segala puji bagi Allah yang menghususkan kita dengan memakain akhlak dan adab yang mulia, dan menjahui lawannya yang menyebabkan celaka dunia dan hari kembali, dan sholawat serta salam untuk pemilik akhlak yang agung dengan nash kitab, dan untuk keluarganya dan sahabatnya yang mengikuti nya, lalu mereka bahagia bersama beliau karena sangan dekat.

wa bakdu, ini adalah juz kedua dari kitabku akhlak lil banat, dalam cetakannya yang kedua, aku berikan kepada para pendidik anak-anak putri, yang dari ibu dan bapak, guru putra dan guru putri, setelah aku kehilangan manuskiripka dari cetakan pertama sejak waktu yang lama, maka kebutuhan itu mendesak, dan para pelajar terus menerus meminta cetakannya.

dan aku hadirkan dalam perhaiasan yang indah , dan susunan yang baru, yang berbeda dengan cetakan yang lama, karena melihat kabaikan yang menarik/

dan aku berharap mereka menerima dengan baik, sehingga aku mendapatkan harapan dan permintaan, seperti perolehan cetakan yang lewat.

dan para pengurs madrasah telah menerimanya dengan baik, dan mereka memasukkan kedalam kurikulum sekolahan mereka untuk para pelajar putri, karena mereka melihat beberapa harapan, untuk memperbaiki akhlak yang telah rusak, dan adab yang telah hancur, apalagi di kelompok wanita.

dan hanya kepada Allah aku meminta, agar menyebarkan kemanfaatan kitab ini, wanita-wanita kita yang mereka sangat butuh kepada kitab ini, dan agar Allah menjadikan ikhlas karena wajahNya, dan menolongku mengeluarkan juz ketiga, dalam waktu dekat, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengabulkan doa.

1. wahai putri yang mulia, sesungguhnya Akhlaq yang mulia adalah sebab kebahagiaamu di dunia dan akhira, tuhanmu meridhoimu dan menambah imanmu, dan memasukkanmu ke sorganya, dan melapangkan rizkimu, dan memberkahi umurmu dan amalmu, Allah berfirman: sungguh bahagia oran yang membersikan jiwa, dan merugi orang yang mengotori jiwa. dan nabi SAW bersabda: kebanyakan sesuatu yang memasukkan orang kedalam sorga adalah takwa allah dan husnul khuluq. dan beliau juga bersabda: orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. dan beliau juga bersabda. sesungghuhnya orang mukmin dengan baik akhlaknya dapat memperoleh derajat orang yang puasa dan yang sholat malam. dermawan adalah husnul khuluq. dan orang bijak berkata: sumber rizki itu dalam luasnya akhlaq, dan dengan akhlaq yang baik keluargamu dan seluruh manusia mencintaimu, dan kamu hidup bersama mereka dalam keadaan dicintai dan dimuliakan.

2. adapun akhlaq yang jelek adalah pokok celakamu di dunia dan akhirat, yang dapat mengurangi imanmu, dan tuhanmu marah kepadamu, dan memasukkan kamu kedalam neraka, dan menyempitkan rizkimu, dan mencabut keberkahan dari umurmu, dan amalmu. dan  dalam hadis: akhlaq yang buruk adalah kejelekan. dan orang bijak berkata: siapa yang jelek akhlaqnya maka sempit rizkinya, dan menyiksa dirinya. ahli syair berkata:

jika kamu tidak menganggap lebar akhaq sautu kaum, kota-kota yang laur akan menyepitkamu

dan dengan akhlaq yang buruk keluargamau akan membencimu, dan seluruh manusia, dan kamu hidup di antara mereka dalam keadaan terhina dan rendahan.

3. maka berakhlaklah mulai dari kecilmu dengan akhlak yang mulia, dan adab yang baik, agar kamu tumbuh besar dengan akhlak tersebut, dan kam terbiasa ketika besarmu, seperti ucapan hakim, barang siapa tumbuh besar menetapi sesuatu, maka ia akan tua menetapi sesuatu tersebut. tetapi kamu harus memaksa dirimu dulu, sampai akhlak baik menjadi tabiaat yang tetap didirimu, adapun jika kamu besar dan terbiasa dengan akhlak buruk maka sangat sulit membersihkanmu dan memperbaikimu, dan mungkin tidak terjadi sama sekali. seperti ucapan syair:

terkadang adab memberi manfaat anak-anak ketika kecil , dan adab tidak memberi manfaat mereka setalah itu

sesungguhnya tangkai ketika kau tegakkan maka akan tegak, dan jika mau meluruskan cabang tidak akang lemas

