخمر التي في يدها خلاً ثم طلقها قبل المسيس فهل يرجع عليها بشيء فعلى وجهين أحدهما يرجع عليها بنصف الخل وهو اختيار ابن الحداد وذلك لأن هذه العين تلك العين وليس انقلابها خلاً من قبيل الزيادات المتصلة

Jika seorang dzimmi memberikan mahar kepada istrinya yang juga dzimmi berupa khamar, lalu istrinya menerima khamar itu ketika masih dalam keadaan syirik, kemudian keduanya masuk Islam, maka telah kami sebutkan bahwa ia tidak berhak mendapatkan mahar mitsil setelah keadaan tersebut tetap dengan diterimanya khamar saat masih syirik. Jika khamar yang ada di tangannya berubah menjadi cuka, lalu suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan badan, apakah suaminya berhak mengambil kembali sesuatu darinya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, suaminya berhak mengambil setengah dari cuka tersebut, dan ini adalah pilihan Ibnu al-Haddad, karena barang itu adalah barang yang sama, dan perubahannya menjadi cuka bukan termasuk tambahan yang terhubung.

والوجه الثاني أنه لا يثبت له الرجوع بشيء فإن انقلاب الخمر خلاً أكبر في مرتبته من الزيادات المتصلة فإذا كانت الزيادة المتصلة تمنع من الرجوع في العين فانقلاب الخمر خلاً بذلك أولى

Pendapat kedua adalah bahwa tidak ada hak baginya untuk menarik kembali apa pun, karena perubahan khamar menjadi cuka merupakan perubahan yang lebih besar tingkatannya dibandingkan dengan penambahan yang menyatu. Jika penambahan yang menyatu saja mencegah penarikan kembali atas barang tersebut, maka perubahan khamar menjadi cuka tentu lebih utama untuk mencegahnya.

ولابن الحداد أن يقول جرى إصداق الخمر في حالة كانوا يَرَوْنها مالاً في تلك الحالة ثم جرى الطلاق وفي يدها مال في الإسلام وليس كالزيادات المتصلة فإن مصيرنا إلى أنها تمنع تشطّر الصداق لا يَحْرِم الزوجَ بل المرأة تغرم له نصف القيمة

Ibnu al-Haddad dapat mengatakan bahwa mahar berupa khamr diberikan pada saat mereka menganggapnya sebagai harta pada waktu itu, kemudian terjadi talak dan di tangan istri terdapat harta pada masa Islam. Ini tidak seperti tambahan-tambahan yang melekat, karena jika kita berpendapat bahwa hal itu mencegah pembagian setengah mahar, hal itu tidak merugikan suami, melainkan istri harus mengganti setengah nilainya kepada suami.

وهذا تكَلُّف والأصح الوجه الآخر فإنا لا نلتفت إلى ماليةٍ في الإسلام

Ini adalah pemaksaan, dan pendapat yang benar adalah pendapat yang lain, karena kita tidak memperhatikan aspek nilai harta dalam Islam.

التفريع

Pengembangan cabang hukum

إن قلنا لا يرجع الزوج بشيء من الخلّ فلا كلام وإن قلنا الزوج يرجع بنصف الخل فلو أنها أتلفت الخل ثم طلقها قبل المسيس ففي المسألة وجهان أصحهما أنه يرجع عليها بنصف مثل الخل التالف وهو اختيار الخِضْري فإنه إذا ثبت الرجوع تعين الخل عند بقائه فالوجه أنه يرجع بمثله عند تلفه فإنه من ذوات الأمثال

Jika kita mengatakan bahwa suami tidak berhak mengambil kembali sedikit pun dari khul‘, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa suami berhak mengambil kembali setengah dari khul‘, lalu istri telah membinasakan khul‘ tersebut kemudian suami menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa suami berhak menuntut istri untuk mengganti setengah dari barang khul‘ yang telah rusak, dan ini adalah pilihan al-Khidri. Sebab, jika hak untuk mengambil kembali telah ditetapkan, maka barang khul‘ itu menjadi tertentu ketika masih ada, sehingga pendapat yang tepat adalah suami berhak menuntut barang sejenisnya jika barang tersebut telah rusak, karena barang itu termasuk jenis barang yang memiliki padanan.

والوجه الثاني أنه لا يرجع عليها بشيء عند تلف الخل وهذا اختيار ابن الحداد ووجهه أن الخل إذا تلف قبل الطلاق لم يصادف الزوج خلاً ولا أصدق خلاً ونحن نعتبر حالة الإصداق والقبض القبض وهذا فيه فقه

Pendapat kedua adalah bahwa suami tidak dapat menuntut apa pun darinya jika cuka tersebut rusak, dan ini adalah pilihan Ibn al-Haddad. Alasannya adalah jika cuka itu rusak sebelum terjadinya talak, maka suami tidak mendapatkan cuka dan tidak pula memberikan cuka sebagai mahar. Kita mempertimbangkan keadaan saat penyerahan mahar dan penerimaannya, dan dalam hal ini terdapat aspek fiqh.

والأصح ما ذكره الخِضري فإن الخمر لما استحالت خلاً قدرنا كأن الصداق كان خلاً

Pendapat yang paling benar adalah apa yang disebutkan oleh al-Khidri, yaitu ketika khamr telah berubah menjadi cuka, maka kita menganggap seolah-olah mahar itu sejak awal adalah cuka.

ومما يتعلق بهذه المسألة أنه لو أصدق امرأته جلدَ ميتة في الكفر وقبضته ثم أسلما ودبغته وطلقها قبل المسيس اختلف أصحابنا على طريقين في المسألة فمنهم من قال فيها وجهان كالوجهين في الخمر إذا انقلبت خلاً

Terkait dengan masalah ini, jika seseorang memberikan mahar kepada istrinya berupa kulit bangkai saat masih kafir, lalu istrinya menerima kulit tersebut, kemudian keduanya masuk Islam dan istrinya menyamak kulit itu, lalu ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat. Sebagian mereka mengatakan ada dua wajah (pendapat) dalam masalah ini, sebagaimana dua wajah dalam masalah khamr yang berubah menjadi cuka.

ومنهم من قال لا يرجع في هذه الصورة وجهاً واحداً بخلاف مسألة الخل والفرق بينهما أن التملّك تحقق في مسألة الجلد بقصدها وفعلها فيظهر انفرادها بالجلد المدبوغ بخلاف الخمر تنقلب خلاً

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa dalam kasus ini tidak boleh kembali (menarik kembali) menurut satu pendapat, berbeda dengan masalah cuka. Perbedaannya adalah bahwa kepemilikan telah terwujud dalam masalah kulit karena niat dan perbuatannya, sehingga tampak bahwa ia berhak secara eksklusif atas kulit yang telah disamak, berbeda dengan khamr yang berubah menjadi cuka.

ثم قال الشيخ أبو علي إن قلنا في مسألة الجلد إن الزوج إذا طلقها يرجع في نصفه مدبوغاً فلو أتلفته ثم طلقها قال يجب القطع في هذه الصورة بأنه لا يرجع بشيء عند التلف فإن الجلد ليس له مثل بخلاف الخل فلا سبيل إلى المثل ولو أثبتنا للزوج حقاً تقديراً لتعيّن في القيمة ثم لو قدرنا الرجوع إلى القيمة فالاعتبار بقيمة يوم الإصداق ولم يكن للجلد يوم الإصداق قيمة

Kemudian Syaikh Abu Ali berkata: Jika kita mengatakan dalam masalah kulit bahwa apabila suami menceraikannya, maka ia berhak kembali atas setengahnya dalam keadaan sudah disamak, maka jika ia (istri) merusaknya lalu suami menceraikannya, dikatakan bahwa dalam kasus ini harus dipastikan bahwa suami tidak berhak kembali atas apa pun ketika barang itu telah rusak, karena kulit tidak memiliki padanan, berbeda dengan cuka, sehingga tidak mungkin diganti dengan padanan. Dan seandainya kita menetapkan hak bagi suami secara taksiran, maka yang menjadi patokan adalah nilai (harga), lalu jika kita menganggap pengembalian itu berupa nilai, maka yang menjadi acuan adalah nilai pada hari akad nikah, sedangkan kulit pada hari akad nikah tidak memiliki nilai.

وهذا الذي ذكره حسن ولكن الاحتمال متطرق إلى الجلد حيث انتهى التفريع إليه فإنَّا نُقَدِّر كأن الصداقَ كان جلداً وإنما نُثبت الرجوع في نصف العين لو بقي بتأويل تقدير الصداق كذلك يوم الإصداق

Apa yang disebutkan itu baik, namun kemungkinan masih ada pada kulit jika pembahasan berakhir padanya. Sebab, kita menganggap seolah-olah mahar itu berupa kulit, dan kita hanya menetapkan hak untuk kembali pada setengah barang jika barang itu masih ada, dengan penafsiran bahwa mahar itu dianggap demikian pada hari akad.

ومن بقية المسألة أنها لو باعت الخل أو الجلد أو وهبته فهو كما لو تلف في يدها أو أتلفته في كل تفصيل

Dan sisa permasalahannya adalah bahwa jika ia menjual cuka atau kulit tersebut, atau memberikannya sebagai hadiah, maka hukumnya sama seperti jika barang itu rusak di tangannya atau ia sendiri yang merusaknya, dalam setiap rincian hukumnya.

ثم جميع ما ذكرناه في النصف عند فرض الطلاق قبل المسيس يتقرر في الجميع عند تقدير ارتداد الجميع

Kemudian, semua yang telah kami sebutkan mengenai setengah bagian ketika terjadi talak sebelum terjadi hubungan suami istri, berlaku pula untuk seluruhnya ketika diperkirakan terjadi riddah pada seluruh pihak.

فرع

Cabang

إذا أصدق الرجل امرأته حلياً فكسرته ثم أعادت صيغته ثم طلقها قبل المسيس فلا يخلو إما أن أعادته على صيغة أخرى أو أعادته على تلك الصيغة بعينها فإن أعادته على صيغة أخرى ثم طلقها قبل المسيس فللزوج الامتناع فإن ذلك وإن كان زيادة فقد زالت الصنعة التي كانت فكان ما نحن فيه بمثابة زيادة من وجه ونقصان من وجه آخر

Jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istrinya berupa perhiasan, lalu istrinya memecahkannya kemudian membentuknya kembali, lalu ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia membentuknya kembali dalam bentuk lain, atau ia membentuknya kembali dalam bentuk yang sama persis. Jika ia membentuknya kembali dalam bentuk lain, lalu ia dicerai sebelum terjadi hubungan suami istri, maka suami berhak menolak (mengambil kembali). Sebab, meskipun ada tambahan, namun bentuk kerajinan yang sebelumnya telah hilang, sehingga dalam hal ini terdapat unsur penambahan dari satu sisi dan pengurangan dari sisi lain.

وإن عادت تلك الصنعة الأولى بعينها ثم طلقها قبل المسيس فهل يثبت له الرجوع بنصف الصداق فعلى وجهين أحدهما يثبت له الرجوع إلى نصف الحلي فإنها عادت كما كانت فصار كما لو أصدقها عبداً سميناً فهُزل في يدها ثم عاد سميناً كما كان من غير زيادة ثم فرض الطلاق قبل المسيس وإن كان كذلك فالأصحاب فيما نقله الشيخ مجمعون على أنه يرجع بنصف العبد

Jika perhiasan itu kembali seperti semula, lalu ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, apakah ia berhak kembali atas setengah mahar? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, ia berhak kembali atas setengah perhiasan, karena perhiasan itu telah kembali seperti semula. Hal ini seperti jika seseorang memberikan mahar berupa seorang budak yang gemuk, lalu budak itu menjadi kurus di tangan istrinya, kemudian kembali gemuk seperti semula tanpa ada tambahan, lalu terjadi perceraian sebelum hubungan suami istri. Dalam kasus seperti ini, para ulama, sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh, sepakat bahwa suami berhak kembali atas setengah budak tersebut.

والوجه الثاني أنه لا يرجع بنصف الحلي وللمرأة منعه وهذا اختيار ابن الحداد وليست كالسمن في الصورة التي ذكرناها فإن هذه الصيغة عادت باختيارها وليست كالسمن وهذا التردد يشبه اختلاف الأصحاب في أن تحصيل هذه الآثار هل يلحقها بالأعيان أم كيف السبيل فيها وقد ذكرنا هذا في كتاب التفليس

Pendapat kedua adalah bahwa tidak dikembalikan setengah perhiasan dan perempuan berhak melarangnya, dan ini adalah pilihan Ibn al-Haddad. Hal ini tidak sama dengan kasus lemak seperti yang telah kami sebutkan, karena akad ini terjadi atas pilihannya sendiri dan tidak seperti lemak. Keraguan ini mirip dengan perbedaan pendapat para sahabat mengenai apakah pengambilan manfaat-manfaat ini disamakan dengan benda-benda (‘ayn) atau bagaimana cara memperlakukannya. Kami telah membahas hal ini dalam Kitab al-Taflis.

التفريع

Pencabangan

إن قلنا يرجع في نصف الحلي فلا كلام وإن قلنا

Jika kita mengatakan bahwa ia kembali pada setengah perhiasan, maka tidak ada pembicaraan lagi, dan jika kita mengatakan…

لا يرجع فبماذا يرجع فعلى وجهين أصحهما أنه يرجع في نصف قيمة الإناء غيرَ مكسور فإن كان من ذهب فالواجب نصفُ قيمته وَرِقاً وإن كان من ورقِ فالواجب نصفُ قيمته ذهباً

Ia tidak kembali, lalu dengan apa ia kembali? Ada dua pendapat, yang paling sahih adalah ia kembali pada setengah nilai bejana dalam keadaan belum pecah. Jika bejana itu terbuat dari emas, maka yang wajib adalah setengah nilainya dalam bentuk perak. Jika terbuat dari perak, maka yang wajib adalah setengah nilainya dalam bentuk emas.

والوجه الثاني أنها تغرَم مثلَ نصف تِبر الحلي وزناً بوزن ثم تغرَم نصف أجر مثل الصائغ من نقد البلد وهذا قد قدمنا له نظيراً في البيع وكل ذلك والحلي مباح أو قلنا يجوز استصناع الإناء وصنعته محترمة

Dan alasan kedua adalah bahwa ia wajib membayar denda sebesar setengah berat tibr perhiasan, kemudian membayar setengah upah seperti upah tukang emas dari mata uang yang berlaku di negeri tersebut. Hal ini telah kami sebutkan padanannya dalam bab jual beli. Semua itu berlaku sementara perhiasan tersebut mubah, atau jika kita katakan boleh memesan pembuatan wadah dan pekerjaannya dihormati.

ثم أجرى الشيخ أبو علي في أثناء المسألة كلاماًً لا يختص بفرض الصداق فقال إذا غصبَ الرجل إناء من ذهب وزنه ألف وقيمتُه ألف ومائة وفرعنا على أنَّ اتخاذ الأواني محرم فلو كسره الغاصبُ فرجع إلى ألف فهل يغرَم قيمة الصنعة فعلى وجهين

Kemudian Syaikh Abu Ali dalam pembahasan masalah ini menyampaikan penjelasan yang tidak khusus berkaitan dengan kewajiban mahar. Beliau berkata: Jika seseorang merampas sebuah bejana emas yang beratnya seribu dan nilainya seribu seratus, dan kita berasumsi bahwa penggunaan bejana tersebut hukumnya haram, lalu si perampas memecahkannya sehingga nilainya kembali menjadi seribu, maka apakah ia wajib mengganti nilai keterampilan (biaya pembuatan)? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وهذا غريب غير متجه فإن تلك الصنعة على هذا الوجه ليست متقوّمة وما لا يتقوَّم لا يختلف الأمر فيه بين مُتلِف وبين مُتلِف

Ini adalah hal yang aneh dan tidak tepat, karena keahlian seperti itu dalam bentuk ini tidak memiliki nilai, dan sesuatu yang tidak memiliki nilai tidak ada perbedaan hukumnya antara orang yang merusaknya dan orang yang merusaknya.

ولو غصب جارية مغنية قيمتها لمكان الغناء ألفان فتلفت أو رجعت إلى ألف ونسيت ما كانت تحسنه فهل يضمن الغاصب ما كان في مقابلة الغناء فعلى وجهين ذكرهما

Jika seseorang merampas seorang budak perempuan penyanyi yang nilainya karena kemampuan menyanyinya adalah dua ribu, lalu budak itu binasa atau nilainya kembali menjadi seribu dan ia lupa apa yang dahulu ia kuasai, maka apakah si perampas wajib mengganti nilai yang berkaitan dengan kemampuan menyanyinya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan.

ثم زاد فقال من اشترى جارية مغنية تساوي ألفين بسبب الغناء وقيمة رقبتها ألف فإن اشتراها بألف فيصح البيع وإن اشتراها بألفين فقد حكى الشيخ في ذلك اختلافاً فحكى عن المحمودي أنه أفتى ثَمَّ ببطلان البيع فإنا لو صححناه لصار تعليم الغناء مَكْسبةً وننسبُها إلى المقابلة بمال

Kemudian ia menambahkan, “Jika seseorang membeli seorang budak perempuan penyanyi yang nilai sebenarnya dua ribu karena kemampuannya bernyanyi, sedangkan harga tubuhnya (sebagai budak) seribu, maka jika ia membelinya seharga seribu, jual belinya sah. Namun jika ia membelinya seharga dua ribu, maka Syaikh telah meriwayatkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Ia meriwayatkan dari al-Mahmudi bahwa beliau berfatwa di sana dengan batalnya jual beli tersebut, karena jika kita menganggapnya sah, maka mengajarkan nyanyian akan menjadi sumber penghasilan, dan kita akan menganggapnya sebagai sesuatu yang dipertukarkan dengan harta.”

قال الشيخ أبو زيد إن قصد بشرائها والمغالاة في ثمنها غِناءها فلا يصح وإن أطلق البيع ولم يقصد ذلك صح وقال أبو بكر الأودَني مِن أصحابِنا مَن قال يصح البيع على كل حال ولا يختلف بالقصود والأغراض

Syekh Abu Zaid berkata, jika seseorang bermaksud membeli dan membayar mahal karena suara nyanyiannya, maka jual belinya tidak sah. Namun, jika ia melakukan jual beli tanpa maksud tersebut, maka jual belinya sah. Abu Bakar al-Awdani berkata, di antara ulama kami ada yang berpendapat bahwa jual beli itu sah dalam segala keadaan dan tidak berbeda karena niat dan tujuan.

وهذا هو القياس السديد

Inilah qiyās yang tepat.

فرع

Cabang

إذا أصدق الرجلُ امرأتَه عبداً فرهنته ثم إنه طلقها قبل المسيس والعبد مرهون فلا يرجع في نصف العبد مرهوناً على تقدير أن تفك الرهن وتسلّم إليه نصفَ العبد فلو قال الزوج أصبرُ وأنتظر فإن انفك الرهن رجعتُ في نصف العبد فللمرأة ألا ترضى به فإنها لو رضيت لكان الحق باقياً في ذمتها ولو قدرنا رجوع العبد بالانفكاك فذاك منتظر ولها ألا تصبر على شغل الذمة

Jika seorang laki-laki memberikan mahar kepada istrinya berupa seorang budak, lalu istrinya menjadikan budak itu sebagai barang gadai, kemudian laki-laki itu menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, sementara budak tersebut masih dalam status tergadai, maka suami tidak dapat mengambil kembali setengah budak dalam keadaan masih tergadai, dengan anggapan bahwa jika gadai itu ditebus maka setengah budak akan diserahkan kepadanya. Jika suami berkata, “Aku akan bersabar dan menunggu, jika gadai itu ditebus maka aku akan mengambil kembali setengah budak,” maka istri berhak untuk tidak menyetujui hal itu. Sebab, jika ia menyetujui, maka hak (utang) tetap ada dalam tanggungannya. Dan jika kita menganggap budak itu kembali setelah gadai ditebus, maka itu masih harus menunggu, dan istri berhak untuk tidak bersabar atas beban tanggungan tersebut.

ولو قالت أصبر حتى يفكَّ الرهنُ فللزوج ألا يصبر ويطلب حقه عاجلاً

Jika istri berkata, “Aku akan bersabar hingga barang gadai itu ditebus,” maka suami berhak untuk tidak menunggu dan menuntut haknya segera.

ولو قال الزوج رضيت بنصف العبد وصبرت إلى فك الرهن وأبرأتكِ عن الضمان وأنا متربص إلى فكاك الرهن فإن سلِم فذاك وإن لم يسلَم وتلف العبد فلا عليكِ فهل عليها أن تجيبه إلى ذلك فعلى وجهين ذكرهما الشيخ أحدهما عليها أن ترضى بما رضي به

Jika suami berkata, “Aku ridha dengan setengah budak itu dan aku akan bersabar hingga gadaiannya ditebus, dan aku membebaskanmu dari tanggungan, dan aku menunggu hingga gadaian itu ditebus. Jika budak itu selamat, maka itu sudah cukup. Namun jika tidak selamat dan budak itu binasa, maka tidak ada tanggungan atasmu,” maka apakah istri wajib menerima hal itu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh Syekh; salah satunya adalah istri wajib menerima apa yang telah diridhai oleh suami.

والوجه الثاني ليس عليها وشبه ذلك بما لو أصدق امرأته نخلاً فأطلعت وطلقها قبل المسيس فلو قال الزوج أصبر إلى أن تُجَدَّ الثمارُ ثم أرجع في نصف النخيل ويكون الضمان عليّ حتى لو تلف حقي قبل الجداد فلا يلزمها ذلك

Pendapat kedua, ia tidak wajib melakukannya, dan hal ini diqiyaskan dengan kasus apabila seorang suami memberikan mahar kepada istrinya berupa pohon kurma, lalu pohon itu berbuah, kemudian ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri. Jika suami berkata, “Aku akan bersabar hingga buahnya dipanen, lalu aku akan mengambil kembali separuh pohon kurma itu, dan aku yang menanggung risikonya, sehingga jika bagianku rusak sebelum panen, maka istriku tidak menanggungnya,” maka hal itu tidak wajib baginya.

ولو قال أخرجتك من ضمان العين في الحال وأنا متربص فإذا جُدَّت الثمار رجعت في النخيل وإن تلفت فلا عليك فهل يلزمها ذلك فعلى وجهين ذكرهما

Jika seseorang berkata, “Aku melepaskanmu dari tanggungan atas barang (yang disewakan) saat ini, sementara aku masih menunggu; maka jika buahnya telah matang, aku akan kembali mengambil pohon kurma itu, dan jika buahnya rusak, maka tidak ada tanggungan atasmu,” maka apakah hal itu mengikat keduanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan.

وهذا عندي غيرُ سديد فإنَّ الصداق إذا كان نخيلاً كما صوره فطريق الكلام فيه يتعلق بالسقي ورجوع فائدته إلى الشجرة ومثل ذلك لا يجري فيما نحن فيه وتلك المسألة أجريناها على أحسن وجه وما ذكره الشيخ من الوجهين يُفسد نظامها وأما مسألة الرهن فما ذكره من الخلاف فيه بعيد أيضاًً فإنه يبعُد أن يتملك النصف وهو مرهون فإن ما لا يصح ابتياعه لا ينقلب إلى الزوج ملكاً وإذا بعُدَ ملكُ النصفِ فما معنى سقوط الضمان عنها فالوجه انحصار حقه في القيمة لا غير

Menurut saya, pendapat ini tidak tepat, karena jika mahar berupa pohon kurma seperti yang digambarkan, maka pembahasannya berkaitan dengan penyiraman dan manfaatnya kembali kepada pohon tersebut, dan hal seperti ini tidak berlaku dalam permasalahan yang sedang kita bahas. Permasalahan tersebut telah kami jelaskan dengan cara terbaik, dan apa yang disebutkan oleh Syekh dari dua sisi justru merusak sistematika permasalahan itu. Adapun permasalahan rahn (gadai), apa yang disebutkan tentang adanya khilaf di dalamnya juga jauh dari kebenaran, karena tidak mungkin seseorang memiliki setengah bagian sementara barang tersebut sedang digadaikan. Sesuatu yang tidak sah untuk dibeli tidak bisa menjadi milik suami. Jika kepemilikan setengah bagian itu tidak mungkin, lalu apa makna gugurnya tanggungan darinya? Maka pendapat yang tepat adalah bahwa haknya terbatas hanya pada nilai (harga), tidak lebih.

ومما يتعلق بهذه المسألة أنها لو أجَّرت العبد المُصْدَقَ مدةً وطلقها الزوج والعبد في بقية المدة فلا سبيل إلى فسخ الإجارة بعد لزومها فإن أراد الزوج الرجوعَ بنصف القيمة فهو حقه ولو قال أصبر إلى انقضاء الإجارة ثم أرجع في نصف العبد وضمان ذلك إلى أن يتفق الرجوع عليك فليس له ذلك ولو قال أتربصُ إلى انقضاء المدة وقد أبرأتكِ في الحال عن ضمان حصتي فعلى وجهين أحدهما أنه يُجاب إلى مُلتَمَسِه والثاني لا يُجاب كما ذكرناه في الرهن

Terkait dengan masalah ini, apabila seorang istri menyewakan budak yang dijadikan mahar selama suatu masa, lalu suaminya menceraikannya sementara masa sewa masih tersisa, maka tidak ada jalan untuk membatalkan akad sewa setelah akad itu menjadi mengikat. Jika suami ingin menuntut kembali setengah nilai budak, itu adalah haknya. Namun, jika ia berkata, “Saya akan menunggu sampai masa sewa berakhir, lalu saya akan menuntut setengah bagian budak dan menanggung risikonya hingga waktu penuntutan itu tiba,” maka ia tidak berhak melakukan hal itu. Jika ia berkata, “Saya akan menunggu sampai masa sewa berakhir dan saya telah membebaskanmu saat ini dari tanggungan atas bagianku,” maka ada dua pendapat: yang pertama, permintaannya dapat dikabulkan; yang kedua, tidak dikabulkan, sebagaimana telah disebutkan dalam masalah rahn (gadai).

فإن قيل هلا خرجتم ذلك على أن الدار المكراة هل تباع حتى تقولوا إذا لم يصح بيعه امتنع الرجوع في نصفه وإن قلنا يجوز بيع المكرَى فيجوز منه الرجوع فيه إن رضي به قلنا كان الإمام يذكر ذلك ويختاره على هذا الوجه

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengaitkan hal itu dengan persoalan apakah rumah yang disewakan boleh dijual, sehingga kalian mengatakan: Jika penjualannya tidak sah, maka tidak boleh kembali pada setengahnya; dan jika kita mengatakan bahwa barang yang disewakan boleh dijual, maka boleh juga kembali pada setengahnya jika pembeli ridha dengannya?” Kami katakan: Imam telah menyebutkan hal itu dan memilih pendapat tersebut dengan cara seperti ini.

وحقيقة هذه المسألة تبتني على الصداق إذا تشطر حيث لا منع فنصيب الزوج مضمون أو غير مضمون وقد ذكرنا اختلاف الطرق في ذلك

Hakikat permasalahan ini didasarkan pada mahar apabila terbagi dua, di mana tidak ada halangan, maka bagian suami apakah dijamin atau tidak dijamin. Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat dalam hal ini.

فإن قلنا نصيبه في يدها غير مضمون إذا لم تتعدّ ولم تمتنع فإذا رضي الرجل برجوع نصف المكرى إليه وجب إجابته لا محالة

Jika kita mengatakan bahwa bagian miliknya yang ada di tangan wanita tersebut tidak menjadi tanggungannya selama ia tidak melampaui batas dan tidak menolak, maka apabila laki-laki itu rela setengah dari barang yang disewakan kembali kepadanya, wajib untuk memenuhi permintaannya tanpa keraguan.

وإن قلنا نصيب الزوج مضمون على الزوجة ما دام في يدها فإذا قال الزوج والصداق مكرى رضيت بنصفه فإن جوزنا بيع المكرَى وقد رضي الزوج بالنصف ولم يبرئها عن الضمان لم يجب وإن أبرأها عن الضمان فهل يصح الإبراء عن الضمان هذا يبتني على أن المغصوب منه إذا أبرأ الغاصب عن الضمان هل يبرأ وفيه خلاف قدمته وهو مبني على أن الإبراء عما لم يجب ووُجد سببُ وجوبه هل يصح ثم ثمرة هذا أنَّا إن صححنا الإبراء أجيب الزوج وإن لم نصحح الإبراء لم يجب

Jika kita mengatakan bahwa bagian suami tetap menjadi tanggungan istri selama masih berada di tangannya, maka apabila suami berkata, “Mahar itu adalah barang sewaan, aku rela dengan setengahnya,” jika kita membolehkan penjualan barang sewaan dan suami rela dengan setengahnya namun tidak membebaskan istri dari tanggungan, maka kerelaan itu tidak wajib diterima. Namun jika ia membebaskan istri dari tanggungan, apakah pembebasan dari tanggungan itu sah? Hal ini bergantung pada masalah apakah orang yang barangnya digasak, jika ia membebaskan penggasak dari tanggungan, maka apakah penggasak itu benar-benar terbebas? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan sebelumnya, dan hal ini juga bergantung pada masalah apakah pembebasan dari sesuatu yang belum wajib, namun sebab kewajibannya sudah ada, itu sah atau tidak. Maka konsekuensinya, jika kita menganggap sah pembebasan tersebut, maka permintaan suami diterima; namun jika tidak kita anggap sah, maka permintaan itu tidak wajib diterima.

ومما يتعلق بهذه المسألة أيضاًً أن المرأة لو باعت العبد المُصْدَقَ قبل الطلاق ورجع إلى ملكها ثم طلقها قبل المسيس ففي الرجوع إلى عين الصداق وجهان مشهوران

Terkait dengan masalah ini juga, jika seorang wanita menjual budak yang dijadikan sebagai mahar sebelum terjadi perceraian, lalu budak itu kembali menjadi miliknya, kemudian suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka dalam hal pengembalian mahar secara langsung terdapat dua pendapat yang masyhur.

ولو أصدقها عبدَه فرهنته ثم انفك الرهن فطلقها قبل المسيس فللزوج الرجوع إلى نصف العبد ولا حكم لطريان الرهن وإن كنا نقول لو صادف الزوج العبدَ مرهوناً عند الطلاق لم يرجع في نصفه وكذلك القول في الإجارة إذا طرأت وزالت قبل الطلاق

Jika seorang suami menjadikan budaknya sebagai mahar untuk istrinya, lalu ia menjadikan budak itu sebagai barang gadai, kemudian gadai tersebut lepas, lalu ia menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka suami berhak mengambil kembali setengah dari budak tersebut, dan tidak ada pengaruh atas terjadinya gadai. Meskipun kami berpendapat, jika saat terjadi perceraian budak itu masih dalam status tergadai, maka suami tidak berhak mengambil kembali setengahnya. Demikian pula halnya dengan sewa-menyewa, jika sewa-menyewa itu terjadi dan kemudian selesai sebelum perceraian.

ولو أصدقها عبداً فدبّرته وفرّعنا على أنه لا يرجع في نصف المدبّر إذا صادفه الطلاقُ مدبّراً فلو دبّرته ثم رجعت عن التدبير فالذي عليه الجريان أنه يرجع الآن

Jika seorang suami memberikan mahar kepada istrinya berupa seorang budak, lalu istrinya memerdekakan budak itu secara bertahap (tadbīr), dan kita berasumsi bahwa suami tidak dapat mengambil kembali setengah dari budak yang telah menjadi mudabbir apabila talak terjadi saat budak itu masih berstatus mudabbir, maka jika istri telah memerdekakan budak itu secara bertahap kemudian ia membatalkan pemerdekaan tersebut, pendapat yang berlaku adalah suami sekarang dapat mengambil kembali budak itu.

قال الشيخ لو طلقها والعبد مرهون وقلنا يمتنع الرجوع فيه أو كان مدبراً وحصرنا حق الزوج في نصف القيمة فاتفق أنه لم يرجع في نصف القيمة حتى انفك الرهن وزال التدبير فلو قال الزوج قد زالت الموانع فلا أرضى إلاَّ بنصف العبد فهل له ذلك فعلى وجهين ذكرهما أحدهما حقه في نصف العبد باقٍ فإنّ هذه الأسباب لو زالت قبل الطلاق لثبت حق الزوج في العبد فكذلك إذا زالت بعده وقبل انفصال الأمر

Syekh berkata: Jika suami menceraikannya sementara budak tersebut sedang dalam status gadai, dan kita berpendapat bahwa tidak boleh menarik kembali (budak itu), atau budak tersebut adalah mudabbar, lalu kita membatasi hak suami pada setengah nilai budak itu, kemudian kebetulan suami tidak mengambil setengah nilai tersebut hingga status gadai terlepas dan status mudabbar hilang, lalu suami berkata, “Sekarang penghalang-penghalang itu telah hilang, maka aku tidak rela kecuali dengan setengah budak itu,” apakah ia berhak atas hal itu? Maka ada dua pendapat yang disebutkan: salah satunya, haknya atas setengah budak itu tetap ada, karena sebab-sebab tersebut jika hilang sebelum perceraian, maka hak suami atas budak itu tetap ada, maka demikian pula jika sebab-sebab itu hilang setelahnya dan sebelum perkara ini selesai.

والوجه الثاني أنه لا حظَ له في العبد اعتباراً بحالة الطلاق وهذا هو الصحيح

Pendapat kedua adalah bahwa ia tidak memiliki hak apa pun atas budak, sebagaimana dipertimbangkan dalam kasus talak, dan inilah pendapat yang benar.

ثم إذا أثبتنا له حقَّ الرجوع إلى العين فالظاهر عندنا أن الأمر في ذلك إليه حتى لو استقر على طلب نصف القيمة كان له ذلك فإن الأمر في التغايير التي تلحق الصداق تتعلق بالاختيار وإنما يتشطر الصداق من غير اختيار على الأصح إذا لم تُقْرن حالة الطلاق بسبب من هذه الأسباب

Kemudian, apabila kami telah menetapkan baginya hak untuk kembali kepada barangnya, maka yang tampak menurut kami adalah bahwa urusan itu diserahkan kepadanya, sehingga jika ia memutuskan untuk meminta setengah nilai barang, maka ia berhak atas hal itu. Sebab, perubahan-perubahan yang terjadi pada mahar berkaitan dengan pilihan. Adapun mahar menjadi setengah tanpa adanya pilihan, menurut pendapat yang lebih sahih, hanyalah jika perceraian tidak disertai dengan sebab-sebab seperti ini.

ويجوز أن يقال يتعين حقه على هذا الوجه في العين إذا لم يتفق قبضُ القيمة ويكون هذا بمثابة ما لو لم يكن مانع حالة الطلاق فإن استبعد مستبعدٌ ذلك فيه فهو ميلٌ منه إلى أنه لا حق له في العين وهو وجهٌ منقاس لأنه ملك عليها نصف القيمة وانفصل الأمر وهذا منتهى الاعتبار في باب الصداق

Dan boleh dikatakan bahwa haknya menjadi tertentu atas cara ini pada barangnya jika tidak terjadi kesepakatan untuk menerima nilai, dan hal ini serupa dengan keadaan jika tidak ada penghalang pada saat talak. Maka jika ada yang menganggap hal itu mustahil dalam kasus ini, itu menunjukkan kecenderungan bahwa ia tidak memiliki hak atas barang tersebut, dan ini adalah pendapat yang dapat diterima karena ia telah memiliki setengah nilai barang tersebut dan perkara telah selesai. Inilah batas pertimbangan dalam bab mahar.

ومن أتلف على رجل مثلياً ولم يصادف للمتلَف مِثلاً فهو مطالبٌ بالقيمة فإن لم يتفق تغريمُه القيمةَ حتى وُجد المثلُ فيتعين المثلُ لا خلاف فيه

Dan barang siapa merusak barang milik seseorang yang bersifat mitsli (memiliki padanan), namun tidak ditemukan padanannya untuk barang yang dirusak itu, maka ia wajib mengganti dengan nilai (harga). Jika belum sempat ia dibebani untuk membayar nilai tersebut hingga padanannya ditemukan, maka yang wajib diberikan adalah padanannya, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat.

فهذه مسالك النظر

Inilah jalur-jalur penalaran.

فرع

Cabang

ذكر الشيخ في أثناء كلامه فصولاً مستفادة يتعلق بعضها بالصداق ولا يتعلق بعضها به ونحن نأتي بالفوائد منها

Syekh menyebutkan dalam penjelasannya beberapa bagian yang bermanfaat; sebagian berkaitan dengan mahar dan sebagian lagi tidak berkaitan dengannya. Kami akan menyampaikan faedah-faedah dari bagian-bagian tersebut.

فإذا أعتق الرجلُ أَمَتَهُ في مرضه المخوف ونكحها فقد قال الأصحاب لا ترثه العتيقةُ بالزوجية فإنَّ إعتاقه إياها في المرض وصية ولا يُجمع بين الوصية والميراث والمسألة من دوائر الفقه

Jika seorang laki-laki memerdekakan budak perempuannya saat ia sedang sakit yang dikhawatirkan (menyebabkan kematian), lalu menikahinya, para ulama berpendapat bahwa perempuan yang telah dimerdekakan itu tidak mewarisinya sebagai istri. Sebab, memerdekakannya dalam keadaan sakit tersebut dianggap sebagai wasiat, dan tidak boleh menggabungkan antara wasiat dan warisan. Masalah ini termasuk dalam lingkup fiqh.

ولو قال لأَمَته في مرض موته أعتقتكِ على أن تنكحيني فقبلت ذلك عَتَقت ولزمتها القيمة ثم إذا أعتقت بقوله وقبولها والتزمت القيمةَ فلا يلزمها الوفاء

Jika seseorang berkata kepada budak perempuannya saat ia sedang sakit menjelang wafat, “Aku memerdekakanmu dengan syarat engkau menikahiku,” lalu budak itu menerima syarat tersebut, maka ia merdeka dan wajib baginya membayar nilai (budak tersebut). Kemudian, setelah ia merdeka karena ucapan tuannya dan penerimaannya, serta ia telah berkomitmen membayar nilai tersebut, maka ia tidak wajib memenuhi syarat untuk menikah.

فلو نكحها وجعل ما لزمها من القيمة صداقَها وكانت القيمة معلومةً فيصح النكاح ثم لا يخلو إما أن تكون قيمةُ العتيقة مثلَ مهر مثلها أو كانت قيمتُها أكثرَ من مهر مثلها فإن كانت قيمتُها مثلَ مهر مثلها أو أقلَّ فيصح النكاح وترثه

Jika ia menikahinya dan menjadikan nilai yang wajib atasnya sebagai mahar, dan nilainya diketahui, maka akad nikahnya sah. Kemudian, tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah nilai budak perempuan yang dimerdekakan itu sama dengan mahar sepadannya ataukah nilainya lebih besar dari mahar sepadannya. Jika nilainya sama dengan mahar sepadannya atau kurang, maka akad nikahnya sah dan ia berhak mewarisinya.

وذلك أن العتق كما وقع في حقها مجاناً ألا يكون وصية فلا دَوْر ثم قد صَرَفَ المعتِق قيمتها إلى مهرها وليس فيه محاباة

Hal itu karena pembebasan budak sebagaimana terjadi atas dirinya secara cuma-cuma, tidaklah termasuk wasiat, maka tidak ada perputaran (dalam hukum). Kemudian, orang yang membebaskan budak telah mengalihkan nilainya menjadi maharnya, dan di dalamnya tidak terdapat unsur memihak (memberi keistimewaan).

فأما إذا كانت أكثرَ من مهر مثلها وقد نكحها المعتِق على قيمتها فقد حاباها فإن مهر مثلها إذا كان خمسمائة وقيمتها ألف فإذا أصدقها قيمتَها فقد حاباها فهل ترث ذكر وجهين أحدهما أنها لا ترثه فإنه قد حاباها في قيمتها فكأنَّ نصف العتق وقع مجاناً فيعود الأمر إلى الوصية بالعتق ومفهوم قول ابن الحداد يشير إلى هذا الوجه وهو ضعيف

Adapun jika maharnya lebih besar dari mahar mitsilnya dan orang yang memerdekakannya menikahinya dengan mahar senilai harga dirinya, maka ia telah memberikan kelebihan (dalam mahar). Misalnya, jika mahar mitsilnya adalah lima ratus, sedangkan harga dirinya seribu, lalu ia memberinya mahar senilai harga dirinya, berarti ia telah memberikan kelebihan. Apakah dalam hal ini ia berhak mewarisi? Ada dua pendapat. Salah satunya, ia tidak mewarisinya, karena ia telah memberikan kelebihan dalam harga dirinya, sehingga seolah-olah setengah dari kemerdekaannya terjadi secara cuma-cuma, dan perkara ini kembali kepada wasiat berupa pembebasan (budak). Pemahaman dari perkataan Ibn al-Haddad mengisyaratkan pada pendapat ini, namun pendapat ini lemah.

والوجه الثاني أنها ترثه وهو الصحيح الذي لا يجوز غيره فإن أصل العتق وقع بعوض المثل والمحاباة رجعت إلى القيمة فهو كما لو نكح حرة بأكثر من مهر مثلها فإنها ترث والمحاباة تُردّ

Adapun pendapat kedua adalah bahwa ia mewarisinya, dan inilah pendapat yang benar yang tidak boleh diambil selainnya. Sebab, asal pembebasan budak terjadi dengan imbalan senilai, dan kelebihan (dalam pembayaran) dikembalikan kepada nilai sebenarnya. Hal ini seperti seseorang menikahi wanita merdeka dengan mahar yang lebih besar dari mahar sepadannya, maka ia tetap mewarisi, dan kelebihan tersebut dikembalikan.

ومما أجراه في أثناء الكلام أنه تعرض لاستبدال المرأة عن الصداق وخرجه على القولين في أن الصداق مضمون باليد أم بالعقد وهذا بيّن ثم انتهى إلى الكلام في الاستبدال عن الثمن المتلزم في الذمة فذكر فيه قولين وهما مشهوران

Di antara hal yang beliau sampaikan dalam pembahasan adalah membahas tentang penggantian mahar oleh istri, dan beliau mengaitkannya dengan dua pendapat mengenai apakah mahar itu menjadi tanggungan karena penyerahan atau karena akad, dan hal ini jelas. Kemudian beliau melanjutkan pembahasan tentang penggantian harga yang menjadi kewajiban dalam tanggungan, lalu beliau menyebutkan dua pendapat dalam hal ini, yang keduanya masyhur.

ثم قال لو كان الثمن دراهم معينة فالأصح أنه لا يجوز الاستبدال عنها لأنها تتعين بالتعيين ونزلت منزلة سائر الأعيان وذكر وجهاً أنه يجوز الاستبدال عنها إذا جَوَّزنا الاستبدال عن الثمن الواقع في الذمة لأن الدراهم لا تعنى لأعيانها وإنما تعنى لنقودها وماليتها والقصود مرعية في جواز الاستبدال ومنْعه ولذلك منعنا الاستبدال عن المُسْلَمِ فيه وإن كان ديناً في الذمة فإن جنسه مقصود في وضع العقد كما أن الأعيان مقصودة فإذا لم يمتنع التحاق الدين بالعين في منع الاستبدال لم يبعد التحاق بعض الأعيان بالديون التي يجوز الاستبدال عنها

Kemudian ia berkata: Jika harga (barang) berupa dirham tertentu, menurut pendapat yang paling sahih, tidak boleh menggantinya dengan yang lain karena dirham tersebut menjadi tertentu dengan penentuan itu dan kedudukannya sama seperti benda-benda tertentu lainnya. Namun, ada pendapat yang membolehkan penggantian jika kita membolehkan penggantian terhadap harga yang menjadi tanggungan (dalam bentuk utang), karena dirham tidak dimaksudkan untuk zatnya, melainkan untuk nilai dan fungsinya sebagai alat tukar, dan tujuan-tujuan tersebut diperhatikan dalam kebolehan atau larangan penggantian. Oleh karena itu, kita melarang penggantian terhadap barang yang menjadi objek salam (muslam fihi) meskipun ia adalah utang dalam tanggungan, karena jenisnya memang dimaksudkan dalam akad, sebagaimana benda-benda tertentu juga dimaksudkan. Maka, jika tidak dilarang menyamakan utang dengan benda tertentu dalam hal larangan penggantian, tidaklah jauh untuk menyamakan sebagian benda tertentu dengan utang-utang yang boleh diganti.

وهذا وجه بعيد من قِبَل أن الدراهم إذا حكمنا بتعيينها فالعقد ينفسخ بتلفها وهذا يؤذن بضعف الملك فيها فيبعد تصحيح الاستبدال عنها

Ini adalah pendapat yang lemah, karena jika kita menetapkan penentuan (spesifikasi) pada dirham, maka akad akan batal jika dirham tersebut rusak atau hilang. Hal ini menunjukkan lemahnya kepemilikan atasnya, sehingga sulit untuk membenarkan penggantian atasnya.

فرع يتعلق بالصيد والإحرام

Cabang yang berkaitan dengan perburuan dan ihram

لا بد فيه من تجديد العهد ببعض ما سبق في المناسك فنقول المُحْرِم ممنوع من ابتياع الصيد فلو اشترى صيداً فمن أصحابنا من أجرى في صحة شرائه قولين أحدهما إنه لا يصح الشراء ولا يملك الصيد

Harus ada pembaruan pemahaman terhadap sebagian hal yang telah disebutkan sebelumnya dalam manasik, maka kami katakan bahwa seorang muhrim dilarang membeli hewan buruan. Jika ia membeli hewan buruan, sebagian ulama kami mengemukakan dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya; salah satunya adalah bahwa jual beli tersebut tidak sah dan ia tidak memiliki hewan buruan itu.

والثاني يصح الشراء ويملك وهذا يستند إلى القول في أن المُحرِم إذا كان في ملكه صيدٌ قبل الإحرام فإذا أحرم فهل يزول ملكه عنه فعلى قولين أحدهما يزول ملكه بنفس إحرامه والثاني لا يزول أصلاً

Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli sah dan kepemilikan tetap ada. Hal ini merujuk pada perbedaan pendapat mengenai apakah seorang muhrim yang telah memiliki hewan buruan sebelum ihram, lalu ketika ia berihram, apakah kepemilikannya atas hewan buruan tersebut hilang atau tidak. Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pertama, kepemilikannya hilang dengan sendirinya karena ihram; kedua, kepemilikannya sama sekali tidak hilang.

ومن أصحابنا من قال لا يزول الملك بالإحرام الطارىء قولاً واحداً ولكن هل يلزم المحرمَ إرسالُ ذلك الصيد فعلى قولين

Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa kepemilikan tidak hilang karena ihram yang datang secara tiba-tiba, menurut satu pendapat. Namun, apakah orang yang sedang ihram wajib melepaskan hewan buruan tersebut, terdapat dua pendapat dalam hal ini.

ومما يتعلق بذلك أنَّا وإن قلنا يتصور من المحرم أن يتملك صيداً في الابتداء قصداً واختياراً فالصيد يدخل في ملكه بالطرق التي لا اختيار فيها كالإرث ثم يلزمه إرساله وهذا بمثابة قطعنا القول بأن الكافر يرث العبد المسلم

Terkait dengan hal itu, meskipun kami mengatakan bahwa dimungkinkan bagi orang yang sedang ihram untuk memiliki hewan buruan sejak awal dengan sengaja dan pilihan, namun hewan buruan dapat masuk ke dalam kepemilikannya melalui cara-cara yang tidak melibatkan pilihan, seperti warisan, kemudian ia wajib melepaskannya. Hal ini serupa dengan ketetapan kami bahwa orang kafir dapat mewarisi budak muslim.

قال الشيخ إذا قلنا إن طروء الإحرام يزيل الملك عن الصيد فلا يبعد على ذلك أن نقول الإحرام يمنع حصول الملك بجهة الإرث فإنه إذا قطع الملك المستدام يجوز أن يمنع حصول الملك بجهة الإرث

Syekh berkata: Jika kita mengatakan bahwa munculnya ihram menghilangkan kepemilikan atas hewan buruan, maka tidaklah jauh untuk mengatakan bahwa ihram juga mencegah terjadinya kepemilikan melalui jalur warisan. Sebab, jika ihram dapat memutus kepemilikan yang telah berlangsung lama, maka boleh jadi ihram juga dapat mencegah terjadinya kepemilikan melalui jalur warisan.

فهذا شيء ذكره من تلقاء نفسه والمذهب الذي صار إليه الأصحاب أن الإحرام لا يمنع حصول الملك القهري فإنه يبعد أن يرث شيئاً ولا يرثَ شيئاً ثم يدخل في ملكه فيزول إن فرعنا على أن الإحرام يقطع دوام الملك

Ini adalah sesuatu yang ia sebutkan dari dirinya sendiri, sedangkan mazhab yang dianut oleh para sahabat adalah bahwa ihram tidak menghalangi terjadinya kepemilikan secara paksa, karena tidak masuk akal seseorang mewarisi sesuatu namun tidak mewarisi sesuatu, lalu masuk ke dalam kepemilikannya kemudian hilang jika kita berpendapat bahwa ihram memutuskan keberlangsungan kepemilikan.

ومما ذكره في مقدمة المسألة التعرضُ للخلاف المشهور في أن رجوع نصف الصداق إلى الزوج هل يتوقف على اختياره وهذا مما ذكرناه

Di antara hal yang disebutkan dalam pendahuluan masalah ini adalah pembahasan tentang perbedaan pendapat yang masyhur mengenai apakah kembalinya setengah mahar kepada suami itu bergantung pada pilihannya, dan ini termasuk yang telah kami sebutkan.

ثم قال إذا ارتدت المرأة قبل المسيس اقتضى ذلك ارتداد جميع الصداق إلى الزوج ولا أثر للاختيار في ذلك وجهاً واحداً وكذلك كل نكاح ينفسخ ويجب من انفساخه ارتدادُ جميع الصداق فلا أثر للاختيار وهذا الذي ذكره حكايةٌ وهو موثوق به فيما يحكيه والفرق بين الطلاق وبين الفسخ أن الفسخ بطباعه يقتضي ردَّ العوض بخلاف الطلاق فإنه تصرُّفٌ في العقد وليس فسخاً له

Kemudian ia berkata, jika seorang wanita murtad sebelum terjadi hubungan intim, maka hal itu mengharuskan seluruh mahar kembali kepada suami, dan tidak ada pengaruh pilihan dalam hal ini menurut satu pendapat. Demikian pula setiap akad nikah yang batal, dan akibat pembatalannya mengharuskan seluruh mahar kembali, maka tidak ada pengaruh pilihan. Apa yang disebutkan ini adalah sebuah riwayat, dan ia dapat dipercaya dalam apa yang diriwayatkannya. Perbedaan antara talak dan fasakh adalah bahwa fasakh secara tabiatnya mengharuskan pengembalian kompensasi, berbeda dengan talak yang merupakan tindakan terhadap akad, bukan pembatalan akad itu sendiri.

وإذا ارتد الزوج فارتداده يوجب تشطّر الصداق والذي أراه أن الوجه الضعيف في اشتراط اختيار التمليك يجري في النصف الذي يرتد إلى الزوج بردته فإن ردة الزوج قبل المسيس تنزل منزلة الطلاق فهذا ما أردناه في ذلك

Jika suami murtad, kemurtadannya menyebabkan mahar menjadi setengah. Menurut pendapat saya, pendapat yang lemah dalam mensyaratkan pilihan kepemilikan berlaku pada setengah mahar yang kembali kepada suami karena kemurtadannya. Sebab, kemurtadan suami sebelum terjadi hubungan suami istri diposisikan seperti talak. Inilah yang ingin saya sampaikan terkait hal itu.

ثم نعود إلى فرع ابن الحداد وقد ذكر صورتين إحداهما أن الرجل إذا أصدق امرأته صيداً ثم أحرم الزوج وارتدت المرأة قبل المسيس فيرتد الصداق إلى ملك الزوج مع إحرامه فإن هذا ملك ضروري فكان بمثابة الإرث وكذلك لو كان باع صيداً وهو مُحِلٌّ ثم أحرم فرُدّ عليه الصيدُ بالعيب فإنه يدخل في ملكه ثم يتعين عليه إرساله فإن أرسله فلا كلام وإن بقي في يده حتى أحل فهل يجب الإرسال في هذه الصورة فعلى وجهين أحدهما يجب وفاءً بما تقدم

Kemudian kita kembali ke cabang pendapat Ibn al-Haddad, di mana ia menyebutkan dua gambaran. Salah satunya adalah jika seorang laki-laki menjadikan seekor hewan buruan sebagai mahar untuk istrinya, kemudian suami tersebut berihram dan istrinya murtad sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar itu kembali menjadi milik suami saat ia sedang berihram. Kepemilikan ini bersifat darurat, sehingga kedudukannya seperti warisan. Demikian pula, jika seseorang menjual hewan buruan dalam keadaan halal, lalu ia berihram dan hewan buruan itu dikembalikan kepadanya karena cacat, maka hewan itu masuk ke dalam kepemilikannya, kemudian ia wajib melepaskannya. Jika ia melepaskannya, maka tidak ada masalah. Namun jika hewan itu tetap berada di tangannya hingga ia kembali halal, apakah ia tetap wajib melepaskannya dalam keadaan ini? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, salah satunya adalah tetap wajib sebagai bentuk pemenuhan terhadap kewajiban sebelumnya.

والثاني لا يجب ويكون بمثابة الكافر إذا أسلم عبده وألزمناه بيعه فلم يبعه حتى أسلم فلا يلزمه الآن بيعه

Yang kedua tidak wajib, dan kedudukannya seperti orang kafir yang jika budaknya masuk Islam lalu kita mewajibkan dia untuk menjualnya namun dia tidak menjualnya hingga budaknya masuk Islam, maka sekarang dia tidak wajib menjualnya.

ويترتب على هذا أنَّا إذا قضينا بأن الإحرام يقطع دوام ملك المحرم عن الصيد فإذا اضطررنا إلى الحكم بارتداد الصيد إليه فهل نقول يرتد إليه ملكاً ويزول تفريعاً على هذا الوجه كما يرث الصيد ثم يزول ملكه والظاهر أنَّا نقول بهذا إذا فرعنا على زوال الملك ولكن هذا القول ضعيفٌ والتفريع على الضعيف يتخبط

Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa jika kita memutuskan bahwa ihram memutuskan kepemilikan muhrim atas hewan buruan secara permanen, kemudian jika kita terpaksa memutuskan bahwa kepemilikan hewan buruan itu kembali kepadanya, apakah kita mengatakan bahwa kepemilikan itu kembali kepadanya lalu hilang lagi, sebagaimana ia mewarisi hewan buruan lalu kepemilikannya hilang? Yang tampak adalah kita mengatakan demikian jika kita membangun pendapat atas dasar hilangnya kepemilikan. Namun, pendapat ini lemah, dan membangun cabang hukum di atas pendapat yang lemah adalah tindakan yang kacau.

فأما إذا طلق الزوج المحرم زوجته قبل المسيس والصيد في يدها فإن قلنا النصف من الصداق لا يرتد إلى المطلق إلا باختيار التملك فليس له اختيار التملك فإذا امتنع الاختيار بسبب الإحرام فله أن يغرِّمها نصفَ القيمة وليس لها أن تقول لا أغرم لك شيئاً فإنك أُتيتَ من جهة نفسك هكذا

Adapun jika suami yang sedang ihram menceraikan istrinya sebelum terjadi hubungan intim dan binatang buruan masih berada di tangannya, maka jika kita mengatakan bahwa separuh mahar tidak kembali kepada suami kecuali dengan memilih untuk memilikinya, maka ia tidak berhak memilih untuk memilikinya. Jika pilihan tersebut terhalang karena ihram, maka ia berhak menuntut ganti rugi separuh nilai (binatang buruan itu) darinya, dan sang istri tidak boleh berkata, “Aku tidak akan mengganti rugi apa pun kepadamu, karena engkau sendiri yang menyebabkan hal ini terjadi.”

وفي المسألة أدنى احتمال

Dalam masalah ini terdapat kemungkinan yang paling kecil.

وإن قلنا لا حاجة إلى الاختيار والطلاق مشطِّر بنفسه فعلى هذا إذا طلقها وهو محرم فإن قلنا لو اشترى صيداً ملكه فإذا طلق مَلَكَ نصفَ الصداق وإن قلنا لو اشترى لم يملك فإذا طلق فهل يملك نصف الصيد فعلى وجهين أحدهما لا يملك لأنه اختار الطلاق فأشبه ما لو اختار الشراء والثاني يملك لأنه ما اختار التملك

Dan jika kita mengatakan tidak perlu adanya pilihan dan talak itu sendiri membagi (mahar) menjadi dua, maka berdasarkan hal ini, jika ia menceraikannya dalam keadaan ihram, jika kita berpendapat bahwa jika ia membeli hewan buruan maka ia memilikinya, maka jika ia menceraikan, ia berhak atas setengah mahar. Namun jika kita berpendapat bahwa jika ia membeli maka ia tidak memilikinya, maka jika ia menceraikan, apakah ia berhak atas setengah hewan buruan? Ada dua pendapat: pertama, ia tidak memilikinya karena ia memilih talak, sehingga serupa dengan orang yang memilih membeli; kedua, ia memilikinya karena ia tidak memilih untuk memiliki.

وقد مضى معظم ذلك في كتاب الحج

Sebagian besar hal tersebut telah dibahas dalam Kitab Haji.

ثم يتصل بذلك أنه إذا طلقها قبل المسيس وقلنا يرتد إليه نصف الصيد فموجب ذلك أن يتعين الإرسال عليه ولكن إرساله عَسِرٌ إذ ليس جميع الصيد عائداً إلى المُحرم وإرسالُ البعض غيرُ ممكن فإن لم يرسله حتى تلف في يده والإحرام مستدام بعدُ يضمن نصف الجزاء وإن أرسله فقد برىء عن الجزاء عند تقدير التلف ولكنه يغرَم نصف القيمة للمالك وهو الذي ورّط نفسه في هذا التضييق

Kemudian berkaitan dengan hal itu, jika ia menceraikannya sebelum terjadi hubungan suami istri dan kita mengatakan bahwa setengah dari denda (al-shayd) kembali kepadanya, maka konsekuensinya adalah ia wajib melepaskannya (hewan buruan) atas dirinya. Namun, melepaskannya itu sulit, karena tidak semua hewan buruan akan kembali kepada orang yang sedang ihram, dan melepaskan sebagian saja tidak mungkin. Jika ia tidak melepaskannya hingga hewan itu mati di tangannya, sementara ia masih dalam keadaan ihram, maka ia wajib menanggung setengah dari denda. Namun jika ia melepaskannya, maka ia terbebas dari denda jika terjadi kematian (hewan buruan) itu, tetapi ia harus membayar setengah dari nilai hewan tersebut kepada pemiliknya. Dialah yang telah menjerumuskan dirinya sendiri dalam kesulitan ini.

ويتعارض في هذه المسألة أمران متناقضان فإنَّا لو قلنا يجوز إرسال الصيد كان ذلك تسليطاً على تفويت ملك الغير وإن قلنا ليس له إرساله كان ذلك إذناً للمحرم في إمساك الصيد والجمع بين الأمرين مستحيل

Dalam masalah ini terdapat dua hal yang saling bertentangan: jika kita mengatakan boleh melepaskan hewan buruan, maka itu berarti membiarkan hilangnya milik orang lain; namun jika kita mengatakan tidak boleh melepaskannya, maka itu berarti memberi izin kepada orang yang sedang ihram untuk menahan hewan buruan, padahal menggabungkan kedua hal tersebut adalah mustahil.

ولو قال قائل أوجبوا الإرسال وضمِّنوه قيمة نصيب الشريك وقد يجوز إخراج مال الغير في مظان الضرورات ومسيس الحاجات

Jika ada yang berkata, “Wajibkanlah pengiriman (zakat) dan tanggungkanlah kepada mereka nilai bagian milik sekutu, padahal boleh saja mengeluarkan harta milik orang lain dalam kondisi darurat dan kebutuhan mendesak.”

هذا خرَّجه بعض الحذاق على الاختلاف المعروف في أنه إذا اجتمع حقّ الله تعالى وحق الآدمي في أمرٍ مالي فكيف الوجه فيه فمن رأى تقديم حق الله تعالى لم يُبعد أن يوجب الإرسالَ في هذه الصورة والتغريمَ

Hal ini dijelaskan oleh sebagian ulama yang cermat berdasarkan perbedaan pendapat yang dikenal mengenai apabila hak Allah Ta‘ala dan hak manusia berkumpul dalam suatu perkara yang bersifat harta, maka bagaimana penyelesaiannya. Barang siapa yang memandang bahwa hak Allah Ta‘ala harus didahulukan, tidaklah jauh kemungkinan ia mewajibkan pelepasan dalam kasus ini dan juga mewajibkan pembayaran ganti rugi.

ومن رأى تقديم حق الآدمي لم يُبعد أن يحرِّم الإرسال ويُلزمه إدامةَ اليد إلى الرد فيكون هذا صيداً يجب على المُحْرِم إمساكه

Dan barang siapa yang berpendapat bahwa hak manusia harus didahulukan, maka tidaklah jauh kemungkinan untuk mengharamkan melepaskan (hewan buruan) dan mewajibkan untuk terus memegangnya hingga dikembalikan, sehingga hal ini menjadi buruan yang wajib bagi orang yang berihram untuk menahannya.

ومن لم ير تقديمَ حق الله تعالى ولا تقديم حق الآدمي فليس ينقدح على هذا إلاَّ أن يتخير في الإمساك والإرسال فإن أرسل عُزِّر وغُرِّم وإن أمسك عُزِّر وإذا أتلف لزمه الجزاء

Dan barang siapa yang tidak memandang adanya keutamaan antara hak Allah Ta‘ala dan hak manusia, maka yang tampak dalam hal ini hanyalah ia diberi pilihan antara menahan atau melepaskan. Jika ia melepaskan, maka ia dikenai ta‘zīr dan didenda; jika ia menahan, maka ia dikenai ta‘zīr; dan jika ia merusak, maka ia wajib mengganti kerugian.

وقد تَعْرِض عند ذلك مسألة أجريناها في الأصول وهي أنه لو اتفق وقوع إنسان على صدرِ مريضٍ بين مرضى وعلم أنه لو استقر على من وقع عليه

Pada saat itu mungkin muncul suatu permasalahan yang telah kami bahas dalam ilmu ushul, yaitu apabila seseorang secara tidak sengaja jatuh di atas dada seorang pasien di antara para pasien lainnya, dan diketahui bahwa jika ia tetap berada di atas orang yang tertimpa olehnya…

لمات ذلك المريض ولو انتقل منه لهلك من ينتقل إليه فالذي اخترناه أن هذه واقعة لا نُثبت فيها حكماً بنفيٍ ولا إثبات فإنا كيف نفرض الأمر نقع في تجويز قتلٍ محظور وإهلاكِ ذي روح محترم والمصيرُ إلى إخلاء واقعةٍ خطيرة عن حكم الله تعالى في الشرع ليس بالهيِّن

Jika air liur orang sakit itu berpindah kepada orang lain, maka orang yang menerima air liur itu akan binasa. Maka, pendapat yang kami pilih adalah bahwa dalam kasus ini, kami tidak menetapkan suatu hukum, baik berupa penafian maupun penetapan. Sebab, bagaimanapun kami mengandaikan keadaannya, akan terjadi kemungkinan membunuh yang terlarang dan membinasakan jiwa yang terhormat. Sementara, membiarkan suatu kasus yang berbahaya tanpa hukum Allah dalam syariat bukanlah perkara yang ringan.

فليس يبعد عندنا أن يقال بنفي الحرج عنه فيما يفعل وهذا حكمٌ ولا يبعد أيضاًً أن يقال انتقالك ابتداءً فعلٌ منك واستقرارك في حكم استدامة ما وقع من سقوطك ضرورياً وقد يتجه ذلك بأن الانتقال إنما يجب في مثل ذلك إذا كان ممكناً ولو امتنع فإيجابه محال والممتنع شرعاً كالممتنع حِسَّاً وطبعاً ولئن عظم وقع الكلام فيما يتعلق بالدماء فالتخيير ليس بدعاً في الأموال وما يتعلق بجزاء الصيد فإنا قد نبيح الصيدَ للمحرم وقد نبيح للإنسان مالَ غيره

Maka tidaklah jauh menurut kami jika dikatakan bahwa tidak ada kesulitan baginya dalam apa yang ia lakukan, dan ini adalah suatu hukum. Tidak jauh pula jika dikatakan bahwa perpindahanmu pada awalnya adalah perbuatan darimu, sedangkan keberadaanmu tetap di sana adalah dalam hukum melanjutkan apa yang telah terjadi dari jatuhmu secara darurat. Hal ini dapat dibenarkan karena perpindahan itu wajib dalam keadaan seperti itu jika memang memungkinkan, dan jika tidak memungkinkan maka mewajibkannya adalah mustahil. Sesuatu yang mustahil secara syariat sama dengan yang mustahil secara inderawi dan tabiat. Meskipun persoalan yang berkaitan dengan darah sangat besar, namun adanya pilihan bukanlah hal yang aneh dalam masalah harta dan apa yang berkaitan dengan kompensasi perburuan. Sebab, kami kadang membolehkan berburu bagi orang yang sedang ihram, dan kami juga kadang membolehkan seseorang mengambil harta orang lain.

ولو وقع بين أوانٍ فلابد من انكسار بعضها أقام أو انتقل فيتعين في هذه الصورة القول بالتخيير

Jika najis jatuh di antara beberapa bejana, sehingga pasti ada sebagian yang terkena najis, baik bejana itu tetap di tempatnya atau dipindahkan, maka dalam kasus ini harus dipilih pendapat yang membolehkan memilih (di antara bejana-bejana tersebut).

فرع

Cabang

يتعلق بضمان الأب مهر زوجة الابن

Berkaitan dengan jaminan ayah atas mahar istri anak laki-lakinya.

وهذا قد أجريته فيما تمهد من الأصول ولكن رأيت للشيخ تصرفاً فلم أجد بداً من الإعادة وإن مست الحاجة إلى تكرير فلا مبالاة به

Hal ini telah aku lakukan pada pembahasan tentang ushul yang telah dijelaskan sebelumnya, namun aku melihat adanya penjelasan dari Syekh, sehingga aku merasa perlu untuk mengulanginya. Jika memang diperlukan pengulangan, maka tidak mengapa melakukannya.

المنصوص للشافعي في الجديد أن الأب إذا قبل لابنه الصغير نكاح امرأة فلا يصير ضامناً للمهر بنفس النكاح فإن ضمنه صار ضامناً كما يضمن سائر الديون اللازمة فيلتزمها ثم إذا ضمن وغرم فهل يرجع بما غرم

Pendapat yang dinyatakan oleh Imam Syafi‘i dalam pendapat barunya adalah bahwa apabila seorang ayah menerima pernikahan seorang perempuan untuk anaknya yang masih kecil, maka ia tidak serta-merta menjadi penanggung mahar hanya dengan akad nikah tersebut. Namun, jika ia menanggungnya, maka ia menjadi penanggung sebagaimana ia menanggung utang-utang lain yang wajib, sehingga ia berkewajiban menunaikannya. Kemudian, apabila ia telah menanggung dan membayar, maka timbul pertanyaan apakah ia berhak menuntut kembali apa yang telah ia bayarkan.

قال الشيخ إنْ قَيَّد ضمانَه بشرط الرجوع ولَفَظَ ذلك صريحاً فيملك الرجوع إذا غرم وإن لم يشترط الرجوع لم يضمن واكتفى بعض المحققين بقصد الرجوع منه والنيةِ من غير لفظ وهذا المسلك أفقه وأليق وقد ذهب كثير من أصحابنا إلى أنه يُكتفى بأحد شِقَّي البيع فإذا كان يسقط التلفظ بأحد شِقَّي العقد لم يبعد أن يسقط التلفظ بشرط الرجوع ويمكن أن يُبنى ما ذكر الشيخ من اشتراط اللفظ وما اكتفى به غيره من النية والقصد على الاختلاف الذي قدمناه في أنَّا هل نكتفي بأحد شِقَّي العقد أم لا هذا تفريع على القول الجديد

Syekh berkata: Jika ia mensyaratkan jaminannya dengan syarat boleh kembali (menuntut ganti) dan mengucapkan syarat itu secara jelas, maka ia berhak kembali (menuntut ganti) jika telah membayar. Namun jika tidak mensyaratkan hak kembali, maka ia tidak berhak menuntut ganti. Sebagian ulama yang teliti cukup dengan maksud untuk kembali dan niat, tanpa harus mengucapkan secara lisan. Pendekatan ini lebih sesuai dengan fiqh dan lebih layak. Banyak dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa cukup dengan salah satu sisi dari akad jual beli; jika dalam akad cukup tanpa mengucapkan salah satu sisi akad, maka tidak mustahil pula syarat kembali cukup tanpa diucapkan. Apa yang disebutkan oleh Syekh tentang syarat ucapan, dan apa yang dianggap cukup oleh selainnya berupa niat dan maksud, dapat dikaitkan dengan perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya: apakah cukup dengan salah satu sisi akad atau tidak. Ini merupakan cabang dari pendapat baru.

وللشافعي قول في القديم أن الأب يصير ضامناً للمهر بنفس العقد وإن لم يُصرح بالضمان فإذا فرعنا على ذلك وغرم الأبُ ما ضمنه قال الشيخ لا يرجع به وقد حكيت فيما تقدم مثل هذا من أجوبة القاضي وقد شبهنا غرامته المهر بما تلتزمه العاقلة من أُروش الجنايات فإنهم لا يرجعون به على الجاني خطأً

Imam Syafi‘i memiliki pendapat dalam qaul qadim bahwa ayah menjadi penanggung mahar dengan sendirinya melalui akad, meskipun tidak secara tegas menyatakan penjaminan. Jika kita membangun pendapat berdasarkan hal itu dan ayah telah membayar apa yang ia jamin, Syaikh berkata: ia tidak boleh meminta kembali (dari anaknya). Sebelumnya, saya telah menyebutkan jawaban serupa dari Qadhi. Kami telah mengibaratkan pembayaran mahar oleh ayah ini dengan apa yang menjadi tanggungan ‘āqilah berupa diyat luka-luka akibat tindak pidana, di mana mereka tidak boleh meminta kembali dari pelaku yang melakukannya karena kesalahan.

وقد قدمت أن إثبات الرجوع متجه والقياس على تحمل العقل بعيد

Telah disebutkan sebelumnya bahwa penetapan adanya rujuk adalah tepat, sedangkan qiyās terhadap kemampuan akal adalah jauh (tidak relevan).

وقد قدمنا في ذلك أوجهاً ونحن نضم إليها مزيدَ بيانٍ فنقول لم يختلف العلماء في أن الصبي إذا بلغ طولب بالمهر والقاتل خطأً لا يطالب بأرش الجناية مع العاقلة وإذا أبرأ مستحق الأرش القاتلَ لم يكن لهذا الإبراء معنى والمرأة إذا أبرأت زوجها الصغير عن الصداق صح إبراؤها وفيما قدمته قبلُ مزيد كشف

Kami telah mengemukakan beberapa aspek dalam hal ini, dan sekarang kami tambahkan penjelasan lebih lanjut. Para ulama sepakat bahwa jika seorang anak laki-laki telah baligh, ia wajib membayar mahar, sedangkan pembunuh karena kelalaian tidak dituntut membayar diyat atas luka bersama ‘āqilah-nya. Jika pihak yang berhak menerima diyat memaafkan pembunuh, maka pemaafan itu tidak bermakna. Namun, jika seorang perempuan memaafkan suaminya yang masih kecil dari kewajiban mahar, maka pemaafan itu sah. Dalam penjelasan sebelumnya, telah saya sampaikan rincian tambahan mengenai hal ini.

ثم من لطيف الكلام أن الأب إذا ضمن على القول الجديد ولم نُثبت له حق الرجوع فإذا توجهت الطلبة عليه عن جهة ضمانه فله أن يؤدي المهر من مال الطفل فيكفيه ذلك غُرمَ الضمان ولو قال المطالب لست أوجه الطلب عليك من جهة الطفل وإنما أطالبك بموجب التزامك وضمانك فهذا لا حاصل له فإن مقصوده الوصول إلى الدين

Kemudian, termasuk ungkapan yang halus adalah bahwa apabila seorang ayah menjadi penjamin menurut pendapat baru dan kita tidak menetapkan hak baginya untuk kembali (mengambil ganti rugi), maka jika tuntutan diarahkan kepadanya karena jaminannya, ia boleh membayar mahar dari harta anak, dan itu sudah cukup baginya sebagai pengganti kerugian jaminan. Namun, jika pihak yang menuntut berkata, “Aku tidak menuntutmu karena anak, melainkan aku menuntutmu berdasarkan komitmen dan jaminanmu,” maka hal itu tidak ada artinya, karena maksudnya hanyalah untuk mendapatkan utang tersebut.

ولو قال أجزتُ مالي على الطفل لم يتأت منه مع ذلك توجيه الطلب على الضامن في هذا المقام فإن الضامن يقول إذا كنت تطالبني فلي غرضٌ ظاهر في تأدية الدين من مال الطفل ولو طالب الأبَ بحكم الضمان مع إبراء الابن اعتباراً بالعاقلة التي وقع الاستشهاد بها فهذا محالٌ عندنا فإن الطفل في مرتبة الأصيل والأب في مرتبة الكفيل فيستحيل إخراج الأمر عن حقيقة الضمان

Dan jika seseorang berkata, “Aku telah mengizinkan hartaku untuk anak kecil,” maka dengan itu tidak mungkin mengarahkan tuntutan kepada penjamin dalam hal ini. Sebab penjamin dapat berkata, “Jika engkau menuntutku, maka aku memiliki kepentingan yang jelas untuk membayar utang dari harta anak kecil.” Dan jika si penuntut menuntut ayah berdasarkan hukum jaminan dengan membebaskan anak, dengan pertimbangan seperti ‘aqilah yang dijadikan analogi, maka hal itu mustahil menurut kami. Sebab anak kecil berada pada posisi pihak asli (ashil), sedangkan ayah berada pada posisi penjamin (kafil), sehingga tidak mungkin mengeluarkan perkara ini dari hakikat jaminan.

فرع

Cabang

مشتملٌ على مسألةٍ دائرة فقهية سبقت في النكاح ولكنا نُعيدها لدقيقةٍ مستفادة فنقول إذا أذِن السيد لعبده حتى نكح حرةً بمهرٍ والتزم السيد ذلك المهرَ إمَّا بصريح الضمان على الجديد وإمَّا بحكم الإذن في العقد على القديم ثم إنَّ الحرة اشترت زوجها من مولاه بالمهر فالبيع مردود فإنه لو صح لانفسخ العقد وإذا انفسخ قبل المسيس ترتب عليه سقوطُ المهر وإذا سقط المهر وهو الثمن بطل البيع لعُروّه عن الثمن ولو فرضت المسألة بعد المسيس فهي مسألة الرؤيا وفيها تصرفٌ للقفال فلا حاجة إلى الإعادة

Paragraf ini memuat satu permasalahan dalam lingkup fiqh yang sebelumnya telah dibahas dalam bab nikah, namun kami ulangi di sini untuk mengambil faedah yang lebih mendalam. Kami katakan: Jika seorang tuan mengizinkan budaknya untuk menikahi seorang perempuan merdeka dengan mahar, lalu sang tuan menanggung mahar tersebut, baik dengan jaminan yang jelas menurut pendapat baru, maupun berdasarkan hukum izin dalam akad menurut pendapat lama, kemudian perempuan merdeka itu membeli suaminya dari tuannya dengan mahar tersebut, maka jual beli itu batal. Sebab, jika jual beli itu sah, maka akad nikahnya otomatis batal. Jika akad nikah batal sebelum terjadi hubungan suami istri, maka mahar pun gugur. Jika mahar yang merupakan harga jual itu gugur, maka jual beli menjadi batal karena tidak ada harga. Jika permasalahan ini terjadi setelah terjadi hubungan suami istri, maka ini termasuk masalah ar-ru’yā, dan di dalamnya terdapat pendapat dari al-Qaffal, sehingga tidak perlu diulang kembali.

وقد ذكر الشيخ أبو علي في هذا المنتهى كلاماًً هو الذي حملنا على رسم الفرع وإعادة ما فيه وذلك أنه قال إنما ذكر القفال ما ذكره بعد المسيس لأنها إذا ملكت زوجها سقط ما على العبد لها فإنها مالكة والمالك لا يستحق على مملوكه ديناً قال وهذا فيه نظر فإنَّ المهر جُعِلَ ثمناً وملك رقبة العبد لا يحصل إلا بإزاء سقوط المهر لأجل الثمنية ثم إذا سقط المهر بهذا السبب وهو مقتضى المعاوضة فكيف يقال بعد ذلك إذا ملكته سقط بالملك عنه ثم يسقط عن السيد كما يسقط الدَّين عن الكفيل ببراءة الأصيل هذا قول الشيخ واستدراكُه

Syekh Abu Ali dalam kitab Al-Muntaha menyebutkan suatu pendapat yang mendorong kami untuk menuliskan cabang masalah ini dan mengulangi isinya, yaitu beliau berkata: Sesungguhnya apa yang disebutkan oleh Al-Qaffal setelah terjadinya hubungan suami istri adalah karena jika seorang istri memiliki suaminya (menjadi tuan dari suaminya yang berstatus budak), maka gugurlah hak istri atas budak tersebut, karena ia telah menjadi pemilik, dan seorang pemilik tidak berhak menuntut utang dari budaknya. Namun, menurut beliau, hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena mahar itu dijadikan sebagai harga (imbalan), dan kepemilikan atas budak tidak terjadi kecuali dengan menggugurkan mahar sebagai imbalan harga tersebut. Kemudian, jika mahar gugur karena sebab ini, yang merupakan konsekuensi dari akad pertukaran, bagaimana mungkin setelah itu dikatakan bahwa jika istri memiliki suaminya, maka mahar gugur karena kepemilikan, lalu juga gugur dari tuannya sebagaimana gugurnya utang dari penjamin ketika yang dijamin telah bebas dari utang? Inilah pendapat Syekh dan koreksi beliau.

وفي المسألة نظرٌ دقيقٌ فنقول ما ذكره القفال وجلّى فيه رؤياه ثم مراجعته المشايخ وتقريرهم إياه يُخرَّج على قاعدةٍ سنصفها فنقول اختلف أئمتنا في أنَّ من ملكَ دَيْناً على مملوك لغيره ثم ملك ذلك المملوك فهل يسقط الدين سقوط انبتات حتى إذا عَتَق لم يطالبه المولى أم يبقى الدين في ذمته وتسقط الطلبة في الحال لتحقق إعسار العبد في حق المولى فإنَّ ما يؤدي العبد الديونَ منه في ديون المعاملات الكسبُ وهو ملك المولى وفائدة بقاء الدين في ذمته أنه إذا أعتق طالبه إذ ذاك

Dalam masalah ini terdapat kajian yang mendalam, maka kami katakan: apa yang disebutkan oleh al-Qaffal dan penjelasan yang ia sampaikan, kemudian ia mengonsultasikannya kepada para masyaikh dan mereka membenarkannya, dapat dikembalikan kepada suatu kaidah yang akan kami jelaskan. Kami katakan: para imam kami berbeda pendapat mengenai seseorang yang memiliki piutang atas seorang budak milik orang lain, kemudian ia menjadi pemilik budak tersebut. Apakah hutang itu gugur secara total sehingga jika budak itu dimerdekakan, tuannya tidak dapat lagi menagihnya? Ataukah hutang itu tetap menjadi tanggungan budak tersebut, hanya saja penagihan hutang gugur untuk sementara karena budak itu dianggap tidak mampu membayar di hadapan tuannya, sebab harta yang digunakan budak untuk membayar hutang dalam transaksi muamalah adalah hasil usahanya yang merupakan milik tuan? Manfaat dari tetapnya hutang dalam tanggungan budak adalah jika ia dimerdekakan, maka saat itu hutang dapat ditagih darinya.

فنعود ونقول المهر لا يسقط بعد المسيس هذا ما عليه التفريع فإذا كان المهر لا يسقط بحكم النكاح فالمرأة إذا ملكت زوجها فهل تستحق عليه الدين أم يسقط قال القفال إن قلنا لا يسقط فالمسألة لا تدور والبيع يصح ولئن تعذّرت مطالبة المملوك لإعساره فلا تعذر في مطالبة الضامن

Maka kami kembali mengatakan bahwa mahar tidak gugur setelah terjadinya hubungan intim, inilah yang menjadi rincian hukumnya. Jika mahar tidak gugur karena akad nikah, maka apabila seorang perempuan memiliki suaminya (menjadi tuannya), apakah ia tetap berhak menuntut utang tersebut ataukah gugur? Al-Qaffal berkata: Jika kita katakan tidak gugur, maka permasalahan ini tidak perlu diperdebatkan dan jual beli itu sah. Jika sulit menuntut budak karena ia tidak mampu, maka tidak ada kesulitan dalam menuntut penjamin.

وإن قلنا يسقط الدين عن المملوك بطريان ملكِ مستحِق الدين على رقبته قال فالمسألة تدور فإن المهر يسقط بعلة طريان الملك وإن لم يسقط بعلةٍ في النكاح من فسخ أو انفساخ فإذا كان الدين يسقط فالمسألة تدور وإن خالفت عِلَّةُ الإسقاط بعد المسيس عِلَّته قبل المسيس

Jika kita mengatakan bahwa utang gugur dari budak karena kepemilikan orang yang berhak atas utang itu terjadi atas dirinya, maka permasalahan ini berputar; sebab mahar gugur karena sebab terjadinya kepemilikan, meskipun tidak gugur karena sebab dalam pernikahan seperti fasakh atau batalnya akad. Maka jika utang itu gugur, permasalahan ini berputar, meskipun sebab gugurnya setelah terjadi hubungan suami istri berbeda dengan sebab gugurnya sebelum terjadi hubungan suami istri.

وقد حكينا استدراكَ الشيخ أبي علي

Kami telah meriwayatkan koreksi dari Syekh Abu ‘Ali.

وللمذهبين عندي وجهان إذا ذكرناهما بان بهما حقيقةُ المسألة فنقول إذا فرعنا على أن الدين يسقط بطريان الملك فله مسلكان أحدهما أن يسقط الدين بملك الرقبة كما ينسفخ النكاح بملك الزوج أو الزوجة هذا وجه

Menurut saya, kedua mazhab tersebut memiliki dua sisi; jika kita sebutkan keduanya, maka akan jelas hakikat permasalahannya. Maka kami katakan: jika kita berasumsi bahwa utang gugur karena terjadinya kepemilikan, maka ada dua pendekatan. Pertama, utang itu gugur dengan kepemilikan atas pokok (barang) sebagaimana pernikahan batal karena suami atau istri menjadi pemilik (atas yang lain); inilah satu sisi.

والوجه الثاني أن يملك الدينَ على العبد ثم يسقط كما يملك من يشتري أباه الأبَ ثم يعتِق عليه فإن جعلنا نفسَ ملك الرقبة مسقطاً للدين فمعناه أنه لا يضادّه بل يعاقبه معاقبةَ الضد فعلى هذا تدور المسألة كما قال القفال فإنَّ الملك وسقوطَ الديْن بعِلَّتِه ووقوعَ الثمن يُفرض على اقترانٍ ليس فيه تقدم ولا تأخّر فيلزم من هذا ما ذكره القفال

Pendapat kedua adalah bahwa seseorang memiliki piutang atas seorang budak, kemudian piutang itu dihapuskan, sebagaimana seseorang yang membeli ayahnya sendiri lalu membebaskannya. Jika kita menganggap bahwa kepemilikan atas budak itu sendiri menyebabkan piutang gugur, maka maksudnya adalah bahwa kepemilikan tersebut tidak bertentangan dengan piutang, melainkan menyertainya sebagaimana sesuatu yang berlawanan. Berdasarkan hal ini, permasalahan berputar sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qaffal, yaitu bahwa kepemilikan dan gugurnya piutang memiliki sebab yang sama, dan terjadinya pembayaran harga dianggap bersamaan tanpa ada yang lebih dahulu atau belakangan. Maka, dari sini timbul konsekuensi sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qaffal.

وإن قلنا من طرأ ملكُه يملك الدين ويسقط كما ذكرناه في شراء القريب فيتجه على هذا ما قاله الشيخ فإن الدين إنما يسقط بتقدير ملك الدين وتعقيب السقوط إياه فإذا صار الدين مستغرقاً بالثمنية لم يسقط بالملك لأنه لا يدخل في الملك مع الرقبة حتى إذا دخل سقط

Dan jika kita mengatakan bahwa orang yang baru memperoleh kepemilikan dapat memiliki piutang dan piutang itu gugur sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembelian dari kerabat, maka pendapat yang dikemukakan oleh Syekh menjadi relevan. Sebab, piutang itu hanya gugur dengan adanya kepemilikan atas piutang dan setelah itu langsung gugur. Maka, apabila piutang itu telah habis terserap oleh nilai harga, ia tidak gugur karena kepemilikan, karena piutang tersebut tidak masuk dalam kepemilikan bersama dengan objek (yang dibeli), sehingga jika ia masuk (ke dalam kepemilikan), barulah ia gugur.

فإن قيل هل يتوجه تصرفُ الشيخ قبل المسيس قلنا لا فإنَّ المهر يسقط قبل المسيس على القول الأصح بالفسخ الواقع قبل المسيس ولا ينتظم فيه ما تكلفناه بعد المسيس للشيخ أبي علي من تقدير ملك الدين وترتُّبِ السقوط عليه

Jika ada yang bertanya: Apakah tindakan suami sah sebelum terjadinya hubungan suami istri? Kami jawab: Tidak, karena mahar gugur sebelum terjadinya hubungan suami istri menurut pendapat yang paling sahih, yaitu jika terjadi fasakh sebelum hubungan tersebut. Maka, tidak berlaku apa yang kami upayakan setelah terjadinya hubungan suami istri menurut pendapat Syaikh Abu ‘Ali, yaitu dengan memperkirakan kepemilikan utang dan konsekuensi gugurnya mahar atasnya.

والذي يوضح ذلك أنَّ استيعاب المهر مع جريان الفسخ المسقط للمهر محال ولهذا نص الشافعي على قول التفريق فيه إذا اختلعت المرأةُ نفسها بصداقها قبل المسيس فإنَّ نفس الاختلاع يوجب التشطير ولا يثبت العوض إلا على ما يقتضيه الخلع من التشطير وهذا بَيِّنٌ

Yang menjelaskan hal itu adalah bahwa pengambilan seluruh mahar bersamaan dengan terjadinya pembatalan yang menggugurkan mahar adalah mustahil. Oleh karena itu, Imam Syafi‘i menegaskan pendapat tentang perpisahan dalam hal ini, yaitu jika seorang wanita menebus dirinya dengan maharnya sebelum terjadi hubungan suami istri, maka tindakan khulu‘ itu sendiri menyebabkan pembagian mahar menjadi dua, dan kompensasi (iwad) hanya ditetapkan sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh khulu‘ berupa pembagian tersebut. Hal ini jelas.

ثم ذكر الشيخُ مسألةً فرضها وصور الدَّوْرَ فيها ونحن نذكرها على وجهها فنقول إذا سلَّمَ السيدُ ديناراً إلى عبده وأذن له أن يتزوج به حرةً فإذا تزوجها بذلك الدينار وسلمه إليها ثم إن السيد باع ذلك العبدَ من زوجته بذلك الدينار الذي قبضته صداقاً وهي غيرُ ممسوسة قال لا يصح البيع للدَّوْر وتدور المسألة لمكان وقوع الفسخ قبل المسيس

Kemudian, Syekh menyebutkan suatu permasalahan yang ia buat contohnya dan menggambarkan adanya daur (sirkulasi) di dalamnya. Kami akan menyebutkannya sebagaimana adanya, yaitu: Jika seorang tuan menyerahkan satu dinar kepada budaknya dan mengizinkannya untuk menikahi seorang perempuan merdeka dengan dinar tersebut, lalu budak itu menikahinya dengan dinar itu dan menyerahkannya kepada perempuan tersebut, kemudian sang tuan menjual budak itu kepada istrinya dengan dinar yang telah diterimanya sebagai mahar, sementara ia belum digauli, maka dikatakan bahwa jual beli tersebut tidak sah karena adanya daur (sirkulasi), dan permasalahan ini berputar karena terjadinya pembatalan sebelum terjadinya hubungan suami istri.

وذكر هذه المسألة بعد المسيس وأجرى فيها جوابَي القفال في مسألة الرؤيا

Ia menyebutkan masalah ini setelah pembahasan tentang hubungan suami istri, dan menerapkan dua jawaban al-Qaffāl dalam masalah mimpi.

وهذا فيه نظر بيِّن فإذا وقع البيع بعد المسيس فيجب القطع بصحة البيع فإنَّ ما قدمناه في دينٍ في ذمة العبد يسقط على تقديرٍ قدمتُه وإذا كان المهر عيناً وقد ملكتْه قطعاً واستقر ملكها فيه فطريان الملك على الرقبة كيف يؤثر!

Hal ini masih perlu ditinjau lebih lanjut. Jika akad jual beli terjadi setelah adanya hubungan suami istri, maka harus dipastikan keabsahan jual beli tersebut. Apa yang telah kami kemukakan sebelumnya mengenai utang yang menjadi tanggungan seorang budak akan gugur dalam kondisi yang telah saya sebutkan. Jika mahar itu berupa barang dan istri telah benar-benar memilikinya serta kepemilikannya telah tetap, maka bagaimana mungkin perpindahan kepemilikan atas budak dapat memengaruhi hal tersebut!

وهذا أراه وهماً وغلطاً فإنَّ القفال بنى كلامَه على سقوط الدين عن ذمة العبد ثم على سقوطه عن ذمة السيد من حيث كان العبدُ أصيلاً والسيدُ كفيلاً وشيء من هذا لا يُتخيل في الصداق المعين

Menurut saya, ini adalah kekeliruan dan kesalahan, karena al-Qaffal membangun pendapatnya atas dasar gugurnya utang dari tanggungan hamba, kemudian gugur dari tanggungan tuan, dengan alasan bahwa hamba adalah pihak asli dan tuan adalah penjamin. Padahal, tidak satu pun dari hal ini dapat dibayangkan dalam kasus mahar yang telah ditentukan.

فرع

Cabang

يشتمل على مُعادٍ وزوائدَ مستفادة

Mengandung pengulangan dan tambahan-tambahan yang bermanfaat.

إذا أذِن السيد لعبده في النكاح فنكح نكاحاً فاسداً ووطىء ففي متعلّق المهر اختلافٌ مشهور ولو نكح بغير إذن سيده نكاح شبهة فوطىء ففي متعلق المهر اختلافُ أقوال أيضاً أحدها إنه يتعلق برقبة العبد والثاني يتعلق بذمته فإن النكاح لم يجر بإذن السيد فلم يتعلق المهر بكسبه فرجع ظاهر ما ذكره الأصحاب إلى قولين وسيتبين قولٌ ثالث مفصِّل

Jika tuan mengizinkan budaknya untuk menikah, lalu budak tersebut melakukan akad nikah yang fasid (rusak) dan melakukan hubungan badan, maka terdapat perbedaan pendapat yang masyhur mengenai kepada apa mahar itu terkait. Jika budak menikah tanpa izin tuannya dengan nikah syubhat lalu melakukan hubungan badan, maka juga terdapat perbedaan pendapat mengenai kepada apa mahar itu terkait. Salah satu pendapat menyatakan bahwa mahar itu terkait dengan tubuh budak (yakni budaknya sendiri), pendapat kedua menyatakan bahwa mahar itu terkait dengan tanggungan budak (dzimmah)-nya, karena akad nikah tidak berlangsung dengan izin tuan sehingga mahar tidak terkait dengan hasil usaha budak. Maka, tampak dari apa yang disebutkan oleh para ulama bahwa permasalahan ini kembali kepada dua pendapat, dan akan dijelaskan pendapat ketiga yang merinci.

قال ابن الحداد وإن نكح حرةً بإذنها أو نكح أَمَةً بإذن سيدها لم يتعلق المهر بالرقبة وإن نكح امرأةً بغير إذن سيدها ووطئها فيتعلق المهر بالرقبة في هذه الصورة

Ibnu al-Haddad berkata: Jika seseorang menikahi perempuan merdeka dengan izinnya, atau menikahi seorang budak perempuan dengan izin tuannya, maka mahar tidak terkait dengan tubuh (budak) tersebut. Namun, jika seseorang menikahi seorang perempuan tanpa izin tuannya dan menggaulinya, maka mahar terkait dengan tubuh (budak) dalam kasus ini.

فمِنْ أصحابنا مَن وافقه على تفصيله فيقول إن نكح أمةً بغير إذن سيدها فيجب القطع بأن المهر يتعلق بالرقبة إذا وطىء وإن كان بإذن السيد أو كان ذلك مع حرة فيتردد القول في متعلق المهر ومن أصحابنا من قال إذا نكح أمةً بغير إذن سيدها ووطئها فلا نقطع بتعلق المهر بالرقبة بل نخرِّج المسألةَ على الاختلاف فإن لرضا الأمة تأثيراً في الجملة وإن لم يأذن السيد والدليل عليه أن الأَمَةَ إذا طاوعت على الزنا فلا مهر لها على أحد الوجهين

Di antara ulama mazhab kami ada yang sependapat dengan perinciannya, yaitu berpendapat bahwa jika seseorang menikahi seorang budak perempuan tanpa izin tuannya, maka harus dipastikan bahwa mahar itu terkait dengan status perbudakannya jika ia telah digauli. Namun, jika pernikahan itu dengan izin tuannya atau bersamaan dengan menikahi perempuan merdeka, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai keterkaitan mahar tersebut. Di antara ulama mazhab kami juga ada yang berpendapat bahwa jika seseorang menikahi budak perempuan tanpa izin tuannya dan telah menggaulinya, maka tidak dipastikan bahwa mahar itu terkait dengan status perbudakannya, melainkan permasalahan ini dikembalikan pada perbedaan pendapat, karena kerelaan budak perempuan memiliki pengaruh secara umum meskipun tanpa izin tuannya. Dalilnya adalah bahwa jika budak perempuan rela melakukan zina, maka menurut salah satu pendapat, ia tidak berhak mendapatkan mahar.

فينتظم في متعلق المهر أقوال أحدها إنه يتعلق بالرقبة من غير فصل والثاني إنه لا يتعلق بالرقبة من غير فصل والثالث إنه يفصل بين الحرة وبين الأمة تنكح من غير إذن سيدها

Terkait dengan mahar, terdapat beberapa pendapat: pertama, mahar itu terkait dengan diri (raqabah) tanpa ada perincian; kedua, mahar itu tidak terkait dengan diri (raqabah) tanpa ada perincian; dan ketiga, ada perincian antara perempuan merdeka dan budak perempuan yang dinikahkan tanpa izin tuannya.

فرع

Cabang

إذا نكح الرجلُ أَمَةً نكاحاً فاسداً ووطئها فعليه مهر مثلها ثم يعتبر مهر مثلها بوقت الوطء دون العقد فإنَّ العقد لم يُفد ملك البضع بل لغا وفسد فلا حكم له وليس ذلك كنكاح المفوضة فإن لم نوجب بنفس العقد مهراً ثم أوجبناه عند الوطء فقد نعتبر في مقدار مهر المثل كمالَها يوم العقد وذلك أن النكاحَ ملَّك البضع وأفضى إلى استيفائه فكان اعتبارُ وقته محمولاً على كونه مملِّكاً للبضع مفضياً إلى التسليط على الوطء وهذا المعنى لا يتحقق في النكاح الفاسد

Jika seorang laki-laki menikahi seorang budak perempuan dengan akad nikah yang fasid (rusak) lalu menggaulinya, maka ia wajib membayar mahar mitsil (mahar sepadan) untuknya. Kemudian, mahar mitsil itu dihitung berdasarkan waktu terjadinya hubungan badan, bukan waktu akad, karena akad tersebut tidak memberikan hak kepemilikan atas kemaluan, bahkan akad itu batal dan rusak sehingga tidak memiliki konsekuensi hukum. Hal ini berbeda dengan pernikahan tanpa penentuan mahar (nikah al-mufawwadah); jika kita tidak mewajibkan mahar dengan akad itu sendiri, lalu mewajibkannya saat terjadi hubungan badan, maka kita boleh mempertimbangkan kadar mahar mitsil berdasarkan kesempurnaan (keadaan) perempuan itu pada hari akad. Sebab, akad nikah telah memberikan hak kepemilikan atas kemaluan dan mengantarkan pada pemanfaatannya, sehingga pertimbangan waktu akad didasarkan pada fungsinya sebagai pemberi hak kepemilikan dan penguasaan atas hubungan badan. Makna ini tidak terwujud dalam nikah yang fasid.

ثم إذا وطىء الرجل المرأة في نكاح فاسد مراراً مع اتحاد الشبهة فلا يلتزم إلا مهراً واحداً إجماعاً ولو وطئها مع اتحاد الشبهة وهي هزيلة ومهر مثلها خمسمائة ثم حسنت فوطئها مرة أخرى والشبهة واحدة ومهر مثلها ألف فيلتزم الواطىء أكثرَ المهرين فإنَّا نُقَدّر كأنَّ الوطء الأول لم يكن

Kemudian, jika seorang laki-laki menggauli seorang perempuan dalam pernikahan yang fasid (rusak) berulang kali dengan satu syubhat yang sama, maka ia hanya wajib membayar satu mahar saja menurut ijmā‘. Namun, jika ia menggaulinya dengan syubhat yang sama saat perempuan itu kurus dan mahar yang sepadan dengannya adalah lima ratus, lalu kemudian perempuan itu menjadi cantik dan ia menggaulinya lagi sekali dengan syubhat yang sama, dan mahar yang sepadan dengannya menjadi seribu, maka laki-laki tersebut wajib membayar mahar yang lebih besar di antara keduanya. Karena kita menganggap seolah-olah hubungan pertama itu tidak pernah terjadi.

والذي يحقق ذلك أن الحدود على الاندراج والتداخل وهي مبنية على الاندفاع فلو زنا عبدٌ في رِقِّهِ ولم نُقم عليه الحد فَعَتَقَ وزنا في الحرية فإنا نقيم عليه حدَّ الأحرار

Yang menegaskan hal itu adalah bahwa hudud dapat saling masuk dan tumpang tindih, dan hudud dibangun atas dasar pencegahan. Jika seorang budak berzina saat masih dalam status budak dan kita belum menegakkan hudud atasnya, lalu ia merdeka dan berzina lagi setelah merdeka, maka kita menegakkan hudud atasnya sebagai orang merdeka.

فإن قيل الأب إذا وطىء جاريةَ ابنهِ مراراً فالشبهة واحدة وهي حق الإعفاف فيتحد المهر أم يتعدد قلنا ذكر الإمام وجهين في ذلك والمسألة محتملة لترددها بين وطء الشبهة وبين إتلاف المتقومات المتعددة ويجب القطع بأنَّ الغاصب إذا وطىء الجاريةَ المغصوبة قهراً مراراً يلزمه بكل وطأة مهر جديد فإنَّ ذلك إتلاف محض وليس فيه تخيل شبهة شاملة تتصف بالاتحاد

Jika dikatakan: Seorang ayah yang menyetubuhi budak perempuan milik anaknya berulang kali, maka syubhatnya satu, yaitu hak untuk mendapatkan nafkah batin, apakah mahar (kompensasi) yang wajib diberikan itu satu atau berulang? Kami katakan: Imam menyebutkan dua pendapat dalam hal ini, dan masalah ini memang memungkinkan untuk diperdebatkan, karena ia berada di antara kasus persetubuhan karena syubhat dan kasus perusakan terhadap beberapa barang yang bernilai. Namun, harus dipastikan bahwa jika seorang perampas menyetubuhi budak perempuan yang dirampasnya secara paksa berulang kali, maka setiap kali persetubuhan ia wajib membayar mahar baru, karena hal itu merupakan perusakan murni dan tidak ada anggapan syubhat yang bersifat menyeluruh sehingga bisa dianggap satu.

فصل

Bab

إذا زَوَّجَ الرجلُ أَمَتَهُ بصداق معلوم ثم باعها أو أعتقها فالمهر بكماله للسيد المزَوِّج سواء اتفق الوطء في ملكه أو اتفق بعد زوال ملكه وهذا إجماع

Jika seorang laki-laki menikahkan budaknya perempuan dengan mahar yang telah ditentukan, kemudian ia menjual atau memerdekakannya, maka mahar secara penuh menjadi milik tuan yang menikahkan, baik persetubuhan terjadi saat budak itu masih dalam kepemilikannya maupun setelah kepemilikannya berakhir, dan ini merupakan ijmā‘.

ولو أَجَّرَ عبدَهُ سنةً فمضى نصف المدة فأعتقه يجب الوفاء بالإجارة في بقية المدة ثم هل يرجع بأجر مثل نفسه بعد العتق على سيده في بقية المدة فعلى وجهين

Jika seseorang menyewakan budaknya selama satu tahun, lalu setengah masa sewa telah berlalu kemudian budak itu dimerdekakan, maka wajib memenuhi akad sewa untuk sisa masa sewa. Selanjutnya, apakah budak tersebut berhak menuntut upah sepadan atas dirinya setelah dimerdekakan kepada tuannya untuk sisa masa sewa? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

ولا خلاف في النكاح أنَّ الأمة وإن بقيت في النكاح بعد العتق فلا مرجع لها على سيدها بل جميع المهر للسيد ثم إذا باعها السيد فليس للمشتري أن يحبسها حتى يتوفر الصداق على البائع وهذا محال تخيله وكذلك لو أعتقها فليس لها أن تحبس نفسها فلو زوّج أمة مفوِّضة ثم باعها فإن جرى فرض المهر وهي ملك الأول فالمهر للأول وإن جرى الفرض في ملك المشتري فهذا يبتني على أن مهر المفوضة يجب بالعقد أم لا وقد تمهد هذا فيما مضى

Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah nikah bahwa seorang budak perempuan, meskipun tetap dalam ikatan nikah setelah dimerdekakan, tidak memiliki hak kembali kepada tuannya, melainkan seluruh mahar menjadi milik tuannya. Kemudian, jika tuannya menjualnya, pembeli tidak berhak menahannya sampai mahar dilunasi kepada penjual, dan hal ini mustahil untuk dibayangkan. Demikian pula jika tuannya memerdekakannya, ia tidak berhak menahan dirinya sendiri. Jika seseorang menikahkan budak perempuan yang belum ditentukan maharnya (mufawwidah), lalu ia menjualnya, maka jika penetapan mahar terjadi saat ia masih menjadi milik tuan pertama, maka mahar menjadi milik tuan pertama. Namun jika penetapan mahar terjadi saat ia sudah menjadi milik pembeli, maka hal ini bergantung pada apakah mahar bagi perempuan mufawwidah wajib dengan akad atau tidak, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

فرع

Cabang

إذا اختلف الزوجان في الصداق فزعم الزوج أنه أصدقها هذا العبد فأنكرته وقالت بل أصدقتني هذه الجارية فالمذهب أنهما يتحالفان فإنهما اتفقا على مقابل المهر وهو البضع فكان اختلافهما في العوض موجباً للتحالف وذكر الشيخ وجهاً ضعيفاً أنهما لا يتحالفان فإن الصداق في حكم عقد مفرد عن النكاح والنكاح على جانب منه ولذلك لا يرتد برده ولا يفسد بفساده

Jika suami istri berselisih pendapat tentang mahar, lalu suami mengklaim bahwa ia telah memberikan mahar seorang budak laki-laki, sedangkan istri mengingkarinya dan berkata bahwa ia telah diberi mahar seorang budak perempuan, maka menurut mazhab, keduanya saling bersumpah. Sebab, keduanya sepakat atas imbalan mahar, yaitu hubungan badan, sehingga perselisihan mereka mengenai pengganti mahar menyebabkan keduanya harus saling bersumpah. Syekh menyebutkan satu pendapat lemah bahwa keduanya tidak saling bersumpah, karena mahar dalam hukum merupakan akad yang terpisah dari nikah, dan nikah berada di satu sisi darinya. Oleh karena itu, nikah tidak batal dengan penolakan mahar dan tidak rusak karena kerusakannya.

ثم إذا اختلفا في الصداق نفياً وإثباتاً فلم تجتمع دعواهما على شيء فكان كما لو قال بعت منك هذا العبد بألف درهم وقال المشتري لا بل اشتريت منك هذه الجارية بمائة دينار فلا تحالف والحالة هذه بل كل واحد منهما منفرد بدعوى لا تعلق لها بدعوى الثاني فالوجه أن نفصل كل خصومة بطريقِ فَصْلها

Kemudian, jika keduanya berselisih mengenai mahar, antara meniadakan dan menetapkan, sehingga tidak ada kesepakatan dalam klaim mereka atas suatu hal, maka keadaannya seperti seseorang berkata, “Aku telah menjual budak ini kepadamu seharga seribu dirham,” sementara pembeli berkata, “Tidak, justru aku membeli budak perempuan ini darimu seharga seratus dinar.” Dalam keadaan seperti ini, tidak ada sumpah (tahalluf), karena masing-masing dari mereka mengajukan klaim tersendiri yang tidak berkaitan dengan klaim pihak lain. Maka yang tepat adalah memisahkan setiap perselisihan dengan cara penyelesaian yang sesuai untuk masing-masing.

والصحيح أنهما يتحالفان

Pendapat yang benar adalah bahwa keduanya saling bersumpah.

وقد ذكرنا صور التحالف في كتاب البيع ونحن نقتصر هاهنا على مقدار غرضنا في الصداق

Kami telah menyebutkan bentuk-bentuk sumpah dalam Kitab Jual Beli, dan di sini kami membatasi pembahasan hanya sebatas tujuan kami terkait mahar.

فإذا تبين أصلُ الاختلاف وظهر أن المذهب التحالفُ فنفرض مسألة ذكرها ابن الحداد ونخرّجُها على القاعدة

Jika telah jelas asal perbedaan pendapat dan tampak bahwa mazhabnya adalah tahaluf (saling bersumpah), maka kita misalkan sebuah permasalahan yang disebutkan oleh Ibnu al-Haddad dan kita keluarkan hukumnya berdasarkan kaidah tersebut.

فإذا كان في ملك الرجلِ أُمّ امرأة وأبوها فنكحها وأصدقها أحدهما ثم اختلفا فقال الزوج أصدقتُكِ أباكِ وقالت هي بل أصدقتني أُمي فالمشهور أنهما يتحالفان وفيه الوجه البعيد أنهما لا يتحالفان

Jika seorang laki-laki memiliki seorang ibu dari seorang perempuan dan ayahnya, lalu ia menikahi perempuan itu dan memberikan mahar kepada salah satu dari keduanya, kemudian mereka berselisih: sang suami berkata, “Aku memberikan maharmu kepada ayahmu,” sedangkan perempuan itu berkata, “Justru engkau memberikannya kepada ibuku,” maka pendapat yang masyhur adalah keduanya saling bersumpah. Namun, ada pendapat lain yang lemah bahwa keduanya tidak saling bersumpah.

فنفرع ونقول إنْ قلنا يتحالفان فإن حلفا جميعاً استحقت المرأة مهر المثل ورَقَّت أمُّها التي ادعت عتْقَها بالإصداق وأما أبوها فقد عَتَق بإقرار الزوج ولا نجد بقيمته مرجعاً عليها فإنها مُنكرة وولاء الأب موقوف من جهة أنه لا يدعيه أحد هذا إذا تحالفا

Maka kami merinci dan mengatakan: Jika kami katakan keduanya saling bersumpah, lalu keduanya benar-benar bersumpah, maka perempuan itu berhak mendapatkan mahar mitsil dan ibunya yang ia klaim telah dimerdekakan sebagai mahar menjadi budak, sedangkan ayahnya telah merdeka karena pengakuan suami, dan kami tidak menemukan adanya kewajiban mengganti nilai ayahnya atas perempuan itu karena ia mengingkarinya, dan wala’ ayahnya menjadi tergantung karena tidak ada seorang pun yang mengakuinya; demikianlah jika keduanya saling bersumpah.

فأما إذا حلف الزوج على ما ادعاه وعرضنا اليمين على المرأة فنكلت فترق الأم كما ذكرنا ويثبت أن الأب صداقٌ ويعتِق بهذا الحكم ولا مهر لها سواه والولاء موقوف أيضاًً لأنها منكرة

Adapun jika suami bersumpah atas apa yang ia klaim dan kami tawarkan sumpah kepada istri lalu ia menolak, maka ibu tersebut menjadi budak seperti yang telah kami sebutkan, dan terbukti bahwa ayah adalah pemilik mahar, serta ia merdeka dengan keputusan ini dan tidak ada mahar lain baginya selain itu, sedangkan hak wala’ juga tetap ditangguhkan karena ia mengingkarinya.

وبمثلها لو قال أصدقتُكِ أباك ونصفَ أمك وقالت هي بل أصدقتني أبي وأمي جميعاً فإن تحالفا عَتَقَ الأب ونصفُ الأم فإن كانت موسرة فيعتق الأب وتمامُ الأم وإن كانت معسرة فيعتق الأبُ ونصفُ الأم ولها مهر مثلها في الصورتين وعليها قيمة أبويها إن كانت موسرةً وإن كانت معسرة فقيمة الأب ونصف قيمة الأم ثم يقع التقاصّ في أطراف المسألة وكيفما دارت المسألة فلها مهر مثلها عند التحالف لانفساخ الصداق

Demikian pula jika seseorang berkata, “Aku menikahkanmu dengan mahar ayahmu dan setengah dari ibumu,” lalu si wanita berkata, “Justru aku dinikahkan dengan mahar ayah dan ibuku seluruhnya,” maka jika keduanya saling bersumpah, ayahnya merdeka dan setengah dari ibunya. Jika si wanita mampu (secara finansial), maka ayah dan seluruh ibunya merdeka. Jika ia tidak mampu, maka ayah dan setengah dari ibunya merdeka, dan ia berhak atas mahar sepadan dalam kedua keadaan tersebut. Ia juga wajib membayar nilai kedua orang tuanya jika ia mampu, dan jika tidak mampu maka wajib membayar nilai ayah dan setengah nilai ibu, kemudian dilakukan perhitungan kompensasi dalam bagian-bagian masalah ini. Bagaimanapun perputaran masalahnya, ia tetap berhak atas mahar sepadan ketika terjadi sumpah, karena batalnya mahar yang telah disebutkan.

وإن حلفت هي ونكل الزوج عَتَق الأبوان وإن كانت معسرة فإنه ثبت الصداق على موجَب قولها ولم ينفسخ وليس لها مهر المثل فإنها استوفت حقها

Jika istri bersumpah dan suami menolak bersumpah, maka kedua orang tua menjadi merdeka. Jika istri dalam keadaan tidak mampu, maka mahar tetap menjadi tanggungan sesuai dengan pengakuannya dan tidak batal, serta ia tidak berhak atas mahar mitsil karena ia telah menerima haknya.

وإن حلف هو ونكلت عتق أبوها ونصفُ أمها إن كانت معسرة وليس لها مهر المثل إذا ثبتت بيمينه جملةُ المقصود وإن كانت موسرة عتقا ولا مهر لها ويرجع عليها بنصف قيمة الأم لمكان السراية وقد ثبت عليها دعوى الزوج فيثبت موجبها

Jika ia bersumpah dan pihak perempuan menolak bersumpah, maka ayahnya dan setengah ibunya merdeka jika ia tidak mampu membayar, dan ia tidak berhak atas mahar mitsil jika dengan sumpahnya telah terbukti seluruh maksud perkara. Jika ia mampu membayar, maka keduanya merdeka dan ia tidak berhak atas mahar, dan suami dapat menuntutnya atas setengah nilai ibunya karena adanya sirkulasi (saraayah), dan karena gugatan suami telah terbukti atasnya, maka konsekuensinya pun tetap berlaku.

هذا كله تفريع على ظاهر المذهب وهو أنهما يتحالفان

Semua ini merupakan penjabaran dari pendapat yang masyhur dalam mazhab, yaitu bahwa keduanya saling bersumpah.

وإن فرعنا على الوجه الضعيف الذي حكاه الشيخ في أنهما لا يتحالفان فقد قال إذا ادعت المرأة أن أمَّها صداقُها وأنكر الزوج فالقول قوله مع يمينه فإن حلف رقَّت وأما الأب فإنه حرٌ بإقراره ثم قال لا حلف عليها ولها مهر مثلها في هذه الصورة

Dan jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat lemah yang dikisahkan oleh asy-Syaikh bahwa keduanya tidak saling bersumpah, maka beliau berkata: Jika seorang wanita mengaku bahwa ibunya adalah mahar (maskawin)-nya dan suaminya mengingkari, maka perkataan suami diterima dengan sumpahnya. Jika ia bersumpah, maka wanita itu menjadi budak. Adapun ayahnya, maka ia tetap merdeka karena pengakuannya. Kemudian beliau berkata: Tidak ada sumpah atas wanita itu, dan ia berhak mendapatkan mahar seperti wanita sepertinya dalam kasus ini.

وعلَّل بأن الزوج إذا اعترف بعتق الأب فلا يتجه منه أن يدعي على الزوجة أي أصدقتك هذا فاستحققتيه ولسنا نفرع على قول التحالف حتى يتعرض كل واحد منهما للنفي والإثبات بل نميز الدعوى عن الدعوى ولا تكاد تصح صيغة في الدعوى للزوج فإنه إذا كان ادعى أنك استحققتيه كان هذا دعوى لها لا دعوى عليها وإن ادعى عليها أنك لا تستحقين مهر المثل كان هذا جواب من يدعي عليه لا ابتداء دعوى فإن المرأة إذا ادعت حقها فالقول قوله في أنه لا حق لك فإذا انحسم سبيل دعواه عليها والنكاح ليس عارياً عن المهر بالاتفاق فلا وجه إلا الرجوع إلى مهر المثل

Ia beralasan bahwa jika suami mengakui bahwa ayahnya telah memerdekakan (budak), maka tidak masuk akal baginya untuk mengklaim terhadap istrinya, misalnya dengan mengatakan, “Aku telah memberimu mahar ini sehingga kamu berhak atasnya.” Kita juga tidak membangun kasus ini atas pendapat yang mengharuskan kedua belah pihak saling bersumpah, sehingga masing-masing harus mengingkari dan menetapkan, melainkan kita membedakan antara satu klaim dengan klaim lainnya. Hampir tidak mungkin ada bentuk klaim dari pihak suami, sebab jika ia mengklaim bahwa istrinya telah berhak atas mahar itu, maka itu adalah klaim untuk istrinya, bukan klaim terhadapnya. Jika ia mengklaim bahwa istrinya tidak berhak atas mahar mitsil, maka itu adalah jawaban dari pihak yang diklaim, bukan klaim yang diajukan sejak awal. Jika perempuan mengklaim haknya, maka pernyataannya diterima dalam hal bahwa ia tidak memiliki hak. Dengan demikian, jalan bagi suami untuk mengajukan klaim terhadap istrinya tertutup, dan pernikahan tidak pernah lepas dari mahar menurut kesepakatan. Maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada mahar mitsil.

وهذا الذي ذكره مشكل فإن الصداق ليس ينفسخ إذا كانا لا يتحالفان فيبعد أن نُثبت لها بطريق الدعوى عليه مهرَ المثل فليقل الزوج صداقكِ هذا لا مهرُ المثل

Apa yang disebutkan ini bermasalah, karena mahar tidak menjadi batal jika keduanya tidak saling bersumpah, sehingga tidak tepat jika kita menetapkan untuknya mahar mitsil melalui jalur gugatan terhadap suami. Maka hendaknya suami berkata: “Maharmu adalah ini, bukan mahar mitsil.”

والمسألة محتملة جداً

Masalah ini sangat mungkin terjadi.

فرع

Cabang

ذكر صاحب التقريب أنَّا إذا حكمنا بأنَّ الصداق مضمون باليد وقلنا إنه مضمون على الزوج ضمانَ غصب فلو وجدت به عيباً فالمذهب أن لها الردُّ وإن كان من حكم المضمون بالغصب ألا يُردَّ بالعيب فإن من غَصب عبداً وتعيّب في يده فالغاصب يرده معيباً ويضمُّ إليه أرشَ العيب

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan bahwa apabila kita memutuskan bahwa mahar itu menjadi tanggungan pihak yang memegangnya, dan kita mengatakan bahwa mahar itu menjadi tanggungan suami seperti tanggungan akibat ghashab, maka jika ditemukan cacat pada mahar tersebut, menurut mazhab, istri berhak mengembalikannya. Meskipun menurut hukum barang yang menjadi tanggungan akibat ghashab tidak dapat dikembalikan karena cacat, sebab jika seseorang menggashab seorang budak lalu budak itu cacat di tangannya, maka penggashab mengembalikan budak itu dalam keadaan cacat dan menambahkan ganti rugi atas cacat tersebut.

قال صاحب التقريب قد ذهب بعض أصحابنا إلى أنا إذا جعلناه بمنزلة المغصوب فإذا حدث به عيب في يد الزوج فليس للزوجة خيار الرد قياساً على الغصب ولكن لها أرش العيب بالغاً ما بلغ قال ويُحكى ذلك عن أبي حفص الوكيل من أصحابنا

Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Sebagian ulama kami berpendapat bahwa jika kita menyamakannya dengan barang yang digasak, maka apabila terjadi cacat pada barang itu di tangan suami, istri tidak memiliki hak khiyar untuk mengembalikan barang tersebut berdasarkan qiyās dengan kasus barang yang digasak. Namun, istri berhak mendapatkan kompensasi atas cacat tersebut, berapapun besar nilainya. Pendapat ini juga dinukil dari Abu Hafsh al-Wakil dari kalangan ulama kami.

وهذا وإن كان متجهاً في القياس فهو بعيد في الحكاية

Dan meskipun hal ini dapat diterima dalam qiyās, namun hal itu jauh dari kenyataan yang diceritakan.

وإذا قال قائل بهذا الوجه لزمه طردُه على قولنا إنه يُضمن باليد ولكن لا يُضمن ضمانَ الغصب وإن صح هذا مذهباً يفرَّع على مثله فما ذكرناه في العيب المتجدد في يد الزوج

Dan jika seseorang berkata dengan cara ini, maka ia wajib konsisten menurut pendapat kami bahwa ia bertanggung jawab karena memegang (barang), tetapi tidak bertanggung jawab seperti tanggung jawab ghashab. Jika pendapat ini sah sebagai mazhab yang dapat dirinci atas dasar yang serupa, maka apa yang telah kami sebutkan tentang cacat yang baru muncul di tangan suami juga berlaku.

فأما إذا فرض اطلاعٌ على عيب قديم كان قبل الإصداق فتغريم الزوج أرشَ العيب بعيد وإلزام المرأة الرضا بالظلامة بعيد أيضاً فليتأمل الناظر ذلك ولا اعتداد على الجملة بما ذكره وأصلُ المذهب ما قدمناه

Adapun jika diketahui adanya cacat lama yang sudah ada sebelum penetapan mahar, maka mewajibkan suami membayar ganti rugi atas cacat tersebut adalah pendapat yang lemah, dan mewajibkan istri untuk menerima ketidakadilan juga merupakan pendapat yang lemah. Maka hendaknya hal ini dipertimbangkan dengan saksama oleh yang menelaahnya, dan secara umum, apa yang telah disebutkan sebelumnya tidak dapat dijadikan pegangan. Dasar mazhab adalah apa yang telah kami kemukakan di awal.

وذكر الشيخ والدي أبو محمد في الرد بالعيب طريقةً غريبة فقال الرد بالعيب يجري لا محالة ولكن إذا ردت المرأة الصداق فمن أصحابنا من قال الرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً لأنَّ الصداق ينفسخ بالرد ونحن إنما نُثبت قيمةَ الصداق إذا تلف في يد الزوج بناءً على أن عقد الصداق قائم فإذا فُسخ الصداق بالرد لم يبق متعلَّق

Syekh ayahku, Abu Muhammad, menyebutkan dalam masalah pengembalian karena cacat suatu metode yang unik. Ia berkata, pengembalian karena cacat pasti berlaku, namun jika perempuan mengembalikan mahar, sebagian ulama kami berpendapat bahwa yang menjadi rujukan adalah mahar mitsil secara mutlak, karena mahar itu batal dengan adanya pengembalian. Kami hanya menetapkan nilai mahar jika mahar itu rusak di tangan suami, berdasarkan bahwa akad mahar masih tetap berlaku. Jika akad mahar dibatalkan dengan pengembalian, maka tidak ada lagi keterkaitan.

وهذا لا بأس به ولكن يُفسده اتفاقُ الأصحاب على إجراء القولين إذا كان الصداق حُرّاَ أو تبين مستحَقاً فردّ الصداق لا يزيد على اقتران المفسد فالتعويل إذن على ما قدمناه

Hal ini tidak mengapa, namun hal itu menjadi rusak karena kesepakatan para sahabat (ulama mazhab) untuk menjalankan dua pendapat apabila mahar itu berupa barang bebas atau ternyata merupakan barang milik orang lain sehingga harus dikembalikan. Pengembalian mahar tidak lebih dari bersamaan dengan hal yang merusak, maka yang dijadikan pegangan adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya.

فرع

Cabang

ـ ذكر صاحب التقريب في التفريع على أن عفو الولي عن المهر نافذ أنا نشترط أن يقع العفو بعد الطلاق وهذا قد تقدم ذكره فلو جعل الولي المهرَ بدل الخلع قال في المسألة وجهان أحدهما لا يجوز لأن الشرط إنشاء العفو بعد الطلاق كما قدمنا تعليله

Disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb dalam pembahasan cabang bahwa pengampunan wali terhadap mahar itu sah, dengan syarat pengampunan itu terjadi setelah talak, dan hal ini telah disebutkan sebelumnya. Maka jika wali menjadikan mahar sebagai pengganti khulu‘, dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan tidak boleh, karena syaratnya adalah pengampunan itu dilakukan setelah talak, sebagaimana telah dijelaskan alasannya.

والثاني يجوز فإنه وقع مقارناً للطلاق فالواقع معه كالواقع بعده

Yang kedua diperbolehkan, karena terjadi bersamaan dengan talak, maka yang terjadi bersamaan dengannya hukumnya sama dengan yang terjadi setelahnya.

فرع

Cabang

ذكر بعض المصنفين أن من جمع بين نكاح وبيعٍ صفقة واحدة ففي صحة النكاح قولان وهذا مدخول والوجه القطع بصحة النكاح والتردد في صحة الصداق وفساده وإنما أخذ هذا من تردد الأصحاب فيه إذا جمع نكاحَ مستحَلَّة ومحرم في عُقدة فإنّّ نقْلَ قولٍ في فساد نكاح المستحَلَّةِ مشهور على ضعفه وجمع الصفقةِ مختلفين من تفريق الصفقة

Sebagian ulama penulis menyebutkan bahwa jika seseorang menggabungkan akad nikah dan jual beli dalam satu transaksi, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan nikahnya. Namun, pendapat ini lemah; yang benar adalah memastikan keabsahan nikahnya, sedangkan yang diperselisihkan adalah keabsahan atau batalnya mahar. Hal ini diambil dari keraguan para ulama dalam kasus menggabungkan akad nikah perempuan yang halal dan yang haram dalam satu akad; karena pendapat yang menyatakan batalnya nikah perempuan yang halal cukup masyhur meskipun lemah, dan menggabungkan dua transaksi berbeda tidak sama dengan memisahkan transaksi.

وهذا غيرُ سديد والوجه ما قدمناه

Ini tidaklah tepat, dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya.

Kitab al-Qasm dan an-Nusyūz

قال الشافعي قال الله تعالى وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ إلى آخره

Imam Syafi‘i berkata: Allah Ta‘ala berfirman, “Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang makruf,” hingga akhir ayat.

للرجال حقوق على النساء كالتمكين والاستقرارِ في البيت ويدخل تحت التمكين التنظُّف والاستعداد بالاستحداد وغيره

Laki-laki memiliki hak atas perempuan seperti mendapatkan pelayanan (tamkīn) dan ketenangan di rumah, dan termasuk dalam pelayanan tersebut adalah menjaga kebersihan dan bersiap diri dengan bercukur (istihdād) dan lain-lain.

ولهن على الرجال المهرُ والنفقة والسكنى والكسوةُ على ما ستأتي حقوقُها مفصلةً إن شاء الله تعالى قال الله تعالى وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ فاقتضى الظاهر تشبيه ما لهن بما عليهن وهذا التشبيه في أصل الحق والحقان متشابهان في التأكد ووجوب الوفاء به وليسا متشابهين في الكيفية والصفة

Dan bagi para wanita atas para laki-laki adalah mahar, nafkah, tempat tinggal, dan pakaian, sebagaimana hak-hak tersebut akan dijelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan bagi mereka (para wanita) hak yang seimbang dengan kewajiban yang dipikulkan atas mereka.” Maka, secara lahiriah ayat ini menunjukkan adanya penyerupaan antara hak-hak yang dimiliki wanita dengan kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Penyerupaan ini berlaku pada pokok hak, dan kedua hak tersebut serupa dalam hal penegasan dan kewajiban untuk menunaikannya, namun tidak serupa dalam bentuk dan sifatnya.

ثم فَسَّر الشافعي المعروف المذكور في قوله تعالى بِالْمَعْرُوفِ فقال وجماع المعروف بين الزوجين كفُّ المكروه وإعفاءُ صاحب الحق من المؤنة في طلبه لا بإظهار الكراهية في تأديته فأيُّهما مطل بتأخيره فمَطْلُ الغني ظلم

Kemudian asy-Syafi‘i menafsirkan kata “ma‘ruf” yang disebutkan dalam firman Allah Ta‘ala dengan “ma‘ruf” sebagai berikut: Inti dari ma‘ruf antara suami istri adalah menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai dan membebaskan pihak yang memiliki hak dari kesulitan dalam menuntut haknya, bukan dengan menunjukkan ketidaksukaan saat menunaikannya. Maka siapa pun di antara keduanya yang menunda-nunda dalam memenuhi hak, maka penundaan dari pihak yang mampu adalah suatu kezaliman.

ومعناه جملة المعروف بين الزوجين أن لا يؤذي أحدُهما صاحبه وينكفُّ عن إلحاق مكروه به فالمرأة لا تؤذي الزوجَ بلسانها أو شراستها والرجل لا يؤذِيها بوجوه الأذى ويعفي كلُّ واحد منهما صاحبَه عن مؤنةٍ في طلب حقه فيوفر الزوج الصداقَ عليها ولا يحوجها إلى رفعه إلى القاضي فقد تحتاج إلى بذلِ مؤونة ومعاناةِ مشقةٍ

Dan makna umum dari “ma‘ruf” antara suami istri adalah bahwa salah satu dari mereka tidak menyakiti pasangannya dan menahan diri dari menimbulkan hal yang tidak disukai kepadanya. Maka, istri tidak menyakiti suami dengan lisannya atau sikap kasarnya, dan suami tidak menyakiti istri dengan berbagai bentuk gangguan. Masing-masing dari mereka memudahkan pasangannya dalam menuntut haknya, sehingga suami menyediakan mahar untuk istrinya dan tidak memaksanya untuk mengadukannya ke pengadilan, karena bisa jadi ia harus mengeluarkan biaya dan mengalami kesulitan.

وكذلك القول في المرأة فيما عليها له ولا يُظهر واحد منهما كراهيةً في تأدية حق صاحبه فالرجل لا يعبس عند إيفاء حقوقها بل يؤديها كاملة على طلاقة والمرأة لا تعبس إذا قَرِبَها الزوج

Demikian pula halnya dengan perempuan dalam hal kewajiban yang harus ia tunaikan kepada suaminya, dan tidak sepantasnya salah satu dari keduanya menampakkan rasa tidak suka dalam menunaikan hak pasangannya. Laki-laki tidak bermuka masam ketika memenuhi hak-hak istrinya, melainkan menunaikannya secara sempurna dengan sikap ramah, dan perempuan pun tidak bermuka masam ketika suaminya mendekatinya.

ثم قال فأيهما مطَلَ فمطل الغني ظلم والمطل مدافعة الحق مع القدرة على التأدية ولفظ الغني لا يختص باليسار والثروة بل كل متمكن من تأدية حق مستقلٍّ به فهو في حكم الغني وللغني في أسماء الله تعالى معنيان أحدهما المقتدر والثاني البريء عن الحاجة

Kemudian ia berkata, “Maka yang manakah yang dimaksud dengan ‘menunda’? Menunda pembayaran oleh orang yang mampu adalah kezaliman, dan yang dimaksud dengan menunda adalah menunda hak orang lain padahal mampu untuk membayarnya. Lafaz ‘ghani’ (orang kaya) tidak khusus bagi orang yang memiliki harta dan kekayaan, tetapi setiap orang yang mampu menunaikan hak yang menjadi tanggungannya, maka ia termasuk dalam hukum ‘ghani’. Adapun ‘ghani’ dalam Asmaul Husna Allah Ta‘ala memiliki dua makna: yang pertama adalah Yang Maha Kuasa, dan yang kedua adalah Yang Maha Suci dari segala kebutuhan.”

ومن حقوق المرأة على الرجل القَسْم وهذا الكتاب بأبوابه معقودٌ له لا غير فإن تطرق إليه حكم آخر لم يكن مقصوداً بالكتاب

Di antara hak-hak perempuan atas laki-laki adalah al-qasm (pembagian giliran bermalam), dan kitab ini dengan seluruh bab-babnya dikhususkan untuk membahas hal itu saja, tidak yang lain. Jika ada hukum lain yang tersinggung di dalamnya, maka itu bukanlah maksud utama dari kitab ini.

فنبتدىء ونقول الرجل لا يخلو إما أن يكون ذا زوجة واحدة وإما أن يجمع بين زوجتين فصاعداً فإن كان ذا زوجة واحدة فلا يلزمه أن يبيت عندها ولو لم يدخل عليها قط فلا طَلِبةَ عليه إذا كان يوفيها حقوقها والذي يقتضيه أدب الدين ألا يعطّلَها فقد يُفضي تعطيلُها إذا هي تاقت إلى الفجور وفي تعطيلُها إضرارٌ بها ولست أُبعد إطلاَق لفظ الكراهية في تعطيلها فإنَّا نسمح بإطلاق هذا اللفظ دون هذه الأمور التي أشرنا إليها

Maka kita mulai dan mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak lepas dari dua keadaan: apakah ia hanya memiliki satu istri, atau ia mengumpulkan dua istri atau lebih. Jika ia hanya memiliki satu istri, maka ia tidak wajib bermalam di rumahnya, bahkan jika ia sama sekali belum berhubungan dengannya; maka tidak ada tuntutan atasnya selama ia memenuhi hak-haknya. Namun, adab agama menuntut agar ia tidak menelantarkannya, karena penelantaran itu bisa menyebabkan istri cenderung pada perbuatan maksiat, dan dalam penelantaran itu terdapat kemudaratan baginya. Saya tidak menganggap jauh untuk membolehkan penggunaan istilah makruh atas penelantaran istri, karena kita membolehkan penggunaan istilah ini dalam perkara-perkara yang telah kami isyaratkan di atas.

وقد حُكي عن أبي حنيفة أنه قال ينبغي ألا يخليَ أربعَ ليالٍ عن ليلةٍ يقيم فيها عندها فإنَّ أقصى ما يفرض من النسوة تحته أربع ثم ينالُها من القَسْم ليلةً من أربع ليال

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau berkata, sebaiknya seseorang tidak membiarkan berlalu empat malam tanpa bermalam di rumah istrinya, karena jumlah maksimal istri yang boleh dimiliki adalah empat, dan dengan demikian, setiap istri akan mendapatkan giliran bermalam satu malam dari empat malam.

وهذا غير مرضي عند أصحابنا فإنَّ اعتبار أقدار الليالي حيث لا قَسْمَ محال ولو نظر ناظرٌ إلى الإضرار ومؤنة أربعة أشهر كان بعيداً فإن كان الضرار لا يدفعه إلاَّ الاستمتاع فهذا غير مرعي في المبيت الذي نقرر القول فيه

Hal ini tidak diterima menurut para ulama kami, karena mempertimbangkan jumlah malam di mana tidak ada pembagian giliran adalah hal yang mustahil. Jika seseorang memandang pada unsur mudarat dan beban selama empat bulan, maka itu pun jauh dari kebenaran. Jika mudarat itu tidak dapat dihilangkan kecuali dengan melakukan hubungan suami istri, maka hal ini tidak diperhitungkan dalam masalah bermalam yang sedang kami bahas.

وإن جمع بين نسوة أو بين امرأتين ثم أراد الإضراب عنهن فلا معترض عليه وهُنَّ بجملتهن إذا أَعرض عنهن كالزوجة الواحدة فإن بات عند واحدة منهن لم يكن له تخصيصها بل عليه أن يَقسم بينهن ويسوي في المبيت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان له امرأتان فمال إلى إحداهما حُشر يوم القيامة وأحدُ شقيه مائل

Jika seorang laki-laki menikahi beberapa wanita atau dua wanita, kemudian ia ingin tidak berhubungan dengan mereka, maka tidak ada yang dapat memprotesnya. Mereka semua, jika ia berpaling dari mereka, kedudukannya seperti satu istri saja. Jika ia bermalam di rumah salah satu dari mereka, ia tidak boleh mengkhususkan istri tersebut, melainkan ia wajib membagi giliran di antara mereka dan berlaku adil dalam bermalam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satu dari keduanya, maka pada hari kiamat ia akan datang dalam keadaan salah satu sisi tubuhnya miring.”

والذي ذكرناه من الأمر بالتسوية إنما هو فيما يتعلق بالأفعال وأما القلوب فلا يملكها إلاَّ مقلبُ القلوب قال الله تعالى وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ قال المفسرون لن تستطيعوا أن تعدلوا بالقلوب فلا تتبِعُوا أهواءكم أفعالكم فإن من أتبع هواه فِعلَه فقد مال كل الميل فكان ميل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى عائشة من نسائه بَيِّناً وكان يحاول التسويةَ بينهن فعلاً ويقول اللهم هذا قَسْمى فيما أملك وأنت أعلم بما لا أملك وكان ذلك مشهوراً في الصحابة رضي الله عنهم حتى إن الناس كانوا يحسبون ليلةَ عائشةَ وينتظرون ليلتها فمن أراد أن يهدي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم هدية كان يُهديها في ليلتها فشق ذلك على صواحبها فأتين فاطمة وشكون إليها وحَمَّلْنَها رسالةً فبَلَّغنها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ألا تحبين ما يحب أبوك إنَّ جبريل لا يأتيني وأنا في فراشٍ سوى فراش عائشة وكان لرسول الله صلى الله عليه وسلم تسعُ نسوة وهو يقسم لثمان منهن فإنَّ سودة طلقها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت راجعني لأُحشر في جملة نسائك وقد وهبتُ ليلتي لعائشة فراجَعَها وقيل أمره الله تعالى بها فقال راجع سودة فإنها صوَّامةٌ قوَّامة

Apa yang telah kami sebutkan tentang perintah untuk berlaku adil itu hanya berkaitan dengan perbuatan, adapun hati maka tidak ada yang mampu menguasainya kecuali Pembolak-balik hati. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara para istri, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, maka janganlah kamu terlalu cenderung (kepada salah seorang istri) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” Para mufassir mengatakan: “Kamu tidak akan mampu berlaku adil dalam urusan hati, maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu dalam perbuatanmu. Barang siapa mengikuti hawa nafsunya dalam perbuatannya, maka ia telah condong sepenuhnya.” Kecenderungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah di antara para istrinya sangat jelas, namun beliau berusaha untuk berlaku adil dalam perbuatan di antara mereka dan beliau berkata: “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang aku kuasai, dan Engkau lebih mengetahui terhadap apa yang tidak aku kuasai.” Hal itu pun terkenal di kalangan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, sampai-sampai orang-orang menghitung malam ‘Aisyah dan menunggu gilirannya. Maka siapa yang ingin menghadiahkan sesuatu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia akan memberikannya pada malam giliran ‘Aisyah. Hal itu memberatkan para istri beliau yang lain, sehingga mereka mendatangi Fathimah dan mengadukan hal itu kepadanya serta menitipkan pesan agar disampaikan kepada Rasulullah. Maka Fathimah menyampaikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidakkah engkau suka dengan apa yang disukai ayahmu? Sesungguhnya Jibril tidak datang kepadaku saat aku berada di atas ranjang selain ranjang ‘Aisyah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sembilan istri, dan beliau membagi giliran untuk delapan di antara mereka, karena Saudah telah dicerai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saudah berkata: “Rujuklah aku agar aku dapat dikumpulkan bersama istri-istrimu, dan aku telah menghibahkan malam giliranku kepada ‘Aisyah.” Maka beliau pun merujuknya. Ada pula yang mengatakan bahwa Allah Ta‘ala memerintahkannya untuk merujuk Saudah, lalu beliau bersabda: “Rujuklah Saudah, karena ia adalah wanita yang banyak berpuasa dan banyak shalat malam.”

وكان صلى الله عليه وسلم لا يُخلّ بالقسْم ولا يألو جهداً في رعاية التسوية حتى في مرض موته قيل كان يأمر حتى يطاف به على حُجَر نسائه وكان يستبطىء ليلة عائشة ويقول أين أنا اليوم أين أنا غداً ففطِنّ مراده وكان يُمرَّض في بيتِ عائشة إلى أن توفاه الله عز وجل وعن عائشة أنها قالت توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم بين سَحْري ونحري في الليلة التي لم أظلم فيها أحداً أرادت أنه اتفقت الوفاة في نوبتها الأصلية التي لم تكن من قِبَل سودة

Nabi ﷺ tidak pernah lalai dalam pembagian giliran dan selalu berusaha keras menjaga keadilan, bahkan saat sakit menjelang wafatnya. Dikatakan bahwa beliau memerintahkan agar dibawa berkeliling ke kamar-kamar istri-istrinya, dan beliau merasa malam Aisyah terlalu lama datang, lalu berkata, “Di mana aku hari ini? Di mana aku besok?” Maka para istri memahami maksud beliau, dan beliau pun dirawat di rumah Aisyah hingga Allah Azza wa Jalla mewafatkannya. Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ wafat di antara dada dan leherku, pada malam di mana aku tidak menzhalimi seorang pun. Maksudnya, wafat beliau terjadi pada giliran aslinya yang bukan berasal dari jatah Saudah.

وقد ظهر اختلافُ الأصحاب في أنَّ القَسْم هل كان واجباً على رسول الله صلى الله عليه وسلم أو كان يفعله تكرماً كما قدمناه في أول كتاب النكاح فمن أحلّهن في حقه محل الإماء لم يوجب القَسْم كما تقدم شرحه في ذكر خصائص رسول الله صلى الله عليه وسلم

Telah tampak perbedaan pendapat di kalangan para sahabat mengenai apakah pembagian giliran (al-qasm) itu wajib atas Rasulullah ﷺ ataukah beliau melakukannya sebagai bentuk kemurahan hati, sebagaimana telah kami sebutkan di awal Kitab Nikah. Maka, siapa yang memposisikan para istri beliau dalam kedudukan seperti budak perempuan, tidak mewajibkan pembagian giliran, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang kekhususan-kekhususan Rasulullah ﷺ.

فصل قال وعماد القَسْم الليلُ إلى آخره

Bagian: Ia berkata, dasar pembagian (giliran) adalah malam hingga akhirnya.

المعتمد في زمان القسم الليل لأنه سكنٌ قال الله تعالى يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ وقال تعالى وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا

Pendapat yang dipegang pada masa pembagian adalah malam hari, karena malam merupakan waktu untuk beristirahat. Allah Ta’ala berfirman: “Dia mendatangkan malam kepadamu agar kamu beristirahat di dalamnya,” dan Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan Dia menjadikan malam sebagai waktu beristirahat.”

وقد سمى الله تعالى الأزواجَ سكناً فقال عز وجل أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وقولنا الأصلُ لا يتبين أثره الآن وإذا انتهينا إلى تفريع المسائل أوضحنا ذلك إن شاء الله عز وجل

Allah Ta‘ala telah menyebut pasangan sebagai tempat ketenangan, sebagaimana firman-Nya: “pasangan-pasangan agar kalian merasa tenang kepadanya.” Ucapan kami bahwa asalnya demikian, pengaruhnya belum tampak sekarang. Jika kita telah sampai pada pembahasan cabang-cabang masalah, akan kami jelaskan hal itu, insya Allah Ta‘ala.

ثم إنما يكون التعويل على الليل في حق معظم الناس وعامة الخليقة فإنهم ينتشرون في مآربهم وأوطارهم نهاراً فإذا جنَّ الليل ارتادوا السكونَ في مساكنهم والدَّعَة

Kemudian, yang dijadikan acuan adalah malam hari bagi kebanyakan manusia dan seluruh makhluk, karena mereka bertebaran untuk berbagai keperluan dan tujuan mereka pada siang hari. Maka ketika malam tiba, mereka mencari ketenangan di tempat tinggal mereka dan beristirahat.

فلو فرض شخص يشتغل بالليل ويسكن بالنهار كالحراس ومن في معناهم فعماد القسم في حقوقهم النهار فإن المتبع فيه أن الأصل في القَسْم وقتُ السكون والدَّعةِ فإن من ينتشر نهاراً لم يمنع منه ولم يُلزم أن يدخل على صاحبة النوبة النهار فإنا لو فعلنا هذا لانقطع الناس عن معايشهم ولصار الكافل العائل معولاً مكفولاً وهذا أحد الآثار في الفرق بين الليل والنهار كما سنجمعها في فصل بعد هذا إن شاء الله عز وجل

Jika ada seseorang yang bekerja di malam hari dan beristirahat di siang hari, seperti para penjaga dan orang-orang yang serupa dengan mereka, maka patokan pembagian giliran bagi mereka adalah siang hari. Hal ini karena yang menjadi acuan dalam pembagian giliran adalah waktu istirahat dan ketenangan. Maka, orang yang beraktivitas di siang hari tidak dilarang dari hal itu dan tidak diwajibkan untuk menemui istri yang mendapat giliran di siang hari. Sebab, jika kita mewajibkan demikian, niscaya orang-orang akan terputus dari mata pencahariannya dan orang yang seharusnya menanggung nafkah keluarga justru akan menjadi beban yang ditanggung. Inilah salah satu dampak dari perbedaan antara malam dan siang, sebagaimana akan kami kumpulkan penjelasannya dalam bab setelah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل قال ولو كان عند الرجل حرائرُ مسلماتٌ إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Dan seandainya seseorang memiliki beberapa perempuan merdeka yang muslimah, dan seterusnya.”

غرض الفصل أن الكتابيةَ والمسلمةَ في القَسْم متساويتان فإن حقوقهما متساوية فإذا ساوى حقُّه على الكتابية حقَّه على المسلمة فيجب أن يتساويا أيضاًً فيما تستحق كل واحدة على زوجها وحقق الأئمة هذا فقالوا استمتاع الرجل بالكتابية يتسع اتساع استمتاعه بالمسلمة ولا ضِرار على ولده منها فإن ولد المسلم من الكتابية مسلم

Tujuan bab ini adalah bahwa perempuan ahli kitab dan perempuan muslimah dalam hal pembagian (hak-hak) adalah setara, karena hak-hak mereka sama. Jika hak suami terhadap perempuan ahli kitab sama dengan haknya terhadap perempuan muslimah, maka keduanya juga harus setara dalam hal apa yang menjadi hak masing-masing terhadap suaminya. Para imam telah menegaskan hal ini dengan mengatakan bahwa kenikmatan laki-laki bersama perempuan ahli kitab seluas kenikmatannya bersama perempuan muslimah, dan tidak ada mudarat bagi anak yang lahir dari perempuan ahli kitab tersebut, karena anak seorang muslim dari perempuan ahli kitab tetap berstatus muslim.

فأما إذا اجتمعت الرقيقة والحرة تحت حر مثلاً بطريق اجتماعهما فالقَسْم بين الحرة والأَمَة على التفاضل عندنا وعند أبي حنيفة خلافاً لمالك فإنه قال لا فرق في القسم بين الحرة والأَمَة وهذا غير سديد

Adapun jika seorang perempuan budak dan perempuan merdeka berkumpul di bawah seorang laki-laki merdeka, misalnya dengan cara keduanya menjadi istri, maka pembagian giliran bermalam antara perempuan merdeka dan perempuan budak dilakukan secara berbeda menurut kami dan menurut Abu Hanifah, berbeda dengan pendapat Malik yang mengatakan tidak ada perbedaan dalam pembagian giliran antara perempuan merdeka dan perempuan budak, dan pendapat ini tidaklah tepat.

ومعتمدنا أولاً ما روى الحسن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال للحرة ثُلثا القسم وللأمة ثُلثه وفراشُ الأَمَة المنكوحة ناقص وتمكُّنُ الزوجِ من الاستمتاع بها ناقصٌ ويلحق الولدَ نقصُ الرق فيليق بهذا ألا يسترسل الزوج في الاستمتاع بها توقياً من الولد ولذلك لم يثبت نكاح الرقيقة في حق الحر إلا في محل الحاجة

Dasar utama kami pertama-tama adalah riwayat dari al-Hasan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagi wanita merdeka dua pertiga bagian giliran, dan bagi budak perempuan sepertiganya.” Tempat tidur budak perempuan yang dinikahi itu kurang, dan kemampuan suami untuk menikmati dirinya juga kurang. Anak yang lahir darinya pun terkena kekurangan akibat status budak, sehingga pantas jika suami tidak terlalu bebas dalam menikmati budak perempuan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kemungkinan lahirnya anak. Oleh karena itu, pernikahan dengan budak perempuan bagi laki-laki merdeka tidak dibolehkan kecuali dalam keadaan kebutuhan.

فإذا ثبت ذلك فإذا كان تحته حرة وأمة فالحرة على ضعف الأَمَة في القسم فيقسم للحرة ليلتين وللأمة ليلة

Jika hal itu telah ditetapkan, maka apabila seorang laki-laki memiliki istri seorang wanita merdeka dan seorang budak perempuan, maka bagian wanita merdeka adalah dua kali lipat bagian budak perempuan dalam pembagian giliran; sehingga untuk wanita merdeka diberikan dua malam, dan untuk budak perempuan satu malam.

ثم إذا فرض طريان العتق على الأمة فأصل المذهب لا غموض فيه ولكن قد تلتبس الصور فالأَولى الاعتناء بتفصيل الصور فنبدأ بذكر التفصيل فيه إذا وقعت البدايةُ في نُوَب القَسْم بالحرة ثم نذكر إذا ما وقعت البداية بالأَمة

Kemudian, jika terjadi pembebasan budak perempuan, maka pada dasarnya mazhab ini tidak ada kerancuan di dalamnya, namun terkadang gambaran kasusnya bisa membingungkan. Oleh karena itu, yang utama adalah memperhatikan rincian kasus-kasusnya. Maka kita akan memulai dengan menyebutkan rinciannya jika pembagian giliran dimulai dengan istri merdeka, kemudian kita sebutkan jika permulaan terjadi pada budak perempuan.

فإن وقعت البداية بالحرة فعتقت الأمة فلا يخلو إما أن تعتق في نوبة الحرة أو في نوبة نفسها فإن في نوبة الحرة وكان يقسم للحرة ليلتين وللأمة ليلة فالجواب المجمل إلى أن يُفصّل أنها إذا عتقت في نوبة الحرة صارت بمثابة الحرة الأصلية في القَسْم في مستقبل الزمان وكأنَّ الرقَّ لم يكن والتفصيل أنها إذا أعتقت في الليلة الأولى من ليلتي الحرة فيكملُ الزوج الليلةَ الأولى للحرة ثم هو بالخيار إن شاء اقتصر في حقها على هذه الليلة وأقام عند العتيقة ليلة ثم استدار عليهما ليلة ليلة وإن أراد أن يقيم عند الحرة ليلتين فإنه يقيم عند العتيقة ليلتين أيضاًً فإنها التحقت بالحرة الأصلية كما ذكرنا أولاً

Jika awal pembagian giliran dimulai dengan istri yang merdeka lalu budak perempuan dimerdekakan, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: budak tersebut dimerdekakan pada giliran istri merdeka atau pada gilirannya sendiri. Jika dimerdekakan pada giliran istri merdeka, sementara pembagian giliran untuk istri merdeka adalah dua malam dan untuk budak satu malam, maka jawaban secara umum sebelum dirinci adalah: jika budak tersebut dimerdekakan pada giliran istri merdeka, maka ia menjadi seperti istri merdeka asli dalam pembagian giliran pada waktu-waktu berikutnya, seolah-olah status budaknya tidak pernah ada. Rinciannya, jika ia dimerdekakan pada malam pertama dari dua malam giliran istri merdeka, maka suami menyempurnakan malam pertama untuk istri merdeka, kemudian ia diberi pilihan: jika ia mau, ia cukupkan untuk istri merdeka hanya malam itu saja lalu bermalam di tempat istri yang baru dimerdekakan satu malam, kemudian setelah itu pembagian giliran berjalan satu malam satu malam untuk masing-masing. Namun jika ia ingin bermalam di tempat istri merdeka dua malam, maka ia juga bermalam di tempat istri yang baru dimerdekakan dua malam, karena ia telah menyamai istri merdeka asli sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

ولو عتقت في الليلة الثانية من ليلتي الحرة فإن أراد أن يتم تلك الليلة ويقيم في بقيتها عند الحرة فله ذلك كما تقدم ثم يقيم عند العتيقة ليلتين أيضاًًً وإن كانت تلك الليلة قد تشطرت فأراد أن يخرج في وسط الليل إلى العتيقة ويقيم عندها ليلة ونصفاً فيجوز ذلك ولو كان وَضْعُ القَسْم ابتداءً على أنصاف الليالي لم يجز فإنَّ تبعيض الليالي يُفسد غرضَ السكن وما فيه من مستمتَع

Jika budak perempuan itu dimerdekakan pada malam kedua dari dua malam milik istri yang merdeka, maka jika suami ingin menyelesaikan malam itu dan tetap bermalam di sisa malam tersebut bersama istri yang merdeka, maka itu boleh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian ia juga bermalam bersama mantan budak itu selama dua malam. Namun jika malam itu telah terbagi dua, lalu suami ingin keluar di tengah malam menuju mantan budak dan bermalam bersamanya satu setengah malam, maka itu juga diperbolehkan. Tetapi jika pembagian giliran sejak awal dilakukan dengan membagi malam menjadi setengah-setengah, maka itu tidak diperbolehkan, karena membagi malam akan merusak tujuan dari kebersamaan dan kenikmatan yang ada di dalamnya.

ولكن إذا طرأ العتق في أثناء الليلة الثانية من ليلتي الحرة فربما يبغي الزوج أن يجعل القَسْم ليلة ليلة ولو استتم نوبة الحرة ليلتين لاحتاج إلى أن يقيم ليلتين عند العتيقة فإذا لم يرد ذلك فله أن يبعِّض هذه الليلة ويرعى التسوية بينهما وليس كما لو طرأ العتق في أثناء الليلة الأولى في نوبة الحرة فإن نوبةَ القَسْم لا تنقُص عن ليلة في وضعه

Namun, jika pembebasan budak terjadi di tengah malam kedua dari dua malam milik istri merdeka, mungkin suami ingin membagi giliran menjadi satu malam satu malam. Jika giliran istri merdeka telah sempurna dua malam, maka ia harus menetap dua malam pula di sisi istri yang baru merdeka. Jika suami tidak menghendaki hal itu, maka ia boleh membagi malam tersebut dan memperhatikan keadilan di antara keduanya. Hal ini berbeda dengan jika pembebasan budak terjadi di tengah malam pertama pada giliran istri merdeka, karena giliran pembagian (qasm) tidak boleh kurang dari satu malam dalam ketentuannya.

ومما ذكره الأئمة في ذلك أن العتق لو جرى في الليلة الثانية فأراد الزوج أن يفارق الحرة في بقية تلك الليلة ويبيت عند صاحبٍ له فإذا فعل ذلك فأراد أن يبيت عند العتيقة ليلة ويدور إلى الحرة بليلة ويدير النوبتين كذلك قال الصيدلاني له هذا وما مضى من الليلة غيرُ محسوبٍ عليه وهو مختطفٌ من البَيْن فإنَّ ما جرى من التبعيض أفسد تلك الليلة حتى كأنه لم يُقم في شيء منها عند الحرة وهذا يؤكده تمهيد عُذر الزوج فإنه كان يتمادى على موجب الشرع في تفضيل الحرة ثم كما بلغه أتلف

Di antara hal yang disebutkan para imam dalam masalah ini adalah bahwa jika pembebasan budak terjadi pada malam kedua, lalu suami ingin menceraikan istri merdeka pada sisa malam itu dan bermalam di rumah temannya, kemudian setelah itu ia ingin bermalam di rumah mantan budak pada malam berikutnya dan bergiliran kepada istri merdeka pada malam berikutnya, serta membagi giliran di antara keduanya seperti itu, maka menurut pendapat As-Saidalani, hal itu diperbolehkan baginya, dan malam yang telah berlalu tidak dihitung atasnya, karena malam itu telah terpotong dari pembagian giliran. Sebab, apa yang terjadi berupa pembagian sebagian malam telah merusak malam tersebut, sehingga seakan-akan ia tidak bermalam sedikit pun di rumah istri merdeka. Hal ini dikuatkan dengan adanya alasan bagi suami, karena sebelumnya ia tetap menjalankan ketentuan syariat dalam mengutamakan istri merdeka, lalu ketika ia mengetahui adanya perubahan, ia pun mengakhirinya.

وهذا الذي ذكره خارج عن القياس في وجوب رعاية النَّصَفة وتعيّن اعتبار التعديل وتنزيل العتيقة إذا طرأ عتقها على نوبة الحرة منزلة الحرة الحقيقية لا تدرؤه التخاييل فإذا كنا نقول إذا أكمل للحرة ليلتين يبيت عند العتيقة ليلتين فإذا بات عند الحرة ليلةً ونصفَ ليلة ثم أراد أن يبيت عند العتيقة ليلة فهذا قسْم على التفاضل وسنذكر مناقشاتٍ للأصحاب في أنصاف الليالي في المسائل التي ستأتي إن شاء الله عز وجل فالوجه القطع بأنه يُحسب عليه ما مضى من الليل

Apa yang disebutkan di sini keluar dari qiyās dalam kewajiban menjaga keadilan dan keharusan mempertimbangkan keadilan serta menempatkan budak perempuan yang dimerdekakan, jika kemerdekaannya terjadi, pada giliran istri merdeka seperti istri merdeka yang sebenarnya, tidak dapat dihalangi oleh anggapan-anggapan semata. Jika kita mengatakan bahwa setelah menyelesaikan dua malam untuk istri merdeka, maka ia bermalam di rumah budak perempuan yang telah dimerdekakan selama dua malam, lalu jika ia bermalam di rumah istri merdeka selama satu malam dan setengah malam, kemudian ingin bermalam di rumah budak perempuan yang telah dimerdekakan selama satu malam, maka ini adalah pembagian yang tidak seimbang. Kami akan menyebutkan perdebatan para ulama mengenai setengah malam dalam masalah-masalah yang akan datang, insya Allah. Maka yang benar adalah dipastikan bahwa waktu malam yang telah berlalu tetap dihitung atasnya.

فترتب من مجموع ما ذكرناه أن العتق إذا جرى في أثناء الليلة الأولى فلا بد من إكمالها ثم للزوج الخيار بين أن يدور بعد انقضائها إلى العتيقة ويبيت عندها ليلة فيردّ النوبة إلى ليلةٍ ليلة وبين أن يبيت عندها إلى تتمة الليلتين ثم يقيم مثلها عند العتيقة

Maka, dari keseluruhan penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa jika pembebasan budak terjadi di tengah malam pertama, maka malam itu harus disempurnakan terlebih dahulu. Setelah itu, suami memiliki pilihan antara kembali setelah malam tersebut kepada istri yang telah dimerdekakan dan bermalam di sisinya satu malam, lalu mengembalikan giliran menjadi satu malam-satu malam, atau tetap bermalam di sisinya hingga genap dua malam, kemudian tinggal dalam jangka waktu yang sama di sisi istri yang telah dimerdekakan.

وإن جرى العتقُ في أثناء الليلة الثانية على الشطر مثلاً فللزوج ثلاثة أحوال إحداها أن يتمها ثم يمكث عند العتيقة ليلتين والأخرى أن يدخل على العتيقة في نصف الليل ويقيم عندها ليلة ونصف ثم يرتب من النوبة ما يريد ويجتنب في وضع القَسْم تبعيضَ الليل في المستقبل كما سنصفه إن شاء الله عز وجل

Jika pembebasan budak terjadi di tengah malam kedua, misalnya pada separuh malam, maka suami memiliki tiga keadaan: pertama, ia menyempurnakan malam itu lalu bermalam di sisi istri yang telah dimerdekakan selama dua malam; kedua, ia masuk ke rumah istri yang telah dimerdekakan pada pertengahan malam dan tinggal bersamanya selama satu setengah malam, kemudian ia mengatur giliran berikutnya sesuai keinginannya; dan ia harus menghindari membagi malam pada pembagian giliran di masa mendatang, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والحالة الثالثة أن يخرجَ إلى صديق أو مسجد ويبيتَ فيهما قال الصيدلاني إن ما مضى من الليل لا يحسب عليه وقد أرى الأمر بخلاف ذلك وكل هذا فيه إذا كانت البداية بالحرة وقد عتقت الأمةُ في نوبة الحرة

Keadaan ketiga adalah jika ia pergi ke rumah seorang teman atau ke masjid dan bermalam di sana. Asy-Syidhlani berkata bahwa malam yang telah berlalu tidak dihitung baginya, namun aku berpendapat sebaliknya. Semua ini berlaku jika giliran dimulai dari istri merdeka, dan budak perempuan telah dimerdekakan pada giliran istri merdeka.

فأما إذا انقضت نوبة الحرة بكمالها ليلتين وانتهت النوبة إلى الأمة فعتقت في أثناء ليلتها فالعتق الطارىء على نوبتها يثبت لها كمالَ نوبة الحرة فيبيت عندها ليلتين وحكم الطارىء إذا كان يقتضي كَمَلاً أن يقتضيَه إذا جرى قبل استيفاء حظ العبودية ولذلك قلنا إذا عتق العبد وقد طلق امرأته طلقة واحدة فالعتق يُملّكه تتمة ثلاث طلقات

Adapun jika giliran istri merdeka telah selesai sepenuhnya, yaitu dua malam, lalu giliran berpindah kepada budak perempuan, kemudian ia dimerdekakan di tengah malam gilirannya, maka kemerdekaan yang terjadi pada gilirannya menetapkan baginya hak giliran penuh seperti istri merdeka, sehingga suami bermalam di sisinya selama dua malam. Hukum yang terjadi secara tiba-tiba (ṭāri’) jika menuntut kesempurnaan, maka ia juga menuntutnya apabila terjadi sebelum terpenuhinya hak perbudakan. Oleh karena itu, kami katakan: jika seorang budak laki-laki dimerdekakan sementara ia telah mentalak istrinya satu kali, maka kemerdekaan itu memberinya hak untuk menyempurnakan tiga kali talak.

وهذه الصورة التي ذكرناها في القسم أبعد عن اقتضاء مساواة الحرة من الصورة الأولى وذلك أن نوبتها دخلت وهي على الرق ثم ألحقناها بالحرة للعتق الطارىء وفي الصورة الأولى كملت الحرية فيها وتقدمت على أول نوبتها فوافاها أول النوبة وهي حرة فيها

Gambaran yang kami sebutkan dalam bagian ini lebih jauh dari tuntutan untuk menyamakan perempuan merdeka dengan perempuan budak dibandingkan gambaran pertama. Hal ini karena gilirannya masuk ketika ia masih berstatus budak, kemudian kami menyamakannya dengan perempuan merdeka karena adanya kemerdekaan yang datang kemudian. Sedangkan dalam gambaran pertama, kemerdekaannya telah sempurna dan mendahului awal gilirannya, sehingga awal giliran menemuinya dalam keadaan ia sudah merdeka.

وما ذكرناه لم نقصد به الفرقَ بينهما فإن الحكم في الصورتين واحد ولكن أردنا التنبيهَ على حقيقة الحال وترجح إحدى الحالتين من طريق المعنى على الأخرى

Apa yang telah kami sebutkan bukanlah bertujuan untuk membedakan antara keduanya, karena hukum dalam kedua situasi tersebut adalah sama, melainkan kami bermaksud untuk menunjukkan hakikat keadaan dan menguatkan salah satu dari dua keadaan tersebut dari segi makna atas yang lainnya.

ولو وفَّى الحرة نوبتها ليلتين ثم وفَّى الأمة نوبتَها ليلة ثم عاد إلى الحرة فعتقت الأمة فما مضى من النوبة في الرق لا التفات إليه ولا يتوقع فيه مستدرك فإنَّ العتقَ وقع بعد انقضاء تلك النوبة وإنما يفيد العتقُ إلحاقَ الأمة بالحرة إذا طرأ في نوبة الحرة أو في نوبة الأمة فإذا انقضت نوبتان على رقها ثم طرأ العتق في الثانية للحرة فالنوبتان الماضيتان لا سبيل إلى تعقبهما بالتغيير فإنا لو نقضناهما لتعقبنا نُوَباً وهذا يجرّ تغيير نُوَبَ الرق والحرية في سنين ولا سبيل إلى التزام ذلك نعم إذا طرأ العتق في النوبة الثانية للحرة فالعتيقة في هذه النوبة كالحرة

Jika seorang istri merdeka telah dipenuhi gilirannya selama dua malam, kemudian seorang budak perempuan dipenuhi gilirannya satu malam, lalu suami kembali kepada istri merdeka, kemudian budak perempuan itu dimerdekakan, maka giliran yang telah berlalu saat ia masih berstatus budak tidak diperhitungkan dan tidak bisa diulang. Sebab, kemerdekaan terjadi setelah giliran tersebut selesai. Kemerdekaan hanya bermanfaat dalam menyamakan status budak perempuan dengan istri merdeka jika kemerdekaan itu terjadi saat giliran istri merdeka atau saat giliran budak perempuan. Jika dua giliran telah berlalu saat ia masih budak, lalu kemerdekaan terjadi pada giliran kedua untuk istri merdeka, maka dua giliran yang telah berlalu tidak bisa diubah. Jika kita membatalkannya, berarti kita harus membatalkan giliran-giliran lain, dan ini akan menyebabkan perubahan giliran antara budak dan istri merdeka selama bertahun-tahun, dan hal itu tidak mungkin dilakukan. Namun, jika kemerdekaan terjadi pada giliran kedua untuk istri merdeka, maka budak yang telah dimerdekakan dalam giliran itu diperlakukan seperti istri merdeka.

وشبّه الفقهاء النوبةَ الأولى الماضيةَ في الرق أنها لا تعتبر بما إذا طلق العبد امرأته طلقتين ثم عتق وتحته زوجةٌ لم يطلقها فالتي بانت البينونة الكبرى قبل العتق باستيفاء عدد العبيد فيها لا تتغير وهي محرَّمة حتى تنكح زوجاً غيره والعتق يفيده في الزوجة التي لم يطلقها أو طلقها طلقة واحدة تمامَ العدد

Para fuqaha (ahli fiqh) mengibaratkan masa perbudakan yang telah lalu sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan dalam kasus apabila seorang budak menceraikan istrinya dengan dua talak, kemudian ia dimerdekakan dan masih memiliki seorang istri yang belum ia ceraikan. Maka, istri yang telah dicerai dengan talak bain kubra sebelum dimerdekakan—karena telah sempurna jumlah talak budak padanya—statusnya tidak berubah, dan ia tetap haram (untuk dinikahi kembali) sampai ia menikah dengan suami lain. Adapun kemerdekaan (dari status budak) memberikan manfaat bagi istri yang belum dicerai atau yang baru dicerai satu kali, yaitu dengan menyempurnakan jumlah talak.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت البداية بالحرة في أول النُّوَب

Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku jika permulaan giliran dimulai dari istri merdeka pada awal pembagian giliran.

فأما إذا وقعت البداية بالأَمة ووضْع القَسْم على أن يقسم لها ليلة وللحرة ليلتين فإذا فرضنا عتق الأمة فلا يخلو إما أن تعتِق في نوبة نفسها وإما أن تعتق في نوبة الحرة فإن عتقت في نوبة نفسها التحقت بالحرائر وللزوج الخيار إن شاء اقتصر على هذه الليلة ثم يقسم للحرة الأصلية ليلة واحدة أيضاًًً وإن أراد أن يبيت عند العتيقة ليلتين فلا معترَضَ عليه ويبيت عند الحرة الأصلية ليلتين

Adapun jika pada awalnya dimulai dengan istri budak dan pembagian giliran ditetapkan bahwa ia mendapat satu malam dan istri merdeka mendapat dua malam, lalu jika kita andaikan budak tersebut dimerdekakan, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: ia dimerdekakan pada gilirannya sendiri atau pada giliran istri merdeka. Jika ia dimerdekakan pada gilirannya sendiri, maka ia mengikuti status para istri merdeka, dan suami memiliki pilihan: jika ia mau, cukupkan pada malam itu saja, kemudian memberikan satu malam juga kepada istri merdeka yang asli. Namun jika ia ingin bermalam di rumah mantan budak yang telah merdeka selama dua malam, tidak ada yang dapat memprotesnya, dan ia juga bermalam di rumah istri merdeka yang asli selama dua malam.

والجملة في ذلك أن الأمة إذا أعتقت في نوبتها قدَّرنا كأنَّ الرقَ لم يكن وصورناها كالحرة الأصلية

Secara ringkas, dalam hal ini apabila seorang budak perempuan dimerdekakan pada gilirannya, maka kita menganggap seolah-olah perbudakan itu tidak pernah ada dan kita memperlakukannya seperti perempuan merdeka sejak awal.

فأمَّا إذا مضت نوبة الرقيقة على الرق وانتهت النوبة إلى الحرة فاُعتقت الأمة قال الأئمة المحققون يتعين على الزوج أن يوفيَ الحرةَ ضعفَ ما وفَّى الأمةَ فإن قال أوفّي الحرة ليلة والعتيقة بعدها ليلة وأردّ النوب إلى أفراد الليالي قلنا لا فإن شئت ذلك فلا معترض عليك في الاستقبال ولكن بعد توفية حق الحرة

Adapun jika giliran malam untuk budak perempuan telah berlalu dan giliran berikutnya jatuh pada istri yang merdeka, lalu budak perempuan itu dimerdekakan, para imam yang ahli berpendapat bahwa suami wajib memberikan kepada istri yang merdeka dua kali lipat dari apa yang telah diberikan kepada budak perempuan. Jika suami berkata, “Aku akan memberikan giliran malam kepada istri merdeka satu malam, lalu kepada bekas budak yang telah dimerdekakan satu malam, dan aku akan mengembalikan giliran malam menjadi satu-satu malam,” maka kami katakan, “Tidak boleh.” Namun, jika engkau menginginkan hal itu, maka tidak ada yang berhak memprotesmu untuk masa yang akan datang, tetapi setelah menunaikan hak istri yang merdeka terlebih dahulu.

