Segala puji bagi Allah yang menaruh jika ia berkehendak di hati murid cahaya harapan, maka Allah mendorong mereka pada menapaki jalan kebahagiaan, yaitu iman dan ibadah, dan menghapus setiap goresan dan kebiasaan, dan rahmat Allah dan salamnya untuk junjungan kita Muhammad, junjungan orang orang terhormat, dan untuk keluarganya dan sahabatnya para junjungan yang memimpin.

Amma ba’du, Allah telah berkata dan ia orang yang paling jujur orang yang berkata: barang siapa yang mengharapkan kenikmatan sekarang maka kami sekarangkar baginya bagi yang kami kehendaki, lalu kami menjadikan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan dihina dan dicela, dan barang siapa yang mengharapka akhiran dan beramal untuk akhirat, dalam keadaan beriman, meraka adalah amal mereka dibalas.

sekarang adalah dunia, jika seorang yamg mengharapa saja itu balasannya, apa lagi orang yang berusaha mencari dunia, tempat kembalinya adalah neraka, dengan di hina dan tecela. maka sungguh layak bagi orang yang memiliki akal untuk menjahui dunia, dan menghidarinya, dan akhirat adalah sorga, dan tidak cukup untuk menghasilkan akhirat mengharap saja, akan tetapi akhirat bersama iman dan amal sholih yang diberi isyarah dengan firman Allah ‘dan ia beralal untuk akhirat dan ia beriman”, beramal yang diberi ucapan terima kasih adalah amal yang diterima, yang pelakunya berhak atas pujian, sanjungan dan pahala yang bersar yang tidak habis dan tidak sirna dengan anugrah Allah dan rahmatnya. dan orang yang merugi dari segala arah dari orang-orang yang mengharapkan dunia yang jelas dalam haknya mendapatkan ancaman dalam alam, yaitu dia yang mengharapkan dunia dengan harapan yang lupa di sisinya akan akhirat, maka ia tidak beriman terhadap akhirat, atau beriman tapi tidak beramal. yang pertama adalah kafir yang kekal dalam neraka, yang kedua adalah fasik yang disifati dengan sengsara.

Dan Rasulullah saw. bersabda: “sesungguhnya amal tergantun niat, dan milik seseorang apa yang ia niati, barang siapa hijrahnya untuk Allah dan utusannya maka hijrahnya untuk Allah dan utusannya, dan berang siapa hijrahnya untuk dunia yang ia dapatkan atau wanita yang ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia hijrahi”

Rasulullah memberi kabar bahwa tiada Amal kecuali bersama niat, dan sesungguhnya manusia tergantung apa yang ia niati ia mendapt pahala dan dibalas, jika baik maka baik, jika jelek maka jelek, dan barang siapa yang bagus niatnya maka jelas amalnya bagus, dan barang siapa yang jelek niatnya maka jelas amalnya jelek, walaupun dalam bentuk yang bagus, seperti orang yang berbuat baik karena pemer terhadap manusia.

Dan Rasullah memberi kabar bahwa orang yang beramal untuk Allah untuk mengikuti rasulullah saw. maka pahalanya ditanggung Allah, dan kembalinya pada ridlo Allah dan sorganya, di sisi Allah dan kebaikanNya, dan sesungguhnya orang yang menuji selain Allah dan beramal untuk selain Allah maka pahalanya dan balasannya di sisi orang yang ia pemeri, orng yang tidak memiliki untuk dirinya dan orang lain kejelekan, ataupun kebaikan, ataupun kematian, ataupun kehidupan, ataupun kebengkitan.

Rasulullah saw. menhususkan hijrah bukan amal lain untuk mengigatkan pada semuanya dengan sebagian, karena termasuk dari yang dapat diketahui bagi orang-orang yang memiliki akal, bahwa hadis tidak husus tentang hijrah, akan tetapi umum dalam seluruh syariat islam.

Lalu aku mengatakan: ketahui wahai murid yang mencari, dan yang mengadap dan menharap, bahwa kamu ketika memintaku agar aku mengirim padamu sedikir kata-kata yang di nisbatkan kepadaku, tidak ada padaku apa yang aku lihat cocok untukmu. aku telah memandang untuk menusil fasal-fasal yang ringkas, yang mencakup adab berharap (akhirat) dangan ibarat yang mudah.

dan hanya kepada Allah aku meminta agar Allah memberi manfaat kepadaku dan kamu, dan seluruh teman dengan yang mendatangkan aku dari hal tersebut, dan mendatangkan kepadaku apa yang disana. Allah adalah yang mencukupiku dan sebaik wakil.

Ketahuilah bahwa awal jalan adalah sebuah pendorong yang kuat yang diletakkan dalam hati seorang hamba, menngaketkan dan menggoncankan dan mendorongnya untuk menghadap kepada Allah dan rumah akhirat, dan utnuk menghidar dari dunia dan dari manusia, dengan tersibukkan memperbaiki dunia dan mengumpulkan dunia, dan senang senang dengan syahwat dunia, dan tertipu dari gemerlap dunia.

Pendorong ini termasuk tentara Allah yang batin, itu dari tiapun pertolongan dan tanda petunjuk, dan kebanyakan dibukakan terhadap seorang hamba ketika ditakuti (siksa) atau di senangkan (pahala) dan di rindukan, dan ketika melihat kepada ahlullah dan dilihat mereka, dan terkadang terjadi tanpa sebab.

Menampakkan pada tiupan itu diperintahkan dan diharapkan, dan menanti dan mencari tanpa menampakkan dan menetapi pintu adalah kebodohan, bagaimana tidak sedangkan rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya tuhan kalian memiliki tiupan di hari-hari mu, maka menampakkaklah.

Barang siapa yang di beri Allah dengan pendorong yang mulia ini maka hendaknya tahu akan derajatnya yang baik, dan kendaknya ia tahu bahwa hal tersebut termasuk dari nikmat Allah yang agung, yang tidak dapat di kira-kirakan besarnya, dan tidak di gapai syukurnya, dan hendaknya ia menyagatkan dalam menyukurinya atas yang Allah beri, dan Allah hususkan dari sepadannya dan teman-temannya. berapa banyak seorang muslim yang umurnya mencapai delapan puluh tahun dan lebih tapi tidak menemukan pendorong ini. dan tidak datang seharipun dalam setahun.

Wajib bagi murid bersungguh sungguh menguatkannya, menjaganya, dan memenuhinya -maksudnya pendorong ini- menguatkannya dengan ingat kepada Allah , dan memikirkan apa yang di sisi Allah, dan duduk bersama Ahli Allah, dan menjaganya da dengan menjauh dari duduk bersama orang-orang yang terhalang, dan menghindar dari godaan setan, dan memenuhinya dengan cepat-cepat kembali kepada Allah, dan benar benar dalam menghadap kepada Allah, dan tidak kendor, dan tidak menunda, dan tidak lambat, dan tidak mengakhirkan, dan jika ada kesempatan maka hendaknya langusng ia ambil, dan dika dibuka pintu maka hendaknya ia langsung masuk, dan jika ada yang mengajak maka hendaknya cepat-cepat, dan hendaknya menjauh dari besok setelah besok, karena hal tersebut temasuk amal setan, dan hendaknya menghadap dan tidak menetap, dan tidak beralasan dengan tidak adanya kesempatan dan kelayakan.

Abu robi’ berkata: berjalanlah kepada Allah dengan naik dan pecah, dan jangan menanti sehat, karena menanti sehat adalah pemalas. Ibn Atho’illah berkata dalam kitab hikam: menantimu amal atas adanya kesempatan temasuk kebodohan jiwa.