4. dan ketahuilah bahwa pemudi tidak dianggap di antara masyarakan dengan kecantikan wajahnya, dan banyak pakaian dan perhiasannya, tetapi dengan akhlaknya dan baik pendidikannya. apa yang faidah cantik bersama jeleknya diri dan buruknya akhlak. karena dikatakan: kecantikan wajah bersama jeleknya diri, seperti lentera di kuburan orang majusi. apa faidah di banyaknya perhiasan dan pakaian bersama jeleknya adab. sair berkata:

jangan kau lihat pakaian seseorang, jika kau ingin mengetahui seseorang maka lihatlah pada adab.

kayu dupa jika tidak menyebar wanginya, maka manusia tidak dapat memberdakan antra kayu dupa dan kayu bakar.

begitu juga ilmu dan pengetahuan , tidak bermanfaat bersama jeleknya akhlaq, dan dalam hadis, sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya adalah orang alim yang allah tidak memberi manfaat ilmunya. pemudi yang terpelajar jika berubah akhlaknya dan rusak prilakunya, maka tidak disukai manusia, lebih dari orang yang bodoh, karena ia sudah belajar, tetapi tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tidak memiliki alasan akan hal tersebut.

5. maka kamu wajib memerhatikan membersikan akhlakmu, lebih dari perhatianmu untuk menghasilkan ilmu dan pengetahuan, dan ini adalah juz kedua dari kitab akhlak lil banat, maka pelajarilah dengan dalam dan perhatian, lalu lakukan apa yang ada didalamnya, agar kamu mendapatkan manfaat seperti kau mendapat manfaat dengan juz pertama, dan dengan hal tersebut kamu menjadi insyaallah wanita sholihah yang dibersihkan, yang bahagia di dunia dan akhirat, amin ya rabbal alamin.

 

Wahai anak perempuan yang beradab, Allah ta’ala telah menganugerahkan banyak nikmat untukmu; telah mewujudkanmu setelah tiada, menunjukanmu pada agama islam, yang merupakan nikmat yang paling agung, memberimu pendengaran, penglihatan, lisan, dua tangan dan dua kaki, serta menjadikanmu manusia sempurna, sebagaimana firman Allah: “Yang telah menciptakanmu kemudian menyempurnakanmu”, Allah juga berfirman: “Telah kami ciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna”, Allah juga telah memberimu kesehatan dan kesejahteraan, meletakkan belas kasih di hati kedua orangtuamu untukmu agar mereka mendidikmu dengan didikan yang sempurna, membuatmu mencintai gurumu sehingga dia mengajarimu sesuatu yang berfaedah bagi agamamu dan duniamu, dan banyak lagi nikmat Allah ta’ala yang tidak terhitung, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka tidak akan mampu untuk menghitungnya”.

Maka hendaknya kamu bersyukur pada tuhanmu atas semua nikmat-Nya; dengan mentaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengagungkan-Nya di dalam hatimu, agar kamu tidak melakukan keburukan meskipun dalam keadaan sendiri. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada”. Dan hendaknya kamu lebih mencintai tuhanmu daripada kedua orangtuamu atau dirimu sendiri, dan juga mencintai semua malaikat-Nya, utusan-Nya, para nabi-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang sholeh, karena Allah juga mencintai mereka.

Ketahuilah sesungguhnya tuhanmu lebih berbelas kasih kepadamu daripada kedua orang tuamu maupun orang lain. Dalam sebuah hadist: “Dalam sebuah peperangan seorang anak laki-laki berdiri untuk dilelang, pada hari itu merupakan musim panas, kemudian seorang perempuan melihatnya dari sebuah tenda dan menghampirinya, dan sahabat-sahabatnya mengikutinya, kemudian ia mengambil anak laki-laki itu dan mendekapnya, kemudian ia menyandarkan punggungnya di sebuah sungai, dan meletakkan anak laki-laki itu di atas perutnya untuk melindunginya dari panas. Perempuan itu berkata: “anakku, anakku”, orang-orangpun menangis, dan meninggalkan urusannya. Kemudian datanglah Rasulullah Saw, semua orangpun berdiri dan menceritakan kejadian itu pada Rasulullah Saw, beliapun senang atas belas kasih mereka, kemudian beliau memberi kabar gembira, beliau berkata: “Apakah kalian takjub dengan kasih sayang wanita ini kepada anaknya?”, mereka menjawab: “iya”, beliau berkata; “Sesungguhnya Allah Ta’ala lebih belas kasih terhadap kalian semua melebihi belas kasih wanita ini kepada anaknya”, kemudian orang-orang pun pergi dengan perasaan bahagia.