وإذا استوفت الأمة ليلةً وانقضت نوبتها استقر في الذمة للحرة ضعفُ ما كان للأمة والليلة الواحدة في حق الأمة كالليلتين في حق الحرة فإذا وفَّى الحرة ليلتين فلو أراد بعد ذلك أن يرد القسْم إلى ليلة ليلة فليفعل ولا معترض

Jika seorang budak perempuan telah mendapatkan jatah satu malam dan masa gilirannya telah selesai, maka yang menjadi hak istri merdeka adalah dua kali lipat dari apa yang menjadi hak budak perempuan. Satu malam bagi budak perempuan setara dengan dua malam bagi istri merdeka. Jika suami telah memenuhi hak istri merdeka selama dua malam, maka setelah itu jika ia ingin mengembalikan pembagian giliran menjadi satu malam-satu malam, silakan saja dan tidak ada yang berhak memprotes.

وتحقيق ذلك أنه لو كانت تحت الزوج حرتان فكان يقسم ليلتين ليلتين فلو قسم لإحداهما ليلتين ثم لما انتهى إلى الثانية قال بدا لي أن أرد النوبة إلى ليلة ليلة قلنا له وفّ الثانية ليلتين فإذا انقضتا فافعل ما شئت فالليلة الماضية في حق الرقيقة كالليلتين في حق الحرة هذا تمام البيان

Penjelasannya adalah, jika seorang suami memiliki dua istri yang keduanya merdeka, maka ia membagi malam untuk keduanya masing-masing dua malam. Jika ia telah memberikan dua malam kepada salah satu dari keduanya, lalu ketika giliran yang kedua tiba ia berkata, “Saya ingin mengubah pembagian menjadi satu malam satu malam,” maka kami katakan kepadanya, “Sempurnakanlah dua malam untuk istri yang kedua, kemudian setelah selesai lakukanlah apa yang engkau kehendaki.” Maka satu malam bagi budak perempuan setara dengan dua malam bagi perempuan merdeka. Inilah penjelasan yang sempurna.

وقد رأيت هذه الصور مستقلةً بإفادة المقصود على أحسن نظام

Saya telah melihat bahwa bentuk-bentuk ini secara mandiri dapat memberikan manfaat yang dimaksud dengan susunan yang terbaik.

ومما نلحقه بما تمهد أن العتق إذا جرى في يوم الأمة كما لو جرى في ليلتها وكل امرأة لها ليلة أو ليال فلها مع كل ليلة يوم وذلك اليوم محسوب من نوبتها فإذا جرى العتق فيه كان كما لو جرى في ليلتها فإن اليوم من النوبة

Dan termasuk yang kami kaitkan dengan penjelasan sebelumnya adalah bahwa pembebasan budak (’itq) jika terjadi pada siang hari milik seorang istri budak perempuan, sebagaimana jika terjadi pada malam harinya. Setiap perempuan memiliki malam atau beberapa malam, maka bersama setiap malam ada siang hari, dan siang hari itu dihitung sebagai bagian dari gilirannya. Jika pembebasan budak terjadi pada siang hari tersebut, maka hukumnya seperti jika terjadi pada malam harinya, karena siang hari termasuk dalam giliran.

والعتق في بعض الأمة لا حكم له ما لم يتم وهذا كما أن العتق في بعض الأمة لا يثبت لها حق الفسخ إذا كان زوجها رقيقاً

Pembebasan sebagian dari seorang budak perempuan tidak memiliki konsekuensi hukum sampai pembebasan itu sempurna. Demikian pula, pembebasan sebagian dari seorang budak perempuan tidak memberikan hak fasakh (pembatalan nikah) baginya jika suaminya juga seorang budak.

ثم قال وللأمة أن تُحلّله من قَسْمها إلى آخره

Kemudian ia berkata, dan bagi seorang budak perempuan (ummu walad) boleh untuk membebaskannya dari bagian (jatah) giliran yang menjadi haknya hingga akhir.

سنذكر على الاتصال فصلاً في هبة المرأة حقها من القَسْم والذي يتصل بهذا المقام أن الأمة إذا أسقطت حقَّها من القَسْم فلا معتَرَض عليها

Kami akan menyebutkan secara berurutan satu bab tentang hibah seorang wanita atas haknya dalam pembagian (qasm), dan yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah bahwa apabila seorang budak wanita menggugurkan haknya dalam pembagian (qasm), maka tidak ada keberatan atasnya.

وليس للسيد بعد إسقاطها أن يطلب حقها فإنَّ ذلك من حقوقها الآيلة إلى جبلّتها وما كان كذلك فسبيله التفويض إليها وكذلك نقول إذا آلى الزوج عن زوجته الأمة فحق الطلب للأمة وكذلك إذا عنَّ عنها فالطلب على التفصيل المعلوم يثبت لها لا مدخل للسيد فيه

Dan tuan tidak berhak menuntut hak tersebut setelah ia melepaskannya, karena itu termasuk hak-haknya yang kembali kepada fitrahnya. Segala sesuatu yang demikian, urusannya diserahkan kepadanya. Demikian pula kami katakan, jika suami melakukan ila’ terhadap istrinya yang merupakan seorang budak perempuan, maka hak menuntut ada pada budak perempuan tersebut. Demikian pula jika suami melakukan zihar terhadapnya, maka hak menuntut—sesuai rincian yang telah diketahui—tetap menjadi haknya, dan tuan tidak memiliki andil di dalamnya.

فصل

Bab

المرأة إذا وهبت نوبتَها فذلك صحيحٌ منها على ما سنفصل القول فيه

Seorang wanita apabila memberikan gilirannya, maka hal itu sah darinya sebagaimana akan kami jelaskan secara rinci.

والأصل في ذلك مع اتفاق العلماء حديث سودة إذ وهبت نوبتها لعائشة

Dasar dalam hal ini, dengan kesepakatan para ulama, adalah hadis tentang Saudah ketika ia memberikan gilirannya kepada ‘Aisyah.

ثم قال الأئمة إذا وهبت المرأة نوبتَها فلهبتها ثلاثُ صيغ إحداها أن تُعيِّن لهبة نوبتها واحدةً من ضَرّاتها والأخرى أن تطلق الهبة ولا تعيِّن واحدةً والثالثة أن تقول وهبت نوبتي لك أيها الزوج فضعها حيث شئت وإن أردت فاقسمها على جميع ضراتي

Kemudian para imam berkata, jika seorang istri menghibahkan giliran malamnya, maka hibah tersebut memiliki tiga bentuk: pertama, ia menentukan hibah giliran malamnya kepada salah satu madunya; kedua, ia menghibahkan tanpa menentukan kepada siapa; dan ketiga, ia berkata, “Aku hibahkan giliran malamku kepadamu, wahai suami, maka letakkanlah di mana pun engkau kehendaki, dan jika engkau mau, bagikanlah kepada seluruh maduku.”

فأما الصيغة الأولى وهي إذا عينت واحدة من ضرائرها فأقل ما نذكره أن هذه الهبةَ شرطُها أن يساعِد الزوج عليها فلو أراد الزوج أن يقيم عند الواهبة كما كان يقيم عندها قبل الهبة فله ذلك فإنها تملك إسقاط حق نفسها فأما إسقاط حق مستمتَعٍ للزوج فمحال

Adapun bentuk pertama, yaitu apabila seorang istri menunjuk salah satu dari madunya, maka paling sedikit yang kami sebutkan adalah bahwa hibah ini syaratnya harus disetujui oleh suami. Jika suami ingin tetap tinggal di tempat istri yang memberi hibah sebagaimana sebelumnya sebelum hibah itu diberikan, maka ia berhak melakukannya, karena istri berhak menggugurkan haknya sendiri. Adapun menggugurkan hak suami untuk menikmati (istri) adalah hal yang mustahil.

وإذا لاح هذا هان أمر الهبة ورجع إلى أنه لو لم يبت عندها برضاها جاز

Jika hal ini telah jelas, maka urusan hibah menjadi ringan dan kembali kepada ketentuan bahwa jika ia tidak bermalam di sisinya dengan kerelaannya, maka hal itu diperbolehkan.

ولكن إذا عيَّنت واحدة من الضرات تعيَّن صرف الهبة إليها فلو قال الزوج أنت قد أسقطت نوبتك وأنا أصرفها إلى من أشاء قلنا له ليس هذا إليك

Namun, jika suami telah menentukan salah satu dari para istri, maka wajib memberikan hibah itu kepadanya. Maka jika suami berkata, “Engkau telah menggugurkan giliranmu dan aku akan memberikannya kepada siapa yang aku kehendaki,” kami katakan kepadanya, “Itu bukan hakmu.”

وهذا فيه إشكال يحتاج إلى أن يُجاب عنه وذلك أن تركها نوبتَها ليس حقاً يُبذل بل هو حق يترك وتعيين الموهوبة يشعر بمضاهاة الهبةِ الهباتِ التي تتعلق بما يجوز بذله والجواب إنها لم تعينها بهذا ولكنَّ ترْكها حقَّها هذا مشروط بهذا فكأنها رضيت بترك حقها على شرط أن يوضع في التي عَيَّنتها والدليل عليه أنَّا لا نشترط قبولَ الموهوب لها بل لو أبت فالزوج يبيت عندها على الرغم منها فهذا بيان هبتها من واحدة من ضراتها

Hal ini mengandung permasalahan yang membutuhkan jawaban, yaitu bahwa meninggalkan gilirannya bukanlah hak yang dapat diberikan, melainkan hak yang ditinggalkan. Penunjukan istri yang menerima hibah tersebut seolah-olah menyerupai hibah-hibah yang berkaitan dengan sesuatu yang boleh diberikan. Jawabannya adalah bahwa ia tidak menunjuk istri tersebut dengan maksud demikian, melainkan ia meninggalkan haknya itu dengan syarat hak tersebut diberikan kepada istri yang ia tunjuk. Bukti atas hal ini adalah bahwa kita tidak mensyaratkan persetujuan dari istri yang menerima hibah; bahkan jika ia menolak, suami tetap bermalam di sisinya meskipun ia tidak menghendakinya. Inilah penjelasan tentang hibah seorang istri kepada salah satu madunya.

ومما يتعلق بذلك أنها إذا وهبت فالهبة لا تلزم فمهما أرادت أن ترجع رجعت وهذا متفق عليه لأن هبتها لم تشتمل على عينٍ تحتوي عليها يد وإنما تركت حقاً يتجدد لها شيئاً فشيئاً

Terkait dengan hal itu, apabila ia memberikan hibah, maka hibah tersebut tidaklah mengikat, sehingga kapan pun ia ingin menarik kembali hibahnya, ia boleh melakukannya. Hal ini telah menjadi kesepakatan, karena hibahnya tidak mencakup suatu benda yang dapat dikuasai oleh tangan, melainkan ia hanya melepaskan hak yang terus-menerus muncul baginya sedikit demi sedikit.

ثم الذي أطبق عليه معظم المحققين أنها إذا رجعت فالهبة مستمرة إلى أن يبلغ خبرُ رجوعِها الزوجَ فلو مضت نُوبٌ و الزوج لم يشعر برجوعها فتلك النوب لا مستدرك لها ولذلك قالوا لو أباح رجلٌ لإنسان ثمار بستان أو غيرها مما يقبل الإباحة فكان المستبيح يتمادى على تعاطي ما أُبيح له فلو رجع المبيح ولم يبلغ رجوعُه من أبيح له فالإباحة دائمة قائمة في حقه

Kemudian, mayoritas para peneliti sepakat bahwa jika istri telah rujuk, maka hibah tetap berlaku sampai kabar rujuknya itu sampai kepada suami. Jika telah berlalu beberapa waktu dan suami belum mengetahui rujuknya istri, maka waktu-waktu tersebut tidak dapat diganti. Oleh karena itu, mereka mengatakan: jika seseorang membolehkan orang lain untuk memanfaatkan buah-buahan kebun atau hal lain yang dapat diizinkan, lalu orang yang diberi izin itu terus-menerus memanfaatkan apa yang telah diizinkan baginya, kemudian pemberi izin menarik kembali izinnya namun penarikan izin itu belum sampai kepada orang yang diizinkan, maka izin itu tetap berlaku baginya.

قال شيخي إذا رجعت المرأة ولم يشعر الزوج فالمسألة تخرج على القولين المعروفين في أن الموكِّل إذا عَزَلَ الوكيلَ ولم يبلغ العَزلُ الوكيلَ فهل ينعزل على قولين وهذا الذي ذكره جار على ظاهر القياس ولكن اشتراط بلوغ الخبر أغْوص وأفقه فإنَّ حقيقة القَسْم لا تؤول إلى حقٍّ مستحق يوفّى ويستأدى ولهذا قُلنا لو أعرض الزوج عن جميعهن فلا طَلِبة عليه لكنه إذا بات عند واحدة لزمه أن يبيت عند الباقيات فالغالب على القَسْم اجتناب ما يتداخلُهن من الغضاضة والأنفة بالتخصيص فإذا سمحت واحدة بإسقاط حقها فلا يتحقق من الزوج قصد التخصيص ما لم يبلغه خبرُ رجوعها وكل ما ذكرناه فيه إذا وهبت وعيّنت

Guru saya berkata: Jika seorang istri telah kembali (menuntut haknya) namun suami tidak mengetahuinya, maka permasalahan ini kembali kepada dua pendapat yang masyhur dalam hal apabila seorang muwakkil (pemberi kuasa) memecat wakilnya namun pemecatan itu belum sampai kepada sang wakil, apakah ia langsung terpecat atau tidak, terdapat dua pendapat. Apa yang disebutkan ini sesuai dengan zahir qiyās, namun mensyaratkan sampainya kabar (kepada suami) lebih dalam dan lebih sesuai dengan fiqh. Sebab, hakikat pembagian giliran (qasm) tidak bermakna sebagai hak yang benar-benar harus dipenuhi dan ditagih. Oleh karena itu, kami katakan: jika suami berpaling dari semua istrinya, maka tidak ada tuntutan atasnya. Namun, jika ia bermalam di rumah salah satu dari mereka, maka ia wajib bermalam juga di rumah yang lain. Pada umumnya, tujuan dari pembagian giliran adalah menghindari perasaan tidak enak dan tersinggung di antara para istri akibat adanya perlakuan khusus. Maka, jika salah satu istri rela melepaskan haknya, tidak dapat dikatakan bahwa suami telah bermaksud melakukan perlakuan khusus, kecuali setelah ia mengetahui bahwa istrinya telah menarik kembali kerelaannya. Semua yang kami sebutkan ini berlaku jika istri telah melepaskan haknya dan menyebutkan secara spesifik.

فأما إذا أطلقت الهبة ولم تخصص بها ضرة ولم تُضفها إلى مشيئة الزوج فإذا رضي الزوج بهذا كان حكم هبتها أن تخرج من حساب النُّوب وتنزل إذا وهبت منزلتَها لو بانت

Adapun jika hibah diberikan secara mutlak tanpa dikhususkan untuk madunya dan tanpa dikaitkan dengan kehendak suami, maka apabila suami ridha terhadap hal itu, hukum hibahnya adalah hibah tersebut dikeluarkan dari perhitungan giliran dan kedudukannya sama seperti jika ia telah dicerai.

فإذا كُنَّ أربعاً فوهبت واحدة نوبتها على الصيغة التي ذكرناها وكان الزوج يقسم بينهن ليلة ليلة أو كما يريد فترجع فائدة هبتها إلى سقوط مزاحمتها وسرعة العود إلى كل واحدة

Jika istri itu ada empat, lalu salah satu dari mereka menghibahkan gilirannya dengan cara yang telah kami sebutkan, dan suami membagi giliran di antara mereka satu malam satu malam atau sesuai keinginannya, maka manfaat dari hibah tersebut kembali pada hilangnya persaingan dan lebih cepatnya giliran kembali kepada masing-masing istri.

فأما الصيغة الثالثة في الهبة وهي إذا قالت للزوج وهبت نوبتي منك فضعها حيث تشاء وخَصِّصْ بها من تشاء فهذا مما اختلف فيه جواب الأئمة فالذي قطع به شيخي واشتمل عليه تعليقه أنَّ الهبة تقع على هذا النسق فالزوج بالخيار فإن شاء فض نوبتها عليهن كما لو أطلقت الهبة وإن شاء خصص واحدة منهن ووجه ذلك أن صاحبة الحق وهبت ذلك

Adapun bentuk ketiga dalam hibah, yaitu apabila seorang istri berkata kepada suaminya, “Aku hibahkan giliranku darimu, maka letakkanlah (giliran itu) kepada siapa pun yang engkau kehendaki dan khususkanlah untuk siapa pun yang engkau kehendaki,” maka mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para imam. Pendapat yang ditegaskan oleh guruku dan tercantum dalam catatannya adalah bahwa hibah itu sah dengan bentuk seperti ini. Maka suami memiliki pilihan: jika ia menghendaki, ia dapat membagi giliran istrinya kepada para istri yang lain sebagaimana jika hibah itu diberikan secara mutlak; dan jika ia menghendaki, ia dapat mengkhususkan kepada salah satu dari mereka. Alasannya adalah karena pemilik hak (istri) telah menghibahkan hak tersebut.

وقطع الصيدلاني جوابه نقلاً عن القفال بأنَّ الزوج لا يخصص واحدة منهن والهبة المنوطة بمشيئته بمثابة الهبة المطلقةِ أو المضافةِ إليهن

Dan ash-Shaydalani memutuskan jawabannya dengan menukil dari al-Qaffal bahwa suami tidak mengkhususkan salah satu dari mereka, dan hibah yang dikaitkan dengan kehendaknya itu sama kedudukannya dengan hibah mutlak atau yang disandarkan kepada mereka.

وهذا الذي ذكره فقيهٌ حَسن وذلك لأنها إذا أسقطت حقها فالزوج لا يستفيد منها حقاً وإنما هي تركت ما لها فصار كأنها لم تكن والحق الحقيقي للزوج وليس لآحاد النسوة إلاَّ ما أشرنا إليه من حق التسوية فإذا أخرجت نفسها من البَيْن صار كأنها لم تكن واستعمل الصيدلاني في ذلك عبارة حسنةً واقعة وذلك أنه قال ليس له أن يقول أجعل هذه الليلة لواحدة فأبيت عندها ليلتين إذ ليس للزوج أن يعد نفسه كإحداهن فيثبت له ليلة من الهبة وحقيقة هذا أنَّ الحق له والتخصيص للنسوة

Apa yang disebutkan oleh seorang ahli fikih ini adalah pendapat yang baik, karena jika seorang istri melepaskan haknya, suami tidak mendapatkan hak apapun darinya, melainkan ia hanya meninggalkan hak yang dimilikinya sehingga seolah-olah ia tidak pernah ada. Hak yang sebenarnya adalah milik suami, dan masing-masing istri tidak memiliki hak kecuali yang telah kami sebutkan berupa hak atas keadilan (taswiyah). Jika ia mengeluarkan dirinya dari perhitungan, maka seolah-olah ia tidak pernah ada. Al-Shaydalani menggunakan ungkapan yang baik dalam hal ini, yaitu ia berkata: “Suami tidak boleh berkata, ‘Aku jadikan malam ini untuk salah satu istri lalu aku bermalam di sisinya selama dua malam,’ karena suami tidak boleh menganggap dirinya seperti salah satu dari mereka sehingga ia mendapatkan satu malam dari hibah tersebut. Hakikatnya, hak itu milik suami dan pembagian khusus untuk para istri.”

ووجه ما ذكره شيخي أنها لو قيَّدت هبتها بتعيين ضرتها تقيدت على تأويل أن هبتها مقيدة بصيغة فتثبت على مقتضاها كذلك إذا وهبت على شرط تخير الزوج فلتتقيَّد هبتُها بمقتضى لفظها

Penjelasan dari guruku adalah bahwa jika seorang istri membatasi hibahnya dengan menentukan istri madunya, maka hibah tersebut menjadi terbatas berdasarkan penafsiran bahwa hibahnya memang dibatasi dengan suatu lafaz, sehingga berlaku sesuai ketentuannya. Demikian pula jika ia memberikan hibah dengan syarat suami memilih, maka hibahnya harus dibatasi sesuai dengan makna lafaznya.

وللصيدلاني أن يقول إذا ارتفع الحجر عن الزوج فوَضْعُه النوبةَ فيمن يختارها ميل وهذا هو المحذور في شَرعْ أصل القسم وإذا خصصت الواهبة واحدةً فلا ميل من الزوج

Seorang apoteker dapat mengatakan bahwa jika batu diangkat dari suami, maka meletakkannya kembali pada giliran kepada siapa pun yang ia pilih adalah suatu kecenderungan, dan inilah yang dikhawatirkan dalam syariat asal pembagian. Namun, jika wanita yang menghibahkan (giliran) itu mengkhususkan hanya satu orang, maka tidak ada kecenderungan dari suami.

ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أن الواهبة لو خصصت واحدة من ضراتها واختصت وكنا رتبنا نُوَبَهن بالقرعة فإن كانت نوبة الواهبة إلى جنب نوبة الموهوبة فالأمر قريب فيجمع الزوج للموهوبةِ نوبتَها ونوبةَ الواهبة

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam masalah ini adalah jika seorang istri yang melepaskan gilirannya (al-wāhibah) mengkhususkan salah satu dari madunya dan memberikan hak giliran itu kepadanya, sementara giliran mereka telah diatur dengan undian, maka jika giliran al-wāhibah berdekatan dengan giliran istri yang menerima (al-mawhūbah), maka perkaranya mudah: suami dapat mengumpulkan untuk istri yang menerima itu giliran miliknya dan giliran al-wāhibah.

وإن كانت نوبة الواهبة منفصلة عن نوبة الموهوبة بليلة أو ليلتين فإذا وهبت فقد ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنه يأتي في حق الموهوبة بالليلتين وِلاءً فإنها إذا كانت تستحق ليلتين فلا معنى لتفريقهما عليه والوجه الثاني أنه يأتي بالليلتين على ما يقتضيه ترتيب نوبة الواهبة والموهوبة حتى إن كانت نوبة الموهوبة في أول النوب فيوفيها نوبتها ثم يوفي التي لم تهب حتى ينتهي إلى نوبة التي وُهبت فيعود ويبيت عند الموهوبة تلك الليلة

Jika giliran istri yang menghibahkan (malamnya) terpisah dari giliran istri yang dihibahi satu atau dua malam, maka apabila ia telah menghibahkan, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat. Pertama, suami mendatangi istri yang dihibahi selama dua malam berturut-turut, karena jika ia memang berhak atas dua malam, maka tidak ada alasan untuk memisahkan keduanya. Pendapat kedua, suami mendatangi istri yang dihibahi sesuai urutan giliran antara istri yang menghibahkan dan yang dihibahi. Sehingga, jika giliran istri yang dihibahi berada di awal urutan, maka suami menunaikan gilirannya terlebih dahulu, lalu menunaikan giliran istri yang tidak menghibahkan, hingga akhirnya sampai pada giliran istri yang menghibahkan, lalu kembali dan bermalam di sisi istri yang dihibahi pada malam itu.

ومما ذكره الشافعي في آخر هذا الفصل أن الاعتياض عن حق القسم غير جائز والأمر على ما ذكره ولا يجوز الاعتياض عن أمثال هذه الحقوق فإنها في التحقيق تخصيصاتٌ تتعلق بالأَنَفةِ وطلبِ التسوية ولا مسوِّغ للاعتياض عما هذا سبيله وإذا منعنا الشفيع عن الاعتياض عن حقه من الشفعة فلأن نمنع هاهنا من الاعتياض عن حق القَسْم أولى

Dan di antara yang disebutkan oleh Imam Syafi‘i di akhir bab ini adalah bahwa mengambil ganti atas hak giliran tidak diperbolehkan, dan memang demikianlah keadaannya; tidak boleh mengambil ganti atas hak-hak semacam ini, karena pada hakikatnya hak-hak tersebut merupakan pengecualian yang berkaitan dengan harga diri dan tuntutan keadilan, dan tidak ada alasan yang membolehkan untuk mengambil ganti atas sesuatu yang seperti ini. Jika kita melarang orang yang memiliki hak syuf‘ah untuk mengambil ganti atas haknya dalam syuf‘ah, maka melarang di sini untuk mengambil ganti atas hak giliran tentu lebih utama.

فصل قال ولا يجامع المرأة في غير نوبتها إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Dan tidak boleh menggauli istri di luar gilirannya,” hingga akhir.

الفصل يشتمل على مقصودين أحدهما يتعلق بتحصيل قولنا عماد القَسْم الليل والثاني يتعلق بذكر ما لو جامع في نوبة إحداهن الأخرى

Bab ini mencakup dua tujuan: yang pertama berkaitan dengan penjelasan pernyataan kami bahwa dasar pembagian adalah malam hari, dan yang kedua berkaitan dengan pembahasan tentang seseorang yang berhubungan suami istri dengan istri yang lain pada giliran salah satu dari mereka.

فأما المقصود الأول فقد اشتهر من قول علمائنا أن عماد القسم الليل وهو السكن وعليه التعويل والنهار التابع لليل يتعلق به حقُّ القَسْم أيضاًًً ولكن لا يتأكد الحقُّ في النهار تأكده في الليل ونحن نستعين بالله عز وجل ونبين حقيقة ذلك

Adapun maksud pertama, telah masyhur dalam perkataan para ulama kita bahwa pokok dari pembagian (waktu) adalah malam, karena malam adalah waktu untuk beristirahat, dan padanya diletakkan dasar utama. Adapun siang yang mengikuti malam juga terkait dengan hak pembagian, namun hak tersebut pada siang hari tidak sekuat hak pada malam hari. Kami memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan akan menjelaskan hakikat hal tersebut.

فأما الليل فليس للزوج أن يخرج من دار واحدة ويدخل على أخرى فلو مرضت امرأةٌ ولم تثقل فأراد أن يدخل عليها عائداً فكيف السبيل وما الوجه أولاً ليس له الدخول على واحدة منهن من غير سبب فلو فعل باء بالإثم وكان ظالماً ثم إن كان الزمان الذي خرج فيه بحيث يُحَسّ ويبين له قدرٌ من الليل فعليه أن يقضيه لصاحبة النوبة

Adapun pada malam hari, suami tidak boleh keluar dari satu rumah dan masuk ke rumah istri yang lain. Jika salah satu istrinya sakit namun tidak parah, lalu ia ingin menjenguknya, bagaimana caranya dan apa yang seharusnya dilakukan? Pertama, ia tidak boleh masuk ke rumah salah satu dari mereka tanpa alasan. Jika ia melakukannya, maka ia berdosa dan berlaku zalim. Kemudian, jika waktu yang ia gunakan untuk keluar itu dapat dirasakan dan jelas jumlahnya pada malam hari, maka ia wajib menggantinya untuk istri yang seharusnya mendapat giliran.

وفي كلام من نقل عن القاضي أنه لو بلغ ثلثاً من الليل قضى وهذا ليس بشيء وإذا كنا نوبّخ خصومنا بالتحكم بالتقدير فلا ينبغي أن نبوء بمثل ما ننكره فالأصل عندي أن يكون مقدار المفارقة بحيث لو نسب إلى الليلة لأمكن أن يقال جُزءٌ منها وإن كان في قفته بحيث لا يُدرك جزئيتهُ من الليل فليس في هذا المقدار إلاَّ التأثيم

Dalam penuturan orang yang meriwayatkan dari al-Qadhi disebutkan bahwa jika telah berlalu sepertiga malam maka wajib mengqadha, namun pendapat ini tidaklah benar. Jika kita mencela lawan-lawan kita karena bersikap sewenang-wenang dalam menentukan takaran, maka tidak sepantasnya kita melakukan hal yang sama dengan apa yang kita ingkari. Menurut saya, prinsip dasarnya adalah bahwa kadar perpisahan itu harus sedemikian rupa sehingga jika dinisbatkan kepada malam hari, masih mungkin dikatakan sebagai bagian darinya. Namun, jika perpisahan itu sangat singkat sehingga tidak dapat dianggap sebagai bagian dari malam, maka dalam kadar seperti itu tidak ada selain dosa.

ويحتمل على بُعد أن يقال يقضي لصاحبة الليلة مثلَ تلك الخرجة وإن قل زمانُها حتى إذا انتهت النوبة إلى التي كان دخل عليها فيخرج من عندها ويدخل على صاحبة النوبة الأولى

Dan dimungkinkan, meskipun agak jauh, untuk dikatakan bahwa istri yang mendapat giliran malam juga berhak atas waktu keluar seperti itu, meskipun waktunya singkat, sehingga ketika giliran sampai pada istri yang sebelumnya didatangi, maka suami keluar dari rumah istri tersebut dan masuk ke rumah istri yang mendapat giliran pertama.

هذا بيان القول فيه إذا دخل في نوبة واحدة على ضرتها من غير عذر

Ini adalah penjelasan tentang hukum apabila seorang suami masuk ke kamar istri yang lain pada giliran salah satu istrinya tanpa uzur.

فإن مرضت له امرأةٌ وأشرفت على خوف الهلاك فيجوز للزوج الانتقال إليها بالكلية للتمريض حتى إذا بَرَأَت قضت من نوبتها بعد الاستبلال للواتي لم يدخل عليهن كما سيأتي ذلك في فصل مفرد إن شاء الله عز وجل

Jika seorang istri sakit dan hampir berada dalam keadaan yang dikhawatirkan akan binasa, maka suami boleh berpindah sepenuhnya kepadanya untuk merawatnya, hingga apabila ia telah sembuh, ia mengganti giliran yang terlewatkan kepada istri-istri lain yang belum didatangi, sebagaimana hal ini akan dijelaskan pada bab tersendiri, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فأما إذا مرضت واحدة ولم يتحقق انتهاؤها إلى الخوف فالذي ذكره القاضي وطوائف من المحققين أن له أن يخرج إليها عائداً قال صاحب التقريب المذهب أنه لا يخرج إليها عائداً إذا لم تَنته إلى الخوف والثقل

Adapun jika salah satu dari mereka sakit dan belum dipastikan bahwa sakitnya mencapai tingkat khawatir (khauf), maka menurut pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi dan sekelompok ulama muhaqqiqin, suami boleh menjenguknya. Namun, menurut penulis kitab at-Taqrib, mazhabnya adalah suami tidak boleh menjenguk istrinya jika sakitnya belum mencapai tingkat khawatir (khauf) dan berat.

وذكر بعض الأصحاب قولاً أن له أن يخرج إليها عائداً ثم قال وهذا غلط والمذهب أنه لا يجوز له الخروج هكذا ذكر صاحب التقريب والذي رآه صاحب التقريب غلطاً أفتى به طوائفُ من أئمتنا

Sebagian ulama menyebutkan satu pendapat bahwa ia boleh keluar menengoknya sebagai orang yang menjenguk, kemudian dikatakan bahwa ini adalah kesalahan, dan madzhab yang benar adalah bahwa tidak boleh baginya keluar seperti itu, sebagaimana disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb. Namun, pendapat yang dianggap salah oleh penulis at-Taqrīb ini justru difatwakan oleh sejumlah kelompok dari para imam kami.

ثم إن خرج عائداً ومكث زماناً يُحسّ وجب القضاء فيه وإن كان لا يحسّ فعلى الترتيب المقدم

Kemudian, jika ia sadar kembali dan tinggal selama waktu yang memungkinkan untuk merasakan (kesadaran), maka wajib baginya mengqadha (puasa) pada waktu itu. Namun, jika ia tidak merasakan (kesadaran), maka berlaku ketentuan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

والذي عندي أن المرض الذي أطلقوه لا بد فيه من ضبط أيضاًًً فلا يجوز الخروج بكل ما يسمى مرضاً ولعل الضبط في ذلك أن يكون المرض بحيث يجوز أن يقدّر مخوفاً ودخوله عليها ليتبين حتى يكون مبيته على فراغ

Menurut pendapat saya, penyakit yang mereka sebutkan itu juga harus ada batasannya, sehingga tidak boleh keluar dengan alasan setiap hal yang dinamakan penyakit. Barangkali batasannya adalah penyakit tersebut harus sedemikian rupa sehingga dapat diperkirakan membahayakan, dan ia masuk ke tempatnya untuk memastikan, sehingga ia bermalam dalam keadaan lega.

وكل ما ذكرناه في الليل وفيه بقية ينعطف عليها كلامنا في النهار

Segala sesuatu yang telah kami sebutkan pada malam hari dan masih tersisa, maka pembahasan kami juga berlaku padanya di siang hari.

فنقول لا يتحتم على الرجل أن يلازم زوجته في نوبتها نهاراً فإنَّا لو ألزمناه ذلك لانقطع عن مكاسبه فله أن ينتشر في بياض نهاره كما أشعر نصُّ القرآن بذلك فقال عز من قائل وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ فرجع قوله لِتَسْكُنُوا فِيهِ إلى الليل وقوله وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إلى النهار

Maka kami katakan, tidak wajib bagi seorang laki-laki untuk selalu menemani istrinya pada gilirannya di siang hari. Sebab, jika kami mewajibkannya demikian, ia akan terputus dari pekerjaannya. Maka ia boleh keluar pada siang harinya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah Yang Maha Mulia: “Dan di antara rahmat-Nya, Dia menjadikan untuk kalian malam dan siang agar kalian beristirahat padanya dan agar kalian mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kalian bersyukur.” Maka firman-Nya “agar kalian beristirahat padanya” kembali kepada malam, dan firman-Nya “agar kalian mencari sebagian karunia-Nya” kembali kepada siang hari.

ثم يتعلق بالنهار نوعان من الكلام أحدهما أن الزوج لو كان يخرج في نهارِ واحدةٍ وينتشر وكان يلازم الأخرى في نهارها فكيف الكلام فيه

Kemudian, berkaitan dengan siang hari terdapat dua jenis pembahasan. Pertama, jika seorang suami keluar pada siang hari salah satu istrinya dan pergi ke luar, sementara ia tetap tinggal bersama istri yang lain pada siang harinya, bagaimana pembahasan mengenai hal ini?

فإن كان هذا عن اتفاق شغل فلا مضايقة وإن كان عن قصد فهذا محتمل ما يدل عليه ظاهر كلام الأئمة أن ذلك غير ممتنع وفيه احتمال ظاهر مأخوذ من كلامهم أيضاًًً ووجه الاحتمال أن مدار القَسْم على ترك التخصيص واجتناب إظهار الميل وهذا إذا تكرر في النهار ميلٌ ظاهر إذا لم يكن شغلٌ محمول على الوفاق ووجه الجواز حسم الباب عن الرجال إذا أرادوا الانتشار بها

Jika hal ini terjadi karena kesibukan yang disepakati, maka tidak mengapa. Namun jika terjadi karena sengaja, maka hal ini mengandung kemungkinan sebagaimana yang ditunjukkan oleh zahir perkataan para imam, bahwa hal itu tidak mustahil. Di dalamnya juga terdapat kemungkinan yang jelas yang diambil dari perkataan mereka. Adapun alasan kemungkinan tersebut adalah bahwa dasar pembagian (qasm) adalah meninggalkan tindakan khusus (takhshish) dan menghindari menampakkan kecenderungan (mayl). Hal ini terjadi jika dalam sehari berulang kali tampak kecenderungan yang jelas, selama tidak ada kesibukan yang dapat dimaklumi karena adanya kesepakatan. Adapun alasan kebolehan adalah untuk menutup pintu bagi para lelaki jika mereka ingin keluar bersamanya.

وهذا فصل

Ini adalah sebuah bagian.

والثاني دخوله على التي ليست النوبة لها أجمع الأصحاب على أنه لا يجوز له أن يدخل في نوبة واحدة على الأخرى ويجامعَها هذا لا سبيل إليه فإنه منتهى المقصود وفيه الميل الأظهر وإبطالُ الاختصاص بحق النهار بالكلية

Kedua, masuknya (suami) kepada istri yang bukan gilirannya, seluruh ulama sepakat bahwa tidak boleh baginya masuk pada satu giliran kepada istri yang lain dan menggaulinya; hal ini tidak diperbolehkan karena merupakan puncak tujuan (giliran) dan di dalamnya terdapat kecenderungan yang nyata serta meniadakan hak khusus siang hari secara keseluruhan.

وهل له أن يدخل في نهار واحدة على الأخرى من غير جماع أم هل يُرعى في ذلك عذرٌ اضطربت طرق الأئمة ففي كلام العراقيين ما يدل على جواز الدخول إذا لم يكن وقاع وهذا مضطرب لا ضبط فيه ويلزم منه أن يجوز له الكَوْن عند التي لا نوبة لها في معظم النهار أو في جميع النهار وهذا بعيد

Apakah suami boleh masuk ke rumah istri yang lain pada siang hari tanpa melakukan hubungan suami istri, ataukah ada uzur yang harus diperhatikan dalam hal ini? Pendapat para imam berbeda-beda. Dalam pendapat ulama Irak terdapat indikasi bolehnya masuk jika tidak terjadi hubungan badan, namun pendapat ini tidak jelas dan tidak ada ketentuan pastinya. Konsekuensinya, suami boleh berada di rumah istri yang bukan gilirannya hampir sepanjang siang atau bahkan sepanjang hari, dan ini adalah hal yang jauh dari kebenaran.

وقال قائلون لا يدخل عليها إلا لحاجةٍ ومهمٍّ وبان من كلام هؤلاء أن الدخول ليلاً للمرض لا غير والدخول نهاراً لا يجوز من غير حاجة ويجوز عند ظهور حاجة وإن لم يكن مرض ولفظ الشافعي في السواد يدل عليه فإنه قال ولا بأس أن يدخل عليها بالنهار في حاجةٍ ويعودَها في مرضها في ليلة غيرها وفي كلام صاحب التقريب ما يدل على تنزيل النهار منزلة الليل والطرق محتملة وأبعدها رفع الحجر

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak boleh masuk menemuinya kecuali karena kebutuhan dan urusan penting. Dari perkataan mereka, dapat dipahami bahwa masuk pada malam hari hanya diperbolehkan jika ada penyakit, sedangkan masuk pada siang hari tidak diperbolehkan kecuali ada kebutuhan. Namun, diperbolehkan jika tampak adanya kebutuhan, meskipun bukan karena sakit. Lafal Imam Syafi‘i dalam kitab “As-Sawad” menunjukkan hal itu, karena beliau berkata: “Tidak mengapa masuk menemuinya pada siang hari karena kebutuhan, dan menjenguknya ketika sakit pada malam hari selain malam gilirannya.” Dalam perkataan penulis kitab “At-Taqrib” terdapat indikasi bahwa siang hari diposisikan seperti malam hari. Pendapat-pendapat ini masih mungkin dipahami secara berbeda, dan yang paling jauh adalah pendapat yang membolehkan secara mutlak.

والذي أراه مقطوعاً به أنه كما يحرم الجماع في نهار الليل يحرم الدخول فيه على وجهٍ يغلبُ فيه جريان الجماع فإن الذي يداخل صاحبةَ النوبة من ظهور جريان الجماع يداني جريانَه والكلام في مثل هذا ينتشر وأقصى الإمكان في الضبط ما ذكرناه

Menurut pendapat yang saya yakini secara pasti, sebagaimana diharamkan melakukan jima‘ pada siang hari di bulan Ramadan, maka diharamkan pula masuk (berkhalwat) dengan cara yang sangat mungkin terjadinya jima‘. Sebab, orang yang masuk menemui istrinya pada waktu gilirannya dengan kemungkinan besar terjadinya jima‘, maka hal itu hampir sama dengan terjadinya jima‘ itu sendiri. Pembahasan dalam masalah seperti ini bisa meluas, dan batas maksimal dalam penetapan hukum adalah sebagaimana yang telah saya sebutkan.

وقد بقي من الفصل المقصودُ الثاني وهو الكلام فيه إذا جامع واحدة في ليلة غيرها وقد ذكر العراقيون في ذلك ثلاثة أوجه أحدها أنه إذا جامع في ليلةٍ غيرَ صاحبة النوبة فقد أفسد الليلةَ فعليه أن يقضيَ لها ليلة فإنَّا وإن كنَّا لا نوجب التسويةَ بين النساء في الجماع ونقول هو موضع تلذذ لا إجبارَ عليه فمن الأصول بناء الأمر على إمكان الوقاع وتزجية كل واحدة نوبتها بذلك فإذا جرى جماعٌ والغالب أن الليلة الواحدة لا تحتمل أكثرَ من وطأة واحدة ففي هذا إفسادُ الليلة عليها فعلى هذا وإن عاد إليها وبات عندها فلا حكم لهذه البيتوتة

Masih tersisa dari pembahasan ini maksud kedua, yaitu pembahasan tentang jika seorang suami menggauli salah satu istrinya pada malam giliran istri yang lain. Ulama Irak menyebutkan dalam hal ini ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa jika seorang suami menggauli istrinya pada malam giliran istri yang lain, maka ia telah merusak malam tersebut, sehingga ia wajib mengganti malam itu untuk istri yang haknya dilanggar. Meskipun kita tidak mewajibkan kesetaraan antara para istri dalam hal jima‘ dan mengatakan bahwa itu adalah urusan kenikmatan yang tidak ada paksaan di dalamnya, namun secara prinsip, pembagian malam didasarkan pada kemungkinan terjadinya hubungan suami istri dan setiap istri mendapatkan gilirannya untuk itu. Jika terjadi jima‘—dan umumnya satu malam tidak memungkinkan lebih dari satu kali hubungan—maka hal itu dianggap telah merusak malam giliran istri yang seharusnya. Oleh karena itu, meskipun suami kembali kepada istri yang haknya dilanggar dan bermalam di sisinya, maka bermalam tersebut tidak dianggap sebagai pengganti.

والوجه الثاني أنه عصى بما فعل ولكن لا يلزمه قضاءُ الليلة إذا لم يتفق مكثٌ في زمان محسوس كما تفصّل من قبل وهذا متّجه إذا ثبت أنه غير مطالَبٌ بالوطء

Pendapat kedua adalah bahwa ia berdosa atas perbuatannya, namun tidak wajib mengganti malam tersebut jika tidak terjadi tinggal dalam waktu yang jelas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pendapat ini dapat diterima jika memang terbukti bahwa ia tidak diwajibkan melakukan hubungan suami istri.

والوجه الثالث أنه إذا وطىء في ليلتها غيرَها من النساء فيلزمه أن يصيب المظلومةَ في ليلة تلك التي وطئها في هذه النوبة وهذا طريق استدراك هذا النوع من الظلم وهذا القائل يُلزمه الوطءَ وهو بعيد عن قاعدة المذهب وكل ما ذكرناه فيه إذا جرى الوطء ليلاً

Dan alasan yang ketiga adalah bahwa jika seorang suami menggauli perempuan lain pada malam giliran istrinya, maka ia wajib menggauli istri yang terzalimi itu pada malam giliran perempuan yang telah digaulinya dalam jatah tersebut. Inilah cara untuk menebus jenis kezaliman ini. Pendapat ini mewajibkan suami untuk melakukan hubungan badan, dan hal ini jauh dari kaidah mazhab. Semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika hubungan badan itu terjadi pada malam hari.

فأما إذا وطىء واحدةً في نهار الأخرى فقد ذكرنا أنه كان ممنوعاً عن ذلك وإقدامه عليه مُحرم فإن قلنا الوطء في الليل لا أثر له فلا أثر له في النهار أيضاًًً وإن قلنا الوطء في الليل يفسده أو يجب تداركه بالوطء في نوبة الموطوءة فماذا نقول في الوطء نهارً هذا فيه احتمال ظاهر يجوز أن يكون النهار كالليل ويجوز أن نقطع في النهار بالاقتصار على التعصية

Adapun jika seseorang menggauli salah satu istrinya pada siang hari giliran istri yang lain, maka telah kami sebutkan bahwa hal itu dilarang baginya dan melakukannya adalah haram. Jika kita berpendapat bahwa hubungan suami istri di malam hari tidak berpengaruh, maka di siang hari pun tidak berpengaruh. Namun jika kita berpendapat bahwa hubungan suami istri di malam hari membatalkan (giliran) atau harus diperbaiki dengan menggauli istri yang seharusnya mendapat giliran, lalu bagaimana pendapat kita tentang hubungan suami istri di siang hari? Dalam hal ini terdapat kemungkinan yang jelas: boleh jadi siang hari sama dengan malam hari, dan boleh jadi kita menetapkan bahwa di siang hari cukup dianggap sebagai maksiat saja.

فصل قال وإن أراد أن يقسم ليلتين ليلتين أو ثلاثاً ثلاثاً إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Jika seseorang ingin membagi (giliran) dua malam-dua malam, atau tiga malam-tiga malam, dan seterusnya.”

أقل نوب القسم ليلة فلو أراد أن يقسمَ الليلةَ في وضع القسم لم يكن له ذلك فإنَّ الاستئناس المطلوب ينبتر ويفسد نظامه بتبعيض الليلة ولو أراد أن يقسم ليلة ليلة فله ذلك وكذلك لو أراد أن يقسم ليلتين ليلتين أو ثلاثاً ثلاثاً فلا معترض عليه في اختيار مقدارٍ من هذه المقادير

Bagian terkecil dari pembagian giliran adalah satu malam. Jika seseorang ingin membagi malam dalam pelaksanaan pembagian giliran, maka itu tidak diperbolehkan, karena keakraban yang diharapkan akan terputus dan tatanannya menjadi rusak dengan membagi malam. Namun, jika seseorang ingin membagi satu malam-satu malam, maka itu diperbolehkan baginya. Demikian pula, jika ia ingin membagi dua malam-dua malam atau tiga malam-tiga malam, maka tidak ada yang berhak memprotesnya dalam memilih jumlah malam dari kadar-kadar tersebut.

وإن أراد أن يزيد النوبة على الثلاث ففي المسألة وجهان أحدهما أنه لا يجوز إذ لا موقف بعد المجاوزة والثلاث على حالٍ مدةٌ معتبرة في الشريعة في أصولٍ ثم إذا لم نجد موقفاً وراء الثلاث فربما نجعل النوبة ستة أو أكثر منها وهذا يؤدي إلى مهاجَرةٍ في حق اللواتي تتأخر نُوبهن ثم يترتب عليها انتساج وحشة بين الزوج وبين المتخلفات وإلى تأكد ألفة تنتهي إلى المِقَة فيحصل من السرف في الازدياد مقتٌ ومِقَة وقطعهما جميعاً عسر

Jika seseorang ingin menambah giliran lebih dari tiga kali, dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa hal itu tidak diperbolehkan, karena tidak ada batasan setelah melewati tiga kali, dan tiga kali itu sendiri merupakan jangka waktu yang diakui dalam syariat pada beberapa pokok hukum. Kemudian, jika kita tidak menemukan batasan setelah tiga kali, mungkin saja kita menjadikan giliran itu enam kali atau lebih, dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan bagi istri-istri yang gilirannya tertunda. Selanjutnya, hal ini akan menimbulkan jarak dan ketidakakraban antara suami dan istri-istri yang tertinggal, serta memperkuat keakraban yang berlebihan hingga berujung pada kebencian. Maka, dari sikap berlebihan dalam menambah giliran itu akan timbul kebencian dan permusuhan, dan memutuskan keduanya sekaligus adalah hal yang sulit.

فإن قلنا لا تجوز الزيادة على الثلاث فلا كلام وإن جوزنا الزيادة ففي المسألة وجهان ذكرهما صاحب التقريب أحدهما أنا لا نقف في موقف والثاني أنا لا نتجاوز السبع فإنه منتهى مدة روعيت في هذا الفن لأن للبكر سبع ليال في حق العقد فاتخذناه معتبراً

Jika kita mengatakan bahwa tidak boleh melebihi tiga kali, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita membolehkan penambahan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb. Pertama, kita tidak berhenti pada satu jumlah tertentu. Kedua, kita tidak melebihi tujuh kali, karena itu adalah batas akhir waktu yang diperhatikan dalam bidang ini, sebab bagi perempuan yang masih gadis terdapat tujuh malam dalam kaitannya dengan akad, maka hal itu dijadikan sebagai pertimbangan.

وعندنا أنَّ رفعَ الضبط وتفويضَ الأمر في أقدار النُّوب إلى الزوج لا يجوز أن يكون معدوداً من المذهب إلاَّ على وجهٍ وهو أن تُرتّب النوب بالقرعة على ما سنصفه فيجوز أن نتخيل على بُعدٍ أن المدة وإن طالت إذا كان المحكَّمُ القرعةَ فمن تخرج لها تقع البدايةُ بها فلا ينتسب الزوج إلى التهمة في الميل والإيثار

Menurut kami, penghapusan aturan yang jelas dan penyerahan sepenuhnya urusan pembagian giliran kepada suami tidak dapat dianggap sebagai bagian dari mazhab, kecuali dalam satu kondisi, yaitu jika pembagian giliran diatur dengan undian (qur‘ah) sebagaimana akan kami jelaskan. Maka, dapat dibayangkan, meskipun waktunya lama, jika yang dijadikan penentu adalah undian, maka siapa pun yang namanya keluar, dialah yang mendapat giliran pertama. Dengan demikian, suami tidak dapat dituduh condong atau memihak.

وهذا أيضاًًً ليس بشيء فإن المقدار الذي يتحتم على الزوج لا يضرُّ به الوفاء به فلو بدا له أن يقلل أو يكثر بعد الوفاء بالتسوية فلا معترض عليه والتفريع على البعيد أبعدُ منه فليخرج هذا الوجه من المذهب

Ini juga bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan, karena kadar yang wajib atas suami tidaklah membahayakannya jika ia telah menunaikannya. Maka jika setelah menunaikan kewajiban secara adil, ia ingin mengurangi atau menambah, tidak ada yang dapat memprotesnya. Membahas kemungkinan yang lebih jauh dari ini justru lebih tidak relevan, maka pendapat ini hendaknya dikeluarkan dari mazhab.

ولفظ الشافعي في المختصر وأكره مجاوزة الثلاث وهذا هو الذي حمل بعض الأصحاب على جواز المجاوزة والشافعي كثيراً ما يطلق الكراهية والمراد به التحريم

Lafaz asy-Syafi‘i dalam al-Mukhtashar adalah, “Aku membenci melebihi tiga kali,” dan inilah yang mendorong sebagian ulama membolehkan melebihi tiga kali. Asy-Syafi‘i sering kali menggunakan istilah “makruh” padahal yang dimaksudkannya adalah haram.

ولم يتعرض أحد لذكر مدة الإيلاء وإن كان زمانها معتبراً في الإضرار ولو سبق إليه سابق فشرْطُه ألا تزيد النوب على أربعة أشهر زيادة لا تنتهي النوبة إلى الواحدة بعد أكثر من أربعة أشهر

Tidak ada seorang pun yang membahas tentang lamanya masa ila’, meskipun jangka waktunya diperhitungkan dalam hal menimbulkan mudarat. Dan jika ada yang lebih dahulu membahasnya, syaratnya adalah giliran tersebut tidak boleh melebihi empat bulan, yaitu tidak boleh ada tambahan sehingga satu giliran terjadi setelah lebih dari empat bulan.

وهذه احتمالات مختلطة

Ini adalah kemungkinan-kemungkinan yang bercampur.

فإن ثبت أن تعيين أقدار الزمان إلى الزوج على النسق الذي ذكرناه فإذا كان يفتتح توظيف النُّوَبِ فالمذهب أنه يحكِّم القرعةَ أم الابتداءُ بواحدة باختياره

Jika telah tetap bahwa penetapan kadar waktu kepada suami dilakukan dengan cara yang telah kami sebutkan, maka apabila ia hendak memulai pembagian giliran, pendapat yang dianut adalah ia menggunakan undian (qur‘ah) atau memulai dengan salah satu istrinya sesuai pilihannya.

من أصحابنا من قال هذا إليه أيضاًًً ثم تنتظم النوب

Sebagian dari ulama kami ada yang berpendapat bahwa hal ini juga menjadi wewenangnya, kemudian giliran-giliran pun tersusun secara teratur.

ومما يدور في الخلد أنَّا إذا منعنا الزوج من وطء زوجةٍ في نوبة زوجة فهذا الوطء حرام أم ماذا نقول فيه فإذا حرّمناه وقد صادف محل الحِلّ كان بعيداً وإن أحللناه فهو ممنوع من الجماع بعينه وليس كالصلاة في الدار المغصوبة ومما يزداد به الغموض أنَّ الوطء ليس مُستحَقاً عليه لواحدة منهن فإنه لو لم يطأ واحدة منهن أو وطىء بعضَهن وانكف عن وطء بعضهن فلا معترض عليه

Salah satu hal yang terlintas dalam benak adalah, jika kita melarang suami untuk menggauli istrinya pada giliran istri yang lain, apakah hubungan tersebut menjadi haram atau bagaimana kita menyikapinya? Jika kita mengharamkannya, padahal hubungan itu terjadi pada tempat yang halal, maka hal itu terasa jauh (dari kebenaran). Namun jika kita menghalalkannya, padahal secara khusus dilarang untuk berhubungan, maka hal itu tidak sama dengan shalat di rumah yang dirampas. Yang menambah kerumitan adalah bahwa hubungan suami istri itu sendiri bukanlah sesuatu yang wajib dilakukan terhadap salah satu dari mereka. Sebab, jika suami tidak menggauli salah satu istrinya, atau hanya menggauli sebagian dan tidak yang lain, maka tidak ada yang bisa memprotesnya.

والذي أراه أن التحريم المضافَ إلى الوطء ينقسم فمنه تحريم يرجع إلى عين الوطء على التحقيق من غير تعلُّقٍ بحق الغير هذا هو الذي نُطلق فيه التحريم من غير محاشاة كالوطء في غير محل الحل ثم ينقسم هذا أقساماً لسنا لها وفي وطء الحائض ما قدمته في بابه

Menurut pendapat saya, larangan yang dikaitkan dengan hubungan seksual terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya ada larangan yang benar-benar kembali pada hakikat hubungan seksual itu sendiri, tanpa berkaitan dengan hak orang lain. Inilah yang kami sebut sebagai larangan secara mutlak tanpa pengecualian, seperti hubungan seksual di tempat yang bukan tempat yang dihalalkan. Kemudian, larangan ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian yang bukan menjadi pembahasan kita saat ini. Adapun mengenai hubungan seksual dengan perempuan haid, telah saya jelaskan sebelumnya pada babnya.

ومن الأقسام تحريمٌ يتعلق برعاية حق الغير إذا كان مُفضياً إلى إبطال حق له مستَحَق وهذا كوطء الراهن المرهونة حرمناه لإفضائه إلى هلاك المرهونة أو إلى بطلان المالية الصالحة لوثيقة الرهن

Di antara jenis-jenis larangan adalah larangan yang berkaitan dengan menjaga hak orang lain, jika perbuatan tersebut dapat menyebabkan hilangnya hak yang memang menjadi miliknya. Contohnya adalah larangan berhubungan badan dengan barang yang digadaikan; kami melarangnya karena hal itu dapat menyebabkan rusaknya barang gadai atau hilangnya nilai harta yang layak dijadikan jaminan gadai.

والقسم الثالث ما نحن فيه وهو تحريم الوطء لأجل إفضائه إلى إدخال مَغِيظَةٍ على الغير وإن لم يكن ثَمّ حق مستَحَقّ

Bagian ketiga adalah yang sedang kita bahas, yaitu larangan melakukan hubungan suami istri karena hal itu dapat menyebabkan masuknya rasa sakit hati pada orang lain, meskipun tidak ada hak yang benar-benar harus dipenuhi di sana.

فإذن لو قال قائل الوطء من جهة مصادفته محلَّ الحل ليس بمحرم ومن جهة تضمنه جرَّ مغيظة وضراراً من هذا الفن فهو محرم

Maka jika ada yang berkata, hubungan seksual dari sisi bertemunya dengan tempat yang halal tidaklah haram, namun dari sisi mengandung unsur menimbulkan kemarahan dan mendatangkan mudarat dari jenis ini, maka itu haram.

ثم اللائق بالتحقيق النظر إلى المحل والحل والقطعُ بالإباحة وصرف التحريم إلى إيقاع المغيظة لا إلى ما وقعت المغيظة به والقول في هذا يغوص إلى مغاصات الأصول

Kemudian, yang layak untuk diteliti adalah memperhatikan objek, status kebolehan, dan memastikan kebolehan, serta mengarahkan larangan kepada terjadinya kemarahan, bukan kepada sesuatu yang menyebabkan kemarahan itu terjadi. Pembahasan dalam hal ini menyelam hingga ke kedalaman ushul.

ثم نختم الفصل بذكر إجماع الأصحاب على أنه لا يجب على الزوج التسوية بينهن في الجماع فإنَّ ذلك موضع تلذذ لا يليق بمحاسن الشرع الإجبار عليه والتسوية

Kemudian kami menutup bab ini dengan menyebutkan ijmā‘ para sahabat bahwa suami tidak wajib menyamakan perlakuan di antara istri-istrinya dalam hal hubungan intim, karena hal itu merupakan perkara kenikmatan yang tidak pantas bagi keindahan syariat untuk mewajibkan dan menyamakannya.

فصل

Bab

معقود في ظلم الزوج بعضَ نسائه بالقَسْم وإقامته عند صواحباتها فنقول إذا ظلم واحدة فبات عند ضراتها ولم يبت عندها يلزمه القضاء للمظلومة وأول ما يتّضح القصد به أن نوبتها المستحقة وإن كانت ليلة من أربع ليال فظُلْمها يقع على تفرق فإذا ألزمنا الزوج القضاءَ فإنه يوفيها حقها وِلاءً تباعاً وليس له أن يفرِّق القضاء وهذا بمثابة ما لو أتلف أموالاً في أزمنة متفرقة على إنسان فإنه يغرَمُها له دفعة واحدة وإذا ترك صلوات في مواقيتها عاصياً بتركها قضاها وِلاءً وإن تركها مفرقة

Pembahasan ini mengenai suami yang berbuat zalim kepada salah satu istrinya dalam hal pembagian giliran dan tinggal bersama istri-istri lainnya. Maka kami katakan, jika suami menzalimi salah satu istrinya dengan bermalam di rumah madunya dan tidak bermalam di rumahnya, maka ia wajib mengganti hak istri yang dizalimi tersebut. Yang pertama kali menjadi jelas dari maksud ini adalah bahwa giliran yang menjadi hak istri, meskipun hanya satu malam dari empat malam, kezaliman itu terjadi secara terpisah-pisah. Jika kami mewajibkan suami untuk mengganti, maka ia harus menunaikan hak istri tersebut secara berurutan dan berturut-turut, dan tidak boleh menggantinya secara terpisah-pisah. Ini seperti halnya jika seseorang merusak harta orang lain pada waktu yang berbeda-beda, maka ia wajib menggantinya sekaligus dalam satu waktu. Dan jika seseorang meninggalkan shalat pada waktunya karena maksiat, maka ia wajib mengqadha shalat itu secara berurutan, meskipun ia meninggalkannya secara terpisah-pisah.

ثم صورة الظلم والقضاء ما نَصِفه فلو كانت تحته أربع نسوة فبات عند ثلاث ستين ليلة عند كل واحدة منهن عشرين فإنه يقضي للمظلومة عشرين ليلة تباعاً

Kemudian gambaran kezaliman dan penyelesaiannya adalah seperti yang kami jelaskan: jika seorang laki-laki memiliki empat istri, lalu ia bermalam di tiga istri selama enam puluh malam, masing-masing istri mendapatkan giliran dua puluh malam, maka ia harus mengganti kepada istri yang terzalimi sebanyak dua puluh malam secara berturut-turut.

ولو بات عندهن ثلاثين ليلةً قضى للمظلومة عشر ليال ولو كنَّ ثلاثة فبات عند اثنتين عشرين قضى للمظلومة عشراً

Jika ia bermalam di tempat mereka selama tiga puluh malam, maka ia harus mengganti kepada istri yang terzalimi selama sepuluh malam. Dan jika istri itu ada tiga orang, lalu ia bermalam di tempat dua istri selama dua puluh malam, maka ia harus mengganti kepada istri yang terzalimi selama sepuluh malam.

وإن تصورت المسألة بالصورة التي ذكرناها آخراً فنكح جديدة فالوجه أن يخص الجديدة بحكم الزفاف كما سيأتي ذلك إن شاء الله تعالى إن كانت بكراً فسبع وإن كانت ثيباً فثلاث وهذا لا يحسب في حساب

Jika permasalahan dibayangkan seperti yang telah kami sebutkan terakhir kali, lalu ia menikahi istri baru, maka pendapat yang benar adalah istri baru tersebut diberikan hak malam pertama sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala. Jika ia masih perawan maka tujuh malam, dan jika janda maka tiga malam. Dan hal ini tidak dihitung dalam perhitungan giliran.

ثم هذه المظلومة تستحق عشر ليال وإنما يقضي لها من حقوق اللتين ظلم الزوجُ هذه بهما والجديدة لم يظلم الزوج بها

Kemudian, perempuan yang dizalimi ini berhak mendapatkan sepuluh malam, namun yang dipenuhi untuknya hanyalah hak-hak dari dua istri yang telah dizalimi oleh suami terhadapnya, sedangkan istri yang baru tidak dizalimi oleh suami.

فقال الأئمة الوجه أن نُدير الليالي بين المظلومة وبين الجديدة فنقسم للجديدة ليلة وللمظلومة ثلاثَ ليال فتمضي ثلاث نوب وقد وفّى المظلومة من العشر التي استحقتها تسعاً فبقي ليلة واحدة فلو وفاها جرَّ ذلك عسراً على الجديدة في حقها فإنَّ القضاء إذا انقضى يجب إعادة النوب وربما لا تنتهي النوبة إلى الجديدة إلاَّ في الخامسة مع احتساب الليلة العاشرة وحقها أن ترجع النوبةُ إليها في كل أربع ليال إن كانت النوبة ليلة وهذا إذا وقع أفضى إلى ظلم الجديدة

Para imam berkata bahwa cara yang tepat adalah membagi malam-malam antara istri yang terzalimi dan istri yang baru, sehingga diberikan kepada istri baru satu malam dan kepada istri yang terzalimi tiga malam. Maka akan berlalu tiga giliran, dan istri yang terzalimi telah mendapatkan sembilan malam dari sepuluh malam yang menjadi haknya, sehingga tersisa satu malam. Jika malam itu diberikan kepadanya, hal itu akan menyebabkan kesulitan bagi istri baru dalam hal haknya. Sebab, jika masa qadha’ telah selesai, giliran harus diulang kembali, dan mungkin saja giliran tidak sampai kepada istri baru kecuali pada malam kelima, dengan memperhitungkan malam kesepuluh. Padahal, seharusnya giliran kembali kepadanya setiap empat malam jika satu giliran adalah satu malam. Jika hal ini terjadi, maka akan menyebabkan ketidakadilan bagi istri baru.

وكان شيخي يرتبك في هذه المسألة وتختلف أجوبته ثم كان يستقر على أن هذا تَحَيُّفٌ لازم لا بد منه فإنه لا مستدرك فيه إلا بالتبعيض وتبعيض الليل مفسد ولو بعَّضنا لأضررنا لأجل التبعيض بالأُوليين والمظلومة وهذا يجر خبلاً ونحن قد نعدل عن المنصوص عليه في الزكاة إلى القيمة حذاراً من التشقيص

Guru saya merasa bingung dalam masalah ini dan jawabannya pun berbeda-beda, kemudian akhirnya beliau menetapkan bahwa hal ini adalah bentuk ketidakadilan yang tidak bisa dihindari dan memang harus terjadi, karena tidak ada cara untuk memperbaikinya kecuali dengan membaginya, sedangkan membagi malam justru akan merusak, dan jika kita membaginya, maka kita akan menimbulkan bahaya karena pembagian itu terhadap dua istri pertama dan yang terzalimi, dan hal ini akan menimbulkan kekacauan. Kita bahkan kadang-kadang meninggalkan ketentuan nash dalam zakat menuju penilaian harga (qimah) demi menghindari perincian yang rumit.

وهذا الذي ذكره محمول على مسلكٍ من إعمال النظر في صرف الكلام إلى تمهيد الوجه البعيد

Apa yang disebutkan ini didasarkan pada suatu metode dalam menggunakan penalaran untuk mengarahkan pembicaraan kepada penjelasan makna yang tersembunyi.

والذي قطع به الأصحاب أن هذا التحيّف يجب استدراكه ولا طريق في استدراكه إلاَّ التبعيض ولا يقع ضرر التبعيض موقعاً إذا كان في معارضة إحباط حق

Para ulama terkemuka telah menegaskan bahwa pengurangan (takhyīf) ini wajib diganti, dan tidak ada cara untuk menggantinya kecuali dengan pembagian (tab‘īḍ). Pembagian tersebut tidak menimbulkan mudarat yang berarti apabila dibandingkan dengan hilangnya hak secara keseluruhan.

فإذا ثبت هذا فالوجه أن يقضي للجديدة ثُلثَ ليلة فإنَّ الليلة العاشرة دارت بين ثلاثٍ المظلومة والأُولَيَيْن فانقسمت عليهن أثلاثاًً فليثبت للجديدة مثلما ثبت لكل واحدة وهذا لطيف في مجاري الحساب فإنَّ الظلم وقع في ليلة والقسمة وقعت من ليلة وثلث ليلة فإنَّ الذي يقتضيه الإنصاف التسويةُ بينهما ولا سبيل في طلب التسوية إلا هذا فإذا قضى لها ثلث ليلة فالوجه أن يخرج ويبيت عند صديق في بقية الليل فإنَّ تخلل الفُرَج في النّوَب ليس ظلماً إنما الظلم في الإقامة عند بعضهن تخصيصاً وترك بعضهن

Jika hal ini telah ditetapkan, maka yang tepat adalah memberikan kepada istri baru sepertiga malam, karena malam kesepuluh terbagi antara tiga istri: yang terzalimi dan dua istri sebelumnya, sehingga malam itu terbagi menjadi tiga bagian. Maka, istri baru mendapatkan bagian yang sama seperti yang didapatkan oleh masing-masing istri lainnya. Ini adalah hal yang halus dalam perhitungan, karena kezaliman terjadi pada satu malam, sedangkan pembagian dilakukan pada satu malam dan sepertiga malam. Keadilan menuntut adanya penyetaraan di antara mereka, dan tidak ada cara untuk mencapai penyetaraan kecuali dengan cara ini. Jika telah diberikan kepada istri baru sepertiga malam, maka yang tepat adalah suami keluar dan bermalam di rumah teman pada sisa malam itu, karena jeda di antara giliran tidaklah termasuk kezaliman; kezaliman itu terjadi jika suami menginap di rumah salah satu istri secara khusus dan meninggalkan yang lainnya.

ولو كان يدير عليهن النُّوبَ ليلة ليلة وكان يخلل في أثناء النوب فرجات فلا بأس عليه

Dan jika ia membagi giliran malam di antara mereka satu malam satu malam, lalu ia menyelingi di antara giliran-giliran itu dengan jeda-jeda, maka tidak mengapa baginya.

فإن قيل في أصل المسألة سؤال فإن المظلومة إذا كانت تستحق قضاء عشرٍ وأدرنا النوبَ بينها وبين الجديدة على أربع فكما نُثبت للجديدة في كل أربع ليلةً متجددة فنثبت للمظلومة أيضاًًً ليلة متجددة فما لنا نحسب لياليها من محض الظلم ولا نثبت لها مما يتجدد في الزمان مزيداً قلنا هذا خيال فإن اللتين وقع الظلم بهما كانتا تستحقان من تلك الأيام شيئاً فقد جرى التدارك على نحو الظلم وهذا متجه لا خفاء به

Jika dikatakan ada pertanyaan dalam pokok masalah ini, yaitu apabila istri yang dizalimi berhak mendapatkan jatah sepuluh malam, lalu kita mengatur giliran antara dia dan istri baru setiap empat malam, maka sebagaimana kita menetapkan bagi istri baru satu malam baru setiap empat malam, seharusnya kita juga menetapkan bagi istri yang dizalimi satu malam baru. Lalu mengapa kita menghitung malam-malamnya sebagai murni kezaliman dan tidak menetapkan tambahan malam baru baginya seiring berjalannya waktu? Kami katakan, ini hanyalah bayangan semata. Sebab, kedua istri yang terkena kezaliman itu memang berhak mendapatkan bagian dari hari-hari tersebut, sehingga penggantian yang dilakukan sesuai dengan kadar kezaliman yang terjadi, dan hal ini jelas serta tidak ada keraguan di dalamnya.

ولو طلَّق المظلومة فقد سقط حقُّها في الحال ولكن بقيت مظلمتُها في القيامة وإن سقطت طَلِبتُها ولو راجعها فهي على حقها فإن النكاح واحد ولو أبانها ثم جدد النكاح عليها قال القاضي عليه قضاء ما ظلمها به في النكاح الثاني وهذا متجه وكأنَّا نقول لم يسقط حقها ولكن تَعذَّر إمكانُ إبقائه فإذا عاد الإمكان فالحق قائم كما كان

Jika suami menceraikan istri yang dizalimi, maka haknya gugur seketika, namun kezaliman terhadapnya tetap ada di hari kiamat meskipun tuntutannya telah gugur. Jika suami merujuknya kembali, maka ia tetap pada haknya, karena pernikahan itu satu. Jika suami telah menceraikannya dengan talak bain lalu memperbarui akad nikah dengannya, menurut pendapat qadhi, ia tetap wajib menunaikan apa yang telah ia zalimi terhadapnya pada pernikahan yang kedua, dan pendapat ini kuat. Seakan-akan kita mengatakan bahwa haknya tidak gugur, hanya saja tidak memungkinkan untuk tetap menunaikannya, maka jika kemungkinan itu kembali, hak tersebut tetap ada sebagaimana sebelumnya.

ويتجه جداً تخريج هذا على القولين في عَوْد الأحكام في النكاح الثاني

Hal ini sangat relevan untuk ditafsirkan berdasarkan dua pendapat mengenai kembalinya hukum-hukum pada pernikahan yang kedua.

وأقربها شبهاً بما نحن فيه طَلِبة المُولَى عنها في النكاح الثاني وقد ينقدح في ذلك فرق فإنَّ عود الحق في الطلاق فيه بُعدٌ من جهة أنه قطع حِلَّ نكاح مضى وإيلاء المولي في وضع اليمين باقٍ بدليل أنه لو وطئها في النكاح الثاني حنث

Yang paling mirip dengan kasus yang sedang kita bahas adalah permintaan istri yang ditalak oleh suaminya (mūlā) dalam pernikahan kedua. Namun, mungkin ada perbedaan di sini, karena kembalinya hak dalam masalah talak mengandung unsur keterputusan dari kehalalan pernikahan yang telah lalu, sedangkan sumpah i‘lâ’ yang diucapkan oleh suami masih tetap berlaku. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa jika suami menggauli istrinya dalam pernikahan kedua, maka ia dianggap melanggar sumpahnya.

وليس قضاء الظلم من هذه المآخذ وإنما هو من المأخذ الذي ذكره وهو عُسر التوفية فإذا زال العسر فالطلبة قائمة

Putusan yang zalim bukanlah termasuk dari alasan-alasan ini, melainkan berasal dari alasan yang telah disebutkan, yaitu sulitnya pelunasan. Maka jika kesulitan itu telah hilang, tuntutan tetap berlaku.

ووراء ما ذكرناه غائلةٌ وهي أن هذا إنما يتجه إذا جدد النكاح على المظلومة واللواتي وقع الظلم بهن باقيات تحته فإن استبدل بهن فلا يقضي الظلم أصلاً فإنه لو قضاه لظلم الجديدات

Di balik apa yang telah kami sebutkan, terdapat bahaya lain, yaitu bahwa hal ini hanya relevan jika akad nikah diperbarui dengan istri yang dizalimi, sementara para istri yang mengalami kezaliman masih tetap menjadi istrinya. Namun, jika ia telah mengganti mereka dengan istri-istri baru, maka tidak ada lagi kezaliman yang perlu ditegakkan, sebab jika ia menegakkannya, justru akan menzalimi para istri yang baru.

ولو لم يُفرض بينونة ولكن ظلم واحدةً بعشرين ليلة ثم لم يُبنها بل أبان اللواتي وقع الظلمُ بهن واستبدل عنهن جديدات فلا يتصور القضاء فإنَّ القضاء لا معنى له إلاَّ أن ينقطع عن اللواتي وقع الظلمُ بهن ويشتغل بتوفية حق المظلومة وهذا بيّن لا إشكال فيه

Jika tidak terjadi perpisahan, namun ia menzhalimi salah satu istrinya selama dua puluh malam, lalu ia tidak menceraikannya, melainkan menceraikan istri-istri yang telah dizhalimi dan menggantikan mereka dengan istri-istri baru, maka tidak mungkin dilakukan qadha’ (penggantian giliran), karena qadha’ tidak ada artinya kecuali jika ia berhenti dari istri-istri yang telah dizhalimi dan sibuk memenuhi hak istri yang dizhalimi tersebut. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

فصل قال ويقسم للمريضة والرتقاء إلى آخره

Bagian: Ia berkata, dan dibagikan pula kepada wanita yang sakit dan wanita yang mengalami ratuq, dan seterusnya.

حق القَسْم يثبت للنسوة وإن كان بهن موانعُ طبيعيةٌ أو شرعيةٌ من الوقاع فيقسم للمريضة والرتقاء والحائض والنفساء والتي ظاهر عنها وإن كان لا يقربها حتى يُكَفِّر وكذلك يقسم للصائمة والمُحْرِمة والسبب فيه أن المقصود الظاهر من القَسْم الإيناس ولسنا ننكر أن المقصود الأقصى الوقاعُ أو تزجيةُ الوقت على رجائه ولكن عماد القَسْم الإيناسُ واجتنابُ التخصيص والحذرُ من الإضرار بإظهار الميل وهذا يتضمن إشراكَ اللاتي ذكرناهن والتي آلى عنها زوجُها إذا انقضت مدة الإيلاء فلها المطالبة بالطلاق والمطالبة بحق القَسْم على البدل وإليها الخِيَرةُ

Hak giliran (qasm) tetap berlaku bagi para istri, meskipun mereka memiliki halangan alami atau syar‘i untuk berhubungan badan. Maka suami tetap membagi giliran untuk istri yang sakit, yang mengalami ritsaq (tertutup jalan rahimnya), yang sedang haid, nifas, atau yang telah dijatuhi zihar, meskipun ia tidak mendekatinya sampai membayar kafarat. Demikian pula giliran tetap diberikan kepada istri yang sedang berpuasa atau berihram. Sebabnya adalah bahwa tujuan yang tampak dari pembagian giliran (qasm) adalah memberikan keakraban. Kami tidak mengingkari bahwa tujuan utama adalah hubungan badan atau mengisi waktu dengan harapan itu, namun inti dari pembagian giliran adalah keakraban, menghindari perlakuan khusus, dan mencegah bahaya akibat menunjukkan kecenderungan. Hal ini mencakup juga istri-istri yang telah disebutkan tadi. Adapun istri yang suaminya melakukan ila’ (sumpah tidak menggaulinya), jika masa ila’ telah berakhir, maka ia berhak menuntut cerai atau menuntut hak giliran sebagai gantinya, dan keputusan ada di tangannya.

ثم إن كان الزوج يسكن منزلاً وكان يدعوهن في نُوَبهن فعليهن أن يحضرنَه ومن امتنع منهن فهي ناشزةٌ ويسقط حقها من القسم في نوبة امتناعها

Kemudian, jika suami tinggal di sebuah rumah dan ia memanggil istri-istrinya pada giliran mereka, maka mereka wajib mendatanginya. Barang siapa di antara mereka yang menolak, maka ia dianggap nusyuz dan haknya atas pembagian (giliran) pada malam ia menolak menjadi gugur.

وإن كان يدور عليهن في مساكنهن فليفعل من ذلك ما يراه

Dan jika ia berkeliling kepada mereka di tempat tinggal mereka, maka hendaklah ia melakukan dari hal itu apa yang ia pandang baik.

وإن كان يُساكن واحدة منهن وكان يدعو إلى دارها ضَرّاتِها فلهن أن يمتنعن فإنَّ مُساكنة الضَّرَّة لا تجب

Jika ia tinggal bersama salah satu dari mereka dan mengundang madunya ke rumahnya, maka para istri itu berhak menolak, karena tinggal bersama madu tidaklah wajib.

والقول في تفصيل المساكنة واشتمالِ دارٍ على حُجَر يأتي مستقصًى في كتاب العِدد إن شاء الله عز وجل ومحل غرضنا منْزِلٌ مُتحد لا يجوز للزوج أن يُسكنه ضرتين

Pembahasan tentang rincian tinggal bersama dan sebuah rumah yang terdiri atas beberapa kamar akan dijelaskan secara lengkap dalam Kitab al-‘Iddah, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun yang menjadi tujuan pembahasan kita adalah satu rumah yang sama, di mana tidak boleh bagi suami menempatkan dua istri (madunya) dalam satu rumah tersebut.

ولو كان يدعو بعضَهن ويصير إلى بعضهن في منزلها فقد قال القاضي ليس هذا من العدل والتسوية

Dan jika ia mengundang sebagian istrinya dan mendatangi sebagian yang lain di rumahnya, maka menurut pendapat al-Qadhi, hal ini tidak termasuk keadilan dan kesetaraan.

ولست أرى الأمرَ في هذا بالغاً مبلغ الحظر وإنما هو ممّا يُفرض من التفاوت في التهلّلِ والاستبشارِ والوقاعِ نفسِه وإن استُثْني الوقاع بخروجه عن الاختيار فالاستمتاعات الاختيارية كالقبل واللثم والالتزام لا تشترط فيها التسوية

Saya tidak melihat persoalan ini sampai pada tingkat larangan, melainkan hal ini termasuk dalam perkara yang wajar terjadi perbedaan dalam hal kegembiraan, kebahagiaan, dan hubungan intim itu sendiri. Meskipun hubungan intim dikecualikan karena berada di luar kendali, maka kenikmatan-kenikmatan yang bersifat pilihan seperti ciuman, pelukan, dan rangkulan tidak disyaratkan adanya kesetaraan di dalamnya.

وقد ينقدح في ذلك فرق فإنَّ تخصيص البعض بالمسير إليها وتخصيص البعض بالاستدعاء قد يورث ضغينةً وإظهارَ تفاوت في الميل والتقديم والتأخير ومع هذا يجب القطع بأنَّ هذا القدر من التفاوت محتمل لأنَّ تفاوت الأقدار والمناصب قد يقتضي هذا القدر فلا ينتهي الأمر فيه إلى التحريم

Mungkin terlintas adanya perbedaan dalam hal ini, yaitu mengkhususkan sebagian orang untuk mendatangi (seseorang) dan mengkhususkan sebagian lain dengan memanggilnya, dapat menimbulkan kebencian dan menunjukkan perbedaan dalam kecenderungan, mendahulukan, atau mengakhirkan. Namun demikian, harus dipastikan bahwa kadar perbedaan seperti ini masih dapat ditoleransi, karena perbedaan kedudukan dan posisi bisa menuntut adanya perbedaan seperti itu, sehingga perkara ini tidak sampai pada tingkat keharaman.

ثم قال الشافعي وإن سافرت بإذنه إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: “Dan jika ia bepergian dengan izinnya,” dan seterusnya.

إذا سافرت المرأة ففي سفرها ثلاث مسائل إحداها أن تسافر دون إذن الزوج فهي ناشزة لا قَسْمَ لها ولا نفقة

Jika seorang wanita bepergian, maka dalam perjalanannya terdapat tiga permasalahan. Pertama, jika ia bepergian tanpa izin suami, maka ia dianggap nusyuz, tidak berhak mendapatkan giliran (qasm) maupun nafkah.

والمسألة الثانية أن تسافر الزوجة بإذن الزوج بأنْ كان أشخصها في شغل من أشغال نفسه فنفقتها دارّة وحقها من القسم ثابت فإذا عادت وكان أقام في غيبتها عند ضراتها فيجب عليه أن يقضيَ حقَّها كما بيِّنا كيفية القضاء فيما مضى

Masalah kedua adalah apabila istri bepergian dengan izin suami, yaitu ketika suami mengutusnya untuk suatu urusan yang berkaitan dengan dirinya, maka nafkahnya tetap diberikan dan haknya atas giliran tetap berlaku. Apabila ia kembali, dan selama kepergiannya suami tinggal bersama madunya, maka suami wajib mengganti haknya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya tentang cara menggantinya.

والمسألة الثالث أن تخرج بإذن الزوض في حاجة نفسها ومُهمٍّ سَنَحَ لها فإذا كان ذلك فالمنصوص عليه في الجديد أنه يسقط حقها من القَسْم ونفقتِها وقال في القديم لها القسم والنفقة لأنها خرجت بالإذن والرضا والصحيح القول الجديد فإنها اشتغلت عن الزوج بما هو خالص حقها فيبعد أن يثبت حقها على الزوج وهي مشتغلة عنه وهذا في القَسْم على نهاية الوضوح من جهة أن طمعها في استمرار حقها من القسم مع اشتغالها بغرضها عن استيفاء الحق طمع في غير مطمع فالإذن لا يفيدها إذاً إلا سقوطَ المأثم

Masalah ketiga adalah bahwa seorang istri keluar dengan izin suami untuk keperluan pribadinya atau urusan penting yang mendesak baginya. Dalam hal ini, pendapat yang dinyatakan dalam pendapat baru (al-jadid) adalah bahwa haknya atas giliran (qasm) dan nafkah gugur. Sedangkan dalam pendapat lama (al-qadim) disebutkan bahwa ia tetap berhak atas giliran dan nafkah karena ia keluar dengan izin dan kerelaan suami. Pendapat yang benar adalah pendapat baru, karena ia telah menyibukkan diri dari suaminya dengan sesuatu yang merupakan hak pribadinya secara murni, sehingga tidak layak haknya tetap atas suaminya sementara ia sedang sibuk darinya. Hal ini dalam masalah giliran sangat jelas, karena harapannya untuk tetap mendapatkan hak giliran sementara ia sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak mengambil hak tersebut adalah harapan yang tidak pada tempatnya. Maka izin suami dalam hal ini tidak memberi manfaat apa pun kecuali menggugurkan dosa.

ثم قال وعلى ولي المجنون أن يطوف به على نسائه إلى آخره

Kemudian beliau berkata, “Dan wajib bagi wali orang gila untuk membawanya berkeliling kepada istri-istrinya,” dan seterusnya.

ذهب أئمة المذهب إلى أنَّ الزوج إذا جُنَّ فإنَّ حق القَسْم ثابت كما كان من قبل وعلى ولي المجنون أن يطوف به على نسائه مع رعاية التسوية وإن رأى دعاهن إليه في نُوَبهن ثم قالوا لو ترك الوليُّ حقَّ واحدة وخصَّ الزوجَ بالباقيات فهذا ظلمٌ يجب تداركه بطريق القضاء كما تقدم فإنْ تداركه الوليُّ بنفسه جاز وإن أفاق المجنون وقامت البينة على ما جرى من الظلم واعترف به اللواتي وقع الظلم بهن فيجب عليه أن يقضي إذا استبلَّ واستبد به

Para imam mazhab berpendapat bahwa jika seorang suami menjadi gila, maka hak giliran tetap berlaku sebagaimana sebelumnya, dan wali dari orang yang gila tersebut harus menggilirkan suami itu kepada para istrinya dengan tetap menjaga keadilan. Jika wali memandang perlu, ia dapat memanggil para istri itu kepada suaminya sesuai giliran mereka. Kemudian mereka juga mengatakan, jika wali meninggalkan hak salah satu istri dan hanya memberikan giliran kepada istri-istri lainnya, maka hal itu merupakan kezaliman yang harus diperbaiki melalui jalur peradilan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika wali sendiri memperbaikinya, maka hal itu diperbolehkan. Jika orang yang gila itu sembuh dan ada bukti atas kezaliman yang telah terjadi serta para istri yang dizalimi mengakuinya, maka suami wajib mengganti giliran yang terlewat jika ia telah sembuh dan mampu melakukannya sendiri.

وإن لم تقم بيِّنة ولم يثبت اعتراف فقول الولي غيرُ مقبولٍ في دعوى ظلمٍ جرى لأنَّ الولاية قد انقطعت بالإفاقة فلم يبق للولي سلطان وإذا زال سلطان الولاية زال بزواله قبولُ القول هذا مسلك الأئمة المعتبرين

Jika tidak ada bukti yang tegak dan tidak terbukti adanya pengakuan, maka pernyataan wali tidak diterima dalam klaim adanya kezaliman yang terjadi, karena kewalian telah terputus dengan sembuhnya (orang yang diwalikan), sehingga wali tidak lagi memiliki kekuasaan. Apabila kekuasaan kewalian telah hilang, maka hilang pula dengan hilangnya itu penerimaan atas pernyataannya. Inilah pendapat para imam yang dianggap otoritatif.

وذكر بعض المصنفين وجهين أحدهما ما ذكرناه والثاني أن حق القسم يسقط بالجنون فلا مطالبة على الولي برعايته فإنَّ الغرض الأظهر من القَسْم الإيناسُ والمحذورُ من التحيف فيه إظهارُ الميل والإضرارُ بهذه الجهة بالتي يقع التخلف عنها وهذان المعنيان مفقودان من المجانين

Sebagian ulama menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah yang telah kami sebutkan, dan yang kedua adalah bahwa hak giliran (qasm) gugur karena gila, sehingga tidak ada tuntutan bagi wali untuk menjaga hak tersebut. Sebab tujuan utama dari qasm adalah memberikan rasa nyaman, dan bahaya yang dikhawatirkan dari ketidakadilan dalam qasm adalah munculnya kecenderungan (berlebihan) dan kerugian pada pihak istri yang tidak mendapatkan giliran. Kedua makna ini tidak terdapat pada orang-orang yang gila.

وهذا لا بأس به وإن لم أرَه إلا في هذا التصنيف ومؤلفه مجهول عثورٌ في المذهب

Hal ini tidak mengapa, meskipun aku tidak menemukannya kecuali dalam karya ini, dan penulisnya tidak dikenal dalam mazhab.

وعندي وراء ذلك نظر وهو أن مخاطبة الولي بأنْ يطوف به عليهن لا وجه لها فإنَّ الزوج العاقل لو أراد التخلف عنهن فلا مطالبة عليه وإنما يُطَالَبُ الوليُّ بما يُطَالَبُ به الزوجُ لو لم يكن مَوْلياً عليه

Menurut pendapat saya, ada pertimbangan lain di balik itu, yaitu bahwa permintaan kepada wali agar mengajak suami berkeliling kepada mereka tidak ada dasarnya. Sebab, jika suami yang berakal ingin tidak mendatangi mereka, maka tidak ada tuntutan atasnya. Yang dituntut dari wali hanyalah apa yang juga dituntut dari suami jika ia bukan orang yang berada di bawah perwalian.

ولو أدخل الوليُّ واحدةً على الزوج فهل يجب عليه أن يُثبت لكل واحدة مثلَ هذا هذا محل النظر فالذي ذكره معظم الأصحاب أنه يجب تنزيلاً للولي منزلة الزوج والذي ذكر في هذا التصنيف أن ذلك لا يجب على الولي فإنَّ عماد القَسْم ما ذكرناه من اجتناب إدخال المغايظ على المحرومات بتمخصيص المخصَّصات وهذا إنما يُفزع قلوبَهن من جهة الزوج فأما الولي فلا يتعلق بفعله هذا

Jika wali memasukkan satu perempuan kepada suami, maka apakah wajib baginya untuk menetapkan bagi setiap perempuan seperti yang telah disebutkan? Ini adalah masalah yang perlu diteliti. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa hal itu wajib, dengan menempatkan wali pada posisi suami. Namun, yang disebutkan dalam kitab ini adalah bahwa hal itu tidak wajib atas wali, karena dasar dari pembagian (qasm) adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu menghindari menimbulkan kecemburuan di antara para istri dengan memberikan perlakuan khusus, dan hal ini hanya membuat hati mereka gelisah dari pihak suami. Adapun wali, maka perbuatannya tidak berkaitan dengan hal ini.

وما ذكره الأصحاب أظهرُ طرداً للقياس الذي مهدناه من أن الولي مُخاطبٌ في المجنون بما يُخاطب به الزوجُ لو كان عاقلاً ونحن وإن راعينا ترك الإضرار واجتناب المغايظ فلسنا ننكر كونَ القسم حقاًً مطلوباً

Apa yang disebutkan oleh para ulama mazhab lebih tampak konsisten dengan qiyās yang telah kami jelaskan, yaitu bahwa wali mendapat beban hukum dalam perkara orang gila sebagaimana suami mendapat beban hukum jika ia berakal. Dan meskipun kami memperhatikan untuk tidak menimbulkan mudarat dan menghindari hal-hal yang memancing kemarahan, kami tidak mengingkari bahwa pembagian giliran (qasm) adalah hak yang memang dituntut.

وبقي في المسألة نظر في أنهن لو جِئْنَ وقُلنَ للزوج أن يتخلف عنا بجملتنا لو كان عاقلاً بناءً على الاختيار والإيثار ونحن في أثناء ذلك نرجو عودَه إلى القَسْم وإذا جُن الزوج وأطبق الجنون فلا إيثار له فلو منعْتَه عنا لكان ذلك إضراراً بنا فقد يتجه إذا لم يكن على الزوج ضرر من الوقاع أن تجب إجابتهن فظاهر النص دال عليه فإنَّ الشافعي قال وعلى ولي المجنون أن يطوف به على نسائه وفحوى كلام الأئمة دالةٌ على حمل ذلك على التسوية حتى لو فرض الامتناع عن إدخاله عليهن جملةً فالمسألة محتملة جداً وقد أشرنا إلى وجوه الكلام في أطراف المسألة وما حكيناه من الوجهين في بعض التصانيف يمكن حمله على هذا الطرف أيضاًًً

Masih ada pembahasan dalam masalah ini, yaitu jika para istri datang dan berkata kepada suami agar ia tidak mendatangi mereka semua, jika ia seorang yang berakal, berdasarkan pilihan dan sikap mengutamakan, dan selama itu mereka berharap suami akan kembali melakukan pembagian giliran (qasm). Namun, jika suami menjadi gila dan kegilaannya menetap, maka tidak ada sikap mengutamakan baginya. Jika kamu melarangnya mendatangi mereka, itu berarti menimbulkan mudarat bagi mereka. Maka, jika tidak ada mudarat bagi suami dalam melakukan hubungan, bisa jadi wajib baginya memenuhi permintaan mereka. Teks yang jelas menunjukkan hal ini, karena asy-Syafi‘i berkata, “Wali orang gila wajib membawanya berkeliling kepada para istrinya.” Makna dari perkataan para imam menunjukkan bahwa hal itu harus dilakukan secara adil, sehingga jika diasumsikan penolakan untuk memasukkan suami kepada para istri secara keseluruhan, maka masalah ini sangat mungkin terjadi. Kami telah mengisyaratkan berbagai sisi pembahasan dalam bagian-bagian masalah ini, dan apa yang kami sebutkan dari dua pendapat dalam sebagian kitab juga dapat diarahkan pada sisi ini.

ثم إن كان يُجن يوماً ويُفيق يوماً فليس من العدل أن نجعل نوبة الجنون لواحدة ونوبةَ الإفاقة لواحدة ولكن الوجه أن نبني نوبة الجنون ونوبة الإفاقة إمَّا على التناوب وإمَّا على الجميع

Kemudian, jika seseorang mengalami gangguan jiwa sehari dan sadar sehari, maka tidak adil jika kita menganggap masa gangguan jiwa sebagai satu bagian dan masa kesadaran sebagai satu bagian tersendiri. Namun, yang tepat adalah kita memperhitungkan masa gangguan jiwa dan masa kesadaran itu baik secara bergantian maupun secara keseluruhan.

وحكى الأئمة أيضاًً للشافعي قولاً في أنَّ الرجل إذا كان مفيقاً في نوبةِ واحدةٍ مجنوناً في نوبة الأخرى فأيام الجنون غيرُ محسوبة على التي كان الزوج مجنوناً في نوبتها ونجعلُ كأنَّه غاب عنها فإذا أفاق وفّاها حقها مثلما وفَّى للأولى في حالة الإفاقة

Para imam juga meriwayatkan pendapat dari Imam Syafi‘i bahwa jika seorang laki-laki dalam satu masa sadar dan pada masa lain gila, maka hari-hari ketika ia gila tidak dihitung sebagai hari-hari ketika suami dalam keadaan gila, dan dianggap seolah-olah ia tidak hadir bersamanya. Ketika ia sadar kembali, ia harus memenuhi hak istrinya sebagaimana ia telah memenuhi hak istri yang pertama pada saat ia sadar.

وهذا يُحوج إلى تدبر فإنَّ أيام الجنون على الجملة أيام قَسْم على ظاهر النص وقول الأصحاب بإخراج أيام الجنون عن الاعتبار فيه بعضُ النظر يجوز أن يُقال إن لم ترض بالإقامة عندها في أيام الجنون وانتظرت الإفاقة فلها ذلك فإنها تقول أقام عند صاحبتي عاقلاً والتسويةُ مرعية فأما إذا أقام عندها في الجنون فهذا منها بمثابة الرضا بعيبِ ما يجوز رده بالعيب فإن لم يكن بأيام الجنون اعتبار فهذا يؤكد سقوطَ حكم القَسْم في أيام الجنون بالجملة كما نقلنا التردد فيه والله أعلم

Hal ini memerlukan perenungan, karena pada umumnya hari-hari ketika suami mengalami gangguan jiwa tetap dihitung sebagai hari pembagian (qasm) menurut teks yang jelas. Pendapat para ulama yang mengecualikan hari-hari gangguan jiwa dari perhitungan masih perlu ditinjau kembali. Bisa dikatakan, jika istri tidak rela tinggal bersama suaminya pada hari-hari gangguan jiwa dan menunggu hingga suaminya sadar, maka ia berhak melakukannya. Sebab, ia dapat berkata, “Suamiku tinggal bersama istri yang lain dalam keadaan sadar,” dan prinsip keadilan tetap dijaga. Namun, jika ia tetap tinggal bersama suaminya dalam keadaan gangguan jiwa, maka hal itu dianggap sebagai kerelaan terhadap cacat yang sebenarnya boleh dijadikan alasan untuk menolak. Jika hari-hari gangguan jiwa tidak diperhitungkan, maka ini semakin menegaskan gugurnya hukum pembagian (qasm) pada hari-hari gangguan jiwa secara keseluruhan, sebagaimana telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Allah Maha Mengetahui.

ثم قال الأئمة إن كان الزوج محجوراً سفيهاً فهو في نفسه مخاطب بالتسوية بينهن فإنه عاقل مكلف ولا مدخل للولي في هذا

Kemudian para imam berkata, jika suami itu sedang dalam keadaan dibatasi (harta) karena safih, maka ia sendiri tetap terkena kewajiban untuk berbuat adil di antara para istrinya, karena ia adalah orang yang berakal dan mukallaf, dan wali tidak memiliki peran dalam hal ini.

ثم قال وإن خرج من عند واحدة في الليل أو أخرجه السلطان إلى آخره

Kemudian ia berkata: “Dan jika ia keluar dari salah satu (istri) pada malam hari, atau jika ia dikeluarkan oleh penguasa, dan seterusnya.”

إذا كان الزوج عند واحدة في نوبتها فخرج في بقية الليل باختيارٍ أو أخرجه السلطانُ فقد تبعض على صاحبة النوبة حقُّها في هذه الليلة فيجب على الزوج قضاءُ ما فاتها من حقها ولم يصر أحدٌ من الأصحاب إلى أن ما مضى من الليل يبطُل ويتعطل حتى يجب قضاء الليلة بتمامها وإن كنَّا ذكرنا وجهاً في أنه لو جامع في نوبةِ واحدةٍ ضرّتها فقد بطلت الليلة وهذا الوجه حيثما ذكرناه ضعيف ثم الفرق لائح فالذى يجب قضاؤه المقدارُ الذي فات

Jika seorang suami berada di rumah salah satu istrinya pada giliran malamnya, lalu ia keluar pada sisa malam itu baik atas pilihannya sendiri atau karena dikeluarkan oleh penguasa, maka hak istri yang mendapat giliran malam itu menjadi terkurangi pada malam tersebut. Oleh karena itu, suami wajib mengganti hak istri yang terlewatkan. Tidak ada satu pun dari para ulama yang berpendapat bahwa bagian malam yang telah berlalu menjadi batal dan tidak berlaku sehingga suami wajib mengganti seluruh malam secara utuh. Meskipun kami pernah menyebutkan satu pendapat bahwa jika suami berhubungan badan dengan istri lain pada giliran malam istri yang sedang mendapat giliran, maka malam itu menjadi batal, namun pendapat ini, di mana pun disebutkan, adalah lemah. Maka perbedaannya jelas, yang wajib diganti hanyalah bagian yang terlewatkan saja.

ثم إذا أراد قضاءه وتحته امرأتان مثلاً فالوجه أن يبيت المقدار الذي كان فيه عند تلك الزوجة عند صديقٍ أو في مسجدٍ فإذا انتهى إلى الزمن الذي خرج فيه عاد إليها وأقام عندها ولا يضر تخلفه عن ضرتها في ليلة تامة فإنّ تخلل التفريق والفُرَجُ في خلَلَ القسم ليس ظلماً إذا لم يكن فيها مقيماً عند واحدة فإذاً المقدار الذي كان فيه ثاوياً عند صديق مستثنى من حساب نُوَبِ القَسْم وإنما المحسوب المقدار الذي يقضيه

Kemudian, jika ia ingin mengganti giliran (bermalam) dan ia memiliki dua istri, misalnya, maka cara yang tepat adalah ia bermalam selama waktu yang seharusnya ia habiskan di rumah istri tersebut di tempat seorang teman atau di masjid. Setelah waktu yang ia tinggalkan itu selesai, ia kembali ke rumah istrinya dan tinggal bersamanya. Tidak masalah jika ia tidak bermalam di rumah istri yang lain selama satu malam penuh, karena jeda dan sela-sela dalam pembagian giliran tidak dianggap sebagai kezaliman selama ia tidak menetap di rumah salah satu istri. Maka, waktu yang ia habiskan di rumah teman dikecualikan dari perhitungan giliran pembagian, dan yang dihitung hanyalah waktu yang ia gunakan untuk mengganti giliran tersebut.

ثم التبعيض في هذه الصورة محتملٌ على الضرورة وإن كنا نمنع من وضع القَسْم على أنصاف الليالي فإنما نمنع ذلك على الاختيار وإذا حَمل عليه اضطرارٌ في القضاء فلا بد من احتماله

Kemudian, pembagian sebagian dalam kasus ini dibolehkan karena darurat, meskipun kami melarang menetapkan giliran (qasm) berdasarkan separuh malam; larangan itu hanya berlaku dalam kondisi pilihan. Namun, jika keadaan darurat menuntut demikian dalam pelaksanaan qadha, maka hal itu harus dapat diterima.

وإن أراد الذي يبغي قضاء نصفِ ليلة أن يبيت في النصف الأول عند زوجتيه فهو ممكن فليجعله نصفين في المقدار متساويين يقيم في أحد النصفين وهو ربع الليلة عند إحداهن ويبيت في الربع الآخر عند الأخرى وقد حان وقت القضاء والأشبه أن يقيم عند التي يقضي لها ثلاثةَ أرباع ليلةٍ ليلةً وِلاءً حتى لا يحتاج إلى الانتقال

Jika seseorang ingin mengganti waktu setengah malam, lalu ia bermalam pada separuh pertama malam di rumah kedua istrinya, hal itu memungkinkan. Maka hendaknya ia membaginya menjadi dua bagian yang sama besar; ia tinggal pada salah satu bagian, yaitu seperempat malam, di salah satu istrinya, dan bermalam pada seperempat malam lainnya di istri yang lain. Ketika tiba waktu mengganti (giliran), yang lebih mendekati (pendapat) adalah ia tinggal di sisi istri yang sedang digantikan haknya selama tiga perempat malam secara berturut-turut, agar ia tidak perlu berpindah-pindah.

ثم قال وليس للأماء قَسْمٌ ولايُعطَّلْن لا خلاف أنه لا قَسْم للإماء ولا قَسْم للمستولدات أيضاًًً وإن ثبت لهن أحكام الفراش عند بعض العلماء ثم كما لا قَسْم لهن مع الزوجات لا قسم بينهن والمولى بالخيار فيهن وما ينشأ من إسقاط حكمهن وهو عظيم الوقع على الحرائر المنكوحاتأن الزوج لو أقام عند أَمَةٍ دهراً فلا اعتراض عليه مع العلم بما يتداخل الزوجات من ذلك ولكن مقتضى الشرع أنهن مخرجات من الاعتبار نفياً وإثباتاً وإنما يُطلب حق القسم إذا دخل على واحدة من المنكوحات فللباقيات جينئذٍ أن يُطالبنه بالتسوية

Kemudian ia berkata, “Budak perempuan tidak memiliki hak giliran (qasm), dan mereka tidak boleh ditelantarkan.” Tidak ada perbedaan pendapat bahwa budak perempuan tidak memiliki hak giliran, begitu pula budak perempuan yang telah melahirkan anak (mustawladat), meskipun sebagian ulama menetapkan bagi mereka hukum-hukum ranjang (firaash). Sebagaimana mereka tidak memiliki hak giliran bersama para istri, demikian pula tidak ada pembagian giliran di antara mereka sendiri, dan tuan (pemilik) bebas memilih di antara mereka. Konsekuensi dari penghilangan hak mereka ini sangat berdampak besar terhadap para istri merdeka yang dinikahi, yaitu jika seorang suami tinggal bersama budak perempuannya selama bertahun-tahun, maka tidak ada yang dapat memprotesnya, meskipun diketahui dampaknya terhadap para istri. Namun, tuntutan syariat adalah bahwa mereka (budak perempuan) dikeluarkan dari pertimbangan, baik dalam penetapan maupun penafian. Hak giliran baru dapat diminta jika suami telah berhubungan dengan salah satu istri yang dinikahi, maka para istri lainnya berhak menuntut keadilan dalam pembagian giliran.

ثم ذكر الشافعي فصلاً في إضرار الرجل بامرأته ورفْعِها شكواها إلى مجلس القاضي ونحن نرى تأخير ذلك إلى باب الحَكَمَيْن وفيه نذكر إضرارها ونشوزَها عليه والتباسَ الأمر بينهما وقد عقد الشافعي في النشور باباً مُفرداً

Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan satu bagian tentang tindakan suami yang membahayakan istrinya dan pengaduan istri tersebut ke majelis qadhi. Namun, kami berpendapat untuk menunda pembahasan itu hingga pada bab al-hakamain, di mana kami akan membahas tentang tindakan istri yang membahayakan suaminya, pembangkangan istri terhadap suaminya, serta kerumitan perkara di antara keduanya. Asy-Syafi‘i sendiri telah membuat satu bab khusus tentang pembangkangan dalam kitab an-Nusyūz.

ثم قال وله منعها من شهود جنازة أمها وأبيها وما أحب ذلك إلى آخره

Kemudian beliau berkata, “Dan suami berhak melarang istrinya untuk menghadiri jenazah ibu atau ayahnya, meskipun aku tidak menyukai hal itu,” dan seterusnya.

للزوج أن يُلزم المرأةَ لزومَ البيت ويمنعَها من الخروج حسماً ويمنعها عن عيادة الوالدين إذا مرضا فضلاً عن زيارتهما ويمنعها عن شهود تجهيزهما إذا ماتا هذا الحق ثابت له إجماعاً

Suami berhak mewajibkan istri untuk tetap tinggal di rumah dan melarangnya keluar secara mutlak, serta melarangnya menjenguk kedua orang tuanya jika mereka sakit, apalagi sekadar mengunjungi mereka, dan melarangnya menghadiri prosesi pemakaman jika keduanya meninggal. Hak ini telah tetap baginya berdasarkan ijmā‘.

ولكن قال الشافعي وما أحب ذلك أراد أني لا أستحب للزوج الغلوّ إلى هذا الحد فإنه سرف يُفضي إلى الحمل على قطيعة الأرحام ثم فيه حملُها على ما تمقُت به الزوَج وتفرَكُه لأجله ثم يتنغص العيش عليه فيؤدي الأمر إلى قطع الوُصلة والمسلك المستقيم رعايةُ القصد على التعميم وكلا طرفي قصد الأمور ذميم فلا ينبغي أن يأذن لها في التبرج ولا يمنَعها عن زيارة الأبوين وعيادِتهما وشهودِ تجهيزهما أو زيارةِ القبر فأمَّا اتباع الجنازة إلى المقبرة فإنه هُتكة وتكشف فالأولى منعها

Namun, asy-Syafi‘i berkata, “Aku tidak menyukai hal itu,” maksudnya aku tidak menganjurkan suami untuk berlebihan sampai batas tersebut, karena itu adalah sikap berlebih-lebihan yang dapat menyebabkan terputusnya hubungan silaturahmi. Selain itu, hal itu juga dapat mendorong istri melakukan sesuatu yang membuat suami membencinya dan menjauhinya karena hal itu, sehingga kehidupan rumah tangga menjadi tidak harmonis dan akhirnya menyebabkan terputusnya hubungan. Jalan yang lurus adalah menjaga sikap pertengahan secara umum, karena kedua ujung sikap yang berlebihan adalah tercela. Maka, tidak sepantasnya suami mengizinkan istrinya untuk bertabarruj, namun juga tidak boleh melarangnya untuk mengunjungi kedua orang tuanya, menjenguk mereka, menghadiri pemakaman mereka, atau menziarahi kubur mereka. Adapun mengikuti jenazah sampai ke pemakaman, itu adalah tindakan yang membuka aurat dan menimbulkan fitnah, maka yang utama adalah melarangnya.

باب الحال التي يختلف فيها حال النساء

Bab tentang keadaan yang berbeda-beda pada wanita

مضمون الباب الكلامُ في حق الزِّفاف فنقول إذا نكح الرجل بكراً أو ثيّباً وعنده زوجات فتُخَص المزفوفةُ إليه بحقٍّ في العقد غيرِ محسوب في نُوَبِ القَسْم فإذا انقضى ذلك كما سنصفه عاد إلى ترتيب النُّوَب فإن كانت الجديدة بكراً خَصّها بسبع ليالٍ وإن كانت ثيِّباً خَصّها بثلاث ليالٍ ثم لا تحسب السبع والثلاث على الجديدتين ولا يلزمه قضاؤهما في حقوق المتقدمات

Isi bab ini membahas tentang hak malam pertama. Kami katakan, apabila seorang laki-laki menikahi seorang perempuan, baik perawan maupun janda, sementara ia telah memiliki istri-istri lain, maka istri yang baru dinikahi itu diberi hak khusus yang ditetapkan dalam akad, yang tidak dihitung dalam giliran pembagian malam. Setelah masa itu selesai, sebagaimana akan kami jelaskan, ia kembali kepada urutan giliran. Jika istri yang baru itu seorang perawan, maka ia diberi hak tujuh malam, dan jika ia seorang janda, maka ia diberi hak tiga malam. Tujuh atau tiga malam tersebut tidak dihitung sebagai bagian dari giliran istri-istri yang baru, dan suami tidak wajib menggantinya untuk istri-istri yang lebih dahulu dinikahi.

وأبو حنيفةَ يجوِّز التخصيصَ ويُلزم القضاءَ في البكر والثيب ومعتمد الشافعي ما روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أقام عند أم سلمة لما زُفت إليه ثلاثَ ليال فلما انقضت فارقها فتعلقت برسول الله فقال صلى الله عليه وسلم ليس على أهلك هوان! إنْ شئت سبَّعتُ عندك وسبَّعت عندهن وإن شئت ثلّثت عندك ودُرت وعن أنس أنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم للبكر سبع وللثّيبِ ثلاث فالباب موضوع على الخبرِ ومقتضاه ما ذكرناه فللبكر سبعٌ فإنها نفورةٌ فلا يزول ما بها من الحشمة والحياء إلاَّ بمدة والثيِّبُ في ذلك دونها ثم الرجوع في المقادير إلى التوقيف

Abu Hanifah membolehkan adanya takhshis (pembatasan hukum) dan mewajibkan qadha (mengganti) baik bagi perempuan yang masih perawan maupun yang janda. Pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi‘i adalah berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah saw. tinggal di rumah Ummu Salamah selama tiga malam ketika beliau baru menikahinya. Setelah tiga malam berlalu, beliau meninggalkannya, lalu Ummu Salamah memegang Rasulullah dan beliau bersabda: “Keluargamu tidak akan diperlakukan dengan hina! Jika engkau mau, aku akan tinggal tujuh malam di sisimu dan tujuh malam di sisi mereka, dan jika engkau mau, aku akan tinggal tiga malam di sisimu lalu bergiliran.” Dari Anas diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Untuk perempuan perawan tujuh malam, dan untuk perempuan janda tiga malam.” Maka bab ini didasarkan pada hadis tersebut, dan konsekuensinya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan: untuk perempuan perawan tujuh malam, karena ia biasanya lebih pemalu dan tidak mudah hilang rasa malu dan segannya kecuali dalam waktu tertentu, sedangkan untuk perempuan janda kurang dari itu. Kemudian, dalam hal penentuan jumlah malam, kembali kepada penetapan syariat (tawqif).

ثم لو أقام عند الثيِّب سبعاً بطلبها ورضاها أقام عند كل واحدة من صاحباتها سبعاً سبعاً وبطل حقُّ اختصاصها بحق العقد وإن أقام عندها ثلاثاًً لم يقض الثلاث

Kemudian, jika ia tinggal bersama istri yang sudah pernah menikah selama tujuh hari atas permintaan dan kerelaannya, maka ia juga tinggal bersama masing-masing istri lainnya selama tujuh hari tujuh hari, dan hak khusus istri tersebut karena akad menjadi gugur. Namun jika ia hanya tinggal selama tiga hari, maka ia tidak wajib mengganti tiga hari tersebut.

وإن أقام عندها سبعاً من غير طلبها لم يبطلُ اختصاصُها بالثلاث ولم يقض لصواحباتها إلا الأربع الزائدة على مقدار حقها والتعويل فيما ذكرناه على الخبر فإنه قال صلى الله عليه وسلم إن شئت سبَّعت لك وسبعت لهن وهذا تصريح بقضاء السبع وإن شئت ثلثت عنك ودُرت معناه عدت في الأدوار إلى أحسابها ولم أقض الثلاث وإنما قال هذا إذ طلبت منه أم سلمة أن يقيم فإذا لم يكن منها طلب لم يملك الزوج إبطالَ حقِّ عقدِها بإطالة المقام عندها

Jika ia tinggal bersamanya selama tujuh hari tanpa permintaan darinya, maka hak khususnya atas tiga hari tidak batal, dan ia tidak mengganti untuk istri-istri lainnya kecuali empat hari tambahan dari jumlah haknya. Dasar dari apa yang kami sebutkan adalah hadits, karena Rasulullah saw. bersabda: “Jika engkau mau, aku akan menetapkan tujuh hari untukmu dan tujuh hari untuk mereka.” Ini adalah penegasan bahwa yang diganti adalah tujuh hari. Dan jika engkau mau, aku akan menetapkan tiga hari untukmu dan kembali (berputar) artinya kembali pada giliran sesuai haknya, dan aku tidak mengganti tiga hari. Beliau mengatakan demikian karena Ummu Salamah meminta beliau untuk tinggal (lebih lama). Maka jika tidak ada permintaan darinya, suami tidak berhak membatalkan hak akadnya dengan memperpanjang masa tinggal bersamanya.

وذكر الأصحاب لِمَا ذكرناه من بطلان حقِ العقد نظيراً وفي ذلك النظير كلامٌ ولكنا نذكره قالوا لو قطع الجاني يدَ إنسانٍ من المرفق فقطع المجنيُّ عليه يدَه من الكوع في القصاص فليس له حكومة في الساعد فإنه قَطَعَ ما لم يكن له قَطْعُه وعدل عن حقه وكذلك الثيب إذا عدل عن حقها إلى ما هو حق غيرها

Para ulama menyebutkan, terkait apa yang telah kami sebutkan tentang batalnya hak akad, suatu analogi (nadhir), dan dalam analogi tersebut terdapat pembahasan. Namun, kami akan menyebutkannya: Mereka berkata, jika seorang pelaku kejahatan memotong tangan seseorang dari siku, lalu korban memotong tangan pelaku dari pergelangan tangan sebagai qishash, maka korban tidak berhak mendapatkan kompensasi (hukūmah) atas lengan bawah, karena ia telah memotong bagian yang bukan menjadi haknya untuk dipotong dan telah menyimpang dari haknya. Demikian pula, seorang perempuan yang sudah tidak perawan (tsayyib) jika ia menyimpang dari haknya kepada sesuatu yang merupakan hak orang lain.

ولو أقام عند البكر أكثرَ من سبع لم يقض لضراتها إلاَّ مقدار الزيادة

Jika suami tinggal bersama istri perawan lebih dari tujuh hari, maka ia hanya wajib mengganti kepada madunya sebesar kelebihan waktu yang melebihi tujuh hari tersebut.

ولسنا نفي بمعانٍ جامعة فارقة وإنما ندور على مقتضى الخبر فإذا لم نجد متعلقاً فيه رجعنا إلى التمسك بالقياس ومن القياس الجلي ألاَّ يبطل حقُ صاحبِ الحقِ إذا أخذَ أكثرَ من حقه فأجرينا الزيادةَ على حقِّ البكرِ على هذا القياس وتركنا ما ذكرناه في حق الثيب من بطلان حقها إذا طلبت الزيادةَ وأُجيبت على موجب الخبر

Kami tidak berpegang pada makna-makna umum yang membedakan, melainkan kami mengikuti apa yang ditunjukkan oleh hadis. Jika kami tidak menemukan landasan di dalamnya, maka kami kembali berpegang pada qiyās. Di antara qiyās yang jelas adalah bahwa hak seseorang tidak menjadi batal jika ia mengambil lebih dari haknya. Maka kami menerapkan tambahan atas hak perempuan perawan berdasarkan qiyās ini, dan kami tinggalkan apa yang telah kami sebutkan mengenai perempuan janda, yaitu batalnya haknya jika ia meminta tambahan dan permintaannya dikabulkan, sesuai dengan ketentuan hadis.

ولو طلبت الثيب أن يقيم عندها خمسَ ليال فهل يبطلُ حقُها بهذا المقدار من الزيادة أو بما دونها أم يتوقف بطلانُ حقِها في الثلاث على أن تطلب السبعَ أم ببعض هذا لم أرَ فيه نصاً وفي المسألة احتمال تشيرُ إليه الترديداتُ التي ذكرناها

Jika seorang wanita yang sudah pernah menikah meminta suaminya untuk tinggal bersamanya selama lima malam, apakah haknya menjadi gugur karena permintaan tambahan sebanyak itu atau kurang darinya, ataukah gugurnya haknya atas tiga malam itu bergantung pada permintaannya atas tujuh malam, ataukah dengan sebagian dari hal tersebut? Aku tidak menemukan nash (teks) yang jelas tentang hal ini, dan dalam masalah ini terdapat kemungkinan yang ditunjukkan oleh keraguan-keraguan yang telah kami sebutkan.

ومما يتعلق بالباب أنَّ المنكوحةَ إذا كانت أَمَة فكيف القول في حق عقدها إذا زُفت اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال هي كالحرة وإن كانت أعلى منها في القسم المستمر في دوام النكاح لأنَّ حقَّ العقدِ لغضِّ الحياء وكسر الحشمة وهذا يرجع إلى الجِبلَّة وما يتعلق بالجبلات من المُدد لا يختلف بالرق والحرية ولذا لم يتطرق إليه فرقٌ في مدة العُنَّة والإيلاء وفيما ذكرناه احتراز عن العدّة

Terkait dengan pembahasan ini, apabila istri yang dinikahi adalah seorang budak perempuan (amah), bagaimana hukum mengenai hak akadnya ketika ia diarak menuju suaminya? Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa statusnya sama seperti perempuan merdeka, meskipun perempuan merdeka lebih utama dalam hal pembagian giliran yang terus-menerus selama pernikahan. Sebab, hak akad itu bertujuan untuk menahan rasa malu dan meredam kehormatan, dan hal ini kembali kepada tabiat manusia. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tabiat, termasuk dalam hal lamanya waktu, tidak berbeda antara budak dan orang merdeka. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan dalam hal masa ‘innah (impotensi) dan ila’ (sumpah tidak menggauli istri). Penjelasan ini juga sebagai pengecualian dari masalah masa iddah.

ومن أصحابنا من رأى تنصيف حق العقد بالرق فإنَّ هذا على مضاهاة القَسْم وإن اختص بمزيد غرض فإلحاقه بقاعدة القَسْم أولى

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa hak akad dibagi dua karena perbudakan; hal ini didasarkan pada analogi dengan pembagian (qasm), dan meskipun terdapat tujuan tambahan yang khusus, maka menyamakannya dengan kaidah pembagian (qasm) lebih utama.

فإنْ فرعنا على هذا الوجه الأخير فلا وجه إلاَّ التنصيف فللأَمَةِ البكر ثلاثُ ليال ونصف والأيام على حسب ذلك وللأَمَةِ الثيب ليلةٌ ونصف والأيام كما ذكرناه وليس ذلك كالأقراء فإنَّا لا نثبت للأَمة في العدة قرءاً ونصفاً فإنَّ القروء لا تتبعض والليلة تتبعض

Jika kita membangun pendapat berdasarkan cara terakhir ini, maka tidak ada pilihan lain selain membaginya menjadi setengah. Maka untuk budak perempuan yang masih perawan, masa iddahnya adalah tiga malam setengah, dan hari-harinya mengikuti perhitungan tersebut. Sedangkan untuk budak perempuan yang janda, masa iddahnya adalah satu malam setengah, dan hari-harinya seperti yang telah kami sebutkan. Hal ini berbeda dengan masa quru’ (haid), karena kita tidak menetapkan bagi budak perempuan dalam masa iddah satu quru’ setengah, sebab quru’ tidak dapat dibagi-bagi, sedangkan malam dapat dibagi.

فإن قيل أليس تردَّدَ الأصحاب في الاعتداد بالأشهر فقال قائلون تعتد الأمة بشهرين قلنا سبب ذلك أنهم رأوا الأصل الأقراء فأثبتوا شهرين في مقابلة قرأين

Jika ada yang bertanya, bukankah para ulama berbeda pendapat tentang memperhitungkan bulan-bulan, sehingga sebagian dari mereka berpendapat bahwa budak perempuan menjalani masa iddah selama dua bulan? Kami katakan, sebab perbedaan itu adalah karena mereka memandang bahwa asalnya adalah masa haid (al-qurū’), lalu mereka menetapkan dua bulan sebagai pengganti dari dua kali haid.

والأصح أنَّ اعتداد الأمة بشهر ونصف وهاهنا قطعوا بالتنصيف إذ لا أصل يمتنع التبعيض فيه

Pendapat yang paling sahih adalah bahwa masa iddah bagi seorang budak perempuan adalah satu setengah bulan, dan dalam hal ini para ulama sepakat untuk membaginya menjadi setengah, karena tidak ada dasar yang melarang adanya pembagian dalam masalah ini.

ثم قال الشافعي ولا أحب أن يتخلف عن صلاة ولا عن شهود جنازة إلى آخره

Kemudian Imam Syafi‘i berkata: “Aku tidak suka jika seseorang meninggalkan salat atau tidak menghadiri pemakaman jenazah, dan seterusnya.”

أراد بهذا أنَّ الزوج في إقامته أيام الزفاف عند زوجته ينبغي أن لا يترك إقامة الجماعات والخروج لها وهذا إنما ذكره الشافعي على ظهوره لأنَّ أهل الحجاز يعتادون لزومَ بيت العرس إلى انقضاء أيامٍ لا يرون البروز فيها فأبان أنَّ تلك العادة لا أصل لها

Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa seorang suami ketika tinggal di rumah istrinya pada hari-hari pernikahan sebaiknya tidak meninggalkan pelaksanaan shalat berjamaah dan tetap keluar untuk mengikutinya. Hal ini disebutkan oleh Imam Syafi‘i secara jelas karena penduduk Hijaz terbiasa menetap di rumah pernikahan hingga beberapa hari dan mereka memandang tidak pantas untuk keluar pada hari-hari tersebut. Maka beliau menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak memiliki dasar.

باب القَسْمِ للنساء إذا حَضَرَ سفرٌ

Bab pembagian giliran bagi para istri ketika ada perjalanan.

نقول في صدر الباب إذا أراد الانتقال إلى بلدة أخرى فهو بين أمرين إمَّا أن يستصحبَ جميعَ زوجاته وإمَّا أن يخلّفهن ولا معترض عليه في ظاهر الحكم في واحد من الأمرين

Kami katakan di awal pembahasan bahwa jika seseorang ingin pindah ke kota lain, maka ia dihadapkan pada dua pilihan: membawa serta semua istrinya, atau meninggalkan mereka. Tidak ada pihak yang dapat mempersoalkan secara lahiriah hukum pada salah satu dari dua pilihan tersebut.

وأمَّا إذا أراد أن يستصحب بعضَهن وينتقلَ معها ويخلِّف الباقيات فهذا حرامٌ محض

Adapun jika ia ingin membawa serta salah satu dari mereka dan berpindah bersamanya, sementara meninggalkan yang lainnya, maka hal ini adalah haram secara mutlak.

وإذا كنا نُحرِّم تفضيل امرأة بلحظة من القَسْم لما فيه من إثبات التخصيص والميل فالانتقال ببعضهن وتعطيل الباقيات أعظم من هذا

Dan jika kita mengharamkan mengutamakan seorang istri dengan memberikan waktu lebih dalam pembagian giliran karena hal itu berarti menetapkan perlakuan khusus dan kecenderungan, maka berpindah hanya kepada sebagian dari mereka dan menelantarkan yang lainnya adalah perbuatan yang lebih besar dari itu.

والذي يدور في الخَلَد أنه إذا انتقل إلى بلدة أخرى وأزمعَ إدامةَ الإقامة وخلّف الزوجات بجملتهن فقد يخطِر للفقيه أنهن يتضررن باحتباسهن عمرَهن وليس كما لو كان يمتنع من الدخول عليهن وهو حاضر فإنهن كنَّ يرجون أن يعود إلى المألوف من معاشرتهن والعَوْدُ ممكن وأما إذا انتقل وخلّفهن فهذا ضرر بيِّن وليس ينتهي الأمر إلى التحريم

Yang terlintas dalam benak adalah bahwa jika seseorang pindah ke kota lain dan berniat menetap di sana, serta meninggalkan seluruh istrinya, mungkin seorang faqih akan berpikir bahwa para istri tersebut akan mengalami kesulitan karena harus menahan diri sepanjang hidup mereka. Hal ini berbeda dengan keadaan ketika suami menahan diri untuk tidak berhubungan dengan mereka sementara ia masih hadir, karena dalam keadaan itu para istri masih berharap suaminya akan kembali seperti biasa dan kemungkinan untuk kembali tetap ada. Adapun jika suami pindah dan meninggalkan mereka, maka ini merupakan kemudaratan yang jelas, namun perkara ini tidak sampai pada derajat keharaman.

فإنْ لم يكن سفرُه سفرَ نُقلةٍ فهو في الخِيرَتين المذكورتين في سفر النُّقلة على ما ذكرناه فإنْ شاء خلّفهن ولم يستصحب واحدة منهن وإن شاء سافر بهن

Jika perjalanannya bukanlah perjalanan pindah tempat tinggal (safar nuqlah), maka ia berada pada dua pilihan sebagaimana disebutkan dalam safar nuqlah, seperti yang telah kami sebutkan; jika ia mau, ia dapat meninggalkan istri-istrinya dan tidak membawa satu pun dari mereka, dan jika ia mau, ia dapat bepergian bersama mereka.

ولو أراد أن يسافر ببعضهن ويخلِّفَ الباقيات فليس له أن يفعل ذلك بانياً على تخيّره وإرادته إذ ذلك لو فعله مناقضٌ لوضع القَسْم من المنع عن إظهار الميل

Jika ia ingin bepergian dengan sebagian istrinya dan meninggalkan yang lainnya, maka ia tidak boleh melakukan hal itu berdasarkan pilihannya dan keinginannya sendiri, karena jika ia melakukannya, hal itu bertentangan dengan tujuan qasm, yaitu mencegah tampaknya kecenderungan (kepada salah satu istri).

وحقه إذا أرادَ المسافرةَ ببعض نسائه أن يقرع بينهن فيسافرَ بمن تخرجُ القرعةُ عليها وإذا فعل ذلك فالأيام التي تنقضي في سفره لا يلزمه قضاؤها للمخلّفات إذا رجع إليهن

Haknya, jika ia ingin bepergian bersama sebagian istrinya, adalah mengundi di antara mereka, lalu bepergian bersama istri yang keluar undian atasnya. Jika ia telah melakukan hal itu, maka hari-hari yang berlalu selama perjalanannya tidak wajib ia ganti untuk istri-istri yang ditinggalkan ketika ia kembali kepada mereka.

والأصل في الباب ما روي عن عائشة أنها قالت كان صلى الله عليه وسلم إذا أراد سفراً أقرع بين نسائه فمن خرجت قرعتُها سافر بها ثم صح بطريق الاستفاضة أنه كان إذا رجع يجري على النوب في القَسْم

Dasar hukum dalam bab ini adalah riwayat dari Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah saw. apabila hendak melakukan safar, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang keluar undiannya, maka beliau bepergian bersamanya. Kemudian telah sahih secara mutawatir bahwa apabila beliau kembali, beliau menjalankan giliran dalam pembagian (malam).

وذكر الأئمة معنى كلياً والتعويل على الخبر ونحن نذكر منه ما ينضبط به المذهب إذا تفرعت مسائل الباب فنقول المرأة التي تخرج مع زوجها مسافرة وإن كانت تحظى بصحبة الزوج فإنها تشقى بما تلقى من محن السفر وينضم إلى هذه سقوطُ اعتبار الرجل في تحكيمه القرعة والمخلّفةُ وإن كانت تشقى بفُرقة الزوج فهي على حظٍّ بالتردد والتودع في البلد فهذا أصل الباب وأبو حنيفة يُلزم قضاء أيام السفر للمخلّفات ولا يجعل للقرعة أثراً في إسقاط القضاء

Para imam telah menyebutkan makna yang bersifat umum dan menekankan pada hadis, dan kami akan menyebutkan darinya apa yang dapat dijadikan pedoman dalam mazhab ketika cabang-cabang permasalahan bab ini muncul. Kami katakan: perempuan yang bepergian bersama suaminya, meskipun ia mendapatkan kebersamaan dengan suami, namun ia juga mengalami kesulitan karena cobaan perjalanan, dan di samping itu, gugur pula pertimbangan suami dalam penetapan undian. Adapun perempuan yang ditinggal (mukhallafah), meskipun ia menderita karena berpisah dengan suami, ia tetap memiliki kesempatan untuk bolak-balik dan berpamitan di kota. Inilah pokok permasalahan bab ini. Abu Hanifah mewajibkan qadha (mengganti) hari-hari perjalanan bagi perempuan yang ditinggal, dan tidak menganggap undian berpengaruh dalam menggugurkan kewajiban qadha.

ثم ذكر أئمتنا مسائلَ مرسلةً تأتي على أطراف الباب ونحن نأتي بها ثم نجمعها في ربقة جامعة

Kemudian para imam kami menyebutkan beberapa permasalahan yang tersebar yang berkaitan dengan pokok bahasan ini, dan kami akan menyebutkannya lalu mengumpulkannya dalam satu rangkuman yang menyeluruh.

فمما ذكروه أن الرجل إذا بلغ المقصد فلو نوى مقام أربعة أيام فعليه قضاؤها للمخلَّفات إذا رجع فإنه في إقامته خرج عن حكم المسافرين وهذا مما أجمع عليه أئمة المذهب القاضي والصيدلاني وغيرهما

Di antara yang mereka sebutkan adalah bahwa apabila seseorang telah sampai pada tujuannya, lalu ia berniat tinggal selama empat hari, maka ia wajib mengganti salat-salat yang ditinggalkannya ketika kembali, karena dengan tinggalnya itu ia telah keluar dari hukum musafir. Hal ini merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh para imam mazhab, seperti al-Qadhi, as-Saydalani, dan yang lainnya.

ثم إذا ابتدأ الرجوعَ فهل يلزمه قضاءُ مدة الرجوع فعلى وجهين مشهورين أحدهما يلزمه فإنه من وقت الخروج عن حد المسافرين انقطع حكم السفر المُسقط للقضاء فتلتحق أيام رجوعه بأيام إقامته

Kemudian, apabila seseorang mulai kembali (dari safar), apakah ia wajib mengqadha (puasa) selama masa kepulangannya? Ada dua pendapat yang masyhur. Salah satunya menyatakan bahwa ia wajib mengqadha, karena sejak ia keluar dari batas musafir, hukum safar yang menggugurkan kewajiban qadha telah terputus, sehingga hari-hari kepulangannya disamakan dengan hari-hari ia bermukim.

والوجه الثاني أنه لا يقضي للمخلفات أيام الرجوع فإنه من وقت ابتداءِ الرجوعِ تركَ ما لابَسَهُ من الإقامة وعاد إلى حكمِ السفر وقد اقتضى السفر سقوطَ القضاء وهو من وقت الرجوع مسافر

Pendapat kedua adalah bahwa tidak wajib mengqadha bagi orang yang meninggalkan (puasa) pada hari-hari ketika ia kembali (dari safar), karena sejak mulai kembali, ia telah meninggalkan status sebagai orang yang mukim dan kembali kepada hukum sebagai musafir. Sementara safar menyebabkan gugurnya kewajiban qadha, dan sejak waktu kembali itu ia berstatus sebagai musafir.

وناصر الوجه الأول يقول الظاهر يقتضي أن يقضي للمخلَّفات إذا خصص واحدة من الضَرَّات بالصحبة ولكن القرعة اقتضت جواز التخصيص من غير قضاء فإذا انقطع حكم القرعة بالإقامة لم يعد حكمُها ولا بد من استفتاح قرعة أخرى ولا سبيل إلى ذلك إلاَّ عند العَوْد وفرضِ إنشاء سفر وابتداء إقراع عنده وهذا بمثابة ما لو اعتدى المودَع وضمن فإذا ترك العُدوان لم يعد أميناً إذ جرى الائتمان أولاً مطلقاً

Pendukung pendapat pertama mengatakan bahwa zahir (makna lahiriah) mengharuskan untuk memberikan hak kepada para istri yang ditinggalkan jika salah satu dari para istri dimonopoli untuk menemani (suami dalam perjalanan), namun undian (qur‘ah) membolehkan adanya pemonopolian tanpa harus memberikan hak kepada yang lain. Maka, jika hukum undian dalam menetapkan tempat tinggal telah berakhir, hukumnya pun tidak kembali lagi, dan harus dilakukan undian baru. Tidak ada jalan untuk itu kecuali ketika kembali melakukan perjalanan dan menetapkan perjalanan baru serta mengadakan undian pada saat itu. Hal ini seperti halnya jika orang yang diberi titipan berbuat melampaui batas dan menjadi penjamin, maka jika ia berhenti dari perbuatan melampaui batas, ia tidak kembali menjadi orang yang dipercaya, karena kepercayaan pertama kali diberikan secara mutlak.

ثم إن حكمنا بأنه يقضي أيام رجوعه للمخلفات فلا كلام وإن حكمنا بأنه لا يقضي فالذي قطع به الأئمة أن الأيام التي لا يقضيها أولها من وقت خروجه متوجهاً إلى الوطن الذي به المخلّفات

Kemudian, jika kita memutuskan bahwa ia harus mengqadha hari-hari selama masa kembalinya karena adanya tanggungan, maka tidak ada perdebatan. Namun, jika kita memutuskan bahwa ia tidak perlu mengqadha, maka para imam secara tegas menyatakan bahwa hari-hari yang tidak perlu diqadha itu dimulai sejak waktu keberangkatannya menuju kampung halaman tempat adanya tanggungan tersebut.

وفي بعض التصانيف أنَّ أول الوقت عند عزمه على الانكفاء وقصده وهذا غلط صريح فإنَّ حكم الإقامة إذا ثبت لا يزول إلا بمزايلة المكان الذي ثبت حكم الإقامة فيه

Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa awal waktu (perjalanan) adalah ketika seseorang berniat untuk berangkat dan berniat untuk pergi. Namun, ini adalah kesalahan yang nyata, karena hukum iqāmah (menetap) jika telah berlaku, tidak akan hilang kecuali dengan benar-benar meninggalkan tempat di mana hukum iqāmah itu telah berlaku.

وإنما وقع لهذا المصنف هذا من قول الأصحاب إنه إذا قصد الإقامة لزمه القضاء من هذا الوقت فظن أن قصد الرجوع في قطع الإقامة كقصد الإقامة في قطع السفر وهذا ظاهر السقوط ولا مصدر له عن فكرٍ فإنَّ الإقامة تحصل بمجرد القصد كما تحصل القِنية في البضائع لمحض النية ولا تنقطع الإقامة إلاَّ بفعل السفر كما لا ينعقد حول التجارة إلا بإنشاء عقد التجارة فليس هذا إذاً معدوداً من المذهب

Hal ini terjadi pada penulis ini karena ucapan para ulama mazhab bahwa jika seseorang berniat untuk menetap, maka ia wajib mengqadha sejak saat itu. Ia mengira bahwa niat untuk kembali (ke tempat asal) dalam memutuskan status menetap sama seperti niat untuk menetap dalam memutuskan status safar. Padahal, ini jelas keliru dan tidak bersumber dari pemikiran yang benar. Sebab, status menetap itu terjadi hanya dengan niat, sebagaimana kepemilikan barang dagangan terjadi hanya dengan niat, dan status menetap tidak terputus kecuali dengan melakukan perjalanan, sebagaimana haul perdagangan tidak dihitung kecuali dengan memulai akad perdagangan. Maka, hal ini tidak termasuk dalam pendapat mazhab.

وقد ذكر العراقيون اختلافاً للأصحاب على مناقضة هذا فقالوا إذا سافر الرجل ببعض نسائه عازماً على الانتقال إلى البقعة المقصودة فهذا ظلم منه وإذا انتهى إلى البقعة المأمومة فالأيام التي تتفق الإقامة فيها بها مقضية والأيام التي قطع فيها المسافة من الوطن إلى البقعة فعلى وجهين أحدهما أنها لا تُقضى فإنها أيام سفر والمسألة مفروضة في الإقراع واتباع خروج القرعة لا محالة

Orang-orang Irak menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat mengenai kontradiksi hal ini. Mereka berkata: Jika seorang laki-laki bepergian dengan sebagian istrinya dengan niat untuk pindah ke tempat tujuan, maka itu merupakan kezaliman darinya. Jika ia telah sampai di tempat yang dituju, maka hari-hari yang ia tinggali di sana harus diganti, sedangkan hari-hari yang ia tempuh dalam perjalanan dari kampung halaman ke tempat tujuan ada dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hari-hari itu tidak perlu diganti karena itu adalah hari-hari safar, dan masalah ini memang diasumsikan dalam konteks pengundian (qur‘ah) dan mengikuti hasil undian tersebut, tidak diragukan lagi.

والثاني أن تلك الأيام مقضية فإنها قصدُ ظلم فكانت في معنى الظلم وهذا أوجه والوجه الأول مزيف وليكن ميل الفقيه في الباب إلى القضاء مهما وجد فيه مستمسكاً

Kedua, hari-hari tersebut harus diganti karena itu merupakan maksud kezaliman, sehingga termasuk dalam makna kezaliman. Pendapat ini lebih kuat, sedangkan pendapat pertama lemah. Hendaknya kecenderungan seorang faqih dalam masalah ini adalah kepada kewajiban qadha’ selama ia menemukan alasan yang dapat dijadikan pegangan.

وإذا أقام في البقعة التي قصدها وثبت له حكم الإقامة وانقطعت رخص المسافرين ثم إنه أنشأ سفراً من تلك البقعة قُدُماً وهو مُستدبر وطنَه مثلاً فإن قلنا أيام رجوعه إلى الوطن مقضية فهذه الأيام مقضية وإن قلنا أيام الرجوع لا تُقضى فالحال ينقسم في تقدمه بالسفر فإن بدا له هذا السفر الآن ولم يكن عازماً عليه في خروجه الأول فهذه الأيام مقضية فإنه أنشأ السفر عن إقامةٍ وما كان عزم عليه قبلُ

Jika seseorang menetap di tempat yang ia tuju dan telah berlaku baginya hukum mukim serta hak-hak keringanan musafir telah terputus, kemudian ia memulai perjalanan baru dari tempat tersebut ke depan, sementara ia membelakangi kampung halamannya, misalnya, maka jika kita katakan hari-hari kepulangannya ke kampung halaman adalah hari-hari qadha, maka hari-hari ini juga adalah hari-hari qadha. Namun jika kita katakan hari-hari kepulangan tidak diqadha, maka keadaannya terbagi dalam perjalanannya ke depan. Jika perjalanan ini baru terlintas baginya sekarang dan ia tidak berniat melakukannya saat keluar pertama kali, maka hari-hari ini adalah hari-hari qadha, karena ia memulai perjalanan setelah bermukim, dan bukan karena niat sebelumnya.

وإن كان نوى أن يمتد إلى بغداد فأقام بالرَّي الإقامة التي وصفناها ثم استتم سفرته إلى بغداد فهذا فيه احتمالٌ على قولنا أيامُ الرجوع غيرُ مقضية والأوجه هاهنا وجوب القضاء

Jika seseorang berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Baghdad, lalu ia menetap di Rayy dengan masa tinggal sebagaimana yang telah kami jelaskan, kemudian ia menyelesaikan perjalanannya ke Baghdad, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan—menurut pendapat kami—hari-hari kepulangan tidak perlu diqadha, namun pendapat yang lebih kuat di sini adalah wajib mengqadha.

ويجوز أن نَفْصل بين أن يقطع نيةَ السفر ثم تبدو له فيعود وبين أن يكون مستديماً لنية السفر الأقصى ولكن نوى إقامة أيامٍ في بقعة فتنتظم أوجه وجهان عامَّان في النفي والإثبات ووجه مُفَصَّل كما نبهنا عليه

Dan boleh jadi kita membedakan antara seseorang yang memutus niat safar lalu muncul keinginan baginya untuk kembali bersafar, dengan seseorang yang terus-menerus berniat melakukan safar yang jauh namun berniat tinggal beberapa hari di suatu tempat; maka terdapat dua pendapat umum, yaitu membolehkan dan melarang, serta satu pendapat terperinci sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya.

ولو نوى مُقام المسافرين فهو مسافر لا يتغير من الحكم الذي ذكرناه في القسم شيء

Dan jika ia berniat tinggal seperti tinggalnya para musafir, maka ia tetap dianggap sebagai musafir dan tidak ada perubahan sedikit pun dari hukum yang telah kami sebutkan dalam bagian ini.

وذكر العراقيون أنه إذا سافر ببعض نسائه سفراً قصيراً فيلزمه القضاء وزعموا أن القضاء إنما يسقط في السفر الطويل عند فرض القرعة المسقطة للاختيار وكأنهم عدُّوا سقوط القضاء في مقابلة المشقة التامة

Orang-orang Irak menyebutkan bahwa jika seseorang bepergian dengan sebagian istrinya dalam perjalanan yang singkat, maka ia wajib mengganti (giliran bermalam). Mereka berpendapat bahwa kewajiban mengganti itu hanya gugur dalam perjalanan yang panjang ketika dilakukan undian yang menghilangkan pilihan. Seolah-olah mereka menganggap gugurnya kewajiban mengganti itu sebagai kompensasi atas kesulitan yang sangat berat.

وكان شيخي يتردد في هذا ويقول من الرخص ما يتعلق بالسفر القصير والطويل وفاقاً أو على قولٍ وأحراها بالذكر الجمع بين الصلاتين تقديماً وتأخيراً

Guru saya ragu-ragu dalam hal ini dan berkata bahwa di antara rukhshah yang berkaitan dengan safar, baik yang pendek maupun yang panjang, baik menurut kesepakatan maupun menurut salah satu pendapat, dan yang paling layak disebutkan adalah penggabungan antara dua salat, baik dengan cara taqdim maupun ta’khir.

والوجه عندي القطع بما ذكره العراقيون فإنَّ ما نحن فيه يضاهي إسقاط العبادات أو تخلية الأوقات منها وهذا الفن لا يثبت إلا في السفر الطويل والله أعلم

Menurut pendapat saya, yang benar adalah apa yang disebutkan oleh para ulama Irak, karena permasalahan yang sedang kita bahas ini serupa dengan menggugurkan kewajiban ibadah atau mengosongkan waktu dari ibadah, dan ketentuan seperti ini hanya berlaku dalam perjalanan jauh. Allah lebih mengetahui.

فهذه المسائل أطلقها الأصحاب وما أحوجَها إلى رباط يحويها

Maka persoalan-persoalan ini telah disebutkan secara umum oleh para ulama, dan betapa perlunya ia kepada suatu ikatan yang dapat menghimpunnya.

وقد أجرى الأصحاب في صدر الباب النُّقلة وهذا قد يخيِّل أن إقامة أيام وإن جرى العزم عليها لا توجب القضاء ثم صرحوا بأنه لو أقام أربعة أيام على قصد وعزم فهذه الأيام مقضية وكل ما ذكروه صحيح

Para ulama dalam pembahasan awal bab ini telah membahas tentang perpindahan, dan hal ini mungkin memberikan kesan bahwa menetap selama beberapa hari, meskipun sudah diniatkan sebelumnya, tidak mewajibkan qadha. Namun kemudian mereka menegaskan bahwa jika seseorang menetap selama empat hari dengan maksud dan tekad, maka hari-hari tersebut wajib diqadha, dan semua yang mereka sebutkan itu benar.

والضبط فيه أنَّ سفر النُّقلة ببعض النساء محرَّم يعني تخصيصَ المخرَجة

Patokan dalam hal ini adalah bahwa bepergian dengan membawa sebagian perempuan hukumnya haram, yaitu khusus pada kasus keluar (bepergian) tersebut.

والسفرُ إذا لم يكن سفرَ نُقلة وكانت الحاجة تَمَسُّ إلى إقامة أيام بالقصد فهذا النوع من السفر مما يسوغ فيه تخصيص بعض النسوة بالقرعة وليس كسفر النقلة ويجب قضاء أيام الإقامة لمكان التودّع وزوال المشقة

Perjalanan, jika bukan merupakan perjalanan pindah tempat dan ada kebutuhan mendesak untuk tinggal beberapa hari dengan tujuan tertentu, maka jenis perjalanan seperti ini diperbolehkan untuk mengkhususkan sebagian istri dengan undian, dan tidak seperti perjalanan pindah tempat. Wajib mengganti hari-hari tinggal tersebut karena adanya perpisahan dan hilangnya kesulitan.

وإن كان السفر عرياً عن قصد النقلة ولم تكن فيه إقامة تزيد على مدة المسافرين فيجوز الخروج ببعض النسوة بالقرعة ولا يلزمه القضاء

Jika safar itu tidak disertai dengan niat berpindah tempat dan tidak terdapat di dalamnya masa tinggal yang melebihi batas waktu musafir, maka boleh keluar bersama sebagian istri dengan cara undian, dan tidak wajib mengqadha’.

فالأسفار إذن على ثلاث مراتب

Maka, perjalanan itu terbagi menjadi tiga tingkatan.

المرتبة الأولى سفر النقلة وهذا هو الذي لا يجوز الخروج فيه ببعض النسوة فإنه لا يتصور أنْ يجمع من يقصد الانتقال بين قصد الانتقال وقصد القضاء فيجرد قصدَه ظلماً فكان مقصودُه محرماً

Tingkatan pertama adalah safar an-naqlah, yaitu perjalanan untuk pindah tempat tinggal. Dalam hal ini, tidak boleh keluar hanya dengan ditemani sebagian perempuan, karena tidak mungkin seseorang yang berniat pindah tempat tinggal menggabungkan antara niat pindah dan niat qadha’ (perjalanan sementara), sehingga ia memurnikan niatnya hanya untuk pindah secara zalim. Maka, maksud perjalanannya menjadi terlarang.

والمرتبة الثانية سفرةٌ فيها تودّع يُسقط رخص المسافرين فالخروج ببعض النسوة على شرط تحكيم القرعة جائز ثم أيام الإقامة إذا انقضت مقضيةٌ لما فيها من التودّع

Tingkatan kedua adalah perjalanan di mana terdapat perpisahan yang menyebabkan gugurnya keringanan bagi musafir, maka keluar bersama sebagian istri dengan syarat menggunakan undian adalah diperbolehkan. Kemudian hari-hari tinggal (di tempat tujuan) jika telah berlalu, tetap dihitung karena di dalamnya terdapat perpisahan.

والمرتبة الثالثة هي سفرة طويلة لا يتخللها ولا يتصل بمنتهاها إقامة في أيام تزيد على مدة إقامة المسافرين فيجوز تخصيص بعض النسوة بالإقراع والقضاءُ منتفٍ في جميع الأيام فإنَّ حكم السفر مطرد فيها

Tingkatan ketiga adalah safar yang panjang yang di dalamnya tidak terdapat, dan pada akhirnya tidak disambung dengan, masa tinggal (iqāmah) selama beberapa hari yang melebihi batas waktu iqāmah bagi musafir. Maka boleh mengkhususkan sebagian perempuan dengan undian, dan qadhā’ tidak berlaku pada seluruh hari-harinya, karena hukum safar tetap berlaku pada hari-hari tersebut.

ثم ننعطف ونقول إذا خرج بالبعض وقصدُه النقلة وأقرع فعلى أيام خروجه إلى الانتهاء إلى المقصد خلاف ذكره العراقيون وإذا كان على قصد إقامة أيام في منتهى السفر مثلاً فأيام خروجه إلى الانتهاء إلى المقصد غيرُ مقضية بلا خلاف

Kemudian kita kembali dan mengatakan: Jika seseorang keluar dengan sebagian perjalanan dengan tujuan berpindah tempat, lalu melakukan undian, maka mengenai hari-hari keberangkatannya hingga sampai ke tujuan terdapat perbedaan pendapat sebagaimana disebutkan oleh para ulama Irak. Namun, jika maksudnya adalah untuk menetap beberapa hari di akhir perjalanannya, maka hari-hari keberangkatannya hingga sampai ke tujuan tidak perlu diqadha tanpa ada perbedaan pendapat.

وأما المرتبة الثالثة فلا كلام فيه فإنَّ جُملة الأيام عرية عن التودّع وفيها دقيقة لطيفة وهي أنَّ المسافر إن كان لا يقيم بمقصده إلاَّ يوماً واحداً فإنه لا يقصر في المقصد ولا يفطر إذ لو عُدَّ ذلك منزلاً لكانت مرحلة واحدة كافية لأجل أنها إذا حسبت ذهاباً ومجيئاً صارت مرحلتين فإنا نميز الرخصة في السفر من غرض القَسْم فإنَّا لا نوجب القضاء إذا لم يُقم في مقصده وإن كان لا يقصر لأن مبنى هذا الباب على زوال التودّع ومبنى الرخص على انتهاء السفر والرجوع ابتداءٌ آخر

Adapun tingkatan ketiga, tidak ada perdebatan di dalamnya, karena seluruh hari-hari itu bebas dari niat menetap. Namun, ada satu hal yang halus dan lembut, yaitu jika seorang musafir tidak menetap di tujuannya kecuali satu hari saja, maka ia tidak boleh melakukan qashar di tempat tujuannya dan tidak boleh berbuka puasa. Sebab, jika tempat itu dianggap sebagai tempat tinggal, maka satu marhalah saja sudah cukup, karena jika dihitung perjalanan pergi dan pulang, maka menjadi dua marhalah. Kita membedakan antara rukhshah dalam safar dengan tujuan pembagian (waktu), karena kita tidak mewajibkan qadha jika ia tidak menetap di tujuannya, meskipun ia tidak melakukan qashar, sebab dasar dari bab ini adalah hilangnya niat menetap, sedangkan dasar rukhshah adalah berakhirnya safar dan kembalinya perjalanan sebagai permulaan yang baru.

والذي يقتضيه هذا القياس أنَّ السفر إذا كان مرحلة واحدة فيجب أن يكون في إسقاط القضاء كمرحلتين في التقصير فإنَّ مدة الكون في خاصية الباب في منتهى السفر كالإقامة في مرحلة من المراحل وهذا لطيفٌ حسن والاحتمال مع ذلك قائم

Yang dituntut oleh qiyās ini adalah bahwa jika safar itu hanya satu marhalah, maka dalam hal menggugurkan qadha’ harus disamakan dengan dua marhalah dalam hal qashar, karena lamanya berada dalam kekhususan bab ini pada akhir safar itu seperti bermukim di satu marhalah dari beberapa marhalah, dan ini adalah sesuatu yang halus dan baik, namun kemungkinan lain tetap ada.

ومما بقي في الفصل الكلام في أيام الرجوع فنبدأ بالمرتبة الثالثة ونقول أيام الرجوع في السفرة التي لا تودّع فيها كأيام الذهاب وأيام الرجوع من السفرة المبنية على قصد النقلة على وجهين والأصح فيها القطع بوجوب القضاء فإنه لم يجر إقراع له حكمٌ في ابتداء الأمر ولست أرى لنفي القضاء وجهاً ولكنه مشهور

Adapun yang masih tersisa dalam pembahasan ini adalah mengenai hari-hari kepulangan, maka kita mulai dari tingkatan ketiga dan kita katakan: hari-hari kepulangan dalam perjalanan yang tidak diadakan perpisahan di dalamnya, hukumnya sama seperti hari-hari keberangkatan. Adapun hari-hari kepulangan dari perjalanan yang didasarkan pada niat pindah, terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih adalah wajibnya qadha, karena pada awalnya tidak berlaku baginya hukum undian. Saya tidak melihat alasan untuk meniadakan kewajiban qadha, meskipun pendapat tersebut cukup masyhur.

فأما أيام الرجوع من المقصد الذي أجرى فيه قصدَ الإقامة لا قصدَ الاستيطان ففيه وجهان أصحهما أنَّا لا نقضي فإنَّ السفرة جائزة بسبب القرعة وإذا اطَّرد الجواز فلا يُستثنى من سقوط القضاء إلاَّ أيام التودع

Adapun hari-hari kepulangan dari tujuan di mana seseorang berniat tinggal sementara, bukan berniat menetap, terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa kita tidak wajib mengqadha, karena safar tersebut dibolehkan berdasarkan undian, dan selama kebolehan itu berlaku, maka yang dikecualikan dari gugurnya kewajiban qadha hanyalah hari-hari perpisahan (tawaddi‘).

ومما يعترض في الباب أنَّ المسافر إذا قصد بقعة ولم يُزمع الإقامة في مدة ولكن ربط أمره بانتجاز حاجة فالقول في أنه هل يترخص إذا زادت إقامتُه على مدة المسافرين مذكور في الصلاة

Di antara hal yang menjadi perbincangan dalam bab ini adalah bahwa seorang musafir apabila menuju suatu tempat dan tidak berniat menetap dalam jangka waktu tertentu, melainkan mengaitkan keberadaannya dengan terpenuhinya suatu kebutuhan, maka pembahasan mengenai apakah ia masih mendapatkan keringanan (rukhsah) jika masa tinggalnya melebihi batas waktu musafir telah disebutkan dalam pembahasan shalat.

فإن أدمنا الرُّخَصَ فالأيام غير مقضية وإن أسقطناها وألحقناه بالمقيم فالقول فيه كالقول في إبرام العزم على الإقامة أربعة أيام فإن قيل لا تودّع بمن يبرم عزمه على الرحيل بانتجاز حاجته قلنا أُلحق هذا الشخص بالمتودّع بدليل سقوط الرخص

Jika kita terus-menerus mengambil rukhshah, maka hari-hari tersebut tidak perlu diqadha. Namun jika kita menggugurkannya dan menyamakannya dengan hukum orang yang mukim, maka hukumnya sama seperti orang yang menetapkan niat untuk tinggal selama empat hari. Jika dikatakan bahwa tidak perlu berpamitan kepada orang yang telah menetapkan niat untuk pergi setelah menyelesaikan kebutuhannya, maka kami katakan bahwa orang ini disamakan dengan orang yang berpamitan, dengan dalil gugurnya rukhshah.

ومما يجري ركناً في الباب أنه لو خرج بواحدة من غير قرعة فإذا آب قضى للمخلفات إجماعاً وينضم إلى وجوب القضاء عصيانُه بالخروج بالتي اختارها فإنه أظهر الميل إليها فاقتضى ذلك تعصيتَه وإلزامَه بالقضاء فلا نظر مع ما ذكرناه إلى مقاساتها المشقة

Salah satu ketentuan pokok dalam masalah ini adalah bahwa jika seseorang keluar bersama salah satu istrinya tanpa undian, maka ketika ia kembali, ia wajib mengganti giliran bagi istri-istri yang ditinggalkan, berdasarkan ijmā‘. Selain kewajiban mengganti giliran, ia juga berdosa karena keluar bersama istri yang ia pilih sendiri, sebab hal itu menunjukkan kecenderungannya yang jelas kepada istri tersebut. Maka, hal itu menyebabkan ia berdosa dan wajib mengganti giliran, sehingga tidak perlu memperhatikan adanya kesulitan yang mungkin dialami oleh istri-istri yang lain dalam hal ini.

ولم يختلف العلماء في أنه إذا أقام عند واحدة من نسائه في الحضر ليمرضها فهذه الأيام مقضيةٌ للأخريات فإن ماتت المريضة خرجت من البين ولم يظهر أثرُ وجوبِ القضاء في حق الباقيات فالوجه أنْ نقدر كأنَّ التي ماتت لم تكن وإن استبلّت وبرئت قضى تلك الأيام للباقيات فإنَّ قيامه بتمريضها يقع محضاً لها وليس كذلك الخروج ببعضهن سفراً فإنها وإن حظيت من وجه شقيت من وجه

Para ulama sepakat bahwa jika seorang suami tinggal di rumah salah satu istrinya di tempat tinggalnya (bukan dalam perjalanan) untuk merawatnya yang sedang sakit, maka hari-hari yang ia habiskan itu harus diganti untuk istri-istri yang lain. Jika istri yang sakit itu meninggal dunia, maka ia keluar dari perhitungan dan tidak tampak adanya kewajiban mengganti hari-hari tersebut bagi istri-istri yang masih ada. Maka, yang benar adalah seolah-olah istri yang telah meninggal itu tidak pernah ada. Namun, jika istri yang sakit itu sembuh dan pulih, maka suami wajib mengganti hari-hari tersebut untuk istri-istri yang lain, karena waktu yang ia gunakan untuk merawat istri yang sakit itu sepenuhnya menjadi hak istri tersebut. Hal ini berbeda dengan jika suami bepergian bersama salah satu istrinya, karena meskipun istri yang diajak bepergian itu mendapatkan keuntungan di satu sisi, ia juga mengalami kesulitan di sisi lain.

ثم لا يجوز للرجل أن يقوم بالتمريض ويقطع النُّوبَ إلاَّ عند حاجة وقد رأيت في هذا تردداً للأئمة فالذي ظهر من كلام المعظم أنَّا نشترط أن يكون المرض مخوفاً وأشار مشيرون إلى أنَّ الحاجة الحاقّة كافية حتى إذا عظمت الآلام وإن لم تبلغ مبلغ الإخافة ولم تجد ممرضاً فللزوج أن يقوم بتمريضها

Kemudian, tidak diperbolehkan bagi seorang laki-laki untuk melakukan perawatan dan menggantikan tugas jaga kecuali dalam keadaan kebutuhan. Saya melihat dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para imam. Pendapat yang tampak dari kebanyakan ulama adalah kita mensyaratkan bahwa penyakitnya harus membahayakan. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa kebutuhan yang mendesak sudah cukup, sehingga jika rasa sakitnya sangat berat meskipun belum sampai pada tingkat membahayakan, dan tidak ditemukan perawat, maka suami boleh melakukan perawatan terhadap istrinya.

وإذا كان المرض مخوفاً ووجدت المرأةُ من يقوم بتمريضها ففي جواز قيام الزوج بتمريضها تردد

Jika penyakitnya berbahaya dan ada orang yang dapat merawat perempuan tersebut, maka terdapat keraguan mengenai kebolehan suami untuk merawat istrinya.

وحاصل المذهب أنَّ المرض إذا اشتدَّ ألمُه ولم تجد المرأة غيرَ الزوج فللزوج تركُ النوب لتمريضها وإن وجدت غيرَه فعلى التردد

Kesimpulan mazhab adalah bahwa apabila sakitnya sangat parah dan istrinya tidak menemukan orang lain selain suaminya, maka suami boleh meninggalkan giliran untuk merawatnya. Namun jika ia menemukan orang lain, maka terdapat perbedaan pendapat.

وللزوج القيام بتمريضها في المرض المخوف إذا لم تجد من يقوم مقامه فإن وجدت فعلى التردد

Suami boleh merawat istrinya ketika sakit yang membahayakan jiwa jika tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya; namun jika ada orang lain, maka terdapat perbedaan pendapat.

وقد نجز مضمون الباب تأصيلاً وتفصيلاً ونحن نذكر على إثر ذلك فروعاً مرتّبة المآخذ

Isi bab ini telah selesai dijelaskan secara prinsip dan rinci, dan setelah itu kami akan menyebutkan beberapa cabang hukum yang disusun berdasarkan sumber pengambilannya.

فرع

Cabang

إذا سافر بواحدة بالقرعة حيث يسقط القضاء فلو تزوج بجديدة في خلال الطريق فإنه يخصها بحق العقد ثلاثاًً أو سبعاً ثم يَقْسِمُ بينها وبين التي سافر بها فلو أراد أن يخلّف إحداهما ببلد لم يجز إلا بالقرعة وإذا فعل ذلك بالقرعة فالتفصيل على ما قدمناه

Jika ia bepergian dengan salah satu istrinya berdasarkan undian di mana kewajiban menggilir gugur, lalu ia menikahi istri baru di tengah perjalanan, maka ia memberikan hak akad kepada istri baru tersebut selama tiga atau tujuh malam, kemudian ia membagi giliran antara istri baru dan istri yang dibawanya bepergian. Jika ia ingin meninggalkan salah satu dari keduanya di suatu negeri, maka tidak boleh kecuali dengan undian. Jika ia melakukan hal itu dengan undian, maka perinciannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ولو خرج بامرأتين بالقرعة جاز فلو بدا له أن يخلِّف إحداهما ببلد لم يجز إلاَّ بالقرعة

Jika seseorang bepergian dengan dua istrinya berdasarkan undian (qur‘ah), maka hal itu diperbolehkan. Namun, jika kemudian ia ingin meninggalkan salah satu dari keduanya di suatu kota, maka tidak boleh kecuali dengan undian (qur‘ah).

ولو ظلم إحداهما في الطريق لصاحبتها قضاها في الطريق فإن لم يتفق القضاء حتى رجع قضى للمظلومة من حق التي ظلمها بها دون حق صاحبتها المتخلفتين

Jika salah satu dari keduanya menzalimi yang lain dalam perjalanan, maka penyelesaiannya dilakukan dalam perjalanan. Jika penyelesaian itu tidak terjadi hingga mereka kembali, maka diputuskan untuk yang dizalimi dari hak yang telah dizalimi olehnya, tanpa mengambil hak dari istri-istri yang lain yang tidak ikut bepergian.

ولو خرج منفرداً ثم تزوج في الطريق لم يلزمه أن يقضي للمخلَّفات كل الأيام التي صحب فيها المُتَزَوَّجَةَ في السفر لأنه خرج ولا حقَّ لهن ثم تزوج في السفر ولا يتصور عليه القَسْم بينهن وإنما يجب الإقراع في اللواتي يجتمعن تحته حالة السفر فإذا كان الإقراع يُسقط حق المتخلفات فابتداء الزواج بذلك أولى

Jika seseorang keluar bepergian sendirian, kemudian menikah di perjalanan, maka ia tidak wajib mengganti kepada istri-istri yang ditinggalkan semua hari yang ia habiskan bersama istri yang dinikahi dalam perjalanan tersebut. Sebab, ia keluar tanpa ada hak bagi mereka, lalu menikah dalam perjalanan, dan tidak mungkin baginya melakukan pembagian giliran (qasm) di antara mereka. Kewajiban undian (qur‘ah) hanya berlaku bagi istri-istri yang bersamanya saat bepergian. Jika undian dapat menggugurkan hak istri-istri yang ditinggalkan, maka memulai pernikahan dalam keadaan seperti itu lebih utama.

فرع

Cabang

إذا كان تحته زوجتان فنكح جديدتين فقد ثبت لهما حق العقد فلو أراد سفراً وأقرع فخرجت القرعة على إحدى الجديدتين فإذا سافر بها فلا شك أن أيامها تندرج تحت صحبة السفر إذا كان يصحبها

Jika seorang laki-laki memiliki dua istri, lalu ia menikahi dua istri baru, maka kedua istri baru itu telah memperoleh hak akad. Jika ia hendak bepergian dan melakukan undian, lalu undian jatuh pada salah satu istri barunya, kemudian ia bepergian bersama istri tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa hari-hari milik istri itu termasuk dalam masa kebersamaan selama safar jika ia menyertainya.

فإذا عاد فهل يلزمه أن يوفي الجديدةَ الأخرى حقَّ العقد إذا لم يكن وفاها من قبل والمسألة فيه إذا زُفَّت إليه فلم يُقم عندها اختلف أصحابنا في المسألة فيما نقله العراقيون فمنهم من قال لا يوفيها حق العقد فإنَّ أيام حق العقد قد انقضت في سفره كما انقضت نُوبُ القديمتين ثم لا يجب قضاءُ نوب القديمتين فلا يجب تدارك حق العقد

Jika ia kembali, apakah ia wajib memenuhi hak akad istri yang baru lainnya jika sebelumnya belum ia penuhi? Dalam masalah ini, jika istri tersebut telah diantarkan kepadanya namun ia tidak tinggal bersamanya, para ulama kami berbeda pendapat sebagaimana yang dinukil oleh para ulama Irak. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia tidak wajib memenuhi hak akad tersebut, karena hari-hari hak akad telah berlalu selama ia bepergian, sebagaimana giliran untuk dua istri yang lama juga telah berlalu. Maka, sebagaimana tidak wajib mengganti giliran untuk dua istri yang lama, demikian pula tidak wajib mengganti hak akad.

ومن أئمتنا من قال يجب أن يوفيها حقَّ العقد ولا يقاس حقُّ العقد في ذلك بالقَسْم وهذا اختيار أبي إسحاق المروزي والسبب فيه أن معنى التوحش قائم وحق القَسْم قد يسقط بأسباب وهو يجب شيئاً شيئاً فإذا كان الرجل مسافراً على شرط الشرع فلا يجب للمخلَّفات حقُّ القَسْم وحق العقد يجب دفعةً واحدة لا على قياس القسم فإنَّ القسم للتسوية وحق العقد حق مستَحقٌّ في الذمة فلابد من الوفاء به

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa wajib untuk menunaikan hak akad, dan hak akad dalam hal ini tidak dianalogikan dengan hak giliran (qasm). Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Abu Ishaq al-Marwazi. Alasannya adalah karena makna keterasingan (tawahhush) tetap ada, sedangkan hak giliran bisa gugur karena beberapa sebab dan hak itu wajib secara bertahap. Jika seorang laki-laki sedang bepergian sesuai ketentuan syariat, maka istri-istri yang ditinggalkan tidak berhak atas giliran. Adapun hak akad wajib dipenuhi sekaligus, tidak dianalogikan dengan hak giliran, karena giliran itu untuk pemerataan, sedangkan hak akad adalah hak yang menjadi tanggungan (dzimmah), sehingga harus dipenuhi.

وعندنا أنَّ ما ذكروه في المزفوفة فأمَّا التي لم يزفها بعدُ إذا أدخلها في القرعة ولم تخرج القرعة عليها فإذا عاد وزفها فيجب القطع بأن حقها والحالة هذه قائم

Menurut kami, apa yang mereka sebutkan tentang istri yang telah dizafaf, adapun istri yang belum dizafaf, jika ia dimasukkan ke dalam undian dan undian itu tidak jatuh padanya, kemudian suami kembali dan melakukan zafaf terhadapnya, maka harus dipastikan bahwa haknya dalam keadaan seperti ini tetap ada.

ولو نكح جديدةً وزفها على قديمة وخرج مسافراً ولم يستصحب واحدة منهما فإذا عاد فالذي أراه أنه يلزمه أن يوفي المزفوفةَ حق العقد هاهنا فإن مضت أيام في السفر غيرُ محسوبة عليه وفي المسألة احتمال على حال والعلم عند الله تعالى

Jika seseorang menikahi istri baru dan mengadakan pesta pernikahan untuknya di hadapan istri lama, lalu ia pergi safar tanpa mengajak salah satu dari keduanya, maka ketika ia kembali, menurut pendapat yang saya lihat, ia wajib memenuhi hak akad untuk istri yang telah diadakan pesta pernikahan baginya di sini. Adapun hari-hari yang berlalu selama safar tidak dihitung atasnya. Dalam masalah ini masih terdapat kemungkinan lain, dan ilmu yang pasti hanya di sisi Allah Ta‘ala.

باب نشوز المرأة على الرجل

Bab tentang nusyuz (pembangkangan) istri terhadap suami

للمطيعة المنقادة النفقةُ والقَسْمُ على زوجها والناشزة هي الممتنعة من التمكين والأصل في الباب قوله تعالى وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ وقد ذكر الشافعي للآية تأويلين أحدهما أنَّ هذه الخصال مرتبة على أحوالٍ تصدر منها فإن خاف الزوج نشوزَها ولم يبدُ بعدُ عينُ النشوز بل بدت أماراته فيعظها حينئذٍ

Bagi istri yang taat dan patuh, berhak mendapatkan nafkah dan giliran dari suaminya, sedangkan istri yang nusyuz adalah yang menolak untuk taat. Dasar hukum dalam masalah ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka.” Imam Syafi‘i menyebutkan dua penafsiran terhadap ayat ini. Salah satunya adalah bahwa tindakan-tindakan tersebut berurutan sesuai dengan keadaan yang muncul darinya. Jika suami khawatir istrinya akan nusyuz, namun belum tampak secara nyata perbuatan nusyuz, hanya terlihat tanda-tandanya, maka saat itu suami menasihatinya.

فإن لم تتعظ وأبدت النشوز هجرها في المضجع فإن أصرت وتمادت ولم تحتفل بالهجر في المضجع ضرَبَها واقتصد عالماً بأنه لو أفضى الضربُ إلى الهلاك أو إلى فساد عضو ضمن

Jika ia tidak mengambil pelajaran dan tetap menunjukkan pembangkangan, maka suami boleh menghindarinya di tempat tidur. Jika ia tetap bersikeras dan terus-menerus tidak peduli terhadap sikap suami yang menghindar di tempat tidur, maka suami boleh memukulnya dengan sikap moderat, dengan mengetahui bahwa jika pukulan itu menyebabkan kematian atau kerusakan anggota tubuh, maka ia wajib menanggung akibatnya.

وقد يرد لفظُ الجمع والمراد به ذكْرُ المراتب والتخييرُ فيها على حسب وقوعها قال الله تعالى في آية المحاربة إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ فاللفظ للتخيير والمراد به الترتيب على قدر الجرائم هذا أحد التأويلين

Terkadang lafaz jamak digunakan dengan maksud untuk menyebutkan tingkatan-tingkatan dan memberikan pilihan di antara tingkatan tersebut sesuai dengan kejadiannya. Allah berfirman dalam ayat tentang hukuman bagi para pelaku hirabah: “Sesungguhnya pembalasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah mereka dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, atau diasingkan dari bumi.” Maka lafaz tersebut digunakan untuk memberikan pilihan, namun yang dimaksud adalah urutan hukuman sesuai dengan tingkat kejahatan. Ini adalah salah satu dari dua penafsiran.

