Pertama: Hadis-hadis Abdullah ibn Dinar

أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ أَبُو الْحَجَّاجِ يُوسُفُ بْنُ خَلِيلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الدِّمَشْقِيُّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ فِي رَابِعِ شَهْرِ رَمَضَانَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَلَاثِينَ وَسِتِّمِائَةٍ قِيلَ لَهُ أَخْبَرَكُمُ الشَّيْخُ أَبُو الْفَرَجِ يَحْيَى بْنُ مَحْمُودِ بْنِ سَعْدٍ وَسَمِعْنَا عَلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ الْمُسَلْسَلِ بِالْأَوَلِيَّةِ الثَّقَفِيَّ الْأَصْبَهَانِيَّ قَدِمَ عَلَيْكُمْ دِمَشْقَ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِهَا وَأَنْتَ تَسْمَعُ فِي صَفَرَ فِي سَنَةِ ثَلَاثٍ وَثَمَانِينَ وَخَمْسِمِائَةٍ فَأَقَرَّ بِهِ وَقَالَ أَنْبَأَ أَبُو طَاهِرٍ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الصَّبَّاغُ الْمَعْرُوفُ بِدُشْتَجَ وَأَنَا حَاضِرٌ فِي سَنَةِ سِتَّ عَشْرَةَ وَخَمْسِمِائَةٍ بِأَصْبَهَانَ قَالَ ثنا الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُعْتَزِّ بْنِ مَنْصُورِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَمْزَةَ بْنِ حَمَدِ بْنِ حَفْصٍ النَّيْسَابُورِيُّ قَدِمَ عَلَيْنَا مَعَ طُغْرُلْ بِكْ قَالَ ثنا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ صَالِحِ بْنِ بَكْرٍ وَأَنَا أَسْمَعُ قِرَاءَةً عَلَيْهِ أَنْبَأَ جَدِّي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ ثنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ

Telah mengabarkan kepada kami Syaikh, Imam, Alim, Abu al-Hajjaj Yusuf ibn Khalil ibn Abdullah al-Dimasyqi, melalui pembacaan di hadapannya sementara aku mendengarkan, pada hari keempat bulan Ramadan tahun 638. Dikatakan kepadanya, “Syaikh Abu al-Faraj Yahya ibn Mahmud ibn Sa‘d, al-Tsaqafi al-Ashbahani, yang datang kepada kalian di Damaskus, telah mengabarkan kepada kalian melalui pembacaan di hadapannya di sana, sementara engkau mendengarkan, pada bulan Safar tahun 583. Sebelumnya kami telah mendengar darinya hadis musalsal bi al-awwaliyyah.” Ia mengakuinya dan berkata, “Abu Tahir ‘Abd al-Wahid ibn Muhammad ibn Ahmad ibn al-Haytsam al-Sabbagh, yang dikenal dengan nama Dushtaj, telah memberitakan kepada kami, sementara aku hadir pada tahun 516 di Ashbahan. Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Syaikh Abu al-Hasan ‘Ubaidullah ibn al-Mu‘tazz ibn Mansur ibn ‘Abdullah ibn Hamzah ibn Hamad ibn Hafsh al-Naisaburi, yang datang kepada kami bersama Tughrul Beg.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Tahir Muhammad ibn al-Fadhl ibn Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah ibn al-Mughirah ibn Shalih ibn Bakr, sementara aku mendengarkan pembacaan di hadapannya. Kakekku, Abu Bakr Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah, telah memberitakan kepada kami. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali ibn Hujr; telah menceritakan kepada kami Isma‘il ibn Ja‘far.’”

ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسٌ مَنْ قَتَلَهُنَّ وَهُوَ حَرَامٌ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيهِنَّ الْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْغُرَابُ وَالْحِدَأُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ada lima hewan yang tidak berdosa bagi orang yang membunuhnya ketika sedang ihram: kalajengking, tikus, anjing buas, burung gagak, dan burung alap-alap.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْوَلَاءِ وَعَنْ هِبَتِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ melarang menjual hak wala’ dan menghibahkannya.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya bagi orang yang berkhianat akan dipancangkan sebuah panji pada hari kiamat, lalu dikatakan, “Inilah pengkhianatan si Fulan.”’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي يَجُرُّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya karena kesombongan, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ إِلَّا أَنْ يُغَمَّ عَلَيْكُمْ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bulan itu dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya, dan janganlah kalian berbuka hingga melihatnya, kecuali jika ia tertutup dari pandangan kalian. Jika ia tertutup dari pandangan kalian, maka perkirakanlah.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ تَحَرَّوْهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu ‘Umar berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya tentang Lailatulqadar, lalu beliau bersabda, ‘Carilah ia pada tujuh malam terakhir bulan Ramadan.’”

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الضَّبِّ فَقَالَ لَسْتُ بِآكِلِهِ وَلَا مُحَرِّمِهِ

Dari Abdullah, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya tentang dhab, lalu beliau bersabda, ‘Aku tidak memakannya dan tidak pula mengharamkannya.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبَاءَ رَاكِبًا وَمَاشِيًا

Dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasa mendatangi Quba dengan berkendara maupun berjalan kaki.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ يُصَلِّي أَحَدُكُمْ مَثْنَى مَثْنَى حَتَّى إِذَا خَشِيَ الصُّبْحَ سَجَدَ سَجْدَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya tentang salat malam. Beliau menjawab, ‘Hendaklah salah seorang di antara kalian salat dua rakaat-dua rakaat. Apabila ia khawatir waktu subuh tiba, hendaklah ia melakukan satu rakaat sujud sebagai witir bagi salat yang telah ia kerjakan.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ وَاحِدٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah dua orang berbicara secara rahasia tanpa melibatkan orang ketiga.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَنْ يُهِلُّوا مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ وَأَهْلَ الشَّامِ مِنَ الْجُحْفَةِ وَأَهْلَ نَجْدٍ مِنْ قَرْنٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأُخْبِرْتُ أَنَّهُ قَالَ وَيُهِلُّ أَهْلُ الْيَمَنِ مِنْ يَلَمْلَمَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, bahwa ia mendengar dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau memerintahkan penduduk Madinah untuk berihram dari Dzulhulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Najd dari Qarn. Abdullah bin Umar berkata, “Aku diberi tahu bahwa beliau juga bersabda, ‘Penduduk Yaman berihram dari Yalamlam.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa membeli bahan makanan, janganlah ia menjualnya sebelum menerimanya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلَا يَحْلِفْ إِلَّا بِاللَّهِ وَكَانَتْ قُرَيْشٌ تَحْلِفُ بِآبَائِهَا فَقَالَ لَا تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa hendak bersumpah, janganlah ia bersumpah kecuali dengan nama Allah.’ Dahulu kaum Quraisy bersumpah dengan nama bapak-bapak mereka, maka beliau bersabda, ‘Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَيِّعَيْنِ لَا بَيْعَ بَيْنَهُمْا حَتَّى يَتَفَرَّقَا إِلَّا بَيْعَ الْخِيَارِ

Dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Setiap dua orang yang melakukan jual beli, tidak ada jual beli di antara keduanya hingga mereka berpisah, kecuali jual beli yang disertai khiyar.”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَبِيعُوا الثَّمَرَةَ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهَا

Dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Janganlah kalian menjual buah sebelum tampak kematangannya.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Siapa pun yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir,” sungguh salah seorang dari keduanya telah memikulnya. Jika orang itu memang seperti yang dikatakannya, (maka demikianlah); jika tidak, ucapan itu kembali kepadanya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ اتَّخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَلَبِسَهُ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ الذَّهَبِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتَمَ وَإِنِّي لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah ﷺ membuat cincin dari emas lalu memakainya. Maka orang-orang pun membuat cincin-cincin dari emas.” Ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Dahulu aku memakai cincin ini, tetapi aku tidak akan memakainya lagi untuk selama-lamanya.’ Maka orang-orang pun membuang cincin-cincin mereka.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ يَقُولُ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah ﷺ menunjuk dengan tangannya ke arah timur seraya bersabda, ‘Ingatlah, fitnah itu berada di sini, fitnah itu berada di sini, dari arah munculnya tanduk setan.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَكَرَ عُمَرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ تُصِيبُهُ الْجَنَابَةُ بِاللَّيْلِ فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ وُضُوءَ الصَّلَاةِ وَيَغْسِلَ ذَكَرَهُ ثُمَّ يَنَامَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Umar menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia mengalami junub pada malam hari. Maka beliau memerintahkannya untuk berwudu seperti wudu untuk salat, membasuh kemaluannya, lalu tidur.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بِلَالًا يُنَادِي بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ ضَارِيَةٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa memelihara anjing, selain anjing pemburu atau anjing penjaga ternak, maka setiap hari pahala amalnya berkurang dua qirath.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غِفَارٌ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا وَأَسْلَمَ سَالَمَهَا اللَّهُ وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka; Aslam, semoga Allah menyelamatkan mereka; sedangkan Usayyah telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَكَرَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَةَ فَكَانَ إِذَا بَايَعَ يَقُولُ لَا خِلَابَةَ

Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang lelaki menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tertipu dalam jual beli. Rasulullah ﷺ berkata kepadanya, ‘Jika engkau berjual beli, katakanlah, “Tidak ada penipuan.”’ Maka setiap kali berjual beli, ia mengatakan, ‘Tidak ada penipuan.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ فَطَعَنَ بَعْضُ النَّاسِ فِي إِمْرَتِهِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كُنْتُمْ تَطْعَنُونَ فِي إِمْرَتِهِ فَقَدْ كُنْتُمْ تَطْعَنُونَ فِي إِمْرَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلِهِ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كَانَ لَخَلِيقًا بِالْإِمْرَةِ وَإِنْ كَانَ لِمَنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَىَّ وَإِنَّ هَذَا لِمَنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ بَعْدَهُ

‘Abdullah bin Dinar menuturkan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu ‘Umar berkata, “Rasulullah ﷺ mengirim suatu pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin mereka.” Ia berkata, “Sebagian orang mencela kepemimpinannya.” Rasulullah ﷺ lalu bersabda, “Jika kalian mencela kepemimpinannya, sungguh kalian dahulu juga telah mencela kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, ia memang layak memimpin dan termasuk orang yang paling aku cintai. Sungguh, orang ini termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ فِي السَّفَرِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ biasa salat di atas tunggangannya ke arah mana pun tunggangannya menghadap saat dalam perjalanan.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا نُبَايِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فَيَقُولُ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat. Beliau berkata kepada kami, ‘Sesuai kemampuan kalian.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْيَهُودَ إِذَا سَلَّمُوا عَلَيْكُمْ إِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمْ السَّامُ عَلَيْكُمْ فَقُلْ عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, apabila orang-orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, salah seorang dari mereka hanya berkata, “As-sāmu ‘alaikum” (kematian atas kalian). Maka katakanlah, “’Alaikum” (juga atas kalian).’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَاغْتَسِلُوا

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apabila kalian datang untuk salat Jumat, mandilah.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَجَلُكُمْ فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغَارِبِ الشَّمْسِ وَإِنَّمَا مَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَرَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ قَالَ فَعَمِلَتِ الْيَهُودُ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ ثُمَّ قَالَ مَنْ يَعْمَلُ مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ قَالَ فَعَمِلَتِ النَّصَارَى مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ قَالَ فَأَنْتُمُ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغَارِبِ الشَّمْسِ عَلَى قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ قَالَ فَغَضِبَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالُوا نَحْنُ كُنَّا أَكْثَرَ عَمَلًا وَأَقَلَّ عَطَاءً قَالَ هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ شَيْئًا قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّهُ فَضْلِي أُوتِيهِ مَنْ أَشَاءُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya masa kalian dibandingkan dengan masa umat-umat sebelum kalian adalah seperti rentang waktu antara salat Asar dan terbenamnya matahari. Perumpamaan kalian dan orang-orang Yahudi serta Nasrani adalah seperti seorang laki-laki yang mempekerjakan para pekerja, lalu berkata, ‘Siapa yang mau bekerja sampai tengah hari dengan upah satu qirath masing-masing?’ Orang-orang Yahudi pun bekerja sampai tengah hari dengan upah satu qirath masing-masing. Kemudian ia berkata, ‘Siapa yang mau bekerja dari tengah hari sampai waktu salat Asar dengan upah satu qirath masing-masing?’ Orang-orang Nasrani pun bekerja dari tengah hari sampai waktu salat Asar dengan upah satu qirath masing-masing. Lalu ia berkata, ‘Kalianlah yang bekerja dari waktu salat Asar sampai terbenamnya matahari dengan upah dua qirath masing-masing.’ Orang-orang Yahudi dan Nasrani pun marah dan berkata, ‘Kami bekerja lebih banyak, tetapi upah kami lebih sedikit.’ Ia berkata, ‘Apakah aku telah mengurangi sedikit pun hak kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Itulah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَامْرَأَةُ الرَّجُلِ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Penguasa yang memimpin orang-orang adalah pemimpin bagi mereka dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Istri seorang laki-laki adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Hamba seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kunci-kunci perkara gaib ada lima; tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Tidak seorang pun mengetahui apa yang berkurang di dalam rahim selain Allah. Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi esok hari selain Allah. Tidak seorang pun mengetahui kapan hujan turun selain Allah. Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan meninggal, dan tidak seorang pun mengetahui kapan Kiamat terjadi selain Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ هِيَ النَّخْلَةُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَ هِيَ النَّخْلَةُ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا

Abdullah bin Dinar menuturkan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Di antara pepohonan, ada sebuah pohon yang daunnya tidak gugur. Sesungguhnya pohon itu seperti seorang Muslim. Beritahukanlah kepadaku, pohon apakah itu?’” Abdullah berkata, “Terbetik dalam pikiranku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku merasa malu.” Kemudian mereka berkata, “Beritahukanlah kepada kami, pohon apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pohon kurma.” Abdullah berkata, “Lalu aku menceritakan hal itu kepada Umar bin al-Khattab. Ia berkata, ‘Sungguh, jika engkau mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, hal itu lebih aku sukai daripada ini dan itu.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِ الْحِجْرِ لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ , فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ؛ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

‘Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat di al-Hijr, ‘Janganlah kalian memasuki tempat kaum yang diazab ini kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak, janganlah kalian masuk menemui mereka, agar kalian tidak tertimpa seperti yang menimpa mereka.’”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ عُمَرُ لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالذَّهَبِ أَحَدُهُمَا غَائِبٌ وَالْآخَرُ نَاجِزٌ وَإِنِ اسْتَنْظَرَكَ حَتَّى يَلِجَ بَيْتَهُ فَلَا تُنْظِرْهُ إِلَّا يَدًا بِيَدٍ وَهَاتِ وَهَا إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ الرَّمَا يَعْنِي الرِّبَا

Dari Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata, “Umar berkata, ‘Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama beratnya, dan janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali sama beratnya. Janganlah kalian menjual perak dengan emas apabila salah satunya tidak hadir sedangkan yang lain dibayar tunai. Jika ia meminta penangguhan kepadamu sampai ia masuk ke rumahnya, jangan beri ia penangguhan kecuali dengan serah terima langsung. Berikan dan terimalah langsung. Ketahuilah, aku khawatir kalian terjerumus ke dalam rama—maksudnya, riba.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ عُمَرُ لَا تَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا تَحَرَّوْا غُرُوبَهَا؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يُطْلِعُ قَرْنًا مَعَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَبَعْدَ أَنْ قَالَ وكَانَ يَضْرِبُ النَّاسَ عَلَى ذَلِكَ

Abdullah ibn Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Ibn Umar berkata, “Umar berkata, ‘Janganlah kalian sengaja menunggu terbitnya matahari dan jangan pula sengaja menunggu terbenamnya, karena setan menampakkan satu tanduk bersamaan dengan terbitnya matahari.’” Setelah mengatakan hal itu, Umar biasa memukul orang-orang karena hal tersebut.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ عُمَرُ إِذَا رَمَيْتَ الْجَمْرَةَ يَوْمَ النَّحْرِ وَفَرَغْتَ وَحَلَقْتَ وَذَبَحْتَ إِنْ كَانَ لَكَ ذَبْحٌ فَقَدْ حَلَّ لَكَ كُلُّ شَيْءٍ حَرَّمَهُ عَلَيْكَ الْحَجُّ إِلَّا النِّسَاءَ وَالطِّيبَ حَتَّى تَطُوفَ بِالْبَيْتِ

Abdullah bin Dinar menyampaikan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Umar berkata, ‘Apabila engkau telah melontar jumrah pada Hari Nahr, menyelesaikan [manasik], mencukur rambut, dan menyembelih kurban jika engkau memiliki hewan kurban, maka segala sesuatu yang diharamkan haji bagimu telah halal, kecuali hubungan dengan perempuan dan memakai wewangian, sampai engkau bertawaf mengelilingi Baitullah.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ لَا تَبْكُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ فَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

‘Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Umar berkata, ‘Janganlah kalian menangisi orang-orang mati kalian, karena sesungguhnya orang yang telah meninggal disiksa akibat tangisan keluarganya atas dirinya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ كَانَتْ لِي وَلِيدَةٌ أَطَؤُهَا فَعَمَدْتِ امْرَأَتِي إِلَيْهَا فَأَرْضَعَتْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَوْجِعْهَا وَأْتِ جَارِيَتَكَ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ رَضَاعَةُ الصَّغِيرِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang lelaki dari kalangan Ansar datang kepada Umar bin al-Khattab, lalu berkata, ‘Aku mempunyai seorang budak perempuan yang biasa kusetubuhi. Kemudian istriku sengaja mendatanginya lalu menyusuinya.’ Umar berkata kepadanya, ‘Hukumlah istrimu dengan keras, dan setubuhilah budak perempuanmu. Sesungguhnya penyusuan yang menimbulkan hukum hanyalah penyusuan anak kecil.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ سُئِلَ عُمَرُ عَنِ الْجَرَادِ فَقَالَ لَيْتَ عِنْدَنَا مِنْهُ قَفْعَةً أَوْ قَفْعَتَيْنِ نَأْكُلُهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Umar pernah ditanya tentang belalang. Ia menjawab, ‘Andai saja kita punya sekeranjang atau dua keranjang belalang, kita akan memakannya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَدِمْتُ الْعِرَاقَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ أَمِيرُهَا فَرَأَيْتُهُ يَتَوَضَّأُ وَرِجْلَاهُ فِي الْخُفَّيْنِ فَقُلْتُ لَهُ أَلَا أَرَاكَ تَتَوَضَّأُ وَرِجْلَاكَ فِي الْخُفَّيْنِ قَالَ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ بَأْسٍ فَلَمْ أَقَلْ لَهُ لَا وَلَا نَعَمْ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى عُمَرَ قَالَ لِي سَعْدٌ أَرَأَيْتَ الْأَمْرَ الَّذِي أَنْكَرْتَ عَلَيَّ سَلْ عَنْهُ أَبَاكَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ لِعُمَرَ أَيَتَوَضَّأُ أَحَدُنَا وَرِجْلَاهُ فِي الْخُفَّيْنِ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ لِعُمَرَ وَإِنْ ذَهَبَ الْغَائِطَ فَقَالَ عُمَرُ وَإِنْ ذَهَبَ إِلَى الْغَائِطِ

Abdullah bin Dinar telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Ibnu Umar berkata, “Aku tiba di Irak ketika Sa‘d bin Abi Waqqash menjadi gubernurnya. Aku melihatnya berwudu sementara kedua kakinya mengenakan khuf. Aku berkata kepadanya, ‘Mengapa kulihat engkau berwudu sementara kedua kakimu mengenakan khuf?’ Ia menjawab, ‘Memangnya ada masalah bagiku dalam hal itu?’ Aku tidak menjawab, ‘Tidak,’ ataupun, ‘Ya.’ Ketika kami tiba di tempat Umar, Sa‘d berkata kepadaku, ‘Bagaimana pendapatmu tentang perkara yang kauingkari padaku itu? Tanyakanlah kepada ayahmu tentang hal itu.’ Abdullah berkata, ‘Lalu aku bertanya kepada Umar, “Bolehkah salah seorang di antara kami berwudu sementara kedua kakinya mengenakan khuf?” Ia menjawab, “Ya.”’ Abdullah berkata, ‘Kemudian aku bertanya kepada Umar, “Meskipun ia buang air besar?” Umar menjawab, “Meskipun ia pergi ke tempat buang air besar.”’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan, lalu ia membangunnya dengan baik dan indah, kecuali satu tempat untuk sebuah batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang pun berkeliling mengitari bangunan itu dan mengaguminya, seraya berkata, ‘Mengapa batu bata ini tidak dipasang?’ Akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.”

Kedua: hadis-hadis Humaid bin Abi Humaid ath-Thawil.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ثنا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ ثنا الطَّوِيلُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ حَائِطًا مِنْ حَوَائِطِ بَنِي النَّجَّارِ فَسَمِعَ صَوْتًا مِنْ قَبْرٍ فَقَالَ مَتَى دُفِنَ صَاحِبُ هَذَا الْقَبْرِ فَقَالُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَسُرَّ بِذَلِكَ وَقَالَ لَوْلَا أَلَّا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ عَذَابَ الْقُبُورِ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ismail—yakni Ibnu Ja‘far—bahwa Ath-Thawil mendengar Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memasuki salah satu kebun milik Bani Najjar. Beliau mendengar suara dari sebuah kubur, lalu bertanya, “Kapan penghuni kubur ini dimakamkan?” Mereka menjawab, “Pada masa jahiliah.” Beliau pun merasa senang dengan hal itu dan bersabda, “Seandainya aku tidak khawatir kalian tidak lagi saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ آلَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا وَكَانَتِ انْفَكَّتْ رِجْلُهُ فَأَقَامَ فِي مَشْرُبَةٍ تِسْعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً ثُمَّ نَزَلَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلَيْتَ شَهْرًا قَالَ الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersumpah tidak menggauli istri-istrinya selama sebulan. Kakinya terkilir, lalu beliau tinggal di sebuah kamar atas selama dua puluh sembilan malam. Kemudian beliau turun. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau bersumpah selama sebulan.’ Beliau menjawab, ‘Sebulan itu dua puluh sembilan hari.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِقَصْرٍ مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِشَابٍّ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَ فَظَنَنْتُ أَنِّي أَنَا هُوَ قَالَ فَقُلْتُ وَمَنْ هُوَ قَالُوا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ

Ḥumayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Aku masuk surga, lalu aku melihat sebuah istana dari emas. Aku bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang pemuda dari Quraisy.’ Ia berkata, ‘Aku pun mengira bahwa akulah orangnya.’ Ia berkata, ‘Lalu aku bertanya, ‘Siapakah dia?’ Mereka menjawab, ‘Umar bin al-Khaṭṭāb.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهْرٍ يَجْرِي بَيَاضُهُ بَيَاضُ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ وَحَافَّتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ فَضَرَبْتُ بِيَدِي فَإِذَا الثَّرَى مِسْكٌ أَذْفَرُ فَقُلْتُ لِجِبْرِيلَ مَا هَذَا قَالَ الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَهُ اللَّهُ

Ḥumaid telah menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Aku masuk surga. Tiba-tiba aku melihat sebuah sungai yang airnya putih seperti susu dan lebih manis daripada madu. Di kedua tepinya terdapat tenda-tenda mutiara. Lalu aku mencelupkan tanganku, ternyata tanahnya beraroma kesturi yang sangat harum. Aku bertanya kepada Jibril, “Apakah ini?” Ia menjawab, “Inilah al-Kautsar yang Allah anugerahkan kepadamu.”’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ عَنْ صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ يَصُومُ مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى نَرَى أَنَّهُ لَا يُرِيدُ يُفْطِرُ مِنْهُ شَيْئًا وَيُفْطِرُ مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى نَرَى أَنَّهُ لَا يُرِيدُ يَصُومُ مِنْهُ شَيْئًا وَكُنْتَ لَا تَشَاءُ أَنْ تَرَاهُ مِنَ اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْتَهُ وَلَا نَائِمًا إِلَّا رَأَيْتَهُ

Humayd telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, “Anas ditanya tentang puasa Nabi ﷺ. Ia menjawab, ‘Beliau berpuasa selama beberapa hari dalam sebulan hingga kami mengira bahwa beliau tidak ingin berbuka pada hari apa pun di bulan itu. Beliau juga tidak berpuasa selama beberapa hari dalam sebulan hingga kami mengira bahwa beliau tidak ingin berpuasa pada hari apa pun di bulan itu. Jika engkau ingin melihat beliau pada malam hari sedang salat, niscaya engkau akan melihatnya; dan jika ingin melihat beliau sedang tidur, niscaya engkau akan melihatnya.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِحَبْلٍ مَمْدُودٍ بَيْنَ سَارِيَتَيْنِ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا هَذَا الْحَبْلُ فَقَالُوا فُلَانَةُ تُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَإِذَا خَشِيَتْ أَنْ تُغْلَبَ أَخَذَتْ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتُصَلِّي مَا عَقِلَتْ فَإِذَا غُلِبَتْ فَلْتَنَمْ

Humaid menuturkan kepada kami dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ melewati seutas tali yang dibentangkan di antara dua tiang di masjid. Beliau bertanya, “Tali apakah ini?” Mereka menjawab, “Tali milik seorang perempuan. Ia salat pada malam hari; ketika khawatir akan tertidur, ia berpegangan padanya.” Nabi ﷺ lalu bersabda, “Hendaklah ia salat selama masih sadar. Jika ia tertidur, hendaklah ia tidur.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ شَبَابٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُسَمَّوْنَ الْقُرَّاءَ يَتَنَحَّوْنَ فِي نَاحِيَةٍ مِنَ الْمَدِينَةِ يَحْسَبُ أَهْلُوهُمْ أَنَّهُمْ فِي الْمَسْجِدِ وَيُحْسَبُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ أَنَّهُمْ فِي أَهْلِيهِمْ فَيُصَلُّونَ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى إِذَا تَقَارَبَ الصُّبْحُ احْتَطَبُوا مِنَ الْحَطَبِ وَاسْتَعْذَبُوا مِنَ الْمَاءِ فَوَضَعُوهُ عَلَى أَبْوَابِ حُجَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيعًا إِلَى بِئْرِ مَعُونَةَ فَاسْتُشْهِدُوا فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتَلَتِهِمْ أَيَّامًا

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Ada sekelompok pemuda Anshar yang disebut al-Qurrāʾ. Mereka tinggal menyendiri di suatu bagian kota Madinah. Keluarga mereka mengira bahwa mereka berada di masjid, sedangkan orang-orang di masjid mengira mereka berada di tengah keluarga masing-masing. Mereka mengerjakan salat pada malam hari. Ketika waktu Subuh hampir tiba, mereka mengumpulkan kayu bakar dan mengambil air tawar, lalu meletakkannya di depan pintu-pintu kamar Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ kemudian mengutus mereka semua ke Bi’r Ma‘ūnah, dan mereka gugur sebagai syuhada. Selama beberapa hari, Nabi ﷺ mendoakan keburukan bagi orang-orang yang membunuh mereka.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمًا عَاصِبًا رَأْسَهُ فَتَلَقَّاهُ ذَرَارِيُّ الْأَنْصَارِ وَخَدَمُهُمْ وَقَالَ مَا هُمْ بِوُجُوهِ الْأَنْصَارِ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأُحِبُّكُمْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ إِنَّ الْأَنْصَارَ قَدْ قَضَوُا الَّذِي عَلَيْهِمْ وَبَقِيَ الَّذِي عَلَيْكُمْ فَأَحْسِنُوا إِلَى مُحْسِنِهِمْ وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ suatu hari keluar dengan kepala terbalut. Anak-anak Ansar dan para pelayan mereka menyambut beliau. Mereka bukanlah tokoh-tokoh Ansar pada hari itu. Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku mencintai kalian,” beliau mengulanginya dua atau tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kaum Ansar telah menunaikan kewajiban mereka, sedangkan kewajiban kalian terhadap mereka masih tersisa. Maka berbuat baiklah kepada orang-orang baik di antara mereka dan maafkanlah orang-orang yang berbuat buruk di antara mereka.”

وَقَالَ أَنَسٌ قَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فَأَعْطَى الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ وَأَعْطَى عُيَيْنَةَ بْنَ بَدْرٍ مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ قَالَ فَذَكَرَ نَفَرٌ مِنَ الْأَنْصَارِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُعْطِي غَنَائِمَنَا قَوْمًا تَقْطُرُ سُيُوفُنَا مِنْ دِمَائِهِمْ أَوْ تَقْطُرُ دِمَاؤُهُمْ مِنْ سُيُوفِنَا فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ الْأَنْصَارَ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ غَيْرُكُمْ فَقَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ غَيْرَ ابْنِ أُخْتِنَا فَقَالَ ابْنُ أُخْتِ الْقَوْمِ مِنْهُمْ ثُمَّ قَالَ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالدُّنْيَا أَوْ بِالشَّاءِ وَالْإِبِلِ وَتَذْهَبُونَ بِمُحَمَّدٍ إِلَى دِيَارِكُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَخَذَ النَّاسُ وَادِيًا وَأَخَذْتِ الْأَنْصَارُ شِعْبًا لَأَخَذْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ الْأَنْصَارُ كَرِشِي وَعَيْبَتِي وَلَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ

Anas berkata, “Rasulullah ﷺ membagikan rampasan perang Hunain. Beliau memberikan seratus ekor unta kepada al-Aqra‘ bin Habis dan seratus ekor unta kepada ‘Uyainah bin Badr.” Ia melanjutkan, “Sejumlah orang Ansar berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau memberikan rampasan perang kami kepada suatu kaum, padahal pedang-pedang kami meneteskan darah mereka, atau darah mereka menetes dari pedang-pedang kami.’ Hal itu sampai kepada Nabi ﷺ, lalu beliau mengumpulkan kaum Ansar dan bertanya, ‘Adakah orang selain kalian di antara kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah, selain anak saudara perempuan kami.’ Beliau bersabda, ‘Anak saudara perempuan suatu kaum termasuk bagian dari mereka.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai kaum Ansar, tidakkah kalian rela jika orang-orang pulang membawa dunia—berupa kambing dan unta—sedangkan kalian pulang bersama Muhammad ke kampung halaman kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya orang-orang menempuh sebuah lembah dan kaum Ansar menempuh sebuah celah, niscaya aku akan menempuh celah yang dilalui kaum Ansar. Kaum Ansar adalah isi perutku dan tempat rahasiaku. Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku adalah seorang dari kaum Ansar.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ حِينَ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا؛ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ menghadap kepada kami dengan wajahnya ketika beliau berdiri untuk salat, sebelum bertakbir. Beliau bersabda, ‘Luruskanlah saf-saf kalian dan rapatkanlah barisan; sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَكُفُّهُ عَنِ الظُّلْمِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ بِهَذَا

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, jika ia dizalimi, kami akan menolongnya. Namun, bagaimana kami menolongnya jika ia berbuat zalim?” Beliau menjawab, “Kalian mencegahnya dari berbuat zalim.” ‘Ali bin Ḥujr meriwayatkan kepada kami, katanya: Yazid meriwayatkan kepada kami dari Ḥumaid, dari Anas, dengan hadis serupa.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَعَثَتْ مَعِي أُمُّ سُلَيْمٍ بِشَيْءٍ مِنْ رُطَبٍ فِي مِكْتَلٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَلَمْ أَجِدْهُ فِي بَيْتِهِ قَالُوا ذَهَبَ قَرِيبًا فَإِذَا هُوَ عِنْدَ مَوْلًى لَهُ خَيَّاطٍ صَنَعَ لَهُ طَعَامًا فِيهِ لَحْمٌ وَدُبَّاءُ قَالَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الدُّبَّاءُ فَجَعَلْتُ أَضَعُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ فَرَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَوَضَعْتُ الْمِكْتَلَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَازَالَ يَأْكُلُ وَيُقَسِّمُ حَتَّى لَمْ يَبْقَ فِي الْمِكْتَلِ شَيْءٌ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Humaid telah menceritakan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Ummu Sulaim mengutusku membawa sedikit kurma basah dalam sebuah keranjang kepada Rasulullah ﷺ. Namun, aku tidak menjumpai beliau di rumahnya. Mereka berkata, ‘Beliau pergi ke suatu tempat yang tidak jauh.’ Ternyata beliau sedang berada di rumah seorang maulā beliau yang berprofesi sebagai tukang jahit. Orang itu membuatkan makanan untuk beliau yang berisi daging dan labu. Anas berkata, ‘Aku melihat Nabi ﷺ menyukai labu itu, maka aku pun mulai meletakkannya di hadapan beliau.’ Anas berkata, ‘Kemudian beliau kembali ke rumahnya. Aku meletakkan keranjang itu di hadapannya, lalu beliau terus makan dan membagikannya hingga tidak tersisa apa pun di dalam keranjang itu.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ , وَسُهَيْلُ ابْنُ بَيْضَاءَ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عِنْدَ أَبِي طَلْحَةَ وَأَنَا أَسْقِيهِمْ مِنْ شَرَابٍ لَهُمْ حَتَّى كَادَ يَأْخُذُ فِيهِمْ قَالَ فَمَرَّ بِنَا مَارٌّ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَنَادَى أَلَا هَلْ شَعَرْتُمْ أَنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ قَالَ فَوَاللَّهِ مَا انْتَظَرُوا أَنْ أَمَرُونِي أَنْ أَلْقِ مَا فِي آنِيَتِكَ قَالَ فَفَعَلْتُ فَمَا عَادُوا فِي شَيْءٍ مِنْهَا حَتَّى لَقُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهَا الْبُسْرُ وَالتَّمْرُ وَإِنَّهَا لَخَمْرُنَا يَوْمَئِذٍ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarrāḥ, Suhail ibn al-Baiḍā’, dan Ubayy ibn Ka‘b berada di tempat Abu Ṭalḥah, sementara aku menuangkan minuman mereka untuk mereka hingga hampir memengaruhi mereka. Lalu seorang Muslim yang sedang lewat melintas di dekat kami dan berseru, ‘Ketahuilah, apakah kalian sudah mendengar bahwa khamar telah diharamkan?’ Demi Allah, mereka langsung menyuruhku membuang apa yang ada di wadahku. Maka aku pun melakukannya. Setelah itu, mereka tidak pernah menyentuhnya lagi hingga menghadap Allah ‘Azza wa Jalla. Minuman itu terbuat dari kurma muda dan kurma kering, dan itulah khamar kami pada masa itu.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَحَطَ الْمَطَرُ عَامًا فَقَامَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ جُمُعَةٍ وَهُوَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَحَطَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ وَهَلَكَ الْمَالُ قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءِ سَحَابَةً فَمَدَّ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ يَسْتَسْقِي اللَّهَ فَمَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ حَتَّى أَهَمَّ الشَّابُّ الْقَرِيبُ الدَّارِ الرُّجُوعَ إِلَى أَهْلِهِ فَدَامَتْ جُمُعَةً فَلَمَّا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الَّتِي تَلِيهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهَدَّمَتِ الْبُيُوتُ وَاحْتَبَسَتِ الرُّكْبَانُ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُرْعَةِ مَلَالَةِ ابْنِ آدَمَ ثُمَّ قَالَ بِيَدِهِ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا فَتَكَشَّطَتْ عَنِ الْمَدِينَةِ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Pada suatu tahun, hujan tidak turun. Pada hari Jumat, ketika Rasulullah ﷺ sedang berdiri berkhutbah, sebagian kaum Muslimin datang kepada beliau dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah, hujan tidak turun, bumi menjadi tandus, dan harta benda binasa.’ Anas berkata, ‘Rasulullah ﷺ lalu mengangkat kedua tangannya. Saat itu, kami tidak melihat awan di langit. Beliau merentangkan kedua tangannya hingga aku melihat putihnya kedua ketiak beliau, seraya memohon hujan kepada Allah. Belum selesai kami salat Jumat, hujan telah turun hingga seorang pemuda yang rumahnya dekat hampir kembali kepada keluarganya. Hujan itu terus turun selama sepekan. Ketika Jumat berikutnya tiba, mereka berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, rumah-rumah telah roboh dan para musafir tertahan.” Rasulullah ﷺ tersenyum melihat betapa cepatnya manusia merasa jemu. Kemudian beliau mengisyaratkan dengan tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan di atas kami.” Maka awan pun tersibak menjauh dari Madinah.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ أَوْ مَوْضِعُ قِدِّهِ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الدُّنْيَا لَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Berangkat pada pagi hari di jalan Allah atau berangkat pada sore hari lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Sungguh, seukuran busur milik salah seorang di antara kalian di surga, atau tempat tali kulitnya di surga, lebih baik daripada dunia. Seandainya seorang perempuan dari kalangan perempuan penghuni surga menengok ke dunia, niscaya ia akan memenuhi ruang di antara keduanya dengan aroma harum. Sungguh, kerudung yang dikenakannya di atas kepala lebih baik daripada dunia dan segala isinya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ دُورِ الْأَنْصَارِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ ثُمَّ دَارُ بَنِي عَبْدِ الْأَشْهَلِ ثُمَّ دَارُ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ ثُمَّ دَارُ بَنِي سَاعِدَةَ ثُمَّ قَالَ فِي كُلِّ دُورِ الْأَنْصَارِ خَيْرٌ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tempat tinggal terbaik di kalangan kaum Ansar?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Tempat tinggal Bani Najjar, kemudian tempat tinggal Bani ‘Abd al-Asyhal, kemudian tempat tinggal Bani al-Harits bin al-Khazraj, kemudian tempat tinggal Bani Sa‘idah.” Lalu beliau bersabda, “Di semua tempat tinggal kaum Ansar terdapat kebaikan.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ خَيْبَرَ وَالْمَدِينَةِ ثَلَاثَ لَيَالٍ يُبْنَى عَلَيْهِ بِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ فَدَعَوْتُ الْمُسْلِمِينَ إِلَى وَلِيمَتِهِ فَمَا كَانَ فِيهَا مِنْ خُبْزٍ وَلَا لَحْمٍ أَمَرَنَا بِالْأَنْطَاعِ فَأُلْقِيَ فِيهَا مِنَ التَّمْرِ وَالْأَقِطِ وَالسَّمْنِ فَكَانَتْ تِلْكَ وَلِيمَتَهُ فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ أَوْ مِمَّا مَلَكَتْ يَمِينُهُ فَقَالُوا إِنْ حَجَبَهَا فَهِيَ مِنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَإِنْ لَمْ يَحْجُبْهَا فَهِيَ مِمَّا مَلَكَتْ يَمِينُهُ فَلَمَّا ارْتَحَلَ وَطَّأَ لَهَا خَلْفَهُ ثُمَّ مَدَّ الْحِجَابَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ النَّاسِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, ia berkata, “Nabi ﷺ tinggal selama tiga malam di antara Khaybar dan Madinah, saat beliau menggauli Safiyyah binti Huyay. Aku pun mengundang kaum muslimin ke walimah beliau. Tidak ada roti maupun daging dalam walimah itu. Beliau memerintahkan kami menghamparkan alas-alas kulit, lalu kurma, keju kering, dan samin ditaburkan di atasnya. Itulah walimah beliau. Kaum muslimin berkata, ‘Apakah ia salah seorang dari Ummahatul Mukminin atau termasuk perempuan yang dimiliki oleh tangan kanan beliau?’ Mereka berkata, ‘Jika beliau memasang tabir untuknya, ia termasuk Ummahatul Mukminin; jika tidak, ia termasuk perempuan yang dimiliki oleh tangan kanan beliau.’ Ketika beliau berangkat, beliau menyiapkan tempat untuknya di belakang beliau, lalu membentangkan tabir antara dirinya dan orang-orang.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ سَمِعَ الْمُسْلِمُونَ مَقَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ وَهُوَ عَلَى بِئْرِ بَدْرٍ يُنَادِي يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ يَا عُتْبَةُ بْنَ رَبِيعَةَ يَا شَيْبَةُ بْنَ رَبِيعَةَ يَا أُمَيَّةُ بْنَ خَلَفٍ أَلَا هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَإِنِّي قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُنَادِي قَوْمًا قَدْ جُيِّفُوا فَقَالَ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُجِيبُونِي

Humayd menuturkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Kaum Muslim mendengar sabda Nabi ﷺ pada tengah malam, saat beliau berada di sumur Badar, menyeru, ‘Wahai Abu Jahl bin Hisyam, wahai Utbah bin Rabi‘ah, wahai Syaibah bin Rabi‘ah, wahai Umayyah bin Khalaf! Bukankah kalian telah mendapati bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kalian itu benar? Sesungguhnya aku telah mendapati bahwa apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku itu benar.’ Kaum Muslim pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau menyeru orang-orang yang telah menjadi bangkai?’ Beliau menjawab, ‘Kalian tidak lebih dapat mendengar apa yang kukatakan daripada mereka; hanya saja, mereka tidak mampu menjawabku.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبَّى بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ قَالَ فَقَالَ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ قَالَ حُمَيْدٌ فَذَكَرَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ لِابْنِ عُمَرَ قَوْلَ أَنَسٍ فَقَالَ يَرْحَمُ اللَّهُ أَنَسًا وَهِلَ أَنَسٌ إِنَّمَا أَهَلَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ وَأَهْلَلْنَا مَعَهُ فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ قَالَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحْلِلْ قَالَ بَكْرٌ فَرَجَعْتُ إِلَى أَنَسٍ فَأَخْبَرْتُهُ بِقَوْلِ ابْنِ عُمَرَ فَلَمْ يَزَلْ يَذْكُرُ ذَلِكَ حَتَّى مَاتَ

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ mengucapkan talbiyah untuk umrah dan haji. Anas berkata, “Beliau mengucapkan, ‘Labbaika, untuk umrah dan haji.’” Humayd berkata, “Bakar bin Abdullah al-Muzani menyampaikan perkataan Anas kepada Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata, ‘Semoga Allah merahmati Anas. Anas keliru. Nabi ﷺ hanya berihram untuk haji, dan kami pun berihram bersama beliau. Ketika kami tiba di Makkah, beliau bersabda, “Siapa yang tidak membawa hewan kurban, hendaklah ia bertahallul.”’” Bakar berkata, “Aku pun kembali kepada Anas dan memberitahukan kepadanya perkataan Ibnu Umar. Anas terus menyebutkan hal itu hingga ia wafat.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ عَلَيْهِ حَتَّى رُؤِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ وَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ وَإِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْصُقْ أَحَدُكُمْ فِي قِبْلَتِهِ وَقَالَ مَرَّةً ثَانِيَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا

Humaid telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau merasa sangat terganggu hingga hal itu tampak pada wajah beliau. Beliau pun berdiri dan mengikisnya dengan tangan, lalu bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berdiri dalam salatnya, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya, dan sesungguhnya Tuhannya berada di antara dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah salah seorang dari kalian meludah ke arah kiblatnya.” Pada kesempatan lain beliau bersabda, “Ke arah kiblat masjid,” tetapi hendaklah ke sebelah kirinya atau di bawah kedua kakinya. Kemudian beliau mengambil ujung selendangnya, meludah ke dalamnya, lalu melipat sebagian selendang itu menutupi bagian lainnya. Beliau bersabda, “Atau lakukanlah seperti ini.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa pada masa jahiliah penduduk Madinah memiliki dua hari setiap tahun untuk bermain-main. Ketika Nabi ﷺ tiba, beliau bersabda, “Kalian dahulu memiliki dua hari untuk bermain-main. Allah telah menggantinya bagi kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Kurban.”

عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ هَلِ اتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا قَالَ نَعَمْ أَخَّرَ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ إِلَى شَطْرِ اللَّيْلِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ بَعْدَ مَا صَلَّى فَقَالَ صَلَّى النَّاسُ وَنَامُوا فَلَمْ تَزَالُوا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوهَا قَالَ أَنَسٌ وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى وَبِيصِ خَاتَمِهِ

Dari Humaid, ia berkata, “Anas bin Malik pernah ditanya, ‘Apakah Nabi ﷺ memakai cincin?’ Ia menjawab, ‘Ya. Pada suatu malam, beliau menunda salat Isya hingga pertengahan malam. Setelah salat, beliau menghadap kepada kami lalu bersabda, “Orang-orang telah salat dan tidur. Kalian senantiasa berada dalam salat selama kalian menunggunya.”’ Anas berkata, ‘Seakan-akan aku melihat kilauan cincin beliau.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ , عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَقَالَ احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَكَلَّمَ أَهْلَهُ فَرَفَعُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ وَقَالَ إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ أَوْ مِنْ أَمْثَلِ دَوَائِكُمْ

Humaid telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, “Anas ditanya tentang penghasilan juru bekam. Ia menjawab, ‘Rasulullah ﷺ berbekam, dan Abu Thaybah membekam beliau. Beliau memerintahkannya diberi dua sha‘ makanan, lalu berbicara kepada keluarganya, sehingga mereka mengurangi beban kharaj yang harus dibayarnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam, atau termasuk obat kalian yang paling baik.”’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ قَدِمَ عَلَيْنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فَآخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ وَكَانَ كَثِيرَ الْمَالِ قَالَ فَقَالَ سَعْدٌ قَدْ عَلِمَ الْأَنْصَارُ أَنِّي مِنْ أَكْثَرِهَا مَالًا فَسَأَقْسِمُ مَالِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ شَطْرَيْنِ وَلِيَ امْرَأَتَانِ فَانْظُرْ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْكَ حَتَّى أُطَلِّقَهَا حَتَّى إِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ قَالَ فَلَمْ يَرْجِعْ يَوْمَئِذٍ حَتَّى أَفْضَلَ شَيْئًا مِنْ سَمْنٍ وَأَقِطٍ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْيَمْ قَالَ إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ مَا سُقْتَ إِلَيْهَا قَالَ وَزْنُ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Ḥumayd meriwayatkan kepada kami dari Anas, bahwa ia berkata, “Abdurrahman bin Auf datang kepada kami. Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakannya dengan Sa‘d bin ar-Rabi‘, yang memiliki banyak harta. Sa‘d berkata, ‘Kaum Ansar telah mengetahui bahwa aku termasuk orang yang paling banyak hartanya. Maka, akan kubagi hartaku menjadi dua bagian, untukku dan untukmu. Aku memiliki dua orang istri; lihatlah mana di antara keduanya yang paling menarik bagimu, agar aku menceraikannya. Setelah masa idahnya berakhir, engkau dapat menikahinya.’ Abdurrahman bin Auf menjawab, ‘Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan kepadaku pasar.’” Anas berkata, “Hari itu ia pulang membawa sedikit kelebihan berupa samin dan aqith. Tak lama kemudian, ia datang menemui Rasulullah ﷺ dengan bekas warna kuning pada tubuhnya. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, ‘Ada apa?’ Ia menjawab, ‘Aku telah menikahi seorang perempuan dari kaum Ansar.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang engkau berikan sebagai mahar kepadanya?’ Ia menjawab, ‘Emas seberat biji kurma,’ atau, ‘Satu biji kurma dari emas.’ Nabi ﷺ lalu bersabda kepadanya, ‘Adakanlah walimah, meskipun hanya dengan seekor kambing.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ بَنِي سَلِمَةَ أَرَادُوا أَنْ يَتَقَرَّبُوا إِلَى الْمَسْجِدِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَرِهَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُعَرَّى الْمَدِينَةُ فَقَالَ يَا بَنِي سَلِمَةَ أَلَا تَحْتَسِبُونَ آثَارَكُمْ

Ḥumayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Bani Salimah ingin mendekat ke masjid. Hal itu disampaikan kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, tetapi beliau tidak menyukai jika Madinah menjadi sepi. Beliau bersabda, “Wahai Bani Salimah, tidakkah kalian mengharapkan pahala dari langkah-langkah kalian?”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ يَسُوقُ بَدَنَةً وَقَدْ بَلَغَ مِنْهُ فَقَالَ ارْكَبْهَا قَالَ إِنَّهَا بَدَنَةٌ قَالَ ارْكَبْهَا

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ melewati seorang lelaki yang sedang menuntun seekor unta kurban, sementara lelaki itu telah kelelahan. Beliau bersabda, “Naikilah unta itu.” Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya unta itu adalah unta kurban.” Beliau bersabda, “Naikilah unta itu.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ ثَمَرِ النَّخْلِ حَتَّى تَزْهُوَ قُلْنَا لِأَنَسٍ مَا زَهْوُهَا قَالَ تَحْمَرُّ وَتَصْفَرُّ قَالَ وَقَالَ أَنَسٌ أَرَأَيْتَ إِنْ مَنَعَ الثَّمَرَةَ بِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ

Telah menceritakan kepada kami Humayd, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ melarang menjual buah kurma sampai mulai matang. Kami bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud dengan mulai matang?” Ia menjawab, “Buah itu memerah dan menguning.” Anas juga berkata, “Bagaimana menurutmu, jika buah itu gagal, dengan dasar apa engkau menghalalkan harta saudaramu?”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى شَيْخٍ يَتَهَادَى عَلَى ابْنَيْهِ فَقَالَ مَا شَأْنُ هَذَا الشَّيْخِ فَقَالُوا إِنَّهُ نَذَرَ فَقَالَ مَا أَغْنَى اللَّهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يَرْكَبَ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Nabi ﷺ melewati seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bertumpu pada kedua putranya. Beliau bertanya, “Ada apa dengan lelaki tua ini?” Mereka menjawab, “Ia telah bernazar.” Beliau bersabda, “Allah tidak membutuhkan lelaki ini menyiksa dirinya.” Lalu beliau memerintahkannya untuk menaiki kendaraan.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ أَوِ الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ قَالَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْصَرَفَ فَجَلَسَ فَقَالَ مَنِ الْمُتَكَلِّمُ آنِفًا فَسَكَتَ النَّاسُ فَقَالَ مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا فَقَالَ الرَّجُلُ أَنَا أَقْبَلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُسْرِعًا حَتَّى قُمْتُ فَوَجَدْتُ جَهْدًا فَقُلْتُ ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُهَا ابْتَدَرَهَا اثْنَا عَشَرَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَلْيَمْشِ رُوَيْدًا عَلَى هِينَتِهِ فَلْيُصَلِّ مَا أَدْرَكَ وَلْيَقْضِ مَا سَبَقَهُ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, bahwa Nabi ﷺ sedang salat, lalu mendengar seseorang mengucapkan, “Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah,” atau, “Segala puji bagi Allah, banyak, baik, dan penuh berkah.” Anas berkata, “Rasulullah ﷺ menyelesaikan salat, lalu berbalik dan duduk. Beliau bertanya, ‘Siapa yang tadi berbicara?’ Orang-orang terdiam. Beliau bertanya lagi, ‘Siapa yang berbicara? Sungguh, ia tidak mengucapkan sesuatu yang buruk.’ Orang itu berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah. Saya datang dengan tergesa-gesa hingga berdiri, lalu merasakan kepayahan, maka saya mengucapkan itu.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sungguh, aku melihat dua belas malaikat berlomba-lomba untuk mengangkatnya, siapa di antara mereka yang akan mengangkatnya.’ Apabila salah seorang dari kalian datang untuk salat, hendaklah ia berjalan perlahan dan tenang. Lalu, hendaklah ia salat pada bagian yang sempat didapatinya, dan menyempurnakan bagian yang telah terlewat darinya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى رَجُلٍ يَعُودُهُ وَقَدْ نَهَكَهُ الْمَرَضُ فَقَالَ مَا كُنْتَ تَدْعُو اللَّهَ بِهِ قَالَ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي فِي الْآخِرَةِ فَعَجِّلْنِيهُ فِي الدُّنْيَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّكَ لَنْ تُطِيقَ ذَاكَ أَوَلَا قُلْتَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ قَالَ وَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُفِيَ

Ḥumayd telah meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Nabi ﷺ menjenguk seorang laki-laki yang sedang sakit, sementara penyakit itu telah membuatnya sangat lemah. Beliau bertanya, “Doa apa yang biasa engkau panjatkan kepada Allah?” Laki-laki itu menjawab, “Aku biasa berkata, ‘Ya Allah, hukuman apa pun yang akan Engkau timpakan kepadaku di akhirat, segerakanlah bagiku di dunia.’” Nabi ﷺ bersabda, “Mahasuci Allah! Sungguh, engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Mengapa engkau tidak mengucapkan, ‘Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka’?” Perawi berkata, “Rasulullah ﷺ lalu mendoakannya, maka ia pun sembuh.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مُرَّ بِجِنَازَةٍ فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ ثُمَّ أُتِيَ بَعْدَهَا بِأُخْرَى فَأَثْنَى النَّاسُ عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ قَالَ فَقَالَ بَعْضُ النَّاسِ فِي قَوْلِهِ فَقَالَ إِنَّكُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي أَرْضِهِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ ثنا هُشَيْمٌ عَنْ حُمَيْدٍ يَعْنِي بِهَذَا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, ia berkata, “Sebuah jenazah lewat, lalu orang-orang memujinya dengan kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wajib baginya.’ Kemudian setelah itu didatangkan jenazah lain, lalu orang-orang menyebutnya dengan keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wajib baginya.’” Anas berkata, “Sebagian orang bertanya tentang sabda beliau, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi-Nya.’” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Humaid, dengan maksud hadis ini.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَالَ فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ

Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami, Isma‘il telah menceritakan kepada kami, Humaid telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempekerjakannya.” Lalu ditanyakan, “Bagaimana Dia mempekerjakannya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dia memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum ia meninggal.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لِيُخْبِرَ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ إِنِّي خَرَجْتُ أُخْبِرُكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التِّسْعِ وَالسَّبْعِ وَالْخَمْسِ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata, “Ubadah bin ash-Shamit memberitahuku bahwa Nabi ﷺ keluar untuk memberitahukan tentang Lailatulqadar. Lalu, dua orang Muslim saling berbantah. Beliau bersabda, ‘Aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang Lailatulqadar, tetapi si fulan dan si fulan saling berbantah, sehingga pengetahuan tentangnya diangkat. Barangkali hal itu lebih baik bagi kalian. Maka, carilah Lailatulqadar pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ آخِرُ صَلَاةٍ صَلَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الْقَوْمِ صَلَّى فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُتَوَشِّحًا بِهِ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ

Ḥumaid telah menceritakan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Salat terakhir yang dikerjakan Rasulullah ﷺ bersama orang-orang ialah salat dengan mengenakan satu helai kain, disampirkan pada tubuh beliau, di belakang Abu Bakar.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أُمَّ حَارِثَةَ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ هَلَكَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ أَصَابَهُ سَهْمُ غَرْبٌ فَقَتَلَهُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْتَ مَوْقِعَ حَارِثَةَ مِنْ قَلْبِي فَإِنْ كَانَ فِي الْجَنَّةِ لَمْ أَبِكِ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَسَوْفَ تَرَى مَا أَصْنَعُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَبِلْتِ أَوَ جَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ وَإِنَّهُ لَفِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى

Humaid telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa Ummu Haritsah datang menemui Rasulullah ﷺ setelah Haritsah gugur pada hari Perang Badar. Ia terkena anak panah nyasar yang membunuhnya. Ummu Haritsah berkata, “Wahai Rasulullah, engkau mengetahui betapa besar kedudukan Haritsah di hatiku. Jika ia berada di surga, aku tidak akan menangisinya. Namun, jika tidak, engkau akan melihat apa yang akan kulakukan.” Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Celaka engkau! Apakah surga hanya satu? Sesungguhnya surga-surga itu banyak, dan ia benar-benar berada di Firdaus yang tertinggi.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَلَمَّا أَصْبَحْنَا مِنَ الْغَدِ أَمَرَ حِينَ شَقَّ الْفَجْرُ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ فَصَلَّى فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ أَخَّرَهَا حَتَّى أَسْفَرَ ثُمَّ أَمَرَ فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّى لَنَا ثُمَّ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ مَا بَيْنَ هَاتَيْنِ وَقْتٌ

Telah menceritakan kepada kami Ḥumayd, dari Anas, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya kepada beliau tentang waktu salat Subuh. Ketika pagi hari berikutnya tiba, beliau memerintahkan agar salat didirikan saat fajar mulai merekah, lalu beliau salat. Pada hari berikutnya, beliau menundanya hingga hari mulai terang, kemudian beliau memerintahkan agar salat didirikan dan beliau salat bersama kami. Setelah itu beliau bersabda, “Di mana orang yang bertanya tentang waktu salat? Rentang antara kedua waktu ini adalah waktu salat.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي غَدَاةٍ قَرَّةٍ وَالْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ يَحْفِرُونَ الْخَنْدَقَ فَقَالَ حِينَ رَآهُمْ إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الْآخِرَةِ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةِ فَأَجَابُوهُ نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدًا

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Nabi ﷺ keluar pada suatu pagi yang dingin, sementara kaum Muhajirin dan Ansar sedang menggali parit. Ketika melihat mereka, beliau bersabda, “Sesungguhnya kebaikan yang sejati adalah kebaikan akhirat. Maka ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin.” Mereka pun menjawab, “Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk berjihad selama kami masih hidup, selamanya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ سَارَ إِلَى بَدْرٍ فَجَعَلَ يَسْتَشِيرُ النَّاسَ فَأَشَارَ عَلَيْهِ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ اسْتَشَارَهُمْ فَأَشَارَ عَلَيْهِ عُمَرُ فَجَعَلَ يَسْتَشِيرُ فَقَالَ الْأَنْصَارُ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا يُرِيدُ غَيْرَكُمْ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ أَرَاكَ تَسْتَشِيرُ وَيُشِيرُونَ عَلَيْكَ وَلَا نَقُولُ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا وَلَكِنْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَوْ ضَرَبْتَ أَكْنَافَهَا حَتَّى تَبْلُغَ بَرْكَ الْغِمَادِ لَكِنَّا مَعَكَ

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Pada hari Nabi ﷺ berangkat menuju Badar, beliau mulai meminta pendapat orang-orang. Abu Bakar pun menyampaikan pendapatnya. Kemudian beliau kembali meminta pendapat mereka, lalu Umar menyampaikan pendapatnya. Beliau terus meminta pendapat, hingga kaum Ansar berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya beliau menghendaki kalian.’ Seorang laki-laki dari kalangan Ansar berkata kepada beliau, ‘Aku melihat engkau meminta pendapat, dan mereka menyampaikan pendapat kepadamu. Kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kalian berdua.” Akan tetapi, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau memacu tungganganmu melintasi seluruh penjuru negeri hingga mencapai Bark al-Ghimad, niscaya kami akan tetap bersamamu.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يُغِرْ بِنَا عَلَيْهِمْ حَتَّى يُصْبِحَ فَيَنْظُرَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ قَالَ فَخَرَجْنَا إِلَى خَيْبَرَ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ لَيْلًا فَلَمَّا أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا رَكِبَ وَرَكِبْتُ خَلْفَ أَبِي طَلْحَةَ وَإِنَّ قَدَمَيَّ لَتَمَسُّ قَدَمَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَخَرَجُوا عَلَيْنَا بِمَكَاتِلِهِمْ وَمَسَاحِيهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا مُحَمَّدٌ وَاللَّهِ مُحَمَّدٌ وَالْخُمَيْسُ قَالَ فَلَمَّا رَآهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Nabi ﷺ, apabila hendak menyerang suatu kaum, tidak menyerbu mereka bersama kami hingga pagi tiba dan beliau melihat keadaan. Jika beliau mendengar azan, beliau menahan diri dari mereka; jika tidak mendengar azan, beliau menyerbu mereka. Anas berkata, “Kami berangkat menuju Khaibar dan tiba di sana pada malam hari. Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ tidak mendengar azan, lalu beliau naik kendaraan. Aku pun naik di belakang Abu Talhah, hingga kedua kakiku menyentuh kaki Nabi ﷺ.” Anas berkata, “Mereka keluar menyambut kami dengan keranjang-keranjang dan cangkul-cangkul mereka. Ketika melihat Nabi ﷺ, mereka berkata, ‘Muhammad! Demi Allah, Muhammad dan pasukan!’” Anas berkata, “Ketika Nabi ﷺ melihat mereka, beliau bersabda, ‘Allah Maha Besar, Allah Maha Besar! Khaibar telah binasa! Sesungguhnya, apabila kita turun di halaman suatu kaum, maka betapa buruk pagi orang-orang yang telah diperingatkan.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ صَائِمُنَا وَأَفْطَرَ مُفْطِرُنَا فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Humaid telah menceritakan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Kami bepergian bersama Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadan. Sebagian dari kami berpuasa dan sebagian lainnya berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ apabila pulang dari perjalanan lalu melihat tembok-tembok Madinah, beliau mempercepat laju tunggangannya. Jika beliau sedang menunggang hewan, beliau menggerakkannya karena cintanya kepada Madinah.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ مَا صَلَّيْتُ مَعَ أَحَدٍ أَوْجَزَ وَلَا أَكْمَلَ صَلَاةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata, “Aku tidak pernah salat bersama siapa pun yang salatnya lebih ringkas dan lebih sempurna daripada salat Rasulullah ﷺ.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ مِنْ عُرَيْنَةَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ خَرَجْتُمْ إِلَى ذَوْدِنَا فَكُنْتُمْ فِيهَا فَشَرِبْتُمْ مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَفَعَلُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَامُوا إِلَى رَاعِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَتَلُوهُ وَرَجَعُوا كُفَّارًا وَاسْتَاقُوا ذَوْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ فِي طَلَبِهِمْ فَأُتِيَ بِهِمْ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ قَالَ عَلِيٌّ عُرَيْنَةُ حَيٌّ مِنْ أَحْيَاءِ الْيَمَنِ وَعُرَنَةُ مَوْضِعٌ بِمَكَّةَ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa beberapa orang dari ‘Urainah datang menemui Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka, “Seandainya kalian pergi ke tempat kawanan unta kami, lalu tinggal bersama unta-unta itu dan meminum susu serta air kencingnya.” Mereka pun melakukannya. Setelah sembuh, mereka bangkit menyerang penggembala Rasulullah ﷺ dan membunuhnya. Mereka kembali dalam keadaan kafir serta menggiring pergi kawanan unta Rasulullah ﷺ. Beliau lalu mengutus orang untuk mencari mereka, kemudian mereka pun dibawa ke hadapan beliau. Beliau memotong tangan dan kaki mereka serta mencungkil mata mereka. Ali berkata, “‘Urainah adalah salah satu kabilah di antara kabilah-kabilah Yaman, sedangkan ‘Urānah adalah sebuah tempat di Mekah.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا هَبَّتِ الرِّيحُ عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa apabila angin bertiup, hal itu tampak pada wajah Nabi ﷺ.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ نَزَلَ بِهِ وَلَكِنْ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Ḥumayd meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Namun, hendaklah ia berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku.”’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَفِتْنَةِ الْمَسِيحِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, usia lanjut, sifat pengecut, fitnah al-Masih, dan azab kubur.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى قِيَامُ السَّاعَةِ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ قِيَامِ السَّاعَةِ قَالَ أَنَا ذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا كَبِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا رَأَيْتُ الْمُسْلِمِينَ فَرِحُوا بِشَيْءٍ بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ كَفَرَحِهِمْ بِهَا

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kapankah kiamat akan terjadi?’ Nabi ﷺ lalu berdiri untuk melaksanakan salat. Setelah selesai salat, beliau bertanya, ‘Di manakah orang yang bertanya tentang terjadinya kiamat?’ Orang itu menjawab, ‘Saya di sini, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak menyiapkan banyak salat ataupun puasa untuk menghadapinya, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’ Anas berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kaum Muslimin bergembira karena sesuatu setelah mereka memeluk Islam sebagaimana kegembiraan mereka karena hal itu.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحْمِلُهُ وَهُوَ كَالْمَشْغُولِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَا أَحْمِلُكَ وَاللَّهِ لَا أَحْمِلُكَ قَالَ فَلَمَّا تَوَلَّى أَبُو مُوسَى دَعَاهُ لِيَحْمِلَهُ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ حَلَفْتَ أَلَّا تَحْمِلَنِي قَالَ وَاللَّهِ لَأَحْمِلَنَّكَ وَاللَّهِ لَأَحْمِلَنَّكَ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Abu Musa al-Asy‘ari datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta beliau memberinya tunggangan, sementara beliau sedang tampak sibuk. Nabi ﷺ bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan memberimu tunggangan. Demi Allah, aku tidak akan memberimu tunggangan.” Anas berkata, “Ketika Abu Musa beranjak pergi, beliau memanggilnya agar memberinya tunggangan.” Abu Musa berkata, “Wahai Nabi Allah, bukankah engkau telah bersumpah bahwa engkau tidak akan memberiku tunggangan?” Beliau menjawab, “Demi Allah, sungguh aku akan memberimu tunggangan. Demi Allah, sungguh aku akan memberimu tunggangan.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُوتُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَنَّ لَهُ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا إِلَّا الشَّهِيدُ؛ لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ فَإِنَّهُ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ مَرَّةً أُخْرَى

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada seorang hamba pun yang meninggal dunia dengan memperoleh kebaikan di sisi Allah lalu ingin kembali ke dunia, sekalipun dunia dan segala isinya menjadi miliknya, kecuali orang yang mati syahid. Karena ia melihat keutamaan syahid, ia pun ingin kembali ke dunia lalu terbunuh sekali lagi.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ آتِكُمْ وَأَنْتُمْ ضُلَّالٌ فَهَدَاكُمُ اللَّهُ بِي فَقَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَوَلَمْ آتِكُمْ وَأَنْتُمْ مُتَفَرِّقُونَ فَجَمَعَكُمُ اللَّهُ بِي قَالُوا بَلَى قَالَ أَوَلَمْ آتِكُمْ وَأَنْتُمْ أَعْدَاءٌ فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَكُمْ بِي قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا تَقُولُونَ أَفَلَمْ تَأْتِنَا خَائِفًا فَأَمَّنَّاكَ وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ فَقَالَ الْأَنْصَارُ بَلْ لِلَّهِ الْمَنُّ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Wahai kaum Ansar, bukankah aku datang kepada kalian ketika kalian tersesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk melalui aku?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bukankah aku datang kepada kalian ketika kalian tercerai-berai, lalu Allah mempersatukan kalian melalui aku?” Mereka menjawab, “Benar.” Beliau bersabda, “Bukankah aku datang kepada kalian ketika kalian saling bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati kalian melalui aku?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak mengatakan, ‘Bukankah engkau datang kepada kami dalam keadaan takut, lalu kami memberi engkau keamanan; dalam keadaan terusir, lalu kami melindungimu; dan dalam keadaan tidak mendapat pertolongan, lalu kami menolongmu?’” Kaum Ansar menjawab, “Bahkan, karunia itu milik Allah dan Rasul-Nya ﷺ.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ عَنْ خِضَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الشَّيْبِ مَا يُخْضَبُ

Humaid telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, “Anas ditanya tentang semir rambut Nabi ﷺ. Ia menjawab, ‘Pada beliau tidak terdapat uban yang cukup untuk disemir.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي أَبَا طَلْحَةَ كَثِيرًا فَجَاءَهُ يَوْمًا وَقَدْ مَاتَ نُغِيرٌ لِابْنِهِ فَوَجَدَهُ حَزِينًا مُكْتَئِبًا فَسَأَلَهُمْ عَنْهُ فَأَخْبَرُوهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa ia berkata, “Rasulullah saw. sering mengunjungi Abu Ṭalḥah. Suatu hari beliau datang ketika burung kecil milik putranya telah mati. Beliau mendapati Abu Ṭalḥah bersedih dan berduka. Beliau pun menanyakan hal itu kepada mereka, lalu mereka memberitahukan kepadanya.” Anas berkata, “Rasulullah saw. kemudian bersabda, ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang terjadi dengan burung kecil itu?’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ عُمَرَ أُتِيَ بِشَابٍّ قَدْ حَلَّ عَلَيْهِ الْقَطْعُ فَأَمَرَ بِقَطْعِهِ قَالَ فَجَعَلَ يَقُولُ يَا وَيْلَهُ مَا سَرَقَتُ سَرَقَةً قَطُّ قَبْلَهَا فَقَالَ عُمَرُ كَذَبْتَ وَرَبِّ عُمَرَ مَا أَسْلَمَ اللَّهُ عَبْدًا عِنْدَ أَوَّلِ ذَنْبٍ

Ḥumayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa seorang pemuda yang telah wajib dijatuhi hukuman potong tangan dibawa kepada Umar. Umar pun memerintahkan agar tangannya dipotong. Anas berkata, “Pemuda itu terus berkata, ‘Celakalah aku! Aku belum pernah mencuri sebelumnya.’” Umar berkata, “Engkau berdusta, demi Tuhan Umar! Allah tidak membiarkan seorang hamba begitu saja pada dosa pertamanya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَبُو بَكْرٍ يَخْضِبُ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ وَكَانَ عُمَرُ يَخْضِبُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, ia berkata, “Abu Bakar biasa menyemir rambut dengan hinna dan katam, sedangkan Umar biasa menyemir rambut dengan hinna saja.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَعَثَ مَعِي أَبُو مُوسَى بِالْهُرْمُزَانِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَكَانَ نَزَلَ عَلَى حُكْمِهِ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْتُ بِهِ قَالَ فَجَعَلَ عُمَرُ يُكَلِّمُهُ فَجَعَلَ لَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ الْهُرْمُزَانُ الْكَلَامَ قَالَ فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ لَا تَكَلَّمُ فَقَالَ أَكَلَامُ حَيٍّ أَمْ كَلَامُ مَيِّتٍ قَالَ تَكَلَّمْ لَا بَأْسَ قَالَ كُنَّا وَأَنْتُمْ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ مَا خَلَّى اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ نَسْتَعْبِدُكُمْ وَنُقْصِيكُمْ فَلَمَّا كَانَ اللَّهُ مَعَكُمْ لَمْ يَكُنْ لَنَا بِكُمْ يَدَانِ قَالَ ثُمَّ كَانَ عُمَرُ أَرَادَ قَتْلَهُ فَقَالَ فَقُلْتُ لَيْسَ إِلَى قَتْلِهِ سَبِيلٌ قَدْ قُلْتَ لَهُ تَكَلَّمْ فَلَا بَأْسَ فَقَالَ لَتَأْتِيَنَّ مَعَكَ بِشَاهِدٍ آخِرَ أَوْ لَأَبْدَأَنَّ بِعُقُوبَتِكَ قَالَ فَخَرَجْتُ مِنْ عِنْدِهِ فَلَقِيتُ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ فَوَجَدْتُهُ قَدْ حَفِظَ مِثْلَ مَا حَفِظْتُ قَالَ فَأَتَاهُ فَشَهِدَ عَلَى مِثْلِ الَّذِي شَهِدْتُ بِهِ فَتَرَكَهُ فَأَسْلَمَ وَفَرَضَ لَهُ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Abu Musa mengutusku membawa al-Hurmuzan kepada Umar bin al-Khattab. Al-Hurmuzan telah menyerah untuk diadili berdasarkan keputusan Umar.” Anas berkata, “Ketika aku membawanya tiba, Umar mulai berbicara dengannya, tetapi al-Hurmuzan tidak menjawab sepatah kata pun. Umar lalu berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak berbicara?’ Ia menjawab, ‘Apakah ini perkataan orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati?’ Umar berkata, ‘Berbicaralah, tidak apa-apa.’ Ia berkata, ‘Dahulu, selama Allah tidak menghalangi kami dari kalian, wahai bangsa Arab, kami memperbudak dan mengusir kalian. Namun, ketika Allah berpihak kepada kalian, kami tak berdaya menghadapi kalian.’ Kemudian Umar hendak membunuhnya. Aku berkata, ‘Tidak ada alasan untuk membunuhnya. Engkau telah berkata kepadanya, “Berbicaralah, tidak apa-apa.”’ Umar berkata, ‘Engkau harus mendatangkan seorang saksi lain bersamamu; kalau tidak, aku akan mulai menghukummu.’ Aku pun keluar dari hadapannya, lalu bertemu dengan az-Zubair bin al-Awwam. Ternyata ia mengingat hal yang sama seperti yang kuingat. Ia lalu menghadap Umar dan bersaksi sebagaimana kesaksianku. Umar pun membiarkan al-Hurmuzan; kemudian ia masuk Islam dan Umar menetapkan tunjangan untuknya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمْ أَنَّهُ قَامَ يُصَلِّي إِلَى قَبْرٍ وَلَا يَشْعُرُ بِهِ فَنَادَاهُ عُمَرُ فَقَالَ الْقَبْرَ قَالَ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَقُولُ الْقَمَرَ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَقَالَ لِي رَجُلٌ إِنَّهُ يَقُولُ الْقَبْرَ فَتَنَحَّيْتُ

Ḥumayd meriwayatkan kepada kami bahwa Anas menceritakan kepada mereka bahwa ia berdiri untuk salat menghadap sebuah kuburan tanpa menyadarinya. Lalu Umar memanggilnya dan berkata, “Kuburan!” Anas berkata, “Aku mengira ia mengatakan ‘bulan’, maka aku mengangkat kepalaku. Seorang laki-laki berkata kepadaku, ‘Ia mengatakan kuburan.’ Maka aku pun menyingkir.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Humaid telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa ia berkata, “Aku salat bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka memulai salat dengan membaca, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا خَطَبَ فَأَكْثَرَ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُطَبِ مِنْ شَقَاشِقِ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa seorang laki-laki berkhutbah dan berbicara panjang lebar. Umar berkata, “Sesungguhnya banyak khutbah termasuk ocehan setan.”

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ قَالَ خَطَبَ الْحَجَّاجُ يَوْمًا فَأَطَالَ فَوَضَعَ ابْنُ عُمَرَ رَأْسَهُ فِي حِجْرِي قَالَ فَقَالَ الْحَجَّاجُ إِنَّ ابْنَ الزُّبَيْرِ بَدَّلَ كِتَابَ اللَّهِ قَالَ فَرَفَعَ ابْنُ عُمَرَ رَأْسَهُ فَقَالَ لَنْ يَسْتَطِيعَ ذَاكَ ابْنُ الزُّبَيْرِ وَلَا أَنْتَ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ قَالَ فَقَالَ الْحَجَّاجُ لَقَدْ أُوتِيتَ عِلْمًا إِنْ نَفَعَكَ قَالَ فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ سَكَتَ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Nafi‘, ia berkata: “Pada suatu hari, al-Hajjaj berkhutbah dan berpanjang-panjang dalam khutbahnya. Lalu Ibnu Umar meletakkan kepalanya di pangkuanku.” Ia berkata, “Kemudian al-Hajjaj berkata, ‘Sesungguhnya Ibnu az-Zubair telah mengubah Kitab Allah.’” Ia berkata, “Lalu Ibnu Umar mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Ibnu az-Zubair tidak akan mampu melakukan itu, begitu pula engkau. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah.’” Ia berkata, “Kemudian al-Hajjaj berkata, ‘Sungguh, engkau telah diberi ilmu; semoga ilmu itu bermanfaat bagimu.’” Ia berkata, “Ketika ia mulai menyerangnya secara pribadi, ia pun diam.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى أَهْلِهِ لِحَاجَةٍ فَإِذَا فِي مَنْزِلِهِ امْرَأَةٌ عَلَيْهَا جِلْبَابٌ مُتَقَنِّعَةٌ بِهِ قَالَ فَرَجَعَ حِينَ رَآهَا قَالَ ثُمَّ عَادَ فَوَجَدَهَا لَمْ تَبْرَحْ ثُمَّ عَادَ فَوَجَدَهَا قَدْ ذَهَبَتْ فَلَمَّا دَخَلَ قَالَ لِأَهْلِهِ مَنْ هَذِهِ الَّتِي قَدْ عَنَّتْنَا مُنْذُ الْيَوْمِ فَقَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْهَا هِيَ أَمَةُ فُلَانٍ قَالَ فَلَمَّا رَاحَ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَشَبَّهِ الْأَمَةُ بِسَيِّدَتِهَا

Ali telah meriwayatkan kepada kami, Ismail telah meriwayatkan kepada kami, Humaid meriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata, “Umar bin al-Khattab datang ke rumah keluarganya karena suatu keperluan. Ternyata di rumahnya ada seorang perempuan yang mengenakan jilbab dan menutupkan jilbab itu ke kepalanya.” Anas berkata, “Ketika melihatnya, Umar kembali. Kemudian ia datang lagi dan mendapati perempuan itu belum beranjak. Lalu ia datang lagi dan mendapati perempuan itu telah pergi. Setelah masuk, ia berkata kepada keluarganya, ‘Siapakah perempuan yang sejak tadi membuat kita terganggu itu?’ Istrinya menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa urusanmu dengannya? Ia adalah budak si Fulan.’” Anas berkata, “Ketika berangkat pada sore hari, Umar berkata, ‘Wahai sekalian manusia, janganlah seorang budak perempuan menyerupai majikannya.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ مُوسَى بْنَ أَنَسٍ حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ سَأَلَهُ كَيْفَ تَصْنَعُونَ إِذَا حَاصَرْتُمْ حُصُونَ الْعَدُوِّ قَالَ قُلْتُ نُحَاصِرُهُمْ ثُمَّ نَبْعَثُ رِجَالًا فَيَحْفِرُونَ أَسَاسَهُ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ رُمِيَ رَجُلٌ بِحَجَرٍ فَأَصَابَهُ أَيَقْتُلُهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَا أُحِبُّ أَنْ تَفْتَحُوا حِصْنًا فِيهِ أَرْبَعَةُ آلَافِ مُقَاتِلٍ بِدَمِ رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُقْتَلُ ضَيَاعًا

Humayd telah meriwayatkan kepada kami bahwa Musa bin Anas menyampaikan kepada mereka dari ayahnya, bahwa Umar bertanya kepadanya, “Apa yang kalian lakukan ketika mengepung benteng-benteng musuh?” Ia menjawab, “Aku berkata, ‘Kami mengepung mereka, kemudian mengirim beberapa orang untuk menggali fondasinya.’” Umar bertanya, “Bagaimana menurutmu, jika seseorang dilempari batu lalu batu itu mengenainya, apakah ia akan terbunuh?” Ia menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Aku tidak suka kalian menaklukkan sebuah benteng yang di dalamnya terdapat empat ribu pejuang dengan mengorbankan nyawa seorang Muslim yang terbunuh sia-sia.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ سَارِقًا أُتِيَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ فَدَعَى بِالْمِقْدَارِ فَقَدَّرَهُ فَوَجَدَهُ قَدْ نَقَصَ أُنْمُلَةً فَتَرَكَهُ قَالَ فَسُمِّيَ الْغُلَامُ بَعْدَ ذَلِكَ بِمُثْلَةٍ

Humayd telah menceritakan kepada kami, dari Anas, bahwa seorang pencuri dibawa kepada Abu Bakr. Ia berkata, lalu Abu Bakr meminta alat ukur dan mengukur barang itu. Ia mendapati bahwa ukurannya kurang satu ruas jari, maka ia membiarkannya. Ia berkata, setelah itu anak tersebut dinamai Mithlah.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ إِذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الثَّيِّبَ وَعِنْدَهُ غَيْرُهَا فَلَهَا سَبْعُ لَيَالٍ ثُمَّ يَقْسِمُ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, ia berkata, “Apabila seorang laki-laki menikahi perempuan yang pernah menikah, sementara ia memiliki istri lain selain perempuan itu, maka perempuan tersebut mendapat jatah tujuh malam, kemudian ia membagi giliran.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ ثَلَاثٌ مِنْ كُنَّ فِي قَلْبِهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِسْلَامِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari Anas, ia berkata, “Ada tiga perkara yang apabila dimiliki seseorang dalam hatinya, ia akan merasakan manisnya Islam: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya; ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan ia tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ هَلْ يُقْطَعُ السَّارِقُ فِي أَدْنَى مِنْ دِينَارٍ فَقَالَ لَقَدْ قَطَعَ أَبُو بَكْرٍ فِي شَيْءٍ مَا يَسُرُّنِي أَنَّهُ لِي بِثَلَاثَةِ دَرَاهِمَ

Ḥumaid menuturkan kepada kami, ia berkata, “Anas ditanya, ‘Apakah tangan pencuri dipotong jika barang curiannya kurang dari satu dinar?’ Ia menjawab, ‘Sungguh, Abu Bakar pernah memotong tangan pencuri karena sesuatu yang aku tidak ingin memilikinya sekalipun seharga tiga dirham.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ تَوَضَّأَ أَنَسٌ وَنَحْنُ عِنْدَهُ قَالَ فَمَسَحَ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ وَظَاهِرَهُمَا فَلَمَّا رَأَى شِدَّةَ نَظَرِنَا إِلَيْهِ قَالَ إِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يَأْمُرُ بِالْأُذُنَيْنِ

Humayd menuturkan kepada kami, ia berkata, “Anas berwudu saat kami berada di dekatnya. Ia mengusap bagian dalam dan luar kedua telinganya. Ketika melihat kami menatapnya dengan saksama, ia berkata, ‘Sesungguhnya Ibn Mas‘ud biasa memerintahkan agar kedua telinga diusap.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يُسْأَلُ عَنِ الْمُتَطَوِّعِ فِي الصَّوْمِ فَقَالَ هُوَ بِالْخِيَارِ حَتَّى يَمْتَدَّ بِالنَّهَارِ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ بِهِ

Humayd telah menyampaikan kepada kami. Ia berkata, “Aku mendengar Anas ditanya tentang orang yang berpuasa sunah. Ia menjawab, ‘Ia memiliki pilihan hingga siang telah beranjak jauh, selama ia belum mengucapkannya.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسًا سُئِلَ عَنِ الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَمْ بَعْدَهُ فَقَالَ كُلًّا كُنَّا نَفْعَلُ بَعْدُ وَقَبْلُ

Humayd telah menceritakan kepada kami bahwa Anas ditanya tentang qunut dalam salat Subuh, apakah sebelum rukuk atau sesudahnya. Ia menjawab, “Kami dahulu melakukan keduanya, sesudah maupun sebelum (rukuk).”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ فَقَالَ أَنَسٌ مَا كُنَّا نَخْشَى عَلَيْهِ إِلَّا الْجَهْدَ

Ḥumayd telah menceritakan kepada kami bahwa Anas bin Malik berkata, “Ia ditanya tentang seorang laki-laki yang berbekam ketika sedang berpuasa. Anas menjawab, ‘Kami tidak mengkhawatirkan apa pun yang menimpanya selain keletihan.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ قَدِمْنَا مَعَ أَبِي مُوسَى أَمِيرًا عَلَى الْبَصْرَةِ فَصَلَّى بِالْمِرْبَدِ صَلَاةَ الْغَدَاةِ قَالَ ثُمَّ انْتَهَيْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَقَدْ أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَصَلَّيْنَا مَعَ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ

Humayd telah menceritakan kepada kami bahwa Anas bin Malik berkata, “Kami datang bersama Abu Musa yang menjabat sebagai amir di Basra. Ia salat Subuh di al-Mirbad. Kemudian kami menuju masjid, sementara iqamat salat telah dikumandangkan, lalu kami salat bersama al-Mughirah bin Syu‘bah.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ ضَعُفَ عَنْ صَوْمِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَبِرَ عَنْهُ فَأَمَرَ بِمَسَاكِينَ فَأُطْعِمُوا خُبْزًا وَلَحْمًا حَتَّى أُشْبِعُوا قَالَ فَحَدَّثَنِي ابْنُهُ وَأَنَسٌ جَالِسٌ أَنَّ الْمَسَاكِينَ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْأَيَّامِ

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa ia tidak kuat berpuasa pada bulan Ramadan karena telah lanjut usia. Maka ia memerintahkan agar orang-orang miskin didatangkan, lalu mereka diberi makan roti dan daging hingga kenyang. Ia berkata, “Putranya menceritakan kepadaku, sementara Anas sedang duduk, bahwa jumlah orang miskin itu lebih banyak daripada jumlah hari.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ أَنَّهُ قَالَ لَا جَلَبَ وَلَا جَنَبَ وَلَا شِغَارَ فِي الْإِسْلَامِ وَمَنِ انْتَهَبَ نُهْبَةً فَلَيْسَ مِنَّا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari al-Hasan, dari Imran bin al-Husain, bahwa ia berkata, “Tidak ada jalab, janab, maupun syighar dalam Islam. Siapa yang merampas suatu rampasan, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ أَنَّهُ كَانَ فِي حَلْقَةٍ مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ وَهُوَ فِي حَلْقَةٍ فَقَامَ عَلَيْهِ فَذَكَرَ أَنَّهُ أَقْبَلَ حَاجًّا مَعَ أَصْحَابٍ لَهُ وَأَنَّهُ وَجَدَ خَلْوَةً فَوَقَعَ عَلَى امْرَأَتِهِ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَهُ جُبَيْرٌ لَا تَوْبَةَ لَكَ وَلَا كَرَامَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ دَعَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي سَأَلْتَ عَنْهُ فَذَكَرَ لَهُ الَّذِي ذَكَرَ لِجُبَيْرٍ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَتَيْتَ عَظِيمًا وَلَكَ تَوْبَةٌ وَالرَّجُلُ يَبْكِي فَقَالَ إِنْ كَانَ تَوْبَتِي أَنْ آمُرَ بِنَارٍ فَأُؤَجِّجَهَا ثُمَّ أُلْقِي نَفْسِيَ فِيهَا فَعَلْتُ فَقَالَ إِنَّ تَوْبَتَكَ أَيْسَرُ مِنْ ذَلِكَ اقْضِيَا نُسُكَكُمَا وَارْجِعَا إِلَى بَلَدِكُمَا فَإِذَا كَانَ عَامٌ قَابِلٌ فَاخْرُجَا حَاجَّيْنِ فَإِذَا أَحْرَمْتُمَا فَتَفَرَّقَا وَلَا تَلْتَقِيَا حَتَّى تَقْضِيَا نُسُكَكُمَا وَأَهْدِيَا هَدْيًا

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Abu al-Tufayl Amir ibn Watsilah bahwa ia pernah berada dalam sebuah majelis bersama Ibn Abbas. Lalu seorang lelaki mendatangi Jubayr ibn Mut‘im yang sedang berada dalam sebuah majelis, kemudian berdiri di hadapannya. Lelaki itu menceritakan bahwa ia datang untuk berhaji bersama beberapa orang sahabatnya, lalu mendapatkan kesempatan berduaan dan bersetubuh dengan istrinya saat ia sedang berihram. “Apakah aku masih bisa bertobat?” tanyanya. Jubayr menjawab, “Tidak ada tobat bagimu, sama sekali tidak!” Setelah lelaki itu beranjak pergi, Ibn Abbas memanggilnya dan bertanya, “Apa yang tadi kautanyakan?” Lelaki itu pun menceritakan kepadanya apa yang telah ia sampaikan kepada Jubayr. Ibn Abbas berkata, “Engkau telah melakukan dosa besar, tetapi tobat masih terbuka bagimu.” Lelaki itu menangis, lalu berkata, “Jika tobatku harus dengan menyuruh agar api dinyalakan, lalu aku melemparkan diriku ke dalamnya, niscaya akan kulakukan.” Ibn Abbas berkata, “Tobatmu lebih mudah daripada itu. Sempurnakanlah ibadah haji kalian berdua dan pulanglah ke negeri kalian. Jika tahun depan tiba, pergilah berhaji. Setelah kalian berdua berihram, berpisahlah dan jangan bertemu sampai kalian menyempurnakan ibadah haji. Dan sembelihlah kurban hadyu.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّهُ سَأَلَ الْحَسَنَ عَنْ رَجُلٍ وَقَعَ بِامْرَأَتِهِ بَعْدَمَا رَمَى الْجَمْرَةَ وَذَبَحَ وَحَلَقَ وَلَمْ يَطُفْ بِالْبَيْتِ قَالَ يَعُودُ بِحَجٍّ آخَرَ وَذَكَرَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada al-Ḥasan tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya setelah melempar jumrah, menyembelih kurban, dan mencukur rambut, tetapi belum bertawaf mengelilingi Baitullah. Al-Ḥasan menjawab, “Ia harus kembali untuk menunaikan haji yang lain.” Bakr bin ‘Abdullah menyebutkan bahwa Ibn ‘Umar pernah ditanya tentang hal itu dan menjawab seperti itu.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ لِعَلِيٍّ لَمْ يُوجَدْ لِعَلِيٍّ كِتَابٌ إِلَّا الْقُرْآنُ إِلَّا صَحِيفَةٌ فِي قِرْبَةٍ فِيهَا إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَرَمًا وَإِنَّ حَرَمِي الْمَدِينَةُ حَرَّمْتُهَا كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ لَا يُحْمَلُ فِيهَا سِلَاحٌ لِقِتَالٍ مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا فَعَلَى نَفْسِهِ مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ الْمُؤْمِنُونَ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ تَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ لَا يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ وَلَا ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ

Humayd menuturkan kepada kami, dari al-Hasan, bahwa ia berkata kepada Ali: “Tidak ditemukan tulisan milik Ali selain Al-Qur’an, kecuali selembar catatan di dalam kantong kulit. Di dalamnya tertulis: ‘Setiap nabi memiliki tanah suci, dan tanah suciku adalah Madinah. Aku telah menjadikannya suci sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah suci. Senjata tidak boleh dibawa ke dalamnya untuk berperang. Siapa yang melakukan pelanggaran, maka akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang melakukan pelanggaran atau melindungi orang yang melakukannya, atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak akan diterima darinya tebusan maupun pengganti. Kaum mukmin adalah satu tangan terhadap selain mereka; darah mereka setara, dan orang yang paling rendah kedudukannya di antara mereka pun dapat memberikan perlindungan atas nama mereka. Seorang mukmin tidak dibunuh karena membunuh orang kafir, dan orang yang berada dalam perjanjian tidak dibunuh selama perjanjiannya berlaku.’”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ حَلَفَ بِاللَّهِ مَا أُحِلَّتْ مُتْعَةُ النِّسَاءِ لَا قَبْلُ وَلَا بَعْدُ إِلَّا ثَلَاثَ لَيَالٍ فِي عُمْرَةِ الْقَضِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari al-Hasan, bahwa ia bersumpah demi Allah bahwa nikah mut‘ah dengan perempuan tidak pernah dihalalkan, baik sebelum maupun sesudahnya, kecuali selama tiga malam pada Umrah al-Qadha.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ تَجُوزُ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ فِي الِاسْتِهْلَالِ وَأَشْبَاهِهِ مِمَّا لَا يَحْضُرُهُ إِلَّا النِّسَاءُ

Ḥumayd telah meriwayatkan kepada kami dari al-Ḥasan bahwa ia berkata, “Kesaksian seorang perempuan dapat diterima mengenai tangisan bayi saat dilahirkan dan hal-hal sejenis yang hanya dihadiri oleh kaum perempuan.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِنَّهَا لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ سَمْحَةٌ لَا بَارِدَةٌ وَلَا حَارَّةٌ تَطْلُعُ الشَّمْسُ صَبَاحَهَا لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ

Humayd menuturkan kepada kami dari al-Hasan bahwa ia berkata tentang Lailatulqadar: “Malam itu cerah dan nyaman, tidak dingin dan tidak panas. Pada paginya, matahari terbit tanpa pancaran sinar.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ تَوَضَّأُ الْمَرْأَةُ مِنَ التَّرِيَّةِ وَالصُّفْرَةِ ثُمَّ تُصَلِّي

Humaid telah menceritakan kepada kami, dari al-Hasan, bahwa ia berkata, “Seorang perempuan berwudu karena cairan al-tariyya dan cairan kekuningan, kemudian ia salat.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ رَجُلًا أَعْتَقَ سِتَّةَ أَعْبُدٍ لَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ غَيْرُهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا شَدِيدًا ثُمَّ أَقْرَعَ بَيْنَهُمْ فَأَعْتَقَ اثْنَيْنِ وَأَرَقَّ أَرْبَعَةً

Telah menceritakan kepada kami Ḥumaid, dari al-Ḥasan, bahwa seorang laki-laki memerdekakan enam orang hamba sahaya miliknya ketika menjelang wafat, sementara ia tidak memiliki hamba sahaya selain mereka. Rasulullah ﷺ menyampaikan perkataan yang keras, lalu mengundi mereka; beliau memerdekakan dua orang dan membiarkan empat orang tetap menjadi hamba sahaya.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِالْغَيْبِ نَصَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ḥumayd, dari al-Ḥasan, ia berkata, “Barang siapa membela saudaranya saat ia tidak hadir, Allah akan membelanya di dunia dan akhirat.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَجُلٌ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّهُ كَانَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ فَيَجِدُ النَّاسَ قَدْ رَكَعُوا فَيَرْكَعُ مَعَهُمْ ثُمَّ يَدْرُجُ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ ثُمَّ يَعْتَدَّ بِهَا

Humayd telah menyampaikan kepada kami, dari al-Qasim bin Rabi‘ah, dari Abu Bakrah, seorang lelaki yang termasuk sahabat Nabi, bahwa ia biasa keluar dari rumahnya dan mendapati orang-orang telah rukuk. Maka ia pun rukuk bersama mereka, kemudian berjalan dalam keadaan rukuk hingga masuk ke dalam saf, lalu menganggap rukuk itu sebagai satu rakaat.

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا وَهُوَ قَائِمٌ فِي الشَّمْسِ فَقَالَ مَا شَأْنُ هَذَا فَقَالُوا إِنَّهُ نَذَرَ أَنْ يَقُومَ يَوْمَهُ فِي الشَّمْسِ وَيَصُومَهُ وَلَا يَتَكَلَّمَ فَقَالَ مُرُوهُ فَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيَذْكُرْ رَبَّهُ وَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ

Humaid telah meriwayatkan kepada kami dari Bakr bin ‘Abdullah al-Muzani bahwa Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki sedang berdiri di bawah terik matahari. Beliau bertanya, “Ada apa dengan orang ini?” Mereka menjawab, “Ia bernazar untuk berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari, berpuasa, dan tidak berbicara.” Beliau bersabda, “Suruhlah ia berteduh, duduk, dan berzikir kepada Tuhannya, serta menyempurnakan puasanya.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ عَنِ الصَّائِمِ يَحْتَجِمُ فَقَالَ نَعَمْ لَا بَأْسَ بِهِ

Humaid telah menceritakan kepada kami, dari Abu al-Mutawakkil al-Naji, bahwa ia bertanya kepada Abu Sa‘id al-Khudri tentang orang yang berpuasa dan berbekam. Ia menjawab, “Ya, tidak mengapa.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ يَنْكِحُ الْعَبْدُ امْرَأَتَيْنِ لَا يَزِيدُ

Ḥumaid meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Sīrīn bahwa Umar berkata, “Seorang budak boleh menikahi dua perempuan, tidak boleh lebih.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي أَنْ يَمُدَّ عَبْدُهُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ يَسْأَلُهُ خَيْرًا ثُمَّ يَرُدَّهُمَا صِفَرًا

Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Abu Utsman an-Nahdi, dari Salman, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu apabila hamba-Nya mengulurkan kedua tangannya kepada-Nya untuk memohon kebaikan, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُمْ أَصَابُوا آنِيَةً مِنْ فِضَّةِ الْأَهْوَازِ فَبَاعُوهَا بِفَضْلٍ كَثِيرٍ عَلَى وَزْنِهَا فَوَلِيَ ذَلِكَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ قَالَ أَنَسٌ فَقَدِمْتُ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لَا تَفْعَلُوا رُدُّوا الْوَرِقَ وَخُذُوا آنِيَتَكُمْ فَبِيعُوهَا بِالذَّهَبِ ثُمَّ بِيعُوا الذَّهَبَ بِالْوَرِقِ فَكَانَ الَّذِي اشْتَرَوُا الْآنِيَةَ نَاسًا مِنَّا مِنَ الْعُبَّادِ فَأَبَوْا أَنْ يَرُدُّوا عَلَيْنَا الْآنِيَةَ فَرَدَدْنَا عَلَيْهِمْ فَضْلَ مَا بَيْنَ الْوَزْنَيْنِ

Humayd meriwayatkan kepada kami dari Anas bahwa mereka memperoleh bejana-bejana perak dari al-Ahwaz, lalu menjualnya dengan tambahan yang besar di atas timbangannya. Abu Musa al-Asy‘ari menangani urusan itu. Anas berkata, “Aku datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab dan menyampaikan hal itu kepadanya. Ia berkata, ‘Jangan lakukan itu. Kembalikan uang peraknya, ambil bejana-bejana kalian, lalu juallah dengan emas; setelah itu, juallah emas tersebut dengan uang perak.’ Orang-orang yang membeli bejana-bejana itu adalah sebagian dari kalangan kami yang ahli ibadah. Mereka menolak mengembalikan bejana-bejana itu kepada kami, maka kami mengembalikan kepada mereka selisih antara kedua timbangan tersebut.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ حَجَّ هُوَ وَأَهْلُهُ قَالَ فَتَمَتَعُوا قَالَ فَذَبَحَ عَنْ نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ الشَّاةَ وَهُوَ مُوسِرٌ سَخِيُّ النَّفْسِ

Humaid meriwayatkan kepada kami dari al-Hasan bahwa ia berhaji bersama keluarganya. Ia berkata, “Mereka melaksanakan haji tamattu.” Ia berkata, “Lalu ia menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, padahal ia berkecukupan dan berhati dermawan.”

حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ أَنَّهُ سَأَلَ الْحَسَنَ عَنِ امْرَأَةٍ قَدِمَتْ مُعْتَمِرَةً فَطَافَتْ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَوَقَعَ عَلَيْهَا زَوْجُهَا قَبْلَ أَنْ تُقَصِّرَ فَقَالَ لِتُهْدِي هَدْيًا بَعِيرًا أَوْ بَقَرَةً قَالَ حُمَيْدٌ فَذَكَرَ بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهَا لَشَبِقَةٌ قِيلَ إِنَّ الْمَرْأَةَ شَاهِدَةٌ فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ لِتُهْدِي هَدْيًا بَعِيرًا أَوْ بَقَرَةً

Ḥumaid menuturkan bahwa ia bertanya kepada al-Ḥasan tentang seorang perempuan yang datang untuk berumrah, lalu melakukan tawaf di Ka’bah dan sa’i antara Ṣafā dan Marwah. Suaminya menggaulinya sebelum ia memendekkan rambutnya. Al-Ḥasan berkata, “Hendaklah ia mempersembahkan kurban berupa seekor unta atau sapi.” Ḥumaid berkata, “Bakr bin ‘Abdullāh menyebutkan bahwa Ibn ‘Abbās pernah ditanya tentang hal itu. Ia berkata, ‘Perempuan itu benar-benar sangat bernafsu.’ Dikatakan kepadanya, ‘Perempuan itu hadir.’ Ia pun terdiam, kemudian berkata, ‘Hendaklah ia mempersembahkan kurban berupa seekor unta atau sapi.’”

Ketiga: hadis-hadis Muhammad bin Amr bin Alqamah bin Waqqash.

ثنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْقَارِئُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقَالَ مَنْ خَلْفَهُ آمِينَ فَوَافَقَ ذَلِكَ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ آمِينَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami, Ismail bin Ja‘far telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila orang yang membaca mengucapkan, ‘Bukan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat,’ lalu orang-orang di belakangnya mengucapkan, ‘Amin,’ dan ucapan itu bertepatan dengan ucapan para penghuni langit, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً إِذْ عَيِيَ فَرَكِبَهَا فَقَالَتْ إِنَّا لَمْ نُخْلَقْ لِهَذَا إِنَّمَا خُلِقْنَا لِحِرَاثَةِ الْأَرْضِ فَقَالَ مَنْ حَوْلَهُ سُبْحَانَ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنْتُ بِهِ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَلَيْسَا فِي الْمَجْلِسِ فَقَالَ مَنْ حَوْلَهُ آمَنَّا بِمَا آمَنَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ شَاةً إِذْ عَدَا عَلَيْهَا الذِّئْبُ فَطَلَبَهُ فَقَالَ فَمَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي فَقَالَ مَنْ حَوْلَهُ سُبْحَانَ اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آمَنْتُ بِهِ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَلَيْسَا فِي الْمَجْلِسِ فَقَالَ الْقَوْمُ آمَنَّا بِمَا آمَنَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang menggiring seekor sapi, ia merasa lelah lalu menaikinya. Sapi itu berkata, ‘Kami tidak diciptakan untuk ini. Kami diciptakan hanya untuk membajak tanah.’ Orang-orang di sekitarnya berkata, ‘Mahasuci Allah, Mahasuci Allah.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Aku, Abu Bakar, dan Umar mempercayainya, padahal keduanya tidak berada di majelis itu.’ Orang-orang di sekitarnya berkata, ‘Kami mempercayai apa yang dipercayai oleh Rasulullah ﷺ.’”

Beliau bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang menggiring seekor kambing, seekor serigala menerkamnya, lalu laki-laki itu mengejarnya. Serigala itu berkata, ‘Siapa yang akan menjaganya pada hari binatang buas, ketika ia tidak memiliki penggembala selain aku?’ Orang-orang di sekitarnya berkata, ‘Mahasuci Allah.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Aku, Abu Bakar, dan Umar mempercayainya, padahal keduanya tidak berada di majelis itu.’ Orang-orang itu berkata, ‘Kami mempercayai apa yang dipercayai oleh Rasulullah ﷺ.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ خِيَارُهُمْ تَبَعٌ لِخِيَارِهِمْ وَشِرَارُهُمْ تَبَعٌ لِشِرَارِهِمْ

Muhammad bin Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Manusia mengikuti Quraisy dalam urusan ini. Orang-orang terbaik di antara mereka mengikuti orang-orang terbaik Quraisy, dan orang-orang terburuk di antara mereka mengikuti orang-orang terburuk Quraisy.”

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ رَفَعَ رَأْسَهُ فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ الْعَرْشِ فَلَا أَدْرِي أَكَانَ مِمَّنِ اسْتَثْنَى اللَّهُ أَمْ رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلِي وَمَنْ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى فَقَدْ كَذَبَ

Dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sangkakala akan ditiup, lalu semua yang berada di langit dan di bumi pingsan, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi, maka aku menjadi orang pertama yang mengangkat kepalanya. Tiba-tiba aku melihat Musa berpegangan pada salah satu tiang penyangga ‘Arasy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang dikecualikan Allah ataukah ia mengangkat kepalanya sebelumku. Dan siapa pun yang berkata, ‘Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta,’ sungguh telah berdusta.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا اللَّهُ تَعَالَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَأَرْسَلَهُ إِلَى الْجَنَّةِ فَقَالَ انْظُرْ إِلَيْهَا وَمَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا فَحُجِبَتْ بِالْمَكَارِهِ فَقَالَ لَهُ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَلَّا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ ثُمَّ أَرْسَلَهُ إِلَى النَّارِ فَقَالَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَمَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا قَالَ فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَا يَدْخُلُهَا أَحَدٌ سَمِعَ بِهَا فَحُجِبَتْ بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ لَهُ عُدْ إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَيْهَا قَالَ فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَلَّا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا

Muhammad bin Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah Ta‘ala memanggil Jibril ‘alaihish shalātu was salām, lalu mengutusnya ke surga. Dia berfirman, “Lihatlah surga dan apa yang telah Kusediakan di dalamnya bagi para penghuninya.” Jibril pun kembali kepada-Nya dan berkata, “Demi kemuliaan-Mu, siapa pun yang mendengar tentangnya pasti akan memasukinya.” Lalu surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai. Dia berfirman kepadanya, “Kembalilah ke sana dan lihatlah.” Jibril pun kembali kepada-Nya dan berkata, “Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun akan memasukinya.” Kemudian Dia mengutusnya ke neraka dan berfirman, “Pergilah, lihatlah neraka dan apa yang telah Kusediakan di dalamnya bagi para penghuninya.” Jibril berkata, “Ia pun kembali kepada-Nya dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, siapa pun yang mendengar tentangnya tidak akan memasukinya.’ Lalu neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat.” Kemudian Dia berfirman kepadanya, “Kembalilah ke sana dan lihatlah.” Jibril berkata, “Ia pun kembali kepada-Nya dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tak seorang pun akan tersisa kecuali ia telah memasukinya.’””

أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْحَافِظُ أَبُو الْحَجَّاجِ يُوسُفُ بْنُ خَلِيلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الدِّمَشْقِيُّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ فِي رَابِعِ شَهْرِ رَمَضَانَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَلَاثِينَ وَسِتِّمِائَةٍ قِيلَ لَهُ أَخْبَرَكُمْ أَبُو الْفَرَجِ يَحْيَى بْنُ مَحْمُودِ بْنِ سَعْدٍ الثَّقَفِيُّ الْأَصْبَهَانِيُّ قَدِمَ عَلَيْكُمْ دِمَشْقَ قِرَاءَةً علَيَهْ بِهاَ فِي سَنَةِ ثَلَاثٍ وَثَمَانِينَ وَخَمْسِمِائَةٍ فَأَقَرَّ بِهِ أنا أَبُو طَاهِرٍ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الصَّبَّاغُ الْمَعْرُوفُ بِدَشْتَجَ قَالَ ثنا أَبُو الْحَسَنِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُعْتَزِّ بْنِ مَنْصُورٍ النَّيْسَابُورِيُّ ثنا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ ثنا جَدِّي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ قَالَ ثنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَنْبَأَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ

 ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ لَمَنْ يَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ فَيُقَالُ لَكَ ذَاكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ إِلَّا أَنَّهُ يُلَقَّنُ فَيَقُولُ وَكَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ لَكَ ذَاكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ

Syekh, imam, hafiz Abu al-Hajjaj Yusuf bin Khalil bin Abdullah ad-Dimasyqi telah mengabarkan kepada kami melalui pembacaan di hadapannya, sementara aku mendengarkan, pada hari keempat bulan Ramadan tahun 638. Dikatakan kepadanya, “Apakah Abu al-Faraj Yahya bin Mahmud bin Sa‘d ats-Tsaqafi al-Ashbahani telah mengabarkan kepada kalian? Ia datang ke Damaskus, tempat kalian, dan dibacakan kepadanya di sana pada tahun 583.” Ia pun mengakuinya. Aku, Abu Thahir ‘Abd al-Wahid bin Muhammad bin Ahmad bin al-Haitsam ash-Shabbagh, yang dikenal dengan nama Dasytaj, berkata: Abu al-Hasan ‘Ubaidullah bin al-Mu‘tazz bin Manshur an-Naisaburi telah menceritakan kepada kami; Abu Thahir Muhammad bin al-Fadhl bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah telah menceritakan kepada kami; kakekku, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, berkata: ‘Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami; Isma‘il bin Ja‘far telah memberitakan kepada kami. Ia berkata: Muhammad bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang mengajukan keinginan kepada Allah. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Itu untukmu, dan yang semisal dengannya bersamanya.’ Hanya saja, ia dibimbing untuk mengucapkan keinginannya, lalu berkata, ‘Dan ini dan ini.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Itu untukmu, dan yang semisal dengannya bersamanya.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا عَلَى بِئْرٍ أَسْتَقِي إِذْ جَاءَ ابْنُ أَبِي قُحَافَةَ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِيهِمَا ضَعْفٌ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ فَنَزَعَ حَتَّى اسْتَحَالَتْ فِي يَدِهِ غَرْبًا وَضَرَبَ النَّاسُ بِالْعَطَنِ فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا مِنَ النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ

Muhammad telah menuturkan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika aku sedang berada di sebuah sumur untuk menimba air, datanglah Ibn Abi Quhafah. Ia menimba satu atau dua ember, dan pada keduanya terdapat kelemahan—semoga Allah mengampuninya. Kemudian Umar datang dan menimba hingga ember besar itu berubah di tangannya. Orang-orang pun mendatangi tempat minum. Aku belum pernah melihat seorang yang begitu cakap di antara manusia, yang bekerja sebaik dirinya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي عَلَى مِثْلِ صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَحْسَنِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Rombongan pertama dari umatku yang masuk surga akan berwujud seperti bulan pada malam purnama. Kemudian, rombongan setelah mereka akan berwujud seperti bintang yang paling cemerlang di langit.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ هُمْ أَضْعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Orang-orang Yaman telah datang kepada kalian. Hati mereka lebih lemah dan jiwa mereka lebih lembut. Iman itu berasal dari Yaman, dan hikmah berasal dari Yaman.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَبْرِدُوا عَنِ الصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Tundalah salat hingga udara menjadi sejuk, karena teriknya panas berasal dari embusan Jahannam.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نُصِرْتُ وَأُوتِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَبَيَنَا أَنَا نَائِمٌ أُوتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الْأَرْضِ فَتُلَّتْ فِي يَدِي

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Aku diberi pertolongan dan dianugerahi ungkapan-ungkapan yang padat makna. Ketika aku sedang tidur, kunci-kunci perbendaharaan bumi diberikan kepadaku, lalu diletakkan di tanganku.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya. Barang siapa meninggalkan utang atau tanggungan yang terlantar, maka urusannya menjadi tanggung jawabku.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ إِمَامًا فَلْيُخَفِّفْ؛ فَإِنَّهُ يَقُومُ وَرَاءَهُ الضَّعِيفُ وَالْكَبِيرُ وَذُو الْحَاجَةِ وَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam, hendaklah ia meringankan salatnya, karena di belakangnya ada orang yang lemah, orang yang lanjut usia, dan orang yang memiliki keperluan. Namun, apabila ia salat sendirian, hendaklah ia memanjangkannya sesuka hatinya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ مَرَّ بِهِ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّ سَبَلَهُ قَالَ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَا ابْنَ أَخِي إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ الْفَتَى قَدْ سَمِعْنَا مَا تَقُولُ ثُمَّ مَرَّ بِهِ أُخْرَى وَهُوَ كَذَلِكَ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ الْفَتَى قَدْ سَمِعْنَا مَا تَقُولُ لَئِنْ عُدْتَ الثَّالِثَةَ لَأَحْمِلَنَّكَ عَلَى عَاتِقِي ثُمَّ بِكَ فِي الْأَرْضِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَا أَعُودُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa seorang lelaki dari Quraisy lewat di hadapannya sambil menyeret ujung pakaiannya. Abu Hurairah berkata, “Wahai anak saudaraku, sungguh aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa menyeret pakaiannya karena kesombongan, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.’” Pemuda itu berkata, “Kami sudah mendengar apa yang engkau katakan.” Kemudian pemuda itu lewat lagi di hadapannya dalam keadaan yang sama. Abu Hurairah mengatakan hal yang sama. Pemuda itu berkata, “Kami sudah mendengar apa yang engkau katakan. Jika engkau mengulanginya untuk ketiga kalinya, sungguh aku akan mengangkatmu ke pundakku, lalu membantingmu ke tanah.” Abu Hurairah berkata, “Aku tidak akan mengulanginya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ كَإِذْنِهِ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Allah tidak menyimak sesuatu pun sebagaimana Dia menyimak seorang nabi yang melantunkan Al-Qur’an dengan suara keras.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ تَبِعَهَا حَتَّى يُقْضَى دَفْنُهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ أَحَدُهُمَا أَوْ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَتَعَاظَمَهُ فَبَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا فَصَدَّقَتْ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لَقَدْ فَرَّطْنَا فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa menyalatkan jenazah, ia mendapat satu qirath. Barang siapa mengiringinya hingga pemakamannya selesai, ia mendapat dua qirath; salah satunya, atau yang lebih kecil di antara keduanya, sebesar Gunung Uhud.” Abu Salamah berkata, “Aku menyampaikan hal itu kepada Abdullah bin Umar, lalu ia menganggapnya sangat besar. Ia pun mengutus seseorang kepada Aisyah dan menanyakannya. Aisyah membenarkan Abu Hurairah. Ibnu Umar berkata, ‘Sungguh, kita telah menyia-nyiakan banyak qirath.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan dan mengerjakan salat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقَدَّمُوا شَهْرَ رَمَضَانَ بِيَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ صَوْمًا كَانَ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ ثُمَّ أَفْطِرُوا

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian. Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika hilal tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari, kemudian berbukalah.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ؛ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُهْبِطَ وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يُصَادِفُهَا مُؤْمِنٌ يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ قَدْ عَرَفْتُ تِلْكَ السَّاعَةَ هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ وَهِيَ السَّاعَةُ الَّتِي خُلِقَ فِيهَا آدَمُ قَالَ اللَّهُ خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونَ

Muhammad telah menyampaikan hadis kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hari terbaik yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, pada hari itu ia diturunkan, dan pada hari itu pula kiamat terjadi. Pada hari itu ada suatu waktu ketika seorang mukmin yang memohon suatu kebaikan kepada Allah tidak akan menjumpainya melainkan Allah akan memberikannya kepadanya.” Abu Salamah berkata, “Abdullah bin Salam berkata, ‘Aku telah mengetahui waktu itu: ia adalah bagian terakhir dari siang hari, dan itulah waktu ketika Adam diciptakan.’ Allah berfirman, ‘Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa. Aku akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Ku, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ سَجَدَ فِي إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ قَالَ فَقُلْتُ لَقَدْ سَجَدْتَ فِي سُورَةٍ مَا يُسْجَدُ فِيهَا فَقَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِيهَا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah bersujud ketika membaca «Apabila langit terbelah». Ia berkata, “Lalu aku berkata, ‘Sungguh, engkau telah bersujud dalam surah yang tidak dilakukan sujud di dalamnya.’” Ia menjawab, “Aku melihat Rasulullah ﷺ bersujud dalam surah itu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ وَلَّى الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ خَطَرَ بَيْنَ أَحَدِكُمْ وَبَيْنَ نَفْسِهِ حَتَّى يُنْسِيَهُ صَلَاتَهُ فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila iqamah untuk salat telah dikumandangkan, setan berpaling sambil kentut. Ketika muazin diam, ia kembali menggoda di antara seseorang dan dirinya sendiri hingga membuatnya lupa akan salatnya. Siapa di antara kalian yang mengalami hal itu, hendaklah ia melakukan dua kali sujud dalam keadaan duduk.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ أُحُدًا ذَهَبًا تَمُرُّ بِي ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ أَرْصُدَهُ لِدَيْنٍ يَكُونُ عَلَيَّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku tidak ingin memiliki emas sebesar Gunung Uhud, lalu tiga malam berlalu sementara masih ada sedikit pun darinya padaku, kecuali yang aku sisihkan untuk membayar utang yang menjadi tanggunganku.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَلَقَّوُا الرُّكْبَانَ وَالسِّلَعَ وَلَا يَبِعِ الْحَاضِرُ لِلْبَادِ وَلْا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian mencegat para kafilah dan barang-barang dagangan. Janganlah orang kota menjualkan barang untuk orang desa. Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, atau melakukan najasy. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَاحِدَةٍ وَأَنْ يَحْتَبِيَ أَحَدٌ لَيْسَ عَلَى فَرْجِهِ شَيْءٌ مِنْ ثَوْبِهِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ melarang dua jual beli dalam satu transaksi, dan melarang seseorang duduk dengan posisi ihtiba’ sementara tidak ada bagian kainnya yang menutupi kemaluannya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُنْبَذَ فِي الدُّبَّاءِ وَالْمُزَفَّتِ وَالنَّقِيرِ وَالْحَنْتَمَةِ وَقَالَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. melarang membuat nabidz di dalam bejana labu, bejana berlapis ter, bejana dari batang kurma yang dilubangi, dan bejana tembikar. Beliau bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah haram.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ دَجَّالًا كَذَّابًا كُلُّهُمْ يَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ وَعَلَى رَسُولِهِ

Muhammad telah meriwayatkan kepada kami dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul tiga puluh Dajjal pendusta; mereka semua berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ ثُمَّ هَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِي فَرَضَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوا فِيهِ فَهَدَانَا اللَّهُ لَهُ النَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ الْيَهُودُ غَدًا وَالنَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kita adalah umat terakhir, tetapi yang terdepan pada Hari Kiamat. Mereka diberi Kitab sebelum kita, sedangkan kita diberi Kitab sesudah mereka. Kemudian, inilah hari yang Allah tetapkan bagi mereka, tetapi mereka berselisih tentangnya, lalu Allah memberi kita petunjuk kepadanya. Orang-orang mengikuti kita dalam hal ini: kaum Yahudi besok, dan kaum Nasrani lusa.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي كَنْزُ أَحَدِكُمْ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَفِرُّ مِنْهُ صَاحِبُهُ وَيَطْلُبُهُ فَيَقُولُ أَنَا كَنْزُكُ فَلَا يَزَالُ بِهِ حَتَّى يُلْقِمَهُ إِصْبَعَهُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Harta simpanan salah seorang dari kalian akan datang kepadanya dalam wujud ular besar yang botak. Pemiliknya lari darinya, tetapi ular itu mengejarnya. Ular itu berkata, ‘Akulah harta simpananmu.’ Ular itu terus mendesaknya hingga ia memasukkan jarinya ke mulut ular tersebut.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ وَأَصْحَابُهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ هَلَكَتْ دَوْسٌ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Tufail bin Amr ad-Dausi dan para sahabatnya datang menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, Daus telah durhaka dan menolak, maka berdoalah kepada Allah agar mereka ditimpa keburukan.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun berkata, ‘Binasalah Daus.’” Lalu Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Daus dan datangkanlah mereka.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلًا فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَأْتِيَ بِهِ فَيَبِيعَهُ فَيَأْكُلَ مِنْهُ وَيَتَصَدَّقَ مِنْهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلَهُ أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh, seseorang di antara kalian mengambil seutas tali, lalu mengumpulkan kayu bakar dan memikulnya di punggung, kemudian membawanya, menjualnya, memakan hasilnya, dan bersedekah darinya, itu lebih baik baginya daripada mendatangi seseorang yang Allah telah memberinya sebagian dari karunia-Nya, lalu meminta kepadanya, baik orang itu memberinya maupun menolaknya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang muslim makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَانِتِ الَّذِي لَا يَفْتُرُ صَلَاةً وَلَا صَوْمًا حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِهِ بِمَا يُرْجِعُهُ مِنْ غَنِيمَةٍ وَأَجْرٍ أَوْ يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah seperti orang yang senantiasa berpuasa dan tekun beribadah, yang tidak pernah berhenti salat maupun berpuasa, sampai Allah mengembalikannya kepada keluarganya dengan membawa rampasan perang dan pahala, atau mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْلَا أَنْ يُشَقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِنْ قَعَدْتُ بَعْدَ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَبَدًا وَلَكِنْ لَا أَجِدُ سَعَةً فَأَحْمِلُهُمْ وَلَا يَجِدُونَ سَعَةً فَيَتَبَعُونِي وَلَا تَطِيبُ أَنْفُسُهُمْ أَنْ يَقْعُدُوا بَعْدِي وَلَوَدِدْتُ أَنْ أُقْتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أَحْيَا ثُمَّ أُقْتَلَ ثُمَّ أَحْيَا ثُمَّ أُقْتَلَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau bukan karena hal itu akan memberatkan kaum mukmin, niscaya aku tidak akan pernah tinggal setelah suatu pasukan berangkat berperang di jalan Allah. Namun, aku tidak memiliki cukup kemampuan untuk membawa mereka, sementara mereka juga tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengikutiku, dan mereka tidak rela tinggal setelah aku pergi. Sungguh, aku ingin terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi, lalu dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غِفَارٌ وَأَسْلَمُ وَمُزَيْنَةُ وَمَنْ كَانَ مِنْ جُهَيْنَةَ خَيْرٌ مِنَ الْحَلِيفَيْنِ غَطَفَانَ وَأَسَدٍ وَتَمِيمٍ وَهَوَازِنَ وَنِزَالِهِمْ فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْخَيْلِ وَالْوَبَرِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Gifar, Aslam, Muzainah, dan siapa pun yang berasal dari Juhainah lebih baik daripada dua sekutu, yaitu Ghatafan dan Asad, serta Tamim, Hawazin, dan orang-orang yang menjadi lawan mereka. Sebab, mereka adalah kaum pemilik kuda dan bulu unta.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْحَيَاةِ وَحُبِّ الْمَالِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hati orang yang sudah tua tetap muda dalam mencintai dua perkara: cinta kehidupan dan cinta harta.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya aku tidak khawatir memberatkan orang-orang beriman, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak salat.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسُ مَعَادِنُ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Manusia itu bagaikan tambang-tambang. Orang-orang terbaik di antara mereka pada masa jahiliah adalah orang-orang terbaik di antara mereka dalam Islam, apabila mereka memahami agama.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghitungnya, niscaya masuk surga.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى فَقَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِي خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْكَنَكَ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَخْرَجْتَنَا مِنْهَا فَقَالَ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَاتِهِ وَقَرَّبَكَ نَجِيًّا وَكَلَّمَكَ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ فَبِكَمْ تَجِدُ فِي التَّوْرَاةِ أَنَّهُ كَتَبَ عَلَيَّ الْعَمَلَ الَّذِي عَمِلْتُهُ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ قَالَ مُوسَى بِأَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَسُولُ اللَّهِ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, ‘Engkau adalah Adam yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, Dia tiupkan sebagian ruh-Nya ke dalam dirimu, dan Dia tempatkan di surga. Kemudian engkau mengeluarkan kami darinya.’ Adam berkata, ‘Engkau adalah Musa yang Allah pilih dengan risalah-risalah-Nya, Dia dekatkan untuk berbicara dengan-Nya, Dia berbicara kepadamu, dan Dia turunkan Taurat kepadamu. Berapa lama sebelum aku diciptakan engkau mendapati dalam Taurat bahwa Dia telah menetapkan atasku perbuatan yang kulakukan itu?’ Musa menjawab, ‘Empat puluh tahun.’ Rasulullah bersabda, ‘Maka Adam mengalahkan Musa dalam perdebatan.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يَتَكَلَّمْ أَوْ يُحْدِثْ أَوْ يَقُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya para malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat salatnya yang ia gunakan untuk salat, selama ia belum berbicara, berhadas, atau berdiri.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُؤْتَى بِالْمَوْتِ فَيُوقَفُ عَلَى الصِّرَاطِ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَطَّلِعُونَ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَطَّلِعُونَ فَيُقَالُ هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا فَيَقُولُونَ نَعَمْ يَا رَبَّنَا هَذَا الْمَوْتُ قَالَ فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُذْبَحُ عَلَى الصِّرَاطِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْفَرِيقَيْنِ خُلُودٌ فِيمَا تَجِدُونَ لَا مَوْتَ فِيهَا أَبَدًا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Kematian akan didatangkan, lalu ditegakkan di atas shirat. Kemudian diserukan, ‘Wahai penghuni surga!’ Maka mereka pun menengok. Lalu diserukan, ‘Wahai penghuni neraka!’ Maka mereka pun menengok. Kemudian ditanyakan, ‘Apakah kalian mengenali ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Tuhan kami, ini adalah kematian.’ Lalu beliau bersabda, ‘Maka diperintahkan agar kematian itu disembelih di atas shirat. Kemudian dikatakan kepada kedua golongan, “Kalian kekal dalam keadaan yang kalian alami; tidak ada kematian di dalamnya selama-lamanya.”’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُؤْيَا الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ وَقَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلْمًا يَخَافُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ شِمَالِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهِ فَإِنَّهُ لَنْ يَضُرَّهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Mimpi seorang lelaki saleh adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.” Beliau juga bersabda, “Mimpi yang baik berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk berasal dari setan. Jika salah seorang dari kalian mengalami mimpi buruk yang membuatnya takut, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya, sebab mimpi itu tidak akan membahayakannya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا أَزَالُ أُقَاتِلُ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Aku akan terus memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah.’ Apabila mereka telah mengucapkan, ‘Tiada Tuhan selain Allah,’ darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali berdasarkan haknya, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”

نَّاصِبَةٌ  تصلى نَاراً حَامِيَةً  تسقى مِنْ عَيْنٍ آنية وروي عن أمير المؤمنين عمر رضي الله عنه أنه تأولها في الرهبان كما سيأتي وأمآ إن كان العمل موافقاً للشريعة في الصورة الظاهرة ولكن لم يخلص عامله القصد لله فهو أيضاً مردود على فاعله وهذا حال المرائين والمنافقين كما قال تعالى إِنَّ المنافقين يُخَادِعُونَ الله وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قاموا إِلَى الصلاة قَامُواْ كسالى يُرَآءُونَ الناس وَلاَ يَذْكُرُونَ الله إِلاَّ قليلاً وقال تعالى فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الذين هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ الذين هُمْ يُرَآءُونَ وَيَمْنَعُونَ الماعون ولهذا قال تعالى فمن كَانَ يَرْجُو لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدَاً وقال في هذه الآية الكريمة بلى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وهو محسن وقوله فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ضمن لهم تعالى على ذلك تحصيل الأجور وآمنهم مما يخافونه من المحذور لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ فيما يستقبلونه وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ على ما مضى مما يتركونه
وقوله تعالى وَقَالَتِ اليهود لَيْسَتِ النصارى على شَيْءٍ وَقَالَتِ النصارى لَيْسَتِ اليهود على شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الكتاب بيَّن به تعالى تناقضهم وتباغضهم وتعاديهم وتعاندهم كما قال محمد بن إسحاق عن ابن عباس لما قدم أهل نجران من النصارى على رسول الله صلى الله عليه وسلم أتتهم أحبار يهود فتنازعوا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رافع بن حرملة ما أنتم على شيء وكفر بعيسى وبالإنجيل وقال رجل من أهل نجران من النصارى لليهود ما أنتم على شيء وجحد نبوة موسى وكفر بالتوراة فأنزل الله في ذلك من قولهما وَقَالَتِ اليهود لَيْسَتِ النصارى على شَيْءٍ وَقَالَتِ النصارى لَيْسَتِ اليهود على شَيْءٍ وهم يتلون الكتاب قال إن كلاً يتلو في كتابه تصديق من كفر به أن يكفر اليهود بعيسى وعندهم التوراة فيها ما أخذ الله عليهم على لسان موسى بالتصديق بعيسى وفي الإنجيل ما جاء به عيسى بتصديق موسى وما جاء من التوراة من عند الله وكل يكفر بما في يد صاحبه وهذا القول يقتضي أن كلاً من الطائفتين صدقت فيما رمت به الطائفة الأُخرى ولكن ظاهر سياق الآية يقتضي ذمهم فيما قالوه مع علمهم بخلاف ذلك ولهذا قال تعالى وَهُمْ يَتْلُونَ الكتاب أي وهم يعلمون شريعة التوراة والإنجيل كل منهما قد كانت مشروعة في وقت ولكنهم تجاحدوا فيما بينهم عناداً وكفراً ومقابلة للفاسد بالفاسد وقوله كَذَلِكَ قَالَ الذين لاَ يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ بيَّن بهذا جهل اليهود والنصارى فيما تقابلوا به من القول وهذا من باب الإيماء والإشارة وقد اختلف فيمن عنى بقوله تعالى الذين لاَ يَعْلَمُونَ قال ابن جريج قلت لعطاء مَن هؤلاء الذين لاَ يَعْلَمُونَ قال أُمم كانت قبل اليهود والنصارى وقبل التوراة والإنجيل وقال السُّدي كَذَلِكَ قال الذين لاَ يَعْلَمُونَ هم العرب قالوا ليس محمد على شيء واختار أبو جعفر بن جرير أنها عامة تصلح للجميع وليس ثَمَّ دليل قاطع يعين واحداً من هذه الأقوال والحمل على الجميع أولى والله أعلم
وقوله تعالى فالله يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ القيامة فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُونَ أي أنه تعالى يجمع بينهم يوم المعاد ويفصل بينهم بقضائه العدل الذي لا يجور فيه ولا يظلم مثقال ذرة وهذه الآية كقوله تعالى في سورة الحج إِنَّ الذين آمَنُواْ والذن هَادُواْ والصابئين والنصارى والمجوس والذين أشركون إِنَّ الله يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ القيامة إِنَّ الله على كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ وكما قال تعالى قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بالحق وَهُوَ الفتاح العليم

Lelah, masuk ke dalam api yang sangat panas, dan diberi minum dari mata air yang mendidih. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar r.a. bahwa ia menakwilkannya sebagai merujuk kepada para rahib, sebagaimana akan disebutkan nanti. Adapun jika suatu amal secara lahiriah sesuai dengan syariat, tetapi pelakunya tidak memurnikan niatnya untuk Allah, amal itu juga tertolak dari pelakunya. Inilah keadaan orang-orang yang berbuat riya dan orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah membalas tipu daya mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria di hadapan manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” Allah Taala juga berfirman, “Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria dan enggan memberikan bantuan.” Karena itu, Allah Taala berfirman, “Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” Dalam ayat yang mulia ini, Allah berfirman, “Tidak demikian! Siapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sedang dia berbuat baik.” Firman-Nya, “Baginya pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati,” menjamin bahwa mereka akan memperoleh pahala dan mengamankan mereka dari hal yang mereka khawatirkan. “Tidak ada rasa takut pada mereka” terhadap apa yang akan mereka hadapi kelak, “dan mereka tidak bersedih hati” atas apa yang telah berlalu dan mereka tinggalkan.

Firman Allah Taala, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu pun.’ Orang-orang Nasrani pun berkata, ‘Orang-orang Yahudi itu tidak menganut sesuatu pun,’ padahal mereka membaca Kitab,” menjelaskan pertentangan, kebencian, permusuhan, dan sikap keras kepala di antara mereka. Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Ketika orang-orang Nasrani Najran datang menemui Rasulullah saw., para pendeta Yahudi datang kepada mereka, lalu mereka berselisih di hadapan Rasulullah saw. Rafi bin Harmalah berkata, “Kalian tidak menganut sesuatu pun,” lalu mengingkari Isa dan Injil. Seorang laki-laki dari kalangan Nasrani Najran berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kalian tidak menganut sesuatu pun,” lalu mengingkari kenabian Musa dan mengingkari Taurat. Maka Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka itu, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu pun.’ Orang-orang Nasrani pun berkata, ‘Orang-orang Yahudi itu tidak menganut sesuatu pun,’ padahal mereka membaca Kitab.” Ia berkata, “Masing-masing membaca dalam kitabnya pembenaran terhadap sosok yang diingkari pihak lainnya: orang-orang Yahudi mengingkari Isa, padahal dalam Taurat mereka terdapat apa yang Allah wajibkan atas mereka melalui lisan Musa, yaitu membenarkan Isa; dan dalam Injil terdapat apa yang dibawa Isa, yaitu membenarkan Musa dan apa yang datang dari Allah dalam Taurat. Masing-masing mengingkari apa yang ada pada pihak lainnya.” Penafsiran ini mengisyaratkan bahwa masing-masing kelompok benar dalam tuduhan yang mereka lontarkan kepada kelompok lainnya. Akan tetapi, konteks lahiriah ayat menunjukkan bahwa mereka dicela atas ucapan mereka itu, meskipun mengetahui bahwa kenyataannya berbeda. Karena itu, Allah Taala berfirman, “Padahal mereka membaca Kitab,” yakni mereka mengetahui syariat Taurat dan Injil; masing-masing pernah berlaku sebagai syariat pada masanya. Namun, mereka saling mengingkari karena keras kepala, kekufuran, dan membalas kebatilan dengan kebatilan. Firman-Nya, “Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata seperti ucapan mereka,” menjelaskan kebodohan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam ucapan yang mereka lontarkan satu sama lain. Ini termasuk ungkapan sindiran dan isyarat. Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan firman Allah Taala, “orang-orang yang tidak mengetahui.” Ibnu Juraij berkata, “Aku bertanya kepada Atha, ‘Siapakah orang-orang yang tidak mengetahui itu?’” Ia menjawab, “Umat-umat yang ada sebelum orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta sebelum Taurat dan Injil.” As-Suddi berkata, “Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata,” maksudnya adalah orang-orang Arab. Mereka berkata, “Muhammad tidak menganut sesuatu pun.” Abu Ja‘far bin Jarir memilih pendapat bahwa ungkapan itu berlaku umum dan dapat mencakup semuanya. Tidak ada dalil pasti yang menentukan salah satu pendapat tersebut secara khusus. Memahaminya mencakup semuanya lebih tepat. Allah lebih mengetahui.

Firman Allah Taala, “Maka Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan,” berarti Allah akan mengumpulkan mereka pada hari kebangkitan dan memutuskan perkara di antara mereka dengan keputusan-Nya yang adil, yang tidak menyimpang dan tidak menzalimi sedikit pun. Ayat ini seperti firman Allah Taala dalam Surah al-Hajj, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabiin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, sesungguhnya Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.” Demikian pula firman-Nya, “Katakanlah, ‘Tuhan kita akan mengumpulkan kita, kemudian Dia memberi keputusan di antara kita dengan benar. Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ احْتَجَّتِ النَّارُ وَالْجَنَّةُ فَقَالَتِ النَّارُ يَدْخُلُنِي الْمُتَكَبِّرُونَ وَ الْمُتَجَبِّرُونَ وَقَالَتِ الْجَنَّةُ لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا الضُّعَفَاءُ وَالْمَسَاكِينُ فَقَالَ لِلنَّارِ أَنْتِ عَذَابِي انْتَقِمُ بِكِ مِمَّنْ شِئْتُ وَقَالَ لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ شِئْتُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Neraka dan surga saling mengajukan argumen. Neraka berkata, ‘Orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang akan masuk ke dalamku.’ Surga berkata, ‘Tidak ada yang akan masuk ke dalamku selain orang-orang lemah dan miskin.’ Lalu Allah berfirman kepada neraka, ‘Engkau adalah azab-Ku; denganmu Aku membalas siapa pun yang Aku kehendaki.’ Dan Dia berfirman kepada surga, ‘Engkau adalah rahmat-Ku; denganmu Aku merahmati siapa pun yang Aku kehendaki.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُو مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ إِلَيْهِ فِيهَا النَّاسُ أَعْيُنَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang pezina tidak berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Seorang pencuri tidak mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Dan seseorang tidak merampas barang berharga yang membuat orang-orang mengarahkan pandangan mereka kepadanya, sementara ia dalam keadaan beriman.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى نِصْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ أَوْ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَيَقُولُ مَنْ ذَا الَّذِي يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ أَوْ يَنْصَرِفَ الْقَارِئُ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Muhammad telah menyampaikan hadis kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa separuh malam terakhir atau sepertiga malam. Lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya? Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’ Demikianlah hingga fajar terbit atau orang yang membaca Al-Qur’an selesai dari salat Subuh.”

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ وَلَوْ مِنْ ثَوْرِ أَقِطٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَإِنَّا نَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيمِ وَقَدْ أُغْلِيَ عَلَى النَّارِ وَإِنَّا نَدَّهِنُ بِالدُّهْنِ وَقَدْ أُغْلِيَ عَلَى النَّارِ قَالَ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِذَا سَمِعْتَ الْحَدِيثَ يُحَدَّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَضْرِبْ لَهُ الْأَمْثَالَ

Telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Berwudulah karena sesuatu yang terkena api, sekalipun hanya sepotong aqit.” Ibnu Abbas berkata, “Wahai Abu Hurairah, bukankah kami berwudu dengan air panas yang telah dididihkan di atas api, dan kami mengoleskan minyak yang telah dipanaskan di atas api?” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku, jika engkau mendengar sebuah hadis diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, janganlah engkau membuat perbandingan-perbandingan dengannya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عُمْرَى فَمَنْ أُعْمِرَ شَيْئًا فَهُوَ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada hibah ‘umrā. Barang siapa diberi sesuatu sebagai ‘umrā, maka sesuatu itu menjadi miliknya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَالَ مُحَمَّدٌ حَسِبْتُهُ يَقُولُ مِنَ الظُّهْرِ ثُمَّ سَلَّمَ فَانْصَرَفَ ثُمَّ جَلَسَ فَجَاءَهُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتِ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ فَقَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي هُوَ أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ قَالَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى الْقَوْمِ فَقَالَ بِقَوْلِ ذِي الْيَدَيْنِ تَقُولُونَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَقَامَ فَأَتَمَّ الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ salat dua rakaat. Muhammad berkata, “Aku menduga beliau mengatakan, ‘salat Zuhur.’” Kemudian beliau mengucapkan salam dan beranjak, lalu duduk. Setelah itu, Dzul Yadain datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salat telah dipersingkat ataukah Anda lupa?” Beliau menjawab, “Tidak satu pun dari keduanya terjadi.” Dzul Yadain berkata, “Benar, demi Zat yang telah menurunkan Kitab kepada Anda.” Muhammad berkata, “Kemudian beliau menghadap kepada orang-orang dan bertanya, ‘Apakah kalian mengatakan seperti yang dikatakan Dzul Yadain?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun berdiri lalu menyempurnakan dua rakaat terakhir.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ النَّوْمِ فَلْيُفْرِغْ عَلَى يَدِهِ مِنْ وَضُوئِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ قَالَ قَيْنٌ الْأَشْجَعِيُّ لِأَبِي هُرَيْرَةَ فَإِذَا جِئْنَا مِهْرَاسَكُمْ هَذَا كَيْفَ نَصْنَعُ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكَ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidur, hendaklah ia menuangkan air wudunya ke tangannya, sebab ia tidak tahu di mana tangannya bermalam.” Qayn al-Asyja‘i berkata kepada Abu Hurairah, “Kalau kami datang ke mihras kalian ini, apa yang harus kami lakukan?” Abu Hurairah menjawab, “Kami berlindung kepada Allah dari kejahatanmu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْوِصَالِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ قَالَ إِنِّي لَسْتُ كَهَيْئَتِكُمْ إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ melarang puasa wishal. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melakukan puasa wishal.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya keadaanku tidak seperti keadaan kalian. Aku bermalam, sementara Tuhanku memberi makan dan minum kepadaku.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَسْقِهَا وَلَمْ تُرْسِلْهَا فَتَأْكُلَ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang perempuan masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Ia tidak memberinya makan, tidak memberinya minum, dan tidak melepaskannya agar dapat memakan makhluk-makhluk kecil di bumi.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ وَلَوْ أَنَّ النَّاسَ يَسْلُكُونَ وَادِيًا أَوْ شِعْبًا وَسَلَكَتِ الْأَنْصَارُ وَادِيًا أَوْ شِعْبًا لَسَلَكْتُ وَادِيَ الْأَنْصَارِ أَوْ شِعْبَهُمْ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk orang Ansar. Seandainya orang-orang menempuh suatu lembah atau celah gunung, lalu kaum Ansar menempuh suatu lembah atau celah gunung, niscaya aku akan menempuh lembah kaum Ansar atau celah gunung mereka.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ عَبْدِي لِقَائِي أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ وَإِذَا كَرِهَ لِقَائِي كَرِهْتُ لِقَاءَهُ فَقَالَ قَائِلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ فَلَيْسَ مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا وَهُوَ يَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ إِنَّهُ إِذَا كَانَ ذَلِكَ كُشِفَ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman, ‘Apabila hamba-Ku menyukai perjumpaan dengan-Ku, Aku pun menyukai perjumpaan dengannya. Apabila ia tidak menyukai perjumpaan dengan-Ku, Aku pun tidak menyukai perjumpaan dengannya.’” Seseorang lalu berkata kepada Abu Hurairah, “Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak membenci kematian.” Abu Hurairah menjawab, “Sesungguhnya, apabila hal itu terjadi, tersingkaplah baginya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَجْمَاءُ جُرْحُهَا جُبَارٌ وَالْبِئْرُ جُبَارٌ وَالْمَعْدِنُ جُبَارٌ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Cedera yang ditimbulkan oleh hewan tidak ada tanggungan, (kecelakaan akibat) sumur tidak ada tanggungan, (kecelakaan akibat) tambang tidak ada tanggungan, dan pada rikaz terdapat kewajiban seperlima.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَإِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda. Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكَعَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ ثُمَّ خَرَّ سَاجِدًا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ rukuk dalam salat Subuh, kemudian mengangkat kepalanya dan berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah ‘Ayyasy bin Rabi‘ah. Ya Allah, selamatkanlah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid. Ya Allah, selamatkanlah kaum mukmin yang tertindas. Ya Allah, timpakanlah hukuman-Mu dengan keras kepada Mudhar. Ya Allah, jadikanlah bagi mereka tahun-tahun paceklik seperti tahun-tahun paceklik pada masa Yusuf.” Kemudian beliau bersujud.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهَ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِنْ صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعِينَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian; apabila ia rukuk, maka rukuklah kalian; apabila ia mengucapkan, ‘Sami‘allāhu liman ḥamidah,’ maka ucapkanlah, ‘Rabbanā laka al-ḥamd.’ Jika ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian semua sambil duduk.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ نِسَاءُ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى يَتِيمٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sebaik-baik perempuan yang pernah menunggang unta adalah perempuan Quraisy: mereka paling penyayang kepada anak yatim ketika masih kecil dan paling menjaga harta suami.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ لَوْ حَدَّثْتُكُمْ بِكُلِّ مَا أَعْلَمُ قَالَ حَسِبْتُهُ يَقُولُ لَرَمَيْتُمُونِي بِالْقَطْعِ وَلَكِنَّ اللَّهَ الْمَوْعِدُ وَلَوْلَا آيَةٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ شَيْئًا؛ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, “Seandainya aku menyampaikan kepada kalian segala yang aku ketahui,”—aku kira ia berkata—“niscaya kalian akan melempariku dengan benda-benda pecahan. Namun, Allah-lah tempat pertemuan. Seandainya bukan karena suatu ayat dalam Kitab Allah, niscaya aku tidak akan menyampaikan apa pun kepada kalian. Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua yang melaknat.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ ابْنَ عَامِرٍ أَرْسَلَ إِلَى عُثْمَانَ بِجَارِيَةٍ فَخَلَا بِهَا فَأَخْبَرَتْهُ أَنَّ لَهَا زَوْجًا فَكَفَّ عَنْهَا وَكَتَبَ إِلَى ابْنِ عَامِرٍ يَعِيبُ عَلَيْهِ ذَلِكَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, bahwa Ibn Amir mengirim seorang budak perempuan kepada Utsman. Utsman lalu berduaan dengannya, kemudian perempuan itu memberitahunya bahwa ia memiliki suami. Maka Utsman menahan diri darinya dan menulis kepada Ibn Amir untuk mencela tindakannya itu.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَلَمْ أَرَهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا بَلْ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ berpuasa sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak akan berbuka,’ dan beliau berbuka sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak akan berpuasa.’ Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam suatu bulan daripada di bulan Sya‘ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya‘ban kecuali sedikit darinya. Bahkan, beliau berpuasa sepanjang bulan Sya‘ban.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَعَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَاعَةٍ يَأْتِيهِ فِيهَا فَذَهَبَتْ تِلْكَ السَّاعَةُ وَلَمْ يَأْتِهِ قَالَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا جِبْرِيلُ بِالْبَابِ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَدْخُلَ فَقَالَ إِنَّ فِي الْبَيْتِ كَلْبًا وَإِنَّا لَا نَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ قَالَ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكَلْبِ فَأُخْرِجَ ثُمَّ أَمَرَ بِالْكِلَابِ أَنْ تُقْتَلَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Jibril ‘alaihis salam pernah berjanji kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan datang pada suatu waktu tertentu. Waktu itu pun berlalu, tetapi Jibril tidak datang. Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu mendapati Jibril berada di pintu. Beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangimu masuk?’ Jibril menjawab, ‘Di dalam rumah ada anjing, dan kami tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar.’” Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar anjing itu dikeluarkan. Setelah itu, beliau memerintahkan agar anjing-anjing dibunuh.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ لَنَا حَصِيرَةٌ نَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَنَحْتَجِرُهَا عَلَيْنَا بِاللَّيْلِ قَالَتْ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَسَمِعَ مَنْ كَانَ فِي الْمَسْجِدِ صَلَاتَهُ فَأَصْبَحُوا فَذَكَرَهُ أُولَئِكَ لِلنَّاسِ فَكَثُرُوا فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ قَالَتْ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اكْلَفُوا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَكَانَ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَثْبَتَهَا

Muhammad meriwayatkan kepada kami dari Abu Salamah, dari Aisyah. Ia berkata, “Kami mempunyai sehelai tikar yang kami hamparkan pada siang hari dan kami jadikan sebagai sekat di sekeliling kami pada malam hari.” Ia berkata, “Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ salat. Orang-orang yang berada di masjid mendengar salat beliau. Pagi harinya, mereka menceritakan hal itu kepada orang-orang, sehingga pada malam kedua jumlah mereka semakin banyak.” Ia berkata, “Nabi ﷺ keluar menemui mereka, lalu bersabda, ‘Kerjakanlah amal-amal yang kalian mampu melakukannya, karena sesungguhnya Allah tidak merasa jemu hingga kalian merasa jemu.’” Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Amal yang paling dicintai Rasulullah ﷺ adalah amal yang terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit. Apabila beliau melakukan suatu salat, beliau senantiasa melakukannya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةً عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ لِأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ مَتَى أُنْزِلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ فَقَالَ لَهُ أُبَيٌّ مَا كَانَ لَكَ مِنْ صَلَاتِكِ إِلَّا مَا لَغَوْتَ قَالَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَدَقَ أُبَيٌّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ membaca sebuah surah di atas mimbar. Abu Dzar berkata kepada Ubay bin Ka‘b, ‘Kapan surah ini diturunkan?’ Ubay berkata kepadanya, ‘Bagian yang kamu peroleh dari salatmu hanyalah perkataan sia-sia yang kamu ucapkan.’” Ia berkata, “Lalu hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, dan beliau bersabda, ‘Ubay benar.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ الْمَذْهَبَ أَبْعَدَ قَالَ فَذَهَبَ لِحَاجَتِهِ وَهُوَ بِبَعْضِ أَسْفَارِهِ قَالَ فَقَالَ ائْتِنِي بِوَضُوءٍ قَالَ فَجِئْتُهُ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَأَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنْ تَحْتِ الْجُبَّةِ فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari al-Mughirah bin Syu‘bah, ia berkata, “Apabila Nabi ﷺ pergi buang hajat, beliau menjauh.” Ia berkata, “Beliau pergi untuk menunaikan hajatnya ketika sedang berada dalam salah satu perjalanannya. Lalu beliau berkata, ‘Bawakan kepadaku air untuk berwudu.’ Aku pun membawakan air untuk berwudu kepada beliau. Beliau lalu berwudu, mengeluarkan kedua tangannya dari bawah jubah, kemudian berwudu dan mengusap kedua khufnya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ رَجُلٍ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ فَطَلَّقَهَا أَلْبَتَّةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَى أَهْلِهِ تَبْتَغِي النَّفَقَةَ فَقَالُوا لَيْسَتْ لَكِ عَلَيْنَا نَفَقَةٌ قَالَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَيْسَتْ لَكِ عَلَيْهِمْ نَفَقَةٌ وَعَلَيْكِ الْعِدَّةُ وَانْتَقِلِي إِلَى أُمِّ شَرِيكٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّ أُمَّ شَرِيكٍ يَدْخُلُ عَلَيْهَا إِخْوَتُهَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ فَانْتَقِلِي إِلَى ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ رَجُلٌ أَعْمَى إِنْ وَضَعَتِ ثَوْبَكِ لَمْ يَرَ شَيْئًا وَلَا تَفُوتِينَا بِنَفْسِكِ قَالَ فَلَمَّا حَلَّتْ ذَكَرَهَا رِجَالٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَينَ أَنْتُمْ عَنْ أُسَامَةَ قَالَ فَكَأَنَّ أَهْلَهَا كَرِهُوا ذَلِكَ فَقَالَتْ لَا وَاللَّهِ لَا أَنْكِحُ إِلَّا الَّذِي قَالَ فَنَكَحَتْهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو فَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقُولُ يَا فَاطِمَةُ اتَّقِي اللَّهَ فَقَدْ عَرَفْتِ فِي أَيِّ شَيْءٍ كَانَ ذَلِكَ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Fatimah binti Qais, bahwa ia pernah menjadi istri seorang lelaki dari Bani Makhzum. Lelaki itu menceraikannya dengan talak yang tak dapat dirujuk lagi. Fatimah lalu mengirim utusan kepada keluarga lelaki itu untuk meminta nafkah, tetapi mereka berkata, “Engkau tidak berhak mendapatkan nafkah dari kami.” Ia berkata, “Hal itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, ‘Engkau tidak berhak mendapatkan nafkah dari mereka, tetapi engkau wajib menjalani masa idah. Pindahlah ke rumah Ummu Syarik.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya saudara-saudara Ummu Syarik dari kalangan kaum Muhajirin yang pertama sering datang ke rumahnya. Pindahlah ke rumah Ibnu Ummi Maktum, sebab ia seorang lelaki yang buta. Jika engkau menanggalkan pakaianmu, ia tidak akan melihat apa pun. Jangan sampai engkau luput dari kami.’” Ia berkata, “Ketika masa idahnya berakhir, beberapa lelaki menyebut namanya sebagai calon istri.” Nabi ﷺ bersabda, “Mengapa kalian tidak mempertimbangkan Usamah?” Ia berkata, “Tampaknya keluarga Fatimah tidak menyukai hal itu, tetapi Fatimah berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku hanya akan menikah dengan orang yang beliau sebutkan.’” Maka ia pun menikah dengannya. Muhammad bin Amr berkata, “Muhammad bin Ibrahim menyampaikan kepadaku bahwa Aisyah pernah berkata, ‘Wahai Fatimah, bertakwalah kepada Allah. Engkau tentu tahu dalam perkara apa hal itu terjadi.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ نَافِعِ بْنِ عَبْدِ الْحَارِثِ الْخُزَاعِيِّ قَالَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَائِطًا مِنْ حَوَائِطِ الْمَدِينَةِ فَقَالَ لِبِلَالٍ أَمْسِكْ عَلَيَّ الْبَابَ قَالَ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَأَدْلَى رِجْلَيْهِ فَجَاءَ بِلَالٌ فَقَالَ هَذَا أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ قَالَ فَجَاءَ فَجَلَسَ مَعَهُ عَلَى الْقُفِّ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ قَالَ ثُمَّ ضُرِبَ الْبَابُ فَجَاءَ بِلَالٌ فَقَالَ هَذَا عُمَرُ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ قَالَ فَجَاءَ فَجَلَسَ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ عَلَى الْقُفِّ مَعَهُ ثُمَّ ضُرِبَ الْبَابُ فَجَاءَ بِلَالٌ فَقَالَ هَذَا عُثْمَانُ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ وَمَعَهَا بَلَاءٌ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Nafi‘ bin ‘Abd al-Harits al-Khuza‘i, ia berkata: Rasulullah ﷺ memasuki sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, lalu bersabda kepada Bilal, “Jagalah pintu untukku.” Ia berkata, “Kemudian Abu Bakar datang meminta izin, sementara Rasulullah ﷺ sedang duduk dan menjuntaikan kedua kakinya. Bilal datang lalu berkata, ‘Abu Bakar datang meminta izin.’ Beliau bersabda, ‘Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga.’” Ia berkata, “Abu Bakar pun datang, lalu duduk bersama beliau di atas tepian berbatu itu dan menjuntaikan kedua kakinya. Kemudian pintu diketuk. Bilal datang lalu berkata, ‘Umar datang meminta izin.’ Beliau bersabda, ‘Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga.’” Ia berkata, “Umar pun datang, lalu duduk dan menjuntaikan kedua kakinya di atas tepian berbatu itu bersama beliau. Kemudian pintu diketuk. Bilal datang lalu berkata, ‘Utsman datang meminta izin.’ Beliau bersabda, ‘Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga, tetapi bersamanya ada cobaan.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ إِنْ شَرِبَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ إِنْ شَرِبَ فَاجْلِدُوهُ ثُمَّ إِنْ شَرِبَ الرَّابِعَةَ فَاقْتُلُوهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa meminum khamar, deralah dia. Kemudian, jika dia meminumnya lagi, deralah dia. Kemudian, jika dia meminumnya lagi, deralah dia. Kemudian, jika dia meminumnya untuk keempat kalinya, bunuhlah dia.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ جِئْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ فَقُلْتُ يَا أَبَا سَعِيدٍ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ هَذِهِ الْخَوَارِجَ قَالَ لَا وَلَكِنِّي سَمِعْتُهُ يَذْكُرُ قَوْمًا يَتَعَمَّقُونَ فِي الدِّينِ يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ عِنْدَ صَلَاتِهِ وَصَوْمَهُ عِنْدَ صَوْمِهِ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَأَخَذَ سَهْمَهُ فَنَظَرَ فِي نَصْلِهِ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ثُمَّ نَظَرَ فِي رِصَافِهِ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ثُمَّ نَظَرَ فِي الْقُذَذِ فَتَمَارَى أَيَرَى شَيْئًا أَمْ لَا

Muhammad telah menyampaikan hadis kepada kami dari Abu Salamah. Ia berkata, “Aku mendatangi Abu Sa‘id al-Khudri, lalu berkata, ‘Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebut kaum Khawarij ini?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Namun, aku pernah mendengar beliau menyebut suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam agama. Salah seorang dari kalian akan menganggap salatnya tidak seberapa dibandingkan dengan salat mereka, dan puasanya tidak seberapa dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus hewan buruan.’ Lalu ia mengambil anak panahnya dan memeriksa mata panahnya, tetapi tidak melihat apa pun. Kemudian ia memeriksa pangkal mata panahnya, tetapi tidak melihat apa pun. Setelah itu ia memeriksa bulu-bulu pada anak panahnya, lalu ia ragu-ragu apakah melihat sesuatu atau tidak.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْزُقُهُمْ طَعَامًا فَكَانُوا يَسْتَطِيبُونَ وَيَزِيدُونَ فَنَهَاهُمْ عَنْهُ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ biasa memberi mereka jatah makanan. Mereka merasa makanan itu lezat dan mengambil lebih banyak, maka beliau melarang mereka melakukan hal itu.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلَتْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْفَذِّ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Salat berjemaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh lima derajat.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ عَلَى الْحَجُونِ فَقَالَ وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهِ لَوْ أَنِّي لَمْ أُخْرَجْ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ وَهِيَ سَاعَتِي هَذِهِ مِنَ النَّهَارِ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُحْتَشُّ جَبَلُهَا وَلَا يُلْتَقَطُ ضَالَّتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ شَاةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا الْإِذْخِرَ فَإِنَّهُ لِقُبُورِنَا وَبُيُوتِنَا أَوْ قُيُونِنَا وَبُيُوتِنَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di Al-Hajun, lalu bersabda, “Demi Allah, sungguh engkau adalah bumi Allah yang terbaik dan bumi Allah yang paling dicintai Allah. Demi Allah, seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi. Sesungguhnya, hanya selama satu waktu pada siang hari aku diizinkan [berada di sini], dan waktu itu adalah waktuku yang sekarang ini pada siang hari. [Tanah ini] haram hingga hari kiamat: pepohonannya tidak boleh ditebang, rerumputan di gunungnya tidak boleh dipotong, dan barang hilangnya tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang mengumumkannya.” Lalu seorang lelaki yang bernama Syat berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, kecuali idzkhir, karena ia diperlukan untuk kuburan dan rumah kami,” atau, “untuk pandai besi dan rumah kami.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَنَامُ مُعْتَرِضَةً فَيُصَلِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَمَامَهُ حَتَّى إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ قَالَ تَنَحِّي

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Aisyah, ia berkata, “Aku biasa tidur melintang, sementara Rasulullah ﷺ salat dan aku berada di hadapan beliau. Ketika beliau hendak salat witir, beliau berkata, ‘Menyingkirlah.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ أنبأ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهُ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَكَلَّفُ قِيَامَ اللَّيْلِ وَصِيَامَ النَّهَارِ قَالَ قُلْتُ إِنِّي لَأَفْعَلُ فَقَالَ إِنَّ مِنْ حَسْبِكَ وَلَا تَقُولُ أَفْعَلُ أَنْ تَصُومَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ فَكَأَنَّكَ صُمْتَ الدَّهْرَ كُلَّهُ قَالَ فَغَلَّظْتُ فَغُلِّظَ عَلَيَّ قَالَ فَقُلْتُ إِنِّي أَجِدُ بِي قُوَّةً عَنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ مِنْ حَسْبِكَ وَلَا تَقُولُ لِي أَفْعَلُ أَنْ تَصُومَ مِنْ كُلِّ جُمُعَةٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ فَغَلَّظْتُ فَغُلِّظَ عَلَيَّ قَالَ فَقُلْتُ إِنِّي لَأَجِدُ قُوَّةً عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ أَعْدَلَ الصِّيَامِ عِنْدَ اللَّهِ نِصْفُ الدَّهْرِ صَوْمُ دَاوُدَ إِنَّ لِعَيْنَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا قَالَ أَبُو سَلَمَةَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو يَقُولُ بَعْدَ أَنْ أَدْرَكَتْهُ السِّنُّ وَضَعُفَ لَأَنْ أَكُونَ قَبِلْتُ رُخْصَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَهْلِي وَمَالِي

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, ia berkata: Abdullah bin Amr bin al-Ash mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke rumahnya, lalu bersabda, “Wahai Abdullah bin Amr, bukankah aku mendapat kabar bahwa engkau memaksakan diri untuk salat malam dan berpuasa pada siang hari?” Aku menjawab, “Sungguh, aku melakukannya.” Beliau bersabda, “Cukuplah bagimu—jangan berkata, ‘Aku akan melakukannya’—untuk berpuasa tiga hari setiap bulan. Sebab, satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali. Dengan demikian, seolah-olah engkau berpuasa sepanjang masa.” Ia berkata, “Aku bersikeras, maka beliau pun memperberat bagiku.” Ia berkata, “Aku lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku merasa mampu melakukan lebih dari itu.’ Beliau bersabda, ‘Cukuplah bagimu—jangan berkata kepadaku, “Aku akan melakukannya”—untuk berpuasa tiga hari setiap Jumat.’” Ia berkata, “Aku bersikeras, maka beliau pun memperberat bagiku.” Ia berkata, “Aku lalu berkata, ‘Sungguh, aku merasa mampu melakukan lebih dari itu.’ Beliau bersabda, ‘Puasa yang paling adil di sisi Allah adalah puasa setengah masa, yaitu puasa Dawud. Sesungguhnya kedua matamu memiliki hak atas dirimu, keluargamu memiliki hak atas dirimu, dan tamumu memiliki hak atas dirimu.’” Abu Salamah berkata, “Setelah usia lanjut menghampiri Abdullah bin Amr dan ia menjadi lemah, ia sering berkata, ‘Sungguh, seandainya dahulu aku menerima keringanan dari Rasulullah ﷺ, niscaya hal itu lebih aku sukai daripada keluarga dan hartaku.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنْ كَانَ نَسَبٌ أَقْرَبَ مِنْ نَسَبٍ فَلَا يَأْتِيَنَّ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْأَعْمَالِ وَتَأْتُونِي بِالدُّنْيَا تَحْمِلُونَهَا عَلَى أَعْنَاقِكُمْ فَتَقُولُونَ يَا مُحَمَّدُ فَأَقُولُ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِهِ يَمِينًا وَشِمَالًا أَيْ أُعْرِضُ عَنْكُمْ

Muhammad telah menceritakan kepada kami dari Abu Salamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang-orang yang paling dekat denganku adalah orang-orang bertakwa pada hari kiamat, meskipun ada hubungan nasab yang lebih dekat daripada hubungan nasab lainnya. Jangan sampai orang-orang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal, sementara kalian datang kepadaku dengan membawa dunia yang kalian pikul di atas leher kalian, lalu kalian berkata, ‘Wahai Muhammad.’ Aku pun berkata begini dan begitu.” Ia berkata, “Lalu Nabi ﷺ memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri,” yakni, “Aku berpaling dari kalian.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ قَالَ اللَّهُ أَنَا الرَّحْمَنُ وَهِيَ الرَّحِمُ اشْتَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي فَمَنْ يَصِلُهَا أَصِلُهُ وَمَنْ يَقْطَعُهَا أَقْطَعُهُ فَأَبُتُّهُ

Muhammad meriwayatkan kepada kami dari Abu Salamah, ia berkata, “Allah berfirman, ‘Aku adalah Ar-Rahman, dan ia adalah rahim (hubungan kekerabatan). Aku mengambil namanya dari nama-Ku. Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambung hubungan dengannya; dan barang siapa memutuskannya, Aku akan memutus hubungan dengannya dan benar-benar memutusnya.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ قَالَ مُحَمَّدٌ وَحَدَّثَنِي سَلْمَانُ الْأَغَرُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, ia berkata, “Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ibrahim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Satu salat di masjidku ini lebih baik daripada seribu salat di masjid lainnya, kecuali Masjidilharam.’” Muhammad berkata, “Salman al-Aghar juga telah menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dengan hadis serupa.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ جَاوَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الْوَسَطَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَلَمَّا أَصْبَحَ مِنْ عِشْرِينَ رَجَعَ وَرَجَعْنَا مَعَهُ فَنَامَ فَأُرِيَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيهَا فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ إِنِّي قَدْ أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَأُنْسِيتُهَا كَأَنِّي أُرَانِي أَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي الْوِتْرِ مِنْهَا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ وَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَرْجِعْ إِلَى مُعْتَكَفِهِ قَالَ ثُمَّ هَاجَتْ عَلَيْنَا السَّمَاءُ تِلْكَ الْعَشِيَّةَ الْمُقْبِلَةَ فَكَانَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ عَرِيشًا مِنْ جَرِيدٍ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فَوَالَّذِي أَكْرَمَهُ لَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي لَنَا صَلَاةَ الْفَجْرِ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ وَإِنَّ جَبِينَهُ وَأَرْنَبَةَ أَنْفِهِ لَفِي الْمَاءِ وَالطِّينِ

Muhammad telah meriwayatkan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah ﷺ beriktikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadan. Ketika pagi hari kedua puluh tiba, beliau kembali dan kami pun kembali bersama beliau. Beliau tidur, lalu diperlihatkan kepadanya Lailatulqadar, tetapi kemudian beliau dibuat lupa terhadapnya. Ketika sore tiba, beliau duduk di atas mimbar dan berkhutbah kepada orang-orang. Beliau bersabda, ‘Sungguh, Lailatulqadar telah diperlihatkan kepadaku, tetapi kemudian aku dibuat lupa terhadapnya. Seakan-akan aku melihat diriku bersujud di atas air dan tanah. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, pada malam-malam ganjil di antaranya. Sesungguhnya Allah itu witir dan menyukai yang ganjil. Siapa pun yang beriktikaf bersamaku, hendaklah kembali ke tempat iktikafnya.’ Kemudian, pada sore berikutnya, langit mengguyur kami dengan hujan. Atap masjid terbuat dari pelepah kurma, sehingga masjid bocor. Demi Zat yang telah memuliakan beliau, sungguh aku melihat beliau mengimami kami salat Subuh pada malam kedua puluh satu, sementara dahi dan ujung hidung beliau berada di dalam air dan tanah.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَاهُ طَلَّقَ أُمَّهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَمَاتَ فِي مَرَضِهِ ذَلِكَ فَوَرِثَهَا عُثْمَانُ مِنْهُ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, bahwa ayahnya menceraikan ibunya ketika sedang sakit, lalu meninggal dalam sakit itu. Maka Utsman menetapkan bahwa ibunya mewarisi harta peninggalan ayahnya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا رَكْعَتَانِ يُصَلِّيهِمَا وَهُوَ جَالِسٌ وَيُصَلِّي إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ فَتِلْكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, ia berkata, “Aisyah memberitahuku bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan salat malam sebanyak sebelas rakaat. Di antaranya, dua rakaat beliau kerjakan sambil duduk. Ketika fajar terbit, beliau mengerjakan dua rakaat sebelum salat Subuh. Dengan demikian, semuanya berjumlah tiga belas rakaat.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ مَا فَعَلَتِ الذُّهَيْبَةُ فَقُلْتُ هَذِهِ عِنْدِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ ائْتِينِي بِهَا وَهِيَ بَيْنَ التِّسْعِ إِلَى الْخَمْسِ ثُمَّ جَعَلَهَا فِي كَفَّهِ وَقَالَ مَا ظَنُّ مُحَمَّدٍ بِاللَّهِ لَوْ لَقِيَ اللَّهَ وَهِيَ عِنْدَهُ أَنْفِقِيهَا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ketika sakit yang menjadi sebab wafatnya, “Apa yang terjadi dengan emas kecil itu?” Aku menjawab, “Emas itu ada padaku, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bawakan emas itu kepadaku.” Emas itu berjumlah antara sembilan hingga lima. Kemudian beliau meletakkannya di telapak tangannya dan berkata, “Apa sangkaan Muhammad kepada Allah jika ia menemui Allah sementara emas itu masih ada padanya? Infakkanlah emas itu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ قَالَتْ كَانَ يَقْرَأُ وَهُوَ جَالِسٌ حَتَّى إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ

Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits, dari ‘Alqamah bin Waqqash, bahwa ia bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana Nabi ﷺ melaksanakan dua rakaat dalam keadaan duduk?” Aisyah menjawab, “Beliau membaca dalam keadaan duduk hingga ketika hendak rukuk, beliau berdiri lalu rukuk.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ بَلِيٍّ أَسْلَمَا قَالَ فَقُتِلَ أَحَدُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخِّرَ الْآخَرُ بَعْدَ الْمَقْتُولِ سَنَةً ثُمَّ مَاتَ قَالَ طَلْحَةُ فَرَأَيْتُ الْجَنَّةَ فِي الْمَنَامِ فَرَأَيْتُ الْآخَرَ مِنَ الرَّجُلَيْنِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَوَّلِ فَأَصْبَحْتُ فَحَدَّثْتُ النَّاسَ بِذَلِكَ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ وَصَلَّى بَعْدَهُ سَنَةً سِتَّةَ آلَافِ رَكْعَةٍ وَكَذَا وَكَذَا رَكْعَةً

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Talhah bin Ubaidillah, bahwa dua orang dari suku Balī masuk Islam. Ia berkata, “Salah seorang dari keduanya terbunuh di jalan Allah, sedangkan yang lain hidup setahun setelah orang yang terbunuh itu, kemudian meninggal.” Talhah berkata, “Aku melihat surga dalam mimpi, lalu kulihat orang yang kedua dari kedua orang itu dimasukkan ke surga sebelum yang pertama. Pagi harinya, aku menceritakan hal itu kepada orang-orang. Berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, ‘Bukankah ia berpuasa Ramadan setelah orang itu, dan selama setahun sesudahnya ia salat sebanyak enam ribu rakaat dan sekian banyak rakaat lainnya?’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي الْجَنِينِ يُقْتَلُ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوِ أَمَةٍ فَقَالَ الَّذِي قُضِيَ عَلَيْهِ أَنَغْرَمُ عَنْ مِنِ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ مِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ هَذَا بِقَوْلِ شَاعِرٍ فِيهِ غُرَّةٌ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami dari Abu Salamah bahwa Nabi ﷺ menetapkan bahwa janin yang dibunuh dikenai ghurrah berupa seorang budak laki-laki atau budak perempuan. Orang yang dijatuhi putusan itu berkata, “Apakah kami harus membayar ganti rugi atas orang yang tidak minum, tidak makan, tidak berbicara, dan tidak menangis saat dilahirkan? Apakah perkara seperti itu dibiarkan tanpa ganti rugi?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya hal ini berdasarkan ucapan seorang penyair; di dalamnya terdapat ghurrah.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ فَقَالَتْ نَعَمْ وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ وَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَنَامُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, bahwa ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Nabi ﷺ pernah tidur dalam keadaan junub?’ Ia menjawab, ‘Ya, tetapi beliau berwudu seperti wudu untuk salat dan mencuci kemaluannya, kemudian tidur.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْبَرِي هَذَا عَلَى تُرْعَةٍ مِنْ تُرَعِ الْجَنَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya mimbarku ini berada di atas salah satu pintu dari pintu-pintu surga.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا أَبَا بَكْرٍ فَاسْتَعْمَلَهُ عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي هُذَيْمٍ فَلَمَّا تَوَلَّى أَبُو بَكْرٍ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَأْتِيَنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِكَ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ شَاةٌ لَهَا يُعَارٌ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْفِنِي فَأَعْفَاهُ ثُمَّ دَعَا سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فَاسْتَعْمَلَهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ قَالَ لَهُ الَّذِي قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ فَقَالَ سَعْدٌ إِنِّي لَأَرْجُوَ أَنْ يُعِينَنِي اللَّهُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami dari Abu Salamah bahwa Rasulullah ﷺ memanggil Abu Bakr, lalu mengangkatnya sebagai petugas zakat Bani Hudhaym. Ketika Abu Bakr berpaling, Rasulullah ﷺ berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakr, janganlah engkau datang kepadaku pada hari kiamat dengan seekor unta yang melenguh atau seekor kambing yang mengembik di atas pundakmu.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku dari tugas ini.” Maka beliau membebaskannya. Kemudian beliau memanggil Sa‘d bin ‘Ubadah dan mengangkatnya sebagai petugas untuk mereka. Lalu beliau mengatakan kepadanya hal yang sama seperti yang beliau katakan kepada Abu Bakr. Sa‘d berkata, “Sungguh, aku berharap Allah akan menolongku.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلْيَخْرُجْنَ إِذَا خَرَجْنَ تَفِلَاتٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Hendaklah mereka keluar—apabila mereka keluar—tanpa memakai wewangian.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ أَنْبِيَاءَهُمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَخْبَرْتُكُمْ عَنْهُ قَالَ فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُذَافَةَ السَّهْمِيُّ فَقَالَ مَنْ أَبِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ بْنُ قَيْسٍ قَالَ فَلَمَّا رَجَعَ إِلَى أُمِّهِ فَقَالَتْ وَيْحَكَ مَا حَمَلَكَ عَلَى الَّذِي صَنَعْتَ كُنَّا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ وَأَعْمَالٍ قَبِيحَةٍ فَقَالَ لَهَا إِنْ كُنْتُ لَأُحِبُّ أَنْ أَعْلَمَ أَبِي مَنْ كَانَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka kepada para nabi dan sikap mereka yang menyelisihi para nabi mereka. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepadaku, kecuali pasti akan kuberitahukan jawabannya kepada kalian.” Ia berkata: Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi lalu berdiri dan bertanya, “Siapakah ayahku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah bin Qais.” Ia berkata: Ketika Abdullah kembali kepada ibunya, ibunya berkata, “Celaka kamu! Apa yang mendorongmu melakukan hal itu? Kita ini hidup pada masa jahiliah dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk.” Ia menjawab, “Sungguh, aku ingin mengetahui siapa ayahku sebenarnya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بَاعًا بِبَاعٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ وَشِبْرًا بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ مَعَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Muhammad telah menceritakan kepada kami dari Abu Salamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan setapak demi setapak. Bahkan, jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun akan masuk bersama mereka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, lalu siapa?”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الْأَمْرِ خِيَارُهُمْ تَبَعٌ لِخِيَارِهِمْ وَشِرَارُهُمْ تَبَعٌ لِشِرَارِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda kepada kami, “Orang-orang mengikuti Quraisy dalam urusan ini. Orang-orang terbaik di antara mereka mengikuti orang-orang terbaik Quraisy, dan orang-orang terburuk di antara mereka mengikuti orang-orang terburuk Quraisy.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مُغِيرَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنْ أَضْرِبَ مَنْ كَانَ يُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ بِالدِّرَّةِ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Umar bin Abdul Malik bin Mughirah bin Naufal, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa ia berkata, “Umar bin al-Khattab memerintahkanku untuk mencambuk siapa pun yang mengerjakan salat dua rakaat setelah Asar.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ أُتِيَ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَالُوا نَعَمْ عَلَيْهِ دِينَارَانِ قَالَ هَلْ تَرَكَ لَهُمَا وَفَاءً قَالُوا لَا قَالَ فَصَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَقَامَ فَصَلَّى عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dari Sa‘id bin Abi Sa‘id al-Maqburi, dari Abdullah bin Abi Qatadah, ia berkata, “Didatangkanlah seorang jenazah. Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apakah ia memiliki utang?’ Mereka menjawab, ‘Ya, ia memiliki utang dua dinar.’ Beliau bertanya, ‘Apakah ia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi keduanya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, salatkanlah jenazah sahabat kalian.’ Abu Qatadah berkata, ‘Keduanya menjadi tanggunganku, wahai Rasulullah.’ Lalu beliau berdiri dan menyalatinya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي رَحَبَةِ الْكُوفَةِ يَقُولُ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَقُولُ نَهَاكُمْ عَنْ لُبْسِ الْقَسِّيِّ وَالْمُعَصْفَرِ وَعَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ وَعَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَنَا رَاكِعٌ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Abdullah bin Hunain, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata di Rahbah Kufah, “Rasulullah ﷺ melarangku—aku tidak mengatakan bahwa beliau melarang kalian—mengenakan kain qassiy dan pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, memakai cincin emas, serta membaca Al-Qur’an ketika aku sedang rukuk.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ بِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُزَنِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ وَمَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ وَمَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْهِ سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ

Muhammad bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Bilal bin al-Harits al-Muzani, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, salah seorang di antara kalian mengucapkan suatu perkataan yang diridai Allah, padahal ia tidak menyangka bahwa perkataan itu akan mencapai sejauh yang dicapainya; lalu Allah menetapkan keridaan-Nya baginya karena perkataan itu hingga hari ia berjumpa dengan-Nya. Dan sungguh, salah seorang di antara kalian mengucapkan suatu perkataan yang mendatangkan murka Allah, padahal ia tidak menyangka bahwa perkataan itu akan mencapai sejauh yang dicapainya; lalu Allah menetapkan kemurkaan-Nya atas dirinya karena perkataan itu hingga hari ia berjumpa dengan-Nya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْقَرَّاظَ يَصِيحُ فِي الْمَسْجِدِ يَقُولُ أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بِسُوءٍ أَذَابَهُ اللَّهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

Muhammad menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Abu ‘Abdillah al-Qarrāẓ berteriak di masjid seraya berkata, “Abu Hurairah memberitahuku bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Siapa yang menghendaki keburukan bagi penduduk Madinah, Allah akan meleburkannya sebagaimana garam melebur dalam air.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ مَوْلَى الْحُرَقَةِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ وَأَسْفَلَ ذَاكَ إِلَى مَا فَوْقَ الْكَعْبَيْنِ فَمَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَفِي النَّارِ

Muhammad telah meriwayatkan kepada kami, dari ‘Abd al-Raḥmān bin Ya‘qūb, maula al-Ḥuraqah, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Panjang kain bawah seorang mukmin sampai pertengahan kedua betis. Bagian di bawah itu sampai di atas kedua mata kaki. Apa pun yang berada di bawah kedua mata kaki, maka tempatnya di neraka.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ مُلَيْحِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَى السَّعْدِيِّينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الَّذِي يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ قَبْلَ الْإِمَامِ فَإِنَّمَا نَاصِيَتُهُ بِيَدِ الشَّيْطَانِ

Muhammad telah meriwayatkan kepada kami, dari Mulayh bin Abdullah, maula kaum Sa‘diyyin, dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang yang rukuk dan bangkit sebelum imam, ubun-ubunnya berada di tangan setan.”

عَنْ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الصُّبْحِ ثُمَّ يَخْرُجُ نِسَاءُ الْمُؤْمِنِينَ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ فَلَا يُعْرَفْنَ

Dari Muhammad, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ melaksanakan salat Subuh, kemudian para perempuan mukmin keluar dengan menyelimuti diri mereka menggunakan kain-kain luar mereka, sehingga mereka tidak dikenali.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَبِيدَةَ بْنِ سُفْيَانَ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ أَبِي الْجَعْدِ الضَّمْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari ‘Ubaidah bin Sufyan al-Hadrami, dari Abu al-Ja‘d ad-Dhamri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa meninggalkan salat Jumat sebanyak tiga kali karena meremehkannya, Allah akan mengecap hatinya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ بْنِ ثَوْبَانَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلْقَمَةَ بْنَ مُجَزِّزٍ عَلَى بَعْثٍ أَنَا فِيهِمْ حَتَّى إِذَا بَلَغْنَا رَأْسَ غَزَاتِنَا أَوْ كُنَّا بِبَعْضِ الطَّرِيقِ أَذِنَ لِطَائِفَةٍ مِنَ الْجَيْشِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ حُذَافَةَ بْنِ قَيْسٍ السَّهْمِيَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ بَدْرٍ وَكَانَتْ فِيهِ دُعَابَةٌ فَنَزَلْنَا بِبَعْضِ الطَّرِيقِ ثُمَّ أَوَقَدَ الْقَوْمُ نَارًا فَقَالَ أَلَيْسَ لِي عَلَيْكُمُ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَمَا أَنَا بِآمِرِكُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا صَنَعْتُمُوهُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُعَزِّمُ عَلَيْكُمْ بِحَقِّي وَطَاعَتِي إِلَّا تَوَاثَبْتُمْ فِي هَذِهِ النَّارِ قَالَ فَقَامَ بَعْضُ الْقَوْمِ فَتَحَجَّزَ حَتَّى ظَنَّ أَنَّهُمْ وَاثِبُونَ فِيهَا فَقَالَ اجْلِسُوا فَإِنَّمَا كُنْتُ أَضْحَكُ مَعَكُمْ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ قَدِمُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَمَرَكُمْ مِنْهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَا تُطِيعُوهُ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Umar bin al-Hakam bin Tsawban, bahwa Abu Sa‘id al-Khudri memberitahunya bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Alqamah bin Mujazziz untuk memimpin sebuah pasukan yang aku termasuk di dalamnya. Ketika kami sampai di ujung wilayah ekspedisi kami, atau ketika kami berada di suatu bagian jalan, beliau mengizinkan sekelompok pasukan untuk berpisah dan menunjuk Abdullah bin Hudhafah bin Qais al-Sahmi sebagai pemimpin mereka. Ia termasuk sahabat yang mengikuti Perang Badar dan memiliki sifat suka bergurau. Kami singgah di suatu bagian jalan, lalu orang-orang menyalakan api. Ia berkata, “Bukankah aku berhak atas ketaatan dan kepatuhan kalian?” Mereka menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Kalau begitu, apa pun yang kuperintahkan kepada kalian, akan kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Maka aku meminta kalian, demi hak dan ketaatanku, agar kalian semua melompat ke dalam api ini.” Beberapa orang pun berdiri dan bersiap-siap, hingga ia mengira mereka benar-benar akan melompat ke dalamnya. Lalu ia berkata, “Duduklah. Aku hanya bercanda dengan kalian.” Setelah mereka kembali, aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa pun di antara kalian yang memerintahkan kalian untuk bermaksiat kepada Allah, janganlah kalian menaatinya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ مَكْحُولٍ الدِّمَشْقِيِّ أَنَّ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ مَرَّ عَلَى ابْنِ السِّمْطِ وَهُوَ مُرَابِطٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ أَلَا أُرَغِّبُكَ فِيمَا أَنْتَ فِيهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَمَنْ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَرَى لَهُ عَمَلُهُ أَوْ نَمَا لَهُ عَمَلُهُ وَوُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, dari Makḥūl ad-Dimasyqī, bahwa Salmān al-Fārisī melewati Ibn aṣ-Ṣimṭ yang sedang berjaga di jalan Allah. Ia berkata, “Maukah aku mendorongmu untuk semakin giat dalam amalan yang sedang engkau lakukan?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Berjaga satu hari di jalan Allah lebih baik daripada berpuasa dan salat malam selama sebulan. Siapa yang meninggal dalam keadaan berjaga di jalan Allah, amalnya akan terus mengalir—atau amalnya akan bertambah—dan ia akan dilindungi dari fitnah kubur.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَرْمَلَةَ عَنْ حَارِثِ بْنِ خُفَافِ بْنِ إِيمَاءٍ الْغِفَارِيِّ قالَ قَالَ خُفَافُ بْنُ إِيمَاءٍ رَكَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ غِفَارٌ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا وَأَسْلَمَ سَالَمَهَا اللَّهُ وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ اللَّهُمَّ الْعَنْ بَنِي لِحْيَانَ وَالْعَنْ رِعْلًا وَذَكْوَانَ ثُمَّ وَقَعَ سَاجِدًا قَالَ خُفَافٌ فَجُعِلَتْ لَعْنَةُ الْكَفَرَةِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Khalid bin Abdullah bin Harmalah, dari Harits bin Khuffaf bin Ima’ al-Ghifari. Ia berkata, Khuffaf bin Ima’ berkata, “Rasulullah ﷺ rukuk, lalu mengangkat kepalanya dan bersabda, ‘Ghifar, semoga Allah mengampuninya; Aslam, semoga Allah melindunginya; dan ‘Ushayyah telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah, laknatilah Bani Lihyan, laknatilah Ri’l dan Dzakwan.’ Kemudian beliau turun bersujud.” Khuffaf berkata, “Maka laknat terhadap orang-orang kafir ditetapkan karena hal itu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَأْذَنُ لِمَنْ أَرْضَعَ أَخَوَاتِهَا وَبَنَاتِ أُخْتِهَا وَلَا تَأْذَنُ لِمَنْ أَرْضَعَ نِسَاءَ إِخْوَتِهَا وَبَنِي أَخِيهَا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin al-Qasim, dari ayahnya, bahwa ‘Aisyah biasa mengizinkan orang yang pernah menyusui saudari-saudari perempuannya dan putri-putri saudari perempuannya, tetapi tidak mengizinkan orang yang pernah menyusui istri-istri saudara laki-lakinya dan putra-putra saudara laki-lakinya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ اللَّيْثِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ وَعَطَاءٍ وَسُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ الرَّضَاعَةَ مِنْ قِبَلِ الرَّجُلِ لَا تُحَرِّمُ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Yazid bin Abdullah bin Qusait al-Laitsi, dari Sa’id bin al-Musayyib, Abu Salamah, Atha’, dan Sulaiman bin Yasar, bahwa penyusuan dari pihak laki-laki tidak menyebabkan sesuatu pun menjadi haram.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ أَنَّ أُمَّهُ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَرْضَعَتْهَا أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ امْرَأَةُ الزُّبَيْرِ فَقَالَتْ زَيْنَبُ كَانَ يَدْخُلُ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ وَأَنَا أَمْتَشِطُ فَيَأْخُذُ بِقَرْنٍ مِنْ قُرُونِ رَأْسِي فَيَقُولُ أَقْبِلِي عَلَيَّ فَحَدِّثِينِي أَرَى أَنَّهُ أَبِي وَأَنْ وَلَدَهُ إِخْوَتِي قَالَتْ ثُمَّ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ أَرْسَلَ قَبْلَ الْحَرَّةِ إِلَيَّ يَخْطُبُ ابْنَتِي أُمَّ كُلْثُومٍ عَلَى أَخِيهِ حَمْزَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ وَكَانَ حَمْزَةُ لِلْكَلْبِيَّةِ فَقُلْتُ لِرَسُولِهِ وَهَلْ تَحِلُّ لَهُ وَإِنَّمَا هِيَ بِنْتُ أُخْتِهِ فَأَرْسَلَ عَبْدُ اللَّهِ إِلَيَّ إِنَّمَا تُرِيدِينَ الْمَنْعَ لِمَا قِبَلَكِ لَيْسَ لَكِ بِأَخٍ إِنَّكِ وَمَا وَلَدَتْ أَسْمَاءُ إِخْوَتُكِ وَمَا كَانَ مِنْ وَلَدِ الزُّبَيْرِ مِنْ غَيْرِ أَسْمَاءَ فَلَيْسُوا لَكِ بِإِخْوَةٍ فَأَرْسِلِي فَسَلِي عَنْ هَذَا فَأَرْسَلَتْ فَسَأَلَتْ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَأُمَّهَاتُ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالُوا لَهَا إِنَّ الرَّضَاعَةَ مِنْ قِبَلِ الرَّجُلِ لَا تُحَرِّمُ شَيْئًا فَأَنْكَحَتْهَا إِيَّاهُ فَلَمْ تَزَلْ عِنْدَهُ حَتَّى هَلَكَتْ

Muhammad telah menceritakan kepada kami dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Zam‘ah, bahwa ibunya, Zainab binti Abu Salamah, disusui oleh Asma binti Abu Bakar, istri az-Zubair. Zainab berkata, “Az-Zubair biasa masuk menemuiku ketika aku sedang menyisir rambut. Ia lalu memegang salah satu ikal rambutku dan berkata, ‘Hadaplah kepadaku dan berbicaralah denganku.’ Aku menganggapnya sebagai ayahku dan anak-anaknya sebagai saudara-saudaraku.” Zainab berkata, “Kemudian, sebelum peristiwa al-Harrah, Abdullah bin az-Zubair mengirim utusan kepadaku untuk melamar putriku, Ummu Kultsum, bagi saudaranya, Hamzah bin az-Zubair. Hamzah adalah anak perempuan al-Kalbiyyah. Aku berkata kepada utusannya, ‘Bagaimana mungkin ia halal baginya, padahal ia adalah anak perempuan saudara perempuannya?’ Abdullah lalu mengirim pesan kepadaku, ‘Engkau hanya ingin menghalangi karena pemahaman yang ada padamu. Ia bukan saudaramu. Sesungguhnya engkau dan anak-anak yang dilahirkan Asma adalah saudara-saudaramu, sedangkan anak-anak az-Zubair yang bukan dilahirkan Asma bukanlah saudara-saudaramu. Kirimlah utusan untuk menanyakan hal ini.’ Maka aku mengirim utusan untuk bertanya, sementara para sahabat Rasulullah ﷺ dan para Ummul Mukminin masih banyak yang hadir. Mereka berkata kepadaku, ‘Penyusuan dari pihak laki-laki tidak menjadikan sesuatu haram.’ Maka aku menikahkan putriku dengannya. Ia terus tinggal bersamanya hingga wafat.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ لَا أَكُفُّ شَعْرًا وَلَا ثَوْبًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari ‘Abd al-Karim al-Makki, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota tubuh, serta tidak menyingsingkan rambut maupun pakaian.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الصَّدَقَةُ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Muhammad telah menyampaikan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu hanyalah dari kelebihan harta; tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah; dan mulailah dengan orang-orang yang menjadi tanggunganmu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غِفَارٌ وَأَسْلَمُ وَمُزَيْنَةُ وَمَنْ كَانَ مِنْ جُهَيْنَةَ خَيْرٌ مِنَ الْحَلِيفَتَيْنِ غَطَفَانَ وَأَسَدٍ وَتَمِيمٍ وَهَوَازِنَ وَنِزَالِهِمْ فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْخَيْلِ وَالْوَبَرِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Kabilah Ghifar, Aslam, Muzainah, dan siapa pun yang berasal dari Juhainah lebih baik daripada dua golongan sekutu, Ghathafan dan Asad, serta Tamim dan Hawazin beserta para penentangnya, sebab mereka adalah kaum pemilik kuda dan unta berbulu.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ لَا يَقْطَعُهَا وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ وَظِلٍّ مَمْدُودٍ قَالَ وَفِي الْجَنَّةِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أَذِنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيَنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ وَقَالَ مَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon; seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa dapat menempuh seluruhnya. Bacalah, jika kalian mau: ‘Dan naungan yang terbentang luas.’ Ia berkata, ‘Di surga terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Bacalah, jika kalian mau: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa berbagai penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”’ Ia juga berkata, ‘Tempat sebatang cambuk milik salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Bacalah, jika kalian mau: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”’”

Keempat: Hadis-hadis al-‘Alā’ bin ‘Abdurraḥmān

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ ثنا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Ja‘far telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-‘Ala’ bin ‘Abdurrahman bin Ya‘qub telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’ bin ‘Abdurraḥmān, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Salat lima waktu dan salat Jumat hingga salat Jumat berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar tidak dilakukan.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

Al-‘Ala’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang pun dari umatku bersabar menghadapi kesukaran dan beratnya kehidupan di Madinah, melainkan aku akan menjadi pemberi syafaat baginya atau menjadi saksi untuknya pada hari kiamat.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia akan menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيَتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku diberi kelebihan atas para nabi dalam enam hal: aku diberi perkataan-perkataan yang padat maknanya; aku ditolong dengan rasa takut yang ditimpakan kepada musuh; harta rampasan perang dihalalkan bagiku; bumi dijadikan bagiku sebagai tempat salat dan sarana bersuci; aku diutus kepada seluruh makhluk; dan para nabi ditutup dengan kehadiranku.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Al-‘Ala’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tahukah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana menurut Anda jika pada diri saudaraku memang terdapat hal yang aku katakan?” Beliau menjawab, “Jika memang terdapat padanya hal yang engkau katakan, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika tidak terdapat padanya hal yang engkau katakan, berarti engkau telah memfitnahnya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفَّرُ عَنْهُ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهُ فَقَالَ نَعَمْ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, “Ayahku telah meninggal dan meninggalkan harta, tetapi tidak berwasiat. Apakah dosa-dosanya akan dihapus jika aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Al-‘Alā’ telah menyampaikan hadis kepada kami dari ayahnya, dari Abū Hurairah. Ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan mencurahkan rahmat kepadanya sepuluh kali.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّثَاؤُبُ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Menguap dalam salat berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampunya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ ائْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

Al-‘Ala’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila iqamah untuk salat telah dikumandangkan, janganlah kalian mendatanginya dengan berlari. Datangilah dengan tenang. Apa yang kalian dapati, salatlah; dan apa yang terlewat dari kalian, sempurnakanlah. Sebab, apabila salah seorang dari kalian sengaja menuju salat, ia berada dalam keadaan salat.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلِ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ وَلَكِنْ لِيُعَزِّمْ وَلْيُعْظِمِ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ خَيْرٌ أَعْطَاهُ

Al-‘Alā meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berdoa, janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, jika Engkau berkehendak,’ tetapi hendaklah ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan membesarkan harapannya, sebab tidak ada kebaikan yang diberikan-Nya yang terlalu besar bagi Allah.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتَهِ أَحَدٌ

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, tidak seorang pun akan berharap memperoleh surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, tidak seorang pun akan berputus asa dari surga-Nya.”