Dan wajib juga bagimu untuk menggantungkan hatimu pada tuhanmu, memohon pertolongan pada-Nya di segala kebutuhanmu, dan pasrah pada-Nya di segala urusanmu, Allah berfirman: “Dan berpasrahlah pada Allah jika kalian adalah orang-orang yang beriman”. Dalam sebuah hadist periwayatan Ibn Abbas disebutkan: Sesungguhnya Nabi berkata padanya: “Wahai pemuda! Akan aku ajarkan padamu beberapa hal: Jagalah (agama) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, maka kam akan mendapati Allah ada di sisimu. Jika kamu meminta, maka memintalah pada Allah, jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah! Jika suatu kaum sepakat untuk memberimu suatu kemanfaatan, sesungguhnya mereka tidak akan memberimu apapun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka sepakat untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran itu pun telah kering”.

Ketahuilah! Jika telah tertanam dalam hatimu rasa takut pada Allah, maka akan ada setiap kebaikan darimu, dan kamu pun terjaga dari segala keburukan dan mara bahaya, sehingga kamu tidak akan mampu untuk meninggalkan ketaatan, atau melakukan maksiat, karena kamu selalu diawasi oleh Allah di setiap tempat, sebagaimana kisah yang akan datang tentang seorang guru dan murid, juga semua perbuatanmu merupakan perbuatan shaleh, dan budi pekertimu baik. Sebaliknya, jika rasa takut pada Allah hilang dari hati, maka seseorang akan menjadi lebih hina dan lebih buruk dari hewan, melakukan segala sesuatu yang diinginkan hawa nafsunya, tidak peduli dan tidak malu atas apa yang dilakukan kedua tangannya.

Ketahuilah pula! Bahwa mensyukuri nikmat merupakan sebab bertambahnya nikmat itu, sebagaimana mengingkari nikmat merupakan sebab hilangnya nikmat itu. Allah ta’ala berfirman: “Jika kalian bersyukur maka sungguh akan aku tambah, dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksaanku sangatlah pedih”. Seorang penyair berkata:

“Jika kalian dalam sebuah kenikmatan maka jagalah, sesungguhnya maksiat dapat menghilangkan kenikmatan”.

Jika kamu mentaati tuhanmu, dan mensyukuri nikmatnya, maka Allah akan menambah keutamaan dan anugerah-Nya padamu, menjagamu dari semua mara bahaya, memberimu apa yang kamu inginkan, menanamkan rasa cinta kepada tuhanmu, serta membuat para makhluq mencintaimu, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh akan Allah tanamkan rasa cinta kepada mereka”, maksutnya, Allah mencintainya, dan manusia pun mencintainya. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Bahwa sesungguhnya ketika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, Allahakan memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Bahwa Alla mencitai si fulan, maka cintailah dia!”, maka malaikat Jibril pun mencintainya, kemudian malaikat Jibril berseru di langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langit pun turut mencintainya, dan Allah membuatnya diterima oleh penduduk bumi.