والثاني أن يحصر معنى الآية فيما بعد وقوع النشوز وعند ذلك يجمع بين الوعظ والهجر والضرب فإذا أمكن حمل هذه الخصال على الجمع وظاهر الصيغة مُشعرٌ بالجمع فالأولى أن يحمل على ذلك فعلى هذا معنى قوله تخافون أي تعلمون النشوز وقد يرد الخوف والمراد به العلم

Kedua, makna ayat tersebut dibatasi pada keadaan setelah terjadinya nusyūz, dan pada saat itu dikumpulkan antara nasihat, pemisahan tempat tidur, dan pemukulan. Jika memungkinkan untuk menggabungkan ketiga hal ini, dan lafaz zahirnya menunjukkan penggabungan, maka yang utama adalah memaknainya demikian. Maka, makna firman-Nya “kalian khawatir” adalah kalian mengetahui terjadinya nusyūz, dan terkadang kata “khawatir” digunakan dengan maksud “mengetahui”.

واختلفت الأخبارُ في ضرب النساء فروي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا تضربوا إماء الله فجاء عمر وقال يا رسول الله ذَئِر النساء أي نشزن واجترأن فأذِن في ضربهن فبسط الرجال أيديهم إلى ضرب النساء وجاوزوا الحد فأطاف بآل محمد أي بحُجَرِ نسائه وأهل بيته صلى الله عليه وسلم نساءٌ كثيرات كلهن يشتكين أزواجهن فخرج صلى الله عليه وسلم وقال لقد أطافَ الليلة بآل محمد سبعون امرأة كلُّهن يشتكين أزواجهن!! خيارُكم خيارُكم لنسائكم لا يضربن أحدُكم ظعينتَهُ ضربه أَمَته

Terdapat perbedaan riwayat mengenai memukul perempuan. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Janganlah kalian memukul hamba-hamba perempuan Allah.” Kemudian Umar datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, para perempuan telah menjadi berani dan membangkang.” Maka beliau mengizinkan untuk memukul mereka. Lalu para laki-laki pun mulai memukul perempuan dan melampaui batas. Maka banyak perempuan mendatangi keluarga Muhammad, yaitu ke kamar-kamar istri dan keluarga beliau ﷺ, semuanya mengadukan suami-suami mereka. Maka beliau ﷺ keluar dan bersabda, “Malam ini telah datang kepada keluarga Muhammad tujuh puluh perempuan, semuanya mengadukan suami-suami mereka! Orang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya. Janganlah salah seorang di antara kalian memukul istrinya seperti memukul budaknya.”

ثم تكلم الشافعي في ترتيب الكتاب والسنة فذكر وجهين أحدهما أنه يحتمل أن تكون الآية وردت بإباحة الضرب ثم نهى الرسول صلى الله عليه وسلم عنه تنزيهاً ثم لمَّا استطالت النسوة بأذاهن على الأزواج أذنَ في ضربهن فلما بالغوا قال آخراً خياركم خياركم لنسائكم واستحث على الصبر على أذاهن والإعراض عن مجازاتهن على شكاسة الأخلاق وشراستهن وهذا لعمري هو الأصل

Kemudian asy-Syafi‘i berbicara tentang urutan antara al-Qur’an dan sunnah. Ia menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ayat tersebut mungkin turun dengan membolehkan memukul, kemudian Rasulullah saw. melarangnya sebagai bentuk pensucian, lalu ketika para istri melampaui batas dalam menyakiti suami-suami mereka, beliau membolehkan memukul mereka. Namun ketika para suami berlebihan, beliau akhirnya bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya,” dan menganjurkan untuk bersabar atas gangguan mereka serta tidak membalas perilaku buruk dan kekasaran mereka. Dan inilah, demi Allah, yang menjadi prinsip dasar.

فإذا تبيَّن أصل الباب فَسِرُّه وأهمُّ ما فيه تصوير النشوز ونحن نذكر فيه ما يشفي الغليل إن شاء الله عز وجل ثم نذكر طرفاً من الكلام في ضربهن ثم نذكر حكم النشوز

Jika telah jelas pokok permasalahan bab ini, maka inti dan hal terpenting di dalamnya adalah menggambarkan tentang nusyuz. Kami akan menyebutkan di dalamnya apa yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian kami akan membahas sebagian pembicaraan tentang memukul mereka, lalu kami akan menyebutkan hukum nusyuz.

فنقول أولاً لسنا نشترط في النشوز أن تمتنع المرأةُ امتناعاًً لا يدخل في إمكان الزوج ردُّها إلى الطاعة قهراً بل إذا نشزت وتمكن الزوج من ردها فهي ناشزة هذا طرف أطلقناه ويعارضه أنها لو كانت تمتنع امتناعاً يمكن عده من فنون التدلل والمجاذبة لتكون أشهى فليس هذا من النشوز وليس من شرط طاعتها المبادرةُ التي تُخرج من خَفَر الحياء إلى تشوُّف التوقان فما المعتبر إذن في تصوير النشوز

Maka kami katakan pertama-tama, kami tidak mensyaratkan dalam kasus nusyuz bahwa seorang istri harus menolak dengan penolakan yang sama sekali tidak memungkinkan suami untuk mengembalikannya kepada ketaatan secara paksa. Bahkan, jika ia melakukan nusyuz dan suami mampu mengembalikannya, maka ia tetap dianggap sebagai wanita yang melakukan nusyuz. Ini adalah satu sisi yang kami kemukakan. Namun, di sisi lain, jika penolakannya itu masih dapat dianggap sebagai bagian dari bentuk manja dan tarik-ulur agar menjadi lebih menarik, maka hal itu bukan termasuk nusyuz. Bukan pula syarat ketaatannya adalah segera memenuhi keinginan suami hingga menghilangkan rasa malu dan berubah menjadi hasrat yang menggebu. Lalu, apa yang menjadi tolok ukur dalam menggambarkan nusyuz?

فنقول إن خرجت عن مسكنه فهي ناشزة على تحقيق وإن استمكن من ردها وإن كانت معه ولكن كانت تمتنع على الزوج امتناعاً يحوجه إلى تأديبها فقد يتعرض الرجل بسبب امتناعها لضررٍ بسبب تخلف قضاء النَّهْمة والشهوة فهذا نشوز فإنَّ النشوز ضدُّ الطاعة

Maka kami katakan, jika istri keluar dari rumah suaminya, maka ia benar-benar dianggap nusyuz. Jika suami mampu mengembalikannya, dan jika istri tetap bersamanya namun menolak untuk taat kepada suami dengan penolakan yang membuat suami perlu mendidiknya, maka bisa jadi suami mengalami mudarat akibat penolakan tersebut karena kebutuhan biologis dan syahwatnya tidak terpenuhi. Inilah yang disebut nusyuz, karena nusyuz adalah lawan dari ketaatan.

والطاعة معلومة في المنقادة على حسب العادة وقد تختلف بالبكارة والثيابة وعلو المنصب والتوسط في الدرجة وهذا على تصوير لزوم المرأة أُبهة الحياء والامتناع هو الذي يلحق إضراراً بالرجل بسبب تأخر الحاجة أو يحوجه إلى أن ينتصب مؤدِّباً والنكاح للإيناس والاستئناس والذي يحقق ذلك أن الطاعة تمكينٌ منها وهي تستفيد به تقرير حقها فإذا احتاج الزوج في تحصيله إلى تضرر أو مقاساة كُلفة فله أن يتركها حتى يضيع حقها

Ketaatan itu diketahui dalam hal istri yang patuh sesuai kebiasaan, dan bisa berbeda-beda tergantung pada status perawan atau janda, tingginya kedudukan, serta tingkat sosial yang sedang. Hal ini berdasarkan gambaran bahwa seorang wanita harus menjaga kehormatan malu dan menahan diri, yang justru dapat menimbulkan mudarat bagi suami karena tertundanya pemenuhan kebutuhan atau memaksanya untuk bertindak sebagai pendidik. Padahal tujuan pernikahan adalah untuk saling menghibur dan mendapatkan keakraban. Yang menegaskan hal ini adalah bahwa ketaatan berarti memberikan kesempatan kepada suami, dan dengan itu istri memperoleh penetapan haknya. Jika suami dalam memperoleh hal tersebut harus menanggung kesulitan atau menghadapi beban, maka ia boleh meninggalkannya hingga hak istri itu hilang.

والترتيب في ذلك أنها إذا خرجت من مسكن النكاح فهي ناشزة كيف فرض الأمر وإن لم تخرج وعُدّت مطيعةً والزوج لا يحتاج في تحصيل الغرض منها إلى مقاساة كلفة أو تعرض لضرر أو إقدام على ضرب فهي مطيعة وإن كان يحتاج إلى كُلفة أو ضرب أو تعرض لضرر فهي ناشز

Urutannya dalam hal ini adalah: jika istri keluar dari rumah pernikahan, maka ia dianggap nusyuz dalam keadaan apa pun. Jika ia tidak keluar dan dianggap taat, serta suami tidak perlu bersusah payah, menanggung kesulitan, atau melakukan kekerasan untuk mendapatkan haknya dari istri, maka ia dianggap taat. Namun, jika suami harus bersusah payah, memukul, atau menanggung kesulitan untuk mendapatkan haknya, maka istri tersebut dianggap nusyuz.

ولو كانت تمكن من الوقاع وتمنع مما عداه من جهات الاستمتاع فكيف السبيل وهي ممكِّنةٌ من المقصود فهذا نوع من النشوز وأقرب أصلٍ إلى ذلك ما ذكرناه في الأَمَة إذا كان السيد يسلمها ليلاً ولا يسلمها نهاراً فذاك أولاً سائغ للسيد ثم في وجوب النفقة خلاف وما ذكرناه في الحرة غير سائغٍ لها وهي مُمكَّنةٌ من المقصود ففي استقرار النفقة تردد ولكنها مجبرة على ما يحاوله الزوج منها إذا كان لا يكلفها ما لا يسوغ

Jika seorang istri memungkinkan untuk melakukan hubungan suami istri namun menolak bentuk kenikmatan lain, bagaimana solusinya, padahal ia telah memenuhi tujuan utama? Ini termasuk jenis nusyuz, dan asal yang paling dekat dengan hal ini adalah apa yang telah kami sebutkan tentang budak perempuan, jika tuannya hanya menyerahkannya pada malam hari dan tidak pada siang hari; hal itu pada awalnya dibolehkan bagi tuan, kemudian dalam kewajiban nafkah terdapat perbedaan pendapat. Adapun yang kami sebutkan tentang istri merdeka, hal itu tidak dibolehkan baginya, sementara ia telah memenuhi tujuan utama. Maka dalam hal tetapnya kewajiban nafkah terdapat keraguan, namun ia tetap diwajibkan memenuhi apa yang diinginkan suaminya darinya selama suami tidak membebani sesuatu yang tidak dibenarkan.

فهذا قولنا في تصوير النشوز

Inilah pendapat kami mengenai gambaran nusyūz.

وليس من النشوز أن تبذو على زوجها وتستطيل عليه سبَّاً وشتماً فإنها إذا كانت تُمكِّن مع ذلك فالتمكين جارٍ ولا نشوز وهي ممنوعة عن المسابّة مزجورة عنه وإنْ أفضى الأمر إلى التعزير عُزِّرت وفيه فضل نظر أذكره في فصل الضرب

Bukan termasuk nusyuz jika seorang istri berkata kasar kepada suaminya dan merendahkannya dengan makian dan cercaan, karena jika ia tetap memberikan pelayanan (tamkin), maka pelayanan itu tetap berlangsung dan tidak dianggap nusyuz. Namun, ia tetap dilarang untuk saling mencaci dan diingatkan agar tidak melakukannya. Jika perkara tersebut sampai pada perlunya ta‘zīr, maka ia boleh diberi ta‘zīr, dan dalam hal ini masih ada pembahasan lebih lanjut yang akan saya sebutkan pada bab tentang pemukulan.

فأما القول في الضرب فالأولى ألاَّ يضرب وليس كالولي في حق الطفل العرِم فإنَّا نؤثر له أن يؤدبه والفرق أنَّ الولي يؤدبه لاستصلاحه والزوج يؤدب زوجته لتصلح له والضرب ليس فيه توقيف والجبلاَّت تختلف باختلاف الأحوال في احتمال الضرب فالأولى ألاّ يتعرض للضرب المفضي إلى الغرر لحظّ نفسه ففيه الحيدُ عن الصفح وحُسن المعاشرة

Adapun mengenai pemukulan, yang utama adalah tidak memukul, dan hal ini tidak sama dengan wali terhadap anak kecil yang nakal, karena kita justru menganjurkan wali untuk mendidiknya. Perbedaannya adalah wali mendidik anak demi kebaikan anak itu sendiri, sedangkan suami mendidik istrinya agar ia menjadi baik untuk suaminya. Pemukulan tidak memiliki batasan yang pasti, dan tabiat manusia berbeda-beda dalam hal kemampuan menahan pukulan sesuai dengan situasi. Maka yang utama adalah tidak melakukan pemukulan yang dapat menimbulkan bahaya demi kepentingan dirinya sendiri, karena hal itu menyimpang dari sikap memaafkan dan dari kehidupan bersama yang baik.

وإذا أراد الضربَ ففي وقته تردد ذكر العراقيون وجهين في أنَّ الزوج هل يُبادر الضرب بأول نشوز أم لا يجوز له الضرب حتى يستمر أو يتكرر منها النشوز وتلقَّوْا ما حكَوْه من الاختلاف عن ظاهر القرآن فإنَّه عز من قائل قدم ذكرَ الوعظ ثم عقّبه بالهجر ئم اختتم بالضرب فنبّه سياقُ الخطاب على رعاية تدريج ثم ظاهر كلامهم في هذا إذا نصروا المنع من الهجوم على الضرب يشير إلى أنَّ الضرب يقع في الثالثة فإنهم لما نصروا الوجه الثاني رأَوْا هذه الخصال مجموعة كما ظهر النشوز

Jika suami ingin melakukan pemukulan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai waktunya. Ulama Irak menyebutkan dua pendapat tentang apakah suami boleh langsung memukul pada awal terjadinya nusyuz, ataukah tidak boleh memukul kecuali setelah nusyuz itu berlanjut atau berulang dari istri. Mereka menyandarkan perbedaan pendapat ini pada makna lahiriah Al-Qur’an, karena Allah—Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi—mendahulukan penyebutan nasihat, kemudian diikuti dengan pemisahan tempat tidur, lalu diakhiri dengan pemukulan. Urutan dalam ayat tersebut menunjukkan adanya tahapan yang harus diperhatikan. Pendapat yang melarang langsung melakukan pemukulan menunjukkan bahwa pemukulan dilakukan pada tahap ketiga. Ketika mereka menguatkan pendapat kedua, mereka memandang bahwa ketiga tindakan tersebut dilakukan secara berurutan ketika nusyuz telah tampak.

وتحقيقُ القول في هذا يعطف الفقيه على النظر في حال من يقصد الإنسان في بدنه أو ماله فإنَّ الدفْعَ يقع على التدريج على ما سيأتي مشروحاً إن شاء الله تعالى حتى إذا كان الدفع ممكناً بتهييبٍ وزجرٍ في المنطق لم يجُز الانتهاء إلى الفعل ثم الأفعال تترتب على أقدار الحاجة والقول في ذلك متيسرٌ سنضبطه في موضعه إن شاء الله عز وجل

Penjelasan yang tepat dalam hal ini mengarahkan seorang faqih untuk memperhatikan keadaan orang yang mengancam tubuh atau harta seseorang, karena tindakan pembelaan dilakukan secara bertahap sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala. Jika pembelaan dapat dilakukan dengan menakut-nakuti dan menegur secara lisan, maka tidak boleh langsung beralih kepada tindakan fisik. Selanjutnya, tindakan-tindakan fisik dilakukan sesuai kadar kebutuhan. Pembahasan tentang hal ini mudah dan akan kami jelaskan pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ويجوز أن يقول القائل المنع من النشوز يجري على ترتيبِ دفع الصائل في رعاية التدريج ونهايته في أنَّ الصائل لا يُدْفع إلا بما يأتي عليه فيجوز دفعه إلى ما يُفضي إلى هلاكه وهذا المعنى لا يتحقق هاهنا فانَّ للتأديب موقفاً من طريق التقريب لا يُتعدّى كما سنصفه إن شاء الله تعالى

Dan boleh saja seseorang berkata bahwa pencegahan dari nusyuz berjalan sesuai urutan dalam menolak penyerang, dengan memperhatikan tahapan, dan pada akhirnya penyerang tidak boleh dihalau kecuali dengan sesuatu yang dapat mengatasinya, sehingga boleh menolaknya hingga berakibat pada kebinasaannya. Namun makna ini tidak terwujud di sini, karena dalam ta’dib (pendisiplinan) terdapat batasan yang tidak boleh dilampaui, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah Ta’ala.

ويجوز أن يقال ليس ضربُ الناشزة في معنى الدفع وإنما هو في معنى إصلاحها في مستقبل الزمان وإذا كانت تنزجر في كل نوبة من النشوز نقول فقد تعتاد ذلك فلا يمتنع أن يقال إذا نشزت وظن الزوج أنَّ الوعظ يصلحها والهجرَ فيقتصر وإن ظن أنها ستمرن وسيفسد حقه منها فيضربها لتصلح له في المستقبل وهذا هو الحق لا غير وعليه يجري تأديب الأب ابنه غيرَ أن الأب يصلحه له والزوج يصلحها لنفسه

Boleh dikatakan bahwa memukul istri yang nusyuz bukanlah dalam makna menolak (bahaya), melainkan dalam makna memperbaikinya untuk masa yang akan datang. Jika setiap kali istri melakukan nusyuz lalu ia dihentikan, bisa jadi ia akan terbiasa dengan hal itu. Maka tidak mustahil untuk dikatakan bahwa jika istri melakukan nusyuz dan suami beranggapan bahwa nasihat atau pemisahan tempat tidur dapat memperbaikinya, maka cukup dengan itu saja. Namun jika suami menduga bahwa istri akan terus membangkang dan haknya akan rusak karenanya, maka ia boleh memukulnya agar istri menjadi baik di masa depan. Inilah yang benar, tidak ada yang lain. Demikian pula dalam hal ayah mendidik anaknya, hanya saja ayah memperbaiki anak untuk dirinya, sedangkan suami memperbaiki istri untuk dirinya sendiri.

ثم المتبع في ذلك الظن فإن ظهر للزوج سوء خلقها بنشوزٍ واحدٍ ضربها وإن قدر النشوز الواحد نادرة لم يضربها ويختلف هذا باختلاف الأحوال والأشخاص ولا نطلب في ذلك يقيناً ولا يجوز الإقدام على الضرب من غير ظن في أنَّ الاستصلاح يحصل به

Kemudian yang diikuti dalam hal ini adalah dugaan (zhann). Jika tampak bagi suami adanya akhlak buruk dari istrinya dengan satu kali nusyuz, maka ia boleh memukulnya. Namun, jika satu kali nusyuz itu dianggap sebagai sesuatu yang jarang terjadi, maka ia tidak memukulnya. Hal ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan individu masing-masing. Kita tidak mensyaratkan adanya keyakinan dalam hal ini, dan tidak boleh melakukan pemukulan tanpa adanya dugaan bahwa perbaikan dapat tercapai dengannya.

وإنْ أبت المرأةُ وتمادت وكانت لا تنكفّ إلا بالضرب المبرِّح فليس للزوج أن يبرِّح بها وينتهي إلى حالة توقع الخوفَ عليها فإنَّ الغرض إصلاحُها فإذا ظن أنها لا تصلح فَضَرَبَها كان ذلك حَنَقاً وشفاءَ غليل وهو غير مسوّغ هذا هو السر المتبع ولو أفضى الضرب إلى الهلاك وجب الضمان وإنْ أفضى إلى نقيصةٍ ثبتت لمثلها حكومة فعلى الزوج أن يضمنه

Jika istri membangkang dan terus-menerus melakukannya, serta tidak berhenti kecuali dengan pukulan yang keras, maka suami tidak boleh memperlakukannya dengan kekerasan berlebihan hingga mencapai keadaan yang menimbulkan kekhawatiran atas keselamatannya, karena tujuan utamanya adalah memperbaikinya. Jika suami beranggapan bahwa istri tidak akan menjadi baik dan tetap memukulnya, maka itu hanyalah karena kemarahan dan pelampiasan dendam, dan hal itu tidak dibenarkan. Inilah rahasia yang diikuti. Jika pukulan tersebut menyebabkan kematian, maka wajib ada jaminan (tanggungan). Jika menyebabkan cacat yang menetap, maka berlaku hukum yang sesuai untuk kasus seperti itu, dan suami wajib menanggungnya.

وإن جرَّ الضرب شيئاً ثم زال نوجب على الجاني في مثل ذلك شيئاً على وجهٍ بعيد والوجه هاهنا القطع بأنه لا يجب على الزوج شيء

Jika pukulan itu menimbulkan sesuatu kemudian hilang, maka dalam kasus seperti itu kami mewajibkan sesuatu atas pelaku dengan pendapat yang lemah, dan pendapat yang kuat di sini adalah bahwa suami tidak wajib menanggung apa pun.

فإن قيل ضرب الزوج إذا أفضى إلى نقيصة فالبعض من هذا لو اقتصر عليه لما كان موجِباً ضماناً فهلاَّ جعلتم النقيصة بمثابة أثر يترتب على مستحِق وغير مستحِق قلنا إذا جاوزَ الزوجُ الحد أَخرجَ بآخر فِعْلِه أوّلَه عن كونه إصلاحاً فصار جميع ما صدر منه جناية وسنصف هذا في أبواب التعزيرات من كتاب الحدود إن شاء الله عز وجل

Jika dikatakan bahwa pemukulan oleh suami, apabila mengakibatkan suatu cacat, sebagian dari tindakan tersebut jika hanya terbatas pada itu saja tidak mewajibkan adanya ganti rugi, maka mengapa kalian tidak menganggap cacat tersebut sebagai akibat yang timbul baik dari orang yang berhak maupun yang tidak berhak? Kami katakan: apabila suami melampaui batas, maka bagian akhir perbuatannya mengeluarkan bagian awalnya dari status sebagai tindakan perbaikan, sehingga seluruh perbuatannya menjadi suatu tindak kejahatan. Kami akan menjelaskan hal ini dalam bab-bab ta‘zīr dari Kitab al-Hudūd, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ومما أطلقه الأئمة ونطق به القرآن الهجرُ وكان شيخي يهجرها في المضجع ولا يترك مناطقَتَها وراء ثلاث ليال فإنَّ النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ذلك

Di antara hal yang telah disampaikan para imam dan disebutkan dalam Al-Qur’an adalah hajr (menjauhi), dan guruku biasa menjauhinya di tempat tidur namun tidak meninggalkan berbicara dengannya lebih dari tiga malam, karena Nabi ﷺ melarang hal tersebut.

وهذا فيه نظر عندنا فلو رأى استصلاحها في مهاجرتها في المنطق فلست أرى ذلك ممنوعاً وهو أهون من الضرب والذي نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم إنما هو تَهَاجُر الأخوين من غير سبب يقتضيه في الشرع

Hal ini masih perlu ditinjau menurut kami. Jika seseorang melihat adanya kemaslahatan dalam memboikot istrinya dengan cara tidak berbicara dengannya, maka saya tidak melihat hal itu dilarang, dan itu lebih ringan daripada memukul. Adapun yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saling memboikot antara dua saudara tanpa adanya sebab yang dibenarkan oleh syariat.

هذا بيان الهجر والضرب

Ini adalah penjelasan tentang hajr (menjauhi) dan dharb (memukul).

ويتصل به أنها إذا كانت تؤذيه في المنطق ولا تمتنع عليه فهل له أن يؤذيها أو يرفعها إلى السلطان فيه ترددٌ بين الأصحاب قال قائلون هي فيما تأتي به وراء التمكين من موجبات التعزير كالأجنبية كما أنها في منعها حق الزوج من مال أو غيره مما يتعلق بحقوق الزوجية كالأجنبية

Terkait dengan hal itu, apabila seorang istri menyakiti suaminya dengan ucapan namun tidak menolak untuk melayaninya, maka apakah suami boleh menyakitinya atau melaporkannya kepada penguasa? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mengatakan bahwa apa yang dilakukan istri setelah memberikan pelayanan yang wajib, termasuk perbuatan yang mewajibkan ta‘zīr, seperti halnya perempuan asing. Demikian pula jika ia menahan hak suami, baik berupa harta atau hal lain yang berkaitan dengan hak-hak pernikahan, maka hukumnya seperti perempuan asing.

وقال قائلون يؤذيها الزوج على استطالتها وبذاءة لسانها فإنها وإن كانت ممكِّنةً مع ذلك فهذا ينكِّد المعاشرة ويكدّر الاستمتاع ولسنا ننكر تعلقه بما يوجب استصلاحَ الزوجة في الحقوق الخاصة في النكاح

Dan sebagian orang berkata, jika suami menyakiti istri karena sikapnya yang suka membantah dan keburukan lisannya, maka meskipun ia tetap memenuhi kewajibannya, hal itu tetap merusak kehidupan bersama dan mengganggu kenikmatan dalam berumah tangga. Kami tidak mengingkari bahwa hal ini berkaitan dengan sesuatu yang menuntut perbaikan istri dalam hak-hak khusus dalam pernikahan.

فأما الحكم في سقوط النفقة ففيه تفاصيل تتعلق بكتاب النفقات

Adapun hukum mengenai gugurnya nafkah, terdapat rincian-rincian yang berkaitan dengan kitab nafkah.

باب الحكمين في الشقاق بين الزوجين

Bab tentang dua orang hakam dalam perselisihan antara suami istri

الأحوال الدائرة في هذه الفنون بين الزوجين تنقسم ثلاثة أقسام أحدها أن يصدر العدوان من الرجل في إيذائها والإضرار بها فإذا تحقق ذلك منه منعناه من الإضرار واستوفينا منه ما يمتنع عنه من الحقوق وإن كان جسوراً لم نأمن أن يضربها ضرباً مبرِّحاً وقد يفضي ذلك إلى هلاكها فنحول بينها وبينه فإنَّا إنْ ضربناه لضَرْبه إياها تعزيراً فقد يضم لذلك حنقاً ويبلغ منها مبلغاً لا يستدرك

Keadaan-keadaan yang terjadi dalam masalah-masalah ini antara suami istri terbagi menjadi tiga bagian. Salah satunya adalah jika tindakan zalim berasal dari pihak suami dalam bentuk menyakiti dan membahayakan istrinya. Jika hal itu benar-benar terjadi darinya, maka kami melarangnya untuk berbuat zalim dan mengambil darinya hak-hak yang ia abaikan. Jika ia orang yang berani, kami khawatir ia akan memukul istrinya dengan pukulan yang keras, yang bisa saja berujung pada kematiannya. Maka kami memisahkan keduanya. Sebab, jika kami menghukumnya dengan ta‘zīr karena telah memukul istrinya, bisa jadi ia akan menambah kemarahan dan melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi dicegah.

ثم إذا استشعر الوالي ذلك وضَربَ الحيلولة لم يردّها إليه حتى تلين عريكتُه وتظهر عاطفته وذلك لا يتبين بقوله وإنما يتضح بأن يُختبرَ ويوكلَ به في السر من يبحث عن مكنون ضميره فيها فإذا غلب على الظن أنه مأمون في حقها رُدَّت إليه وهذا يُضاهي البحثَ عن الإعسار وغيره من الأمور الباطنة المتعلقة بالنفي ويتصل به استبراؤنا الفاسقَ إذا تاب

Kemudian, apabila penguasa merasakan hal itu dan berusaha mencegahnya, maka ia tidak mengembalikannya kepadanya sampai sikap kerasnya melunak dan kasih sayangnya tampak. Hal itu tidak dapat diketahui hanya dari ucapannya, melainkan dapat dipastikan dengan cara mengujinya dan menugaskan seseorang secara diam-diam untuk menyelidiki isi hatinya dalam masalah tersebut. Jika telah kuat dugaan bahwa ia dapat dipercaya dalam hal itu, maka dikembalikanlah kepadanya. Ini serupa dengan penyelidikan tentang ketidakmampuan membayar dan hal-hal batiniah lain yang berkaitan dengan penafian, serta berkaitan pula dengan upaya kita memastikan kebersihan diri seorang fāsiq apabila ia telah bertobat.

وإن لم يتحقق إيذاؤه إياها بل ظننا ذلك ظناً فالوجه أن يأمر الحاكم من يراقبهما في السر والعلن ولا يشترط أن يتحقق ذلك ولا يضرب القاضي حيلولة بينهما بمجرد الظن إذا لم تبدر منه بادرة فإذا بدرت فقد يديم الحيلولة إلى ظهور الظن بالأمر وإذا تحققنا الإضرار بها فليس إلاَّ الحيلولة فأما إلزام الطلاق فلا

Jika belum terbukti bahwa suami menyakiti istrinya, melainkan hanya diduga saja, maka sebaiknya hakim memerintahkan seseorang untuk mengawasi keduanya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Tidak disyaratkan harus terbukti terlebih dahulu, dan hakim tidak boleh langsung memisahkan keduanya hanya berdasarkan dugaan, selama belum ada tanda-tanda nyata dari suami. Namun, jika sudah muncul tanda-tanda tersebut, maka hakim boleh terus memisahkan mereka sampai dugaan itu menjadi jelas. Jika telah terbukti adanya tindakan menyakiti istri, maka tidak ada jalan lain selain memisahkan keduanya; adapun mewajibkan talak, maka tidak.

وإن تحقق العدوان منها فهو النشوز وقد مضى فيه باب وإن توهمنا نشوزاً فلا يدَ للقاضي ويدُ الزوجِ متسلطة عليها فإن بلغ الأمرُ مبلغاً يُعجز الزوجَ استعان بالسلطان

Jika benar-benar terjadi tindakan melampaui batas dari pihak istri, maka itu disebut nusyūz, dan telah dijelaskan sebelumnya dalam satu bab. Namun jika hanya diduga adanya nusyūz, maka hakim tidak memiliki wewenang, dan hak suami tetap berkuasa atasnya. Jika perkara tersebut sampai pada tingkat yang membuat suami tidak mampu mengatasinya, maka ia dapat meminta bantuan penguasa.

وإن نشبت خصومة بين الزوجين وأشكل الأمر فلم ندر من الظالم منهما وكان الزوج لا يصفح والمرأة لا تفتدي واشتبه حال الزوجين فهذا موضع بعثة الحكمين فيبعث الإمامُ حكمين عدلين حَكَماً من أهله وحَكَماً من أهلها حتى يخلوَ كل واحد من الحَكَمين بصاحبه فيستطلعَ رأيه ويعرفَ مكنونَ غرضه ورغبته في صاحبه أو عنه ثم يلتقيان ويُثبتُ كلُّ واحد ما عنده وإنما استحببنا أن يكونا من الأهلين لأن انبساطهم أكثر واطلاعهم على حقائق الأمور أمكن

Jika terjadi perselisihan antara suami istri dan perkara menjadi samar sehingga kita tidak mengetahui siapa yang zalim di antara keduanya, sementara suami tidak mau memaafkan dan istri tidak mau menebus (dengan khulu‘), serta keadaan keduanya tidak jelas, maka inilah tempat pengiriman dua orang hakam. Maka imam mengutus dua orang hakam yang adil: satu dari keluarga suami dan satu dari keluarga istri, agar masing-masing hakam dapat berbicara secara pribadi dengan pihak yang diwakilinya untuk mengetahui pendapat dan maksud tersembunyi serta keinginannya terhadap pasangannya atau keengganannya. Kemudian kedua hakam itu bertemu dan masing-masing menyampaikan apa yang diketahuinya. Kami menganjurkan agar kedua hakam itu berasal dari keluarga masing-masing karena mereka lebih leluasa dan lebih mengetahui hakikat permasalahan.

فهذا تصوير بعثة الحكمين

Inilah gambaran pengutusan dua hakam.

والأصل في الباب نص الكتاب لقوله تعالى إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا وفي الآية وجهان من التأويل قيل معناه إن يُرد الزوجان إصلاحاً يوفق الله بينهما

Dasar dalam bab ini adalah nash Al-Qur’an, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya.” Dalam ayat ini terdapat dua sisi penafsiran: dikatakan bahwa maknanya adalah jika suami istri bermaksud memperbaiki, maka Allah akan memberi taufik kepada keduanya.

وقيل معناه إن يُرد الحكمان إصلاحاً وجرَّدا قصدَهما في ذلك يوفق الله بين الزوجين ببركةِ قصدِهما وهذا ما فهمه عمرُ من الآية فروي أنه بعث حكمين فرجعا وقالا لم يتم الأمر بينهما فَعَلاَهُمَا بالدِّرةِ وقال الله أصدقُ منكما لو أردتما إصلاحاًً لوفَّق الله فرجعا واعتقدا إصلاحاً فلما بلغا مكانهما كانا قد أغلقا الباب وتلاوما واصطلحا

Dan dikatakan bahwa maksudnya adalah jika kedua hakam (penengah) menghendaki perdamaian dan benar-benar meniatkan hal itu, maka Allah akan memberi taufik kepada suami istri berkat niat baik mereka. Inilah yang dipahami Umar dari ayat tersebut, sehingga diriwayatkan bahwa ia pernah mengutus dua orang hakam, lalu keduanya kembali dan berkata, “Perkara di antara mereka belum selesai.” Maka Umar memukul keduanya dengan tongkat dan berkata, “Allah lebih benar daripada kalian. Jika kalian berdua benar-benar menghendaki perdamaian, niscaya Allah akan memberi taufik.” Lalu keduanya kembali dan meniatkan perdamaian. Ketika mereka sampai di tempat pasangan itu, ternyata keduanya telah menutup pintu, saling menyalahkan, dan akhirnya berdamai.

ثم إن اتفق التئام الحال واصطلاح الزوجين فذاك

Kemudian, jika keadaan kembali membaik dan suami istri berdamai, maka itulah yang diharapkan.

وإن رأيا الحال بينهما أبعد عن قبول الصلاح ورأيا الخصومة ناشبة لا تنفصل وظنا أن الوجهَ التفريق بينهما فهل ينفذ الفراق بينهما إذا رأياه للشافعي قولان في أن التحكيم من الولي تولية أو هو توكيل من الزوجين أحد القولين أنهما وكيلان لا ينفذان أمراً إلا برضا الزوجين فالذي هو من جانب الزوج وكيله لا يطلِّق ولا يخالع ولا يثبت أمراً بغير إذن الزوج والذي من جانب المرأة لا يختلع عن المرأة بشيء من مالها إلا بإذنها

Jika kedua hakam melihat bahwa keadaan di antara keduanya semakin jauh dari kemungkinan perdamaian, dan mereka melihat bahwa perselisihan telah mengakar dan tidak dapat dipisahkan, serta mereka berdua berpendapat bahwa jalan keluar terbaik adalah memisahkan keduanya, maka apakah keputusan perpisahan yang mereka ambil itu sah? Menurut Imam Syafi‘i, terdapat dua pendapat mengenai apakah tahkim (arbitrase) dari wali itu merupakan pelimpahan wewenang ataukah merupakan pendelegasian dari kedua suami istri. Salah satu pendapat menyatakan bahwa keduanya adalah wakil, sehingga mereka tidak dapat melaksanakan suatu keputusan kecuali dengan persetujuan kedua suami istri. Maka, yang menjadi wakil dari pihak suami tidak boleh mentalak, melakukan khulu‘, atau menetapkan suatu perkara tanpa izin suami, dan yang menjadi wakil dari pihak istri tidak boleh melakukan khulu‘ dengan mengambil harta dari istri kecuali dengan izinnya.

وهذا أحد القولين وهو اختيار المزني ووجهه أن الطلاق للرجال ولا يتعلق به تصرف متبرع دون الزوج إلا في حق المولَّى كما سيأتي إن شاء الله تعالى وهو في حكم المستثنى المخصوص الذي لا يقاس عليه هذا في جانب الطلاق

Ini adalah salah satu dari dua pendapat, dan merupakan pilihan al-Muzani. Alasannya adalah bahwa talak merupakan hak laki-laki, dan tidak ada tindakan pihak lain yang bukan suami yang berpengaruh terhadapnya, kecuali dalam kasus mūlā‘ seperti yang akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala. Kasus ini termasuk pengecualian khusus yang tidak dapat dijadikan qiyās dalam masalah talak.

أما بذل مالها من غير إذنها بطلقة فعلى نهاية البعد عن قاعدة القياس

Adapun membelanjakan harta miliknya tanpa izinnya karena satu talak, maka hal itu sangat jauh dari kaidah qiyās.

ومن قال بالقول الثاني قال للحكمين أن يفرقا إن رأيا التفريق

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua mengatakan bahwa kedua hakam boleh memisahkan jika keduanya memandang perlu adanya pemisahan.

وهو الذي نصّ عليه في أحكام القرآن واحتج بأن الله تعالى سماهما في كتابه حكمين والحكم هو الذي يحكم وينفذ ما يراه قهراً ووكيلا الزوجين لا يسميان حكمين فإن قيل قيَّد اللهُ تنفيذَ الأمرِ بإرادتهما قال إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا قلنا إن حملناها على الحكمين سقط السؤال وإن حملنا قوله إِنْ يُرِيدَا على الزوجين فالمعنى إن لاحت إرادةُ الصلاح مِن الزوجين وفّق الله بينهما

Inilah yang dinyatakan secara tegas dalam Ahkām al-Qur’ān, dan beliau berdalil bahwa Allah Ta’ala menyebut keduanya dalam Kitab-Nya sebagai “hakam” (penengah), dan hakam adalah orang yang memutuskan perkara dan melaksanakan apa yang dipandangnya secara paksa, sedangkan wakil dari kedua suami istri tidak disebut hakam. Jika dikatakan, “Allah membatasi pelaksanaan keputusan dengan kehendak keduanya,” sebagaimana firman-Nya: “Jika keduanya menghendaki islah (perdamaian)…”, maka kami katakan: Jika kita memahami ayat itu merujuk pada kedua hakam, maka pertanyaan tersebut gugur. Namun jika kita memahami firman-Nya “jika keduanya menghendaki” merujuk pada suami istri, maka maksudnya adalah: Jika tampak adanya keinginan untuk berdamai dari suami istri, maka Allah akan memberikan taufik kepada keduanya.

وعن علي أنه بعث الحكمين بين الزوجين وقال أتدريان ما عليكما ما عليكما إن رأيتما أنْ تُفَرِّقا أَنْ تُفرقا وإن رأيتما أن تجمعا أن تجمعا قالت المرأة رضيت بكتاب الله بما عليّ فيه ولي فقال الزوج أمَّا الطلاق فلا فقال عليٌّ كذبت حتى تقر بما أقرّت به ووجه التعلق بقول علي أتدريان الحديث أنه فوض الفراق إلى رأي الحكمين ولما قال الزوج أمَّا الطلاق فلا رد عليٌّ عليه وقال كذبت فما معنى تكذيبه لعله أبدى في الابتداء رضاً بما يستصوبه الحكمان ثم رجع عنه فكان ذلك منه خُلْفاً في الوعد فورد التكذيب عليه

Diriwayatkan dari Ali bahwa ia mengutus dua orang hakam di antara suami istri, lalu berkata, “Tahukah kalian apa tanggung jawab kalian? Tanggung jawab kalian adalah, jika kalian memandang perlu berpisah, maka pisahkanlah, dan jika kalian memandang perlu menyatukan, maka satukanlah.” Sang istri berkata, “Aku ridha dengan Kitab Allah, dengan segala kewajiban yang ada atas diriku dan hakku.” Lalu sang suami berkata, “Adapun talak, maka tidak.” Maka Ali berkata, “Engkau dusta, sampai engkau mengakui apa yang telah diakui oleh istrimu.” Adapun maksud dari Ali ketika berkata, “Tahukah kalian…” dalam hadis ini adalah bahwa ia menyerahkan keputusan berpisah kepada pendapat kedua hakam. Dan ketika sang suami berkata, “Adapun talak, maka tidak,” Ali membantahnya dan berkata, “Engkau dusta.” Apa makna pendustaan ini? Mungkin maksudnya adalah bahwa pada awalnya sang suami tampak ridha dengan apa yang diputuskan oleh kedua hakam, lalu ia menarik kembali keridhaannya, sehingga hal itu dianggap sebagai ingkar janji, maka datanglah pendustaan atasnya.

وإنْ تعلَّق ناصرُ هذا القول بأنَّ الضرر مدفوع ولسنا نرى للخصومة الناشبة الملتبسة مدفعاً وترك النزاع والشقاق يخالف مبنى الشرع فهذا كلام كلي لا يتعلق به على السداد غرض جزئي في محل النزاع

Jika pendukung pendapat ini beralasan bahwa mudarat harus dihindari, sedangkan kita tidak melihat adanya cara untuk mencegah perselisihan yang telah terjadi dan rumit, serta membiarkan perselisihan dan pertikaian bertentangan dengan prinsip dasar syariat, maka ini adalah pernyataan umum yang tidak berkaitan secara tepat dengan tujuan khusus dalam permasalahan yang sedang diperselisihkan.

والذي يقتضيه القياس تقرير النكاح وضرْب الحيلولة بينهما حتى لا يتنازعا

Yang dituntut oleh qiyās adalah menetapkan pernikahan dan membuat penghalang di antara keduanya agar mereka tidak berselisih.

ولا معتمد لهذا القول إلاَّ التمسك بظاهر القرآن والأثر

Tidak ada sandaran bagi pendapat ini kecuali berpegang pada makna lahiriah Al-Qur’an dan atsar.

التفريع على القولين

Penjabaran hukum berdasarkan dua pendapat

إن قلنا الحكمان كالوكيلين فسيأتي إن شاء الله تعالى تفريعُ القول في الوكالة في الخلع والطلاق والفدر الذي ننجزه لإيضاح التفريع أنَّا إذا جعلنا الحكمين في منزلة الوكيلين فإذا لم يجر من الزوجين توكيل فليس إليهما من الأمر شيء إلاَّ التفقد والبحث عن محل اللبس حتى يتبين للقاضي الظالمُ منهما من المظلوم ثم مضى حكم الإنصاف والانتصاف

Jika kita mengatakan bahwa kedua hakam itu seperti dua wakil, maka insya Allah akan dijelaskan nanti cabang-cabang pembahasan tentang wakalah dalam khulu‘, talak, dan batasan yang kami tetapkan untuk memperjelas cabang pembahasan ini, yaitu bahwa jika kita menempatkan kedua hakam pada posisi dua wakil, maka apabila tidak ada pendelegasian dari kedua suami istri, keduanya tidak memiliki wewenang apa pun kecuali meneliti dan mencari tahu letak permasalahan hingga menjadi jelas bagi hakim siapa yang zalim di antara keduanya dan siapa yang dizalimi, kemudian keputusan keadilan dan penegakan hak pun dijalankan.

ولو وكَّلاَ ثم عَزَلا أو عزل أحدهما انعزل المعزول ولو جُنَّا أو جنَّ أحدهما فمن جُنَّ ارتفع التوكيل في حقه وإذا أفاق عن الجنون فالتوكيل زائل فإن أراد أن ينفذ أمراً فليبتدىء توكيلاً

Jika keduanya telah mewakilkan, lalu keduanya mencabut atau salah satu dari mereka mencabut, maka yang dicabutlah yang terhenti kewenangannya. Jika keduanya gila atau salah satu dari mereka gila, maka bagi yang gila, kewenangan wakalahnya terangkat. Dan apabila ia sembuh dari kegilaan, maka kewenangan wakalah telah hilang. Jika ia ingin melaksanakan suatu urusan, hendaklah ia memulai dengan akad wakalah yang baru.

وإن فرَّعنا على القول الثاني وجعلنا ابتعاث السلطان تحكيماً فلهما أن ينفذا ما يريان الصلاحَ فيه فإنْ رأيا الطلاقَ طلَّقَا على السخط من الزوج

Jika kita merujuk pada pendapat kedua dan menganggap pengutusan oleh penguasa sebagai tahkim, maka kedua hakam tersebut berwenang melaksanakan apa yang mereka pandang sebagai kemaslahatan. Jika mereka memandang talak sebagai jalan terbaik, maka keduanya dapat menjatuhkan talak meskipun suami tidak rela.

وذكر الأئمة أنهما يختلعان المرأةَ بشيء من مالها وإنْ لم ترض وهذا متفق عليه في التفريع على هذا القول

Para imam menyebutkan bahwa keduanya dapat melakukan khulu‘ terhadap seorang perempuan dengan mengambil sebagian hartanya, meskipun ia tidak rela, dan hal ini telah disepakati dalam penjabaran pendapat ini.

فإن أنكر مُنكر بذلَ مالِ مطلقة في الافتداء بغير إذنها فهو كتطليق زوجة إنسان من غير إذنه والأموال قد تدخل تحت الحجر والطلاق لا يدخل تحت الحجر فإذا احتكم الحَكَمُ في الطلاق لم يبعد فرض الاحتكام على مال الزوجة في طلب الصلاح

Jika ada yang mengingkari pemberian harta oleh seorang istri secara mutlak dalam menebus diri tanpa izinnya, maka hal itu seperti menceraikan istri seseorang tanpa izinnya. Harta bisa berada di bawah kekuasaan wali (hajr), sedangkan talak tidak termasuk dalam kekuasaan wali. Maka jika hakim memutuskan perkara talak, tidaklah jauh kemungkinan untuk menetapkan keputusan atas harta istri dalam rangka mencari kemaslahatan.

ثم نتكلم وراء هذا في أمور مهمة بها تمام البيان فنقول أولاً نصُّ القرآن مشعر ببعثه الحكمين وهذا فيه تأمل على الطالب فإنَّا إن اعتقدنا التحكيم منهما في مرتبة الولاية فالعدد يبعد اشتراطه في الوالي وإن نزّلناهما منزلة الوكيلين فالعدد ليس بشرط أيضاًً وسنذكر في وكالة الخلع إن شاء الله تعالى أنَّ الشخصَ الواحدَ يجوز أن يكون وكيلاً في الخلع من الجانبين على أحد الوجهين فإن كان يتجه رعاية العدد على قول التوكيل عند مسيس الحاجة إلى الخلع فيلزم من مساق هذا الاكتفاءُ بوكيل من جانبه إذا كانت هي تختلع بنفسها

Kemudian setelah ini, kita akan membahas beberapa hal penting yang dengannya penjelasan menjadi sempurna. Maka kami katakan pertama, teks Al-Qur’an menunjukkan pengangkatan dua orang hakam, dan hal ini perlu dicermati oleh penuntut ilmu. Jika kita menganggap bahwa penunjukan hakam dari kedua belah pihak berada pada tingkatan wilayah (kekuasaan), maka syarat jumlah (dua orang) tidak mutlak diperlukan bagi seorang wali. Dan jika kita menempatkan keduanya pada posisi sebagai wakil, maka jumlah juga bukan merupakan syarat. Kami akan sebutkan dalam pembahasan wakalah khulu‘, insya Allah Ta‘ala, bahwa satu orang saja boleh menjadi wakil dalam khulu‘ dari kedua belah pihak menurut salah satu pendapat. Jika memang dipandang perlu memperhatikan jumlah menurut pendapat yang mewajibkan adanya wakil ketika sangat membutuhkan khulu‘, maka konsekuensinya cukup satu wakil dari pihaknya jika perempuan itu melakukan khulu‘ sendiri.

فإذا جعلنا ذلك تحكيماً ففي المسألة احتمال ظاهر يجوز أن نتبع القرآن ولا نعقد لظاهره تأويلاً ونشترط حكمين ويجوز أنْ نحملَ العدد على الاستحباب بدليل اتصاله بوصفٍ ليس مشروطاً وهو قوله تعالى مِنْ أَهْلِهِ مِنْ أَهْلِهَا وهذا مستحَب غيرُ مستحَق إجماعاً وقد يشهد للاكتفاء بالحاكم الواحد حديثُ حبيبة بنت سهل فإنَّ الرسول قطع النكاح بينهما بتّاً لما اطلع على أمرهما كما سنذكر ذلك في صدر كتاب الخلع إن شاء الله عز وجل ويقوى التمسك بتلك القصة في تنفيذ الطلاق حكماً وفي الاتحاد الذي أشرنا إليه والله أعلم

Jika kita menjadikan hal itu sebagai tahkim (penunjukan hakim), maka dalam masalah ini terdapat kemungkinan yang jelas bahwa kita boleh mengikuti Al-Qur’an tanpa menakwilkan zahirnya dan mensyaratkan dua orang hakim, dan boleh juga kita memahami jumlah tersebut sebagai anjuran (mustahab) berdasarkan dalil keterkaitannya dengan sifat yang tidak disyaratkan, yaitu firman Allah Ta‘ala: “dari keluarga laki-laki dan dari keluarga perempuan.” Dan ini adalah sesuatu yang dianjurkan, bukan sesuatu yang wajib menurut ijmā‘. Mungkin pula hadits tentang Habibah binti Sahl menjadi dalil cukupnya satu hakim, karena Rasulullah memutuskan perceraian antara keduanya secara tuntas setelah mengetahui keadaan mereka, sebagaimana akan kami sebutkan di awal Kitab Khulu‘ insya Allah ‘Azza wa Jalla. Pengambilan dalil dari kisah tersebut semakin kuat dalam pelaksanaan talak sebagai hukum dan dalam kesatuan yang telah kami isyaratkan, dan Allah Maha Mengetahui.

ومما يجب النظر فيه أنَّ الحكمين ينبغي أن يكونا على عقلٍ ودراية واستقلال بالاطلاع على خفايا الأمور هذا لا بد منه

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa kedua hakam haruslah orang yang berakal, memiliki pengetahuan, dan mandiri dalam memahami seluk-beluk permasalahan; hal ini merupakan suatu keharusan.

والعدالة لا شك مشروطة فلا ثقةَ بمن يخون نفسَه ودينه

Keadilan tidak diragukan lagi merupakan syarat, maka tidak ada kepercayaan kepada orang yang mengkhianati dirinya sendiri dan agamanya.

ثم لم يشترط أحدٌ من أصحابنا أن يكونا مجتهدين وكيف سبيل اشتراط ذلك وقد لا يتصدى للفتوى في سعةِ رقعة إقليم إلاَّ الشخص الواحد فكيف نرقبُ مجتهداً من أهله ومجتهداً من أهلها

Kemudian tidak ada seorang pun dari kalangan ulama kami yang mensyaratkan keduanya harus seorang mujtahid. Bagaimana mungkin syarat itu ditetapkan, padahal terkadang yang berani memberikan fatwa di wilayah yang luas hanya satu orang saja? Maka bagaimana kita bisa mengharapkan adanya seorang mujtahid dari kalangan penduduknya dan seorang mujtahid dari kalangan penduduk wilayah lain?

ولكن لا بُدَّ أن يكونا عالمين بحكم الواقعة فالعقل يرشدهما إلى وجه الرأي والتحويم على الأسرار والخفايا وحكم الواقعة تقريرٌ أو تفريقٌ على حسب الاستصواب

Namun, keduanya harus mengetahui hukum peristiwa tersebut, karena akal akan membimbing mereka kepada arah pendapat dan menelusuri rahasia serta hal-hal tersembunyi, sedangkan hukum peristiwa itu adalah penetapan atau pembedaan sesuai dengan apa yang dianggap tepat.

وينشأ من هذا أنَّ الحاكم إذا ولّى حاكماً وكان ما يتعلق به أمورٌ خارجة عن الضبط والنهاية فلا بد من كون مولاّه مجتهداً فإنه بالإضافة إليه بمثابته بالإضافة إلى الإمام الأعظم فأمَّا إذا كان الحاكم خاصاً فلا يشترط الاجتهاد من المحكّم ويشهد له الحكمان وهذا رمز إلى مراتب الولاة وسنأتي فيها بالعجائب والآيات في أدب القضاء إن شاء الله عز وجل

Dari hal ini timbul bahwa apabila seorang hakim mengangkat seorang hakim lain, dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya mencakup hal-hal yang di luar batas pengawasan dan ketentuan, maka wajib bagi hakim yang diangkat itu untuk seorang mujtahid, karena kedudukannya terhadap hakim yang mengangkatnya adalah seperti kedudukan terhadap imam a‘zam. Adapun jika hakim tersebut bersifat khusus, maka tidak disyaratkan ijtihad dari hakim yang ditunjuk, dan dua orang hakim dapat menjadi saksi baginya. Ini merupakan isyarat kepada tingkatan-tingkatan para penguasa, dan kami akan membawakan keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda dalam adab peradilan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فالذي تَنَخَّلَ من مجموع ما ذكرناه القول في العدد وصفة الحَكَمَيْن

Maka yang dapat disarikan dari keseluruhan apa yang telah kami sebutkan adalah pembahasan tentang jumlah dan sifat kedua hakam.

ثم قال الأئمة لا يبعث الحكمين بمبادىء الشر والشقاق حتى يظهر التشاتم والتواثبُ والأمورُ المستكرهةُ المنكرة وتنشب الخصومة على التباسٍ لا يُفك ولا يُدرك في ظاهر الأمر

Kemudian para imam berkata, tidaklah diutus dua hakam dengan dasar permusuhan dan perselisihan kecuali setelah tampak saling mencaci, saling menyerang, muncul perkara-perkara yang dibenci dan diingkari, serta perselisihan telah melekat pada permasalahan yang tidak dapat diurai dan tidak dapat diketahui secara jelas.

ثم إذا كان رأي الحكمين أن يُفَرِّقا فالتفريق يقف على استدعائهما وإن كانت هي المعنة فهذا ما يجب الوقوف عليه

Kemudian, jika pendapat kedua hakam adalah untuk memisahkan, maka pemisahan itu bergantung pada permintaan mereka berdua, meskipun pihak yang teraniaya adalah perempuan; inilah yang harus diperhatikan.

ثم إنْ قدرناهما وكيلين لم يقف نفوذ حكمهما على حضور الزوجين قياساً على تصرف الوكلاء وإذا جعلناهما حَكَمين وقد اطلعا على حقيقة الحال فلو رأى الحكمان الطلاق فغاب الزوجان فهل ينفذ تطليقهما مع قطعهما بشكايتهما اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال لا يشترط هذا والمتبع الصواب الذي يريانه

Kemudian, jika kita menganggap keduanya sebagai wakil, maka berlakunya keputusan mereka tidak bergantung pada kehadiran kedua suami istri, berdasarkan qiyās dengan tindakan para wakil. Dan jika kita menjadikan keduanya sebagai hakam, sementara mereka telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, lalu kedua hakam tersebut memutuskan talak sementara kedua suami istri tidak hadir, maka apakah talak yang dijatuhkan oleh keduanya sah dengan keyakinan mereka terhadap pengaduan kedua suami istri? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa hal ini tidak disyaratkan, dan yang diikuti adalah pendapat yang benar menurut keduanya.

ومنهم من قال لا قطع إلاَّ إذا كانا مكبين على الشكاية ولا يشترط أحدٌ استدعاء الطلاق والاختلاع فإن هذا لو شرط فهو تنفيذ الفراق على حسب إذنهما بل يكفي قيام الشكاية

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak ada pemutusan (perceraian) kecuali jika keduanya sama-sama mengajukan pengaduan, dan tidak disyaratkan salah satu dari mereka meminta talak atau khulu‘, karena jika hal ini disyaratkan, maka itu berarti pelaksanaan perpisahan sesuai izin keduanya, padahal cukup dengan adanya pengaduan.

ولو تراضيا وأظهرا الوفاق فقال الحكمان إنهما لا يفيئان وسيرجعان إلى التنازع الذي ألفناه منهما مراراً فلا تعويل على هذا ولا سبيل إلى الفراق

Jika keduanya telah saling merelakan dan menampakkan kesepakatan, namun para hakam berkata, “Keduanya tidak akan kembali rukun dan akan kembali berselisih sebagaimana yang telah biasa kami saksikan dari mereka berulang kali,” maka kesepakatan tersebut tidak dapat dijadikan pegangan dan tidak ada jalan untuk perceraian.

فالأحوال إذاً ثلاثة إحداها إبداء الوفاق فلا فراق معه والثانية في إدامة التلاوم والتخاصم عند ذلك للحكمين أنْ يُطلّقا إذا رأيا

Maka, keadaannya ada tiga: yang pertama adalah menampakkan kesepakatan, sehingga tidak ada perpisahan bersamanya; yang kedua adalah terus-menerus saling menyalahkan dan berselisih, maka pada saat itu kedua hakam boleh menjatuhkan talak jika mereka berdua memandang demikian.

والحالة الثالثة أن يغيبا بعد الشكاية أو يسكتا مع الحضور وفيه التردد والمسألة فيه إذا راجعهما الحكمان فآثرا السكوت

Keadaan ketiga adalah apabila keduanya menghilang setelah adanya pengaduan, atau keduanya diam saat hadir, dan dalam hal ini terdapat keraguan. Permasalahannya adalah jika kedua hakam telah menanyai mereka berdua, lalu keduanya memilih untuk diam.

فصل قال ولو استكرهها على شيء أخذه منها إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Dan jika seseorang memaksanya untuk mengambil sesuatu darinya, dan seterusnya.”

هذا الفصل من مسائل الخلع ولكنه اتصل بتنازع الزوجين بأخراه

Bagian ini termasuk dalam permasalahan khulu‘, namun ia juga berkaitan dengan perselisihan antara suami istri pada akhirnya.

وصورة المسألة أنَّ المرأةَ إذا قبلت الطلاقَ على مالٍ في ظاهرِ الحال ثم ادعت على الزوج أنه يلزمه ردُّ ما أخذ منها لأنها كانت مُكرهة على الاختلاع والزوج ساكت وأقامت بيِّنة على الإكراه وإنما فرضنا سكوته لغرض يبين قال فالمال مردود عليها والطلاق يُحكم بوقوعه رجعياً لأنه لم يقر بطواعيتها

Gambaran masalahnya adalah apabila seorang wanita menerima talak dengan imbalan harta secara lahiriah, kemudian ia mengklaim kepada suaminya bahwa suami wajib mengembalikan harta yang diambil darinya karena ia dipaksa untuk melakukan khulu‘, sementara suami diam saja, dan ia mendatangkan bukti atas adanya paksaan—dan diamnya suami diasumsikan karena suatu maksud yang akan dijelaskan—maka harta tersebut dikembalikan kepadanya dan talak diputuskan jatuh sebagai talak raj‘i karena suami tidak mengakui bahwa ia melakukannya secara sukarela.

ويمكن فرض المسألة فيه إذا كانت الدعوى على الوكيل من جهة الزوج فأنكر الطواعية فالزوج لا يلزمه حكم إنكار الوكيل وهذا فيه إذا قامت بيِّنةٌ على إكراهها على الخُلع قصداً

Permasalahan ini dapat dibayangkan terjadi apabila gugatan ditujukan kepada wakil dari pihak suami, lalu wakil tersebut mengingkari adanya kerelaan. Maka suami tidak dibebani hukum atas pengingkaran wakil. Hal ini berlaku jika terdapat bukti yang menunjukkan bahwa istri dipaksa untuk melakukan khulu‘ secara sengaja.

فأمَّا إذا لم يكرهها على الخلع ولكن كان يُسيء العشرةَ معها ويؤذيها بالمشاتمةِ والضرب فلو اختلعت وزعمت أنها كانت تبغي الخلاصَ من أذى الزوج فلا يكون هذا إكراهاً وإن كان ما يجريه الزوج من الضرب لو خوَّف المرأةَ به لكانت مُكرهةً وهذا بيِّن وستأتي حقيقة هذه المسألة في كتاب الخلع إن شاء الله عز وجل

Adapun jika suami tidak memaksa istri untuk melakukan khulu‘, tetapi ia memperlakukan istri dengan buruk dan menyakitinya dengan kata-kata kasar serta pukulan, lalu istri melakukan khulu‘ dan mengaku bahwa ia ingin melepaskan diri dari gangguan suami, maka hal ini tidak dianggap sebagai paksaan. Meskipun perlakuan suami berupa pukulan itu, jika digunakan untuk menakut-nakuti istri, bisa membuatnya terpaksa, namun ini sudah jelas. Hakikat permasalahan ini akan dijelaskan pada Kitab Khulu‘, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

Kitab Khulu‘

الأصل فيه الكتاب والسنة والإجماع

Dasar hukumnya adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘.

فأما الكتاب فقوله تعالى فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ فأباح الله تعالى الافتداء ورَفَع الجُناحَ في أخذ المال عنه ورفع الجُناح عنها في البذل إذا استشعرا هَيْجَ الفتنة وقيام النزاع

Adapun dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala: “Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menegakkan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya mengenai apa yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” Maka Allah Ta‘ala membolehkan al-iftidā’ (tebus diri) dan menghapuskan dosa dalam mengambil harta darinya, serta menghapuskan dosa darinya dalam memberikan harta tersebut apabila keduanya merasakan timbulnya fitnah dan terjadinya perselisihan.

والأصل في الكتاب من جهة السنة حديثُ حبيبةَ بنتِ سهل زوجة ثابتِ بن قيس بن شماس وهو ما روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج ذات يوم لصلاة الصبح فرأى حبيبةَ على باب الحجرة فقال من هذه فقالت حبيبة لا أنا ولا ثابت

Dasar hukum dalam Al-Kitab dari sisi sunnah adalah hadis tentang Habibah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais bin Syammas, yaitu sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. suatu hari keluar untuk melaksanakan salat Subuh, lalu beliau melihat Habibah di depan pintu kamar, maka beliau bertanya, “Siapa ini?” Habibah menjawab, “Bukan aku dan bukan pula Tsabit.”

واختلف في معنى قولها فقيل معناه لا كنت ولا كان ثابت إذ كنا سببَ شغل قلب رسول الله وقيل معناه لا أوافقه ولا يوافقني

Terdapat perbedaan pendapat mengenai makna ucapannya; ada yang mengatakan maksudnya adalah “aku tidak ada dan Tsabit pun tidak ada, karena kami berdua menjadi sebab kesibukan hati Rasulullah,” dan ada pula yang mengatakan maksudnya adalah “aku tidak cocok dengannya dan dia pun tidak cocok denganku.”

فلما دخل ثابت المسجد قال له صلى الله عليه وسلم هذه حبيبة تذكر ما شاء الله أن تذكر فقالت حبيبة كل ما أعطانيه عندي فقال رسول الله

Ketika Tsabit masuk masjid, Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Ini Habibah, silakan ia menyampaikan apa yang ia kehendaki.” Maka Habibah berkata, “Semua yang telah engkau berikan kepadaku masih ada padaku.” Maka Rasulullah pun bersabda…

صلى الله عليه وسلم خذ منها فجلست في بيت أهلها إلى أن خالعها وأخذ المال منها وجلست تعتد في بيت أهلها

Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ambillah darinya.” Maka ia pun tinggal di rumah keluarganya sampai suaminya melakukan khulu‘ dan mengambil harta darinya, lalu ia menjalani masa ‘iddah di rumah keluarganya.

والإجماع منعقد على أصل الخلع وليس في حديث حبيبة رضا ثابت بالطلاق ولا جريانٌ بلفظ المخالعة ولا محملَ لقصة حبيبة إلا ما ذكرناه في الحَكَمين

Ijmā‘ telah sepakat atas dasar hukum khul‘, dan dalam hadis tentang Habibah tidak terdapat kerelaan yang tetap terhadap talak, tidak pula disebutkan lafaz muḫāla‘ah, serta tidak ada penafsiran lain atas kisah Habibah kecuali seperti yang telah kami sebutkan mengenai dua ḥakam.

ثم قال الشافعي آية الافتداء في كتاب الله تعالى مقيَّدة بخوف النزاع وهذا التقييد لا مفهوم له فإنه يخرج على الغالب في العادة فإن الزوجين لا يتخالعان وكل واحد منهما راغب في صاحبه وقد تكرر الكلام على مثل هذا في المسائل

Kemudian asy-Syafi‘i berkata bahwa ayat tentang iftidā’ dalam Kitab Allah Ta‘ala dibatasi dengan adanya kekhawatiran perselisihan, dan pembatasan ini tidak memiliki mafhūm, karena hal itu didasarkan pada kebiasaan yang umum terjadi; sebab suami istri tidak akan melakukan khul‘ sementara masing-masing dari mereka masih menginginkan pasangannya. Pembahasan serupa telah berulang kali dijelaskan dalam berbagai masalah.

وهذه القصة تدل على أن ما يقدمه الزوج من ضرب لا يحمل على الإكراه على الخلع وفي هذا سر يليق به وهو أن ضرب الزوج إياها يرغّبها في الخلاص منه فتختار الاختلاع والإكراهُ على نفس الخلع لا يحدث فيها رغبةً في الخلع وإنما طلب الخلع منها قهراً فأتت به قهراً

Kisah ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan suami berupa pemukulan tidak dapat dianggap sebagai paksaan untuk melakukan khulu‘. Dalam hal ini terdapat rahasia yang sesuai, yaitu bahwa pemukulan suami terhadap istrinya justru mendorong istri untuk melepaskan diri darinya sehingga ia memilih khulu‘. Adapun paksaan secara langsung terhadap khulu‘ tidak menimbulkan keinginan dalam diri istri untuk melakukan khulu‘, melainkan permintaan khulu‘ itu muncul dari dirinya karena terpaksa, sehingga ia melakukannya dengan terpaksa pula.

فعرض المزني وبعضُ الأصحاب لكلام في أن الخلع لا يوصف بالسنة والبدعة

Lalu al-Muzani dan beberapa sahabat mengemukakan pendapat bahwa khulu‘ tidak dapat dikategorikan sebagai sunnah maupun bid‘ah.

ولا معنى للتّسرّع في ذلك فإنه بين أيدينا وسنذكره مستقصى في الطلاق إن شاء الله عز وجل

Tidak ada gunanya tergesa-gesa dalam hal itu, karena permasalahan tersebut ada di hadapan kita dan akan kami jelaskan secara rinci pada pembahasan tentang talak, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل قال ورُوي عن ابن عباس أن الخلع ليس بطلاق إلى آخره

Bagian: Ia berkata, dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa khulu‘ bukanlah talak, hingga akhir.

اختلف قول الشافعي في أن الخلع فسخُ النكاح على تراضٍ أو هو طلاق على مال

Pendapat Imam Syafi’i berbeda mengenai apakah khulu‘ merupakan pembatalan akad nikah atas dasar kerelaan bersama, ataukah ia merupakan talak dengan imbalan harta.

فالمنصوص عليه في الجديد أنه طلاق وهو مذهب أبي حنيفة واختيار المزني وهو الصحيح وبه الفتوى

Pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru adalah bahwa itu merupakan talak, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah serta pilihan al-Muzani, dan inilah yang benar serta menjadi dasar fatwa.

ونص في القديم على أن الخلع فسخٌ ومذهب عمر وعثمان وعليٍّ أن الخلع طلاق ومذهب ابن عباس أنه فسخ وتوجيه القولين مذكور في المسائل

Dalam pendapat lama disebutkan bahwa khulu‘ adalah fasakh. Pendapat Umar, Utsman, dan Ali menyatakan bahwa khulu‘ adalah talak, sedangkan pendapat Ibnu Abbas menyatakan bahwa khulu‘ adalah fasakh. Penjelasan mengenai kedua pendapat tersebut disebutkan dalam masalah-masalah.

وأول ما نذكره قبل استفتاح التفريع أن من قال الخلع طلاق من مذهبه أن النكاح لا يقبل الفسخ بالتراضي بل جريان الفسخ فيه موقوف على دفع ضرار وعلى صفةٍ تُضادّ دوامَ النكاح وما يكون كذلك فهو انفساخ لا يتعلق بالقصد

Hal pertama yang kami sebutkan sebelum memulai penjabaran adalah bahwa siapa yang berpendapat bahwa khulu‘ adalah talak, menurut mazhabnya, pernikahan tidak dapat dibatalkan dengan kerelaan kedua belah pihak, melainkan pembatalan itu hanya terjadi jika ada bahaya yang harus dihilangkan atau terdapat keadaan yang bertentangan dengan kelangsungan pernikahan. Apa yang demikian itu merupakan pembatalan yang tidak terkait dengan niat.

فإذا تمهّد هذا عُدنا إلى التفريع على القولين فإذا جعلنا الخلع فسخاً فهو صريحٌ باتفاق المفرّعين على هذا القول إذا جرى ذكرُ المال فإن تخالعا من غير ذكر المال فهذا يتفرع على قول الفسخ ويتفرع على قول الطلاق

Jika hal ini telah dijelaskan, kita kembali pada rincian dua pendapat. Jika kita menganggap khulu‘ sebagai fasakh, maka ia termasuk sharih menurut kesepakatan para ulama yang merinci pendapat ini apabila disebutkan adanya harta. Jika keduanya melakukan khulu‘ tanpa menyebutkan harta, maka hal ini bercabang pada pendapat fasakh dan bercabang pula pada pendapat talak.

ونحن نرى أن نؤخّر تفريعه على تفريع القولين ثم نفرده ونستقصي ما فيه

Kami berpendapat untuk menunda pembahasan rinciannya setelah membahas rincian dari dua pendapat, kemudian kami akan membahasnya secara khusus dan menguraikan apa yang ada di dalamnya.

فالخلع مع المال إذاً صريح في الفسخ فإذا قالا تفاسخنا على مالٍ ذكراه فالمذهب الأصح أن الفسخ صريح في إفادة المقصود

Maka khulu‘ dengan imbalan harta itu jelas merupakan fasakh. Jika keduanya berkata, “Kami saling melepaskan ikatan pernikahan dengan imbalan harta yang disebutkan,” maka mazhab yang paling sahih menyatakan bahwa fasakh secara tegas memberikan maksud yang diinginkan.

وذكر العراقيون وغيرهم وجهاً أن الفسخ يكون كناية في هذا المقام لأنه لا ذكر له في الشرع ولا جريان له على الألسنة والكنايات تتميز عن الصرائح بما ذكرناه

Orang-orang Irak dan selain mereka menyebutkan satu pendapat bahwa fasakh dianggap sebagai kinayah dalam konteks ini, karena tidak ada penyebutannya dalam syariat dan tidak lazim diucapkan di lisan, sedangkan kinayah dibedakan dari sharih sebagaimana telah kami sebutkan.

وظهر اختلاف أصحابنا في المفاداة مع ذكر المال على قول الفسخ فمنهم من قال هي صريح كالمخالعة ومنهم من قال إنها كناية

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami mengenai pemutusan hubungan (mufāda’ah) dengan menyebutkan harta menurut pendapat fasakh. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu merupakan lafaz sharih seperti khulu‘, dan sebagian lain berpendapat bahwa itu adalah kinayah.

ويقرب الاختلاف في هذا من تردد الأصحاب في لفظ الإمساك إذا استعمل في الرجعة

Perbedaan pendapat dalam hal ini hampir sama dengan keraguan para ulama mengenai lafaz “imsak” apabila digunakan dalam rujuk.

فمن أصحابنا من قال إنه صريح

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hal itu adalah sharih (lafaz yang jelas/tegas).

ومنهم من قال إنه كناية

Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa itu adalah kinayah (kiasan).

وكذلك اختلفوا في أن لفظ الفك هل يكون صريحاً في العتق وإنما نشأ الاختلاف في هذه المسائل عن أصل نُنبّه عليه وهو أن من أئمتنا من نظر إلى شيوع المفاداة والإمساك والفك في هذه الأغراض والصريحُ ما يشيع في إرادة مقصدٍ ومن أئمتنا من نظر إلى جريان هذه الألفاظ في الشرع

Demikian pula mereka berbeda pendapat mengenai apakah lafaz al-fakk (pembebasan) termasuk lafaz sharih (eksplisit) dalam pembebasan budak. Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ini muncul dari satu pokok yang perlu kami tunjukkan, yaitu bahwa sebagian imam kami memandang kepada kebiasaan penggunaan istilah mufadah, imsak, dan fakk dalam tujuan-tujuan ini, sedangkan lafaz sharih adalah yang umum digunakan untuk maksud tertentu. Sementara sebagian imam kami lainnya memandang kepada penggunaan lafaz-lafaz tersebut dalam syariat.

كالمفاداة في قوله تعالى فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ والإمساك في قوله تعالى فَأَمْسِكُوهُنَّ والفك دي قوله تعالى فَكُّ رَقَبَةٍ وحاصل المذهب أن ما جرى له ذكر في الشرع وتكرر حتى صار مشهوراً في الشرع فهو صريح وإن لم يفرض فيه إشاعةٌ في العادة فإنّ ما عُرف شرعاً فهو المتّبَع وعليه بنينا حملَ الدراهم في الأقارير على النُّقرة الخالصة وإن كان قد يغلب العرف على خلاف ذلك وعليه ألحق الشافعي السَّراح والفراق بصرائح الطلاق لمَّا ألفاهما متكررين

Seperti al-mufādah dalam firman Allah Ta’ala “dalam hal tebusan yang ia berikan”, dan al-imsāk dalam firman Allah Ta’ala “maka tahanlah mereka”, serta al-fakk dalam firman Allah Ta’ala “membebaskan budak”. Inti dari mazhab ini adalah bahwa segala sesuatu yang disebutkan dalam syariat dan berulang hingga menjadi terkenal dalam syariat, maka itu dianggap sebagai lafaz sharih, meskipun tidak tersebar dalam kebiasaan masyarakat. Sebab, apa yang dikenal dalam syariat itulah yang diikuti. Berdasarkan hal itu, kami menetapkan bahwa membawa dirham dalam pengakuan berarti membawa nuqrah (perak murni), meskipun kebiasaan umum bisa saja berbeda. Berdasarkan hal itu pula, Imam Syafi’i menyamakan lafaz as-sarah dan al-firaq dengan lafaz sharih talak karena beliau mendapati keduanya sering diulang-ulang.

فأما ما جرى في الشرع مرة واحدة كالمفاداة والإمساك والفك ولم يكن ذلك شائعاً ففيه الوجهان

Adapun perkara yang terjadi dalam syariat hanya satu kali, seperti al-mufādah, al-imsāk, dan al-fakk, dan hal itu tidak menjadi sesuatu yang umum, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وما شاع ولم يجرِ له ذكر في الشرع فهل يلتحق بالصرائح فعلى وجهين ومنه قولْ القائل لامرأته أنت عليّ حرام في هذه البلاد

Apa yang telah tersebar luas namun tidak disebutkan secara eksplisit dalam syariat, apakah dapat disamakan dengan lafaz-lafaz sharih? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Di antaranya adalah ucapan seseorang kepada istrinya: “Engkau haram atasku di negeri ini.”

وما ذكرناه مرامز وسيأتي استقصاؤها في أول الطلاق إن شاء الله تعالى

Apa yang telah kami sebutkan adalah isyarat-isyarat, dan penjelasan lengkapnya akan dibahas pada awal pembahasan tentang talak, insya Allah Ta‘ala.

ومما يتفرع على هذا القول أنا إذا جعلنا المخالعةَ صريحاً وقطعنا القول بذلك على الفسخ ولا ذكرَ لها في الكتاب فكيف خروج هذا على القاعدة التي ذكرناها ولم يختلف أصحابنا أن المخالعة صريح في الفسخ على قول الفسخ وهذا في ظاهره يخرِم ما أصّلناه!

Dan di antara cabang dari pendapat ini adalah bahwa jika kita menganggap khul‘ sebagai lafaz sharih (tegas) dan menetapkan pendapat bahwa khul‘ adalah fasakh (pembatalan nikah), padahal tidak ada penyebutannya dalam kitab (teks), maka bagaimana hal ini sesuai dengan kaidah yang telah kami sebutkan? Padahal para ulama kami tidak berselisih bahwa khul‘ adalah lafaz sharih dalam fasakh menurut pendapat fasakh, dan secara lahiriah hal ini tampak bertentangan dengan apa yang telah kami tetapkan!

وسبيل الكلام عليه شيئان أحدهما أن الخلع جرى في عُرف نَقَلةِ الشريعة حتى كان حَمَلةُ الشريعة يحملون على التلفظ بها والأزواج إذا نطقوا بالخلع رأَوْه الأصل

Adapun cara membahas masalah ini ada dua hal. Pertama, bahwa khulu‘ telah berjalan dalam kebiasaan para perawi syariat, sehingga para pembawa syariat membiasakan diri untuk mengucapkannya, dan para suami apabila mengucapkan khulu‘, mereka memandangnya sebagai pokok.

وليس كذلك قول القائل لامرأته أنتِ على حرام

Tidak demikian halnya dengan ucapan seseorang kepada istrinya, “Engkau atas yang haram.”

ويتجه فيه وجه آخر وهو أن الخلع إذا استعمل فسخاً فالفسخ يضاهي حلولَ العقود ولا حصر لألفاظ حلول العقود وهي محمولة على الأشاعة متلقّاة منها لا غير والطلاق تصرف فإنه ليس فسخاً وليس يُشعر بإزالة مِلكٍ فتطرّق إليه التعبّد تطرّقَه إلى النكاح وكأن المعتمد فيه ورود الشرع والتكرر فيه

Ada pendapat lain dalam hal ini, yaitu bahwa jika khulu‘ digunakan sebagai fasakh, maka fasakh menyerupai pembatalan akad-akad, dan tidak ada batasan bagi lafaz-lafaz pembatalan akad, yang mana semuanya didasarkan pada penyebaran makna dan hanya diterima darinya saja. Sedangkan talak adalah suatu tindakan, ia bukanlah fasakh dan tidak menunjukkan penghilangan kepemilikan, sehingga padanya masuk unsur ta‘abbud sebagaimana pada akad nikah, dan seolah-olah yang menjadi sandaran di dalamnya adalah datangnya syariat dan pengulangan di dalamnya.

إذا تبين ما ذكرناه فلو ذكر الزوج المخالعة على مال وقِبلَتْه المرأة ونوى الزوج الطلاق فالذي قطع به المحققون أنه لا يصير طلاقاًً بالنيّة فإنه صريح في الفسخ واللفظ الصريح الموضوع في محلّه إذا قَصد مطلِقُه مقصوداً آخر غيرَ ما يقتضيه محلُّه فاللفظ لا ينتقل ولهذا قلنا إن الزوج إذا ذكر الطلاق وزعم أنه نوى ظهاراً أو ذكر الظهار وزعم أنه نوى طلاقاً فاللفظ ينفذ في موضوعه الصريح ويلغو القصد في غيره

Jika telah jelas apa yang telah kami sebutkan, maka jika suami menyebutkan khulu‘ dengan imbalan harta dan istri menerimanya, lalu suami berniat talak, para ulama yang ahli memastikan bahwa hal itu tidak menjadi talak hanya karena niat, karena lafaz tersebut secara tegas menunjukkan pembatalan (fasakh), dan lafaz yang tegas yang digunakan pada tempatnya, jika orang yang mengucapkannya bermaksud lain selain makna yang ditunjukkan oleh tempatnya, maka makna lafaz itu tidak berubah. Oleh karena itu, kami katakan bahwa jika suami menyebutkan talak lalu mengaku bahwa ia berniat zihar, atau menyebutkan zihar lalu mengaku bahwa ia berniat talak, maka lafaz itu berlaku sesuai makna tegasnya dan niat untuk makna selainnya dianggap tidak sah.

وقد يرد على ذلك لفظ التحريم فإنه صريح في اقتضاء الكفارة إذا قال الرجل لزوجته أنتِ عليّ حرام ولو نوى به طلاقاً كان طلاقاً وسيأتي ذلك مشروحاً إن شاء الله تعالى

Mungkin akan muncul pertanyaan mengenai lafaz pengharaman, karena lafaz tersebut secara tegas mengharuskan adanya kafarat jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau haram bagiku.” Jika ia meniatkannya sebagai talak, maka itu menjadi talak, dan hal ini akan dijelaskan secara rinci nanti, insya Allah Ta‘ala.

والذي ننجزه الآن أن لفظ التحريم لا يختص حكمه في اقتضاء الكفارة بالزوجية وأن السيد لو قال لأمته أنتِ عليّ حرام التزم الكفارة وفي ذلك نزلت سورة التحريم فلم يختص التحريمُ بالنكاح فيجوز ألا يختصَّ في النكاح بمقصود هذا هو المذهب

Kesimpulan yang kami capai sekarang adalah bahwa lafaz “pengharaman” (at-tahrīm) tidak khusus berlaku dalam hal kewajiban membayar kafarat hanya pada hubungan suami istri, dan bahwa seorang tuan jika berkata kepada budaknya perempuan, “Engkau haram atasku,” maka ia wajib membayar kafarat. Mengenai hal ini pula turun Surah at-Tahrīm, sehingga pengharaman tidak dikhususkan pada pernikahan. Maka boleh jadi pengharaman itu tidak khusus pada pernikahan menurut maksud ini; inilah pendapat mazhab.

ومن أصحابنا من قال الخلع يصير طلاقاً بالنية وهذا ذكره شيخي وطائفة من العراقيين والوجه فيه أن الفسخَ والطلاقَ متساويان في بتّ الملك ورفعِ النكاح فلم يبعُد نقلُه من رفعٍ إلى رفع وليس كذلك الطلاق والظهار

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa khulu‘ menjadi talak dengan niat, dan ini disebutkan oleh guru saya serta sekelompok ulama Irak. Alasannya adalah karena fasakh dan talak sama-sama memutuskan kepemilikan dan mengakhiri pernikahan, sehingga tidaklah jauh jika dipindahkan dari satu bentuk pengakhiran ke bentuk pengakhiran yang lain. Tidak demikian halnya antara talak dan zihar.

وهذا خيال لا حاصل له فإن تعطيل الصريح لا وجه له وفي حمل الخلع على الطلاق تعطيلُه في الفسخ ويستحيل أن ينفذ الفسخ به مع وقوع الطلاق هذا لا سبيل إليه

Ini hanyalah khayalan yang tidak memiliki dasar, karena meniadakan makna yang jelas tidaklah beralasan. Jika khulu‘ dianggap sebagai talak, maka itu berarti meniadakan statusnya sebagai fasakh. Tidak mungkin fasakh dapat berlaku bersamaan dengan terjadinya talak; hal itu mustahil terjadi.

فلو أجراه من لا بصيرة له حيث لم ير لردّ الفسخ أثراً وقال ينفذ الفسخ والطلاق قيل له الفسخ بَيْنٌ والطلاق لا يقع مع البينونة فهذا ما أردناه في ذلك

Jika seseorang yang tidak memiliki pemahaman menjalankan hal ini, di mana ia tidak melihat adanya pengaruh dari pembatalan (fasakh) dan berkata bahwa fasakh dan talak tetap berlaku, maka dikatakan kepadanya: fasakh menyebabkan perpisahan, dan talak tidak terjadi jika sudah ada perpisahan. Inilah yang kami maksudkan dalam hal ini.

فإن قيل النكاح ينفسخ بلفظ الفسخ عند ثبوت الأسباب المقتضية للفسخ ثم لو استعمل الزوج الفسخ ونوى الطلاق وقع

Jika dikatakan bahwa pernikahan dapat batal dengan lafaz fasakh ketika terdapat sebab-sebab yang membenarkan fasakh, kemudian jika suami menggunakan lafaz fasakh dan berniat talak, maka talak pun terjadi.

قلنا لفظ الفسخ لا اختصاص له بالنكاح فإنه يجري في كل عقد ينفسخ ثم إنما ينفذ لفظ الفسخ إذا كان ثَمَّ موجِب له فإن لم يكن فلا نفاذ له فلا يمتنع استعماله في الطلاق فلو أطلق الزوج لفظ الفسخ ونوى به الطلاق حيث يملك الفسخ فالمسألة محتملة

Kami katakan bahwa lafaz fasakh tidak khusus untuk pernikahan, karena ia berlaku pada setiap akad yang dapat dibatalkan. Kemudian, lafaz fasakh hanya berlaku jika ada sebab yang mewajibkannya; jika tidak ada, maka tidak sah penggunaannya. Oleh karena itu, tidak terlarang menggunakan lafaz ini dalam talak. Jika suami mengucapkan lafaz fasakh dan meniatkannya sebagai talak pada kondisi di mana ia berhak melakukan fasakh, maka permasalahannya masih diperselisihkan.

ويجوز أن يُقضى بوقوع الطلاق لصلاح اللفظ له وملكِه إياه وهذا ما قطع به القاضي

Dan boleh diputuskan jatuhnya talak karena lafaz tersebut sesuai untuk talak dan orang yang mengucapkannya memiliki hak atasnya, dan inilah yang ditegaskan oleh al-Qadhi.

ويجوز أن يقال ينفد الفسخ بصريح لفظه إذ لا حاجة إلى قصده في الفسخ ولا ينفذ الطلاق كما ذكرناه في المخالعة ولعل الفسخ أولى بالنفوذ إذا وُجد سببٌ له فإن ما نُنفذه من الفسخ في الخلع يقتضي التراضي بالفسخ فإذا لم يقصد الزوجُ الفسخَ ولم يخطر له ببال فالتراضي على الفسوخ مفقود وهو سبب الفسخ

Boleh dikatakan bahwa fasakh menjadi sah dengan lafaz yang jelas, karena tidak diperlukan adanya niat dalam fasakh, sedangkan talak tidak sah seperti yang telah kami sebutkan dalam khulu‘. Bahkan, fasakh lebih utama untuk dianggap sah apabila terdapat sebabnya, karena apa yang kami sahkan dari fasakh dalam khulu‘ mensyaratkan adanya kerelaan kedua belah pihak terhadap fasakh. Maka, jika suami tidak meniatkan fasakh dan tidak terlintas dalam benaknya, berarti kerelaan terhadap fasakh tidak ada, padahal kerelaan itu merupakan sebab terjadinya fasakh.

فليتأمل الفقيه هذا المقام يجد له عوضاً

Maka hendaklah seorang faqih merenungkan posisi ini, niscaya ia akan menemukan penggantinya.

ومما نفرّعه على هذا القول أنا إذا جعلنا الخلع فسخاً فلا يصحّ من الأجنبي الاستقلالُ باختلاع المرأة على حكم الفسخ فإن الفسخ المعقود بالتراضي شرطه أن يرتبط برضا الزوجين فإن العقد يتعلق بهما ولا يجوز أن يكون الأجنبي ركناً في فسخ التراضي

Dan di antara cabang dari pendapat ini adalah bahwa jika kita menganggap khulu‘ sebagai fasakh, maka tidak sah bagi orang asing untuk secara mandiri melakukan khulu‘ terhadap seorang wanita dengan hukum fasakh, karena fasakh yang dilakukan atas dasar kerelaan bersama syaratnya harus terikat dengan kerelaan kedua suami istri, sebab akad itu berkaitan dengan keduanya dan tidak boleh orang asing menjadi rukun dalam fasakh yang didasarkan pada kerelaan bersama.

فإن قيل قد قطع الشافعي أجوبته بتصحيح خلع الأجنبي!

Jika dikatakan, “Imam Syafi‘i telah memastikan jawabannya dengan membenarkan khulu‘ yang dilakukan oleh pihak ketiga (bukan suami)!”

قلنا سبب ذلك أنه فرّع على الجديد ولم يُلفَ له تفريع على القديم وكانت أجوبته محمولةً على أن الخلع طلاق وإذا وقع التفريع عليه فيصحّ من الأجنبي افتداءُ المرأة بالطلاق عن زوجها بمال يبذله وينزل هذا بمنزلة افتداء الرجل المستولدة من مولاها بمال يبذله عن مقابلة إعتاقه إياها والسبب في ذلك أن الطلاق فُرقة ينفرد الزوج بها كالعتق فإذا علّقه بمال يلتزمه أجنبي على مذهب الافتداء لم يبعد و الفسخ المنوط بالتراضي يستحيل حصوله بين الزوج والأجنبي

Kami katakan, sebabnya adalah karena hal itu dibangun di atas pendapat baru (al-jadid) dan tidak ditemukan cabang/cara penerapan untuk pendapat lama (al-qadim). Jawaban-jawabannya didasarkan pada anggapan bahwa khulu‘ adalah talak. Jika cabang hukum dibangun di atasnya, maka sah bagi orang asing (bukan suami) untuk menebus istri dari suaminya dengan talak dengan memberikan harta. Hal ini disamakan dengan kasus seorang laki-laki menebus budak perempuan yang telah melahirkan anak darinya dari tuannya dengan harta yang ia berikan sebagai imbalan atas pembebasannya. Sebabnya adalah karena talak merupakan pemutusan hubungan yang dilakukan sendiri oleh suami, sebagaimana ‘itq (pembebasan budak). Maka jika talak itu digantungkan pada harta yang dijanjikan oleh orang asing menurut mazhab iftida’ (penebusan), hal itu tidak dianggap jauh (masih masuk akal). Adapun fasakh (pembatalan nikah) yang bergantung pada kerelaan kedua belah pihak, mustahil terjadi antara suami dan orang asing.

وقد بقي من التفريع على هذا القول مقدار صالح ولكنا رأينا تأخيره لغرض لنا في الترتيب ونعود الآن إلى التفريع على القول الآخر

Masih tersisa sejumlah pembahasan cabang dari pendapat ini yang cukup banyak, namun kami memutuskan untuk menundanya karena suatu tujuan terkait dengan penyusunan, dan sekarang kami kembali kepada pembahasan cabang dari pendapat yang lain.

فإذا قلنا الخلع طلاق فإذا ذكر معه المال واتصل بالقبول فظاهر المذهب أن اللفظ لا يعمل إلا بالنية

Jika kita mengatakan bahwa khulu‘ adalah talak, maka apabila disebutkan bersama harta dan dihubungkan dengan penerimaan, menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab, lafaz tersebut tidak berlaku kecuali dengan niat.

ونص الشافعي في الأملاء على أن الخلع صريح في الطلاق أو كناية اختلف الأئمة في مأخذ القولين فالذي ذهب إليه معظم الأصحاب أن هذا الاختلاف مأخوذٌ من أن اللفظ إذا ساغ استعماله في الناس على قصد الطلاق فهل يلتحق بالصرائح بسبب الشيوع وإن لم يتكرر في ألفاظ الشرع وهذا لفظ مختلف فيه وسنذكره ونستقصيه في موضعه إن شاء الله عز وجل

Asy-Syafi‘i menegaskan dalam kitab al-Imla’ bahwa khulu‘ itu merupakan lafaz sharih (eksplisit) dalam talak atau merupakan kinayah (lafaz implisit). Para imam berbeda pendapat mengenai dasar dari dua pendapat ini. Mayoritas para sahabat (ulama pengikut mazhab) berpendapat bahwa perbedaan ini diambil dari persoalan: apabila suatu lafaz sudah lazim digunakan di tengah masyarakat dengan maksud talak, apakah ia dapat disamakan dengan lafaz sharih karena sudah umum, meskipun tidak berulang dalam lafaz-lafaz syariat? Ini adalah lafaz yang diperselisihkan, dan kami akan menyebutkannya serta menguraikannya secara rinci pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإذا ظاهر المذهب أن الصرائح منحصرة في الطلاق والفراق والسَّراح ومعانيها بكل لسان

Maka, pendapat yang jelas dalam mazhab adalah bahwa lafaz-lafaz sharih terbatas pada thalaq, firaq, dan saraah beserta maknanya dalam setiap bahasa.

وفي المسألة قول آخر إن الخلع يلتحق بها لشيوعه في الاستعمال

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain bahwa khulu‘ disamakan dengannya karena telah umum digunakan dalam praktik.

هذا مسلك لبعض الأصحاب وهو الصحيح

Ini adalah pendapat sebagian ulama, dan inilah yang benar.

وذهب ذاهبون إلى أن سبب اختلاف القول ذكر المال وهذا تمسكٌ بالقرينة

Sebagian pihak berpendapat bahwa sebab perbedaan pendapat adalah penyebutan harta, dan ini merupakan berpegang pada qarinah (indikasi konteks).

ومذهب الشافعي أن الكنايات لا تلتحق بالصرائح بقرائن الأحوال كالسؤال والغضب وما يظهر في مخايل الإنسان في قصد الطلاق وسيأتي شرحها إن شاء الله تعالى

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa kināyah tidak dapat disamakan dengan sharih hanya karena adanya indikasi situasi seperti pertanyaan, kemarahan, atau apa yang tampak pada diri seseorang dalam maksud untuk menjatuhkan talak, dan penjelasannya akan datang, insya Allah Ta‘ala.

فكان هؤلاء يستثبتون من جملة القرائن المال فإنه لا يُبذل هزلاً ولا يستبطر إلا لتوطين النفس على المفاداة ويظهر أثر هذا الاختلاف في مأخذ القولين فيه إذا جرى لفظ الخلع من غير ذكر المال وقد وعدنا أن نذكر هذا مفرداً مفرّعاً على القولين

Mereka ini menjadikan harta sebagai salah satu bukti kuat, karena harta tidak diberikan secara main-main dan tidak dihambur-hamburkan kecuali untuk meneguhkan niat dalam melakukan mufāda‘ah (tebus cerai). Perbedaan pendapat ini akan tampak pengaruhnya pada dasar kedua pendapat tersebut apabila lafaz khulu‘ diucapkan tanpa menyebutkan harta, dan kami telah berjanji akan membahas hal ini secara khusus dengan rincian berdasarkan kedua pendapat tersebut.

ومن فوائد التفريع على هذا القول أن الرجل إذا خالع امرأته ثلاث مرات لم تحلّ له إلا بعد زوج بخلاف ما إذا جعلناه فسخاً فإن تكرر الفسوخ وإن بلغ عدداً كثيراً لا يؤثر في إيجاب التحليل وتحريم العقد ممدود إلى نكاح ووطءٍ فيه

Di antara manfaat dari penjabaran menurut pendapat ini adalah bahwa apabila seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya sebanyak tiga kali, maka istrinya tidak halal baginya kecuali setelah menikah dengan suami lain. Berbeda halnya jika kita menganggapnya sebagai fasakh, maka meskipun fasakh itu terjadi berulang kali hingga jumlahnya banyak, hal itu tidak berpengaruh dalam mewajibkan taḥlīl dan pengharaman akad, karena pengharaman tersebut bergantung pada terjadinya pernikahan dan hubungan suami istri di dalamnya.

فهذا الذي ذكرناه ذِكْرُ قواعد التفريع على القولين ونحن نُلحق أموراً أهمها الكلام فيه إذا جرى الخلع من غير تعرّض لذكر المال

Inilah yang telah kami sebutkan berupa penjelasan kaidah-kaidah tafri‘ atas dua pendapat, dan kami akan menambahkan beberapa hal, yang terpenting di antaranya adalah pembahasan mengenai khulu‘ yang terjadi tanpa menyebutkan harta.

فرع

Cabang

إذا اختلع الزوجان ولم يجرِ ذكر المال فقال الزوج خالعتك فقالت اختلعت نفسي فهذا نفرّعه على قولنا الخلع طلاق أوّلاً ثم

Jika suami istri melakukan khulu‘ dan tidak disebutkan harta, lalu suami berkata, “Aku telah mengkhulukanmu,” kemudian istri berkata, “Aku telah mengkhulukan diriku sendiri,” maka hal ini kami rincikan berdasarkan pendapat kami apakah khulu‘ itu talak terlebih dahulu, kemudian…

نفرّعه على القول الآخر

Kita cabangkan masalah ini berdasarkan pendapat yang lain.

فإذا قلنا إنه طلاق قلنا إنه صريح فهذا ينبني على أن كونه صريحاً يُتلقى من ذكر المال أو من شيوع اللفظ فإن تلقيناه من قرينة المال فها هنا لا قرينة فهو كناية فيحتاج إلى النية

Jika kita katakan bahwa itu adalah talak, lalu kita katakan bahwa itu adalah talak sharih, maka hal ini bergantung pada apakah kejelasan itu diambil dari penyebutan harta atau dari tersebarnya lafaz tersebut. Jika kita mengambilnya dari indikasi harta, maka di sini tidak ada indikasi, sehingga ia termasuk kināyah dan membutuhkan niat.

ثم نفرّع أولاً على أن مأخذ القولين من الشيوع وهذا ما صار إليه معظم الأصحاب

Kemudian, pertama-tama kita akan merinci berdasarkan bahwa sumber kedua pendapat tersebut adalah dari syuyu‘ (kepemilikan bersama), dan inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas para ulama.

فإن قلنا اللفظ صريح فإذا لم يتعرضا لذكر المال فهل يجب المال فيه وجهان أحدهما أن المال يجب وإن لم يذكراه فإن اللفظ في العرف يقتضي المال

Jika kita mengatakan bahwa lafaz tersebut adalah sharih, maka apabila keduanya tidak menyebutkan harta, apakah harta tetap wajib ada di dalamnya? Ada dua pendapat: salah satunya, harta tetap wajib meskipun keduanya tidak menyebutkannya, karena lafaz tersebut menurut ‘urf mengandung makna harta.

والوجه الثاني لا يثبت المال لعدم الذكر والتعرض له

Pendapat kedua menyatakan bahwa harta tidak ditetapkan karena tidak disebutkan dan tidak ada penyebutan terhadapnya.

التفريع

Pencabangan

إن قلنا إن المال لا يثبت فيقع طلقة رجعية ثم هل يشترط القبول أم يقع بمجرد قول الزوج فعلى وجهين أحدهما إنه يقع بمجرد قول الزوج فإنه إذا نوى الطلاق ولم يتعرض للمال ولم يُثبت الشرعُ المالَ فلا حاجة إلى قبولها فكان ما جاء به طلاقاًً مجرداً في ممسوسةٍ من غير استيفاء عدد فاقتضى ذلك جريانها في عدة الرجعة والوجه الثاني أنه لا بد من قبولها فإن صيغة اللفظ مأخوذة من بناء المفاعلة

Jika kita mengatakan bahwa harta tidak tetap, maka jatuhlah talak raj‘i. Lalu, apakah disyaratkan adanya penerimaan (qabūl) ataukah talak terjadi cukup dengan ucapan suami saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pertama, talak terjadi cukup dengan ucapan suami, karena jika ia berniat talak tanpa menyebutkan harta dan syariat tidak menetapkan adanya harta, maka tidak perlu adanya penerimaan dari istri. Maka, apa yang diucapkannya adalah talak murni pada istri yang telah digauli tanpa menyempurnakan jumlah talak, sehingga hal itu menyebabkan istri menjalani masa iddah raj‘ah. Pendapat kedua, harus ada penerimaan dari istri, karena bentuk lafaznya diambil dari pola mufā‘alah (saling melakukan).

ووضع باب المفاعلة على التعلق بشخصين فإن كان مُشعراً بفعل كالمقاتلة والمضاربة فذلك الفعل يدور بين شخصين فإذا قال خالعتك اقتضى هذا في وضع اللسان قبولَها فكأنه قال إن قلتِ اختلعتُ فأنت طالق

Bab mufā‘alah diletakkan untuk menunjukkan keterlibatan dua orang. Jika kata tersebut menunjukkan suatu perbuatan seperti muqātalah (saling berperang) dan mudhārabah (saling memukul), maka perbuatan itu terjadi antara dua orang. Maka jika seseorang berkata, “Khāla‘tu-ki” (aku menceraikanmu dengan khulu‘), secara kebahasaan hal itu menuntut adanya penerimaan dari pihak istri, seakan-akan ia berkata, “Jika engkau mengatakan ‘aku menerima khulu‘’, maka engkau tertalak.”

وقد يتعلق الطلاق بالقبول وإن كان المال لا يثبت

Talak dapat bergantung pada penerimaan, meskipun harta tidak menjadi tetap.

والدليل عليه أن الزوج إذا خالع زوجته السفيهة فقبلَتْ وقع الطلاق رجعياً ثم لا يثبت المال ولو لم تقبل لم يقع الطلاق فلتكنَ المخالعة الخالية عن ذكر العوض بهذه المثابة

Dan dalil atas hal itu adalah bahwa apabila seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang safihah (tidak cakap), lalu istrinya menerima, maka jatuhlah talak raj‘i, kemudian tidak tetap adanya harta (tebusan). Namun jika istrinya tidak menerima, maka talak tidak terjadi. Maka hendaknya khulu‘ yang tidak disertai penyebutan ‘iwadh (tebusan) diperlakukan seperti ini.

والذي يقتضيه القياس في هذا أنه لو قال خلعت عنك ولم يقل خالعتك ونوى الطلاق فلا حاجة إلى قبولها فإن لفظه لم يصدر عن باب المفاعلة

Yang dituntut oleh qiyās dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang berkata, “Aku telah melepaskanmu” dan tidak mengatakan “Aku telah melakukan khul‘ denganmu,” serta ia berniat talak, maka tidak diperlukan adanya penerimaan dari pihak istri, karena lafalnya tidak berasal dari bentuk mufa‘alah (saling melakukan).

فإذا تبيّن هذا مفرّعاً على أن اللفظ صريح ففيه تفصيل عندنا به يتم الكلام وهو أن الرجل إذا قال خالعتك ولم يقصد بذلك التماس الجواب منها وإنما قال على الابتداء خالعتك وهي تنفي تنجيز الطلاق فالوجه القطع بأن الطلاق يقع فان اللفظ يحتمل التنجيز من غير تعليق بالقبول وهو كما لو قال قاطعتك وبارأتك فالكنايات يُكتفى بها بدون ما ذكرناه من الاحتمال

Jika hal ini telah jelas, yang dibangun atas dasar bahwa lafaz tersebut adalah sharih (eksplisit), maka ada perincian menurut kami yang dengannya pembahasan menjadi sempurna, yaitu: apabila seorang laki-laki berkata, “Aku telah mengkhulamu,” dan ia tidak bermaksud meminta jawaban dari istrinya, melainkan ia mengucapkannya secara inisiatif, “Aku telah mengkhulamu,” sementara sang istri menafikan terjadinya talak secara langsung, maka pendapat yang kuat adalah bahwa talak jatuh, karena lafaz tersebut mengandung kemungkinan terjadinya talak secara langsung tanpa bergantung pada penerimaan (dari istri), sebagaimana jika ia berkata, “Aku telah memutuskan hubungan denganmu” atau “Aku telah membebaskanmu.” Maka, kinayah (lafaz sindiran) cukup dengan apa yang telah kami sebutkan dari kemungkinan tersebut.

ولو قال خالعتك ونوى طلاقاًً و هو يلتمس بذلك جوابها فها هنا قد يتجه الخلاف في أن وقوع الطلاق هل يتوقف على قبولها فالظاهر عندنا أنه إذا لم يثبت المال لم يتوقف على قبولها فإن الطلاق مما يتفرد الزوج به وليس وقوعه مرتبطاً بمال يتوقف لزومه على التزامها فلا وجه إلا تنفيذ الطلاق وقصدُه التماسَ جوابِها لا أثر له بعد ما نوى الطلاق

Jika seorang suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘,” dan ia berniat talak serta mengharapkan jawaban dari istrinya, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat mengenai apakah jatuhnya talak bergantung pada penerimaan istrinya. Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa jika tidak ada harta yang ditetapkan, maka jatuhnya talak tidak bergantung pada penerimaan istrinya, karena talak adalah perkara yang menjadi hak suami secara sepihak dan kejadiannya tidak terkait dengan harta yang keharusannya bergantung pada komitmen istri. Maka tidak ada alasan kecuali untuk memberlakukan talak tersebut, dan maksud suami untuk meminta jawaban istrinya tidak berpengaruh setelah ia berniat talak.

وسيأتي لذلك نظائر في مسائل التدبير من كتاب الطلاق إن شاء الله عز وجل

Akan ada contoh-contoh serupa terkait hal ini dalam permasalahan at-tadbīr pada Kitab at-Talāq, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

والوجهان في أن المال هل يثبت بمطلق المخالعة يبتنيان على نظائر لهذه المسألة

Dua pendapat mengenai apakah harta menjadi tetap dengan khul‘ secara mutlak, didasarkan pada analogi-analogi yang serupa dengan masalah ini.

منها أن الرجل إذا دفع إلى إنسان دراهم وقال قارضتك عليها حتى تتصرّف ولم يسمِّ مقداراً من الربح فهل يستحق أجرة المثل إذا عمل فعلى وجهين

Di antaranya adalah apabila seseorang memberikan sejumlah dirham kepada orang lain dan berkata, “Aku memudharabahkan kepadamu atasnya hingga engkau mengelolanya,” namun tidak menyebutkan besaran keuntungan, maka apakah ia berhak mendapatkan upah yang sepadan jika telah bekerja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وكذلك لو قال لمن استعمله على أشجار ساقيتك ولم يذكر له مقداراً من الثمر فإذا عمل فهل يستحق أجرة مثل عمله فعلى وجهين وقد تقدم في المعاملات في ذلك مثله

Demikian pula, jika seseorang berkata kepada orang yang dipekerjakannya untuk mengurus pohon-pohon, “Aku telah menyirami pohon-pohonmu,” tanpa menyebutkan jumlah tertentu dari hasilnya, lalu ia bekerja, maka apakah ia berhak mendapatkan upah sepadan dengan pekerjaannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan hal serupa telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan mu‘āmalāt.

وما أجريناه كله تفريع على أن الخلع صريح بطريق الشيوع

Semua yang telah kami uraikan di atas merupakan cabang dari pendapat bahwa khulu‘ adalah lafaz sharih (eksplisit) menurut pendapat yang masyhur.

فأما إذا قلنا إنه يلتحق بالصرائح بقرينة المال فإذا لم يجرِ ذكرُ المال فهو كناية فتذكّر ذلك

Adapun jika kita mengatakan bahwa ia disamakan dengan lafaz sharih karena adanya indikasi harta, maka apabila tidak disebutkan harta, itu termasuk kinayah. Maka ingatlah hal ini.

والتفريع على القول الصحيح وهو أن الخلع كناية وإن اشتمل على ذكر المال فإذا قال خالعتكِ فقالت اختلعتُ فهذا ينبني على أن مطلق هذا اللفظ هل يقتضي المالية أم لا

Penjabaran berdasarkan pendapat yang benar, yaitu bahwa khulu‘ adalah kinayah (lafaz sindiran) meskipun mengandung penyebutan harta. Maka jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘,” lalu istri menjawab, “Aku menerima khulu‘,” hal ini bergantung pada apakah lafaz tersebut secara mutlak mengharuskan adanya harta atau tidak.

فإن حكمنا بأن مطلقه يقتضي المالية فلا يخلو إما أن ينوي الزوج الطلاق وإما ألا ينوي فإن نوى الزوج الطلاق ونوت المرأة أيضاًًً طلب الطلاق فالطلاق يقع بائناً والرجوع إلى مهر المثل

Jika kita memutuskan bahwa lafaz mutlaknya menunjukkan makna harta, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah suami berniat menjatuhkan talak atau tidak. Jika suami berniat talak dan istri juga berniat meminta talak, maka talak jatuh secara bain dan kembali kepada mahar mitsil.

وإن نويا الطلاق ولم يذكرا المال والتفريع على أن مطلق اللفظ لا يقتضي المال فلا يخلو إما أن ينويا المال وإما ألا يجري ذكر المال في ضميرها كما لم يجرياه في لفظهما فإن لم ينويا المال ولم يذكراه وقلنا اللفظ لا يقتضيه فالطلاق يقع رجعياً

Jika keduanya berniat talak namun tidak menyebutkan harta, dan berdasarkan pendapat bahwa lafaz mutlak tidak mengharuskan adanya harta, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah keduanya berniat harta atau tidak terlintas sama sekali tentang harta dalam benak mereka, sebagaimana tidak mereka sebutkan dalam ucapan mereka. Jika keduanya tidak berniat harta dan tidak menyebutkannya, serta kita berpendapat bahwa lafaz tidak mengharuskannya, maka talak yang terjadi adalah talak raj‘i.

فإن قيل في هذا الكلام اضطراب من جهة أن التفريع على أن الخلع كناية فكيف ردّدتم الجواب في أن اللفظ هل يقتضي المال بنفسه

Jika dikatakan bahwa dalam pernyataan ini terdapat kerancuan, yaitu dari sisi bahwa penjabaran didasarkan pada anggapan bahwa khulu‘ adalah kināyah, lalu mengapa kalian masih meragukan jawaban mengenai apakah lafaz tersebut secara langsung menuntut adanya harta?

قلنا وإن حكمنا بأن اللفظ كناية في اقتضاء الطلاق فإنا نُجري الخلافَ في أنه هل يقتضي المال في وضعه أم لا فكان التردد باقٍ في أن هذا اللفظ هل يقتضي المال أم لا يقتضيه هذا وجه الكلام وقد انتهى إلى قولنا اللفظ كناية في الطلاق وليس صريحاً في اقتضاء المال

Kami katakan, meskipun kami memutuskan bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah dalam menetapkan talak, kami tetap menjalankan perbedaan pendapat mengenai apakah lafaz itu secara asal menunjukkan kewajiban harta atau tidak. Maka, keraguan tetap ada mengenai apakah lafaz ini menunjukkan kewajiban harta atau tidak. Inilah inti pembahasan, dan kesimpulannya adalah bahwa lafaz tersebut merupakan kinayah dalam talak dan bukan lafaz yang jelas dalam menetapkan kewajiban harta.

فلو نويا المال مع نية الطلاق فالنية هل تؤثِّر في المال والتفريع على أن اللفظ بنفسه لا يقتضيه اضطرب أصحابنا في المسألة

Jika seseorang meniatkan harta bersamaan dengan niat talak, apakah niat tersebut berpengaruh terhadap harta? Dan berdasarkan bahwa lafaz itu sendiri tidak mengharuskannya, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini.

فمنهم من قال النية لا أثر لها في المال فكأنها لم تكن ومنتهى الجواب أن الطلاق يقع رجعياً ويتجه هاهنا أن الطلاق لا يقع أصلاً فإن الزوج نوى طلاقاًً بمالٍ والتعويل على نيته فإذا لم يحصل المال بنيته ونيته في الطلاق متقيدة بالمال فلا يقع الطلاق وهذا وجه فقيه

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa niat tidak berpengaruh dalam masalah harta, seakan-akan niat itu tidak pernah ada. Kesimpulan jawabannya adalah bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i. Namun, ada pendapat yang menguatkan di sini bahwa talak sama sekali tidak jatuh, karena suami berniat menjatuhkan talak dengan imbalan harta, dan yang menjadi dasar adalah niatnya. Jika harta yang diniatkan tidak terwujud, sementara niat talaknya terikat dengan harta tersebut, maka talak tidak jatuh. Ini adalah pendapat seorang ahli fiqh.

ومن أصحابنا من قال نية المال كذكر المال فعلى هذا إذا نوى المال ونوت المال وثبتت نية الطلاق فالطلاق يقع بائناً وجهاً واحداً تفريعاً على ما ذكرناه

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa niat terhadap harta itu seperti menyebutkan harta. Berdasarkan pendapat ini, jika seseorang meniatkan harta dan wanita juga meniatkan harta, serta niat talak telah tetap, maka talak jatuh secara bain (talak yang memutuskan hubungan suami istri) menurut satu pendapat saja, sebagai rincian dari apa yang telah kami sebutkan.

هذا تمام التفريع إذا قلنا الخلع طلاق

Ini adalah akhir dari penjabaran jika kita mengatakan bahwa khulu‘ adalah talak.

فأما إذا فرعنا على أن الخلع فسخٌ وقد جرى ذكر الخلع والقبول من غير مال ونحن أوضحنا أن الخلع على قول الفسخ صريح في الفسخ فالذي ذكره الأصحاب أن هذا يُبنى على أن مطلق هذا اللفظ هل يقتضي المال وجريان هذا الخلاف على نسق واحد

Adapun jika kita membangun pendapat atas dasar bahwa khulu‘ adalah fasakh, dan telah disebutkan tentang khulu‘ serta penerimaan tanpa adanya harta, sementara kami telah menjelaskan bahwa khulu‘ menurut pendapat fasakh adalah lafaz yang jelas untuk fasakh, maka yang disebutkan oleh para ashab adalah bahwa hal ini didasarkan pada apakah lafaz ini secara mutlak mengharuskan adanya harta atau tidak, dan perbedaan pendapat ini berjalan pada satu pola yang sama.

فإن قلنا اللفظ يقتضي المال بإطلاقه وهو الذي اختاره القاضي وصححه

Jika kita mengatakan bahwa lafaz tersebut menunjukkan harta secara mutlak, inilah pendapat yang dipilih oleh al-Qadhi dan dinyatakan shahih.

ووجهه أن الخلع حلّ النكاح فكان في معنى عقد النكاح ثم عقد النكاح إذا عري عن المهر من غير تفويض صريح ممّن يملك المهر يجب فيه مهر المثل فليكن الفسخ كذلك

Penjelasannya adalah bahwa khulu‘ merupakan pembatalan pernikahan sehingga maknanya serupa dengan akad nikah. Kemudian, akad nikah apabila tidak disertai mahar tanpa adanya penyerahan secara tegas dari pihak yang berhak atas mahar, maka wajib diberikan mahar mitsil. Maka, pembatalan (nikah) pun hendaknya demikian.

والدليل على تساويهما أن النكاح على العوض الفاسد ينعقد على مهر المثل أو على قيمة العوض المسمى إن كان مما يُتقوّم والخلع على العوض الفاسد في هذا كالنكاح فإذا استويا عند تسمية العوض الفاسد وجب أن يستويا عند الإطلاق

Dan dalil atas kesetaraan keduanya adalah bahwa akad nikah dengan mahar yang fasid tetap sah dengan mahar mitsil atau dengan nilai kompensasi yang disebutkan jika berupa sesuatu yang dapat dinilai, dan khulu‘ dengan kompensasi yang fasid dalam hal ini sama dengan nikah. Maka jika keduanya setara ketika menyebutkan kompensasi yang fasid, wajib pula keduanya setara ketika tidak disebutkan kompensasi.

فإن قيل ما وجه من يقول المخالعة المطلقة لا تقتضي مالاً وما الفرق بينها وبين النكاح المطلق وما الذي أوجب القطع في النكاح والترديد في الفسخ وليس التفريع على قول الفسخ على حكم التفريع على قول الطلاق فإن أصل الطلاق أن يكون بغير عوض فإذا عُلِّق بالعوض كان العوض دخيلاً فيه والفسخ تلو النكاح فيقتضي من العوض ما يقتضيه النكاح فما وجه التردد إذاً

Jika dikatakan, apa alasan bagi orang yang berpendapat bahwa khulu‘ mutlak tidak mensyaratkan adanya imbalan, dan apa perbedaan antara khulu‘ mutlak dengan akad nikah mutlak? Apa yang menyebabkan adanya keputusan tegas dalam akad nikah dan keraguan dalam fasakh, padahal penurunan hukum fasakh didasarkan pada hukum penurunan hukum talak? Sebab asal hukum talak adalah tanpa imbalan, sehingga jika dikaitkan dengan imbalan, maka imbalan itu menjadi unsur tambahan di dalamnya. Sedangkan fasakh adalah kelanjutan dari akad nikah, sehingga menuntut adanya imbalan sebagaimana yang dituntut oleh akad nikah. Lalu, apa alasan adanya keraguan dalam hal ini?

قلنا لا يمتنع تخيل فرق أولاً فإن النكاح جلْبُ استباحة البضع فلا يبعد أن يتأكد العوض فيه والخلع متضمنه ارتداد البضع إليها وهذا لا يستدعي العوض حسب استدعاء الجلب فلا يمتنع أن يكون الخلع في ذلك دون العقد

Kami katakan, tidak mustahil untuk membayangkan adanya perbedaan terlebih dahulu, karena nikah adalah upaya untuk memperoleh kebolehan atas hubungan badan, sehingga tidak mengherankan jika imbalan di dalamnya ditekankan. Sedangkan khulu‘ mengandung makna kembalinya hak atas hubungan badan kepada istri, dan hal ini tidak menuntut adanya imbalan sebagaimana tuntutan pada perolehan (hak tersebut). Maka tidak mustahil jika imbalan pada khulu‘ lebih ringan daripada pada akad nikah.

فإن قيل جوّزوا تخلية الخلع عن العوض لما ذكرتموه إذا وقع التصريح به وقد ذكرتم قولين في النكاح المعقود على التفويض الصحيح هل يقتضي ثبوت المهر فهلا طردتم هذا في الخلع قلنا لا يتعرض الأصحاب لهذا ولم يسمح بهذا التقريب أحد والذي يقتضيه القياس الحقّ قبولُ ذلك والقولُ بإمكأنه فإن الفسخ لما كان يتأكد من العوض فيه أو كان وضعه على ارتداد المسمى فكان يقال أمر العوض فيه قهري فإنه بناء وليس بابتداء وهذا وجه بيّن لو كان مذهباً لذي مذهب ولم يصر إلى هذا أحد

Jika dikatakan bahwa mereka membolehkan khulu‘ tanpa adanya kompensasi sebagaimana yang telah kalian sebutkan apabila hal itu dinyatakan secara eksplisit, dan kalian juga telah menyebutkan dua pendapat dalam pernikahan yang dilakukan dengan tafwidh yang sahih, apakah hal itu menuntut adanya mahar, maka mengapa kalian tidak menerapkan hal ini pada kasus khulu‘? Kami katakan, para ulama tidak membahas hal ini dan tidak ada seorang pun yang membolehkan pendekatan seperti ini. Namun, menurut qiyās yang benar, hal itu dapat diterima dan memungkinkan untuk dikatakan demikian. Karena pembatalan (fasakh) ketika dikaitkan dengan kompensasi atau didasarkan pada pengembalian sesuatu yang telah disebutkan, maka bisa dikatakan bahwa urusan kompensasi di dalamnya bersifat otomatis, karena ia merupakan kelanjutan (bina’) dan bukan permulaan (ibtidā’). Ini adalah alasan yang jelas, seandainya ada yang menjadikannya sebagai mazhab, namun tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian.

فإذا انبنى الخلع على تسمية العوض كما انبنى النكاح عليه ثم تردد القول في أن العوض هل يثبت في نكاح التفويض وأصح القولين أنه لا يثبت فما المانع من مثل هذا في الخلع

Jika khulu‘ didasarkan pada penetapan ‘iwadh sebagaimana pernikahan juga didasarkan padanya, kemudian terdapat perbedaan pendapat apakah ‘iwadh itu tetap ada dalam nikah tafwidh, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ‘iwadh itu tidak tetap, maka apa yang menghalangi terjadinya hal serupa dalam khulu‘?

ثم كان يجب على هذا التقدير أن يقال إذا حكمنا بخلوّ نكاح التفويض عن المهر فالمسيس فيه يثبته وينبني عليه المطالبة بالفرض كما تفصّل وليس في الفسخ شيء من هذا وكان يجب أن ينفذ الفسخ عارياً إذا عري إما على قطع وإما على قول ظاهر ولم يقل بهذا أحد من الأصحاب ولست أحمل تركهم لهذا إلا على ضعف حرصهم في التفريع على القول الضعيف وإلا فما ذكرناه واجب وليس هو بأبعدَ من قول المحققين إن الخلع مع الأجنبي مردود على قول الفسخ ولم يصر إلى هذا أحد من الأئمة الماضين ولكن المفرعين قالوا جرت الأجوبة على قول الطلاق وهذا منتهى الكلام

Kemudian, seharusnya dalam hal ini dikatakan: Jika kita memutuskan bahwa akad nikah tafwīḍ tidak mengandung mahar, maka terjadinya hubungan suami istri di dalamnya menetapkan mahar dan karenanya istri berhak menuntut penetapan mahar sebagaimana telah dirinci. Sedangkan dalam kasus fasakh, tidak ada hal seperti itu. Seharusnya fasakh itu berlaku tanpa mahar jika memang tidak ada mahar, baik secara pasti maupun menurut pendapat yang jelas. Namun, tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang berpendapat demikian. Saya tidak menganggap mereka meninggalkan pendapat ini kecuali karena lemahnya perhatian mereka dalam mengembangkan cabang-cabang hukum berdasarkan pendapat yang lemah. Padahal, apa yang kami sebutkan itu adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan, dan itu tidak lebih jauh daripada pendapat para muhaqqiq bahwa khulu‘ dengan orang asing dikembalikan kepada pendapat fasakh. Tidak ada seorang pun dari para imam terdahulu yang berpendapat demikian, namun para ahli pengembangan cabang hukum mengatakan bahwa jawaban-jawaban yang ada mengikuti pendapat talak. Demikianlah akhir dari pembahasan ini.

فإن قيل هذا يضمّن الخلع على قول الفسخ ارتداد المسمى كالفسوخ القهرية حتى يكون الخلع في النكاح بمثابة الإقالة في البيع

Jika dikatakan bahwa hal ini mengandung makna bahwa khulu‘ menurut pendapat yang menganggapnya sebagai fasakh (pembatalan) mengharuskan hilangnya mahar yang telah disebutkan, sebagaimana pada fasakh yang terjadi secara paksa, sehingga khulu‘ dalam pernikahan menjadi seperti iqālah (pembatalan) dalam jual beli.

قلنا ليس من الحزم في طلب الغايات أن يذكر الإنسان الأقيسةَ الكلية

Kami katakan, bukanlah termasuk sikap bijak dalam mencari tujuan-tujuan jika seseorang menyebutkan qiyās-qiyās yang bersifat umum.

الجليّة ويترك حق خاصية العقد الذي فيه الكلام ومن خاصية النكاح أن المهر إذا تقرر ولم يُنْقض العقد بخلل مقترنٍ بأصله فالمسمى لا يسقط ولذلك لم يسقط إذا ارتدت المرأة بعد المسيس على الرأي الظاهر ثم في النكاح تقرُّران

Yang jelas, hak khusus dari akad yang sedang dibicarakan harus tetap dijaga. Di antara kekhususan akad nikah adalah bahwa mahar, jika telah ditetapkan dan akadnya tidak dibatalkan karena cacat yang terjadi bersamaan dengan asal akad, maka mahar yang telah disebutkan tidak gugur. Oleh karena itu, mahar tersebut tidak gugur jika perempuan murtad setelah terjadi hubungan suami istri menurut pendapat yang paling kuat. Selanjutnya, dalam akad nikah, kedua hal tersebut menjadi ketetapan.

التقرُّر الأكبر بالمسيس وقد يليه التقرر بالموت والتقرّر الآخر هو تقرر لا يتشطر بالاختلال الواقع بالعقد وهذه الخاصيّة لا توجد في سائر العقود والخلع فسخُ تراض لا يستند إلى خلل في أصل العقد فامتنع سقوط المسمى به بعد المسيس وامتنع سقوط الشَّطر به قبل المسيس فلما اختص بهذه الخاصية نزل على عوض مبتدأ ثم كان في ذلك العوض كالنكاح الوارد على الصداق فهذا أقصى المضطرب في ذلك

Penetapan terbesar terjadi dengan adanya persetubuhan, dan setelah itu mungkin diikuti oleh penetapan karena kematian. Penetapan lainnya adalah penetapan yang tidak terpecah akibat cacat yang terjadi pada akad, dan karakteristik ini tidak terdapat pada akad-akad lain. Khul‘ adalah pembatalan dengan kesepakatan yang tidak didasarkan pada cacat dalam pokok akad, sehingga tidak mungkin gugur mahar yang telah ditetapkan setelah terjadi persetubuhan, dan tidak mungkin gugur setengahnya sebelum persetubuhan. Karena khul‘ memiliki kekhususan ini, maka ia diperlakukan sebagai kompensasi yang baru, kemudian pada kompensasi tersebut diperlakukan seperti akad nikah yang terjadi atas mahar. Inilah pendapat paling kuat dalam masalah ini.

فنعود بعد هذا إلى التفريع فنقول

Setelah ini, kita kembali kepada perincian, maka kami katakan:

إن حكمنا بأن مطلق الخلع يقتضي العوض فتثبت البينونة بالفسخ والرجوع إلى مهر المثل

Jika kita menetapkan bahwa khulu‘ secara mutlak mensyaratkan adanya ‘iwadh, maka terjadilah pemutusan hubungan (bainunah) melalui fasakh dan kembali kepada mahar mitsil.

وإن قلنا هذا اللفظ لا يقتضي المال فيلغو الخلع هكذا قال الأصحاب من غاص منهم ومن قنع بالظاهر إذ لا عوض ولم يرَوْا خلعاً بلا عوض

Dan jika kita mengatakan bahwa lafaz ini tidak mengandung makna harta, maka khulu‘ menjadi sia-sia; demikianlah yang dikatakan para ulama, baik yang mendalaminya maupun yang cukup dengan makna lahiriah, karena tidak ada ‘iwadh (tebusan), dan mereka tidak memandang adanya khulu‘ tanpa ‘iwadh.

والذي أراه على القياس الذي قدمناه أن يثبت الفسخ ولا يثبت العوض وهذا احتمال لا تعلق له بنقل

Menurut pendapat yang saya anggap benar berdasarkan qiyās yang telah kami kemukakan, maka pembatalan itu berlaku, namun kompensasi tidak berlaku. Ini adalah kemungkinan yang tidak berkaitan dengan riwayat.

وقد نجز التفريع على المخالعة المُطْلَقة العريّة عن العوض والذي ذكره الأصحاب فيه ثلاثة أوجه أحدها أنه يلغو والثاني أنه يقع طلاق رجعي والثالث أن البينونة تقع والمال يجب

Telah selesai pembahasan mengenai khulu‘ mutlak yang tidak disertai imbalan, dan para ulama menyebutkan ada tiga pendapat tentang hal ini: pertama, khulu‘ tersebut dianggap tidak sah; kedua, jatuh sebagai talak raj‘i; dan ketiga, terjadi bain (perpisahan) dan harta (imbalan) tetap wajib diberikan.

ثم هي على الطلاق طلاقٌ مُبِين وعلى قول الفسخ فسخ

Kemudian, menurut pendapat bahwa itu adalah talak, maka itu adalah talak mubīn; dan menurut pendapat bahwa itu adalah fasakh, maka itu adalah fasakh.

هذا حاصل المنقول وتحقيقه وتَنْسِبَتُه من القواعد على ما ذكرناه وهذا الفرع لُباب التفريع على القولين وبه يعتاص الفصل فإنه نحا نحو كل قاعدة

Inilah inti dari apa yang dinukilkan, penelitiannya, dan keterkaitannya dengan kaidah-kaidah sebagaimana telah kami sebutkan. Cabang ini merupakan inti dari penjabaran berdasarkan dua pendapat, dan dengannya permasalahan menjadi rumit, karena ia mengikuti arah setiap kaidah.

ثم إنا نذكر بعد هذا فروعاً مرسلة ونلحقها بالقواعد التي مهدناها

Setelah itu, kami akan menyebutkan beberapa cabang hukum yang terlepas, lalu kami kaitkan dengan kaidah-kaidah yang telah kami tetapkan.

فرع

Cabang

إذا قالت المرأة طلقني على كذا فقال الزوج خالعتك بكذا

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan imbalan sekian,” lalu suami berkata, “Aku melakukan khulu‘ terhadapmu dengan imbalan sekian.”

فإن فرعنا على أن الخلع فسخ لغا قول الزوج والنكاح قائم فإن المرأة التمست الطلاق بألف ولم يُجبها إلى ما التمست بل فسخ والفسخ دون الطلاق المبين لأن الطلاق بالعوض يُبين ويَنقُص العددَ والفسخ لا ينقُص العدد فقد سألت أعظم الفُرقتين فأجابها إلَى أدناهما

Jika kita berpendapat bahwa khulu‘ adalah fasakh, maka ucapan suami menjadi tidak berlaku sementara pernikahan masih berlangsung. Sebab, perempuan meminta talak dengan imbalan seribu, namun suami tidak mengabulkan permintaannya, melainkan melakukan fasakh. Fasakh itu lebih ringan daripada talak bain, karena talak dengan kompensasi menyebabkan perpisahan dan mengurangi jumlah talak, sedangkan fasakh tidak mengurangi jumlah talak. Maka, perempuan telah meminta perpisahan yang lebih besar, namun suami menjawabnya dengan perpisahan yang lebih ringan.

وإن قلنا الخلع طلاق وجعلناه صريحاً أو نوى الطلاق استحق العوض ووقع الطلاق المبين فإنه أجابها إلى ما التمست

Jika kita mengatakan bahwa khulu‘ adalah talak dan menganggapnya sebagai talak sharih atau berniat talak, maka suami berhak menerima kompensasi dan jatuhlah talak bain apabila suami mengabulkan permintaan istrinya.

ولو قالت خالعني بألف فقال طلقتك عليه والتفريع على أن الخلع فسخ فقد التمست الفسخ وأجابها إلى الطلاق ففي المسألة وجهان

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku dengan khulu‘ seharga seribu,” lalu suami menjawab, “Aku menceraikanmu dengan jumlah itu,” dan didasarkan pada pendapat bahwa khulu‘ adalah fasakh, maka istri telah meminta fasakh dan suami menjawabnya dengan talak. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

أحدهما أنه لا يقع شيء لأنهما لم يتفقا على شيء واحد

Pertama, tidak terjadi apa-apa karena keduanya tidak sepakat pada satu hal.

والثاني أنه يقع الطلاق ويثبت العوض لأنها سألت فُرقةً لا تَنقُص العددَ فحَصَّلَ الفرقةَ وزادها نقصان العدد

Kedua, talak terjadi dan kompensasi menjadi tetap, karena ia meminta perpisahan yang tidak mengurangi jumlah (talak), sehingga perpisahan itu terjadi dan bahkan bertambah dengan berkurangnya jumlah (talak).

وحقائق هذه المسائل يتوقف انكشافها على تفصيل القول فيه إذا تخالع الزوجان وجعلنا لفظ التخالع كناية أو تخاطباً بلفظ الكناية ثم نفرض بينهما ريبة أحدهما

Hakikat dari permasalahan-permasalahan ini baru akan terungkap setelah penjelasan rinci tentangnya, yaitu ketika suami istri melakukan khulu‘ dan kita menganggap lafaz khulu‘ sebagai kinayah atau mereka saling berbicara dengan lafaz kinayah, kemudian kita mengandaikan adanya keraguan dari salah satu di antara mereka.

وهذا نذكره في باب مخاطبة الرجل امرأته ورمزتُ إلى هذا الوعد لعلمي بأن ما ذكرته يختلج في صدور الأكياس

Hal ini akan kami sebutkan dalam bab tentang percakapan seorang laki-laki dengan istrinya, dan aku telah memberi isyarat kepada janji ini karena aku mengetahui bahwa apa yang telah aku sebutkan terlintas dalam benak orang-orang cerdas.

فصل قال ولو خالعها تطليقة بدينار على أن له الرجعة إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan satu talak dengan imbalan satu dinar, dengan syarat bahwa ia berhak rujuk kepadanya,” dan seterusnya.

إذا قال الرجل خالعتك تطليقة بدينار على أن لي الرجعة فقبلت أو قال طلقتك طلقة بدينار على أن لي الرجعة

Jika seorang laki-laki berkata, “Aku khulu‘-kan engkau satu talak dengan imbalan satu dinar dengan syarat aku berhak rujuk,” lalu istrinya menerima, atau ia berkata, “Aku talak engkau satu kali dengan imbalan satu dinar dengan syarat aku berhak rujuk,”

تصوير المسألة تدور على تطليقٍ بمال بصريحٍ أو كناية مع شرط الرجعة فالذي نقله المزني أن الطلاق واقع والعوض المذكور ساقط والرجعة ثابتة لم ينقل المزني عن الشافعي إلا هذا واختار أن الطلاق يقع بائناً والرجوع إلى مهر المثل وشرطُ الرجعة ساقط

Gambaran masalah ini berkisar pada talak dengan imbalan harta, baik dengan lafaz sharih maupun kinayah, disertai syarat boleh rujuk. Pendapat yang dinukilkan oleh al-Muzani adalah bahwa talak tersebut sah, imbalan yang disebutkan gugur, dan hak rujuk tetap ada; al-Muzani tidak menukil dari asy-Syafi‘i kecuali ini. Namun, ia memilih pendapat bahwa talak tersebut jatuh sebagai talak bain, kembali kepada mahar mitsil, dan syarat rujuk gugur.

ونقل الربيع عن الشافعي ما اختاره المزني ولم يصحح في النقل غيره ثم قال وفي المسألة قول آخر إن الرجعة ثابتة والدينار مردود

Ar-Rabi‘ meriwayatkan dari asy-Syafi‘i pendapat yang dipilih oleh al-Muzani, dan tidak ada riwayat lain yang dianggap sahih selain itu. Kemudian ia berkata, dalam masalah ini ada pendapat lain, yaitu bahwa ruju‘ tetap sah dan dinar dikembalikan.

وقيل اختار الربيع ثبوت الرجعة وسقوط العوض فنقل ما اختاره المزني واختار ما نقله فحصل في المسألة قولان إذاً

Dikatakan bahwa ar-Rabi‘ memilih tetapnya hak ruju‘ dan gugurnya ‘iwadh, sehingga ia menukil pendapat yang dipilih oleh al-Muzani dan memilih apa yang dinukilnya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.

توجيه القولين من قال بوقوع البينونة عوّل على تغليب الفراق ورأى شرط الرجعة شرطاً فاسداً فالشرائط الفاسدة لا تدرأ بينونة الخلع قياساً على جملة الشروط الفاسدة

Penjelasan dua pendapat: mereka yang berpendapat terjadinya bainunah (perceraian yang tidak dapat dirujuk) berpegang pada pendapat yang menguatkan terjadinya perpisahan, dan memandang syarat rujuk sebagai syarat yang rusak, karena syarat-syarat yang rusak tidak dapat mencegah terjadinya bainunah dalam khulu‘, dengan melakukan qiyās terhadap seluruh syarat-syarat yang rusak lainnya.

وإذا أردنا كلاماًً جامعاً في ذلك قلنا إذا كان المخالع من أهل الطلاق والمرأة من أهل التزام البدل وقد تقابل الطلاق والبدل فحكم ذلك البينونة وما يناقضهما من الشروط مردود

Jika kita menginginkan pernyataan yang komprehensif tentang hal ini, kita dapat mengatakan: Jika pihak yang melakukan khulu‘ adalah orang yang berhak menjatuhkan talak dan perempuan adalah orang yang berhak menerima kewajiban pengganti, serta talak dan pengganti telah saling berhadapan, maka hukumnya adalah terjadinya bainunah, dan segala syarat yang bertentangan dengan keduanya adalah tertolak.

ومن نصر القول الثاني احتج بأن الطلاق اقترن به ذكر المراجعة والمال وهما متناقضان فإذا عسر الجمع بينهما واستحال انتفاؤهما فينبغي أن نثبت أقواهما وأقواهما الرجعة فإنها تثبت من غير إثبات

Dan pendukung pendapat kedua beralasan bahwa talak disertai dengan penyebutan rujuk dan harta, padahal keduanya saling bertentangan. Maka ketika sulit untuk menggabungkan keduanya dan mustahil meniadakan keduanya, seharusnya yang ditetapkan adalah yang paling kuat di antara keduanya, dan yang paling kuat adalah rujuk, karena rujuk dapat ditetapkan tanpa harus menetapkan yang lain.

ويجوز أن يُعضَّدَ هذا القول فيقال الرجعة تُناقض البينونة ومقصود الخلع البينونة فشرط الرجعة يناقض مقصود الخلع فيدرؤه وينزل منزلة عقد النكاح على شرط الانكفاف عن الوطء

Pendapat ini dapat diperkuat dengan mengatakan bahwa rujuk bertentangan dengan bainunah, sedangkan tujuan khulu‘ adalah bainunah. Maka, mensyaratkan rujuk bertentangan dengan tujuan khulu‘, sehingga hal itu menggugurkannya dan diposisikan seperti akad nikah dengan syarat tidak melakukan hubungan suami istri.

وقد يدخل على ذلك أن النكاح المؤقت ومضافه إلى بعض المنكوحة فاسدٌ ومؤقتُ الطلاق مؤبد ومبعّضه مكمّل ولا شك أن أقيس القولين ما اختاره المزني

Mungkin ada yang berpendapat bahwa nikah mut‘ah dan nikah yang ditambahkan kepada sebagian dari wanita yang dinikahi adalah batal, sedangkan talak yang ditentukan waktunya menjadi tetap, dan talak sebagian menjadi sempurna. Tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling sesuai dengan qiyās adalah apa yang dipilih oleh al-Muzani.

ثم إنه في اختياره استشهد بمسائل نقل فيها نصوصاً فنذكرها ونذكر أقوال الأصحاب فيها

Kemudian, dalam pilihannya, ia menguatkan pendapatnya dengan beberapa permasalahan yang di dalamnya ia menyebutkan nash-nash, maka kami akan menyebutkannya beserta pendapat para ulama mazhab mengenai hal itu.

فمنها أنه قال قال الشافعي إذا خالع زوجته بطلاقٍ على مال وقال مهما بدا لكِ أن تستردي العوض فاسترديه ولي الرجعة فالطلاق يقع بائناً والرجوع إلى مهر المثل ويثبت عليها لازماً لا يدرأ

Di antaranya, ia berkata: Imam Syafi‘i berkata, “Jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan talak atas imbalan harta, lalu ia berkata, ‘Kapan pun engkau ingin mengambil kembali imbalan itu, ambillah, dan aku berhak merujukimu,’ maka talak tersebut jatuh sebagai talak bain, dan hak kembali (rujuk) kembali kepada mahar mitsil, serta tetap menjadi kewajiban atasnya yang tidak dapat dihindari.”

والذي صار إليه معظم الأصحاب موافقتُه وطلبوا الجوابَ والفرقَ بين هذه المسألة وبين صورة القولين والذي تحصّل من الفرق أن البينونة في مسألة الاستشهاد ناجزةٌ ومقتضى الشرط استدراكها إذا أرادت المرأة استرداد العوض وصورة القولين فيه إذا قرن شرط الرجعة بالمال

Mayoritas para sahabat sependapat dengannya dan mereka meminta jawaban serta perbedaan antara masalah ini dengan kasus dua pendapat. Kesimpulan dari perbedaannya adalah bahwa pemutusan hubungan (bainunah) dalam masalah persaksian terjadi secara langsung, dan konsekuensi dari syarat adalah dapat mengembalikannya jika perempuan ingin mengambil kembali kompensasi, sedangkan dalam kasus dua pendapat, syarat rujuk disandingkan dengan harta.

والفرق يظهر بين التنجيز وشرط الاستدراك وبين اقتران نفي البينونة بالعقد

Perbedaan tampak antara tanjīz dan syarat al-istidrāk dengan pengaitan penafian al-bayūnah pada akad.

وذكر صاحبُ التقريب والشيخُ أبو علي أن من أصحابنا من رأى نص الشافعي في المسألة التي استشهد بها المزني جواباً على أحد القولين وقال إذا نصرنا القول الثاني حكمنا بأن البينونة لا تقع في مسألة الاستشهاد فإنه لم يبتّها بل ردّدها فثبتت الرجعة وانتفى المال على القول الذي ننصره على المزني

Pemilik kitab at-Taqrīb dan Syekh Abu Ali menyebutkan bahwa sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa nash Imam Syafi’i dalam masalah yang dijadikan dalil oleh al-Muzani adalah sebagai jawaban atas salah satu dari dua pendapat. Mereka berkata, “Jika kami menguatkan pendapat kedua, maka kami memutuskan bahwa talak bain tidak terjadi dalam masalah yang dijadikan dalil, karena Imam Syafi’i tidak memutuskannya secara tegas, melainkan masih menimbang-nimbangnya. Maka, rujuk tetap berlaku dan harta (mahar) tidak wajib diberikan menurut pendapat yang kami kuatkan atas pendapat al-Muzani.”

ومما تعلق به المزني لنصرة القول الذي اختاره أن الرجل إذا قال لمالكِ العبدِ أعتق عبدك عني بألف على أن لك الولاء فإذا أعتقه على هذا الشرط فكيف السبيل فيه

Salah satu hal yang dijadikan pegangan oleh al-Muzani untuk mendukung pendapat yang ia pilih adalah bahwa apabila seseorang berkata kepada pemilik budak, “Merdekakanlah budakmu atas namaku dengan seribu (dirham) dengan syarat bahwa hak wala’ tetap menjadi milikmu,” lalu pemilik budak memerdekakannya dengan syarat tersebut, maka bagaimana hukum permasalahan ini?

نقل أن العتق ينفذ بالمال على المستدعي وله الولاء وشرط الولاء باطل مردود

Diriwayatkan bahwa pembebasan budak berlaku dengan harta atas permintaan pihak yang memohon, dan hak wala’ menjadi miliknya, sedangkan syarat penetapan hak wala’ adalah batal dan tertolak.

ومن أصحابنا من قال الشرط باطل ولكن لا يرتدّ العتق به ولكن يرتد به طريق الاستدعاء في محاولة نقل الملك أولاً وبناء العتق عليه إذ العتق إن كان لا يقبل الرد فطريق الاستدعاء يمكن إبطاله حتى إذا بطل نفذ العتق على المنشىء وله الولاء ولا عوض

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa syarat tersebut batal, namun pembebasan budak tidak menjadi batal karenanya. Akan tetapi, pembebasan budak itu batal melalui cara permintaan, yaitu dengan berupaya memindahkan kepemilikan terlebih dahulu dan membangun pembebasan budak di atasnya. Karena jika pembebasan budak tidak dapat dibatalkan, maka cara permintaan dapat dibatalkan, sehingga jika cara tersebut batal, pembebasan budak tetap berlaku atas pihak yang melakukan pembebasan, dan ia berhak atas wala’ serta tidak ada kompensasi.

وتعلق المزني بمخالعة الرجل امرأته السفيهة المحجورة فإن الشافعي نص على وقوع الطلاق وانتفاء العوض وثبوت الرجعة ووجه استدلال المزني أن المال لم يثبت بحيث لم تكن المرأة من أهل الالتزام وهذه المسألة ستأتي بما فيها إن شاء الله تعالى ولسنا للإطناب في محاجة المزني وذَكَر في أثناء الكلام اختلاعَ الأمة المزوّجة نفسها وسيأتي حكم اختلاعها إن شاء الله تعالى

Al-Muzani berpegang pada kasus seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang safihah (bodoh/kurang akal) dan berada dalam status mahjur (dalam perwalian), di mana Imam Syafi‘i menegaskan jatuhnya talak, gugurnya kompensasi (iwad), dan tetapnya hak ruju‘. Dasar istidlal al-Muzani adalah bahwa harta tidak menjadi tetap karena perempuan tersebut bukan termasuk orang yang berhak melakukan iltizam (komitmen hukum). Masalah ini akan dijelaskan secara rinci nanti, insya Allah Ta‘ala. Kami tidak bermaksud memperpanjang perdebatan dengan al-Muzani. Dalam pembahasan, juga disebutkan tentang khulu‘ yang dilakukan oleh seorang budak perempuan yang telah menikah terhadap dirinya sendiri, dan hukum khulu‘ tersebut akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.

فصل قال ولا يلحق المختلعةَ الطلاقُ إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Talak tidak berlaku bagi wanita yang melakukan khulu‘,” dan seterusnya.

المختلعة لا يلحقها الطلاق في عدة البينونة فإنها بائنة خارجة عن النكاح والطلاق حلٌّ للنكاح وخلاف أبي حنيفة مشهور والرجعية يلحقها الطلاق في عدة الرجعة وفي صحة مخالعة الرجعية وجهان مشهوران

Wanita yang melakukan khulu‘ tidak terkena talak selama masa ‘iddah bain, karena ia telah berstatus bain dan keluar dari ikatan nikah, sedangkan talak adalah pembatalan ikatan nikah. Pendapat Abu Hanifah yang berbeda dalam hal ini sudah dikenal. Adapun wanita yang dalam masa ‘iddah raj‘iyyah, talak masih dapat dijatuhkan kepadanya selama masa ‘iddah raj‘iyyah. Terkait keabsahan khulu‘ terhadap wanita raj‘iyyah, terdapat dua pendapat yang masyhur.

أحدهما أنها تصح لأن الطلاق من غير عوض يلحقها فيلحقها بالعوض وأثر العوض اقتضاء البينونة وليست الرجعية بائنة

Pertama, bahwa talak itu sah karena talak tanpa kompensasi (iwad) dapat berlaku baginya, maka talak dengan kompensasi pun berlaku baginya. Pengaruh kompensasi adalah menuntut terjadinya bainunah, sedangkan talak raj‘i bukanlah talak bain.

الثاني أنها لا تبين ولا يصح الخلع لأن نص الشافعي دالّ على أن الزوج إذا وطىء الرجعية التزم مهر مثلها فيبعد أن يكون بحيث يلتزم الزوج المهر بوطئها ويُلزمها بالخلع العوضَ

Kedua, bahwa talak tersebut tidak menyebabkan perpisahan dan khulu‘ tidak sah, karena nash asy-Syafi‘i menunjukkan bahwa jika suami menggauli istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah, maka ia wajib membayar mahar mitsil kepadanya. Maka tidak masuk akal jika suami diwajibkan membayar mahar karena menggaulinya, sementara istri dibebani membayar kompensasi dalam khulu‘.

وسنذكر التفصيل في وطء الزوج الرجعية وتفصيلُ القول في الظهار والإيلاء إذا وُجّها على الرجعية سيأتي في كتاب الظهار والإيلاءَ إن شاء الله عز وجل

Kami akan menyebutkan perincian tentang hubungan suami dengan istri yang dalam masa rujuk, dan perincian pendapat mengenai zhihār dan ila’ apabila keduanya diarahkan kepada istri yang dalam masa rujuk akan dibahas pada Kitab Zhihār dan Ila’, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

باب ما يقع وما لا يقع

Bab tentang hal-hal yang terjadi dan hal-hal yang tidak terjadi

قال ولو قال لها أنت طالق ثلاثاًً في كل سنة تطليقة إلى آخره

Dan jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga, setiap tahun satu talak, hingga selesai,”

نقدم على مقصود هذا الباب تفصيلَ القول في عَوْد الحِنث

Sebelum memasuki maksud utama bab ini, kami akan menguraikan secara rinci pembahasan tentang kembalinya pelanggaran sumpah.

فإذا علق الرجل طلاق امرأته بصفةٍ ثم بانت عنه بسبب من الأسباب فسخٍ أو طلاقٍ مُبين ثم عادت إليه فلا يخلو إما أن تبين من غير استيفاء عدد ثم تعود

Apabila seorang laki-laki menggantungkan talak istrinya pada suatu sifat tertentu, kemudian istrinya berpisah darinya karena suatu sebab, baik karena fasakh atau talak bain, lalu ia kembali kepadanya, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi ia berpisah tanpa menyempurnakan jumlah talak, kemudian kembali.

وإما أن يطلقها ثلاثاًً وتعود إليه بعد التحليل فإن لم تقع الحرمة الكبرى وبانت ثم جدد عليها نكاحاً فوُجدت الصفة التي علّق الطلاق عليها في النكاح الأول في النكاح الثاني فالمنصوص عليه في القديم القطعُ بوقوع الطلاق وفي الجديد قولان أحدهما يقع وهو القول المعروف بعَوْد الحِنث والقول الثاني لا يقع

Atau ia menceraikannya tiga kali, lalu ia kembali kepadanya setelah tahallul. Jika tidak terjadi keharaman besar dan ia telah benar-benar berpisah, kemudian ia menikahinya kembali, lalu syarat yang menjadi sebab talak pada pernikahan pertama terjadi pada pernikahan kedua, maka menurut pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama (al-qadīm), dipastikan talak terjadi. Sedangkan dalam pendapat baru (al-jadīd) terdapat dua pendapat: salah satunya talak terjadi, dan ini adalah pendapat yang dikenal dengan istilah ‘kembalinya pelanggaran’ (ʿaud al-ḥinth), dan pendapat kedua talak tidak terjadi.

توجيه القولين من قال يقع احتج بأن التعليق جرى في نكاح والصفة تحققت في نكاح والنكاحُ الثاني مبني على النكاح الأول في عدد الطلقات فإنه لو طلق طلقة واحدة فبانت المرأة ثم جدّد النكاح عليها فهي تعود إليه بطلقتين فإذا انبنى النكاح على النكاح في العدد وجب أن ينبني عليه في اليمين بالطلاق

Penjelasan dua pendapat: Orang yang berpendapat jatuh (talak) beralasan bahwa ta‘liq (penggantungan) terjadi dalam pernikahan, dan sifat (syarat) itu terwujud dalam pernikahan, sedangkan pernikahan kedua dibangun di atas pernikahan pertama dalam hal jumlah talak. Jika seseorang menjatuhkan satu talak lalu istrinya menjadi bain (terpisah), kemudian ia memperbarui akad nikah dengannya, maka istrinya kembali kepadanya dengan sisa dua talak. Maka jika pernikahan kedua dibangun di atas pernikahan pertama dalam hal jumlah talak, seharusnya juga dibangun di atasnya dalam hal sumpah talak.

ومن قال بالقول الثاني احتج بأن التعليق جرى في النكاح الأول وقد تصرّم ذلك النكاح فلينقضِ بما فيه إذ لو نفذنا في النكاح الثاني يمينه السابقة في النكاح الأول لكنّا منفذين تصرفه في النكاح الثاني قبله وهذا ينافي مذهب الشافعي

Dan orang yang berpendapat dengan pendapat kedua berdalil bahwa ta‘liq (penggantungan) terjadi pada pernikahan pertama dan pernikahan itu telah berakhir, maka hendaknya batal bersamaan dengan berakhirnya pernikahan tersebut. Sebab, jika kita memberlakukan sumpahnya yang terdahulu pada pernikahan pertama dalam pernikahan kedua, berarti kita telah memberlakukan tindakannya dalam pernikahan kedua sebelum pernikahan itu terjadi, dan hal ini bertentangan dengan mazhab Syafi‘i.

هذا إذا كان النكاح الثاني قبل وقوع الحرمة الكبرى

Ini berlaku jika pernikahan kedua terjadi sebelum terjadinya keharaman besar.

فإن علّق طلاق امرأته ثم طلقها ثلاثاً تنجيزاً ثم نكحت زوجاً آخر وعادت إلى الأول على شرط الشرع ثم وُجدت الصفة التي علق الطلاق بها في النكاح الأول فالمنصوص عليه في الجديد القطع بأن الطلاق لا يقع والحِنث لا يعود

Jika seseorang menggantungkan talak istrinya, kemudian menceraikannya dengan talak tiga secara langsung, lalu si istri menikah dengan suami lain dan kembali kepada suami pertama sesuai syarat syariat, kemudian terjadi sifat yang menjadi syarat talak yang digantungkan pada pernikahan pertama, maka menurut pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru, talak tidak jatuh dan pelanggaran sumpah tidak kembali.

وفي القديم قولان

Dalam pendapat lama terdapat dua pendapat.

وإذا جمعنا الصور وضممنا أجوبة القديم إلى الجديد انتظم في عود الحِنث ثلاثة أقوال

Jika kita mengumpulkan berbagai gambaran dan menggabungkan jawaban yang lama dengan yang baru, maka dalam masalah kembalinya pelanggaran terdapat tiga pendapat.

أحدها أنه لا يعود أصلاً إذا تخللت البينونة وتجدد النكاح

Pertama, bahwa talak tidak kembali sama sekali jika telah terjadi perpisahan (bainunah) dan akad nikah yang baru telah dilakukan.

والثاني أنه يعود كيف فرض الأمر نظراً إلى حالة التعليق ووجود الصفة وهما واقعان في النكاح

Kedua, bahwa cara penetapan perintah itu kembali pada keadaan penangguhan dan keberadaan sifat, dan keduanya terjadi dalam pernikahan.

والقول الثالث إن الحِنث يعود إذا لم تتخلل الحرمة الكبرى فإن تخللت لم يعد

Pendapat ketiga menyatakan bahwa pelanggaran sumpah akan kembali berlaku jika tidak diselingi oleh keharaman besar; namun jika keharaman besar terjadi di antara keduanya, maka pelanggaran sumpah tidak kembali berlaku.

والمصير إلى عود الحنث بعد وقوع الثلاث على نهاية البعد حتى لا يكاد ينتظم تعبير فيه عن توجيه فإن الرجل إذا علق ثلاث طلقات بوجود صفة فإنما علّق ما يملك تنجيزه من الطلقات فإذا أنجز ما علّق فقد انحلّ ملكه المعلق وكان التنجيز بمثابة الاستيفاء فلا يبقى للتعليق متعَلّقٌ ويستحيل بقاء تعليق لا متعلقَ له

Berpaling kepada kembalinya pelanggaran sumpah setelah jatuhnya talak tiga adalah sesuatu yang sangat jauh, sehingga hampir tidak mungkin dapat dirumuskan suatu penjelasan yang tepat tentangnya. Sebab, apabila seorang laki-laki menggantungkan tiga talak pada terwujudnya suatu sifat, maka sesungguhnya ia menggantungkan apa yang ia miliki hak untuk mengeksekusinya dari talak tersebut. Maka, apabila ia telah mengeksekusi apa yang digantungkan, berarti kepemilikannya yang digantungkan itu telah terputus, dan pengeksekusian itu seperti halnya pemenuhan. Maka, tidak ada lagi yang tersisa bagi penggantungan itu untuk bergantung padanya, dan mustahil ada penggantungan tanpa sesuatu yang dapat digantungkan padanya.

وأبو حنيفة فصّل في عَوْد الحنث بين أن يقع النكاح الثاني بعد تخلل الحُرمة الكبرى وبين أن يقع قبل تخللها وهذا الفصل حسن في جانب نفي الطلاق عند استيفاء الطلقات الثلاث ولكنه أفسد على نفسه حيث قال إذا طلق الرجل امرأته فبانت ونكحت زوجاً وأصابها ثم عادت إلى الأول على شرط الشرع فمذهبه أنها تعود إلى الأول بثلاث طلقات ثم بنى على هذا المذهب مسألةً في التعليق فقال إذا علّق ثلاث طلقات بصفة في النكاح الأول ثم نجّز طلقتين فبانت وأونكحتصيبت وعادت إلى الأول فوُجدت الصفة قال تطلق ثلاثاًَ ومعلوم أنه لما نجّز طلقتين في النكاح الأول فقد نجّز مما علق طلقتين فإدامة التعلق بما نجّز محال

Abu Hanifah merinci tentang kembalinya pelanggaran sumpah (ḥinth) antara jika akad nikah kedua terjadi setelah adanya pemisahan dengan ḥurmah kubrā (larangan besar), dan jika terjadi sebelum adanya pemisahan tersebut. Perincian ini baik dalam hal menafikan terjadinya talak ketika telah sempurna tiga kali talak. Namun, ia justru merusak pendapatnya sendiri ketika mengatakan: Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya lalu terjadi pemisahan, kemudian sang istri menikah dengan suami lain dan telah digauli, lalu kembali kepada suami pertama sesuai syarat syariat, maka menurut mazhabnya, ia kembali kepada suami pertama dengan tiga talak. Kemudian ia membangun atas mazhab ini sebuah masalah dalam hal ta‘liq (penggantungan talak), yaitu: Jika seseorang menggantungkan tiga talak pada suatu sifat dalam pernikahan pertama, lalu ia menjatuhkan dua talak secara langsung, sehingga terjadi pemisahan, lalu sang istri dinikahkan dan digauli, kemudian kembali kepada suami pertama, lalu sifat yang digantungkan itu terjadi, maka jatuhlah tiga talak. Padahal sudah jelas bahwa ketika ia telah menjatuhkan dua talak dalam pernikahan pertama, berarti ia telah mengeksekusi dua dari tiga talak yang digantungkan. Maka, tetap menggantungkan talak pada sesuatu yang sudah dieksekusi adalah hal yang mustahil.

وهذه المسألة لا تتصور على أصلنا فإن النكاح الثاني عندنا مبني على النكاح الأول في عدد الطلاق كما سيأتي القول في هذا في الطلاق إن شاء الله عز وجل

Masalah ini tidak dapat dibayangkan menurut prinsip kami, karena pernikahan kedua menurut kami dibangun di atas pernikahan pertama dalam hal jumlah talak, sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam pembahasan tentang talak, insya Allah عز وجل.

وذكر الأئمة في تعليق العتق وعَوْد اليمين ما ذكروه في الطلاق فإذا قال لعبده إن دخلت الدار فأنت حر ثم زال ملكه عن الرقبة زوالاً لازماً ثم عادت إليه فوُجدت الصفة في الملك الثاني ففي وقوع العتق القولان المذكوران في عود الحنث في اليمين المعقودة بالطلاق إذا تخللت البينونة من غير استيفاء عدد فإنه تخلل في الموضعين حالةٌ لو فرض فيها وجود الصفة لما وقع الطلاق ولا العتاق

Para imam (ulama) menyebutkan dalam pembahasan tentang pengaitan pembebasan budak dan kembalinya sumpah, apa yang mereka sebutkan pula dalam masalah talak. Jika seseorang berkata kepada budaknya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu merdeka,” lalu kepemilikannya atas budak tersebut hilang secara permanen, kemudian kepemilikan itu kembali kepadanya, lalu syarat yang disebutkan itu terjadi pada kepemilikan yang kedua, maka dalam hal terjadinya pembebasan budak terdapat dua pendapat sebagaimana yang disebutkan dalam masalah kembalinya pelanggaran sumpah yang dikaitkan dengan talak apabila terjadi pemisahan (bainunah) tanpa terpenuhinya jumlah talak. Sebab, pada kedua kasus tersebut terdapat suatu keadaan di antara dua waktu, yang jika syarat itu terjadi pada keadaan tersebut, maka talak maupun pembebasan budak tidak akan terjadi.

وذكر الأئمة لتنجيز الطلقات الثلاث بعد التعليق نظيراً من العتاق فقالوا إذا علق عتقَ عبد ثم نجّز إعتاقه ثم التحق بدار الحرب وكان كافراً فسبي وأُرقّ ورأينا إرقاقه على تفصيل في السِّير سيأتي إن شاء الله عز وجل فإذا عاد ملكاً لمن علّق عتقه فوُجدت الصفة ففي وقوع العتق والحالة هذه ما في وقوع الطلاق إذا عَلَّق به ثم نجَّز الطلقات الثلاث ثم عادت إليه

Para imam menyebutkan perumpamaan tentang penjatuhan talak tiga secara langsung setelah sebelumnya digantungkan, dengan kasus pembebasan budak. Mereka berkata: Jika seseorang menggantungkan pembebasan budaknya, lalu ia mengeksekusi pembebasan itu secara langsung, kemudian budak tersebut pergi ke negeri musuh dan menjadi kafir, lalu ia ditawan dan dijadikan budak kembali—dan menurut rincian dalam kitab as-Siyar yang akan dijelaskan, insya Allah—kemudian budak itu kembali dimiliki oleh orang yang pernah menggantungkan pembebasannya, lalu syarat yang digantungkan itu terpenuhi, maka dalam hal terjadinya pembebasan budak pada kondisi ini terdapat permasalahan yang sama seperti dalam terjadinya talak jika seseorang menggantungkan talak, lalu mengeksekusi talak tiga secara langsung, kemudian istrinya kembali kepadanya.

ووجه التشبيه لائح فإنه إذا علقَ الطلاق ثم طلق ثلاثاً فقد نجز ما علق وإذا علّق عتق عبده ثم أعتقه تنجيزاً فقد نجّز ما علّق فإن العتق ليس مما يتعدد

Alasan adanya penyerupaan itu jelas, karena jika seseorang menggantungkan talak lalu menjatuhkan talak tiga, maka telah terlaksana apa yang digantungkan. Dan jika seseorang menggantungkan pembebasan budaknya lalu membebaskannya secara langsung, maka ia telah menunaikan apa yang digantungkan, sebab pembebasan budak bukanlah sesuatu yang dapat berulang.

ومما يتعلق بأطراف المسألة أنا إذا رأينا عَوْد الحنث فلو علق الطلاق في النكاح الأول ثم أبان زوجته فوُجدت الصفة في زمان البينونة فلا شك أن الطلاق لا يقع لمصادفة الصفة حالةً لو أنشأ الطلاق فيها تنجيزاً لَمَا وقع

Di antara hal yang berkaitan dengan cabang-cabang masalah ini adalah apabila kita melihat adanya pengulangan pelanggaran sumpah. Jika seseorang menggantungkan talak pada pernikahan pertama, kemudian ia menceraikan istrinya, lalu syarat yang digantungkan itu terjadi pada masa pemisahan, maka tidak diragukan lagi bahwa talak tidak jatuh, karena syarat tersebut terjadi pada keadaan yang jika talak diucapkan secara langsung pada saat itu, maka talak tersebut tidak akan jatuh.

وإذا عادت ثم وجدت تلك الصفة في النكاح الثاني فالذي صار إليه أئمة المذهب أن الطلاق لا يقع وإن فرعنا على عَوْد الحنث واعتلّوا بأن الصفة لما وجدت في زمن البينونة انحلت اليمين انحلالاً لم تصادف إمكان إعمال فانحلّت بلا عمل فإذا انحلت استحال أن يقع في النكاح الثاني شيء ووجه ذلك أن اليمين لا تنعقد إلا مرة واحدة فإذا وجدت بعد المرة فقد زال متعلَّق اليمين وعسر الحكم بالصفة فكان موجب ذلك أن تنحل اليمين بلا خلاف

Dan apabila ia kembali lalu mendapati sifat tersebut pada pernikahan kedua, maka pendapat yang dipegang oleh para imam mazhab adalah bahwa talak tidak jatuh, meskipun kita membangun pendapat atas dasar kembalinya pelanggaran sumpah. Mereka beralasan bahwa ketika sifat itu ditemukan pada masa perpisahan, sumpah tersebut menjadi batal dengan pembatalan yang tidak memungkinkan untuk dijalankan, sehingga batal tanpa pelaksanaan. Jika sudah batal, maka mustahil terjadi sesuatu pada pernikahan kedua. Penjelasannya adalah bahwa sumpah tidak dapat diadakan kecuali satu kali saja. Jika ditemukan setelah satu kali, maka objek sumpah telah hilang dan sulit untuk menetapkan hukum berdasarkan sifat tersebut. Maka konsekuensinya adalah sumpah itu batal tanpa ada perbedaan pendapat.

وحكى العراقيون عن أبي سعيد الإصطخري وجهاً أن اليمين لا تنحل لأن يمين الزوج معقودة على طلاق يُمْلَك في زمان يُتصور من فيه التنجيز والتنفيذ ويستحيل عقد اليمين بالطلاق على زمان البينونة وإذا لم تنعقد على زمان البينونة لم تنحل بما يقع في زمان البينونة وهذا متجه على مذهب الشافعي ولكنه بعيد في النقل غيرُ معتد به

Orang-orang Irak meriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Ishthakhri satu pendapat bahwa sumpah tersebut tidak terlepas, karena sumpah suami terikat pada talak yang dimiliki pada masa yang memungkinkan untuk dilakukan penegasan dan pelaksanaan, dan mustahil mengikat sumpah talak pada masa bain (perpisahan mutlak). Jika sumpah tidak terikat pada masa bain, maka ia tidak terlepas dengan sesuatu yang terjadi pada masa bain. Pendapat ini sejalan dengan mazhab asy-Syafi‘i, namun lemah dalam riwayat dan tidak dianggap.

ومما يتعلق بهذا الأصل أن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق غداً ثم أبأنها قبل الغد فانقضى الغد في البينونة ثم عادت فلا شك أن ذلك الطلاق المؤقت لا يقع ولا يخرّج في هذه الصورة وأمثالها مذهب الأصطخري فإن الوقت الذي علق الطلاق به قد انقضى قبل النكاح الثاني فلا يتصور وجوده في النكاح الثاني حتى نتكلم في وقوع الطلاق وعدم وقوعه وأما مذهب الأصطخري فيه إذا كان متعلق الطلاق صفةً يتصور وجودها في النكاح الثاني

Terkait dengan kaidah ini, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak besok,” kemudian ia menceraikannya secara bain sebelum hari esok, lalu hari esok berlalu dalam keadaan bain, kemudian mereka rujuk, maka tidak diragukan lagi bahwa talak yang bersifat mu‘allaq (tergantung waktu) tersebut tidak terjadi dan tidak dapat diterapkan dalam kasus ini dan yang semisalnya menurut mazhab al-Ashthakhri. Sebab, waktu yang menjadi syarat terjadinya talak telah berlalu sebelum akad nikah yang kedua, sehingga tidak mungkin talak itu terjadi dalam pernikahan kedua sehingga kita perlu membahas apakah talak itu jatuh atau tidak. Adapun menurut mazhab al-Ashthakhri, jika talak itu digantungkan pada sifat yang mungkin terjadi dalam pernikahan kedua…

ومما يتعلق بأصل عَوْد الحنث أن الرجل إذا قال لامرأته إذا بِنْتِ ونكحتكِ ودخلتِ الدار في النكاح الثاني فأنتِ طالق ثم بانت ونكحها فدخلت الدار فالذي ذهب إليه أئمة المذهب أن الطلاق لا يقع أصلاً وإن فرّعنا على عَوْد الحِنث فإنه صرح بتعليق الطلاق في نكاح قبل انعقاده وهذا لا يراه الشافعي ولا يسوّغه

Adapun yang berkaitan dengan asal kembalinya pelanggaran sumpah (ḥinth), jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Jika engkau bercerai, lalu aku menikahimu kembali, dan engkau masuk ke rumah dalam pernikahan kedua, maka engkau tertalak,” kemudian ia benar-benar menceraikannya, menikahinya kembali, dan istrinya masuk ke rumah, maka menurut para imam mazhab, talak tersebut sama sekali tidak terjadi, meskipun kita membahas tentang kembalinya pelanggaran sumpah (ḥinth). Sebab, ia telah secara tegas menggantungkan talak pada pernikahan sebelum akadnya terjadi, dan hal ini tidak dibenarkan serta tidak diperbolehkan menurut Imam Syafi‘i.

ومن أصحابنا من قال يخرّج هذا على قول عَوْد الحِنث فإن النظر إلى وقوع المعلَّق في النكاح مع وقوع الصفة في النكاح وهذا بعيدٌ مع التصريح بإضافة الوقوع إلى النكاح الثاني حتى لا يفرضَ انحلال اليمين في النكاح الأول هكذا أجروه

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa masalah ini dianalogikan dengan pendapat tentang kembalinya pelanggaran sumpah, yaitu dengan mempertimbangkan terjadinya perkara yang digantungkan pada pernikahan bersamaan dengan terjadinya sifat tersebut dalam pernikahan. Namun, hal ini dianggap jauh (tidak tepat) karena secara tegas disebutkan bahwa terjadinya (perkara) itu dikaitkan dengan pernikahan kedua, sehingga tidak mungkin dianggap sumpahnya batal pada pernikahan pertama. Demikianlah mereka menjalankan pendapat ini.

والوجه أخْذه من عود الحنث بعد استيفاء الثلاث فإن الحنث ينطبق على ما يتجدد بالنكاح الثاني من مِلْك

Dasar pendapat ini diambil dari kembalinya status pelanggaran sumpah (ḥinth) setelah sempurnanya tiga kali talak, karena pelanggaran sumpah (ḥinth) berlaku pada kepemilikan baru yang muncul akibat akad nikah kedua.

ومما كان يفرعه شيخي في هذا الأصل أن الرجل إذا علق طلقة واحدة بصفة وهو يملك الثلاث ثم قال نجّزتُ تلك الطلقة التي علّقتها فتنتجز الطلقة لا محالة وهل ينحل التعليق هذا ينبني على أنه إذا نجز الثلاث فهل ينحل التعليق حتى لا يعود في النكاح الثاني فإن قلنا لا ينحل التعليق فلا معنى لحَلِّ التعليق بالجهة التي ذكرناها

Di antara cabang yang dikembangkan guruku dalam kaidah ini adalah bahwa jika seorang laki-laki menggantungkan satu talak pada suatu syarat, sementara ia masih memiliki hak atas tiga talak, kemudian ia berkata, “Aku realisasikan talak yang telah kugantungkan itu,” maka talak tersebut pasti menjadi nyata. Namun, apakah penggantungan syarat itu menjadi batal atau tidak, hal ini bergantung pada persoalan: jika ia merealisasikan ketiga talak sekaligus, apakah penggantungan syarat itu menjadi batal sehingga tidak berlaku lagi pada pernikahan kedua? Jika kita katakan bahwa penggantungan syarat itu tidak batal, maka tidak ada makna dari pembatalan penggantungan syarat dengan cara yang telah kami sebutkan.