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ نَجِيحٍ عَنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ إِنْ تَوَلَّيْنَا اسْتُبْدِلُوا بِنَا ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَنَا قَالَ وَكَانَ سَلْمَانُ إِلَى جَنْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِ سَلْمَانَ فَقَالَ هَذَا وَقَوْمُهُ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ مَنُوطًا بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ قَالَ عَلِيٌّ وَلَمْ أَسْمَعْ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ وَلَمْ أُحَدَّثْ بِهِ

Abdullah bin Ja‘far bin Najih telah menceritakan kepadaku, dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa beberapa orang sahabat Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang disebut Allah dalam Al-Qur’an: ‘Jika kalian berpaling, Dia akan mengganti kalian dengan kaum lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian’?” Ia berkata, “Saat itu Salman berada di sisi Rasulullah ﷺ.” Ia berkata, “Rasulullah ﷺ lalu menepukkan tangannya ke paha Salman dan bersabda, ‘Orang ini dan kaumnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman tergantung pada bintang Tsuraya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.’” Ali berkata, “Aku tidak mendengar hadis ini dari Abdullah bin Ja‘far dan hadis ini tidak pernah disampaikan kepadaku.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ وَلَا تَغْرُبُ عَلَى يَوْمٍ أَفْضَلَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا وَهِيَ تَفْزَعُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ إِلَّا هَذَيْنِ الثَّقَلَيْنِ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَعَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلَكَانِ يَكْتُبَانِ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَكَرَجُلٍ قَدَّمَ بَدَنَةً وَكَرَجُلٍ قَدَّمَ بَقَرَةً وَكَرَجُلٍ قَدَّمَ شَاةً وَكَرَجُلٍ قَدَّمَ طَائِرًا وَكَرَجُلٍ قَدَّمَ بَيْضَةً فَإِذَا قَعَدَ الْإِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ

Al-Alā’ meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Matahari tidak terbit dan tidak terbenam pada suatu hari yang lebih utama daripada hari Jumat. Tidak ada satu pun binatang melata melainkan merasa takut akan hari Jumat, kecuali dua golongan makhluk berbeban berat ini, yaitu jin dan manusia. Di setiap pintu masjid ada dua malaikat yang mencatat orang-orang menurut urutan kedatangan: seperti orang yang mempersembahkan seekor unta, seperti orang yang mempersembahkan seekor sapi, seperti orang yang mempersembahkan seekor kambing, seperti orang yang mempersembahkan seekor burung, dan seperti orang yang mempersembahkan sebutir telur. Apabila imam telah duduk, lembaran-lembaran catatan itu dilipat.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبْتُهَا لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ وَإِذَا هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ أَكْتُبْهَا عَلَيْهِ فَإِنْ عَمِلَهَا كَتَبْتُهَا عَلَيْهِ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat melakukan suatu kebaikan, tetapi tidak mengerjakannya, Aku mencatatnya sebagai satu kebaikan baginya. Jika ia mengerjakannya, Aku mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Jika ia berniat melakukan suatu keburukan, tetapi tidak mengerjakannya, Aku tidak mencatatnya sebagai keburukan atas dirinya. Namun, jika ia mengerjakannya, Aku mencatatnya sebagai satu keburukan atas dirinya.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَاللِّسَانُ يَزْنِي وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ وَيُحَقِّقُ ذَلِكَ الْفَرَجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kedua mata berzina, lidah berzina, kedua tangan berzina, dan kedua kaki berzina. Kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan hal itu.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبَرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا بِكُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا بِإِخْوَانِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي إِخْوَانِي الَّذِينَ يَأْتُونَ بَعْدُ قَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدَ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمُ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ فَسُحْقًا فَسُحْقًا

Al-‘Alā meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi pemakaman lalu bersabda, “Salam sejahtera atas kalian, wahai penghuni negeri kaum beriman. Sesungguhnya, insyaallah, kami akan menyusul kalian. Aku berharap kita telah melihat saudara-saudara kita.” Mereka bertanya, “Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku ialah mereka yang datang kemudian.” Mereka bertanya, “Bagaimana engkau mengenali orang-orang dari umatmu yang belum datang kemudian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika seseorang mempunyai kuda-kuda dengan tanda putih di dahi dan kaki, di tengah-tengah kuda-kuda hitam legam; bukankah ia akan mengenali kuda-kudanya?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mereka akan datang dengan dahi dan kaki bercahaya karena wudu, dan aku akan mendahului mereka di telaga. Ketahuilah, sungguh akan ada orang-orang yang diusir dari telagaku, sebagaimana unta tersesat diusir. Aku menyeru mereka, ‘Kemarilah!’ Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya mereka telah mengubah ajaran setelah engkau.’ Maka aku berkata, ‘Jauhkan mereka, jauhkan mereka!’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

Al-‘Alā’ telah meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudu dalam keadaan sulit, banyak melangkahkan kaki menuju masjid, dan menunggu salat setelah salat. Itulah ribāṭ.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ قَالَ فَإِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَزَكَاةٍ وَصِيَامٍ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُقْضَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Al-‘Alā’ menuturkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami ialah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki barang.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa salat, zakat, dan puasa, tetapi ia pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu berzina, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka, orang ini diberi ganti rugi dari pahala kebaikannya, dan orang itu diberi ganti rugi dari pahala kebaikannya. Jika pahala kebaikannya habis sebelum semua tanggungannya dilunasi, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.”

حَدَّثَنَا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدٍ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ السَّرَّاجُ ثنا قُتَيْبَةُ نا اللَّيْثُ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَيْمُونٍ الْحَضْرَمِيِّ أَنَّ أَبَا مُوسَى الْغَافِقِيَّ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ يُحَدِّثُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَادِيثَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى إِنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا لَحَافِظٌ أَوْ هَالِكٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ آخِرُ مَا عَهِدَ إِلَيْنَا أَنْ قَالَ عَلَيْكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسَتَرْجِعُونَ إِلَى قَوْمٍ يُحَدِّثُونَ الْحَدِيثَ عَنِّي فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقَلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ حَفِظَ شَيْئًا فَلْيُحَدِّثْهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Thahir Muhammad bin al-Fadl bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq as-Sarraj, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah mengabarkan kepada kami al-Laits, dari Amr bin al-Harits, dari Yahya bin Maimun al-Hadhrami, bahwa Abu Musa al-Ghafiqi mendengar Uqbah bin Amir al-Juhani menyampaikan hadis-hadis dari Rasulullah ﷺ di atas mimbar. Abu Musa berkata, “Sesungguhnya orang kalian ini benar-benar seorang penghafal, atau ia akan binasa. Sesungguhnya pesan terakhir Rasulullah ﷺ kepada kami adalah sabda beliau, ‘Berpeganglah kalian pada Kitab Allah. Kalian kelak akan kembali kepada suatu kaum yang meriwayatkan hadis dari diriku. Siapa yang mengatakan atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka. Dan siapa yang menghafal sesuatu, hendaklah ia menyampaikannya.’”

حَدَّثَنَا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ ثنا حَفْصُ بْنُ جُمَيْعٍ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ مَوْلًى لَهُمْ هَلَكَ وَكَانَ أَبُوهُ نَصْرَانِيًّا وَتَرَكَ أَبَاهُ وَبَنِي أَخِيهِ وَهُمْ بَنُو عَمٍّ شَرْعًا فِيهِ سَوَاءٌ قَالَ أَنَسٌ أَنْتُمْ شُرَكَاءُ فِي الْمِيرَاثِ

Kakekku, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami: Ahmad bin Abdah telah menceritakan kepada kami: Hafsh bin Jumai‘ telah menceritakan kepada kami, dari Simak, dari Abdullah bin Uqbah, dari Anas bin Malik, bahwa seorang mawla mereka meninggal dunia. Ayahnya beragama Nasrani, dan ia meninggalkan ayahnya serta anak-anak saudara laki-lakinya; mereka adalah sepupu dari pihak ayah yang sama kedudukannya dalam hal itu menurut syariat. Anas berkata, “Kalian adalah sekutu dalam warisan.”

حَدَّثَنَا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ حُمْرَانَ ثنا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ عَنْ أَبِي الْمُلَيْحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَ بَعِيرُهُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّهُ يَعْظُمُ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الْبَيْتِ فَيَقُولَ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّهُ يَصْغُرُ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الدَّابَّةِ

Telah menceritakan kepada kami kakekku, Muhammad bin Ishaq; telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humran; telah menceritakan kepada kami Khalid al-Hadzdza’, dari Abu Tamimah al-Hujaimi, dari Abu al-Malih bin Usamah, dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah membonceng Rasulullah ﷺ. Unta beliau tersandung, lalu aku berkata, ‘Celakalah setan.’ Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, ‘Janganlah engkau berkata, “Celakalah setan,” sebab ia akan membesar hingga menjadi seperti rumah, lalu berkata, “Dengan kekuatanku.” Akan tetapi, ucapkanlah, “Dengan nama Allah,” sebab ia akan mengecil hingga menjadi seperti hewan tunggangan.’”

حَدَّثَنَا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ ثنا زُهَيْرُ بْنُ هُنَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ النَّصْرِيِّ عَنْ زُفَرَ بْنِ وَثِيمَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَنَاشَدُوا الْأَشْعَارَ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَا تُقَامُ فِيهَا الْحُدُودُ

Kakekku, Muhammad bin Ishaq, telah meriwayatkan kepada kami; Ahmad bin ‘Abdah telah meriwayatkan kepada kami; Zuhair bin Hunayd, dari Muhammad bin ‘Abdullah an-Nashri, dari Zufar bin Watsimah, dari Hakim bin Hizam, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian saling melantunkan syair di masjid-masjid, dan janganlah hukuman-hukuman hudud ditegakkan di dalamnya.”

حَدَّثَنَا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ ثنا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ ثنا سُفْيَانُ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ نُهِينَا أَنْ نَدْخُلَ عَلَى الْمَغِيبَاتِ

Kakek kami, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, telah meriwayatkan kepada kami; Ahmad bin Abdah telah meriwayatkan kepada kami; Sufyan, dari Mis‘ar, dari Sa‘d bin Ibrahim, dari Ibnu Umar, telah meriwayatkan kepada kami. Ia berkata, “Kami dilarang memasuki rumah para perempuan yang suaminya sedang bepergian.”

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيُّ السَّرَّاجُ ثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ثنا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas Muhammad bin Ishaq ats-Tsaqafi as-Sarraj, telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa‘id, telah menceritakan kepada kami al-Laits, dari Yazid bin Abi Habib, dari al-Harits bin Ya‘qub, dari Ya‘qub bin Abdullah, dari Busr bin Sa‘id, dari Sa‘d bin Abi Waqqash, dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, “Barang siapa singgah di suatu tempat, kemudian mengucapkan, ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan,’ niscaya tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai ia berangkat meninggalkan tempat itu.”

حَدَّثَنَا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ خَلَفٍ ثنا رَوَّادُ بْنُ الْجَرَّاحِ ثنا أَبُو الْحَسَنِ الْحَنَفِيُّ عَنْ بُكَيْرٍ الدَّامِغَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ جُبِّ الْحُزْنِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ جُبِّ الْحُزْنِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جُبِّ الْحُزْنِ قَالَ جُبٌّ فِي وَادٍ فِي قَعْرِ جَهَنَّمَ تَسْتَجِيرُ مِنْهُ جَهَنَّمُ كُلَّ يَوْمٍ أَرْبَعْمِائَةِ مَرَّةٍ أَعَدَّهُ اللَّهُ لِلْقُرَّاءِ الْمُرَائِينَ بِأَعْمَالِهِمْ وَإِنَّ أَبْغَضَ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ قَارِئٌ يَزُورُ الْعُمَّالَ

Kakekku, Muhammad bin Ishaq, telah menyampaikan kepada kami: Muhammad bin Khalaf telah menyampaikan kepada kami: Rawwad bin al-Jarrah telah menyampaikan kepada kami: Abu al-Hasan al-Hanafi telah menyampaikan kepada kami, dari Bukair ad-Damighani, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah ﷺ keluar menemui kami seraya bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah dari Jubb al-Huzn. Aku berlindung kepada Allah dari Jubb al-Huzn.’ Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah Jubb al-Huzn itu?’ Beliau menjawab, ‘Sebuah sumur di sebuah lembah, di dasar Jahannam. Jahannam memohon perlindungan darinya setiap hari sebanyak empat ratus kali. Allah menyiapkannya bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya dengan amal-amal mereka. Sesungguhnya, makhluk yang paling dibenci Allah adalah seorang pembaca Al-Qur’an yang mengunjungi para pejabat.’”

أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو الْحَجَّاجِ يُوسُفُ بْنُ خَلِيلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الدِّمَشْقِيُّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ فِي رَابِعِ شَهْرِ رَمَضَانَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَلَاثِينَ وَسِتِّمِائَةٍ قِيلَ لَهُ أَخْبَرَكُمُ الشَّيْخُ أَبُو الْفَرَجِ يَحْيَى بْنُ مَحْمُودِ بْنِ سَعْدٍ الثَّقَفِيُّ قَدِمَ عَلَيْكُمْ دِمَشْقَ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِهَا وَأَنَا أَسْمَعُ فِي صَفَرٍ فِي سَنَةِ ثَلَاثٍ وَثَمَانِينَ وَخَمْسِمِائَةٍ فَأَقَرَّ بِهِ قَالَ أنا أَبُو طَاهِرٍ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الصَّبَّاغُ سَنَةَ سَتَّ عَشْرَةَ وَخَمْسِمِائَةٍ قَالَ قُرِئَ عَلَى أَبِي طَاهِرٍ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ صَالِحِ بْنِ بَكْرٍ وَأَنَا أَسْمَعُ قَالَ حَدَّثَنِي جَدِّي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ ثنا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Telah mengabarkan kepada kami Syekh, Imam Abu al-Hajjaj Yusuf bin Khalil bin Abdullah al-Dimasyqi, melalui pembacaan kepadanya sementara aku mendengarkan, pada hari keempat bulan Ramadan tahun 638 H. Ia ditanya, “Apakah Syekh Abu al-Faraj Yahya bin Mahmud bin Sa‘d al-Tsaqafi telah menyampaikan kepada kalian—ketika beliau datang ke Damaskus—melalui pembacaan kepadanya di sana, sementara aku mendengarkan pada bulan Safar tahun 583 H?” Lalu ia membenarkannya. Ia berkata, “Aku menerima riwayat ini dari Abu Tahir ‘Abd al-Wahid bin Muhammad bin Ahmad bin al-Haitsam al-Sabbagh pada tahun 516 H.” Ia berkata, “Dibacakan kepada Abu Tahir Muhammad bin al-Fadl bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaymah bin al-Mughirah bin Shalih bin Bakr, sementara aku mendengarkan.” Ia berkata, “Kakekku, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaymah, telah menceritakan kepadaku.” Ia berkata, “Ali bin Hujr al-Sa‘di telah menceritakan kepada kami; Isma‘il bin Ja‘far al-Madani telah menceritakan kepada kami; al-‘Ala’ bin ‘Abd al-Rahman bin Ya‘qub telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sedekah tidak mengurangi harta. Allah tidak menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هُنَّ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

Telah menceritakan kepada kami Al-‘Ala’ bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah keenam hal itu?” Beliau menjawab, “Apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya; apabila ia mengundangmu, penuhilah undangannya; apabila ia meminta nasihat kepadamu, berilah ia nasihat; apabila ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah ia; apabila ia sakit, jenguklah ia; dan apabila ia meninggal, iringilah jenazahnya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقُولُ أَحَدُكُمْ عَبْدِي وَأَمَتِي فَكُلُّكُمْ عَبِيدُ اللَّهِ وَكُلُّ نِسَائِكُمْ إِمَاءُ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَقُلْ غُلَامِي وَجَارِيَتِي وَفَتَايَ وَفَتَاتِي

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’ bin ‘Abd al-Raḥmān, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, ‘Budakku laki-laki’ atau ‘budakku perempuan’, sebab kalian semua adalah hamba-hamba Allah dan semua perempuan kalian adalah hamba-hamba perempuan Allah. Akan tetapi, hendaklah ia mengatakan, ‘pemuda laki-lakiku’, ‘pemudi perempuanku’, ‘anak laki-lakiku’, atau ‘anak perempuanku’.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا هَامَّةَ وَلَا نَوْءَ وَلَا صَفَرَ

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada penularan penyakit, tidak ada hāmah, tidak ada nau’, dan tidak ada Ṣafar.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِي النَّارِ أَبَدًا

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala’ bin ‘Abd al-Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Orang kafir dan orang yang membunuhnya tidak akan pernah berkumpul di neraka.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَلَقَ اللَّهُ مِائَةَ رَحْمَةٍ فَوَضَعَ وَاحِدَةً بَيْنَ خَلْقِهِ وَخَبَّأَ عِنْدَهُ مِائَةً إِلَّا وَاحِدَةً

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan seratus rahmat. Dia menempatkan satu rahmat di antara makhluk-Nya dan menyimpan sembilan puluh sembilan rahmat di sisi-Nya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ دَاءٍ إِلَّا وَفِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ مِنْهُ شِفَاءٌ إِلَّا السَّامَ يَعْنِي الْمَوْتَ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada suatu penyakit pun melainkan pada habbah sauda (jintan hitam) terdapat obat untuknya, kecuali as-sām, yakni kematian.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ يَمَانٍ وَالْكُفْرُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ وَالْفَخْرُ وَالرِّيَاءُ فِي الْفَدَّادِينَ مِنْ أَهْلِ الْخَيْلِ وَالْوَبَرِ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman itu berasal dari Yaman, sedangkan kekufuran berasal dari arah timur. Ketenteraman terdapat pada orang-orang yang memelihara kambing, sedangkan kebanggaan dan pamer diri terdapat pada para faddādīn dari kalangan pemilik kuda dan kaum Badui.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي الْمَسِيحُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَهِمَّتُهُ الْمَدِينَةُ حَتَّى يَنْزِلَ دُبُرَ أُحُدٍ ثُمَّ تَصْرِفُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ قِبَلَ الشَّامِ وَهُنَالِكَ يَهْلِكُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Al-Masih datang dari arah timur, dan tujuannya adalah Madinah, hingga ia turun di belakang Gunung Uhud. Kemudian para malaikat memalingkan wajahnya ke arah Syam, dan di sanalah ia binasa.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ ثَلَاثُونَ دَجَّالًا كَذَّابًا كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

Al-‘Alā meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul tiga puluh Dajjal pendusta, yang semuanya mengaku sebagai utusan Allah, hingga ilmu dicabut, fitnah-fitnah bermunculan, dan pembunuhan semakin banyak.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah al-harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sumpah palsu dapat melariskan barang dagangan, tetapi menghapus keuntungan.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى تُقَادَ الشَّاةُ الْجَلْحَاءُ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, hak-hak akan benar-benar ditunaikan kepada para pemiliknya pada hari kiamat, hingga domba yang tidak bertanduk diqisas dari domba yang bertanduk.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَالدَّجَّالُ وَالدُّخَانُ وَالدَّابَّةُ وَخَاصَّةُ أَحَدِكُمْ وَأَمْرُ الْعَامَّةِ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersegeralah kalian mengerjakan amal sebelum datang enam perkara: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, asap, binatang melata, kematian salah seorang di antara kalian, dan perkara yang menimpa masyarakat umum.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِذَا بَلَغَ بَنُو أَبِي الْعَاصِ ثَلَاثِينَ كَانَ دِينُ اللَّهِ دَخَلًا وَمَالُ اللَّهِ نُحْلًا وَعِبَادُ اللَّهِ خُوَلًا

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, ia berkata, “Apabila Bani Abū al-‘Āṣ mencapai tiga puluh orang, agama Allah akan dicampuri (dengan kebatilan), harta Allah akan dijadikan pemberian, dan hamba-hamba Allah akan dijadikan budak.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari arah baratnya. Apabila matahari telah terbit dari arah baratnya, semua manusia akan beriman, tanpa terkecuali. Pada hari itu, iman seseorang tidak akan bermanfaat baginya jika sebelumnya ia belum beriman atau belum melakukan kebaikan dalam keimanannya.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersegeralah melakukan amal sebelum datang fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari beriman, lalu pada sore harinya menjadi kafir; atau pada sore hari beriman, lalu pada pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi keuntungan dunia.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ

Al-‘Alā’ bin ‘Abd al-Raḥmān telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Dosa atas segala ucapan dua orang yang saling mencaci ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجَرَسُ مِنْ مَزَامِيرِ الشَّيْطَانِ

Al-‘Ala’ telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Lonceng termasuk seruling-seruling setan.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ فَقَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ حَتَّى يَرَاهُ النَّاسُ ثُمَّ قَالَ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ melewati setumpuk bahan makanan. Beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, lalu jari-jari beliau merasakan bagian yang basah. Beliau bertanya, “Apa ini, wahai pemilik bahan makanan?” Ia menjawab, “Bahan makanan ini terkena hujan, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa tidak engkau letakkan bagian yang basah itu di atas bahan makanan agar dapat dilihat orang-orang?” Kemudian beliau bersabda, “Barang siapa menipu, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ سَعِّرْ لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّمَا يَرْفَعُ اللَّهُ وَيَخْفِضُ وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ عِنْدِي مُظْلِمَةٌ فَقَالَ لَهُ آخَرُ سَعِّرْ فَقَالَ اللَّهُ

Al-‘Ala telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki berkata, “Tetapkanlah harga bagi kami, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah-lah yang menaikkan dan menurunkan harga, dan aku sungguh berharap dapat bertemu Allah tanpa seorang pun memiliki tuntutan kezaliman terhadapku.” Lalu seorang laki-laki lain berkata kepadanya, “Tetapkanlah harga.” Beliau menjawab, “Allah…”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa mengerjakan salat tanpa membaca Ummul-Qur’an di dalamnya, maka salat itu kurang, kurang, tidak sempurna.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَقَرَأَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ أُمَّ الْقُرْآنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْقُرْآنِ مِثْلَهَا وَإِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ketika Ubay bin Ka‘b membaca Ummul-Qur’an, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan yang sepertinya, baik dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al-Qur’an. Sungguh, ia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا اللِّعَانَيْنِ قِيلَ مَا هُمَا قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah dua perkara yang mendatangkan laknat.” Ditanyakan, “Apakah keduanya?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan yang dilalui orang-orang atau di tempat teduh mereka.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَاهُ تَزَوَّجَ أُمَّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَوَلَدَتْ وَكَانَ يَعْقُوبُ مُكَاتِبًا لِأَوْسِ بْنِ الْحَدَثَانِ وَكَانَتْ أُمُّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَاةً لِرَجُلٍ مِنَ الْحُرَقَةِ فَاخْتَصَمَا فِي وِلَايَةِ عُثْمَانَ فَقَضَى أَنَّ مَا وَلَدَتْ أُمُّ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ويَعْقُوبُ مُكَاتِبٌ فَهُوَ لِلْحُرَقِيِّ وَمَا وَلَدَتْ بَعْدَ عِتْقِهِ فَهُوَ لِأَوْسٍ

Al-Ala meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, bahwa ayahnya menikahi Ummu Abdurrahman, lalu ia melahirkan. Yaqub adalah seorang mukatab bagi Aws bin al-Hadatsan, sedangkan Ummu Abdurrahman adalah mawlāt seorang lelaki dari al-Huraqah. Keduanya berselisih mengenai wala’ Utsman, lalu diputuskan bahwa anak yang dilahirkan Ummu Abdurrahman ketika Yaqub masih mukatab menjadi milik al-Huraqi, sedangkan anak yang dilahirkannya setelah Yaqub merdeka menjadi milik Aws.

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ صَدَرْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ مِنْ مِنًى فَبِتْنَا بِالْمُحَصَّبِ حَتَّى صَلَّيْنَا بِهِ الصُّبْحَ ثُمَّ رَكِبْنَا حَتَّى أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ يُصَلِّي لِأَهْلِ مَكَّةَ صَلَاةَ الصُّبْحِ فَوَقَفَ ابْنُ عُمَرَ يَنْتَظِرُهُ فَلَمَّا فَرَغَ دَخَلَ وَطَافَ بِالْبَيْتِ ثُمَّ رَكِبَ فَلَمْ يُصَلِّ فَسَارَ حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الضُّحَى نَزَلَ فَصَلَّى

Al-‘Alā’ menyampaikan kepada kami dari ayahnya, bahwa ia berkata, “Aku berangkat dari Mina bersama ‘Abdullāh bin ‘Umar. Kami bermalam di al-Muḥaṣṣab hingga menunaikan salat Subuh di sana. Kemudian kami naik kendaraan sampai tiba di masjid. Ternyata ‘Abdullāh bin az-Zubair sedang mengimami penduduk Makkah dalam salat Subuh. Ibnu ‘Umar pun berdiri menunggunya. Setelah ia selesai, Ibnu ‘Umar masuk dan tawaf mengelilingi Ka‘bah. Kemudian ia naik kendaraan dan tidak menunaikan salat. Ia terus berjalan hingga matahari meninggi pada waktu duha, lalu turun dan menunaikan salat.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ أَنَّهُ كَانَ يَوْمًا مَعَ أَبِيهِ فَلَقِيَهُمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ فَسَأَلَهُ أَبِي كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَيْتِ قَالَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أُسَامَةَ وَبِلَالٍ فَلَمَّا خَرَجَا سَأَلْتُهُمَا كَيْفَ صَلَّى فَقَالَا عَلَى جِهَتِهِ

Al-Ala’ menyampaikan kepada kami bahwa suatu hari ia sedang bersama ayahnya, lalu Abdullah bin Umar bertemu mereka berdua. Ia berkata, “Ayahku bertanya kepadanya, ‘Bagaimanakah salat Rasulullah ﷺ di dalam Ka’bah?’” Ia menjawab, “Rasulullah ﷺ masuk bersama Usamah dan Bilal. Ketika keduanya keluar, aku bertanya kepada mereka, ‘Bagaimanakah beliau salat?’ Mereka menjawab, ‘Di salah satu sisinya.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي دَارِهِ بِالْبَصْرَةِ حِينَ انْصَرَفَ مِنَ الظُّهْرِ قَالَ وَدَارُهُ بِجَنْبِ الْمَسْجِدِ فَلَمَّا دَخَلْنَا عَلَيْهِ قَالَ صَلَّيْتُمُ الْعَصْرَ قُلْنَا لَهُ إِنَّمَا انْصَرَفْنَا السَّاعَةَ مِنَ الظُّهْرِ قَالَ فَصَلُّوا الْعَصْرَ فَقُمْنَا وَصَلَّيْنَا فَلَمَّا انْصَرَفْنَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami bahwa ia pernah menemui Anas bin Malik di rumahnya di Basrah, seusai waktu Zuhur. Ia berkata, “Rumahnya terletak di samping masjid. Ketika kami masuk menemuinya, ia bertanya, ‘Sudahkah kalian salat Asar?’ Kami menjawab, ‘Kami baru saja selesai salat Zuhur.’ Ia berkata, ‘Kalau begitu, salatlah Asar.’ Maka kami berdiri dan salat. Setelah selesai, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Itulah salat orang munafik: ia duduk mengawasi matahari, hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, ia berdiri lalu mematuk empat rakaat, dan ia hanya sedikit mengingat Allah di dalamnya.”’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ جَحْشٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَحْشٍ قَالَ كُنَّا يَوْمًا جُلُوسًا فِي مَوْضِعِ الْجَنَائِزِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فِي السَّمَاءِ ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نَزَلَ مِنَ التَّشْدِيدِ فَسَكَتْنَا وَفَرِقْنَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ سَأَلْتُهُ مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نَزَلَ قَالَ فِي الدَّيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى دَيْنُهُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari Abū Katsīr, maula Muhammad bin Jahsy, dari Muhammad bin Jahsy. Ia berkata, “Suatu hari kami sedang duduk di tempat jenazah bersama Rasulullah ﷺ. Beliau mengangkat kepala ke langit, lalu meletakkan telapak tangannya di dahinya seraya bersabda, ‘Mahasuci Allah! Betapa berat ketentuan yang telah diturunkan.’ Kami pun terdiam dan merasa takut. Keesokan harinya, aku bertanya kepada beliau, ‘Apakah ketentuan berat yang telah diturunkan itu?’ Beliau menjawab, ‘Tentang utang. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan kembali, lalu terbunuh, kemudian dihidupkan kembali, lalu terbunuh, sedangkan ia masih memiliki utang, ia tidak akan masuk surga sebelum utangnya dilunasi.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَحْشٍ أَنَّهُ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَعَهُ عَلَى مَعْمَرٍ وَفَخِذَاهُ مَكْشُوفَتَانِ فَقَالَ يَا مَعْمَرُ غَطِّ عَلَيْكَ فَخِذَكَ فَإِنَّ الْفَخِذَيْنِ عَوْرَةٌ

Telah menceritakan kepada kami al-‘Ala’, dari Abu Katsir, dari Muhammad bin Jahsy, bahwa ia berkata, “Rasulullah ﷺ lewat ketika aku sedang bersama Ma‘mar, sementara kedua pahanya tersingkap. Beliau bersabda, ‘Wahai Ma‘mar, tutuplah pahamu, karena kedua paha itu adalah aurat.’”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari al-‘Abbās ibn Sahl ibn Sa‘d as-Sā‘idī, dari Sa‘īd ibn Zayd ibn ‘Amr ibn Nufayl, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, Allah akan mengalungkan tanah itu pada lehernya pada hari kiamat dari tujuh lapis bumi.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَخِيهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ السَّلَمِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِنْ كَانَ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

Al-‘Alā’ telah meriwayatkan kepada kami dari Ma‘bad bin Ka‘b, dari saudaranya, ‘Abdullāh bin Ka‘b as-Sulamī, dari Abū Umāmah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang merampas hak seorang Muslim dengan sumpahnya, sungguh Allah telah menetapkan baginya neraka dan mengharamkan surga atasnya.” Seorang laki-laki bertanya kepada beliau, “Meskipun sesuatu itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang ranting arāk.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ عَنِ الْعَزْلِ فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا

Telah menceritakan kepada kami al-‘Alā’, dari ayahnya, bahwa ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Abdullāh bin ‘Abbās tentang ‘azl, lalu ia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bermasalah.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي الصَّلَاةِ حِينَ يَقُومُ فِي الرَّكْعَةِ وَفِي الثَّالِثَةِ حِينَ يَرْفَعُ مِنَ السُّجُودِ

Al-‘Alā’ telah menceritakan kepada kami, dari Sālim bin ‘Abdullāh, dari ayahnya, bahwa ia tidak mengangkat kedua tangannya dalam salat ketika berdiri pada rakaat dan pada rakaat ketiga ketika bangkit dari sujud.

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ شَهِدَ جَنَازَةً صَلَّى عَلَيْهَا مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ فَذَهَبَ أَبُو هُرَيْرَةَ مَعَ مَرْوَانَ حَتَّى جَلَسَا فِي الْمَقْبَرَةِ فَجَاءَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ فَقَالَ لِمَرْوَانَ أَرِنِي يَدَكَ فَأَعْطَاهُ يَدَهُ فَقَالَ قُمْ فَقَامَ ثُمَّ قَالَ مَرْوَانُ لِأَبِي سَعِيدٍ لِمَ أَقَمْتَنِي قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى جَنَازَةً قَامَ حَتَّى يُمَرَّ بِهَا وَقَالَ إِنَّ لِلْمَوْتِ فَزَعًا فَقَالَ مَرْوَانُ أَصَدَقَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُحَدِّثَنِي قَالَ كُنْتَ إِمَامًا فَجَلَسْتَ فَجَلَسْتُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia menghadiri suatu jenazah yang disalatkan oleh Marwān bin al-Ḥakam. Abu Hurairah pergi bersama Marwān hingga keduanya duduk di pemakaman. Lalu Abu Sa‘īd al-Khudrī datang dan berkata kepada Marwān, “Perlihatkan tanganmu kepadaku.” Marwān mengulurkan tangannya. Abu Sa‘īd berkata, “Berdirilah.” Marwān pun berdiri. Kemudian Marwān berkata kepada Abu Sa‘īd, “Mengapa engkau menyuruhku berdiri?” Abu Sa‘īd menjawab, “Apabila Rasulullah ﷺ melihat jenazah, beliau berdiri hingga jenazah itu berlalu. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kematian itu menimbulkan ketakutan.’” Marwān berkata, “Benarkah demikian, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Benar.” Marwān berkata, “Apa yang menghalangimu untuk memberitahuku?” Abu Hurairah menjawab, “Engkau adalah imam, lalu engkau duduk, maka aku pun duduk.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ فَمَا كَانَ أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ فَفِي النَّارِ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Panjang kain orang beriman sampai pertengahan kedua betis. Tidak berdosa baginya jika kainnya berada di antara pertengahan betis dan kedua mata kaki. Apa pun yang berada di bawah kedua mata kaki, maka tempatnya di neraka. Pada hari kiamat, Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena kesombongan.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي طَرِيقٍ فِي حُلَّةٍ إِذَا أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ وَرِدَاؤُهُ قَالَ فَخُسِفَ بِهِ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika seorang lelaki sedang berjalan di sebuah jalan dengan mengenakan pakaian yang indah, lalu ia merasa kagum terhadap dirinya dan mantelnya, tiba-tiba ia ditenggelamkan ke dalam bumi. Ia terus terbenam di dalamnya hingga Hari Kiamat.”

حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي طَرِيقٍ إِذْ بَصُرَ بِغُصْنِ شَوْكٍ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّ هَذَا لَا يُصِيبُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَرَفَعَهُ فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُ

Al-‘Alā’ meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan, tiba-tiba ia melihat ranting berduri. Ia berkata, ‘Demi Allah, sungguh akan kusingkirkan ranting ini agar tidak melukai seorang pun dari kaum muslimin.’ Maka ia pun menyingkirkannya, lalu Allah mengampuninya.”

Kelima: hadis-hadis Muhammad bin Abi Harmalah dari Bani Amir.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ قَالَ ثنا إسماعيل قَالَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حَرْمَلَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُصُّ عَلَى الْمِنْبَرِ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَقُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الثَّانِيَةَ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَقُلْتُ الثَّانِيَةَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الثَّالِثَةِ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَقُلْتُ الثَّالِثَةَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ وَإِنْ رَغِمَ أَنْفُ أَبِي الدَّرْدَاءِ

Ali menuturkan kepada kami, ia berkata: Ismail telah menuturkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Harmalah telah menuturkan kepada kami, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Darda’, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang menyampaikan nasihat di atas mimbar, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” Aku pun bertanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ lalu mengulangi, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” Aku bertanya, “Yang kedua, meskipun ia berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?” Pada kali ketiga, Rasulullah ﷺ berkata, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” Aku bertanya, “Yang ketiga, meskipun ia berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Meskipun hidung Abu Darda’ tersungkur ke tanah.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ قَالَ أَوْصَانِي حَبِيبِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ أَبَدًا أَوْصَانِي بِصَلَاةِ الضُّحَى وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Dzarr, bahwa ia berkata, “Kekasihku berpesan kepadaku tiga perkara yang tidak akan kutinggalkan, insyaallah, selamanya: beliau berpesan kepadaku untuk melaksanakan salat duha, salat witir sebelum tidur, dan berpuasa tiga hari setiap bulan.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّخِذُوا بُيُوتَكُمْ مَسَاجِدَ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Muhammad telah menceritakan kepada kami dari ‘Atha’ bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai masjid, dan janganlah menjadikannya sebagai kuburan.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ وَمَهْرِ الزَّانِيَةِ وَثَمَنِ الْكَلْبِ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي حَارِثَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي غُلَامًا حَجَّامًا وَإِنَّ عِنْدِي مِنْ كَسْبِهِ فَتَأْذَنُ لِي أَنْ آكُلَهُ فَنَهَاهُ عَنْهُ وَأَذِنَ لَهُ أَنْ يَجْعَلَهُ فِي عَلَفِ نَاضِحِهِ وَلَا يَعُودَ

Muhammad meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ bahwa Nabi ﷺ melarang upah tukang bekam, mahar pelacur, dan harga anjing. Lalu seorang lelaki dari Bani Haritsah datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang budak yang bekerja sebagai tukang bekam, dan aku memiliki sebagian upah hasil kerjanya. Apakah engkau mengizinkanku memakannya?” Beliau melarangnya mengambil upah itu, tetapi mengizinkannya untuk menggunakannya sebagai pakan bagi unta pengangkut airnya, dan agar ia tidak mengulanginya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ وَسُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِهِ كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ فَدَخَلَ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَوَّى عَلَيْهِ ثِيَابَهُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحْيِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari ‘Atha’ bin Yasar, Sulaiman bin Yasar, dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwa ‘Aisyah berkata, “Nabi ﷺ sedang berbaring di rumahnya dengan paha atau betisnya tersingkap. Abu Bakar lalu meminta izin, dan beliau mengizinkannya. Abu Bakar masuk sementara beliau dalam keadaan demikian, lalu mereka berbincang-bincang. Kemudian Umar meminta izin, dan beliau mengizinkannya, sementara beliau tetap dalam keadaan demikian. Umar pun berbincang-bincang dengan beliau. Kemudian Utsman meminta izin. Nabi ﷺ lalu duduk dan merapikan pakaiannya.” Muhammad berkata, “Aku tidak mengatakan bahwa hal itu terjadi pada satu hari yang sama.” Utsman masuk, lalu berbincang-bincang dengan beliau. Ketika Utsman keluar, ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Bakar masuk, tetapi engkau tidak menyambutnya dengan ceria dan tidak menghiraukannya. Kemudian Umar masuk, tetapi engkau juga tidak menyambutnya dengan ceria dan tidak menghiraukannya. Lalu Utsman masuk, kemudian engkau duduk dan merapikan pakaianmu.” Beliau bersabda, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang para malaikat pun merasa malu kepadanya?”

عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ عَطَاءٍ وَأَبِي سَلَمَةَ وَابْنِ أَبِي عَمْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ أَقْبَلَ إِلَى الْإِنْسَانِ وَهُوَ يُصَلِّي فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ فَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا حَتَّى يُخَيَّلَ إِلَيْهِ أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ؛ لِيَقْطَعَ صَلَاتَهُ فَلَا يَقْطَعَنَّ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ حَتَّى يَجِدَ بَلَلًا أَوْ يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Muhammad, dari ‘Atha’, Abu Salamah, dan Ibnu Abi ‘Amrah, bahwa Nabi saw. bersabda, “Apabila azan untuk salat dikumandangkan, setan berpaling sambil mengeluarkan kentut. Ketika muazin berhenti, ia kembali menghampiri orang yang sedang salat, lalu membisikkan waswas kepadanya seraya berkata, ‘Ingat ini, ingat itu,’ hingga orang tersebut membayangkan bahwa ia telah berhadas. Setan melakukan itu agar ia membatalkan salatnya. Maka, janganlah salah seorang di antara kalian membatalkan salatnya sampai ia mendapati sesuatu yang basah, mendengar suara, atau mencium bau.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَجُلًا أَخْبَرَهُ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضُمُّ إِلَيْهِ حَسَنًا وَحُسَيْنًا وَيَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari ‘Atha’, bahwa seorang lelaki memberitahunya bahwa ia melihat Nabi ﷺ merangkul Hasan dan Husain, seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

قَالَ عَطَاءٌ وَأَخْبَرَنِي فُلَانُ ابْنُ فُلَانٍ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِفِنَاءِ بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ أَوْ فِي حُجْرَتِهَا وَعِنْدَهُ شَطْرُ تَمْرٍ صَدَقَةً وَعِنْدَهُ أَحَدُ الْغُلَامَيْنِ حَسَنٌ أَوْ حُسَيْنٌ فَأَخَذَ الْغُلَامُ تَمْرَةً فَأَدْخَلَهَا فِي فِيهِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَقَفَ إِصْبَعَهُ وَأَخْرَجَهَا مِنْ فِيهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ غُلَامٌ صَغِيرٌ فَقَالَ إِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ

‘Aṭā’ berkata, “Si Fulan bin Fulan memberitahuku bahwa ia sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ di halaman rumah Ummu Salamah atau di kamarnya. Di dekat beliau ada setengah butir kurma dari sedekah, dan salah seorang dari dua anak lelaki itu, Hasan atau Husain, juga berada di dekat beliau. Anak itu mengambil sebutir kurma lalu memasukkannya ke dalam mulut. Nabi ﷺ melihatnya, lalu beliau membengkokkan jarinya dan mengeluarkan kurma itu dari mulutnya. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, ia masih anak kecil.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kurma itu tidak halal bagi Muhammad dan tidak pula bagi keluarga Muhammad.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ خَوْلَةَ بِنْتَ ثَعْلَبَةَ كَانَتْ تَحْتَ أَوْسِ بْنِ الصَّامِتِ فَتَظَاهَرَ مِنْهَا وَكَانَ بِهِ لَمَمٌ فَجَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَوْسًا تَظَاهَرَ مِنْهَا وَذَكَرَتْ أَنَّ بِهِ لَمَمًا فَقَالَتْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا جِئْتُكَ إِلَّا رَحْمَةً لَهُ إِنَّ لَهُ فِيَّ مَنَافِعَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْقُرْآنَ فِيهِمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدَهُ رَقَبَةٌ وَلَا يَمْلِكُهَا قَالَ مُرِيهِ فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَتْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَوْ كَلَّفْتَهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَا اسْتَطَاعَ وَكَانَ الْحَرُّ قَالَ مُرِيهِ فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَتْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ قَالَ مُرِيهِ فَلْيَذْهَبْ إِلَى فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ فَقَدْ أَخْبَرَنِي أَنَّ عِنْدَهُ شَطْرَ صَدَقَةٍ فَلْيَأْخُذْهُ مِنْهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ ثُمَّ لْيَتَصَدَّقْ بِهِ عَلَى سِتِّينَ مِسْكِينًا

Muhammad meriwayatkan kepada kami dari ‘Atha’ bahwa Khaulah binti Tsa‘labah adalah istri Aus bin ash-Shamit. Aus menzihar dirinya, sementara ia mengalami gangguan jiwa. Maka Khaulah datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, Aus telah menzihar diriku.” Ia juga menyebutkan bahwa Aus mengalami gangguan jiwa. Lalu ia berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku datang kepadamu semata-mata karena kasihan kepadanya. Ia memperoleh manfaat dariku.” Kemudian Allah عز وجل menurunkan Al-Qur’an mengenai mereka berdua. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perintahkanlah dia agar memerdekakan seorang budak.” Khaulah berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, ia tidak memiliki seorang budak pun dan tidak sanggup membelinya.” Beliau bersabda, “Perintahkanlah dia agar berpuasa dua bulan berturut-turut.” Khaulah berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau membebaninya berpuasa tiga hari saja, ia tidak akan sanggup, dan saat itu cuaca sedang panas.” Beliau bersabda, “Perintahkanlah dia agar memberi makan enam puluh orang miskin.” Khaulah berkata, “Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, ia tidak mampu melakukannya.” Beliau bersabda, “Perintahkanlah dia agar pergi kepada si fulan bin si fulan, karena ia telah memberitahuku bahwa orang itu memiliki separuh sedekah. Hendaklah ia mengambilnya darinya sebagai sedekah untuknya, lalu hendaklah ia menyedekahkannya kepada enam puluh orang miskin.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَرَفَاتٍ فَلَمَّا بَلَغَ الشِّعْبَ الْأَيْسَرَ الَّذِي دُونَ مُزْدَلِفَةَ أَنَاخَ فَبَالَ ثُمَّ جَاءَ فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ الْوَضُوءَ فَتَوَضَّأَ وُضُوءًا خَفِيفًا ثُمَّ قُلْتُ الصَّلَاةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ الصَّلَاةُ أَمَامَكَ فَرَكِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ رَدِفَ الْفَضْلُ رَسُولَ اللَّهِ غَدَاةَ جَمْعٍ قَالَ كُرَيْبٌ فَأَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ الْفَضْلَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يُلَبِّي حَتَّى رَمَى الْجَمْرَةَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Kuraib, maula Ibn Abbas, dari Usamah bin Zaid. Ia berkata, “Aku membonceng Rasulullah ﷺ dari Arafat. Ketika sampai di jalan sempit sebelah kiri yang berada sebelum Muzdalifah, beliau menghentikan tunggangannya lalu buang air kecil. Kemudian beliau datang kembali, lalu aku menuangkan air wudu untuk beliau dan beliau berwudu dengan wudu yang ringan. Kemudian aku berkata, ‘Salat, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Salat ada di hadapanmu.’ Nabi ﷺ pun naik tunggangannya hingga tiba di Muzdalifah, kemudian turun lalu salat. Kemudian al-Fadl membonceng Rasulullah pada pagi hari di Jam‘.” Kuraib berkata, “Abdullah bin Abbas memberitahuku bahwa al-Fadl mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ terus membaca talbiyah hingga melempar jumrah.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ نُعْمَانَ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Nu‘man bin Abi ‘Ayyasy az-Zuraqi, dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada salat setelah Asar hingga matahari terbenam, dan tidak ada salat setelah Subuh hingga matahari terbit.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ وَأَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتَهَلَّ عَلَيَّ هِلَالُ رَمَضَانَ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتَ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ قَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقُلْتُ نَعَمْ رَأَيْتُهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Muhammad telah menceritakan kepada kami. Ia berkata, “Kuraib mengabarkan kepadaku bahwa Ummu al-Faḍl binti al-Ḥārits mengutusnya kepada Mu‘āwiyah di Syam.” Ia berkata, “Aku pun tiba di Syam, lalu menunaikan keperluannya. Hilal Ramadan muncul saat aku berada di Syam. Aku melihat hilal itu pada malam Jumat, dan orang-orang pun melihatnya, lalu berpuasa. Mu‘āwiyah juga berpuasa. Kemudian, pada akhir bulan, aku tiba di Madinah. ‘Abdullah bin ‘Abbās bertanya kepadaku, lalu ia menyebutkan tentang hilal dan berkata, ‘Kapan engkau melihat hilal itu?’ Aku menjawab, ‘Kami melihatnya pada malam Jumat.’ Ia bertanya, ‘Engkau sendiri melihatnya pada malam Jumat?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku melihatnya pada malam Jumat. Orang-orang juga melihatnya dan berpuasa, demikian pula Mu‘āwiyah.’ Ia berkata, ‘Akan tetapi, kami melihatnya pada malam Sabtu. Maka kami akan terus berpuasa hingga menggenapkan tiga puluh hari atau melihat hilal itu.’ Aku bertanya, ‘Tidakkah engkau cukup dengan penglihatan Mu‘āwiyah dan puasanya?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Demikianlah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami.’”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا غَيْرَ كَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبِ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَوْ كَلْبِ حَرْثٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga ternak atau anjing pemburu, maka pahalanya berkurang satu qirath setiap hari.” Abdullah berkata, “Abu Hurairah menambahkan: atau anjing untuk menjaga tanaman.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ يَقُولُ أَفْلَسَ مَوْلًى لِأُمِّ حَبِيبَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاخْتُصِمَ فِيهِ إِلَى عُثْمَانَ فَقَضَى عُثْمَانُ أَنَّ مَنْ كَانَ اقْتَضَى مِنْ حَقِّهِ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ يَتَبَيَّنَ إِفْلَاسَهُ فَهُوَ لَهُ وَمَنْ عَرَفَ مَتَاعَهُ بِعَيْنِهِ فَهُوَ لَهُ

Muhammad telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Sa‘id bin al-Musayyab berkata, “Seorang mawla milik Ummu Habibah, istri Nabi ﷺ, mengalami pailit. Perselisihan mengenai dirinya diajukan kepada ‘Utsman, lalu ‘Utsman memutuskan bahwa siapa pun yang telah mengambil sebagian haknya sebelum kepailitan orang itu diketahui, maka bagian itu menjadi miliknya; dan siapa pun yang mengenali barang miliknya secara persis, maka barang itu menjadi miliknya.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَنَّهُ أُتِيَ بِجِنَازَةِ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ قُبَيْلَ الصُّبْحِ فَانْصَرَفْنَا عَلَيْهَا مِنَ الصُّبْحِ وَكَانُوا يَغْسِلُونَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِمَّا أَنْ تُصَلُّوا عَلَيْهَا الْآنَ وَإِمَّا أَنْ تُؤَخِّرُوهَا إِلَى أَنْ تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ مَعَ كَذَا مَعَ كَذَا فَلَمْ أَفْقَهِ الَّذِي قَالَ فَسَأَلْتُ بَعْضَ مَنْ كَانَ قَرِيبًا مِنْهُ فَقَالَ إِنَّهَا تَطْلُعُ مَعَ قَرْنِ الشَّيْطَانِ

Muhammad meriwayatkan kepada kami bahwa jenazah Zainab binti Abu Salamah dibawa menjelang subuh. Kami berangkat untuk menghadirinya pada waktu subuh, sementara mereka sedang memandikannya. Abdullah bin Umar berkata, “Kalian boleh menyalatinya sekarang, atau menundanya sampai matahari meninggi, sebab matahari terbit pada waktu begini dan begini.” Aku tidak memahami apa yang ia katakan, lalu aku bertanya kepada seseorang yang berada di dekatnya. Ia menjawab, “Matahari terbit bersamaan dengan tanduk setan.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنِ السَّجْدَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْعَصْرِ قَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلَّاهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ ثُمَّ أَثْبَتَهُمَا وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَثْبَتَهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, dari Abu Salamah, bahwa ia bertanya kepada Aisyah tentang dua rakaat yang biasa dikerjakan Rasulullah saw. setelah Asar. Aisyah menjawab, “Beliau biasa mengerjakannya sebelum Asar. Kemudian beliau terhalang untuk mengerjakannya atau lupa, lalu beliau mengerjakannya setelah Asar. Setelah itu beliau terus mengerjakannya; apabila beliau mengerjakan suatu salat, beliau akan terus mengerjakannya.”