Nabi Muhammad SAW. adalah orang yang paling bertakwa pada Allah, dan yang paling mampu menegakkan hak Allah ta’ala. Nabi mendirikan sholat malam sampai bengkak kedua kakinya, sayyidah Aisya pun berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah dosa-dosamu yang telah lampau dan yang akan datang telah diampuni?”, Rasulullah menjawab: “Bukankan aku seorang hamba yang bersyukur?”. Dalam keadaan sholat, terdengar suara gemuruh hatinya seperti bunyi gemuruh sebuah kendi karena takut pada Allah. Rasulullah selalu mengingat Allah di setiap waktu, dalm sebuah hadist disebutkan: “Sesungguhnya kedua mataku terpejam, tapi hatiku tidak tertidur”. Ketika Rasulullah mendapatkan sesuatu yang disukainya, beliau berucap: “Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatnya menjadi sempurna amalan-amalan shalih”, dan ketika beliau menghadapi sesuatu yang dibencinya, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah di setiap keadaan”. Ketika Rasulullah hendak melakukan sesuatu, beliau berkata: “Ya Allah, tuntunlah, dan pilihkanlah (jalan) untukku”. Ketika Rasulullah makan, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan dan minum, dan telah menjadikan kita termasuk orang Islam”. Ketika Rasulullah minum, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air ini tawar dan menyegarkan dengan rahmatnya, dan tidak menjadikannya air ini asin dan pahit karena dosa-dosa kita”, dan dzikir-dzikir lain yang selalu beliau baca di setiap keadaannya. Demikian ini menunjukkan kebergantungan hati Rasulullah pada Allah, ketawakkalannya pada Allah, serta keikhlasannya dalam melayani (agama) Allah.

Sayyidah Khodijah, istri Rasulullah, merupakan teladan dalam ketakwaan, dan ketaatan; beliau takut pada Allah, dan tidak maksiat pada-Nya, serta tidak pernah meninggalkan kewajibannya, sehingga Allah ta’ala pun mencintainya. Dalam sebuah hadist disebutkan: Malaikat Jibril datang pada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, Khadijah datang dengan membawa wadah berisi lauk pauk, makanan, dan minuman, jika dia mendatangimu katakan sampaikan padanya sebuah salam dari tuhannya, dan dariku, dan berilah kabar gembira tentang rumah di surga yang terbuat dari permata, tidak ada suara gaduh dan kepayahan di dalamnya”. Al-qashab: permata, al-shakhab: suara keras, al-nashab: kelelahan. Sayyidah Khadijah menjawab: “Allah yang maha memberi keselamatan, dari-Nya sebuah salam, dan untuk Jibril sebuah salam”.

Sayyidah Khadijah memiliki akhlaq yang unggul, kesempurnaan ketaatan kepada suaminya, Rasulullah. Dalam melayaninya, beliau membantu Rasulullah menyebarkan agama Islam, meringankan beban yang didapat dari kaumnya, dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan karena Rasulullah, beliau merupakan orang pertama yang masuk Islam dan beriman pada Rasulullah, beliau tinggal bersama Rasulullah selama dua puluh empat tahun dengan tentram, senang, dan bahagia, dan beliau merupakan istri Rasulullah yang paling utama. Dari Sayyidah Aisya berkata: “Ketika Rasulullah teringat pada Sayyidah Khadijah, beliau tidak akan bosan untuk memujinya, dan memintakan ampun untuknya”.

Sayyidah Fathimah memiliki akhlaq yang begitu agung, terdidik di sisi ayahnya dengan didikan yang luhur, tumbuh sebagai seorang wanita salehah, takut pada Allah dalam keadaan sendiri maupun terang-terangan, mengejar ridla Allah sekuat tenaganya, dan mendirikan shalat sampai bengkak kedua kakinya. Karena itu, beliau adalah putri tercinta Rasulullah, dan pemimpin para wanita umat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadist. Beliau merupakan wanita yang lemah lembut dan penuh belas kasih; mencintai orang-orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, penuh perhatian dalam mendidik purta-putranya, ikhlas pada suaminya, dan sangat pemalu. Suatu ketika ayahnya, Rasulullah bertanya padanya: “Hal terbaik apa yang dimiliki seorang wanita?”, beliau menjawab: “Tidak melihat seorang lelaki, dan lelaki tidak melihat padanya”, maka Rasulullah pun memeluknya (senang dan bahagia dengan jawaban baiknya) dan berkata: “Sebuah keturunan memiliki sifat mulia sebagaimana nenek moyangnya”. Sayyidah Fathimah adalah anak yang patuh pada ibunya, semasa hidup maupun sepeninggal ibunya. Dalam sebuah hadist: Beliau bertanya pada Rasulullah: “Wahi Rasulullah, di mana ibuku?”, Rasulullah menjawab: “Di sebuah rumah yang terbuat dari permata”, beliau bertanya lagi: “Dari permata ini?”, “Bukan, melainkan dari permata, batu yakut, dan berlian”. Beliau sibuk mengurus kesibukan rumahnya sendiri; menumbuk biji-bijian dengan penumbuk sampai kasar kedua tangannya, menyapu rumah sampai berdebu pakaiannya, menyalakan api di bawah tungku sampai kusam bajunya (agak menghitam), dan memberi minum dengan kendi sampai beliau terkena bahaya kerenanya, akan tetapi beliau sabar, sampai suatu ketika beliau sedang hamil, beliau sangat kelelahan, karena ketika membuat roti, perut beliau terkena ujung tungku. Maka suaminya menyuruhnya untuk pergi ke rumah ayahnya, dan meminta seorang pelayan untuknya, kemudian beliau pergi ke rumah ayahnya, dan melihat sebuah jamaah bersama ayahnya sedang berbincang, beliau pun merasa malu, dan kembali pulang. Rasulullah pun mengetahui bahwa putrinya datang karena suatu kebutuhan, maka beliau pergi menemuinya, ternyata Sayyidah Fathimah sudah berselimut dan hendak tidur. Rasulullah pun bertanya padanya tentang kebutuhannya, maka Sayyidina Ali memberitahukan tentang maskud sayyidah Fathimah, kemudian Rasulullah berkata pada keduannya: “ Maukah aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang pelayan? Ketika hendak tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali”. Sayyidah Fathimah berkata: “Aku ridla dengan Allah dan Rasulullah” tiga kali.