فإن قلنا ينحلّ التعليق لو استوفى الطلقات فإذا علق واحدةً ثم نجز واحدة وزعم أنها التي علقها ففي المسألة وجهان أحدهما أن التعليق ينحلّ

Jika kita mengatakan bahwa ta‘liq (penangguhan) menjadi batal apabila seluruh talak telah digunakan, maka apabila seseorang menangguhkan satu talak kemudian menjatuhkan satu talak secara langsung dan mengklaim bahwa talak yang dijatuhkan itu adalah talak yang digantungkan, dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ta‘liq menjadi batal.

ووجهه بين

Dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

والثاني أنه لا ينحلّ ويبقى التعليق مرتبطاً بما بقي من الطلقات فإنه ما كان متعلقاً بطلقة معينة ولا خلاف أنه لو علق طلقة ثم نجّز طلقة مُطْلَقة فالتعليق لا ينحلّ فقوله نجزت ما علّقت تصرّفٌ منه في فكّ التعليق وليس ذلك إلى المعلِّق

Kedua, bahwa talak tidak menjadi batal dan penangguhan tetap terkait dengan sisa talak yang ada, karena penangguhan tersebut tidak terkait pada satu talak tertentu. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang menangguhkan satu talak, lalu menjatuhkan satu talak secara mutlak, maka penangguhan itu tidak menjadi batal. Maka ucapannya “aku realisasikan apa yang aku tangguhkan” adalah tindakannya dalam melepaskan penangguhan, dan hal itu bukanlah hak orang yang menangguhkan.

هذا تمام البيان في تمهيد أصل عَوْد الحنث ولهذا الأصل تكرُّرٌ في الكتب على ما يليق بمقاصدها وفيما ذكرناه الآن مَقْنع

Inilah penjelasan lengkap dalam menjelaskan dasar kembalinya dosa sumpah, dan dasar ini sering diulang dalam kitab-kitab sesuai dengan tujuan masing-masing, dan apa yang telah kami sebutkan sekarang sudah memadai.

وقد عاد بنا الكلام إلى مضمون الباب فإذا قال الرجل لامرأته أنت طالق ثلاثاًً في كل سنة واحدةٌ رجعنا إليه فإن زعم أنه أراد مُدَد السنين وتنكيرَها ولم يرد السنة المعروفة العربية المستفتحة بالمحرم فالجواب ومراده ما وصفناه أنه يقع في الحال طلقة لأنه يكون في سنةٍ لا محالة وقد أوقع الطلقات الثلاث في ثلاث سنين فلتقع كلُّ طلقة في سنة وموجب ذلك وقوعُ طلقة في الحال لأنه في سنة ولم يعلّق الطلقات الثلاث بانقضاء ثلاث سنين

Dan pembahasan kita kembali pada isi bab ini. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga, setiap tahun satu talak,” maka kita kembali pada maksudnya. Jika ia mengaku bahwa yang ia maksud adalah rentang tahun-tahun dan bentuk nakirah (umum) dari kata “tahun”, dan bukan tahun Arab yang dikenal yang dimulai dengan bulan Muharram, maka jawabannya dan maksudnya adalah seperti yang telah kami jelaskan: satu talak jatuh saat itu juga, karena pasti terjadi dalam satu tahun. Ia telah menjatuhkan tiga talak dalam tiga tahun, maka setiap talak jatuh dalam satu tahun. Konsekuensinya adalah satu talak jatuh saat itu juga, karena itu terjadi dalam satu tahun dan ia tidak menggantungkan tiga talak tersebut pada berlalunya tiga tahun.

ثم إذا حكمنا بوقوع طلقة في الِحال لأنه في سنة فلو راجعها وامتدّت عدة الرجعة بتباعد الحيضة أو امتداد زمان الحمل حتى مضت اثنا عشر شهراً فتقع عليها الطلقة الثانية فإن راجعها وطالت العدة إلى اثني عشر شهراً أخرى فيقع عليها الطلقة الثالثة فتلحقها الثلاث في أربعة وعشرين شهراً ولحظةٍ وهذه اللحظة الزائدة وقتُ وقوع الطلقة الثالثة والوقتُ الذي وقع فيه الطلقة الأولى محسوب من السنة الأولى وهذا بيّن لا يخفى دَرْكُ مثله على الفطن

Kemudian, jika kita menetapkan terjadinya satu talak pada keadaan tersebut karena berada dalam satu tahun, lalu suami merujuk istrinya dan masa iddah rujukannya berlangsung lama karena jarak antara haid yang berjauhan atau lamanya masa kehamilan hingga berlalu dua belas bulan, maka jatuhlah talak kedua atasnya. Jika suami merujuknya lagi dan masa iddah berlangsung lama hingga dua belas bulan berikutnya, maka jatuhlah talak ketiga atasnya. Maka, ketiga talak itu menimpanya dalam waktu dua puluh empat bulan dan satu saat; dan saat tambahan ini adalah waktu terjadinya talak ketiga, sedangkan waktu terjadinya talak pertama dihitung dari tahun pertama. Hal ini jelas dan tidak samar bagi orang yang cerdas.

وما ذكرناه فيه إذا تمادت عدة الرجعية وارُتجعت المرأةُ على نظمٍ يقتضي وقوع الطلقات كما صورناه

Apa yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku apabila masa ‘iddah wanita yang masih bisa dirujuk telah berakhir, lalu wanita tersebut dirujuk kembali dengan tata cara yang mengharuskan terjadinya talak-talak sebagaimana yang telah kami gambarkan.

فإن لحقها الطلقةُ الأولى ولم يرتجعها وانقضت عدتها قبل مضي السنة الأولى وبانت فإن نكحها فتمت اثنا عشر شهراً من يوم تلفظه بالطلاق وعَقْدِه اليمين فهل تلحقها الطلقة الثانية فعلى القول الممهد في عَوْد الحنث

Jika talak pertama telah dijatuhkan kepadanya dan ia tidak dirujuk, lalu masa iddahnya selesai sebelum lewat satu tahun dan ia telah benar-benar berpisah, kemudian ia dinikahi kembali, lalu genap dua belas bulan sejak ia mengucapkan talak dan mengikrarkan sumpah, maka apakah talak kedua akan berlaku padanya? Maka menurut pendapat yang mapan dalam masalah kembalinya pelanggaran sumpah…

وقد قدمنا فيه الأقوالَ والترتيبَ البالغَ الكافي والكلامُ في الطلقة الثالثة على ذلك يخرّج

Kami telah mengemukakan di dalamnya pendapat-pendapat dan urutan yang sangat memadai, dan pembahasan mengenai talak ketiga berdasarkan hal itu dapat diturunkan.

ولو لحقتها الطلقةُ الأولى وانقضت عدتها في السنة الأولى ولم يجدد عليها النكاحَ حتى مضت السنة الثانية فقد انحلت اليمين في الطلقة الثانية فإنه كانت نهايتها بانقضاء السنة الثانية وليس هنا محل تخريج الإصطخري بل هو كما لو قال لامرأته أنت طالق غداً ثم أبأنها قبل الغد وتصرّم الغد على البينونة ثم جدد النكاح فلا يقع الطلاق ثم هل يقع الطلاق الثالث لو امتدت العدة وهل تنحل اليمين بمضي تلك اللحظة قلنا لا تنحلّ فإن أمد الطلاق الثالث منتهٍ غير أنا ابتدرنا الحكم بوقوعه لنحقق دخول الوقت وكل طلاقٍ أضيف إلى زمانٍ ممتد إضافة الشيء إلى ظرفه الزماني فإنه يقع في أول جزء منه فإذا كانت المرأة بائنةً في الجزء الأول من السنة الثالثة لم يقع الطلاق

Jika talak pertama telah dijatuhkan kepadanya dan masa iddahnya selesai pada tahun pertama, lalu suaminya tidak memperbarui akad nikah hingga tahun kedua berlalu, maka sumpah itu batal pada talak kedua, karena akhirnya adalah dengan berlalunya tahun kedua. Dalam hal ini, tidak berlaku pendapat Istikhrī, melainkan keadaannya seperti jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak besok,” lalu ia menceraikannya dengan talak bain sebelum besok, dan hari esok berlalu dalam keadaan telah terjadi bain, kemudian ia memperbarui akad nikah, maka talak tidak jatuh. Lalu, apakah talak ketiga jatuh jika masa iddahnya diperpanjang, dan apakah sumpah itu batal dengan berlalunya waktu tersebut? Kami katakan, sumpah itu tidak batal, karena batas waktu talak ketiga telah berakhir, hanya saja kami mempercepat penetapan jatuhnya talak untuk memastikan masuknya waktu. Setiap talak yang dikaitkan dengan waktu yang berkelanjutan, seperti mengaitkan sesuatu dengan wadah waktunya, maka talak itu jatuh pada bagian pertama dari waktu tersebut. Maka jika wanita itu telah berstatus bain pada bagian pertama tahun ketiga, talak tidak jatuh.

فإذا نكحها في أثناء السنة الثالثة فهذا النكاح جرى في أمد الطلاق الثالث ثم إن قلنا بعَوْد الحنث فكما نكحها طلقت فإن هذا زمانٌ من السنة الثالثة وهو بمثابة ما لو قال لامرأته أنت طالق غداً ثم أبأنها فمضى صدرٌ من الغد ثم جدد النكاح عليها في بقيةٍ من الغد ورأينا عود الحنث فالطلاق يقع كما ينكحها

Jika ia menikahinya di tengah-tengah tahun ketiga, maka pernikahan itu terjadi dalam masa talak ketiga. Kemudian, jika kita berpendapat tentang kembalinya pelanggaran (ḥinth), maka sebagaimana ia menikahinya lalu menceraikannya, sesungguhnya ini adalah waktu dari tahun ketiga, dan hal ini serupa dengan seseorang yang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak besok,” lalu ia memisahkannya, kemudian berlalu sebagian waktu dari esok hari, lalu ia memperbarui akad nikah atasnya pada sisa waktu di hari itu, dan kita berpendapat tentang kembalinya pelanggaran, maka talak jatuh sebagaimana ia menikahinya.

هذا كله فيه إذا قال أردت بقولي في كل سنة طلقة تنكيرَ السنين ولم أُرد تعريفها بالسنين العربية

Semua ini berlaku jika ia berkata, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘setiap tahun satu talak’ adalah penegasan tahun-tahun secara umum dan aku tidak bermaksud menentukan dengan tahun-tahun Arab.”

فإن قال أردتُ السنين العربية طُلّقت في الحال طلقة لأنها تقع في سنةٍ عربية وكلما أهلّ المحرم طُلقت طلقةً أخرى وقد تقع الطلقة الأولى في آخر لحظة من السنة وتقع الثانية في اللحظة الأولى من السنة فتلحقها طلقتان في لحظتين والفرق بين هذه المسألة وبين الأولى مستبين فإن المسألة الأولى مقتضاها تقدير السنين من وقت نطقه فانتظم ذلك الترتيب على ما مضى وهذه المسألة مبنية على ما يقع من السنين العربية لا على ما يقدره الحالف

Jika ia berkata, “Yang aku maksud adalah tahun-tahun Arab,” maka ia langsung tertalak satu kali saat itu juga, karena talak itu jatuh pada satu tahun Arab, dan setiap kali bulan Muharram tiba, ia tertalak satu kali lagi. Bisa jadi talak pertama jatuh pada detik terakhir tahun tersebut, lalu talak kedua jatuh pada detik pertama tahun berikutnya, sehingga dua talak terjadi dalam dua detik. Perbedaan antara masalah ini dengan yang pertama sangat jelas; pada masalah pertama, tahun-tahun dihitung sejak ia mengucapkan lafaz talak, sehingga urutannya mengikuti waktu yang telah berlalu. Sedangkan masalah ini didasarkan pada tahun-tahun Arab yang terjadi, bukan pada perhitungan orang yang bersumpah.

والغرض التام في ذلك يتّضح بذكر مسألة واستغراب وجوابٍ عنه

Tujuan utama dalam hal ini akan menjadi jelas dengan menyebutkan sebuah masalah, keheranan terhadapnya, dan jawaban atasnya.

فإذا قال الرجل لامرأته أنت طالق ثلاثاًً في كل يومٍ طلقة فإن قال ذلك وهو في يوم فتقع واحدة في الحال وتقع الثانية كما طلع الفجر في اليوم الثاني ولا يتوقف الوقوع على أن ينتهي في اليوم الثاني إلى الوقت الذي انعقد فيه اليمين في اليوم الأول وإن قال أردت تنكير اليوم فالجواب كذلك فإن قيل هلا حسبتم بعد وقوع الطلاق زمانَ يومٍ مثلاً يقع الطلاق في وقت الزوال فيتربص إلى انتهاء اليوم الثاني إلى وقت الزوال وهذا في التحقيق مضي يوم مضى شطره أمس ولم يمض مقدار يوم في اليوم الثاني قلنا سبب ذلك أنه إذا علّق الطلاق باليوم وجعله ظرفاً فإذا قال في كل يوم فكما طلع الفجر شرعت في جزء من أجزاء اليوم وليس كذلك السنة المنكرة فإنها تطلق على اثني عشر شهراً فإذا نظر الناظر إلى مسألة الأيام ومسألة السنين المنكرة ابتدر اعتقاد الفصل بينهما ثم تعسر العبارة عن مكنون الضمير ويُستنكر أمثالُ ذلك في مسائل الطلاق فيقع الاعتناء

Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga, setiap hari satu talak,” maka jika ia mengucapkannya pada suatu hari, maka satu talak jatuh saat itu juga, dan talak kedua jatuh ketika fajar terbit pada hari kedua. Tidak disyaratkan jatuhnya talak menunggu sampai waktu yang sama pada hari kedua dengan waktu pengucapan sumpah pada hari pertama. Jika ia berkata, “Aku bermaksud menggeneralisasi hari,” maka jawabannya tetap sama. Jika ada yang bertanya, “Mengapa kalian tidak menghitung setelah jatuhnya talak satu masa satu hari, misalnya talak jatuh pada waktu zawal (matahari tergelincir), lalu menunggu hingga waktu zawal pada hari kedua, padahal secara hakikat satu hari telah berlalu, setengahnya kemarin dan belum genap satu hari pada hari kedua?” Kami katakan, sebabnya adalah jika talak digantungkan pada hari dan hari dijadikan sebagai waktu, maka ketika ia berkata ‘setiap hari’, maka sejak terbit fajar ia telah masuk pada bagian dari hari itu. Tidak demikian halnya dengan tahun yang tidak ditentukan, karena ia berlaku untuk dua belas bulan. Jika seseorang memperhatikan masalah hari dan masalah tahun yang tidak ditentukan, ia akan segera meyakini adanya perbedaan antara keduanya, namun akan sulit mengungkapkan maksud yang tersembunyi dalam hati, dan hal-hal semacam ini dianggap aneh dalam masalah talak sehingga perlu mendapat perhatian.

بتَرْصيف العبارة وتطبيقها على المعنى

Dengan merapikan ungkapan dan menerapkannya pada makna.

ونحن نقول السنة تنكر وتعرّف فيقال أقبلت السنة إذا قرب هلال المحرم واليوم يعرّف وينكّر وليس يبعد اعتقاد التبعيض فيه أيضاًًً فإِن الرجل إِذا قال لامرأته وقت الزوال إذا مضى يومٌ فأنت طالق فلا تطلّقُ حتى تغرب الشمس ويدخلَ اليومُ الثاني وينتهي إلى وقت الزوال

Kami mengatakan bahwa as-sunnah dapat digunakan dalam bentuk nakirah (umum) dan ma‘rifah (khusus), sehingga dikatakan “telah datang as-sunnah” jika hilal Muharram telah mendekat. Demikian pula, hari dapat digunakan dalam bentuk ma‘rifah dan nakirah. Tidak jauh kemungkinan adanya anggapan tab‘īḍ (pembagian) di dalamnya juga. Sebab, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya pada waktu zawāl (matahari tergelincir), “Jika telah berlalu satu hari, maka engkau tertalak,” maka ia tidak tertalak hingga matahari terbenam dan hari kedua masuk, lalu berakhir pada waktu zawāl.

ولكن الألفاظ المطلقة في الأيام ظاهرةٌ في الأيام المعرفة والسنين المطلقة ليست ظاهرةً في السنين العربية فإنّ تعرّف الأيام أظهرُ من تعرف السنين كيف وطبقات الخلق على اختلافٍ في تعريف السنين ولسنا على توقيفٍ حاقّ في تعريف السنين العربية فكان قولُ القائل أنت طالق ثلاثاًً في كل سنة طلقةٌ ظاهراً في احتساب السنة المنكرة من وقت القول وقول القائل في كل يوم ظاهرٌ في اليوم المعروف حتى يُعدَّ احتسابُ يوم من يومين في حكم الشاذ الذي يلتبس الفكر عليه إذا لم يُرِد

Namun, lafaz-lafaz yang bersifat mutlak dalam penyebutan hari-hari secara jelas merujuk pada hari-hari yang sudah dikenal, sedangkan tahun-tahun yang disebutkan secara mutlak tidak secara jelas merujuk pada tahun-tahun Arab. Sebab, pengenalan terhadap hari-hari lebih jelas dibandingkan dengan pengenalan terhadap tahun-tahun. Bagaimana tidak, sedangkan berbagai golongan manusia berbeda-beda dalam mendefinisikan tahun, dan kita pun tidak memiliki ketetapan pasti dalam mendefinisikan tahun-tahun Arab. Maka, ucapan seseorang, “Engkau tertalak tiga, setiap tahun satu talak,” secara lahiriah bermakna perhitungan tahun yang tidak dikenal dimulai dari waktu ucapan itu. Sedangkan ucapan seseorang, “Setiap hari,” secara lahiriah bermakna hari yang sudah dikenal, sehingga perhitungan satu hari dari dua hari dianggap sebagai hukum yang ganjil yang membingungkan pemikiran, jika tidak dimaksudkan demikian.

و هذا يتبين بمسألتين إحداهما أنه إذا قال أنت طالق ثلاثاً في كل سنة طلقة فراجعناه في قصد التعريف والتنكير فزعم أنه لم يكن له قصد فهذا عندنا ملتحق بمسائلَ ستأتي في الطلاق إن شاء الله تعالى مستندةً إلى قاعدةٍ لا سبيل إلى الخوض فيها الآن ولكنا ننجز الجواب والفتوى على حسبها فنقول إذا زعم أنه أطلق اللفظ ولم ينو تنكيراً ولا تعريفاً ففي المسألة وجهان أخذاً من كلام الأئمة في قواعد الطلاق أحدهما لفظه يحمل على التنكير فإن إطلاق الرجل قولَه سنة من غير تعريف محمول على سنة يضعها ويعتبرها من تلقاء نفسه هذا هو الغالب

Hal ini dapat dijelaskan dengan dua permasalahan. Pertama, jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga, setiap tahun satu talak,” lalu kita tanyakan kepadanya apakah ia bermaksud ta‘rīf (menentukan) atau tankīr (menggeneralisasi), kemudian ia mengaku bahwa ia tidak memiliki maksud tertentu, maka menurut kami, kasus ini termasuk ke dalam beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam bab talak, insya Allah, yang didasarkan pada suatu kaidah yang tidak memungkinkan untuk dibahas sekarang. Namun, kami akan memberikan jawaban dan fatwa sesuai dengan kaidah tersebut. Maka kami katakan, jika ia mengaku bahwa ia mengucapkan lafaz itu tanpa berniat tankīr maupun ta‘rīf, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang diambil dari perkataan para imam dalam kaidah-kaidah talak. Salah satunya adalah bahwa lafaznya dianggap sebagai tankīr, karena kebiasaan seseorang ketika mengucapkan “setahun” tanpa penentuan, maka itu dianggap sebagai tahun yang ia tetapkan dan ia anggap sendiri; inilah yang paling umum.

في حكم الإطلاق

Dalam hukum mutlak

والوجه الثاني يحمل على السنة العربية فإنه لا تعريف في كلامه وقد يترجح أحد القولين على الثاني بمصادفته التعريف الشرعي

Pendapat kedua didasarkan pada kebiasaan bahasa Arab, karena tidak terdapat definisi dalam ucapannya, dan salah satu dari dua pendapat tersebut bisa lebih kuat daripada yang lain jika sesuai dengan definisi syar‘i.

وإذا قال لامرأته أنت طالق ثلاثاً في كل يوم طلقة وزعم أنه لم ينو تعريفاً ولا تنكيراً فهذا محمول على اليوم المعرّف بلا خلاف فإنه المفهوم السابق إلى الأفهام ومبتدأُ الأيام منفصلةٌ في الصورة بتخلل الليالي

Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga, setiap hari satu talak,” dan ia mengaku tidak berniat untuk ta‘rīf (menentukan) maupun tankīr (menggeneralisasi), maka hal ini dianggap merujuk pada hari yang ma‘rūf (tertentu) tanpa ada perbedaan pendapat, karena itulah makna yang pertama kali dipahami oleh akal. Permulaan hari-hari itu secara lahiriah terpisah-pisah dengan adanya malam-malam yang menyelingi di antaranya.

ولو قال أنت طالق ثلاثاً في كل يوم طلقة وزعم أنه أراد تكميل اليوم الذي كان فيه بساعات اليوم الآتي فهو إن صدق في حكم الله تعالى محمول على حكم نيّته تديّناً وإن قال فاقبلوه مني ظاهراً فهل يحمل على هذا ظاهراً ويقبل قوله فعلى وجهين سيأتي أصلهما إن شاء الله عز وجل أحدهما أنه يقبل لظهور الاحتمال مع النية ولا مطمع في تمهيد هذه القواعدِ بعدُ ومقدار غرضنا الآن إظهار الفرق بين السنين والأيام وقد لاح على أبين الوجوه والحمد لله رب العالمين

Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak tiga, setiap hari satu talak,” lalu ia mengaku bahwa maksudnya adalah menyempurnakan hari yang sedang berlangsung dengan jam-jam dari hari berikutnya, maka jika ia jujur menurut hukum Allah Ta‘ala, hal itu disandarkan pada niatnya secara agama. Namun jika ia berkata, “Terimalah dariku secara lahiriah,” maka apakah hal itu diterima secara lahiriah dan ucapannya diterima? Ada dua pendapat yang asalnya akan dijelaskan kemudian, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Salah satunya adalah bahwa ucapannya diterima karena adanya kemungkinan makna dengan niat, dan tidak ada harapan untuk merinci kaidah-kaidah ini lebih lanjut. Tujuan kita saat ini hanyalah menjelaskan perbedaan antara tahun dan hari, dan hal itu telah tampak dengan penjelasan yang paling jelas. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

وإذا قال أجرتك هذه الدار ثلاثَ سنين فابتداء المدّة من وقت العقد وإذا قال أجرتكها ثلاثة أيام وأنشأ العقد وقت الزوال استكملنا الأيام بالتلفيق كالسنين ولا فرق بين السنين والأيام في ذلك والسبب فيه ارتباط الإجارة باستغراق المدة في الموضعين والطلاق إنما يقع في أوقاتٍ من السنين والأيام

Jika seseorang berkata, “Aku sewakan rumah ini kepadamu selama tiga tahun,” maka awal masa sewa dimulai dari waktu akad. Jika ia berkata, “Aku sewakan kepadamu selama tiga hari,” dan akad dilakukan pada waktu zawāl (tergelincir matahari), maka hari-hari tersebut disempurnakan dengan penggabungan, sebagaimana pada tahun-tahun. Tidak ada perbedaan antara tahun dan hari dalam hal ini. Sebabnya adalah karena akad ijarah terkait dengan keseluruhan masa pada kedua kasus tersebut, sedangkan talak hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dari tahun atau hari.

وهذا تمام الغرض

Dan inilah akhir dari tujuan yang dimaksud.

باب الطلاق قبل النكاح

Bab Talak Sebelum Pernikahan

قال الشافعي رحمه الله ولو قال كلُّ امرأة أتزوجها فهي طالق إلى آخره

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Setiap wanita yang aku nikahi, maka dia tertalak,’ dan seterusnya.”

إذا قال الرجل لأجنبية إن نكحتك أو إذا نكحتك فأنت طالق فهذا التعليق قبل النكاح لغوٌ وإذا نكحها لم تطلق

Jika seorang laki-laki berkata kepada perempuan asing, “Jika aku menikahimu” atau “Jika aku menikahimu maka engkau tertalak,” maka ucapan yang digantungkan sebelum akad nikah itu dianggap sia-sia, dan jika ia menikahinya, perempuan itu tidak tertalak.

وإذا قال كل امرأة أنكحها فهي طالق فقوله لغو وقاعدةُ المذهب أن التعليق تصرفٌ من مالك الطلاق في الطلاق بما يقبله الطلاق من التعليق فإذا لم يملك الطلاقَ كان تصرفه فيه لغواً وقال أبو حنيفة التعليق إذا أضيف إلى النكاح على الإطلاق أو على التعيين في مخاطبة واحدة صح وإذا فرض النكاح عَمِل

Jika seseorang berkata, “Setiap wanita yang aku nikahi, maka dia tertalak,” maka ucapannya dianggap sia-sia. Kaidah mazhab menyatakan bahwa ta‘liq (penggantungan talak) adalah tindakan dari pemilik hak talak dalam masalah talak dengan bentuk yang dapat diterima oleh talak berupa penggantungan. Maka jika ia tidak memiliki hak talak, tindakannya dalam hal itu dianggap sia-sia. Abu Hanifah berpendapat, ta‘liq jika dikaitkan dengan pernikahan secara mutlak atau secara spesifik dalam satu pembicaraan, maka itu sah. Dan jika pernikahan terjadi, maka talak berlaku.

وقال صاحب التقريب تردد جواب الشافعي في القديم ونقل من كلامه ما يدلّ على أن قوله في القديم مثلُ مذهب أبي حنيفة وتارة ينقل قولاً بعيداً وتارة ينقل تردداً وقد يقول الطلاق لا يعلّق قبل النكاح في المشهور من قوله والصحيح من مذهبه

Penulis kitab at-Taqrīb mengatakan bahwa jawaban asy-Syafi‘i dalam pendapat lama mengalami keraguan, dan ia menukil dari perkataannya yang menunjukkan bahwa pendapatnya dalam pendapat lama serupa dengan mazhab Abu Hanifah. Terkadang ia menukil pendapat yang jauh, terkadang pula menukil keraguan, dan kadang ia mengatakan bahwa talak tidak dapat digantungkan sebelum akad nikah menurut pendapat yang masyhur dari perkataannya dan yang shahih dari mazhabnya.

وهذا لم أره إلا في طريقته فنقلته على وجهه وتعرضت لصيغ كلامه ولا عَوْدَ إليه والمسألةُ خلافية مشهورة

Hal ini tidak aku temukan kecuali dalam metodenya, maka aku menukilkannya sebagaimana adanya dan aku mengutip redaksi ucapannya, tanpa kembali kepadanya, dan masalah ini adalah masalah khilafiyah yang masyhur.

وقد أجرى الأئمة فيها مسائلَ مذهبيةٍ ونحن نذكرها ونستعين بالله تعالى

Para imam telah membahas di dalamnya berbagai persoalan mazhab, dan kami akan menyebutkannya serta memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala.

فمنها أن العبدَ يملك على زوجته طلقتين فلو علق الطلقة الثالثة مع الطلقتين فقال لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق ثلاثاًً ثم عَتَق ودخلت المرأة الدار بعد العتق ففي وقوع الطلقة الثالثة وجهان أقيسهما أنه لا يقع تخريجاً على القاعدة التي ذكرناها معتمداً في المذهب وذلك أنه علق الثالثة في وقت كان لا يملكها فلزم إلغاء تعليقه

Di antaranya adalah bahwa seorang hamba memiliki hak atas istrinya untuk menjatuhkan dua talak. Jika ia menggantungkan talak ketiga bersama dua talak itu, lalu berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak tiga,” kemudian ia dimerdekakan dan istrinya masuk ke dalam rumah setelah ia merdeka, maka dalam hal jatuhnya talak ketiga terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat menurut qiyās adalah talak ketiga tidak jatuh, berdasarkan kaidah yang telah kami sebutkan dan menjadi pegangan dalam mazhab, yaitu karena ia menggantungkan talak ketiga pada waktu ia belum memilikinya, maka penggantungannya dianggap batal.

والوجه الثاني أنه يقع فإنه لما علّق كان مالكاً للنكاح فصدر تعليقه عن ملك مستقىً عن ملك الأصل وشبه بعض الفقهاء هذا بالإجارة فإنها تصدر عن مالك الرقبة والمنافُع مستجدةٌ شيئاً فشيئاً

Pendapat kedua adalah bahwa talak tersebut jatuh, karena ketika talak digantungkan, suami adalah pemilik akad nikah, sehingga penggantungannya berasal dari kepemilikan yang bersumber dari kepemilikan asal. Sebagian fuqaha’ menganalogikan hal ini dengan ijarah, karena ijarah dilakukan oleh pemilik barang, sementara manfaatnya muncul sedikit demi sedikit.

وهذا تكلف فإن الإجارة أُثبت أصلها للحاجة ثم المنافعُ تترتب خِلقةً ووجوداً فجعلت كالموجود وأما العتق فإنه ليس مما يُقضى بوقوعه بل هو متوقع ولو قيل الغالب دوام الرق لكان سديداً

Ini adalah pemaksaan, karena akad ijarah pada dasarnya dibolehkan karena kebutuhan, kemudian manfaat-manfaat itu muncul secara alami dan keberadaannya bertahap, sehingga dianggap seperti sudah ada. Adapun pembebasan budak (‘itq), itu bukan sesuatu yang dipastikan terjadinya, melainkan hanya diharapkan. Dan jika dikatakan bahwa yang umum terjadi adalah perbudakan itu berlangsung terus-menerus, maka itu adalah pendapat yang tepat.

ومنها أن الرجل إذا قال لأمته كل ولدٍ تلديه فهو حر وكانت حائلاً فعلقت بولدٍ بعد التعليق فإذا ولدته فهل ينفذ العتق فيه فعلى وجهين أحدهما أنه لا ينفذ لأن الولد لم يكن موجوداً حالة التعليق

Di antaranya adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada budak perempuannya, “Setiap anak yang engkau lahirkan maka ia merdeka,” sementara budak tersebut sedang tidak hamil, lalu ia hamil setelah ucapan itu. Jika kemudian ia melahirkan anak tersebut, apakah pembebasan budak berlaku pada anak itu? Ada dua pendapat: salah satunya adalah bahwa pembebasan tidak berlaku karena anak tersebut belum ada pada saat ucapan itu diucapkan.

والثاني أنه ينفذ العتقُ لصَدَره عن مالك الأصل والعتق أولى بالنفوذ في هذه المسألة من الطلاق الثالث في مسألة العتق لأن من ملك الأصلَ فذلك يملّكه الولدَ وملك العبد النكاحَ لا يملكه الطلاقَ الثالث

Kedua, bahwa pembebasan budak berlaku karena berasal dari pemilik pokok, dan pembebasan budak lebih utama untuk diberlakukan dalam masalah ini dibandingkan talak ketiga dalam masalah pembebasan budak, karena siapa yang memiliki pokok maka ia dapat memberikan kepemilikan itu kepada anaknya, sedangkan kepemilikan budak atas pernikahan tidak menjadikannya memiliki hak untuk menjatuhkan talak ketiga.

ثم إذا نفذنا العتق والطلاقَ في المسألتين فلا حاجة إلى إضافة الطلاق إلى حالة الملك بل يكفي أن يقول العبد إذا دخلت الدار فأنت طالق ثلاثاً ثم يعرضُ العتق ويكفي أن يقول لأمته إذا ولدت ولداً فهو حر ولا حاجة أن يقول إذا ولدت ولداً في ملكي

Kemudian, jika kita menetapkan keabsahan pembebasan budak (‘itq) dan talak dalam kedua permasalahan tersebut, maka tidak perlu menambahkan talak pada keadaan kepemilikan, melainkan cukup bagi seorang budak untuk mengatakan, “Jika engkau masuk rumah, maka engkau tertalak tiga kali,” kemudian pembebasan budak terjadi. Dan cukup baginya untuk mengatakan kepada budak perempuannya, “Jika engkau melahirkan seorang anak, maka ia merdeka,” dan tidak perlu mengatakan, “Jika engkau melahirkan seorang anak dalam kepemilikanku.”

ومنها كلامٌ في النذر فإذا قال الرجل إن شفى الله مريضي فلله عليّ إعتاقُ عبدٍ فإذا شفي المريض لزم الوفاء بالنذر وإن لم يكن في ملكه عبدٌ حالة النذر والسبب فيه أن التعويل في هذا النذر على الالتزام المطلق في الذمة والديون كذلك تلزم الذمم فإنها لا تتعلق بالأعيان وإذا كنا نحتمل هذا في أثمان البياعات مع بعدها عن قبول الأغرار فلا بعد فيها في النذور القابلة للمجاهيل وضروب الأغرار

Di antaranya adalah pembahasan tentang nazar. Jika seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkan orang sakitku, maka demi Allah atas diriku untuk memerdekakan seorang budak,” maka jika orang sakit itu sembuh, wajib menunaikan nazar tersebut, meskipun pada saat bernazar ia tidak memiliki budak. Sebabnya adalah karena dalam nazar ini yang menjadi sandaran adalah komitmen mutlak dalam tanggungan, dan utang-utang juga demikian, yaitu menjadi tanggungan dan tidak terkait dengan benda tertentu. Jika kita membolehkan hal ini dalam harga-harga jual beli, padahal jual beli jauh dari menerima unsur ketidakjelasan, maka tidak mengapa dalam nazar yang memang dapat mengandung hal-hal yang tidak diketahui dan berbagai bentuk ketidakjelasan.

ولو قال إن شفى الله مريضي فلله علي أن أعتق عبداً إذا ملكته فهذا صحيح فإن النذر على هذا التقدير يُلتزم وعلى هذا الوجه يُفرض الوفاء به

Dan jika seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkan orang sakitku, maka karena Allah aku wajib memerdekakan seorang budak jika aku memilikinya,” maka ini sah, karena nazar dengan ketentuan seperti ini wajib dipenuhi, dan dengan cara seperti inilah pelaksanaan nazar itu diwajibkan.

ولو قال إن شفى الله مريضي فلله علي أن أعتق عبدَ زيدٍ هذا إن ملكتُه فقد اختلف أصحابنا فمنهم من قال النذر يبطل فإن معتمده التصرفُ في ملك الغير قبل ملكه فيبطل كما بطل تعليق العتق والطلاق قبل الملك

Jika seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkan orang sakitku, maka aku bernazar untuk memerdekakan budak Zaid ini jika aku memilikinya,” maka para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa nazar tersebut batal, karena dasarnya adalah melakukan tindakan terhadap milik orang lain sebelum memilikinya, sehingga batal sebagaimana batalnya pengaitan pembebasan budak dan talak sebelum kepemilikan.

والوجه الثاني أنه لا يبطل لأن معتمد النذر الذمة والذمة مملوكة للملتزم والطلاق يتمحض إيقاعاً في العين فإذا لم يملك العين لغا تصرّفُه فيه

Alasan kedua adalah bahwa hal itu tidak batal karena dasar nazar adalah tanggungan (dzimmah), dan dzimmah dimiliki oleh orang yang berkomitmen, sedangkan talak sepenuhnya merupakan tindakan yang berkaitan dengan objek (‘ain). Maka jika ia tidak memiliki objek tersebut, tindakannya menjadi tidak sah.

وإذا قال أوصيت لفلان بألف درهم وكان لا يملك إذ ذاك حبة ثم ملك ما يفي بالوصية فالمذهب تصحيح الوصية كما لو نذر نذراً مطلقاً وهو لا يملك شيئاً وأبعد بعض أصحابنا فأبطل الوصية بأنها ليست التزاماً في الذمة والنذر التزامٌ فكان المنذور ديْناً

Jika seseorang berkata, “Aku berwasiat untuk Fulan seribu dirham,” padahal saat itu ia tidak memiliki satu butir pun, kemudian ia memperoleh harta yang cukup untuk memenuhi wasiat tersebut, maka menurut mazhab, wasiat itu dianggap sah, sebagaimana jika seseorang bernazar secara mutlak sementara ia tidak memiliki apa-apa. Namun sebagian ulama kami berpendapat jauh berbeda, mereka membatalkan wasiat tersebut karena wasiat bukanlah suatu kewajiban dalam tanggungan, sedangkan nazar adalah suatu kewajiban, sehingga sesuatu yang dinazarkan menjadi utang.

والذي عليه التعويلُ التسويةُ بين البابين فإن الوصية تقبل من الإطلاق ما يقبله النذر فمطلَقُها وإن لم يكن دينا كمطلَق النذر إن كان ديناً وإذا استويا في قبول الإطلاق والمطلق لا يرتبط بالعين فلا فرق في الغرض المقصود

Pendapat yang dijadikan sandaran adalah menyamakan antara kedua bab tersebut, karena wasiat menerima keumuman sebagaimana nadzar menerimanya. Maka wasiat yang bersifat umum, meskipun tidak dianggap sebagai utang, seperti nadzar yang bersifat umum jika dianggap sebagai utang. Ketika keduanya sama-sama menerima keumuman dan sesuatu yang umum tidak terkait dengan benda tertentu, maka tidak ada perbedaan dalam maksud yang dimaksudkan.

وإذا قال لو ملكت عبد فلان فقد أوصيت لك به ففي الوصية وجهان أحدهما أنها لا تصح لوقوعها في عينٍ غير مملوكة فكانت كتعليق العَتاق والطلاق قبل الملك

Jika seseorang berkata, “Jika aku memiliki budak si Fulan, maka aku telah mewasiatkan budak itu untukmu,” maka dalam wasiat ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa wasiat tersebut tidak sah karena berkaitan dengan sesuatu yang belum dimiliki, sehingga hukumnya seperti menggantungkan pembebasan budak atau talak sebelum kepemilikan.

والثاني تصح لأن الوصية مبناها على الغرر والخطر ونفوذها في وقت زوال ملك الموصي وكان شيخي يقول إذا صححنا الوصية مضافة إلى العين وصححنا النذر مضافاً إلى العين فشرطهما أن يقيّدا بتقدير الملك فيقول الناذر إن ملكت هذا العبدَ ويقول الموصي إن ملكتُ هذا العبدَ فلو وجه الناذر على عبد الغير مطلقاًً فقال لله عليّ أن أعتق هذا العبد ووجه الوصية كذلك على ملك الغير فالنذر والوصية باطلان

Kedua, wasiat tersebut sah karena dasar wasiat adalah pada unsur gharar (ketidakpastian) dan risiko, serta pelaksanaannya terjadi pada saat kepemilikan pemberi wasiat telah hilang. Guruku pernah berkata, jika kita membolehkan wasiat yang dikaitkan dengan suatu benda, dan membolehkan nazar yang dikaitkan dengan suatu benda, maka syarat keduanya adalah harus dibatasi dengan takdir kepemilikan. Maka orang yang bernazar harus mengatakan, “Jika aku memiliki budak ini,” dan orang yang berwasiat juga harus mengatakan, “Jika aku memiliki budak ini.” Jika seseorang bernazar atas budak milik orang lain secara mutlak, lalu berkata, “Karena Allah, aku wajib memerdekakan budak ini,” dan wasiat juga diarahkan demikian atas milik orang lain, maka nazar dan wasiat tersebut batal.

والظاهر عندنا ما ذكره وإذا سلم الخائضُ في المسألة الوصيةَ والنذرَ المتعلقين بالعين ورتب عليه اشتراطَ الإضافة إلى الملك عسُر عليه الكلام في المسألة

Pendapat yang tampak benar menurut kami adalah seperti yang telah disebutkan. Jika seseorang yang membahas masalah ini mengakui adanya wasiat dan nazar yang berkaitan dengan suatu benda, lalu ia mensyaratkan penambahan kepemilikan atasnya, maka akan sulit baginya untuk berbicara dalam masalah ini.

وإذا قال إن تزوجتُ فلانة فقد وكلتك في طلاقها فالوجه القطع ببطلان الوكالة فإنه تصرفٌ في الطلاق قبل الملك وقد اختُلف في أن الوكالة هل تقبل التعليق والطلاقُ قابلٌ للتعليق فإذا لم يجز تعليق ما يقبل التعليق قبل النكاح فكيف تصح الوكالة

Jika seseorang berkata, “Jika aku menikahi fulanah, maka aku telah mewakilkan kepadamu untuk menceraikannya,” maka pendapat yang kuat adalah batalnya wakalah tersebut, karena itu merupakan tindakan dalam perceraian sebelum memiliki (hak atas) istri. Telah terjadi perbedaan pendapat apakah wakalah dapat menerima ta‘liq (penangguhan), sedangkan talak sendiri dapat menerima ta‘liq. Maka, jika tidak diperbolehkan menangguhkan sesuatu yang memang bisa ditangguhkan sebelum akad nikah, bagaimana mungkin wakalah itu sah?

ولو قال وكلتك في بيع عبد فلان أو عتقه إذا ملكتُه وفي طلاق فلانة إذا نكحتُها ثم ملك ونكح ففيما نُقل عن القاضي وجهان في هذا

Jika seseorang berkata, “Aku mewakilkan kepadamu untuk menjual budak si Fulan atau memerdekakannya jika aku memilikinya, dan untuk menceraikan si Fulanah jika aku menikahinya,” kemudian ia benar-benar memiliki dan menikahi mereka, maka menurut riwayat dari al-Qadhi terdapat dua pendapat dalam hal ini.

والوجه عندي القطع بالفساد فإن الوكالة لا يصح تنجيزها والتصرف غير ممكن فلا فرق في المعنى بين هذه الصورة والصورة الأولى

Menurut pendapat saya, yang tepat adalah memastikan batalnya, karena akad wakalah tidak sah jika ditegaskan, dan tindakan pun tidak mungkin dilakukan. Maka, tidak ada perbedaan makna antara kasus ini dan kasus yang pertama.

باب مخاطبة المرأة بما يلزمها من الخلع وما لا يلزمها

Bab tentang berbicara kepada perempuan mengenai hal-hal yang menjadi kewajibannya dalam khulu‘ dan hal-hal yang tidak menjadi kewajibannya.

قال الشافعي رضي الله عنه ولو قالت له امرأته إن طلقتني ثلاثاًً فلك عليّ مائةُ درهم فهو كقول القائل بعني ثوبك هذا بمائة درهم إلى

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata: Jika seorang istri berkata kepada suaminya, “Jika engkau menceraikanku tiga kali, maka engkau berhak atasku seratus dirham,” maka hal itu seperti ucapan seseorang, “Juallah kepadaku pakaianmu ini seharga seratus dirham.”

آخره

Akhirnya.

هذا الباب غمرة الخلع وفيه خاصيته ومعظمُ مسائلِه وسبيلنا أن نصدّره بذكر قاعدة الخلع وطباعها ومبناها في الاشتراك والتمحض حتى نتخذَها أصلاً متبوعاً ومتعلَّقاً مرجوعاً وسنبين ما يجري من المسائل على السَّنَن وما يميل بعض الميل من الشواذ

Bab ini membahas secara mendalam tentang khulu‘, termasuk karakteristik khususnya dan sebagian besar permasalahannya. Cara kami adalah memulai dengan menyebutkan kaidah khulu‘, sifat-sifatnya, serta dasar hukumnya dalam hal keikutsertaan dan pemurnian, agar dapat dijadikan sebagai pokok yang diikuti dan rujukan yang kembali kepadanya. Kami juga akan menjelaskan permasalahan-permasalahan yang berjalan sesuai dengan ketentuan umum, maupun yang sedikit menyimpang sebagai pengecualian.

قال الأئمة الخلع إن حكمنا بكونه فسخاً فهو محمول على حقيقة المعاوضة من الجانبين فإنه فسخٌ بمالٍ وليس كالفسوخ التي تَرِدُ على العقود الأُخر إذا حكمنا بارتداد الأعواض من غير ذكرٍ لها والخلع إذا جعلناه فسخاً لا يَرِد على العوض المسمى في العقد وإنما يرد على بدلٍ جديد كما سبق تقريره وإذا كان فسخاً في نفسه حلّ محل حقيقة المعاوضة حتى لا يقبَل التعليقَ وهذا الباب العظيمُ القدر ليس موضوعاً لقول الفسخ فإن المسائل تتشعب من الطلاق على المال

Para imam ahli khulu‘ mengatakan bahwa jika kami memutuskan khulu‘ sebagai fasakh, maka hal itu didasarkan pada hakikat pertukaran dari kedua belah pihak, karena khulu‘ adalah fasakh dengan adanya pembayaran harta, dan tidak seperti fasakh-fasakh lain yang terjadi pada akad-akad lain, di mana kami memutuskan kembalinya barang-barang yang dipertukarkan tanpa penyebutan khusus. Adapun khulu‘, jika kami menganggapnya sebagai fasakh, maka ia tidak berlaku atas harta yang telah disebutkan dalam akad, melainkan berlaku atas pengganti yang baru sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika khulu‘ itu sendiri merupakan fasakh, maka ia menempati posisi hakikat pertukaran sehingga tidak menerima ta‘liq (penggantungan syarat). Bab yang agung ini tidak dikhususkan untuk istilah fasakh, karena permasalahan-permasalahan bercabang dari talak dengan pembayaran harta.

ونقول قبل الخوض في تمهيد القاعدة في لفظ السواد إشكال فإن الشافعي قال إذا قالت إن طلقتني ثلاثاًً فلك مائة درهم فهو كقول الرجل

Sebelum membahas penjelasan kaidah pada lafaz as-sawād, perlu dikemukakan bahwa terdapat permasalahan, yaitu Imam asy-Syafi‘i berkata: Jika seorang wanita berkata, “Jika aku ditalak tiga, maka bagimu seratus dirham,” maka hukumnya seperti ucapan seorang laki-laki.

بعْني ثوبك هذا بمائة درهم وهذا التشبيه فيه اشتباه فإن قول الرجل بعني ليس على صيغة التعليق وإنما هو التماس إيجاب وقول المرأة إن طلقتني تعليق منها فكيف يتشابهان ولو قال الرجل إن بعت مني فهذا اللفظ فاسدٌ لا ينعقد به البيع فنقول غرض الشافعي تشبيهُ أحد البابين بالثاني في وقوعهما التماساً بعوض ثم يقع الالتماس في كل باب على ما يليق به فالبيع لا يقبل التعليق فلم يَلِقْ به إلا الاستدعاءُ الجازم والخلع يتطرق إليه التعليقُ فيقبل الاستدعاءَ بصيغة التعليق فإذاً قصدُه المقابلة بينهما في المعنى لا في الصيغة

Juallah kepadaku pakaianmu ini seharga seratus dirham—perumpamaan ini mengandung kemiripan yang samar. Sebab, ucapan seseorang “juallah kepadaku” bukanlah dalam bentuk kalimat mu‘allaq (bersyarat), melainkan permintaan untuk terjadinya akad. Sedangkan ucapan seorang wanita “jika engkau menceraikanku” adalah bentuk ta‘liq (penggantungan) darinya. Maka, bagaimana keduanya bisa disamakan? Andaikan seseorang berkata, “jika engkau menjual kepadaku,” maka lafaz ini rusak dan tidak sah dijadikan akad jual beli. Maka kami katakan, maksud Imam Syafi‘i adalah menyerupakan salah satu dari dua bab dengan yang lain dalam hal keduanya sama-sama merupakan permintaan dengan imbalan (‘iwadh), kemudian permintaan itu dalam masing-masing bab terjadi sesuai dengan yang layak baginya. Jual beli tidak menerima ta‘liq, maka yang layak hanyalah permintaan yang tegas, sedangkan khulu‘ dapat dimasuki ta‘liq, sehingga ia menerima permintaan dengan bentuk ta‘liq. Maka, maksud beliau adalah membandingkan keduanya dalam makna, bukan dalam bentuk lafaz.

ونحن نبتدىء بعد ذلك قاعدةً تبين حقيقة الخلع ووضعَه من جانب الزوج وجانب المرأة والكلامُ في الطلاق على المال أو التفريع على أن الخلع طلاق

Setelah itu, kami akan memulai dengan sebuah kaidah yang menjelaskan hakikat khulu‘ dan kedudukannya dari sisi suami maupun dari sisi istri, serta pembahasan mengenai talak dengan kompensasi harta atau penjabaran atas dasar bahwa khulu‘ adalah talak.

فالخلع إذاً طلاق مقابَل بعوض وهو في جانب الرجل ينتمي إلى التعليق والمعاوضة والخلع في جانبها معاوضة نازعةٌ إلى الجعالة ثم من حيث اشتمل الخلع في جانب الرجل على الطلاق واستيداء البدل والمال تطرق إليه حكم التعليق في الطلاق ومعنى تطرقه إليه أنه قد يجري في مسائل الخلع موجب تعليق الطلاق ومن آثاره على الإجمال ألا يفرض الرجوع عنه فإن من علق الطلاق ثم رام الرجوع عن تعليقه لم يجد إلى ذلك سبيلاً

Maka khulu‘ itu adalah talak yang diberikan dengan imbalan. Dari sisi laki-laki, khulu‘ termasuk dalam kategori ta‘liq (penggantungan) dan mu‘awadhah (pertukaran). Sedangkan dari sisi perempuan, khulu‘ adalah mu‘awadhah yang cenderung kepada ja‘ālah (pemberian upah). Kemudian, karena khulu‘ dari sisi laki-laki mengandung unsur talak dan pengambilan pengganti atau harta, maka padanya berlaku hukum ta‘liq dalam talak. Maksud dari berlakunya hukum ta‘liq di sini adalah bahwa dalam beberapa kasus khulu‘, talak dapat digantungkan (ditunda pelaksanaannya). Salah satu akibatnya secara umum adalah tidak diperbolehkan menarik kembali talak tersebut; sebab, siapa yang telah menggantungkan talak lalu ingin menarik kembali penggantungannya, maka ia tidak menemukan jalan untuk itu.

وقد يتفرع في جانب الزوج حكم المعاوضة حتى يثبت له الرجوع عن قوله كما إذا قال الرجل لمن يخاطبه بعتك عبدي هذا بألفِ درهم ثم رجع عن قوله قبل أن يجيبه المخاطَب فالرجوع يثبت ولا ينعقد العقد بما يفرض من القبول بعد تقرير الرجوع عن الإيجاب

Kadang-kadang, dalam sisi suami, hukum mu‘āwaḍah dapat bercabang sehingga ia berhak menarik kembali ucapannya, seperti ketika seorang laki-laki berkata kepada orang yang diajak bicara, “Aku jual budakku ini kepadamu seharga seribu dirham,” lalu ia menarik kembali ucapannya sebelum lawan bicara menjawabnya. Maka penarikan kembali itu berlaku, dan akad tidak menjadi sah dengan adanya penerimaan yang terjadi setelah penarikan kembali dari ijāb.

فهذا معنى قولنا الخلع في جانبه يعتزي إلى التعليق وإلى المعاوضة وليس من حق المنتهي إلى هذا الفصل أن يعتقد تبيّن المقصود منه جزءاً جزءاً على طباع سائر الفصول بل ينبغي أن يعلم أن تمام البيان فيه موقوف على نجازه وسبيلُ التدريج إليه إطلاق الأصول على الإجمال ثم بيانها موقوف على انقضاء الفصل

Inilah makna dari pernyataan kami bahwa khulu‘ dari sisinya bersandar pada ta‘liq (penggantungan) dan pada mu‘āwadah (pertukaran). Tidak sepantasnya bagi orang yang sampai pada bagian ini untuk mengira bahwa maksud darinya dapat dipahami secara terperinci bagian demi bagian seperti pada bagian-bagian lain. Akan tetapi, hendaknya diketahui bahwa penjelasan yang sempurna tentangnya bergantung pada penyelesaiannya, dan cara bertahap untuk memahaminya adalah dengan mengemukakan ushul (prinsip-prinsip dasar) secara global terlebih dahulu, kemudian penjelasannya bergantung pada selesainya pembahasan bagian ini.

وذكر الأئمة أن الخلع في جانبها معاوضة وزاد المحققون أنها معاوضة نازعةٌ إلى الجعالة ثم قد يجري لها لفظ التعليق في استدعاء الطلاق بأن تقول إن طلقتني فلك ألف فإن ظن المبتدىء الفطن أن هذا يناقض ما قدمناه من اختصاص التعليق بجانب الرجل قلنا له لسنا ننكر جريان صيغة التعليق في جانبها فإن صيغة التعليق تجري في الجعالات إذ يقول القائل إن رددت عبدي الآبق فلك كذا كذا وهذا سائغ

Para imam mazhab menyebutkan bahwa khulu‘ dari pihak istri adalah suatu bentuk mu‘āwadah (pertukaran), dan para peneliti menambahkan bahwa mu‘āwadah ini cenderung kepada konsep ju‘ālah. Kadang-kadang, lafaz ta‘liq (penggantungan syarat) juga digunakan oleh istri dalam meminta talak, misalnya dengan mengatakan: “Jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham).” Jika ada orang cerdas yang baru belajar mengira bahwa hal ini bertentangan dengan apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, yaitu bahwa ta‘liq itu khusus di pihak laki-laki, maka kami katakan kepadanya: Kami tidak mengingkari berlakunya bentuk ta‘liq di pihak istri, karena lafaz ta‘liq juga berlaku dalam ju‘ālah, seperti seseorang berkata: “Jika kamu mengembalikan budakku yang kabur, maka bagimu sekian-sekian.” Dan hal ini dibolehkan.

والغرض من الفصل بين الجانبين أن جانب الزوج يشتمل على تعليق الطلاق وقد يجري على صيغة لا يُفرض الرجوع عنها وليس في جانبها تعليقٌ لا يفرض الرجوع عنه فإنها إذا قالت إن طلقتني فلك ألفٌ ثم قالت رجعت عما قلت فإذا طلقها لم يلزمها شيء ويقع الكلام في أن الطلاق هل يقع أم لا

Tujuan dari pemisahan antara kedua sisi adalah bahwa sisi suami mencakup talak yang digantungkan, dan bisa saja terjadi dengan lafaz yang tidak disyaratkan untuk ditarik kembali. Sedangkan pada sisi istri, tidak ada penggantungan yang tidak disyaratkan untuk ditarik kembali. Sebab, jika istri berkata, “Jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham),” lalu ia berkata, “Aku menarik kembali ucapanku,” kemudian suaminya menceraikannya, maka tidak ada sesuatu pun yang wajib atasnya. Dan pembahasan selanjutnya adalah apakah talak itu jatuh atau tidak.

و نفصله في المسائل إن شاء الله تعالى

Dan kami akan merincinya dalam pembahasan-pembahasan berikut, insya Allah Ta‘ala.

ولو قال الرجل إن أعطيتِني ألفاًً فأنت طالق ثم قال على الاتصال قبل أن تعطيه رجعتُ عما قلت لم يكن لرجوعه حكمٌ فالنفي والإثبات في التعليق راجع إلى ما ذكرناه من قبلُ إنّ في جانب الزوج الطلاقَ يعلّقُه على وجه لا يملك الرجوع عنه وليس في جانبها الطلاقُ وإنما في جانبها سؤال الطلاق فالتطليق بالمال يكون في معنى التعليق وسؤال الطلاق في معنى الجعالة

Jika seorang laki-laki berkata, “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak,” kemudian ia berkata secara langsung sebelum istrinya memberinya (uang tersebut), “Aku menarik kembali ucapanku tadi,” maka penarikannya itu tidak memiliki pengaruh hukum. Penafian dan penetapan dalam masalah ta‘liq (penggantungan talak) kembali kepada apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa di pihak suami, talak dapat digantungkan dengan cara yang tidak bisa ia tarik kembali, sedangkan di pihak istri tidak ada talak, melainkan hanya permintaan talak. Maka, penjatuhan talak dengan imbalan harta termasuk dalam makna ta‘liq, dan permintaan talak termasuk dalam makna ju‘ālah.

فلا يمتنع جريان صيغة التعليق من الجانبين فإن صيغة التعليق تجري في الجعالة والطلاق وأما الرجوع فقد يمتنع من جانب الزوج لأنه تعليق للطلاق إن عَلّقَ وتعليق الطلاق لا يقبل الرجوع والتعليق في جانبها يقبل الرجوع فإنها تسأل الطلاقَ بمالٍ وسؤال الطلاق يقبل الرجوع

Maka tidak terlarang penggunaan bentuk ta‘liq (penggantungan) dari kedua belah pihak, karena bentuk ta‘liq berlaku dalam ja‘ālah dan talak. Adapun rujuk, maka bisa jadi terlarang dari pihak suami karena itu merupakan penggantungan talak jika ia menggantungkan, dan penggantungan talak tidak menerima rujuk. Sedangkan penggantungan dari pihak istri dapat menerima rujuk, karena ia meminta talak dengan imbalan harta, dan permintaan talak dapat menerima rujuk.

ثم جَمَع الحذاق مسائل متفنّنةً يثبت في بعضها حكمُ المعاوضة في جانب الزوج ويثبت في بعضها حكمُ التعليق المحض ويجتمع في بعضها حكم التعليق والمعاوضة و إذا أطلقنا التعليق في أثناء الكلام بعد هذا عنينا تعليقَ الطلاق الذي لا يقبل الرجوع فنأتي بالمسائل ثم نذكر بعدها وجهَ التحقيق ثم نذكر تحقيق الكلام في جانبها ونخوض بعد الانتجاز في مسائل الباب فنبدأ بجانبه فنقول

Kemudian para ahli mengumpulkan berbagai permasalahan yang beragam, di mana pada sebagian permasalahan tersebut berlaku hukum mu‘āwaḍah di pihak suami, pada sebagian lainnya berlaku hukum ta‘līq murni, dan pada sebagian lainnya lagi berkumpul hukum ta‘līq dan mu‘āwaḍah. Jika setelah ini kami menyebutkan istilah ta‘līq di tengah pembahasan, yang kami maksud adalah ta‘līq ṭalāq yang tidak dapat ditarik kembali. Kami akan menyebutkan permasalahan-permasalahan tersebut, kemudian menjelaskan sisi penelitiannya, lalu menguraikan penjelasan pada bagiannya, dan setelah pembahasan tentang penyelesaian, kami akan membahas permasalahan-permasalahan dalam bab ini. Maka kami mulai dari bagiannya, lalu kami katakan:

المعاوضة تُغلَّب في الحكم فإن الرجل إذا قال لامرأته طلقتك على ألف أو قال أنت طالق على ألف فلو أراد الرجوع وصيغة لفظه على ما ذكرناه صح رجوعه فلو قبلت بعد ذلك فلا حكم لقبولها والنكاح قائم وما تقدم من لفظ الطلاق ينتقض برجوعه وهذا من أحكام المعاوضة فالخلع إذاً في جانبه فيما ذكرناه ينزل منزلة البيع فإن من قال بعت عبدي بألفٍ ثم رجع قَبْل القبول انقطع الإيجاب بالرجوع

Pertukaran (mu‘āwaḍah) lebih diutamakan dalam penetapan hukum. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku menceraikanmu dengan imbalan seribu,” atau berkata, “Engkau tertalak dengan imbalan seribu,” lalu ia ingin menarik kembali ucapannya, dan redaksi ucapannya seperti yang telah kami sebutkan, maka penarikannya itu sah. Jika setelah itu istrinya menerima (persyaratan tersebut), maka penerimaannya tidak memiliki konsekuensi hukum, dan pernikahan tetap berlangsung, serta ucapan talak yang telah diucapkan sebelumnya menjadi batal karena penarikannya. Ini merupakan salah satu hukum pertukaran (mu‘āwaḍah). Maka khulu‘ dalam hal ini, sebagaimana yang telah kami sebutkan, diposisikan seperti jual beli. Sebab, jika seseorang berkata, “Aku jual budakku dengan harga seribu,” lalu ia menarik kembali ucapannya sebelum ada penerimaan, maka ijab tersebut batal karena penarikan kembali.

ومما يثبت في أحكام المعاوضة أنه يختص القبول بالمجلس كما في البيع

Termasuk hal yang ditetapkan dalam hukum mu‘āwaḍah adalah bahwa penerimaan (qabūl) terbatas pada majelis, sebagaimana dalam jual beli.

ومنها أنه إذا قال طلقتك ثلاثاً على ألف فقالت قبلت طلقة بثلث ألف فلا يصح ذلك ولا يقع شيء كما لو قال بعتك هذا العبد بألف فقال المخاطب قبلت البيع في ثُلثه بثلث ألف فلا يصح البيع لاختلاف الإيجاب والقبول

Di antaranya adalah jika seorang suami berkata, “Aku menceraikanmu tiga kali dengan tebusan seribu,” lalu istrinya berkata, “Aku terima satu talak dengan sepertiga dari seribu,” maka hal itu tidak sah dan tidak terjadi apa-apa, sebagaimana jika seseorang berkata, “Aku jual budak ini kepadamu seharga seribu,” lalu orang yang diajak bicara berkata, “Aku terima jual beli atas sepertiganya dengan sepertiga dari seribu,” maka jual beli itu tidak sah karena adanya perbedaan antara ijab dan kabul.

فهذه مرامز توضّح أنه قد يثبت حكم المعاوضة في جانبه

Maka, ini adalah isyarat-isyarat yang menjelaskan bahwa hukum mu‘āwaḍah dapat berlaku pada salah satu sisinya.

وقد يغلب التعليقُ في مثل قوله متى ما أعطيتني ألفاًً فأنت طالق أو متى شئت فأنت طالق أو متى ما ضمِنتِ ألفاًً فأنت طالق فأحكام التعليق تتمحّض في هذه الصور فإن الزوج لو أراد رجوعاً وألفاظه ما ذكرناه لم يمكنه وهذه من مقتضيات التعليق في التطليق ولا تختص أحكام هذه المسائل بالمجلس فلو أعطت وضمنت أو شاءت بعد انفصال المجلس حكمنا بوقوع الطلاق كما لو قال متى ما دخلت الدار فأنت طالق فلا رجوع ولا اختصاص بزمانٍ ولا حاجة إلى قبولٍ من جهتهما وهذا من موجبات التعليق

Terkadang bentuk ta‘liq (penggantungan) lebih dominan dalam ungkapan seperti, “Kapan pun engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak,” atau “Kapan pun engkau menghendaki, maka engkau tertalak,” atau “Kapan pun engkau menjamin seribu, maka engkau tertalak.” Maka hukum-hukum ta‘liq berlaku murni dalam kasus-kasus seperti ini. Jika suami ingin menarik kembali (ucapannya), sementara lafal yang diucapkannya seperti yang telah disebutkan, maka hal itu tidak mungkin baginya. Ini termasuk konsekuensi ta‘liq dalam talak, dan hukum-hukum dalam masalah ini tidak terbatas pada satu majelis saja. Jika istri memberikan (uang) atau menjamin, atau menghendaki setelah majelis berakhir, maka kami memutuskan jatuhnya talak, sebagaimana jika suami berkata, “Kapan pun engkau masuk rumah, maka engkau tertalak.” Maka tidak ada hak rujuk, tidak terbatas pada waktu tertentu, dan tidak membutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak. Ini termasuk hal-hal yang menjadi konsekuensi ta‘liq.

وقد تجري مسائلُ يجتمع فيها حكم التعليق والمعاوضةِ جميعاً فإذا

Terkadang terdapat permasalahan yang di dalamnya terkumpul hukum ta‘liq (penggantungan) dan mu‘āwadah (pertukaran) sekaligus, sehingga…

قال إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق أو إن ضمنتِ ألفاًً فأنت طالق وإن شئت فأنت طالق على ألف فيثبت في هذه الألفاظ حكم التعليق وحكم المعاوضة أما حكم التعليق فلا يملك الزوج الرجوعَ على قياس تعليقه الطلاق ولا حاجة إلى قبولها لفظاً على حسب قبولها المخالعة المطلقة المعقودة على نحو صيغة التعليق فإن كان التعليق بالإعطاء فهو فعلٌ فإن أتت به وقع الطلاق وإن كان معلّقاً بالضمان أو المشيئة فلا بد من اللفظ وضمانها ومشيئتها تحقيق لصفة التعليق وليس في معنى قبول المخالعة المطلقة التي ينزل القبول في مثلها منزلة القبول في البيع

Ia berkata: Jika engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak; atau jika engkau menjamin seribu, maka engkau tertalak; dan jika engkau menghendaki, maka engkau tertalak atas seribu. Dalam lafaz-lafaz ini berlaku hukum ta‘liq (penggantungan) dan hukum mu‘awadhah (pertukaran). Adapun hukum ta‘liq, maka suami tidak berhak menarik kembali menurut qiyās pada penggantungan talak, dan tidak diperlukan adanya penerimaan secara lisan dari istri sebagaimana pada penerimaan khulu‘ mutlak yang diakadkan dengan bentuk ta‘liq. Jika ta‘liq itu dengan pemberian, maka itu adalah perbuatan; jika istri melakukannya, jatuhlah talak. Namun jika digantungkan pada penjaminan atau kehendak, maka harus dengan ucapan, penjaminan, dan kehendak dari istri sebagai realisasi dari sifat ta‘liq, dan ini tidak bermakna seperti penerimaan khulu‘ mutlak yang penerimaannya dipersamakan dengan penerimaan dalam jual beli.

وممّا يَثبتُ مضاهياً لأحكام المعاوضات في هذه المسائل الأخيرة أنا نشترط أن يتحقق متعلّق الطلاق على الفور في زمان اتصال القبول بالإيجاب فإذا قال إن أعطيتِني فليقع الإعطاء على الفور ولو قال إن دخلت الدار فأنت طالق فلا فور

Dan termasuk yang tetap berlaku menyerupai hukum-hukum mu‘āwadah dalam masalah-masalah terakhir ini adalah bahwa kami mensyaratkan terwujudnya objek talak secara langsung pada waktu bersambungnya kabul dengan ijab. Maka jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku,” maka pemberian itu harus terjadi secara langsung. Namun jika ia berkata, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” maka tidak disyaratkan langsung.

فهذه تنبيهات والتحقيق بين أيدينا

Maka inilah beberapa penjelasan dan pembahasan yang ada di hadapan kita.

ومما رأيت إثباته هاهنا سؤالٌ وحكاية جوابٍ وهذا قضّيتُ العجبَ منه ولست أثبته لأنقص به أحداً فإنما غرضي منه التنبيهُ على الوجه الفاسد حتى إذا أعقبتُه الوجهَ الحق استفاد الناظر مُدركَ الحق فالتزمه ومسلكَ الباطل فاجتنبه

Dan di antara hal yang aku pandang perlu untuk dicantumkan di sini adalah sebuah pertanyaan dan kisah jawaban atasnya. Aku benar-benar merasa heran terhadap hal ini, dan aku tidak mencantumkannya untuk merendahkan siapa pun. Tujuanku hanyalah untuk menunjukkan sisi yang keliru, sehingga ketika aku sertakan setelahnya sisi yang benar, pembaca dapat memahami kebenaran lalu mengikutinya, serta mengetahui jalan kebatilan lalu menjauhinya.

قال من لا أعدل به أحداً من بني الزمان سألت القاضي وهو على التحقيق حَبْر المذهب لِم غلّبنا في بعض هذه المسائل حكمَ المعاوضة وغلّبنا في بعضها حكمَ التعليق وأثبتنا الأحكام على الاشتراك في بعضها وحكى في جوابه أنه قال

Orang yang tidak aku samakan dengan siapa pun dari generasi ini berkata—aku pernah bertanya kepada qadhi, yang sungguh-sungguh merupakan ulama besar mazhab, mengapa dalam sebagian masalah ini kita lebih mengedepankan hukum mu‘āwaḍah, sementara dalam sebagian lainnya kita lebih mengedepankan hukum ta‘liq, dan dalam sebagian lainnya kita menetapkan hukum berdasarkan kesamaan. Dalam jawabannya, beliau menyampaikan bahwa ia berkata…

لما اشتمل الخلعُ من جانبه على التعليق والمعاوضة وفَّرنا على الأصلين حُكْمَيْهما

Karena khulu‘ dari sisinya mengandung unsur ta‘liq (penggantungan) dan mu‘āwadah (pertukaran), maka kami menerapkan hukum kedua asal tersebut.

فعاد السائل مُباحثاً وقال لم أثبتنا حكم المعاوضة حيث أثبتنا ولم أثبتنا حكمَ التعليق حيث أثبتنا وحكى من جوابه أنه لما ثبت الشبهان ولم يترجح أحدهما على الثاني فلا معاب في إثبات الحُكْمين

Kemudian penanya kembali bertanya dan berkata: Mengapa kami menetapkan hukum mu‘āwaḍah di tempat kami menetapkannya, dan tidak menetapkan hukum ta‘alluq di tempat kami menetapkannya? Dalam jawabannya disebutkan bahwa ketika kedua kemiripan itu telah tetap dan tidak ada salah satunya yang lebih kuat dari yang lain, maka tidak ada cela dalam menetapkan kedua hukum tersebut.

ثم عاد السائل قائلاً هلا عكسنا فأثبتنا حكمَ التعليق حيث أثبتنا حكم المعاوضة وأثبتنا حكم المعاوضة حيث أثبتنا حكم التعليق وحكى من جوابه إنا

Kemudian penanya kembali berkata, “Bagaimana jika kita membaliknya, lalu menetapkan hukum ta‘liq di tempat kita menetapkan hukum mu‘āwadah, dan menetapkan hukum mu‘āwadah di tempat kita menetapkan hukum ta‘liq?” Dan ia menyebutkan dari jawabannya, “Sesungguhnya kami…”

لو فعلنا ذلك لتوجه السؤال كما توجه الآن وتسلسل الكلام

Jika kita melakukan itu, maka pertanyaan akan muncul sebagaimana yang terjadi sekarang, dan pembicaraan akan berlanjut secara berurutan.

ولا أدري علام نعمل هذه المفاوضة وما فيها من السؤال والجواب وهي مبنية على أن ما أثبتنا من أحكام المعاوضة وأحكام التعليق في المواضع التي ذكرناها إنما تحكّمنا بها وبتعيين محالها وسببُ جمعنا لها اشتمال الخلع على التعليق والعوض ثم انبنى الجواب الأخير على هذا العقد إذ قال لو قلبنا الأمر لكان السؤال على هذا النسق وكيف يسوغ أن يعتقد الجواب التحكُّم في دين الله من غير ثبتٍ ودليلٍ يقتضي تخصيصَ كل حكم بمحله ولست أحمل ذلك إلا على الوهن وزيادات الكلام التي لا يحتفل بها ولا تعد من الأصول وقد لا يخلو عنها كلام المحققين

Saya tidak tahu untuk apa kita melakukan perdebatan ini beserta tanya jawab di dalamnya, padahal itu didasarkan pada anggapan bahwa hukum-hukum mu‘āwaḍah dan hukum-hukum ta‘līq yang telah kami tetapkan pada tempat-tempat yang telah kami sebutkan hanyalah hasil penetapan kami sendiri, begitu pula dalam menentukan tempat-tempatnya. Alasan kami mengumpulkannya adalah karena khulu‘ mengandung unsur ta‘līq dan ‘iwaḍ. Kemudian, jawaban terakhir dibangun di atas akad ini, yaitu ketika dikatakan: “Jika kita membalik urusan ini, maka pertanyaannya akan mengikuti pola ini.” Bagaimana mungkin boleh diyakini bahwa jawaban tersebut hanyalah penetapan semata dalam agama Allah tanpa dasar dan dalil yang mengharuskan pengkhususan setiap hukum pada tempatnya? Saya tidak menganggap hal itu kecuali sebagai kelemahan dan tambahan kata-kata yang tidak perlu diperhatikan dan tidak termasuk dalam pokok-pokok pembahasan, meskipun terkadang tidak terhindarkan dalam pembicaraan para ahli.

ونحن نقول والله المستعان وعليه التكلان الخلع في جانب الرجل طلاقٌ على مال أثبته على الصيغة المتهيئة للمعاوضات المحضة يثبت فيها أحكام المعاوضة من جواز الرجوع والاختصاص بالمجلس وامتناع وقوع الجواب مخالفاً للإيجاب وذلك إذا قال خالعتك أو طلقتك على مالٍ يذكره ويسميه فإذا وقع اللفظ كذلك والمعاوضة المحضة ليس فيها صيغة التعليق غلب حكم المعاوضة

Kami katakan, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan serta hanya kepada-Nya kami bertawakal, bahwa khulu‘ dari pihak laki-laki adalah talak dengan imbalan harta yang ditetapkan berdasarkan lafaz yang disusun untuk akad-akad mu‘awadhah murni, sehingga berlaku padanya hukum-hukum mu‘awadhah seperti bolehnya menarik kembali, kekhususan majelis, dan tidak bolehnya jawaban yang terjadi bertentangan dengan ijab. Hal itu terjadi apabila seorang laki-laki berkata, “Aku khulu‘-kan engkau” atau “Aku talak engkau dengan imbalan harta” yang disebutkan dan ditentukan. Maka apabila lafaz tersebut diucapkan demikian, dan mu‘awadhah murni tidak mengandung lafaz ta‘liq (penggantungan), maka hukum mu‘awadhah lebih dominan.

وإن قال متى ما أعطيتِني ألفاًً فأنت طالق فقد جاء بصيغة التعليق وبعُد الفرضُ من المعاوضة المحضة فتثبت أحكام التعليق التي منها امتناع الرجوع وعدم اشتراط القبول وعدم التخصص بالمجلس وقُرب الزمان و المتبع في ذلك صيغة اللفظ فما كان تعليقاً امتنع الرجوع ولأجله لم يفتقر إلى القبول ولم يختص بزمان لأن قوله متى ما يتضمن التصريحَ بهذا الزمان فقد جرت هذه الأحكام على موجَب صيغة اللفظ

Dan jika ia berkata, “Kapan pun engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak,” maka ia telah menggunakan bentuk ta‘liq (penggantungan), dan syarat tersebut jauh dari akad mu‘awadhah murni, sehingga berlaku hukum-hukum ta‘liq, di antaranya larangan rujuk, tidak disyaratkan adanya kabul, tidak terbatas pada majelis tertentu, dan kedekatan waktu. Yang menjadi acuan dalam hal ini adalah bentuk lafaznya; maka apa yang berupa ta‘liq, maka tidak boleh rujuk, dan karena itu tidak membutuhkan kabul, serta tidak terbatas pada waktu tertentu, karena ucapannya “kapan pun” mengandung penegasan pada waktu tersebut. Maka hukum-hukum ini berlaku sesuai dengan konsekuensi bentuk lafaznya.

وإذا قال إن أعطيتني فهذا تعليق فامتنع الرجوع عنه ولكن قول القائل إن أعطيتِني ليس صريحاً في هذا الوقت ولا ينكر صلاحيته للزمان المتراخي والزمان المتصل فلما تقابل الاحتمالان وفي اللفظ ذكر العوض والمعاوضةُ تقتضي الفور غلّبنا أحدَ الاحتمالين لذلك فجرى هذا مأخوذاً من اللفظ ومعنى المعاوضة ولكن كان اللفظ صريحاً في التعليق فامتنع الرجوع وتردد في الزمان متردِّدٌ مردِّداً أحد الاحتمالين بموجب المعاوضة

Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku,” maka ini adalah suatu ta‘liq (penggantungan), sehingga tidak boleh menarik kembali ucapannya. Namun, ucapan seseorang, “Jika kamu memberiku,” tidak secara tegas menunjukkan waktu sekarang, dan juga tidak menafikan kemungkinannya untuk waktu yang akan datang maupun waktu yang bersambung. Ketika dua kemungkinan ini saling berhadapan, dan dalam lafaz tersebut terdapat penyebutan ‘iwadh (imbalan), sementara mu‘awadhah (pertukaran) menuntut adanya kesegeraan, maka kami menguatkan salah satu dari dua kemungkinan tersebut. Oleh karena itu, hal ini diambil dari lafaz dan makna mu‘awadhah. Namun, karena lafaznya secara tegas merupakan ta‘liq, maka tidak boleh menarik kembali ucapannya, dan keraguan dalam waktu menyebabkan keraguan dalam menguatkan salah satu kemungkinan berdasarkan tuntutan mu‘awadhah.

هذا مبنى الاشتراك وإذا استندت هذه الأحكام إلى موجَبات الألفاظ فأي حاجة إلى هذا التردد الغث الذي حكيناه في الجواب

Inilah dasar adanya makna bersama. Jika hukum-hukum ini didasarkan pada konsekuensi lafaz, maka untuk apa diperlukan keraguan yang lemah seperti yang telah kami sebutkan dalam jawaban?

فإن قيل لم جوزتم ترديد هذه العبارات ثم رتبتم على الألفاظ مقتضياتها قلنا فيما مهدناه جوابُ هذا فإن الخلع لما كان طلاقاً بمال فإلى

Jika ada yang bertanya, “Mengapa kalian membolehkan penggunaan ungkapan-ungkapan ini secara bergantian, lalu kalian menetapkan konsekuensi-konsekuensi hukum berdasarkan lafaz-lafaz tersebut?” Kami katakan, jawaban dari pertanyaan ini telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu karena khulu‘ merupakan talak dengan imbalan harta, maka…

الزوج أن يوقعه على صيغة المعاوضة وله أن يوقعَه على صيغة التعليق وسببُ جواز إيقاعه على صيغة المعاوضة ما فيه من العوض فإذا سوّغ الشرع مقابلةَ الطلاق بالمال كان كتسويغه مقابلةَ عبدٍ بمال فهذا هو الذي جوز إيقاعه معاوضةً فإن غمض على الإنسان جوازُ مقابلة الطلاق بالمال فهذا خروج عن مقصود الكتاب وتشوّفٌ إلى قاعدة كلية إن أحببنا اقتصرنا فيها على التعبد وإن أحببنا ذكرنا الكلمة الكليّة وهي حصولها إذا أرادت الافتداء على ما يُشعر به قوله تعالى فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ وسبب جواز إيقاعه على صيغة التعليق أن الطلاق يقبل التعليق فلا امتناع في تعليقه بمالٍ وهذا هيّنٌ و الألفاظُ المشتركة منزّلة على جواز التمحض في الوجهين

Seorang suami boleh menjatuhkan talak dengan menggunakan lafaz mu‘āwaḍah (pertukaran), dan ia juga boleh menjatuhkannya dengan lafaz ta‘līq (penggantungan). Alasan diperbolehkannya talak dengan lafaz mu‘āwaḍah adalah karena di dalamnya terdapat imbalan. Jika syariat membolehkan talak sebagai imbalan harta, maka hal itu seperti syariat membolehkan pertukaran seorang budak dengan harta. Inilah yang membolehkan talak dijatuhkan sebagai mu‘āwaḍah. Jika seseorang merasa sulit memahami bolehnya talak sebagai imbalan harta, maka itu berarti ia keluar dari maksud kitab (al-Qur’an) dan mencari-cari kaidah umum; jika kita mau, kita cukupkan dengan aspek ta‘abbud (penghambaan), dan jika kita mau, kita sebutkan kaidah umumnya, yaitu terjadinya talak jika istri ingin menebus diri, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala: “Maka tidak ada dosa atas keduanya dalam hal yang diberikan istri sebagai tebusan dirinya.” Alasan diperbolehkannya talak dengan lafaz ta‘līq adalah karena talak dapat digantungkan (pada suatu syarat), sehingga tidak ada larangan untuk menggantungkan talak dengan harta, dan ini adalah perkara yang mudah. Lafaz-lafaz yang memiliki makna ganda dapat diarahkan pada kebolehan kedua sisi tersebut.

فإن قيل هلا قلتم الطلاق لا سبيل إلى الرجوع عنه كيف فرض قلنا إلى مالك الطلاق التصرف فيه فإن نجّزه انتجز وإن جرد تعليقه فحكمه امتناع الرجوع وإن أدرجه في صيغة معاوضة فكأنه يعلّقه إن لم يرجع وهذا بمثابة إفضاء الكتابة الفاسدة إلى العتق على قاعدة التعليق ثم الرجوع فيها ممكن لأنها أُثبتت على صيغة يتطرق إليها جوازُ الفسخ ومالكُ العتق لم يجزم تعليقه وهذا الفن ليس هو بالعسر

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa talak tidak ada jalan untuk rujuk darinya, bagaimana hal itu bisa dibayangkan?” Kami katakan, pemilik hak talak berwenang untuk bertindak atasnya; jika ia mengeksekusinya secara langsung, maka talak itu langsung terjadi. Jika ia hanya menggantungkan talak, maka hukumnya adalah tidak boleh rujuk. Namun jika ia memasukkannya dalam bentuk akad mu‘āwadah (pertukaran), maka seolah-olah ia menggantungkan talak itu, kecuali jika ia menarik kembali. Hal ini serupa dengan kasus penulisan akad pembebasan budak yang rusak, yang mengarah pada pembebasan budak berdasarkan kaidah ta‘liq (penggantungan), kemudian masih memungkinkan untuk menarik kembali, karena akad itu ditegakkan dengan bentuk yang memungkinkan adanya pembatalan, dan pemilik hak pembebasan budak tidak menegaskan penggantungannya. Dan bidang ini bukanlah sesuatu yang sulit.

وكل ما ذكرناه في بيان تردد الخلع من جانب الرجل

Dan semua yang telah kami sebutkan dalam penjelasan tentang keraguan khul‘ dari pihak laki-laki.

فأما ما ذكرناه من كون الخلع في جانبها معاوضةً نازعةً إلى الجعالة فإنا نبيّن هذا بالمسائل فنقول إذا قالت إن طلقتني فلك ألف إنما يحتمل صيغة التعليق منها على قاعدة الجعالة تنزيلاً لقولها منزلة قول القائل إن رددت عليّ عبدي الآبق فلك كذا

Adapun apa yang telah kami sebutkan tentang khulu‘ dari pihak istri sebagai suatu mu‘awadhah (pertukaran) yang cenderung kepada ja‘alah, maka kami akan menjelaskan hal ini dengan beberapa permasalahan. Kami katakan, apabila seorang istri berkata, “Jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham),” sesungguhnya bentuk ta‘liq (penggantungan) dari pihak istri ini mengikuti kaidah ja‘alah, sebagaimana ucapan seseorang, “Jika engkau mengembalikan budakku yang lari kepadaku, maka bagimu sekian.”

وإن قالت طلقني ثلاثاًً على ألف فطلقها واحدة استحق ثلث الألف

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikannya satu kali, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu tersebut.

ونفرّق في هذا بين جانب الرجل والمرأة فإن الرجل إذا قال لها أنت طالق ثلاثاًً بألف فقالت قبلت طلقة بثلث ألف لم يقع شيء وإذا قالت طلقني ثلاثاً بألف فطلقها واحدة استحق ثلث الألف والفارق أن قوله أنت طالق ثلاثاًً بألف على صيغة المعاوضة وهذا يستدعي في جانبها قبولاً على نعت الموافقة فإذا لم يكن قبولها موافقاً لإيجاب الزوج كان باطلاً فكأن لا قبول فهذا خارج على الأصل المقدّم

Kita membedakan dalam hal ini antara pihak laki-laki dan perempuan. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali dengan seribu (dirham),” lalu si istri berkata, “Aku terima talak satu dengan sepertiga seribu,” maka tidak terjadi apa-apa. Namun jika si istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan seribu,” lalu suami menceraikannya satu kali, maka suami berhak atas sepertiga seribu. Perbedaannya adalah, ucapan suami “Engkau tertalak tiga kali dengan seribu” berbentuk akad mu‘āwaḍah (pertukaran), yang menuntut adanya penerimaan dari pihak istri dengan persetujuan yang sama. Jika penerimaan istri tidak sesuai dengan ijab suami, maka batal, seakan-akan tidak ada penerimaan. Maka ini keluar dari kaidah yang telah dijelaskan sebelumnya.

وإذا قالت طلقني ثلاثاًً على ألف فطلقها واحدة فثبوت قسطٍ من العوض يخرّج على قاعدة الجعالة فإن من قال رُدَّ عبيدي الأوابق ولك كذا فإذا ردّ واحداً منهم استحق بحصته

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikannya satu kali, maka penetapan bagian dari imbalan itu didasarkan pada kaidah ju‘ālah. Sebab, jika seseorang berkata, “Kembalikan budak-budakku yang melarikan diri, dan engkau akan mendapat sekian,” lalu orang itu mengembalikan salah satu dari mereka, maka ia berhak atas bagian imbalannya.

وإذا قالت امرأتان لزوجهما طلقنا بألف فطلق إحداهما استحق مقداراً من العوض وفيما يستحقه قولان سبق أصلهما وسيأتي تفصيلهما في المسائل إن شاء الله تعالى وهذا أيضاًًً خارج على قاعدة الجعالة

Jika dua orang wanita berkata kepada suami mereka, “Ceraikan kami dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikan salah satu dari mereka, maka ia berhak atas sebagian dari imbalan tersebut. Terdapat dua pendapat mengenai besaran yang berhak ia terima, yang asal-usulnya telah disebutkan sebelumnya dan rinciannya akan dijelaskan pada pembahasan masalah-masalah berikutnya, insya Allah Ta‘ala. Hal ini juga termasuk dalam kaidah ju‘ālah.

ثم المرأةُ في جميع الصور تملك الرجوعَ عن قولها قبل صدور الجواب عن الزوج سواء ذكرت صيغةَ التعليق فقالت إن طلقتني أو ذكرت صيغة

Kemudian, dalam semua situasi, seorang perempuan berhak untuk menarik kembali ucapannya sebelum ada jawaban dari suami, baik ia mengucapkan dengan lafaz ta‘liq (penggantungan) seperti berkata, “Jika engkau menceraikanku,” maupun dengan lafaz lainnya.

الاستدعاء فقالت طلقني بألف وذلك بأنها إن استدعت أو علقت فليس في جانبها إلا بذل العوض غير أنا نحتمل ما يسوغ في الجعالات من جهة أنها تلتمس من زوجها أمراً قابلاً للتعليق بالأغرار والأخطار فاحتمل منها التعليق وهذا كما ذكرناه في الجعالة فنا احتملنا فيها صيغة التعليق لاتّصاف المطلوب بالغرر من جهة الجهالة وهذا تأسيس الكلام في بيان الخلع من جانبها

Permintaan itu, ia berkata: “Ceraikan aku dengan seribu.” Hal ini karena jika istri yang meminta atau menggantungkan (talak), maka dari pihaknya tidak ada kecuali memberikan kompensasi (‘iwad), hanya saja kami membolehkan apa yang diperbolehkan dalam ja‘ālah, karena ia meminta dari suaminya sesuatu yang dapat digantungkan pada risiko dan ketidakpastian, maka dari pihak istri dibolehkan adanya penggantungan. Ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam ja‘ālah, bahwa kami membolehkan bentuk penggantungan karena hal yang diminta mengandung unsur gharar dari sisi ketidakjelasan. Inilah dasar pembahasan dalam penjelasan tentang khulu‘ dari pihak istri.

ومما يتصل بهذا أنها لو قالت متى ما طلقتني فلك ألف فظاهر لفظها يقتضي التصريح بالزمان الممتد وقد أوضحنا في جانب الرجل أنه إذا قال متى أعطيتني ألفاًَ فأنت طالق فالإعطاء لا يتخصص بالزمان القريب فلو أعطت على الاتصال أو بعد طول الزمان وقع الطلاق

Terkait dengan hal ini, jika seorang wanita berkata, “Kapan pun engkau menceraikanku, maka bagimu seribu,” maka lafaz zahir ucapannya menunjukkan penegasan pada waktu yang berkelanjutan. Kami telah menjelaskan pada sisi laki-laki bahwa jika ia berkata, “Kapan pun engkau memberiku seribu, maka engkau tertalak,” maka pemberian itu tidak terbatas pada waktu yang dekat saja. Jika ia memberikan secara langsung atau setelah waktu yang lama, maka talak tetap jatuh.

وإذا قالت المرأة متى طلقتني فلك عليّ ألف فإن طلقها على الاتصال استحق العوض وإن أخر ثم طلق لم يستحق العوضَ

Jika seorang wanita berkata, “Kapan pun engkau menceraikanku, maka engkau berhak atasku seribu,” lalu suaminya menceraikannya secara langsung, maka ia berhak mendapatkan kompensasi tersebut. Namun jika suaminya menunda lalu menceraikannya, maka ia tidak berhak mendapatkan kompensasi.

وهذا موضع وقوفِ وتأمل من وجوهٍ فنكشف المباحثة عنها أحدها أنا جعلنا الخلع في جانبها في معنى الجعالة والجعالة تقبل ربطَ المقصود بزمان متراخٍ فإن الرجل إذا قال إن رددت عليّ عبدي الآبق فلك دينار فمهما رد ذلك الإنسان عبدَه استحق الجُعل المسمى فلو كان استدعاؤها الطلاق بمثابة الجعالة وقد صرحت بالتأخير ومدّ الزمان وأتت بلفظة تُشعر به لوجب أن يقال مهما طلق استحق العوض اعتباراً بالجعالة

Ini adalah tempat untuk berhenti dan merenung dari beberapa sisi, maka kami akan membahasnya. Pertama, kami menjadikan khulu‘ di pihak istri dalam makna seperti ju‘ālah, dan ju‘ālah membolehkan mengaitkan tujuan dengan waktu yang tertunda. Jika seorang laki-laki berkata, “Jika kamu mengembalikan budakku yang kabur kepadaku, maka bagimu satu dinar,” maka kapan pun orang itu mengembalikan budaknya, ia berhak mendapatkan imbalan yang telah disebutkan. Jika permintaan cerai dari istri itu seperti ju‘ālah, dan ia secara jelas menyatakan penundaan dan memperpanjang waktu, serta menggunakan kata-kata yang menunjukkan hal itu, maka seharusnya dikatakan: kapan pun suami mentalak, ia berhak mendapatkan kompensasi, sebagaimana dalam ju‘ālah.

قلنا هذا سؤال واقع فإن التأخير تطرّق إلى الخلع من جانبها إذ قالت متى أعطيتني فكان لا يبعد أن يتطرق التأخير إلى جانبه إذا كانت هي المستدعية فإن استدعاءها يدور بين طِباع الجعالة والطلاق وكلاهما قابلان للتأخير

Kami katakan, ini adalah pertanyaan yang nyata, karena penundaan dapat terjadi pada khulu‘ dari pihaknya, ketika ia berkata, “Kapan engkau memberiku,” maka tidak mustahil penundaan juga dapat terjadi dari pihaknya jika ia yang memintanya. Sebab permintaannya itu berada di antara sifat ja‘ālah dan talak, dan keduanya memungkinkan untuk ditunda.

وسبيل الجواب عن هذا أن نقول أما الجعالة فإنما سوغها الحاجة الماسة إليها ولا يتأتى فيها تحصيل المقصود على التعجيل فإنها تُفرض في الأمور المجهولة العسيرة كرد الإباق وغيره فاستحال اشتراط تعجيل المقصود فيها وإذا استدعت المرأة الطلاق فتعجيله ممكن ولو فرض تأخير الطلاق في زمانٍ منفصل لخرج عن أن يكون متعلقاً باستدعائها فإن الزوج مالكٌ للطلاق مستقلٌ بإيقاعه والعرف غالب باستقلاله فيه فهو حري بأن يقع صادراً عن ملك الزوج ولا يقع عن غير هذه الجهة إلا بارتباطٍ ظاهر ومن ضرورة فرض الارتباط اتصالُ تعليقه باستدعائها فإذا انقطع كان في وقوعه عن جهة الاستقلال كالصريح في نفوذه في بابه ثم الصريح لا ينصرف عن بابه بالقصد فهذا هو الذي أوجب اتصالَ

Adapun cara menjawab hal ini adalah dengan mengatakan bahwa ja‘ālah dibolehkan karena adanya kebutuhan mendesak terhadapnya, dan tidak mungkin tujuan yang dimaksud dapat diperoleh secara langsung. Ja‘ālah biasanya diterapkan pada perkara-perkara yang tidak diketahui dan sulit, seperti mengembalikan budak yang melarikan diri dan semacamnya, sehingga tidak mungkin mensyaratkan agar tujuan tersebut segera tercapai. Adapun jika seorang wanita meminta talak, maka mempercepat pelaksanaannya memungkinkan. Jika talak itu ditunda pada waktu yang terpisah, maka talak tersebut tidak lagi terkait dengan permintaan wanita itu, karena suami adalah pemilik talak yang berhak menjatuhkannya secara mandiri, dan kebiasaan yang berlaku adalah suami melakukannya secara independen. Oleh karena itu, talak tersebut lebih layak dianggap berasal dari hak suami, dan tidak dianggap berasal dari selain itu kecuali jika ada keterkaitan yang jelas. Salah satu syarat keterkaitan itu adalah adanya hubungan langsung antara pengaitan talak dengan permintaan wanita. Jika keterkaitan itu terputus, maka pelaksanaan talak secara independen sama seperti talak sharih dalam keabsahannya pada tempatnya, dan talak sharih tidak keluar dari ketentuannya hanya karena niat. Inilah yang menyebabkan perlunya keterkaitan langsung.

الطلاق باستدعائها ليقع مرتبطاً بالمال والجعالة في هذا الحكم بائنةٌ بعيدةٌ عن الطلاق وإذا شبهنا أصلاً بأصل لم يُستنكر افتراقُهما فهذا نوع من البحث

Talak yang terjadi atas permintaan istri agar dijatuhkan dengan imbalan harta dan ja‘ālah dalam hukum ini adalah dua hal yang berbeda dan jauh dari talak. Jika kita menyamakan satu asal dengan asal lain yang perbedaannya tidak diingkari, maka ini merupakan salah satu bentuk penelitian.

فإن قيل هلا قلتم الخلعُ يفسُد إذا استدعت الطلاقَ بلفظةٍ مصرِّحة بامتداد الزمان فإن ما ذكرتموه يقتضي أن امتداد الزمان وانفصالَ الطلاق عن استدعائها يُبطل مقصودَ الخلع وإذا عقد العقد بلفظٍ لا يطابق مقصودَه وجب الحكمُ بفساده

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa khulu‘ menjadi batal apabila istri meminta talak dengan lafaz yang secara tegas menunjukkan kesinambungan waktu? Sebab apa yang kalian sebutkan mengharuskan bahwa kesinambungan waktu dan terpisahnya talak dari permintaan istri membatalkan maksud khulu‘, dan apabila akad dilakukan dengan lafaz yang tidak sesuai dengan maksudnya, maka wajib dihukumi batal.”

قلنا قولها متى طلقتَني فلك ألف كما ثبت أول الزمان المتصل فقد أفاد لفظُها التعرضَ للزمان المطلوب وتضمّن مَهَلاً بعده هو يفسح على الزوج فاستقل العقد بالوقت المتصل وبطل ما فيه من مَهَلٍ وكأنها ذكرت الوقت المطلوب وزادت

Kami katakan: Ucapannya “kapan engkau menceraikanku, maka bagimu seribu” sebagaimana telah tetap pada awal waktu yang bersambung, maka lafaznya menunjukkan penentuan waktu yang dimaksud dan mengandung jeda setelahnya yang memberi kelonggaran kepada suami. Maka akad itu berdiri sendiri dengan waktu yang bersambung dan batal apa yang ada di dalamnya berupa jeda. Seakan-akan ia menyebutkan waktu yang dimaksud lalu menambahkannya.

فإن قيل الزيادة فاسدة فأفسدوا الخلع بها وقولوا إذا أجاب الزوج على الاتصال وقعت البينونة وفسد العوض لفساد لفظ العقد ثم لا يخفى حكم فساد العوض

Jika dikatakan bahwa tambahan itu rusak, maka mereka menganggap khulu‘ menjadi rusak karenanya, dan mereka berkata: Jika suami menjawab secara langsung, maka terjadilah perpisahan dan kompensasi menjadi rusak karena rusaknya lafaz akad, kemudian hukum rusaknya kompensasi tidaklah samar.

قلنا ما ألزمت المرأة الزوجَ شيئاً حتى يكون ذلك في حكم الشرط ولم يتحقق منها التزامٌ أيضاًًً واللفظة التي ذكرتها صالحة للوقت وما قدّرناه من اقتضاء التعجيل قرينة في تقييد اللفظ فصح العقد وهذا هو المنتهى البالغ

Kami katakan, perempuan tidak mewajibkan apa pun kepada suami sampai hal itu berada dalam hukum syarat, dan dari pihaknya pun tidak terwujud suatu komitmen. Lafaz yang engkau sebutkan itu dapat berlaku untuk waktu, dan apa yang kami perkirakan berupa tuntutan percepatan adalah petunjuk dalam membatasi makna lafaz tersebut, sehingga akadnya sah. Inilah batas akhir yang dicapai.

وسيأتي تمام شرحه إذا انتهينا إلى هذا الفصل إن شاء الله تعالى فإن ما ذكرناه من المسائل بين أيدينا وإنما ذكرنا تراجمها للتنبيه على القاعدة فإذا تقررت القاعدة بها فسنقررها مفصّلة بالقاعدة إذا انتهينا إليها إن شاء الله تعالى

Penjelasan lengkapnya akan datang ketika kita sampai pada bab ini, insya Allah Ta‘ala. Apa yang telah kami sebutkan dari berbagai permasalahan hanyalah sekadar pengantar, dan kami hanya menyebutkan judul-judulnya untuk memberikan isyarat terhadap kaidahnya. Jika kaidah tersebut telah dijelaskan melalui hal-hal tersebut, maka kami akan menjelaskannya secara rinci berdasarkan kaidah ketika kita sampai padanya, insya Allah Ta‘ala.

وكل ما ذكرناه في الطلاق على المال متحقق في العتق على المال فالعتق من جانب المولى تعليق ومعاوضة وهو من جانب المستدعي معاملةٌ نازعة إلى الجعالة ولسنا نعني بما ذكرناه الكتابة وإنما نعني قولَ المولى أعتقتك على كذا واستدعاءُ العتق من العبد

Segala yang telah kami sebutkan mengenai talak dengan imbalan juga berlaku pada pembebasan budak dengan imbalan, maka pembebasan budak dari pihak tuan merupakan tindakan yang bersifat ta‘liq (penggantungan) dan mu‘awadhah (pertukaran), sedangkan dari pihak yang memohon pembebasan adalah suatu mu‘āmalah yang mirip dengan ju‘ālah (janji imbalan). Dan yang kami maksudkan di sini bukanlah kitabah, melainkan ucapan tuan, “Aku membebaskanmu dengan imbalan sekian,” serta permohonan pembebasan dari budak.

فأما الكتابة فلها طِباع آخرُ على ما سيأتي إن شاء الله تعالى ولا يمكن أن نحكم عليها بمضاهاة الخلع فإن فاسدها جائز وفاسد الخلع نافذ إذا لم يجر ما يردّ الطلاق فيرد المال وفي الكتابة دون تنجيز العتق مقاصدُ وهي معاملةٌ برأسها فالذي يشبَّه بالخلع العتقُ على المال

Adapun kitabah, maka ia memiliki karakteristik tersendiri sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala, dan tidak bisa kita hukumkan dengan menyamakannya dengan khulu‘, karena akad kitabah yang rusak tetap sah, sedangkan khulu‘ yang rusak tetap berlaku jika tidak terjadi sesuatu yang membatalkan talak, maka harta dikembalikan, sedangkan dalam kitabah, tujuan utamanya bukanlah pembebasan budak secara langsung, melainkan ia adalah transaksi tersendiri. Maka yang dapat diserupakan dengan khulu‘ adalah pembebasan budak dengan imbalan harta.

وقد نجز القول في تمهيد القاعدة التي هي مرجوعُ الباب وقطبُه ونحن نخوض بعد ذلك في مسائل الباب إن شاء الله تعالى على الترتيب

Pembahasan mengenai penjelasan kaidah yang menjadi rujukan dan pokok utama bab ini telah selesai, dan setelah itu kita akan membahas masalah-masalah dalam bab ini, insya Allah Ta‘ala, secara berurutan.

فأول ما ذكره الشافعي التعرض للصلات التي يستعملها الزوج المطلِّق على المال ثم تتصل به الصلات التي تستعملها المرأة في استدعاء الطلاق

Hal pertama yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i adalah membahas ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh suami yang menjatuhkan talak dengan imbalan harta, kemudian diikuti dengan ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh istri dalam meminta talak.

إذا قالت المرأة طلقني بألف أو على ألف فقال الزوج طلقتك أو أنت طالق على الاتصال المرعي فالطلاق يقع ويثبت العوض المسمى على الصحة ولا حاجة إلى أن يذكر الزوج المال ويعيدَه بل يكفي اتصال طلاقه بالتماسها

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan seribu” atau “atas seribu,” lalu suami berkata, “Aku ceraikan kamu” atau “Kamu tertalak,” dengan sambungan yang diperhatikan, maka talak terjadi dan kompensasi yang telah disebutkan menjadi tetap secara sah. Tidak perlu bagi suami untuk menyebutkan harta tersebut dan mengulanginya, melainkan cukup jika talaknya langsung menyambung permintaan istrinya.

وإذا قال الرجل بعتك عبدي هذا بألفٍ فقال المخاطب قبلت أو اشتريت كفى ذلك وانعقد البيع وإن لم يتفق إعادةُ العوض

Jika seseorang berkata, “Aku menjual budakku ini kepadamu seharga seribu,” lalu orang yang diajak bicara menjawab, “Aku terima” atau “Aku beli,” maka hal itu sudah cukup dan akad jual beli pun sah, meskipun tidak terjadi pengulangan penyebutan harga.

ويتصل بهذا الطرف أن الزوج لو قال طلقتها ابتداءً ولم أقصد جوابَها وقد يستفيد بذلك الرجعةَ ونفيَ البينونة فالوجه تصديقُه فإنه مستقل بالتطليق وقوله مستقل بالإفادة وليس كما لو قال القائل للرجل أطلقتَ امرأتَك فقال نعم فإنا نجعل ذلك على ظاهر المذهب إقراراً بالطلاق لأن قوله نعم ليس بمفيدٍ على استقلاله وإنما يفيد بتقدير بنائه على السؤال وإذا قال بعتُ منك عبدي هذا بألفٍ فقال اشتريت ثم زعم أنه لم يقصد جواب المخاطَب فهذا فيه احتمال من قِبل أن قوله ليس بمستقلٍّ في الإفادة وليس كقول الزوج طلقتك فإنه مستقلٌّ دون تقدم ستدعائِها

Terkait dengan hal ini, jika seorang suami berkata, “Aku menceraikannya” secara langsung dan ia tidak bermaksud menjawab istrinya, serta ia mungkin mendapatkan manfaat dari hal itu berupa hak ruju‘ dan menafikan terjadinya talak bain, maka pendapat yang benar adalah membenarkannya, karena ia berwenang penuh dalam menjatuhkan talak dan ucapannya berdiri sendiri dalam memberikan makna. Ini berbeda dengan kasus ketika seseorang berkata kepada seorang laki-laki, “Apakah kamu telah menceraikan istrimu?” lalu ia menjawab, “Ya,” maka menurut mazhab yang zahir, hal itu dianggap sebagai pengakuan talak, karena ucapan “ya” tidak berdiri sendiri dalam memberikan makna, melainkan bermakna jika dikaitkan dengan pertanyaan sebelumnya. Dan jika seseorang berkata, “Aku telah menjual budakku ini kepadamu seharga seribu,” lalu yang lain berkata, “Aku membeli,” kemudian ia mengklaim bahwa ia tidak bermaksud menjawab lawan bicaranya, maka dalam hal ini ada kemungkinan, karena ucapannya tidak berdiri sendiri dalam memberikan makna. Ini berbeda dengan ucapan suami, “Aku menceraikanmu,” karena ucapannya berdiri sendiri tanpa didahului permintaan dari istrinya.

ولو قالت المرأة لم تقصد إجابتي لم يُقبل قولها فإنا لا نشترط قصدَه في الإجابة بل نشترط ألا يقصد الابتداء ولا يمتنع أن يقال لا بد من قصده حتى لو فرض وقوعُ قوله وفاقاً من غير ربطٍ بما سبق منها يقع الطلاق رجعياً فإن التواصل بين الكلام المستقل والاستدعاء إنما يحصل بقصد التواصل

Jika seorang wanita berkata, “Aku tidak bermaksud menjawab,” maka ucapannya tidak diterima, karena kami tidak mensyaratkan adanya niat dalam jawaban, melainkan kami mensyaratkan agar tidak ada niat memulai (percakapan baru). Tidak mustahil untuk dikatakan bahwa niat memang diperlukan, sehingga jika ucapan suami terjadi secara kebetulan tanpa ada kaitan dengan permintaan yang telah diajukan oleh istri sebelumnya, maka talak yang terjadi adalah talak raj‘i. Sebab, kesinambungan antara ucapan yang berdiri sendiri dengan permintaan hanya terjadi jika ada niat untuk menyambungkannya.

فتحصّل مما ذكرناه أنه إذا وصل الطلاقَ باستدعائها وزعم أنه قصد إسعافها وبناءَ الجواب على التماسها صح وانتظم الخلع

Maka dapat disimpulkan dari apa yang telah kami sebutkan bahwa apabila talak diucapkan setelah permintaannya, dan ia mengklaim bahwa ia bermaksud memenuhi keinginannya serta jawaban tersebut didasarkan pada permintaannya, maka hal itu sah dan khulu‘ pun menjadi sempurna.

وإن قال قصدتُ ابتداءَ التطليق صُدّق فإن اتّهم حُلّف لأنه يبغي نفيَ البينونة وإن اتفق إطلاقُ اللفظِ من غير قصدٍ في الربط وفي تصويره عُسْر فالظاهر أنه محمول على الابتداء وسيأتي في ذلك نظائرُ في مسائل الطلاق إن شاء الله

Jika ia berkata, “Aku bermaksud memulai talak,” maka ia dibenarkan. Namun, jika ia dicurigai, ia harus disumpah, karena ia berusaha menafikan terjadinya bainunah. Jika lafal tersebut terucap tanpa ada maksud untuk mengaitkan (dengan sesuatu sebelumnya), dan dalam menggambarkan hal itu terdapat kesulitan, maka yang tampak adalah lafal itu dianggap sebagai permulaan (talak). Akan datang contoh-contoh serupa dalam masalah-masalah talak, insya Allah.

ولو قالت طلقني ولك ألف فطلقها ثبت العوض هذا ظاهر ذهب الشافعي وقال أبو حنيفة لا يثبت العوض بهذه الصيغة فإن قولها ولك ألف إخبارٌ وليس التزاماً بخلاف قولها طلقني بألفٍ أو على ألف المسألة مشهورة معه

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku dan bagimu seribu,” lalu suami menceraikannya, maka kompensasi tersebut tetap berlaku; ini adalah pendapat yang jelas menurut Syafi‘i. Sedangkan menurut Abu Hanifah, kompensasi tidak tetap dengan lafaz seperti ini, karena ucapannya “dan bagimu seribu” adalah sebuah pemberitahuan, bukan suatu komitmen, berbeda dengan ucapannya “ceraikan aku dengan seribu” atau “atas seribu.” Masalah ini masyhur menurut beliau.

وكذلك إذا قالت طلقني ولك عليّ ألف فمذهبنا ما ذكرناه

Demikian pula, jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dan engkau akan mendapatkan seribu dariku,” maka mazhab kami adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وذكر القاضي في أثناء المسائل وجهاً خرجه من تلقاء نفسه أن هذا لا يكون التزاماً لمال ثم نظم وجهين أحدهما أن المال يثبت لأن العرف جارٍ باستعمال هذا للفظ على إرادة التزام المال فقرائنُ المال شاهدةٌ والغرض من قيود الألفاظ قرائنها الإفهام بها وقال تعالى وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وهذا جرى ي تسمية أجرةٍ أو جعالة في القصة المشهورة

Dan al-Qadhi menyebutkan dalam pembahasan masalah-masalah sebuah pendapat yang ia keluarkan sendiri, bahwa hal ini tidak dianggap sebagai komitmen terhadap harta. Kemudian ia merangkum dua pendapat: salah satunya adalah bahwa harta itu menjadi tetap (wajib) karena kebiasaan telah berlaku menggunakan lafaz ini dengan maksud komitmen terhadap harta, sehingga indikasi-indikasi harta menjadi nyata, dan tujuan dari pembatasan lafaz-lafaz adalah agar dapat dipahami melalui indikasi-indikasinya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan bagi siapa yang membawanya (unta itu), satu beban unta.” Dan ini berlaku sebagai penamaan upah atau ju‘ālah dalam kisah yang masyhur.

والوجه الثاني أن المال لا يثبت بهذه الصلة لأنها ابتداءٌ وليست بناءً على لفظٍ صرِّح به في اقتضاء الإلزام والالتزام ثم اللفظ الواقعُ ابتداءً صريحٌ في العلّة هذا الذي ذكره وإن أمكن توجيهه فهو مخالف للنص وما عليه الأصحاب ثم لظن به أنه لا يطرده فيه إذا قالت طلقني ولك عليّ ألف والعلم عند الله تعالى

Pendapat kedua menyatakan bahwa harta tidak menjadi hak dengan pemberian ini karena ia merupakan permulaan dan tidak didasarkan pada lafaz yang secara tegas menunjukkan tuntutan kewajiban dan komitmen. Kemudian, lafaz yang diucapkan sejak awal secara jelas menunjukkan ‘illat (alasan hukum). Apa yang disebutkan ini, meskipun mungkin dapat dibenarkan, bertentangan dengan nash dan pendapat para ulama. Selain itu, diduga bahwa ia tidak akan konsisten dalam hal ini jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dan aku akan memberimu seribu,” dan ilmu hanyalah milik Allah Ta‘ala.

هذا قولنا في الألفاظ التي تصدر من المرأة المستدعية للطلاق

Inilah pendapat kami mengenai ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh perempuan yang mengajukan permohonan talak.

فأما الرجل إذا ابتدأ وقال طلقتك بألف أو قال طلقتك على ألف قوله يستدعي المال فإن قبلته قُضي بثبوت البينونة وإن لم تُجب ولم تلتزم لمال لم يقع الطلاق

Adapun jika seorang laki-laki memulai dengan mengatakan, “Aku menceraikanmu dengan seribu” atau berkata, “Aku menceraikanmu atas seribu,” maka ucapannya itu menuntut adanya pembayaran. Jika istrinya menerima, maka diputuskan terjadinya bainunah (perceraian yang tidak dapat dirujuk). Namun jika istrinya tidak menyetujui dan tidak berkomitmen untuk membayar, maka talak tidak terjadi.

ولو قال الرجل ابتداءً طلقتك أو أنت طالق ولي عليك ألف فهذه المسألة ذكرتُها في أثناء الباب وأنا أرى ذِكْرَها في هذا المقام حتى ينتظم الكلام في الصّلات التي تصدر منها ومنه جميعاًً قال الشافعي إذا قال الزوج طلقتك ولي عليك ألف وقع الطلاق رجعياً وكان كما لو قال طلقتك وعليك حج وتعليل ما ذكره بعد العلم بأنه متفق عليه بين الأصحاب أن قوله طلقتك مستقلٌّ في إيقاع الفراق فلا يتعلق بشرط وعوضٍ إلا بصلة تُشعر بربط الطلاق إشعاراً صريحاً وإذا قال طلقتك ولي عليك ألف فهو صريح في الإخبار ولا يمتنع أن يقال طلَّق ونجّز وأخبر

Jika seorang laki-laki berkata sejak awal, “Aku menceraikanmu” atau “Engkau tertalak dan engkau berutang seribu kepadaku,” maka masalah ini telah saya sebutkan di tengah-tengah pembahasan, dan saya memandang perlu menyebutkannya di sini agar pembahasan tentang hubungan yang muncul darinya dan darinya (suami dan istri) menjadi utuh. Imam Syafi’i berkata: Jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dan engkau berutang seribu kepadaku,” maka talak jatuh sebagai talak raj‘i, dan hukumnya seperti jika ia berkata, “Aku menceraikanmu dan engkau wajib menunaikan haji.” Penjelasan atas apa yang disebutkan, setelah diketahui bahwa hal itu telah menjadi kesepakatan para sahabat (ulama), adalah bahwa ucapan “Aku menceraikanmu” berdiri sendiri dalam menjatuhkan perpisahan (talak), sehingga tidak terkait dengan syarat atau kompensasi kecuali dengan hubungan (shilah) yang menunjukkan keterkaitan talak secara jelas. Jika ia berkata, “Aku menceraikanmu dan engkau berutang seribu kepadaku,” maka itu adalah pernyataan yang jelas (sharīh) dalam bentuk pemberitahuan, dan tidak mustahil dikatakan bahwa ia telah menjatuhkan talak, menegaskannya, dan memberitahukannya.

فإن قيل إذا قالت طلِّقني ولك ألف فلا يمتنع أيضاًًً حملُ قولها على الإخبار قلنا نعم هو كذلك ولهذا اتجه تخريج القاضي كما قدمنا ذكرّه وإن

Jika dikatakan, “Jika seorang wanita berkata, ‘Ceraikanlah aku dan engkau akan mendapatkan seribu (dirham),’ maka tidak mustahil juga ucapan tersebut dibawa pada makna pemberitahuan,” kami katakan, “Ya, memang demikian, dan karena itulah pendapat yang dikemukakan oleh al-Qāḍī menjadi relevan, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.”

أردنا فرضاً لم نعدمه فإن استدعاء الطلاق ليس كلاماً نافذاً وإذا اقترن بذكر المال أفاد المجموعُ استدعاء الطلاق بالمال وإذا قال الرجل طلقتك فهذا ْمستقل في تقيّد الطلاق على الإطلاق فلا يرتبط إلا بلفظ صريح ويتجه أن يقال قول المرأة طلقني وإن كان لا يلزمُ به طلاقٌ فهو صريح في استدعاء الطلاق فلا يتعلق إلا بصلة متصلة تقع صريحاً في اقتضاء الربط

Kami menginginkan suatu anggapan yang tidak kami tiadakan; maka permintaan talak bukanlah ucapan yang berlaku. Jika permintaan itu disertai dengan penyebutan harta, maka keseluruhan maknanya adalah permintaan talak dengan imbalan harta. Jika seorang laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu,” maka ini berdiri sendiri dalam membatasi talak secara mutlak, sehingga tidak terkait kecuali dengan lafaz yang jelas. Dapat dikatakan bahwa ucapan seorang perempuan, “Ceraikan aku,” meskipun tidak mewajibkan terjadinya talak, namun itu adalah ungkapan yang jelas dalam permintaan talak, sehingga tidak terkait kecuali dengan hubungan yang langsung dan jelas dalam menuntut keterkaitan.

ومما يتصل بهذا أن الزوج لو قال بعد صدور الصلة التي وصفناها أردت بقولي وعليكِ ألف اشتراطَ الألف وكان مرادي بقولي وعليكِ ألف ما يريده القائل بقوله أنت طالق بألف فهذا لا يقبل منه في ظاهر الأمر هكذا قال شيخي وأئمة المذهب

Terkait dengan hal ini, jika seorang suami berkata setelah terjadinya sighat yang telah kami jelaskan, “Aku maksudkan dengan ucapanku ‘dan atasmu seribu’ adalah mensyaratkan seribu, dan maksudku dengan ucapanku ‘dan atasmu seribu’ sama dengan maksud orang yang berkata ‘engkau tertalak dengan seribu’,” maka hal ini tidak diterima darinya secara lahiriah; demikianlah yang dikatakan oleh guruku dan para imam mazhab.

ووجدت لأصحابنا تردداً فيه إذا توافقا على أنه أراد ذلك فمنهم من قال لا أثر للتوافق والطلاق رجعي بعد قوله طلقتك وقوله بعد ذلك ولي عليك ألف صلةٌ لا تصلح للتعليق والربط فهو كما لو قال طلقتك فاستعيني ثم زعم أنه أراد بذلك أمراً يخالف الحكم بوقوع الطلاق فلا أثر لقوله والطلاقُ نافذ

Saya menemukan adanya keraguan di kalangan ulama mazhab kami dalam masalah ini, yaitu apabila kedua belah pihak sepakat bahwa maksudnya memang demikian. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kesepakatan tersebut tidak berpengaruh, dan talak tetap bersifat raj‘i setelah ucapan “Aku menceraikanmu.” Ucapan berikutnya, “Kamu mempunyai kewajiban seribu atasmu,” tidak sah untuk dijadikan syarat atau pengaitan, sehingga hukumnya seperti jika seseorang berkata, “Aku menceraikanmu, maka mintalah bantuan,” lalu ia mengklaim bahwa maksudnya adalah sesuatu yang berbeda dengan ketentuan jatuhnya talak; maka ucapannya itu tidak berpengaruh dan talak tetap berlaku.

ومن أصحابنا من قال إذا توافقا كان الطلاق واقعاً بالمال فإن قول القائل وعليك ألف لا ينحطّ عن الكنايات في اقتضاء العوض وللقائل الأول أن يقول لو كان كذلك لصُدِّق الرجل وحده لأنه قال محتمَلاً ويجوز أن يجاب عنه بأن هذه الكناية يعارضها التصريح بالطلاق المستقل والأصل تنفيذه على الاستقلال

Sebagian ulama kami berpendapat bahwa jika keduanya sepakat, maka talak terjadi dengan adanya kompensasi harta, karena ucapan seseorang “dan engkau wajib membayar seribu” tidak lebih rendah dari kinayah dalam hal menuntut kompensasi. Namun, menurut pendapat pertama, dapat dikatakan bahwa jika demikian, maka cukup laki-laki saja yang dipercaya karena ia mengucapkan sesuatu yang masih mengandung kemungkinan. Bisa juga dijawab bahwa kinayah ini bertentangan dengan pernyataan talak yang berdiri sendiri, dan pada dasarnya talak itu dilaksanakan secara mandiri.

ويتفرّع على ما ذكرناه أن الرجل لو ادّعى أنه عنى بالصلة التي ذكرها المالَ وإلزامَه فأنكرت المرأة ذلك فإن قلنا لو تصادقا عليه تعلق الطلاق بالمال فالقول الآن قول الزوجة فإن الأصل والظاهر معها وللزوج أن يحلّفها على نفي العلم لا تدري أن الزوج أراد ربطَ الطلاق بالمال وإن قلنا لو تصادقا لم يتعلق الطلاق بالمال فلا حكم للاختلاف والحكم أن الطلاق لا يتصور تعلُّقُه وارتباطه مع هذه الصّلة

Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, jika seorang laki-laki mengaku bahwa yang ia maksud dengan “shilah” (hubungan) yang ia sebutkan adalah harta dan mewajibkannya, lalu sang istri mengingkari hal itu, maka jika kita berpendapat bahwa jika keduanya sepakat atas hal tersebut maka talak bergantung pada harta, maka dalam kasus ini yang dipegang adalah pernyataan istri, karena asal dan zahir berpihak kepadanya. Namun, suami berhak meminta sumpah kepada istri untuk menafikan pengetahuan, yaitu bahwa ia tidak tahu suaminya bermaksud mengaitkan talak dengan harta. Dan jika kita berpendapat bahwa jika keduanya sepakat pun talak tidak bergantung pada harta, maka perselisihan ini tidak berpengaruh dan hukumnya adalah talak tidak mungkin dikaitkan dan dihubungkan dengan “shilah” seperti ini.

وهذا إنما ذكرناه فيه إذا قال الزوج أنت طالق وعليك ألف

Hal ini kami sebutkan apabila suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dan engkau wajib membayar seribu.”

فأما إذا قال أنت طالق على أن لي عليك ألفاًً قال صاحب التلخيص هذا شرط والصيغة مشعرةٌ به ونقول له ماذا أردت بهذا فإن زعم أنه أراد بذلك اشتراط ضمان الألف عليها حتى كأنه قال أنت طالق إن ضمنت لي ألفاًً وتفصيل ذلك يأتي على الاستقصاء من بعدُ إن شاء الله تعالى قال صاحب التقريب إذا فسر هذا اللفظَ بهذا قُبل منه فإنه زاد على الصلة الأولى صلةً رابطةً إذا قال على أن لي عليكِ ألفاًً وليس كما لو اقتصر فقال طلقتك ولي عليك ألف وذلك أنه لو اقتصر فذلك إخبار بعد تطليق وإذا قال طلقتك على أن لي عليك ألف فهذا شرط بعد التطليق فإذا استعقب الطلاقُ شرطاً صار الطلاق مشروطاً بالشرط الذي استعقبه ثم قال صاحب التقريب إن فسر بالضمان قُبل كما ذكرنا

Adapun jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan syarat engkau mempunyai kewajiban seribu kepadaku,” menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, ini adalah suatu syarat dan redaksinya menunjukkan hal itu. Maka kita katakan kepadanya, “Apa yang engkau maksudkan dengan ucapan ini?” Jika ia mengaku bahwa maksudnya adalah mensyaratkan jaminan seribu atas istrinya, seakan-akan ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau menjamin seribu kepadaku,” maka perinciannya akan dijelaskan secara mendalam setelah ini, insya Allah Ta‘ala. Penulis kitab at-Taqrīb berkata, “Jika lafaz ini dijelaskan dengan maksud demikian, maka penjelasannya diterima, karena ia menambahkan pada hubungan pertama suatu hubungan pengikat, yaitu ketika ia berkata, ‘dengan syarat engkau mempunyai kewajiban seribu kepadaku.’ Ini tidak sama dengan jika ia hanya berkata, ‘Aku menceraikanmu dan engkau mempunyai kewajiban seribu kepadaku,’ karena jika hanya demikian, itu hanyalah pemberitahuan setelah terjadinya talak. Namun jika ia berkata, ‘Aku menceraikanmu dengan syarat engkau mempunyai kewajiban seribu kepadaku,’ maka ini adalah syarat setelah talak. Jika talak diikuti oleh suatu syarat, maka talak tersebut menjadi bergantung pada syarat yang mengikutinya.” Kemudian penulis at-Taqrīb berkata, “Jika dimaksudkan sebagai jaminan, maka penjelasan tersebut diterima sebagaimana telah kami sebutkan.”

وإن قال لم أرد تعليق الطلاق بضمانها ولكن أردت تعليق الطلاق بالتزامها وقبولها وأحللتُ قولي على أن لي عليك ألفاً محل قولي أنت طالق بألف أو على ألف قال صاحب التقريب لا يقبل هذا التفسير منه

Dan jika ia berkata, “Aku tidak bermaksud menggantungkan talak dengan penjaminannya, tetapi aku bermaksud menggantungkan talak dengan komitmennya dan penerimaannya, dan aku menafsirkan ucapanku bahwa aku memiliki hak seribu atasmu sebagai pengganti ucapanku ‘engkau tertalak dengan seribu’ atau ‘atas seribu’,” maka menurut penulis kitab at-Taqrīb, penafsiran seperti ini tidak diterima darinya.

وفي كلام غيره من الأصحاب ما يدل على أن تفسيره بما ذكره مقبول

Dalam perkataan ulama lain dari kalangan para sahabat mazhab terdapat indikasi bahwa penafsiran yang disebutkan itu dapat diterima.

فانتظم منه أنه لو فسره بتعليق الطلاق بالضمان قُبل منه ولو فسره بتعليق الطلاق بقبول المال في الحال ففيه الخلاف والتردد الذي ذكرناه عن صاحب التقريب وغيره ثم إذا فَسَّرَ بالضمان وقبلناه وفاقاً فلتعليق الطلاق بضمان المال صيغتان إحداهما أن يقول أنت طالق إن ضمنت لي ألفاًً والصيغة الأخرى أن يقول متى ضمنت لي ألفاً فإن قال إن ضمنت لي ألفاً كان ذلك محمولاً على الفور وإن قال متى ضمنت كان على التراخي على ما سيأتي ذلك إن شاء الله عز وجل

Maka dapat disimpulkan darinya bahwa jika ia menafsirkannya dengan menggantungkan talak pada penjaminan (ḍamān), maka penafsiran itu diterima darinya. Namun, jika ia menafsirkannya dengan menggantungkan talak pada penerimaan harta secara langsung, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dan keraguan seperti yang telah kami sebutkan dari penulis at-Taqrīb dan lainnya. Kemudian, apabila ia menafsirkan dengan penjaminan dan kami menerimanya (menurut pendapat yang disepakati), maka untuk menggantungkan talak pada penjaminan harta terdapat dua bentuk lafaz: yang pertama, ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau menjamin untukku seribu,” dan bentuk kedua, ia berkata, “Kapan pun engkau menjamin untukku seribu.” Jika ia berkata, “Jika engkau menjamin untukku seribu,” maka itu dianggap berlaku seketika. Namun jika ia berkata, “Kapan pun engkau menjamin,” maka itu berlaku secara bertahap (tidak langsung), sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإن قال أنت طالق على أن لي عليك ألفاًً فهذا متردد بين قوله إن ضمنت وقوله متى ضمنت ولعل جملة نقلي ما يقتضي الفور أشبه

Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan syarat engkau berutang seribu kepadaku,” maka hal ini berada di antara ucapan “jika engkau menjamin” dan “kapan pun engkau menjamin.” Barangkali keseluruhan riwayat yang saya sampaikan menunjukkan bahwa pelaksanaannya harus segera, dan ini lebih mendekati kebenaran.

وهذا منتهى الكلام في الصلات التي يستعملها الزوجان في ذكر المال استدعاءً وابتداء

Inilah akhir pembahasan mengenai ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh suami istri dalam menyebut harta, baik dalam bentuk permintaan maupun permulaan.

ومما يتعلق بهذا المنتهى أن الرجل إذا قال بعني عبدك بألف فهذا صحيح صالح لعقد البيع ولو قال بعني عبدك على ألف درهم صح ولو قال بعني عبدك ولك علي ألف درهم فقد ذكر القاضي فيه وجهين أحدهما أنه يصح كما يصح ذكر المال بهذه الصلة من التي تستدعي الطلاق

Terkait dengan masalah ini, apabila seseorang berkata, “Jual kepadaku budakmu seharga seribu,” maka hal itu sah dan dapat dijadikan sebagai akad jual beli. Jika ia berkata, “Jual kepadaku budakmu dengan seribu dirham,” juga sah. Namun, jika ia berkata, “Jual kepadaku budakmu dan engkau memiliki hak atas seribu dirham dariku,” maka menurut al-Qadhi terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa hal itu sah, sebagaimana sahnya penyebutan harta dengan ungkapan seperti ini dalam perkara-perkara yang memerlukan talak.

والوجه الثاني أنه لا يصح لأن الخلع على الجملة يَقْبل من التوسع ما لا يقبله البيع ولهذا يصح الاستدعاء فيه بلفظ التعليق وذلك إذا قالت إن طلقتني فلك ألف ولو قال المستام إن بعتني عبدَك فلك ألف لم يصح

Alasan kedua adalah bahwa hal itu tidak sah karena khulu‘ secara umum dapat menerima kelonggaran yang tidak dapat diterima dalam jual beli. Oleh karena itu, permintaan dalam khulu‘ sah dengan lafaz ta‘liq (penggantungan), yaitu jika seorang wanita berkata, “Jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham),” maka itu sah. Namun, jika seorang pembeli berkata, “Jika engkau menjual budakmu kepadaku, maka bagimu seribu (dirham),” maka itu tidak sah.

فصل قال ولو قالت له اخلعني أو بتّني أو أبنِّي أو ابرأ مني أو بارئني ولك عليّ ألف إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang istri berkata kepada suaminya: ‘Ceraikan aku dengan khulu‘, atau talakkan aku secara bain, atau pisahkan aku darimu, atau lepaskan aku darimu, atau berpisahlah dariku, dan aku akan memberimu seribu (dirham/dinar) dan seterusnya.”

ذكر الشافعي هذه الألفاظَ وهي كناياتٌ في الطلاق وقرنها بذكر المال وأجراها على حكم الكناية وتصرف في تفاصيل القول في النيات كانت أو انتفت كما سنصف وهذا يدلّ من نصه على أن الخلع لا يصير صريحاً بقرينةٍ من المال

Syafi‘i menyebutkan lafaz-lafaz ini yang merupakan kinayah dalam talak, dan mengaitkannya dengan penyebutan harta, serta memberlakukannya menurut hukum kinayah. Ia juga merinci pembahasan mengenai niat, baik ada maupun tidak, sebagaimana akan kami jelaskan. Hal ini menunjukkan dari nash beliau bahwa khulu‘ tidak menjadi sharih hanya karena adanya indikasi berupa harta.

وقد ذكرنا عن بعض الأصحاب طريقة في أن الخلع يلتحق بالصرائح على أحد القولين بقرينة المال وهذه الطريقة تخالف النصَّ فليقع التفريع على أنها كنايات

Kami telah menyebutkan dari sebagian sahabat suatu metode bahwa khulu‘ disamakan dengan lafaz sharih menurut salah satu pendapat karena adanya indikasi harta, dan metode ini bertentangan dengan nash, maka pembahasan selanjutnya didasarkan pada bahwa khulu‘ termasuk kinayah.

ثم قال صاحب التقريب إذا قلنا الخلع طلاق فنجعل هذه الألفاظ كنايات وإن اقترنت بذكر المال على المسلك الصحيح الموافق للنص

Kemudian penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika kita mengatakan bahwa khulu‘ adalah talak, maka kita menjadikan lafaz-lafaz ini sebagai kinayah, meskipun disertai dengan penyebutan harta, menurut pendapat yang benar yang sesuai dengan nash.

وإذا قلنا إن الخلع فسخ فإذا جرت هذه الألفاظ مقرونةً بذكر المال فهل تكون صريحةً في الفسخ أو كناية فعلى وجهين

Jika kita mengatakan bahwa khulu‘ adalah fasakh, maka apabila lafaz-lafaz ini diucapkan bersamaan dengan penyebutan harta, apakah ia dianggap sebagai lafaz sharih dalam fasakh atau sebagai kinayah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

وهذا بعيدٌ

Dan ini tidak mungkin.

والطريقةُ المذكورة على الصحة أن هذه الألفاظَ كناياتٌ في الطلاق على قول الطلاق وفي الفسخ على قول الفسخ والوجه الآخر الذي ذكره صاحب التقريب وجهٌ ليس به مبالاة إلا أن يقول القائل الكلامُ في الألفاظ في الفسخ أوسع ولذلك قطعنا بأن لفظ الخلع صريح في الفسخ وإن جعلنا المسألة على قولين في أنها هل تكون صريحاً في الطلاق إذا قلنا الخلع طلاق وهذا مما لا يعتد به ولكن صرح صاحب التقريب بنقله ولم يقله من تلقاء نفسه

Metode yang disebutkan menurut pendapat yang sahih adalah bahwa lafaz-lafaz tersebut merupakan kinayah dalam talak menurut pendapat talak, dan merupakan kinayah dalam fasakh menurut pendapat fasakh. Adapun pendapat lain yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib adalah pendapat yang tidak terlalu diperhatikan, kecuali jika seseorang mengatakan bahwa pembahasan tentang lafaz dalam fasakh lebih luas, oleh karena itu kami menetapkan bahwa lafaz khulu‘ adalah sharih dalam fasakh, meskipun kami menjadikan masalah ini sebagai dua pendapat dalam hal apakah ia merupakan sharih dalam talak jika kami mengatakan bahwa khulu‘ adalah talak. Namun, hal ini tidak dianggap penting, hanya saja penulis at-Taqrib menegaskan hal tersebut dengan menukilkannya dan bukan dari pendapat pribadinya.

فنعود إلى تفصيل الكنايات مع ذكر المال والتفريعُ على قول الطلاق والتفريعات التي سنذكرها في الألفاظ التي رسمناها بمتابعة التفريع في لفظ الخلع على قول الطلاق مع المصير إلى أنه كناية فنقول إن نويا الطلاق وقع الطلاق ولزم المال وإن لم ينويا لغا اللفظُ النكاح قائم

Maka kita kembali pada perincian tentang kināyah beserta penyebutan harta, dan penjabaran berdasarkan pendapat tentang talak, serta penjabaran-penjabaran yang akan kami sebutkan pada lafaz-lafaz yang telah kami tetapkan, dengan mengikuti penjabaran pada lafaz khulu‘ berdasarkan pendapat tentang talak, sambil tetap berpegang bahwa itu adalah kināyah. Maka kami katakan: jika keduanya meniatkan talak, maka talak jatuh dan harta menjadi wajib; namun jika keduanya tidak meniatkan, maka lafaz tersebut menjadi sia-sia dan pernikahan tetap berlangsung.

وإن نوت المرأة استدعاء الطلاق ولم ينو الرجل بلفظه الطلاقَ لغا اللفظ فإن المتبع في إنشاء الطلاق وقَصْدِه الزوجُ

Jika seorang wanita berniat meminta talak, namun suami tidak berniat menjatuhkan talak dengan ucapannya, maka ucapan tersebut dianggap tidak berlaku, karena yang menjadi acuan dalam menjatuhkan dan meniatkan talak adalah suami.

ولو نوى الرجل الطلاقَ ولم تنوِ المرأةُ الطلاقَ في استدعائها ينظر فإن كانت قالت خالعني على ألف وقال الرجل خالعتك على ألفٍ فجرى ذكر البدل من الجانبين وقد نوى الرجل الطلاق ولم تنو المرأة استدعاء الطلاق فالجواب في المسألة أنه لا يقع شيء فإن الرجل صرح بذكر المال ثم لا سبيل إلى القضاء بثبوت المال إذا لم تنو المرأة استدعاء الطلاق وإذا لم يثبت لما ذكرنا لم يقع الطلاق المرتبط به

Jika seorang laki-laki berniat talak, sedangkan perempuan tidak berniat talak dalam permintaannya, maka hal ini perlu diteliti. Jika perempuan berkata, “Ceraikan aku dengan tebusan seribu,” lalu laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu,” maka telah disebutkan tebusan dari kedua belah pihak, dan laki-laki berniat talak sementara perempuan tidak berniat meminta talak. Jawaban dalam masalah ini adalah tidak terjadi apa-apa, karena laki-laki telah menyebutkan harta, namun tidak ada jalan untuk menetapkan harta tersebut jika perempuan tidak berniat meminta talak. Jika tidak dapat ditetapkan sebagaimana yang telah disebutkan, maka talak yang terkait dengannya pun tidak terjadi.

فإن قيل هلا نزّلتم هذا منزلة ما لو خالع الرجل امرأته السفيهة المحجورة فإن الطلاق يقع عندكم رجعياً ويتعلق وقوعه بصورة القبول من المرأة وإن كان المال لا يلزم فاحكموا بأنها إذا قبلت المال في مسألتنا بوقوع الطلاق رجعياً متعلقاً بصورة قبولها قلنا لا سواء فإن المرأة إذا كانت من أهل الالتزام فالطلاق معلَّق بوقوع الالتزام منها فإذا لم تنو لم تلتزم وسنتكلم في المحجورة بما يشفي الغليل إن شاء الله

Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menyamakan hal ini dengan kasus ketika seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang safīhah (tidak cakap) dan berada dalam perwalian, di mana menurut kalian talak yang terjadi adalah talak raj‘ī dan kejadiannya bergantung pada bentuk penerimaan dari pihak perempuan, meskipun harta tidak wajib dibayarkan? Maka putuskanlah bahwa jika perempuan menerima harta dalam kasus kita, talak raj‘ī terjadi dan bergantung pada bentuk penerimaannya.” Kami menjawab, “Tidaklah sama, karena jika perempuan termasuk orang yang berhak melakukan iltizām (komitmen), maka talak digantungkan pada terjadinya iltizām darinya. Jika ia tidak berniat, maka ia tidak berkomitmen. Kami akan membahas tentang perempuan yang berada dalam perwalian dengan penjelasan yang memuaskan, insya Allah.”

وإن قالت الزوجة خالعني على ألف ولم تَنْوِ استدعاءَ الطلاق فقال الرجل خالعتُك ولم يذكر المال غيرَ أنه نوى الطلاقَ ففي المسألة وجهان أحدهما أنه لا يقع به شيء لأنه جواب لسؤالها وهو مرتب عليها وهي قد ذكرت المال صريحاً ولكن امتنع حصول المال لأنها لم تَنْوِ ربطَ التزامها بالطلاق ولا ارتباط للزومٍ إلا بجهة الطلاق وإذا لم يلزم المال فقول الزوج مشروط في قرينة الحال بثبوت المال وإذا لم يثبت السبب الذي قدمناه لم يقع شيء وهذا أقيسُ الوجهين

Jika istri berkata, “Ceraikan aku dengan khulu‘ atas seribu (dirham/dinar),” namun ia tidak berniat meminta talak, lalu suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘,” tanpa menyebutkan harta, hanya saja ia berniat talak, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa tidak terjadi apa-apa, karena itu merupakan jawaban atas permintaannya dan berkaitan dengannya, sementara ia telah menyebutkan harta secara jelas, namun harta itu tidak menjadi wajib karena ia tidak berniat mengaitkan komitmennya dengan talak, dan tidak ada keterkaitan kewajiban kecuali melalui talak. Jika harta tidak menjadi wajib, maka ucapan suami itu secara konteks bergantung pada adanya harta. Jika sebab yang telah kami sebutkan sebelumnya tidak terpenuhi, maka tidak terjadi apa-apa, dan ini adalah pendapat yang lebih sesuai dengan qiyās di antara dua pendapat tersebut.

ومن أصحابنا من قال يقع الطلاق الرجعي وينقطع قولُها عن قوله بسبب أنها لم تلتزم المال على الصحة والزوج في لفظه لم يذكر المال أيضاًً وكلامه مع النية مستقلٌّ في اقتضاءٍ الطلاق وليس كما لو أعاد الرجل المال فإن هذا لو فرض الابتداء به لم يقع به الطلاق من غير فرض جواب

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa talak raj‘i terjadi dan ucapan istri terputus dari ucapan suami karena ia tidak berkomitmen terhadap pembayaran harta secara sah, dan dalam lafaz suami juga tidak disebutkan harta. Ucapannya, bersama niatnya, sudah cukup untuk menetapkan terjadinya talak, dan hal ini berbeda dengan kasus ketika suami mengulangi penyebutan harta, karena jika hal itu diasumsikan sebagai permulaan, maka talak tidak terjadi tanpa adanya jawaban.

وهذا كلام مزخرف فإن الحال في اقتضاء المال من جهة بناء قوله على قولها بمثابة تصريحه بذكر المال

Ini adalah perkataan yang dihiasi-hiasi, sebab keadaan dalam menuntut harta dari sisi membangun ucapannya atas ucapannya (perempuan) itu sama saja dengan pernyataan secara jelas tentang harta.

وقد يرد على هذا أيضاًًً أن الرجل يقول قَوْلي خالعتك لا يقع به الطلاق من غير نية فإنا نفرع على أنها كناية وأنا ما نويت الطلاق على الإطلاق إنما نويته مقيّداً بثبوت المال وهذا يُحْوِج إلى نوعٍ من البحث

Mungkin ada yang berpendapat pula bahwa seorang laki-laki mengatakan, “Kukatakan: aku menceraikanmu dengan khulu‘,” tidak jatuh talak dengannya tanpa niat, karena kita berpendapat bahwa itu adalah kināyah, dan aku tidak meniatkan talak secara mutlak, melainkan aku meniatkannya dengan syarat adanya harta. Hal ini membutuhkan pembahasan tersendiri.

وإذا قال الرجل لامرأته أنت بائن ثم زعم أنه أضمر بقلبه تعليق الطلاق بصفة كدخول الدار ونحوه فالأصح أنه مدين فيما بينه وبين الله تعالى كما سنذكره في مسائل الطلاق إن شاء الله عز وجل ولكن لا يقبل قوله باتفاق الأصحاب ظاهراً وإنما ذلك الذي قدمناه في حكم الباطن والتديين

Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau bā’in,” lalu ia mengaku bahwa dalam hatinya ia berniat menggantungkan talak pada suatu sifat seperti masuk rumah dan semacamnya, maka pendapat yang paling sahih adalah ia tetap memikul tanggungan (dosa) antara dirinya dengan Allah Ta‘ala, sebagaimana akan kami sebutkan dalam masalah-masalah talak, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, pengakuannya itu tidak diterima secara lahiriah menurut kesepakatan para sahabat (ulama), dan hal tersebut hanya berlaku dalam hukum batin dan urusan tanggungan (di hadapan Allah).

فأما إذا قال أنت بائن وزعم أنه نوى طلاقاًً معلّقاً بصفةٍ فهذه المسألة فيها تردد بين فحوى كللام الأصحاب يجوز أن يقال يُحكَمُ بوقوع الطلاق ظاهراً كما لو صرح بالطلاق وزعم أنه أضمر التعليق فإن الكناية مع نية الطلاق بمثابة صريح الطلاق وقد ألحقتها النية بالصريح ثم إنه أضمر وراء ذلك تعليقاً فكان حكمه أن يُدَيَّنَ ويجوز أن يقال لا يحكم بوقوع الطلاق ظاهراً فإن النية ليست جازمة ْواللفظة ليست مستقلة فقد اعترف بنية مضطربة فلا نحكم بوقوع الطلاق

Adapun jika seseorang berkata, “Engkau bā’in,” dan ia mengaku bahwa ia berniat menjatuhkan talak yang digantungkan pada suatu sifat (syarat), maka dalam masalah ini terdapat keraguan di antara makna perkataan para ulama. Bisa jadi dikatakan bahwa talak dianggap jatuh secara lahiriah, sebagaimana jika ia secara tegas mengucapkan talak lalu mengaku bahwa ia menyembunyikan maksud penangguhan (ta‘liq), karena lafaz kinayah dengan niat talak kedudukannya sama dengan talak secara tegas, dan niat telah menjadikannya setara dengan lafaz tegas. Kemudian, jika ia menyembunyikan maksud penangguhan setelah itu, maka hukumnya adalah urusan batin antara dia dan Allah (yudayyan). Namun, bisa juga dikatakan bahwa talak tidak dianggap jatuh secara lahiriah, karena niatnya tidak tegas dan lafaznya pun tidak berdiri sendiri. Ia sendiri mengakui adanya niat yang tidak pasti, maka kita tidak memutuskan bahwa talak telah jatuh.

عُدْنا إلى المسألة التي كنا فيها إذا لم يُعدِ الزوجُ ذكرَ المال فالوجه هاهنا ألاّ نحكم بوقوع الطلاق لما بين قوله وقولها من الارتباط ولكن ذكر القاضي فيه وجهين وصحح ما لا يصح عندنا غيره

Kita kembali pada permasalahan yang sedang kita bahas, yaitu apabila suami tidak menyebutkan harta (mahar), maka pendapat yang kuat di sini adalah kita tidak menetapkan terjadinya talak karena adanya keterkaitan antara pernyataan suami dan istri. Namun, qadi menyebutkan dua pendapat dalam hal ini dan menguatkan pendapat yang menurut kami tidak benar selainnya.

هذا إذا ذكرت امرأة المال في استدعائها وأعاد الزوج المال أو لم يُعده

Ini berlaku jika seorang wanita menyebutkan mahar dalam permintaannya dan suami mengembalikan mahar tersebut atau tidak mengembalikannya.

فأما إذا قالت خالعني ولم تذكر مالاً ولم تنو الطلاق فقال الزوج خالعتك وزعم أنه نوى الطلاق فأحسنُ مسلك في هذا أن نقول أختلف أصحابنا في أن التخالع المعرَّى عن ذكر العوض هل يقتضي المالية وقد ذكرناه وبيّناه على نظائرَ له فإن قلنا التخالع مقتضاه المال وإن لم يجر فيه ذكرُه فهو كما لو ذكرت المال وقد مضى التفصيل فيه

Adapun jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku dengan khulu‘,” tanpa menyebutkan harta dan tanpa berniat talak, lalu suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘,” dan ia mengaku bahwa ia berniat talak, maka cara terbaik dalam hal ini adalah dengan mengatakan: Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah khulu‘ yang tidak disertai penyebutan ‘iwad (tebusan) mengharuskan adanya harta atau tidak. Kami telah menyebutkan dan menjelaskannya pada kasus-kasus serupa. Jika kami katakan bahwa khulu‘ menuntut adanya harta meskipun tidak disebutkan, maka hukumnya seperti jika harta disebutkan, dan rincian hukumnya telah dijelaskan sebelumnya.

وإذا قلنا مطلق التخالع لا يقتضي المال وهي لم تَنْوِ طلبَ الطلاق والزوج نواه فالظاهر هاهنا يقع فإن قيل ألستم ذكرتم خلافاً في أن التخالع إذا عري عن ذكر العوض ونوى الزوج الطلاق فهل يفتقر ذلك إلى قبولها وإن كان المال لا يثبت قلنا ذاك ذكرناه وسردنا نَظْمَه على أحسن وجه وهذه المسألة تخالف تيك فإنا فرضنا الأولى فيه إذا ابتدأ الزوج وقال خالعتك وهذه المسألة التي نحن فيها مصوّرة فيه إذا استدعت المخالعة فأجابها الزوج فالاستدعاء ينزل منزلةَ القبول المتأخر عن الإيجاب

Jika kita mengatakan bahwa khulu‘ secara mutlak tidak mensyaratkan adanya kompensasi harta, dan istri tidak berniat meminta talak sedangkan suami berniat menjatuhkannya, maka yang tampak di sini adalah talak tetap jatuh. Jika dikatakan, “Bukankah kalian telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang apakah khulu‘ tanpa penyebutan kompensasi dan suami berniat menjatuhkan talak itu memerlukan penerimaan dari istri, meskipun harta tidak menjadi hak?” Kami katakan, “Memang kami telah menyebutkannya dan menguraikan susunannya dengan sebaik-baiknya.” Namun, masalah ini berbeda dengan yang itu. Pada masalah pertama, kami mengandaikan suami yang memulai dengan berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘.” Sedangkan masalah yang sedang kita bahas ini digambarkan ketika istri yang meminta khulu‘ lalu suami mengabulkannya. Permintaan tersebut diposisikan seperti penerimaan yang datang setelah ijab.

فمن جمع ما ذكرناه إلى ما قدمناه اتسق له من المجموع ترتيبٌ يحوي المقصود وقد كنت أحلت في التفريع على قولي الفسخ والطلاق تمامَ البيان فيما يتعلق بالنيات على هذا الفصل وقد وقع الوفاء به

Barangsiapa yang menggabungkan apa yang telah kami sebutkan dengan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, maka akan tersusun baginya dari keseluruhan itu suatu urutan yang mencakup maksud yang diinginkan. Aku pun telah merujuk dalam penjabaran pada pembahasan tentang fasakh dan talak untuk penjelasan yang sempurna mengenai hal-hal yang berkaitan dengan niat pada bab ini, dan hal itu telah aku penuhi.

فصل

Bagian

إذا قالت المرأة طلقني بألف فقال أبنتك أو أتى بكناية أخرى وزعم أنه نوى الطلاق فالذي قطع به المراوزة أنه يستحق المال فإن

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan seribu (dirham/dinar),” lalu suaminya berkata, “Kamu aku ceraikan,” atau menggunakan lafaz kinayah lainnya dan ia mengaku bahwa ia berniat talak, maka menurut pendapat yang ditegaskan oleh para ulama mazhab Marwazi, ia berhak mendapatkan harta tersebut.

الكناية مع النية بمثابة الصريح وحكى العراقيون عن ابن خَيْران أنه قال لا يقع الطلاق من جهة أنها قد تقصد أن يطلقها صريحاً إذ الرجوع في الكناية إلى نية الزوج وهو بين أن يَصدُق بالإخبار عنها أو يَكذب وللأصحاب أن يقولوا إذا كان مؤاخذاً بإقراره ظاهراً فلا تعويل على قصدها ومرادها ولو صرح الرجل بالطلاق تطرق إليه إضمار ما لو صدق فيه لم يقع الطلاق وهي الإضمارات التي تنبني عليها مسائل التدبير

Kinayah (ungkapan sindiran) yang disertai niat diposisikan seperti lafaz sharih (jelas). Orang-orang Irak meriwayatkan dari Ibnu Khairan bahwa ia berkata: talak tidak jatuh karena bisa jadi istri bermaksud agar suaminya menjatuhkan talak secara sharih, sebab dalam kinayah, yang menjadi acuan adalah niat suami, dan hal ini jelas, apakah ia jujur dalam mengabarkan niatnya atau berdusta. Para ulama berpendapat, jika seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban atas pengakuannya secara lahiriah, maka tidak perlu memperhatikan maksud dan keinginan istrinya. Jika seorang laki-laki menjatuhkan talak secara sharih, masih mungkin ada niat tersembunyi yang jika ia jujur dalam niat tersebut, maka talak tidak jatuh, dan niat-niat tersembunyi inilah yang menjadi dasar dalam beberapa permasalahan tadbir (pengelolaan).

فصل قال الشافعي ولو قالت له أخلعني على ألف كانت له الألف ما لم يتناكرا إلى آخره

Bagian: Imam Syafi’i berkata, “Jika seorang istri berkata kepada suaminya, ‘Ceraikanlah aku dengan khulu‘ atas seribu (dirham)’, maka suami berhak atas seribu itu selama keduanya tidak saling mengingkari hingga akhir perkara.”

وهذه لفظة مبهمةٌ يُلغَز بأمثالها وما كان من حق المزني أن يودعها كذلك في السواد فإن التصانيف إن بنيت على البسط اتسع فيها الكلام تكريراً وتقريراً وتحريراً وإن بنيت على الإيجاز اعتمد الموجِز أقصر لفظةٍ عن المعنى المطلوب وجعلها ناصّةً عليه من غير قصور ولا ازدياد وهو الكلام البليغ فأما التعبير عن المعاني المشكلة بالمجملات فغير ذلك أجمل بالمزني

Ini adalah ungkapan yang samar, yang sering digunakan sebagai teka-teki dengan ungkapan-ungkapan serupa. Tidak sepantasnya bagi al-Muzani untuk mencantumkannya begitu saja dalam naskah, sebab karya-karya ilmiah, jika disusun secara terperinci, maka pembahasannya menjadi luas dengan pengulangan, penjelasan, dan penjernihan. Namun jika disusun secara ringkas, maka penulis ringkasan memilih ungkapan paling singkat yang dapat mewakili makna yang dimaksud, dan menjadikannya jelas tanpa kekurangan maupun kelebihan; inilah pembicaraan yang fasih. Adapun mengungkapkan makna-makna yang rumit dengan ungkapan-ungkapan yang masih global, maka itu bukanlah hal yang baik bagi al-Muzani.

ومَحْمل كلامه ووجه تسويغه أن يقال قد بناه على ما تقدم وقد أبان فيما سبق صريحَ الخلع استدعاءً وجواباً وابتداءً بالإيجاب أو القبول فكان قوله في هذه المسألة محالاً على ما تقدم من تصوير شِقي الخلع وفرض التناكر بعده مهمٌّ

Penafsiran atas ucapannya dan alasan pembolehannya adalah bahwa ia telah membangunnya di atas apa yang telah dijelaskan sebelumnya, dan ia telah menerangkan sebelumnya tentang kejelasan lafaz khulu‘ baik dalam permintaan maupun jawaban, serta dalam memulai dengan ijab atau qabul. Maka, ucapannya dalam masalah ini dikaitkan dengan penjelasan sebelumnya tentang dua sisi khulu‘, dan pentingnya mengandaikan terjadinya perselisihan setelahnya.

إن أصحابنا اختلفوا في تفسير قوله ما لم يتناكرا قال قائلون معناه وقع الطلاق ما لم يتناكرا النية إذا زعم الزوج أنه لم ينو وادعت المرأة أنك نويت فالقول قول الزوج مع يمينه

Para ulama kami berbeda pendapat dalam menafsirkan ucapan “selama keduanya tidak saling mengingkari.” Sebagian mengatakan, maksudnya talak terjadi selama keduanya tidak saling mengingkari niat; jika suami mengaku bahwa ia tidak berniat, sedangkan istri mengklaim bahwa suami telah berniat, maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan suami dengan sumpahnya.

وقد تجري صورةٌ تُنكر المرأة فيها النيةَ فلا تلتزم المال ولا يقع الطلاق كما تقدم التصوير فيه فإذا فرض هذا فالقول قول المرأة مع يمينها وفائدة حلفها أن تدفع التزام المالِ عن نفسها فالذي قطع به الأصحاب أنها إذا حلفت فلا مال عليها لا المسمّى ولا ما يرجع من المسمى إليه غير أن الزوج أقر بالبينونة إذ نوى وادعى أنها نوت فكان مؤاخذاً بإقراره

Terkadang terjadi suatu keadaan di mana seorang wanita mengingkari adanya niat, sehingga ia tidak berkewajiban membayar harta dan talak pun tidak terjadi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika hal ini terjadi, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan wanita tersebut disertai sumpahnya. Manfaat dari sumpahnya adalah untuk menolak kewajiban membayar harta atas dirinya. Para ulama sepakat bahwa jika ia telah bersumpah, maka tidak ada kewajiban harta atasnya, baik harta yang telah disebutkan maupun yang kembali dari harta tersebut kepadanya. Namun, suami telah mengakui terjadinya perpisahan karena ia telah berniat dan mengklaim bahwa istrinya juga berniat, sehingga ia terikat dengan pengakuannya sendiri.

هذا بيان هذه المسألة ولتكن على الحفظ فإن بين أيدينا مسألةً تكاد تخالف هذه وإذا انتهينا إليها استفرغنا الفكر في الفرق والجمع إن شاء الله عز وجل

Inilah penjelasan mengenai masalah ini, maka hendaklah dihafalkan, karena di hadapan kita terdapat suatu masalah yang hampir bertentangan dengan ini. Jika kita telah sampai padanya, kita akan mencurahkan pemikiran untuk mencari perbedaan dan persamaan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم من حمل كلام الشافعي على هذا المحمل أو على المحمل الأول في اختلاف النِّيّتين صرف الاستثناءَ في قوله ما لم يتناكرا إلى وقوع الفراق وإن صُورت على إنكار المرأة النية فالفراق واقع بحكم الإقرار والاستثناء في قوله ما لم يتناكرا راجع إلى الألف والتأويل في هذه الصورة أوقع فإنه قال كانت له الألف ما لم يتناكرا فاقتضى اتصال الاستثناء بالألف رجوعَه إليه

Kemudian, siapa pun yang memahami perkataan asy-Syafi‘i dengan makna ini atau dengan makna pertama tentang perbedaan dua niat, maka ia menafsirkan pengecualian dalam ucapannya “kecuali jika keduanya saling mengingkari” sebagai terjadinya perpisahan. Meskipun bentuknya adalah sang istri yang mengingkari niat tersebut, maka perpisahan tetap terjadi berdasarkan pengakuan, dan pengecualian dalam ucapannya “kecuali jika keduanya saling mengingkari” kembali kepada lafaz seribu (talak), dan penakwilan dalam gambaran ini lebih kuat, karena ia berkata: “Ia berhak atas seribu talak kecuali jika keduanya saling mengingkari,” sehingga keterkaitan pengecualian dengan seribu talak menunjukkan bahwa pengecualian itu kembali kepadanya.

هذا مسلك الأصحاب

Ini adalah pendapat para sahabat (ulama mazhab).

وقيل معنى قوله ما لم يتناكرا أن الخلع يثبت والمال يلزم إلا أن يرجع الرجل عن إيجابه قبل قبولها إن كان المبتدىءَ بالإيجاب أو ترجع المرأة عن استدعائها قبل الإسعاف إن كانت هي المبتدئة

Dan dikatakan bahwa maksud dari perkataan “selama keduanya tidak saling menolak” adalah bahwa khulu‘ menjadi sah dan harta (tebusan) menjadi wajib, kecuali jika laki-laki menarik kembali ijabnya sebelum diterima oleh perempuan apabila yang memulai ijab adalah laki-laki, atau perempuan menarik kembali permintaannya sebelum dipenuhi apabila yang memulai adalah perempuan.

وحظ الفقيه من هذا الفصل ما ذكرناه من أن الرجوع ممكن إذا جرت صيغة العقد من الزوج ولم يأت بتعليق صريح والمرأة ترجع عن استدعائها على أي وجه فرضت صيغة كلامها

Bagian yang menjadi perhatian seorang faqih dari pembahasan ini adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa rujuk itu mungkin dilakukan jika lafal akad diucapkan oleh suami tanpa adanya ta‘liq (penggantungan) yang jelas, dan perempuan dapat menarik kembali permintaannya dengan cara apa pun bentuk lafal ucapannya.

ويتصل بهذا الطرف أنهما لو تخالفا على التواصل المعتبر ظاهراً ثم قال الزوج قد رجعتُ قبل قبولها فهل يُقبل قوله الذي نراه القطعُ بأنه لا يقبل قوله فإن صورة قوله مع صورة العقد جرت وادعى الزوج بعد جريانها ما يتعقب العقد بالإفساد فكان كما لو وكل وكيلاً بعقد ثم نفذ الوكيل العقد فادعى الموكِّل أني كنت عزلتك قبل أن عقدتَ فهذا لا يُقبل بعد جريان ظاهر العقد من الوكيل

Terkait dengan hal ini, apabila keduanya berselisih tentang adanya kesinambungan yang dianggap sah secara lahiriah, kemudian suami berkata, “Aku telah menarik kembali (rujuk) sebelum ia menerima,” maka apakah perkataannya diterima? Pendapat yang kami anggap pasti adalah bahwa perkataannya tidak diterima. Sebab, bentuk perkataannya telah terjadi bersamaan dengan bentuk akad, lalu suami mengklaim setelah terjadinya akad sesuatu yang membatalkan akad tersebut. Hal ini sama seperti seseorang yang mewakilkan orang lain untuk melakukan akad, lalu sang wakil melaksanakan akad tersebut, kemudian si pemberi kuasa mengklaim, “Aku telah mencabut kuasamu sebelum engkau melakukan akad.” Maka klaim tersebut tidak diterima setelah akad secara lahiriah telah dilakukan oleh sang wakil.

فإن ادعى علمها بالرجوع حلّفها وما ذكرناه في هذا الطرف يجري في جانبها وفائدة إجرائه إلزامُه المالَ المسمّى في ظاهر الأمر كما ذكرناه

Jika ia mengaku bahwa istrinya mengetahui rujuknya, maka ia harus menyuruh istrinya bersumpah. Apa yang telah kami sebutkan dalam permasalahan ini juga berlaku pada pihak istri. Manfaat dari penerapan hal ini adalah mewajibkan suami membayar mahar yang telah disebutkan secara lahiriah, sebagaimana telah kami jelaskan.

ومن أصحابنا من قال معنى قوله ما لم يتناكرا ما لم يتخالفا في المسمى مقداراً أو جنساً وهذا ظاهر كلامه فإنه تعرض للمسمى وثبوته ثم ذكر التناكر ثم لم يستتم جواب المسألة وتمامُ الجواب أنهما يتحالفان ثم الرجوع إلى مهر المثل والإخلال بتمام البيان محمول على ظهوره هذا هو الممكن فيه

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa makna perkataannya “selama keduanya tidak saling mengingkari” adalah selama keduanya tidak berselisih dalam hal yang disebutkan, baik dari segi jumlah maupun jenisnya. Ini tampak jelas dari ucapannya, karena ia membahas tentang apa yang disebutkan dan penetapannya, lalu menyebutkan adanya pengingkaran, kemudian tidak menyelesaikan jawaban atas permasalahan tersebut. Jawaban yang sempurna adalah bahwa keduanya saling bersumpah, kemudian kembali kepada mahar mitsil. Kekurangan dalam penjelasan yang sempurna dapat dimaknai karena sudah jelas maksudnya; inilah yang mungkin dapat dipahami darinya.

فصل وإن قالت على ألفٍ ضمنها لك غيري أو على ألف فَلْسٍ إلى آخره

Bagian: Jika seseorang berkata, “Atas seribu, yang menjaminnya untukmu adalah orang lain,” atau “Atas seribu fulus,” dan seterusnya.

هذا الفصل يستدعي تقديمَ أكثرَ من أصلٍ والتعرضَ لبيان أطرافها وإذا أجريناها إلى منتهى الغرض انعطفنا على السواد وما فيه

Bab ini memerlukan pemaparan lebih dari satu prinsip dan penjelasan tentang bagian-bagiannya. Jika kita membahasnya hingga tujuan akhirnya, kita akan kembali pada pembahasan tentang tulisan hitam dan apa yang terkandung di dalamnya.

الأصل الأول في بيان اختلاف الزوجين في تواجب العقد في جنس المسمّى ومقداره فإذا قال الرجل لامرأته أنت طالق على ألف درهم فقالت قبلت على ألف فَلْسٍ فيلغو الخلع والنكاحُ قائم فنّ شرط انعقاده التوافقُ في الاستيجاب والإيجاب أو في الإيجاب والقبول فإذا اختلفا فلا تعاقد وكلام كل واحد منهما في حكم ابتداء الكلام لا تعلق له بما قبله وبعده وسنبين الآن أنها إذا أطالت فصلاً زمانياً بين إيجابه وقبولها لم نقض بثبوت الخلع أصلاً لما في إطالة الفصل من الإشعار بالإعراض مع أنا لا نبعد تخلل الفاصل بعذر فإذا كان نظام العقد ينقطع بما ذكرناه فكيف يلتئم ولا تعلّق لأحد الكلامين بالثاني

Prinsip pertama dalam menjelaskan perbedaan pendapat antara suami istri terkait kewajiban akad dalam jenis dan jumlah mahar adalah: jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu dirham,” lalu sang istri berkata, “Aku terima dengan seribu fils,” maka khulu‘ menjadi batal dan pernikahan tetap berlangsung. Syarat sahnya akad adalah adanya kesepakatan dalam permintaan dan penawaran, atau dalam penawaran dan penerimaan. Jika keduanya berbeda, maka tidak terjadi akad, dan ucapan masing-masing dianggap sebagai permulaan pembicaraan yang tidak berkaitan dengan ucapan sebelumnya maupun sesudahnya. Kami juga akan menjelaskan bahwa jika istri memperpanjang jeda waktu antara penawaran suami dan penerimaannya, maka kami tidak memutuskan terjadinya khulu‘ sama sekali, karena memperpanjang jeda menunjukkan adanya penolakan, meskipun kami tidak menutup kemungkinan adanya jeda karena uzur. Jika sistem akad dapat terputus karena hal yang telah disebutkan, maka bagaimana mungkin akad dapat terjalin, sementara tidak ada keterkaitan antara salah satu ucapan dengan ucapan yang lain?

والآن إذا انتهى الكلام إلى رعاية التواصل فهو مذكور في الفصل الذي يعقب هذا إن شاء الله تعالى

Sekarang, jika pembahasan telah sampai pada menjaga kesinambungan, maka hal itu akan disebutkan pada bab setelah ini, insya Allah Ta‘ala.

ومما يتعلق بهذا الفصل وهو مَزِلّةٌ اضطرب فيها الطرقُ وحقٌّ على من يبغي دَرْك الغايات أن يَصرف الاهتمامَ إليه والوجهُ فيه أن نذكر طرق الأصحاب طريقةً طريقةً وننقل ما قالوه على ثَبَتٍ ثم ننعطف فنبدي ما فيه من الإشكال ونبيّن على الاتصال ما يُنتج الإشكال ثم نرجع رجعة أخرى ونوضّح أن ما ذكرناه وإن كان قياساً فهو مائل عمّا قال الأئمة بعض الميل ثم نذكر وراء ذلك الممكنَ في توجيه ما نقلناه

Salah satu hal yang berkaitan dengan bab ini, yang merupakan titik rawan di mana banyak pendapat berselisih, dan merupakan kewajiban bagi siapa pun yang ingin mencapai tujuan akhir untuk memberikan perhatian khusus padanya, adalah bahwa kami akan menyebutkan metode-metode para sahabat satu per satu, lalu kami akan menukil apa yang mereka katakan secara rinci. Setelah itu, kami akan kembali untuk menunjukkan permasalahan yang ada di dalamnya dan menjelaskan secara berkesinambungan apa yang menimbulkan permasalahan tersebut. Kemudian, kami akan kembali lagi dan memperjelas bahwa apa yang telah kami sebutkan, meskipun merupakan qiyās, tetap sedikit menyimpang dari apa yang dikatakan para imam. Setelah itu, kami akan menyebutkan kemungkinan penjelasan atas apa yang telah kami nukilkan.

فلتقع البداية بتصور ما نريد والتصوير مختلف أيضاًًً والذي نقل عن القاضي أن الرجل إذا قال لامرأته أنت طالق على ألف ولم يتعرض للجنس المعدود بها وقالت المرأة اختلعت على ألف ولم توضح أيضاًً الجنسَ ثم قال الرجل عنيتُ به الدراهم وأنتِ تعلمين ذلك وقالت المرأة عنيتُ به الفلوس وأنتَ تعلم أني عنيت بذكر الألف الفلوسَ قال القاضي فيما نَقَل عنه من أثق به يتحالفان والرجوع إلى مهر المثل

Maka hendaknya permulaan dimulai dengan membayangkan apa yang dimaksud, dan gambaran pun berbeda-beda. Diriwayatkan dari al-Qadhi bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu,” tanpa menyebutkan jenis mata uang yang dimaksud, lalu sang istri berkata, “Aku menebus diriku dengan seribu,” juga tanpa menjelaskan jenisnya, kemudian laki-laki itu berkata, “Yang aku maksud adalah dinar, dan engkau mengetahuinya,” sedangkan sang istri berkata, “Yang aku maksud adalah fulus, dan engkau tahu bahwa ketika aku menyebut seribu, yang aku maksud adalah fulus,” maka al-Qadhi, sebagaimana dinukil dari orang yang aku percaya, berpendapat bahwa keduanya saling bersumpah, dan kembali kepada mahar mitsil.

ووجهُ الإشكال فيما قال أنه فرض العقدَ معقوداً بألف مرسلة ثم أخذ يدير التنازع على ما صورنا وبنى عليه التحالف وهذا في نهاية الإشكال فإن إطلاق الألف حقُّه أن يفسد العقد حتى يلزمَ الرجوع إلى مهر المثل ولا أثر للتنازع وموجَبُ هذا القياسِ البيّنِ أنهما وإن تطابقا على إرادة الدراهمِ بالألف المطلق فالعقد لا ينعقد على الصحة و تحصل البينونة فيقع الرجوع إلى مهر المثل فإن العقود لا تعتمد في إبانة أعواضها النيّات وإنما النظر في الإعلام والجهالة إلى صيغ الألفاظ لا غير واللفظ مجملٌ مرسل في صورة المسألة

Letak permasalahan dalam apa yang dikatakannya adalah bahwa ia menganggap akad tersebut telah terjadi dengan seribu (uang) yang tidak dijelaskan jenisnya, kemudian ia membangun perdebatan atas apa yang telah kami gambarkan dan mendasarkan hukum saling bersumpah atasnya. Ini adalah permasalahan yang sangat pelik, karena penyebutan “seribu” secara mutlak seharusnya menyebabkan akad menjadi batal sehingga harus kembali kepada mahar mitsil, dan perselisihan tidak berpengaruh. Konsekuensi dari qiyās yang jelas ini adalah, meskipun kedua belah pihak sepakat bahwa yang dimaksud dengan “seribu” yang disebutkan secara mutlak itu adalah dirham, akad tetap tidak sah dan terjadi pemutusan (fasakh), sehingga harus kembali kepada mahar mitsil. Sebab, dalam akad, penetapan nilai pengganti tidak didasarkan pada niat, melainkan yang diperhatikan adalah kejelasan dan ketidakjelasan dalam redaksi lafaz saja, dan lafaz dalam kasus ini bersifat umum dan tidak terperinci.