Keenam: Hadis-hadis Yazid bin Khuṣayfah.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَثَنَا إِسْمَاعِيلُ ثنا يَزِيدُ بْنُ خُصَيْفَةَ بْنِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْكِنْدِيُّ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنِ الْحُرِّ الْجُعْفِيَّ خَرَجَ إِلَى مُعَاوِيَةَ حِينَ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَلِيٍّ مَا كَانَ فَعَدَا ابْنُ عَمٍّ لَهُ عَلَى امْرَأَةٍ كَانَتْ تَحْتَ الْفَتَى فَأَنْكَحَهَا رَجُلًا مِنْ قَوْمِهِ قَالَ وَقَدْ فَارَقَنَا فَذَكَرَ سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّ ابْنَ الْحُرِّ لَمَّا بَلَغَهُ ذَلِكَ خَرَجَ حَتَّى أَتَى عَلِيًّا فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ حِينَ رَآهُ قَدْ أَنَالُكَ يَا ابْنَ الْحُرِّ فَقَالَ ابْنُ الْحُرِّ إِنِّي وَاللَّهِ مَا رَجَعْتُ إِلَيْكَ وَلَكِنْ بَلَغَنِي أَنَّ ابْنَ عَمٍّ لِي سَفِيهًا أَنْكَحَ امْرَأَتِي رَجُلًا فَرَجَّعَنِي ذَلِكَ وَأَنَا أُنْشِدُكَ الْعَدْلَ فَإِنِّي وَإِنْ كُنْتُ فَارَقْتُ هَوَاكَ لَمْ أَكْفُرْ بِاللَّهِ فَزَعَمَ سُلَيْمَان أَنَّ عَلِيًّا قَالَ لَهُ وَيْحَكَ هَلْ لَكَ أَنْ يُرْضُوكَ قَالَ لَا آخُذُ إِلَّا الْحَقَّ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ حِينَ فَعَلَ ذَلِكَ فَإِنِّي أَقْضِي بِأَنَّهَا إِذَا وَضَعَتْ ذَا بَطْنِهَا أَخَذَ الَّذِي نَكَحَهَا وَلَدَهُ وَكَانَتِ امْرَأَتُكَ إِلَيْكُمْ رَدًّا فَضَعُوهَا عَلَى يَدِ عَدْلٍ حَتَّى تُنْفَسَ فَقَالَ الَّذِي نَكَحَهَا فَكَيْفَ بِمَالِي قَالَ فَبِمَ اسْتَحْلَلْتَ فَرْجَهَا قَالَ ابْنُ الْحُرِّ فَلَمَّا طَلَقَتْ أَوْ أَخَذَهَا الطَّلْقُ جَلَسَتُ بِالْبَابِ حَتَّى إِذَا وَلَدَتْ أَخَذْتُ بِيَدِهَا فَذَهَبْتُ بِهَا

Ali meriwayatkan kepada kami, Isma‘il meriwayatkan kepada kami, Yazid bin Khushaifah bin Yazid bin ‘Abdullah al-Kindi meriwayatkan kepada kami bahwa Sulaiman bin Yasar mengabarkan kepadanya bahwa ‘Ubaidullah bin al-Hurr al-Ju‘fi pergi menemui Mu‘awiyah ketika terjadi perselisihan antara dirinya dan Ali. Lalu seorang sepupunya berbuat sewenang-wenang terhadap seorang perempuan yang menjadi istri pemuda itu, kemudian menikahkannya dengan seorang laki-laki dari kaumnya. Ia berkata, “Ia memang telah meninggalkan kami.” Sulaiman bin Yasar menyebutkan bahwa ketika kabar itu sampai kepada Ibn al-Hurr, ia berangkat hingga menemui Ali. Saat melihatnya, Ali berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah sampai kepadaku, wahai Ibn al-Hurr.” Ibn al-Hurr menjawab, “Demi Allah, aku tidak kembali kepadamu. Namun, telah sampai kepadaku kabar bahwa seorang sepupuku yang bodoh menikahkan istriku dengan seorang laki-laki. Itulah yang membuatku kembali. Aku memohon kepadamu agar berlaku adil, sebab meskipun aku telah meninggalkan pihakmu, aku tidak kafir kepada Allah.” Sulaiman menyebutkan bahwa Ali berkata kepadanya, “Celaka engkau! Apakah engkau bersedia menerima sesuatu yang dapat meridakanmu?” Ia menjawab, “Aku hanya akan menerima hak.” Maka Ali berkata kepadanya, “Karena engkau melakukan hal itu, aku memutuskan bahwa apabila ia telah melahirkan kandungannya, laki-laki yang menikahinya itu mengambil anaknya, sedangkan istrimu dikembalikan kepadamu. Tempatkanlah ia di bawah pengawasan seorang yang adil hingga ia melahirkan.” Laki-laki yang menikahinya itu bertanya, “Lalu bagaimana dengan hartaku?” Ali menjawab, “Dengan dasar apa engkau menghalalkan kemaluannya?” Ibn al-Hurr berkata, “Ketika ia diceraikan—atau ketika rasa sakit bersalin menyerangnya—aku duduk di dekat pintu. Setelah ia melahirkan, aku memegang tangannya lalu pergi bersamanya.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خُصَيْفَةَ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ مَوْلَى الْحَضْرَمِيِّ عَنْ أَبِي جُهَيْمٍ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمَارَيَا فِي آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ كِلَاهُمَا يَزْعُمُ أَنَّهُ تَلَقَّاهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَشِيَا جَمِيعًا حَتَّى أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكِلَاهُمَا ذَكَرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَمِعَهَا مِنْهُ فَذَكَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَلَا تَتَمَارَوْا فِي الْقُرْآنِ فَإِنَّ مِرَاءً فِيهِ كُفْرٌ

Yazid bin Khushaifah menuturkan kepada kami, dari Busr bin Sa‘id, maula al-Hadrami, dari Abu Juhaim al-Anshari, bahwa dua orang sahabat Rasulullah ﷺ berselisih pendapat tentang satu ayat Al-Qur’an. Masing-masing mengaku telah menerimanya dari Rasulullah ﷺ. Keduanya pun berjalan bersama hingga menemui Rasulullah ﷺ. Masing-masing menyampaikan kepada beliau bahwa ia mendengar ayat itu dari beliau. Lalu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf. Maka janganlah kalian berselisih pendapat tentang Al-Qur’an, karena berselisih pendapat mengenainya adalah kekufuran.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خُصَيْفَةَ أَنَّ بُسْرَ بْنَ سَعِيدٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ فِيَ مَجْلِسِ الشَّيْبَانِيِّينَ يَذْكُرُونَ أَنَّ سُفْيَانَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ أُرَاهُ ابْنَ أَبِي الْقَرَدِ أَخْبَرَهُمْ أَنَّ فَرَسَهُ أَعْيَتْ عَلَيْهِ وَهُوَ بِالْعَقِيقِ وَهُوَ فِي بَعْثٍ بَعَثَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَ إِلَيْهِ يَسْتَحْمِلُهُ فَزَعَمَ سُفْيَانُ كَمَا ذَكَرْنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مَعَهُ يَبْتَغِي لَهُ بَعِيرًا فَلَمْ يَجِدْهُ إِلَّا عِنْدَ أَبِي جَهْمِ بْنِ حُذَيْفَةَ الْعَدَوِيِّ فَسَامَهُ بِهِ فَقَالَ أَبُو جَهْمٍ لَا أَبِيعُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنْ خُذْهُ فَاحْمِلْ عَلَيْهِ مَنْ شِئْتَ فَزَعَمَ أَنَّهُ أَخَذَهُ مِنْهُ ثُمَّ خَرَجَ مَعَهُ حَتَّى إِذَا بَلَغَ بِئْرَ الْإِهَابِ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُوشِكُ الْبُنْيَانُ أَنْ يَبْلُغَ هَذَا الْمَكَانَ وَيُوشِكُ الشَّامُ أَنْ يُفْتَحَ فَيَأْتِيهِ رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ هَذَا الْبَلَدِ فَيُعْجِبُهُمْ رِيفُهُ وَرَخَاؤُهُ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ثُمَّ يُفْتَحُ الْعِرَاقُ فَيَأْتِي قَوْمٌ يَبُسُّونَ فَيَتَحَمَّلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ دَعَا لِأَهْلِ مَكَّةَ وَإِنِّي أَسْأَلُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُبَارِكَ لَنَا فِي صَاعِنَا وَأَنْ يُبَارِكَ لَنَا فِي مُدِّنَا كَمَا بَارَكَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khuṣaifah bahwa Busyr bin Sa‘id memberitahunya, bahwa ia mendengar orang-orang dalam majelis Syaibani menyebutkan bahwa Sufyan berkata, “Isma‘il—aku kira dia adalah Ibn Abi al-Qarad—memberitahukan kepada mereka bahwa kudanya kelelahan ketika ia berada di al-‘Aqiq, dalam sebuah pasukan yang diutus oleh Rasulullah ﷺ. Ia pun kembali kepada beliau untuk meminta tunggangan.” Sufyan meriwayatkan, sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ pergi bersamanya untuk mencarikan unta baginya. Beliau tidak menemukannya kecuali pada Abu Jahm bin Hudzaifah al-‘Adawi. Beliau menawar unta itu kepadanya, tetapi Abu Jahm berkata, “Aku tidak akan menjualnya, wahai Rasulullah. Namun, bawalah dan tunggangkan siapa saja yang engkau kehendaki.” Menurut riwayat, beliau pun mengambilnya dari Abu Jahm, lalu pergi bersamanya. Ketika sampai di Bi’r al-Ihab, menurut riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bangunan hampir mencapai tempat ini, dan Syam hampir ditaklukkan. Maka, orang-orang dari penduduk negeri ini akan datang ke sana dan tertarik pada kawasan yang subur serta kehidupan yang lapang di sana. Padahal, Madinah lebih baik bagi mereka, sekiranya mereka mengetahui. Kemudian Irak akan ditaklukkan, lalu datanglah sekelompok orang yang bergegas pergi. Mereka membawa serta keluarga dan orang-orang yang mengikuti mereka. Padahal, Madinah lebih baik bagi mereka, sekiranya mereka mengetahui. Sesungguhnya Ibrahim telah mendoakan kebaikan bagi penduduk Mekah, dan aku memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala agar memberkahi takaran sha‘ dan mudd kami, sebagaimana Dia memberkahi penduduk Mekah.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنِي السَّائِبُ بْنُ يَزِيدَ أَنَّهُ وَفَدَ عَلَيْهِمْ سُفْيَانُ بْنُ أَبِي زُهَيْرٍ الشَّنَائِيُّ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَا يُغْنِي عَنْهُ زَرْعًا وَلَا ضَرْعًا نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ قَالَ قُلْتُ يَا سُفْيَانُ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ وَرَبِّ هَذَا الْمَسْجِدِ

Yazid telah menceritakan kepada kami, ia berkata: As-Sa’ib bin Yazid mengabarkan kepadaku bahwa Sufyan bin Abi Zuhair asy-Syana’i pernah datang menemui mereka, lalu berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa memelihara anjing yang tidak berguna baginya untuk menjaga tanaman ataupun ternak perah, maka setiap hari pahala amalnya berkurang satu qirat.’” Aku bertanya, “Wahai Sufyan, apakah engkau mendengar hadis ini langsung dari Rasulullah ﷺ?” Ia menjawab, “Ya, demi Tuhan Pemilik masjid ini.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ عَمْرٍو أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ أَخَذَهُ وَجَعٌ قَدْ كَادَ يُبْطِلُهُ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ضَعْ يَمِينَكَ عَلَى مَكَانِكَ الَّذِي تَشْتَكِي فَامْسَحْ بِهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَقُلْ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ فِي كُلِّ مَسْحَةٍ

Yazid telah menceritakan kepada kami, dari ‘Amr, bahwa Nafi‘ bin Jubair memberitahunya bahwa ‘Utsman bin Abi al-‘Ash datang menghadap Rasulullah ﷺ ketika ia sedang ditimpa rasa sakit yang hampir melumpuhkannya. Ia menyampaikan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Ia menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Letakkan tangan kananmu pada bagian tubuh yang terasa sakit, lalu usaplah dengan tangan itu sebanyak tujuh kali seraya mengucapkan, ‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang kurasakan,’ pada setiap usapan.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ كَانَ يَقُولُ بِتُّ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ وَتَبَوَّأَ مَضْجَعَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ اللَّهُمَّ لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَبْلُغَ ثَنَاءً عَلَيْكَ وَلَوْ حَرَصْتُ وَلَكِنْ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Telah menceritakan kepada kami Yazid, dari Ibrahim bin Abdullah bin Abd al-Qari, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Aku menginap di tempat Rasulullah ﷺ pada suatu malam. Aku mendengar beliau, setelah selesai salat dan berbaring di tempat tidurnya, berdoa, ‘Ya Allah, aku berlindung dengan keselamatan yang Engkau anugerahkan dari hukuman-Mu. Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Ya Allah, aku tidak mampu menyampaikan pujian yang layak bagi-Mu, sekalipun aku bersungguh-sungguh, tetapi Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.’”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِسَارِقٍ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ سَرَقَ فَقَالَ لَا إِخَالُهُ سَرَقَ أَسَرَقْتَ وَيْحَكَ فَقَالَ نَعَمْ فَقَالَ اذْهَبُوا فَاقْطَعُوا يَدَهُ ثُمَّ اجْسِمُوهَا ثُمَّ ائْتُونِي بِهِ قَالَ فَلَمَّا أُتِيَ بِهِ قَالَ تُبْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ تُبْتُ إِلَى اللَّهِ قَالَ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ

Yazid telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi seorang pencuri. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, ia telah mencuri.” Beliau bersabda, “Aku tidak menyangka ia mencuri. Apakah engkau mencuri, celaka engkau?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Pergilah, potong tangannya, lalu kauterisasilah lukanya, kemudian bawalah ia kepadaku.” Perawi berkata, “Ketika ia dibawa kepada beliau, beliau bersabda, ‘Bertobatlah kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung.’” Ia menjawab, “Aku bertobat kepada Allah.” Beliau berdoa, “Ya Allah, terimalah tobatnya.”

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خُصَيْفَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسَيْطٍ اللَّيْثِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ مَعَ الْإِمَامِ فَقَالَ لَا قِرَاءَةَ مَعَ الْإِمَامِ فِي شَيْءٍ وَزَعَمَ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى فَلَمْ يَسْجُدْ

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khushaifah, dari Yazid bin Abdullah bin Qusaith al-Laitsi, dari Atha’ bin Yasar, bahwa ia memberitahukan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Zaid bin Tsabit tentang membaca bersama imam. Zaid menjawab, “Tidak ada bacaan bersama imam dalam salat apa pun.” Ia menyatakan bahwa ia pernah membacakan Surah *Wa an-Najmi idzā hawā* di hadapan Rasulullah ﷺ, tetapi beliau tidak bersujud.

حَدَّثَنَا يَزِيدُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَارٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ السَّائِبَ بْنَ خَلَّادٍ أَخَا بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ أَخْبَرَهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ ظَالِمًا لَهُمْ أَخَافَهُ اللَّهُ وَكَانَتْ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ

Yazid telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abd al-Raḥmān bin ‘Abd Allāh bin ‘Abd al-Raḥmān bin Abī Ṣa‘ṣa‘ah al-Anṣārī, bahwa ‘Aṭā’ bin Yasār mengabarkan kepadanya bahwa al-Sā’ib bin Khallād, saudara Bani al-Ḥāriṡ bin al-Khazraj, mengabarkan kepadanya dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, “Barang siapa menakut-nakuti penduduk Madinah dengan menzalimi mereka, Allah akan menakut-nakutinya. Laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia akan menimpanya. Tebusan maupun pengganti tidak akan diterima darinya.”

Ketujuh: Hadis-hadis Abdullah bin Abdurrahman bin Ma‘mar bin Hazm, Abu Thuwalah.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ قَالَ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرِ بْنِ حَزْمٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Ali menuturkan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Ja‘far menuturkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Abdurrahman bin Ma‘mar bin Hazm menuturkan kepada kami bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Keutamaan Aisyah atas kaum perempuan bagaikan keutamaan tsarid atas seluruh jenis makanan lainnya.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْتَ مِلْحَانَ خَالَةٌ لِأَنَسٍ فَوَضَعَ رَأْسَهُ عِنْدَهَا ثُمَّ رَفَعَ فَضَحِكَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّ ضَحِكُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ نَاسًا مِنْ أُمَّتِي يَرْكَبُونَ هَذَا الْبَحْرَ مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِيَ مِنْهُمْ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا مِنْهُمْ ثُمَّ صَنَعَ ذَلِكَ مَرَّتَيْنِ أُخْرَيَيْنِ فَقَالَتِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِيَ مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتِ مِنَ الْأَوَّلِينَ وَلَسْتِ مِنَ الْآخِرِينَ فَتَزَوَّجَهَا عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ فَغَزَا بِهَا فِي الْبَحْرِ فَرَكِبَتْ مَعَ أُخْتِ مُعَاوِيَةَ فَلَمَّا قَفَلَتْ رَكِبَتْ دَابَّةً لَهَا بِالسَّاحِلِ فَتَوَقَّصَتْ بِهَا فَسَقَطَتْ فَمَاتَتْ

Abdullah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah ﷺ datang menemui Ummu Haram binti Milhan, bibi Anas. Beliau meletakkan kepala di dekatnya, kemudian mengangkatnya dan tertawa. Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Aku melihat orang-orang dari umatku mengarungi laut ini; keadaan mereka seperti para raja di atas singgasana.’ Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk di antara mereka.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah ia termasuk di antara mereka.’ Kemudian beliau melakukan hal itu dua kali lagi. Ia pun berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk di antara mereka.’ Beliau menjawab, ‘Engkau termasuk golongan pertama, bukan golongan terakhir.’ Lalu Ubadah bin ash-Shamit menikahinya dan berperang di laut bersama dengannya. Ia ikut berlayar bersama saudara perempuan Muawiyah. Ketika mereka kembali, ia menaiki hewan tunggangannya di pesisir, lalu hewan itu membuatnya terjatuh hingga ia jatuh dan meninggal dunia.”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَارِنَا فَحَلَبْتُ لَهُ شَاةً فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ مِنْ مَاءِ بِئْرٍ ثُمَّ أُعْطِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَرِبَ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ عَنْ يَسَارِهِ وَعُمَرُ وِجَاهَهُ وَنَاسٌ مِنَ الْأَعْرَابِ عَنْ يَمِينِهِ فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبُو بَكْرٍ يُؤْذِنُهُ بِهِ؛ لِيُعْطِيَهُ فَضْلَهُ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَعْرَابَ وَقَالَ الْأَيْمَنُونَ قَالَ أَنَسٌ فَهُوَ سُنَّةٌ

Abdullah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah ﷺ datang ke rumah kami. Aku memerah seekor kambing untuk beliau, lalu mencampurkan susu itu dengan air dari sumur. Kemudian minuman itu diberikan kepada Rasulullah ﷺ dan beliau meminumnya. Abu Bakar berada di sebelah kiri beliau, Umar di hadapan beliau, dan beberapa orang Badui di sebelah kanan beliau. Setelah Rasulullah ﷺ selesai minum, Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abu Bakar memberi tahu beliau tentang hal itu agar beliau memberikan sisa minumannya kepadanya.’ Namun, Rasulullah ﷺ memberikannya kepada orang-orang Badui dan bersabda, ‘Dahulukan yang berada di sebelah kanan.’ Anas berkata, ‘Itulah sunah.’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ يَسْأَلُ رَجُلًا كَيْفَ بَلَغَكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْمُنَافِقِ قَالَ إِنْ حَدَّثَ كَذَبَ وَإِنْ وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِنِ اؤْتُمِنَ خَانَ ثُمَّ مَرَّ عَلَيْهِ رَجُلٌ آخَرُ فَسَأَلَهُ أَيْضًا فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى مَرَّ عَلَيْهِ رَجُلَانِ أَوْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Sa‘id bin al-Musayyab bertanya kepada seorang lelaki, “Bagaimana engkau mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang munafik?” Lelaki itu menjawab, “Jika berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika dipercaya, ia berkhianat.” Kemudian seorang lelaki lain melewatinya dan juga bertanya kepadanya, lalu ia menjawab dengan jawaban serupa, hingga dua atau tiga orang lelaki melewatinya; semuanya mengatakan hal yang sama.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ نَهَارًا رَجُلًا مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ كَانَ يَسْكُنُ فِي بَنِي النَّجَّارِ وَكَانَ يَذْكُرُهُ بِفَضْلٍ وَصَلَاحٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَسْأَلُ الْعَبْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَقُولُ لَهُ فَمَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَ الْمُنْكَرَ أَنْ تُنْكِرَهُ فَإِذَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَقَّنَ عَبْدَهُ حُجَّتَهُ قَالَ أَيْ رَبِّ وَثِقْتُ بِكَ وَفَرِقْتُ النَّاسَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bahwa Nahhar, seorang lelaki dari Bani Abd al-Qais yang tinggal di Bani Najjar dan dikenal karena keutamaan serta kesalehannya, memberitahunya bahwa ia mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Allah عز وجل benar-benar akan menanyai seorang hamba pada hari kiamat, sampai-sampai Dia berkata kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk mengingkari kemungkaran ketika engkau melihatnya?” Lalu Allah عز وجل menuntun hamba-Nya mengucapkan alasannya. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, aku percaya kepada-Mu dan takut kepada manusia.”’”

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ أَبَا يُونُسَ مَوْلَى عَائِشَةَ أَخْبَرَهُ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِيهِ وَهِيَ تَسْمَعُ مِنْ وَرَاءِ الْبَابِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ فَقَالَ لَسْتَ مِثْلَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُوَ أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, bahwa Abu Yunus, maula Aisyah, menyampaikan kepadanya dari Aisyah, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta fatwa kepada beliau, sementara Aisyah mendengar dari balik pintu. Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, waktu salat tiba saat aku dalam keadaan junub, lalu aku berpuasa.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Waktu salat juga tiba saat aku dalam keadaan junub, lalu aku berpuasa.” Laki-laki itu berkata, “Engkau tidak seperti kami, wahai Rasulullah. Sungguh, Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh aku berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling mengetahui apa yang harus aku hindari.”

Kedelapan: hadis-hadis Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridainya.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَثَ بِالْمَدِينَةِ تِسْعَ سِنِينَ لَمْ يَحُجَّ ثُمَّ أَذَّنَ بِالْحَجِّ فَقِيلَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاجٌّ فَقَدِمَ الْمَدِينَةَ بَشَرٌ كَثِيرٌ كُلُّهُمْ يُحِبُّ أَنْ يَأْتَمَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَفْعَلَ كَمَا يَفْعَلُ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَتَى مَسْجِدَ ذِي الْحُلَيْفَةِ فَصَلَّى فِيهِ وَنُفِسَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ كَيْفَ تَفْعَلُ فَأَمَرَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَغْتَسِلَ وَتَسْتَثْفِرَ بِثَوْبِهَا ثُمَّ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَكِبَ وَمَعَهُ بَشَرٌ كَثِيرٌ رُكْبَانٌ وَمُشَاةٌ كُلُّهُمْ يُحِبُّ أَنْ يَأْتَمَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَهَرَ عَلَى الْبَيْدَاءِ فَأَهَلَّ وَنَحْنُ لَا نَنْوِي إِلَّا الْحَجَّ لَا نَعْرِفُ الْعُمْرَةَ قَالَ فَنَظَرْتُ أَمَامِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَخَلْفِي مَدَّ الْبَصَرِ رُكْبَانٌ وَمُشَاةٌ كُلُّهُمْ يُحِبُّ أَنْ يَأْتَمَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَتَى الْكَعْبَةَ فَطَافَ بِهَا سَبْعَةً رَمَلَ مِنْهَا ثَلَاثًا وَمَشَى مِنْهَا أَرْبَعًا ثُمَّ قَالَ وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ جَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ ثُمَّ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ فَذَهَبَ إِلَى الصَّفَا فَرَقِيَ عَلَيْهِ حَتَّى بَدَا لَهُ الْبَيْتُ ثُمَّ وَحَّدَ اللَّهَ وَكَبَّرَهُ وَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ثُمَّ مَشَى حَتَّى إِذَا انْصَبَّتْ قَدَمَاهُ سَعَى حَتَّى إِذَا صَعِدَتْ قَدَمَاهُ مَشَى حَتَّى أَتَى الْمَرْوَةَ فَفَعَلَ عَلَيْهَا كَمَا فَعَلَ عَلَى الصَّفَا حَتَّى قَضَى طَوَافَهُ ثُمَّ نَادَى النَّاسَ وَهُوَ عَلَى الْمَرْوَةِ وَالنَّاسُ تَحْتَهُ فَقَالَ لَوْ أَنِّي اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا سُقْتُ الْهَدْيَ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحْلِلْ فَحَلَّ بَشَرٌ كَثِيرٌ وَقَدِمَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِبُدْنٍ مِنَ الْيَمَنِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاذَا أَهْلَلْتَ قَالَ قُلْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أُهِلُّ بِمَا أَهَلَّ بِهِ رَسُولُكَ وَسَاقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِائَةَ بَدَنَةٍ فَنَحَرَ مِنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ بِيَدِهِ وَنَحَرَ عَلِيٌّ مَا بَقِيَ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُؤْخَذَ بَضْعَةٌ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ فَتُجْعَلَ فِي قِدْرٍ فَأَكَلَا مِنْ لَحْمِهَا وَحَسَيَا مِنْ مَرَقِهَا

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Ja‘far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Talib telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sembilan tahun tanpa menunaikan haji. Kemudian beliau mengumumkan pelaksanaan haji, lalu dikatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menunaikan haji.” Maka banyak orang datang ke Madinah; mereka semua ingin mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melakukan sebagaimana yang beliau lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berangkat hingga tiba di Masjid Dzulhulaifah dan salat di sana. Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abi Bakar, lalu mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan apa yang harus dilakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya agar mandi dan mengikatkan kain pada tubuhnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dan menaiki kendaraan. Bersama beliau ada banyak orang, baik yang berkendaraan maupun yang berjalan kaki; mereka semua ingin mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga beliau tiba di padang pasir al-Baida, lalu mulai berihram. Kami tidak berniat selain haji; kami tidak mengenal umrah. Jabir berkata, “Aku melihat ke depan, ke kanan, ke kiri, dan ke belakang sejauh mata memandang: semuanya dipenuhi orang-orang yang berkendaraan maupun berjalan kaki, dan mereka semua ingin mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berangkat hingga tiba di Ka‘bah. Beliau bertawaf mengelilinginya tujuh kali: berlari kecil pada tiga putaran dan berjalan pada empat putaran. Kemudian beliau membaca, ‘Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.’ Lalu beliau salat dua rakaat. Setelah itu beliau menempatkan Maqam Ibrahim di antara dirinya dan Baitullah, kemudian mengusap Hajar Aswad, lalu keluar dan berkata, ‘Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syiar-syiar Allah. Kita mulai dengan apa yang Allah mulai.’ Beliau kemudian pergi ke Shafa dan naik ke atasnya hingga Baitullah terlihat olehnya. Kemudian beliau mengesakan dan mengagungkan Allah, serta mengucapkan, ‘Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Setelah itu beliau berjalan. Ketika kedua kakinya menuruni lembah, beliau berlari kecil; ketika kedua kakinya menanjak, beliau berjalan hingga tiba di Marwah. Di sana beliau melakukan sebagaimana yang dilakukannya di Shafa hingga menuntaskan sa’inya. Kemudian beliau menyeru orang-orang saat berada di Marwah, sementara orang-orang berada di bawahnya. Beliau berkata, ‘Seandainya sejak awal aku mengetahui apa yang kini kuketahui, tentu aku tidak akan membawa hewan kurban. Maka, siapa yang tidak membawa hewan kurban, hendaklah ia bertahalul.’ Banyak orang pun bertahalul. Ali bin Abi Talib datang membawa unta-unta kurban dari Yaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, ‘Dengan niat apa engkau berihram?’ Ia menjawab, ‘Aku berkata, “Ya Allah, aku berihram dengan niat seperti niat Rasul-Mu.”’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seratus ekor unta kurban. Beliau menyembelih enam puluh tiga ekor dengan tangannya sendiri, sedangkan Ali menyembelih sisanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar diambil sepotong daging dari setiap unta kurban, lalu dimasukkan ke dalam periuk. Beliau berdua makan dagingnya dan menyeruput kuahnya.”

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِالْيَمِينِ مَعَ الشَّاهِدِ الْوَاحِدِ وَأَنَّ عَلِيًّا قَضَى بِهَا بِالْعِرَاقِ

Ja‘far bin Muhammad meriwayatkan kepada kami dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara berdasarkan sumpah bersama satu orang saksi, dan bahwa Ali memutuskan perkara dengan cara itu di Irak.

Kesembilan: Hadis-hadis Rabi‘ah bin Abi Abdurrahman.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا رَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْهُدَيْرِ التَّيْمِيِّ عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اللُّقَطَةِ فَقَالَ عَرِّفْهَا سَنَةً ثُمَّ اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا ثُمَّ اسْتَنْفِقْهَا فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَأَدِّهَا إِلَيْهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَضَالَّةُ الْإِبِلِ قَالَ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ أَوِ احْمَرَّ وَجْهُهُ ثُمَّ قَالَ مَا لَكَ وَلَهَا مَعَهَا حِذَاؤُهَا وَسِقَاؤُهَا حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا

Telah meriwayatkan kepada kami Ali, telah meriwayatkan kepada kami Ismail, telah meriwayatkan kepada kami Rabi‘ah bin Abi ‘Abdurrahman, maula Rabi‘ah bin ‘Abdullah bin al-Hudair at-Taimi, dari Yazid, maula al-Munba‘its, dari Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang barang temuan. Beliau bersabda, “Umumkanlah selama setahun, lalu kenalilah wadah dan tali pengikatnya, kemudian manfaatkanlah. Jika pemiliknya datang, serahkanlah barang itu kepadanya.” Laki-laki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta yang tersesat?” Rasulullah ﷺ pun marah hingga kedua pipi beliau memerah, atau wajah beliau memerah. Kemudian beliau bersabda, “Apa urusanmu dengannya? Unta itu memiliki alas kaki dan kantong airnya sendiri hingga pemiliknya menemukannya.”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجْلَ الشَّعْرِ لَيْسَ بِالسَّبْطِ وَلَا الْجَعْدِ الْقَطَطِ كَانَ أَزْهَرَ لَيْسَ بِالْآدَمِ وَلَا الْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ كَانَ رَبْعَةً مِنَ الْقَوْمِ لَيْسَ بِالْقَصِيرِ وَلَا بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ بَعَثَهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ أَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرًا وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا فَتُوُفِّيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ لَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلَا لِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ

Rabi‘ah meriwayatkan kepada kami bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah ﷺ berambut ikal, tidak lurus dan tidak pula keriting rapat. Kulit beliau cerah, tidak gelap dan tidak pula putih pucat. Beliau bertubuh sedang di antara kaumnya, tidak pendek dan tidak pula tinggi menjulang. Allah mengutus beliau ketika berusia empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun. Kemudian beliau ﷺ wafat pada usia enam puluh tahun. Di kepala dan janggut beliau tidak terdapat dua puluh helai rambut putih.”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ بْنِ مُنْقِذٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنِ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو صِرْمَةَ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فَسَأَلَهُ أَبُو صِرْمَةَ فَقَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْعَزْلَ قَالَ نَعَمْ غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ بَنِي الْمُصْطَلِقِ فَسَبَيْنَا كَرَائِمَ الْعَرَبِ فَطَالَتْ عَلَيْنَا الْعُزْبَةُ وَرَغِبْنَا فِي الْفِدَاءِ فَأَرَدْنَا أَنْ نَسْتَمْتِعَ وَنَعْزِلَ فَقُلْنَا نَفْعَلُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا لَا نَسْأَلُهُ فَسَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَفْعَلُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ خَلْقَ نَسَمَةٍ هِيَ كَائِنَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا سَتَكُونُ

Rabi‘ah telah meriwayatkan kepada kami, dari Muhammad bin Yahya bin Habbān bin Munqidz al-Anshari, dari Ibn Muhairiz, bahwa ia berkata, “Aku dan Abu Shirmah datang menemui Abu Sa‘id al-Khudri. Abu Shirmah bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Sa‘id, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebut tentang ‘azl?’ Ia menjawab, ‘Ya. Kami pernah berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Bani al-Mushthaliq, lalu kami menawan para perempuan terhormat dari kalangan Arab. Lama kami tidak memiliki istri, dan kami menginginkan tebusan. Maka kami ingin menikmati hubungan dengan mereka dan melakukan ‘azl. Kami berkata, “Kita lakukan saja, sementara Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kita dan kita tidak menanyakannya.” Lalu kami bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab, “Tidak mengapa jika kalian tidak melakukannya. Tidak ada jiwa yang penciptaannya telah Allah tetapkan dan yang akan ada hingga Hari Kiamat, melainkan pasti akan terwujud.”’”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ أَنَّهُ سَمِعَ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولُ كَانَ فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ أَرَادَتْ عَائِشَةُ أَنْ تَشْتَرِيَهَا فَتُعْتِقَهَا فَقَالَ أَهْلُهَا وَلَنَا الْوَلَاءُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ شِئْتِ شَرَطْتِيهِ لَهُمْ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ ثُمَّ قَامَ قَبْلَ الظُّهْرِ أَوْ بَعْدَهَا فَقَالَ مَا بَالُ رِجَالٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَالْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَ وَأُعْتِقَتْ بَرِيرَةُ فَخُيِّرَتْ فِي أَنْ تَقَرَّ تَحْتَ زَوْجِهَا أَوْ تُفَارِقَهُ قَالَ وَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْتَ عَائِشَةَ وَعَلَى النَّارِ بُرْمَةٌ تَفُورُ بِالْغَدَاءِ فَأُتِيَ بِخُبْزٍ وَأَدَمٍ مِنْ أَدَمِ الْبَيْتِ فَقَالَ أَلَمْ أَرَ لَحْمًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنَّهُ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ فَأَهْدَتْهُ لَنَا قَالَ هُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا وَهَدِيَّةٌ لَنَا

Rabi‘ah telah menyampaikan kepada kami bahwa ia mendengar al-Qasim bin Muhammad berkata, “Dalam perkara Barirah terdapat tiga sunnah. Aisyah ingin membelinya lalu memerdekakannya, tetapi keluarganya berkata, ‘Hak wala’ tetap milik kami.’ Aisyah pun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Jika engkau mau, engkau dapat menetapkan syarat itu bagi mereka. Sesungguhnya hak wala’ hanya milik orang yang memerdekakan.’ Kemudian, sebelum atau sesudah Zuhur, beliau berdiri dan bersabda, ‘Mengapa ada orang-orang yang menetapkan syarat-syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah? Siapa yang menetapkan syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah, maka syarat itu batil. Hak wala’ hanya milik orang yang memerdekakan.’” Ia berkata, “Barirah pun dimerdekakan dan diberi pilihan untuk tetap bersama suaminya atau berpisah darinya.” Ia berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumah Aisyah. Di atas api ada periuk berisi makanan siang yang sedang mendidih. Lalu dihidangkan kepada beliau roti dan lauk dari persediaan lauk di rumah. Beliau bertanya, ‘Bukankah aku melihat daging?’ Mereka menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah, tetapi daging itu adalah sedekah yang diberikan kepada Barirah, lalu ia menghadiahkannya kepada kami.’ Beliau bersabda, ‘Daging itu sedekah baginya dan hadiah bagi kita.’”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ أَنَّهُ سَمِعَ مَكْحُولًا الدِّمَشْقِيَّ يُحَدِّثُ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ صَلَّى بِالنَّاسِ وَلَمْ يُرَ مَطَرٌ وَلَيْسَ لِلْمَسْجِدِ إِلَّا سَقِيفَةٌ وَاحِدَةٌ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ إِذَا النَّاسُ قَدْ مُطِرُوا وَلَثِقَ بِهِمْ فَقَالَ أَمَا فِي الْمَسْجِدِ رَجُلٌ فَقِيهٌ يَقُولُ أَيُّهَا الْمُطَوِّلُ عَلَى النَّاسِ خَفِّفْ فَإِنَّهُمْ قَدْ مُطِرُوا

Rabi‘ah menuturkan kepada kami bahwa ia mendengar Makḥūl ad-Dimasyqī menceritakan bahwa Abū ad-Dardā’ mengimami orang-orang salat. Saat itu, hujan belum terlihat, dan masjid itu hanya memiliki satu atap di saf pertama. Ketika ia selesai salat, ternyata orang-orang telah kehujanan dan basah kuyup. Ia lalu berkata, “Apakah di masjid ini tidak ada seorang yang faqih yang berkata, ‘Wahai orang yang memanjangkan salat bagi orang-orang, ringankanlah, sebab mereka telah kehujanan’?”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ أَنَّهُ سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ كَمْ فِي أُصْبُعٍ مِنْ أَصَابِعِ الْمَرْأَةِ قَالَ عَشْرُ فَرَائِضَ قُلْتُ فَكَمْ فِي أُصْبُعَيْنِ قَالَ عِشْرُونَ قُلْتُ فَكَمْ فِي ثَلَاثَةٍ قَالَ ثَلَاثُونَ قُلْتُ فَكَمْ فِي أَرْبَعٍ قَالَ عِشْرُونَ قَالَ قُلْتُ حِينَ عَظُمَتْ مُصِيبَتُهَا وَاشْتَدَّ جَرْحُهَا قَلَّ عَقْلُهَا فَقَالَ أَعِرَاقِيٌّ أَنْتَ قُلْتُ بَلْ عَالِمٌ مُسْتَثْبِتٌ أَوْ جَاهِلٌ مُتَعَلِّمٌ قَالَ فَإِنَّهَا السُّنَّةُ يَا ابْنَ أَخِي

Rabi‘ah menuturkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Sa‘id bin al-Musayyib, “Berapa diyat untuk satu jari perempuan?” Ia menjawab, “Sepuluh ekor unta farā’iḍ.” Aku bertanya, “Lalu berapa untuk dua jari?” Ia menjawab, “Dua puluh.” Aku bertanya, “Lalu berapa untuk tiga jari?” Ia menjawab, “Tiga puluh.” Aku bertanya, “Lalu berapa untuk empat jari?” Ia menjawab, “Dua puluh.” Aku berkata, “Ketika musibahnya semakin besar dan lukanya semakin parah, diyatnya justru berkurang?” Ia berkata, “Apakah engkau orang Irak?” Aku menjawab, “Bukan, aku seorang alim yang ingin memastikan, atau orang jahil yang ingin belajar.” Ia berkata, “Memang demikianlah sunahnya, wahai anak saudaraku.”

حَدَّثَنَا رَبِيعَةُ أَنَّهُ سَمِعَ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ يَقُولُ كَانَتْ عَائِشَةُ تَأْذَنُ لِمَنْ أَرْضَعَ أَخَوَاتِهَا وَبَنَاتَ أَخِيهَا وَلَا تَأْذَنُ لِمَنْ أَرْضَعَ نِسَاءَ إِخْوَتِهَا وَبَنِي أَخِيهَا

Rabi‘ah telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr berkata, “Aisyah biasa memberi izin kepada orang yang menyusui saudari-saudarinya dan putri-putri saudara laki-lakinya, tetapi tidak memberi izin kepada orang yang menyusui para istri saudara-saudara laki-lakinya dan putra-putra saudara laki-lakinya.”

Kesepuluh: hadis-hadis ‘Amr bin Abi ‘Amr, maula al-Muththalib bin Abdullah.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَةَ الْتَمِسْ لَنَا غُلَامًا مِنْ غِلْمَانِكُمْ يَخْدُمُنِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ يُرْدِفُنِي وَرَاءَهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا نَزَلَ وَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدِّينِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ فَلَمْ أَزَلْ أَخْدُمُهُ حَتَّى قَفَلْنَا مِنْ خَيْبَرَ وَأَقْبَلَ بِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ قَدْ حَازَ لَهَا فَكُنْتُ أَرَاهُ يُحَوِّي لَهَا بِعَبَاءَةٍ أَوْ كِسَاءٍ ثُمَّ يُرْدِفُهَا وَرَاءَهُ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالصَّهْبَاءِ صَنَعَ حَيْسًا فِي نِطَعٍ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَأَكَلُوهُ فَكَانَ ذَلِكَ بِنَاءَهُ بِهَا ثُمَّ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا بَدَا لَنَا أُحُدٌ فَقَالَ هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ فَلَمَّا أَشْرَفَ عَلَى الْمَدِينَةِ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحُرِّمُ مَا بَيْنَ جَبَلَيْهَا مِثْلَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مُدِّهِمْ وَصَاعِهِمْ كَمَا بَارَكْتَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Amr bin Abi Amr, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Talhah, ‘Carikanlah untuk kami seorang anak laki-laki dari kalangan anak-anak kalian yang akan melayaniku.’ Lalu Abu Talhah berangkat dengan memboncengkan aku di belakangnya. Aku pun melayani Rasulullah ﷺ setiap kali beliau turun dari kendaraan. Aku sering mendengar beliau berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan, kesedihan, ketidakberdayaan, kemalasan, kekikiran, sifat pengecut, beratnya beban utang, dan kuasanya orang-orang.’ Aku terus melayani beliau hingga kami kembali dari Khaybar. Beliau datang bersama Safiyyah binti Huyayy, yang telah beliau ambil untuk dirinya. Aku melihat beliau melingkupinya dengan mantel atau kain, kemudian memboncengkannya di belakang beliau. Ketika kami tiba di al-Sahba, beliau membuat hais di atas hamparan kulit, lalu mengutusku. Mereka pun memakannya. Itulah walimah beliau bersamanya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan hingga Uhud tampak oleh kami. Beliau bersabda, ‘Ini adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.’ Ketika beliau telah sampai di tempat yang menghadap ke Madinah, beliau berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menetapkan kawasan di antara kedua gunungnya sebagai tanah suci, sebagaimana Ibrahim menetapkan Makkah sebagai tanah suci. Ya Allah, berkahilah takaran mudd dan sha‘ mereka, sebagaimana Engkau memberkahi penduduk Makkah.’”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ وَحَمْزَةَ ابْنَيْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْكُلُ اللَّحْمَ ثُمَّ يَقُومُ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَا يَمَسُّ مَاءً

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari ‘Ubaidillah dan Hamzah, kedua putra ‘Abdullah, dari ‘Abdullah bin Mas‘ud, bahwa Rasulullah ﷺ pernah makan daging, kemudian berdiri untuk menunaikan salat tanpa menyentuh air.