Kemudian Rasulullah mengirimkan seorang pelayan padanya untuk melayaninya, yang diberi nama Fiddlah. Pada suatu hari, Rasulullah hendak menemui sayyidina Ali, ternyata beliau menemukan sayyidina Ali dan sayyidah Fathimah sedang menumbuk di alat penumbuk, Rasulullah pun bertanya: “Siapa yang lelah di antara kalian berdua?”, sayyidina Ali menjawab: “Fathimah, wahai Rasulullah”, Rasulullah berkata: “Berdirilah, wahai anakku”, beliau pun berdiri, dan Rasulullah duduk di tempatnya bersama sayyidina Ali, dan membantunya menumbuk biji-bijian.

Di antara wanita luhur nan saleha adalah sayyidah Aisya, putri sayyidina Abu Bakr. Beliau banyak melakukan shalat, berpuasa, dan menangis karena takut padda Allah. Beliau juga sering bersedekah, sampai suatu ketika beliau pernah bersedekah tujuh puluh ribu dirham, padahal baju beliau sudah banyak robekan. Suatu ketika beliau pernah mendapatkan uang seratus ribu dirham, maka beliau pun membagikan semua uang itu, yang pada saat itu beliau sedang berpuasa, pelayannya bertanya padanya: “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk membeli sedirham daging untukmu berbuka puasa?”, beliau menjawab: “Jika kamu tadi mengingatkanku, maka akan aku lakukan”.

Beliau adalah wanita yang sangat pemalu, dan sederhana. Beliau pernah berkata: “Aku memasuki rumah makam Rasulullah dan makam ayahku dengan tidak berbaju lengkap, kataku: Beliau adalah suami dan ayahku. Namun ketika sayyidina Umar dimakamkan, demi Allah aku tidak pernah memasuki rumah itu kecuali dengan baju yang sangat tertutup, karena malu pada sayyidina Umar”. Maka lihatlah rasa malunya terhadap lelaki lain, meskipun lelaki itu di dalam kubur.

Beliau adalah seorang ahli fikih dan hadist, beliau banyak meriwayatkan hadist, dan merupakan pembesar para sahabat. Para sahabat bertanya kepadanya tentang berbagai permasalahan, kemudian beliau menjawabnya dari balik tabir. Rasulullah sangat mencintainya dan sering memujinya. Dalam suatu hadist disebutkan: “Keutamaan sayyidah Aisya dibanding para perempuan lain itu seperti keutamaan bubur daripada makanan lain”. Dalam hadist juga disebutkan: “Wahai Aisyah! Malaikat membacakan salam untukmu”, beliau pun menjawab: “Waalaihissalam, warahmatullahi, wabarokatuh”.