وذكر العراقيون مسلكاً آخر وغيروه قليلاً عما حكيناه عن القاضي فقالوا إذا قال الرجل خالعتك على ألف درهم ولم يكن في البلد نقد مطرد في الجريان بل كانت فيه نقودٌ مختلفة قالوا إن اتفقا على أنهما قصدا ألفاًً معلومة من صنوف الدراهم وتوافقا فيصح الخلع وذكر القاضي في الألف المرسلة مثلَ ذلك إذا فرض التوافق على الجنس ثم بنى العراقيون على ما قدروا من التصادق فقالوا لو أطلقا ألف درهم ثم اختلفا فذكر كل واحد منهم جنساً وصنفاً أنكره الثاني فهل يتحالفان

Orang-orang Irak menyebutkan satu metode lain dan mereka sedikit mengubahnya dari apa yang kami riwayatkan dari al-Qadhi. Mereka berkata: Jika seorang laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu dirham,” sementara di negeri itu tidak ada mata uang yang berlaku secara umum, melainkan terdapat berbagai macam mata uang, mereka berkata: Jika keduanya sepakat bahwa yang dimaksud adalah seribu dari jenis dirham tertentu dan mereka berdua setuju, maka khulu‘ itu sah. Al-Qadhi juga menyebutkan hal yang sama mengenai seribu yang disebutkan secara mutlak, jika diasumsikan adanya kesepakatan mengenai jenisnya. Kemudian, orang-orang Irak membangun pendapat atas dasar kemungkinan adanya kesepakatan tersebut. Mereka berkata: Jika keduanya menyebutkan seribu dirham secara mutlak, lalu berselisih, masing-masing menyebutkan jenis dan macam yang disangkal oleh yang lain, apakah keduanya harus saling bersumpah?

قالوا في المسألة وجهان أحدهما أنهما لا يتحالفان فإن التحالف لا يجري في النيات وإنما يجري في صفة الألفاظ والعقود وهذا ليس بشيء والأصح التحالف وهو الذي قطع به القاضي

Mereka mengatakan dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat pertama, keduanya tidak saling bersumpah, karena sumpah tidak berlaku pada niat, melainkan hanya pada sifat lafaz dan akad. Namun, pendapat ini tidak kuat. Pendapat yang lebih sahih adalah keduanya saling bersumpah, dan inilah yang diputuskan oleh al-Qadhi.

وذكر صاحب التقريب الألف المرسلة من غير ذكر جنس أصلاً كما ذكره القاضي ثم سلك مسلك القاضي في التفريع

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan seribu contoh yang dikemukakan tanpa menyebutkan jenisnya sama sekali, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qāḍī, kemudian ia mengikuti metode al-Qāḍī dalam penjabaran rincian.

ونحن بعدُ في مساق النقل ولكنا نذكر في كل فصل من المنقولات ما يتعلق به في تهذيب النقل فنقول الآن لا معنى للتقييد بألف درهم إن صح الانعقاد مع اختلاف النقود ولا فصل بين الألف المرسلة والمقيدة بجنس هذا لا شك فيه والبحث بعدُ أمامنا

Kita masih berada dalam pembahasan tentang riwayat, namun pada setiap bab dari hal-hal yang dinukilkan, kami menyebutkan apa yang berkaitan dengannya dalam penataan riwayat. Maka sekarang kami katakan: tidak ada makna pembatasan dengan seribu dirham jika akad tetap sah meskipun terdapat perbedaan mata uang, dan tidak ada perbedaan antara seribu yang disebutkan secara mutlak dan yang dibatasi dengan jenis tertentu; hal ini tidak diragukan lagi, dan pembahasan selanjutnya masih akan kita hadapi.

وذكر شيخنا أبو محمد طريقةً أخرى في المسألة فقال إن لم يتعارفا ولم يتواضعا على أن المراد بالألف ماذا فليس إلا القطع بفساد الخلع والرجوع إلى مهر المثل فإن الجهالة متمحضة لا دارىء لها سابقاً ولا مقترناً وإن تواضعا على أن يعيّنا بألفٍ جنساً ونوعاً تواصفاه وأحاطا به فالذي أطلقه أنهما لو توافقا على موجب التعارف وزعما أنهما عيّنا صنفاً تواضعا عليه فالخلع ينعقد

Dan guru kami, Abu Muhammad, menyebutkan cara lain dalam permasalahan ini. Beliau berkata: Jika keduanya (suami dan istri) tidak saling mengenal dan tidak sepakat bahwa yang dimaksud dengan seribu itu apa, maka tidak ada jalan lain kecuali memastikan bahwa khulu‘ itu batal dan kembali kepada mahar mitsil, karena ketidakjelasan di sini murni, tidak ada yang menghilangkannya baik sebelumnya maupun bersamaan. Namun jika keduanya sepakat untuk menentukan dengan seribu itu suatu jenis dan macam yang mereka berdua deskripsikan dan ketahui secara jelas, maka menurut pendapat yang beliau kemukakan, jika keduanya sepakat atas dasar kebiasaan dan mengklaim bahwa mereka telah menentukan jenis tertentu yang telah mereka sepakati, maka khulu‘ itu sah.

وهذا الذي ذكره إن كنا نستمسك بالقياس الجلي يلتفت على التردد في مهر السر والعلانية كما تقدم ذكرهما في كتاب الصداق وقد أوضحنا ثَمَّ أن الاعتبار بالعلانية ولا حكم لما جرى في السر من اصطلاح وتواضع وإذا كان كذلك فمقتضى هذا يوجب إظهارَ مذهبٍ في أن الخلع يفسد نظراً إلى اللفظ المبهم في صيغته

Apa yang disebutkan ini, jika kita berpegang pada qiyās yang jelas, berkaitan dengan keraguan mengenai mahar yang diberikan secara rahasia dan terang-terangan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Ṣadāq. Kami telah menjelaskan di sana bahwa yang menjadi pertimbangan adalah mahar yang diumumkan secara terang-terangan, sedangkan apa yang terjadi secara rahasia berupa kebiasaan dan kesepakatan tidak memiliki pengaruh hukum. Jika demikian halnya, maka konsekuensi dari hal ini menuntut untuk menampakkan suatu pendapat bahwa khulu‘ menjadi batal jika dilihat dari lafaz yang samar dalam redaksinya.

ثم قال شيخي بانياً على طريقته لو قالت المرأة في هذه الصورة أنا عنيت ألف فَلْسٍ وإن كان تعارفنا على الدراهم وقال الزوج لا بل أردتِ ما وقع التعارف عليه قال في المسألة وجهان أحدهما أنهما يتحالفان وإليه ميل النص كما سننقله إن شاء الله تعالى بعد الفراغ عن نقل الأصحاب

Kemudian guruku berkata, berdasarkan metodenya: Jika dalam kasus ini seorang wanita berkata, “Aku maksudkan seribu fulus, meskipun kebiasaan kita adalah menggunakan dirham,” dan suaminya berkata, “Tidak, justru engkau bermaksud apa yang telah menjadi kebiasaan kita,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah keduanya saling bersumpah, dan pendapat ini lebih condong kepada teks (nash), sebagaimana akan kami sampaikan setelah selesai mengutip pendapat para ulama, insya Allah Ta‘ala.

والثاني أنهما لا يتحالفان بل الوجه الرجوع إلى نيتها فإن الاطلاع عليها عسر فالقول قولها مع يمينها

Kedua, keduanya tidak saling bersumpah, melainkan yang tepat adalah kembali kepada niatnya. Karena mengetahui niat tersebut sulit, maka yang dipegang adalah pernyataannya dengan sumpahnya.

ثم قال إن قلنا يتحالفان فإذا حلفا فالرجوع إلى مهر المثل وإن قبلنا قولها فأثر قبول قولها مع اليمين مُصيِّرٌ الألفَ مبهمة مجهولة فإنها ليست منكرة للمالية في الخلع فالرجوع إلى مهر المثل لها هذا ما ذكره وزاد على الأصحاب فقال إبهام الألف مع فرض تقديم التعارف في الصداق والأثمان والأعواض جُمَع يخرّج على هذا التفصيل فلا فرق هذا منتهى كلامه

Kemudian ia berkata, jika kita mengatakan keduanya saling bersumpah, maka setelah keduanya bersumpah, kembali kepada mahar mitsil. Dan jika kita menerima perkataannya (perempuan), maka akibat menerima perkataannya dengan sumpah adalah menjadikan seribu (uang) itu menjadi tidak jelas dan tidak diketahui, karena ia (perempuan) tidak mengingkari adanya nilai harta dalam khulu‘, maka kembali kepada mahar mitsil baginya. Inilah yang disebutkannya, dan ia menambahkan atas pendapat para ulama bahwa ketidakjelasan seribu (uang) itu, dengan anggapan adanya keharusan saling mengenal dalam mahar, harga, dan kompensasi, semuanya dapat dirujukkan kepada rincian ini, sehingga tidak ada perbedaan. Demikian akhir ucapannya.

وقد قال العراقيون إذا ذكروا الخلاف في التعارف إذا قلنا لا يتحالفان فالرجوع إلى مهر المثل لوقوع الاستبهام

Orang-orang Irak berkata, apabila terjadi perbedaan pendapat dalam hal ta‘āruf, jika kita mengatakan bahwa keduanya tidak saling bersumpah, maka kembali kepada mahar mitsil karena telah terjadi ketidakjelasan.

وعلينا في استتمام النقل صورٌ ذكرها القاضي على منهاج طريقه فنذكرها قال لو تخالعا والألف مطلق لا تعرّف بالتعارف إذا قال الرجل عنيتُِ بالألف الدراهم وأنت تعلمين وخالفت المرأة فقالت بل عنينا الفلوس وأنت تعلم فإنهما يتحالفان والرجوع إلى مهر المثل

Kita perlu melengkapi penukilan dengan beberapa kasus yang disebutkan oleh al-Qadhi sesuai dengan metodenya, maka kami sebutkan di sini. Ia berkata: Jika suami istri melakukan khul‘ dan lafaz “alfa” (seribu) disebutkan secara mutlak tanpa penjelasan melalui kebiasaan, lalu suami berkata, “Yang aku maksud dengan ‘alfa’ adalah dirham, dan engkau mengetahuinya,” sementara istri membantah dan berkata, “Justru yang kami maksud adalah fulus, dan engkau mengetahuinya,” maka keduanya saling bersumpah, dan kembali kepada mahar mitsil.

وقال أيضاًًً لو تخالعا على ألف مطلق واتفقا على أنه لم يكن منهما نية فالخلع فاسد والرجوع إلى مهر المثل إذ الفرقة لا ترد وسبب فساد الخلع جهالة البدل في الصورة التي ذكرناها

Ia juga berkata: Jika keduanya melakukan khulu‘ dengan nilai seribu secara mutlak dan keduanya sepakat bahwa tidak ada niat dari keduanya, maka khulu‘ tersebut batal dan kembali kepada mahar mitsil, karena perpisahan tidak dapat dibatalkan dan sebab batalnya khulu‘ adalah ketidakjelasan pengganti dalam gambaran yang telah kami sebutkan.

وذكر متصلاً بهذا أنه لو خالعها على شيء أو ألف شيء فالرجوع إلى مهر المثل وهذا دالٌّ على أن الخلع على الشيء خُلع على مجهول والجهالة لا تزول بالتطابق على النية حتى لو قالا أردنا بالشيء درهماً فلا حكم لتوافقهما على الإرادة وكذلك القول فيه إذا قال ألف شيء وإنما أجرى ما ذكرناه من تنزيل اللفظ على النية إذا جرى ذكر الألف المطلقة ورأى الألفَ المطلقة قابلةً لأثر النية والقصد بخلاف الألف المقيد بالشيء

Disebutkan berkaitan dengan hal ini bahwa jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan sesuatu atau seribu sesuatu, maka yang menjadi acuan adalah mahar mitsil. Ini menunjukkan bahwa khulu‘ dengan sesuatu berarti khulu‘ dengan sesuatu yang tidak jelas, dan ketidakjelasan itu tidak hilang hanya karena kesepakatan niat, sehingga jika keduanya berkata, “Yang kami maksud dengan sesuatu itu adalah satu dirham,” maka kesepakatan mereka atas maksud tersebut tidak dianggap. Demikian pula halnya jika dikatakan seribu sesuatu. Adapun yang kami sebutkan tentang penyesuaian lafaz dengan niat itu berlaku jika yang disebut adalah seribu secara mutlak, dan seribu yang disebut secara mutlak itu masih dapat menerima pengaruh niat dan maksud, berbeda dengan seribu yang dibatasi dengan sesuatu.

ومما ذكره أن الرجل إذا قال و قد جرى الألف عنيتُ بها الدراهم وأنت عنيتِ الفلوس وأراد بذلك دفع الفرقة فإن الأمر لو كان كذلك لم تقع الفرقة وكان كما لو صرح الرجل بذكر الألف درهم فقبلت المرأة بألف فلس فإن القصود إذا كانت تؤثر فهي نازلة منزلة العبارات متفقها كمتفقها ومختلفها كمختلفها ولما قال الرجل عنيتُ أنا الدراهم وعنيتِ أنت الفلوس قالت المرأة أنا عنيت الدراهم أيضاًًً فالرجل كما قدمناه يقصد دفع الفرقة فلا نقبل قولَه عليها ونحكم بوقوع الفرقة وهذا منقاس حسن ثم قال وله عليها مهر المثل لتعذر تسليم المسمى

Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata, dan telah disebutkan seribu, “Aku maksudkan seribu itu adalah dirham, dan engkau maksudkan fulus,” dan ia bermaksud dengan itu untuk menolak terjadinya perpisahan, maka jika memang demikian keadaannya, perpisahan tidak terjadi, dan hal itu seperti jika seorang laki-laki secara jelas menyebutkan seribu dirham, lalu wanita menerima dengan seribu fulus. Jika maksud-maksud itu berpengaruh, maka kedudukannya sama seperti ungkapan-ungkapan; yang sepakat seperti yang sepakat, dan yang berbeda seperti yang berbeda. Ketika laki-laki berkata, “Aku maksudkan dirham, dan engkau maksudkan fulus,” lalu wanita berkata, “Aku juga maksudkan dirham,” maka sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, laki-laki itu bermaksud menolak terjadinya perpisahan, maka kami tidak menerima ucapannya terhadap wanita itu dan kami menetapkan terjadinya perpisahan. Ini adalah qiyās yang baik. Kemudian ia berkata, “Wanita itu berhak mendapatkan mahar mitsil karena tidak memungkinkan untuk menyerahkan mahar yang telah disebutkan.”

وهذا مشكل كما سننبه عليه

Ini merupakan permasalahan, sebagaimana akan kami jelaskan nanti.

ومما ذكره أن الرجل لو قال عنيتُ الدراهم وأنتِ عنيت الفلوس فقالت أنا عنيتُ الفلوس كما ذكرتَ ولكنك عنيتَ الفلوس أيضاًًً قال الطلاق واقع لوجود الإيجاب والقبول وعليها مهر المثل وهذا مشكلٌ أيضاًًً كما سنذكره إن شاء الله عز وجل

Dan di antara yang disebutkan adalah jika seorang laki-laki berkata, “Aku maksudkan dirham, dan engkau maksudkan fulus,” lalu perempuan itu berkata, “Aku memang maksudkan fulus seperti yang engkau sebutkan, tetapi engkau juga maksudkan fulus,” maka dikatakan talak terjadi karena adanya ijab dan kabul, dan perempuan itu berhak atas mahar mitsil. Namun, hal ini juga masih bermasalah, sebagaimana akan kami sebutkan insyaallah ‘azza wa jalla.

فهذا منتهى الغرض في نقل قول الأصحاب وتفريعهم ونحن نتكلم وراء ذلك على جهة المباحثة فيما قدمنا نقله ونرى الكلام منقسماً إلى ما يتعلق بالأمور الكلية وإلى ما فرعه الأصحاب عليها

Inilah batas akhir tujuan dalam menyampaikan pendapat para ulama mazhab dan penjelasan cabang-cabangnya. Setelah itu, kami akan membahas lebih lanjut mengenai apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, dan kami melihat bahwa pembahasan ini terbagi menjadi hal-hal yang bersifat umum serta hal-hal yang merupakan cabang dari apa yang telah dijelaskan oleh para ulama mazhab.

فأما الكلام على الكليّات فحاصل ما ذكره الأصحاب يحصره طريقان إحداهما وإليه ميْلُ معظم الأئمة المصيرُ إلى تثبيت العوض بالنية والقصد من غير تقدّم تواطؤ وتعارف

Adapun pembahasan tentang hal-hal yang bersifat kulliyat, maka inti dari apa yang disebutkan para ulama dapat dirangkum dalam dua cara. Salah satunya—dan inilah yang lebih condong dipilih oleh mayoritas imam—adalah menetapkan adanya kompensasi (‘iwadh) berdasarkan niat dan maksud, tanpa adanya kesepakatan atau saling mengenal sebelumnya.

والثانية مبناها على التعارف فأما إن لم يكن التعارف فقد رأيناهم مجتمعين من طريق النقل والفحوى على أن الشيء إذا ذكر لم يثبت بالنية وإنما الذي ذكرناه في عددٍ لا يَبين المعدود فيه كما لو ذكر عدد وضم إليه مجهول مثل أن يقال ألف شيء فهذا لا يثبت أيضاًًً بالنية وإنما يثبت عدد لا يقرن بمجهول

Yang kedua, dasarnya adalah pada kebiasaan (‘urf). Adapun jika tidak ada kebiasaan, maka kami melihat mereka sepakat, berdasarkan riwayat dan makna tersirat, bahwa suatu hal jika disebutkan, tidak dapat ditetapkan dengan niat. Adapun yang kami sebutkan terkait jumlah yang tidak jelas apa yang dihitung di dalamnya, seperti jika disebutkan suatu jumlah lalu digabungkan dengan sesuatu yang tidak diketahui, misalnya dikatakan “seribu sesuatu”, maka ini juga tidak dapat ditetapkan dengan niat, melainkan hanya jumlah yang tidak disertai dengan sesuatu yang tidak diketahui saja yang dapat ditetapkan.

ثم انقسم هؤلاء بعد الإجماع الذي حكيناه في محله فاكتفى المعظم بذكر العدد المطلق وشرط العراقيون ذكر الجنس مثل أن يقول ألف درهم ثم قالوا يتعين بالنية نوع من الجنس وإن كانت الدراهم مضطربة في البلدة والممكنُ في توجيه ما قالوه أن الشيء إذا ذُكر فهو لفظ مصوغٌ للإبهام وكذلك إذا أضيف إليه أو فسر العدد به فقيل عشرون شيئاً فلا تؤثر النية في إزالة الجهالة واللفظ موضوع لإثباتها وإذا قيل ألفٌ فبيانه إتمامٌ فاعتقدوا أن النية تتمم ثم خرّجوا هذا على تطريق الكنايات إلى النوايا بالطلاق وقالوا عماد الخلع الطلاق فإذا كان لا يمتنع انعقاد الخلع بما هو كناية في الطلاق تعويلاً على النية فكذلك البدل إذا ثبت ثبوت الكناية لم يبعد إتمامُه بالقصد والنية ثم افتراق الأئمة في ذكر الجنس والسكوت عن النوع وأن هذا أهل يشترط أم لا محمولٌ على ما نذكره تخيّل العراقيون أن الألف بمثابة الشيء فإذا وُصل بجنسٍ كان النوع بعده إتماماً

Kemudian, setelah ijmā‘ yang telah kami sebutkan pada tempatnya, mereka pun terbagi; mayoritas cukup dengan menyebut jumlah secara mutlak, sedangkan para ulama Irak mensyaratkan penyebutan jenis, seperti seseorang mengatakan “seribu dirham”. Lalu mereka berkata, jenis dari suatu barang dapat ditentukan dengan niat, meskipun dirham di suatu kota beragam. Penjelasan yang mungkin atas pendapat mereka adalah bahwa sesuatu yang disebutkan itu adalah lafaz yang disusun untuk makna samar, demikian pula jika lafaz itu disandarkan atau jumlah dijelaskan dengannya, seperti dikatakan “dua puluh sesuatu”, maka niat tidak berpengaruh dalam menghilangkan ketidakjelasan, dan lafaz itu memang dimaksudkan untuk menetapkannya. Namun jika dikatakan “seribu”, maka penjelasannya adalah penyempurnaan, sehingga mereka berpendapat bahwa niat dapat menyempurnakan. Kemudian mereka mengqiyaskan hal ini dengan penggunaan kināyah yang diarahkan pada niat dalam talak, dan mereka berkata bahwa inti dari khulu‘ adalah talak. Jika tidak terlarang akad khulu‘ dengan lafaz kināyah dalam talak dengan bersandar pada niat, maka demikian pula pengganti (tebusan); jika telah tetap seperti kināyah, tidaklah jauh untuk menyempurnakannya dengan maksud dan niat. Kemudian perbedaan para imam dalam menyebut jenis dan diam dari menyebut macam, serta apakah hal itu merupakan syarat atau tidak, tergantung pada apa yang kami sebutkan; para ulama Irak membayangkan bahwa “seribu” itu seperti “sesuatu”, maka jika disambungkan dengan jenis, maka penyebutan macam setelahnya adalah penyempurnaan.

وهذا إن صحت الطريقةُ خَورٌ وجبنٌ والسبيل أن العدد المطلق مفسر بالجنس والنوع وهذا شديد الشبه بترددٍ حكيناه في أن بيع ما لم يره المشتري إذا صح فهل يشترط فيه ذكر الجنس أم لا وإن شرط معه ازديادٌ على الجنس فيه تردد قدمناه في موضعه وهذا تقريب شبَهي والمأخذان مختلفان

Dan jika metode ini benar, maka itu adalah kelemahan dan ketakutan. Cara yang benar adalah bahwa jumlah mutlak harus dijelaskan menurut jenis dan macamnya. Hal ini sangat mirip dengan keraguan yang telah kami sebutkan tentang jual beli barang yang belum dilihat oleh pembeli, apabila sah, apakah disyaratkan untuk menyebutkan jenisnya atau tidak. Jika disyaratkan adanya tambahan dari jenis tersebut, maka terdapat keraguan yang telah kami kemukakan pada tempatnya. Ini hanyalah pendekatan kemiripan, sedangkan dasar pengambilan hukumnya berbeda.

والمأخذ الحقيقي هاهنا تشبيه أحد ركني الخلع بالعوض والثاني يعني تشبيه لفظ العوض بلفظ الطلاق وقد تحققتُ أن الأصحاب لم يحتملوا هذا في المعاوضات المحضة وسبب التردد في الخلع ما أشرنا إليه

Sumber utama di sini adalah penyerupaan salah satu rukun khulu‘ dengan ‘iwadh, dan yang kedua maksudnya adalah penyerupaan lafaz ‘iwadh dengan lafaz talak. Aku telah memastikan bahwa para ulama tidak mempertimbangkan hal ini dalam transaksi murni, dan sebab keraguan dalam khulu‘ adalah sebagaimana yang telah kami isyaratkan.

هذا منتهى الإمكان في ذلك الإشكال بحاله فإن العوض لا يثبت إلا معلوماً ويختص الخلع بأن العوض المجهول فيه لا يدرأ البينونة المقصودة بل يُرجع إلى مهر المثل فأما إثبات المجهول عوضاً بالنية فلا سبيل إليه ولو قيل به لزم مثله في الشيء قطعاً

Ini adalah batas maksimal kemungkinan dalam permasalahan tersebut sebagaimana adanya, karena kompensasi (al-‘iwadh) tidak dapat ditetapkan kecuali jika diketahui secara jelas, dan khulu‘ memiliki kekhususan bahwa kompensasi yang tidak diketahui di dalamnya tidak menghalangi terjadinya perpisahan (al-baynūnah) yang dimaksudkan, melainkan dikembalikan kepada mahar yang sepadan (mahr al-mithl). Adapun menetapkan sesuatu yang tidak diketahui sebagai kompensasi hanya berdasarkan niat, maka tidak ada jalan ke arah itu. Jika hal itu dibenarkan, maka hal serupa pasti berlaku pula pada perkara lain.

والذي تكلفناه خيالٌ فإن النية تَحمل اللفظَ على إحدى جهات الاحتمال ولا تصير كالصلة الزائدة فيه والألف شائع في جميع معدودات العالم كالشيء وأظهر منه الألف المضافة إلى الشيء فلسنا نرى للنية وقوفاً مع ذكر الشيء فليفهم الناظر ما نقدم وليقطع بما فيه من الاضطراب

Apa yang kami bahas hanyalah bayangan semata, karena niat membawa lafaz kepada salah satu sisi kemungkinan, dan tidak menjadi seperti tambahan yang melekat padanya. Alif (huruf alif) umum terdapat pada semua benda yang terhitung di dunia, seperti kata “sesuatu”, dan yang lebih jelas lagi adalah alif yang disandarkan pada sesuatu. Maka kami tidak melihat adanya keterikatan niat dengan penyebutan sesuatu itu. Hendaklah orang yang menelaah memahami apa yang kami sampaikan dan menetapkan adanya kerancuan di dalamnya.

ولو طرد طاردٌ هذا في المعاوضات كلِّها لكان أقرب وقد قال الفقهاء الجعالة مع ابتنائها على الغرر والجهالة يجب أن يكون العوض معلوماً فيها بالجهة التي تعلم بها أعواض البيع والقدر الذي هو المتعلق أن الجهالة احتملت في الجعالة للضرورة ولا ضرورة في ذكر لفظ الكناية في الخلع ثم انعقد الخلع بكناية الطلاق إجماعاً تعويلاً على النية والدليل عليه أيضاًً أن من محض حكم الطلاق التعليق ثم وجدنا مالاً يُملّك بالتعليق في الطلاق من غير لفظٍ مملِّكٍ فيه ولذلك إذا قال الرجل إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق فإذا أعطت ألفاًً مَلَكَ كما سيأتي بيانه إن شاء الله عز وجل

Jika seseorang menerapkan hal ini pada seluruh akad pertukaran, maka itu lebih mendekati kebenaran. Para fuqaha telah mengatakan bahwa ja‘ālah, meskipun didasarkan pada unsur gharar dan ketidakjelasan, tetap disyaratkan agar imbalannya diketahui dengan cara yang sama seperti diketahui imbalan dalam jual beli, dan kadar yang menjadi pokok permasalahan adalah bahwa ketidakjelasan itu dapat ditoleransi dalam ja‘ālah karena adanya kebutuhan, sedangkan tidak ada kebutuhan dalam penyebutan lafaz kināyah dalam khulu‘. Kemudian, khulu‘ tetap sah dengan kināyah talak secara ijmā‘, dengan bertumpu pada niat. Dalil atas hal ini juga adalah bahwa di antara hukum murni talak adalah adanya ta‘liq (penggantungan), kemudian kita dapati adanya harta yang menjadi milik dengan ta‘liq dalam talak tanpa adanya lafaz yang secara eksplisit memindahkan kepemilikan. Oleh karena itu, jika seorang laki-laki berkata, “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak,” lalu si istri memberikan seribu, maka ia menjadi berhak (atas talak tersebut), sebagaimana akan dijelaskan penjelasannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ولهذا الفصل وقعٌ عظيم في نفس الفقيه لما فيه من الميل عن القياس مع ما فيه

Bagian ini memiliki pengaruh yang besar dalam diri seorang faqih karena di dalamnya terdapat kecenderungan untuk menyimpang dari qiyās, beserta hal-hal yang terkandung di dalamnya.

من اتفاق معظم الأصحاب فليقع التعلق بهذا الذي ختمنا الكلام به

Karena mayoritas para ulama sepakat, maka hendaknya berpegang pada hal yang telah kami akhiri pembahasan dengannya ini.

وقد نجز الكلامُ على طريقةٍ واحدة

Dan pembahasan telah selesai pada satu metode.

فأما من يراعي التعارف فلم أر هذا أوّلاً لغير شيخنا وأنا أخشى أنه ارتاع من مخالفة القياس فظن أن الأصحاب أرادوا التعارف وأنا أشك في أن الأصحاب لم يريدوه فإن صح التعويل على التعارف فالنظر على حسب ما يليق بهذا أن نقول المذهب الأصح أن التواضع السّري لا تعويل عليه وإنما الحكم للّفظ المعلن المذكور حالة العقد فكان يجب على هذا أن يخرّج التعارف على الخلاف ولكن ينقدح مع ما نبهنا عليه فرقٌ وهو أن التواضع إذا وقع على ألفٍ في السر ثم جرى ذكرُ الألفين فموجب التواضع تغيير اللغة في هذه المسألة وإذا جرى التواضع على حمل الألف على نوعٍ فهذا من باب التواضع على تفسير مجملِ ما ذكراه صريحاًً وقصداه آخراً وهذا وإن كان فيه بعض الإخالة فليس يَدُلّ

Adapun bagi siapa yang mempertimbangkan ‘urf (kebiasaan yang dikenal), aku tidak melihat pendapat ini pertama kali kecuali dari guru kami, dan aku khawatir beliau terkejut karena bertentangan dengan qiyās, sehingga beliau mengira para sahabat (ulama terdahulu) menghendaki ‘urf. Aku sendiri ragu bahwa para sahabat tidak menghendakinya. Jika benar penetapan hukum berdasarkan ‘urf, maka menurut apa yang sesuai dengan hal ini, kita katakan bahwa mazhab yang paling sahih adalah bahwa kesepakatan rahasia (tawādu‘ sirri) tidak dapat dijadikan sandaran, dan hukum hanya berlaku pada lafaz yang diucapkan secara jelas pada saat akad. Maka, berdasarkan hal ini, seharusnya ‘urf dikembalikan pada perbedaan pendapat. Namun, ada perbedaan yang muncul sebagaimana telah kami isyaratkan, yaitu jika terjadi kesepakatan rahasia atas seribu (misal: dinar) secara diam-diam, kemudian disebutkan dua ribu, maka konsekuensi dari kesepakatan rahasia ini adalah perubahan istilah dalam masalah ini. Jika kesepakatan rahasia terjadi untuk membawa makna seribu pada jenis tertentu, maka ini termasuk dalam kategori kesepakatan untuk menafsirkan sesuatu yang global dari apa yang mereka sebutkan secara eksplisit dan maksudkan pada akhirnya. Meskipun dalam hal ini ada sedikit keraguan, namun hal itu tidak menunjukkan…

فإن كان في المسألة فقهٌ فلا يعدو وجهين أحدهما أن الرجوع إلى مهر المثل في جميع هذه المسائل وهذا هو القياس الجلي ولكني لم أر هذا لأحدٍ من الأصحاب حتى يسند إليه مذهباً

Jika dalam masalah tersebut terdapat fiqh, maka tidak keluar dari dua sisi: salah satunya adalah kembali kepada mahar mitsil dalam seluruh permasalahan ini, dan inilah qiyās yang jelas. Namun, aku tidak melihat pendapat ini dinisbatkan kepada salah satu dari para sahabat (ulama mazhab) sehingga dapat dijadikan sebagai suatu mazhab.

والوجه الثاني ما ذكرته من فصل الكناية وهذا وإن كان غامضاً فهو لائق بفقه الخلع على ما سنكمل الأنس به في مسائل الباب إن شاء الله تعالى أما التعارف والبناء عليه فليس من القياس الجلي في شيء وليس من الفقه الذي رأيناه تخصيصاً بالخلع في شيء

Adapun penjelasan kedua adalah apa yang Anda sebutkan tentang pemisahan lafaz kināyah. Meskipun hal ini samar, namun hal itu sesuai dengan fiqh khulu‘ sebagaimana akan kami jelaskan lebih lanjut dalam pembahasan bab ini, insya Allah Ta‘ala. Adapun kebiasaan (‘urf) dan membangun hukum di atasnya, itu bukan termasuk qiyās yang jelas, dan juga bukan termasuk fiqh yang kami lihat sebagai kekhususan dalam masalah khulu‘.

وقد نجز الكلام في هذا الفن مباحثةً في التفصيل مع تقدير القول بثبوت الألف بالنية

Pembahasan dalam bidang ini pun telah selesai secara rinci, dengan mempertimbangkan pendapat yang menetapkan adanya alif berdasarkan niat.

فإذا اعترف الزوجان بأنهما لم ينويا شيئاً فالرجوع إلى مهر المثل فإن المعتمد النية فإذا لم تكن تحققت الجهالةُ فانجرّ القول إلى القياس الجلي المطلوب

Jika kedua suami istri mengakui bahwa mereka tidak meniatkan sesuatu pun, maka kembali kepada mahar mitsil, karena yang menjadi pegangan adalah niat. Jika niat itu tidak ada, maka terjadilah ketidakjelasan, sehingga permasalahan ini kembali kepada qiyās jali yang diinginkan.

وكذلك إذا اتفقا على أن أحدهما لم ينو فالألف لا تثبت بمجرد نية من ينوي ولا يقع الطلاق من غير عوض فلا طريق إلا مهر المثل

Demikian pula, jika keduanya sepakat bahwa salah satu dari mereka tidak berniat, maka sumpah tidak ditetapkan hanya dengan niat orang yang berniat, dan talak tidak terjadi tanpa adanya ‘iwadh, sehingga tidak ada jalan lain kecuali mahar mitsil.

وإن كان تنازعا في النية فزعم أحدهما أنه نوى الدراهم المعلومة وزعم الثاني أنه نوى الفلوس فهذا فيه تثبت فإن لم يدع أحدهما على الثاني شيئاً ولكن أخبر عن نية نفسه فليس هذا محلَّ التحالف بلا خلاف والسبيل فيه الرجوع إلى مهر المثل كما قدمناه

Jika perselisihan terjadi pada niat, lalu salah satu dari keduanya mengklaim bahwa ia meniatkan dirham yang telah diketahui, dan yang kedua mengklaim bahwa ia meniatkan fulus, maka dalam hal ini perlu dilakukan penelusuran. Jika tidak ada salah satu dari keduanya yang menuduh yang lain, melainkan hanya memberitakan tentang niat dirinya sendiri, maka ini bukanlah tempat untuk melakukan sumpah menurut kesepakatan, dan solusinya adalah kembali kepada mahar mitsil sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وإن قال الرجل مثلاً عنيتُ الدراهم وعنيتِ أنت الدراهم وقالت المرأة عنيتُ الفلوس وعنيتَ أنت الفلوس وادعى كل واحدٍ مع ما ذكرناه عِلْمَ صاحبه فهذا موضع تردد الأصحاب فمنهم من قال يتحالفان وهو بمثابة ما لو اختلفا في عوض الخلع تصريحاً به فقال الزوج خالعتك على ألف درهم وقالت بل خالعتني على ألف فلس ولو اختلفا كذلك لتحالفا ثم الرجوع إلى مهر المثل وهذا الوجه هو الذي قطع به القاضي وهو القياس إن يثبت الأصل الذي ذكرناه فإن النية نازلة في هذا الأصل منزلة النطق المصرح به

Jika seorang laki-laki, misalnya, berkata: “Aku maksudkan dirham dan engkau maksudkan dirham,” sementara perempuan berkata: “Aku maksudkan fulus dan engkau maksudkan fulus,” dan masing-masing dari keduanya, selain apa yang telah kami sebutkan, mengaku mengetahui maksud pasangannya, maka ini adalah tempat keraguan di kalangan para sahabat (ulama mazhab). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa keduanya saling bersumpah, dan ini serupa dengan kasus jika keduanya berbeda pendapat secara jelas tentang kompensasi khulu‘, misalnya suami berkata: “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas seribu dirham,” sedangkan istri berkata: “Bahkan, engkau menceraikanku dengan khulu‘ atas seribu fulus.” Jika terjadi perbedaan seperti itu, maka keduanya saling bersumpah, kemudian kembali kepada mahar mitsil. Pendapat ini adalah yang diputuskan oleh al-Qadhi, dan inilah qiyās jika tetap pada kaidah yang telah kami sebutkan, karena niat dalam kaidah ini menempati posisi seperti ucapan yang diungkapkan secara jelas.

وذكر العراقيون وجهاً آخر أن التحالف لا يجري فإن هذا تحالفٌ في النية والقياس أن يرجع في صفة كل نية إلى الناوي وهذا يعارضه أن القياس أن يرجع في صفة كل قول إلى القائل وفي صلة كل عقدٍ إلى العاقد ثم إذا اختلف المتعاقدان في صفة العقد تحالفا إذ ليس أحدهما بأن يصدق أولى من الثاني وإذا كانت النية مرجوع العقد كانت كاللفظ وليس كما لو وجد التناكر في نية الطلاق فإنا إذا صدقنا الزوج انعدم العقد وهاهنا البينونة واقعة والرجوع في صفتها إلى لفظ

Orang-orang Irak menyebutkan pendapat lain bahwa tahaluf (saling bersumpah) tidak berlaku, karena ini adalah tahaluf dalam niat, dan menurut qiyās, penentuan sifat setiap niat dikembalikan kepada orang yang berniat. Namun, hal ini bertentangan dengan qiyās bahwa penentuan sifat setiap ucapan dikembalikan kepada orang yang mengucapkan, dan penentuan hubungan setiap akad dikembalikan kepada orang yang melakukan akad. Kemudian, jika dua pihak yang berakad berbeda pendapat tentang sifat akad, maka keduanya saling bersumpah, karena tidak ada alasan untuk lebih membenarkan salah satu dari keduanya. Jika niat menjadi dasar akad, maka ia seperti lafaz, dan tidak seperti ketika terjadi perbedaan dalam niat talak, karena jika kita membenarkan suami, maka akad menjadi batal. Sedangkan dalam kasus ini, perpisahan telah terjadi dan penentuan sifatnya dikembalikan pada lafaz.

قال العراقيون إذا قلنا لا يتحالفان فلسنا نحلّف واحداً منهما إذ ليس أحدهما أولى من الثاني ولو قدرنا تحليف كل واحدٍ منهما لكان يقتضي هذا ألاّ يقع الفراق بمثابة ما لو قال الزوج خالعتك بألف درهم فقالت قبلت بألف فلس ولو جرى ذلك لم يقع شيء فإنها لم تقبل ما طلقها عليه وإذا رجع الخلاف إلى النية فالبينونة واقعة بلا خلاف فإن جرى التوافق في اللفظ وهو المعتمد في وقوع البينونة ولا سبيل إلى دَرْئها فإن قلنا القول قولها فيما تعني عارضه أن القول قوله فيما يعني فينتظم من مجموعه جهالة لا دَرْءَ لها فالرجوع إلى مهر المثل وليس في هذا كبير فائدة إلا أن الحلف يسقط وإسقاط الحلف في نهاية البعد فإن الأيمان لا تُعنى لأعيانها وإنما يتوقع منها نكولٌ وردّ يمينٍ أو نكول عن يمين الرد وإقرار فحسْمُ باب الحلف لا وجه له وإذا لم يحسم فليس أحد الجانبين أولى من الثاني ثم ثمرة الوجهين جميعاً الرجوعُ إلى مهر المثل وإذا كان كذلك فلا معنى لرد قياس التحليف مع الموافقة في المقصود

Orang-orang Irak berkata: Jika kami mengatakan bahwa keduanya tidak saling bersumpah, maka kami tidak menyuruh salah satu dari mereka untuk bersumpah, karena tidak ada salah satu yang lebih berhak daripada yang lain. Seandainya kami menganggap keduanya harus bersumpah, maka hal itu akan mengakibatkan perceraian tidak terjadi, sebagaimana jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu dirham,” lalu istri berkata, “Aku terima dengan seribu fulus.” Jika hal itu terjadi, maka tidak terjadi apa-apa, karena istri tidak menerima apa yang menjadi dasar talak suaminya. Jika perselisihan kembali pada niat, maka perpisahan (bainunah) tetap terjadi tanpa ada perbedaan pendapat. Jika terjadi kesesuaian dalam lafaz, inilah yang menjadi dasar terjadinya bainunah dan tidak ada jalan untuk menolaknya. Jika kami mengatakan bahwa yang dipegang adalah ucapan istri tentang apa yang ia maksud, maka akan bertentangan dengan pendapat bahwa yang dipegang adalah ucapan suami tentang apa yang ia maksud, sehingga dari keseluruhan hal itu timbul ketidakjelasan yang tidak bisa dihindari. Maka, kembali pada mahar mitsil (mahar sepadan), dan dalam hal ini tidak ada manfaat besar kecuali bahwa sumpah menjadi gugur. Menggugurkan sumpah sangatlah jauh (dari kebenaran), karena sumpah tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, melainkan diharapkan darinya adanya penolakan, pembalikan sumpah, atau pengakuan. Maka, menutup pintu sumpah tidak ada dasarnya. Jika tidak ditutup, maka tidak ada satu pihak pun yang lebih berhak daripada yang lain. Kemudian, hasil dari kedua pendapat tersebut adalah kembali pada mahar mitsil. Jika demikian, maka tidak ada alasan untuk menolak qiyās pengambilan sumpah, karena tujuannya sama.

وقد انتهى الكلام في ذلك

Dan pembahasan mengenai hal itu telah selesai.

فلو قال الرجل عنيتُ بألفٍ دراهم وأنتِ تعلمين أني عنيتُها وقالت المرأة عنيتُ بالألف الفلوسَ وأنت تعلم أني عنيتُها ولم يزيدا على هذا ولم يدع واحد منهما على صاحبه أنك عنيتَ ما عنيتُ فالذي نقله موثوق به عن القاضي أنهما يتحالفان والرجوع إلى مهر المثل

Jika seorang laki-laki berkata, “Yang aku maksud dengan seribu adalah dirham, dan engkau mengetahui bahwa aku memang maksudkan itu,” lalu perempuan berkata, “Yang aku maksud dengan seribu adalah fulus, dan engkau mengetahui bahwa aku memang maksudkan itu,” dan keduanya tidak menambahkan apa pun selain itu, serta tidak ada salah satu dari mereka yang menuduh pasangannya bahwa “engkau bermaksud seperti yang aku maksud,” maka pendapat yang dapat dipercaya yang dinukil dari qadi adalah bahwa keduanya saling bersumpah, dan kemudian kembali kepada mahar mitsil.

وهذه الصورة مشكلة من جهة أن الزوج لا يستمر له دعوى الألف عليها ما لم يدع أنها قبلت الألف وإنما صح قبولها بلفظها ونيتها وكذلك القول في الطرف الآخر فكيف الوجه في ذلك الذي عندي فيه أن المراد بهذه الصورة هو المراد بالصورة الأولى فإنه إذا قال علمتِ ما عنيتُ معناه قبلتِ ما علمتِ ففي التصوير إيجازٌ وإلا حاصل الكلام أنك علمتِ قصدي وبنيتِ قبولك على ما علمتِ وكذلك القول في جانبها

Gambaran ini bermasalah dari satu sisi, yaitu bahwa suami tidak dapat terus-menerus mengklaim adanya ijab dari istri kecuali jika ia mengaku bahwa istri telah menerima ijab tersebut. Penerimaan itu hanya sah dengan lafaz dan niatnya, demikian pula halnya pada pihak yang lain. Lalu bagaimana solusinya? Menurut pendapat saya, maksud dari gambaran ini sama dengan maksud pada gambaran pertama, yaitu jika ia berkata, “Engkau telah mengetahui apa yang aku maksud,” artinya, “Engkau telah menerima apa yang engkau ketahui.” Jadi, dalam penggambaran ini terdapat bentuk ringkasan. Inti pembicaraannya adalah bahwa engkau telah mengetahui maksudku dan engkau membangun penerimaanmu atas apa yang engkau ketahui, demikian pula pada sisi istri.

فأما إذا لم يدّع الزوج عليها قبولَ الدراهم والمرأة لم تدّع على الزوج التطليقَ بالفلوس فكيف الوجه فيه هذا يستدعي تقديمَ أصلٍ وهو أنهما لو اتفقا على اختلاف النيتين وقد قال الزوج خالعتك على ألفٍ فقالت قبلتُ الألف وتصادقا على اختلاف القصدين فالذي يجب القطع به أن الطلاق يقع ظاهراً فإن اللفظين متوافقان ظاهراً وليقع الفرض في التصريح بالطلاق ولكنَّ أثرَ توافقهما في اختلاف القصد أن الزوج لا يطالبها بمالٍ فإنه معترف بأنه لم يوجد منها التزام ما ألزمها الزوج ولكن لا يقبل قوله في رد البينونة المغلّظة بظاهر اللفظ

Adapun jika suami tidak mengklaim bahwa istrinya menerima uang dirham, dan istri pun tidak mengklaim bahwa suaminya menceraikannya dengan uang fulus, maka bagaimana hukumnya dalam hal ini? Ini memerlukan penjelasan suatu prinsip, yaitu apabila keduanya sepakat tentang perbedaan niat, misalnya suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan seribu,” lalu istri berkata, “Aku menerima seribu itu,” dan keduanya sepakat bahwa niat mereka berbeda, maka yang harus dipastikan adalah talak tetap jatuh secara lahiriah, karena kedua lafaz tersebut tampak serasi secara lahiriah, dan kasus ini terjadi pada pernyataan talak secara eksplisit. Namun, pengaruh dari kesepakatan mereka tentang perbedaan niat adalah suami tidak dapat menuntut istrinya untuk membayar harta, karena ia mengakui bahwa dari pihak istri tidak ada komitmen terhadap apa yang diwajibkan suami kepadanya. Akan tetapi, pengakuan suami tersebut tidak diterima dalam menolak terjadinya bainunah mugallazah berdasarkan kejelasan lafaz.

فإن قيل هذا حكم الظاهر فما حكم الباطن في علم الله تعالى لو فرض اختلاف النيتين قلنا قياس الأصل الذي بنينا عليه هذه التفاريع أن النية مع الألف المطلقة بمثابة اللفظ الصريح

Jika dikatakan, “Ini adalah hukum lahiriah, lalu bagaimana hukum batin menurut ilmu Allah Ta‘ala jika diasumsikan terdapat perbedaan dua niat?” Kami katakan, qiyās terhadap asal yang menjadi dasar kami dalam cabang-cabang ini adalah bahwa niat dengan lafaz mutlak itu seperti lafaz sharih.

ولو قال خالعتك على ألفِ درهم فقالت قبلت بألف فلس لم يقع الطلاق

Jika seorang suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ dengan imbalan seribu dirham,” lalu sang istri berkata, “Aku terima dengan seribu fulus,” maka talak tidak terjadi.

ولو قال لامرأته أنت طالق وزعم أنه نوى طلاقاً عن وثاقٍ فإن كان صادقاً فالحكم أنه لا يقع الطلاق باطناً ولكن يَعلمُ من نفسه صدقَ نفسه فهو باطن يمكن الاطلاع عليه فكان باباً من أبواب الفقه متميزاً عن الغيب وتخالفهما في النية لا يطلع عليه واحد من الزوجين فليس هذا من المواطن الملتحقة بأبواب التديين بل هو بمثابة ما لو قال زيد إن كان هذا الطائر غراباً فامرأته طالق وقال عمرو إن لم يكن غراباً فامرأته طالق فلا يُحكم بوقوع الطلاق على زوجة واحدٍ منهم إذا تحقق اليأس من درك الحقيقة وما يقدّر متعلقاً بعلم الله تعالى غيبٌ لا يقع به حكم لا في الظاهر ولا في الباطن لكن الطلاق يتعلق به احتياطٌ والاحتياط في مسألتنا الحكمُ بوقوع الطلاق البائن منهما

Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Kamu talak,” lalu ia mengaku bahwa ia berniat talak karena suatu ikatan (bukan talak sesungguhnya), maka jika ia jujur, hukumnya adalah talak tidak jatuh secara batin, namun ia sendiri mengetahui kebenaran niatnya; ini adalah perkara batin yang bisa diketahui, sehingga menjadi salah satu bab dalam fiqh yang berbeda dengan perkara gaib. Adapun perbedaan niat antara keduanya yang tidak dapat diketahui oleh salah satu dari suami istri, maka ini bukan termasuk perkara yang masuk dalam bab tadyin, melainkan seperti jika seseorang berkata, “Jika burung ini gagak, maka istriku talak,” dan orang lain berkata, “Jika bukan gagak, maka istriku talak.” Maka tidak diputuskan jatuhnya talak pada istri salah satu dari mereka jika telah dipastikan mustahil mengetahui kebenarannya. Apa yang dikaitkan dengan ilmu Allah Ta‘ala adalah perkara gaib yang tidak dapat dijadikan dasar hukum, baik secara lahir maupun batin. Namun talak berkaitan dengan kehati-hatian, dan kehati-hatian dalam masalah kita ini adalah memutuskan jatuhnya talak bain dari keduanya.

مباحثةٌ أخرى حكينا من تفريعات القاضي أنه إذا قال الرجل عنيتُ بالألف الدراهمَ وأنتِ عنيت الفلوس وقالت المرأة بل عنيتُ الدراهم فلا يقبل قوله عليها وهي تدعي موافقته ويحكم بوقوع الفرقة المبينة وحكينا أنه قال له عليها مهر المثل لتعذر تسليم المسمّى أما الحكم بوقوع الفرقة فبيّنٌ بناء على ظاهر اللفظ وما فيه من التوافق وأما إيجاب مهر المثل عليها فلا يستقيم على الأصل لأن الزوج يدّعي أن الطلاق لم يقع وإذا لم يدع الوقوع كيف يثبت له العوض وهو لا يدّعيه بموجب قول نفسه ومن لا يدّعى مالاً كيف يطالِب به فإن قال قائل لو صدّقها من بعدُ أنها عنت الألف التي عناها هو قلنا إذ ذاك نطالبها بالمسمى المعيّن لا بمهر المثل

Pembahasan lain yang kami nukil dari cabang-cabang pendapat al-Qadhi adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata, “Aku maksudkan dengan seribu itu adalah dirham, dan engkau maksudkan fulus,” lalu perempuan berkata, “Justru aku maksudkan dirham,” maka perkataannya tidak diterima atas dirinya sementara ia mengaku telah setuju, dan diputuskan terjadinya perpisahan yang nyata. Kami juga nukil bahwa ia (al-Qadhi) berkata, “Ia wajib membayar mahar mitsil karena tidak mungkin menyerahkan mahar yang telah disebutkan.” Adapun keputusan terjadinya perpisahan, itu jelas berdasarkan pada lahiriah lafaz dan kesesuaian di dalamnya. Adapun mewajibkan mahar mitsil atasnya, itu tidak sesuai dengan prinsip dasar, karena suami mengaku bahwa talak tidak terjadi. Jika ia tidak mengaku terjadinya talak, bagaimana bisa ditetapkan baginya kompensasi, padahal ia sendiri tidak menuntutnya berdasarkan ucapannya sendiri? Dan siapa yang tidak menuntut harta, bagaimana ia bisa menuntutnya? Jika ada yang berkata, “Bagaimana jika ia kemudian membenarkannya bahwa ia memang maksudkan seribu yang ia maksudkan juga?” Kami katakan, “Saat itu, kami menuntutnya dengan mahar yang telah ditentukan, bukan dengan mahar mitsil.”

مباحثةٌ أخرى حكينا في تفريع القاضي أن الزوج إذا قال عنيتُ الدراهمَ وأنتِ عنيتِ الفلوس وقالت المرأة بل عنيتَ أنت الفلوسَ وأنا عنيتُ الفلوس قال الطلاق واقع لوجود الإيجاب والقبول وعليها مهر المثل

Pembahasan lain yang telah kami sebutkan dalam cabang permasalahan qadhi adalah bahwa jika suami berkata, “Aku maksudkan dirham dan engkau maksudkan fulus,” lalu istri berkata, “Bahkan engkau maksudkan fulus dan aku pun maksudkan fulus,” maka talak terjadi karena adanya ijab dan kabul, dan istri berhak mendapatkan mahar mitsil.

أما وقوع الطلاق فبعيد لاعتراف الزوج بأنها عنتِ الفلوس ولو عَنَتْها لكانت نيتها كلفظها ولو صرحت لما وقع شيء إذا تخالفا وإذا لم يقع شيء لم يثبت عوض

Adapun terjadinya talak adalah jauh kemungkinannya, karena suami mengakui bahwa yang dimaksud istrinya adalah uang. Andaikan ia memang bermaksud demikian, maka niatnya sejalan dengan ucapannya. Namun, jika ia secara tegas menyatakannya, maka tidak terjadi apa-apa apabila keduanya berbeda pendapat. Dan jika tidak terjadi apa-apa, maka tidak ada ganti rugi yang ditetapkan.

ونحن نختم هذه المباحثات بشيء فنقول لعل القاضي يقول إذا توافقا على القصد فالقصد مع اللفظ كاللفظ الصريح وإن لم يقصدا شيئاً فهو خلع بمجمل

Kami menutup pembahasan ini dengan suatu hal, yaitu: barangkali seorang qadhi berkata, jika kedua belah pihak telah sepakat pada maksudnya, maka maksud bersama lafaz itu seperti lafaz yang jelas; dan jika keduanya tidak bermaksud apa-apa, maka itu adalah khulu‘ secara umum.

وإن اختلف قصدهما بطل القصد فإن شرط صحة القصدين بتوافقهما فإذا اختلفا بطلا وصار كما لو لم يقصدا شيئاً وهذا يعضده أن الطلاق لا مردّ له إذا وجد التوافق من طريق اللفظ وعن هذا يظهر أن التردد في الباطن لا حاصل له وإن كان ذلك غيباً فيما ذكرناه

Jika maksud keduanya berbeda, maka maksud tersebut batal, karena syarat sahnya kedua maksud adalah kesesuaiannya. Jika keduanya berbeda, maka keduanya batal dan menjadi seperti tidak ada maksud sama sekali. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa talak tidak dapat ditarik kembali jika telah terjadi kesesuaian melalui lafaz. Dari sini tampak bahwa keraguan di dalam batin tidak ada pengaruhnya, meskipun hal itu termasuk perkara gaib dalam apa yang telah kami sebutkan.

فإذاً الأحوال ثلاث إحداها أن يتوافقا في القصد كاللفظ

Jadi, terdapat tiga keadaan: salah satunya adalah keduanya sesuai dalam maksud, seperti lafaz.

والحالة الثانية أن يختلفا فيدّعى كلٌّ مقصوداً من نفسه ويدعي مثلَ ذلك من صاحبه فهذه صورة التحالف

Keadaan kedua adalah ketika keduanya berselisih, sehingga masing-masing mengklaim suatu maksud dari dirinya sendiri dan mengklaim hal yang serupa dari pihak lawan; inilah gambaran tahāluf (saling bersumpah).

والحالة الثالثة أن يختلف القصدان فيحكم ببطلانهما ورجع الخلع إلى العوض المجهول

Keadaan ketiga adalah ketika kedua tujuan berbeda, maka keduanya dianggap batal dan khulu‘ kembali kepada kompensasi yang tidak diketahui.

ويخرج من هذا أن القصد معتبر في الوفاق ساقط في الخلاف فإن كان هذا ينساغ فعليه تخرج أجوبة القاضي في التفريع فإن وجب اعتبار القصد في الخلاف كما يجب اعتباره في الوفاق فلا تصح أجوبته فيما ذكرناه من التفريعات المتأخرة

Dari sini dapat disimpulkan bahwa niat (al-qasd) diperhitungkan dalam kesepakatan, namun tidak berlaku dalam perbedaan pendapat. Jika hal ini dapat diterima, maka berdasarkan itu pula dijelaskan jawaban-jawaban al-Qadhi dalam penjabaran masalah. Jika memang harus memperhitungkan niat dalam perbedaan pendapat sebagaimana wajib memperhitungkannya dalam kesepakatan, maka tidak sah jawaban-jawabannya dalam penjabaran masalah-masalah yang telah kami sebutkan sebelumnya.

وكل ما ذكرناه أصل واحدٌ من الأصلين الموعودين

Dan semua yang telah kami sebutkan merupakan satu pokok dari dua pokok yang telah dijanjikan.

الأصل الثاني يتعلق بخلع الأجنبي بنفسه وتوكيل المرأة إياه وتوكيله المرأة فنقول لم يختلف العلماء في أن الأجنبي لو سأل الرجلَ أن يطلق زوجته على مال فأجابه أن الخلع يصح والعوض يلزم الأجنبي

Prinsip kedua berkaitan dengan khulu‘ yang dilakukan oleh orang lain (bukan suami) sendiri, atau ketika seorang wanita mewakilkan kepada orang lain, atau orang lain mewakilkan kepada wanita. Kami katakan, para ulama sepakat bahwa jika seorang laki-laki asing meminta seorang suami untuk menceraikan istrinya dengan imbalan harta, lalu suami itu menyetujuinya, maka khulu‘ tersebut sah dan kompensasi harta menjadi tanggungan laki-laki asing tersebut.

والمرأةُ لو وكلت أجنبياً حتى يختلعها من زوجها بمال تبذله المرأة فذلك صحيح وإن وكل الأجنبي أجنبياً صح أيضاًًً ولو وكل أجنبي المرأة حتى تخلع نفسها عن زوجها بمال يبذله الأجنبي الموكِّل جاز وهذه الأصول متفق عليها

Jika seorang wanita mewakilkan kepada orang asing agar menceraikannya dari suaminya dengan imbalan harta yang diberikan oleh wanita tersebut, maka hal itu sah. Jika orang asing tersebut mewakilkan lagi kepada orang asing lain, itu juga sah. Jika seorang asing mewakilkan kepada wanita agar ia menceraikan dirinya sendiri dari suaminya dengan imbalan harta yang diberikan oleh orang asing yang mewakilkan, maka itu pun boleh. Prinsip-prinsip ini telah disepakati.

ثم من كان وكيلاً بالاختلاع نُظر فإن أضاف لزوم المال إلى موكِّله لم يتعلق الطَّلِبةُ به وكان في البَيْن سفيراً رسولاً وإن التزم مطلقاًً ونوى بالتزام المال جهةَ موكله فتفصيل القول في مطالبته كتفصيل القول في مطالبة الوكيل بالشراء وقد سبق الكلام مستقصى في العُهدة والمقدارُ الذي تمسُّ الحاجة إلى إعادته أن مستحق المال لو لم يصدِّق الوكيل في دعوى الوكالة فله مطالبته وإن صدقه فظاهر المذهب أنه يطالبه أيضاًًً لالتزامه وإضافته لفظ الالتزام إلى نفسه ثم هو يرجع على موكِّله رجوعَ الضّامن على المضمون عنه

Kemudian, jika seseorang menjadi wakil dalam hal khulu‘, maka dilihat: jika ia mengaitkan kewajiban membayar harta kepada pihak yang mewakilkannya, maka tuntutan tidak berkaitan dengannya dan ia hanya menjadi perantara atau utusan. Namun jika ia berkomitmen secara mutlak dan berniat bahwa kewajiban membayar harta itu untuk pihak yang mewakilkannya, maka rincian hukum tuntutan terhadapnya sama seperti rincian hukum tuntutan terhadap wakil dalam pembelian, dan pembahasan tentang tanggung jawab dan kadar yang perlu diulang telah dijelaskan sebelumnya secara rinci. Intinya, jika pihak yang berhak atas harta tidak membenarkan klaim wakil tentang adanya perwakilan, maka ia berhak menuntutnya. Jika ia membenarkannya, maka menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, ia juga tetap dapat menuntutnya karena komitmennya dan karena ia telah mengaitkan kata komitmen kepada dirinya sendiri. Setelah itu, ia dapat menuntut kembali kepada pihak yang mewakilkannya sebagaimana penjamin menuntut kepada pihak yang dijamin.

ومن أصحابنا من قال إن اعترف بكونه وكيلاً لم يطالبه كما لا يطالَب السفيرُ

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jika seseorang mengakui dirinya sebagai wakil, maka ia tidak dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana duta besar juga tidak dimintai pertanggungjawaban.

هذا بيان الأصل الذي حاولنا تقديمه

Ini adalah penjelasan pokok yang telah kami usahakan untuk disampaikan.

ونعود بعد ذلك إلى النص فنقول تعرض الشافعي لاختلاف الزوجين في أمرين أحدهما هذا الذي نحن فيه الآن والآخر الاختلاف في الفلوس بالدراهم

Kemudian kita kembali kepada nash dan mengatakan bahwa asy-Syafi‘i membahas perbedaan pendapat antara suami istri dalam dua hal: yang pertama adalah perkara yang sedang kita bahas sekarang, dan yang kedua adalah perselisihan mengenai fulūs dengan dirham.

فأما تفصيلَ القول في الاختلاف المتعلق بالخلع عن جهة الغير فإنا نبتدىء تفصيلَ ذلك ونستعين بالله وهو خير معين ونقول إذا قال الزوج طلقتك على ألفٍ عليك وقالت المرأة أنا لم أتعرض لقبول الألف وإنما قبلها عنك فلان الأجنبي وجرى الخلع بينكما فالبينونة واقعة بإقراره والقول قولها في نفي الاختلاع مع يمينها فإنها أنكرت أصل تعلّق العقد بها ولا يستحق الزوج على ذلك الأجنبي شيئاً أيضاًًً فإنه بريء بموجب إقراره وقوله فينفذ الحكم بالبينونة ثم لا يملك مالاً إذا اختلعت المرأة على نفي الالتزام وهذه الصورة بيّنة

Adapun perincian pendapat mengenai perbedaan yang berkaitan dengan khulu‘ yang dilakukan oleh pihak lain, maka kami akan memulai perinciannya dan memohon pertolongan kepada Allah, Dia adalah sebaik-baik penolong. Kami katakan: Jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas seribu (dirham) yang menjadi tanggunganmu,” lalu istri berkata, “Aku tidak pernah menyatakan menerima seribu itu, melainkan si Fulan (orang lain) yang menerima atas namamu,” dan khulu‘ terjadi di antara kalian berdua, maka talak bain terjadi berdasarkan pengakuannya. Adapun dalam menolak adanya khulu‘, perkataan istri diterima dengan sumpahnya, karena ia mengingkari adanya keterikatan akad pada dirinya. Suami juga tidak berhak menuntut apa pun dari orang lain tersebut, karena ia telah bebas berdasarkan pengakuan dan pernyataannya. Maka, hukum talak bain tetap berlaku, dan suami tidak berhak atas harta apa pun jika istri melakukan khulu‘ dengan menolak adanya kewajiban. Keadaan ini jelas.

ولو قال خالعتك على ألف التزمتِه مطلقاًً وقالت المرأة قلتُ قبلتُ عن فلان ألفاًً ولم أضف الالتزام إلى نفسي وقد قدمنا فيما سبق أن السفير لا ضمان عليه وهي لو صُدِّقت سفيرةٌ على رتبة الرسالة وإذا جرى الاختلاف على هذه الصيغة فقد ذكر المراوزة أنهما يتحالفان والرجوع إلى مهر المثل وعللوا بأنهما اتفقا على جريان العقد مبهماً واختلفوا في صفة العقد على الوجه الذي وصفناه فاقتضى ذلك أن يتحالفا

Jika seorang laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu yang kamu tanggung secara mutlak,” lalu perempuan itu berkata, “Aku berkata, ‘Aku terima seribu itu dari Fulan,’ dan aku tidak menisbatkan tanggungan itu kepada diriku sendiri,” sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya bahwa seorang perantara tidak menanggung kewajiban apa pun, dan jika perempuan itu dibenarkan sebagai perantara dalam kapasitas sebagai utusan, maka jika terjadi perselisihan dalam redaksi seperti ini, para ulama Marw telah menyebutkan bahwa keduanya saling bersumpah, lalu kembali kepada mahar mitsil. Mereka beralasan bahwa keduanya sepakat untuk menjalankan akad secara samar, namun berselisih dalam sifat akad sebagaimana telah kami uraikan, sehingga hal itu mengharuskan keduanya saling bersumpah.

وذكر العرا قيون وجهين أحدهما أنهما يتحالفان كما ذكره المراوزة

Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa keduanya saling bersumpah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama Marw.

والثاني أنهما لا يتحالفان فإنها أنكرت أصل الالتزام كما ادعت السفارة ومن أنكر أصلَ الالتزام والأصلُ براءة ذمته فالوجه أن يحلّف وهذا الوجه متجه منقاس غير أنهم نقلوه وأفسدوه بالتفريع فقالوا لا تحالف ولكن يلزمها مهر المثل وهذا على نهاية السقوط فإنها أنكرت أصل الالتزام فإن كانت مصدَّقة فكيف تطالب وأثر التصديق أن يثبت الحكم على صفته إذا لم يكن نزاع ولو صدق الزوج زوجته فيما ادعته من السفارة لكان لا يلزمها شيء وهذا واضحٌ لا دفْع له

Kedua, keduanya tidak saling bersumpah, karena perempuan itu mengingkari adanya kewajiban sejak awal, sebagaimana ia mengklaim adanya perantara (safarah). Barang siapa yang mengingkari adanya kewajiban sejak awal, dan pada dasarnya ia bebas dari tanggungan, maka yang tepat adalah ia yang disumpah. Pendapat ini logis dan sejalan dengan qiyās, hanya saja mereka menukilnya lalu merusaknya dengan cabang-cabang pembahasan, dengan mengatakan: tidak ada saling sumpah, tetapi ia wajib membayar mahar mitsil. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas, karena ia telah mengingkari adanya kewajiban sejak awal. Jika ia dibenarkan, bagaimana mungkin ia tetap dituntut? Konsekuensi dari pembenaran adalah hukum tetap sebagaimana adanya jika tidak ada perselisihan. Bahkan, jika suami membenarkan istrinya dalam klaim adanya perantara, maka ia tidak wajib membayar apa pun. Ini jelas dan tidak dapat dibantah.

فإن قيل ما الذي تعتمدونه في إثبات التحالف بينهما قلنا جرى أصل العقد وما فيه من الالتزم واعترفت المرأة بالالتزام ولكنها ادعت سقوطه بإضافتها اللزوم إلى غيرها فأمكن أن يكون في هذا تردد في التصديق ونقيضه ووجه التصديق أوضح والوجه الآخر متضح فإنها صاحبة الواقعة ففي توكّلها عن الأجنبي بعدٌ وإذا احتمل الأمران على استواء انطبق عليه احتمال صدق الزوج وكذبه على هذا النسق وهذا يوجب استواء الجانبين ومقتضاه التحالف ثم التحالف موجبه الرجوع إلى مهر المثل ثم الرجوع به على من رجع البضع إليه هذا وجه التحالف

Jika ditanyakan, apa yang menjadi dasar kalian dalam menetapkan adanya tahaluf (saling bersumpah) antara keduanya? Kami katakan: hal itu didasarkan pada pokok akad dan apa yang terkandung di dalamnya berupa komitmen. Perempuan telah mengakui adanya komitmen tersebut, namun ia mengklaim gugurnya komitmen itu dengan menisbatkan kewajiban tersebut kepada selain dirinya. Maka, dalam hal ini dimungkinkan adanya keraguan antara membenarkan dan mendustakan, dan sisi pembenaran lebih jelas, sementara sisi lainnya juga jelas, karena ia adalah pihak yang mengalami peristiwa tersebut. Maka, jika ia bertindak sebagai wakil dari orang lain, hal itu jauh dari kenyataan. Jika kedua kemungkinan tersebut sama kuat, maka hal itu serupa dengan kemungkinan benar dan dustanya suami dalam pola seperti ini. Ini menyebabkan kedua belah pihak sama kuat, dan konsekuensinya adalah tahaluf (saling bersumpah). Kemudian, akibat dari tahaluf adalah kembali kepada mahar mitsil (mahar sepadan), lalu mahar tersebut diambil kembali dari pihak yang hak kepemilikan tubuh (būdh‘) kembali kepadanya. Inilah penjelasan tentang tahaluf.

والقياس الحق أن لا تحالف فلا مال عليها ويخاطب الزوج بموجب إقراره ويقضى عليه بالفرقة ولا مرجع له على أحد بالمال كما لو قال لامرأته خالعتك أمس على ألف فقبلتِها فأنكرت فالبينونة تثبت بموجب إقراره ولا يثبت المال

Qiyās yang benar adalah tidak ada sumpah, sehingga tidak ada kewajiban harta atasnya, dan suami dimintai pertanggungjawaban berdasarkan pengakuannya, serta diputuskan perceraian atasnya, dan ia tidak dapat menuntut siapa pun atas harta tersebut, sebagaimana jika ia berkata kepada istrinya, “Aku telah menjatuhkan khulu‘ kepadamu kemarin dengan imbalan seribu,” lalu istrinya membantahnya, maka perpisahan tetap berlaku berdasarkan pengakuannya, namun harta tidak menjadi haknya.

ثم ذكر صاحب التقريب مسألة متصلة بما نحن فيه فقال إذا جرى الخلع بين الرجل وامرأته فأطلقت المرأة التزامَ المال ثم قالت أردت بمطلق قولي ولفظي ألفاًً يؤديها موكلي فلان ولم أقصد التزاماً يخصّني فقد ذكر صاحب التقريب هاهنا قولين أحدهما أنهما يتحالفان وأن هذا الاختلاف إلى مقدار العوض وجنسه

Kemudian penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan pembahasan kita, yaitu: apabila terjadi khulu‘ antara seorang laki-laki dan istrinya, lalu sang istri mengucapkan secara mutlak komitmen untuk membayar sejumlah harta, kemudian ia berkata, “Yang aku maksud dengan ucapanku yang mutlak itu adalah seribu yang akan dibayarkan oleh wakilku, si Fulan, dan aku tidak bermaksud untuk berkomitmen secara khusus atas diriku sendiri,” maka penulis at-Taqrīb di sini menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa keduanya saling bersumpah, dan bahwa perbedaan ini berkaitan dengan jumlah dan jenis kompensasi.

والقول الثاني أن القول قولُ الزوج فإن المسألة مفروضة فيه إذا أطلقتْ قولها وقبولها والظاهر أنها التزمت العوض في خاصتها فالقول قول الزوج لهذا الظاهر والتحالف إنما يجري إذا استوى الجانبان في احتمال الصدق والكذب

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dipegang adalah pernyataan suami, karena masalah ini diasumsikan terjadi ketika istri mengucapkan ijab dan qabul secara mutlak, dan yang tampak adalah bahwa ia telah berkomitmen terhadap kompensasi (iwad) untuk dirinya sendiri secara khusus. Oleh karena itu, yang dipegang adalah pernyataan suami berdasarkan indikasi lahiriah ini. Adapun tahaluf (saling bersumpah), hanya berlaku jika kedua belah pihak sama-sama memiliki kemungkinan benar atau dusta.

ثم ذكر قولاً ثالثاً أن القوال قول المرأة فإنها الناوية فهي أعرف بنيّتها وقَصْدها فالرجوع إليها وهذا قول ملتبس

Kemudian disebutkan pendapat ketiga bahwa yang dijadikan pegangan adalah ucapan perempuan, karena dialah yang berniat, sehingga ia lebih mengetahui niat dan maksudnya, maka dikembalikan kepadanya. Namun, pendapat ini adalah pendapat yang membingungkan.

ونحن نقول في كشف الغطاء فيه إن كنا نطالب الوكيل الملتزمَ باللفظ المطلق وهو ظاهر المذهب فهذا الاختلاف لا خير فيه فإنها معترفة بأنها مطالَبةٌ بالمال كيف فرض الأمر

Kami mengatakan dalam kitab Kasyf al-Ghithā’: Jika kita menuntut wakil untuk berpegang pada lafaz mutlak, sebagaimana pendapat yang masyhur dalam mazhab, maka perbedaan ini tidak ada manfaatnya, karena ia sendiri mengakui bahwa ia memang dituntut untuk membayar harta tersebut, bagaimanapun keadaannya.

وإن فرعنا على أن الوكيل لا يطالَب فإن أضاف الالتزام إلى نفسه فهذا الكلام مختل محتاج إلى التفصيل فإن أنكر الزوج أصلَ التوكيل فلا معنى للترديد الذي ذكر وإن اعترف بالتوكيل وردّ النزاع إلى نيتها فهذا أوان الاحتمال على بُعد

Jika kita berpendapat bahwa wakil tidak dapat dituntut, maka jika ia menisbatkan komitmen itu kepada dirinya sendiri, pernyataan ini masih rancu dan membutuhkan perincian. Jika suami mengingkari adanya perwakilan sejak awal, maka tidak ada makna dari keraguan yang disebutkan. Namun, jika ia mengakui adanya perwakilan dan mengembalikan perselisihan pada niatnya, maka saat itulah kemungkinan (penafsiran) muncul, meskipun hal itu jauh (kemungkinannya).

والوجه مع الاعتراف بالتوكيل والتفريع على أن الوكيل لا يطالب بالعهدة في العهد المطلق أن تُصدّق المرأةُ فإنها الناوية وهي أعرف بنية نفسها فالكلام كيفما فرضته مختبط لا أصل له

Adapun pendapat yang mengakui adanya perwakilan dan berdasarkan pada bahwa wakil tidak diminta pertanggungjawaban dalam perjanjian yang bersifat mutlak, maka perempuan tersebut harus dibenarkan, karena dialah yang berniat dan lebih mengetahui niat dirinya sendiri. Maka, pembicaraan ini, bagaimanapun juga diasumsikan, adalah kacau dan tidak memiliki dasar.

وأما الكلام في الاختلاف في الدراهم والفلوس فقد مضى موضحاً في الأصل الأول إذا ذكرنا القاعدة ومحل التحالف على أبلغ وجه يتعلق بإمكاننا

Adapun pembahasan mengenai perbedaan dalam dirham dan fulus telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan pertama, ketika kami menyebutkan kaidah dan tempat terjadinya sumpah secara paling jelas yang dapat kami lakukan.

ولم يبق الآن إلا نقلُ اللفظ في السَّواد على وجهه وردُّ النظر إليه

Sekarang yang tersisa hanyalah memindahkan lafaz dalam tulisan secara persis dan mengembalikan perhatian kepadanya.

قال الشافعي فإن قالت على ألف ضمنَها لك غيري أو قالت على ألف فلسٍ وأنكر تحالفا وكان له عليها مهر مثلها هذا هو اللفظ الذي نقله المزني

Syafi‘i berkata: Jika seorang wanita berkata, “Aku berutang seribu, dan orang lain menanggungkannya untukmu,” atau ia berkata, “Aku berutang seribu fulus,” lalu ia mengingkarinya, maka keduanya saling bersumpah, dan ia berhak atas mahar mitsil dari wanita tersebut. Inilah lafaz yang dinukil oleh al-Muzani.

أما التحالف في الضمان فليس يحتمل اللفظُ إلا صورة واحدة وهي أن يقول الزوج أطلقتِ الالتزام وتقول المرأة بل أضفتُه إلى غيري هذا هو الذي قطع المراوزة فيه بالتحالف على موجب النص

Adapun sumpah dalam masalah tanggungan (ḍamān), maka lafaznya tidak mengandung kemungkinan kecuali satu bentuk saja, yaitu ketika suami berkata, “Engkau telah melepaskan tanggungan,” dan istri berkata, “Bahkan aku menambahkannya kepada selainmu.” Inilah yang telah dipastikan oleh para ulama Marw terhadapnya dengan sumpah sesuai dengan ketentuan nash.

وحكى العراقيون فيه وجهين أحدهما التحالف

Para ulama Irak meriwayatkan dalam masalah ini dua pendapat, salah satunya adalah bersumpah.

والثاني أنهما لا يتحالفان وعليها مهر المثل وقد ذكرنا أن القياس ألا يتحالفا ولا يلزمها شيء ولكن لم أر أحداً من المعتَبرين يصير إلى هذا فأُسنِدُه إليه أو أعلقه بفحوى كلامه

Kedua, bahwa keduanya tidak saling bersumpah, dan ia (perempuan) berhak atas mahar mitsil. Telah kami sebutkan bahwa menurut qiyās, keduanya tidak saling bersumpah dan ia tidak wajib membayar apa pun, namun aku tidak melihat seorang pun dari para ulama yang dianggap otoritatif berpendapat demikian, sehingga aku dapat menyandarkannya kepadanya atau mengaitkannya dengan makna tersirat dari ucapannya.

فإن قال قائلٌ هذا القياسُ أمكن حمل نص الشافعي على مجمل ولكن لا معنى للتشاغل به وأما قول الشافعي في الفَلْس فليس يبعد حمله على اختلافهما في الدراهم والفَلْس صريحاً ونفرض النص فيه إذا قال الزوج خالعتك على ألف درهم وقبلتِه وقالت بل خالعتني على ألف فلس فقبلتُه ولكن في المذهب ما فيه من وجوه الإشكال

Jika ada yang berkata, “Qiyās ini memungkinkan untuk membawa nash Imam Syafi’i pada makna yang umum, namun tidak ada gunanya menyibukkan diri dengannya. Adapun ucapan Imam Syafi’i tentang fulus, tidaklah jauh jika dipahami bahwa perbedaan mereka adalah pada dirham dan fulus secara tegas. Kita misalkan nash tersebut dalam kasus ketika suami berkata, ‘Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas seribu dirham dan engkau menerimanya,’ lalu istri berkata, ‘Bahkan aku dicerai dengan khulu‘ atas seribu fulus dan aku menerimanya.’ Namun, dalam mazhab ini terdapat berbagai sisi permasalahan yang rumit.”

وغايتنا أن ينتهي كل فصل إلى حقيقته ولا نغادر شيئاً من وجوه الاحتمال ونحيل المذهب على النقل الصحيح فنكون جمعنا بين وجوه القياس وبين تحقيق النقل والتنبيه على حقيقة الفصل

Tujuan kami adalah agar setiap bab berakhir pada hakikatnya, dan kami tidak meninggalkan satu pun sisi kemungkinan, serta mengaitkan mazhab dengan riwayat yang sahih, sehingga kami dapat menggabungkan antara berbagai sisi qiyās dengan penetapan riwayat dan penjelasan tentang hakikat bab tersebut.

ومما ذكره القاضي في أعقاب المسألة أن الرجل لو قال طلقتك على ألف عليك ولم أشترط ضمان الأجنبي وقالت طلقتني بألفٍ عليّ على أن فلاناً الأجنبي ضامن فهذه المنازعة لا معنى لها فإنها أقرت بالالتزام تحقيقاً وذكرت شرط ضمانٍ لو صح لم ينفعها وإنما كانت تُثبت مزيدَ تعلّقٍ للزوج فكأنها ادّعت للزوج حقاًً والزوج يُنكر وهذا ثابت لا شك فيه

Di antara yang disebutkan oleh qadhi setelah pembahasan masalah ini adalah bahwa jika seorang laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu yang menjadi tanggunganmu dan aku tidak mensyaratkan jaminan dari orang lain,” lalu perempuan itu berkata, “Engkau telah menceraikanku dengan tebusan seribu yang menjadi tanggunganku dengan syarat si Fulan, orang lain, menjadi penjaminnya,” maka perselisihan ini tidak ada artinya. Sebab, ia (perempuan) telah mengakui kewajiban itu secara pasti dan hanya menyebutkan syarat adanya jaminan, yang jika pun sah, tidak akan bermanfaat baginya. Hal itu justru menunjukkan adanya keterikatan tambahan kepada suami, seolah-olah ia mengakui adanya hak bagi suami, sementara suami mengingkarinya. Dan hal ini memang sudah pasti adanya, tidak diragukan lagi.

فصل قال ولو قالت طلقني ولك عليَّ ألف درهم فقال أنت طالق على الألف إن شئت فلها المشيئة وقتَ الخيار إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang wanita berkata, ‘Ceraikan aku dan aku akan memberimu seribu dirham,’ lalu suami berkata, ‘Engkau tertalak atas seribu dirham jika engkau menghendaki,’ maka wanita itu berhak memilih selama masa pilihan hingga selesai.”

نقول في مقدمة الفصل إذا كانت صيغة قول الرجل على صيغة المعاوضة فتقتضي جواباً عاجلاً كما يقتضيه الإيجاب في البيع والإجارة ونحوهما من المعاوضات المفتقرة إلى الإيجاب والقبول والذي ذكره الأصحاب فيه الاتصالُ والإحالةُ على العرف وقد تقصَّيت هذا في البيع وأوضحتُ أن المنتهى المطلوبَ فيه أن لا يتخلل زمانٌ يشعر تخلُّله بإعراض المخاطَب عن الجواب فإذا تخلل مثله انقطع

Kami katakan dalam pendahuluan bab ini: Jika bentuk ucapan seseorang menggunakan format mu‘āwaḍah (pertukaran), maka hal itu menuntut adanya jawaban segera, sebagaimana yang dituntut oleh ijāb dalam jual beli, ijarah, dan transaksi pertukaran lain yang membutuhkan ijāb dan qabūl. Para ulama menyebutkan dalam hal ini adanya keterkaitan (antara ijāb dan qabūl) dan merujuk pada kebiasaan (‘urf). Saya telah membahas hal ini secara rinci dalam bab jual beli dan menjelaskan bahwa batas akhirnya yang diinginkan adalah tidak ada jeda waktu yang menunjukkan bahwa pihak yang diajak bicara berpaling dari memberikan jawaban. Jika terjadi jeda seperti itu, maka hubungan (antara ijāb dan qabūl) terputus.

ومن لطيف الكلام في ذلك أنه لو أمكن تردده ليفكر ويرعى المصلحة ويرى ما عنده فلا معوّل على هذا فإن الإيجاب والقبول مبنيان على تقديم الرأي ومن يوجب يبتدىء الكلام وغرضه أَخْذُ الجواب على الفور لا تفويضُ الأمر إلى المخاطب ليرى رأيه فإذا تخلل ما يقطع الاتصال الذي ذكرناه بطل التواصل ولو وجد قبول من بعدُ لم ينفع والمذهب أنه لو تخلل كلامٌ يسير لو فرض بدله سكوت لما انقطع فلا أثر لتخلل ذلك الكلام ونصُّ الشافعي شاهد فيه فإنه قال لو خالع امرأته فارتدت ثم قبلت ثم عادت قبل انقضاء العدة وهي ممسوسة فالخلع واقع فلم يجعل تخلل كلمة الردة قاطعة للجواب عن الإيجاب

Salah satu ungkapan yang menarik dalam hal ini adalah bahwa jika memungkinkan untuk menunda agar dapat berpikir, mempertimbangkan kemaslahatan, dan melihat apa yang ada padanya, maka hal itu tidak dapat dijadikan sandaran. Sebab, ijab dan qabul didasarkan pada pendahuluan pendapat, dan pihak yang melakukan ijab memulai pembicaraan dengan tujuan untuk segera mendapatkan jawaban, bukan untuk menyerahkan urusan kepada lawan bicara agar ia mempertimbangkan pendapatnya. Maka, jika terdapat sesuatu yang memutuskan kesinambungan yang telah disebutkan, maka terputuslah komunikasi tersebut, dan jika kemudian ada qabul setelah itu, maka tidak bermanfaat. Menurut mazhab, jika di sela-sela terdapat pembicaraan singkat yang seandainya diganti dengan diam tidak akan memutuskan, maka tidak berpengaruh adanya pembicaraan tersebut. Teks dari Imam Syafi‘i menjadi bukti dalam hal ini, karena beliau berkata: “Jika seseorang menjatuhkan khulu‘ kepada istrinya, lalu istrinya murtad, kemudian menerima (khulu‘), lalu kembali sebelum masa iddah habis dan ia masih dalam keadaan telah digauli, maka khulu‘ tetap sah.” Maka, beliau tidak menganggap kata-kata murtad yang terjadi di antara ijab dan qabul sebagai pemutus jawaban terhadap ijab.

وذكر الشيخ أبو علي في شرح التلخيص أن تخلّل كلامٍ من القابل بين الإيجاب والقبول يقطع القبول وهذا غير سديد فإنه لا يدلّ على الإعراض والنص يخالف ما قال كما ذكرته

Syekh Abu Ali menyebutkan dalam Syarh at-Talkhish bahwa adanya ucapan dari pihak yang menerima di antara ijab dan qabul memutuskan qabul, namun pendapat ini tidaklah tepat karena hal itu tidak menunjukkan adanya penolakan, dan nash bertentangan dengan apa yang ia katakan sebagaimana telah aku sebutkan.

ولو طال الزمان وكان المجلس الواحد جامعاً لهما فينقطع العقد ولا أثر لاتحاد المجلس لم يختلف فيه أئمة المذهب وقد يُطلق الشافعيُّ لفظ المجلس في مثل ذلك ولا يعني به المجلس الذي يتعلق به خيار المجلس فإن ذلك المجلس وإن طال امتد الخيار بامتداده فمن أطلق المجلس عَنَى المجلسَ القصير الذي يليق بمجلس المخاطب على ما سبق تفصيله ولو وُجد الإيجابُ ففارق المخاطَبُ المجلسَ مفارقةً ينقطع بها خيار المجلس ولكن قَرُبَ الزمان فأجاب ففي العقد وجهان والأصح الانعقاد تعويلاً على الزمان فمن لم يحكم بانعقاده جعل المفارقةَ مشعرةً بالإعراض

Jika waktu berlangsung lama dan satu majelis mencakup keduanya, maka akad terputus dan tidak ada pengaruh dari kesatuan majelis; dalam hal ini para imam mazhab tidak berselisih pendapat. Terkadang asy-Syafi‘i menggunakan istilah majelis dalam kasus seperti itu, namun yang dimaksud bukanlah majelis yang berkaitan dengan khiyār majelis. Sebab, majelis tersebut, meskipun berlangsung lama, maka hak khiyār tetap berlanjut selama majelis itu berlangsung. Barang siapa yang menggunakan istilah majelis, yang dimaksud adalah majelis singkat yang sesuai dengan kebiasaan majelis orang yang diajak bicara, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika ijāb telah terjadi, lalu pihak yang diajak bicara meninggalkan majelis dengan cara yang menyebabkan khiyār majelis terputus, namun waktu masih dekat lalu ia menerima (qabul), maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih adalah akad tetap sah, dengan pertimbangan waktu. Sedangkan yang tidak menganggap akad sah, memandang bahwa perpisahan tersebut menunjukkan adanya penolakan.

وكل ما ذكرناه فيه إذا كان الخلع عريّاً عن التعليق وقال الزوج خالعتك أو طلقتك بألفٍ أو على ألفٍ فأما إذا ذكر الزوج لفظ التعليق فقد يستدعي قوله فوراً وقد لا يستدعيه فإذا قال لامرأته متى ما ضمنت أو متى ضمنت أو مهما ضمنت ألفاًً فأنت طالق فهذا على التراخي وإذا قال إن ضمنت ألفاًً فأنت طالق فهذا يقتضي أن تضمن على الفور

Semua yang telah kami sebutkan sebelumnya berlaku jika khulu‘ dilakukan tanpa adanya syarat penangguhan, dan suami mengatakan, “Aku melepaskanmu” atau “Aku menceraikanmu dengan seribu (dirham)” atau “atas seribu (dirham).” Adapun jika suami menyebutkan lafaz penangguhan, maka terkadang ucapannya menuntut pelaksanaan segera dan terkadang tidak menuntutnya. Jika ia berkata kepada istrinya, “Kapan pun kamu menjamin seribu (dirham), maka kamu tertalak,” atau “Jika kamu menjamin seribu (dirham), maka kamu tertalak,” atau “Apa pun yang kamu jamin seribu (dirham), maka kamu tertalak,” maka ini berlaku secara bertahap (tidak harus segera). Namun jika ia berkata, “Jika kamu menjamin seribu (dirham), maka kamu tertalak,” maka ini menuntut agar jaminan itu dilakukan segera.

فأما حمل متى وما ومهما وأي وقت على التراخي فلصريح اللفظ

Adapun penafsiran kata matā, mā, mahmā, dan ayy waqt sebagai menunjukkan makna tawaqqu‘ (penundaan/pengunduran waktu), maka hal itu didasarkan pada kejelasan lafazhnya.

ولقبول الخلع لهذا المعنى وقد قررناه عند تمهيد الخلع وحقيقته وماهيته وما فيه من شوب واسترداد وتمحّض فأما حمل إن على الفور فليس من جهة استدعاء إن فوراً فإنه شرطٌ والشرط ينبسط على الأزمان وإذا قال الرجل لامرأته إن دخلت الدار فأنت طالق لم يقبل ذلك فوراً ولكن يقترن بـ إن العوضيةُ وهي مقتضية التعجيل و إن الشارطة ليست صريحة في اقتضاء التأخير فاقتضت القرينةُ الفورَ وليس كما لو قال متى أو متى ما ضمنت فإن ذلك تصريح بتجويز التأخير ومقتضى النصوص لا تدرؤه القرائن

Diterimanya khulu‘ karena makna ini, sebagaimana telah kami jelaskan ketika membahas pengantar khulu‘, hakikat dan esensinya, serta apa yang terdapat di dalamnya berupa unsur campuran, pengambilan kembali, dan pemurnian. Adapun pemahaman bahwa kata “in” (jika) harus segera (langsung) bukanlah karena “in” itu sendiri menuntut segera, sebab “in” adalah syarat dan syarat itu berlaku sepanjang waktu. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu masuk rumah, maka kamu tertalak,” hal itu tidak berlaku langsung, melainkan pada “in” terdapat unsur kompensasi (‘iwadh) yang menuntut percepatan. Sedangkan “in” sebagai syarat tidak secara tegas menuntut penundaan, sehingga adanya indikasi (qarinah) menuntut untuk segera (langsung). Ini berbeda jika dikatakan “mata” atau “mata ma dhaminta” (kapan saja kamu menjamin), karena itu adalah pernyataan tegas yang membolehkan penundaan, dan konsekuensi dari nash tidak dapat dihilangkan oleh indikasi-indikasi.

وإذا قال لامرأته أنت طالق إن شئت فهذا يقتضي مشيئتها على الفور والاتصال وإن لم يكن في الكلام معنى وليس كما لو قال إن دخلت الدار فأنت طالق وليس هذا من مقتضيات كتاب الخلع ومهما جرى ذكر طلاقٍ من غير تعرضٍ لذكر عوض فهو معترض في الخلع فليُلْحَقُ بمسائل كتاب الطلاق

Jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” maka hal ini mensyaratkan kehendak istri secara langsung dan bersambung, meskipun dalam ucapan tersebut tidak terdapat makna tertentu. Ini tidak seperti ucapan, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak.” Hal ini juga bukan termasuk konsekuensi dari kitab khulu‘. Setiap kali disebutkan talak tanpa disertai penyebutan kompensasi, maka hal itu termasuk dalam pembahasan khulu‘, sehingga hendaknya disamakan dengan permasalahan dalam kitab talak.

ولكن إذا جرى هذا وهو مجمع عليه فلا بد من الإشارة إلى تعليله مع إحالة تحقيقه على كتاب الطلاق فنقول أما احتمال دخول الدار للتأخير وما في معناه في قوله إن دخلت فبيّنٌ لا حاجة إلى كشفٍ وإنما نميز عن هذا القبيلِ إذا قال أنت طالق إن شئتِ فسببه أن قوله إن شئتِ معناه استدعاء جواب فكأنه إذا قال إن شئت يلتمس منها جواباً بذكر المشيئة وشرط الجواب أن يكون متصلاً بالخطاب وعليه ابتنى وجوبُ ترتيب الجواب في العقود على الإيجاب وإلا فالعوضية في عينها ليس فيها إشعار بالتواصل الزماني ولكنها تذكر في ابتداء وجوب وإيجاب وقبول وتفاوض مبناه في التجاوب على التواصل عرفاً وعادة حتى يعد السكوت المتطاول فيه إعراضاً

Namun, jika hal ini terjadi dan telah menjadi ijmā‘, maka harus disebutkan alasannya dengan merujuk penjelasannya pada kitab Thalāq. Maka kami katakan, kemungkinan masuk ke rumah karena penundaan atau hal yang serupa dalam ucapannya “Jika engkau masuk, maka…” sudah jelas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Kami hanya membedakan dari jenis ini jika seseorang berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki.” Sebabnya adalah bahwa ucapan “jika engkau menghendaki” berarti meminta jawaban, seolah-olah ketika ia berkata demikian, ia mengharapkan jawaban darinya dengan menyebutkan kehendak. Syarat jawaban adalah harus bersambung dengan ucapan tersebut. Atas dasar inilah kewajiban menyusun jawaban dalam akad didasarkan pada ijāb, karena pada dasarnya ‘iwadh (imbalan) itu sendiri tidak menunjukkan adanya keterkaitan waktu. Namun, hal itu disebutkan pada permulaan kewajiban, ijāb, dan qabūl, serta perundingan yang dasarnya dalam saling menjawab adalah keterkaitan secara adat dan kebiasaan, sehingga diam yang terlalu lama di dalamnya dianggap sebagai penolakan.

فإذا كان يتحقق استدعاءُ الجواب في قوله إن شئت وإن لم يكن عوضٌ فهذا يقتضي التواصلَ الزماني لا محالة وهذا إنما يتحقق فيما يجوز أن يقدر جواباً فأما الدخول فيما عداه من الأسباب فلا يصلح أن تكون أجوبةً فلم يكن لشرط الاتصال فيه معنى

Jika memang dimaksudkan adanya permintaan jawaban dalam ucapannya “jika engkau mau” meskipun tidak ada ‘iwadh (imbalan), maka hal ini menuntut adanya kesinambungan waktu tanpa diragukan lagi. Dan hal ini hanya terwujud pada hal-hal yang memungkinkan untuk dianggap sebagai jawaban. Adapun masuk ke dalam selainnya dari sebab-sebab lain, maka tidak layak untuk dijadikan sebagai jawaban, sehingga syarat kesinambungan waktu di dalamnya tidak memiliki makna.

ومما لا يخفى مُدركه ولا بد من ذكره في ترتيب الكلام أن المرأة إذا قالت أشاء أن تطلقني فقال أنت طالق إن شئت فما تقدم من قولها لا يكفي فإن التعليق على هذه الصيغة يقتضي وقوع المشيئة في المستقبل بعد صدور التعليق فإن الشرط لا يعقل تعلقه إلا بالمستقبل

Dan hal ini tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memahaminya, serta harus disebutkan dalam penyusunan pembahasan, bahwa apabila seorang wanita berkata, “Aku ingin engkau menceraikanku,” lalu suaminya berkata, “Engkau tertalak jika engkau menginginkannya,” maka ucapan wanita sebelumnya tidaklah cukup. Karena penangguhan (talak) pada lafaz ini mensyaratkan terjadinya keinginan (mashī’ah) di masa mendatang setelah penangguhan diucapkan, sebab syarat itu tidak mungkin terkait kecuali dengan masa depan.

ولو كانت دخلت الدارَ فقال الزوج إن دخلت الدار فأنت طالق فلا يقع الطلاق ما لم تستأنف دخولاً إلا أن يكون قال إن كنت دخلت الدار فأنت طالق

Jika istri telah masuk ke dalam rumah, lalu suami berkata, “Jika kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak,” maka talak tidak jatuh kecuali istri melakukan masuk kembali, kecuali jika suami berkata, “Jika kamu telah masuk ke dalam rumah, maka kamu tertalak.”

وستأتي هذه الألفاظ وحقائق معانيها في كتاب الطلاق

Istilah-istilah ini beserta hakikat maknanya akan dibahas dalam Kitab Thalaq.

فإذا ثبتت هذه المقدمات قلنا بعدها إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق على ألفٍ فهذا يستدعي قبولاً منها على الاتصال وإن قال أنت طالق إن شئت فهذا يستدعي جواباً منها على الاتصال كما تقدم ولو جمع بينهما فقال أنت طالق على ألف إن شئت فقد اختلف أصحابنا في المسألة فذهب بعضهم إلى أنه يكفيها أن تقول شئتُ على الاتصال وينتظم الخلع ولزوم المال ووقوع البينونة بقولها شئتُ وهذا قد يدل عليه فحوى كلام الأئمة كالقاضي وغيره وهو ظاهر كلام الصيدلاني

Jika premis-premis ini telah ditetapkan, maka kami katakan setelahnya: apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham)”, maka hal ini membutuhkan penerimaan dari pihak istri secara langsung. Dan jika ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki”, maka hal ini membutuhkan jawaban dari istri secara langsung sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika ia menggabungkan keduanya lalu berkata, “Engkau tertalak dengan seribu jika engkau menghendaki”, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa cukup bagi istri untuk mengatakan “Aku menghendaki” secara langsung, sehingga khulu‘, kewajiban membayar harta, dan terjadinya bain (perceraian) semuanya terjadi dengan ucapan “Aku menghendaki” dari istri. Pendapat ini juga ditunjukkan oleh makna perkataan para imam seperti al-Qadhi dan lainnya, dan ini pula yang tampak dari perkataan as-Saidalani.

ومن أصحابنا من قال لا بد من الجمع بين لفظ القبول ولفظ المشيئة

Dan sebagian ulama kami berpendapat bahwa harus menggabungkan antara lafaz kabul dan lafaz kehendak (mashi’ah).

وذهب بعض الأصحاب إلى أنه يكتفى منها أن تقبل

Sebagian ulama berpendapat bahwa sudah cukup darinya jika ia mencium.

أما من اكتفى بلفظ المشيئة فوجهه أن قول الرجل أنت طالق إن شئت ليس في صيغته تعرُّضٌ من طريق التصريح لقبولها ولكن لما لم يتصور منه أن يحتكم بإلزامها مالاً اقتضى ذلك منها التزاماً فكان قولها في معنى الضَّمَن كما وصفناه فإذا قال أنت طالق على ألفٍ إن شئت فقد جعل متعلَّقَ الطلاق ولزومَ المال قولَها المجردَ شئتُ فيجب أن يتعلق الأمران جميعاً به

Adapun bagi orang yang cukup dengan lafaz syarat (mashi’ah), alasannya adalah bahwa ucapan seorang laki-laki “Engkau tertalak jika engkau menghendaki” tidak mengandung dalam redaksinya suatu pernyataan eksplisit untuk menerima (talak) dari pihak istri. Namun, karena tidak mungkin baginya untuk menetapkan kewajiban membayar harta (tebusan) kepada istri, maka hal itu menuntut adanya komitmen dari pihak istri. Oleh karena itu, ucapan istri dianggap sebagai bentuk penjaminan (ḍaman) sebagaimana telah kami jelaskan. Maka, jika ia berkata, “Engkau tertalak dengan tebusan seribu jika engkau menghendaki,” berarti ia menjadikan talak dan kewajiban membayar harta bergantung pada ucapan istri semata, yaitu “Aku menghendaki.” Maka, kedua perkara tersebut harus bergantung pada ucapan tersebut.

ولو قال الرجل لمن يخاطبه بعت منك عبدي بألف درهم إن شئت فالبيع لا ينعقد فإنه لا يقبل التعليق إذا وضع البيع على المعاوضة المحضة ومتضمنها أن يكون صَدَرُ شقَّي العقد من المتعاوضين على نسق واحدٍ مع اجتناب التعليق من الجانبين جميعاًً فهذا وجه هذا الوجه

Jika seseorang berkata kepada lawan bicaranya, “Aku telah menjual budakku kepadamu seharga seribu dirham jika kamu mau,” maka jual beli itu tidak sah, karena jual beli tidak menerima ta‘liq (penggantungan syarat) apabila jual beli didasarkan pada pertukaran murni. Di dalamnya terkandung bahwa kedua belah pihak yang berakad harus mengucapkan kedua sisi akad secara berurutan tanpa adanya ta‘liq dari kedua belah pihak. Inilah penjelasan dari sisi ini.

وأما من قال لا بد من الجمع بين الإيجاب والقبول ولفظ المشيئة فوجه قوله أن الزوج لما قال أنت طالق على ألف فهذا منه لو تجرد يقتضي اجتماعَهما اجتماع القبول ولفظِ المشيئة منها فليأت بهما جميعاً ثم لا ترتيب فإن شاءت قالت أولاً قبلت وشئت وإن شاءت قالت شئت وقبلت

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa harus menggabungkan antara ijab, qabul, dan lafaz musyā’ah, alasannya adalah ketika suami berkata, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham),” maka jika ucapan itu berdiri sendiri, hal itu menuntut adanya penggabungan antara qabul dan lafaz musyā’ah dari pihak istri. Maka hendaknya ia mengucapkan keduanya sekaligus, dan tidak ada urutan tertentu; jika ia mau, ia dapat berkata terlebih dahulu, “Aku menerima dan aku menghendaki,” dan jika ia mau, ia dapat berkata, “Aku menghendaki dan aku menerima.”

والأصح الأول ولا يستقيم على الفقه المعتبر في الخلع إلا ما ذكرناه في توجيه الوجه الأول والذي يؤكده أنه لو قال إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق فإذا أعطت ألفاًً طُلِّقت وإن لم يوجد من جهتها تمليك نظراً إلى ظاهر التعليق واكتفاء بما يسمى إعطاء في الحقيقة فإذا كان كذلك فالاكتفاء بلفظ المشيئة في الحكم بوقوع الطلاق ولزوم المال جائز على هذا القياس

Pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama, dan tidak sesuai dengan fiqh yang dianggap valid dalam masalah khulu‘ kecuali apa yang telah kami sebutkan dalam penjelasan pendapat pertama. Hal yang menguatkannya adalah jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak,” lalu si istri memberikan seribu, maka ia tertalak, meskipun dari pihak istri tidak ada tindakan tamlīk, karena dilihat dari lahiriah kalimat syarat dan cukup dengan sesuatu yang secara hakikat disebut pemberian. Jika demikian, maka mencukupkan dengan lafaz keinginan (māsyi’ah) dalam menetapkan jatuhnya talak dan wajibnya pembayaran harta adalah dibolehkan menurut qiyās ini.

فأما من يقول لا بد من قبولها ويقع الاكتفاء به فاشتراط قبولها عنده موجبه ما تقدم وأما عدم اشتراط لفظ المشيئة فقبولها المجرد في العرف يعد جواباً عن جميع كلام الرجل وهذا القائل يغلّب مقتضى المعاوضة ويشترط القبول فإنه الركن

Adapun orang yang berpendapat bahwa harus ada penerimaan dan cukup dengan itu, maka mensyaratkan penerimaan menurutnya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Adapun tidak disyaratkannya lafaz “māsyī’ah” (kehendak), maka penerimaan secara murni menurut kebiasaan dianggap sebagai jawaban atas seluruh ucapan seseorang. Pendapat ini lebih mengutamakan konsekuensi mu‘āwadah (pertukaran) dan mensyaratkan adanya penerimaan, karena penerimaan adalah rukun.

وهذا الوجه عندي غلط صريح ولم أره إلا لشيخي فلا يجوز عده من المذهب ولولا تكرر سماعي منه لما أوردته فيبقى الوجهان المقدمان وأوضحهما الاكتفاء بلفظ المشيئة كما تقدم

Menurut saya, pendapat ini adalah kesalahan yang nyata dan saya tidak menemukannya kecuali dari guru saya. Maka tidak boleh dianggap sebagai bagian dari mazhab. Kalau bukan karena saya sering mendengarnya dari beliau, tentu saya tidak akan menyebutkannya. Maka yang tersisa adalah dua pendapat utama, dan yang paling jelas di antaranya adalah cukup dengan lafaz “māsyi’ah” sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

ثم يتفرع على ما ذكرناه أنا إذا اشترطنا لفظ المشيئة واكتفينا به فلا يصح من الزوج الرجوع عنه فإنه تعليق مجرد والرجوع عن التعليق غير ممكن

Kemudian, sebagai cabang dari apa yang telah kami sebutkan, jika kami mensyaratkan lafaz “māsyi’ah” dan menganggapnya sudah cukup, maka suami tidak boleh menarik kembali ucapannya, karena itu merupakan bentuk ta‘liq (penggantungan) semata, dan menarik kembali ta‘liq tidaklah mungkin.

ومَنْ شرط الجمعَ بين القبول وبين لفظ المشيئة فهل يجوّز للزوج الرجوعَ قبل أن تقبل المرأة وتشاء فيه تردد ظاهر بسبب اشتمال كلام الزوج على المعاوضةِ والتعليقِ جميعاًً ووجه الاحتمال بيّن ولكن لست أجد لهذا الوجه أصلاً والوجه الاكتفاء بلفظ المشيئة ثم مَنعُ الرجوع كما تقدم

Dan siapa yang mensyaratkan penggabungan antara penerimaan (qabūl) dengan lafaz keinginan (mashī’ah), maka apakah dibolehkan bagi suami untuk menarik kembali (rujuk) sebelum istri menerima dan menghendaki? Dalam hal ini terdapat keraguan yang jelas karena ucapan suami mengandung unsur mu‘āwaḍah (pertukaran) dan ta‘līq (penggantungan) sekaligus. Alasan kemungkinan ini pun jelas, namun aku tidak menemukan dasar bagi pendapat ini. Pendapat yang kuat adalah cukup dengan lafaz keinginan (mashī’ah), kemudian tidak boleh menarik kembali (rujuk) sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

فهذا تمام ما أوردناه في ذلك

Inilah seluruh apa yang telah kami sampaikan dalam hal itu.

عدنا إلى صورة المسألة إذا قالت المرأة طلقني واحدةً بألف فقال الزوج أنت طالق بألفٍ إن شئت فهذا الذي ذكره يُخْرِج كلامَه عن كونه كلاماًً جواباً لها فإنه لو اقتصر على قوله أنت طالق لكان ذلك إسعافاً وجواباً فإذا قال إن شئت فهذا يقتضي أمراً في الاستقبال لما قررناه من أن الشرط مقتضاه معلّقٌ بالاستقبال لا محالة

Kita kembali pada gambaran masalah: jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku satu kali dengan seribu (dirham),” lalu suami berkata, “Engkau tertalak dengan seribu jika engkau menghendaki,” maka apa yang disebutkan ini mengeluarkan ucapannya dari status sebagai jawaban atas permintaan istrinya. Sebab, jika ia hanya berkata, “Engkau tertalak,” maka itu merupakan pemenuhan permintaan dan jawaban. Namun, ketika ia berkata, “Jika engkau menghendaki,” maka ini menunjukkan sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, karena telah kami tegaskan bahwa syarat itu menuntut sesuatu yang tergantung pada masa depan, tidak bisa tidak.

ثم إن كنا نعد اقتصارها على القبول إذا ابتدأ الرجل فقال أنت طالق بألفٍ إن شئت وجهاً مرتباً فلا بد على هذا من تجديد القبول وما تقدم من استدعائها لا يكفي لأن قوله إن شئت تضمن معنىً في المستقبل لا محالة قولاً كان أو لفظ مشيئة فوضح أن المرأة إذا سبقت واستدعت التطليق بالمال فقال الزوج أنت طالق بألفٍ إن شئت فالقول الوجيز المشعر بكمال المقصود أنا نجعل كأن استدعاءها لم يكن وكأن الزوج ابتدأ فقال أنت طالق بألف إن شئت ثم التفصيل ما قدمنا ذكره

Kemudian, jika kita menganggap bahwa pembatasannya hanya pada penerimaan apabila laki-laki memulai dengan mengatakan, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham) jika engkau menghendaki,” sebagai suatu bentuk yang berurutan, maka dalam hal ini harus ada pembaruan penerimaan, dan permintaan yang telah diajukan sebelumnya tidak cukup. Karena ucapannya “jika engkau menghendaki” mengandung makna di masa depan, baik berupa ucapan maupun lafaz kehendak. Maka jelaslah bahwa jika perempuan mendahului dan meminta talak dengan imbalan harta, lalu suami berkata, “Engkau tertalak dengan seribu jika engkau menghendaki,” maka pendapat ringkas yang menunjukkan maksud secara sempurna adalah kita menganggap seolah-olah permintaannya tidak pernah ada, dan seolah-olah suami yang memulai dengan mengatakan, “Engkau tertalak dengan seribu jika engkau menghendaki,” kemudian perinciannya seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya.

ومما يتصل بتمام البيان في ذلك أن المرأة لو قالت طلقني واحدة بألف فقال الزوج أنت طالق ولم يُعد ذكرَ المال وقع كلامه جواباً واستحق المال الذي التزمته وبمثله لو قالت طلقني واحدةً بألف فقال أنت طالق إن شئت ولم يذكر المال فقد بطل أثر استدعائها وصار الرجل كالمبتدىء في هذا القول وإذا ابتدأ فقال أنت طالق إن شئت فقالت شئتُ وقع الطلاق رَجعياً ولم يثبت المال فكذلك إذا قالت طلقني بألفٍ فقال أنت طالق إن شئت فقالت شئتُ وقع الطلاق رجعياً فإنا جعلنا قوله ابتداء وقطعناه عن كونه جواباً

Dan termasuk penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku satu kali dengan seribu (dirham),” lalu suaminya berkata, “Engkau aku ceraikan,” tanpa menyebutkan harta (mahar), maka ucapannya dianggap sebagai jawaban dan ia berhak mendapatkan harta yang telah dijanjikan. Demikian pula, jika wanita itu berkata, “Ceraikan aku satu kali dengan seribu,” lalu suaminya berkata, “Engkau aku ceraikan jika engkau menghendaki,” tanpa menyebutkan harta, maka permintaannya menjadi batal dan suami dianggap sebagai pihak yang memulai (perceraian) dalam ucapan tersebut. Jika suami memulai dengan berkata, “Engkau aku ceraikan jika engkau menghendaki,” lalu wanita itu berkata, “Aku menghendaki,” maka jatuhlah talak raj‘i dan tidak ada hak atas harta. Demikian pula, jika wanita berkata, “Ceraikan aku dengan seribu,” lalu suami berkata, “Engkau aku ceraikan jika engkau menghendaki,” lalu wanita itu berkata, “Aku menghendaki,” maka jatuhlah talak raj‘i, karena kami menganggap ucapan suami sebagai permulaan dan memutusnya dari status sebagai jawaban.

ثم قال المزني نقلاً عن الشافعي إذا قال أنت طالق على ألف إن شئت فلها المشيئةُ وقتَ الخيار وأراد بذلك اشتراطَ اتصالِ لفظ المشيئة كما تقدم وعبر عن الاتصال بوقت الخيار وأراد الوقتَ الذي يجري فيه إمكان الرجوع عن الإيجاب قبل القبول وهو الذي يسمى وقتَ القبول

Kemudian al-Muzani menukil dari asy-Syafi‘i: Jika seseorang berkata, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham) jika engkau menghendaki,” maka istri memiliki hak memilih pada waktu pilihan. Yang dimaksud adalah mensyaratkan keterkaitan lafaz kehendak (mashi’ah), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan ia mengungkapkan keterkaitan itu dengan istilah “waktu pilihan”. Yang dimaksud adalah waktu di mana masih memungkinkan untuk menarik kembali ijab sebelum adanya kabul, yaitu waktu yang disebut sebagai waktu kabul.

ثم ذكر بعد هذا ألفاظاً مضطربة وكلاماًً هو جواب مسألة لم يذكرها بعد فقال متصلاً بما ذكرناه وإن أعطته إياها وقت الخيار لزمه الطلاق وهذا جواب لما لم يجر له ذكر وهو أن الرجل إذا قال إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق

Kemudian setelah itu ia menyebutkan beberapa ungkapan yang rancu dan perkataan yang merupakan jawaban atas suatu masalah yang belum disebutkannya, lalu ia berkata melanjutkan apa yang telah kami sebutkan: “Jika ia memberikannya kepadanya pada waktu masa khiyar, maka talak menjadi wajib baginya.” Ini adalah jawaban atas sesuatu yang belum disebutkan, yaitu apabila seorang laki-laki berkata: “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak.”

فمن جواب هذا أنها إن أعطته على الاتصال وقع فلم يذكر المسألة وذكر جوابها

Maka jawaban dari hal ini adalah bahwa jika ia memberikannya secara berkesinambungan, maka itu sah, sehingga ia tidak menyebutkan masalahnya, melainkan hanya menyebutkan jawabannya.

ثم قال وسواء هرب الزوج أو غاب أو أبطأت بالألف وهذا غير منتظم أيضاًًً فإنه عطف هذه المسألة على وقوع الطلاق والحكم فيها أن الطلاق لا يقع إذا شرطنا اتصال القبول والإعطاء وفي كلامه خبطٌ ظاهر وشرطنا ألا نطنب في التعرض للسواد والاعتراض عليه إذا لم يكن لنا غرض فقهي فهذا نجاز المسألة

Kemudian ia berkata, baik suami melarikan diri, pergi, atau lambat dalam memberikan seribu (dirham), hal ini juga tidak teratur, karena ia mengaitkan masalah ini dengan terjadinya talak, padahal hukumnya adalah talak tidak terjadi jika kita mensyaratkan adanya kesinambungan antara penerimaan dan pemberian. Dalam ucapannya terdapat kekacauan yang jelas, dan kami mensyaratkan agar tidak berpanjang lebar dalam membahas sisi gelap dan keberatan terhadapnya jika tidak ada tujuan fiqh bagi kami. Maka inilah kesimpulan masalah ini.

فصل قال ولو قال أنت طالق إن أعطيتني ألف درهم إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Engkau tertalak jika engkau memberiku seribu dirham,” dan seterusnya.

هذا الفصل عُدّ من مشكلات الكتاب وسبب الإشكال فيه اشتماله على خواصَّ للخلع سبق تعليلُ بعضها وفيه أيضاًًً حُكمٌ قدمتُ في الأقارير استقصاءه يتساهل فيه الفقهاء ولم يفردوه هاهنا فاجتمعت جهاتٌ من الإشكال ونحن نأتي بمضمون هذا الفصل موضّحاً إن شاء الله عز وجل

Bab ini dianggap sebagai salah satu bagian yang problematis dalam kitab ini, dan penyebab permasalahannya adalah karena di dalamnya terdapat kekhususan-kekhususan tentang khulu‘ yang sebagian telah dijelaskan sebelumnya. Di dalamnya juga terdapat suatu hukum yang telah saya bahas secara rinci pada bab pengakuan, yang seringkali dianggap remeh oleh para ahli fiqh dan tidak mereka bahas secara khusus di sini, sehingga berkumpullah beberapa sisi permasalahan. Kami akan menyampaikan inti dari bab ini dengan penjelasan, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإذا قال الرجل لامرأته إن أعطيتني ألف درهم فأنت طالق فأول ما نذكره أنه لا حاجة في ذلك إلى قولٍ لفظي منها فإنه لم يعلّق الطلاق على قولٍ فلا يقتضي قولاً أو يتضمنه وبيان ذلك أنه علق الطلاق على فعلها إذا قال إن أعطيتني وأخرج قولَه عن صيغة المعاوضة التي تقتضي إيجاباً وقبولاً فلا نشترط قولاً منها أصلاً ثم الذي يجب البحث عنه في ذلك أنها إذا جاءت وسلمته إليه فقد نقول إنه يملكه على ما سيأتي ذلك في أثناء الفصل إن شاء الله تعالى وهذا تمليكٌ بمجرد فعلٍ من غير قبول

Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seribu dirham, maka kamu tertalak,” maka hal pertama yang perlu kami sebutkan adalah bahwa tidak diperlukan adanya ucapan verbal dari pihak istri, karena talak tersebut tidak digantungkan pada suatu ucapan sehingga tidak mensyaratkan adanya ucapan atau mengandungnya. Penjelasannya adalah bahwa ia menggantungkan talak pada perbuatan istrinya, yaitu ketika ia berkata, “Jika kamu memberiku,” dan ia mengeluarkan ucapannya dari bentuk akad mu‘āwadah (pertukaran) yang mensyaratkan ijab dan kabul, sehingga kami tidak mensyaratkan adanya ucapan dari pihak istri sama sekali. Kemudian, yang perlu dibahas dalam hal ini adalah bahwa jika istri datang dan menyerahkan uang itu kepadanya, maka bisa dikatakan bahwa suami telah memilikinya, sebagaimana akan dijelaskan pada bagian berikutnya insya Allah Ta‘ala. Dan ini merupakan bentuk pemilikan hanya dengan perbuatan, tanpa adanya kabul.

وليس في قاعدة الفصل خلاف وغموضه في أنه عديم النظير وإلا فالتمليك في درك العقول في معنى التمليك بالفعل والصحيح أن القبض في الهبة هو المملِّك دون اللفظ المتقدم عليه واتفق الأصحاب على ما ذكرناه أن من الهدايا والمنح ما لا يفتقر إلى اللفظ وما يؤثر عن ابن سريج من كون المعاطاة معاقدة يتأكد بهذا

Tidak ada perbedaan pendapat dalam kaidah pemisahan dan tidak ada kerancuan bahwa hal itu tidak memiliki padanan; jika tidak, maka kepemilikan dalam pemahaman akal sama dengan kepemilikan secara nyata. Pendapat yang benar adalah bahwa penerimaan (qabdh) dalam hibah adalah yang menyebabkan kepemilikan, bukan ucapan yang mendahuluinya. Para ulama sepakat atas apa yang kami sebutkan, bahwa di antara hadiah dan pemberian ada yang tidak memerlukan ucapan. Apa yang dinukil dari Ibn Suraij tentang mu‘āthāh sebagai bentuk akad juga dikuatkan dengan hal ini.

ثم مما يتعلق بهذا أنها إذا جاءت بالمشروط ووضعته بين يدي الزوج فإنه يدخل في ملكه قهراً وإن لم يأخذه فإنه ذكر لفظةً معناها الإعطاء وهذا متحقق من غير أخذ بالبراجم وليس يملك الزوج الرجوعَ عما قال

Kemudian, hal yang berkaitan dengan ini adalah bahwa apabila istri telah memenuhi syarat yang ditetapkan dan meletakkannya di hadapan suami, maka hal itu otomatis masuk ke dalam kepemilikan suami, meskipun suami tidak mengambilnya. Sebab, ia telah mengucapkan suatu lafaz yang maknanya adalah pemberian, dan hal ini telah terwujud meskipun tanpa pengambilan secara fisik. Suami juga tidak berhak menarik kembali apa yang telah ia ucapkan.

فانتظم من مجموع ما ذكرناه أن الطلاق لما قبل التعليق بالقول والفعل والالتزام والقبول وقد أثبت الله المال في المفاداة في حكم الرخصة فثبت المال في الجهة التي يثبت تعليق الطلاق فيها فهذا ما أردناه في ذلك وهو واضحٌ إن شاء الله عز وجل لائق بخاصية الخلع

Maka terangkum dari keseluruhan yang telah kami sebutkan bahwa talak dapat berlaku sebelum adanya ta‘liq (penggantungan) baik dengan ucapan, perbuatan, komitmen, maupun penerimaan, dan Allah telah menetapkan adanya harta dalam kasus mufāda‘ah (tebus cerai) sebagai hukum keringanan, maka harta juga ditetapkan pada sisi di mana talak dapat digantungkan padanya. Inilah yang kami maksudkan dalam hal ini, dan hal itu jelas, insya Allah ‘Azza wa Jalla, serta sesuai dengan kekhususan khulu‘.

ثم قال الأئمة إذا قال إن أعطيتني ألفَ درهم فأنت طالق فيبنغي أن تأتي بالألف وازنةً فلو أتت بألفِ درهمٍ معدودةٍ لا تزن ألفاًً لم يقع شيء ولتكن نقرة خالصة ولتكن مضروبةً مسكوكة والقول في هذا مما تقدم استقصاؤه في كتاب الأقارير

Kemudian para imam berkata: Jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham, maka engkau tertalak,” maka hendaknya ia membawa seribu dirham dengan timbangan yang tepat. Jika ia membawa seribu dirham yang dihitung jumlahnya tetapi tidak mencapai berat seribu, maka tidak terjadi apa-apa. Dan hendaknya berupa perak murni, serta berupa dirham yang dicetak dan dicap. Penjelasan mengenai hal ini telah dibahas secara rinci dalam Kitab al-Aqārīr.

ونحن نذكر هاهنا ما تمس الحاجة إليه فنقول الدراهم في الشريعة وازنة والدرهم هو النقرة كالرِّقة والورِق وإذا كانت الفلوس لا تسمى دراهم فالمغشوش الذي بعضه نحاس ليس درهماً فإن جنس النحاس لا ينقلب بسبب مخالطة النقرة وقد تقدم تقرير هذا في الأقارير

Di sini kami akan menyebutkan hal-hal yang sangat dibutuhkan, maka kami katakan: dirham dalam syariat adalah yang memiliki berat tertentu, dan dirham adalah logam perak seperti riqqah dan wariq. Jika fulus (uang logam tembaga) tidak disebut sebagai dirham, maka dirham yang bercampur, yang sebagian bahannya adalah tembaga, juga bukanlah dirham. Sebab, jenis tembaga tidak berubah hanya karena bercampur dengan logam perak. Penjelasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya dalam bab pengakuan (aqārīr).

ومما ذكرناه ثَمَّ أنه لو أقر بدراهم وفسرها بدراهم معدودة لم يقبل منه إلا إذا كان ببلدة يعمّ فيها الدراهمُ النقصُ المعدودة غيرُ الوازنة فإذا أقر في مثلها بألف درهم وفسرها بالمعدودة والنقص الجارية الغالبة في البلد ففي قبول تفسيره وجهان ذكرناهما في الأقارير

Dari apa yang telah kami sebutkan di atas, jika seseorang mengakui sejumlah dirham dan ia menafsirkannya sebagai dirham yang dihitung (bukan yang berbobot), maka penafsirannya tidak diterima kecuali jika ia berada di suatu kota di mana umumnya dirham yang beredar adalah dirham yang dihitung dan bukan yang berbobot. Jika ia mengakui seribu dirham di kota seperti itu dan menafsirkannya sebagai dirham yang dihitung dan kekurangan (berat) yang berlaku umum di kota tersebut, maka dalam hal diterimanya penafsirannya terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab pengakuan.

ولو قال الزوج إن أعطيتني ألف درهم وفسرها بالنقص في بلد يغلب فيه جريانها وزعم أنه أراد النقصَ فكيف التصرف فيه قال الأئمة هذا يخرّج على الوجهين المذكورين في الإقرار فإن المرعيّ في لفظ الأقارير مثلُ المرعي في صيغ التعليق وهذا حسن

Jika suami berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham,” lalu ia menafsirkannya dengan maksud nilai kurang di negeri yang lazim berlaku demikian, dan ia mengaku bahwa yang ia maksud adalah nilai kurang, maka bagaimana cara menyikapinya? Para imam berkata, hal ini dikembalikan pada dua pendapat yang telah disebutkan dalam masalah ikrar, karena yang menjadi acuan dalam lafaz-lafaz ikrar sama seperti yang menjadi acuan dalam bentuk-bentuk ta‘liq, dan ini adalah pendapat yang baik.

ولكن وراءه غائلة لا بد من التنبيه لها وهي أن الزوج إذا فسر الدراهم بالنقص المعدودة فهذا يتضمن وقوع الطلاق دون الوازنة فإذا كان ما يقوله محتملاً وفيه توسيع وقوع الطلاق فيجب القطع والحالة هذه بقبول قوله

Namun, di balik itu terdapat bahaya yang perlu diingatkan, yaitu apabila suami menafsirkan dirham dengan jumlah yang lebih sedikit, hal ini berarti talak jatuh pada jumlah yang kurang dari yang seharusnya. Jika apa yang dikatakannya masih memungkinkan dan membuka peluang terjadinya talak, maka dalam keadaan seperti ini harus dipastikan untuk menerima ucapannya.

وإنما يظهر أثر الاختلاف في عكس هذه الصورة وهي أنه إذا كان في بلدة دراهم معدودة تزيد على الوازنة في زنتها فإذا فسر الدراهم التي علّق وقوع الطلاق بعطائها بالمعدودة التي تزيد زنتها على الوزن المعلوم في الوازنة وكانت تلك الدراهم غالبة فينقدح حينئذ فيه ذكرُ الوجهين لمكان النية الموافقة للعادة الجارية

Dampak perbedaan pendapat ini akan tampak dalam kebalikan dari gambaran tersebut, yaitu apabila di suatu kota terdapat beberapa dirham yang jumlahnya melebihi dirham wazanah dalam beratnya, lalu jika dirham yang dijadikan syarat terjadinya talak dengan memberikannya diartikan sebagai dirham ma‘dūdah yang beratnya melebihi berat yang diketahui pada wazanah, dan dirham-dirham tersebut lebih banyak ditemukan, maka pada saat itu muncul dua pendapat karena adanya niat yang sesuai dengan kebiasaan yang berlaku.

ولو أقر بألف درهم ثم فسر إقراره بألف معدودة يزيد زنتها على وزن الوازنة فلا شك في قبول تفسيره وإنما الخلاف فيه إذا فسرها بالنقص ولا حاجة إلى الإطناب في هذا فإنه واضح

Jika seseorang mengakui memiliki seribu dirham, lalu ia menjelaskan pengakuannya itu sebagai seribu dirham yang telah dihitung dan beratnya melebihi berat standar, maka tidak diragukan lagi penjelasannya diterima. Adapun perbedaan pendapat terjadi jika ia menjelaskannya dengan jumlah yang kurang. Tidak perlu memperpanjang pembahasan dalam hal ini karena sudah jelas.

ولو قال المقر لفلان علي ألفُ درهم ثم فسره بالمغشوشة وكانت غالبة جارية في محل الإقرار ففي قبول تفسيره وجهان وهما الوجهان المذكوران في النقص فإن المغشوشة نقرتها ناقصة ونقصانها لا ينجبر بالنحاس

Jika seseorang yang mengakui berkata, “Saya berutang seribu dirham kepada si Fulan,” lalu ia menjelaskannya dengan maksud dirham yang bercampur (tidak murni), sedangkan dirham bercampur itu umum beredar di tempat pengakuan tersebut, maka dalam hal diterimanya penjelasan itu terdapat dua pendapat, yaitu dua pendapat yang disebutkan dalam kasus kekurangan. Sebab, dirham yang bercampur itu kandungan peraknya kurang, dan kekurangannya tidak dapat ditutupi dengan adanya tembaga.

وإذا قال إن أعطيتني ألف درهم فأنت طالق وكان لفظه مطلقاًً فهذا محمول على النقرة الخالصة ولو قال أردت بذلك المغشوشة فيجب القطع بقبول تفسيره فإن ما قاله محتمل وفيه توسيع وقوع الطلاق

Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham maka kamu tertalak,” dan ucapannya bersifat mutlak, maka hal itu dianggap sebagai seribu dirham murni. Namun jika ia berkata, “Yang aku maksud adalah dirham palsu,” maka harus dipastikan untuk menerima penafsirannya, karena apa yang ia katakan masih mungkin, dan hal itu memperluas kemungkinan terjadinya talak.

فليتأمل الناظر هذه الأمور الجليّة التي لم يتعرض لها الأئمة لوضوحها

Maka hendaklah orang yang memperhatikan merenungkan hal-hal yang jelas ini, yang tidak dibahas oleh para imam karena sudah begitu jelasnya.

ومما يتعلق بتحقيق القول في ذلك إذا انتهى الكلام إلى هذا المنتهى أن من اشترى شيئاً بألف درهم في بقعةٍ دراهمُها الجارية نقصٌ فالذي يرى الأصحابُ فيه أن مطلق الدرهم في البيع والمعاوضات محمولة على الدراهم الجارية في العرف

Dan hal yang berkaitan dengan penetapan pendapat dalam masalah ini, apabila pembahasan telah sampai pada titik ini, adalah bahwa siapa saja yang membeli sesuatu seharga seribu dirham di suatu daerah yang dirham yang berlaku di sana nilainya kurang, maka menurut para ulama, dirham yang disebutkan secara mutlak dalam jual beli dan transaksi dipahami sebagai dirham yang berlaku menurut kebiasaan setempat.

وليس الأمر على هذا الإطلاق عندنا

Menurut kami, perkara ini tidaklah berlaku secara mutlak demikian.

ونحن نفصل القول فيه ونستعين بالله تعالى فنقول إذا كان في أيدي الناس نقود من أصنافٍ مختلفة النقوش والسكة وكان الغالب في المعاملات صنفٌ منها فإذا أطلقت الدراهم والحالة هذه انصرفت إلى ما يغلب وصار جريان العرف واطراده بالمعاملة في ذلك الصنف بمثابة التقييد لفظاً فيُفيد اقترانُ العرف من الإعلام ما يفيد التقييدُ نطقاً ولفظاً

Kami akan menjelaskan masalah ini secara rinci dan memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala. Kami katakan: Jika di tangan masyarakat terdapat mata uang dari berbagai jenis cap dan cetakan, lalu dalam transaksi yang paling banyak digunakan adalah salah satu jenis di antaranya, maka apabila disebutkan “dirham” secara mutlak dalam keadaan seperti ini, maka yang dimaksud adalah jenis yang paling banyak digunakan itu. Dengan demikian, berlakunya kebiasaan dan terus-menerusnya transaksi dengan jenis tersebut kedudukannya sama seperti pembatasan secara lafaz. Maka, kebiasaan yang menyertai transaksi memberikan penjelasan yang sama dengan pembatasan secara lisan dan ucapan.

ولو كانت النقود كما وصفناها فقال الرجل لفلان عليّ ألف فلا يتقيد المقرّ به بالنقد الغالب وكذلك لو قال الرجل لامرأته والنقود كما وصفناها إن أعطيتني ألفَ درهم فأنت طالق لم يختص هذا بالنقد الجاري في البلد بل لو أتت بألف من أي نقدٍ كان وقع الطلاق بعد أن تكون وازنة

Jika uang-uang itu sebagaimana telah kami jelaskan, lalu seseorang berkata, “Saya berutang seribu kepada si Fulan,” maka pengakuan tersebut tidak terbatas pada mata uang yang paling banyak digunakan. Demikian pula jika seseorang berkata kepada istrinya, sementara uang-uang itu sebagaimana telah kami jelaskan, “Jika kamu memberiku seribu dirham, maka kamu tertalak,” maka hal ini tidak terbatas pada mata uang yang berlaku di negeri tersebut. Bahkan, jika istrinya memberikan seribu dari mata uang apa pun, maka talak terjadi, selama uang itu memiliki nilai yang setara.

وهذا موضع استفراق فإن النقد الغالب يتعين في المعاملات ولا يتعين في الأقارير ولفظ التعليق وهذا عندنا في المعنى والفقه ليس بتفاوتٍ وطريق الكلام فيه أن المعاملات إخبارٌ عمّا نصف والإقرار إخبارٌ عن ماضٍ ولا يمكن أن نحكم على العادة بالاطراد فيما تقدم فلا يتحقق كون العادة قرينة في المخبرَ عنه فبقي الإجمال في الصنف

Ini adalah tempat terjadinya perbedaan pendapat, karena mata uang yang berlaku biasanya ditentukan dalam transaksi, namun tidak ditentukan dalam pengakuan dan lafaz ta‘liq. Menurut kami, dalam makna dan fiqh, hal ini tidak berbeda. Cara pembahasannya adalah bahwa transaksi merupakan pemberitahuan tentang sesuatu yang sedang dijelaskan, sedangkan pengakuan adalah pemberitahuan tentang masa lalu. Tidak mungkin kita menetapkan kebiasaan secara konsisten terhadap sesuatu yang telah lampau, sehingga kebiasaan tidak dapat dipastikan sebagai petunjuk pada perkara yang diberitakan. Maka, tetaplah ada keumuman dalam jenis tersebut.

وكذلك إذا قال لامرأته إن أعطيتني ألف درهم فليس تعليق الطلاق أمراً معتاداً فلا يصير اطراد الاعتياد قرينةً فيه وتحقيقه أن العادة لا معنى لها على الانفراد والمعنيّ بجريانها جريانُ المعاملات والتعليقُ ليس مما يتكرر جريانه في الدراهم فكان مطلق الدراهم يجري على مقتضى الإطلاق فيها ومقتضى الإطلاق التعميم بأي صنف أتت به وقع الطلاق إذا كان نقرة وازنة هذا في اختلاف النقود

Demikian pula jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seribu dirham,” maka menggantungkan talak pada hal tersebut bukanlah perkara yang biasa dilakukan, sehingga kebiasaan yang terus-menerus tidak dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam hal ini. Penjelasannya adalah bahwa kebiasaan tidak memiliki makna tersendiri secara terpisah; yang dimaksud dengan berjalannya kebiasaan adalah berjalannya transaksi, sedangkan penggantungan (talak) bukanlah sesuatu yang sering terjadi dalam urusan dirham. Maka, dirham yang disebutkan secara mutlak mengikuti konsekuensi dari kemutlakannya, dan konsekuensi dari kemutlakan itu adalah mencakup umum, sehingga dengan jenis apa pun yang diberikan oleh istri, talak jatuh jika jumlahnya genap dan berbobot. Ini berlaku dalam perbedaan jenis mata uang.

فأما إذا كان الجاري في البلد دراهمُ ناقصةٌ في الوزن فهذا موضع النظر فاسم الدراهم مقيدٌ بالنقرة الوازنة فإذا جرى العرف بخلاف ما يقتضيه الاسم فإذا قال المقر أردت النقص تمسكاً بالعرف ففيه وجهان وإذا أراد من علَّق الطلاق تفسير لفظه في هذا المقام بالنقص المعدودة فقد ذكر الأصحاب وجهين

Adapun jika yang berlaku di suatu negeri adalah dirham yang kurang beratnya, maka ini adalah tempat untuk diteliti. Nama dirham itu terikat dengan kadar berat yang seharusnya. Jika kebiasaan yang berlaku berbeda dengan apa yang dituntut oleh nama tersebut, lalu orang yang mengakui (misalnya dalam akad) berkata, “Saya maksudkan dirham yang kurang berat,” dengan berpegang pada kebiasaan, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Dan jika orang yang menggantungkan talak ingin menafsirkan ucapannya dalam konteks ini dengan dirham yang kurang jumlahnya, para ulama juga menyebutkan dua pendapat.

ولا معنى لهما عندي بل الوجه القطع بالقبول فإن فيه توسيعَ الطلاق والاحتمال في ذلك كافٍ

Menurut saya, keduanya tidak memiliki makna, bahkan yang benar adalah memastikan penerimaan, karena di dalamnya terdapat perluasan talak dan kemungkinan dalam hal itu sudah cukup.

فإذا جرى ذكر الدراهم في المعاملة في الموضع الذي دراهمه الغالبة نقصٌ فهذا فيه اختلاف بين الأصحاب فالذي ذهب إليه المعظم أن العرف مقيِّدٌ في المعاملات وطريق الفرق فيه ما ذكرناه من جريان المعاملات وعدم ذلك في التعليق وحققنا في الإقرار استناده إلى سابقٍ لا تحكّم فيه بعرف

Apabila disebutkan dirham dalam suatu transaksi di tempat di mana dirham yang berlaku adalah yang kurang nilainya, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Pendapat mayoritas menyatakan bahwa ‘urf (kebiasaan) menjadi pembatas dalam transaksi. Cara membedakannya adalah sebagaimana telah kami sebutkan, yaitu berlakunya transaksi dan tidak berlakunya hal tersebut dalam ta‘liq (penggantungan syarat). Kami telah menegaskan dalam bab iqrar (pengakuan) bahwa hal itu bersandar pada sesuatu yang telah lalu, yang tidak dapat dipengaruhi oleh ‘urf.

ومن أصحابنا من قال اسم الدراهم صريح في الوازنة والعرف لا يغيّر الصريح عن معناه ووضعِه وليس هذا كما قدمنا ذكره من إثبات أثر العرف في إعلام نقدٍ من النقود المختلفة فإن ذلك إعلام بطريق القرينة في محل الإبهام ولو حملنا الدراهم على الناقص لكان ذلك تغييراً لموجب النص الصريح والعرف لا يغير النصوص ومعناها وهذا إن كان له اتجاه في المعنى لكن المشهور حمل الدراهم في المعاملات على النقص إذا كانت غالبة وإنما الخلاف في الأقارير وفي التعليق الذي قدّمته فهذا ما عليه بناء المذهب وقد أوضحنا الفرق بين المعاملة

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa nama “dinar” secara tegas merujuk pada yang berbobot, dan kebiasaan (‘urf) tidak dapat mengubah makna dan penetapan yang tegas tersebut. Ini berbeda dengan yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang penetapan pengaruh ‘urf dalam penunjukan salah satu mata uang dari beberapa mata uang yang berbeda, karena hal itu merupakan penunjukan melalui indikasi (qarīnah) pada tempat yang samar. Jika kita menafsirkan “dinar” sebagai yang kurang, maka itu berarti mengubah ketentuan nash yang tegas, dan ‘urf tidak dapat mengubah nash dan maknanya. Meskipun pendapat ini memiliki arah dalam makna, namun yang masyhur adalah bahwa “dinar” dalam transaksi diartikan sebagai yang kurang apabila itu yang dominan. Adapun perbedaan pendapat terjadi dalam pengakuan (iqrār) dan dalam taklik sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya. Inilah yang menjadi dasar mazhab, dan kami telah menjelaskan perbedaan antara transaksi…

ومما نتمّم به الغرض في ذلك القولُ في الدراهم المغشوشة وإجمال الكلام فيها أولاً أنها بمثابة النقص في الإقرار والتعليق وإنما نفصّل فيها ذكر المعاملات فنقول يعترض في المغشوشة أصلٌ آخر وهو أن مقدار النقرة إن كان مجهولاً في الدراهم ولم يكن لها جريان فلا يصح التعويل عليها لا مذكورة ولا معيّنة فإن الجهالة على هذا الوجه تمنع الثبوت في الذمة

Sebagai pelengkap pembahasan ini, kami akan membicarakan tentang dirham yang dicampur (tidak murni). Secara ringkas, dirham semacam ini pada dasarnya seperti kekurangan dalam pengakuan dan penangguhan. Namun, kami akan merinci pembahasan ini dalam konteks muamalah sebagai berikut: Pada dirham yang dicampur terdapat prinsip lain, yaitu jika kadar perak murni dalam dirham tidak diketahui dan dirham tersebut belum beredar di masyarakat, maka tidak sah bersandar padanya, baik disebutkan secara umum maupun ditentukan secara spesifik. Sebab, ketidakjelasan dalam hal ini menghalangi terjadinya kewajiban dalam dzimmah.

وإذا عيّنت فأشّر إليها فالإشارة بمثابة الإشارة إلى تراب المعدن

Dan jika kamu telah menentukan, lalu menunjuk kepadanya, maka penunjukan itu sama seperti penunjukan kepada tanah tambang.

فإن كان لها جريان في العادة مع أن مقدار النقرة مجهول فيها ففي صحة التعامل بها وجهان قدمنا ذكرهما في كتاب البيع وأبوابٍ من المعاملات وتعويل من يجوّز على الجريان والصحيحُ المنعُ

Jika mata uang tersebut memiliki peredaran yang biasa digunakan, meskipun ukuran satuannya tidak diketahui secara pasti, maka ada dua pendapat mengenai keabsahan bertransaksi dengannya. Kedua pendapat ini telah kami sebutkan dalam Kitab al-Bay‘ dan beberapa bab tentang mu‘āmalāt. Pendapat yang membolehkan berpegang pada kebiasaan peredarannya, namun pendapat yang benar adalah larangan.

وإن كان مقدار النقرة معلوماً ففي طريق العلم به توقف فإنه مما لا يعاين فإن أمكن العلم به فبقول ثقات فيزول في هذه الصورة الجهلُ بالمقصود وتصير الدراهمُ المعلومةُ العيار المغشوشةُ بمثابة الدراهم المعدودة والنقصُ في الوزن وقد تفصّل القولُ فيها فهذا تمام القول في هذا الفن

Jika kadar campuran itu diketahui, maka dalam cara mengetahuinya terdapat keraguan, karena hal itu tidak dapat disaksikan secara langsung. Jika memungkinkan untuk mengetahuinya, maka dengan perkataan orang-orang tepercaya, sehingga dalam hal ini hilanglah ketidaktahuan terhadap maksud yang dimaksudkan, dan dirham yang diketahui kadar campurannya yang telah dicampur itu menjadi seperti dirham yang telah dihitung dan kekurangan pada timbangan. Masalah ini telah dijelaskan secara rinci, maka inilah penjelasan lengkap dalam bidang ini.

ومما يخرج مما قررناه أنا إذا قيدنا لفظ التعليق بالعرف الجاري في الموضع فقد يقتضي الحالُ حملَ الدراهم على المغشوشة في الإقرار ولكن الوجه عندي فيه أنه إذا قال المُقر أردت المغشوشة ففي قول منه وعرف الموضع مساعدٌ الوجهان فلو لم يدع أنه أراد المغشوشة فالوجه عندي مطالبته بالخالصة وسبب ذلك أن العرف لا جريان له في الأقارير فاسم الدراهم على اقتضاء الخلوص والزنة التامة ولكن إن زعم أنه أراد ما يجري به العرف في المعاملة فقد يعذره بعضُ الأصحاب بسبب جريان المعاملة وهذا لا قطع به ولا يمتنع أن يقال إن تراجع فيما أراد فإن زعم أنه لم يرد شيئاً فإقراره محمول على الغالب في المعاملة

Di antara hal yang dikecualikan dari apa yang telah kami tetapkan adalah bahwa jika kami membatasi lafaz ta‘liq (penggantungan) dengan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku di suatu tempat, maka terkadang keadaan mengharuskan membawa makna dirham kepada yang bercampur (tidak murni) dalam pengakuan. Namun menurut pendapat saya, jika orang yang mengaku mengatakan bahwa ia bermaksud dirham yang bercampur, maka ada dua pendapat, dan ‘urf di tempat itu mendukung kedua pendapat tersebut. Jika ia tidak mengaku bahwa ia bermaksud dirham yang bercampur, maka menurut saya, ia harus dituntut dengan dirham yang murni. Sebabnya adalah karena ‘urf tidak berlaku dalam pengakuan, sehingga nama dirham menuntut kemurnian dan berat yang sempurna. Namun, jika ia mengklaim bahwa ia bermaksud apa yang berlaku menurut ‘urf dalam mu‘āmalah (transaksi), maka sebagian ash-hāb (ulama mazhab) mungkin memaafkannya karena berlakunya ‘urf dalam mu‘āmalah. Hal ini tidak bisa dipastikan, dan tidak mustahil dikatakan bahwa jika ia menarik kembali maksudnya, lalu ia mengaku tidak bermaksud apa-apa, maka pengakuannya dibawa kepada yang umum berlaku dalam mu‘āmalah.

هذا تردد لطيف يجب تدبره

Ini adalah keraguan yang halus yang perlu direnungkan.

وأما إذا جعلنا للعرف أثراً وقد جرى التعليق في الطلاق أو العتاق فإن قال أردت الدراهم المغشوشة فالوجه عندي القطع بتصديقه لما فيه من توسيع الطلاق

Adapun jika kita memberikan pengaruh kepada ‘urf dan telah terjadi ta‘liq dalam talak atau pembebasan budak, maka jika seseorang berkata, “Saya maksudkan dirham yang bercampur (tidak murni),” maka menurut pendapat saya, yang tepat adalah memastikan kebenarannya, karena hal itu mengandung pelonggaran dalam talak.

وإن أطلق فالوجه القطع بحمل لفظ المطلق على الخالصة الوازنة

Dan jika disebutkan secara mutlak, maka pendapat yang kuat adalah memastikan bahwa lafaz yang bersifat mutlak itu dibawa pada makna yang murni dan utama.

ومن أصحابنا من ذكر وجهاً وهو صادر عن غير بصيرة ودراية بحقائق الأشياء ووضعها

Sebagian dari ulama kami ada yang menyebutkan suatu pendapat, namun pendapat itu muncul tanpa pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang benar tentang hakikat-hakikat sesuatu dan kedudukannya.

وقد انطوى إلى هذا المنتهى أصلان أحدهما تعلّق الإعطاء بفعلٍ مجرد من غير قول من جهتها

Dan telah tercakup dalam kesimpulan ini dua pokok; yang pertama adalah keterkaitan pemberian dengan suatu perbuatan semata tanpa adanya ucapan dari pihaknya.

والثاني الكلام في الخلوص والنقصان

Kedua, pembahasan mengenai kemurnian dan kekurangan.

ونحن نبتدىء بعد هذا الكلامَ في مقصود آخر والبناءَ على الفرق بين المعاملات وألفاظ المُعلِّقين فنقول إذا قال إن أعطيتني ألف درهم فأنت طالق وكان في البلد نقد غالب وزان خالص فإذا جاءت بألفٍ من النقد ووضعته بين يدي الزوج قُضي بوقوع الطلاق لتحقق الصفة ثم ما أعطته من جنس النقد فيملكه الزوج ولا يجري فيه رد واسترداد وقد وقع الطلاق وجرى الملك في المعطى معاً

Setelah pembahasan ini, kita akan memulai pada tujuan lain dan membangun penjelasan atas perbedaan antara mu‘āmalāt dan lafaz para pihak yang membuat ta‘liq. Maka kami katakan: Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham, maka kamu tertalak,” dan di negeri itu terdapat mata uang yang umum digunakan dan murni timbangannya, lalu sang istri datang membawa seribu dari mata uang tersebut dan meletakkannya di hadapan suami, maka diputuskan jatuhnya talak karena syaratnya telah terpenuhi. Kemudian, apa yang diberikan dari jenis mata uang itu menjadi milik suami, dan tidak berlaku pengembalian atau penarikan kembali. Maka talak telah jatuh dan kepemilikan atas barang yang diberikan pun terjadi secara bersamaan.

ولو أتت بألف درهم وازنة خالصة ولكن النقد الغالب في البلد غيرُ ذلك الذي أتت به وليقع الفرض إذا كان النقد الغالب خالصاً وازناً أيضاًًً ولكن الاختلاف في جودة السكة وزكاتها وفي لين النقرة وانْطراقها وفي خشونتها فالذي ذكره الأئمة أن الطلاق يقع كما ذكرناه ثم الزوج لا يملك ما جاءت به ولكن يرده ويسترد ألفاًً من نقد البلد فإن الذي تقتضيه المعاملة التقييد بنقد البلد والذي يقتضيه التعليق اتباع الاسم فوقع الحكم بوقوع الطلاق لتحقق الاسم وثبت الرجوع إلى النقد الغالب لموجب المعاملة هذا قول الأصحاب

Jika istri membawa seribu dirham yang murni dan berbobot, namun mata uang yang berlaku di negeri tersebut bukanlah yang ia bawa, dan misalkan mata uang yang berlaku juga murni dan berbobot, tetapi perbedaannya terletak pada kualitas cetakan, zakatnya, kelembutan logamnya, kemudahan pecahnya, atau kekasarannya, maka para imam menyebutkan bahwa talak tetap terjadi sebagaimana telah kami sebutkan. Namun, suami tidak memiliki hak atas apa yang dibawa istri, melainkan harus mengembalikannya dan mengambil seribu dari mata uang yang berlaku di negeri itu. Sebab, yang dituntut dalam transaksi adalah pembatasan dengan mata uang negeri, sedangkan yang dituntut dalam ta‘liq adalah mengikuti nama (jenis mata uang). Maka, hukum talak berlaku karena nama (jenis mata uang) telah terpenuhi, dan hak untuk kembali kepada mata uang yang berlaku di negeri itu tetap ada karena alasan transaksi. Inilah pendapat para sahabat (ulama mazhab).

وهذا مشكل فليتأمله المنتهي إليه فإن الطلاق إنما يقع لتحقّق الصفة وتمليك الدراهم فلئن كان ما جاءت به على حقيقة الصفة فليتحقق فيه التمليك فإن الإعطاء معناه التمليك فالذي يقتضيه القياس الحق أن يتملّك الزوج ما يقع الطلاق بالإتيان به وإن كان يجب اتباع النقد الغالب فيجب أيضاًًً أن يتوقف وقوع الطلاق على ما هو المملوك

Ini adalah persoalan yang rumit, maka hendaknya orang yang sampai kepadanya memperhatikannya dengan saksama. Sesungguhnya talak itu terjadi karena terealisasinya sifat (syarat) dan kepemilikan atas dirham. Maka jika apa yang dibawa oleh istri benar-benar sesuai dengan sifat (syarat) tersebut, hendaknya juga dipastikan adanya kepemilikan. Sebab, pemberian itu maknanya adalah kepemilikan. Maka, yang dituntut oleh qiyās yang benar adalah bahwa suami harus memiliki apa yang menyebabkan terjadinya talak dengan kedatangan (istri) membawa hal itu. Dan jika memang harus mengikuti mata uang yang berlaku, maka juga harus disyaratkan bahwa terjadinya talak bergantung pada sesuatu yang benar-benar dimiliki.

وهذا لا مطمع في دفعه

Dan hal ini tidak mungkin untuk dihindari.

و في نص الشافعي في السواد ما يدل على أنا لا نرجع إلى نقد البلد ولكن إذا أتت بالدراهم وهي نقرة وازنة وقع الطلاق للاسم فإن كانت النقرة معيبة فعليها ألفٌ خالصة غيرُ معيبة ولم نرجع إلى النقد الغالب وهذا فيه دفعٌ لنوعٍ من الإشكال وهو المصير إلى نقد البلد فإنه لم يعتبره ولكن لما وضح قصد التمليك في الألف اقتضى ذلك السلامةَ من العيوب كما يقتضيه كل ما أُثبت عوضاً وهذا ليس ينفي الإشكال بالكلية فإن القياس يقتضي ألا يقع الطلاق إلا بما يجري الاستحقاق فيه وما يقع الطلاق به فينبغي ألا يبدّل

Dan dalam nash Syafi’i mengenai uang logam hitam terdapat petunjuk bahwa kita tidak kembali kepada mata uang yang berlaku di negeri tersebut, tetapi jika istri membawa dirham yang berupa logam murni dan berbobot, maka talak jatuh karena nama (dirham) tersebut. Jika logam itu cacat, maka ia wajib menyerahkan seribu (dirham) yang murni dan tidak cacat, dan kita tidak kembali kepada mata uang yang umum berlaku. Dalam hal ini terdapat penolakan terhadap suatu bentuk permasalahan, yaitu kembali kepada mata uang negeri, karena Imam Syafi’i tidak menganggapnya. Namun, ketika maksud untuk memberikan kepemilikan atas seribu (dirham) telah jelas, maka hal itu menuntut agar barang tersebut bebas dari cacat, sebagaimana yang disyaratkan pada setiap pengganti yang ditetapkan. Namun, hal ini tidak sepenuhnya menghilangkan permasalahan, karena qiyās mengharuskan bahwa talak tidak jatuh kecuali pada sesuatu yang dapat dimiliki, dan apa yang menyebabkan jatuhnya talak seharusnya tidak diubah.

وقد أجمع الأصحاب في الطرق على أن الرجوع إلى نقد البلد إذا كان في البلد نقد غالب

Para ulama mazhab telah berijma‘ dalam berbagai referensi bahwa ketentuan kembali kepada mata uang yang berlaku di suatu negeri dilakukan apabila di negeri tersebut terdapat mata uang yang dominan.

وهذا مع اشتهاره لا وجه له أصلاً وفي إيجاب الإبدال لعين المعيب إشكالٌ قائم أيضاًً ولكنه أمثل من الرجوع إلى نقد البلد والله أعلم

Dan hal ini, meskipun terkenal, sama sekali tidak memiliki dasar. Dalam mewajibkan penggantian barang cacat juga terdapat permasalahan yang masih ada, namun hal itu lebih baik daripada mengembalikan kepada mata uang negeri. Allah Maha Mengetahui.

وقال الشيخ أبو علي في شرح التلخيص من أصحابنا من قال إذا وقع الطلاق إذا جاءت بالألف الخالصة الوازنة فالرجوع إلى مهر المثل وعلَّل هذا القائل بأن التمليك من غير إلزام والتزام وعقدٍ مشتملٍ على شقيه بعيدٌ ولكن الزوج لم يرض بوقوع الطلاق من غير مال وفسد التملك بلفظ الإعطاء مع الفعل فكان مجموع ذلك يقتضي الرجوع إلى مهر المثل

Syekh Abu Ali berkata dalam Syarh at-Talkhish: Di antara ulama mazhab kami ada yang berpendapat bahwa jika talak terjadi dengan lafaz yang mengandung huruf alif yang murni dan berbobot, maka kembali kepada mahar mitsil. Pendapat ini beralasan bahwa penyerahan kepemilikan tanpa adanya kewajiban dan komitmen, serta akad yang mencakup kedua sisi tersebut adalah hal yang jauh (tidak tepat). Namun, suami tidak rela talak terjadi tanpa adanya imbalan harta, dan batalnya kepemilikan dengan lafaz pemberian disertai perbuatan, maka keseluruhan hal tersebut menuntut untuk kembali kepada mahar mitsil.

ولو أتت بألفٍ يقع الطلاق بمثلها وكان النقد الغالب من ذلك الجنس أيضاًًً فهذا القائل يقول الألف الذي به وقع الطلاق مردود والرجوعُ إلى مهر المثل لما ذكرناه من أن لفظ التعليق لا يفيد معنى التمليك على التمام وليس خالياً عن اقتضائه أيضاًًً فهذا بيان هذا الوجه

Jika seorang istri memberikan seribu (dinar atau dirham) yang dengan jumlah itu terjadi talak, dan mata uang yang berlaku umum juga dari jenis itu, maka menurut pendapat ini, seribu yang menyebabkan terjadinya talak itu dikembalikan, dan kembali kepada mahar mitsil. Hal ini karena sebagaimana telah kami sebutkan, lafaz ta‘liq tidak memberikan makna kepemilikan secara sempurna, namun juga tidak sepenuhnya lepas dari makna tersebut. Inilah penjelasan dari sisi ini.

ومما نجري في ذلك أيضاًًً أن من يحمل لفظ المعلِّق على موجب العرف في الدراهم النقص والمغشوشة كما قدمناه فيلزمه أن يقول إذا أتت المرأة بألف والنقد الغالب غيره فلا يقع الطلاق لأن اللفظ يتضمن التقيّد بالعرف وهذا بعيد ولكنه مستند إلى ما تقدم تقريرُه وحكايتُه عن بعض الأصحاب

Termasuk yang kami terapkan dalam hal ini juga adalah bahwa siapa pun yang memahami lafaz mu‘allaq berdasarkan kebiasaan (‘urf) dalam hal dirham yang kurang atau bercampur seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, maka ia wajib mengatakan: jika seorang wanita datang dengan seribu (dirham) dan mata uang yang berlaku bukan itu, maka talak tidak jatuh, karena lafaz tersebut mengandung pembatasan dengan kebiasaan (‘urf). Namun, hal ini jauh (dari kebenaran), meskipun ia bersandar pada apa yang telah dijelaskan dan dinukil dari sebagian sahabat (ulama).

فهذا تمام ما قيل فيه والمذهب الحكم بوقوع الطلاق إذا جاءت بألف وازنة خالصة ثم إن كانت موافقة لنقد البلد فالزوج يملكه وإن كان النقد مخالفاً لما أتت به وقع الطلاق ورد الزوج ما جاءت به وطالبها بألفٍ من النقد وإن لم يكن بين ما أتت به وبين النقد إلا تفاوتٌ في النوعين فإن تراضيا بما جاءت به جرى الملك فيه كما سبق تقريره في السَّلم إذا أتى المسلم إليه بما يخالف النوع الموصوف والجنس جامعٌ ولا وجه للخصوص في ذلك والقياس ما تقد التنبيه عليه من وقوع الطلاق إذا أعطت ما وصف وتعلق الملك بعينه وما حكاه الشيخ أبو علي من الرجوع إلى مهر المثل فيه غَوْص في الفقه فهذا تمام الاطلاع على حقيقة هذا الطرف

Inilah seluruh pembahasan yang telah dikemukakan dalam masalah ini. Menurut mazhab, hukum yang berlaku adalah talak jatuh apabila istri memberikan seribu (uang) yang bernilai penuh dan murni. Jika uang tersebut sesuai dengan mata uang yang berlaku di negeri itu, maka suami berhak memilikinya. Namun, jika mata uang yang diberikan berbeda dengan mata uang yang berlaku, maka talak tetap jatuh, suami mengembalikan apa yang telah diberikan istri, dan menuntut istri untuk memberikan seribu dari mata uang yang berlaku. Jika perbedaan antara apa yang diberikan istri dan mata uang yang berlaku hanya sebatas jenisnya saja, maka jika keduanya rela dengan apa yang diberikan istri, maka kepemilikan atasnya sah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam bab salam, jika pihak yang menerima salam memberikan barang yang berbeda jenis namun masih dalam satu kelompok, dan tidak ada alasan untuk mengkhususkan hal ini. Qiyās juga menunjukkan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa talak jatuh jika istri memberikan apa yang telah disyaratkan dan kepemilikan terkait dengan barang itu sendiri. Apa yang dinukil oleh Syaikh Abu Ali tentang kembali kepada mahar mitsil dalam hal ini adalah pembahasan mendalam dalam fiqh. Demikianlah penjelasan lengkap mengenai hakikat bagian ini.

ومما يتعلق بتمام الكلام أنه إذا قال إن أعطيتني ألفاًً فهذا يقتضي أن تأتيَ به على الفور في زمان قبول العقد حتى لو فرض تخللُ زمانٍ ينقطع بمثله الإيجاب عن القبول فإذا أتت بالألف بعد ذلك لم يقع الطلاق

Dan termasuk hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pembahasan adalah bahwa jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu,” maka hal itu mengharuskan kamu membawanya segera pada saat penerimaan akad. Sehingga, jika terdapat jeda waktu yang menyebabkan ijāb terputus dari qabūl, lalu setelah itu kamu membawa seribu tersebut, maka talak tidak terjadi.

وهذا مما مهدناه عند ذكر أصل الخلع وماهيته وقد اتفق الأصحاب على هذا في طرقهم

Hal ini telah kami jelaskan ketika membahas asal-usul khulu‘ dan hakikatnya, dan para ulama sepakat mengenai hal ini dalam penjelasan mereka.

ورأيت في شرح التلخيص أن من أئمتنا من قال قوله إن أعطيتني ألفاً لا يقتضي الفور كما أن قوله إن دخلت الدار لا يقتضي الفور فإن التواصل إنما يليق بكلامين أحدهما التماس جواب والثاني جواب عنه

Saya melihat dalam Syarh at-Talkhīṣ bahwa sebagian imam kami berpendapat bahwa ucapan seseorang “Jika kamu memberiku seribu” tidak menuntut segera, sebagaimana ucapan “Jika kamu masuk rumah” juga tidak menuntut segera, karena keterkaitan (antara dua ucapan) itu hanya layak pada dua kalimat yang salah satunya merupakan permintaan jawaban dan yang lainnya adalah jawaban atasnya.

وهذا وإن أمكن توجيهه فهو بعيد في الحكاية لا تعويل عليه وسيأتي فصلٌ في أنه إذا قال إن أعطيتني ألفَ درهم فهذا محمول على تسويغ التأخير

Meskipun hal ini mungkin dapat ditafsirkan, namun penjelasan tersebut jauh dari kenyataan dan tidak dapat dijadikan sandaran. Akan datang satu bab bahwa apabila seseorang berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham,” maka hal itu dianggap sebagai pembolehan penundaan.

فهذا بيان أصول الفصل والتنبيهُ على موقع الإشكال فيه والانفصال عما يمكن الانفصال فيه

Ini adalah penjelasan tentang pokok-pokok pembahasan, penunjukan letak permasalahan di dalamnya, serta pemisahan dari hal-hal yang memungkinkan untuk dipisahkan.

ثم مما ذكره الشافعي في ذلك أنه إذا قال إن أعطيتني ألف درهم فلو أتته بألفي درهم وقع الطلاق ولا أثر للزيادة التي جاءت بها وليس كما لو قال أنت طالق على ألف فقالت قبلت ألفين فلا يقع شيء والفرق أن القبول جواب الإيجاب فإذا خالفه في الصفة خرج عن كونه جواباً وإذا قال إن أعطيتني ألف درهم فالإعطاء ليس جواباً وإنما هو فعل وإذا جاءت بألفين فمما جاءت به ألف درهم ولا اعتبار بالزيادة

Kemudian, di antara yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam hal ini adalah bahwa jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham,” lalu istrinya datang membawa dua ribu dirham, maka talak jatuh dan tambahan yang dibawa itu tidak berpengaruh. Ini berbeda dengan kasus jika seseorang berkata, “Kamu tertalak atas seribu dirham,” lalu istrinya berkata, “Aku terima dua ribu dirham,” maka tidak terjadi apa-apa. Perbedaannya adalah bahwa penerimaan (qabul) merupakan jawaban atas ijab, sehingga jika berbeda dalam sifatnya, maka ia keluar dari status sebagai jawaban. Adapun jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham,” maka pemberian itu bukanlah jawaban, melainkan perbuatan. Jika istrinya datang membawa dua ribu dirham, maka di antara yang dibawa itu terdapat seribu dirham, dan tambahan itu tidak dianggap.

ولو قال إن ضمنتِ لي ألفَ درهم فأنت طالق فقالت ضمنت ألفي درهم وقع الطلاق ولا يلزمها إلا الألف فإن الضمان وإن كان قولاً منها فليس أحدَ شِقَّي عقد حتى يشترط وقوعه على وفق النسق الصادر من الرجل والدليل عليه أن الضمان مما يقبل التأخير إذا ذكر الزوج لفظاً مقتضاه التأخير وذلك إذا قال متى ضمنت لي ألفاًً فأنت طالق

Jika seorang suami berkata, “Jika kamu menjamin untukku seribu dirham, maka kamu tertalak,” lalu sang istri berkata, “Aku menjamin dua ribu dirham,” maka talak jatuh, dan yang wajib baginya (istri) hanyalah seribu dirham. Sebab, meskipun penjaminan itu berupa ucapan dari istri, ia bukanlah salah satu sisi dari akad yang mengharuskan terjadinya sesuai dengan redaksi yang diucapkan oleh suami. Dalilnya adalah bahwa penjaminan termasuk perkara yang boleh ditunda jika suami mengucapkan lafaz yang mengandung penundaan, yaitu jika ia berkata, “Kapan pun kamu menjamin untukku seribu, maka kamu tertalak.”

ومما نذكره وهو ختام الفصل أنه إذا قال إن أعطيتني ألفَ درهم فأنت طالق والتفريع على أن الطلاق لا يقع إلا بالنقرة الخالصة فلو أتت بالنقرة المطبوعة وكان النقد الغالب مغشوشاً معلومَ العيار والبناءُ على أخذِ التملك من النقد الغالبِ وأخذِ الوقوعِ من الدراهمِ الخالصةِ الوازنة فموجب ذلك أن تسترد الدراهم الخالصة وتغرم للزوج المغشوشة

Dan hal yang perlu kami sebutkan sebagai penutup bab ini adalah bahwa jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham, maka engkau tertalak,” dan penjelasannya adalah bahwa talak tidak jatuh kecuali dengan dirham murni. Jika ia memberikan dirham cetakan, sementara mata uang yang umum beredar adalah yang bercampur dan kadar kemurniannya diketahui, serta dasar pengambilan kepemilikan didasarkan pada mata uang yang umum beredar, sedangkan jatuhnya talak didasarkan pada dirham murni yang berbobot, maka konsekuensinya adalah dirham murni itu harus dikembalikan dan istri mengganti kepada suami dengan dirham yang bercampur.

وهذا في نهاية الإشكال كما تقدم من الكلام الواضح في المسألة أنها إذا أتت من التبر بزنة ألف درهم أو بما فيه وزن الألف فلا يقع الطلاق إذا كان المذكور دراهمَ فإن النقرة لا تسمى دراهم ما لم تطبع وإذا قال إن أعطيتني ألف درهم فأتته بدرهم خسرواني وزن ألف درهم ففيه كلام ذكرته في الإقرار بألف درهم فيطلب في موضعه

Ini adalah puncak dari permasalahan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya secara gamblang dalam pembahasan ini, bahwa jika seseorang datang membawa emas batangan seberat seribu dirham atau sesuatu yang beratnya setara seribu dirham, maka talak tidak jatuh jika yang disebutkan adalah dirham, karena bongkahan logam tidak disebut dirham kecuali setelah dicetak. Dan jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham,” lalu ia datang dengan satu dirham Khosrawani yang beratnya setara seribu dirham, maka dalam hal ini terdapat pembahasan yang telah aku sebutkan dalam bab pengakuan atas seribu dirham, sehingga hendaknya merujuk pada tempatnya.

فصل قال ولو قال متى أو متى ما أعطيتِني إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Jika engkau memberiku, maka…”

قد ذكرنا التفصيل فيه إذا قال إن أعطيتني وأوضحنا أن هذا محمول على الفور وكذلك إذا قال إذا أعطيتني فهو في اقتضاء الفور بمثابة قوله إن أعطيتني ولو قال متى أعطيتني أو متى ما أعطيتني فهذا لا يقتضي التنجيز ولكن الأمر موسّعٌ عليها فإن اللفظ صريح في اقتضاء التأخير فإن أخرت فمهما أعطت على القرب أو البعد حُكم بوقوع الطلاق وليس هذا بدعاً إذا ثبت ما قدمنا ذكرَه من إيقاع لفظ التعليق من غير اشتراط لفظٍ من جهتها في القبول

Kami telah menjelaskan rinciannya ketika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku,” dan kami telah menerangkan bahwa hal ini berlaku untuk segera (langsung). Demikian pula, jika ia berkata, “Jika kamu memberiku,” maka dalam hal menuntut segera, kedudukannya sama dengan ucapannya, “Jika kamu memberiku.” Namun, jika ia berkata, “Kapan pun kamu memberiku,” atau “Setiap kali kamu memberiku,” maka ini tidak menuntut penegasan (langsung), melainkan urusannya dilonggarkan baginya, karena lafaz tersebut secara jelas menunjukkan kemungkinan penundaan. Maka jika ia menunda, kapan pun ia memberi, baik segera maupun lambat, maka diputuskan jatuhnya talak. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, jika telah tetap apa yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang jatuhnya lafaz ta‘liq (penggantungan) tanpa mensyaratkan adanya lafaz dari pihak perempuan dalam penerimaannya.

وكذلك إذا قال متى ضمنت لي ألفاًً فمهما ضمنت على القرب أو البعد وقع الطلاق فإن ضمانها ليس يُنحى به نحو قبول المال المذكور في صيغة المعاوضة

Demikian pula, jika seseorang berkata, “Kapan pun kamu menjamin seribu untukku, maka kapan pun kamu menjamin, baik segera maupun nanti, jatuhlah talak,” maka penjaminan tersebut tidak diarahkan seperti penerimaan harta yang disebutkan dalam akad mu‘āwadah (pertukaran).

وإنما سبيله سبيل تحقيق الصفة التي هي متعلق الطلاق وهو بمثابة الإعطاء إذا قال إن أعطيتني أو متى أعطيتني

Adapun caranya adalah dengan memastikan sifat yang menjadi objek talak, dan hal itu serupa dengan pemberian jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku” atau “Kapan engkau memberiku.”

فإذا تبين هذا فنقول إذا قال متى أعطيتني فلا شك أنها بالخيار إن شاءت أعطت وإن شاءت لم تعط ولكن إذا جاءت بالألف على الوجه الذي يقع به الطلاق ووضعته بين يديه فلا حاجة إلى قبضه إياه بالبراجم هذا يسمى إعطاء على الحقيقة ثم إن كان لا يفرض فيه إبدال فكما جاءت به ملكه الزوج ردّه أو لم يردّه فإنه بعد ما قال فلا يجد سبيلاً إلى الرجوع عن موجب قوله وإذا حصل ملكه فيه فلا يمكنه إخراجه عن ملكه إلا بطريق شرعي من الطرق المُرسِلة للأملاك

Jika telah jelas hal ini, maka kami katakan: Jika seseorang berkata, “Kapan pun engkau memberikannya kepadaku,” maka tidak diragukan lagi bahwa ia (istri) memiliki hak memilih; jika ia mau, ia memberikan, dan jika ia mau, ia tidak memberikan. Namun, jika ia datang dengan sesuatu (yang dimaksud) dengan cara yang menyebabkan terjadinya talak dan meletakkannya di hadapannya, maka tidak perlu suami mengambilnya dengan jari-jarinya; ini disebut sebagai pemberian secara hakiki. Kemudian, jika dalam hal itu tidak disyaratkan adanya penggantian, maka sebagaimana istri telah membawanya, suami menjadi memilikinya, baik ia mengembalikannya atau tidak, karena setelah ia berkata demikian, ia tidak menemukan jalan untuk menarik kembali konsekuensi dari ucapannya. Dan jika kepemilikan telah terjadi padanya, maka suami tidak dapat mengeluarkannya dari kepemilikannya kecuali dengan cara syar‘i melalui jalan-jalan yang membolehkan perpindahan kepemilikan.