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنَ الصُّبْحِ يَوْمًا فَأَتَى النِّسَاءَ فِي الْمَسْجِدِ فَوَقَفَ عَلَيْهِنَّ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَوَاقِصِ عُقُولٍ قَطُّ وَدِينٍ أَذْهِبَ بِقُلُوبِ ذَوِي الْأَلْبَابِ مِنْكُنَّ وَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ أَنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَقَرَّبْنَ إِلَى اللَّهِ بِمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَكَانَ فِي النِّسَاءِ امْرَأَةُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَانْقَلَبَتْ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ فَأَخْبَرَتْهُ بِمَا سَمِعَتْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَتْ حُلِيًّا لَهَا فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَيْنَ تَذْهَبِينَ بِهَذَا الْحُلِيِّ قَالَتْ أَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِ اللَّهِ قَالَ وَيْحَكِ هَلُمِّ تَصَدَّقِي بِهِ عَلَيَّ وَعَلَى وَلَدِي فَإِنَّا لَهُ مَوْضِعٌ فَقَالَتْ لَا حَتَّى أَذْهِبَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَهَبَتْ تَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ تُسْتَأْذَنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ هِيَ قَالُوا هِيَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ ائْذَنُوا لَهَا فَدَخَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ مَقَالَةً فَرَجَعْتُ إِلَى ابْنَ مَسْعُودٍ فَحَدَّثْتُهُ وَأَخَذْتُ حُلِيًّا لِي أَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَيْكَ رَجَاءَ أَلَّا يَجْعَلَنِي اللَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ تَصَدَّقِي بِهِ عَلَيَّ وَعَلَى بَنِيَّ فَإِنَّا لَهُ مَوْضِعٌ فَقُلْتُ حَتَّى اسْتَأْذِنَ رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَدَّقِي بِهِ عَلَيْهِ وَعَلَى بَنِيهِ؛ فَإِنَّهُمْ لَهُ مَوْضِعٌ قَالَتْ ثُمَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَا سَمِعْتُ مِنْكَ حِينَ وَقَفْتَ عَلَيْنَا فَقُلْتَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَوَاقِصِ عُقُولٍ قَطُّ وَدِينٍ أَذْهَبَ بِقُلُوبِ ذَوِي الْأَلْبَابِ مِنْكُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعُقُولِنَا قَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ مِنْ نُقْصَانِ دِينِكُنَّ فَالْحَيْضَةُ الَّتِي تُصِيبُكُنَّ تَمْكُثُ إِحْدَاكُنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَمْكُثَ لَا تُصَلِّي وَلَا تَصُومُ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِكُنَّ وَأَمَّا مَا ذَكَرْتُ مِنْ نُقْصَانِ عُقُولِكُنَّ فَشَهَادَتُكُنَّ إِنَّمَا شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ نِصْفُ شَهَادَةٍ

Amr bin Abi Amr meriwayatkan kepada kami dari Abu Sa‘id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari selesai menunaikan salat Subuh, lalu mendatangi kaum perempuan di masjid dan berdiri di hadapan mereka. Beliau bersabda, “Wahai kaum perempuan, aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya, tetapi lebih mampu memikat hati orang-orang berakal daripada kalian. Aku juga telah melihat bahwa kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak pada hari kiamat. Maka dekatkanlah diri kalian kepada Allah semampu kalian.” Di antara kaum perempuan itu terdapat istri Abdullah bin Mas‘ud. Ia pulang menemui Abdullah dan memberitahukan kepadanya apa yang didengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ia lalu mengambil perhiasannya. Ibnu Mas‘ud bertanya, “Ke mana kau akan membawa perhiasan itu?” Ia menjawab, “Aku akan mendekatkan diri dengannya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ibnu Mas‘ud berkata, “Celaka engkau, kemarilah dan sedekahkanlah kepadaku dan anakku, karena kami berhak menerimanya.” Ia berkata, “Tidak, sampai aku membawanya kepada Rasulullah ﷺ.” Ia pun pergi meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, Zaynab meminta izin untuk menemui Anda.” Beliau bertanya, “Zaynab yang mana?” Mereka menjawab, “Istri Ibnu Mas‘ud.” Beliau bersabda, “Izinkan dia masuk.” Ia pun menemui Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mendengar suatu perkataan dari Anda, lalu aku pulang menemui Ibnu Mas‘ud dan menceritakannya kepadanya. Aku mengambil perhiasanku untuk mendekatkan diri dengannya kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung dan kepada Anda, dengan harapan semoga Allah tidak menjadikanku termasuk penghuni neraka. Ibnu Mas‘ud berkata, ‘Sedekahkanlah kepadaku dan anak-anakku, karena kami berhak menerimanya.’ Aku menjawab, ‘Sampai aku meminta izin kepada Rasulullah.’” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekahkanlah kepadanya dan anak-anaknya, karena mereka berhak menerimanya.” Ia berkata, “Kemudian aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda tentang apa yang kudengar dari Anda ketika Anda berdiri di hadapan kami dan bersabda, “Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya, tetapi lebih mampu memikat hati orang-orang berakal daripada kalian”? Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami?’ Beliau menjawab, ‘Adapun kekurangan agama kalian yang kusebutkan, itu adalah haid yang kalian alami. Salah seorang di antara kalian akan mengalami haid selama waktu yang Allah kehendaki; ia tidak salat dan tidak berpuasa. Itulah kekurangan agama kalian. Adapun kekurangan akal kalian yang kusebutkan, itu adalah kesaksian kalian: kesaksian seorang perempuan hanyalah setengah kesaksian.’”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari Abu Sa‘id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi bagian yang ia peroleh dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang salat malam, tetapi bagian yang ia peroleh dari salat malamnya hanyalah begadang.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا وَأَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Sa‘id bin Abi Sa‘id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dan menyekutukan selain-Ku di dalamnya, maka Aku berlepas diri darinya.’”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى بُعِثْتُ فِي الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ مِنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Sa‘id bin Abi Sa‘id, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Aku diutus dari generasi terbaik keturunan Adam, generasi demi generasi, hingga aku diutus pada generasi yang aku termasuk di dalamnya.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ؛ لَمَا رَأَيْتُ مِنَ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Amr telah menceritakan kepada kami, dari Sa‘id bin Abi Sa‘id, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Sungguh, aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang akan menanyakan hadis ini kepadaku sebelum dirimu, karena aku melihat besarnya perhatianmu terhadap hadis. Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan, “Tidak ada tuhan selain Allah,” dengan tulus dari dirinya sendiri.’”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّهُ قَالَ كَانَ مِنْ خُطْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ أَنَّهُ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي وَاللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا بِمَكَانِي هَذَا أَبَدًا فَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِيَ الْيَوْمَ فَوَعَاهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ وَلَا فِقْهَ لَهُ وَرَبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ اعْلَمُوا أَنَّ أَمْوَالَكُمَ وَدِمَاءَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ هَذَا الْيَوْمِ فِي هَذَا الشَّهْرِ فِي هَذَا الْبَلَدِ وَاعْلَمُوا أَنَّ الْقُلُوبَ لَا تَغُلُّ عَلَى ثَلَاثٍ عَلَى إِخْلَاصِ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةِ أُولِي الْأَمْرِ وَعَلَى لُزُومِ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari ‘Abd al-Rahman bin al-Huwairits, dari Muhammad bin Jubair bin Muth‘im, bahwa ia berkata: Di antara isi khotbah Rasulullah ﷺ pada hari Arafah dalam Haji Wada‘ adalah sabda beliau, “Wahai manusia, demi Allah, aku tidak tahu, mungkin setelah hari ini, di tempatku ini, aku tidak akan pernah lagi bertemu kalian. Semoga Allah merahmati orang yang mendengar perkataanku hari ini lalu mengingatnya dengan baik. Betapa banyak orang yang membawa ilmu fikih, tetapi tidak memahaminya, dan betapa banyak orang yang membawa ilmu fikih kepada orang yang lebih memahaminya daripada dirinya. Ketahuilah, harta dan darah kalian terlarang bagi kalian, sebagaimana terlarangnya hari ini, pada bulan ini, di negeri ini. Ketahuilah, hati tidak menyimpan kedengkian dalam tiga perkara: mengikhlaskan amal karena Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada para pemegang urusan, dan berpegang teguh pada jemaah kaum muslimin; sebab doa mereka meliputi orang-orang yang berada di belakang mereka.”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حُدِّثْتُمْ عَنِّي مِمَّا تُنْكِرُونَ وَلَا تُصَدِّقُونَهُ فَإِنِّي لَا أَقُولُ الْمُنْكَرَ وَمَا حُدِّثْتُمْ عَنِّي بِمَا تَعْرِفُونَ فَصَدِّقُوا

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari ‘Abdurrahman bin al-Huwairits, dari Muhammad bin Jubair, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Apa pun yang disampaikan kepada kalian dariku berupa sesuatu yang kalian anggap mungkar, janganlah kalian membenarkannya, sebab aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang mungkar. Dan apa pun yang disampaikan kepada kalian dariku berupa sesuatu yang kalian ketahui, maka benarkanlah.”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ مَالٌ مِنَ الْبَحْرَيْنِ فَلَمَّا سَمِعَ بِهِ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ حَضَرُوهُ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُمْ تَبَسَّمَ وَقَالَ سَمِعْتُمْ بِهَذَا الْمَالِ الَّذِي جَاءَنِي قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا الَّذِي يَسُرُّكُمْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تُفْتَحَ عَلَيْكُمْ مِنْ هَا هُنَا وَهَا هُنَا فَتُعْجِبَكُمْ كَمَا أَعْجَبَتِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكْتِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Amr bin Abi Amr, dari Abdurrahman bin al-Huwairits, dari Muhammad bin Jubair, bahwa Nabi ﷺ menerima harta dari Bahrain. Ketika kaum Muhajirin dan Ansar mendengar hal itu, mereka pun datang kepadanya. Nabi ﷺ lalu keluar. Ketika melihat mereka, beliau tersenyum dan berkata, “Apakah kalian telah mendengar tentang harta yang datang kepadaku ini?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Bergembiralah dan berharaplah akan sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku tidak mengkhawatirkan kemiskinan menimpa kalian. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan dunia dibukakan bagi kalian dari sini dan dari sana, lalu kalian terpesona olehnya sebagaimana orang-orang sebelum kalian terpesona olehnya, dan dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَلَمَّا حَضَرَ رَحِيلُهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مُنْطَلِقٌ فَعِظْنِي قَالَ يَا مُعَاذُ اتَّقِ اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتَ وَاعْمَلْ بِقُوَّتِكَ لِلَّهِ مَا أَطَقْتَ وَاذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ كُلِّ شَجَرَةٍ وَحَجَرٍ وَإِنْ أَحْدَثْتَ ذَنْبًا فَأَحْدِثْ عِنْدَهُ تَوْبَةً إِنْ سِرًّا فَسِرًّا وَإِنْ عَلَانِيَةً فَعَلَانِيَةٌ

Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin al-Huwairits, dari Muhammad bin Jubair: Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz ke Yaman. Ketika waktu keberangkatannya tiba, ia datang kepada Nabi ﷺ dan mengucapkan salam kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku akan berangkat. Berilah aku nasihat.” Beliau bersabda, “Wahai Mu‘adz, bertakwalah kepada Allah semampumu, beramallah untuk Allah dengan segenap kemampuanmu, dan ingatlah Allah di dekat setiap pohon dan batu. Jika engkau melakukan suatu dosa, iringilah dengan tobat; jika dosa itu dilakukan secara tersembunyi, bertobatlah secara tersembunyi, dan jika dilakukan secara terang-terangan, bertobatlah secara terang-terangan.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعُدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari al-Muththalib bin ‘Abdullah, dari ‘Ubadah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Jaminlah untukku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku menjamin surga untuk kalian: jujurlah ketika berbicara, tepati janji ketika berjanji, tunaikan amanah ketika dipercaya, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ إِنَّ الْمَرْءَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خَلْقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari al-Muththalib, bahwa ‘Aisyah berkata, “Sungguh, seseorang dapat mencapai derajat orang yang berpuasa dan mengerjakan salat malam karena akhlaknya yang baik.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ قَالَ ذُبِحَتْ فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ شَاةٌ فَلَمَّا سُلِخَتْ جَاءَ مِسْكِينٌ يَسْتَطْعِمُ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ بِنَفْسِهِ فَقَطَعَ عُضْوًا فَأَطْعَمَهُ فَذَهَبَ الْمِسْكِينُ فَدَلَّ آخَرَ فَجَاءَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ بِنَفْسِهِ فَقَطَعَ لَهُ مِنْهَا عُضْوًا فَأَطْعَمَهُ فَتَدَالُّوا عَلَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطْعِمُهُمْ حَتَّى أَطْعَمَ الشَّاةَ جَمِيعًا فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَرَكْتَ بَعْضَ شَاتِنَا نَأْكُلُهُ فَقَالَ كُلُّهَا وَاللَّهِ لَنَا

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari al-Muththalib, bahwa ia berkata, “Seekor kambing disembelih di rumah Ummu Salamah. Ketika kambing itu telah dikuliti, datanglah seorang miskin meminta makanan. Rasulullah saw. sendiri bangkit, memotong satu bagian kambing itu, lalu memberikannya kepadanya. Orang miskin itu pergi dan memberi tahu orang lain, lalu orang itu datang. Rasulullah saw. sendiri bangkit, memotong satu bagian kambing itu untuknya, lalu memberikannya kepadanya. Mereka pun berdatangan kepadanya, dan Rasulullah saw. terus memberi mereka makan hingga seluruh kambing itu habis beliau berikan. Ummu Salamah berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menyisakan sebagian kambing kita agar kita dapat memakannya?’ Beliau menjawab, ‘Semuanya, demi Allah, adalah milik kita.’”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا وَلِأَبِي مَالٌ وَوَلَدٌ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَذْهَبَ بِمَالِي إِلَى وَلَدِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

Amru telah menceritakan kepada kami, dari al-Muththalib, bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki harta dan anak, sedangkan ayahku juga memiliki harta dan anak. Ia ingin membawa hartaku kepada anaknya.” Nabi ﷺ bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقَدْ لَزِمْتُ السِّوَاكَ حَتَّى لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يُدْرِدَنِي

Amr meriwayatkan kepada kami dari al-Muththalib bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, aku senantiasa menggunakan siwak hingga aku khawatir siwak itu akan membuat gigiku tanggal.”

عَنْ عَمْرٍو عَنِ الْمُطَّلِبِ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى

Dari ‘Amr, dari al-Muththalib, dari Abu Musa al-Asy‘ari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mencintai kehidupan dunianya, ia membahayakan akhiratnya; dan siapa yang mencintai akhiratnya, ia membahayakan kehidupan dunianya. Maka utamakanlah sesuatu yang kekal daripada sesuatu yang fana.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ رَاعٍ بَاتَ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ الَّتِي يَرُوحُ رِيحُهَا مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَمَنْ قَتَلَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ الَّتِي يَرُوحُ رِيحُهَا مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ سَنَةً

 حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مَرَّ عَلَى عُثْمَانَ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ وَقَدْ كَتَبْتُهُ فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari al-Muththalib, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap pemimpin yang melewati malam dalam keadaan mengkhianati orang-orang yang dipimpinnya, Allah mengharamkan baginya surga yang wanginya tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun. Dan siapa pun yang membunuh seorang laki-laki dari kalangan ahludzimmah, Allah mengharamkan baginya surga yang wanginya tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.”

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari ‘Abdurrahman bin al-Huwairits, dari Muhammad bin Jubair, bahwa Umar bin al-Khaththab melewati Utsman yang sedang duduk di masjid. Ia menyebutkan hadis itu secara panjang lebar, dan aku telah menuliskannya di tempat lain.

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قَالُوا وَمَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِينَ يَزِيدُونَ إِذَا نَقَصَ النَّاسُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari al-Muṭṭalib, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Berbahagialah orang-orang asing.” Mereka bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka yang bertambah ketika orang-orang berkurang.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَمَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ وَإِنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ جِبْرِيلَ قَدْ أَلْقَى فِي رَوْعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْعِبَ عَلَى الَّذِي كَتَبَ اللَّهُ لَهَا فَمَنْ أَبْطَأَ عَنْهُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ فَلْيُجْمِلْ فِي الطَّلَبِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تُدْرِكُوا مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

‘Amr telah meriwayatkan kepada kami dari al-Muththalib bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah aku meninggalkan sesuatu pun yang Allah perintahkan kepada kalian melainkan aku telah memerintahkannya kepada kalian. Dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu pun yang Dia larang bagi kalian melainkan aku telah melarangnya bagi kalian. Sesungguhnya Ruhul Amin, Jibril, telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah suatu jiwa akan mati sebelum memperoleh sepenuhnya apa yang telah Allah tetapkan baginya. Maka, jika ada sesuatu dari hal itu yang terlambat diperolehnya, hendaklah ia mencarinya dengan cara yang baik. Sebab, kalian tidak akan memperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan menaati-Nya.”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنِ الْمُطَّلِبِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ الدُّعَاءِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَإِنَّ أَفْضَلَ مَا أَقُولُ أَنَا وَمَا قَالَ النَّبِيُّونَ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

‘Amr ibn Abi ‘Amr telah menyampaikan kepada kami dari al-Muthallib, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di antara doa yang paling utama adalah doa pada hari Arafah. Sesungguhnya ucapan terbaik yang aku ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelumku ialah: Tiada tuhan selain Allah.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ مِحْصَنٍ الْفِهْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا رَبَّهُ فَعَرَفَ الِاسْتِجَابَةَ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِعِزَّتِهِ وَجَلَالِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَمَنْ أَبْطَأَ مِنْ ذَلِكَ عَلَيْهِ شَيْءٌ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Mihsan al-Fihri, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa berdoa kepada Tuhannya lalu mengetahui bahwa doanya dikabulkan, hendaklah ia mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, yang dengan keperkasaan dan keagungan-Nya segala amal saleh menjadi sempurna.’ Dan barang siapa mengalami keterlambatan dalam memperoleh sesuatu dari hal itu, hendaklah ia mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.’”

عَنْ عَمْرٍو عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ ثِقَةٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ نَاضِحًا لِبَعْضِ بَنِي سِمَةٍ اغْتَلَمَ وَكَانَ يُنْضَحُ عَلَيْهِ فَصَالَ عَلَيْهِمْ وَامْتَنَعَ مِنْهُمْ حَتَّى عَطِشَ نَخْلُهُ فَذَهَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَكَى ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلِقْ فَذَهَبَ فَانْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ فَلَمَّا بَلَغَ بَابَ النَّخْلِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَدْخُلْ فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْخُلُوا وَلَا بَأْسَ عَلَيْكُمْ مِنْهُ فَلَمَّا رَآهُ الْجَمَلُ أَقْبَلَ يَمْشِي وَاضِعًا رَأْسَهُ حَتَّى قَامَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَسَجَدَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتُوا جَمَلَكُمْ فَاخْطِمُوهُ وَارْتَحِلُوهُ فَأَتَوْهُ فَخَطَمُوهُ وَارْتَحَلُوا فَقَالُوا نَسْجُدُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ لَا تَقُولُوا ذَلِكَ لَا تَقُولُوا لِي مَا لَمْ أَبْلُغْ فَلَعَمْرِي مَا سَجَدَ لِي وَلَكِنَّ اللَّهَ سَخَّرَهُ لِي

Dari Amr, dari seorang lelaki tepercaya dari Bani Salimah, dari Jabir bin Abdullah, bahwa seekor unta pengangkut air milik sebagian Bani Simah menjadi liar. Unta itu biasa dipakai untuk mengairi kebun, tetapi kemudian menyerang mereka dan tidak mau mereka kendalikan, hingga pohon-pohon kurmanya kehausan. Lalu ia pergi menemui Rasulullah ﷺ dan mengadukan hal itu kepada beliau. Nabi ﷺ berkata kepadanya, “Pergilah.” Orang itu pun pergi, dan Nabi ﷺ berangkat bersamanya. Ketika sampai di pintu kebun kurma, orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, jangan masuk. Aku khawatir ia akan membahayakanmu.” Nabi ﷺ menjawab, “Masuklah, kalian tidak perlu khawatir terhadapnya.” Ketika unta itu melihat beliau, ia datang berjalan dengan kepala tertunduk hingga berdiri di hadapan beliau, lalu bersujud. Nabi ﷺ bersabda, “Datangilah unta kalian, pasanglah tali kekang padanya dan naikilah.” Mereka pun mendatanginya, memasang tali kekang, lalu menaikinya. Mereka berkata, “Kami bersujud kepadamu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jangan mengatakan demikian. Jangan mengatakan kepadaku sesuatu yang tidak pantas bagiku. Demi umurku, ia tidak bersujud kepadaku, tetapi Allah-lah yang menundukkannya untukku.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ حَبِيبِ بْنِ هِنْدَ الْأَسْلَمِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَخَذَ السُّبُعَ فَهُوَ حَبْرٌ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Habib bin Hind al-Aslami, dari Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah. Ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa mengambil tujuh [bagian], maka ia adalah seorang alim.’”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ هَيِّنًا لَيِّنًا سَهْلًا قَرِيبًا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari seorang laki-laki dari Bani Abdullah bin Mas‘ud, dari Abdullah bin Mas‘ud, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang bersikap santun, lemah lembut, mudah, dan dekat, Allah mengharamkannya dari api neraka.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبْرَحُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى النَّاسِ لَا يُبَالُونَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَخْرُجَ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ فَيُقَاتِلُونَهُ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Muhammad bin Ka‘b al-Qurazhi, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang unggul atas manusia. Mereka tidak peduli siapa yang menentang mereka, hingga Al-Masih Ad-Dajjal muncul, lalu mereka memeranginya.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْرَكَ شَيْخًا يَتَهَادَى بَيْنَ ابْنَيْهِ يَتَوَكَّأُ عَلَيْهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَأْنُ هَذَا الشَّيْخِ قَالَ ابْنَاهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْكَبْ أَيُّهَا الشَّيْخُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَنِيٌّ عَنْكَ وَعَنْ نَذْرِكَ

Amr telah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman al-A‘raj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ menjumpai seorang lelaki tua yang berjalan tertatih-tatih di antara kedua putranya sambil bertumpu pada mereka. Nabi ﷺ bertanya, “Ada apa dengan lelaki tua ini?” Kedua putranya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia memiliki nazar yang harus ditunaikan.” Nabi ﷺ bersabda, “Naiklah, wahai lelaki tua. Sesungguhnya Allah عز وجل tidak membutuhkanmu maupun nazarmu.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَرِّبُ مِنَ ابْنِ آدَمَ شَيْئًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ قَدَّرَهُ لَهُ وَلَكِنَّ النَّذْرَ يُوَافِقُ الْقَدَرَ فَيُخْرِجُ بِذَلِكَ مِنَ الْبَخِيلِ مَا لَمْ يَكُنِ الْبَخِيلُ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَهُ

Amru telah menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman al-A‘raj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya nazar tidak mendekatkan kepada anak Adam sesuatu pun yang belum Allah tetapkan baginya. Akan tetapi, nazar bertepatan dengan takdir, sehingga dengan itu dikeluarkan dari orang kikir sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikeluarkan oleh orang kikir itu.”

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ ضُبَاعَةَ بِنْتَ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ذَبَحَتْ شَاةً فِي بَيْتِهَا فَسَمِعَ بِذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا أَنْ أَطْعِمُونَا مِنْ لَحْمِكُمْ فَقَالَتْ لِرَسُولِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا بَقِيَ عِنْدَنَا مِنْ شَاتِنَا غَيْرُ الرَّقَبَةِ وَإِنِّي لَأَسْتَحِيَ أَنْ أُرْسِلَ بِالرَّقَبَةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَ الرَّسُولُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَقُلْ لَهَا أَرْسِلِي إِلَيْنَا بِالرَّقَبَةِ فَإِنَّهَا هَادِيَةُ الشَّاةِ وَإِنَّهَا أَقْرَبُ لِلشَّاةِ مِنَ الْخَيْرِ وَأَبْعَدُهُ مِنَ الْأَذَى

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari ‘Abd al-Rahman, bahwa Duba‘ah binti al-Zubair bin ‘Abd al-Muththalib menyembelih seekor kambing di rumahnya. Rasulullah ﷺ mendengar hal itu, lalu mengutus seseorang kepadanya, “Berilah kami sebagian daging kalian.” Ia berkata kepada utusan beliau, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak ada yang tersisa dari kambing kami selain lehernya. Sungguh, aku malu mengirimkan leher itu kepada Rasulullah ﷺ.” Utusan itu pun kembali kepada Rasulullah ﷺ dan memberitahukan hal tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kembalilah kepadanya dan katakan: ‘Kirimkanlah leher itu kepada kami, sebab leher adalah bagian yang paling menuntun pada kebaikan kambing dan paling jauh dari keburukannya.’”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَشْهَلِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُوُنَّهُ وَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ

‘Amr telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Asyhali, dari Hudzaifah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian harus menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan segera mendatangkan hukuman dari sisi-Nya kepada kalian. Kemudian kalian akan berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَشْهَلِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتُلُوا إِمَامَكُمْ وَتَجْتَلِدُوا بِأَسْيَافِكُمْ وَيَرِثَ دُنْيَاكُمْ شِرَارُكُمْ

Amru telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Abdurrahman al-Asyhali, dari Hudzaifah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian membunuh pemimpin kalian, saling bertarung dengan pedang-pedang kalian, dan orang-orang terburuk di antara kalian mewarisi dunia kalian.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman, dari Hudzaifah, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling beruntung dalam urusan dunia adalah orang hina, anak dari orang hina.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَحْمِي عَبْدَهُ الْمُؤْمِنَ مَنَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُ كَمَا تَحْمُونَ مَرِيضَكُمُ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ تَخَافُونَ عَلَيْهِ

Amr telah menceritakan kepada kami, dari ‘Ashim bin Umar bin Qatadah, dari Mahmud bin Labid, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung benar-benar menjaga hamba-Nya yang beriman dari dunia, padahal Dia mencintainya, sebagaimana kalian menjaga orang sakit kalian dari makanan dan minuman karena mengkhawatirkannya.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَاصِمٍ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اثْنَتَانِ يَكْرَهُّمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

Telah menceritakan kepada kami Amr, dari Ashim, dari Mahmud bin Labid, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Ada dua hal yang tidak disukai oleh anak Adam: ia tidak menyukai kematian, padahal kematian lebih baik bagi orang mukmin daripada fitnah; dan ia tidak menyukai sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta membuat hisab lebih ringan.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَاصِمٍ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمُ اللَّهُ فَمَنْ صَبَرَ فَلَهُ الصَّبْرُ وَمَنْ جَزِعَ فَلَهُ الْجَزَعُ

Amr telah menceritakan kepada kami, dari Ashim, dari Mahmud bin Labid, dari Nabi ﷺ. Beliau bersabda, “Apabila Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Siapa yang bersabar, baginya kesabaran; dan siapa yang berkeluh kesah, baginya keluh kesah.”

حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ عَاصِمٍ عَنْ مَحْمُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قِيلَ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ يُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمُ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ خَيْرًا

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr, dari ‘Ashim, dari Mahmud, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian pada hari ini adalah syirik kecil.” Ditanyakan, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” Allah عز وجل berfirman kepada mereka pada hari ketika para hamba diberi balasan atas amal-amal mereka, “Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan kebaikan pada mereka.”

Kesebelas: Hadis-hadis Syarik bin Abdullah bin Abi Namir

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ قَالَ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ثَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ إِمَامٍ قَطُّ أَخَفَّ وَلَا أَتَمَّ صَلَاةً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ مِثْلَهُ

Ali menuturkan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Ja‘far menuturkan kepada kami, Syarik bin Abdullah bin Abi Namir menuturkan kepada kami, dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah salat di belakang seorang imam pun yang salatnya lebih ringan dan lebih sempurna daripada salat Rasulullah ﷺ.”

Ali menuturkan kepada kami, Ismail menuturkan kepada kami, dari al-‘Ala bin Abdurrahman, dari Anas bin Malik, dengan riwayat yang serupa.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ نَحْوَ دَارِ الْقَضَاءِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يُغِيثَنَا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا قَالَ أَنَسٌ وَلَا وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابَةٍ وَلَا قَزَعَةٍ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ يَعْنِي السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ قَالَ فَلَا وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سَبْتًا قَالَ ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يُمْسِكَهَا عَنَّا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ قَالَ فَأَقْلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ قَالَ شَرِيكٌ فَسَأَلْتُ أَنَسًا أَهُوَ الرَّجُلُ الْأَوَّلُ قَالَ لَا أَدْرِي

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Syarik telah menceritakan kepada kami dari Anas, bahwa seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jumat melalui sebuah pintu yang berada di dekat Dar al-Qadha’, sementara Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar sedang berkhutbah. Laki-laki itu menghadap Rasulullah ﷺ sambil berdiri, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan terputus. Berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Anas berkata, “Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, ‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.’” Anas berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat satu awan pun, bahkan awan kecil yang terpencar, di langit. Di antara kami dan Sal‘ tidak ada rumah ataupun bangunan. Lalu muncul dari baliknya sebuah awan sebesar perisai. Ketika awan itu sampai ke tengah—yakni tengah langit—awan itu menyebar, kemudian turunlah hujan.” Anas berkata, “Demi Allah, selama sepekan kami tidak melihat matahari.” Kemudian pada hari Jumat berikutnya, seorang laki-laki masuk melalui pintu itu, sementara Rasulullah ﷺ berdiri sedang berkhutbah. Laki-laki itu menghadap beliau sambil berdiri, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan terputus. Berdoalah kepada Allah agar Dia menghentikannya dari kami.” Rasulullah mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit, gundukan-gundukan, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Hujan pun berhenti, lalu kami keluar dan berjalan di bawah sinar matahari.” Syarik berkata, “Aku bertanya kepada Anas, ‘Apakah laki-laki itu orang yang pertama?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu.’”

أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ مَجْدُ الدِّينِ أَبُو الْفَرَجِ يَحْيَى بْنُ أَبِي الرَّجَاءِ مَحْمُودُ بْنُ أَبِي الْفَرَجِ سَعْدُ بْنُ أَبِي طَاهِرٍ أَحْمَدَ بْنِ مَحْمُودِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ مَحْمُودٍ الثَّقَفِيُّ الْأَصْبَهَانِيُّ قَدِمَ عَلَيْنَا دِمَشْقَ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِهَا وَأَنَا أَسْمَعُ بِدِمَشْقَ فِي سَنَةِ ثَلَاثٍ وَثَمَانِينَ وَخَمْسِمِائَةٍ قَالَ قُرِئَ عَلَى الشَّيْخِ أَبِي طَاهِرٍ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الصَّبَّاغِ دَشْتَجَ وَأَنَا حَاضِرٌ يَوْمَ السَّبْتِ الْمُوفِي عِشْرِينَ مِنْ صَفَرٍ سَنَةَ عَشْرَةٍ وَخَمْسِمِائَةٍ بِأَصْبَهَانَ قَالَ ثنا الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُعْتَزِّ بْنِ مَنْصُورٍ النَّيْسَابُورِيُّ قَدِمَ عَلَيْنَا قَالَ ثنا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ قَالَ ثنا جَدِّي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ قَالَ ثنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ ثنا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ فَأَشَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ أَنِ اسْكُتْ قَالَ فَسَأَلَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يُشِيرُونَ إِلَيْهِ أَنِ اسْكُتْ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ وَيْحَكَ مَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاعَةً ثُمَّ مَرَّ غُلَامٌ يَمْشِي قَالَ أَنَسٌ أَقُولُ أَنَا هُوَ مِنْ أَقْرَانِي قَدِ احْتَلَمَ أَوْ نَاهَزَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ هَا هُوَ هَذَا فَقَالَ إِنْ أَكْمَلَ هَذَا الْغُلَامُ عُمْرَهُ أَوْ أَدْرَكَ عُمْرَهُ فَلَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَرَى أَشْرَاطَهَا

Telah mengabarkan kepada kami Syekh, imam, Majduddin Abu al-Faraj Yahya bin Abi al-Raja’ Mahmud bin Abi al-Faraj Sa‘d bin Abi Tahir Ahmad bin Mahmud bin Ahmad bin Mahmud al-Tsaqafi al-Ashbahani. Ia datang kepada kami di Damaskus, dan di sana kitab dibacakan kepadanya, sementara aku mendengarkan di Damaskus pada tahun 583 H. Ia berkata, “Kitab dibacakan kepada Syekh Abu Tahir ‘Abd al-Wahid bin Muhammad bin Ahmad bin al-Haitsam al-Sabbagh Dashtaj, sementara aku hadir, pada hari Sabtu, tanggal dua puluh Safar tahun 510 H di Ashbahan. Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Syekh Abu al-Hasan ‘Ubaidullah bin al-Mu‘tazz bin Manshur al-Naisaburi, yang datang kepada kami.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Abu Tahir Muhammad bin al-Fadl bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami kakekku, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hujr al-Sa‘di.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin Ja‘far al-Madani.’ Ia berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Syarik bin ‘Abdullah bin Abi Namir bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata, “Seorang laki-laki masuk ke masjid ketika Rasulullah ﷺ sedang berada di atas mimbar pada hari Jumat. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kapan Kiamat terjadi?’ Orang-orang memberi isyarat kepadanya agar diam. Anas berkata, ‘Ia menanyakannya tiga kali, dan setiap kali itu pula mereka memberi isyarat agar ia diam.’ Pada kali yang ketiga, Rasulullah ﷺ berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau, apa yang telah engkau persiapkan untuknya?’ Ia menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’ Anas berkata, ‘Rasulullah ﷺ pun diam sejenak. Kemudian lewat seorang anak laki-laki yang sedang berjalan.’ Anas berkata, ‘Menurutku, ia adalah salah seorang yang sebaya denganku; ia telah balig atau hampir balig.’ Rasulullah ﷺ lalu bersabda, ‘Di mana orang yang bertanya tentang Kiamat itu?’ Ia menjawab, ‘Itu dia, orangnya.’ Beliau bersabda, ‘Jika anak laki-laki ini mencapai usianya atau sampai pada usianya, ia tidak akan meninggal sebelum melihat tanda-tandanya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ مَوْلَى مَيْمُونَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِالَّذِي تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ إِنَّ الْمِسْكِينَ الْمُتَعَفِّفُ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Syarik telah menceritakan kepada kami, dari Atha’ bin Yasar, maula Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang ditolak oleh satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua butir kurma. Sesungguhnya orang miskin itu adalah orang yang menjaga diri dari meminta-minta. Bacalah, jika kalian mau: ‘Mereka tidak meminta-minta kepada orang lain dengan mendesak.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مَعَ عَائِشَةَ إِذِ انْسَلَّتْ فَقَالَ مَهٍ لِمَ فَعَلْتِهَا قَالَتْ حِضْتُ قَالَ قَوْمِي فَاتَّزِرِي ثُمَّ ادْنِي مِنِّي قَالَتْ فَاتَّزَرْتُ ثُمَّ دَخَلْتُ مَعَهُ فِي لِحَافِهِ وَكَانَا يَغْتَسِلَانِ وَهُمَا جُنُبَانِ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ

Ali telah menuturkan kepada kami; Ismail telah menuturkan kepada kami; Syarik bin Abdullah telah menuturkan kepada kami, dari Atha bin Yasar, ia berkata, “Pada suatu malam, ketika Rasulullah ﷺ bersama Aisyah, tiba-tiba Aisyah menyelinap pergi. Beliau berkata, ‘Tunggu! Mengapa engkau melakukannya?’ Aisyah menjawab, ‘Aku sedang haid.’ Beliau berkata, ‘Bangunlah, kenakan kain sarungmu, lalu mendekatlah kepadaku.’ Aisyah berkata, ‘Aku pun mengenakan kain sarung, lalu masuk bersamanya ke dalam selimutnya. Mereka berdua biasa mandi junub dalam satu bejana.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ أَوْصِنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ مَا اسْتَطَعْتَ وَاذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ كُلِّ شَجَرٍ وَحَجَرٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سُوءًا فَأَحْدِثْ لَهُ تَوْبَةً السِّرُّ بِالسِّرِّ وَالْعَلَانِيَةُ بِالْعَلَانِيَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha, bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Muaz ke Yaman. Muaz berkata kepada beliau, “Berilah aku nasihat, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah semampumu, ingatlah Allah di setiap pohon dan batu, dan apabila engkau melakukan keburukan, iringilah dengan tobat: yang tersembunyi dengan yang tersembunyi, dan yang terang-terangan dengan yang terang-terangan.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَتْ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا وَإِيَّاكُمْ مُتَوَاعِدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

Ali meriwayatkan kepada kami, Ismail meriwayatkan kepada kami, Syarik meriwayatkan kepada kami, dari Atha’ bin Yasar, dari Aisyah, bahwa ia berkata, “Setiap kali malam giliran Aisyah bersama Rasulullah ﷺ, beliau keluar pada akhir malam menuju Baqi’, lalu mengucapkan, ‘Salam sejahtera atas kalian, wahai tempat tinggal kaum beriman. Sesungguhnya kita telah saling dijanjikan untuk bertemu esok, tetapi waktunya ditangguhkan. Sesungguhnya, jika Allah menghendaki, kami akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah para penghuni Baqi’ al-Gharqad.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الْقَوْمِ خَيْرُهُمْ قَضَاءً وَخِيَارُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang terbaik di antara suatu kaum adalah orang yang paling baik dalam melunasi utang, dan orang-orang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istri-istri mereka.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى وَجْهِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصُّورَةَ لَا تَلْقَى الصُّورَةَ

Ali telah menceritakan kepada kami, Isma‘il telah menceritakan kepada kami, Syarik telah menceritakan kepada kami, dari ‘Atha’ bin Yasar, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, “Sesungguhnya aku bernazar untuk bersujud di atas wajahmu.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya rupa tidak berhadapan dengan rupa.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ كَرَامَةً دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ

Ali telah menyampaikan hadis kepada kami, Ismail telah menyampaikan hadis kepada kami, Syarik meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Aisyah, bersikaplah lembut. Sesungguhnya, apabila Allah menghendaki kemuliaan bagi suatu keluarga, Dia membimbing mereka menuju pintu kelembutan.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ أَجْدَبْنَا وَهَلَكْنَا إِنْ لَمْ يُدْرِكْنَا اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يُغِيثَنَا فَدَعَا ثُمَّ رَجَعَ الرَّجُلُ وَقَدْ مُطِرُوا وَأُحْيُوا عَامَهُمْ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعَ فِي عَامٍ قَابِلٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعَوْتَ لَنَا فَأُحْيِينَا عَامَ الْأَوَّلِ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا الْعَامَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْثًا كَغَيْثِ الْكُفَّارِ أَوِ الْمُشْرِكِينَ لَا أَرْجِعُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha bin Yasar, bahwa seorang laki-laki dari penduduk Najd datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata kepadanya, “Kami mengalami paceklik dan binasa jika Allah tidak menyelamatkan kami darinya dengan rahmat-Nya. Maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kami.” Beliau pun berdoa. Kemudian laki-laki itu pulang, sementara mereka telah diguyur hujan dan kehidupan mereka pada tahun itu kembali pulih. Lalu pada tahun berikutnya ia datang lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah berdoa untuk kami, lalu kehidupan kami kembali pulih pada tahun sebelumnya. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami pada tahun ini.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Hujan seperti hujan orang-orang kafir atau kaum musyrik; aku tidak akan mengulanginya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ الْهِلَالِيَّةَ الَّتِي كَانَتْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ لَهَا جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُعْتِقَ هَذِهِ الْأَمَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا تَفْتَدِينَ بِهَا ابْنَتَا أَخِيكِ أَوْ أُخْتَكِ مِنْ رِعَايَةِ الْغَنَمِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha, bahwa al-Hilaliyah yang berada bersama Rasulullah ﷺ memiliki seorang budak perempuan berkulit hitam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin memerdekakan budak perempuan ini.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidakkah engkau menggunakan budak itu untuk membebaskan kedua putri saudara laki-laki atau saudara perempuanmu dari menggembalakan kambing?”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ وَحَجٌّ مَبْرُورٌ

Ali telah meriwayatkan kepada kami, Ismail telah meriwayatkan kepada kami, Syarik meriwayatkan dari Atha bahwa Rasulullah ﷺ ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah, jihad di jalan-Nya, dan haji yang mabrur.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّهُ قَالَ وَجَدَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ دِينَارًا فَجَاءَ بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَجَدْتُ هَذَا فَقَالَ عَرِّفْهُ فَذَهَبَ فَمَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَرَّفْتُهُ فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يَعْرِفُهُ قَالَ فَشَأْنَكَ بِهِ قَالَ فَذَهَبَ فَرَهَنَهُ بِثَلَاثَةِ دَرَاهِمَ فِي طَعَامٍ وَوَدَكٍ قَالَ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ صَاحِبُهُ يَنْشُدُهُ فَعَرَفَهُ فَجَاءَ عَلِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا صَاحِبُ الدِّينَارِ قَالَ أَدِّهِ إِلَيْهِ فَأَدَّاهُ عَلِيٌّ إِلَيْهِ بَعْدَ مَا أَكَلُوا مِنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari ‘Atha’, bahwa ia berkata, “Ali bin Abi Thalib menemukan sekeping dinar, lalu membawanya kepada Nabi ﷺ dan berkata, ‘Aku menemukan ini.’ Beliau bersabda, ‘Umumkanlah tentang dinar itu.’ Ali pun pergi dan menunggu selama waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah mengumumkannya, tetapi tidak menemukan seorang pun yang mengenalinya.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, silakan engkau menggunakannya.’ Ali pun pergi, lalu menggadaikannya dengan tiga dirham untuk membeli makanan dan lemak. Ketika ia sedang dalam keadaan demikian, pemiliknya datang mencarinya dan mengenali dinar itu. Ali pun menemui Nabi ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah pemilik dinar itu.’ Beliau bersabda, ‘Serahkanlah dinar itu kepadanya.’ Maka Ali menyerahkannya kepadanya setelah mereka memakan sebagian dari makanan yang dibeli dengannya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْقُسَامَةَ قَالُوا وَمَا الْقُسَامَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرَّجُلُ يَكُونُ عَلَى الْفِئَامِ مِنَ النَّاسِ فَيَأْخُذُ مِنْ حَظِّ هَذَا وَمَنْ حَظِّ هَذَا

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah qasamah.” Mereka bertanya, “Apakah qasamah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang berada di tengah kelompok-kelompok manusia, lalu mengambil dari bagian orang ini dan bagian orang itu.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَحِلِّهَا وَبِئْسَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا وَحِلِّهَا تَكُونُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَسْرَةً وَنَدَامَةً

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha’, bahwa seorang lelaki berkata di hadapan Rasulullah ﷺ, “Seburuk-buruk perkara adalah kepemimpinan.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik perkara adalah kepemimpinan bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan cara yang halal. Seburuk-buruk perkara adalah kepemimpinan bagi orang yang mengambilnya tanpa hak dan cara yang halal; kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan dan kerugian baginya pada hari kiamat.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ أَبَا ذَرٍّ ضَرَبَ وَجْهَ غُلَامِهِ فَاسْتَعْدَى عَلَيْهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَضْرِبُوا وجُوهَ الْمُصَلِّينَ أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَاكْسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ فَإِنْ رَابُوكُمْ فَبِيعُوهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha’, bahwa Abu Dzarr pernah memukul wajah hamba sahayanya. Lalu hamba sahaya itu meminta keadilan atasnya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, “Janganlah kalian memukul wajah orang-orang yang salat. Berilah mereka makan dari makanan yang kalian makan, dan pakaikanlah mereka pakaian yang kalian kenakan. Jika mereka membuat kalian tidak senang, juallah mereka.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ مِنْ جَانِبِ الْبَيْتِ أَلَسْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ قَالَ بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَخَذَ ثَوْبًا فَطَرَحَهُ عَلَى فَاطِمَةَ وَحَسَنٍ وَحُسَيْنٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menuturkan kepada kami, Syarik telah menuturkan kepada kami, dari Atha’, bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah: “Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” Ummu Salamah berkata dari sisi rumah, “Bukankah aku, wahai Rasulullah—semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadanya—termasuk Ahlulbait?” Beliau menjawab, “Benar, insya Allah.” Kemudian beliau mengambil sehelai kain, lalu menyelimutkannya kepada Fatimah, Hasan, dan Husain, kemudian bersabda, “Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ بِأَعْلَى مَكَّةَ وَهُوَ مُتَّكِئٌ يَأْكُلُ فَقَالَ لَهُ أَكْلَ الْمُلُوكِ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Ali; telah menceritakan kepada kami Ismail; telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha’, bahwa Nabi ﷺ didatangi Jibril di bagian atas Makkah ketika beliau sedang bersandar sambil makan. Jibril berkata kepadanya, “Makan seperti para raja!” Maka Rasulullah ﷺ pun duduk.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مَالٍ يُطْغِي وَفَقْرٍ يُنْسِي وَهَوًى يُرْدِي وَبَوَارِ الْإِيمَانِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالشَّكِ

Telah menceritakan kepada kami Ali; telah menceritakan kepada kami Ismail; telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha, bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari harta yang membuat seseorang melampaui batas, kemiskinan yang membuat lupa, hawa nafsu yang membinasakan, dan kehancuran iman. Aku juga berlindung kepada-Mu dari riya, sum’ah, dan keraguan.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ مِسْكِينَةً قَامَتْ عَلَى بَابِ عَائِشَةَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِلْجَارِيَةِ أَطْعِمِيهَا فَجَاءَتِ الْجَارِيَةُ بِالَّذِي تُرِيدُ أَنْ تُطْعِمَهَا لِتُرِيَهُ عَائِشَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ لَا تُحْصِي فَيُحْصِ اللَّهُ عَلَيْكِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Atha, bahwa seorang perempuan miskin berdiri di depan pintu Aisyah. Aisyah berkata kepada budak perempuan itu, “Berilah dia makanan.” Lalu budak perempuan itu membawa makanan yang hendak diberikannya kepada perempuan miskin itu untuk diperlihatkan kepada Aisyah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Aisyah, janganlah engkau menghitung-hitung pemberian, karena Allah akan menghitung-hitung terhadapmu.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدِ الْبَنَاتِ وَمَنْعًا وَهَاتِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menyampaikan hadis kepada kami Ismail, telah menyampaikan hadis kepada kami Syarik, dari Atha, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci kedurhakaan kepada para ibu, penguburan hidup-hidup anak-anak perempuan, serta sikap enggan memberi dan meminta-minta.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا السَّائِبِ مَوْلَى هِشَامِ بْنِ زُهْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ يَقُولُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلَ مَنْزِلًا فَتَبَرَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبِعْتُهُ بِإِدَاوَةٍ فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ الْمَاءَ فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Syarik, bahwa ia mendengar Abu as-Sa’ib, maula Hisyam bin Zuhrah, berkata, “Aku mendengar al-Mughirah bin Syu‘bah berkata, ‘Rasulullah ﷺ berangkat dalam suatu perjalanan, lalu singgah di suatu tempat. Rasulullah ﷺ pergi ke tempat buang hajat, kemudian aku mengikuti beliau dengan membawa bejana air. Aku pun menuangkan air untuk beliau, lalu beliau berwudu dan mengusap kedua khufnya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ حِينَ خَرَجَ فَقَامَ نَاسٌ يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ بِالْعَجَلَةِ حِينَ قَامَتِ الصَّلَاةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَلَاتَيِنِ مَعًا

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik bahwa ia mendengar Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Rasulullah ﷺ keluar untuk menunaikan salat Subuh. Ketika beliau keluar, iqamah salat pun dikumandangkan. Lalu beberapa orang berdiri untuk menunaikan salat dua rakaat dengan tergesa-gesa ketika salat telah ditegakkan. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Apakah dua salat sekaligus?’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ بَيْنَمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ فِي مَسْجِدٍ يَدْعُو دُعَاءً مَرَّ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمَّا حَاذَى بِهِ سَمِعَ دُعَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَعْرِفْهُ فَقَالَ مَنْ هَذَا سَلْ تُعْطَهْ فَرَجَعَ أَبُو بَكْرٍ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ الدُّعَاءُ الَّذِي كُنْتَ تَدْعُو بِهِ آنِفًا أَعِدْهُ عَلَيَّ قَالَ حَمَدْتُ اللَّهَ وَمَجَّدْتُهُ ثُمَّ قُلْتُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَعَدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارٌ حَقٌّ وَرُسُلُكَ حَقٌّ وَكِتَابُكَ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ

Ali telah menyampaikan kepada kami, Ismail telah menyampaikan kepada kami, Syarik telah menyampaikan kepada kami, dari Aun bin Abdullah bin Utbah, dari ayahnya, bahwa ia berkata, “Ketika Abdullah bin Mas‘ud sedang berada di sebuah masjid dan berdoa, Rasulullah ﷺ melewatinya bersama Abu Bakar dan Umar. Ketika beliau berada sejajar dengannya, Rasulullah ﷺ mendengar doanya, tetapi tidak mengenalinya. Beliau bersabda, ‘Siapakah orang ini? Mintalah, niscaya engkau akan diberi.’ Abu Bakar lalu kembali kepada Abdullah dan berkata, ‘Ulangilah untukku doa yang tadi engkau panjatkan.’ Ia menjawab, ‘Aku memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian aku berkata, “Tiada tuhan selain Allah. Janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, surga benar, neraka benar, para rasul-Mu benar, kitab-Mu benar, para nabi benar, dan Muhammad benar.”’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي صَالِحٍ مَوْلَى السَّعْدِيِّينَ أَنَّهُ سَمِعَ كَعْبَ الْأَحْبَارِ يَقُولُ مَالِي أَرَى فِي التَّوْرَاةِ صِفَةَ قَوْمٍ لَمْ أَرَهُمْ بَعْدُ فُحَشَةٍ مُتَفَحِّشِينَ فِي أَيْدِيهِمْ سِيَاطٌ مِثْلُ أَذْنَابِ الْبَقَرِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ مَالِي أَرَى فِي التَّوْرَاةِ صِفَةَ نِسَاءٍ لَمْ أَرَهُنَّ بَعْدُ نَاعِمَاتٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Abu Shalih, maula as-Sa‘diyyin, bahwa ia mendengar Ka‘b al-Ahbar berkata, “Mengapa aku melihat dalam Taurat gambaran suatu kaum yang belum kulihat sampai sekarang: orang-orang yang berbuat keji dan melampaui batas dalam kekejian, di tangan mereka ada cambuk-cambuk seperti ekor sapi; mereka termasuk penghuni neraka. Mengapa aku melihat dalam Taurat gambaran perempuan-perempuan yang belum kulihat sampai sekarang: mereka lembut, berpakaian tetapi telanjang, dan termasuk penghuni neraka?”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْسِلُ وَجْهَهُ بِيَمِينِهِ

Ali telah menyampaikan kepada kami, Ismail telah menyampaikan kepada kami, Syarik meriwayatkan dari Abu Salamah bahwa Rasulullah ﷺ biasa membasuh wajahnya dengan tangan kanannya.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَينٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ نَهَانِي حِبِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَخَتُّمِ الذَّهَبِ وَعَنْ لُبْسِ الْمُعَصْفَرِ وَعَنِ الْقُرْآنِ وَأَنَا رَاكِعٌ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Abdullah bin Hunain, dari Ali bin Abi Thalib: “Kekasihku, Rasulullah ﷺ, melarangku memakai cincin emas, mengenakan pakaian mu‘ashfar, dan membaca Al-Qur’an ketika aku sedang rukuk.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عَتِيقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ شِفَاءٌ وَإِنَّهَا لَتِرْيَاقُ أَوَّلِ الْبُكْرَةِ

Ali telah meriwayatkan kepada kami, Ismail telah meriwayatkan kepada kami, Syarik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Atiq, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Pada kurma Ajwa al-Aliyah terdapat kesembuhan, dan sesungguhnya kurma itu merupakan penawar pada awal pagi.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ إِلَى قُبَاءَ حَتَّى إِذَا كُنَّا فِي بَنِي سَالِمٍ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَابِ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ فَصَرَخَ بِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ إِزَارَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْجَلْنَا الرَّجُلَ فَقَالَ عِتْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يُعَجِّلُ عَنِ امْرَأَتِهِ وَلَمْ يُمْنِ مَاذَا عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

Ali telah menceritakan kepada kami, Isma‘il telah menceritakan kepada kami, Syarik telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin Abu Sa‘id al-Khudri, dari ayahnya, bahwa ia berkata: “Pada hari Senin, aku pergi bersama Rasulullah ﷺ menuju Quba. Ketika kami sampai di Bani Salim, Rasulullah ﷺ berhenti di pintu rumah ‘Itban bin Malik dan memanggilnya dengan suara keras. ‘Itban pun keluar sambil menyeret kainnya. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kita telah membuat orang itu tergesa-gesa.’ ‘Itban berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang segera menarik diri dari istrinya, tetapi tidak mengeluarkan mani? Apa yang wajib atasnya?’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya air itu berasal dari air.’”