Ada seorang guru yang lebih mencintai seorang murid daripada teman-temannya, mereka pun heran dan berkata: “Kenapa guru ini lebih mencintai murid ini daripada kita?”, maka guru itu pun ingin menunjukkan kepada mereka sebab dari hal itu, kemudian ia memberi seekor ayam ke setiap muridnya, dan menyuruh mereka untuk pergi sendiri ke suatu tempat untuk menyembelih ayam itu tanpa ada yang melihatnya. Mereka pun melaksanakan perintah guru itu kecuali seorang murid itu, dia malah mengembalikan ayam itu, dan gurunya pun bertanya: “Kenapa kamu tidak menyembelih ayam itu sebagaimana yang dilakukan teman-temanmu?”, dia menjawab: “Karena aku tidak mampu menyendiri di suatu tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun, karena Allah melihatku di setiap tempat”, guru itu berkata pada murid-muridnya: “Lihatlah  murid ini! Dia takut pada Allah, dan tidak melupakan-Nya di manapun dia berada, oleh karena itu aku lebih mencintainya daripada kalian, dan tidak diragukan bahwa ketika dewasa ia akan menjadi golongan dari orang-orang saleh, yang taat kepada tuhannya di setiap saat.

Ketahuilah! Sesungguhnya Nabi Muhammada memiliki hak agung yang harus kamu penuhi, dan haknya merupakan hak yang paling agung setelah hak Allah, dan beradab kepadanya merupakan hal yang paling harus dan wajib dilakukan. Nabi Muhammada adalah nabi yang paling utama, yang datang dengan membawa agama Islam, yang dengan perantaranya kamu bisa mengenal tuhanmu, membedakan antara halal dan haram, dan antara yang baik dan buruk.

Sesungguhnya kamu tidak akan mampu membalas jasa Nabi Muhammad, maka hendaknya kamu sangat mencintainya, dan ahli baitnya, para sahabat, dan seluruh umatnya. Dalam sebuah hadist disebutkan: “ Cintailah Allah yang telah memberimu nikmatnya, dan cintailah aku karena cinta pada Allah, dan cintailah ahli bait karena cinta kepadaku”. Dalam hadist lain disebutkan: “Jagalah para sahabat untukku, jangan jadikan mereka sasaran kalian sepeninggalku. Barang siapa yang mencintai mereka, maka karena cintaku ia mencintai mereka, dan barang siapa yang membenci mereka, maka karena membenciku ia membenci mereka”. Dalam hadist lain disebutkan: “Tidaklah sempurna iman seseorang sampai ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Wajib pula bagimu untuk mentaati semua perintahnya, sebagaimana firman Allah: “Apa pun yang dibawa Rasulullah pada kalian ambillah (patuhilah), dan apa yang ia larang jahuilah!”, “Barang siapa yang taat pada Rasulullah maka ia juga taat pada Allah”. Di antara perilaku taat pada Rasulullah adalah dengan menolong agama Islam, baik melalui ucapan maupun perilaku, dan dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya, serta meneladani akhlaqnya, dalam sebuah hadist disebutkan: “Barang siapa menghidupkan sunnah-sunnahku, berarti ia mencintaiku, barang siapa mencintnaiku, maka ia akan bersamaku di surga”. Dan juga dengan membaca salawat kepadanya, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah dan bacalah salam kepada Nabi” khususnya pada malam dan hari Jumat, sebagaimana dalam hadist: “Perbanyaklah memebaca selawat kepadaku di hari Jumat, dan malam Jumat. Barang siapa yang melakukannya, maka aku akan menjadi saksi dan pemberi syafaat untuknya di hari kiamat”.

Dalam sebuah hadist diceritakan: Bahwa Tsauban, budak yang telah dibebaskan Rasulullah sangan mencintai Rasulullah, dan sangat tidak sabar bertemu Rasulullah, maka suatu hari ia mendatangi Rasulullah, dan wajahnya telah berubah, tampak ia sedang bersedih, maka Rasulullah bertanya padanya: “Apa yang membuatmu begini?”, is menjawab: “Wahai Rasulullah, aku tidak lapar, dan juga tidak sakit, hanya saja jika aku tidak melihatmu, aku sangat menderita sampai aku menemuimu, kemudian aku teringat akhirat, dan aku sangat takut tidak bisa lagi melihatmu, karena engkau akan diangkat bersama para nabi, sedangkan aku, jika pun masuk surga, kedudukanku akan sangat rendah, jauh dari kedudukanmu, adapun jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan mampu melihatmu selamanya”, maka turunlah firmah Allah: “Barang siapa yang taat pada Allah dan Rasulullah, maka ia akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat; yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, mereka adalah sebaik-baik teman”.