وإذا جاءت بها وجرى الملك فيها سقط خيارها أيضاًًً فلا تملك استرداده فإن الملك يثبت فيه على اللزوم

Dan apabila ia telah membawanya dan kepemilikan telah terjadi atasnya, maka hak pilihnya juga gugur, sehingga ia tidak berhak untuk mengambilnya kembali, karena kepemilikan atasnya telah menjadi tetap dan mengikat.

وإذا كان علق الطلاق بضمانها فهي بالخيار إن شاءت ضمنت وإن شاءت لم تضمن فإذا ضمنت لزمها الوفاء بما ضمنت ولا خِيرَةَ بعد الضمان وجريان الالتزام

Jika talak digantungkan pada jaminannya, maka ia (istri) memiliki pilihan: jika ia mau, ia menjamin, dan jika ia mau, ia tidak menjamin. Jika ia telah menjamin, maka wajib baginya menunaikan apa yang telah dijaminkannya, dan tidak ada lagi pilihan setelah adanya jaminan dan berlakunya komitmen.

ومما يتعلق بهذا أنه إذا قال إن أعطيتني ألف درهم فهذا مذكور على الجهالة ولكنه يحصل الحنث بالاسم ثم يتفرع المذهب على حسب ما تقدم

Terkait dengan hal ini, apabila seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham,” maka hal ini disebutkan dalam keadaan tidak jelas, namun pelanggaran sumpah tetap terjadi berdasarkan nama (lafaz) tersebut, kemudian cabang-cabang pendapat mazhab mengikuti sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

وإذا قال متى ضمنتِ أو إن ضمنت ألفَ درهم فالألف مجهول والضمان فيه على الجهالة ضمانُ مجهول ولكنه يتعلق بما إذا أعطت ألفَ درهم ثم سبيل الرجوع إلى النقد الغالب على ما تقدم ويتجه في الضمان جدّاً الرجوع إلى مهر المثل كما ذكرناه في مسألة الإعطاء فإن التعويل على اللفظ في الضمان فإذا جرى على صيغة الجهالة اتجه فيه الرجوع إلى مهر المثل فظاهر المذهب أنها تضمن الألف وتطلّق ثم يستحق عليها ما يستحق إذا قال إن أعطيتني ألف درهم هذا هو المذهب ثم الوجه الذي ذكره الشيخ في الرجوع إلى مهر المثل يعود

Jika seseorang berkata, “Kapan pun kamu menanggung (menjamin) atau jika kamu menanggung seribu dirham,” maka seribu itu tidak jelas, dan penjaminan di dalamnya adalah penjaminan atas sesuatu yang tidak diketahui. Namun, hal ini berkaitan dengan jika ia memberikan seribu dirham, kemudian cara pengembaliannya adalah dengan mata uang yang paling umum sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalam penjaminan, sangat mungkin untuk kembali kepada mahar mitsil sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah pemberian, karena yang dijadikan dasar dalam penjaminan adalah lafaz. Jika lafaznya mengandung unsur ketidakjelasan, maka yang tepat adalah kembali kepada mahar mitsil. Maka, pendapat yang tampak dalam mazhab adalah bahwa ia menanggung seribu itu dan dicerai, kemudian ia berhak atas apa yang menjadi haknya jika ia berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham.” Inilah pendapat mazhab. Kemudian, pendapat yang disebutkan oleh Syaikh tentang kembali kepada mahar mitsil juga berlaku.

وإن وصف فقال إن أعطيتني ألف درهم صفتها كذا وكذا وبالغ في الصفة فإذا أتت به فيجب القطع على الطريقة المشهورة بأنها إذا جاءت بها على ما وصف استحق الزوج عينَ تلك الدراهم وإنما التردد في الرجوع إلى نقد البلد على قول الأصحاب أو إلى ألفٍ سليمة من العيب على ظاهر النص فيه إذا ذكر الألف مطلقة ويجري مع الإعلام واستقصاء الوصف الطريقةُ التي ذكرها الشيخ من جهة أنه تلقَّى الفساد من جهة أن التمليك من غير لفظ من جهتها بعيد وإذا كان السبب هذا لم يختلف بأن يكون الألف موصوفة أو لم تكن

Dan jika ia memberikan deskripsi, misalnya berkata: “Jika kamu memberiku seribu dirham dengan sifat begini dan begitu,” lalu ia sangat merinci sifatnya, maka apabila istrinya membawakan sesuai dengan yang dideskripsikan, maka wajib diputuskan menurut pendapat yang masyhur bahwa jika ia membawakan sesuai dengan deskripsi tersebut, suami berhak atas seribu dirham itu secara langsung. Adapun keraguan adalah dalam hal kembali kepada mata uang yang berlaku di negeri itu menurut pendapat para ulama, atau kepada seribu dirham yang bebas dari cacat menurut zahir nash jika ia menyebutkan seribu dirham secara mutlak. Dan dalam hal pemberitahuan serta perincian deskripsi, berlaku metode yang disebutkan oleh Syaikh, yaitu dari sisi bahwa kerusakan (fasad) terjadi karena penyerahan hak milik tanpa adanya lafaz dari pihak istri, yang mana hal itu dianggap jauh. Dan jika sebabnya demikian, maka tidak ada perbedaan apakah seribu dirham itu dideskripsikan atau tidak.

ومما يتعلق بهذا أنه إذا قال إن ضمنت لي ألفاًً ووصف الألف واستقصى الوصف فضمنت فما ذكره الشيخ أبو علي من الرجوع إلى مهر المثل يجري هاهنا أيضاًًً فإن قيل معتمده في مسألة الإعطاء أن التمليك من غير قبولٍ من جهتها بعيد وإذا كان متعلق الطلاق بالضمان وهو يحصل بقولها فما وجه الرجوع إلى مهر المثل قلت ضمانها ليس قبولاً لإيجاب وإنما هو التزام مستقل بنفسه منقطعٌ عن إيجاب من جهة الزوج ولذلك يُتصور تأخير الضمان عند قول الزوج إذا قال متى ضمنتِ كما يتصور ذلك في الإعطاء

Terkait dengan hal ini, apabila seseorang berkata, “Jika engkau menjamin untukku seribu,” lalu ia menyebutkan seribu itu dan merinci sifat-sifatnya secara lengkap, kemudian ia berkata, “Aku menjamin,” maka apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali tentang kembali kepada mahar mitsil juga berlaku di sini. Jika dikatakan, “Dasar pendapatnya dalam masalah pemberian adalah bahwa kepemilikan tanpa adanya penerimaan dari pihak wanita adalah sesuatu yang jauh (tidak mungkin), dan jika talak dikaitkan dengan jaminan, sedangkan jaminan itu terjadi dengan ucapannya, maka apa alasan kembali kepada mahar mitsil?” Saya katakan: Jaminannya bukanlah penerimaan terhadap ijab, melainkan merupakan komitmen yang berdiri sendiri, terpisah dari ijab yang berasal dari pihak suami. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk menunda jaminan pada saat ucapan suami, jika ia berkata, “Kapan engkau menjamin,” sebagaimana hal itu juga dapat dibayangkan dalam masalah pemberian.

فهذا منتهى ما أردناه في ذلك

Inilah akhir dari apa yang ingin kami sampaikan dalam hal ini.

ولو قال إن أقبضتني ألف درهم فهذا على ظاهر المذهب لا يتضمن تمليكاً فإذا أقبضته لم يملك الزوج ما قبض ولم يملك عليها شيئاً غيره وكان الطلاق الواقع رجعياً بمثابة ما لو قال إن دخلت الدار فأنت طالق

Dan jika ia berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham,” maka menurut pendapat yang masyhur, hal itu tidak mengandung makna pemilikan. Maka apabila ia telah menerima (uang tersebut), suami tidak memiliki apa yang diterimanya dan tidak memiliki hak atas istrinya selain itu, dan talak yang terjadi adalah talak raj‘i, sebagaimana halnya jika ia berkata, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak.”

ومن أصحابنا من قال قوله أقبضتني بمثابة قوله أعطيتني في التفاصيل التي قدمناها وهذا بعيد لا تعويل عليه وإذا قال إذا أقبضتني وحملناه على التعليق المحض من غير تمليك فلا يبنى ذلك على الفور كما لو قال إن دخلت الدار وليس كما لو قال إن أعطيتني ألفاًً فإن هذا محمول على الفور لما فيه من معنى المعاوضة

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ucapan “aku telah menerima darimu” itu sama dengan ucapan “aku telah memberimu” dalam rincian yang telah kami sebutkan sebelumnya, namun pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan sandaran. Jika seseorang berkata, “jika engkau telah menyerahkan kepadaku,” dan kita memaknainya sebagai bentuk ta‘liq murni tanpa adanya pemindahan kepemilikan, maka hal itu tidak harus segera dilaksanakan, sebagaimana ucapan “jika engkau masuk ke dalam rumah.” Ini berbeda dengan ucapan “jika engkau memberiku seribu,” karena ucapan ini harus segera dilaksanakan, sebab di dalamnya terdapat unsur mu‘āwadah (pertukaran).

ولو قال إن أعطيتني ألف درهم أو متى أعطيتني ثم أكرهها على الإعطاء فلا يقع شيء لأن هذا عطاء تمليك والإكراه ينافي التملك

Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku seribu dirham” atau “kapan pun kamu memberiku,” lalu ia memaksa orang itu untuk memberikan, maka tidak terjadi apa-apa, karena ini adalah pemberian dalam bentuk pemilikan, dan paksaan bertentangan dengan pemilikan.

وإذا قال إن أقبضتني وقد بان أنه محمول على التعليق من غير رعاية العوضية فإذا أكرهها فأقبضته مكرهةً فهذا يخرّج على القولين في أن الصفة التي علق الطلاق بها إذا وجدت على صفة الإكراه فهل نحكم بوقوع الطلاق

Jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku (sesuatu),” dan telah jelas bahwa hal itu tergolong taklik (penggantungan) tanpa memperhatikan aspek imbalan, maka jika ia memaksanya lalu ia memberikannya dalam keadaan terpaksa, hal ini dikembalikan pada dua pendapat mengenai sifat (syarat) yang dijadikan taklik talak: apabila syarat itu terjadi dalam keadaan terpaksa, apakah talak dianggap jatuh atau tidak.

وسيأتي شرح ذلك بما فيه في كتاب الطلاق إن شاء الله عز وجل

Penjelasan tentang hal itu beserta rinciannya akan dibahas pada Kitab Thalaq, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم إذا قال إن أقبضتني فجاءت به وأوقعته بين يديه فهذا إقباض لا يشترط في تحقيق الإقباض أن يقبض الزوج بالبراجم ولو قال إن قبضتُ من مالِكِ ألفاًً فأنت طالق فقبض من مالها قهراً وقع الطلاق قولاً واحداً فإنه قَبَضَ مختاراً وقبضُه متعلَّق الطلاق فيعتبر الاختيار فيه ولو أُكرِه فقبض مُكرَهاً فقولان

Kemudian, jika ia berkata, “Jika engkau menyerahkan kepadaku,” lalu ia datang membawa barang itu dan meletakkannya di hadapannya, maka itu sudah dianggap sebagai penyerahan. Tidak disyaratkan dalam terealisasinya penyerahan bahwa suami harus mengambilnya dengan buku-buku jarinya. Dan jika ia berkata, “Jika aku mengambil seribu dari hartamu, maka engkau tertalak,” lalu ia mengambil dari hartanya secara paksa, maka talak jatuh menurut satu pendapat, karena ia mengambilnya secara sukarela, dan pengambilan itu terkait dengan talak sehingga dipersyaratkan adanya pilihan di dalamnya. Namun jika ia dipaksa lalu mengambilnya dalam keadaan terpaksa, maka ada dua pendapat.

فهذا غاية ما يتعلق بهذا الفصل في هذا المعنى والغائلة الكبرى من الفصل فيه إن قال إن أعطيتني ألف درهم فجاءت بألفٍ مغصوبة وسيأتي هذا في فصل مفرد على ترتيب السواد ويستكمل فيه الغرض إن شاء الله عز وجل

Inilah seluruh pembahasan yang berkaitan dengan bab ini dalam makna tersebut, dan bahaya terbesar dari pembahasan ini adalah jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku seribu dirham,” lalu ia datang dengan seribu dirham hasil ghashab (perampasan). Hal ini akan dibahas pada bab tersendiri sesuai urutan dalam kitab as-Sawād, dan tujuan pembahasannya akan disempurnakan di sana, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل قال ولو قالت له طلقني ثلاثاًً ولك ألف درهم إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, ‘Ceraikan aku tiga kali dan engkau akan mendapatkan seribu dirham dariku,’ dan seterusnya.”

إذا قالت المرأة لزوجها طلقني ثلاثاًً بألف درهم فطلقها واحدة وقعت الطلقة بثُلث الألف سواء أعاد ذكر العوض أو لم يتعرض لذكره إذا خرج كلامه جواباً وأجراه على شرط الاتصال الزماني هذا مما مهدناه عند ذكرنا أصلَ الخلع وماهيتَه وفرقنا فيه بين الجانبين فأوضحنا أن المرأة إذا استدعت ثلاثاًً بمال فأجابها الزوج إلى بعض ما استدعت بقسطه من المال نفذ وثبت قسطٌ من المال ولو قال الرجل لامرأته أنت طالق ثلاثاً بألف وقالت قبلت طلقةً بثلث الألف لم يقع شيء وقدمنا في إيضاح الفرق بين الجانبين ما فيه مَقْنع

Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu dirham,” lalu suaminya menceraikannya satu kali, maka jatuhlah satu talak dengan sepertiga dari seribu dirham, baik suami mengulangi penyebutan imbalan atau tidak menyebutkannya lagi, selama ucapannya keluar sebagai jawaban dan dilakukan dalam satu rangkaian waktu. Hal ini telah kami jelaskan ketika membahas asal-usul khulu‘ dan hakikatnya, serta kami bedakan antara kedua sisi. Kami telah menjelaskan bahwa jika seorang wanita meminta tiga talak dengan imbalan harta, lalu suami menyetujui sebagian dari permintaannya dengan bagian harta yang sesuai, maka hal itu sah dan bagian harta tersebut menjadi tetap. Namun, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak tiga kali dengan seribu,” lalu istrinya berkata, “Aku terima satu talak dengan sepertiga dari seribu,” maka tidak terjadi apa-apa. Kami telah jelaskan sebelumnya perbedaan antara kedua sisi dengan penjelasan yang memadai.

ثم إذا كانت المرأة هي المستدعية فلا فرق فيما ذكرناه من جريان التبعيض بين صلةٍ وصلةٍ إذا استوت الصلات في جواز الاستعمال واقتضاء التعويض

Kemudian, jika perempuan yang mengajukan permohonan, maka tidak ada perbedaan dalam hal yang telah kami sebutkan mengenai kemungkinan pembagian antara satu hubungan (ṣilah) dengan hubungan lainnya, selama hubungan-hubungan tersebut sama dalam hal kebolehan penggunaan dan tuntutan kompensasi.

فإذا قالت طلقني ثلاثاًً على ألف أو طلقني ثلاثاً ولك عليّ ألف أو طلقني ثلاثاًً ولك ألف فإذا طلقها واحدةً بانت به واستحق عليها ثلثَ الألف كما لو قالت طلقني ثلاثاًً بألف

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” atau “Ceraikan aku tiga kali dan aku berkewajiban seribu kepadamu,” atau “Ceraikan aku tiga kali dan engkau mendapat seribu,” lalu suami menceraikannya satu kali, maka ia telah menjadi bain (tercerai secara bain) dengan talak tersebut dan suami berhak atas sepertiga dari seribu itu, sebagaimana jika istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu.”

وأبو حنيفة خصص جريان التبعيض بصلة الباء فقال إذا قالت طلقني ثلاثاًً بألف فطلقها واحدةً استحق ثلث الألف وأما إذا قالت على ألف أو لك ألف فلا يستحق الزوج بإجابتها إلى بعض ما سألت شيئاً واعتقد الفرق بين الباء و على صائراً إلى أن الباء تقتضي التعويض المحقق والتعويضُ من مقتضاه مقابلة الجملة بالجملة وتوزيع الأبعاض على الأبعاض وعلى كلمةُ شرطٍ ومن مقتضى الشرط وجودُ كمال الشرط في ثبوت المشروط

Abu Hanifah membatasi berlakunya pembagian (teb‘īḍ) pada penggunaan huruf ba’, sehingga jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikannya satu kali, maka suami berhak atas sepertiga dari seribu tersebut. Adapun jika istri berkata, “Atas seribu” atau “Untukmu seribu,” maka suami tidak berhak mendapatkan apa pun jika ia hanya memenuhi sebagian dari permintaan istri. Abu Hanifah meyakini adanya perbedaan antara huruf ba’ dan ‘alā, karena menurutnya ba’ mengandung makna kompensasi yang pasti, dan kompensasi itu menuntut adanya pertukaran keseluruhan dengan keseluruhan, serta pembagian bagian-bagian pada bagian-bagian. Sedangkan ‘alā adalah kata syarat, dan konsekuensi dari syarat adalah terpenuhinya seluruh syarat untuk menetapkan sesuatu yang disyaratkan.

وهذا الذي ذكره خيالٌ لا أصل له والصلات مستوية في اقتضاء التعويض وجريان التبعيض ثم ما أشرنا إليه من التعويض لا يكفي في إجراء التبعيض حتى نضم إليه نزوعَ المعاوضة في جانبها إلى الجعالة كما سبق تقريرها وإذا جرى كلام على البسط تأصيلاً فلتقع القناعة بإحالة الفروع عليها هذا أصل الفرع

Apa yang disebutkan itu hanyalah khayalan yang tidak memiliki dasar, dan seluruh bentuk shalat setara dalam menuntut adanya kompensasi dan berlakunya pembagian. Kemudian, apa yang telah kami singgung mengenai kompensasi tidaklah cukup untuk memberlakukan pembagian, kecuali jika kami tambahkan kecenderungan akad mu‘āwaḍah di dalamnya kepada akad ju‘ālah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika pembahasan dilakukan secara mendasar dan luas, maka cukuplah dengan merujukkan cabang-cabang permasalahan kepadanya. Inilah pokok dari cabang permasalahan ini.

ولو سألت المرأة ثلاثاً بألف وكان الزوج لا يملك إلا الطلقة الأخيرة فطلقها تلك الطلقة قال الشافعي يستحق عليها تمامَ الألف وقال المزني لا يستحق عليها إلا ثُلثَ الألف وذكر أبو إسحاق المروزي طريقة أخرى اختارها لنفسه وقد نزّل عليها نصَّ الشافعي بزعمه فنذكر طريقته ثم نذكر تصرفه على النص

Jika seorang wanita meminta talak tiga kali dengan imbalan seribu (dirham), sedangkan suaminya hanya memiliki hak talak yang terakhir saja, lalu ia mentalaknya dengan talak tersebut, menurut asy-Syafi‘i, ia berhak mendapatkan sisa dari seribu itu. Sedangkan menurut al-Muzani, ia hanya berhak mendapatkan sepertiga dari seribu itu. Abu Ishaq al-Marwazi menyebutkan metode lain yang ia pilih untuk dirinya sendiri, dan ia menurunkan pendapat asy-Syafi‘i menurut klaimnya atas metode tersebut. Maka kami akan menyebutkan metodenya, kemudian kami akan menyebutkan penerapannya terhadap pendapat asy-Syafi‘i.

قال الحكم يختلف بعلم المرأة وجهلها فإن كانت تظن أن الزوج يملك عليها ثلاث طلقات فإذا طلقها الطلقةَ الأخيرة وكان لا يملك غيرها لم يستحق عليها إلا ثلث الألف ولو كانت عالمةً بأنه لا يملك عليها إلا الثالثة فسألت الثلاث بالألف فطلقها الثالثة استحق تمام الألف كما قاله الشافعي لأنها لما سألت الثلاث مع العلم بأنه لا يملكها حُمل سؤالها على تحصيل الحُرمةِ الكبرى

Hukum berbeda tergantung pada pengetahuan atau ketidaktahuan perempuan. Jika perempuan mengira bahwa suami masih memiliki hak untuk menjatuhkan tiga talak atas dirinya, lalu suami menjatuhkan talak yang terakhir padanya—padahal suami tidak memiliki hak talak selain itu—maka suami hanya berhak atas sepertiga dari seribu (dirham). Namun, jika perempuan mengetahui bahwa suami hanya memiliki hak talak yang ketiga saja, lalu ia meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), kemudian suami menjatuhkan talak yang ketiga, maka suami berhak atas seluruh seribu (dirham), sebagaimana pendapat Imam Syafi‘i. Sebab, ketika perempuan meminta tiga talak dengan pengetahuan bahwa suami hanya memiliki satu talak, permintaannya itu dianggap sebagai upaya untuk memperoleh keharaman yang lebih besar (yaitu, talak bain kubra).

هذا أصل كلامه ثم تصرف على النص وزعم أن قول الشافعي في ثبوت الألف بالطلقة الثالثة محمول على ما إذا كانت عالمةً بأن الزوج لا يملك إلا الثالثة

Ini adalah inti dari ucapannya, kemudian ia memodifikasi teks tersebut dan mengklaim bahwa pendapat asy-Syafi‘i tentang tetapnya alif pada talak ketiga dimaknai jika istri mengetahui bahwa suami tidak memiliki kecuali talak ketiga.

فنقول لا يستقيم تصرفُ المروزي على النص لمسألةٍ تص عليها الشافعي في الكبير فإنه قال لو قالت له طلقني ثلاثاًً بألفٍ وكان بقي له عليها طلقتان فإن طلقها واحدة استحق ثلث الألف وإن طلقها ثنتين استحق كل الألف ولم يفرق بين حالة العلم وحالة الجهل وهذا لا يستقيم على مذهب المروزي فإن المرأة لو كانت عالمة فمقتضى أصله أن الزوج يستحق عليها بالطلقة نصف الألف تنزيلاً للعوض على معلومها وقد قال الشافعي لو طلقها طلقة استحق ثلث الألف فإن حُمل استحقاق الثلث على جهلها فمذهبه أنها إذا كانت جاهلة فلو طلقها الطلقتين استحق ثلثي الألف فلا يستمرّ مذهب المروزي في هذه المسألة منطبقاً على النص ولأن الشافعي أجرى جوابه في الطلقتين على نسق واحد فقد بطل تصرفه وبقي مذهبه

Maka kami katakan, tidaklah sesuai tindakan al-Marwazi berdasarkan nash untuk suatu permasalahan yang telah dinyatakan secara eksplisit oleh asy-Syafi‘i dalam kitab al-Kabir. Sebab, beliau berkata: “Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, ‘Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,’ sementara suami masih memiliki dua talak atasnya, lalu suami menceraikannya satu kali, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu. Jika ia menceraikannya dua kali, maka ia berhak atas seluruh seribu.” Beliau tidak membedakan antara keadaan mengetahui dan keadaan tidak mengetahui. Ini tidak sesuai dengan mazhab al-Marwazi, sebab jika wanita tersebut mengetahui, maka menurut prinsip dasarnya, suami hanya berhak atas setengah dari seribu untuk satu talak, karena imbalan itu disesuaikan dengan apa yang diketahuinya. Asy-Syafi‘i berkata, “Jika suami menceraikannya satu kali, ia berhak atas sepertiga dari seribu.” Jika hak atas sepertiga itu didasarkan pada ketidaktahuan wanita, maka menurut mazhabnya, jika suami menceraikannya dua kali, ia berhak atas dua pertiga dari seribu. Maka mazhab al-Marwazi dalam permasalahan ini tidak konsisten dengan nash. Dan karena asy-Syafi‘i memberikan jawaban untuk dua talak dengan pola yang sama, maka pendapat al-Marwazi batal dan yang tersisa adalah mazhab asy-Syafi‘i.

ومسائل الفصل مُدارة على ثلانة مذاهب أحدها النص والآخر مذهب المزني والثالث مذهب المروزي ونحن نذكر قواعد المذاهب موضحة ثم نذكر وجوهَها ثم نفرع المسائلَ عليها

Permasalahan dalam bab ini berputar pada tiga mazhab: yang pertama adalah berdasarkan nash, yang kedua adalah mazhab al-Muzani, dan yang ketiga adalah mazhab al-Marwazi. Kami akan menyebutkan kaidah-kaidah mazhab tersebut secara jelas, kemudian kami sebutkan pendapat-pendapatnya, lalu kami cabangkan permasalahan-permasalahan berdasarkan kaidah-kaidah itu.

أما مذهب الشافعي فقاعدته أن المرأة إذا سألت الثلاثَ فحصَّل الزوج لها الحرمة الكبرى استحق عليها تمامَ العوض المسمى ولا نظر إلى العدد ولا فرق بين أن يكون الزوج مالكاً للثالثة أو لاثنتين ومهما حصلت الحرمة الكبرى تعلق به استحقاق تمام العوض وإن لم تحصل الحرمة الكبرى يوزّع المال المبذول على العدد المسؤول ونُظر إلى ما أوقعه الزوج فوجب بقسطه من العوض نظراً إلى التوزيع الذي ذكرناه ولا فرق بين أن تكون عالمة أو جاهلة

Adapun mazhab Syafi‘i, kaidahnya adalah bahwa jika seorang wanita meminta talak tiga, lalu suami menjatuhkan talak yang menyebabkan terjadinya keharaman besar (ḥurmah kubrā) baginya, maka ia berhak mendapatkan seluruh kompensasi yang telah disepakati, tanpa memandang jumlah talak, dan tidak ada perbedaan apakah suami memiliki kekuasaan atas talak ketiga atau hanya dua talak. Kapan pun keharaman besar itu terjadi, maka hak atas seluruh kompensasi tersebut melekat padanya. Namun, jika keharaman besar tidak terjadi, maka harta yang diberikan dibagi sesuai dengan jumlah talak yang diminta, dan dilihat apa yang dijatuhkan oleh suami, sehingga wajib diberikan bagian kompensasi sesuai dengan pembagian yang telah disebutkan. Tidak ada perbedaan apakah wanita tersebut mengetahui atau tidak mengetahui (hukum atau keadaannya).

وبيان ذلك على قدر الحاجة إلى تمام التفريع أنها لو سألت ثلاثاًً وكان الزوج يملك واحدة أو اثنتين فاستوفى ما يملكه فإنه يستحق تمام العوض ولو كان يملك طلقتين مثلاً فطلقها واحدة استحق ثلث الألف لأنه لم يحصّل الحُرمة الكبرى فيوزع المبذول على العدد المسؤول وهي قد سألت الثلاث فلم يجبها إلا إلى واحدة هذا أصل النص

Penjelasannya, sesuai kebutuhan untuk penyempurnaan cabang hukum, adalah bahwa jika seorang istri meminta tiga talak, sementara suami hanya memiliki satu atau dua talak, lalu suami menjatuhkan talak sebanyak yang ia miliki, maka ia berhak mendapatkan seluruh kompensasi. Namun, jika suami memiliki dua talak, misalnya, lalu ia hanya menjatuhkan satu talak, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu (kompensasi), karena ia tidak merealisasikan keharaman besar (talak tiga), sehingga kompensasi yang diberikan dibagi sesuai jumlah talak yang diminta. Dalam hal ini, istri meminta tiga talak, tetapi suami hanya memenuhi satu, inilah pokok dari nash.

وأما قاعدة مذهب المزني فتوزيع البدل على العدد المسؤول أبداً سواءٌ حصّل الزوجُ الحرمةَ الكبرى أو لم يحصِّلها

Adapun kaidah mazhab al-Muzani adalah membagi pengganti (badal) kepada jumlah yang ditanyakan, baik suami telah memperoleh keharaman besar (al-ḥurmah al-kubrā) maupun belum memperolehnya.

وأصل مذهب المروزي أنها إن كانت جاهلة فالبدل موزع على العدد المسؤول كما قاله المزني وإن كانت عالمة بأن الزوج لا يملك تمام المسؤول فالعوض يقابِل معلومَها وإن علمت أنه لا يملك إلا واحدة فالعوض في مقابلته فإن علمت أنه يملك طلقتين يوزع البدل على ما علمته ملكاً للزوج فإن طلقها بثنتين استحق التمام فإنه استوفى جميع ما علمت وإن طلقها واحدةً وهو يملك اثنتين استحق نصف البدل توزيعاً على معلومها لا على مسؤولها

Dasar mazhab al-Marwazi adalah bahwa jika istri tidak mengetahui (keadaan suami), maka pengganti (mahar) dibagi sesuai jumlah yang diminta, sebagaimana dikatakan oleh al-Muzani. Namun jika istri mengetahui bahwa suami tidak memiliki seluruh jumlah yang diminta, maka kompensasi disesuaikan dengan apa yang ia ketahui. Jika ia mengetahui bahwa suami hanya memiliki satu talak, maka kompensasi diberikan untuk satu talak tersebut. Jika ia mengetahui bahwa suami memiliki dua talak, maka kompensasi dibagi sesuai apa yang ia ketahui sebagai milik suami. Jika suami mentalaknya dengan dua talak, maka ia berhak mendapatkan seluruh kompensasi, karena suami telah menggunakan seluruh yang ia ketahui. Namun jika suami mentalaknya satu kali, padahal ia memiliki dua talak, maka istri hanya berhak atas setengah kompensasi, dibagi berdasarkan apa yang ia ketahui, bukan berdasarkan jumlah yang diminta.

هذا بيان أصول المذاهب الثلاثة ولم ينسب أحد من الأصحاب مذهبَ المزني إلى مذهب الشافعي ومتبعيه إلا الشيخَ أبا علي فإنه حكى أن بعض الأصحاب رأى مذهب المزني تخريجاً ملحقاًً بالمذهب وهذا متجه و في كلام المزني ما يدل عليه فإنه قال قياس مذهب الشافعي كذا وكذا والذي يقتضيه الإنصاف تقديمُ تخريجه على تخريج غيره فإذا كان تخريج ما ذكره على قياس الشافعي فهو تخريج منه وقد يجانب مذهبُه الشافعيَّ ويخترع لنفسه مقالة فإذ ذاك لا يُلحق بالمذهب

Ini adalah penjelasan tentang dasar-dasar tiga mazhab, dan tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama) yang menisbatkan mazhab al-Muzani kepada mazhab al-Syafi‘i dan para pengikutnya kecuali Syekh Abu ‘Ali. Ia meriwayatkan bahwa sebagian sahabat memandang mazhab al-Muzani sebagai hasil takhrij yang diikutkan pada mazhab tersebut, dan hal ini memang masuk akal. Dalam perkataan al-Muzani sendiri terdapat indikasi ke arah itu, karena ia berkata, “Qiyās mazhab al-Syafi‘i adalah begini dan begitu.” Yang dituntut oleh keadilan adalah mendahulukan takhrij-nya atas takhrij selainnya. Maka jika takhrij yang ia sebutkan didasarkan pada qiyās al-Syafi‘i, maka itu adalah takhrij darinya. Namun, terkadang mazhabnya menyelisihi al-Syafi‘i dan ia membuat pendapat sendiri, maka dalam hal itu tidak dapat diikutkan pada mazhab.

توجيه المذاهب أما مذهب المزني فوجهه ظاهر فإنها إذا سألت الثلاث بالألف فقد قابلت عدداً بمبلغٍ فإذا لم يحصّل الزوج من العدد إلا بعضَه بَعُد أن يستحق تمامَ البدل المسمى ثم أكد المزني ذلك وتشوف إلى تقدير سؤال وأجاب عنه فقال إن نظرنا إلى حصول الحرمة الكبرى فليست هي حاصلة بالطلقة الثالثة وإنما تحصل باستيفاء العدد والاستيفاءُ لا ينحصر معناه على الثالثة بل إنما يحصل بالطلقتين السابقتين وبالثالثة المنجّزة وإذا لم يجبها إلى العدد فلم يأت بما هو مقتضى الحرمة ومقتضى اللفظ مقابلةُ الألف بالثلاث

Penjelasan mazhab-mazhab: Adapun mazhab al-Muzani, alasannya jelas, karena jika seorang istri meminta talak tiga dengan imbalan seribu (dirham), maka ia telah mempertemukan suatu jumlah dengan suatu imbalan. Jika suami tidak memberikan seluruh jumlah tersebut, melainkan hanya sebagian saja, maka tidak layak baginya untuk mendapatkan seluruh imbalan yang telah disepakati. Kemudian al-Muzani menegaskan hal itu dan menguatkannya dengan mengajukan suatu pertanyaan dan menjawabnya: Jika kita melihat pada terjadinya keharaman besar (yaitu haramnya rujuk), maka hal itu tidak terjadi dengan talak ketiga saja, melainkan terjadi dengan terpenuhinya jumlah talak, dan makna terpenuhinya jumlah itu tidak terbatas pada talak ketiga saja, melainkan juga diperoleh dengan dua talak sebelumnya dan talak ketiga yang dilaksanakan. Jika suami tidak memenuhi permintaan jumlah talak, maka ia tidak melaksanakan apa yang menjadi konsekuensi keharaman tersebut, dan konsekuensi dari lafaz itu adalah mempertemukan seribu dengan tiga talak.

وأما وجه النص فهو أن الطلقات لا تُعنَى لأعيانها وإنما الغرض الأحكامُ المرتبةُ عليها والمقصود الأقصى منها الحرمةُ الكبرى فإذا حصّلها الزوج بالطلقة الثالثة فقد حصل تمام مقصودها والعدد لعينه لا معتبر به فإن الأموال إنما تقابل بمقاصدَ معقولةٍ

Adapun maksud dari nash adalah bahwa talak-talak itu tidak dimaksudkan untuk zatnya sendiri, melainkan yang menjadi tujuan adalah hukum-hukum yang ditetapkan atasnya dan maksud utamanya adalah keharaman besar. Maka apabila suami telah mencapai hal itu dengan talak yang ketiga, berarti telah tercapai seluruh maksudnya, dan jumlah itu sendiri tidak dianggap penting, karena harta benda pun hanya dipertimbangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang dapat dipahami.

فلا يبقى بعد ذلك إلا ما أورده المزني من إحالة الحرمة على الطلقات الثلاث وقد يشبِّه المزني ذلك بإحالة السُّكر على الأقداح السابقة واللاحقة وهذا موضع التثبت فللقدح الأول والأخير أثرٌ في العقل مخامرة وتخميراً ولا يحصل بالطلقة الأولى من تحريم النكاح شيء ولو فرض حصولٌ لا يتبعّض وإذا شبه المشبه ما نحن فيه بتغريق السفينة بتثقيلها بكثرة الشِّحنة وكلُّ قدرٍ يُغوِّص من السفينة قدراً فلا نظر إلى هذه الأجناس والذي نحن فيه ليس في معناها فإن شيئاً من حرمة العقد لم يحصل وإنما تحصل حرمةُ العقد خصلةً واحدةً من غير ترتب وتبعّض بالطلقة الثالثة

Maka tidak tersisa setelah itu kecuali apa yang dikemukakan oleh al-Muzani tentang pengaitan keharaman dengan tiga kali talak, dan al-Muzani mungkin menyerupakan hal itu dengan pengaitan mabuk pada gelas-gelas yang diminum sebelumnya dan sesudahnya. Ini adalah tempat untuk berhati-hati, karena gelas pertama dan terakhir memiliki pengaruh pada akal, baik berupa permulaan maupun fermentasi, sedangkan pada talak pertama tidak terjadi apa pun dari keharaman pernikahan. Andaikan pun terjadi, itu tidak bisa dibagi-bagi. Jika ada yang menyerupakan masalah kita ini dengan menenggelamkan kapal karena diberi muatan berlebih, di mana setiap tambahan muatan akan menenggelamkan kapal sedikit demi sedikit, maka perumpamaan ini tidak tepat. Karena dalam masalah kita, tidak ada keharaman akad yang terjadi sedikit pun, melainkan keharaman akad itu terjadi sekaligus, tanpa bertahap atau terbagi-bagi, pada talak yang ketiga.

ثم إذا وضح أن النظر إلى تحصيل المقصود فالمناقشة في العلة لا معنى لها وقد حصّل الزوج كلّ المقصود وما كان حَصل من هذا المقصود شيء قبلُ

Kemudian, apabila telah jelas bahwa yang menjadi perhatian adalah tercapainya tujuan, maka perdebatan mengenai ‘illat tidak ada artinya. Sebab, suami telah memperoleh seluruh tujuan tersebut, dan sebelumnya belum ada bagian dari tujuan itu yang telah tercapai.

وأما وجه مذهب المروزي فهو أنها إن كانت جاهلةً فقد ثبتت المقابلة على معادلة المسمى ما سألته من العدد فيجب رعاية قصدها وهي مقدورة فأما إذا سألت الثلاث والسؤال يتعلق بالاسقبال فيستحيل حمل سؤالها على محالٍ فيتعين حمله على المقصود الذي علمته

Adapun alasan mazhab al-Marwazi adalah bahwa jika perempuan itu tidak tahu, maka telah tetap adanya perbandingan atas kesetaraan mahar yang disebutkan dengan jumlah yang ia minta, sehingga harus memperhatikan maksudnya dan itu memungkinkan. Adapun jika ia meminta tiga (talak), dan permintaan itu berkaitan dengan masa depan, maka tidak mungkin permintaannya dimaknai pada sesuatu yang mustahil, sehingga harus dimaknai pada maksud yang ia ketahui.

وهذا ليس بشيء وليس ينقدح إلا النص ومذهبُ المزني فإنه يجوز أن يقال إذا علمت أنه لا يملك الثلاث وسألت الثلاث قصدت تنقيص المسمى إذا استوفى الزوج ما يملك

Ini bukanlah sesuatu yang kuat, dan yang dapat dijadikan pegangan hanyalah nash dan pendapat al-Muzani. Sebab, boleh jadi dikatakan: jika telah diketahui bahwa ia tidak memiliki hak atas tiga (talak), lalu ia meminta tiga, maka ia bermaksud mengurangi jumlah yang disebutkan (dalam akad) jika suami telah mengambil apa yang menjadi haknya.

هذا بيان أصول المذاهب تمهيداً وتوجيهها

Ini adalah penjelasan tentang pokok-pokok mazhab sebagai pengantar dan pengarahan.

ونحن نوضحها الآن بالمسائل الجليّة ثم نأتي بعدها بالمسائل التي فيها بعض الغموض ونختتم الفصل بمسائل أوردها صاحب التلخيص ونذكر فيها ما ذكره الشارحون إن شاء الله تعالى

Sekarang kami akan menjelaskannya dengan permasalahan-permasalahan yang jelas, kemudian setelahnya kami akan membahas permasalahan-permasalahan yang masih mengandung sedikit kerancuan, dan kami akan menutup bab ini dengan permasalahan-permasalahan yang disebutkan oleh penulis kitab at-Talkhīṣ, serta kami akan menyebutkan apa yang dijelaskan oleh para pensyarah, insya Allah Ta‘ala.

فنقول إذا كان يملك عليها طلقة فسألت ثلاثاًً بألف فطلقها الثالثة فإنه يستحق تمام الألف على النص ويستحق ثلثه على مذهب المزني توزيعاً للبدل المبذول على العدد المسؤول والمروزي يقول بمذهب الشافعي إن كانت عالمة وبمذهب المزني إن كانت جاهلة

Maka kami katakan: Jika seorang suami masih memiliki satu talak atas istrinya, lalu istrinya meminta tiga talak dengan imbalan seribu, kemudian suami menjatuhkan talak ketiga, maka menurut pendapat yang shahih, suami berhak atas seluruh seribu tersebut. Sedangkan menurut mazhab al-Muzani, suami hanya berhak atas sepertiganya, dengan cara membagi imbalan yang diberikan sesuai jumlah talak yang diminta. Al-Marwazi berpendapat sesuai mazhab asy-Syafi‘i jika istri mengetahui (hukum), dan sesuai mazhab al-Muzani jika istri tidak mengetahui.

وإن كان الزوج يملك عليها طلقتين فسألت ثلاثاً بألف فتفريع المسألة على النص أنه إذا طلقها الثنتين استحق الألفَ بحصول الحرمة الكبرى وإن طلقها واحدةً من الثنتين استحق ثلث الألف توزيعاً للمبذول على العدد المسؤول فإنها سألت الثلاث ولم يحصّل الزوجُ مقصود الثلاث ولم يوقع إلا طلقة واحدة

Jika suami memiliki hak untuk menjatuhkan dua talak atas istrinya, lalu sang istri meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), maka rincian masalah ini menurut nash adalah: jika suami menjatuhkan dua talak, ia berhak mendapatkan seribu tersebut karena telah terjadi keharaman besar (antara suami dan istri). Namun jika ia hanya menjatuhkan satu talak dari dua talak yang dimilikinya, maka ia berhak mendapatkan sepertiga dari seribu itu, dengan cara membagi imbalan yang diberikan sesuai jumlah talak yang diminta, karena sang istri meminta tiga talak, tetapi suami tidak mewujudkan maksud dari tiga talak tersebut dan hanya menjatuhkan satu talak saja.

وأما المزني فإنه يقول إن طلقها ثنتين استحق ثلثي الألف وإن طلقها واحدةً استحق ثلث الألف فإنه يوزع البدل على العدد المسؤول أبداً

Adapun al-Muzani, ia berpendapat bahwa jika suami menceraikannya dengan dua talak, maka ia berhak atas dua pertiga dari seribu, dan jika menceraikannya dengan satu talak, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu, karena ia selalu membagi kompensasi berdasarkan jumlah talak yang diminta.

والمروزي يفصّل بين أن تكون عالمة أو جاهلة ويقول إن كانت جاهلة فطلقها طلقتين استحق ثلثي الألف وإن كانت عالمةً فطلقها طلقتين استحق تمام الألف وإن طلقها طلقة استحق نصف الألف توزيعاً للبدل على معلومها لا على مسؤولها فيكون مذهبه في حالة علمها وقد طلقت طلقةً واحدة مخالفاً للنص ومذهب المزني

Al-Marwazi membedakan antara perempuan yang mengetahui (hukum) atau yang tidak mengetahui. Ia berkata, jika perempuan itu tidak mengetahui lalu ditalak dua kali, maka ia berhak atas dua pertiga dari seribu (mahar); dan jika ia mengetahui lalu ditalak dua kali, maka ia berhak atas seluruh seribu. Jika ia ditalak satu kali, maka ia berhak atas setengah dari seribu, dengan mendistribusikan pengganti (mahar) berdasarkan apa yang telah diketahui, bukan berdasarkan apa yang ditanyakan. Maka pendapatnya dalam keadaan perempuan itu mengetahui dan ditalak satu kali, bertentangan dengan nash dan mazhab al-Muzani.

ولو قالت طلقني عشراً بألف وكان يملك عليها ثلاثاًً أو اثنتين أو واحدة

Dan jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku sepuluh kali dengan imbalan seribu,” padahal suami hanya memiliki hak talak atasnya sebanyak tiga, dua, atau satu kali.

فالتفريع على النص أنه إن حصّل الحرمة الكبرى استحق تمام العوض المسمى وإن لم يحصّل الحرمةَ الكبرى بل طلّق واحدة من الثلاث أو واحدة من اثنتين فإنه يستحق عُشر البدل توزيعاً له على العدد المسؤول فإن كان يملك ثلاثاًً فطلق اثنتين استحق خمس البدل لأن ما أتى به خمس العشرة

Maka, berdasarkan nash, jika ia berhasil memperoleh keharaman besar, ia berhak mendapatkan seluruh kompensasi yang telah disepakati. Namun, jika ia tidak memperoleh keharaman besar, melainkan hanya menceraikan satu dari tiga talak atau satu dari dua talak, maka ia berhak atas sepersepuluh dari pengganti, dengan cara membaginya sesuai jumlah yang diminta. Jika ia memiliki tiga dan menceraikan dua, maka ia berhak atas seperlima dari pengganti, karena apa yang ia lakukan adalah seperlima dari sepuluh.

وعلى مذهب المزني البدل يتوزع أبداً على العدد المسؤول حتى لو كان لا يملك إلا واحدة لم يملك بإيقاعها إلا عشر البدل وإن حصلت الحرمة الكبرى

Menurut mazhab al-Muzani, pengganti (badal) selalu terbagi sesuai dengan jumlah yang ditanyakan, sehingga jika seseorang hanya memiliki satu (talak), ia hanya berhak menjatuhkan sepersepuluh dari pengganti itu, meskipun telah terjadi keharaman besar (ḥurmah kubrā).

وذكر الشيخ أبو علي في بعض مجاري كلامه أن المزني لا يوزع إلا على العدد الشرعي فإن زاد السؤال فالتوزيع مردود إلى الثلاث وهذا فيه احتمال على مذهبه فإن مذهبه مدارٌ على ركنين أحدهما رعاية المقابلة اللفظية وهذا القياس يقتضي التوزيع على العشر فصاعداً كيفما اتفق السؤال نظراً إلى اللفظ والركن الثاني أنه يقول الحرمة لا تحصل بالطلقة الأخيرة وحدها بل تحصل بها والطلقتين السابقتين فعلى هذا لا يبعد رعايةُ الثلاث والمنعُ من تعدّيها في الاعتبار فإن الحرمة الكبرى تتعلق في الثلاث على رأيه وهذا وإن كان له اتجاه فالمذهب المعروفُ به التوزيع على العدد بالغاً ما بلغ

Syekh Abu Ali menyebutkan dalam sebagian pembicaraannya bahwa al-Muzani hanya membagi (talak) sesuai jumlah yang ditetapkan syariat; jika pertanyaan melebihi itu, maka pembagian dikembalikan kepada tiga. Dalam hal ini terdapat kemungkinan menurut mazhabnya, karena mazhabnya berporos pada dua prinsip: yang pertama adalah memperhatikan kesesuaian lafaz, dan qiyās ini mengharuskan pembagian pada sepuluh atau lebih, sesuai pertanyaan, dengan memperhatikan lafaz; prinsip kedua, ia berpendapat bahwa keharaman (talak bain kubra) tidak terjadi hanya dengan talak terakhir saja, tetapi terjadi dengan talak terakhir dan dua talak sebelumnya. Berdasarkan hal ini, tidaklah jauh untuk memperhatikan tiga dan melarang melebihinya dalam pertimbangan, karena keharaman besar menurut pendapatnya berkaitan dengan tiga talak. Meskipun pendapat ini memiliki arah, mazhab yang dikenal darinya adalah pembagian sesuai jumlah, berapapun banyaknya.

وأما المروزي فإنه يبني مذهبه على العلم والجهل ولا تكاد المرأة تجهل أن عدد الطلاق لا يزيد شرعاً على الثلاث فنذكر السؤال على هذا التقدير فإذا سألت عشراً وكان الزوج يملك ثلاثاًً مثلاً فالبدل موزع على الثلاث فإنها منتهى العدد في علمها فيقع التوزيع على معلومها ويكمّل البدل باستيفائه تمام المعلوم

Adapun al-Marwazi, ia membangun pendapatnya berdasarkan pengetahuan dan ketidaktahuan. Hampir tidak mungkin seorang wanita tidak mengetahui bahwa jumlah talak secara syariat tidak lebih dari tiga. Maka, kita sebutkan pertanyaan berdasarkan anggapan ini: jika ia meminta sepuluh kali talak, sementara suaminya hanya memiliki tiga talak, maka kompensasi (badal) dibagi pada tiga talak tersebut, karena itu adalah jumlah maksimal yang ia ketahui. Maka, pembagian dilakukan berdasarkan apa yang ia ketahui, dan kompensasi disempurnakan dengan memenuhi seluruh yang diketahui.

وإن فرض فارض امرأة حديثة العهد بالإسلام لم يبلغها العدد الشرعي في الطلاق فإذا سألت عشراً على تقدير أن الزوج يملك ذلك فالتوزيع يقع على مسؤولها

Jika seseorang membayangkan seorang wanita yang baru masuk Islam dan belum mengetahui jumlah yang ditetapkan secara syar‘i dalam talak, lalu ia bertanya tentang sepuluh talak dengan anggapan bahwa suaminya memiliki hak tersebut, maka jawaban akan diberikan sesuai dengan pertanyaannya.

ومن أصحابنا من تصرف على المروزي وقال إنما يؤثر جهلها إذا لم يتعدَّ الحصرَ الشرعي فإن تعدته فلا معوّل على جهلها وهذا ضعيفٌ ومذهبه أن جهلها مهما تُصوّر معتبرٌ في العدد الشرعي وفي الزائد عليه

Sebagian dari ulama kami memberikan penjelasan atas pendapat al-Marwazi dan mengatakan bahwa ketidaktahuan seorang perempuan hanya berpengaruh jika tidak melebihi batasan syar‘i; jika melebihinya, maka ketidaktahuannya tidak dapat dijadikan sandaran. Pendapat ini lemah, dan menurut mazhabnya, ketidaktahuan perempuan, selama masih dapat dibayangkan, tetap dianggap dalam jumlah yang sesuai syariat maupun yang melebihinya.

فإن قيل حكيتم على الجملة خلافاً على طريقة المروزي والمزني في العدد الزائد على العدد الشرعي وقطعتم باعتبار العدد الزائد على مذهب الشافعي فما السبب فيه قلنا ما حكيناه أولاً من مذهب المزني والمروزيِّ مزيفٌ لا اعتداد بمثله ثم له وجه على المذهبين أما مذهب المزني فمعوّله أن الحرمة تناط بالثلاث وهذا يوجب حصره النظر في الثلاث

Jika dikatakan, “Kalian telah menyebutkan secara umum adanya perbedaan pendapat menurut metode al-Marwazi dan al-Muzani dalam hal jumlah yang melebihi jumlah yang ditetapkan secara syar‘i, dan kalian telah memutuskan untuk mempertimbangkan jumlah yang melebihi itu menurut mazhab asy-Syafi‘i. Apa sebabnya?” Kami katakan, apa yang kami sebutkan sebelumnya dari mazhab al-Muzani dan al-Marwazi adalah pendapat yang lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan. Namun, pendapat tersebut memiliki alasan menurut kedua mazhab itu. Adapun menurut mazhab al-Muzani, dasarnya adalah bahwa keharaman dikaitkan dengan tiga kali (talak), dan ini mengharuskan pembatasan pada tiga kali saja.

والمروزي إنما يحصر اعتبار الجهل فيما يفرض جهله وما يندر جهله لا معوّل عليه

Al-Marwazi hanya membatasi pertimbangan ketidaktahuan pada hal-hal yang memang dimungkinkan untuk tidak diketahui, sedangkan hal-hal yang jarang tidak diketahui tidak dapat dijadikan sandaran.

أما إذا فرعنا على النص فالتعويل على شيئين أحدهما تحصيل الحرمة الكبرى وهي المقصود فإذا لم تحصل الحرمة فلئن قيل الزائد على الحرمة لغوٌ فالمرأة قابلت المال بالثلاث وبالزائدة عليها فليقع نظر الفقيه في مقابله وليعتقد أنه إذا ألغى مقابل المال لغا المال وهذا المعنى يوجب التقسيط على المقصود لا محالة وهذا التقسيط لضبط المذهب وإلا فالتقدير إسقاط سبعة أعشار الألف بطريق الإلغاء فلا تبقى إلا ثلاثة أعشار فيثبت بالواحدة عشر وبالثانية عشر آخر وبالثالثة التمام لحصول الحرمة الكبرى وكأن الألفَ على حصول المقصود ويتطرق الإلغاء إليه دون المقصود

Adapun jika kita membangun cabang hukum berdasarkan nash, maka yang dijadikan sandaran ada dua hal: pertama, tercapainya tujuan utama, yaitu keharaman, yang memang menjadi maksud utama. Jika keharaman itu tidak tercapai, maka jika dikatakan bahwa kelebihan dari keharaman itu adalah sia-sia, maka perempuan telah menukar harta dengan tiga kali talak dan dengan tambahan atasnya. Maka hendaknya seorang faqih memperhatikan apa yang menjadi imbalannya, dan meyakini bahwa jika imbalan harta itu diabaikan, maka harta itu menjadi sia-sia. Makna ini meniscayakan adanya pembagian (taqsiṭ) pada maksud utama, tanpa diragukan lagi. Pembagian ini dilakukan untuk menjaga konsistensi mazhab. Jika tidak, maka penilaiannya adalah menghapus tujuh per sepuluh dari seribu (misal) dengan cara pembatalan, sehingga yang tersisa hanya tiga per sepuluh. Maka dengan talak pertama ditetapkan sepersepuluh, dengan talak kedua sepersepuluh lagi, dan dengan talak ketiga sempurna, karena telah tercapai keharaman yang utama. Seolah-olah seribu itu untuk tercapainya maksud utama, dan pembatalan hanya bisa masuk pada bagian tersebut, bukan pada maksud utama itu sendiri.

فهذا تفريع جليات المسائل على أصول المذاهب

Inilah penjabaran masalah-masalah yang jelas berdasarkan pada pokok-pokok mazhab.

ونحن الآن نأخذ في المسائل الغامضة فنقول إذا قالت طلّقني ثلاثاً بألف وكان يملك عليها ثلاثاًً فقال في جوابها أنت طالق واحدةً بألف واثنتين بغير شيء فتلحقها الطلقة الأولى وتبين بها ولا يقع الأخريان لأنها تصير مختلعة بالأولى والمختلعة لا يلحقها الطلاق هذا ما ذكره الصيدلاني والقاضي والأئمة المعتبرون في المذهب

Sekarang kita membahas masalah-masalah yang samar, maka kami katakan: Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” sedangkan suami memiliki hak tiga talak atasnya, lalu suami menjawab, “Engkau aku ceraikan satu kali dengan imbalan seribu dan dua kali tanpa imbalan apa pun,” maka talak pertama berlaku atasnya dan dengan itu ia menjadi terpisah, sedangkan dua talak lainnya tidak jatuh, karena ia menjadi mukhtali‘ah (perempuan yang dicerai dengan khulu‘) dengan talak pertama, dan terhadap mukhtali‘ah tidak berlaku talak lagi. Inilah yang disebutkan oleh As-Saidalani, Al-Qadhi, dan para imam yang dianggap dalam mazhab.

وفي المسألة إشكالٌ لا دفع له وذلك أنها لما سألت الثلاثَ بألف فقد سألت كل طلقة بثلث ألف وقد قال الزوج في جوابها أنت طالق واحدة بالف فلم يقع كلامه على موافقة تقديرها وعلى مقتضى مقابلتها وإذا خالف كلامُ الزوج استدعاءَ المرأة لم يكن كلامه إسعافاً وإذا أظهر الزوج خلافاًً صار مبتدئاً غير مجيب فالذي يقتضيه القياس الحقُّ أن الطلقة الأولى لا تقع لأنه ربط وقوعها بالتزام الألف ولم يسبق من المرأة استدعاء ذلك ولم تقبل أيضاًً الألف على حسب قوله بعد قوله وإذا لم تقع الطلقة الأولى وقعت الطلقتان الأخريان رجعيتين هذا هو الذي لا يجوز غيره وإذا كان الكلام على مقتضى لفظٍ وهو على حسب ما ذكرناه قطعاً ولم نصادف على مخالفته نصاً فلا وجه للتماري في التعلّق بالحق

Dalam masalah ini terdapat kerumitan yang tidak dapat dihindari, yaitu ketika istri meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), berarti ia meminta setiap talak dengan sepertiga seribu. Namun, suami dalam jawabannya berkata, “Engkau tertalak satu dengan seribu,” sehingga ucapannya tidak sesuai dengan permintaan istri dan tidak sesuai dengan apa yang diajukan istri. Jika ucapan suami berbeda dengan permintaan istri, maka ucapannya tidak dianggap sebagai pemenuhan permintaan. Jika suami menampakkan perbedaan, maka ia dianggap memulai (akad) baru, bukan sebagai jawaban. Maka, yang ditunjukkan oleh qiyās yang benar adalah talak pertama tidak jatuh, karena suami mengaitkan jatuhnya talak dengan komitmen seribu, sementara dari pihak istri tidak ada permintaan seperti itu, dan ia juga tidak menerima seribu sesuai dengan ucapan suami setelah ucapannya. Jika talak pertama tidak jatuh, maka dua talak lainnya jatuh sebagai talak raj‘i. Inilah yang tidak boleh dianggap selainnya. Jika pembicaraan didasarkan pada makna lafaz, sebagaimana yang telah kami sebutkan secara pasti, dan kami tidak menemukan nash yang menyalahi hal itu, maka tidak ada alasan untuk berselisih dalam berpegang pada kebenaran.

هذا منتهى المراد في ذلك نقلاً واستدراكاً

Inilah batas akhir maksud dalam hal ini, baik dari segi riwayat maupun penambahan.

والذي ذكره الأصحاب أن الطلقة الأولى تقع بثلث الألف وتصير المرأة مختلعة وهذا على نهاية الخبط والفساد

Apa yang disebutkan oleh para ulama mazhab adalah bahwa talak pertama jatuh dengan sepertiga dari seribu, dan wanita tersebut menjadi mukhāla‘ah (wanita yang dicerai melalui khulu‘), dan ini merupakan puncak kekacauan dan kerusakan.

ولو قالت طلقني ثلاثاًً بألف فقال أنت طالق طلقة مجاناَّ بلا عوض وطلقتين بألف درهم فنقدم على المسألة تجديد العهد بأن الرجعية هل تُخالع وفي ذلك قولان أصحهما وهو المنصوص عليه في الجديد أن مخالعتها تصح فإنه إذا كان يلحقها الطلاق بلا عوض يلحقها الطلاق بالعوض

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suami menjawab, “Engkau aku ceraikan satu kali secara gratis tanpa imbalan, dan dua kali dengan seribu dirham,” maka sebelum membahas masalah ini, perlu diperbarui pemahaman apakah talak raj‘i dapat dilakukan khulu‘. Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang paling sahih serta dinyatakan dalam pendapat baru adalah bahwa khulu‘ terhadap talak raj‘i itu sah, karena jika talak dapat jatuh tanpa imbalan, maka talak dengan imbalan pun dapat jatuh.

والقول الثاني أن الطلاق بالعوض لا يلحقها وهو منصوص عليه في القديم

Pendapat kedua menyatakan bahwa talak dengan kompensasi tidak berlaku baginya, dan ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama.

وهذه المسألة مفرعة على هذا الأصل ونحن نصوّرها على وجهٍ لا يلحقها غائلة ونعيد تصوير الأولى على حسبها حتى يتبين الغرض في النفي والإثبات ثم نعود إلى ما في المسألة من غائلة فنقول إذا قالت طلقني ثلاثاًً بألفٍ فقال الزوج طلقتك واحدة بثلث الألف واثنتين مجاناً فتقع الواحدة بثلث الألف فإن الزوج موافق فيها موجب استدعاء زوجته ولا تلحق الطلقتان بعدها فإنها صارت مختلعة

Masalah ini bercabang dari kaidah tersebut, dan kami akan menggambarkannya dengan cara yang tidak menimbulkan kerancuan, serta mengulangi penggambaran masalah pertama sesuai keadaannya agar tujuan penafian dan penetapan menjadi jelas. Kemudian kami kembali kepada apa yang terdapat dalam masalah ini dari sisi kerancuan, lalu kami katakan: Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan seribu (dirham),” lalu suami berkata, “Aku ceraikan kamu satu kali dengan sepertiga dari seribu, dan dua kali secara gratis,” maka jatuhlah satu talak dengan sepertiga dari seribu, karena suami telah menyetujui permintaan istrinya dalam hal itu. Adapun dua talak setelahnya tidak terjadi, karena ia telah menjadi wanita yang dikhuluk.

ولو قال في جوابها وسؤالها كما مضى أنت طالق واحدةً مجاناً بلا عوض واثنتين بثلثي الألف فهذا يخرّج على أن الرجعية هل تخالع فإن قلنا إنها تخالع ثبت ثلثا الألف وإن قلنا إنها لا تخالع فلا يثبت للزوج شيء من المال ثم إذا لم يثبت المال فالذي قطع به الأصحاب وقوع الطلاق من غير عوض وهذا من الأصول فليتنبه له الناظر وليقف عنده فإنا نبتدىء فنقول

Jika seorang suami berkata dalam menjawab permintaan istrinya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, “Engkau aku talak satu secara cuma-cuma tanpa kompensasi, dan dua talak dengan dua pertiga dari seribu,” maka hal ini dikembalikan pada permasalahan apakah talak raj‘i dapat dilakukan melalui khulu‘ atau tidak. Jika kita katakan bahwa talak raj‘i dapat dilakukan melalui khulu‘, maka dua pertiga dari seribu itu menjadi hak suami. Namun jika kita katakan bahwa talak raj‘i tidak dapat dilakukan melalui khulu‘, maka suami tidak berhak mendapatkan harta apapun. Kemudian, jika harta tidak menjadi hak suami, maka menurut pendapat yang dipastikan oleh para ulama, talak tetap jatuh tanpa adanya kompensasi. Ini termasuk salah satu prinsip dasar, maka hendaknya orang yang mengkaji memperhatikannya dan berhenti sejenak untuk memahaminya, karena kita akan memulai penjelasan dengan mengatakan…

من طلق امرأته طلقةً رجعية وقلنا الرجعية لا تخالع فإذا قال لها أنت طالق على ألف درهم فقالت قبلت فالطلاق يقع رجعياً فإنه إن كان لا يلحقها الطلاق بعوض يلحقها الطلاق بغير عوض فتصير الرجعية في هذا المقام كالمبذرة السفيهة وقد نص الشافعي وأطبق الأصحاب على أن الزوج إذا قال لامرأته السفيهة المبذرة أنت طالق على ألف درهم فقالت قبلت فالطلاق يقع رجعياً

Barang siapa yang menceraikan istrinya dengan talak raj‘i, dan kita katakan bahwa istri dalam masa raj‘i tidak dapat melakukan khulu‘, kemudian suami berkata kepadanya, “Engkau tertalak dengan seribu dirham,” lalu istri menjawab, “Aku terima,” maka talak itu jatuh sebagai talak raj‘i. Sebab, jika talak dengan kompensasi (iwad) tidak berlaku baginya, maka talak tanpa kompensasi tetap berlaku, sehingga istri dalam masa raj‘i dalam kasus ini seperti wanita mubadzir yang safihah. Imam Syafi‘i telah menegaskan, dan para ulama sepakat, bahwa jika suami berkata kepada istrinya yang safihah dan mubadzir, “Engkau tertalak dengan seribu dirham,” lalu istri menjawab, “Aku terima,” maka talak itu jatuh sebagai talak raj‘i.

ولا شك أن الرجعية في المعنى الذي ذكرناه بمثابة المبذرة إذا تُصوِّر تطليقُها من غير عوض وقد وُجد القبول منها على صيغةٍ واحدة وهما من أهل العبارة بل عبارة الرجعية إذا لم تكن مبذرة أولى بالصحة

Tidak diragukan lagi bahwa talak raj‘i dalam makna yang telah kami sebutkan adalah seperti talak mubāra’ah jika dibayangkan seorang istri ditalak tanpa adanya kompensasi dan telah ada penerimaan darinya dengan satu lafaz, sementara keduanya adalah orang yang mampu mengungkapkan (akad). Bahkan, lafaz talak raj‘i jika bukan dalam bentuk mubāra’ah lebih utama untuk dianggap sah.

فإن عاود معترضٌ وأبدى إشكالاً ينعكس على السفيهة كان كلاماًً في غير موضعه ثم الذي عليه التعويل في السفيهة أن الطلاق على صيغة المعاوضة يعتمد صورة القبول ولا يعتمد اللزوم والدليل عليه أنه إذا قال لامرأته المُطْلَقة أنت طالق على زِقِّ خمر فقالت قبلت وقع الطلاق والمقبول لا يلزم ولو التزمت مهر المثل في مقابلة قول الزوج لم يقع شيء فاستبان أن التعويل في وقوع الطلاق على التوافق في القبول على شرط صحة العبارة وسنُجري مسألة السفيهة بعد ذلك ونزيدها كشفاً والغرض المنتجز الآن تشبيه الرجعية بالمبذرة وهذا واقعٌ لا رفع له

Jika ada pihak yang kembali mengajukan keberatan dan menimbulkan persoalan yang berbalik kepada perempuan safīhah, maka itu adalah pembicaraan yang tidak pada tempatnya. Selanjutnya, yang menjadi sandaran dalam kasus safīhah adalah bahwa talak dengan bentuk mu‘āwaḍah bergantung pada bentuk penerimaan (qabūl) dan tidak bergantung pada keharusan (luzūm). Dalilnya adalah jika seorang suami berkata kepada istrinya yang ditalak, “Engkau aku talak dengan imbalan satu kendi khamar,” lalu sang istri berkata, “Aku terima,” maka talak pun jatuh, dan sesuatu yang diterima tidak harus wajib. Jika ia menyanggupi mahar mitsil sebagai imbalan atas ucapan suami, maka tidak terjadi apa-apa. Maka jelaslah bahwa yang menjadi sandaran dalam jatuhnya talak adalah kesepakatan dalam penerimaan dengan syarat sahnya ucapan. Kami akan membahas masalah safīhah setelah ini dan menambah penjelasan, dan tujuan yang ingin dicapai saat ini adalah menyamakan perempuan raj‘iyyah dengan perempuan yang mubadzir, dan hal ini memang demikian adanya dan tidak dapat diubah.

فخرج من مجموع ما ذكرناه أنها إذا قالت طلقني ثلاثاًً بألف فقال طلقتك واحدة بلا عوض وطلقتين بثلثي الألف فلا خلاف في وقوع الثلاث ولكن إن صححنا مخالعة الرجعية وقعت الطلقتان الأخيرتان بثلثي الألف وإن منعنا مخالعة الرجعية وقعت الطلقات الثلاث من غير عوض فإن الأولى وقعت رجعية ثم امتنع بعدها ثبوت العوض

Maka dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suami berkata, “Aku ceraikan kamu satu kali tanpa imbalan dan dua kali dengan dua pertiga dari seribu,” maka tidak ada perbedaan pendapat tentang terjadinya talak tiga. Namun, jika kita membolehkan khulu‘ (mukhāla‘ah) terhadap istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah, maka dua talak terakhir terjadi dengan dua pertiga dari seribu. Tetapi jika kita melarang khulu‘ terhadap istri raj‘iyyah, maka ketiga talak itu terjadi tanpa imbalan, karena talak pertama terjadi sebagai talak raj‘iyyah, lalu setelah itu tidak sah adanya imbalan.

هذا تفصيل القول مع فرض المسألة من غير غائلة

Ini adalah penjelasan rinci mengenai pernyataan tersebut dengan mengandaikan masalah tanpa adanya dampak negatif.

فأما إذا سألت ثلاثاًً بألفٍ فقال أنت طالق واحدةً مجاناً واثنتين بالألف فإن جوزنا مخالعة الرجعية فالوجه القطعُ بثبوت الألف ولا حكم لما في لفظه من مخالفة المرأة فإنها قابلت الثلاث بالألف وقابل هو طلقتين بالألف والسبب فيه أنه حصّل الحرمة الكبرى وقد ذكرنا أنه إذا حصلها فلا نظر إلى العدد وهذا حكم النص وعليه التفريع

Adapun jika seorang wanita meminta talak tiga dengan imbalan seribu, lalu suami berkata, “Engkau aku talak satu secara gratis dan dua talak dengan seribu,” maka jika kita membolehkan khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah raj‘iyyah, pendapat yang kuat adalah tetap wajib membayar seribu, dan tidak ada pengaruh dari perbedaan redaksi antara suami dan istri. Sebab, istri meminta tiga talak dengan seribu, sedangkan suami membalas dengan dua talak dengan seribu. Alasannya adalah karena telah terwujud keharaman besar (talak tiga), dan telah kami sebutkan bahwa jika keharaman besar telah terjadi, maka jumlah talak tidak lagi diperhitungkan. Inilah hukum berdasarkan nash, dan seluruh cabang hukumnya mengikuti ketentuan ini.

فإن فرع مفرّع المسألة على مذهب المروزي في حاله فينقدح في هذه الصورة ألا تقع الطلقتان على موجب القياس الذي ذكرناه من جهة مخالفة الزوج استدعاءها وليست هذه المسألة بمثابة الأولى فإنها مفروضة فيه إذا طلق الطلقة الأولى بالألف مع العلم بأن الأولى لا تفيد الحرمة الكبرى فاتجه فيها القياس الذي ذكرناه من جهة مخالفة الزوج استدعاءها وإن كان مذهب الأصحاب على مخالفته

Jika seseorang merinci cabang permasalahan ini menurut mazhab al-Marwazi dalam keadaannya, maka dalam kasus ini muncul kemungkinan bahwa dua talak tersebut tidak terjadi menurut qiyās yang telah kami sebutkan, karena suami menyelisihi permintaan istrinya. Permasalahan ini tidak sama dengan yang pertama, karena pada kasus pertama, talak pertama dijatuhkan dengan lafaz seribu kali, dengan pengetahuan bahwa talak pertama tidak menyebabkan haram besar, sehingga qiyās yang telah kami sebutkan berlaku di sana karena suami menyelisihi permintaan istrinya, meskipun mazhab para sahabat berbeda pendapat dengannya.

ومما نفرعه أن المرأة إذا قالت طلقني واحدة على ألف فقال أنت طالق ثلاثاًً قال الشافعي في هذه المسألة طلقت ثلاثاً وله الألف وقال أبو حنيفة لا يستحق عليها شيئاً وأبو يوسف ومحمد مع الشافعي

Di antara cabang permasalahan adalah jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku satu kali dengan imbalan seribu,” lalu suaminya berkata, “Engkau aku ceraikan tiga kali,” maka menurut asy-Syafi‘i dalam masalah ini, wanita tersebut jatuh talak tiga dan suaminya berhak atas seribu itu. Sedangkan menurut Abu Hanifah, suami tidak berhak apa pun darinya. Adapun Abu Yusuf dan Muhammad sependapat dengan asy-Syafi‘i.

معتمد المذهب أنه أجابها إلى ما سألت وزاد ولم يخالف أبو حنيفة في أنها إذا سألت ثلاثاً بالألف فطلقها واحدةً استحق ثلث الألف وهذا أقرب إلى مخالفتها وما ذكرناه فيه إذا قال أنت طالق ثلاثاًً في مقابلة قولها طلقني واحدة

Pendapat yang dipegang dalam mazhab adalah bahwa suami memenuhi permintaan istrinya dan bahkan menambahkannya. Abu Hanifah pun tidak berbeda pendapat bahwa jika istri meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), lalu suami mentalaknya satu kali, maka ia berhak atas sepertiga dari seribu tersebut. Ini lebih dekat kepada ketidaksesuaian dengan permintaan istri. Apa yang kami sebutkan ini berlaku jika suami berkata, “Engkau tertalak tiga,” sebagai balasan atas permintaan istrinya, “Ceraikan aku satu kali.”

فإذا لم يُعد الزوج ذكرَ المال فالجواب كما ذكرناه

Jika suami tidak menyebutkan harta, maka jawabannya sebagaimana yang telah kami sebutkan.

وإذا قالت طلقني واحدةً بألف فقال أنت طالق ثلاثاً بألف أو على ألف فهذا موضع التردد من قِبَل أنها قابلت واحدةً بألف فقابل الزوج في جوابها ثلاثاًً بألف فاقتضى ما جاء به الزوج مقابلة طلقة بثُلث الألف فالذي ذهب إليه معظمُ الأصحاب وقوع الثلاث و استحقاق الألف كالصورة الأولى وهي إذا لم يُعد الزوج ذكرَ المال ووجهه أنه أتى بما سألت وزاد

Jika seorang istri berkata, “Ceraikan aku satu kali dengan seribu,” lalu suami menjawab, “Engkau aku ceraikan tiga kali dengan seribu,” atau “atas seribu,” maka inilah tempat terjadinya keraguan, karena istri meminta satu talak dengan seribu, lalu suami dalam jawabannya membalas dengan tiga talak dengan seribu. Maka hal ini menuntut bahwa apa yang dibawa oleh suami adalah menukar satu talak dengan sepertiga seribu. Pendapat yang dipegang oleh mayoritas para sahabat (ulama mazhab) adalah jatuhnya tiga talak dan berhak mendapatkan seribu, sebagaimana pada gambaran pertama, yaitu jika suami tidak mengulangi penyebutan harta. Alasannya adalah karena suami telah melakukan apa yang diminta oleh istri dan bahkan menambahkannya.

و في بعض التصانيف عن القفال أن الثلاث تقع ويستحق الزوج ثلث الألف لأنها رضيت بواحدة على العوض ولم يثبت العوض إلا على مقابلة ملك الواحدة ولكن لا ترتّب في الطلقات حتى يقال ثبت الطلاق بمالٍ ولم يلحقه غيرُه

Dan dalam sebagian karya tulis disebutkan dari al-Qaffal bahwa tiga talak jatuh dan suami berhak atas sepertiga dari seribu, karena istri rela dengan satu talak sebagai ganti kompensasi, dan kompensasi itu tidak tetap kecuali sebagai imbalan atas kepemilikan satu talak saja. Namun, tidak ada urutan dalam talak-talak tersebut sehingga tidak dapat dikatakan bahwa talak itu tetap dengan kompensasi dan talak lainnya tidak mengikutinya.

وفي هذا التصنيف وجهٌ آخر وهو أنه يقع طلقة واحدة فحسب لأن التوافق لم يقع إلا على طلقة واحدة والزوج قابل الطلقتين الأخريين بمالٍ والمرأة لم تقبله وهذا والذي حكاه عن القفال ليسا بشيء إذ لوْ صحّ هذا المسلك لوجب أن لا يقع شيء من قِبل أنه قابَل كلَّ طلقة بثلث الألف وهذا يخالف استدعاءها

Dalam klasifikasi ini terdapat sudut pandang lain, yaitu bahwa yang jatuh hanyalah satu talak saja, karena kesepakatan hanya terjadi pada satu talak, sedangkan suami menukar dua talak lainnya dengan harta, namun istri tidak menerimanya. Pendapat ini, sebagaimana yang dinukil dari al-Qaffal, tidaklah kuat, sebab jika pendekatan ini benar, seharusnya tidak ada satu pun talak yang jatuh, karena suami telah menukar setiap talak dengan sepertiga dari seribu (harta), dan ini bertentangan dengan permintaan istri.

ولو قالت المرأة لزوجها طلقني واحدة بألف فقال أنت طالق واحدة بثلث الألف لم يقع شيء فإن الاختلاف بين الإيجاب والقبول لا فرق فيه بين الزيادة وبين النقصان

Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku satu kali dengan imbalan seribu,” lalu suaminya berkata, “Engkau aku ceraikan satu kali dengan sepertiga dari seribu,” maka tidak terjadi apa-apa, karena perbedaan antara ijāb dan qabūl, baik dalam bentuk penambahan maupun pengurangan, tidak ada bedanya.

ولو قال الرجل بعتك عبدي هذا بألف درهم فقال اشتريته بألفين لم ينعقد البيع ولم نقل أتى بالألف وزاد فلغت الزيادة فلو كانت المسألة التي نحن فيها تخرّج على القاعدة التي شبَّب بها هذا المصنف حكايةً عن القفال لوجب المصير إلى أنه لا يقع شيء ثم كان لا يفرّق بين أن يعيد الزوج ذكرَ الألف وبين أن يذكرَ الألفَ إذا طلق ثلاثاًً فإنه وإن لم يُعد ذكرَ الألف فهو معادٌ ضمناً وعلى هذه القاعدة تثبت الأعواض

Jika seseorang berkata, “Aku menjual budakku ini kepadamu seharga seribu dirham,” lalu orang lain berkata, “Aku membelinya seharga dua ribu,” maka jual beli itu tidak sah. Kami tidak mengatakan bahwa ia telah menyebut seribu dan menambahkannya, sehingga tambahan itu menjadi batal. Maka, jika permasalahan yang sedang kita bahas ini didasarkan pada kaidah yang dikutip oleh penulis ini dari al-Qaffal, seharusnya disimpulkan bahwa tidak terjadi apa-apa, dan tidak ada perbedaan antara suami mengulangi penyebutan seribu atau hanya menyebut seribu ketika menjatuhkan talak tiga; sebab meskipun ia tidak mengulangi penyebutan seribu, itu tetap dianggap diulang secara implisit. Berdasarkan kaidah ini, kompensasi-kompensasi (al-a‘wāḍ) pun menjadi tetap.

فإن قال قائل فما الجواب فيما شبّبتم به في إعادة الألف وفي السكوت عنه قلنا خروج المسألة على أنه إذا طلقها ثلاثاًً فقد حقق غرضها فلا نظر بعد ذلك إلى شيء

Jika ada yang bertanya, “Lalu apa jawaban atas apa yang kalian singgung tentang pengulangan alif dan tentang tidak membahasnya?” Kami katakan, permasalahan ini didasarkan pada bahwa jika seorang suami telah menalaknya tiga kali, maka ia telah mewujudkan tujuannya, sehingga setelah itu tidak perlu lagi memperhatikan hal lain.

وهذا مشكلٌ في صورةٍ سَهْلُ المحتمل في الأخرى فأما الصورة السهلة فهي إذا طلقها ثلاثاًً فإنه استوفى ما عنده وصارت الحرمة الكبرى في حكم الخَصْلةِ الواحدة فلا تقسيم ولا تبعيض بعد حصولها وكانت سألت فُرقةً مخففة فأجابها مغلظة وينقدح عليه عكس هذه الصورة

Ini merupakan persoalan yang rumit dalam satu sisi, namun mudah dipahami di sisi lain. Adapun sisi yang mudah adalah ketika seorang suami menceraikan istrinya dengan talak tiga, maka ia telah menghabiskan seluruh hak talaknya, dan jatuhlah keharaman besar yang berlaku seperti satu ketentuan, sehingga tidak ada lagi pembagian atau pemisahan setelah hal itu terjadi. Sementara itu, sang istri meminta perpisahan yang ringan, namun dijawab dengan perpisahan yang berat. Dan sebaliknya pun dapat terjadi pada sisi yang lain.

وأما الصورة التي فيها عسر هي إذا قالت طلقني واحدةً بألف فقال أنت طالق ثنتين بألف فلم يتحقق في هذه الصورة حرمةٌ مغلّظة نتّبعها ونترك العدد والمقابلة تختلف في الصورة ويترتب على اختلافها اختلاف الاستدعاء والإجابة ولم ينص أصحابنا على هذه المسألة بعينها ولكن قياس كلامهم القطعُ بوقوع الطلقتين

Adapun bentuk yang terdapat kesulitan adalah ketika seorang istri berkata, “Ceraikan aku satu kali talak dengan imbalan seribu,” lalu suami berkata, “Engkau aku talak dua kali dengan imbalan seribu.” Dalam kasus ini, tidak terwujud keharaman yang berat yang harus diikuti sehingga kita meninggalkan jumlah talak, dan imbalan (uang) berbeda dalam kasus ini. Perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan dalam permintaan dan jawaban. Para ulama kami tidak secara eksplisit menyebutkan masalah ini secara khusus, namun berdasarkan qiyās dari ucapan mereka, dapat dipastikan bahwa dua talak itu jatuh.

وينقدح عندي في هذه الصورة مذهب أبي حنيفة فليتأمل الناظر مواقف الكلام ومواقع الأشكال

Dalam kasus ini, menurut pendapat saya, muncul pandangan Abu Hanifah; maka hendaknya orang yang menelaah memperhatikan dengan saksama titik-titik pembicaraan dan letak-letak permasalahan.

وقد انتهى ما أضمرناه من تفريع المسائل الغامضة على القواعد المقدّمة

Telah selesai apa yang kami maksudkan berupa penjabaran masalah-masalah yang rumit berdasarkan kaidah-kaidah yang telah dikemukakan.

ونحن نذكر بعدها ما يتعلق بكلام صاحب التلخيص من الزوائد والله المستعان

Setelah itu, kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan pernyataan penulis at-Talkhīṣ berupa tambahan-tambahan, dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.

فمما ذكره أن المرأة إذا سألت طلقتين أو ثلاثاً وهو لا يملك إلا الواحدة والتفريع على النص وقال الزوج في جوابها طلقتك اثنتين الثانية منهما بألف فلا يستحق من العوض شيئاً فإنه عرَّى الطلقة الأولى عن العوض وكان لا يملك غيرها وقد أتى بذكر الطلقتين أولاً على صيغةٍ تقتضي الجمع ثم جاء بها تقتضي الترتيب إذ ذَكرَ الثانية ومن ضرورة الثانية أولى وهذا لائح فإن قال في جوابها أنت طالق اثنتين الأولى منهما بألفٍ استحق تمام الألف ولغا تقدير الطلقة الثانية

Di antara yang disebutkan adalah bahwa jika seorang wanita meminta dua atau tiga talak, sementara suaminya hanya memiliki satu talak, dan ini merupakan cabang dari nash, lalu suami berkata dalam jawabannya, “Aku menceraikanmu dua kali, yang kedua di antaranya dengan seribu (dirham)”, maka ia tidak berhak mendapatkan kompensasi apa pun. Sebab, ia telah melepaskan talak pertama tanpa kompensasi, padahal ia tidak memiliki talak selain itu. Ia menyebutkan dua talak terlebih dahulu dengan bentuk yang menunjukkan penggabungan, kemudian menyebutkannya dengan bentuk yang menunjukkan urutan, yaitu dengan menyebutkan talak kedua, dan adanya talak kedua mengharuskan adanya talak pertama. Hal ini jelas. Namun jika ia berkata dalam jawabannya, “Engkau aku talak dua kali, yang pertama di antaranya dengan seribu (dirham)”, maka ia berhak mendapatkan seluruh seribu, dan pengandaian talak kedua menjadi tidak berlaku.

وكل ذلك يخرّج على أنا لا نرعى العدد مع تحصيل الحرمة الكبرى

Semua itu didasarkan pada prinsip bahwa kami tidak memperhatikan jumlah (‘iddah) selama telah tercapai kehormatan besar (ḥurmah kubrā).

ولو سألت طلقتين وهو لا يملك إلا واحدة فقال في جوابها أنت طالق طلقتين ولم يتعرض لذكر المال وتقديرهِ المقابلةَ ولما راجعناه قال لم يكن لي نية تقدير مقابلة ولكني زدتُ على ما أملك لفظاً فكيف السبيل فيه نقول أولاً لو نوى صرفَ الألف إلى الأولى استحق تمام العوض أما لو لفظ أو نوى صرف الألف إلى الثانية كما صورناه أولاً لم يستحق شيئاً

Jika seorang wanita meminta dua talak, sementara suaminya hanya memiliki satu talak, lalu dalam menjawab permintaan itu suami berkata, “Engkau tertalak dua kali,” tanpa menyebutkan harta (sebagai kompensasi) dan tanpa meniatkan bahwa talak itu sebagai imbalan, kemudian ketika kami tanyakan kembali kepadanya, ia berkata, “Saya tidak berniat menjadikan talak itu sebagai imbalan, tetapi saya hanya menambahkan lafaz di luar apa yang saya miliki,” maka bagaimana hukumnya? Kami katakan: Pertama, jika ia berniat mengarahkan seribu (harta) kepada talak pertama, maka ia berhak mendapatkan seluruh kompensasi. Namun, jika ia mengucapkan atau meniatkan mengarahkan seribu itu kepada talak kedua sebagaimana gambaran pertama, maka ia tidak berhak mendapatkan apa pun.

وإذا قال لم يكن لي نية فقد ذكر الشيخ وجهين أحدهما أنه لا يستحق شيئاً فإنه يجوز تقدير الأمر على وجهِ لا يستحق شيئاً ويجوز خلافه والأصل براءة الذمة

Dan jika ia berkata, “Aku tidak memiliki niat,” maka Syaikh menyebutkan dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia tidak berhak mendapatkan apa pun, karena dimungkinkan untuk memperkirakan perkara ini dengan cara yang membuatnya tidak berhak atas apa pun, dan dimungkinkan pula sebaliknya. Namun, pada dasarnya tanggungan itu bebas dari kewajiban.

والوجه الثاني وهو اختيار أبي زيد المروزي أنه يستحق تمام العوض لتحصيل الحرمة الكبرى فإنه لم يأت بما يناقض استحقاقَ العوض وهذا هو الصحيح

Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Abu Zaid al-Marwazi, adalah bahwa ia berhak mendapatkan kompensasi penuh karena telah menjaga kehormatan besar, sebab ia tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hak memperoleh kompensasi, dan inilah pendapat yang benar.

والذي يقتضيه كلام الشيخ أنه لو قال نويت مقابلة الثانية بالعوض لا يستحق

Yang ditunjukkan oleh pernyataan Syekh adalah bahwa jika seseorang berkata, “Aku berniat menukar yang kedua dengan imbalan,” maka ia tidak berhak mendapatkannya.

وهذا فيه نظر عندي فإنه إذا لم يتلفظ بهذا ولفظه للجمع فلا يختلف مقتضاه الصريح بنية باطلة

Menurut saya, hal ini masih perlu ditinjau kembali, sebab jika seseorang tidak mengucapkan hal tersebut dan hanya melafalkan untuk jamaah, maka konsekuensi yang jelas dari ucapannya tidak berbeda, meskipun dengan niat yang batil.

ومما ذكره من هذا الجنس أنه لو كان يملك طلقة كما صورنا فقالت المرأة طلقني اثنتين بألف فقال في جوابها طلقتك اثنتين بألف فقابل الأولى في لفظ بهما والتفريع على مذهب الشافعي ونصه قال الشيخ اختلف أصحابنا في هذه المسألة فمنهم من قال يستحق تمام الألف وهو الصحيح فإن الحرمة الكبرى مهما حصلت لم يبق بعد حصولها نظر إلى تفصيل المقابلة وكما لا يعتبر التوزيع على ما سألت إذا أجيبت إلى الحرمة الكبرى فلا يعتبر التوزيع على ما لفظ الزوج به

Di antara hal yang disebutkan dalam jenis ini adalah jika seseorang hanya memiliki satu talak, seperti yang telah kami gambarkan, lalu sang istri berkata, “Ceraikan aku dua kali dengan imbalan seribu,” kemudian suami menjawab, “Aku menceraikanmu dua kali dengan seribu,” maka jawaban tersebut mencakup keduanya dalam satu lafaz. Pembahasan ini berdasarkan mazhab Syafi’i dan nashnya. Syekh berkata: Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa suami berhak mendapatkan seluruh seribu, dan inilah pendapat yang benar. Sebab, jika talak bain kubra telah terjadi, maka setelah itu tidak lagi diperhatikan rincian kesesuaian antara permintaan dan pemberian talak. Sebagaimana tidak dipertimbangkan pembagian (imbalan) atas apa yang diminta jika permintaan itu dijawab dengan talak bain kubra, maka tidak pula dipertimbangkan pembagian atas apa yang diucapkan oleh suami.

ومن أصحابنا من قال لا يستحق إلا نصف العوض وهو خمسمائة فإنه قابل الطلقة المملوكة بخمسمائة فلا يستحق أكثر منها

Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia hanya berhak atas setengah kompensasi, yaitu lima ratus, karena ia telah menukar satu talak yang dimiliki dengan lima ratus, maka ia tidak berhak atas lebih dari itu.

وهذا ساقط مع حصول الحرمة الكبرى كما قدمنا وليس كما لو قالت طلقني اثنتين بألفٍ وكان يملك ثلاثاًً فقال طلقتك واحدة بخمسمائة فإن تلك الواحدة تقع بالخمسمائة إذ ليس فيها تحصيل الحرمة الكبرى

Hal ini tidak berlaku jika terjadi keharaman besar sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dan tidak seperti kasus ketika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dua kali dengan imbalan seribu,” sementara suaminya memiliki hak tiga talak, lalu suaminya berkata, “Aku ceraikan kamu satu kali dengan lima ratus.” Maka satu talak itu jatuh dengan imbalan lima ratus, karena dalam hal tersebut tidak terjadi keharaman besar.

ومما فرعه أن المرأة لو سألت طلقة بألف وكان الزوج يملك عليها ثلاثاًً فقال في جوابها أنت طالق وطالق ثم طالق نُراجعه فإن قال أردتُ مقابلة الألف بالطلقة الأولى فلا يلحقها بعدها طلاق فإذا قال أردت إيقاع الطلقة الأولى بلا عوض وإيقاع الثانية بالألف ثم إيقاعَ الثالثة فهذا يخرّج على مخالعة الرجعية فإن قلنا يلحقها الطلاق بالعوض طُلّقت طلقتين الأولى بغير عوض والثانية بالألف ولا تقع الثالثة وإن قلنا الرجعية لا تخالع لم يستحق الزوج من العوض شيئاً وطلقت المرأة ثلاثاً بناء على أن الرجعية إذا خولعت وقلنا لا يصح مخالعتها فيقع الطلاق من غير عوض قياساً على السفيهة

Di antara cabang permasalahan dari hal ini adalah jika seorang wanita meminta talak dengan imbalan seribu, sementara suaminya masih memiliki hak tiga kali talak atasnya, lalu suaminya menjawab, “Engkau aku talak, aku talak, lalu aku talak, tapi aku rujuk kembali.” Jika suami berkata, “Aku maksudkan imbalan seribu itu untuk talak pertama saja,” maka setelah itu talak tidak berlaku lagi atasnya. Jika suami berkata, “Aku bermaksud menjatuhkan talak pertama tanpa imbalan, talak kedua dengan imbalan seribu, lalu talak ketiga,” maka hal ini dikembalikan pada hukum khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah rujuk. Jika kita berpendapat bahwa talak dengan imbalan tetap berlaku, maka wanita itu tertalak dua kali: yang pertama tanpa imbalan, yang kedua dengan imbalan seribu, dan talak ketiga tidak jatuh. Namun jika kita berpendapat bahwa wanita yang masih dalam masa iddah rujuk tidak sah melakukan khulu‘, maka suami tidak berhak atas imbalan apapun dan wanita itu tertalak tiga kali, berdasarkan pendapat bahwa jika wanita dalam masa iddah rujuk melakukan khulu‘ dan kita berpendapat bahwa khulu‘ tidak sah atasnya, maka talak jatuh tanpa imbalan, diqiyaskan dengan wanita yang kurang akal.

ولو قال الزوج أردت بالطلقة الأولى والثانية رجعتين بلا عوض وأردت مقابلة الثالثة بالعوض فالذي ذكره الأصحاب أن ذلك يخرّج على القولين في مخالعة الرجعية وهو بيّن لائح فإن جوّزنا مخالعتها وقع الطلاق واستحق الزوج الألف كَمَلاً وإن منعنا مخالعة الرجعية وقع الثلاث ولم يستحق الزوج شيئاً

Jika suami berkata, “Aku maksudkan talak pertama dan kedua sebagai rujuk tanpa kompensasi, dan aku maksudkan talak ketiga sebagai kompensasi,” maka yang disebutkan oleh para ulama adalah bahwa hal ini dikembalikan pada dua pendapat dalam masalah khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah rujuk, dan hal itu jelas serta nyata. Jika kita membolehkan khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah rujuk, maka talak jatuh dan suami berhak menerima seribu (uang kompensasi) secara penuh. Namun jika kita melarang khulu‘ terhadap istri yang masih dalam masa iddah rujuk, maka jatuh tiga talak dan suami tidak berhak menerima apa pun.

وقال الشيخ أبو علي في الشرح إذا طلق الرجل امرأته طلقتين وجرت في عدة الرجعية فخالعها على الثالثة صحت المخالعة على الثالثة قولاً واحداً فإنه يتعلق بها مزيد فائدة وهي الحرمة الكبرى وإنما القولان في مخالعتها بالطلقة الثانية وهذا تفصيلٌ لم أعرفه ولم أره إلا له وليس فيه كبير معنى فإن الخلع بالطلقة الثانية يفيد البينونة وبتَّ النكاح فإذا لم يصحح الخلع مع ذلك فأي أثر للحرمة الكبرى في التصحيح

Syekh Abu Ali berkata dalam kitab Syarh: Jika seorang laki-laki menceraikan istrinya dengan dua talak dan masa iddah talak raj‘i masih berlangsung, lalu ia melakukan khulu‘ terhadap istrinya untuk talak yang ketiga, maka khulu‘ untuk talak ketiga itu sah menurut satu pendapat, karena pada talak ketiga terdapat tambahan manfaat, yaitu terjadinya keharaman besar (tidak boleh rujuk kecuali setelah menikah dengan laki-laki lain). Adapun dua pendapat terdapat pada kasus khulu‘ dengan talak kedua. Ini adalah rincian yang tidak aku ketahui dan tidak aku lihat kecuali darinya, dan tidak ada makna besar di dalamnya. Sebab, khulu‘ dengan talak kedua sudah menyebabkan perpisahan dan memutuskan pernikahan. Maka jika khulu‘ tidak dianggap sah dalam kondisi tersebut, lalu apa pengaruh keharaman besar dalam mensahkannya?

ثم إن صاحب التلخيص أتى بكلام مضطرب وأعاد صوراً أجاب فيها بخلاف ما سبق من جوابه في أعيانها فكانت هذه المسألة معروفةً بكثرة عثراته ونحن لا نذكر ما لا يفيد معنى ولا يجدي فقهاً فالذي يتعلق به على كل حال شيٌ أنه قال إذا كان الرجل يملك طلقة واحدة فسألت المرأة ثلاثاًً فقال في جوابها أنت طالق ثلاثاً قال يثبت الرجوع إلى مهر المثل وقد سألت الطلاقَ الثلاثَ بالألف ولم يتعرض لهذا الكلام فيما تقدم بل أطلق ما أطلقه الأصحاب من ثبوت البدل المسمى إذا حصلت الحرمةُ الكبرى واتفق معظم الأصحاب على تغليطه في إثبات مهر المثل وتناقضُ كلامه بيّنٌ لا حاجة إلى تكلفٍ في إيضاحه قال الشيخ أبو علي وجدت نسخاً من التلخيص أصلح فيه ذكر مهر المثل وحذفه

Kemudian, penulis kitab at-Talkhīṣ mengemukakan pernyataan yang rancu dan mengulangi beberapa kasus di mana ia memberikan jawaban yang berbeda dari jawaban sebelumnya pada kasus yang sama. Oleh karena itu, permasalahan ini dikenal dengan banyaknya kekeliruan yang terjadi di dalamnya. Kami tidak akan menyebutkan hal-hal yang tidak memberikan makna atau tidak bermanfaat secara fiqh. Maka, yang berkaitan dengannya dalam hal ini adalah bahwa ia berkata: Jika seorang laki-laki hanya memiliki satu talak, lalu seorang wanita meminta tiga talak, kemudian ia menjawab, “Engkau aku talak tiga,” maka ia menetapkan adanya hak kembali kepada mahar mitsil. Ia juga menyebutkan bahwa wanita meminta talak tiga dengan imbalan seribu (dirham), namun ia tidak membahas hal ini pada penjelasan sebelumnya, bahkan ia membiarkan sebagaimana para ulama lain yang menetapkan adanya pengganti yang telah disebutkan jika terjadi keharaman besar (ḥurmah kubrā). Mayoritas ulama sepakat bahwa ia keliru dalam menetapkan mahar mitsil, dan kontradiksi dalam pernyataannya sangat jelas sehingga tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskannya. Syaikh Abū ‘Alī berkata, “Aku menemukan beberapa naskah at-Talkhīṣ yang telah diperbaiki, di mana penyebutan mahar mitsil dihapus.”

ووجدتُ لبعض الأصحاب وجهاً غريباً أنها إذا سألت ثلاثاًً والزوج لا يملك إلا واحدة أو اثنتين فحصّل الحرمة الكبرى بإيقاع ما يملك أن البدل المسمى يسقط والرجوع إلى مهر المثل لما حصل من الاختلاف بين القولين والمسمى إنما يثبت عند التوافق المحقق ولا سبيل إلى تعرية الحرمة الكبرى عن العوض فكان الرجوع إلى مهر المثل

Aku menemukan dari sebagian sahabat (ulama mazhab) suatu pendapat yang ganjil, yaitu apabila seorang istri meminta talak tiga kali, sedangkan suami hanya memiliki hak talak satu atau dua kali, lalu suami menjatuhkan talak sebanyak yang ia miliki sehingga terjadilah keharaman besar (talak bain kubra), maka mahar yang telah disepakati gugur dan kembali kepada mahar mitsil, karena telah terjadi perbedaan antara dua pendapat, sedangkan mahar yang disepakati hanya berlaku jika ada kesepakatan yang pasti. Tidak mungkin keharaman besar (talak bain kubra) terjadi tanpa adanya kompensasi (mahar), sehingga kembali kepada mahar mitsil.

وهذا ليس بشيء وبأمثاله تختبط أصول المذهب وأنا لم أذكره وأنا أسوق ترتيبَ المذهب وأخّرت ذكره حتى لا يعدّ من المذهب

Ini bukanlah sesuatu yang patut dianggap, dan dengan hal-hal semacam inilah prinsip-prinsip mazhab menjadi kacau. Aku sendiri tidak menyebutkannya ketika menyusun urutan mazhab, dan aku menunda penyebutannya agar tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab.

وقد انتهى هذا الأصلُ العظيم من الخلع مشتملاً على أكمل البيان منبهاً على مواقع الإشكال وإلى الله الابتهال في الإكمال

Prinsip agung tentang khulu‘ ini telah selesai dibahas dengan penjelasan yang paling sempurna, disertai penunjukan pada titik-titik yang rumit, dan hanya kepada Allah permohonan agar penyusunan ini disempurnakan.

فصل قال ولو بقيت له عليها طلقة فقالت طلّقني ثلاثاً بألف واحدةً أحرم بها عليك إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika masih tersisa satu talak baginya atas istrinya, lalu sang istri berkata, ‘Ceraikan aku tiga kali dengan imbalan seribu, satu talak yang membuatku haram bagimu, dan seterusnya.’”

إذا كان الرجل يملك طلقة واحدة فقالت المرأة طلقني ثلاثاً واحدةً أحرم بها وثنتين إن نكحتني فقد ذكر أصحاب القفال صورتين إحداهما أن تستدعيَ منه ثلاثَ طلقات بألفٍ واحدةً تنجز الحرمة واثنتين يلتزمهما في الذمة إذا نكحها يوماً نجّزهما هذه صورة

Jika seorang laki-laki hanya memiliki satu talak, lalu seorang wanita berkata, “Ceraikan aku tiga kali: satu kali yang membuatku haram bagimu, dan dua kali lagi jika engkau menikahiku kembali,” maka para sahabat al-Qaffal menyebutkan dua gambaran. Salah satunya adalah wanita meminta tiga talak darinya dengan imbalan seribu: satu talak langsung yang menyebabkan keharaman, dan dua talak lagi yang menjadi tanggungannya jika ia menikahinya kembali suatu hari, maka ia menunaikan dua talak tersebut. Inilah salah satu gambaran.

فإذا نجّز الطلقة التي يملكها والتزم طلقتين فالذي ذكره الأئمة المراوزة أن الطلاق المنجز ينفذ بالمال ولكن المسمى لا يثبت والرجوع إلى مهر المثل

Jika suami menjatuhkan satu talak yang menjadi haknya dan berkomitmen untuk dua talak, para imam dari kalangan ulama Marw menyebutkan bahwa talak yang dijatuhkan secara langsung itu berlaku dengan adanya kompensasi (harta), namun jumlah kompensasi yang telah disepakati tidak tetap, dan yang menjadi acuan adalah mahar mitsil.

والسببُ فيه أنها قابلت المال بتنجيز والتزامٍ في الذمة والتزامُ الطلاق في الذمة فاسدٌ فشرطه فاسد مفسد وإذا فسدت صيغة العقد والطلاقُ المنجَّز لا مردَّ له وقد تثبت المالية فينحصر أثر الفساد الواقع في صيغة العقد في المال المسمى وهذا النوع من الفساد يوجب الرجوع إلى مهر المثل على ما سنعقد في ذلك فصلاً جامعاً لمحل الخلاف والوفاق

Penyebabnya adalah karena ia mempertemukan harta dengan penegasan dan komitmen dalam tanggungan, sedangkan komitmen talak dalam tanggungan adalah batal, maka syaratnya pun batal dan merusak. Jika lafal akad rusak dan talak yang ditegaskan tidak dapat ditarik kembali, sementara nilai harta dapat tetap ada, maka dampak kerusakan yang terjadi pada lafal akad terbatas pada harta yang telah disebutkan. Jenis kerusakan seperti ini mengharuskan kembali kepada mahar mitsil, sebagaimana akan kami bahas dalam satu bab yang menghimpun tempat terjadinya perbedaan dan kesepakatan.

ثم لو فرض نكاحٌ فلا شك أن الزوج لا يطالَب بالوفاء بما التزمه من الطلاق فإنا أفسدنا الالتزامَ ولو وجب الوفاء لصح الالتزام

Kemudian, seandainya terjadi pernikahan, tidak diragukan lagi bahwa suami tidak dituntut untuk memenuhi apa yang telah ia janjikan berupa talak, karena kami telah membatalkan komitmen tersebut. Jika pemenuhan itu diwajibkan, niscaya komitmen itu menjadi sah.

الصورة الثانية أن تقول طلقني الواحدة التي تملكها وعلّق طلقتين إن نكحتني يوماً ولك ألف فإذا نجّز ما ملك وعلق الطلقتين كما استدعت فالتعليق مردود فإنه تعليقٌ للطلاق قبل النكاح وصيغة استدعائها فاسدة و الرجوع إلى كمال مهر المثل كما ذكرناه في الصورة الأولى المشتملة على التزام الطلاق بدل التعليق فهذا منتهى ما بلغنا من قول أصحاب القفال

Gambaran kedua adalah ketika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan satu talak yang engkau miliki, dan gantungkan dua talak jika suatu hari engkau menikahiku lagi, dan untukmu seribu.” Jika suami melaksanakan talak yang ia miliki dan menggantungkan dua talak sebagaimana yang diminta, maka penggantungan tersebut tidak sah, karena itu merupakan penggantungan talak sebelum terjadinya pernikahan, dan bentuk permintaannya pun tidak sah. Maka kembali kepada mahar mitsil yang sempurna sebagaimana telah kami sebutkan dalam gambaran pertama yang memuat komitmen talak sebagai pengganti penggantungan. Inilah batas akhir yang kami ketahui dari pendapat para sahabat al-Qaffal.

وذكر صاحب التقريب في المسألتين طريقةً أخرى حسنةً فقال قد جمعت المرأة بين طلاقٍ يصح الاعتياض عنه وبين طلاقين لا يصح الاعتياض عنهما وقابلت الكلَّ بعوض فالوجه تخريج ذلك على تفريق الصفقة ولو جمع الرجل في صفقة واحدة بين عبد يملكه وعبدٍ مغصوب أو حُرٍّ وفسد العقد في المغصوب أو الحر ففي فساده في المملوك قولان فليكن الأمر كذلك في الطلاق

Dan penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dalam dua permasalahan tersebut suatu metode lain yang baik, ia berkata: Seorang wanita telah menggabungkan antara talak yang sah untuk diberi kompensasi dan dua talak yang tidak sah untuk diberi kompensasi, lalu ia menukar semuanya dengan kompensasi. Maka, pendapat yang tepat adalah mengqiyaskan hal itu dengan perbedaan akad (tafriq ash-shafqah). Jika seorang laki-laki dalam satu akad menggabungkan antara budak yang dimilikinya dengan budak yang digasak atau orang merdeka, lalu akad tersebut batal pada budak yang digasak atau orang merdeka, maka dalam batalnya akad pada budak yang dimiliki terdapat dua pendapat. Maka hendaknya perkara talak ini juga demikian.

فإن قلنا بصحة تفريق الصفقة فيصح الخلع متعلّقاً بالمسمى في الطلاق المنجز

Jika kita mengatakan sahnya pemisahan akad, maka khulu‘ menjadi sah dengan bergantung pada nilai yang disebutkan dalam talak yang dijatuhkan secara langsung.

وإن حكمنا بالفساد لم يُرَدّ الطلاق ولكن نحكم بفساد ما يقابله من المسمى ثم نفرِّع عليه أنا إذا صححناه فللمرأة الخيار بسبب تبعّض المقصود صحةً وفساداً

Jika kami memutuskan bahwa akad tersebut fasad (rusak), maka talak tidak menjadi batal, tetapi kami memutuskan bahwa yang batal adalah bagian dari mahar yang disebutkan, kemudian kami cabangkan dari situ bahwa jika kami menganggapnya sah, maka istri memiliki hak memilih (khiyar) karena maksud akad tersebut menjadi terbagi antara yang sah dan yang rusak.

فإن أجازت فبكم تجيزه فعلى قولين أحدهما أنها تجيز بتمام المسمى والثاني أنها تجيز بقسطٍ فيلزمها ثلثُ المسمى والطلقات في حكم التوزيع متساويةً بلا خلاف بين الأصحاب وإن فسخت ارتد البدل بجملته إليها وكان الرجوع إلى مهر المثل في المذهب الظاهر

Jika ia mengizinkan, dengan berapa ia mengizinkan? Ada dua pendapat: yang pertama, ia mengizinkan dengan seluruh nilai yang disebutkan; yang kedua, ia mengizinkan dengan bagian, maka ia wajib membayar sepertiga dari nilai yang disebutkan. Talak-talak dalam hukum pembagian dianggap sama tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Jika ia membatalkan, maka seluruh pengganti kembali kepadanya, dan yang menjadi rujukan adalah mahar mitsil menurut mazhab yang paling kuat.

وكل ما ذكرناه تفريع على تصحيح تفريق الصفقة وإن أفسدناها فالرجوع إلى مهر المثل لا غير كما حكيناه عن الأولين

Semua yang telah kami sebutkan merupakan cabang dari pendapat yang membenarkan pemisahan akad. Namun, jika kami menganggapnya rusak, maka kembali kepada mahar mitsil saja, sebagaimana yang telah kami kisahkan dari para ulama terdahulu.

وهذا الترتيب حسن لم يتعرض القفاليون إليه ذكره صاحب التقريب وأورده العراقيون على هذا الوجه

Urutan ini adalah baik, yang tidak dibahas oleh para ulama Qafal, namun disebutkan oleh penulis at-Taqrib dan dikemukakan oleh para ulama Irak dengan cara seperti ini.

فإن قيل إذا لم تصححوا باب التفريق فهلا قلتم إنا وإن أفسدنا الصفقة بسبب التفريق فلا يلزمها إلا قسط من المسمى قلنا هذا ليس بشيء فإنا إذا أفسدنا العقد ولزم الرجوع إلى المال فالوجه الرجوع إلى قيمة ما فات على الزوج وقيمة ما فات على الزوج مهر المثل ولو عُدْنا إلى أعداد الطلقات والتوزيع عليها لكان هذا حكماً بالصحة وقضاءً بثبوت المقابلة وهذا ظاهر ولكني لا أرى التبرّم بذكر الظواهر في الكتب المنعوتة بالإشكال

Jika dikatakan, “Jika kalian tidak membenarkan bab tafriq, mengapa kalian tidak mengatakan bahwa meskipun kami membatalkan akad karena tafriq, maka yang wajib hanyalah bagian dari mahar yang telah disebutkan?” Kami jawab, “Ini tidak benar. Jika kami membatalkan akad dan harus kembali kepada harta, maka yang tepat adalah kembali kepada nilai yang hilang dari suami. Nilai yang hilang dari suami adalah mahar mitsil. Jika kita kembali kepada jumlah talak dan pembagiannya, maka ini berarti menetapkan hukum sah dan menetapkan adanya kompensasi, dan ini jelas. Namun, aku tidak melihat perlunya merasa keberatan dengan penyebutan hal-hal yang tampak dalam kitab-kitab yang dikenal sulit dipahami.”

فإن قيل هل تتوجه طريقة القفالين بشيء قلنا أجل وجهُهُ أن الطلاق الملتزمَ في حكم ما لم يحصل ولا يقدّر مضموماً إلى غيره حتى يخرّجَ على قاعدة التفريق ولا وقع له إلا من جهة تنزيله فاسداً مفسداً

Jika dikatakan, apakah metode para qaffāl berlaku dalam hal ini? Kami katakan, ya, sisi penerapannya adalah bahwa talak yang diikrarkan itu dalam hukum dianggap belum terjadi, dan tidak dianggap digabungkan dengan selainnya sehingga dapat dikeluarkan berdasarkan kaidah tafriq, dan talak itu tidak terjadi kecuali dari sisi penetapannya sebagai talak yang rusak dan merusak.

ومما يهجِس في القلب تقويةُ الصحة على نص الشافعي فإن المرأة لو سألت ثلاثاً وكان الزوج لا يملك إلا واحدةً فطلقها تلك الواحدة فإنه يملك تمام المسمى من غير حكمٍ بتقسيطٍ ولا فسادٍ نظراً إلى تحصيل الحرمة الكبرى فإذا كنا نُحبط أثر سؤالها في طلقتين ونصحح البدل المسمى ونُثبته فإلغاءُ سؤالها التزامَ طلقتين أو تعليقَهما أولى

Salah satu hal yang terlintas dalam hati adalah penguatan pendapat yang shahih menurut Imam Syafi‘i, yaitu jika seorang wanita meminta tiga talak, sementara suaminya hanya mampu memberikan satu talak, lalu ia menceraikannya dengan satu talak tersebut, maka suami tetap berhak atas seluruh mahar yang telah disepakati tanpa ada ketentuan pembagian atau kerusakan akad, dengan pertimbangan untuk menjaga keharaman yang lebih besar. Jika kita membatalkan pengaruh permintaan wanita atas dua talak dan tetap mengesahkan serta menetapkan mahar yang telah disepakati, maka membatalkan permintaan wanita untuk berkomitmen pada dua talak atau menggantungkan keduanya lebih utama.

ويجب أن يخرّج على هذا القياس ثبوتُ البدل المسمى وإن أفسدنا البدلَ و قلنا الرجوعُ إلى مهر المثل اتجه ما ذكره في شرح التلخيص من الرجوع إلى مهر المثل إذا سألت الطلاق ثلاثاًً والزوج لا يملك إلا واحدة أو اثنتين

Dan harus ditetapkan berdasarkan qiyās ini keabsahan pengganti yang telah disebutkan namanya, meskipun kita membatalkan pengganti tersebut dan mengatakan bahwa kembali kepada mahar mitsil, maka pendapat yang disebutkan dalam Syarh at-Talkhīṣ menjadi relevan, yaitu kembali kepada mahar mitsil jika istri meminta talak tiga kali sementara suami hanya memiliki satu atau dua talak.

فليتأمل الناظر ذلك يرشُد

Maka hendaklah orang yang memperhatikan hal itu merenungkannya, niscaya ia akan mendapatkan petunjuk.

ومن بقية الكلام في المسألة أنا إذا جرينا على طريقة المراوزة ورأينا إفساد المسمى والرجوعَ إلى مهر المثل فلو نجّز الطلقة التي يملكها ولم يسعفها بالتزام طلقتين ولا بتعليقهما فكيف الوجه هذا مُتَرَدَّ فليتأمله الناظر فإن قلنا لا أثر لإسعافه بذكر الالتزام والتعليق فكلاهما في حكم اللغو المطَّرح ويجب على مساقه إثبات البدل المسمى على الصحة نظراً إلى ما حصل من الحرمة الكبرى

Dan sisa pembahasan dalam masalah ini adalah, jika kita mengikuti metode para ulama Marw dan berpendapat bahwa mahar yang telah disebutkan menjadi batal dan kembali kepada mahar mitsil, maka jika suami langsung menjatuhkan talak yang ia miliki tanpa menambahkannya dengan komitmen untuk menjatuhkan dua talak atau menggantungkan keduanya, bagaimana hukumnya? Ini adalah persoalan yang masih diperdebatkan, maka hendaknya penelaah memperhatikannya. Jika kita mengatakan bahwa tidak ada pengaruh dari penambahan dengan menyebutkan komitmen dan penggantungan, maka keduanya dianggap sebagai ucapan sia-sia yang ditinggalkan, dan berdasarkan alur pembahasannya, wajib menetapkan pengganti yang telah disebutkan secara sah, dengan mempertimbangkan terjadinya keharaman yang besar.

وإن قلنا لا بد أن يذكر الزوجُ الالتزام أو التعليق فيجب أن يقال إذا لم يفعل فتقع الطلقة الثالثة بلا عوض وهذا بعيد جداً وإن قيل يجب بما نجّز ثلثُ العوض فهذا تصحيح التفريق وهو خوضٌ في طريق صاحب التقريب في تفريع التفريق إجازةً وفسخاً وصحة وفساداً

Jika kita mengatakan bahwa suami harus menyebutkan komitmen atau ta‘liq, maka harus dikatakan bahwa jika ia tidak melakukannya, maka jatuhlah talak ketiga tanpa kompensasi, dan ini sangat jauh (dari kebenaran). Dan jika dikatakan bahwa wajib dengan apa yang telah ditegaskan sepertiga dari kompensasi, maka ini adalah tashih tafriq, dan ini merupakan pembahasan dalam metode pemilik kitab at-Taqrib dalam rincian tafriq, baik berupa izin, pembatalan, keabsahan, maupun kerusakan.

فإذاً اتجه في الصورتين المذكورتين في الفصل ثلاثُ طرق أحدها طريقة التفريق

Maka, dalam dua kasus yang telah disebutkan pada bab ini, terdapat tiga metode yang ditempuh; salah satunya adalah metode pembedaan.

والأخرى تصحيحُ المسمى وإلغاءُ التعرض للزائد على الطلقة المملوكة والاكتفاءُ بتحصيل الحرمة تخريجاً على النص في أن الزوج إذا كان يملك واحدةً والتمست المرأة ثلاثاًً فلا نظر إلى التماسها والتعويلُ على تحصيل الحرمة

Yang lainnya adalah memperbaiki istilah dan menghapus pembahasan tentang tambahan atas talak yang dimiliki, serta cukup dengan memperoleh keharaman, berdasarkan penjelasan dari nash bahwa jika suami hanya memiliki satu talak dan istri meminta tiga talak, maka permintaan istri tidak dianggap, dan yang dijadikan pegangan adalah tercapainya keharaman.

والطريقة الثالثة لأصحاب القفال وهي القطع بإفساد المسمى وحملُ ما جاءت به على شرطٍ فاسد مفسد وهذه الطريقة هي التي تصح على السَّبْر

Cara ketiga menurut para pengikut al-Qaffal adalah memastikan batalnya akad dengan adanya syarat yang disebutkan, dan menganggap apa yang disebutkan itu sebagai syarat yang rusak dan merusak akad. Cara inilah yang benar menurut metode al-sabr.

والفصلُ بين ما نحن فيه وبين استدعائها ثلاثاًً والزوج يملك واحدة أنها لم تُظهر مقصوداً مرتقباً وإنما طلبت أمراً ناجزاً ومقصودُها تحصيل الحرمة الكبرى وفي مسألتنا طلبت الحرمة الكبرى ورامت وراءها أمراً مرتقباً معلقاً أو ملتزماً ففسد قصدُها وهو معقول وليس ما أبدته مما ينضم إلى ما طلبته في الحال حتى يلحق بالتفريق ولا وجه لإلغائها فكان مؤثراً في إفساد الصيغة

Perbedaan antara kasus yang sedang kita bahas dengan permintaan talak tiga kali dan suami hanya memiliki satu talak adalah bahwa dalam kasus tersebut, istri tidak menampakkan maksud yang sedang ditunggu, melainkan ia meminta sesuatu yang langsung terjadi, dan tujuannya adalah memperoleh keharaman besar (haram mu‘abbad). Sedangkan dalam permasalahan kita, ia meminta keharaman besar dan menginginkan sesuatu yang masih ditunggu, yang tergantung atau diikatkan, sehingga maksudnya menjadi rusak, dan hal ini dapat dipahami. Apa yang ia ungkapkan tidak termasuk ke dalam apa yang ia minta saat itu sehingga tidak dapat disamakan dengan kasus perpisahan, dan tidak ada alasan untuk mengabaikannya, sehingga hal itu berpengaruh dalam merusak lafaz (akad).

ثم إذا ذكرت اشتراط الالتزام أو التعليق فالوجه بعد المباحثات القطعُ بأنا لا نشترط أن يتلفظ بالتزام أو تعليق فإنهما فاسدان ولا معنى لاشتراط الإتيان بالفاسد وليس كما لو علق طلاقاً بأمر يفسد من جهتها فإنه لا بد لها من الإتيان به لتطلّق فإن تعليق الطلاق بما يفسد في نفسه صحيحٌ في ذاته فخرج أنها إذا اشترطت الالتزام أوالتعليق فطلقها الزوج الطلقة التي يملكها كفى ذلك والرجوع إلى مهر المثل

Kemudian, jika disebutkan syarat berkomitmen atau menggantungkan (talak) pada suatu hal, maka setelah pembahasan, pendapat yang kuat adalah bahwa kita tidak mensyaratkan harus mengucapkan komitmen atau penggantungan tersebut, karena keduanya tidak sah, dan tidak ada makna mensyaratkan melakukan sesuatu yang tidak sah. Ini tidak seperti jika seseorang menggantungkan talak pada suatu perkara yang rusak dari sisinya, maka ia harus melakukannya agar talak terjadi, karena menggantungkan talak pada sesuatu yang rusak pada dirinya sendiri adalah sah pada hakikatnya. Maka, jika ia mensyaratkan komitmen atau penggantungan, lalu suami menjatuhkan talak yang dimilikinya, maka itu sudah cukup, dan kembali kepada mahar mitsil.

فصل قال ولو خالعها على أن تكفل ولده عشر سنين إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Seandainya ia melakukan khulu‘ dengan syarat bahwa ia menanggung anaknya selama sepuluh tahun hingga selesai,”

هذه المسألة عدها بعضُ الناس من مُعْوصات الخلع وليست منها وهي في التحقيق متلطفة في الكتاب وفي مثلها أوثر قبضَ الخُطَى في البيان والإحالةَ على الأصول وهي في التحقيق مبنية على الاستئجار على الإرضاع والحضانة وأن الصفقة إذا جمعت عقدين مختلفي الحكم كالبيع والإجارة ففي صحة الصفقة خلاف

Masalah ini dianggap oleh sebagian orang sebagai salah satu persoalan rumit dalam khulu‘, padahal sebenarnya bukan termasuk di dalamnya. Jika diteliti, masalah ini dijelaskan secara halus dalam kitab, dan dalam kasus semacam ini aku lebih memilih untuk membatasi penjelasan dan merujuknya kepada sumber-sumber utama. Pada hakikatnya, masalah ini didasarkan pada hukum sewa-menyewa untuk menyusui dan mengasuh anak, serta bahwa suatu transaksi jika menggabungkan dua akad yang berbeda hukumnya, seperti jual beli dan ijarah, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahan transaksi tersebut.

ومما يجرى في أركان المسألة أن السَّلم في شيء واحد إلى آجال هل يجوز وفيه قولان وكذلك السلم في أصنافٍ إلى أجل واحد فيه قولان وجملة هذه الأصول سبقت مقررة في مواضعها ونحن نكتفي بالإحالة عليها إذا تعلقت أطراف الكلام بها

Termasuk yang berlaku dalam rukun-rukun masalah ini adalah apakah boleh akad salam pada satu barang dengan beberapa tenggat waktu; dalam hal ini terdapat dua pendapat. Demikian pula, akad salam pada beberapa jenis barang dengan satu tenggat waktu; juga terdapat dua pendapat. Seluruh pokok-pokok ini telah dijelaskan sebelumnya pada tempatnya masing-masing, dan kami cukup merujuk kepadanya apabila pembahasan berkaitan dengannya.

ومما يجرى في المسألة أن من استأجر امرأة لترضع له مولوداً عيَّنه فلو مات ذلك المولود في أثناء مدة الرضاع فهل تنفسخ الإجارة فيه نظر فإن كانت أجنبية منه ففي فسخ الإجارة واستبقائها وجواز الإتيان بولد آخر تفصيلٌ طويل ذكرته في أول كتاب الصداق فيه إذا استأجر رجل خياطاً حتى يخيط له ثوباً معيناً أو حتى يعلّم له صبياً فإذا فات المحل الذي تضمنت الإجارة إيقاعَ العمل فيه ففي انفساخ الإجارة الخلاف المقدم فإن حكمنا بأن الإجارة تنفسخ لفوات المحل الذي تقع فيه فلا كلام وإن حكمنا بأن الإجارة لا تنفسخ فلو كانت المستأجرة أمَّ الرضيع فإذا مات الرضيع ففي انفساخ الإجارة قولان أحدهما وهو الأقيس أنها لا تنفسخ كما لو كانت أجنبية من الرضيع والثاني أنها تنفسخ فإن الغرض يختلف في درور اللبن ونكادته وكل ذلك

Di antara hal yang berlaku dalam masalah ini adalah apabila seseorang menyewa seorang wanita untuk menyusui seorang bayi yang telah ditentukan, lalu bayi tersebut meninggal dunia di tengah masa penyusuan, maka apakah akad ijarah (sewa-menyewa) tersebut batal? Dalam hal ini terdapat perincian: jika wanita tersebut adalah orang asing (bukan mahram) bagi bayi itu, maka terdapat pembahasan panjang tentang batal atau tetapnya akad ijarah dan kebolehan mendatangkan bayi lain sebagai pengganti, sebagaimana telah saya sebutkan di awal Kitab Shadaq, yaitu jika seseorang menyewa penjahit untuk menjahitkan pakaian tertentu atau untuk mengajari seorang anak, maka apabila objek yang menjadi tujuan akad ijarah itu hilang, terdapat perbedaan pendapat tentang batalnya akad ijarah. Jika kita memutuskan bahwa akad ijarah batal karena hilangnya objek, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun, jika kita memutuskan bahwa akad ijarah tidak batal, maka jika wanita yang disewa adalah ibu dari bayi tersebut, lalu bayi itu meninggal, terdapat dua pendapat tentang batalnya akad ijarah: salah satunya, yang lebih sesuai dengan qiyās, adalah bahwa akad tidak batal sebagaimana jika wanita itu adalah orang asing bagi bayi tersebut; dan pendapat kedua, akad batal, karena tujuan menyusui berbeda dalam hal derasnya air susu dan kualitasnya, dan semua itu dipertimbangkan.

مستقصىً في موضعه وسيأتي قواعد في الاستئجار على الإرضاع في كتاب الرضاع مشتملة على ما ذكرناه

Pembahasan yang mendalam tentang hal ini terdapat pada tempatnya, dan akan dijelaskan kaidah-kaidah mengenai upah menyusui dalam Kitab Radha‘, yang mencakup apa yang telah kami sebutkan.

ويتصل بالمسألة الكلامُ في بدل الخلع إن أفسدناه أو صححناه ويتصل الكلام بالتبعيض إذا جرى الاستيفاء في البعض وعَسُر استيفاء الباقي فهذه الأصول إذا كانت على ذُكر الإنسان لم يخف عليه تفريع المسألة

Terkait dengan masalah ini adalah pembahasan tentang pengganti khulu‘, apakah kita menganggapnya rusak atau sah, dan juga berkaitan dengan pembahasan tentang pemisahan apabila pelunasan hanya dilakukan sebagian dan sulit untuk melunasi sisanya. Maka, jika pokok-pokok ini selalu diingat oleh seseorang, ia tidak akan kesulitan dalam merinci permasalahan.

وصورة مسألة الكتاب أن يخالع الرجل امرأته على أن ترضعَ ولده وتكفله عشر سنين ويذكر الإرضاعَ والحضانةَ وقد نقول الإرضاع يكفي فإنه يستتبع الحضانة ويذكرَ أجناس الأطعمة في كل يوم قدراً وصنفاً ويتعرضَ للكسوة إن كانت مقصودة في المعاملة ويعتني بالإبانة فيها فإنها تختلف بالصغر والكبر والصبي إلى النمو ما هو

Gambaran masalah dalam kitab ini adalah seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan syarat istrinya menyusui anaknya dan mengasuhnya selama sepuluh tahun, serta menyebutkan secara jelas tentang penyusuan dan hadhanah. Kadang kami mengatakan bahwa penyusuan saja sudah cukup karena itu sudah mencakup hadhanah. Ia juga menyebutkan jenis-jenis makanan setiap hari, baik dari segi jumlah maupun jenisnya, serta membahas tentang pakaian jika memang dimaksudkan dalam akad tersebut, dan hendaknya memperjelas hal itu karena kebutuhan pakaian berbeda-beda tergantung usia, besar kecilnya anak, dan pertumbuhan anak tersebut.

هذه صورة المسألة والشافعي نص على تصحيح المعاملة تفريعاً على تصحيح الصفقة إذا اشتملت على عقود مختلفة إذ في المعاملة إجارةٌ واستحقاقُ عينٍ وأجناسٌ موصوفة إلى أجل واحدٍ في كل يوم وجنسٌ إلى آجال ولا حاجة إلى الإطناب ثم إن كان الطعام كِفافاً فلا كلام وإن كان المقدّر فاضلاً عن الكفاية فهو للزوج وإن كان الصبي رغيباً لا يكفيه المقدّر فالمزيد على الأب إن لم يكن الطفل غنياً

Inilah gambaran masalahnya, dan Imam Syafi‘i telah menegaskan keabsahan transaksi ini sebagai cabang dari keabsahan akad jika mencakup beberapa kontrak yang berbeda, karena dalam transaksi ini terdapat unsur ijarah, hak atas suatu benda, jenis-jenis barang yang ditentukan sampai waktu tertentu setiap hari, dan satu jenis barang sampai beberapa waktu tertentu, sehingga tidak perlu penjelasan panjang lebar. Kemudian, jika makanan itu sekadar mencukupi kebutuhan pokok, maka tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Namun, jika jumlah yang ditentukan melebihi kebutuhan pokok, maka kelebihannya menjadi milik suami. Jika anak itu sangat membutuhkan sehingga jumlah yang ditentukan tidak mencukupinya, maka kelebihan kebutuhan tersebut menjadi tanggungan ayah, kecuali jika anak itu kaya.

وإن ماتت المرأة وراء مدة الإرضاع فلم يبق عليها عمل فالأعواض المؤجلة عليها تحل بموتها وإن كان عليها عمل فالإجارة تنفسخ في بقية المدة ولا تنفسخ فيما مضى على الأصح فإن المقبوض التالف لا يقبل الفسخ على الظاهر وإن حكمنا بالانفساخ في المستقبل فلا تنفسخ المعاملة في الأعيان على الأصح وإن اتحدت الصفقة لاختلاف الصنف والحكم والمقصود

Jika seorang wanita meninggal setelah masa menyusui dan tidak ada lagi kewajiban yang harus ia lakukan, maka kompensasi yang masih tertunda menjadi jatuh tempo karena kematiannya. Namun, jika masih ada kewajiban yang harus ia lakukan, maka akad ijarah batal untuk sisa waktu yang belum dijalani, tetapi tidak batal untuk masa yang telah berlalu menurut pendapat yang lebih sahih, karena barang yang telah diterima dan telah rusak tidak dapat dibatalkan menurut pendapat yang tampak. Jika kita memutuskan batalnya akad untuk masa yang akan datang, maka akad tidak batal atas barang-barang tertentu menurut pendapat yang lebih sahih, meskipun akadnya satu, karena perbedaan jenis, hukum, dan tujuan.

ثم يتفرع وراء ذلك الكلامُ في أن بعض العوض إذا انفسخت المعاملة فيه فالرجوع إلى قيمته أو إلى قسط من مهر المثل كل ذلك بيّنٌ لا حاجة إلى الإطناب بذكره

Kemudian, setelah itu, pembahasan berlanjut pada persoalan apakah jika sebagian imbalan batal dalam suatu transaksi, maka pengembaliannya berdasarkan nilainya atau berdasarkan bagian dari mahar mitsil; semua itu sudah jelas dan tidak perlu diperpanjang dengan penjelasan lebih lanjut.

ومن لا يستفيد الاستقلالَ بتفريع مثل ذلك إذا انتهى إلى هذا المنتهى فليس من أهل النظر في هذا المجموع

Dan barang siapa yang tidak memperoleh kemampuan mandiri dalam merumuskan cabang-cabang hukum seperti itu ketika telah mencapai tingkatan ini, maka ia bukan termasuk golongan ahli nazar dalam himpunan ini.

وما ذكرناه مرامزُ مفرّعةٌ على تصحيح المعاملة فإن أفسدت ففي المسألة طريقان أحدهما أن المسألة تخرّج على قولين في أن الرجوع إلى مهر المثل أو إلى أبدال هذه الأشياء مِثلاً أو قيمةً ومن أصحابنا من قال الرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً فإن الفساد راجعٌ إلى صيغة المعاملة ولو كنا نجوّز الرجوع إلى الأبدال المختلفة لأثبتنا المبدلات المختلفة وهذا سيأتي مشروحاً في الفصل الذي نجمع فيه تفصيلَ القول في فساد بدل الخلع إن شاء الله عز وجل

Apa yang telah kami sebutkan adalah cabang-cabang yang dibangun di atas pengesahan akad. Jika akad tersebut rusak, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya, masalah ini dikembalikan kepada dua pendapat, yaitu apakah kembali kepada mahar mitsil atau kepada pengganti dari benda-benda ini, baik berupa barang sejenis maupun berupa nilai. Sebagian ulama kami berpendapat bahwa kembali kepada mahar mitsil adalah satu pendapat saja, karena kerusakan itu kembali kepada lafaz akad. Seandainya kami membolehkan kembali kepada pengganti-pengganti yang berbeda, tentu kami akan menetapkan pengganti-pengganti yang bermacam-macam. Hal ini akan dijelaskan secara rinci pada bab yang mengumpulkan rincian pendapat tentang rusaknya pengganti khulu‘, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فصل قال ولو قال أمرك بيدك فطلقي نفسك إن ضمنتِ لي ألف درهم إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Urusanmu ada di tanganmu, maka ceraikanlah dirimu sendiri jika engkau menjamin seribu dirham untukku,” dan seterusnya.

وإذا قال الرجل لامرأته طلقي نفسك فهذا توكيل منه إياها أو تمليك في المسألة قولان أحدهما أنه توكيل فعلى هذا إن طلقت نفسها على الفور جاز وإن طلقت نفسها بعد زمان وبعد مفارقة المكان الذي جرى التفويض فيه جاز وكانت بمثابة الأجنبي يقول له الزوج طلق زوجتي فإن ذلك تفويض لا يستدعي استعقاب تنفيذ الطلاق

Apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” maka hal ini merupakan bentuk pemberian kuasa atau pemberian hak kepadanya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa hal itu merupakan pemberian kuasa. Berdasarkan pendapat ini, jika istri menceraikan dirinya sendiri secara langsung, maka sah; dan jika ia menceraikan dirinya sendiri setelah beberapa waktu atau setelah berpindah dari tempat di mana pendelegasian itu terjadi, maka tetap sah. Ia dianggap seperti orang lain (bukan mahram) yang diberi kuasa oleh suami untuk menceraikan istrinya, karena pendelegasian tersebut tidak mengharuskan pelaksanaan talak secara langsung setelah pendelegasian.

والقول الثاني أن التفويض إلى المرأة تمليك وليس بتوكيل فإن البضع يرجع إليها بتطليقها نفسها تصير مالكةً لنفسها وسيأتي القولان بتوجيههما وتفريعهما في كتاب الطلاق إن شاء الله تعالى

Pendapat kedua menyatakan bahwa penyerahan (hak talak) kepada perempuan adalah bentuk pemilikan, bukan perwakilan (wakalah), karena hak atas tubuhnya kembali kepadanya dengan cara ia menceraikan dirinya sendiri, sehingga ia menjadi pemilik atas dirinya. Kedua pendapat ini beserta penjelasan dan rincian cabangnya akan dijelaskan dalam Kitab Talak, insya Allah Ta‘ala.

وقدر غرضنا منهما الآن أنا إن جعلنا ذلك تمليكاً اقتضى ذلك استعقابَ تطليق نفسها فإن التمليك يجري مجرى المعاقدة على ما سيأتي ذكره مشروحاً إن شاء الله تعالى

Tujuan kita dari keduanya saat ini adalah bahwa jika kita menjadikannya sebagai tamlik, maka hal itu mengharuskan adanya konsekuensi talak atas dirinya sendiri, karena tamlik berjalan seperti akad, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala.

ثم إذا قال الرجل لامرأته أنت طالق إن ضمنت لي ألفاًً فإذا ضمنتْ طُلّقت

Kemudian, jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menjamin seribu untukku,” maka apabila ia menjaminnya, ia pun tertalak.

وإذا قال لها طلّقي نفسك إن ضمنت لي ألفاًً فإنها تملك تطليق نفسها بشرط أن تضمن ألفاًً فإذا ضمنت وطَلَّقَتْ فقد تعاطت الشرطَ والمشروطَ وكل ذلك مسوّغ في اتساع باب تعليق الطلاق بإعطاء المال واتساع صدره لقبوله فلم يَخْفَ بعده اتباع التعليق فإن قيل هي المتسببة إلى السبب الملزم للمال وهي الملتزمة قلنا الالتزام بالضمان في التطليق يقع بإيقاع الزوج أو بإيقاع من يفوِّض إليه الزوج

Jika ia berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri jika kamu menjamin seribu (dirham),” maka ia berhak menceraikan dirinya sendiri dengan syarat ia menjamin seribu tersebut. Jika ia telah menjamin dan menceraikan dirinya, berarti ia telah melakukan syarat dan hal yang disyaratkan, dan semua itu dibenarkan karena luasnya cakupan bab penangguhan talak dengan pemberian harta dan kelapangan penerimaannya. Maka, setelah itu tidak samar lagi mengikuti penangguhan tersebut. Jika dikatakan, “Dialah yang menyebabkan terjadinya sebab yang mewajibkan harta dan dialah yang berkomitmen,” kami katakan, komitmen dengan penjaminan dalam talak terjadi dengan pelaksanaan dari suami atau dari orang yang didelegasikan oleh suami kepadanya.

ثم لو قال لها طلقي نفسك إن ضمنت لي ألفاًً ورأينا أن تفويض الطلاق بمجرده يقتضي استعجالَ التطليق فإذا ضمّ إلى تفويض الطلاق شرط ضمان المال تأكد اشتراط الابتدار

Kemudian, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri jika kamu menjamin untukku seribu (dirham),” dan kita melihat bahwa pendelegasian talak itu sendiri menuntut percepatan pelaksanaan talak, maka apabila pendelegasian talak itu disertai dengan syarat jaminan harta, semakin kuatlah penegasan syarat untuk segera melaksanakan talak.

وإن قلنا مجرد التفويض لا يوجب الابتدار فإذا قال لها طلقي نفسك إن ضمنت لي ألفاًً فالأصح أن هذه الصورة تقتضي الابتدار في الضمان والتطليق فإنه لو قال لها إن ضمنت لي ألفاًً اقتضى ذلك بداراً فليكن الأمر كذلك والطلاق مفوض

Jika kita mengatakan bahwa sekadar pendelegasian (tafwīḍ) tidak mewajibkan untuk segera bertindak, maka apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu jika engkau menjamin seribu dirham untukku,” maka pendapat yang lebih sahih adalah bahwa dalam kasus ini, hal tersebut menuntut untuk segera melakukan penjaminan dan perceraian. Sebab, jika ia berkata kepadanya, “Jika engkau menjamin seribu dirham untukku,” maka hal itu menuntut untuk segera dilakukan, maka hendaknya perkara ini pun demikian, dan urusan talak telah didelegasikan.

ومن أصحابنا من قال إذا جعلنا التفويض توكيلاً وهو على التراخي ثم ما فيه من اقتضاء التراخي يستتبع أمر المال في معنى التأخير فمهما ضمنت ملكت أن تطلق نفسها بحكم التوكيل وهو كما لو قال الرجل لأجنبي طلق امرأتي إن ضمنت لي ألف درهم فهذا محمول على التأخير إذ قد يجري مثل هذا في غيبتها

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jika kami menganggap tafwīḍ (pendelegasian hak talak) sebagai bentuk wakalah (perwakilan), maka hal itu bersifat boleh ditunda, dan apa yang terkandung di dalamnya berupa kemungkinan penundaan akan berimplikasi pada urusan harta dalam makna penundaan pula. Maka kapan pun ia menanggung (membayar) harta tersebut, ia berhak menceraikan dirinya sendiri berdasarkan hukum wakalah. Hal ini seperti jika seorang laki-laki berkata kepada orang lain, “Ceraikanlah istriku jika engkau menanggung untukku seribu dirham,” maka ini dianggap sebagai penundaan, karena hal semacam ini bisa saja terjadi saat istrinya sedang tidak hadir.

والآن يتعلق هذا الكلام بأطراف التوكيل في الخلع وسيأتي مستقصىً في موضعه إن شاء الله عز وجل

Sekarang, pembahasan ini berkaitan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam perwakilan (tawkil) dalam khulu‘, dan penjelasan lengkapnya akan dibahas pada tempatnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم إذا قلنا تطليقها وضمانها على الفور فإليها التقديم والتأخير وليكن الأمران جميعاً على التواصل فتقول طلقت نفسي وضمنت ألفاًً أو ضمنت ألفاًً وطلقت نفسي ولا حرج فيما تُقدِّم أو تؤخر

Kemudian, jika kita mengatakan bahwa talak dan penjaminannya harus dilakukan segera, maka ia berhak mendahulukan atau mengakhirkan, dan hendaknya kedua perkara itu dilakukan secara berkesinambungan. Maka ia dapat berkata, “Aku menalak diriku dan menjamin seribu,” atau “Aku menjamin seribu dan menalak diriku,” dan tidak mengapa apa yang ia dahulukan atau ia akhirkan.

فإن قيل إذا قالت طلقت نفسي تحكمون بوقوع الطلاق قلنا لا يقع الطلاق حتى تضمن ولا نقول إذا ضمنت تبيّنّا وقوعَ الطلاق قبل الضمان فتطليقها نفسها مع الضمان كتطليق الزوج إياها على شرط الضمان ولا يتخيل الفقيه غير ذلك

Jika dikatakan, “Jika ia berkata, ‘Aku telah menceraikan diriku sendiri,’ kalian memutuskan jatuhnya talak,” maka kami katakan, “Talak tidak jatuh sampai ada penjaminan.” Dan kami tidak mengatakan, “Jika sudah ada penjaminan, maka kami pastikan bahwa talak telah jatuh sebelum penjaminan.” Maka penceraian dirinya sendiri dengan adanya penjaminan itu seperti penceraian suami terhadapnya dengan syarat penjaminan, dan seorang faqih tidak membayangkan selain itu.

ولو قالت ضمنت الألف وطلقت نفسي فلا نحكم بأن الضمان يُلزمها مالاً قبل أن تطلّق بل يقع الاثنان معاً

Jika seorang wanita berkata, “Aku menanggung seribu dan aku menceraikan diriku sendiri,” maka kita tidak memutuskan bahwa penjaminan itu mewajibkan dia membayar harta sebelum dia menceraikan dirinya, melainkan keduanya terjadi bersamaan.

ومما يتعلق بذلك أنا إذا قلنا التفويض إليها توكيلٌ ولم نحكم بأن ذكر المال يقتضي فوراً فلو أخرت تفريعاً على هذا الوجه فطلقت نفسها ثم ضمنت المال بعد زمان متخلل بين التطليق والضمان فلا ينفذ الطلاق فإنا وإن أخرنا تطليقها فلا فصل بين الطلاق والضمان فإنه لا يثبت واحد منهما دون الثاني وكذلك لو قال طلقي نفسك متى ضمنت فقوله متى يؤخر عن تفويضه لا عن تطليقها

Terkait dengan hal itu, apabila kita mengatakan bahwa penyerahan urusan tersebut kepadanya adalah bentuk tawkil (pemberian kuasa) dan kita tidak menetapkan bahwa penyebutan harta mengharuskan pelaksanaan segera, maka jika ia menunda pelaksanaan berdasarkan pemahaman ini, lalu ia menalak dirinya sendiri kemudian menjamin harta tersebut setelah ada jeda waktu antara talak dan penjaminan, maka talak tersebut tidak sah. Sebab, meskipun kita menunda pelaksanaan talaknya, tidak boleh ada pemisahan antara talak dan penjaminan, karena tidak sah salah satunya tanpa yang lain. Demikian pula, jika ia berkata, “Talakkanlah dirimu sendiri kapan pun engkau menjamin (harta),” maka ucapannya “kapan pun” menunda pelimpahan kuasa, bukan pelaksanaan talaknya.

فصل قال ولو قال إن أعطيتني عبداً فأنت طالق إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika engkau memberiku seorang budak, maka engkau tertalak,” dan seterusnya.

مضمون الفصل الكلام فيه إذا ربط الكلامَ بعوض مطلقٍ أو معين والقولُ في ذلك مضطربٌ في الطرق ونحن نرى أن نجمع العوض في نوعين ونأتي في كل واحد منهما بالمسائل اللائقة مرسلةً ونذكر في كل مسألة ما بلغنا من قول الأئمة حتى إذا استوعبنا مضمون كل نوعٍ بالمسائل انعطفنا بعدها على ذكر جامعٍ ضابطٍ إن شاء الله عز وجل ثم نختتم الفصلَ بعثراتٍ وقعت لا نعدُّها من المذهب ولا نرى تَرْك نقلها

Isi bab ini membahas apabila suatu ucapan dikaitkan dengan imbalan, baik yang bersifat mutlak maupun tertentu. Pendapat mengenai hal ini beragam dalam berbagai riwayat. Kami berpendapat untuk mengelompokkan imbalan ke dalam dua jenis, lalu membawakan permasalahan yang sesuai pada masing-masing jenis secara terpisah, serta menyebutkan dalam setiap permasalahan apa yang kami ketahui dari pendapat para imam. Setelah kami membahas seluruh isi setiap jenis dengan permasalahannya, kami akan kembali menyebutkan suatu ringkasan yang bersifat kaidah, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian kami akan menutup bab ini dengan beberapa kekeliruan yang terjadi, yang tidak kami anggap sebagai bagian dari mazhab, namun kami juga tidak mengabaikan untuk meriwayatkannya.

فأحدُ النوعين فيه إذا علّق الزوج الطلاق على عوض يحصل بفعلٍ مثل أن يقول إن أعطيتني

Salah satu dari dua jenis itu adalah apabila suami menggantungkan talak pada suatu kompensasi yang terjadi dengan suatu perbuatan, seperti ketika ia berkata: “Jika kamu memberiku…”

والثاني فيه إذا جرى العوض على صيغةِ المخالعةِ والمعاوضة من غير تعليق من الزوج وهذا النوع يستدعي قبولاً لا محالة كما بان فيما تقدم وسيزداد وضوحاً

Yang kedua adalah apabila imbalan diberikan dengan lafaz khul‘ dan mu‘awadhah tanpa adanya ta‘liq (penggantungan) dari suami. Jenis ini pasti memerlukan adanya kabul, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dan akan semakin jelas.

فأما مسائل التعليق فإذا قال لامرأته إن أعطيتني عبداً فأنت طالق فإذا جاءت بعبدٍ يتصوّر إجراء التمليك فيه من جهتها نحكم بوقوع الطلاق لوجود الصفة ولا فرق بين أن يكون ذلك العبد معيباً أو سليماً فإن التعويل في الحكم بوقوع الطلاق على تحقيق الاسم وإمكان الإعطاء وهذا ناشىء من الأصل الذي تمهد قبلُ في أن الرجل إذا قال لها إن أعطيتني ألف درهم فأنت طالق فإذا أعطته طُلِّقت وقد تملّك الزوج عينَ ما تأتي به إذا كان الألف معلوماً على ما تقدم تفصيله وإيضاحه

Adapun mengenai masalah talak yang digantungkan, jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seorang budak, maka kamu tertalak,” lalu istrinya datang membawa seorang budak yang memungkinkan terjadinya pemilikan dari pihaknya, maka kami menetapkan jatuhnya talak karena syaratnya telah terpenuhi. Tidak ada perbedaan apakah budak itu cacat atau sehat, karena yang menjadi dasar dalam penetapan jatuhnya talak adalah terpenuhinya nama (budak) dan kemungkinan pemberian. Hal ini berasal dari kaidah yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu jika seorang suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seribu dirham, maka kamu tertalak,” lalu istrinya memberikannya, maka talak jatuh, dan suami memiliki barang yang diberikan istrinya jika seribu dirham itu diketahui jumlahnya, sebagaimana telah dijelaskan dan dirinci sebelumnya.

وقد يقتضي الحال ردَّ ما جاءت به ومطالبتَها بألفٍ غيرِها على ما تفصّل فإذا جرى التعليق على العبد المطلق فهذا مجهولٌ لا محالة والمجهول لا يُستحق عوضاً فيقع الطلاق إذاً والعبد مردودٌ عليها ثم الرجوع إلى مهر المثل في هذه الصورة قولاً واحداً فإنا إذا لم نثبت الشيء عوضاً لكونه مجهولاً فلا طريق إلا الرجوع إلى مهر المثل

Terkadang keadaan menuntut untuk menolak apa yang telah dibawakan olehnya dan menuntutnya untuk memberikan sesuatu yang lain secara terperinci. Jika talak digantungkan pada budak secara mutlak, maka ini jelas merupakan sesuatu yang tidak diketahui, dan sesuatu yang tidak diketahui tidak dapat dijadikan sebagai pengganti. Maka talak pun terjadi, budak tersebut dikembalikan kepadanya, kemudian kembali kepada mahar mitsil dalam kasus ini menurut satu pendapat. Sebab, jika kita tidak menetapkan sesuatu sebagai pengganti karena tidak diketahui, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada mahar mitsil.

هذا إذا أتت بعبدٍ هي مالكته ويتصور منها إجراء التمليك فيه فإن غصبت عبداً وجاءت به فقد ذكر الأئمة وجهين في وقوع الطلاق أحدهما وهو الذي مال إليه المحققون وقطع به معظمهم منهم القاضي أن الطلاق لا يقع فإن الإعطاء متضمنه التمليك فينبغي أن تأتي بما يتصور منها التمليك فيه حتى إن فرض عدم جريان الملك فيه فلا يكون من جهتها وإنما يأتي تعذُّر جريان الملك من جهةٍ أخرى فتُسمَّى مُعْطية من حيث بذلت الوسع والإمكان الصادر منها فعند ذلك تسمى مُعطية والذي يُحقِّق هذا أن الرجل قد يقول أعطيت فلاناً شيئاً فلم يقبله فإذا أتى بمغصوبٍ وقال قد أعطيت فلاناً فلم يقبل كان كلامه مضطرباً ورُدّ عليه وكيف أعطيتَه ولم يكن لك

Ini jika ia datang dengan seorang budak yang ia miliki dan memungkinkan baginya untuk melakukan proses pemilikan atasnya. Namun, jika ia merampas seorang budak dan membawanya, para imam menyebutkan dua pendapat mengenai jatuhnya talak. Pendapat pertama, yang lebih condong kepadanya para ahli dan dipastikan oleh sebagian besar dari mereka, termasuk al-Qadhi, adalah bahwa talak tidak jatuh. Sebab, pemberian itu mengandung makna pemilikan, sehingga seharusnya ia datang dengan sesuatu yang memungkinkan baginya untuk melakukan pemilikan atasnya. Bahkan jika diasumsikan tidak terjadi kepemilikan atasnya, maka itu bukan berasal dari pihaknya, melainkan karena ada halangan dari pihak lain, sehingga ia tetap disebut sebagai pemberi (mu‘ṭiyah) dari sisi ia telah berusaha dan melakukan apa yang mampu ia lakukan. Maka pada saat itu ia disebut sebagai pemberi (mu‘ṭiyah). Yang menegaskan hal ini adalah bahwa seseorang bisa saja berkata, “Aku telah memberikan sesuatu kepada si Fulan, namun ia tidak menerimanya.” Jika ia datang dengan barang rampasan dan berkata, “Aku telah memberikannya kepada si Fulan, namun ia tidak menerimanya,” maka ucapannya menjadi rancu dan tertolak. Bagaimana mungkin engkau memberikannya padahal itu bukan milikmu?

فهذا بيان هذا الوجه

Berikut adalah penjelasan dari sisi ini.

والوجه الثاني أن الطلاق يقع فإنها لو أتت بعبدٍ مملوك لها وصيغة التعليق ما وصفناه وهو قوله إن أعطيتِني عبداً فالزوج لا يملك عبدها المملوك لها فإذا كان هذا لا يُفضي إلى جريان الملك فيما تأتي به فلا معنى لاشتراط كونه مملوكاً لها بل يكفي أن يكون عبداً يُتصور فيه على الجملة إجراء الملك حتى لو أتت بحُرٍّ لم نقضِ بوقوع الطلاق من جهة أنها لم تأت بعبدٍ

Pendapat kedua adalah bahwa talak jatuh, karena jika istri membawa seorang budak miliknya sendiri, dan redaksi ta‘liq-nya seperti yang telah kami sebutkan, yaitu ucapan suami: “Jika engkau memberiku seorang budak…”, maka suami tidak memiliki hak atas budak yang dimiliki istrinya. Jika hal ini tidak menyebabkan terjadinya kepemilikan atas apa yang dibawa istri, maka tidak ada makna untuk mensyaratkan bahwa budak itu harus milik istri; cukup bahwa yang dibawa adalah seorang budak yang secara umum memungkinkan untuk dijadikan objek kepemilikan. Maka, jika istri membawa seorang yang merdeka, kami tidak memutuskan jatuhnya talak karena ia tidak membawa seorang budak.

والذي أراه من متن المذهب الوجهُ الأول ولا ينبغي أن يغتر الناظر بما ذكرناه في الوجه الثاني فإن اللائق بعقد الخلع ذلك الوجه

Menurut pendapat saya dari matan mazhab, pendapat yang pertama adalah yang benar, dan tidak sepantasnya orang yang menelaah terpedaya dengan apa yang telah kami sebutkan pada pendapat kedua, karena yang sesuai dengan akad khulu‘ adalah pendapat yang pertama itu.

ثم فرع القاضي على ذلك الوجه فقال إن قال إن أعطيتني زقَّ خمر فأنت طالق فجاءت بخمرة محترمة مستحَقَّة لغيرها فهل يقع الطلاق ذكر فيه تردداً فشبه الخمر في وجهٍ بالعبد المغصوب وقطعها عن العبد في وجهٍ من حيث لا يتصور في جنسها جريان الملك وقال في توجيه المسلك الأول الاختصاص في الخمر ليس في حكم الإطلاق إلى إمكان الإعطاء والبذل وإن كان ذلك الجنس لا يقبل نقل الملك فهذا منتهى تصرف الأئمة فيه

Kemudian, qadi memberikan rincian berdasarkan pendapat tersebut dengan mengatakan: Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku satu kantong khamar, maka kamu tertalak,” lalu istrinya datang membawa khamar yang terhormat namun hak miliknya adalah milik orang lain, apakah talak terjadi? Dalam hal ini disebutkan adanya keraguan. Dalam satu pendapat, khamar disamakan dengan budak yang digasak, dan dalam pendapat lain khamar dipisahkan dari budak karena dalam jenis khamar tidak mungkin terjadi kepemilikan. Dalam penjelasan pendapat pertama, dikatakan bahwa hak khusus atas khamar tidak berarti secara mutlak dapat diberikan dan diserahkan, meskipun jenis tersebut tidak menerima perpindahan kepemilikan. Inilah batas maksimal ijtihad para imam dalam masalah ini.

وإذا عين الزوج عبداً وعلق الطلاق بإعطائها وقال إن أعطيتِني هذا العبد فأنت طالق فإن كان العبد ملكَها وأعطته إياه وقع الطلاق وملك الزوج العبد فإن التعيين أعلمه

Jika suami telah menentukan seorang budak dan menggantungkan talak dengan memberikannya, lalu berkata, “Jika engkau memberiku budak ini, maka engkau tertalak,” maka jika budak itu adalah milik istri dan ia memberikannya kepada suami, jatuhlah talak dan suami pun menjadi pemilik budak tersebut, karena penentuan itu telah memperjelasnya.

ولو خرج ذلك العبد مستحقاً فقد خرّج العراقيون وجهين في وقوع الطلاق أحدهما أن الطلاق لا يقع وهو اختيار ابن أبي هريرة لأنه علق الطلاق بإعطاء ذلك العبدِ المعيّنِ والإعطاء تمليك فإذا كنا لا نوقع الطلاق والعبد المذكور في الإعطاء مطلق إذا جاءت به مغصوباً وإن كان العبد المطلق لا يتصور أن يملّك على هذه الجهة فإذا اتجه اشتراط إمكان الإعطاءِ والتمليكِ ثَمَّ فاتجاه ذلك في العبد المعيّنِ أولى مع العلم بأنه لو كان مملوكاً لها وأتت به لملكه الزوج

Jika budak tersebut ternyata adalah budak yang berhak (bukan milik istri), para ulama Irak mengemukakan dua pendapat mengenai jatuhnya talak. Salah satunya adalah talak tidak jatuh, dan ini adalah pilihan Ibn Abi Hurairah, karena talak digantungkan pada pemberian budak tertentu itu, dan pemberian berarti pemilikan. Maka, jika kita tidak menjatuhkan talak ketika budak yang disebutkan dalam pemberian itu bersifat umum, jika istri membawanya dalam keadaan digasak (bukan miliknya), padahal budak yang bersifat umum tidak mungkin dimiliki dengan cara seperti itu, maka jika disyaratkan adanya kemungkinan pemberian dan pemilikan, maka mensyaratkannya pada budak tertentu lebih utama. Apalagi diketahui bahwa jika budak itu memang milik istri dan ia membawanya, maka budak itu menjadi milik suami.

وهذا متجه حسن

Ini adalah pendapat yang baik dan layak diterima.

والوجه الثاني أن الطلاق يقع وهو الذي قطع به القاضي لأن الإعطاء جرى ظاهراً والفرقة لا تُرد ثم ذكر القاضي أن الفرقة بينونة مع ردّ العبد والأمر على ما قال فإنها إن وقعت فلا سبيل إلى تقديرها إلا بمال والفرقة الواقعة بالمال بينونة

Pendapat kedua adalah bahwa talak terjadi, dan inilah yang diputuskan oleh qadhi, karena pemberian telah terjadi secara lahiriah dan perpisahan tidak dapat dibatalkan. Kemudian qadhi menyebutkan bahwa perpisahan tersebut adalah bainunah dengan pengembalian budak, dan perkara ini sesuai dengan apa yang dikatakannya, yaitu jika perpisahan itu terjadi, maka tidak ada cara untuk menilainya kecuali dengan harta, dan perpisahan yang terjadi dengan harta adalah bainunah.

ثم الرجوع إلى قيمة العبد المعيّن أو إلى مهر المثل فعلى قولين معروفين في بدل الخلع والصداق

Kemudian kembali kepada nilai budak yang ditentukan atau kepada mahar mitsil, maka terdapat dua pendapat yang dikenal dalam hal pengganti khulu‘ dan mahar.

وإن قال الزوج إن أعطيتني هذا العبدَ المغصوب فأنت طالق هذا يفرّع على ما إذا لم يذكر المغصوب واقتصر على إعطاء العبد المعيّن فإن قلنا يقع الطلاق في الصورة الأولى فلأن يقع في هذه الصورة أولى فإنه إذا ذكر المغصوب أشعر بقناعته بإقباضها إياه هذا العبد وإن لم يكن ملكاً لها فيصير الإعطاء مع ذكر المغصوب دالاً على أنه ليس يبغي التمليك

Jika suami berkata, “Jika kamu memberiku budak yang digasap ini, maka kamu tertalak,” maka hal ini bercabang dari kasus ketika ia tidak menyebutkan (kata) “yang digasap” dan hanya terbatas pada pemberian budak tertentu. Jika kita berpendapat bahwa talak jatuh pada kasus pertama, maka lebih utama lagi talak jatuh pada kasus ini. Sebab, jika ia menyebutkan “yang digasap”, itu menunjukkan kerelaannya untuk menerima budak tersebut darinya meskipun bukan miliknya. Maka, pemberian dengan menyebutkan “yang digasap” menunjukkan bahwa ia tidak menginginkan kepemilikan.

وإن قلنا في الصورة الأولى إن الطلاق لا يقع ففي هذه الصورة وجهان أحدهما أنه لا يقع فإن الإعطاء في المغصوب غيرُ ممكن فإذا ذكر الإعطاء وأضافه إلى المغصوب فقد علّق الطلاق بمستحيل فكان كما لو قال لامرأته إن بعت الخمر فأنت طالق أو قال إن صليتِ محدِثةً فأنت طالق فإذا أتت بصورة البيع في الخمر وبصورة الصلاة مع الحدث لم يقع الطلاق على مذهب الشافعي

Dan jika kita katakan pada gambaran pertama bahwa talak tidak jatuh, maka pada gambaran ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah talak tidak jatuh, karena pemberian pada barang yang digasak tidak mungkin dilakukan. Maka jika ia menyebutkan pemberian dan mengaitkannya dengan barang yang digasak, berarti ia telah menggantungkan talak pada sesuatu yang mustahil. Hal ini seperti jika ia berkata kepada istrinya, “Jika kamu menjual khamar, maka kamu tertalak,” atau ia berkata, “Jika kamu shalat dalam keadaan hadas, maka kamu tertalak.” Maka jika istrinya melakukan bentuk jual beli pada khamar atau melakukan bentuk shalat dalam keadaan hadas, talak tidak jatuh menurut mazhab Syafi‘i.

والمزنيُّ يخالف في هذا

Dan al-Muzani berbeda pendapat dalam hal ini.

ونحن لا نجد بداً من رمزٍ إلى المذاهب في ذلك

Kami tidak dapat menghindar untuk memberikan isyarat kepada mazhab-mazhab dalam hal ini.

فإذا عقد الرجل يمينه على البيع المطلق لم يحنث بالبيع الفاسد هذا ظاهر المذهب وللشافعي نصٌّ في النكاح دالٌّ على أن الفاسد يدخل تحت الاسم المطلق الواقع على الجنس فإنه قال لو أذن لعبده في النكاح فنكح نكاحاً فاسداً وأصاب فالمهر يتعلق بكسبه ولا يُتصوّر أن يتعلق بكسب العبد إلا دينٌ رتب على إذن السيد وهذا وإن لم يكن منه بدٌّ فهو ضعيف

Jika seseorang bersumpah untuk tidak melakukan jual beli secara mutlak, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika melakukan jual beli yang fasid (rusak/batal); ini adalah pendapat yang jelas dalam mazhab. Adapun Imam Syafi‘i memiliki pendapat dalam masalah nikah yang menunjukkan bahwa akad yang fasid termasuk dalam istilah mutlak yang berlaku pada jenis tersebut. Beliau berkata: Jika seorang tuan mengizinkan budaknya untuk menikah, lalu budak itu menikah dengan akad yang fasid dan melakukan hubungan, maka mahar menjadi tanggungan hasil kerjanya. Tidak mungkin mahar itu menjadi tanggungan hasil kerja budak kecuali jika itu adalah utang yang ditetapkan berdasarkan izin tuannya. Meskipun hal ini tidak dapat dihindari, namun pendapat ini lemah.

فأما إذا علق اليمين على الامتناع عن بيعٍ فاسد مثل أن يقول والله لا أبيع الخمر فإذا باعها فمذهب المزني أنه يحنث وقد اشتهر من طائفة من الأصحاب موافقتُه والذي ذهب إليه الجمهور ودل عليه النص أنه لا يحنث وهذا فيه إذا أطلق اللفظ فأما إذا قال عنيت بيميني أني لا أقول بعت هذه الخمرة فيحنث إذا قالها وسيأتي تفصيل هذا في الأَيْمان إن شاء الله عز وجل

Adapun jika seseorang menggantungkan sumpahnya pada larangan menjual sesuatu yang fasid, seperti ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menjual khamar,” lalu ia menjualnya, menurut mazhab al-Muzani, ia dianggap melanggar sumpah. Pendapat ini juga diikuti oleh sekelompok ulama dari kalangan sahabatnya. Namun, pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama dan didukung oleh dalil adalah bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah. Hal ini berlaku jika ia mengucapkan lafaz tersebut secara mutlak. Adapun jika ia berkata, “Yang aku maksud dengan sumpahku adalah aku tidak akan mengatakan ‘Aku telah menjual khamar ini’,” maka ia dianggap melanggar sumpah jika ia mengucapkan kalimat itu. Rincian tentang hal ini akan dijelaskan pada pembahasan tentang al-aymān, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإن قلنا لا يقع الطلاق فلا كلام وإن قلنا يقع الطلاق فالذي ذكره القاضي والصيدلاني أن الرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً في هذه الصورة لأنه لما قال إن أعطيتني هذا المغصوب فلفظه فاسد وقد ذكرنا هذا الفن في كتاب الصداق وأوضحنا ما فيه من مستدرك وحكينا عن الأئمة قولين في أن الرجوع إلى القيمة أو إلى مهر المثل

Jika kita mengatakan bahwa talak tidak jatuh, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa talak jatuh, maka menurut pendapat yang disebutkan oleh al-Qadhi dan as-Saidalani, kembali kepada mahar mitsil adalah satu-satunya pendapat dalam kasus ini, karena ketika ia berkata, “Jika kamu memberiku barang yang digasap ini,” maka lafalnya rusak. Kami telah membahas masalah ini dalam Kitab Shadaq dan telah menjelaskan apa saja yang perlu dikoreksi di dalamnya, serta telah meriwayatkan dari para imam dua pendapat mengenai apakah kembali kepada nilai barang atau kepada mahar mitsil.

وذكر القاضي في بعض أجوبته أن الطلاق يقع رجعياً لأنه قَنِع بهذا وطرد هذا فيه إذا قال إن أعطيتني خمراً أو هذه الخمرة فأنت طالق قال من أصحابنا من قال يقع الطلاق رجعياً وهذا متجه في القياس

Qadhi menyebutkan dalam sebagian jawabannya bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i karena ia menerima hal ini dan menerapkannya dalam kasus ketika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku khamar atau khamar ini, maka engkau tertalak.” Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i, dan ini sejalan dengan qiyās.

وهو في نهاية البعد في الحكاية ولا يقبل مثله إلا من مثل القاضي

Ia berada pada tingkat paling jauh dalam hal meriwayatkan, dan yang seperti itu tidak dapat diterima kecuali dari orang seperti seorang qāḍī (hakim).

وإذا قال إن أعطيتني ميتة كان كما إذا قال إن أعطيتني خمراً أجمع الأئمة عليه وهذا لأمكان الانتفاع بالميتة في وقت الضرورة أو بأن تجعل طعمة للكلاب والجوارح أو بأن تعتقد مطلوبة في بعض الملل كالخمر

Dan jika seseorang berkata, “Jika engkau memberiku bangkai,” maka hukumnya sama seperti jika ia berkata, “Jika engkau memberiku khamar.” Para imam sepakat atas hal ini, karena memungkinkan untuk mengambil manfaat dari bangkai pada saat darurat, atau dengan menjadikannya makanan bagi anjing dan burung pemangsa, atau karena dianggap sesuatu yang dicari dalam sebagian agama, seperti halnya khamar.

ولو قال إن أعطيتني هذا الحرَّ فالكلام في وقوع الطلاق كما مضى

Dan jika ia berkata, “Jika engkau memberiku orang merdeka ini,” maka pembahasan tentang terjadinya talak adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

وإذا حكمنا بالوقوع فالأظهر أن الطلاق رجعيٌّ ومن أصحابنا من أثبت البينونة والمالية ثم يعود التردد في أنا نخرّج القولين أو نقطع بالرجوع إلى مهر المثل

Jika kita memutuskan terjadinya talak, maka yang lebih kuat adalah talak tersebut bersifat raj‘i. Namun, sebagian ulama mazhab kami menetapkan bahwa talak itu bain dan berimplikasi pada hak mahar, kemudian muncul kembali keraguan apakah kita mengeluarkan dua pendapat ataukah kita menetapkan secara pasti kembali kepada mahar mitsil.

هذا ما أردناه في أحد النوعين الموعودين وهو ربط الطلاق على صيغة التعليق بإعطاء العوض

Inilah yang kami maksudkan pada salah satu dari dua jenis yang telah dijanjikan, yaitu mengaitkan talak dengan bentuk ta‘liq (penggantungan) dengan pemberian ‘iwad (kompensasi).

فأما الكلام في المخالعة وإجراء الإيجاب والقبول من غير تعليق فإذا قال الزوج خالعتك على عبدٍ فالطلاق يقع بقبولها ولا حاجة إلى الإتيان بالعبد والتقدير خالعتك على التزام العبد ثم إذا قبلت وكانت عبارتها صحيحة وكانت من أهل الالتزام أيضاًًً فيقع الطلاق بقبولها ويلزمها مهر المثل إذا العبد مجهول

Adapun pembahasan tentang khulu‘ dan pelaksanaan ijab qabul tanpa adanya ta‘liq (persyaratan), maka apabila suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas imbalan seorang budak,” maka talak jatuh dengan penerimaan dari istri, dan tidak perlu mendatangkan budak tersebut. Maksudnya adalah, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas kewajiban menyerahkan seorang budak.” Kemudian, jika istri menerima dengan lafaz yang sah dan ia juga termasuk orang yang berhak melakukan iltizam (komitmen), maka talak jatuh dengan penerimaannya dan ia wajib membayar mahar mitsil (mahar sepadan), karena budak tersebut tidak diketahui (majhul).

وإن كانت صحيحة العبارة ولم تكن من أهل الالتزام فالذي وجدت الطرق متفقة عليه أن الطلاق يقع رجعياً بقبولها ولا مال

Jika lafalnya benar namun ia bukan termasuk orang yang berkomitmen (dengan syarat-syarat tertentu), maka yang aku dapati dari berbagai pendapat yang sepakat adalah bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i dengan penerimaannya, dan tidak ada harta (yang wajib diberikan).

والمذهب الذي عليه التعويل أنه لو قال لزوجته الصبية أنت طالق على ألف فقالت قبلت لم يقع الطلاق إذ لا قول لها وهي مسلوبة العبارة ومن أصحابنا من خرج هذا على خلافٍ سيأتي ذكره إن شاء الله عز وجل في أن الرجل إذا قال لزوجته الصبية أنت طالق إن شئت فقالت شئت فهل نحكم بوقوع الطلاق فقال هذا المفرّع إذا حكمنا بوقوع الطلاق بلفظها في المشيئة فنحكم أيضاًًً بوقوع الطلاق بلفظها في قبول العوض وهذا وإن كان له اتجاه فهو بعيد فإن ألفاظ العقود مستلبة على أصل الشافعي من الصبي والصبية ولا يطرد سلب قولها في غير العقود

Mazhab yang dijadikan sandaran adalah bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya yang masih kecil, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham),” lalu si istri berkata, “Aku terima,” maka talak tidak jatuh, karena ia tidak memiliki ucapan yang sah dan ia tidak berhak mengucapkan pernyataan tersebut. Sebagian ulama kami mengaitkan masalah ini dengan perbedaan pendapat yang akan disebutkan kemudian, insyaallah, yaitu apabila seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang masih kecil, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” lalu si istri berkata, “Aku menghendaki,” apakah talak dianggap jatuh? Maka ulama yang membahas cabang ini berkata: Jika kita memutuskan jatuhnya talak dengan ucapan si istri dalam masalah kehendak, maka kita juga memutuskan jatuhnya talak dengan ucapan si istri dalam menerima kompensasi. Namun, meskipun pendapat ini memiliki arah, ia tetap jauh (dari kebenaran), karena menurut pendapat pokok Imam Syafi‘i, lafaz-lafaz akad tidak sah dari anak laki-laki maupun perempuan yang masih kecil, dan tidak berlaku pencabutan ucapan si istri dalam selain akad.