Kedua belas: hadis-hadis Sa‘d bin Sa‘id bin Qais al-Anshari.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Sa‘id, dari Umar bin Tsabit bin al-Harits al-Khazraji, dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa ia memberitahunya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا هَمَمْتَ بِأَمْرٍ فَعَلَيْكَ فِيهِ بِالتَّؤُدَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ali; Ismail telah menceritakan kepada kami; dari Sa‘d bin Sa‘id, dari Ibnu Syihab, dari seorang laki-laki dari Baliy, dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila engkau hendak melakukan suatu perkara, hendaklah engkau bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melakukannya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الصُّبْحِ إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا يَقْرَأُ بِهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

 قَالَ وَحَدَّثَنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

Ali telah menyampaikan kepada kami, Ismail telah menyampaikan kepada kami, Sa‘d bin Sa‘id telah menyampaikan kepada kami, dari Mu‘adz bin Abdullah bin Khubaib al-Juhani, dari Sa‘id bin al-Musayyab, bahwa Rasulullah ﷺ membaca dalam salat Subuh, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya,” dan beliau membacanya pada setiap rakaat.

Ia berkata, “Abdullah bin Ja‘far juga telah menyampaikan hadis ini kepada kami dengan sanad ini, dengan redaksi yang serupa.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُبْسَتَيْنِ وَعَنْ صَوْمَيْنِ وَعَنْ صَلَاتَيْنِ عَنْ صَلَاةٍ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَعَنْ صَلَاةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَعَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ وَعَنِ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ وَالِاحْتِبَاءِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ لَيْسَ عَلَى فَرْجِهِ مِنْهُ شَيْءٌ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Sa‘d bin Sa‘id, dari ‘Amrah binti ‘Abdurrahman al-Anshari, dari ‘Aisyah, bahwa Nabi ﷺ melarang dua cara berpakaian, dua puasa, dan dua salat: salat setelah Subuh hingga matahari terbit dan salat setelah Asar hingga matahari terbenam; puasa pada hari Iduladha dan hari Idulfitri; serta isytimāl ṣammā’ dan duduk ihtibā’ dengan satu pakaian yang tidak menutupi kemaluannya.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعْدٌ عَنْ عُمَرَ بْنِ كَثِيرِ بْنِ أَفْلَحَ عَنِ ابْنِ سَفِينَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ حَاطِبَ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ قُلْتُ إِنَّ لِي بُنَيَّةً وَأَنَا غَيُورٌ فَقَالَ أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللَّهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنَّا وَأَمَّا الْغَيْرَةُ فَأَدْعُو اللَّهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Sa‘d, dari Umar bin Katsir bin Aflah, dari Ibnu Safinah, dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan apa yang Allah perintahkan kepadanya, “Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya,” melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.’” Ia berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku berkata, ‘Siapakah di antara kaum Muslimin yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dialah keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah ﷺ.’ Kemudian aku pun mengucapkan doa itu, lalu Allah menggantikan untukku dengan Rasulullah ﷺ.” Ia berkata, “Rasulullah ﷺ mengutus Hatib bin Abi Balta‘ah kepadaku untuk melamarku untuk beliau. Aku berkata, ‘Aku mempunyai seorang anak perempuan kecil dan aku pencemburu.’ Beliau bersabda, ‘Adapun anak perempuannya, kita berdoa kepada Allah agar Dia mencukupkannya sehingga tidak membutuhkan kita. Adapun kecemburuan, aku berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan kecemburuan itu.’”

Ketiga belas: hadis-hadis Dawud bin Qais al-Farra’.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ الْفَرَّاءُ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ فَيَبْدَأُ بِالصَّلَاةِ فَإِذَا قَضَى صَلَاتَهُ وَسَلَّمَ قَامَ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ جُلُوسٌ فِي مُصَلَّاهُمْ فَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ بِبَعْثٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ ذَكَرَهُ لِلنَّاسِ أَوْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ أَمَرَهُمْ بِهَا وَكَانَ يَقُولُ تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا وَكَانَ أَكْثَرَ مَنْ يَتَصَدَّقُ النِّسَاءُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى كَانَ مَرْوَانُ بْنُ الْحَكَمِ فَخَرَجْتُ مُخَاصِرًا مَرْوَانَ حَتَّى أَتَيْنَا الْمُصَلَّى فَإِذَا كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ قَدْ بَنَى مِنْبَرًا مِنْ طِينٍ وَلَبِنٍ قَالَ فَإِذَا مَرْوَانُ يُنَازِعُنِي يَدَهُ كَأَنَّهُ يَجُرُّنِي نَحْوَ الْمِنْبَرِ وَأَنَا أَجُرُّ نَحْوَ الْمُصَلَّى فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ مِنْهُ فَقُلْتُ أَيْنَ الْوَجْهُ الِابْتِدَاءُ بِالصَّلَاةِ قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ تُرِكَ مَا تَعْلَمُ فَرَفَعْتُ صَوْتِي فَقُلْتُ كَلَّا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْصَرَفْتُ

Ali telah menceritakan kepada kami, Isma‘il telah menceritakan kepada kami, Dawud bin Qais al-Farra’ telah menceritakan kepada kami, dari ‘Iyad bin ‘Abdullah bin Sa‘d, dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ biasa keluar pada Hari Kurban dan Hari Fitri. Beliau memulai dengan salat. Setelah selesai salat dan mengucapkan salam, beliau berdiri lalu menghadap orang-orang yang masih duduk di tempat salat mereka. Jika beliau memiliki keperluan terkait pengiriman pasukan atau hal lainnya, beliau menyampaikannya kepada orang-orang; atau jika ada suatu keperluan, beliau memerintahkan mereka untuk melaksanakannya. Beliau biasa bersabda, “Bersedekahlah, bersedekahlah, bersedekahlah.” Orang yang paling banyak bersedekah adalah para perempuan. Kemudian beliau beranjak pergi. Keadaan itu terus berlangsung sampai masa Marwan bin al-Hakam. Aku berangkat sambil menggandeng Marwan hingga kami tiba di tempat salat. Ternyata Katsir bin al-Shalt telah membangun sebuah mimbar dari tanah liat dan batu bata. Marwan menarik tanganku seolah-olah hendak menyeretku menuju mimbar, sedangkan aku menariknya menuju tempat salat. Ketika melihat sikapnya itu, aku berkata, “Di mana cara yang semestinya? Memulai dengan salat.” Ia berkata, “Wahai Abu Sa‘id, apa yang kamu ketahui telah ditinggalkan.” Maka aku mengeraskan suaraku dan berkata, “Tidak! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang aku ketahui,” sebanyak tiga kali. Kemudian aku beranjak pergi.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَقْرَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكُنْتُ أَرَى عُفْرَةَ إِبْطِهِ إِذَا سَجَدَ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Dawud bin Qais telah menceritakan kepada kami, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Aqram, dari ayahnya, bahwa ia berkata, “Aku salat bersama Rasulullah ﷺ, dan ketika beliau bersujud, aku dapat melihat warna keputihan pada ketiaknya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ حَتَّى ذَكَرَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ وَعَنْ شَرْطَيْنِ فِي بَيْعٍ وَعَنْ بَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ وَعَنْ شَفِّ مَا لَمْ يُضْمَنْ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Amr bin Syu‘aib. Ia berkata, “Ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, hingga riwayat itu sampai kepada Abdullah bin Amr. Ia berkata, ‘Rasulullah ﷺ melarang menggabungkan pinjaman dengan jual beli, menetapkan dua syarat dalam satu jual beli, menjual sesuatu yang tidak ada padamu, dan mengambil keuntungan dari sesuatu yang belum menjadi tanggunganmu.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ مِنَ الشَّامِ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا وَهُوَ يَوْمَئِذٍ خَلِيفَةٌ فَخَطَبَ النَّاسَ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثُمَّ ذَكَرَ زَكَاةَ الْفِطْرِ فَقَالَ إِنِّي لَأَرَى مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ يَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ وَكَانَ أَوَّلَ مَا ذَكَرَ النَّاسُ الْمُدَّيْنِ يَوْمَئِذٍ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Daud telah menceritakan kepada kami, dari Iyad bin Abdullah, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa ia berkata, “Pada masa Rasulullah ﷺ, kami mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sha‘ makanan, satu sha‘ keju kering, satu sha‘ kurma, satu sha‘ kismis, atau satu sha‘ jelai. Kami terus mengeluarkannya hingga Muawiyah datang kepada kami dari Syam untuk berhaji atau berumrah. Saat itu ia adalah khalifah. Ia lalu berkhutbah kepada orang-orang di atas mimbar Rasulullah ﷺ. Kemudian ia menyebut zakat fitrah dan berkata, ‘Menurutku, dua mud gandum hitam dari Syam setara dengan satu sha‘ kurma.’ Saat itu, dialah orang pertama yang menyebutkan dua mud.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَوادُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ وَعَنْ شَفِّ مَا لَمْ يُضْمَنْ وَعَنْ بَيْعٍ وَسَلَفٍ

Ali telah menceritakan kepada kami, Isma‘il telah menceritakan kepada kami, Dawud bin Qays telah menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ melarang dua transaksi jual beli dalam satu akad, mengambil keuntungan dari sesuatu yang belum menjadi tanggungannya, serta jual beli yang disertai pinjaman.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ قَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ فَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ ذِكْرٍ كَانَ عَلَيْهِ كَالطَّابِعِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ لَغْوٍ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Ali; telah menceritakan kepada kami Ismail; telah menceritakan kepada kami Dawud bin Qais, dari Nafi‘ bin Jubair, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Penebus dosa majelis adalah ketika salah seorang di antara kalian hendak meninggalkan majelis, ia mengucapkan, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.’ Jika majelis itu merupakan majelis zikir, doa itu menjadi seperti cap baginya hingga hari kiamat. Namun, jika majelis itu merupakan majelis percakapan sia-sia, doa itu menjadi penebus atas apa yang terjadi di dalamnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ وَلْيَقْتَرِبْ مِنَ السُّتْرَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Dawud, dari Nafi‘ bin Jubair, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian salat, hendaklah ia memasang pembatas dan mendekat ke pembatas itu, karena setan lewat di hadapannya.”

Hadis keempat belas dari Umar bin Nubayh al-Ka‘bi.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عُمَرُ بْنُ نُبَيْهٍ الْكَعْبِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْقَرَّاظِ أَنَّهُ سَمِعَ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بَرَهَبٍ أَوْ سُوءٍ أَذَابَهُ اللَّهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Umar bin Nubaih al-Ka‘bi, dari Abu Abdillah al-Qarrāẓ, bahwa ia mendengar Sa‘d bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa bermaksud menimbulkan ketakutan atau keburukan terhadap penduduk Madinah, Allah akan meleburkannya sebagaimana garam melebur di dalam air.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عُمَرُ بْنُ نُبَيْهٍ عَنْ جَمْهَانَ أَبِي يَعْلَى مَوْلَى أَبِي يَعْقُوبَ الْقِبْطِيِّ أَنَّهُ كَانَ يَرَى سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ مِنَ الْبَابِ الَّذِي نَحْوَ دَارِ مَرْوَانَ فَيَمْشِي بَيْنَ يَدَيِ النَّاسِ وَبَيْنَ جِدَارِ الْقِبْلَةِ حَتَّى يَأْتِيَ السَّارِيَةَ الَّتِي هِيَ عِنْدَ الدَّرَجَةِ الثَّانِيَةِ مِنْ دَرَجِ الْمَقْصُورَةِ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ وَلَا يُبَالِي بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Umar bin Nubaih, dari Jamhan Abu Ya‘la, mantan budak Abu Ya‘qub al-Qibthi, bahwa ia pernah melihat Sa‘d bin Abi Waqqash memasuki masjid melalui pintu yang mengarah ke rumah Marwan. Sa‘d lalu berjalan di hadapan orang-orang, di antara mereka dan dinding kiblat, hingga sampai ke tiang yang berada di dekat anak tangga kedua dari tangga maqshurah. Orang-orang sedang salat, tetapi ia tidak memedulikannya.

Hadis kelima belas: hadis dari berbagai guru.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى لِلنَّاسِ فَكَبَّرَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى النَّاسِ فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ كَمَا أَنْتُمْ ثُمَّ ذَهَبَ ثُمَّ رَجَعَ وَعَلَيْهِ أَثَرُ الْغُسْلِ فَصَلَّى

Ali telah menuturkan kepada kami, Ismail telah menuturkan kepada kami, Ismail bin Abi Hakim telah menuturkan kepada kami dari ‘Atha’ bin Yasar, bahwa Nabi ﷺ mengimami orang-orang, lalu bertakbir. Kemudian beliau menoleh kepada orang-orang dan memberi isyarat kepada mereka, “Tetaplah kalian di tempat.” Lalu beliau pergi, kemudian kembali dengan bekas mandi pada dirinya, lalu salat.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو حَزَرَةَ الْقَاصُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عَتِيقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

Telah meriwayatkan kepada kami Ali; telah menceritakan kepada kami Ismail; telah menceritakan kepada kami Abu Hazrah al-Qashsh, dari Abdullah bin Abu Atiq, dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian salat ketika makanan telah tersaji, dan jangan pula ketika ia sedang menahan dua hal yang paling buruk (buang air kecil dan buang air besar).”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ مَوْلَى بَنِي تَمِيمٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ حُنَيْنٍ مَوْلَى بَنِي زُرَيْقٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Utbah bin Muslim, maula Bani Tamim, dari Ubaid bin Hunain, maula Bani Zuraiq, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, hendaklah ia mencelupkan seluruh tubuhnya, kemudian membuangnya. Sesungguhnya, pada salah satu sayapnya terdapat obat, sedangkan pada sayap yang lain terdapat penyakit.”

قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ

Ia berkata, “Rasulullah saw. juga bersabda, ‘Apabila seekor anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian, hendaklah ia membasuhnya tujuh kali.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa‘id bin Abi Hind, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالْتَزَمَهُ وَمَسَحَ قَالَ فَحَصَبَنِي حَسَنُ بْنُ حَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَتَّخِذُوا بَيْتِي عِيدًا وَلَا تَتَّخِذُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Sahl bahwa ia melihat kubur Nabi ﷺ, lalu mendekapnya dan mengusapnya. Ia berkata, “Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib melempari saya dengan kerikil, lalu berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumahku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan.”’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا دَاوُدُ بْنُ بَكْرِ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, dari Dawud bin Bakr bin Abi al-Furat, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apa yang jika dikonsumsi dalam jumlah banyak memabukkan, maka sedikitnya pun haram.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَحَدُ بَنِي ثَوْرٍ بِفَتْحٍ مِنْ تُسْتَرَ فَالْتَمَسَهُ فِي أَهْلِهِ فَلَمْ يَجِدْهُ فَقِيلَ هُوَ فِي مَالِهِ بِثَمْغٍ فَأَتَاهُ فَلَمَّا عَلِمَ أَنَّهُ فِي الْحَائِطِ كَبَّرَ فَكَبَّرَ عُمَرُ ثُمَّ حَمِدَ فَحَمِدَ عُمَرُ ثُمَّ سَأَلَهُ عُمَرُ هَلْ مِنْ مُغَرِّبَةٍ قَالَ نَعَمْ أَخَذْنَا رَجُلًا مِنَ الْعَرَبِ كَفَرَ بَعْدَ إِسْلَامِهِ فَقَالَ مَا صَنَعْتُمْ بِهِ قَالَ قَدَّمْنَاهُ فَضَرَبْنَا عُنُقَهُ قَالَ أَفَلَا طَيَّنْتُمْ عَلَيْهِ الْبَيْتَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَرمَيْتُمْ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ بِرَغِيفٍ لَعَلَّهُ يَتُوبُ ويَرْجِعُ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَمْ أَشْهَدْ وَلَمْ آمُرْ وَلَمْ أَرْضَ إِذْ بَلَغَنِي

Ali telah menceritakan kepada kami; Isma‘il telah menceritakan kepada kami; dari ‘Abd al-Rahman bin Muhammad bin ‘Abd al-Qari, dari ayahnya, bahwa ia berkata: Salah seorang dari Bani Thawr datang menemui ‘Umar bin al-Khattab membawa kabar tentang penaklukan Tustar. Ia mencari ‘Umar di tengah keluarganya, tetapi tidak menemukannya. Lalu dikatakan kepadanya, “Ia berada di kebunnya di Thamgh.” Maka ia mendatanginya. Ketika mengetahui bahwa ‘Umar berada di kebun, ia bertakbir. ‘Umar pun bertakbir, lalu ia memuji Allah dan ‘Umar pun memuji Allah. Kemudian ‘Umar bertanya kepadanya, “Adakah berita luar biasa?” Ia menjawab, “Ada. Kami menangkap seorang Arab yang kafir setelah masuk Islam.” ‘Umar bertanya, “Apa yang kalian lakukan terhadapnya?” Ia menjawab, “Kami membawanya ke hadapan kami, lalu memenggal lehernya.” ‘Umar berkata, “Mengapa kalian tidak mengurungnya di dalam rumah selama tiga hari, lalu melemparkan sepotong roti kepadanya setiap hari? Barangkali ia bertobat dan kembali kepada agama Allah. Ya Allah, aku tidak menyaksikan, tidak memerintahkan, dan tidak merestui ketika berita itu sampai kepadaku.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عِيسَى بْنُ مُوسَى بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِيَاسِ بْنِ بُكَيْرٍ اللَّيْثِيُّ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ سَهْلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى السُّتْرَةِ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

Ali meriwayatkan kepada kami, Ismail meriwayatkan kepada kami, Isa bin Musa bin Muhammad bin Iyas bin Bukair al-Laitsi meriwayatkan kepada kami, dari Safwan bin Sulaim, dari Nafi‘ bin Jubair bin Mut‘im, dari Sahl, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian salat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekat kepadanya, agar setan tidak memutus salatnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ حَدْثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْكِنْدِيُّ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَءُونَ فِي الرَّكْعَةِ بِالْمِائَتَيْنِ حَتَّى إِنَّهُمْ لَيَعْتَمِدُونَ بِالْعِصِيِّ

Ali telah menceritakan kepada kami; Isma‘il telah menceritakan kepada kami; Muhammad bin Yusuf bin Abdullah bin Yazid al-Kindi telah menceritakan kepada kami, dari al-Sa’ib bin Yazid, bahwa mereka biasa melaksanakan salat malam pada masa Umar bin al-Khattab sebanyak sebelas rakaat. Mereka membaca dua ratus ayat dalam setiap rakaat, sampai-sampai mereka bersandar pada tongkat-tongkat.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا يَحْيَى بْنُ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادِ بْنِ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا قَالَ رِفَاعَةُ وَنَحْنُ مَعَهُ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ كَالْبَدَوِيِّ فَصَلَّى فَأَخَفَّ صَلَاتَهُ ثُمَّ انْصَرَفَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَفَعَلَ ذَلِكَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلُّ ذَلِكَ يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ وَعَلَيْكَ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَخَافَ النَّاسُ وَكَبُرَ عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونَ مَنْ أَخَفَّ صَلَاتَهُ لَمْ يُصَلِّ فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ فِي آخِرِ ذَلِكَ فَأَرِنِي أَوْ عَلِّمْنِي فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَقَالَ أَجَلْ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَتَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَكَ اللَّهُ ثُمَّ تَشَهَّدْ فَأَقِمْ ثُمَّ كَبِّرْ فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ بِهِ وَإِلَّا فَاحْمِدِ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ ثُمَّ ارْكَعْ فَاطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ اعْتَدِلْ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ فَاعْتَدِلْ سَاجِدًا ثُمَّ اجْلِسْ فَاطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ قُمْ فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُكَ وَإِنِ انْتَقَصْتَ مِنْهَا شَيْئًا انْتُقِصَ مِنْ صَلَاتِكِ قَالَ فَكَانَتْ هَذِهِ أَهْوَنَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْأُولَى أَنَّ مَنِ انْتَقَصَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا انْتُقِصَ مِنْ صَلَاتِهِ وَلَمْ تَذْهَبْ كُلُّهَا

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Ali bin Yahya bin Khallad az-Zuraqi telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rifa‘ah bin Rafi‘, bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk di masjid. Rifa‘ah berkata, “Kami bersama beliau ketika seorang laki-laki seperti orang Badui datang, lalu salat dengan cepat, kemudian beranjak dan mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menjawab, ‘Demikian pula denganmu. Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat.’ Laki-laki itu kembali dan salat, kemudian datang lagi dan mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Beliau menjawab salamnya dan berkata, ‘Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat.’ Laki-laki itu melakukan hal tersebut dua atau tiga kali. Setiap kali itu pula ia datang kepada Nabi ﷺ, mengucapkan salam kepada beliau, lalu beliau berkata, ‘Demikian pula denganmu. Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat.’ Orang-orang pun merasa takut dan berat hati memikirkan bahwa orang yang salatnya cepat ternyata belum salat. Pada akhirnya, laki-laki itu berkata kepada beliau, ‘Tunjukkanlah kepadaku—atau ajarilah aku—karena aku hanyalah manusia; aku bisa benar dan bisa salah.’ Beliau bersabda, ‘Baik. Jika engkau berdiri untuk salat, berwudulah sebagaimana yang Allah perintahkan kepadamu, kemudian ucapkanlah tasyahud, lalu dirikanlah salat, kemudian bertakbirlah. Jika engkau hafal Al-Qur’an, bacalah dengannya; jika tidak, pujilah Allah, agungkanlah Dia, dan ucapkanlah tahlil. Kemudian rukuklah dan tenanglah dalam rukukmu. Lalu berdirilah tegak. Kemudian sujudlah dan tegaklah dalam sujudmu. Kemudian duduklah dan tenanglah dalam dudukmu. Lalu berdirilah. Jika engkau telah melakukan semua itu, salatmu telah sempurna. Jika engkau mengurangi sesuatu darinya, maka salatmu pun berkurang.’ Rifa‘ah berkata, “Hal ini terasa lebih ringan bagi mereka daripada yang pertama, yaitu bahwa siapa yang mengurangi sesuatu dari hal itu, salatnya berkurang, tetapi salatnya tidak gugur seluruhnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَوْ عَبْدُ الرَّحِيمِ شَكَّ إِسْمَاعِيلُ ابْنُ حَبِيبِ بْنِ أَرْدَكَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنِ ابْنِ مَاهِكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ الطَّلَاقُ وَالنِّكَاحُ وَالرَّجْعَةُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman atau Abdurrahim—Ismail ragu—putra Habib bin Ardak, dari Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibnu Mahik, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga perkara yang kesungguhannya dianggap sungguh-sungguh dan candanya pun dianggap sungguh-sungguh: talak, nikah, dan rujuk.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُسْلِمُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يُحَرِّكُ الْحَصَا بِيَدِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا تُحَرِّكِ الْحَصَا وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَلَكِنِ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ إِلَى الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا أَوْ نَحْوَهَا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Muslim bin Abi Maryam, dari Ali bin Abdurrahman al-Mu‘awi, dari Abdullah bin Umar, bahwa ia melihat seorang laki-laki menggerakkan kerikil dengan tangannya ketika sedang salat. Setelah selesai, Abdullah berkata kepadanya, “Janganlah engkau menggerakkan kerikil ketika sedang salat, karena hal itu berasal dari setan. Akan tetapi, lakukanlah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan.” Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya?” Abdullah menjawab, “Beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya, menunjuk ke arah kiblat dengan jari yang berada di sebelah ibu jari, lalu mengarahkan pandangannya ke sana atau ke arah yang dekat dengannya.” Kemudian ia berkata, “Begitulah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا فَلَحِقْتُهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَرَاحِلَتُهُ تَتَوَجَّهُ بِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ قَالَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ ثُمَّ سَلَّمْتُ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ وَهُوَ يُصَلِّي وَلَا أَدْرِي فَلَمَّا فَرَغَ دَعَانِي فَقَالَ سَلَّمْتَ عَلَيَّ يَا جَابِرُ فَلَمْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Amir al-Aslami telah menceritakan kepada kami, dari Abu az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, bahwa ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan yang beliau ikuti. Pada suatu malam, aku menyusul beliau, sementara tunggangannya membawanya menuju arah timur. Jabir berkata, ‘Aku mengucapkan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak berbicara. Kemudian aku mengucapkan salam lagi, tetapi beliau tetap tidak berbicara, sedangkan beliau sedang salat dan aku tidak mengetahuinya. Setelah selesai, beliau memanggilku lalu berkata, “Wahai Jabir, engkau tadi mengucapkan salam kepadaku, tetapi aku tidak menjawabmu karena aku sedang salat.”’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ عَنْ أُمِّ حَرَامٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تُصَلِّي الْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ قَالتَ نَعَمْ إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ الْقَدَمَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Zaid bin al-Muhajir bin Qunfudz, dari Ummu Haram, bahwa ia bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ, “Apakah seorang perempuan boleh salat dengan memakai baju panjang dan kerudung?” Ummu Salamah menjawab, “Ya, jika baju panjang itu cukup lebar hingga menutupi punggung kedua kakinya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ سُحَيْمٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السِّتْرَ وَرَأْسُهُ مَعْصُوبٌ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَإِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤْيَا يَرَاهَا الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوْ تُرَى لَهُ أَلَا إِنِّي قَدْ نُهِيتُ عَنِ الْقِرَاءَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَإِذَا رَكَعْتُمْ فَعَظِّمُوا اللَّهَ وَإِذَا سَجَدْتُمْ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّهُ قَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ قَالَ عَلِيٌّ وَثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَسُفْيَانُ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَنْ سُلَيْمَانَ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Suhaim telah menceritakan kepada kami, dari Ibrahim bin Abdullah bin Ma‘bad bin Abbas, dari ayahnya, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ menyingkap tirai, sementara kepala beliau terbalut, dalam sakit yang menyebabkan beliau wafat. Beliau bersabda, ‘Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?’ sebanyak tiga kali. Sesungguhnya tidak ada lagi kabar gembira kenabian yang tersisa selain mimpi yang dilihat oleh seorang hamba yang saleh atau diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, aku telah dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Maka, apabila kalian rukuk, agungkanlah Allah; dan apabila kalian sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, sebab doa itu sangat mungkin dikabulkan bagi kalian.” Ali berkata, “Ismail bin Ibrahim dan Sufyan juga telah menceritakan kepada kami hadis ini dari Sulaiman.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سَلَمَةَ مَوْلَى آلِ رَبِيعَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ الدَّوْسِيَّ يَقُولُ يَا بَنِي فَرُّوخَ اَبْشِرُوا فَلَوْ كَانَ الْهُدَى عِنْدَ الثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسَ

Ali telah menceritakan kepada kami; Ismail telah menceritakan kepada kami; Abu Salamah, maula keluarga Rabi‘ah, telah menceritakan kepada kami bahwa ia mendengar Abu Hurairah ad-Dausi berkata, “Wahai Bani Farrukh, bergembiralah! Seandainya petunjuk berada di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا يَزِيدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ رَجُلٍ ثِقَةٍ عِنْدَهُ رَفْعُهُ قَالَ جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرٍ فَجَعَلَ يَقُولُ ضَعُوا الثَّرَى فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ وَضَعُوا فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ حَتَّى إِذَا فَرَغَ قَالَ أَمَا إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّهُ يَصِيرُ إِلَى التُّرَابِ وَلَكِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ عَبْدُهُ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Aslam, dari seorang lelaki yang terpercaya menurutnya, yang meriwayatkan hadis ini secara marfū‘. Ia berkata, “Rasulullah ﷺ duduk di atas sebuah kubur, lalu mulai berkata, ‘Letakkan tanah di bagian itu, letakkan di bagian itu.’ Setelah selesai, beliau berkata, ‘Ketahuilah, aku memang tahu bahwa tanah itu akan kembali menjadi tanah, tetapi Allah Mahasuci dan Mahatinggi menyukai apabila hamba-Nya melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ زَيْدَ بْنِ أَسْلَمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُ غَنَمًا سَوْدَاءَ كَثِيرَةً دَخَلَتْ فِيهَا غَنْمٌ كَثِيرَةٌ بِيضٌ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ الْعَجَمُ يُشْرِكُونَكُمْ فِي دِينِكُمْ وَأَنْسَابِكُمْ قَالُوا الْعَجَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ مُعَلَّقًا بِالثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنَ الْعَجَمِ أَسْعَدَهُمْ بِهِ فَارِسُ

Telah menuturkan kepada kami Ali; Ismail telah menuturkan kepada kami; Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar telah menuturkan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku diperlihatkan banyak kambing hitam, lalu banyak kambing putih masuk di antara mereka.” Mereka bertanya, “Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang non-Arab akan bergabung dengan kalian dalam agama dan nasab kalian.” Mereka bertanya, “Orang-orang non-Arab, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seandainya iman tergantung di bintang Tsuraya, niscaya orang-orang dari kalangan non-Arab akan meraihnya. Orang Persia adalah yang paling beruntung memperolehnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رُقَيْشٍ الْأَسَدِيُّ أَنَّهُ رَأَى أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَتَى قُبَاءَ فَبَالَ قَائِمًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ ثُمَّ صَلَّى

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Said bin Abdurrahman bin Ruqaisy al-Asadi, bahwa ia melihat Anas bin Malik mendatangi Quba, lalu buang air kecil sambil berdiri. Kemudian ia berwudu, mengusap kedua khuf, lalu salat.

Keenam belas: Hadis-hadis Musa bin Uqbah

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ الْأَكْبَرِ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, dari Musa bin Uqbah, dari Ummu Khalid binti Khalid bin Sa‘id bin al-‘Ash al-Akbar, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ memohon perlindungan dari azab kubur.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ لَهُ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي حَتَّى يَقَعَ الْأَرْضَ إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ مِمَّنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menyampaikan kepada kami Ismail, telah menyampaikan kepada kami Musa bin Uqbah, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Abu Bakr berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, salah satu sisi kain sarungku terurai hingga menyentuh tanah, kecuali jika aku terus-menerus menjaganya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ مُوسَى ح وَحَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ ثنا مُوسَى قَالَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ فِي حَدِيثِهِ فَقَالَ النَّاسُ هَذَا لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, al-Darawardi telah menceritakan kepada kami dari Musa. (ح) Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail bin Ayyasy telah menceritakan kepada kami, Musa telah menceritakan kepada kami. Ismail bin Ayyasy berkata dalam hadisnya, “Lalu orang-orang berkata, ‘Ini untukmu, wahai Abu Bakar.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ يَرَى أَنَّهُ آجَرُ لِلْمَرْءِ أَنْ يُفْطِرَ فِي السَّفَرِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Musa bin Uqbah, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, bahwa ia berpendapat bahwa lebih besar pahalanya bagi seseorang untuk berbuka puasa dalam perjalanan.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُوسَى عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مُعَرَّسِهِ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ فِي بَطْنِ الْوَادِي فَقَالَ لَهُ إِنَّكَ بِبَطْحَاءَ مُبَارَكَةٍ قَالَ مُوسَى وَقَدْ أَنَاخَ سَالِمٌ بِالْمُنَاخِ الَّذِي كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يُنِيخُ بِهِ يَتَحَرَّى مُعَرَّسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ أَسْفَلَ مِنَ الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الطَّرِيقِ وَسَطًا مِنْ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Ali; telah menceritakan kepada kami Ismail; telah menceritakan kepada kami Musa, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, bahwa Jibril datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di tempat singgahnya di Dzul Hulaifah, di dasar lembah. Jibril berkata kepada beliau, “Sesungguhnya engkau berada di tanah lapang yang diberkahi.” Musa berkata, “Salim berhenti di tempat singgah yang dahulu digunakan Abdullah bin Umar untuk berhenti, karena ia berusaha mencari tempat singgah Rasulullah ﷺ. Tempat itu berada lebih rendah dari masjid yang ada di dasar lembah, di antara masjid tersebut dan jalan, tepat di tengah-tengahnya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ أَبِي النَّضْرِ سَالِمٍ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ

Ali telah menceritakan kepada kami; Ismail telah menyampaikan kepada kami; Musa bin Uqbah meriwayatkan dari Abu an-Nadr Salim, maula Umar bin Ubaidillah bin Ma‘mar, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Sa‘d bin Abi Waqqas, dari Rasulullah ﷺ, tentang mengusap kedua khuf, bahwa hal itu tidak mengapa.

Bagian ketujuh belas: hadis-hadis Abu Suhail Nāfi‘ bin Mālik bin Abī ‘Āmir.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Abu Suhail Nafi‘ bin Malik bin Abi ‘Amir telah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Suhail, dari ayahnya, dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Carilah Lailatulqadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ثَائِرُ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ قَالَ صِيَامُ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا قَالَ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ قَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْتَقِصُ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Suhail, dari ayahnya, dari Talhah bin Ubaidillah, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ dengan rambut kusut, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang Allah wajibkan atasku dalam hal salat?” Beliau menjawab, “Salat lima waktu, kecuali jika engkau hendak melakukan salat sunah.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku, apakah yang Allah wajibkan atasku dalam hal puasa?” Beliau menjawab, “Puasa Ramadan, kecuali jika engkau hendak melakukan puasa sunah.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku, apakah yang Allah wajibkan atasku dalam hal zakat?” Rasulullah ﷺ pun memberitahukan kepadanya syariat-syariat Islam. Ia berkata, “Demi Zat yang memuliakanmu, aku tidak akan melakukan amalan sunah apa pun dan tidak akan mengurangi sedikit pun dari apa yang Allah wajibkan atasku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi ayahnya, ia beruntung jika ia benar,” atau, “Demi ayahnya, ia masuk surga jika ia benar.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ قِرَاءَةَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي الصُّبْحِ فِي دَارِ أَبِي جُهَيْمٍ قَالَ إِسْمَاعِيلُ فَكَانَ بَيْنَهُمَا نَحْوٌ مِنْ سَبْعِمِائَةِ ذِرَاعٍ

Ali telah meriwayatkan kepada kami, Ismail telah meriwayatkan kepada kami, Abu Suhail telah meriwayatkan kepada kami dari ayahnya, bahwa ia mendengar bacaan Umar bin al-Khattab dalam salat Subuh di rumah Abu Juhaim. Ismail berkata, “Jarak antara keduanya kira-kira tujuh ratus hasta.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ مُحْرِزٍ كَاتَبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ فَأَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ وَالنُّجُومُ بَادِيَةٌ مُشْتَبِكَةٌ وَيُصَلِّيَ الظُّهْرَ حِينَ تَزِيغُ الشَّمْسُ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ لَمْ يَدْخُلْهَا صُفْرَةٌ وَالْمَغْرِبَ حِينَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَالْعِشَاءَ الْآخِرَةَ تُؤَخِّرُهَا مَا لَمْ يَنَمْ

Ali telah meriwayatkan kepada kami; Ismail telah meriwayatkan kepada kami; Abu Suhail telah meriwayatkan kepada kami, dari ayahnya, dari Rabi‘ah bin Muharriz, juru tulis Umar bin al-Khattab, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Abu Musa al-Asy‘ari dan memerintahkannya agar melaksanakan salat Subuh ketika bintang-bintang tampak berkelindan, salat Zuhur ketika matahari mulai condong, salat Asar saat matahari masih putih jernih dan belum dimasuki warna kekuningan, salat Magrib ketika matahari terbenam, dan menunda salat Isya yang terakhir selama ia belum tidur.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا فَإِنَّ لِلْمُنْصِتِ الَّذِي لَا يَسْمَعُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَمَا لِلْمُنْصِتِ السَّامِعِ ثُمَّ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَاعْدِلُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Suhail, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Utsman bin Affan berkata, “Apabila imam duduk, dengarkanlah dia dan diamlah. Sesungguhnya orang yang diam tetapi tidak mendengar memperoleh pahala yang sama dengan orang yang diam dan mendengar. Kemudian, apabila salat telah dimulai, luruskanlah saf dan sejajarkanlah bahu.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

Bagian kedelapan belas: Hadis-hadis Ḥabīb bin Ḥassān dan Muḥammad bin ʿAmr bin Ḥalḥalah.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فِي سَفَرٍ فَأَمِّرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدَكُمْ وَلَا يَتَنَاجَ اثْنَانِ دُونَ وَاحِدٍ وَإِنْ مَرَرْتُمْ عَلَى إِبِلٍ رَاعِيَةٍ وَأَرَدْتُمُ اللَّبَنَ فَلْيَهْتِفْ رَجُلٌ مِنْكُمْ يَا رَاعِيَ الْإِبِلِ ثَلَاثًا فَإِنْ أَجَابَهُ فَلْيَسْتَسْقِهِ وَإِلَّا فَلْيَحْتَلِبْ ثُمَّ لِيَصُرَّ

Telah meriwayatkan kepada kami Ali, telah meriwayatkan kepada kami Ismail, telah meriwayatkan kepada kami Habib bin Hassan, dari Zaid bin Wahb, ia berkata, “Aku mendengar Umar bin al-Khattab berkata, ‘Jika kalian bertiga dalam suatu perjalanan, tunjuklah salah seorang dari kalian sebagai pemimpin. Janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang seorang lagi. Jika kalian melewati unta-unta yang sedang digembalakan dan menginginkan susunya, hendaklah salah seorang dari kalian menyeru tiga kali, “Wahai penggembala unta!” Jika ia menjawab, hendaklah ia meminta susu kepadanya. Jika tidak, hendaklah ia memerah susunya, lalu mengikatnya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ قَالَ رَأَيْتُ عَلَى خَيْثَمَةَ كِسَاءً حُرًّا أَبْيَضَ مُعَلَّمًا

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Habib bin Hassan. Ia berkata, “Aku melihat Khaitsamah mengenakan kain luar dari sutra murni, berwarna putih dan bercorak.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ سَفَرٍ وَلَا عِلَّةٍ كَيْ لَا يَكُونَ عَلَى أُمَّتِهِ حَرَجٌ

Ali telah meriwayatkan kepada kami, Isma‘il telah meriwayatkan kepada kami, Habib bin Hassan telah meriwayatkan kepada kami, dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah ﷺ menjamak salat Zuhur dan Asar di Madinah tanpa bepergian dan tanpa adanya uzur, agar umat beliau tidak mengalami kesulitan.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبٌ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيَّ يَقُولُ مَا صَنَعَ الْإِمَامُ مِنْ شَيْءٍ فَاصْنَعْ مِثْلَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Habib. Ia berkata, “Aku mendengar Ibrahim an-Nakha‘i berkata, ‘Apa pun yang dilakukan imam, lakukanlah seperti itu.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَوْمَ عَرَفَةَ تُرْكَزُ لَهُ الْعَنَزَةُ فَيُصَلِّي خَلْفَهَا وَيُصَلِّي النَّاسُ خَلْفَهُ وَالظُّعُنُ تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Habib, dari Ibrahim, dari al-Aswad bin Yazid, ia berkata, “Aku melihat Umar bin al-Khattab pada hari Arafah. Sebuah tombak kecil ditancapkan untuknya, lalu ia salat di belakangnya. Orang-orang pun salat di belakangnya, sementara rombongan tandu melintas di hadapannya.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ عَلَيْهِ ثِيَابَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأُتِيَ بِهَدِيَّةٍ خُبْزٍ وَلَحْمٍ فَأَكَلَ ثَلَاثَ لُقَمٍ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى لِلنَّاسِ وَمَا مَسَّ مَاءً

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr bin Halhalah, dari Muhammad bin Amr bin Atha, dari Ibnu Abbas, bahwa ia melihat Rasulullah ﷺ mengenakan pakaiannya, lalu keluar untuk salat. Kemudian beliau diberi hadiah berupa roti dan daging, lalu memakan tiga suap. Setelah itu beliau keluar dan mengimami orang-orang tanpa menyentuh air.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي السُّوقِ وَمَعَهُ سَلَمَةُ بْنُ الْأَزْرَقِ جَالِسٌ إِلَى جَنْبِهِ فَمُرَّ بِجِنَازَةٍ يَتْبَعُهَا بُكَاءٌ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لَوْ تَرَكَ أَهْلُ هَذَا الْمَيِّتِ الْبُكَاءَ عَلَيْهِ لَكَانَ خَيْرًا لَمَيِّتِهِمْ قَالَ سَلَمَةُ بْنُ الْأَزْرَقِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَتَقُولُ ذَلِكَ قَالَ نَعَمْ أَقُولُهُ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ وَمَاتَ مَيِّتٌ مِنْ آلِ مَرْوَانَ فَاجْتَمَعَ النِّسَاءُ يَبْكِينَ عَلَيْهِ قَالَ مَرْوَانُ قُمْ يَا عَبْدَ الْمَلِكِ فَانْهَهُنَّ أَنْ يَبْكِينَ عَلَيْهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ دَعْهُنَّ يَا عَبْدَ الْمَلِكِ فَإِنَّهُ مَاتَ مَيِّتٌ مِنْ آلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْتَمَعَ النِّسَاءُ يَبْكِينَ عَلَيْهِ فَقَامَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَنْهَاهُنَّ وَيَطْرُدُهُنَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ يَا عُمَرُ فَإِنَّ الْعَيْنَ دَامِعَةٌ وَالْفُؤَادَ مُصَابٌ وَالْعَهْدَ قَرِيبٌ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَأْثُرُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Ali menceritakan kepada kami, Ismail menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr bin Halhalah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Amr bin Atha’, bahwa ia sedang duduk bersama Ibnu Umar di pasar. Di dekatnya, Salamah bin al-Azraq juga duduk. Lalu lewatlah sebuah jenazah yang diiringi tangisan. Ibnu Umar berkata, “Seandainya keluarga orang yang meninggal ini tidak menangisinya, tentu itu lebih baik bagi si mayit.” Salamah bin al-Azraq berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, apakah engkau mengatakan demikian?” Ia menjawab, “Ya, aku mengatakannya.” Salamah berkata, “Aku pernah mendengar Abu Hurairah bercerita bahwa seorang anggota keluarga Marwan meninggal, lalu para perempuan berkumpul dan menangisinya. Marwan berkata, ‘Berdirilah, wahai Abdul Malik, dan larang mereka menangisinya.’ Abu Hurairah berkata, ‘Biarkan mereka, wahai Abdul Malik. Sebab, pernah seorang anggota keluarga Rasulullah ﷺ meninggal, lalu para perempuan berkumpul dan menangisinya. Umar bin al-Khattab berdiri untuk melarang dan mengusir mereka, tetapi Rasulullah ﷺ bersabda, “Biarkan mereka, wahai Umar. Sesungguhnya mata berlinang, hati berduka, dan perpisahan itu masih baru.”’” Ibnu Umar berkata, “Apakah engkau mendengar hal ini dari Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Ya.” Ibnu Umar bertanya, “Apakah ia meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ?” Ia menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَازِلًا بِغَدِيرِ خُمٍّ فَأَمَرَ بِالْمَكَانِ الَّذِي كَانَ نَازِلًا فِيهِ أَنْ يُكْنَسَ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ حِجَارَةٍ أَوْ شَوْكٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ ثُمَّ دَعَا النَّاسَ فَكَلَّمَهُمْ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَسْتُ أَوْلَى بِكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ فَمَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا لَمَكْتُوبٌ السَّاعَةَ فِي تَابُوتِي هَذَا

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Habib bin Hassan telah menceritakan kepada kami, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Sa‘id bin Jubair, ia berkata, “Rasulullah ﷺ sedang singgah di Ghadir Khumm. Beliau memerintahkan agar tempat yang beliau singgahi itu dibersihkan dari batu, duri, atau apa pun yang ada di sana. Kemudian beliau memanggil orang-orang dan berbicara kepada mereka. Setelah itu beliau memegang tangan Ali seraya berkata, ‘Wahai manusia, bukankah aku lebih berhak atas kalian daripada diri kalian sendiri?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Beliau bersabda, ‘Maka siapa pun yang menjadikan aku sebagai mawlā-nya, Ali adalah mawlā-nya. Ya Allah, cintailah siapa pun yang mencintainya dan musuhilah siapa pun yang memusuhinya.’” Sa‘id bin Jubair berkata, “Demi Allah, saat ini hal ini tertulis di dalam peti penyimpananku ini.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا عُثْمَانُ بْنُ حِصْنِ بْنِ عَلَّاقٍ ثنا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ سَمِعْتُ مَكْحُولًا يُحَدِّثُ حَدِيثَ خُطْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ غَدِيرِ خُمٍّ فَحَفِظْتُ مِنْ قَوْلِهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

Ali meriwayatkan kepada kami, Ismail meriwayatkan kepada kami, Utsman bin Hisn bin ‘Allaq meriwayatkan kepada kami, Sa‘id bin Abdul Aziz meriwayatkan kepada kami. Ia berkata, “Aku mendengar Makḥūl meriwayatkan hadis tentang khutbah Nabi ﷺ pada hari Ghadir Khumm. Aku mengingat bagian dari perkataannya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa yang aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepadanya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ قَالَ سُئِلَ طَاوُسٌ عَنْ أَلْبَانِ الْأُتُنِ الْأَهْلِيَّةِ فَقَالَ لَوِ احْتَجْتُ إِلَيْهِ لَشَرِبْتُهُ

Ali telah menuturkan kepada kami, Ismail telah menuturkan kepada kami, Habib bin Hassan berkata, “Thawus ditanya tentang susu keledai betina peliharaan. Ia menjawab, ‘Seandainya aku membutuhkannya, niscaya aku akan meminumnya.’”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ أَبِي ظَبْيَانَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَنِ الْمُقْتَسِمُونَ قَالَ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ ثُمَّ قَالَ مَنْ جَعَلَ الْقُرْآنَ عِضِينَ قَالَ الَّذِينَ آمَنُوا بِبَعْضِهِ وَكَفَرُوا بِبَعْضِهِ

Ali telah menceritakan kepada kami, Ismail telah menceritakan kepada kami, Habib bin Hassan telah menceritakan kepada kami, dari Abu Zabyān, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Siapakah orang-orang yang membagi-bagi?” Ia menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Laki-laki itu kemudian bertanya, “Siapakah yang menjadikan Al-Qur’an terbagi-bagi?” Ia menjawab, “Orang-orang yang beriman kepada sebagian darinya dan ingkar kepada sebagian yang lain.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ثنا حَبِيبُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ كَذَلِكَ

 حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ ثنا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ شَقِيقٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin Ja‘far, telah menceritakan kepada kami Habib bin Hassan, dari Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandal miliknya, demikian pula neraka.”

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Syaqiq, dari Ibnu Mas‘ud, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan hadis yang semakna.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ثنا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ نُبِّئْتُ أَنَّ دَاخِلًا دَخَلَ عَلَى سَلْمَانَ وَهُوَ يَعْجِنُ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ بَعَثْنَا الْخَادِمَ فِي عَمِلٍ أَوْ قَالَ فِي ضَيْعَةٍ فَكَرِهْنَا أَنْ نَجْمَعَ عَلَيْهِ عَمَلَيْنِ أَوْ طَاعَتَيْنِ قَالَ فُلَانٌ يُقْرِئُكَ السَّلَامَ قَالَ مَتَى قَدِمْتَ قَالَ مُنْذُ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَمَا إِنَّهَا لَوْ لَمْ تُؤَدِّهَا كَانَتْ أَمَانَةً لَمْ تُؤَدِّهَا

Telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail—yakni putra Ibrahim—dari Ayyub, dari Abu Qilabah, ia berkata, “Aku diberi kabar bahwa Dākhil datang menemui Salman ketika ia sedang menguleni adonan. Dākhil berkata, ‘Wahai Abu Abdullah, apa yang sedang kaulakukan ini?’ Salman menjawab, ‘Kami menyuruh pelayan melakukan suatu pekerjaan—atau ia berkata: mengurus suatu lahan—dan kami tidak ingin membebani dia dengan dua pekerjaan atau dua ketaatan sekaligus.’ Dākhil berkata, ‘Si Fulan menyampaikan salam untukmu.’ Salman bertanya, ‘Kapan engkau tiba?’ Dākhil menjawab, ‘Sejak sekian dan sekian.’ Salman berkata, ‘Ketahuilah, seandainya engkau tidak menyampaikannya, tentu itu menjadi amanat yang tidak kautunaikan.’”