ولو خالع الرجل على معين وجرى القبولُ ممن هو من أهله ثم خرج ذلك المعيّن مستحقاًً فلا خلاف في وقوع الطلاق وليس كما لو علّق الطلاق بإعطائه فخرج مغصوباً فإن التعويل على صيغة المخالعة في وقوع الطلاق على الإيجاب والقبول ثم إن صح المسمى سُلِّم وإن فسد وأمكن إثبات المالية وقعت البينونة وفي المال الذي يثبتُ التفصيل المشهور وإن عسر إثبات المالية بأن تكون المختلعة سفيهة أو رجعية وقلنا لا تخالع الرجعية فالطلاق يقع لصورة الإيجاب والقبول ثم يكون رجعياً

Jika seorang laki-laki melakukan khulu‘ dengan sesuatu yang tertentu dan telah terjadi penerimaan dari pihak yang berhak, kemudian ternyata sesuatu yang tertentu itu adalah milik orang lain, maka tidak ada perbedaan pendapat tentang terjadinya talak. Ini tidak seperti jika talak digantungkan pada pemberian sesuatu, lalu ternyata barang itu adalah barang rampasan; sebab dalam khulu‘, yang menjadi dasar terjadinya talak adalah pada ijab dan kabul. Jika barang yang disebutkan sah, maka diserahkan; jika batal namun masih mungkin ditetapkan sebagai harta, maka jatuh talak bain, dan dalam masalah harta yang ditetapkan terdapat rincian yang masyhur. Jika sulit menetapkan sebagai harta, seperti jika wanita yang melakukan khulu‘ adalah orang yang tidak cakap bertindak hukum (safīhah) atau masih dalam masa iddah raj‘iyyah, dan kita berpendapat bahwa wanita raj‘iyyah tidak boleh melakukan khulu‘, maka talak tetap terjadi karena adanya ijab dan kabul, kemudian talaknya menjadi raj‘i.

هذا وضع الباب في ذلك والأصل مطرد لا اضطراب فيه إلا عن جهة أصلٍ لا نجد بداً عن ذكره مقصوداً ثم إذا ذكرناه ونقلنا ما فيه نبهنا على مخالفته الأصلَ الذي مهدناه في النوع الثاني ثم ننظر فيما ينقدح في المباحثات

Inilah penempatan bab dalam hal tersebut, dan kaidah dasarnya berlaku secara konsisten tanpa ada penyimpangan di dalamnya, kecuali dari satu pokok yang tidak bisa tidak harus kami sebutkan secara khusus. Kemudian, setelah kami sebutkan dan kami sampaikan apa yang ada di dalamnya, kami akan menunjukkan penyelisihannya terhadap kaidah yang telah kami tetapkan dalam jenis kedua, lalu kami akan meneliti apa yang mungkin muncul dalam pembahasan-pembahasan.

ونبتدىء فنقول إذا جاء أبُ الصبية إلى زوجها وقال خالعها بهذا وأشار إلى عبد هو ملك الأب فإذا خالعها الزوج على ذلك العبد صح الخلع واستحق الزوج ذلك العبد ولو جاء أجنبي واختلعها عن زوجها بمالٍ يبذله فالخلع صحيح على ما مضى ذلك في صدر الكتاب

Kita mulai dengan mengatakan: Jika ayah seorang perempuan datang kepada suaminya dan berkata, “Ceraikanlah dia dengan tebusan ini,” sambil menunjuk kepada seorang budak yang merupakan milik ayah, lalu suami menceraikannya dengan tebusan budak tersebut, maka khulu‘ itu sah dan suami berhak atas budak itu. Dan jika seorang asing datang dan menebus perempuan itu dari suaminya dengan harta yang ia berikan, maka khulu‘ itu sah, sebagaimana telah dijelaskan di awal kitab ini.

ولو جاء الأبُ بعبدٍ من مال ابنته واختلعها عن زوجها به وظن الزوج أنه مِلْك الأب فالبينونة تقع والرجوع على الأب بقيمة ذلك العبد المعين أو بمهر المثل فعلى قولين

Jika seorang ayah datang membawa seorang budak dari harta milik putrinya dan menebus putrinya dari suaminya dengan budak tersebut, sementara suami mengira bahwa budak itu milik sang ayah, maka talak bain terjadi, dan hak kembali (penggantian) ditujukan kepada sang ayah sebesar nilai budak tertentu itu atau sebesar mahar mitsil, menurut dua pendapat.

ولو قال الأب هذا عبدها وقد اختلعتها به فقال الزوج خالعتها به فالذي أطلقه الأصحاب أن الطلاق يقع رجعياً أما الوقوع فسببه ثبوت الإيجاب والقبول وأما سقوط المالية فسببه أن الأب أضاف العبد إلى ملكها وفي ذلك قطع طمعه عنه فكانت هذه مخالعة لا مالية فيها ووقوع الطلاق بعد الإيجاب والقبول بمثابة مخالعة المحجورة فإنّ تعذر استحقاق عبد الصبية بمثابة تعذر التزام ذمة المحجورة مالاً

Jika seorang ayah berkata, “Ini adalah budaknya dan aku telah menikahkan dia dengan budak ini,” lalu suami berkata, “Aku telah menceraikannya dengan budak ini,” maka menurut pendapat yang dikemukakan para ulama, talak yang terjadi adalah talak raj‘i. Adapun terjadinya talak itu disebabkan adanya ijab dan kabul, sedangkan hilangnya aspek harta disebabkan ayah telah mengaitkan budak itu pada kepemilikan anak perempuannya, sehingga ia telah memutuskan harapannya terhadap budak tersebut. Maka ini adalah khulu‘ yang tidak mengandung aspek harta di dalamnya. Terjadinya talak setelah ijab dan kabul dalam kasus ini serupa dengan khulu‘ terhadap perempuan yang berada dalam perwalian, karena ketidakmungkinan anak perempuan memiliki budak itu sama dengan ketidakmungkinan perempuan yang berada dalam perwalian menanggung kewajiban harta.

هذا ما ذكره الأصحاب

Inilah yang disebutkan oleh para ulama.

وقالوا لو لم يُضِف العبدَ إلى ملك الزوجة وورد الخلع عليه مطلقاً وكان الزوج عالماً بأنه ملك الزوجة ففي المسألة وجهان أحدهما أن الطلاق يقع رجعياً كما لو أضيف العبد إلى ملكها لفظاً وكان علمه بكون العبد ملكاً لها بمثابة إضافة العبد إلى ملكها

Mereka berkata, jika suami tidak menyandarkan budak itu kepada kepemilikan istri dan khul‘ dijatuhkan atasnya secara mutlak, sementara suami mengetahui bahwa budak itu milik istri, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i, sebagaimana jika budak itu secara lafaz disandarkan kepada kepemilikan istri, dan pengetahuan suami bahwa budak itu milik istri dianggap sama dengan penyandaran budak itu kepada kepemilikan istri.

والوجه الثاني أن الفرقة بينونة ويرجع الزوج على الأب بقيمة العبد أو مهر مثل الزوجة

Pendapat kedua adalah bahwa perceraian tersebut merupakan talak bain, dan suami dapat menuntut ayah istri untuk membayar nilai budak atau mahar mitsil dari istri.

هذا ما نقله الأصحاب وقالوا على معارضته إذا قال الرجل لامرأته خالعتك على هذا العبد المغصوب فقالت اختلعت وقعت الفرقة بائنةً وفيما يرجع به الزوج على زوجته قولان أحدهما أنه يرجع عليها بقيمة العبد المعين

Inilah yang dinukil oleh para ulama mazhab dan mereka berkata tentang permasalahan yang bertentangan ini: Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas budak yang digasap (dirampas) ini,” lalu sang istri berkata, “Aku menerima khulu‘,” maka terjadilah perpisahan secara ba’in. Mengenai apa yang dapat dituntut kembali oleh suami dari istrinya, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa suami dapat menuntut istrinya sebesar nilai budak tertentu tersebut.

والثاني أنه يرجع عليها بمهر مثلها وليس يخفى أن هذه المسألة في ظاهرها تخالف مسألة اختلاع الأب مع إضافة العوض إلى ملك الصبية وذلك أن الإضافة إلى ملكها بمثابة إضافة العبد المغصوب في المسألة الأخرى إلى ملك المغصوب منه واعترف كل من نحا نحو الغوّاصين ولم يرض بالاختصار على الظواهر أن الفرق بين المسألتين عسر فإن الأب من أهل الاختلاع استقلالاً كما أن المرأة تختلع نفسها وفي العبد المضاف إلى ملكها مالية والعصاة يتنافسون على الأموال المغصوبة كما يتنافس أصحاب الخمور في الخمور وإن لم تكن متمولة

Kedua, bahwa ia (suami) berhak menuntut mahar mitsil (mahar sepadan) darinya (istri). Tidak tersembunyi bahwa permasalahan ini secara lahiriah tampak bertentangan dengan masalah khulu‘ yang dilakukan oleh ayah dengan menambahkan kompensasi ke dalam kepemilikan anak perempuan. Sebab, penambahan ke dalam kepemilikannya serupa dengan penambahan budak yang dighasab dalam permasalahan lain ke dalam kepemilikan orang yang dighasab darinya. Setiap orang yang mengikuti pendapat para peneliti mendalam dan tidak puas hanya dengan makna-makna lahiriah mengakui bahwa membedakan antara kedua permasalahan ini adalah sulit. Sebab, ayah termasuk orang yang berhak melakukan khulu‘ secara mandiri, sebagaimana perempuan juga dapat melakukan khulu‘ untuk dirinya sendiri. Dalam kasus budak yang ditambahkan ke dalam kepemilikannya terdapat unsur harta, dan para pelaku maksiat saling berlomba-lomba dalam harta yang dighasab, sebagaimana para pemilik khamr saling berlomba-lomba dalam khamr, meskipun khamr itu sendiri tidak dianggap sebagai harta.

ثم أتى بعض النقلة عن القاضي بما لا أوثر نقلَه والاحتفالَ به والذي يتعين نقلُه أن كثيراً من أئمتنا صار إلى أن المخالع على العبد المغصوب لا يستحق مالاً ويقع الطلاق رجعياً كما ذكرناه في اختلاع الأب ابنته بعبد يضيفه إلى ملكها ثم طرد هذا في المخالعة على الخمر وقضى بأن الرجل إذا قال لامرأته خالعتك على هذه الخمرة أو على هذا الخنزير أو على هذه الميتة وقالت قبلت قُضي بوقوع الطلاق رجعياً

Kemudian sebagian perawi menukil dari al-Qadhi sesuatu yang tidak aku sukai untuk aku nukil dan perhatikan, dan yang wajib untuk dinukil adalah bahwa banyak dari imam-imam kami berpendapat bahwa jika khulu‘ dilakukan atas budak yang dighasab, maka suami tidak berhak atas harta dan talak yang terjadi adalah talak raj‘i, sebagaimana telah kami sebutkan dalam kasus ayah melakukan khulu‘ atas putrinya dengan budak yang ia nisbatkan sebagai milik putrinya. Kemudian pendapat ini diterapkan juga pada khulu‘ atas khamr, dan diputuskan bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku melakukan khulu‘ denganmu atas khamr ini, atau atas babi ini, atau atas bangkai ini,” lalu istrinya berkata, “Aku terima,” maka diputuskan jatuhnya talak raj‘i.

ولست أنكر إمكانَ توجيه هذا فإن من يذكر الخمر لا يبغي غيرها وليست الخمر مالاً وليس الخنزير مالاً وليس يبعد عن قاعدة القياس إبطالُ المقصودِ الفاسد والاعتقاداتِ الحائدة عن موجب الشرع وبناءُ الأمر على حكم الدين وكذلك إذا جرى التصريح بذكر الغصب

Saya tidak mengingkari kemungkinan penafsiran ini, sebab orang yang menyebut khamr tidak menginginkan selainnya, dan khamr bukanlah harta, demikian pula babi bukanlah harta. Tidaklah jauh dari kaidah qiyās untuk membatalkan tujuan yang rusak dan keyakinan-keyakinan yang menyimpang dari ketentuan syariat, serta mendasarkan perkara pada hukum agama. Demikian pula halnya jika secara tegas disebutkan tentang perampasan.

ولكن هذا لا يوافق ظاهر المذهب ومقتضى النصوص وإن عُدّ هذا الذي ذكرناه قولاً فيجب لا محالة على مقتضاه أن نُخرِّج في هذه المسألة وهي مسألة الأب قولاً آخر من ظاهر المذهب فكان يجري قولان في المسألتين أحدهما أن الطلاق يقع رجعياً في هذه المسائل سواء فرض من الأب في حق ابنته أو فرض بين الزوج وزوجته

Namun, hal ini tidak sesuai dengan zahir mazhab dan konsekuensi dari nash-nash. Meskipun apa yang telah kami sebutkan ini dianggap sebagai suatu pendapat, maka tidak dapat tidak, berdasarkan konsekuensinya, kita harus mengeluarkan dalam masalah ini—yaitu masalah ayah—pendapat lain yang berasal dari zahir mazhab. Maka, terdapat dua pendapat dalam kedua permasalahan ini: salah satunya adalah bahwa talak jatuh sebagai talak raj‘i dalam permasalahan-permasalahan ini, baik talak itu dijatuhkan oleh ayah terhadap putrinya maupun antara suami dan istrinya.

هذا لا بدّ منه على مقتضى الترتيب الذي ذكرناه

Hal ini harus dilakukan sesuai dengan urutan yang telah kami sebutkan.

والذي أراه في هذا المجال أن معظم الناظرين في هذه المسائل المتعارضة لم يُنعموا النظرَ فيها ولم يجشّموا أنفسهم دَرْك معانيها والذي يجب القطع به أن مخالعة الزوج زوجته على مغصوبٍ مع التعرض لذكر الغصب أو على خمرٍ أو خنزير مع التعرض لذكرهما يوجب بينونةً وماليةً كما مهدنا المذهب فيه

Menurut pendapat saya dalam hal ini, kebanyakan orang yang menelaah persoalan-persoalan yang saling bertentangan ini tidak mencermatinya dengan saksama dan tidak bersungguh-sungguh memahami maknanya. Yang harus dipastikan adalah bahwa jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan sesuatu yang berupa barang yang dighasab, sambil menyebutkan secara eksplisit tentang ghasab tersebut, atau dengan khamar atau babi sambil menyebutkan keduanya secara eksplisit, maka hal itu menyebabkan terjadinya perpisahan (bainunah) dan kewajiban pembayaran harta, sebagaimana telah kami jelaskan dalam mazhab tentang hal ini.

فبقي لنا النظر في مسألة الأب وأنا أقول فيها تلك المسألة مفروضةٌ فيه إذا كان يختلع الأبُ ابنته بحكم الولاية متصرفاً عنها فذكره عبدَها مع إضافة الملك إليها مشعر بهذا القصد وكل من يتصرف عن الغير فيضيف التصرف إليه فليس قبولُه التزاماً في حق نفسه وليس كالمرأة إذا التزمت الخمر فإنها قصدت خلعَ نفسها وافتداءَها بما تبذله من مالٍ أو شيء يُحصَّل في العرف بمال وهذا فرق ظاهر

Maka tersisa bagi kita untuk membahas masalah ayah. Saya katakan dalam hal ini, masalah tersebut dimaksudkan jika ayah menceraikan anak perempuannya dengan khulu‘ berdasarkan hak perwalian, bertindak atas nama anaknya. Disebutkannya budaknya dengan menisbatkan kepemilikan kepadanya menunjukkan maksud ini. Setiap orang yang bertindak atas nama orang lain lalu menisbatkan tindakan itu kepada dirinya, maka penerimaannya bukanlah suatu komitmen atas dirinya sendiri. Ini berbeda dengan perempuan jika ia berkomitmen terhadap khamr, karena ia bermaksud menceraikan dirinya sendiri dan menebus dirinya dengan harta atau sesuatu yang secara adat dinilai sebagai harta. Ini adalah perbedaan yang jelas.

وإذا كنا نقول إذا خالع الرجل امرأته المحجورة لا تثبت المالية لأنها ليست من أهل الالتزام في حق نفسها فالأب ليس من أهل الالتزام في حق ابنته إذا كان يتصرف بحكم الولاية لها

Jika kami mengatakan bahwa apabila seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang berada dalam status mahjur, maka tidak tetap nilai harta karena ia bukanlah pihak yang berhak melakukan iltizam atas dirinya sendiri, maka demikian pula ayah bukanlah pihak yang berhak melakukan iltizam atas putrinya jika ia bertindak atas dasar wilayah untuknya.

ووراء ما ذكرناه سرٌّ لا اطّلاع عليه إلا عند نجاز الفصل وتمامُ الكلام أن الأب يُتصوّر أن يختلع ابنتَه اختلاع الأجنبي إياها فإن هو قصد أن يختلعها اختلاع الأجنبي لا على حكم الولاية فالاختلاع على هذا القصد يُلزمُه الماليةَ حتى لو اختلعها بعبد ابنته وكان كما لو اختلعت المرأة نفسها بعبد مغصوب وتمام البيان بين أيدينا بعدُ

Di balik apa yang telah kami sebutkan terdapat rahasia yang tidak dapat diketahui kecuali ketika perkara telah selesai. Kesimpulan pembahasan adalah bahwa seorang ayah dapat membayangkan untuk melakukan khulu‘ terhadap putrinya sebagaimana orang asing melakukan khulu‘ terhadapnya. Jika ia bermaksud melakukan khulu‘ terhadap putrinya seperti orang asing, bukan berdasarkan hukum wali, maka khulu‘ dengan maksud seperti ini mewajibkannya untuk memberikan harta, sehingga jika ia melakukan khulu‘ dengan budak milik putrinya, maka hukumnya seperti jika seorang wanita melakukan khulu‘ terhadap dirinya sendiri dengan budak yang digasak. Penjelasan lengkapnya masih akan kami sampaikan selanjutnya.

وقدرُ غرضنا الآن التنبيهُ على مسلك الفرق على الجملة فممّا نذكره وننقل ما فيه وإن أخر الشافعي ذكره أن الأب إذا قال لزوج ابنته طلِّقْها وأنت بريء عن صداقها أو على أنك بريء عن صداقها فإذا طلقها الزوج بناءً على ما ذكره الأب فالذي صار إليه جماهير الأصحاب أن الطلاق يقع رجعياً ولا شك أن هذه المسألة تخرّج أولاً على أن الأب هل يملك الإبراءَ عن الصداق وقدمنا تفصيل ذلك في موضعه

Tujuan kami sekarang adalah memberikan penjelasan tentang metode pembedaan secara garis besar, maka di antara hal yang akan kami sebutkan dan kami nukilkan isinya—meskipun Imam Syafi’i menyebutkannya belakangan—adalah bahwa jika seorang ayah berkata kepada suami putrinya, “Ceraikanlah dia dan kamu bebas dari mahar, atau dengan syarat kamu bebas dari mahar,” lalu suami menceraikannya berdasarkan apa yang dikatakan ayah, maka pendapat mayoritas para sahabat (ulama) adalah bahwa talak tersebut jatuh sebagai talak raj‘i. Tidak diragukan lagi bahwa masalah ini pertama-tama dikembalikan pada pertanyaan apakah ayah memiliki hak untuk membebaskan mahar, dan kami telah menguraikan rincian hal tersebut pada tempatnya.

فإن رأينا للأب الإبراء فقد نقول له أن يختلعها على البراءة من الصداق والزوج يبرأ وهذا مما قدمناه فلا عَوْدَ إليه والتفريع على أنه لا يملك الإبراء فعلى هذا لا يبرأ الزوج بسبب الاختلاع ويقع الطلاق رجعياً هذا مقتضى النص وهو الذي ذهب إليه جمهور الأصحاب

Jika kita berpendapat bahwa ayah boleh memberikan pembebasan, maka kita dapat mengatakan kepadanya agar melakukan khulu‘ dengan pembebasan dari mahar, sehingga suami terbebas, dan ini telah kami jelaskan sebelumnya sehingga tidak perlu diulang. Adapun jika didasarkan pada pendapat bahwa ayah tidak berhak memberikan pembebasan, maka dalam hal ini suami tidak terbebas karena khulu‘, dan talak yang terjadi adalah talak raj‘i; inilah yang ditunjukkan oleh nash dan merupakan pendapat mayoritas para ulama mazhab.

وذكر صاحب التقريب وجهين في أن الطلاق هل يقع إذا حكمنا بأن البراءة لا تحصل وقد ذكرهما بعض المصنفين ولا تعويل على ما ينفرد ذلك المصنف بنقله فإنه كثير العثرات غيرُ موثوق به ولكني رأيت لصاحب التقريب وجهين في وقوع الطلاق ذكرهما وكررهما فنقلناهما على تحقيقٍ

Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat tentang apakah talak terjadi jika kita memutuskan bahwa pembebasan tidak terjadi, dan kedua pendapat ini juga disebutkan oleh sebagian penulis lainnya. Namun, tidak dapat dijadikan sandaran apa yang diriwayatkan secara tunggal oleh penulis tersebut, karena ia sering melakukan kesalahan dan tidak dapat dipercaya. Akan tetapi, saya melihat penulis at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat tentang terjadinya talak, yang telah ia sebutkan dan ulangi, maka kami pun menukilkannya secara teliti.

ونحن الآن بعون الله نوضّح المسالك وننزل المسائل على مراتب ينجح الفقيه بها ويرتاح بذكرها ولا تظن بعدها أن الشافعي في أسطر مقاربة بين كلام متهافت

Sekarang, dengan pertolongan Allah, kami akan menjelaskan jalan-jalan (metode) dan menempatkan permasalahan pada tingkatan-tingkatan yang dengannya seorang faqih akan berhasil dan merasa tenang dengan penyebutannya. Setelah itu, janganlah kamu mengira bahwa Imam Syafi‘i dalam beberapa baris yang berdekatan berada di antara perkataan yang saling bertentangan.

فنقول إذا خالع الرجل زوجته المبذرة فقبلت فهي صحيحة العبارة وقد وجد منها صيغة الالتزام على الصحة ولكن قضى الشرعُ بأنه لا يلزمها شيء فاعتمدَ وقوعُ الطلاق صحةَ قبولها ولم يلزم المال ونتيجة هذه الجملة وقوعُ الطلاق

Maka kami katakan, apabila seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang boros, lalu istrinya menerima, maka ungkapannya sah dan dari pihak istri telah terdapat bentuk komitmen yang sah. Namun, syariat memutuskan bahwa ia tidak wajib membayar apa pun, sehingga yang dijadikan dasar adalah terjadinya talak karena sahnya penerimaan istri, namun tidak mewajibkan pembayaran harta. Hasil dari ketentuan ini adalah terjadinya talak.

وإذا قال الأجنبي وكّلتني فلانة بأن أختلعها بكذا فقال الزوج بانياً على ذلك خالعتها بكذا فقال الوكيل قبلت عنها وكان كاذباً في التوكيل لم يقع الطلاق لأن الأجنبي لم يضف إلن نفسه ولم يصدُق في دعواه الوكالة فلم يعتمد الطلاقُ قبولاً صحيحاً

Jika seorang laki-laki asing berkata, “Fulanah telah mewakilkan kepadaku untuk melakukan khulu‘ dengannya dengan imbalan sekian,” lalu suaminya, berdasarkan pernyataan itu, berkata, “Aku telah melakukan khulu‘ dengannya dengan imbalan sekian,” kemudian si wakil berkata, “Aku menerimanya atas namanya,” padahal ia berdusta dalam klaim perwakilannya, maka talak tidak terjadi. Sebab, orang asing tersebut tidak menisbahkan khulu‘ itu kepada dirinya sendiri dan ia tidak jujur dalam pengakuan perwakilannya, sehingga talak tersebut tidak didasarkan pada penerimaan yang sah.

وإذا اختلع الأب ابنته بحكم الولاية وأبان ذلك في صيغة لفظه فهذا خارج عن ولايته ولكنه أطلق الاختلاع ولم يضف لفظ الاختلاع إلى ابنته بل بناه على ولايته وهو ممن يتصور منه أن يخالع بنفسه مخالعة الأجنبي فتردد الأمر وتطرّق إليه إمكان المصير إلى الطلاق فلا يقع كما ذكرناه في مثله الأجنبي الآن وإن وقع فهذا القبول أضعف من قبول المحجورة فقد بان وجه التردد في الوقوع وينبني عليه وجه سقوط المالية

Apabila seorang ayah melakukan khulu‘ terhadap putrinya berdasarkan hak perwaliannya dan menjelaskan hal itu dalam lafaz ucapannya, maka hal ini berada di luar kewenangan perwaliannya. Namun, jika ia hanya mengucapkan khulu‘ tanpa menisbatkan lafaz khulu‘ itu kepada putrinya, melainkan mendasarkannya pada hak perwaliannya—sedangkan ia termasuk orang yang secara hukum dimungkinkan melakukan khulu‘ sendiri sebagaimana khulu‘ yang dilakukan oleh orang lain yang bukan wali—maka perkara ini menjadi samar dan memungkinkan untuk dianggap sebagai talak, sehingga tidak terjadi (khulu‘) sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus orang lain yang bukan wali. Dan jika khulu‘ itu terjadi, maka penerimaan ini lebih lemah daripada penerimaan orang yang berada dalam status mahjur (terbatas haknya), sehingga jelaslah alasan keraguan dalam terjadinya khulu‘ tersebut, dan hal ini berimplikasi pada gugurnya aspek finansialnya.

ونحن نقول الآن إذا اختلع الأب ابنته بمال نفسه فهذا محمول على اختلاع الأجنبي وإن اختلعها بمالها وأضاف المال إلى ملكها فهذه المسألة التي ترددنا فيها وقوعاً أولاً ثم أوضحنا سقوط الماليّة وإن قال الزوج اختلعتَها عن نفسك اختلاع الأجنبي وبذلت مالَها بذلَ المغصوب ولكن الاختلاع وقع مطلقاًً فالظاهر في هذا تصديق الأب فإنّ إضافة العوض إلى مالها أصدقُ شاهد فيه

Sekarang kami katakan, jika seorang ayah melakukan khulu‘ terhadap putrinya dengan hartanya sendiri, maka hal ini dianggap seperti khulu‘ yang dilakukan oleh orang lain (bukan wali). Namun jika ia melakukan khulu‘ terhadap putrinya dengan harta milik putrinya dan menisbatkan harta tersebut kepada kepemilikan putrinya, maka inilah masalah yang sebelumnya kami ragukan kejadiannya, lalu kami jelaskan bahwa nilai harta tersebut gugur. Jika suami berkata, “Aku telah melakukan khulu‘ terhadapnya atas namamu seperti khulu‘ yang dilakukan oleh orang lain, dan aku telah memberikan hartanya seperti pemberian harta yang dirampas,” namun khulu‘ itu terjadi secara mutlak, maka yang tampak dalam hal ini adalah membenarkan ayah, karena penisbatan kompensasi (iwadh) kepada harta milik putrinya adalah bukti paling kuat dalam masalah ini.

ولم يبق في المسألة إلا نظرٌ واحد وهو أن صاحب التقريب ذكر الوجهين في وقوع الطلاق في البراءة عن المهر ولم يذكر ذلك الوجه في اختلاعه بعبدها والصحيحُ عندنا أنه لا فرق بين المسألتين إذا ظهر قصده التصرف عنها وإن أردنا فرقاً فتنزيل الخلع على البراءة نصٌّ في التصرف عنها في ذلك العقد وتنزيله على عبدها قد يتأخر عن هذا وفيما ذكرناه انتجاز المقصود بكماله

Tidak tersisa dalam masalah ini kecuali satu tinjauan, yaitu bahwa penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat tentang jatuhnya talak dalam kasus pembebasan dari mahar, namun ia tidak menyebutkan pendapat tersebut dalam kasus khulu‘ dengan budaknya. Pendapat yang benar menurut kami adalah tidak ada perbedaan antara kedua masalah tersebut jika telah jelas maksudnya untuk melakukan tindakan atas nama istrinya. Jika kita ingin membedakan, maka penerapan khulu‘ pada pembebasan dari mahar adalah nash (teks) yang menunjukkan tindakan atas nama istrinya dalam akad itu, sedangkan penerapannya pada budaknya bisa jadi datang belakangan dari hal tersebut. Dalam apa yang kami sebutkan telah tercapai maksud secara sempurna.

ووراء ذلك مسألة وهي أن الأب إذا قال خالعها وقد ضمنت لك براءتها عن مهرها قال الأصحاب في هذه الصورة المذهبُ وقوع الطلاق وإذا وقع الطلاق فهل يجب على الأب مال فعلى وجهين أحدهما أنه لا يلزمه شيء كما لو قال وأنت بريء أو على أنك بريء فإن البراءة لا يصح ضمانها بل لا ينتظم الضمان فيها

Di balik itu ada satu permasalahan, yaitu apabila seorang ayah berkata, “Ceraikanlah dia dan aku telah menjamin kepadamu bahwa dia bebas dari maharnya,” para ulama berpendapat dalam kasus ini bahwa pendapat yang paling kuat adalah jatuhnya talak. Jika talak telah jatuh, apakah ayah wajib membayar sejumlah harta? Ada dua pendapat: salah satunya, ayah tidak wajib membayar apa pun, sebagaimana jika ia berkata, “Dan engkau bebas,” atau “Dengan syarat engkau bebas,” karena pembebasan tidak sah untuk dijamin, bahkan jaminan tidak berlaku di dalamnya.

والوجه الثاني أن الغرم يتعلق بالأب في هذه اللفظة فإنه أضاف الضمان لنفسه

Pendapat kedua adalah bahwa tanggungan (ghurm) berkaitan dengan ayah dalam ungkapan ini, karena ia telah menisbatkan penjaminan (ḍamān) itu kepada dirinya sendiri.

وذكر بعض المحققين وجهاً مفصلاً حسناً فقال نراجعه فيما عنى الضمان فإن قال أردت ضمان البراءة في عينها من غير مزيد لغا ضمانُه وإن قال أردت أنك إذا غرمت أو طالبت أديت عنك فهذا التزام مالية فيجوز أن يقتضي ضمانَها

Sebagian ulama muhaqqiqin menyebutkan penjelasan yang terperinci dan baik, beliau berkata: Kita meninjau kembali maksud dari dhaman (jaminan). Jika seseorang berkata, “Aku maksudkan dhaman berupa jaminan terbebasnya barang itu sendiri tanpa tambahan apa pun,” maka dhaman tersebut menjadi sia-sia. Namun jika ia berkata, “Aku maksudkan bahwa jika engkau harus membayar ganti rugi atau dituntut, aku akan membayarkan untukmu,” maka ini adalah komitmen terhadap kewajiban finansial, sehingga boleh untuk menuntut jaminannya.

وهذه المسائل بجملتها فيما إذا جرت المخالعة إيجاباً وقبولاً واستدعاءً وإسعافاً فأما إذا قال الزوج إن برئتَ عن صداقها فهي طالق فلا شك أن الطلاق لا يقع إذا كانت البراءة لا تحصل

Seluruh permasalahan ini berlaku apabila proses khul‘ dilakukan dengan ijab dan kabul, permintaan dan pemenuhan. Adapun jika suami berkata, “Jika ia membebaskanmu dari maharnya, maka ia tertalak,” maka tidak diragukan lagi bahwa talak tidak jatuh jika pembebasan tersebut tidak terjadi.

وقد حان أن نذكر ضابطاً على التحقيق فنقول إذا جرى التخالع إيجاباً وقبولاً فالطلاق يعتمد صحةَ القبول ثم ثبوت المالية يعتمد كون القابل من أهل الالتزام وصحة العوض لا تخفى جهاتها

Sudah saatnya kami menyebutkan satu kaidah secara pasti, yaitu: apabila terjadi khulu‘ dengan ijab dan kabul, maka talak bergantung pada sahnya kabul, kemudian status harta bergantung pada apakah pihak penerima termasuk orang yang berhak melakukan komitmen, dan keabsahan kompensasi tidak samar sebab-sebabnya.

وإن تردد الأصحاب في وقوع الطلاق فليُطْلب ذلك من ضعف القبول وإن ترددوا في سقوط المالية مع وقوع الطلاق فذلك مأخوذ من صحة القبول وضعف الالتزام وإن كان لفظ الزوج مبنياً على التعليق مثل أن يقول إن أعطيتِ فالطلاق يقع من تحقيق الصفة فإن كانت مقتضية تمليكاً فلا يتوقع فيها طلاق رجعي وإذا لم يكن التمليك ممكناً فإن الصفة معدومة وأنا أقول إذا قال للمحجورة إذا أعطيتني ألفاًً فأنت طالق فأعطته لم يقع شيء

Jika para ulama berbeda pendapat tentang terjadinya talak, maka hal itu berasal dari lemahnya penerimaan (qabūl). Jika mereka ragu tentang gugurnya aspek finansial bersamaan dengan terjadinya talak, maka hal itu diambil dari sahnya penerimaan dan lemahnya komitmen. Jika lafaz suami dibangun atas dasar ta‘liq (penggantungan), seperti ia berkata: “Jika kamu memberiku, maka kamu tertalak,” maka talak terjadi karena terpenuhinya syarat. Jika syarat tersebut mengandung unsur pemilikan, maka tidak diharapkan terjadi talak raj‘i. Jika pemilikan tidak mungkin terjadi, maka syarat tersebut dianggap tidak ada. Saya katakan, jika ia berkata kepada perempuan yang berada dalam status mahjur: “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak,” lalu ia memberinya, maka tidak terjadi apa-apa.

فهذا تنزيل هذه المسائل على منازلها وتخريجها على أصولها ما أمكن وأملنا ألاّ ينتهي إلى هذا ناظرٌ إلا ترحم على جامعه والله ولي الأجابة بمنّه ولطفه

Inilah penempatan masalah-masalah ini pada posisinya yang tepat dan penjelasannya berdasarkan ushulnya sejauh yang memungkinkan. Harapan kami, siapa pun yang menelaahnya tidak akan sampai pada akhirnya kecuali ia mendoakan rahmat bagi penyusunnya. Allah-lah pemilik jawaban dengan karunia dan kelembutan-Nya.

فصل قال ولو خالعها بعبدٍ بعينه ثم أصاب به عيباً ردّه إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika seorang suami melakukan khulu‘ dengan istrinya dengan menukar seorang budak tertentu, lalu ternyata ditemukan cacat pada budak tersebut, maka budak itu dikembalikan dan seterusnya.”

بدل الخلع ينزل منزلة الصداق في كل تفصيل ويجري فيه القولان في أنه مضمون باليد أو بالعقد فبدل الخلع في يدها كالصداق في يد الزوج ثم الكلام فيما إليه الرجوع كالكلام في الصداق بلا تباين ولا مزيد حرف وقد تقصّينا القول في الصداق فلم أر لإعادة ما قدمته معنى

Pengganti khulu‘ menempati kedudukan seperti mahar dalam setiap perinciannya, dan berlaku padanya dua pendapat: apakah ia menjadi tanggungan karena penyerahan atau karena akad. Maka pengganti khulu‘ yang berada di tangan istri seperti mahar yang berada di tangan suami. Kemudian pembahasan mengenai siapa yang berhak menarik kembali sama seperti pembahasan pada mahar, tanpa perbedaan dan tanpa tambahan satu huruf pun. Aku telah merinci pembahasan tentang mahar, sehingga aku tidak melihat adanya makna untuk mengulangi apa yang telah aku sampaikan sebelumnya.

ومن جملة ما نذكره هاهنا الردُّ بالعيب فإذا جرت المخالعة هاهنا على صيغة الإيجاب والقبول على عين مالٍ نفذت الفرقة تعويلاً على القبول فإذا وجد الزوجُ بالعوض المعيّن عيباً مَلَك ردَّه كما تملك المرأة رد الصداق ثم القول فيما يرجع به الزوج عليها كالقول فيما ترجع به على الزوج في الصداق

Di antara hal yang kami sebutkan di sini adalah pengembalian karena cacat. Jika terjadi khulu‘ di sini dengan lafaz ijab dan qabul atas harta tertentu, maka perceraian menjadi sah berdasarkan qabul tersebut. Jika suami menemukan cacat pada harta yang telah ditentukan sebagai kompensasi, ia berhak mengembalikannya, sebagaimana istri berhak mengembalikan mahar. Kemudian, ketentuan mengenai apa yang dapat dikembalikan suami kepada istri sama dengan ketentuan mengenai apa yang dapat dikembalikan istri kepada suami dalam hal mahar.

ثم قال الشافعي ولو خلعها على ثوب على أنه مَرْوي فإذا هو هَرَوي إلى آخره

Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Seandainya seseorang menceraikan istrinya dengan khulu‘ dengan imbalan sebuah kain yang disangka kain Marwi, ternyata kain itu adalah kain Harawi, dan seterusnya.

يقول إذا خالعها على ثوب هروي فالصورة في ذلك تختلف ونحن نُجري أمثلةً والخلعُ إيجاب وقبول ثم نذكر أمثلةً والخلعُ على صفة التعليق

Ia berkata: Jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan imbalan sebuah kain Herat, maka dalam hal ini terdapat beberapa kemungkinan. Kami akan memberikan beberapa contoh, dan khulu‘ itu adalah ijab dan kabul. Kemudian kami akan menyebutkan beberapa contoh lagi, dan khulu‘ itu dalam bentuk ta‘liq (persyaratan).

فأما إذا كان إيجاباً وقبولاً وفُرض اشتراط صفة في العوض وقع اختلافها فذلك ينقسم إلى العوض الموصوف في الذمة وإلى العوض المعيّن فإن كان موصوفاً في الذمة مثل أن يقول خالعتك على ثوب هروي صفته كذا وكذا وأخذ يُطنب إلى استغراق المقصود فإذا قبلت المرأة قُضي بوقوع البينونة بنفس القبول بناء على ما تمهد من الأصول ثم هي مطالبة بالثوب الموصوف فإن أعطته مروياً ردّه عليها وطالبها بالثوب المستحق الذي أحاط الوصفُ به

Adapun jika terjadi ijab dan qabul serta disyaratkan sifat tertentu pada ‘iwadh (imbalan), kemudian terjadi perbedaan mengenai sifat tersebut, maka hal itu terbagi menjadi ‘iwadh yang disifati dalam tanggungan (dzimmah) dan ‘iwadh yang ditentukan (mu‘ayyan). Jika ‘iwadh itu disifati dalam dzimmah, seperti seseorang berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ dengan imbalan sebuah kain Harawi yang sifatnya begini dan begitu,” lalu ia merinci hingga mencakup maksud yang diinginkan, maka jika wanita itu menerima, jatuhlah talak bain dengan sendirinya berdasarkan kaidah yang telah ditetapkan. Setelah itu, wanita tersebut wajib menyerahkan kain yang telah disifati itu. Jika ia memberikan kain yang bukan dari Harawi, maka kain itu dikembalikan kepadanya dan ia tetap dituntut untuk menyerahkan kain yang memang menjadi hak suami sesuai dengan sifat yang telah disebutkan.

ولو قال خالعتك على هذا الثوب المروي أو على هذا الثوب على شرط أنه مروي فإذا قالت قبلت حكم بوقوع الطلاق قطع الأئمة أجوبتهم به فإن الفرقة بالمخالعة المتعلقة بالإيجاب والقبول تعتمد القبول ولا نظر إلى الصفة المشروطة كانت أو تخلّفت والدليل عليه أنه لو قال خالعتك على هذا الخلّ فقالت قبلت ثم تبين أن المشار إليه خمر فالفرقة تقع وكذلك إذا قال خالعتك على هذا العبد فإذا المشار إليه حر وقعت الفرقة فإذا كان الخروج من المالية لا يمنع وقوع الفرقة فالخروج من صفةٍ إلى صفةٍ بهذه المثابة

Jika seorang suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas kain muru’i ini” atau “atas kain ini dengan syarat kain itu muru’i,” lalu sang istri berkata, “Aku terima,” maka jatuhlah talak, dan para imam sepakat atas jawaban ini. Sebab, perpisahan karena khulu‘ yang terkait dengan ijab dan qabul bergantung pada penerimaan (qabul), tanpa memperhatikan sifat yang disyaratkan, baik sifat itu ada maupun tidak. Dalilnya, jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas cuka ini,” lalu istri berkata, “Aku terima,” kemudian ternyata yang dimaksud adalah khamr, maka perpisahan tetap terjadi. Demikian pula jika suami berkata, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘ atas budak ini,” lalu ternyata yang dimaksud adalah orang merdeka, maka perpisahan tetap terjadi. Jika keluar dari sifat harta (mal) tidak menghalangi terjadinya perpisahan, maka keluar dari satu sifat ke sifat lain pun demikian pula hukumnya.

ثم إذا شرط كونَ الثوب المشار إليه مروياً فبان أنه هروي وقع الحكم بنفوذ الفرقة فالعوض لا يفسد بالاختلاف في الصفة وآيةُ ذلك أن الزوج لو رضي به جاز له ذلك وإذا كان الاختلاف في صفاتِ الأعواض في المعاوضات المحضة لا يوجب فساد العوض فبدل الخلع بذلك أولى

Kemudian, jika disyaratkan bahwa kain yang dimaksud adalah kain Marwiy, lalu ternyata kain tersebut adalah kain Harawiy, maka hukum berlakunya perpisahan tetap sah, sehingga imbalan tidak batal hanya karena perbedaan dalam sifat. Tanda dari hal ini adalah jika suami rela dengan hal itu, maka hal tersebut boleh baginya. Dan apabila perbedaan dalam sifat-sifat imbalan pada transaksi murni tidak menyebabkan batalnya imbalan, maka imbalan khulu‘ dalam hal ini lebih utama untuk tidak batal.

ثم إن رضي الزوج بذلك فلا كلام وإن لم يرض به فله الرد وليس ذلك بدعاً فإن ما يتطرق إليه خيار الرد بالعيب يتطرق إليه خيار الخُلف ثم إذا ردّ ففيما يرجع به قولان أحدهما أنه يرجع إلى مهر المثل والثاني أنه يرجع بقيمته وهذان القولان في أنه إذا ردّ العوضَ بالعيب فإلى ماذا يرجع ثم إذا أثبتنا له الرجوع يرجع بقيمة الثوب المروي على ما شرط إذ لو كان يرجع بقيمة الهروي لقنع بالثوب الهروي من غير رد

Kemudian, jika suami ridha dengan hal itu, maka tidak ada masalah. Namun jika ia tidak ridha, maka ia berhak menolak, dan hal itu bukanlah sesuatu yang aneh, karena apa yang dapat menimbulkan hak khiyar (pilihan) untuk menolak karena cacat, juga dapat menimbulkan hak khiyar karena adanya perbedaan (khilaf). Kemudian, jika ia menolak, terdapat dua pendapat mengenai apa yang dapat ia kembalikan: pendapat pertama, ia kembali kepada mahar mitsil (mahar sepadan); pendapat kedua, ia kembali kepada nilainya. Kedua pendapat ini berkaitan dengan jika ia mengembalikan imbalan karena cacat, maka kepada apa ia kembali. Kemudian, jika kita menetapkan hak baginya untuk mengembalikan, maka ia kembali kepada nilai kain Marwi sesuai dengan yang disyaratkan, sebab jika ia kembali kepada nilai kain Harawi, tentu ia sudah cukup dengan kain Harawi tanpa perlu mengembalikannya.

وما ذكرناه فيه إذا اتحد الجنس فكان الثوبان من القطن مثلاً لكن إن اختلف النوع بالجنس فالأمر على ما بيناه

Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika jenisnya sama, misalnya kedua kain tersebut terbuat dari kapas. Namun, jika jenisnya berbeda menurut jins, maka hukumnya sesuai dengan apa yang telah kami jelaskan.

فإن كان الثوب الذي أشار إليه وشرط كونه مروياً كان كتاناً والهروي قطن فإذا اختلف الجنس فلو أراد الزوج أن يستمسك بالثوب المعاين المعيّن فهل له ذلك اختلف أصحابنا فمنهم من قال ليس له ذلك ولو رضي به لم يملكه فإنه ليس من جنس ما ذكره فلم يجد إلى ملكه سبيلاً وهو كما لو خالع على عبدٍ ثم قبض أمةً من غير فرض اعتياض حيث يجوز الاعتياض وليس كذلك إذا اتحد الجنس فإنّ قبض النوع عن النوع سائغ على ما سنذكر في ذلك ضابطاً جامعاً

Jika kain yang ditunjuk dan disyaratkan harus berupa kain mervi itu adalah kain linen, sedangkan kain dari Herat adalah kain katun, maka jika jenisnya berbeda, apabila suami ingin tetap mengambil kain yang telah dilihat dan ditentukan itu, apakah ia berhak melakukannya? Para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ia tidak berhak melakukannya, dan meskipun ia rela menerimanya, ia tidak memilikinya, karena kain itu bukan dari jenis yang disebutkan, sehingga tidak ada jalan baginya untuk memilikinya. Hal ini seperti seseorang yang melakukan khulu‘ dengan imbalan seorang budak laki-laki, lalu menerima seorang budak perempuan tanpa ada kesepakatan penggantian, di mana penggantian itu boleh dilakukan. Tidak demikian halnya jika jenisnya sama, karena menerima satu jenis dari jenis yang sama diperbolehkan, sebagaimana akan kami sebutkan nanti dalam kaidah yang bersifat umum.

وذكر الشيخ أبو حامد وجهاً آخر أن للزوج أن يقنع بالثوب المعين وإن لم يكن من جنس ما وصفه وذلك أنه أشار إليه الزوج إذ خالع عليه وقال خالعتك على هذا الثوب فكانت الإشارة غالبةً على الذكر والوصف وهذا يداني اختلافَ الأصحاب فيه إذا قال بعتك هذه النعجة فإذا هي عجل ففي صحة العقد وانعقاده خلاف معروف ذكرناه في البيع

Syekh Abu Hamid menyebutkan pendapat lain bahwa suami boleh merasa cukup dengan kain tertentu meskipun bukan dari jenis yang telah disebutkan, yaitu ketika suami menunjuk kain tersebut saat melakukan khulu‘ dan berkata, “Aku menceraikanmu dengan kain ini,” maka penunjukan itu lebih kuat daripada penyebutan dan deskripsi. Hal ini mirip dengan perbedaan pendapat para ulama ketika seseorang berkata, “Aku menjual domba ini kepadamu,” lalu ternyata domba itu adalah anak sapi; dalam hal keabsahan dan terjadinya akad terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan dalam pembahasan jual beli.

والأمر المتبع في هذا أن ما لا يجوز الاعتياض عنه كالمسلم فيه لا يجوز أن يؤخذ فيه جنس عن جنس ويجوز أن يؤخذ المعيب عن السليم وهل يجوز أن يؤخذ فيه نوع عن نوع فيه اختلاف وإذا جوزنا الاعتياض عن الثمن فكل ما منعناه في السلم نجوّزه في الثمن ولكنا نشترط إجراء عقد وما نجوّزه في السلم نجوّزه في الثمن من غير عقد ومحل الاختلاف جوازاً ومنعاً في السلم يستعمل في الثمن في الافتقار إلى عقد وعدم الافتقار إليه

Hal yang diikuti dalam masalah ini adalah bahwa sesuatu yang tidak boleh dijadikan sebagai objek pengganti, seperti barang yang menjadi objek salam, tidak boleh diambil jenisnya dengan jenis lain, namun boleh diambil yang cacat sebagai pengganti yang sempurna. Adapun mengenai boleh tidaknya mengambil jenis yang berbeda, terdapat perbedaan pendapat. Jika kita membolehkan penggantian terhadap harga (tsaman), maka segala hal yang kami larang dalam akad salam, kami bolehkan dalam harga (tsaman) asalkan dilakukan dengan akad. Sedangkan apa yang kami bolehkan dalam akad salam, kami juga bolehkan dalam harga (tsaman) tanpa akad. Permasalahan yang diperselisihkan, baik yang dibolehkan maupun yang dilarang dalam akad salam, juga berlaku pada harga (tsaman) dalam hal membutuhkan akad atau tidak membutuhkannya.

وما يُفرض من خُلف في الأعيان المعيّنة فإن اتحد الجنس انعقد العقد وجاز الاستمساك بالمعيّن فإن اختلف الجنس ففي انعقاد المعاوضة خلاف وفي فساد الخلع به خلاف والفرقة جائزة على اعتماد القبول ثم إن لم يفسد العوض جوزنا الاستمساك به وإن أفسدنا العوض ردّدنا القولين في الرجوع ففي قولٍ يرجع إلى مهر المثل وفي قولٍ يرجع إلى قيمة الثوب لو كان على ما وُصف به

Apa yang dianggap sebagai perbedaan dalam hal benda tertentu, jika jenisnya sama maka akadnya sah dan boleh tetap berpegang pada benda yang telah ditentukan. Namun jika jenisnya berbeda, terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahan akad pertukaran dan juga perbedaan pendapat mengenai batal atau tidaknya khulu‘ dengan hal tersebut, sementara perpisahan tetap sah berdasarkan penerimaan. Kemudian, jika kompensasi (iwad) tidak rusak, maka kami membolehkan untuk tetap berpegang pada kompensasi tersebut. Namun jika kompensasi dianggap rusak, maka terdapat dua pendapat mengenai pengembalian: menurut satu pendapat, kembali kepada mahar mitsil, dan menurut pendapat lain, kembali kepada nilai kain seandainya sesuai dengan sifat yang telah disebutkan.

وكل ما ذكرناه ترديد للمسائل والخلع إيجابٌ وقبولٌ

Semua yang telah kami sebutkan merupakan pengulangan masalah-masalah, sedangkan khulu‘ adalah ijab dan kabul.

فأما إذا كان الخلع على صيغة التعليق فإذا قال إن أعطيتني ثوباً مروياً فأنت طالق فإذا أعطته هَرَوياً لم تطلق فإنّ معتمد الطلاق وجودُ الصفة في هذا النوع ثم إن جاءت به مروياً وقع الحكم بالطلاق ولم يخْفَ التفصيلُ بعده إذا كان الثوب مجهولاً وكان بمثابة ما لو قال لها إن أعطيتِني عبداً فأنت طالق فإن كان الثوب موصوفاً بالصفات المرعية في السلم فلا يقع الطلاق ما لم تتحقق الصفات فيما جاءت به

Adapun jika khulu‘ dilakukan dengan bentuk ta‘liq (penggantungan), misalnya suami berkata, “Jika kamu memberiku kain Marwi, maka kamu tertalak,” lalu istri memberinya kain Harawi, maka istri tidak tertalak. Karena dasar terjadinya talak dalam jenis ini adalah adanya sifat (syarat) yang disebutkan. Kemudian jika istri memberinya kain Marwi, maka talak pun jatuh. Tidak samar pula rincian setelahnya, yaitu jika kain tersebut tidak diketahui (jenisnya), maka keadaannya seperti jika suami berkata kepada istrinya, “Jika kamu memberiku seorang budak, maka kamu tertalak.” Jika kain itu telah disebutkan sifat-sifat yang diperhatikan dalam akad salam, maka talak tidak jatuh kecuali sifat-sifat tersebut benar-benar ada pada kain yang diberikan.

وليس هذا بمحل الرضا إنما يتعلق الإتيان به فإن الطلاق لا يقع إذا علق بصفاتٍ ما لم تتمحض تلك الصفات وإن كان على الصفات المذكورة المستقصاة وقع الطلاق وملك الزوج ما جاءت به فإن الثوب أثبت مُعْلَماً مبيّناً فصح عوضاً وصلح لكونه مملوكاً عوضاً

Ini bukanlah tempat untuk ridha, melainkan berkaitan dengan pelaksanaan. Maka, talak tidak terjadi jika digantungkan pada sifat-sifat tertentu selama sifat-sifat itu belum benar-benar terwujud. Namun, jika sifat-sifat yang disebutkan secara rinci itu terpenuhi, maka talak terjadi dan suami berhak atas apa yang dibawa olehnya. Sebab, kain tersebut telah ditetapkan sebagai barang yang ditentukan dan dijelaskan, sehingga sah sebagai pengganti dan layak menjadi milik sebagai pengganti.

ولو علق الطلاق وأشار إلى العين وذكر الوصف ففي لفظه تعليق وإشارة ووصف وذلك مثل أن يقول إن أعطيتني هذا الثوبَ وهو هروي فأنت طالق

Jika seseorang menggantungkan talak dan menunjuk kepada suatu benda serta menyebutkan sifatnya, maka dalam ucapannya terdapat penggantungan, penunjukan, dan penyifatan. Contohnya adalah ketika ia berkata, “Jika kamu memberiku kain ini, dan kain ini adalah kain Harawi, maka kamu tertalak.”

فإن أعطته وكان مَرْوياً لم يقع الطلاق لأن قوله وهو هروي معناه الشرط المحقق والتقدير إن أعطيتني هذا الثوب فأنت طالق إن كان هَرَوياً فإذا تعلّق الطلاق بصفتين استحال أن يقع بإحداهما

Jika ia memberikannya kepadanya, sedangkan kain itu adalah kain Marwiy, maka talak tidak jatuh, karena ucapannya “dan kain itu adalah kain Harawiy” maksudnya adalah syarat yang pasti, dan maknanya: “Jika engkau memberiku kain ini, maka engkau tertalak jika kain itu adalah kain Harawiy.” Maka apabila talak digantungkan pada dua sifat, mustahil talak itu jatuh hanya dengan salah satunya.

ولو قال إن أعطيتني هذا الثوب الهَرَوي فأنت طالق فكان مَرْويّا على خلاف ما ذكر فقد ذكر القاضي جوابين في هذه الصيغة أحدهما أن الطلاق لا يقع كما لو قال إن أعطيتني هذا الثوب وهو هروي

Jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku kain harawee ini, maka kamu tertalak,” lalu ternyata kain itu adalah marwee dan bukan seperti yang disebutkan, maka menurut al-Qadhi terdapat dua jawaban atas redaksi ini. Salah satunya adalah talak tidak jatuh, sebagaimana jika seseorang berkata, “Jika kamu memberiku kain ini,” padahal kain itu adalah harawee.

والثاني أنه يقع لأن الهروي لا يعطى معنى الشرط في قوله هذا الثوب الهروي إذ معناه الثقة بكونه هروياً والثقةُ تنافي الشرط وقوله وهو هروي فيه معنى التردد فيتطرق إليه إمكان الشرط والتعليق والتعليق على التحقيق في معنى الشرط

Kedua, bahwa itu terjadi karena kata “al-Harawi” tidak memberikan makna syarat dalam ungkapan “tsaub ini al-Harawi”, sebab maksudnya adalah kepercayaan bahwa pakaian itu berasal dari Harah, dan kepercayaan bertentangan dengan syarat. Sedangkan ungkapan “dan ia adalah al-Harawi” mengandung makna keraguan sehingga memungkinkan masuknya makna syarat dan ta‘liq, dan ta‘liq pada hakikatnya bermakna syarat.

فصل قال ولو أخذ منها ألفاًً على أن يطلقها إلى شهر إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Seandainya ia mengambil darinya seribu (dirham) dengan syarat akan menceraikannya dalam waktu satu bulan,” dan seterusnya.

مضمون الفصل يتعلق بثلاثة أشياء أحدها في طلب التزام طلاق مؤخر في الذمة بمال مبذول في الحال والثاني استدعاء تعليق الطلاق ومقابلته بمال والثالث استدعاء طلاق على الفساد بمال

Isi bab ini berkaitan dengan tiga hal: yang pertama adalah permintaan untuk mengikat talak yang ditangguhkan dalam tanggungan dengan imbalan harta yang diberikan saat itu juga; yang kedua adalah permintaan untuk menggantungkan talak dan menukarnya dengan harta; dan yang ketiga adalah permintaan talak secara tidak sah dengan imbalan harta.

فأما استدعاء التزام الطلاق مؤخراً فمن صورته أن تقول المرأة لزوجها طلقني غداً أو بعد شهر على ما يتفق الاستدعاءُ فيه ولك ألف درهم فمقتضى الاستدعاء التأخيرُ في التنجيز ومقابلة الالتزام في الحال بالمال

Adapun permintaan untuk mengikat talak secara tertunda, contohnya adalah ketika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku besok atau setelah sebulan,” sesuai dengan waktu yang disepakati dalam permintaan itu, dan untukmu seribu dirham. Maka, konsekuensi dari permintaan tersebut adalah penundaan dalam pelaksanaan talak secara langsung dan adanya imbalan harta atas komitmen yang diberikan saat itu juga.

فنقول إن طلق الزوج في الوقت المعين على حسب الاستدعاء فإن قصد إيقاعَ الطلاق في ذلك الوقت جواباً عمّا التمسته ووفاءً بما التزمه لها واعتقد صحة ذلك فالطلاق يقع بائناً ويثبت المال على الفساد فإنّ شرط المال مع استئخار الطلاق يوقع الشرط فاسداً إذ وضع الخلع مع ارتباط المال بالطلاق على الاتصال

Maka kami katakan, jika suami menceraikan pada waktu yang telah ditentukan sesuai permintaan, lalu ia bermaksud menjatuhkan talak pada waktu itu sebagai jawaban atas permintaan istrinya dan sebagai pemenuhan atas komitmen yang ia berikan kepadanya, serta ia meyakini keabsahan hal itu, maka talak jatuh secara bain dan harta (tebusan) tetap wajib meskipun secara fasad (tidak sah). Sebab, mensyaratkan harta dengan menunda talak menjadikan syarat itu fasad, karena hakikat khulu‘ adalah keterkaitan harta dengan talak secara langsung.

ثم قال الأصحاب الواجب في هذه الصورة مهرُ المثل فإن فساد العقد جاء من فساد الصيغة ومخالفتِها وضعَ الشرع وإنما يجري القولان في أن الرجوع إلى مهر المثل أو قيمة المسمى إذا كان الفساد ناشئاً من المسمى فيجري قول في العدول عنه إلى قيمته فأما إذا جاء الفساد من الصيغة فلو ثبتت المالية على الصحة لثبت المسمى فاقتضى ما ذكرناه الرجوعَ إلى مهر المثل

Kemudian para ulama berkata, yang wajib dalam kasus ini adalah mahar mitsil, karena rusaknya akad berasal dari rusaknya shighah dan penyimpangannya dari ketentuan syariat. Adapun dua pendapat mengenai apakah kembali kepada mahar mitsil atau nilai dari mahar yang disebutkan, itu berlaku jika kerusakan berasal dari mahar yang disebutkan, sehingga ada pendapat untuk beralih darinya kepada nilainya. Adapun jika kerusakan berasal dari shighah, maka jika nilai harta itu tetap sah, tentu mahar yang disebutkan juga sah, sehingga apa yang telah kami sebutkan menuntut untuk kembali kepada mahar mitsil.

ولو أنشأ الزوج الطلاق في الوقت المعيّن وقصد أن يكون ذلك ابتداءَ إيقاعٍ منه من غير تقدير وفاء بملتزَم فيقع الطلاق رجعياًً

Jika suami menjatuhkan talak pada waktu yang telah ditentukan dan bermaksud agar hal itu merupakan permulaan pelaksanaan talak darinya tanpa dimaksudkan sebagai pemenuhan terhadap suatu kewajiban yang telah ditetapkan, maka talak tersebut jatuh sebagai talak raj‘i.

وإذا قالت المرأة لزوجها طلقني واحدة بألف فقال أنت طالق على الاتصال وقصد ابتداءَ الطلاق لا إيقاعَه جواباً فالطلاق يقع رجعياً ولكن بينه وبين الله تعالى ولا يصدّق في دعواه الانفرادَ والاستبدادَ مع اتصال لفظه بلفظها

Jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku satu kali dengan seribu,” lalu suaminya menjawab, “Engkau tertalak,” secara langsung dan ia bermaksud memulai talak, bukan menjatuhkan talak sebagai jawaban, maka talak itu jatuh sebagai talak raj‘i, namun hal itu hanya berlaku antara dia dengan Allah Ta‘ala, dan ia tidak dibenarkan dalam pengakuannya tentang pemisahan dan kemandirian niat jika ucapannya bersambung dengan ucapan istrinya.

وإذا انفصل الطلاق ووقع في الوقت المستدعى في المسألة التي نحن فيها ثم زعم أنه قصد ابتداءً فالظاهر عندنا أنه يُصدّق ظاهراً وتنفصل هذه المسألة عن الجواب المتصل في الأمر الظاهر

Jika talak telah terpisah dan terjadi pada waktu yang dimaksudkan dalam permasalahan yang sedang kita bahas, kemudian ia mengaku bahwa ia bermaksud sejak awal, maka yang tampak menurut kami adalah ia dibenarkan secara lahiriah, dan permasalahan ini terpisah dari jawaban yang berkaitan dalam perkara yang jelas.

ولو قال قصدتُ جوابها وإسعافَها ولكن علمت فساد العوض فالذي قطع به الأصحاب أن الطلاق مُبينٌ فيثبت الرجوع إلى مهر المثل كما قدمناه لا يتغير الحكم بعلمه بالفساد وجهله به فإن المسلمَ يعلم تسميةَ الخمر فاسدة وإذا سماها ثبتت المالية في الخلع وسبب هذا أن المالية تثبت بقصد المالية والعلم بالفساد لا ينافي قصد المالية وكيف ينافيه والشرع قاضٍ بالمالية

Jika seseorang berkata, “Aku bermaksud menjawab permintaannya dan memenuhi kebutuhannya, tetapi aku mengetahui bahwa kompensasinya rusak (tidak sah),” maka pendapat yang dipastikan oleh para ulama adalah bahwa talak tersebut bersifat mubīn (memutus), sehingga kembali kepada mahar mitsil sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Hukum ini tidak berubah baik ia mengetahui kerusakan kompensasi tersebut maupun tidak mengetahuinya. Sebab, seorang Muslim mengetahui bahwa penyebutan khamr (minuman keras) itu rusak (tidak sah), namun jika ia menyebutkannya tetap dianggap sebagai harta dalam khulu‘. Hal ini karena status harta ditetapkan dengan niat menjadikannya harta, dan pengetahuan tentang kerusakannya tidak menafikan niat tersebut. Bagaimana mungkin hal itu menafikannya, sementara syariat telah menetapkan status harta?

وفيما نقل عن القاضي أنه إذا علم الفساد لم يستحق وكان الطلاق رجعياً في محل الرجعة وهذا كلام رث لا حاصل له والممكن في توجيهه أن الطلاق إذا انفصل عن استدعائها ضعف عن اقتضاء المال ورجع إلى عنصره ووجب حمله على إطلاقه

Dalam riwayat dari al-Qadhi disebutkan bahwa jika diketahui adanya kerusakan, maka tidak berhak (mendapatkan mahar), dan jika talak itu raj‘i pada masa iddah, maka ini adalah pernyataan yang lemah dan tidak memiliki makna yang jelas. Penjelasan yang mungkin adalah bahwa jika talak terjadi tanpa permintaan dari istri, maka hak untuk mendapatkan harta menjadi lemah dan kembali kepada asal hukumnya, sehingga harus dipahami sesuai makna umumnya.

وهذا إنما كان يستقيم لو كان يبغي البدل مع ظن الصحة مصيراً إلى أن الطلاق إذا انفصل فلا محمل له إلا الابتداء فإذا لم يقل هذا فلا رجوع إلا إلى الفرق بين العلم بالفساد والجهل به

Hal ini sebenarnya hanya akan benar jika seseorang menginginkan pengganti dengan dugaan sah, berdasarkan bahwa talak jika telah terpisah maka tidak ada kemungkinan lain kecuali permulaan. Maka jika tidak dikatakan demikian, tidak ada jalan kembali kecuali kepada perbedaan antara mengetahui kebatilan dan tidak mengetahuinya.

ومما يتصل بهذا القسم الذي نحن فيه أن المرأة إذا قالت خذ مني ألف درهم وأنت متخير في تطليقي إلى شهر فإن عجلْتَه أو أخرته فلك ألف إذا أوقعته في المدة المذكورة قال الأصحاب إذا أخر ثم طلق فهو كما لو قالت لك ألف لو طلقتني غداً أو بعد شهر فطلقها في الوقت المعيّن وزعموا أن التفاصيل بجملتها تعود كما قدمناها وفصل القاضي في هذه الصورة بين أن يكون عالماً بالفساد وبين أن يكون جاهلاً به وهذا منه وإليه ولو صح فهو متروك عليه

Terkait dengan bagian yang sedang kita bahas ini, apabila seorang wanita berkata, “Ambillah dariku seribu dirham dan engkau bebas memilih untuk menceraikanku hingga satu bulan; jika engkau menyegerakannya atau menundanya, maka bagimu seribu dirham jika engkau menjatuhkan talak dalam jangka waktu yang disebutkan,” para ulama berpendapat: jika ia menunda lalu menceraikannya, maka hukumnya seperti jika wanita itu berkata, “Bagimu seribu dirham jika engkau menceraikanku besok atau setelah satu bulan,” lalu ia menceraikannya pada waktu yang telah ditentukan. Mereka menyatakan bahwa seluruh rincian hukumnya kembali seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya. Qadhi (hakim) merinci dalam kasus ini antara orang yang mengetahui keharaman (akad tersebut) dan yang tidak mengetahuinya. Ini adalah pendapat beliau sendiri, dan seandainya pun benar, tetap tidak diikuti.

والذي قطع به الأصحاب أنه إذا طلق على قصد الوفاء لها استحق مهر المثل لفساد الصيغة

Pendapat yang ditegaskan oleh para sahabat adalah bahwa apabila seseorang menjatuhkan talak dengan maksud memenuhi hak istri, maka istri berhak mendapatkan mahar mitsil karena rusaknya lafaz (akad) tersebut.

وهذا أوان التنبيه لأصل عظيم قد ذكرناه في تمهيد ماهية الخلع وهو في ظاهر الأمر على مناقضة ما ذكرناه الآن وذلك أن المرأة إذا قالت لزوجها متى ما أو مهما طلقتني فلك ألفٌ فهذا اللفظ صريح في التأخير ثم المأثور عن الأصحاب أنه إن طلقها على الفور استحق المسمى وإن تأخر الزمان فطلقها لم يستحق شيئاً

Sekarang saatnya untuk mengingatkan tentang suatu prinsip agung yang telah kami sebutkan dalam penjelasan mengenai hakikat khulu‘, yang tampaknya bertentangan dengan apa yang baru saja kami sampaikan. Yaitu, apabila seorang wanita berkata kepada suaminya, “Kapan pun atau jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham),” maka lafaz ini secara jelas menunjukkan penundaan. Namun, pendapat yang masyhur dari para ulama adalah bahwa jika suaminya menceraikannya segera, maka ia berhak mendapatkan jumlah yang disebutkan itu. Tetapi jika waktu berlalu dan ia baru menceraikannya kemudian, maka ia tidak berhak mendapatkan apa pun.

وهذا على القطع يخالف ما ذكرناه الآن في الصورة الأخيرة فإن قول القائل متى ما صريحٌ في اقتضاء التأخير وتسويغه فهو يناظر قولها أنت بالخيار في تطليقي عاجلاً أو إلى شهر فلئن كان الزوج بمبادرة الطلاق في المسألة المبنيّة على متى ما يستحق البدل المسمى فيجب أن يستحق أيضاًً البدلَ المسمى إذا ابتدر الطلاق وإن خيرته فإن متى ما يعطى إفادة التخيير في التعجيل والتأخير وإن كان لفظ التأخير في مسألتنا مفسداً للمسمى حتى يقال وإن ابتدر الزوج الطلاق لا يستحق المسمى وإنما يستحق مهر المثل فيجب على مساق هذا أن يفسد الخلع إذا وقع استدعاء الطلاق بلفظ متى ما

Ini secara pasti bertentangan dengan apa yang telah kami sebutkan tadi pada gambaran terakhir, karena ucapan seseorang “matā mā” (kapan saja) secara jelas menunjukkan makna penundaan dan membolehkannya. Ini sebanding dengan ucapannya kepada istrinya, “Engkau bebas memilih untuk menceraikanku segera atau sampai sebulan.” Maka, jika suami segera menjatuhkan talak dalam kasus yang didasarkan pada ucapan “matā mā”, ia berhak mendapatkan imbalan yang telah disebutkan, maka seharusnya ia juga berhak mendapatkan imbalan yang telah disebutkan jika ia segera menjatuhkan talak, meskipun ia telah memberikan pilihan kepada istrinya. Karena “matā mā” memberikan makna pilihan antara mempercepat atau menunda. Namun, jika lafaz penundaan dalam kasus kita merusak keabsahan imbalan yang disebutkan, sehingga dikatakan bahwa meskipun suami segera menjatuhkan talak, ia tidak berhak atas imbalan yang disebutkan, melainkan hanya berhak atas mahar mitsil, maka berdasarkan alur ini, khulu‘ menjadi batal jika permintaan talak diungkapkan dengan lafaz “matā mā”.

وإنما نشأ هذا الإشكال من المسألة الثانية وهي إذا قالت لك ألف وأنت بالخيار في تطليقي عاجلاً وفي تأخير الطلاق إلى شهر واستدعاؤها يستحيل على التعجيل والتأخير ويلزم أيضاًً أن يقال إذا كان الاستدعاء بلفظ متى ما فأخر الطلاق على قصد الإجابة إنه يستحق مهر المثل

Permasalahan ini sebenarnya muncul dari persoalan kedua, yaitu apabila ia berkata kepadamu, “Ceraikan aku,” dan engkau diberi pilihan untuk menceraikannya segera atau menunda talak hingga satu bulan, sementara permintaannya mustahil untuk dipenuhi baik secara langsung maupun dengan penundaan. Maka, harus juga dikatakan bahwa jika permintaan itu diungkapkan dengan lafaz “kapan pun,” lalu engkau menunda talak dengan maksud memenuhi permintaan tersebut, maka ia berhak mendapatkan mahar mitsil.

وبالجملة لا فرق بين المسألتين وقد انتظم في مسألة متى ما صحةُ الخلع إذا ابتدر وعري الطلاق عن البدل إذا تأخّر وانتظم هاهنا للأصحاب الرجوع إلى مهر المثل إذا اتصل الطلاق وإثبات مهر المثل إذا انفصل على قصد الإجابة فيجب قطعاً نقل جواب كل واحدٍ من المسألتين إلى أختها وإجراء وجهين فيهما جميعاً وقد وجدت هذا الذي ذكرتُه في مرامزِ كلام صاحب التقريب حكاية عن تصرفات ابن سريج

Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan antara kedua permasalahan tersebut. Dalam permasalahan mengenai kapan sahnya khulu‘, jika khulu‘ dilakukan lebih dahulu dan talak tidak disertai dengan pengganti (badal) jika dilakukan belakangan, maka dalam hal ini para ulama sepakat untuk kembali kepada mahar mitsil jika talak terjadi bersamaan, dan menetapkan mahar mitsil jika talak terjadi terpisah dengan maksud untuk menjawab (permintaan istri). Maka, sudah seharusnya jawaban dari masing-masing permasalahan tersebut dipindahkan ke permasalahan yang satunya, dan diberlakukan dua pendapat pada keduanya secara bersamaan. Aku telah menemukan apa yang aku sebutkan ini dalam isyarat-isyarat perkataan penulis at-Taqrib, yang meriwayatkan dari pendapat-pendapat Ibn Suraij.

ومما يكمل به البيان أنها إذا قالت طلقني غداً بألف وأثبتنا العوض على الشرط المقدم إذا أجابها في الوقت المعين فلو عجل الطلاق قبل الوقت المؤقت ففي استحقاقه العوض احتمال من جهةٍ خالف غرضها ومن جهةٍ عجل الفراق وقد تقدم لهذا نظير فيه إذا استدعت الفسخ على قولنا الخلع فسخ فطلقها فكيف يكون الأمر في ذلك فيه اختلاف قدمنا ذكره

Dan yang melengkapi penjelasan adalah bahwa jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku besok dengan imbalan seribu,” lalu kita menetapkan imbalan itu berdasarkan syarat yang diajukan sebelumnya jika suaminya menjawab pada waktu yang telah ditentukan, maka jika suaminya mempercepat talak sebelum waktu yang ditentukan, terdapat kemungkinan dalam hal berhak atau tidaknya ia mendapatkan imbalan tersebut: dari satu sisi, hal itu bertentangan dengan tujuannya, dan dari sisi lain, ia telah mempercepat perpisahan. Telah disebutkan sebelumnya hal yang serupa dalam kasus jika ia meminta pembatalan (fasakh) menurut pendapat bahwa khulu‘ adalah fasakh, lalu suaminya menceraikannya; bagaimana hukumnya dalam hal tersebut terdapat perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya.

ولو قالت طلقني غداً بألفٍ وطلقها بعد غدٍ لم نثبت شيئاً بلا خلاف فإنه أخر الطلاق وهو في وضعه منافٍ لاستحقاق العوض فلا هو وصل ولا هو أتى به على وفق استدعائها بل أخر عنه فهذا منتهى القول في ذلك

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku besok dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikannya lusa, maka tidak ditetapkan apa pun tanpa ada perbedaan pendapat, karena ia menunda talak, dan penundaan itu bertentangan dengan hak memperoleh kompensasi. Jadi, talak itu tidak terlaksana sesuai permintaannya, dan ia tidak melakukannya sebagaimana yang diminta, melainkan menundanya. Demikianlah akhir pembahasan dalam masalah ini.

ومن القول الجليّ في هذا النوع أنه لا يستحق عليها شيئاً ما لم يأت عليها العدد فيطلقها إذا كان يبغي التأخير فإن استحقاق المال يقترن في كل حساب بوقوع البينونة لا يتصور ترتب أحدهما على الثاني لأن البينونة تقع بالمال

Dan pendapat yang jelas dalam jenis ini adalah bahwa ia tidak berhak atas apa pun darinya selama belum mencapai jumlah yang ditentukan, lalu ia menceraikannya jika menginginkan penundaan. Sebab, hak atas harta selalu terkait dengan terjadinya bainunah dalam setiap perhitungan, sehingga tidak mungkin salah satunya terjadi setelah yang lain, karena bainunah terjadi dengan adanya harta.

ومهما رجعت المرأة عن قولها قبل تنفيذ الطلاق بطل المال وانقطع مسلك

Dan kapan pun seorang wanita menarik kembali ucapannya sebelum talak dilaksanakan, maka harta tersebut batal dan jalan (hukum) pun terputus.

استحقاقه ولا فرق بين أن تقول إن طلقتني غداً فلك ألف وبين أن تقول طلقني غداً على ألف والأمر في جانب الزوج بخلاف هذا فإنه إن قال خالعتك على ألف ملك الرجوع قبل إجابتها وإن قال إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق لم يملك الرجوع والسبب فيه أن الطلاق إذا علق لم يتصور الرجوع عنه لا لصيغة التعليق وذلك أن الطلاق في نفسه إذا علق لم يملك الرجوع عنه وكم من تعليق يُرجَع عنه

Tidak ada perbedaan antara ucapan “Jika kamu menceraikanku besok, maka bagimu seribu” dengan ucapan “Ceraikan aku besok dengan imbalan seribu”, sedangkan perkara di sisi suami berbeda dari ini. Jika ia berkata, “Aku khulu‘-kan kamu dengan imbalan seribu”, maka ia berhak menarik kembali sebelum istrinya menerima. Namun jika ia berkata, “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak”, ia tidak berhak menarik kembali. Sebabnya adalah bahwa talak jika digantungkan (pada suatu syarat), maka tidak mungkin untuk menariknya kembali, bukan karena bentuk kalimat syaratnya. Hal ini karena talak itu sendiri, jika digantungkan, tidak dapat ditarik kembali, meskipun ada banyak bentuk ta‘liq (penggantungan) yang bisa ditarik kembali.

والمرأة إنما تعلق المالَ وذكرَه فكانت بمثابة ما لو قال الرجل إن رددت عبدي الآبق فلك كذا فإذا أراد الرجوعَ كان له ذلك وقد ذكرنا أن الخلع في جانبها معاوضةٌ نازعةٌ إلى الجعالة

Perempuan itu sebenarnya mengaitkan harta dan penyebutannya, sehingga posisinya seperti seorang laki-laki yang berkata, “Jika engkau mengembalikan budakku yang kabur, maka bagimu sekian.” Jika ia ingin menarik kembali ucapannya, maka ia berhak melakukannya. Telah kami sebutkan bahwa khulu‘ di pihak perempuan adalah suatu bentuk mu‘āwadah (pertukaran) yang mendekati akad ju‘ālah.

وهذا نجاز الكلام في نوع واحد من الأنواع الثلاثة المذكورة في الفصل

Inilah akhir pembahasan mengenai satu jenis dari tiga jenis yang telah disebutkan dalam bab ini.

فأما النوع الثاني وهو الكلام في مقابلة تعليق الطلاق بالمال وهذا يفرض على وجهين أحدهما أن يبتدىء الرجل فيقول أنت طالق غداً على ألف درهم فتقول قبلت

Adapun jenis kedua, yaitu pembicaraan mengenai talak yang dikaitkan dengan harta, maka hal ini dapat terjadi dalam dua bentuk. Pertama, seorang laki-laki memulai dengan berkata, “Engkau tertalak besok dengan imbalan seribu dirham,” lalu perempuan itu berkata, “Aku menerima.”

والصورة الأخرى أن تقول المرأة مبتدئةً علق طلاقي على مجيء الغد ولك ألفُ درهم وذكر صاحب التقريب وجهين في أن الخلع هل يصح كذلك وهل يثبت البدل المسمى أم لا حكاهما عنه الصيدلاني ورأيتهما في كتابه أحد الوجهين أن المسمى يثبت فإن معلَّق الطلاق كمنجزه من جهة أنه لا مردّ له بعد إجرائه وليس في حكم الوعد والالتزام في الذمة حتى يظهرَ فيه الوجه الذي قدمناه في الفساد والتعليقُ متصل بذكر المال وقبوله ومن لم يستبعد إثبات المسمى في قول الرجل متى أعطيتني ألف درهم مع الاستقصاء في وصفه فينبغي ألا يستبعد تصحيح مقابلة التعليق بالمال هذا أحد الوجهين

Adapun gambaran lainnya adalah ketika seorang wanita memulai dengan mengatakan, “Aku menggantungkan talakku pada datangnya hari esok dan untukmu seribu dirham.” Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat mengenai apakah khulu‘ sah dalam kasus seperti ini dan apakah kompensasi yang disebutkan menjadi tetap atau tidak. Kedua pendapat ini dinukil darinya oleh as-Saidalani, dan aku juga melihatnya dalam kitabnya. Salah satu pendapat menyatakan bahwa kompensasi yang disebutkan menjadi tetap, karena talak yang digantungkan itu seperti talak yang langsung dijatuhkan, dari sisi bahwa tidak ada penolakan lagi setelah dilakukan, dan tidak termasuk dalam kategori janji atau komitmen dalam tanggungan sehingga muncul pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya tentang kerusakan. Penggantungan itu berkaitan dengan penyebutan harta dan penerimaannya. Barang siapa yang tidak menganggap aneh penetapan kompensasi dalam ucapan seorang laki-laki, “Kapan pun engkau memberiku seribu dirham,” dengan penjelasan rinci tentang sifatnya, maka seharusnya ia juga tidak menganggap aneh keabsahan penggantian penggantungan dengan harta. Ini adalah salah satu dari dua pendapat.

والوجه الثاني أن الخلع يفسد على معنى أن المسمى لا يثبت فإن وضع الخلع على تنجيز تخليص المرأة بما تفتدي به نفسَها والتي عُلّق طلاقها زوجة قبل وجود الصفة وقد تتأخر الصفة فكان ذلك مخالفاً لوضع الخلع فلزم الرجوع إلى مهر المثل ولا خلاف أن المال لا يثبت في ذمتها ما لم تتحقق الصفة فإن الطلاق يقع عندها ويستحيل ثبوت المال عليها متقدماً على حصول الفراق

Adapun alasan kedua adalah bahwa khulu‘ menjadi batal dalam arti bahwa jumlah yang disepakati tidak tetap, karena khulu‘ ditetapkan untuk segera membebaskan perempuan dengan sesuatu yang ia jadikan tebusan bagi dirinya, sedangkan perempuan yang talaknya digantungkan pada suatu sifat masih berstatus istri sebelum sifat itu terwujud, dan sifat itu bisa saja terlambat terwujud. Maka hal itu bertentangan dengan ketentuan khulu‘, sehingga harus kembali kepada mahar mitsil. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa harta tidak menjadi tanggungannya selama sifat itu belum terwujud, karena talak terjadi ketika sifat itu ada, dan tidak mungkin harta menjadi kewajibannya sebelum terjadinya perpisahan.

وذكر شيخي أبو محمد وجهاً ثالثاً حكاه عن شيخه القفال وذلك أنه قال من أصحابنا من فرق بين الابتداء إذا كان منه وبين ما إذا ابتدأت فإن ابتدأ الزوجُ وقبلت المرأة صح البدل وثبت المسمى وإن ابتدأت المرأة بالاستدعاء ووضعت استدعاءها على تعليق الطلاق لم يصح ذلك منها وكان مآلُ الأمر بالرجوع إلى مهر المثل

Syekh saya, Abu Muhammad, menyebutkan pendapat ketiga yang ia riwayatkan dari gurunya, al-Qaffal, yaitu bahwa sebagian ulama kami membedakan antara permulaan (ijab) jika berasal dari pihak suami dan jika berasal dari pihak istri. Jika suami yang memulai dan istri menerima, maka penggantian (mahar) sah dan mahar yang disebutkan menjadi tetap. Namun, jika istri yang memulai dengan permintaan dan ia mengaitkan permintaannya dengan talak, maka hal itu tidak sah darinya, dan pada akhirnya perkara tersebut kembali kepada mahar mitsil.

وهذا عندنا تخيل لا حاصل له فإن التعليق إذا كان يقبل المقابلة بالمال فإذا استدعت فقد استدعت بالمال قابلاً للمقابلة فلا أثر لتقدم قولها وتأخره

Menurut kami, ini hanyalah angan-angan yang tidak memiliki hasil apa pun. Sebab, jika suatu penangguhan dapat dipertukarkan dengan harta, maka ketika ia menuntut, ia menuntut dengan harta yang dapat dipertukarkan. Maka, tidak ada pengaruh apakah ucapannya lebih dahulu atau belakangan.

وذكر القاضي وجهاً آخر أن المال لا يثبت لأن المعاوضة لا تقبل التعليق وإذا لم يثبت المال لم يقع الطلاق فإنه علق على مال

Qadhi menyebutkan pendapat lain bahwa harta tidak menjadi tetap karena akad pertukaran tidak menerima penangguhan. Jika harta tidak menjadi tetap, maka talak tidak terjadi, karena talak tersebut digantungkan pada harta.

وهذا أولاً ضعيف فإن وقوع الطلاق ينبغي أن يناط بالقبول فإذا قال الزوج أنت طالقٌ غداً بألف فقالت قبلت فحصول القبول في هذه الصورة على صيغة حصول القبول في الطلاق المنجّز إذ لا تعليق للطلاق بثبوت المال وإنما تعليقه بصفة وبوقتٍ فالمصير إلى أن الطلاق لا يقع غفلةٌ عظيمة نعم إن قيل لا يثبت المال بجهة التعليق فهو فقهٌ على حال ثم يجب أن يكون التفريع عليه أن الطلاق يقع رجعياً

Pertama-tama, pendapat ini lemah, karena terjadinya talak seharusnya dikaitkan dengan adanya kabul. Jika suami berkata, “Engkau tertalak besok dengan seribu (dirham),” lalu istri berkata, “Aku terima,” maka terjadinya kabul dalam kasus ini sama seperti terjadinya kabul pada talak yang dilangsungkan secara langsung, karena talak tidak digantungkan pada keberadaan harta, melainkan digantungkan pada sifat dan waktu. Oleh karena itu, berpendapat bahwa talak tidak terjadi adalah kelalaian yang besar. Namun, jika dikatakan bahwa harta tidak menjadi hak karena adanya ta‘liq (penggantungan), maka itu adalah fiqh tersendiri. Kemudian, seharusnya konsekuensi dari pendapat tersebut adalah bahwa talak yang terjadi adalah talak raj‘i.

ومما يتعلق بهذا الفصل أن الرجل إذا علق الطلاق وذكر مالاً كما وصفناه فقبلت المرأة فلو أرادت المرأة الرجوعَ قبل وقوع الطلاق لم تجد إلى ذلك سبيلاً فإن الأمر استقر بالتعليق والقبول وصار التعليق كالتطليق

Terkait dengan bab ini, apabila seorang laki-laki menggantungkan talak dan menyebutkan sejumlah harta sebagaimana telah dijelaskan, lalu perempuan menerimanya, maka jika perempuan ingin menarik kembali penerimaannya sebelum talak jatuh, ia tidak dapat melakukannya. Sebab, perkara tersebut telah tetap dengan adanya penggantungan dan penerimaan, dan penggantungan itu menjadi seperti talak yang telah dijatuhkan.

فإذا فرعنا على فساد المسمى كان الجواب كمثله والسبب فيه أن الطلاق تعلق تعلقاً لا يُستدرَك وارتبط بالمال ارتباطاً لا يحتاج معه إلى تجديد قبول فلا يختلف الأمر بفساد المسمى وصحته وليس كما لو استدعت منه أن يطلقها غداً فإنها تملك الرجوع لو أرادت حتى نقول لو رجعتْ ولم يشعر الزوجُ فطلقها على قصدِ الإسعاف نفذ الطلاق عارياً عن العوض

Jika kita membangun pendapat berdasarkan batalnya nilai yang disebutkan, maka jawabannya tetap sama, dan sebabnya adalah karena talak itu terkait dengan cara yang tidak dapat ditarik kembali, serta terikat dengan harta dalam bentuk yang tidak memerlukan pembaruan akad penerimaan. Maka, perkara ini tidak berbeda antara batal atau sahnya nilai yang disebutkan. Hal ini tidak seperti jika seorang istri meminta suaminya untuk menceraikannya besok, karena dalam kasus itu ia masih memiliki hak untuk menarik kembali permintaannya jika ia menghendaki. Maka, jika ia telah menarik kembali permintaannya tanpa sepengetahuan suami, lalu suami menceraikannya dengan maksud memenuhi permintaannya, maka talak tersebut tetap sah namun tanpa adanya kompensasi.

وقد ينقدح فيه اشتراط بلوغ الخبر كالتوكيل والعزل والأظهر أنا لا نشترط بلوغ الخبر فإن هذا في حكم الرجوع عن أحد شقي العقد قبل صدور الشق الثاني من العاقد

Mungkin terlintas pemikiran tentang disyaratkannya sampai berita, seperti dalam hal perwakilan dan pemberhentian, namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kita tidak mensyaratkan sampai berita, karena hal ini dianggap sebagai penarikan kembali salah satu sisi akad sebelum sisi kedua dari pihak yang berakad dikeluarkan.

فقد انتظم مما ذكرناه أن المرأة في صورة التعليق لم تلتزم بعدُ مالاً عليها ولا نجد سبيلاً إلى دفع ما سيلزمها عند وقوع الطلاق وكأنها التزمت أن تلتزم وينشأ من هذا المنتهى تأكيدٌ لما قدمناه وهو أن الطلاق لو أُخّر ثم أوقع لم يتعلق به استحقاق مالٍ وقد استنبطتُ هذا من قول الأصحاب فيه إذا قالت متى طلقتني فلك ألف وقد صرح القاضي في التعليق بأن المال لا يثبت في وجهٍ إذا كان لا يثبت هاهنا وقد انعقد التعليق فلأن لا يثبت في الطلاق المنشأ بعد زمان مستأخر أولى

Maka dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa dalam kasus ta‘liq (perceraian yang digantungkan pada suatu syarat), perempuan belum berkewajiban membayar harta apa pun. Kami juga tidak menemukan cara untuk mencegah kewajiban yang akan timbul atasnya ketika talak terjadi. Seolah-olah ia hanya berkomitmen untuk berkomitmen. Dari kesimpulan ini, terdapat penegasan atas apa yang telah kami sampaikan sebelumnya, yaitu jika talak ditunda kemudian dijatuhkan, maka tidak ada hak atas harta yang terkait dengannya. Saya menyimpulkan hal ini dari perkataan para ulama dalam kasus ketika seorang perempuan berkata, “Jika engkau menceraikanku, maka bagimu seribu (dirham).” Qadhi juga menegaskan dalam kasus ta‘liq bahwa harta tidak menjadi hak dalam satu sisi jika memang tidak menjadi hak dalam kasus ini, padahal ta‘liq telah terjadi. Maka, lebih utama lagi untuk tidak menetapkan hak harta dalam talak yang dijatuhkan setelah waktu yang lama.

وقد نجز القول في مقابلة تعليق الطلاق بالمال

Pembahasan mengenai perbandingan antara penangguhan talak dengan harta telah selesai.

فأما الفن الثالث فهو أن تستدعي طلاقاً وتذكر من حكمه ما لا يوافق الشرع مثل أن تقول طلقني بألفٍ طلقةً يمتد تحريمها إلى شهر ثم ينقضي فإذا قال أنت طالق طلقةً إلى شهر فالطلاق يقع على موجَب الشرع مسترسلاً على الأزمان ثم قال الأصحاب يفسد العوض الذي سمَّت بسبب فساد الصيغة والرجوع إلى مهر المثل وقياس هذا بيّن على ما ذكرناه

Adapun bagian ketiga adalah apabila seseorang meminta talak dan menyebutkan hukum talak yang tidak sesuai dengan syariat, seperti mengatakan, “Ceraikan aku dengan seribu talak yang masa pengharamannya berlangsung selama sebulan, kemudian berakhir.” Maka jika suami berkata, “Engkau aku talak satu kali sampai sebulan,” talak itu tetap jatuh sesuai ketentuan syariat, berlaku terus sepanjang waktu. Kemudian para ulama berpendapat bahwa kompensasi (imbalan) yang telah disebutkan menjadi batal karena rusaknya lafaz (akad), dan kembali kepada mahar mitsil (mahar sepadan). Qiyās (analogi) atas hal ini jelas sebagaimana yang telah kami sebutkan.

ولو قالت لزوجها طلقني نصف طلقة بألف فقال أنت طالق نصف طلقة فكيف السبيل هذا فيه تردد من قِبل أن ما استدعته فاسد في لفظه وإن كان الشرع يكمله وهذا بمثابة استدعائها طلاقاً إلى شهر فوقوعُ الطلاق مطرداً على الأزمان حكمُ الشرع كذلك تكميلُ الطلقة الملفوظ بها نصف طلقة موجب الشرع فوجب أن لا يكون بين المسألتين فرق

Jika seorang istri berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku setengah talak dengan imbalan seribu,” lalu suaminya berkata, “Engkau aku ceraikan setengah talak,” maka bagaimana hukumnya? Dalam hal ini terdapat keraguan, karena apa yang dimintanya itu rusak dari segi lafaz, meskipun syariat menyempurnakannya. Ini serupa dengan permintaan istri agar dicerai dalam jangka waktu satu bulan, maka jatuhnya talak yang terus-menerus sesuai waktu adalah ketetapan syariat. Demikian pula penyempurnaan talak yang diucapkan setengah talak adalah kewajiban syariat. Maka seharusnya tidak ada perbedaan antara kedua permasalahan tersebut.

وكذلك لو قالت طلق يدي أو طلق نصفي بألف ففي المسألة تردد واحتمال والاحتمال في هذه الصورة الأخيرة أظهر فإنها تُبنى على خلافٍ للأصحاب يأتي في أن من قال لامرأته نصفك طالق فالطلاق يصادف النصفَ ويسري كما يفرض مثل ذلك في العتق أو يكون تطليق النصف عبارة عن تطليق الكل والظاهر في المسائل كلها الرجوع إلى مهر المثل وقد نقلنا نصَّ الأصحاب فيه إذا استدعت الطلاق إلى شهر أن الرجوع إلى مهر المثل

Demikian pula jika seorang wanita berkata, “Ceraikan tanganku” atau “Ceraikan setengah diriku” dengan mahar seribu, maka dalam masalah ini terdapat keraguan dan kemungkinan, dan kemungkinan pada gambaran terakhir ini lebih jelas. Sebab, hal ini dibangun di atas perbedaan pendapat di kalangan para ulama yang akan dijelaskan, yaitu jika seseorang berkata kepada istrinya, “Setengah dari dirimu aku ceraikan,” maka talak itu mengenai setengahnya dan berlaku pada seluruhnya, sebagaimana hal serupa juga terjadi dalam masalah pembebasan budak. Atau, menceraikan setengah berarti menceraikan seluruhnya. Yang tampak dalam semua permasalahan ini adalah kembali kepada mahar mitsil (mahar yang sepadan), dan kami telah menukil pendapat para ulama bahwa jika seorang wanita meminta cerai dalam jangka waktu sebulan, maka kembali kepada mahar mitsil.

فليتأمل الناظر هذه المسائل

Maka hendaklah orang yang memperhatikan merenungkan masalah-masalah ini.

فصل قال ولو قالتا طلقنا بألفٍ ثم ارتدتا إلى آخره

Bab: Ia berkata, “Jika kedua wanita itu berkata, ‘Ceraikan kami dengan seribu (dirham),’ lalu keduanya murtad, dan seterusnya.”

نُجدد العهدَ في مقدمة الفصل بما مهدنا ذكره في كتاب الصداق نقول إذا خالع الرجل امرأتيه بمالٍ سماه فقبلتا فالبينونة تقع وفي صحة البدل قولان تمهد أصلهما فيما مضى أحدهما أنه لا يصح فإنه لا يدري بماذا يطالِب كلَّ واحدة وكلُّ واحدة منهما مستقلّةٌ بنفسها فيما تلتزِم وتطالَب به

Kami memperbarui penegasan di awal bab ini dengan apa yang telah kami jelaskan dalam Kitab Ṣadāq. Kami katakan: Jika seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap kedua istrinya dengan sejumlah harta yang telah disebutkan, lalu keduanya menerima, maka talak bain terjadi. Terkait keabsahan harta pengganti tersebut terdapat dua pendapat yang telah dijelaskan sebelumnya. Salah satunya adalah tidak sah, karena tidak diketahui apa yang dapat dituntut dari masing-masing istri, padahal masing-masing dari mereka berdiri sendiri dalam hal yang mereka tanggung dan yang dapat dituntut dari mereka.

والقول الثاني أن الخلع صحيح وتعدُّدُ المرأتين بمثابة ابتياع عبدين بألف

Pendapat kedua menyatakan bahwa khulu‘ itu sah, dan adanya dua orang perempuan dianggap seperti membeli dua budak dengan harga seribu.

فإن لم نصحح التسميةَ فالرجوعُ إلى مهر المثل فيطالِب كلَّ واحدة منهما بمهر مثلها فإنّ سبب الفساد الجهالة ومهما كان فساد البدل بسبب الجهالة فالرجوع إلى مهر المثل

Jika kita tidak dapat membenarkan penamaan tersebut, maka kembali kepada mahar mitsil, sehingga masing-masing dari keduanya dituntut dengan mahar mitsilnya. Sebab kerusakan adalah karena ketidaktahuan, dan kapan pun kerusakan pengganti terjadi karena ketidaktahuan, maka kembali kepada mahar mitsil.

وإن حكمنا بصحة المسمى فالأصح الذي عليه التعويل أنه يتوزع على مهور أمثالهما فإن كان مهراهما متساويين فعلى كل واحدة نصفُ البدل المسمى وإن كانا مختلفين وزعنا المسمى على مقداريهما وتطالَب كل واحدة منهما بما يخصها

Jika kita memutuskan keabsahan mahar yang disebutkan, maka pendapat yang paling sahih dan dijadikan sandaran adalah bahwa mahar tersebut dibagi kepada mahar-mahar wanita yang sepadan dengan keduanya. Jika mahar keduanya sama, maka masing-masing mendapat setengah dari mahar yang disebutkan. Namun jika berbeda, maka mahar tersebut dibagi sesuai kadar masing-masing, dan masing-masing dari keduanya dituntut sesuai bagian yang menjadi haknya.

وذكر الشيخ أبو بكر قولاً آخر أنا نوزع المسمى بالسوية على رؤوسهما فلا ننظر إلى تفاوت المهرين وتساويهما

Syekh Abu Bakar menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa kita membagi mahar yang disebutkan secara merata kepada keduanya, sehingga kita tidak memperhatikan perbedaan atau kesamaan antara kedua mahar tersebut.

وهذا لم أره إلا له وأجراه القاضي قولاً ولم يزيفه ثم وجّهه الصيدلاني بأن الطلاق هو المقابَل بالمال وطلاقُها وطلاق صاحبتها لا يختلفان في سبيل العدد كما لا تختلف طلقات امرأة

Hal ini tidak aku temukan kecuali darinya, dan Qadhi menganggapnya sebagai suatu pendapat dan tidak melemahkannya. Kemudian Ash-Shaydalani menjelaskan bahwa talak adalah yang diimbangi dengan harta, dan talaknya serta talak temannya tidak berbeda dalam hal jumlah, sebagaimana talak-talak seorang wanita tidak berbeda.

وهذا ضعيف لا أصل له فإن المقابَل بالمال أبضاعُهما وسبيل حَلِّ النكاح عنهما الطلاقُ فلا معنى للنظر إلى أعداد الطلاق ثم أعداد النسوة

Ini lemah dan tidak memiliki dasar, karena yang menjadi objek pertukaran dengan mahar adalah kemaluan keduanya, dan cara halal dalam pernikahan dari keduanya adalah melalui talak, maka tidak ada gunanya memperhatikan jumlah talak kemudian jumlah perempuan.

ثم إن صح هذا الذي ذكره فيتفرع عليه أمران أحدهما أنه يجب القطع بصحة الخلع إذا كان تفريع التوزيع يُفضي إلى هذا وربّ أصلٍ يستبدل بفرعه في إجراء الترتيب هذا لا بد منه فيقال إذا كنا نرى التوزيع على الرؤوس فالبدل المسمى ثابت وإن كنا نقدر التوزيع على مهر المثل ففي صحة المسمى الخلاف الذي ذكرناه

Kemudian, jika apa yang disebutkan itu benar, maka ada dua hal yang bercabang darinya. Pertama, wajib memastikan keabsahan khulu‘ jika penjabaran pembagian mengarah pada hal ini. Dan setiap pokok hukum yang digantikan dengan cabangnya dalam penerapan urutan ini, maka hal itu pasti terjadi. Maka dikatakan: jika kita memandang pembagian berdasarkan jumlah kepala (orang), maka pengganti yang telah disebutkan tetap berlaku. Namun jika kita memperkirakan pembagian berdasarkan mahar mitsil, maka dalam keabsahan pengganti tersebut terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.

ومما يجب تفريعه على ذلك أن الرجل إذا قال في مخاطبة امرأتيه وكان يملك على كل واحدةٍ ثلاث طلقات طلقتك يا زينب واحدةً وطلقتك يا عَمْرة اثنتين بألف درهم فإذا كنا نرى التوزيع على التسوية فهذا فيه تردد والظاهر أن المطلقة اثنتين تلتزم ثلثي الألف والمطلقة واحدة تلتزم الثلث نظراً إلى أعداد الطلاق في المرأة الواحدة وفي كلام الصيدلاني ما يدل على أن التوزيع على الرؤوس ولا نظر إلى أعداد الطلاق فيكون البدل المسمى منشطراً أبداً بين اثنتين وإن تفاوت الواقع عليهما من أعداد الطلاق

Hal yang juga perlu dijabarkan dari hal tersebut adalah apabila seorang laki-laki berkata kepada dua istrinya—dan ia memiliki hak tiga talak atas masing-masing—“Aku menalakkanmu, wahai Zainab, satu kali, dan aku menalakkanmu, wahai ‘Amrah, dua kali, dengan mahar seribu dirham.” Jika kita berpendapat pembagian dilakukan secara merata, maka dalam hal ini terdapat keraguan. Pendapat yang tampak adalah bahwa istri yang ditalak dua kali menanggung dua pertiga dari seribu dirham, dan istri yang ditalak satu kali menanggung sepertiganya, dengan mempertimbangkan jumlah talak pada masing-masing istri. Dalam penjelasan as-Sayidilani terdapat indikasi bahwa pembagian dilakukan berdasarkan jumlah orang, tanpa memperhatikan jumlah talak, sehingga kompensasi yang disebutkan selalu dibagi dua, meskipun jumlah talak yang dijatuhkan kepada masing-masing berbeda.

ولو قال الزوج لامرأتيه أنتما طالقان على ألف فقبلت إحداهما ولم تقبل الأخرى لم تطلق واحدة منهما هكذا ذكر الأصحاب وهذا لعمري جارٍ على ظاهر المذهب فيه إذا قال الرجل لشخصين بعت منكما عبدي هذا بألف درهم فقال أحدهما قبلت البيعَ في نصفه بخمسمائة فالذي ذكره أئمة المذهب أن القبول لا يصح على هذا الوجه ما لم يساعد صاحبه وإن فرعنا على المذهب المشهور والقول المنصور على أبي حنيفة ورأينا أن لأحدهما أن يتفرد برد ما اشتراه عند الاطلاع على العيب وإن لم يساعده الثاني في الرد

Jika seorang suami berkata kepada dua istrinya, “Kalian berdua aku ceraikan dengan tebusan seribu,” lalu salah satu dari keduanya menerima dan yang lainnya tidak menerima, maka tidak jatuh talak pada salah satu dari keduanya. Demikian disebutkan oleh para ulama mazhab. Ini, menurut saya, sesuai dengan pendapat mazhab yang zahir dalam masalah jika seseorang berkata kepada dua orang, “Aku jual budakku ini kepada kalian berdua dengan harga seribu dirham,” lalu salah satu dari keduanya berkata, “Aku terima jual beli ini untuk setengahnya dengan lima ratus,” maka yang disebutkan oleh para imam mazhab adalah bahwa akad tidak sah dengan cara seperti ini kecuali jika temannya juga menyetujuinya. Namun, jika kita mengikuti pendapat mazhab yang masyhur dan pendapat yang kuat menurut Abu Hanifah, maka salah satu dari keduanya boleh membatalkan barang yang dibelinya ketika mengetahui adanya cacat, meskipun temannya tidak ikut membatalkan.

هذا الذي ذكرناه في القبول هو المذهب المقبول وقد اشتهر عن الأصحاب ذكرُ منعٍ فيه والحكمُ بتصحيح القبول من أحدهما في القدر الذي يخصه من الملك بالقدر الذي يلزمه من الثمن ولم أر هذا لمعتمدٍ في المذهب وغالب ظني أنه من ارتكاب الخلافيين وقد حكيت هذا في كتابٍ واستشهدت بمسألةٍ من الخلع ولم أتثبت فيها على ما ينبغي

Apa yang telah kami sebutkan mengenai penerimaan adalah mazhab yang diterima, dan telah masyhur dari para sahabat (ulama) penyebutan adanya larangan di dalamnya serta penetapan keabsahan penerimaan dari salah satu pihak dalam kadar yang menjadi haknya dari kepemilikan sesuai kadar yang menjadi tanggungannya dari harga. Namun, aku tidak melihat hal ini sebagai pendapat yang diandalkan dalam mazhab, dan menurutku besar kemungkinan hal itu merupakan hasil rekayasa para ahli khilaf. Aku telah meriwayatkan hal ini dalam sebuah kitab dan menguatkannya dengan sebuah masalah dari kasus khulu‘, namun aku tidak menelitinya sebagaimana mestinya.

وهذا أوان التفصيل على التحصيل الذي عليه التعويل فنقول إذا كان البادىء الزوج فقال لامرأتيه أنتما طالقان بألف فإذا قبلت إحداهما ولم تقبل الثانية لم يقع شيء كما لو قال مالك العبد بعت عبدي هذا منكما بألف درهم فقبل أحدهما دون الثاني لم يصح والخلع أولى بألا يصحَّ ببعض القبول فيه لما فيه من تضمين التعليق

Sekarang tibalah saatnya untuk merinci pembahasan berdasarkan hasil yang menjadi sandaran. Maka kami katakan: Jika yang memulai adalah suami, lalu ia berkata kepada dua istrinya, “Kalian berdua aku talakkan dengan seribu (dirham),” kemudian salah satu dari keduanya menerima dan yang kedua tidak menerima, maka tidak terjadi apa-apa, sebagaimana jika pemilik budak berkata, “Aku jual budakku ini kepada kalian berdua dengan seribu dirham,” lalu salah satu dari mereka menerima dan yang kedua tidak menerima, maka jual beli itu tidak sah. Dalam hal khulu‘ (cerai tebus), lebih utama untuk tidak sah jika hanya sebagian yang menerima, karena di dalamnya terdapat unsur penangguhan (ta‘liq).

وإن صح في البيع تصحيحُ القبول من أحدهما دون الثاني لم يمتنع خروج مثله في الخلع فإنه وإن اشتمل على معنى التعليق فهو في هذا المقام كالمعاوضة المحضة إذ يجوز للمخالع إذا لم يأت بلفظ التعليق أن يرجع قبل القبول وهذا أصدق الآيات في تغليب معنى المعاوضة في الفن الذي نطلبه

Jika dalam jual beli sah pembetulan penerimaan dari salah satu pihak tanpa yang lainnya, maka tidak mustahil hal serupa terjadi dalam khulu‘, karena meskipun khulu‘ mengandung makna ta‘liq (penggantungan), dalam hal ini ia seperti mu‘awadhah murni (pertukaran hak secara langsung). Sebab, pihak yang melakukan khulu‘, jika tidak mengucapkan lafaz ta‘liq, boleh menarik kembali sebelum ada penerimaan. Inilah bukti paling nyata dalam menguatkan makna mu‘awadhah dalam bidang yang sedang kita bahas.

والمعتمد في منع تبعض القبول مخالفة القبول لما أشعر الإيجاب باستدعائه فإن من قال بعت منكما مستدعٍ لجوابهما على الاقتران فهذا ما يجب التعويل عليه ولهذا قلنا لو قال الرجل بعتك عبدي هذا بألفٍ فقال المخاطب اشتريت بألفين فالبيع لا ينعقد وكان من الممكن إحباط الألف الزائدة والمصير إلى أنها ملغاة ولكن شرط القبول موافقة الإيجاب على وجهٍ لو فرض غير مستقلٍّ لانْبنَى على ما تقدم وذلك أن المخاطَب إذا قال قبلت فهذا لا يستقلّ لو انفرد ولكنه نفذ لابتنائه على ما تقدم

Pendapat yang dipegang dalam larangan sebagian penerimaan adalah karena penerimaan tersebut bertentangan dengan apa yang diisyaratkan oleh ijab sebagai sesuatu yang diminta. Sebab, orang yang berkata, “Aku menjual kepadamu berdua,” berarti ia meminta jawaban dari keduanya secara bersamaan; inilah yang harus dijadikan sandaran. Oleh karena itu, kami katakan: jika seseorang berkata, “Aku menjual budakku ini kepadamu seharga seribu,” lalu orang yang diajak bicara menjawab, “Aku membeli dengan harga dua ribu,” maka jual beli tidak sah. Sebenarnya, mungkin saja seribu yang lebih itu diabaikan dan dianggap batal, namun syarat penerimaan adalah harus sesuai dengan ijab dalam bentuk yang, jika dianggap tidak berdiri sendiri, maka tetap mengikuti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Sebab, jika orang yang diajak bicara berkata, “Aku terima,” maka itu sendiri tidak berdiri sendiri jika dipisahkan, tetapi menjadi sah karena mengikuti apa yang telah disebutkan sebelumnya.

وإذا قال البائع بعت عبدي هذا منكما بألف فقالا اشتريناه بالألف صح وقد تحققت الموافقة على النهاية ولو قال بعت هذا العبدَ منكما بألف فقال كل واحد منهما اشتريتُ نصفه بنصف الألف فهذا فيه احتمالٌ عندي من قِبَل أنه خاطبهما على صيغة تقتضي جوابهما فإذا ذكر كل واحد منهما عبارة تصلح للانفراد ورّث ذلك احتمالاً والظاهر الصحة بحصول الغرض من الموافقة في المعنى ثم لا نشترط أن ينطقا معاً بل إذا قال أحدهما قبلت ثم قال الثاني بعده قبلت والأمر على التواصل والزمان الجامع المرعي الشامل جاز وهذا هو الممكن

Jika penjual berkata, “Aku menjual budakku ini kepada kalian berdua seharga seribu,” lalu keduanya berkata, “Kami membelinya seharga seribu,” maka sah, karena telah terjadi kesepakatan pada batas akhirnya. Namun, jika penjual berkata, “Aku menjual budak ini kepada kalian berdua seharga seribu,” lalu masing-masing dari mereka berkata, “Aku membeli setengahnya dengan setengah dari seribu,” maka menurutku ada kemungkinan (perbedaan pendapat) di sini, karena ia berbicara kepada mereka berdua dengan bentuk yang menuntut jawaban dari keduanya. Jika masing-masing dari mereka mengucapkan ungkapan yang bisa berdiri sendiri, hal itu menimbulkan kemungkinan (perbedaan pendapat). Namun yang tampak adalah sah, karena tujuan kesepakatan makna telah tercapai. Kemudian, kami tidak mensyaratkan agar keduanya mengucapkannya secara bersamaan, bahkan jika salah satu dari mereka berkata, “Aku menerima,” lalu yang kedua berkata setelahnya, “Aku menerima,” dan hal itu terjadi secara berkesinambungan dalam waktu yang masih dianggap satu rangkaian, maka itu diperbolehkan. Inilah yang memungkinkan.

ولو قال رجلان بعنا عبدنا هذا وهو بيننا نصفان منك بألف فقال لأحدهما اشتريت نصيبك بخَمسمائة فالذي أطلقه الأصحاب أن البيع لا يصح في بعض العبد إذا أراد الاختصار عليه ومنعُ الصحة في هذه الصورة أَعْوصُ وأغمض من منعها إذا اتحد البائع وتعدد القابل فكل واحد منهما يعرب عن ملكه ولا تعلّق له بملك صاحبه فإن صح تبعيض القبول فيه إذا قال الشخص الواحد بعت عبدي منكما فلا شك أن هذا يُخرّج فيه إذا قالا بعنا منك وسنذكر صوراً في استدعاء النسوة الطلاق فإنا الآن فيه

Jika dua orang berkata, “Kami telah menjual budak kami ini yang kami miliki bersama, masing-masing setengah, kepadamu seharga seribu,” lalu salah satu dari mereka berkata, “Aku membeli bagianmu seharga lima ratus,” maka yang ditegaskan oleh para ulama adalah bahwa jual beli tidak sah atas sebagian budak jika hanya dimaksudkan untuk bagian tersebut saja. Larangan sahnya jual beli dalam kasus ini lebih rumit dan lebih samar dibandingkan larangan jika penjualnya satu orang dan pembelinya lebih dari satu, karena masing-masing dari mereka menyatakan kepemilikannya sendiri dan tidak ada kaitannya dengan kepemilikan rekannya. Jika sah pemisahan penerimaan dalam kasus ketika satu orang berkata, “Aku menjual budakku kepada kalian berdua,” maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini juga berlaku jika keduanya berkata, “Kami menjual kepadamu.” Kami akan menyebutkan beberapa contoh dalam permintaan talak oleh para wanita, karena saat ini pembahasan kita sedang dalam hal itu.

إذا ابتدأ الزوج وقال خالعتكما أو خالعتكن فلو خالع امرأتين بألف وكانت إحداهما سفيهة والأخرى مُطْلقة فقبلتا وقع الطلاق وفاقاً ثم الطلاق الواقع على السفيهة رجعي وطلاق المُطْلقة بائن

Jika seorang suami memulai dengan mengatakan, “Aku melakukan khulu‘ terhadap kalian berdua” atau “Aku melakukan khulu‘ terhadap kalian semua,” lalu ia melakukan khulu‘ terhadap dua orang istri dengan mahar seribu, dan salah satu dari keduanya adalah perempuan safīhah (tidak cakap) sementara yang lainnya adalah perempuan yang sudah pernah ditalak, kemudian keduanya menerima, maka talak pun jatuh menurut kesepakatan (ijmā‘). Kemudian, talak yang jatuh pada perempuan safīhah adalah talak raj‘i, sedangkan talak pada perempuan yang sudah pernah ditalak adalah talak bain.

فإن قيل قد تبعض الأمر في لزوم العوض فهلا حكمتم بأن ذلك يمنع وقوع الطلاق قلنا المرعي القبول وقد ذكرنا أن قبول المحجورة في اقتضاء الطلاق كقبول المُطْلقة فإذا حصل الوفاق في القبول لم يمتنع افتراق الأمر في لزوم المال وانتفائه ووقوع البينونة على إحداهما والطلاق الرجعي على الأخرى

Jika dikatakan bahwa telah terjadi pembagian dalam hal kewajiban membayar kompensasi, maka mengapa kalian tidak memutuskan bahwa hal itu mencegah terjadinya talak? Kami katakan bahwa yang menjadi perhatian adalah penerimaan, dan kami telah sebutkan bahwa penerimaan dari pihak yang tidak berwenang dalam menuntut talak sama seperti penerimaan dari pihak yang ditalak. Maka jika telah terjadi kesepakatan dalam hal penerimaan, tidaklah menghalangi terjadinya perbedaan dalam hal kewajiban membayar harta, hilangnya kewajiban tersebut, terjadinya bain pada salah satu pihak, dan talak raj‘i pada pihak lainnya.

فهذا قدر غرضنا الآن في ابتداء الرجل بالمخالعة

Demikianlah kadar tujuan kami saat ini dalam membahas permulaan seorang laki-laki melakukan khulu‘.

فأما إذا سألت امرأتان الطلاق وقالتا خالعنا بألفٍ فإن أجابهما وقال خالعتكما أو طلقتكما فالبينونة واقعة وفي صحة المسمى القولان المقدّمان فإن مأْخذهما لا يختلف بأن يكون الزوج هو المبتدىء أو تبتدىء النسوة بالاستدعاء

Adapun jika dua orang wanita meminta talak dan berkata, “Ceraikanlah kami dengan tebusan seribu,” lalu suami menjawab keduanya dan berkata, “Aku menceraikan kalian berdua” atau “Aku menalak kalian berdua,” maka terjadilah bainunah (perceraian yang tidak dapat dirujuk). Mengenai keabsahan jumlah tebusan yang disebutkan, terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan sebelumnya, karena dasar permasalahannya tidak berbeda, baik suami yang memulai (perceraian) maupun para wanita yang memulai permintaan.

ولو قالت امرأة طلقني وضَرَّتي بألف فقال طلقتكما فالمسمى صحيح هاهنا بلا خلاف فإن القائلة متحدة غير أنها أدخلت نفسها وضرتها في العقد وتعدّدُ المعقود عليه لا يؤثر إذا تحقق اتحاد العاقد وليس كما إذا سألتا فأجابهما فإن كل واحدة منهما مستقلّة بالالتزام وهذا ظاهر مغنٍ بظهوره عن مزيد الكشف

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dan maduku dengan seribu (dirham),” lalu suaminya berkata, “Aku menceraikan kalian berdua,” maka jumlah yang disepakati itu sah di sini tanpa ada perbedaan pendapat. Sebab, yang mengajukan permintaan adalah satu orang, hanya saja ia memasukkan dirinya dan madunya dalam akad tersebut. Adapun banyaknya objek akad tidak berpengaruh selama pelaku akadnya satu orang. Ini berbeda dengan jika keduanya (istri dan madu) yang meminta lalu suami mengabulkan permintaan mereka, karena masing-masing dari mereka berdiri sendiri dalam komitmennya. Hal ini jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut karena sudah sangat terang.

ولو قالتا خالعنا أو طلقنا بألف فقال في جواب إحداهما طلقتك فالطلاق يقع بائناً وهذا التبعيض لا ينافي وقوع الطلاق وليس كما إذا قال خالعتكما بألف فقبلت إحداهما فإن الطلاق لا يقع على القابلة كما حكيناه عن الأصحاب فإن قوله محمول على مقتضى المعاوضة والمعاوضة في مثل هذه الصورة تقتضي الاجتماع في القبول فجرى ما قدمناه على هذا القياس

Jika kedua wanita itu berkata, “Kami meminta khulu‘ atau talak dengan imbalan seribu,” lalu suami menjawab salah satu dari mereka, “Aku menceraikanmu,” maka talak jatuh secara bain. Pemisahan ini tidak menghalangi terjadinya talak. Hal ini berbeda dengan jika suami berkata, “Aku melakukan khulu‘ terhadap kalian berdua dengan imbalan seribu,” lalu hanya salah satu dari mereka yang menerima, maka talak tidak jatuh pada yang menerima, sebagaimana telah kami sebutkan dari para ulama. Sebab, ucapan suami itu dianggap sesuai dengan konsekuensi akad mu‘awadhah (pertukaran), dan mu‘awadhah dalam kasus seperti ini mensyaratkan adanya kesepakatan dalam penerimaan. Maka, apa yang telah kami sampaikan sebelumnya mengikuti qiyās ini.

فأما إذا قالتا طلقنا بألف فطلق إحداهما فكل واحدةٍ على استدعائها لا تعلق لها بصاحبتها وليس كما لو قال الطالبان بع منا هذا العبد بألف فباع نصفه من أحدهما فالبيع باطل لأنه معاوضة محضة والمعاوضة المحضة تقتضي توافقاً حقيقياً بين الجواب والإيجاب واستدعاءُ الخلع في النسوة وإن كان معاوضة فهي نازعة إلى جعالة ولو قال رجلان أبق عبداهما رُدّ عَبْدَيْنَا ولك كذا فرد عبد أحدهما استحق مقداراً فإذا استدعتا فأسعف إحداهما استحق مقداراً من المال ثم لا يتصور استحقاقُه المالَ من غير تقدير وقوع البينونة

Adapun jika kedua wanita itu berkata, “Ceraikan kami dengan seribu,” lalu ia menceraikan salah satu dari keduanya, maka masing-masing tetap pada permintaannya sendiri, tidak ada kaitannya dengan permintaan temannya. Ini tidak seperti dua orang yang meminta, “Jual kepada kami budak ini dengan seribu,” lalu ia menjual setengahnya kepada salah satu dari mereka, maka jual belinya batal, karena itu adalah akad mu‘āwadah murni, dan mu‘āwadah murni mensyaratkan adanya kesesuaian yang nyata antara ijāb dan qabūl. Permintaan khulu‘ dari para wanita, meskipun merupakan mu‘āwadah, namun cenderung kepada akad ju‘ālah. Seandainya dua orang berkata, “Dua budak kami melarikan diri, kembalikan kedua budak kami dan engkau akan mendapat imbalan sekian,” lalu yang dikembalikan hanya satu budak, maka ia berhak atas bagian dari imbalan tersebut. Maka jika keduanya meminta, lalu salah satu permintaannya dipenuhi, ia berhak atas bagian dari harta tersebut. Namun, tidak mungkin ia berhak atas harta itu tanpa terjadinya talak bain.

ومن استنبط في تبعيض القبول في البيع قولاً إنما استنبطه من إجابة الزوج إحداهما وقد ابتدأتا الاستدعاء ثم طرد هذا حيث يلزمه وقال إذا قال مالك العبد بعت منكما هذا العبدَ بألف فقبل أحدهما دون الثاني صح

Dan barang siapa yang menyimpulkan pendapat tentang bolehnya menerima sebagian dalam jual beli, maka ia menyimpulkannya dari jawaban suami kepada salah satu dari dua perempuan yang keduanya memulai permintaan (akad), kemudian ia menerapkan hal ini pada kasus di mana hal itu menjadi wajib baginya. Ia berkata: Jika pemilik budak berkata, “Aku jual budak ini kepada kalian berdua seharga seribu,” lalu salah satu dari keduanya menerima sedangkan yang lain tidak, maka akadnya sah.

وهذا الباني ليس على وجهه فإن الذين قالوا في الخلع إذا استدعتا ابتداءً فأجاب إحداهما ثبت المال وتقع البينونة أطلقوا القول بأن الزوج إذا ابتدأ فقال خالعتكما بألفٍ فقبلت إحداهما دون الثانية لم يقع شيء فإذا لم نُجز استنباط التبعيض من صورة إلى صورة في الخلع فكيف يجب استنباط التبعيض في الصورة التي ذكرناها في البيع مع إطلاقنا بأن الخلع في مثل تلك الصورة لا يتبعض القول فيه

Dan ini tidaklah benar, karena mereka yang berpendapat bahwa dalam khulu‘, jika kedua istri memulai permintaan lalu salah satu dari keduanya dijawab, maka harta (mahar) menjadi tetap dan terjadi perpisahan, mereka juga menyatakan secara mutlak bahwa jika suami memulai dengan berkata, “Aku menceraikan kalian berdua dengan khulu‘ dengan seribu (dirham),” lalu salah satu dari keduanya menerima tanpa yang lain, maka tidak terjadi apa-apa. Maka jika kita tidak membolehkan pengambilan hukum sebagian (tab‘īḍ) dari satu kasus ke kasus lain dalam khulu‘, bagaimana mungkin kita mewajibkan pengambilan hukum sebagian dalam kasus yang telah kami sebutkan dalam jual beli, sementara kita menyatakan secara mutlak bahwa dalam khulu‘ pada kasus seperti itu tidak berlaku hukum sebagian?

ومن الأسرار اللطيفة فيما نحن فيه في قواعد الخلع أن الزوج إذا استعمل في مقابلة الطلاق بالمال صيغة المعاوضة اقتضى ذلك عدمَ التبعّض في القبول قياساً على المعاوضة المحضة وإن استعمل صيغة التعليق فأولى وذلك بأن يقول لامرأتيه إن أعطيتماني ألفاًً فأنتما طالقان فإذا إعطته الألف إحداهما دون الأخرى لم تطلق المعطية فإنّ التعليق بالصفتين فصاعداً يقتضي الاجتماع في الصفات وهذا بيّن في قاعدة التعليق فإن إيجاب الزوج لا يخلو عن المعاوضة والتعليق وكل واحدة منهما تقتضي الجمع

Di antara rahasia yang halus dalam pembahasan kita mengenai kaidah-kaidah khulu‘ adalah bahwa jika suami menggunakan lafaz mu‘āwadah (pertukaran) dalam menukar talak dengan harta, maka hal itu menuntut tidak bolehnya menerima sebagian (tuntutan) saja, berdasarkan qiyās dengan mu‘āwadah murni. Jika suami menggunakan lafaz ta‘liq (penggantungan), maka lebih utama lagi (tidak boleh menerima sebagian saja). Contohnya adalah ketika suami berkata kepada dua istrinya: “Jika kalian berdua memberiku seribu (dirham), maka kalian berdua tertalak.” Jika salah satu dari keduanya saja yang memberikan seribu tersebut, maka yang memberi tidak tertalak. Sebab, ta‘liq dengan dua sifat atau lebih menuntut terkumpulnya seluruh sifat tersebut. Hal ini jelas dalam kaidah ta‘liq, karena ijab dari suami tidak lepas dari unsur mu‘āwadah dan ta‘liq, dan masing-masing dari keduanya menuntut terkumpulnya (seluruh syarat).

وإن كان الاستدعاء من النسوة فهن يلتمسن ما يقبل الغرر فيصير قبول الطلاق للغرر في حقهن مُلحِقاً استدعاءَهن باستدعاء الأعمال في الجعالة إذ ليس منهن تعليق وإنما منهن بذلُ مال غيرَ أنهن يبذلن الأموال في مقابلة ما يقبل الغرر ولهذا قال المحققون ما يصدر منهن معاوضة نازعة إلى الجعالة

Dan jika permintaan itu datang dari para wanita, maka mereka menginginkan sesuatu yang mengandung unsur gharar, sehingga penerimaan talak atas dasar gharar bagi mereka menjadikan permintaan mereka serupa dengan permintaan pekerjaan dalam ja‘ālah, karena dari pihak mereka tidak ada ta‘liq (penggantungan), melainkan mereka memberikan harta. Hanya saja mereka memberikan harta sebagai imbalan atas sesuatu yang mengandung gharar. Oleh karena itu, para muhaqqiq (ulama yang mendalam ilmunya) mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk mu‘āwadah (pertukaran) yang cenderung kepada ja‘ālah.

وانتظم من هذا أن الزوج إذا ابتدأ فمعاوض أو معلّق والمرأة إذا استدعت فليس من جانبها ما تملك تعليقه فإذا ارتبط المال بما يقبل الغرر كان إسعاف الزوج على قياس إسعاف العامل المجعول له فإذا تحقق هذا وقال طلقتك يا هذه فالبينونة تثبت والكلام بعد ذلك فيما يلزمها وهذا خارج على ما إذا خالعهما فقبلتا

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa jika suami memulai (perceraian) dengan imbalan atau secara bersyarat, sedangkan jika istri yang meminta, maka dari pihaknya tidak ada sesuatu yang dapat ia gantungkan. Maka apabila harta dikaitkan dengan sesuatu yang mengandung gharar, maka pemenuhan permintaan suami itu mengikuti qiyās pemenuhan permintaan pekerja yang telah dijanjikan imbalan untuknya. Jika hal ini telah dipastikan dan suami berkata, “Aku ceraikan engkau, wahai perempuan ini,” maka terjadilah perpisahan (bainunah), dan pembicaraan setelah itu mengenai apa yang menjadi kewajiban istri. Ini berbeda dengan kasus jika keduanya melakukan khulu‘ lalu kedua istri itu menerimanya.

فإن قلنا ثَمَّ على كلّ واحدة منهما تمامُ مهر مثلها فعلى التي خصها بالإجابة مهرُ مثلها وهذا حكمٌ بفساد العوض وإن قلنا ثَمّ المسمى يوزع عليهما بالسّويّة فهذه التي خصها الزوج بالإجابة عليها نصف البدل الذي ذكرناه

Jika kita mengatakan bahwa masing-masing dari keduanya berhak atas mahar mitsil secara penuh, maka yang dikhususkan oleh suami untuk digauli berhak atas mahar mitsilnya. Ini adalah ketetapan bahwa imbalan tersebut batal. Namun jika kita mengatakan bahwa mahar yang disebutkan dibagi rata kepada keduanya, maka istri yang dikhususkan oleh suami untuk digauli berhak atas setengah dari imbalan yang telah kami sebutkan.

وإن قلنا إذا خالعهما بألف فقبلتا الألف فعلى كل واحدة منهما من المسمى مقدار مهر مثلها فهذا القول لا يخرج هاهنا لأنه إذا خالعهما فقبلتا وصححنا المسمى فنقول المسمى معلوم في نفسه فلا يضر الجهل في التوزيع وإذا خص إحداهما بالإجابة فإذا كنا نفرع على التوزيع على مهر المثل فلم يثبت في حق هذه المجابة إلا مقدارٌ مجهول من المسمى في أول الأمر وليس هذا جهالة توزيع بعد إعلام العوض على وجهٍ وإذا صدر القبول منهما فالألف بكماله ثابت وهو معلوم فأمكن أن يعتمد العقد إعلامَ الألف وإذا لم يجب إلا إحداهما فأول العوض مجهول إذا كنا نرى التوزيع على أقدار مهر المثل فإذاً لا ينقدح فيه إذا أجاب إحداهما إلا قولان أحدهما الواجب مهر المثل

Dan jika kita mengatakan bahwa ketika ia melakukan khulu‘ terhadap keduanya dengan seribu, lalu keduanya menerima seribu tersebut, maka atas masing-masing dari mereka berdua dari jumlah yang disebutkan adalah sebesar mahar mitsil-nya, maka pendapat ini tidak berlaku di sini. Sebab, jika ia melakukan khulu‘ terhadap keduanya lalu keduanya menerima dan kita mengesahkan jumlah yang disebutkan, maka jumlah yang disebutkan itu sudah jelas pada dirinya, sehingga ketidaktahuan dalam pembagian tidak membahayakan. Dan jika ia mengkhususkan salah satu dari keduanya dengan jawaban, maka jika kita membangun pendapat pada pembagian menurut mahar mitsil, maka yang tetap menjadi hak bagi yang menerima jawaban itu hanyalah bagian yang tidak diketahui dari jumlah yang disebutkan pada awalnya, dan ini bukanlah ketidaktahuan dalam pembagian setelah diketahui kompensasi secara jelas. Dan jika penerimaan itu berasal dari keduanya, maka seribu itu secara utuh tetap dan sudah diketahui, sehingga akad dapat didasarkan pada kejelasan seribu tersebut. Dan jika hanya salah satu dari keduanya yang menerima, maka pada awalnya kompensasi itu tidak diketahui jika kita berpendapat pembagian menurut kadar mahar mitsil. Oleh karena itu, jika hanya salah satu yang menerima, maka tidak ada pendapat yang kuat kecuali dua pendapat: salah satunya adalah yang wajib adalah mahar mitsil.

والثاني أن الواجب نصف المسمى إذا كنا لا نرى التوزيع فأما إثبات مقدار من المسمى بتقدير توزيعه على المهرين فلا سبيل إلى المصير إليه وإذا أجابهما انتظم على إفساد التسمية وتصحيحها ثلاثةُ أقوال أحدها أن على كل واحدةٍ مهر مثلها

Kedua, yang wajib adalah setengah dari mahar yang telah disebutkan jika kita tidak berpendapat adanya pembagian. Adapun menetapkan sejumlah dari mahar yang disebutkan dengan memperkirakan pembagiannya pada dua mahar, maka tidak ada jalan untuk menuju ke sana. Jika keduanya menjawabnya, maka akan terangkai dari pembatalan dan pembenaran penamaan mahar menjadi tiga pendapat; salah satunya adalah bahwa masing-masing perempuan wajib mendapatkan mahar mitsil-nya.

والثاني أن على كل واحدة من المسمى مقدار ما يقابل مهرها عند القسمة على أقدار المهرين

Kedua, bahwa masing-masing dari jumlah yang disebutkan itu mendapat bagian sesuai dengan kadar yang sebanding dengan maharnya ketika dibagi menurut besaran kedua mahar tersebut.

وقد نجز تمام المقصود في ابتدائه بالمخالعة وابتدائهن بالاستدعاء وما يفرض من جمع وتفريقٍ في القبول منهم وفي إجابة من الزوج

Telah sempurna maksud yang diinginkan dalam permulaan pembahasan tentang khulu‘, permulaan istri-istri dalam mengajukan permintaan, serta apa yang ditetapkan terkait penggabungan dan pemisahan dalam penerimaan dari mereka, dan dalam jawaban dari suami.

ثم ابتدأ الشافعي هذا الفصل وغرضه الكلامُ في طريان الردة ونحن نقول إذا قالت المرأة طلقني بألف ثم ارتدت قبل إجابة الزوج فأجابها الزوج بعد ردتها فنذكر غرضَ الشافعي ثم ننعطف على ما يتعلق به من الإشكال قال الشافعي إذا كانت المرأة غيرَ مدخول بها فإذا ارتدت انقطع النكاح بردّتها ولغا طلاق الزوج فإنه يقع بعد انفساخ النكاح

Kemudian asy-Syafi‘i memulai pembahasan ini dengan tujuan membicarakan tentang terjadinya riddah. Kami mengatakan, jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan seribu (dirham),” lalu ia murtad sebelum suaminya menjawab, kemudian suaminya menjawab setelah ia murtad, maka kami akan menyebutkan tujuan asy-Syafi‘i, lalu kami akan kembali pada permasalahan yang berkaitan dengannya. Asy-Syafi‘i berkata, jika wanita tersebut belum pernah digauli, lalu ia murtad, maka pernikahan terputus karena riddah-nya, dan talak dari suami menjadi tidak berlaku karena jatuh setelah pernikahan terputus.

وإن كانت مدخولاً بها فليس يخفى أن انفساخ النكاح موقوفٌ عندنا فإن أصرت على الردة تبيّنا أن النكاح انفسخ مع الردة وأنها استقبلت العدة بعد الردة وإن عادت إلى الإسلام في زمن العدة تبيّنا أن الردة لم تقتضِ انفساخ النكاح والخلعُ يخرج على هذا التقدير فإن أصرت حتى انقضت مدة العدة لغا طلاق الزوج وبان أن صدوره من الزوج بعد الانفساخ وإن عادت فالطلاق واقع والخلع صحيح هذا مراد الشافعي

Jika istri sudah pernah digauli, maka tidak tersembunyi bahwa pembatalan nikah menurut kami (mazhab) adalah ditangguhkan. Jika istri tetap bersikeras dalam kemurtadannya, maka menjadi jelas bahwa nikah telah batal bersamaan dengan kemurtadannya, dan ia memulai masa iddah setelah murtad. Namun, jika ia kembali masuk Islam dalam masa iddah, maka menjadi jelas bahwa kemurtadannya tidak menyebabkan batalnya nikah. Adapun khulu‘ (cerai tebus) juga mengikuti ketentuan ini. Jika ia tetap bersikeras (dalam murtad) hingga masa iddah selesai, maka talak dari suami menjadi gugur dan nyata bahwa talak itu terjadi setelah pembatalan nikah. Namun jika ia kembali (masuk Islam), maka talak berlaku dan khulu‘ sah. Inilah maksud Imam asy-Syafi‘i.

ثم يتطرق إلى ما ذكر أسئلةٌ وأجوبة عنها مثلاً إنّ قائلاً لو قال هذا النص هل يدل على أن تخلل كلام بين الإيجاب والقبول لا يوجب انقطاع أحدهما عن الثاني قلنا قد استدل بهذا النص من صار إلى أن تخلل الكلام اليسير بين الإيجاب والقبول لا يؤثر ووجهُ الاستدلال أن الشافعي صحح الخلع مع تخلل كلمة الردة إذا جرت بعد الدخول وفرض العوْد إلى الإسلام قبل مدة العدة

Kemudian, pembahasan berlanjut pada apa yang disebutkan berupa pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya, misalnya jika ada yang berkata: “Apakah teks ini menunjukkan bahwa adanya selingan pembicaraan antara ijab dan qabul tidak menyebabkan terputusnya salah satunya dari yang lain?” Kami katakan: Telah dijadikan dalil dengan teks ini oleh mereka yang berpendapat bahwa selingan pembicaraan yang sedikit antara ijab dan qabul tidak berpengaruh. Adapun alasan pengambilan dalilnya adalah bahwa Imam Syafi‘i membenarkan terjadinya khulu‘ meskipun terdapat selingan kata murtad jika itu terjadi setelah terjadi hubungan suami istri dan disyaratkan kembali kepada Islam sebelum masa iddah berakhir.

وهذا فيه نظر عندي من قِبل أن الشافعي صور مسألته فيه إذا استدعت المرأة الطلاق ثم ارتدت ثم أجاب الزوجُ فالكلام صادر من المرأة بعد فراغها عن الاستدعاء وإنما يقع التناقش والبحث فيه إذا جرى الإيجاب فتكلم القائل بكلامٍ غير القبول ثم قبل وهذا يناظر ما لو تخالع الرجل مبتدئاً فارتدت المرأة ثم قبلت والشافعي لم ينص على الردة في هذه الصورة وإنما ذكر الردة في الصورة الأولى

Menurut saya, hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena asy-Syafi‘i menggambarkan permasalahannya dalam hal ini jika seorang wanita meminta cerai, lalu ia murtad, kemudian suami menjawab permintaannya. Maka, ucapan dari wanita tersebut terjadi setelah ia selesai meminta cerai. Perdebatan dan pembahasan dalam hal ini sebenarnya terjadi jika setelah adanya ijab, pihak yang diajak bicara mengucapkan sesuatu yang bukan berupa kabul, lalu setelah itu ia baru mengucapkan kabul. Ini sebanding dengan kasus jika seorang laki-laki memulai khulu‘, lalu istrinya murtad, kemudian ia menerima. Asy-Syafi‘i sendiri tidak secara tegas menyebutkan murtad dalam gambaran kasus yang kedua ini, melainkan ia hanya menyebutkan murtad pada gambaran kasus yang pertama.

وقد يجري في هذا نوع آخر من السؤال وهي أنها لما ارتدت كان يجب أن نجعل ارتدادها رجوعاً منها فإن الردة تُغنيها عن طلب الفراق فهلا أشعرت الردة برجوعها وسبيل الجواب أن الردة لا تَعْني الرجوعَ عن الاستدعاء ولكن المرأة إذا لحقتها شِقوةُ الردة لم تقصد بالردة أمراً سوى ما بدا لها ثم الانفساخ حكم الشرع فهذا وجه التنبيه على ذلك

Terkadang muncul pula jenis pertanyaan lain dalam hal ini, yaitu: ketika seorang wanita murtad, seharusnya kemurtadannya dianggap sebagai bentuk rujuk darinya, karena kemurtadan sudah cukup baginya tanpa perlu meminta perpisahan. Lalu mengapa kemurtadan tidak dianggap sebagai rujuk? Adapun jawabannya adalah bahwa kemurtadan tidak berarti kembali dari permintaan (cerai), melainkan ketika seorang wanita tertimpa kemalangan berupa kemurtadan, ia tidak bermaksud dengan kemurtadannya sesuatu selain apa yang tampak baginya, sedangkan pembatalan (pernikahan) adalah ketetapan syariat. Inilah penjelasan mengenai hal tersebut.

ومن تمام الكلام في ذلك أن الرجل إذا خالع امرأتين ثم ارتدتا بعد الدخول وقبلتا أو استدعتا وارتدا وأجابهما الزوج فإن أصرّتا لم يخف حكمهما وإن رجعتا لم يخف أمرهما

Sebagai penyempurna pembahasan dalam hal ini, apabila seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap dua istrinya, kemudian keduanya murtad setelah terjadi hubungan suami istri dan keduanya menerima atau meminta (khulu‘), lalu keduanya murtad dan suami menyetujui permintaan mereka, maka jika keduanya tetap bersikeras, hukum mereka tidak samar; dan jika keduanya kembali (ke agama Islam), urusan mereka pun tidak samar.

وإن أصرت إحداهما ورجعت الأخرى فإن كان الاستدعاء منهما ثم جرى الأمر كما ذكرنا فهذا بمثابة ما لو استدعتا ولا ردة فأجاب إحداهما وقد مضى هذا

Jika salah satu dari keduanya tetap bersikeras dan yang lainnya menarik kembali, maka jika permintaan itu berasal dari keduanya kemudian perkara berjalan seperti yang telah kami sebutkan, maka ini serupa dengan kasus ketika keduanya meminta tanpa adanya penolakan, lalu salah satu dari keduanya menjawab, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

وإن ابتدأ الزوج المخالعة فارتدتا ثم قبلتا فقد يتجه ألاّ نصحّح قبولهما وإن عادتا لتخلل الكلام بناء على أن الكلام اليسير بين الإيجاب والقبول قاطعٌ وليس هذا كالصورة الأولى

Jika suami memulai khulu‘ lalu kedua istri itu murtad, kemudian keduanya menerima (khulu‘ tersebut), maka ada kemungkinan kita tidak mengesahkan penerimaan keduanya meskipun keduanya telah kembali (ke Islam), karena adanya jeda ucapan di antara ijab dan kabul, berdasarkan pendapat bahwa ucapan yang sedikit di antara ijab dan kabul dapat memutuskan (keabsahan akad), dan ini tidak sama dengan kasus pertama.

وإن صححنا الخلع ولم نجعل الكلام في نفسه قاطعاً فإن أصرتا أو عادتا لم يخف الحكم وإن أصرَّت إحداهما وعادت الأخرى فليتأمل الناظر هذا الموقف فإنَّ القبول في حق المُصِرَّة باطل فقد ذكرنا أن إحداهما إذا قبلت دون الأخرى لم يثبت الخلع في حق القابلة ولم يقع الطلاق فقد ينظر الناظر إلى أنهما قبلتا ثم أبطلنا قبول إحداهما وقد يخطُِر له تقريب هذا مما إذا كانت إحداهما محجورة والأخرى مطْلَقة وليس الأمر كذلك فنجعل كما لو قبلت إحداهما ولم تقبل الأخري فإنا أبطلنا القبول في حق التي قبلت وجعلنا كأنا لم تقبل فوجود ذلك القبول وعدمه بمثابةٍ ووضوح ذلك يغني عن كشفه وقبول السفيهة صحيح إذا انفردت فإن الطلاق يتعلق به وإن كان رجعياً

Jika kita mengesahkan khulu‘ dan tidak menjadikan ucapan itu sendiri sebagai pemutus, maka jika keduanya bersikeras atau kembali (pada pendirian semula), hukum tidak menjadi samar. Namun, jika salah satu bersikeras dan yang lain kembali, maka hendaknya pengamat memperhatikan situasi ini, karena penerimaan dari pihak yang bersikeras adalah batal. Sebab, telah kami sebutkan bahwa jika salah satu dari keduanya menerima tanpa yang lain, maka khulu‘ tidak sah bagi yang menerima dan talak pun tidak terjadi. Maka, bisa jadi pengamat melihat bahwa keduanya telah menerima, lalu kami membatalkan penerimaan salah satunya. Bisa saja terlintas dalam benaknya untuk menyamakan hal ini dengan kasus ketika salah satunya berada dalam status mahjur (terhalang haknya) dan yang lain bebas, namun kenyataannya tidak demikian. Maka, kita anggap seperti ketika salah satunya menerima dan yang lain tidak, karena kami telah membatalkan penerimaan bagi yang menerima dan kami anggap seolah-olah ia tidak menerima. Maka, adanya penerimaan itu atau tidak, sama saja. Kejelasan hal ini sudah cukup tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Adapun penerimaan dari wanita safīhah (lemah akal) adalah sah jika ia sendiri yang melakukannya, sehingga talak pun terkait dengannya, meskipun talaknya raj‘i (masih bisa rujuk).

فصل ثم قال الشافعي ولو قال لهما أنتما طالقان إن شئتما إلى آخره

Kemudian Imam Syafi’i berkata: “Jika seseorang berkata kepada keduanya, ‘Kalian berdua tertalak jika kalian menghendaki,’ dan seterusnya.”

مضمون هذا الفصل قد سبق موضحاً فإذا قال الرجل لامرأته أنت طالق إن شئت ولم يذكر عوضاً اقتضى ذلك مشيئةً على الاتصال وإذا قال لها أنت طالق بألف إن شئت فقد ذكرنا تردد الأصحاب في ذلك واخترنا أنه يكفيها أن تقول شئت ثم ذكر الشافعي فرضَ الكلام في امرأتين بأن يقول الزوج لهما أنتما طالقان بألف إن شئتما والغرض لا يختلف وإنما قصد الشافعي أنه لا بد من مشيئتهما وهذا بيّن مبيّنٌ على الأصول المقدمة

Isi bab ini telah dijelaskan sebelumnya. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak jika engkau menghendaki,” tanpa menyebutkan imbalan, maka hal itu menuntut adanya kehendak secara langsung. Jika ia berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham) jika engkau menghendaki,” maka telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama) mengenai hal itu, dan kami memilih bahwa cukup baginya untuk mengatakan, “Aku menghendaki.” Kemudian Imam Syafi‘i menyebutkan kasus pembicaraan pada dua orang istri, yaitu jika suami berkata kepada keduanya, “Kalian berdua tertalak dengan seribu (dirham) jika kalian berdua menghendaki,” dan maksudnya tidak berbeda. Hanya saja Imam Syafi‘i bermaksud bahwa harus ada kehendak dari keduanya, dan hal ini jelas serta dijelaskan berdasarkan kaidah-kaidah yang telah dikemukakan.

فصل قال الشافعي رضي الله عنه ولو قال له أجنبي طلق فلانة ولك عليّ

Bab: Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Seandainya ada orang asing berkata kepadanya, ‘Ceraikanlah Fulanah dan engkau akan mendapatkan dariku…’”

ألف إلى آخره

Alif sampai akhirnya.

غرض الفصل أن بذل المال على الطلاق من الأجنبي جائز وإن لم تشعر المرأة ولم تأمر وهذا لا خلاف فيه والتردُّدُ الذي ذكرناه في صدر الكتاب في الخلع الذي يختلف القول في كونه فسخاً أو طلاقاًً فأما الطلاق نفسه فيجوز للأجنبي بذلُ المال عليه ثم يصح منه أن يختلع امرأةً على عينٍ من أعيان مال نفسه ويصح منه أن يختلعها على مالٍ يلتزمه في ذمته ثم إذا انفرد بذلك نفذ اللزوم عليه ولم يجد مرجعاً

Tujuan bab ini adalah bahwa memberikan harta sebagai imbalan atas perceraian dari pihak selain suami (ajānib) hukumnya boleh, meskipun wanita tersebut tidak mengetahui dan tidak memerintahkan hal itu, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat. Adapun keraguan yang telah kami sebutkan di awal kitab terkait khulu‘, yaitu perbedaan pendapat apakah ia termasuk fasakh atau talak, maka hal itu berbeda dengan talak itu sendiri. Adapun talak, maka boleh bagi orang lain (ajānib) memberikan harta sebagai imbalan atasnya. Kemudian, sah bagi orang lain tersebut melakukan khulu‘ terhadap seorang wanita dengan harta tertentu miliknya sendiri, dan sah pula baginya melakukan khulu‘ dengan harta yang menjadi tanggungannya (utang). Jika ia melakukannya sendiri, maka kewajiban itu tetap berlaku atasnya dan ia tidak memiliki jalan untuk menarik kembali.

وإن أمرته المرأة بأن يختلعها نُظر فإن شرطت له الرجوعَ عليها بما يغرَم

Dan jika seorang wanita memerintahkan suaminya untuk melakukan khulu‘ terhadapnya, maka dilihat dahulu: jika ia mensyaratkan kepadanya untuk boleh kembali menuntut darinya atas apa yang telah ia keluarkan…

رجع إذا غرِم وإن أطلقت الإذن فغرم الأجنبي فهل يرجع عليها فعلى وجهين وكان شيخي يقول من ضمن مالاً عن إنسان بإذنه ولم يشترط الرجوع عليه فإذا غرِم ففي الرجوع خلافٌ مشهور

Jika ia menanggung (membayar) lalu menanggung kerugian, dan jika ia memberikan izin secara mutlak lalu orang lain (pihak ketiga) menanggung kerugian, apakah ia boleh meminta ganti kepadanya? Maka ada dua pendapat. Guru saya berkata: Barang siapa menjamin harta seseorang dengan izinnya tanpa mensyaratkan hak untuk meminta ganti, lalu ia menanggung kerugian, maka dalam hal boleh tidaknya meminta ganti terdapat khilaf (perbedaan pendapat) yang masyhur.

وإذا وكل رجلٌ رجلاً حتى اشترى له عبداً بمال في الذمة فاشترى وغرم الثمن فالمذهب الذي يجب القطع به أنه يرجع على الموكِّل وذلك أنه حصّل له ملكاً بعوض فيبعد أن يعتقد المشتري سلامةَ الملك له في المبيع من غير عوض وإذا اعترف الموكِّل بالتوكيل لم يختلف الأصحاب في أنه لو أراد البائع مطالبته بالثمن أمكنه فالإذن في البيع إذاً بمثابة الإذن في الضمان مع التقيد بالرجوع

Jika seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk membelikan seorang budak untuknya dengan pembayaran secara utang, lalu orang yang diberi kuasa itu membeli dan menanggung harga budak tersebut, maka mazhab yang harus ditegaskan adalah bahwa ia berhak menuntut kepada pihak yang memberi kuasa. Hal ini karena ia telah memperoleh kepemilikan untuk pihak yang memberi kuasa dengan imbalan, sehingga tidak masuk akal jika pembeli mengira bahwa kepemilikan atas barang yang dibeli itu bebas dari imbalan. Jika pihak yang memberi kuasa mengakui adanya perwakilan, para ulama sepakat bahwa jika penjual ingin menuntut pembayaran harga kepada pihak yang memberi kuasa, maka hal itu memungkinkan. Maka, izin untuk membeli dalam hal ini sama kedudukannya dengan izin untuk menjamin, dengan syarat tetap ada hak untuk menuntut kembali.

وأبعد بعضُ أصحابنا فألحق المشتري إذا ضمن بالضامن إذا غرم وهذا بعيد

Sebagian ulama kami berpendapat secara ekstrem dengan menyamakan pembeli yang menanggung (utang) dengan penanggung (kafīl) apabila ia telah membayar (kerugian), dan pendapat ini jauh (dari kebenaran).

والمرأة إذا أذنت لأجنبي في الاختلاع ولم تذكر الرجوع عليها فهذا بين الضمان وبين التوكيل بالشراء شَبَهُه بالتوكيل من جهة أن منفعة الخلاص تعود إليها كما أن الملك في المبيع يقع للموكِّل بالشراء ويُضاهي الضمانَ من جهة أن الضامن يُتصور أن ينفرد بالضمان والأداء والأجنبي يُتصور أن ينفرد بالاختلاع والتخليص

Dan apabila seorang perempuan memberi izin kepada orang asing untuk melakukan khul‘, tanpa menyebutkan hak untuk kembali kepadanya, maka hal ini berada di antara jaminan (ḍamān) dan perwakilan (tawkil) dalam pembelian. Ia menyerupai perwakilan karena manfaat dari pembebasan itu kembali kepada perempuan, sebagaimana kepemilikan barang yang dibeli jatuh kepada pihak yang mewakilkan dalam pembelian. Dan ia juga mirip dengan jaminan karena seorang penjamin dapat membayarkan jaminan dan melunasi sendiri, sebagaimana orang asing itu dapat melakukan khul‘ dan membebaskan sendiri.

فهذا بيان هذه المنازل وحقيقةُ القول في الوكيل بالخلع والاختلاع ستأتي في فصلٍ مفرد بعد هذا إن شاء الله عز وجل

Inilah penjelasan mengenai tingkatan-tingkatan ini, dan hakikat pembahasan tentang wakil dalam khulu‘ dan orang yang melakukan khulu‘ sendiri akan dibahas pada bab tersendiri setelah ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

ثم اختلاعُ الأجنبي الزوجةَ مع كونه مُجْمَعاً عليه خارجٌ على مذهب الافتداء فإن المرأة في أسر الزوجية وحِبَالة النكاح وقد سمى الله تعالى الاختلاعَ افتداءً وأثبته على صيغةٍ تُشعر بالرخصة فقال عز وجل فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ وشبه الشافعي اختلاعَ الأجنبي بافتداء الأسرى

Kemudian, khulu‘ yang dilakukan oleh laki-laki asing terhadap istri, meskipun telah menjadi ijmā‘, tetap berada di luar mazhab iftidā’. Sebab, perempuan berada dalam ikatan pernikahan dan jerat pernikahan. Allah Ta‘ala telah menyebut khulu‘ sebagai iftidā’ dan menetapkannya dalam bentuk yang menunjukkan adanya keringanan, sebagaimana firman-Nya: “Maka tidak ada dosa atas keduanya dalam hal yang diberikan perempuan itu untuk menebus dirinya.” Imam Syafi‘i pun menganalogikan khulu‘ yang dilakukan oleh laki-laki asing dengan iftidā’ para tawanan.

ولو قال الرجل لمالك المستولدة أعتقها ولك ألف أو على ألف فأعتقها استحق الألفَ المسمى على باذله وخرج هذا على مذهب التخليص والافتداء فإن الملك في رقبة المستولدة لا يقبل النقل كحق الزوج في زوجته

Jika seorang laki-laki berkata kepada pemilik seorang budak perempuan yang telah melahirkan anak dari tuannya, “Merdekakanlah dia dan bagimu seribu (dirham)” atau “atas (tanggungan) seribu (dirham)”, lalu ia memerdekakannya, maka ia berhak mendapatkan seribu yang telah disepakati dari orang yang memberikannya. Hal ini didasarkan pada pendapat tentang penebusan dan pembebasan, karena kepemilikan atas tubuh budak perempuan yang telah melahirkan anak dari tuannya tidak dapat dipindahkan, sebagaimana hak suami atas istrinya.

ولو قال الرجل لمالك عبدٍ أعتقه عنِّي بألفٍ فأعتقه صح ووقع العتق عن المستدعي بناء على تقدير انتقال الملك إليه أولاً ونفوذ العتق عن المستدعي في ملكه

Jika seseorang berkata kepada pemilik seorang budak, “Bebaskanlah dia atas namaku dengan seribu (dirham),” lalu pemiliknya membebaskannya, maka pembebasan itu sah dan pembebasan tersebut dianggap berasal dari orang yang memintanya, berdasarkan anggapan bahwa kepemilikan budak itu terlebih dahulu berpindah kepadanya dan pembebasan itu berlaku atas budak yang telah menjadi miliknya.

ولو قال أعتق عبدك عن نفسك بألف فأعتقه ولو قال أعتقه بألف ولم يضف العتق إلى نفسه فأعتقه وقع العتق عن المالك وهل يستحق العوض على المستدعي فعلى وجهين أحدهما أنه لا يستحقه إذا كان من الممكن أن يقابل المالَ المبذول بنقل الملك إليه ونفوذ العتق عليه وهذا لو فعله كان على قياس المعاوضة فإذا كان قياس المعاوضة ممكناً فالمعاملة التي مساغها الافتداء يبعد أن تنفذ إذ محلها الضرورة

Jika seseorang berkata, “Bebaskanlah budakmu untuk dirimu sendiri dengan seribu (dirham),” lalu ia membebaskannya; atau jika ia berkata, “Bebaskanlah dia dengan seribu,” tanpa menisbatkan pembebasan itu kepada dirinya sendiri, lalu ia membebaskannya, maka pembebasan itu berlaku atas pemilik budak. Apakah ia berhak mendapatkan kompensasi dari orang yang meminta (pembebasan) tersebut? Ada dua pendapat: salah satunya, ia tidak berhak mendapatkannya jika memungkinkan untuk menukar harta yang diberikan dengan pemindahan kepemilikan budak kepadanya dan pembebasan berlaku atasnya. Jika ia melakukan hal itu, maka hal tersebut sesuai dengan qiyās mu‘āwaḍah (pertukaran). Jika qiyās mu‘āwaḍah memungkinkan, maka transaksi yang dasarnya adalah iftidā’ (penebusan) sulit untuk diberlakukan, karena tempatnya adalah dalam kondisi darurat.

ولو قال أعتق أم ولدك عني بألف فإذا أعتقها وقع العتق ولم يستحق على المستدعي شيئاً فإنه شرط في استحقاق المال عليه وقوع العتق عنه هكذا ذكر الأصحاب

Dan jika seseorang berkata, “Bebaskanlah ummu walad-mu atas namaku dengan seribu (dirham),” lalu ia membebaskannya, maka pembebasan itu tetap sah, namun ia tidak berhak menuntut apa pun dari orang yang memintanya. Sebab, syarat untuk berhak atas harta darinya adalah terjadinya pembebasan atas namanya; demikianlah yang disebutkan oleh para ulama.

ولو قال الأجنبي للزوج طلق زوجتك عني بألف فطلقها فالوجه القطع أنه يستحق الألف فإنه لا تخيّل لوقوع الطلاق عن المستدعي ووقوع العتق عن المستدعي ممّا يُتخيل على الجملة نعم لا يمتنع أن يقال يفسد لفظ الأجنبي بقوله طلقها عني ثم أثر فساد اللفظ الرجوعُ إلى مهر المثل

Jika seorang asing berkata kepada suami, “Ceraikan istrimu untukku dengan imbalan seribu,” lalu suami menceraikannya, maka pendapat yang kuat adalah bahwa ia berhak mendapatkan seribu tersebut. Sebab, tidak terbayangkan bahwa talak itu jatuh atas permintaan orang yang meminta, sebagaimana pembebasan budak atas permintaan orang lain masih dapat dibayangkan secara umum. Namun demikian, tidak mustahil untuk dikatakan bahwa ucapan orang asing, “Ceraikan dia untukku,” adalah lafaz yang rusak, kemudian akibat dari kerusakan lafaz tersebut adalah kembali kepada mahar mitsil.

والذي يتعلق بتمام البيان في المسائل أن الأجنبي إذا قال طلقها بألفٍ أو على ألفٍ فإذا طلقها استحق عليه الألف ولو قال الأجنبي طلقها ولك ألف فقد ذكرنا تردُّداً في أن المرأة لو استدعت الطلاق بهذه الصيغة فهل يُستحق العوض عليها والأجنبي أولى بالتردّد من المرأة فإنه أبعد عن غرض الخلع فكان جانبه أولى بصلةٍ مصرِّحة بمعنى المعاوضة

Adapun yang berkaitan dengan penjelasan sempurna dalam masalah ini adalah bahwa apabila seorang pihak ketiga (ajnabi) berkata, “Ceraikanlah dia dengan imbalan seribu” atau “atas seribu”, maka jika suami menceraikannya, pihak ketiga berhak atas seribu tersebut. Namun, jika pihak ketiga berkata, “Ceraikanlah dia dan engkau mendapat seribu”, maka telah kami sebutkan adanya keraguan tentang apakah perempuan berhak atas kompensasi jika ia meminta perceraian dengan lafaz seperti ini, dan pihak ketiga lebih layak untuk diragukan daripada perempuan, karena ia lebih jauh dari tujuan khulu‘, sehingga posisinya lebih membutuhkan ungkapan yang jelas yang menunjukkan makna mu‘āwadah (pertukaran/kompensasi).

فصل قال ولا يجوز ما اختلعت به الأمة إلا بإذن سيدها إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Tidak sah apa yang dijadikan tebusan khulu‘ oleh seorang budak perempuan kecuali dengan izin tuannya,” dan seterusnya.

الأمة إذا اختلعت نفسها عن زوجها فلا يخلو إما أن تختلع بإذن السيد أو تختلع بغير إذنه فإن اختلعت بإذن السيد لم يخل إما أن تختلع على عينٍ من أعيان مال السيد وإما أن تختلع بمالٍ ملتزَم في الذمة فإن اختلعت بإذن السيد على عين من أعيان ماله صح ذلك واستحق الزوج تلك العين فإن اختلعت بعوض ملتزَم تعلّق العوض بكسبها وكان عوض الخلع عليها بمثابة الصداق على العبد المأذون له في النكاح ويُخرَّج في بدل الخلع القول القديم في أن السيد هل يصير بنفس الإذن ضامناً لعوض الخلع وهذا أجريناه في الصداق ولا فرق بينه وبين الخلع

Apabila seorang budak perempuan meminta khulu‘ (cerai tebus) dari suaminya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: ia meminta khulu‘ dengan izin tuannya atau tanpa izinnya. Jika ia meminta khulu‘ dengan izin tuannya, maka hal itu juga terbagi dua: apakah ia meminta khulu‘ dengan barang tertentu milik tuannya, atau dengan harta yang menjadi tanggungan dalam utang. Jika ia meminta khulu‘ dengan izin tuannya menggunakan barang tertentu milik tuannya, maka hal itu sah dan suaminya berhak atas barang tersebut. Jika ia meminta khulu‘ dengan kompensasi yang menjadi tanggungan, maka kompensasi itu terkait dengan hasil usahanya, dan kompensasi khulu‘ atas dirinya diperlakukan seperti mahar pada budak laki-laki yang diizinkan menikah. Dalam hal pengganti khulu‘, terdapat pendapat lama mengenai apakah tuan menjadi penanggung kompensasi khulu‘ hanya dengan memberi izin, dan hal ini juga berlaku dalam masalah mahar, sehingga tidak ada perbedaan antara keduanya dengan khulu‘.

هذا إذا اختلعت بإذن السيد

Ini berlaku jika ia melakukan khulu‘ dengan izin tuannya.

فأما إذا اختلعت نفسَها عن زوجها بغير إذن مولاها فلا يخلو إما أن تختلع بمالٍ في الذمة أو تختلع بعين من أعيان الأموال فإن اختلعت بمالٍ في الذمة فقد تردد الأئمة في هذا فذهب طوائفُ إلى أن اختلاعها فاسد والمراد بفساده فساد التسمية أما البينونة فواقعة والمال يلزم ذمةَ الأمة على التفصيل الذي سنذكره في التفريع إن شاء الله تعالى هذا ما ذكره الصيدلاني وشيخي وبعض المصنفين

Adapun jika seorang budak perempuan meminta khulu‘ dari suaminya tanpa izin tuannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia meminta khulu‘ dengan harta yang menjadi utang (di dalam tanggungan), atau dengan barang tertentu dari harta. Jika ia meminta khulu‘ dengan harta yang menjadi utang, para imam berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian kelompok berpendapat bahwa khulu‘ tersebut rusak, dan yang dimaksud dengan rusaknya adalah rusak pada penamaan (harta), sedangkan pemutusan hubungan (talak bain) tetap terjadi, dan harta tersebut menjadi tanggungan budak perempuan dengan rincian yang akan kami sebutkan dalam pembahasan cabang, insya Allah Ta‘ala. Inilah yang disebutkan oleh As-Saidalani, guruku, dan sebagian penulis lainnya.

وقطع الشيخ أبو علي جوابه بأن الخلع يصح والمسمى يثبت فحصلنا على وجهين وقد ذكرت اختلاف الأصحاب في العبد لو ضمن مالاً بغير إذن مولاه فهل يصح ضمانُه أم لا وذكر الشيخ أبو علي في هذا الفصل أن العبد لو اشترى شيئاً بغير إذن مولاه ففي صحة شرائه وجهان وقد فصلنا هذا فيما تقدم في موضعين

Syekh Abu Ali menegaskan dalam jawabannya bahwa khulu‘ itu sah dan nilai yang disepakati menjadi tetap, sehingga kita mendapatkan dua pendapat. Saya telah menyebutkan perbedaan pendapat para sahabat (ulama) mengenai budak jika ia menjamin suatu harta tanpa izin tuannya, apakah jaminannya sah atau tidak. Syekh Abu Ali juga menyebutkan dalam bab ini bahwa jika budak membeli sesuatu tanpa izin tuannya, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan pembeliannya. Kami telah menjelaskan hal ini sebelumnya di dua tempat.

والذي يتعلق بغرضنا الآن في ضمان العبد بغير إذن مولاه وجهان وفي اختلاع الأمة بغير إذن مولاها وجهان والضمان والاختلاع في مرتبةٍ واحدة لأنه لا يتضمن واحد منهما تصرفاً في حق المولى لا في الرقبة ولا في الكسب وإنما تفرض المطالبة بالملتزم بعد العتق إذا فرض يوماً من الدهر

Yang berkaitan dengan tujuan kita sekarang dalam hal penjaminan terhadap budak tanpa izin tuannya terdapat dua pendapat, dan dalam hal khulu‘ terhadap budak perempuan tanpa izin tuannya juga terdapat dua pendapat. Penjaminan dan khulu‘ berada pada tingkatan yang sama karena tidak ada salah satu dari keduanya yang mengandung tindakan terhadap hak tuan, baik terhadap tubuh budak maupun terhadap hasil kerjanya. Tuntutan terhadap pihak yang berkomitmen hanya dapat dibayangkan setelah budak tersebut dimerdekakan, jika suatu saat hal itu terjadi.

وإذا اشترى العبد بغير إذن مولاه ففي صحة الشراء وجهان مرتبان على الضمان والشراءُ أولى بألا يصح لأن من ضرورته ثبوت الملك في المبيع ويستحيل أن يملكه العبد وإن ملكه المولى قهراً كان بعيداً ثم إن صححنا الضمان لم يطالب العبد من مكاسبه ولا تتوجه عليه الطّلبة ما دام الرق وإن أفسدنا الضمان فأثر إفساده إلغاؤه حتى لا تتوجه الطَّلبة بالمضمون بعد العتق أيضاًً

Jika seorang budak membeli sesuatu tanpa izin tuannya, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan pembelian tersebut, yang dikaitkan dengan masalah tanggungan (dhamān). Pembelian lebih utama untuk dinyatakan tidak sah, karena secara niscaya kepemilikan atas barang yang dibeli haruslah ada, sementara mustahil budak dapat memilikinya. Jika pun tuannya menjadi pemilik barang tersebut secara paksa, hal itu dianggap jauh (dari ketentuan hukum). Kemudian, jika kita menganggap tanggungan itu sah, maka budak tidak dituntut membayar dari hasil usahanya dan tidak ada tuntutan terhadapnya selama ia masih berstatus budak. Namun, jika kita menilai tanggungan itu batal, maka akibat dari pembatalan tersebut adalah penghapusannya, sehingga tuntutan atas tanggungan itu pun tidak berlaku setelah budak tersebut dimerdekakan.

وأما الاختلاع فسواء أفسدناه أو صحَّحناه فالبينونة واقعة والأمة مطالبة إذا أعتقت وأثر الخلاف ثبوت المسمّى ولا مطالبة به إلا بعد العتق وإن أفسدنا الاختلاع فالحكم ثبوت مهر المثل والمطالبة به بعد العتق

Adapun khulu‘, baik kita anggap batal maupun sah, maka talak bain tetap terjadi dan budak perempuan tetap dituntut (membayar) jika ia telah dimerdekakan. Pengaruh perbedaan pendapat terletak pada penetapan jumlah yang disepakati, dan tidak ada tuntutan atasnya kecuali setelah dimerdekakan. Jika kita menganggap khulu‘ itu batal, maka yang berlaku adalah penetapan mahar mitsil dan tuntutan atasnya setelah dimerdekakan.

وأما التفريع في البيع إذا صححناه فقد مضى مستقصىً في كتاب البيع

Adapun rincian dalam masalah jual beli, jika kita menganggapnya sah, maka telah dijelaskan secara lengkap dalam Kitab al-Bay‘ (Kitab Jual Beli).

ومما نفرعه اختلاع المكاتبة فإذا لم نصحح اختلاع الأمة لم نصحح اختلاعها بعوض ملتزم في الذمة ولكن البينونة واقعة والطّلبة تثبت بعد العتق فإن بدل عوض الخلع مشبَّهٌ بالتبرع وبذل ما يستغنى عن بذله

Di antara cabang permasalahan yang kami uraikan adalah khulu‘ bagi budak mukatab. Jika kami tidak membenarkan khulu‘ bagi budak perempuan, maka kami juga tidak membenarkan khulu‘ dengan imbalan yang menjadi tanggungan dalam utang. Namun, perpisahan tetap terjadi dan hak untuk menuntut imbalan itu tetap ada setelah budak tersebut merdeka, karena imbalan khulu‘ itu diserupakan dengan pemberian sukarela dan pengorbanan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak wajib diberikan.

وإن جرى اختلاعها بإذن المولى فهو كالتبرع بإذنه وفي تبرع المكاتب بإذن المولى قولان سيأتي ذكرهما إن شاء الله عز وجل فيِ كتاب الكتابة والغرضُ أن نبين أن اختلاعها بمثابة تبرعها

Jika pencabutan itu dilakukan dengan izin tuannya, maka hukumnya seperti sedekah dengan izinnya. Dalam hal budak mukatab bersedekah dengan izin tuannya, terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti, insya Allah, dalam Kitab al-Kitābah. Tujuan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan bahwa pencabutan tersebut dianggap seperti sedekah darinya.

وإن اختلعت الأمة بعينٍ من أعيان مال السيد من غير إذنه فالزوج لا يستحق العين ولكن إن جعلنا الأمة من أهل الاختلاع في الذمة فهي كالحرة تختلع بمالٍ مغصوبٍ غيرَ أن الحرة قد تطالب إذا كانت موسرة والأمة بمثابة الحرة المعسرة بمطالبتها بعد العتق ثم فيما تطالب به قولان أحدهما أنها بعد العتق تطالب بقيمة تلك العين المذكورة عوضاً

Jika seorang budak perempuan melakukan khulu‘ dengan memberikan suatu barang tertentu dari harta tuannya tanpa izin tuannya, maka suami tidak berhak atas barang tersebut. Namun, jika kita menganggap budak perempuan termasuk orang yang boleh melakukan khulu‘ dengan tanggungan utang, maka ia seperti perempuan merdeka yang melakukan khulu‘ dengan harta yang digelapkan, hanya saja perempuan merdeka dapat dituntut jika ia mampu, sedangkan budak perempuan diperlakukan seperti perempuan merdeka yang tidak mampu, yaitu ia dapat dituntut setelah dimerdekakan. Kemudian, dalam hal apa yang dapat dituntut darinya terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa setelah dimerdekakan, ia dituntut untuk membayar nilai barang yang disebutkan sebagai ganti rugi.

والثاني أنها تطالب بمهر المثل

Dan yang kedua, ia berhak menuntut mahar yang sepadan.

وكل ذلك تفريع على أن الأمة من أهل الاختلاع

Semua itu merupakan cabang dari pendapat bahwa umat termasuk golongan yang memiliki hak untuk melakukan ikhtilā‘.

فإن لم نجعلها من أهل الاختلاع فالرجوع إلى مهر المثل قولاً واحداً فإن إحالة الفساد على خروجها من أن تكون من أهل الاختلاع أولى وأقرب فإذا كانت إحالة الفساد على غير العوض فالوجه الرجوع إلى مهر المثل والأمر في هذا قريب

Jika kita tidak menganggapnya termasuk orang yang berhak melakukan khulu‘, maka kembali kepada mahar mitsil adalah satu-satunya pendapat, karena mengaitkan kerusakan pada keluarnya dia dari golongan yang berhak melakukan khulu‘ lebih utama dan lebih dekat. Maka jika kerusakan dikaitkan pada selain kompensasi, maka yang tepat adalah kembali kepada mahar mitsil, dan persoalan ini cukup dekat (mudah dipahami).

والمكاتبة إذا اختلعت بعينٍ من أعيان مالها بغير إذن المولى فالزوج لا يستحق تلك العين وهي كالأمة إذا اختلعت بعينٍ من أعيان مال السيد فإن اختلعت بإذن السيد ففي المسألة قولان مبنيان على تبرع المكاتب بعينٍ من أعيان ماله

Dan seorang mukatabah apabila melakukan khulu‘ dengan memberikan suatu barang dari hartanya sendiri tanpa izin tuannya, maka suaminya tidak berhak atas barang tersebut, dan hukumnya seperti budak perempuan yang melakukan khulu‘ dengan memberikan suatu barang dari harta tuannya. Jika ia melakukan khulu‘ dengan izin tuannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada hukum pemberian barang milik mukatab.

هذا منتهى المراد

Ini adalah akhir dari maksud yang diinginkan.

وزعم صاحب التلخيص أن اختلاعها بإذن المولى لا يصح وإن صححنا تبرعها بإذن المولى وهذا مزيف متروك لا حاصل له

Penulis kitab at-Talkhīṣ berpendapat bahwa mencabutnya (yaitu, sesuatu yang dimaksud dalam konteks) dengan izin tuan tidak sah, meskipun kita membenarkan tindakan sukarela darinya dengan izin tuan. Namun, pendapat ini lemah dan ditinggalkan, tidak memiliki dasar yang kuat.

فصل قال وإذا أجزتُ طلاق السفيهة بلا شيء إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Dan apabila aku membolehkan talak bagi perempuan yang safīhah tanpa sesuatu, dan seterusnya.”

لا يختلف المذهب أن السفيه ينفذ طلاقه وهو مما لا يدخل تحت الحجر المطرد بسبب السفه وليس الطلاق كالعَتاق والفارق أن الطلاق لا يُتلف ما يلتحق بالأموال المحضة والإعتاق إتلافٌ محض ولا ينفذ من المبذر التصرفاتُ في المال ولا يصح منه الاستقلالُ بالنكاح ويصح النكاح بعبارته إذا أذن الولي فلو أذن له في بيعٍ خاص على حسب المصلحة ففي المسألة وجهان أحدهما أنه يصح كالنكاح

Mazhab sepakat bahwa talak yang dijatuhkan oleh orang safih (bodoh dalam mengelola harta) tetap sah, dan ini termasuk hal yang tidak termasuk dalam larangan mutlak akibat safih. Talak tidak sama dengan pembebasan budak (‘itāq); perbedaannya adalah talak tidak menghilangkan sesuatu yang berkaitan dengan harta murni, sedangkan pembebasan budak adalah penghilangan murni. Orang yang boros tidak sah melakukan transaksi dalam harta, dan tidak sah baginya melakukan akad nikah secara mandiri, namun akad nikah sah dengan ucapannya jika wali telah mengizinkan. Jika wali mengizinkannya untuk melakukan penjualan tertentu sesuai kemaslahatan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah sah, sebagaimana dalam akad nikah.

والثاني لا يصح لأن النكاح من حاجته وضرورته وليس محضَ مال ولكن وقف على الإذن لما فيه من استحقاق المهر وأما البيع فتصرف في المال المحض

Yang kedua tidak sah karena pernikahan termasuk kebutuhan dan keharusan, bukan semata-mata harta, namun tetap bergantung pada izin karena di dalamnya terdapat hak atas mahar. Adapun jual beli adalah tindakan terhadap harta semata.

ثم إذا كان طلاق المحجور نافذاً فلو طلق بمال نفذ وصح قلّ المال أو كثر لأن طلاقه إذا كان ينفذ من غير عوض فلأن ينفذ مع العوض أولى

Kemudian, jika talak orang yang berada di bawah perwalian (mahjur) itu sah, maka jika ia menjatuhkan talak dengan imbalan harta, talaknya tetap sah dan berlaku, baik jumlah hartanya sedikit maupun banyak. Sebab, jika talaknya sah tanpa adanya imbalan, maka lebih utama lagi jika talak itu disertai dengan imbalan.

والعبد يطلِّق مجاناً ولو طلق على مال صح ونفذ ودخل المال في ملك المولى قهراً كما يدخل في ملكه ما يحتطبه العبد وما يصطاده واختلف الأصحاب فيما يتّهبه العبد من غير إذن المولى كما تقدم ذكره والفرق بين الهبة وبين بدل الخلع واضح مذكور في موضعه

Seorang budak dapat menjatuhkan talak secara cuma-cuma, dan jika ia menjatuhkan talak dengan imbalan harta, maka talak tersebut sah dan berlaku, serta harta tersebut masuk ke dalam kepemilikan tuannya secara paksa, sebagaimana apa yang dikumpulkan atau diburu oleh budak juga masuk ke dalam kepemilikan tuannya. Para ulama berbeda pendapat mengenai hadiah yang diterima budak tanpa izin tuannya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Perbedaan antara hibah dan imbalan khulu‘ jelas dan telah dijelaskan pada tempatnya.

ثم إذا خالع السفيه على مالٍ وحكمنا بصحته لم نفرق بين أن يكون البدل المسمى مثلَ مهر المثل أو أقل منه ثم ما يأخذه من البدل لا يترك تحت يده بل يلتحق بسائر أمواله فيمتنع تصرفه فيه وإن لم يكن عليه حجرٌ في تحصيل هذا العوض أصلاً ومقدارً وكذلك إذا احتش أو احتطب أو اتّهب فما يحصل بهذه الجهات باختياره فالحجر عليه مطرد في جميعه

Kemudian, jika seorang safīh melakukan khul‘ dengan memberikan sejumlah harta dan kami memutuskan keabsahannya, maka kami tidak membedakan apakah pengganti (harta) yang disebutkan itu setara dengan mahar mitsil atau kurang darinya. Selanjutnya, harta yang diterima dari pengganti tersebut tidak dibiarkan di bawah kekuasaannya, melainkan digabungkan dengan seluruh hartanya yang lain, sehingga ia dilarang melakukan transaksi atasnya. Meskipun tidak ada larangan baginya dalam memperoleh kompensasi ini, baik dari segi asal maupun jumlahnya. Demikian pula, jika ia memanen, mengumpulkan kayu bakar, atau memperoleh sesuatu dengan cara mengambil sendiri, maka apa yang didapatkannya melalui cara-cara tersebut atas pilihannya, tetap berlaku larangan (hajr) atas seluruhnya.

فصل قال ولو اختلفا فهو كاختلاف المتبايعين إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Jika keduanya berselisih, maka hukumnya seperti perselisihan antara dua orang yang melakukan jual beli,” dan seterusnya.

إذا اختلف المتخالعان بعد جريان الخلع في قدر بدل الخلع أو صفته أو جنسه فقال الرجل قد خالعتك على ألفٍ وقالت بل على خمسمائة أو قال خالعتك على ألفٍ صحاح فقالت بل مكسرة أو قال خالعتك على خمسين ديناراً فقالت بل على ألف درهم فإذا اختلفا على وجهٍ من هذه الوجوه فإنهما يتحالفان والفرقة لا ترتد والرجوع إلى مهر المثل فإن البضع في حكم المبيع الفائت وإن اختلف المتبايعان على وجهٍ من الوجوه التي ذكرناها في الثمن وكان المبيع قد تلف في يد المشتري فمذهبنا أنهما يتحالفان والبائع يرجع على المشتري بقيمة المبيع فمهر المثل في معنى قيمة المبيع

Jika kedua pihak yang melakukan khulu‘ berselisih setelah terjadinya khulu‘ mengenai jumlah, sifat, atau jenis pengganti khulu‘—misalnya, laki-laki berkata, “Aku telah menceraikanmu dengan khulu‘ atas seribu,” sementara perempuan berkata, “Bukan, melainkan atas lima ratus,” atau laki-laki berkata, “Aku telah menceraikanmu dengan khulu‘ atas seribu uang logam yang utuh,” sementara perempuan berkata, “Bukan, melainkan yang pecahan,” atau laki-laki berkata, “Aku telah menceraikanmu dengan khulu‘ atas lima puluh dinar,” sementara perempuan berkata, “Bukan, melainkan atas seribu dirham”—maka jika mereka berselisih dalam salah satu bentuk ini, keduanya saling bersumpah, perceraian tidak dapat dibatalkan, dan kembali kepada mahar mitsil, karena bagian tubuh perempuan dalam hukum seperti barang yang telah hilang. Jika dua orang yang berjual beli berselisih dalam salah satu bentuk yang telah kami sebutkan mengenai harga, dan barang yang dijual telah rusak di tangan pembeli, maka menurut mazhab kami, keduanya saling bersumpah dan penjual berhak menuntut pembeli atas nilai barang yang dijual, sehingga mahar mitsil dalam hal ini bermakna nilai barang yang dijual.

وإذا اختلفا في العدد والمسؤول فقالت المرأة طلَّقَني ثلاثاًً سألتُها بألف وقال الرجل بل طلقتك واحدة سألتِها بألفٍ فهذا الاختلاف يجر التحالف أيضاًًً

Jika keduanya berselisih tentang jumlah talak dan tentang siapa yang dimintai, lalu perempuan berkata, “Dia menceraikanku tiga kali, aku memintanya dengan seribu,” dan laki-laki berkata, “Aku menceraikanmu satu kali, engkau memintanya dengan seribu,” maka perselisihan ini juga mengharuskan adanya sumpah (tahāluf).

ولكن القول قول الزوج في نفي ما عدا الواحدةَ المقَرَّ بها

Namun, yang dijadikan pegangan adalah pernyataan suami dalam menafikan selain satu talak yang telah diakui.

وأثر الاختلاف والتحالف يرجع إلى بدل الخلع فإذا تحالفا سقط البدل المسمى ويرجع الزوج عليها بمهر مثلها وإنما لم يؤثر اختلافهما في تغيير أمر الفراق لأن الطلاق لا مرد له ولا يتصور نقضه فيجري في أصله على القياس الذي يقتضيه الشرع وإذا كان الزوج هو المطلق فالقول قوله في الأصل ثم في العدد واختص أثر الخلاف بالعوض فإنه يلحقه الفسخ والرد والفساد والاستبدال وهذا بمثابة اختلاف الزوجين في مقدار الصداق وإذا تحالفا اختص أثر التحالف بالصداق وتسميته والنكاح قائم لا يزول بفرض الاختلاف في مقدار العوض والسبب في ذلك أن البدل في النكاح والخلع ليس ركناً بل هو في حكم الدخيل الذي يستقلّ الفراق دونه

Dampak perbedaan pendapat dan saling bersumpah kembali kepada pengganti (tebusan) khulu‘. Jika keduanya saling bersumpah, maka gugurlah pengganti yang telah disebutkan, dan suami berhak menuntut istri dengan mahar mitsil. Perbedaan pendapat mereka tidak berpengaruh dalam mengubah status perceraian, karena talak tidak dapat ditarik kembali dan tidak mungkin dibatalkan, sehingga tetap berjalan sesuai qiyās yang ditetapkan syariat. Jika suami adalah pihak yang menjatuhkan talak, maka pada dasarnya perkataan suami yang diterima, kemudian dalam hal jumlah (talak), dan dampak perbedaan pendapat hanya terbatas pada kompensasi (iwad), karena kompensasi dapat terkena pembatalan, penolakan, kerusakan, dan penggantian. Hal ini serupa dengan perbedaan pendapat antara suami istri mengenai besaran mahar. Jika keduanya saling bersumpah, maka dampak sumpah hanya terbatas pada mahar dan penamaannya, sedangkan akad nikah tetap sah dan tidak batal hanya karena perbedaan dalam besaran kompensasi. Sebabnya adalah karena pengganti dalam akad nikah dan khulu‘ bukan merupakan rukun, melainkan hanya sebagai unsur tambahan yang perpisahan tetap sah tanpanya.

ومما يتصل بهذا الفصل نصٌّ نقله القفال عن الكبير ونحن ننقله على وجهه ونذكر كلام الأصحاب فيه ثم نوضّح المسلك الحقَّ الذي لا سبيل إلى مخالفته قال نص في الكبير على أن المرأة لو قالت لزوجها سألتك أن تطلقني ثلاثاًً بألفٍ فطلقتني واحدة وقال الرجل بل طلقتك ثلاثاً كما استدعيتِ قال الشافعي إن لم يكن قد طال الفصل وقع الثلاث وإن طال الفصل ومضى ما يبطل خيار القبول فالطلقات واقعة بإقرار الزوج ويتحالفان لأنه يدعي عليها كمال الألف وهي تقرّ بثلثها وإذا تحالفا فالرجوع إلى مهر المثل

Di antara hal yang berkaitan dengan bab ini adalah sebuah nash yang dinukil oleh al-Qaffal dari al-Kabir, dan kami akan menukilkannya sebagaimana adanya serta menyebutkan pendapat para sahabat mengenai hal itu, kemudian kami akan menjelaskan jalan kebenaran yang tidak boleh diselisihi. Dalam al-Kabir disebutkan bahwa jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Aku memintamu untuk menceraikanku tiga kali dengan imbalan seribu,” lalu suaminya menceraikannya satu kali, dan sang suami berkata, “Bahkan aku telah menceraikanmu tiga kali sebagaimana permintaanmu,” maka menurut asy-Syafi’i, jika jeda waktunya tidak lama, jatuhlah talak tiga. Namun jika jeda waktunya lama dan telah berlalu waktu yang membatalkan hak memilih untuk menerima, maka talak yang terjadi adalah sesuai pengakuan suami, dan keduanya saling bersumpah, karena suami menuntutnya untuk membayar seribu penuh, sedangkan istri mengakui sepertiganya saja. Jika keduanya bersumpah, maka dikembalikan kepada mahar mitsil (mahar yang sepadan).

هذا هو النص والوجه أن نبين طريق الإشكال في الاتصال ونذكر ما قال الأصحاب في هذا الطرف

Ini adalah teksnya, dan yang seharusnya kita lakukan adalah menjelaskan cara permasalahan dalam hal keterkaitan, serta menyebutkan apa yang telah dikatakan para ulama dalam bagian ini.

ثم نذكر وجه الإشكال في الانفصال ونبين ما قيل فيه ثم ننص على ما هو الحق عندنا

Kemudian kami akan menyebutkan sisi permasalahan dalam pemisahan, menjelaskan apa yang telah dikatakan mengenai hal itu, lalu menegaskan apa yang menurut kami merupakan kebenaran.

فأما إذا قرب الزمان ولم يمض ما يفصل الإيجاب عن القبول فقال الزوج ما قال والزمان متصل فالنص يقتضي أن الزوج يستحق المسمّى ونجعل قوله الصادر منه بمثابة إنشاء الطلاق فإنه لم ينفصل بعدُ الإيجابُ عن القبول والإنشاءُ ممكن هذا معنى النص وظاهرُ الكلام

Adapun jika waktunya berdekatan dan belum berlalu waktu yang memisahkan antara ijab dan kabul, lalu suami mengucapkan apa yang diucapkannya dan waktunya masih bersambung, maka nash menunjukkan bahwa suami berhak atas mahar yang telah disebutkan, dan ucapan yang keluar darinya dianggap seperti melakukan inisiasi talak, karena ijab belum terpisah dari kabul dan inisiasi masih memungkinkan. Inilah makna nash dan zahir dari perkataan tersebut.

ووجه الإشكال فيه أن الزوج إن كان طلّقها قبل هذا القبول طلقةً واحدة فقد بانت بها وإذا بانت بواحدة لم يلحقها بعد الواحدة طلاق وإن قرب الزمان

Letak permasalahannya adalah jika suami telah menceraikannya dengan satu kali talak sebelum adanya penerimaan ini, maka ia telah menjadi perempuan yang terpisah (bain) dengan talak tersebut. Jika seorang perempuan telah menjadi bain dengan satu kali talak, maka setelah talak pertama itu tidak berlaku lagi talak berikutnya, meskipun jarak waktunya sangat dekat.

فما معنى تنزيل قوله على الإنشاء ولو فرض الإنشاء لما وقع على التحقيق الذي ذكرناه هذا وجه الإشكال

Lalu apa makna menisbatkan ucapannya pada makna insya’ (penciptaan/penetapan hukum), padahal seandainya insya’ itu terjadi, tidak akan sesuai dengan penjelasan yang telah kami sebutkan secara pasti? Inilah sisi permasalahannya.

ومما ذكره المحققون في محاولة حلّ هذا الإشكال ما لا يتبين إلا بتقديم مقدّمة فإذا قال الرجل لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق وطالق تلحقها الطلقةُ الأولى وتبين بها ولا تلحقها الثانية ولو قال لها إن دخلت الدار فأنت طالق وطالق فإذا دخلت الدار فهل يلحقها طلقتان أم لا يلحقها إلا واحدة فعلى وجهين سيأتي أصلهما والتفريعُ عليهما في كتاب الطلاق إن شاء الله عز وجل

Di antara hal yang disebutkan oleh para peneliti dalam upaya menyelesaikan permasalahan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami kecuali dengan mengajukan sebuah pendahuluan. Jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau talak dan talak,” maka talak pertama langsung jatuh padanya dan ia menjadi tercerai karenanya, sedangkan talak kedua tidak jatuh padanya. Namun jika ia berkata, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau talak dan talak,” lalu istrinya masuk ke dalam rumah, apakah jatuh dua talak kepadanya atau hanya satu saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang asal-usul dan rincian cabangnya akan dijelaskan dalam Kitab Talak, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

فإذا بانت المقدمة قال قائلون بعدها إذا استدعت المرأة طلقتين أو ثلاثة بمال فقال الزوج في جوابها أنت طالق وطالق ففي لحوق الطلقة الثانية الوجهان المذكوران فيه إذا قال لامرأته التي لم يدخل بها إن دخلت الدار فأنت طالق وطالق والجامعُ أن صفة الدخول تجمع الطلقتين المعلّقتين به وكذلك استدعاء المرأة يجمع قولي الزوج إذا قال أنت طالق وطالق فإن استدعاءها في الطلقة الثانية على حسب استدعائها في الأولى وكذلك القول في الثالثة إن فرضت على صيغة العطف والتقطيع

Jika penjelasan pendahuluan telah jelas, maka setelah itu ada yang berkata: Jika seorang wanita meminta dua atau tiga talak dengan imbalan harta, lalu suami menjawab permintaannya dengan berkata, “Engkau tertalak, dan tertalak,” maka dalam hal jatuhnya talak kedua terdapat dua pendapat sebagaimana dalam kasus ketika suami berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Jika engkau masuk ke dalam rumah, maka engkau tertalak, dan tertalak.” Kesamaannya adalah bahwa syarat masuk ke dalam rumah mengumpulkan dua talak yang digantungkan padanya, demikian pula permintaan wanita mengumpulkan dua ucapan suami ketika ia berkata, “Engkau tertalak, dan tertalak.” Maka permintaan wanita atas talak kedua adalah sebagaimana permintaannya atas talak pertama, demikian pula halnya pada talak ketiga jika diandaikan dengan bentuk penghubung (athaf) dan pemisahan.

ثم هذا القائل يقول إن كان الزوج طلق طلقة بثلث ألف والزمان بعدُ على حد الاتصال فلا يفوت تطليقٌ آخرُ يُنشئه في إسعافها بالطلاق على أحد الوجهين فينتظم على هذا إمكان الإنشاء وإن سبق تطليقٌ بجزء من الألف ووراء ذلك سؤال سنورده ونجيب عنه إن شاء الله تعالى

Kemudian orang yang berpendapat ini mengatakan: Jika suami menjatuhkan talak satu dengan sepertiga dari seribu, dan waktu masih dalam batasan bersambung, maka tidak gugur talak lain yang ia ciptakan untuk memenuhi permintaan talak dari istrinya menurut salah satu pendapat. Dengan demikian, menurut pendapat ini, memungkinkan untuk melakukan penciptaan talak. Jika sebelumnya telah terjadi talak dengan sebagian dari seribu, maka ada pertanyaan lain setelah itu yang akan kami sampaikan dan jawab, insya Allah Ta‘ala.

هذه طريقة أوردناها في الدروس وهي غير مرضية فإن الذي يجب القطع به أن المرأة إذا قالت طلقني ثلاثاً بألف فقال في جوابها أنت طالق وطالق وطالق لا يقع إلا طلقة واحدة وهي الأولى فإنها تبين بالأولى ولا تلحقها الثانية والثالثة بعد البينونة ويكون هذا كما لو قال لامرأته التي لم يدخل بها أنت طالق وطالق فتبين بالأولى ولا تلحقها الثانية وليس ذلك بمثابة ما لو قال لها أنت طالق وطالق إن دخلت الدار وذلك أن وقت الطلاقين ينطبق على أول الدخول ويتحقق اجتماعهما في الزمان فليس أحدهما أولى بالوقوع من الثاني وإذا أنشأ فالإنشاء مأخوذ من لفظه واللفظُ مرتب ويستحيل أن يقع معنى اللفظ الثاني قبل اللفظ وإذا كان يقع مع اللفظ واللفظ مؤخر عن الأول فلو وقع باللفظ الثاني طلاقٌ لصادف بائنةً وهذا بعينه يتحقق في جواب السائلة عدداً بمال فإنه إذا قال أنت طالق وطالق فيقع طلاق مع فراغه عن اللفظ الأول فلو وقع بالثاني طلاق آخر لكان بعد البينونة بالطلاق الأول لا محالة والبائنة لا تطلق عند الشافعي فلا وجه لتخريج وجه في وقوع ما ينشئه ثاني بعد وقوع الأول

Ini adalah metode yang kami sebutkan dalam pelajaran, namun metode ini tidak memuaskan. Yang harus diyakini secara pasti adalah bahwa jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku tiga kali dengan seribu (dirham),” lalu suaminya menjawab, “Engkau aku ceraikan, aku ceraikan, aku ceraikan,” maka yang jatuh hanya satu talak saja, yaitu yang pertama. Sebab, ia telah menjadi bain (terpisah) dengan talak pertama, sehingga talak kedua dan ketiga tidak berlaku setelah terjadinya bain. Hal ini sama seperti jika seseorang berkata kepada istrinya yang belum digauli, “Engkau aku ceraikan, aku ceraikan,” maka ia menjadi bain dengan talak pertama dan talak kedua tidak berlaku. Ini berbeda dengan kasus jika ia berkata, “Engkau aku ceraikan, dan aku ceraikan jika engkau masuk rumah,” karena waktu jatuhnya kedua talak tersebut bersamaan dengan masuknya istri ke dalam rumah, sehingga keduanya benar-benar terjadi pada waktu yang sama, dan tidak ada salah satu yang lebih utama untuk terjadi lebih dahulu dari yang lain. Jika talak itu diucapkan secara langsung (tanpa syarat), maka talak itu diambil dari lafaznya, dan lafaz itu berurutan, sehingga mustahil makna lafaz kedua terjadi sebelum lafaz pertama. Jika talak itu terjadi bersamaan dengan lafaz, sedangkan lafaz kedua datang setelah yang pertama, maka jika dengan lafaz kedua jatuh talak lagi, itu berarti talak itu mengenai istri yang sudah bain. Hal yang sama juga terjadi dalam jawaban terhadap permintaan talak dengan imbalan harta, yaitu jika ia berkata, “Engkau aku ceraikan, aku ceraikan,” maka talak terjadi setelah selesai mengucapkan lafaz pertama. Jika dengan lafaz kedua jatuh talak lagi, maka itu terjadi setelah bain dengan talak pertama, dan istri yang sudah bain tidak bisa ditalak menurut pendapat Imam Syafi‘i. Maka tidak ada alasan untuk mengeluarkan pendapat bahwa talak yang diucapkan kedua kali setelah jatuhnya talak pertama bisa terjadi.

ولو قال قائل أحمل كلام الشافعي على ما إذا قالت سألتك ثلاثاًً بألف فطلقتني واحدةً بألف ورامت بذلك ألا يقع شيء ولا يلزمها من البدل شيء فلا معنى للإطناب في هذا الفن فإن النص مصرح بخلافه ومحلُّه مفروض فيه إذا قالت استدعيتُ ثلاثاً بألف فطلقتني واحدة وأطلقتْ ثم مقتضى إطلاق الطلاق الواحد أن يقع بثلث المسؤول هذا هو النص

Jika ada yang berkata, “Saya memahami perkataan asy-Syafi‘i itu berlaku apabila seorang wanita berkata: ‘Aku memintamu menceraikanku tiga kali dengan imbalan seribu, lalu engkau menceraikanku satu kali dengan seribu,’ dan maksudnya agar tidak terjadi apa-apa dan tidak ada kewajiban membayar imbalan apa pun,” maka tidak ada gunanya memperpanjang pembahasan dalam bidang ini, karena nash (teks) secara tegas menyatakan sebaliknya. Konteksnya jelas, yaitu jika seorang wanita berkata: “Aku meminta tiga talak dengan seribu, lalu engkau menceraikanku satu kali,” dan ia telah menyebutkan permintaannya. Maka, konsekuensi dari talak satu yang diucapkan secara mutlak adalah jatuh dengan sepertiga dari imbalan yang diminta; inilah nash-nya.

على أنا قد حكينا عن الأصحاب خبطاً في الصورة التي ذكرناها وهي إذا سألت ثلاثاًً بألف فقال أنت طالق واحدة بألف فهذا مما حكينا فيه كلامَ الأصحاب وأوردنا عليه المباحثات من جهتنا فلا حاصل لحمل الكلام على هذا المحمل والتطويل لا يفيد

Kami telah menyampaikan adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat mengenai kasus yang telah kami sebutkan, yaitu apabila seseorang membeli tiga talak dengan seribu, lalu ia berkata, “Engkau tertalak satu dengan seribu.” Dalam hal ini, kami telah mengutip pendapat para sahabat dan mengemukakan pembahasan dari pihak kami. Maka, tidak ada manfaatnya menafsirkan ucapan tersebut dengan penafsiran seperti ini, dan memperpanjang pembahasan pun tidak memberikan faedah.

فإن قيل أي غرضٍ في الحمل على هذه الصورة قلنا لو جرى جارٍ على القياس لقال إذا استدعت ثلاثاً بألف فقال في جوابها أنت طالق واحدة بألف فلا يقع شيء ولا يكون ما جاء به جواباً لها فإذا كان الزمان على القرب والاتصال فيتصور منه إسعافها على الموافقة الآن فإذا تصور المساعفة انبنى عليه حمل قول الزوج على إنشاء الطلاق ولكن لا نرى الحمل على هذا المحمل النص ظاهره وفحواه يخالف هذه الصورة

Jika dikatakan, “Apa tujuan dalam membawa pada gambaran seperti ini?” Kami katakan, seandainya seseorang berjalan menurut qiyās, ia akan berkata: Jika seorang wanita meminta tiga talak dengan imbalan seribu (dirham), lalu suaminya menjawab, “Engkau aku talak satu dengan seribu,” maka tidak terjadi apa-apa dan apa yang dikatakannya tidak menjadi jawaban atas permintaannya. Namun, jika waktunya berdekatan dan bersambung, maka dapat dibayangkan bahwa suami bermaksud memenuhi permintaannya secara langsung. Jika kemungkinan memenuhi permintaan itu ada, maka ucapan suami dapat dianggap sebagai inisiasi talak. Akan tetapi, kami tidak melihat adanya alasan untuk menafsirkan demikian, karena teks secara lahiriah dan maknanya bertentangan dengan gambaran ini.

ثم وراء ذلك كله إشكال عتيد وهو أن الزوج أقرّّ بأنه طلقها ثلاثاً ولم ينشىء الطلاق وقوله متردد بين الصدق والكذب فكيف يقع الطلاق وسبيل الجواب أن من يملك إنشاء شيء فقد يجعل إقراره بمثابة إنشائه له ولهذا نظائر عند الأصحاب منها أن الزوج إذا ادّعى أنه ارتجع زوجته فأنكرت الزوجةُ الرجعةَ في بقاء العدة ودوامها فنفسُ إقرار الزوج بالارتجاع قد نجعله إنشاءَ ارتجاع وإن كان كاذباً وسأذكر هذا وأجمع إليه نظائره في كتاب الرجعة إن شاء الله تعالى

Kemudian, di balik semua itu terdapat permasalahan yang siap muncul, yaitu bahwa suami mengakui bahwa ia telah mentalak istrinya tiga kali, padahal ia tidak melakukan pengucapan talak, dan pengakuannya itu masih diragukan antara benar dan dusta. Lalu bagaimana talak bisa terjadi? Adapun jawabannya adalah bahwa siapa pun yang memiliki kewenangan untuk melakukan suatu perbuatan, maka pengakuannya dapat dianggap sebagai pelaksanaan perbuatan tersebut. Hal ini memiliki beberapa contoh menurut para ulama, di antaranya adalah jika suami mengaku telah merujuk istrinya, lalu istri mengingkari adanya rujuk tersebut selama masa iddah masih berlangsung, maka pengakuan suami tentang rujuk itu dapat dianggap sebagai pelaksanaan rujuk, meskipun ia berdusta. Saya akan menyebutkan hal ini beserta contoh-contoh lainnya dalam Kitab ar-Raj‘ah, insya Allah Ta‘ala.

وما ذكرناه من تنزيل الإقرار منزلة الإنشاء مشكلٌ لا يستقيم فيه تعليلٌ فقيه كما سنوضحه في المحل الذي ذكرناه ولكن لو قدّرنا أن الأمر كذلك فلا انتفاع بهذا مع ما قدمناه من أن الطلاق السابق يمنع إنشاء الطلاق بعده وإن قرب الزمان

Apa yang telah kami sebutkan tentang menempatkan pengakuan pada posisi seperti penciptaan (baru) adalah sesuatu yang problematis dan tidak dapat dijelaskan dengan alasan fiqh yang kokoh, sebagaimana akan kami jelaskan pada tempat yang telah kami sebutkan. Namun, seandainya kita menganggap bahwa perkara itu demikian, maka hal ini tetap tidak bermanfaat dengan apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu bahwa talak yang telah terjadi sebelumnya mencegah terjadinya penciptaan talak setelahnya, meskipun jarak waktunya sangat dekat.

وإذا انحسم إمكان الإنشاء مع قرب الزمان فلا معنى للانشغال مع ذلك بتنزيل الإقرار منزلة الإنشاء ولم يُحوِّم أحد من الأصحاب على هذا الإشكال والاعتناء به إلا شيخنا أبو بكر فإنه حوّم ولم يَرِدْ فكان كالذي ينتبه ثم يتغافل

Jika kemungkinan melakukan inšā’ telah terputus sementara waktu sudah dekat, maka tidak ada makna untuk menyibukkan diri dengan menyamakan iqrar dengan inšā’. Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang menyinggung permasalahan ini atau memperhatikannya, kecuali guru kami Abu Bakar; beliau menyinggungnya namun tidak membahasnya secara mendalam, sehingga keadaannya seperti orang yang terjaga lalu berpura-pura tidak tahu.

ونحن نذكر الآن وجه الحق ونقول إذا قالت المرأة سألتك ثلاثاً بألف فطلّقتني واحدةً فقال الزوج ما طلقتك قبلُ وإنما أطلقك ألآن ثم طلّقها والزمان قريب والوقت متصل فالوجه القطع بأن الثلاث تقع ويستحق الزوج المسمى بكماله بناءً على ما ذكرناه من اتصال الوقت وما ادّعته عليه من التطليق الواحد لو تحقق لامتنع نفوذُ غيره ولكن القول قولُ الزوج في نفي ما ادعته قبلُ فإنه المطلِّق وإليه الرجوع في النفي والإثبات والعدد والمقدار هذا على هذا الوجه متجه

Sekarang kami akan menjelaskan sisi kebenaran dan berkata: Jika seorang wanita berkata, “Aku memintamu tiga talak dengan seribu (dirham), lalu engkau menalakku satu kali,” kemudian suaminya berkata, “Aku belum menalakkanmu sebelumnya, aku baru akan menalakkanmu sekarang,” lalu ia menalakkan istrinya dan waktunya masih dekat serta waktunya bersambung, maka pendapat yang kuat adalah bahwa tiga talak jatuh dan suami berhak mendapatkan seluruh jumlah yang telah disepakati, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan tentang keterhubungan waktu. Apa yang diklaim oleh istri tentang satu talak saja, jika benar terjadi, maka tidak sah talak yang lain. Namun, perkataan suami diterima dalam menafikan apa yang diklaim istri sebelumnya, karena dialah yang berhak menjatuhkan talak, dan kepadanya rujukan dalam penafian, penetapan, jumlah, dan kadar talak. Dalam hal ini, pendapat ini dapat diterima.

ولو قال الزوج قد طلقتك قبلُ ثلاثاًً وهي تزعم أنه طلقها واحدة فلا ينفع والصورة هذه قُرْبُ الزمان فإن الإنشاء بَعْدَ ما مضى غيرُ ممكن

Jika suami berkata, “Aku telah menceraikanmu sebelumnya sebanyak tiga kali,” sementara istri mengklaim bahwa ia hanya menceraikannya satu kali, maka hal itu tidak bermanfaat, dan dalam kasus ini waktunya berdekatan, karena melakukan penjatuhan talak setelah waktu yang telah berlalu adalah tidak mungkin.

بقي أن الزوج هل يصدق في أنه طلقها ثلاثاً أم لا والوجه المبتوت الحكم بوقوع الثلاث لإقراره بها ولكن لا يقبل قوله عليها في استحقاق تمام المسمى فإن الرجوع إليها فيما يستحق عليها كما أن الرجوع إليه في عدد الطلاق

Tinggal satu hal lagi, yaitu apakah suami dapat dipercaya dalam pengakuannya bahwa ia telah menjatuhkan talak tiga kali atau tidak. Pendapat yang kuat adalah menetapkan jatuhnya talak tiga berdasarkan pengakuannya, namun pengakuannya itu tidak diterima dalam hal hak istri atas seluruh mahar yang telah ditetapkan. Sebab, dalam hal hak-hak yang menjadi tanggung jawab istri, rujukannya adalah kepada istri, sebagaimana dalam hal jumlah talak, rujukannya adalah kepada suami.

وهذا بمثابة ما لو قال القائل إن رددت عليّ عبيدي الثلاثة الأُبَّق فلك ألف

Ini seperti halnya jika seseorang berkata, “Jika kamu mengembalikan kepadaku tiga budakku yang melarikan diri, maka bagimu seribu.”

فقال المجعول له قد رددتهم فلا يقبل قوله ولا يستحق من الجعل شيئاً ما لم يثبت الردّ بالبينة أو بإقرار الجاعل فالوجه إذاً أن نقول لا يستحق عليها إلا الثُّلثُ فإن هذا المقدار متفق عليه والباقي متنازع فيه فالقول قولها مع يمينها

Maka jika pihak yang dijanjikan imbalan berkata, “Aku telah menolaknya,” maka ucapannya tidak diterima dan ia tidak berhak atas imbalan apa pun, kecuali jika penolakan itu dapat dibuktikan dengan saksi atau dengan pengakuan pihak yang menjanjikan. Oleh karena itu, pendapat yang tepat adalah bahwa ia hanya berhak atas sepertiga dari imbalan, karena jumlah ini telah disepakati, sedangkan sisanya masih diperselisihkan. Maka, pendapatnya diterima dengan sumpahnya.

هذا هو الذي لا يجوز غيره وإنما يحرص الحارص على تخريج وجهٍ لقولٍ مشكل إذا كان يتطرق إليه إمكان فأما إذا لم ينسلك فيه ظن فلا وجه لمصادمة القطع والسبيل في مثل هذا الحملُ على الزلل في النقل أو الخلل في النسخ ولا معصوم إلا من عصمه الله تعالى

Inilah yang tidak boleh selainnya, dan sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh hanya berupaya mencari penjelasan untuk suatu pendapat yang sulit jika masih memungkinkan. Adapun jika tidak ada dugaan yang dapat diterima padanya, maka tidak ada alasan untuk menentang sesuatu yang sudah pasti. Cara yang tepat dalam hal seperti ini adalah menganggapnya sebagai kekeliruan dalam periwayatan atau kesalahan dalam penyalinan, dan tidak ada yang terjaga dari kesalahan kecuali orang yang dijaga oleh Allah Ta‘ala.

هذا منتهى الكلام في هذا الطرف

Inilah akhir pembahasan pada bagian ini.

وتمامه أن الزوج إذا قال ما أجبتك قبلُ ولكن طلقتك ثلاثاًً الآن فقد ذكرنا أنه يستحق تمام المسمى ولكن يتوجه عليه يمينٌ من جهتها فتقول تحلف بالله أنك لم تطلقني طلقة في جواب سؤالي قبيل هذا فيتعين عليه أن يحلف إن أراد المسمى وقد ذكر الصيدلاني اليمين في ذلك على هذا الوجه ولكنه لم يَبُحْ بالتصوير على التفصيل الذي ذكرناه فإن أراد ما ذكرناه فقد طبق مفصل الحق ولكنه حوّم عليه ولم يَرِدْه وإن أراد أن المرأة تحلّفه أنك ما طلّقتني واحدة قَبْلُ والزوج يزعم أنه طلقها قبلُ ثلاثاً فلا خير في هذه الصورة فإن الزوج إذا أسند قوله إلى ما تقدم ولم ينكر إجابتها من قبل حتى ينشىء الإجابة في الحال فيؤول الأمر إلى النزاع فيما كان وموجبه أن قول الزوج مقبول عليه في الثلاث ولا يُقبل قوله عليها في استحقاق المسمى

Kesimpulannya adalah bahwa jika suami berkata, “Aku belum menjawabmu sebelumnya, tetapi sekarang aku menceraikanmu tiga kali,” maka telah kami sebutkan bahwa ia berhak atas seluruh mahar yang telah disepakati, namun ia harus bersumpah atas permintaan istrinya. Maka istri berkata, “Bersumpahlah demi Allah bahwa engkau tidak menceraikanku satu kali pun sebagai jawaban atas permintaanku sebelumnya,” maka suami wajib bersumpah jika ia menginginkan mahar tersebut. Asy-Syaidilani telah menyebutkan kewajiban sumpah dalam hal ini dengan cara seperti ini, namun ia tidak menjelaskan secara rinci sebagaimana yang telah kami uraikan. Jika yang dimaksud adalah seperti yang kami sebutkan, maka itu sesuai dengan rincian kebenaran, namun ia hanya mengisyaratkan dan tidak menjelaskannya. Jika yang dimaksud adalah bahwa istri meminta suami bersumpah bahwa ia tidak menceraikannya satu kali pun sebelumnya, sedangkan suami mengaku telah menceraikannya tiga kali sebelumnya, maka tidak baik dalam kasus ini. Sebab, jika suami mengaitkan ucapannya dengan masa lalu dan tidak mengingkari bahwa ia telah menjawab sebelumnya hingga ia membuat jawaban baru saat itu juga, maka perkara ini akan berujung pada perselisihan tentang apa yang telah terjadi, dan konsekuensinya adalah bahwa ucapan suami diterima atas dirinya sendiri dalam hal talak tiga, namun ucapannya tidak diterima terhadap istri dalam hal hak atas mahar yang telah disepakati.

ولست أبعد أن المنتهي إلى هذا الفصل إذا كان ذا فكرٍ قد يخطُر له أن مقصودها في الثلاث قد حصل بحكمنا على الزوج وقضائنا بوقوع الثلاث فيجب أن يكون مصدّقاً في استحقاق المسمّى

Saya tidak menganggap mustahil bahwa seseorang yang sampai pada pembahasan ini, jika ia seorang yang berpikir, mungkin akan terlintas dalam benaknya bahwa tujuan dari tiga talak itu telah tercapai dengan keputusan kita terhadap suami dan penetapan jatuhnya tiga talak, sehingga seharusnya ia berhak mendapatkan mahar yang telah ditentukan.

وهذا تلبيس لا يقنع به طالبُ غاية فإنا حكمنا عليه ظاهراً حكمنا في الأقارير وقد لا يكون الأمر في الباطن كذلك ومن الأصول الممهدة أن قول الإنسان مقبول فيما هو عليه وليس مقبولاً فيما يجب على غيره

Ini adalah suatu penyesatan yang tidak akan memuaskan pencari kebenaran, karena kami menetapkan hukum atasnya secara lahiriah sebagaimana kami menetapkan hukum dalam pengakuan-pengakuan, padahal bisa jadi kenyataannya di batin tidaklah demikian. Dan di antara kaidah yang telah ditetapkan adalah bahwa ucapan seseorang diterima dalam perkara yang berkaitan dengan dirinya, namun tidak diterima dalam perkara yang menjadi kewajiban orang lain.

وسيبين ما ذكرناه بذكرنا الطرف الآخر فنقول إذا انفصل الزمان فموجب النص أن الزوج لا يستحق كمالَ المسمى ولو كان على الحكم بوقوع الثلاث معوّلٌ لقضينا باستحقاقه المسمى وإن انفصل الزمان اعتماداً على قضائنا عليه بموجب إقراره

Apa yang telah kami sebutkan akan menjadi jelas dengan menyebutkan sisi lainnya. Kami katakan, jika waktu telah berlalu, maka berdasarkan nash, suami tidak berhak atas seluruh mahar yang telah disebutkan. Seandainya hukum jatuhnya talak tiga dijadikan sandaran, tentu kami akan memutuskan bahwa ia berhak atas mahar tersebut, meskipun waktu telah berlalu, dengan bersandar pada keputusan kami atasnya berdasarkan pengakuannya.

ثم قال الشافعي لا يستحق المسمى إذا طال الزمان وهذا حق وقال فيما نقله النقلة يتحالفان لأنه يدعي عليها كمال الألف وهي تقرّ بثلثها وهذا أبعد عن التحقيق من الطرف الأول فإن التحالف إنما يجري إذا كان الاختلاف آيلاً إلى صفة العقد أو إلى صفة عوضه فإذا حصل التوافق على أن المطلوب ثلاث والبدل ألف ووقع النزاع فيما وقع من الزوج فالتحالف في هذا محال والوجه القطع بأنه لا يستحق عليها إلا القدر المتفق عليه وهو ثلث الألف وإذا لم يتجه التحالف لم يتجه الرجوع إلى مهر المثل

Kemudian asy-Syafi‘i berkata bahwa mahar yang telah disebutkan tidak berhak diterima jika waktu telah berlalu lama, dan ini benar. Dan beliau berkata, sebagaimana dinukil oleh para perawi, bahwa keduanya saling bersumpah, karena ia (suami) mengklaim bahwa ia berhak atas seluruh seribu, sedangkan istri mengakui sepertiganya. Namun, ini lebih jauh dari kebenaran dibandingkan pendapat pertama, karena sumpah hanya berlaku jika perselisihan berkaitan dengan sifat akad atau sifat kompensasinya. Jika telah ada kesepakatan bahwa yang diminta adalah tiga dan kompensasinya seribu, lalu terjadi perselisihan tentang apa yang telah diberikan oleh suami, maka sumpah dalam hal ini tidak mungkin dilakukan. Pendapat yang benar adalah bahwa ia hanya berhak atas jumlah yang disepakati, yaitu sepertiga dari seribu. Jika sumpah tidak dapat dilakukan, maka tidak dapat kembali kepada mahar mitsil.

ثم لا يخفى أن الزوج لو أراد أن يحلفها على المسلك الحق حلفها على نفي العلم فإن يمينها تتضمن نفي فعلٍ للغير ومن الأصول التي تكررت في المعاملات وستقرر في الدعاوى والبينات إن شاء الله تعالى أن اليمين إذا تضمنت نفي فعل الغير فصيغها نفي العلم

Kemudian tidaklah tersembunyi bahwa jika suami ingin meminta istrinya bersumpah atas jalan yang benar, maka ia bersumpah dengan sumpah menafikan pengetahuan, karena sumpahnya mencakup penafian perbuatan orang lain. Dan di antara kaidah yang berulang dalam muamalah dan akan dijelaskan dalam bab gugatan dan pembuktian, insya Allah Ta‘ala, bahwa sumpah yang mencakup penafian perbuatan orang lain, maka redaksinya adalah menafikan pengetahuan.

فإن قال قائل هلا قلتم الزوج من وجهٍ مصدق في التطليق والمرأة مصدقة في عدم التزام تمام البدل فيتعارض الأصلان ولا يكون أحدهما أولى بالتصديق من الثاني وإنما ينشأ التحالف من استواء الجانبين ثم إذا تحالفا فلا وجه إلا الرجوع إلى قيمة البضع الفائت قلنا إن كان لما نقله الأصحاب وجه فهو هذا ولكنه تلبيسٌ عندنا فإن الزوج في إقراره بمثابة البائع يدعي تسليمَ المبيع إلى المشتري وتلفه في يده مع إنكار المشتري للقبض وهذا بيّن لا غموض فيه

Jika ada yang berkata: Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa suami dari satu sisi dapat dipercaya dalam hal talak, dan istri dapat dipercaya dalam hal tidak berkomitmen pada pelunasan penuh pengganti (mahar), sehingga kedua asal (prinsip) itu saling bertentangan dan tidak ada salah satu yang lebih utama untuk dipercaya daripada yang lain? Sesungguhnya, sumpah berlawanan (tahāluf) itu muncul dari keseimbangan kedua belah pihak. Kemudian, jika keduanya saling bersumpah, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada nilai kemaluan (būdh‘) yang hilang. Kami katakan: Jika pendapat yang dinukil para sahabat itu memiliki dasar, maka inilah dasarnya. Namun, menurut kami, ini adalah kekeliruan, karena suami dalam pengakuannya itu seperti penjual yang mengaku telah menyerahkan barang dagangan kepada pembeli dan barang itu rusak di tangan pembeli, sementara pembeli mengingkari telah menerima barang tersebut. Ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

فلم نغادر إذاً طرفاً لم ننته إليه نقلاً وإيضاحاً وغايتنا في هذا الكتاب إنهاء كل فصلٍ نهايته والله ولي التوفيق وهو بإسعاف راجيه حقيق

Maka tidaklah kami meninggalkan satu pun sisi yang belum kami sampaikan secara riwayat dan penjelasan. Tujuan kami dalam kitab ini adalah menyelesaikan setiap bab hingga tuntas. Allah-lah pemilik taufik, dan Dia benar-benar layak untuk mengabulkan harapan hamba-Nya.

فصل قال ولو قال طلقتك بألفٍ فقالت بل على غير شيء إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Aku menceraikanmu dengan tebusan seribu,” lalu sang istri berkata, “Bukan, melainkan tanpa sesuatu,” dan seterusnya.

إذا ادعى الرجل أنه طلقها على ألف فأنكرت التزام الألف قبولاً واستدعاء حكمنا بوقوع الطلاق على صفة البينونة على إقرار الزوج والقولُ في نفي البدل قولُها وهذا يؤكد الأصلَ الذي مهدناه وإن كان وضوحه مغنياً عن الاحتياج إلى الاستشهاد ولكن ذلك النص المشكل حكاه القفال عن الأم ولم ينقله المزني وكل ما يضاف إلى الأم فهو من الأقوال القديمة

Jika seorang laki-laki mengaku bahwa ia telah menceraikannya dengan imbalan seribu (dirham), lalu sang istri mengingkari telah menerima atau meminta seribu tersebut, maka kami menetapkan jatuhnya talak dengan sifat bain berdasarkan pengakuan suami, dan dalam hal penolakan terhadap imbalan, perkataan istri yang diterima. Hal ini menegaskan prinsip yang telah kami jelaskan sebelumnya, meskipun kejelasannya sebenarnya sudah cukup tanpa perlu mengutip dalil. Namun, teks yang problematis itu telah diriwayatkan oleh al-Qaffal dari kitab al-Umm, dan tidak dinukil oleh al-Muzani. Segala sesuatu yang dinisbatkan kepada al-Umm adalah termasuk pendapat-pendapat lama.

ولو قال السيد لعبده قد أعتقتك على ألفٍ فأنكر العبد التزام الألف نفذ الحكم بالعتق ولم يلزم المال ولو قال بعت منك إياك بألف فأنكر أو قال بعت منك هذا العبد بألف فأعتقته فالعتق ينفذ في هذه المسائل ولا يثبت المال على المنكر

Jika seorang tuan berkata kepada hambanya, “Aku telah memerdekakanmu dengan tebusan seribu,” lalu sang hamba mengingkari kewajiban membayar seribu tersebut, maka hukum pemerdekaan tetap berlaku dan hamba itu tidak diwajibkan membayar uang tersebut. Jika tuan berkata, “Aku telah menjual dirimu kepadamu seharga seribu,” lalu hamba mengingkarinya, atau ia berkata, “Aku telah menjual hamba ini kepadamu seharga seribu, lalu aku memerdekakannya,” maka pemerdekaan tetap berlaku dalam kasus-kasus ini dan uang tersebut tidak menjadi kewajiban bagi pihak yang mengingkarinya.

وبمثله لو قال بعت منك هذا العبد بألف ولي عليك ثمنه فأنكر المدعَى عليه البيع فلا يؤمر المقِرُّ بتسليم العبد إليه والسبب فيه أن مستحِقَّ الحق في هذه الصورة الأخيرة هو الذي ادعى صاحبُ العبد كونه مشترياً وأنكر هو حقَّ نفسه فيستحيل أن يثبت حقه على الرغم منه والعتق في المسائل التي ذكرناها لله تعالى فلا يرتد إذا جرى الإقرار به ومن الأصول الثابتة أن من أقر بشيئين وأحدهما يضره والثاني ينفعه قُبل قوله فيما يضره ورُدّ فيما يضر غيره

Demikian pula, jika seseorang berkata, “Aku telah menjual budak ini kepadamu seharga seribu, dan engkau masih berutang harga tersebut kepadaku,” lalu orang yang didakwa menyangkal adanya jual beli, maka orang yang mengakui (penjual) tidak diperintahkan untuk menyerahkan budak itu kepadanya. Sebabnya adalah bahwa yang berhak atas hak dalam kasus terakhir ini adalah orang yang mengaku sebagai pemilik budak, yang mengklaim dirinya sebagai pembeli, sementara ia sendiri menyangkal haknya; maka mustahil hak itu ditetapkan atas dirinya secara paksa. Adapun pembebasan budak (‘itq) dalam masalah-masalah yang telah kami sebutkan adalah karena Allah Ta‘ala, sehingga tidak batal jika telah diakui. Dan di antara prinsip-prinsip yang tetap adalah bahwa siapa yang mengakui dua hal, salah satunya merugikannya dan yang lain menguntungkannya, maka pengakuannya diterima dalam hal yang merugikannya dan ditolak dalam hal yang merugikan orang lain.

فرع

Cabang

قال صاحب التقريب إذا قالت المرأة طلقني على شيء أو على مال فقال أنت طالق على ألف درهم فالرجوع إلى مهر المثل والبينونة تقع بهذا الذي بينهما وسبب الرجوع إلى مهر المثل أنهما لم يتراضيا على معلوم

Menurut penulis kitab at-Taqrīb, jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan sesuatu atau dengan harta,” lalu suami berkata, “Engkau tertalak dengan seribu dirham,” maka yang dijadikan acuan adalah mahar mitsil, dan terjadilah perpisahan (bainunah) dengan apa yang telah disepakati di antara keduanya. Adapun sebab kembali kepada mahar mitsil adalah karena keduanya tidak saling ridha atas sesuatu yang jelas (diketahui kadarnya).

وهذا يحتاج إلى مزيد تفصيل فيجوز أن يقال إذا قال المرأة طلقني على شيء فغرضها بذلك أن تلتمس منه تطليقها على عوض حتى إذا طلّقها على عوض قبلت هذا ظاهرٌ في قول المرأة طلقني بعوض أو طلقني بما تريد

Hal ini memerlukan penjelasan lebih lanjut. Boleh dikatakan, jika seorang wanita berkata kepada suaminya, “Ceraikan aku dengan sesuatu,” maka maksudnya adalah ia meminta suaminya menceraikannya dengan imbalan tertentu, sehingga jika suaminya menceraikannya dengan imbalan, ia menerima hal itu. Ini jelas dalam ucapan wanita, “Ceraikan aku dengan imbalan,” atau “Ceraikan aku dengan apa yang kamu inginkan.”

لأتخلّص بقبول مرادك فعلى هذا لا يحكم بوقوع الفرقة

Agar aku dapat terbebas dengan menerima maksudmu, maka berdasarkan hal ini tidaklah diputuskan terjadinya perpisahan.

وسبيل التفصيل في ذلك أن نقول إذا أرادت المرأة الاستدعاء الجازم المغني عن القبول فالحكم ما ذكره صاحب التقريب وتعليله بيّن وإن زعمت أنها أرادت استنطاقه بشيء يقدّره لتقبله ففي قبول ذلك منها احتمالٌ ظاهر يجوز أن يقال لا يقبل ذلك منها ويحمل قولها على الاستدعاء الجازم كما لو قالت طلقني بألف فقال طلقتك بألف ويجوز أن يقال هذا منها استنطاق الزوج بابتداء الإيجاب الذي يقتضي استعقابَ القبول وفي المسألة احتمال ظاهر

Penjelasan rinci mengenai hal ini adalah sebagai berikut: Jika seorang wanita menginginkan permintaan yang tegas yang menggantikan penerimaan, maka hukumnya seperti yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb, dan alasannya jelas. Namun, jika ia mengaku bahwa ia bermaksud meminta suaminya untuk mengucapkan sesuatu yang ia anggap layak untuk diterima, maka terdapat kemungkinan yang jelas dalam menerima hal itu darinya. Bisa jadi dikatakan bahwa hal itu tidak diterima darinya dan ucapannya dianggap sebagai permintaan yang tegas, sebagaimana jika ia berkata, “Ceraikan aku dengan seribu (dirham),” lalu suaminya berkata, “Aku ceraikan kamu dengan seribu.” Dan bisa juga dikatakan bahwa hal itu merupakan permintaan dari pihak istri agar suami memulai ijāb yang menuntut adanya qabul setelahnya. Dalam masalah ini terdapat kemungkinan yang jelas.

ولو قالت طلقني بشيء فقال في جوابها أنت طالق بشيء فالأظهر هاهنا حمل استدعائها على الجزم الذي يكتفى به وليست المسألة خاليةً عن الاحتمال والعلم عند الله تعالى

Jika seorang wanita berkata, “Ceraikan aku dengan sesuatu,” lalu suaminya menjawab, “Engkau aku ceraikan dengan sesuatu,” maka pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah permintaannya dianggap sebagai permintaan yang tegas yang sudah mencukupi. Namun, masalah ini tidak lepas dari kemungkinan-kemungkinan lain, dan ilmu yang pasti hanya milik Allah Ta‘ala.

فصل قال ويجوز التوكيل في الخلع حراً كان أو عبداً إلى آخره

Bagian: Ia berkata, “Boleh melakukan wakalah dalam khulu‘, baik yang menjadi wakil itu orang merdeka maupun budak, dan seterusnya.”

هذا الفصل بقية الكتاب وهو من الفصول المنعوتة والله ولي التوفيق عند كل عسر فليقع تصدير الفصل بمن يجوز أن يكون وكيلاً في الخلع فنقول أولاً للزوج أن يوكل بالمخالعة وللمرأة أن توكل من يختلعها عن زوجها والتوكيل جارٍ من الجانبين ثم نذكر وراء هذا من يجوز أن يكون وكيلاً للزوج في المخالعة ثم نذكر من يجوز أن يكون وكيلاً للمرأة في الاختلاع

Bab ini merupakan kelanjutan dari kitab dan termasuk bab-bab yang telah disebutkan sifatnya. Allah adalah penolong dalam setiap kesulitan, maka hendaknya bab ini diawali dengan pembahasan tentang siapa yang boleh menjadi wakil dalam khulu‘. Kami katakan pertama, suami boleh mewakilkan orang lain untuk melakukan khulu‘, dan istri pun boleh mewakilkan seseorang untuk melakukan khulu‘ dari suaminya. Pemberian kuasa ini berlaku dari kedua belah pihak. Setelah itu, kami akan membahas siapa saja yang boleh menjadi wakil suami dalam khulu‘, kemudian kami akan membahas siapa saja yang boleh menjadi wakil istri dalam khulu‘.

فأما الضبط فيمن يجوز أن يكون وكيلاً للزوج في المخالعة فقد قال الأئمة الماضون من ملك مباشرةَ الخلع لنفسه بنفسه تُصُوِّر أن يكون وكيلاً للغير في الخلع فللرجل أن يوكل حراً أو عبداً ومحجوراً عليه بالسفه فإن العبد يستبد بالمخالعة وكذلك المحجور المبذر

Adapun mengenai kriteria siapa yang boleh menjadi wakil bagi suami dalam khul‘, para imam terdahulu mengatakan: siapa saja yang memiliki hak untuk melakukan khul‘ untuk dirinya sendiri, maka dimungkinkan baginya untuk menjadi wakil bagi orang lain dalam khul‘. Maka, seorang laki-laki boleh mewakilkan kepada orang merdeka, budak, atau orang yang dibatasi haknya karena kebodohan (safih), karena budak dapat melakukan khul‘ secara mandiri, demikian pula orang yang dibatasi haknya karena pemborosan.

وقالوا للمسلم أن يوكل ذمياً في مخالعة امرأته المسلمة إذ الذمي قد يخالع زوجته المسلمة وذلك بأن تسلم ذمية تحت ذمي بعد الدخول فإذا خالعها ثم جمعهما الإسلام بان أن الخلع كان صحيحاً وهذا الذي ذكره الأصحاب منتظمٌ في النفي والإثبات والطرد والعكس ولكنْ فيه تقييد ليس يفيد فقهاً على ما نؤثره

Mereka berkata, seorang Muslim boleh mewakilkan seorang dzimmi untuk melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang Muslimah, karena seorang dzimmi dapat melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang Muslimah. Hal itu terjadi apabila seorang wanita dzimmah masuk Islam sementara ia masih menjadi istri seorang dzimmi setelah terjadi hubungan suami istri. Jika kemudian suaminya melakukan khulu‘ terhadapnya, lalu keduanya masuk Islam kembali, maka jelaslah bahwa khulu‘ tersebut sah. Apa yang disebutkan oleh para ulama ini mencakup penafian dan penetapan, penerapan dan kebalikannya. Namun, di dalamnya terdapat pembatasan yang tidak memberikan faedah fiqh sebagaimana yang kami utamakan.

ولو كان يتصور تطليق الذمي زوجةً مسلمة لصح أن يكون وكيلاً لمسلم في تطليق زوجته تعويلاً على صحة عبارته ولهذا قلنا الذمي على المذهب الأظهر لا يجوز أن يكون وكيلاً في تزويج مسلمة والتزوّج بها لمسلم

Seandainya dapat dibayangkan bahwa seorang dzimmi menceraikan istri Muslimah, maka sah baginya menjadi wakil seorang Muslim dalam menceraikan istrinya, berdasarkan keabsahan ucapannya. Oleh karena itu, kami katakan bahwa menurut mazhab yang paling kuat, seorang dzimmi tidak boleh menjadi wakil dalam menikahkan seorang Muslimah dan tidak boleh menikahinya untuk seorang Muslim.

ومما ظهر الاختلاف بين أصحابنا فيه أن المرأة هل يجوز أن تكون وكيلة في الطلاق بالعوض وغير العوض فمن أصحابنا من قال يجوز أن يوكل الرجل امرأة حتى تخالع زوجته وتطلقها بمال ويجوز أن يوكل امرأةً حتى تطلق زوجته من غير مال إذ لا خلاف أن الرجل إذا قال لامرأته طلّقي نفسك فطلقت نفسها نفذ الطلاق بلفظها وإذا كان قولها صالحاً للطلاق في هذا المحل الذي حكينا الوفاق فيه فلا يمتنع أن تكون الأجنبية وكيلة في تطليق الزوجة ولمّا استُلبت عبارة المرأة في طرفي النكاح لم يتصور منها على الصحة تزويج ولا تزوّج

Salah satu hal yang para ulama kami berbeda pendapat di dalamnya adalah apakah wanita boleh menjadi wakil dalam talak dengan kompensasi maupun tanpa kompensasi. Sebagian ulama kami berpendapat bahwa boleh bagi seorang laki-laki mewakilkan seorang wanita untuk melakukan khulu‘ terhadap istrinya dan menceraikannya dengan imbalan harta, dan boleh juga mewakilkan seorang wanita untuk menceraikan istrinya tanpa imbalan harta. Sebab, tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Ceraikanlah dirimu sendiri,” lalu istrinya menceraikan dirinya, maka talak itu sah dengan ucapannya. Jika ucapan istri sah untuk talak dalam kasus yang telah disepakati ini, maka tidak terlarang bagi wanita lain (selain istri) untuk menjadi wakil dalam menceraikan istri. Namun, karena ucapan wanita telah dicabut pada kedua sisi akad nikah, maka tidak sah baginya untuk menikahkan atau menikahi secara benar.

ومن أصحابنا من قال لا يجوز أن تكون المرأة وكيلة في الطلاق ولا يقع الطلاق بعبارتها كما لا ينعقد النكاح بلفظها وهذا القائل يقول تفويض الرجل الطلاق إلى المرأة ليس توكيلاً وإنما هو تمليك وقد رمزنا إلى هذا الأصل وأحلنا استقصاءه على كتاب الطلاق وقال الأصحاب الخلاف في أن المرأة هل يجوز أن تكون وكيلةً في الطلاق مأخوذ من الخلاف في أن الرجل إذا فوّض الطلاق إلى امرأته فهذا تمليك أو توكيل فإن جعلناه توكيلاً لم يمتنع توكيل المرأة بالطلاق وإن جعلناه تمليكاً اختص التمليك بالزوجة ولم يُتصوّر من غيرها عبارةٌ صحيحة عن الطلاق ولولا اشتهار هذا الخلاف لتناهيت في تزييف منع توكيل المرأة فإنه إذا صح تمليك المرأة فلأن يصح توكيلها أولى فقد يتوكل في الشيء من لا يملكه ولذلك لنا يجوز أن يكون العبد والكافر والفاسق وكلاء في النكاح على الرأي الأصح وإن كانوا لا يلون النكاح على الاستقلال فلا حاصل إذاً لهذا الخلاف ولكنه مشهور مذكور في كل طريق

Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa tidak boleh seorang perempuan menjadi wakil dalam perceraian, dan talak tidak sah dengan ucapannya, sebagaimana akad nikah pun tidak sah dengan lafaznya. Pendapat ini menyatakan bahwa pendelegasian talak oleh suami kepada istri bukanlah bentuk perwakilan (tawkil), melainkan pemberian hak milik (tamlik). Kami telah menyinggung prinsip ini dan merujuk pembahasannya secara rinci pada Kitab Talak. Para ulama mazhab menyatakan bahwa perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya perempuan menjadi wakil dalam talak diambil dari perbedaan pendapat tentang apakah ketika suami mendelegasikan talak kepada istrinya, itu termasuk tamlik atau tawkil. Jika dianggap sebagai tawkil, maka tidak terlarang perempuan menjadi wakil dalam talak. Namun jika dianggap sebagai tamlik, maka pemberian hak milik itu khusus untuk istri, dan tidak mungkin orang lain selain istri mengucapkan lafaz talak yang sah. Kalau saja perbedaan pendapat ini tidak terkenal, niscaya aku akan sangat menolak larangan perempuan menjadi wakil, sebab jika pemberian hak milik kepada perempuan saja sah, maka menjadikannya sebagai wakil tentu lebih utama untuk dibolehkan. Sebab, terkadang seseorang dapat menjadi wakil dalam suatu perkara meskipun ia tidak memilikinya. Oleh karena itu, menurut pendapat yang paling sahih, budak, orang kafir, dan orang fasik pun boleh menjadi wakil dalam akad nikah, meskipun mereka tidak dapat menjadi wali nikah secara mandiri. Maka, tidak ada makna dari perbedaan pendapat ini, namun ia telah masyhur dan disebutkan dalam setiap referensi.

هذا قولنا فيمن يصح أن يكون وكيلاً بالتطليق على مال والمخالعة من جهة الزوج

Inilah pendapat kami mengenai siapa yang sah menjadi wakil dalam melakukan talak dengan imbalan harta dan khulu‘ atas nama suami.

فأما من يكون وكيلاً لها فكل من يكون من أهل العبارة في الطلاق يجوز أن يكون وكيلاً لها في سؤال الطلاق وقال الأئمة إن خالف مخالف في المرأة هل يجوز أن تكون وكيلة عن الزوج فلا خلاف أن المرأة يجوز أن تكون وكيلة عن الزوجة في الاختلاع فإن الأصل في الاختلاع المرأة وقد نص الشافعي على أن المرأة إذا اختلعت نفسها وضرتها بمالٍ صحَّ وإذا كان يصح منها أن تختلع ضرتها من غير توكيل من جهتها فلا يمتنع أن تكون وكيلة أيضاًً

Adapun siapa saja yang dapat menjadi wakil baginya, maka setiap orang yang termasuk ahli dalam mengucapkan talak boleh menjadi wakil baginya dalam meminta talak. Para imam berpendapat, jika ada yang berbeda pendapat mengenai apakah perempuan boleh menjadi wakil dari suami, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa perempuan boleh menjadi wakil dari istri dalam khulu‘, karena asal dalam khulu‘ adalah perempuan. Imam Syafi‘i telah menegaskan bahwa jika seorang perempuan melakukan khulu‘ untuk dirinya sendiri dan untuk madunya dengan harta, maka itu sah. Jika ia boleh melakukan khulu‘ untuk madunya tanpa adanya perwakilan dari pihak madunya, maka tidak terlarang baginya untuk juga menjadi wakil.

هذا تفصيل القول فيمن يجوز أن يكون وكيلاً من الجانبين وفي تنبيهنا على من يجوز أن يكون وكيلاً إيضاح لمن لا يكون وكيلاً

Ini adalah perincian penjelasan tentang siapa saja yang boleh menjadi wakil dari kedua belah pihak, dan dalam penjelasan kami tentang siapa yang boleh menjadi wakil terdapat penjelasan pula tentang siapa yang tidak boleh menjadi wakil.

وإذا تبين هذا خضنا بعده في تصرف الوكيل على الموافقة والمخالفة فنبيّن تفصيلَ القول فيما يصدر من وكيل الزوج ثم ننعطف فنبين ما يصدر من وكيل الزوجة

Setelah hal ini menjadi jelas, selanjutnya kita akan membahas tindakan wakil, baik yang sesuai maupun yang menyelisihi. Maka, kami akan menjelaskan secara rinci pendapat mengenai apa yang dilakukan oleh wakil suami, kemudian kami akan kembali untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh wakil istri.

فأما وكيل الزوج فلا يخلو إما أن يكون موكلاً بالمخالعة المطلقة وإما أن ينصّ الزوج على مبلغ من المال فإن نص على مبلغٍ معلوم وقال طلّق زوجتي بمائة دينار فلا يخلو الوكيل إما أن يوافقه وإما أن يزيد وإما أن ينقص فإن خالعها بالمقدار المذكور نفذ الخلع وثبت البدل وإن زاد على المقدار المسمّى ثبت ما سماه الوكيل وكان ما جاء به في حكم الموافقة وهذا بمثابة ما لو قال مالك العبد للوكيل بع عبدي هذا بمائة فإذا باعه بمائتين نفذ البيع بهما وقد قررنا هذا وما يليق بجوانبه في كتاب الوكالة

Adapun wakil suami, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia diberi kuasa untuk melakukan khulu‘ secara mutlak, atau suami menyebutkan jumlah harta tertentu. Jika suami menyebutkan jumlah tertentu dan berkata, “Ceraikan istriku dengan seratus dinar,” maka wakil itu juga tidak lepas dari tiga kemungkinan: ia menyetujui jumlah tersebut, menambah, atau mengurangi. Jika ia melakukan khulu‘ dengan jumlah yang disebutkan, maka khulu‘ itu sah dan pengganti (harta) tersebut tetap. Jika ia menambah dari jumlah yang telah ditentukan, maka yang berlaku adalah apa yang disebutkan oleh wakil, dan tambahan itu dianggap sebagai bentuk persetujuan. Hal ini seperti jika pemilik budak berkata kepada wakil, “Jual budakku ini dengan seratus,” lalu ia menjualnya dengan dua ratus, maka jual beli itu sah dengan harga dua ratus. Kami telah menjelaskan hal ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya dalam Kitab al-Wakālah.

وإن خالف الوكيل الزوجَ فنقص وخالع بأقلّ من المقدار المسمى فالمذهب المبتوت الذي عليه التعويل أن الطلاق لا يقع فإن الوكيل لا يملك الاستقلال بالتطليق وإنما يطلّق مأذوناً وإذا خالف لم يكن مأذوناً

Jika wakil menyelisihi suami lalu menjatuhkan talak atau melakukan khulu‘ dengan jumlah yang lebih sedikit dari yang telah ditetapkan, maka pendapat yang kuat dan menjadi sandaran adalah bahwa talak tidak terjadi. Sebab, wakil tidak memiliki kewenangan untuk melakukan talak secara mandiri, melainkan hanya boleh menjatuhkan talak sesuai izin. Jika ia menyelisihi, maka ia tidak lagi dianggap mendapat izin.

وذكر بعض أصحابنا قولاً مخرجاً في وقوع الطلاق على ما سنذكر على الاتصال أصله في هذا الفصل إن شاء الله تعالى

Sebagian ulama kami menyebutkan suatu pendapat yang ditakhrij mengenai jatuhnya talak, sebagaimana akan kami sebutkan nanti, yang terkait dengan asal permasalahan ini dalam bab ini, insya Allah Ta‘ala.

ولسنا نفرع على القولين حتى نذكر صورةً أخرى

Kami tidak akan merinci berdasarkan dua pendapat tersebut sampai kami menyebutkan gambaran lain.

فإذا وكل الزوج بالمخالعة مطلقاً ولم ينص على مقدارٍ من العوض فقال خالع زوجتي هذه فالذي ذكره الأصحاب أن الوكيل إذا خالعها بمهر مثلها أو أكثرَ من مهر مثلها نفذ وصح وكان بمثابة ما لو باع الوكيل المطلق ما وكّل ببيعه بثمن المثل أو بأكثر من ثمن المثل

Jika suami mewakilkan khulu‘ secara mutlak tanpa menyebutkan jumlah kompensasi, lalu ia berkata, “Lakukanlah khulu‘ terhadap istriku ini,” maka menurut pendapat para ulama, jika wakil tersebut melakukan khulu‘ dengan mahar setara mahar wanita seperti dia atau lebih dari itu, maka khulu‘ tersebut sah dan berlaku, sebagaimana jika seorang wakil yang diberi kuasa secara mutlak menjual barang yang diwakilkan kepadanya dengan harga setara atau lebih dari harga pasar.

فأما إذا خالعها بأقلَّ من مهر مثلها فظاهر النص في الإملاء وفيما حكاه الربيع أن الطلاق يقع على تفصيلٍ سنذكره في التفريع إن شاء الله تعالى

Adapun jika suami melakukan khulu‘ dengan memberikan kompensasi kurang dari mahar mitsil, maka zahir nash dalam kitab al-Imlā’ dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh ar-Rabi‘, talak tetap jatuh dengan perincian yang akan kami sebutkan dalam pembahasan rinci, insya Allah Ta‘ala.

وخرّج مخرجون قولاً أن الطلاق لا يقع فانتظم من هذا أن ظاهر النص في التوكيل المطلق وقوعُ الطلاق وإن جرت المخالعة بدون مهر المثل وظاهر النص أن الزوج إذا عين مقداراً فخالع الوكيل بأقلّ منه فالطلاق لا يقع وخرج الأصحاب في كل صورة قولاً على خلاف النص

Sebagian ulama mengemukakan pendapat bahwa talak tidak terjadi, sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa zahir nash dalam hal wakalah mutlak menunjukkan terjadinya talak meskipun khulu‘ dilakukan tanpa mahar mitsil, dan zahir nash menunjukkan bahwa jika suami menentukan jumlah tertentu lalu wakil melakukan khulu‘ dengan jumlah yang lebih sedikit darinya, maka talak tidak terjadi. Para ulama juga mengemukakan dalam setiap kasus pendapat yang berbeda dengan nash.

فأما وجه التخريج في صورة الإطلاق فبيّنٌ فإنه مخالف والعقدُ المطلق محمول على عوض المثل فلذلك جعلنا الوكيل المطلق بالبيع إذا باع بأقل من ثمن المثل مخالفاً نازلاً منزلة ما لو عين له مالك المتاع مقداراً من الثمن فباع بأقلَّ منه فليكن الأمر كذلك ها هنا وإذا ظهرت المخالفة وبطل استقلال الوكيل بنفسه لم يبق إلا رد الطلاق

Adapun sisi takhrij dalam kasus pelafalan mutlak adalah jelas, karena hal itu merupakan bentuk penyimpangan, dan akad yang bersifat mutlak harus ditafsirkan dengan imbalan yang sepadan. Oleh karena itu, kami menetapkan bahwa seorang wakil yang diberi kuasa secara mutlak untuk menjual, apabila ia menjual dengan harga di bawah harga yang sepadan, maka ia telah menyimpang, dan kedudukannya sama seperti jika pemilik barang telah menentukan jumlah tertentu dari harga, lalu ia menjual di bawah harga tersebut. Maka hendaknya perkara ini berlaku juga di sini. Ketika penyimpangan itu tampak dan wakil tidak lagi memiliki kemandirian dalam bertindak, maka tidak ada pilihan lain kecuali menolak talak tersebut.

فإن قيل هذا بيّن فما وجه نفوذ الطلاق على ما اقتضته النصوص قلنا الطلاق مأخوذ من اللفظ مُدار على التطليق فإذا قال الزوج خالع زوجتي فالذي جرى من الوكيل يسمى مخالعة فيجب تحقيق التطليق بحكم اللفظ وليس كالمبايعات فإنها مدارة على العادات وفيما قدمناه من تنزيل العقود على النقود الغالبة وقطع تعليق الطلاق عن هذا الأصل ما يؤكد هذا

Jika dikatakan, “Hal ini sudah jelas, lalu apa alasan sahnya talak sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash-nash?” Kami katakan, talak diambil dari lafaz dan berputar pada makna penjatuhan talak. Maka jika seorang suami berkata, “Ceraikan istriku,” apa yang dilakukan oleh wakil disebut sebagai khulu‘, sehingga penjatuhan talak harus direalisasikan sesuai dengan hukum lafaz tersebut. Ini berbeda dengan jual beli, karena jual beli berputar pada kebiasaan. Dalam penjelasan sebelumnya tentang penyesuaian akad dengan uang yang berlaku dan pemutusan keterkaitan talak dari asal tersebut, terdapat penguat untuk hal ini.

فإن قيل ما وجه تنفيذ طلاق الوكيل الذي عيّن له الموكل مقداراً فخالع بأقلّ منه قلنا أول ما نوجه به أن نستدل بالتوكيل المطلق مع فرض المخالعة بأقلّ من مهر المثل وعلى الجملة يضعف توجيه هذا وقد أضرب عن حكايته كثير من الأئمة

Jika dikatakan, “Apa alasan sahnya talak yang dilakukan oleh wakil ketika muwakkil telah menentukan jumlah tertentu, namun wakil melakukan khulu‘ dengan jumlah yang lebih sedikit dari itu?” Kami jawab: Pertama-tama, kami dapat mengarahkan dengan berdalil pada pendelegasian yang bersifat mutlak, dengan asumsi terjadinya khulu‘ dengan jumlah yang lebih sedikit dari mahar mitsil. Secara umum, alasan ini memang lemah, dan banyak dari para imam yang enggan meriwayatkannya.

هذا بيان القولين في وقوع الطلاق وعدم وقوعه

Ini adalah penjelasan tentang dua pendapat mengenai terjadinya talak dan tidak terjadinya talak.

ونحن الآن نفرّع ونستعين بالله عز وجل فإن قلنا لا يقع الطلاق فقد لغا لفظ الوكيل ولا حكم لما جاء به

Sekarang kita akan merinci dan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kita mengatakan bahwa talak tidak terjadi, maka ucapan wakil menjadi sia-sia dan tidak ada hukum atas apa yang dibawanya.

ان حكمنا بأن الطلاق واقع فقد ذكر الشيخ أبو علي في شرح التلخيص قولين

Jika kita memutuskan bahwa talak itu terjadi, maka Syaikh Abu ‘Ali dalam Syarh at-Talkhīṣ menyebutkan dua pendapat.

أحدهما أن الزوج بالخيار إن شاء أجاز ما فعله الوكيل وتنفذ البينونة وإن شاء ردّ المال وردّ البينونة ووقع الطلاق رجعياًً فإن الطلاق إن كان يقع بحكم اللفظ فالبينونة لا تثبت إلا بالمال والمال لم يثبت على موجب الإذن فهذا نوع من التخيير

Pertama, suami memiliki pilihan: jika ia menghendaki, ia dapat menyetujui apa yang dilakukan oleh wakil dan talak bain pun berlaku; namun jika ia menghendaki, ia dapat mengembalikan harta dan membatalkan talak bain, sehingga talak yang terjadi menjadi talak raj‘i. Sebab, jika talak terjadi berdasarkan lafaz, maka talak bain tidak dapat ditetapkan kecuali dengan adanya harta, sedangkan harta tersebut belum tetap berdasarkan izin yang diberikan. Maka ini merupakan salah satu bentuk pilihan (takhyīr).

وحكى قولاً آخر مخرجاً عن ابن سريج أن الزوج بالخيار إن شاء أجاز ما فعله الوكيل وإن شاء ردّ المال والطلاق أصلاً

Diriwayatkan pendapat lain yang dinisbatkan kepada Ibn Suraij bahwa suami memiliki pilihan: jika ia mau, ia dapat membenarkan apa yang dilakukan oleh wakil, dan jika ia mau, ia dapat menolak harta dan talak secara keseluruhan.

فإن قال قائل هذا بعينه مصير إلى وقف الطلاق وقد ذكرتم في المعاملات للشافعي قولاً في وقف العقود ثم ذكرتم الآن الوقف من وجهين وقفاً في البينونة والرجعة ووقفاً في رد الطلاق قلنا لو كان هذا مأخوذاً من وقف العقود فالممكن فيه اختصاص الطلاق بمزايا يقتضي بها مزيد النفوذ فقد يقول القائل نحن وإن لم نجوز وقف سائر العقود فقد نجّوز وقف الطلاق لما أشرنا إليه وهذا ليس على الحد الذي أرتضيه فإنا لو أخذنا هذا من وقف العقود لوجب تعطيل التوكيل فيها ولوجب أن يقال إذا أقدم أجنبي على مثل ما وصفناه فالكلام في إجازة الزوج وردّه على ما تقدم

Jika ada yang berkata, “Ini sendiri merupakan kembali kepada konsep penangguhan talak, padahal kalian telah menyebutkan dalam pembahasan muamalah menurut Syafi’i adanya pendapat tentang penangguhan akad, lalu kalian sekarang menyebutkan penangguhan dari dua sisi: penangguhan dalam hal bainunah dan rujuk, serta penangguhan dalam hal penolakan talak,” maka kami katakan: Jika hal ini diambil dari penangguhan akad, maka mungkin saja talak memiliki kekhususan yang menjadikannya lebih kuat dalam pelaksanaan. Maka bisa saja seseorang berkata, “Meskipun kami tidak membolehkan penangguhan pada seluruh akad, namun kami membolehkan penangguhan talak karena alasan yang telah kami isyaratkan.” Namun, ini bukanlah batasan yang saya setujui. Sebab, jika kita mengambil hal ini dari penangguhan akad, maka seharusnya pendelegasian (tawkil) dalam talak juga harus dibatalkan, dan seharusnya dikatakan bahwa jika orang lain melakukan seperti yang telah kami gambarkan, maka pembahasan tentang izin suami dan penolakannya kembali pada penjelasan yang telah lalu.

وهذا انحلال وخروج عن الضبط ونحن نستفرغ الوسع في توجيه ما حكيناه ونقول أما الحكم بوقوع الطلاق في إطلاق الوكالة فمأخوذ من اللفظ وما ينبني الطلاق عليه في الحنث والبر فليتخذ الناظر هذا معتمده ثم وراء ذلك مالٌ فيجوز أن يُفرض فيه خيار

Ini adalah bentuk pelonggaran dan keluar dari ketentuan yang baku. Kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan apa yang telah kami sampaikan, dan kami katakan: Adapun penetapan jatuhnya talak dalam pelimpahan kuasa (wakalah) diambil dari lafaznya, dan apa yang berkaitan dengan talak dalam hal pelanggaran sumpah (ḥinth) dan pemenuhan sumpah (bar), maka hendaknya orang yang meneliti menjadikan hal ini sebagai sandarannya. Setelah itu, ada harta, maka boleh diasumsikan adanya hak memilih (khiyār) di dalamnya.

ثم ينقدح من فرض ردّه قولان أحدهما أن الطلاق لا مرد له فإن ارتدّ المال بقي الطلاق عريّاً فكان رجعياًً ويجوز أن يقال وقع الطلاق ولكن ارتبط بمالٍ يقبل الرد وهو لم يرض بالطلاق المطلق فينعكس رد المال على رد الطلاق وليس هذا كردّ عوض الخلع بالعيب فإن الطلاق لزم متعلقاً بعينه فلم يكن له بعد لزومه مردّ وهذا النوع من الرد الذي نحن فيه ينعكس على أصل الإذن ومن طلب أكثر من هذا في هذا المقام وقع في الوقف مع ما فيه من الفجاجة

Kemudian, dari anggapan bahwa penolakan terhadap kompensasi itu terjadi, muncul dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa talak tidak dapat dibatalkan; jika harta (kompensasi) dikembalikan, maka talak tetap berlaku tanpa kompensasi sehingga menjadi talak raj‘i. Bisa juga dikatakan bahwa talak telah terjadi, namun dikaitkan dengan harta yang masih bisa dikembalikan, dan ia tidak rela dengan talak mutlak, sehingga pengembalian harta berakibat pada pengembalian talak. Ini berbeda dengan pengembalian kompensasi khulu‘ karena cacat, sebab talak dalam kasus itu sudah pasti terkait dengan sesuatu yang khusus, sehingga setelah talak menjadi pasti, tidak ada lagi pengembalian. Jenis pengembalian yang sedang kita bahas ini berkaitan dengan asal izin. Siapa yang mencari penjelasan lebih dari ini dalam masalah ini, maka ia akan terjebak pada keraguan, di samping kekakuan yang ada di dalamnya.

وبالجملة لسنا ننكر سقوط القولين جميعاً في رد البينونة وأصل الطلاق ولم أر هذين القولين إلا للشيخ أبي علي والأصحابُ في الطرق مجمعون على أن الفرقة إذا وقعت كانت بينونة لا خِيرَةَ في ردها وحكَوْا عن الشافعي بعد القضاء بلزوم البينونة قولين على وجهٍ آخر أحدهما أن الطلاق إذا وقع بالمقدار الذي سماه الوكيل نفذ وتم والرجوع إلى مهر المثل فينفذ الطلاق لموجب الإطلاق وفقضي بفساد التسمية للإخلال بما يجب أن يُرعى في المال ونتيجةُ هذه الجملة الرجوعُ إلى مهر المثل

Secara keseluruhan, kami tidak mengingkari bahwa kedua pendapat tersebut sama-sama gugur dalam hal penolakan bainunah dan asal-usul talak. Saya tidak menemukan kedua pendapat ini kecuali dari Syekh Abu Ali, sedangkan para sahabat dalam berbagai jalur sepakat bahwa jika perpisahan telah terjadi, maka itu adalah bainunah dan tidak ada pilihan untuk menolaknya. Mereka juga meriwayatkan dari Imam Syafi’i setelah adanya keputusan tentang wajibnya bainunah, terdapat dua pendapat dalam bentuk lain: salah satunya adalah jika talak terjadi sesuai jumlah yang disebutkan oleh wakil, maka talak itu sah dan sempurna, dan kembali kepada mahar mitsil, sehingga talak itu sah karena alasan keumuman, dan diputuskan bahwa penamaan mahar itu batal karena tidak memenuhi syarat yang seharusnya dijaga dalam harta, dan hasil dari keseluruhan ini adalah kembali kepada mahar mitsil.

والقول الثاني أن الزوج بالخيار إن شاء فسخ ورجع إلى مهر المثل وإن شاء قنع بذلك المقدار ورضي به وقد يكون له فيه غرض وقد يكون عيناً وهو يبغيه ولا يريد إسقاطه

Pendapat kedua menyatakan bahwa suami memiliki pilihan: jika ia mau, ia dapat membatalkan dan kembali kepada mahar mitsil; jika ia mau, ia dapat menerima jumlah tersebut dan rela dengannya. Bisa jadi ia memiliki tujuan tertentu dalam hal itu, atau mungkin barangnya memang ia inginkan dan tidak ingin melepaskannya.

فإن قيل فما وجه القولين قلنا الأوجه ثبوتُ مهر المثل وجهه لائح

Jika dikatakan, “Apa alasan adanya dua pendapat itu?” Kami katakan, pendapat yang lebih kuat adalah tetapnya mahar mitsil, dan alasannya jelas.

وأما وجه قول الخيار فهو أنا إذا نفذنا الطلاق لم يمكننا أن نقطع القول بفساد المسمى ولم يمكننا أن نهجم على إبطال حق الزوج من المال فكان يتجه ما ذكرناه أن يتخير الزوج كما نصصنا عليه

Adapun alasan pendapat khiyār adalah bahwa apabila kita menetapkan terjadinya talak, kita tidak dapat memastikan rusaknya mahar yang telah disebutkan, dan kita tidak dapat serta-merta membatalkan hak suami atas harta tersebut. Maka, pendapat yang kami sebutkan menjadi relevan, yaitu suami diberi hak memilih sebagaimana telah kami jelaskan.

ولا ينبغي للمفرّع أن يذكر هذه التفاريع في غير صورة الإطلاق فإن المذهب المبتوت أن الزوج إذا عين للوكيل مقداراً وأمره بالمخالعة به فخالف وخالع بأقلّ منه فالطلاق لا يقع فلا حاجة إلى تفريع المسألة بعد الحكم بوقوع الطلاق ولو فرّع مفرع على أن الطلاق يقع مع المخالفة لصريح الإذن لَسَمُجَت التفاريع فإن ما ذكرناه وتكلفناه إنما يلطف موقعه مع إطلاق اللفظ واشتماله على مقتضى العموم مع الالتفات على قاعدة الحِنث والبر من وجه ومع النظر إلى اختلال المال في الأثناء من وجه والخلع مركب من أصول متعارضة فجرى ترتيبٌ عليه طلاوةُ القبول وإن كان التحقيق مخالفاً له فأما إذا فرض التصريح بالمخالعة فتبعد تلك التفاريع

Tidak sepantasnya bagi orang yang membuat rincian (mufarri‘) untuk menyebutkan rincian-rincian ini kecuali dalam konteks lafaz yang bersifat umum, karena mazhab yang sudah pasti adalah bahwa jika suami telah menentukan jumlah tertentu kepada wakil dan memerintahkannya untuk melakukan khulu‘ dengan jumlah itu, lalu wakil menyelisihi dan melakukan khulu‘ dengan jumlah yang lebih sedikit, maka talak tidak terjadi. Maka tidak perlu lagi merinci masalah ini setelah adanya putusan bahwa talak terjadi. Jika ada yang merinci bahwa talak tetap terjadi meskipun bertentangan dengan izin yang jelas, maka rincian-rincian itu menjadi buruk. Apa yang telah kami sebutkan dan upayakan hanya tepat jika lafaznya bersifat umum dan mencakup makna umum, dengan memperhatikan kaidah tentang pelanggaran sumpah dan pemenuhan sumpah dari satu sisi, serta memperhatikan kerugian harta di tengah-tengahnya dari sisi lain. Khulu‘ sendiri terdiri dari beberapa prinsip yang saling bertentangan, sehingga penataan atasnya memiliki daya tarik penerimaan, meskipun penelitian yang mendalam bertentangan dengannya. Adapun jika telah ada penegasan secara jelas tentang khulu‘, maka rincian-rincian tersebut menjadi jauh (tidak relevan).

ومما يدور في الخلد أن الرجل إذا قال للوكيل خالع امرأتي فهل نقول مجرد ذكر المخالعة يشعر بالمال وهل يخطر لذي النظر في المغمَضات تخريجٌ هذا على ما إذا قال الرجل لامرأته خالعتك فقالت اختلعت

Di antara hal yang terlintas dalam benak adalah, apabila seorang laki-laki berkata kepada wakilnya, “Ceraikan istriku dengan khulu‘,” apakah kita mengatakan bahwa sekadar menyebut khulu‘ sudah menunjukkan adanya harta (tebusan)? Dan apakah terlintas bagi orang yang mendalami persoalan-persoalan rumit bahwa kasus ini dapat dianalogikan dengan keadaan ketika seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Aku menceraikanmu dengan khulu‘,” lalu sang istri menjawab, “Aku menebus diriku”?

ولم يُجرِ واحدٌ منهما للمال ذكراً ففي ثبوت المالية كلام ذكرتُه في أول الكتاب

Keduanya tidak menyebutkan harta sama sekali, sehingga dalam penetapan status sebagai harta terdapat pembahasan yang telah saya sebutkan di awal kitab.

يجوز أن يقال التوكيل بالمخالعة بمثابة التوكيل بالبيع ولو قال بع عبدي كان ذلك محمولاً على البيع بالعوض

Boleh dikatakan bahwa mewakilkan dalam khulu‘ itu serupa dengan mewakilkan dalam jual beli. Jika seseorang berkata, “Juallah budakku,” maka hal itu dianggap sebagai penjualan dengan imbalan.

ويجوز أن يقال ليست المخالعة كذلك فإنها كناية في وضعها ومن محالّ ترددها إرادة الخلع بها من غير مالٍ فليكن في هذا مزيد نظر وإذا قال الرجل للوكيل طلق امرأتي بمالٍ أغنى هذا عن ذكر المخالعة وكان تصويراً في الإطلاق من غير تعرض لمقدارٍ في المال

Boleh dikatakan bahwa khulu‘ tidaklah demikian, karena ia merupakan kinayah dalam penetapannya, dan di antara kemungkinan maknanya adalah keinginan untuk melakukan khulu‘ tanpa adanya imbalan harta, maka hal ini memerlukan kajian lebih lanjut. Jika seorang laki-laki berkata kepada wakilnya, “Ceraikan istriku dengan imbalan harta,” maka hal itu sudah mencukupi tanpa perlu menyebutkan kata khulu‘, dan hal itu merupakan bentuk pelaksanaan secara mutlak tanpa menyebutkan jumlah harta tertentu.

وقد انتجز بعون الله ولطفه تفريع القول في تصرف الوكيل من جهة الزوج

Dengan pertolongan dan karunia Allah, telah selesai pembahasan mengenai rincian pendapat tentang tindakan wakil dari pihak suami.

فأما تفصيل القول في تصرف الوكيل من جهة المرأة فنقول لا تخلو المرأة إما أن توكل بالاختلاع مطلقاً من غير تنصيص على مقدار من المال وإما أن تنص على مقدار من المال فإن نصت على مقدارٍ من المال وقالت لوكيلها اختلعني بكذا فإن وافق الوكيل واختلعها بذلك المقدار صح ونفذ وإن وقع الاختلاع بأقل من ذلك المقدار صح أيضاًً وكان ذلك تناهياً في الموافقة وهو بمثابة ما لو قال الرجل لوكيله اشتر لي هذا العبد بألف فإذا اشتراه الوكيل بخمسمائة فقد وافق وزاد فالنقصان في هذا الجانب بمثابة الزيادة في ثمن المبيع من الوكيل بالبيع

Adapun rincian pembahasan mengenai tindakan wakil dari pihak perempuan, maka kami katakan: perempuan itu tidak lepas dari dua keadaan, yaitu: ia mewakilkan untuk melakukan khulu‘ secara mutlak tanpa menyebutkan jumlah harta tertentu, atau ia menyebutkan jumlah harta tertentu. Jika ia menyebutkan jumlah harta tertentu dan berkata kepada wakilnya, “Ceraikan aku dengan khulu‘ dengan jumlah sekian,” lalu wakil tersebut setuju dan melakukan khulu‘ dengan jumlah tersebut, maka hal itu sah dan berlaku. Jika khulu‘ dilakukan dengan jumlah yang lebih sedikit dari yang disebutkan, maka itu pun sah, dan hal itu merupakan bentuk kesesuaian yang sempurna. Keadaannya serupa dengan seseorang yang berkata kepada wakilnya, “Belikan untukku budak ini seharga seribu,” lalu sang wakil membelinya dengan harga lima ratus; maka ia telah sesuai dan bahkan melebihi harapan. Maka pengurangan dalam hal ini sama kedudukannya dengan penambahan harga jual oleh wakil dalam transaksi jual beli.

وإن خالف الوكيل واختلعها بأكثر مما سمَّت فهذه مخالعة متضمنها جرُّ ضرار ومزيدُ غرم فلا يخلو الوكيل إما أن يضيف العقد والقبول إليها وإما أن يطلق الاختلاع ولا يضيف إليها

Jika wakil menyelisihi dan melakukan khulu‘ dengan jumlah lebih banyak dari yang telah ditentukan, maka khulu‘ ini mengandung unsur mendatangkan bahaya dan tambahan beban. Maka, wakil itu tidak lepas dari dua keadaan: bisa jadi ia menisbatkan akad dan penerimaan kepada istri, atau ia hanya menyebutkan khulu‘ secara umum tanpa menisbatkannya kepada istri.

فإن أضاف إليها وقال اختلعتها بألفٍ من مالها أو بألفٍ عليها فظاهر النصوص في الكتب الجديدة والقديمة أن الطلاق يقع

Jika ia menambahkan dan berkata, “Aku menceraikannya dengan khulu‘ sebesar seribu dari hartanya atau seribu atas tanggungannya,” maka makna yang tampak dari nash-nash dalam kitab-kitab baru maupun lama adalah bahwa talak terjadi.

ومذهب المزني أن الطلاق لا يقع وليس يخفى اتجاه القياس فيما اختاره المزني فإن هذا الوكيل لم يضف الاختلاع إلى نفسه فينزل العقد عليه وإنما أضاف إليها وهي لم تلتزم بنفسها هذا المقدار ولم تأذن لوكيلها في التزامه فاقتضى القياس أن يكون هذا القبول لاغياً بمثابة المعدوم وإذا انتفى القبول والإيجابُ يتعلق به كان بمثابة ما لو قال الرجل لامرأته أنت طالق بألف فسكتت ولم تقبل هذا وجه ما ذكره المزني ولم أر أحداً من الأصحاب يرى مذهبه قولاً مخرجاً في المذهب على اتجاهه

Menurut pendapat al-Muzani, talak tidak terjadi. Tidak tersembunyi arah qiyās dalam apa yang dipilih oleh al-Muzani, karena wakil ini tidak menyandarkan khulu‘ kepada dirinya sendiri sehingga akad itu jatuh kepadanya, melainkan ia menyandarkannya kepada perempuan itu, sementara perempuan tersebut tidak berkomitmen sendiri terhadap jumlah itu dan tidak memberi izin kepada wakilnya untuk berkomitmen terhadapnya. Maka qiyās mengharuskan bahwa penerimaan ini batal seperti tidak ada. Jika penerimaan tidak ada, sementara ijab bergantung padanya, maka hal itu seperti seorang laki-laki berkata kepada istrinya, “Engkau tertalak dengan seribu (dirham),” lalu istrinya diam dan tidak menerima. Inilah sisi pendapat yang disebutkan oleh al-Muzani, dan aku tidak melihat seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang menganggap pendapatnya sebagai pendapat yang dikeluarkan dalam mazhab menurut arah tersebut.

والذي أراه أن يُلحَق مذهبُه في جمبع المسائل بالمذهب فإنه ما انحاز عن الشافعي في أصلٍ يتعلق الكلام فيه بقاطعٍ وإذا لم يفارق الشافعيَّ في أصوله فتخريجانه خارجةٌ على قاعدة إمامه فإن كان لتخريج مخرِّج التحاقٌ بالمذهب فأولاها تخريج المزني لعلوّ منصبه في الفقه وتلقّيه أصول الشافعي من فَلْق فيه وإنما لم يُلحق الأصحابُ مذهبَه في هذه المسألة بالمذهب لأن من صيغة تخريجه أن يقول قياس مذهب الشافعي كذا وكذا وإذا انفرد بمذهبٍ استعمل لفظةً تشعر بانحيازه وقد قال في هذه المسألة لما حكى جواب الشافعي ليس هذا عندي بشيء واندفع في توجيه ما رآه بما ذكرناه

Menurut pendapat saya, pandangan Mazhabnya dalam seluruh permasalahan seharusnya disandarkan kepada mazhab, karena ia tidak pernah menyimpang dari Imam Syafi’i dalam pokok-pokok yang pembahasannya didasarkan pada dalil yang pasti. Jika ia tidak berbeda dengan Imam Syafi’i dalam ushulnya, maka hasil-hasil ijtihadnya tetap berada di atas kaidah imamnya. Jika hasil ijtihad seorang mujtahid lain dapat disandarkan kepada mazhab, maka lebih utama lagi hasil ijtihad al-Muzani, karena kedudukannya yang tinggi dalam bidang fiqh dan karena ia menerima ushul Imam Syafi’i langsung dari beliau. Para ulama tidak menyandarkan pendapat al-Muzani dalam masalah ini kepada mazhab, karena dalam bentuk hasil ijtihadnya, ia biasa mengatakan, “Qiyās mazhab Syafi’i adalah begini dan begitu.” Jika ia berpendapat sendiri, ia menggunakan ungkapan yang menunjukkan penyimpangannya. Dalam masalah ini, setelah menyebutkan jawaban Imam Syafi’i, ia berkata, “Menurutku, ini bukanlah apa-apa,” lalu ia menjelaskan pendapatnya sendiri sebagaimana telah kami sebutkan.

فإن قيل ما وجه القول المنصوص عليه قلنا الإذن قد صدر منه على الجملة والوكيل جرى في أصل الاختلاع على الإذن وإنما خالف في العوض وقد تمهد في أصل الشرع أن العوض ليس ركناً في الخلع حتى يفسدَ الخلعُ بفساده وإذا كانت الفرقة تقع بالمخالعة على الخمر مع القطع بأن القبول في الخمر باطل وكان من الممكن أن يقال إذا لم تكن الخمر مقبولة فإضافة القبول إليها لاغٍ فلما تعلّق بقبول الخمر وقوع الطلاق شرعاً وليست الخمر مقبولة شرعاً دل على ما ذكرناه وليس الطلاق المتعلق بالقبول بمثابة الطلاق المعلق بالصفات فإن الطلاق إذا علقه مالكه بصفة فلا فرق بين أن تكون تلك الصفة محظورة ديناً وبين أن تكون مباحة فإن تقدير وقوع الطلاق في التحقيق يرجع إلى تأقيت الطلاق وكأن مالك الطلاق قال عند وجود الصفة المذكورة أنت طالق هذا مسلك التعليق فلا يختلف إذاً على هذا التعليقُ باختلاف المتعلقات

Jika dikatakan, apa alasan pendapat yang dinyatakan secara tegas itu? Kami katakan, izin telah diberikan olehnya secara umum dan wakil telah bertindak dalam pokok khulu‘ berdasarkan izin tersebut, hanya saja ia berbeda dalam hal kompensasi. Telah ditegaskan dalam pokok syariat bahwa kompensasi bukanlah rukun dalam khulu‘ sehingga khulu‘ menjadi batal karena kerusakannya. Jika perceraian dapat terjadi melalui khulu‘ dengan kompensasi berupa khamar, padahal secara pasti penerimaan terhadap khamar itu batal, dan mungkin saja dikatakan bahwa jika khamar tidak dapat diterima maka penetapan penerimaan terhadapnya menjadi sia-sia, maka ketika terjadinya talak secara syar‘i dikaitkan dengan penerimaan khamar, sementara khamar itu sendiri tidak sah diterima secara syar‘i, hal ini menunjukkan apa yang telah kami sebutkan. Talak yang dikaitkan dengan penerimaan tidaklah sama dengan talak yang digantungkan pada sifat-sifat tertentu. Sebab, jika pemilik talak menggantungkan talaknya pada suatu sifat, maka tidak ada perbedaan apakah sifat itu dilarang secara agama atau dibolehkan. Karena pada hakikatnya, penetapan terjadinya talak itu kembali kepada penentuan waktu talak, seakan-akan pemilik talak berkata, “Ketika sifat tersebut ada, engkau tertalak.” Inilah metode ta‘liq (penggantungan), maka tidak ada perbedaan dalam hal ini berdasarkan perbedaan hal-hal yang digantungkan.

وأما القبول فالطلاق يقع به على حكم تصحيح القبول أخذاً من أحكام المعاوضات فإذا وقع الطلاق بقبول الخمر تبين أن فساد العوض لا أثر له فقد قبل الوكيل عنها حقّاً ولكن أتى وراء القبول بما هو فاسد في حكم إذنها فوقع الطلاق لذلك

Adapun mengenai penerimaan, talak terjadi berdasarkan ketentuan sahnya penerimaan, diambil dari hukum-hukum mu‘āwadah (pertukaran). Jika talak terjadi dengan penerimaan berupa khamr, maka jelas bahwa rusaknya imbalan tidak berpengaruh; karena wakil telah menerima atas nama perempuan itu suatu hak, namun setelah penerimaan ia melakukan sesuatu yang rusak menurut izin perempuan tersebut, sehingga talak pun terjadi karenanya.

هذا وجه النص والمذهب

Inilah pendapat yang didasarkan pada nash dan merupakan mazhab (pendapat utama).

التفريع

Pencabangan

إذا تبين أن الطلاق واقعٌ فالمذهب الصحيح أن المسمَّى يسقط والرجوع إلى مهر المثل بناء على ما وجهنا به المذهب من القياس على فساد العوض وهذا من باب الفساد الراجع إلى صيغة اللفظ ثم موجب هذا الرجوع إلى مهر المثل

Jika telah jelas bahwa talak telah terjadi, maka mazhab yang benar adalah bahwa mahar yang telah disebutkan menjadi gugur dan kembali kepada mahar mitsil, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan dalam mazhab mengenai qiyās atas rusaknya ‘iwadh. Ini termasuk dalam kategori kerusakan yang kembali kepada lafaz akad, kemudian konsekuensi dari hal ini adalah kembali kepada mahar mitsil.

وفي المسألة قول آخر أن على المرأة الموكِّلة أكثرَ الأمرين من المائة التي سمَّتها ومن مهر مثلها فإن كان ما سمّته أكثر من مهر مثلها فعليها بذلُ ما رضيت به وإن كان مهر مثلها أكثرَ مما سمته فعليها مهرُ مثلها

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain, yaitu bahwa perempuan yang mewakilkan (akad nikah) wajib membayar yang lebih banyak di antara seratus yang telah ia sebutkan dan mahar mitsil-nya. Jika yang ia sebutkan lebih banyak daripada mahar mitsil-nya, maka ia wajib memberikan sesuai yang telah ia setujui. Namun jika mahar mitsil-nya lebih banyak daripada yang ia sebutkan, maka ia wajib membayar mahar mitsil-nya.

وحقيقة القولين لا تتبين إلا بمعاودات ومباحثات

Hakikat dari kedua pendapat itu tidak akan jelas kecuali dengan pengkajian dan pembahasan berulang.

أما القول الذي صححناه في التفريع فمأخذه من إفساد التسمية وهذا لائحٌ

Adapun pendapat yang kami anggap benar dalam penjabaran, sumbernya adalah dari batalnya tasmiyah, dan hal ini jelas.

وأما القول الثاني فليس القائل به قاطعاً بالفساد ولكنه يقول إذا سمى الوكيل مائتين وسمت المرأة مائة فقد أتى الوكيل بالمقدار الصحيح وضم إليه ما لا يصح وهو الزيادة وكأنه لا يقطع القول بالفساد

Adapun pendapat kedua, orang yang berpendapat demikian tidak secara tegas menyatakan batal, namun ia mengatakan bahwa jika wakil menyebutkan dua ratus dan perempuan menyebutkan seratus, maka wakil telah menyebutkan jumlah yang benar dan menambahkan sesuatu yang tidak sah, yaitu kelebihan tersebut, seakan-akan ia tidak secara tegas menyatakan batal.

ومما يسوغ الاحتجاج به لهذا القول أن المبالغة في تقرير فساد التسمية توجب رفع الإذن من البَيْن وهذا تورط في مذهب المزني وإنما يتجه الحكم بوقوع الطلاق لاشتمال قول الوكيل على ما فيه بعض الموافقة وإذا لم يقدر هذا كان ذلك استئصالاً للإذن ورفعاً له ثم هذا القائل إذا لم يجزم القول بالفساد كان موجَب ما يؤصّله أن ينظر إلى ما رضيت بالتزامه فإن كان مثلَ مهر المثل أو أكثر ألزمنا الزوجَ الرضا به وإن كان أقلّ من مهر المثل فيثبت عند ذلك للزوج حقٌّ من جهة إخلاف ظنه ولا معتبر ينظر إليه إلا فوات البضع وإيجاب قيمته وهذا إيجاب مهر المثل من غير فساد ولا تقدير خيار وفسخ ولكن يثبت للزوج حق لم نجد له مأخذاً إلا القيمة ووجد من المرأة التزامٌ فتردّد النظر بينهما على ما حكيناه هذا هو الممكن في توجيه هذا القول

Salah satu hal yang dapat dijadikan dalil untuk pendapat ini adalah bahwa berlebihan dalam menegaskan rusaknya penamaan (mahar) akan menyebabkan hilangnya izin dari perantara, dan ini merupakan keterjerumusan dalam mazhab al-Muzani. Sesungguhnya, hukum jatuhnya talak hanya dapat diarahkan karena ucapan wakil mengandung sebagian kesesuaian. Jika hal ini tidak dianggap, maka itu berarti mencabut dan menghapus izin tersebut. Kemudian, orang yang berpendapat demikian, jika tidak secara tegas menyatakan kebatalan, maka konsekuensi dari prinsip yang ia pegang adalah melihat pada apa yang disetujui oleh pihak perempuan. Jika mahar yang disepakati sama dengan mahar mitsil atau lebih, maka kami mewajibkan suami untuk merelakannya. Namun jika kurang dari mahar mitsil, maka pada saat itu suami memiliki hak karena tidak sesuai dengan dugaannya. Tidak ada pertimbangan lain kecuali hilangnya hak suami atas istri dan kewajiban membayar nilainya, dan ini berarti mewajibkan mahar mitsil tanpa ada kerusakan, tanpa adanya hak memilih atau pembatalan. Akan tetapi, suami tetap memiliki hak yang tidak kami temukan dasarnya kecuali nilai (mahar), dan dari pihak perempuan ada komitmen yang diterima, sehingga pertimbangan antara keduanya kembali pada apa yang telah kami sebutkan. Inilah penjelasan yang mungkin dalam mengarahkan pendapat ini.

والقول الأسدُّ الرجوعُ إلى مهر المثل جزماً من غير تفصيل

Pendapat yang paling kuat adalah kembali kepada mahar mitsil secara pasti tanpa ada perincian.

ثم سواء أوجبنا مهر المثل أو ألزمنا أكثر الأمرين مما سمّت أو مهر المثل فليس على الوكيل غرم ولا ضمان فإنه أخرج نفسه من البَيْن ولم يضف الالتزام إلى نفسه أصلاً

Kemudian, baik kita mewajibkan mahar mitsil maupun mewajibkan yang lebih besar di antara dua hal, yaitu yang disebutkan atau mahar mitsil, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atau tanggungan atas wakil, karena ia telah mengeluarkan dirinya dari perkara tersebut dan sama sekali tidak mengaitkan kewajiban itu kepada dirinya sendiri.

التفريع على القولين

Pengembangan hukum berdasarkan dua pendapat

إن جزمنا القول بثبوت مهر المثل فلا كلام ويجب تمامه وإن زاد على ما سماه الوكيل

Jika kita memastikan bahwa mahar mitsil itu tetap, maka tidak ada perdebatan dan wajib untuk menyempurnakannya, meskipun jumlahnya melebihi yang telah disebutkan oleh wakil.

وإن فرعنا على القول الثاني وقد سمت المرأة مائة ومهر المثل مائة وخمسون وسمى الوكيل مائتين فالواجب مائة وخمسون ولو كان مهر المثل تسعين فالواجب مائة ولو كان مهر المثل ثلاثمائة فالأصح أنا نوجب المائتين فإن الزوج رضي بهما فيما سماه الوكيل فكما يلزم المرأة المائة وإن كان مهر المثل أقل منها لالتزامها فكذلك يلزم الرجل الاكتفاء بالمائتين إذا كان مهر المثل أكثر منهما لأنه رضي بهذا المقدار فإنّ رضاه معتبر كما كان رضاها معتبراً ومهر المثل دائر بينهما

Jika kita mengikuti pendapat kedua, apabila seorang wanita menyebutkan mahar seratus, mahar mitsil seratus lima puluh, dan wakil menyebutkan dua ratus, maka yang wajib adalah seratus lima puluh. Jika mahar mitsil sembilan puluh, maka yang wajib adalah seratus. Jika mahar mitsil tiga ratus, maka pendapat yang lebih sahih adalah kita mewajibkan dua ratus, karena suami telah ridha dengan apa yang disebutkan oleh wakilnya, sebagaimana wanita wajib membayar seratus meskipun mahar mitsil lebih rendah darinya karena ia telah berkomitmen, demikian pula laki-laki wajib menerima dua ratus jika mahar mitsil lebih tinggi darinya karena ia telah ridha dengan jumlah tersebut. Keridhaannya dianggap sebagaimana keridhaan wanita juga dianggap, dan mahar mitsil berada di antara keduanya.

هذا تفصيل القول فيه إذا أضاف الوكيل ما ذكره من المسمى الزائد إلى التزام المرأة

Ini adalah perincian penjelasan mengenai hal ini apabila wakil menambahkan apa yang disebutkannya berupa nominal tambahan kepada komitmen perempuan.

فأما إذا لم يتعرض للإضافة إليها ولكن أطلق اختلاعها بالمائتين فالخلع نافذ والبينونة واقعة فإنها إذا كانت تقع والخلع مضاف إليها على خلاف إذنها فلأن تقع والاختلاع مطلق أولى

Adapun jika tidak disebutkan secara khusus penambahan kepadanya, tetapi hanya disebutkan secara umum pencabutan dengan dua ratus, maka khulu‘ sah dan terjadilah bainunah. Sebab, jika bainunah dapat terjadi ketika khulu‘ dinisbatkan kepadanya tanpa izinnya, maka terjadinya bainunah dengan khulu‘ yang disebutkan secara umum tentu lebih utama.

ثم ما الذي يجب على الوكيل أولاً أجمع أصحابنا على أن المرأة لا تخرج من البَيْن ولا يقال لمّا خالف الوكيل مقدار ما سمَّته وأطلق القبول والالتزام كان هذا بمثابة ما لو اختلع بنفسه من غير توكيل هذا لم يصر إليه أحدٌ من الأصحاب إذا أطلق الالتزام ونوى الموكّلة

Kemudian, apa yang harus dilakukan oleh wakil terlebih dahulu? Seluruh ulama mazhab kami sepakat bahwa perempuan tidak keluar dari permasalahan ini, dan tidak dikatakan bahwa ketika wakil menyelisihi jumlah yang telah ditentukan dan menerima serta berkomitmen secara mutlak, maka hal itu sama saja seperti jika ia melakukan khulu‘ sendiri tanpa perwakilan. Tidak ada seorang pun dari para ulama mazhab kami yang berpendapat demikian, jika wakil menerima secara mutlak dan yang mewakilkan memang berniat demikian.

ثم فيما يجب عليها وعليه قولان أحدهما أنا ننظر إلى مهر المثل فنوجبه على المرأة إذا كان أكثر مما سمّت ونوجب على الوكيل تكملة المائتين وبيان ذلك أنها سمَّت مائة ومهر المثل مائة وخمسون وقد سمَّى الوكيل مائتين فنوجب عليها مائة وخمسين ونوجب على الوكيل الخمسين تكملة المائتين وإن كان ما سمته أكثر من مهر المثل بأن كان مهر المثل تسعين وما سمته مائة وما سماه الوكيل مائتان فعلى المرأة المائة وعلى الوكيل المائة الأخرى ولو بلغ مهر مثلها مائتين فكمال مهر المثل عليها على هذا القول

Kemudian, mengenai apa yang wajib atas perempuan dan atas wakil, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah kita melihat kepada mahar mitsil, lalu mewajibkannya atas perempuan jika lebih besar dari yang ia sebutkan, dan mewajibkan kepada wakil untuk melengkapi hingga dua ratus. Penjelasannya, jika perempuan menyebutkan seratus dan mahar mitsil adalah seratus lima puluh, sementara wakil menyebutkan dua ratus, maka kita wajibkan kepada perempuan seratus lima puluh dan kepada wakil lima puluh sebagai pelengkap dua ratus. Jika yang disebutkan perempuan lebih besar dari mahar mitsil, misalnya mahar mitsil sembilan puluh, perempuan menyebutkan seratus, dan wakil menyebutkan dua ratus, maka atas perempuan seratus dan atas wakil seratus lainnya. Jika mahar mitsil mencapai dua ratus, maka seluruh mahar mitsil menjadi tanggungan perempuan menurut pendapat ini.

فإذاً الواجب عليها أكثر الأمرين فإذا لم يبق شيء إلى تمام المائتين فلا طلبة على الوكيل وإن بقي شيء فعلى الوكيل إتمامه

Maka, yang wajib atasnya adalah yang lebih besar dari dua hal tersebut. Jika tidak tersisa apa pun hingga genap dua ratus, maka tidak ada tuntutan terhadap wakil. Namun jika masih tersisa sesuatu, maka wakil wajib menyempurnakannya.

وفي المسألة قولٌ آخر وهو أقيس عند أئمة المذهب وذلك أنا لا نُلزم المرأةَ إلا ما سمَّت فلا نحط ولا نزيد ونوجب على الوكيل إتمام المسمى من عند نفسه

Dalam masalah ini terdapat pendapat lain yang menurut para imam mazhab lebih sesuai dengan qiyās, yaitu kita tidak mewajibkan kepada perempuan kecuali sejumlah yang telah disebutkan (dalam akad), sehingga kita tidak mengurangi dan tidak menambahkannya, dan kita mewajibkan kepada wakil untuk menyempurnakan jumlah yang telah disebutkan itu dari hartanya sendiri.

وحقيقة القولين في هذه الصورة تؤخذ أولاً من أن الفساد لا يتطرق إلى التسمية فإن الالتزام جرى من الوكيل مطلقاً ومطلق الالتزام صحيح منه من غير توكيل وليس كما لو أضاف إليها على الخُلف فإن الإضافة فاسدة وبم يوجد منه التزامٌ مطلق حتى ننزّل عليه

Hakikat dari kedua pendapat dalam kasus ini pertama-tama diambil dari kenyataan bahwa kerusakan tidak mengenai penamaan, karena komitmen telah dilakukan oleh wakil secara mutlak, dan komitmen mutlak sah darinya meskipun tanpa adanya perwakilan. Hal ini berbeda jika ia menisbatkannya kepada pihak lain secara bertentangan, karena penisbatan tersebut batal dan tidak terdapat komitmen mutlak darinya sehingga dapat diterapkan padanya.

فإذا فُهم هذا نقول بعده إنا في القول الأول نقول قد تعلق الخلع بها على حالٍ إذ لو لم يتعلق بها لبرئت بالكلية ولاختص الوكيل بالالتزام وهذا لا سبيل إليه لما بنينا المذهب عليه من أن قاعدة الخلع لا تزول بالتغاير في التسميات

Jika hal ini telah dipahami, maka setelahnya kami katakan bahwa dalam pendapat pertama, kami mengatakan bahwa khulu‘ itu tetap terkait dengannya dalam suatu keadaan. Sebab, jika tidak terkait dengannya, maka ia akan terbebas sepenuhnya dan hanya wakil yang menanggung kewajiban, dan hal ini tidak mungkin terjadi karena dasar mazhab yang kami bangun adalah bahwa kaidah khulu‘ tidak hilang hanya karena perbedaan dalam penamaan.

نعم قياس مذهب المزني انصراف الاختلاع عنها بالكلية إلى الوكيل فإنه ينزل الاختلاع منزلة الابتياع وإذا كان الرجل وكيلاً بابتياع عبد بمائة فإن أضاف الشراء إلى الموكل وأوقعه بمائتين كان الشراء باطلاً وإن أضافه إلى نفسه انصرف عن الموكل ووقع عن الوكيل هذا قياس المزني

Ya, menurut qiyās mazhab al-Muzani, pelaksanaan khulu‘ sepenuhnya berpindah kepada wakil, karena ia memposisikan khulu‘ seperti jual beli. Jika seseorang menjadi wakil untuk membeli seorang budak seharga seratus, lalu ia menisbatkan pembelian itu kepada pihak yang mewakilkan dan melakukannya seharga dua ratus, maka pembelian itu batal. Namun jika ia menisbatkannya kepada dirinya sendiri, maka pembelian itu berpindah dari pihak yang mewakilkan dan berlaku atas nama wakil. Inilah qiyās menurut al-Muzani.

وإذا فرعنا على مذهب الشافعي فلا بد من تعليق الخلع بالمرأة ثم إذا تعلق بها وقد جرى على خلاف ما رسمت دار الأمر عليها بين ما سمّت وبين مهر المثل فلزمها الأكثر منهما ثم ذكرنا في الصورة الأولى أنه إذا قَصَر الأكثرُ عن المائتين فلا يجب على الوكيل شيء والسبب فيه أنه لم يلتزم بل أضافه فكان خارجاً عن الغرم وقد التزم في مسألتنا فلزمه الوفاء بما التزمه هذا بيان هذا القول

Jika kita merujuk pada mazhab Syafi‘i, maka harus mengaitkan khulu‘ kepada perempuan terlebih dahulu. Kemudian, jika telah dikaitkan kepadanya dan terjadi tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan, maka perkara tersebut bergantung pada apa yang ia sebutkan dan pada mahar mitsil, sehingga ia wajib membayar yang lebih besar di antara keduanya. Lalu, telah kami sebutkan pada gambaran pertama bahwa jika yang lebih besar itu kurang dari dua ratus, maka wakil tidak wajib membayar apa pun. Sebabnya adalah karena ia tidak berkomitmen, melainkan hanya menisbatkan, sehingga ia tidak menanggung beban. Namun, dalam permasalahan kita ini, ia telah berkomitmen, maka wajib baginya menunaikan apa yang telah ia komitmenkan. Inilah penjelasan pendapat ini.

والأقيس القولُ الآخر فإن اعتبار مهر المثل إنما يحسن إذا كنا نشَوبُ الخلعَ أثر الفساد وهذا إنما يتجه إذا فسدت التسمية بالإضافة وهاهنا لم تفسد وإنما جرت مطلقة فإن كان يتعلق بالمرأة شيء فلا التفات على مهر المثل وإنّما الالتفات إلى ما التزمته قلّ أم كثر وعلى الوكيل التتمّة

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang lain, yaitu bahwa mempertimbangkan mahar mitsil hanya layak dilakukan jika kita mencampurkan khulu‘ dengan unsur cacat, dan ini hanya relevan jika penamaan mahar menjadi rusak karena suatu tambahan. Namun, dalam kasus ini penamaan mahar tidak rusak, melainkan berlangsung secara mutlak. Maka, jika ada sesuatu yang berkaitan dengan perempuan, tidak perlu memperhatikan mahar mitsil, melainkan yang diperhatikan adalah apa yang telah ia sepakati, baik sedikit maupun banyak, dan agen (wakil) bertanggung jawab untuk menyempurnakannya.

وعلى هذا أطلق الغواصون القولَ بأن هذا أقيسُ من الأول ولم يعتبر أحد من الأئمة مهرَ المثل جزماً في هذه الصورة بخلاف صور الإضافة على الفساد فإن تلك الإضافة فسدت فكان الرجوع إلى مهر المثل في القول الصحيح والتسميةُ المطلقة صحيحة في صيغتها فلم ينقدح مهر المثل على جزم ثم سرّ المذهب في هذا أن المقدار الذي يلتزمه الوكيل منفرد به فهو مطالب به والزائد عليه يتخير الزوج فيه إن شاء طالب به المرأة وإن شاء طالب به الوكيل ثم هو يرجع به على الموكلة هذا على المذهب المشهور في العهدة

Oleh karena itu, para ahli fiqh secara mutlak menyatakan bahwa kasus ini lebih sesuai dengan qiyās daripada kasus sebelumnya, dan tidak ada satu pun imam yang secara tegas mempertimbangkan mahar mitsil dalam kasus ini. Berbeda dengan kasus penambahan yang rusak, karena penambahan tersebut batal, maka dalam pendapat yang benar, kembali kepada mahar mitsil. Sedangkan penamaan mahar secara mutlak sah dalam redaksinya, sehingga mahar mitsil tidak dapat ditetapkan secara pasti. Rahasia mazhab dalam hal ini adalah bahwa jumlah yang disepakati oleh wakil menjadi tanggung jawabnya sendiri, sehingga ia wajib menunaikannya. Adapun kelebihan dari jumlah tersebut, suami diberi pilihan: jika ia mau, ia dapat menuntutnya dari istri, dan jika ia mau, ia dapat menuntutnya dari wakil, lalu wakil tersebut dapat menuntutnya kembali kepada pihak yang mewakilkan. Inilah pendapat mazhab yang masyhur dalam masalah tanggungan.

وإن قلنا لا يطالَب الوكيل بعهدة العقد فالقدر الذي يتوجه الطلبة به على المرأة لا يطالب الوكيل به إذا اعترف الزوج بكونه وكيلاً ولم يكن بينهم اختلاف وكانت هذه الصورة بمثابة ما لو بذلت المرأة مالاً ووكلت وكيلاً فقال الوكيل إن زوجك لا يخالعك بهذا المقدار فلا عليك وأنا اختلعك بما يطلبه وإن زاد على ما بذلتِ فالخلعُ يَقْبل هذا فإن الأجنبي إذا ملك الافتداء من خالص ماله والبضع يرجع عليها لا حظ للأجنبي فيه فيقبل التبعيض على موجب الافتداء

Jika kita mengatakan bahwa wakil tidak dituntut untuk menanggung tanggung jawab akad, maka sejumlah yang menjadi tuntutan terhadap perempuan tidak dituntut dari wakil jika suami mengakui bahwa dia adalah wakil dan tidak ada perselisihan di antara mereka. Keadaan ini seperti halnya jika seorang perempuan memberikan sejumlah harta dan mewakilkan kepada seorang wakil, lalu wakil tersebut berkata, “Suamimu tidak akan menceraikanmu dengan jumlah ini, maka tidak apa-apa bagimu, dan aku akan menceraikanmu dengan jumlah yang diminta, meskipun melebihi apa yang kamu berikan.” Maka khulu‘ tetap sah dalam hal ini, karena orang lain (bukan suami) jika memiliki hak untuk menebus dari hartanya sendiri, sedangkan hak atas tubuh (badan) kembali kepada perempuan dan tidak ada bagian bagi orang lain di dalamnya, maka diperbolehkan adanya pemisahan (tab‘īḍ) sesuai dengan tuntutan penebusan.

هذا نظر الشافعي وقد بان تحقيقه

Ini adalah pendapat al-Syafi‘i dan telah jelas penjelasannya.

ثم إن حكمنا بأن المرأة تغرم الأكثر مما سمت ومن مهر المثل فإن زاد مهر مثلها عن المائتين فالزوج لا يطلبه أصلاً وقد ذكرنا هذا في الصورة الأولى وهو في هذه الصورة أوضح وأجرينا في الصورة الأولى قولاً أن مهر المثل يجب بالغاً ما بلغ وإن زاد على ما سماه الوكيل ولا شك أن ذلك القول لا يجري هاهنا فإن صورة الإضافة اتجه فيها الفساد وموجبه الرجوع إلى مهر المثل ولا يتجه الفساد في هذه الصورة التي ذكرناها

Kemudian, ketetapan kami bahwa perempuan wajib membayar ganti rugi dengan jumlah yang lebih besar antara yang telah disebutkan (dalam akad) dan mahar mitsil, jika mahar mitsil melebihi dua ratus (dirham), maka suami sama sekali tidak dapat menuntutnya. Hal ini telah kami sebutkan pada gambaran pertama, dan dalam gambaran ini lebih jelas lagi. Kami juga telah menyebutkan pada gambaran pertama suatu pendapat bahwa mahar mitsil wajib dibayarkan berapa pun besarnya, meskipun melebihi jumlah yang disebutkan oleh wakil. Tidak diragukan lagi bahwa pendapat tersebut tidak berlaku di sini, karena pada kasus penambahan (mahar) terdapat unsur kerusakan yang mengharuskan kembali kepada mahar mitsil, sedangkan unsur kerusakan tersebut tidak terdapat pada gambaran yang kami sebutkan ini.

هذا تفصيل المذهب فيه إذا أضاف الوكيل العوض إليها أو أطلق التزامه ولم يُضف ولكنه نواها

Ini adalah perincian mazhab dalam masalah ini apabila wakil menambahkan imbalan kepadanya atau melepaskan komitmennya tanpa menambahkannya, tetapi ia meniatkannya.

فأما إذا قصد اختلاعها من تلقاء نفسه أو أطلق ولم ينوها نزل الخلع عليه وانقطعت الطّلبة عن المرأة وهذا بينٌ لا إشكال فيه

Adapun jika suami bermaksud menjatuhkan khulu‘ atas inisiatif sendiri atau mengucapkannya tanpa niat dari pihak istri, maka khulu‘ itu berlaku atasnya dan hak tuntutan istri terputus. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

ولو أضاف الوكيل المال إليها كما قدمنا التصوير فيه ولكنه ضمن عنها وإيضاح التصوير أنها إذا وكلته بأن يختلعها بمائة فقال الوكيل اختلعتها بمائتين من مالها على أني ضامن فهذه الصورة ذكرها الصيدلاني وزعم أن حكمها حكم ما لو أطلق التسمية والالتزام ولم يضف إليها

Jika wakil menambahkan harta itu kepadanya sebagaimana telah kami jelaskan cara penggambarannya, namun ia menanggungnya atas namanya, dan penjelasan cara penggambarannya adalah: jika ia mewakilkan kepadanya untuk melakukan khulu‘ dengan seratus, lalu wakil berkata, “Aku telah melakukan khulu‘ dengannya dengan dua ratus dari hartanya atas tanggunganku,” maka gambaran ini disebutkan oleh As-Saidalani dan ia berpendapat bahwa hukumnya sama dengan jika ia menyebutkan dan berkomitmen secara mutlak tanpa menisbatkannya kepadanya.

وهذه هفوةٌ بيّنة فإن الإضافة إذا فسدت فالضمان لا يردّها إلى الصحة فيجب طرد القولين المذكورين في صورة الإضافة إليها حتى يتبين ما يجب

Ini adalah kekeliruan yang jelas, karena jika suatu penisbatan (idhāfah) rusak, maka kewajiban ganti rugi (dhamān) tidak dapat mengembalikannya menjadi sah. Oleh karena itu, dua pendapat yang telah disebutkan harus tetap berlaku dalam kasus penisbatan kepadanya, sampai jelas apa yang seharusnya dilakukan.

ثم إذا استمر القولان على نحو ما جرى ذكرهما فهذه الصورة التي ذكرها تمتاز عن الأولى في حكمٍ وهو أنا لم نلزم الوكيل في الإضافة إليها شيئاً وهاهنا نُلزمه ما يلزمها من جهة الضمان فإن قيل لم لا تلزمونه التتمّة إلى المائتين قلنا لأنه لم يضف التزام العوض إلى نفسه وإنما أقام نفسه كفيلاً والكفيلُ لا يستقل بنفسه في الغرم فهذا ما يجب التنبيه له

Kemudian, jika kedua pendapat tersebut tetap seperti yang telah disebutkan, maka kasus yang disebutkan ini berbeda dari yang pertama dalam satu hukum, yaitu kita tidak mewajibkan apa pun kepada wakil dalam kasus pertama, sedangkan di sini kita mewajibkan kepadanya apa yang menjadi kewajiban pihak yang diwakilinya dari sisi tanggungan (dhamān). Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mewajibkan kepadanya pelunasan hingga dua ratus?” Kami katakan, karena ia tidak mengaitkan kewajiban imbalan itu kepada dirinya sendiri, melainkan ia menempatkan dirinya sebagai penjamin (kafīl), dan penjamin tidak menanggung sendiri dalam hal beban (ghurm). Inilah yang perlu diperhatikan.

وكل ما ذكرناه فيه إذا وكلت المرأة وكيلاً بالاختلاع وسمت مقداراً من المال فأما إذا أطلقت التوكيل ولم تتعرض لتسمية مقدار فحق الوكيل إن أراد أن يجري على مرتبة الوكالة ألا يختلعها بأكثر من مهر المثل فإن اختلعها بمهر المثل أو أقلَّ فذاك والخلعُ نافذ على الصحة وإن اختلعها بأكثر من مهر المثل فالزيادة على مهر المثل كالزيادة على المقدار المسمى إذا كانت سمَّت مقداراً

Semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika seorang wanita mewakilkan seseorang untuk melakukan khulu‘ dan menyebutkan jumlah tertentu dari harta. Adapun jika ia memberikan kuasa secara umum tanpa menyebutkan jumlah tertentu, maka hak wakil, jika ingin bertindak sesuai dengan tingkat kewenangannya, adalah tidak melakukan khulu‘ dengan jumlah lebih dari mahar mitsil. Jika ia melakukan khulu‘ dengan mahar mitsil atau kurang dari itu, maka hal itu sah dan khulu‘ tersebut berlaku dengan benar. Namun jika ia melakukan khulu‘ dengan jumlah lebih dari mahar mitsil, maka kelebihan dari mahar mitsil itu diperlakukan seperti kelebihan atas jumlah yang telah disebutkan jika sebelumnya wanita tersebut telah menentukan jumlah tertentu.

ثم يختلف الأمر بأن يضيف إليها أو يطلق الالتزام فإن أضاف إليها فهو كالإضافة إليها وقد كانت سمّت فزاد الوكيل وإن أطلق فهو كالإطلاق في الصورة الأولى

Kemudian, perkaranya berbeda jika ia menambahkan sesuatu padanya atau melepaskan komitmen tersebut; jika ia menambahkannya, maka hukumnya seperti penambahan pada hal tersebut, di mana sebelumnya telah disebutkan, lalu wakil menambahkannya; dan jika ia melepaskannya secara mutlak, maka hukumnya seperti pelepasan secara mutlak pada gambaran pertama.

والجملة أن مهر المثل في صورة إطلاق التوكيل بمثابة ما لو سمت إذا فرض من الوكيل الزيادة عليه فلا فرقَ غيرَ أن المسألة تمتاز عن المسألة بأمرٍ يرجع إلى الصورة وهو أنا قد نجري فيه إذا سمت شيئاً قولاً في أنه يلزمها أكثرُ الأمرين مما سمّت أو مهر المثل وهذا لا يتصور جريانه في الإطلاق فإنها ما سمت شيئاً فلا ينتظم التردّد في حقها بين شيئين ولكن لا يلزمها إلا مهر المثل والكلام في أن الوكيل هل يلتزم تتمة المسمّى يخرّج على القياس المقدّم فإن أضاف الالتزام إليها لم يضمن شيئاً وإن أضاف الالتزام إلى نفسه فهو كما لو أضاف الالتزام إلى نفسه في صورة التسمية

Kesimpulannya, bahwa mahar mitsil dalam kasus pelimpahan wewenang secara mutlak (tanpa penentuan jumlah) adalah seperti halnya jika pihak yang diberi wewenang menentukan jumlah mahar; jika pihak yang diberi wewenang menetapkan jumlah yang melebihi mahar mitsil, maka tidak ada perbedaan, kecuali bahwa permasalahan ini berbeda dari permasalahan sebelumnya dalam satu hal yang berkaitan dengan bentuk kasusnya. Yaitu, jika pihak yang memberi wewenang telah menyebutkan suatu jumlah, maka ada pendapat yang mengatakan bahwa ia wajib membayar jumlah yang lebih besar antara yang ia sebutkan atau mahar mitsil. Namun, hal ini tidak mungkin terjadi dalam kasus pelimpahan wewenang secara mutlak, karena ia tidak menyebutkan jumlah apa pun, sehingga tidak mungkin terjadi keraguan antara dua hal baginya. Oleh karena itu, ia hanya wajib membayar mahar mitsil. Adapun pembahasan mengenai apakah pihak yang diberi wewenang wajib menanggung kekurangan dari jumlah yang telah disebutkan, maka hal ini dikembalikan kepada qiyās yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika ia menisbatkan komitmen itu kepada pihak yang memberi wewenang, maka ia tidak menanggung apa pun. Namun, jika ia menisbatkan komitmen itu kepada dirinya sendiri, maka hukumnya sama seperti jika ia menisbatkan komitmen itu kepada dirinya sendiri dalam kasus penentuan jumlah.

هذا منتهى القول في تصرف وكيل المرأة ألاختلاع

Inilah akhir pembahasan mengenai tindakan wakil perempuan dalam khulu‘.

وكل ما ذكرناه فيه إذا اختلع الوكيل بجنس ما سمت إن كانت سمت فوافق المقدارَ أو زاد أو نقص

Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika wakil melakukan khulu‘ dengan jenis barang yang telah disebutkan (oleh istri), baik istri telah menyebutkannya lalu sesuai dengan jumlahnya, atau melebihi, atau kurang dari jumlah tersebut.

فأما إذا حاد الوكيل عن الجنس الذي سمت وذكر جنساً آخر وذلك بأن تسمّي دراهم فيختلع الوكيل على الدنانير قال القاضي إن أطلق الاختلاع صح ووقع عن الوكيل وبطل أثر الوكالة وكان بمثابة ما لو اختلع أجنبيٌّ زوجة إنسان بمالٍ من عند نفسه وهذا إذا أطلق الالتزام

Adapun jika wakil menyimpang dari jenis yang telah disebutkan dan menyebutkan jenis lain, yaitu misalnya disebutkan dirham lalu wakil melakukan khulu‘ dengan dinar, maka menurut pendapat al-Qadhi, jika khulu‘ dilakukan secara mutlak, maka sah dan berlaku atas tanggungan wakil, serta batal pengaruh perwakilan tersebut. Hal ini seperti halnya jika orang lain (bukan suami) melakukan khulu‘ terhadap istri seseorang dengan harta dari dirinya sendiri. Dan ini berlaku jika komitmen dilakukan secara mutlak.

وإن أضاف الالتزام إليها فسد ولم يقع الطلاق وهذا يؤكد مذهب المزني في الصورة الأولى فان أصل التوكيل جارٍ منها والفساد راجع إلى التسمية فإذا كان فساد التسمية في المقدار لا يمنع وقوع الطلاق ففساد الجنس لا يبعد ألا يؤثر ولم أر هذا التفصيل في الجنس والمقدار إلا للقاضي وإن أراد المريد فرْقاً لم يعدمه على شرط أن ينطاع لتركيب الخلع ولا يبغي فيه كلاماًً مجرداً فنقول المخالفة في الجنس إعراضٌ بالكلية عما قالت والمخالفة في المقدار إتيان بما ذكرت مع مزيدٍ كما تقدم

Dan jika komitmen itu disandarkan kepadanya, maka batal dan talak tidak terjadi. Hal ini menegaskan mazhab al-Muzani dalam gambaran pertama, karena asal pendelegasian berjalan darinya dan kerusakan kembali kepada penamaan. Jika kerusakan penamaan dalam hal kadar tidak menghalangi terjadinya talak, maka kerusakan dalam jenis tidak mustahil juga tidak berpengaruh. Aku tidak menemukan perincian ini dalam hal jenis dan kadar kecuali pada al-Qadhi. Jika seseorang ingin membedakan, ia tidak akan kehilangannya dengan syarat ia tunduk pada susunan khulu‘ dan tidak menginginkan pembicaraan yang murni saja. Maka kami katakan, perbedaan dalam jenis adalah berpaling sepenuhnya dari apa yang dikatakan, sedangkan perbedaan dalam kadar adalah melakukan apa yang disebutkan dengan tambahan, sebagaimana telah dijelaskan.

ومما يجب تجديد العهد به التوكيلُ في النكاح فإذا وكلت المرأة في أن تُزوَّج بمائة فزُوِّجت بخمسين فالذي ذهب إليه القفال أن النكاح لا ينعقد وقال بعض الأصحاب ينعقد بمهر المثل فإن حكمنا بأنه ينعقد فهذا يطابق الخلع في أصله من حيث إنه لا تندفع البينونة بخلافٍ يجري في العوض

Hal yang perlu diperbarui perjanjiannya adalah perwakilan (tawkil) dalam pernikahan. Jika seorang wanita mewakilkan kepada seseorang untuk menikahkannya dengan mahar seratus, lalu ia dinikahkan dengan mahar lima puluh, menurut pendapat al-Qaffal, maka akad nikahnya tidak sah. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa akad nikah tetap sah dengan mahar mitsil. Jika kita memutuskan bahwa akad nikahnya sah, maka hal ini serupa dengan khulu‘ pada dasarnya, yaitu dari sisi bahwa perpisahan (bainunah) tidak dapat dihilangkan dengan perselisihan yang terjadi pada kompensasi (iwad).

وإن جرينا على طريقة القفال احتجنا إلى فرقٍ بين النكاح والخلع والممكن فيه التعلّق بغلبة الطلاق وجريانه وتصحيح فاسده وتكميل مبعّضه وتأبيد مؤقته والنكاح لا يحتمل شيئاً من ذلك فإذا وكل الرجل وكيلاً حتى يقبل له نكاح امرأة بألف فقبل الوكيل النكاح بألفين فاختيار الشيخ أن النكاح لا ينعقد وقال بعض الأصحاب ينعقد والرجوع إلى مهر المثل والحكم بالانعقاد بعيد في هذا الطرف

Jika kita mengikuti metode al-Qaffal, kita memerlukan pembedaan antara nikah dan khulu‘, dan hal yang memungkinkan dalam hal ini adalah keterkaitan dengan dominasi talak, keberlangsungannya, pembetulan yang rusak, penyempurnaan yang sebagian, dan penetapan yang sementara, sedangkan nikah tidak memungkinkan adanya hal-hal tersebut. Maka jika seorang laki-laki mewakilkan kepada seorang wakil untuk menikahkan dia dengan seorang wanita dengan mahar seribu, lalu wakil tersebut menikahkan dengan mahar dua ribu, maka menurut pilihan asy-Syaikh, akad nikah tidak sah. Namun sebagian ulama berpendapat akad nikah tetap sah dan kembali kepada mahar mitsil, tetapi menetapkan keabsahan akad dalam kasus ini adalah pendapat yang lemah.

وقد انتهت المسألة نهايتَها وبلغت مبلغاً لا مزيد عليه ولكن ليس من الممكن إنهاء كل مسألة إلى حدٍّ يفهمه كل أحد ولن يحيط بمأخذ الكلام في هذه المسألة إلا دربٌ فقيهٌ عالم في الفقه سديدُ القريحة شديدُ الطلب للغايات

Masalah ini telah mencapai akhirnya dan sampai pada tingkat yang tidak ada lagi tambahan setelahnya. Namun, tidak mungkin setiap masalah dapat dijelaskan hingga batas yang dapat dipahami oleh setiap orang. Tidak akan dapat memahami dasar pembahasan dalam masalah ini kecuali seseorang yang berpengalaman, faqih, berilmu dalam fiqh, tajam pemikirannya, dan sangat bersungguh-sungguh dalam mencari tujuan.

فرع

Cabang

إذا وكل الرجل وكيلاً حتى يخالع زوجته بمائة فوكلته المرأة حتى يختلعها بمائة فكان وكيلَه ووكيلَها فهل يصح ذلك فعلى وجهين أحدهما لا يصح كما لا يصح مثله في البيع والإجارة والسبب فيه أنه إيجاب وجوابٌ ولا ينتظم صدورهما عن شخص واحد والأب مستثنىً عن هذا القياس كما قدمناه في كتاب النكاح

Jika seorang laki-laki mewakilkan seseorang sebagai wakil untuk melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan mahar seratus, lalu sang istri juga mewakilkan orang tersebut untuk melakukan khulu‘ terhadap dirinya dengan mahar seratus, sehingga orang itu menjadi wakil bagi suami dan istri sekaligus, apakah hal itu sah? Maka ada dua pendapat: salah satunya menyatakan tidak sah, sebagaimana tidak sah dalam jual beli dan ijarah, sebabnya adalah karena terdapat ijab dan jawab yang tidak mungkin dilakukan oleh satu orang saja. Adapun ayah dikecualikan dari qiyās ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab Nikah.

والوجه الثاني أنه يصح لأن الطلاق يقبل ما لا تقبله المعاوضات المحضة ولذلك صح فيه الخلع وجرت البينونة ولزم العوض من غير فرض قبول إذا قال الزوج إن أعطيتني ألفاًً فأنت طالق فجاءته بالألف وقع الطلاق وثبت المال على التفاصيل المقدمة فإذا لم يبعد هذا وفيه اكتفاءٌ بقولِ واحدٍ من أحد الجانبين فالاكتفاء بشخصٍ واحدٍ لا يكون بدعاً فإن منعنا هذا لغا لفظ الوكيل ولم يقع شيء

Alasan kedua adalah bahwa hal itu sah karena talak dapat menerima sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akad-akad mu‘āwadah murni. Oleh karena itu, khulu‘ sah dalam talak, terjadi bainunah, dan kompensasi menjadi wajib tanpa syarat adanya penerimaan. Jika suami berkata, “Jika kamu memberiku seribu, maka kamu tertalak,” lalu istrinya datang membawa seribu, maka talak jatuh dan harta tersebut menjadi hak suami sesuai rincian yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika hal ini tidak dianggap jauh, padahal di dalamnya cukup dengan ucapan satu pihak saja, maka mencukupkan dengan satu orang saja bukanlah sesuatu yang bid‘ah. Jika kita melarang hal ini, maka ucapan wakil menjadi sia-sia dan tidak terjadi apa-apa.

وإن صححنا فهل يقتصر الوكيل على أحد الشقين أم لا بد من الإتيان باللفظين المعبّرين عن الشقين فعلى وجهين ذكرناهما في الأب إذا كان يعامل ابنه الطفل وكان شيخنا أبو محمد يحكي في هذه المسألة مسألةً عن القفال وتردداً من جوابه فيها وهي أن مستحق الحق إذا وكل رجلاً باستيفاء حقه من إنسان فوكّله ذلك الذي عليه الحق بإيفاء حقه فانتصب وكيلاً عن الموفي والمستوفي فكيف سبيل هذه الوكالة

Jika kita menganggapnya sah, apakah wakil cukup melaksanakan salah satu dari dua sisi, ataukah harus menggunakan kedua lafaz yang mewakili kedua sisi tersebut? Hal ini memiliki dua pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus ayah yang bertransaksi dengan anaknya yang masih kecil. Guru kami, Abu Muhammad, meriwayatkan dalam masalah ini sebuah permasalahan dari al-Qaffal dan keraguan dalam jawabannya, yaitu: jika orang yang berhak menerima suatu hak mewakilkan seseorang untuk mengambil haknya dari seseorang, lalu orang yang berkewajiban membayar hak tersebut juga mewakilkan orang yang sama untuk membayarkan hak itu, sehingga orang tersebut menjadi wakil dari pihak yang membayar dan pihak yang menerima, maka bagaimana status perwakilan seperti ini?

لا شك أنه لا يظهر للفساد في هذا أثر ولكن لو فرض منه الاستيفاء ثم تلف في يده ما قبضه فإن حملناه على كونه وكيلاً بالاستيفاء فما يتلف في يد وكيل الاستيفاء يكون من ضمان مستحِق الحق وإن قدرناه موفياً فما يتلف في يد وكيل الموفي يكون من ضمان من عليه الحق

Tidak diragukan bahwa hal ini tidak tampak berpengaruh terhadap kerusakan, namun jika diasumsikan ia telah melakukan penerimaan kemudian barang yang diterimanya itu rusak di tangannya, maka jika kita menganggapnya sebagai wakil dalam penerimaan, maka apa yang rusak di tangan wakil penerimaan menjadi tanggungan pihak yang berhak atas hak tersebut. Namun jika kita menganggapnya sebagai pihak yang memenuhi (kewajiban), maka apa yang rusak di tangan wakil pihak yang memenuhi menjadi tanggungan pihak yang memiliki kewajiban.

وإذا كان موكلاً من الجانبين وفرض التلف في يده فهو ضمان مَن ترددَ جوابُ القفال في ذلك والوجه أن نقول إن قصد القبضَ عن جهة من وكله بالاستيفاء فلا شك أن ما يتلف في يده يكون من ضمان مستحق الحق وإن لم يقصد شيئاً فالمسألة مترددة قريبةٌ من تقابل الأصلين والعلم عند الله تعالى وإن قصد القبض عن الموفي فليست المسألة خاليةً عن الاحتمال أيضاًً والله أعلم

Jika seseorang menjadi wakil dari kedua belah pihak dan diasumsikan terjadi kerusakan (barang) di tangannya, maka tanggungan (jaminan) atas kerusakan tersebut adalah tanggungan siapa? Jawaban al-Qaffal dalam hal ini masih diperdebatkan. Pendapat yang lebih kuat adalah: jika ia bermaksud menerima (barang) atas nama pihak yang mewakilkannya untuk menerima, maka tidak diragukan lagi bahwa apa pun yang rusak di tangannya menjadi tanggungan pihak yang berhak atas hak tersebut. Namun, jika ia tidak bermaksud apa pun secara khusus, maka permasalahan ini masih diperdebatkan dan hampir serupa dengan pertemuan dua kaidah dasar, dan ilmu yang pasti hanya milik Allah Ta‘ala. Jika ia bermaksud menerima (barang) atas nama pihak yang menyerahkan, maka permasalahan ini juga tidak lepas dari kemungkinan-kemungkinan lain. Dan Allah lebih mengetahui.

باب الخلع في المرض

Bab Khulu‘ pada Masa Sakit

قال الشافعي رضي الله عنه ويجوز الخلع في المرض كما يجوز البيع

Imam Syafi‘i raḥimahullāh berkata, “Khulu‘ boleh dilakukan pada saat sakit sebagaimana jual beli juga diperbolehkan.”

إلى آخره

Dan seterusnya.

نجدد العهد بالنكاح في المرض ثم نذكر الخلع فالمريض إذا نكح بقدر مهر المثل أو أقل فلا حرج عليه ولا يحتسب ما يسوقه صداقاً من الثلث لأن ذلك معدودٌ من حاجته ولا مطلع على حاجته إلا من جهته فنكاحه بمثابة شرائه لذائذ الأطعمة ولا معترَض عليه في شيء من ذلك وإن استوعب مالَه بمهور الأبكار وقضاء الأوطار

Kita memperbarui pembahasan tentang nikah pada masa sakit, kemudian kita akan membahas tentang khulu‘. Maka, seseorang yang sedang sakit jika menikah dengan mahar sebesar mahar mitsil atau kurang, tidak ada masalah baginya dan apa yang ia berikan sebagai mahar tidak dihitung dari sepertiga harta, karena itu termasuk kebutuhannya. Tidak ada yang mengetahui kebutuhannya kecuali dirinya sendiri, sehingga pernikahannya itu seperti halnya ia membeli makanan lezat, dan tidak ada yang boleh mempersoalkan hal itu, meskipun seluruh hartanya habis untuk mahar para gadis dan memenuhi keinginannya.

وإن نكح بأكبر من مهر المثل فالزيادة تبرع فإن كانت المرأةُ وارثةً فالزيادة مردودة وإن كانت ذمّية لا ترث هذا المسلم أو كانت أمة والمهر لمولاها فالزيادة تبرعٌ محسوب من الثلث

Jika seseorang menikah dengan mahar yang lebih besar dari mahar mitsil, maka kelebihan tersebut dianggap sebagai hibah. Jika perempuan tersebut adalah ahli waris, maka kelebihan itu dikembalikan. Namun jika ia adalah perempuan dzimmi yang tidak mewarisi dari muslim ini, atau ia adalah seorang budak dan mahar diberikan kepada tuannya, maka kelebihan itu dianggap sebagai hibah yang dihitung dari sepertiga harta.

ولو خالع المريض زوجته فلا معترض عليه ولا مؤاخذة بمقدار بدل الخلع فإنه لو طلق مجاناً جاز فإذا طلّق بمالٍ ثبتَ وإن قلّ وهذا كما ذكرناه في مخالعة السفيه زوجته والزوجات لا يتعلق بهن حقوق الورثة كأمهات الأولاد

Jika seorang suami yang sedang sakit melakukan khulu‘ terhadap istrinya, maka tidak ada yang dapat memprotesnya dan tidak ada pertanggungjawaban atas jumlah kompensasi khulu‘ tersebut, karena jika ia menceraikan secara cuma-cuma pun dibolehkan. Maka jika ia menceraikan dengan imbalan harta, itu tetap sah meskipun jumlahnya sedikit. Hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus seorang safih yang melakukan khulu‘ terhadap istrinya. Para istri tidak memiliki hak-hak yang berkaitan dengan ahli waris, seperti halnya umm al-walad.

وقد ذكرنا طرفاً من الكلام فيه إذا أعار المريضُ نفسَه وخدم غيره وأوضحنا كلام الأصحاب في أن بذل منافعه هل يحسب من الثلث أم يقال لا يحتسب فإن منافع بدنه لا تبقى لورثته وقد ذكرنا هذا ونظائره في كتاب الوصايا

Kami telah menyebutkan sebagian pembahasan tentang hal ini, yaitu apabila orang yang sakit meminjamkan dirinya sendiri dan melayani orang lain, serta kami telah menjelaskan pendapat para ulama mengenai apakah pemberian manfaat dirinya itu dihitung sebagai bagian dari sepertiga harta atau tidak dihitung, karena manfaat tubuhnya tidak tersisa untuk ahli warisnya. Kami telah membahas hal ini dan hal-hal yang serupa dengannya dalam Kitab al-Washāyā.

فأما المرأة إذا نكحت في مرض الموت نظر فإن نكحت بمهر المثل أو أكثر فذاك وإن نكحت بأقلَّ من مهر المثل فإن كان الزوج حراً يرثها انعقد العقد وثبت مهر المثل ولا وصية لوارث

Adapun perempuan yang menikah dalam keadaan sakit menjelang wafat, maka dilihat: jika ia dinikahi dengan mahar setara atau lebih, maka itu sah; dan jika ia dinikahi dengan mahar kurang dari mahar setara, maka jika suaminya adalah seorang yang merdeka dan berhak mewarisinya, akad nikahnya sah dan mahar setara ditetapkan, serta tidak ada wasiat bagi ahli waris.

وإن كان الزوج عبداً فالمسامحة مع السيد وظاهر المذهب أن ما حابت به وصيةٌ محسوبةٌ من الثلث

Jika suami adalah seorang budak, maka toleransi diberikan kepada tuannya, dan menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab, apa yang diberikan sebagai hibah dianggap sebagai wasiat yang dihitung dari sepertiga harta.

ومن أصحابنا من قال ليس بوصية فإن منافع بضعها لا تبقى لورثتها وإنما الشرع فيما يبقى للورثة لولا التبرع

Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa hal itu bukanlah wasiat, karena manfaat dari kemaluannya tidak tetap menjadi milik ahli warisnya, sedangkan syariat hanya berlaku pada sesuatu yang tetap menjadi milik ahli waris seandainya tidak ada hibah.

وإن اختلعت المرأة في مرض الموت نفسَها من زوجها بمهر المثل أو أقل لم يحتسب من ثُلثها وقال أبو حنيفة يحتسب وهذا بناه على أصله في أن البضع لا يتقوّم عند الخروج من النكاح وإن كان قد تقوّم عند الدخول في النكاح

Jika seorang wanita melakukan khulu‘ terhadap dirinya dari suaminya saat dalam keadaan sakit yang membawa kematian dengan mahar yang sepadan atau kurang, maka itu tidak dihitung dari sepertiga hartanya. Namun, Abu Hanifah berpendapat bahwa itu dihitung. Hal ini didasarkan pada prinsip dasarnya bahwa hubungan pernikahan (al-buḍ‘) tidak dinilai secara materi saat keluar dari pernikahan, meskipun dinilai secara materi saat masuk ke dalam pernikahan.

وأما المكاتبة إذا اختلعت أو المكاتب إذا نكح فينبغي ألا تُتلقّى هذه التصرفات من تصرفات المريض فإن لها مأخذاً سيأتي موضحاً في كتاب الكتابة إن شاء الله عز وجل

Adapun seorang mukatabah yang melakukan khulu‘ atau seorang mukatab yang menikah, maka seharusnya tindakan-tindakan ini tidak dianggap sebagai tindakan orang sakit, karena hal tersebut memiliki dasar yang akan dijelaskan nanti dalam Kitab al-Kitābah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.

وإن اختلعت نفسها بأكبر من مهر المثل فالزيادةُ وصية

Jika seorang istri menebus dirinya (khul‘) dengan memberikan lebih besar dari mahar mitsil, maka kelebihan tersebut dihukumi sebagai wasiat.

فصل قال ولو كان خالعها بعبد يساوي مائةً ومهر مثلها خمسون إلى آخره

Pasal: Ia berkata, “Seandainya suami menceraikan istrinya dengan khulu‘ menggunakan seorang budak yang nilainya seratus, sedangkan mahar mitsil (mahar sepadan) istrinya lima puluh,” dan seterusnya.

صورة المسألة عرية عن مقصود الفقه ولكن في لفظها وفتوى الشافعي فيها تعقيد والغرض التنبيه عليه ووجه الجواب عنه

Gambaran permasalahan ini tidak berkaitan dengan tujuan fiqh, namun dalam redaksinya dan fatwa asy-Syafi‘i di dalamnya terdapat kerumitan, dan maksudnya adalah untuk memberikan peringatan tentang hal itu serta menjelaskan cara menjawabnya.

والصورةُ مريضةٌ اختلعت نفسها على عبدٍ يساوي مائة وهو جميع مالها ومهر مثلها خمسون فالخلع يثبت وقدر مهر المثل يثبت لا محالة والزائد عليه وصية فينفذ ما يسعه الثلث وهو سدس العبد فيسلم للزوج ثلثاه النصفُ بحكم الاستحقاق والسدس بحكم التبرع فإن السدس ثلث الباقي غير أن الزوج بالخيار من جهة التبعّض ثم إذا فسخ فالرجوع إلى مهر المثل أو إلى القيمة

Seorang wanita sakit meminta khulu‘ (cerai atas permintaan istri) kepada seorang budak yang nilainya seratus, padahal itu adalah seluruh hartanya, sedangkan mahar mitsil (mahar sepadan) baginya adalah lima puluh. Maka khulu‘ itu sah, dan kadar mahar mitsil pasti tetap, sedangkan kelebihan dari mahar mitsil dianggap sebagai wasiat. Maka yang dapat dijalankan adalah yang mencakup sepertiga harta, yaitu seperenam dari budak tersebut. Maka diberikan kepada suami dua pertiga: setengahnya berdasarkan hak kepemilikan, dan seperenamnya berdasarkan hibah, karena seperenam adalah sepertiga dari sisa harta. Namun, suami memiliki hak memilih karena terjadi pembagian (tab‘īḍ). Kemudian jika ia membatalkan, maka kembali kepada mahar mitsil atau kepada nilai budak tersebut.

هذا جواب المسألة غير أن المزني نقل في جواب المسألة أن الزوج بالخيار إن شاء أخذ نصف العبد ونصف مهر مثلها وإن شاء رده ورجع بمهر مثلها وأخذ يعترض ويقول لا بل يستحق نصف العبد لأنه قدر مهر المثل ويستحق من الباقي ما يحمله الثلث

Ini adalah jawaban atas masalah tersebut, hanya saja al-Muzani meriwayatkan dalam jawaban masalah ini bahwa suami memiliki pilihan: jika ia mau, ia dapat mengambil setengah budak dan setengah mahar mitsil; dan jika ia mau, ia dapat mengembalikannya dan mengambil mahar mitsil. Namun, ia (al-Muzani) mengajukan keberatan dan berkata: “Tidak, bahkan suami hanya berhak atas setengah budak karena itu sepadan dengan mahar mitsil, dan dari sisanya ia berhak atas bagian yang ditanggung oleh sepertiga.”

قال أصحابنا ما ذكره المزني صحيح ثم منهم من غلطه في النقل وقال إنما قال الشافعي الزوج بالخيار إن شاء أخذ ما يخصه من العبد وإن شاء رده ورجع بمهر المثل ولم يقل ونصف مهر المثل

Para ulama kami mengatakan bahwa apa yang disebutkan oleh al-Muzani adalah benar. Namun, sebagian dari mereka menilainya keliru dalam meriwayatkan, dan berkata bahwa sesungguhnya Imam Syafi‘i mengatakan: suami memiliki pilihan, jika ia mau, ia mengambil bagian yang menjadi miliknya dari budak itu, dan jika ia mau, ia mengembalikannya dan menuntut mahar mitsil, dan beliau tidak mengatakan “dan setengah mahar mitsil.”

وهذه المسألة لا تُلفى منصوصة على الوجه الذي نقله المزني في شيء من كتب الشافعي وقال بعض أصحابنا لفظ الشافعي أن الزوج بالخيار إن شاء أخذ نصف العبد ونصفُه مهر المثل فحذف المزني الهاء وقال إن شاء أخذ نصف العبد ونصفٌ مهر مثلها فنوَّن النصفَ وحذف المزني التنوين

Masalah ini tidak ditemukan secara eksplisit sebagaimana yang dinukil oleh al-Muzani dalam salah satu kitab asy-Syafi‘i. Sebagian ulama kami mengatakan bahwa lafaz asy-Syafi‘i adalah: suami memiliki pilihan, jika ia mau, ia mengambil setengah budak dan setengahnya lagi sebagai mahar mitsil. Namun al-Muzani menghilangkan dhamir “-nya” dan berkata: jika ia mau, ia mengambil setengah budak dan setengahnya mahar mitsilnya, lalu ia memberi harakat tanwin pada kata “setengah”, sedangkan al-Muzani menghilangkan tanwin tersebut.

ومن أصحابنا من حمل ما نقله المزني على ما إذا أصدقها عبداً يساوي مائة درهم ثم خالعها عليه قبل الدخول فعاد النصف إليه بحكم الطلاق قبل الدخول فله الخيار بين أن يأخذ النصف الباقي مع نصف مهر المثل لأجل النصف المستحَق له بالطلاق وبين أن يرده ويرجع بمهر المثل وهذا منتظم ولكن لا فائدة في قوله ومهر مثلها خمسون فهذا منتهى القول في ذلك والله أعلم

Sebagian dari ulama kami menafsirkan apa yang dinukil oleh al-Muzani pada kasus ketika seseorang menjadikan mahar seorang budak yang nilainya seratus dirham, lalu ia melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan budak tersebut sebelum terjadi hubungan suami istri, sehingga setengah budak itu kembali kepadanya berdasarkan hukum talak sebelum terjadi hubungan. Maka, ia memiliki pilihan antara mengambil setengah yang tersisa beserta setengah mahar mitsil karena setengahnya menjadi haknya akibat talak, atau mengembalikannya dan menuntut mahar mitsil. Penjelasan ini teratur, namun tidak ada manfaat dalam ucapannya “dan mahar mitsilnya lima puluh”, maka inilah batas akhir pembahasan dalam hal ini. Allah Maha Mengetahui.

باب خلع المشركين

Bab Khul‘ bagi Orang-Orang Musyrik

حكم خلع المشركين حكمُ أنكحتهم وما يبذلون من الأبدال كما يبذلون منها في الصداق وقد مضى القول مفصلاً فيما يقبض في الشرك وفيما يقبض في الإسلام فلا معنى لإعادة ما مضى مقرّراً ثم يذكر الأصحاب مسائل خالف أبو حنيفة فيها ونحن نذكرها ونبين مذهبنا فيها

Hukum khulu‘ pada orang-orang musyrik adalah mengikuti hukum pernikahan mereka, begitu pula apa yang mereka berikan sebagai pengganti, sebagaimana mereka memberikannya dalam mahar. Telah dijelaskan sebelumnya secara rinci tentang apa yang diterima pada masa syirik dan apa yang diterima pada masa Islam, sehingga tidak ada gunanya mengulangi penjelasan yang telah lalu. Setelah itu, para ulama menyebutkan beberapa permasalahan yang dalam hal ini Abu Hanifah berbeda pendapat, dan kami akan menyebutkannya serta menjelaskan mazhab kami dalam hal tersebut.

فرع

Cabang

إذا اختلعت قبل قبض المهر على عين أو دين لم يسقط مهرها عن ذمة الزوج عندنا خلافاً لأبي حنيفة فإنه قال المخالعة توجب براءة ذمة الزوج عن مهر المرأة قبل المسيس وبعده وإن لم يجر للمهر ذكر وهذا أخذه من لفظ الخلع والاختلاع وهو وسوسة لا حاصل وراءها

Jika seorang istri melakukan khulu‘ sebelum menerima mahar, baik berupa barang atau utang, maka mahar tersebut tidak gugur dari tanggungan suami menurut pendapat kami, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang mengatakan bahwa khulu‘ menyebabkan suami terbebas dari tanggungan mahar istri, baik sebelum maupun sesudah terjadi hubungan suami istri, meskipun mahar tidak disebutkan dalam akad. Pendapat ini diambil dari lafaz khulu‘ dan ikhtila‘, namun hal itu hanyalah was-was yang tidak memiliki dasar yang kuat.

فرع

Cabang

إذا خالع امرأته على خمرٍ أو خنزير فالخلع فاسد وعليها مهر المثل على الرأي الظاهر فإن الخمر والخنزير يعسر تقويمها وقال أبو حنيفة يقع الطلاق ولا شيء عليها وإن كان العوض يثبت لو كان صحيحاً وهذا بناه على أصله في أن البضع لا يتقوّم في الخروج من النكاح والرجوع إلى مهر المثل تقويم للبضع

Jika seorang suami melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan imbalan berupa khamar atau babi, maka khulu‘ tersebut batal dan istri wajib membayar mahar mitsil menurut pendapat yang paling kuat, karena khamar dan babi sulit untuk dinilai harganya. Abu Hanifah berpendapat bahwa talak tetap jatuh dan istri tidak wajib membayar apa pun, meskipun imbalan tersebut akan tetap berlaku jika sah. Pendapat ini didasarkan pada prinsip beliau bahwa hubungan badan (al-budh‘) tidak dapat dinilai dalam keluar dari pernikahan, dan kembali kepada mahar mitsil berarti menilai hubungan badan.

فرع

Cabang

إذا خالع على مالٍ مؤجل على الحصاد والدياس فسد العوض والرجوع إلى مهر المثل وعند أبي حنيفة يصح ويتعجل المال ويفسد الأجل

Jika seorang suami melakukan khulu‘ dengan imbalan berupa harta yang ditangguhkan sampai masa panen dan pengirikan, maka imbalannya rusak (tidak sah) dan kembali kepada mahar mitsil. Menurut Abu Hanifah, khulu‘ tersebut sah, hartanya harus segera dibayarkan, dan penangguhan waktunya batal.

فرع

Cabang

إذا خالعها على ما في كفها فسد العوض والرجوع إلى مهر المثل وقال أبو حنيفة إذا أصاب في كفها شيئاً فهو العوض فإن لم يصب فله ثلاثة دراهم وما ذكرناه تفريع على الرأي الظاهر في أن بيع الغائب لا يصح على هذه الصفة

Jika suami melakukan khulu‘ dengan imbalan apa yang ada di tangan istrinya, maka imbalannya rusak dan kembali kepada mahar mitsil. Abu Hanifah berpendapat, jika suami mendapatkan sesuatu di tangan istrinya, itulah imbalannya. Jika tidak mendapatkan apa pun, maka ia berhak atas tiga dirham. Apa yang kami sebutkan ini merupakan cabang dari pendapat yang masyhur bahwa jual beli barang yang tidak hadir tidak sah dengan sifat seperti ini.

فرع

Cabang

إذا قالت أبرأتك عن مهري بشرط أن تطلّقني فقال الزوج أنت طالق فالبراءة لا تصح فإنها معلّقة والتعليق يفسدها ثم طلاق الزوج جرى مطلقاًً من غير تعليق ولو قال الزوج إن أبرأتني فأنت طالق فقالت أبرأتك فالطلاق بائن فإن التعليق من جهته غير ممتنع وهو بمثابة ما لو قال أنت طالق إن ضمنت لي ألفاًً ولو قال الزوج طلقتك فأبرئيني وقع الطلاق ولا يلزمها الإبراء لأنه نجّز الطلاق واستدعى الإبراء

Jika seorang istri berkata, “Aku membebaskanmu dari maharku dengan syarat engkau menceraikanku,” lalu suami berkata, “Engkau aku ceraikan,” maka pembebasan itu tidak sah karena bersifat mu‘allaq (tergantung syarat), dan ketergantungan syarat tersebut merusaknya. Kemudian talak yang diucapkan suami terjadi secara mutlak tanpa adanya syarat. Jika suami berkata, “Jika engkau membebaskanku, maka engkau aku ceraikan,” lalu istri berkata, “Aku membebaskanmu,” maka talak menjadi bain (talak yang tidak bisa dirujuk), karena ketergantungan syarat dari pihak suami tidak terlarang, dan hal ini serupa dengan ucapan, “Engkau aku ceraikan jika engkau menjaminkan seribu untukku.” Jika suami berkata, “Aku menceraikanmu, maka bebaskanlah aku,” maka talak jatuh dan istri tidak wajib membebaskan, karena suami telah menegaskan talak dan meminta pembebasan.

وفي كتاب الخلع فروع ممتزجة بقواعد الطلاق رأينا تأخيرها إلى آخر الطلاق والله المعين

Dalam kitab khulu‘ terdapat beberapa cabang hukum yang bercampur dengan kaidah-kaidah thalāq. Kami memandang perlu menunda pembahasannya hingga akhir pembahasan thalāq. Allah-lah yang memberi pertolongan.